Skip to main content

Tokoh Edisi 845 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

K hofifah I ndar Parawansa

Laki-laki dan Perempuan Punya Kesempatan Sama Khofifah saat berdiskusi

Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa tekun menyimak penjelasan tentang eksistensi perempuan di Bali. Ia mengaku tidak terlalu mendetail memahami budaya Bali yang pada masa lalu menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua. Bagi keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki, bisa menjadi persoalan karena siapa yang akan menjadi penerus keluarga. Namun, kini zaman sudah berubah. Perempuan pun sudah memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki.

“B

ali ternyata mirip dengan Makasar. Anak laki-laki cenderung diperhatikan. Saya pernah punya pengalaman pribadi. Ketika anak saya yang pertama lahir perempuan, suami saya yang keturunan Makasar menanggapi biasa saja. Ketika saya hamil kedua, ia berkata kepada saya, dengan nada bercanda. Kalau anak kedua lahir perempuan, izinkan saya menikah lagi. Saya sangat shock mendengar permintaan itu,” ungkapnya ketika berkunjung dan berdiskusi dengan

tim redaksi Kelompok Media Bali Post, Sabtu (11/4). Khofifah kemudian mengadu ke mertuanya. Ternyata mertuanya menjelaskan, tidak ada aturan yang memberikan kesempatan bagi pria Makasar yang tidak punya anak laki-laki untuk menikah lagi. “Saya plong tetapi tetap was-was. Tiap periksa kandungan, saya tidak mau di-USG. Saya tidak mau tahu jenis kelamin bayi saya. Ternyata, setelah waktunya tiba, saya melahirkan anak laki-laki. Baru saya merasa benar-benar tenang,” kenang perempuan asal

Jawa Timur ini sembari tersenyum. Anak ketiga dan keempatnya pun laki-laki. Adanya persepsi tentang pembedaan anak laki-laki dan perempuan membuat mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan di era Presiden Abdurrahman Wahid ini gerah. Ia merasa semua anak memiliki hak yang sama. Laki dan perempuan harus mendapat kesempatan yang sama. Ia pun berharap keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama bisa memberikan kesempatan kepada anak perempuan untuk meraih pendidikan dan berkarier tinggi. Jangan sampai, anak perempuan terkungkung hanya dalam ranah domestik. Di sisi lain, ia sedih melihat masih adanya perempuan yang menjadi korban di dalam keluarganya. “Salah satu contoh, anak perempuan banyak mengalami kasus incest (hubungan seksual yang dilakukan orang yang memiliki garis keturunan langsung). Pelakunya bisa kakek, ayah, kakak, ataupun adik. Dari laporan yang kami terima di Departemen Sosial, ayah yang paling banyak menjadi pelaku. Salah satu sebab adalah kemiskinan. Bayangkan, dalam satu rumah yang tidak layak huni ditempati banyak orang. Peluang untuk terjadi incest sangat tinggi. Ada kasus yang baru terungkap setelah sekian lama ditutupi. Korbannya ya si anak perempuan,” tegas perempuan kelahiran 19 Mei 1965 ini.

Ada Istri Hebat “Dibalik” Suami Sukses Perempuan memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam rumah tangga. Demikian diungkapkan Sri Wulandari, Runner Up 3 Ibu Teladan se-Bali 2011 versi Tabloid Tokoh. Di dalam rumah tangga, khususnya ibu, perempuan sangat berperan dalam memajukan pendidikan dan akhlak anak-anak. Karena menyadari perannya sebagai seorang ibu itu pun yang kemudian membuat Wulandari memutuskan mundur dari pekerjaannya setelah 3 tahun bekerja di rumah sakit. Ketika itu anak sulungnya masih kecil, dan harus ada yang mengasuh. “Suami mengatakan kepada saya, nanti kalau anak sudah besar, boleh bekerja lagi sendiri,” ujar istri Rektor Universitas Ngurah Rai, Dr. Drs. Nyoman Sura Adi Tanaya, M.Si. ini. Meski demikian, Wulandari me­ ngatakan peran suami (ayah) tak kalah penting. Karena apapun masalah yang ada dan sebelum memutuskan sesuatu, ia selalu rundingkan dengan suami. Contoh kecil saja, ketika dulu putra sulungnya, Putu Mahardika, S.E., M.Si., MA., Ph.D., hendak memilih jurusan di perguruan tinggi. Mahardika mengatakan kepada ibunya ingin masuk fakultas teknik, alasannya karena teman-

Sri Wulandari

temannya banyak yang masuk ke sana. Wulandari lantas menyampaikannya pada sang suami, dan si anak pun diminta berunding dengan ayahnya. Nyoman Sura menanyakan kepada anaknya, apa yang sebenarnya disenangi.

Kata Mahardika waktu itu, ia ingin jadi guru. Sura Adi mendukung keinginan anaknya tersebut dan mengarahkan jalur yang tepat. “Tapi kalau mau guru jangan sekadar guru biasa, harus menjadi guru besar, ngajarin gurunya pak guru.” Demikian Nyoman Sura menyemangati putranya, yang kini sudah hidup mapan dan menjabat Sekretaris Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya, Malang. Hal yang sama juga diberlakukan kepada kedua anak perempuan mereka, Dr. Ade Maharani Adiandari, S.Sos., M.M., dan Mahayanti Fitri Andari, S.P., M.M. Bagi pasutri ini, koordinasi dalam keluarga sangat penting. Sebagai orangtua, pasutri ini hanya bisa memberikan pendidikan kepada anak-anak sebagai bekal hidup mereka kelak. “Kami hanya menyekolahkan mereka sampai jenjang S2, untuk S3 mereka atas biaya sendiri atau dapat beasiswa,” papar Wulandari. Dalam mendidik anak pun, Wulandari mengatakan saling berbagi peran dengan suami. Karena umumnya, anak akan lebih dekat dan terbuka dengan ibu. Dan, memang harus ada sosok yang disegani, yakni ayah. Kedua peran inilah yang bisa melengkapi satu sama lainnya untuk

KULTURAL DAN STRUKTURAL Upaya untuk mengatasi permasalahan sosial ini, Departemen Sosial terus berusaha untuk mengentaskan keluarga miskin. Pemberian bantuan melalui Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) uang maupun bedah rumah merupakan cara untuk memperbaiki kondisi warga miskin di Indonesia. “Saya berharap perempuanperempuan Indonesia bisa terus meningkatkan kemampuan diri. Banyak peluang di bidang pendidikan maupun karier yang bisa dimanfaatkan untuk menunjukkan aktualisasi perempuan,” ujar Kepala BKKBN periode 19992001 ini. Ia pun mencontohkan Tion-

gkok dengan pola kultural dan struktural untuk meningkatkan peran perempuan. “Saya punya teman perempuan yang pernah menjadi anggota Politbiro Tiongkok. Dia berhasil memperjuangkan agar di tiap struktur pimpinan daerah ada perempuan. Strukturnya juga berjenjang, misalnya di tingkat kabupaten ada, di tingkat gubernur ada. Ini membuka peluang bagi perempuan untuk menunjukkan kemampuannya. Perempuan bisa menjadi pemimpin,” kata mantan Wakil Ketua DPR RI ini. Usai diskusi dengan tim redaksi Kelompok Media Bali Post, Khofifah menandatangani prasasti Ajeg Bali serta menerima kenangkenangan berupa karikatur dirinya. –Ngurah Budi

Khofifah menandatangani prasasti Ajeg Bali

bersama-sama mengayomi anak. Selain itu, kedisiplinan merupakan satu hal yang sangat menentukan keberhasilan anak ke depannya. Itu pula yang telah dilakoni Wulandari kepada putra-putrinya. Disiplin waktu mulai ia terapkan sejak mereka bayi. Ada jam-jam khusus untuk makan, disusui, tidur, dll. Kebiasaan itu pun berlanjut, dan saat duduk di kelas 4 mereka sudah bisa mandiri, disiplin mengatur waktu sampai mengatur uang sakunya sendiri. Untuk pendidikan tinggi baik jenjang S1, S2, maupun S3, pasutri ini sengaja mengarahkan kuliah di luar Bali, agar mereka bisa belajar mandiri dan wawasan semakin luas. Sebagai istri, peran perempuan juga tak bisa dipandang sebelah mata. Kata orang, di balik kesuksesan suami, ada istri yang hebat. Hal itu memang betul adanya. Bayangkan saja jika seorang suami sebagai pencari nafkah utama juga harus mengurusi sampai hal-hal kecil dalam rumah tangga. Sebagai istri, Wulandari juga kerap mengontrol keuangan suami. “Bukannya tak senang jika ada uang lebih. Namun, semuanya harus jelas dan halal. Jangan sampai seperti yang banyak terjadi sekarang ini, pensiun masuk penjara. Saya sangat hati-hati tentang hal itu,” ucap Wulandari yang kini disibukkan mengelola Padma Indah Ashram Lestari di Catur, Kintamani. REVOLUSI MENTAL Peran perempuan masa kini sangat kompleks. Selain sebagai ibu dan istri dalam rumah tangga, perempuan dalam kehidupan sosialnya banyak yang terlibat da-

lam organisasi atau suatu kepemimpinan. Tentunya ini akan memberikan warna berbeda. Ada nuansa yang lebih mekar, lebih indah, ada pandangan-pandangan berbeda, dengan gagasan-gagasan yang lebih kompleks, dari pengalaman perempuan dalam berorganisasi dan dalam rumah tangga. Lalu seperti apa seharusnya perempuan masa kini di era modern menurut pendapat perempuan perusia 64 tahun yang kini sudah mulai mengurangi kegiatannya dalam TP PKK Provinsi, YKI Provinsi, BK3S ini dan menekuni spiritual ini ? Perempuan di zaman globalisasi ini ada sisi bagusnya, salah satunya sudah menyadari pentingnya pendidikan yang tinggi dan memberikan kebebasan memilih bagi anak-anaknya. Namun di sisi lain, Wulandari mengaku miris melihat banyaknya anak-anak muda khususnya perempuan yang dengan santainya menggunakan celana super pendek, jalan-jalan di mal. Ini ditegaskan Wulandari, adalah peran ibu untuk menasihati dan memberikan contoh yang baik bagi putrinya, karena umumnya anak lebih dekat dengan ibu, tanpa mengesampingkan peran ayah juga. “Revolusi mental memang perlu diberikan di RT dan di luar,” ujarnya. Kebangkitan perempuan di era sekarang ini dikatakan Wulandari tak terlepas dari jasa pahlawan RA Kartini yang telah mengeluarkan perempuan dari belenggu. Ketokohan Kartini dan pahlawan lain pun kerap ditanamkan Wulandari kepada anak-anaknya. –Inten Indrawati


2

Ekspresso DAri daPUr Redaksi Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Kartini Masa Kini

Peringatan Hari Kartini biasanya diisi dengan lomba-lomba yang diikuti kaum wanita. Kalau ada kegiatan, pakaian yang digunakan adalah kebaya. Ini menunjukkan penghormatan kepada Raden Ajeng Kartini yang digambarkan sebagai wanita santun dengan pakaian kebaya yang menjadi ciri khasnya. Kartini lahir 21 April 1879 di Jepara. Ia anak bangsawan yang tunduk pada adat istiadat. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Kartini tak diperbolehkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini tak berani menentang adat istiada yang berlaku. Pada masa itu, kaum wanita tak diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Tetapi, Kartini tak menyerah. Ia rajin membaca buku dan belajar sendiri untuk menambah pengetahuannya. Kartini rajin menulis surat kepada Mr. J.H. Abendanon dan mohon diberikan beasiswa belajar di Negeri Belanda. Surat-surat Kartini ini kemudian dikumpulkan oleh Abendanon menjadi buku yang

RA Kartini

berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Perjuangan Kartini untuk memajukan kaum wanita agar bisa mengenyam pendidikan menjadi tonggak perjuangan di Indonesia. Kartini mampu mendobrak adat istiadat yang sebelumnya menjadikan wanita hanya berada dalam rumah untuk mengurus urusan rumah tangga. Perjuan-

Kami hanya Iseng Suatu hari saat jam pelajaran sekolah sedang kosong, saya bersama tiga teman lainnya mengobrol di kelas. Kami menanyakan rencana liburan masing-masing. Karena semua teman tidak memiliki rencana untuk mengisi hari libur, kami berempat memutuskan untuk jalan-jalan bersama ke pantai besok pagi. Keesokan harinya, pada Minggu pagi, kami berempat berkumpul di dekat sekolah. Setelah semua berkumpul, kami segera berangkat. Teman saya yang bernama Tika dan Fia memilih satu motor berdua karena mereka perempuan, sedangkan saya satu motor dengan Tio. Kami pun berangkat bersama menuju ke pantai. Perjalanan terasa menyenangkan karena pagi itu jalanan cukup sepi, udara pagi juga terasa menyejukkan. Sambil mengobrol di jalan, sampailah kami di pantai yang dituju. Di sana, kami duduk menikmati keindahan pantai sambil mengobrol dan menyan-

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tap beberapa camilan. Setelah sekian lama mengobrol di sana, kami memutuskan untuk pulang. Cuaca juga sudah mulai terasa panas. Kami berjalan menuju parkiran dan mengambil sepeda motor masing-masing. Kami pun berangkat ber­ iringan. Saya berada di belakang motor Tika dan Fia. Karena mereka asyik mengobrol di jalan, saya dan Tio bermaksud menjahili mereka. Muncullah ide untuk merampas tas mereka. Bukan untuk berbuat jahat, namun hanya ingin iseng kepada mereka. Perlahan saya dekati motor mereka, dan dengan sigap ta­ ngan Tio berhasil merampas tas me­reka. Mereka pun berteriak

gan Kartini berhasil menjadikan wanita-wanita Indonesia bangkit dan meraih pendidikan setinggitingginya. Kini banyak Kartini-Kartini yang sudah sukses. Wanita bahkan bisa berperan ganda. Di satu sisi mereka menjadi wanita karier, di sisi lain mereka tak melupakan tugasnya sebagai istri dan ibu. Edisi kali ini kami menampilkan wanita-wanita yang bisa menginspirasi. Ini hanya sebagian kecil saja dari wanitawanita hebat yang ada di Bali dan Indonesia. Satu hal yang juga kami sajikan adalah bagaimana peran orangtua dalam mendampingi anak dalam hal pendidikan. Jika dulu Kartini dilarang sekolah kini keadaan sudah berbalik. Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya padahal usianya belum memenuhi persyaratan. Tentu ada plus-minus dari apa yang dilakukan orangtua. Anak adalah harapan masa depan. Merekalah yang akan menjadi tumpuan bangsa di kemudian hari. Siapkan anak untuk menjadi sumber daya manusia yang cerdas dan berbudaya. Diantara anak-anak itu akan ada yang mampu menjadi pendobrak untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik, seperti yang dilakukan Kartini pada masa lalu. Selamat Hari Kartini.

karena kaget, saya dan Tio juga kaget karena mereka berteriak. Kami pun sama-sama kaget jadinya. Ternyata teriakan me­ reka didengar oleh warga dan pedagang di sana. Seketika warga di sana berlarian untuk mengejar saya. Mungkin mereka mengira saya jambret sungguhan. Oh my God... motor saya dicegat, saya pun bingung ketika melihat wajah mereka seolah ingin menghajar saya. Untung Tika dan Fia langsung berteriak, “Pak, itu teman saya”. Saya pun menjelaskan kepada warga di sana bahwa saya dan Tio bukan jambret, dan kami hanya iseng menjahili teman kami. Untung warga di sana bisa mengerti. Jika tidak, mungkin saya harus liburan di rumah sakit atau di kantor polisi. Ary, Denpasar.

Mozaik

GORO-GORO

Berita

Seorang wartawan, menemui Amat. Dia bertanya, apa pendapat Amat tentang gesekan KPK Putu Wijaya dan Polri. Amat yang memang setia mengikuti gesekan itu lewat TV, dengan bersemangat siap menjawab. Tapi Bu Amat muncul di balik pintu memberikan kode: “jangan”. Amat kontan merasa tak nyaman. Ia permisi pura-pura kebelet ke kamar kecil, lalu masuk dan menghampiri istrinya yang sudah menunggu di kamar mandi. Belum sempat bertanya, Amat sudah dihujani instruksi jangan, jangan jangan! “Kenapa jangan?” “Pokoknya jangan!” “Jangan apa?” “Jangan menjawab!” “Lho terlambat. Pertanyaannya tadi sudah sebagian tak jawab!” “Tarik lagi!” “Tarik apanya?” “Ya apalagi? Itu, jawabannya semua tarik lagi!” “Tidak bisa! Ludah yang sudah disepah masak ditelan lagi?!” “Tidak apa!” “Tidak bisa!” “Tidak bisa bagaimana? Membatalkan, menarik, memperbaiki jawaban itu, itu kan menurut Bapak sendiri, sudah lumrah dalam politik. Kan menurut Bapak, Itu hak asasi kita!” “Memang, tapi, Bapak lupa apa yang sudah Bapak informasikan tadi kepada dia.” “Tidak apa. Pokoknya, batalkan! Cabut saja!” “Nanti dia marah.” “Biarin! Itu kan informasi dari Bapak. Milik Bapak. Mau ditambah, dikurangi, diubah atau diganti dengan kebalikannya, apalagi hanya ditarik, sah-sah saja! Ya, kan?! Kalau tidak percaya, coba tanya Pak Made di sebelah. Dia juga baru habis ditanya-tanya. Jangan-jangan orang itu sedang belajar mau jadi wartawan. Bapak jadi kelinci percobaannya!” Amat bingung. “Kenapa bingung? Baru menghadapi wartawan, bagaimana kalau berhadapan dengan musuh?” “Mungkin dia lebih dari musuh, Bu!” “Lebih dari musuh? Wartawan alias kuli tinta itu sahabat kita, Pak. Mereka pembela rakyat kecil seperti kita! Tapi orang itu, betul wartawan atau bukan?” “Ya wartawan, dong.” “Wartawan apa? Surat kabar atau majalah?” “Tidak tahu.” “Wartawan TV?” “Bukan!” “Makanya! Tanya dulu, jangan belum apa-apa sudah menjawab! Mesti diminta menunjukkan surat penugasannya!” Amat ketawa. “Lho, Pak, jangan main-main. Tidak semua wartawan baik. Ada wartawan gadungan yang suka nambah-nambahi supaya seru. Sebab kalau tidak seru, tidak akan dimuat! Berita kan sudah jadi barang dagangan. Kata Ami, bukan kebenaran dan keadilan lagi yang penting, tapi seru tidak?! Kalau tidak sesuai dengan politik pemiliknya, tidak akan dipakai. Berita tidak bisa dipercaya sekarang. Pak! Karena tergantung pemiliknya!” Amat galau. “Jadi bagaimana ini sekarang?” “Gampang. Bapak masuk saja ke WC saja. Saya ladeni dia. Nanti tak bilang, Bapak mendadak sakit perut dan membatalkan semua yang sudah Bapak bilang. Ayo masuk!” Bu Amat mendorong suaminya masuk WC. Lalu ke depan menemui wartawan itu. Tapi orang itu sudah pergi. TV baru, hadiah ultah dari Ami juga ikut lenyap.

23

Wahyu Windi Yanti

Cintai Pekerjaan agar tak Jadi Beban Masa muda, sebaiknya dimanfaatkan agar ke depan lebih baik. Ungkapan itu melekat pada diri Wahyu Windi Yanti, yang biasa dipanggil Windi Caesar. Ia memilih terjun ke dunia kecantikan meski awalnya dia kuliah di ju­rusan perhotelan di Universitas Trisakti Jakarta. Namun, dunia perhotelan bukan jiwanya.

S

ekitar tahun 2000-an setelah lulus kuliah dia memutuskan pindah ke Amerika Serikat untuk bekerja di hotel. Ia hanya bekerja selama empat tahun di negara Barack Obama itu, lalu memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Alasannya karena kekhawatiran orangtuanya dan kondisi orangtua yang sakit. “Waktu saya balik ke Indonesia, rasanya saya tidak terlalu nyaman di bidang hotel,“ kata wanita yang masih terlihat cantik di usia 45 tahun ini. Akhirnya Windi, memutuskan untuk sekolah di bidang kecantikan di Puspita Martha Jakarta. Ia belajar tentang semua tata kecantikan, seperti kulit, make up wajah, rambut, dll. Sampai akhirnya diajak bergabung menjadi tenaga pengajar di lembaga kecantikan itu. “Sepuluh tahun, saya

bekerja sebagai tenaga pengajar, akhirnya saya memutuskan keluar dan membuka usaha sendiri,” tuturnya. Dalam sepuluh tahun, ia se­ ring bolak-balik Jakarta-Surabaya. Karena kelelahan berpindah tugas itulah, akhirnya Windi memutuskan untuk berhenti dan membuka usaha sendiri di Surabaya. Ia juga ingin fokus mendidik anaknya yang masih kecil-kecil. Di Surabaya, Windi membuka salon spa. Pilihannya menyewa stand di mal. Karena membutuhkan modal yang lebih sedikit dibanding bila membuka usaha sejenis di perumahan. Itulah kenapa Windi, lebih memilih mal dari pada di tempat rumahan. Ibu empat anak ini berprinsip, “bekerja itu harus sesuai dengan hati. Kita mencintai pekerjaan yang membuat pekerjaan bukan

“bekerja itu harus sesuai dengan hati. Kita men­cintai pekerjaan yang membuat pe­kerjaan bukan menjadi suatu beban”

menjadi suatu beban”. Usaha salon dan spa miliknya di Royal Plaza Surabaya diberi nama Spazyo. Spazyo diambil dari nama anak keduanya, Zyo, yang telah me­ ninggal dunia November 2014 karena kecelakaan motor di daerah Diponegoro, Surabaya saat usianya 15 tahun. Meninggalnya Zyo, sempat membuat wanita

Lestari Parlan

Tetap Senyum walau Sedih Dunia perhotelan menjadi panggilan hidup gadis ayu kelahir­ an Maluku, 27 Desember 1989 ini. Ia sudah berkarier di beberapa hotel berbintang di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya dan kini di

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 2.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Lestari Parlan

Hotel Crown Price. Untuk mencapai semua itu, Lestari Parlan, harus rela pergi dari tanah kelahirannya. Saat itu, ketika masih duduk di bangku SMA kelas 2, ia mencari peng­ alaman baru di tempat lain. Meski harus keluar pulau, baginya tidak masalah, asalkan semuanya dilakukan dengan tekad kuat. Apa yang dilakukan ternyata tak sia-sia. Wanita ini melanjutkan sekolah di SMA Petra dan setelah itu ke Manajemen Perhotelan di Universitas Kristen Petra. Perempuan yang akrab disapa Tari ini bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang dan ia merasa menemukan kehidupan­ nya. Itulah yang membuat Tari, akhirnya terjun ke dunia per­ hotelan. Dari beberapa hotel sebelumnya, ia merasa tempat ini belum cocok untuknya. Bahkan, wanita yang cukup supel itu juga pernah kerja di perusahaan modal asing (PMA). Namun, dia terus mencari tempat yang memberi kenyamanan­nya untuk bekerja. Akhirnya, wanita yang masih melajang ini menemukan Crown Price Hotel yang baru berope­rasi Juni 2014. Dia mencoba keber­ untungannya untuk melamar

di hotel tersebut dan diterima. Crown Price Hotel merupakan hotel bintang empat di Surabaya yang ada di tengah kota. Sedangkan, bintang empat lainnya kebanyakan ada di pinggiran kota Surabaya. Tari mengawali karier di hotel mulai dari bawah kemudian menjabat sales coordinator, selanjutnya marketing communication. “Complain itu merupakan hal yang wajar, karena menyenangkan orang dalam waktu yang bersamaan itu susah. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah bagaimana mengubah complain yang disampaikan pelanggan, menjadi senjata untuk membuat pekerjaan lebih baik,“ kata Tari. Hotelier adalah sebutan orang yang kerja di dunia perhotelan dan dunia hospitality. Untuk menjadi seorang hotelier tidak semudah yang dibayangkan. Karena mereka harus tetap menjaga senyumnya, dan memberi kenyamanan kepada pelanggan walau terkadang perasaan sedang sedih karena masalah pribadi. Namun, dengan bertemu dan bergaul dengan banyak orang itu, menjadi kelebihan dari seorang hotelier karena mereka mempunyai skill yang lebih dalam bidang pergaulan. -Dyah Vita Sari

tangguh ini sempat trauma berkepanjangan. Tetapi, ia bisa move on. Dengan memilih nama anak keduanya itu, Windi merasa anaknya seolah-olah tetap bekerja bersama ibunya. Banyak sekali tantang­ an untuk membuka usaha. Banyak hal yang harus ia pelajari, selain manajerialnya, ia juga sebagai marketing quality control untuk produknya. Februari 2015 hingga sekarang, respons masyarakat ter­h adap Spazyo cukup baik. Pengadaan terapis Spazyo juga mulai dari nol. Windi tidak mau mengambil yang berpe­ ngalaman karena itu akan menyulitkan sistem pelayanan. Spazyo mempunyai standart operation

procedure (SOP) yang harus diterapkan terhadap terapis. SOP ini bisa menjadi alat ukur terapis untuk meminimalisir keluhan pelanggan serta bagaimana tiap tamu yang datang, bisa kembali lagi ke Spazyo. Salon spa ini menggunakan produk herbal yang tidak kalah khasiatnya dibandingkan dengan yang lain. Karena produk di tempat ini juga merupakan buatan sendiri. –Dyah Vita Sari

Wahyu Windi Yanti


22

Sosialita

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Ada Ganja Menyusup di Brownies P

sampai Jumat (17/4) malam belum juga diblokir oleh pihak Kominfo ini, dicurigai justru lebih banyak melakukan transaksi kue dan coklat ganja itu. IR sendiri sebagai pemilik toko mengaku awalnya membuat brownies ganja untuk dikonsumsi sendiri. Dia adalah pengidap HIV dan Hepatitis C, ganja digunakan untuk meningkatkan nafsu makannya. Ternyata kue tersebut juga disukai oleh teman-temannya dan akhirnya pembuatan kue itu berkembang menjadi bisnis. Dengan adanya brownies dan coklat ganja ini, tentu membuat para penjual maupun

mengguna lebih leluasa mengkonsumsi ganja, bahkan di tempat umum sekalipun, ketimbang mengisap rokok ganja yang sudah pasti akan mudah dikenali karena baunya yang khas. Seorang stoner (sebutan untuk pengguna ganja) mengaku, sebenarnya brownies ganja itu sudah beredar sejak 2-3 tahun lalu namun untuk kalangan terbatas dan sangat hatihati. Diperjual-belikan beradasarkan pesanan. Itupun hanya bisa dibeli jika pembeli sudah dikenal oleh penjual atau referensi dari seseorang yang dikenal. “Tidak dijual sembarangan. Pemesan harus orang yang dikenal atau referensi dari orang yang dikenal

Barang bukti brownies dan coklat ganja

penjual karena penjual tidak mau terjebak,” ucap lelaki yang mengaku pernah menikmati kue ganja itu. Alfa, sebut saja namanya begitu, sudah puluhan tahun mengkonsumsi ganja. Uniknya, dia mengaku hanya suka ganja, tapi tidak tertarik mencoba jenis narkotika lainnya. “Ganja untuk ngilangin stress aja, jadi bisa enjoy. Kalau yang lain (narkotika jenis lain) gue nggak make,” akunya. KONTROVERSI GANJA Menurut dr Erwin Kusuma dikelompokkannya ganja dalam narkotika masih menjadi kontroversi. Sebenarnya, ungkap mantan dokter di RS Angkatan Darat Gatot Subroto ini, kandungan narkotik tidak ada dalam ganja. Sejak dulu marijuana (nama lain dari ganja) sudah dikonsumsi masyarakat dengan mencampurnya dalam masakan. Namun sejak ganja masuk dalam Narkotika Golongan I UU Narkotika No 35 Tahun 2009, bersama dengan heroin, kokain, opium, katinon, ekstasi, maka penggunaan ganja pun dilarang. Penggunaan Narkotika Golongan I hanya dapat untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, dan tidak digunakan dalam terapi. “Kalau dulu biasa dipakai dalam makanan, masakan sayur, sejak masuk dalam undang undang itu, tidak boleh. Bahkan dokter atau medis pun tidak bisa menggunakannya,” ujarnya. Ganja, lanjutnya, berbeda dengan jenis narkotika lain seperti; heroin, sabu-sabu, ekstasi, dll, yang efeknya sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Sedangkan ganja, efeknya jauh lebih rendah. Namun demikian, apapun juga jika mengkonsumsi secara berlebih, pasti akan berbahaya. Begitu juga ganja. Meski disebut efeknya rendah, namun kalau terus menerus dan dalam jumlah besar, pasti bahaya. Akan terjadi penumpukan racun yang berisiko pada munculnya berbagai penyakit dalam tubuh kita. Jangankan ganja, jika kita makan berlebihan pun tidak baik bagi kesehatan,” jelasnya. Menurutnya ganja tidak menimbulkan ketagihan bagi penggunanya, jika –tentu saja--pemakai tidak menggunakannya dalam dosis besar dan sering. Beda dengan narkotika lain seperti morfin, heroin, di mana si pemakai kecanduan yang jika tidak mengkonsumsi berakibat pada fisiknya. Menjawab pertanyaan tentang kemungkinan ganja yang dikonsumsi

3

Kompyang Pariadnyani

Sempurnakan dengan Shading Alis Korea

Pengedar narkoba semakin ‘gila-gilaan’ dalam memasarkan produknya. Macam-macam cara ditempuh, bahkan sekarang sudah menyusup ke kuliner yang digemari masyarakat. Beberapa waktu lalu terungkap ka­ sus permen ganja yang diedarkan kepada anak-anak sekolah, dan kini masyarakat kembali dikejutkan dengan beredarnya brownies dan coklat mengandung ganja di sebuah mal di wilayah Jakarta Selatan.

enjualan brownies dan ganja yang sudah beberapa bulan menjalankan bisnisnya itu, tidak disadari oleh kebanyakan pengunjung maupun sesama pedagang di mal tersebut. Maklum saja, toko yang dioperasikan oleh IR dan empat temannya itu, menyamarkan diri dengan menjual aksesoris dan baju. Sementara kue dan coklat yang sebagian kecil dan tidak terlalu menyolok. Lagi pula dikemasnya pun dengan baik seperti hal-nya pengemasan kue-kue biasa. Karena itu semua terkejut ketika petugas BNN (Badan Narkotika Nasional) menggerebek toko itu dan terungkaplah kalau toko itu aksesoris dan baju itu, memperdagangkan brownies dan coklat ganja. Menurut pihak BNN ini adalah modus baru dari kalangan pengedar narkotika untuk memasarkan barang haram itu. Sekarang ini, pengedar yang m a k i n berani, melakukan pemasaran dengan berbagai cara. Karena itu diminta ke masyarakat agar berhati-hati, juga mau melaporkan hal-hal yang dirasakan janggal yang terjadi di masyarakat. “Jika membeli makanan dan merasakan dan efek makanan tersebut tidak biasa jangan segan-segan melaporkannya,” kata Kepala Humas BNN Komisaris Besar Slamet Pribadi. Kasus brownies dan coklat mengandung ganja ini pun terungkap karena adanya kasus anak SMP yang tertidur selama dua hari setelah mengkonsumsi brownies ganja. Dari hasil pengungkapan itu, ternyata, brownies dan coklat ganja itu juga dijual di toko online dengan alamat www.tokohemp.com. Website yang

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Brownies dan coklat ganja yang siap edar berhasil diungkap

terus menerus akan menyebabkan ganguan pada kesehatan jiwa, dr Erwin pun membenarkan. “Tentu saja akan terjadi gangguan pada syaraf yang mempengaruhi kesehatan jiwa. Jadi mereka yang sudah kecanduan,sudah pasti terkena gangguan jiwa. Karena mereka yang sehat jiwanya tentu tidak akan mau menggunakan barang tersebut,” ucapnya. Menurut farmokolog, Dr Zullies Ikawati, senyawa psikoaktif pada ganja adalah tetrahidrocanabinnol (THC),yang bekerja padareseptor cannabinoid. Reseptor ini berperan dalam berbagai fungsi fisiologis. Ganja sendiri dalam UU Narkotika masuk dalam Golongan I. “Kriteria masuk dalam Golongan I adalah berpotensi menyebabkan ketergantungan. Semua senyawa psikoaktif menyebabkan adiksi walaupun dengan potensi yang berbeda-beda. Mengapa? Ya karena mekanismenya menyebabkan adiksi berbeda-beda. Adiksi sendiri secara medik didefinisikan sebagai gangguan kambuhan yang bersifat kronis, yang dikarakterisir oleh adanya dorongan untuk mencari dan menggunakan obat, kehilangan kontrol terhadap pembatasan penggunaan obat, dan munculnya emosi negatif (dysphoria, anxiety, irritability) jika tidak mendapatkan obat, walaupun mengetahui efek

buruk pengunaan obat tersebut,” jelas doktor lulusan Ehime University School of Medicine Japan, ini. Terkait efek, lanjutnya, sudah banyak dipublikasikan. Beberapa di antaranya adalah menekankan pada efeknya terhadap peningkatan gejala psikotik (gangguan jiwa), berkurangnya kemampuan kognitif dan efek fisiologis lainnya. Namun yang tak kurang bahayanya adalah, ganja merupakan ‘gateway ’(pintu gerbang) bagi penggunaan obat terlarang lainnya. “Sekali menggunakan cannabis kecenderungan mencoba obatobat terlarang lain kemungkinannya menjadi lebih besar. Disebutkan, risiko memulai penggunaan obatobatan terlarang lainnya menjadi 124 kali lebih tinggi pada pengguna ganja kronis dibanding bukan pengguna,” ucapnya. Sekalipun disebutkan secara fisiologis efek ganja lebih ringan dari senyawa psikoaktif lainnya, namun yang perlu menjadi perhatian dan pertimbangan adalah dampak psikososialnya. “Sebagian besar penggunaan ganja adalah untuk tujuan rekreasional, untuk melarikan diri dari masalah, atau untuk mendapatkan performance yang mungkin bukan sesungguhnya,” tambahnya.-Diana Runtu.

Tiap orang menginginkan wajah yang sem­ purna dan enak dilihat. Alis adalah salah satu unsur penting dalam menata wajah. Dengan alis yang terbentuk indah , selain mampu merepresentasikan kecantikan se­ seorang juga memberikan efek lebih segar serta meningkatkan rasa percaya diri.

M

enurut pemilik Adibi Salon & Spa di kawasan Jalan Letda Tantular, Renon, Ir. Kompyang Pariadnyani, sesuai perkembangan teknologi kecantikan, banyak cara yang praktis dan efektif dapat dilakukan untuk mengubah penampilan. Salah satu yang tengah tren adalah shading alis ala Korea, yakni pengembangan sulam alis yang selama ini sangat diminati. Jero Melati begitu ia sering disapa mengatakan kalau tren shading alis Korea ini , berasal dari Korea. “Gaya sulaman ini mampu memberikan hasil lebih bagus dan tahan lama serta efek yang lebih natural,” papar istri Ir. AA Bagus Kurniawan dari Puri Kelodan Ubud ini. Jero Melati juga menuturkan sudah menjadi kewajibannya untuk selalu mengikuti perkembangan dunia kecantikan demi komitmennya memberikan pelayan yang terbaik dan kepuasan pada semua orang yang berkunjung ke salonnya. Makanya belum lama ini, pribadi yang dikenal ramah ini pun terbang ke luar kota untuk meng–upgrade kebisaannya langsung dari pakarnya

Kompyang Pariadnyani bersama keluarga

terkait penataan alis yang paling anyar bernama shading alis Korea. Selanjutnya sosok yang pertama kali menghadirkan teknik sulam alis berstandar internasional di Bali ini, menjadi sangat sibuk melayani peminat shading alis Korea. Tangan terampilnya pun dengan cekatan mengerjakan sulam gaya Korea yang merupakan karya seni tinggi ini. Meski tercatat sebagai ahli sulam alis berpengalaman dengan jam terbang yang mumpuni, ibu tiga anak ini, AA Adhyatmika Okta Kurnia, AA Abymantra Agusta Kurnia, dan AA Arhycinara June Kurnia, selalu memberi kesempatan kepada kliennya untuk berkonsultasi terlebih dahulu agar terjalin hubungan emosional, sehingga hasil sulaman alisnya bukan hanya indah tapi juga sesuai keinginan pemohon. “Sulam shading alis Korea akan terlihat seperti rambut alis yang tertata halus dan rapi. Gaya sulaman ini bisa untuk perempuan maupun laki-laki, yang alisnya ingin disempurnakan. Misalnya karena memiliki alis yang tipis dan jarang bulunya, terlalu pendek, terputus atau pun memperbaiki alis yang kurang rapi bentuknya,” ujar putri pasangan I Made Yasa dan Ni Made Rai (alm) ini.

Bahan Herbal tanpa Efek Samping Sulam alis atau shading alis Korea kata Jero Melati sesungguhnya mampu mengatasi tiap kekurangan alis yang ada. Baik dalam hal bentuk alis ataupun tebal dan tipisnya sebuah alis. Sulam gaya Korea ini juga dapat disesuaikan dengan karakter wajah. Selain itu, sangat bermanfaat bagi para perempuan yang mobilitasnya tinggi sehingga tidak ingin menghabiskan waktu untuk berdandan tiap harinya. Salah satu penampilan yang menyelaraskan kecantikan wajah kaum perempuan adalah bentuk alis yang indah. Karenanya, alis selalu menjadi perhatian bagi para ahli tata rias kecantikan. Alis yang tepat dan sesuai dengan bentuk wajah bisa mengubah penampilan seseorang. Menurutnya, dalam pembuatan bentuk alis dan guratan garis- garisnya, dimensi (D) menentukan hasilnya, apakah alis seseorang dapat terlihat alami dan sesuai dengan karakter wajahnya. Karenanya, ia pun memberikan pilihan mulai sulam tiga dimensi (3D) dan enam dimensi (6 D). “Tapi, kalau ingin lebih sempurna lagi pilih shading alis Korea. Bagi yang

-ard

kurang pada mata, setelah sulam alis, ada pula sulam eyeliner agar terlihat lebih cantik dan menawan. Apalagi berdasarkan pengalaman mereka yang telah melakukan sulam eyeliner, mengatakan sangat puas dengan hasil yang diperoleh. Diantaranya mata yang semula terlihat kecil atau sipit menjadi terlihat lebih besar. Disamping itu daerah sekitar mata akan terlihat lebih bersinar dan berkarakter. Sejak munculnya shading alis Korea, tren inilah yang paling banyak dipilih dalam langkah penyempurnaan bentuk

wajah. “Jika alisnya sangat tipis maka dibuat seolah memiliki alis yang tebal dan seperti rambut asli. Bulunya dibuat dari garisgaris sehingga kelihatan seperti bulunya timbul, shading-nya kelihatan,” tutur Jero Melati ketika ditemui di salonnya. Saat prosesnya sebagaimana sulam alis, dalam teknik shading alis Korea, diperlukan ketelitian yang ingin segalanya lebih praktis lagi bisa melengkapinya dengan sulam bibir dan sulam eyeliner. Dengan sulam bibir, penampilan pun akan lebih maksimal karena bibir akan terlihat merah alami tanpa memakai lipstik ataupun lipgloss. Sulam bibir juga menggunakan alat canggih yang bisa mendeteksi kulit yang mengandung bahan herbal. Sulam bibir ini tidak menimbulkan rasa sakit, karena menggunakan jarum yang higienis dan steril sehingga keamanannya terjaga. Jika merasa masih ada yang

cukup tinggi. Mulai dari menggambar rambutnya mengikuti arah tumbuh rambut sehingga bisa memunculkan kesan alami yang kuat. Demkian juga sebelum memulai, dikatakannya penyesuaian warna alis dengan bentuk wajah juga menjadi perhatian agar keindahannya benar-benar berfungsi menyempurnakan kecantikan wajah. “Pemilihan warna juga bisa dilakukan sesuai keinginan,” katanya. Usai melakukan shading alis Korea, perawatan yang dilakukan sama seperti sulam alis lainnya, yakni dianjurkan tidak mengonsumsi makanan yang menimbulkan alegi serta tidak sering-sering menggosok alis mata. Jero Melati menegaskan, bahan-bahan yang digunakan untuk shading alis Korea, semua berasal dari herbal sehingga tidak menyebabkan efek samping. “Begitu juga alat-alat yang kami gunakan terjamin kebersihannya, karena hanya satu kali pakai,” tegasnya. Namun, hingga kini Jero Melati, masih banyak melayani permintaan sulam alis 6D tapi lebih banyak lagi yang menginginkan shading alis Korea, karena efek alis tampak lebih natural. “Penanya yang seperti sisir berjarum sepenuhnya digerakkan manual, sehingga kedalaman masuknya jarum lebih bisa dikontrol dengan melihat respons kulit,”cetusnya. Jero Melati menambahkan pelanggan yang datang ke salonnya sangat beragam, mulai dari ibu rumah tangga hingga mereka yang memiliki posisi di suatu instansi swasta maupun negeri, dan dari usia remaja hingga 70 tahunan. Sekarang, bagi yang ingin memaksimalkan penampilan khususnya untuk shading alis Korea, tidak perlu ke luar kota apalagi ke luar negeri, sebab karya Jero Melati sudah terbukti kualitasnya selama ini. “Di Adibi Salon juga tersedia berbagai produk perawatan lainnya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki,dan semua terapis andal yang akan memberikan pelayanan terbaiknya,” ujarnya. Jero Melati tak lupa mengakui, jika perkembangan usaha yang dialaminya kini, berkat dukungan dan dorongan penuh dari keluarga dan sang suami tercinta. “Saya beruntung bisa mendapatkan jodoh seorang suami yang memberi ruang bergerak untuk menyalurkan kreativitas dan keluarga yang sangat mendukung semua aktivitas saya,” tegasnya. -ard


4

Inspirasi

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Ellena Khusnul Rahmawati

Tangani Sanitasi di 47 Desa di Lombok Timur Mengubah mindset, mengubah prilaku yang sudah menjadi kebiasaan suatu kelompok masyarakat, bukan hal mudah. Perlu treatment khusus dan dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa mencapai hasil sesuai harapan. Itulah pekerjaan yang digeluti Ellena Khusnul Rahmawati, seorang aktivis kemasyarakatan yang sehari-hari bergelut dengan berbagai permasalahan masyarakat desa binaannya.

“M

enyentuh mereka (masya­ rakat) bu­ kan hanya dengan program dan motivasi tapi juga dengan ketulusan hati. Jika kita melakukannya dengan tulus, masyarakat pun akan merasakannya,” ungkap Ellena Khusnul Rachmawati, Direktur Yayasan Masyarakat Peduli yang bermarkas di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Salah satu torehan sukses Ellena dan kawan-kawannya adalah kasus pengadaan air bersih masyarakat Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok. Desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani itu mengalami krisis air bersih selama bertahun-tahun. “Bayangkan, desa yang terletak di kaki gunung krisis air, bagaimana bisa? Waktu saya mendengar itu pertama kali, sungguh kaget, lho kok bisa? Tapi itulah yang terjadi,” ujarwanita kelahiran Semarang, Jawa Tengah, itu, saat dijumpai Tokoh di kawasan Menteng, Jakarta. Awalnya, ungkap Ellena, Camat Sembalun datang ke Dinas PU setempat untuk mengungkapkan tentang krisis air di daerahnya. Awalnya, yang terkena krisisbukan hanya Desa Sajang tapi juga tiga desa lainnya. Sebenarnya masalah ini, bukannya tidak pernah ditangani pemerintah setempat, namun hasilnya tidak maksimal. Dari empat desa, Desa Sajang yang terletak paling akhir tidak kebagian air. Walhasil, selama bertahun-tahun warga terpaksa membeli air dan menadah hujan. “Untuk mendapatkan air bersih pun tidak murah, warga harus menyisihkan uang Rp300-500 ribu setiap bulannya. Tapi itu terpaksa dilakukan karena air bersih adalah kebutuhan utama,” jelasnya. Jadi, ketika Pak Camat mengeluhkan masalah itu, pihak PU mengatakan belum ada dana. Namun demikian, ia menyarankan agar Pak Camat bertemu dengan pihak Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) yang diketuai oleh Ellena. Pihak PU menyarankan hal tersebut bukannya tanpa alasan. Pasalnya, sebelumnya YMP pernah sukses mengatasi masalah air bersih di Desa Bagik Papan, Lombok Timu, pada 2008. Berkat hal tersebut, maka PU pun berkeinginan agar Desa Sajang sebelum menerima bantuan, terlebih dahulu ‘digarap’

Ellena Khusnul Rahmawati

oleh YMP seperti halnya di Desa Bagik Papan. “Persoalan di Desa Bagik Papan adalah, desa itu sudah sering kali mendapat bantuan baik dari pemerintah maupun berbagai lembaga lain, namun selalu gagal karena kurang melibatkan masyarakat baik dalam proses perencanaan, maupun saat proyek berjalan. Masyarakat hanya menjadi penonton. Sehingga ketika bangunan itu suatu ketika rusak, mereka tidak peduli karena tidak merasa memiliki,” papar ibu dari Iqbal dan Annisa ini. “Jadi ketika saya masuk ke Bagik Papan, saya sebagai konsultan pengorganisasian masyarakat. Kepada masyarakat saya katakan, desa ini kerap kali mendapat bantuan tapi selalu gagal. Hal ini karena kurangnya keterlibatan masyarakat. Lalu saya tanya ke masyarakat, apakah tetap bertahan seperti ini ataukah mau berubah sehingga desa akan menjadi subur karena adanya air. Akhirnya masyarakat bertekad mau berubah.Dan akhirnya program air bersih di Desa Bagik Papan pun bisa berjalan baik. Jadi itulah latar belakang kenapa pihak PU menyarankan Pak Camat untuk bertemu kami,” jelas wanita berkerudung ini. Temuan pihak YMP, tutur Ellena lebih lanjut, kondisi masyarakat Sajang memang sungguh kasihan. Warga antri air bersih yang mengalir hanya menetes-netes sejak pukul 03 pagi. Total ada 4.032 jiwa di desa itu. Sudah bertahuntahun mereka mengalami masalah itu dan hampir putus asa. Malah sebagian berencana pindah ke

Lombok Utara karena sudah tak tahan lagi. “Untuk mendapat air mereka harus berjalan ke mata air kecil yang jaraknya 2 kilometer atau membeli,” ucapnya. Jadi, lanjut Ellena, dengan berbekal data itulah ia dan timnya dari YMP masuk ke Desa Sajang.”Kepada masyarakat kami

katakan, jika ingin memiliki air bersih, masyarakat harus swadaya, jangan mengharapkan bantuan dari pemerintah ataupun pihak lain. Karena kalau menunggu, bantuan tidak akan datang. Tapi kalau masyarakat terlebih dahulu bergerak dan menunjukkan hasilnya, bantuan dari luar pasti akan datang. Tidak mudah meyakinkan mereka, tapi akhirnya,alhamdulilah, mereka sepakat bergerak , gotong-royong mengadakan air bersih,” katanya. Saat ini, peraih penghargaan Wanita Inspiratif Unilever 2012 ini, tengah menangani masalah sanitasi di 47 desa di Lombok Timur. Ini juga masalah yang tidak mudah karena terkait dengan mindset dan kebiasaan yang sudah berjalan sejak dulu. Tugas ia dan timnya adalah harus berjuang mengubah mindset masyarakat yang kurang peduli pada sanitasi yang sehat. Proyek ini juga dilaksanakan di Lombok Timur terhadap 47 desa dengan jumlah penduduk 186 ribu jiwa. Awalnya, tutur Ellena, ini pun tidak mudah. Ia mendapat banyak penentangan. “Masyarakat maunya uangnya dulu, bangun fisik dulu, sedang yayasan saya tidak. Saya ajak mereka kerja dulu, banyak yang menolak. Kami masuk tidak membawa bantuan fisik, tidak bawa uang. Tapi memberi bantuan data, menyapa mereka. Kita datangkan ahli-ahli untuk berbicara dengan mereka, memberi bantuan ketrampilan, dll, tapi bukan uang. Untuk meyakinkan mereka sulit sekali, meskipun akhirnya setelah terus menerus berdialog, mereka pun sepakat swadaya

dulu. Hanya dua desa yang ketika itu menolak ikut. Setelah tiga tahun, hasilnya luar biasa, semua mata terbelalak melihat hasilnya. Kami memiliki desa-desa yang militan. Kami juga memiliki fasilitator-fasilitator desa yang benar-benar muncul dari masyarakat. Inilah hasil kerja luar biasa dari masyarakat yang bersatu padu membenahi lingkungannya. Masyarakat mengatakan, inilah kegiatan yang mereka rindukan dimana mereka dilibatkan secara aktif dalam berbagai kegiatan di desanya. Mereka yang mengerjakan sendiri, bukan orang yang didrop dari luar desa,” tutur Ellena bersemangat sembari menambahkan, bantuan dana baru masuk setelah program berjalan setahun. Program sanitasi ini adalah satu dari lima pilar program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yang juga digalakkan di seluruh Indonesia. Salah satu pendonornya adalah dari Kedutaan Besar Belanda. Baru-baru ini, kata Ellena lagi, para penggerak STBM 5 Pilar ini, berkumpul di Jakarta karena proyek tahap pertama hampir selesai dan akan dilanjutkan ke tahap kedua. “Pihak Kedutaan Belanda memberi bantuan dana bukan untuk pembangunan fisik tapi untuk orang-orang yang membina masyarakat. Misalnya, untuk membiayai operasional program, misalnya, pelatihan-pelatihan kader, review, membangun opini, penguatan kapasitas untuk kepala desa, dll,” ucapnya. -Diana Runtu

Dahsyatnya Kekuatan Rakyat Asal tahu saja, untuk bisa mengadakan air bersih, sumber air besar letaknya 25 km dari desa, itupun mereka harus membelah tebing. Bisa dibayangkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu. Tapi ini sungguh luar biasa. Semangat masyarakat yang sudah bertekad memiliki air bersih, dengan bergotong-royong, mampu membiayai proyek mereka sendiri. “Mereka mampu membelah tebing, mengadakan pipa sepanjang 25 km. Bayangkan, betapa dahsyatnya kekuatan rakyat apabila mau bekerja bersama-sama. Itu semua dikerjakan selama 1 tahun. Dan yang perlu dicatat, biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk membiayai proyek tersebut, tanpa bantuan pihak luar, adalah Rp3 miliar. Luar biasa, bukan?” Setelah satu tahun berjalan, barulah bantuan dana dari luar datang, baik dari pemerintah maupun lembaga-lembaga lain. Masyarakat Desa Sajang bergembira, tapi Ellena dan teman-temannya di YMP pun tak kurang bahagianya, karena lagi (lagi) program yang mereka jalankan dapat berjalan baik. Keberhasilan ini mendapat publikasi luas di tingkat lokal maupun nasional. Bahkan lembagalembaga donor dari luar pun ikut menyoroti. Walhasil nama Ellena dan YMP pun mencuat, sejumlah penghargaan pun diraih.

“Bukan soal penghargaan, tapi jika program kami berjalan dengan baik, kami puas. Kami bahagia kalau masyarakat bisa memetik manfaatnya,” katanya. Mungkin, orang hanya melihat ujungnya saja atau akhir kisah bahwa proyek itu berhasil, namun tutur Ellena, dalam prosesnya, apalagi saat meyakinkan masyarakat akan pentingnya program itu, bukan hal yang mudah. Mengubah mindset, mengubah pola pikir apalagi terhadap masyarakat yang nyaris kehilangan harapan, itu membutuhkan ‘enerji ekstra’. “Tentu saja diawal, tidaklah mulus. Prokontra tentu ada. Ada juga pihak-pihak yang selama ini mendapatkan keuntungan dari situasi sulit itu menentang program ini, atau ada pihak yang kurang percaya, dll. Nah inilah yang kami ‘garap’, berusaha meyakinkan mereka bahwa harapan untuk memperoleh air bersih, tetap terbuka asalkan mau bekerja sama,” ucap Ellena yang juga sempat kena ‘teror’ pihak-pihak tertentu terkait masalah tersebut. Tapi sarjana akuntasi dari Yogyakarta yang dikenal tegas ini, tak khawatir dengan ancaman maupun teror, sekalipun dia perempuan. Dia percaya, Tuhan pasti akan melindunginya karena apa yang dia perbuat adalah sebuah kebaikan dan kebenaran. - Diana Runtu

Mandalika

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

21

Jokowi Resmikan Gunung Tambora Sebagai Taman Nasional

Berbagai kegiatan dilakukan Presiden RI, Joko Widodo dalam kunjungannya ke Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Selain menghadiri puncak acara “Tambora Menyapa Dunia” sebagai peringatan 2 abad meletusnya Gunung Tambora, Joko Widodo juga melakukan panen raya jagung di wilayah Kabupaten Dompu. Selain itu, satu momen penting bagi daerah ini juga dilakukan untuk mengungkit angka kunjungan wisatawan ke NTB dengan ditetapkannya Gunung Tambora sebagai Taman Nasional.

P

residen RI Joko Widodo (Jokowi) secara resmi menetapkan Kawasan Gunung Tambora yang berada di Kabupaten Dompu, Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu Taman Nasional di

Indonesia. Penetapan ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh presiden didampingi Menteri LHK Siti Nurbaya, Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi, dalam acara peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora, yang digelar

Kedatangan Presiden di Bandara Internasional Lombok

Peresmian Gunung Tambora sebagai Taman Nasional

di Padang Savana Doro Ncanga, Kabupaten Dompu, Sabtu (11/4). Sebelumnya, kawasan Gunung Tambora ini merupakan kawasan konservasi sejak 1937. Penetapan sebagai taman nasional juga berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.111/MenLHK-II/2015 pada 7 April 2015. Dalam pidatonya, Presiden Jokowi mengajak masyarakat setempat untuk menjaga sekaligus memelihara kelestarian kawasan Gunung Tambora. “Saya minta agar kawasan ini dijaga dan dirawat, jangan sampai ada yang dirusak,” ujarnya. Kawasan Gunung Tambora berada di Pulau Sumbawa dengan luas 71.645,74 ha. Secara administratif terletak di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Provinsi NTB. Status kawasan sebelum menjadi Taman Nasional terdiri dari Cagar Alam seluas 23.840,81 hektare, Suaka Margasatwa 21.674,68 hek-

tare, dan Taman Buru 26.130,25 hektare. Kawasan Gunung Tambora sebelumnya adalah kawasan konservasi dengan potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Vegetasi yang tumbuh terdiri dari 106 jenis pohon, 18 jenis epifit, 6 jenis herba, 39 jenis liana, dan 49 jenis perdu. Kawasan konservasi Gunung Tam-

bora merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa di antaranya dari kelas mamalia (Rusa Timor), reptil (Biawak, Kadal Pohon, Ular Sanca), primata (Kera Abu) dan aves. Terdapat 8 jenis burung yang dilindungi, 1 jenis di antaranya merupakan spesies prioritas terancam punah dan dua jenis burung endemik NTB.

Promosi Pariwisata NTB lewat Festival Tambora Presiden Jokowi meminta event “Tambora Menyapa Dunia” bisa menjadi festival tahunan sebagai ajang promosi pariwisata untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke NTB. Hal ini disampaikan presiden saat menghadiri puncak peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora, yang digelar di Padang Savana, Doro Ncanga, di Kabupaten Dompu, Sabtu (11/4). “Yang pertama saya ingin titip, peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora, Tambora Menyapa Dunia ini agar setiap tahun dijadikan momentum untuk promosi pariwisata baik Dompu, Bima maupun Nusa Tenggara Barat,” kata presiden. “Tadi saya sudah bisikin Menteri Pariwisata agar ada setiap tahun Festival Tambora. Yang membiayai pemerintah pusat,” lanjut Presiden Jokowi disambut tepuk tangan ribuan pengunjung. Pada saat yang sama, Presiden Jokowi juga menetapkan Kawasan Gunung Tambora sebagai salah

Jokowi dalam rangka kunjungan kerjanya ke NTB. Presiden berada di NTB selama tiga hari. Dan, ini merupakan kunjungan pertama kalinya sejak ia dilantik sebagai Presiden RI. Selama di NTB, banyak kegiatan yang dilakukan Presiden Jokowi. Di antaranya, meninjau Kawasan Ekonomi khusus (KEK) Mandalika Resort, meresmikan gedung IPDN Kampus NTB

di Praya Lombok Tengah, salat Jum’at di Masjid Agung Praya dan panen perdana jagung di Lanci, Manggalewa, Kabupaten Dompu. Selain itu, Presiden Jokowi didampingi Gubernur NTB juga “blusukan” pada malam hari menyapa sejumlah pedagang kaki lima di kawasan Jalan Udayana, Mataram. Dan, berolahraga sepeda pada pagi hari mengelilingi Kota Mataram. --Hms

Presiden Jokowi saat diwawancara media

satu Kawasan Taman Nasional di Indonesia. Sebelumnya, kawasan Gunung Tambora merupakan kawasan konservasi sejak tahun 1937. Presiden menegaskan, Kawasan gunung Tambora merupakan salah satu aset yang harus dijaga sekaligus dikembangkan sebagai

kawasan yang memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat. “Saya minta ini agar dijaga dan dirawat jangan sampai ada yang dirusak,” kata Presiden. Puncak peringatan Tambora menyapa Dunia 2015 adalah salah satu kegiatan yang dihadiri Presiden

Jokowi panen jagung


20

Inspirasi

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Sagung Wah

IA Selly D. Mantra

Dedikasinya untuk Generasi Penerus

Luar biasa melihat perempuan satu ini, di tengah beragam peran yang mesti dijalankannya, ia tidak pernah berhenti mengajak semakin banyak orang untuk peduli dan berkontribusi bagi sesama, terutama anak-anak penyandang disabilitas, yakni tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, tunalaras, tunagrahita dan anak-anak berkebutuhan khusus lainnya di Kota Denpasar.

I

A Selly D. Mantra, Ketua Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kota Denpasar, dikenal sebagai motor dan dinamisator dunia anak-anak yang memiliki keistimewaan ini. Sebab baginya sosok anak (baca: semua anak), sangat penting dan sangat berarti. “Kami merasa berhasil sebagai orangtua begitu melihat anak-anak bisa berdiri tegak di atas kedua kakinya. Melihat mereka bahagia adalah bahagianya kami. Dan, pastinya anak adalah generasi penerus bangsa kita ke depannya,” tegasnya. Segala upaya telah dilakukan istri IB Rai Dharmawijaya Mantra, Wali Kota Denpasar ini tanpa pamrih. Hal ini, katanya lebih merupakan sisi “emosional”

IA Selly D. Mantra

seorang ibu, yang ingin melihat anak-anak bangsa ini bisa mandiri dan ke depannya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik.

Kepedulian pada kebutuhan perkembangan anak sudah menjadi salah satu prinsip Ketua TP PKK Kota Denpasar ini. Konsisten merancangkan masa depan bagi anak berkebutuhan khusus dengan menanamkan kemandirian sejak dini . Di samping dalam komunitasnya, sebagai generasi muda mereka pun memperoleh pengetahuan mengenai nilai-nilai kehidupan yang sebenarnya. Bagaimana bisa mengekspresikan perasaan dengan cara yang sopan, berempati dan berbagi dengan sesama, struggle saat menghadapi masalah, mandiri, cinta kepada orangtua, keluarga, bahkan tanah air, dan budayanya.

Selly D. Mantra mengatakan semua bentuk dukungan dan perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus serta penyandang disabilitas di Kota Denpasar, selain sebagai sosok ibu, ini karena mereka merupakan anak-anak generasi penerus yang memang harus diperhati-

Pelatihan PLA

Ia sangat percaya setiap manusia punya kedudukan dan harkat yang sama. Selly D. Mantra juga percaya keterbatasan tidak menjadi penghalang cita-cita dan harapan anak-anak penyandang disabilitas ini. Apa yang disandangnya kini justru menjadi motivasi untuk berjuang keras melawan keterbatasan. “Saya bangga melihat kemauan mereka mengaktualisasikan diri dan membuktikan bahwa mereka mampu menjadi sosok mandiri bahkan bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Ibu tiga anak dan dua cucu ini. Di bawah bimbingannya bersama Ny. Antari Jaya Negara dan Ny. Kerti Rai Iswara, menjadikan setiap kegiatan anak-anak berkebutuhan khusus, begitu

juga penyandang disabilitas di Kota Denpasar yang berhasil menuai prestasi hingga di tingkat nasional dan tentu saja menuai decak kagum dari orang-orang di sekitarnya. “Kami yang ada di K3S dan teman-teman senang melihat mereka sebagai sosok- sosok yang tidak mudah putus asa atau pantang menyerah,” cetusnya. Meski belum ada program gerakan peduli terhadap anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas secara nasional, namun di Kota Denpasar, Ketua K3S sudah menjalankannya. Tentu dengan melibatkan aparat pemerintah dari tingkat yang paling bawah hingga yang ada di Kota Denpasar. “Gerakan atau program yang kami canangkan adalah yang sederha dan tidak muluk-muluk. Satu keinginan kami terhadap anak-anak berkebutuhan khusus juga penyandang disabilitas ini, adalah mereka bisa mandiri ke depannya. Tidak bergantung pada orang lain lagi,” tandasnya. Dikatakannya program-program yang diluncurkan lebih banyakyang sifatnya melatih

keterampilan, sehingga mereka mempunyai suatu bekal untuk lebih mandiri. Beberapa pelatihan yang sudah berjalan di antaranya, pelatihan merangkai bunga, tata rias dan cukur (untuk tunarungu). Selain pelatihan tersebut juga dilakukan kegiatan mengembangkan dan mengasah bakat mereka, mulai dari olah vokal atau bernyanyi. Bahkan, bagi anak-anak yang talentanya di seni suara ini sudah pula dibuatkan album. Begitu juga yang menari, disiapkan sanggarnya. Sedangkan bagi yang hobi menulis akan dibantu menerbitkan bukunya. Dengan programnya yang sederhan namun tepat guna, dan berhasil membangkitkan kemampuan yang sedemikain rupa, tak heran jika kiprah Selly D. Mantra pun bergaung hingga di tingkat nasional. Bahkan beberapa kali ia diundang sebagai pembicara di luar kota mengenai pembinaan yang dilakukan terhadap anak-anak penyandang disabilitas dan berkebutuhan khusus di Kota Denpasar.

kan hak-hak dan masa depannya. “Di sini juga kami bergandengan dengan pemerintah, praktisi dan organisasi serta pengusaha yang peduli dengan anak. Juga dibantu teman-teman yang peduli terhadap anak-anak tersebut. Malah tanpa diajak, jika mereka tahu justru banyak yang menawarkan diri untuk ikut bergabung bersama. Kalau bisa kami ingin semua lapisan masyarakat peduli terhadap mereka,” tuturnya berharap. Tak ketinggalan Selly D. Mantra juga membuat suatu gebrakan, dengan bantuan temanteman pengusaha untuk bisa mempekerjakan penyandang disabilitas ini. “Pemerintah Kota Denpasar malah sudah memberi contoh dengan menerima mereka di beberapa instansi, seperti

di Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, hingga menjadi penyiar radio milik Pemkot,” terangnya. Sesungguhnya pula, kata pe­ rempuan yang dikenal energik ini, negara telah menjamin bah­ wa anak-anak spesial ini mendapat hak yang sama dengan anak yang lainnya dalam hal hak untuk mendapatkan pendidikan seperti yang tertuang dalam aturan berikut : UUD 1945 Pasal 31 ayat (1), “Tiap-tiap war­ga negara berhak mendapat pengajaran” ; dan UU RI Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 5 ayat (2), “Warga negara yang memiliki kelainan fisik, mental/intelektual, sosial, dan emosional berhak memperoleh Pendidikan Khusus”. Namun, lanjutnya kita tidak bisa hanya diam menunggu pemerintah melakukan sesuatu. Tidak hanya di Indonesia, di selu-

ruh dunia pun dikatakan negara tidak akan mampu menangani hal ini sendirian. Diperlukan banyak gerakan swadaya masyarakat untuk bersama-sama mewujudkannya. “Potensi mereka sangat luar biasa kalau kita bisa mengarahkan, akan menjadi bentuk yang produktif dan bermanfaat . “Kondisi ini juga tidak terlepas dari para orangtua, yang mempunyai semangat tinggi untuk keberhasilan anak-anak mereka,’ ucapnya lebih lanjut. Sekarang jumlah anak berkebutuhan khusus cenderung bertambah, akibat gaya hidup dan pola asuh juga (khususnya yang autis). Ini, artinya mereka menunggu kita semua untuk bangkit dan melakukan sesuatu. Mari kita bertanya pada diri sendiri, apa yang kita bisa sumbangkan untuk hal ini ? Bicara harapan ke depan, Selly D. Mantra seperti programnya yang sederhana, ingin agar anak-anak kita ini bisa memiliki keterampilan lebih bagi masingmasing agar mereka lebih mudah bisa diterima bekerja, di perusahaan-perusahaan swasta dan dunia kerja lainnya. -ard

Hari Autis Sedunia

5

Kisah Heroik dalam “Pebalikan Wongaya” Banyak pejuang perempuan yang menjadi sumber inspirasi, seperti RA Kartini, Cut Nyak Dien, dll. Mereka tidak hanya memperjuangkan hak perempuan tetapi mereka membuka cara pikir masyarakat tentang perempuan. Mereka berjuang untuk menunjukkan diri sebagai perempuan dengan caranya sendiri. Di Bali, salah satu contohnya, pejuang Sagung Wah yang memimpin rakyat Tabanan ketika melawan Belanda. Sagung Wah merupakan putri dari Raja Tabanan yang bergelar Sri Arya Ngurah Tabanan, Betara Ngeluhur Ratu Singasana XX.

Anak-anak Pantas Mendapatkan yang Terbaik

Outbound anak autis

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

S

Lukisan Sagung Wah

osok Sagung Wah diketahui sebagai pejuang perempuan dalam peristiwa heroik di kalangan masyarakat Tabanan yang dikenal dengan “Pebalikan Wongaya” atau “Perlawanan Wongaya”. Peristiwa “Pebalikan Wongaya” tersebut masih memiliki benang merah dengan perang Puputan Badung tanggal 20 September 1906. “Saat itu Badung diserang dan berakhir dengan kekalahan di pihak Kerajaan Badung, pihak Belanda melanjutkan serangan ke Tabanan,” tutur I Gusti Ngurah Agung Suteja mengawali perbincangan saat ditemui di Puri Dangin Tabanan. Beberapa keturunan Sagung Wah menceritakan awal mula perjuangan Sagung Wah. Dimulai dari I Gusti Ngurah Agung Suteja sebagai buyut dari Sagung Wah, kemudian dr. I Gusti Ngurah Agung Wiraputra, Sp.OG, dan I Gusti Ngurah Gede Nugraha. Ada pula tiga kompyang dari Sagung Wah yakni I Gusti Ngurah Anik Aryanto, Ir. I Gusti Ngurah Agung Pariyuda, dan I Gusti Ngurah Alit Widaswara. Mereka memaparkan jejak langkah Sagung Wah hingga

menerima penghargaan Nari Kusuma. Sebuah penghargaan bagi tokoh wanita Bali yang berperan penting untuk masyarakat. Usai menaklukan Badung, Belanda nampak belum puas. Belanda melancarkan serangan hingga ke Kerajaan Tabanan pada tanggal 26 September 1906 di bawah pimpinan Mayor Jendral Ros Van Tonningen. Belanda tiba di Desa Beringkit sekitar pukul 13.00. Berita itu tersiar hingga Raja I Gusti Ngurah Rai Perang tersentak mendengar berita tidak sedap itu. Kerajaan Badung dan Tabanan telah membuat kesepakatan untuk saling membantu. Maka dari itu, Raja Tabanan berusaha mengadakan perundingan dengan pihak Belanda agar mencapai kesepakatan. “Setelah Badung kalah, Raja Tabanan pun segera melaksanakan perundingan yang kala itu harus ke Denpasar untuk bertemu langsung dengan Komisaris Pemerintah F.A. Liefrinck. Namun, Belanda melanggar perjanjian. Raja Tabanan diasingkan ke Lombok bersama saudara dan putra beliau. Raja Tabanan memilih mati ketimbang menjadi tawanan. Keesokannya tanggal 29 September 1906 di pagi hari, Raja Tabanan ditemukan tewas. I Gusti Ngurah Rai Perang meninggal dengan cara nuweg rage (bunuh diri) dengan menggunakan penyokcokan (sebuah alat yang biasa dipakai orang untuk makan sirih). Putra beliau, I Gusti Ngurah Gde Pegeg meninggal dengan cara menelan sari (sejenis cairan candu). Hal tersebut suatu bukti bahwa Raja Tabanan seorang yang teguh memegang prinsip,” imbuh dr. I Gusti Ngurah Agung Wiraputra. Saat kerajaan tanpa pemimpin, secara paksa oleh Belanda menduduki Tabanan. Beberapa keluarga kerajaan mencari tempat yang aman untuk persembunyian. Salah satu keluarga kerajaan yang berhasil menlindungi diri adalah

Sagung Wah. Saat itu Sagung Wah belum memiliki keyakinan dan kemampuan memimpin pasukan perang untuk melawan Belanda. Setelah dilakukan beberapa perundingan dengan keluarga kerajaan yang masih tersisa, diputuskanlah Sagung Wah keturunan Raja Tabanan yang bergelar Sri Arya Ngurah Tabanan, Betara Ngeluhur Ratu Singasana XX sebagai pemimpin. Sagung Wah akhirnya memiliki gairah berjuang. Demi rakyat, demi martabat. Tentu ia tidak ingin daerahnya dikuasai semenamena oleh Belanda. Berkat latihan beberapa bulan di Desa Wongaya, Sagung Wah sudah mampu menguasai teknik-teknik perang. Selain itu, Sagung Wah memang memiliki taksu dalam menghimpun pasukan. Kekuatan dari dalam itu menjadikan Sagung Wah tidak gentar memimpin pasukan yang dominan laki-laki. Persoalan melawan Belanda nampak tidak jadi masalah pelik sebab rakyat Tabanan sepenuhnya mendukung Sagung Wah. “Sagung Wah berhasil meloloskan diri dari serangan Belanda tersebut, serta menghimpun kekuatan di Desa Wongaya Gede bersama para Kebayan yaitu pemuka masyarakat setempat. Tidak hanya itu, rakyat Wongaya Gede juga ikut melawan Belanda. Dengan rasa juang yang tinggi, Sagung Wah memimpin pasukan dengan kepercayaan yang tinggi terhadap kekuatan yang diberikan oleh para dewa yang bersemayam di Pura Luhur Batukaru, tanggal 28 November 1906,” tegas I Gusti Ngurah Gede Nugraha.

Penghargaan Nari Kusuma untuk Sagung Wah

Ketika pasukan Sagung Wah bertemu dengan tentara Belanda di sebelah utara Desa Pasekan, kemudian terjadi perang darah. Oleh karena pasukan tentara Belanda memiliki persenjataan yang lebih modern, banyak anggota pasukan Sagung Wah yang gugur. Sagung Wah dan beberapa orang pengikutnya ditangkap Belanda, dan akhirnya ada yang dibuang ke Lombok, ada juga yang diasingkan ke Banyuangi, Sawah Lunto, dan Aceh. Tentu keberadaan Sagung Wah tidak serta merta diabaikan setelah kejadian tersebut. Jejak Sagung Wah masih nampak dalam semangat rakyat Tabanan yang mengadakan peringatan atas perjuangan Sagung Wah membela Tabanan. Peringatan tersebut bertepatan dengan perayaan HUT Kabupaten Tabanan, 28 November. Beberapa pertunjukan terkait

Keturunan Sagung Wah

perjuangan rakyat digelar. Salah satunya, pementasan sendratari tentang “Pebalikanan Wongaya” yang dipimpin Sagung Wah. Tidak hanya itu, untuk menghargai pengorbanan Sagung Wah dan mengabadikan semangatnya, pemerintah Tabanan membuat replika Sagung Wah. “Sagung Wah tentu dapat menghidupkan energi perjuangan di masa kini lewat kisah-kisahnya. Semoga bisa menginspirasi perempuan Bali,” kata Ir. I Gusti Ngurah Agung Pariyuda. Pemerintah daerah dan keluarga kini tengah memperjuangkan tokoh perempuan Sagung Wah sebagai pahlawan nasional. Sudah terbukti bila Sagung Wah memimpin pasukan perang untuk membela tanah air. Sebelum itu, Sagung Wah menerima penghargaan Nari Kusuma. Sebuah penghargaan yang diperuntukan bagi perempuan pejuang yang telah berkorban untuk negeri. Keberadaan Sagung Wah lebih baik dimaknai sebagai langkah perempuan yang berani mengambil risiko. Mengambil jalan mati untuk negeri. Langkah darah yang ditempuh itu tidak mungkin ada bila Sagung Wah tidak mempunyai ketetapan hati membela harga diri, membela tanah pertiwi. Di masa yang akan datang tentu napas dan gairah perjuangan masih mengalir, hingga akhir zaman, agar perempuan mampu berjuang bagi diri sendiri dan bagi kehidupan. –Wulan


6

Women on Top

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

hal itu sekarang,” tambahnya. Namun, lepas dari persoalan terse­ but, diakuinya bahwa banyak kemajuan yang dicapai terkait regulasi yang men­ jamin hak-hak perempuan, khususnya di tingkat nasional. Di bidang politik misal­ nya, adanya regulasi tentang kuota 30% keterlibatan perempuan di legislatif. Meskipun Azriana mencatatnya sebagai suatu kemajuan, tapi tetap saja ia menilai itu sebagai kebijakan setengah hati lan­ taran tidak ada garansi bagi calon. Apa yang disampaikan Azriana memang tidak mengada-ngada karena faktanya sekalipun pada saat pencalo­ nan kuota 30% dapat dicapai namun saat keterpilihan hal itu belum tentu. Artinya, memang tidak ada garansi harus 30% perempuan di parlemen. Padahal berdasarkan data, jumlah partisipasi perempuan sebagai calon mengalami peningkatan baik dari Pemilu 2009 mau­ pun 2014. Pada 2014 malah berdasarkan

Azriana RM

Kebijakan Setengah Hati Tegas dan konsisten, itulah sosok Azriana RM, nahkoda baru Komisi Nasional Anti-Keke­rasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) periode 20152019. Minggu pertama di awal April, wanita asal Aceh ini terpilih sebagai Ketua Komnas Perempuan menggantikan ketua sementara Budi Wahyuni.

B

egitu banyak masalah terkait perempuan yang menanti untuk segera digarap dalam masa kepemimpinananya, misalnya, tentang RUU Kekerasan Seksual, membuat me­ kanisme pemulihan korban kekerasan, dll. Itu semua tentunya tidak lah mudah. Namun mantan advokat LBH Iskandar Muda Lhoksumawe ini merasa yakin dan optimis karena ada sejumlah komisioner yang membantunya.“Tentu hal-hal itu tidaklah mudah. Namun bersama tim yang sudah terbentuk, saya yakin bisa optimal dalam menjalankan berbagai agenda Komnas sampai empat tahun ke depan,” tegas Azriana. Berkecimpung sebagai aktivis perem­ puan telah dilakoni wanita kelahiran Lhoksuko, Aceh, 1968, ini sejak masa kuliah. Tamat dari Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, ia pun langsung bekerja sebagai pengacara di LBH Iskandar Muda Lhoksumawe di mana ia banyak menangani berbagai

masalah terkait perempuan. Ia makin konsen pada persoalan perempuan, Az­ riana pun pindah ke LBH APIK (Asosisasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) Aceh sejak tahun 2000. Meski statusnya sebagai pengacara APIK, namun ia juga terlibat dalam berbagai organisasi yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Di antaranya, menjadi Sekjen Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan yang dijabatnya dari 2010-2014, setelah men­ jadi Koordinator Wilayah Timur Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan. Berkip­ rah di Komnas Perempuan juga bukan hal yang baru baginya karena sebelumnya ia sempat menjadi komisioner di lembaga tersebut yakni tahun 2007-2009. Dalam bincang singkat dengan Tokoh terkait pemaknaan Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April, Azriana mengemukakan tentang pemaknaan baru perjuangan Kartini. Kalau dulu, pemaknaan perjuangan RA Kartini adalah menghapus diskriminasi dan persamaan hak perempuan untuk mendapatkan

Ni Luh Rinun, S.Pd., M.Pd.

Efektifkan Buku Penghubung

S

ekolah Cipta Dharma Denpasar terkenal kedi­ siplinannya. Itu pula yang kini terus ditingkatkan oleh Ni Luh Rinun, S.Pd., M.Pd., Kepala SD Cipta Dharma yang sebe­ lumnya menjabat Wakasek bagian Kurikulum dan wali kelas 6 ini. Sebagai Kasek baru menjabat tahun ajaran 2014/2015, programnya masih meneruskan program lama yang belum terselesaikan dan tentu­ nya meningkatkan kualitas programprogram yang sudah berjalan. Yang paling utama dibenahinya adalah kedisiplinan warga sekolah karena itu merupakan kunci dari semua keberhasilan. Ini dimulainya dari para guru, karena guru wajib digugu dan ditiru (sebagai contoh). Sistem absensi yang dulunya memakai sidik jari diubah ke manual. Alasan Rinun, jika seandainya ada guru yang tidak disiplin waktu, bisa langsung dipang­ gil, sehingga tidak harus menunggu hasil print absensi sidik jari sebulan kemudian. “Jadi, semuanya bisa cepat ditanggulangi,” ujar istri I Dewa Putu Lendrayana ini.

Di Cipta Dharma, sesuai tata tertib, guru harus datang paling lambat pukul 07.00 sedangkan siswa pukul 07.10. Pukul 07.15, siswa sudah di kelas melakukan meditasi lebih kurang 15 menit sebelum jam pelajaran formal dimulai. Siswa dari kelas 4 sampai kelas

pendidikan, namun sekarang, sudah saatnya ditambahkan pemaknaan baru. Untuk kesempatan dalam pendidikan, katanya, saat ini sudah tidak lagi terlalu bermasalah. Karena perempuan pun mendapat kesempatan untuk meraih pendidikan setinggi mungkin. Namun, ia melihat sampai sekarang masih adanya pembatasan terhadap ruang gerak perempuan. Lahirnya regulasi-regulasi yang membatasi akses perempuan. “Saya berpendapat, kita harus memberi pemaknaan baru untuk memperingati Hari Kartini. Jadi tidak lagi sebatas memperjuangkan kesem­ patan pendidikan, tapi juga perjuangan untuk persoalan-persoalan perempuan lainnya. Misalnya, memperjuangkan bagaimana agar akses kita (perempuan)

tidak dibatasi,” ujarnya. Saat ini masih banyak daerah mem­ berlakukan peraturan-peraturan yang diskriminatif terhadap perempuan. Komnas Perempuan mencatat, setelah otonomi daerah, banyak daerah seo­ lah ingin menunjukkan ‘identitas’nya. Atas nama moralitas dan agama, mereka ingin terlihat sebagai daerah yang religius, dengan cara membuat kebijakan-kebijakan yang membatasi ruang gerak perempuan. Sebut saja peraturan tentang tata cara berbusana bagi perempuan, dll. “Bagi saya, ini adalah sebuah kemun­ duran,” tegasnya. Ia mencatat ada 365 peraturan di berbagai daerah di Indonesia yang diskriminatif terhadap perempuan. “Jadi saya pikir kita berhadapan dengan

daftar calon terdapat 37%, namun yang terpilih atau berhasil lolos hanya sekitar 17,3%. “Jadi, tidak ada garansi untuk kuota 30% itu. Karena itu kami menilainya kebijakan itu masih setengah hati,” katanya. Perjuangan kaum perempuan, me­ mang masih panjang untuk mencapai apa yang dicita-citakan.Wanita bisa sejahtera kalau hak-haknya sebagai manusia sudah terpenuhi, tidak dibatasi dan bisa terhin­ dar dari kekerasan. Karenanya dia sangat mengharapkan agar semua perempuan di Indonesia bersatu padu mendorong negara agar bisa melahirkan kebijakan yang bisa melindungi hak perempuan dan meninjau kembali sejumlah kebi­ jakan yang membuat kaum perempuan terdiskriminasi. –Diana Runtu

6 baru akan keluar kelas pukul 12.45. Namun, tiap Jumat usai jam pelajaran formal, mereka lanjut mengikuti ekstra wajib pramuka selama 2 jam pelajaran. Sabtu diisi dengan pengembangan diri/ pembinaan ekstra kurikuler. Di sekolah ini, ada 19 ekskul pilih­ an, yang meliputi seni sastra (puisi, teater), seni musi (musik, vokal), seni tabuh (gender, gong), dan hampir semua jenis olahraga. Namun cabang olahraga yang paling menonjol dan kerap meraih prestasi adalah basket, renang, bulutangkis, taekwondo, ka­ rate, dan catur. Tak hanya di bidang nonakademis, di akademis prestasinya juga tak kalah. Prestasi teranyar yang cukup membanggakan adalah siswa SD Cipta Dharma berhasil lulus seleksi Olim­ piade IPA tingkat Kabupaten/Kota tahun 2015. Untuk tetap mempertahank­ an dan mening­ katkan kualitas capaian p r o ­

gram-program sekolah ini, Luh Ri­ nun berharap semua warga sekolah men­dukungnya, baik itu guru, siswa, orangtua siswa dan yayasan. “Saya didukung sebagai kepala sekolah. Jadi apapun program saya untuk kebaikan sekolah ini tentunya harus didukung pula,” ucap Guru Berprestasi tingkat Kota Denpasar tahun 2010 ini. Karena itu, para guru wajib mem­ berikan masukan. Ia tak mau jabatan kepala sekolah yang disandangnya lantas membuat para guru enggan dan merasa ada batas. Jikalaupun ada ken­ dala, semua bisa disampaikan dalam fo­ rum dan duduk bersama mencari jalan terbaik. “Saya sama dengan yang lain, semua saya anggap seperti keluarga,” ucapnya merendah.

5 tingkat nasional untuk pendidikan karakter. Pembinaan-pembinaan terhadap guru seing dilakukan, termasuk menin­ jau bagaimana guru mengajar di kelas. Semua permasalahan yang dihadapi dalam proses belajar-mengajar itu kemudian dievaluasi dalam rapat staf yang dihadiri Kasek, Wakasek, Kepala Urusan (Kurikulum, Sarana, Humas) serta koordinator kelas, yang dilaku­ kan sebulan sekali. Untuk memantapkan persiapan anak-anak kelas 6 yang akan segera melanjutkan ke SMP, Luh Rinun yang juga mengajar Matematika di kelas 6 ini mengatakan, tiap Selasa, Rabu, Jumat memberikan jam ke nol yang dimulai pukul 06.30. Perempuan kelahiran 3 April 1968 ini mengatakan semua seberapa pun susahnya pela­ jaran, jika guru memiliki trik khusus, siswa pasti bisa mengikutinya dengan senang. Dalam mengajarkan Matematika misalnya, Luh Rinun memberikan soal-soal yang gampang dulu agar anak tidak takut duluan. Perlahan baru kemudian meningkat ke yang lebih berat, dan diberikan lebih banyak lati­ han. Khusus pelajaran Matematika, ia memiliki standar di kelas 2 dan kelas 3 harus sudah hapal perkalian 1 s.d. 10. “Jika belum hapal, raport di-pending. Itu salah upaya kami untuk memoti­ vasi siswa agar ada usaha,” jelasnya. Sementara, untuk anak-anak yang bermasalah, biasanya akan lebih banyak dilakukan pendekatan karena pada umumnya tak ter­ lepas dari masalah atau hubun­ gan siswa dengan orangtua atau keluarganya. Karena itu pula, buku penghubung tetap ada mulai dari kelas 1 s.d. kelas 6. Hanya saja kelas 4-6 diisi sendiri oleh siswa. Buku penghubung ini menjadi jembatan komunikasi antara guru, siswa, dan orangtua siswa. –Inten Indrawati

HAPAL PERKALIAN Ke depan, ibu dari Dewa Ade Ryan Hendrayana ini mengatakan ingin meningkatkan karakter siswa melaui pembiasaan-pembisaan dan kedisiplinan, menumbuhkan ke­ percayaan diri anak, meningkatkan prestasi dan kualitas akademik dan nonakademik. Bahkan, seko­ lah ini pun sem­ pat menya­ bet juara

19

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Emansipasi Jangan Kebablasan Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Bicara mengenai Kartini tak lepas dari peranan sosok RA Kartini yang merupakan tokoh perempuan Indonesia yang berjuang demi membela kaumnya dari marginalisasi ­pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya. Perjuangan yang dilakukan melalui tulisan dan surat-menyurat dengan rekan penanya telah menghasilkan sebuah perjuangan yang dikenal dengan “emansipasi”.

M

akna kata ini sa­ ngat dalam, ­karena emansipasi sering­ kali dikaitkan de­ ngan eksistensi perempuan di masa kini yang dapat dikatakan lebih maju selangkah dibandingkan era per­ juangannya dulu. Perempuan yang dulunya hanya bisa berkecimpung di ranah domestik, kini lebih mampu menunjukkan geliatnya di ranah publik. Berikut pendapat tiga orang perempuan tentang makna Kartini di era masa kini. “Saya kagum dengan perjua­ ngan perempuan masa kini. Ba­ nyak perempuan yang cerdas dan ber­p eluang menjadi pemimpin. Ada presiden perempuan, menteri perempuan, termasuk perempuan berkiprah di dunia militer,” kata Putu Lastiawati. Menurut Ketua Unit Dharma Wanita Persatuan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Karang­ asem ini, walaupun emansipasi sudah menjadi tren di masa kini, namun, ia hanya berharap jangan sampai kebablasan. “Emansipasi adalah

persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai ranah publik. Namun, ada hal lain yang harus tetap diingat, perempuan pu­ nya kodrat yang tak boleh dilanggar,” ucap anggota Gabungan Organi­sasi Pengelola Taman Kanak-kanak In­ donesia, Kabupaten Karangasem ini. Menurut Lastiawati, walaupun sudah berkarier di luar rumah, perempuan harus tetap menyadari tugas utamanya, sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Ia sa­n gat menyayangkan, kalau perempuan sudah hebat berkarier, lupa mengurus rumahtangga. Bahkan, ia mengaku miris, melihat ada beberapa anak remaja, malah sudah menyalahi emansipasi dengan ikut-ikutan geng, suka merokok, dan suka minum alkohol. Mantan ketua KPU Kabupaten Karangasem ini menilai, emansipasi sebaiknya dilakukan sesuai ­dengan situasi dan kondisi. Perempuan ingin berkarier setinggi-tingginya itu bagus, namun, ketika sudah sampai di rumah, ia mempunyai tanggungjawab me­ ngurus suami dan anak-anak. “Wanita

yang bekerja, kalau punya bayi, harus bisa mengatur waktu agar tetap bisa memberi ASI eksklusif kepada anaknya,” kata Lastiawati. MULTIPERAN Menurut Nuke Kurnia, Kar­ tini modern adalah perempuan yang mampu menunjukkan multiperan. “Perempuan saat ini tidak hanya diam di rumah mengurus ­keluarga, namun, mereka juga harus mengembangkan diri dengan bekerja,” kata General Manager DK Science & Learning Bali ini. Ia menilai, semangat Kartini hendak­nya memberi motivasi kepada perempuan untuk bisa eksis dalam berbagai bidang pekerjaan. Dengan bekerja, perempuan bisa memi­ liki nilai tawar yang lebih. Artinya, perempuan memiliki kekuatan ketika suatu saat, suaminya tidak lagi mampu menopang hidup keluarga. “Perem­ puan harus membekali diri dengan berbagai keterampilan. Tujuannya, agar mampu membantu suami un­ tuk menambah penghasilan keluar­ ga. Disamping itu, dengan bekerja,

Lastiawati

Nuke Kurnia

perempuan terhindari dari perlakuan KDRT,” ucap perempuan yang juga guru di sekolah internasional ini. Nuke teringat pesan ayahnya, se­ jak kecil memberi pengertian betapa pentingnya pendidikan. “Walaupun suamimu kaya, kalau kamu tidak ber­ pendidikan tinggi, tidak ada gunanya. Dengan mengenyam pendidikan, perempuan menjadi cerdas bukan hanya untuk bekerja, namun, untuk mendidik anak-anaknya kelak”. Menurutnya, perempuan be­kerja bukan hanya untuk mengembangkan dirinya sendiri, namun, ia mampu bermanfaat bagi keluarga, dan orang sekeliling termasuk lingkungannya. “Emansipasi, sebaiknya dimaknai dengan cara berpikir yang sehat dan cerdas, perempuan tetap bisa men­ jadi wanita karier dan tetap menjadi ibu rumahtangga,” kata Nuke. Menurutnya, laki-laki zaman sekarang, juga bukan lagi kedudukan­ nya lebih tinggi dalam rumahtangga. Namun, bersama-sama saling mem­ bantu mengerjakan pekerjaan ru­ mahtangga. Suami juga harus bisa menjaga anak, menyuci baju, bahkan memasak. Pasangan suami istri harus bisa saling mendukung satu sama lain, termasuk dalam urusan domestik.

mengenyam pendidikan setinggi-ting­ ginya. Namun, pendidikan tinggi juga harus diimbangi dengan sikap mental yang baik. “Pendidikan tinggi jika tidak diimbangi dengan sikap yang baik, tentu percuma. Misalnya, perempuan yang suka bergosip, perempuan yang tidak suka atau iri melihat keberhasil­ an rekan perempuan sendiri sudah melenceng dari sikap emansipasi,” kata Rathi. Ia menilai, banyak perempuan lebih suka bersaing dengan perempuan itu sendiri. Lebih parahnya lagi, sesama perempuan bukan mendukung, malah ber­usaha menghambat sesama perem­ puan. Sikap ini tentu saja sudah sangat melenceng dari cita-cita Kartini yang ingin para perempuan cerdas dan ber­martabat. “Banyak perempuan berusaha mencari kejelekan sesama perempuan dan berusaha menjatuhkan mereka. Padahal, persaingan merupa­ kan hal biasa, dan bisa dilakukan dengan cara yang sehat dan cerdas,” ucap perempuan penyuka fotografi ini. Ia hanya menyarankan, kalau me­ mang ingin menghargai perjuangan Kar­ tini, sebaiknya para perempuan tidak hanya cerdas untuk dirinya sendiri, namun, pergunakan ilmu yang didapat agar berguna bagi orang lain. ”Jangan sampai mengaku se­bagai pimpinan, tapi tak mampu bersikap sebagai pemimpin yang selalu mendukung dan memberi motivasi bagi orang lain. Jika ­begitu, itu cerminan emansipasi yang salah,” ujarnya. –Wirati Astiti

SALING MENDUKUNG Sementara itu, menurut Rathi, emansipasi bukanlah harus menyaingi laki-laki, namun, berdiri sejajar untuk saling mendukung satu sama lain. Ia menilai, perempuan kini bisa bebas

Perjuangan Emansipasi Wanita masih Panjang Seabad lebih telah berlalu sejak RA Kartini memperjuangkan emansipasi wanita. Banyak hasil telah dicapai meski belum seperti yang diinginkan. Perjuangan untuk mencapai ‘impian’ memang masih panjang. Namun, setidaknya sudah banyak hasil yang terlihat. Dalam bidang pendidikan misalnya, wanita memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam meraih pendidikan tinggi. Begitu pun di bidang pekerjaan, makin banyak wanita menduduki posisi-posisi pen­

ting ataupun memiliki karier cemerlang dalam pekerjaannya. Profesi-profesi yang dulunya dikenal sebagai ‘profesi laki-laki’ kini pun semakin banyak dimasuki kaum perempuan. Orang menyebut mereka sebagai wanita masa kini atau ‘Kartini Modern’. Pemaknaan wanita masa kini atau ‘Kartini Modern’ memang bisa berbeda untuk setiap orang. Retno Listyarti, seorang wanita yang berkiprah sebagai guru menyebut, wanita masa kini atau ‘Kartini Modern’ adalah wanita yang mampu memberi inspirasi bagi banyak orang. Dalam kehidupannya ia mampu menerapkan keseimbangan antara karier dan kehidupan keluarga. Mampu mengelola dua hal ini untuk bisa seiring sejalan. “Berkarier di luar rumah boleh tapi dia (wanita) juga harus mampu menjaga keutuhan dan harmonisasi kehidupan keluarga. Bagi saya itulah yang disebut wanita masa kini. Jadi bukan hanya keberhasilan karier saja yang dikejar, itu pola pikir yang salah,” ucap Retno yang juga menjabat sebagai kepala sekolah sebuah SMA negeri di Jakarta. “Meskipun memiliki karier tinggi tapi bukan berarti menganggap diri lebih tinggi. Rumah tangga, keluarga tetaplah harus menjadi prioritas kaum wanita,” tambah peraih peng­h argaan Indonesia Islamic Educator Award 2013 ini. Perjuangan emansipasi wanita tentu juga dibarengi dengan perjuangan ke­

setaraan gender. Kesetaraan gender adalah suatu keadaan setara dimana antara pria dan wanita dalam hak (hukum) dan kondisi (kuali­ tas hidup ) adalah sama. Menurut WHO (World Health Organization), salah satu badan PBB, gender adalah seperangkat peran, perilaku, kegiatan dan atribut yang dianggap layak bagi laki laki dan perempuan yang dikonstruksi se­ cara sosial dalam suatu masyarakat. Menurut Retno, untuk memahami gender/kesetaraan gender itu harus dilakukan lewat pendidikan, baik itu pendidikan dalam keluarga, sekolah maupun lingkungan. Hal ini, tegasnya, bukan hanya untuk perempuan tapi juga laki-laki. Dengan begitu, laki-laki pun akan me­ mahami dan mau berbagi peran dengan perempuan dalam kehidupannya, memiliki tanggung jawab yang sama untuk urusan ru­ mah tangga dan keluarga. “Misalnya saja untuk pekerjaan-pekerjaan domestik, perempuan dan laki-laki bisa bekerja sama. Mengurus anak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya bisa dilakukan bersama-sama. Sebab, sesungguhnya ini bukan hanya tanggung jawab perempuan tapi juga laki-laki. Intinya adalah dilakukan bersama-sama. Maksudnya adalah suami-istri sama-sama bekerja (berkarier) tapi juga sama-sama memiliki tanggung jawab di rumah tangga/keluarga,” tuturnya. Kondisi ini, bisa terjadi jika suami-istri memiliki pemahaman yang sama tentang emansipasi wanita dan kesetaraan gender. Ini menyangkut pola pikir, yang tentu saja

tidak serta merta terbentuk. Pola pikir ini, akan terbentuk lewat pendidikan dalam keluarga, sekolah juga lingkungan. “Jadi jangan ada pola pikir, perempuan adalah makhluk lemah, dan hidupnya hanya melulu mengabdi, hanya mengurus rumah tangga dan anak. Juga, jangan ada lagi pola pikir yang masih dimiliki sebagian laki-laki bahwa perempuan ‘tempat’nya hanya di rumah, mengurus rumah dan anak,” papar Retno yang juga Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Untuk mencapai emansipasi, kuncinya ada pada pendidikan. Saat ini memang sudah terlihat jauh lebih baik, namun tambahnya, itu hanya berlaku untuk masyarakat golon­ gan menengah ke atas. Sementara menen­ gah ke bawah, belum sepenuhnya terwujud. Hal ini bisa dilihat dari angka partisipasi pendidikan untuk wanita masih lebih rendah dibanding laki-laki. “Jika melihat kondisi riil di masyarakat, menurut saya, kesempatan mendapatkan pendidikan lebih tinggi untuk wanita jauh lebih kecil dibanding laki-laki. Lihat saja jika kondisi keuangan tidak me­ mungkinkan, pastilah yang didahulukan mendapat pendidikan adalah laki-laki, anak perempuan dinikahkan meski masih berusia belia agar beban orangtua berkurang. Itu budaya yang sudah ada sejak dulu hingga sekarang. Jadi boleh dibilang perjuangan mencapai kesetaraan, emansipasi, masih panjang. –Diana Runtu


18

Life

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Pengrajin Muda Gianyar Raih Inacraf Award 2015 Dalam ajang International Handicraft Trade Fair atau Inacraft ke-17, Gianyar menghadirkan 9 pengrajin. Pada event yang berlangsung selama lima hari (l8-12 April 2015) di Jakarta Convention Center tersebut, salah seorang pengrajin ber­hasil menunjukkan prestasi gemilang di salah satu ­kategori Inacraft Award 2015.

K

epala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gianyar, I Wayan Suamba, mengatakan di ajang Inacraf, para pengrajin Gianyar berhasil mengekplorasi keunikan daerahnya sekaligus mendukung subtema tahun ini yakni “Trough Enchanting Bali Towards Global Market”. Keterlibatan pelaku industri kerajinan dari Gianyar dalam pergelaran bertaraf nasional tersebut, sebagai salah satu ajang promosi keberagaman dan kreativitas teranyar hasil kerajinan lokal daerah. ”Kami ingin kembali menunjukkan kepada khalayak nasional, bahwa di Kabupaten Gianyar terdapat beragam karya kerajinan yang sangat istimewa, melalui lima orang pengrajin perak, dua pengrajin tenun, seorang pengrajin lukisan dan tulang,” ujarnya. Suamba juga menyampaikan jika salah seorang pengrajin yang unjuk gigi di stan Dekranasda Gianyar, yakni Andika dengan Tenun Tarum berhasil mengungguli beberapa produk tenun dari berbagi daerah di Indonesia dan meraih kemenangan kategori kerajinan tekstil yang ramah lingkungan. Disperindag Gianyar yang membina pengrajin sejalan dengan kebijakan pemerintah mengembangkan sektor ekonomi kreatif demi mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis ide dan kreasi. Sesungguhnya dalam sebuah pameran pengrajin tidak hanya bicara urusan retail, namun esensinya lebih pada bicara tentang suguhan kreasi terbaru, evaluasi desain, kreatif bahan baku teknologi, menguji SDM, mengintip informasi pesaing hingga memperkuat citra perusahaan. Terlebih dengan terbitnya Ins­truksi

lama dikenal sebagai pusat kerajinan, yang di dalamnya selalu ada proses belajar dan bertumbuh siap menjalankan dan mengembangkannya. Selain itu industri kreatif yang saat ini trennya menguat di kalangan anak muda tidak bisa berkembang secara mandiri dan terpisah dari sektorsektor yang lain. Industri kreatif saling mendukung dan berkolaborasi dengan sektor-sektor yang lain. Untuk ini ia

juga banyak melakukan komunikasi dengan para desainer dan pengrajin senior seper­ti Bintang Mira untuk bisa bersama-sama terus menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan anakanak muda yang ada di Gianyar. Begitu juga harapannya de­n gan para pengrajin lainnya untuk terus saling berkomunikasi, terutama menumbuhkan kekuatan dan kesiapan berkompetisi secara kualitas

juga inovasi untuk menghadapi MEA 2015 ini. Untuk kegiatan di wilayah lokal, serangkaian HUT ke-244 Kabupaten Gia­ nyar yang pembukaannya bersamaan dengan acara Inacraft, Disperindag juga hadir mengikuti pameran lokal, dengan 43 pengrajin. Untuk tahun ini, ada catatan yang menarik, yakni dihadirkannya 10 orang peng­rajin dari Yogyakarta. -ard

Yang Muda yang Berprestasi

Presiden Nomor 6 Tahun 2009 tentang pengembangan ekonomi kreatif yang ruang lingkupnya terdiri dari 14 item diantaranya ada Pasar Barang Seni; Kerajinan (craft); Desain; dan Fesyen (fashion), yang perkembangannya te­ ngah melaju di Gianyar. Melihat betapa luasnya cakupan ekonomi kreatif tersebut, maka wajarlah jika sektor ekonomi kreatif disebut mampu memberikan kontribusi yang cukup besar. Dan, Gianyar yang sejak

Memutuskan memilih daun sebagai bahan pewarna, ternyata berhasil membawa laki-laki ini menjadi salah seorang pemenang pada penghargaan Inacraf Award 2015 kategori bahan baku di Jakarta. I Made Andika Putra adalah desainer muda yang bersiap melebarkan sayapnya. Pemilik Tenun Tarum ini mengatakan, usaha yang dirintisnya memang berawal dari keprihatinanya terhadap banyaknya pemakaian warna sintesis yang didatangkan dari luar Indonesia termasuk dampak limbahnya. Karena itulah Andika yang sempat belajar di Sekolah Fashion Design, di IGTC Bogor ini mengaku lebih memilih memakai pewarnaan yang alami demi bisa menjaga lingkungan. Setelah melalui proses panjang, ia bisa menetapkan memilih daun sebagai bahan perwarna produk tekstilnya. Menurutnya dengan daun ter­dapat beberapa kelebihan. “Jika kita hanya menggunakan daun berarti kita tidak perlu menebang pohon , sehingga bisa di panen berkali-kali. Disamping itu setiap pohon juga perlu pemangkasan atau pengurangan daunnya untuk jangka waktu tertentu. Daun juga relatif mudah didapat, dibudidayakan ataupun bisa saja nantinya kami melakukan kerjasama dengan petani,” paparnya antusias. “Yang paling utama adalah kami tidak bersaing dengan kebutuhan pangan. Daun juga mudah untuk dibuat ekstrak dan limbah daun bisa dibuat kompos. Bahan baku daun tidak akan habis selama tanah bisa ditanami,” lanjutnya. Andika juga mengatakan ia memang sangat ingin mewujudkan produk atau proses yang ramah lingkungan, ter-

Story

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Ukir Makna Kehidupan berkat Rajin Baca Tiap anak yang dilahirkan ke dunia ini mempunyai sifat serta bakat masing-masing. Sikap seorang anak bisa juga terbentuk dari bagaimana kebiasaan dan latihan yang terusmenerus dari makna kehidupan. Begitulah seorang gadis yang sedang menginjak remaja yang bernama Luh Made Dwi Wahyuni. Orangtuanya walaupun sebagai PNS, tapi sikapnya tidak seperti anak-anak pada umumnya akan manja jika merasa punya orang tua berpengasilan lumayan. kesukaan adiknya sehingga tiap habis berlayar, selalu memberi oleh-oleh buku untuk Luh Made. “Saya ingin ingin menyalakan lilin dalam diri agar kehidupan ter­ lihat lebih terang,” ujar alumnus SMAN 1 Klungkung ini. Tak hanya Luh Made yang dikagumi, kakak dan adiknya, Komang Redi juga mendapat acungan jempol. Saat kematian Mbok Nengah Narti, saking lama­ nya berbaring di tempat tidur akibat sakit struk sampai kulit punggungnya mengelupas, bisa dibayangkan bagaimana baunya begitu meninggal. Namun saat mau dimandikan sebelum dikubur, semua persiapan untuk prosesi memandikan sudah siap, tapi tidak serta merta ada yang sigap mengangkat mayatnya. Begitu Gede Yudha dan Komang Redi bergerak akhirnya yang lain mengikuti.

integrasi, berkelanjutan, padat kreasi, bernilai tambah tinggi, local content-nya tinggi baik dari segi proses maupun bahan baku . “Tentu harapan terbesar bisa diterima di pasar lokal maupun internasional,’ cetusnya. Untuk mendukung hal tersebut, Andika mengaku sudah mempunyai lahan sendiri di Tampak Siring. Pohon yang saat ini sudah mulai di tanam adalah ketapang, juwet, kopi, kopi coklat, bungur, dan mangga. Untuk pemasaran ia me­ ngedepankan pembeli atau rekanan kerja yang juga mempunyai konsep “green“ alias ramah lingkungan. Sehingga akan terbentuk sebuah pasar baru dan cara pendekatan berbeda. Hal ini ia harapkan bisa mempermudah dan memperkuat posisi “green” produk yang akan dijual.

WONDER WOMEN OF THE YEAR 2015 Prestasi lainnya diraih oleh desainer papan atas Bali, dari Gianyar yakni Bintang Mira. Desainer senior yang dikenal rajin mencari dan membina bibit-bibit baru di Gianyar ini dinobatkan sebagai “Wonder Women of The Year 2015”. Dalam sebuah acara Entrepreneur Festival 2015, Bintang Mira menerima apresiasi atau penghargaan khusus bertajuk M&I Award. Penghargaan yang diberikan khusus bagi perempuan Bali yang berjuang di dunia kewirausahaan oleh BPR Lestari dan majalah Money & I Magazine. Di sini Bintang Mira, rupanya berhasil mengalahkan kandidat lainnya dengan meraih nilai tertinggi dari beberapa indikator penilaian, baik dari sisi kreativitas, brand awareness serta yang paling ditekankan adalah local conten (kearifan lokal). Melalui brand-nya Bali Batikku, Bintang Mira, dianggap sukses mengembangkan usaha dengan mengangkat identitas lokal. Bukan hanya itu, ia juga berhasil mengeksplor keindahan Batik Bali dengan motif-motif ikonik Bali, seperti ilustrasi seni tari Bali, patra, barong hingga poleng di atas kain katun maupun sutra. Menurut perempuan kelahiran 26 Maret ini, apa yang dilakukannnya juga untuk membuktikan kalau Bali juga punya batik dan dapat berprestasi. Bintang Mira juga terus berupaya menjadikan batik Bali ini bukan hanya go national tapi juga go international. Ia sangat percaya dan yakin Batik Bali mampu tampil dengan ciri khasnya tersendiri dan akan menjadi produk yang dicari dan digemari. Dikatakannya juga kalau selama ini selain menyediakan kain lembaran, sebagai seorang desainer Bintang Mira juga menghadirkan batik Bali dalam karya busana ready to wear yang dilengkapi beragam aksesori seperti sepatu, tas dan yang lainnya dengan bahan yang sama. -ard

7

L

uh Made begitu dikagumi sikapnya oleh anggota keluarganya yang lain, tidak seperti anak remaja kebanyakan, yang kadang menghabiskan waktunya untuk mainmain, hura-hura menikmati masa mudanya yang penuh gejolak. Ia rajin mencucikan, menyetrika pakaian orangtuanya. Tidak itu saja bahkan pakaian neneknya yang sudah uzur tidak luput dari tanggung jawabnya. Semua ia lakukan dengan tenang, santai tanpa keluhan sama sekali. Kakak pertamanya, Gede Yudha sudah sukses bekerja di kapal pesiar. Luh Made hanya tamatan SMA. Ia tidak melanjutkan kuliah, karena takut berpisah dengan keluarga. Jika kuliah, ia harus kost di luar daerah. Perempuan yang lahir 26 Juni 1981 ini tidak

memperlihatkan diri sebagai gadis yang punya kelebihan. Demi masa depannya, sang kakak membelikan sebuah toko sebagai tempat usaha, serta mobil yang bisa digunakan untuk menjalani usaha bisnisnya. Setelah bisa nyetir sendiri, punya usaha ternyata sikap gadis tersebut tidak ada perubahan, tetap ramah dan rendah hati. Ketika ada acara di kampung, ia sigap membantu. Orang-orang pun salut dengan sikapnya itu. Sampai ada yang bertanya, apa resepnya. “Ah jangan berlebih­ an, jadi malu nih! Resep saya kayak anak kecil, suka belajar dan membaca,” jawabnya dengan rendah hati. Ia mengaku sering membaca tulisan Gede Prama, Mario Teguh, dan buku-buku motivator yang lainnya. Sang kakak pun tahu

Luh Made Dwi Wahyuni

Gede dan Komang masih bujang, ganteng-ganteng, bawa mobil, sukses bekerja di kapal pesiar mau turun membantu. Mereka menjadi contoh dan pelopor kesigap­an prosesi pemandian jenazah sampai acara penguburan berjalan lancar, tanpa menghiraukan bau yang menusuk hidung. “Betul-betul pancaran pesona pribadi yang tak perlu diragukan. Orangtua mana yang tidak bangga, punya tiga anak ketiga­ nya sifatnya sama. Alangkah bahagianya orangtuanya sudah berhasil punya anak suputra, padahal bukan sepenuhnya karena hasil didikkan. Ketiganya punya hobi membaca buku-buku tentang motivasi kehidupan,” begitu komentar warga. Walau umurnya masih muda, banyak yang senang ngobrol de­ ngan Luh Made. Mereka bertanya mengapa tidak dari dulu tahu

caranya bisa menapak kehidupan supaya jalan yang dilalui tidak banyak tikungan dan berfluktuasi, bahkan galau kadang sempoyo­ ngan. Walaupun sudah sering berdoa, tapi ketenangan hanya sesaat di genggaman. Ternyata rahasia agar bisa hidup tenang dan damai resepnya sederhana yakni membaca. Ternyata hasilnya sudah terbukti. Luh Made dan saudaranya sudah dapat mengukir makna kehidupan yang diekspresikan dalam bentuk tingkah laku. Mulai sekarang sedikit demi sedikit, orang lain perlu mengikuti jejaknya. Pengaruhnya sangat terasa. Walaupun ia tidak berucap untuk mempengaruhi orang lain, tetapi dengan tindakan yang ditunjukkan merupakan energi yang dahsyat mendorong orang-orang di sekitar mengikuti langkahnya. –Weti


8

Bunda & Ananda

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

“Curi” Umur untuk Sekolah? Jelang tahun ajaran baru, orangtua sudah mulai mencari-cari sekolah untuk anaknya. Apalagi yang anaknya akan masuk sekolah dasar (SD). Masa SD dianggap masa awal pembentukan tanggung jawab anak sehingga orangtua berusaha untuk mencari sekolah yang terbaik untuk anaknya.

N

amun, seringkali orangtua memaksakan agar anaknya bisa masuk SD padahal usianya belum memenuhi syarat. UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) mensyaratkan setiap warga negara yang berusia 7-12 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Kenyataannya, ada anak yang berusia 6 tahun bahkan kurang sudah masuk SD. Sebagai catatan, bagi anak yang usinya kurang dari enam tahun wajib melampirkan surat rekomendasi dari psikolog profesional saat akan mendaftar masuk SD. “Dulu anak saya masuk SD umur lima setengah tahun. Sekolahnya mau nerima. Untungnya anak saya bisa mengikuti pelajaran dan bisa bersosialisasi di sekolah,” ungkap Bu Ayu Tini. Ia mengaku agak memaksakan anaknya masuk SD karena khawatir dengan sisi psikologis anaknya. “Keponakan saya lebih muda dari anak saya, tetapi badannya lebih bongsor. Karena keponakan itu sudah mendaftar dan diterima masuk SD, saya tak ingin anak saya bertanya kenapa sepupunya sudah masuk SD sedangkan dia belum. Makanya saya daftarkan. Sekarang mereka sekolahnya bareng, padahal usianya beda,” ujar ibu dua anak ini. Pengalaman orangtua yang memaksakan anaknya masuk sekolah bahkan terkesan “mencuri” umur agar anaknya bisa masuk SD banyak ditemui. Menurut Ni Ketut Jeni Adhi, M.Psi, Psikolog, orangtua perlu memperhatikan beberapa hal sebelum memutuskan untuk memasukan anak ke SD walaupun belum cukup umur. “Anak memang harus mendapat pendidikan sesuai usianya. Orangtua harus memahami perkembangan anak baik secara fisik maupun mental. Walaupun secara umur sudah cukup tetapi kalau perkembangan mentalnya belum sesuai, pertimbangkan juga sekolah yang mau dipilih. Sebaliknya, jika usianya belum mencukupi, tetapi si anak memiliki perkembangan mental yang bagus, artinya dia memiliki IQ yang di atas rata-rata, keper-

cayaan diri, mudah beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan baru, dan memiliki rasa tanggung jawab, boleh saja anak didaftarkan masuk SD. Tetapi, ini harus disertai dengan hasil tes yang dilakukan psikolog profesional,” jelas Jeni. Dosen Program Studi Psikologi, Fakultas Ekonomika dan Humaniora Universitas Dhyana Pura ini menambahkan jika persyaratan tersebut mampu dipenuhi anak, bukan berarti orangtua boleh lepas tangan. Orangtua tetap harus mendampingi anak di masa awal masuk sekolah. Hanya, jarak pengawasan yang diperjauh. Biasanya ada sekolah yang memberikan kesempatan kepada orangtua untuk mendampingi anaknya selama beberapa hari. Atau, ada juga sekolah yang hanya mengizinkan orangtua mengantar anaknya sampai di depan gerbang. Urusan berikutnya adalah tanggung jawab sekolah sampai jam belajar berakhir. Antara anak yang satu dengan anak yang lain memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang usianya lebih muda tetapi kemampuannya sudah setara dengan anak yang usianya lebih tua. Hal ini tak lepas dari peran keluarga dan lingkungan dalam memberikan motivasi kepada anak. RASA TANGGUNG JAWAB Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini mengatakan masa kelas III SD menjadi titik rawan bagi anak yang mulai bersekolah di bawah usia 6 tahun. “Materi pelajaran mulai makin berat dan makin kompleks. Jika anak tidak siap, ia akan terlihat cemas, rewel, bahkan merengek minta ditemani di sekolah. Lebih parah lagi, bisa mogok sekolah,” ujar istri I Nyoman Gede Adhi Dharmawan ini. Fase tanggung jawab yang diemban anak akan terus meningkat. Misalnya ketika kelas 1 dan 2 ia terbiasa menggunakan pensil. Kalau salah bisa dihapus. Tetapi, dengan menggunakan pulpen,

“Jangan lupa memberikan anak kesempatan bermain karena masa anak-anak merupakan masa bermain. Pahami bahwa jadwal anak-anak dan orang dewasa berbeda. Dengan memberi anakanak kesempatan bermain yang edukatif, akan membuat anak tidak kehilangan masa kecilnya”

Griya

Hijau dengan

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Rumput Sintetis Halaman ataupun lapangan hijau memang sejuk dipandang mata. Namun, untuk bisa tetap terlihat indah, tentu harus di-maintenance dengan cost yang lumayan. Saat ini, masyarakat mulai beralih ke penggunaan rumput sintetis. Alasan mereka, praktis, maintenancenya simpel dan tahan lama. Hal ini juga diakui Daniel Jonathan Teguh, Kepala Cabang ArtGrass Bali, salah satu produk rumput sintetis. Daniel Jonathan Teguh

I

Anak sekolah

anak harus lebih berhati-hati dalam menulis agar tidak salah. Ini menunjukkan rasa tanggung jawab anak terhadap dirinya. Tahap tanggung jawab anak itu berproses dari hal-hal sederhana dan akan terus meningkat seiring perkembangan usianya. Karena itulah orangtua harus peka terhadap perkembangan anak agar anak tidak mengalami masa-masa sulit itu. Caranya tentu dengan mendampingi anak saat anak memerlukan orangtua, misalnya saat mengerjakan pekerjaan rumah. “Jangan lupa memberikan anak kesempatan bermain karena masa anak-anak merupakan masa bermain. Pa-

hami bahwa jadwal anak-anak dan orang dewasa berbeda. Dengan memberi anak-anak kesempatan bermain yang edukatif, akan membuat anak tidak kehilangan masa kecilnya,” ujar konsultan psikologi Tema Insan ini. Orangtua juga harus memperhatikan kebutuhan anak dan kesiapan anak. Jangan pernah memaksakan kehendak agar anak harus masuk sekolah padahal umurnya belum mencukupi. Sesuaikan usia anak dengan tahapan perkembangan pendidikannya. Jika orangtua memaksakan, nanti yang rugi tak hanya anak tetapi orangtua juga akan terbebani. –Ngurah Budi

Jeni Adhi

Mendongeng Lima Menit Bahasa Burung

Pan Muluk, seorang petani, amat sayang kepada burung nuri yang dipeliharanya sejak bertahun-tahun lalu. Burung itu cerdas dan pintar berbahasa manusia. Pada suatu hari Made Taro Pan Muluk mendapati seekor kambing masuk ke halaman rumahnya. Ia menangkap kambing itu, lalu menyembelihnya. Sebagian dagingnya dijual ke pasar, sebagian lagi disimpan di kulkas. Pan Getas, pemilik kambing itu mencurigai Pan Muluk. Ia menuduh tetangganya itulah yang mencuri kambingnya. Tetapi Pan Muluk mengelak tuduhan itu. Burung nuri yang menyaksikan perbuatan majikannya lalu berkata, “Benar, majikanku menangkap kambing itu, lalu menyembelihnya. Sebagian daging dijual, sebagian lagi disimpan di kulkas.” Pemilik kambing itu melaporkan peristiwa itu kepada polisi. Pan Muluk marah kepada burungnya. Ia mencabut bulu-bulu nuri itu, lalu melepasnya. Sesaat kemudian polisi menangkap Pan Muluk. Lama benar burung nuri yang pandai berbahasa manusia itu terlunta-lunta. Setelah bulu-bulunya

tumbuh sempurna, ia mulai terbang dari pohon ke pohon. Di sebuah cabang pohon asam ia berjumpa dengan burung beo. “Hai, Nuri, apa kabar?” sapa burung beo. “Kudengar kau hidup enak, karena pintar berbahasa manusia. Aku ingin sekali memiliki ilmu seperti kau.” “Benar katamu, Beo! Sesungguhnya kau memiliki bakat untuk mahir berbahasa manusia. Kalau kau ingin mengabdi kepada manusia, baik sekali. Aku tidak bisa melarang. Namun satu hal yang tidak boleh kau lakukan adalah, jangan mengatakan yang benar itu benar.” “Maksudmu?” tanya Beo. “Katakanlah apa yang diinginkan oleh majikanmu. Kau boleh mendengar dan melihat, tetapi tidak semua yang kau dengar dan lihat itu boleh dikatakan. Pokoknya jangan sekali-kali mengatakan apa kata hatimu.” Burung beo itu belum juga bisa memahami segala perkataan burung nuri. Suatu hari ia tertangkap manusia. Di rumah majikannya itu ia diajarkan banyak perbendaharan kata-kata, antara lain, “Selamat pagi, Tuan! Tuan sungguh baik hati, jujur dan ulet bekerja untuk kemanusiaan.” Ia sama sekali tidak berani mengatakan, “Selamat malam, Tuan! Semoga hasil rampokan itu segera disita oleh negara.”

a mengatakan di pasaran ada banyak pilihan bahan rumput sintetis, ada yang memakai bahan dasar pure plastik, ada juga memakai plastic polyester seperti produk yang ia tangani. Jenis rumput sintetis ini pun bermacam-macam. Namun dari sekian banyak itu, dijelaskannya di Bali hanya 3 jenis yang diminati pasar. Pertama, play green. Bentuk rumput sintetis ini agak tebal dan umumnya diaplikasikan untuk menutupi permukaan lapangan golf atau gate ball. Kedua, natural green. Jenis ini umumnya diaplikasikan untuk dekorasi dan taman. Ketiga, mini green yang bentuknya lebih tipis. Ini merupakan keluaran baru produk

ArtGrass yang harganya juga paling terjangkau, yakni Rp 210 ribu permeter persegi. Sekarang ini pun, rumput sintetis tak hanya diaplikasikan sebagai penutup dasar pijakan, namun ada juga diaplikasikan pada dinding. Kelebihan memakai rumput sintetis dibandingkan rumput asli di antaranya, tak perlu (hemat) air, hemat bibit, dan hemat tenaga kerja. “Kelemahannya, hanya mahal di awal. Karena jika dihitunghitung, dalam dua tahun dengan tiga kali penanaman rumput asli, sudah balik modal untuk pembelian rumput sintetis yang bisa bertahan hingga belasan tahun ini,” jelasnya. Rumput sintentis juga tahan terhadap panas dan hujan. Perawatannya, jika berdebu

bisa di-vacuum cleaner atau disirami air. “Jangan pakai sabun, karena bisa meninggalkan kerak,” ingat Daniel. Pada alas rumput sintetis ini ada pori-pori untuk air bisa meresap dan mengalir di bawahnya, ketika disiram. Daniel mengatakan rumput sintetis ini banyak diaplikasikan pad ataman di pinggir pantai yang umumnya rumput asli tak bisa hidup dikarekan kandungan garam masuk ke tanah dan menyebabkan rumput pasti mati. Juga, banyak diaplikasikan pada roof top (dek atas), karena tanpa media tanah. –Inten Indrawati

Beberapa aplikasi rumput sintetis

17


16

Edukasi

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Museum Goes to School

Putra-putri Anda bermimpi menjadi pilot? Wujudkan mimpi mereka, karena untuk menjadi pilot sangat mudah. Saat ini sudah banyak ada sekolah pilot, namun dari sekian banyak itu ada satu sekolah yang patut menjadi pertimbangan Anda, yakni AHA Aviasi Indonesia. Mengapa?

A

dan menjadikan America Aviation Academy sebagai salah satu sekolah pilot yang paling diminati oleh banyak siswa di dunia. Dengan proses persyaratan yang mudah membuat para siswa kami merasa nyaman untuk mengikuti pembekalan sebelum menjalani studi pilot di California Amerika Serikat. Kami membekali para siswa sebelum berangkat ke Amerika dengan pengetahuan dasar tentang penerbangan yang memadai di dalam kelas ground school, yang terdiri dari kelas

teori penerbangan, pembekalan di kelas Flight Simulator dan juga ada pembekalan pembelajaran bahasa Inggris selama 1 bulan. Pilot training di California, siswa mendapat fasilitas pengajaran yaitu rasio 1 siswa dengan 1 instruktur membuat para siswa lebih fokus dalam proses pembelajarannya. Sehingga, proses training dapat selesai dengan waktu yang cukup singkat sekitar 10 bulan. Dengan biaya sebesar 49.000 USD para siswa akan

mendapatkan paket lengkap untuk menjadi pilot komersial, yakni mendapatkan lisensi PPL, CPL, IR, dan MER. Dan para siswa lulusan AAA akan mendapatkan sertifikat resmi FAA (Federal Aviation Administrations). Sertifikat tersebut valid untuk seumur hidup dan bisa dipakai bekerja di seluruh dunia. Pendidikan pilot ini bisa dimulai dari usia minimal 17 tahun hingga maksimum 60 tahun. Pendaftaran sudah mulai dibuka dan tanpa ada test. Minat masyarakat Bali sangat tinggi dilihat dari banyaknya siswa yang mendaftar

walaupun beberapa masih harus menyelesaikan UN terlebih dulu. Syaratnya sangat mudah, cukup daftar dengan KTP ataupun Kartu Pelajar bagi yang belum menerima hasil kelulusan di sekolah. Untuk informasi lebih lanjut silahkan datang ke kantor AHA Aviasi Indonesia yang beralamat di Kompleks Pertokoan Grand Sudirman Agung B-17, Jln. P.B Sudirman DenpasarBali, atau dapat menghubungi kami di Nomor Telepon (0361) 241061/0812-3939-5761. Anda juga dapat mencoba gratis flight simulator di kantor kami. –ten

Penampilan Museum Subak kini tak lagi memperihatinkan. Jika sebelumnya banyak bangu­nan yang tak terawat, kini kondisinya jauh lebih baik. Bahkan rumah tradisional petani Bali yang dulu rusak parah, kini justru sangat indah untuk dilihat. Ini tentunya tak terlepas dari kegiatan revitalisasi museum yang dilakukan sejak tahun 2012 silam de­ ngan anggaran dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

D

ibawah pimpinan Ida Ayu Ratna Pawitrani, museum kebanggan kabupaten Tabanan yang sempat dipandang sebelah mata oleh para pengunjung, kini justru berubah drastis. Bahkan, tingkat kunjungan selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Salah satu yang berhasil dilakukan perempuan asal Timpag, Kerambitan ini yakni menggolkan program revitalisasi museum. “Kami berhasil mendapatkan bantuan dana dari APBN sebesar Rp 1 miliar. Dengan dana awal tersebut, kami lakukan pembenahan bagian dalam museum,” ujarnya. Tak cukup sampai disana, setelah melalui evaluasi dengan

Ida Ayu Ratna Pawitrani

indikator peningkatan kunjungan usai rehab, pemerintah pusat pun kembali menggelontorkan anggaran yang kedua di tahun 2014

sebanyak Rp 2 miliar. “Program revitalisasi ini mampu mendongkrak kunjungan wisawatan. Kami kembali mengajukan proposal anggaran revitalisasi tahap dua. Itu pun disetujui oleh pemerintah sebesar Rp 2 miliar,” kata Ratna. Bantuan sebesar Rp 2 miliar tersebut selanjutnya diarahkan untuk revitalisasi museum di bagian luar, termasuk revitalisasi miniatur jaringan subak dari hulu ke hilir sekaligus renovasi rumah tradisional petani Bali. Bahkan di areal sawah kini juga telah dilengkapi balai subak untuk wisatawan menikmati pemandangan yang disuguhkan. “Ini bagian dari upaya untuk menarik kunjungan wisatawan,” ujar perempuan yang lama tinggal di Yogyakarta ini. Setelah dilakukan pembenahan, banyak wisawatan baik mancanegara maupun domestik yang datang ke Museum Subak. Terbukti dari data kunjungan wisawatan lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan, meski memang untuk tingkat kunjungan masih didominasi wisawatan domestik. Tahun 2013, sebanyak 4.433 kunjungan, sedangkan di tahun 2014 meningkat menjadi 4.627 kunjungan. “Mereka kebanyakan anak sekolah dari sejumlah

Kaki Diabetes Flight Simulator Class

Siswa American Aviation Academy

Mengabadikan Sunrise di Pantai Sanur

K

ali ini Tokoh akan mengajak Anda jalanjalan ke Pantai Sanur. Siapa yang tak mengenal Pantai Sanur? Sebagian besar orang pasti pernah mengunjungi objek wisata yang sudah terkenal ini. Pantai Sanur terletak tepat di sebelah timur Kota Denpasar. Karena letak Pantai Sanur berada di sebelah timur Pulau Bali maka pantai ini menjadi lokasi yang tepat untuk menikmati sunrise atau matahari terbit. Apalagi setelah dibangun semacam sanderan yang berisi pondok-pondok mungil, kita bisa duduk-duduk menunggu matahari terbit. Pantai yang juga terkenal dengan pasir putihnya ini memiliki ombak yang sangat tenang. Sehingga sangat cocok untuk dijadikan tempat berenang. Kita juga dapat menikmati keindahan pantai sambil menyantap lumpia dan jagung bakar. Pantai ini juga sudah dilengkapi penunjang pariwisata

seperti art shop, restoran, maupun hotel untuk para wisatawan yang ingin menginap. Pada hari libur biasanya pantai ini sangat ramai pengunjung. “Saya memilih berlibur ke Pantai Sanur karena saya sekeluarga bisa berenang dengan aman. Ombaknya yang tenang sangat cocok bagi anak-anak yang ingin berenang di sini,” ujar Bagas yang sedang berlibur bersama keluarga. Selain untuk tempat rekreasi, banyak fotografer yang mengabadikan keindahan sunrise di pantai ini. Mereka biasanya mulai memotret jam 5 pagi untuk mendapatkan pemandangan yang eksotis, karena di jam-jam itu cahaya matahari terlihat sangat indah. Di sepanjang pantai juga telah dibangun jogging track bagi wisatawan yang ingin berkeliling pantai dengan berjalan kaki. Jalur ini juga biasa dipakai untuk olahraga pagi sambil menikmati pemandangan Pantai Sanur yang menawan. -Ary

9

Ida Ayu Ratna Pawitrani

JADI PILOT SANGAT MUDAH HA Aviasi Indonesia merupakan marketing resmi di Indonesia dari Sekolah Pilot American Aviation Academy (AAA) yang berlokasi di San Diego California Amerika Serikat. AHA Aviasi Indonesia telah memberangkatkan beberapa siswanya untuk melanjutkan studi Pilot di Califonia U.S.A. American Aviation Academy merupakan sekolah pilot yang sudah berhasil menamatkan banyak siswa internasional dengan standard dan kualitas terbaik

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Oleh: dr. I Gusti Putu Hery Sikesa, S.Ked. Salah satu komplikasi diabetes adalah kaki diabetes (diabetic foot). Sebesar 4-10% diabetisi akan mengalami masalah kaki diabetes. Sebagian besar (40-70%) dilakukan amputasi kaki terkait dengan diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama akan menimbulkan beban kepada jaringan tubuh. Gula darah yang merupakan nutrisi tubuh, karena jumlahnya berlebih malah menjadi racun bagi sel-sel tubuh. Penumpukan racun itu akan mengganggu pembuluh darah dan sel saraf. Pembuluh darah mengalami kerusakan dan tidak dapat menyediakan kebutuhan nutrisi dan oksigen kepada jaringan tubuh yang membutuhkan. Akibatnya, jaringan tubuh menjadi tidak sehat, sel-selnya kekurangan nutrisi dan dalam waktu lama menjadi rusak. Keadaan jaringan yang tidak sehat ini juga menjadi rentan terhadap masalah infeksi, karena sistem imunitas jaringan juga menjadi tidak optimal. Pengurangan sensasi kulit kaki khususnya pada tungkai kaki disebabkan oleh kerusakan sel saraf tepi. Selain itu ditemukan juga kelemahan otot-otot intrinsik kaki, sehingga otot tersebut tidak dapat mempertahankan struktur-struktur dalam kaki terhadap pengaruh berat badan dan tekanan dari luar (misal: sepatu, alas kaki yang lain). Kondisi-kondisi di atas menyebabkan kaki rentan mengalami luka dan infeksi. Deteksi dini perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kaki diabetes diantaranya mengenal adanya keluhan kaki kesemutan atau baal (kulit keras tebal), adanya perubahan bentuk kaki seperti jari yang bengkok, kulit kering dan pecah-pecah, mata ikan, denyut nadi kaki melemah, melakukan pengukuran tekanan pembuluh darah di kaki dengan DOPPLER. Dengan melakukan deteksi dini kaki diabetik maka bisa diketahui upaya-upaya pencegahan yang perlu dilakukan. Masalah Kaki Diabetes Kalus Merupakan penebalan kulit yang umumnya terjadi di telapak kaki, terutama di bagian yang menonjol. Kalus disebabkan gesekan atau tekanan berulang pada daerah yang sama, juga karena distribusi berat badan yang tidak seimbang, sepatu yang tidak sesuai (kesempitan), atau kelainan kulit. Kalus dapat menjadi berkembang menjadi infeksi, terlebih bila dimanipulasi (dikorek, digunting) Kulit melepuh Terjadi jika sepatu selalu menggesek kaki pada daerah yang sama. Disebabkan penggunaan sepatu yang kurang pas atau tanpa kaus kaki. Kulit melepuh dapat berkembang menjadi infeksi. Penanganan kulit melepuh adalah dengan tidak meletuskannya. Kuku kaki yang tumbuh ke dalam Terjadi ketika ujung kuku tumbuh ke dalam kulit dan menimbulkan tekanan yang dapat merobek kulit sehingga kulit bengkak kemerahan dan terinfeksi. Kuku kaki yang tumbuh ke dalam dapat terjadi jika memotong kuku sampai ke ujung, dapat pula disebabkan pemakaian sepatu yang terlalu ketat atau trauma kaki karena aktivitas seperti berlari dan aerobik. Jika ujung kuku kaki kasar, pergunakan kikir untuk meratakannya. Pembengkakan ibu jari kaki Terjadi jika ibu jari kaki condong ke arah jari di sebelahnya sehingga menimbulkan kemerahan, rasa sakit, dan infeksi. Dapat terjadi pada salah satu atau kedua kaki karena penggunaan sepatu berhak tinggi dan ujung yang sempit.

Bangunan di Museum Subak

daerah. Ada pula dari kalangan mahasiswa,” katanya. Di tempat ini, kata Ratna terdapat 250 buah peralatan pertanian kuno. Mulai dari cangkul hingga peralatan pengolahan padi menjadi beras. Museum Subak adalah satu-satunya di Bali. Kawasan ini dibuka sejak tahun 1981, namun mulai dikelola oleh Pemkab Tabanan sejak tahun 1994 silam. Luas museum ini mencapai 6,28 hektare dan sawah seluas 1,3 hektare. Setelah proyek rehab ini rampung, rencananya pengelola museum akan menggandeng pihak sekolah untuk memperkenalkan sejarah dan koleksi museum melalui program yang dinamakan Museum Goes to School. Dalam program tersebut, para siswa akan diperkenalkan tentang subak melalui pemutaran film, yang

nantinya dilanjutkan dengan pemaparan tentang museum dan diskusi tentang apa itu subak. “Rencananya yang kami sasar adalah siswa SMP dan SMA, kalau untuk jenjang SD masih sangat berat. Sebenarnya konsep ini sudah dari tahun 2014 kemarin, namun karena disibukkan akan program revitalisasi ini rencananya tahun ini baru akan kita realisasikan,” jelas Ratna. Menurutnya dengan langkah tersebut setidaknya mampu memberikan pemahaman pada generasi muda tentang pentingnya subak bagi pertanian di Tabanan. Apalagi Tabanan terkenal dengan lumbung berasnya Bali. Setidaknya nanti wisawatan bisa melihat sistem irigasi persawahan di Bali di museum, sebelum nantinya mereka melihat langsung di lapangan seperti di Jatiluwih. –Puspa

Jari kaki bengkok Terjadi ketika otot intrinsik kaki menjadi lemah. Kerusakan saraf karena diabetes dapat menyebabkan kelemahan ini. Otot yang lemah dapat menyebabkan tendon (jaringan yang menghubungkan otot dan tulang) di kaki memendek sehingga jari kaki menjadi bengkok. Akan menimbulkan masalah dalam berjalan dan kesulitan menemukan sepatu yang tepat. Dapat juga disebabkan pemakaian sepatu yang terlalu pendek. Kulit kaki kering dan pecah Dapat terjadi karena kerusakan saraf pada kaki. Sehingga kulit kaki berkurang memproduksi keringat yang akan menjaga kulit tetap lembut dan lembab. Kulit yang kering dapat pecah. Adanya pecahan pada kulit dapat membuat kuman masuk dan menyebabkan infeksi. Dengan gula darah Anda yang tinggi, kuman akan mendapatkan makanan untuk berkembang sehingga memperburuk infeksi. Iskemi pada kaki memberikan dua gambaran klinik yang berbeda, yaitu nyeri istirahat (rest pain) dan gangren. Pada nyeri istirahat kaki teraba dingin dan tampak merah muda. Perasaan nyeri seperti terbakar di seluruh kaki dan biasanya memburuk di malam hari. Gangren hampir selalu dimulai pada ibu jari kaki. Biasanya tanpa nyeri, warna keungu-unguan kemudian menjadi hitam dan kering. Bila disertai infeksi, gangren menjadi basah dan berbau khas. Kaki Diabetes. Tampak kaki diabetes yang sudah diamputasi dan gambaran gangren. (Sumber: https://meded.ucsd.edu)

•Prinsip Penanganan Kaki Diabetes •Pengendalian keadaan metabolik sebaik mungkin seperti pengendalian kadar gula darah, kolesterol, dan sebagainya. •Perbaikan suplai vascular (kecukupan aliran darah), biasanya dibutuhkan pada keadaan kerusakan pembuluh darah tepi, dilakukan dengan operasi atau angioplasty. •Pengobatan infeksi secara agresif, jika terlihat tanda klinis infeksi, pembuangan jaringan terinfeksi dan jaringan mati secara teratur. •Mengurangi tekanan yang berulang yang dapat menyebabkan perlukaan. •Hal itu sangat penting dilakukan pada luka akibat kerusakan saraf, dan diperlukan pembuangan kalus dan memakaikan sepatu yang pas yang berfungsi untuk mengurangi tekanan. Gunakan alas kaki yang cocok dengan bentuk kaki, 1-2 cm lebih panjang dari ukuran kaki. gunakan selalu alas kaki baik didalam maupun diluar rumah. Kalau perlu buat sepatu yang dibuat khusus menyesuaikan dengan bentuk atau kelainan kaki yang ada. Edukasi perawatan kaki harus diberikan secara rinci pada semua orang dengan kaki diabetes: 1. Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir dan air. 2. Periksa kaki setiap hari, dan laporkan pada dokter apabila ada kulit terkelupas atau daerah kemerahan atau luka. 3. Periksa alas kaki dari benda asing sebelum memakai. 4. Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih, dan mengoleskan krim pelembab ke kulit yang kering. 5. Gunting kuku dengan cara yang benar, jangan membuat luka dan jangan sampai kuku tumbuh ke dalam daging. 6. Bersihkan kaki tiap hari. 7. Tiap 4-6 jam lepaskan sepatu 8. Gerakkan pergelangan kaki dan jari-jari kaki untuk melancarkan sirkulasi darah. 9. Jangan merendam kaki 10. Jangan menggunakan botol panas/peralatan listrik untuk memanaskan kaki. 11. Jangan menggunakan silet untuk mengurangi kapalan. 12. Jangan menggunakan obat-obat tanpa anjuran dokter untuk menghilangkan mata ikan. 13. Jangan menggunakan sikat tajam atau pisau untuk kaki. 14. Jangan membiarkan luka di kaki sekecil apa pun. (dari berbagai sumber)


10

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Bugar

Kenali Sedini Mungkin Gigi Impaksi

segera konsultasi ke dokter spesialis bedah mulut. Penanganan drg. I Made Merta Suparka, Sp.BM dalam kasus ini adalah dilakukan (Dokter Spesialis Bedah Mulut di Siloam Hospitals Bali) rontgen panoramic. Selanjutnya akan dilakukan rencana pengamigi impaksi/wis- sakit akan muncul kembali. Jika hal bilan gigi impaksi tersebut. dom teeth/impact- tersebut dibiarkan berlarut-larut ed teeth adalah gigi akan muncul rasa sakit yang makin ODONTEKTOMI yang tidak biasa hebat, disertai pembengkakan Odontektomi adalah suatu tintumbuh sempurna oleh karena pada pipi. Makin lama dibiarkan dakan pembedahan baik mayor terhalang oleh jaringan keras atau hal yang paling fatal terjadi adalah ataupun minor untuk mengambil tulang dan jaringan lunak. Pe- pasien tidak bias membuka mulut, gigi impaksi dengan jalan memnyebabnya antara lain adalah : karena terjadi infeksi pada otot buka jaringan lunak dan jaringan 1. Ukuran rahang yang sempit membuka dan menutup mulut. keras. dibandingkan dengan ukuran Sehingga pasien akan merasakan Setelah tindakan pembedahan gigi kesulitan untuk makan. selesai dilakukan, dapat diberikan 2. Gigi sulung yang tanggal preJika sudah terjadi demikian, antibiotik, antiinflamasi, antinyeri, matur hal yang harus dilakukan adalah vitamin, dan obat kumur. 3. Gigi sulung sering terlibat infeksi 4. Faktor genetik 5. Malnutrisi, dll Gigi yang sering mengalami impaksi antara lain gigi geraham atas ketiga, geraham bawah ketiga, taring, dan pada gigi seri. Apa yang terjadi bila gigi impaksi tersebut tidak segera ditangani? - Infeksi - Rasa sakit yang hebat - Abses - Patah rahang pada daerah gigi impaksi - Terjadi suatu kista rongga mulut - Terjadi suatu tumor rongga mulut

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Gaya Toleransi Modern Garis dan konsep rancangan yang identik dengan kontemporer edgy dan gaya androgini, menjadikan nama Weda Githa salah seorang desainer Bali asal Singaraja ini semakin melambung. Apalagi gaya tersebut sering digunakan sebagai identitas setiap rancangannya, khususnya untuk koleksi busana ready to wear .

G

Gigi impaksi tumbuh antara usia 17–23 tahun. Dengan gejala seperti rasa sakit yang hebat pada daerah tersebut, sakit kepala yang berkepanjangan, terasa kaku pada leher dan pundak, terkadang penglihatan pun terganggu. Pemberian obat antinyeri hanya akan menghilangkan rasa nyeri secara sementara saja. Setelah itu rasa

Style

M

drg. I Made Merta Suparka, Sp.BM

elalui merek Xunder G, lulusan LPTB Susan Budhihardjo, Surabaya tahun 2005 ini mempersembahkan karyanya untuk pria dan wanita yang memahami fashion, modern, dinamis, percaya diri, dan tidak takut untuk menjadi berbeda dari yang lain. Belum lama ini juga hasil rancangan pengajar pada Angelica Wu Fashion Design

Course Bali ini, juga sempat mengisi pagelaran show hari pertama pada ajang “Indonesia Fashion Week 2015”, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Deretan karya merepresentasikan toleransi atas perbedaan budaya melalui tema “Shades of Tolerance”. Seperti yang ditampilkan dalam halaman Style Tokoh kali ini, Weda Githa menunjukkan gaya androgini yang mengekplorasi unsur feminin dan maskulin dalam perspektif yang berbeda. Suguhan yang berani dan menarik.– Sri Ardhini

Weda Githa

15


14

Jelita

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Buka Aura dengan Talenta Siapa yang tak ingin tampil cantik, kulit lebih ha­ lus, wajah lebih awet muda dan berseri? Di zaman sekarang dengan teknologi modern ini, banyak perawatan yang menawarkan manfaat tersebut. Belakangan ini mulai bermunculan terapi buka aura dengan manfaat plusnya, memunculkan ke­ cantikan dari dalam sehingga wajah lebih ber­ kharisma dan beraura.

A

pa itu aura? Aura adalah lapisan energi yang ber­ bentuk cahaya yang terpancar dari dalam tubuh. Pancaran aura ini menyelubungi seluruh tubuh. Aura diyakini sebagai refleksi atau gambaran dari sikap, kepribadian, mental, psikis, serta kondisi fisik seseorang. Tanpa disadari, Anda mungkin pernah merasakan tiba-tiba merasa cepat akrab dengan seseorang yang baru dikenal. Atau pernah melihat seseorang yang memiliki paras wajah biasa (tidak cantik), namun enak dipandang dan menyenangkan orang di sekelilingnya. Bahkan mungkin se­baliknya, Anda tiba-tiba merasa tidak senang pada seseorang yang baru di­kenal tanpa alasan yang jelas. Jawaban dari kesemuanya itu ada pada pancaran aura seseorang yang berbeda-beda. Aura seseorang bisa dimunculkan dengan totok aura atau perawatan buka aura. Chandra Kirana Beauty Skin Care yang berlokasi di Jalan Raya Kuta 10 dan Jalan Tukad Pancoran 6X Denpasar, ada program terbaru perawatan buka aura yang diberi nama Roro Art Face. Namun, buka aura yang ditangani Bunda Roro Indira, seorang ahli aura dan yoga yang sudah berpengalaman 18 tahun ini, berbeda dengan terapi buka aura pada umumnya. Dengan talenta yang dimilikinya melalui kuasa Tuhan, Bunda Roro membuka aura seseorang secara alami hanya dengan media es batu dan masker khusus. Dalam satu paket perawatan yang ditangani selama 2 jam, dengan teknik pengerjaan seperti di-massage, Bunda Roro meyakinkan pasien akan mendapatkan perubahan langsung pada wajah sesuai yang diinginkan. Seperti, pipi lebih tirus, hidung lebih mancung, tulang pipi lebih menonjol, dagu lebih panjang, kantung mata lebih kecil, kulit lebih kencang, mulus dan berseri. Sebelum memulai perawatan, terlebih dahulu Bunda Roro melihat bentuk awal dan karakter wajah pasien. Pasien pun diajak berdiskusi dan melihat kekurangan pada wajah yang ingin disempurnakan. “Prinsipnya disini, saya hanya membantu meng­ haluskan dan memperbaiki dengan naluri jiwa perasaan, tanpa merubah atau mengurangi atau merusak apa yang sudah diberikan Tuhan,” jelasnya. Bunda Roro me-

nyadari seiring bertambahnya usia, tentu makin banyak permasalahan yang muncul baik itu secara fisik yang terlihat di wajah, maupun secara psikis. Buka aura yang ia lakukan ini ditegaskannya benar-benar alami, tanpa operasi maupun menggunakan teknologi canggih, dan memberikan hasil yang permanen. Dengan kemampuan supranaturalnya, Bunda Roro juga menghilangkan energi-energi negatif pada pasien, sehingga usai perawatan semua hasil yang diinginkan langsung terlihat, wajah lebih awet muda, lebih fresh, lebih bersinar, dan aura lebih muncul. “Tak ada pantangan bagi pasien sebelum maupun sesudah melakukan perawatan. Jika sete­ lah perawatan Roro Art Face mau facial, tak masalah, karena semua perubahan yang terjadi bersifat permanen. Hidung yang setelah perawatan menjadi lebih mancung, selamanya akan mancung, tak bersifat sementara,” yakinnya. Beberapa pasien yang sudah di­ tangani Bunda Roro mengaku merasa lebih tenang, lebih percaya diri, dan lebih peka. Bunda Roro mengimbuhkan, untuk kasus-kasus tertentu, pasien harus dimandikan dulu dengan aura untuk buang sial, baru kemudian diberikan aura positif agar auranya lebih bagus. Karena, aura negatif itu akan terpancar dari energi-energi negatif dalam diri. Dengan perawatan Roro Art Face ini secara tidak langsung aura negatif langsung dihilangkan. Dengan kepekaan akan timbul kasih. Kasih dan kecantikan fisik ini diingatkan Bunda Roro harus tetap dijaga dengan

belajar Yoga Gotha untuk penyembuhan jiwa, mensugesti diri untuk lebih yakin dan peka. Yoga Gotha adalah yoga tradisional India yang memiliki banyak manfaat, seperti membuat tubuh lebih sehat, lebih bersemangat, dan membantu menghilangkan stres. Juga, membentuk jiwa lebih sabar, tenang, dan peka. Yoga Gotha amat penting sebagai awal akhlak seseorang agar selalu menerapkan 3 hal dalam kehidupannya, yakni introspeksi ter­ hadap Tuhan, introspeksi terhadap diri, dan ­i ntrospeksi terhadap keluarga dan lingkungan

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

11

Flourisa Julian Sudrajat

sekitar. “Roro Art Face sangat tepat dijaga dan diimbangi dengan Yoga Gotha, sehingga kita akan bisa lebih bersyukur, dengan ikhlas melakukan apapun yang positif dan bermanfaat untuk diri, orang lain, dan selalu mawas diri, serta selalu ingat akan pencipta alam semesta saat hening dan khusyuk,” tandasnya .-Inten Indrawati

SDM Tentukan SDA

P

rogram Keluarga Berencana yang dikenal sejak tahun 1970 sudah terbukti mampu mengerem laju pertumbuhan penduduk. Jika tidak ada pengendalian jumlah kelahiran, mungkin penduduk Indonesia saat ini sudah lebih dari 250 juta. Karena itu program KB harus terus menjadi perhatian pemerintah. Di era kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla yang mengusung program Nawa Cita, butir kelima berbunyi, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan program “Indonesia Pintar” serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektare, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019. “Program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga menjadi bagian dari butir kelima Nawa Cita,” tegas Dra. Flourisa Julian Sudrajat, M.KM, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan BKKBN. Perempuan yang akrab disapa Uce ini perhatian pemerintah ini juga harus didukung masyarakat. Karena itu, berbagai upaya dilakukan BKKBN untuk menjadikan program keluarga berencana mendapat tempat di hati masyarakat. Salah satunya dengan mengembalikan tagline KB menjadi “Dua Anak Cukup”. Sebelumnya, BKKBN pernah mengusung tagline “Dua Anak lebih Baik”. “Kadang ada yang memplesetkan dengan mengatakan, dua anak lebih, baik.

Artinya punya anak lebih dari dua itu lebih baik. Padahal yang dimaksud pemerintah adalah memiliki anak dua lebih baik. Karena itu, dengan kembali menggunakan tagline dua anak cukup, tidak ada interpretasi lain,” jelasnya. Dengan kelahiran anak yang sudah direncanakan de­ ngan baik, ia yakin akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas baik. SDM yang baik ini nantinya akan mampu mengelola sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia. Jika hanya memiliki SDA saja tanpa ada­ nya SDM mumpuni, ia yakin, potensi SDA yang ada tidak akan tergarap maksimal. Selain itu, perhatian kepada anak dengan memberikan pendidikan dan kesehatan yang terbaik untuk anak merupakan upaya untuk mewujudkan Indonesia sejahtera. Membatasi jumlah anak dengan harapan bisa memberikan perhatian yang lebih inilah yang harus menjadi perhatian masyarakat. Kalau anak terlalu banyak, tentu orangtua akan kesulitan untuk memberikan perhatian. Uce juga mengingatkan tentang “Empat Terlalu” yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu banyak. “Hamil terlalu muda itu sangat riskan, demikian juga kalau hamil terlalu tua. Terlalu sering sering melahirkan dan terlalu banyak juga mempengaruhi kondisi kesehatan ibu,” tegasnya. Mengenai program kependudukan di daerah, ia berharap ada kepedulian pimpinan daerah untuk ikut menyukseskan program kependudukan. Kalau pemimpin di daerah tidak peduli dan merasa program KB tidak penting, ini akan menimbulkan masalah kependudukan di kemudian hari. Anggaran dari pusat pun tergantung keseriusan daerah dalam menyusun program kerja. –Ngurah Budi

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

Menstruasi Telat

“Dok, belakangan ini menstruasi saya sering mengalami keterlambatan. Menstruasinya bisa telat dan tidak teratur, padahal sebelumnya tidak. Sempat periksa ke dokter, katanya saya kekurangan hormon estrogen. Apa yang perlu saya lakukan, Dok?” (Dwi, 17 thn) Perempuan yang menstruasinya telat belum tentu karena hamil. Apalagi memang belum pernah melakukan hubungan seksual. Variasi datang menstruasi terjadi karena adanya perbedaan dari kadar hormon estrogen yang diproduksi. Oleh karena siklus menstruasi terjadi akibat pengaruh kerja hormon estrogen, maka jika produksi hormon estrogen berkurang, siklus menstruasi bisa makin lama datangnya. Demikian pula dengan sebaliknya, jika produksi hormon ini berlebih, maka siklus jadi makin cepat.

Beberapa kemungkinan penyebab yang paling mungkin, jika dilihat dari usia dan keterangannya adalah beberapa hal sebagai berikut: 1. Stres Suasana hati yang penuh emosi dan ketegangan akan berdampak cukup besar pada siklus menstruasi. Yang tadinya teratur menjadi tidak lagi teratur. Bahkan justru pada saat berpikir terus kenapa menstruasi belakangan ini menjadi telat terus, justru akhirnya malah itu akan benar-benar menunda kedatangannya. Stres juga akan menyebabkan gang-

Rakerda Program Kependudukan, KB, dan Pembangunan Keluarga Provinsi Bali Perwakilan BKKBN Provinsi Bali melaksanakan rapat kerja daerah (Rakerda) Program Kependudukan, KB, dan Pembangunan Keluarga, Kamis (16/4) hingga Jumat (17/4). Rakerda dibuka Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikertha. Rakerda yang bertema “Melalui Rakerda Kita Optimalkan Kinerja Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga Guna Mewujudkan Target Sasaran Tahun Pertama RPJMN dan Renstra Tahun 20152019” juga dihadiri Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan BKKBN Dra. Flourisa Julian Sudrajat, M.KM yang mewakili Plt.Kepala BKKBN, Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Ayu Pastika, dan para mitra kerja Perwakilan BKKBN Provinsi Bali. Dalam sambutannya, Gubernur Bali mengingatkan program KB di Bali harus diperhatikan. Kalau tidak ada perencanaan yang baik, Bali akan penuh sesak. Hal ini akan menimbulkan dampak berupa degradasi ekologis. Lahan-lahan yang seharusnya menjadi lahan produktif beralihfungsi menjadi permukiman penduduk. Sementara itu, Plt. Kepala BKKBN dalam sambutannya menegaskan komit-

guan kestabilan hormon, termasuk hormon estrogen dan progesteronnya. Penjelasannya, ketika sedang stres kelenjar adrenal dirancang untuk mengeluarkan hormon kortisol. Hormon kortisol ini memiliki dampak langsung pada hormon seks estrogen dan progesteron. 2. Perubahan Rutinitas Apakah ada hal-hal yang mendadak harus dikerjakan sehingga mengubah pola rutinitas? Hingga termasuk juga mengubah jadwal bangun tidur? Ini semua bisa membuat tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dirinya terhadap perubahan dalam rutinitas. Ini juga bisa mempengaruhi siklus menstruasi. Terutama, jika perubahan itu dimulai saat mengalami ovulasi (saat sel telur matang dan siap dibuahi), yang menyebabkan keterlambatan atau siklus menstruasi terlewati. Demikian juga, jika tiba-tiba terjadi gangguan makan, diet, penggunaan narkoba, dan ketergantungan pada stimulan seperti kafein dan alkohol juga akan mengubah protein dalam otak sehingga tidak bisa lagi mengirim sinyal yang tepat untuk ovulasi normal. 3. Sakit dan Minum Obat Sakit pada saat waktu ovulasi juga bisa menunda ovulasi dan jadwal ovulasi menjadi terlambat. Jika ovulasi terlambat, maka menstruasi juga akan terlambat juga. Minum

men pemerintah tentang kependudukan. Program Kependudukan, KB, dan pembangunan keluarga merupakan bagian dari Nawa Cita yang diusung pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Ida Bagus Wirama, S.H., M.Kes. melaporkan peserta baru KB di Bali mencapai 97,16%. Peserta KB baru MKJP sebanyak 28.285 (70,09%) dari Kontrak Kerja Program (KKP) 40.357. Peserta baru MOP tercatat 216 (53,33%) dari KKP 405 peserta. “Untuk angka kelahiran total di Bali berdasarkan susenas 2013 sebanyak 2,25 anak per wanita. Media umur kawin pertama wanita di Bali menurut SDKI tahun 2007 adalah 21,1 tahun dan tahun 2012 menjadi 21,9,” papar Wirama. KKP Provinsi Bali tahun 2015 menargetkan antara lain peserta KB aktif 498.934, peserta KB baru 87.419, peserta aktif MKJP 43,8% dan peserta aktif KB pria 6,06%. Dalam mendukung upaya pencapaian KKP 2015 di Bali, pemerintah sudah menganggarkan dana Rp 10 miliar lebih. Dana Alokasi Khusus (DAK) dianggarkan sebesar Rp 6 miliar lebih kecuali untuk Badung, Gianyar, dan Denpasar. –wah

obat saat sakit, atau mengubah dosis obat tertentu di saat sakit, terkadang bisa juga mempengaruhi kestabilan metabolisme tubuh, termasuk keadaan hormon, jadi termasuk juga siklus menstruasi. Itu sebabnya, sering kali juga dokter selalu ingin menanyakan obat dan riwayat minum obat saat melakukan pemeriksaan. 4. Masalah Berat Badan Perubahan berat badan, apakah itu naik atau turun dalam waktu yang cepat juga bisa mempengaruhi siklus menstruasi. Orang yang kurus atau sangat gemuk terkadang tak memiliki periode menstruasi yang pas sama sekali, dan sering kali memang akhirnya menstruasinya menjadi terlambat. 5. Olahraga Berlebihan Jika ternyata belakangan juga melakukan aktivitas fisik atau melakukan olahraga baru yang berlebihan dan intens dilakukan, ini juga bisa mempengaruhi menstruasi menjadi terlambat. Sebuah riset menyebutkan bahwa pada perempuan yang tiba-tiba berolahraga 2-3 jam sehari dapat menemukan siklus menstruasi mereka menjadi terlambat atau bahkan berhenti karena adanya penurunan lemak tubuh. Itu karena perempuan memiliki estrogen yang rendah dan akhirnya tidak berovulasi. Nah, itu semua adalah beberapa

penyebab yang akhirnya bisa mengakibatkan seorang remaja mengalami keterlambatan menstruasi. Hampir semua dari kondisi tadi pada akhirnya memang bisa menurunkan level hormon estrogen, salah satu hormon penting saat menstruasi. Penanganan untuk mengatasi keadaan seperti ini bisa dilakukan dengan cara memperbaiki kemungkinan keadaan yang menyebabkan keterlambatan menstruasi, agar dapat kembali menstruasi yang lancar dan teratur. Tentu saja dengan mengendalikan stres, membuat rutinitas menjadi teratur kembali, tidak melakukan diet membabi buta dan senantiasa kembali ke pola makan yang sehat serta tidak lagi melakukan olah raga dan aktifitas fisik berlebihan. Serta konsultasikan selalu jika ada sedang sakit dan minum obat ke dokter. Apabila gejala masih berlanjut, penanganan medik mungkin dibutuhkan, umumnya akan diberikan suplemen hormonal, tetapi tentu saja harus dengan berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu. Sebaiknya ke dokter ahli kandungan dan kebidanan. Bisa jadi dokter akan melakukan USG dan pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui apakah ada penyakit atau tidak. Sebab salah satu ciri perempuan sehat adalah memiliki siklus menstruasi yang teratur, walau tidak selalu datang pada tanggal yang sama.


Kuliner Si Manis Klepon Tanah Lot Pisang

12

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Klepon merupakan kue tradisional yang termasuk dalam kelompok jajanan pasar. Di Bali, kue klepon yang terkenal adalah klepon khas Tanah Lot Tabanan. Rasa klepon ini sangat enak dan kenyal. Ada dua pilihan warna kue klepon, hijau dan hitam.

Ketut Seri

J

ika kita mengunjungi Pura Tanah Lot, kita akan menemui banyak penjual kue klepon ini. Biasanya, saat piodalan di Pura Tanah Lot, penjual menjadi lebih banyak. Salah satu penjualnya, Ketut Seri. Perempuan usia 49 tahun ini, sudah berjualan klepon sejak tahun 1993. Awalnya, Ketut Seri tak bekerja hanya mengurusi anak sulungnya di rumah. Tiap hari, ia sudah terbiasa melihat mertuanya berjualan klepon di pantai Yeh Gangga. “Awalnya, saya hanya membantu mertua membuat klepon. Namun, setelah saya pikir-pikir, ada baiknya juga saya berjualan klepon untuk membantu penghasilan keluarga.

Setelah anak saya sekolah, saya putuskan untuk berjualan,” kata Ketut Seri. Saat masuk menuju areal Pura Tanah Lot, di sanalah Ketut Seri biasa mangkal. Dengan membawa satu meja kecil dan kursi, Ketut Seri siap menyapa tamu atau pemedek yang menuju Pura Tanah Lot. Seharihari ia berjualan mulai pukul 11.00 dan tutup pukul 19.30, sesuai jam tutup Pura Tanah Lot. Ketut Seri menuturkan, tamu yang paling suka klepon selain orang Bali, tamu Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Untuk turis asing, wisatawan Taiwan sangat menggemari kue klepon. Uniknya, kata Ketut Seri, saat tamu Taiwan melintas di depannya, jika ada satu tamu yang berhenti, teman satu rombongannya pasti ikut berhenti. “Kalau satu turis Taiwan beli klepon, semua temannya ikut beli,” katanya sembari tertawa. Ketut Seri mengaku, belajar bahasa Mandarin dari pemandu wisata. Walaupun hanya salam pembuka dan menawarkan kleponnya, Ketut Seri, terlihat sangat fasih berbahasa Mandarin, saat turis Taiwan mendekat. Menurut perempuan asal Kedungu, Desa Belalang, Tanah Lot ini, saat hari Raya Galungan dan Kuningan, ia paling bersemangat. “Biasanya saat hari raya, setelah

Klepon

melakukan persembahyangan umat Hindu refresing. Tapi saya, setelah sembahyang, segera berjualan klepon karena pasti banyak sekali pembeli umat Hindu,” kata Ketut Seri. Satu hari, ia menghabiskan bahan utama kue klepon, tepung ketan 2½ kilogram. Untuk mendapatkan hasil adonan yang bagus, ia mencampur tepung ketan dengan tepung beras dengan perbandingan 2:1. Sementara, warna hijau ia dapatkan dari daun suji dan daun pandan. Kedua bahan ini dicampur dengan sedikit air, kemudian diremas-remas agar mendapatkan warna hijau yang kental dan pekat. Menurut Ketut Seri, selain warna hijau yang asli, dari bahan ini menghasilkan bau yang harum sehingga rasa klepon lebih nyangluh. Sementara, klepon warna hitam, Seri menggunakan ketan hitam atau injin. “Setelah ketan hitam dibuat tepung, saya campur dengan tepung beras. Untuk perbandinganya sama 2:1,” ucap istri PNS ini. Satu bungkus klepon, ia jual Rp 3000, isinya dua klepon hitam dan tiga klepon hijau.

Menurut ketut Seri, saat piodalan di Pura tanah Lot, pembeli sangat ramai. Walau banyak penjual, ia yakin kleponnya habis terjual.

Rata-rata ia mendapatkan hasil dari berjualan klepon sekitar Rp 200 ribu. Namun, hari-hari biasa, kadang kleponnya tak habis terjual. “Kadang kleponnya masih sisa. Ya terpaksa dibagi-bagi ke tetangga,” katanya, sembari tertawa. Untuk menyiasai agar tidak cepat basi, saat ada pembeli, ia baru memarut kelapa dan klepon ditaburi kelapa parut. Kelapa parut juga dalam kondisi bersih dan kering untuk menghindari basi. Kisah unik dituturkan Ketut Seri. Ia pernah mendapatkan pesanan klepon saat HUT Adi Wiryatama, ayahanda Bupati Tabanan Eka Wiryastuti. “Saya senang pernah mendapatkan pesanan untuk ulang tahun Bapak Wiryatama. Bapak beli klepon Rp 1 juta,” kata Ketut Seri. Selain berjualan di areal pura Tanah lot, Ketut Seri, juga menerima pesanan. “Biasanya, banyak yang pesan untuk resepsi, atau upacara adat. Yang pesan juga bukan umat Hindu saja, ada juga umat lain,” kata Ketut Seri. –Wirati Astiti

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Ketan untuk Pisang Rai Melintasi Jalan Bypass Canggu-Tanah Lot, Anda akan menemui banyak penjual kue di pinggir jalan. Selain klepon, ada juga kue lain yang tak kalah favorit, yakni pisang rai. Menurut Kadek Adiani, salah seorang penjualnya, membuat pisang rai sangat mudah. Ia menggunakan tepung terigu dan tepung kanji untuk adonannya. “Mungkin orang lain membuat adonan dengan tepung beras. Tapi saya pakai tepung terigu dan sedikit kanji. Rasanya lebih enak dan ini ciri khas pisang rai Tanah Lot,” kata perempuan usia 37 tahun ini. Setelah adonan siap, masukkan pisang ketan yang sudah dipotong-potong ke dalam adonan. Menurut Kadek Adiani, ia lebih suka memakai pisang ketan karena bentuknya yang montok dan setelah direbus menjadi lebih padat. Setelah pisang dipotong-potong dan dimasukkan ke adonan,

Kadek Adiani

Bangli ini, untuk berjualan klepon. Kadek menerima tawaran itu, dan mendapatkan komisi dari hasil jualannya itu. Agar lebih banyak pembeli, ia tambahkan dengan pisang rai buatannya. “Kalau klepon agak sulit membuatnya. Saya tak bisa. Saya hanya menjualkan klepon

tuang satu per satu ke air mendidih. Usahakan jangan sampai menempel satu sama lain. Biarkan adonan sampai mengapung, yang berarti kue pisang rai sudah matang. Tiriskan kue terlebih dahulu agar tak berair. Siapkan kelapa parut yang sudah diberi garam. Balurkan pisang rai dengan kelapa parut, dan siap disajikan. Kadek Adiani menuturkan, awalnya berjualan kue pisang rai karena suatu kebetulan. Ia dan suaminya dulu bekerja sebagai pengangkut paving. Karena ia mempunyai bayi, ia putuskan untuk berhenti. Hanya suaminya yang masih bekerja mengangkut paving. Ada yang menawarkan perempuan asal

13

orang lain,” kata Kadek. Tempat berjualan Kadek juga tak jauh dari tempat suaminya mengangkut paving. Ia juga membawa anak semata wayangnya sembari berjualan. Dari bayi sampai anaknya kini berusia 3 tahun, ia sudah berjualan kue di pinggir jalan. “Ya lumayan untuk menambah penghasilan. Untungnya di dekat meja jualan saya ada tempat ngetis kalau panas, biasanya saya istirahat di sana,” kata Kadek sembari menunjuk satu kubu sederhana di dekatnya. Dari penjualan pisang rai, ia mendapatkan Rp 100 ribu per hari. Ditambah komisi klepon, bagi Kadek, cukup untuk tambahan uang dapurnya. -Wirati Astiti

Pisang rai

Tim Ayam Kampung Cara membuat klepon: - Tuang satu sendok makan air ke dalam campuran daun suji dan daun pandan, lalu remas-remas, peras dan saring. - Campur rata tepung ketan, tepung beras, air kapur sirih, dan garam, lalu tuang air daun suji dan pandan tadi, uleni hingga kalis. - Ambil satu sendok teh adonan, beri isi dengan gula merah lalu bentuk bulat. Bentuk bulat semua adonan dan jangan lupa untuk menutupi adonan yang belum dibentuk agar tidak kering. Jika adonan menjadi kering dan mudah patah saat dibentuk cukup tambahkan 1-2 sendok teh air lalu aduk rata. - Setelah semua adonan telah menjadi bulatan bola-bola dengan isian gula merah, selanjutnya rebus dalam air mendidih hingga terapung. - Angkat lalu gulingkan bulatan klepon di parutan kelapa. -Wirati Astiti

Sup Kilil Sapi Rempah Sarwan Bahan: 1 kg : kaki sapi, potong potong menurut selera 1 buah : wortel, iris bulat atau serong, rebus 3 buah : kentang, potong dadu, rebus 3 buah : cengkih 2 ruas : jari kayu manis 2 ruas : jari jahe, memarkan ½ pala : bubuk kasar 1200 ml : air Garam, gula, kaldu bubuk, lada bubuk secukupnya

Bumbu yang Dihaluskan: 7 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih Cara Membuat: - Rebus kaki sapi sampai empuk, tumis bumbu halus sampai harum. Masukkan ke dalam rebusan

Bahan : 2 ekor 500 ml 2 sdm 3 sdm 3 ruas 7 buah 2 sdm 3 sdm

: ayam kampung, potong jadi 4 bagian : air : minyak wijen : saus raja rasa : jari jahe, memarkan : cabe rawit, potong jadi 3 bagian : saus tiram : bawang putih goreng

Gula, garam, lada, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat: - Masukkan semua bahan jadi satu dalam panci presto, lalu tutup, masak full presto selama 20-25 menit dan panci presto mendesis, matikan, biarkan uapnya habis, buka. - Siap untuk disajikan.

kaki sapi beserta pala, lada, jahe, rebusan kentang, wortel, garam, gula, kaldu bubuk. Aduk-aduk hingga bumbu meresap dan kaki sapi empuk siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng serta tambahkan irisan daun bawang.

Iga Bakar Lada Hitam

Bahan: 750 gr 4 siung 9 buah 1 sdm 3 buah 3 sdm 3 sdm

: iga sapi, potong menurut selera : bawang putih, cincang halus : bawang merah, cincang kasar : lada hitam bubuk, tumbuk kasar : cabe besar, iris serong : saus tomat : saus sambal

2 sdm : kecap manis 1000 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk, minyak secukupnya Cara Membuat: - Tumis irisan bawang putih dan merah juga cabe besar merah sampai harum, lalu masukkan iga, aduk-aduk hingga berubah warna, masukkan kecap manis, saus tomat, saus sambal dan

juga air Aduk-aduk perlahan agar bumbu merata, lalu masukkan garam, gula, lada dan kaldu bubuk. Tutup panci dan masak iga hingga matang dan bumbu meresap. Bagi yang suka dibakar, iga langsung bisa dibakar dan diolesi sisa bumbu. - Iga siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng.


Kuliner Si Manis Klepon Tanah Lot Pisang

12

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Klepon merupakan kue tradisional yang termasuk dalam kelompok jajanan pasar. Di Bali, kue klepon yang terkenal adalah klepon khas Tanah Lot Tabanan. Rasa klepon ini sangat enak dan kenyal. Ada dua pilihan warna kue klepon, hijau dan hitam.

Ketut Seri

J

ika kita mengunjungi Pura Tanah Lot, kita akan menemui banyak penjual kue klepon ini. Biasanya, saat piodalan di Pura Tanah Lot, penjual menjadi lebih banyak. Salah satu penjualnya, Ketut Seri. Perempuan usia 49 tahun ini, sudah berjualan klepon sejak tahun 1993. Awalnya, Ketut Seri tak bekerja hanya mengurusi anak sulungnya di rumah. Tiap hari, ia sudah terbiasa melihat mertuanya berjualan klepon di pantai Yeh Gangga. “Awalnya, saya hanya membantu mertua membuat klepon. Namun, setelah saya pikir-pikir, ada baiknya juga saya berjualan klepon untuk membantu penghasilan keluarga.

Setelah anak saya sekolah, saya putuskan untuk berjualan,” kata Ketut Seri. Saat masuk menuju areal Pura Tanah Lot, di sanalah Ketut Seri biasa mangkal. Dengan membawa satu meja kecil dan kursi, Ketut Seri siap menyapa tamu atau pemedek yang menuju Pura Tanah Lot. Seharihari ia berjualan mulai pukul 11.00 dan tutup pukul 19.30, sesuai jam tutup Pura Tanah Lot. Ketut Seri menuturkan, tamu yang paling suka klepon selain orang Bali, tamu Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Untuk turis asing, wisatawan Taiwan sangat menggemari kue klepon. Uniknya, kata Ketut Seri, saat tamu Taiwan melintas di depannya, jika ada satu tamu yang berhenti, teman satu rombongannya pasti ikut berhenti. “Kalau satu turis Taiwan beli klepon, semua temannya ikut beli,” katanya sembari tertawa. Ketut Seri mengaku, belajar bahasa Mandarin dari pemandu wisata. Walaupun hanya salam pembuka dan menawarkan kleponnya, Ketut Seri, terlihat sangat fasih berbahasa Mandarin, saat turis Taiwan mendekat. Menurut perempuan asal Kedungu, Desa Belalang, Tanah Lot ini, saat hari Raya Galungan dan Kuningan, ia paling bersemangat. “Biasanya saat hari raya, setelah

Klepon

melakukan persembahyangan umat Hindu refresing. Tapi saya, setelah sembahyang, segera berjualan klepon karena pasti banyak sekali pembeli umat Hindu,” kata Ketut Seri. Satu hari, ia menghabiskan bahan utama kue klepon, tepung ketan 2½ kilogram. Untuk mendapatkan hasil adonan yang bagus, ia mencampur tepung ketan dengan tepung beras dengan perbandingan 2:1. Sementara, warna hijau ia dapatkan dari daun suji dan daun pandan. Kedua bahan ini dicampur dengan sedikit air, kemudian diremas-remas agar mendapatkan warna hijau yang kental dan pekat. Menurut Ketut Seri, selain warna hijau yang asli, dari bahan ini menghasilkan bau yang harum sehingga rasa klepon lebih nyangluh. Sementara, klepon warna hitam, Seri menggunakan ketan hitam atau injin. “Setelah ketan hitam dibuat tepung, saya campur dengan tepung beras. Untuk perbandinganya sama 2:1,” ucap istri PNS ini. Satu bungkus klepon, ia jual Rp 3000, isinya dua klepon hitam dan tiga klepon hijau.

Menurut ketut Seri, saat piodalan di Pura tanah Lot, pembeli sangat ramai. Walau banyak penjual, ia yakin kleponnya habis terjual.

Rata-rata ia mendapatkan hasil dari berjualan klepon sekitar Rp 200 ribu. Namun, hari-hari biasa, kadang kleponnya tak habis terjual. “Kadang kleponnya masih sisa. Ya terpaksa dibagi-bagi ke tetangga,” katanya, sembari tertawa. Untuk menyiasai agar tidak cepat basi, saat ada pembeli, ia baru memarut kelapa dan klepon ditaburi kelapa parut. Kelapa parut juga dalam kondisi bersih dan kering untuk menghindari basi. Kisah unik dituturkan Ketut Seri. Ia pernah mendapatkan pesanan klepon saat HUT Adi Wiryatama, ayahanda Bupati Tabanan Eka Wiryastuti. “Saya senang pernah mendapatkan pesanan untuk ulang tahun Bapak Wiryatama. Bapak beli klepon Rp 1 juta,” kata Ketut Seri. Selain berjualan di areal pura Tanah lot, Ketut Seri, juga menerima pesanan. “Biasanya, banyak yang pesan untuk resepsi, atau upacara adat. Yang pesan juga bukan umat Hindu saja, ada juga umat lain,” kata Ketut Seri. –Wirati Astiti

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Ketan untuk Pisang Rai Melintasi Jalan Bypass Canggu-Tanah Lot, Anda akan menemui banyak penjual kue di pinggir jalan. Selain klepon, ada juga kue lain yang tak kalah favorit, yakni pisang rai. Menurut Kadek Adiani, salah seorang penjualnya, membuat pisang rai sangat mudah. Ia menggunakan tepung terigu dan tepung kanji untuk adonannya. “Mungkin orang lain membuat adonan dengan tepung beras. Tapi saya pakai tepung terigu dan sedikit kanji. Rasanya lebih enak dan ini ciri khas pisang rai Tanah Lot,” kata perempuan usia 37 tahun ini. Setelah adonan siap, masukkan pisang ketan yang sudah dipotong-potong ke dalam adonan. Menurut Kadek Adiani, ia lebih suka memakai pisang ketan karena bentuknya yang montok dan setelah direbus menjadi lebih padat. Setelah pisang dipotong-potong dan dimasukkan ke adonan,

Kadek Adiani

Bangli ini, untuk berjualan klepon. Kadek menerima tawaran itu, dan mendapatkan komisi dari hasil jualannya itu. Agar lebih banyak pembeli, ia tambahkan dengan pisang rai buatannya. “Kalau klepon agak sulit membuatnya. Saya tak bisa. Saya hanya menjualkan klepon

tuang satu per satu ke air mendidih. Usahakan jangan sampai menempel satu sama lain. Biarkan adonan sampai mengapung, yang berarti kue pisang rai sudah matang. Tiriskan kue terlebih dahulu agar tak berair. Siapkan kelapa parut yang sudah diberi garam. Balurkan pisang rai dengan kelapa parut, dan siap disajikan. Kadek Adiani menuturkan, awalnya berjualan kue pisang rai karena suatu kebetulan. Ia dan suaminya dulu bekerja sebagai pengangkut paving. Karena ia mempunyai bayi, ia putuskan untuk berhenti. Hanya suaminya yang masih bekerja mengangkut paving. Ada yang menawarkan perempuan asal

13

orang lain,” kata Kadek. Tempat berjualan Kadek juga tak jauh dari tempat suaminya mengangkut paving. Ia juga membawa anak semata wayangnya sembari berjualan. Dari bayi sampai anaknya kini berusia 3 tahun, ia sudah berjualan kue di pinggir jalan. “Ya lumayan untuk menambah penghasilan. Untungnya di dekat meja jualan saya ada tempat ngetis kalau panas, biasanya saya istirahat di sana,” kata Kadek sembari menunjuk satu kubu sederhana di dekatnya. Dari penjualan pisang rai, ia mendapatkan Rp 100 ribu per hari. Ditambah komisi klepon, bagi Kadek, cukup untuk tambahan uang dapurnya. -Wirati Astiti

Pisang rai

Tim Ayam Kampung Cara membuat klepon: - Tuang satu sendok makan air ke dalam campuran daun suji dan daun pandan, lalu remas-remas, peras dan saring. - Campur rata tepung ketan, tepung beras, air kapur sirih, dan garam, lalu tuang air daun suji dan pandan tadi, uleni hingga kalis. - Ambil satu sendok teh adonan, beri isi dengan gula merah lalu bentuk bulat. Bentuk bulat semua adonan dan jangan lupa untuk menutupi adonan yang belum dibentuk agar tidak kering. Jika adonan menjadi kering dan mudah patah saat dibentuk cukup tambahkan 1-2 sendok teh air lalu aduk rata. - Setelah semua adonan telah menjadi bulatan bola-bola dengan isian gula merah, selanjutnya rebus dalam air mendidih hingga terapung. - Angkat lalu gulingkan bulatan klepon di parutan kelapa. -Wirati Astiti

Sup Kilil Sapi Rempah Sarwan Bahan: 1 kg : kaki sapi, potong potong menurut selera 1 buah : wortel, iris bulat atau serong, rebus 3 buah : kentang, potong dadu, rebus 3 buah : cengkih 2 ruas : jari kayu manis 2 ruas : jari jahe, memarkan ½ pala : bubuk kasar 1200 ml : air Garam, gula, kaldu bubuk, lada bubuk secukupnya

Bumbu yang Dihaluskan: 7 buah : bawang merah 3 siung : bawang putih Cara Membuat: - Rebus kaki sapi sampai empuk, tumis bumbu halus sampai harum. Masukkan ke dalam rebusan

Bahan : 2 ekor 500 ml 2 sdm 3 sdm 3 ruas 7 buah 2 sdm 3 sdm

: ayam kampung, potong jadi 4 bagian : air : minyak wijen : saus raja rasa : jari jahe, memarkan : cabe rawit, potong jadi 3 bagian : saus tiram : bawang putih goreng

Gula, garam, lada, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat: - Masukkan semua bahan jadi satu dalam panci presto, lalu tutup, masak full presto selama 20-25 menit dan panci presto mendesis, matikan, biarkan uapnya habis, buka. - Siap untuk disajikan.

kaki sapi beserta pala, lada, jahe, rebusan kentang, wortel, garam, gula, kaldu bubuk. Aduk-aduk hingga bumbu meresap dan kaki sapi empuk siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng serta tambahkan irisan daun bawang.

Iga Bakar Lada Hitam

Bahan: 750 gr 4 siung 9 buah 1 sdm 3 buah 3 sdm 3 sdm

: iga sapi, potong menurut selera : bawang putih, cincang halus : bawang merah, cincang kasar : lada hitam bubuk, tumbuk kasar : cabe besar, iris serong : saus tomat : saus sambal

2 sdm : kecap manis 1000 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk, minyak secukupnya Cara Membuat: - Tumis irisan bawang putih dan merah juga cabe besar merah sampai harum, lalu masukkan iga, aduk-aduk hingga berubah warna, masukkan kecap manis, saus tomat, saus sambal dan

juga air Aduk-aduk perlahan agar bumbu merata, lalu masukkan garam, gula, lada dan kaldu bubuk. Tutup panci dan masak iga hingga matang dan bumbu meresap. Bagi yang suka dibakar, iga langsung bisa dibakar dan diolesi sisa bumbu. - Iga siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng.


14

Jelita

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Buka Aura dengan Talenta Siapa yang tak ingin tampil cantik, kulit lebih ha­ lus, wajah lebih awet muda dan berseri? Di zaman sekarang dengan teknologi modern ini, banyak perawatan yang menawarkan manfaat tersebut. Belakangan ini mulai bermunculan terapi buka aura dengan manfaat plusnya, memunculkan ke­ cantikan dari dalam sehingga wajah lebih ber­ kharisma dan beraura.

A

pa itu aura? Aura adalah lapisan energi yang ber­ bentuk cahaya yang terpancar dari dalam tubuh. Pancaran aura ini menyelubungi seluruh tubuh. Aura diyakini sebagai refleksi atau gambaran dari sikap, kepribadian, mental, psikis, serta kondisi fisik seseorang. Tanpa disadari, Anda mungkin pernah merasakan tiba-tiba merasa cepat akrab dengan seseorang yang baru dikenal. Atau pernah melihat seseorang yang memiliki paras wajah biasa (tidak cantik), namun enak dipandang dan menyenangkan orang di sekelilingnya. Bahkan mungkin se­baliknya, Anda tiba-tiba merasa tidak senang pada seseorang yang baru di­kenal tanpa alasan yang jelas. Jawaban dari kesemuanya itu ada pada pancaran aura seseorang yang berbeda-beda. Aura seseorang bisa dimunculkan dengan totok aura atau perawatan buka aura. Chandra Kirana Beauty Skin Care yang berlokasi di Jalan Raya Kuta 10 dan Jalan Tukad Pancoran 6X Denpasar, ada program terbaru perawatan buka aura yang diberi nama Roro Art Face. Namun, buka aura yang ditangani Bunda Roro Indira, seorang ahli aura dan yoga yang sudah berpengalaman 18 tahun ini, berbeda dengan terapi buka aura pada umumnya. Dengan talenta yang dimilikinya melalui kuasa Tuhan, Bunda Roro membuka aura seseorang secara alami hanya dengan media es batu dan masker khusus. Dalam satu paket perawatan yang ditangani selama 2 jam, dengan teknik pengerjaan seperti di-massage, Bunda Roro meyakinkan pasien akan mendapatkan perubahan langsung pada wajah sesuai yang diinginkan. Seperti, pipi lebih tirus, hidung lebih mancung, tulang pipi lebih menonjol, dagu lebih panjang, kantung mata lebih kecil, kulit lebih kencang, mulus dan berseri. Sebelum memulai perawatan, terlebih dahulu Bunda Roro melihat bentuk awal dan karakter wajah pasien. Pasien pun diajak berdiskusi dan melihat kekurangan pada wajah yang ingin disempurnakan. “Prinsipnya disini, saya hanya membantu meng­ haluskan dan memperbaiki dengan naluri jiwa perasaan, tanpa merubah atau mengurangi atau merusak apa yang sudah diberikan Tuhan,” jelasnya. Bunda Roro me-

nyadari seiring bertambahnya usia, tentu makin banyak permasalahan yang muncul baik itu secara fisik yang terlihat di wajah, maupun secara psikis. Buka aura yang ia lakukan ini ditegaskannya benar-benar alami, tanpa operasi maupun menggunakan teknologi canggih, dan memberikan hasil yang permanen. Dengan kemampuan supranaturalnya, Bunda Roro juga menghilangkan energi-energi negatif pada pasien, sehingga usai perawatan semua hasil yang diinginkan langsung terlihat, wajah lebih awet muda, lebih fresh, lebih bersinar, dan aura lebih muncul. “Tak ada pantangan bagi pasien sebelum maupun sesudah melakukan perawatan. Jika sete­ lah perawatan Roro Art Face mau facial, tak masalah, karena semua perubahan yang terjadi bersifat permanen. Hidung yang setelah perawatan menjadi lebih mancung, selamanya akan mancung, tak bersifat sementara,” yakinnya. Beberapa pasien yang sudah di­ tangani Bunda Roro mengaku merasa lebih tenang, lebih percaya diri, dan lebih peka. Bunda Roro mengimbuhkan, untuk kasus-kasus tertentu, pasien harus dimandikan dulu dengan aura untuk buang sial, baru kemudian diberikan aura positif agar auranya lebih bagus. Karena, aura negatif itu akan terpancar dari energi-energi negatif dalam diri. Dengan perawatan Roro Art Face ini secara tidak langsung aura negatif langsung dihilangkan. Dengan kepekaan akan timbul kasih. Kasih dan kecantikan fisik ini diingatkan Bunda Roro harus tetap dijaga dengan

belajar Yoga Gotha untuk penyembuhan jiwa, mensugesti diri untuk lebih yakin dan peka. Yoga Gotha adalah yoga tradisional India yang memiliki banyak manfaat, seperti membuat tubuh lebih sehat, lebih bersemangat, dan membantu menghilangkan stres. Juga, membentuk jiwa lebih sabar, tenang, dan peka. Yoga Gotha amat penting sebagai awal akhlak seseorang agar selalu menerapkan 3 hal dalam kehidupannya, yakni introspeksi ter­ hadap Tuhan, introspeksi terhadap diri, dan ­i ntrospeksi terhadap keluarga dan lingkungan

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

11

Flourisa Julian Sudrajat

sekitar. “Roro Art Face sangat tepat dijaga dan diimbangi dengan Yoga Gotha, sehingga kita akan bisa lebih bersyukur, dengan ikhlas melakukan apapun yang positif dan bermanfaat untuk diri, orang lain, dan selalu mawas diri, serta selalu ingat akan pencipta alam semesta saat hening dan khusyuk,” tandasnya .-Inten Indrawati

SDM Tentukan SDA

P

rogram Keluarga Berencana yang dikenal sejak tahun 1970 sudah terbukti mampu mengerem laju pertumbuhan penduduk. Jika tidak ada pengendalian jumlah kelahiran, mungkin penduduk Indonesia saat ini sudah lebih dari 250 juta. Karena itu program KB harus terus menjadi perhatian pemerintah. Di era kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla yang mengusung program Nawa Cita, butir kelima berbunyi, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan program “Indonesia Pintar” serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektare, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019. “Program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga menjadi bagian dari butir kelima Nawa Cita,” tegas Dra. Flourisa Julian Sudrajat, M.KM, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan BKKBN. Perempuan yang akrab disapa Uce ini perhatian pemerintah ini juga harus didukung masyarakat. Karena itu, berbagai upaya dilakukan BKKBN untuk menjadikan program keluarga berencana mendapat tempat di hati masyarakat. Salah satunya dengan mengembalikan tagline KB menjadi “Dua Anak Cukup”. Sebelumnya, BKKBN pernah mengusung tagline “Dua Anak lebih Baik”. “Kadang ada yang memplesetkan dengan mengatakan, dua anak lebih, baik.

Artinya punya anak lebih dari dua itu lebih baik. Padahal yang dimaksud pemerintah adalah memiliki anak dua lebih baik. Karena itu, dengan kembali menggunakan tagline dua anak cukup, tidak ada interpretasi lain,” jelasnya. Dengan kelahiran anak yang sudah direncanakan de­ ngan baik, ia yakin akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas baik. SDM yang baik ini nantinya akan mampu mengelola sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia. Jika hanya memiliki SDA saja tanpa ada­ nya SDM mumpuni, ia yakin, potensi SDA yang ada tidak akan tergarap maksimal. Selain itu, perhatian kepada anak dengan memberikan pendidikan dan kesehatan yang terbaik untuk anak merupakan upaya untuk mewujudkan Indonesia sejahtera. Membatasi jumlah anak dengan harapan bisa memberikan perhatian yang lebih inilah yang harus menjadi perhatian masyarakat. Kalau anak terlalu banyak, tentu orangtua akan kesulitan untuk memberikan perhatian. Uce juga mengingatkan tentang “Empat Terlalu” yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu banyak. “Hamil terlalu muda itu sangat riskan, demikian juga kalau hamil terlalu tua. Terlalu sering sering melahirkan dan terlalu banyak juga mempengaruhi kondisi kesehatan ibu,” tegasnya. Mengenai program kependudukan di daerah, ia berharap ada kepedulian pimpinan daerah untuk ikut menyukseskan program kependudukan. Kalau pemimpin di daerah tidak peduli dan merasa program KB tidak penting, ini akan menimbulkan masalah kependudukan di kemudian hari. Anggaran dari pusat pun tergantung keseriusan daerah dalam menyusun program kerja. –Ngurah Budi

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

Menstruasi Telat

“Dok, belakangan ini menstruasi saya sering mengalami keterlambatan. Menstruasinya bisa telat dan tidak teratur, padahal sebelumnya tidak. Sempat periksa ke dokter, katanya saya kekurangan hormon estrogen. Apa yang perlu saya lakukan, Dok?” (Dwi, 17 thn) Perempuan yang menstruasinya telat belum tentu karena hamil. Apalagi memang belum pernah melakukan hubungan seksual. Variasi datang menstruasi terjadi karena adanya perbedaan dari kadar hormon estrogen yang diproduksi. Oleh karena siklus menstruasi terjadi akibat pengaruh kerja hormon estrogen, maka jika produksi hormon estrogen berkurang, siklus menstruasi bisa makin lama datangnya. Demikian pula dengan sebaliknya, jika produksi hormon ini berlebih, maka siklus jadi makin cepat.

Beberapa kemungkinan penyebab yang paling mungkin, jika dilihat dari usia dan keterangannya adalah beberapa hal sebagai berikut: 1. Stres Suasana hati yang penuh emosi dan ketegangan akan berdampak cukup besar pada siklus menstruasi. Yang tadinya teratur menjadi tidak lagi teratur. Bahkan justru pada saat berpikir terus kenapa menstruasi belakangan ini menjadi telat terus, justru akhirnya malah itu akan benar-benar menunda kedatangannya. Stres juga akan menyebabkan gang-

Rakerda Program Kependudukan, KB, dan Pembangunan Keluarga Provinsi Bali Perwakilan BKKBN Provinsi Bali melaksanakan rapat kerja daerah (Rakerda) Program Kependudukan, KB, dan Pembangunan Keluarga, Kamis (16/4) hingga Jumat (17/4). Rakerda dibuka Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikertha. Rakerda yang bertema “Melalui Rakerda Kita Optimalkan Kinerja Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga Guna Mewujudkan Target Sasaran Tahun Pertama RPJMN dan Renstra Tahun 20152019” juga dihadiri Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan BKKBN Dra. Flourisa Julian Sudrajat, M.KM yang mewakili Plt.Kepala BKKBN, Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Ayu Pastika, dan para mitra kerja Perwakilan BKKBN Provinsi Bali. Dalam sambutannya, Gubernur Bali mengingatkan program KB di Bali harus diperhatikan. Kalau tidak ada perencanaan yang baik, Bali akan penuh sesak. Hal ini akan menimbulkan dampak berupa degradasi ekologis. Lahan-lahan yang seharusnya menjadi lahan produktif beralihfungsi menjadi permukiman penduduk. Sementara itu, Plt. Kepala BKKBN dalam sambutannya menegaskan komit-

guan kestabilan hormon, termasuk hormon estrogen dan progesteronnya. Penjelasannya, ketika sedang stres kelenjar adrenal dirancang untuk mengeluarkan hormon kortisol. Hormon kortisol ini memiliki dampak langsung pada hormon seks estrogen dan progesteron. 2. Perubahan Rutinitas Apakah ada hal-hal yang mendadak harus dikerjakan sehingga mengubah pola rutinitas? Hingga termasuk juga mengubah jadwal bangun tidur? Ini semua bisa membuat tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dirinya terhadap perubahan dalam rutinitas. Ini juga bisa mempengaruhi siklus menstruasi. Terutama, jika perubahan itu dimulai saat mengalami ovulasi (saat sel telur matang dan siap dibuahi), yang menyebabkan keterlambatan atau siklus menstruasi terlewati. Demikian juga, jika tiba-tiba terjadi gangguan makan, diet, penggunaan narkoba, dan ketergantungan pada stimulan seperti kafein dan alkohol juga akan mengubah protein dalam otak sehingga tidak bisa lagi mengirim sinyal yang tepat untuk ovulasi normal. 3. Sakit dan Minum Obat Sakit pada saat waktu ovulasi juga bisa menunda ovulasi dan jadwal ovulasi menjadi terlambat. Jika ovulasi terlambat, maka menstruasi juga akan terlambat juga. Minum

men pemerintah tentang kependudukan. Program Kependudukan, KB, dan pembangunan keluarga merupakan bagian dari Nawa Cita yang diusung pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Ida Bagus Wirama, S.H., M.Kes. melaporkan peserta baru KB di Bali mencapai 97,16%. Peserta KB baru MKJP sebanyak 28.285 (70,09%) dari Kontrak Kerja Program (KKP) 40.357. Peserta baru MOP tercatat 216 (53,33%) dari KKP 405 peserta. “Untuk angka kelahiran total di Bali berdasarkan susenas 2013 sebanyak 2,25 anak per wanita. Media umur kawin pertama wanita di Bali menurut SDKI tahun 2007 adalah 21,1 tahun dan tahun 2012 menjadi 21,9,” papar Wirama. KKP Provinsi Bali tahun 2015 menargetkan antara lain peserta KB aktif 498.934, peserta KB baru 87.419, peserta aktif MKJP 43,8% dan peserta aktif KB pria 6,06%. Dalam mendukung upaya pencapaian KKP 2015 di Bali, pemerintah sudah menganggarkan dana Rp 10 miliar lebih. Dana Alokasi Khusus (DAK) dianggarkan sebesar Rp 6 miliar lebih kecuali untuk Badung, Gianyar, dan Denpasar. –wah

obat saat sakit, atau mengubah dosis obat tertentu di saat sakit, terkadang bisa juga mempengaruhi kestabilan metabolisme tubuh, termasuk keadaan hormon, jadi termasuk juga siklus menstruasi. Itu sebabnya, sering kali juga dokter selalu ingin menanyakan obat dan riwayat minum obat saat melakukan pemeriksaan. 4. Masalah Berat Badan Perubahan berat badan, apakah itu naik atau turun dalam waktu yang cepat juga bisa mempengaruhi siklus menstruasi. Orang yang kurus atau sangat gemuk terkadang tak memiliki periode menstruasi yang pas sama sekali, dan sering kali memang akhirnya menstruasinya menjadi terlambat. 5. Olahraga Berlebihan Jika ternyata belakangan juga melakukan aktivitas fisik atau melakukan olahraga baru yang berlebihan dan intens dilakukan, ini juga bisa mempengaruhi menstruasi menjadi terlambat. Sebuah riset menyebutkan bahwa pada perempuan yang tiba-tiba berolahraga 2-3 jam sehari dapat menemukan siklus menstruasi mereka menjadi terlambat atau bahkan berhenti karena adanya penurunan lemak tubuh. Itu karena perempuan memiliki estrogen yang rendah dan akhirnya tidak berovulasi. Nah, itu semua adalah beberapa

penyebab yang akhirnya bisa mengakibatkan seorang remaja mengalami keterlambatan menstruasi. Hampir semua dari kondisi tadi pada akhirnya memang bisa menurunkan level hormon estrogen, salah satu hormon penting saat menstruasi. Penanganan untuk mengatasi keadaan seperti ini bisa dilakukan dengan cara memperbaiki kemungkinan keadaan yang menyebabkan keterlambatan menstruasi, agar dapat kembali menstruasi yang lancar dan teratur. Tentu saja dengan mengendalikan stres, membuat rutinitas menjadi teratur kembali, tidak melakukan diet membabi buta dan senantiasa kembali ke pola makan yang sehat serta tidak lagi melakukan olah raga dan aktifitas fisik berlebihan. Serta konsultasikan selalu jika ada sedang sakit dan minum obat ke dokter. Apabila gejala masih berlanjut, penanganan medik mungkin dibutuhkan, umumnya akan diberikan suplemen hormonal, tetapi tentu saja harus dengan berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu. Sebaiknya ke dokter ahli kandungan dan kebidanan. Bisa jadi dokter akan melakukan USG dan pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui apakah ada penyakit atau tidak. Sebab salah satu ciri perempuan sehat adalah memiliki siklus menstruasi yang teratur, walau tidak selalu datang pada tanggal yang sama.


10

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Bugar

Kenali Sedini Mungkin Gigi Impaksi

segera konsultasi ke dokter spesialis bedah mulut. Penanganan drg. I Made Merta Suparka, Sp.BM dalam kasus ini adalah dilakukan (Dokter Spesialis Bedah Mulut di Siloam Hospitals Bali) rontgen panoramic. Selanjutnya akan dilakukan rencana pengamigi impaksi/wis- sakit akan muncul kembali. Jika hal bilan gigi impaksi tersebut. dom teeth/impact- tersebut dibiarkan berlarut-larut ed teeth adalah gigi akan muncul rasa sakit yang makin ODONTEKTOMI yang tidak biasa hebat, disertai pembengkakan Odontektomi adalah suatu tintumbuh sempurna oleh karena pada pipi. Makin lama dibiarkan dakan pembedahan baik mayor terhalang oleh jaringan keras atau hal yang paling fatal terjadi adalah ataupun minor untuk mengambil tulang dan jaringan lunak. Pe- pasien tidak bias membuka mulut, gigi impaksi dengan jalan memnyebabnya antara lain adalah : karena terjadi infeksi pada otot buka jaringan lunak dan jaringan 1. Ukuran rahang yang sempit membuka dan menutup mulut. keras. dibandingkan dengan ukuran Sehingga pasien akan merasakan Setelah tindakan pembedahan gigi kesulitan untuk makan. selesai dilakukan, dapat diberikan 2. Gigi sulung yang tanggal preJika sudah terjadi demikian, antibiotik, antiinflamasi, antinyeri, matur hal yang harus dilakukan adalah vitamin, dan obat kumur. 3. Gigi sulung sering terlibat infeksi 4. Faktor genetik 5. Malnutrisi, dll Gigi yang sering mengalami impaksi antara lain gigi geraham atas ketiga, geraham bawah ketiga, taring, dan pada gigi seri. Apa yang terjadi bila gigi impaksi tersebut tidak segera ditangani? - Infeksi - Rasa sakit yang hebat - Abses - Patah rahang pada daerah gigi impaksi - Terjadi suatu kista rongga mulut - Terjadi suatu tumor rongga mulut

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Gaya Toleransi Modern Garis dan konsep rancangan yang identik dengan kontemporer edgy dan gaya androgini, menjadikan nama Weda Githa salah seorang desainer Bali asal Singaraja ini semakin melambung. Apalagi gaya tersebut sering digunakan sebagai identitas setiap rancangannya, khususnya untuk koleksi busana ready to wear .

G

Gigi impaksi tumbuh antara usia 17–23 tahun. Dengan gejala seperti rasa sakit yang hebat pada daerah tersebut, sakit kepala yang berkepanjangan, terasa kaku pada leher dan pundak, terkadang penglihatan pun terganggu. Pemberian obat antinyeri hanya akan menghilangkan rasa nyeri secara sementara saja. Setelah itu rasa

Style

M

drg. I Made Merta Suparka, Sp.BM

elalui merek Xunder G, lulusan LPTB Susan Budhihardjo, Surabaya tahun 2005 ini mempersembahkan karyanya untuk pria dan wanita yang memahami fashion, modern, dinamis, percaya diri, dan tidak takut untuk menjadi berbeda dari yang lain. Belum lama ini juga hasil rancangan pengajar pada Angelica Wu Fashion Design

Course Bali ini, juga sempat mengisi pagelaran show hari pertama pada ajang “Indonesia Fashion Week 2015”, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Deretan karya merepresentasikan toleransi atas perbedaan budaya melalui tema “Shades of Tolerance”. Seperti yang ditampilkan dalam halaman Style Tokoh kali ini, Weda Githa menunjukkan gaya androgini yang mengekplorasi unsur feminin dan maskulin dalam perspektif yang berbeda. Suguhan yang berani dan menarik.– Sri Ardhini

Weda Githa

15


16

Edukasi

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Museum Goes to School

Putra-putri Anda bermimpi menjadi pilot? Wujudkan mimpi mereka, karena untuk menjadi pilot sangat mudah. Saat ini sudah banyak ada sekolah pilot, namun dari sekian banyak itu ada satu sekolah yang patut menjadi pertimbangan Anda, yakni AHA Aviasi Indonesia. Mengapa?

A

dan menjadikan America Aviation Academy sebagai salah satu sekolah pilot yang paling diminati oleh banyak siswa di dunia. Dengan proses persyaratan yang mudah membuat para siswa kami merasa nyaman untuk mengikuti pembekalan sebelum menjalani studi pilot di California Amerika Serikat. Kami membekali para siswa sebelum berangkat ke Amerika dengan pengetahuan dasar tentang penerbangan yang memadai di dalam kelas ground school, yang terdiri dari kelas

teori penerbangan, pembekalan di kelas Flight Simulator dan juga ada pembekalan pembelajaran bahasa Inggris selama 1 bulan. Pilot training di California, siswa mendapat fasilitas pengajaran yaitu rasio 1 siswa dengan 1 instruktur membuat para siswa lebih fokus dalam proses pembelajarannya. Sehingga, proses training dapat selesai dengan waktu yang cukup singkat sekitar 10 bulan. Dengan biaya sebesar 49.000 USD para siswa akan

mendapatkan paket lengkap untuk menjadi pilot komersial, yakni mendapatkan lisensi PPL, CPL, IR, dan MER. Dan para siswa lulusan AAA akan mendapatkan sertifikat resmi FAA (Federal Aviation Administrations). Sertifikat tersebut valid untuk seumur hidup dan bisa dipakai bekerja di seluruh dunia. Pendidikan pilot ini bisa dimulai dari usia minimal 17 tahun hingga maksimum 60 tahun. Pendaftaran sudah mulai dibuka dan tanpa ada test. Minat masyarakat Bali sangat tinggi dilihat dari banyaknya siswa yang mendaftar

walaupun beberapa masih harus menyelesaikan UN terlebih dulu. Syaratnya sangat mudah, cukup daftar dengan KTP ataupun Kartu Pelajar bagi yang belum menerima hasil kelulusan di sekolah. Untuk informasi lebih lanjut silahkan datang ke kantor AHA Aviasi Indonesia yang beralamat di Kompleks Pertokoan Grand Sudirman Agung B-17, Jln. P.B Sudirman DenpasarBali, atau dapat menghubungi kami di Nomor Telepon (0361) 241061/0812-3939-5761. Anda juga dapat mencoba gratis flight simulator di kantor kami. –ten

Penampilan Museum Subak kini tak lagi memperihatinkan. Jika sebelumnya banyak bangu­nan yang tak terawat, kini kondisinya jauh lebih baik. Bahkan rumah tradisional petani Bali yang dulu rusak parah, kini justru sangat indah untuk dilihat. Ini tentunya tak terlepas dari kegiatan revitalisasi museum yang dilakukan sejak tahun 2012 silam de­ ngan anggaran dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

D

ibawah pimpinan Ida Ayu Ratna Pawitrani, museum kebanggan kabupaten Tabanan yang sempat dipandang sebelah mata oleh para pengunjung, kini justru berubah drastis. Bahkan, tingkat kunjungan selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Salah satu yang berhasil dilakukan perempuan asal Timpag, Kerambitan ini yakni menggolkan program revitalisasi museum. “Kami berhasil mendapatkan bantuan dana dari APBN sebesar Rp 1 miliar. Dengan dana awal tersebut, kami lakukan pembenahan bagian dalam museum,” ujarnya. Tak cukup sampai disana, setelah melalui evaluasi dengan

Ida Ayu Ratna Pawitrani

indikator peningkatan kunjungan usai rehab, pemerintah pusat pun kembali menggelontorkan anggaran yang kedua di tahun 2014

sebanyak Rp 2 miliar. “Program revitalisasi ini mampu mendongkrak kunjungan wisawatan. Kami kembali mengajukan proposal anggaran revitalisasi tahap dua. Itu pun disetujui oleh pemerintah sebesar Rp 2 miliar,” kata Ratna. Bantuan sebesar Rp 2 miliar tersebut selanjutnya diarahkan untuk revitalisasi museum di bagian luar, termasuk revitalisasi miniatur jaringan subak dari hulu ke hilir sekaligus renovasi rumah tradisional petani Bali. Bahkan di areal sawah kini juga telah dilengkapi balai subak untuk wisatawan menikmati pemandangan yang disuguhkan. “Ini bagian dari upaya untuk menarik kunjungan wisatawan,” ujar perempuan yang lama tinggal di Yogyakarta ini. Setelah dilakukan pembenahan, banyak wisawatan baik mancanegara maupun domestik yang datang ke Museum Subak. Terbukti dari data kunjungan wisawatan lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan, meski memang untuk tingkat kunjungan masih didominasi wisawatan domestik. Tahun 2013, sebanyak 4.433 kunjungan, sedangkan di tahun 2014 meningkat menjadi 4.627 kunjungan. “Mereka kebanyakan anak sekolah dari sejumlah

Kaki Diabetes Flight Simulator Class

Siswa American Aviation Academy

Mengabadikan Sunrise di Pantai Sanur

K

ali ini Tokoh akan mengajak Anda jalanjalan ke Pantai Sanur. Siapa yang tak mengenal Pantai Sanur? Sebagian besar orang pasti pernah mengunjungi objek wisata yang sudah terkenal ini. Pantai Sanur terletak tepat di sebelah timur Kota Denpasar. Karena letak Pantai Sanur berada di sebelah timur Pulau Bali maka pantai ini menjadi lokasi yang tepat untuk menikmati sunrise atau matahari terbit. Apalagi setelah dibangun semacam sanderan yang berisi pondok-pondok mungil, kita bisa duduk-duduk menunggu matahari terbit. Pantai yang juga terkenal dengan pasir putihnya ini memiliki ombak yang sangat tenang. Sehingga sangat cocok untuk dijadikan tempat berenang. Kita juga dapat menikmati keindahan pantai sambil menyantap lumpia dan jagung bakar. Pantai ini juga sudah dilengkapi penunjang pariwisata

seperti art shop, restoran, maupun hotel untuk para wisatawan yang ingin menginap. Pada hari libur biasanya pantai ini sangat ramai pengunjung. “Saya memilih berlibur ke Pantai Sanur karena saya sekeluarga bisa berenang dengan aman. Ombaknya yang tenang sangat cocok bagi anak-anak yang ingin berenang di sini,” ujar Bagas yang sedang berlibur bersama keluarga. Selain untuk tempat rekreasi, banyak fotografer yang mengabadikan keindahan sunrise di pantai ini. Mereka biasanya mulai memotret jam 5 pagi untuk mendapatkan pemandangan yang eksotis, karena di jam-jam itu cahaya matahari terlihat sangat indah. Di sepanjang pantai juga telah dibangun jogging track bagi wisatawan yang ingin berkeliling pantai dengan berjalan kaki. Jalur ini juga biasa dipakai untuk olahraga pagi sambil menikmati pemandangan Pantai Sanur yang menawan. -Ary

9

Ida Ayu Ratna Pawitrani

JADI PILOT SANGAT MUDAH HA Aviasi Indonesia merupakan marketing resmi di Indonesia dari Sekolah Pilot American Aviation Academy (AAA) yang berlokasi di San Diego California Amerika Serikat. AHA Aviasi Indonesia telah memberangkatkan beberapa siswanya untuk melanjutkan studi Pilot di Califonia U.S.A. American Aviation Academy merupakan sekolah pilot yang sudah berhasil menamatkan banyak siswa internasional dengan standard dan kualitas terbaik

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Oleh: dr. I Gusti Putu Hery Sikesa, S.Ked. Salah satu komplikasi diabetes adalah kaki diabetes (diabetic foot). Sebesar 4-10% diabetisi akan mengalami masalah kaki diabetes. Sebagian besar (40-70%) dilakukan amputasi kaki terkait dengan diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama akan menimbulkan beban kepada jaringan tubuh. Gula darah yang merupakan nutrisi tubuh, karena jumlahnya berlebih malah menjadi racun bagi sel-sel tubuh. Penumpukan racun itu akan mengganggu pembuluh darah dan sel saraf. Pembuluh darah mengalami kerusakan dan tidak dapat menyediakan kebutuhan nutrisi dan oksigen kepada jaringan tubuh yang membutuhkan. Akibatnya, jaringan tubuh menjadi tidak sehat, sel-selnya kekurangan nutrisi dan dalam waktu lama menjadi rusak. Keadaan jaringan yang tidak sehat ini juga menjadi rentan terhadap masalah infeksi, karena sistem imunitas jaringan juga menjadi tidak optimal. Pengurangan sensasi kulit kaki khususnya pada tungkai kaki disebabkan oleh kerusakan sel saraf tepi. Selain itu ditemukan juga kelemahan otot-otot intrinsik kaki, sehingga otot tersebut tidak dapat mempertahankan struktur-struktur dalam kaki terhadap pengaruh berat badan dan tekanan dari luar (misal: sepatu, alas kaki yang lain). Kondisi-kondisi di atas menyebabkan kaki rentan mengalami luka dan infeksi. Deteksi dini perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kaki diabetes diantaranya mengenal adanya keluhan kaki kesemutan atau baal (kulit keras tebal), adanya perubahan bentuk kaki seperti jari yang bengkok, kulit kering dan pecah-pecah, mata ikan, denyut nadi kaki melemah, melakukan pengukuran tekanan pembuluh darah di kaki dengan DOPPLER. Dengan melakukan deteksi dini kaki diabetik maka bisa diketahui upaya-upaya pencegahan yang perlu dilakukan. Masalah Kaki Diabetes Kalus Merupakan penebalan kulit yang umumnya terjadi di telapak kaki, terutama di bagian yang menonjol. Kalus disebabkan gesekan atau tekanan berulang pada daerah yang sama, juga karena distribusi berat badan yang tidak seimbang, sepatu yang tidak sesuai (kesempitan), atau kelainan kulit. Kalus dapat menjadi berkembang menjadi infeksi, terlebih bila dimanipulasi (dikorek, digunting) Kulit melepuh Terjadi jika sepatu selalu menggesek kaki pada daerah yang sama. Disebabkan penggunaan sepatu yang kurang pas atau tanpa kaus kaki. Kulit melepuh dapat berkembang menjadi infeksi. Penanganan kulit melepuh adalah dengan tidak meletuskannya. Kuku kaki yang tumbuh ke dalam Terjadi ketika ujung kuku tumbuh ke dalam kulit dan menimbulkan tekanan yang dapat merobek kulit sehingga kulit bengkak kemerahan dan terinfeksi. Kuku kaki yang tumbuh ke dalam dapat terjadi jika memotong kuku sampai ke ujung, dapat pula disebabkan pemakaian sepatu yang terlalu ketat atau trauma kaki karena aktivitas seperti berlari dan aerobik. Jika ujung kuku kaki kasar, pergunakan kikir untuk meratakannya. Pembengkakan ibu jari kaki Terjadi jika ibu jari kaki condong ke arah jari di sebelahnya sehingga menimbulkan kemerahan, rasa sakit, dan infeksi. Dapat terjadi pada salah satu atau kedua kaki karena penggunaan sepatu berhak tinggi dan ujung yang sempit.

Bangunan di Museum Subak

daerah. Ada pula dari kalangan mahasiswa,” katanya. Di tempat ini, kata Ratna terdapat 250 buah peralatan pertanian kuno. Mulai dari cangkul hingga peralatan pengolahan padi menjadi beras. Museum Subak adalah satu-satunya di Bali. Kawasan ini dibuka sejak tahun 1981, namun mulai dikelola oleh Pemkab Tabanan sejak tahun 1994 silam. Luas museum ini mencapai 6,28 hektare dan sawah seluas 1,3 hektare. Setelah proyek rehab ini rampung, rencananya pengelola museum akan menggandeng pihak sekolah untuk memperkenalkan sejarah dan koleksi museum melalui program yang dinamakan Museum Goes to School. Dalam program tersebut, para siswa akan diperkenalkan tentang subak melalui pemutaran film, yang

nantinya dilanjutkan dengan pemaparan tentang museum dan diskusi tentang apa itu subak. “Rencananya yang kami sasar adalah siswa SMP dan SMA, kalau untuk jenjang SD masih sangat berat. Sebenarnya konsep ini sudah dari tahun 2014 kemarin, namun karena disibukkan akan program revitalisasi ini rencananya tahun ini baru akan kita realisasikan,” jelas Ratna. Menurutnya dengan langkah tersebut setidaknya mampu memberikan pemahaman pada generasi muda tentang pentingnya subak bagi pertanian di Tabanan. Apalagi Tabanan terkenal dengan lumbung berasnya Bali. Setidaknya nanti wisawatan bisa melihat sistem irigasi persawahan di Bali di museum, sebelum nantinya mereka melihat langsung di lapangan seperti di Jatiluwih. –Puspa

Jari kaki bengkok Terjadi ketika otot intrinsik kaki menjadi lemah. Kerusakan saraf karena diabetes dapat menyebabkan kelemahan ini. Otot yang lemah dapat menyebabkan tendon (jaringan yang menghubungkan otot dan tulang) di kaki memendek sehingga jari kaki menjadi bengkok. Akan menimbulkan masalah dalam berjalan dan kesulitan menemukan sepatu yang tepat. Dapat juga disebabkan pemakaian sepatu yang terlalu pendek. Kulit kaki kering dan pecah Dapat terjadi karena kerusakan saraf pada kaki. Sehingga kulit kaki berkurang memproduksi keringat yang akan menjaga kulit tetap lembut dan lembab. Kulit yang kering dapat pecah. Adanya pecahan pada kulit dapat membuat kuman masuk dan menyebabkan infeksi. Dengan gula darah Anda yang tinggi, kuman akan mendapatkan makanan untuk berkembang sehingga memperburuk infeksi. Iskemi pada kaki memberikan dua gambaran klinik yang berbeda, yaitu nyeri istirahat (rest pain) dan gangren. Pada nyeri istirahat kaki teraba dingin dan tampak merah muda. Perasaan nyeri seperti terbakar di seluruh kaki dan biasanya memburuk di malam hari. Gangren hampir selalu dimulai pada ibu jari kaki. Biasanya tanpa nyeri, warna keungu-unguan kemudian menjadi hitam dan kering. Bila disertai infeksi, gangren menjadi basah dan berbau khas. Kaki Diabetes. Tampak kaki diabetes yang sudah diamputasi dan gambaran gangren. (Sumber: https://meded.ucsd.edu)

•Prinsip Penanganan Kaki Diabetes •Pengendalian keadaan metabolik sebaik mungkin seperti pengendalian kadar gula darah, kolesterol, dan sebagainya. •Perbaikan suplai vascular (kecukupan aliran darah), biasanya dibutuhkan pada keadaan kerusakan pembuluh darah tepi, dilakukan dengan operasi atau angioplasty. •Pengobatan infeksi secara agresif, jika terlihat tanda klinis infeksi, pembuangan jaringan terinfeksi dan jaringan mati secara teratur. •Mengurangi tekanan yang berulang yang dapat menyebabkan perlukaan. •Hal itu sangat penting dilakukan pada luka akibat kerusakan saraf, dan diperlukan pembuangan kalus dan memakaikan sepatu yang pas yang berfungsi untuk mengurangi tekanan. Gunakan alas kaki yang cocok dengan bentuk kaki, 1-2 cm lebih panjang dari ukuran kaki. gunakan selalu alas kaki baik didalam maupun diluar rumah. Kalau perlu buat sepatu yang dibuat khusus menyesuaikan dengan bentuk atau kelainan kaki yang ada. Edukasi perawatan kaki harus diberikan secara rinci pada semua orang dengan kaki diabetes: 1. Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir dan air. 2. Periksa kaki setiap hari, dan laporkan pada dokter apabila ada kulit terkelupas atau daerah kemerahan atau luka. 3. Periksa alas kaki dari benda asing sebelum memakai. 4. Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih, dan mengoleskan krim pelembab ke kulit yang kering. 5. Gunting kuku dengan cara yang benar, jangan membuat luka dan jangan sampai kuku tumbuh ke dalam daging. 6. Bersihkan kaki tiap hari. 7. Tiap 4-6 jam lepaskan sepatu 8. Gerakkan pergelangan kaki dan jari-jari kaki untuk melancarkan sirkulasi darah. 9. Jangan merendam kaki 10. Jangan menggunakan botol panas/peralatan listrik untuk memanaskan kaki. 11. Jangan menggunakan silet untuk mengurangi kapalan. 12. Jangan menggunakan obat-obat tanpa anjuran dokter untuk menghilangkan mata ikan. 13. Jangan menggunakan sikat tajam atau pisau untuk kaki. 14. Jangan membiarkan luka di kaki sekecil apa pun. (dari berbagai sumber)


8

Bunda & Ananda

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

“Curi” Umur untuk Sekolah? Jelang tahun ajaran baru, orangtua sudah mulai mencari-cari sekolah untuk anaknya. Apalagi yang anaknya akan masuk sekolah dasar (SD). Masa SD dianggap masa awal pembentukan tanggung jawab anak sehingga orangtua berusaha untuk mencari sekolah yang terbaik untuk anaknya.

N

amun, seringkali orangtua memaksakan agar anaknya bisa masuk SD padahal usianya belum memenuhi syarat. UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) mensyaratkan setiap warga negara yang berusia 7-12 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Kenyataannya, ada anak yang berusia 6 tahun bahkan kurang sudah masuk SD. Sebagai catatan, bagi anak yang usinya kurang dari enam tahun wajib melampirkan surat rekomendasi dari psikolog profesional saat akan mendaftar masuk SD. “Dulu anak saya masuk SD umur lima setengah tahun. Sekolahnya mau nerima. Untungnya anak saya bisa mengikuti pelajaran dan bisa bersosialisasi di sekolah,” ungkap Bu Ayu Tini. Ia mengaku agak memaksakan anaknya masuk SD karena khawatir dengan sisi psikologis anaknya. “Keponakan saya lebih muda dari anak saya, tetapi badannya lebih bongsor. Karena keponakan itu sudah mendaftar dan diterima masuk SD, saya tak ingin anak saya bertanya kenapa sepupunya sudah masuk SD sedangkan dia belum. Makanya saya daftarkan. Sekarang mereka sekolahnya bareng, padahal usianya beda,” ujar ibu dua anak ini. Pengalaman orangtua yang memaksakan anaknya masuk sekolah bahkan terkesan “mencuri” umur agar anaknya bisa masuk SD banyak ditemui. Menurut Ni Ketut Jeni Adhi, M.Psi, Psikolog, orangtua perlu memperhatikan beberapa hal sebelum memutuskan untuk memasukan anak ke SD walaupun belum cukup umur. “Anak memang harus mendapat pendidikan sesuai usianya. Orangtua harus memahami perkembangan anak baik secara fisik maupun mental. Walaupun secara umur sudah cukup tetapi kalau perkembangan mentalnya belum sesuai, pertimbangkan juga sekolah yang mau dipilih. Sebaliknya, jika usianya belum mencukupi, tetapi si anak memiliki perkembangan mental yang bagus, artinya dia memiliki IQ yang di atas rata-rata, keper-

cayaan diri, mudah beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan baru, dan memiliki rasa tanggung jawab, boleh saja anak didaftarkan masuk SD. Tetapi, ini harus disertai dengan hasil tes yang dilakukan psikolog profesional,” jelas Jeni. Dosen Program Studi Psikologi, Fakultas Ekonomika dan Humaniora Universitas Dhyana Pura ini menambahkan jika persyaratan tersebut mampu dipenuhi anak, bukan berarti orangtua boleh lepas tangan. Orangtua tetap harus mendampingi anak di masa awal masuk sekolah. Hanya, jarak pengawasan yang diperjauh. Biasanya ada sekolah yang memberikan kesempatan kepada orangtua untuk mendampingi anaknya selama beberapa hari. Atau, ada juga sekolah yang hanya mengizinkan orangtua mengantar anaknya sampai di depan gerbang. Urusan berikutnya adalah tanggung jawab sekolah sampai jam belajar berakhir. Antara anak yang satu dengan anak yang lain memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang usianya lebih muda tetapi kemampuannya sudah setara dengan anak yang usianya lebih tua. Hal ini tak lepas dari peran keluarga dan lingkungan dalam memberikan motivasi kepada anak. RASA TANGGUNG JAWAB Anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini mengatakan masa kelas III SD menjadi titik rawan bagi anak yang mulai bersekolah di bawah usia 6 tahun. “Materi pelajaran mulai makin berat dan makin kompleks. Jika anak tidak siap, ia akan terlihat cemas, rewel, bahkan merengek minta ditemani di sekolah. Lebih parah lagi, bisa mogok sekolah,” ujar istri I Nyoman Gede Adhi Dharmawan ini. Fase tanggung jawab yang diemban anak akan terus meningkat. Misalnya ketika kelas 1 dan 2 ia terbiasa menggunakan pensil. Kalau salah bisa dihapus. Tetapi, dengan menggunakan pulpen,

“Jangan lupa memberikan anak kesempatan bermain karena masa anak-anak merupakan masa bermain. Pahami bahwa jadwal anak-anak dan orang dewasa berbeda. Dengan memberi anakanak kesempatan bermain yang edukatif, akan membuat anak tidak kehilangan masa kecilnya”

Griya

Hijau dengan

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Rumput Sintetis Halaman ataupun lapangan hijau memang sejuk dipandang mata. Namun, untuk bisa tetap terlihat indah, tentu harus di-maintenance dengan cost yang lumayan. Saat ini, masyarakat mulai beralih ke penggunaan rumput sintetis. Alasan mereka, praktis, maintenancenya simpel dan tahan lama. Hal ini juga diakui Daniel Jonathan Teguh, Kepala Cabang ArtGrass Bali, salah satu produk rumput sintetis. Daniel Jonathan Teguh

I

Anak sekolah

anak harus lebih berhati-hati dalam menulis agar tidak salah. Ini menunjukkan rasa tanggung jawab anak terhadap dirinya. Tahap tanggung jawab anak itu berproses dari hal-hal sederhana dan akan terus meningkat seiring perkembangan usianya. Karena itulah orangtua harus peka terhadap perkembangan anak agar anak tidak mengalami masa-masa sulit itu. Caranya tentu dengan mendampingi anak saat anak memerlukan orangtua, misalnya saat mengerjakan pekerjaan rumah. “Jangan lupa memberikan anak kesempatan bermain karena masa anak-anak merupakan masa bermain. Pa-

hami bahwa jadwal anak-anak dan orang dewasa berbeda. Dengan memberi anak-anak kesempatan bermain yang edukatif, akan membuat anak tidak kehilangan masa kecilnya,” ujar konsultan psikologi Tema Insan ini. Orangtua juga harus memperhatikan kebutuhan anak dan kesiapan anak. Jangan pernah memaksakan kehendak agar anak harus masuk sekolah padahal umurnya belum mencukupi. Sesuaikan usia anak dengan tahapan perkembangan pendidikannya. Jika orangtua memaksakan, nanti yang rugi tak hanya anak tetapi orangtua juga akan terbebani. –Ngurah Budi

Jeni Adhi

Mendongeng Lima Menit Bahasa Burung

Pan Muluk, seorang petani, amat sayang kepada burung nuri yang dipeliharanya sejak bertahun-tahun lalu. Burung itu cerdas dan pintar berbahasa manusia. Pada suatu hari Made Taro Pan Muluk mendapati seekor kambing masuk ke halaman rumahnya. Ia menangkap kambing itu, lalu menyembelihnya. Sebagian dagingnya dijual ke pasar, sebagian lagi disimpan di kulkas. Pan Getas, pemilik kambing itu mencurigai Pan Muluk. Ia menuduh tetangganya itulah yang mencuri kambingnya. Tetapi Pan Muluk mengelak tuduhan itu. Burung nuri yang menyaksikan perbuatan majikannya lalu berkata, “Benar, majikanku menangkap kambing itu, lalu menyembelihnya. Sebagian daging dijual, sebagian lagi disimpan di kulkas.” Pemilik kambing itu melaporkan peristiwa itu kepada polisi. Pan Muluk marah kepada burungnya. Ia mencabut bulu-bulu nuri itu, lalu melepasnya. Sesaat kemudian polisi menangkap Pan Muluk. Lama benar burung nuri yang pandai berbahasa manusia itu terlunta-lunta. Setelah bulu-bulunya

tumbuh sempurna, ia mulai terbang dari pohon ke pohon. Di sebuah cabang pohon asam ia berjumpa dengan burung beo. “Hai, Nuri, apa kabar?” sapa burung beo. “Kudengar kau hidup enak, karena pintar berbahasa manusia. Aku ingin sekali memiliki ilmu seperti kau.” “Benar katamu, Beo! Sesungguhnya kau memiliki bakat untuk mahir berbahasa manusia. Kalau kau ingin mengabdi kepada manusia, baik sekali. Aku tidak bisa melarang. Namun satu hal yang tidak boleh kau lakukan adalah, jangan mengatakan yang benar itu benar.” “Maksudmu?” tanya Beo. “Katakanlah apa yang diinginkan oleh majikanmu. Kau boleh mendengar dan melihat, tetapi tidak semua yang kau dengar dan lihat itu boleh dikatakan. Pokoknya jangan sekali-kali mengatakan apa kata hatimu.” Burung beo itu belum juga bisa memahami segala perkataan burung nuri. Suatu hari ia tertangkap manusia. Di rumah majikannya itu ia diajarkan banyak perbendaharan kata-kata, antara lain, “Selamat pagi, Tuan! Tuan sungguh baik hati, jujur dan ulet bekerja untuk kemanusiaan.” Ia sama sekali tidak berani mengatakan, “Selamat malam, Tuan! Semoga hasil rampokan itu segera disita oleh negara.”

a mengatakan di pasaran ada banyak pilihan bahan rumput sintetis, ada yang memakai bahan dasar pure plastik, ada juga memakai plastic polyester seperti produk yang ia tangani. Jenis rumput sintetis ini pun bermacam-macam. Namun dari sekian banyak itu, dijelaskannya di Bali hanya 3 jenis yang diminati pasar. Pertama, play green. Bentuk rumput sintetis ini agak tebal dan umumnya diaplikasikan untuk menutupi permukaan lapangan golf atau gate ball. Kedua, natural green. Jenis ini umumnya diaplikasikan untuk dekorasi dan taman. Ketiga, mini green yang bentuknya lebih tipis. Ini merupakan keluaran baru produk

ArtGrass yang harganya juga paling terjangkau, yakni Rp 210 ribu permeter persegi. Sekarang ini pun, rumput sintetis tak hanya diaplikasikan sebagai penutup dasar pijakan, namun ada juga diaplikasikan pada dinding. Kelebihan memakai rumput sintetis dibandingkan rumput asli di antaranya, tak perlu (hemat) air, hemat bibit, dan hemat tenaga kerja. “Kelemahannya, hanya mahal di awal. Karena jika dihitunghitung, dalam dua tahun dengan tiga kali penanaman rumput asli, sudah balik modal untuk pembelian rumput sintetis yang bisa bertahan hingga belasan tahun ini,” jelasnya. Rumput sintentis juga tahan terhadap panas dan hujan. Perawatannya, jika berdebu

bisa di-vacuum cleaner atau disirami air. “Jangan pakai sabun, karena bisa meninggalkan kerak,” ingat Daniel. Pada alas rumput sintetis ini ada pori-pori untuk air bisa meresap dan mengalir di bawahnya, ketika disiram. Daniel mengatakan rumput sintetis ini banyak diaplikasikan pad ataman di pinggir pantai yang umumnya rumput asli tak bisa hidup dikarekan kandungan garam masuk ke tanah dan menyebabkan rumput pasti mati. Juga, banyak diaplikasikan pada roof top (dek atas), karena tanpa media tanah. –Inten Indrawati

Beberapa aplikasi rumput sintetis

17


18

Life

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Pengrajin Muda Gianyar Raih Inacraf Award 2015 Dalam ajang International Handicraft Trade Fair atau Inacraft ke-17, Gianyar menghadirkan 9 pengrajin. Pada event yang berlangsung selama lima hari (l8-12 April 2015) di Jakarta Convention Center tersebut, salah seorang pengrajin ber­hasil menunjukkan prestasi gemilang di salah satu ­kategori Inacraft Award 2015.

K

epala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gianyar, I Wayan Suamba, mengatakan di ajang Inacraf, para pengrajin Gianyar berhasil mengekplorasi keunikan daerahnya sekaligus mendukung subtema tahun ini yakni “Trough Enchanting Bali Towards Global Market”. Keterlibatan pelaku industri kerajinan dari Gianyar dalam pergelaran bertaraf nasional tersebut, sebagai salah satu ajang promosi keberagaman dan kreativitas teranyar hasil kerajinan lokal daerah. ”Kami ingin kembali menunjukkan kepada khalayak nasional, bahwa di Kabupaten Gianyar terdapat beragam karya kerajinan yang sangat istimewa, melalui lima orang pengrajin perak, dua pengrajin tenun, seorang pengrajin lukisan dan tulang,” ujarnya. Suamba juga menyampaikan jika salah seorang pengrajin yang unjuk gigi di stan Dekranasda Gianyar, yakni Andika dengan Tenun Tarum berhasil mengungguli beberapa produk tenun dari berbagi daerah di Indonesia dan meraih kemenangan kategori kerajinan tekstil yang ramah lingkungan. Disperindag Gianyar yang membina pengrajin sejalan dengan kebijakan pemerintah mengembangkan sektor ekonomi kreatif demi mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis ide dan kreasi. Sesungguhnya dalam sebuah pameran pengrajin tidak hanya bicara urusan retail, namun esensinya lebih pada bicara tentang suguhan kreasi terbaru, evaluasi desain, kreatif bahan baku teknologi, menguji SDM, mengintip informasi pesaing hingga memperkuat citra perusahaan. Terlebih dengan terbitnya Ins­truksi

lama dikenal sebagai pusat kerajinan, yang di dalamnya selalu ada proses belajar dan bertumbuh siap menjalankan dan mengembangkannya. Selain itu industri kreatif yang saat ini trennya menguat di kalangan anak muda tidak bisa berkembang secara mandiri dan terpisah dari sektorsektor yang lain. Industri kreatif saling mendukung dan berkolaborasi dengan sektor-sektor yang lain. Untuk ini ia

juga banyak melakukan komunikasi dengan para desainer dan pengrajin senior seper­ti Bintang Mira untuk bisa bersama-sama terus menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan anakanak muda yang ada di Gianyar. Begitu juga harapannya de­n gan para pengrajin lainnya untuk terus saling berkomunikasi, terutama menumbuhkan kekuatan dan kesiapan berkompetisi secara kualitas

juga inovasi untuk menghadapi MEA 2015 ini. Untuk kegiatan di wilayah lokal, serangkaian HUT ke-244 Kabupaten Gia­ nyar yang pembukaannya bersamaan dengan acara Inacraft, Disperindag juga hadir mengikuti pameran lokal, dengan 43 pengrajin. Untuk tahun ini, ada catatan yang menarik, yakni dihadirkannya 10 orang peng­rajin dari Yogyakarta. -ard

Yang Muda yang Berprestasi

Presiden Nomor 6 Tahun 2009 tentang pengembangan ekonomi kreatif yang ruang lingkupnya terdiri dari 14 item diantaranya ada Pasar Barang Seni; Kerajinan (craft); Desain; dan Fesyen (fashion), yang perkembangannya te­ ngah melaju di Gianyar. Melihat betapa luasnya cakupan ekonomi kreatif tersebut, maka wajarlah jika sektor ekonomi kreatif disebut mampu memberikan kontribusi yang cukup besar. Dan, Gianyar yang sejak

Memutuskan memilih daun sebagai bahan pewarna, ternyata berhasil membawa laki-laki ini menjadi salah seorang pemenang pada penghargaan Inacraf Award 2015 kategori bahan baku di Jakarta. I Made Andika Putra adalah desainer muda yang bersiap melebarkan sayapnya. Pemilik Tenun Tarum ini mengatakan, usaha yang dirintisnya memang berawal dari keprihatinanya terhadap banyaknya pemakaian warna sintesis yang didatangkan dari luar Indonesia termasuk dampak limbahnya. Karena itulah Andika yang sempat belajar di Sekolah Fashion Design, di IGTC Bogor ini mengaku lebih memilih memakai pewarnaan yang alami demi bisa menjaga lingkungan. Setelah melalui proses panjang, ia bisa menetapkan memilih daun sebagai bahan perwarna produk tekstilnya. Menurutnya dengan daun ter­dapat beberapa kelebihan. “Jika kita hanya menggunakan daun berarti kita tidak perlu menebang pohon , sehingga bisa di panen berkali-kali. Disamping itu setiap pohon juga perlu pemangkasan atau pengurangan daunnya untuk jangka waktu tertentu. Daun juga relatif mudah didapat, dibudidayakan ataupun bisa saja nantinya kami melakukan kerjasama dengan petani,” paparnya antusias. “Yang paling utama adalah kami tidak bersaing dengan kebutuhan pangan. Daun juga mudah untuk dibuat ekstrak dan limbah daun bisa dibuat kompos. Bahan baku daun tidak akan habis selama tanah bisa ditanami,” lanjutnya. Andika juga mengatakan ia memang sangat ingin mewujudkan produk atau proses yang ramah lingkungan, ter-

Story

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Ukir Makna Kehidupan berkat Rajin Baca Tiap anak yang dilahirkan ke dunia ini mempunyai sifat serta bakat masing-masing. Sikap seorang anak bisa juga terbentuk dari bagaimana kebiasaan dan latihan yang terusmenerus dari makna kehidupan. Begitulah seorang gadis yang sedang menginjak remaja yang bernama Luh Made Dwi Wahyuni. Orangtuanya walaupun sebagai PNS, tapi sikapnya tidak seperti anak-anak pada umumnya akan manja jika merasa punya orang tua berpengasilan lumayan. kesukaan adiknya sehingga tiap habis berlayar, selalu memberi oleh-oleh buku untuk Luh Made. “Saya ingin ingin menyalakan lilin dalam diri agar kehidupan ter­ lihat lebih terang,” ujar alumnus SMAN 1 Klungkung ini. Tak hanya Luh Made yang dikagumi, kakak dan adiknya, Komang Redi juga mendapat acungan jempol. Saat kematian Mbok Nengah Narti, saking lama­ nya berbaring di tempat tidur akibat sakit struk sampai kulit punggungnya mengelupas, bisa dibayangkan bagaimana baunya begitu meninggal. Namun saat mau dimandikan sebelum dikubur, semua persiapan untuk prosesi memandikan sudah siap, tapi tidak serta merta ada yang sigap mengangkat mayatnya. Begitu Gede Yudha dan Komang Redi bergerak akhirnya yang lain mengikuti.

integrasi, berkelanjutan, padat kreasi, bernilai tambah tinggi, local content-nya tinggi baik dari segi proses maupun bahan baku . “Tentu harapan terbesar bisa diterima di pasar lokal maupun internasional,’ cetusnya. Untuk mendukung hal tersebut, Andika mengaku sudah mempunyai lahan sendiri di Tampak Siring. Pohon yang saat ini sudah mulai di tanam adalah ketapang, juwet, kopi, kopi coklat, bungur, dan mangga. Untuk pemasaran ia me­ ngedepankan pembeli atau rekanan kerja yang juga mempunyai konsep “green“ alias ramah lingkungan. Sehingga akan terbentuk sebuah pasar baru dan cara pendekatan berbeda. Hal ini ia harapkan bisa mempermudah dan memperkuat posisi “green” produk yang akan dijual.

WONDER WOMEN OF THE YEAR 2015 Prestasi lainnya diraih oleh desainer papan atas Bali, dari Gianyar yakni Bintang Mira. Desainer senior yang dikenal rajin mencari dan membina bibit-bibit baru di Gianyar ini dinobatkan sebagai “Wonder Women of The Year 2015”. Dalam sebuah acara Entrepreneur Festival 2015, Bintang Mira menerima apresiasi atau penghargaan khusus bertajuk M&I Award. Penghargaan yang diberikan khusus bagi perempuan Bali yang berjuang di dunia kewirausahaan oleh BPR Lestari dan majalah Money & I Magazine. Di sini Bintang Mira, rupanya berhasil mengalahkan kandidat lainnya dengan meraih nilai tertinggi dari beberapa indikator penilaian, baik dari sisi kreativitas, brand awareness serta yang paling ditekankan adalah local conten (kearifan lokal). Melalui brand-nya Bali Batikku, Bintang Mira, dianggap sukses mengembangkan usaha dengan mengangkat identitas lokal. Bukan hanya itu, ia juga berhasil mengeksplor keindahan Batik Bali dengan motif-motif ikonik Bali, seperti ilustrasi seni tari Bali, patra, barong hingga poleng di atas kain katun maupun sutra. Menurut perempuan kelahiran 26 Maret ini, apa yang dilakukannnya juga untuk membuktikan kalau Bali juga punya batik dan dapat berprestasi. Bintang Mira juga terus berupaya menjadikan batik Bali ini bukan hanya go national tapi juga go international. Ia sangat percaya dan yakin Batik Bali mampu tampil dengan ciri khasnya tersendiri dan akan menjadi produk yang dicari dan digemari. Dikatakannya juga kalau selama ini selain menyediakan kain lembaran, sebagai seorang desainer Bintang Mira juga menghadirkan batik Bali dalam karya busana ready to wear yang dilengkapi beragam aksesori seperti sepatu, tas dan yang lainnya dengan bahan yang sama. -ard

7

L

uh Made begitu dikagumi sikapnya oleh anggota keluarganya yang lain, tidak seperti anak remaja kebanyakan, yang kadang menghabiskan waktunya untuk mainmain, hura-hura menikmati masa mudanya yang penuh gejolak. Ia rajin mencucikan, menyetrika pakaian orangtuanya. Tidak itu saja bahkan pakaian neneknya yang sudah uzur tidak luput dari tanggung jawabnya. Semua ia lakukan dengan tenang, santai tanpa keluhan sama sekali. Kakak pertamanya, Gede Yudha sudah sukses bekerja di kapal pesiar. Luh Made hanya tamatan SMA. Ia tidak melanjutkan kuliah, karena takut berpisah dengan keluarga. Jika kuliah, ia harus kost di luar daerah. Perempuan yang lahir 26 Juni 1981 ini tidak

memperlihatkan diri sebagai gadis yang punya kelebihan. Demi masa depannya, sang kakak membelikan sebuah toko sebagai tempat usaha, serta mobil yang bisa digunakan untuk menjalani usaha bisnisnya. Setelah bisa nyetir sendiri, punya usaha ternyata sikap gadis tersebut tidak ada perubahan, tetap ramah dan rendah hati. Ketika ada acara di kampung, ia sigap membantu. Orang-orang pun salut dengan sikapnya itu. Sampai ada yang bertanya, apa resepnya. “Ah jangan berlebih­ an, jadi malu nih! Resep saya kayak anak kecil, suka belajar dan membaca,” jawabnya dengan rendah hati. Ia mengaku sering membaca tulisan Gede Prama, Mario Teguh, dan buku-buku motivator yang lainnya. Sang kakak pun tahu

Luh Made Dwi Wahyuni

Gede dan Komang masih bujang, ganteng-ganteng, bawa mobil, sukses bekerja di kapal pesiar mau turun membantu. Mereka menjadi contoh dan pelopor kesigap­an prosesi pemandian jenazah sampai acara penguburan berjalan lancar, tanpa menghiraukan bau yang menusuk hidung. “Betul-betul pancaran pesona pribadi yang tak perlu diragukan. Orangtua mana yang tidak bangga, punya tiga anak ketiga­ nya sifatnya sama. Alangkah bahagianya orangtuanya sudah berhasil punya anak suputra, padahal bukan sepenuhnya karena hasil didikkan. Ketiganya punya hobi membaca buku-buku tentang motivasi kehidupan,” begitu komentar warga. Walau umurnya masih muda, banyak yang senang ngobrol de­ ngan Luh Made. Mereka bertanya mengapa tidak dari dulu tahu

caranya bisa menapak kehidupan supaya jalan yang dilalui tidak banyak tikungan dan berfluktuasi, bahkan galau kadang sempoyo­ ngan. Walaupun sudah sering berdoa, tapi ketenangan hanya sesaat di genggaman. Ternyata rahasia agar bisa hidup tenang dan damai resepnya sederhana yakni membaca. Ternyata hasilnya sudah terbukti. Luh Made dan saudaranya sudah dapat mengukir makna kehidupan yang diekspresikan dalam bentuk tingkah laku. Mulai sekarang sedikit demi sedikit, orang lain perlu mengikuti jejaknya. Pengaruhnya sangat terasa. Walaupun ia tidak berucap untuk mempengaruhi orang lain, tetapi dengan tindakan yang ditunjukkan merupakan energi yang dahsyat mendorong orang-orang di sekitar mengikuti langkahnya. –Weti


6

Women on Top

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

hal itu sekarang,” tambahnya. Namun, lepas dari persoalan terse­ but, diakuinya bahwa banyak kemajuan yang dicapai terkait regulasi yang men­ jamin hak-hak perempuan, khususnya di tingkat nasional. Di bidang politik misal­ nya, adanya regulasi tentang kuota 30% keterlibatan perempuan di legislatif. Meskipun Azriana mencatatnya sebagai suatu kemajuan, tapi tetap saja ia menilai itu sebagai kebijakan setengah hati lan­ taran tidak ada garansi bagi calon. Apa yang disampaikan Azriana memang tidak mengada-ngada karena faktanya sekalipun pada saat pencalo­ nan kuota 30% dapat dicapai namun saat keterpilihan hal itu belum tentu. Artinya, memang tidak ada garansi harus 30% perempuan di parlemen. Padahal berdasarkan data, jumlah partisipasi perempuan sebagai calon mengalami peningkatan baik dari Pemilu 2009 mau­ pun 2014. Pada 2014 malah berdasarkan

Azriana RM

Kebijakan Setengah Hati Tegas dan konsisten, itulah sosok Azriana RM, nahkoda baru Komisi Nasional Anti-Keke­rasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) periode 20152019. Minggu pertama di awal April, wanita asal Aceh ini terpilih sebagai Ketua Komnas Perempuan menggantikan ketua sementara Budi Wahyuni.

B

egitu banyak masalah terkait perempuan yang menanti untuk segera digarap dalam masa kepemimpinananya, misalnya, tentang RUU Kekerasan Seksual, membuat me­ kanisme pemulihan korban kekerasan, dll. Itu semua tentunya tidak lah mudah. Namun mantan advokat LBH Iskandar Muda Lhoksumawe ini merasa yakin dan optimis karena ada sejumlah komisioner yang membantunya.“Tentu hal-hal itu tidaklah mudah. Namun bersama tim yang sudah terbentuk, saya yakin bisa optimal dalam menjalankan berbagai agenda Komnas sampai empat tahun ke depan,” tegas Azriana. Berkecimpung sebagai aktivis perem­ puan telah dilakoni wanita kelahiran Lhoksuko, Aceh, 1968, ini sejak masa kuliah. Tamat dari Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, ia pun langsung bekerja sebagai pengacara di LBH Iskandar Muda Lhoksumawe di mana ia banyak menangani berbagai

masalah terkait perempuan. Ia makin konsen pada persoalan perempuan, Az­ riana pun pindah ke LBH APIK (Asosisasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) Aceh sejak tahun 2000. Meski statusnya sebagai pengacara APIK, namun ia juga terlibat dalam berbagai organisasi yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Di antaranya, menjadi Sekjen Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan yang dijabatnya dari 2010-2014, setelah men­ jadi Koordinator Wilayah Timur Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan. Berkip­ rah di Komnas Perempuan juga bukan hal yang baru baginya karena sebelumnya ia sempat menjadi komisioner di lembaga tersebut yakni tahun 2007-2009. Dalam bincang singkat dengan Tokoh terkait pemaknaan Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April, Azriana mengemukakan tentang pemaknaan baru perjuangan Kartini. Kalau dulu, pemaknaan perjuangan RA Kartini adalah menghapus diskriminasi dan persamaan hak perempuan untuk mendapatkan

Ni Luh Rinun, S.Pd., M.Pd.

Efektifkan Buku Penghubung

S

ekolah Cipta Dharma Denpasar terkenal kedi­ siplinannya. Itu pula yang kini terus ditingkatkan oleh Ni Luh Rinun, S.Pd., M.Pd., Kepala SD Cipta Dharma yang sebe­ lumnya menjabat Wakasek bagian Kurikulum dan wali kelas 6 ini. Sebagai Kasek baru menjabat tahun ajaran 2014/2015, programnya masih meneruskan program lama yang belum terselesaikan dan tentu­ nya meningkatkan kualitas programprogram yang sudah berjalan. Yang paling utama dibenahinya adalah kedisiplinan warga sekolah karena itu merupakan kunci dari semua keberhasilan. Ini dimulainya dari para guru, karena guru wajib digugu dan ditiru (sebagai contoh). Sistem absensi yang dulunya memakai sidik jari diubah ke manual. Alasan Rinun, jika seandainya ada guru yang tidak disiplin waktu, bisa langsung dipang­ gil, sehingga tidak harus menunggu hasil print absensi sidik jari sebulan kemudian. “Jadi, semuanya bisa cepat ditanggulangi,” ujar istri I Dewa Putu Lendrayana ini.

Di Cipta Dharma, sesuai tata tertib, guru harus datang paling lambat pukul 07.00 sedangkan siswa pukul 07.10. Pukul 07.15, siswa sudah di kelas melakukan meditasi lebih kurang 15 menit sebelum jam pelajaran formal dimulai. Siswa dari kelas 4 sampai kelas

pendidikan, namun sekarang, sudah saatnya ditambahkan pemaknaan baru. Untuk kesempatan dalam pendidikan, katanya, saat ini sudah tidak lagi terlalu bermasalah. Karena perempuan pun mendapat kesempatan untuk meraih pendidikan setinggi mungkin. Namun, ia melihat sampai sekarang masih adanya pembatasan terhadap ruang gerak perempuan. Lahirnya regulasi-regulasi yang membatasi akses perempuan. “Saya berpendapat, kita harus memberi pemaknaan baru untuk memperingati Hari Kartini. Jadi tidak lagi sebatas memperjuangkan kesem­ patan pendidikan, tapi juga perjuangan untuk persoalan-persoalan perempuan lainnya. Misalnya, memperjuangkan bagaimana agar akses kita (perempuan)

tidak dibatasi,” ujarnya. Saat ini masih banyak daerah mem­ berlakukan peraturan-peraturan yang diskriminatif terhadap perempuan. Komnas Perempuan mencatat, setelah otonomi daerah, banyak daerah seo­ lah ingin menunjukkan ‘identitas’nya. Atas nama moralitas dan agama, mereka ingin terlihat sebagai daerah yang religius, dengan cara membuat kebijakan-kebijakan yang membatasi ruang gerak perempuan. Sebut saja peraturan tentang tata cara berbusana bagi perempuan, dll. “Bagi saya, ini adalah sebuah kemun­ duran,” tegasnya. Ia mencatat ada 365 peraturan di berbagai daerah di Indonesia yang diskriminatif terhadap perempuan. “Jadi saya pikir kita berhadapan dengan

daftar calon terdapat 37%, namun yang terpilih atau berhasil lolos hanya sekitar 17,3%. “Jadi, tidak ada garansi untuk kuota 30% itu. Karena itu kami menilainya kebijakan itu masih setengah hati,” katanya. Perjuangan kaum perempuan, me­ mang masih panjang untuk mencapai apa yang dicita-citakan.Wanita bisa sejahtera kalau hak-haknya sebagai manusia sudah terpenuhi, tidak dibatasi dan bisa terhin­ dar dari kekerasan. Karenanya dia sangat mengharapkan agar semua perempuan di Indonesia bersatu padu mendorong negara agar bisa melahirkan kebijakan yang bisa melindungi hak perempuan dan meninjau kembali sejumlah kebi­ jakan yang membuat kaum perempuan terdiskriminasi. –Diana Runtu

6 baru akan keluar kelas pukul 12.45. Namun, tiap Jumat usai jam pelajaran formal, mereka lanjut mengikuti ekstra wajib pramuka selama 2 jam pelajaran. Sabtu diisi dengan pengembangan diri/ pembinaan ekstra kurikuler. Di sekolah ini, ada 19 ekskul pilih­ an, yang meliputi seni sastra (puisi, teater), seni musi (musik, vokal), seni tabuh (gender, gong), dan hampir semua jenis olahraga. Namun cabang olahraga yang paling menonjol dan kerap meraih prestasi adalah basket, renang, bulutangkis, taekwondo, ka­ rate, dan catur. Tak hanya di bidang nonakademis, di akademis prestasinya juga tak kalah. Prestasi teranyar yang cukup membanggakan adalah siswa SD Cipta Dharma berhasil lulus seleksi Olim­ piade IPA tingkat Kabupaten/Kota tahun 2015. Untuk tetap mempertahank­ an dan mening­ katkan kualitas capaian p r o ­

gram-program sekolah ini, Luh Ri­ nun berharap semua warga sekolah men­dukungnya, baik itu guru, siswa, orangtua siswa dan yayasan. “Saya didukung sebagai kepala sekolah. Jadi apapun program saya untuk kebaikan sekolah ini tentunya harus didukung pula,” ucap Guru Berprestasi tingkat Kota Denpasar tahun 2010 ini. Karena itu, para guru wajib mem­ berikan masukan. Ia tak mau jabatan kepala sekolah yang disandangnya lantas membuat para guru enggan dan merasa ada batas. Jikalaupun ada ken­ dala, semua bisa disampaikan dalam fo­ rum dan duduk bersama mencari jalan terbaik. “Saya sama dengan yang lain, semua saya anggap seperti keluarga,” ucapnya merendah.

5 tingkat nasional untuk pendidikan karakter. Pembinaan-pembinaan terhadap guru seing dilakukan, termasuk menin­ jau bagaimana guru mengajar di kelas. Semua permasalahan yang dihadapi dalam proses belajar-mengajar itu kemudian dievaluasi dalam rapat staf yang dihadiri Kasek, Wakasek, Kepala Urusan (Kurikulum, Sarana, Humas) serta koordinator kelas, yang dilaku­ kan sebulan sekali. Untuk memantapkan persiapan anak-anak kelas 6 yang akan segera melanjutkan ke SMP, Luh Rinun yang juga mengajar Matematika di kelas 6 ini mengatakan, tiap Selasa, Rabu, Jumat memberikan jam ke nol yang dimulai pukul 06.30. Perempuan kelahiran 3 April 1968 ini mengatakan semua seberapa pun susahnya pela­ jaran, jika guru memiliki trik khusus, siswa pasti bisa mengikutinya dengan senang. Dalam mengajarkan Matematika misalnya, Luh Rinun memberikan soal-soal yang gampang dulu agar anak tidak takut duluan. Perlahan baru kemudian meningkat ke yang lebih berat, dan diberikan lebih banyak lati­ han. Khusus pelajaran Matematika, ia memiliki standar di kelas 2 dan kelas 3 harus sudah hapal perkalian 1 s.d. 10. “Jika belum hapal, raport di-pending. Itu salah upaya kami untuk memoti­ vasi siswa agar ada usaha,” jelasnya. Sementara, untuk anak-anak yang bermasalah, biasanya akan lebih banyak dilakukan pendekatan karena pada umumnya tak ter­ lepas dari masalah atau hubun­ gan siswa dengan orangtua atau keluarganya. Karena itu pula, buku penghubung tetap ada mulai dari kelas 1 s.d. kelas 6. Hanya saja kelas 4-6 diisi sendiri oleh siswa. Buku penghubung ini menjadi jembatan komunikasi antara guru, siswa, dan orangtua siswa. –Inten Indrawati

HAPAL PERKALIAN Ke depan, ibu dari Dewa Ade Ryan Hendrayana ini mengatakan ingin meningkatkan karakter siswa melaui pembiasaan-pembisaan dan kedisiplinan, menumbuhkan ke­ percayaan diri anak, meningkatkan prestasi dan kualitas akademik dan nonakademik. Bahkan, seko­ lah ini pun sem­ pat menya­ bet juara

19

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Emansipasi Jangan Kebablasan Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Bicara mengenai Kartini tak lepas dari peranan sosok RA Kartini yang merupakan tokoh perempuan Indonesia yang berjuang demi membela kaumnya dari marginalisasi ­pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya. Perjuangan yang dilakukan melalui tulisan dan surat-menyurat dengan rekan penanya telah menghasilkan sebuah perjuangan yang dikenal dengan “emansipasi”.

M

akna kata ini sa­ ngat dalam, ­karena emansipasi sering­ kali dikaitkan de­ ngan eksistensi perempuan di masa kini yang dapat dikatakan lebih maju selangkah dibandingkan era per­ juangannya dulu. Perempuan yang dulunya hanya bisa berkecimpung di ranah domestik, kini lebih mampu menunjukkan geliatnya di ranah publik. Berikut pendapat tiga orang perempuan tentang makna Kartini di era masa kini. “Saya kagum dengan perjua­ ngan perempuan masa kini. Ba­ nyak perempuan yang cerdas dan ber­p eluang menjadi pemimpin. Ada presiden perempuan, menteri perempuan, termasuk perempuan berkiprah di dunia militer,” kata Putu Lastiawati. Menurut Ketua Unit Dharma Wanita Persatuan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Karang­ asem ini, walaupun emansipasi sudah menjadi tren di masa kini, namun, ia hanya berharap jangan sampai kebablasan. “Emansipasi adalah

persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai ranah publik. Namun, ada hal lain yang harus tetap diingat, perempuan pu­ nya kodrat yang tak boleh dilanggar,” ucap anggota Gabungan Organi­sasi Pengelola Taman Kanak-kanak In­ donesia, Kabupaten Karangasem ini. Menurut Lastiawati, walaupun sudah berkarier di luar rumah, perempuan harus tetap menyadari tugas utamanya, sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Ia sa­n gat menyayangkan, kalau perempuan sudah hebat berkarier, lupa mengurus rumahtangga. Bahkan, ia mengaku miris, melihat ada beberapa anak remaja, malah sudah menyalahi emansipasi dengan ikut-ikutan geng, suka merokok, dan suka minum alkohol. Mantan ketua KPU Kabupaten Karangasem ini menilai, emansipasi sebaiknya dilakukan sesuai ­dengan situasi dan kondisi. Perempuan ingin berkarier setinggi-tingginya itu bagus, namun, ketika sudah sampai di rumah, ia mempunyai tanggungjawab me­ ngurus suami dan anak-anak. “Wanita

yang bekerja, kalau punya bayi, harus bisa mengatur waktu agar tetap bisa memberi ASI eksklusif kepada anaknya,” kata Lastiawati. MULTIPERAN Menurut Nuke Kurnia, Kar­ tini modern adalah perempuan yang mampu menunjukkan multiperan. “Perempuan saat ini tidak hanya diam di rumah mengurus ­keluarga, namun, mereka juga harus mengembangkan diri dengan bekerja,” kata General Manager DK Science & Learning Bali ini. Ia menilai, semangat Kartini hendak­nya memberi motivasi kepada perempuan untuk bisa eksis dalam berbagai bidang pekerjaan. Dengan bekerja, perempuan bisa memi­ liki nilai tawar yang lebih. Artinya, perempuan memiliki kekuatan ketika suatu saat, suaminya tidak lagi mampu menopang hidup keluarga. “Perem­ puan harus membekali diri dengan berbagai keterampilan. Tujuannya, agar mampu membantu suami un­ tuk menambah penghasilan keluar­ ga. Disamping itu, dengan bekerja,

Lastiawati

Nuke Kurnia

perempuan terhindari dari perlakuan KDRT,” ucap perempuan yang juga guru di sekolah internasional ini. Nuke teringat pesan ayahnya, se­ jak kecil memberi pengertian betapa pentingnya pendidikan. “Walaupun suamimu kaya, kalau kamu tidak ber­ pendidikan tinggi, tidak ada gunanya. Dengan mengenyam pendidikan, perempuan menjadi cerdas bukan hanya untuk bekerja, namun, untuk mendidik anak-anaknya kelak”. Menurutnya, perempuan be­kerja bukan hanya untuk mengembangkan dirinya sendiri, namun, ia mampu bermanfaat bagi keluarga, dan orang sekeliling termasuk lingkungannya. “Emansipasi, sebaiknya dimaknai dengan cara berpikir yang sehat dan cerdas, perempuan tetap bisa men­ jadi wanita karier dan tetap menjadi ibu rumahtangga,” kata Nuke. Menurutnya, laki-laki zaman sekarang, juga bukan lagi kedudukan­ nya lebih tinggi dalam rumahtangga. Namun, bersama-sama saling mem­ bantu mengerjakan pekerjaan ru­ mahtangga. Suami juga harus bisa menjaga anak, menyuci baju, bahkan memasak. Pasangan suami istri harus bisa saling mendukung satu sama lain, termasuk dalam urusan domestik.

mengenyam pendidikan setinggi-ting­ ginya. Namun, pendidikan tinggi juga harus diimbangi dengan sikap mental yang baik. “Pendidikan tinggi jika tidak diimbangi dengan sikap yang baik, tentu percuma. Misalnya, perempuan yang suka bergosip, perempuan yang tidak suka atau iri melihat keberhasil­ an rekan perempuan sendiri sudah melenceng dari sikap emansipasi,” kata Rathi. Ia menilai, banyak perempuan lebih suka bersaing dengan perempuan itu sendiri. Lebih parahnya lagi, sesama perempuan bukan mendukung, malah ber­usaha menghambat sesama perem­ puan. Sikap ini tentu saja sudah sangat melenceng dari cita-cita Kartini yang ingin para perempuan cerdas dan ber­martabat. “Banyak perempuan berusaha mencari kejelekan sesama perempuan dan berusaha menjatuhkan mereka. Padahal, persaingan merupa­ kan hal biasa, dan bisa dilakukan dengan cara yang sehat dan cerdas,” ucap perempuan penyuka fotografi ini. Ia hanya menyarankan, kalau me­ mang ingin menghargai perjuangan Kar­ tini, sebaiknya para perempuan tidak hanya cerdas untuk dirinya sendiri, namun, pergunakan ilmu yang didapat agar berguna bagi orang lain. ”Jangan sampai mengaku se­bagai pimpinan, tapi tak mampu bersikap sebagai pemimpin yang selalu mendukung dan memberi motivasi bagi orang lain. Jika ­begitu, itu cerminan emansipasi yang salah,” ujarnya. –Wirati Astiti

SALING MENDUKUNG Sementara itu, menurut Rathi, emansipasi bukanlah harus menyaingi laki-laki, namun, berdiri sejajar untuk saling mendukung satu sama lain. Ia menilai, perempuan kini bisa bebas

Perjuangan Emansipasi Wanita masih Panjang Seabad lebih telah berlalu sejak RA Kartini memperjuangkan emansipasi wanita. Banyak hasil telah dicapai meski belum seperti yang diinginkan. Perjuangan untuk mencapai ‘impian’ memang masih panjang. Namun, setidaknya sudah banyak hasil yang terlihat. Dalam bidang pendidikan misalnya, wanita memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam meraih pendidikan tinggi. Begitu pun di bidang pekerjaan, makin banyak wanita menduduki posisi-posisi pen­

ting ataupun memiliki karier cemerlang dalam pekerjaannya. Profesi-profesi yang dulunya dikenal sebagai ‘profesi laki-laki’ kini pun semakin banyak dimasuki kaum perempuan. Orang menyebut mereka sebagai wanita masa kini atau ‘Kartini Modern’. Pemaknaan wanita masa kini atau ‘Kartini Modern’ memang bisa berbeda untuk setiap orang. Retno Listyarti, seorang wanita yang berkiprah sebagai guru menyebut, wanita masa kini atau ‘Kartini Modern’ adalah wanita yang mampu memberi inspirasi bagi banyak orang. Dalam kehidupannya ia mampu menerapkan keseimbangan antara karier dan kehidupan keluarga. Mampu mengelola dua hal ini untuk bisa seiring sejalan. “Berkarier di luar rumah boleh tapi dia (wanita) juga harus mampu menjaga keutuhan dan harmonisasi kehidupan keluarga. Bagi saya itulah yang disebut wanita masa kini. Jadi bukan hanya keberhasilan karier saja yang dikejar, itu pola pikir yang salah,” ucap Retno yang juga menjabat sebagai kepala sekolah sebuah SMA negeri di Jakarta. “Meskipun memiliki karier tinggi tapi bukan berarti menganggap diri lebih tinggi. Rumah tangga, keluarga tetaplah harus menjadi prioritas kaum wanita,” tambah peraih peng­h argaan Indonesia Islamic Educator Award 2013 ini. Perjuangan emansipasi wanita tentu juga dibarengi dengan perjuangan ke­

setaraan gender. Kesetaraan gender adalah suatu keadaan setara dimana antara pria dan wanita dalam hak (hukum) dan kondisi (kuali­ tas hidup ) adalah sama. Menurut WHO (World Health Organization), salah satu badan PBB, gender adalah seperangkat peran, perilaku, kegiatan dan atribut yang dianggap layak bagi laki laki dan perempuan yang dikonstruksi se­ cara sosial dalam suatu masyarakat. Menurut Retno, untuk memahami gender/kesetaraan gender itu harus dilakukan lewat pendidikan, baik itu pendidikan dalam keluarga, sekolah maupun lingkungan. Hal ini, tegasnya, bukan hanya untuk perempuan tapi juga laki-laki. Dengan begitu, laki-laki pun akan me­ mahami dan mau berbagi peran dengan perempuan dalam kehidupannya, memiliki tanggung jawab yang sama untuk urusan ru­ mah tangga dan keluarga. “Misalnya saja untuk pekerjaan-pekerjaan domestik, perempuan dan laki-laki bisa bekerja sama. Mengurus anak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya bisa dilakukan bersama-sama. Sebab, sesungguhnya ini bukan hanya tanggung jawab perempuan tapi juga laki-laki. Intinya adalah dilakukan bersama-sama. Maksudnya adalah suami-istri sama-sama bekerja (berkarier) tapi juga sama-sama memiliki tanggung jawab di rumah tangga/keluarga,” tuturnya. Kondisi ini, bisa terjadi jika suami-istri memiliki pemahaman yang sama tentang emansipasi wanita dan kesetaraan gender. Ini menyangkut pola pikir, yang tentu saja

tidak serta merta terbentuk. Pola pikir ini, akan terbentuk lewat pendidikan dalam keluarga, sekolah juga lingkungan. “Jadi jangan ada pola pikir, perempuan adalah makhluk lemah, dan hidupnya hanya melulu mengabdi, hanya mengurus rumah tangga dan anak. Juga, jangan ada lagi pola pikir yang masih dimiliki sebagian laki-laki bahwa perempuan ‘tempat’nya hanya di rumah, mengurus rumah dan anak,” papar Retno yang juga Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Untuk mencapai emansipasi, kuncinya ada pada pendidikan. Saat ini memang sudah terlihat jauh lebih baik, namun tambahnya, itu hanya berlaku untuk masyarakat golon­ gan menengah ke atas. Sementara menen­ gah ke bawah, belum sepenuhnya terwujud. Hal ini bisa dilihat dari angka partisipasi pendidikan untuk wanita masih lebih rendah dibanding laki-laki. “Jika melihat kondisi riil di masyarakat, menurut saya, kesempatan mendapatkan pendidikan lebih tinggi untuk wanita jauh lebih kecil dibanding laki-laki. Lihat saja jika kondisi keuangan tidak me­ mungkinkan, pastilah yang didahulukan mendapat pendidikan adalah laki-laki, anak perempuan dinikahkan meski masih berusia belia agar beban orangtua berkurang. Itu budaya yang sudah ada sejak dulu hingga sekarang. Jadi boleh dibilang perjuangan mencapai kesetaraan, emansipasi, masih panjang. –Diana Runtu


20

Inspirasi

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Sagung Wah

IA Selly D. Mantra

Dedikasinya untuk Generasi Penerus

Luar biasa melihat perempuan satu ini, di tengah beragam peran yang mesti dijalankannya, ia tidak pernah berhenti mengajak semakin banyak orang untuk peduli dan berkontribusi bagi sesama, terutama anak-anak penyandang disabilitas, yakni tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, tunalaras, tunagrahita dan anak-anak berkebutuhan khusus lainnya di Kota Denpasar.

I

A Selly D. Mantra, Ketua Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kota Denpasar, dikenal sebagai motor dan dinamisator dunia anak-anak yang memiliki keistimewaan ini. Sebab baginya sosok anak (baca: semua anak), sangat penting dan sangat berarti. “Kami merasa berhasil sebagai orangtua begitu melihat anak-anak bisa berdiri tegak di atas kedua kakinya. Melihat mereka bahagia adalah bahagianya kami. Dan, pastinya anak adalah generasi penerus bangsa kita ke depannya,” tegasnya. Segala upaya telah dilakukan istri IB Rai Dharmawijaya Mantra, Wali Kota Denpasar ini tanpa pamrih. Hal ini, katanya lebih merupakan sisi “emosional”

IA Selly D. Mantra

seorang ibu, yang ingin melihat anak-anak bangsa ini bisa mandiri dan ke depannya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik.

Kepedulian pada kebutuhan perkembangan anak sudah menjadi salah satu prinsip Ketua TP PKK Kota Denpasar ini. Konsisten merancangkan masa depan bagi anak berkebutuhan khusus dengan menanamkan kemandirian sejak dini . Di samping dalam komunitasnya, sebagai generasi muda mereka pun memperoleh pengetahuan mengenai nilai-nilai kehidupan yang sebenarnya. Bagaimana bisa mengekspresikan perasaan dengan cara yang sopan, berempati dan berbagi dengan sesama, struggle saat menghadapi masalah, mandiri, cinta kepada orangtua, keluarga, bahkan tanah air, dan budayanya.

Selly D. Mantra mengatakan semua bentuk dukungan dan perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus serta penyandang disabilitas di Kota Denpasar, selain sebagai sosok ibu, ini karena mereka merupakan anak-anak generasi penerus yang memang harus diperhati-

Pelatihan PLA

Ia sangat percaya setiap manusia punya kedudukan dan harkat yang sama. Selly D. Mantra juga percaya keterbatasan tidak menjadi penghalang cita-cita dan harapan anak-anak penyandang disabilitas ini. Apa yang disandangnya kini justru menjadi motivasi untuk berjuang keras melawan keterbatasan. “Saya bangga melihat kemauan mereka mengaktualisasikan diri dan membuktikan bahwa mereka mampu menjadi sosok mandiri bahkan bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Ibu tiga anak dan dua cucu ini. Di bawah bimbingannya bersama Ny. Antari Jaya Negara dan Ny. Kerti Rai Iswara, menjadikan setiap kegiatan anak-anak berkebutuhan khusus, begitu

juga penyandang disabilitas di Kota Denpasar yang berhasil menuai prestasi hingga di tingkat nasional dan tentu saja menuai decak kagum dari orang-orang di sekitarnya. “Kami yang ada di K3S dan teman-teman senang melihat mereka sebagai sosok- sosok yang tidak mudah putus asa atau pantang menyerah,” cetusnya. Meski belum ada program gerakan peduli terhadap anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas secara nasional, namun di Kota Denpasar, Ketua K3S sudah menjalankannya. Tentu dengan melibatkan aparat pemerintah dari tingkat yang paling bawah hingga yang ada di Kota Denpasar. “Gerakan atau program yang kami canangkan adalah yang sederha dan tidak muluk-muluk. Satu keinginan kami terhadap anak-anak berkebutuhan khusus juga penyandang disabilitas ini, adalah mereka bisa mandiri ke depannya. Tidak bergantung pada orang lain lagi,” tandasnya. Dikatakannya program-program yang diluncurkan lebih banyakyang sifatnya melatih

keterampilan, sehingga mereka mempunyai suatu bekal untuk lebih mandiri. Beberapa pelatihan yang sudah berjalan di antaranya, pelatihan merangkai bunga, tata rias dan cukur (untuk tunarungu). Selain pelatihan tersebut juga dilakukan kegiatan mengembangkan dan mengasah bakat mereka, mulai dari olah vokal atau bernyanyi. Bahkan, bagi anak-anak yang talentanya di seni suara ini sudah pula dibuatkan album. Begitu juga yang menari, disiapkan sanggarnya. Sedangkan bagi yang hobi menulis akan dibantu menerbitkan bukunya. Dengan programnya yang sederhan namun tepat guna, dan berhasil membangkitkan kemampuan yang sedemikain rupa, tak heran jika kiprah Selly D. Mantra pun bergaung hingga di tingkat nasional. Bahkan beberapa kali ia diundang sebagai pembicara di luar kota mengenai pembinaan yang dilakukan terhadap anak-anak penyandang disabilitas dan berkebutuhan khusus di Kota Denpasar.

kan hak-hak dan masa depannya. “Di sini juga kami bergandengan dengan pemerintah, praktisi dan organisasi serta pengusaha yang peduli dengan anak. Juga dibantu teman-teman yang peduli terhadap anak-anak tersebut. Malah tanpa diajak, jika mereka tahu justru banyak yang menawarkan diri untuk ikut bergabung bersama. Kalau bisa kami ingin semua lapisan masyarakat peduli terhadap mereka,” tuturnya berharap. Tak ketinggalan Selly D. Mantra juga membuat suatu gebrakan, dengan bantuan temanteman pengusaha untuk bisa mempekerjakan penyandang disabilitas ini. “Pemerintah Kota Denpasar malah sudah memberi contoh dengan menerima mereka di beberapa instansi, seperti

di Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, hingga menjadi penyiar radio milik Pemkot,” terangnya. Sesungguhnya pula, kata pe­ rempuan yang dikenal energik ini, negara telah menjamin bah­ wa anak-anak spesial ini mendapat hak yang sama dengan anak yang lainnya dalam hal hak untuk mendapatkan pendidikan seperti yang tertuang dalam aturan berikut : UUD 1945 Pasal 31 ayat (1), “Tiap-tiap war­ga negara berhak mendapat pengajaran” ; dan UU RI Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 5 ayat (2), “Warga negara yang memiliki kelainan fisik, mental/intelektual, sosial, dan emosional berhak memperoleh Pendidikan Khusus”. Namun, lanjutnya kita tidak bisa hanya diam menunggu pemerintah melakukan sesuatu. Tidak hanya di Indonesia, di selu-

ruh dunia pun dikatakan negara tidak akan mampu menangani hal ini sendirian. Diperlukan banyak gerakan swadaya masyarakat untuk bersama-sama mewujudkannya. “Potensi mereka sangat luar biasa kalau kita bisa mengarahkan, akan menjadi bentuk yang produktif dan bermanfaat . “Kondisi ini juga tidak terlepas dari para orangtua, yang mempunyai semangat tinggi untuk keberhasilan anak-anak mereka,’ ucapnya lebih lanjut. Sekarang jumlah anak berkebutuhan khusus cenderung bertambah, akibat gaya hidup dan pola asuh juga (khususnya yang autis). Ini, artinya mereka menunggu kita semua untuk bangkit dan melakukan sesuatu. Mari kita bertanya pada diri sendiri, apa yang kita bisa sumbangkan untuk hal ini ? Bicara harapan ke depan, Selly D. Mantra seperti programnya yang sederhana, ingin agar anak-anak kita ini bisa memiliki keterampilan lebih bagi masingmasing agar mereka lebih mudah bisa diterima bekerja, di perusahaan-perusahaan swasta dan dunia kerja lainnya. -ard

Hari Autis Sedunia

5

Kisah Heroik dalam “Pebalikan Wongaya” Banyak pejuang perempuan yang menjadi sumber inspirasi, seperti RA Kartini, Cut Nyak Dien, dll. Mereka tidak hanya memperjuangkan hak perempuan tetapi mereka membuka cara pikir masyarakat tentang perempuan. Mereka berjuang untuk menunjukkan diri sebagai perempuan dengan caranya sendiri. Di Bali, salah satu contohnya, pejuang Sagung Wah yang memimpin rakyat Tabanan ketika melawan Belanda. Sagung Wah merupakan putri dari Raja Tabanan yang bergelar Sri Arya Ngurah Tabanan, Betara Ngeluhur Ratu Singasana XX.

Anak-anak Pantas Mendapatkan yang Terbaik

Outbound anak autis

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

S

Lukisan Sagung Wah

osok Sagung Wah diketahui sebagai pejuang perempuan dalam peristiwa heroik di kalangan masyarakat Tabanan yang dikenal dengan “Pebalikan Wongaya” atau “Perlawanan Wongaya”. Peristiwa “Pebalikan Wongaya” tersebut masih memiliki benang merah dengan perang Puputan Badung tanggal 20 September 1906. “Saat itu Badung diserang dan berakhir dengan kekalahan di pihak Kerajaan Badung, pihak Belanda melanjutkan serangan ke Tabanan,” tutur I Gusti Ngurah Agung Suteja mengawali perbincangan saat ditemui di Puri Dangin Tabanan. Beberapa keturunan Sagung Wah menceritakan awal mula perjuangan Sagung Wah. Dimulai dari I Gusti Ngurah Agung Suteja sebagai buyut dari Sagung Wah, kemudian dr. I Gusti Ngurah Agung Wiraputra, Sp.OG, dan I Gusti Ngurah Gede Nugraha. Ada pula tiga kompyang dari Sagung Wah yakni I Gusti Ngurah Anik Aryanto, Ir. I Gusti Ngurah Agung Pariyuda, dan I Gusti Ngurah Alit Widaswara. Mereka memaparkan jejak langkah Sagung Wah hingga

menerima penghargaan Nari Kusuma. Sebuah penghargaan bagi tokoh wanita Bali yang berperan penting untuk masyarakat. Usai menaklukan Badung, Belanda nampak belum puas. Belanda melancarkan serangan hingga ke Kerajaan Tabanan pada tanggal 26 September 1906 di bawah pimpinan Mayor Jendral Ros Van Tonningen. Belanda tiba di Desa Beringkit sekitar pukul 13.00. Berita itu tersiar hingga Raja I Gusti Ngurah Rai Perang tersentak mendengar berita tidak sedap itu. Kerajaan Badung dan Tabanan telah membuat kesepakatan untuk saling membantu. Maka dari itu, Raja Tabanan berusaha mengadakan perundingan dengan pihak Belanda agar mencapai kesepakatan. “Setelah Badung kalah, Raja Tabanan pun segera melaksanakan perundingan yang kala itu harus ke Denpasar untuk bertemu langsung dengan Komisaris Pemerintah F.A. Liefrinck. Namun, Belanda melanggar perjanjian. Raja Tabanan diasingkan ke Lombok bersama saudara dan putra beliau. Raja Tabanan memilih mati ketimbang menjadi tawanan. Keesokannya tanggal 29 September 1906 di pagi hari, Raja Tabanan ditemukan tewas. I Gusti Ngurah Rai Perang meninggal dengan cara nuweg rage (bunuh diri) dengan menggunakan penyokcokan (sebuah alat yang biasa dipakai orang untuk makan sirih). Putra beliau, I Gusti Ngurah Gde Pegeg meninggal dengan cara menelan sari (sejenis cairan candu). Hal tersebut suatu bukti bahwa Raja Tabanan seorang yang teguh memegang prinsip,” imbuh dr. I Gusti Ngurah Agung Wiraputra. Saat kerajaan tanpa pemimpin, secara paksa oleh Belanda menduduki Tabanan. Beberapa keluarga kerajaan mencari tempat yang aman untuk persembunyian. Salah satu keluarga kerajaan yang berhasil menlindungi diri adalah

Sagung Wah. Saat itu Sagung Wah belum memiliki keyakinan dan kemampuan memimpin pasukan perang untuk melawan Belanda. Setelah dilakukan beberapa perundingan dengan keluarga kerajaan yang masih tersisa, diputuskanlah Sagung Wah keturunan Raja Tabanan yang bergelar Sri Arya Ngurah Tabanan, Betara Ngeluhur Ratu Singasana XX sebagai pemimpin. Sagung Wah akhirnya memiliki gairah berjuang. Demi rakyat, demi martabat. Tentu ia tidak ingin daerahnya dikuasai semenamena oleh Belanda. Berkat latihan beberapa bulan di Desa Wongaya, Sagung Wah sudah mampu menguasai teknik-teknik perang. Selain itu, Sagung Wah memang memiliki taksu dalam menghimpun pasukan. Kekuatan dari dalam itu menjadikan Sagung Wah tidak gentar memimpin pasukan yang dominan laki-laki. Persoalan melawan Belanda nampak tidak jadi masalah pelik sebab rakyat Tabanan sepenuhnya mendukung Sagung Wah. “Sagung Wah berhasil meloloskan diri dari serangan Belanda tersebut, serta menghimpun kekuatan di Desa Wongaya Gede bersama para Kebayan yaitu pemuka masyarakat setempat. Tidak hanya itu, rakyat Wongaya Gede juga ikut melawan Belanda. Dengan rasa juang yang tinggi, Sagung Wah memimpin pasukan dengan kepercayaan yang tinggi terhadap kekuatan yang diberikan oleh para dewa yang bersemayam di Pura Luhur Batukaru, tanggal 28 November 1906,” tegas I Gusti Ngurah Gede Nugraha.

Penghargaan Nari Kusuma untuk Sagung Wah

Ketika pasukan Sagung Wah bertemu dengan tentara Belanda di sebelah utara Desa Pasekan, kemudian terjadi perang darah. Oleh karena pasukan tentara Belanda memiliki persenjataan yang lebih modern, banyak anggota pasukan Sagung Wah yang gugur. Sagung Wah dan beberapa orang pengikutnya ditangkap Belanda, dan akhirnya ada yang dibuang ke Lombok, ada juga yang diasingkan ke Banyuangi, Sawah Lunto, dan Aceh. Tentu keberadaan Sagung Wah tidak serta merta diabaikan setelah kejadian tersebut. Jejak Sagung Wah masih nampak dalam semangat rakyat Tabanan yang mengadakan peringatan atas perjuangan Sagung Wah membela Tabanan. Peringatan tersebut bertepatan dengan perayaan HUT Kabupaten Tabanan, 28 November. Beberapa pertunjukan terkait

Keturunan Sagung Wah

perjuangan rakyat digelar. Salah satunya, pementasan sendratari tentang “Pebalikanan Wongaya” yang dipimpin Sagung Wah. Tidak hanya itu, untuk menghargai pengorbanan Sagung Wah dan mengabadikan semangatnya, pemerintah Tabanan membuat replika Sagung Wah. “Sagung Wah tentu dapat menghidupkan energi perjuangan di masa kini lewat kisah-kisahnya. Semoga bisa menginspirasi perempuan Bali,” kata Ir. I Gusti Ngurah Agung Pariyuda. Pemerintah daerah dan keluarga kini tengah memperjuangkan tokoh perempuan Sagung Wah sebagai pahlawan nasional. Sudah terbukti bila Sagung Wah memimpin pasukan perang untuk membela tanah air. Sebelum itu, Sagung Wah menerima penghargaan Nari Kusuma. Sebuah penghargaan yang diperuntukan bagi perempuan pejuang yang telah berkorban untuk negeri. Keberadaan Sagung Wah lebih baik dimaknai sebagai langkah perempuan yang berani mengambil risiko. Mengambil jalan mati untuk negeri. Langkah darah yang ditempuh itu tidak mungkin ada bila Sagung Wah tidak mempunyai ketetapan hati membela harga diri, membela tanah pertiwi. Di masa yang akan datang tentu napas dan gairah perjuangan masih mengalir, hingga akhir zaman, agar perempuan mampu berjuang bagi diri sendiri dan bagi kehidupan. –Wulan


4

Inspirasi

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Ellena Khusnul Rahmawati

Tangani Sanitasi di 47 Desa di Lombok Timur Mengubah mindset, mengubah prilaku yang sudah menjadi kebiasaan suatu kelompok masyarakat, bukan hal mudah. Perlu treatment khusus dan dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa mencapai hasil sesuai harapan. Itulah pekerjaan yang digeluti Ellena Khusnul Rahmawati, seorang aktivis kemasyarakatan yang sehari-hari bergelut dengan berbagai permasalahan masyarakat desa binaannya.

“M

enyentuh mereka (masya­ rakat) bu­ kan hanya dengan program dan motivasi tapi juga dengan ketulusan hati. Jika kita melakukannya dengan tulus, masyarakat pun akan merasakannya,” ungkap Ellena Khusnul Rachmawati, Direktur Yayasan Masyarakat Peduli yang bermarkas di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Salah satu torehan sukses Ellena dan kawan-kawannya adalah kasus pengadaan air bersih masyarakat Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok. Desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani itu mengalami krisis air bersih selama bertahun-tahun. “Bayangkan, desa yang terletak di kaki gunung krisis air, bagaimana bisa? Waktu saya mendengar itu pertama kali, sungguh kaget, lho kok bisa? Tapi itulah yang terjadi,” ujarwanita kelahiran Semarang, Jawa Tengah, itu, saat dijumpai Tokoh di kawasan Menteng, Jakarta. Awalnya, ungkap Ellena, Camat Sembalun datang ke Dinas PU setempat untuk mengungkapkan tentang krisis air di daerahnya. Awalnya, yang terkena krisisbukan hanya Desa Sajang tapi juga tiga desa lainnya. Sebenarnya masalah ini, bukannya tidak pernah ditangani pemerintah setempat, namun hasilnya tidak maksimal. Dari empat desa, Desa Sajang yang terletak paling akhir tidak kebagian air. Walhasil, selama bertahun-tahun warga terpaksa membeli air dan menadah hujan. “Untuk mendapatkan air bersih pun tidak murah, warga harus menyisihkan uang Rp300-500 ribu setiap bulannya. Tapi itu terpaksa dilakukan karena air bersih adalah kebutuhan utama,” jelasnya. Jadi, ketika Pak Camat mengeluhkan masalah itu, pihak PU mengatakan belum ada dana. Namun demikian, ia menyarankan agar Pak Camat bertemu dengan pihak Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) yang diketuai oleh Ellena. Pihak PU menyarankan hal tersebut bukannya tanpa alasan. Pasalnya, sebelumnya YMP pernah sukses mengatasi masalah air bersih di Desa Bagik Papan, Lombok Timu, pada 2008. Berkat hal tersebut, maka PU pun berkeinginan agar Desa Sajang sebelum menerima bantuan, terlebih dahulu ‘digarap’

Ellena Khusnul Rahmawati

oleh YMP seperti halnya di Desa Bagik Papan. “Persoalan di Desa Bagik Papan adalah, desa itu sudah sering kali mendapat bantuan baik dari pemerintah maupun berbagai lembaga lain, namun selalu gagal karena kurang melibatkan masyarakat baik dalam proses perencanaan, maupun saat proyek berjalan. Masyarakat hanya menjadi penonton. Sehingga ketika bangunan itu suatu ketika rusak, mereka tidak peduli karena tidak merasa memiliki,” papar ibu dari Iqbal dan Annisa ini. “Jadi ketika saya masuk ke Bagik Papan, saya sebagai konsultan pengorganisasian masyarakat. Kepada masyarakat saya katakan, desa ini kerap kali mendapat bantuan tapi selalu gagal. Hal ini karena kurangnya keterlibatan masyarakat. Lalu saya tanya ke masyarakat, apakah tetap bertahan seperti ini ataukah mau berubah sehingga desa akan menjadi subur karena adanya air. Akhirnya masyarakat bertekad mau berubah.Dan akhirnya program air bersih di Desa Bagik Papan pun bisa berjalan baik. Jadi itulah latar belakang kenapa pihak PU menyarankan Pak Camat untuk bertemu kami,” jelas wanita berkerudung ini. Temuan pihak YMP, tutur Ellena lebih lanjut, kondisi masyarakat Sajang memang sungguh kasihan. Warga antri air bersih yang mengalir hanya menetes-netes sejak pukul 03 pagi. Total ada 4.032 jiwa di desa itu. Sudah bertahuntahun mereka mengalami masalah itu dan hampir putus asa. Malah sebagian berencana pindah ke

Lombok Utara karena sudah tak tahan lagi. “Untuk mendapat air mereka harus berjalan ke mata air kecil yang jaraknya 2 kilometer atau membeli,” ucapnya. Jadi, lanjut Ellena, dengan berbekal data itulah ia dan timnya dari YMP masuk ke Desa Sajang.”Kepada masyarakat kami

katakan, jika ingin memiliki air bersih, masyarakat harus swadaya, jangan mengharapkan bantuan dari pemerintah ataupun pihak lain. Karena kalau menunggu, bantuan tidak akan datang. Tapi kalau masyarakat terlebih dahulu bergerak dan menunjukkan hasilnya, bantuan dari luar pasti akan datang. Tidak mudah meyakinkan mereka, tapi akhirnya,alhamdulilah, mereka sepakat bergerak , gotong-royong mengadakan air bersih,” katanya. Saat ini, peraih penghargaan Wanita Inspiratif Unilever 2012 ini, tengah menangani masalah sanitasi di 47 desa di Lombok Timur. Ini juga masalah yang tidak mudah karena terkait dengan mindset dan kebiasaan yang sudah berjalan sejak dulu. Tugas ia dan timnya adalah harus berjuang mengubah mindset masyarakat yang kurang peduli pada sanitasi yang sehat. Proyek ini juga dilaksanakan di Lombok Timur terhadap 47 desa dengan jumlah penduduk 186 ribu jiwa. Awalnya, tutur Ellena, ini pun tidak mudah. Ia mendapat banyak penentangan. “Masyarakat maunya uangnya dulu, bangun fisik dulu, sedang yayasan saya tidak. Saya ajak mereka kerja dulu, banyak yang menolak. Kami masuk tidak membawa bantuan fisik, tidak bawa uang. Tapi memberi bantuan data, menyapa mereka. Kita datangkan ahli-ahli untuk berbicara dengan mereka, memberi bantuan ketrampilan, dll, tapi bukan uang. Untuk meyakinkan mereka sulit sekali, meskipun akhirnya setelah terus menerus berdialog, mereka pun sepakat swadaya

dulu. Hanya dua desa yang ketika itu menolak ikut. Setelah tiga tahun, hasilnya luar biasa, semua mata terbelalak melihat hasilnya. Kami memiliki desa-desa yang militan. Kami juga memiliki fasilitator-fasilitator desa yang benar-benar muncul dari masyarakat. Inilah hasil kerja luar biasa dari masyarakat yang bersatu padu membenahi lingkungannya. Masyarakat mengatakan, inilah kegiatan yang mereka rindukan dimana mereka dilibatkan secara aktif dalam berbagai kegiatan di desanya. Mereka yang mengerjakan sendiri, bukan orang yang didrop dari luar desa,” tutur Ellena bersemangat sembari menambahkan, bantuan dana baru masuk setelah program berjalan setahun. Program sanitasi ini adalah satu dari lima pilar program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yang juga digalakkan di seluruh Indonesia. Salah satu pendonornya adalah dari Kedutaan Besar Belanda. Baru-baru ini, kata Ellena lagi, para penggerak STBM 5 Pilar ini, berkumpul di Jakarta karena proyek tahap pertama hampir selesai dan akan dilanjutkan ke tahap kedua. “Pihak Kedutaan Belanda memberi bantuan dana bukan untuk pembangunan fisik tapi untuk orang-orang yang membina masyarakat. Misalnya, untuk membiayai operasional program, misalnya, pelatihan-pelatihan kader, review, membangun opini, penguatan kapasitas untuk kepala desa, dll,” ucapnya. -Diana Runtu

Dahsyatnya Kekuatan Rakyat Asal tahu saja, untuk bisa mengadakan air bersih, sumber air besar letaknya 25 km dari desa, itupun mereka harus membelah tebing. Bisa dibayangkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu. Tapi ini sungguh luar biasa. Semangat masyarakat yang sudah bertekad memiliki air bersih, dengan bergotong-royong, mampu membiayai proyek mereka sendiri. “Mereka mampu membelah tebing, mengadakan pipa sepanjang 25 km. Bayangkan, betapa dahsyatnya kekuatan rakyat apabila mau bekerja bersama-sama. Itu semua dikerjakan selama 1 tahun. Dan yang perlu dicatat, biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk membiayai proyek tersebut, tanpa bantuan pihak luar, adalah Rp3 miliar. Luar biasa, bukan?” Setelah satu tahun berjalan, barulah bantuan dana dari luar datang, baik dari pemerintah maupun lembaga-lembaga lain. Masyarakat Desa Sajang bergembira, tapi Ellena dan teman-temannya di YMP pun tak kurang bahagianya, karena lagi (lagi) program yang mereka jalankan dapat berjalan baik. Keberhasilan ini mendapat publikasi luas di tingkat lokal maupun nasional. Bahkan lembagalembaga donor dari luar pun ikut menyoroti. Walhasil nama Ellena dan YMP pun mencuat, sejumlah penghargaan pun diraih.

“Bukan soal penghargaan, tapi jika program kami berjalan dengan baik, kami puas. Kami bahagia kalau masyarakat bisa memetik manfaatnya,” katanya. Mungkin, orang hanya melihat ujungnya saja atau akhir kisah bahwa proyek itu berhasil, namun tutur Ellena, dalam prosesnya, apalagi saat meyakinkan masyarakat akan pentingnya program itu, bukan hal yang mudah. Mengubah mindset, mengubah pola pikir apalagi terhadap masyarakat yang nyaris kehilangan harapan, itu membutuhkan ‘enerji ekstra’. “Tentu saja diawal, tidaklah mulus. Prokontra tentu ada. Ada juga pihak-pihak yang selama ini mendapatkan keuntungan dari situasi sulit itu menentang program ini, atau ada pihak yang kurang percaya, dll. Nah inilah yang kami ‘garap’, berusaha meyakinkan mereka bahwa harapan untuk memperoleh air bersih, tetap terbuka asalkan mau bekerja sama,” ucap Ellena yang juga sempat kena ‘teror’ pihak-pihak tertentu terkait masalah tersebut. Tapi sarjana akuntasi dari Yogyakarta yang dikenal tegas ini, tak khawatir dengan ancaman maupun teror, sekalipun dia perempuan. Dia percaya, Tuhan pasti akan melindunginya karena apa yang dia perbuat adalah sebuah kebaikan dan kebenaran. - Diana Runtu

Mandalika

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

21

Jokowi Resmikan Gunung Tambora Sebagai Taman Nasional

Berbagai kegiatan dilakukan Presiden RI, Joko Widodo dalam kunjungannya ke Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Selain menghadiri puncak acara “Tambora Menyapa Dunia” sebagai peringatan 2 abad meletusnya Gunung Tambora, Joko Widodo juga melakukan panen raya jagung di wilayah Kabupaten Dompu. Selain itu, satu momen penting bagi daerah ini juga dilakukan untuk mengungkit angka kunjungan wisatawan ke NTB dengan ditetapkannya Gunung Tambora sebagai Taman Nasional.

P

residen RI Joko Widodo (Jokowi) secara resmi menetapkan Kawasan Gunung Tambora yang berada di Kabupaten Dompu, Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu Taman Nasional di

Indonesia. Penetapan ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh presiden didampingi Menteri LHK Siti Nurbaya, Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi, dalam acara peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora, yang digelar

Kedatangan Presiden di Bandara Internasional Lombok

Peresmian Gunung Tambora sebagai Taman Nasional

di Padang Savana Doro Ncanga, Kabupaten Dompu, Sabtu (11/4). Sebelumnya, kawasan Gunung Tambora ini merupakan kawasan konservasi sejak 1937. Penetapan sebagai taman nasional juga berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.111/MenLHK-II/2015 pada 7 April 2015. Dalam pidatonya, Presiden Jokowi mengajak masyarakat setempat untuk menjaga sekaligus memelihara kelestarian kawasan Gunung Tambora. “Saya minta agar kawasan ini dijaga dan dirawat, jangan sampai ada yang dirusak,” ujarnya. Kawasan Gunung Tambora berada di Pulau Sumbawa dengan luas 71.645,74 ha. Secara administratif terletak di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Provinsi NTB. Status kawasan sebelum menjadi Taman Nasional terdiri dari Cagar Alam seluas 23.840,81 hektare, Suaka Margasatwa 21.674,68 hek-

tare, dan Taman Buru 26.130,25 hektare. Kawasan Gunung Tambora sebelumnya adalah kawasan konservasi dengan potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Vegetasi yang tumbuh terdiri dari 106 jenis pohon, 18 jenis epifit, 6 jenis herba, 39 jenis liana, dan 49 jenis perdu. Kawasan konservasi Gunung Tam-

bora merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa di antaranya dari kelas mamalia (Rusa Timor), reptil (Biawak, Kadal Pohon, Ular Sanca), primata (Kera Abu) dan aves. Terdapat 8 jenis burung yang dilindungi, 1 jenis di antaranya merupakan spesies prioritas terancam punah dan dua jenis burung endemik NTB.

Promosi Pariwisata NTB lewat Festival Tambora Presiden Jokowi meminta event “Tambora Menyapa Dunia” bisa menjadi festival tahunan sebagai ajang promosi pariwisata untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke NTB. Hal ini disampaikan presiden saat menghadiri puncak peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora, yang digelar di Padang Savana, Doro Ncanga, di Kabupaten Dompu, Sabtu (11/4). “Yang pertama saya ingin titip, peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora, Tambora Menyapa Dunia ini agar setiap tahun dijadikan momentum untuk promosi pariwisata baik Dompu, Bima maupun Nusa Tenggara Barat,” kata presiden. “Tadi saya sudah bisikin Menteri Pariwisata agar ada setiap tahun Festival Tambora. Yang membiayai pemerintah pusat,” lanjut Presiden Jokowi disambut tepuk tangan ribuan pengunjung. Pada saat yang sama, Presiden Jokowi juga menetapkan Kawasan Gunung Tambora sebagai salah

Jokowi dalam rangka kunjungan kerjanya ke NTB. Presiden berada di NTB selama tiga hari. Dan, ini merupakan kunjungan pertama kalinya sejak ia dilantik sebagai Presiden RI. Selama di NTB, banyak kegiatan yang dilakukan Presiden Jokowi. Di antaranya, meninjau Kawasan Ekonomi khusus (KEK) Mandalika Resort, meresmikan gedung IPDN Kampus NTB

di Praya Lombok Tengah, salat Jum’at di Masjid Agung Praya dan panen perdana jagung di Lanci, Manggalewa, Kabupaten Dompu. Selain itu, Presiden Jokowi didampingi Gubernur NTB juga “blusukan” pada malam hari menyapa sejumlah pedagang kaki lima di kawasan Jalan Udayana, Mataram. Dan, berolahraga sepeda pada pagi hari mengelilingi Kota Mataram. --Hms

Presiden Jokowi saat diwawancara media

satu Kawasan Taman Nasional di Indonesia. Sebelumnya, kawasan Gunung Tambora merupakan kawasan konservasi sejak tahun 1937. Presiden menegaskan, Kawasan gunung Tambora merupakan salah satu aset yang harus dijaga sekaligus dikembangkan sebagai

kawasan yang memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat. “Saya minta ini agar dijaga dan dirawat jangan sampai ada yang dirusak,” kata Presiden. Puncak peringatan Tambora menyapa Dunia 2015 adalah salah satu kegiatan yang dihadiri Presiden

Jokowi panen jagung


22

Sosialita

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Ada Ganja Menyusup di Brownies P

sampai Jumat (17/4) malam belum juga diblokir oleh pihak Kominfo ini, dicurigai justru lebih banyak melakukan transaksi kue dan coklat ganja itu. IR sendiri sebagai pemilik toko mengaku awalnya membuat brownies ganja untuk dikonsumsi sendiri. Dia adalah pengidap HIV dan Hepatitis C, ganja digunakan untuk meningkatkan nafsu makannya. Ternyata kue tersebut juga disukai oleh teman-temannya dan akhirnya pembuatan kue itu berkembang menjadi bisnis. Dengan adanya brownies dan coklat ganja ini, tentu membuat para penjual maupun

mengguna lebih leluasa mengkonsumsi ganja, bahkan di tempat umum sekalipun, ketimbang mengisap rokok ganja yang sudah pasti akan mudah dikenali karena baunya yang khas. Seorang stoner (sebutan untuk pengguna ganja) mengaku, sebenarnya brownies ganja itu sudah beredar sejak 2-3 tahun lalu namun untuk kalangan terbatas dan sangat hatihati. Diperjual-belikan beradasarkan pesanan. Itupun hanya bisa dibeli jika pembeli sudah dikenal oleh penjual atau referensi dari seseorang yang dikenal. “Tidak dijual sembarangan. Pemesan harus orang yang dikenal atau referensi dari orang yang dikenal

Barang bukti brownies dan coklat ganja

penjual karena penjual tidak mau terjebak,” ucap lelaki yang mengaku pernah menikmati kue ganja itu. Alfa, sebut saja namanya begitu, sudah puluhan tahun mengkonsumsi ganja. Uniknya, dia mengaku hanya suka ganja, tapi tidak tertarik mencoba jenis narkotika lainnya. “Ganja untuk ngilangin stress aja, jadi bisa enjoy. Kalau yang lain (narkotika jenis lain) gue nggak make,” akunya. KONTROVERSI GANJA Menurut dr Erwin Kusuma dikelompokkannya ganja dalam narkotika masih menjadi kontroversi. Sebenarnya, ungkap mantan dokter di RS Angkatan Darat Gatot Subroto ini, kandungan narkotik tidak ada dalam ganja. Sejak dulu marijuana (nama lain dari ganja) sudah dikonsumsi masyarakat dengan mencampurnya dalam masakan. Namun sejak ganja masuk dalam Narkotika Golongan I UU Narkotika No 35 Tahun 2009, bersama dengan heroin, kokain, opium, katinon, ekstasi, maka penggunaan ganja pun dilarang. Penggunaan Narkotika Golongan I hanya dapat untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, dan tidak digunakan dalam terapi. “Kalau dulu biasa dipakai dalam makanan, masakan sayur, sejak masuk dalam undang undang itu, tidak boleh. Bahkan dokter atau medis pun tidak bisa menggunakannya,” ujarnya. Ganja, lanjutnya, berbeda dengan jenis narkotika lain seperti; heroin, sabu-sabu, ekstasi, dll, yang efeknya sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Sedangkan ganja, efeknya jauh lebih rendah. Namun demikian, apapun juga jika mengkonsumsi secara berlebih, pasti akan berbahaya. Begitu juga ganja. Meski disebut efeknya rendah, namun kalau terus menerus dan dalam jumlah besar, pasti bahaya. Akan terjadi penumpukan racun yang berisiko pada munculnya berbagai penyakit dalam tubuh kita. Jangankan ganja, jika kita makan berlebihan pun tidak baik bagi kesehatan,” jelasnya. Menurutnya ganja tidak menimbulkan ketagihan bagi penggunanya, jika –tentu saja--pemakai tidak menggunakannya dalam dosis besar dan sering. Beda dengan narkotika lain seperti morfin, heroin, di mana si pemakai kecanduan yang jika tidak mengkonsumsi berakibat pada fisiknya. Menjawab pertanyaan tentang kemungkinan ganja yang dikonsumsi

3

Kompyang Pariadnyani

Sempurnakan dengan Shading Alis Korea

Pengedar narkoba semakin ‘gila-gilaan’ dalam memasarkan produknya. Macam-macam cara ditempuh, bahkan sekarang sudah menyusup ke kuliner yang digemari masyarakat. Beberapa waktu lalu terungkap ka­ sus permen ganja yang diedarkan kepada anak-anak sekolah, dan kini masyarakat kembali dikejutkan dengan beredarnya brownies dan coklat mengandung ganja di sebuah mal di wilayah Jakarta Selatan.

enjualan brownies dan ganja yang sudah beberapa bulan menjalankan bisnisnya itu, tidak disadari oleh kebanyakan pengunjung maupun sesama pedagang di mal tersebut. Maklum saja, toko yang dioperasikan oleh IR dan empat temannya itu, menyamarkan diri dengan menjual aksesoris dan baju. Sementara kue dan coklat yang sebagian kecil dan tidak terlalu menyolok. Lagi pula dikemasnya pun dengan baik seperti hal-nya pengemasan kue-kue biasa. Karena itu semua terkejut ketika petugas BNN (Badan Narkotika Nasional) menggerebek toko itu dan terungkaplah kalau toko itu aksesoris dan baju itu, memperdagangkan brownies dan coklat ganja. Menurut pihak BNN ini adalah modus baru dari kalangan pengedar narkotika untuk memasarkan barang haram itu. Sekarang ini, pengedar yang m a k i n berani, melakukan pemasaran dengan berbagai cara. Karena itu diminta ke masyarakat agar berhati-hati, juga mau melaporkan hal-hal yang dirasakan janggal yang terjadi di masyarakat. “Jika membeli makanan dan merasakan dan efek makanan tersebut tidak biasa jangan segan-segan melaporkannya,” kata Kepala Humas BNN Komisaris Besar Slamet Pribadi. Kasus brownies dan coklat mengandung ganja ini pun terungkap karena adanya kasus anak SMP yang tertidur selama dua hari setelah mengkonsumsi brownies ganja. Dari hasil pengungkapan itu, ternyata, brownies dan coklat ganja itu juga dijual di toko online dengan alamat www.tokohemp.com. Website yang

Edisi 845/ 20 - 26 april 2015

Brownies dan coklat ganja yang siap edar berhasil diungkap

terus menerus akan menyebabkan ganguan pada kesehatan jiwa, dr Erwin pun membenarkan. “Tentu saja akan terjadi gangguan pada syaraf yang mempengaruhi kesehatan jiwa. Jadi mereka yang sudah kecanduan,sudah pasti terkena gangguan jiwa. Karena mereka yang sehat jiwanya tentu tidak akan mau menggunakan barang tersebut,” ucapnya. Menurut farmokolog, Dr Zullies Ikawati, senyawa psikoaktif pada ganja adalah tetrahidrocanabinnol (THC),yang bekerja padareseptor cannabinoid. Reseptor ini berperan dalam berbagai fungsi fisiologis. Ganja sendiri dalam UU Narkotika masuk dalam Golongan I. “Kriteria masuk dalam Golongan I adalah berpotensi menyebabkan ketergantungan. Semua senyawa psikoaktif menyebabkan adiksi walaupun dengan potensi yang berbeda-beda. Mengapa? Ya karena mekanismenya menyebabkan adiksi berbeda-beda. Adiksi sendiri secara medik didefinisikan sebagai gangguan kambuhan yang bersifat kronis, yang dikarakterisir oleh adanya dorongan untuk mencari dan menggunakan obat, kehilangan kontrol terhadap pembatasan penggunaan obat, dan munculnya emosi negatif (dysphoria, anxiety, irritability) jika tidak mendapatkan obat, walaupun mengetahui efek

buruk pengunaan obat tersebut,” jelas doktor lulusan Ehime University School of Medicine Japan, ini. Terkait efek, lanjutnya, sudah banyak dipublikasikan. Beberapa di antaranya adalah menekankan pada efeknya terhadap peningkatan gejala psikotik (gangguan jiwa), berkurangnya kemampuan kognitif dan efek fisiologis lainnya. Namun yang tak kurang bahayanya adalah, ganja merupakan ‘gateway ’(pintu gerbang) bagi penggunaan obat terlarang lainnya. “Sekali menggunakan cannabis kecenderungan mencoba obatobat terlarang lain kemungkinannya menjadi lebih besar. Disebutkan, risiko memulai penggunaan obatobatan terlarang lainnya menjadi 124 kali lebih tinggi pada pengguna ganja kronis dibanding bukan pengguna,” ucapnya. Sekalipun disebutkan secara fisiologis efek ganja lebih ringan dari senyawa psikoaktif lainnya, namun yang perlu menjadi perhatian dan pertimbangan adalah dampak psikososialnya. “Sebagian besar penggunaan ganja adalah untuk tujuan rekreasional, untuk melarikan diri dari masalah, atau untuk mendapatkan performance yang mungkin bukan sesungguhnya,” tambahnya.-Diana Runtu.

Tiap orang menginginkan wajah yang sem­ purna dan enak dilihat. Alis adalah salah satu unsur penting dalam menata wajah. Dengan alis yang terbentuk indah , selain mampu merepresentasikan kecantikan se­ seorang juga memberikan efek lebih segar serta meningkatkan rasa percaya diri.

M

enurut pemilik Adibi Salon & Spa di kawasan Jalan Letda Tantular, Renon, Ir. Kompyang Pariadnyani, sesuai perkembangan teknologi kecantikan, banyak cara yang praktis dan efektif dapat dilakukan untuk mengubah penampilan. Salah satu yang tengah tren adalah shading alis ala Korea, yakni pengembangan sulam alis yang selama ini sangat diminati. Jero Melati begitu ia sering disapa mengatakan kalau tren shading alis Korea ini , berasal dari Korea. “Gaya sulaman ini mampu memberikan hasil lebih bagus dan tahan lama serta efek yang lebih natural,” papar istri Ir. AA Bagus Kurniawan dari Puri Kelodan Ubud ini. Jero Melati juga menuturkan sudah menjadi kewajibannya untuk selalu mengikuti perkembangan dunia kecantikan demi komitmennya memberikan pelayan yang terbaik dan kepuasan pada semua orang yang berkunjung ke salonnya. Makanya belum lama ini, pribadi yang dikenal ramah ini pun terbang ke luar kota untuk meng–upgrade kebisaannya langsung dari pakarnya

Kompyang Pariadnyani bersama keluarga

terkait penataan alis yang paling anyar bernama shading alis Korea. Selanjutnya sosok yang pertama kali menghadirkan teknik sulam alis berstandar internasional di Bali ini, menjadi sangat sibuk melayani peminat shading alis Korea. Tangan terampilnya pun dengan cekatan mengerjakan sulam gaya Korea yang merupakan karya seni tinggi ini. Meski tercatat sebagai ahli sulam alis berpengalaman dengan jam terbang yang mumpuni, ibu tiga anak ini, AA Adhyatmika Okta Kurnia, AA Abymantra Agusta Kurnia, dan AA Arhycinara June Kurnia, selalu memberi kesempatan kepada kliennya untuk berkonsultasi terlebih dahulu agar terjalin hubungan emosional, sehingga hasil sulaman alisnya bukan hanya indah tapi juga sesuai keinginan pemohon. “Sulam shading alis Korea akan terlihat seperti rambut alis yang tertata halus dan rapi. Gaya sulaman ini bisa untuk perempuan maupun laki-laki, yang alisnya ingin disempurnakan. Misalnya karena memiliki alis yang tipis dan jarang bulunya, terlalu pendek, terputus atau pun memperbaiki alis yang kurang rapi bentuknya,” ujar putri pasangan I Made Yasa dan Ni Made Rai (alm) ini.

Bahan Herbal tanpa Efek Samping Sulam alis atau shading alis Korea kata Jero Melati sesungguhnya mampu mengatasi tiap kekurangan alis yang ada. Baik dalam hal bentuk alis ataupun tebal dan tipisnya sebuah alis. Sulam gaya Korea ini juga dapat disesuaikan dengan karakter wajah. Selain itu, sangat bermanfaat bagi para perempuan yang mobilitasnya tinggi sehingga tidak ingin menghabiskan waktu untuk berdandan tiap harinya. Salah satu penampilan yang menyelaraskan kecantikan wajah kaum perempuan adalah bentuk alis yang indah. Karenanya, alis selalu menjadi perhatian bagi para ahli tata rias kecantikan. Alis yang tepat dan sesuai dengan bentuk wajah bisa mengubah penampilan seseorang. Menurutnya, dalam pembuatan bentuk alis dan guratan garis- garisnya, dimensi (D) menentukan hasilnya, apakah alis seseorang dapat terlihat alami dan sesuai dengan karakter wajahnya. Karenanya, ia pun memberikan pilihan mulai sulam tiga dimensi (3D) dan enam dimensi (6 D). “Tapi, kalau ingin lebih sempurna lagi pilih shading alis Korea. Bagi yang

-ard

kurang pada mata, setelah sulam alis, ada pula sulam eyeliner agar terlihat lebih cantik dan menawan. Apalagi berdasarkan pengalaman mereka yang telah melakukan sulam eyeliner, mengatakan sangat puas dengan hasil yang diperoleh. Diantaranya mata yang semula terlihat kecil atau sipit menjadi terlihat lebih besar. Disamping itu daerah sekitar mata akan terlihat lebih bersinar dan berkarakter. Sejak munculnya shading alis Korea, tren inilah yang paling banyak dipilih dalam langkah penyempurnaan bentuk

wajah. “Jika alisnya sangat tipis maka dibuat seolah memiliki alis yang tebal dan seperti rambut asli. Bulunya dibuat dari garisgaris sehingga kelihatan seperti bulunya timbul, shading-nya kelihatan,” tutur Jero Melati ketika ditemui di salonnya. Saat prosesnya sebagaimana sulam alis, dalam teknik shading alis Korea, diperlukan ketelitian yang ingin segalanya lebih praktis lagi bisa melengkapinya dengan sulam bibir dan sulam eyeliner. Dengan sulam bibir, penampilan pun akan lebih maksimal karena bibir akan terlihat merah alami tanpa memakai lipstik ataupun lipgloss. Sulam bibir juga menggunakan alat canggih yang bisa mendeteksi kulit yang mengandung bahan herbal. Sulam bibir ini tidak menimbulkan rasa sakit, karena menggunakan jarum yang higienis dan steril sehingga keamanannya terjaga. Jika merasa masih ada yang

cukup tinggi. Mulai dari menggambar rambutnya mengikuti arah tumbuh rambut sehingga bisa memunculkan kesan alami yang kuat. Demkian juga sebelum memulai, dikatakannya penyesuaian warna alis dengan bentuk wajah juga menjadi perhatian agar keindahannya benar-benar berfungsi menyempurnakan kecantikan wajah. “Pemilihan warna juga bisa dilakukan sesuai keinginan,” katanya. Usai melakukan shading alis Korea, perawatan yang dilakukan sama seperti sulam alis lainnya, yakni dianjurkan tidak mengonsumsi makanan yang menimbulkan alegi serta tidak sering-sering menggosok alis mata. Jero Melati menegaskan, bahan-bahan yang digunakan untuk shading alis Korea, semua berasal dari herbal sehingga tidak menyebabkan efek samping. “Begitu juga alat-alat yang kami gunakan terjamin kebersihannya, karena hanya satu kali pakai,” tegasnya. Namun, hingga kini Jero Melati, masih banyak melayani permintaan sulam alis 6D tapi lebih banyak lagi yang menginginkan shading alis Korea, karena efek alis tampak lebih natural. “Penanya yang seperti sisir berjarum sepenuhnya digerakkan manual, sehingga kedalaman masuknya jarum lebih bisa dikontrol dengan melihat respons kulit,”cetusnya. Jero Melati menambahkan pelanggan yang datang ke salonnya sangat beragam, mulai dari ibu rumah tangga hingga mereka yang memiliki posisi di suatu instansi swasta maupun negeri, dan dari usia remaja hingga 70 tahunan. Sekarang, bagi yang ingin memaksimalkan penampilan khususnya untuk shading alis Korea, tidak perlu ke luar kota apalagi ke luar negeri, sebab karya Jero Melati sudah terbukti kualitasnya selama ini. “Di Adibi Salon juga tersedia berbagai produk perawatan lainnya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki,dan semua terapis andal yang akan memberikan pelayanan terbaiknya,” ujarnya. Jero Melati tak lupa mengakui, jika perkembangan usaha yang dialaminya kini, berkat dukungan dan dorongan penuh dari keluarga dan sang suami tercinta. “Saya beruntung bisa mendapatkan jodoh seorang suami yang memberi ruang bergerak untuk menyalurkan kreativitas dan keluarga yang sangat mendukung semua aktivitas saya,” tegasnya. -ard


2

Ekspresso DAri daPUr Redaksi Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Kartini Masa Kini

Peringatan Hari Kartini biasanya diisi dengan lomba-lomba yang diikuti kaum wanita. Kalau ada kegiatan, pakaian yang digunakan adalah kebaya. Ini menunjukkan penghormatan kepada Raden Ajeng Kartini yang digambarkan sebagai wanita santun dengan pakaian kebaya yang menjadi ciri khasnya. Kartini lahir 21 April 1879 di Jepara. Ia anak bangsawan yang tunduk pada adat istiadat. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Kartini tak diperbolehkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini tak berani menentang adat istiada yang berlaku. Pada masa itu, kaum wanita tak diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Tetapi, Kartini tak menyerah. Ia rajin membaca buku dan belajar sendiri untuk menambah pengetahuannya. Kartini rajin menulis surat kepada Mr. J.H. Abendanon dan mohon diberikan beasiswa belajar di Negeri Belanda. Surat-surat Kartini ini kemudian dikumpulkan oleh Abendanon menjadi buku yang

RA Kartini

berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Perjuangan Kartini untuk memajukan kaum wanita agar bisa mengenyam pendidikan menjadi tonggak perjuangan di Indonesia. Kartini mampu mendobrak adat istiadat yang sebelumnya menjadikan wanita hanya berada dalam rumah untuk mengurus urusan rumah tangga. Perjuan-

Kami hanya Iseng Suatu hari saat jam pelajaran sekolah sedang kosong, saya bersama tiga teman lainnya mengobrol di kelas. Kami menanyakan rencana liburan masing-masing. Karena semua teman tidak memiliki rencana untuk mengisi hari libur, kami berempat memutuskan untuk jalan-jalan bersama ke pantai besok pagi. Keesokan harinya, pada Minggu pagi, kami berempat berkumpul di dekat sekolah. Setelah semua berkumpul, kami segera berangkat. Teman saya yang bernama Tika dan Fia memilih satu motor berdua karena mereka perempuan, sedangkan saya satu motor dengan Tio. Kami pun berangkat bersama menuju ke pantai. Perjalanan terasa menyenangkan karena pagi itu jalanan cukup sepi, udara pagi juga terasa menyejukkan. Sambil mengobrol di jalan, sampailah kami di pantai yang dituju. Di sana, kami duduk menikmati keindahan pantai sambil mengobrol dan menyan-

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tap beberapa camilan. Setelah sekian lama mengobrol di sana, kami memutuskan untuk pulang. Cuaca juga sudah mulai terasa panas. Kami berjalan menuju parkiran dan mengambil sepeda motor masing-masing. Kami pun berangkat ber­ iringan. Saya berada di belakang motor Tika dan Fia. Karena mereka asyik mengobrol di jalan, saya dan Tio bermaksud menjahili mereka. Muncullah ide untuk merampas tas mereka. Bukan untuk berbuat jahat, namun hanya ingin iseng kepada mereka. Perlahan saya dekati motor mereka, dan dengan sigap ta­ ngan Tio berhasil merampas tas me­reka. Mereka pun berteriak

gan Kartini berhasil menjadikan wanita-wanita Indonesia bangkit dan meraih pendidikan setinggitingginya. Kini banyak Kartini-Kartini yang sudah sukses. Wanita bahkan bisa berperan ganda. Di satu sisi mereka menjadi wanita karier, di sisi lain mereka tak melupakan tugasnya sebagai istri dan ibu. Edisi kali ini kami menampilkan wanita-wanita yang bisa menginspirasi. Ini hanya sebagian kecil saja dari wanitawanita hebat yang ada di Bali dan Indonesia. Satu hal yang juga kami sajikan adalah bagaimana peran orangtua dalam mendampingi anak dalam hal pendidikan. Jika dulu Kartini dilarang sekolah kini keadaan sudah berbalik. Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya padahal usianya belum memenuhi persyaratan. Tentu ada plus-minus dari apa yang dilakukan orangtua. Anak adalah harapan masa depan. Merekalah yang akan menjadi tumpuan bangsa di kemudian hari. Siapkan anak untuk menjadi sumber daya manusia yang cerdas dan berbudaya. Diantara anak-anak itu akan ada yang mampu menjadi pendobrak untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik, seperti yang dilakukan Kartini pada masa lalu. Selamat Hari Kartini.

karena kaget, saya dan Tio juga kaget karena mereka berteriak. Kami pun sama-sama kaget jadinya. Ternyata teriakan me­ reka didengar oleh warga dan pedagang di sana. Seketika warga di sana berlarian untuk mengejar saya. Mungkin mereka mengira saya jambret sungguhan. Oh my God... motor saya dicegat, saya pun bingung ketika melihat wajah mereka seolah ingin menghajar saya. Untung Tika dan Fia langsung berteriak, “Pak, itu teman saya”. Saya pun menjelaskan kepada warga di sana bahwa saya dan Tio bukan jambret, dan kami hanya iseng menjahili teman kami. Untung warga di sana bisa mengerti. Jika tidak, mungkin saya harus liburan di rumah sakit atau di kantor polisi. Ary, Denpasar.

Mozaik

GORO-GORO

Berita

Seorang wartawan, menemui Amat. Dia bertanya, apa pendapat Amat tentang gesekan KPK Putu Wijaya dan Polri. Amat yang memang setia mengikuti gesekan itu lewat TV, dengan bersemangat siap menjawab. Tapi Bu Amat muncul di balik pintu memberikan kode: “jangan”. Amat kontan merasa tak nyaman. Ia permisi pura-pura kebelet ke kamar kecil, lalu masuk dan menghampiri istrinya yang sudah menunggu di kamar mandi. Belum sempat bertanya, Amat sudah dihujani instruksi jangan, jangan jangan! “Kenapa jangan?” “Pokoknya jangan!” “Jangan apa?” “Jangan menjawab!” “Lho terlambat. Pertanyaannya tadi sudah sebagian tak jawab!” “Tarik lagi!” “Tarik apanya?” “Ya apalagi? Itu, jawabannya semua tarik lagi!” “Tidak bisa! Ludah yang sudah disepah masak ditelan lagi?!” “Tidak apa!” “Tidak bisa!” “Tidak bisa bagaimana? Membatalkan, menarik, memperbaiki jawaban itu, itu kan menurut Bapak sendiri, sudah lumrah dalam politik. Kan menurut Bapak, Itu hak asasi kita!” “Memang, tapi, Bapak lupa apa yang sudah Bapak informasikan tadi kepada dia.” “Tidak apa. Pokoknya, batalkan! Cabut saja!” “Nanti dia marah.” “Biarin! Itu kan informasi dari Bapak. Milik Bapak. Mau ditambah, dikurangi, diubah atau diganti dengan kebalikannya, apalagi hanya ditarik, sah-sah saja! Ya, kan?! Kalau tidak percaya, coba tanya Pak Made di sebelah. Dia juga baru habis ditanya-tanya. Jangan-jangan orang itu sedang belajar mau jadi wartawan. Bapak jadi kelinci percobaannya!” Amat bingung. “Kenapa bingung? Baru menghadapi wartawan, bagaimana kalau berhadapan dengan musuh?” “Mungkin dia lebih dari musuh, Bu!” “Lebih dari musuh? Wartawan alias kuli tinta itu sahabat kita, Pak. Mereka pembela rakyat kecil seperti kita! Tapi orang itu, betul wartawan atau bukan?” “Ya wartawan, dong.” “Wartawan apa? Surat kabar atau majalah?” “Tidak tahu.” “Wartawan TV?” “Bukan!” “Makanya! Tanya dulu, jangan belum apa-apa sudah menjawab! Mesti diminta menunjukkan surat penugasannya!” Amat ketawa. “Lho, Pak, jangan main-main. Tidak semua wartawan baik. Ada wartawan gadungan yang suka nambah-nambahi supaya seru. Sebab kalau tidak seru, tidak akan dimuat! Berita kan sudah jadi barang dagangan. Kata Ami, bukan kebenaran dan keadilan lagi yang penting, tapi seru tidak?! Kalau tidak sesuai dengan politik pemiliknya, tidak akan dipakai. Berita tidak bisa dipercaya sekarang. Pak! Karena tergantung pemiliknya!” Amat galau. “Jadi bagaimana ini sekarang?” “Gampang. Bapak masuk saja ke WC saja. Saya ladeni dia. Nanti tak bilang, Bapak mendadak sakit perut dan membatalkan semua yang sudah Bapak bilang. Ayo masuk!” Bu Amat mendorong suaminya masuk WC. Lalu ke depan menemui wartawan itu. Tapi orang itu sudah pergi. TV baru, hadiah ultah dari Ami juga ikut lenyap.

23

Wahyu Windi Yanti

Cintai Pekerjaan agar tak Jadi Beban Masa muda, sebaiknya dimanfaatkan agar ke depan lebih baik. Ungkapan itu melekat pada diri Wahyu Windi Yanti, yang biasa dipanggil Windi Caesar. Ia memilih terjun ke dunia kecantikan meski awalnya dia kuliah di ju­rusan perhotelan di Universitas Trisakti Jakarta. Namun, dunia perhotelan bukan jiwanya.

S

ekitar tahun 2000-an setelah lulus kuliah dia memutuskan pindah ke Amerika Serikat untuk bekerja di hotel. Ia hanya bekerja selama empat tahun di negara Barack Obama itu, lalu memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Alasannya karena kekhawatiran orangtuanya dan kondisi orangtua yang sakit. “Waktu saya balik ke Indonesia, rasanya saya tidak terlalu nyaman di bidang hotel,“ kata wanita yang masih terlihat cantik di usia 45 tahun ini. Akhirnya Windi, memutuskan untuk sekolah di bidang kecantikan di Puspita Martha Jakarta. Ia belajar tentang semua tata kecantikan, seperti kulit, make up wajah, rambut, dll. Sampai akhirnya diajak bergabung menjadi tenaga pengajar di lembaga kecantikan itu. “Sepuluh tahun, saya

bekerja sebagai tenaga pengajar, akhirnya saya memutuskan keluar dan membuka usaha sendiri,” tuturnya. Dalam sepuluh tahun, ia se­ ring bolak-balik Jakarta-Surabaya. Karena kelelahan berpindah tugas itulah, akhirnya Windi memutuskan untuk berhenti dan membuka usaha sendiri di Surabaya. Ia juga ingin fokus mendidik anaknya yang masih kecil-kecil. Di Surabaya, Windi membuka salon spa. Pilihannya menyewa stand di mal. Karena membutuhkan modal yang lebih sedikit dibanding bila membuka usaha sejenis di perumahan. Itulah kenapa Windi, lebih memilih mal dari pada di tempat rumahan. Ibu empat anak ini berprinsip, “bekerja itu harus sesuai dengan hati. Kita mencintai pekerjaan yang membuat pekerjaan bukan

“bekerja itu harus sesuai dengan hati. Kita men­cintai pekerjaan yang membuat pe­kerjaan bukan menjadi suatu beban”

menjadi suatu beban”. Usaha salon dan spa miliknya di Royal Plaza Surabaya diberi nama Spazyo. Spazyo diambil dari nama anak keduanya, Zyo, yang telah me­ ninggal dunia November 2014 karena kecelakaan motor di daerah Diponegoro, Surabaya saat usianya 15 tahun. Meninggalnya Zyo, sempat membuat wanita

Lestari Parlan

Tetap Senyum walau Sedih Dunia perhotelan menjadi panggilan hidup gadis ayu kelahir­ an Maluku, 27 Desember 1989 ini. Ia sudah berkarier di beberapa hotel berbintang di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya dan kini di

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 2.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373 Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

Lestari Parlan

Hotel Crown Price. Untuk mencapai semua itu, Lestari Parlan, harus rela pergi dari tanah kelahirannya. Saat itu, ketika masih duduk di bangku SMA kelas 2, ia mencari peng­ alaman baru di tempat lain. Meski harus keluar pulau, baginya tidak masalah, asalkan semuanya dilakukan dengan tekad kuat. Apa yang dilakukan ternyata tak sia-sia. Wanita ini melanjutkan sekolah di SMA Petra dan setelah itu ke Manajemen Perhotelan di Universitas Kristen Petra. Perempuan yang akrab disapa Tari ini bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang dan ia merasa menemukan kehidupan­ nya. Itulah yang membuat Tari, akhirnya terjun ke dunia per­ hotelan. Dari beberapa hotel sebelumnya, ia merasa tempat ini belum cocok untuknya. Bahkan, wanita yang cukup supel itu juga pernah kerja di perusahaan modal asing (PMA). Namun, dia terus mencari tempat yang memberi kenyamanan­nya untuk bekerja. Akhirnya, wanita yang masih melajang ini menemukan Crown Price Hotel yang baru berope­rasi Juni 2014. Dia mencoba keber­ untungannya untuk melamar

di hotel tersebut dan diterima. Crown Price Hotel merupakan hotel bintang empat di Surabaya yang ada di tengah kota. Sedangkan, bintang empat lainnya kebanyakan ada di pinggiran kota Surabaya. Tari mengawali karier di hotel mulai dari bawah kemudian menjabat sales coordinator, selanjutnya marketing communication. “Complain itu merupakan hal yang wajar, karena menyenangkan orang dalam waktu yang bersamaan itu susah. Jadi, yang perlu kita lakukan adalah bagaimana mengubah complain yang disampaikan pelanggan, menjadi senjata untuk membuat pekerjaan lebih baik,“ kata Tari. Hotelier adalah sebutan orang yang kerja di dunia perhotelan dan dunia hospitality. Untuk menjadi seorang hotelier tidak semudah yang dibayangkan. Karena mereka harus tetap menjaga senyumnya, dan memberi kenyamanan kepada pelanggan walau terkadang perasaan sedang sedih karena masalah pribadi. Namun, dengan bertemu dan bergaul dengan banyak orang itu, menjadi kelebihan dari seorang hotelier karena mereka mempunyai skill yang lebih dalam bidang pergaulan. -Dyah Vita Sari

tangguh ini sempat trauma berkepanjangan. Tetapi, ia bisa move on. Dengan memilih nama anak keduanya itu, Windi merasa anaknya seolah-olah tetap bekerja bersama ibunya. Banyak sekali tantang­ an untuk membuka usaha. Banyak hal yang harus ia pelajari, selain manajerialnya, ia juga sebagai marketing quality control untuk produknya. Februari 2015 hingga sekarang, respons masyarakat ter­h adap Spazyo cukup baik. Pengadaan terapis Spazyo juga mulai dari nol. Windi tidak mau mengambil yang berpe­ ngalaman karena itu akan menyulitkan sistem pelayanan. Spazyo mempunyai standart operation

procedure (SOP) yang harus diterapkan terhadap terapis. SOP ini bisa menjadi alat ukur terapis untuk meminimalisir keluhan pelanggan serta bagaimana tiap tamu yang datang, bisa kembali lagi ke Spazyo. Salon spa ini menggunakan produk herbal yang tidak kalah khasiatnya dibandingkan dengan yang lain. Karena produk di tempat ini juga merupakan buatan sendiri. –Dyah Vita Sari

Wahyu Windi Yanti


24

What’s Up

Edisi 845/ 20 - 26 April 2015

K hofifah I ndar Parawansa

Laki-laki dan Perempuan Punya Kesempatan Sama Khofifah saat berdiskusi

Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa tekun menyimak penjelasan tentang eksistensi perempuan di Bali. Ia mengaku tidak terlalu mendetail memahami budaya Bali yang pada masa lalu menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua. Bagi keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki, bisa menjadi persoalan karena siapa yang akan menjadi penerus keluarga. Namun, kini zaman sudah berubah. Perempuan pun sudah memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki.

“B

ali ternyata mirip dengan Makasar. Anak laki-laki cenderung diperhatikan. Saya pernah punya pengalaman pribadi. Ketika anak saya yang pertama lahir perempuan, suami saya yang keturunan Makasar menanggapi biasa saja. Ketika saya hamil kedua, ia berkata kepada saya, dengan nada bercanda. Kalau anak kedua lahir perempuan, izinkan saya menikah lagi. Saya sangat shock mendengar permintaan itu,” ungkapnya ketika berkunjung dan berdiskusi dengan

tim redaksi Kelompok Media Bali Post, Sabtu (11/4). Khofifah kemudian mengadu ke mertuanya. Ternyata mertuanya menjelaskan, tidak ada aturan yang memberikan kesempatan bagi pria Makasar yang tidak punya anak laki-laki untuk menikah lagi. “Saya plong tetapi tetap was-was. Tiap periksa kandungan, saya tidak mau di-USG. Saya tidak mau tahu jenis kelamin bayi saya. Ternyata, setelah waktunya tiba, saya melahirkan anak laki-laki. Baru saya merasa benar-benar tenang,” kenang perempuan asal

Jawa Timur ini sembari tersenyum. Anak ketiga dan keempatnya pun laki-laki. Adanya persepsi tentang pembedaan anak laki-laki dan perempuan membuat mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan di era Presiden Abdurrahman Wahid ini gerah. Ia merasa semua anak memiliki hak yang sama. Laki dan perempuan harus mendapat kesempatan yang sama. Ia pun berharap keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama bisa memberikan kesempatan kepada anak perempuan untuk meraih pendidikan dan berkarier tinggi. Jangan sampai, anak perempuan terkungkung hanya dalam ranah domestik. Di sisi lain, ia sedih melihat masih adanya perempuan yang menjadi korban di dalam keluarganya. “Salah satu contoh, anak perempuan banyak mengalami kasus incest (hubungan seksual yang dilakukan orang yang memiliki garis keturunan langsung). Pelakunya bisa kakek, ayah, kakak, ataupun adik. Dari laporan yang kami terima di Departemen Sosial, ayah yang paling banyak menjadi pelaku. Salah satu sebab adalah kemiskinan. Bayangkan, dalam satu rumah yang tidak layak huni ditempati banyak orang. Peluang untuk terjadi incest sangat tinggi. Ada kasus yang baru terungkap setelah sekian lama ditutupi. Korbannya ya si anak perempuan,” tegas perempuan kelahiran 19 Mei 1965 ini.

Ada Istri Hebat “Dibalik” Suami Sukses Perempuan memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam rumah tangga. Demikian diungkapkan Sri Wulandari, Runner Up 3 Ibu Teladan se-Bali 2011 versi Tabloid Tokoh. Di dalam rumah tangga, khususnya ibu, perempuan sangat berperan dalam memajukan pendidikan dan akhlak anak-anak. Karena menyadari perannya sebagai seorang ibu itu pun yang kemudian membuat Wulandari memutuskan mundur dari pekerjaannya setelah 3 tahun bekerja di rumah sakit. Ketika itu anak sulungnya masih kecil, dan harus ada yang mengasuh. “Suami mengatakan kepada saya, nanti kalau anak sudah besar, boleh bekerja lagi sendiri,” ujar istri Rektor Universitas Ngurah Rai, Dr. Drs. Nyoman Sura Adi Tanaya, M.Si. ini. Meski demikian, Wulandari me­ ngatakan peran suami (ayah) tak kalah penting. Karena apapun masalah yang ada dan sebelum memutuskan sesuatu, ia selalu rundingkan dengan suami. Contoh kecil saja, ketika dulu putra sulungnya, Putu Mahardika, S.E., M.Si., MA., Ph.D., hendak memilih jurusan di perguruan tinggi. Mahardika mengatakan kepada ibunya ingin masuk fakultas teknik, alasannya karena teman-

Sri Wulandari

temannya banyak yang masuk ke sana. Wulandari lantas menyampaikannya pada sang suami, dan si anak pun diminta berunding dengan ayahnya. Nyoman Sura menanyakan kepada anaknya, apa yang sebenarnya disenangi.

Kata Mahardika waktu itu, ia ingin jadi guru. Sura Adi mendukung keinginan anaknya tersebut dan mengarahkan jalur yang tepat. “Tapi kalau mau guru jangan sekadar guru biasa, harus menjadi guru besar, ngajarin gurunya pak guru.” Demikian Nyoman Sura menyemangati putranya, yang kini sudah hidup mapan dan menjabat Sekretaris Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya, Malang. Hal yang sama juga diberlakukan kepada kedua anak perempuan mereka, Dr. Ade Maharani Adiandari, S.Sos., M.M., dan Mahayanti Fitri Andari, S.P., M.M. Bagi pasutri ini, koordinasi dalam keluarga sangat penting. Sebagai orangtua, pasutri ini hanya bisa memberikan pendidikan kepada anak-anak sebagai bekal hidup mereka kelak. “Kami hanya menyekolahkan mereka sampai jenjang S2, untuk S3 mereka atas biaya sendiri atau dapat beasiswa,” papar Wulandari. Dalam mendidik anak pun, Wulandari mengatakan saling berbagi peran dengan suami. Karena umumnya, anak akan lebih dekat dan terbuka dengan ibu. Dan, memang harus ada sosok yang disegani, yakni ayah. Kedua peran inilah yang bisa melengkapi satu sama lainnya untuk

KULTURAL DAN STRUKTURAL Upaya untuk mengatasi permasalahan sosial ini, Departemen Sosial terus berusaha untuk mengentaskan keluarga miskin. Pemberian bantuan melalui Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) uang maupun bedah rumah merupakan cara untuk memperbaiki kondisi warga miskin di Indonesia. “Saya berharap perempuanperempuan Indonesia bisa terus meningkatkan kemampuan diri. Banyak peluang di bidang pendidikan maupun karier yang bisa dimanfaatkan untuk menunjukkan aktualisasi perempuan,” ujar Kepala BKKBN periode 19992001 ini. Ia pun mencontohkan Tion-

gkok dengan pola kultural dan struktural untuk meningkatkan peran perempuan. “Saya punya teman perempuan yang pernah menjadi anggota Politbiro Tiongkok. Dia berhasil memperjuangkan agar di tiap struktur pimpinan daerah ada perempuan. Strukturnya juga berjenjang, misalnya di tingkat kabupaten ada, di tingkat gubernur ada. Ini membuka peluang bagi perempuan untuk menunjukkan kemampuannya. Perempuan bisa menjadi pemimpin,” kata mantan Wakil Ketua DPR RI ini. Usai diskusi dengan tim redaksi Kelompok Media Bali Post, Khofifah menandatangani prasasti Ajeg Bali serta menerima kenangkenangan berupa karikatur dirinya. –Ngurah Budi

Khofifah menandatangani prasasti Ajeg Bali

bersama-sama mengayomi anak. Selain itu, kedisiplinan merupakan satu hal yang sangat menentukan keberhasilan anak ke depannya. Itu pula yang telah dilakoni Wulandari kepada putra-putrinya. Disiplin waktu mulai ia terapkan sejak mereka bayi. Ada jam-jam khusus untuk makan, disusui, tidur, dll. Kebiasaan itu pun berlanjut, dan saat duduk di kelas 4 mereka sudah bisa mandiri, disiplin mengatur waktu sampai mengatur uang sakunya sendiri. Untuk pendidikan tinggi baik jenjang S1, S2, maupun S3, pasutri ini sengaja mengarahkan kuliah di luar Bali, agar mereka bisa belajar mandiri dan wawasan semakin luas. Sebagai istri, peran perempuan juga tak bisa dipandang sebelah mata. Kata orang, di balik kesuksesan suami, ada istri yang hebat. Hal itu memang betul adanya. Bayangkan saja jika seorang suami sebagai pencari nafkah utama juga harus mengurusi sampai hal-hal kecil dalam rumah tangga. Sebagai istri, Wulandari juga kerap mengontrol keuangan suami. “Bukannya tak senang jika ada uang lebih. Namun, semuanya harus jelas dan halal. Jangan sampai seperti yang banyak terjadi sekarang ini, pensiun masuk penjara. Saya sangat hati-hati tentang hal itu,” ucap Wulandari yang kini disibukkan mengelola Padma Indah Ashram Lestari di Catur, Kintamani. REVOLUSI MENTAL Peran perempuan masa kini sangat kompleks. Selain sebagai ibu dan istri dalam rumah tangga, perempuan dalam kehidupan sosialnya banyak yang terlibat da-

lam organisasi atau suatu kepemimpinan. Tentunya ini akan memberikan warna berbeda. Ada nuansa yang lebih mekar, lebih indah, ada pandangan-pandangan berbeda, dengan gagasan-gagasan yang lebih kompleks, dari pengalaman perempuan dalam berorganisasi dan dalam rumah tangga. Lalu seperti apa seharusnya perempuan masa kini di era modern menurut pendapat perempuan perusia 64 tahun yang kini sudah mulai mengurangi kegiatannya dalam TP PKK Provinsi, YKI Provinsi, BK3S ini dan menekuni spiritual ini ? Perempuan di zaman globalisasi ini ada sisi bagusnya, salah satunya sudah menyadari pentingnya pendidikan yang tinggi dan memberikan kebebasan memilih bagi anak-anaknya. Namun di sisi lain, Wulandari mengaku miris melihat banyaknya anak-anak muda khususnya perempuan yang dengan santainya menggunakan celana super pendek, jalan-jalan di mal. Ini ditegaskan Wulandari, adalah peran ibu untuk menasihati dan memberikan contoh yang baik bagi putrinya, karena umumnya anak lebih dekat dengan ibu, tanpa mengesampingkan peran ayah juga. “Revolusi mental memang perlu diberikan di RT dan di luar,” ujarnya. Kebangkitan perempuan di era sekarang ini dikatakan Wulandari tak terlepas dari jasa pahlawan RA Kartini yang telah mengeluarkan perempuan dari belenggu. Ketokohan Kartini dan pahlawan lain pun kerap ditanamkan Wulandari kepada anak-anaknya. –Inten Indrawati


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 845 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu