Skip to main content

Tokoh Edisi 838 | Tokoh

Page 1

24

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015


2

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Ekspresso

DAri daPUr Redaksi

Anak Cermin Didikan Orangtua

Masa anak-anak adalah masa mereka menyerap semua hal. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan masuk dalam memori. Anak-anak ibarat spon yang bisa menyerap apa saja yang ia lihat, ia dengar, terutama sekali lagi yang anak rasakan (perasaan). Contoh perilaku orangtua, contoh dari televisi, contoh perilaku teman sebaya berimbas secara langsung atau tidak langsung pada perilaku dan mental anak. Sebelum anak terjerumus ke hal-hal negatif, marilah buka tangan kita untuk memeluk anak-anak. Lakukan pendekatan dengan anak dengan sentuhan lembut, kata-kata lembut yang memotivasi yang dilandasi oleh cinta. Bagaimana kita akan mampu memberi kelembutan diri kita pada anak kita, bila jiwa kita tidak kita cintai, diri kita tidak kita cintai, diri kita kurang percaya diri? Jelas ini semua akan menjadi pertanyaan aktif dari diri kita masing-masing sebagai orangtua. Apakah kita biasa melakukan pelukan pada pasangan dan anak kita? Memuji pasangan

dan anak kita? Apakah kita cukup konsisten menegakkan pujian bila anak benar? Menyatakan ketidaksetujuan dengan lemah lembut bila anak memberontak? Mendidik anak tetap menjadi tugas orangtua. Bila ada orangtua yang mengatakan anaknya bermasalah, harus ada penggalian informasi peristiwa apa saja yang ada dalam relasi orangtua dan anak. Biasanya anak merupakan cerminan gaya didik

Mi Telo

Kalau mendapatkan makanan, perhatikan dengan baik petunjuk atau cara makannya. Jangan sembarangan saja. Hal ini bisa membuat kita kecewa atau kita konyol. Ini pengalaman yang aku alami minggu lalu. Malam hari, pulang dari kantor, perutku lapar tapi mata me­ngantuk. Antara lapar dan ngantuk ini membuatku memilih makan makanan yang praktis. Makan bisa cepat, setelah itu tidur. Aku mencari sesuatu untuk dimakan. Akhirnya aku menemukan dua bungkus mi telo. Mi ini oleh-oleh temanku yang berlibur ke Malang. Langsung saja aku buka dan kumakan. Baru masuk mulut, kok terasa aneh. Mi terasa keras, tak seperti mi yang sering dibeli anakku di warung. Aku berpikir, mungkin ini rasa permulaan dan belum

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

isi bumbu. Aku buka lagi mi telo itu untuk mencari bumbu yang mungkin terselip di bagian bawah. Ternyata tak ada bumbu. Aku pun mulai merasa aneh dengan mi ini. Aku lalu membaca petunjuk di kemasan. “Oh my God… ada petunjuk cara memasaknya. Ternyata ini bukan mi yang langsung bisa dimakan. Mi telo ini harus diolah dengan bumbu dapur,” ujarku menggumam sendirian. Mi yang sudah kubuka ini, aku ikat lagi dan masukkan dalam kulkas. Aku pun masuk ka-

orangtuanya. Anak yang percaya diri dan penuh cinta mendapat cinta sepadan dari para orangtuanya. Senandung melalui bahasa-bahasa lembut tentang cerita-cerita penyemangat atau motivasi bagi anak agar ia tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah. Misalnya, ada orangtua yang memiliki anak cacat. Anak ini tergolong rentan dibullying. Orangtua harus bisa menjadi motivator, kecacatan terberi, maka kita bisa mengajarkan anak untuk menerima kelemahan dirinya, bahwa memang dirinya berbeda secara fisik dengan temantemannya, namun nyatakan pada anak, mereka sangat istimewa di hadapan orangtua, mereka memiliki cinta seperti Anda, ajarkan rasa syukur pada kondisi apapun. Edisi kali ini kami sajikan tentang bullying yang menimpa anak-anak. Semoga yang kami sampaikan bisa menjadi bekal bagi para orangtua dalam melindungi anaknya. Anak bisa menjadi pelaku ataupun korban bullying. Banyak faktor penyebabnya. Namun, yang paling penting adalah orangtua harus memahami anak. mar untuk tidur sambil menertawakan diri sendiri. Keesokan harinya, istriku melihat mi telo dalam kulkas. Tetapi, ia tak menyentuh mi itu. Sepertinya ia tahu, mi itu milikku sehingga tak diutak-atik. Dua hari kemudian aku pun berinisitif untuk mengolah mi telo itu menjadi sarapan untuk anak-anak. Bumbu dapur aku persiapkan dan dalam tempo singkat, mi warna ungu ini tersaji di meja makan. Sembari sarapan, aku ceritakan pengalamanku dengan mi telo. Istri dan anak-anakku tertawa terpingkal-pingkal. Sampai berangkat sekolah pun mereka masih tertawa mendengar ceritaku. Yudi W., Dalung

GORO-GORO

denpasar

“Denpasar berulang tahun. Untuk itu digelar berbagai kegiatan sebagai peringatan sudah berPutu Wijaya tambahnya usia,” kata seorang warga. “Maknanya, bukan sekadar hura-hura, tetapi untuk tujuan introspeksi. Warga harus menyadari apa yang sudah dia berikan kepada kota ‘tumpah darahnya’, serta juga pemerintah lebih paham lagi terhadap apa yang belum sempat/gagal dilakukannya. Bukan begitu, Pak Amat?” Amat mengangguk, membenarkan, lalu menambahkan. “Ya, betul. Itulah sebabnya kita mengadakan perhelatan-pergelatan ulang tahun. Setelah melangkah 365/366 hari ke depan, kita wajib membuat evaluasi, apakah kita sudah lebih maju, dekat ke tujuan? Atau hanya berjalan di tempat? Atau malah mundur?” “Ketiga-tiganya, sama gunanya, Pak,” kata Bu Amat di rumah, ketika Amat menceritakan pertemuan itu. Amat heran. “Sama bagaimana?” “Ya! Maju, mundur atau jalan di tempat itu sama!” “Ah, ngarang, tidak bisa sama, dong! Maju itu ke depan, mundur berarti atret ke belakang. Dan, jalan di tempat itu berarti gali lubang! Tambah usia, kita harus lebih maju ke depan! Itu dia makna peringatan HUT, sehingga biaya yang dikeluarkan pemkot tidak mubasir! Karena baik warga, maupun pemerintah akan selalu berjuang melangkah ke depan, karena anjlok di tempat atau atret itu memalukan!” Bu Amat tak setuju. Tapi ia tidak ingin berdebat. Ia hanya menjawab: “Kuno!” Tapi Amat tersiksa oleh. Jawaban itu. “Masak Bapak dicap kuno oleh ibu kamu, Ami,” curhat Amat mengadu kepada Ami. Tapi sebaliknya dari membela bapaknya, Ami mendukung ibunya. “Menurut Ami, Ibu betul. Bapak kuno!” Amat kaget. “Kuno?! Apanya kuno? Di mananya kuno? Bapak justru berpikir positif. Bertambah usia, kita harus menambah tinggi pencapaian! Orang berhitung itu dari satu ke sepuluh! Bukan sebaliknya! Tidak ada orang ngitung dari sepuluh ke satu! Kamu kan pernah belajar matematika, Ami!” “Itu dia! Bangun rumah boleh ngitung dengan matematika, bangun kemajuan ngitung-nya dari sini!” jawab Ami menunjuk dadanya. Amat tidak setuju. Dengan digondeli dongkol ia balik ke rumah. Depan rumah Pak Made, ia disapa. “Pak Amat, tahu tidak, masak ada yang merayakan HUT Denpasar dengan menerbitkan buku kumpulan cerpen dari 25 orang pengarang yang akan dapat honor masing- masing 1,5 juta. Itu saja sudah lebih dari 35 juta. Belum ongkos cetak dan tetek bengek, bisa 50 jutaan amblas dari kantong pemkot. Kan dana itu akan lebih konkrit, realistik dan bermanfaat dipergunakan untuk lain-lain pembangunan yang kebih penting dan jelas. Untuk taman kota atau perbaikan saluran air misalnya. Atau, membantu warga miskin, agar memantapkan pembangunan? Ya, kan, Pak?” Entah kenapa Amat menjawab yakin: “Penerbitkan kumpulan cerpen Denpasar dapat memberikan masukan kepada pembaca, bahwa cerpen bukan hanya pelipur lara, tetapi utamanya perenungan, kesaksian, opini dan upaya melhat segala sesuatu, termasuk pembangunan Denpasar, dari sudut pandang baru, untuk membuat warga dan pemerintah mendapat pasokan pengalaman batin, sehingga menjadi kritis, ngeh dan bijak!”

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Lembah Bongok

23

Potensi Tuban yang belum Dilirik Kabupaten Tuban, Jawa Timur memiliki potensi alam yang menakjubkan. Kabupaten Tuban lebih dikenal masyarakat sebagai daerah tujuan wisata religi. Bahkan, keberadaan sejumlah makam ulama besar penyebar agama Islam, membuat Tuban diberi julukan ‘Bumi Wali’.

T

uban memiliki ratusan goa dengan berbagai model dengan bentuk stalakmit dan stalaktit yang memesona bagi yang melihatnya. Goa itu diantaranya Goa Akbar yang terletak di tengah kota serta Goa Putri Asih, di Desa Goa Terus, Kecamatan Montong. Ada juga Lembah Bongok di Desa Jetak, Kecamatan Montong. Lembah Bongok selain menyimpan pesona alami juga memiliki makam keramat yang dikenal dengan sebutan Mbah Singonegoro. Lembah Bongok memiliki

tujuh air terjun dan dua danau. Lembah Bongok dikelilingi hutan dan pegunungan, sehingga menambah keasrian lembah. Bagi wisatawan yang menghabiskan waktunya di Tuban, tak ada salahnya jika menyempatkan diri untuk bersantai di air terjun Lembah Bongok. Suasananya sangat segar, sebab masih alami dan belum banyak diketahui orang. Lembah Bongok berada di tengah hutan jati di wilayah perbukitan kapur. Lokasinya, 30 kilometer dari pusat kota. Belum banyak yang mengetahuinya. Bahkan, masyarakat Tuban sendiri. Sebab, selain di tengah hutan,

untuk menjangkau hingga lokasi juga belum ada kendaraan umum yang melintas di daerah perbukitan itu. “Saya hanya dengar sumber Bongok. Saya belum pernah ke sana, dimana letaknya,” ungkap salah seorang mahasiswa di Tuban, Edy Purnama. Belum lama ini, sejumlah wartawan di Tuban ber‘gowes’ ke Lembah Bongok. Meski melalui jalan yang terjal rombongan kuli tinta itu sampai di Lembah Bongok. Meski terasa dingin para wartawan itu betah melepas penat sambil mengguyur tubuhnya di air terjun dengan pandangan

Lilin Pemberi Berkah

Perayaan Imlek atau tahun baru Tionghoa ternyata membawa berkah tersendiri bagi ibu-ibu yang ada di kompleks Perumahan Pakunden, Tanjungsari, Kota Blitar, Jawa Timur. Usaha pembuatan lilin mereka jadi laris manis. Banyak warga Tionghoa yang memesan pernak-pernik untuk keperluan perayaan Imlek. Mulai dari lilin penerangan ruangan, lilin pembakaran hio, dan lilin pribadi. Lilin yang ada nama pemesannya yang akan dinyalakan sendiri pada saat perayaan imlek. “Lilin yang saya buat ini bentuknya kecil-kecil. Kalau dinyalakan terus, semalam sudah habis,” ujar Ningrum, salah satu pembuat lilin. Ibu-ibu yang ada di Perumahan Pakunden ini membentuk kelompok yang diberi nama Pijar Emas. Anggotanya ada 12 orang dan satu ketua kelompok. Mereka bekerjasama dalam peng-

Ningrum

garapan order. Tiap order harus masuk ke dalam kelompok. Penggarapannya dibagi rata. Setelah selesai, barang dikumpulkan menjadi satu, untuk diserahkan kepada pemesan barang. Hasil penjualan dibagi rata sesuai dengan perolehan barang. “Pokoknya penggarapan order

Ibu-ibu membuat lilin

harus sama-sama. Tidak boleh slintutan terus main sendirisendiri,” kata wanita berjilbab ini dengan tegas. Dalam sehari, kelompok Pijar Emas ini rata-rata menghabiskan 20-30 kilogram bahan baku lilin. Dari jumlah produksi tersebut, rata-rata anggota mendapatkan penghasilan antara Rp 600 ribu hingga Rp 750 ribu per bulan. Pada perayaan Imlek atau Natal, pesanan bisa naik dua kali lipat. Antara 40 hingga 75 kilogram bahan baku habis. Penghasilan pun dua kali lipat hari biasa karena jumlah pesanan barang juga meningkat. Apalagi ada pesanan dari pengusaha yang dikrim ke sejumlah klenteng. Usaha pembuatan lilin ini, kata Ningrum tidaklah sulit. Mudah dan ringan. Bahkan, modalnya juga kecil. Yang diperlukan hanya telaten dan memiliki kreasi. Agar tidak monoton. Sebelum menjadi lilin siap jual, bahan dasar lilin dicairkan, diaduk dengan klasin dan pewarna khusus lilin di dalam panci di atas kompor. Setelah diaduk rata, cairan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan yang terbuat dari bahan logam yang sudah diberi benang rami untuk sumbunya. Setelah itu lilin dibiarkan hingga mengeras. “Kalau prosesnya sih tidak lama. Paling sekitar 2-4 jam sudah beku. Tergantung besar kecilnya ukuran,” tutur Ningrum yang sudah 5 tahun menggeluti usaha lilin ini. -Khoirul

perbukitan yang memesona itu. “Ternyata pesona Lembah Bongok sangat mempesona. Saya tidak mengira wilayah desa ini menyimpan pesona yang luar biasa,” ungkap Dion Fajar, salah seorang wartawan yang baru pertama kali itu datang di Bongok. Meski akses ke lokasi harus melalu jalan terjal, namun, kendaraan roda dua masih bisa sampai di lokasi. Tapiu, untuk kendaraan

roda empat harus berhenti di atas bukit dan harus jalan kaki sekitar 1 km untuk sampai di lokasi Lembah Bongok. “Sayang, Lembah Bongok masih belum dilirik para pengambil keputusan di Tuban untuk dijadikan salah satu obyek wisata. Jika ini dipoles, utamanya jalan masuk, lokasi ini akan mejadi obyek wisata yang indah,” sela Rahman, wartawan lainnya. -Oso


22

Sosialita

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

Indonesia Fashion Week 2015

Wignyo Rahadi dan para model yang membawakan karyanya di IFW 2015

P

erhelatan yang telah digelar untuk yang keempat kalinya ini, lebih besar dan megah. Karya-karya yang dipamerkan pun jauh lebih banyak. Tahun ini jumlah desainer yang ikut berpartisipasi mencapai 230 orang dengan jumlah karya yang dipamerkan 2.522 item yang terdiri dari busana perempuan, laki-laki, anak-anak juga busana muslim, dan produk tekstil lainnya serta aksesoris. Peningkatan yang cukup signifikan ini menandakan industri mode Indonesia yang terus berkembang. Menurut Menteri Perindustrian, Saleh Husein, industri fashion Indonesia telah melesat menjadi salah satu primadona subsektor industri kreatif, bahkan sektor ekonomi kreatif telah memberi kontribusi yang signifikan bagi PDB (produk domestic bruto) Indonesia. “Sektor ekonomi kreatif

memberi kontribusi sebesar Rp 641,8 triliun bagi PDB kita. Dari jumlah itu, sektor fashion menyumbang 28,29% atau setara dengan Rp181,5 triliun. Ini merupakan yang terbesar kedua setelah kuliner yang menyumbang Rp208,6 triliun,” ucap Saleh Husein saat pembukaan IFW 2015. Potensi besar di sektor ini harus terus ditingkatkan dengan cara terus melakukan inovasi guna menggenjot daya saing. “Inovasi adalah kunci yang harus kita pegang untuk bisa tetap bertahan. Inovasi membutuhkan kesabaran dan pengertian atau pemahaman. Dengan inovasi, kita akan tumbuh berkembang dan menjadi kuat. Inovasi juga akan menjamin keberlanjutan usaha kita, yang tentunya tak lepas dari berbagai faktor seperti lingkungan social dan ekonomi,” papar Saleh Husein. Event akbar yang diikuti oleh para desainer ternama dari dalam dan luar

negeri, selain menampilkan kreasikreasi terbaru yang jumlahnya mencapai 2000 item lebih, juga mengangkat produk-produk fesyen unggulan daerah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah karya desainer senior, Poppy Dharsono yang menampilkan rancangannya dalam tenun endek dan songket Bali. Di tangan Poppy, kain tradisional asal Pulau Dewata itu diubah menjadi kreasi-kreasi yang indah. ‘Redefining Bali Heritage’ , begitulah Poppy memberi judul koleksinya kali ini. Lewat Poppy, kain endek diubah menjadi minidress yang menawan, celana panjang dan outer bertabur payet. Untuk padanan, Poppy membuat atasan yang sederhana dengan warna senada. Kreasi lain dari tenun endek adalah jaket yang dipadu dengan sifon dan tank top berwarna senada ditambah payet di beberapa bagian. Kain tradisional berbagai daerah memang sejak lama menjadi perhatian wanita cantik ini, bahkan saat ia memulai debutnya di dunia fashion. Menurutnya, warisan budaya Indonesia, terutama kain-kain tradisional sangat penting untuk dilestarikan. “Saya sangat mencintai kain khas Indonesia mulai dari songket Sumatera, ikat Lombok, tenun Sumba, serta Batik. Selama lima tahun saya mengekspos Jawa Tengah, kini perhatian saya sedang fokus pada kain endek Bali. Pengrajin kain, terutama dari Gianyar banyak memberi saya inspirasi dalam mendesain,” ungkap Poppy tentang karyanya. Terkait potensi industri fashion tanah air, desainer yang berkiprah di dunia mode sejak tahun 1970-an ini mengatakan, pemerintah perlu memberi dukungan lebih pada industri kreatif seperti ini. Indonesia, memiliki memiliki potensi yang besar di industry ini. “Masih dibutuhkan sekitar 10 tahun lagi untuk bisa mewujudkan Indonesia sebagai salah satu capital fashion di Asia. Dengan begitu setiap desainer bisa menyiapkan detail dan segala sesuatunya sesuai standar serta kebutuhan pasar dunia,” ujarnya. –Diana Runtu

Desainer Muda Unjuk Kebolehan Selain para desainer berpengalaman, ajang ini juga memberi ruang bagi desainer-desainer muda berbakat. Lewat kompetisi ‘Indonesia Dashion Design’ para desainer muda ini saling unjuk kebolehan. Sekitar 600 orang terdaftar dalam kompetisi ini, yang kemudian disaring hingga menjadi 10 karya terbaik. Menurut

Taruna K. Kusmayadi, Ketua Tim Juri, mereka sempat kesulitan dalam memilih menjadi 30 karya kemudian 10 karya yang bakal tampil di panggung Indonesia Fashion Week 2015. Tahun ini, Indonesia Fashion Design mengusung tema warna copper orange atau oranye kecoklatan. Dari semua karya, akhirnya dipilih tiga desainer dengan karya terbaik dan satu desainer dengan karya terfavorit. Juara pertama diraih oleh Andhika Lukas yang mengusung tema The Tappis Alliance. Atas prestasinya, Andhika berhak atas hadiah Rp 15 juta serta berkesempatan mengunjungi Hong Kong Fashion Week. Ia juga mendapat beasiswa 10 bulan dari Koefia International Academy di Roma. Karya Andhika dianggap memiliki potensi komersial yang tinggi. Paduan warna yang digunakan cukup unik, ia mengombinasikan oranye kecoklatan dengan abu-abu dan biru. Kreativitas dan keunggulannya dalam mengombinasi warna mendapat nilai tertinggi dibanding peserta lainnya. Andhika sendiri mengaku, inspirasi dalam membuat busana justru didapatnya dari tema warna yang menurutnya penuh semangat dan hangat. Untuk konsep, ia menggunakan konsep urban style dan sedikit unsur sportif. “Dari situ saya bisa memadukan warna biru, abu-abu, dan turunan copper orange. Kombinasi monochrome, turunan dari hitam ke putih,” ucapnya. Selain Andhika, pemenang kompetisi lainnya adalah Avridya Keumala juara kedua, Alyza Bachmid dengan tema Futuristic Caustic juara ketiga, dan Andreas Wen yang mengusung tema Rhythm Ritual meraih juara favorit. –Diana Runtu

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

3

Be a Green Milyarder

Tenun Endek dan Songket Bali dalam ‘Redefining Bali Heritage’ Perhelatan mode terbesar yang paling dinanti-nanti para pencinta mode, Indonesia Fashion Week (IFW) digelar di Jakarta Convention Center, Senayan, 26 Februari-1 Maret. Para pengunjung yang datang dari berbagai kalangan ini, tampak antusias mendatangi berbagai stand yang ada di area pameran yang cukup luas. Bagi yang gemar pakaian, sepatu, tas, dan aneka aksesoris lainnya, maka ajang ini adalah tempatnya untuk ‘berburu’.

swati Ni Made Ayu Dewi Sara

Sejuta Warna Rotary Rotary Bali mengundang masyarakat beramai-ramai umtuk bergabung dan bersama-sama beraktivitas serta menyatukan diri dalam usaha pengabdian bertema “Nyalakan Lilin Rotary”, Minggu (1/3) di Lapangan Renon, Denpasar. Acara akan dibuka Gubernur Bali didampingi District Gubernur Rotary D3420, Hanny Arianto. Setelah pelepasan merpati dan balon berwarna-warni 17 President Club Rotary se-Bali, acara dimulai dengan “Colour Zumba”. “Sekitar 2000 orang mengenakan kostum pelangi melakukan senam aerobik bersama mengikuti hentakan musik zumba,” ujar PP Ngakan Made Winaya, Wakil Ketua Rotary Family Day didampingi DAD Julia Rivai, dan PP Alit Suanta. Selain itu, ada juga lomba selfie dengan tema sejuta warna rotary. Tema ini dipilih untuk menginspirasi kaum muda untuk peduli pada sesama. Ada juga aksi donor darah kerja sama dengan PMI Bali. Pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan reproduksi wanita dan papsmear gratis juga diberikan dokter dan tim kesehatan klinik mobil keliling WHMC milik Rotary. Tak ketinggalan arena permainan jumping castle serta berbagai lomba, menggambar, mewarnai, dan lomba face painting untuk ayah, ibu, dan anak. Berbagai hadiah seperti sepeda motor, sepeda gunung, televisi, dan jutaan hadiah uang tunai dari sponsor tersedia untuk memeriahkan suasana. -Wirati Astiti

Anda bingung memilih jenis investasi yang akan berkembang di masa mendatang dan berkelanjutan? Solusinya adalah investasi jabon. Karena, kebutuhan bahan baku kayu selalu lebih tinggi dari ketersediannya. Harga kayu selalu meningkat setiap tahunnya. Dengan menanam pohon, kita dapat berkontribusi dalam melestarikan alam sembari berkebun uang. “Kini saatnya memiliki hutan uang bermerek Jabon,” ujar Ni Made Ayu Dewi Saraswati, Direktur Marketing PT Sri Farm.

A

pa itu Jabon? Jabon yang dalam bahasa latin Anthocephalus Cadamba merupakan jenis kayu daun lebar ringan dengan sifat kayu keras, berwarna putih, krem hingga kekuningan. Jenis pohon ini, pada usia 5 sampai 6 tahun mempunyai lingkar batang sebesar 40-50 cm dengan bebas cabang mencapai 60% dari tinggi pohon. Sehingga, tanaman jabon dapat dipanen saat usia tersebut. Jabon (jati bongsor) merupakan salah satu jenis kayu/pohon yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis. Keunggulan tanaman jabon dapat diuraikan dari beberapa kriteria, di antaranya: daunnya tidak disukai ternak, sehingga tak perlu khawatir terjadi pencurian daun; daun jabon akan rontok sendiri, itu akan membuat kayu jabon lurus rata ke atas tak ada benjolan; tidak dihinggapi tumor karat. Kayu jabon juga lebih banyak manfaatnya dibandingkan kayu sengon, lebih banyak diserap oleh industri, seperti kayu lapis, industri mebel, tripleks, pulp, papan, produsen peti buah, alas sepatu, mainan anak-anak, dan korek api. Perawatan lebih mudah karena dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, seperti tanah liat, tanah lempug, maupun tanah berbatu, pertumbuhan lebih cepat dan siap panen di umur 4 tahun atau 5 tahun. “Pertumbuhan pohon jabon sangat cepat bila dibandingkan dengan jenis kayu keras lainnya,” tegas Ayu Dewi. Ia tertarik untuk menjadi market-

ing hutan jabon di Sri Farm ini karena ia menilai produk ini ramah lingkungan. Selain itu, kayu jabon banyak sekali pembelinya. “Jadi, berapa pun ada kayu jabon dan ribuan pohon yang siap panen, tak perlu khawatir, semua pasti terserap. Perusahaan (PT Sri Farm) menjamin kayu hasil panen pasti laku, karena perusahaan sudah melakukan kontrak dengan pabrik kayu di Sulawesi dan Jawa,” yakinnya. Dan, yang paling menarik baginya adalah lahan ini ada di Sulawesi. Karena ternyata Sulawesi itu dekat dan tanahnya sangat subur. “Tanah milik Sri Farm sudah dicek oleh ahlinya bahwa kadar dari tingkat kesuburannya tinggi, sehingga kayu jabon yang kita tanam dipastikan bisa tumbuh subur, hasil panen kita pasti sukses, dan investasi Anda pasti kembali berlipat ganda. Be a Green Milyarder,” tegasnya. Hal ini disetujui Nengah Tantrawan asal Tabanan, Bali, yang sudah membeli hutan jabon Sri Farm. “Saya sudah datang dan melihat sendiri ke lokasi lahan Sri Farm di Sulawesi. Tempatnya bagus, tanahnya subur, ketebalan tanahnya bagus,” ucapnya. Hal senada disampaikan Putu Arta Susila (Tabanan, Bali). “Lokasinya sangat bagus, saya tertarik sekali dan saya datang ke lokasi bersama anak saya. Saya berharap anak saya dapat melanjutkan investasi di Sri Farm,” ujarnya. I Made Tama asal Karangasem, Bali juga mengiyakannya. “Saya datang dan melihat sendiri ke Mamuju, Sulawesi Barat. Saya pikir inilah bisnis yang akan menunjang

masa depan saya di bidang perkebunan, selain juga ada misi menghijaukan alam. Bagi saya ini akan menjadi bisnis masa depan dan warisan yang baik bagi anak cucu kita,” imbuhnya. Apakah harus datang ke Sulawesi dulu baru beli? Demikian pertanyaan yang kerapkali muncul dari calon investor. Ayu Dewi menegaskan, boleh saja tidak ke sana, karena Sri Farm memiliki video-video dokumenter terkait lahan jabon di Sulawesi dan perkembangannya tahap demi tahap, yang sampai saat ini sudah terjual 60 hektar hutan jabon. “Kalaupun calon investor ingin mengecek lokasi,

disilakan. Tanda minat minimal Rp 5 juta per hektare. Sebelum deal, investor diajak mengecek lokasinya. Jika deal, biaya akomodasi ditanggung perusahaan. Jika tidak deal, biaya akomodasi dipotong dari biaya tanda minat,” jelasnya. Investor lain yang sudah bergabung di bisnis hutan jabon ini juga memberikan testimonial. Made Sueta (Tabanan, Bali): ”Dulunya saya bekerja di kapal pesiar, sekarang saya berinvestasi di Sri Farm karena bagi saya bisnis perkebunan jabon ini sangat menguntungkan daripada saya menyimpan di bank. I Wayan

Suladra (Jembrana, Bali): “Investasi ini sangat menjanjikan, karena perusahaan menjamin. Saya berharap sekali akan ada kelanjutan kerjasama ini berkesinambungan”. Wayan Metra (Cilacap, Jawa Tengah): “Saya tahu informasi tentang investasi jabon Sri Farm melalui televisi. Saya sangat tertarik. Saya pikir investasi jabon ini sangat realistis mengingat kebutuhan akan kayu sangat tinggi. Saya langsung bergabung untuk menanamkan modal saya di Sri Farm. Bagi rekanrekan mari membantu pemerintah untuk menghijaukan bumi ini, go green…”

Adopsi Konsep TRI HITA KARANA

Sri Farm adalah perusahaan yang fokus di bidang penanaman kayu atau hutan jabon. Usaha ini didirikan dari perhatian yang tinggi dari para pendirinya terhadap pelestarian alam dan pemberdayaannya yang dapat memberikan nilai ekonomis tinggi. Tanah-tanah yang kurang produktif dicoba ditanami bibit jabon yang dikembangkan dengan cara pemuliaan tanaman, sehingga kualitasnya menjadi lebih baik. Bekerjasama dengan tenaga-tenaga kehutanan lapangan, dilakukan perawatan yang tekun bersama para penduduk sekitar dengan merumuskan pupuk-pupuk yang cocok bagi tanaman yang dikelola. Hasilnya sangat luar biasa. Tanaman tersebut tidak saja tinggi kualitasnya, tingkat kegagalannya juga kecil, dan nilai jualnya sangat tinggi, yang tentunya dapat memberikan kesejahteraan bagi pemiliknya, sekaligus bisa menghidupi masyarakat sekitar. Sri Farm terus meningkatkan penelitian dengan perusahaan bibit terpercaya. Saat ini Sri Farm telah mengelola lebih dari 1.500 hektare hutan jabon di Sulawesi Barat, dan tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan juga di daerah lain di Indonesia. Sri Farm bukan perusahaan investasi, tetapi pengelola hutan tanaman rakyat yang dapat membantu individu meraih keuntungan ekonomis dari program pengembangan lahan menggunakan pola aforestasi dan pembagian hasil pada saat panen nantinya. Sri Farm megadopsi konsep Tri Hita Karana yaitu recovery dan pelestarian alam sebagai wujud bakti terhadap ciptaan Tuhan, pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan hutan tanaman rakyat yang berkelanjutan, sehingga memberikan benefit ekonomi yang besar. PAKET JABON Ayu Dewi menjelaskan, ada beberapa paket jabon yang bisa dipilih. Paket Sri Cadamba misalnya. Dalam satu paket jabon ini, investor mendapatkan lahan seluas 1 hektare (Sertifikat Hak Milik atas nama sendiri), legalitasnya terjamin melalui proses notaris di Bali dan di Sulawesi; dan 800 bibit pohon jabon yang bisa dipanen dua kali dalam 10 tahun. “Ini sudah include biaya perawatan sampai panen (penanaman, pemupukan, obat antihama). Setelah panen,Sri Farm yang memasarkannya. Pembagian hasil panen 70% untuk investor, dengan estimasi potensi hasil Rp 582.400.00 per panen (5 tahun), atau Rp 1.164.800.00 untuk dua kali panen dalam 10 tahun,” paparnya. Harga normal untuk Paket Sri Cadamba ini ditawarkan Rp 225 juta. Untuk early bird Rp 185 juta, dan cash keras Rp 180 juta. Pembelian paket ini pun bisa dicicil 6x @Rp 21.583.333,33 atau dicicil 12x @ Rp10.791.666,67, dengan DP Rp 55.500.000,00. “Kami

juga memberi peluang bagi yang ingin menjadi agen di daerah. Syaratnya sudah bergabung di Sri Farm minimal 1 hektare. Keuntungan jadi agen mendapatkan fee marketing,” ucap Ayu Dewi. Sebagai bentuk rasa syukur dan menandai dibukanya secara resmi PT Sri Farm, pada tanggal 7 Maret 2015 nanti, PT Sri Farm akan melaksanakan launching, bertempat di Griya Agung Ballroom Sanur Plaza Paradise Hotel. Undangan yang berhadiah tirtayatra, perhiasan emas, lemari es, televisi, dll., dapat diambil di Pameran Sri Farm lantai 1 Matahari Duta Plaza, Jln. Dewi Sartika Denpasar, di Mall Bali Galeria, Jln. By Pass I Gusti Ngurah Rai, Simpang Dewa Ruci, dan di Kantor PT Sri Farm, Jalan Tukad Batanghari No. 9 Denpasar, tlp. 0361-8955872, 085337496688, 087861999658. www.srifarm.com. –ten


4

Inspirasi

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Gede Bagus

Rilis Album Album

“Tak Semestinya” Semestinya” Musik tidak bisa dilepas dari kehidupan kita di dunia. Dalam kehidupan, alunan musik dalam berbagai genre sudah menjadi hiburan bagi masyarakat. Begitu juga musisi khususnya di Bali yang mengeluarkan single maupun album dengan alunan musik yang enak didengar oleh masyarakat.

Gede Bagus

D

engan alunan musik yang lembut, keras dan alunan kata-kata dalam lagu menjadikan lagu dari musisi Bali menjadi kuat melekat di hati masyarakat, baik dalam berbahasa bali maupun berbahasa Indonesia. Begitu juga lagu yang menceritakan tentang kehidupan musisi maupun orang lain yang menjadi realita kehidupan. Seperti halnya Gede Bagus Perdana Putra, merupakan seorang musisi muda yang sudah berkecimpung dalam dunia musik sejak berumur 12 tahun. Alunan musik yang membangkitkan semangat dan memiliki makna yang dalam di setiap singlenya itu merupakan ciri khas dari Gede Bagus. Membuat pendengarnya menjadi terhanyut untuk ikut bernyanyi dalam alunan musiknya. Pada tahun ini, Gede Bagus Perdana Putra atau biasa dipanggil Gede Bagus sudah mengeluarkan single ketiganya yang berjudul “ Tak Semestinya”. “Menunggu albumnya selesai dirilis, saya nyanyikan single-single dari album dulu mengawali debut di dunia

musik di Bali,” ujar Gede Bagus disela-sela kesibukannya. Musisi kelahiran Denpasar 14 April 1991 ini, memulai menjejaki karier di dunia musik sejak SMP. “Waktu masih SMP hanya bermain musik dan tidak ada keinginan untuk tampil ke panggung-panggung. Seiring berjalannya waktu, ketika masuk SMA 7 Denpasar, saya mulai berani bermain dari panggung ke panggung bersama teman-teman,” ujarnya. Perjalanan musik dari panggung ke panggung membuat Gede Bagus sudah menjadi professional dalam bermain musik dan tarik suara. Tidak heran laki-laki asal Banyuatis Buleleng ini, kebanjiran job manggung di segala tempat. Dengan mengasah terus kemahiran dalam bermain musik menjadikannya lebih produktif dalam berkarier. Di atas panggung, dia tanpa ragu menyanyikan lagu maupun single-single terbarunya kepada penggemar maupun pendengar setianya. Setelah lulus dari SMA, Gede Bagus mulai mengembangkan sayapnya di musik. Semangatnya dalam menjajaki musik dan tarik suara, membuat seseorang pemerhati musik nasional melihat kemampuannya. “Pernah diajak bergabung dengan label musik nasional, dan dikontrak beberapa tahun” ujarnya. Pada akhirnya Gede Bagus memilih label musik daerah dalam memproduksi single-singlenya tersebut. Bersama label musik daerah tersebut, Gede Bagus mendap-

atkan bantuan dari semua pihak yang terlibat dalam proses arrasement singlenya tersebut. Singlenya yang terbaru “Tak Semestinya” ini, semoga bisa menjadi lagu yang bisa dikenal dan diingat oleh masyarakat dan menjadikan lagu ini hits di Bali. Roadshow ke desa- desa Memasuki umur yang ke 24 di tahun ini, kegiatan-kegiatan dari Gede Bagus pun semakin banyak. Kegiatannya tidak hanya dilakukan di kafe atau dipanggungpanggung, melainkan melakukan kegiatan outdoor bersama teman satu tim di Seminyak Pro Studio. Kegiatan outdoor tersebut merupakan salah satu cara mengenalkan single-single terbarunya kepada masyarakat luas. Roadshow keliling Bali merupakan kegiatan outdoor Gede Bagus. Roadshow keliling Bali ini selain mengenalkan singlenya ke masyarakat, laki-laki yang tinggal di Desa Kesiman Denpasar, melakukan kegiatan social kemasyarakat khususnya daerah yang dianggap masing kurang diperhatikan oleh Pemerintah. “Kegiatan roadshow ini bukan hanya launching singlenya, melainkan melihat bagaimana keadaan masyarakat, khususnya anak-anak yang berada di desa yang terpencil di setiap kabupaten”, ujarnya sambil menulis. Kegiatannya yang dilaksanakan di daerah terpencil bukan di kota tersebut, membangkitkan jiwa solidaritas dan social dari Gede Bagus. Dalam kegiatan roadshownya tersebut, anak-anak di daerah terpencil di ajak bernyanyi bareng dan mengeluarkan kreatifitasnya dalam bernyanyi maupun bermain musik. Sehingga roadshownya menjadi daya tarik buat masyarakat ikut menonton kegiatannya. “Saya sebagai musisi melihat bagaimana anak-anak sangat gembira dan senang dalam roadshow saya, membuat saya bahagia dan semangat dalam melantunkan single-single saya. Tetapi dalam hati ada keprihatinan kepada anakanak ini, membuat saya tersentuh dan ingin mengajak mereka dalam video klip lagu terbaru saya” ujar Gede Bagus. Anak-anak yang seharusnya belajar di sekolah tetapi memilih untuk bekerja demi keluarganya. Hati seorang musisi pun bergerak dalam memotivasi anak-anak untuk selalu berkreativitas.“ Percuma pemer-

intah mewacanakan sekolah gratis 9 tahun, kalau pada akhirnya daerah-daerah terpencil yang tidak terjamah oleh pemerintah sama sekali tidak mendapatkan bantuan pendidikan seperti itu” tambah Gede Bagus. Kegiatan yang dimulai dari tanggal 14 Februari, sudah semua kabupaten dihibur oleh Gede Bagus. Daerah- daerah yang marjinal seperti Desa Songan tempat asal anak pedagang buah, dan Desa Pedahan Kubu Karangasem tempat desa gepeng yang merantau ke Denpasar. Beberapa daerah marjinal lain di setiap Kabupaten di Bali. Kegiatan roadshow di Pasar Badung merupakan puncak promosi single dari semua roadshownya di tiap Kabupaten. “Ini merupakan special buat saya, soalnya ini berkaitan dengan rangkaian hut Kota Denpasar dan anakanak LAB ( Lentera Anak Bali) ikut dalam rangkaian roadshow, ”tuturnya tersenyum. Anak- anak yang ikut dalam roadshownya tersebut, merupakan anak-anak yang bekerja sebagai buruh tukang suun di

peken badung. Kemudian dilatih untuk menari pendet dan bermain gitar oleh yayasan Lentera Anak Bali (LAB). Anak-anak tersebut akan kolaborasi dengan Gede Bagus dalam rangkaian tur roadshownya. Hal ini yang menarik buat Gede Bagus karena diajak kolaborasi dengan anak-anak tersebut. “ Ini sangat menarik dan buat saya senang kolaborasi, musisi seperti saya melihat anak-anak ini yang semangat untuk menari dan bermain gitar, membangkitkan rasa kebanggaan saya sendiri kepada anak-anak ini”. Keberadaan yayasan LAB di pasar Badung, menjadikan tempat berkreasi dan belajar bagi anakanak yang bekerja di pasar Badung. Anak-anak yang harusnya masih menuntut ilmu disekolah, harus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Sangat ironis buat saya, keberadaan mereka di sini tidak diperhatikan oleh pemerintah, untung ada yayasan LAB yang mengajak mereka”, tuturnya Adapun harapan Gede Bagus kepada anak-anak yang putus sekolah di seluruh Bali dan juga di Peken Badung adalah adanya bantuan yang nyata dari pemerintah untuk daerah-daerah yang terpencil, tidak hanya sekedar wacana semata. Hal-hal yang berkaitan dengan anak-anak yang putus sekolah tersebut harus ada wadah yang mengajak anak-anak untuk berkreasi dalam dunia musik, seni dan kreatifitas yang lain seperti yayasan Lentera Anak Bali ini. Selain harapan kepada anakanak tersebut, harapan dari Gede Bagus kedepan yaitu semua karyanya tetap diterima oleh masyarakat Bali. Selain itu, karyanya tersebut bisa berguna bagi orang lain. Begitu juga perkembangan musisi Bali tidak akan tenggelam oleh zaman akan selalu diingat oleh semua kalangan masyarakat dengan karya. -Jelantik

Mandalika

Kain Tenun NTB

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

21

Semarakkan Pekan Mode Internasional Eksotika Wastra atau kain tenun tradisional khas Nusa Tenggara Barat, yang merupakan kekayaan budaya daerah ini, memang mempesona. Setelah dalam acara Women International Club (WIC) ke-47 tahun 2014 yang digelar November 2014 lalu, tenun NTB mendapat kehormatan dipakai oleh Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo, Ibu Wakil Presiden RI Hj. Mufidah Jusuf Kalla, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, Ketua Dekranasda Jakarta Veronika Basuki Tjahya Purnama, yang didampingi Ketua Dekranasda NTB Hj. Erica Zainul Majdi, juga panitia dan pengurus WIC, beberapa waktu lalu kain tenun Nusa Tenggara Barat, khususnya Lombok hadir menyemarakkan pekan mode internasional, New York Fashion Week 2015, di The Crowne Plaza Times Square Manhattan, New York, 14 Februari 2015.

Ibu Wakil Gubernur NTB, Hj. Syamsiah M. Amin, mencoba alat tenun yang dimiliki masyarakat di Pulau Sumbawa

D

engan tema “From Lombok to New York”, para desainer kondang Indonesia seperti, Dian Pelangi, Barli Asmara dan Zaskia Sungkar, memperkenalkan sekaligus memberi kebanggaan pada masyarakat NTB dengan menampilkan tenun NTB yang memiliki beragam jenis kain yang sarat akan nilai budaya dan tradisi leluhur masyarakat tiga suku di Bumi Gora ini di ajang tersebut. Tampilnya tenun NTB di panggung mode internasional ini tidak lepas dari kecintaan tiga

waktu sebelum kegiatan ini digelar, Ketua TIM Penggerak PKK NTB Hj. Erica Zainul Majdi mengatakan bahwa Untuk Nusa Tenggara Barat ini adalah kesempatan emas bagi Nusa Tenggara Barat untuk mempromosikan kekayaan ragam tenun daerah ini. Untuk memperingati 200 tahun meletusnya Gunung Tambora, Dian Pelangi mengangkat tema “Tales of Sumbawa”. Sedangkan Barli menghadirkan rancangan “Royal Lombok” dan Zaskia Sungkar memilih tema “Mandalika” dalam koleksi busana yang hadir dengan warna-warna pastel nan elegan. Ketiga desainer ini sangat bersyukur memperoleh kesempatan tampil di NWFW 2015 untuk

Tenun NTB yang tampil dalamNew York Fashion Week 2015, di The Crowne Plaza Times Square Manhattan, New York, 14 Februari 2015

memamerkan hasil rancangan mereka yang sesuai syariat, para desainer ini juga mengemban misi budaya, yaitu memperkenalkan kekayaan kain tenun Indonesia sekaligus mengangkat pariwisata di NTB yang kini sedang menggalakkan wisata syariah. “Saya membuat koleksikoleksi sesuai dengan ciri khas saya, memainkan warna pastel yang lembut namun tetap elegan dan Alhamdulillah. Terima kasih kepada pemerintah dan Gubernur NTB serta Dekranasda Provinsi NTB juga Wardah Indonesia yang telah memberikan dukungan penuh untuk membuat semua ini menjadi kenyataan,” kata Zaskia, yang dikutip dari rilis Humas Pe-

merintah Provinsi NTB. Menurut Drs. HL. Gita Aryadi, Ketua Harian Dekranasda NTB, acara “From Lombok to New York” yang memamerkan tenun NTB ini adalah ikhtiar Dekranasda NTB untuk menduniakan ekonomi kreatif berbasis budaya yang dihasilkan oleh masyarakat NTB. “Ikhtiar (usaha) agar produk tenun NTB bisa lebih dikenal dunia sehingga memiliki pasar yang kian luas. Harapannya dengan luasnya pasar tersebut dapat meningkatkan produksi tenun yang akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat NTB khususnya perajin tenun,” kata Gita Aryadi. -Naniek I. TaufanHumas Pemprov. NTB

desainer tersebut terhadap karya tenun daerah ini. Keindahan motif pada produk kerajinan berupa kain Tenun, Songket dan Batik Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Dian Wahyu Utami yang akrab disapa Dian Pelangi yang merupakan salah seorang desainer muda Indonesia yang telah meraih prestasi baik di tingkat nasional maupun Internasional pada ajang fashion show di berbagai negara. Dalam pertemuan dengan Dian Pelangi dan beberapa desainer lain beberapa Ketua Dekranasda NTB, Hj. Erica Zainul Majdi, bersama pengurus Dekranasda NTB dalam sebuah pameran yang memamerkan ragam tenun khas NTB

Corak Ragam Tenun NTB

Hj. Erica Zainul Majdi (empat dari kiri), dengan bangga mengenakan kain tenun NTB bersama Ibu Negara dan sejumlah istri duta besar dari berbagai negara

Nusa Tenggara Barat memang termasuk salah satu daerah di Indonesia yang memiliki ragam tenun dengan kekayaan motif yang sangat spesifik. Hasil karya tangan-tangan terampil penenun tradisional yang berasal dari tiga suku yang mendiami NTB, Sasak (Lombok), Samawa (Sumbawa) dan Mbojo (Bima dan Dompu), masih mempertahankan keaslian tenun tersebut. Hal ini tidak lepas dari perempuan-perempuan Sasak, Samawa dan Mbojo yang dengan sadar menurunkan keahlian menenun secara turun-temurun. Tradisi menenun yang ada sebagai warisan turun temurun di NTB, masih tetap hidup dan terjaga dengan. Berbagai corak dan ragam tenun mem-

berikan ciri khas bagi masing-masing suku di NTB. Corak-corak dan ragam motif khas dalam tenunan tradisional Nusa Tenggara Barat, menceritakan demikian tingginya seni budaya NTB yang tetap dipertahankan hingga kini. Warna yang beragam memberikan sentuhan tersendiri bagi karya-karya tradisional ini. Tangan-tangan terampil perempuan desa di Bumi Gora ini telah menyelamatkan seni budaya dan tradisi menenun sebagai salah satu ciri khas NTB saat ini. Pengrajin-pengrajin tenun mulai mengembangkan kemampuannya untuk berinovasi. Motif dan corak tenunan khas NTB, semakin hari semakin kaya. -Naniek I. Taufan-Humas Pemprov. NTB


20

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Hari Pertama Mau Cerai

Seorang perempuan yang tengah bersedih duduk di kursi di depan seorang penyidik PPA Satreskrim Polres Mataram. Ia tengah melaporkan KDRT yang dialaminya. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba seorang perempuan lain datang untuk mencabut laporan kasus KDRT yang dialaminya yang dilaporkannya beberapa waktu sebelumnya. Rupanya perempuan kedua ini memilih damai dengan suaminya.

K

eputusan perempuan ini membuat anggota unit PPA mataram yang notabene adalah manusia biasa, sempat “kesal”, karena sudah berulangkali melaporkan kasus yang sama dan ditawarkan untuk menyelesaikan kasusnya melalui mekanisme ADR, namun berulangkali pula ia menolak keras melalui ADR melainkan ingin melanjutkannya ke muka pengadilan. Tiap kali ia bersikeras memen-

jarakan suaminya, berulangkali itu pula ia datang mencabut laporannya. Itu terkadang membuat para Polwan di unit PPA Satreskrim Polres Mataram, kesal. “Ya kami harus banyak bersabar menghadapi masalah seperti ini, karena ini telah menjadi bagian dari tugas kami,” ungkap Brigadir Yayuk Sulistriani. Banyak dari perempuan yang melaporkan kasus KDRT pada akhirnya mencabut gugatannya. Bagi para Polwan yang bertugas di unit ini, laporan tersebut harus mereka tindak-

Keseharian Polwan Unit PPA Satreskrim Polres Mataram, berkutat dengan berbagai kegiatan penanganan kasus KDRT dan kasus-kasus anak serta menolong masyarakat khususnya perempuan yang datang dengan berbagai permasalahannya

lanjuti meskipun, kata Yayuk, perkembangannya akhir-akhir ini, sedikit-sedikit ada kasus KDRT dilaporkan. Mekanisme penanganan kasus yang tidak segampang seperti yang ada dalam pikiran perempuan tadi yang sudah empat kali melaporkan hal yang sama, membuat ia diceramahi oleh petugas PPA, hari itu. Hal ini terasa lucu bagi perempuan yang baru datang melapor sehingga ia sempat tertawa-tawa. “Jangan ketawa, nanti ibu juga jangan melakukan hal yang sama, buang-buang energi saja,” kata Yayuk yang akhirnya membuat ibu ini terdiam. Perempuan yang kebanyakan menjadi korban dalam kasuskasus KDRT, kerapkali datang dengan wajah lebam dan mata merah atau luka-luka akibat penganiayaan yang dilakukan oleh suami mereka. Sebagai aparat penegak hukum unit

PPA harus memproses laporan tersebut secara hukum. Namun dalam perkembangannya, langkah pertama yang dilakukan petugas adalah menawarkan penyelesaian perdamaian dengan ADR, sebelum dilanjutkan kasusnya mengikuti prosedur hukum yang berlaku. “Biasanya di hari pertama, korban bersikeras tidak mau damai, hanya mau bercerai saja,” kata Bripka Sri Rahayu, SH., anggota Regu II, Unit PPA Satreskrim Polres Mataram. Kalimat tersebut, hampir pasti akan diungkapkan oleh para perempuan yang menjadi korban KDRT. Dan para petugas PPA kerap memberi pengertian bahwa urusan bercerai itu urusannya di Kantor Urusan Agama (bagi muslim contohnya), bukan di Polres. Ada-ada saja peristiwa yang kerap membuat anggota unit PPA ini tertawa menghadapi keluhan

Nine para korban. Selain ingin bercerai yang bukan menjadi urusan polisi, terkadang mereka ngotot sengotot-ngototnya melaporkan kasusnya untuk diproses secara hukum tidak bersedia diselesaikan dengan ADR, meski petugas sudah menyarankan untuk berdamai. Sebagai petugas para Polwan ini tidak mungkin menolak laporan tersebut sehingga diteruskan untuk diproses. “Tapi saat proses itu sudah berjalan pada pemanggilan pertama saja, kebanyakan korban minta untuk mencabut laporan tersebut dan memilih damai,” kata Yayuk Sulistriani. Hal ini tentu saja merepotkan bagi petugas PPA, namun bagaimana pun mereka tetap komit untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang polisi. “Biasanya kalau yang ngotot ingin melanjutkan kasus agar diproses secara hukum, maka kami meminta ia membuat surat pernyataan bahwa ia tidak akan mencabut laporan tersebut,” kata Yayuk. Namun hal itu kebanyakan hanya di atas kertas saja, karena rata-rata mereka akhirnya meminta damai juga. Repotnya kalau kasus ini sudah sampai tahap p21 (diterima oleh Jaksa) dan tinggal disidangkan, korban mencabut laporannya. “Karena KDRT adalah delik aduan, maka jika itu terjadi kami harus menghentikan kasusnya,” ujar Sri Rahayu. Inilah keseharian yang harus dihadapi oleh Bripka Putu Yulianingsih, SH., Bripka Sri Rahayu, S.H. dan Brigadir Yayuk Sulistriyani, Polwan Satreskrim Polres Mataram. Karena tugasnya inilah mereka banyak mengetahui masalah yang seharusnya tidak perlu diketahui orang lain, jadi keluar semua cerita-cerita bahkan yang sangat pribadi dari data pelapor. Namun, sebagai petugas mereka harus merahasiakan hal itu. -Naniek I. Taufan

Belajar dari Kasus Tugas keseharian mereka ini memang banyak menguras emosi dan tenaga. Selain harus menangani tiap kasus yang masuk, mereka juga harus turun ke lapangan hingga ke pelosok desa bahkan masuk hutan atau naik turun perbukitan untuk menjangkau TKP dari kasus yang mereka tangani. Misalnya dalam kasus pemerkosaan atau penganiayaan yang mengharuskan mereka men-

cari dan menemukan alat bukti di TKP tersebut. Tidak itu saja, tak jarang ketiganya harus pula menangani persoalan yang sebenarnya di luar tugas pokok mereka. Misalnya ketika dua minggu yang lalu, tiba-tiba ada seorang nenek yang diantar petugas ke unit PPA ini. Nenek tersebut mengaku kesasar dan tidak tahu jalan pulang. Ditanya identitas dan lainnya, tidak jelas.

“Akhirnya kami antar ke panti sosial,” ungkap Yayuk. Pada kesemptan lain, seorang perempuan membawa barangbarang juga diantar petugas ke unit PPA. Perempuan ini mengaku TKW yang baru pulang dari Malaysia dan tidak tahu jalan pulang ke rumahnya di Lombok Tengah. Para Polwan ini pun dengan sukarela mengantar perempuan ini mencari alamatnya berkeliling Lombok Tengah bagian Selatan, namun tidak menemukan alamat yang dicari. Perempuam ini pun dititipkan ke panti sosial. Dalam mengawal tiap laporan yang masuk, mengharuskan mereka banyak berada di kantor atau pun di lapangan. Mereka juga harus bolak-balik kejaksaan dan pengadilan untuk mengomunikasikan kasus yang ditangani ataupun menghadiri sidang kasus ini. Ini artinya membuat waktu mereka menjadi terbatas untuk keluarga. Namun begitu, mereka selalu dapat mendiskusikannya

dengan keluarga. Bagi Yuli dan Rahayu yang sudah berkeluarga, mereka mengatur waktu antara tugas dan keluarga dengan cermat. Sehingga komplin-komplin itu bisa dimanagemen dengan baik. Komplin dari orangtua Yayuk yang kebetulan belum menikah, juga selalu bisa diselesaikan dengan baik oleh Yayuk tentang kesibukannya ini. “Seiring berjalannya waktu, orangtua jadi maklum akan tugas kami tersebut,” kata Yayuk. Banyak bersentuhan dengan para perempuan yang mengalami KDRT membuat mereka menya-

dari banyak hal yang harus dikomunikasikan dalam rumah tangga. “Selain soal ekonomi, komunikasi yang kurang baik juga banyak menjadi pemicu KDRT,” kata Yuli. Dari sanalah mereka belajar untuk membangun komunikasi dalam keluarga agar tidak mengalami hal yang sama. Meski dalam menjalani tugas yang kecenderungan banyak dilakukan laki-laki khususnya saat turun lapangan, mereka tetaplah seorang perempuan yang harus menjalankan tugas sebagai ibu dan seorang istri, khususnya bagi Yuli dan Rahayu. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

BUNDA ARSANINGSIH

5

BERHASIL MENCATATKAN YOPHYTTA DALAM REKOR MURI DUNIA Minggu, 15 Februari 2015 adalah hari yang bersejarah bagi Bunda Arsaningsih. Pada kesempatan itu di Ballroom Sheraton Hotel Surabaya, Museum Rekor-Dunia Indonesia telah menganugerahkan kepada Bunda Arsaningsih (Founder of Yophytta Maternal) atas rekor Pemrakarsa dan Penyelenggara Senam Yophytta Maternal (Yoga, Pilates, Tai Chi, Afirmasi) dengan peserta terbanyak.

P

Bunda Arsaningsih

restasi yang dicapai oleh istri dari dr. Dewa Ketut Arika Seputra, Sp. OG ini adalah buah dari kerja keras yang telah dirintisnya sejak tahun 2000. Berkat dukungan dari sang suami yang terus mendorongnya untuk menekuni senam hamil, Bunda Arsaningsih mulai mengajarkan senam hamil kepada para ibu, dan hingga saat ini telah berhasil menyenamkan 18.000 ibu hamil di seluruh Indonesia. Kepedulian beliau dalam membantu masalahmasalah yang dihadapi para ibu saat masa kehamilan, memberi manfaat positif sehingga para

ibu menjadi lebih siap saat menjalani proses persalinan secara normal. Masa kehamilan merupakan salah satu fase penting bagi calon ibu. Sangatlah disarankan untuk membuat fase kehamilan ini menjadi fase yang menyenangkan dan membahagiakan untuk dijalani oleh seorang ibu hamil, karena fase ini berhubungan dengan kondisi dan kualitas janin dalam kandungan. Kehamilan merupakan masa transisi yang secara signifikan menyebabkan perubahan fisik dan psikologis, sehingga menyebabkan ibu hamil menjadi stres, tegang, cemas dan takut dalam menghadapi

Bunda Arsaningsih berfoto bersama para bidan

masa kehamilan maupun proses persalinan. Belajar dari pengalaman pribadi dan memahami bagaimana perjuangan seorang ibu dalam masa kehamilan, maka ibu dari 4 orang anak ini menciptakan suatu gerakan senam yaitu yang diberi nama Senam Yophytta. Senam ini dapat diaplikasikan secara mudah dan tentunya memberi manfaat bagi ibu hamil. Senam Yophytta, yang sudah dipatenkan oleh Bunda Arsaningsih sebagai penciptanya, berbeda dari senam hamil biasa karena Senam Yohytta ������������� merupakan kolaborasi dari yoga, pilates, taichi dan����������� afirmasi��.��������������� �������������� Senam ini menggunakan olah gerak dengan konsep energi yang mengalir secara selaras-harmonis serta afirmasi positif yang merupakan salah satu bagian terpenting dari Senam Yophytta. Proses afirmasi ini akan sangat membantu para ibu hamil untuk������������������������� melepaskan diri dari perasaan-perasaan tidak nyaman, emosional, dan penolakan tubuh. Sehingga calon ibu memiliki penerimaan lebih dalam tentang kehamilan dan diharapkan dapat menjalani proses persalinan dengan rileks tanpa ada rasa takut ataupun��������������� �������������� tertekan.����� Manfaat dari Afirmasi positif sudah banyak dirasakan oleh para ibu. Bayi-bayi yang lahir dari rahim ibu yang saat kehamilan mengikuti senam yophytta cenderung lebih tenang, sabar, dan kualitas kesehatannya lebih baik. Gerakan senam hamil pada senam Yophytta bermanfaat

Bunda Arsaningsih menerima penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia

dalam menjaga kesehatan dan kebugaran fisik. Semua gerakan pada senam Yophytta telah disesuaikan dengan kondisi kehamilan sehingga memiliki efek yang sangat baik, tidak hanya saat kehamilan, tetapi juga berkontribusi besar dalam kelancaran proses persalinan. Setiap latihan yang dilakukan dalam senam hamil memiliki manfaat di antaranya adalah memperkuat elastisitas otot (otot dinding perut yang kuat bersama dengan elastisitas otot dasar panggul dan ligament yang kuat dapat mempertahankan kedudukan rahim pada tempatnya), membentuk sikap tubuh (dapat mengatasi keluhan sakit pinggang pada wanita hamil, mencegah bayi abnormal, mengurangi sesak nafas akibat bertambah besarnya perut), memperoleh rileksasi yang sempurna ( mengatasi stres dan kecemasan, mengatasi nyeri), dan menjaga kesehatan dan meningkatkan fungsi kardiorespirasi (memperkuat diafragma yang membantu saat proses ibu mengejan). Hasil penelitian Prof. Dr. Budi Santoso, dr., SpOG(K) dan Farida Umamah, S.Kep.Ns, Uni-

Para ibu hamil yang mengikuti senam Yophytta

versitas Airlangga, Surabaya, 2011 yang berjudul “Senam Hamil Yophytta Menurunkan Tingkat Kecemasan Menjelang Persalinan Pada Ibu Primigravida di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kendangsari Surabaya”hasilnya adalah sebelum senam hamil sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan. Namun, sesudah mengikuti senam hamil sebagian besar responden tidak mengalami kecemasan. Selain itu juga yang ikut senam Yophytta berhasil melahirkan secara normal dan tingkat kecemasan serta rasa nyerinya lebih rendah. Untuk membantu para ibu hamil dalam menjalani masa kehamilan dan didukung degan hasil penelitian yang menguatkan, maka sangatlah berguna apabila senam hamil Yophytta ini dapat disebarluaskan kepada masyarakat, terutama kepada para calon ib������������������� u. Info lengkap dapat menghubungi Kantor SOUL Jakarta 021-29374104 & SOUL Bali 0361 – 419347 atau SOUL Call Center Jakarta 081 288 661 138 & SOUL Call Center Bali 085 100 585 609. –ten Foto-foto : Eddy Supriyanto


6

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

ung Anak Agung Ayu Ketut Ag

Woman on Top

Tiga Hari Sekali vs Dua Kali Sebulan

Terima Penghargaan Parama Budaya Pengabdian Anak Agung Ayu Ketut Agung dalam bidang tata rias dan busana adat Bali sejak 34 tahun lalu, tak sia-sia. Kegiatan-kegiatan Bu Agung, pemilik Salon Agung dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung selama ini, mendapatkan apresiasi tinggi dari Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra. Dalam puncak HUT ke-227 Kota Denpasar yang digelar Jumat (27/2) di panggung terbuka Ardha Candra, Art Centre Denpasar, Bu Agung menerima Penghargaan Parama Budaya berupa piagam dan pin emas dan yang diserahkan Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara.

P

arama Budaya ini merupakan peng­ hargaan tertinggi dari Pemkot Den­ pasar bagi insan masyarakat kota yang telah mengabdikan diri, berpartisipasi dan mendedikasi­ kan kemampuannya untuk turut serta memajukan dan mengem­ bangkan Kota Denpasar yang berwawasan budaya. “Saya ter­ haru atas apresiasi besar Bapak Wali Kota. Selama ini saya hanya berbuat apa yang bisa saya per­ buat. Kebetulan saya dianugerahi kelebihan dalam bidang tata rias dan busana adat Bali, jadi hanya itu yang bisa saya bagikan ke masyarakat luas khususnya Kota Denpasar,” ucapnya saat ditemui usai menerima penghargaan. Dalam menjalani kehidupan­ nya, Bu Agung berprinsip take and give. Dalam artian, dengan keahliannya dalam bidang tata rias dan busana adat Bali itu, tak melulu dipakainya sebagai sumber penghasilan. Namun, di sana pula ia bisa ngayah, mem­ bagi ilmunya ke masyarakat

sampai ke pelosok desa tanpa dipungut bayaran, dengan meng­ gandeng organisasi masyarakat, instansi pemerintah, instansi swasta, dan media. Bahkan, bagi masyarakat yang tak mam­ pu namun memiliki niat tinggi untuk belajar tata rias, diberikannya beasiswa. PENGAWAS SD Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa pakar tata rias dan busana adat Bali ini ada­ lah juga seorang pendidik. Bu Agung adalah seorang penga­ was SD di Den­ pasar Timur den­ gan wilayah bina­ an Gugus I Ngu­ rah Rai. Bahkan, ia pun mengelola Pusat Kegiatan Be­ lajar Masyarakat (PKBM) Agung yang berloka­ si di Jalan Rampai, Denpasar.

Kegiatan belajar anak-anak PKBM ini memanfaatkan fasilitas Balai Banjar Kreneng yang kebetulan berdampingan dengan rumah Bu Agung, yang juga dekat dengan Pasar Kreneng. “Saya berterima kasih sudah diberikan tempat dan didukung masyarakat seki­ tar,” ujarnya. Mengelola PKBM ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdiannya dalam bidang pendidikan yang diperuntuk­ kan bagi anak-anak putus sekolah dan t a k m a m p u ( ke ­ jar paket A, B, C). “Dengan menjadi pengawas, saya lebih banyak punya kesem­ patan untuk berbuat,” ucap­ nya. Bahkan, Bapak Wali Kota yang berkesem­ patan hadir dan mem­ buka Rakernas PKBM beberapa waktu lalu men­ gatakan bahwa kekayaan suatu daerah adalah SDM (sumber daya manusia). PKBM menjadi salah satu wadah

Anak Tukang Suun harus Hidup lebih Baik

Merayakan ulang tahun tidak selalu dengan tiup lilin dan makan-makan. Ada kegiatan lain yang bisa dilakukan, diantaranya merayakan bersama anak-anak tukang sun (junjung) pasar Badung. Hal inilah yang dilakukan Lentera Anak Bali (LAB) untuk memeriahkan ulang tahun Kota Denpasar yang ke-227.

S

uasana lantai 4 Pasar Badung, Sabtu (21/2) pagi hingga siang agak berbeda. Anak-anak pasar Badung yang sibuk bekerja menjadi tukang suun, sudah bersiap sejak pagi. Wajah mereka dirias Anak Agung Ayu Ketut Agung bersama tim Salon Agung. Ada yang menjadi penari dan ada yang menjadi penyanyi. Mereka juga bersemangat karena bisa berjumpa dengan Gede Bagus, penyanyi Bali jebolan X-Factor Indonesia.

Istri Wali Kota Denpasar, Ny. Selly Mantra, perwakilan Bank Indonesia, BRI, dan INTI turut hadir dalam acara tersebut. Kepala Dusun Pedahan, Kubu, Karang­ asem, tempat asal mayoritas anakanak pasar Badung juga hadir. Acara ini diselenggarakan selain untuk memeriahkan HUT Kota Denpasar juga untuk menunjukan anak-anak tukang suun ini bisa melakukan sesuatu yang positif dan berbakat. Mereka menari, menyanyi, dan bermain musik bersama Gede Bagus. “Kami berharap anak-anak ini bisa

Anak-anak tukang suun Pasar Badung sedang menari

mendapat pendidikan. Tentunya perlu dukungan banyak pihak agar hal ini bisa terlaksana. Mereka harus bisa berkembang untuk kehidupan yang lebih baik,” ujar Ny. Selly Mantra disela-sela kegiatan. Acara juga dirangkaikan dengan pemberian angpao dari INTI kepada anak-anak. Hiburan dari Gede Bagus yang diiringi anak-anak pasar. Di penghujung acara Gede Bagus menyerahkan kenang-kenangan kepada dr. AA Sri Wahyuni, Sp.KJ, Ketua Yayasan LAB. Luh Anggreni, salah satu pengu­ rus Yayasan LAB menuturkan lembaga ini didirikan April 2011. Ketika itu mantan-mantan ketua dan anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Bali mempunyai ide membuat sebuah LSM. “Kami melihat banyak anakanak kecil yang bekerja sebagai tukang suun yang memikul beban setiap hari dari pagi hingga malam yang hanya mendapatkan upah Rp 5000/sekali angkut barang. Sete­ lah membentuk LAB kami minta izin kepada Pemkot Denpasar dan Kepala Unit Pasar Badung untuk dipinjamkan tempat untuk menampung anak-anak tersebut,” ungkapnya. Pertama kali mencari anakanak itu, tim LAB sampai masuk ke tempat-tempat terpencil untuk bisa mengajak mereka bergabung

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Bu Agung bersama penerima penghargaan lain berfoto bersama istri Menteri UMKM, Ny. Bintang Puspayoga yang berkesempatan hadir dalam puncak acara HUT ke-227 Kota Denpasar

sosial yang membantu pemer­ intah dalam memberantas buta aksara di masyarakat. Karena itu pula, PKBM dikatakannya menjadi ujung tombak pemban­ gunan. Yang lebih istimewanya lagi, anak-anak yang mengikuti pen­ didikan kejar paket di PKBM Agung ini juga dibekali keter­ ampilan tata rias, menari, men­ jahit, dan memasak. Dan tak jarang pula, mereka dilibatkan dalam berbagai acara kegiatan Bu Agung. DISKON 50% Melihat tingginya minat masyarakat dalam bidang tata rias, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Ma­ teri yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Ku­ lit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, madya, utama, modifikasi, dan

tengkuluk lelunakan). LKP Agung memiliki tempat belajar yang memadai dan kondusif di dua tempat di Denpasar dan ditan­ gani langsung Bu Agung dibantu instruktur lain yang mempunyai latar belakang keahlian dan pen­ galaman legal yang telah men­ gantongi sertifikat kompetensi di bidang tata kecantikan. Semua peralatan kursus disiapkan lem­ baga. Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus seko­ lah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: Ikp_ agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com.

Gede Bagus menyerahkan kenang-kenangan kepada dr. AA Sri Wahyuni, Sp.KJ, Ketua Yayasan LAB.

dan mau belajar. Menanamkan semangat belajar itu yang sangat sulit karena adanya pola berpikir anakanak yang beranggapan segala yang dikerjakan itu harus menghasilkan uang. Seiring berjalannya waktu ada 60 orang anak yang mau diajak belajar oleh Yayasan LAB ini. Untuk menumbuhkan semangat mereka belajar, tiap kali hadir dalam pelajaran mereka diberikan upah Rp 5000, dengan syarat uang itu akan ditabungkan dan dibagikan setiap hari raya Galungan. Hal yang juga dilakukan oleh pengurus yayasan ini antara lain pendekatan kepada bendesa, kelian dan guru-guru di desa mereka untuk menanamkan pada mereka bahwa pendidikan itu penting. “Kami bahkan membawakan bondres yang menceritakan bahwa pendidikan itu penting. Banyak anak-anak

yang beranggapan dan punya citacita untuk bisa menikah dengan bule. Menurut mereka menikah dengan bule akan membuat derajat mereka lebih naik, padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu. Karena itu perlu pemahaman yang lebih agar mereka mengerti,” imbuh Anggreni. Dari jumlah 60 orang anak tersebut 30 anak sudah bisa bersekolah atas bantuan donatur. Ada yang bersekolah pulang kembali ke desanya, ada juga yang bersekolah di Denpasar. Sekarang jumlah anak yang tersisa 35 orang anak. Kegiatan belajar mereka biasanya tiap Sabtu dan Minggu di lantai 4 Pasar Badung. Dari penuturkan anak-anak itu, dari bekerja jadi tukang suun, mereka bisa mendapatkan upah Rp 50.000 per hari. -Sriadi

Pasar tradisional tetap tak tergantikan, walaupun pasar modern sudah menjamur. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Keduanya pun bisa saling melengkapi.

M

enurut anggota Komisi IV DPRD Provinsi Bali, Utami Dwi Suryadi, ia lebih suka membeli keperluan sehari-hari seperti daging dan sayuran ke pasar tradisional. “Daging dan sayuran lebih segar jika dibeli di pasar tradisional,” kata legislator partai Demokrat ini. Ia mengatakan, sering berbelanja ke pasar kaget di banjar dekat rumahnya. Berbelanja pun bisa dilakukan dengan santai, tanpa harus berdandan yang berlebihan. Pasar tradisional

memang identik dengan kekhasannya terlihat alami, selain harganya jelas lebih murah dibandingkan harga barang di pasar modern. “Mungkin ada bau amis ikan atau daging, itu sudah biasa. Kalau hujan, agak becek, ya nikmati saja. Belanja di pasar tradisional harga lebih murah. Kalau di swalayan, daging dan ikan sudah dibekukan,” ucap Utami. Menurutnya, kalau pasar tradisonal terlalu ditata serapi mungkin, malah akan berimbas ke harga. Ia mengamati, ada satu pasar, setelah ditata rapi dan bertingkat, malah sepi. Pembelinya menurun. Bagian daging diberi AC. Baunya terkurung dalam ruangan. Ia menambahkan, pembeli inginnya cepat dan gampang mencari barang yang diinginkan. “Kalau hanya untuk membeli daging dan sayuran tempatnya jauh, jadi malas,” imbuhnya. Utami tak menampik, kondisi pasar tradisional sering dikeluhkan karena bau menyengat dan sampah. Karena itu, ia menyarankan, penataan pasar tradisional sebaiknya lebih ditekankan pada penanganan sampah. Di sisi lain,

untuk keperluan perlengkapan mandi dan kecantikan, ia membelinya di pasar modern. Alasannya, karena takut barang palsu. “Di swalayan, kualitas produk kecantikan dan kepeluan mandi lebih terjamin keasliannya. Saya takut juga kalau produk palsu bisa berbahaya bagi kulit,” ujarnya memberi alasan. Membeli keperluan lauk-pauk sehari-hari di pasar tradisional juga kerap dilakukan Putu Ariyanti. “Saya ke pasar tiga hari sekali, khusus membeli keperluan lauk-pauk. Lebih segar, apalagi ikan,” ujar ibu rumahtangga asal Bangli ini. Walaupun, jarang belanja, ia tetap

menyempatkan waktu dua kali dalam sebulan, ke toko modern. “Di Bangli tidak ada pasar swalayan besar. Yang ada toko modern. Saya biasa membeli produk shampo, sabun mandi, body lotion untuk keluarga di toko modern,” kata ibu dua anak ini. Menurutnya, tiap-tiap pasar punya konsumen masingmasing. Pasar tradisional maupun pasar modern, tetap memiliki fungsi dan manfaat bagi konsumennya. “Pasar tradisional buka 24 jam. Sementara, pasar modern ada waktunya. Kelengkapan barang juga beda,” ucapnya. Saran Ariyanti untuk pasar tradisional, parkir sebaiknya ditata agar tidak krodit. Apalagi kalau menjelang hari raya umat Hindu di Bali. Ia menambahkan, walaupun nanti disediakan pasar swalayan yang lengkap, ia tetap saja memilih pasar tradisional untuk keperluan sehari-hari. “Kami tak mau pasar

19

tradisional punah. Itu ciri masyarakat Bali. Untuk keperluan upaca­ra adat semuanya lengkap ada di pasar tradisional,” kata­ anggota KPU Bangli ini. -Wirati Astiti

Tempat Parkir untuk Pedagang Bakulan Beberapa pusat perbelanjaan tumbuh di Mataram dalam beberapa tahun belakangan ini. Tempat yang menyediakan segala kebutuhan termasuk sayur mayur dan segala macam bumbu jadi ini menawarkan kenyamanan berbelanja karena tempatnya yang bersih dan rapi. Beberapa pusat perbelanjaan lainnya juga kini tengah dibangun di Mataram dan Lombok Barat. Pusat belanja ini ramai dikunjungi warga Mataram, khususnya di masa-masa awal dibuka. Beberapa ibu memilih berbelanja ikan, daging dan sayur mayur di tempat yang nyaman ini. Jika mal atau pusat belanja ini secara umum di konter-konter pakaian tetap ramai dikunjungi. Beda dengan konter sayur mayur dan ikan serta kebutuhan dapur lainnya yang pengunjungnya tidak terlalu banyak. Ini disebabkan karena para ibu di Mataram, rupanya lebih banyak memilih pasar tradisional sebagai tempat untuk berbelanja kebutuhan pokok. Meski becek dan tidak sebersih mall, ibu rumah tangga lebih memilih pasar tradisional. “Harganya lebih murah dan saya lebih senang membeli ikan dan daging di pasar tradisional,” ujar Indarti, salah seorang ibu yang tengah berbelanja di Pasar Pagesangan Mataram. Minat berbelanja kebutuhan pokok di pasar tradisional di Mataram, memang terlihat tinggi karena ketersediaan kebutuhan pokok banyak dan terus

menerus. Sekalipun “serbuan” modern cukup banyak di Mataram, tidak membuat aktivitas pasar-pasar tradisional di tempat ini berkurang. “Malah pasar tradisional makin ramai,” ujar Roos Haryadi, S.E., Kepala Pasar Kebon Roek Ampenan. Indikasi ini terlihat dengan makin bertambahnya pedagang di Pasar Kebon Roek, terutama pedagang bakulan. Pengelola Pasar Kebon Roek pun menambah tempat berjualan di depan pasar yang tadinya dipakai sebagai tempat parkir, kini telah diberi atap permanen yang diperuntukkan bagi pedagang bakulan. Pasar-pasar tradisional di Mataram, tampaknya akan terus menggeliat dengan kunjungan para ibu yang lebih suka berbelanja kebutuhan pokok di sini dibandingkan dengan di pusat perbelanjaan modern. “Tidak perlu gengsi berbelanja di pasar tradisional, karena harga lebih murah dan bahan kebutuhan pokok lengkap tinggal pilih,” kata Purnia, ibu rumah tangga lainnya yang tengah berbelanja di Pasar Kebon Roek Mataram. Sebagai ibu rumah tangga Indarti dan Purnia, meski sesekali berbelanja di pasar modern mereka mengaku lebih suka berbelanja di pasar tradisional lebih karena faktor harga yang murah dan secara tidak langsung ada interaksi sosial dengan banyak orang, khususnya dengan pedagang. “Interaksi sosial di pasar tradisional, tanpa sadar kita rasakan itu. Setidaknya kita tidak merasa sendiri saat berbelanja,” ujar Purnia. -Naniek I. Taufan

Renovasi Gerai Lama sesuai Konsep G7 Seiring dengan semakin tingginya tingkat konsumsi dan perubahan pola beli masyarakat, pertumbuhan pasar-pasar modern pun ikut melaju kencang. Berdasarkan data, jumlah pasar modern di Indonesia kini telah mencapai 23.000 unit. Di Jakarta misalnya, pasar-pasar modern tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Ini tentu membawa konsekuensi sengitnya persaingan di antara pasar modern ini. Berbagai cara dilakukan untuk menarik hati konsumen. Salah satunya adalah meluncurkan program diskon untuk berbagai produk. Hypermart, salah satu pasar modern terbesar di Indonesia, juga melakukan strategi tersebut untuk menggaet konsumen. Menurut Head of Public Relation Hypermart, Fernando Repi, tingginya persaingan di antara sesama pasar modern memberi dampak positif, setidaknya kepada masyarakat. Dengan begitu

kualitas makin meningkat, harga pun lebih bersaing. Tiap pasar modern tentunya menghendaki agar konsumen datang padanya. Masyarakat pun akan diuntungkan, karena mereka mendapat barang berkualitas dengan harga yang bersaing. “Ini adalah hal yang positif. Persaingan bagi kami tidak masalah, malah justru bagus. Kualitas akan lebih baik dan harga pun bersaing,” ujarnya. Hypermart sendiri, menurut Fernando, memiliki sejumlah strategi untuk menyikapi hal tersebut. Salah satunya adalah dengan makin meningkatkan kualitas pelayanan. Desember lalu, mereka meresmikan ‘Hypermart Generasi ke-7’ di Karawaci Utara, Tangerang, Banten. Konsep ini menampilkan antara lain; perbaikan interior toko, penataan barang, juga pilihan produk lebih banyak dan beragam. Dengan demikian diharapkan, pelanggan menjadi nyaman dan senang berbelanja di Hypermart.

“Tahun 2015 ini akan dilakukan renovasi terhadap sejumlah geraigerai lama agar sesuai dengan Konsep Hypermart G7 ini. Ada hal yang special yang akan disajikan dalam renovasi ini. Pokoknya baru sama sekali. Konsep ini sedang berjalan, yang sudah bisa dilihat mungkin di Hypermart Karawaci. Gerai-gerai di daerah lain pun segera menyusul, seperti di Jakarta dan Bali,” jelasnya. Secara keseluruhan, Hypermart memiliki 109 gerai di seluruh Indonesia, sekitar 20-an di antaranya berada di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangarang, Bekasi). Jumlah ini masih akan terus bertambah, baik di Jawa maupun di luar Jawa. “Daerah kota tingkat dua memiliki potensi yang bagus,” kata Fernando. Mengomentari tentang revisi Peraturan Menteri Perdagangan No 56 Tahun 2014 terkait kewajiban menyediakan konten lokal hingga 80%,

Fernando mengatakan, hal itu tidak masalah bagi pihaknya. Justru, sebelum Permendag tersebut lahir, Hypermart sudah memenuhi konten tersebut, bahkan bukan hanya 80% sebagaimana yang diwajibkan melainkan telah mencapai hampir 90%. “Kami tidak masalah dengan hal tersebut. Kami justru mendukung agar

pasar modern menyiapkan lebih banyak konten lokal. Kami sendiri sudah melaksanakan itu sebelum adanya Permendag ini. Kita memiliki banyak barang berkualitas buatan negeri sendiri. Kami juga menyediakan barang-barang impor untuk barangbarang tertentu. Tapi jumlahnya tidak banyak,” ungkapnya. –Diana Runtu


18

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

Aneka kreasi dapat dibuat dari potongan-potongan kertas. Tentu ini memerlukan keahlian dan trik tersendiri. Apalagi, kreasi potongan kertas dirakit menjadi sebuah kapal dan dimasukkan ke dalam botol. Tentu sangat rumit dan memerlukan keterampilan tangan. Inilah yang dilakukan, Sudiro, lelaki asal Jawa, yang kini merantau ke Bali. “Awalnya, saya melihat di satu majalah luar negeri, ada gambar kapal di dalam botol bekas wine. Uniknya, ada air di dalam botol tersebut. Lama saya berpikir, bagaimana cara membuat kapal itu bisa ada di dalam botol yang sangat kecil,” kata Sudiro.

B

erhari-hari, Sudiro terus memikirkan kapal di dalam botol itu. Dalam benaknya, sudah tergambar, kapal itu pasti dirakit dengan sangat hati-hati, saat dimasukkan ke dalam mulut botol yang sangat kecil. Sudiro pun penasaran. Ia segera merealisasikan, apa yang ada di dalam benaknya. Beberapa peralatan ia coba, walaupun ia tak yakin, itu alat yang digunakan sesungguhnya. “Saya mencoba berkreasi sendiri saja. Yang jelas, ada kapal di dalam botol,” kata Sudiro. Menurut Sudiro, miniatur kapal yang diciptakan merupakan kapal Pinisi, kapal tradisional khas Indonesia yang berasal dari Suku Bugis dan Makasar.

Ia menambahkan, zaman dulu, pelaut asal Sulawesi Selatan sangat terkenal pemberani dengan kapal mereka merantau menjelajah pulau, bahkan sampai ke Tiongkok. Menurutnya, bagi yang suka mengoleksi benda-benda mungil, tentu miniature kapal khas Sulawesi ini, menarik untuk diburu. Sejak tahun 1995, Sudiro terus membuat miniatur kapal dalam botol. Aneka macam botol sudah dicobanya. Tentu, kata Sudiro, semakin kecil mulut botol semakin banyak tantangannya. Karena itu, ia menciptakan suatu alat khusus. “Alatnya memang seperti alat untuk memancing. Atasnya runcing kemudian di ditambah bambu kecil sebagai

Kreasi

Kapal Pinisi dalam Botol

pegangannya,” kata Sudiro. Sementara, alat lain yang diperlukan untuk menjepit, ia ciptakan satu model sumpit. Memang, ia mengakui, walaupun sudah tercipta alat khusus, kalau tidak ditunjang keterampilan tangan tentu miniatur kapal tak berhasil dibuat. Satu persatu kertas diguntingnya sesuai ukuran kapal. Dengan pola yang sudah dia rancang, dia membuat kertas sebagai layar kapal. Yang pertama dilakukan adalah memasukkan gabus sebagai bahan dasar kapal untuk bertengger. Kemudian mulai membuat kapalnya. Agar kertas tidak mudah robek, ia tempelkan potongan bamboo kecil untuk menopangnya agar tampak

Tenunan Biboki dengan Warna Alami Menenun dilakukan perempuan Nusa Tenggara Timur dengan dua tujuan. Selain sebagai sumber utama mata pencaharian, juga, pengisi waktu selesai bekerja di ladang. Salah satunya, Novi Tjompa, perempuan usia 34 tahun ini. Ia sudah menenun sejak masih remaja. “Di daerah saya, perempuan harus bisa menenun kain biboki saat berumur 15 tahun,” kata Novi, yang ditemui di anjungan NTT di

areal Taman Nusa, Bali ini. Uniknya, tenunan biboki khas NTT ini, memakai warna alami. Sebelum menenun, mereka menyiapkan benang. Kapas dipintal dengan alat tradisional untuk mendapatkan benang. Pecelupan benang memakai pewarna alami. Warna cokelat dari akar mengkudu, pucuk daun jati untuk merah terang, daun pandan untuk warna hijau, kunyit untuk warna kuning, merah pink dari kulit kayu,

dan warna hitam dari daun nilam. Tenunan biboki cenderung menggunakan warna kalem lebih ke warna tanah. Warna merah untuk laki-laki melambangkan keberanian, kesakstian dan keperkasaan. Warna hitam, untuk perempuan melambangkan keabadian, dan ratu rumahtangga. Pada tenunan NTT, yang diikat adalah benang lungsin. Benang pakan dimasukkan secara horizontal terhadap benang lungsin yang telah diikat secara vertikal. Menurut Novi, satu kain biboki bisa selesai dua bulan. Namun, jika dhitung dari mulai pemintalan

seperti layar terkembang. Untuk merekatkan kertas satu sama lain, ia menggunakan lem khusus. Untuk mengikatnya, ia menggunakan tali berwarna merah dan biru, selain juga, untuk memberi variasi warna sehingga terlihat lebih indah. Untuk melakukan pekerjaan itu semua, Sudiro hanya mengandalkan satu alat yakni alat pancing terse-

yang lebih kecil. Kapal pun dibuat lebih kecil dan tingkat kesulitan lebih tinggi. Sudiro merasa lebih tertantang melakukan kreasi lagi. Setelah tercipta miniatur di dalam botol dan bola lampu, ia pajang di atas kayu yang juga dihias dengan kerang-kerangan. Harganya berkisar Rp 100.000 s.d. Rp 200.000. Saat ini, Sudiro menunjukkan

but. Satu persatu benda yang akan dimasukkan ke botol menggunakan alat pancing. “Awalnya, memang agak sulit. Saya sudah mencoba berkalikali, hasilnya sangat jelek. Saya sudah melakukan puluhan kali percobaan, baru berhasil,” ucap Sudiro. Sampai kini, sudah tak terhitung miniatur kapal dalam botol yang dibuatnya. Tidak hanya sampai di situ, Sudiro mencoba berkreasi lagi. “Bola lampu yang sudah mati dibuang. Saya ambil dan amati. Rasanya bisa juga dibuat kreasi seperti botol bekas,” tuturnya tentang awal ia tertarik brekreasi dengan media bola lampu bekas. Menurut Sudiro, justru bola lampu bekas lebih unik, karena bentuknya

kepiawaiannya membuat kreasi miniatur kapal di anjungan Sulawesi Selatan di Areal Taman Nusa, Bali. Menurutnya, kapal di dalam botol ini, biasanya, disukai turis asing. “Kalau untuk turis lokal, ada saja yang beli, tapi kebanyakan yang suka koleksi,” kata Sudiro. –Wirati Astiti

benang memerlukan waktu sampai 6 bulan. Kain biboki ini digunakan untuk berbagai upacara adat seperti pernikahan dan sebagai kain pembungkus jenazah. Harga kain biboki terbilang mahal. Satu selendang saja bisa bernilai Rp 1 juta. Kamen-nya bisa mencapai Rp 5 juta. Menurut Novi, harga mahal ini disebabkan warna asli dari benang. Pembuatannya memerlukan waktu yang lama sehingga berpengaruh pada harga kain. Selain untuk kain, dari benang ini juga dibuat aneka kreasi gelang khas NTT. Gelang ini sering dipakai para gadis sebagai asesoris. –Wirati Astiti

Life

Story

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

Pendam Impian Jadi Dokter

Lahir sebagai perempuan keturunan Tionghoa yang memiliki darah Sasak dari neneknya, Prof. Ir. Mulyati., SU., Ph.D., Guru Besar pada Jurus­ an Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Mataram, mengabdikan lebih dari sebagian usianya bagi kemajuan dunia pendidikan di NTB. Perjuangannya untuk bersekolah sempat terganggu akibat peristiwa G/30 S PKI.

S

ewaktu kecil, perempuan kelahiran Praya, Lombok Tengah, 28 Oktober 1955, tidak pernah mengarahkan cita-citanya menjadi seorang pendidik. Namun, sebuah pengalaman sulitnya bersekolah di masa kecilnya, khususnya ketika terjadi peristiwa G/30 S PKI di tahun 1965, mengantarkannya pada sebuah pilihan untuk menjadi seorang pengajar. Muliyati menghabiskan masa sekolahnya di Praya Lombok Te­ ngah. Sebagai warga keturunan Tionghoa, di masa itu, dimana ia tidak bisa bebas bergaul dengan pribumi, termasuk dalam hal sekolah. Masa itu masih sangat kental nuansa pribumi dan nonpribumi. Anak-anak keturunan Tionghoa belajar di rumah-rumah orang berada Sebagai anak yang lahir dari keluarga Tionghoa yang sederhana, Mulyati merasakan juga pahitnya kehidupan pas-pasan bersama

7

orangtua dan delapan saudaranya yang lain. Karena berbagai situasi yang tidak memungkinkan sehingga belum banyak orang bisa melanjutkan bersekolah hingga tingkat SMP, SMA apalagi perguruan tinggi. Namun, ia bersyukur, orangtuanya memiliki kepedulian yang tinggi untuk menyekolahkan anakanak mereka, termasuk dirinya. Sebagai anak sulung dari The Tiong Swan dan Sie Su Fa, Mulyati yang terlahir dengan nama The Fei Lie dan memiliki nama baptis Felicia Mulyati ini tidak punya pilihan lain selain mengikuti kehendak orangtua untuk terus bersekolah. Kebetulan juga Mulyati adalah anak yang bersemangat untuk bersekolah. Hal inilah yang membuatnya sedih, ketika di tahun 1965, saat terjadi peristiwa yang dikenal sebagai G/30 S PKI pecah, sekolah-sekolah Tionghoa yang diselenggarakan di rumahrumah dilarang untuk beroperasi. “Tulisan-tulisan Tionghoa pun dilarang untuk digunakan,” ujarnya.

Itulah masa yang mencekam bagi ia dan keluarganya serta warga keturunan Tionghoa lainnya. “Saat itulah kami tidak lagi boleh sekolah sehingga banyak kawan-kawan saya yang putus sekolah,” ujarnya. Kesulitan anak-anak warga keturunan untuk berbaur dengan pribumi di zaman itu menjadi salah satu penyebab banyak yang memilih tidak melanjutkan sekolah. Namun, atas dorongan orang tuanya, Mulyati terus bersekolah dan masuk melanjutkan sekolahnya di sekolah Indonesia bersama kawan-kawan lainnya. Waktu itu Mulyati masuk di kelas VI SD Negeri 2 Praya. Cukup lama Mulyati dapat beradaptasi di sekolah barunya ini. Namun, keluwesan sikap dan kemauan Mulyati yang besar untuk bersekolah membuatnya tidak kesulitan dalam bergaul. Apalagi ia juga memiliki darah Sasak (Lombok) asli karena neneknya berasal dari Ganti, Pejanggik Lombok Selatan sehingga lebih mudah masuk dalam pergaulan anak-anak Indonesia bersuku Sasak. Namun satu hal yang sempat membuatnya sangat kesulitan adalah dalam hal pelajaran sekolah, dimana pelajaran di sekolah Indonesia ini diberikan dalam Bahasa Indonesia. Sedangkan selama sebelumnya, ia mendapat pelajaran dalam Bahasa Mandarin. “Sulit sekali memahami waktu pertama mengikuti. Tetapi lamalama saya terbiasa juga,” kata ibu dari tiga anak, Pascavera Christiana Dede, SE., M.Acc.Ak., Vennycia Darliana Dede, ST., dan Vemylia Decyana Dede, SH., M.Kn. Kesulitan itu, lanjutnya, terutama

dalam hal menghafal perkalian. Bisa dibayangkan, ia yang selama itu mengenal angka cara Tionghoa harus mengubah cara menghafalnya dengan angka Indonesia, pakai perkalian pula dan harus meng­ hafalnya pula. Itu membutuhkan perjuangan tersendiri bagi perempuan bertubuh mungil ini. INGIN JADI DOKTER Kesungguhannya untuk ber­ sekolah didukung penuh oleh orangtuanya, akhirnya membuatnya lulus dari SD Negeri 2 Praya di tahun 1967. “Seingat saya, hanya enam kawan Tionghoa satu sekolah de­ ngan saya yang melanjutkan sekolah ke jenjang SMP kala itu. Apalagi saat itu, sekolah SMP juga belum banyak, selain di Praya hanya ada beberapa SMP salah satunya SMP yang kerap disebut sebagai SMP Dolar di Ampenan,” katanya. Penuh semangat Mulyati melanjutkan SMP-nya di SMPN 1 Praya lalu di SMAN 1 Praya. Ia menamatkan sekolahnya seluruhnya di Praya. Mengambil jurusan IPA di SMA, sesungguhnya Mulyati ingin sekali menjadi seorang dokter. Namun, karena keterbatasan biaya mengingat kondisi kehidupan ekonomi orangtuanya yang pas-pasan, membuat cita-cita itu hanya bisa dipendamnya. Ia sadar jika kuliah di kedokteran tentulah membutuhkan biaya yang sangat mahal. Ia tidak memaksakan kehendaknya itu. “Kalau saya memaksa ingin kuliah di kedokteran, bagaimana dengan delapan adik saya, bisabisa mereka tidak sekolah karena biaya akan habis untuk membiayai

saya sendiri,” katanya memaklumi kondisi orangtuanya kala itu. Mulyati mengalah dan mendengarkan nasehat serta arahan orangtuanya yang menginginkannya untuk terus bersekolah. “Kalau tidak sekolah, kamu mau jadi apa,” demikian ungkapan orangtua yang masih diingatnya. Orangtuanya menginginkannya kuliah di Mataram saja, tidak perlu jauh-jauh keluar daerah agar tidak makan biaya banyak. Setelah cita-cita terpendam ­ingin jadi dokter, namun gagal karena kondisi yang tidak memungkinkan, Mulyati lantas ingin kuliah di Fakultas Hukum. Namun keinginan ini tidak direstui orang tuanya yang menginginkan ia kuliah di Fakultas Pertanian. Pilihan ini bukannya tanpa alasan. “Selama orang membutuhkan makan, maka orang pasti membutuhkan pertanian,” kata ayahnya kala itu. Kepatuhannya pada orangtua lalu membawanya pada keberuntungan yang beruntun hingga akhir­ nya ia menjadi Guru Besar Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Sepanjang usianya yang kini menginjak 60 tahun, ia bersyukur kini berada di masa yang terbuka. Tidak lagi ada perbedaan antara pribumi dan nonpribumi, melainkan sudah membaur. Belajar dan bermain bersama. Era ini tidak lagi menjadi penghalang bagi pergaulan mere­ ka. Di Lombok sendiri bahkan orang-orang Tionghoa yang lahir dan besar di Lombok khususnya, senang menyebut dirinya sebagai putra daerah (pengertianya, orang NTB asli). -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Pelaku Bullying Itu Penakut Kasus bullying bisa terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Anak-anak termasuk kelompok yang rawan menjadi pelaku dan korban bullying. Apa yang harus dilakukan orangtua agar anak tak terlibat bullying?

J

ojo sekelas dengan Bent sejak kelas 1. Awalnya hubungan pertemanan mereka baik-baik saja. Namun, mulai kelas 3, Bent mulai mengintimidasi Jojo. Tiap hari Jojo diejek, dicubit, bahkan dipalak. Jojo tak melakukan perlawanan. Ia memilih diam. Adik Jojo yang bersekolah di tempat sama akhirnya mengetahui kalau Jojo sering diganggu Bent. Akhirnya, sang adik melapor ke ibunya. Jojo pun diinterogasi oleh ibunya. Jojo mengaku sering diganggu Bent. Jojo juga mengatakan sudah memberitahu Bent untuk tidak mengganggu. Tetapi, Bent tetap saja melakukan. “Saya pun lapor ke gurunya tentang perilaku Bent terhadap Jojo. Ternyata Bent termasuk anak yang bermasalah. Saya minta mereka dipisahkan. Untung guru mau mengerti dan mereka pun dipisahkan kelasnya,” ungkap Tria, ibu Jojo. Sejak kelas 4, Jojo dan Bent pisah dan Jojo tak lagi diganggu oleh Bent. Menurut Caecilia Nirlaksita, S,Psi, C.Ht, tindakan yang dialami Jojo termasuk dalam kategori bullying. “Bullying itu tindakan intimidasi atau melakukan control kuasa dengan cara memaksa atau menekan individu lain atau kelompok lain. Penekan harus yakin bahwa dirinya merasa punya power lebih terhadap orang yang ditekannya. Penekan kuasa menganggap lemah pihak yang dikuasai. Intimidasi ini bisa dilakukan individu kepada individu, bisa juga dari kelompok kepada individu, atau bahkan individu pada kelompok (bila kelompok ini dianggap lemah). Dalam satu kelompok biasanya ada trouble maker (pengganggu) sebagai inisiator intimidasi, bisa satu individu sebagai inisiator atau lebih,” jelasnya. Psikolog yang juga memiliki jasa pelayanan psikologi dengan House of Psike (Rumah Rasa), yang bekerjasama dengan Klinik Tri-K ini, menambahkan bullying bisa dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Bisa secara verbal seperti memaki, menghina, dan menggosip, mengasingkan bahkan bisa dilakukan kekerasan secara fisik seperti memukul, menendang, menelanjangi, mencubit, dan memalak. Bagaimana mengetahui bila anak korban bullying? Ciri-ciri anak yang menjadi korban bullying menampakkan perilaku tidur yang tidak nyenyak, ada perubahan konsentrasi, anak sebelumnya fokus mengerjakan sesuatu menjadi tidak fokus, suka secara aneh mengasingkan diri atau berusaha menghindari kerumunan atau teman- temannya, dan perilaku anak kehilangan semangat/tidak antusias. Dampak yang parah adalah adanya gangguan perilaku/

psikologis, gangguan emosi, dan gangguan konsentrasi pada korban bullying. “Bila ada tanda mengarah pada ciri-ciri ini, orangtua disarankan segera bertindak. Maka inilah pentingnya fungsi orangtua sebagai pembelajar anak, untuk sedini mungkin membangun kesadaran tentang pentingnya berbicara atau berkomunikasi dari hati ke hati, ketika anak menjadi korban tanyakan, jangan adakan sanggahan pada keterangannya, gali terus apa yang terjadi dengan cara santai, ada kalanya anak senang bila bertatapan mata, adakalanya anak lebih nyaman dan bebas bila bercerita tanpa menatap mata (khusus pada kasus ini). Saat berkomunikasi, gunakan bahasa mental anak sehingga dia merasa nyaman berbicara pada teman dekatnya,” ujar anggota Himpunan Psikologi (Himpsi) Bali yang menekuni bidang Psikologi Hukum ini. ANAK MENCONTOH ORANGTUA Dalam diri manusia, ada wilayah mental kepribadian, dalam analisis transaksional, mental anak, mental orangtua, dan mental dewasa. Ketika berkomunikasi dengan anak sebagai korban bully, gunakan pendekatan mental anak. Hal ini akan memudahkan anak menyampaikan kemarahan, kekecewaan dan penghinaan dari pelaku bully. Empati atau merasakan rasa yang dialami anak. Maka anak pun semakin merasa dipahami dan percaya pada kita untuk menceritakan secara detail tentang peristiwa intimidasi. Anak akan dengan sendirinya membuka diri untuk menyampaikan perasaan dan peristiwanya. Dengarkan saja apa yang disampaikan anak, sekali lagi tidak menggunakan sanggahan pada pendapatnya, agar mendapat penggalian keterangan lebih banyak. Apapun persoalan yang dihadapi anak, kunci utama relasi mental anak dan orangtua terletak pada komunikasi, orangtua hendaknya setiap saat belajar dari peristiwa berkomunikasi dengan anak, untuk mengekplorasi kemampuan anak. Anak yang mampu mengembangkan kemampuan verbalnya untuk menyatakan dirinya, cenderung berkembang menjadi percaya diri, sehingga tidak bisa dianggap lebih lemah oleh pelaku bully. Mengapa pelaku bullying menyukai untuk mengitimidasi? Alasannya berbagai macam , bisa jadi ia pernah menjadi korban bully lalu ingin melakukan balas dendam dengan melakukan displacement agreasi pada orang yang dianggap lemah. Bisa juga kebiasaan menyaksikan unsur kekerasan yang ditayangkan oleh televisi, majalah, media sosial, melihat kebiasaan lingkungan sosial, kebiasaan orang-

Caecilia Nirlaksita

tua di rumah atau pembantu yang sering memperlihatkan kekerasan verbal dan fisik, serta mempelajari dari peer group. Anak bisa tidak mampu mendengar tapi tidak pernah salah mencontoh orang lain, terutama orangtua. Perilaku kekerasan yang dilihat setiap saat direkam anak dalam mentalnya. Bisa secara sadar ataupun tidak sadar mempengaruhi mental dan perilaku anak. Inilah betapa orangtua sebagai model yang sepantasnya ditiru oleh anak. Untuk meyadarkan anak hanya dengan memberi

pelukan dan pujian positif, contoh “kamu kan anak baik, nah anak baik biasanya mampu menata tempat tidurnya”, mampu kreatif dan baik pada orang lain. MINTA VISUM “Pada dasarnya pelaku bullying adalah orang yang jago kandang/ tidak berdaya. Pelaku seringkali memiliki motif melampiaskan perasaannya yang tersisih, terkuasai oleh kemarahan, kekecewaan dan tidak berdaya, Dinamika bisa muncul dari perlakuan orangtua,

anak ini bisa jadi sering dimarahi orangtuanya dengan makian dan kata-kata yang kasar atau mungkin dengan hukuman fisik. Anak tak memiliki keberanian melawan jenis orangtua seperti ini, karena rasa lemah, takut dengan power/ kuasa yang ada di orangtua. Perasaan adalah sumber masalah pemikiran anak, perilaku anak dan mental anak,” ujar psikolog lulusan Universitas Surabaya ini. Bagi orangtua yang anaknya menjadi korban bullying di sekolah, Caecilia sepakat dengan yang dilakukan Tria. Pihak sekolah yang harus menjadi fasilitator serta mediator. Hati - hati ketika melakukan pendekatan yang langsung berhadapan dengan orangtua pelaku, kemungkinan justru bisa menimbulkan masalah yang akan lebih meluas, batasi persoalan dengan pendekatan dan penyelesaian sesuai, beri efek jera pada pelaku dengan bukan menambahkan masalah. Lakukan pendekatan pada perkumpulan orangtua untuk membuat aturan sekolah wilayah bebas bully, lakukan pendekatan ekstrakurikuler dengan drama yang mengajarkan cinta kasih, membuka forum diskusi pada anak dan orangtua. Bila terjadi kekerasan fisik yang mengakibatkan luka dan cacat, segera laporkan ke polisi untuk diarahkan ke rumah sakit terdekat dengan mendapat visum et repertum dari dokter yang ditunjuk. Urusan nanti akan dilanjutkan ke ranah hukum atau tidak tergantung para orangtua, pihak sekolah dan orangtua pelaku. -Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

Serigala Mencari Dokter

Sejak beberapa hari hewan-hewan di hutan mendengar rintihan dan tangis Serigala. Namun, tak seekor hewan pun yang berani mendekat, apalagi bertanya kepada hewan yang ganas itu. Di kalangan hewanMade Taro hewan, Serigala terkenal karena sifatnya yang serakah, suka menipu, licik dan tidak punya rasa terima kasih. Pada suatu siang, sang Serigala duduk merintih di bawah pohon randu. Di sebuah ranting pohon itu hinggap seekor burung kolibri. Mendengar rintihan yang mengiris hati itu, burung pengoceh itu bertanya, “Apa yang terjadi atas dirimu, Tuan Serigala?” “Tolonglah aku, Kolibri! Sejak seminggu aku tidak makan, karena sekerat tulang menyangkut di tenggorokanku.” “Sungguh kasihan aku mendengar rintihanmu,” kata Kolibri. “Aku berniat menolongmu, tetapi tubuhku yang terlalu kecil ini tidak mungkin dapat membantumu. Maaf, aku hanya bisa memberi petunjuk.” “Petunjuk apa itu, Kolibri?” “Minta tolonglah kepada Tuan Bangau! Ia dokter ahli tenggorokan. Ia juga punya alat lengkap untuk mengeluarkan tulang yang menyangkut itu.” Serigala amat senang mendengar petunjuk Kolibri. Tanpa mengucapkan terima kasih, ia berlari secepatnya menuju danau tempat dokter ahli itu mencari makan. “Dokter Bangau! Tolonglah keluarkan tulang yang

menyangkut di tenggorokanku!” Burung berkaki, berleher dan berparuh panjang itu memandang Serigala dengan rasa curiga. Lalu katanya, “Walaupun aku sanggup menolongmu, tetapi tidak mungkin, Serigala! Bukankah kau suka menipu, licik, dan tidak punya rasa terima kasih?” Serigala tersinggung. Ia ingin mencaplok Bangau, namun karena sangat berkepentingan, ia berusaha menahan diri. Lalu katanya. “Sekali lagi tolonglah aku, Bangau! Sejak tulang itu menyangkut di tenggorokanku, aku merenung siang-malam. Aku sadar. Aku harus mengubah sifatku yang buruk menjadi hewan yang baik budi dan tidak menyakiti hewan lain. Sekali lagi, tolonglah Bangau! Bukankah perbuatan menolong makhluk yang sangat membutuhkan, akan mendapat pahala yang tinggi? Aku berjanji akan memberimu hadiah, dan aku bersumpah tidak akan mengulangi perbuatanku yang buruk.” Bangau ahli penyakit tenggorokan itu merasa terpanggil, lalu katanya. “Baiklah! Bukalah mulutmu lebar-lebar!” Serigala membuka mulutnya. Bangau memasukkan paruhnya ke tenggorokan Serigala. Hup! Sungguh gemilang! Sekali tarik, tulang yang melintang itu keluar. “Auuuwww….!” Serigala melolong panjang, tanda riang-gembira. Kemudian, tanpa permisi, ia meninggalkan Bangau. “Hai, Serigala! Mana hadiah untukku?” tanya Bangau. Sambil berlari menjauh, Serigala itu menjawab, “Hai, Bangau! Seharusnya kaulah yang berterimakasih. Atas budi baikku, aku tidak sampai hati mencaplok kepalamu.”

Griya

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Pesona Bunga Teratai

Tunjung Saraswati Keindahan sebuah tanaman bisa terletak pada bunga, daun, maupun batangnya. Salah satu tanaman air berbunga cantik adalah teratai. Bunganya yang anggun dan indah yang menyembul di permukaan air, mampu “menghipnotis” penikmatnya.

T

anaman teratai tumbuh di media berlumpur di permukaan air yang tenang. Memiliki daun berbentuk bundar atau oval yang mengapung dipermukaan air. Menurut Made Sudiani (45), pemilik Stan Bunga Sekar Sari di kawasan By Pass Sanur Denpasar, pengembangbiakan tanaman ini sangat gampang, tak seperti tanaman lainnya. Di stan bunga yang ia kelola bersama suami sejak 23 tahun lalu ini, memang didominasi tanaman teratai. “Pembibitan dan perawatan lebih gampang dibandingkan

tanaman lain,” ujarnya. Teratai berkembangbiak dengan dua cara, yakni melalui biji dan tunas. Berdasarkan pengalamannya, tak semua teratai bisa dikembangbiakkan melalui biji ataupun tunas. Ada ciri-ciri fisik yang bisa dilihat dengan jelas. “Teratai yang bisa dikembangbiakkan dengan tunas, bisa dilihat pada daunnya. Biasanya pada titik pertemuan ruas daun ada semacam bentolan. Inilah yang nantinya akan bertunas, tumbuh menjadi anakan baru,” jelasnya. Sementara untuk jenis teratai yang bagus dikembangbiakkan dengan biji, karakter kelopak bunganya agak kuat dan lama tidak layu-layu. Setelah mahkota bunganya gugur, biji-biji ini pun terlepas sendiri dan jatuh ke dalam air. Biji-biji ini kemudian tumbuh menjadi anakan baru. Setelah anakan baru ini muncul, baik dengan pembibitan melalui tunas maupun biji, bisa dipisahkan dan ditaruh di tempat khusus atau tersendiri, yang tentunya di media berlumpur. “Saya biasanya memakai tanah sawah, karena biasanya tanah sudah subur karena sering dipupuk, dsb,” ucapnya lugu. Meski pembibitannya gampang,

17

tanaman teratai juga perlu dirawat khusus. Tiap dua minggu atau selambat-lambatnya sebulan sekali, Sudiani selalu memupuki tanaman teratainya. “Dalam satu pot, diberi pupuk seperempat sendok teh saja, jangan berlebihan yang justru akan membuat pertumbuhannya tidak bagus bahkan mati,” ucapnya. Agar pertumbuhannya bagus, media tanam baik itu di pot atau di kolam perlu dibersihkan dari lumut-lumut atau bekicot kecil yang kerap muncul menggerogoti daundaunnya, yang tentunya dapat mengurangi keindahan tanaman teratai. Po t o n g j u g a daun-daun yang sudah hitam dan menguning. Jangan lupa untuk mengganti tanahnya jika zat lumpurnya sudah habis. Hal ini bisa dilihat dengan permukaan dasar pot atau kolam yang hitam. Atau bisa juga dirasakan dengan mengambil tanah lumpur di dalam media itu. Jika sudah habis, segera ganti tanah yang baru. Dan yang paling penting, jaga genangan air agar tidak berkurang. Karena, tanaman teratai sangat suka dengan air yang banyak dengan sinar matahari cukup. –Inten Indrawati

Beragam Warna Tunjung Selain sebagai tanaman hias dengan beragam warna seperti putih, kuning, biru, oranye, merah muda (tujung saraswati), kuning emas, ungu (warna mahkota ungu dengan kelopak putih), dan hitam (sebutan untuk teratai berwarna mahkota ungu dengan kelopak ungu), teratai juga banyak difungsikan sebagai tanaman obat dan Tunjung kebutuhan upakara khususnya di Bali. Sudamala Itu pula yang menjadi salah satu alasan Sudiani mengembangbiakkan tanaman teratai dengan beragam jenis dan warna. Di Bali, bunga teratai disebut tunjung. Umumnya, bunga teratai akan mekar setelah matahari terbit dan kuncup menjelang matahari terbenam. Namun, khusus untuk teratai (tunjung) lokal (Bali) diakui Sudiani memiliki waktu mekar yang lebih daripada teratai lainnya. “Tunjung Bali, bunganya mekar dari pagi sampai sore, tapi ketika malam dia mekar lagi. Tunjung Bali ini daunnya lebih bergerigi,” jelasnya. Ada satu jenis tunjung yang ia sebut agak berbeda dengan yang lainnya, bisa disebut agak langka. Yakni, tunjung sudamala. Bunganya kecil-kecil berwarna putih seperti melati dan permukaan mahkota bunganya seperti berbulu. Bunganya muncul di bawah daun. Usia mekarnya hanya setengah hari, mulai matahari terbit sampai siang, setelah itu layu. Keesokan harinya, yang mekar adalah kelopak bunga yang lain, begitu seterusnya. Bibit tunjung sudamala ini diakuinya didapat dari temannya di Payangan, Gianyar. –Inten Indrawati


16

Edukasi

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

UN Online Terhadang Fasilitas Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan melaksanakan UN online atau Computer Based Test (CBT) di sejumlah sekolah di tanah air pada April 2015. Di Bali, dari 24 sekolah yang menjadi nominee pelaksana UN online, disebutkan hanya dua sekolah yang siap, yakni SMPN 1 Denpasar dan SMK TI Global Singaraja.

K

epala SMPN 1 Denpasar Drs. A.A Gde Agung Rimbya Temaja, M.Ag., saat ditemui Jumat (27/2) mengklarifikasi pernyataannya tersebut. “Di awal, saya memang menyatakan SMPN 1 siap melaksanakan UN online karena kami dulu sebagai RSBI sudah sering mengikuti lomba online. Bahkan sekitar bulan lalu, kami bekerjasama dengan 4 sekolah di Yogyakarta untuk melakukan pemantapan online. Artinya, dari segi anakanak dan fasilitas lain, kami siap,” ujarnya. Menyusul datangnya surat dari pusat yang baru diterimanya 26 Januari tentang Persyaratan Sekolah Penyelenggara UN CBT, Rimbya Temaja menyatakan ketidaksiapannya. Apalagi, formulir kesiapan itu harus sudah diserahkan per akhir Januari 2015. Dari berbagai persyarat­ an dari Kemendikbud itu, di antaranya ketersediaan petugas laboratorium komputer, sarana prasarana seperti komputer, server dan spesifikasi teknis, ada satu syarat yang menjadi kendala,

yakni menyediakan komputer client di sekolah yang jumlahnya sebanding dengan jumlah peserta ujian nasional, yaitu dengan perban­ dingan 1:3 (1 komputer tersedia untuk 3 peserta ujian).

Melihat Nusantara di Taman Nusa

Miniatur Candi Borobudur

Bagi Anda yang tinggal di Bali dan tertarik mengenal keanekaragaman budaya Indonesia, bisa datang ke Taman Nusa Bali. Lokasinya, Jalan Taman Bali, Desa Sidan, Gianyar. Anda dapat mencapainya sekitar 45 menit dari Denpasar. Kawasan ini mirip dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

P

uluhan rumah adat Nusantara, terlihat begitu indah disajikan dalam bingkai Taman Nusa. Tak tanggung-tanggung, beberapa rumah adat seperti rumah adat Minang dan Toraja didatangkan langsung dari asalnya. “Rumahnya bisa dibongkar pasang. Dirakit langsung oleh tukangnya dari tempat asal rumah adat,” kata David Arista, Art Culture Promo, Supervisor Ta-

man Nusa Bali. Rumah tradisional dibangun dengan penataan sedemikian rupa sehingga menyatu dengan alam Bali. Mengunjungi kampung ini, Anda berkesempatan mengenal berbagai etnis, budaya dan kerajinan serta kesenian Indonesia. Anda juga bisa langsung bertemu dengan warga asli, seperti Dayak, Papua, Papau Barat, NTT, dll. Sekaligus menikmati musik, dan kerajinan khas

“Kalau saja syaratnya bisa menggunakan laptop, kami sudah sangat siap,” ungkapnya. Kendala serupa disampaikan Kepala SMAN 1 Denpasar Drs. I Nyoman Purnajaya, M.Pd . Ada tiga aspek yang menjadi alasan utama ketidaksiapan sekolah ini dapat melaksanakan UN online pada tahun ini. Aspek tersebut meliputi aspek teknis menyangkut fasilitas IT, aspek program, dan aspek psikologis siswa. Dari segi teknis, fasilitas yang dimiliki sekolah ini masih belum memadai jika dibandingkan dengan peserta UN tahun ini yang jumlahnya 416 orang. Berarti sekolah memerlukan 140 unit komputer dengan jumlah server 9 buah sesuai dengan persyaratan. Padahal, saat ini, sekolah hanya memiliki 40 unit komputer dengan 2 server. Sedangkan untuk aspek program dikatakannya hingga saat ini belum mendapatkan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis soal UN online yang dimaksud Kemendiknas Dasar dan Menengah RI. Menyangkut aspek psikologis, menurut Purnajaya sudah ada perwakilan siswa kelas XII yang menghadap dan meminta sekolah untuk tidak mengikuti UN online karena para siswa belum familiar untuk ujian seperti ini.Tentunya,ini juga menjadi pertimbangan kami sebagai pucuk pimpinan sekolah ini,” ujarnya. Meski demikian, sampai berita ini diturunkan Kepala SMPN 1 Denpasar Rimbya Temaja menegaskan kesiapannya jika seandain-

daerah mereka masing-masing. Satu hal yang menarik perhatian Tokoh adalah saat masuk ke rumah khas Papua. Rumah adat Papua atau yang biasa disebut Honai ini dimiliki suku Dani. Rumah Honai ini terbuat sepenuhnya dari bahan-bahan yang ada di alam, dengan material kayu pada badan rumah dan jerami sebagai bahan dari atapnya. Rumah ini terlihat tertutup karena tidak dilengkapi dengan jendela, karena memang fungsinya adalah untuk melindungi suku Dani yang tinggal di dalamnya dari udara dingin pegunungan Papua. Seorang suku khas Papua, namanya Israel sedang membuat kerajinan khas Papua sembari menyapa pengunjung yang datang. Selain rumah adat Nusantara, di kawasan seluas 15 hektare, pengunjung menikmati panorama perjalanan waktu bangsa Indonesia, dimulai dari masa prasejarah, jaman perunggu, masa kerajaan hingga kampung budaya Indonesia. Perjalanan berlanjut ke masa awal Indonesia, era kemerdekaan, masa kini dan akhirnya sampai di harapan Indonesia masa depan. Pemandangan alam pegunungan

Rumah Honai

ya tiba-tiba SMPN 1 Denpasar ditunjuk melaksanakan UN online. Karena, kini pihaknya berupaya mempersiapkan persyaratan tersebut. “Dengan peserta ujian 249, kami sudah mempersiapkan 83 unit komputer sesuai dengan persyaratan. Jaringan-jaringan internet yang sebelumnya masih bermasalah pun, sekarang sudah diperbaiki. Jadi, sekarang kami sudah siap,” tegasnya. Secara pribadi Rimbya Temaja menyambut baik dan mendukung pelaksanaan UN online ini. Paling tidak

Rumah Adat Papua

berpadu dengan puluhan rumah adat di Indonesia, membuat kita semakin kagum betapa kayanya budaya Indonesia. Kompleks Taman Nusa berdiri di atas tebing, menyusuri Sungai Melangit, dengan pemandang­an tumbuhan alam. Memandang ke bawah, Anda dapat melihat sungai tempat orang rafting. Walaupun tak seindah aslinya, miniatur Candi Borobudur juga

menurutnya, UN online bisa meredam permasalahan yang selalu muncul dalam tiap pelaksaan UN, seperti bocornya soal. Dengan UN online yang berbasis IT ini akan lebih efektif. Peserta ujian bisa lebih mandiri, jujur, kompetitif, karena tingkat kebocoran soal sangat kecil. Namun, sebelum dilaksanakan, ia sangat berharap dinas terkait menyiapkan sarana-prasarana dan diujicobakan dahulu sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pusat. –Inten Indrawati

ikut serta meramaikan tempat wisata yang dibuka sejak tiga tahun lalu ini. Candi Trowulan dan figur Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa, juga berdiri tegak. “Taman Nusa merupakan taman wisata budaya yang memberikan pengetahuan menyeluruh tentang budaya dari berbagai etnis Indonesia dalam suasana alam pulau Bali,” ujar David. Beberapa bangunan mewakili tiap masa dicirikan dari arsitektur dengan fitur Buddha, unsur Islam, rumah kolonial Belanda, serta pengaruh Tiongkok untuk arsitektur modern dan Hindu. Perjalanan terasa sangat menyenangkan, karena berkeliling ke berbagai rumah adat, kita melintasi taman-taman yang sejuk. David mengatakan, ke depannya, di kawasan ini akan dibangun sanggar-sanggar untuk mementaskan berbagai kesenian daerah. “Harapannya, pengunjung akan merasakan atmosfer kehidupan tradisional tiap daerah dalam bentuk perkampungan etnis,” kata lelaki yang piawai menari ini. -Wirati Astiti

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

9

Duta Endek dan Inovasi Produk Lokal Pada HUT ke-227 Kota Denpasar Dalam acara pameran serangkaian HUT ke -227 Kota Denpasar yang berlangsung di Taman Kota, Lumin­ tang Denpasar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan ­(Disperindag) Kota Denpasar juga hadir mengetengahkan anjungan informasi terkait “Peningkatan Inovasi Produk Lokal Tahun 2015”

P

ada kesempatan tersebut, karya-karya fashion Duta Endek juga diberikan ruang bersamaan dengan ditampilkannya informasi perihal perdagangan dalam negeri seperti : Revitalisasi Pasar Tradisional Tahun 201-2014; Pemahaman Sarana Pasar Tradisional; Rumah Kemasan dan Konsultasi yang dilengkapi dengan brosur-brosur pendukung informasi perdagangan dalam negeri. Menurut, Kadisperindag Kota Denpasar, Drs. Wayan Gatra, M.Si, kegiatan ini termasuk dalam program “Peningkatan Inovasi Produk Lokal Tahun 2015”. Semua dilaksanakan demi semakin tertanamnya kebanggaan pada Kota Denpasar bersama pesona warisan seni budayanya sehingga terus dipelihara dan dilestarikan. Sebelumnya, Disperindag telah pula menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mewujudkan iklim kemitraan antara pemerintah, para pemangku kepentingan, pengrajin dan masyarakat untuk bersama-sama membangun Kota Denpasar. “Disperindag pun menyediakan sarana promosi produk perdagangan, investasi di bidang tekstil dan fashion endek (ready to wear). Tentu semua berujung pada upaya menunjang ‘Kota Denpasar sebagai Kota Kreatif’ dalam ‘Tahun Indonesia Kreatif’. Sosialisasi penggunaan produksi dalam negeri sebagai program cinta karya Indonesia juga wajib terus digaungkan di berbagai kesempatan,” tutur Wayan Gatra.

Selanjutnya kunjungan Wakil Wali Kota IGN Jaya Negara beserta undangan ke stan Disperindag Kota Denpasar, rupanya mampu memberikan motivasi pada para Duta Endek yang turut hadir, agar pintar-pintar melihat peluang dan menggunakan kesempatan untuk tetap berkarya dan berinovasi. Di tempat yang sama Wakil Wali Kota juga dapat melihat langsung sebagian dari hasil karya Duta Endek Kota Denpasar yang juga dipajang di sana, seperti kemeja, dress, blus, pernak-pernik rambut, tas, hingga kaus kasual. Salah seorang Duta Endek 2014, Gung Gus menyampaikan suka citanya diberikan kesempatan turut memajang karyanya dan berharap tahun berikutnya mendapat kesempatan kembali. Dalam kegiatan pameran yang berlangsung hingga 3 Maret ini sekaligus juga menjadi ajang promosi pemilihan Duta Endek Kota Denpasar tahun 2015, tepatnya 2 Oktober 2015 mendatang. “Jika kamu adalah WNI berusia 15-24 Tahun, berdomisili di Kota Denpasar, belum menikah, mempunyai tinggi minimal 165 cm (perempuan) dan 170 cm (laki-laki), berat badan proporsional, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, memahami pengetahuan tentang endek dan berwawasan luas, terlebih memiliki bakat khusus dan memiliki piagam prestasi dapat disertakan, tidak ada salahnya siapkan diri sejak sekarang,” begitu disampaikan oleh para Duta Endek yang ikut menjaga anjungan Disperindag kala itu.

KIBARKAN TAG LINE Dengan Semangat Cinta Denpasar Pada malam harinya, mengusung tema “Inspire and Harmony of Wastra”, Duta Endek Kota Denpasar juga turut meriahkan Malam Apresiasi HUT ke -227 Kota Denpasar pada Jumat (27/2), di panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre Denpasar. Persembahan kali ini, dibawakan oleh Duta Endek Kota Denpasar Tahun 2012, 2013, 2014. Dengan arahan koreografi oleh IAM Model & Talent Management mereka dengan penuh suka cita membawakan hasil karya dan kreasi milik mere­ka sendiri berupa busana-busana kasual. Gaya busana masa kini dan tentunya sesuai dengan karakter anak muda yang penuh dinamika dan inspirasi. Selain itu, para Duta Endek juga tampil memeragakan koleki milik Asosiasi Endek, Bordir dan Songket (ASBEST) Kota Denpasar, yakni Cempaka Butik, Wijaya Kusuma, Anyar Butik , Nikki Sri Butik, Butik Novi, Primadona dan Ayu Sandat. Sedangkan untuk tata rias mereka ditangani oleh Cahya Atsuka Salon Denpasar. “Rata-rata koleksi yang ditampilkan adalah pakai­ an ready to wear atau siap pakai untuk kalangan anak muda. Kami ingin membuktikan bukan hanya bangga punya endek tapi juga mau langsung mengenakannya, bahkan banyak teman sudah pula berkarya,” ujar Willy mewakili rekan-rekannya sesama Duta Endek sambil menyebutkan Gung Gus yang mengibarkan “Sambhara”, Parta dan Krisna dengan merek “Rare Rare Wear”, Candra Yunita dan Cakra melalui “Basudewa” Ayutya dengan “Kriya Tenun”, Merta dengan “Juna” dan Wella dengan bendera “Cahya Atsuka.” Rupanya mereka sudah memahami arti dari tag line “Endek Kita Punya, Kita Pakai dan Kita Bangga”. ‘Kita Punya’, berarti kita memiliki produk unggulan lokal Kota Denpasar yang wajib kita lestarikan. ‘Kita Pakai’, sudah pasti merupakan perwujudan langsung mengenakannya sebagai busana dan gaya hidup.

Sedangkan ‘Kita Bangga’, berupa rasa memiliki yang tinggi akan adanya sebuah warisan budaya yang wajib dilestarikan oleh seluruh masyarakat, baik generasi muda, tua maupun anak-anak. Selain tag line yang sudah berkibar di antara anakanak muda Kota Denpasar khususnya, rupanya peserta pemilihan Duta Endek pun setiap tahunnya meningkat pesat. Dalam kesempatan berbeda, Ketua Dekranasda Kota Denpasar yang juga penggagas terbentuknya Duta Endek Kota Denpasar ini, merasa senang karena apresiasi yang luar biasa terjadi khususnya di kalangan anak-anak muda, termasuk peningkatan yang terjadi pada setiap pemilihan Duta Endek sejak tahun 2012. “Rupanya mereka semakin sadar dan merasa punya kewajiban sebagai generasi muda untuk bersama-sama menjaga warisan budaya ini. Di samping itu, para Duta Endek juga sudah menjalankan tugas mereka dengan baik, minimal di lingkungan mereka, seperti di sekolahnya masing-masing. Terlebih lagi dengan media sosial saat ini, pengaruhnya luar biasa. Segala informasi dan perkembangan endek di dunia fashion cepat menyebar. Lebih senang lagi saat mengetahui mereka bukan hanya senang dan bangga memakai juga tahu proses pembuatan­nya bahkan sejarahnya endek,” katanya. –ard


10

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Biduran Dialami 60% Wanita Saat ini suhu udara sangat ekstrim. Kadang panas, kadang dingin. Apa­ lagi di malam hari, kadang hujan dan hawa sangat dingin. Bagi sebagian orang cuaca dingin membuat merasa nyaman. Namun, lain halnya dengan orang-orang yang menderita “alergi dingin”. Suhu dingin ini sangat menyiksa, karena pada saat suhu dingin pada kulitnya akan mun­ cul bentol-bentol merah tebal yang terasa sangat gatal. Bentol gatal ini dikenal dengan istilah biduran. Apakah sebenarnya biduran itu?

M

Biduran

enurut staf penga­ jar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedok­ teran Unud/RS Sanglah, dr. I.G.N Darmaputra, Sp.K.K., biduran istilah medisnya urtikaria. Diperkirakan 3,2-12,8% dari populasi pernah mengalami biduran. Biduran merupa­ kan golongan penyakit alergi dimana sebagian besar penderita mengang­ gap bahwa penyebab utama biduran adalah udara dingin. Padahal, udara dingin hanya sebagai salah satu fak­ tor yang memperberat atau faktor pemicu kekambuhan. “Terdapat banyak faktor pemicu kekambuhan biduran seperti udara dingin, udara panas, makanan, debu, stres maupun infeksi bakteri atau virus. Bahkan dari hasil penelitian, ternyata hampir 80% tidak diketahui penyebabnya,” papar pemilik D.I. Klinik Centre ini. Ia menambahkan, ketidakpastian penyebab timbulnya biduran, disebab­ kan banyak faktor yang berpengaruh dan sulit dipastikan. Biduran tidak akan timbul bila penyebab utama alergi tidak ada. Artinya, bila orang tersebut tidak memiliki alergi, faktor pencetus tadi seperti alergi makanan, udara dingin, udara panas, stres, infeksi virus, dan lain sebagainya tidak akan berpengaruh. Jadi, udara dingin dan faktor pemicu lainnya hanya mem­ perberat bukan penyebab utama. Dasar penyebab utamanya adalah

atopi atau suatu keadaan atau kelainan alergi yang sifatnya diturunkan dari dalam satu keluarga dengan manifes­ tasi penyakit seperti biduran, radang kulit berulang. Timbulnya pada tempat tertentu dengan tanda khas sesuai umur (dermatitis atopi), asma, sering pilek , bersin sampai hidung tersumbat dan biasanya terdapat pula tanda lain berupa lingkaran gelap di mata, kulit agak pucat. Biduran akan timbul hanya pada seseorang yang memiliki atopi, jadi walaupun samasama kedinginan tidak semua orang akan muncul biduran. JANGAN DIGARUK Ia menjelaskan tidak ada perbedaan ras dan umur, kelompok yang mengalami biduran. “Ter­ banyak pada kelompok umur 40-50-an. Hanya, pada biduran kronis leb­ ih sering dialami kaum wanita sekitar 60%,” ucapnya. Jadi, biduran ini bisa menyerang anak-anak maupun pada dewasa. Bi­ duran bisa terjadi di bagian tubuh mana saja, dengan bentuk dan ukuran yang

Tips Mencegah Biduran

- Untuk mencegah terulangnya biduran, usahakan mencari penyebab alergi dan perhatikan bahan apa saja yang baru disentuh, dimakan, atau diisap ketika mulai terserang biduran. - Jika penyebabnya adalah makanan, maka hindari makanan tersebut. - Jika kekambuhannya karena faktor cuaca yang tidak bisa kita hindari, pencegahan yang dapat dilakukan dengan cara menjaga suhu tubuh agar tetap hangat seperti mandi dengan air hangat. - Gunakan jaket atau sweater jika beraktivitas di udara dingin serta menggunakan selimut maupun kaus kaki saat tidur. -Wirati Astiti

beraneka ragam. Dari yang berben­ tuk kecil-kecil seperti gigitan nyamuk atau besar dan terlihat seperti piring makan, bisa juga terlihat seperti cin­ cin atau kelompok-kelompok cincin yang bergabung bersama. Bisa timbul dalam kelompok dan bisa berubah tempat hanya dalam hitungan jam. Bentol-bentol ini bisa juga timbul di wajah penderita dalam jumlah banyak, lalu hilang. Kemudian, akan timbul di lengan. Jika seseorang sudah tahu dirinya akan terjangkiti, dengan tanda muncul bentol-bentol pada kulit tu­ buh dan rasa gatal, ia menyarankan, jangan digaruk. “Jika digaruk maka seseorang akan mengalami siklus gatal garuk. Jika bentol makin digaruk maka bahan aktif histamin akan makin banyak keluar dan yang terjadi justru bagian yang digaruk makin gatal dan muncul bentol yang sesuai ben­ tuk garukan memanjang,” jelasnya. Biduran juga bisa mengenai lapisan bawah kulit dan mukosa menyebab­ kan bengkak pada kelopak mata (bisa satu mata atau keduanya), bibir mem­

dr. I.G.N Darmaputra, Sp.K.K. bengkak atau dikenal dengan istilah angioedema. Biduran yang disertai angioedema merupakan penyakit serius dan bisa menyebabkan ke­ matian. Jika mengenai selaput lendir, gabungan biduran dan angioedema ini bisa menyebabkan bengkak di sekitar mukosa, seperti bengkak di daerah bibir. Jika terkena saluran napas, bisa mengakibatkan susah menelan dan sulit bernapas. Jika dibiarkan akan menyebabkan susah bernapas, sehingga menyebabkan kematian. BEDAK MENGANDUNG MENTHOL Penanganan biduran yang paling ideal adalah menghindari penyebab atau faktor pencetus agar tidak terjadi atau meminimalisir terjadinya biduran. “Cara menemukan faktor pencetus adalah dengan melakukan

Bugar pemeriksaan penunjang. Beberapa pemeriksaan penunjang diperlukan untuk membuktikan penyebab bidu­ ran,” katanya. Selain itu, pemeriksaan darah, air seni dan tinja rutin untuk menilai ada tidaknya infeksi yang tersembunyi atau kelainan pada organ dalam. Pemeriksaan imunolo­ gis seperti pemeriksaan kadar IgE, eosinofil dan komplemen. Tes kulit, walaupun terbatas kegunaannya da­ pat dipergunakan untuk membantu diagnosis. Uji gores dan uji tusuk dapat dipergunakan untuk mencari alergen penyebab. Selain itu, bisa dilakukan tes eliminasi makanan dengan cara menghentikan semua makanan yang dicurigai untuk be­ berapa waktu, lalu mencobanya kembali satu per satu. Ia mengatakan, saat terjadi keka­ mbuhan dapat diberikan antihistamin karena dapat mengontrol gejala bagi sebagian besar kasus. Namun, tidak dapat menghilangkan penyebabnya. Selain itu dapat diberikan kortikos­ teroid, apabila pengobatan dengan antihistamin saja tidak cukup. Obatobat ini dapat mengurangi bengkak, kemerahan dan gatal, namun dimi­ num dalam jangka waktu sebentar saja karena mempunyai efek samping yang cukup serius. Pengobatan lokal dengan be­ dak atau lotion yang mengandung menthol. “Jika biduran merupakan tanda dari reaksi alergi yang lebih serius yang dapat mempengaruhi pernapasan dan fungsi organ lain, maka penderita butuh pertolongan medis sesegera mungkin,” sarannya. Namun, kadang biduran akan sem­ buh dengan sendirinya tanpa bantuan obat-obatan atau tak memerlukan kunjungan ke dokter. Ia menyarank­ an, untuk mengatasi biduran, yang paling penting adalah menghindari faktor pencetusnya.

Style

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Kebaya Pesta

nan

Seksi

Kebaya sebagai busana tradisional dikenal mencitrakan keanggunan dan femininnya sosok perempuan. Karenanya kebaya kerap dijadikan pilihan favorit untuk menghadiri acara pesta baik bertema modern maupun tradisional.

A

palagi kini model kebaya telah men­ jelma menjadi busa­ na modern yang terus mengikuti perkembangan fashion. Dewi pemilik Calista Kebaya pun tak ketinggalan men­ ciptakan variasi baju kebaya pesta modern. Ia sengaja mende­ sain ke­­ b a y a s e ­­­b a g a i pi­lihan un­ tuk tampil

glamor, elegan tanpa melupakan budaya bangsa dengan padu pa­ dannya berbahan tenun. Kesan glamor dihadirkan Dewi terutama melalui detil seperti bor­ dir dan beads, serta pilihan warna biru tua dan pink. Keberadaan detil tersebut juga mengesankan citra mewah sekaligus modern. Sedang­kan kesan elegan pada model kebaya pesta ini ber­ hasil muncul di setiap sisi. Meski de­ mikian secara keseluruhan

Dewi Calista

desainnya juga menonjolkan keseksian perempuan terutama dengan dominasi kerah kebaya sabrina. Selanjutnya beragam aksesori pun dipilih untuk mempercantik sebuah kebaya. Perpaduan antara kebaya dan kain bawahan­ nya pun menjadi bagian yang tak kalah penting dalam setiap kreasi dari koleksi Calis­ ta Kebaya kali ini. – Sri Ardhini

15


14

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

Jangan Tunggu Tanda Penuaan Muncul

“Saya kan sudah berumur Dok, jadi sudah saatnya saya mencoba perawatan anti-aging.” Ucapan ini kerapkali menjadi alasan pasien untuk datang melakukana perawatan ke klinik kecantikan. Padahal, perawatan anti-aging tidak harus menunggu saat tanda-tanda penuaan muncul. Hal ini ditegaskan dr. AA Sagung Ratih K.S., M.Biomed (AAM). “Kebanyakan pasien yang datang ke klinik meminta perawatan anti aging adalah mereka yang berumur 45 tahun ke atas. Terkadang mereka pun meminta yang hasilnya instan. Padahal, setelah tanda penuaan muncul, hasil yang didapatkan malah lebih lama terlihat efeknya dibandingkan jika dilakukan lebih awal untuk pencegahan,” ungkap Dokter Penanggungjawab yang sekaligus pemilik VZ Skin Care Bali ini.

P

ada teori aging, proses penuaan dimulai dengan menurunnya fungsi berbagai organ tubuh, antara lain massa otot berkurang, lemak meningkat, daya ingat terganggu, dan sebagainya. Sedangkan pada kulit akan terlihat kerutan yang terjadi akibat penurunan dari produksi kolagen, elastin, dan asam hyaluronat yang memegang peranan penting bagi kulit. Hal ini disebabkan banyak faktor, yakni faktor eksternal (matahari, gaya hidup) dan internal seperti, genetik, radikal bebas, penurunan hormon, dan sebagainya. Dokter Ratih-sapaan akrabnya, mengatakan perawatan anti-aging bisa dilakukan di usia 20 tahun atau justru 17 tahun ketika seseorang mencapai masa pubertas, yang mana jumlah dari beberapa hormon akan meningkat dan dapat memicu berbagai masalah di kulit. Apalagi jika tinggal di daerah berpolusi tinggi, daerah panas, dan sering beraktivi-

tas di luar ruangan. Berdasarkan ilmu Anti-Aging Medicine, upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan menjaga kesehat­ an, olahraga, makan sehat, menghindari stres dan bahan beracun. Upaya lainnya adalah, hidup positif dan optimis, jangan merasa sudah tua dan tidak berdaya. “Pengobatan menggunakan vitamin, mineral, antioksidan dan hormon dapat membantu. Dan, kini pun telah ada cell therapy, stem cell therapy dan cloning,” ucap dr. Ratih. Di VZ Skin Care, perawatan anti-aging sangat beragam disesuaikan dengan kemampuan pasien. “Untuk pencegahan penuaan kulit, kami memiliki produk perawatan di rumah berupa krim malam dan sunblock untuk wajah, leher, dan badan yang dipakai setiap hari dan cocok untuk usia berapapun dengan jenis kulit apapun,” ujarnya. Namun, ia menegaskan yang paling penting adalah manajemen stres dan berolahraga. Tapi ka­rena

kesibukan yang sangat padat di rumah tangga, pendidikan, maupun dunia kerja yang tidak memungkinkan untuk melakukan dua hal tersebut, maka bantuan vitamin, mineral, antioksidan, bahkan hormon pun diperlukan. “Sebelum terapi hormon perlu dilakukan cek laboratorium untuk profil hormon anti aging dan biomarker tumor,” ucapnya. Di kliniknya, untuk perawatan estetik yang banyak diminati adalah Collagen Therapy, Oksigen Therapy, Facial Detox, Totok Wajah Vitamin, Microdiamond Peel, Radio Frekuensi (setrika wajah). “Bahkan, tindakan yang invasif sekali pun seperti Dracula Therapy with PRP, dermaroller plus, botox, filler, tanam benang, dan tarik benang semakin banyak peminatnya,” ujar Ketua Yayasan RS Budi Agung, Palu ini. MACAM PERAWATAN Collagen therapy misalnya, dilakukan dengan membersihan kotoran pada bagian kulit yang ingin dira-

wat, kemudian dilakukan massage sembari dioleskan kolagen asli dari Jepang yang telah dibekukan pada suhu -350, lalu diberikan moisturizer sesuai jenis dan problem kulit. Terapi ini dapat dikombinasikan dengan terapi lain seperti beragam Facial, Microdiamond, Mesotherapy, Radio Frekuensi, Laser, dan PRP. Terapi ini sangat aman bahkan di usia 14 tahun pun dapat melakukannya. Demikian halnya dengan Oksigen therapy, pembersihan di awal dapat dilakukan dengan kombinasi terapi lain apapun jenisnya sebelum dilanjutkan dengan terapi ini. Yang menjadi tren saat ini adalah teknologi yang menyemprotkan air yang mengandung oksigen ke dalam lapisan kulit sehingga kulit tampak lebih kenyal dan bercahaya. Tekniknya sama, tapi yang dimasukkan pada Oksigen Therapy ini adalah murni oksigen sehingga hasilnya lebih maksimal dan lebih bertahan lama. Terapi ini juga sangat aman dan bisa dilakukan usia berapa pun.

Selain itu untuk kasus tertentu, agar hasil lebih cepat terlihat, perlu dilakukan botox, filler, maupun tanam benang. Botox misalnya, berfungsi merelaksasikan otot yang hyper- kontraksi yang dapat disebabkan karena ekspresi yang berlebihan, seperti silau menahan sengatan matahari sehingga kerutan diantara dua alis terlihat jelas. Injeksi botox pada area kerutan dapat menghilangkan kerutan yang nampak dan mencegah kerutan baru untuk muncul. Terapi ini bertahan 6-10 bulan tergantung aktivitas dan gaya hidup sehari-hari, hasil langsung terlihat 3 hari7 hari setelah penyuntikan. Aman dilakukan pada pasien usia 30 tahun ke atas ataupun lebih dini jika problem kerutan terlihat sangat dramatis. Perlu dipertimbangkan bagi pasien yang menjalani aktivitas lebih banyak di luar ruangan. Terapi ini hanya boleh dilakukan oleh seorang dokter. “Agar lebih bertahan lama, perlu terapi dari dalam untuk perbaharui sel-sel kulit yaitu dengan injeksi stem cell ataupun perbaikan hormon,” tandasnya. –Inten Indrawati

Va l e n t i n e D i n n e r V Z S k i n C a r e B a l i

Mitos

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

Donor Darah Sebabkan Gemuk? Donor darah menjadi salah satu agenda jika ada instansi atau lembaga yang merayakan ulang tahun. Hal ini dilakukan perguruan Sandimurti serangkaian HUT ke-25. Menurut penuturan Agung, salah satu anggota, kegiatan ini rutin dilaksanakan. Ia yang bergabung di perguruan ini sejak tahun 2001 mulai aktif donor darah sekitar 5 tahun lalu. Menurut pengakuannya, se­telah donor darah yang dirasakan seperti biasa saja tidak ada keluhan yang sangat serius. Namun, terlihat pula saat itu se­telah dicek dokter, banyak yang gagal ikut donor darah karena kondisi mereka, salah satunya tensi darah rendah.

P

rof. Dr. dr. AAG Sudewa Djelantik, Sp.PK (K) mengatakan, jika berbicara tubuh, maka tidak sah apabila belum membicarakan kesehatan. Manfaat donor darah bagi kesehatan, menurut Prof. Sudewa prinsipnya pada saat dilakukan pendonoran, maka volume darah dalam tubuh akan berkurang. Tetapi hal itu hanya dalam waktu beberapa menit saja. Setelah itu, tubuh akan kembali memproduksi darah baru sebagai pengganti darah yang diambil. Dengan kata

lain, darah baru akan lebih bersih dan lebih sehat ketimbang darah yang lama. Aliran darah akan lebih baik dan lancar. Secara tidak langsung tubuh akan lebih sehat dari sebelumnya. Dosen Pascasarjana Unud ini mengimbuhkan, dengan melakukan donor darah, pendonor juga secara otomatis mendapat tes kesehatan mini secara gratis. Karena, setiap kali akan mendonorkan darah, calon pendonor dipastikan harus sehat dengan tensi darah dan hemoglobin yang normal. Sebelum darah

didistribusikan kepada yang membutuhkan, prosedur standarnya adalah darah akan diperiksa dari berbagai macam penyakit seperti HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, sifilis, dan malaria. “Bagi penerima donor darah, ini adalah informasi penting untuk mengantisipasi penularan penyakit melalui transfusi darah. Sedangkan untuk pendonor, ini sekaligus untuk mendeteksi penyakit serius dalam diri dan menjadi rambu peringat­ an yang baik agar lebih perhatian terhadap kondisi kesehatan diri,” ujarnya.

Karena itu, Prof. Sudewa mengimbau, setelah menginjak usia 18 tahun, cobalah untuk membiasakan diri mendonorkan darah tiap tiga bulan sekali. Hal ini dikatakannya akan memeberikan kesehatan psikologis. “Menyumbangkan hal yang tidak ternilai harganya kepada yang membutuhkan akan membuat kita merasakan kepuasan psikologis. Setiap tetes darah yang kita sumbangkan tidak hanya dapat memberikan kesempatan hidup bagi yang menerima, tetapi juga memberikan manfaat positif bagi kesehatan tubuh pendonor. Dan, usia maksimal untuk melakukan kebiasaan baik ini adalah hingga usia 60 tahun,” ujarnya. Benarkah orang donor darah bisa gemuk? Mitos ini masih kerap terdengar di masyarakat. Prof. Sudewa menjelaskan, menjadi pendonor adalah salah satu metode diet dan pembakaran kalori yang ampuh. Sebab, dengan memberikan sekitar 450 ml darah, akan mem-

11

bantu proses pembakaran kalori kira-kira 650. Tapi memang pada umumnya memberi dampak lapar. Dengan dibuatnya darah baru maka metabolisme badan tambah baik. “Jika pendonor mengikuti nafsu makan yang berlebihan dan kurang bergerak, maka akan gemuk. Tetapi jika pendonor yang aktif, tidak menyebabkan kegemukan,” tutur Prof. Sudewa yang secara aktif masih sering donor darah setiap 3 bulan. Adakah efek samping setelah donor darah? Hal ini juga kerap menjadi kekhawatiran calon pendonor. Prof. Sudewa menegaskan efek samping yang berat dan memerlukan perawatan medis sangat jarang terjadi. Kondisi biasa yang terjadi adalah pusing dan melayang masih terasa selama 2 hari. “Namun sebenarnya tidak membahayakan. Cobalah beristirahat, mengonsumsi air putih yang cukup minimal 2 liter perhari dan makanan yang bernutrisi seperti telur, kacang hijau dan buahbuahan untuk menegmbalikan stamina,” tandasnya. –Sriadi

Kecanduan Pornografi

Dukung Kreativitas Anak Bali Penghargaan kepada pasien-pasien yang berhasil menuntaskan masalah kulitnya dan tetap setia bersama VZ Skin Care, digelar Sabtu (14/2) bertepatan dengan Hari Kasih Sayang di Resto Ayucious Renon, Denpasar.

D

okter A.A. Sg. Ratih K.S., M.Biomed (AAM) sebagai pemilik sekaligus dokter penanggung jawab VZ Skin Care yang berlokasi di Kom­ pleks Ruko Dalung Permai No. 8 ini mengatakan, acara Valentine Dinner kali ini sangat berbeda karena dimeriahkan oleh Gusti Arya, model dan penyanyi asal Bali yang sudah go national dengan singlenya yang berjudul “Hatiku Libatkan Yang Lain” yang kini ser­ ing diputar di radio-radio di Bali. Gusti Arya yang pernah men­ jadi Runner Up Teruna-Teruni Bali

tahun 2004 mengawali karirnya sebagai Public Relation salah satu label fashion ternama di Bali dan Jakarta sejak tahun 2011, mem­ percayakan perawatan kulitnya di VZ Skin Care. Ia mengambil program perawatan whitening dan mesoslimming yang dilakukan rutin 2 minggu sekali. Menurutnya, perawatan wajah dan badan mut­ lak diperlukan untuk mendukung penampilan, apalagi bagi seorang entertain seperti dirinya. “Setelah mengikuti program perawatan di VZ Skin Care, kulit wajah saya jadi lebih sehat bercahaya. Saya pun jadi makin pede untuk tampil,”

ungkap pelantun lagu yang diciptakan oleh Ade Gov­ indha ini. Sebagai ikon VZ Skin Care, Gusti Arya menyadari betul dan ingin menyampaikan pe­ san bahwa perawatan wajah tak hanya melulu untuk kaum hawa. Kaum adam pun mu­ tlak memerlukannya, untuk motivasi diri berani tampil dengan lebih percaya diri. VZ Skin Care Bali memi­ lih Gusti Arya sebagai salah satu modelnya karena ia berkepri­badian baik, multitalenta, dan­ten­tunya memi­ liki kulit wajah yang sangat terawat. “Daripada memilih model yang sudah terkenal, lebih baik pilih model asli Bali dan mendukung karya­ nya. Karena saya sangat bangga dan cinta pada Bali,” ucap dr. Ratih. –ten

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar. “Dok, suamiku gemar sekali nonton video porno, browsing gambar perempuan telanjang di internet, sampai dia rutin beli berjudul-judul video porno di situs yang jualan video porno di internet. Apa dia kecanduan ya? Bahaya nggak ini dok? Apa ini bisa disebut penyakit?” (Yanti, 24 thn) Semua orang sesungguhnya menyukai melihat materi bermuatan pornografi, seorang laki-laki dewasa yang melihat perempuan dewasa lainnya telanjang atau ada sebagian bagian tubuh yang “terbuka”. Bukan hal yang salah remaja yang beranjak puber berebut menonton video porno, mengintip orang mandi, mengintip celana dalam temannya dan lainnya, termasuk juga sebaliknya pada perempuan. Karena semua itu sesungguhnya menyenangkan dan membuat rasa gembira dan nyaman. Otak akan mengeluarkan substansi hormonal yang namanya endorfin sebagai yang berperan dalam membuat rasa senang. Cuma saja, yang membatasi se-

Gusti Arya

mua itu untuk dieksplorasi tentu saja ada, yaitu norma. Normanorma yang dianut masyarakat tidak mengizinkan untuk hal-hal yang bersifat pornografi dipertontonkan atau dikonsumsi. Dalam berbagai gradasi, ada yang membatasi dengan sangat ketat, ada yang membatasi dengan sangat longgar. Sebagai contoh saja, film porno. Di Indonesia ini sangat dilarang, di negara liberal seperti Amerika, Jepang dan negar-negara Eropa hal seperti ini diperbolehkan dengan batasan khusus. Kalau di Amerika batasannya adalah usia, kalau di Jepang, selain usia, juga tampilan film yang harus disensor mozaik di bagian kelamin. Itu misalnya. Selama materi pornografi tidak

dieksplorasi secara berlebihan, ternyata hal ini bisa memunculkan keuntungan, kegembiraan dan kenyamanan saat mengonsumsinya, bahkan pada dunia medis, materi pornografi juga diselipkan sebagai bagian terapi seksual. Asal semua dilakukan dengan kendali dan rasa tanggung jawab memanfaatkannya. Nah, yang harus dihindari adalah mengonsumsi materi pornografi yang terlalu sering, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Lalu, mengonsumsi materi pornografi yang terlalu ekstrem (misalnya seks dengan anak-anak, seks dengan binatang, dll) karena sekali dua kali atau malah bisa sering kali menjadi referensi dan sumber inspirasi juga buat ditiru. Selanjutnya, pikirkan baik-baik tentang partner yang diajak menonton materi pornografi atau jika ingin melanjutkan ke tahapan aktivitas seksual. Kalau dengan istri sendiri mungkin bukanlah masalah, tetapi jangan dengan pasangan yang berisiko, baik risiko medis (bisa terinfeksi infeksi menular seksual bila mengajak pasangan yang terinfeksi sebelumnya), atau risiko sosial, karena mengajak pasangan sah orang lain misalnya. Bila sudah memiliki pasangan,

kalaupun ingin mengonsumsi video porno, sebaiknya dilakukan bersama-sama atau sepengetahuan bersama. Itu akan jauh lebih menyenangkan dan lebih aman. Seringkali agenda menonton video porno bersama, justru menjadi “sumber rekomendasi” dan “sumber inspirasi” bersama pasangan untuk meningkatkan variasi seksual bersama. Jika sudah menjadi kecanduan berat, bagaimana mengatasinya? Perlu peran besar dari pasangan buat mengelola keinginan dari pasangannya yang sudah telanjur overuse of pornography. Dengan mengatur waktu dan pembatasan materi pornografinya. Sedangkan

yang sudah kadung sendirian, dia bisa berusaha sendiri atau minta bantuan psikolog atau seksolog, maupun dokter yang paham kesehatan seksual buat membantunya. Pilihan terapinya sering kali berupa dua hal: metode total abstinence (distop semua kontak dengan materi pornografi yang memunculkan overuse), atau dengan step ladder pattern, dengan cara mengurangi bertahap dan pelan-pelan sampai tidak lagi overuse. Kata kuncinya adalah selama materi pornografi yang dikonsumsi tidak sampai mengganggu aktivitas sehari-hari dan kontak sosial dengan orang lain, itu sudah cukup.

ografi secara TIPS! Gunakan materi porn ya: bertanggung jawab, artin yang lain

mengganggu aktivitas 1.Tepat waktu, jangan sampai orang lain yang “mengundang 2.Tepat orang, jangan mengajak g sah lebih baik dengan pasangan yan risiko” jika mengonsumsinya, ter patan mengkonsumsi ma i 3.Tepat target, gunakan kesem ingan mencari referensi buat pornografi hanya untuk kepent i kean misalnya, untuk mengatas variasi seksual bersama pasang adar tahu saja jenuhan, atau hanya untuk sek eringan, nanti malah overuse. 4.Tepat frekuensi, jangan kes


12

Kuliner Menikmati Es Krim Nitrogen Tabanan Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Pisang Goreng Krispi

Bubur Campur ala Pasar Badung

Jika Anda sedang berada di Surabaya dan hobi jalan-jalan ke mal, salah satu lokasi ini layak dijajal. Namanya Ron’s Laboratory di Galaxy Mall. Jangan membayangkan ini sebuah laboratorium yang dipakai untuk percobaan bahan kimia. Gerainya memang didesain seperti laboratorium, namun jualan utamanya es krim.

B

egitu masuk ke gerai ini, Anda akan diberikan tablet yang berisi gambar beraneka sajian Ron’s Laboratory. Sajian utamanya es krim dengan berbagai macam

rasa dan topping. Satu scoop harganya Rp 60 ribu. Bonusnya, Anda bisa menyaksikan langsung pengolahan es krim dengan nitrogen cair. Kepulan asap menjadi ciri khas pembuatan es krim nitro-

I Ketut Seri

Camilan pisang goreng merupakan menu jajanan favorit orang Indonesia. Dimana-mana bertebaran penjual pisang goreng dengan andalan masing-masing. Selain harganya murah, pisang goreng juga sangat nikmat dijadikan teman minum kopi dan teh. Salah satu pisang goreng yang sedang naik daun, pisang goreng krispi Tabanan. Walaupun namanya, khas Tabanan, kini sudah banyak yang menjualnya di Denpasar. Salah satunya, pisang goreng Kresna di Jalan Veteran Denpasar.

M

enurut penjualnya Gede, awalnya istrinya hanya iseng buka warung pisang goreng. Itupun

karena usaha parfum-nya di salah satu mal sudah tak jalan. “Warung pisang goreng ini dibuka sejak tiga tahun lalu,” kata Gede. Gede menambahkan, jam

buka warungnya mulai pukul 7 pagi sampai 6 sore. Gede dan istrinya, Susi, dibantu dua orang pembantu. Biasanya, ia membeli 40 tandan biu gedang saba. Itu cukup untuk 3 hari. Untuk tepung, ia menghabiskan sekitar 15 kilogram tiap hari. Tepung yang digunakan selain tepung terigu juga tepung beras. Untuk pisang, ia memang memilih jenis pisang gedang saba karena hasil pisang gorengnya lebih enak. Gede mengatakan, pisang goreng ini memang ciri khas Tabanan. Di tempat asalnya, Pupuan, Tabanan, banyak penjual pisang goreng di pasar senggol. Beda dengan pisang goreng miliknya, hanyalah dari campuran tepung. “Rasa pisang gorengnya sama tak ada bedanya. Cuma cara membuatnya punya cara masingmasing,” kata Gede. Warung Gede awalnya buka di Jalan Kresna, karena itu disebut pisang goreng Kresna. Walaupun ia sudah pindah tempat, nama pisang gorengnya tetap Kresna karena sudah terkenal. Satu biji pisang goreng dijual Rp 1500. –Wirati Astiti

Denpasar memiliki aneka macam bubur khas, salah satunya bubur sumsum. Bubur ini biasanya disajikan dengan aneka campuran bubur lainnya, seperti bubur ketan hitam, kolak, biji mutiara, bahkan daluman. Bubur diberi santan dan sirup gula merah. Salah satu penjual bubur campur, I Ketut Seri. Ia sudah 20 tahun berjualan bubur di Pasar Badung. Perempuan asal Karangasem ini merantau ikut sang kakak ke Denpasar. “Dulunya saya jualan di dalam pasar, sekarang sudah pindah posisi di bagian luar pasar,” kata Seri. Seri menuturkan, awal berjualan, harga bubur Rp 250. Sekarang sudah Rp 4.000. Untuk bisa berjualan, ia dikenakan biaya Rp 35 juta. Setiap hari, ia juga dikenakan restribusi Rp 27 ribu. “Walaupun saya tidak berjualan, tetap harus bayar restribusi. Biasanya, saya libur saat hari raya untuk pulang kampung. Ya terpaksa tidak lama-lama di kampung, agar bisa jualan,” kata Seri.

Gerai Ron’s Laboratory

Sarwan

tambahan. Staf gerai biasanya membuat dragon breath (napas naga) untuk pengunjung. Dari namanya, ini tentu hidangan yang sangat unik dan sangar karena ada naganya. Ternyata dragon breath ini pop corn yang diolah dengan nitrogen cair. Uniknya, pop corn ini tidak panas. “Saya kaget waktu ditawari dragon breath dengan asap yang mengepul. Saya kira panas karena ada asap. Baru dipegang, dingin. Lumayan juga promo nitrogen cair ini,” ujar Regen yang sedang menunggu es krimnya selesai diolah. –Ngurah Budi

Salah satu sajian es krim nitrogen

gen. Es krim ini dibuat dengan mencampurkan nitrogen cair dengan bahan-bahan pembuat es krim kemudian diolah sehingga menjadi beku dalam waktu yang singkat dan tidak memerlukan proses pendinginan. Suasana laboratorium juga ditunjukkan dengan penempatan mixer, gelas ukur, serta labu erlenmeyer tempat es krim dibuat. Staf gerai pun menggunakan jubah ilmuwan lengkap dengan kacamata pelindung. Dinding gerai juga dipenuhi dengan gambar tabung dan rumus serta satu tulisan besar “Be Fearless”.

Es Durian Keju

Bahan: 350 gr : daging durian 100 gr : kacang merah rebus matang 50 gr : keju parut 100 ml : susu putih kental manis 100 ml : air es batu secukupnya

Tiap hari, Seri membuat enam jenis bubur, ada bubur sumsum hijau, ketan hitam, daluman, kolak, biji, dan mutiara. Masing-masing bahan ia habiskan 2 kilogram. “Kalau musim hujan, paling satu kilogram saja. Takut tidak laku,” kata Seri. Untuk membuat bubur, ia pelajari dari sang kakak yang duluan berjualan. “Dulu saya membantu kakak. Setelah bisa membuat bubur, saya jualan sendiri,” ucap Seri, yang mulai berjualan dari lajang sampai kini sudah menikah. Menurut Seri, bubur campur ini memang khas Kota Denpasar. Namun, banyak penjual bubur termasuk para pedagang di Pasar Badung adalah warga Karangasem. “Sebagian besar perantauan. Bahkan, ada yang sudah punya rumah di Denpasar,” imbuhnya. Menurut Seri, tak ada yang spesial dari buburnya. Hanya, ia lebih menekankan warna alami dari buburnya. Bubur sumsum hijau ia buat dari warna alami daun suji dan daun pandan. Santan juga direbus dengan daun pandan agar lebih gurih dan tidak basi. –Wirati Astiti

Sepuluh menit kemudian, es krim nitrogen sudah tersaji. Salah satu ciri khasnya adalah penempatan topping tambahan di jarum suntik yang biasa dipakai dokter. “Rasanya enak dan penyajiannya unik,” ujar Diana yang menikmati es krim red velvet dan Dewi yang menjajal dark chocolate. DRAGON BREATH Ron’s Laboratory tak hanya menyediakan es krim. Mereka juga punya kopi, sorbet, dan atraksi

Dragon breath

Lumpia Goreng Isi Ayam Daun Bawang Bahan: 12 biji : kulit lumpia siap pakai 300 gr : ayam giling 3 sdm : daun bawang iris halus 1 sdt : lada bubuk 1 sdm : saos tiram 1 sdm : saus raja rasa ½ sdm : minyak wijen 1 sdm : bawang putih halus 1 butir : telur kopyor minyak secukupnya Cara Membuat: - Tumis ayam sampai matang, lalu masukkan daun bawang, saus tiram, saus raja rasa, minyak wijen, lada dan garam, aduk-aduk hinga matang, tiriskan. - Siapkan kulit lumpia, letakkan sesendok bahan isian di dalamnya, lipat rapi, rekatkan kedua sisi dengan olesan telur, lalu goreng hingga kecokelatan dan matang, tiriskan. - Siap untuk disajikan dengan sambal siap pakai.

Cara membuat: - Blender daging durian, susu kental manis dan air hingga lumer, lalu taruh dalam gelas saji. - Masukkan kacang merah dan parutan keju, bekukan dalam kulkas selama 10 menit. - Siap untuk disajikan.

Omlet Isi Ayam Daun Bawang

Bahan: 4 butir : telur 100 gr : ayam cincang halus 2 sdm : daun bawang cincang halus ½ sdm : lada bubuk Garam, kaldu bubuk, minyak secukupnya

13

Cara Membuat: - Campur jadi satu telur ayam dan daun bawang, lada, garam dan kaldu bubuk, aduk-aduk hingga bumbu tercampur. - Panaskan teflon anti lengket,

tuangkan sebagian telur, lalu lebarkan. Jika sudah agak matang, balik dan gulung hingga matang, lakukan hinga adonan habis. - Potong-potong menurut selera, siap disajikan dengan saus sambal siap pakai.


12

Kuliner Menikmati Es Krim Nitrogen Tabanan Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Pisang Goreng Krispi

Bubur Campur ala Pasar Badung

Jika Anda sedang berada di Surabaya dan hobi jalan-jalan ke mal, salah satu lokasi ini layak dijajal. Namanya Ron’s Laboratory di Galaxy Mall. Jangan membayangkan ini sebuah laboratorium yang dipakai untuk percobaan bahan kimia. Gerainya memang didesain seperti laboratorium, namun jualan utamanya es krim.

B

egitu masuk ke gerai ini, Anda akan diberikan tablet yang berisi gambar beraneka sajian Ron’s Laboratory. Sajian utamanya es krim dengan berbagai macam

rasa dan topping. Satu scoop harganya Rp 60 ribu. Bonusnya, Anda bisa menyaksikan langsung pengolahan es krim dengan nitrogen cair. Kepulan asap menjadi ciri khas pembuatan es krim nitro-

I Ketut Seri

Camilan pisang goreng merupakan menu jajanan favorit orang Indonesia. Dimana-mana bertebaran penjual pisang goreng dengan andalan masing-masing. Selain harganya murah, pisang goreng juga sangat nikmat dijadikan teman minum kopi dan teh. Salah satu pisang goreng yang sedang naik daun, pisang goreng krispi Tabanan. Walaupun namanya, khas Tabanan, kini sudah banyak yang menjualnya di Denpasar. Salah satunya, pisang goreng Kresna di Jalan Veteran Denpasar.

M

enurut penjualnya Gede, awalnya istrinya hanya iseng buka warung pisang goreng. Itupun

karena usaha parfum-nya di salah satu mal sudah tak jalan. “Warung pisang goreng ini dibuka sejak tiga tahun lalu,” kata Gede. Gede menambahkan, jam

buka warungnya mulai pukul 7 pagi sampai 6 sore. Gede dan istrinya, Susi, dibantu dua orang pembantu. Biasanya, ia membeli 40 tandan biu gedang saba. Itu cukup untuk 3 hari. Untuk tepung, ia menghabiskan sekitar 15 kilogram tiap hari. Tepung yang digunakan selain tepung terigu juga tepung beras. Untuk pisang, ia memang memilih jenis pisang gedang saba karena hasil pisang gorengnya lebih enak. Gede mengatakan, pisang goreng ini memang ciri khas Tabanan. Di tempat asalnya, Pupuan, Tabanan, banyak penjual pisang goreng di pasar senggol. Beda dengan pisang goreng miliknya, hanyalah dari campuran tepung. “Rasa pisang gorengnya sama tak ada bedanya. Cuma cara membuatnya punya cara masingmasing,” kata Gede. Warung Gede awalnya buka di Jalan Kresna, karena itu disebut pisang goreng Kresna. Walaupun ia sudah pindah tempat, nama pisang gorengnya tetap Kresna karena sudah terkenal. Satu biji pisang goreng dijual Rp 1500. –Wirati Astiti

Denpasar memiliki aneka macam bubur khas, salah satunya bubur sumsum. Bubur ini biasanya disajikan dengan aneka campuran bubur lainnya, seperti bubur ketan hitam, kolak, biji mutiara, bahkan daluman. Bubur diberi santan dan sirup gula merah. Salah satu penjual bubur campur, I Ketut Seri. Ia sudah 20 tahun berjualan bubur di Pasar Badung. Perempuan asal Karangasem ini merantau ikut sang kakak ke Denpasar. “Dulunya saya jualan di dalam pasar, sekarang sudah pindah posisi di bagian luar pasar,” kata Seri. Seri menuturkan, awal berjualan, harga bubur Rp 250. Sekarang sudah Rp 4.000. Untuk bisa berjualan, ia dikenakan biaya Rp 35 juta. Setiap hari, ia juga dikenakan restribusi Rp 27 ribu. “Walaupun saya tidak berjualan, tetap harus bayar restribusi. Biasanya, saya libur saat hari raya untuk pulang kampung. Ya terpaksa tidak lama-lama di kampung, agar bisa jualan,” kata Seri.

Gerai Ron’s Laboratory

Sarwan

tambahan. Staf gerai biasanya membuat dragon breath (napas naga) untuk pengunjung. Dari namanya, ini tentu hidangan yang sangat unik dan sangar karena ada naganya. Ternyata dragon breath ini pop corn yang diolah dengan nitrogen cair. Uniknya, pop corn ini tidak panas. “Saya kaget waktu ditawari dragon breath dengan asap yang mengepul. Saya kira panas karena ada asap. Baru dipegang, dingin. Lumayan juga promo nitrogen cair ini,” ujar Regen yang sedang menunggu es krimnya selesai diolah. –Ngurah Budi

Salah satu sajian es krim nitrogen

gen. Es krim ini dibuat dengan mencampurkan nitrogen cair dengan bahan-bahan pembuat es krim kemudian diolah sehingga menjadi beku dalam waktu yang singkat dan tidak memerlukan proses pendinginan. Suasana laboratorium juga ditunjukkan dengan penempatan mixer, gelas ukur, serta labu erlenmeyer tempat es krim dibuat. Staf gerai pun menggunakan jubah ilmuwan lengkap dengan kacamata pelindung. Dinding gerai juga dipenuhi dengan gambar tabung dan rumus serta satu tulisan besar “Be Fearless”.

Es Durian Keju

Bahan: 350 gr : daging durian 100 gr : kacang merah rebus matang 50 gr : keju parut 100 ml : susu putih kental manis 100 ml : air es batu secukupnya

Tiap hari, Seri membuat enam jenis bubur, ada bubur sumsum hijau, ketan hitam, daluman, kolak, biji, dan mutiara. Masing-masing bahan ia habiskan 2 kilogram. “Kalau musim hujan, paling satu kilogram saja. Takut tidak laku,” kata Seri. Untuk membuat bubur, ia pelajari dari sang kakak yang duluan berjualan. “Dulu saya membantu kakak. Setelah bisa membuat bubur, saya jualan sendiri,” ucap Seri, yang mulai berjualan dari lajang sampai kini sudah menikah. Menurut Seri, bubur campur ini memang khas Kota Denpasar. Namun, banyak penjual bubur termasuk para pedagang di Pasar Badung adalah warga Karangasem. “Sebagian besar perantauan. Bahkan, ada yang sudah punya rumah di Denpasar,” imbuhnya. Menurut Seri, tak ada yang spesial dari buburnya. Hanya, ia lebih menekankan warna alami dari buburnya. Bubur sumsum hijau ia buat dari warna alami daun suji dan daun pandan. Santan juga direbus dengan daun pandan agar lebih gurih dan tidak basi. –Wirati Astiti

Sepuluh menit kemudian, es krim nitrogen sudah tersaji. Salah satu ciri khasnya adalah penempatan topping tambahan di jarum suntik yang biasa dipakai dokter. “Rasanya enak dan penyajiannya unik,” ujar Diana yang menikmati es krim red velvet dan Dewi yang menjajal dark chocolate. DRAGON BREATH Ron’s Laboratory tak hanya menyediakan es krim. Mereka juga punya kopi, sorbet, dan atraksi

Dragon breath

Lumpia Goreng Isi Ayam Daun Bawang Bahan: 12 biji : kulit lumpia siap pakai 300 gr : ayam giling 3 sdm : daun bawang iris halus 1 sdt : lada bubuk 1 sdm : saos tiram 1 sdm : saus raja rasa ½ sdm : minyak wijen 1 sdm : bawang putih halus 1 butir : telur kopyor minyak secukupnya Cara Membuat: - Tumis ayam sampai matang, lalu masukkan daun bawang, saus tiram, saus raja rasa, minyak wijen, lada dan garam, aduk-aduk hinga matang, tiriskan. - Siapkan kulit lumpia, letakkan sesendok bahan isian di dalamnya, lipat rapi, rekatkan kedua sisi dengan olesan telur, lalu goreng hingga kecokelatan dan matang, tiriskan. - Siap untuk disajikan dengan sambal siap pakai.

Cara membuat: - Blender daging durian, susu kental manis dan air hingga lumer, lalu taruh dalam gelas saji. - Masukkan kacang merah dan parutan keju, bekukan dalam kulkas selama 10 menit. - Siap untuk disajikan.

Omlet Isi Ayam Daun Bawang

Bahan: 4 butir : telur 100 gr : ayam cincang halus 2 sdm : daun bawang cincang halus ½ sdm : lada bubuk Garam, kaldu bubuk, minyak secukupnya

13

Cara Membuat: - Campur jadi satu telur ayam dan daun bawang, lada, garam dan kaldu bubuk, aduk-aduk hingga bumbu tercampur. - Panaskan teflon anti lengket,

tuangkan sebagian telur, lalu lebarkan. Jika sudah agak matang, balik dan gulung hingga matang, lakukan hinga adonan habis. - Potong-potong menurut selera, siap disajikan dengan saus sambal siap pakai.


14

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

Jangan Tunggu Tanda Penuaan Muncul

“Saya kan sudah berumur Dok, jadi sudah saatnya saya mencoba perawatan anti-aging.” Ucapan ini kerapkali menjadi alasan pasien untuk datang melakukana perawatan ke klinik kecantikan. Padahal, perawatan anti-aging tidak harus menunggu saat tanda-tanda penuaan muncul. Hal ini ditegaskan dr. AA Sagung Ratih K.S., M.Biomed (AAM). “Kebanyakan pasien yang datang ke klinik meminta perawatan anti aging adalah mereka yang berumur 45 tahun ke atas. Terkadang mereka pun meminta yang hasilnya instan. Padahal, setelah tanda penuaan muncul, hasil yang didapatkan malah lebih lama terlihat efeknya dibandingkan jika dilakukan lebih awal untuk pencegahan,” ungkap Dokter Penanggungjawab yang sekaligus pemilik VZ Skin Care Bali ini.

P

ada teori aging, proses penuaan dimulai dengan menurunnya fungsi berbagai organ tubuh, antara lain massa otot berkurang, lemak meningkat, daya ingat terganggu, dan sebagainya. Sedangkan pada kulit akan terlihat kerutan yang terjadi akibat penurunan dari produksi kolagen, elastin, dan asam hyaluronat yang memegang peranan penting bagi kulit. Hal ini disebabkan banyak faktor, yakni faktor eksternal (matahari, gaya hidup) dan internal seperti, genetik, radikal bebas, penurunan hormon, dan sebagainya. Dokter Ratih-sapaan akrabnya, mengatakan perawatan anti-aging bisa dilakukan di usia 20 tahun atau justru 17 tahun ketika seseorang mencapai masa pubertas, yang mana jumlah dari beberapa hormon akan meningkat dan dapat memicu berbagai masalah di kulit. Apalagi jika tinggal di daerah berpolusi tinggi, daerah panas, dan sering beraktivi-

tas di luar ruangan. Berdasarkan ilmu Anti-Aging Medicine, upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan menjaga kesehat­ an, olahraga, makan sehat, menghindari stres dan bahan beracun. Upaya lainnya adalah, hidup positif dan optimis, jangan merasa sudah tua dan tidak berdaya. “Pengobatan menggunakan vitamin, mineral, antioksidan dan hormon dapat membantu. Dan, kini pun telah ada cell therapy, stem cell therapy dan cloning,” ucap dr. Ratih. Di VZ Skin Care, perawatan anti-aging sangat beragam disesuaikan dengan kemampuan pasien. “Untuk pencegahan penuaan kulit, kami memiliki produk perawatan di rumah berupa krim malam dan sunblock untuk wajah, leher, dan badan yang dipakai setiap hari dan cocok untuk usia berapapun dengan jenis kulit apapun,” ujarnya. Namun, ia menegaskan yang paling penting adalah manajemen stres dan berolahraga. Tapi ka­rena

kesibukan yang sangat padat di rumah tangga, pendidikan, maupun dunia kerja yang tidak memungkinkan untuk melakukan dua hal tersebut, maka bantuan vitamin, mineral, antioksidan, bahkan hormon pun diperlukan. “Sebelum terapi hormon perlu dilakukan cek laboratorium untuk profil hormon anti aging dan biomarker tumor,” ucapnya. Di kliniknya, untuk perawatan estetik yang banyak diminati adalah Collagen Therapy, Oksigen Therapy, Facial Detox, Totok Wajah Vitamin, Microdiamond Peel, Radio Frekuensi (setrika wajah). “Bahkan, tindakan yang invasif sekali pun seperti Dracula Therapy with PRP, dermaroller plus, botox, filler, tanam benang, dan tarik benang semakin banyak peminatnya,” ujar Ketua Yayasan RS Budi Agung, Palu ini. MACAM PERAWATAN Collagen therapy misalnya, dilakukan dengan membersihan kotoran pada bagian kulit yang ingin dira-

wat, kemudian dilakukan massage sembari dioleskan kolagen asli dari Jepang yang telah dibekukan pada suhu -350, lalu diberikan moisturizer sesuai jenis dan problem kulit. Terapi ini dapat dikombinasikan dengan terapi lain seperti beragam Facial, Microdiamond, Mesotherapy, Radio Frekuensi, Laser, dan PRP. Terapi ini sangat aman bahkan di usia 14 tahun pun dapat melakukannya. Demikian halnya dengan Oksigen therapy, pembersihan di awal dapat dilakukan dengan kombinasi terapi lain apapun jenisnya sebelum dilanjutkan dengan terapi ini. Yang menjadi tren saat ini adalah teknologi yang menyemprotkan air yang mengandung oksigen ke dalam lapisan kulit sehingga kulit tampak lebih kenyal dan bercahaya. Tekniknya sama, tapi yang dimasukkan pada Oksigen Therapy ini adalah murni oksigen sehingga hasilnya lebih maksimal dan lebih bertahan lama. Terapi ini juga sangat aman dan bisa dilakukan usia berapa pun.

Selain itu untuk kasus tertentu, agar hasil lebih cepat terlihat, perlu dilakukan botox, filler, maupun tanam benang. Botox misalnya, berfungsi merelaksasikan otot yang hyper- kontraksi yang dapat disebabkan karena ekspresi yang berlebihan, seperti silau menahan sengatan matahari sehingga kerutan diantara dua alis terlihat jelas. Injeksi botox pada area kerutan dapat menghilangkan kerutan yang nampak dan mencegah kerutan baru untuk muncul. Terapi ini bertahan 6-10 bulan tergantung aktivitas dan gaya hidup sehari-hari, hasil langsung terlihat 3 hari7 hari setelah penyuntikan. Aman dilakukan pada pasien usia 30 tahun ke atas ataupun lebih dini jika problem kerutan terlihat sangat dramatis. Perlu dipertimbangkan bagi pasien yang menjalani aktivitas lebih banyak di luar ruangan. Terapi ini hanya boleh dilakukan oleh seorang dokter. “Agar lebih bertahan lama, perlu terapi dari dalam untuk perbaharui sel-sel kulit yaitu dengan injeksi stem cell ataupun perbaikan hormon,” tandasnya. –Inten Indrawati

Va l e n t i n e D i n n e r V Z S k i n C a r e B a l i

Mitos

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

Donor Darah Sebabkan Gemuk? Donor darah menjadi salah satu agenda jika ada instansi atau lembaga yang merayakan ulang tahun. Hal ini dilakukan perguruan Sandimurti serangkaian HUT ke-25. Menurut penuturan Agung, salah satu anggota, kegiatan ini rutin dilaksanakan. Ia yang bergabung di perguruan ini sejak tahun 2001 mulai aktif donor darah sekitar 5 tahun lalu. Menurut pengakuannya, se­telah donor darah yang dirasakan seperti biasa saja tidak ada keluhan yang sangat serius. Namun, terlihat pula saat itu se­telah dicek dokter, banyak yang gagal ikut donor darah karena kondisi mereka, salah satunya tensi darah rendah.

P

rof. Dr. dr. AAG Sudewa Djelantik, Sp.PK (K) mengatakan, jika berbicara tubuh, maka tidak sah apabila belum membicarakan kesehatan. Manfaat donor darah bagi kesehatan, menurut Prof. Sudewa prinsipnya pada saat dilakukan pendonoran, maka volume darah dalam tubuh akan berkurang. Tetapi hal itu hanya dalam waktu beberapa menit saja. Setelah itu, tubuh akan kembali memproduksi darah baru sebagai pengganti darah yang diambil. Dengan kata

lain, darah baru akan lebih bersih dan lebih sehat ketimbang darah yang lama. Aliran darah akan lebih baik dan lancar. Secara tidak langsung tubuh akan lebih sehat dari sebelumnya. Dosen Pascasarjana Unud ini mengimbuhkan, dengan melakukan donor darah, pendonor juga secara otomatis mendapat tes kesehatan mini secara gratis. Karena, setiap kali akan mendonorkan darah, calon pendonor dipastikan harus sehat dengan tensi darah dan hemoglobin yang normal. Sebelum darah

didistribusikan kepada yang membutuhkan, prosedur standarnya adalah darah akan diperiksa dari berbagai macam penyakit seperti HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, sifilis, dan malaria. “Bagi penerima donor darah, ini adalah informasi penting untuk mengantisipasi penularan penyakit melalui transfusi darah. Sedangkan untuk pendonor, ini sekaligus untuk mendeteksi penyakit serius dalam diri dan menjadi rambu peringat­ an yang baik agar lebih perhatian terhadap kondisi kesehatan diri,” ujarnya.

Karena itu, Prof. Sudewa mengimbau, setelah menginjak usia 18 tahun, cobalah untuk membiasakan diri mendonorkan darah tiap tiga bulan sekali. Hal ini dikatakannya akan memeberikan kesehatan psikologis. “Menyumbangkan hal yang tidak ternilai harganya kepada yang membutuhkan akan membuat kita merasakan kepuasan psikologis. Setiap tetes darah yang kita sumbangkan tidak hanya dapat memberikan kesempatan hidup bagi yang menerima, tetapi juga memberikan manfaat positif bagi kesehatan tubuh pendonor. Dan, usia maksimal untuk melakukan kebiasaan baik ini adalah hingga usia 60 tahun,” ujarnya. Benarkah orang donor darah bisa gemuk? Mitos ini masih kerap terdengar di masyarakat. Prof. Sudewa menjelaskan, menjadi pendonor adalah salah satu metode diet dan pembakaran kalori yang ampuh. Sebab, dengan memberikan sekitar 450 ml darah, akan mem-

11

bantu proses pembakaran kalori kira-kira 650. Tapi memang pada umumnya memberi dampak lapar. Dengan dibuatnya darah baru maka metabolisme badan tambah baik. “Jika pendonor mengikuti nafsu makan yang berlebihan dan kurang bergerak, maka akan gemuk. Tetapi jika pendonor yang aktif, tidak menyebabkan kegemukan,” tutur Prof. Sudewa yang secara aktif masih sering donor darah setiap 3 bulan. Adakah efek samping setelah donor darah? Hal ini juga kerap menjadi kekhawatiran calon pendonor. Prof. Sudewa menegaskan efek samping yang berat dan memerlukan perawatan medis sangat jarang terjadi. Kondisi biasa yang terjadi adalah pusing dan melayang masih terasa selama 2 hari. “Namun sebenarnya tidak membahayakan. Cobalah beristirahat, mengonsumsi air putih yang cukup minimal 2 liter perhari dan makanan yang bernutrisi seperti telur, kacang hijau dan buahbuahan untuk menegmbalikan stamina,” tandasnya. –Sriadi

Kecanduan Pornografi

Dukung Kreativitas Anak Bali Penghargaan kepada pasien-pasien yang berhasil menuntaskan masalah kulitnya dan tetap setia bersama VZ Skin Care, digelar Sabtu (14/2) bertepatan dengan Hari Kasih Sayang di Resto Ayucious Renon, Denpasar.

D

okter A.A. Sg. Ratih K.S., M.Biomed (AAM) sebagai pemilik sekaligus dokter penanggung jawab VZ Skin Care yang berlokasi di Kom­ pleks Ruko Dalung Permai No. 8 ini mengatakan, acara Valentine Dinner kali ini sangat berbeda karena dimeriahkan oleh Gusti Arya, model dan penyanyi asal Bali yang sudah go national dengan singlenya yang berjudul “Hatiku Libatkan Yang Lain” yang kini ser­ ing diputar di radio-radio di Bali. Gusti Arya yang pernah men­ jadi Runner Up Teruna-Teruni Bali

tahun 2004 mengawali karirnya sebagai Public Relation salah satu label fashion ternama di Bali dan Jakarta sejak tahun 2011, mem­ percayakan perawatan kulitnya di VZ Skin Care. Ia mengambil program perawatan whitening dan mesoslimming yang dilakukan rutin 2 minggu sekali. Menurutnya, perawatan wajah dan badan mut­ lak diperlukan untuk mendukung penampilan, apalagi bagi seorang entertain seperti dirinya. “Setelah mengikuti program perawatan di VZ Skin Care, kulit wajah saya jadi lebih sehat bercahaya. Saya pun jadi makin pede untuk tampil,”

ungkap pelantun lagu yang diciptakan oleh Ade Gov­ indha ini. Sebagai ikon VZ Skin Care, Gusti Arya menyadari betul dan ingin menyampaikan pe­ san bahwa perawatan wajah tak hanya melulu untuk kaum hawa. Kaum adam pun mu­ tlak memerlukannya, untuk motivasi diri berani tampil dengan lebih percaya diri. VZ Skin Care Bali memi­ lih Gusti Arya sebagai salah satu modelnya karena ia berkepri­badian baik, multitalenta, dan­ten­tunya memi­ liki kulit wajah yang sangat terawat. “Daripada memilih model yang sudah terkenal, lebih baik pilih model asli Bali dan mendukung karya­ nya. Karena saya sangat bangga dan cinta pada Bali,” ucap dr. Ratih. –ten

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar. “Dok, suamiku gemar sekali nonton video porno, browsing gambar perempuan telanjang di internet, sampai dia rutin beli berjudul-judul video porno di situs yang jualan video porno di internet. Apa dia kecanduan ya? Bahaya nggak ini dok? Apa ini bisa disebut penyakit?” (Yanti, 24 thn) Semua orang sesungguhnya menyukai melihat materi bermuatan pornografi, seorang laki-laki dewasa yang melihat perempuan dewasa lainnya telanjang atau ada sebagian bagian tubuh yang “terbuka”. Bukan hal yang salah remaja yang beranjak puber berebut menonton video porno, mengintip orang mandi, mengintip celana dalam temannya dan lainnya, termasuk juga sebaliknya pada perempuan. Karena semua itu sesungguhnya menyenangkan dan membuat rasa gembira dan nyaman. Otak akan mengeluarkan substansi hormonal yang namanya endorfin sebagai yang berperan dalam membuat rasa senang. Cuma saja, yang membatasi se-

Gusti Arya

mua itu untuk dieksplorasi tentu saja ada, yaitu norma. Normanorma yang dianut masyarakat tidak mengizinkan untuk hal-hal yang bersifat pornografi dipertontonkan atau dikonsumsi. Dalam berbagai gradasi, ada yang membatasi dengan sangat ketat, ada yang membatasi dengan sangat longgar. Sebagai contoh saja, film porno. Di Indonesia ini sangat dilarang, di negara liberal seperti Amerika, Jepang dan negar-negara Eropa hal seperti ini diperbolehkan dengan batasan khusus. Kalau di Amerika batasannya adalah usia, kalau di Jepang, selain usia, juga tampilan film yang harus disensor mozaik di bagian kelamin. Itu misalnya. Selama materi pornografi tidak

dieksplorasi secara berlebihan, ternyata hal ini bisa memunculkan keuntungan, kegembiraan dan kenyamanan saat mengonsumsinya, bahkan pada dunia medis, materi pornografi juga diselipkan sebagai bagian terapi seksual. Asal semua dilakukan dengan kendali dan rasa tanggung jawab memanfaatkannya. Nah, yang harus dihindari adalah mengonsumsi materi pornografi yang terlalu sering, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Lalu, mengonsumsi materi pornografi yang terlalu ekstrem (misalnya seks dengan anak-anak, seks dengan binatang, dll) karena sekali dua kali atau malah bisa sering kali menjadi referensi dan sumber inspirasi juga buat ditiru. Selanjutnya, pikirkan baik-baik tentang partner yang diajak menonton materi pornografi atau jika ingin melanjutkan ke tahapan aktivitas seksual. Kalau dengan istri sendiri mungkin bukanlah masalah, tetapi jangan dengan pasangan yang berisiko, baik risiko medis (bisa terinfeksi infeksi menular seksual bila mengajak pasangan yang terinfeksi sebelumnya), atau risiko sosial, karena mengajak pasangan sah orang lain misalnya. Bila sudah memiliki pasangan,

kalaupun ingin mengonsumsi video porno, sebaiknya dilakukan bersama-sama atau sepengetahuan bersama. Itu akan jauh lebih menyenangkan dan lebih aman. Seringkali agenda menonton video porno bersama, justru menjadi “sumber rekomendasi” dan “sumber inspirasi” bersama pasangan untuk meningkatkan variasi seksual bersama. Jika sudah menjadi kecanduan berat, bagaimana mengatasinya? Perlu peran besar dari pasangan buat mengelola keinginan dari pasangannya yang sudah telanjur overuse of pornography. Dengan mengatur waktu dan pembatasan materi pornografinya. Sedangkan

yang sudah kadung sendirian, dia bisa berusaha sendiri atau minta bantuan psikolog atau seksolog, maupun dokter yang paham kesehatan seksual buat membantunya. Pilihan terapinya sering kali berupa dua hal: metode total abstinence (distop semua kontak dengan materi pornografi yang memunculkan overuse), atau dengan step ladder pattern, dengan cara mengurangi bertahap dan pelan-pelan sampai tidak lagi overuse. Kata kuncinya adalah selama materi pornografi yang dikonsumsi tidak sampai mengganggu aktivitas sehari-hari dan kontak sosial dengan orang lain, itu sudah cukup.

ografi secara TIPS! Gunakan materi porn ya: bertanggung jawab, artin yang lain

mengganggu aktivitas 1.Tepat waktu, jangan sampai orang lain yang “mengundang 2.Tepat orang, jangan mengajak g sah lebih baik dengan pasangan yan risiko” jika mengonsumsinya, ter patan mengkonsumsi ma i 3.Tepat target, gunakan kesem ingan mencari referensi buat pornografi hanya untuk kepent i kean misalnya, untuk mengatas variasi seksual bersama pasang adar tahu saja jenuhan, atau hanya untuk sek eringan, nanti malah overuse. 4.Tepat frekuensi, jangan kes


10

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Biduran Dialami 60% Wanita Saat ini suhu udara sangat ekstrim. Kadang panas, kadang dingin. Apa­ lagi di malam hari, kadang hujan dan hawa sangat dingin. Bagi sebagian orang cuaca dingin membuat merasa nyaman. Namun, lain halnya dengan orang-orang yang menderita “alergi dingin”. Suhu dingin ini sangat menyiksa, karena pada saat suhu dingin pada kulitnya akan mun­ cul bentol-bentol merah tebal yang terasa sangat gatal. Bentol gatal ini dikenal dengan istilah biduran. Apakah sebenarnya biduran itu?

M

Biduran

enurut staf penga­ jar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedok­ teran Unud/RS Sanglah, dr. I.G.N Darmaputra, Sp.K.K., biduran istilah medisnya urtikaria. Diperkirakan 3,2-12,8% dari populasi pernah mengalami biduran. Biduran merupa­ kan golongan penyakit alergi dimana sebagian besar penderita mengang­ gap bahwa penyebab utama biduran adalah udara dingin. Padahal, udara dingin hanya sebagai salah satu fak­ tor yang memperberat atau faktor pemicu kekambuhan. “Terdapat banyak faktor pemicu kekambuhan biduran seperti udara dingin, udara panas, makanan, debu, stres maupun infeksi bakteri atau virus. Bahkan dari hasil penelitian, ternyata hampir 80% tidak diketahui penyebabnya,” papar pemilik D.I. Klinik Centre ini. Ia menambahkan, ketidakpastian penyebab timbulnya biduran, disebab­ kan banyak faktor yang berpengaruh dan sulit dipastikan. Biduran tidak akan timbul bila penyebab utama alergi tidak ada. Artinya, bila orang tersebut tidak memiliki alergi, faktor pencetus tadi seperti alergi makanan, udara dingin, udara panas, stres, infeksi virus, dan lain sebagainya tidak akan berpengaruh. Jadi, udara dingin dan faktor pemicu lainnya hanya mem­ perberat bukan penyebab utama. Dasar penyebab utamanya adalah

atopi atau suatu keadaan atau kelainan alergi yang sifatnya diturunkan dari dalam satu keluarga dengan manifes­ tasi penyakit seperti biduran, radang kulit berulang. Timbulnya pada tempat tertentu dengan tanda khas sesuai umur (dermatitis atopi), asma, sering pilek , bersin sampai hidung tersumbat dan biasanya terdapat pula tanda lain berupa lingkaran gelap di mata, kulit agak pucat. Biduran akan timbul hanya pada seseorang yang memiliki atopi, jadi walaupun samasama kedinginan tidak semua orang akan muncul biduran. JANGAN DIGARUK Ia menjelaskan tidak ada perbedaan ras dan umur, kelompok yang mengalami biduran. “Ter­ banyak pada kelompok umur 40-50-an. Hanya, pada biduran kronis leb­ ih sering dialami kaum wanita sekitar 60%,” ucapnya. Jadi, biduran ini bisa menyerang anak-anak maupun pada dewasa. Bi­ duran bisa terjadi di bagian tubuh mana saja, dengan bentuk dan ukuran yang

Tips Mencegah Biduran

- Untuk mencegah terulangnya biduran, usahakan mencari penyebab alergi dan perhatikan bahan apa saja yang baru disentuh, dimakan, atau diisap ketika mulai terserang biduran. - Jika penyebabnya adalah makanan, maka hindari makanan tersebut. - Jika kekambuhannya karena faktor cuaca yang tidak bisa kita hindari, pencegahan yang dapat dilakukan dengan cara menjaga suhu tubuh agar tetap hangat seperti mandi dengan air hangat. - Gunakan jaket atau sweater jika beraktivitas di udara dingin serta menggunakan selimut maupun kaus kaki saat tidur. -Wirati Astiti

beraneka ragam. Dari yang berben­ tuk kecil-kecil seperti gigitan nyamuk atau besar dan terlihat seperti piring makan, bisa juga terlihat seperti cin­ cin atau kelompok-kelompok cincin yang bergabung bersama. Bisa timbul dalam kelompok dan bisa berubah tempat hanya dalam hitungan jam. Bentol-bentol ini bisa juga timbul di wajah penderita dalam jumlah banyak, lalu hilang. Kemudian, akan timbul di lengan. Jika seseorang sudah tahu dirinya akan terjangkiti, dengan tanda muncul bentol-bentol pada kulit tu­ buh dan rasa gatal, ia menyarankan, jangan digaruk. “Jika digaruk maka seseorang akan mengalami siklus gatal garuk. Jika bentol makin digaruk maka bahan aktif histamin akan makin banyak keluar dan yang terjadi justru bagian yang digaruk makin gatal dan muncul bentol yang sesuai ben­ tuk garukan memanjang,” jelasnya. Biduran juga bisa mengenai lapisan bawah kulit dan mukosa menyebab­ kan bengkak pada kelopak mata (bisa satu mata atau keduanya), bibir mem­

dr. I.G.N Darmaputra, Sp.K.K. bengkak atau dikenal dengan istilah angioedema. Biduran yang disertai angioedema merupakan penyakit serius dan bisa menyebabkan ke­ matian. Jika mengenai selaput lendir, gabungan biduran dan angioedema ini bisa menyebabkan bengkak di sekitar mukosa, seperti bengkak di daerah bibir. Jika terkena saluran napas, bisa mengakibatkan susah menelan dan sulit bernapas. Jika dibiarkan akan menyebabkan susah bernapas, sehingga menyebabkan kematian. BEDAK MENGANDUNG MENTHOL Penanganan biduran yang paling ideal adalah menghindari penyebab atau faktor pencetus agar tidak terjadi atau meminimalisir terjadinya biduran. “Cara menemukan faktor pencetus adalah dengan melakukan

Bugar pemeriksaan penunjang. Beberapa pemeriksaan penunjang diperlukan untuk membuktikan penyebab bidu­ ran,” katanya. Selain itu, pemeriksaan darah, air seni dan tinja rutin untuk menilai ada tidaknya infeksi yang tersembunyi atau kelainan pada organ dalam. Pemeriksaan imunolo­ gis seperti pemeriksaan kadar IgE, eosinofil dan komplemen. Tes kulit, walaupun terbatas kegunaannya da­ pat dipergunakan untuk membantu diagnosis. Uji gores dan uji tusuk dapat dipergunakan untuk mencari alergen penyebab. Selain itu, bisa dilakukan tes eliminasi makanan dengan cara menghentikan semua makanan yang dicurigai untuk be­ berapa waktu, lalu mencobanya kembali satu per satu. Ia mengatakan, saat terjadi keka­ mbuhan dapat diberikan antihistamin karena dapat mengontrol gejala bagi sebagian besar kasus. Namun, tidak dapat menghilangkan penyebabnya. Selain itu dapat diberikan kortikos­ teroid, apabila pengobatan dengan antihistamin saja tidak cukup. Obatobat ini dapat mengurangi bengkak, kemerahan dan gatal, namun dimi­ num dalam jangka waktu sebentar saja karena mempunyai efek samping yang cukup serius. Pengobatan lokal dengan be­ dak atau lotion yang mengandung menthol. “Jika biduran merupakan tanda dari reaksi alergi yang lebih serius yang dapat mempengaruhi pernapasan dan fungsi organ lain, maka penderita butuh pertolongan medis sesegera mungkin,” sarannya. Namun, kadang biduran akan sem­ buh dengan sendirinya tanpa bantuan obat-obatan atau tak memerlukan kunjungan ke dokter. Ia menyarank­ an, untuk mengatasi biduran, yang paling penting adalah menghindari faktor pencetusnya.

Style

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Kebaya Pesta

nan

Seksi

Kebaya sebagai busana tradisional dikenal mencitrakan keanggunan dan femininnya sosok perempuan. Karenanya kebaya kerap dijadikan pilihan favorit untuk menghadiri acara pesta baik bertema modern maupun tradisional.

A

palagi kini model kebaya telah men­ jelma menjadi busa­ na modern yang terus mengikuti perkembangan fashion. Dewi pemilik Calista Kebaya pun tak ketinggalan men­ ciptakan variasi baju kebaya pesta modern. Ia sengaja mende­ sain ke­­ b a y a s e ­­­b a g a i pi­lihan un­ tuk tampil

glamor, elegan tanpa melupakan budaya bangsa dengan padu pa­ dannya berbahan tenun. Kesan glamor dihadirkan Dewi terutama melalui detil seperti bor­ dir dan beads, serta pilihan warna biru tua dan pink. Keberadaan detil tersebut juga mengesankan citra mewah sekaligus modern. Sedang­kan kesan elegan pada model kebaya pesta ini ber­ hasil muncul di setiap sisi. Meski de­ mikian secara keseluruhan

Dewi Calista

desainnya juga menonjolkan keseksian perempuan terutama dengan dominasi kerah kebaya sabrina. Selanjutnya beragam aksesori pun dipilih untuk mempercantik sebuah kebaya. Perpaduan antara kebaya dan kain bawahan­ nya pun menjadi bagian yang tak kalah penting dalam setiap kreasi dari koleksi Calis­ ta Kebaya kali ini. – Sri Ardhini

15


16

Edukasi

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

UN Online Terhadang Fasilitas Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan melaksanakan UN online atau Computer Based Test (CBT) di sejumlah sekolah di tanah air pada April 2015. Di Bali, dari 24 sekolah yang menjadi nominee pelaksana UN online, disebutkan hanya dua sekolah yang siap, yakni SMPN 1 Denpasar dan SMK TI Global Singaraja.

K

epala SMPN 1 Denpasar Drs. A.A Gde Agung Rimbya Temaja, M.Ag., saat ditemui Jumat (27/2) mengklarifikasi pernyataannya tersebut. “Di awal, saya memang menyatakan SMPN 1 siap melaksanakan UN online karena kami dulu sebagai RSBI sudah sering mengikuti lomba online. Bahkan sekitar bulan lalu, kami bekerjasama dengan 4 sekolah di Yogyakarta untuk melakukan pemantapan online. Artinya, dari segi anakanak dan fasilitas lain, kami siap,” ujarnya. Menyusul datangnya surat dari pusat yang baru diterimanya 26 Januari tentang Persyaratan Sekolah Penyelenggara UN CBT, Rimbya Temaja menyatakan ketidaksiapannya. Apalagi, formulir kesiapan itu harus sudah diserahkan per akhir Januari 2015. Dari berbagai persyarat­ an dari Kemendikbud itu, di antaranya ketersediaan petugas laboratorium komputer, sarana prasarana seperti komputer, server dan spesifikasi teknis, ada satu syarat yang menjadi kendala,

yakni menyediakan komputer client di sekolah yang jumlahnya sebanding dengan jumlah peserta ujian nasional, yaitu dengan perban­ dingan 1:3 (1 komputer tersedia untuk 3 peserta ujian).

Melihat Nusantara di Taman Nusa

Miniatur Candi Borobudur

Bagi Anda yang tinggal di Bali dan tertarik mengenal keanekaragaman budaya Indonesia, bisa datang ke Taman Nusa Bali. Lokasinya, Jalan Taman Bali, Desa Sidan, Gianyar. Anda dapat mencapainya sekitar 45 menit dari Denpasar. Kawasan ini mirip dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

P

uluhan rumah adat Nusantara, terlihat begitu indah disajikan dalam bingkai Taman Nusa. Tak tanggung-tanggung, beberapa rumah adat seperti rumah adat Minang dan Toraja didatangkan langsung dari asalnya. “Rumahnya bisa dibongkar pasang. Dirakit langsung oleh tukangnya dari tempat asal rumah adat,” kata David Arista, Art Culture Promo, Supervisor Ta-

man Nusa Bali. Rumah tradisional dibangun dengan penataan sedemikian rupa sehingga menyatu dengan alam Bali. Mengunjungi kampung ini, Anda berkesempatan mengenal berbagai etnis, budaya dan kerajinan serta kesenian Indonesia. Anda juga bisa langsung bertemu dengan warga asli, seperti Dayak, Papua, Papau Barat, NTT, dll. Sekaligus menikmati musik, dan kerajinan khas

“Kalau saja syaratnya bisa menggunakan laptop, kami sudah sangat siap,” ungkapnya. Kendala serupa disampaikan Kepala SMAN 1 Denpasar Drs. I Nyoman Purnajaya, M.Pd . Ada tiga aspek yang menjadi alasan utama ketidaksiapan sekolah ini dapat melaksanakan UN online pada tahun ini. Aspek tersebut meliputi aspek teknis menyangkut fasilitas IT, aspek program, dan aspek psikologis siswa. Dari segi teknis, fasilitas yang dimiliki sekolah ini masih belum memadai jika dibandingkan dengan peserta UN tahun ini yang jumlahnya 416 orang. Berarti sekolah memerlukan 140 unit komputer dengan jumlah server 9 buah sesuai dengan persyaratan. Padahal, saat ini, sekolah hanya memiliki 40 unit komputer dengan 2 server. Sedangkan untuk aspek program dikatakannya hingga saat ini belum mendapatkan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis soal UN online yang dimaksud Kemendiknas Dasar dan Menengah RI. Menyangkut aspek psikologis, menurut Purnajaya sudah ada perwakilan siswa kelas XII yang menghadap dan meminta sekolah untuk tidak mengikuti UN online karena para siswa belum familiar untuk ujian seperti ini.Tentunya,ini juga menjadi pertimbangan kami sebagai pucuk pimpinan sekolah ini,” ujarnya. Meski demikian, sampai berita ini diturunkan Kepala SMPN 1 Denpasar Rimbya Temaja menegaskan kesiapannya jika seandain-

daerah mereka masing-masing. Satu hal yang menarik perhatian Tokoh adalah saat masuk ke rumah khas Papua. Rumah adat Papua atau yang biasa disebut Honai ini dimiliki suku Dani. Rumah Honai ini terbuat sepenuhnya dari bahan-bahan yang ada di alam, dengan material kayu pada badan rumah dan jerami sebagai bahan dari atapnya. Rumah ini terlihat tertutup karena tidak dilengkapi dengan jendela, karena memang fungsinya adalah untuk melindungi suku Dani yang tinggal di dalamnya dari udara dingin pegunungan Papua. Seorang suku khas Papua, namanya Israel sedang membuat kerajinan khas Papua sembari menyapa pengunjung yang datang. Selain rumah adat Nusantara, di kawasan seluas 15 hektare, pengunjung menikmati panorama perjalanan waktu bangsa Indonesia, dimulai dari masa prasejarah, jaman perunggu, masa kerajaan hingga kampung budaya Indonesia. Perjalanan berlanjut ke masa awal Indonesia, era kemerdekaan, masa kini dan akhirnya sampai di harapan Indonesia masa depan. Pemandangan alam pegunungan

Rumah Honai

ya tiba-tiba SMPN 1 Denpasar ditunjuk melaksanakan UN online. Karena, kini pihaknya berupaya mempersiapkan persyaratan tersebut. “Dengan peserta ujian 249, kami sudah mempersiapkan 83 unit komputer sesuai dengan persyaratan. Jaringan-jaringan internet yang sebelumnya masih bermasalah pun, sekarang sudah diperbaiki. Jadi, sekarang kami sudah siap,” tegasnya. Secara pribadi Rimbya Temaja menyambut baik dan mendukung pelaksanaan UN online ini. Paling tidak

Rumah Adat Papua

berpadu dengan puluhan rumah adat di Indonesia, membuat kita semakin kagum betapa kayanya budaya Indonesia. Kompleks Taman Nusa berdiri di atas tebing, menyusuri Sungai Melangit, dengan pemandang­an tumbuhan alam. Memandang ke bawah, Anda dapat melihat sungai tempat orang rafting. Walaupun tak seindah aslinya, miniatur Candi Borobudur juga

menurutnya, UN online bisa meredam permasalahan yang selalu muncul dalam tiap pelaksaan UN, seperti bocornya soal. Dengan UN online yang berbasis IT ini akan lebih efektif. Peserta ujian bisa lebih mandiri, jujur, kompetitif, karena tingkat kebocoran soal sangat kecil. Namun, sebelum dilaksanakan, ia sangat berharap dinas terkait menyiapkan sarana-prasarana dan diujicobakan dahulu sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pusat. –Inten Indrawati

ikut serta meramaikan tempat wisata yang dibuka sejak tiga tahun lalu ini. Candi Trowulan dan figur Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa, juga berdiri tegak. “Taman Nusa merupakan taman wisata budaya yang memberikan pengetahuan menyeluruh tentang budaya dari berbagai etnis Indonesia dalam suasana alam pulau Bali,” ujar David. Beberapa bangunan mewakili tiap masa dicirikan dari arsitektur dengan fitur Buddha, unsur Islam, rumah kolonial Belanda, serta pengaruh Tiongkok untuk arsitektur modern dan Hindu. Perjalanan terasa sangat menyenangkan, karena berkeliling ke berbagai rumah adat, kita melintasi taman-taman yang sejuk. David mengatakan, ke depannya, di kawasan ini akan dibangun sanggar-sanggar untuk mementaskan berbagai kesenian daerah. “Harapannya, pengunjung akan merasakan atmosfer kehidupan tradisional tiap daerah dalam bentuk perkampungan etnis,” kata lelaki yang piawai menari ini. -Wirati Astiti

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

9

Duta Endek dan Inovasi Produk Lokal Pada HUT ke-227 Kota Denpasar Dalam acara pameran serangkaian HUT ke -227 Kota Denpasar yang berlangsung di Taman Kota, Lumin­ tang Denpasar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan ­(Disperindag) Kota Denpasar juga hadir mengetengahkan anjungan informasi terkait “Peningkatan Inovasi Produk Lokal Tahun 2015”

P

ada kesempatan tersebut, karya-karya fashion Duta Endek juga diberikan ruang bersamaan dengan ditampilkannya informasi perihal perdagangan dalam negeri seperti : Revitalisasi Pasar Tradisional Tahun 201-2014; Pemahaman Sarana Pasar Tradisional; Rumah Kemasan dan Konsultasi yang dilengkapi dengan brosur-brosur pendukung informasi perdagangan dalam negeri. Menurut, Kadisperindag Kota Denpasar, Drs. Wayan Gatra, M.Si, kegiatan ini termasuk dalam program “Peningkatan Inovasi Produk Lokal Tahun 2015”. Semua dilaksanakan demi semakin tertanamnya kebanggaan pada Kota Denpasar bersama pesona warisan seni budayanya sehingga terus dipelihara dan dilestarikan. Sebelumnya, Disperindag telah pula menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mewujudkan iklim kemitraan antara pemerintah, para pemangku kepentingan, pengrajin dan masyarakat untuk bersama-sama membangun Kota Denpasar. “Disperindag pun menyediakan sarana promosi produk perdagangan, investasi di bidang tekstil dan fashion endek (ready to wear). Tentu semua berujung pada upaya menunjang ‘Kota Denpasar sebagai Kota Kreatif’ dalam ‘Tahun Indonesia Kreatif’. Sosialisasi penggunaan produksi dalam negeri sebagai program cinta karya Indonesia juga wajib terus digaungkan di berbagai kesempatan,” tutur Wayan Gatra.

Selanjutnya kunjungan Wakil Wali Kota IGN Jaya Negara beserta undangan ke stan Disperindag Kota Denpasar, rupanya mampu memberikan motivasi pada para Duta Endek yang turut hadir, agar pintar-pintar melihat peluang dan menggunakan kesempatan untuk tetap berkarya dan berinovasi. Di tempat yang sama Wakil Wali Kota juga dapat melihat langsung sebagian dari hasil karya Duta Endek Kota Denpasar yang juga dipajang di sana, seperti kemeja, dress, blus, pernak-pernik rambut, tas, hingga kaus kasual. Salah seorang Duta Endek 2014, Gung Gus menyampaikan suka citanya diberikan kesempatan turut memajang karyanya dan berharap tahun berikutnya mendapat kesempatan kembali. Dalam kegiatan pameran yang berlangsung hingga 3 Maret ini sekaligus juga menjadi ajang promosi pemilihan Duta Endek Kota Denpasar tahun 2015, tepatnya 2 Oktober 2015 mendatang. “Jika kamu adalah WNI berusia 15-24 Tahun, berdomisili di Kota Denpasar, belum menikah, mempunyai tinggi minimal 165 cm (perempuan) dan 170 cm (laki-laki), berat badan proporsional, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, memahami pengetahuan tentang endek dan berwawasan luas, terlebih memiliki bakat khusus dan memiliki piagam prestasi dapat disertakan, tidak ada salahnya siapkan diri sejak sekarang,” begitu disampaikan oleh para Duta Endek yang ikut menjaga anjungan Disperindag kala itu.

KIBARKAN TAG LINE Dengan Semangat Cinta Denpasar Pada malam harinya, mengusung tema “Inspire and Harmony of Wastra”, Duta Endek Kota Denpasar juga turut meriahkan Malam Apresiasi HUT ke -227 Kota Denpasar pada Jumat (27/2), di panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre Denpasar. Persembahan kali ini, dibawakan oleh Duta Endek Kota Denpasar Tahun 2012, 2013, 2014. Dengan arahan koreografi oleh IAM Model & Talent Management mereka dengan penuh suka cita membawakan hasil karya dan kreasi milik mere­ka sendiri berupa busana-busana kasual. Gaya busana masa kini dan tentunya sesuai dengan karakter anak muda yang penuh dinamika dan inspirasi. Selain itu, para Duta Endek juga tampil memeragakan koleki milik Asosiasi Endek, Bordir dan Songket (ASBEST) Kota Denpasar, yakni Cempaka Butik, Wijaya Kusuma, Anyar Butik , Nikki Sri Butik, Butik Novi, Primadona dan Ayu Sandat. Sedangkan untuk tata rias mereka ditangani oleh Cahya Atsuka Salon Denpasar. “Rata-rata koleksi yang ditampilkan adalah pakai­ an ready to wear atau siap pakai untuk kalangan anak muda. Kami ingin membuktikan bukan hanya bangga punya endek tapi juga mau langsung mengenakannya, bahkan banyak teman sudah pula berkarya,” ujar Willy mewakili rekan-rekannya sesama Duta Endek sambil menyebutkan Gung Gus yang mengibarkan “Sambhara”, Parta dan Krisna dengan merek “Rare Rare Wear”, Candra Yunita dan Cakra melalui “Basudewa” Ayutya dengan “Kriya Tenun”, Merta dengan “Juna” dan Wella dengan bendera “Cahya Atsuka.” Rupanya mereka sudah memahami arti dari tag line “Endek Kita Punya, Kita Pakai dan Kita Bangga”. ‘Kita Punya’, berarti kita memiliki produk unggulan lokal Kota Denpasar yang wajib kita lestarikan. ‘Kita Pakai’, sudah pasti merupakan perwujudan langsung mengenakannya sebagai busana dan gaya hidup.

Sedangkan ‘Kita Bangga’, berupa rasa memiliki yang tinggi akan adanya sebuah warisan budaya yang wajib dilestarikan oleh seluruh masyarakat, baik generasi muda, tua maupun anak-anak. Selain tag line yang sudah berkibar di antara anakanak muda Kota Denpasar khususnya, rupanya peserta pemilihan Duta Endek pun setiap tahunnya meningkat pesat. Dalam kesempatan berbeda, Ketua Dekranasda Kota Denpasar yang juga penggagas terbentuknya Duta Endek Kota Denpasar ini, merasa senang karena apresiasi yang luar biasa terjadi khususnya di kalangan anak-anak muda, termasuk peningkatan yang terjadi pada setiap pemilihan Duta Endek sejak tahun 2012. “Rupanya mereka semakin sadar dan merasa punya kewajiban sebagai generasi muda untuk bersama-sama menjaga warisan budaya ini. Di samping itu, para Duta Endek juga sudah menjalankan tugas mereka dengan baik, minimal di lingkungan mereka, seperti di sekolahnya masing-masing. Terlebih lagi dengan media sosial saat ini, pengaruhnya luar biasa. Segala informasi dan perkembangan endek di dunia fashion cepat menyebar. Lebih senang lagi saat mengetahui mereka bukan hanya senang dan bangga memakai juga tahu proses pembuatan­nya bahkan sejarahnya endek,” katanya. –ard


8

Bunda & Ananda

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Pelaku Bullying Itu Penakut Kasus bullying bisa terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Anak-anak termasuk kelompok yang rawan menjadi pelaku dan korban bullying. Apa yang harus dilakukan orangtua agar anak tak terlibat bullying?

J

ojo sekelas dengan Bent sejak kelas 1. Awalnya hubungan pertemanan mereka baik-baik saja. Namun, mulai kelas 3, Bent mulai mengintimidasi Jojo. Tiap hari Jojo diejek, dicubit, bahkan dipalak. Jojo tak melakukan perlawanan. Ia memilih diam. Adik Jojo yang bersekolah di tempat sama akhirnya mengetahui kalau Jojo sering diganggu Bent. Akhirnya, sang adik melapor ke ibunya. Jojo pun diinterogasi oleh ibunya. Jojo mengaku sering diganggu Bent. Jojo juga mengatakan sudah memberitahu Bent untuk tidak mengganggu. Tetapi, Bent tetap saja melakukan. “Saya pun lapor ke gurunya tentang perilaku Bent terhadap Jojo. Ternyata Bent termasuk anak yang bermasalah. Saya minta mereka dipisahkan. Untung guru mau mengerti dan mereka pun dipisahkan kelasnya,” ungkap Tria, ibu Jojo. Sejak kelas 4, Jojo dan Bent pisah dan Jojo tak lagi diganggu oleh Bent. Menurut Caecilia Nirlaksita, S,Psi, C.Ht, tindakan yang dialami Jojo termasuk dalam kategori bullying. “Bullying itu tindakan intimidasi atau melakukan control kuasa dengan cara memaksa atau menekan individu lain atau kelompok lain. Penekan harus yakin bahwa dirinya merasa punya power lebih terhadap orang yang ditekannya. Penekan kuasa menganggap lemah pihak yang dikuasai. Intimidasi ini bisa dilakukan individu kepada individu, bisa juga dari kelompok kepada individu, atau bahkan individu pada kelompok (bila kelompok ini dianggap lemah). Dalam satu kelompok biasanya ada trouble maker (pengganggu) sebagai inisiator intimidasi, bisa satu individu sebagai inisiator atau lebih,” jelasnya. Psikolog yang juga memiliki jasa pelayanan psikologi dengan House of Psike (Rumah Rasa), yang bekerjasama dengan Klinik Tri-K ini, menambahkan bullying bisa dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Bisa secara verbal seperti memaki, menghina, dan menggosip, mengasingkan bahkan bisa dilakukan kekerasan secara fisik seperti memukul, menendang, menelanjangi, mencubit, dan memalak. Bagaimana mengetahui bila anak korban bullying? Ciri-ciri anak yang menjadi korban bullying menampakkan perilaku tidur yang tidak nyenyak, ada perubahan konsentrasi, anak sebelumnya fokus mengerjakan sesuatu menjadi tidak fokus, suka secara aneh mengasingkan diri atau berusaha menghindari kerumunan atau teman- temannya, dan perilaku anak kehilangan semangat/tidak antusias. Dampak yang parah adalah adanya gangguan perilaku/

psikologis, gangguan emosi, dan gangguan konsentrasi pada korban bullying. “Bila ada tanda mengarah pada ciri-ciri ini, orangtua disarankan segera bertindak. Maka inilah pentingnya fungsi orangtua sebagai pembelajar anak, untuk sedini mungkin membangun kesadaran tentang pentingnya berbicara atau berkomunikasi dari hati ke hati, ketika anak menjadi korban tanyakan, jangan adakan sanggahan pada keterangannya, gali terus apa yang terjadi dengan cara santai, ada kalanya anak senang bila bertatapan mata, adakalanya anak lebih nyaman dan bebas bila bercerita tanpa menatap mata (khusus pada kasus ini). Saat berkomunikasi, gunakan bahasa mental anak sehingga dia merasa nyaman berbicara pada teman dekatnya,” ujar anggota Himpunan Psikologi (Himpsi) Bali yang menekuni bidang Psikologi Hukum ini. ANAK MENCONTOH ORANGTUA Dalam diri manusia, ada wilayah mental kepribadian, dalam analisis transaksional, mental anak, mental orangtua, dan mental dewasa. Ketika berkomunikasi dengan anak sebagai korban bully, gunakan pendekatan mental anak. Hal ini akan memudahkan anak menyampaikan kemarahan, kekecewaan dan penghinaan dari pelaku bully. Empati atau merasakan rasa yang dialami anak. Maka anak pun semakin merasa dipahami dan percaya pada kita untuk menceritakan secara detail tentang peristiwa intimidasi. Anak akan dengan sendirinya membuka diri untuk menyampaikan perasaan dan peristiwanya. Dengarkan saja apa yang disampaikan anak, sekali lagi tidak menggunakan sanggahan pada pendapatnya, agar mendapat penggalian keterangan lebih banyak. Apapun persoalan yang dihadapi anak, kunci utama relasi mental anak dan orangtua terletak pada komunikasi, orangtua hendaknya setiap saat belajar dari peristiwa berkomunikasi dengan anak, untuk mengekplorasi kemampuan anak. Anak yang mampu mengembangkan kemampuan verbalnya untuk menyatakan dirinya, cenderung berkembang menjadi percaya diri, sehingga tidak bisa dianggap lebih lemah oleh pelaku bully. Mengapa pelaku bullying menyukai untuk mengitimidasi? Alasannya berbagai macam , bisa jadi ia pernah menjadi korban bully lalu ingin melakukan balas dendam dengan melakukan displacement agreasi pada orang yang dianggap lemah. Bisa juga kebiasaan menyaksikan unsur kekerasan yang ditayangkan oleh televisi, majalah, media sosial, melihat kebiasaan lingkungan sosial, kebiasaan orang-

Caecilia Nirlaksita

tua di rumah atau pembantu yang sering memperlihatkan kekerasan verbal dan fisik, serta mempelajari dari peer group. Anak bisa tidak mampu mendengar tapi tidak pernah salah mencontoh orang lain, terutama orangtua. Perilaku kekerasan yang dilihat setiap saat direkam anak dalam mentalnya. Bisa secara sadar ataupun tidak sadar mempengaruhi mental dan perilaku anak. Inilah betapa orangtua sebagai model yang sepantasnya ditiru oleh anak. Untuk meyadarkan anak hanya dengan memberi

pelukan dan pujian positif, contoh “kamu kan anak baik, nah anak baik biasanya mampu menata tempat tidurnya”, mampu kreatif dan baik pada orang lain. MINTA VISUM “Pada dasarnya pelaku bullying adalah orang yang jago kandang/ tidak berdaya. Pelaku seringkali memiliki motif melampiaskan perasaannya yang tersisih, terkuasai oleh kemarahan, kekecewaan dan tidak berdaya, Dinamika bisa muncul dari perlakuan orangtua,

anak ini bisa jadi sering dimarahi orangtuanya dengan makian dan kata-kata yang kasar atau mungkin dengan hukuman fisik. Anak tak memiliki keberanian melawan jenis orangtua seperti ini, karena rasa lemah, takut dengan power/ kuasa yang ada di orangtua. Perasaan adalah sumber masalah pemikiran anak, perilaku anak dan mental anak,” ujar psikolog lulusan Universitas Surabaya ini. Bagi orangtua yang anaknya menjadi korban bullying di sekolah, Caecilia sepakat dengan yang dilakukan Tria. Pihak sekolah yang harus menjadi fasilitator serta mediator. Hati - hati ketika melakukan pendekatan yang langsung berhadapan dengan orangtua pelaku, kemungkinan justru bisa menimbulkan masalah yang akan lebih meluas, batasi persoalan dengan pendekatan dan penyelesaian sesuai, beri efek jera pada pelaku dengan bukan menambahkan masalah. Lakukan pendekatan pada perkumpulan orangtua untuk membuat aturan sekolah wilayah bebas bully, lakukan pendekatan ekstrakurikuler dengan drama yang mengajarkan cinta kasih, membuka forum diskusi pada anak dan orangtua. Bila terjadi kekerasan fisik yang mengakibatkan luka dan cacat, segera laporkan ke polisi untuk diarahkan ke rumah sakit terdekat dengan mendapat visum et repertum dari dokter yang ditunjuk. Urusan nanti akan dilanjutkan ke ranah hukum atau tidak tergantung para orangtua, pihak sekolah dan orangtua pelaku. -Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

Serigala Mencari Dokter

Sejak beberapa hari hewan-hewan di hutan mendengar rintihan dan tangis Serigala. Namun, tak seekor hewan pun yang berani mendekat, apalagi bertanya kepada hewan yang ganas itu. Di kalangan hewanMade Taro hewan, Serigala terkenal karena sifatnya yang serakah, suka menipu, licik dan tidak punya rasa terima kasih. Pada suatu siang, sang Serigala duduk merintih di bawah pohon randu. Di sebuah ranting pohon itu hinggap seekor burung kolibri. Mendengar rintihan yang mengiris hati itu, burung pengoceh itu bertanya, “Apa yang terjadi atas dirimu, Tuan Serigala?” “Tolonglah aku, Kolibri! Sejak seminggu aku tidak makan, karena sekerat tulang menyangkut di tenggorokanku.” “Sungguh kasihan aku mendengar rintihanmu,” kata Kolibri. “Aku berniat menolongmu, tetapi tubuhku yang terlalu kecil ini tidak mungkin dapat membantumu. Maaf, aku hanya bisa memberi petunjuk.” “Petunjuk apa itu, Kolibri?” “Minta tolonglah kepada Tuan Bangau! Ia dokter ahli tenggorokan. Ia juga punya alat lengkap untuk mengeluarkan tulang yang menyangkut itu.” Serigala amat senang mendengar petunjuk Kolibri. Tanpa mengucapkan terima kasih, ia berlari secepatnya menuju danau tempat dokter ahli itu mencari makan. “Dokter Bangau! Tolonglah keluarkan tulang yang

menyangkut di tenggorokanku!” Burung berkaki, berleher dan berparuh panjang itu memandang Serigala dengan rasa curiga. Lalu katanya, “Walaupun aku sanggup menolongmu, tetapi tidak mungkin, Serigala! Bukankah kau suka menipu, licik, dan tidak punya rasa terima kasih?” Serigala tersinggung. Ia ingin mencaplok Bangau, namun karena sangat berkepentingan, ia berusaha menahan diri. Lalu katanya. “Sekali lagi tolonglah aku, Bangau! Sejak tulang itu menyangkut di tenggorokanku, aku merenung siang-malam. Aku sadar. Aku harus mengubah sifatku yang buruk menjadi hewan yang baik budi dan tidak menyakiti hewan lain. Sekali lagi, tolonglah Bangau! Bukankah perbuatan menolong makhluk yang sangat membutuhkan, akan mendapat pahala yang tinggi? Aku berjanji akan memberimu hadiah, dan aku bersumpah tidak akan mengulangi perbuatanku yang buruk.” Bangau ahli penyakit tenggorokan itu merasa terpanggil, lalu katanya. “Baiklah! Bukalah mulutmu lebar-lebar!” Serigala membuka mulutnya. Bangau memasukkan paruhnya ke tenggorokan Serigala. Hup! Sungguh gemilang! Sekali tarik, tulang yang melintang itu keluar. “Auuuwww….!” Serigala melolong panjang, tanda riang-gembira. Kemudian, tanpa permisi, ia meninggalkan Bangau. “Hai, Serigala! Mana hadiah untukku?” tanya Bangau. Sambil berlari menjauh, Serigala itu menjawab, “Hai, Bangau! Seharusnya kaulah yang berterimakasih. Atas budi baikku, aku tidak sampai hati mencaplok kepalamu.”

Griya

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Pesona Bunga Teratai

Tunjung Saraswati Keindahan sebuah tanaman bisa terletak pada bunga, daun, maupun batangnya. Salah satu tanaman air berbunga cantik adalah teratai. Bunganya yang anggun dan indah yang menyembul di permukaan air, mampu “menghipnotis” penikmatnya.

T

anaman teratai tumbuh di media berlumpur di permukaan air yang tenang. Memiliki daun berbentuk bundar atau oval yang mengapung dipermukaan air. Menurut Made Sudiani (45), pemilik Stan Bunga Sekar Sari di kawasan By Pass Sanur Denpasar, pengembangbiakan tanaman ini sangat gampang, tak seperti tanaman lainnya. Di stan bunga yang ia kelola bersama suami sejak 23 tahun lalu ini, memang didominasi tanaman teratai. “Pembibitan dan perawatan lebih gampang dibandingkan

tanaman lain,” ujarnya. Teratai berkembangbiak dengan dua cara, yakni melalui biji dan tunas. Berdasarkan pengalamannya, tak semua teratai bisa dikembangbiakkan melalui biji ataupun tunas. Ada ciri-ciri fisik yang bisa dilihat dengan jelas. “Teratai yang bisa dikembangbiakkan dengan tunas, bisa dilihat pada daunnya. Biasanya pada titik pertemuan ruas daun ada semacam bentolan. Inilah yang nantinya akan bertunas, tumbuh menjadi anakan baru,” jelasnya. Sementara untuk jenis teratai yang bagus dikembangbiakkan dengan biji, karakter kelopak bunganya agak kuat dan lama tidak layu-layu. Setelah mahkota bunganya gugur, biji-biji ini pun terlepas sendiri dan jatuh ke dalam air. Biji-biji ini kemudian tumbuh menjadi anakan baru. Setelah anakan baru ini muncul, baik dengan pembibitan melalui tunas maupun biji, bisa dipisahkan dan ditaruh di tempat khusus atau tersendiri, yang tentunya di media berlumpur. “Saya biasanya memakai tanah sawah, karena biasanya tanah sudah subur karena sering dipupuk, dsb,” ucapnya lugu. Meski pembibitannya gampang,

17

tanaman teratai juga perlu dirawat khusus. Tiap dua minggu atau selambat-lambatnya sebulan sekali, Sudiani selalu memupuki tanaman teratainya. “Dalam satu pot, diberi pupuk seperempat sendok teh saja, jangan berlebihan yang justru akan membuat pertumbuhannya tidak bagus bahkan mati,” ucapnya. Agar pertumbuhannya bagus, media tanam baik itu di pot atau di kolam perlu dibersihkan dari lumut-lumut atau bekicot kecil yang kerap muncul menggerogoti daundaunnya, yang tentunya dapat mengurangi keindahan tanaman teratai. Po t o n g j u g a daun-daun yang sudah hitam dan menguning. Jangan lupa untuk mengganti tanahnya jika zat lumpurnya sudah habis. Hal ini bisa dilihat dengan permukaan dasar pot atau kolam yang hitam. Atau bisa juga dirasakan dengan mengambil tanah lumpur di dalam media itu. Jika sudah habis, segera ganti tanah yang baru. Dan yang paling penting, jaga genangan air agar tidak berkurang. Karena, tanaman teratai sangat suka dengan air yang banyak dengan sinar matahari cukup. –Inten Indrawati

Beragam Warna Tunjung Selain sebagai tanaman hias dengan beragam warna seperti putih, kuning, biru, oranye, merah muda (tujung saraswati), kuning emas, ungu (warna mahkota ungu dengan kelopak putih), dan hitam (sebutan untuk teratai berwarna mahkota ungu dengan kelopak ungu), teratai juga banyak difungsikan sebagai tanaman obat dan Tunjung kebutuhan upakara khususnya di Bali. Sudamala Itu pula yang menjadi salah satu alasan Sudiani mengembangbiakkan tanaman teratai dengan beragam jenis dan warna. Di Bali, bunga teratai disebut tunjung. Umumnya, bunga teratai akan mekar setelah matahari terbit dan kuncup menjelang matahari terbenam. Namun, khusus untuk teratai (tunjung) lokal (Bali) diakui Sudiani memiliki waktu mekar yang lebih daripada teratai lainnya. “Tunjung Bali, bunganya mekar dari pagi sampai sore, tapi ketika malam dia mekar lagi. Tunjung Bali ini daunnya lebih bergerigi,” jelasnya. Ada satu jenis tunjung yang ia sebut agak berbeda dengan yang lainnya, bisa disebut agak langka. Yakni, tunjung sudamala. Bunganya kecil-kecil berwarna putih seperti melati dan permukaan mahkota bunganya seperti berbulu. Bunganya muncul di bawah daun. Usia mekarnya hanya setengah hari, mulai matahari terbit sampai siang, setelah itu layu. Keesokan harinya, yang mekar adalah kelopak bunga yang lain, begitu seterusnya. Bibit tunjung sudamala ini diakuinya didapat dari temannya di Payangan, Gianyar. –Inten Indrawati


18

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

Aneka kreasi dapat dibuat dari potongan-potongan kertas. Tentu ini memerlukan keahlian dan trik tersendiri. Apalagi, kreasi potongan kertas dirakit menjadi sebuah kapal dan dimasukkan ke dalam botol. Tentu sangat rumit dan memerlukan keterampilan tangan. Inilah yang dilakukan, Sudiro, lelaki asal Jawa, yang kini merantau ke Bali. “Awalnya, saya melihat di satu majalah luar negeri, ada gambar kapal di dalam botol bekas wine. Uniknya, ada air di dalam botol tersebut. Lama saya berpikir, bagaimana cara membuat kapal itu bisa ada di dalam botol yang sangat kecil,” kata Sudiro.

B

erhari-hari, Sudiro terus memikirkan kapal di dalam botol itu. Dalam benaknya, sudah tergambar, kapal itu pasti dirakit dengan sangat hati-hati, saat dimasukkan ke dalam mulut botol yang sangat kecil. Sudiro pun penasaran. Ia segera merealisasikan, apa yang ada di dalam benaknya. Beberapa peralatan ia coba, walaupun ia tak yakin, itu alat yang digunakan sesungguhnya. “Saya mencoba berkreasi sendiri saja. Yang jelas, ada kapal di dalam botol,” kata Sudiro. Menurut Sudiro, miniatur kapal yang diciptakan merupakan kapal Pinisi, kapal tradisional khas Indonesia yang berasal dari Suku Bugis dan Makasar.

Ia menambahkan, zaman dulu, pelaut asal Sulawesi Selatan sangat terkenal pemberani dengan kapal mereka merantau menjelajah pulau, bahkan sampai ke Tiongkok. Menurutnya, bagi yang suka mengoleksi benda-benda mungil, tentu miniature kapal khas Sulawesi ini, menarik untuk diburu. Sejak tahun 1995, Sudiro terus membuat miniatur kapal dalam botol. Aneka macam botol sudah dicobanya. Tentu, kata Sudiro, semakin kecil mulut botol semakin banyak tantangannya. Karena itu, ia menciptakan suatu alat khusus. “Alatnya memang seperti alat untuk memancing. Atasnya runcing kemudian di ditambah bambu kecil sebagai

Kreasi

Kapal Pinisi dalam Botol

pegangannya,” kata Sudiro. Sementara, alat lain yang diperlukan untuk menjepit, ia ciptakan satu model sumpit. Memang, ia mengakui, walaupun sudah tercipta alat khusus, kalau tidak ditunjang keterampilan tangan tentu miniatur kapal tak berhasil dibuat. Satu persatu kertas diguntingnya sesuai ukuran kapal. Dengan pola yang sudah dia rancang, dia membuat kertas sebagai layar kapal. Yang pertama dilakukan adalah memasukkan gabus sebagai bahan dasar kapal untuk bertengger. Kemudian mulai membuat kapalnya. Agar kertas tidak mudah robek, ia tempelkan potongan bamboo kecil untuk menopangnya agar tampak

Tenunan Biboki dengan Warna Alami Menenun dilakukan perempuan Nusa Tenggara Timur dengan dua tujuan. Selain sebagai sumber utama mata pencaharian, juga, pengisi waktu selesai bekerja di ladang. Salah satunya, Novi Tjompa, perempuan usia 34 tahun ini. Ia sudah menenun sejak masih remaja. “Di daerah saya, perempuan harus bisa menenun kain biboki saat berumur 15 tahun,” kata Novi, yang ditemui di anjungan NTT di

areal Taman Nusa, Bali ini. Uniknya, tenunan biboki khas NTT ini, memakai warna alami. Sebelum menenun, mereka menyiapkan benang. Kapas dipintal dengan alat tradisional untuk mendapatkan benang. Pecelupan benang memakai pewarna alami. Warna cokelat dari akar mengkudu, pucuk daun jati untuk merah terang, daun pandan untuk warna hijau, kunyit untuk warna kuning, merah pink dari kulit kayu,

dan warna hitam dari daun nilam. Tenunan biboki cenderung menggunakan warna kalem lebih ke warna tanah. Warna merah untuk laki-laki melambangkan keberanian, kesakstian dan keperkasaan. Warna hitam, untuk perempuan melambangkan keabadian, dan ratu rumahtangga. Pada tenunan NTT, yang diikat adalah benang lungsin. Benang pakan dimasukkan secara horizontal terhadap benang lungsin yang telah diikat secara vertikal. Menurut Novi, satu kain biboki bisa selesai dua bulan. Namun, jika dhitung dari mulai pemintalan

seperti layar terkembang. Untuk merekatkan kertas satu sama lain, ia menggunakan lem khusus. Untuk mengikatnya, ia menggunakan tali berwarna merah dan biru, selain juga, untuk memberi variasi warna sehingga terlihat lebih indah. Untuk melakukan pekerjaan itu semua, Sudiro hanya mengandalkan satu alat yakni alat pancing terse-

yang lebih kecil. Kapal pun dibuat lebih kecil dan tingkat kesulitan lebih tinggi. Sudiro merasa lebih tertantang melakukan kreasi lagi. Setelah tercipta miniatur di dalam botol dan bola lampu, ia pajang di atas kayu yang juga dihias dengan kerang-kerangan. Harganya berkisar Rp 100.000 s.d. Rp 200.000. Saat ini, Sudiro menunjukkan

but. Satu persatu benda yang akan dimasukkan ke botol menggunakan alat pancing. “Awalnya, memang agak sulit. Saya sudah mencoba berkalikali, hasilnya sangat jelek. Saya sudah melakukan puluhan kali percobaan, baru berhasil,” ucap Sudiro. Sampai kini, sudah tak terhitung miniatur kapal dalam botol yang dibuatnya. Tidak hanya sampai di situ, Sudiro mencoba berkreasi lagi. “Bola lampu yang sudah mati dibuang. Saya ambil dan amati. Rasanya bisa juga dibuat kreasi seperti botol bekas,” tuturnya tentang awal ia tertarik brekreasi dengan media bola lampu bekas. Menurut Sudiro, justru bola lampu bekas lebih unik, karena bentuknya

kepiawaiannya membuat kreasi miniatur kapal di anjungan Sulawesi Selatan di Areal Taman Nusa, Bali. Menurutnya, kapal di dalam botol ini, biasanya, disukai turis asing. “Kalau untuk turis lokal, ada saja yang beli, tapi kebanyakan yang suka koleksi,” kata Sudiro. –Wirati Astiti

benang memerlukan waktu sampai 6 bulan. Kain biboki ini digunakan untuk berbagai upacara adat seperti pernikahan dan sebagai kain pembungkus jenazah. Harga kain biboki terbilang mahal. Satu selendang saja bisa bernilai Rp 1 juta. Kamen-nya bisa mencapai Rp 5 juta. Menurut Novi, harga mahal ini disebabkan warna asli dari benang. Pembuatannya memerlukan waktu yang lama sehingga berpengaruh pada harga kain. Selain untuk kain, dari benang ini juga dibuat aneka kreasi gelang khas NTT. Gelang ini sering dipakai para gadis sebagai asesoris. –Wirati Astiti

Life

Story

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

Pendam Impian Jadi Dokter

Lahir sebagai perempuan keturunan Tionghoa yang memiliki darah Sasak dari neneknya, Prof. Ir. Mulyati., SU., Ph.D., Guru Besar pada Jurus­ an Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Mataram, mengabdikan lebih dari sebagian usianya bagi kemajuan dunia pendidikan di NTB. Perjuangannya untuk bersekolah sempat terganggu akibat peristiwa G/30 S PKI.

S

ewaktu kecil, perempuan kelahiran Praya, Lombok Tengah, 28 Oktober 1955, tidak pernah mengarahkan cita-citanya menjadi seorang pendidik. Namun, sebuah pengalaman sulitnya bersekolah di masa kecilnya, khususnya ketika terjadi peristiwa G/30 S PKI di tahun 1965, mengantarkannya pada sebuah pilihan untuk menjadi seorang pengajar. Muliyati menghabiskan masa sekolahnya di Praya Lombok Te­ ngah. Sebagai warga keturunan Tionghoa, di masa itu, dimana ia tidak bisa bebas bergaul dengan pribumi, termasuk dalam hal sekolah. Masa itu masih sangat kental nuansa pribumi dan nonpribumi. Anak-anak keturunan Tionghoa belajar di rumah-rumah orang berada Sebagai anak yang lahir dari keluarga Tionghoa yang sederhana, Mulyati merasakan juga pahitnya kehidupan pas-pasan bersama

7

orangtua dan delapan saudaranya yang lain. Karena berbagai situasi yang tidak memungkinkan sehingga belum banyak orang bisa melanjutkan bersekolah hingga tingkat SMP, SMA apalagi perguruan tinggi. Namun, ia bersyukur, orangtuanya memiliki kepedulian yang tinggi untuk menyekolahkan anakanak mereka, termasuk dirinya. Sebagai anak sulung dari The Tiong Swan dan Sie Su Fa, Mulyati yang terlahir dengan nama The Fei Lie dan memiliki nama baptis Felicia Mulyati ini tidak punya pilihan lain selain mengikuti kehendak orangtua untuk terus bersekolah. Kebetulan juga Mulyati adalah anak yang bersemangat untuk bersekolah. Hal inilah yang membuatnya sedih, ketika di tahun 1965, saat terjadi peristiwa yang dikenal sebagai G/30 S PKI pecah, sekolah-sekolah Tionghoa yang diselenggarakan di rumahrumah dilarang untuk beroperasi. “Tulisan-tulisan Tionghoa pun dilarang untuk digunakan,” ujarnya.

Itulah masa yang mencekam bagi ia dan keluarganya serta warga keturunan Tionghoa lainnya. “Saat itulah kami tidak lagi boleh sekolah sehingga banyak kawan-kawan saya yang putus sekolah,” ujarnya. Kesulitan anak-anak warga keturunan untuk berbaur dengan pribumi di zaman itu menjadi salah satu penyebab banyak yang memilih tidak melanjutkan sekolah. Namun, atas dorongan orang tuanya, Mulyati terus bersekolah dan masuk melanjutkan sekolahnya di sekolah Indonesia bersama kawan-kawan lainnya. Waktu itu Mulyati masuk di kelas VI SD Negeri 2 Praya. Cukup lama Mulyati dapat beradaptasi di sekolah barunya ini. Namun, keluwesan sikap dan kemauan Mulyati yang besar untuk bersekolah membuatnya tidak kesulitan dalam bergaul. Apalagi ia juga memiliki darah Sasak (Lombok) asli karena neneknya berasal dari Ganti, Pejanggik Lombok Selatan sehingga lebih mudah masuk dalam pergaulan anak-anak Indonesia bersuku Sasak. Namun satu hal yang sempat membuatnya sangat kesulitan adalah dalam hal pelajaran sekolah, dimana pelajaran di sekolah Indonesia ini diberikan dalam Bahasa Indonesia. Sedangkan selama sebelumnya, ia mendapat pelajaran dalam Bahasa Mandarin. “Sulit sekali memahami waktu pertama mengikuti. Tetapi lamalama saya terbiasa juga,” kata ibu dari tiga anak, Pascavera Christiana Dede, SE., M.Acc.Ak., Vennycia Darliana Dede, ST., dan Vemylia Decyana Dede, SH., M.Kn. Kesulitan itu, lanjutnya, terutama

dalam hal menghafal perkalian. Bisa dibayangkan, ia yang selama itu mengenal angka cara Tionghoa harus mengubah cara menghafalnya dengan angka Indonesia, pakai perkalian pula dan harus meng­ hafalnya pula. Itu membutuhkan perjuangan tersendiri bagi perempuan bertubuh mungil ini. INGIN JADI DOKTER Kesungguhannya untuk ber­ sekolah didukung penuh oleh orangtuanya, akhirnya membuatnya lulus dari SD Negeri 2 Praya di tahun 1967. “Seingat saya, hanya enam kawan Tionghoa satu sekolah de­ ngan saya yang melanjutkan sekolah ke jenjang SMP kala itu. Apalagi saat itu, sekolah SMP juga belum banyak, selain di Praya hanya ada beberapa SMP salah satunya SMP yang kerap disebut sebagai SMP Dolar di Ampenan,” katanya. Penuh semangat Mulyati melanjutkan SMP-nya di SMPN 1 Praya lalu di SMAN 1 Praya. Ia menamatkan sekolahnya seluruhnya di Praya. Mengambil jurusan IPA di SMA, sesungguhnya Mulyati ingin sekali menjadi seorang dokter. Namun, karena keterbatasan biaya mengingat kondisi kehidupan ekonomi orangtuanya yang pas-pasan, membuat cita-cita itu hanya bisa dipendamnya. Ia sadar jika kuliah di kedokteran tentulah membutuhkan biaya yang sangat mahal. Ia tidak memaksakan kehendaknya itu. “Kalau saya memaksa ingin kuliah di kedokteran, bagaimana dengan delapan adik saya, bisabisa mereka tidak sekolah karena biaya akan habis untuk membiayai

saya sendiri,” katanya memaklumi kondisi orangtuanya kala itu. Mulyati mengalah dan mendengarkan nasehat serta arahan orangtuanya yang menginginkannya untuk terus bersekolah. “Kalau tidak sekolah, kamu mau jadi apa,” demikian ungkapan orangtua yang masih diingatnya. Orangtuanya menginginkannya kuliah di Mataram saja, tidak perlu jauh-jauh keluar daerah agar tidak makan biaya banyak. Setelah cita-cita terpendam ­ingin jadi dokter, namun gagal karena kondisi yang tidak memungkinkan, Mulyati lantas ingin kuliah di Fakultas Hukum. Namun keinginan ini tidak direstui orang tuanya yang menginginkan ia kuliah di Fakultas Pertanian. Pilihan ini bukannya tanpa alasan. “Selama orang membutuhkan makan, maka orang pasti membutuhkan pertanian,” kata ayahnya kala itu. Kepatuhannya pada orangtua lalu membawanya pada keberuntungan yang beruntun hingga akhir­ nya ia menjadi Guru Besar Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Sepanjang usianya yang kini menginjak 60 tahun, ia bersyukur kini berada di masa yang terbuka. Tidak lagi ada perbedaan antara pribumi dan nonpribumi, melainkan sudah membaur. Belajar dan bermain bersama. Era ini tidak lagi menjadi penghalang bagi pergaulan mere­ ka. Di Lombok sendiri bahkan orang-orang Tionghoa yang lahir dan besar di Lombok khususnya, senang menyebut dirinya sebagai putra daerah (pengertianya, orang NTB asli). -Naniek I. Taufan


6

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

ung Anak Agung Ayu Ketut Ag

Woman on Top

Tiga Hari Sekali vs Dua Kali Sebulan

Terima Penghargaan Parama Budaya Pengabdian Anak Agung Ayu Ketut Agung dalam bidang tata rias dan busana adat Bali sejak 34 tahun lalu, tak sia-sia. Kegiatan-kegiatan Bu Agung, pemilik Salon Agung dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung selama ini, mendapatkan apresiasi tinggi dari Wali Kota Denpasar IB Rai D. Mantra. Dalam puncak HUT ke-227 Kota Denpasar yang digelar Jumat (27/2) di panggung terbuka Ardha Candra, Art Centre Denpasar, Bu Agung menerima Penghargaan Parama Budaya berupa piagam dan pin emas dan yang diserahkan Wakil Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara.

P

arama Budaya ini merupakan peng­ hargaan tertinggi dari Pemkot Den­ pasar bagi insan masyarakat kota yang telah mengabdikan diri, berpartisipasi dan mendedikasi­ kan kemampuannya untuk turut serta memajukan dan mengem­ bangkan Kota Denpasar yang berwawasan budaya. “Saya ter­ haru atas apresiasi besar Bapak Wali Kota. Selama ini saya hanya berbuat apa yang bisa saya per­ buat. Kebetulan saya dianugerahi kelebihan dalam bidang tata rias dan busana adat Bali, jadi hanya itu yang bisa saya bagikan ke masyarakat luas khususnya Kota Denpasar,” ucapnya saat ditemui usai menerima penghargaan. Dalam menjalani kehidupan­ nya, Bu Agung berprinsip take and give. Dalam artian, dengan keahliannya dalam bidang tata rias dan busana adat Bali itu, tak melulu dipakainya sebagai sumber penghasilan. Namun, di sana pula ia bisa ngayah, mem­ bagi ilmunya ke masyarakat

sampai ke pelosok desa tanpa dipungut bayaran, dengan meng­ gandeng organisasi masyarakat, instansi pemerintah, instansi swasta, dan media. Bahkan, bagi masyarakat yang tak mam­ pu namun memiliki niat tinggi untuk belajar tata rias, diberikannya beasiswa. PENGAWAS SD Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa pakar tata rias dan busana adat Bali ini ada­ lah juga seorang pendidik. Bu Agung adalah seorang penga­ was SD di Den­ pasar Timur den­ gan wilayah bina­ an Gugus I Ngu­ rah Rai. Bahkan, ia pun mengelola Pusat Kegiatan Be­ lajar Masyarakat (PKBM) Agung yang berloka­ si di Jalan Rampai, Denpasar.

Kegiatan belajar anak-anak PKBM ini memanfaatkan fasilitas Balai Banjar Kreneng yang kebetulan berdampingan dengan rumah Bu Agung, yang juga dekat dengan Pasar Kreneng. “Saya berterima kasih sudah diberikan tempat dan didukung masyarakat seki­ tar,” ujarnya. Mengelola PKBM ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdiannya dalam bidang pendidikan yang diperuntuk­ kan bagi anak-anak putus sekolah dan t a k m a m p u ( ke ­ jar paket A, B, C). “Dengan menjadi pengawas, saya lebih banyak punya kesem­ patan untuk berbuat,” ucap­ nya. Bahkan, Bapak Wali Kota yang berkesem­ patan hadir dan mem­ buka Rakernas PKBM beberapa waktu lalu men­ gatakan bahwa kekayaan suatu daerah adalah SDM (sumber daya manusia). PKBM menjadi salah satu wadah

Anak Tukang Suun harus Hidup lebih Baik

Merayakan ulang tahun tidak selalu dengan tiup lilin dan makan-makan. Ada kegiatan lain yang bisa dilakukan, diantaranya merayakan bersama anak-anak tukang sun (junjung) pasar Badung. Hal inilah yang dilakukan Lentera Anak Bali (LAB) untuk memeriahkan ulang tahun Kota Denpasar yang ke-227.

S

uasana lantai 4 Pasar Badung, Sabtu (21/2) pagi hingga siang agak berbeda. Anak-anak pasar Badung yang sibuk bekerja menjadi tukang suun, sudah bersiap sejak pagi. Wajah mereka dirias Anak Agung Ayu Ketut Agung bersama tim Salon Agung. Ada yang menjadi penari dan ada yang menjadi penyanyi. Mereka juga bersemangat karena bisa berjumpa dengan Gede Bagus, penyanyi Bali jebolan X-Factor Indonesia.

Istri Wali Kota Denpasar, Ny. Selly Mantra, perwakilan Bank Indonesia, BRI, dan INTI turut hadir dalam acara tersebut. Kepala Dusun Pedahan, Kubu, Karang­ asem, tempat asal mayoritas anakanak pasar Badung juga hadir. Acara ini diselenggarakan selain untuk memeriahkan HUT Kota Denpasar juga untuk menunjukan anak-anak tukang suun ini bisa melakukan sesuatu yang positif dan berbakat. Mereka menari, menyanyi, dan bermain musik bersama Gede Bagus. “Kami berharap anak-anak ini bisa

Anak-anak tukang suun Pasar Badung sedang menari

mendapat pendidikan. Tentunya perlu dukungan banyak pihak agar hal ini bisa terlaksana. Mereka harus bisa berkembang untuk kehidupan yang lebih baik,” ujar Ny. Selly Mantra disela-sela kegiatan. Acara juga dirangkaikan dengan pemberian angpao dari INTI kepada anak-anak. Hiburan dari Gede Bagus yang diiringi anak-anak pasar. Di penghujung acara Gede Bagus menyerahkan kenang-kenangan kepada dr. AA Sri Wahyuni, Sp.KJ, Ketua Yayasan LAB. Luh Anggreni, salah satu pengu­ rus Yayasan LAB menuturkan lembaga ini didirikan April 2011. Ketika itu mantan-mantan ketua dan anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Bali mempunyai ide membuat sebuah LSM. “Kami melihat banyak anakanak kecil yang bekerja sebagai tukang suun yang memikul beban setiap hari dari pagi hingga malam yang hanya mendapatkan upah Rp 5000/sekali angkut barang. Sete­ lah membentuk LAB kami minta izin kepada Pemkot Denpasar dan Kepala Unit Pasar Badung untuk dipinjamkan tempat untuk menampung anak-anak tersebut,” ungkapnya. Pertama kali mencari anakanak itu, tim LAB sampai masuk ke tempat-tempat terpencil untuk bisa mengajak mereka bergabung

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Bu Agung bersama penerima penghargaan lain berfoto bersama istri Menteri UMKM, Ny. Bintang Puspayoga yang berkesempatan hadir dalam puncak acara HUT ke-227 Kota Denpasar

sosial yang membantu pemer­ intah dalam memberantas buta aksara di masyarakat. Karena itu pula, PKBM dikatakannya menjadi ujung tombak pemban­ gunan. Yang lebih istimewanya lagi, anak-anak yang mengikuti pen­ didikan kejar paket di PKBM Agung ini juga dibekali keter­ ampilan tata rias, menari, men­ jahit, dan memasak. Dan tak jarang pula, mereka dilibatkan dalam berbagai acara kegiatan Bu Agung. DISKON 50% Melihat tingginya minat masyarakat dalam bidang tata rias, LKP Agung memberikan diskon 50% kursus regular. Ma­ teri yang diajarkan mencakup 3 paket yakni Tata Kecantikan Ku­ lit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin (payas nista, madya, utama, modifikasi, dan

tengkuluk lelunakan). LKP Agung memiliki tempat belajar yang memadai dan kondusif di dua tempat di Denpasar dan ditan­ gani langsung Bu Agung dibantu instruktur lain yang mempunyai latar belakang keahlian dan pen­ galaman legal yang telah men­ gantongi sertifikat kompetensi di bidang tata kecantikan. Semua peralatan kursus disiapkan lem­ baga. Disediakan juga beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus seko­ lah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Silakan menghubungi Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: Ikp_ agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com.

Gede Bagus menyerahkan kenang-kenangan kepada dr. AA Sri Wahyuni, Sp.KJ, Ketua Yayasan LAB.

dan mau belajar. Menanamkan semangat belajar itu yang sangat sulit karena adanya pola berpikir anakanak yang beranggapan segala yang dikerjakan itu harus menghasilkan uang. Seiring berjalannya waktu ada 60 orang anak yang mau diajak belajar oleh Yayasan LAB ini. Untuk menumbuhkan semangat mereka belajar, tiap kali hadir dalam pelajaran mereka diberikan upah Rp 5000, dengan syarat uang itu akan ditabungkan dan dibagikan setiap hari raya Galungan. Hal yang juga dilakukan oleh pengurus yayasan ini antara lain pendekatan kepada bendesa, kelian dan guru-guru di desa mereka untuk menanamkan pada mereka bahwa pendidikan itu penting. “Kami bahkan membawakan bondres yang menceritakan bahwa pendidikan itu penting. Banyak anak-anak

yang beranggapan dan punya citacita untuk bisa menikah dengan bule. Menurut mereka menikah dengan bule akan membuat derajat mereka lebih naik, padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu. Karena itu perlu pemahaman yang lebih agar mereka mengerti,” imbuh Anggreni. Dari jumlah 60 orang anak tersebut 30 anak sudah bisa bersekolah atas bantuan donatur. Ada yang bersekolah pulang kembali ke desanya, ada juga yang bersekolah di Denpasar. Sekarang jumlah anak yang tersisa 35 orang anak. Kegiatan belajar mereka biasanya tiap Sabtu dan Minggu di lantai 4 Pasar Badung. Dari penuturkan anak-anak itu, dari bekerja jadi tukang suun, mereka bisa mendapatkan upah Rp 50.000 per hari. -Sriadi

Pasar tradisional tetap tak tergantikan, walaupun pasar modern sudah menjamur. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Keduanya pun bisa saling melengkapi.

M

enurut anggota Komisi IV DPRD Provinsi Bali, Utami Dwi Suryadi, ia lebih suka membeli keperluan sehari-hari seperti daging dan sayuran ke pasar tradisional. “Daging dan sayuran lebih segar jika dibeli di pasar tradisional,” kata legislator partai Demokrat ini. Ia mengatakan, sering berbelanja ke pasar kaget di banjar dekat rumahnya. Berbelanja pun bisa dilakukan dengan santai, tanpa harus berdandan yang berlebihan. Pasar tradisional

memang identik dengan kekhasannya terlihat alami, selain harganya jelas lebih murah dibandingkan harga barang di pasar modern. “Mungkin ada bau amis ikan atau daging, itu sudah biasa. Kalau hujan, agak becek, ya nikmati saja. Belanja di pasar tradisional harga lebih murah. Kalau di swalayan, daging dan ikan sudah dibekukan,” ucap Utami. Menurutnya, kalau pasar tradisonal terlalu ditata serapi mungkin, malah akan berimbas ke harga. Ia mengamati, ada satu pasar, setelah ditata rapi dan bertingkat, malah sepi. Pembelinya menurun. Bagian daging diberi AC. Baunya terkurung dalam ruangan. Ia menambahkan, pembeli inginnya cepat dan gampang mencari barang yang diinginkan. “Kalau hanya untuk membeli daging dan sayuran tempatnya jauh, jadi malas,” imbuhnya. Utami tak menampik, kondisi pasar tradisional sering dikeluhkan karena bau menyengat dan sampah. Karena itu, ia menyarankan, penataan pasar tradisional sebaiknya lebih ditekankan pada penanganan sampah. Di sisi lain,

untuk keperluan perlengkapan mandi dan kecantikan, ia membelinya di pasar modern. Alasannya, karena takut barang palsu. “Di swalayan, kualitas produk kecantikan dan kepeluan mandi lebih terjamin keasliannya. Saya takut juga kalau produk palsu bisa berbahaya bagi kulit,” ujarnya memberi alasan. Membeli keperluan lauk-pauk sehari-hari di pasar tradisional juga kerap dilakukan Putu Ariyanti. “Saya ke pasar tiga hari sekali, khusus membeli keperluan lauk-pauk. Lebih segar, apalagi ikan,” ujar ibu rumahtangga asal Bangli ini. Walaupun, jarang belanja, ia tetap

menyempatkan waktu dua kali dalam sebulan, ke toko modern. “Di Bangli tidak ada pasar swalayan besar. Yang ada toko modern. Saya biasa membeli produk shampo, sabun mandi, body lotion untuk keluarga di toko modern,” kata ibu dua anak ini. Menurutnya, tiap-tiap pasar punya konsumen masingmasing. Pasar tradisional maupun pasar modern, tetap memiliki fungsi dan manfaat bagi konsumennya. “Pasar tradisional buka 24 jam. Sementara, pasar modern ada waktunya. Kelengkapan barang juga beda,” ucapnya. Saran Ariyanti untuk pasar tradisional, parkir sebaiknya ditata agar tidak krodit. Apalagi kalau menjelang hari raya umat Hindu di Bali. Ia menambahkan, walaupun nanti disediakan pasar swalayan yang lengkap, ia tetap saja memilih pasar tradisional untuk keperluan sehari-hari. “Kami tak mau pasar

19

tradisional punah. Itu ciri masyarakat Bali. Untuk keperluan upaca­ra adat semuanya lengkap ada di pasar tradisional,” kata­ anggota KPU Bangli ini. -Wirati Astiti

Tempat Parkir untuk Pedagang Bakulan Beberapa pusat perbelanjaan tumbuh di Mataram dalam beberapa tahun belakangan ini. Tempat yang menyediakan segala kebutuhan termasuk sayur mayur dan segala macam bumbu jadi ini menawarkan kenyamanan berbelanja karena tempatnya yang bersih dan rapi. Beberapa pusat perbelanjaan lainnya juga kini tengah dibangun di Mataram dan Lombok Barat. Pusat belanja ini ramai dikunjungi warga Mataram, khususnya di masa-masa awal dibuka. Beberapa ibu memilih berbelanja ikan, daging dan sayur mayur di tempat yang nyaman ini. Jika mal atau pusat belanja ini secara umum di konter-konter pakaian tetap ramai dikunjungi. Beda dengan konter sayur mayur dan ikan serta kebutuhan dapur lainnya yang pengunjungnya tidak terlalu banyak. Ini disebabkan karena para ibu di Mataram, rupanya lebih banyak memilih pasar tradisional sebagai tempat untuk berbelanja kebutuhan pokok. Meski becek dan tidak sebersih mall, ibu rumah tangga lebih memilih pasar tradisional. “Harganya lebih murah dan saya lebih senang membeli ikan dan daging di pasar tradisional,” ujar Indarti, salah seorang ibu yang tengah berbelanja di Pasar Pagesangan Mataram. Minat berbelanja kebutuhan pokok di pasar tradisional di Mataram, memang terlihat tinggi karena ketersediaan kebutuhan pokok banyak dan terus

menerus. Sekalipun “serbuan” modern cukup banyak di Mataram, tidak membuat aktivitas pasar-pasar tradisional di tempat ini berkurang. “Malah pasar tradisional makin ramai,” ujar Roos Haryadi, S.E., Kepala Pasar Kebon Roek Ampenan. Indikasi ini terlihat dengan makin bertambahnya pedagang di Pasar Kebon Roek, terutama pedagang bakulan. Pengelola Pasar Kebon Roek pun menambah tempat berjualan di depan pasar yang tadinya dipakai sebagai tempat parkir, kini telah diberi atap permanen yang diperuntukkan bagi pedagang bakulan. Pasar-pasar tradisional di Mataram, tampaknya akan terus menggeliat dengan kunjungan para ibu yang lebih suka berbelanja kebutuhan pokok di sini dibandingkan dengan di pusat perbelanjaan modern. “Tidak perlu gengsi berbelanja di pasar tradisional, karena harga lebih murah dan bahan kebutuhan pokok lengkap tinggal pilih,” kata Purnia, ibu rumah tangga lainnya yang tengah berbelanja di Pasar Kebon Roek Mataram. Sebagai ibu rumah tangga Indarti dan Purnia, meski sesekali berbelanja di pasar modern mereka mengaku lebih suka berbelanja di pasar tradisional lebih karena faktor harga yang murah dan secara tidak langsung ada interaksi sosial dengan banyak orang, khususnya dengan pedagang. “Interaksi sosial di pasar tradisional, tanpa sadar kita rasakan itu. Setidaknya kita tidak merasa sendiri saat berbelanja,” ujar Purnia. -Naniek I. Taufan

Renovasi Gerai Lama sesuai Konsep G7 Seiring dengan semakin tingginya tingkat konsumsi dan perubahan pola beli masyarakat, pertumbuhan pasar-pasar modern pun ikut melaju kencang. Berdasarkan data, jumlah pasar modern di Indonesia kini telah mencapai 23.000 unit. Di Jakarta misalnya, pasar-pasar modern tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Ini tentu membawa konsekuensi sengitnya persaingan di antara pasar modern ini. Berbagai cara dilakukan untuk menarik hati konsumen. Salah satunya adalah meluncurkan program diskon untuk berbagai produk. Hypermart, salah satu pasar modern terbesar di Indonesia, juga melakukan strategi tersebut untuk menggaet konsumen. Menurut Head of Public Relation Hypermart, Fernando Repi, tingginya persaingan di antara sesama pasar modern memberi dampak positif, setidaknya kepada masyarakat. Dengan begitu

kualitas makin meningkat, harga pun lebih bersaing. Tiap pasar modern tentunya menghendaki agar konsumen datang padanya. Masyarakat pun akan diuntungkan, karena mereka mendapat barang berkualitas dengan harga yang bersaing. “Ini adalah hal yang positif. Persaingan bagi kami tidak masalah, malah justru bagus. Kualitas akan lebih baik dan harga pun bersaing,” ujarnya. Hypermart sendiri, menurut Fernando, memiliki sejumlah strategi untuk menyikapi hal tersebut. Salah satunya adalah dengan makin meningkatkan kualitas pelayanan. Desember lalu, mereka meresmikan ‘Hypermart Generasi ke-7’ di Karawaci Utara, Tangerang, Banten. Konsep ini menampilkan antara lain; perbaikan interior toko, penataan barang, juga pilihan produk lebih banyak dan beragam. Dengan demikian diharapkan, pelanggan menjadi nyaman dan senang berbelanja di Hypermart.

“Tahun 2015 ini akan dilakukan renovasi terhadap sejumlah geraigerai lama agar sesuai dengan Konsep Hypermart G7 ini. Ada hal yang special yang akan disajikan dalam renovasi ini. Pokoknya baru sama sekali. Konsep ini sedang berjalan, yang sudah bisa dilihat mungkin di Hypermart Karawaci. Gerai-gerai di daerah lain pun segera menyusul, seperti di Jakarta dan Bali,” jelasnya. Secara keseluruhan, Hypermart memiliki 109 gerai di seluruh Indonesia, sekitar 20-an di antaranya berada di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangarang, Bekasi). Jumlah ini masih akan terus bertambah, baik di Jawa maupun di luar Jawa. “Daerah kota tingkat dua memiliki potensi yang bagus,” kata Fernando. Mengomentari tentang revisi Peraturan Menteri Perdagangan No 56 Tahun 2014 terkait kewajiban menyediakan konten lokal hingga 80%,

Fernando mengatakan, hal itu tidak masalah bagi pihaknya. Justru, sebelum Permendag tersebut lahir, Hypermart sudah memenuhi konten tersebut, bahkan bukan hanya 80% sebagaimana yang diwajibkan melainkan telah mencapai hampir 90%. “Kami tidak masalah dengan hal tersebut. Kami justru mendukung agar

pasar modern menyiapkan lebih banyak konten lokal. Kami sendiri sudah melaksanakan itu sebelum adanya Permendag ini. Kita memiliki banyak barang berkualitas buatan negeri sendiri. Kami juga menyediakan barang-barang impor untuk barangbarang tertentu. Tapi jumlahnya tidak banyak,” ungkapnya. –Diana Runtu


20

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Hari Pertama Mau Cerai

Seorang perempuan yang tengah bersedih duduk di kursi di depan seorang penyidik PPA Satreskrim Polres Mataram. Ia tengah melaporkan KDRT yang dialaminya. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba seorang perempuan lain datang untuk mencabut laporan kasus KDRT yang dialaminya yang dilaporkannya beberapa waktu sebelumnya. Rupanya perempuan kedua ini memilih damai dengan suaminya.

K

eputusan perempuan ini membuat anggota unit PPA mataram yang notabene adalah manusia biasa, sempat “kesal”, karena sudah berulangkali melaporkan kasus yang sama dan ditawarkan untuk menyelesaikan kasusnya melalui mekanisme ADR, namun berulangkali pula ia menolak keras melalui ADR melainkan ingin melanjutkannya ke muka pengadilan. Tiap kali ia bersikeras memen-

jarakan suaminya, berulangkali itu pula ia datang mencabut laporannya. Itu terkadang membuat para Polwan di unit PPA Satreskrim Polres Mataram, kesal. “Ya kami harus banyak bersabar menghadapi masalah seperti ini, karena ini telah menjadi bagian dari tugas kami,” ungkap Brigadir Yayuk Sulistriani. Banyak dari perempuan yang melaporkan kasus KDRT pada akhirnya mencabut gugatannya. Bagi para Polwan yang bertugas di unit ini, laporan tersebut harus mereka tindak-

Keseharian Polwan Unit PPA Satreskrim Polres Mataram, berkutat dengan berbagai kegiatan penanganan kasus KDRT dan kasus-kasus anak serta menolong masyarakat khususnya perempuan yang datang dengan berbagai permasalahannya

lanjuti meskipun, kata Yayuk, perkembangannya akhir-akhir ini, sedikit-sedikit ada kasus KDRT dilaporkan. Mekanisme penanganan kasus yang tidak segampang seperti yang ada dalam pikiran perempuan tadi yang sudah empat kali melaporkan hal yang sama, membuat ia diceramahi oleh petugas PPA, hari itu. Hal ini terasa lucu bagi perempuan yang baru datang melapor sehingga ia sempat tertawa-tawa. “Jangan ketawa, nanti ibu juga jangan melakukan hal yang sama, buang-buang energi saja,” kata Yayuk yang akhirnya membuat ibu ini terdiam. Perempuan yang kebanyakan menjadi korban dalam kasuskasus KDRT, kerapkali datang dengan wajah lebam dan mata merah atau luka-luka akibat penganiayaan yang dilakukan oleh suami mereka. Sebagai aparat penegak hukum unit

PPA harus memproses laporan tersebut secara hukum. Namun dalam perkembangannya, langkah pertama yang dilakukan petugas adalah menawarkan penyelesaian perdamaian dengan ADR, sebelum dilanjutkan kasusnya mengikuti prosedur hukum yang berlaku. “Biasanya di hari pertama, korban bersikeras tidak mau damai, hanya mau bercerai saja,” kata Bripka Sri Rahayu, SH., anggota Regu II, Unit PPA Satreskrim Polres Mataram. Kalimat tersebut, hampir pasti akan diungkapkan oleh para perempuan yang menjadi korban KDRT. Dan para petugas PPA kerap memberi pengertian bahwa urusan bercerai itu urusannya di Kantor Urusan Agama (bagi muslim contohnya), bukan di Polres. Ada-ada saja peristiwa yang kerap membuat anggota unit PPA ini tertawa menghadapi keluhan

Nine para korban. Selain ingin bercerai yang bukan menjadi urusan polisi, terkadang mereka ngotot sengotot-ngototnya melaporkan kasusnya untuk diproses secara hukum tidak bersedia diselesaikan dengan ADR, meski petugas sudah menyarankan untuk berdamai. Sebagai petugas para Polwan ini tidak mungkin menolak laporan tersebut sehingga diteruskan untuk diproses. “Tapi saat proses itu sudah berjalan pada pemanggilan pertama saja, kebanyakan korban minta untuk mencabut laporan tersebut dan memilih damai,” kata Yayuk Sulistriani. Hal ini tentu saja merepotkan bagi petugas PPA, namun bagaimana pun mereka tetap komit untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang polisi. “Biasanya kalau yang ngotot ingin melanjutkan kasus agar diproses secara hukum, maka kami meminta ia membuat surat pernyataan bahwa ia tidak akan mencabut laporan tersebut,” kata Yayuk. Namun hal itu kebanyakan hanya di atas kertas saja, karena rata-rata mereka akhirnya meminta damai juga. Repotnya kalau kasus ini sudah sampai tahap p21 (diterima oleh Jaksa) dan tinggal disidangkan, korban mencabut laporannya. “Karena KDRT adalah delik aduan, maka jika itu terjadi kami harus menghentikan kasusnya,” ujar Sri Rahayu. Inilah keseharian yang harus dihadapi oleh Bripka Putu Yulianingsih, SH., Bripka Sri Rahayu, S.H. dan Brigadir Yayuk Sulistriyani, Polwan Satreskrim Polres Mataram. Karena tugasnya inilah mereka banyak mengetahui masalah yang seharusnya tidak perlu diketahui orang lain, jadi keluar semua cerita-cerita bahkan yang sangat pribadi dari data pelapor. Namun, sebagai petugas mereka harus merahasiakan hal itu. -Naniek I. Taufan

Belajar dari Kasus Tugas keseharian mereka ini memang banyak menguras emosi dan tenaga. Selain harus menangani tiap kasus yang masuk, mereka juga harus turun ke lapangan hingga ke pelosok desa bahkan masuk hutan atau naik turun perbukitan untuk menjangkau TKP dari kasus yang mereka tangani. Misalnya dalam kasus pemerkosaan atau penganiayaan yang mengharuskan mereka men-

cari dan menemukan alat bukti di TKP tersebut. Tidak itu saja, tak jarang ketiganya harus pula menangani persoalan yang sebenarnya di luar tugas pokok mereka. Misalnya ketika dua minggu yang lalu, tiba-tiba ada seorang nenek yang diantar petugas ke unit PPA ini. Nenek tersebut mengaku kesasar dan tidak tahu jalan pulang. Ditanya identitas dan lainnya, tidak jelas.

“Akhirnya kami antar ke panti sosial,” ungkap Yayuk. Pada kesemptan lain, seorang perempuan membawa barangbarang juga diantar petugas ke unit PPA. Perempuan ini mengaku TKW yang baru pulang dari Malaysia dan tidak tahu jalan pulang ke rumahnya di Lombok Tengah. Para Polwan ini pun dengan sukarela mengantar perempuan ini mencari alamatnya berkeliling Lombok Tengah bagian Selatan, namun tidak menemukan alamat yang dicari. Perempuam ini pun dititipkan ke panti sosial. Dalam mengawal tiap laporan yang masuk, mengharuskan mereka banyak berada di kantor atau pun di lapangan. Mereka juga harus bolak-balik kejaksaan dan pengadilan untuk mengomunikasikan kasus yang ditangani ataupun menghadiri sidang kasus ini. Ini artinya membuat waktu mereka menjadi terbatas untuk keluarga. Namun begitu, mereka selalu dapat mendiskusikannya

dengan keluarga. Bagi Yuli dan Rahayu yang sudah berkeluarga, mereka mengatur waktu antara tugas dan keluarga dengan cermat. Sehingga komplin-komplin itu bisa dimanagemen dengan baik. Komplin dari orangtua Yayuk yang kebetulan belum menikah, juga selalu bisa diselesaikan dengan baik oleh Yayuk tentang kesibukannya ini. “Seiring berjalannya waktu, orangtua jadi maklum akan tugas kami tersebut,” kata Yayuk. Banyak bersentuhan dengan para perempuan yang mengalami KDRT membuat mereka menya-

dari banyak hal yang harus dikomunikasikan dalam rumah tangga. “Selain soal ekonomi, komunikasi yang kurang baik juga banyak menjadi pemicu KDRT,” kata Yuli. Dari sanalah mereka belajar untuk membangun komunikasi dalam keluarga agar tidak mengalami hal yang sama. Meski dalam menjalani tugas yang kecenderungan banyak dilakukan laki-laki khususnya saat turun lapangan, mereka tetaplah seorang perempuan yang harus menjalankan tugas sebagai ibu dan seorang istri, khususnya bagi Yuli dan Rahayu. -Naniek I. Taufan

Inspirasi

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

BUNDA ARSANINGSIH

5

BERHASIL MENCATATKAN YOPHYTTA DALAM REKOR MURI DUNIA Minggu, 15 Februari 2015 adalah hari yang bersejarah bagi Bunda Arsaningsih. Pada kesempatan itu di Ballroom Sheraton Hotel Surabaya, Museum Rekor-Dunia Indonesia telah menganugerahkan kepada Bunda Arsaningsih (Founder of Yophytta Maternal) atas rekor Pemrakarsa dan Penyelenggara Senam Yophytta Maternal (Yoga, Pilates, Tai Chi, Afirmasi) dengan peserta terbanyak.

P

Bunda Arsaningsih

restasi yang dicapai oleh istri dari dr. Dewa Ketut Arika Seputra, Sp. OG ini adalah buah dari kerja keras yang telah dirintisnya sejak tahun 2000. Berkat dukungan dari sang suami yang terus mendorongnya untuk menekuni senam hamil, Bunda Arsaningsih mulai mengajarkan senam hamil kepada para ibu, dan hingga saat ini telah berhasil menyenamkan 18.000 ibu hamil di seluruh Indonesia. Kepedulian beliau dalam membantu masalahmasalah yang dihadapi para ibu saat masa kehamilan, memberi manfaat positif sehingga para

ibu menjadi lebih siap saat menjalani proses persalinan secara normal. Masa kehamilan merupakan salah satu fase penting bagi calon ibu. Sangatlah disarankan untuk membuat fase kehamilan ini menjadi fase yang menyenangkan dan membahagiakan untuk dijalani oleh seorang ibu hamil, karena fase ini berhubungan dengan kondisi dan kualitas janin dalam kandungan. Kehamilan merupakan masa transisi yang secara signifikan menyebabkan perubahan fisik dan psikologis, sehingga menyebabkan ibu hamil menjadi stres, tegang, cemas dan takut dalam menghadapi

Bunda Arsaningsih berfoto bersama para bidan

masa kehamilan maupun proses persalinan. Belajar dari pengalaman pribadi dan memahami bagaimana perjuangan seorang ibu dalam masa kehamilan, maka ibu dari 4 orang anak ini menciptakan suatu gerakan senam yaitu yang diberi nama Senam Yophytta. Senam ini dapat diaplikasikan secara mudah dan tentunya memberi manfaat bagi ibu hamil. Senam Yophytta, yang sudah dipatenkan oleh Bunda Arsaningsih sebagai penciptanya, berbeda dari senam hamil biasa karena Senam Yohytta ������������� merupakan kolaborasi dari yoga, pilates, taichi dan����������� afirmasi��.��������������� �������������� Senam ini menggunakan olah gerak dengan konsep energi yang mengalir secara selaras-harmonis serta afirmasi positif yang merupakan salah satu bagian terpenting dari Senam Yophytta. Proses afirmasi ini akan sangat membantu para ibu hamil untuk������������������������� melepaskan diri dari perasaan-perasaan tidak nyaman, emosional, dan penolakan tubuh. Sehingga calon ibu memiliki penerimaan lebih dalam tentang kehamilan dan diharapkan dapat menjalani proses persalinan dengan rileks tanpa ada rasa takut ataupun��������������� �������������� tertekan.����� Manfaat dari Afirmasi positif sudah banyak dirasakan oleh para ibu. Bayi-bayi yang lahir dari rahim ibu yang saat kehamilan mengikuti senam yophytta cenderung lebih tenang, sabar, dan kualitas kesehatannya lebih baik. Gerakan senam hamil pada senam Yophytta bermanfaat

Bunda Arsaningsih menerima penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia

dalam menjaga kesehatan dan kebugaran fisik. Semua gerakan pada senam Yophytta telah disesuaikan dengan kondisi kehamilan sehingga memiliki efek yang sangat baik, tidak hanya saat kehamilan, tetapi juga berkontribusi besar dalam kelancaran proses persalinan. Setiap latihan yang dilakukan dalam senam hamil memiliki manfaat di antaranya adalah memperkuat elastisitas otot (otot dinding perut yang kuat bersama dengan elastisitas otot dasar panggul dan ligament yang kuat dapat mempertahankan kedudukan rahim pada tempatnya), membentuk sikap tubuh (dapat mengatasi keluhan sakit pinggang pada wanita hamil, mencegah bayi abnormal, mengurangi sesak nafas akibat bertambah besarnya perut), memperoleh rileksasi yang sempurna ( mengatasi stres dan kecemasan, mengatasi nyeri), dan menjaga kesehatan dan meningkatkan fungsi kardiorespirasi (memperkuat diafragma yang membantu saat proses ibu mengejan). Hasil penelitian Prof. Dr. Budi Santoso, dr., SpOG(K) dan Farida Umamah, S.Kep.Ns, Uni-

Para ibu hamil yang mengikuti senam Yophytta

versitas Airlangga, Surabaya, 2011 yang berjudul “Senam Hamil Yophytta Menurunkan Tingkat Kecemasan Menjelang Persalinan Pada Ibu Primigravida di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kendangsari Surabaya”hasilnya adalah sebelum senam hamil sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan. Namun, sesudah mengikuti senam hamil sebagian besar responden tidak mengalami kecemasan. Selain itu juga yang ikut senam Yophytta berhasil melahirkan secara normal dan tingkat kecemasan serta rasa nyerinya lebih rendah. Untuk membantu para ibu hamil dalam menjalani masa kehamilan dan didukung degan hasil penelitian yang menguatkan, maka sangatlah berguna apabila senam hamil Yophytta ini dapat disebarluaskan kepada masyarakat, terutama kepada para calon ib������������������� u. Info lengkap dapat menghubungi Kantor SOUL Jakarta 021-29374104 & SOUL Bali 0361 – 419347 atau SOUL Call Center Jakarta 081 288 661 138 & SOUL Call Center Bali 085 100 585 609. –ten Foto-foto : Eddy Supriyanto


4

Inspirasi

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Gede Bagus

Rilis Album Album

“Tak Semestinya” Semestinya” Musik tidak bisa dilepas dari kehidupan kita di dunia. Dalam kehidupan, alunan musik dalam berbagai genre sudah menjadi hiburan bagi masyarakat. Begitu juga musisi khususnya di Bali yang mengeluarkan single maupun album dengan alunan musik yang enak didengar oleh masyarakat.

Gede Bagus

D

engan alunan musik yang lembut, keras dan alunan kata-kata dalam lagu menjadikan lagu dari musisi Bali menjadi kuat melekat di hati masyarakat, baik dalam berbahasa bali maupun berbahasa Indonesia. Begitu juga lagu yang menceritakan tentang kehidupan musisi maupun orang lain yang menjadi realita kehidupan. Seperti halnya Gede Bagus Perdana Putra, merupakan seorang musisi muda yang sudah berkecimpung dalam dunia musik sejak berumur 12 tahun. Alunan musik yang membangkitkan semangat dan memiliki makna yang dalam di setiap singlenya itu merupakan ciri khas dari Gede Bagus. Membuat pendengarnya menjadi terhanyut untuk ikut bernyanyi dalam alunan musiknya. Pada tahun ini, Gede Bagus Perdana Putra atau biasa dipanggil Gede Bagus sudah mengeluarkan single ketiganya yang berjudul “ Tak Semestinya”. “Menunggu albumnya selesai dirilis, saya nyanyikan single-single dari album dulu mengawali debut di dunia

musik di Bali,” ujar Gede Bagus disela-sela kesibukannya. Musisi kelahiran Denpasar 14 April 1991 ini, memulai menjejaki karier di dunia musik sejak SMP. “Waktu masih SMP hanya bermain musik dan tidak ada keinginan untuk tampil ke panggung-panggung. Seiring berjalannya waktu, ketika masuk SMA 7 Denpasar, saya mulai berani bermain dari panggung ke panggung bersama teman-teman,” ujarnya. Perjalanan musik dari panggung ke panggung membuat Gede Bagus sudah menjadi professional dalam bermain musik dan tarik suara. Tidak heran laki-laki asal Banyuatis Buleleng ini, kebanjiran job manggung di segala tempat. Dengan mengasah terus kemahiran dalam bermain musik menjadikannya lebih produktif dalam berkarier. Di atas panggung, dia tanpa ragu menyanyikan lagu maupun single-single terbarunya kepada penggemar maupun pendengar setianya. Setelah lulus dari SMA, Gede Bagus mulai mengembangkan sayapnya di musik. Semangatnya dalam menjajaki musik dan tarik suara, membuat seseorang pemerhati musik nasional melihat kemampuannya. “Pernah diajak bergabung dengan label musik nasional, dan dikontrak beberapa tahun” ujarnya. Pada akhirnya Gede Bagus memilih label musik daerah dalam memproduksi single-singlenya tersebut. Bersama label musik daerah tersebut, Gede Bagus mendap-

atkan bantuan dari semua pihak yang terlibat dalam proses arrasement singlenya tersebut. Singlenya yang terbaru “Tak Semestinya” ini, semoga bisa menjadi lagu yang bisa dikenal dan diingat oleh masyarakat dan menjadikan lagu ini hits di Bali. Roadshow ke desa- desa Memasuki umur yang ke 24 di tahun ini, kegiatan-kegiatan dari Gede Bagus pun semakin banyak. Kegiatannya tidak hanya dilakukan di kafe atau dipanggungpanggung, melainkan melakukan kegiatan outdoor bersama teman satu tim di Seminyak Pro Studio. Kegiatan outdoor tersebut merupakan salah satu cara mengenalkan single-single terbarunya kepada masyarakat luas. Roadshow keliling Bali merupakan kegiatan outdoor Gede Bagus. Roadshow keliling Bali ini selain mengenalkan singlenya ke masyarakat, laki-laki yang tinggal di Desa Kesiman Denpasar, melakukan kegiatan social kemasyarakat khususnya daerah yang dianggap masing kurang diperhatikan oleh Pemerintah. “Kegiatan roadshow ini bukan hanya launching singlenya, melainkan melihat bagaimana keadaan masyarakat, khususnya anak-anak yang berada di desa yang terpencil di setiap kabupaten”, ujarnya sambil menulis. Kegiatannya yang dilaksanakan di daerah terpencil bukan di kota tersebut, membangkitkan jiwa solidaritas dan social dari Gede Bagus. Dalam kegiatan roadshownya tersebut, anak-anak di daerah terpencil di ajak bernyanyi bareng dan mengeluarkan kreatifitasnya dalam bernyanyi maupun bermain musik. Sehingga roadshownya menjadi daya tarik buat masyarakat ikut menonton kegiatannya. “Saya sebagai musisi melihat bagaimana anak-anak sangat gembira dan senang dalam roadshow saya, membuat saya bahagia dan semangat dalam melantunkan single-single saya. Tetapi dalam hati ada keprihatinan kepada anakanak ini, membuat saya tersentuh dan ingin mengajak mereka dalam video klip lagu terbaru saya” ujar Gede Bagus. Anak-anak yang seharusnya belajar di sekolah tetapi memilih untuk bekerja demi keluarganya. Hati seorang musisi pun bergerak dalam memotivasi anak-anak untuk selalu berkreativitas.“ Percuma pemer-

intah mewacanakan sekolah gratis 9 tahun, kalau pada akhirnya daerah-daerah terpencil yang tidak terjamah oleh pemerintah sama sekali tidak mendapatkan bantuan pendidikan seperti itu” tambah Gede Bagus. Kegiatan yang dimulai dari tanggal 14 Februari, sudah semua kabupaten dihibur oleh Gede Bagus. Daerah- daerah yang marjinal seperti Desa Songan tempat asal anak pedagang buah, dan Desa Pedahan Kubu Karangasem tempat desa gepeng yang merantau ke Denpasar. Beberapa daerah marjinal lain di setiap Kabupaten di Bali. Kegiatan roadshow di Pasar Badung merupakan puncak promosi single dari semua roadshownya di tiap Kabupaten. “Ini merupakan special buat saya, soalnya ini berkaitan dengan rangkaian hut Kota Denpasar dan anakanak LAB ( Lentera Anak Bali) ikut dalam rangkaian roadshow, ”tuturnya tersenyum. Anak- anak yang ikut dalam roadshownya tersebut, merupakan anak-anak yang bekerja sebagai buruh tukang suun di

peken badung. Kemudian dilatih untuk menari pendet dan bermain gitar oleh yayasan Lentera Anak Bali (LAB). Anak-anak tersebut akan kolaborasi dengan Gede Bagus dalam rangkaian tur roadshownya. Hal ini yang menarik buat Gede Bagus karena diajak kolaborasi dengan anak-anak tersebut. “ Ini sangat menarik dan buat saya senang kolaborasi, musisi seperti saya melihat anak-anak ini yang semangat untuk menari dan bermain gitar, membangkitkan rasa kebanggaan saya sendiri kepada anak-anak ini”. Keberadaan yayasan LAB di pasar Badung, menjadikan tempat berkreasi dan belajar bagi anakanak yang bekerja di pasar Badung. Anak-anak yang harusnya masih menuntut ilmu disekolah, harus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Sangat ironis buat saya, keberadaan mereka di sini tidak diperhatikan oleh pemerintah, untung ada yayasan LAB yang mengajak mereka”, tuturnya Adapun harapan Gede Bagus kepada anak-anak yang putus sekolah di seluruh Bali dan juga di Peken Badung adalah adanya bantuan yang nyata dari pemerintah untuk daerah-daerah yang terpencil, tidak hanya sekedar wacana semata. Hal-hal yang berkaitan dengan anak-anak yang putus sekolah tersebut harus ada wadah yang mengajak anak-anak untuk berkreasi dalam dunia musik, seni dan kreatifitas yang lain seperti yayasan Lentera Anak Bali ini. Selain harapan kepada anakanak tersebut, harapan dari Gede Bagus kedepan yaitu semua karyanya tetap diterima oleh masyarakat Bali. Selain itu, karyanya tersebut bisa berguna bagi orang lain. Begitu juga perkembangan musisi Bali tidak akan tenggelam oleh zaman akan selalu diingat oleh semua kalangan masyarakat dengan karya. -Jelantik

Mandalika

Kain Tenun NTB

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

21

Semarakkan Pekan Mode Internasional Eksotika Wastra atau kain tenun tradisional khas Nusa Tenggara Barat, yang merupakan kekayaan budaya daerah ini, memang mempesona. Setelah dalam acara Women International Club (WIC) ke-47 tahun 2014 yang digelar November 2014 lalu, tenun NTB mendapat kehormatan dipakai oleh Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo, Ibu Wakil Presiden RI Hj. Mufidah Jusuf Kalla, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, Ketua Dekranasda Jakarta Veronika Basuki Tjahya Purnama, yang didampingi Ketua Dekranasda NTB Hj. Erica Zainul Majdi, juga panitia dan pengurus WIC, beberapa waktu lalu kain tenun Nusa Tenggara Barat, khususnya Lombok hadir menyemarakkan pekan mode internasional, New York Fashion Week 2015, di The Crowne Plaza Times Square Manhattan, New York, 14 Februari 2015.

Ibu Wakil Gubernur NTB, Hj. Syamsiah M. Amin, mencoba alat tenun yang dimiliki masyarakat di Pulau Sumbawa

D

engan tema “From Lombok to New York”, para desainer kondang Indonesia seperti, Dian Pelangi, Barli Asmara dan Zaskia Sungkar, memperkenalkan sekaligus memberi kebanggaan pada masyarakat NTB dengan menampilkan tenun NTB yang memiliki beragam jenis kain yang sarat akan nilai budaya dan tradisi leluhur masyarakat tiga suku di Bumi Gora ini di ajang tersebut. Tampilnya tenun NTB di panggung mode internasional ini tidak lepas dari kecintaan tiga

waktu sebelum kegiatan ini digelar, Ketua TIM Penggerak PKK NTB Hj. Erica Zainul Majdi mengatakan bahwa Untuk Nusa Tenggara Barat ini adalah kesempatan emas bagi Nusa Tenggara Barat untuk mempromosikan kekayaan ragam tenun daerah ini. Untuk memperingati 200 tahun meletusnya Gunung Tambora, Dian Pelangi mengangkat tema “Tales of Sumbawa”. Sedangkan Barli menghadirkan rancangan “Royal Lombok” dan Zaskia Sungkar memilih tema “Mandalika” dalam koleksi busana yang hadir dengan warna-warna pastel nan elegan. Ketiga desainer ini sangat bersyukur memperoleh kesempatan tampil di NWFW 2015 untuk

Tenun NTB yang tampil dalamNew York Fashion Week 2015, di The Crowne Plaza Times Square Manhattan, New York, 14 Februari 2015

memamerkan hasil rancangan mereka yang sesuai syariat, para desainer ini juga mengemban misi budaya, yaitu memperkenalkan kekayaan kain tenun Indonesia sekaligus mengangkat pariwisata di NTB yang kini sedang menggalakkan wisata syariah. “Saya membuat koleksikoleksi sesuai dengan ciri khas saya, memainkan warna pastel yang lembut namun tetap elegan dan Alhamdulillah. Terima kasih kepada pemerintah dan Gubernur NTB serta Dekranasda Provinsi NTB juga Wardah Indonesia yang telah memberikan dukungan penuh untuk membuat semua ini menjadi kenyataan,” kata Zaskia, yang dikutip dari rilis Humas Pe-

merintah Provinsi NTB. Menurut Drs. HL. Gita Aryadi, Ketua Harian Dekranasda NTB, acara “From Lombok to New York” yang memamerkan tenun NTB ini adalah ikhtiar Dekranasda NTB untuk menduniakan ekonomi kreatif berbasis budaya yang dihasilkan oleh masyarakat NTB. “Ikhtiar (usaha) agar produk tenun NTB bisa lebih dikenal dunia sehingga memiliki pasar yang kian luas. Harapannya dengan luasnya pasar tersebut dapat meningkatkan produksi tenun yang akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat NTB khususnya perajin tenun,” kata Gita Aryadi. -Naniek I. TaufanHumas Pemprov. NTB

desainer tersebut terhadap karya tenun daerah ini. Keindahan motif pada produk kerajinan berupa kain Tenun, Songket dan Batik Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Dian Wahyu Utami yang akrab disapa Dian Pelangi yang merupakan salah seorang desainer muda Indonesia yang telah meraih prestasi baik di tingkat nasional maupun Internasional pada ajang fashion show di berbagai negara. Dalam pertemuan dengan Dian Pelangi dan beberapa desainer lain beberapa Ketua Dekranasda NTB, Hj. Erica Zainul Majdi, bersama pengurus Dekranasda NTB dalam sebuah pameran yang memamerkan ragam tenun khas NTB

Corak Ragam Tenun NTB

Hj. Erica Zainul Majdi (empat dari kiri), dengan bangga mengenakan kain tenun NTB bersama Ibu Negara dan sejumlah istri duta besar dari berbagai negara

Nusa Tenggara Barat memang termasuk salah satu daerah di Indonesia yang memiliki ragam tenun dengan kekayaan motif yang sangat spesifik. Hasil karya tangan-tangan terampil penenun tradisional yang berasal dari tiga suku yang mendiami NTB, Sasak (Lombok), Samawa (Sumbawa) dan Mbojo (Bima dan Dompu), masih mempertahankan keaslian tenun tersebut. Hal ini tidak lepas dari perempuan-perempuan Sasak, Samawa dan Mbojo yang dengan sadar menurunkan keahlian menenun secara turun-temurun. Tradisi menenun yang ada sebagai warisan turun temurun di NTB, masih tetap hidup dan terjaga dengan. Berbagai corak dan ragam tenun mem-

berikan ciri khas bagi masing-masing suku di NTB. Corak-corak dan ragam motif khas dalam tenunan tradisional Nusa Tenggara Barat, menceritakan demikian tingginya seni budaya NTB yang tetap dipertahankan hingga kini. Warna yang beragam memberikan sentuhan tersendiri bagi karya-karya tradisional ini. Tangan-tangan terampil perempuan desa di Bumi Gora ini telah menyelamatkan seni budaya dan tradisi menenun sebagai salah satu ciri khas NTB saat ini. Pengrajin-pengrajin tenun mulai mengembangkan kemampuannya untuk berinovasi. Motif dan corak tenunan khas NTB, semakin hari semakin kaya. -Naniek I. Taufan-Humas Pemprov. NTB


22

Sosialita

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

Indonesia Fashion Week 2015

Wignyo Rahadi dan para model yang membawakan karyanya di IFW 2015

P

erhelatan yang telah digelar untuk yang keempat kalinya ini, lebih besar dan megah. Karya-karya yang dipamerkan pun jauh lebih banyak. Tahun ini jumlah desainer yang ikut berpartisipasi mencapai 230 orang dengan jumlah karya yang dipamerkan 2.522 item yang terdiri dari busana perempuan, laki-laki, anak-anak juga busana muslim, dan produk tekstil lainnya serta aksesoris. Peningkatan yang cukup signifikan ini menandakan industri mode Indonesia yang terus berkembang. Menurut Menteri Perindustrian, Saleh Husein, industri fashion Indonesia telah melesat menjadi salah satu primadona subsektor industri kreatif, bahkan sektor ekonomi kreatif telah memberi kontribusi yang signifikan bagi PDB (produk domestic bruto) Indonesia. “Sektor ekonomi kreatif

memberi kontribusi sebesar Rp 641,8 triliun bagi PDB kita. Dari jumlah itu, sektor fashion menyumbang 28,29% atau setara dengan Rp181,5 triliun. Ini merupakan yang terbesar kedua setelah kuliner yang menyumbang Rp208,6 triliun,” ucap Saleh Husein saat pembukaan IFW 2015. Potensi besar di sektor ini harus terus ditingkatkan dengan cara terus melakukan inovasi guna menggenjot daya saing. “Inovasi adalah kunci yang harus kita pegang untuk bisa tetap bertahan. Inovasi membutuhkan kesabaran dan pengertian atau pemahaman. Dengan inovasi, kita akan tumbuh berkembang dan menjadi kuat. Inovasi juga akan menjamin keberlanjutan usaha kita, yang tentunya tak lepas dari berbagai faktor seperti lingkungan social dan ekonomi,” papar Saleh Husein. Event akbar yang diikuti oleh para desainer ternama dari dalam dan luar

negeri, selain menampilkan kreasikreasi terbaru yang jumlahnya mencapai 2000 item lebih, juga mengangkat produk-produk fesyen unggulan daerah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah karya desainer senior, Poppy Dharsono yang menampilkan rancangannya dalam tenun endek dan songket Bali. Di tangan Poppy, kain tradisional asal Pulau Dewata itu diubah menjadi kreasi-kreasi yang indah. ‘Redefining Bali Heritage’ , begitulah Poppy memberi judul koleksinya kali ini. Lewat Poppy, kain endek diubah menjadi minidress yang menawan, celana panjang dan outer bertabur payet. Untuk padanan, Poppy membuat atasan yang sederhana dengan warna senada. Kreasi lain dari tenun endek adalah jaket yang dipadu dengan sifon dan tank top berwarna senada ditambah payet di beberapa bagian. Kain tradisional berbagai daerah memang sejak lama menjadi perhatian wanita cantik ini, bahkan saat ia memulai debutnya di dunia fashion. Menurutnya, warisan budaya Indonesia, terutama kain-kain tradisional sangat penting untuk dilestarikan. “Saya sangat mencintai kain khas Indonesia mulai dari songket Sumatera, ikat Lombok, tenun Sumba, serta Batik. Selama lima tahun saya mengekspos Jawa Tengah, kini perhatian saya sedang fokus pada kain endek Bali. Pengrajin kain, terutama dari Gianyar banyak memberi saya inspirasi dalam mendesain,” ungkap Poppy tentang karyanya. Terkait potensi industri fashion tanah air, desainer yang berkiprah di dunia mode sejak tahun 1970-an ini mengatakan, pemerintah perlu memberi dukungan lebih pada industri kreatif seperti ini. Indonesia, memiliki memiliki potensi yang besar di industry ini. “Masih dibutuhkan sekitar 10 tahun lagi untuk bisa mewujudkan Indonesia sebagai salah satu capital fashion di Asia. Dengan begitu setiap desainer bisa menyiapkan detail dan segala sesuatunya sesuai standar serta kebutuhan pasar dunia,” ujarnya. –Diana Runtu

Desainer Muda Unjuk Kebolehan Selain para desainer berpengalaman, ajang ini juga memberi ruang bagi desainer-desainer muda berbakat. Lewat kompetisi ‘Indonesia Dashion Design’ para desainer muda ini saling unjuk kebolehan. Sekitar 600 orang terdaftar dalam kompetisi ini, yang kemudian disaring hingga menjadi 10 karya terbaik. Menurut

Taruna K. Kusmayadi, Ketua Tim Juri, mereka sempat kesulitan dalam memilih menjadi 30 karya kemudian 10 karya yang bakal tampil di panggung Indonesia Fashion Week 2015. Tahun ini, Indonesia Fashion Design mengusung tema warna copper orange atau oranye kecoklatan. Dari semua karya, akhirnya dipilih tiga desainer dengan karya terbaik dan satu desainer dengan karya terfavorit. Juara pertama diraih oleh Andhika Lukas yang mengusung tema The Tappis Alliance. Atas prestasinya, Andhika berhak atas hadiah Rp 15 juta serta berkesempatan mengunjungi Hong Kong Fashion Week. Ia juga mendapat beasiswa 10 bulan dari Koefia International Academy di Roma. Karya Andhika dianggap memiliki potensi komersial yang tinggi. Paduan warna yang digunakan cukup unik, ia mengombinasikan oranye kecoklatan dengan abu-abu dan biru. Kreativitas dan keunggulannya dalam mengombinasi warna mendapat nilai tertinggi dibanding peserta lainnya. Andhika sendiri mengaku, inspirasi dalam membuat busana justru didapatnya dari tema warna yang menurutnya penuh semangat dan hangat. Untuk konsep, ia menggunakan konsep urban style dan sedikit unsur sportif. “Dari situ saya bisa memadukan warna biru, abu-abu, dan turunan copper orange. Kombinasi monochrome, turunan dari hitam ke putih,” ucapnya. Selain Andhika, pemenang kompetisi lainnya adalah Avridya Keumala juara kedua, Alyza Bachmid dengan tema Futuristic Caustic juara ketiga, dan Andreas Wen yang mengusung tema Rhythm Ritual meraih juara favorit. –Diana Runtu

Edisi 838/ 2 - 8 maret 2015

3

Be a Green Milyarder

Tenun Endek dan Songket Bali dalam ‘Redefining Bali Heritage’ Perhelatan mode terbesar yang paling dinanti-nanti para pencinta mode, Indonesia Fashion Week (IFW) digelar di Jakarta Convention Center, Senayan, 26 Februari-1 Maret. Para pengunjung yang datang dari berbagai kalangan ini, tampak antusias mendatangi berbagai stand yang ada di area pameran yang cukup luas. Bagi yang gemar pakaian, sepatu, tas, dan aneka aksesoris lainnya, maka ajang ini adalah tempatnya untuk ‘berburu’.

swati Ni Made Ayu Dewi Sara

Sejuta Warna Rotary Rotary Bali mengundang masyarakat beramai-ramai umtuk bergabung dan bersama-sama beraktivitas serta menyatukan diri dalam usaha pengabdian bertema “Nyalakan Lilin Rotary”, Minggu (1/3) di Lapangan Renon, Denpasar. Acara akan dibuka Gubernur Bali didampingi District Gubernur Rotary D3420, Hanny Arianto. Setelah pelepasan merpati dan balon berwarna-warni 17 President Club Rotary se-Bali, acara dimulai dengan “Colour Zumba”. “Sekitar 2000 orang mengenakan kostum pelangi melakukan senam aerobik bersama mengikuti hentakan musik zumba,” ujar PP Ngakan Made Winaya, Wakil Ketua Rotary Family Day didampingi DAD Julia Rivai, dan PP Alit Suanta. Selain itu, ada juga lomba selfie dengan tema sejuta warna rotary. Tema ini dipilih untuk menginspirasi kaum muda untuk peduli pada sesama. Ada juga aksi donor darah kerja sama dengan PMI Bali. Pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan reproduksi wanita dan papsmear gratis juga diberikan dokter dan tim kesehatan klinik mobil keliling WHMC milik Rotary. Tak ketinggalan arena permainan jumping castle serta berbagai lomba, menggambar, mewarnai, dan lomba face painting untuk ayah, ibu, dan anak. Berbagai hadiah seperti sepeda motor, sepeda gunung, televisi, dan jutaan hadiah uang tunai dari sponsor tersedia untuk memeriahkan suasana. -Wirati Astiti

Anda bingung memilih jenis investasi yang akan berkembang di masa mendatang dan berkelanjutan? Solusinya adalah investasi jabon. Karena, kebutuhan bahan baku kayu selalu lebih tinggi dari ketersediannya. Harga kayu selalu meningkat setiap tahunnya. Dengan menanam pohon, kita dapat berkontribusi dalam melestarikan alam sembari berkebun uang. “Kini saatnya memiliki hutan uang bermerek Jabon,” ujar Ni Made Ayu Dewi Saraswati, Direktur Marketing PT Sri Farm.

A

pa itu Jabon? Jabon yang dalam bahasa latin Anthocephalus Cadamba merupakan jenis kayu daun lebar ringan dengan sifat kayu keras, berwarna putih, krem hingga kekuningan. Jenis pohon ini, pada usia 5 sampai 6 tahun mempunyai lingkar batang sebesar 40-50 cm dengan bebas cabang mencapai 60% dari tinggi pohon. Sehingga, tanaman jabon dapat dipanen saat usia tersebut. Jabon (jati bongsor) merupakan salah satu jenis kayu/pohon yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis. Keunggulan tanaman jabon dapat diuraikan dari beberapa kriteria, di antaranya: daunnya tidak disukai ternak, sehingga tak perlu khawatir terjadi pencurian daun; daun jabon akan rontok sendiri, itu akan membuat kayu jabon lurus rata ke atas tak ada benjolan; tidak dihinggapi tumor karat. Kayu jabon juga lebih banyak manfaatnya dibandingkan kayu sengon, lebih banyak diserap oleh industri, seperti kayu lapis, industri mebel, tripleks, pulp, papan, produsen peti buah, alas sepatu, mainan anak-anak, dan korek api. Perawatan lebih mudah karena dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, seperti tanah liat, tanah lempug, maupun tanah berbatu, pertumbuhan lebih cepat dan siap panen di umur 4 tahun atau 5 tahun. “Pertumbuhan pohon jabon sangat cepat bila dibandingkan dengan jenis kayu keras lainnya,” tegas Ayu Dewi. Ia tertarik untuk menjadi market-

ing hutan jabon di Sri Farm ini karena ia menilai produk ini ramah lingkungan. Selain itu, kayu jabon banyak sekali pembelinya. “Jadi, berapa pun ada kayu jabon dan ribuan pohon yang siap panen, tak perlu khawatir, semua pasti terserap. Perusahaan (PT Sri Farm) menjamin kayu hasil panen pasti laku, karena perusahaan sudah melakukan kontrak dengan pabrik kayu di Sulawesi dan Jawa,” yakinnya. Dan, yang paling menarik baginya adalah lahan ini ada di Sulawesi. Karena ternyata Sulawesi itu dekat dan tanahnya sangat subur. “Tanah milik Sri Farm sudah dicek oleh ahlinya bahwa kadar dari tingkat kesuburannya tinggi, sehingga kayu jabon yang kita tanam dipastikan bisa tumbuh subur, hasil panen kita pasti sukses, dan investasi Anda pasti kembali berlipat ganda. Be a Green Milyarder,” tegasnya. Hal ini disetujui Nengah Tantrawan asal Tabanan, Bali, yang sudah membeli hutan jabon Sri Farm. “Saya sudah datang dan melihat sendiri ke lokasi lahan Sri Farm di Sulawesi. Tempatnya bagus, tanahnya subur, ketebalan tanahnya bagus,” ucapnya. Hal senada disampaikan Putu Arta Susila (Tabanan, Bali). “Lokasinya sangat bagus, saya tertarik sekali dan saya datang ke lokasi bersama anak saya. Saya berharap anak saya dapat melanjutkan investasi di Sri Farm,” ujarnya. I Made Tama asal Karangasem, Bali juga mengiyakannya. “Saya datang dan melihat sendiri ke Mamuju, Sulawesi Barat. Saya pikir inilah bisnis yang akan menunjang

masa depan saya di bidang perkebunan, selain juga ada misi menghijaukan alam. Bagi saya ini akan menjadi bisnis masa depan dan warisan yang baik bagi anak cucu kita,” imbuhnya. Apakah harus datang ke Sulawesi dulu baru beli? Demikian pertanyaan yang kerapkali muncul dari calon investor. Ayu Dewi menegaskan, boleh saja tidak ke sana, karena Sri Farm memiliki video-video dokumenter terkait lahan jabon di Sulawesi dan perkembangannya tahap demi tahap, yang sampai saat ini sudah terjual 60 hektar hutan jabon. “Kalaupun calon investor ingin mengecek lokasi,

disilakan. Tanda minat minimal Rp 5 juta per hektare. Sebelum deal, investor diajak mengecek lokasinya. Jika deal, biaya akomodasi ditanggung perusahaan. Jika tidak deal, biaya akomodasi dipotong dari biaya tanda minat,” jelasnya. Investor lain yang sudah bergabung di bisnis hutan jabon ini juga memberikan testimonial. Made Sueta (Tabanan, Bali): ”Dulunya saya bekerja di kapal pesiar, sekarang saya berinvestasi di Sri Farm karena bagi saya bisnis perkebunan jabon ini sangat menguntungkan daripada saya menyimpan di bank. I Wayan

Suladra (Jembrana, Bali): “Investasi ini sangat menjanjikan, karena perusahaan menjamin. Saya berharap sekali akan ada kelanjutan kerjasama ini berkesinambungan”. Wayan Metra (Cilacap, Jawa Tengah): “Saya tahu informasi tentang investasi jabon Sri Farm melalui televisi. Saya sangat tertarik. Saya pikir investasi jabon ini sangat realistis mengingat kebutuhan akan kayu sangat tinggi. Saya langsung bergabung untuk menanamkan modal saya di Sri Farm. Bagi rekanrekan mari membantu pemerintah untuk menghijaukan bumi ini, go green…”

Adopsi Konsep TRI HITA KARANA

Sri Farm adalah perusahaan yang fokus di bidang penanaman kayu atau hutan jabon. Usaha ini didirikan dari perhatian yang tinggi dari para pendirinya terhadap pelestarian alam dan pemberdayaannya yang dapat memberikan nilai ekonomis tinggi. Tanah-tanah yang kurang produktif dicoba ditanami bibit jabon yang dikembangkan dengan cara pemuliaan tanaman, sehingga kualitasnya menjadi lebih baik. Bekerjasama dengan tenaga-tenaga kehutanan lapangan, dilakukan perawatan yang tekun bersama para penduduk sekitar dengan merumuskan pupuk-pupuk yang cocok bagi tanaman yang dikelola. Hasilnya sangat luar biasa. Tanaman tersebut tidak saja tinggi kualitasnya, tingkat kegagalannya juga kecil, dan nilai jualnya sangat tinggi, yang tentunya dapat memberikan kesejahteraan bagi pemiliknya, sekaligus bisa menghidupi masyarakat sekitar. Sri Farm terus meningkatkan penelitian dengan perusahaan bibit terpercaya. Saat ini Sri Farm telah mengelola lebih dari 1.500 hektare hutan jabon di Sulawesi Barat, dan tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan juga di daerah lain di Indonesia. Sri Farm bukan perusahaan investasi, tetapi pengelola hutan tanaman rakyat yang dapat membantu individu meraih keuntungan ekonomis dari program pengembangan lahan menggunakan pola aforestasi dan pembagian hasil pada saat panen nantinya. Sri Farm megadopsi konsep Tri Hita Karana yaitu recovery dan pelestarian alam sebagai wujud bakti terhadap ciptaan Tuhan, pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan hutan tanaman rakyat yang berkelanjutan, sehingga memberikan benefit ekonomi yang besar. PAKET JABON Ayu Dewi menjelaskan, ada beberapa paket jabon yang bisa dipilih. Paket Sri Cadamba misalnya. Dalam satu paket jabon ini, investor mendapatkan lahan seluas 1 hektare (Sertifikat Hak Milik atas nama sendiri), legalitasnya terjamin melalui proses notaris di Bali dan di Sulawesi; dan 800 bibit pohon jabon yang bisa dipanen dua kali dalam 10 tahun. “Ini sudah include biaya perawatan sampai panen (penanaman, pemupukan, obat antihama). Setelah panen,Sri Farm yang memasarkannya. Pembagian hasil panen 70% untuk investor, dengan estimasi potensi hasil Rp 582.400.00 per panen (5 tahun), atau Rp 1.164.800.00 untuk dua kali panen dalam 10 tahun,” paparnya. Harga normal untuk Paket Sri Cadamba ini ditawarkan Rp 225 juta. Untuk early bird Rp 185 juta, dan cash keras Rp 180 juta. Pembelian paket ini pun bisa dicicil 6x @Rp 21.583.333,33 atau dicicil 12x @ Rp10.791.666,67, dengan DP Rp 55.500.000,00. “Kami

juga memberi peluang bagi yang ingin menjadi agen di daerah. Syaratnya sudah bergabung di Sri Farm minimal 1 hektare. Keuntungan jadi agen mendapatkan fee marketing,” ucap Ayu Dewi. Sebagai bentuk rasa syukur dan menandai dibukanya secara resmi PT Sri Farm, pada tanggal 7 Maret 2015 nanti, PT Sri Farm akan melaksanakan launching, bertempat di Griya Agung Ballroom Sanur Plaza Paradise Hotel. Undangan yang berhadiah tirtayatra, perhiasan emas, lemari es, televisi, dll., dapat diambil di Pameran Sri Farm lantai 1 Matahari Duta Plaza, Jln. Dewi Sartika Denpasar, di Mall Bali Galeria, Jln. By Pass I Gusti Ngurah Rai, Simpang Dewa Ruci, dan di Kantor PT Sri Farm, Jalan Tukad Batanghari No. 9 Denpasar, tlp. 0361-8955872, 085337496688, 087861999658. www.srifarm.com. –ten


2

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Ekspresso

DAri daPUr Redaksi

Anak Cermin Didikan Orangtua

Masa anak-anak adalah masa mereka menyerap semua hal. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan masuk dalam memori. Anak-anak ibarat spon yang bisa menyerap apa saja yang ia lihat, ia dengar, terutama sekali lagi yang anak rasakan (perasaan). Contoh perilaku orangtua, contoh dari televisi, contoh perilaku teman sebaya berimbas secara langsung atau tidak langsung pada perilaku dan mental anak. Sebelum anak terjerumus ke hal-hal negatif, marilah buka tangan kita untuk memeluk anak-anak. Lakukan pendekatan dengan anak dengan sentuhan lembut, kata-kata lembut yang memotivasi yang dilandasi oleh cinta. Bagaimana kita akan mampu memberi kelembutan diri kita pada anak kita, bila jiwa kita tidak kita cintai, diri kita tidak kita cintai, diri kita kurang percaya diri? Jelas ini semua akan menjadi pertanyaan aktif dari diri kita masing-masing sebagai orangtua. Apakah kita biasa melakukan pelukan pada pasangan dan anak kita? Memuji pasangan

dan anak kita? Apakah kita cukup konsisten menegakkan pujian bila anak benar? Menyatakan ketidaksetujuan dengan lemah lembut bila anak memberontak? Mendidik anak tetap menjadi tugas orangtua. Bila ada orangtua yang mengatakan anaknya bermasalah, harus ada penggalian informasi peristiwa apa saja yang ada dalam relasi orangtua dan anak. Biasanya anak merupakan cerminan gaya didik

Mi Telo

Kalau mendapatkan makanan, perhatikan dengan baik petunjuk atau cara makannya. Jangan sembarangan saja. Hal ini bisa membuat kita kecewa atau kita konyol. Ini pengalaman yang aku alami minggu lalu. Malam hari, pulang dari kantor, perutku lapar tapi mata me­ngantuk. Antara lapar dan ngantuk ini membuatku memilih makan makanan yang praktis. Makan bisa cepat, setelah itu tidur. Aku mencari sesuatu untuk dimakan. Akhirnya aku menemukan dua bungkus mi telo. Mi ini oleh-oleh temanku yang berlibur ke Malang. Langsung saja aku buka dan kumakan. Baru masuk mulut, kok terasa aneh. Mi terasa keras, tak seperti mi yang sering dibeli anakku di warung. Aku berpikir, mungkin ini rasa permulaan dan belum

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

isi bumbu. Aku buka lagi mi telo itu untuk mencari bumbu yang mungkin terselip di bagian bawah. Ternyata tak ada bumbu. Aku pun mulai merasa aneh dengan mi ini. Aku lalu membaca petunjuk di kemasan. “Oh my God… ada petunjuk cara memasaknya. Ternyata ini bukan mi yang langsung bisa dimakan. Mi telo ini harus diolah dengan bumbu dapur,” ujarku menggumam sendirian. Mi yang sudah kubuka ini, aku ikat lagi dan masukkan dalam kulkas. Aku pun masuk ka-

orangtuanya. Anak yang percaya diri dan penuh cinta mendapat cinta sepadan dari para orangtuanya. Senandung melalui bahasa-bahasa lembut tentang cerita-cerita penyemangat atau motivasi bagi anak agar ia tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah. Misalnya, ada orangtua yang memiliki anak cacat. Anak ini tergolong rentan dibullying. Orangtua harus bisa menjadi motivator, kecacatan terberi, maka kita bisa mengajarkan anak untuk menerima kelemahan dirinya, bahwa memang dirinya berbeda secara fisik dengan temantemannya, namun nyatakan pada anak, mereka sangat istimewa di hadapan orangtua, mereka memiliki cinta seperti Anda, ajarkan rasa syukur pada kondisi apapun. Edisi kali ini kami sajikan tentang bullying yang menimpa anak-anak. Semoga yang kami sampaikan bisa menjadi bekal bagi para orangtua dalam melindungi anaknya. Anak bisa menjadi pelaku ataupun korban bullying. Banyak faktor penyebabnya. Namun, yang paling penting adalah orangtua harus memahami anak. mar untuk tidur sambil menertawakan diri sendiri. Keesokan harinya, istriku melihat mi telo dalam kulkas. Tetapi, ia tak menyentuh mi itu. Sepertinya ia tahu, mi itu milikku sehingga tak diutak-atik. Dua hari kemudian aku pun berinisitif untuk mengolah mi telo itu menjadi sarapan untuk anak-anak. Bumbu dapur aku persiapkan dan dalam tempo singkat, mi warna ungu ini tersaji di meja makan. Sembari sarapan, aku ceritakan pengalamanku dengan mi telo. Istri dan anak-anakku tertawa terpingkal-pingkal. Sampai berangkat sekolah pun mereka masih tertawa mendengar ceritaku. Yudi W., Dalung

GORO-GORO

denpasar

“Denpasar berulang tahun. Untuk itu digelar berbagai kegiatan sebagai peringatan sudah berPutu Wijaya tambahnya usia,” kata seorang warga. “Maknanya, bukan sekadar hura-hura, tetapi untuk tujuan introspeksi. Warga harus menyadari apa yang sudah dia berikan kepada kota ‘tumpah darahnya’, serta juga pemerintah lebih paham lagi terhadap apa yang belum sempat/gagal dilakukannya. Bukan begitu, Pak Amat?” Amat mengangguk, membenarkan, lalu menambahkan. “Ya, betul. Itulah sebabnya kita mengadakan perhelatan-pergelatan ulang tahun. Setelah melangkah 365/366 hari ke depan, kita wajib membuat evaluasi, apakah kita sudah lebih maju, dekat ke tujuan? Atau hanya berjalan di tempat? Atau malah mundur?” “Ketiga-tiganya, sama gunanya, Pak,” kata Bu Amat di rumah, ketika Amat menceritakan pertemuan itu. Amat heran. “Sama bagaimana?” “Ya! Maju, mundur atau jalan di tempat itu sama!” “Ah, ngarang, tidak bisa sama, dong! Maju itu ke depan, mundur berarti atret ke belakang. Dan, jalan di tempat itu berarti gali lubang! Tambah usia, kita harus lebih maju ke depan! Itu dia makna peringatan HUT, sehingga biaya yang dikeluarkan pemkot tidak mubasir! Karena baik warga, maupun pemerintah akan selalu berjuang melangkah ke depan, karena anjlok di tempat atau atret itu memalukan!” Bu Amat tak setuju. Tapi ia tidak ingin berdebat. Ia hanya menjawab: “Kuno!” Tapi Amat tersiksa oleh. Jawaban itu. “Masak Bapak dicap kuno oleh ibu kamu, Ami,” curhat Amat mengadu kepada Ami. Tapi sebaliknya dari membela bapaknya, Ami mendukung ibunya. “Menurut Ami, Ibu betul. Bapak kuno!” Amat kaget. “Kuno?! Apanya kuno? Di mananya kuno? Bapak justru berpikir positif. Bertambah usia, kita harus menambah tinggi pencapaian! Orang berhitung itu dari satu ke sepuluh! Bukan sebaliknya! Tidak ada orang ngitung dari sepuluh ke satu! Kamu kan pernah belajar matematika, Ami!” “Itu dia! Bangun rumah boleh ngitung dengan matematika, bangun kemajuan ngitung-nya dari sini!” jawab Ami menunjuk dadanya. Amat tidak setuju. Dengan digondeli dongkol ia balik ke rumah. Depan rumah Pak Made, ia disapa. “Pak Amat, tahu tidak, masak ada yang merayakan HUT Denpasar dengan menerbitkan buku kumpulan cerpen dari 25 orang pengarang yang akan dapat honor masing- masing 1,5 juta. Itu saja sudah lebih dari 35 juta. Belum ongkos cetak dan tetek bengek, bisa 50 jutaan amblas dari kantong pemkot. Kan dana itu akan lebih konkrit, realistik dan bermanfaat dipergunakan untuk lain-lain pembangunan yang kebih penting dan jelas. Untuk taman kota atau perbaikan saluran air misalnya. Atau, membantu warga miskin, agar memantapkan pembangunan? Ya, kan, Pak?” Entah kenapa Amat menjawab yakin: “Penerbitkan kumpulan cerpen Denpasar dapat memberikan masukan kepada pembaca, bahwa cerpen bukan hanya pelipur lara, tetapi utamanya perenungan, kesaksian, opini dan upaya melhat segala sesuatu, termasuk pembangunan Denpasar, dari sudut pandang baru, untuk membuat warga dan pemerintah mendapat pasokan pengalaman batin, sehingga menjadi kritis, ngeh dan bijak!”

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015

Lembah Bongok

23

Potensi Tuban yang belum Dilirik Kabupaten Tuban, Jawa Timur memiliki potensi alam yang menakjubkan. Kabupaten Tuban lebih dikenal masyarakat sebagai daerah tujuan wisata religi. Bahkan, keberadaan sejumlah makam ulama besar penyebar agama Islam, membuat Tuban diberi julukan ‘Bumi Wali’.

T

uban memiliki ratusan goa dengan berbagai model dengan bentuk stalakmit dan stalaktit yang memesona bagi yang melihatnya. Goa itu diantaranya Goa Akbar yang terletak di tengah kota serta Goa Putri Asih, di Desa Goa Terus, Kecamatan Montong. Ada juga Lembah Bongok di Desa Jetak, Kecamatan Montong. Lembah Bongok selain menyimpan pesona alami juga memiliki makam keramat yang dikenal dengan sebutan Mbah Singonegoro. Lembah Bongok memiliki

tujuh air terjun dan dua danau. Lembah Bongok dikelilingi hutan dan pegunungan, sehingga menambah keasrian lembah. Bagi wisatawan yang menghabiskan waktunya di Tuban, tak ada salahnya jika menyempatkan diri untuk bersantai di air terjun Lembah Bongok. Suasananya sangat segar, sebab masih alami dan belum banyak diketahui orang. Lembah Bongok berada di tengah hutan jati di wilayah perbukitan kapur. Lokasinya, 30 kilometer dari pusat kota. Belum banyak yang mengetahuinya. Bahkan, masyarakat Tuban sendiri. Sebab, selain di tengah hutan,

untuk menjangkau hingga lokasi juga belum ada kendaraan umum yang melintas di daerah perbukitan itu. “Saya hanya dengar sumber Bongok. Saya belum pernah ke sana, dimana letaknya,” ungkap salah seorang mahasiswa di Tuban, Edy Purnama. Belum lama ini, sejumlah wartawan di Tuban ber‘gowes’ ke Lembah Bongok. Meski melalui jalan yang terjal rombongan kuli tinta itu sampai di Lembah Bongok. Meski terasa dingin para wartawan itu betah melepas penat sambil mengguyur tubuhnya di air terjun dengan pandangan

Lilin Pemberi Berkah

Perayaan Imlek atau tahun baru Tionghoa ternyata membawa berkah tersendiri bagi ibu-ibu yang ada di kompleks Perumahan Pakunden, Tanjungsari, Kota Blitar, Jawa Timur. Usaha pembuatan lilin mereka jadi laris manis. Banyak warga Tionghoa yang memesan pernak-pernik untuk keperluan perayaan Imlek. Mulai dari lilin penerangan ruangan, lilin pembakaran hio, dan lilin pribadi. Lilin yang ada nama pemesannya yang akan dinyalakan sendiri pada saat perayaan imlek. “Lilin yang saya buat ini bentuknya kecil-kecil. Kalau dinyalakan terus, semalam sudah habis,” ujar Ningrum, salah satu pembuat lilin. Ibu-ibu yang ada di Perumahan Pakunden ini membentuk kelompok yang diberi nama Pijar Emas. Anggotanya ada 12 orang dan satu ketua kelompok. Mereka bekerjasama dalam peng-

Ningrum

garapan order. Tiap order harus masuk ke dalam kelompok. Penggarapannya dibagi rata. Setelah selesai, barang dikumpulkan menjadi satu, untuk diserahkan kepada pemesan barang. Hasil penjualan dibagi rata sesuai dengan perolehan barang. “Pokoknya penggarapan order

Ibu-ibu membuat lilin

harus sama-sama. Tidak boleh slintutan terus main sendirisendiri,” kata wanita berjilbab ini dengan tegas. Dalam sehari, kelompok Pijar Emas ini rata-rata menghabiskan 20-30 kilogram bahan baku lilin. Dari jumlah produksi tersebut, rata-rata anggota mendapatkan penghasilan antara Rp 600 ribu hingga Rp 750 ribu per bulan. Pada perayaan Imlek atau Natal, pesanan bisa naik dua kali lipat. Antara 40 hingga 75 kilogram bahan baku habis. Penghasilan pun dua kali lipat hari biasa karena jumlah pesanan barang juga meningkat. Apalagi ada pesanan dari pengusaha yang dikrim ke sejumlah klenteng. Usaha pembuatan lilin ini, kata Ningrum tidaklah sulit. Mudah dan ringan. Bahkan, modalnya juga kecil. Yang diperlukan hanya telaten dan memiliki kreasi. Agar tidak monoton. Sebelum menjadi lilin siap jual, bahan dasar lilin dicairkan, diaduk dengan klasin dan pewarna khusus lilin di dalam panci di atas kompor. Setelah diaduk rata, cairan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan yang terbuat dari bahan logam yang sudah diberi benang rami untuk sumbunya. Setelah itu lilin dibiarkan hingga mengeras. “Kalau prosesnya sih tidak lama. Paling sekitar 2-4 jam sudah beku. Tergantung besar kecilnya ukuran,” tutur Ningrum yang sudah 5 tahun menggeluti usaha lilin ini. -Khoirul

perbukitan yang memesona itu. “Ternyata pesona Lembah Bongok sangat mempesona. Saya tidak mengira wilayah desa ini menyimpan pesona yang luar biasa,” ungkap Dion Fajar, salah seorang wartawan yang baru pertama kali itu datang di Bongok. Meski akses ke lokasi harus melalu jalan terjal, namun, kendaraan roda dua masih bisa sampai di lokasi. Tapiu, untuk kendaraan

roda empat harus berhenti di atas bukit dan harus jalan kaki sekitar 1 km untuk sampai di lokasi Lembah Bongok. “Sayang, Lembah Bongok masih belum dilirik para pengambil keputusan di Tuban untuk dijadikan salah satu obyek wisata. Jika ini dipoles, utamanya jalan masuk, lokasi ini akan mejadi obyek wisata yang indah,” sela Rahman, wartawan lainnya. -Oso


24

Edisi 838/ 2 - 8 Maret 2015


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 838 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu