Skip to main content

Tokoh Edisi 835 | Tokoh

Page 1

24

What’s Up

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Kondom Habis Terjual saat Valentine Jelang Hari Valentine banyak remaja sibuk berburu pernak-pernik Valentine yang dijual di pusat-pusat perbelanjaan. Toko-toko kue maupun toko bunga tak mau ketinggalan, di momen khusus ini mereka menyiapkan produk spesial untuk yang merayakan hari kasih sayang itu.

S

eperti maknanya yakni hari kasih sayang, maka yang merayakan ini bukan hanya untuk mereka yang sedang dimabuk cinta atau yang memiliki pasangan, namun ekspresi kasih sayang ini juga ditujukan pada orangorang di sekeliling yang kita cintai, seperti keluarga, teman, dll. Sayangnya terdengar kabar-kabar yang tidak mengenakan, bahwa hari Valentine dijadikan momentum hurahura bahkan pesta seks oleh kaum muda. Walhasil, setiap kali menjelang Hari Valentine selalu saja muncul perdebatan tentang baik-buruknya perayaan Valentine, atau perlu tidaknya orang muda Indonesia merayakan itu. Berbagai pihak berkomentar ‘panas’ bahkan pemuka agama pun ikutan bersuara.

Di Depok, Jawa Barat, ada pemuka agama yang melarang perayaan Valentine karena dinilai lebih memberi dampak negatif ketimbang positif. Terlebih lagi, perayaan Hari Valentine merupakan budaya asing dan dianggap tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia. Akhirnya gara-gara sejumlah kasus yang tak mengenakkan itu, hari Valentine pun dituding sebagai penyebabnya. Psikolog anak, Elly Risma Musa dari Yayasan Kita dan Buah Hati kepada Tokoh pada suatu kesempatan mengatakan, pihaknya pernah melakukan survei ke sejumlah apotik dan tempat-tempat penjualan kondom. Ternyata, penjualan kondom pada hari Valentine meningkat tajam. “Anda bayangkan, pada Valentine lalu kami melakukan semacam survei di sejumlah apotik dan tempat penjualan kondom, ternyata ‘barang’ itu

kebanyakan habis terjual di hari Valentine. Pembelinya kebanyakan anak muda. Nah, bagaimana ini?” ujar Elly blak-blakan. BERPIKIR SEJUTA KALI Retno I.G. Kusuma, Psikolog ikut prihatin dengan penjualan kondom yang dipaketkan dengan cokelat untuk hadiah Valentine. “Penjualan kondom jangan terlalu vulgar apalagi saat Valentine. Hal ini memicu aktivitas seks bebas di kalangan remaja dan hal ini bukanlah budaya Indonesia. Kalau ini dibiarkan makin banyak remaja yang terjerumus seks bebas. Berarti sisi psikologis dan sosial mental perlu diperbaiki,” ujarnya. Keluarga memiliki peran sangat penting untuk meminimalkan terjerumusnya remaja ke arah perilaku seks bebas. Karena itu pendidikan dari keluarga merupakan fondasi untuk pembangunan karakter remaja. Khusus bagi remaja putri, Retno mengingatkan berpikirlah sejuta kali sebelum melakukan seks bebas. “Efeknya lebih banyak menimpa remaja

Memberi Hadiah tanpa Imbalan Valentine Day adalah hari kasih sayang yang dirayakan tiap tanggal 14 Februari. Tradisi ini bukan tradisi asli Indonesia. Namun perkembangan zaman membuat tradisi ini bisa diterima masyarakat Indonesia. Orang-orang sibuk mempersiapkan segala sesuatu dalam merayakan hari Valentine. Hadiah berupa kado, makanan dan yang lain–lain yang identik dengan warna pink sangat mendominasi. Hari Valentine kerap menjadi hari yang istimewa buat para remaja. Mereka yang mempunyai kekasih atau mereka yang sedang jatuh cinta saling menyatakan cintanya pada momen Valentine. Wika Yuliani, seorang mahasiswi Universitas Warmadewa menyatakan kasih sayang dalam hari Valentine bukan hanya ditujukan kepada pasangan semata tetapi juga kepada orang yang kita sayangi dan kasihi. “Hari Valentine itu tidak harus memberikan kasih sayang kepada pacar, tapi kepada orang yang disayang seperti orangtua juga bisa,” ujarnya. Kasih sayang lebih bersifat universal dan bisa terjadi terhadap keluar­

ga, saudara, sahabat dan lain–lain. Geg Nanda, mahasiswi lainnya mengatakan semua hari bisa memberikan kasih sayang kepada orang, tapi hari Valentine merupakan hari yang lebih berkesan dan bermakna buatnya. Kata kasih dan sayang mengandung pengertian yang sangat luas dan pastinya semua insan manusia perlu mengetahui dan makna dari kasih sayang sebenarnya. Seseorang yang dilanda masalah dalam kehidupan jiwa akan membutuhkan yang namanya kasih dan sayang dari seseorang. Apapun yang terjadi, seseorang akan selalu ingin mencintai sekaligus juga dicintai orang lain. Kasih dan sayang yang tulus itu mempunyai sifat yang ikhlas dan lebih banyak memberi daripada menerima. Mereka yang mem-

putrid. Jangan berpikir picik dengan mau melakukan hubungan seks dengan dalih kasih sayang. Kalau memang sayang harus saling mendukung dan tidak saling menyakiti. Cinta itu sama-sama menjaga dan merawat,” tegas Ketua Himpsi Bali ini. Menurut dr. Erwin, SpKj, perayaan hari Valentine dulunya adalah perayaan agama Katolik di Roma dalam memperingati kematian Santo Valentine, yang kemudian dalam perkembangannya dikenal sebagai Hari Kasih Sayang. “Kalau orang mau mengartikan macam-macam, ya, silahkan saja, tapi sebenarnya makna dari Hari Kasih Sayang itu tidak seperti itu (seks bebas ataupun suatu tindakan yang merusak moral). Itu merupakan hari dimana mengekspresikan kasih sayang pada orang-orang yang dicintai, baik itu terhadap pasangan, orangtua, antar-

beri kebahagiaan pada orang yang dikasihi dan disayanginya sering kepentingan diri sendiri itu dinomorduakan. Dalam pengungkapan kasih sayang pada Valentine Day, banyak orang memberikan hadiah kepada orang yang dicintainya, baik yang harganya biasa sampai harganya lumayan mahal semua itu merupakan ungkapan seberapa besar orang tersebut mencintai pasangannya. Hadiah merupakan pemberian kenang–kenangan, berbentuk benda, makanan, bunga dan lain-lain yang dilakukan tanpa ada imbalan atau kompensasi balik. Sidy Arafat, karyawan di sebuah maskapai penerbangan mengatakan hadiah di hari Valentine itu sah-sah saja, “Memberikan hadiah dan lain-lain, itu sah-sah saja. Itu salah satu wujud pengungkapan kasih sayang,” ujarnya. Cokelat merupakan makanan yang sangat enak dan lezat dinikmati. Remaja yang sedang jatuh cinta akan membelikan pasangannya cokelat batangan maupun cokelat dalam bentuk kue. Wika juga mengungkapkan bahwa cokelat itu memberikan rasa manis dan membuat rasa senang atau bahagia bagi orang yang memakannya. “Cokelat itu rasanya manis dan membuat

anggota keluarga maupun teman,” katanya. “Ibarat obat, itu kan dimaksudkan untuk kesehatan. Namun ada yang menggunakannya untuk hal-hal lain di luar itu, itu berarti penyalahgunaan. Sama seperti hari Valentine yang dimaksud adalah mengekspresikan kasih sayang dalam arti positif kemudian disalahgunakan,” tuturnya. Kalaupun ada suara-suara yang menentang, menurutnya, itu karena orang yang menyuarakan hal itu tidak mengerti arti sebenarnya dari perayaan tersebut. Jadi sebenarnya, perayaan hari Valentine itu sendiri tidak masalah, sepanjang sesuai dengan makna yang sebenarnya. Soal itu merupakan budaya atau tradisi dari barat, kata mantan Kepala Pusat Kedokteran Hypnosis, Departemen Kesehatan Jiwa, RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, hal itu memang benar. Tapi tidak masalah. Karena sesungguhnya kita pun mengadopsi budaya-budaya dari negara lain seperti Arab, Eropa, dll. Jadi, menurutnya, sepanjang itu bernilai positif tidak mengapa. Yang terpenting adalah tidak disalahgunakan. –Diana Runtu/ Ngurah Budi

orang senang juga, itu juga akan membuat suatu hubungan menjadi menyenangkan dan manis dalam berhubungan,” ujarnya sambil tersenyum. Sidy Arafat menambahkan cokelat itu manis dan memiliki zat phenethylamine yang berfungsi menghasilkan hormon yang bisa membuat orang merasa bahagia seperti jatuh cinta dan menghilangkan stres sehingga lebih rileks. Selain hadiah berupa cokelat, orang–orang biasanya membuat kartu ucapan Valentine dan memberi bunga mawar. Sulendra, seorang siswa SMK menambahkan hadiah bukan satu-satunya yang diharapkan walaupun hadiah itu penting juga dalam suatu hubungan. Hadiah yang lebih baik adalah kasih sayang yang setiap hari diberikan kepada pasangan. Hal ini disetujui Sidy Arafat. “Cara mengungkapkan kasih sayang bila tanpa hadiah itu menurut saya berikanlah hal yang paling berharga dalam hidupmu yaitu waktumu, habiskanlah waktu bersama sesuai porsinya,” ujar Sidy. Kasih sayang bisa diungkapkan dengan berbagai hal, misalnya senyuman yang tulus bisa menjadi suatu ungkapan kasih sayang yang paling nyata. Senyuman bisa diberikan kepada siapa pun dan kapan pun tanpa harus mengeluarkan biaya dan juga tenaga. Menyapa dengan ramah, menunjukan empati, solidaritas, berbagi bersama dengan orang-orang yang membutuhkan itulah wujud kasih sayang yang sejati. –Jelantik


2

Ekspresso DAri daPUr Redaksi Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Pers dan “Kasih Sayang”

Minggu ini ada dua momen yang “istimewa”. Pertama peringatan Hari Pers Nasional (9 Februari). Kedua perayaan Hari Valentine (14 Februari). Keduanya sama-sama memiliki relasi dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Peringatan Hari Pers Nasional dimaknai sebagai sebuah pesta rakyat yang memiliki pers yang merdeka sebagai salah satu pilar demokrasi. Mengapa dipilih 9 Februari? Karena pada 9 Februari 1946 diadakan pertemuan untuk membentuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Gedung Museum Pers Solo, Jawa Tengah. Hari Pers Nasional akhirnya diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 9 Februari yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 5 Tahun 1985 yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985. Kini pers terus berkembang mengikuti dinamika kehidupan masyarakat dan perkembangan teknologi. Pers menghadapi tantangan yang san- gat berat

dalam perjalanannya. Namun, pers mampu eksis bahkan tampil sebagai garda terdepan untuk mengimbangi perubahan yang terjadi. Pers tak lagi menjadi sesuatu yang konvensional tetapi mampu beradaptasi dengan menjadi sesuatu yang serba digital. Kehadiran pers dengan informasi yang akurat, komprehensif, dan bertanggung jawab menjadi “sarapan” bagi para pengambil kebijakan. Kritik dan saran dari masyarakat menjadi cambuk bagi pengambil kebijakan agar ber-

Nasinya Mana? Mendapatkan panggilan kerja bagi seorang pengangguran merupakan satu hal yang sangat diharapkan. Apalagi jika kita sangat menyukai pekerjaan itu. Itulah yang saya alami beberapa waktu lalu. Saat sedang bersantai di depan komputer, telepon saya berde­ring, seorang kerabat yang bekerja di sebuah perusahaan, menelepon saya dan menawari saya pekerjaan. Kemudian dia meminta saya untuk berbicara langsung kepada pimpin­ an perusahaan itu. Setelah mengobrol beberapa saat dengan pimpinan perusahaan itu, saya diminta untuk bertemu di kantornya pukul 7.00. Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya segera berangkat ke kantor itu lebih awal agar tidak telat karena saya harus mencari-cari alamat kantor tersebut. Tibalah saya di kantor itu, beberapa karyawan menyambut saya dan menanyakan tentang kedatang­ an saya. Saya pun menjelaskan maksud dan tujuan saya datang ke sana. Setelah menunggu beberapa saat, pimpinan itu datang menyapa saya dan menjelaskan tentang pekerjaan di sana. Setelah merasa cocok dengan pekerjaan itu saya pun diminta un-

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tuk mulai bekerja pada hari itu juga, sungguh hal yang tak terduga bagi saya. Beberapa karyawan di sana mengajari saya lebih detail tentang pekerjaan itu, dan saya pun dengan semangat menerima bimbingan dari senior di sana. Saat waktu menunjukkan pukul 10.00, salah satu karyawan datang membawa banyak bungkusan. Ternyata dia membawa nasi yang akan dibagikan ke semua karyawan. Dalam hati saya berkata, “Enak sekali kerja di sini, orang-orangnya ramah, ditanggung makan pula.” Setelah makan bersama, kami semua kembali ke meja kerja masing-masing untuk menyelesaikan pekerjaan. Keesokan harinya ketika saya akan berangkat kerja lagi, saya memutuskan untuk tidak makan di rumah karena saya berpikir kemarin sudah ditanggung makan oleh perusahaan. Berangkatlah saya ke kantor, sampai di sana saya bekerja

jalan di jalur yang benar. Kritik dan saran yang positif bisa menjadi tanda “kasih sayang” rakyat kepada pemimpinnya. “Kasih sayang” tak harus dengan mawar atau cokelat atau boneka seperti yang lazim diberikan saat hari Valentine. Hadiah “kasih sayang” bisa berupa “cubitan”, “jeweran” yang disertai dengan nasihat demi perubahan ke arah yang lebih baik. Kasih sayang pun tak selalu menunggu datangnya Valentine karena tiap saat harus ditanamkan rasa kasih sayang. Hidup Pers…Hidup Kasih Sayang!!! seperti kemarin sambil menahan rasa lapar yang sudah agak mengganggu, saya bersabar menunggu pukul 10.00 berharap bungkusan nasi segera datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 namun tanda-tanda datangnya nasi belum ada, perut sudah tidak bisa diajak kompromi. Hingga pukul 11.00 saya menunggu, bungkusan nasi belum juga datang. Saya memberanikan diri bertanya kepada senior, “Kak, kerja di sini memang ditanggung makan kan? Nasinya mana? Kok sampai jam segini belum dibawain nasi?” Senior saya pun tertawa lalu menjawab, “Di sini tidak ada tanggungan makan, kemarin itu ada teman yang ulang tahun makanya dia traktir semua karyawan di sini. Kalau mau dapat makan lagi ya tunggu sampai ada yang teman yang ulang tahun lagi, hahahaha....”. Oh my God....rasa lapar seketika hilang berganti rasa malu yang luar biasa. Pelajaran yang saya dapat dari sana, jangan terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Artha

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

GORO-GORO

gesekan

Presiden Jokowi wanti-wanti, janPutu Wijaya gan ada gesekan, dalam menyelesaikan ketegangan. Polri dan KPK. Bu Amat lantas ngedumel. “Bgaimana mungkin, tidak terjadi gesekan? Ketegangan sekarang ini, terjadi kan karena sudah ada gesek-gesekan?! Kalau gesekan dihalang-halangi atau ditunda-tunda, nanti bisa ngumpul, lalu jadi letusan dahsyat!” “Jadi, harus bagaimana, Bu?” “Ya, dibiarkan saja, gesek-gesekan, supaya cepat gembos!” Amat ketawa. “Memangnya ban, yang gampang dipompa dan mudah digembos-gemboskan?!” “Lho, Bapak jangan ketawa begitu, dong!” “Habis, persengketaan antar aparat yang dapat mengacaukan negara, masak disamakan dengan menggemboskan ban! Tidak bisa!” “Ya sudah! Bandingkan dengan adu layangan. Itu kan juga gesekan! Setelah benang bergesekan, yang satu kalah, yang lain menang. Selesai. Tidak berlarutlarut. Kenapa jadi takut gesekan?” “Lho, itu beda dengan gesekan aparat yang buntutnya panjang, luas. Gesekan aparat di dalam negeri yang 250 juta rakyatnya, bahaya! Gesekan harus dicegah!” Bu Amat tak menjawab. “Jadi, Ibu jangan suka gegabah. Gesek-gesekan itu persoalan besar!” “Persoalan besar siapa? Rakyat atau petinggi negara!” “Jelas persoalan rakyat dan negara! Bukan persoalan pribadi!” Bu Amat diam saja. Tiba-tiba terdengar suara ramai. Ternyata ada tetangga sedang bertengkar. Amat nguping. Pertengkaran itu kian berkobar. “Tidak bisa! Itu pohon mangga kami. Semua buahnya milik kami. Kalau pengen minta silakan. Tapi jangan diam-diam main potong atau manen!” “Habis cabangnya menjorok ke rumah kami! Bikin kotor halaman dan macet talang air. Jadi banjir, airnya masuk rumah. Kan sudah pernah tak sampaikan, tapi kok tidak digubris. Jadi sekarang begitulah, buahnya kita ambil, saja! Kok marah!” “Siapa yang marah!! Cuma nanya, kalau mau ambil mangga kami, silakan, asal dibilang baik-baik, masak tidak dikasih. Tapi ini kok diam-diam saja! Mengambil diam-diam itu namanya ... “ “Namanya apa? Mencuri?!!! Sialan!” Amat cepat keluar untuk melerai. Bu Amat juga keluar dan mengawasi dari jauh. Dua jam kemudian Amat baru pulang. Bu Amat tak sabar, ingin tahu apa yang terjadi. “Sudah ada gesekan,” kata Amat tenang, “tapi syukur! Untung sudah ada gesekan! Kalau tidak, emosi mereka yang sama-sama tertekan, bisa meledak tiba-tiba, tidak terkendali. Gesekan perlu untuk memotong menyetop bencana, sebelum jadi marabahaya! Sekarang mereka sudah salaman.”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

23

BPR TATA Luncurkan Produk Tabungan TATA Extra *Berikan Kemudahan sekaligus Keuntungan Ekstra

Rio Christian, S.H., M.H.

‘Kesampingkan Conflict Interest’ Apa yang menjadi kunci sukses seorang Rio Christian menjalankan bisnis perbankan? Jawaban ayah 1 anak ini sederhana, “Kesampingkan konflik kepentingan (conflict interest).” Banyaknya bank collapse diyakini alumnus S2 Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini karena ketidakprofesionalan manajemen. “Banyak konflik kepentingan yang masuk sementara pemimpinnya tidak mampu menghindari hal itu. Pertemanan terkadang menjadi pemicu seseorang untuk sulit menjadi profesional. Banyaknya kredit macet lebih banyak dikarenakan kurangnya memperhatikan analisa aspek 5 C’s serta tidak kuatnya proses yang berkaitannya dengan pengikatan kredit. Itu sebabnya seorang pemimpin harus profesional sesuai tuntutan pekerjaannya. Kita tetap memasilitasi mereka sepanjang itu sudah melalui analisa kredit yang Rio Christian, S.H., M.H benar,” sebut mantan Manager Bank of China di Jakarta ini. Pria kelahiran Jakarta berusia 32 tahun ini adalah pekerja keras, supel, cerdas sekaligus profesional. Kemampuannya di bidang hukum sanggup membawa BPR TATA menuju kinerja jauh lebih baik. Prinsipnya, “Bekerja jalankan sistem, maka semuanya akan baik-baik saja,” yakinnya. –ari

BPR TATA meluncurkan produk terbarunya yakni Tabungan TATA Extra. Produk ini diprediksi bakal direspons positif masyarakat Bali karena merupakan produk kreatif inovatif yang mampu memberikan nilai lebih pelayanan BPR TATA sebagai lembaga keuangan. Seperti yang dikatakan Direktur Utama (Dirut) BPR TATA Rio Christian, S.H., M.H., produk ini diharapkan menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin menabung dengan mendapatkan berbagai kemudahan sekaligus keuntungan ekstra. “Di tahun 2015 ini, kami sengaja menluncurkan produk tabungan TATA Extra sebagai salah satu upaya kami memanjakan nasabah setia kami. Produk ini sengaja kami desain dengan banyak kemudahan sekaligus keuntungan ekstra bagi mereka yang ingin menyimpan dananya di bank kami,” ujar Rio Christian. Dijelaskan, jika selama ini nasabah yang menabung di Bank TATA mendapatkan bunga 4,5%, maka di tabungan TATA Extra menjadi 7,5%. Jika selama ini nasabah yang menabung mesti datang sendiri (walking customer) ke kantor bank, maka di TATA Extra, dana tabungan nasabah akan dijemput/ diambil lewat layanan pick-up (pick-up service) di manapun nasabah berada. Bukan itu saja, nasabah TATA Extra dibebaskan dari biaya RTGS/biaya pengiriman jika mereka melakukan transfer ke bank lain. Ini bentuk pelayanan ekstra dari BPR TATA. “Banyak kemudahan dan keuntungan yang didapat nasabah tabungan TATA Extra ini. Syaratnya mudah saja. Nasabah tinggal setor dana tabungan awal minimal Rp 1 juta. Bagi nasabah dengan tabungan minimal Rp 25 juta, kami berikan hadiah langsung berupa

uang tunai yang nantinya dipilih sendiri. Hadiahnya hingga Rp 10 juta. Nasabah juga mendapatkan berbagai diskon kerjasama BPR TATA dengan beberapa tenant/mitra kerja berupa Smart Card seperti swalayan, rumah makan, toko material, dsb. Diharapkan ke depannya masyarakat bisa memanfaatkan momen istimewa dari adanya tabungan TATA Extra ini,” tambah Rio menyemangati. Rio mengakui bahwa target market produk TATA Extra ini adalah para pengusaha. Itu sebabnya ia berani menargetkan pertumbuhan untuk tabungan minimal 50% dan optimis target bakal terpenuhi. FOKUS GARAP UKM BPR TATA adalah salah satu BPR di Bali yang cukup eksis. Pertumbuhannya boleh dibilang cepat karena berjalannya sistem kerja selama ini. Hal ini bisa dipahami karena bank yang pada tahun 2014 meraih penghargaan dari Majalah Info Bank sebagai bank dengan predikat Sangat Bagus untuk kategori BPR dengan aset Rp 50 – Rp 100 milyar. BPR TATA mampu menunjukkan kinerjanya yang memuaskan. Dilihat dari pertumbuhan aset misalnya, performa BPR TATA cukup membanggakan. Di Desember 2010 aset hanya Rp 24,8 milyar, 2011 Rp 62,9 milyar, 2012 Rp 72,5 milyar, 2013 Rp 85,5 milyar dan Desember 2014 melonjak menjadi Rp 110 milyar dari target sebesar Rp 100 milyar. Di tahun 2015 ini pertumbuhannya ditargetkan 15%, sementara untuk dana pihak ketiga (DPK) pada posisi Desember 2013 (tabungan dan deposito) sebesar Rp 36,7 milyar dan di tahun 2014 Rp 50 milyar. Demikian pula untuk ekspansi kredit, di 2012 Rp 52 milyar, 2013 Rp 70 milyar dan di 2014 Rp 78 milyar.

Target kredit 2015 juga diharapkan tumbuh 15%. Menurut Rio Christian, di 2015 ini banyak hal yang perlu mendapat perhatian ekstra. Selain produk inovatif, juga dibutuhkan kreatifitas dalam mengelolanya. “Tahun 2015 adalah tahun yang ‘berbahaya’ bagi perbankan. Pergantian kebijakan terkait pergantian pemimpin negara, potensi perlambatan pergerakan ekonomi akibat kenaikan BBM serta potensi kenaikan bunga kredit tinggi yang dapat bermuara pada timbulnya potensi kenaikan NPL. Hal ini membuat kami bersikap lebih berhati-hati untuk melakukan ekspansi, serta terus melakukan konsolidasi internal guna menciptakan organisasi BPR TATA yang lincah dan efisien. 2015, fokus utama kami adalah meningkatkan intermediasi kepada kepada sektor UKM dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” tegasnya. Salah satu program kredit UKM yang diberikan BPR TATA adalah kredit tanpa agunan bagi pegusaha UKM di Pasar Sanglah, Denpasar dan Pasar Satria, Klungkung, Plafon yang diberikan maksimal Rp 10 juta dengan kewajiban debitur menabung secara harian di kantor cabang dan kantor kas BPR TATA, yang kebetulan berada di lokasi Pasar Sanglah & Pasar Satria. Tujuan dari pemberian kredit adalah untuk lebih mendekatkan BPR TATA dengan sektor UKM. Selain itu BPR TATA juga melalui divisi marketingnya dapat memberikan pembinaan mengenai pengembangan manajemen usaha, tambah Rio Christian. Kantor Pusat BPR TATA di Jl. Teuku Umar Barat (Marlboro) No. 19 Denpasar, tlp: 0361- 490683, Kantor Cabang Jl. Puputan I No. 11, Klungkung, Bali. Email: www.bprtata.com


22

Mozaik

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Golf Plus

supaya tidak jadi gemuk. Secara umum memang tidak menjadi masalah, karena beberapa dari pegolf juga sudah memahami pola hidup sehat, “ tegas Anna. Perlu disadari juga, tubuh gemuk dan kurus tidak bermasalah dalam bermain golf, yang penting menjaga pola makan. Beberapa hal seperti swing atau atau pukulan jarak jauh yang merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan saat bermain golf ini bisa atau tidaknya bukan bergantung pada berat badannya. Yang terpenting adalah gerakan yang dilakukannya benar. Karena kalau salah akan menjadi penyakit. -Diyah

Makan Sehat Olahraga golf merupakan olahraga yang memerlukan ketelitian, kecer­ dasan, dan ke­sabaran. Olahraga satu ini kerap diidentikkan dengan olah­ raga pejabat untuk meluangkan wak­ tunya saat di luar kantor. Golf juga bisa dikaitkan dengan pola makan. Untuk itu, Bukit Darmo Golf (BDG) mencoba memberikan fasi­litas maka­ nan se­telah pegolf lelah bermain.

M

Anna Rigata

sayuran,” jelasnya. Anna menambahkan, untuk minuman yaitu jus sawi daging, perpaduan jeruk dan nanas. Tersedia juga minuman seperti beras kencur dan temu lawak. Hal ini untuk mengantisipasi supaya tidak terkena penyakit, dengan pola makanan sehat serta minuman yang sehat pula. “Selain harus pahami menu untuk pegolf, kami juga harus memahami tentang pola hidup pegolf

Relakan Weekend untuk Bekerja menu makanan yang disajikan untuk pegolf di BDG. Anna mengaku mendapat dukungan keluarga dalam menjalankan kariernya. “Weekand kami tidak bisa libur, karena saat weekend orang ramai berolahraga. Karena itu, kami harus pandai dalam mengatur waktu untuk keluarga dan bagaimana cara terbaik untuk menyenangkan relasinya. Saat tidak ada turnamen, pembagian libur bisa diatur sedemikian adil sehingga semua karyawan bisa menikmati untuk libur dan bisa dipakai untuk keluarga,” jelasnya. Jika ada turnamen, mereka harus merelakan waktu weekand untuk keluarganya dan harus bekerja. Ia menambahkan, sejauh ini tidak ada masalah baik keluarga maupun kerjaan. Ada ataupun tidak turnamen, ia dan timnya tetap semangat. “Saya didukung suami. Jadi saya merasa senang dan tenang saat bekerja,” pungkasnya. -Diyah

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

3

Ida Ayu Dwi Lestari

Hidup Ini Indah Pendidikan yang makin tinggi memberi kesem­ patan lebih terbuka bagi perempuan untuk berkiprah. Seperti sosok yang satu ini, ia bu­ kan hanya bersinar dengan profesinya se­bagai seorang notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) tapi perlahan ia juga merambah menjadi pebisnis kelapa sawit.

P

anager Food and Beverage BDG Anna Rigata mengatakan, makanan yang disediakan khusus bagi para pegolf. Menu-menu yang disediakan tiap hari berbeda dan disesuaikan dengan usia para pegolf, makanan, serta porsi olahraganya. “Golf termasuk olahraga yang melelahkan. Jadi harus diatur menu makananya. Ada herbal food dan vegetarian. Daging sapi lada hitam, dagingnya dari jamur. Atau, gulai kambing tapi kam­bingnya dari jamur. Ada juga udang dari

Anna Rigata, perempuan kelahiran 21 Mei 1978 ini memiliki hobi bermain golf setelah ia bekerja di lapang­ an golf. Dunia golf merupakan dunia baru baginya. “Saya mulai kerja di Bukit Darmo Golf (BDG) sebagai sales. Meskipun pendidikan saya bukan seorang sales. Namun saya terus berupaya untuk melakukan yang terbaik. Apalagi sales jasa, itu jauh lebih sulit daripada sales produk yang terlihat produknya,” ungkap ibu satu anak ini. Segala upaya ia lakukan untuk menjalankan tugasnya. Seiring dengan pekerjaannya tersebut. Akhirnya, Anna gemar bermain golf. Beberapa cara bermain golf ia pelajari dan tidak begitu sulit buatnya untuk belajar menjadi pegolf. Akhirnya, tiga tahun lalu, ia diangkat menjadi Manager Food and Beverage BDG. Tugas yang diembannya sedikit berbeda. Setelah menjual jasa, ia harus tahu

Sosialita

erempuan kelahir­ an Denpasar, 8 Pe­ bruari 1976 ini, menuturkan begitu menyelesaikan kuliah S1 Hukum di Undiknas, ia sempat ditawar­ kan untuk bekerja di bank oleh ayahnya, namun Ida Ayu Dwi Lestari, S.H., M.Kn., ini menolak. Sebab, dirinya tidak ingin bekerja dengan orang lain, melainkan mempekerjakan orang lain. Gek Adhe begitu panggilan­ nya, beralasan jika bekerja di bank waktunya akan habis. Pada­ hal dirinya akan menjadi seorang istri, ibu, menantu, dan akan mengurus keluarga. Ayahnya

mengatakan kalau ia berpikir terlalu panjang. Ketika didesak apa sesungguhnya keinginan­ nya, secara spontan ia menjawab ingin menjadi notaris. Ketika itu ia hanya pernah mendengar profesi notaris, tapi belum paham apa pekerjaan seorang notaris. Mendengar itu sang ayah memintanya untuk mencari tahu apa syarat-syarat untuk menjadi seorang notaris. Mendapat angin segar, maka mulailah Gek Adhe mencari in­ formasi. Singkat cerita ia mulai men­ gawali kariernya sebagai Notaris dan PPAT di tahun 2005. Ketika

itu, ia langsung berkantor di Jalan Patimura No. 37 hingga seka­ rang. Dengan konsistensi dan komitmen yang tinggi dalam memberi pelayanan terbaik, dengan bekerja cepat, teliti dan penuh kehati-hatian, menjadi­ kannya sebagai salah satu notaris yang menjadi rujukan berbagai perusahaan. Gek Adhe menjelaskn jabat­ an notaris ini bisa menolong orang lain yang hendak menga­ lihkan harta benda, menyewa­ kan aset ataupun mendirikan perusahaan. Semua memerlukan jasa notaris. “Kalau kita bisa memudahkan urusan orang lain, maka hidup kita rasanya jadi indah, “ujar istri Ida Bagus Gede Dharma Putra, S.T. dan ibu dari Ida Bagus Gede Sewana Manu­ aba dan Ida Bagus Oka Ananta Manuaba ini. Begitu juga dengan tugasnya sebagai PPAT adalah profesi mu­ lia dalam konteks hak atas tanah dalam masyarakat. “Kami mesti bisa bekerja secara profesional untuk memeriksa semua berkas-

Gek Adhe dan keluarga

berkas dengan cermat,” ungkap notaris yang dibantu 11 orang tenaga kerja ini. Gek Adhe menuturkan sete­ lah lulus SMP, dirinya lebih ban­ yak menempuh pendidikan di luar Bali. Ia sempat kuliah di Fak. Hukum Atmajaya, namun ia balik ke Bali dan menyelesaikan kuliahnya di Undiknas. Kemudian ke luar lagi untuk melanjutkan pendidikan magister kenotari­ atan di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia mengatakan orangtunya sangat peduli dengan pendidikan. “Mereka ingin putra-putrinya tidak berhenti mencari ilmu de­n gan sekolah, sekolah, dan sekolah. Namun, dilengkapi den­ gan pesan “Sekolahlah setinggi­tingginya di mana saja, dengan

catatan begitu selesai pulanglah ke Bali. Kalau tidak kalian, siapa lagi yang akan membangun gene­ rasi kita berikutnya di sini,” ujar putri kedua dari Ida Pe­danda Gede Putra Keniten dan Ida Pedan­da Istri Ketut Kaweri ini. Masih urusan pendidikan, ia mengatakan sang suami sebagai orang terdekatnya pun sangat mendukung. “Wujud dukungan suami saya, misalnya saat saya di Undip ia yang mengatur waktu untuk dapat mengunjungi saya di Semarang,” katanya. Bahkan dukungan yang sama juga diper­ olehnya dari mertua dan orang­ tuanya. Apalagi ketika dirinya sudah memiliki anak. Semua siap membantunya. Kondisi ini yang membuatnya bahagia sekaligus haru. -ard

Wujudkan Mimpi Punya Kebun Siang itu Gek Adhe menyambut hangat Tokoh di ruang kerjanya, di Jalan Patimura No. 37, Denpasar. Mengenakan busana berbahan endek menjadikan ibu muda ini terlihat sederhana, simpel namun elegan. Dengan gayanya yang tenang tapi humoris ia pun bertutur seba­ gai anak yang lahir dan besar di Kota Denpasar, menjadikannya sejak kecil ingin merasakan yang namanya pulang kampung. Makanya dulu ketika liburan ia pun memilih pulang ke Tabanan, kampung ibunya. Tahun 2013, ia menda­ patkan informasi dari salah seorang familinya tentang lahan kebun kelapa sawit di Kecamatan Rakumpit, Kaliman­ tan Tengah akan dijual. Tanpa pikir panjang ia pun setuju untuk membelinya. Semula hanya 10 hektare namun kini hamparan kebun kelapa sawitnya sudah menjadi 30 hektare. “Sebenarnya ingin punya kebunnya di Bali, namun siapa yang tidak tahu harga tanah di Bali” katanya tersenyum. Ternyata selain jadi memiliki kampung baru, impiannya memiliki kebun pun jadi ter­ penuhi. Apalagi transportasi menuju daerah Kalimantan Tengah tidaklah sulit. Pemilik moto hidup tidak ada yang tidak bisa kita lakukan dengan usaha tanpa batas ini juga tahu Kalimantan memang dianugerahi berbagai macam sumber daya alamnya dan lahan perkebunan yang luas. Kelapa sawit salah satunya yang menjadi primadona. Setelah menjalani kegiatan berke­ bun kelapa sawit, diakuinya ternyata

prospeknya cukup bagus. Meski tidak semua berjalan mulus, sempat juga kebunnya yang 8 hektare dan hampir panen terbakar. Tapi, ia menyadari di semua lini kehidupan katanya tentu ada risikonya. “Namun, bagusnya sawit meski terbakar dia tidak mati. Ketika musim hujan berikutnya dan saya tengok sudah hijau kembali,” kata Gek Adhe yang menyempatkan diri sebulan sekali menengok perkebunannya. Melihat potensi yang ada, ia pun meminta bantuan salah seorang kerabatnya untuk tinggal di sana dan mengurus kebunnya. “Bagusnya lagi masyarakat di sana senang berdampingan dengan orang Bali. Mereka juga memiliki kemauan dan tenaga yang besar untuk menanam,” tuturnya. Selanjutnya Gek Adhe pun dengan lancar bercerita bagaimana dan apa saja yang dilaku­ kan serangkaian penanaman dan perawatan kebun kelapa sawit. “Ternyata sawit itu ba­ nyak digunakan untuk bahan kosmetik,” katanya sembari mengatakan ia menjadi tahu dengan banyak belajar dari masyarakat Dayak. Bahkan ia pernah mendatangi orang yang pertama kali menanam kelapa sawit di Kalimantan. Di sana Gek Adhe belajar bagaimana bertani sawit, siklusnya, tanahnya dan sebagainya. “Panen kelapa sawit dua minggu sekali. Untuk menjualnya pun ting­ gal menelepon koperasi. Prosesnya juga simpel sekali, mereka datang, ambil, tim­ bang dan bayarnya juga di tempat. Kecuali diminta baru pembayarannya dilakukan melalui transfer,” paparnya

sembari mengatakan kalau menengok kebun­ nya ia tidak tidur di hotel namun lebih memi­ lih beristirahat di pondoknya yang dibuatnya di kawasan kebunnya. “Ini wujud mimpi saya punya kebun, sekaligus memenuhi hobi jalanjalan saya,” ucapnya tersenyum. Sekarang dengan lahan kelapa sawit yang dimilikinya dan pengelolaan yang baik akhirnya menggiringnya bukan hanya men­ jadi petani tapi sudah masuk dalam jajaran pebisnis kelapa sawit. Menurut Gek Adhe, semuanya mengalir. Pada masanya ia pensiun dari profesinya sebagai seorang notaris dan penjabat pembuat akta tanah, mungkin ia bisa lebih total menjadi seorang petani bersama sang suami. “Meski masih kecil, semoga saja semua yang kami kerjakan bisa membantu masyarakat sekitarnya memperoleh peker­ jaan,” ujarnya tetap dengan rendah hati. - ard


4

Inspirasi

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Tika Bisono

Perdalam Ilmu Mindset

Di era 80-an nama wanita cantik ini begitu terkenal. Maklum, selain penyanyi dia juga adalah seorang model. Dialah Tika Bisono, Putri Remaja Indonesia 1978. Mungkin Anda masih ingat lagunya berjudul ‘Pagi’ atau ‘Ketika Senyumu Hadir’ atau bahkan ‘Melati Suci’ yang didendangkan Tika dengan syahdu. Lagu gubahan Guruh Soekarnoputra yang dipersembahkan untuk ibunya Fatmawati dan ayahnya, Soekarno, pun menjadi popular. Suara Tika yang khas membuat dia mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat.

S

ayangnya dunia hiburan bukanlah pilihan Tika untuk mengembangkan karier. Sekalipun ia telah memiliki nama besar di dunia yang ditekuninya sejak remaja, Tika lebih memilih focus pada pendidikan. Ia lebih tertarik menekuni ilmu psikologi dan segala selukbeluknya. Walhasil, setelah merilis album ‘Ketika Senyumu Hadir’ tahun 1990, tidak ada lagi album tunggal yang dikeluarkannya. Kini, orang lebih mengenal Tika sebagai psikolog, khususnya di bidang pendidikan dan anak/ remaja. Namun begitu, di tengah kesibukannya yang luar biasa sebagai psikolog, dosen maupun konsultan professional, Tika masih sempat memperhatikan tentang perkembangan lagu anak yang makin memprihatinkan. Lebih miris lagi, kata Tika, jarang ada radio atau televise mau memutar lagu anak-anak. Karenanya wanita kelahiran Bandung, Oktober 1960 ini, tak mau tinggal diam. Bersama temantemannya, ia pun ‘memutar-otak’ bagaimana caranya agar lagu anakanak bisa mendapat ‘kapling’ di televise ataupun radio. Lalu ia pun mengemas sebuah album dari Ajang Cipta Lagu Anak (Acila) yang diberi nama ‘Pelangi Acila’ , yang isinya bukan hanya penyanyi cilik, tapi juga penyanyi remaja hingga dewasa seperti Nugie, Dea Mirella, Hershon Riewpassa, dll. Tika sendiri turut menyumbang suaranya dalam album tersebut lewat lagu ‘Teman Sejati’ bergenre country. Di luar kegiatan itu, Tika boleh dibilang nyaris tidak menyanyi lagi, dalam artian menyanyi dari panggung ke panggung sebagaimana dilakoninya saat muda dulu. Ia kini lebih sibuk dengan mengembangkan kariernya di bidang psikologi, juga trainer di bidang human resources dan communication excellence. Belum lagi seminar-seminar dimana Tika diundang sebagai pembicara. Di tengah-tengah kesibukannya yang luar biasa itu, ibu tiga anak ini masih menyempatkan diri memperdalam ilmu psikologinya dengan mengambli program S3 di Universitas Indonesia. “Sebenarnya sudah sejak tahun 2012 lalu aku mengambil S3, hanya saja sempat terhenti

karena ada berbagai kesibukan. Nah sekarang ini baru aku lanjutkan kembali.Untuk S3 ini aku ingin memperdalam tentang mindset. Aku ingin tahu pendidikan yang bagaimana yang berkontribusi pada mindset,” ungkapnya. Valentine bukan Hari Seks bebas Terkait dengan mindset itu, kemudian ditanyakan tentang adanya pandangan dari tokohtokoh tertentu yang kurang setuju dengan dirayakannya Hari Valentine oleh sebagian anak muda Indonesia . Ketidaksetujuan itu antara lain karena anggapan bahwa perayaan Hari Valentine memberi dampak negative bagi anak muda, seperti seks bebas, dll. Menurut Tika, itu adalah pemikiran yang salah. Karena sesungguhnya makna dari Hari Valentine tidaklah seperti itu. Hari Valentine atau yang juga dikenal sebagai Hari Kasih Sayang, adalah hari di mana orang mengungkapkan rasa sayangnya terhadap orang-orang yang dicintai. Tidak ada kaitannya dengan seks bebas, erotis, dll. Juga bukan hanya dimaknai sebagai hari ‘cinta’ bagi mereka yang tengah kasmaran. Tapi lebih luas dari itu. Misalnya, antara suami-istri, sahabat, dll. Bahkan lewat Hari Valentine, hubungan yang tadinya retak karena berseteru, bisa baik kembali. “Jadi not only between lover,” tandasnya. Jadi kalau kemudian dikatakan terjadi seks bebas di Hari Valentine, itu adalah ekses yang salah kaprah, yang justru harus diperbaiki lewat pemberian pemahaman-pemahaman yang benar terkait makna yang sebenarnya dari Hari Kasih Sayang itu. “Hari Valentine sesungguhnya tidak mempromosikan hal-hal yang

negative. Ini adalah momentum memperingati ‘rasa’,” ucapnya. Jadi menurutnya, jika ada tokohtokoh tertentu yang kemudian berkomentar negative tentang Hari Valentine ini, hal itu terkait dengan mindset yang bersangkutan. Dan kalau sudah berbicara tentang mindset, maka itu susah mengubahnya. “Kalau sudah mindset, tidak mudah mengubahnya. Walau psikolog sekalipun, jika sudah memiliki mindset yang demikian, tidak akan mudah mengubahnya. Jadi problem terbesar adalah pada mindset,” ucap Tika sembari menambahkan, itulah salah satu sebab kenapa ia sangat tertarik memperdalam

tentang mindset. Sebenarnya, ungkapnya lebih lanjut, Indonesia juga memiliki perayaan yang pemaknaannya serupa dengan Hari Valentine, yakni, Hari Kesetiakawanan Nasional. Menurutnya, itu sangat bagus karena itu bermakna kasih sayang antar sesama manusia, kepedulian terhadap sesama. “Sayangnya gema perayaan Hari Kesetiakawanan Nasional sudah tidak seperti dulu lagi. Padahal itu bagus sekali,” ucap Tika yang sampai sekarang pun masih merayakan Hari Valentine. “Sebenarnya jika dimaknai secara benar, ini (Hari Valentine) adalah suatu yang indah. Kalau pada hari lain kita kadang lupa mengekspresikan rasa kasih sayang kita kepada yang lain, maka ini adalah waktunya. Tentu saja, di luar Hari Valentine itu pun kita juga kerap mengekspresikan rasa sayang kita. Hari Valentine hanya momentum saja. Jadi tentu tidak ada yang salah dengan merayakan Hari Vatentine.Bagi saya itu merupakan suatu yang positif,

Mandalika

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Beli Kucing dalam Karung

Suasana ramai pengunjung Pasar Second Karang Sukun Mataram, silih berganti keluar masuk lapak dan toko-toko untuk memilih dan memilah beraneka ragam pakaian bekas dengan harga-harga terjangkau. Di salah satu sudut pasar, pembeli berlomba-lomba memilih pakaian yang baru saja dikeluarkan oleh pedagang. Pakaian-pakaian itu kondisinya terlihat bagus dibandingkan dengan koleksi pakaian bekas lainnya. “Ini pakaian bekas yang baru datang dan baru disortir, dipilih yang terbaik dari yang ada dalam karung/bal,” ujar salah seorang pedagang di Pasar Karang Sukun yang tengah dikerumuni pembeli. Tika Bisono

jangan diharamkan,” katanya. Sayangnya, tambah Tika lagi, di Indonesia ada yang memaknai Hari Valentine adalah hari pacaran seIndonesia. Jadi orang berpikir hari itu hanya untuk orang yang sedang mabuk asmara, mereka yang pacaran. “ Itu pandangan yang sangat ‘kampungan’ atau ‘deso’ (desa) banget, “ tegasnya. Apalagi kalau dikait-kaitkan dengan sesuatu yang bersifat erotis. Mungkin hanya di Indonesia saja yang sebagian orang memaknai secara berbeda .” Ini yang harus dibereskan atau diberi pemahaman agar makna hari tersebut dikembalikan kepada makna sebenarnya,” ucapnya. –Diana Runtu

21

H

ari Jumat, Sabtu dan Minggu memang terbilang hari ramai kunjungan ke pasar ini, mengingat rata-rata pedagang pakaian bekas selalu membuka dagangannya di hari-hari tersebut. Pakaian bekas yang ada dalam karung/bal, biasanya dibuka dan dipilih terlebih dahulu oleh pedagang yang berkualitas baik barulah dilepas untuk dijual dengan harga yang relatif mahal dibandingkan harga pakaian bekas yang sejenis dalam bal yang sama. Hal ini dilakukan karena saat mereka membeli pakaian bekas, hanya membeli kode atau jenisnya saja, seperti, hem, gaun, celana atau lainnya, tidak tahu apa saja isi dalam karung/bal tersebut. “Kami pisahkan terlebih dahulu pakaian dengan kualitas yang baik dan kurang baik untuk bisa menentukan harganya,” ungkap Ririn (41), perdagang pakaian bekas di Pasar Karang Sukun Mataram. Mereka biasanya membeli pakaian bekas satu bal dengan harga sekitar Rp 5-Rp 7 juta un-

Pasar Pakaian Bekas Diserbu Pembeli

Kualitas Baik Harga Terjangkau

Nuri Supinah di toko pakaian bekas di Pasar Karang Sukun Mataram

tuk gaun, Rp 7 juta untuk hem berkualitas baik dan berbagai celana dengan harga Rp 4 juta. Bisnis ini persis seperti bunyi pepatah, “membeli kucing dalam karung”. Mereka membeli pakaian bekas hanya tahu jenisnya saja dan tanpa tahu kualitas dan jumlah barangnya. “Kami tinggal telepon dan menerima kiriman barang dari bos kami yang di Surabaya,” kata Ririn. Pedagang lainnya, Nuri Supinah juga mengaku mendapat kiriman barang dari Surabaya. Tidak dapat dipilihnya barang

membuat tidak jarang pedagang mengalami kerugian. “Ya namanya juga orang berdagang. Sesekali merugi karena harga pakaian bekas yang dibeli tidak sesuai dengan harga jualnya karena barang tidak bisa dilihat apalagi dipilih. Namun begitu, tidak sering sih ruginya, hanya sesekali saja,” kata Nuri Supinah yang menyewa toko di pasar ini dengan harga sewa dua tahun Rp 10 juta. Pakaian-pakaian bekas ini selain berasal dari Surabaya, juga ada yang berasal dari Bali. -Naniek I. Taufan

Kebijakan Pelarangan Impor Pakaian Bekas Resahkan Pedagang

Pakaian bekas yang dijual di pinggir jalan di Selagalas Mataram

Bisnis yang berjalan terbilang lancar ini, kini bersiap menyikapi kebijakan baru pemerintah soal pakaian bekas. Kebijakan Kementerian Perdagangan RI untuk menghentikan impor pakaian bekas dengan alasan banyak bakteri yang terkandung dalam pakaian bekas, sehingga rentan menimbulkan penyakit itu, membuat para pedagang pakaian bekas yang biasa disebut pakaian second atau paka-

Haris dan Mahyuni tengah berjualan pakaian bekas di pinggir jalan di Selagalas Mataram

ian rombeng ini, resah. Mereka yang kerap berjualan pakaian bekas di pasar second Karang Sukun Mataram, di Sweta dan Selagalas, berharap kebijakan itu dapat ditinjau kembali. “Kami berharap agar impor pakaian bekas tidak dilarang,” ungkap Ririn. Hal yang sama juga menjadi harapan Nuri Supinah. Begitu juga dengan Haris dan Mahyuni yang berjualan pakaian bekas di Selagalas, Mataram.

Mereka telah mendengar kabar tentang hal ini. Namun sejauh ini, menurut Ririn (41), pembeli yang datang ke pasar second Karang Sukun masih relatif ramai. Perjalanan bisnis pakaian bekas di Mataram, sesungguhnya telah berjalan puluhan tahun lamanya. Pasar Karang Sukun menjadi pasar pakaian bekas terbesar di Mataram. Kemudian baru-baru ini, muncul beberapa lapak penjualan pakaian bekas di pinggir jalan di beberapa tempat di Mataram. Para pedagang pakaian bekas di Pasar Karang Sukun dan tempat lainnya di Mataram, menggantungkan hidupnya dari berjualan pakaian bekas. Ririn yang telah menggeluti bisnis ini sejak tahun 2000an dan telah berjualan di beberapa pasar di Lombok Barat dan Mataram, mengaku inilah mata pencaharianya sejak dulu. Begitu pula dengan Nuri juga Haris dan Mahyuni. -Naniek I. Taufan

“Kadang datang barangnya dari Surabaya, ada juga yang dari Bali,” kata Haris dan Mahyuni, pedagang pakaian bekas di Selagalas, Mataram. Meski tidak seramai di Pasar Karang Sukun, bisnis pakaian bekas di Selagalas yang baru sekitar tujuh bulan belakangan ini dibuka, terbilang lancar. Demikian pula dengan pakaian bekas yang dijual di pinggir jalan seputaran Sweta Mataram. Haris dan Mahyuni mengaku bisa mengantongi minimal Rp 100 ribu sehari dari berjualan pakaian bekas ini. “Kalau lagi ramai pembeli bisa laku sampai Rp 400 ribu,” kata Haris. Pasar Karang Sukun mulai berkembang sekitar tahun 2000an. Diawali oleh beberapa pedagang yang melihat peluang baik memanfaatkan pasar yang tadinya tidak difungsikan ini untuk berjualan pakaian bekas. “Dari sekitar lima orang yang berjualan, lama kelamaan menjadi banyak pedagang dan akhirnya ramai seperti ini,” ujar Ririn yang mengaku berjualan di pasar ini sejak pasar tersebut dibuka sebagai pasar pakaian bekas. Minat masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, terhadap pakaian bekas ini, terbilang tinggi. Buktinya, tiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu pengunjung pasar ini terbilang sangat ramai. Harga yang terjangkau dan kualitas yang baik menjadi alasan mengapa pembeli bahkan menjadi langganan ke pasar ini. “Pakaian di sini bisa dibilang kualitasnya baik dan harganya sangat terjangkau,” kata Novi salah seorang pembeli yang tengah mencoba celana pendek. Novi mengaku kerap datang di hari bukaan barang (Jumat, Sabtu dan Minggu) untuk bisa mendapatkan pakaian-pakaian bekas yang berkualitas baik. “Hanya dengan Rp 50 ribu, bisa dapat pakaian bagus dan bermerk, dari luar negeri lagi,” ungkap Novi yang mengaku selalu merendam pakaian bekasnya dengan air panas dan setelah itu mencucinya sebelum dipakai. Harga pakaian bekas di Pasar Karang Sukun yang buka pukul 08.00 wita sampai sore hari ini berkisar antara Rp 20-Rp 50 ribu per pakaian. Harga masih bisa ditawar sesuai dengan kualitasnya. Setelah barang-barang berkualitas baik terjual, pembeli bisa memilih pakaian lainnya dengan harga yang relatif lebih murah, sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 30 ribu. “Tergantung kondisinya. Bahkan pakaian sisa (yang sudah lama) diobral dengan harga tiga Rp 10 ribu,” kata Haris. Omzet pedagang di Pasar Karang Sukun terbilang lumayan. Tidak kurang dari Rp 30 juta sebulan dapat dikumpulkan jika pasar tengah ramai. “Sekitar Rp 30 juta sebulan termasuk modal,” kata Ririn, yang menyewa lapak seharga Rp 500 ribu sebulan. -Naniek I. Taufan

Pembeli tengah memilih pakaian bekas di pasar pakaian bekas Karang Sukun Mataram


20

Nine

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Ajak Bayi Mengajar di Kelas Sembari menggendong bayinya yang baru berusia dua bulan, Ria Prastiani, berangkat ke sekolah tempatnya mengajar di Sekolah Dasar Negeri 1 Labuan Kananga, Bima, Nusa Tenggara Barat. Tawa dan celoteh anak desa yang menjadi murid-muridnya, adalah irama keseharian perempuan yang mulai mengajar setahun sejak lulus SMA ini. Bayi mungil anak keduanya ini selalu ikut dengannya saat ia mengajar di sekolah yang sangat sederhana ini.

S

ejak tiga bulan sebelum melahirkan, guru honorer daerah Bima ini, diberi keringanan oleh Kepala Sekolah SDN 1 Labuan Kananga, Haeruddin, S.Pd., sementara waktu masuk tiga hari, yakni hari Senin, Rabu dan Jumat. Toleransi lain yang diberikan oleh kepala sekolah ini padanya adalah mengajak serta bayinya “mengajar” di dalam kelas. “Saat saya mengajar, bayi saya tidurkan di meja guru,” ungkap perempuan sederhana yang mengawali pengabdiannya sebagai pendidik ini dari menjadi guru sukarela dengan honor Rp 20.000/bulan, sejak Januari 2004. Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh Ria dan toleransi yang diberikan oleh kepala sekolah ini, terlihat tidak lazim. Namun,

tidak bagi Ria, Haeruddin dan 10 guru lainnya di sekolah ini. Mereka saling memaklumi satu sama lain dan saling mendukung untuk tetap bersemangat mengajar di sekolah yang berada di ujung utara Pulau Sumbawa, yang berjarak 7 jam perjalanan dari Kota Bima ini. Bagaimana tidak, sekolah yang memiliki 187 murid ini, hanya memiliki empat ruangan yang dipakai bersama-bersama. “Kelas I dengan jumlah 60 orang dan kelas II 40 orang, belajar dalam satu ruangan secara bersamaan di perpustakaan sekolah. Mereka duduk lesehan memakai karpet. Kelas III yang berjumlah 24 orang dan kelas IV 23 orang, memakai satu ruangan juga secara bersamaan. Sedangkan kelas lima memiliki kelas sendiri dan kelas VI belajar menggunakan ruang

guru. Ditambah lagi dengan 15 anak yang menjadi murid pendengar yang secara bersamaan dengan kelas I dan II, bergabung di ruang perpustakaan,” ungkap Haeruddin. Bisa dibayangkan betapa riuhnya ruangan tersebut. Dalam proses belajar mengajar, kelas I dan kelas II saling membelakangi tanpa ada pembatas. Sedangkan kelas III dan IV belajar di ruangan yang sama, juga tidak ada pembatas, namun sama-sama menghadap ke arah yang sama. Menurut keterangan Haeruddin, sekolah yang berdiri sejak tahun 1943 dengan dinding papan (tahun 1987 baru dibangun ruang kelas permanen) ini, sebelumnya hanya memiliki tiga ruangan. “Tahun 2010 ditambah satu ruangan perpustakaan,” ujarnya. Dan

Honor Guru Rp 20 Ribu per Bulan Perjalanan Ria menjadi seorang pendidik, bermula dari ketiadaan tenaga guru di desa yang sangat jauh dari kelancaran berbagai akses tersebut. Tahun 2004, setahun setelah lulus SMA, Ria mulai mengabdi sebagai guru sukarela di SDN Tambora, sebuah sekolah terpencil di tengah perkebunan kopi di kaki Gunung Tambora. Selama satu tahun delapan bulan ia mengajar di sekolah ini. Ria yang diterima sebagai guru dengan ijazah SMA ini, hanya menerima honor sebanyak Rp 20.000 atau kadang-kadang Rp 50.000/bulan. Bagi orang lain, honor ini tentulah sangat kecil. Namun semangat Ria tidak pernah kecil untuk mengajar, melainkan ia memiliki semangat yang besar untuk membagi ilmu kepada murid-muridnya yang notabene adalah anak-anak yang tinggal di desa terpencil, daerah di mana ia juga dilahirkan. Ria juga tidak pernah malu menerima honor tersebut, karena baginya, mengabdi dengan ikhlas telahlah cukup baginya. Soal nilai uang adalah urusan kesekian baginya. Yang penting dan diutamakan olehnya adalah mengabdi.

Keikhlasan Ria yang pada tahun 2008 dipindahkan ke Sekolah Dasar Negeri 1 Labuan Kananga ini, akhirnya terbukti menaikkan derajatnya sebagai seorang guru, saat ia kemudian diangkat sebagai guru honorer daerah di tahun 2005 dengan honor Rp 200.000. Honor ini bertahan hingga tahun 2007. “Tahun 2008 sampai sekarang honor saya terima Rp 300.000, ditambah dengan honor lainnya Rp 450 yang saya terima setiap tiga bulan sekali,” kata perempuan kelahiran 28 Oktober 1983 ini. Dengan apa yang didapatkannya hari ini, Ria yang telah dua kali ikut tes PNS namun masih gagal ini, merasa sangat bersyukur. Dengan honor inilah, Ria sempat membiayai kuliah jarak jauh, D2 dan S1nya di IKIP PGRI Jember Cabang Dompu, di tahun 2006 dan tahun 2008. Di SDN 1 Labuan Kananga inilah, Ria dan 11 orang pengajar lainnya (Kepala Sekolah dan tiga guru berstatus PNS, tujuh guru sukarela dan satu guru dari program Indonesia mengajar), mengajar dengan semangat pengabdian. -Naniek I. Taufan

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Kesuma Tirta

Bekerja karena Hobi Berkecimpung di dunia desain grafis menjadikan ­ Drs. I Ketut Kesuma Tirta memperoleh kepuasan. Beragam projek sudah digarap, diantaranya desain logo , brosur dan company profile dan cover buku. Ia pun tidak pernah berhenti mencari ide-ide kreatif untuk menjadikan sebuah desain berkarakter dan memiliki nilai sebagai solusi kreatif bagi kliennya.

Ria bersama suami dan dua anaknya

alangkah gembiranya, Haeruddin, Ria dan juga guru lainnya, karena di Bulan Juni 2015, mereka akan mendapatkan dua RKB (Ruang Kegiatan Belajar Mengajar) dari APBN melalui Pemerintah Kabupaten Bima. Dalam kondisi serba kekurangan, Ria dan seluruh pengajar di sekolah ini, tidak pernah surut dalam mengajar meski mereka harus beristirahat di teras sekolah tiap kali jam istirahat tiba. “Kami istirahat di teras karena ruang

guru/kantor dipakai untuk kelas VI,” kata Ria. Itulah sebabnya bayinya selalu menyertai kala ia mengajar di dalam kelas. Selain itu, Ria menuturkan bahwa ia tidak bisa meninggalkan anaknya saat ia mengajar karena tidak ada yang menjaga, mengingat suaminya, Hasbullah, yang juga bekerja sebagai guru. Yang lebih penting dari semua itu, Ria ingin selalu memberikan ASI kepada bayinya setidaknya selama masa ASI ekslusif. -Naniek I. Taufan

Langganan Banjir tiap Tahun

Ria saat mengajar di SDN 1 Labuan Kananga

Inspirasi

Suka duka Ria bersama guru-guru berhari-hari. Bisa dibayangkan betapa dan muridnya di sekolah ini menyertai beceknya halaman sekolah mereka. “Seperjalanan mereka belajar mengajar. tiap tahun situasi yang sama pasti terjadi. Rasa khawatir selalu menggelayuti tatkala Tahun ini dua minggu yang lalu sempat musim hujan datang. “Tiap kali hujan banjir, tapi sekarang genangan air sudah datang, sekolah kami, khususnya halaman surut,” ujarnya saat dikonfirmasi situasi sekolah selalu tergenang banjir,” kata ibu terakhir sekolahnya. tiga orang anak (anak pertama meninggal) Dengan kondisi sekolah yang sederini. Beruntunglah, pondasi sekolah yang hana dan cenderung serba kekurangan tinggi membuat air tidak sering sampai ini, ke-12 tenaga pengajar di sekolah masuk ke kelas. ini, tampaknya memiliki semangat yang Jika hujan deras datang, menurut sama untuk mendidik anak-anak di desa Ria, genangan air di halaman sekolah yang jauh dari kota ini. Selain mengajar yang tidak memiliki papan nama ini, anak-anak di SDN 1 Labuan Kananga, bisa sampai perut orang dewasa. Inilah guru-guru ini juga mengajar kelas jauh yang membuat para guru dan murid yang jaraknya 10 kilometer dari sekolah kerapkali tertahan di sekolah, tidak bisa induk SDN 1 Labuan Kananga. “Secara keluar akibat tingginya genangan air. bergiliran, satu orang tiap satu minggu Namun begitu, mau tidak mau, mereka dikirim ke kelas jauh di Doro Lede,” kerapkali memaksakan diri untuk pulang ungkap Haeruddin. Menurut Haeruddin, karena tidak mungkin mereka sampai yang sejak 11 Maret 2006 menjadi kepala menginap di sekolah. “Kalau sudah begitu, sekolah ini, lokasi Doro Lede berada kami terpaksa harus keluar dari sekolah di perbukitan. Untuk sampai ke sana, dengan cara berjalan di tengah air yang demi mengajar anak-anak yang tinggal tingginya sampai perut,” ujar ibu dari lebih jauh lagi dari akses jalan raya ini, Agung Dwi Santoso (7) dan Nadira Putri dibutuhkan semangat “yang khusus”dari Sabila (2 bulan). para guru ini. -Naniek I. Taufan Tak ayal, mereka kerapkali pulang dengan pakaian basah. Ria mengaku sampai pernah menangis akibat situasi ini. “Saya pernah sampai menangis menghadapi situasi ini, kasihan muridmurid dan mungkin saya sedang sensitif kala itu,” ujarnya. Air yang menggenang itu, tidak akan langsung k e r i n g m e l a i n k a n Ria (tiga dari kanan), bersama rekan-rekan sesama guru di SDN 1 Labuan bisa bertahan hingga Kananga

bentuk visual. Misalnya ada pesanan membuat logo sebuah perusahaan. Di sini desainer grafis bertanggung jawab untuk mewujudkan komunikasi verbal tersebut menjadi sebuah karya komunikasi visual agar logo, mislanya mampu berbicara mencitrakan perusahaanya. Dikatakannya untuk proses, diperlukan waktu yang cukup panjang. Ia mencontohkan membuat sebuah logo. “Saya wajib ngobrol dengan klien. Kami mengomunikasikan apa usaha yang akan digarap, bentuk dan media yang diinginkan, warna , jenis huruf dan yang lainnya. Dari pedoman itulah saya akan mulai berkreasi. Saya Kesuma T ketika menjadi pembuat poster film biasanya membuatkan 5 ebih dari belasan tahun sudah alternatif untuk dipilih,” terang pemilik Kesuma T. begitu ia lebih Clinic Design di kawasan Jalan Glogor dikenal, berkarier sebagai Carik, Denpasar ini. seorang desainer grafis. KarIa melanjutkan , kalau aktivitas desain enanya ia juga seringkali diminta sebagai grafis dalam branding, dimulai dari merkonsultan desain oleh berbagai kalangan. ancang strategi identitas dan komunikasi Ia mengatakan sejak kecil sebenarnya ia serta visual brand. Merancang logo, memsudah senang melukis. Bahkan ketika SMP buat buku pedoman identitas, menerapkan ia menyimpan cita cita ingn menjadi tukang logo dan identitas visual lainnya ke dalam poster film. “Saya bisa berjam-jam duduk berbagai media, mulai dari kartu nama, hanya untuk melihat sebuah poster film. kop surat, sampai seragam karyawan, topi Hingga akhirnya saat kelas 2 SMSR hingga , hingga mobil. “ Semua ketentuan sudah kuliah,mimpi saya menjadi seorang poem- diperhitungkan, dari formulasi warna, buat poster film kesampaian.,”kenangnya campurannya, ukuran hingga jenis huruf atas aktivitas yang dilakoninya selama 4 , tinggal disesuaikan mau dipasang atau tahun tersebut . diletakkan dimana, dan klien pun tidak Begitulah, kesukaannya melukis akh- perlu bertanya lagi,” paparnya. irnya menggiring lelaki kelahiran 17 Juli Membuat logo atau yang lainnya , 1963 ini di tahun 84 memilih kuliah di kata Kesuma Tdengan semakin banyak Unud Jurusan Desain Grafis dan tuntas informasi yang bisa diberikan akan memdi tahun 1989. Ia sempat mengabdi di permudah merealisasikannya secara visual. Unud 3 tahun, namun karena tidak ada “Kalau yang minta dibuatkan tidak paham pengangkatan, ia pun beralih mengambil apa maunya ,bagaimana kami bisa mewuprojek event. Namun, itu tidak lama dan judkan,” cetusnya. “Apakah mereka ingin memilih bekerja di hotel dari tahun 1994 mau logotype (nama brand, berupa hurup) hingga 2004. Selain itu ia juga sempat atu logogram (lambang) atau gabungan mengabdikan ilmunya sebagai pengajar di keduanya. Sebab logo itu nantinya akan salah satu sekolah desain di Denpasar. menjadi salah satu lambang sebuah peruKetika menyebut desain grafis,menurut sahaan, artinya melihat logonya saja orang Kesume T adalah bidang keahlian yang tahu itu perusahaan apa,”lanjut penghobi menuntut kreativitas tinggi. Namun, yang trail adventure bisa ditangani sangatlah banyak malah bisa ini. berjalan ke segala arah kalau mau digali. “ P a d a “Sesungguhnya, desain grafis adalah bidang awalnya, saya ilmu yang meliputi banyak aspek mulai pikir, mem dari seni, komunikasi, teknologi hingga buat sebuah sosial budaya. Desainer grafis juga dapat logo, cukup bekerjasama dengan berbagai departemen hanya gambar dalam sebuah perusahaan,” papar suami di selembar Made Dewi Suhendri ini. kertas sudah Tugas utama seorang desainer grafis beres.Ternyakatanya sebagai pemecah masalah (problem ta tidak sessolver) untuk kebutuhan komunikasi dalam ederhana itu.

L

Kesuma Tirta

Ini saya ketahui karena banyak melihat di tempat kerja dahulu, di hotel Grah Hyatt. Saya belajar banyak ketika ikutan membantu kerjaan seorang desainer grafis dari luar negeri. Makanya tidak heran, kalau logo Garuda dihargai 1milyar. Sebab pengerjaannya pun tidak sebulan-dua bulan, melainkan berbulan-bulan,” ucap ayah dari Putu Gede Govinda Ananda Kesuma ini. Soal warna pun menjadi salah satu bahasan yang serius, sebab katanya setiap warna memiliki arti tersendiri. “Misalnya untuk usaha spa , sang pemilik suka warna merah, padfahal merah kurang tepat. Maka ia pun akan menyarankan memilih warna biru dan hijau yang lebih cocok,” kata Kusuma T yang saat ini tengah sibuk menangani pesanan stiker untuk motor trail. DOKTER DESAIN Begitu masuk ke tempat kerjanya jelas terlihat bahwa ruangan dipenuhi hasil karya kreatif. Di sebagian dinding berisikan karikatur beberapa figur di Bali. Begitu juga di suatu sudut ada tumpukan buku dengan cover hasil goresannya, juga setumpuk kaus dengan gambar aneka budaya lokal.”itu sebagai kenangan dari apa yang telah dikerjakan,” ucap anak keempat dari pasutri Jro Mangku Sekar (alm) dan Jeri Mangku Istri ini. Tempat kerjanya tersebut diberi nama Clinic Design. Di sana pulalah ia bersama timnya menjaga dan melakukan semua proses,

5

dari meracik, memasak dan akhirnya menyajikannya karyanya. Hingga kini beragam projek sudah ditanganinya. Meski diakui Kesuma T, masih banyak orang awam yang kurang menghargai profesinya. “Lucunya hanya untuk berjualan es yang sifatnya musiman saja minta dibuatkan logo. Sempat bingung juga, tapi karena diminta juga, ya dibuatkan juga dengan huruf kombinasi saja,” katanya tersenyum. Ditanya soal istilah seringnya ia disebut dokter desain oleh para relasinya, Kesuma T mengatakan , itu karena tugasnya seperti dokter pada umumnya kalau ia tidak ikut menangani, klien tidak akan puas. “Asisten sifatnya hanya membantu. Saya harus ketemu dengan klien, mereka akan tahu kalau bukan saya yang mengerjakan,”katanya. Selanjutnya ketika tolok ukur proses kreatif seorang desainer grafis yaitu wawasan termasuk daya persepsi, keterbukaan dalam berpikir. Penalaran, berupa daya apresiasi, kemampuan analisis, kemampuan berpikir logis. Estetik, daya apresiasi, daya ekspresi serta kemampuan berpikir kreatif. Untuk ini maka yang namanya mood itu harus terjaga. Bagi seorang Kesuma T, ketika merasa kurang produktif dengan mood kerja yang menurun, untuk menumbuh gairah kreativitasnya dan menggali ide, biasanya ia akan menaiki trailnya berkeliling kota atau diam di studionya dengan berselancar di internet. Saai ini Kesuma T mengatakan dirinya senang bekerja dengan memanfaatkan talenta dan hobinya.” Karenanya seberapa pun saya diberikan rezeki sama Tuhan dengan dakin liman saya sendiri itulah yang saya terima penuh syukur,” kata Kesuma T yang lebih memilih promosi dari mulut ke mulut ini, sambil menambahkan ia menjadi lebih bahagia lagi jika dapat membantu dan menyenangkan orang lain. Sedangkan soal hobi melukis juga terus dilakukannya. “Saya akui memang dominan melukis realis. Saya lebih suka melukis figur-figur. Makanya teman-teman banyak yang menyarankan kenapa tidak balik membuat poster film dan disarankan juga memebuat lukisan reralita ekspresi biar yang melihat tidak bosan,” katanya sembari mengatakan ini menjadi pertimbangan yang akan mengisi hari tuanya. Bicara peluang kedepan , dengan sederhana pembuat Komik Lutung di Tabloid Anak-Anak Lintang ini berujar bahwa bekerja di dunia seni, berarti juga bicara selera. “Mereka datang jika merasa cocok, sama seperti kita memilih tempat makan,”katanya menyudahi percakapan. – Sri Ardhini


6

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Pd. . S i, n ti r a M n a m o y N Ni

Bermain sambil Belajar Masa kanak-kanak adalah masanya bermain. Hal inilah yang dipegang Ni Nyoman Martini, S.Pd. dalam menjalankan kepemimpinannya sebagai Kepala PAUD Laksana Kumara. Karena itu pula, konsep melali sambil melajah menjadi acuan pengajaran di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) ini.

S

ebagai guru PAUD, diakuinya memang harus memiliki ke­ sabaran yang ekstra dalam menghadapi anak-anak yang notabene memiliki karakter berbeda-beda. Menghadapi anak yang berebutan mainan atau barang lain dengan temannya, atau anak yang menangis, menjadi rutinitas Nyoman Martini yang sudah menjabat Kepala PAUD sejak sekolah ini berdiri tahun 1997. “Biasanya anak-anak mena­ ngis karena situasi mereka lagi malas atau tidak mood. Biasanya anak tersebut kami gendong, elus-elus dan dipeluk. Ketika mereka sudah nyaman, baru kami menasihati pelan-pelan. Demikian halnya dengan menangani anak yang berebutan mainan,” tutur istri AA Ketut Putra Nurjaya ini. Sebagai Kepala PAUD, ia tak

banyak memegang kelas. Ia hanya mengajar di kelas B4. Selebihnya, tentu saja mengatur keberlangsungan proses pendidikan di PAUD milik Banjar Kaja, Panjer, Denpasar Selatan ini. Dalam proses pengajaran di PAUD ini, anak-anak di Kelompok A lebih banyak porsi bermain. Di kelas ini pendidikannya lebih diarahkan pada pembentukan mental anak, pengenalan lingkungan, mencari teman, belajar mandiri, dan sosialisasi. Di Kelas B, porsi pengajaran lebih diarahkan untuk persiapan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Ini juga sekaligus menjadi jawaban atas dilema pelarang­ an pengajaran baca-tulis di PAUD, sementara di SD awal, anak diharuskan bisa baca-tulis. “Pengenalan dengan angka dan huruf, kami lakukan dengan konsep bermain sambil belajar. Jadi, anak-anak tidak merasa

terpaksa menyerap pelajaran yang kami sisipkan dalam bermain tersebut,” jelas ibu dari AA Putu Embun Sanjaya Yudha, S.H., dan AA Made Candra Dwijayanthi, A.Md. ini. Karena itu pula, Nyoman Martini mengungkapkan dalam proses pengajaran banyak menggunakan alat peraga dari yang tak nyata menjadi nyata. Contohnya, guru memperperlihatkan gambar atau bentuk perahu, dan di bawahnya ada tulisan “perahu”. Jadi, ketika anak diajak melafalkan bersamasama kata perahu tersebut, selain tahu bentuk, secara tidak langsung pula anak merekam ejaan. Contoh lain, memperlihatkan gambar ekor, namun di bawahnya hanya bertuliskan “eko…”. Dari sini, otak anak dirangsang berpikir untuk bisa melengkapi kata tersebut. “Prinsipnya, anak belajar dengan senang, yakni dengan bermain,” tegasnya. Meski hanya “TK Banjar”— sebutan umum untuk PAUD milik banjar—prestasinya PAUD ini tak bisa dilihat sebelah mata, terutama di bidang seni lukis. Deretan piala lomba mewarnai dan menggambar berjejer di ruang kantor guru. “Sejak 2004 sampai sekarang, untuk lomba ini prestasi

Woman on Top

kami memang agak menonjol. Bahkan hingga ke tingkat provinsi,” ucap Nyoman Martini yang akrab disapa Bu Jero ini. Anak-anak yang senang, biasanya berlatih lagi di rumah, entah itu sebagai PR—sebutan

umum untuk hal-hal yang dikerjakan anak di rumah dan keesokan harinya diperlihatkan di sekolah. Namun, Nyoman Martini kurang setuju dengan sebutan “PR”. “Kami tidak pernah memberikan ‘PR’ kepada anak. Anak boleh belajar apa saja di rumah, baik menulis atau menggambar sesuai dengan kemauan merek sendiri,

yang keesokan harinya diperlihatkan kepada guru. Jika kami sebut ‘PR’ itu sama saja dengan membajak hak anak, mereka akan merasa terbebani. Karena, teknik di PAUD adalah belajar dan bermain agar tak kehilangan masa kanak-kanaknya,” tegasnya kembali. Selain mewarnai, ada ekskul wajib menari dan Bahasa Inggris. Di PAUD Laksana Kumara, ada 8 guru tetap dan 3 guru ekstra. Jam kerja mereka mulai pukul 07.30 sampai 12.00. Tiap bulan ada evaluasi perkembangan anak. Kalaupun ada permasalahan baik antara anak didik dan guru, orangtua murid, maupun antarguru, dikatakan Nyoman Martini, semua bisa dibicarakan. “Silahkan keluarkan ideide, masukan, maupun kritikan dengan bertatap muka langsung, sehingga bisa dibicarakan bersama dan diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar perempuan kelahiran 23 Oktober 1963 ini. Demikian juga halnya yang ia terapkan dalam rumah tangganya. Selain disibukkan dengan aktivitasnya sebagai guru PAUD sejak pagi hingga siang, selepas itu Nyoman Martini juga mengajar Budi Pekerti, BK, dan Agama Hindu di SMP PGRI 7 Denpasar. Sore hari ia bisa berkumpul dengan suami dan anak-anaknya, atau makan malam bersama. Untuk urusan bermasyarakat adat, ia mengaku tak terlalu banyak menyita waktunya kini. “Saya sudah punya mantu, lebih banyak dia yang ke adat. Saya lebih sering ngemong cucu,” tandasnya. –Inten Indrawati

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Tebarkan Cinta Kasih tiap Hari Menjelang Hari Valentine banyak tokotoko memajang cokelat, bunga mawar, boneka atau pernak-pernik yang bergambarkan hati berwarna pink, yang dapat dijadikan pilihan sebagai hadiah kepada orang yang kita sayangi. Bagaimana para remaja menyambut hari Valentine? Seberapa pentingkah Valentine untuk dirayakan?

P

utu Diah Aryastuti Sanjiwani menilai, hari Valentine tidak harus dirayakan dengan pesta yang berlebihan. Menurut mahasiswi semester IV Fakultas

Ekonomi Universitas Udayana ini, Valen­t­ine dijadikan momen untuk penyadaran diri untuk lebih mengerti makna kasih sayang itu sendiri. “Penyampaian kasih sayang sebenarnya tidak harus dilakukan hanya pada saat

hari Valentine. Namun, tiap hari, kita harus melakukan kasih sayang kepada semua orang, kepada orangtua, saudara, teman, maupun lingkungan kita,” ujar gadis berkulit putih ini. Bagi Sanji, begitu ia akrab disapa, ia sendiri tak pernah melakukan perayaan saat Valen­tine karena baginya, tiap hari harusnya tetap dijalani dengan kasih sayang. “Bisa saja, pas momen Valentine kita melakukan hal yang lebih besar. Misalnya, jika kita biasanya sibuk sempatkan waktu untuk membersihkan rumah atau memasak, atau membantu pekerjaan rumahtangga. Hal ini tentu membuat hati para orangtua senang. Hubungan de­ngan saudara juga bisa diperbaiki. Biasanya, kalau suka berantem, kurangi berantem. Termasuk dengan

Ungkapkan Sayang lewat Kartu

Menyelipkan pesan moral termasuk nilai kasih sayang kepada anak lewat dongeng

Menjadi guru memang penuh tantangan, terutama guru TK. Malahan tak sedikit pula yang menyebutkan peran yang dilakoni guru-guru TK ini diibaratkan baby sitter. Benar memang, karena realitanya guru-guru TK berhadapan dengan anak-anak di rentang usia 4 tahun-6 tahun. Bahkan, di bawah usia 4 tahun untuk kelompok bermain (Play Group). Hal ini diakui pula oleh Kepala Sekolah PG/TK Lingga Murti School, Sri Dewi Widianingsih, S.Pd. Ia yang lebih banyak terlibat menangani anak-anak PG ini, bahkan kerapkali memangku dan menggendong mereka. “Terkadang mood mereka tidak bagus sehingga menangis. Kalau sudah begitu, biasanya saya menggendong anak tersebut sampai merasa nyaman dan berhenti menangis, baru kemudian diajak bergabung kembali dengan anak yang lain,” ujarnya. Sentuhan-sentuhan kecil dengan mengelus, memeluk, mencium, ataupun menggendong dengan sayang dikatakannya salah satu bentuk kasih sayang yang bisa diberikan guru kepada anak didiknya ataupun orangtua kepada anaknya. Ketika anak merasa nyaman, saat itulah waktu yang tepat memasukkan pesan-pesan atau nilai-nilai moral yang baik kepada anak. “Pesan-pesan ini juga bisa diselipkan lewat dongeng,”

imbuh Wakasek AA Eka Yuliawati, S.Pd. Menurutnya, berbagai pesan moral yang disampaikan melalui dongeng akan lebih mudah diterima anak. Melalui dongeng, baik itu yang dibacakan langsung maupun yang diperagakan dengan panggung boneka, membuat anak lebih mengerti akan apa yang boleh dilakukan dan yang tidak, apa yang baik dan tidak baik, tanpa harus dengan cara memarahi ataupun melarang anak tanpa memberikan alasan yang jelas. Selain itu, dongeng dikatakannya juga dapat mengembangkan daya fantasi dan merangsang psikologis anak sehingga anak terdorong untuk berpikir kreatif. Juga, mengembangkan dan memperkaya kosakata bahasa pada anak. Menjelang Hari Valentine, 14 Februari mendatang, anak-anak diajak membuat kartu Valentine. Anak-anak diberikan berkreasi di atas kartu berwarna pink berbentuk hati tersebut. Mereka menulis ucapan “Selamat Hari Valentine” dilengkapi dengan nama mereka. Ada juga beberapa anak yang menambahkan gambar-gambar, seperti bunga dan rumah. Di bagian akhir, kartu itu ditempeli aksesori berwarna-warni sehingga terlihat cantik. Pada saatnya nanti, kartu-kartu kreasi mereka tersebut akan diberikan kepada orang yang mereka kasihi, seperti orangtua, kakak atau adik, gurunya, bahkan teman baiknya. –Inten Indrawati

Kreasi anak-anak Lingga Murti School dalam kartu Valentine

teman-teman. Lebih mengerti satu sama lain saja,” kata Sanji yang mengaku belum punya pacar ini. Ia tak menampik, banyak remaja melakukan perayaan Valentine secara berlebihan, apalagi ada yang sudah melewati batas sampai melakukan hubungan seksual. Sanji dengan tegas menolak, cara-cara negatif dalam melakukan perayaan Valentine. Ia sangat menyayangkan, remaja yang sudah memilki pacar melakukan perayaan Valentine di luar batas. “Kalau menurut saya sih, bagi yang punya pacar, lebih baik intropeksi hubungan, agar ke depannya lebih baik dan tidak sering berantem. Bukan dengan caracara negatif yang belum pantas dilakukan,” kata putri sulung Diah Yuniti dan Ketut Astawa ini. Sanji juga mengajak, para remaja sebaiknya melakukan perayaan Valen­

19

tine dengan hal-hal positif dan tidak melakukan hanya saat tanggal 14 Februari, tapi tetap menebarkan cinta kasih setiap hari. Sementara, menurut Anggi, siswa kelas I SMK di Denpasar ini mengatakan, ia tak pernah merayakan Valentine. Apalagi, itu bukan tradisi atau budaya orang Bali. Walaupun tak pernah merayakan Valentine ia setuju saja jika para remaja melakukan perayaan Valentine Asal tidak berlebihan. “Kalau sekadar memberi cokelat, bunga, atau hadiah yang lain, sah-sah saja. Asal tidak membebankan orangtua dan hadiah dibeli dari uang sendiri. Misalnya kita menyisakan dari uang saku,” kata Anggi. Namun, menurutnya, Valen­ tine lebih pas jika dirayakan bersama keluarga dengan makan bersama di rumah. “Kita bisa masak bersama dan menikmati masakan itu bersama keluarga. Pasti menyenangkan sekali,” ujarnya. Anggi juga sependapat de­ngan Sanji, kasih sayang memang selalu ditaburkan setiap hari. Implementasinya, kita selalu menghormati orangtua dengan menuruti nasihat me­reka, dan jangan pernah iri hati kepada teman. –Wirati Astiti

Kasih Sayang sebagai Bunyi yang Merdu Hari Valentine dijadikan momentum mengungkapkan rasa kasih sayang terhadap orang yang dikasihi, baik kepada orangtua, kerabat, kekasih maupun teman. Ada yang tak cukup hanya berperilaku penuh kasih sayang, tetapi memberi perhatian atau hadiah menarik kepada orang yang disayangi seperti bunga, kue, coklat bahkan pula sampai kegiatan pesta dan hura-hura. Menurut I Made G. Juniartha, S.Sos.H., M.Fil.H, dari segi budaya Bali mungkin sedikit berbeda. “Leluhur orang Bali juga mewarisi hari-hari istimewa dan disucikan penuh kasih sayang,” ujarnya. Ia menyebut ada Tumpek Krulut yang merupakan ritual sebagai bentuk sujud syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam manifestasi sebagai Dewa Iswara atas terciptanya suara-suara suci atau tabuh dalam keindahan dan seni. Makna dari krulut itu sendiri berarti lulut atau senang atau cinta, yang bisa disejajarkan dengan makna kasih sayang. Dalam agama

Hindu bukan hanya sebatas ritual semata tapi yang terpenting sebagai implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Unsur seni yang ada di setiap orang kemudian diimplementasikan menjadi berbagai peralatan seni, harus dimanfaatkan sebagai sarana memuja Tuhan. Lebih jauh makna terdalam dari perayaan Tumpek Krulut sebagai perayaan tentang cinta kasih persaudaraan semesta (lulut) yang diindentikan dengan hari Valentine. Kasih sayang seharusnya diwujudkan oleh setiap orang kepada semua orang seperti bunyi gamelan yang beraneka ragam itu menghasilkan bunyi yang merdu dan indah. Kebiasaan menyayangi ini diwarisi dari leluhur yang lebih kental bernuansa religius sebagai pengalaman ajaran agama Hindu yang menekankan kasih sayang kepada lingkungan alam (palemahan), sesama makhluk hidup (pawongan), dan kepada Sang Hyang Widhi Wasa(parhyangan). Juni menambahkan dampak positif remaja sekarang merayakan Valentine semakin menumbuhkan rasa kepedulian dengan sesama atau yang dia sayangi. Dampak negatifnya remaja masa kini terkadang lupa akan konsep budaya yang lebih dalam dan penuh makna, seharusnya memaknai hari kasih sayang tanpa mesti terlalu kebarat-baratan yang kadang melupakan kearifan lokal. “Merayakan hari Valentine boleh namun lebih bagusnya lagi momentum tersebut bisa dituangkan dalam keseharian penuh kasih, baik kepada lingkungan, sesama maupun bhakti kepada Tuhan yang dijadikan sebagai pelayanan kepada Tuhan,” ujar dosen IHDN Denpasar ini. -Sriadi


18

Kreasi

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Ibu dan Anak Kompak Kreasikan Cokelat Hari Valentine sudah dekat, tinggal menghitung hari. Beber­ apa toko, seperti toko alat tulis kantor dan sekolah sudah mulai menawarkan boneka, bunga mawar, dan cokelat yang identik mewakili hari kasih sayang ini. Momen istimewa ini pun menjadi ladang mengais rupiah bagi kedua kakak-be­ radik, Gek Ratih dan Gek Manik dengan berjualan cokelat.

P

eluang ini mulai dilakoni Gek Ratih dan Gek Manik menjelang Valentine tiga tahun silam. Dibantu sang ibu Sagung Alit, pertamakali mereka membuat cokelat lolipop dengan beragam bentuk dan warna, dan dijual di depan rumah. Peminatnya ternyata banyak, yang rata-rata adalah anak SD. “Waktu itu kami baru bisa membuat lolipop,” ungkap Gek Ratih. Pada Valentine tahun berikutnya, 2013, mereka sudah berani menawarkan cokelat valentine dengan beragam kreasi unik, selain lolipop, seperti cokelat peti, cokelat puzzle, cokelat I Love You, cokelat love mini, dan cokelat sekat. Tahun 2014 hinga sekarang, mereka menawarkan kreasi terbaru, yakni cokelat parcel boneka. “Jadi, dalam parcel boneka itu ada cokelatnya juga,” jelas Gek Ratih. “Ada juga model cokelat peti yang langsung bisa ditambahkan nama,” imbuk Gek Manik yang bertugas memasarkan kreasi cokelatnya ini. Ibu dan anak ini sangat kompak menjalani bisnis musiman ini.

Mereka sudah memiliki tugasnya masing-masing. “Ibu tugasnya melelehkan cokelat, Gek Ratih mencetak dan mengemas. Saya tidak pintar mengemas-ngemas, jadi hanya memasarkan saja,” ujar Gek Manik tersenyum. Sejak akhir Januari, ia pun sudah memasang status di facebook dan BBM-nya, “Valentine sudah dekat, yang mau order cokelat valentine, bisa langsung chat atau invite pin BB 27C5893”. Sampai H-8, orderan yang sudah masuk mencapai angka 155 cokelat dengan bergam bentuk, yang biasanya diambil mulai H-3 sampai H-1 Hari Valentine. Kakak sepupu Gek Ratih yang sudah berlangganan tiap tahun membeli cokelatnya ini pun sudah mulai memesan sejak minggu lalu. “Gek, saya pesan cokelat peti 5, cokelat I Love You 1, cokelat sekat 2nya 8, cokelat sekat 4nya 4. Ini DP dulu Rp 200 ribu ya, biar uangnya nggak keburu habis,” ujar Gek Bintang yang saat itu bertandang ke rumah mereka, khusus untuk mengorder cokelat. “Cokelat ini nanti mau saya kasihkan suami dan anak-anak, teman-teman di kantor, sahabat, dan gurunya anak-anak. Nanti kalau kurang, saya pesan lagi ya,” ucap Gek Bintang kepada Gek Ratih. Gek Ratih yang saat itu baru saja datang dari membeli cokelat batangan dan kotak bersama ibunya, hanya bisa tersenyum. “Garus..garus..garus..,” ucapnya sesaat setelah

menerima dua lembar uang seratus ribuan dari Gek Bintang. Diakui Sagung Alit yang memodali awal bisnis putri-putrinya itu, sekarang ini semua harga bahan pada naik. Kotak cokelat yang dulu harganya Rp 3 ribu sekarang jadi Rp 5 ribu. “Dulu modal kami sekitar Rp 1 juta, sekarang sudah Rp 1,5 juta,” ungkapnya. Meski demikian, ia tetap mendukung bisnis cokelat valentine putri-putrinya ini. Sagung Alit pun dengan sigap mengeluarkan sebuah buku dan mengajarkan cara pencatatan yang benar kepada kedua putrinya, untuk memudahkan mengecek orderan yang masuk dan yang sudah diambil. Awalnya Coba-coba Awalnya Gek Ratih dan Gek Manik hanya iseng belajar dengan

7

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Kirim Uang ke Rekening Keluarga

Rumah dan Sawah hanya Impian Sagung Alit kompak bersama kedua putrinya Gek Ratih dan Gek Manik membuat kreasi cokelat valentine

kerabatnya membuat cokelat dengan beragam bentuk. “Dari sana kami terinspirasi untuk berbisnis cokelat saat Valentine,” imbuh Gek Manik yang kini tengah meneruskan kuliahnya di Fakultas Hukum Unmas, Denpasar ini. Sejak memulai bisnis ini tiga tahun silam yang dimulai dari cokelat lolipop, berlanjut tahun-tahun berikutnya dengan bentuk cokelat yang lebih bervariasi. “Untuk penjualannya, kami mulai nodongin teman-teman di sekolah, teman-teman kuliah, dan beberapa kerabat,” ujar Gek Ratih. Dari sanalah kemudian, informasi bisnis cokelat mereka meluas dari mulut ke mulut. Umumnya mereka yang sudah pernah memesan tahun sebelumnya, pasti akan memesan lagi pada tahun berikutnya. Kemungkinan ini dikarenakan, selain harganya lebih murah, cokelat

kreasi mereka memakai cokelat rasa buah sesuai dengan warnanya. “Cokelat warna yang kami pakai adalah cokelat rasa, seperti warna pink rasa stroberi, kuning lemon, ungu blueberry, biru mint, bukan memakai cokelat warna suntikan

dari pewarna,” jelas Gek Ratih. Proses pembuatan kreasi cokelat ini diakuinya harus dilakukan dengan sabar. Proses awal, cokelatcokelat batangan yang dibelinya itu dilelehkan dulu, baru kemudian dicetak

Di salah satu sudut Bandara Internasional Lombok (BIL), dekat loket pembayaran boarding pass, Partini (45), terlihat kebingungan. Sebenar­nya, sejak dari pintu masuk bandara, ia sudah terlihat bingung. Saat melakukan check in, Partini menyerahkan dua buah koper berukur­ an besar yang dimasukannya ke dalam bagasi. Setelah check in, ia pun naik ke ruang tunggu di lantai dua.

N

sesuai pesanan. Setelah jadi didinginkan dengan ditempatkan dalam kulkas. Pembuatan kreasi cokelat yang terdiri dari beberapa warna dikatakannya agak rumit, karena harus menunggu cokelat dengan warna pertama dingin dulu, baru kemudian bisa dituangkan cokelat dengan warna kedua dan berikutnya. Meski demikian, Gek Ratih mengaku enjoy melakoninya. “ Ya..seru aja kita berkreasi dengan cokelat,” ucapnya. Selain pesanan, hasil-hasil kreasi cokelat valentine-nya ini pun akan mulai digelar H-4 di depan rumah mereka di Jalan Drupadi No. 10 Denpasar. “Kami sudah siapkan satu meja dan satu payung besar untuk berjualan,” ujar Sagung Alit.–Inten Indrawati

amun, baru saja ia akan melewati pintu masuk keberangkatan domestik, petugas yang memeriksa tiketnya memintanya untuk masuk ke ruang tunggu keberangkatan internasional. Rupanya, tujuan Partini ke Kuala Lumpur, Malaysia. Petugas sempat memberitahunya agar membayar boarding pass terlebih dahulu sebelum berangkat. Itulah sebabnya Partini kembali ke loket boarding pass. Memakai jilbab dan memegang dompet, tiket pesawat serta tastas yang banyak ditentengannya, ia terlihat kerepotan. Berjalan ke sana kemari sambil memperhatikan orang-orang yang tengah mengantri membayar boarding pass. Dari tadi ia hanya berdiri memperhatikan penumpang pesawat yang bergantian membayar. Beberapa waktu kemudian, Partini mendekati seorang ibu yang baru saja membayar boarding pass. “Berapa harganya,” tanya Partini yang tidak tahu apa yang hendak dibelinya itu. Ibu itu pun menjawab sembari langsung berlalu. Beberapa orang yang ditanyanya menjawab sama dan segera berlalu. Namun, Partini tetap diam di tempatnya di samping loket itu, dengan wajah yang terus bingung. Sampai ia bertanya pada seorang perempuan muda yang kemudian menolongnya. Merasa iba pada Partini yang kebingungan, perempuan muda tersebut keluar dari antrian dan mengajaknya bicara. “Ibu mau ke mana?” tanya perempuan muda itu kepada Partini. “Mau ke Malaysia, berapa harga ibu beli itu,” kata Partini balik bertanya sambil menunjuk boarding pass yang dipegang perempuan muda tersebut. “Ini harganya Rp 45.000, tapi kalau ibu mau ke Malaysia, harus bayar Rp 150.000,” kata perempuan muda ini. Mendengar itu, raut wajah Partini langsung sedih. Ia mundur beberapa langkah. Terlihat wajahnya makin bingung. Partini hanya

mempunyai uang yang disimpan di dompetnya, Rp 60.000. “Uang saya tidak cukup, saya tidak punya HP untuk menghubungi keluarga saya. Mereka tadi hanya mengantar saya lalu pulang kembali ke kampung di Bara Bali Lombok Tengah,” kata Partini sedih. Untunglah perempuan muda yang hendak terbang ke Jakarta bersama anaknya ini berbaik hati. Ia pun mengajak Partini duduk di bangku tunggu penumpang di luar ruang tunggu. Mereka pun tampak mengobrol. Perempuan muda ini memberikannya uang untuk membayar boarding pass. Setelah itu, Partini terlibat obrolan dengan orang yang membantunya ini. Di sanalah Partini menceritakan kisahnya yang sedih. Dengan dialek Melayu yang kental, Partini bercerita bahwa ia telah menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia sejak lima tahun lalu. Selama lima tahun itu ia tidak pernah pulang ke Lombok karena ditahan oleh majikannya. Rindu akan kampung halamannya membuat ia setengah memaksa meminta izin pulang, sampai akhirnya ia diizinkan oleh majikannya pulang selama sebulan. “Ini kepulangan pertama saya setelah lima tahun bekerja di Malaysia,” katanya. Sebagai seorang TKW, kehidupan Partini di negeri jiran itu terbilang baik-baik saja. Ia mendapatkan majikan yang baik dan cocok dengannya, sampai-sampai ia tidak diizinkan pulang. Gaji Partini tiap bulan, selalu ditabungnya. Tiga bulan sekali ia mengirimkan uang tersebut kepada orangtuanya untuk membeli sawah dan membangun rumah mereka. Sesungguhnya penghasilan yang didapat Partini selama di Malaysia, sesuai dengan harapannya ketika pertama kali memutuskan untuk menjadi TKW, setelah suaminya meninggal. “Saya ingin mendapatkan penghasilan yang layak untuk sebuah kehidupan yang layak, minimal memiliki tempat tinggal

yang layak pula,” ujarnya. Apalagi saat itu ia meninggalkan dua orang anak yang kecil-kecil yang diurus oleh orangtuanya yang sudah sepuh. Dengan penuh kebanggaan, Partini mengirim uang untuk anak dan keluarganya. “Dalam benak saya, rumah setidaknya sudah beratap dan punya sedikit sawah yang bisa digarap kelak setelah saya pulang usai menjadi TKW,” ujar Partini yang mengaku kecewa setelah tiba di Lombok. Sorot matanya tiba-tiba meredup. Partini

­t ertunduk dan diam beberapa saat. Ia pun mulai bercerita. ANAK JADI PELIPUR LARA Dengan wajah berseri-seri, sebulan yang lalu Partini mendarat di Bandara Internasional Lombok di Lombok Tengah, setelah lima tahun meninggalkan tanah kelahirannya ini. Ia dijemput oleh keluarga, menggunakan mobil

sewaan. Sepanjang perjalanan, Partini bercerita dengan ceria. Tawa dan canda mengiringi kebahagiaan Partini dan dua anaknya sepanjang perjalanan. Begitu tiba di rumah, Partini langsung ke rumah orangtuanya. “Begitu masuk rumah orangtua saya, saya sedikit bertanya-tanya, bagian mana dari rumah ini yang diperbaiki dengan uang yang saya kirim,” kata Partini dalam hati.

­N amun, ia menduga kemungkinan rumah yang dimaksud dibangun itu, bukan rumah orangtuanya, melainkan rumah baru yang tidak jauh dari rumah orang tuanya itu. Ia berpikir esok hari saja ia pergi melihat rumah tersebut, sekalian dengan sawah yang tidak luas itu. Hari itu Partini menghabiskan waktu bersama kedua anak dan orangtua serta keluarga dekatnya yang banyak datang menyambutnya. Ia tidak banyak bertanya. Keesokan harinya, Partini baru bertanya pada orangtuanya

tentang aset-aset yang diperkirakannya ada. Partini sungguh kaget mendengar perjelasan orangtuanya bahwa tidak sedikit pun aset dari puluhan juta uang yang telah dikirimkannya itu. Hanya sebidang tanah tiga are dekat rumah orang tuanya yang bisa ia lihat sebagai hasil keringatnya menjadi pekerja rumah tangga di negeri orang. “Keluarga saya yang rupanya menghabiskan uang tersebut,” kata Partini tanpa mau menyebut siapa keluarganya tersebut. Tiga bulan sekali, ia selalu mengirimkan uang ke kampung melalui rekening keluarganya tersebut. Alangkah sedihnya Partini mendapati nasibnya seperti itu. Ia sendiri mencoba sabar dan memilih tidak ingin ribut dengan keluarganya itu. Lelah dan capek bekerja, tidak terobati. “Untung ada anak-anak saya yang bisa menghibur hati saya,” katanya. Atas janji pada majikan yang baik padanya, hari itu Partini kembali ke Malaysia. Tak lama kemudian panggilan boarding terdengar. Partini melangkah sedikit lunglai. Ia berharap perjalanan kali ini akan mengantarkannya kembali ke bandara ini dua tahun kemudian. Partini menarik nafas panjang. Sembari berterima kasih atas bantuan perempuan muda itu, ia mengumpulkan segala tenaga untuk memulai bekerja lagi demi anak-anaknya. “Saya tidak akan lagi mengirim uang ke rekening keluarga itu dalam jumlah yang banyak, melainkan saya tabung untuk anak-anak saya. Ditanya bagaimana dan apa yang akan terjadi padanya dalam perjalanan itu hanya dengan membawa uang Rp 60.000? “Nanti di Kuala Lumpur saya dijemput oleh majikan,” katanya sambil menyalami perempuan muda itu sembari mengucapkan selamat jalan pada perempuan muda yang terlihat iba padanya. Perempuan muda itu menyelipkan sejumlah uang sebagai bekal perjalanannya. -Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Anak Melihat Hubungan Seksual

Orangtua Jangan Panik

Bagi orangtua yang tidur satu kamar dengan anak. Harap berhati-hati. Apalagi jika orangtua ingin melakukan hubungan seksual. Jangan mengira anak yang sudah tertidur benarbenar sudah terlelap. Bisa saja ia tiba-tiba terbangun dan melihat apa yang dilakukan orangtuanya. Jika anak melihat adegan seksual di depan mata, apa solusinya?

S

eorang anak ngambek di sebuah objek wisata. Ia ingin membeli mainan. Namun, permintaannya tak dikabulkan si orangtua. Si anak akhirnya berteriak dengan mengatakan ia melihat orangtuanya melakukan hubungan seksual. Kontan saja si orangtua panik. Mereka menyeret si anak untuk pergi menjauh. Pengalaman ini tentu saja membuat si orangtua menjadi tidak nyaman. Mereka tak ingin aktivitas seksualnya diketahui publik. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang menjadi ranah privat ternyata disampaikan di depan umum. Menurut Retno I. G. Kusuma, Psikolog, ada halhal yang harus diperhatikan orangtua ketika ingin melakukan hubungan seksual. “Jika tidur

bersama anak, pastikan anakanak benar-benar tidur pulas. Jika tidak yakin, gunakan kamar lain. Namun, jika saat melakukan hubungan seksual di kamar kemudian anak terbangun dan melihat, jangan langsung panik,” ujar Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini.

Orangtua bisa memberi penjelasan, hubungan seksual yang dilakukan orangtua itu adalah wujud kasih sayang. Penjelasan dalam

Retno I.G. Kusuma, Psikolog

bahasa sederhana ini lebih mudah dipahami anak. Penyampaiannya pun harus dalam suasana tenang dan tidak terburu-buru. Kadang persepsi anak bisa berbeda. Apa yang ia lihat bisa jadi sebuah permainan “kuda lumping”. Kalau persepsi anak seperti itu, biarkan saja. Artinya daya tangkapnya tentang persepsi seksual belum ada. Namun, lebih baik jika anak diberi pemahaman secara perlahan sesuai dengan usianya. Orangtua jangan khawatir terlalu berlebihan dan merasa apa yang dilihat si anak akan terus terekam dalam memorinya. “Agar anak tidak terus merekam hal tersebut dalam otaknya, segera lakukan hal-

hal yang menyenangkan yang membuat memori lama tertumpuk. Ajak anak untuk bermain, berolahraga atau hal-hal yang menyenangkan bagi dirinya. Memori yang menyenangkan ini akan menumpuk memori lama. Ibaratnya memori yang lama menjadi hambar dan terlupakan. Orang dewasa pun demikian. Tidak semua hal yang lampau bisa kita ingat karena memori dalam otak kita sudah ditumpuk memori lain,” tandas Kasubsi Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RS Sanglah ini. Retno juga mengingatkan orangtua agar tidak mengancam anak yang pernah melihat mereka melakukan hubungan seksual. Pengancaman untuk diam ini malah membuat anak dalam kondisi tidak nyaman. Salah satu risikonya, ketika anak menjadi tertekan dan akan meluap jika mereka tidak bisa menahan diri. Anak merasa ia berhak untuk mendapatkan kompensasi dari sikap diamnya. Misalnya, semua permintaannya harus dipenuhi. Jika tak dipenuhi, bersiaplah untuk menerima konsekuensinya. Karena itu, psikolog yang juga aktif di lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2) Bali ini menyarankan orangtua untuk tetap tenang dan tidak reaktif dalam menyikapi hal tersebut. Ketenangan dalam

menanggapi adegan “lolos sensor” ini malah membuat anak merasa tenang. SIMPAN KOLEKSI DENGAN BAIK Pengalaman anak melihat adegan seksual tidak hanya yang langsung, tetapi ada yang tidak langsung. Misalnya, mereka menonton adegan seksual di televisi atau komputer. “Bisa saja ada orangtua yang punya koleksi DVD, kemudian si anak menemukannya lalu menonton. Ini bisa dicegah dengan cara menyimpan “koleksi” dengan baik dan jauh dari jangkauan anak,” ungkap Retno. Pendampingan orangtua saat anak menonton TV khususnya TV kabel karena kadang ada adegan ciuman yang lolos sensor. Orangtua jangan langsung panik dan menutup mata anaknya. Hal ini malah akan membuat anak mencari sendiri apa yang terjadi dan bagaimana hal tersebut dilakukan. Orangtua harus memberi penjelasan, ciuman dan pelukan yang dilakukan itu merupakan ekspresi kasih sayang dari dua orang yang memiliki hubungan resmi. Ciuman itu menandakan mereka saling menyayangi. Hal yang juga kadang dilakukan orangtua terhadap anak. Ciuman dan pelukan ini sebagai bentuk kasih sayang.

Griya

Lampu Hias Unik

Bahan apa pun bisa menjadi apa pun, jika kita mau berkreativitas. Itu pula yang dilakukan Tikno, pengerajin lampu hias yang mencoba mengaplikasikan beberapa material seperti, batu,kayu, batok kelapa, dan sintetis ini menjadi beragam bentuk yang bernilai ekonomis.

T

ikno bersama istrinya memulai bisnis lampu hias 12 tahun lalu. Waktu itu produk lampu hiasnya memakai bahan gerabah (teracota). Konsumennya kebanyakan orang Eropa. Namun sejak krisis global, pemasaran lampu hias ini pun kena imbasnya. Penjualan menurun. “Lampu hias gerabah hanya bertahan sekitar 4 tahun. Lalu, saya mencoba banting stir de­ ngan memakai material lain dan menangkap pangsa pasar lokal yang lebih berkelanjutan,” jelas Tikno.

Perkembangan pasar lokal sekarang dikatakan Tikno lebih menyukai lampu hias bermaterial batu dan kayu. Sebagian besar diperuntukkan hotel dan vila. Jenis batu yang dipakai adalah paras putih Yogya yang dipahat sesuai pesanan konsumen. “Ini pesanan hotel,” ujarnya seraya menunjuk satu model lampu hias paras de­ ngan pahatan motif ukiran Bali. Untuk memudahkan, modelmodel lampu hias tersebut diberi nama sesuai dengan motifnya. Seperti, model pucuk, kamboja, bambu, frame cross, frame batu kerikil. Untuk material kayu,

dominan memakai kayu MDF. Selebihnya, kayu jati dan mahoni. Sementara untuk kap lampu, memakai material kain, dengan beragam bentuk pula, seperti rectangle, minang, kotak pipih, kerucut, oval, dan tabung. Beragam lampu hias unik tersebut dipajang di showroom-nya di Jalan By Pass Ngurah Rai, Tuban, Bali. –Inten Indrawati

Tikno

–Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

Pemburu dan Karung yang Hilang

Seorang pemburu mengejar seekor rubah di dalam hutan. Rubah itu menghilang dan pemburu itu tersesat. Ia mencari-cari karung tempat menyekap hewan buruannya. Namun tak berhasil. Made Taro Seekor tikus melihat karung itu tergeletak. Ia masuk ke dalamnya, lalu beristirahat dengan aman dan nyaman. Tak lama kemudian seekor kambing mendekati karung itu. “Siapa di dalam?” tanya Kambing. “Aku, si Tikus Ramah-tamah,” jawab Tikus. “Siapa kau?” “Aku si Kambing Lemah-lembut. Boleh aku masuk?” “Masuklah! Kita lanjutkan perkenalan dan persahabatan di dalam saja.” Baru saja mereka berdua berkenalan, seekor kelinci lewat di depan karung itu. “Siapa di dalam?” tanya Kelinci. “Kami, si Tikus Ramah-tamah dan si Kambing Lemah-lembut. Siapa kau?” “Aku si Kelinci Sopan-santun. Bolehkah aku masuk?” “Masuklah! Kita lanjutkan perkenalan dan per-

sahabatan di dalam saja.” Dari jauh tampak seekor rubah berlari tergopohgopoh. Ketika lewat di depan karung, ia bertanya, “Siapa di dalam?” “Kami si Tikus Ramah-tamah, si Kambing Lemah-lembut dan si Kelinci Sopan-santun. Siapa kau?” “Aku, si Rubah Pemberani, Cerdas dan Berakal Budi. Izinkanlah aku masuk!” Si Tikus Ramah-tamah, si Kambing Lemah-lembut, dan si Kelinci Sopan-santun bermusyawarah. Mereka ragu, apakah rubah itu benar-benar berani, cerdas dan berakal budi. Akhirnya mereka bertiga sepakat menerima anjing hutan itu sebagai sahabatnya. “Masuklah! Kita lanjutkan perkenalan dan persahabatan di dalam saja.” Rubah Pemberani, Cerdas dan Berakal Budi itu segera masuk ke dalam karung. Ia tampak ketakutan dan bernapas ngos-ngosan. “Dor!” Sebuah tembakan menggelegar mengenai karung itu. Hewan-hewan yang baru mengikat tali persahabatan itu berlarian tungganglanggang. Pemburu, si penembak itu, segera membuka karung miliknya. Di dalamnya tergeletak seekor rubah yang diburunya sejak tadi.

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Beragam lampu hias unik

17


16

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Titik Wahyani

Sekolah adalah Rumah Kedua Enam orang siswa masuk ke ruangan membawa sederetan kudapan. Ada es krim ketela ungu, kue mata roda singkong, es campur, teh jahe, dan ketela ungu santan. “Ini hasil praktik anak-anak kelas VIII,” ujar Titik Wahyani, Kepala SMPN 7 Denpasar, saat mengobrol dengan Tokoh, pekan lalu di ruangannya. “Silakan dinikmati ya bu,“ ujar salah seorang siswi dari mereka sembari tersenyum ramah. “Begitulah siswa kami di sini, kami ajarkan untuk ramah dan bersikap kekeluargaan,” ucap Titik, setelah siswisiswi tersebut keluar ruangan.

M

enurut Titik, sebagai kepala sekolah tugas yang tak mudah. “Saya disini lebih menekankan sikap dan karakter yang didasari rasa tanggungjawab, kedisiplinan, dan contoh kepedulian terhadap sesama,” tutur istri Ketut Wija ini. Dari 1105 jumlah siswa di SMPN 7 Denpasar, ia tak menampik ada beberapa yang bermasalah. Sikap mereka yang tidak peduli, setelah ditelusuri, se­ bagain besar penyebabnya karena keluarga yang tidak harmonis. Salah satu contoh, disebutkan,

ada siswi yang menggunakan rok mini. Padahal berdasarkan aturan, rok siswi ukurannya 10 cm di bawah lutut. Hal tegas dilakukan Titik. “Kami langsung mengganti rok siswi tersebut dengan rok baru dari sekolah. Rok mini tadi kami potong agar tidak diper­ gunakan kembali. Kami sudah menyiapkan beberapa seragam sekolah untuk mengantisipasi hal seperti itu,” ucap Titik. Contoh lain, jika ada siswa yang dua hari tidak masuk tanpa keterangan, langsung dicek ke rumahnya. Karena itu, Titik tak tanggung-tanggung ikut turun tan­ gan, mengendarai motor masuk

gang-gang untuk meninjau lokasi rumah siswa. Menurut Titik, sesuai dengan visi sekolah tugasnya memang untuk melayani anak-anak, dan memberi keteladanan. Hal itu ia juga tunjukkan kepada para guru dan staf sekolah. Satu contoh, ia rutin masuk pagi pukul 07.00. Kalau ia melihat ada guru sering terlambat,. Titik akan memang­ gil guru tersebut secara pribadi. Ia melakukan pendekatan dengan hati. Ia berusaha mengedepankan prinsip tidak menggurui. Itu se­ bagai implementasi rasa manyama braya yang ia terapkan di sekolah. “Bagi saya, sekolah adalah rumah kedua saya sehingga semua ang­ gota sekolah saya anggap seba­ gai keluarga. Apapun yang saya

Titik Wahyani

lakukan dengan senang hati,” imbuhnya. Titik memang banyak melaku­ kan gebrakan sejak ia dipercaya menjadi pimpinan di sekolah yang berlokasi di Monang Man­ ing tersebut. Dalam waktu tujuh tahun menjadi kepala sekolah, banyak hal yang berubah. Ge­ dung sudah bertambah, ada beberapa prestasi siswa SMPN 7 Denpasar masuk tingkat nasional. Hal yang menarik, siswa tak lagi menerapkan piket giliran. Tapi setiap pagi, semua siswa ikut

Edukasi bertanggungjawab atas keber­ sihan dan kerindangan ling­ kungan sekolah. Setelah itu, siswa berdoa bersama sesuai agama mereka masing-masing. Titik punya target ke depan, ia ingin menjadikan SMPN 7 Denpasar sekolah berkarakter dan berwawasan budaya, peduli lingkungan dan cerdas secara pengetahuan. Titik berpesan kepada orangtua, tugas mencerdaskan bukan hanya kewajiban para guru dan pemerintah, namun, orangtua juga memegang peran­ an penting. Usia mulai TK, SD, dan SMP, merupakan masa pent­ ing dalam pertumbuhan anak. Karena itu, ia sangat berharap, para orangtua lebih memberikan perhatian dan kepedulian ke­ pada anak-anak mereka. Karena tantangan anak masa kini san­ gat berbeda. Kini, mereka bisa membuka internet yang mereka yakini benar padahal belum tentu informasi yang didapat itu benar. Apalagi, para siswa SMP, remaja yang sedang labil ingin mencoba hal baru. “Kami disini semua ikut terlibat memperha­ tikan sikap siswa, termasuk sat­ pam sekolah,” kata Titik tentang tips suksesnya dalam memimpin. –Wirati Astiti

Kreasi siswa SMPN 7 Denpasar

“Air Ajaib” Sebatu Menikmati liburan, tak hanya dapat dilakukan ke tempat wisata. Liburan bisa dengan melakukan pembersihan diri atau melukat untuk kesegaran jiwa. Ada satu tempat unik untuk melukat, yakni di Desa Sebatu, Tegalalang Gianyar.

U

ntuk mencapai tempat ini tidak­ lah sulit, sekitar 40 km dari Kota Den­ pasar. Sebelum mencapai tempat ini, Anda akan melewati indahnya sawah terasering di Ceking. Jika kebingungan, banyak petunjuk jalan, dan bisa bertanya kepada masyarakat sekitarnya. Tempat melukat Sebatu ini masih terkesan keramat. Peng­ unjung masih belum seramai Tirta Empul Gianyar. Untuk mencapai tempat melukat Sebatu memang membutuhkan tenaga ekstra,

karena lokasinya sangat terjal dan jauh ke bawah melewati beberapa anak tangga yang sangat menguras tenaga. Mulai dari parkir kendaraan sekitar 300 meter kita akan me­ nemui dua patung penjaga. Bia­ sanya, pengunjung menghaturkan canang sebelum masuk. Kemudian kita melewati anak tangga yang jumlahnya puluhan. Anda sebaiknya pelan-pelan saja, karena lokasi­ nya sangat terjal. Di pertengahan tangga, Anda akan menemukan air pancuran yang disebut beji untuk membersihkan diri. Setelah meng­

haturkan canang, Anda bisa men­ cuci kaki, muka, dan rambut, se­ bagai pembersihan awal. Kemudian Anda kembali melewati anak tangga yang terjal sampai bertemu peling­ gih Pura Dalem Pingit dan Kusti. Biasanya, pengunjung menghatur­ kan pejati dan persembahya­ngan menggunakan kuangen sari uang kepeng. Setelah sembahyang, Anda langsung dapat menuju tempat melukat yang berupa air terjun yang sangat besar. Airnya sangat dingin dan hentakannya sangat keras. Saat kaki menyentuh pertamakalinya, terasa dingin menyengat. Tunggu beberapa saat, sampai tubuh dapat menyesuaikan diri. Yang sangat unik dan ajaib, menurut orang-orang, warna air akan berubah jika seseorang yang melukat badannya terisi hal negatif

(black magic). Air akan berwarna keruh yang menandakan hal negatif dari badan orang tersebut sedang

dibersihkan. Khusus wanita yang sedang datang bulan dan anak kecil yang belum tanggal gigi tidak diper­ bolehkan melukat di tempat ini. Setelah selesai melukat, Anda bisa berganti pakaian di tempat yang telah disediakan. Kemudian, lakukan sembahyang yang terakhir sebelum kembali pulang menyusuri anak tangga. Dalam perjalanan pulang, Anda akan merasakan kesegaran yang luar biasa disamping air terjunnya sangat dingin, suasana dan udara yang sejuk membuat perjalanan melukat Anda sangat bersahaja. Jangan lupa, ada warung kecil di perjalanan, yang menjual makanan khas Sebatu, seperti daun paku, pisang goreng nangka, atau hanya sekadar menikmati hangatnya kopi sembari menikmati kesegaran udara Sebatu. –Wirati Astiti

Dara

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Bartendris Dibayar lebih Mahal

Menjadi bartender tidak hanya dilakoni kaum pria. Wanita juga bisa menjadi bartender atau yang dikenal sebagai bartendris. Meski terkesan lemah, para wanita itu mampu melakukan juggling, bermain asyik bersama gelas shaker dan botol bacardi itu.

N

i Putu Agusty Ismayani dan I Dewa Ayu Mas Mediantari adalah dua wanita yang ingin memilih profesi sebagai bartendris. Keahl­ ian mereka sudah diuji saat Bali Travel News (BTN) Cocktail Break yang berlangsung di Wanti­ lan Bali TV. Walau belum berhasil sebagai pemenang, tetapi mereka cukup senang karena sudah dapat menunjukan bakat dan keahlian­ nya dalam juggling.

Agusty Ismayani membuat Party Duck sedangkan Mas Me­ diantari menyuguhkan Sky Beach. Jika dibandingkan dengan para bartender, penampilan kedua bartendris ini memang jauh beda. Gerakan badan, kecepatan me­ nangkap botol ataupun gelas serta kepiawaian dalam mengolah minuman memang kurang. Waktu lima menit seakan lama bagi mereka. Namun, jangan ditanya soal semangat, keduanya tampil dengan ekspresi ceria.

“Saya hanya mempersiapkan diri selama dua minggu. Maklum dadakan sekali, yang penting bisa mendapat pengalaman dan serti­ fikat sebagai SIM dalam menda­ patkan pekerjaan,” kata Agusty, siswi kelas III SMK Mengwitani Jurusan Tata Boga ini serius. Dara kelahiran Badung, 28 Mei 1997 itu kemudian mengata­ kan, meski bukan menjadi sebuah cita-cita namun dirinya sangat serius menggeluti profesi seba­ gai bartendris. Di samping lebih berpeluang mendapat pekerjaan, juga honor seorang bartendris itu lebih besar dari pada bartender. “Kata orang, bartendris itu diper­ lukan saat ini. Apalagi, kuliner Bali sudah menjadi sebuah daya tarik tersendiri,” tegasnya. Demikian juga yang dikatakan Mediantari. Sebagai calon pekerja pariwisata, dirinya merasa perlu memiliki keterampilan di bidang

Bartender Muda bisa Ciptakan Resep Baru Bartender dan barten­ dris muda bergaya dan bergerak bak penari yang sedang trance. Itulah aksi para peserta Bali Travel News (BTN) Cocktail Break yang ber­ langsung di Wantilan Bali TV, Sabtu (31/1). Belasan peserta dari beberapa SMK di Bali saling adu kepiawaian meracik minu­ man dengan cita rasa baru. Peserta dilarang menggu­ nakan bahan minuman be­ ralkohol, namun mereka tak kehilangan akal. Mer­ eka berhasil menciptakan resep-resep anyar yang bercitarasa tinggi. Bahan-bahan yang di­ gunakan merupakan fruit juice dari jeruk, apel, se­ mangka, markisa, jeruk, kelapa, stroberi dan lain­ nya. Sari buah itu diolah dengan memadu jenis minuman lain yang sudah disesuaikan dengan ta­ karan yang mereka buat sebelumnya. Meski sebagai bar­ tender pemula, namun jenis minuman yang mereka hasilkan lumayan enak, segar dan khas.

Dalam memberikan namanama dari setiap resep yang ada juga tergolong unik. Ada yang memberi tema sesuai de­

ngan jenis bahan yang dipakai, pengalaman dari sang bartender, nama dari hasil re­ nungan dan ada yang memberi nama yang lahir dari inspirasi mereka. “Saya mem­ beri nama minuman itu Duck Fly yang lahir dari sebuah inspirasi,” kata I Wayan Andre Septiana, peserta dari SMK Pariwisata Meng­ witani, Badung. Minuman hasil ola­ han itu kemudian disa­ jikan dengan hiasan yang disesuaikan de­ ngan tema yang mer­ eka angkat. Ada yang memberi hiasan dari kulit buah yang me­ nyerupai ekor bebek dan ada yang mem­ beri daun tumbuhan. Nama-nama resep itu diantaranya Duck Fly, Skawima, Bali Travel Mocktail, Pepsi Blue, Summer Fruit, Say-Mocktail, Rosella Tooth, Dragon Sunrise, Widmala Ethnic, Lechy Rosko, Party Duck, dan Sky Beach.

9

Agusty Ismayani dan Mas Mediantari

itu. Saat ini, wanita yang ber­ profesi sebagai bartendris sangat jarang, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. “Saya ingin me­ nangkap peluang itu,” ucap siswi kelas III Jurusan F&B Servis SMK Mengwitani ini kalem. Keduanya kompak menga­ takan ajang bartending ini dapat melatih sikap, melatih ketelitian,

keseimbangan dan yang terpent­ ing belajar manajemen waktu. “Walau tak berhasil sebagai pe­ menang, tetapi kami bangga mengikuti kegiatan ini sebagai bentuk untuk mengembangkan keterampilan, kegiatan ini juga untuk melatih sikap, mental da­ lam mengarungi kehidupan,” ujar mereka. –Darsana

Masing-masing peserta mendapat waktu lima menit dalam menciptakan minuman barunya itu. Sebelumnya, mereka mengumpulkan resep lalu mem­ peragakannya diatas panggung. Disela-sela mewujudkan karya dari resepnya itu, masing-masing peserta melakukan atraksi juggling dengan gaya dan gerak yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Mas­ ing-masing peserta menampilkan gaya unik. Para bartender muda ini tak hanya piawai mencipta sebuah resep baru. Mereka juga tampak lihai dalam bermain juggling. Mer­ eka menari-nari dengan keahlian bermain gelas shaker dan botol bacardi. Dua shaker, tiga bacardi, empat bahkan lebih mereka asyik melempar-lemparnya ke udara. Terkadang menyilang, lurus dan berputar-putar. Ketika bacardi masuk tepat ke dalam shaker penonton bersorak senang, seperti menyaksikan sepak bola ketika striker me­ masukan bola ke gawang lawan. Gaya dan gerak mereka sangat indah. Badannya terkesan lentur yang bergerak kesana kemari seperti seorang penari. Terkadang berputar-putar, meliak-liuk hingga posisi merendah dalam menang­ kap gelas dan botol. Musik tak hanya sebagai ilus­ trasi aksi mereka, tetapi sudah menjadi bagian dari permainan mereka. Musik itu mampu mem­ berikan aksen-aksen pada gerak

dan gaya mereka. Misalnya pada permainan botol yang berada di tangan, di siku ataupun sedang berada di dada. Firman Sinaga, M.Si., Par., salah satu juri mengatakan, akan banyak resep-resep minuman baru yang lahir dari ajang BTN Cocktail Break ini. Generasi muda akan menjadi lebih spor­ tif dan dapat melatih sikap, mental, dan kreatif. “Generasi harus didukung untuk menjadi seorang tenaga pekerja pari­ wisata khususnya dalam bidang cocktail,” ujar dosen Stipar Triatma Jaya ini. Dua juri lainnya, I Ketut Darmayasa (Ketua Asosiasi Bartender Indonesia Bali) dan Putu Endra Mulana Jaya (Finalist of Internasional Open Bartend­ er Bagus Championship 2013 di Kuala Lumpur) mengatakan, lomba bartender ini sebagai kegiatan positif. Tak hanya kre­ atif menciptakan minuman baru, tetapi juga sebagai ajang untuk melatih sikap dan mental. Dari keputusan dewan juri, kreasi Gede Aldi Suardana dari SMKN 4 Denpasar, Putu Angga Kesuma (SMK Kertha Wisata Denpasar), Robert Hendrika V.R (SMK Kertha Wisata) dan Gede Pande Adnyana (SMK Pariwisata Dalung) sebagai juara I, II, III dan Juara Harapan. The Best Mocktail diberikan kepada I Kade Juni Kusuma Dewa dari SMKN 3 Denpasar. –Darsana


10

Bugar

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Crown Gigi Tiruan kuat menahan tekanan kunyah. Selain itu juga dapat memperbaiki bentuk gigi ke keadaan semula dan mengembalikan fungsinya.

Drg. Nyoman Putri Sukaruniati Penulis adalah dokter gigi di Rumah Sakit Siloam Bali Apakah yang dimaksud dengan Crown Gigi (Mahkota Gigi)? Crown gigi atau mahkota gigi adalah sarung/jaket yang berbentuk seperti mahkota gigi asli yang digunakan untuk mengembalikan kekuatan, fungsi dan estetik dari gigi yang bermasalah. Seringkali kejadian yang tidak terduga dan di luar kehendak kita menDrg. Nyoman Putri Sukaruniati jadikan gigi kita bermasalah. Namun, penambalan seringkali bukan solusi terbaik karena yang terganggu adalah bagian gigi yang tampak terlihat dari luar. Untuk itu perlu dicarikan jalan keluarnya untuk mengembalikan rasa percaya diri Anda, dengan jalan pembuatan tutup cover gigi atau dalam dunia kedokteran gigi disebut Crown.

Kondisi-kondisi gigi yang perlu dibuatkan Crown:

Pasca Kecelakaan Beberapa kejadian kecelakaan menyebabkan benturan yang sangat keras pada gigi depan, sehingga gigi depan dapat menjadi patah. Dengan dibuatkan crown maka gigi yang patah tadi menjadi terlindung dan bentuknya menjadi seperti gigi normal.

Untuk melindungi gigi yang memiliki lubang terlalu besar Jika Anda memiliki lubang pada gigi yang terlalu besar, hanya dengan menambalnya saja tidaklah cukup karena lubang yang terlalu besar menyisakan hanya sedikit bagian gigi sebagai retensi tambalan sehingga memungkinkan tambalan tersebut sering terlepas.

Gigi pasca perawatan saraf dan dilakukan penambalan biasa akan rentan pecah pada tambalan dan gigi.

Gigi yang berubah warna. Gigi dapat berubah warna karena berbagai faktor seperti: - Trauma benturan pada gigi. Trauma pada gigi ini membuat perdarahan. Darah tersebut dapat merembes ke lapisan dentin, sehingga gigi nampak berubah warna menjadi abu-abu kehitaman, biru, atau kecoklatan. - Obat-obatan. Konsumsi antibiotik tetrasiklin saat pembentukan gigi dapat menyebabkan garis coklat, abu-abu, atau kehitaman pada gigi. Obat lain yang dapat mengganggu warna gigi setelah pembentukan gigi adalah minosiklin. - Gigi yang sudah mati (nonvital). Iritasi saraf gigi akibat kuman, bahan kimia, atau pun secara mekanis dapat mengakibatkan matinya saraf gigi. Sisa jaringan mati di dalam gigi akan membuat gigi berubah warna menjadi kecoklatan.

Paska perawatan saluran akar (Root Canal Treatment) Gigi yang telah dirawat saluran akarnya biasanya hanya tersisa dinding yang sudah tipis akibat bolong yang sudah besar ditambah dengan pembuatan akses untuk dilakukan perawatan saluran akar akan membuat gigi paska perawatan akan menjadi rapuh dan sangat mudah pecah jika hanya ditambal biasa. Oleh sebab itu untuk menghindari gigi dari risiko pecah/patah, pembuatan crown pada gigi paska root canal treatment sangat disarankan. Crown berfungsi untuk melindungi gigi karena terbuat dari bahan yang

Crown dapat terbuat dari All Porcelain (porselen/keramik) atau campuran porselen dan metal

Crown All Porcelain Crown ini terbuat dari porselen yang merupakan jenis dari keramik gigi. Crown jenis ini memiliki estetika yang sangat bagus dan biasanya digunakan pada gigi depan yang membutuhkan nilai estetika tinggi.

Crown Campuran Porselen dan Metal (Porcelain Fused to Metal/PFM) Crown PFM terbuat dari campuran logam alloy sebagai struktur bagian dalam crown dan porselen sebagai bagian terluar crown. Crown ini sangat kuat dan biasanya digunakan pada gigi belakang yang lebih membutuhkan kekuatan pengunyahan dibandingkan estetika.

Style

Gaya Busana Kerja

LPD Kota Denpasar Sederhana tapi berwibawa. Up –to-date namun tetap sopan dan nyaman dikenakan. Itulah sebagian konsep busana kerja berbahan endek dalam beragam motif yang dipersembahkan pada panggung Denpasar Festival (Denfes) beberapa waktu lalu.

K

egiatan yang diprakarsai Pemkot Denpasar melalui Disperindag Kota Denpasar dengan menggandeng Dekranasda Kota Denpasar ini sukses menampilkan peraga busa-

na yang terdiri dari pasangan karyawan –karyawati Lembaga Perkreditan Desa (LPD) dilingkungan Kota Denpasar. Mereka berhasil menampilkan endek dengan ciri khas beserta inovasinya menjadikannya jauh

dari kesan kuno. Busana –busana kerja dengan cutting dan detil simpel ini diyakini menjadi salah satu faktor yang mampu menambah semangat kerja serta menunjang percaya diri. – Sri Ardhini

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

15


14

Mitos

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Waspadai Saraf Kejepit

Yoga Bangkitkan Aura Kecantikan Setiap perempuan itu cantik. Cantik tidak saja bicara tentang fisik, tapi juga kepribadian. Menjadi cantik dari dalam (inner beauty) sama pentingnya dengan kecantikan dari luar. Menumbuhkan kecantikan dari dalam, salah satunya dapat dilakukan dengan yoga secara rutin. Yoga tidak saja menjadikan stres menurun, tapi mampu meningkatkan aura positif yang menimbulkan rasa percaya diri serta ketenangan bagi diri sendiri bahkan keluarga. Sehingga perempuan akan tampil lebih elegan dan cantik batiniah (inner beauty). Hal ini disampaikan Bunda Dian dari Pasraman Markandeya Yoga Bali ditemui usai mengajar di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Denpasar.

Y

oga, katanya, mem­ buat peredaran darah ke otak lebih lancar sehingga nu­ trisi ke kulit wajah lebih baik, alhasil dapat membuat kulit wajah dan leher mulus, sehat, segar, serta mata berbinar cemerlang. Berbagai penelitian pun membuktikan bahwa latihan yoga yang konsisten menin­ gkatkan kadar hormon serotonin, dan menurunkan kortisol ( hor­ mon stres) sehingga memberikan ketenangan, kebahagiaan dan mem­ perbaiki depresi serta meningkatkan kekebalan tubuh. Yoga, lanjutnya, merupakan induk dari senam serta berbagai jenis beladiri, tari, musik, nya­ nyian, bahkan seni bercinta hingga penyembuhan.Yoga melancarkan aliran oksigen di dalam tubuh, se­ hingga tubuh pun sehat dan wajah lebih segar dan awet muda. Sebagai seni dan olah jiwa serta raga, yoga

latihan yoga, gerakan memiliki arti berbeda, baik untuk tubuh maupun pikiran. Duduk, misalnya, untuk relaksasi. Sementara berdiri untuk membangkitkan energi. Dengan yoga, kita dapat mengarahkan en­ ergi atau aliran panas yang berasal dari dalam tubuh pada sesuatu yang bersifat konstruktif.

Bunda Dian

berfungsi pengendalian pikiran, per­ napasan, dan latihan fisik. Gerakannya yoga cenderung halus dan tidak terburu-buru. Dalam

SEHAT ITU CANTIK Yoga disebutkan dapat me­ ningkatkan aura positif. Sesung­ guhnya apa itu aura? “Aura adalah cahaya yang dipancarkan oleh tubuh yang menandakan kondisi fisik, emosi kesehatan, mood dan lain-lain yang ditunjukan oleh warna yang berbeda. Setiap orang memiliki aura namun kepadatan, kejernihan, atau luas lebar dan daya tarik satu dengan lainnya juga berbeda,” ujar Bunda Dian. Dikatakannya aura juga meru­ pakan pancaran dari medan elek­ tromagnetik yang ada di syaraf kita.

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

S Otak merupakan pusat saraf manusia, milyaran sel saraf ada di otak. Itulah sebabnya kalau orang mengamati atau memfoto aura, lebih mudah di sekitar kepala, bukan di kaki atau perut, karena disekitar kepala-lah pancaran aura yang paling besar. Mengetahui hal ini, Bunda Dian mengatakan banyak orang ingin bisa mencerahkan auranya, tujuan­ nya bisa bermacam-macam. Namun intinya, sekali aura terpancar, maka kehidupan juga akan berubah. Ada inner power dan inner beauty yang terpancar dari tubuh Anda, yang bukan hanya menandakan seseorang itu sehat tapi juga membuat orang di sekitar menjadi lebih suka dan sayang kepada kita. Tidak banyak kalangan bisa me­ lihat keberadaan aura yang men­ gelilingi tubuh, kecuali seseorang yang memiliki daya pengliatan lebih.

Walaupun demikian, kita manusia dapat merasakan aura melalui pen­ golahan energi di dalam tubuh, yaitu melalui olah nafas dan meditasi atau dalam disiplin ilmu yoga disebut den­ gan pranayama dan dhyana yoga. Jika Anda ingin tahu lebih lanjut cara untuk menjadi cantik dari dalam (inner beauty) sehingga bisa me­ mancarkan aura kecantikan, dengan wajah yang lebih bercahaya hadirilah Workshop Yoga Aura “Membang­ kitkan Aura Kecantikan dalam Diri “ pada Minggu, 15 Pebruari 2015, pukul 09.00 Wita di Wantilan Bali TV. Di sana Bunda Dian akan lebih jauh dan lebih banyak lagi bicara mengenai teknik-teknik yang simpel bagaimana membangkiutkan aura , melatih aura , memahami potensi diri dan segala hal yang berkaitan dengan manfaat positif terapi aura. – Sri Ardhini

araf kejepit atau HNP (Herniated Nucleus Pulposus) dapat terjadi pada leher, punggung, pinggang, dan tulang ekor. Penyebab saraf kejepit adalah gerakan atau aktivitas yang tak ergonomis, seperti jatuh, kecelakaan, mengangkat atau mendorong benda berat dengan posisi yang salah. Berikut penjelasan Prof. Dr. dr. AA Raka Sudewi, Sp. S (K). Mitos: Saraf kejepit bisa ter­ jadi pada siapa saja, tua, muda, gagah, sehat. Fakta: Benar. Saraf kejepit memang lebih berisiko tejadi pada usia tua, karena kondisi jaringan ikat antara penghubung tulang satu dengan yang lain, kekenyalan dan elastisitasnya sudah berkurang. Saraf kejepit juga bisa terjadi bagi yang berusia muda, yang umumnya lebih dikar­ enakan aktivitas atau mengambil/ mengangkat beban yang berlebi­ han. Seperti saat nge-gym, harus berhati-hati mengangkat beban, sesuaikan dengan kemampuan.

Jika dipandang perlu, berlatihlah dengan pengawasan instruktur. Aktivitas yang memberikan beban berlebih pada tulang belakang terutama leher dan pinggang berisiko saraf kejepit, apalagi jika memiliki faktor bawaan. Mitos: Yang berpotensi terke­ na saraf kejepit adalah mereka yang pernah mengalami kecela­ kaan atau yang over gerak. Fakta: Benar. Saraf kejepit disebabkan karena struktur jarin­ gan penghubung tulang belakang tidak siap menerima berat beban yang melebihi dengan posisi tidak ergonomis. Kecelakaan yang men­

imbulkan cedera tulang belakang akan menggeser posisi tulang dan menekan saraf paravertebral. Hal ini menyebabkan rasa nyeri yang hebat karena tulang belakang yang bergeser ini akan menekan jaringan syaraf pusat. Saraf kejepit bisa juga disebabkan keluarnya nucleus pulposus dari discus melalui robekan annulus fibrosus keluar menekan medullas pinalis atau mengarah ke dorsolateral menekan saraf spinalis sehingga menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Mitos: Saraf kejepit bisa se­ babkan kelumpuhan. Fakta: Benar. Saraf terjep­ it mengganggu fungsi motorik (gerakan) dan sensorik (rasa) ke arah kaki. Jika tak segera diatasi, fungsi motorik akan menciut, yang dalam waktu panjang bisa me­ nyebabkan kelumpuhan. Demiki­ an halnya dengan gangguan fungsi sensorik membuat kaki mati rasa.

gejala yang umum dialami, seperti pada bagian tubuh tertentu akan merasakan kesemutan, panas seperti terkena cabe, nyeri yang amat sangat, mati rasa, sakit yang menusuk di bagian pinggang, ujung jari terasa kaku atau geng­ gaman tangan menjadi lemah, kepala sakit di salah satu sisi, dada depan terasa sesak, sakit di salah satu sisi kaki, kurang tenaga pada kaki atau kelumpuh­an pada kaki, terasa panas atau kaku pada kaki, leher terasa kaku, sulit untuk menoleh ke salah satu sisi kiri atau kanan. Jika di saraf tepi, rasa nyeri dominan terutama di daerah ek­ stremitas seperti superior (daerah lengan dan tangan) dan imperior (tungkai atas bawah sampai kaki), ter­ gantung lokasi jepi­tan, apakah di daerah leher atau pinggang bawah.

11

Bagaimana penanganannya? Ada 2 penanganan pend­ erita saraf kejepit, yakni dengan konservatif atau overatif. Cara konservatif, dengan pemberian obat-obatan dan fisioterapi. Jika klinisnya memburuk (tidak ber­ hasil) dan nyeri terus bertambah, kaki melemah, gejala memburuk, satu-satunya jalan hanya dengan operasi di tulang belakang. Saraf kejepit ini sewaktu-waktu bisa kambuh kembali. Jaga jangan sampai kumat. “Pencegahannya, hanya dengan menjaga aktivitas. Seperti, tidak mengangkat beban melampau batas kemampuan. Sesuaikan dengan usia, karena usia sangat berpe­ngaruh pada elastisitas antara penghubung tulang belakang yang makin berkurang, kaku dan mu­ dah robek,” tandas Prof. Raka Sudewi. –Inten Indrawati

Apa gejala saraf kejepit? Jika terjepit di tulang belakang, ada mati rasa setinggi kejepit ke bawah. Adanya sumbatan pada aliran saraf sumsum tulang bela­ kang ini bisa juga menyebabkan tidak bisa kencing, BAB, gang­ guan fungsi genetalia. Selain,

LEMBARAN HIDUP BARU DENGAN HIV Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar. “Dok, saya seorang pemilik butik kecil-kecilan. Dua tahun lalu suami saya meninggal dunia dan sebelum meninggal dokter memberi tahu suami saya terinfeksi HIV. Saya baru tahu kalau dulu sebenarnya suami saya mantan pengguna narkoba. Akhirnya saya juga memeriksakan diri lewat sebuah yayasan dan saya pun terinfeksi. Saya sudah mendapatkan pendampingan dari sebuah support group yang isinya para perempuan muda, dan saya bertekad bulat untuk memulai lembaran tahun baru ini dan ke depannya hidup lebih baik walau ada HIV dalam darah saya. Apa yang perlu saya lakukan ya dok?” (Mita, 27 thn) Sebuah pertanyaan plus pernyataan yang menggugah dan membuat saya. Sesungguhnya virus yang bernama HIV akan berada terus dalam tubuh seumur hidupnya. Karena itu tekadnya buat memulai lembaran baru dengan lebih baik sudah selayaknya diberi dukungan dan acungan jempol yang banyak. Tetapi perlu diingat, walau masih banyak yang memvonis ses­ eorang yang sudah terinfeksi HIV akan pasti menjadi mati, tetapi kenyataan­ nya dengan kemajuan ilmu kedokteran dan kesehatan, seorang pengidap HIV positif bisa hidup lebih lama dan tetap sehat selama menjaga kesehatan dan pola hidupnya dengan baik dan memi­ num obat ARV pada saat dibutuhkan nanti dengan teratur dan disiplin. Dengan melakukan ini seseorang yang HIV positif akan terhindar masuk ke

fase sakit atau fase AIDS, sekaligus juga terhindar dari vonis mati, karena sesungguhnya status pengidap HIV saat ini sama saja dengan pengidap penyakit kronis lainnya. Semua kini sudah mulai berubah. Saya teringat dengan kisah David Polson di Australia yang didiagnosis mengidap HIV pada 1984, dan menjadi kasus heboh karena dia segera disarankan untuk mempersiapkan surat wasiat dan hal-hal lain guna mempersiapkan kematiannya saat itu. Waktu itu, mer­ eka yang mengidap HIV diperkirakan akan meninggal paling lama dalam 10 tahun. Namun, sekarang di usia 57 tahun, Polson masih bertahan dan tetap sehat karena selalu menjalankan hidup sehat dan teratur mengkonsumsi ARV. Ia menghabiskan waktunya untuk mem­ berikan penyuluhan mengenai bahaya

HIV kepada masyarakat luas. Demikian juga sekelompok anak muda yang men­ jadi koresponden saya beberapa waktu lalu, mereka ini komunitas pengidap HIV di Amsterdam dalam sebuah kes­ empatan bilang, bahwa komunitas ini justru membuat mereka lebih gembira, lebih bergairah dengan segala aktifi­ tas positifnya yang saling mendukung, sering membuat event-event keren di ruang publik, dan uniknya, saking menginspirasi dan aktifnya kelompok ini melakukan kegiatan kreatif dan terlihat tetap sehat malah ada beberapa anak muda yang tidak HIV berminat untuk bergabung sebagai anggota aktif. Betapa hari ini HIV dan AIDS harusnya sudah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Tidak perlu lagi ada stigma dan diskriminasi.

lebih menghargai hidup dan menghargai orang lain. Di berbagai kesempatan mereka sering berkumpul buat meno­ long orang lain dan mereka merasa mendapat kepuasan batin karena dapat berguna bagi orang lain. Dengan status HIV positif ini juga membuat pengidap HIV bisa menjadi lebih sering memer­ iksakan diri secara rutin ke dokter dan support group-nya, buat kontrol kondisi sekaligus memeriksakan keadaan kes­ ehatan yang lain.

hubungan seksual dengan kondom sebagai pencegah penularan HIV ke pasangan. Dengan kemajuan teknologi kedokteran, dengan berkonsultasi den­ gan dokter, Anda tetap bisa untuk hamil dan memiliki keturunan dengan meng­ gunakan metode PMTCT (Prevention of Mother To Child Transmission), di mana si ibu diminta meminum obat ARV, persalinan nanti dengan operasi sesar dan diharapkan tidak menyusui bayinya jika memungkinkan.

Jadi, Apa Yang Harus Dilakukan? Rumus utamanya adalah berpikir positif dan senantiasa menjalankan pola hidup sehat. Justru dengan status HIV itu ibarat pegangan untuk selalu tetap menjaga kesehatan. Lebih menjaga diri dengan lebih hati-hati dan berseman­ gat dalam bekerja. Tetap beraktifitas seperti biasa, tentu saja dengan tidak mencoba melakukan upaya penularan ke orang lain. Berikut tips nya:

Lanjutkan minat dan hobi Anda Seorang perempuan HIV positif lain yang saya kenal juga sempat menginspirasi banyak perempuan HIV positif lainnya. Dengan berprinsip hidup sederhana dari pekerjaannya sebagai seorang graphic designer dia bisa menabung dan membuatkan anaknya ke asuransi kesehatan dan asuransi pendidikan. Dari hobinya memasak, dia juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan lewat usaha kateringnya, mengembangkan hobi fotografinya dan juga mendapatkan tambahan penghasi­ lan dari sana, juga menambah banyak teman lagi, yang berarti menambah orang-orang yang akan memberikan dukungan kepada Anda buat tetap hidup optimis.

Hidup dengan HIV positif itu juga punya kelebihan Ada banyak hal yang menginspirasi saat bicara tentang HIV dan AIDS. Salah satu yang unik adalah banyak orang yang mengidap HIV positif justru

Safe sex Jika suatu saat Anda ingin menjalank­ an kehidupan bersama pasangan baru dan akan ada aktivitas seksual, tentu saja tetap melakukannya aktivitas seksual dengan prinsip “safe sex”. Melakukan

Tetaplah hidup sehat Tetaplah mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga teratur, tidur cukup, dan hidup lebih optimis. Kekebalan tubuh kita naik-turun sesuai gaya hidup kita. Merokok, minum alkohol, dan depresi da­ pat mempercepat penurunan kekebalan tubuh. Jangan lupa jika suatu saat sudah harus meminum obat ARV, hendaknya digunakan teratur dan terus-menerus. Penghentian obat ARV akan mengakibat­ kan virus berkembang biak lagi, bahkan juga berisiko obat menjadi resisten. Nah, dengan menjalankan itu se­ mua, tentu saja akhirnya pengidap HIV akan tetap bisa produktif dan men­ jalankan hidup dengan menyenangkan seperti layaknya orang normal lainnya. Manfaatkan kelompok dukungan atau support group yang ada jika ada masalah berhubungan dengan keadaan diri sejak awal, sehingga bisa diatasi lebih maksimal masalah yang berhubungan dengan infeksi HIV nya. Jadi, buat me­ masuki tahun baru, Anda bisa membuka lembaran baru dengan tetap sehat dan optimis.


Kuliner

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

12

Sedap dengan Makanan Rumahan

Chef Juliada

Tiga makanan ini sangat sederhana dalam pembuatannya, dan cocok disajikan sebagai menu keluarga. Walaupun makanan rumahan, bukan berarti kalah sedap. Kreasi Chef Juliada dari Bali Bird Park, Gianyar ini sangat menggugah selera. Perpaduan ikan tongkol dan kemangi, membuat harum pepes ikan ini dan menjadikan perut lapar. Cumi pun bisa diolah dengan bumbu tradisional Bali. Ada juga kue manis si terang bulan sebagai penutupnya.

Kenus Mebasa Bali Bahan: 500 gr : cumi-cumi segar 1 butir : jeruk nipis, ambil airnya 4 sdm : minyak untuk menumis Bumbu yang dihaluskan: 10 butir : bawang merah 5 siung : bawang putih 7 buah : cabe merah keriting 2 buah : cabe merah besar,buang bijinya

3 butir : kemiri 3 cm : kunyit 2 cm : kencur 2 cm : jahe 1 sdt : terasi 1 sdt : garam 1 batang : serai, iris tipis bagian putihnya 2 cm : lengkuas, memarkan 2 lembar: daun salam 100 ml : air

Kue Terang Bulan Keju dan Cokelat Bahan: 250 gr : tepung terigu 1 sdm : tepung sagu 50 gram : gula pasir 25 ml : santan kental 350 ml : air matang 1 sdt : baking soda 2 butir : telur ayam 25 gr : susu bubuk Keju secukupnya Cokelat ceres secukupnya Mentega secukupnya Susukental manis secukupnya Cara membuat: - Larutkan soda kue dengan sedikit air. Aduk rata. Sisihkan. - Siapkan wadah, masukkan tepung terigu, tepung sagu, susu bubuk, dan gula pasir. Aduk rata. Masukkan telur yang sudah dikocok lepas, santan kental, larutan soda kue, dan vanili cair. Aduk rata.

Masukkan air sedikit demi sedikit. Aduk rata. - Kocok adonan sehingga tampak gelembung-gelembung udara. Lakukan sekitar 10 menit. Lalu diamkan adonan selama lebih kurang 30 menit. - Panaskan cetakan terang bulan atau cetakan kue lumpur. Tuang ½ sendok sayur adonan, tekan dengan menggunakan punggung sendok. Gunanya agar adonan menempel di pinggir cetakan. Tunggu sampai muncul bintik berlubang, lalu taburi gula pasir. Tutup dan masak sampai matang. - Penyelesaian : Angkat martabak yang sudah matang. Oles dengan mentega. Taburi keju parut dan beri susu kental manis secukupnya.(Untuk 5 orang).

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Menu Spesial

Momen Hari Kasih Sayang (valentine day) dapat kita nikmati dengan bersantap bersama keluarga. Dua sajian spesial kami persembahkan untuk menyambut Hari Kasih Sayang. Nasi goreng kambing dan berbeque ribs, dapat Anda jadikan pilihan untuk menu spesial. Menu ini kreasi Nengah Warta, ­Executive Chef Tropical Group. Selamat mencoba.

Pepes Pindang Tongkol Kemangi - B a h a n : 2 b u a h t o n g k o l ukuran sedang, dibuang tulangnya, dipotong miring 3 bagian; 1 sdt air jeruk nipis; 8 tangkai daun kemangi; 2 buah cabe hijau, dipotong-

potong serong; 2 cm lengkuas, diiris korek api; 2 batang serai, diiris; 3 lembar daun salam, dipotongpotong; 1/2 sdt garam; 1/4 sdt merica bubuk; 1 sdm

kecap manis; daun pisang untuk membungkus - Bumbu ulek kasar (lebih enak dibakar sebentar sebelum diulek): - 8 butir bawang merah; 3 siung bawang putih; 5 buah cabe merah; 2 cm kunyit Cara membuat: - Lumuri tongkol dengan air jeruk nipis dan garam. - Campur bumbu tumbuk kasar, tambahkan ikan, garam, merica, dan kecap manis. Aduk rata. - Ambil selembar daun pisang. Tambahkan daun kemangi, cabe hijau, lengkuas, serai, dan daun salam. - Kukus di atas api sedang 30 menit sampai matang. - Bakar hingga harum. (Untuk 6 bungkus) -Wirati Astiti

Nengah Warta

Bahan: 350 gr : iga babi 100 ml : barbeque sauce Untuk peneman: 120 gr : kentang goreng 50 ml : saus tomat 15 gr : salad sayuran dan saus balsamic 10 gr : mentimun jepang 10 gr : wortel

Bahan: 10 ml : bawang merah diiris 7 gr : bawang putih dicincang 5 gr : cabe rawit 2 gr : terasi 1 butir : telur ayam 45 gr : daging kambing 160 gr : nasi putih 20 gr : kubis 15 gr : wortel diiris 10 gr : bawang prei 20 gr : bumbu kuning (bisa dibeli di supermarket dalam bentuk botolan) 12 ml : saus tiram 6 ml : saus ikan 1 gr : garam 1 gr : merica 5 gr : bawang goreng Untuk penemannya: Sate kambing

Acar Emping goreng Brambang goreng Cara membuat: - Panaskan penggorengan. Masukkan bawang merah, bawang putih, cabe rawit, dan terasi, diaduk sampai agak matang. Masukkan telur ayam dan daging kambing, aduk sampai matang. - Masukkan nasi putih, tambahkan semua sayuran. Tambahkan bumbu kuning. - Masukkan saus tiram, saus ikan, garam, dan merica. - Semua bahan diaduk rata sampai matang dan siap disajikan . - Sajikan nasi goreng bersama penemannya.

Cara membuat: - Rebus iga babi dan rempah sekitar 1-2 jam, sampai betulbetul empuk. - Angkat, dan panggang iga sembari balurkan barbeque sauce sekelilingnya untuk memberi rasa gurih. - Setelah matang, angkat. Sajikan iga panggang dengan barbeque sauce. - Sajikan iga bersama penemannya. -Wirati Astiti

1 ikat : kecil daun kemangi, ambil bagian daunnya Cara membuat: - Bersihkan kulit ari cumicumi, buang kantong tinta dan tulang punggungnya. Potong-potong, kemudian lumuri dengan air jeruk nipis. Sisihkan. - Panaskan minyak, tumis bumbu halus, serai, lengkuas, dan daun salam sampai harum dan matang. Masukkan air, aduk sampai mendidih. - Masukkan cumi-cumi, aduk dan didihkan sekali lagi. Angkat. Masukkan daun kemangi, aduk sampai rata. Sajikan. (Untuk 4 orang)

Nasi Goreng Kambing

Valentine

Barbeque Ribs

13

Pepes Pindang Pedas Cara Membuat: - Siapkan tempat, lalu masukkan Sarwan bumbu halus dan pindang campur jadi satu. Bahan: - S i a p k a n d a u n 750 gr : ikan pindang, siap pisang, masuk pakai yang sudah matang kan pindang dan Daun pisang secukupnya bumbu tersebut dalam daun Bumbu yang dihaluskan: pisang. Jadikan 11 butir : bawang merah beberapa bung5 siung : bawang putih kus, lalu tangk2 buah : tomat sedang upkan sisi kanan 5 butir : kemiri sangria kiri daun pisang 3 buah : cabe besar merah dan tusuk den15 buah : cabe rawit gan tusuk gigi Gula, garam, kaldu bubuk secukedua sisi atas kupnya dan bawah.

- Kukus bungkusan pindang selama 25 menit, pepes siap untuk dihidangkan.

Bandeng Bakar Kecap Pedas Bahan: 750 gr : bandeng, bersihkan 100 ml : kecap manis 3 sdm : saus raja rasa 2 sdm : bawang putih goring 12 buah : cabe rawit, iris halus 1 sdt : lada bubuk 2 sdm : air jeruk nipis Garam, kaldu bubuk, margarin secukupnya Cara Membuat: - Campur menjadi satu kecap manis, saus raja rasa, irisan cabe, lada, garam dan kaldu bubuk, aduk merata, lalu bagi menjadi dua. Satu bagian buat bandeng kalau sudah dibakar dan yang satu bagian dibuat

Iga Bakar Meriah Pedas Bahan: 750 gr : 4 sdm : 3 sdm : 3 sdm : 1 sdt : 2 sdm :

iga, potong menurut selera saus sambal saus tomat halusan cabe merah lada saus tiram

2 sdm : saus raja rasa 500 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat: - Rebus semua bahan jadi satu hingga iga empuk dan air re-

busan menjadi lebih kental. - Ambil iga dari rebusan. - Panaskan grill wajan antilengket, bakar iga, olesi dengan margarin, lalu bakar lagi iga, bolak-balik hingga iga matang dan siap untuk disajikan dengan saus sisa rebusan.

rendaman bandeng. - Olesi bandeng dengan air jeruk nipis, lalu masukkan ke bahan saus rendaman, diamkan selama 10 menit. - Bakar bandeng di atas wajan antilengket, olesi dengan margarin, lalu bolak-balik bandeng seraya diolesi dengan saus rendaman, bakar hingga matang. - Siap untuk disajikan dengan saus kecap.


Kuliner

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

12

Sedap dengan Makanan Rumahan

Chef Juliada

Tiga makanan ini sangat sederhana dalam pembuatannya, dan cocok disajikan sebagai menu keluarga. Walaupun makanan rumahan, bukan berarti kalah sedap. Kreasi Chef Juliada dari Bali Bird Park, Gianyar ini sangat menggugah selera. Perpaduan ikan tongkol dan kemangi, membuat harum pepes ikan ini dan menjadikan perut lapar. Cumi pun bisa diolah dengan bumbu tradisional Bali. Ada juga kue manis si terang bulan sebagai penutupnya.

Kenus Mebasa Bali Bahan: 500 gr : cumi-cumi segar 1 butir : jeruk nipis, ambil airnya 4 sdm : minyak untuk menumis Bumbu yang dihaluskan: 10 butir : bawang merah 5 siung : bawang putih 7 buah : cabe merah keriting 2 buah : cabe merah besar,buang bijinya

3 butir : kemiri 3 cm : kunyit 2 cm : kencur 2 cm : jahe 1 sdt : terasi 1 sdt : garam 1 batang : serai, iris tipis bagian putihnya 2 cm : lengkuas, memarkan 2 lembar: daun salam 100 ml : air

Kue Terang Bulan Keju dan Cokelat Bahan: 250 gr : tepung terigu 1 sdm : tepung sagu 50 gram : gula pasir 25 ml : santan kental 350 ml : air matang 1 sdt : baking soda 2 butir : telur ayam 25 gr : susu bubuk Keju secukupnya Cokelat ceres secukupnya Mentega secukupnya Susukental manis secukupnya Cara membuat: - Larutkan soda kue dengan sedikit air. Aduk rata. Sisihkan. - Siapkan wadah, masukkan tepung terigu, tepung sagu, susu bubuk, dan gula pasir. Aduk rata. Masukkan telur yang sudah dikocok lepas, santan kental, larutan soda kue, dan vanili cair. Aduk rata.

Masukkan air sedikit demi sedikit. Aduk rata. - Kocok adonan sehingga tampak gelembung-gelembung udara. Lakukan sekitar 10 menit. Lalu diamkan adonan selama lebih kurang 30 menit. - Panaskan cetakan terang bulan atau cetakan kue lumpur. Tuang ½ sendok sayur adonan, tekan dengan menggunakan punggung sendok. Gunanya agar adonan menempel di pinggir cetakan. Tunggu sampai muncul bintik berlubang, lalu taburi gula pasir. Tutup dan masak sampai matang. - Penyelesaian : Angkat martabak yang sudah matang. Oles dengan mentega. Taburi keju parut dan beri susu kental manis secukupnya.(Untuk 5 orang).

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Menu Spesial

Momen Hari Kasih Sayang (valentine day) dapat kita nikmati dengan bersantap bersama keluarga. Dua sajian spesial kami persembahkan untuk menyambut Hari Kasih Sayang. Nasi goreng kambing dan berbeque ribs, dapat Anda jadikan pilihan untuk menu spesial. Menu ini kreasi Nengah Warta, ­Executive Chef Tropical Group. Selamat mencoba.

Pepes Pindang Tongkol Kemangi - B a h a n : 2 b u a h t o n g k o l ukuran sedang, dibuang tulangnya, dipotong miring 3 bagian; 1 sdt air jeruk nipis; 8 tangkai daun kemangi; 2 buah cabe hijau, dipotong-

potong serong; 2 cm lengkuas, diiris korek api; 2 batang serai, diiris; 3 lembar daun salam, dipotongpotong; 1/2 sdt garam; 1/4 sdt merica bubuk; 1 sdm

kecap manis; daun pisang untuk membungkus - Bumbu ulek kasar (lebih enak dibakar sebentar sebelum diulek): - 8 butir bawang merah; 3 siung bawang putih; 5 buah cabe merah; 2 cm kunyit Cara membuat: - Lumuri tongkol dengan air jeruk nipis dan garam. - Campur bumbu tumbuk kasar, tambahkan ikan, garam, merica, dan kecap manis. Aduk rata. - Ambil selembar daun pisang. Tambahkan daun kemangi, cabe hijau, lengkuas, serai, dan daun salam. - Kukus di atas api sedang 30 menit sampai matang. - Bakar hingga harum. (Untuk 6 bungkus) -Wirati Astiti

Nengah Warta

Bahan: 350 gr : iga babi 100 ml : barbeque sauce Untuk peneman: 120 gr : kentang goreng 50 ml : saus tomat 15 gr : salad sayuran dan saus balsamic 10 gr : mentimun jepang 10 gr : wortel

Bahan: 10 ml : bawang merah diiris 7 gr : bawang putih dicincang 5 gr : cabe rawit 2 gr : terasi 1 butir : telur ayam 45 gr : daging kambing 160 gr : nasi putih 20 gr : kubis 15 gr : wortel diiris 10 gr : bawang prei 20 gr : bumbu kuning (bisa dibeli di supermarket dalam bentuk botolan) 12 ml : saus tiram 6 ml : saus ikan 1 gr : garam 1 gr : merica 5 gr : bawang goreng Untuk penemannya: Sate kambing

Acar Emping goreng Brambang goreng Cara membuat: - Panaskan penggorengan. Masukkan bawang merah, bawang putih, cabe rawit, dan terasi, diaduk sampai agak matang. Masukkan telur ayam dan daging kambing, aduk sampai matang. - Masukkan nasi putih, tambahkan semua sayuran. Tambahkan bumbu kuning. - Masukkan saus tiram, saus ikan, garam, dan merica. - Semua bahan diaduk rata sampai matang dan siap disajikan . - Sajikan nasi goreng bersama penemannya.

Cara membuat: - Rebus iga babi dan rempah sekitar 1-2 jam, sampai betulbetul empuk. - Angkat, dan panggang iga sembari balurkan barbeque sauce sekelilingnya untuk memberi rasa gurih. - Setelah matang, angkat. Sajikan iga panggang dengan barbeque sauce. - Sajikan iga bersama penemannya. -Wirati Astiti

1 ikat : kecil daun kemangi, ambil bagian daunnya Cara membuat: - Bersihkan kulit ari cumicumi, buang kantong tinta dan tulang punggungnya. Potong-potong, kemudian lumuri dengan air jeruk nipis. Sisihkan. - Panaskan minyak, tumis bumbu halus, serai, lengkuas, dan daun salam sampai harum dan matang. Masukkan air, aduk sampai mendidih. - Masukkan cumi-cumi, aduk dan didihkan sekali lagi. Angkat. Masukkan daun kemangi, aduk sampai rata. Sajikan. (Untuk 4 orang)

Nasi Goreng Kambing

Valentine

Barbeque Ribs

13

Pepes Pindang Pedas Cara Membuat: - Siapkan tempat, lalu masukkan Sarwan bumbu halus dan pindang campur jadi satu. Bahan: - S i a p k a n d a u n 750 gr : ikan pindang, siap pisang, masuk pakai yang sudah matang kan pindang dan Daun pisang secukupnya bumbu tersebut dalam daun Bumbu yang dihaluskan: pisang. Jadikan 11 butir : bawang merah beberapa bung5 siung : bawang putih kus, lalu tangk2 buah : tomat sedang upkan sisi kanan 5 butir : kemiri sangria kiri daun pisang 3 buah : cabe besar merah dan tusuk den15 buah : cabe rawit gan tusuk gigi Gula, garam, kaldu bubuk secukedua sisi atas kupnya dan bawah.

- Kukus bungkusan pindang selama 25 menit, pepes siap untuk dihidangkan.

Bandeng Bakar Kecap Pedas Bahan: 750 gr : bandeng, bersihkan 100 ml : kecap manis 3 sdm : saus raja rasa 2 sdm : bawang putih goring 12 buah : cabe rawit, iris halus 1 sdt : lada bubuk 2 sdm : air jeruk nipis Garam, kaldu bubuk, margarin secukupnya Cara Membuat: - Campur menjadi satu kecap manis, saus raja rasa, irisan cabe, lada, garam dan kaldu bubuk, aduk merata, lalu bagi menjadi dua. Satu bagian buat bandeng kalau sudah dibakar dan yang satu bagian dibuat

Iga Bakar Meriah Pedas Bahan: 750 gr : 4 sdm : 3 sdm : 3 sdm : 1 sdt : 2 sdm :

iga, potong menurut selera saus sambal saus tomat halusan cabe merah lada saus tiram

2 sdm : saus raja rasa 500 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat: - Rebus semua bahan jadi satu hingga iga empuk dan air re-

busan menjadi lebih kental. - Ambil iga dari rebusan. - Panaskan grill wajan antilengket, bakar iga, olesi dengan margarin, lalu bakar lagi iga, bolak-balik hingga iga matang dan siap untuk disajikan dengan saus sisa rebusan.

rendaman bandeng. - Olesi bandeng dengan air jeruk nipis, lalu masukkan ke bahan saus rendaman, diamkan selama 10 menit. - Bakar bandeng di atas wajan antilengket, olesi dengan margarin, lalu bolak-balik bandeng seraya diolesi dengan saus rendaman, bakar hingga matang. - Siap untuk disajikan dengan saus kecap.


14

Mitos

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Waspadai Saraf Kejepit

Yoga Bangkitkan Aura Kecantikan Setiap perempuan itu cantik. Cantik tidak saja bicara tentang fisik, tapi juga kepribadian. Menjadi cantik dari dalam (inner beauty) sama pentingnya dengan kecantikan dari luar. Menumbuhkan kecantikan dari dalam, salah satunya dapat dilakukan dengan yoga secara rutin. Yoga tidak saja menjadikan stres menurun, tapi mampu meningkatkan aura positif yang menimbulkan rasa percaya diri serta ketenangan bagi diri sendiri bahkan keluarga. Sehingga perempuan akan tampil lebih elegan dan cantik batiniah (inner beauty). Hal ini disampaikan Bunda Dian dari Pasraman Markandeya Yoga Bali ditemui usai mengajar di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Denpasar.

Y

oga, katanya, mem­ buat peredaran darah ke otak lebih lancar sehingga nu­ trisi ke kulit wajah lebih baik, alhasil dapat membuat kulit wajah dan leher mulus, sehat, segar, serta mata berbinar cemerlang. Berbagai penelitian pun membuktikan bahwa latihan yoga yang konsisten menin­ gkatkan kadar hormon serotonin, dan menurunkan kortisol ( hor­ mon stres) sehingga memberikan ketenangan, kebahagiaan dan mem­ perbaiki depresi serta meningkatkan kekebalan tubuh. Yoga, lanjutnya, merupakan induk dari senam serta berbagai jenis beladiri, tari, musik, nya­ nyian, bahkan seni bercinta hingga penyembuhan.Yoga melancarkan aliran oksigen di dalam tubuh, se­ hingga tubuh pun sehat dan wajah lebih segar dan awet muda. Sebagai seni dan olah jiwa serta raga, yoga

latihan yoga, gerakan memiliki arti berbeda, baik untuk tubuh maupun pikiran. Duduk, misalnya, untuk relaksasi. Sementara berdiri untuk membangkitkan energi. Dengan yoga, kita dapat mengarahkan en­ ergi atau aliran panas yang berasal dari dalam tubuh pada sesuatu yang bersifat konstruktif.

Bunda Dian

berfungsi pengendalian pikiran, per­ napasan, dan latihan fisik. Gerakannya yoga cenderung halus dan tidak terburu-buru. Dalam

SEHAT ITU CANTIK Yoga disebutkan dapat me­ ningkatkan aura positif. Sesung­ guhnya apa itu aura? “Aura adalah cahaya yang dipancarkan oleh tubuh yang menandakan kondisi fisik, emosi kesehatan, mood dan lain-lain yang ditunjukan oleh warna yang berbeda. Setiap orang memiliki aura namun kepadatan, kejernihan, atau luas lebar dan daya tarik satu dengan lainnya juga berbeda,” ujar Bunda Dian. Dikatakannya aura juga meru­ pakan pancaran dari medan elek­ tromagnetik yang ada di syaraf kita.

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

S Otak merupakan pusat saraf manusia, milyaran sel saraf ada di otak. Itulah sebabnya kalau orang mengamati atau memfoto aura, lebih mudah di sekitar kepala, bukan di kaki atau perut, karena disekitar kepala-lah pancaran aura yang paling besar. Mengetahui hal ini, Bunda Dian mengatakan banyak orang ingin bisa mencerahkan auranya, tujuan­ nya bisa bermacam-macam. Namun intinya, sekali aura terpancar, maka kehidupan juga akan berubah. Ada inner power dan inner beauty yang terpancar dari tubuh Anda, yang bukan hanya menandakan seseorang itu sehat tapi juga membuat orang di sekitar menjadi lebih suka dan sayang kepada kita. Tidak banyak kalangan bisa me­ lihat keberadaan aura yang men­ gelilingi tubuh, kecuali seseorang yang memiliki daya pengliatan lebih.

Walaupun demikian, kita manusia dapat merasakan aura melalui pen­ golahan energi di dalam tubuh, yaitu melalui olah nafas dan meditasi atau dalam disiplin ilmu yoga disebut den­ gan pranayama dan dhyana yoga. Jika Anda ingin tahu lebih lanjut cara untuk menjadi cantik dari dalam (inner beauty) sehingga bisa me­ mancarkan aura kecantikan, dengan wajah yang lebih bercahaya hadirilah Workshop Yoga Aura “Membang­ kitkan Aura Kecantikan dalam Diri “ pada Minggu, 15 Pebruari 2015, pukul 09.00 Wita di Wantilan Bali TV. Di sana Bunda Dian akan lebih jauh dan lebih banyak lagi bicara mengenai teknik-teknik yang simpel bagaimana membangkiutkan aura , melatih aura , memahami potensi diri dan segala hal yang berkaitan dengan manfaat positif terapi aura. – Sri Ardhini

araf kejepit atau HNP (Herniated Nucleus Pulposus) dapat terjadi pada leher, punggung, pinggang, dan tulang ekor. Penyebab saraf kejepit adalah gerakan atau aktivitas yang tak ergonomis, seperti jatuh, kecelakaan, mengangkat atau mendorong benda berat dengan posisi yang salah. Berikut penjelasan Prof. Dr. dr. AA Raka Sudewi, Sp. S (K). Mitos: Saraf kejepit bisa ter­ jadi pada siapa saja, tua, muda, gagah, sehat. Fakta: Benar. Saraf kejepit memang lebih berisiko tejadi pada usia tua, karena kondisi jaringan ikat antara penghubung tulang satu dengan yang lain, kekenyalan dan elastisitasnya sudah berkurang. Saraf kejepit juga bisa terjadi bagi yang berusia muda, yang umumnya lebih dikar­ enakan aktivitas atau mengambil/ mengangkat beban yang berlebi­ han. Seperti saat nge-gym, harus berhati-hati mengangkat beban, sesuaikan dengan kemampuan.

Jika dipandang perlu, berlatihlah dengan pengawasan instruktur. Aktivitas yang memberikan beban berlebih pada tulang belakang terutama leher dan pinggang berisiko saraf kejepit, apalagi jika memiliki faktor bawaan. Mitos: Yang berpotensi terke­ na saraf kejepit adalah mereka yang pernah mengalami kecela­ kaan atau yang over gerak. Fakta: Benar. Saraf kejepit disebabkan karena struktur jarin­ gan penghubung tulang belakang tidak siap menerima berat beban yang melebihi dengan posisi tidak ergonomis. Kecelakaan yang men­

imbulkan cedera tulang belakang akan menggeser posisi tulang dan menekan saraf paravertebral. Hal ini menyebabkan rasa nyeri yang hebat karena tulang belakang yang bergeser ini akan menekan jaringan syaraf pusat. Saraf kejepit bisa juga disebabkan keluarnya nucleus pulposus dari discus melalui robekan annulus fibrosus keluar menekan medullas pinalis atau mengarah ke dorsolateral menekan saraf spinalis sehingga menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Mitos: Saraf kejepit bisa se­ babkan kelumpuhan. Fakta: Benar. Saraf terjep­ it mengganggu fungsi motorik (gerakan) dan sensorik (rasa) ke arah kaki. Jika tak segera diatasi, fungsi motorik akan menciut, yang dalam waktu panjang bisa me­ nyebabkan kelumpuhan. Demiki­ an halnya dengan gangguan fungsi sensorik membuat kaki mati rasa.

gejala yang umum dialami, seperti pada bagian tubuh tertentu akan merasakan kesemutan, panas seperti terkena cabe, nyeri yang amat sangat, mati rasa, sakit yang menusuk di bagian pinggang, ujung jari terasa kaku atau geng­ gaman tangan menjadi lemah, kepala sakit di salah satu sisi, dada depan terasa sesak, sakit di salah satu sisi kaki, kurang tenaga pada kaki atau kelumpuh­an pada kaki, terasa panas atau kaku pada kaki, leher terasa kaku, sulit untuk menoleh ke salah satu sisi kiri atau kanan. Jika di saraf tepi, rasa nyeri dominan terutama di daerah ek­ stremitas seperti superior (daerah lengan dan tangan) dan imperior (tungkai atas bawah sampai kaki), ter­ gantung lokasi jepi­tan, apakah di daerah leher atau pinggang bawah.

11

Bagaimana penanganannya? Ada 2 penanganan pend­ erita saraf kejepit, yakni dengan konservatif atau overatif. Cara konservatif, dengan pemberian obat-obatan dan fisioterapi. Jika klinisnya memburuk (tidak ber­ hasil) dan nyeri terus bertambah, kaki melemah, gejala memburuk, satu-satunya jalan hanya dengan operasi di tulang belakang. Saraf kejepit ini sewaktu-waktu bisa kambuh kembali. Jaga jangan sampai kumat. “Pencegahannya, hanya dengan menjaga aktivitas. Seperti, tidak mengangkat beban melampau batas kemampuan. Sesuaikan dengan usia, karena usia sangat berpe­ngaruh pada elastisitas antara penghubung tulang belakang yang makin berkurang, kaku dan mu­ dah robek,” tandas Prof. Raka Sudewi. –Inten Indrawati

Apa gejala saraf kejepit? Jika terjepit di tulang belakang, ada mati rasa setinggi kejepit ke bawah. Adanya sumbatan pada aliran saraf sumsum tulang bela­ kang ini bisa juga menyebabkan tidak bisa kencing, BAB, gang­ guan fungsi genetalia. Selain,

LEMBARAN HIDUP BARU DENGAN HIV Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar. “Dok, saya seorang pemilik butik kecil-kecilan. Dua tahun lalu suami saya meninggal dunia dan sebelum meninggal dokter memberi tahu suami saya terinfeksi HIV. Saya baru tahu kalau dulu sebenarnya suami saya mantan pengguna narkoba. Akhirnya saya juga memeriksakan diri lewat sebuah yayasan dan saya pun terinfeksi. Saya sudah mendapatkan pendampingan dari sebuah support group yang isinya para perempuan muda, dan saya bertekad bulat untuk memulai lembaran tahun baru ini dan ke depannya hidup lebih baik walau ada HIV dalam darah saya. Apa yang perlu saya lakukan ya dok?” (Mita, 27 thn) Sebuah pertanyaan plus pernyataan yang menggugah dan membuat saya. Sesungguhnya virus yang bernama HIV akan berada terus dalam tubuh seumur hidupnya. Karena itu tekadnya buat memulai lembaran baru dengan lebih baik sudah selayaknya diberi dukungan dan acungan jempol yang banyak. Tetapi perlu diingat, walau masih banyak yang memvonis ses­ eorang yang sudah terinfeksi HIV akan pasti menjadi mati, tetapi kenyataan­ nya dengan kemajuan ilmu kedokteran dan kesehatan, seorang pengidap HIV positif bisa hidup lebih lama dan tetap sehat selama menjaga kesehatan dan pola hidupnya dengan baik dan memi­ num obat ARV pada saat dibutuhkan nanti dengan teratur dan disiplin. Dengan melakukan ini seseorang yang HIV positif akan terhindar masuk ke

fase sakit atau fase AIDS, sekaligus juga terhindar dari vonis mati, karena sesungguhnya status pengidap HIV saat ini sama saja dengan pengidap penyakit kronis lainnya. Semua kini sudah mulai berubah. Saya teringat dengan kisah David Polson di Australia yang didiagnosis mengidap HIV pada 1984, dan menjadi kasus heboh karena dia segera disarankan untuk mempersiapkan surat wasiat dan hal-hal lain guna mempersiapkan kematiannya saat itu. Waktu itu, mer­ eka yang mengidap HIV diperkirakan akan meninggal paling lama dalam 10 tahun. Namun, sekarang di usia 57 tahun, Polson masih bertahan dan tetap sehat karena selalu menjalankan hidup sehat dan teratur mengkonsumsi ARV. Ia menghabiskan waktunya untuk mem­ berikan penyuluhan mengenai bahaya

HIV kepada masyarakat luas. Demikian juga sekelompok anak muda yang men­ jadi koresponden saya beberapa waktu lalu, mereka ini komunitas pengidap HIV di Amsterdam dalam sebuah kes­ empatan bilang, bahwa komunitas ini justru membuat mereka lebih gembira, lebih bergairah dengan segala aktifi­ tas positifnya yang saling mendukung, sering membuat event-event keren di ruang publik, dan uniknya, saking menginspirasi dan aktifnya kelompok ini melakukan kegiatan kreatif dan terlihat tetap sehat malah ada beberapa anak muda yang tidak HIV berminat untuk bergabung sebagai anggota aktif. Betapa hari ini HIV dan AIDS harusnya sudah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Tidak perlu lagi ada stigma dan diskriminasi.

lebih menghargai hidup dan menghargai orang lain. Di berbagai kesempatan mereka sering berkumpul buat meno­ long orang lain dan mereka merasa mendapat kepuasan batin karena dapat berguna bagi orang lain. Dengan status HIV positif ini juga membuat pengidap HIV bisa menjadi lebih sering memer­ iksakan diri secara rutin ke dokter dan support group-nya, buat kontrol kondisi sekaligus memeriksakan keadaan kes­ ehatan yang lain.

hubungan seksual dengan kondom sebagai pencegah penularan HIV ke pasangan. Dengan kemajuan teknologi kedokteran, dengan berkonsultasi den­ gan dokter, Anda tetap bisa untuk hamil dan memiliki keturunan dengan meng­ gunakan metode PMTCT (Prevention of Mother To Child Transmission), di mana si ibu diminta meminum obat ARV, persalinan nanti dengan operasi sesar dan diharapkan tidak menyusui bayinya jika memungkinkan.

Jadi, Apa Yang Harus Dilakukan? Rumus utamanya adalah berpikir positif dan senantiasa menjalankan pola hidup sehat. Justru dengan status HIV itu ibarat pegangan untuk selalu tetap menjaga kesehatan. Lebih menjaga diri dengan lebih hati-hati dan berseman­ gat dalam bekerja. Tetap beraktifitas seperti biasa, tentu saja dengan tidak mencoba melakukan upaya penularan ke orang lain. Berikut tips nya:

Lanjutkan minat dan hobi Anda Seorang perempuan HIV positif lain yang saya kenal juga sempat menginspirasi banyak perempuan HIV positif lainnya. Dengan berprinsip hidup sederhana dari pekerjaannya sebagai seorang graphic designer dia bisa menabung dan membuatkan anaknya ke asuransi kesehatan dan asuransi pendidikan. Dari hobinya memasak, dia juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan lewat usaha kateringnya, mengembangkan hobi fotografinya dan juga mendapatkan tambahan penghasi­ lan dari sana, juga menambah banyak teman lagi, yang berarti menambah orang-orang yang akan memberikan dukungan kepada Anda buat tetap hidup optimis.

Hidup dengan HIV positif itu juga punya kelebihan Ada banyak hal yang menginspirasi saat bicara tentang HIV dan AIDS. Salah satu yang unik adalah banyak orang yang mengidap HIV positif justru

Safe sex Jika suatu saat Anda ingin menjalank­ an kehidupan bersama pasangan baru dan akan ada aktivitas seksual, tentu saja tetap melakukannya aktivitas seksual dengan prinsip “safe sex”. Melakukan

Tetaplah hidup sehat Tetaplah mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga teratur, tidur cukup, dan hidup lebih optimis. Kekebalan tubuh kita naik-turun sesuai gaya hidup kita. Merokok, minum alkohol, dan depresi da­ pat mempercepat penurunan kekebalan tubuh. Jangan lupa jika suatu saat sudah harus meminum obat ARV, hendaknya digunakan teratur dan terus-menerus. Penghentian obat ARV akan mengakibat­ kan virus berkembang biak lagi, bahkan juga berisiko obat menjadi resisten. Nah, dengan menjalankan itu se­ mua, tentu saja akhirnya pengidap HIV akan tetap bisa produktif dan men­ jalankan hidup dengan menyenangkan seperti layaknya orang normal lainnya. Manfaatkan kelompok dukungan atau support group yang ada jika ada masalah berhubungan dengan keadaan diri sejak awal, sehingga bisa diatasi lebih maksimal masalah yang berhubungan dengan infeksi HIV nya. Jadi, buat me­ masuki tahun baru, Anda bisa membuka lembaran baru dengan tetap sehat dan optimis.


10

Bugar

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Crown Gigi Tiruan kuat menahan tekanan kunyah. Selain itu juga dapat memperbaiki bentuk gigi ke keadaan semula dan mengembalikan fungsinya.

Drg. Nyoman Putri Sukaruniati Penulis adalah dokter gigi di Rumah Sakit Siloam Bali Apakah yang dimaksud dengan Crown Gigi (Mahkota Gigi)? Crown gigi atau mahkota gigi adalah sarung/jaket yang berbentuk seperti mahkota gigi asli yang digunakan untuk mengembalikan kekuatan, fungsi dan estetik dari gigi yang bermasalah. Seringkali kejadian yang tidak terduga dan di luar kehendak kita menDrg. Nyoman Putri Sukaruniati jadikan gigi kita bermasalah. Namun, penambalan seringkali bukan solusi terbaik karena yang terganggu adalah bagian gigi yang tampak terlihat dari luar. Untuk itu perlu dicarikan jalan keluarnya untuk mengembalikan rasa percaya diri Anda, dengan jalan pembuatan tutup cover gigi atau dalam dunia kedokteran gigi disebut Crown.

Kondisi-kondisi gigi yang perlu dibuatkan Crown:

Pasca Kecelakaan Beberapa kejadian kecelakaan menyebabkan benturan yang sangat keras pada gigi depan, sehingga gigi depan dapat menjadi patah. Dengan dibuatkan crown maka gigi yang patah tadi menjadi terlindung dan bentuknya menjadi seperti gigi normal.

Untuk melindungi gigi yang memiliki lubang terlalu besar Jika Anda memiliki lubang pada gigi yang terlalu besar, hanya dengan menambalnya saja tidaklah cukup karena lubang yang terlalu besar menyisakan hanya sedikit bagian gigi sebagai retensi tambalan sehingga memungkinkan tambalan tersebut sering terlepas.

Gigi pasca perawatan saraf dan dilakukan penambalan biasa akan rentan pecah pada tambalan dan gigi.

Gigi yang berubah warna. Gigi dapat berubah warna karena berbagai faktor seperti: - Trauma benturan pada gigi. Trauma pada gigi ini membuat perdarahan. Darah tersebut dapat merembes ke lapisan dentin, sehingga gigi nampak berubah warna menjadi abu-abu kehitaman, biru, atau kecoklatan. - Obat-obatan. Konsumsi antibiotik tetrasiklin saat pembentukan gigi dapat menyebabkan garis coklat, abu-abu, atau kehitaman pada gigi. Obat lain yang dapat mengganggu warna gigi setelah pembentukan gigi adalah minosiklin. - Gigi yang sudah mati (nonvital). Iritasi saraf gigi akibat kuman, bahan kimia, atau pun secara mekanis dapat mengakibatkan matinya saraf gigi. Sisa jaringan mati di dalam gigi akan membuat gigi berubah warna menjadi kecoklatan.

Paska perawatan saluran akar (Root Canal Treatment) Gigi yang telah dirawat saluran akarnya biasanya hanya tersisa dinding yang sudah tipis akibat bolong yang sudah besar ditambah dengan pembuatan akses untuk dilakukan perawatan saluran akar akan membuat gigi paska perawatan akan menjadi rapuh dan sangat mudah pecah jika hanya ditambal biasa. Oleh sebab itu untuk menghindari gigi dari risiko pecah/patah, pembuatan crown pada gigi paska root canal treatment sangat disarankan. Crown berfungsi untuk melindungi gigi karena terbuat dari bahan yang

Crown dapat terbuat dari All Porcelain (porselen/keramik) atau campuran porselen dan metal

Crown All Porcelain Crown ini terbuat dari porselen yang merupakan jenis dari keramik gigi. Crown jenis ini memiliki estetika yang sangat bagus dan biasanya digunakan pada gigi depan yang membutuhkan nilai estetika tinggi.

Crown Campuran Porselen dan Metal (Porcelain Fused to Metal/PFM) Crown PFM terbuat dari campuran logam alloy sebagai struktur bagian dalam crown dan porselen sebagai bagian terluar crown. Crown ini sangat kuat dan biasanya digunakan pada gigi belakang yang lebih membutuhkan kekuatan pengunyahan dibandingkan estetika.

Style

Gaya Busana Kerja

LPD Kota Denpasar Sederhana tapi berwibawa. Up –to-date namun tetap sopan dan nyaman dikenakan. Itulah sebagian konsep busana kerja berbahan endek dalam beragam motif yang dipersembahkan pada panggung Denpasar Festival (Denfes) beberapa waktu lalu.

K

egiatan yang diprakarsai Pemkot Denpasar melalui Disperindag Kota Denpasar dengan menggandeng Dekranasda Kota Denpasar ini sukses menampilkan peraga busa-

na yang terdiri dari pasangan karyawan –karyawati Lembaga Perkreditan Desa (LPD) dilingkungan Kota Denpasar. Mereka berhasil menampilkan endek dengan ciri khas beserta inovasinya menjadikannya jauh

dari kesan kuno. Busana –busana kerja dengan cutting dan detil simpel ini diyakini menjadi salah satu faktor yang mampu menambah semangat kerja serta menunjang percaya diri. – Sri Ardhini

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

15


16

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Titik Wahyani

Sekolah adalah Rumah Kedua Enam orang siswa masuk ke ruangan membawa sederetan kudapan. Ada es krim ketela ungu, kue mata roda singkong, es campur, teh jahe, dan ketela ungu santan. “Ini hasil praktik anak-anak kelas VIII,” ujar Titik Wahyani, Kepala SMPN 7 Denpasar, saat mengobrol dengan Tokoh, pekan lalu di ruangannya. “Silakan dinikmati ya bu,“ ujar salah seorang siswi dari mereka sembari tersenyum ramah. “Begitulah siswa kami di sini, kami ajarkan untuk ramah dan bersikap kekeluargaan,” ucap Titik, setelah siswisiswi tersebut keluar ruangan.

M

enurut Titik, sebagai kepala sekolah tugas yang tak mudah. “Saya disini lebih menekankan sikap dan karakter yang didasari rasa tanggungjawab, kedisiplinan, dan contoh kepedulian terhadap sesama,” tutur istri Ketut Wija ini. Dari 1105 jumlah siswa di SMPN 7 Denpasar, ia tak menampik ada beberapa yang bermasalah. Sikap mereka yang tidak peduli, setelah ditelusuri, se­ bagain besar penyebabnya karena keluarga yang tidak harmonis. Salah satu contoh, disebutkan,

ada siswi yang menggunakan rok mini. Padahal berdasarkan aturan, rok siswi ukurannya 10 cm di bawah lutut. Hal tegas dilakukan Titik. “Kami langsung mengganti rok siswi tersebut dengan rok baru dari sekolah. Rok mini tadi kami potong agar tidak diper­ gunakan kembali. Kami sudah menyiapkan beberapa seragam sekolah untuk mengantisipasi hal seperti itu,” ucap Titik. Contoh lain, jika ada siswa yang dua hari tidak masuk tanpa keterangan, langsung dicek ke rumahnya. Karena itu, Titik tak tanggung-tanggung ikut turun tan­ gan, mengendarai motor masuk

gang-gang untuk meninjau lokasi rumah siswa. Menurut Titik, sesuai dengan visi sekolah tugasnya memang untuk melayani anak-anak, dan memberi keteladanan. Hal itu ia juga tunjukkan kepada para guru dan staf sekolah. Satu contoh, ia rutin masuk pagi pukul 07.00. Kalau ia melihat ada guru sering terlambat,. Titik akan memang­ gil guru tersebut secara pribadi. Ia melakukan pendekatan dengan hati. Ia berusaha mengedepankan prinsip tidak menggurui. Itu se­ bagai implementasi rasa manyama braya yang ia terapkan di sekolah. “Bagi saya, sekolah adalah rumah kedua saya sehingga semua ang­ gota sekolah saya anggap seba­ gai keluarga. Apapun yang saya

Titik Wahyani

lakukan dengan senang hati,” imbuhnya. Titik memang banyak melaku­ kan gebrakan sejak ia dipercaya menjadi pimpinan di sekolah yang berlokasi di Monang Man­ ing tersebut. Dalam waktu tujuh tahun menjadi kepala sekolah, banyak hal yang berubah. Ge­ dung sudah bertambah, ada beberapa prestasi siswa SMPN 7 Denpasar masuk tingkat nasional. Hal yang menarik, siswa tak lagi menerapkan piket giliran. Tapi setiap pagi, semua siswa ikut

Edukasi bertanggungjawab atas keber­ sihan dan kerindangan ling­ kungan sekolah. Setelah itu, siswa berdoa bersama sesuai agama mereka masing-masing. Titik punya target ke depan, ia ingin menjadikan SMPN 7 Denpasar sekolah berkarakter dan berwawasan budaya, peduli lingkungan dan cerdas secara pengetahuan. Titik berpesan kepada orangtua, tugas mencerdaskan bukan hanya kewajiban para guru dan pemerintah, namun, orangtua juga memegang peran­ an penting. Usia mulai TK, SD, dan SMP, merupakan masa pent­ ing dalam pertumbuhan anak. Karena itu, ia sangat berharap, para orangtua lebih memberikan perhatian dan kepedulian ke­ pada anak-anak mereka. Karena tantangan anak masa kini san­ gat berbeda. Kini, mereka bisa membuka internet yang mereka yakini benar padahal belum tentu informasi yang didapat itu benar. Apalagi, para siswa SMP, remaja yang sedang labil ingin mencoba hal baru. “Kami disini semua ikut terlibat memperha­ tikan sikap siswa, termasuk sat­ pam sekolah,” kata Titik tentang tips suksesnya dalam memimpin. –Wirati Astiti

Kreasi siswa SMPN 7 Denpasar

“Air Ajaib” Sebatu Menikmati liburan, tak hanya dapat dilakukan ke tempat wisata. Liburan bisa dengan melakukan pembersihan diri atau melukat untuk kesegaran jiwa. Ada satu tempat unik untuk melukat, yakni di Desa Sebatu, Tegalalang Gianyar.

U

ntuk mencapai tempat ini tidak­ lah sulit, sekitar 40 km dari Kota Den­ pasar. Sebelum mencapai tempat ini, Anda akan melewati indahnya sawah terasering di Ceking. Jika kebingungan, banyak petunjuk jalan, dan bisa bertanya kepada masyarakat sekitarnya. Tempat melukat Sebatu ini masih terkesan keramat. Peng­ unjung masih belum seramai Tirta Empul Gianyar. Untuk mencapai tempat melukat Sebatu memang membutuhkan tenaga ekstra,

karena lokasinya sangat terjal dan jauh ke bawah melewati beberapa anak tangga yang sangat menguras tenaga. Mulai dari parkir kendaraan sekitar 300 meter kita akan me­ nemui dua patung penjaga. Bia­ sanya, pengunjung menghaturkan canang sebelum masuk. Kemudian kita melewati anak tangga yang jumlahnya puluhan. Anda sebaiknya pelan-pelan saja, karena lokasi­ nya sangat terjal. Di pertengahan tangga, Anda akan menemukan air pancuran yang disebut beji untuk membersihkan diri. Setelah meng­

haturkan canang, Anda bisa men­ cuci kaki, muka, dan rambut, se­ bagai pembersihan awal. Kemudian Anda kembali melewati anak tangga yang terjal sampai bertemu peling­ gih Pura Dalem Pingit dan Kusti. Biasanya, pengunjung menghatur­ kan pejati dan persembahya­ngan menggunakan kuangen sari uang kepeng. Setelah sembahyang, Anda langsung dapat menuju tempat melukat yang berupa air terjun yang sangat besar. Airnya sangat dingin dan hentakannya sangat keras. Saat kaki menyentuh pertamakalinya, terasa dingin menyengat. Tunggu beberapa saat, sampai tubuh dapat menyesuaikan diri. Yang sangat unik dan ajaib, menurut orang-orang, warna air akan berubah jika seseorang yang melukat badannya terisi hal negatif

(black magic). Air akan berwarna keruh yang menandakan hal negatif dari badan orang tersebut sedang

dibersihkan. Khusus wanita yang sedang datang bulan dan anak kecil yang belum tanggal gigi tidak diper­ bolehkan melukat di tempat ini. Setelah selesai melukat, Anda bisa berganti pakaian di tempat yang telah disediakan. Kemudian, lakukan sembahyang yang terakhir sebelum kembali pulang menyusuri anak tangga. Dalam perjalanan pulang, Anda akan merasakan kesegaran yang luar biasa disamping air terjunnya sangat dingin, suasana dan udara yang sejuk membuat perjalanan melukat Anda sangat bersahaja. Jangan lupa, ada warung kecil di perjalanan, yang menjual makanan khas Sebatu, seperti daun paku, pisang goreng nangka, atau hanya sekadar menikmati hangatnya kopi sembari menikmati kesegaran udara Sebatu. –Wirati Astiti

Dara

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Bartendris Dibayar lebih Mahal

Menjadi bartender tidak hanya dilakoni kaum pria. Wanita juga bisa menjadi bartender atau yang dikenal sebagai bartendris. Meski terkesan lemah, para wanita itu mampu melakukan juggling, bermain asyik bersama gelas shaker dan botol bacardi itu.

N

i Putu Agusty Ismayani dan I Dewa Ayu Mas Mediantari adalah dua wanita yang ingin memilih profesi sebagai bartendris. Keahl­ ian mereka sudah diuji saat Bali Travel News (BTN) Cocktail Break yang berlangsung di Wanti­ lan Bali TV. Walau belum berhasil sebagai pemenang, tetapi mereka cukup senang karena sudah dapat menunjukan bakat dan keahlian­ nya dalam juggling.

Agusty Ismayani membuat Party Duck sedangkan Mas Me­ diantari menyuguhkan Sky Beach. Jika dibandingkan dengan para bartender, penampilan kedua bartendris ini memang jauh beda. Gerakan badan, kecepatan me­ nangkap botol ataupun gelas serta kepiawaian dalam mengolah minuman memang kurang. Waktu lima menit seakan lama bagi mereka. Namun, jangan ditanya soal semangat, keduanya tampil dengan ekspresi ceria.

“Saya hanya mempersiapkan diri selama dua minggu. Maklum dadakan sekali, yang penting bisa mendapat pengalaman dan serti­ fikat sebagai SIM dalam menda­ patkan pekerjaan,” kata Agusty, siswi kelas III SMK Mengwitani Jurusan Tata Boga ini serius. Dara kelahiran Badung, 28 Mei 1997 itu kemudian mengata­ kan, meski bukan menjadi sebuah cita-cita namun dirinya sangat serius menggeluti profesi seba­ gai bartendris. Di samping lebih berpeluang mendapat pekerjaan, juga honor seorang bartendris itu lebih besar dari pada bartender. “Kata orang, bartendris itu diper­ lukan saat ini. Apalagi, kuliner Bali sudah menjadi sebuah daya tarik tersendiri,” tegasnya. Demikian juga yang dikatakan Mediantari. Sebagai calon pekerja pariwisata, dirinya merasa perlu memiliki keterampilan di bidang

Bartender Muda bisa Ciptakan Resep Baru Bartender dan barten­ dris muda bergaya dan bergerak bak penari yang sedang trance. Itulah aksi para peserta Bali Travel News (BTN) Cocktail Break yang ber­ langsung di Wantilan Bali TV, Sabtu (31/1). Belasan peserta dari beberapa SMK di Bali saling adu kepiawaian meracik minu­ man dengan cita rasa baru. Peserta dilarang menggu­ nakan bahan minuman be­ ralkohol, namun mereka tak kehilangan akal. Mer­ eka berhasil menciptakan resep-resep anyar yang bercitarasa tinggi. Bahan-bahan yang di­ gunakan merupakan fruit juice dari jeruk, apel, se­ mangka, markisa, jeruk, kelapa, stroberi dan lain­ nya. Sari buah itu diolah dengan memadu jenis minuman lain yang sudah disesuaikan dengan ta­ karan yang mereka buat sebelumnya. Meski sebagai bar­ tender pemula, namun jenis minuman yang mereka hasilkan lumayan enak, segar dan khas.

Dalam memberikan namanama dari setiap resep yang ada juga tergolong unik. Ada yang memberi tema sesuai de­

ngan jenis bahan yang dipakai, pengalaman dari sang bartender, nama dari hasil re­ nungan dan ada yang memberi nama yang lahir dari inspirasi mereka. “Saya mem­ beri nama minuman itu Duck Fly yang lahir dari sebuah inspirasi,” kata I Wayan Andre Septiana, peserta dari SMK Pariwisata Meng­ witani, Badung. Minuman hasil ola­ han itu kemudian disa­ jikan dengan hiasan yang disesuaikan de­ ngan tema yang mer­ eka angkat. Ada yang memberi hiasan dari kulit buah yang me­ nyerupai ekor bebek dan ada yang mem­ beri daun tumbuhan. Nama-nama resep itu diantaranya Duck Fly, Skawima, Bali Travel Mocktail, Pepsi Blue, Summer Fruit, Say-Mocktail, Rosella Tooth, Dragon Sunrise, Widmala Ethnic, Lechy Rosko, Party Duck, dan Sky Beach.

9

Agusty Ismayani dan Mas Mediantari

itu. Saat ini, wanita yang ber­ profesi sebagai bartendris sangat jarang, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. “Saya ingin me­ nangkap peluang itu,” ucap siswi kelas III Jurusan F&B Servis SMK Mengwitani ini kalem. Keduanya kompak menga­ takan ajang bartending ini dapat melatih sikap, melatih ketelitian,

keseimbangan dan yang terpent­ ing belajar manajemen waktu. “Walau tak berhasil sebagai pe­ menang, tetapi kami bangga mengikuti kegiatan ini sebagai bentuk untuk mengembangkan keterampilan, kegiatan ini juga untuk melatih sikap, mental da­ lam mengarungi kehidupan,” ujar mereka. –Darsana

Masing-masing peserta mendapat waktu lima menit dalam menciptakan minuman barunya itu. Sebelumnya, mereka mengumpulkan resep lalu mem­ peragakannya diatas panggung. Disela-sela mewujudkan karya dari resepnya itu, masing-masing peserta melakukan atraksi juggling dengan gaya dan gerak yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Mas­ ing-masing peserta menampilkan gaya unik. Para bartender muda ini tak hanya piawai mencipta sebuah resep baru. Mereka juga tampak lihai dalam bermain juggling. Mer­ eka menari-nari dengan keahlian bermain gelas shaker dan botol bacardi. Dua shaker, tiga bacardi, empat bahkan lebih mereka asyik melempar-lemparnya ke udara. Terkadang menyilang, lurus dan berputar-putar. Ketika bacardi masuk tepat ke dalam shaker penonton bersorak senang, seperti menyaksikan sepak bola ketika striker me­ masukan bola ke gawang lawan. Gaya dan gerak mereka sangat indah. Badannya terkesan lentur yang bergerak kesana kemari seperti seorang penari. Terkadang berputar-putar, meliak-liuk hingga posisi merendah dalam menang­ kap gelas dan botol. Musik tak hanya sebagai ilus­ trasi aksi mereka, tetapi sudah menjadi bagian dari permainan mereka. Musik itu mampu mem­ berikan aksen-aksen pada gerak

dan gaya mereka. Misalnya pada permainan botol yang berada di tangan, di siku ataupun sedang berada di dada. Firman Sinaga, M.Si., Par., salah satu juri mengatakan, akan banyak resep-resep minuman baru yang lahir dari ajang BTN Cocktail Break ini. Generasi muda akan menjadi lebih spor­ tif dan dapat melatih sikap, mental, dan kreatif. “Generasi harus didukung untuk menjadi seorang tenaga pekerja pari­ wisata khususnya dalam bidang cocktail,” ujar dosen Stipar Triatma Jaya ini. Dua juri lainnya, I Ketut Darmayasa (Ketua Asosiasi Bartender Indonesia Bali) dan Putu Endra Mulana Jaya (Finalist of Internasional Open Bartend­ er Bagus Championship 2013 di Kuala Lumpur) mengatakan, lomba bartender ini sebagai kegiatan positif. Tak hanya kre­ atif menciptakan minuman baru, tetapi juga sebagai ajang untuk melatih sikap dan mental. Dari keputusan dewan juri, kreasi Gede Aldi Suardana dari SMKN 4 Denpasar, Putu Angga Kesuma (SMK Kertha Wisata Denpasar), Robert Hendrika V.R (SMK Kertha Wisata) dan Gede Pande Adnyana (SMK Pariwisata Dalung) sebagai juara I, II, III dan Juara Harapan. The Best Mocktail diberikan kepada I Kade Juni Kusuma Dewa dari SMKN 3 Denpasar. –Darsana


8

Bunda & Ananda

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Anak Melihat Hubungan Seksual

Orangtua Jangan Panik

Bagi orangtua yang tidur satu kamar dengan anak. Harap berhati-hati. Apalagi jika orangtua ingin melakukan hubungan seksual. Jangan mengira anak yang sudah tertidur benarbenar sudah terlelap. Bisa saja ia tiba-tiba terbangun dan melihat apa yang dilakukan orangtuanya. Jika anak melihat adegan seksual di depan mata, apa solusinya?

S

eorang anak ngambek di sebuah objek wisata. Ia ingin membeli mainan. Namun, permintaannya tak dikabulkan si orangtua. Si anak akhirnya berteriak dengan mengatakan ia melihat orangtuanya melakukan hubungan seksual. Kontan saja si orangtua panik. Mereka menyeret si anak untuk pergi menjauh. Pengalaman ini tentu saja membuat si orangtua menjadi tidak nyaman. Mereka tak ingin aktivitas seksualnya diketahui publik. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang menjadi ranah privat ternyata disampaikan di depan umum. Menurut Retno I. G. Kusuma, Psikolog, ada halhal yang harus diperhatikan orangtua ketika ingin melakukan hubungan seksual. “Jika tidur

bersama anak, pastikan anakanak benar-benar tidur pulas. Jika tidak yakin, gunakan kamar lain. Namun, jika saat melakukan hubungan seksual di kamar kemudian anak terbangun dan melihat, jangan langsung panik,” ujar Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Bali ini.

Orangtua bisa memberi penjelasan, hubungan seksual yang dilakukan orangtua itu adalah wujud kasih sayang. Penjelasan dalam

Retno I.G. Kusuma, Psikolog

bahasa sederhana ini lebih mudah dipahami anak. Penyampaiannya pun harus dalam suasana tenang dan tidak terburu-buru. Kadang persepsi anak bisa berbeda. Apa yang ia lihat bisa jadi sebuah permainan “kuda lumping”. Kalau persepsi anak seperti itu, biarkan saja. Artinya daya tangkapnya tentang persepsi seksual belum ada. Namun, lebih baik jika anak diberi pemahaman secara perlahan sesuai dengan usianya. Orangtua jangan khawatir terlalu berlebihan dan merasa apa yang dilihat si anak akan terus terekam dalam memorinya. “Agar anak tidak terus merekam hal tersebut dalam otaknya, segera lakukan hal-

hal yang menyenangkan yang membuat memori lama tertumpuk. Ajak anak untuk bermain, berolahraga atau hal-hal yang menyenangkan bagi dirinya. Memori yang menyenangkan ini akan menumpuk memori lama. Ibaratnya memori yang lama menjadi hambar dan terlupakan. Orang dewasa pun demikian. Tidak semua hal yang lampau bisa kita ingat karena memori dalam otak kita sudah ditumpuk memori lain,” tandas Kasubsi Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RS Sanglah ini. Retno juga mengingatkan orangtua agar tidak mengancam anak yang pernah melihat mereka melakukan hubungan seksual. Pengancaman untuk diam ini malah membuat anak dalam kondisi tidak nyaman. Salah satu risikonya, ketika anak menjadi tertekan dan akan meluap jika mereka tidak bisa menahan diri. Anak merasa ia berhak untuk mendapatkan kompensasi dari sikap diamnya. Misalnya, semua permintaannya harus dipenuhi. Jika tak dipenuhi, bersiaplah untuk menerima konsekuensinya. Karena itu, psikolog yang juga aktif di lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2) Bali ini menyarankan orangtua untuk tetap tenang dan tidak reaktif dalam menyikapi hal tersebut. Ketenangan dalam

menanggapi adegan “lolos sensor” ini malah membuat anak merasa tenang. SIMPAN KOLEKSI DENGAN BAIK Pengalaman anak melihat adegan seksual tidak hanya yang langsung, tetapi ada yang tidak langsung. Misalnya, mereka menonton adegan seksual di televisi atau komputer. “Bisa saja ada orangtua yang punya koleksi DVD, kemudian si anak menemukannya lalu menonton. Ini bisa dicegah dengan cara menyimpan “koleksi” dengan baik dan jauh dari jangkauan anak,” ungkap Retno. Pendampingan orangtua saat anak menonton TV khususnya TV kabel karena kadang ada adegan ciuman yang lolos sensor. Orangtua jangan langsung panik dan menutup mata anaknya. Hal ini malah akan membuat anak mencari sendiri apa yang terjadi dan bagaimana hal tersebut dilakukan. Orangtua harus memberi penjelasan, ciuman dan pelukan yang dilakukan itu merupakan ekspresi kasih sayang dari dua orang yang memiliki hubungan resmi. Ciuman itu menandakan mereka saling menyayangi. Hal yang juga kadang dilakukan orangtua terhadap anak. Ciuman dan pelukan ini sebagai bentuk kasih sayang.

Griya

Lampu Hias Unik

Bahan apa pun bisa menjadi apa pun, jika kita mau berkreativitas. Itu pula yang dilakukan Tikno, pengerajin lampu hias yang mencoba mengaplikasikan beberapa material seperti, batu,kayu, batok kelapa, dan sintetis ini menjadi beragam bentuk yang bernilai ekonomis.

T

ikno bersama istrinya memulai bisnis lampu hias 12 tahun lalu. Waktu itu produk lampu hiasnya memakai bahan gerabah (teracota). Konsumennya kebanyakan orang Eropa. Namun sejak krisis global, pemasaran lampu hias ini pun kena imbasnya. Penjualan menurun. “Lampu hias gerabah hanya bertahan sekitar 4 tahun. Lalu, saya mencoba banting stir de­ ngan memakai material lain dan menangkap pangsa pasar lokal yang lebih berkelanjutan,” jelas Tikno.

Perkembangan pasar lokal sekarang dikatakan Tikno lebih menyukai lampu hias bermaterial batu dan kayu. Sebagian besar diperuntukkan hotel dan vila. Jenis batu yang dipakai adalah paras putih Yogya yang dipahat sesuai pesanan konsumen. “Ini pesanan hotel,” ujarnya seraya menunjuk satu model lampu hias paras de­ ngan pahatan motif ukiran Bali. Untuk memudahkan, modelmodel lampu hias tersebut diberi nama sesuai dengan motifnya. Seperti, model pucuk, kamboja, bambu, frame cross, frame batu kerikil. Untuk material kayu,

dominan memakai kayu MDF. Selebihnya, kayu jati dan mahoni. Sementara untuk kap lampu, memakai material kain, dengan beragam bentuk pula, seperti rectangle, minang, kotak pipih, kerucut, oval, dan tabung. Beragam lampu hias unik tersebut dipajang di showroom-nya di Jalan By Pass Ngurah Rai, Tuban, Bali. –Inten Indrawati

Tikno

–Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

Pemburu dan Karung yang Hilang

Seorang pemburu mengejar seekor rubah di dalam hutan. Rubah itu menghilang dan pemburu itu tersesat. Ia mencari-cari karung tempat menyekap hewan buruannya. Namun tak berhasil. Made Taro Seekor tikus melihat karung itu tergeletak. Ia masuk ke dalamnya, lalu beristirahat dengan aman dan nyaman. Tak lama kemudian seekor kambing mendekati karung itu. “Siapa di dalam?” tanya Kambing. “Aku, si Tikus Ramah-tamah,” jawab Tikus. “Siapa kau?” “Aku si Kambing Lemah-lembut. Boleh aku masuk?” “Masuklah! Kita lanjutkan perkenalan dan persahabatan di dalam saja.” Baru saja mereka berdua berkenalan, seekor kelinci lewat di depan karung itu. “Siapa di dalam?” tanya Kelinci. “Kami, si Tikus Ramah-tamah dan si Kambing Lemah-lembut. Siapa kau?” “Aku si Kelinci Sopan-santun. Bolehkah aku masuk?” “Masuklah! Kita lanjutkan perkenalan dan per-

sahabatan di dalam saja.” Dari jauh tampak seekor rubah berlari tergopohgopoh. Ketika lewat di depan karung, ia bertanya, “Siapa di dalam?” “Kami si Tikus Ramah-tamah, si Kambing Lemah-lembut dan si Kelinci Sopan-santun. Siapa kau?” “Aku, si Rubah Pemberani, Cerdas dan Berakal Budi. Izinkanlah aku masuk!” Si Tikus Ramah-tamah, si Kambing Lemah-lembut, dan si Kelinci Sopan-santun bermusyawarah. Mereka ragu, apakah rubah itu benar-benar berani, cerdas dan berakal budi. Akhirnya mereka bertiga sepakat menerima anjing hutan itu sebagai sahabatnya. “Masuklah! Kita lanjutkan perkenalan dan persahabatan di dalam saja.” Rubah Pemberani, Cerdas dan Berakal Budi itu segera masuk ke dalam karung. Ia tampak ketakutan dan bernapas ngos-ngosan. “Dor!” Sebuah tembakan menggelegar mengenai karung itu. Hewan-hewan yang baru mengikat tali persahabatan itu berlarian tungganglanggang. Pemburu, si penembak itu, segera membuka karung miliknya. Di dalamnya tergeletak seekor rubah yang diburunya sejak tadi.

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Beragam lampu hias unik

17


18

Kreasi

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Ibu dan Anak Kompak Kreasikan Cokelat Hari Valentine sudah dekat, tinggal menghitung hari. Beber­ apa toko, seperti toko alat tulis kantor dan sekolah sudah mulai menawarkan boneka, bunga mawar, dan cokelat yang identik mewakili hari kasih sayang ini. Momen istimewa ini pun menjadi ladang mengais rupiah bagi kedua kakak-be­ radik, Gek Ratih dan Gek Manik dengan berjualan cokelat.

P

eluang ini mulai dilakoni Gek Ratih dan Gek Manik menjelang Valentine tiga tahun silam. Dibantu sang ibu Sagung Alit, pertamakali mereka membuat cokelat lolipop dengan beragam bentuk dan warna, dan dijual di depan rumah. Peminatnya ternyata banyak, yang rata-rata adalah anak SD. “Waktu itu kami baru bisa membuat lolipop,” ungkap Gek Ratih. Pada Valentine tahun berikutnya, 2013, mereka sudah berani menawarkan cokelat valentine dengan beragam kreasi unik, selain lolipop, seperti cokelat peti, cokelat puzzle, cokelat I Love You, cokelat love mini, dan cokelat sekat. Tahun 2014 hinga sekarang, mereka menawarkan kreasi terbaru, yakni cokelat parcel boneka. “Jadi, dalam parcel boneka itu ada cokelatnya juga,” jelas Gek Ratih. “Ada juga model cokelat peti yang langsung bisa ditambahkan nama,” imbuk Gek Manik yang bertugas memasarkan kreasi cokelatnya ini. Ibu dan anak ini sangat kompak menjalani bisnis musiman ini.

Mereka sudah memiliki tugasnya masing-masing. “Ibu tugasnya melelehkan cokelat, Gek Ratih mencetak dan mengemas. Saya tidak pintar mengemas-ngemas, jadi hanya memasarkan saja,” ujar Gek Manik tersenyum. Sejak akhir Januari, ia pun sudah memasang status di facebook dan BBM-nya, “Valentine sudah dekat, yang mau order cokelat valentine, bisa langsung chat atau invite pin BB 27C5893”. Sampai H-8, orderan yang sudah masuk mencapai angka 155 cokelat dengan bergam bentuk, yang biasanya diambil mulai H-3 sampai H-1 Hari Valentine. Kakak sepupu Gek Ratih yang sudah berlangganan tiap tahun membeli cokelatnya ini pun sudah mulai memesan sejak minggu lalu. “Gek, saya pesan cokelat peti 5, cokelat I Love You 1, cokelat sekat 2nya 8, cokelat sekat 4nya 4. Ini DP dulu Rp 200 ribu ya, biar uangnya nggak keburu habis,” ujar Gek Bintang yang saat itu bertandang ke rumah mereka, khusus untuk mengorder cokelat. “Cokelat ini nanti mau saya kasihkan suami dan anak-anak, teman-teman di kantor, sahabat, dan gurunya anak-anak. Nanti kalau kurang, saya pesan lagi ya,” ucap Gek Bintang kepada Gek Ratih. Gek Ratih yang saat itu baru saja datang dari membeli cokelat batangan dan kotak bersama ibunya, hanya bisa tersenyum. “Garus..garus..garus..,” ucapnya sesaat setelah

menerima dua lembar uang seratus ribuan dari Gek Bintang. Diakui Sagung Alit yang memodali awal bisnis putri-putrinya itu, sekarang ini semua harga bahan pada naik. Kotak cokelat yang dulu harganya Rp 3 ribu sekarang jadi Rp 5 ribu. “Dulu modal kami sekitar Rp 1 juta, sekarang sudah Rp 1,5 juta,” ungkapnya. Meski demikian, ia tetap mendukung bisnis cokelat valentine putri-putrinya ini. Sagung Alit pun dengan sigap mengeluarkan sebuah buku dan mengajarkan cara pencatatan yang benar kepada kedua putrinya, untuk memudahkan mengecek orderan yang masuk dan yang sudah diambil. Awalnya Coba-coba Awalnya Gek Ratih dan Gek Manik hanya iseng belajar dengan

7

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Kirim Uang ke Rekening Keluarga

Rumah dan Sawah hanya Impian Sagung Alit kompak bersama kedua putrinya Gek Ratih dan Gek Manik membuat kreasi cokelat valentine

kerabatnya membuat cokelat dengan beragam bentuk. “Dari sana kami terinspirasi untuk berbisnis cokelat saat Valentine,” imbuh Gek Manik yang kini tengah meneruskan kuliahnya di Fakultas Hukum Unmas, Denpasar ini. Sejak memulai bisnis ini tiga tahun silam yang dimulai dari cokelat lolipop, berlanjut tahun-tahun berikutnya dengan bentuk cokelat yang lebih bervariasi. “Untuk penjualannya, kami mulai nodongin teman-teman di sekolah, teman-teman kuliah, dan beberapa kerabat,” ujar Gek Ratih. Dari sanalah kemudian, informasi bisnis cokelat mereka meluas dari mulut ke mulut. Umumnya mereka yang sudah pernah memesan tahun sebelumnya, pasti akan memesan lagi pada tahun berikutnya. Kemungkinan ini dikarenakan, selain harganya lebih murah, cokelat

kreasi mereka memakai cokelat rasa buah sesuai dengan warnanya. “Cokelat warna yang kami pakai adalah cokelat rasa, seperti warna pink rasa stroberi, kuning lemon, ungu blueberry, biru mint, bukan memakai cokelat warna suntikan

dari pewarna,” jelas Gek Ratih. Proses pembuatan kreasi cokelat ini diakuinya harus dilakukan dengan sabar. Proses awal, cokelatcokelat batangan yang dibelinya itu dilelehkan dulu, baru kemudian dicetak

Di salah satu sudut Bandara Internasional Lombok (BIL), dekat loket pembayaran boarding pass, Partini (45), terlihat kebingungan. Sebenar­nya, sejak dari pintu masuk bandara, ia sudah terlihat bingung. Saat melakukan check in, Partini menyerahkan dua buah koper berukur­ an besar yang dimasukannya ke dalam bagasi. Setelah check in, ia pun naik ke ruang tunggu di lantai dua.

N

sesuai pesanan. Setelah jadi didinginkan dengan ditempatkan dalam kulkas. Pembuatan kreasi cokelat yang terdiri dari beberapa warna dikatakannya agak rumit, karena harus menunggu cokelat dengan warna pertama dingin dulu, baru kemudian bisa dituangkan cokelat dengan warna kedua dan berikutnya. Meski demikian, Gek Ratih mengaku enjoy melakoninya. “ Ya..seru aja kita berkreasi dengan cokelat,” ucapnya. Selain pesanan, hasil-hasil kreasi cokelat valentine-nya ini pun akan mulai digelar H-4 di depan rumah mereka di Jalan Drupadi No. 10 Denpasar. “Kami sudah siapkan satu meja dan satu payung besar untuk berjualan,” ujar Sagung Alit.–Inten Indrawati

amun, baru saja ia akan melewati pintu masuk keberangkatan domestik, petugas yang memeriksa tiketnya memintanya untuk masuk ke ruang tunggu keberangkatan internasional. Rupanya, tujuan Partini ke Kuala Lumpur, Malaysia. Petugas sempat memberitahunya agar membayar boarding pass terlebih dahulu sebelum berangkat. Itulah sebabnya Partini kembali ke loket boarding pass. Memakai jilbab dan memegang dompet, tiket pesawat serta tastas yang banyak ditentengannya, ia terlihat kerepotan. Berjalan ke sana kemari sambil memperhatikan orang-orang yang tengah mengantri membayar boarding pass. Dari tadi ia hanya berdiri memperhatikan penumpang pesawat yang bergantian membayar. Beberapa waktu kemudian, Partini mendekati seorang ibu yang baru saja membayar boarding pass. “Berapa harganya,” tanya Partini yang tidak tahu apa yang hendak dibelinya itu. Ibu itu pun menjawab sembari langsung berlalu. Beberapa orang yang ditanyanya menjawab sama dan segera berlalu. Namun, Partini tetap diam di tempatnya di samping loket itu, dengan wajah yang terus bingung. Sampai ia bertanya pada seorang perempuan muda yang kemudian menolongnya. Merasa iba pada Partini yang kebingungan, perempuan muda tersebut keluar dari antrian dan mengajaknya bicara. “Ibu mau ke mana?” tanya perempuan muda itu kepada Partini. “Mau ke Malaysia, berapa harga ibu beli itu,” kata Partini balik bertanya sambil menunjuk boarding pass yang dipegang perempuan muda tersebut. “Ini harganya Rp 45.000, tapi kalau ibu mau ke Malaysia, harus bayar Rp 150.000,” kata perempuan muda ini. Mendengar itu, raut wajah Partini langsung sedih. Ia mundur beberapa langkah. Terlihat wajahnya makin bingung. Partini hanya

mempunyai uang yang disimpan di dompetnya, Rp 60.000. “Uang saya tidak cukup, saya tidak punya HP untuk menghubungi keluarga saya. Mereka tadi hanya mengantar saya lalu pulang kembali ke kampung di Bara Bali Lombok Tengah,” kata Partini sedih. Untunglah perempuan muda yang hendak terbang ke Jakarta bersama anaknya ini berbaik hati. Ia pun mengajak Partini duduk di bangku tunggu penumpang di luar ruang tunggu. Mereka pun tampak mengobrol. Perempuan muda ini memberikannya uang untuk membayar boarding pass. Setelah itu, Partini terlibat obrolan dengan orang yang membantunya ini. Di sanalah Partini menceritakan kisahnya yang sedih. Dengan dialek Melayu yang kental, Partini bercerita bahwa ia telah menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia sejak lima tahun lalu. Selama lima tahun itu ia tidak pernah pulang ke Lombok karena ditahan oleh majikannya. Rindu akan kampung halamannya membuat ia setengah memaksa meminta izin pulang, sampai akhirnya ia diizinkan oleh majikannya pulang selama sebulan. “Ini kepulangan pertama saya setelah lima tahun bekerja di Malaysia,” katanya. Sebagai seorang TKW, kehidupan Partini di negeri jiran itu terbilang baik-baik saja. Ia mendapatkan majikan yang baik dan cocok dengannya, sampai-sampai ia tidak diizinkan pulang. Gaji Partini tiap bulan, selalu ditabungnya. Tiga bulan sekali ia mengirimkan uang tersebut kepada orangtuanya untuk membeli sawah dan membangun rumah mereka. Sesungguhnya penghasilan yang didapat Partini selama di Malaysia, sesuai dengan harapannya ketika pertama kali memutuskan untuk menjadi TKW, setelah suaminya meninggal. “Saya ingin mendapatkan penghasilan yang layak untuk sebuah kehidupan yang layak, minimal memiliki tempat tinggal

yang layak pula,” ujarnya. Apalagi saat itu ia meninggalkan dua orang anak yang kecil-kecil yang diurus oleh orangtuanya yang sudah sepuh. Dengan penuh kebanggaan, Partini mengirim uang untuk anak dan keluarganya. “Dalam benak saya, rumah setidaknya sudah beratap dan punya sedikit sawah yang bisa digarap kelak setelah saya pulang usai menjadi TKW,” ujar Partini yang mengaku kecewa setelah tiba di Lombok. Sorot matanya tiba-tiba meredup. Partini

­t ertunduk dan diam beberapa saat. Ia pun mulai bercerita. ANAK JADI PELIPUR LARA Dengan wajah berseri-seri, sebulan yang lalu Partini mendarat di Bandara Internasional Lombok di Lombok Tengah, setelah lima tahun meninggalkan tanah kelahirannya ini. Ia dijemput oleh keluarga, menggunakan mobil

sewaan. Sepanjang perjalanan, Partini bercerita dengan ceria. Tawa dan canda mengiringi kebahagiaan Partini dan dua anaknya sepanjang perjalanan. Begitu tiba di rumah, Partini langsung ke rumah orangtuanya. “Begitu masuk rumah orangtua saya, saya sedikit bertanya-tanya, bagian mana dari rumah ini yang diperbaiki dengan uang yang saya kirim,” kata Partini dalam hati.

­N amun, ia menduga kemungkinan rumah yang dimaksud dibangun itu, bukan rumah orangtuanya, melainkan rumah baru yang tidak jauh dari rumah orang tuanya itu. Ia berpikir esok hari saja ia pergi melihat rumah tersebut, sekalian dengan sawah yang tidak luas itu. Hari itu Partini menghabiskan waktu bersama kedua anak dan orangtua serta keluarga dekatnya yang banyak datang menyambutnya. Ia tidak banyak bertanya. Keesokan harinya, Partini baru bertanya pada orangtuanya

tentang aset-aset yang diperkirakannya ada. Partini sungguh kaget mendengar perjelasan orangtuanya bahwa tidak sedikit pun aset dari puluhan juta uang yang telah dikirimkannya itu. Hanya sebidang tanah tiga are dekat rumah orang tuanya yang bisa ia lihat sebagai hasil keringatnya menjadi pekerja rumah tangga di negeri orang. “Keluarga saya yang rupanya menghabiskan uang tersebut,” kata Partini tanpa mau menyebut siapa keluarganya tersebut. Tiga bulan sekali, ia selalu mengirimkan uang ke kampung melalui rekening keluarganya tersebut. Alangkah sedihnya Partini mendapati nasibnya seperti itu. Ia sendiri mencoba sabar dan memilih tidak ingin ribut dengan keluarganya itu. Lelah dan capek bekerja, tidak terobati. “Untung ada anak-anak saya yang bisa menghibur hati saya,” katanya. Atas janji pada majikan yang baik padanya, hari itu Partini kembali ke Malaysia. Tak lama kemudian panggilan boarding terdengar. Partini melangkah sedikit lunglai. Ia berharap perjalanan kali ini akan mengantarkannya kembali ke bandara ini dua tahun kemudian. Partini menarik nafas panjang. Sembari berterima kasih atas bantuan perempuan muda itu, ia mengumpulkan segala tenaga untuk memulai bekerja lagi demi anak-anaknya. “Saya tidak akan lagi mengirim uang ke rekening keluarga itu dalam jumlah yang banyak, melainkan saya tabung untuk anak-anak saya. Ditanya bagaimana dan apa yang akan terjadi padanya dalam perjalanan itu hanya dengan membawa uang Rp 60.000? “Nanti di Kuala Lumpur saya dijemput oleh majikan,” katanya sambil menyalami perempuan muda itu sembari mengucapkan selamat jalan pada perempuan muda yang terlihat iba padanya. Perempuan muda itu menyelipkan sejumlah uang sebagai bekal perjalanannya. -Naniek I. Taufan


6

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Pd. . S i, n ti r a M n a m o y N Ni

Bermain sambil Belajar Masa kanak-kanak adalah masanya bermain. Hal inilah yang dipegang Ni Nyoman Martini, S.Pd. dalam menjalankan kepemimpinannya sebagai Kepala PAUD Laksana Kumara. Karena itu pula, konsep melali sambil melajah menjadi acuan pengajaran di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) ini.

S

ebagai guru PAUD, diakuinya memang harus memiliki ke­ sabaran yang ekstra dalam menghadapi anak-anak yang notabene memiliki karakter berbeda-beda. Menghadapi anak yang berebutan mainan atau barang lain dengan temannya, atau anak yang menangis, menjadi rutinitas Nyoman Martini yang sudah menjabat Kepala PAUD sejak sekolah ini berdiri tahun 1997. “Biasanya anak-anak mena­ ngis karena situasi mereka lagi malas atau tidak mood. Biasanya anak tersebut kami gendong, elus-elus dan dipeluk. Ketika mereka sudah nyaman, baru kami menasihati pelan-pelan. Demikian halnya dengan menangani anak yang berebutan mainan,” tutur istri AA Ketut Putra Nurjaya ini. Sebagai Kepala PAUD, ia tak

banyak memegang kelas. Ia hanya mengajar di kelas B4. Selebihnya, tentu saja mengatur keberlangsungan proses pendidikan di PAUD milik Banjar Kaja, Panjer, Denpasar Selatan ini. Dalam proses pengajaran di PAUD ini, anak-anak di Kelompok A lebih banyak porsi bermain. Di kelas ini pendidikannya lebih diarahkan pada pembentukan mental anak, pengenalan lingkungan, mencari teman, belajar mandiri, dan sosialisasi. Di Kelas B, porsi pengajaran lebih diarahkan untuk persiapan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Ini juga sekaligus menjadi jawaban atas dilema pelarang­ an pengajaran baca-tulis di PAUD, sementara di SD awal, anak diharuskan bisa baca-tulis. “Pengenalan dengan angka dan huruf, kami lakukan dengan konsep bermain sambil belajar. Jadi, anak-anak tidak merasa

terpaksa menyerap pelajaran yang kami sisipkan dalam bermain tersebut,” jelas ibu dari AA Putu Embun Sanjaya Yudha, S.H., dan AA Made Candra Dwijayanthi, A.Md. ini. Karena itu pula, Nyoman Martini mengungkapkan dalam proses pengajaran banyak menggunakan alat peraga dari yang tak nyata menjadi nyata. Contohnya, guru memperperlihatkan gambar atau bentuk perahu, dan di bawahnya ada tulisan “perahu”. Jadi, ketika anak diajak melafalkan bersamasama kata perahu tersebut, selain tahu bentuk, secara tidak langsung pula anak merekam ejaan. Contoh lain, memperlihatkan gambar ekor, namun di bawahnya hanya bertuliskan “eko…”. Dari sini, otak anak dirangsang berpikir untuk bisa melengkapi kata tersebut. “Prinsipnya, anak belajar dengan senang, yakni dengan bermain,” tegasnya. Meski hanya “TK Banjar”— sebutan umum untuk PAUD milik banjar—prestasinya PAUD ini tak bisa dilihat sebelah mata, terutama di bidang seni lukis. Deretan piala lomba mewarnai dan menggambar berjejer di ruang kantor guru. “Sejak 2004 sampai sekarang, untuk lomba ini prestasi

Woman on Top

kami memang agak menonjol. Bahkan hingga ke tingkat provinsi,” ucap Nyoman Martini yang akrab disapa Bu Jero ini. Anak-anak yang senang, biasanya berlatih lagi di rumah, entah itu sebagai PR—sebutan

umum untuk hal-hal yang dikerjakan anak di rumah dan keesokan harinya diperlihatkan di sekolah. Namun, Nyoman Martini kurang setuju dengan sebutan “PR”. “Kami tidak pernah memberikan ‘PR’ kepada anak. Anak boleh belajar apa saja di rumah, baik menulis atau menggambar sesuai dengan kemauan merek sendiri,

yang keesokan harinya diperlihatkan kepada guru. Jika kami sebut ‘PR’ itu sama saja dengan membajak hak anak, mereka akan merasa terbebani. Karena, teknik di PAUD adalah belajar dan bermain agar tak kehilangan masa kanak-kanaknya,” tegasnya kembali. Selain mewarnai, ada ekskul wajib menari dan Bahasa Inggris. Di PAUD Laksana Kumara, ada 8 guru tetap dan 3 guru ekstra. Jam kerja mereka mulai pukul 07.30 sampai 12.00. Tiap bulan ada evaluasi perkembangan anak. Kalaupun ada permasalahan baik antara anak didik dan guru, orangtua murid, maupun antarguru, dikatakan Nyoman Martini, semua bisa dibicarakan. “Silahkan keluarkan ideide, masukan, maupun kritikan dengan bertatap muka langsung, sehingga bisa dibicarakan bersama dan diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar perempuan kelahiran 23 Oktober 1963 ini. Demikian juga halnya yang ia terapkan dalam rumah tangganya. Selain disibukkan dengan aktivitasnya sebagai guru PAUD sejak pagi hingga siang, selepas itu Nyoman Martini juga mengajar Budi Pekerti, BK, dan Agama Hindu di SMP PGRI 7 Denpasar. Sore hari ia bisa berkumpul dengan suami dan anak-anaknya, atau makan malam bersama. Untuk urusan bermasyarakat adat, ia mengaku tak terlalu banyak menyita waktunya kini. “Saya sudah punya mantu, lebih banyak dia yang ke adat. Saya lebih sering ngemong cucu,” tandasnya. –Inten Indrawati

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Tebarkan Cinta Kasih tiap Hari Menjelang Hari Valentine banyak tokotoko memajang cokelat, bunga mawar, boneka atau pernak-pernik yang bergambarkan hati berwarna pink, yang dapat dijadikan pilihan sebagai hadiah kepada orang yang kita sayangi. Bagaimana para remaja menyambut hari Valentine? Seberapa pentingkah Valentine untuk dirayakan?

P

utu Diah Aryastuti Sanjiwani menilai, hari Valentine tidak harus dirayakan dengan pesta yang berlebihan. Menurut mahasiswi semester IV Fakultas

Ekonomi Universitas Udayana ini, Valen­t­ine dijadikan momen untuk penyadaran diri untuk lebih mengerti makna kasih sayang itu sendiri. “Penyampaian kasih sayang sebenarnya tidak harus dilakukan hanya pada saat

hari Valentine. Namun, tiap hari, kita harus melakukan kasih sayang kepada semua orang, kepada orangtua, saudara, teman, maupun lingkungan kita,” ujar gadis berkulit putih ini. Bagi Sanji, begitu ia akrab disapa, ia sendiri tak pernah melakukan perayaan saat Valen­tine karena baginya, tiap hari harusnya tetap dijalani dengan kasih sayang. “Bisa saja, pas momen Valentine kita melakukan hal yang lebih besar. Misalnya, jika kita biasanya sibuk sempatkan waktu untuk membersihkan rumah atau memasak, atau membantu pekerjaan rumahtangga. Hal ini tentu membuat hati para orangtua senang. Hubungan de­ngan saudara juga bisa diperbaiki. Biasanya, kalau suka berantem, kurangi berantem. Termasuk dengan

Ungkapkan Sayang lewat Kartu

Menyelipkan pesan moral termasuk nilai kasih sayang kepada anak lewat dongeng

Menjadi guru memang penuh tantangan, terutama guru TK. Malahan tak sedikit pula yang menyebutkan peran yang dilakoni guru-guru TK ini diibaratkan baby sitter. Benar memang, karena realitanya guru-guru TK berhadapan dengan anak-anak di rentang usia 4 tahun-6 tahun. Bahkan, di bawah usia 4 tahun untuk kelompok bermain (Play Group). Hal ini diakui pula oleh Kepala Sekolah PG/TK Lingga Murti School, Sri Dewi Widianingsih, S.Pd. Ia yang lebih banyak terlibat menangani anak-anak PG ini, bahkan kerapkali memangku dan menggendong mereka. “Terkadang mood mereka tidak bagus sehingga menangis. Kalau sudah begitu, biasanya saya menggendong anak tersebut sampai merasa nyaman dan berhenti menangis, baru kemudian diajak bergabung kembali dengan anak yang lain,” ujarnya. Sentuhan-sentuhan kecil dengan mengelus, memeluk, mencium, ataupun menggendong dengan sayang dikatakannya salah satu bentuk kasih sayang yang bisa diberikan guru kepada anak didiknya ataupun orangtua kepada anaknya. Ketika anak merasa nyaman, saat itulah waktu yang tepat memasukkan pesan-pesan atau nilai-nilai moral yang baik kepada anak. “Pesan-pesan ini juga bisa diselipkan lewat dongeng,”

imbuh Wakasek AA Eka Yuliawati, S.Pd. Menurutnya, berbagai pesan moral yang disampaikan melalui dongeng akan lebih mudah diterima anak. Melalui dongeng, baik itu yang dibacakan langsung maupun yang diperagakan dengan panggung boneka, membuat anak lebih mengerti akan apa yang boleh dilakukan dan yang tidak, apa yang baik dan tidak baik, tanpa harus dengan cara memarahi ataupun melarang anak tanpa memberikan alasan yang jelas. Selain itu, dongeng dikatakannya juga dapat mengembangkan daya fantasi dan merangsang psikologis anak sehingga anak terdorong untuk berpikir kreatif. Juga, mengembangkan dan memperkaya kosakata bahasa pada anak. Menjelang Hari Valentine, 14 Februari mendatang, anak-anak diajak membuat kartu Valentine. Anak-anak diberikan berkreasi di atas kartu berwarna pink berbentuk hati tersebut. Mereka menulis ucapan “Selamat Hari Valentine” dilengkapi dengan nama mereka. Ada juga beberapa anak yang menambahkan gambar-gambar, seperti bunga dan rumah. Di bagian akhir, kartu itu ditempeli aksesori berwarna-warni sehingga terlihat cantik. Pada saatnya nanti, kartu-kartu kreasi mereka tersebut akan diberikan kepada orang yang mereka kasihi, seperti orangtua, kakak atau adik, gurunya, bahkan teman baiknya. –Inten Indrawati

Kreasi anak-anak Lingga Murti School dalam kartu Valentine

teman-teman. Lebih mengerti satu sama lain saja,” kata Sanji yang mengaku belum punya pacar ini. Ia tak menampik, banyak remaja melakukan perayaan Valentine secara berlebihan, apalagi ada yang sudah melewati batas sampai melakukan hubungan seksual. Sanji dengan tegas menolak, cara-cara negatif dalam melakukan perayaan Valentine. Ia sangat menyayangkan, remaja yang sudah memilki pacar melakukan perayaan Valentine di luar batas. “Kalau menurut saya sih, bagi yang punya pacar, lebih baik intropeksi hubungan, agar ke depannya lebih baik dan tidak sering berantem. Bukan dengan caracara negatif yang belum pantas dilakukan,” kata putri sulung Diah Yuniti dan Ketut Astawa ini. Sanji juga mengajak, para remaja sebaiknya melakukan perayaan Valen­

19

tine dengan hal-hal positif dan tidak melakukan hanya saat tanggal 14 Februari, tapi tetap menebarkan cinta kasih setiap hari. Sementara, menurut Anggi, siswa kelas I SMK di Denpasar ini mengatakan, ia tak pernah merayakan Valentine. Apalagi, itu bukan tradisi atau budaya orang Bali. Walaupun tak pernah merayakan Valentine ia setuju saja jika para remaja melakukan perayaan Valentine Asal tidak berlebihan. “Kalau sekadar memberi cokelat, bunga, atau hadiah yang lain, sah-sah saja. Asal tidak membebankan orangtua dan hadiah dibeli dari uang sendiri. Misalnya kita menyisakan dari uang saku,” kata Anggi. Namun, menurutnya, Valen­ tine lebih pas jika dirayakan bersama keluarga dengan makan bersama di rumah. “Kita bisa masak bersama dan menikmati masakan itu bersama keluarga. Pasti menyenangkan sekali,” ujarnya. Anggi juga sependapat de­ngan Sanji, kasih sayang memang selalu ditaburkan setiap hari. Implementasinya, kita selalu menghormati orangtua dengan menuruti nasihat me­reka, dan jangan pernah iri hati kepada teman. –Wirati Astiti

Kasih Sayang sebagai Bunyi yang Merdu Hari Valentine dijadikan momentum mengungkapkan rasa kasih sayang terhadap orang yang dikasihi, baik kepada orangtua, kerabat, kekasih maupun teman. Ada yang tak cukup hanya berperilaku penuh kasih sayang, tetapi memberi perhatian atau hadiah menarik kepada orang yang disayangi seperti bunga, kue, coklat bahkan pula sampai kegiatan pesta dan hura-hura. Menurut I Made G. Juniartha, S.Sos.H., M.Fil.H, dari segi budaya Bali mungkin sedikit berbeda. “Leluhur orang Bali juga mewarisi hari-hari istimewa dan disucikan penuh kasih sayang,” ujarnya. Ia menyebut ada Tumpek Krulut yang merupakan ritual sebagai bentuk sujud syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam manifestasi sebagai Dewa Iswara atas terciptanya suara-suara suci atau tabuh dalam keindahan dan seni. Makna dari krulut itu sendiri berarti lulut atau senang atau cinta, yang bisa disejajarkan dengan makna kasih sayang. Dalam agama

Hindu bukan hanya sebatas ritual semata tapi yang terpenting sebagai implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Unsur seni yang ada di setiap orang kemudian diimplementasikan menjadi berbagai peralatan seni, harus dimanfaatkan sebagai sarana memuja Tuhan. Lebih jauh makna terdalam dari perayaan Tumpek Krulut sebagai perayaan tentang cinta kasih persaudaraan semesta (lulut) yang diindentikan dengan hari Valentine. Kasih sayang seharusnya diwujudkan oleh setiap orang kepada semua orang seperti bunyi gamelan yang beraneka ragam itu menghasilkan bunyi yang merdu dan indah. Kebiasaan menyayangi ini diwarisi dari leluhur yang lebih kental bernuansa religius sebagai pengalaman ajaran agama Hindu yang menekankan kasih sayang kepada lingkungan alam (palemahan), sesama makhluk hidup (pawongan), dan kepada Sang Hyang Widhi Wasa(parhyangan). Juni menambahkan dampak positif remaja sekarang merayakan Valentine semakin menumbuhkan rasa kepedulian dengan sesama atau yang dia sayangi. Dampak negatifnya remaja masa kini terkadang lupa akan konsep budaya yang lebih dalam dan penuh makna, seharusnya memaknai hari kasih sayang tanpa mesti terlalu kebarat-baratan yang kadang melupakan kearifan lokal. “Merayakan hari Valentine boleh namun lebih bagusnya lagi momentum tersebut bisa dituangkan dalam keseharian penuh kasih, baik kepada lingkungan, sesama maupun bhakti kepada Tuhan yang dijadikan sebagai pelayanan kepada Tuhan,” ujar dosen IHDN Denpasar ini. -Sriadi


20

Nine

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Ajak Bayi Mengajar di Kelas Sembari menggendong bayinya yang baru berusia dua bulan, Ria Prastiani, berangkat ke sekolah tempatnya mengajar di Sekolah Dasar Negeri 1 Labuan Kananga, Bima, Nusa Tenggara Barat. Tawa dan celoteh anak desa yang menjadi murid-muridnya, adalah irama keseharian perempuan yang mulai mengajar setahun sejak lulus SMA ini. Bayi mungil anak keduanya ini selalu ikut dengannya saat ia mengajar di sekolah yang sangat sederhana ini.

S

ejak tiga bulan sebelum melahirkan, guru honorer daerah Bima ini, diberi keringanan oleh Kepala Sekolah SDN 1 Labuan Kananga, Haeruddin, S.Pd., sementara waktu masuk tiga hari, yakni hari Senin, Rabu dan Jumat. Toleransi lain yang diberikan oleh kepala sekolah ini padanya adalah mengajak serta bayinya “mengajar” di dalam kelas. “Saat saya mengajar, bayi saya tidurkan di meja guru,” ungkap perempuan sederhana yang mengawali pengabdiannya sebagai pendidik ini dari menjadi guru sukarela dengan honor Rp 20.000/bulan, sejak Januari 2004. Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh Ria dan toleransi yang diberikan oleh kepala sekolah ini, terlihat tidak lazim. Namun,

tidak bagi Ria, Haeruddin dan 10 guru lainnya di sekolah ini. Mereka saling memaklumi satu sama lain dan saling mendukung untuk tetap bersemangat mengajar di sekolah yang berada di ujung utara Pulau Sumbawa, yang berjarak 7 jam perjalanan dari Kota Bima ini. Bagaimana tidak, sekolah yang memiliki 187 murid ini, hanya memiliki empat ruangan yang dipakai bersama-bersama. “Kelas I dengan jumlah 60 orang dan kelas II 40 orang, belajar dalam satu ruangan secara bersamaan di perpustakaan sekolah. Mereka duduk lesehan memakai karpet. Kelas III yang berjumlah 24 orang dan kelas IV 23 orang, memakai satu ruangan juga secara bersamaan. Sedangkan kelas lima memiliki kelas sendiri dan kelas VI belajar menggunakan ruang

guru. Ditambah lagi dengan 15 anak yang menjadi murid pendengar yang secara bersamaan dengan kelas I dan II, bergabung di ruang perpustakaan,” ungkap Haeruddin. Bisa dibayangkan betapa riuhnya ruangan tersebut. Dalam proses belajar mengajar, kelas I dan kelas II saling membelakangi tanpa ada pembatas. Sedangkan kelas III dan IV belajar di ruangan yang sama, juga tidak ada pembatas, namun sama-sama menghadap ke arah yang sama. Menurut keterangan Haeruddin, sekolah yang berdiri sejak tahun 1943 dengan dinding papan (tahun 1987 baru dibangun ruang kelas permanen) ini, sebelumnya hanya memiliki tiga ruangan. “Tahun 2010 ditambah satu ruangan perpustakaan,” ujarnya. Dan

Honor Guru Rp 20 Ribu per Bulan Perjalanan Ria menjadi seorang pendidik, bermula dari ketiadaan tenaga guru di desa yang sangat jauh dari kelancaran berbagai akses tersebut. Tahun 2004, setahun setelah lulus SMA, Ria mulai mengabdi sebagai guru sukarela di SDN Tambora, sebuah sekolah terpencil di tengah perkebunan kopi di kaki Gunung Tambora. Selama satu tahun delapan bulan ia mengajar di sekolah ini. Ria yang diterima sebagai guru dengan ijazah SMA ini, hanya menerima honor sebanyak Rp 20.000 atau kadang-kadang Rp 50.000/bulan. Bagi orang lain, honor ini tentulah sangat kecil. Namun semangat Ria tidak pernah kecil untuk mengajar, melainkan ia memiliki semangat yang besar untuk membagi ilmu kepada murid-muridnya yang notabene adalah anak-anak yang tinggal di desa terpencil, daerah di mana ia juga dilahirkan. Ria juga tidak pernah malu menerima honor tersebut, karena baginya, mengabdi dengan ikhlas telahlah cukup baginya. Soal nilai uang adalah urusan kesekian baginya. Yang penting dan diutamakan olehnya adalah mengabdi.

Keikhlasan Ria yang pada tahun 2008 dipindahkan ke Sekolah Dasar Negeri 1 Labuan Kananga ini, akhirnya terbukti menaikkan derajatnya sebagai seorang guru, saat ia kemudian diangkat sebagai guru honorer daerah di tahun 2005 dengan honor Rp 200.000. Honor ini bertahan hingga tahun 2007. “Tahun 2008 sampai sekarang honor saya terima Rp 300.000, ditambah dengan honor lainnya Rp 450 yang saya terima setiap tiga bulan sekali,” kata perempuan kelahiran 28 Oktober 1983 ini. Dengan apa yang didapatkannya hari ini, Ria yang telah dua kali ikut tes PNS namun masih gagal ini, merasa sangat bersyukur. Dengan honor inilah, Ria sempat membiayai kuliah jarak jauh, D2 dan S1nya di IKIP PGRI Jember Cabang Dompu, di tahun 2006 dan tahun 2008. Di SDN 1 Labuan Kananga inilah, Ria dan 11 orang pengajar lainnya (Kepala Sekolah dan tiga guru berstatus PNS, tujuh guru sukarela dan satu guru dari program Indonesia mengajar), mengajar dengan semangat pengabdian. -Naniek I. Taufan

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Kesuma Tirta

Bekerja karena Hobi Berkecimpung di dunia desain grafis menjadikan ­ Drs. I Ketut Kesuma Tirta memperoleh kepuasan. Beragam projek sudah digarap, diantaranya desain logo , brosur dan company profile dan cover buku. Ia pun tidak pernah berhenti mencari ide-ide kreatif untuk menjadikan sebuah desain berkarakter dan memiliki nilai sebagai solusi kreatif bagi kliennya.

Ria bersama suami dan dua anaknya

alangkah gembiranya, Haeruddin, Ria dan juga guru lainnya, karena di Bulan Juni 2015, mereka akan mendapatkan dua RKB (Ruang Kegiatan Belajar Mengajar) dari APBN melalui Pemerintah Kabupaten Bima. Dalam kondisi serba kekurangan, Ria dan seluruh pengajar di sekolah ini, tidak pernah surut dalam mengajar meski mereka harus beristirahat di teras sekolah tiap kali jam istirahat tiba. “Kami istirahat di teras karena ruang

guru/kantor dipakai untuk kelas VI,” kata Ria. Itulah sebabnya bayinya selalu menyertai kala ia mengajar di dalam kelas. Selain itu, Ria menuturkan bahwa ia tidak bisa meninggalkan anaknya saat ia mengajar karena tidak ada yang menjaga, mengingat suaminya, Hasbullah, yang juga bekerja sebagai guru. Yang lebih penting dari semua itu, Ria ingin selalu memberikan ASI kepada bayinya setidaknya selama masa ASI ekslusif. -Naniek I. Taufan

Langganan Banjir tiap Tahun

Ria saat mengajar di SDN 1 Labuan Kananga

Inspirasi

Suka duka Ria bersama guru-guru berhari-hari. Bisa dibayangkan betapa dan muridnya di sekolah ini menyertai beceknya halaman sekolah mereka. “Seperjalanan mereka belajar mengajar. tiap tahun situasi yang sama pasti terjadi. Rasa khawatir selalu menggelayuti tatkala Tahun ini dua minggu yang lalu sempat musim hujan datang. “Tiap kali hujan banjir, tapi sekarang genangan air sudah datang, sekolah kami, khususnya halaman surut,” ujarnya saat dikonfirmasi situasi sekolah selalu tergenang banjir,” kata ibu terakhir sekolahnya. tiga orang anak (anak pertama meninggal) Dengan kondisi sekolah yang sederini. Beruntunglah, pondasi sekolah yang hana dan cenderung serba kekurangan tinggi membuat air tidak sering sampai ini, ke-12 tenaga pengajar di sekolah masuk ke kelas. ini, tampaknya memiliki semangat yang Jika hujan deras datang, menurut sama untuk mendidik anak-anak di desa Ria, genangan air di halaman sekolah yang jauh dari kota ini. Selain mengajar yang tidak memiliki papan nama ini, anak-anak di SDN 1 Labuan Kananga, bisa sampai perut orang dewasa. Inilah guru-guru ini juga mengajar kelas jauh yang membuat para guru dan murid yang jaraknya 10 kilometer dari sekolah kerapkali tertahan di sekolah, tidak bisa induk SDN 1 Labuan Kananga. “Secara keluar akibat tingginya genangan air. bergiliran, satu orang tiap satu minggu Namun begitu, mau tidak mau, mereka dikirim ke kelas jauh di Doro Lede,” kerapkali memaksakan diri untuk pulang ungkap Haeruddin. Menurut Haeruddin, karena tidak mungkin mereka sampai yang sejak 11 Maret 2006 menjadi kepala menginap di sekolah. “Kalau sudah begitu, sekolah ini, lokasi Doro Lede berada kami terpaksa harus keluar dari sekolah di perbukitan. Untuk sampai ke sana, dengan cara berjalan di tengah air yang demi mengajar anak-anak yang tinggal tingginya sampai perut,” ujar ibu dari lebih jauh lagi dari akses jalan raya ini, Agung Dwi Santoso (7) dan Nadira Putri dibutuhkan semangat “yang khusus”dari Sabila (2 bulan). para guru ini. -Naniek I. Taufan Tak ayal, mereka kerapkali pulang dengan pakaian basah. Ria mengaku sampai pernah menangis akibat situasi ini. “Saya pernah sampai menangis menghadapi situasi ini, kasihan muridmurid dan mungkin saya sedang sensitif kala itu,” ujarnya. Air yang menggenang itu, tidak akan langsung k e r i n g m e l a i n k a n Ria (tiga dari kanan), bersama rekan-rekan sesama guru di SDN 1 Labuan bisa bertahan hingga Kananga

bentuk visual. Misalnya ada pesanan membuat logo sebuah perusahaan. Di sini desainer grafis bertanggung jawab untuk mewujudkan komunikasi verbal tersebut menjadi sebuah karya komunikasi visual agar logo, mislanya mampu berbicara mencitrakan perusahaanya. Dikatakannya untuk proses, diperlukan waktu yang cukup panjang. Ia mencontohkan membuat sebuah logo. “Saya wajib ngobrol dengan klien. Kami mengomunikasikan apa usaha yang akan digarap, bentuk dan media yang diinginkan, warna , jenis huruf dan yang lainnya. Dari pedoman itulah saya akan mulai berkreasi. Saya Kesuma T ketika menjadi pembuat poster film biasanya membuatkan 5 ebih dari belasan tahun sudah alternatif untuk dipilih,” terang pemilik Kesuma T. begitu ia lebih Clinic Design di kawasan Jalan Glogor dikenal, berkarier sebagai Carik, Denpasar ini. seorang desainer grafis. KarIa melanjutkan , kalau aktivitas desain enanya ia juga seringkali diminta sebagai grafis dalam branding, dimulai dari merkonsultan desain oleh berbagai kalangan. ancang strategi identitas dan komunikasi Ia mengatakan sejak kecil sebenarnya ia serta visual brand. Merancang logo, memsudah senang melukis. Bahkan ketika SMP buat buku pedoman identitas, menerapkan ia menyimpan cita cita ingn menjadi tukang logo dan identitas visual lainnya ke dalam poster film. “Saya bisa berjam-jam duduk berbagai media, mulai dari kartu nama, hanya untuk melihat sebuah poster film. kop surat, sampai seragam karyawan, topi Hingga akhirnya saat kelas 2 SMSR hingga , hingga mobil. “ Semua ketentuan sudah kuliah,mimpi saya menjadi seorang poem- diperhitungkan, dari formulasi warna, buat poster film kesampaian.,”kenangnya campurannya, ukuran hingga jenis huruf atas aktivitas yang dilakoninya selama 4 , tinggal disesuaikan mau dipasang atau tahun tersebut . diletakkan dimana, dan klien pun tidak Begitulah, kesukaannya melukis akh- perlu bertanya lagi,” paparnya. irnya menggiring lelaki kelahiran 17 Juli Membuat logo atau yang lainnya , 1963 ini di tahun 84 memilih kuliah di kata Kesuma Tdengan semakin banyak Unud Jurusan Desain Grafis dan tuntas informasi yang bisa diberikan akan memdi tahun 1989. Ia sempat mengabdi di permudah merealisasikannya secara visual. Unud 3 tahun, namun karena tidak ada “Kalau yang minta dibuatkan tidak paham pengangkatan, ia pun beralih mengambil apa maunya ,bagaimana kami bisa mewuprojek event. Namun, itu tidak lama dan judkan,” cetusnya. “Apakah mereka ingin memilih bekerja di hotel dari tahun 1994 mau logotype (nama brand, berupa hurup) hingga 2004. Selain itu ia juga sempat atu logogram (lambang) atau gabungan mengabdikan ilmunya sebagai pengajar di keduanya. Sebab logo itu nantinya akan salah satu sekolah desain di Denpasar. menjadi salah satu lambang sebuah peruKetika menyebut desain grafis,menurut sahaan, artinya melihat logonya saja orang Kesume T adalah bidang keahlian yang tahu itu perusahaan apa,”lanjut penghobi menuntut kreativitas tinggi. Namun, yang trail adventure bisa ditangani sangatlah banyak malah bisa ini. berjalan ke segala arah kalau mau digali. “ P a d a “Sesungguhnya, desain grafis adalah bidang awalnya, saya ilmu yang meliputi banyak aspek mulai pikir, mem dari seni, komunikasi, teknologi hingga buat sebuah sosial budaya. Desainer grafis juga dapat logo, cukup bekerjasama dengan berbagai departemen hanya gambar dalam sebuah perusahaan,” papar suami di selembar Made Dewi Suhendri ini. kertas sudah Tugas utama seorang desainer grafis beres.Ternyakatanya sebagai pemecah masalah (problem ta tidak sessolver) untuk kebutuhan komunikasi dalam ederhana itu.

L

Kesuma Tirta

Ini saya ketahui karena banyak melihat di tempat kerja dahulu, di hotel Grah Hyatt. Saya belajar banyak ketika ikutan membantu kerjaan seorang desainer grafis dari luar negeri. Makanya tidak heran, kalau logo Garuda dihargai 1milyar. Sebab pengerjaannya pun tidak sebulan-dua bulan, melainkan berbulan-bulan,” ucap ayah dari Putu Gede Govinda Ananda Kesuma ini. Soal warna pun menjadi salah satu bahasan yang serius, sebab katanya setiap warna memiliki arti tersendiri. “Misalnya untuk usaha spa , sang pemilik suka warna merah, padfahal merah kurang tepat. Maka ia pun akan menyarankan memilih warna biru dan hijau yang lebih cocok,” kata Kusuma T yang saat ini tengah sibuk menangani pesanan stiker untuk motor trail. DOKTER DESAIN Begitu masuk ke tempat kerjanya jelas terlihat bahwa ruangan dipenuhi hasil karya kreatif. Di sebagian dinding berisikan karikatur beberapa figur di Bali. Begitu juga di suatu sudut ada tumpukan buku dengan cover hasil goresannya, juga setumpuk kaus dengan gambar aneka budaya lokal.”itu sebagai kenangan dari apa yang telah dikerjakan,” ucap anak keempat dari pasutri Jro Mangku Sekar (alm) dan Jeri Mangku Istri ini. Tempat kerjanya tersebut diberi nama Clinic Design. Di sana pulalah ia bersama timnya menjaga dan melakukan semua proses,

5

dari meracik, memasak dan akhirnya menyajikannya karyanya. Hingga kini beragam projek sudah ditanganinya. Meski diakui Kesuma T, masih banyak orang awam yang kurang menghargai profesinya. “Lucunya hanya untuk berjualan es yang sifatnya musiman saja minta dibuatkan logo. Sempat bingung juga, tapi karena diminta juga, ya dibuatkan juga dengan huruf kombinasi saja,” katanya tersenyum. Ditanya soal istilah seringnya ia disebut dokter desain oleh para relasinya, Kesuma T mengatakan , itu karena tugasnya seperti dokter pada umumnya kalau ia tidak ikut menangani, klien tidak akan puas. “Asisten sifatnya hanya membantu. Saya harus ketemu dengan klien, mereka akan tahu kalau bukan saya yang mengerjakan,”katanya. Selanjutnya ketika tolok ukur proses kreatif seorang desainer grafis yaitu wawasan termasuk daya persepsi, keterbukaan dalam berpikir. Penalaran, berupa daya apresiasi, kemampuan analisis, kemampuan berpikir logis. Estetik, daya apresiasi, daya ekspresi serta kemampuan berpikir kreatif. Untuk ini maka yang namanya mood itu harus terjaga. Bagi seorang Kesuma T, ketika merasa kurang produktif dengan mood kerja yang menurun, untuk menumbuh gairah kreativitasnya dan menggali ide, biasanya ia akan menaiki trailnya berkeliling kota atau diam di studionya dengan berselancar di internet. Saai ini Kesuma T mengatakan dirinya senang bekerja dengan memanfaatkan talenta dan hobinya.” Karenanya seberapa pun saya diberikan rezeki sama Tuhan dengan dakin liman saya sendiri itulah yang saya terima penuh syukur,” kata Kesuma T yang lebih memilih promosi dari mulut ke mulut ini, sambil menambahkan ia menjadi lebih bahagia lagi jika dapat membantu dan menyenangkan orang lain. Sedangkan soal hobi melukis juga terus dilakukannya. “Saya akui memang dominan melukis realis. Saya lebih suka melukis figur-figur. Makanya teman-teman banyak yang menyarankan kenapa tidak balik membuat poster film dan disarankan juga memebuat lukisan reralita ekspresi biar yang melihat tidak bosan,” katanya sembari mengatakan ini menjadi pertimbangan yang akan mengisi hari tuanya. Bicara peluang kedepan , dengan sederhana pembuat Komik Lutung di Tabloid Anak-Anak Lintang ini berujar bahwa bekerja di dunia seni, berarti juga bicara selera. “Mereka datang jika merasa cocok, sama seperti kita memilih tempat makan,”katanya menyudahi percakapan. – Sri Ardhini


4

Inspirasi

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Tika Bisono

Perdalam Ilmu Mindset

Di era 80-an nama wanita cantik ini begitu terkenal. Maklum, selain penyanyi dia juga adalah seorang model. Dialah Tika Bisono, Putri Remaja Indonesia 1978. Mungkin Anda masih ingat lagunya berjudul ‘Pagi’ atau ‘Ketika Senyumu Hadir’ atau bahkan ‘Melati Suci’ yang didendangkan Tika dengan syahdu. Lagu gubahan Guruh Soekarnoputra yang dipersembahkan untuk ibunya Fatmawati dan ayahnya, Soekarno, pun menjadi popular. Suara Tika yang khas membuat dia mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat.

S

ayangnya dunia hiburan bukanlah pilihan Tika untuk mengembangkan karier. Sekalipun ia telah memiliki nama besar di dunia yang ditekuninya sejak remaja, Tika lebih memilih focus pada pendidikan. Ia lebih tertarik menekuni ilmu psikologi dan segala selukbeluknya. Walhasil, setelah merilis album ‘Ketika Senyumu Hadir’ tahun 1990, tidak ada lagi album tunggal yang dikeluarkannya. Kini, orang lebih mengenal Tika sebagai psikolog, khususnya di bidang pendidikan dan anak/ remaja. Namun begitu, di tengah kesibukannya yang luar biasa sebagai psikolog, dosen maupun konsultan professional, Tika masih sempat memperhatikan tentang perkembangan lagu anak yang makin memprihatinkan. Lebih miris lagi, kata Tika, jarang ada radio atau televise mau memutar lagu anak-anak. Karenanya wanita kelahiran Bandung, Oktober 1960 ini, tak mau tinggal diam. Bersama temantemannya, ia pun ‘memutar-otak’ bagaimana caranya agar lagu anakanak bisa mendapat ‘kapling’ di televise ataupun radio. Lalu ia pun mengemas sebuah album dari Ajang Cipta Lagu Anak (Acila) yang diberi nama ‘Pelangi Acila’ , yang isinya bukan hanya penyanyi cilik, tapi juga penyanyi remaja hingga dewasa seperti Nugie, Dea Mirella, Hershon Riewpassa, dll. Tika sendiri turut menyumbang suaranya dalam album tersebut lewat lagu ‘Teman Sejati’ bergenre country. Di luar kegiatan itu, Tika boleh dibilang nyaris tidak menyanyi lagi, dalam artian menyanyi dari panggung ke panggung sebagaimana dilakoninya saat muda dulu. Ia kini lebih sibuk dengan mengembangkan kariernya di bidang psikologi, juga trainer di bidang human resources dan communication excellence. Belum lagi seminar-seminar dimana Tika diundang sebagai pembicara. Di tengah-tengah kesibukannya yang luar biasa itu, ibu tiga anak ini masih menyempatkan diri memperdalam ilmu psikologinya dengan mengambli program S3 di Universitas Indonesia. “Sebenarnya sudah sejak tahun 2012 lalu aku mengambil S3, hanya saja sempat terhenti

karena ada berbagai kesibukan. Nah sekarang ini baru aku lanjutkan kembali.Untuk S3 ini aku ingin memperdalam tentang mindset. Aku ingin tahu pendidikan yang bagaimana yang berkontribusi pada mindset,” ungkapnya. Valentine bukan Hari Seks bebas Terkait dengan mindset itu, kemudian ditanyakan tentang adanya pandangan dari tokohtokoh tertentu yang kurang setuju dengan dirayakannya Hari Valentine oleh sebagian anak muda Indonesia . Ketidaksetujuan itu antara lain karena anggapan bahwa perayaan Hari Valentine memberi dampak negative bagi anak muda, seperti seks bebas, dll. Menurut Tika, itu adalah pemikiran yang salah. Karena sesungguhnya makna dari Hari Valentine tidaklah seperti itu. Hari Valentine atau yang juga dikenal sebagai Hari Kasih Sayang, adalah hari di mana orang mengungkapkan rasa sayangnya terhadap orang-orang yang dicintai. Tidak ada kaitannya dengan seks bebas, erotis, dll. Juga bukan hanya dimaknai sebagai hari ‘cinta’ bagi mereka yang tengah kasmaran. Tapi lebih luas dari itu. Misalnya, antara suami-istri, sahabat, dll. Bahkan lewat Hari Valentine, hubungan yang tadinya retak karena berseteru, bisa baik kembali. “Jadi not only between lover,” tandasnya. Jadi kalau kemudian dikatakan terjadi seks bebas di Hari Valentine, itu adalah ekses yang salah kaprah, yang justru harus diperbaiki lewat pemberian pemahaman-pemahaman yang benar terkait makna yang sebenarnya dari Hari Kasih Sayang itu. “Hari Valentine sesungguhnya tidak mempromosikan hal-hal yang

negative. Ini adalah momentum memperingati ‘rasa’,” ucapnya. Jadi menurutnya, jika ada tokohtokoh tertentu yang kemudian berkomentar negative tentang Hari Valentine ini, hal itu terkait dengan mindset yang bersangkutan. Dan kalau sudah berbicara tentang mindset, maka itu susah mengubahnya. “Kalau sudah mindset, tidak mudah mengubahnya. Walau psikolog sekalipun, jika sudah memiliki mindset yang demikian, tidak akan mudah mengubahnya. Jadi problem terbesar adalah pada mindset,” ucap Tika sembari menambahkan, itulah salah satu sebab kenapa ia sangat tertarik memperdalam

tentang mindset. Sebenarnya, ungkapnya lebih lanjut, Indonesia juga memiliki perayaan yang pemaknaannya serupa dengan Hari Valentine, yakni, Hari Kesetiakawanan Nasional. Menurutnya, itu sangat bagus karena itu bermakna kasih sayang antar sesama manusia, kepedulian terhadap sesama. “Sayangnya gema perayaan Hari Kesetiakawanan Nasional sudah tidak seperti dulu lagi. Padahal itu bagus sekali,” ucap Tika yang sampai sekarang pun masih merayakan Hari Valentine. “Sebenarnya jika dimaknai secara benar, ini (Hari Valentine) adalah suatu yang indah. Kalau pada hari lain kita kadang lupa mengekspresikan rasa kasih sayang kita kepada yang lain, maka ini adalah waktunya. Tentu saja, di luar Hari Valentine itu pun kita juga kerap mengekspresikan rasa sayang kita. Hari Valentine hanya momentum saja. Jadi tentu tidak ada yang salah dengan merayakan Hari Vatentine.Bagi saya itu merupakan suatu yang positif,

Mandalika

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Beli Kucing dalam Karung

Suasana ramai pengunjung Pasar Second Karang Sukun Mataram, silih berganti keluar masuk lapak dan toko-toko untuk memilih dan memilah beraneka ragam pakaian bekas dengan harga-harga terjangkau. Di salah satu sudut pasar, pembeli berlomba-lomba memilih pakaian yang baru saja dikeluarkan oleh pedagang. Pakaian-pakaian itu kondisinya terlihat bagus dibandingkan dengan koleksi pakaian bekas lainnya. “Ini pakaian bekas yang baru datang dan baru disortir, dipilih yang terbaik dari yang ada dalam karung/bal,” ujar salah seorang pedagang di Pasar Karang Sukun yang tengah dikerumuni pembeli. Tika Bisono

jangan diharamkan,” katanya. Sayangnya, tambah Tika lagi, di Indonesia ada yang memaknai Hari Valentine adalah hari pacaran seIndonesia. Jadi orang berpikir hari itu hanya untuk orang yang sedang mabuk asmara, mereka yang pacaran. “ Itu pandangan yang sangat ‘kampungan’ atau ‘deso’ (desa) banget, “ tegasnya. Apalagi kalau dikait-kaitkan dengan sesuatu yang bersifat erotis. Mungkin hanya di Indonesia saja yang sebagian orang memaknai secara berbeda .” Ini yang harus dibereskan atau diberi pemahaman agar makna hari tersebut dikembalikan kepada makna sebenarnya,” ucapnya. –Diana Runtu

21

H

ari Jumat, Sabtu dan Minggu memang terbilang hari ramai kunjungan ke pasar ini, mengingat rata-rata pedagang pakaian bekas selalu membuka dagangannya di hari-hari tersebut. Pakaian bekas yang ada dalam karung/bal, biasanya dibuka dan dipilih terlebih dahulu oleh pedagang yang berkualitas baik barulah dilepas untuk dijual dengan harga yang relatif mahal dibandingkan harga pakaian bekas yang sejenis dalam bal yang sama. Hal ini dilakukan karena saat mereka membeli pakaian bekas, hanya membeli kode atau jenisnya saja, seperti, hem, gaun, celana atau lainnya, tidak tahu apa saja isi dalam karung/bal tersebut. “Kami pisahkan terlebih dahulu pakaian dengan kualitas yang baik dan kurang baik untuk bisa menentukan harganya,” ungkap Ririn (41), perdagang pakaian bekas di Pasar Karang Sukun Mataram. Mereka biasanya membeli pakaian bekas satu bal dengan harga sekitar Rp 5-Rp 7 juta un-

Pasar Pakaian Bekas Diserbu Pembeli

Kualitas Baik Harga Terjangkau

Nuri Supinah di toko pakaian bekas di Pasar Karang Sukun Mataram

tuk gaun, Rp 7 juta untuk hem berkualitas baik dan berbagai celana dengan harga Rp 4 juta. Bisnis ini persis seperti bunyi pepatah, “membeli kucing dalam karung”. Mereka membeli pakaian bekas hanya tahu jenisnya saja dan tanpa tahu kualitas dan jumlah barangnya. “Kami tinggal telepon dan menerima kiriman barang dari bos kami yang di Surabaya,” kata Ririn. Pedagang lainnya, Nuri Supinah juga mengaku mendapat kiriman barang dari Surabaya. Tidak dapat dipilihnya barang

membuat tidak jarang pedagang mengalami kerugian. “Ya namanya juga orang berdagang. Sesekali merugi karena harga pakaian bekas yang dibeli tidak sesuai dengan harga jualnya karena barang tidak bisa dilihat apalagi dipilih. Namun begitu, tidak sering sih ruginya, hanya sesekali saja,” kata Nuri Supinah yang menyewa toko di pasar ini dengan harga sewa dua tahun Rp 10 juta. Pakaian-pakaian bekas ini selain berasal dari Surabaya, juga ada yang berasal dari Bali. -Naniek I. Taufan

Kebijakan Pelarangan Impor Pakaian Bekas Resahkan Pedagang

Pakaian bekas yang dijual di pinggir jalan di Selagalas Mataram

Bisnis yang berjalan terbilang lancar ini, kini bersiap menyikapi kebijakan baru pemerintah soal pakaian bekas. Kebijakan Kementerian Perdagangan RI untuk menghentikan impor pakaian bekas dengan alasan banyak bakteri yang terkandung dalam pakaian bekas, sehingga rentan menimbulkan penyakit itu, membuat para pedagang pakaian bekas yang biasa disebut pakaian second atau paka-

Haris dan Mahyuni tengah berjualan pakaian bekas di pinggir jalan di Selagalas Mataram

ian rombeng ini, resah. Mereka yang kerap berjualan pakaian bekas di pasar second Karang Sukun Mataram, di Sweta dan Selagalas, berharap kebijakan itu dapat ditinjau kembali. “Kami berharap agar impor pakaian bekas tidak dilarang,” ungkap Ririn. Hal yang sama juga menjadi harapan Nuri Supinah. Begitu juga dengan Haris dan Mahyuni yang berjualan pakaian bekas di Selagalas, Mataram.

Mereka telah mendengar kabar tentang hal ini. Namun sejauh ini, menurut Ririn (41), pembeli yang datang ke pasar second Karang Sukun masih relatif ramai. Perjalanan bisnis pakaian bekas di Mataram, sesungguhnya telah berjalan puluhan tahun lamanya. Pasar Karang Sukun menjadi pasar pakaian bekas terbesar di Mataram. Kemudian baru-baru ini, muncul beberapa lapak penjualan pakaian bekas di pinggir jalan di beberapa tempat di Mataram. Para pedagang pakaian bekas di Pasar Karang Sukun dan tempat lainnya di Mataram, menggantungkan hidupnya dari berjualan pakaian bekas. Ririn yang telah menggeluti bisnis ini sejak tahun 2000an dan telah berjualan di beberapa pasar di Lombok Barat dan Mataram, mengaku inilah mata pencaharianya sejak dulu. Begitu pula dengan Nuri juga Haris dan Mahyuni. -Naniek I. Taufan

“Kadang datang barangnya dari Surabaya, ada juga yang dari Bali,” kata Haris dan Mahyuni, pedagang pakaian bekas di Selagalas, Mataram. Meski tidak seramai di Pasar Karang Sukun, bisnis pakaian bekas di Selagalas yang baru sekitar tujuh bulan belakangan ini dibuka, terbilang lancar. Demikian pula dengan pakaian bekas yang dijual di pinggir jalan seputaran Sweta Mataram. Haris dan Mahyuni mengaku bisa mengantongi minimal Rp 100 ribu sehari dari berjualan pakaian bekas ini. “Kalau lagi ramai pembeli bisa laku sampai Rp 400 ribu,” kata Haris. Pasar Karang Sukun mulai berkembang sekitar tahun 2000an. Diawali oleh beberapa pedagang yang melihat peluang baik memanfaatkan pasar yang tadinya tidak difungsikan ini untuk berjualan pakaian bekas. “Dari sekitar lima orang yang berjualan, lama kelamaan menjadi banyak pedagang dan akhirnya ramai seperti ini,” ujar Ririn yang mengaku berjualan di pasar ini sejak pasar tersebut dibuka sebagai pasar pakaian bekas. Minat masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, terhadap pakaian bekas ini, terbilang tinggi. Buktinya, tiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu pengunjung pasar ini terbilang sangat ramai. Harga yang terjangkau dan kualitas yang baik menjadi alasan mengapa pembeli bahkan menjadi langganan ke pasar ini. “Pakaian di sini bisa dibilang kualitasnya baik dan harganya sangat terjangkau,” kata Novi salah seorang pembeli yang tengah mencoba celana pendek. Novi mengaku kerap datang di hari bukaan barang (Jumat, Sabtu dan Minggu) untuk bisa mendapatkan pakaian-pakaian bekas yang berkualitas baik. “Hanya dengan Rp 50 ribu, bisa dapat pakaian bagus dan bermerk, dari luar negeri lagi,” ungkap Novi yang mengaku selalu merendam pakaian bekasnya dengan air panas dan setelah itu mencucinya sebelum dipakai. Harga pakaian bekas di Pasar Karang Sukun yang buka pukul 08.00 wita sampai sore hari ini berkisar antara Rp 20-Rp 50 ribu per pakaian. Harga masih bisa ditawar sesuai dengan kualitasnya. Setelah barang-barang berkualitas baik terjual, pembeli bisa memilih pakaian lainnya dengan harga yang relatif lebih murah, sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 30 ribu. “Tergantung kondisinya. Bahkan pakaian sisa (yang sudah lama) diobral dengan harga tiga Rp 10 ribu,” kata Haris. Omzet pedagang di Pasar Karang Sukun terbilang lumayan. Tidak kurang dari Rp 30 juta sebulan dapat dikumpulkan jika pasar tengah ramai. “Sekitar Rp 30 juta sebulan termasuk modal,” kata Ririn, yang menyewa lapak seharga Rp 500 ribu sebulan. -Naniek I. Taufan

Pembeli tengah memilih pakaian bekas di pasar pakaian bekas Karang Sukun Mataram


22

Mozaik

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Golf Plus

supaya tidak jadi gemuk. Secara umum memang tidak menjadi masalah, karena beberapa dari pegolf juga sudah memahami pola hidup sehat, “ tegas Anna. Perlu disadari juga, tubuh gemuk dan kurus tidak bermasalah dalam bermain golf, yang penting menjaga pola makan. Beberapa hal seperti swing atau atau pukulan jarak jauh yang merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan saat bermain golf ini bisa atau tidaknya bukan bergantung pada berat badannya. Yang terpenting adalah gerakan yang dilakukannya benar. Karena kalau salah akan menjadi penyakit. -Diyah

Makan Sehat Olahraga golf merupakan olahraga yang memerlukan ketelitian, kecer­ dasan, dan ke­sabaran. Olahraga satu ini kerap diidentikkan dengan olah­ raga pejabat untuk meluangkan wak­ tunya saat di luar kantor. Golf juga bisa dikaitkan dengan pola makan. Untuk itu, Bukit Darmo Golf (BDG) mencoba memberikan fasi­litas maka­ nan se­telah pegolf lelah bermain.

M

Anna Rigata

sayuran,” jelasnya. Anna menambahkan, untuk minuman yaitu jus sawi daging, perpaduan jeruk dan nanas. Tersedia juga minuman seperti beras kencur dan temu lawak. Hal ini untuk mengantisipasi supaya tidak terkena penyakit, dengan pola makanan sehat serta minuman yang sehat pula. “Selain harus pahami menu untuk pegolf, kami juga harus memahami tentang pola hidup pegolf

Relakan Weekend untuk Bekerja menu makanan yang disajikan untuk pegolf di BDG. Anna mengaku mendapat dukungan keluarga dalam menjalankan kariernya. “Weekand kami tidak bisa libur, karena saat weekend orang ramai berolahraga. Karena itu, kami harus pandai dalam mengatur waktu untuk keluarga dan bagaimana cara terbaik untuk menyenangkan relasinya. Saat tidak ada turnamen, pembagian libur bisa diatur sedemikian adil sehingga semua karyawan bisa menikmati untuk libur dan bisa dipakai untuk keluarga,” jelasnya. Jika ada turnamen, mereka harus merelakan waktu weekand untuk keluarganya dan harus bekerja. Ia menambahkan, sejauh ini tidak ada masalah baik keluarga maupun kerjaan. Ada ataupun tidak turnamen, ia dan timnya tetap semangat. “Saya didukung suami. Jadi saya merasa senang dan tenang saat bekerja,” pungkasnya. -Diyah

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

3

Ida Ayu Dwi Lestari

Hidup Ini Indah Pendidikan yang makin tinggi memberi kesem­ patan lebih terbuka bagi perempuan untuk berkiprah. Seperti sosok yang satu ini, ia bu­ kan hanya bersinar dengan profesinya se­bagai seorang notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) tapi perlahan ia juga merambah menjadi pebisnis kelapa sawit.

P

anager Food and Beverage BDG Anna Rigata mengatakan, makanan yang disediakan khusus bagi para pegolf. Menu-menu yang disediakan tiap hari berbeda dan disesuaikan dengan usia para pegolf, makanan, serta porsi olahraganya. “Golf termasuk olahraga yang melelahkan. Jadi harus diatur menu makananya. Ada herbal food dan vegetarian. Daging sapi lada hitam, dagingnya dari jamur. Atau, gulai kambing tapi kam­bingnya dari jamur. Ada juga udang dari

Anna Rigata, perempuan kelahiran 21 Mei 1978 ini memiliki hobi bermain golf setelah ia bekerja di lapang­ an golf. Dunia golf merupakan dunia baru baginya. “Saya mulai kerja di Bukit Darmo Golf (BDG) sebagai sales. Meskipun pendidikan saya bukan seorang sales. Namun saya terus berupaya untuk melakukan yang terbaik. Apalagi sales jasa, itu jauh lebih sulit daripada sales produk yang terlihat produknya,” ungkap ibu satu anak ini. Segala upaya ia lakukan untuk menjalankan tugasnya. Seiring dengan pekerjaannya tersebut. Akhirnya, Anna gemar bermain golf. Beberapa cara bermain golf ia pelajari dan tidak begitu sulit buatnya untuk belajar menjadi pegolf. Akhirnya, tiga tahun lalu, ia diangkat menjadi Manager Food and Beverage BDG. Tugas yang diembannya sedikit berbeda. Setelah menjual jasa, ia harus tahu

Sosialita

erempuan kelahir­ an Denpasar, 8 Pe­ bruari 1976 ini, menuturkan begitu menyelesaikan kuliah S1 Hukum di Undiknas, ia sempat ditawar­ kan untuk bekerja di bank oleh ayahnya, namun Ida Ayu Dwi Lestari, S.H., M.Kn., ini menolak. Sebab, dirinya tidak ingin bekerja dengan orang lain, melainkan mempekerjakan orang lain. Gek Adhe begitu panggilan­ nya, beralasan jika bekerja di bank waktunya akan habis. Pada­ hal dirinya akan menjadi seorang istri, ibu, menantu, dan akan mengurus keluarga. Ayahnya

mengatakan kalau ia berpikir terlalu panjang. Ketika didesak apa sesungguhnya keinginan­ nya, secara spontan ia menjawab ingin menjadi notaris. Ketika itu ia hanya pernah mendengar profesi notaris, tapi belum paham apa pekerjaan seorang notaris. Mendengar itu sang ayah memintanya untuk mencari tahu apa syarat-syarat untuk menjadi seorang notaris. Mendapat angin segar, maka mulailah Gek Adhe mencari in­ formasi. Singkat cerita ia mulai men­ gawali kariernya sebagai Notaris dan PPAT di tahun 2005. Ketika

itu, ia langsung berkantor di Jalan Patimura No. 37 hingga seka­ rang. Dengan konsistensi dan komitmen yang tinggi dalam memberi pelayanan terbaik, dengan bekerja cepat, teliti dan penuh kehati-hatian, menjadi­ kannya sebagai salah satu notaris yang menjadi rujukan berbagai perusahaan. Gek Adhe menjelaskn jabat­ an notaris ini bisa menolong orang lain yang hendak menga­ lihkan harta benda, menyewa­ kan aset ataupun mendirikan perusahaan. Semua memerlukan jasa notaris. “Kalau kita bisa memudahkan urusan orang lain, maka hidup kita rasanya jadi indah, “ujar istri Ida Bagus Gede Dharma Putra, S.T. dan ibu dari Ida Bagus Gede Sewana Manu­ aba dan Ida Bagus Oka Ananta Manuaba ini. Begitu juga dengan tugasnya sebagai PPAT adalah profesi mu­ lia dalam konteks hak atas tanah dalam masyarakat. “Kami mesti bisa bekerja secara profesional untuk memeriksa semua berkas-

Gek Adhe dan keluarga

berkas dengan cermat,” ungkap notaris yang dibantu 11 orang tenaga kerja ini. Gek Adhe menuturkan sete­ lah lulus SMP, dirinya lebih ban­ yak menempuh pendidikan di luar Bali. Ia sempat kuliah di Fak. Hukum Atmajaya, namun ia balik ke Bali dan menyelesaikan kuliahnya di Undiknas. Kemudian ke luar lagi untuk melanjutkan pendidikan magister kenotari­ atan di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia mengatakan orangtunya sangat peduli dengan pendidikan. “Mereka ingin putra-putrinya tidak berhenti mencari ilmu de­n gan sekolah, sekolah, dan sekolah. Namun, dilengkapi den­ gan pesan “Sekolahlah setinggi­tingginya di mana saja, dengan

catatan begitu selesai pulanglah ke Bali. Kalau tidak kalian, siapa lagi yang akan membangun gene­ rasi kita berikutnya di sini,” ujar putri kedua dari Ida Pe­danda Gede Putra Keniten dan Ida Pedan­da Istri Ketut Kaweri ini. Masih urusan pendidikan, ia mengatakan sang suami sebagai orang terdekatnya pun sangat mendukung. “Wujud dukungan suami saya, misalnya saat saya di Undip ia yang mengatur waktu untuk dapat mengunjungi saya di Semarang,” katanya. Bahkan dukungan yang sama juga diper­ olehnya dari mertua dan orang­ tuanya. Apalagi ketika dirinya sudah memiliki anak. Semua siap membantunya. Kondisi ini yang membuatnya bahagia sekaligus haru. -ard

Wujudkan Mimpi Punya Kebun Siang itu Gek Adhe menyambut hangat Tokoh di ruang kerjanya, di Jalan Patimura No. 37, Denpasar. Mengenakan busana berbahan endek menjadikan ibu muda ini terlihat sederhana, simpel namun elegan. Dengan gayanya yang tenang tapi humoris ia pun bertutur seba­ gai anak yang lahir dan besar di Kota Denpasar, menjadikannya sejak kecil ingin merasakan yang namanya pulang kampung. Makanya dulu ketika liburan ia pun memilih pulang ke Tabanan, kampung ibunya. Tahun 2013, ia menda­ patkan informasi dari salah seorang familinya tentang lahan kebun kelapa sawit di Kecamatan Rakumpit, Kaliman­ tan Tengah akan dijual. Tanpa pikir panjang ia pun setuju untuk membelinya. Semula hanya 10 hektare namun kini hamparan kebun kelapa sawitnya sudah menjadi 30 hektare. “Sebenarnya ingin punya kebunnya di Bali, namun siapa yang tidak tahu harga tanah di Bali” katanya tersenyum. Ternyata selain jadi memiliki kampung baru, impiannya memiliki kebun pun jadi ter­ penuhi. Apalagi transportasi menuju daerah Kalimantan Tengah tidaklah sulit. Pemilik moto hidup tidak ada yang tidak bisa kita lakukan dengan usaha tanpa batas ini juga tahu Kalimantan memang dianugerahi berbagai macam sumber daya alamnya dan lahan perkebunan yang luas. Kelapa sawit salah satunya yang menjadi primadona. Setelah menjalani kegiatan berke­ bun kelapa sawit, diakuinya ternyata

prospeknya cukup bagus. Meski tidak semua berjalan mulus, sempat juga kebunnya yang 8 hektare dan hampir panen terbakar. Tapi, ia menyadari di semua lini kehidupan katanya tentu ada risikonya. “Namun, bagusnya sawit meski terbakar dia tidak mati. Ketika musim hujan berikutnya dan saya tengok sudah hijau kembali,” kata Gek Adhe yang menyempatkan diri sebulan sekali menengok perkebunannya. Melihat potensi yang ada, ia pun meminta bantuan salah seorang kerabatnya untuk tinggal di sana dan mengurus kebunnya. “Bagusnya lagi masyarakat di sana senang berdampingan dengan orang Bali. Mereka juga memiliki kemauan dan tenaga yang besar untuk menanam,” tuturnya. Selanjutnya Gek Adhe pun dengan lancar bercerita bagaimana dan apa saja yang dilaku­ kan serangkaian penanaman dan perawatan kebun kelapa sawit. “Ternyata sawit itu ba­ nyak digunakan untuk bahan kosmetik,” katanya sembari mengatakan ia menjadi tahu dengan banyak belajar dari masyarakat Dayak. Bahkan ia pernah mendatangi orang yang pertama kali menanam kelapa sawit di Kalimantan. Di sana Gek Adhe belajar bagaimana bertani sawit, siklusnya, tanahnya dan sebagainya. “Panen kelapa sawit dua minggu sekali. Untuk menjualnya pun ting­ gal menelepon koperasi. Prosesnya juga simpel sekali, mereka datang, ambil, tim­ bang dan bayarnya juga di tempat. Kecuali diminta baru pembayarannya dilakukan melalui transfer,” paparnya

sembari mengatakan kalau menengok kebun­ nya ia tidak tidur di hotel namun lebih memi­ lih beristirahat di pondoknya yang dibuatnya di kawasan kebunnya. “Ini wujud mimpi saya punya kebun, sekaligus memenuhi hobi jalanjalan saya,” ucapnya tersenyum. Sekarang dengan lahan kelapa sawit yang dimilikinya dan pengelolaan yang baik akhirnya menggiringnya bukan hanya men­ jadi petani tapi sudah masuk dalam jajaran pebisnis kelapa sawit. Menurut Gek Adhe, semuanya mengalir. Pada masanya ia pensiun dari profesinya sebagai seorang notaris dan penjabat pembuat akta tanah, mungkin ia bisa lebih total menjadi seorang petani bersama sang suami. “Meski masih kecil, semoga saja semua yang kami kerjakan bisa membantu masyarakat sekitarnya memperoleh peker­ jaan,” ujarnya tetap dengan rendah hati. - ard


2

Ekspresso DAri daPUr Redaksi Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Pers dan “Kasih Sayang”

Minggu ini ada dua momen yang “istimewa”. Pertama peringatan Hari Pers Nasional (9 Februari). Kedua perayaan Hari Valentine (14 Februari). Keduanya sama-sama memiliki relasi dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Peringatan Hari Pers Nasional dimaknai sebagai sebuah pesta rakyat yang memiliki pers yang merdeka sebagai salah satu pilar demokrasi. Mengapa dipilih 9 Februari? Karena pada 9 Februari 1946 diadakan pertemuan untuk membentuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Gedung Museum Pers Solo, Jawa Tengah. Hari Pers Nasional akhirnya diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 9 Februari yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 5 Tahun 1985 yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985. Kini pers terus berkembang mengikuti dinamika kehidupan masyarakat dan perkembangan teknologi. Pers menghadapi tantangan yang san- gat berat

dalam perjalanannya. Namun, pers mampu eksis bahkan tampil sebagai garda terdepan untuk mengimbangi perubahan yang terjadi. Pers tak lagi menjadi sesuatu yang konvensional tetapi mampu beradaptasi dengan menjadi sesuatu yang serba digital. Kehadiran pers dengan informasi yang akurat, komprehensif, dan bertanggung jawab menjadi “sarapan” bagi para pengambil kebijakan. Kritik dan saran dari masyarakat menjadi cambuk bagi pengambil kebijakan agar ber-

Nasinya Mana? Mendapatkan panggilan kerja bagi seorang pengangguran merupakan satu hal yang sangat diharapkan. Apalagi jika kita sangat menyukai pekerjaan itu. Itulah yang saya alami beberapa waktu lalu. Saat sedang bersantai di depan komputer, telepon saya berde­ring, seorang kerabat yang bekerja di sebuah perusahaan, menelepon saya dan menawari saya pekerjaan. Kemudian dia meminta saya untuk berbicara langsung kepada pimpin­ an perusahaan itu. Setelah mengobrol beberapa saat dengan pimpinan perusahaan itu, saya diminta untuk bertemu di kantornya pukul 7.00. Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya segera berangkat ke kantor itu lebih awal agar tidak telat karena saya harus mencari-cari alamat kantor tersebut. Tibalah saya di kantor itu, beberapa karyawan menyambut saya dan menanyakan tentang kedatang­ an saya. Saya pun menjelaskan maksud dan tujuan saya datang ke sana. Setelah menunggu beberapa saat, pimpinan itu datang menyapa saya dan menjelaskan tentang pekerjaan di sana. Setelah merasa cocok dengan pekerjaan itu saya pun diminta un-

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tuk mulai bekerja pada hari itu juga, sungguh hal yang tak terduga bagi saya. Beberapa karyawan di sana mengajari saya lebih detail tentang pekerjaan itu, dan saya pun dengan semangat menerima bimbingan dari senior di sana. Saat waktu menunjukkan pukul 10.00, salah satu karyawan datang membawa banyak bungkusan. Ternyata dia membawa nasi yang akan dibagikan ke semua karyawan. Dalam hati saya berkata, “Enak sekali kerja di sini, orang-orangnya ramah, ditanggung makan pula.” Setelah makan bersama, kami semua kembali ke meja kerja masing-masing untuk menyelesaikan pekerjaan. Keesokan harinya ketika saya akan berangkat kerja lagi, saya memutuskan untuk tidak makan di rumah karena saya berpikir kemarin sudah ditanggung makan oleh perusahaan. Berangkatlah saya ke kantor, sampai di sana saya bekerja

jalan di jalur yang benar. Kritik dan saran yang positif bisa menjadi tanda “kasih sayang” rakyat kepada pemimpinnya. “Kasih sayang” tak harus dengan mawar atau cokelat atau boneka seperti yang lazim diberikan saat hari Valentine. Hadiah “kasih sayang” bisa berupa “cubitan”, “jeweran” yang disertai dengan nasihat demi perubahan ke arah yang lebih baik. Kasih sayang pun tak selalu menunggu datangnya Valentine karena tiap saat harus ditanamkan rasa kasih sayang. Hidup Pers…Hidup Kasih Sayang!!! seperti kemarin sambil menahan rasa lapar yang sudah agak mengganggu, saya bersabar menunggu pukul 10.00 berharap bungkusan nasi segera datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 namun tanda-tanda datangnya nasi belum ada, perut sudah tidak bisa diajak kompromi. Hingga pukul 11.00 saya menunggu, bungkusan nasi belum juga datang. Saya memberanikan diri bertanya kepada senior, “Kak, kerja di sini memang ditanggung makan kan? Nasinya mana? Kok sampai jam segini belum dibawain nasi?” Senior saya pun tertawa lalu menjawab, “Di sini tidak ada tanggungan makan, kemarin itu ada teman yang ulang tahun makanya dia traktir semua karyawan di sini. Kalau mau dapat makan lagi ya tunggu sampai ada yang teman yang ulang tahun lagi, hahahaha....”. Oh my God....rasa lapar seketika hilang berganti rasa malu yang luar biasa. Pelajaran yang saya dapat dari sana, jangan terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Artha

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

GORO-GORO

gesekan

Presiden Jokowi wanti-wanti, janPutu Wijaya gan ada gesekan, dalam menyelesaikan ketegangan. Polri dan KPK. Bu Amat lantas ngedumel. “Bgaimana mungkin, tidak terjadi gesekan? Ketegangan sekarang ini, terjadi kan karena sudah ada gesek-gesekan?! Kalau gesekan dihalang-halangi atau ditunda-tunda, nanti bisa ngumpul, lalu jadi letusan dahsyat!” “Jadi, harus bagaimana, Bu?” “Ya, dibiarkan saja, gesek-gesekan, supaya cepat gembos!” Amat ketawa. “Memangnya ban, yang gampang dipompa dan mudah digembos-gemboskan?!” “Lho, Bapak jangan ketawa begitu, dong!” “Habis, persengketaan antar aparat yang dapat mengacaukan negara, masak disamakan dengan menggemboskan ban! Tidak bisa!” “Ya sudah! Bandingkan dengan adu layangan. Itu kan juga gesekan! Setelah benang bergesekan, yang satu kalah, yang lain menang. Selesai. Tidak berlarutlarut. Kenapa jadi takut gesekan?” “Lho, itu beda dengan gesekan aparat yang buntutnya panjang, luas. Gesekan aparat di dalam negeri yang 250 juta rakyatnya, bahaya! Gesekan harus dicegah!” Bu Amat tak menjawab. “Jadi, Ibu jangan suka gegabah. Gesek-gesekan itu persoalan besar!” “Persoalan besar siapa? Rakyat atau petinggi negara!” “Jelas persoalan rakyat dan negara! Bukan persoalan pribadi!” Bu Amat diam saja. Tiba-tiba terdengar suara ramai. Ternyata ada tetangga sedang bertengkar. Amat nguping. Pertengkaran itu kian berkobar. “Tidak bisa! Itu pohon mangga kami. Semua buahnya milik kami. Kalau pengen minta silakan. Tapi jangan diam-diam main potong atau manen!” “Habis cabangnya menjorok ke rumah kami! Bikin kotor halaman dan macet talang air. Jadi banjir, airnya masuk rumah. Kan sudah pernah tak sampaikan, tapi kok tidak digubris. Jadi sekarang begitulah, buahnya kita ambil, saja! Kok marah!” “Siapa yang marah!! Cuma nanya, kalau mau ambil mangga kami, silakan, asal dibilang baik-baik, masak tidak dikasih. Tapi ini kok diam-diam saja! Mengambil diam-diam itu namanya ... “ “Namanya apa? Mencuri?!!! Sialan!” Amat cepat keluar untuk melerai. Bu Amat juga keluar dan mengawasi dari jauh. Dua jam kemudian Amat baru pulang. Bu Amat tak sabar, ingin tahu apa yang terjadi. “Sudah ada gesekan,” kata Amat tenang, “tapi syukur! Untung sudah ada gesekan! Kalau tidak, emosi mereka yang sama-sama tertekan, bisa meledak tiba-tiba, tidak terkendali. Gesekan perlu untuk memotong menyetop bencana, sebelum jadi marabahaya! Sekarang mereka sudah salaman.”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang ­G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

23

BPR TATA Luncurkan Produk Tabungan TATA Extra *Berikan Kemudahan sekaligus Keuntungan Ekstra

Rio Christian, S.H., M.H.

‘Kesampingkan Conflict Interest’ Apa yang menjadi kunci sukses seorang Rio Christian menjalankan bisnis perbankan? Jawaban ayah 1 anak ini sederhana, “Kesampingkan konflik kepentingan (conflict interest).” Banyaknya bank collapse diyakini alumnus S2 Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini karena ketidakprofesionalan manajemen. “Banyak konflik kepentingan yang masuk sementara pemimpinnya tidak mampu menghindari hal itu. Pertemanan terkadang menjadi pemicu seseorang untuk sulit menjadi profesional. Banyaknya kredit macet lebih banyak dikarenakan kurangnya memperhatikan analisa aspek 5 C’s serta tidak kuatnya proses yang berkaitannya dengan pengikatan kredit. Itu sebabnya seorang pemimpin harus profesional sesuai tuntutan pekerjaannya. Kita tetap memasilitasi mereka sepanjang itu sudah melalui analisa kredit yang Rio Christian, S.H., M.H benar,” sebut mantan Manager Bank of China di Jakarta ini. Pria kelahiran Jakarta berusia 32 tahun ini adalah pekerja keras, supel, cerdas sekaligus profesional. Kemampuannya di bidang hukum sanggup membawa BPR TATA menuju kinerja jauh lebih baik. Prinsipnya, “Bekerja jalankan sistem, maka semuanya akan baik-baik saja,” yakinnya. –ari

BPR TATA meluncurkan produk terbarunya yakni Tabungan TATA Extra. Produk ini diprediksi bakal direspons positif masyarakat Bali karena merupakan produk kreatif inovatif yang mampu memberikan nilai lebih pelayanan BPR TATA sebagai lembaga keuangan. Seperti yang dikatakan Direktur Utama (Dirut) BPR TATA Rio Christian, S.H., M.H., produk ini diharapkan menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin menabung dengan mendapatkan berbagai kemudahan sekaligus keuntungan ekstra. “Di tahun 2015 ini, kami sengaja menluncurkan produk tabungan TATA Extra sebagai salah satu upaya kami memanjakan nasabah setia kami. Produk ini sengaja kami desain dengan banyak kemudahan sekaligus keuntungan ekstra bagi mereka yang ingin menyimpan dananya di bank kami,” ujar Rio Christian. Dijelaskan, jika selama ini nasabah yang menabung di Bank TATA mendapatkan bunga 4,5%, maka di tabungan TATA Extra menjadi 7,5%. Jika selama ini nasabah yang menabung mesti datang sendiri (walking customer) ke kantor bank, maka di TATA Extra, dana tabungan nasabah akan dijemput/ diambil lewat layanan pick-up (pick-up service) di manapun nasabah berada. Bukan itu saja, nasabah TATA Extra dibebaskan dari biaya RTGS/biaya pengiriman jika mereka melakukan transfer ke bank lain. Ini bentuk pelayanan ekstra dari BPR TATA. “Banyak kemudahan dan keuntungan yang didapat nasabah tabungan TATA Extra ini. Syaratnya mudah saja. Nasabah tinggal setor dana tabungan awal minimal Rp 1 juta. Bagi nasabah dengan tabungan minimal Rp 25 juta, kami berikan hadiah langsung berupa

uang tunai yang nantinya dipilih sendiri. Hadiahnya hingga Rp 10 juta. Nasabah juga mendapatkan berbagai diskon kerjasama BPR TATA dengan beberapa tenant/mitra kerja berupa Smart Card seperti swalayan, rumah makan, toko material, dsb. Diharapkan ke depannya masyarakat bisa memanfaatkan momen istimewa dari adanya tabungan TATA Extra ini,” tambah Rio menyemangati. Rio mengakui bahwa target market produk TATA Extra ini adalah para pengusaha. Itu sebabnya ia berani menargetkan pertumbuhan untuk tabungan minimal 50% dan optimis target bakal terpenuhi. FOKUS GARAP UKM BPR TATA adalah salah satu BPR di Bali yang cukup eksis. Pertumbuhannya boleh dibilang cepat karena berjalannya sistem kerja selama ini. Hal ini bisa dipahami karena bank yang pada tahun 2014 meraih penghargaan dari Majalah Info Bank sebagai bank dengan predikat Sangat Bagus untuk kategori BPR dengan aset Rp 50 – Rp 100 milyar. BPR TATA mampu menunjukkan kinerjanya yang memuaskan. Dilihat dari pertumbuhan aset misalnya, performa BPR TATA cukup membanggakan. Di Desember 2010 aset hanya Rp 24,8 milyar, 2011 Rp 62,9 milyar, 2012 Rp 72,5 milyar, 2013 Rp 85,5 milyar dan Desember 2014 melonjak menjadi Rp 110 milyar dari target sebesar Rp 100 milyar. Di tahun 2015 ini pertumbuhannya ditargetkan 15%, sementara untuk dana pihak ketiga (DPK) pada posisi Desember 2013 (tabungan dan deposito) sebesar Rp 36,7 milyar dan di tahun 2014 Rp 50 milyar. Demikian pula untuk ekspansi kredit, di 2012 Rp 52 milyar, 2013 Rp 70 milyar dan di 2014 Rp 78 milyar.

Target kredit 2015 juga diharapkan tumbuh 15%. Menurut Rio Christian, di 2015 ini banyak hal yang perlu mendapat perhatian ekstra. Selain produk inovatif, juga dibutuhkan kreatifitas dalam mengelolanya. “Tahun 2015 adalah tahun yang ‘berbahaya’ bagi perbankan. Pergantian kebijakan terkait pergantian pemimpin negara, potensi perlambatan pergerakan ekonomi akibat kenaikan BBM serta potensi kenaikan bunga kredit tinggi yang dapat bermuara pada timbulnya potensi kenaikan NPL. Hal ini membuat kami bersikap lebih berhati-hati untuk melakukan ekspansi, serta terus melakukan konsolidasi internal guna menciptakan organisasi BPR TATA yang lincah dan efisien. 2015, fokus utama kami adalah meningkatkan intermediasi kepada kepada sektor UKM dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” tegasnya. Salah satu program kredit UKM yang diberikan BPR TATA adalah kredit tanpa agunan bagi pegusaha UKM di Pasar Sanglah, Denpasar dan Pasar Satria, Klungkung, Plafon yang diberikan maksimal Rp 10 juta dengan kewajiban debitur menabung secara harian di kantor cabang dan kantor kas BPR TATA, yang kebetulan berada di lokasi Pasar Sanglah & Pasar Satria. Tujuan dari pemberian kredit adalah untuk lebih mendekatkan BPR TATA dengan sektor UKM. Selain itu BPR TATA juga melalui divisi marketingnya dapat memberikan pembinaan mengenai pengembangan manajemen usaha, tambah Rio Christian. Kantor Pusat BPR TATA di Jl. Teuku Umar Barat (Marlboro) No. 19 Denpasar, tlp: 0361- 490683, Kantor Cabang Jl. Puputan I No. 11, Klungkung, Bali. Email: www.bprtata.com


24

What’s Up

Edisi 835/ 9 - 15 februari 2015

Kondom Habis Terjual saat Valentine Jelang Hari Valentine banyak remaja sibuk berburu pernak-pernik Valentine yang dijual di pusat-pusat perbelanjaan. Toko-toko kue maupun toko bunga tak mau ketinggalan, di momen khusus ini mereka menyiapkan produk spesial untuk yang merayakan hari kasih sayang itu.

S

eperti maknanya yakni hari kasih sayang, maka yang merayakan ini bukan hanya untuk mereka yang sedang dimabuk cinta atau yang memiliki pasangan, namun ekspresi kasih sayang ini juga ditujukan pada orangorang di sekeliling yang kita cintai, seperti keluarga, teman, dll. Sayangnya terdengar kabar-kabar yang tidak mengenakan, bahwa hari Valentine dijadikan momentum hurahura bahkan pesta seks oleh kaum muda. Walhasil, setiap kali menjelang Hari Valentine selalu saja muncul perdebatan tentang baik-buruknya perayaan Valentine, atau perlu tidaknya orang muda Indonesia merayakan itu. Berbagai pihak berkomentar ‘panas’ bahkan pemuka agama pun ikutan bersuara.

Di Depok, Jawa Barat, ada pemuka agama yang melarang perayaan Valentine karena dinilai lebih memberi dampak negatif ketimbang positif. Terlebih lagi, perayaan Hari Valentine merupakan budaya asing dan dianggap tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia. Akhirnya gara-gara sejumlah kasus yang tak mengenakkan itu, hari Valentine pun dituding sebagai penyebabnya. Psikolog anak, Elly Risma Musa dari Yayasan Kita dan Buah Hati kepada Tokoh pada suatu kesempatan mengatakan, pihaknya pernah melakukan survei ke sejumlah apotik dan tempat-tempat penjualan kondom. Ternyata, penjualan kondom pada hari Valentine meningkat tajam. “Anda bayangkan, pada Valentine lalu kami melakukan semacam survei di sejumlah apotik dan tempat penjualan kondom, ternyata ‘barang’ itu

kebanyakan habis terjual di hari Valentine. Pembelinya kebanyakan anak muda. Nah, bagaimana ini?” ujar Elly blak-blakan. BERPIKIR SEJUTA KALI Retno I.G. Kusuma, Psikolog ikut prihatin dengan penjualan kondom yang dipaketkan dengan cokelat untuk hadiah Valentine. “Penjualan kondom jangan terlalu vulgar apalagi saat Valentine. Hal ini memicu aktivitas seks bebas di kalangan remaja dan hal ini bukanlah budaya Indonesia. Kalau ini dibiarkan makin banyak remaja yang terjerumus seks bebas. Berarti sisi psikologis dan sosial mental perlu diperbaiki,” ujarnya. Keluarga memiliki peran sangat penting untuk meminimalkan terjerumusnya remaja ke arah perilaku seks bebas. Karena itu pendidikan dari keluarga merupakan fondasi untuk pembangunan karakter remaja. Khusus bagi remaja putri, Retno mengingatkan berpikirlah sejuta kali sebelum melakukan seks bebas. “Efeknya lebih banyak menimpa remaja

Memberi Hadiah tanpa Imbalan Valentine Day adalah hari kasih sayang yang dirayakan tiap tanggal 14 Februari. Tradisi ini bukan tradisi asli Indonesia. Namun perkembangan zaman membuat tradisi ini bisa diterima masyarakat Indonesia. Orang-orang sibuk mempersiapkan segala sesuatu dalam merayakan hari Valentine. Hadiah berupa kado, makanan dan yang lain–lain yang identik dengan warna pink sangat mendominasi. Hari Valentine kerap menjadi hari yang istimewa buat para remaja. Mereka yang mempunyai kekasih atau mereka yang sedang jatuh cinta saling menyatakan cintanya pada momen Valentine. Wika Yuliani, seorang mahasiswi Universitas Warmadewa menyatakan kasih sayang dalam hari Valentine bukan hanya ditujukan kepada pasangan semata tetapi juga kepada orang yang kita sayangi dan kasihi. “Hari Valentine itu tidak harus memberikan kasih sayang kepada pacar, tapi kepada orang yang disayang seperti orangtua juga bisa,” ujarnya. Kasih sayang lebih bersifat universal dan bisa terjadi terhadap keluar­

ga, saudara, sahabat dan lain–lain. Geg Nanda, mahasiswi lainnya mengatakan semua hari bisa memberikan kasih sayang kepada orang, tapi hari Valentine merupakan hari yang lebih berkesan dan bermakna buatnya. Kata kasih dan sayang mengandung pengertian yang sangat luas dan pastinya semua insan manusia perlu mengetahui dan makna dari kasih sayang sebenarnya. Seseorang yang dilanda masalah dalam kehidupan jiwa akan membutuhkan yang namanya kasih dan sayang dari seseorang. Apapun yang terjadi, seseorang akan selalu ingin mencintai sekaligus juga dicintai orang lain. Kasih dan sayang yang tulus itu mempunyai sifat yang ikhlas dan lebih banyak memberi daripada menerima. Mereka yang mem-

putrid. Jangan berpikir picik dengan mau melakukan hubungan seks dengan dalih kasih sayang. Kalau memang sayang harus saling mendukung dan tidak saling menyakiti. Cinta itu sama-sama menjaga dan merawat,” tegas Ketua Himpsi Bali ini. Menurut dr. Erwin, SpKj, perayaan hari Valentine dulunya adalah perayaan agama Katolik di Roma dalam memperingati kematian Santo Valentine, yang kemudian dalam perkembangannya dikenal sebagai Hari Kasih Sayang. “Kalau orang mau mengartikan macam-macam, ya, silahkan saja, tapi sebenarnya makna dari Hari Kasih Sayang itu tidak seperti itu (seks bebas ataupun suatu tindakan yang merusak moral). Itu merupakan hari dimana mengekspresikan kasih sayang pada orang-orang yang dicintai, baik itu terhadap pasangan, orangtua, antar-

beri kebahagiaan pada orang yang dikasihi dan disayanginya sering kepentingan diri sendiri itu dinomorduakan. Dalam pengungkapan kasih sayang pada Valentine Day, banyak orang memberikan hadiah kepada orang yang dicintainya, baik yang harganya biasa sampai harganya lumayan mahal semua itu merupakan ungkapan seberapa besar orang tersebut mencintai pasangannya. Hadiah merupakan pemberian kenang–kenangan, berbentuk benda, makanan, bunga dan lain-lain yang dilakukan tanpa ada imbalan atau kompensasi balik. Sidy Arafat, karyawan di sebuah maskapai penerbangan mengatakan hadiah di hari Valentine itu sah-sah saja, “Memberikan hadiah dan lain-lain, itu sah-sah saja. Itu salah satu wujud pengungkapan kasih sayang,” ujarnya. Cokelat merupakan makanan yang sangat enak dan lezat dinikmati. Remaja yang sedang jatuh cinta akan membelikan pasangannya cokelat batangan maupun cokelat dalam bentuk kue. Wika juga mengungkapkan bahwa cokelat itu memberikan rasa manis dan membuat rasa senang atau bahagia bagi orang yang memakannya. “Cokelat itu rasanya manis dan membuat

anggota keluarga maupun teman,” katanya. “Ibarat obat, itu kan dimaksudkan untuk kesehatan. Namun ada yang menggunakannya untuk hal-hal lain di luar itu, itu berarti penyalahgunaan. Sama seperti hari Valentine yang dimaksud adalah mengekspresikan kasih sayang dalam arti positif kemudian disalahgunakan,” tuturnya. Kalaupun ada suara-suara yang menentang, menurutnya, itu karena orang yang menyuarakan hal itu tidak mengerti arti sebenarnya dari perayaan tersebut. Jadi sebenarnya, perayaan hari Valentine itu sendiri tidak masalah, sepanjang sesuai dengan makna yang sebenarnya. Soal itu merupakan budaya atau tradisi dari barat, kata mantan Kepala Pusat Kedokteran Hypnosis, Departemen Kesehatan Jiwa, RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, hal itu memang benar. Tapi tidak masalah. Karena sesungguhnya kita pun mengadopsi budaya-budaya dari negara lain seperti Arab, Eropa, dll. Jadi, menurutnya, sepanjang itu bernilai positif tidak mengapa. Yang terpenting adalah tidak disalahgunakan. –Diana Runtu/ Ngurah Budi

orang senang juga, itu juga akan membuat suatu hubungan menjadi menyenangkan dan manis dalam berhubungan,” ujarnya sambil tersenyum. Sidy Arafat menambahkan cokelat itu manis dan memiliki zat phenethylamine yang berfungsi menghasilkan hormon yang bisa membuat orang merasa bahagia seperti jatuh cinta dan menghilangkan stres sehingga lebih rileks. Selain hadiah berupa cokelat, orang–orang biasanya membuat kartu ucapan Valentine dan memberi bunga mawar. Sulendra, seorang siswa SMK menambahkan hadiah bukan satu-satunya yang diharapkan walaupun hadiah itu penting juga dalam suatu hubungan. Hadiah yang lebih baik adalah kasih sayang yang setiap hari diberikan kepada pasangan. Hal ini disetujui Sidy Arafat. “Cara mengungkapkan kasih sayang bila tanpa hadiah itu menurut saya berikanlah hal yang paling berharga dalam hidupmu yaitu waktumu, habiskanlah waktu bersama sesuai porsinya,” ujar Sidy. Kasih sayang bisa diungkapkan dengan berbagai hal, misalnya senyuman yang tulus bisa menjadi suatu ungkapan kasih sayang yang paling nyata. Senyuman bisa diberikan kepada siapa pun dan kapan pun tanpa harus mengeluarkan biaya dan juga tenaga. Menyapa dengan ramah, menunjukan empati, solidaritas, berbagi bersama dengan orang-orang yang membutuhkan itulah wujud kasih sayang yang sejati. –Jelantik


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook