24
What’s Up
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
BIGREDS Bali
Fanatisme Supporter Liverpool
Bagi pecinta sepak bola khususnya liga Inggris, pasti tahu tentang You’ll Walk Never Alone (YWNA). Ini lagu yang identik dengan klub Liverpool. Fans Liverpool pasti akrab dengan lagu yang dinyanyikan setiap The Reds bertanding di Stadion Anfield. Semangat dukungan tak hanya dari fans yang ada di Inggris. Fans dari negara lain termasuk Indonesia pun tak kalah semangatnya mendukung Liverpool tiap bertanding. Supporter ini tergabung dalam BigReds.
B
old Indonesia Group of Red’s Supporters (BIGREDS) didirikan 28 Desember 1999. Ini adalah suporter klub sepak bola mancanegara pertama yang berdiri di Indonesia. BIGREDS juga menjadi suporter klub pertama di Indonesia yang mendapatkan status Branch (sebutan resmi klub suporter Liverpool FC) dari klub yang didukungnya. Momen tersebut terjadi 18 O ktober 2004. November 2012, anggota resmi BIGREDS tercatat lebih dari 5.200 tersebar di 27 regional di berbagai kota di Indonesia. “Berbagai kegiatan rutin pun digelar di semua
regional BIGREDS seperti kegiatan wajib nonton bareng (nonbar), futsal, sepak bola, bulutangkis dan lain-lain. Berbagai ide dari setiap member di regional membuat mereka juga tak jarang membuat kegiatan insidental sep erti kegiatan off season yang bertujuan meningkatkan keguyuban internal maupun kegiatan sosial untuk memperkuat hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar,” ujar David Allen, Humas 1 BIGREDS Bali. Kreativitas juga membuat BIGREDS menjadi inisiator kegiatan sosial bernama One Goal One Thousand (OGOT).
“Ide kegiatan ini adalah untuk tiap gol yang diciptakan oleh Liverpool FC maka suporter menyumbangkan seribu rupiah, meski pada praktiknya banyak yang menyumbang lebih dari nominal itu untuk setiap gol yang tercipta,” imbuh I Putu Manik Ardita, Humas 2 BIGREDS Bali. Kegiatan peduli sosial ini pertama kali didengungkan tahun 2009 bertujuan untuk membantu sesama yang membutuhkan. Kegiatan OGOT ini berlaku secara nasional dan menjadi kegiatan rutin seluruh BIGREDS regional. Putu menambahkan ada tiga bidang yang disasar dari hasil OGOT, sepak bola, anak-anak, dan pendidikan.
kafé di Denpasar untuk “Nonton Bareng”. Karena kesamaan kecintaan terhadap LFC inilah yang menjadi awal adanya niat untuk mengajukan Bali sebagai salah satu regional dari BIGREDS,” ujar David yang dikenal sebagai MC dan presenter ini. Saat ini BIGREDS Bali dipimpin Sajar Apriadi sebagai Ketua Kordinator Wilayah dan Natha sebagai Wakil Kordinator Wilayah untuk masa periode 2014-2017. Anggota BIGREDS Bali biasanya kumpul untuk nobar di Warung Bu Umi di Kuta Central Park. “Anggota BIGREDS tidak
BIGREDS Bali sendiri berdiri 17 Desember 2011. “Kami terbentuk setelah beberapa fans Liverpool FC seringkali berjumpa di salah satu
hanya pria. Yang wanita juga ada. Biasanya kalau acara nobar tidak terlalu malam, mereka ikut hadir untuk memberikan dukungan bagi
Loyalitas tanpa Batas Alasan paling utama bagi Yura Karlinda Wiasa Putri bergabung sebagai member BIGREDS karena ia mencintai Liverpool. “Liverpool merupakan klub sepak bola yang hebat dengan supporter yang sangat luar biasa. Menyenangkan menjadi salah satu bagian dari sebuah supporter sepak bola yang mendapatkan pengakuan secara resmi dari klub,” ujar wanita yang akrab disapa Yura ini. Ia mengaku banyak suka yang dialami dibanding duka selama bergabung sebagai member BIGREDS. BIGREDS sudah seperti keluarga, rasa loyalitas tanpa batas untuk klub dan sesama penggemar Liverpool sangat tinggi. “Tiap pertandingan baik menang, kalah, juara atau tidak, tidak mengubah kecintaan para penggemar Liverpool. BIGREDS selalu merah, ramai , kompak dan yang pasti tetap YNWA selalu. Kalau untuk dukanya sih hampir tidak ada, ya paling mentok kalau nonbar terus Liverpool kalah, nah baru terasa dukanya,” imbuhnya. Ada satu hal yang paling berkesan dan tidak terlupakan bagi Yura ketika Liverpool Tour ke Indonesia. BIGREDS Bali pergi ke Jakarta untuk menyaksikan klub kesayangan mereka bermain. Di GBK lautan merah para pendukung Liverpool dari berbagai daerah sangat luar biasa hebat. Menyaksikan secara langsung klub tercinta bersama para pencinta Liverpool dari seluruh Indonesia merupakan momen yang paling membahagiakan bagi Yura secara pribadi. –Ngurah Budi
Kegiatan BIGREDS Bali
iverpool. Paling seru ya saat L nobar. Sebelum pertandingan di mulai, kami ikut berdiri, angkat slayer, kayak penonton di stadion,” tutur David yang mengaku kagum dengan Liverpool sebagai tim yang punya sejarah panjang dan prestasi luar biasa. Sementara Putu mengaku mengagumi Liverpool karena terkesan dengan YWNA. Di Inggris tahun 1970-an, YNWA lebih dikenal sebagai sebuah hits dari grup band asal Liverpool bernama Gerry and The Pacemaker. Pertama kali lagu ini masuk ke dalam fondasi kuat Liverpool saat Garry Marsden mempersembahkan lagu tersebut ke Bill Shankly, manajer Liverpool. Shankly jatuh hati pada lagu tersebut pertama kali saat didengarkan oleh Gerry. Gerry Marsden adalah pemimpin band Gerry and The Pacemaker yang juga teman dekat Bill Shankly. Dari altar pertunjukkan fans Liverpool yang disebut “The Kop” dikumandangkanlah untuk pertama kali You’ll Never Walk Alone. Hingga kini tradisi di Anfield, YNWA biasanya diperdengarkan fans Liverpool sesaat sebelum kick off dan 5 menit sebelum bubaran pertandingan. Lagu yang menggambarkan tentang kamu tidak sendirian ini menunjukkan setelah melalui masa sulit (badai) pasti akan ada masa cerah (langit keemasan).–Ngurah Budi
2
Ekspresso DAri daPUr Redaksi Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Jangan Abaikan Kependudukan
Masalah kependudukan ibarat memegang telur. Kalau terlalu erat, telur bisa pecah. Kalau dilonggarkan, telur bisa jatuh. Harus ada strategi untuk memegangnya. Kependudukan juga demikian. Kalau dikekang, bisa berhadapan dengan hak reproduksi manusia. Kalau tidak diatur, jumlah penduduk bisa berlimpah. Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi pemerintah untuk mengatasi persoalan ini. Sejak tahun 1970 ketika KB mulai diperkenalkan ternyata membuahkan hasil yang cukup efektif. Hingga kini, jika dikalkulasi, ada 100 juta kelahiran yang bisa ditekan. Jika ini tidak dilakukan sejak tahun 1970, bisa jadi penduduk Indonesia sekarang 330 juta jiwa. Wilayah Indonesia ini tentu akan disesaki penduduk. Jika masalah penduduk sudah tertangani dengan baik, masalah-masalah lain akan lebih mudah untuk diatasi. Karena itu, pemerintah perlu memberi perhatian terhadap masalah
Simakrama Tabloid Tokoh dengan jajaran Perwakilan BKKBN Provinsi Bali yang dipimpin Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali IB Wirama, S.H., M.Kes (tengah, endek coklat).
kependudukan. Jangan sekali-kali mengabaikan masalah kependudukan. Demikian antara lain yang terungkap dalam simakrama Tabloid Tokoh dengan jajaran Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Kamis (29/1). “Kami dari BKKBN melakukan pembinaan dari jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Jangka pendek dengan menyasar pasangan usia subur, jangka menengah dengan menyasar rema-
ja melalui Generasi Berencana (GenRe), dan jangka panjang dengan menyasar balita melalui Bina Keluarga Balita,” ungkap Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali IB Wirama, S.H., M.Kes. Dalam kesempatan tersebut dibicarakan mengenai agenda yang bisa digarap Tokoh dan BKKBN, diantaranya Festival Keluarga dan Pemilihan Ibu Teladan se-Bali. Jajaran Perwakilan BKKBN Bali menyambut positif semua agenda yang disampaikan dan siap untuk bekerja sama.
Bawangnya jangan Dikupas Di daerah saya di Flores, ketika keluarga atau tetangga ada yang mengadakan hajatan maka orang-orang akan berkumpul di rumah si pemilik hajatan untuk ikut membantu mempersiapkan hajatan. Mulai dari urusan masak maupun menghias atau mempersiapkan tempat hajatan. Anak-anak perempuan biasanya mengurusi semua menu untuk hajatan, mulai dari mempersiapkan bumbu, memasak bahan masakan dan lainnya, sedangkan kaum pria akan menghias tempat atau menyembelih hewan. Saya berpikir bahwa semua daerah seperti itu. Namun, ketika pertama kali saya mengikuti hajatan salah satu keluarga kenalan saya di Bali, yaitu di Palasari, Negara, ada kejadian yang membuat saya selalu terngiang. Kejadiannya ketika hari itu, kenalan yang saya akan mengadakan hajatan. Seperti pada umumnya, tetangga mereka ramai-ramai datang membantu. Hari pertama semua berjalan seperti kegiatan gotong royong
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
pada umumnya dan saya pun turut di dalamnya. Di hari kedua, di siang hari, saya kembali berbaur dengan tetangga lain untuk mempersiapkan segalanya karena acaranya dilaksanakan esok hari. Ketika sedang duduk, saya melihat tumpukan bumbu seperti bawang merah dan bawang putih, jahe dan lainnya belum dikupas. Ibu-ibu lainnya tidak melakukan apapun terhadap bumbu-bumbu itu. Karena berpikir bahwa mungkin ibu-ibu itu akan melakukan hal lain, saya dengan seorang kenalan lain yang berasal dari luar Bali, memutuskan untuk mengupas atau membersihkan bumbu itu. Tiba-tiba, saya ditegur. “Dik, yang itu jangan dibersihkan. Itu tugasnya bapakbapak.”
Hah?????? Kenapa memangnya? Masa bapak-bapak itu disuruh mengupas bumbu-bumbu ini??? Saya merasa seperti perempuan tidak berguna he…he… he… Ternyata ketika saya bertanya kepada ibu kenalan saya itu, dia mengatakan bahwa untuk urusan itu memang sudah adatnya seperti itu. Laki-laki yang akan memasak sate itu dan rasa sate yang dimasak para laki-laki lebih enak. Belum selesai sampai di situ... pukul 03.00 saya terbangun. Di dapur semua para pria dengan berpakaian adat mengerjakan tugas mereka. Oh My God inilah adat istiadat suatu daerah. Inilah pelajaran baru dari banyaknya adat budaya di Indonesia. Yoda, Flores
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
GORO-GORO
NAMA
Seorang tetangga melahirkan anak pertamanya, setelah 11 tahun menikah. Ia minta nama buat bayinya Putu Wijaya pada Amat. “Saya ingin anak saya punya nama yang membawa hoki. Bukan nama yang terlalu berat yang bisa jadi bumerang yang membuat dia penyakitan seperti anak tetangga saya. Jangan sampai nanti dia terpaksa gonta-ganti namanya setelah besar!” Amat bingung. “Kenapa mesti minta nama dari saya? “Kami sudah minta pada banyak orang, tapi semua tidak cocok!” “Tidak cocok bagaimana?” “Ya, begitu, setelah diberi nama, anak saya nangis terus, tidak jelas, apa sebabnya.” “Sudah dibawa ke puskesmas?” “ Sudah. mantri bilang, tidak apa-apa, anak saya sehat. Menyusuinya juga rakus.” “Jangan mantri, bawa ke dokter.” “Sudah. Sudah dibawa ke dokter. Lalu pindah ke dokter lain, untuk second opinion. Tapi jawabnya sama. Anak saya tidak sakit.” “Kalau begitu bawa ke balian!” “Sudah. Balian bilang, tanya Pak Amat. Makanya kami datang kemari minta nama. Baiknya siapa, Pak Amat, anak saya laki. Lahirnya wuku Langkir, Selasa Pon.” Amat berpikir. “Coba cari di buku tuntunan nama anak, di situ banyak pilihan.” Tetangga itu terdiam, dia berunding dengan suaminya, lalu menjawab. “Tapi balian bilang, minta nama dari Bapak.” Bu Amat yang menemani Amat menghadapi tetangga itu, memberi isyarat pada suaminya. Maksudnya supaya Amat menolak. Tapi Amat salah pengertian. “Baik, nanti Bapak pikirkan. Besok pagi coba barangkali sudah dapat.” Setelah tetangga pergi, bu Amat mendamprat Amat. “Kenapa tidak menolak saja. Nanti kalau salah lagi, kita pasti dirongrong terus!” “Habis, isyaratnya begitu, tidak jelas. Lagi pula apa salahnya menolong tetangga memberi nama, kan tidak ada ruginya?!” “Rugi!” “Ruginya apa?” “Rugi waktu. Rugi pikiran! Rugi duit.” “Rugi duit?” “Ya!” “Kok rugi duit?” “Habis kata Ami, ide itu mahal. Bukan saja nomor cantik HP yang bisa dijual, nama orang juga!” Amat ketawa. “Ibu ini kok jadi komersil sekali sekarang? Apa salah menolong tetangga. Itu kan dharma, Bu.” “Dharma, dharma terus. Dharma itu kan buat orang yang kelebihan duit. Buat kita yang pas-pasan, menolong diri sendiri juga dharma!” Amat tidak menjawab, sebab suara istrinya sudah makin tinggi. Ia tidak mau menghabiskan tenaga untuk bertengkar. Semalaman Amat bepikir, mencari, sebuah nama. Tapi kian dicari, nama itu makin ngumpet. Sampai subuh, karena kelelahan mencari Amat tertidur. Jam sepuluh pagi, Bu Amat membangunkan suaminya. Amat gelagapan terbangun. “Sudah datang?” “Siapa? Tetangga yang minta nama itu?” “Ya!” “Bukan hanya sudah datang, tapi sudah pulang.” Amat kecewa sekali. “Memang barangkali kita belum diperbolehkan oleh Yang Di Atas Itu, memberi dharma. Terus mereka kecewa?” “Kecewa ? Kenapa kecewa?” “Pasti mereka keki, memberi nama saja tidak ikhlas, apalagi duit. Dharma kan bagus!” “Ya itu!” “Ya itu apa?” “Saya katakan, Bapak tidak bisa tidur sampai subuh, dan minta maaf tak mampu memberi dharma. Bukan tidak bisa, belum ketemu.” “Mereka pasti kecewa!” Bu Amat tersenyum. “Bukan kecewa. Malah memberikan ini.” Bu Amat mengulurkan amplop yang isinya tebal. “Tiga juta. Anaknya akan diberi nama Dharma. Bapak praktik jadi dukun nama saja mulai sekarang!”
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Mozaik
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
3
Mbok Tumpuk
Tiap Hari Makan Batang Daun Lompong Pagi itu, matahari mulai naik mendekati atas kepala. Bilik rumah dan batu bata merah kuno, nampak jelas menghiasi permukiman para penduduk yang ada di tepian jalan kaki Gunung Wilis. Ada sebuah rumah mungil berukuran 3x4 meter milik mbok Tumpuk (80).
Mbok Tumpuk
S
etelah dicari-cari, mbok Tumpuk tengah mencuci pakaian kotor dan mandi di sungai. Kedua tangan nenek tua itu, tengah sibuk menggosokgosokkan rambut panjang yang sudah memutih dengan rumput yang ada di tepian sungai. “Wonten nopo dik, mriki (ada apa adik ke sini),” kata, warga Dusun Sidodadi RT 10/RW 02, Desa Ketandan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun ini. Atas bantuan seorang warga, komunikasi bahasa Jawa Madiunan berjalan mulus. Komunikasi harus lebih keras bagaikan orang tengah berteriak kencang karena mbok Tumpuk tidak jelas lagi pendengarannya. Perbincangan kemudian berlanjut ke rumah mbok Tumpuk. Begitu pintu terbuka, mbok Tumpuk segera memasuki ruangan tanpa kamar itu. Karena tidak ada penerangan lampu listrik, Mbok Tumpuk, langsung mencari korek api lalu menyalakan dua buah lampu templok dengan bahan bakar minyak tanah. Meski dengan tangan gemetar, Mbok Tumpuk, terus berusaha menggoreskan bagian pentol batang api pada bagian kasar pada bungkus korek. Tak lama ruangan berukuran 3x4 meter itu, mendadak terang dan
jelas. Tembok dari bata merah kuno, juga nampak dengan jelas meski dalam keadaan kumuh dipenuhi sarang laba-laba. Mbok Tumpuk, melanjutkan cerita kehidupannya yang sudah bertahun-tahun dijalaninya seorang diri. Beberapa tahun yang lalu, suaminya telah meninggal dunia. Begitu juga anak semata wayangnya, meninggal saat masih
ladang demi memperoleh sesuap nasi. Mbok Tumpuk, akhirnya rela, tiap hari makan tumbuh-tumbuhan yang masih bisa dikonsumsi, sayur kangkung, daun telo rambat, daun singkong dan lainnya. Batang daun atau tumbuhan lompong/tales pun kerap dijadikan pengganjal perut lapar. “Terkadang kalau ada warga yang memberi singkong, ya dibuat tiwul. Begitu juga telo
Mbok Tumpuk tengah beristirahat di kamarnya
balita. Kini, Mbok Tumpuk, hidup sebatangkara. Untuk menjalani kehidupan, Mbok Tumpuk, harus menerima apa adanya. Bahkan, tidak segan-segan lagi jika harus menerima uluran tangan dari tetangga dekat. Karena di usia sudah senja, tentu sisa tenaga yang dimilikinya mulai rapuh. Bahkan, tidak mungkin lagi untuk bekerja keras di
Tampak depan rumah Mbok Tumpuk
rambat/ubi jalar, direbus,” tutur Mbok Tumpuk. Untuk makan siangnya, Mbok Tumpuk harus memotong dua batang daun tales yang ada di depan rumahnya untuk dimasak/rebus. Batang tales yang sudah dipotong dari induknya, Mbok Tumpuk, membuang bagian daunnya yang sudah tua. “Meskipun daunnya masih muda, tapi rasanya ngak enak. Tapi masih enak bagian batangnya, lunak dan cocok untuk orang seperti saya yang sudah ompong,” terangnya lagi. Sebelum batang tales itu dimasak terlebih dulu dipotong-potong kecil, dan dibiarkan dulu hingga bagian getahnya keluar. Setelah itu, baru dicuci sembari diremas-remas agar bagian getahnya mau hilang hingga bersih, lalu direbus. Untuk menambah rasa, Mbok Tumpuk, memberikan garam secukupnya. “Dua batang daun tales, cukup untuk makan siang dan malam. Jika ada untung/rezeki, ya ada aja tetangga yang ngantar nasi lauk seadanya. Meskipun hidup serba kekurangan, saya tidak mau minta-minta tetangga,” jelas Mbok Tumpuk. -Ajun Ally
Mbok Tumpuk tengah memotong batang lompong atau tales
Berharap ada Listrik Banyaknya tikus-tikus berkeliaran di dalam ruangan rumah maupun tempat tidurnya sering jadi masalah Mbok Tumpuk. Saat tidur malam hari, ia sering menjadi sasaran gigitan tikus. Agar tidak kena gigitan tikus, Mbok Tumpuk tiap mau tidur terlebih dulu membungkus kaki maupun tangannya menggunakan kain jarit miliknya. “Makanya, kain jarit atau pakaian saya banyak yang sobek karena digigiti tikus lapar,” ujarnya. Soal lampu listrik, mbok Tumpuk mengaku sangat membutuhkan penerangan seperti layaknya tetangga yang sudah lama menikmati terangnya lampu listrik. Tapi, jika menghubungkan lampu listrik dari tetangga ke rumahnya, ia takut tidak bisa bayar setiap bulannya. Selain itu, juga ingin hidup layak menempati rumah miliknya meskipun sangat kecil. Baginya yang terpenting jika malam hari, tidak begitu kedinginan akibat terpaan angin kencang dari Gunung Wilis. Tapi semua harapan maupun keinginan, hanya mimpi dan angan-angan belaka. Karena Mbok Tumpuk, telah menyadari tidak akan mampu mencukupi semua kebutuhan itu. Mengingat usia sudah tua, tapi jika pemerintah mau peduli memperbaiki rumahnya, Mbok Tumpuk, menyambut baik dan dengan senang hati atas kepedulian itu. “Tentu, sudah dapat mengurangi penderitaan saya yang hidup sebatangkara. Tapi nyatanya, saya hidup sudah bertahun-tahun di rumah bagaikan gubuk tua ini, tidak ada tanda-tanda pemerintah mau peduli? Makanya itu, saya tidak bisa berbuat banyak karena bapak-bapak pejabat di luar sana, tidak bisa untuk memikirkan nasib saya yang hidup seperti ini. Tapi, meskipun miskin, saya tetap bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tandas Mbok Tumpuk. Disinggung soal bantuan dana rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari tahun ke tahun di Kabupaten Madiun? Mbok Tumpuk geleng-geleng kepala, bahkan mengaku tidak tahu apa itu bantuan dana RTLH itu. --Ajun Ally
22
Sosialita
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Ngaben Bersama di Cilincing
Minggu (25/1), areal Graha Yadnya yang terletak di komplek Krematorium, Cilincing, Jakarta Utara, sangat ramai. Sejak pagi-pagi sekali ratusan umat Hindu datang dari berbagai tempat di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) memadati areal tersebut.
S
uasana ramai itu seolah mendapat restu dari alam karena pagi itu langit begitu cerah. Padahal biasanya, sejak beberapa hari belakangan, hujan selalu turun di pagi hari mengantar orang-orang yang akan pergi bekerja. Siang atau sore, Jakarta kembali diguyur hujan entah dalam intensitas ringan maupun sedang. Bahkan beberapa wilayah di Jakarta Utara, di Cilincing khususnya, saat itu masih terendam banjir. Tapi hari itu, ‘kemuraman’ yang melanda Jakarta dalam beberapa hari terakhir tidak terlihat. Ini mungkin ini menjadi pertanda baik karena pagi itu akan dilaksanakan upacara ngaben bersama yang dipimpin Mangku Lawa. “Ini adalah ngaben bersama. Ada lima, masing-masing 3 dari Jakarta Utara, 1 dari Cijantung, Jakarta Timur, dan 1 dari Bekasi. Mereka meninggal pada waktu yang berbeda, antara dua minggu hingga sebulan. Tapi oleh keluarganya masing-masing telah dikremasi dan abunya disimpan di krematorium. Setelah itu pihak keluarga menemui pendeta untuk mencarikan waktu yang baik untuk melakukan ngaben. Maka dari perhitungan, 25 Januari 2014 adalah hari baik untuk pengabenan,” jelas Mangku Made Subadra. Ngaben adalah hal penting dalam agama Hindu. Menurut kepercayaan Hindu, jasad manusia terdiri dari badan kasar (fisik) dan badan alus (roh). Badan kasar dibentuk oleh 5 unsur yang disebut Panca Maha Bhuta, yang terdiri dari pertiwi (tanah), apah (air), teja (api), bayu (angin), serta akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia yang kemudian digerakkan oleh roh. Ketika seseorang meninggal, yang mati sebetulnya hanyalah jasadnya saja, sementara rohnya tidak. Oleh sebab itu, untuk menyucikan roh tersebut diperlukan upacara ngaben untuk memisahkan antara jasad kasar dan roh tersebut. Upacara ngaben dapat juga dilihat sebagai upaya untuk mengantarkan roh menuju Brahma-loka yaitu linggih Dewa Brahma sebagai manifes-
Made Subadra
tasi Hyang Widhi (Tuhan) dalam mencipta. Upacara ngaben itu mulai pukul 08.00 hingga lewat tengah hari, namun seluruh rangkaian upacara pada hari itu baru berakhir sekitar pukul 18.00. Dari lima yang diabenkan, dua di antaranya melanjutkan dengan nyekah, sedang tiga lainnya rencananya akan melakukannya di Bali. “Sebelum upacara ngaben, dilakukan upacara nunas atma yang dilakukan di Pura Dalem yang dilakukan pihak keluarga. Setelah itu menuju Graha Yadnya untuk melakukan upacara ngaben. Tapi sebelumnya, pihak yang mewakili keluarga melapor ke Pura Segara yang menyatakan akan melakukan ngaben untuk keluarganya. Namun pihak keluarga yang berduka tidak bisa memasuki Pura jadi
harus diwakilkan oleh orang lain,” jelas Mangku Subadra lagi. Setelah ngaben, tahapan selanjutnya adalah upacara nyekah atau sering juga disebut upacara mamukur atau ada juga yang menyebut upakara ngeroras. “Kalau di Bali, upacara ngeroras biasanya dilakukan setelah 12 hari. Namun kalau di sini (Jakarta) bisa dilakukan langsung, tidak menunggu. Jadi bisa dipersingkat waktunya,” jelasnya lagi. Setelah semua rangkaian upacara selesai, barulah keluarga duka bisa masuk ke Pura Segara untuk bersembahyang. “Keluarga sudah bisa masuk karena sudah bersih,” tambahnya. Setelah
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
3
Ayu Puspitasari
Kreasikan Busana Tenun Bali itu, sekitar pukul 18.00 lebih, rombongan keluarga bersama pemangku menuju Gunung Salak. “Ini disebut maajar-ajar, tirta yatra. Maksudnya adalah melaporkan bahwa upacara sudah selesai. Ini wajib dilakukan, namun bisa ditunda, misalnya melakukannya nanti di Bali. Namun tetap harus
dilakukan,” ucap Made Subadra yang juga ikut ke Gunung Salak. Rangkaian selanjutnya adalah keluarga kembali ke rumah masingmasing dengan pemangku untuk melakukan mepaingkup, tujuannya menstanakan roh suci di sanggah/merajan keluarga. –Diana Runtu
NGABEN TIDAK HARUS “WAH” Menurut Mangku Subadra, pelaksanaan ngaben di Jakarta memang agak berbeda dengan yang umumnya dilakukan di Bali. Contohnya, tidak adanya bade dan lembu “Kami tidak membuat bade dan lembu. Meski begitu, tidak mengurangi ritual itu sendiri. Itu hanyalah sarana untuk mengembalikan atma orang yang meninggal ke tempat asal. Jadi tidak apa-apa kalau tidak ada itu,” ucapnya. Kalau di Bali, jenazah akan ditempatkan di bade untuk diusung beramai-ramai ke tempat upacara ngaben diiringi dengan gamelan, kidung suci dan diikuti oleh seluruh keluarga dan masyarakat. Tapi kondisi Jakarta kurang mendukung, berbeda dengan Bali yang sangat mendukung untuk melakukan prosesi semacam itu. “Jadi yang terpenting bukan dari ‘Wah’-nya tapi dari pelaksanaan upacaranya,” tambahnya. Ngaben sebagaimana yang kita lihat diselenggarakan di Bali, terlihat megah dan meriah. Tapi itu tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit. “Kami di sini melakukannya secara sederhana,” ucapnya.
Di krematorium, keluarga duka bisa memilih perabuan dengan cara kremasi oven ataupun dengan kayu bakar. Kebanyakan keluarga memilih kremasi karena dianggap lebih efisien. “Kremasi hanya salah satu alternatif yang dianggap lebih efisien, dengan mempertimbangkan kondisi yang ada,” tambahnya. Banyak orang Bali dan beragama Hindu yang tinggal di Jakarta, merasa sangat bersyukur bisa melaksanakan ngaben di Jakarta. Dari segi pembiayaan pun jauh lebih murah, apalagi jika dilakukan bersama dengan yang lain. Lalu ia pun bercerita tentang pengalaman keluarganya yang menjalani ngaben di Jakarta. “Ketika itu salah satu keluarga saya meninggal dunia. Bersamaan dengan itu ada juga umat lain yang meninggal. Akhirnya kami melakukan ngaben bersama. Dengan ngaben bersama, biaya yang dikeluarkan pun bisa ditekan menjadi jauh lebih murah. Setidaknya, untuk ngaben dua jenazah termasuk biayanya seperti konsumsi, dll menghabiskan sekitar Rp 9,6 juta itu pun dibagi dua. Nah kalau di Bali, wah… saya tidak bisa membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan, pasti lebih dari itu,” paparnya. Dengan adanya itu, maka banyak masyarakat Bali yang ada di Jakarta maupun di Botabek merasa sangat bersyukur karena bisa melaksanakan kewajiban dengan biaya yang terjangkau. Selain itu, di Graha Yadnya pun pernah digelar acara ngaben massal. Untuk biaya bisa secara suka rela diberikan oleh keluarga duka. Ngaben ini diikuti oleh umat se-Jabodetabek. “Ketika itu cukup banyak yang ikut karena kabar ini disebarkan ke seluruh banjar di Jabodetabek. Kalau tidak salah, biaya ngaben masal itu menghabiskan seratus juta rupiah lebih, namun keluarga-keluarga hanya dikenakan biaya suka rela saja. Misalnya untuk konsumsi, dll. Karena untuk biaya ngaben sendiri sudah ada bantuan dana,” ungkapnya. –Diana Runtu
Tenunan khas Bali bukan saja indah dipakai untuk busana ke kantor, tapi kini kain sudah dijadikan sebagai busana sehari-hari ataupun busana pesta. Aneka model busana dapat dikreasikan, mulai dari busana anak-anak hingga orang dewasa. Semua dibuat nyaman dalam balutan busana tenun Bali.
S
alah satu penggiat busana tenun Bali adalah Ayu Puspita sari. Wanita kelahir an Surabaya, 26 November ini se dang merintis usaha yang sangat menjanjikan ini dengan menggu nakan label “Novee Collections”. Kisah ketertarikannya ini, su dah berawal sejak kecil. “Waktu kecil saya sudah terpesona den gan keindahan kain tenun yang dikenakan oleh wanita Bali saat pergi ke acara persembahyangan. Orang-orang berpakaian endek Bali terlihat sangat anggun, ter hormat, berwibawa dan sangat enak dipandang. Saya melihat aneka ragam motif dan warna tenun Bali yang digunakan para pemedek sembahyang. Sejak itulah tenun Bali menjadi impian saya. Suatu saat nanti, saya akan punya usaha sendiri mendesain dan membuat pakaian tenun Bali. Jadi ini bukan sekadar hobi, namun hasrat yang sangat kuat memotivasi saya. Termasuk kecintaan saya terhadap dunia
fashion,” kata Ayu. Sejak remaja Ayu sudah me nyukai dunia fashion. Pada masamasa sekolah, ia suka memakai seragam sekolah yang model nya dibuat sedikit berbeda dari model seragam yang semestinya, hanya karena ingin sedikit tampil beda dan lebih fashionable. Ia menambahkan, dulu sa ngat prihatin melihat tenun Bali yang sempat agak terlupakan dan kurang diminati. Ia mengamati, toko-toko yang menjual tenun Bali pada waktu itu begitu lesu. Sekarang, ia ikut senang, karena sudah banyak desainer ibu kota yang juga menggunakan produk tenun Bali. Malah, beberapa tahun belakangan ini, kata Ayu, pengusaha tenun Bali di Bali makin bergairah dalam ber kreasi. “Dulu, mungkin tenun Bali hanya dipakai untuk baju kantor dengan desain sederhana dan berkesan membosankan. Namun sekarang, saya lihat masyarakat Bali sudah menghargai dan men cintai produk lokal dan ikut
Koleksi busana di Novee Collections
melestarikan budaya Bali dengan memakai baju tenun Bali di ber bagai kesempatan. Baju tenun Bali dipakai sebagai busana kerja di berbagai perkantoran, dengan desain yang lebih modern namun tidak menyimpang jauh dari un sur tradisional,” kata Ayu. Untuk mempromosikan tenun Bali, ia selalu memakai busana te nun Bali dalam berbagai kesem patan, sehingga teman-teman melihatnya identik dengan te nun Bali. “Pernah suatu ketika, saat saya berada di pusat per belanjaan, saya didekati seorang wanita hanya untuk mengata kan baju tenun Bali yang saya pakai bagus dan pesan dimana. Koleksi saya memang didesain untuk acara kasual dan nya man dipakai sehari-hari. Dalam kesempatan yang lebih resmi pun saya memakai tenun Bali,” tutur wanita yang membuka butik busana tenun Bali sejak tahun 2012 ini. Ia senang karena makin ba nyak orang yang memakai kolek sinya, akan makin membantu promosi produknya dan ikut menjaga kelestarian tenun Bali. Karena itu, dalam kesempatan ini Ayu juga berterima kasih kepada semua pelanggan Novee Collections, atas dukungannya selama ini. Ayu memiliki target ke de pan, menjadikan tenun Bali
sebagai salah satu “signature clothing” untuk bahan pakai an di Bali khususnya dan In donesia secara umum yang dikenal secara internasional. “Target saya, a nytime anywhere orang lihat tenun Bali, pikiran mereka langsung ke Bali dan Indonesia. Konsumen saya se lama ini datang dari berbagai tempat di Indonesia bahkan ada juga permintaan dari Malaysia, Singap ura, dan Australia,” kata Ayu. Bagi yang tertarik de ngan koleksi busana di Novee Collections, bisa datang ke butik yang juga kediaman Ayu di Jalan Gunung Salak 31 Pa dangsambian
Denpasar. Alangkah baiknya, jika dengan perjanjian terlebih dahulu. Pemesanan juga dapat dilakukan secara online, seperti layaknya pelanggan dari luar Bali. Ayu bisa dihubungi via whatsapp nomor 0896 5703 7440, pin BBM 7F4C5BF2. Untuk penger jaan busana biasanya memakan waktu 1-3 minggu. Ada beragam desain yang cocok untuk acara kasual maupun acara yang lebih resmi atau untuk busana kerja. Koleksi lengkapnya bisa di lihat di facebook page Novee Collections atau bisa follow instagram @ noveecollections atau w ww.noveecollectionsbali. com.-ast.
4
Inspirasi
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Caisar Putra Aditya
Tukang Ojek, Artis, Akhirnya Jualan Siomay
Dunia entertainment bisa begitu manis tapi juga bisa menjadi begitu pahit bagi pelakunya. Suatu ketika karier begitu melejet di luar dugaan, namun di kali lain, bisa tiba-tiba nyungsep tanpa sempat si pelaku mencari pegangan lain. Ada banyak artis mengalami ini. Ada banyak yang berhasil survive namun tak sedikit yang akhirnya hidupnya memprihatinkan.
S
alah satu yang sempat merasakan manisnya ketenaran adalah Caisar Putra Aditya atau akrab disebut Caesar YKS. Di masa jayanya, siapa yang tak kenal dengan Caesar dan goyangannya disukai masyarakat seantero negri. Kepopuleran ini membawa kehidupan si pemilik goyang yang tadinya biasa-biasanya saja, berubah drastis. Perekonomian keluarganya terdongkrak, seiring dengan membanjirnya job-job yang datang. Maklum selain tampil di YKS (Yuk Keep Smile), dia juga tampil di sejumlah acara televise lainnya. Bahkan sempat main film dan menjadi bintang iklan. Tapi ketenaran di dunia entertainment hanya sebentar dirasakannya. Namanya mulai melambung awalnya lewat acara sahur ‘Yuk Kita Sahur’ tahun 2013 kemudian dilanjutkan di acara ‘Yuk Keep Smile’, namun program YKS itu terkena ‘semprit’ gara-gara sebuah goyangan kreasi baru yang yang dianggap tidak pantas ditonton oleh masyarakat. Buntutnya, acara tersebut pun akhirnya bubar. Bersamaan dengan itu karier Caesar di panggung hiburan Tanah Air perlahan meredup. Namanya mulai dilupakan orang. Tahutahu muncul kabar mengejutkan Caesar menjadi penjual tahu. “Ya, aku terima saja. Dulu saat menciptakan goyang itu, aku ngak sadar bahwa goyangan itu tidak patut jika ditonton anak-anak. Waktu itu (menciptakan goayangan) mengalir saja. Sampai akhirnya dapat teguran. Ya, aku terima ,” ungkap mantan bintang iklan Sarimi ini. Setelah program YKS berhenti tayang, lelaki kelahiran Jakarta Agustus 1989 ini, masih mendapat undangan muncul di beberapa acara televise, juga off air. Namun job-job yang datang tidak lagi sebanyak dulu. Menurut Caesar, sejak awal dia sangat menyadari bahwa berkarier di dunia entertainment tidak lah bisa menjadi pegangan hidup. Jadi, tambahnya, ketika ia kembali kekehidupan biasa, dia tidak kaget lagi. Apalagi, katanya, sejak dulu, sebelum setenar sekarang pun kehidupan yang dijalaninya biasa-biasa saja. Bahkan dia juga pernah menjalani hidup susah. “Jadi dengan kejadian itu, dan apa yang aku alami sekarang, tidak membuat aku putus asa, dan bersedih. Bagi aku, yang penting orang mau berusaha, terus berjuang tak kenal menyerah, dan melakukan pekerjaan apapun asalkan halal dan tetap bersemangat, pasti akan ber-
hasil. Aku juga tidak perlu merasa malu dengan apa yang aku kerjakan. Aku yakin, pasti akan ada jalan untuk kemajuan,” ungkap suami dari Indadari ini. Usaha Sendiri Saat ini Caesar yang kini banting stir berjualan tahu dan siomay mengaku, merasa nyaman dengan usahanya. Meskipun usaha di bidang kuliner ini tergolong kecil, namun prospeknya cukup menjanjikan. “Hasilnya cukup lumayan, pembeli yang datang banyak. Apalagi kalau aku menunggui warung, banyak yang datang. Ada yang datang tadinya hanya ingin foto-foto, tapi akhirnya beli juga…hahahah,” kata Caesar yang telah empat bulan membuka warung yang diberinya nama ‘Warung tahu Joget’. Di warung yang terletak di Cimanggis ini, Caesar melayani pembelinya hanya bersama istrinya, tidak ada petugas lainnya. “Sebenarnya berusaha di bidang kuliner ini bukan tiba-tiba. Tapi sudah lama ide ini ada, istri saya sejak dulu ingin membuka warung jajanan. Namun baru bisa terwujud saat ini,” kata bintang film ‘Jomblo Keep Smile’ ini. Memiliki usaha sendiri, menurutnya, lebih menjanjikan daripada menjalani profesi keartisan yang bisa tiba-tiba redup tanpa bisa dicegah. Meski begitu diakuinya, kesempatannya berkarier di dunia hiburan meski hanya sebentar namun telah memberi banyak hal, baik itu pengalaman maupun materi, yang menjadi modal kehidupannya di kemudian hari. “Dulu aku menjalani kehidupan yang biasabiasa saja. Saya pernah menjadi pengojek motor saat SMA untuk menambah-nambah uang jajan karena orangtua saya (ayah) pensiunan sedang ibu hanya ibu rumahtangga biasa. Aku juga pernah menjadi satpam. Jadi bagi aku, bekerja apa saja yang penting halal, aku jalani. Lalu, aku mendapat kesempatan tampil
Caesar di acara Soimah, kemudian acara sahur YKS. Dulu, karena aku tidak pandai bicara, jadi disuruh joget saja, sebelum acara ditutup. Yang namanya pekerjaan, kebetulan aku juga suka berjoget, disuruh joget ya aku lakukan saja. Ternyata banyak yang suka. Untuk membuat kreasi joget, aku nonton Youtube juga mendapat masukan dari orang-orang sekeliling aku. Sampai akhirnya goyangan aku itu menjadi terkenal dan disukai masyarakat. Ibu Soimah, juga
orang-orang sekeliling saya, paling berjasa dalam kesuksesan karier aku di dunia entertainment. Dan juga, aku merasa, doa Ibu untuk keberhasilan hidup aku, didengar Tuhan, Alhamdulilah” ungkapnya panjang lebar. Bisa menjadi artis ngetop, tutur Caesar, tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Ibarat mimpi, begitu katanya. “Tiba-tiba orang banyak kenal aku. Tiba-tiba banyak orang yang memanggil-manggil nama aku, ‘Caesar…Caesar…Yuk Keep Smile….’. Mereka, dari anak-anak sampai orang dewasa, mulai dari minta tandatangan sampai fotofoto . Ini rasanya seperti mimpi. Saya berpikir, ya Allah kok sampai segininya ya. Alhamdulilah,” tuturnya. Dari kesuksesan yang meski hanya singkat itu, katanya, banyak hal (materi) yang diperolehnya. Selain untuk mencukupi kebutuhannya sendiri, juga bisa membantu orangtua, bahkan bisa meng-umrahkan ibunya ke Tanah Suci. Karena itu, kata Caesar,
ia sangat bersyukur sekali atas apa yang dicapainya. Ia juga mengaku tidak menyesal atas kehidupan yang biasa-biasa yang kini dijalaninya. Dia ikhlas. “Aku sadar kehidupan itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Apa yang aku dapat selama ini adalah titipan Allah. Yang penting bagi kita adalah bagaimana terus memperbaiki diri, terus berusaha. Sekarang aku merasa nyaman dengan memiliki usaha ini. Aku ingin focus berusaha. Sepertinya aku tidak ingin kembali ke dunia hiburan, ingin focus di sini saja. Kalaupun nantinya ada kesempatan lagi, ya hanya sesekali saja, yang utama adalah membesarkan usaha ini. Aku merasa, berjuang dengan upaya sendiri seperti sekarang lebih enak dan memuaskan,” ungkap Caesar yang mengaku selalu optimis memandang kehidupannya.
Mandalika
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Geliat Pasar Kebon Roek
21
Pecahan Pasar Ampenan
–Diana Runtu
S
eperti halnya pasarpasar tradisional lainnya, aktivitas di Pasar Kebon Roek Ampenan, di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat mulai menggeliat sejak pukul lima pagi. Tidak kurang dari 900 pedagang yang berasal dari Lombok Barat dan Kota Mataram, memenuhi pasar dengan luas areal lebih kurang satu hektare ini. “Luas areal pasar seluruhnya sekitar satu hektare, sedangkan luas bangunan pasar dan lokasi yang dipakai untuk berjualan 5.000 meter persegi,” ungkap Roos Haryadi, SE., Kepala Pasar Kebon Roek Ampenan. Ada pedagang yang menempati sekitar 400 los dan kios dan sekitar 100 pedagang bakulan lain-
Los buah di Pasar Kebon Roek
nya berjualan di sekitar areal parkir dan teras pasar. “Sesungguhnya jumlah los dan kios di Pasar Kebon Roek adalah sekitar 800, namun karena lantai dua tidak terpakai, maka los dan kios hanya terpakai 400 saja,” kata Roos. Pasar Kebon Roek yang memiliki fasilitas 7 kamar mandi dan mushala ini adalah pasar terbesar kedua setelah Pasar Mandalika di Bertais Mataram. Aktivitas di pasar ini berlangsung dari pagi hingga sore hari tanpa henti. Tidak kurang dari 40 petugas mengurus pasar ini. Ada yang bertugas sebagai tenaga keamanan sejumlah 16 orang, petugas kebersihan 12 orang, juru pungut dan tugas-tugas lainnya.
Roos Haryadi, SE.
Berburu Ikan Laut Segar di Pasar Kebon Roek
Suasana pasar Roke Ampenan yang menjual berbagai hasil tangkapan laut
Pasar tradisonal ini memang disiapkan oleh Pemerintah Kota Mataram yang bisa diakses oleh pedagang dengan harga yang sangat murah. “Pedagang hanya membayar sewa ruang Rp 2.500 permeter persegi perbulan dan Rp 800 untuk biaya retribusi perhari,” ujar Roos. Pada perkembangan terakhir, kini Pasar Kebon Roek menjadi semakin nyaman bagi para pedagang ketika di beberapa bagian lorong yang tadinya merupakan teras pasar, kini telah diberi atap permanen. “Kami tidak lagi kepanasan dan kehujanan,” ujar salah seorang pedagang bakulan yang
tadinya mendapat jatah di los lantai dua, namun lebih memilih berjualan di bawah dengan alasan di lantai dua dagangannya sulit laku. Selain soal keamanan, kelebihan lain dari Pasar Kebon Roek adalah tersedianya ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan di laut sekitar Pasar Kebon Roek. Pantai-pantai tempat nelayan berlabuh membawa ikan-ikan segar dan langsung dijual di pasar, terbilang dekat. Seperti Pantai Ampenan, Pantai Yanjung Karang, Senggigi dan sepanjang garis Pantai Ampenan yang jaraknya ke Pasar Kebon Roke hanya sekitar 15-20 menit
berkendaraan. “Meski pun sedikit lebih mahal, ikannya masih segar dan baru saja naik (dari pantai),” ujar Hj. Kalsum, yang mengaku selalu datang belanja sore hari untuk bisa mendapatkan ikan laut yang benar-benar segar. Ikan-ikan laut segar hasil pancingan nelayan ini, dapat ditemui di sudut kiri bagian utara dari Pasar Kebon Roek di los ikan. Sebagai pembeli, Hj. Kalsum dan pembeli lainnya selalu berharap bisa memdapatkan ikan yang benar-benar segar yang terhindar dari bahanbahan kimia. Memenuhi keiginan pembeli, para penjual ikan di Pasar Kebon Roek mengaku, menghindari bahan-bahan kimia berbahaya untuk mengawetkan ikan dagangan mereka. Sebagai Kepala Pasar Kebon Roek, Roos selalu mengingatkan para penjual ikan agar tidak menggunakan bahan kimia untuk mengawetkan ikan-ikan mereka. Secara umum, para pedagang di pasar ini terlihat menggunakan es batu untuk mengawetkan ikan secara alami. -Naniek I. Taufan
Cikal bakal Pasar Kebon Roek sesungguhnya berasal dari Pasar Ampenan yang kini dikenal dengan sebutan Pasar ACC. Ketika Pasar ACC tidak lagi mampu menampung penjual dan membludaknya pembeli karena lokasi pasar yang relatif kecil, maka dibukalah Pasar Kebon Roek, yang terbilang besar. “Pasar Kebon Roek ini merupakan pecahan dari Pasar ACC,” kata Asis Pitoyo, Wakil Kepala Pasar Kebon Roek, yang sebelumnya bertindak sebagai kepala keamanan pasar ini. Sebagai salah satu pasar tradisional terbesar di Mataram, Pasar Kebon Roek yang diresmikan sejak tahun 2007 ini, menyediakan segala kebutuhan bagi masyarakat secara lengkap. “52 unit kios berbagai ukuran dan 800 los pedagang, menjual segala kebutuhan masyarakat,” kata Roos. Ikan-ikan segar yang dijual di pasar ini berasal dari Pantai Tanjung Karang, Mataram, Labuhan Lombok dan Tanjung Luar Lombok Timur, juga datang dari Pulau Jawa. Sayur-sayuran sebagian besar merupakan hasil petani lokal. Salah satu hal yang menonjol dari pasar ini adalah soal keamanan. Meskipun pasar ini terbuka dan tidak berpintu khusus, sejauh ini tetap dalam keadaan aman, terutama bagi barang-barang yang ditinggalkan pedagang. “Sekalipun dikelilingi perkampungan dan dalam kondisi terbuka semua, Pasar Kebon Roek bisa dibilang paling aman,” kata Asis Pitoyo. Demikian juga dalam aktivitas sehari-hari, sejauh ini Pasar Kebon Roek relatif aman dari aksi pencopetan dan lainnya. Pasar Kebon Roek yang berlantai dua ini awalnya terlihat sangat rapi, karena seluruh pedagang menempati los-los dan kioskios yang sudah disediakan di lantai satu dan lantai dua tersebut. Namun, menurut Pitoyo yang bertugas di bidang keamanan pasar sejak pasar ini mulai beroperasi, rapi dan bersihnya pasar ini hanya mampu bertahan sekitar tujuh bulan. “Para pedagang di lantai dua turun untuk berjualan di bawah, di teras dan sekitar lantai satu pasar. Para pedagang sempat mengaku rugi karena pembeli hampir seluruhnya memilih berbelanja di lantai satu,” ungkap Pitoyo dan Roos yang mencoba memaklumi situasi lantai dua pasar ini, sebagian besar kosong tidak terisi. Untuk menjaga agar situasi di teras dan sekitar lantai satu yang dipakai untuk berdagang tetap rapi, para pedagang bakulan ini diatur sedemikian rupa sehingga tetap memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Meski pun sudah diatur begitu, tetap saja di beberapa titik seperti di pintu masuk utama pasar, pedagang masih menggunakan lorong sebagai tempat berjalannya pembeli ini sebagai tempat berjualan. “Mengatur pedagang itu gampang-gampang sulit khususnya untuk soal ketertiban,” ujar Roos yang selalu berupaya mengajak para pedagang untuk tetap menjaga kerapian dan kebersihan. Soal kebersihan juga menjadi sorotan kepala pasar ini. Meski terbilang lumayan bersih namun sampah menjadi persoalan tersendiri. Para petugas kebersihan sejauh ini telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga agar pasar ini tetap bersih. “Setidaknya empat kali sehari pasar dibersihkan, mulai dari pagi, lalu sekitar pukul satu siang, pukul empat sore dan malam hari,” kata Roos. Mengenai hal ini, sebagai kepala pasar, Roos berharap agar para penjual dan juga pengunjung (pembeli) memiliki kesadaran bersama untuk tidak membuang sampah sembarangan agar pasar terlihat tetap bersih.
Suasana pasar Roke Ampenan yang menjual berbagai kebutuhan dapur
20
Nine
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Ratusan Tukung Suun Menjanda Puluhan perempuan yang memakai sarung duduk di pojok bagian barat, persis di depan pintu masuk pasar tradisional Kebon Roek Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di areal parkir ini, mereka mengobrol satu sama lain, sambil sesekali matanya awas memperhatikan kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor yang masuk ke areal parkir pasar tersebut.
B
egitu pula dengan para tukang suun lainnya yang berada di pintu masuk sebelah timur pasar ini. Saat melihat ada beberapa kendaraan mobil dan sepeda motor yang masuk ke areal parkir, mereka pun sigap terburu-buru berdiri dan segera mendekat. “Bawain Bu….,” kata salah seorang di antara mereka menawarkan jasa suun (junjung/ jinjing) barang belanjaan. Sejak pagi, bahkan ada yang sejak subuh hari, para perempuan tersebut mulai bekerja sebagai tukang suun di pasar terbesar kedua di Mataram ini. Bagi mereka, geliat aktivitas
pasar ini adalah rupiah demi rupiah yang dikumpulkan untuk menyambung kehidupan bersama keluarga mereka. “Jika pasar ramai khususnya menjelang hari-hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru dan hari besar lainnya, itulah tempat kami mendapatkan rezeki lebih banyak,” ungkap Kartini, salah seorang tukang suun. Rezeki itu akan semakin banyak mereka dapatkan di bulan puasa, karena hampir setiap hari pasar selalu ramai. “Kami bisa dapat upah Rp 50.000 sampai Rp 70.000 sehari,” tambah Kartini polos. Di hari biasa, mereka mengantongi upah rata-rata Rp
20 ribu-Rp 30 ribu perhari. Bagusnya, dalam menjalankan pekerjaannya ini, sekali pun jumlah mereka banyak, para perempuan tukang suun, saling menjaga dan menghormati satu sama lain, setidaknya tidak saling rebut pelanggan yang akan memakai jasa mereka. “Siapa saja yang ditunjuk oleh pembeli yang ingin memakai jasa kami, kami tidak boleh meng-
Kartini (tengah), tukang suun di Pasar Kebon Roek
10.000. “Tapi itu tidak sering, hanya sesekali saja,” kata Raihan. Selain mereka mendapat upah dari membantu membawakan atau suun belajaan pembeli, mereka juga bisa mendapat upah dari mengangkut barang dagangan yang dibawa pedagang dari tempat parkir ke lokasi tempatnya berjualan di dalam pasar.
Perempuan tukang su’un di Pasar Kebon Roek tengah berbagi rejeki yang diberikan seorang pengunjung pasar
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Dr. HC. Nyoman Gunarsa Jadi Sumber Inspirasi Jurnalis TV Perancis
Selain membantu membawakan belanjaan, mereka biasanya mengetahui seluk beluk pasar, sehingga mengerti lokasi-lokasi penjualan berbagai kebutuhan pokok masyarakat ini. Dengan cekatan mereka akan menunjukkan tempat di mana lokasi yang menjual kebutuhan yang dibutuhkannya, jika pembeli tidak mengetahui tempatnya. Mereka juga akan membantu memilih dan memilah barang-barang berkualitas baik selama proses belanja tersebut. Tiap hari, para perempuan ini bergelut dengan beban yang teramat berat, karena orang yang berbelanja di pasar induk ini, bisa dipastikan berbelanja dalam jumlah yang banyak. Puluhan kilogram menjadi bebannya tiap hari, namun mereka menikmati itu sebagai bagian dari risiko pekerjaan yang harus diterimanya demi keluarga. “Malam hari baru
ganggu kawan tersebut apalagi merebut pelanggan. Kami sadar bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur,” kata Isa, tukang suun lainnya. Kesederhanaan cara berpikir dan saling mawas dirinya inilah yang membuat mereka tidak pernah rebut satu sama lain, khususnya dalam hal mendapatkan pelanggan atau pengguna jasa mereka. Mereka adalah tulang pung-
gung keluarga yang mau tidak mau harus bekerja keras demi kelangsungan hidup keluarga. Karena banyak di antara lebih dari 100 orang tukang suun ini yang hidup menjanda. “Dari jumlah tukang suun yang lebih dari 100 orang ini, kebanyakan janda,” jelas Kartini yang mengaku pernah mencatat lebih dari 100 tukang suun di Pasar Kebon Roek ini. -Naniek I. Taufan
terasa pegal dan otot-otot saya puluhan tahun lamanya. “Dari sakit,” ungkap Bibi Naah yang kini upah Rp 200, saya sudah menberusia sekitar 60 tahun. jadi tukang suun,” kata Isa. Para Meski ia terbilang paling tua tukang suun yang kini bekerja di di antara tukang suun lainnya, Pasar Kebon Roek ini dulunya semangat Naah tetap menyala. bekerja di Pasar ACC Ampenan. Ia terlihat gesit dan tidak kalah “Saat Pasar Kebon Roek dibuka, dengan para tukang suun lain- kami membagi diri, ada yang tetap nya yang bahkan ada yang masih bekerja di Pasar ACC Ampenan berusia puluhan tahun. “Ada juga dan sebagian ke Kebon Roek ini,” yang masih bersekolah, biasanya ujar Kartini. mereka kerja siang hari setelah Rejeki yang mereka dapatkan, pulang sekolah,” kata Kartini. selain dari bekerja mereka juga Para tukang suun ini memang kerap mendapat pembagian uang belum memiliki kelompok seperti dari orang-orang yang sengaja porter resmi yang ada dan bekerja memberi mereka. Meski pun jumdi pasar ini. Tetapi keberadaan lahnya tidak banyak, tampak mermereka sangat membantu pem- eka bersyukur dengan apa yang beli karena porter yang laki- mereka dapat hari itu. Membawa laki di pasar ini hanya membantu pulang rejeki halal bagi keluarga para pedagang untuk mengang- mereka. -Naniek I. Taufan kut dagangan di kioskios atau los saja, tidak membantu membawakan barang belanjaan pembeli. “Beruntung ada tukang suun yang bisa membantu membawakan saya barang belanjaan yang banyak dan berat. Tenaga mereka terbilang kuat,” ujar Mahani, salah seorang pembeli yang selalu memakai jasa tukang suun. Bekerja sebagai tukang suun adalah pilihan terakhir di tengah ketiadaan lapangan kerja bagi perempuan yang rata-rata tidak menamatkan pendidikan yang layak. Bahkan beberapa di antaranya menjadi tukang suun secara turun temurun. Mereka menggeluti pekerjaan ini ada yang bahkan sudah Raihan, tukang suun di Pasar Kebon Roek
5
* Kiblat Figur Seniman dan Budayawan Dunia Dr. HC. Nyoman Gunarsa menjadi sumber inspirasi bidang seni dan budaya Indonesia oleh jurnalis televisi (TV) Perancis. Ini bukan pertama kalinya Sang Maestro Lukis kelahiran Banda, Klungkung menjadi narasumber berkompeten di bidangnya. Dedikasinya yang tinggi terhadap seni dan budaya menjadikannya kiblat figur seniman dan budayawan dunia. Profilnya dipublikasikan di negara yang dikenal moncer dengan fashion dan gaya hidupnya itu.
Perempuan tukang su’un di Pasar Kebon Roek
60 Tahun masih Nyuun Para tukang suun ini kebanyakan berasal dari desa-desa dan perkampungan di sekitar Pasar Kebon Roek, seperti, Teloka, Medas, Batu Layar, Sesela, Kebon Indah, Kampung Banjar, Pondok Perasi, Bintaro, Sesela Ireng dan lainnya. Para tukang suun ini tidak pernah mematok berapa harga sewa jasa mereka selama ikut berkeliling membawakan belanjaan para pembeli di pasar ini. “Semua tergantung dari keikhlasan orang yang memakai jasa kami. Berapa pun diberikan, kami tetap mensyukurinya,” ujar Raihan, tukang suun lainnya. Karena bagaimana pun, mereka menggantungkan harapan hidup sehari-hari dari penghasilan mengangkut dagangan atau membawa belanjaan. Namun upah rata-rata yang biasa mereka terima sekali suun mengikuti pembeli berbelanja adalah Rp 3.000. Ada juga yang menerima Rp
Inspirasi
Salah satu sketsa (pastel) potret salah seorang delegasi Perancis yang dicontohkan Sang Maestro bahwa kecantikan seorang wanita itu menghidupkan daya ciptanya. Karya tersebut dikerjakan hanya dalam waktu ± 15 menit.
M
aestro Gunarsa mengatakan siap saat kru jurnalis TV Perancis itu memilihnya sebagai sumber inspirasi. “Saya siap saja ketika mereka berkirim kabar untuk mewawancarai saya. Materi yang ditanyakan seputar budaya di Indonesia. Budaya di Indonesia menjadi referensi Negara Perancis yang juga sedang gencargencarnya mengembangkan budaya mereka. Ibaratnya, mereka studi banding,” terang Maestro Gunarsa. Dalam kesempatan tersebut Maestro Gunarsa menandaskan bahwa budaya di Indonesia khususnya di Bali, mengangkat nilai-nilai kearifan lokal namun bersifat universal. Di dalam seni dan budaya Bali terkandung filosofi orang Bali yang hingga kini menjadi tuntunan hidup (way of life) masyarakat Bali bahkan dunia. Sebagai profil seorang maestro seni, Nyoman Gunarsa dikenal memiliki wawasan luas, tidak egosentris dan menerima budaya luar untuk memperkaya budaya lokal. “Saya sudah pameran keliling Eropa, Amerika Serikat, Perancis dan negara-negara Asia lainnya dan mereka respek terhadap budaya di Indonesia,” ujarnya. MARTABAT WANITA Selain seni dan budaya, jurnalis TV Perancis yang terdiri enam (6) orang tersebut juga minta pendapat Sang Maestro tentang wanita Indonesia dan kiprah mereka dalam kesehariannya. Tentang hal itu Maestro Gunarsa menandaskan bahwa wanita adalah figur yang luar biasa. Peran dan kiprah wanita Indonesia dalam berbagai bidang sangat menakjubkan. “Saya men-
(melukis-red), Maestro Gunarsa senantiasa mengedepankan unsur etika dan estetika. “Wanita Indonesia adalah pejuang yang berjuang demi kehormatan dan harga diri bangsa ini. Banyak wanita menjadi pahlawan bangsa seperti RA Kartini, Dewi Sartika, Cut Nya Dien, dll. Wanita merupakan sumber inspirasi saya dalam berkesenian karena saya mencintai keindahan dan kecantikan. Tanpa wanita, hidup ini gersang. Wanita memberikan inspirasi hidup dalam berkreativitas. Di Bali kita kenal Dewi Saraswati sebagai dewa ilmu pengetahuan, keindahan dan harmoni, sama seperti Dewa Aprodite di Eropa. Wanita bukan konco wingking semata, tetapi juga sebagai prameswari (raja wanita) dalam keluarga. Setiap lukisan yang saya pamerkan, selalu menonjolkan sisi keindahan wanita dan justru inilah yang banyak dikoleksi. Saat pameran/demo di Perancis, saya sempat melukis (sketsa) seorang wanita. Mereka kagum karena saya melukis hanya dalam waktu 2 menit saja. Mereka sangat mengapresiasi saya,” papar Sang Maestro bangga. PENGGIAT DAN PEJUANG SENI Sosok Maestro Gunarsa memang identik dengan seni dan budaya itu sendiri. Hidup dan kehidupannya tercurah untuk mengabdi pada seni. Tak hanya seni lukis tetapi juga seni tari, gamelan, pembinaan budaya barong, cinta budaya keris dan sebagainya. Di kalangan seniman dan budayawan dalam dan luar negeri, maestro seni lukis ini tak hanya dikenal sebagai penggiat tetapi juga pejuang seni yang tak pernah berhenti berkarya dan upaya melestarikannya. Salah satunya telah menyelenggarakan seminar internasional Seni Lukis Klasik Bali (SLKB) dengan mengundang para pemerhati seni budaya dari dalam dan luar negeri.
Maestro Nyoman Gunarsa berbicara tentang peran wanita Indonesia yang sejajar dengan kaum pria. Banyak diantaranya menjadi tokoh-tokoh nasional yang dikagumi dunia seperti Ida I Dewa Istri Kania, Cut Nyak Dien, Megawati, pengusaha sukses Muryati Sudibyo, Susi Pujiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan.
“SLKB sendiri merupakan harta karun atau warisan budaya bangsa yang tiada ternilai harganya, yang sudah tidak bisa lagi dikritik atau dikomentari karena sudah merupakan filosofi mati hidupnya orang Bali. SLKB sudah dikagumi dunia sejak masyarakat Eropa mengenal dunia Timur abad XV. Lewat seminar itu saya memperjuangkan SLKB menjadi salah satu warisan budaya nasional (WBN) dan warisan budaya dunia (WBD),” jelasnya. Bagi Maestro Gunarsa, buah karya SLKB bukan sekedar untuk kepentingan upacara ritual saja, tetapi ikut mengisi ruangruang bergengsi gedung-gedung pemerintah, rumah para pejabat, gedung konglomerat, dsb. Bahkan karya tersebut sejajar dengan karya maestro-maestro dunia seperti Michael Angelo, Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso, Salvador Dali, Affandi, Hendra dan Sudjoyono.
starikan terus menerus. “Bentuk atap bangunan style Bali seperti atap Bale Gedung Rata, atap Bale Wantilan, atap Bangunan Meru berbentuk atap Limasan atau atap Bebarongan. Tentu atap-atap tersebut berfungsi untuk diisi ornamen-ornamen berupa Mahkota/Murda, Gelungan ataupun Bugbug berukir, Janggar berukir, Ringringan berukir dan genteng Bersubeng. Ini merupakan cirri khas atap bangunan khas Bali,” tegas Maestro Gunarsa.
gatakan bahwa wanita Indonesia tiada duanya. Mereka memiliki DARI SENIMAN peran yang sangat luar biasa, SAMPAI PRESIDEN baik dalam perannya di keluMaestro Nyoman Gunarsa arga, di masyarakat, di politik/ memang bukan seniman kekenegaraan bahkan di dalam banyakan. Perjuangan panjang bidang seni dan budaya. Wanita untuk menjadi seorang maestro bagi saya tidak saja telah menjadi yang diakui dunia tidak didapatsumber inspirasi tetapi motivator nya secara instan. Itu diakuinya yang begitu kuat yang mayoritas lewat bukunya yang berjudul mewarnai karya-karya saya,” ‘Dari Seniman Sampai Presikatanya. den’. Seniman berjuluk ‘Tangan Itu sebabnya Maestro Gunarsa Emas’ ini membuktikan bahwa menempatkan wanita lebih sebamenjadi seorang maestro lewat gai subjek dan bukan objek dari perjuangan yang tak pernah sebuah karya. “Wanita adalah putus. ”Menjadi maestro yang JANGAN SAMPAI LUNTUR pihak yang harus dihormati dan Terhadap nilai-nilai kearifan diakui kualitas kesenimanandijunjung tinggi martabatnya. lokal yang mulai luntur khusus- nya, tidak bisa didapat secara Banyak pelukis yang menjadikan nya pada bangunan/gedung- instan. Tantangannya sangat wanita sebagai objek lukisannya. gedung pemerintahan, turut berat dan melewati perjuangan Wanita memang sangat layak mengundang keprihatinan Sang panjang dan tidak mudah,” kadijadikan model lukisan tetapi Maestro. Dikatakan, arsitektur tanya. –ari bukan dilecehkan dengan mebudaya Bali pada lukis mereka berjam-jam dalam gedung-gedung pose telanjang. Saya sangat tidak pemerintahan setuju,” katanya turut menginyang mulai luntur, gatkan. harus disikapi seBagi Maestro Gunarsa, wanita cepatnya. Ciri khas identik dengan keindahan (beauatap rumah/banty) dan kecantikan (beautiful). gunan khas Bali “Saya suka keindahan dan kecanyang sudah turun tikan. Saya suka wanita cantik, temurun dan menitu sebabnya mayoritas lukisan jadi identitasnya saya adalah wanita-wanita cantik Bali harus diperkhususnya wanita Bali dalam setahankan dan dilegala aktivitasnya. Tapi saya tidak pernah melukis wanita dalam pose telanjang, sebaliknya saya melukis wanita Bali dengan busana adat saat mereka menari atau sembahyang. Wanita adalah figur yang luhur, yang agung, yang harus dijunjung tinggi harkat, martabat dan kehormatanDelegasi Perancis foto bersama di depan pintu rumah nya,” tandasnya. Sang Maestro Nyoman Gunarsa didampingi Staf Dalam berkarya Suasana ketika Sang Maestro melukis salah seorang delegasi Perancis di ruang studio. Kedutaan RI di Paris.
6
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
an Popong Otje Djundjun
Yang Tua tetap Berkarya Usianya boleh dibilang sangat sepuh, 76 ta hun, namun semangatnya luar biasa. Nenek delapan cucu ini tetap terjun ke dunia poli tik meski usianya sudah sepuh, bahkan dia kini menjadi anggota DPR tertua di Senayan, Jakarta. Mungkin masyarakat belum lupa ba gaimana aksi Popong saat menjadi pemimpin sementara sidang paripurna DPR periode 2014-2019 pada 1 Oktober 2014.
S
idang yang berlangsung ricuh ini baru berakhir pada dini hari. Sebagai Ketua Sidang, Popong dihujani banyak protes juga interupsi. Tapi istri mantan Walikota Bandung era tahun 1970-an ini tetap tenang seolah tak terpengaruh kegaduh an persidangan. Di dunia politik, memang Popong bukanlah orang baru. Ia telah menjadi anggota DPR sejak tahun 1987. Sampai sekarang ini, ia telah menjadi anggota DPR RI selama lima periode, tahun 1987, 1992, 1993, 2009 dan 2014. “Saya sempat berhenti sepuluh tahun, mulai tahun 1999. Baru pada 2009 masuk lagi, itupun karena diminta
oleh partai saya untuk nyalon lagi. Saya pun siap,” tutur ibu empat anak ini di Senayan, Jakarta. Menurut Popong dunia politik telah ditekuninya sejak muda. Ia juga aktif berorganisasi. Untuk politik, katanya, tidak ada batasan usia. “Dunia politik itu bukan seperti PNS yang ada batas usianya, atau tentara ada batas umur kudu sekian. Tapi kalau di politik mah nggak ada,” ucap Popong dengan logat Sunda-nya yang kental. Bagi wanita kelahiran 30 Desember 1938 ini, menjadi anggota DPR semata-mata adalah pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Tidak ada motivasi lain. Berkiprah di politik, merupakan tempatnya mengabdi ke-
pada masyarakat. Karenanya ia bertekad menjalankan tugasnya di DPR dengan sebaik-baiknya. “DPR itu bukan tempat mencari uang. Kalau mau mencari uang ya menjadi pengusaha bukan di sini,” tegas Popong yang mempunyai motto; ‘Yang muda yang berkarya, yang tua tetap berkarya’. Menjadi anggota DPR, telah mendapat dukungan dari keempat anaknya juga cucunya. “Mereka juga sangat mendukung saya. Mereka kan tahu saya ini orangnya seperti apa,” kata Popong. Di sisi lain, dirinya pun merasa mampu mengembang tugas sebagai anggota dewan. “Tugas sebagai anggota dewan itu kan ada tiga, membuat undangundang, mengatur uang rakyat yang disebut APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) agar kembali kepada rakyat berupa program-program yang bermanfaat, serta, mengawasi kinerja pemerintah. Nah tugas-tugas itulah yang akan saya jalankan dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa tanggung jawab,” tegasnya. Berbicara dengan Ceu Popong—begitu ia akrab disebut, tak mengesankan kalau usianya telah sangat lanjut. Di DPR,
Made Rahayuni
Perkembangan industri kecantikan makin pesat. Tentu saja, persaingan makin ketat, dan mengharuskan insan profesi yang ber gerak di bidang kecantikan terus mengasah diri. Salah satunya, dengan giat mengikuti seminar kecantikan untuk terus mengikuti tren terbaru. Demikian diungkapkan, Ketua Tiara Kusuma Ka bupaten Tabanan, Ni Made Rahayuni, saat semi nar yang bertajuk “The Perfection Make Up of Daday Khogidar dan Etika Busana dari Poppy Chandra”, Kamis (29/1) di Aston Denpasar.
R
di Tabanan. Dengan LKP Candra Dewi, ia sudah banyak memberikan pelatihan kepada para perempuan di Tabanan agar mampu memiliki keterampilan di bidang tata rias. “Sebagai kepedulian saya kepada generasi muda, dan juga sudah merupakan program kerja, LKP Candra Dewi rutin menggelar pelatihan tata rias. Peserta se bagian besar usianya di bawah 40 tahun. Saat ini, sudah ada ratusan murid lulusan LKP Candra Dewi,”
Popong dikenal sebagai anggota yang disiplin dan tegas dalam menyampaikan pendapatnya. Seperti pada periode sebelumnya, pada periode kali ini pun, Popong kembali menempati Komisi X yang membidangi antara lain; pendidikan, kebudayaan, pariwisata, pemuda, olah raga, perpustakaan dan ekonomi kreatif. Ini sesuai dengan latar belakang pendidikan Popong yang kuliah di FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Padjajaran, Bandung. (FKIP Unpad kini menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). Lalu apa rahasianya Ceu Popong bisa tetap tampil prima di usia yang telah lanjut? Menurut Popong, tidak ada rahasia khusus. Apa yang dijalankannya adalah sama dengan yang dilakukan orang lain yang menjalani
nakan untuk diri sendiri, keahlian tata rias juga dapat digunakan sebagai pencari nafkah,” tambah Rahayuni. Ia sangat bersyukur, sudah banyak lulusannya membuka salon sendiri. Artinya, kata Rahayuni, mereka sudah bisa mandiri dan menciptakan lapangan pekerjaan. Ia juga sangat bersyukur da pat duduk di kepengurusan Tiara Kusuma Provinsi Bali, karena makin banyak mendapatkan in formasi seputar kecantikan, yang ia bisa sampaikan ke anak didiknya di Tabanan, seperti seminar yang digelar DPD Tiara Kusuma Bali. Selain seminar, ada juga lomba evening make up dan lomba sanggul gala kreasi modern, yang digelar DPD Tiara Kusuma Bali. Menurut Rahayuni, ilmu dalam seminar dan kreasi peserta lomba, tentu akan makin memberi inspirasi bagi para penggiat dunia kecantikan dalam berkreasi. Menurut Ketua DPD Tiara Kusuma Bali, Dra. Ketut Sriathi, Tiara Kusuma merupakan organ isasi profesi di bidang kecantikan yang terus meningkatkan keteram
Siap Bersaing di Era Global
ahayuni, selain sebagai dipercaya memimpin Tiara Kusuma Tabanan, ia juga dipercaya sebagai Ben dahara II Pengurus DPD Tiara Kusuma Bali, yang pelantikannya dilakukan setelah acara seminar kecantikan. Mantan anggota DPRD Ka bupaten Tabanan ini, sangat konsen dengan pelatihan kepada para generasi muda, khususnya
Women on Top hidup sehat, yakni, mengonsumsi makanan sehat dan istirahat yang teratur dan berolahraga “Saya menjalani pola hidup sehat, juga rajin mengonsumsi sayuran, serta menjalani puasa dan olahraga. Selain itu, ya dalam menjalani segala sesuatu, baik itu kehidup an maupun pekerjaan dilakukan dengan ikhlas dan enjoy,” ucap Popong yang juga memiliki hobi menulis. Menurut Popong, perasaan enjoy adalah penting karena itu akan membuat kita tetap sehat. “Segala yang dilakukan dengan enjoy, akan menyenangkan dan itu akan membuat kita tetap sehat. Tapi kalau kita bekerja dengan terpaksa, itu malah bisa menjadi penyakit,” ucap peraih peraih doktor kehormatan dari Universitas Pendidik an Indonesia ini. –Diana Runtu
pilan anggotanya, baik dengan pelatihan-pelatihan maupun seminar. Ia berharap, organisasi ini mampu mencetak ahli-ahli ke cantikan profesional. Saat ini, organisasi profesi persatuan ahli kecantikan dan pengusaha salon Tiara Kusuma Bali ini, diperkuat 25 orang pengurus yang diam bil dari masing-masing cabang. Tujuannya, agar memudahkan koordinasi dan pengembangan organsiasi. Menyikapi tantangan ke depan, selain merancang program organ isasi yang relevan dengan kebutu han organisasi, ke depan juga akan mengupayakan studi banding ke luar negeri untuk mengingkatkan daya saing anggotanya. Harapan nya ke depan, anggota DPD Tiara Kusuma mampu mengembangkan iklim kompetisi yang sehat dan baik dengan mengedepankan profesionalisme SDM menuju daya saing di era global. “Saya berharap, ke depan organisasi ini dapat makin bertumbuh dan anggotanya semakin banyak,” kata Sriathi. –ast
Made Rahayuni
kata Rahayuni. Ia menambahkan, saat ini, tata rias sudah menjadi aktivitas har ian, karena banyak kegiatan upac ara atau pun berbagai kesempatan orang membutuhkan jasa tukang rias. “Ini merupakan peluang usaha yang sangat menjanjikan. Selain keterampilan ini bisa digu
Made Rahayuni bersama Ketua DPD Tiara Kusuma Bali Dra. Ketut Sriathi (tiga dari kanan)
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
PNS dapat Pensiun Bekal Hari Tua Berita tentang PNS di Jakarta yang mendapat penghasilan jutaan rupiah membuat minat menjadi PNS cukup tinggi. Penghasilan yang tinggi itu tentu harus dibarengi dengan memberikan pelayanan publik yang maksimal. PNS juga harus siap ditugaskan dimana pun. Bagaimana komentar para PNS di Bali mengenai kinerja dan suka duka mereka?
“P
NS itu kerjanya lebih santai dan ada waktu luang yang masih tersisa untuk keluarga,” ujar Rusma Primayanthi, salah seorang PNS di Sekretariat Kantor DPRD Bali. Menurut perempuan 29 ini, awalnya tak terpikirkan untuk bekerja menjadi PNS. Tamat dari Sastra Inggris Unud, ia malah kepikiran untuk bekerja di hotel. Namun, sang ayah yang juga seorang PNS, memin tanya mengikuti jejaknya menjadi PNS. Menurut ayahnya, perempuan memang cocoknya kerja jadi PNS ka
rena lebih santai dan masih ada waktu tersisa untuk mengurus keluarga. Jam kerjanya lebih ringan dan Hari Sabtu dan Minggu dapat libur. Selain itu, PNS bisa jadi bekal untuk hari tua karena ada dana pensiun. Dalam pikiran perempuan yang kini bertugas di bagian Publikasi dan Komunikasi Sekteratriat DPRD Bali ini, PNS itu hanya menerima tamatan jurusan Hukum, Sosial, dan Administrasi. Dia merasa, pendidikannya yang jurusan Sastra Inggris tidak nyambung dan ia sama sekali tidak tahu kerjanya PNS itu seperti apa. Saat ia didaftarkan ayahnya, tahun 2008 ia sudah pesimis, apalagi saingannya banyak. “Syukur saya diterima bersama dua orang lainnya. Kebetulan, memang waktu itu mencari lulusan Sastra. Sudah jodoh mungkin kerja jadi PNS,” kata perempuan murah senyum ini. Awal bekerja ia ditempatkan di Dinas Pendidikan. Lima bulan di sana, ia dipindahkan ke bagian Protokol Gubernur. Setelah 7 bulan, ia dipindahkan lagi ke bagian Penanaman Modal. Setelah setahun lebih mengasah ilmu di sana, ia dipindahkan ke DPRD Bali. Kini sudah 4 tahun waktu yang ia lewati bek-
erja di sana. Ia merasa, cukup puas ditempatkan di sana. Setelah sekian lama bekerja, ia dapat merasakan bekerja sebagai PNS ia lebih banyak mendapatkan waktu luang untuk keluarganya. Jam kerja sudah terjadwal dan kinerjanya sangat rutin. Selama ia bekerja, ia merasakan belum ada kesulitan dan tantangan. Baginya, semua ia jalani sebagai suatu proses belajar, dimana pun ia ditempatkan. Satu kesempatan tak pernah disasiakan, itulah prinsipnya. Ia mendapatkan beasiswa melanjutkan studi ke jenjang S-2, Kajian Budaya Unud. Waktu kuliahnya sudah diatur mulai sore hari pukul 5 sampai 9 malam. Kuliahnya mulai Hari Senin sampai Kamis. Di sinilah ia merasa ada tantangan karena ia harus bisa membagi waktunya untuk bekerja, keluarga, dan pendidikannya. Syukur, ia mengatakan, sudah mampu menjalankan dengan baik. “Saat ini saya sedang menyusun tesis,” ujarnya. Rusma merasa cocok sekali bekerja di tempatnya kini karena berhubungan dengan ilmu yang ia kuasai. Dalam pandangannya, bekerja sebagai PNS atau pengusaha sama saja. Tergantung dari kita bagaimana mengatur waktu. Ia pun ada keinginan, kalau nanti anaknya sudah besar, ada peluang mencari usaha sampingan, karena masih tersisa waktu Sabtu dan Minggu. Apalagi, ia memiliki keterampilan membuat kue. Saat ini, ia belum memaksimalkan keahliannya dalam membuat kue
Calon Doktor Hukum Pilih Kopi Ketika pertama kali membuka usaha warung kopi, Imam Sofyan tidak menduga, bahwa di Mataram, Nusa Tenggara Barat, ternyata cukup banyak orang yang mencari kopi enak. Awalnya Alumni Fakultas Hukum Universitas Mataram tahun 2000 ini, mencoba memperkenalkan usaha ini kepada pelanggan kawan-kawan sendiri. Lama-kelamaan usaha yang dimulai sejak tahun 2013 ini, berjalan lancar dan banyak dicari. Mulai dengan sebuah warung kopi berukuran 4 m x 6 m yang dibuka di Pajang Mataram, usaha Imam berkembang pesat hingga akhirnya sejak lima bulan yang lalu ia memiliki sebuah kafe di Jalan Adisucipto Mataram. Jika warung kopinya dulu hanya bisa menampung 17 pelanggan, maka kini kafe kopi Imam bisa menampung 70 hingga 100 pengunjung. Kafe kopi yang diberi nama Bandini Koffie ini sengaja didesain sebagai tempat nongkrong. Namun, jangan salah, ini bukan tempat nongkrong sembarang nongkrong, melainkan nongkrong yang “berisi”.
Bagi yang senang berdiskusi, maka Bandini Koffie bisa jadi tempat alternatif untuk itu. “Suasana diskusi memang sengaja dibangun di kafe ini agar nongkrong ada manfaatnya. Jika perlu hasil diskusi pelanggan bisa menginspirasi untuk membuka usaha-usaha baru,” ungkap Imam yang seorang Magister Hukum Bisnis lulusan Fakultas Hukum Universitas Mataram tahun 2008 ini. Imam, calon doktor yang memang sengaja memilih berwiraswasta, untuk dapat membuka lapangan kerja. Kini, setidaknya ada 15 karyawan yang bekerja di kafe yang buka mulai pukul 09.00 wita hingga pukul 24.00 wita ini. Ayah tiga orang anak yang kini tengah menyelesaikan studi Doktornya di Fakultas Hukum Universitas Mataram ini, telah menemukan konsep yang pas dalam menjalankan bisnis ini. Live musik (jazz khususnya) yang digelar tiap malam di kafe ini, menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat kopi yang menjadi pelanggannya. Tujuh pilihan kopi dengan satu menu
19
PANEN BUMBASTIS
PT XL Axiata, Tbk. (XL) kembali mengapresiasi para mitra retail-nya di seluruh Indonesia melalui program PANEN BUMBASTIS (Banyak Untung Menjual Bebas dan FantASTIS Hadiahnya). Pemenangnya adalah retailer Outlet yang menunjukkan kinerja terbaik berjualan paket data XL secara nasional. Deputy CCO XL East and North Region Kencono Wibowo mengatakan, Program BUMBASTIS adalah salah satu upaya XL dalam menghargai para retailer sebagai mitra terdepan kami dalam menyediakan layanan XL. Pemenang program Panen Bumbastis East Region area Denpasar adalah Yogie Cell, Shindu Cell dan Opsi. Penyerahan hadiah dilakukan di Kuta, Kamis (29/1) dirangkaikan dengan dimulainya kerja sama XL dengan Cellular World. Tiap pembelian gadget di Cellular World dan menggunakan paket data XL akan mendapatkan kupon undian dengan hadiah utama mobil. -Ngurah Budi
Workshop Strategi Pelaporan Pajak
BisnisBali bekerja sama dengan Bank BPD Bali, Dinas Koperasi dan UKM Kota Denpasar, IDX, dan FEB Uniknas University menggelar workshop di wantilan gedung Pers Bali K. Nadha, Kamis (29/1). Workshop bertema “Strategi Pelaporan Pajak yang Aman Berbasis Sistem Informasi Akuntansi” ini dibuka Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Denpasar Erwin Suryadarma Sena. Workshop diikuti 300 peserta. Dalam workshop dijelaskan mengenai strategi pelaporan pajak yang aman berbasis sistem informasi akuntansi yang sangat diperlukan wajib pajak. -Ngurah Budi dengan menerima pesanan. “Saya hanya membuat kue untuk kebutuhan keluarga,” kata Rusma. Namun, ia tak menampik mungkin ke depan, keterampilannya bisa ia jadikan usaha sampingan di luar jam kerjanya. Menjadi PNS sangat menjanjikan juga dilontarkan Yanik, salah seorang PNS di RS pemerintah ini. Walaupun saat gadis, ia sering membantu usaha ibunya membuat pesanan canang, ia ingin juga bekerja di kantor. Dalam anggapannya, menjadi PNS dapat dijadikan masa depan yang baik. Pengabdiannya yang sudah cukup lama (honorer) akhirnya berbuah hasil. Ia diangkat menjadi PNS. Jam kerja di RS dari pukul 07.00 sampai pukul 13.00. Ia bersyukur, walau hanya tamat SMA, ia bisa menjadi PNS. Apalagi, kini setelah ia menikah, ia merasakan manfaatnya. Sisa waktunya bisa ia gunakan untuk mengasuh anaknya.
andalan yakni Bandini spesial dapat dinikmati di kafe ini dengan harga Rp 18.000 hingga Rp 30.000/cangkir. Selain kopi, kafe ini menyiapkan berbagai minuman lain seperti jus, ada pula berbagai snack dan makanan. “Pengalaman saat buka warung kopi pertama, menu kopi hanya bisa dinikmati oleh orang tua saja, sedang anak-anak yang ikut berkunjung dengan para orang tua ini tidak bisa menikmatinya. Karena itu, kafe Bandini Koffie kini menyiapkan menu lebih lengkap agar bisa juga dinikmati oleh seluruh keluarga,” ungkap Imam yang juga seorang pengacara ini. Kafe yang namanya diambil dari nama nenek dan mertuanya ini, memiliki keunikan tersendiri. Banyak yang menduga nama kafe ini dari Bahasa Itali. “Padahal nama itu saya ambil dari nama mertua dan nenek saya. Keduanya sama-sama bernama Bandini,” kata Imam tertawa. Nama ini rupanya membawa hoki bagi usaha Imam yang bisa menghabiskan 10 hingga 20 kilogram kopi setiap dua minggu ini. Setidaknya, pelanggannya datang kembali tiga sampai empat kali dalam satu minggu. Kini, Imam tengah terus mencari dan menemukan serta mengembangkan kopi lokal sebagai sajian utama menu kopi di kafenya. Sejauh ini, kafe miliknya telah menyajikan Kopi Tambora dan Kopi Kadindi (Dompu), Kopi Tepal (Sumbawa) serta Kopi Sembalun. -Naniek I. Taufan
Lain lagi penuturan Sastrawati, yang saat ini menjadi PNS di Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Menjadi PNS sudah menjadi cita-citanya sejak kecil karena melihat orangtua yang juga seorang PNS. “PNS dapat pensiun, bisa menjadi bekal hari tua,” kata perempuan yang juga bersuamikan PNS ini. Menurutnya, bekerja sebagai PNW waktunya jelas sehingga ia masih bisa mengurus anak-anaknya. Ia memang tak memilih menjadi wirausaha karena memang tak ada modal dan keterampilan untuk berwirausaha. Menurutnya, menjadi PNS juga memiliki tantangan seperti harus disiplin mengikuti aturan yang ada, memiliki dedikasi tinggi, dan siap untuk mendapatkan tugas tambahan dari atasan. “Bekerja dimana saja menurut saya, pasti ada tantangan, tergantung kita menyikapinya. Bagi saya, jalani saja sesuai aturan,” kata Sastrawati. -Wirati Astiti
18
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Janganlah melupakan sebuah pengalaman. Baik itu pengalaman me nyenangkan, sedih, gembira, mengecewakan ataupun menyakitkan. Sebab, dalam pengalam an itu terdapat proses pembelajaran sebagai bekal hidup untuk menuju kebahagiaan. Seperti pepatah mengatakan, “Pengalaman adalah guru yang paling utama”.
P
esan itulah yang tersirat dalam karya seni berjudul “Tari Kreasi Janmantara”. Karya seni berdurasi 11 menit itu merupakan karya dari I Made Nova Antara, S.Sn, seorang seniman muda dari Desa Legian, Kuta. Tari Janmantara dipentaskan pada saat Ujian Akhir Sarjana Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar 2013 silam. Sebagai penggarap tabuh I Gede Arnawa dan didukung penabuh dari Sekeha Gong Banjar Sedang, Abiansemal – Badung. Meski dengan konsep sederhana, namun mampu menghasilkan karya seni yang baik, artinya bisa diterima di kalangan masyatakat. Idenya lahir dari pertunjukan Dramatari Arja RRI Denpasar yang mengangkat cerita panji yaitu Pangeran Kodok. Cerita tersebut kemudian dikemas dalam seni kelompok kecil yang didukung 7 penari laki-laki. Dalam karya seni itu, Made Nova Antara tampak lihai mengungkap cerita panji khususnya karakter Prabu Jenggala. Kelahirannya sebagai Pangeran Kodok, tidak membuatnya bersedih. Dengan kesaktian yang ia miliki tidak menjadi sombong. Justru lebih banyak bersyukur dan berbuat baik. “Mengangkat karakter, menjadi tantangan saya,” kata koreografi yang biasa tampil sebagai penggarap tari kreasi Kabupaten Badung.
a r a t n a m n a J Tari Kreasi
Kreasi
Pengalaman Itu sangat Berharga
Di samping mengutamakan karakter, dalam garapan itu Nova juga lebih banyak menampilkan permainan busana. Gerakan melepas kostum itu ditarikan, artinya ditata sehingga menjadi sangat indah. Mulai dari gerakan melepas kostum dengan ge rak tari yang dijiwai, sehingga menjadi satu kesatuan dalam tari yang indah. Busananya, memakai gelung an lengkap dengan bancangan sebagai identitas dari kesenian arja. Demikian juga memakai sesaputan yang sudak dikreasikan. Pada umumnya sesaputan menjadi satu, namum dalam karya ini dibelah menjadi dua, sehingga kain bisa dibawa ke atas sebagai latar penokohan. Artinya, penggunaan saput lebih dikembangkan menjadi indah. Dalam penyajiannya, dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu pada bagian flash back yang menceritakan Prabu Jenggala berterima kasih kepada Bhatara Siwa yang memberikan anugrah dengan wujud tampan (setelah menjadi godogan). Dalam adegan papeson menggambarkan karakter Prabu Jenggala yang bijaksana, tegas, dan berwibawa dalam memimpin kerajaannya.
Dalam adegan ini digambarkan gerakan-gerakan pengarjaan yang sudah dikembangkan, seperti gerak nyemprot, tetanganan, nabdab gelung dan lainnya. Kekhasan dari tari arja dikreasikan sehingga menjadi gerak tari yang baru. Pa d a b a g i a n pengawak, menceritakan Prabu Jengala yang teringat saat dirinya menjadi seekor godogan (kodok). Dalam adegan ini
lebih banyak menyajikan pendramaan dengan gerak-gerak mencerminkan kesedihan dan perasaan yang menjadi pengalaman sangat berharga bagi dirinya. Pada bagian pengecet, tari ini mengangkat pikiran Prabu Jenggala yang pernah menjadi kodok. Hal itu kemudian digambarkan oleh para penari yang berubah wujud menjadi kodok. Para penari itu melepas pakiannya dengan gerakan-gerakan yang betul-betul tertata. Selanjutnya mereka menari kodok yang riang, penuh canda, menggoda yang terkadang mengundang tawa. Prabu Jeng-
gala teringat lagi bahwa dia seorang raja, maka ketika melihat kodok ia menyayangi kodok tersebut termasuk ciptaan Tuhan lainnya. Nova Antara mengatakan, pengalaman itu sangat berharga. Baik, buruk, menyakitkan ataupun menjengkelkan tetap menjadi pembelajaran buat diri sendiri. “Lewat garapan ini, saya tak hanya menghibur masyarakat. Lewat sajian seni ini juga mengingatkan kepada semua orang bahwa pengalaman itu sangat berharga. Karena itu cermin kita untuk melangkah ke depan,” ungkap mahasiswa Pascasarjana ISI Denpasar ini. -Darsana
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
7
Abaikan Teror SMS, Selamat dari Penipuan Beberapa waktu lalu, Mariam (42) tibatiba menerima telepon dari nomor yang tidak dikenalnya. Biasanya, jika nomor yang masuk ke telepon genggamnya tidak dikenal, Mariam cenderung mengabaikannya. Namun entah mengapa hari itu, ia iseng menerima panggilan tidak dikenal tersebut. Dari ujung telepon itu, seorang perempuan tiba-tiba menangis sambil memperkenalkan dirinya bernama Tutik (bukan nama sebenarnya), sebagai kawan SMA dari Mariam. “Saya tertegun men coba mengingat. Namanya saya ingat, tapi butuh beberapa waktu untuk mengingat orangnya yang mana di antara ba nyak teman SMA saya,” kata Mariam.
W
ajar saja jika Mariam lupalupa ingat pada Tutik. Ia hanya pernah satu kelas dengan Tutik (42), saat kelas satu SMA di Bima, tahun 1990. “Sudah 25 tahun yang lalu karena kelas 2 SMA saya pindah ke Jakarta,” kata Mariam. Mariam tentu saja senang bisa menyambung kembali tali silaturahmi dengan Tutik setelah sekian lama tidak pernah berkabar, sejak berpisah seperempat abad yang lalu. Awalnya, Mariam yang kini menetap di Mataram itu berpikir, Tutik menangis karena senang bisa bertemu kembali dengan Mariam, kawan SMA-nya. Telepon pertama itu, cukuplah membuat Mariam menemukan kembali kawan lamanya. Nomornya disimpan dan Tutik mengatakan kerinduannya untuk bertemu dengan Mariam. Seminggu berlalu. Mariam kembali menerima telepon dari Tutik. Mereka mengobrol biasa dan berakhir begitu saja. Dua hari kemudian Mariam mene rima pesan pendek dari Tutik. “Kawanku Mariam, berkenanlah meminjamkan uang padaku Rp 1 juta, untuk menambah kebutuhan dalam proyek jalan yang sedang dikerjakan suami saya. Nanti jika uang terminnya keluar dua minggu lagi akan saya ganti. Terima kasih, dari kawanmu Tutik,” itu bunyi SMS yang membuat Mariam merasa kaget. Mariam yang yang dikenal oleh Tutik sebagai juara kelas ini, tidak langsung membalas SMS tersebut melainkan sempat berfikir beberapa saat. 25 tahun tidak pernah menjalin komunikasi dengan
Tutik yang sesungguhnya bukan sahabat melainkan hanya kawan biasa, Mariam menyadari bahwa selama itu ia tidak tahu tentang perkembangan kehidupan Tutik. Ia hanya tahu dari cerita Tutik bahwa kini Tutik telah memiliki dua orang anak dan mereka sempat tinggal di Jakarta lalu pindah ke Lombok. Tidak lebih dari itu. Tiba-tiba Tutik datang meminjam uang Rp 1 juta, sungguh agak tidak masuk akal baginya mengingat ia mengatakan bahwa suaminya memiliki pekerjaan sebagai kontraktor. “Kalau pinjam uang Rp 100 juta mungkin lebih masuk akal buat saya,” katanya. Dari sanalah Mariam memilih diam, tidak membalas SMS tersebut. Namun, “teror” SMS kawan SMA-nya itu terus berlanjut. Tutik terus menerus menelepon dan mengirimkan pesan pendek selama berhari-hari. “Saya balas SMS tersebut dengan mengatakan bahwa saya tidak memiliki uang saat itu,” kata Mariam. Lagi-lagi keesokan harinya, Tutik terus mengirim SMS tidak henti-hentinya. “Saya bukannya tidak mau membantu tapi rasanya ini permintaan tidak wajar,” katanya. Selang beberapa waktu, Tutik kembali mengirim pesan pendek yang lagi-lagi hendak pinjam uang. “Kali ini alasannya dia sudah tidak punya uang sama sekali, untuk makan dan kebutuhan anak-anaknya,” ujar Mariam yang sempat merasa, apakah ia begitu tega tidak memberikan pinjaman pada orang yang membutuhkan. Mariam terus menelisik dan “membaca” pikiran Tutik. Hanya selang beberapa hari, Mariam kembali “diteror” SMS Tutik
tkh/net
yang kali ini minta pinjam uang lagi alasannya anaknya sakit dan masuk rumah sakit. “Ini alasan terus berubah dan makin tidak masuk akal,” katanya. BANYAK YANG KENA TIPU Meski pun SMS dan telepon tidak pernah dibalas oleh Mariam, Tutik tidak pernah menyerah untuk berusaha. Logikanya, kata Mariam, jika orang sudah tidak mau membalas SMS berarti harusnya tahu diri bahwa ia tidak disukai. Tapi Tutik seperti mati rasa dan benar-benar bermuka tembok. Di sinilah ia menduga, bahwa Tutik tidak hanya menghubunginya untuk hal yang sama, melainkan juga kemungkinan sudah banyak orang yang ia “tipu”. Sampai akhirnya seminggu kemudian, Tutik kembali mengirim pesan pendek. “Kawanku
Mariam, tolonglah saya mau pinjam uang, anak saya sakit, belum bayar sekolah. Uang saya habishabisan untuk membiayai pencalonan suami saya saat pemilihan anggota legislatif (Tutik menyebut partainya). Suami saya gagal, uang saya habis. Sekarang, saya ditinggalkan oleh suami saya. Setelah habis-habisan saya tidak lagi punya apa-apa, saya hendak diceraikan. Tolonglah kawan,” bunyi SMS Tutik kepada Mariam. Mariam makin berhati-hati ketika menerima SMS terakhir ini. Ia pun mencoba menghubungi beberapa kawan SMA-nya yang lain untuk mencari informasi tentang Tutik. Tiga orang pertama yang dihubunginya, memiliki cerita yang sama. “Ternyata kawan-kawan SMA saya yang lain juga dihubungi oleh Tutik. Alasannya semua hampir sama,” ujar Mariam. Bahkan beberapa kawan lainnya,
ternyata sudah kena tipu gaya Tutik. “Kawan-kawan saya yang lain juga tidak pernah ketemu muka dengan Tutik, ia hanya mengirim nomor rekening untuk meminta bantuan kawan-kawannya. Di sinilah baru terungkap jika Tutik sudah sering melakukan hal ini. Setelah dihitung, sudah cukup banyak Tutik melakukan hal ini. Mengingat Tutik adalah kawan sekolah mereka, mereka pun memaafkan Tutik yang akhirnya mengaku bersalah dan berjanji tidak akan mengulanginya. Mariam merasa beruntung masih bisa berpikir dengan matang, sehingga Tutik sulit memperdayainya. Dari pengalamannya inilah, ia berharap tidak ada lagi yang mudah tertipu. “Lebih baik dipikirkan matangmatang dan berhati-hati, sebelum mengambil keputusan atas dasar kasihan pada orang lain,” ujarnya. -Naniek I. Taufan
8
Bunda & Ananda
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Belajar Toleransi dari Nonton TV Bersama Pada zaman dulu, televisi (TV) merupakan barang mewah. Satu desa mungkin hanya ada satu TV. Tetapi, seiring perkembangan zaman, televisi bukan lagi barang mewah. Satu rumah minimal memiliki satu TV. Bahkan ada yang satu kamar berisi satu TV. Bagaimana jika kamar anak-anak juga berisi TV. Apa dampaknya bagi mereka? Anita Avianty
“K
Suasana menonton TV di kamar
ami hanya punya satu TV yang ditempatkan di ruang keluarga. Kami langganan TV kabel plus internet dan telepon. Jadi semua ditaruh di ruang keluarga. Kalau mau naruh TV di kamar, perlu biaya lagi untuk beli TV,” ungkap Parama Dewi, ibu rumah tangga yang memiliki tiga putra. Ia menuturkan anak-anaknya suka nonton film kartun. Itu pula salah satu alasan ia dan suaminya untuk berlangganan TV kabel. Namun, Dewi tak melepas begitu saja anak-anaknya menonton TV. Ia kerap mendampingi anak-anak. “Ada hikmahnya ketika kami hanya punya satu TV. Anak-anak belajar toleransi terhadap orangtua dan saudara. Mereka harus saling mengalah dalam urusan pemilihan acara yang mau ditonton. Tapi, namanya anak-anak kadang berantem sebentar, lalu rukun lagi,” ujar wanita asal Sukawati, Gianyar ini. Ia mengaku kadang harus berteriak untuk mengingatkan anakanak waktu nonton TV sudah habis dan berganti waktu belajar. Idealnya, Dewi mengatakan akan lebih bagus kalau tidak ada TV di rumah karena waktu senggang bisa dimanfaatkan dengan ngobrol bersama anggota keluarga. Namun, karena perkembangan teknologi makin canggih dan informasi sangat cepat, orangtualah yang harus pandai mengatur. Pengalaman serupa diungkapkan Anita Avianty yang memiliki dua putri. “Bagi saya, kamar tidur adalah tempat untuk istirahat. Kalau istirahat ya tidur, bukan nonton TV. Kalau belajar, kami gunakan
ruang perpustakaan. TV kami tempatkan di ruang tengah sebagai public area,” ujar Sr. Manager CSR & Corporate Communication Services XL ini. Pengaturan ruang ini sudah dibahas dengan anak-anak sejak awal. “Mereka sempat keberatan karena ada temannya yang punya TV di kamar. Saya sampaikan tiap rumah punya aturan masingm asing. Anak-anak akhirnya mengerti. Saya memberi kelonggaran dengan menyiapkan audio saja di kamar. Kadang-kadang RALAT Terdapat kekeliruan keterang an foto pada tulisan di rubrik “Bunda & Ananda”, tertulis “AA Ngurah Yuliartha” seharusnya “AA Kartika, S.H.”. Redaksi mohon mohon maaf atas kekeliruan tersebut.
AA Kartika, S.H.
mereka nonton juga melalui gadget saat di kamar,” imbuh wanita yang sudah 9 tahun berkecimpung di dunia telekomunikasi ini. Seperti halnya Dewi, Anita juga memilih berlangganan TV kabel. Namun, ia sudah mengingatkan anak-anaknya mana saluran yang boleh ditonton anak-anak. Tetapi, kadang PRT yang iseng nonton infotaiment atau sinetron. Anita juga menegaskan TV bukan segalagalanya karena masih ada hal lain yang bisa dikerjakan. Anak-anaknya pun ternyata tidak tiap hari bisa menonton TV karena mereka sibuk sekolah, les, dan kegiatan lain. Waktu yang paling lowong untuk menonton TV hanya hari Sabtu. Jika Dewi dan Anita memilih pola satu rumah satu TV, beda dengan Sekar yang menempatkan TV di kamar anak sulungnya. “Anak saya suka main play station (PS), TV yang ada di kamar hanya dipakai untuk main PS. Kalau dia mau nonton acara TV, dia ikut di kamar saya,” ujar ibu tiga anak ini.
DAMPINGI ANAK SAAT MENONTON Dari berbagai pengalaman ibuibu ini, Lyly Puspa Palupi Sutaryo, M.Si, Psi mengatakan lebih banyak negatifnya jika menempatkan TV dalam kamar anak. Ia salut dengan apa yang dilakukan Dewi dan Anita karena sudah meminimalkan anak kecanduan TV. “Fungsi kamar tidur untuk istirahat. Kalau ada TV malah mengganggu. Idealnya, TV ditempatkan di ruang keluarga yang bisa diakses bersama. Saat menonton pun, orangtua atau orang yang lebih dewasa wajib mendampingi untuk memberikan pemahaman tentang acara-acara yang ditampilkan. Tidak semua acara ditujukan untuk anak-anak,” ujar psikolog yang menyelesaikan pendidikan S1 di Unika Atmajaya Jakarta dan S2 di Universitas Indonesia ini. Menonton bersama ini juga melatih rasa toleransi, negosiasi, atau kompromi. Anak-anak memiliki fase meniru. Apa yang dilihat bisa ditiru. Demikian juga dengan tayangan TV. Kadang anak-anak merasa apa yang ada di TV itu nyata sehingga langsung ditiru. Karena itu, perlu penjelasan bahwa acara yang ditampilkan ada yang hanya akting. Selain itu, kalau anak terlalu sering menonton TV juga tidak bagus. Anggota Himpsi Bali ini mengingatkan orangtua harus meminimalkan anak berada dalam ruangan dalam keadaan serba ada apalagi membiarkan anak hanya dengan TV dan PS serta menyiapkan semua keperluan dengan alasan agar anak tidak kemana-mana. Sekali waktu anak harus diberikan bersosialisasi dan melakukan permainan tim. Kalau anak sudah
berada di zone nyaman (hanya di dalam kamar), mereka akan enggan untuk keluar dari zone itu. Ini akan berdampak di masa depannya. Daya juang anak menjadi kurang karena tidak pernah dipacu untuk berusaha mendapatkan sesuatu harus melalui usaha. Mereka juga cenderung menjadi pemalu dan kurang percaya diri. Orangtua juga memiliki tugas berat karena bisa mengatur waktu untuk mendampingi anak saat menonton TV. “Orangtua perlu memiliki wawasan tentang acara yang ditonton. Ketika anak bertanya, orangtua bisa menjawab. Atau, lakukan diskusi setelah menonton TV sehingga anak-anak tidak menelan bulat-bulat apa yang ditampilkan di TV. Ini memang tugas yang berat dan dilematis karena di satu sisi ada orangtua yang sibuk berkarier sehingga waktu untuk anak terbatas,” ujar staf Bagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RS Sanglah ini. Lyly memberikan solusi bagi orangtua yang sibuk. Antara orangtua dan anak harus membuat kesepakatan, kapan waktu untuk menonton TV, kapan waktu belajar, kapan waktu bermain, dan kapan waktu istirahat. Semua harus disepakati bersama. Semua harus punya komitmen untuk melaksanakan kesepakatan itu. –Ngurah Budi
Made Taro
di warung,” katanya. Ia bergegas menuju warung. Di sebuah tikungan ia mendengar seorang nenek mengomel, tetapi omelannya seperti melafalkan mantra. Pemuda itu penasaran, ingin mengetahui apa yang terjadi. Dari sebuah celah dinding, ia melihat nenek tua itu memasang panci di atas kompor. Ia mengambil satu sendok beras, mencampurnya dengan bumbu, lalu menuangkannya ke panci. Sambil menempelkan kedua tangannya ke dada, nenek tua itu berucap : “Wo, wo, wo, … hem hem sir sir, maliung liang laham piyes.” Ucapan itu diulang tiga kali. Apa yang terjadi? Dari panci itu meleleh bubur berbau sangat gurih. Pemuda itu membatalkan rencananya ke warung. “Buat apa susah-susah, kalau telah kutemukan jalan pintas!” pikirnya. Ia berlari pulang. Sesampai di dapur, ia memasang panci di atas kompor. Kemudian menuang-
Beragam Bentuk Kerajinan Rotan
Lyly Puspa Palupi Sutaryo
kan satu sendok beras bercampur bumbu. “Wo, wo, wo … hem hem sir sir, maliung liang laham piyes,” ucapnya sambil berdiri tegak dan menempelkan kedua tangannya di dada. Setelah ucapan pertama, ia melihat berasnya yang satu sendok itu menjadi bubur. Ucapan kedua, ia melihat bubur yang beraroma gurih itu memenuhi panci. Dalam ucapan ketiga, ia melihat bubur gurih itu meluap. Ia segera mengambil sebuah piring. Piring itu penuh bubur. Ia ambil lagi sebuah piring. Penuh! Ia ambil dandang. Penuh, penuh, penuh! Bagaimana itu? Bubur itu meleleh terus, memenuhi kompor, meleleh ke lantai, memenuhi dapur, lalu meleleh ke halaman, meleleh ke rumah tetangga, meleleh ke jalan raya, dan …. meleleh sampai ke halaman rumah nenek tua. Nenek tua itu berlari-lari menuju asal bubur itu. Didapatinya mahasiswa itu bergelantungan di sebuah pohon sambil berteriak minta tolong. Dari tempatnya bergelantungan, mahasiswa itu melihat sang nenek masuk dapur. Sesaat kemudian tak ada lagi bubur yang meleleh. “Anakku!” kata nenek itu kepada sang mahasiswa. “Ilmu tidak dapat dipelajari dalam waktu singkat dan setengah-setengah. Kamu bisa memulai, tetapi tidak bisa mengakhiri.”
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
17
Salah satu material alam yang bisa menjadi pilihan furnitur Anda adalah rotan. Dibandingkan dengan kayu yang juga menampilkan kesan alami, rotan memiliki beberapa keunggulan yakni lebih ringan, kuat, elastis/mudah dibentuk, dan tentunya lebih murah.
K
Mendongeng Lima Menit Bubur Sarapan Pagi Di sebuah rumah kecil, tinggal seorang mahasiswa. Pagi-pagi benar sebelum berangkat kuliah, ia ingin memasak untuk sarapan. Sial, sisa beras masih satu sendok makan. “Lebih baik aku membeli sarapan pagi
Griya
arena sifatnya yang elastis itu pula, rotan tak hanya dimanfaatkan sebagai furnitur, namun juga dianyam menjadi dekorasi atau perlengkapan rumah lainnya, seperti kap lampu, ayunan bayi, tempat jemuran, tempat baju kotor, hingga pernak-pernik kecil lainnya seperti tatkan gelas atau piring. Semua tergantung dari kreasi si pengerajin. Siti Rohana (42), pemilik Surya Linda Jaya, pengerajin rotan yang sudah 23 tahun menggeluti bisnis ini bersama suaminya Kamim Tohari, mengatakan kerajinan rotan yang diproduksinya di sini (Bali), bahan bakunya dipasok dari daerah Jember, Surabaya, dan Kalimantan. Produk rotan yang paling banyak diminati pasar adalah kursi. Satu set kursi lengkap dengan dudukan spon, yakni 2 kursi single, 1 sofa dengan 3 dudukan, dan 1 meja ditawarkan mulai Rp 4,5 juta. Produk-produk rotan ini kerap pula dikombinasikan dengan material lain, seperti kayu, besi, bambu, dan enceng gondok, yang disesuaikan dengan konsep
atau kesan yang ingin ditampilkan konsumen. Demikian halnya dengan pilihan finishing. Finishing sangat berperan besar memberikan keindahan pada produk rotan. Meski saat ini pilihan warna lebih bervariasi seperti warna-
masih menjadi primadona karena nuansa naturalnya. Tahapan finishing produk rotan, utamanya furnitur, diawali dengan membersihkan permukaan rotan dari debu, minyak, wax, dll., mengurangi kandungan air pada rotan dengan cara pemanasan (oil bathing treatment). Ada 4 teknik finishing rotan. Pertama, natural coating, yakni dengan mengamplas halus furnitur rotan dan diberi sanding sealer, kemudian diberi pelapis akhir dengan menggunakan clear coating (cat tranparan). “Dengan proses tersebut, serat-serat rotan akan tampak lebih alami. Warna rotan yang putih kekuningan atau kuning kecokelatan akan muncul dengan pesona naturalnya,” jelas
Siti Rohana
pat memberikan kesan antik atau klasik yang disebabkan oleh kedalaman nuansa warna gelap-terang yang diciptakannya. Produk ini diaplikasikan dengan cara dikuas, kemudian dibal (wipping). Keempat, stain. Jika menginginkan furnitur rotan berwarna gelap dapat dilakukan proses finishing dengan menggunakan stain. Rotan akan mendapatkan warna
yang sama, senada, atau seragam dan merata jika dicampurkan dengan sanding-sealer. Kemudian kursi rotan diberi cat pelapis (top coating) transparan. Untuk menjaga furnitur rotan Anda tetap awet, Siti Rohana menyarankan untuk tidak terpapar sinar matahari langsung ataupun terkena air. “Akan lebih awet jika diperuntukkan interior,” tegasnya. –Inten Indrawati
Tips praktis merawat furnitur rotan agar tahan lebih lama :
warna fancy yang cenderung sedikit kehijau-hijauan, cokelat tua, bahkan hitam, putih, abuabu, atau ada juga yang dibuat seperti warna kursi klasik dan antik, namun warna cokelat, kecokelatan, kuning, dan krem
perempuan asal Lumajang, Jawa Timur ini. Kedua, fancy colour. Fancy adalah ragam produk pengecatan yang dapat menciptakan efek unik pada hasil finishing furnitur rotan. Produk-produk yang termasuk dalam kelompok fancy adalah fancy sealer yang memberi efek warna pastel semi transparan, fancy pearl yang memberi efek kilauan mutiara dan fancy glitter yang memberi efek metalik. Ketiga, water based glaze. Teknik ini adalah pewarnaan poripori kayu berpengencer air yang tidak berbau (ramah lingkungan), dan cepat kering. Karena mewarnai pori-pori, produk ini dapat mengekspos keindahan serat atau tekstur dari substrat yang digunakan. Bila Water Based Glaze ini diaplikasikan pada lekukan-lekukan ukiran atau sela-sela anyaman, da-
- Gunakan lap kering untuk menghilangkan debu. Lakukan pembersihan tersebut minimal seminggu sekali. Jangan gunakan bahan kimia karena dapat merusak rotan. - Untuk membersihkan kotoran serta debu yang terdapat di selasela, gunakan detergen cair, jangan terlalu tebal. Setelahnya, lap dengan kain kering. - Jika warna rotan sudah terlihat pudar, cat kembali agar warnanya tetap terlihat cantik. - Agar terhindar dari rayap, gunakan larutan kamper dan minyak tanah. Cukup semprotkan larutan tersebut pada rotan atau masukkan dalam lubang pada furnitur rota yang dibuat oleh rayap.
16
Pendekar IKIP PGRI Bali Taklukkan Persilatan Dunia
Berita gembira kembali menghampiri kampus pencetak calon guru di Jalan Seroja Denpasar itu. Tiga mahasiswi Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), Ni Kadek Ratna Dewi, Ida Ayu Putu Candra Murtiadi, dan Luh Putu Eka Pratiwi, berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional dalam bidang olahraga pencak silat pada nomor seni beregu putri, yang berlangsung 7-16 Januari 2015 di Thailand.
“K
etiga pendekar” IKIP PGRI Bali ini turut andil dalam keberhasilan Tim Indonesia menjadi juara umum pada kejuaraan dunia pencak silat di Negeri Gajah Putih tersebut dengan mengemas total sembilan medali emas, tujuh perak dan tiga perunggu. “Tahun 2012 kami sudah pernah bertarung di nomor yang sama di Thailand dengan lawan yang sama. Waktu itu nilai kami masih sama dengan lawan berat kami Vietnam,” ungkap Dayu Candra. Belajar dari pengalaman tersebut, tiap pertandingan yang selalu diambil (direkam) gambarnya, trio pendekar silat ini mempelajari kelemahan mereka. “Syukur, tahun ini kami berhasil menggondol medali emas, nikai kami jauh melampaui mereka,” imbuh Ratna Dewi dan Luh Putu Eka hampir berbarengan. Untuk mencapai kesuksesan tersebut, ketiganya telah digodok langsung mengikuti latihan-latihan rutin di Jakarta sejak Juni 2014. “Besok kami berangkat lagi ke Jakarta
PERJALANAN wisata kali ini akan menyuguhkan betapa indahnya menyusuri sungai Musi di Palembang. Bila Anda berkunjung ke Palembang, jangan sampai melewatkan waktu untuk melakukan tur di Sungai Musi yang memiliki panjang 750 km. Karena itu pula, sungai ini tercatat sebagai sungai terpanjang di Sumatera. Dilihat dari sejarahnya, kota Palembang telah berusia lebih dari 1.300 tahun dan termasuk kota tertua di Indonesia. Kata Palembang berasal dari kata “Pa” dan “Lembang”, yang memiliki arti tempat dan Lembang berarti tergenang air. Jadi Palembang dapat diartikan sebagai tempat yang selalu digenangi air. (Buku Panduan Wisata TOURIST BOOK`S GUIDE, Pemerintah Kota Palembang, Dinas Pariwisata dan Seni Budaya). Sumatera Selatan dikenal juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya karena wilayah ini pada abad VII hingga XII Masehi merupakan
mengikuti Pelatnas untuk persiapan maju ke SEA Games Juni 2015 di Singapura,” ujar Ratna Dewi, Sabtu (19/1) saat menghadap Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. didampingi PD III FPOK I Nyoman Suarjana, S.Pd. dan Dosen Pembina, Made Sudarma. Rektor Suarta tak bisa menyembunyikan kegembiraannya akan prestasi gemilang ini. Harapannya untuk melahirkan regenerasi baru di IKIP PGRI Bali terkabul. Sudah ada Maria Natalonda lainnya—mahasiswi IKIP PGRI Bali yang berprestasi internasional dalam olahraga-- yang siap berkontribusi mengharumkan nama bangsa dan Negara Indonesia, daerah Bali, dan kampus IKIP PGRI Bali. “Dengan prestasi ini, kami berharap IKIP PGRI Bali semakin bisa eksis dengan mengokohkan diri di bidang olahraga,” ucapnya. Karena itu ia mengatakan akan lebih mengoptimalkan lagi UKMUKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang ada di kampus, baik itu di bidang olahraga, seni, dan ilmu pengetahuan. Dengan membuat UKM-UKM ini, Rektor Suarta mengaku lebih mudah memantau ak-
tivitas mahasiswa yang menonjol dan potensial. Sehingga, ketika ada kejuaraan-kejuaraan semacam ini ataupun lomba-lomba lainnya, tak perlu lagi mnyeleksi khusus, tinggal mengambil dari UKM-UKM tersebut. Dan, peluang itu dinilainya cukup besar di IKIP PGRI Bali. Dengan prestasi dunia ini, adakah semacam MoU antara Kemenpora dan Kemendikbud? Menjawab pertanyaan itu, Rektor Suarta mengaku sedang menjajagi kemungkinan ke arah tersebut, melalui atlet dan Dekan FPOK. Jalur mediasi untuk menuju ke arah tersebut sudah pula dilakukannya dengan mengundang Kemenpora 2014 lalu yang diwakili pakar olahraga, memberikan ceramah nasional di IKIP PGRI Bali. “Semoga nanti kami bisa membuat MoU dengan Kemenpora,” harapnya. Tak hanya itu, IKIP PGRI Bali juga menjajagi kerjasama lain dengan dua perguruan tinggi di Malaysia. “Rencananya, pertengahan Februari ini kami terbang ke sana. Entah itu MoU nya di bidang olahraga atau
Ketiga pendekar IKIP PGRI Bali didampingi PD III FPOK Nyoman Suarjana, dan Dosen Pembina Made Sudarma, bersama Rektor Made Suarta (tengah) dan PR I Pade Bawa
seni budaya,” ungkapnya. Melihat perkembangan IKIP PGRI Bali yang kian melaju ini, Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. beserta jajarannya sangat mendukung dengan pengembangan sarana-prasarana. “Tahun 2015, kami sudah berencana selain membangun ruang perkuliahan juga membangun gedung olahraga,” ujarnya. Rektor Suarta mengimbuhkan, peningkatan kualitas secara terus menerus dilakukan tak hanya pada sarana prasarana, namun kualitas di segala bidang, termasuk proses belajar mengajar, akademik, olahraga, seni, dan SDM. PELANTIKAN BPM & BEM Di hari yang sama, dilakukan juga Pelantikan Dewan Per-
Pelantikan BPM dan BEM IKIP PGRI Bali masa bakti 2015/2016 oleh Rektor Made Suarta
Jembatan Ampera
perlu menempuh jarak yang jauh. Cukup beberapa kilometer saja, Anda akan merasa betapa indahnya melakukan perjalanan wisata di atas alur sungai yang cukup lebar itu. Terlebih, jalur yang dilintasi memiliki nilai sejarah yang besar, seperti melaju di bawah jembatan Ampera, serta berkunjung ke Pulau Kemaro. Saat tur di Sungai Musi maka Anda akan menemukan beberapa tempat wisata menarik seperti rumah rakit khas Palembang, serta beberapa tempat ibadah klenteng. Karena itu pula, Sungai Musi sering disebut sebagai ikon pariwisatanya Kota Palembang dan Sumatera Selatan
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
9
Komitmen Usung Budaya Lokal musyawaratan Mahasiswa (DPM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IKIP PGRI Bali periode 2015/2016 di Gedung Auditorium Redha Gunawan di kampus setempat. Kepemimpinan Kadek Pande Yulia Sanjaya digantikan oleh Ni Luh Ayu Laras Setiadi sebagai Presiden BEM masa bakti 2015/2016. Pada kesempatan itu, ketiga pendekar silat putri yang telah mengharumkan nama IKIP PGRI Bali di kancah dunia tersebut juga diundang ke atas panggung. Ia berharap prestasi luar biasa yang diraih ketiga atlet silat itu bisa mencambuk mahasiswa lainnya untuk berlomba-lomba mengukir prestasi di bidang apa pun. Dan, IKIP PGRI Bali, siap memasilitasi itu semua. Rektor Suarta juga manyampaikan bahwa UKM-UKM yang ada di IKIP PGRi Bali bisa menjadi wadah dan mediasinya. Sebut saja salah satunya, UKM Teater yang rupanya sudah memiliki MoU dengan TVRI, dan akan segera memasuki proses syuting ketiga untuk sebuah garapan sinetron. “Keberhasilan lahir dari kebersamaan, prestasi lahir dari persatuan di segala lini. Teori itu enting, tetapi lebih penting tauladan,” ucapnya bijak. –ten
Pesona Sungai Musi Ikon Pariwisata Palembang
pusat kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Indonesia. Disamping itu, Sumatera Selatan sering pula disebut sebagai Daerah Batang Hari Sembilan, karena dikawasan ini terdapat 9 sungai besar yang dapat dilayari sampai jauh ke hulu, yaitu Sungai Musi, Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Kelingi, Sungai Rawas, Sungai Batanghari Leko dan Sungai Lalan serta puluhan lagi cabangcabangnya. Wisatawan yang datang ke tanah Sriwijaya ini, tidak akan lengkap bila mengabaikan tur di Sungai Musi. Tur di sungai tersebut tidak
Green School Bali
Edukasi
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Pulau kemaro (salah satu objek di alur sungai musi)
pada umumnya. Masyarakat setempat mengandalkan sungai ini untuk transportasi sehingga Anda akan melihat banyak perahu motor membawa penumpang untuk menyebrang. Kini, selain pemerintah setempat telah memiliki kapal motor yang cukup besar, sering disebut kapal pesiar lokal, untuk mengantar tamu-tamu pemerintah setempat, warga juga banyak yang memiliki kapal serupa. Kapal-kapal inilah yang bisa disewa wisatawan untuk menikmati indahnya alam di sekitar Sungai Musi. Untuk berkeliling Sungai Musi,
pengunjung harus menggunakan perahu motor yang dapat disewa di bawah jembatan Ampera, tepat di depan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II atau di depan Benteng Kuto Besak. Biasanya pengunjung berdatangan pada sore hingga malam hari untuk menyaksikan matahari terbenam dan suasana malam yang diterangi lampu-lampu di sekitar sungai. Pada malam Minggu atau malam liburan lainnya, biasanya jumlah pengunjung yang mengunjungi jembatan Ampera dan sekitarnya akan lebih banyak. -Asmara
Dari sekian banyak sekolah internasional yang ada di Bali, Green School Bali memiliki konsep yang benar-benar berbeda. Sekolah yang memberikan pendidikan tentang lingkungan hidup yang menakjubkan dengan metode pendidikan berbasis holistik ini memiliki komitmen untuk mengusung kearifan lokal demi menjaga harmoni dengan lingkungannya.
K
omitm e n G re e n School dalam merangkul kearifan lokal bisa dilihat pada programprogram yang bernapaskan seni budaya Bali, yang diangkat menjadi kegiatan formal, bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. “Ini masuk dalam mata pelajaran sehari-hari,” jelas Giyan Antari, Communication Assistant Green School Bali. Di Green School terdapat Kelas Budaya Indonesia yang meliputi pembelajaran mengenai budaya Bali. Selain itu, Green School juga memiliki mata pelajaran Budaya Bali yang merupakan salah satu mata pelajaran spesialis yang ditawarkan pada seluruh murid Green School. Kelas ini secara spesifik mengajarkan mengenai memanah Bali dan Mepantigan. Dalam prosesnya, kelas ini juga diperkenalkan dengan macam kain tridatu, kain poleng, dan kearifan lokal lain yang ada di Bali. Selain itu, mereka juga diajarkan tari topeng yang sudah dikombinasikan. “Hal ini kami lakukan agar seni budaya Bali itu lebih berwarna, dan lebih banyak variasi agar tidak membosankan,” tutur Putu Witsen, guru Budaya Bali di sekolah hijau ini. Seniman Bali yang sudah melanglang buana ini juga mengenalkan bentuk penghormatan kepada pertiwi dengan mengajak anak-anak bermain di kolam lumpur. Dalam kesempatan itu, Putu Witsen menjelaskan bahwa orang Bali yang makanannya adalah nasi yang berasal dari padi, ditanam di tanah berlumpur.“Mereka harus r espect terhadap pertiwi melalui media lumpur itu,” tegasnya. Bahkan terkadang, anak-anakdiajak minum memakai ceret yang terbuat dari perpaduan antara air dan tanah. Konsepnya jelas, menghormati air dan tanah melalui cara minum orang Bali. Dengan menghormati air
dan tanah inilah terjadi keseimbangan sehingga sejuk. Pengajaran di kelas Budaya Bali ini bervariasi. Ada mepan tigan, jegog,juga monkey jumping yang dilakukan di sungai di belakang sekolah.
JEGOG Gamelan khas Kabupaten Jembrana, Bali ini memiliki daya tarik tersendiri tak hanya bagi siswa Green School, namunjuga para staf yang kini mulai turut berlatih di waktu senggang mereka. Hal ini d i s a m p a i k a n Ke t u t Nentrem, guru pelatih jegog yang belum lama ini mementaskan jegog bersama siswa Green School dalam sebuah acara sekolah, setelah 3 bulan berlatih. Di Green School, jegog diajarkan pada beberapa kelas tiap Selasa dan Jumat, dan tiap bulan dipentaskan. Mereka diajarkan nada yang sederhana dengan bantuan angka (solmisasi). KetutNentrem menjelaskan, gamelan jegog dengan 8 bilah daun itu merupakan seperangkat gamelan yang dibuat dari bahan bambu dengan bentuk dan ukuran yang besar. Ketika seperangkat instrumen jegog ini dimainkan oleh beberapa orang dengan
suara yang berbeda-beda, menghasilkan suatu nada yang harmonis. Itulah mengapa kini jegog makin mendapat tempat di hati siswa maupun staf Green School. Untuk sementara, mereka berlatih jegog di Ruang Sangkep. Sesuai dengan namanya, sangkep (Bahasa Bali) dalam Bahasa Indonesia berarti rapat. Di ruang terbuka seperti aula ini pun kerap difungsikan sebagai ruang pertemuan antara staf, guru, kepala sekolah, maupun tempat berkreativitas siswa. Di Ruang Sangkep ini, menurut Giyan Antari, tiap Jumat pagi dipakai sebagai tempat breakfast
Kelas Memanah yang diajarkan Putu Witsen
sembari mendengar wejangan-wejangan, arahan dan motivasi dari kepala sekolah. Tempat ini juga menjadi tempat mengapresiasi dan berkoordinasi. “Misalkan kemarinnya ada yang membantu kita, di sinilah biasanya kami mengucapkan terimakasih atas bantuannya tersebut. Di sini terjalin rasa saling menghargai satu sama lain,” ucapnya.
MAKANAN HIGIENIS Untuk urusan makanan bagi 500 orang murid, guru, dan staf di Green School dita ngani oleh Kadek Lastrini, head kitchen Green School. Setiap harinya, disiapkan dua menu pilihan, yakni masakan internasional dan masakan Indonesia. Menu tiap hari dikombinasikan, seperti sushi, hamburger, pizza, dll. untuk menu internasional, dan gado-gado, nasi goreng, sate, sambal matah, dll., untuk menu Indonesia. Untuk pilihan lain, mereka juga bisa mengunjungi Warung Green yang menyediakan raw food dan menu sehat lainnya dan dijamin higienis. Meski tak berlatar belakang chef, oleh pendiri Green School Bali, pasutri John A.Hardy bersama Cynthia Hardy, Bu Kadek kerap dikirim belajar langsung kepada ahlinya. Bahkan, ketika berkesempatan ke India bersama pasutri tersebut, Bu Kadek dikirim ke sebuah kampung tradisional di India belajar masak langsung di rumah orang India tersebut. Ini dikatakan Bu Kadek semacam tantangan. Bu Kadek juga mengerti betul selera pasutri tersebut yang tak mau merubah taste original dari sebuah masakan. “Boleh saja memodifikasi untuk kreatifitas, tapi basic jangan dilupakan,” ucap perempuan yang sudah 18 tahun bergelut dalam urusan masak-memasak ini. Yang paling penting dalamkegiatan memasak ini dikatakan Bu Kadek adalah selalu menjaga kehigienisan makanan mulai dari proses hingga penghidangannya, serta menjaga mood dalam memasak karena akan sangat berpengaruh kepada rasa makanan. Untuk segala urusan dapur ini, ia dibantu 9 staf yang merupakan ibuibu rumah tangga dari masyarakat sekitar (lokal). Menariknya, Green School tak hanya me nerapkan prinsip sustainability (keberlanjut an) dari konsep bangunan, fasilitas sekolah, dan kegiatan akademis, namun juga hingga ke urusan dapur. “Konsepnya sustainable, semua saling mendukung. Sampai kotoran dapur pun bisa terpakai dengan diolah menjadi kompos,” jelas Bu Kadek. Karena di sekolah ini juga ada kebun, diakui Bu Kadek, tak jarang anak-anak melihat langsung bahkan ikut memetik cabe serta turut melihat dan mengerjakan di dapur. “Jadi mereka respect sekali. Mereka tahu darimana asal makanan dan tahu benar makanan yang mereka makan,” tutur Bu Kadek. KULKUL CONNECTION Selain program beasiswa yang diberikan kepada 34 anak lokal Bali, Pembina Yayasan KulKul yang menaungi Green School, Dr. Tirka Widanti, mengatakan ada juga program ekstra
kurikuler bagi mereka yakni les Bahasa Inggris gratis. Program ini merupakan bentuk kontribusi Green School kepada masyarakat sekitar, yang dilaksanakan setiap hari, Senin sampai Jumat. “Sekarang sudah ada 7 kelas, dengan jumlah total 111 anak,” ujar I Made Soma, S.Pd., foreign language teacher, yang mengkoordinatori kegiatan ini. Kelas ini dikelompokkan berdasarkan usia, dan masing-masing kelompok dibedakan lagi berdasarkan tingkat kemahiran anak. Soma mengatakan, dalam pengajarannya mengadopsi kurikulum milik sekolah Bapak Tim Fijal di Kanada. “Semua materi Bahasa Inggris sama seperti umumnya, hanya saja ditulis penuturasli/native speaker,” jelas Soma. Tiap tahun, pesertanya bertambah. Tahun pertama diikuti 90 anak, dan hingga saat ini total 111 partisipan yang bergabung dalam kelas ini, didahului dengan wawancara. Mereka yang akhirnya berkesempatan ikut dalam kelas
ini, bukan dilihat kemampuannya, namun lebih kepada komitmen mereka untuk mengikuti pelajaran ini. Dari semua anak yang ikut dalam kelas yang sudah berlangsung sejak 2013 ini, Soma mengatakan mereka sangat antusias. Kalaupun ada kendala, lebih kepada jadwal kelas Kulkul Connection yang berbenturan dengan jadwal kegiatan lain atau les mereka di luar sekolah. Dan, meski pengakuan para orangtua murid yang mengatakan pengajaran Bahasa Inggris di sekolah anak mereka berbeda dengan di KulKul, Soma berkeyakinan program Green School yang memberikan pengajaran Bahasa Inggris pada anak-anak lokal ini pasti ada dampak positifnya. Dari Kulkul Connection ini, Green School ingin menunjukkan bahwa sebenarnya Green School tak menutup diri dengan lingkungan, Green School adalah milik masyarakat, milik bersama. Di kelas formal, Soma mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMA dimana 80% bahasa pengantarnya memakai Bahasa Indonesia. Pelajaran Bahasa Indonesia ada di semua tingkatan. Sebagai guru Bahasa Indonesia untuk orang ekspatriat, ia memposisikan dirinya sebagai teman agar mereka nyaman menerima materi. Dan yang paling menarik adalah, sebutan untuk semua guru pengajar di Green School adalah “Bapak” dan “Ibu”, bukan “Mr.” atau “Miss” seperti yang dipakai sekolah internasional pada umumnya. –ten
10
Bugar
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Imunisasi pada Remaja Oleh :
Dr. I Gusti Ngurah Twi Adnyana, SpA Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Siloam Bali
I
munisasi atau vaksinasi selama ini hampir selalu dianggap sebagai program kesehatan yang hanya diwajibkan untuk bayi dan anak balita. Padahal imunisasi juga perlu diberikan pada usia remaja sebagai upaya pencegahan terhadap berbagai penyakit yang kemungkinan menyerang pada rentang usia tersebut. Usia remaja (adolescence) berdasarkan batasan dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) adalah kelompok usia antara 10 sampai 19 tahun. Dari rentang ini masih dibagi menjadi 3 kelompok usia yaitu remaja dini (early adolescence) 10-13 tahun, remaja pertengahan (mid adolescence) 14-16 tahun, dan remaja lanjut (late adolescence) 17-19 tahun. Masa remaja adalah suatu periode pertumbuhan pesat kedua yang merupakan suatu periode terpaparnya anak pada lingkungan yang lebih luas dan beragam. Masa remaja merupakan masa dimana seorang anak akan selalu mencoba berbagai peran dan menantang berbagai risiko. Pada masa ini seorang anak rentan berhadapan dengan berbagai masalah baik pendidikan, sosial kemasyarakatan, psikologis, aktualisasi diri dan tentunya juga masalah kesehatan. Peralihan dari usia anak ke usia remaja sampai usia dewasa akan diikuti berbagai perubahan berbagai fungsi faali (fisiologi) tubuh yang salah satunya adalah faal kekebalan (fisiologi imunitas). Perubahan fungsi fisiologi kekebalan diantaranya respons terhadap paparan penyakit, kemampuan tubuh membentuk zat kekebalan sebagai respons pemberian vaksin dan toleransi tubuh terhadap tingkat keamanan vaksin.
Respons kekebalan (respons imun) pada usia remaja berbeda dengan respons pada usia anak, karena selain dipengaruhi faktor jenis kelamin, genetik dan ras juga dipengaruhi oleh faktor hormon. Upaya perlindungan (protektif) dan pencegahan (preventif) harus dilakukan lebih awal di usia remaja dengan pertimbangan untuk melengkapi bila ada imunisasi pada saat anak tertunda atau terlewat, adanya kasus penyakit yang muncul kembali setelah sekian puluh tahun dinyatakan hilang (reemerging disease) seperti beberapa kasus polio dan difteria di Indonesia yang muncul lagi, serta adanya perubahan status imun pada usia remaja. Salah satu penyakit yang tidak berbahaya tetapi memberi dampak penurunan aktivitas sehari-hari (daily activity), gangguan proses belajar dan penurunan produktivitas pada usia remaja adalah influenza. Anak usia sekolah merupakan kelompok yang paling sering terinfeksi virus influenza dengan angka serangan (attack rates) pada usia pra-sekolah (preschool age) dan usia sekolah (school age) mencapai 15%-42% per tahun. Beberapa penyakit menular seperti campak (measles), gondongan (mump), infeksi rubella dan cacar air (varicella) harus dicegah segera sebelum remaja melanjutkan sekolah yang lebih tinggi, apalagi bila akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Berbagai penyakit yang pada masa anak belum menyebabkan angka kesakitan (morbiditas) yang tinggi ternyata pada masa remaja dapat menyebabkan peningkatan angka kematian (mortalitas) seperti kanker hati dan kanker leher rahim. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Satuan Tugas Imu-
Gambar 1: Jadual Imunisasi IDAI tahun 2008
Dr. I Gusti Ngurah Twi Adnyana, SpA nisasi terus melakukan pemutakhiran terhadap jadwal imunisasi dengan berbagai pengembangan, perbaikan, penambahan komponen vaksin dan perluasan cakupan sasaran vaksinasi. Pada jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2008 rentang usia sasaran imunisasi adalah 0 sampai 12 tahun. Pada jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2010 dilakukan penambahan komponen vaksin dan perluasan sasaran imunisasi dengan mencakup usia remaja, sehingga cakupan rentang usia sasaran imunisasi menjadi 0 sampai 18 tahun. Jadwal vaksinasi paling mutakhir sesuai rekomendasi IDAI yang digunakan sampai saat ini adalah jadwal vaksinasi tahun 2014. Upaya berkesinambungan untuk pemutakhiran jadual imunisasi oleh Satgas Imunisasi IDAI bisa dilihat pada gambar. (Gambar 1) dan (Gambar 2)
Hepatitis B Data dari WHO menyatakan bahwa hampir 80% kasus kanker hati di negara endemis disebabkan oleh virus hepatitis B. Pemberian imunisasi hepa-
titis B bertujuan mencegah timbulnya kanker hati pada saat dewasa dan mencegah penularan virus dari ibu ke bayi. Pemberian imunisasi hepatitis B diperlukan bagi remaja yang belum pernah diimunisasi atau terlambat lebih dari 1 bulan dari jadwal seharusnya. Satu pertanyaan yang sering disampaikan oleh para orang tua adalah jika seseorang sudah mendapat vaksin hepatitis B lengkap pada masa anak, apakah perlu dilakukan ulangan/booster saat remaja. Pada prinsipnya pengulangan imunisasi hepatitis B tidak diperlukan lagi bagi orang yang memberikan respons yang baik pasca imunisasi. Dosis booster baru direkomendasikan apabila tidak ada pembentukan antibodi atau kadar antibodi telah menurun di bawah ambang pencegahan (kurang dari 10 μg/dl). Imunisasi regular hepatitis B pada remaja (usia 11-12 tahun) yang belum pernah mendapatkan imunisasi, masih memberikan dampak yang bermakna dalam penurunan angka kejadian hepatitis Vaksin Tetanus dan Difteri Toksoid (Td) Vaksin Td direkomendasikan untuk anak usia 10 - 14 tahun terutama remaja putri untuk mencegah kemungkinan terjadinya tetanus pada bayi yang akan dilahirkan nanti. Pemberian dosis Booster Td bertujuan memperpanjang perlindungan terhadap tetanus dan difteri. Vaksin Varisela Komplikasi dan kematian akibat varisela lebih tinggi pada kelompok usia di bawah 15 tahun. Vaksinasi varisela sebaiknya diberikan pada remaja usia 11-12 tahun yang belum mendapat vaksinasi dan belum pernah menderita varisela. Apabila diberikan pada usia kurang dari 13 tahun, vaksin dosis tunggal memberikan perlindungan antibodi lebih dari 95%. Vaksin Influenza Remaja usia 10-18 tahun meru-
Gambar 2: Jadual Imunisasi IDAI tahun 2014
pakan kelompok risiko tinggi yang dapat menderita komplikasi berat terhadap infeksi influenza. Berdasarkan rekomendasi American Academiy of Pediatrics (AAP) maupun Advisory Committee on Immunization Pactice (ACIP) maka semua anak usia 6 bulan sampai 18 tahun dianjurkan untuk mendapat vaksin influenza. Pemberian vaksin ini lebih ditekankan pada anak usia sekolah karena populasi tersebut mempunyai risiko tertinggi dibandingkan orang dewasa. Di samping itu beberapa data menyatakan bahwa pemberian vaksinasi menurunkan penularan pada sesama anak sekolah yang selanjutnya menurunkan pula transmisi influenza di rumah tangga dan komunitas.
Vaksin Hepatitis A Indonesia merupakan negra endemis infeksi hepatitis A. Pada wilayah dengan prevalensi tinggi, hepatitis A utamanya menyerang anak berusia dibawah 10 tahun dan menyerang usia remaja dan dewasa muda di wilayah dengan prevalensi sedang. Hepatitis A sebenarnya tidak mengakibatkan risiko kematian yang besar, namun karena transmisi dan laju penularan yang sangat cepat maka penyakit ini rentan menimbulkan wabah (outbreak). Oleh karena itulah, penyakit ini mendapat perhatian besar baik dari masyarakat kesehatan maupun pemerintah. Pemberian imunisasi hepatitis A merupakan cara pencegahan yang sangat efektif terjadinya wabah. Batas umur maksimal vaksinasi hepatitis A adalah antara 10 -15 tahun
Vaksin Human Papillomavirus (HPV) Human Papilloma Virus (HPV) merupakan salah satu jenis virus yang menyerang manusia. Ada sekitar 120 tipe HPV, namun sebagian besar tidak berbahaya. Strain HPV tipe 6 dan 11 tidak menyebabkan kanker, tetapi dapat menimbulkan kutil kelamin, sedangkan HPV Tipe 16 dan 18 dapat menyebabkan kanker leher rahim. Kanker leher rahim yang biasanya terjadi setelah jangka waktu 5-10 tahun setelah seorang wanita menderita infeksi human papilloma virus (HPV). Selain itu pelipatgandaan jumlah sel, pematangan dan perubahan sel leher rahim paling pesat terjadi sebelum usia 20 tahun. Segala bentuk paparan baik mekanik, kimiawi, dan infeksi yang terjadi pada periode sebelum usia 20 tahun sangat rentan menyebabkan terjadinya perubahan sifat sel ke arah keganasan. Sebagai tindak lanjut Satgas imunisasi IDAI mulai tahun 2010 melakukan pengembangan jadwal dengan merekomendasikan pemberian vaksin HPV mulai usia 10 tahun pada remaja putri.
Style
Pesona Motif Milo Migliavacca, perancang busana profesional dari Milan, Italia yang kini menetap di Bali ini, sejak tahun 1973 tak pernah berhenti berkarya. Belum lama ia kembali me luncurkan rancang annya di The Bar Mulia Resot & Villas, Nusa Dua.
Milo Migliavacca
D
i sini ia kembali mengeksplor asi keindahan dan keunikan bahan –bahan bermotif lokal maupun dari negara lain.
Kreasinya seolah tak pernah habis menghiasi dunia fashion. Setiap helai kain yang dirancang dan dikenakan para model selalu punya daya tarik dan karakter tersendiri. Desainer yang pernah dino batkan sebagai “The Original Prince of Batik Couture” ini terlihat lebih banyak menampil kan desainnya yang simpel tanpa banyak permainan. Pilihannya fokus pada pesona motif , men jadikan koleksinya tampil kasual tanpa menghilangkankan kesan elegannya. Pada koleksinya ini Milo se lain menampilkan berbagai gaun juga dilengkapi dengan kemeja untuk laki-laki. Model busana dengan aneka motif pekan ini, cukup menarik untuk menjadi referensi fashion. Bagaimana dengan Anda. - Sri Ardhini
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
15
14
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Pasraman “Beji Mandala Asti”
Pentingnya Facial Sebagian besar perempuan ingin memiliki penampilan yang enak dipandang. Salah satu perawatan wajah yang banyak dipilih adalah facial. Dengan treatment ini mereka berharap terhindari dari masalah pada kulit wajah.
S
elama seseorang beraktivitas, entah berapa banyak polusi dan racun yang datang dari udara maupun penggunaan kosmetik. Semuanya itu, tanpa sadar mengotori wajah. Kondisi ini tentu wajib mendapatkan perawatan. Dengan facial bisa membuat kulit wajah kembali bersih. Facial dikenal sebagai perawatan wajah yang dilakukan seseorang agar wajahnya terjaga kebersihannya, kesehatannya, juga kecantikannya. Mereka yang peduli mengenai kecantikan kulit wajah, biasanya akan teratur melakukan facial. Karena, membersikan wajah dengan cara biasa seperti yang dilakukan seharihari, sulit mengangkat kotoran yang terlanjur mengendap. Hal ini disampaikan Upik Rustia, Manager Clinic Miracle Denpasar. Dengan perawatan facial,
Upik
berbagai kotoran yang menyumbat pori-pori dapat dikeluarkan sehingga wajah bisa segera bernafas kembali. Ini berarti juga dapat mencegah timbulnya jerawat maupun bintik hitam di wajah. Ketika melakukan facial, juga menjadi kesempatan bagi terapis menganalisa kondisi
kulit wajah kita, sehingga lebih mudah dipilihkan jenis produk yang tepat. Memang facial, bukan sekadar membersihkan wajah. Sebab, kalangan yang bergerak di bidang perawatan kulit wajah mengatakan facial terbukti juga mampu memperlambat proses penuaan dini. Apalagi secara umum facial bakal melibatkan proses pengelupasan kulit, yang mengangkat selsel kulit mati menjadi lebih segar dan bersinar. Proses penglupasan juga sangat penting sebab dapat menstimulan produksi pada kolagen dan elastin. FACIAL SESUAI KEBUTUHAN Jika produk yang diaplikasikan pada proses facial sesuai dan benar maka akan bisa digunakan sebagai upaya memberikan nutrisi pada kulit. Hal ini menjadikan kulit terasa lebih berenergi dan berfungsi optimal. Selain itu tekstur kulit pun akan terasa lebih kencang dan bebas kerut. Pada saat menjalani proses facial, terutama pada fase terakhir kita juga dapat merasakan ketenangan. Karena, facial biasanya ada menggunakan teknik pemijatan –pemijatan lembut.
11
Lima Anak dapat Rangking 1-3, Hadiahnya Wisata ke Jawa
Ada wajah–wajah gembira ditingkahi gelak tawa anakanak Pasraman “Beji Mandala Asti”. Cucuran keringat dan rasa lelah tak mematahkan semangat mereka mengikuti aneka lomba yang digelar.
Hal itu membuat otot-otot di wajah mengendur dan kulit pun menjadi lebih rileks dan segar. Apalagi kata Upik kini seiring dengan perkembangan bidang perawatan estetik yang sedemikian pesat, facial masih menjadi treatment yang di paling digemari oleh berbagai kalangan. Ia juga membenarkan jika facial rutin dilakukan minimal 1 bulan sekali, akan membuat kulit wajah menjadi cerah, tekstur kulit lebih halus dan tentu saja kulit lebih sehat. Untuk hasil yang terbaik ,lanjutnya facial yang di lakukan di Miracle Clinic Denpasar, sebelum facial juga dilakukan tahapan analisa wajah. Beauty therapist akan melakukannya dengan prosedur yang tepat, baik dan teliti. Kemudian dari hasil analisa wajah , barulah diketahui jenis facial yang sesuai dengan kondisi
atau kebutuhan kulit saat itu. Dikatakannya ada beberapa jenis atau pilihan facial yang disarankan, diantaranya acne facial, whitening facial, ataukah anti aging facial yang tentu saja telah disesuaikan dengan keperluan perawatan kulit seseorang. Acne facial misalnya, ini dikhususkan untuk mengatasi problem jerawat. Baik jerawat ringan mau pun yang meradang termasuk untuk mengeringkan jerawat serta mengecilkan pori - pori. Sedangkan untuk jenis whitening facial, sangat efektif mengatasi kulit yang kusam. Treatment ini akan membuat kulit tampak lebih cerah, kenyal serta warna kulit lebih merata . Sementara jenis anti aging facial , efektif membantu mengurangi garis-garis atau kerutan halus sekaligus mengencangkan kulit wajah. – Sri Ardhini
K
eceriaan dan kebahagiaan berlangsung ketika Pasraman menyongsong pergantian tahun baru 2015. Beberapa acara digelar, diantaranya lomba senam pramuka, lari sarung single, lari sarung berpasangan, pancing botol (memasukkan paku ke dalam botol), lari balon baik single maupun berpasangan, pindah bola, kupas kuaci dan kupas kacang. Pemilik Pasraman, Dra. Komang Komarasari Astiti M.M., yang dikenal dengan panggilan Byang Mangku dan sang suami Guru Mangku Made Sedana Putra mengatakan lomba bertujuan melatih, mengasah dan meningkatkan sportivitas, keterampilan serta ketangkasan dalam kebersamaan di kalangan anak-anak Pasraman. “Seperti biasa, di setiap kegiatan selalu diawali doa, begitu pun pada acara lomba dan dilanjutkan senam Pramuka bersama,” ujar
Byang Mangku. Dalam program Pasraman, katanya kegiatan lomba diagendakan 2 kali setahun, yakni pada Agustus untuk memeriahkan HUT Negara RI dan diakhir tahun. Akhir tahun, anak-anak berkumpul di Pasraman mulai pukul 18.00, untuk menyambut tahun baru. Acara itu pun diawali Puja Tri Sandya, doa memulai pekerjaan, menyanyikan lagu Tri Kaya Parisudha, serta doa makan ketika memulai makan malam bersama. HARAPAN BARU Hidangan shabu-shabu ala Jepang menjadi menu pilihan anak-anak ketika itu. “Kami berupaya memperkenalkan pada anak-anak, kalau yang dihidangkan adalah makanan sehat yang terdiri dari, irisan daging ayam,
Foto bersama anak pasraman
ikan laut, bola-bola cumi dan udang, sayuran, dan wortel yang dimakan dengan kuah yang hangat,” terang Byang Mangku sambil menekankan kalau shabu-shabu yang dimaksudkan adalah makanan khas Jepang yang sehat, bukan narkoba yang harus dijauhi anak-anak. Kalau sudah bersama, hujan malam tak menyurutkan semangat kebersamaan. Apalagi
anak-anak juga menantikan pembagian hadiah juara lomba dan tahun baru. Malam itu pun diakhiri renungan malam dalam hening dengan
Anak berprestasi
meditasi sejenak mengenang perjalanan yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan di tahun 2014. Selanjutnya menanamkan harapan baru yang lebih baik di tahun 2015 ini. “Kembali diikuti doa menyudahi pekerjaan dan melantunkan Puja Tri Sandya. Akhirnya pertengahan malam, anak-anak kembali ke rumah masing-masing, dijemput orangtuanya atau keluarga mereka,” katanya. Hal lain yang juga menjadi komitmen pemilik Pasraman ini, adalah pemberian hadiah atau reward . Khususnya dalam memotivasi dan meningkatkan semangat belajar anak–anak. Bagi anak yang memper-
Kegiatan meditasi
oleh rangking 1–3 di sekolah masingmasing, dipastikan mendapat reward yang diserahkan pada malam menjelang pergantian tahun baru. Di tahun 2014 lalu, tercatat, 4 anak berhasil jadi juara kelas. Mereka adalah Aditya, Ariesta, dan Putri yang di tingkat SD dan Padmi di SMP. “Namun, reward berupa kunjungan wisata ke Pulau Jawa tidak terwujud, sebab hanya 4 orang yang mendapatkan juara dari 45 peserta. Jika ada 5 orang juara, maka acara kunjungan wisata akan direalisasikan,” terang Byang Mangku. Hal ini menjadi motivasi anakanak untuk lebih lagi meningkatkan prestasi belajar mereka di sekolah. Dikatakannya, jika dalam semester 1 di tahun 2015 ini ada 5 orang peserta mampu menempati posisi ranking 1–3 di kelasnya, maka Pasraman akan mewujudkan hadiah kunjungan wisata ke Pulau Jawa. Semua yang dilakukan rutin setiap pekannya termasuk kegiatan menyambut tahun baru tersebut, bagi Byang Mangku menjadi harapan agar peserta Pasraman dapat mengamalkan Tri Kaya Parisudha (3 tingkah laku yang harus disucikan), Catur Paramita (empat bentuk budi luhur) dan Catur Guru dalam kehidupan sehari-dari. “Selain itu, kami berupaya menjaga kesehatan anak-anak dengan mengadakan pemeriksaan gigi dan mata, fisik secara berkala setiap 6 bulan sekali, dengan mendatangkan dokter ke Pasraman,” katanya. –Sri Ardhini
Bintik Berair di Kelamin Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar. “Dok, saya ingin tanya tentang keluhan di kelamin saya, tampak bintik-bintik berarir mengumpul, jika pecah rasa sakitnya luar biasa, sampai memakai celana dalam pun rasanya perih jika bergesekan dengan celana dalam. Apakah merupakan jenis penyakit kelamin yang berbahaya? Penularannya melalui apa? Apakah penyakit ini memang bisa kambuh lagi karena ini yang kedua kalinya dan bintik-bintiknya selalu sama pada daerah itu saja? (Putra-Mengwi)”
Jika dicermati secara singkat dari keluhan dan gejalanya, sepertinya yang sedang dialami adalah salah satu jenis infeksi menular seksual yaitu herpes kelamin. Tetapi akan jauh lebih baik hal ini dipastikan dengan memeriksakan diri langsung ke dokter, supaya tepat diagnosis dan tepat penanganan. Jika ini benar herpes kelamin, maka perlu diketahui bahwa herpes kelamin sering menjadi momok dan membuat stres karena sifatnya yang tidak bisa disembuhkan dan berulang. Mengapa? Karena
belum ada obat yang sanggup mengeliminasi virus penyebabnya, yaitu virus herpes simpleks, dari tubuh sejak tertular. Herpes kelamin bisa tampak di penis, vagina, termasuk di pintu dubur serta pantat dan pangkal paha. Jika virus aktif akan muncul gejala awal mulai pada hari ke 4-7 setelah terinfeksi dan berlanjut hingga minggu kedua. Akan terasa gatal di kelamin, disertai kemudian rasa panas bercampur kesemutan dan sakit. Lalu muncul bercak kemerahan berisi bintik-bintik
kecil berair, diikuti sekumpulan bintik lepuhan kecil terasa nyeri. Lepuhan ini pecah dan bergabung membentuk luka melingkar. Luka yang terbentuk ini biasanya menimbulkan nyeri dan membentuk keropeng (luka yang mengering). Luka baru akan membaik dalam waktu 10 hari tetapi bisa meninggalkan jaringan parut. Gejala lain yang sering juga menyertai adalah berupa kelenjar getah bening selangkangan biasanya agak membesar. Gejala awal ini sifatnya lebih nyeri, lebih lama dan lebih meluas dibandingkan gejala berikutnya dan mungkin disertai dengan demam dan perasaan tidak enak badan. Saat virus sedang tidak aktif, umumnya penderita tidak menampakkan gejala apapun, ia terlihat seperti orang sehat. Namun perlu diingat bahwa sekali terinfeksi -walaupun kelihatannya sudah sembuh- virus herpes simpleks ini tetap berada dalam tubuh dan sewaktuwaktu bisa kambuh. Meski tidak aktif, cairan penderita (air liur, sperma, dan cairan kelamin wanita) tetap dapat menularkan
virus pada orang lain. Tanda awal herpes kelamin yang kambuh adalah rasa gatal. Rasa gatal pada perempuan lebih ringan dibanding pada laki-laki. Rata-rata frekuensi kambuhnya adalah 4 kali pada tahun pertama. Meski demikian, jumlah kambuh mungkin saja bervariasi mengingat kondisi tubuh tiaptiap orang berbeda. Bagi yang memiliki lebih dari satu pasangan, mestinya waspada dengan penyakit ini. Makin sering berganti pasangan, risiko tertularnya makin tinggi, terlebih bagi perempuan. Faktanya, perempuan memiliki risiko terinfeksi herpes dua kali lipat lebih besar dibanding laki-laki. Hal ini dikarenakan permukaan organ kelamin perempuan lebih luas dari laki-laki sehingga memungkinkan paparan infeksi virus menjadi lebih besar. Selain resiko tertular yang lebih tinggi, penyakit herpes kelamin pada perempuan juga menimbulkan masalah yang jauh lebih banyak. Misalnya, pada ibu hamil yang menderita herpes kelamin bisa menyebabkan keguguran, gangguan saraf otak janin, hingga
kebutaan. Itulah mengapa perempuan harus pandaipandai menjaga diri agar tidak tertular berbagai infeksi menular seksual. Karena disebabkan oleh virus, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit herpes kelamin, sehingga pencegahan adalah cara yang terbaik. Kalaupun ada obat yang bisa diberikan, tujuannya adalah untuk meringankan gejala dan membantu meningkatkan imunitas tubuh. Juga yang perlu dilakukan adalah menjaga pola makan untuk dapat lebih ditingkatkan konsumsi sayur dan buah-buahan sebagai sumber vitamin dan antioksidan, mengistirahatkan tubuh dengan tidak begadang dan bekerja berlebihan sehingga mendapatkan tidur yang cukup, serta hindari stres karena kondisi stress malah akan memperburuk penyakit dan mempersering kekambuhan. Jadi, pastikan Anda memastikannya dengan memeriksakan ke dokter terlebih dahulu, sekalian untuk rekomendasi penanganan yang lebih tepat.
12
Kuliner
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Sensasi Makan Malam dengan Lumba-lumba
Laklak Manis Khas Penebel
Kue laklak sudah tak asing lagi bagi masyarakat Bali. Bentuknya bulat kecil dan dibuat dengan alat cetakan khusus dari tanah liat. Namun, tak semua sebutan kue laklak bentuknya sama. Ada juga kue laklak yang dibuat besar dengan isian pisang lumut. Seperti kue laklak khas Desa Penebel, Tabanan ini. Bentuknya sangat besar dan di dalamnya diisi irisan pisang lumut. Kemudian dilipat berbentuk seperti bulat sabit dan siap disantap. Kue laklak juga tanpa pewarna, cukup warna alami putih yang berasal dari tepung beras sebagai bahan utamanya.
J
ika, Anda berkunjung ke Desa Penebel, ada satu pembuat kue laklak yang sangat terkenal. Namanya Men Bayu, biasa dikenal dengan nama Laklak Men Bayu. Kue laklak khas buatan Men Bayu ini menjadi incaran banyak orang. Penikmatnya bukan hanya dari Desa Penebel atau warga Kota Tabanan, tapi pelanggannya banyak dari Denpasar. Laklak Men Bayu sangat unik. Selain dibuat dengan cara tradisional yang khas dengan tungku kayu bakar dan cetakan tanah liat, senyum ramah dan candaan Men Bayu dan suaminya, menyambut para konsumen. Letak warung pondok Men Bayu dan suaminya sangat sederhana. Disebut warung pondok, karena tempatnya menyerupai pondok yang bisa digunakan untuk beristirahat bagi siapa saja yang datang, termasuk Men Bayu dan suaminya. Saat konsumen datang, Men Bayu dan suaminya, langsung menyambut dengan candaan mereka. Walau usia mereka sudah berkepala tujuh, mereka terlihat sangat enerjik dan sehat. Tak segan, konsumen yang datang akhirnya banyak memborong
Pan Bayu
laklak mereka yang terkenal enak itu dan diminati Bupati Tabanan Eka Wiryastuti. Menurut Men Bayu, bahan utama kue laklak, campuran tepung terigu, tepung beras, dan tepung kanji. Kemudian diberi santan, dan garam. Setelah menjadi satu adonan yang encer, mulailah dicetak pada cetakan khusus. Satu kue, takarannya satu sendok sayur. Setelah dituang, diratakan di atas cetakan. Setelah setengah matang, di atasnya diberi potongan pisang
lumut dan kelapa parut. Setelah matang diangkat dan dilipat, siap disantap. Laklak ini enaknya dimakan saat masih panas-panas, apalagi ditemani teh atau kopi, dijamin kue ini menjadi favorit Anda. Satu biji kue laklak ia jual Rp 2000. Warung Men Bayu buka mulai pukul 8 pagi sampai 8 malam. Letaknya di pinggir jalan di depan Kantor Desa Penebel. Menurut Men Bayu, walaupun ia memiliki lima anak, ia tetap mencari nafkah bersama suamin-
35 Tahun Jualan Laklak
Mekel Sumiati bersama suaminya
Selain Men Bayu, ada lagi penjual laklak khas Penebel, yakni Mekel Sumiati. Perempuan yang sudah berjualan laklak selama 35 tahun ini, berjualan di Pasar Senggol Desa Penebel. Jam bukanya mulai pukul 3 sore sampai 8 malam. Laklak Mekel Sumiati mirip dengan milik Men Bayu,
hanya dibedakan oleh bentuk dan harga. Mekel Sumiati menjualnya dengan harga Rp 1000 ber biji dengan ukuran lebih kecil. Dari bahan juga, ia hanya menggunakan tepung beras. Menurut Mekel Sumiati, satu hari ia bisa menghabiskan 6 kilogram tepung beras. Kalau hari Sabtu dan Min-
ggu, bisa sampai 10 kilogram. “Biasanya, kalau cuaca cerah dan banyak tamu yang berkunjung ke Air Panas Belulang, mereka pasti mampir ke warung saya. Mungkin karena lokasi warung saya satu jalur dengan jalan menuju ke Belulang,” kata istri Gusti Made Suardana ini. Menurut Puji, laklak Men Bayu dan Mekel Sumiati samasama enak. Sekarang tergantung, pembeli mau pilih yang mana. Mau yang lebih kecil harga murah atau yang lebih besar harganya lebih mahal. Kedua pedagang ini sama-sama memiliki konsumen yang loyal. Jadi, tergantung konsumen saja. Jika Anda berkunjung ke Penebel, laklak ini dapat disajikan bekal jalan-jalan dan oleh-oleh pulang ke rumah. Karena parutan kelapanya sudah dikukus sehingga tak basi walau dibawa ke Denpasar. –Wirati Astiti
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Laklak Men Bayu ya untuk kehidupan mereka berdua. Sekali-kali sembari bercerita, Pan Bayu yang bernama asli Ketut Sutarma ini, saling melempar candaan. Mereka mengaku pasangan romantis karena sering berduaan. Pan Bayu, awalnya bekerja sebagai sopir. Mengisi waktu luangnya, sejak lima tahun lalu, ia tertarik menjual kue laklak bersama istrinya. Ternyata, kue laklaknya malah menjadi incaran banyak konsumen. “Ini kue laklak cinta,” ujar Pan Bayu yang tamat SMP ini, sembari tertawa. Untuk belajar membuat laklak tak terlalu sulit, asal punya cetakannya. Menurut Men Bayu, ia membeli cetakannya dari pedagang asal Buleleng. Ia membuatnya menggunakan tungku kayu bakar, agar rasa laklak lebih gurih. Untuk bahan utama kayu bakar, ia juga membelinya, termasuk air minum. Walaupun ia mengatakan beban hidup memang berat, ia lakoni dengan santai. Menurut mereka, dengan bercanda membuat rasa lelah dan penat terasa hilang. Men Bayu mengatakan, setiap HUT Kota Tabanan, ia pasti diberi kesempatan ikut meramaikan pesta dengan berjualan laklak di Gedung Maria. Sampai saat ini, sudah tiga kali ia ikut berpartisipasi. Malah, ia sempat berfoto dengan bupati Tabanan Eka Wiryastuti. “Foto itu saya pajang di warung, agar semua pembeli yang datang bisa melihatnya,” ujar Pan Bayu sambil menunjuk foto yang terpajang di dinding warungnya itu. Selain menjual laklak khas Penebel, Men Bayu juga menjual tipat cantok dan rujak ala Pen-
ebel. Menurutnya, tipat cantok dan rujak manisnya sama saja. “Harga tiang lebih murah, seporsi tipat cantok cuma Rp 3000,” katanya lagi. Karena itu, warung Men Bayu sering diserbu pembeli yang sedang dalam perjalanan ke Jatiluwih atau mandi ke Air Panas Belulang. “Biasanya, yang suka mandi ke Belulang, pulangnya pasti mampir ke sini. Makan dan istirahat di sini, sambil menikmati laklak, tipat dan rujak,” ucap Men Bayu. Selain dimakan di tempat, laklak Men Bayu sering dipesan khusus kudapan berbagai acara, seperti resepsi dan upacara adat. Selain praktis, harganya ekonomis dan terjangkau. “Saya sering dapat pesanan untuk acara nganten,” kata Men Bayu. Walaupun hari raya, warung Men Bayu tak pernah tutup. Bagi Men Bayu dan suaminya, hidupnya hanya di sana. Jadi, ia sudah anggap warungnya sebagai rumahnya. Salah seorang konsumen yang sengaja mampir ke warung Men Bayu mengaku salut dengan cara kedua pasutri itu melayani pembeli. “Mereka mengajak kami bercanda, kami jadi tertawa, lucu. Jadi terus nambah makan laklaknya. Tapi kuenya juga memang enak,” kata Puji yang baru saja pulang dari Air Panas Belulang. Menurut Puji, ia tahu warung Men Bayu, karena diinfokan oleh temannya. “Katanya ada dagang laklak terkenal di depan Kantor Desa Penebel. Saya coba cari akhirnya ketemu. Unik juga,” kata Puji sembari asyik menikmati tiga biji kue laklak. –Wirati Astiti
Ada yang menarik di Warung Keramas (Wake) Resto and Dolphin di areal Pantai Keramas Gianyar ini. Warung yang dibuka sejak 9 Agustus 2014 ini, selain menyajikan aneka menu, mulai dari lokal Indonesia, Asia, dan makanan Barat, Anda dapat merasakan sensai lain, yakni makan malam sembari memberi makan iklan lumba-lumba.
M
enurut FB Manager Wake Resto and Dolphin, I Gusti Ngurah Wiadnyana, suguhan makan malam ini menjadi daya tarik restoran yang juga memiliki paket permainan laga
ATV Ride ini. Ada beberapa paket menu istimewa untuk makan malam. Ada macam-macam sup mulai dari tomato soup, potato soup, pumkin soup, green salad, dan tom yang. Ada menu utama seperti BBQ
pork sparerib, chicken gordon blue, poiure noir, tandoori chicken, BBQ king prawn. Ada aneka makanan penutup es krim atau buah segar, termasuk aneka minuman jus, kopi, pizza, dll. “Selain menikmati makan malam yang lezat, pengunjung bisa langsung memberi makan kepada ikan lumba-lumba. Makanan ikan lumba-lumba tersebut tidak sembarangan. Ikan lumba-lumba diberi makan ikan selar segar. Pemberian makan juga tidak sembarangan. Ada pemandu yang akan membantu pengunjung. Inilah sensasi yang dirasakan pengunjung yang menikmati makan malam di resto ini,” ujarnya. Saat ini, ada enam ikan lumba-lumba penunjang di resto ini. Menurutnya, ada penjagaan khusus untuk ikan lumba-lumba ini. Ia menambahkan, sebagian be-
13
Memberi makan lumba-lumba
sar tamu yang berkunjung ke resto ini adalah tamu Rusia, Australia, dan Arab. “Biasanya, kebanyakan tamu datang dari beberapa hotel dan vila sekitar Pantai Keramas ini. Dari resto kami, sangat indah untuk melihat matahari terbit. Karena itu, paket breakfast kami sangat dinikmati. Selain sarapan, tamu bisa langsung melihat terbitnya matahari. Apalagi ombak di pantai ini sangat indah, bagus untuk surfing. Jadi tamu yang
makan di resto ini bisa langsung menyaksikan orang-orang yang bermain surfing,” kata lelaki yang akrab disapa Pak Ngurah ini. Jika Anda penggemar olahraga dan suka tantangan, ada juga ATV Ride. Dengan mengambil jarak 6,5 kilometer, Anda dapat mengitari medan yang penuh ketegangan dan memacu andrenalin. Setelah berselancar selama 2 jam, kemudian Anda dapat bersitirahat sembari menikmati makanan di resto sambil bersantai. Dengan kapasitas untuk 150 orang, resto didesain untuk dua tempat, ada di kebun dan restoran. Resto ini bisa digunakan untuk berbagai suasana acara, mulai meeting, pesta ulang tahun maupun pernikahan. Rasanya, seru juga menikmati suguhan ala Wake Resto ini. Jika, ingin makan malam Anda lain daripada yang lain, sensasi ini perlu Anda pertimbangkan. Selamat mencoba. -Wirati Astiti
Gulai Kambing Pedas Sarwan Bahan: 750 gr : kambing 200 ml : santan kental 500 ml : santan encer 1 batang : serai, memarkan 2 ruas : lengkuas, memarkan 3 buah : pekak 1 ruas : jari kayu manis 200 ml : air 2 lembar : daun salam Gula, garam, kaldu bubuk, minyak secukupnya
Bumbu yang dihaluskan: 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 1 sdm : ketumbar 1 sdt : jinten 2 ruas : jari kunyit bakar 4 butir : kemiri bakar 2 ruas : jari jahe buah : cabe merah Cara membuat: - Potong daging kambing yang masih ada tulangnya menurut selera. - Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan daun jeruk,
daun salam, lengkuas dan serai kayu manis juga pekak. - Masukkan irisan daging kambing, aduk-aduk terus. Pindahkan ke panci, lalu masukkan air dan santan encer, masak sampai mendidih dan daging empuk. - Masukan gula, garam, kaldu bubuk juga lada bubuk, adukaduk hinga bumbu meresap, lalu masukkan santan kental, masak dengan api sedang, aduk-aduk agar santan tidak pecah, biarkan sampai mendidih, angkat. - Siap untuk disajikan dengan bawang putih goreng.
Ayam Bakar Madu Pedas Manis Bahan: 1 ekor 150 ml 5 sdm 2 sdm 3 buah 1 sdt 2 sdm
: ayam muda pejantan, belah dadanya : madu : kecap manis : irisan daun bawang : jeruk sankis : lada bubuk : saus sambal
Cara membuat: - Rebus ayam bersama jahe, serai, gula dan garam sampai matang dan ayam agak lunak, tiriskan, lalu campur madu,
kecap, lada bubuk, saus sambal dan bumbu-bumbu lainya dalam tempat agak besar, lalu masukkan rebusan ayam ke dalam campuran madu, bolakbalik hingga ayam tercampur campuran madu, diamkan selama 10 menit. - Siapkan panci gril pan, olesi dengan margarin, lalu panggang ayam dalam grill pan, bolak-balik ayam dan olesin dengan sisa campuran madu hingga ayam matang kecokelatan, siap untuk disajikan.
Lele Goreng Bacem Pedas
Bahan: 750 gr : lele, bersihkan 3 buah : cabe besar, iris serong 2 buah : cabe besar hijau, iris serong 2 sdm : bawang putih goreng 1 batang : serai, memarkan 2 ruas : jari jahe lengkuas, memarkan 150 ml : santan kental 500 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk dan minyak secukupnya Bumbu yang dihaluskan: 10 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 4 butir : kemiri sangria 1 ruas : jari kencur 2 ruas : jari jahe 1 sdt : jinten
Cara Membuat: - Goreng ikan lele sampai matang, tiriskan. - Tumis bumbu halus bersama daun jeruk, serai, lengkuas sampai harum lalu masukkan gorengan ikan lele, aduk-aduk hingga bumbu tercampur - Masukkan air, masak sampai mendidih dan air banyak berkurang/susut, lalu masukkan irisan cabe merah dan cabe besar hijau, aduk-aduk, lalu masukkan santan kental, masak dengan api sedang dan aduk perlahan agar santan tidak pecah, masukkan garam, gula, kaldu bubuk, masak hingga matang dan kuah berkurang. - Siap untuk disajikan, taburin dengan bawang putih goreng.
12
Kuliner
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Sensasi Makan Malam dengan Lumba-lumba
Laklak Manis Khas Penebel
Kue laklak sudah tak asing lagi bagi masyarakat Bali. Bentuknya bulat kecil dan dibuat dengan alat cetakan khusus dari tanah liat. Namun, tak semua sebutan kue laklak bentuknya sama. Ada juga kue laklak yang dibuat besar dengan isian pisang lumut. Seperti kue laklak khas Desa Penebel, Tabanan ini. Bentuknya sangat besar dan di dalamnya diisi irisan pisang lumut. Kemudian dilipat berbentuk seperti bulat sabit dan siap disantap. Kue laklak juga tanpa pewarna, cukup warna alami putih yang berasal dari tepung beras sebagai bahan utamanya.
J
ika, Anda berkunjung ke Desa Penebel, ada satu pembuat kue laklak yang sangat terkenal. Namanya Men Bayu, biasa dikenal dengan nama Laklak Men Bayu. Kue laklak khas buatan Men Bayu ini menjadi incaran banyak orang. Penikmatnya bukan hanya dari Desa Penebel atau warga Kota Tabanan, tapi pelanggannya banyak dari Denpasar. Laklak Men Bayu sangat unik. Selain dibuat dengan cara tradisional yang khas dengan tungku kayu bakar dan cetakan tanah liat, senyum ramah dan candaan Men Bayu dan suaminya, menyambut para konsumen. Letak warung pondok Men Bayu dan suaminya sangat sederhana. Disebut warung pondok, karena tempatnya menyerupai pondok yang bisa digunakan untuk beristirahat bagi siapa saja yang datang, termasuk Men Bayu dan suaminya. Saat konsumen datang, Men Bayu dan suaminya, langsung menyambut dengan candaan mereka. Walau usia mereka sudah berkepala tujuh, mereka terlihat sangat enerjik dan sehat. Tak segan, konsumen yang datang akhirnya banyak memborong
Pan Bayu
laklak mereka yang terkenal enak itu dan diminati Bupati Tabanan Eka Wiryastuti. Menurut Men Bayu, bahan utama kue laklak, campuran tepung terigu, tepung beras, dan tepung kanji. Kemudian diberi santan, dan garam. Setelah menjadi satu adonan yang encer, mulailah dicetak pada cetakan khusus. Satu kue, takarannya satu sendok sayur. Setelah dituang, diratakan di atas cetakan. Setelah setengah matang, di atasnya diberi potongan pisang
lumut dan kelapa parut. Setelah matang diangkat dan dilipat, siap disantap. Laklak ini enaknya dimakan saat masih panas-panas, apalagi ditemani teh atau kopi, dijamin kue ini menjadi favorit Anda. Satu biji kue laklak ia jual Rp 2000. Warung Men Bayu buka mulai pukul 8 pagi sampai 8 malam. Letaknya di pinggir jalan di depan Kantor Desa Penebel. Menurut Men Bayu, walaupun ia memiliki lima anak, ia tetap mencari nafkah bersama suamin-
35 Tahun Jualan Laklak
Mekel Sumiati bersama suaminya
Selain Men Bayu, ada lagi penjual laklak khas Penebel, yakni Mekel Sumiati. Perempuan yang sudah berjualan laklak selama 35 tahun ini, berjualan di Pasar Senggol Desa Penebel. Jam bukanya mulai pukul 3 sore sampai 8 malam. Laklak Mekel Sumiati mirip dengan milik Men Bayu,
hanya dibedakan oleh bentuk dan harga. Mekel Sumiati menjualnya dengan harga Rp 1000 ber biji dengan ukuran lebih kecil. Dari bahan juga, ia hanya menggunakan tepung beras. Menurut Mekel Sumiati, satu hari ia bisa menghabiskan 6 kilogram tepung beras. Kalau hari Sabtu dan Min-
ggu, bisa sampai 10 kilogram. “Biasanya, kalau cuaca cerah dan banyak tamu yang berkunjung ke Air Panas Belulang, mereka pasti mampir ke warung saya. Mungkin karena lokasi warung saya satu jalur dengan jalan menuju ke Belulang,” kata istri Gusti Made Suardana ini. Menurut Puji, laklak Men Bayu dan Mekel Sumiati samasama enak. Sekarang tergantung, pembeli mau pilih yang mana. Mau yang lebih kecil harga murah atau yang lebih besar harganya lebih mahal. Kedua pedagang ini sama-sama memiliki konsumen yang loyal. Jadi, tergantung konsumen saja. Jika Anda berkunjung ke Penebel, laklak ini dapat disajikan bekal jalan-jalan dan oleh-oleh pulang ke rumah. Karena parutan kelapanya sudah dikukus sehingga tak basi walau dibawa ke Denpasar. –Wirati Astiti
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Laklak Men Bayu ya untuk kehidupan mereka berdua. Sekali-kali sembari bercerita, Pan Bayu yang bernama asli Ketut Sutarma ini, saling melempar candaan. Mereka mengaku pasangan romantis karena sering berduaan. Pan Bayu, awalnya bekerja sebagai sopir. Mengisi waktu luangnya, sejak lima tahun lalu, ia tertarik menjual kue laklak bersama istrinya. Ternyata, kue laklaknya malah menjadi incaran banyak konsumen. “Ini kue laklak cinta,” ujar Pan Bayu yang tamat SMP ini, sembari tertawa. Untuk belajar membuat laklak tak terlalu sulit, asal punya cetakannya. Menurut Men Bayu, ia membeli cetakannya dari pedagang asal Buleleng. Ia membuatnya menggunakan tungku kayu bakar, agar rasa laklak lebih gurih. Untuk bahan utama kayu bakar, ia juga membelinya, termasuk air minum. Walaupun ia mengatakan beban hidup memang berat, ia lakoni dengan santai. Menurut mereka, dengan bercanda membuat rasa lelah dan penat terasa hilang. Men Bayu mengatakan, setiap HUT Kota Tabanan, ia pasti diberi kesempatan ikut meramaikan pesta dengan berjualan laklak di Gedung Maria. Sampai saat ini, sudah tiga kali ia ikut berpartisipasi. Malah, ia sempat berfoto dengan bupati Tabanan Eka Wiryastuti. “Foto itu saya pajang di warung, agar semua pembeli yang datang bisa melihatnya,” ujar Pan Bayu sambil menunjuk foto yang terpajang di dinding warungnya itu. Selain menjual laklak khas Penebel, Men Bayu juga menjual tipat cantok dan rujak ala Pen-
ebel. Menurutnya, tipat cantok dan rujak manisnya sama saja. “Harga tiang lebih murah, seporsi tipat cantok cuma Rp 3000,” katanya lagi. Karena itu, warung Men Bayu sering diserbu pembeli yang sedang dalam perjalanan ke Jatiluwih atau mandi ke Air Panas Belulang. “Biasanya, yang suka mandi ke Belulang, pulangnya pasti mampir ke sini. Makan dan istirahat di sini, sambil menikmati laklak, tipat dan rujak,” ucap Men Bayu. Selain dimakan di tempat, laklak Men Bayu sering dipesan khusus kudapan berbagai acara, seperti resepsi dan upacara adat. Selain praktis, harganya ekonomis dan terjangkau. “Saya sering dapat pesanan untuk acara nganten,” kata Men Bayu. Walaupun hari raya, warung Men Bayu tak pernah tutup. Bagi Men Bayu dan suaminya, hidupnya hanya di sana. Jadi, ia sudah anggap warungnya sebagai rumahnya. Salah seorang konsumen yang sengaja mampir ke warung Men Bayu mengaku salut dengan cara kedua pasutri itu melayani pembeli. “Mereka mengajak kami bercanda, kami jadi tertawa, lucu. Jadi terus nambah makan laklaknya. Tapi kuenya juga memang enak,” kata Puji yang baru saja pulang dari Air Panas Belulang. Menurut Puji, ia tahu warung Men Bayu, karena diinfokan oleh temannya. “Katanya ada dagang laklak terkenal di depan Kantor Desa Penebel. Saya coba cari akhirnya ketemu. Unik juga,” kata Puji sembari asyik menikmati tiga biji kue laklak. –Wirati Astiti
Ada yang menarik di Warung Keramas (Wake) Resto and Dolphin di areal Pantai Keramas Gianyar ini. Warung yang dibuka sejak 9 Agustus 2014 ini, selain menyajikan aneka menu, mulai dari lokal Indonesia, Asia, dan makanan Barat, Anda dapat merasakan sensai lain, yakni makan malam sembari memberi makan iklan lumba-lumba.
M
enurut FB Manager Wake Resto and Dolphin, I Gusti Ngurah Wiadnyana, suguhan makan malam ini menjadi daya tarik restoran yang juga memiliki paket permainan laga
ATV Ride ini. Ada beberapa paket menu istimewa untuk makan malam. Ada macam-macam sup mulai dari tomato soup, potato soup, pumkin soup, green salad, dan tom yang. Ada menu utama seperti BBQ
pork sparerib, chicken gordon blue, poiure noir, tandoori chicken, BBQ king prawn. Ada aneka makanan penutup es krim atau buah segar, termasuk aneka minuman jus, kopi, pizza, dll. “Selain menikmati makan malam yang lezat, pengunjung bisa langsung memberi makan kepada ikan lumba-lumba. Makanan ikan lumba-lumba tersebut tidak sembarangan. Ikan lumba-lumba diberi makan ikan selar segar. Pemberian makan juga tidak sembarangan. Ada pemandu yang akan membantu pengunjung. Inilah sensasi yang dirasakan pengunjung yang menikmati makan malam di resto ini,” ujarnya. Saat ini, ada enam ikan lumba-lumba penunjang di resto ini. Menurutnya, ada penjagaan khusus untuk ikan lumba-lumba ini. Ia menambahkan, sebagian be-
13
Memberi makan lumba-lumba
sar tamu yang berkunjung ke resto ini adalah tamu Rusia, Australia, dan Arab. “Biasanya, kebanyakan tamu datang dari beberapa hotel dan vila sekitar Pantai Keramas ini. Dari resto kami, sangat indah untuk melihat matahari terbit. Karena itu, paket breakfast kami sangat dinikmati. Selain sarapan, tamu bisa langsung melihat terbitnya matahari. Apalagi ombak di pantai ini sangat indah, bagus untuk surfing. Jadi tamu yang
makan di resto ini bisa langsung menyaksikan orang-orang yang bermain surfing,” kata lelaki yang akrab disapa Pak Ngurah ini. Jika Anda penggemar olahraga dan suka tantangan, ada juga ATV Ride. Dengan mengambil jarak 6,5 kilometer, Anda dapat mengitari medan yang penuh ketegangan dan memacu andrenalin. Setelah berselancar selama 2 jam, kemudian Anda dapat bersitirahat sembari menikmati makanan di resto sambil bersantai. Dengan kapasitas untuk 150 orang, resto didesain untuk dua tempat, ada di kebun dan restoran. Resto ini bisa digunakan untuk berbagai suasana acara, mulai meeting, pesta ulang tahun maupun pernikahan. Rasanya, seru juga menikmati suguhan ala Wake Resto ini. Jika, ingin makan malam Anda lain daripada yang lain, sensasi ini perlu Anda pertimbangkan. Selamat mencoba. -Wirati Astiti
Gulai Kambing Pedas Sarwan Bahan: 750 gr : kambing 200 ml : santan kental 500 ml : santan encer 1 batang : serai, memarkan 2 ruas : lengkuas, memarkan 3 buah : pekak 1 ruas : jari kayu manis 200 ml : air 2 lembar : daun salam Gula, garam, kaldu bubuk, minyak secukupnya
Bumbu yang dihaluskan: 9 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 1 sdm : ketumbar 1 sdt : jinten 2 ruas : jari kunyit bakar 4 butir : kemiri bakar 2 ruas : jari jahe buah : cabe merah Cara membuat: - Potong daging kambing yang masih ada tulangnya menurut selera. - Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan daun jeruk,
daun salam, lengkuas dan serai kayu manis juga pekak. - Masukkan irisan daging kambing, aduk-aduk terus. Pindahkan ke panci, lalu masukkan air dan santan encer, masak sampai mendidih dan daging empuk. - Masukan gula, garam, kaldu bubuk juga lada bubuk, adukaduk hinga bumbu meresap, lalu masukkan santan kental, masak dengan api sedang, aduk-aduk agar santan tidak pecah, biarkan sampai mendidih, angkat. - Siap untuk disajikan dengan bawang putih goreng.
Ayam Bakar Madu Pedas Manis Bahan: 1 ekor 150 ml 5 sdm 2 sdm 3 buah 1 sdt 2 sdm
: ayam muda pejantan, belah dadanya : madu : kecap manis : irisan daun bawang : jeruk sankis : lada bubuk : saus sambal
Cara membuat: - Rebus ayam bersama jahe, serai, gula dan garam sampai matang dan ayam agak lunak, tiriskan, lalu campur madu,
kecap, lada bubuk, saus sambal dan bumbu-bumbu lainya dalam tempat agak besar, lalu masukkan rebusan ayam ke dalam campuran madu, bolakbalik hingga ayam tercampur campuran madu, diamkan selama 10 menit. - Siapkan panci gril pan, olesi dengan margarin, lalu panggang ayam dalam grill pan, bolak-balik ayam dan olesin dengan sisa campuran madu hingga ayam matang kecokelatan, siap untuk disajikan.
Lele Goreng Bacem Pedas
Bahan: 750 gr : lele, bersihkan 3 buah : cabe besar, iris serong 2 buah : cabe besar hijau, iris serong 2 sdm : bawang putih goreng 1 batang : serai, memarkan 2 ruas : jari jahe lengkuas, memarkan 150 ml : santan kental 500 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk dan minyak secukupnya Bumbu yang dihaluskan: 10 buah : bawang merah 4 siung : bawang putih 4 butir : kemiri sangria 1 ruas : jari kencur 2 ruas : jari jahe 1 sdt : jinten
Cara Membuat: - Goreng ikan lele sampai matang, tiriskan. - Tumis bumbu halus bersama daun jeruk, serai, lengkuas sampai harum lalu masukkan gorengan ikan lele, aduk-aduk hingga bumbu tercampur - Masukkan air, masak sampai mendidih dan air banyak berkurang/susut, lalu masukkan irisan cabe merah dan cabe besar hijau, aduk-aduk, lalu masukkan santan kental, masak dengan api sedang dan aduk perlahan agar santan tidak pecah, masukkan garam, gula, kaldu bubuk, masak hingga matang dan kuah berkurang. - Siap untuk disajikan, taburin dengan bawang putih goreng.
14
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Pasraman “Beji Mandala Asti”
Pentingnya Facial Sebagian besar perempuan ingin memiliki penampilan yang enak dipandang. Salah satu perawatan wajah yang banyak dipilih adalah facial. Dengan treatment ini mereka berharap terhindari dari masalah pada kulit wajah.
S
elama seseorang beraktivitas, entah berapa banyak polusi dan racun yang datang dari udara maupun penggunaan kosmetik. Semuanya itu, tanpa sadar mengotori wajah. Kondisi ini tentu wajib mendapatkan perawatan. Dengan facial bisa membuat kulit wajah kembali bersih. Facial dikenal sebagai perawatan wajah yang dilakukan seseorang agar wajahnya terjaga kebersihannya, kesehatannya, juga kecantikannya. Mereka yang peduli mengenai kecantikan kulit wajah, biasanya akan teratur melakukan facial. Karena, membersikan wajah dengan cara biasa seperti yang dilakukan seharihari, sulit mengangkat kotoran yang terlanjur mengendap. Hal ini disampaikan Upik Rustia, Manager Clinic Miracle Denpasar. Dengan perawatan facial,
Upik
berbagai kotoran yang menyumbat pori-pori dapat dikeluarkan sehingga wajah bisa segera bernafas kembali. Ini berarti juga dapat mencegah timbulnya jerawat maupun bintik hitam di wajah. Ketika melakukan facial, juga menjadi kesempatan bagi terapis menganalisa kondisi
kulit wajah kita, sehingga lebih mudah dipilihkan jenis produk yang tepat. Memang facial, bukan sekadar membersihkan wajah. Sebab, kalangan yang bergerak di bidang perawatan kulit wajah mengatakan facial terbukti juga mampu memperlambat proses penuaan dini. Apalagi secara umum facial bakal melibatkan proses pengelupasan kulit, yang mengangkat selsel kulit mati menjadi lebih segar dan bersinar. Proses penglupasan juga sangat penting sebab dapat menstimulan produksi pada kolagen dan elastin. FACIAL SESUAI KEBUTUHAN Jika produk yang diaplikasikan pada proses facial sesuai dan benar maka akan bisa digunakan sebagai upaya memberikan nutrisi pada kulit. Hal ini menjadikan kulit terasa lebih berenergi dan berfungsi optimal. Selain itu tekstur kulit pun akan terasa lebih kencang dan bebas kerut. Pada saat menjalani proses facial, terutama pada fase terakhir kita juga dapat merasakan ketenangan. Karena, facial biasanya ada menggunakan teknik pemijatan –pemijatan lembut.
11
Lima Anak dapat Rangking 1-3, Hadiahnya Wisata ke Jawa
Ada wajah–wajah gembira ditingkahi gelak tawa anakanak Pasraman “Beji Mandala Asti”. Cucuran keringat dan rasa lelah tak mematahkan semangat mereka mengikuti aneka lomba yang digelar.
Hal itu membuat otot-otot di wajah mengendur dan kulit pun menjadi lebih rileks dan segar. Apalagi kata Upik kini seiring dengan perkembangan bidang perawatan estetik yang sedemikian pesat, facial masih menjadi treatment yang di paling digemari oleh berbagai kalangan. Ia juga membenarkan jika facial rutin dilakukan minimal 1 bulan sekali, akan membuat kulit wajah menjadi cerah, tekstur kulit lebih halus dan tentu saja kulit lebih sehat. Untuk hasil yang terbaik ,lanjutnya facial yang di lakukan di Miracle Clinic Denpasar, sebelum facial juga dilakukan tahapan analisa wajah. Beauty therapist akan melakukannya dengan prosedur yang tepat, baik dan teliti. Kemudian dari hasil analisa wajah , barulah diketahui jenis facial yang sesuai dengan kondisi
atau kebutuhan kulit saat itu. Dikatakannya ada beberapa jenis atau pilihan facial yang disarankan, diantaranya acne facial, whitening facial, ataukah anti aging facial yang tentu saja telah disesuaikan dengan keperluan perawatan kulit seseorang. Acne facial misalnya, ini dikhususkan untuk mengatasi problem jerawat. Baik jerawat ringan mau pun yang meradang termasuk untuk mengeringkan jerawat serta mengecilkan pori - pori. Sedangkan untuk jenis whitening facial, sangat efektif mengatasi kulit yang kusam. Treatment ini akan membuat kulit tampak lebih cerah, kenyal serta warna kulit lebih merata . Sementara jenis anti aging facial , efektif membantu mengurangi garis-garis atau kerutan halus sekaligus mengencangkan kulit wajah. – Sri Ardhini
K
eceriaan dan kebahagiaan berlangsung ketika Pasraman menyongsong pergantian tahun baru 2015. Beberapa acara digelar, diantaranya lomba senam pramuka, lari sarung single, lari sarung berpasangan, pancing botol (memasukkan paku ke dalam botol), lari balon baik single maupun berpasangan, pindah bola, kupas kuaci dan kupas kacang. Pemilik Pasraman, Dra. Komang Komarasari Astiti M.M., yang dikenal dengan panggilan Byang Mangku dan sang suami Guru Mangku Made Sedana Putra mengatakan lomba bertujuan melatih, mengasah dan meningkatkan sportivitas, keterampilan serta ketangkasan dalam kebersamaan di kalangan anak-anak Pasraman. “Seperti biasa, di setiap kegiatan selalu diawali doa, begitu pun pada acara lomba dan dilanjutkan senam Pramuka bersama,” ujar
Byang Mangku. Dalam program Pasraman, katanya kegiatan lomba diagendakan 2 kali setahun, yakni pada Agustus untuk memeriahkan HUT Negara RI dan diakhir tahun. Akhir tahun, anak-anak berkumpul di Pasraman mulai pukul 18.00, untuk menyambut tahun baru. Acara itu pun diawali Puja Tri Sandya, doa memulai pekerjaan, menyanyikan lagu Tri Kaya Parisudha, serta doa makan ketika memulai makan malam bersama. HARAPAN BARU Hidangan shabu-shabu ala Jepang menjadi menu pilihan anak-anak ketika itu. “Kami berupaya memperkenalkan pada anak-anak, kalau yang dihidangkan adalah makanan sehat yang terdiri dari, irisan daging ayam,
Foto bersama anak pasraman
ikan laut, bola-bola cumi dan udang, sayuran, dan wortel yang dimakan dengan kuah yang hangat,” terang Byang Mangku sambil menekankan kalau shabu-shabu yang dimaksudkan adalah makanan khas Jepang yang sehat, bukan narkoba yang harus dijauhi anak-anak. Kalau sudah bersama, hujan malam tak menyurutkan semangat kebersamaan. Apalagi
anak-anak juga menantikan pembagian hadiah juara lomba dan tahun baru. Malam itu pun diakhiri renungan malam dalam hening dengan
Anak berprestasi
meditasi sejenak mengenang perjalanan yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan di tahun 2014. Selanjutnya menanamkan harapan baru yang lebih baik di tahun 2015 ini. “Kembali diikuti doa menyudahi pekerjaan dan melantunkan Puja Tri Sandya. Akhirnya pertengahan malam, anak-anak kembali ke rumah masing-masing, dijemput orangtuanya atau keluarga mereka,” katanya. Hal lain yang juga menjadi komitmen pemilik Pasraman ini, adalah pemberian hadiah atau reward . Khususnya dalam memotivasi dan meningkatkan semangat belajar anak–anak. Bagi anak yang memper-
Kegiatan meditasi
oleh rangking 1–3 di sekolah masingmasing, dipastikan mendapat reward yang diserahkan pada malam menjelang pergantian tahun baru. Di tahun 2014 lalu, tercatat, 4 anak berhasil jadi juara kelas. Mereka adalah Aditya, Ariesta, dan Putri yang di tingkat SD dan Padmi di SMP. “Namun, reward berupa kunjungan wisata ke Pulau Jawa tidak terwujud, sebab hanya 4 orang yang mendapatkan juara dari 45 peserta. Jika ada 5 orang juara, maka acara kunjungan wisata akan direalisasikan,” terang Byang Mangku. Hal ini menjadi motivasi anakanak untuk lebih lagi meningkatkan prestasi belajar mereka di sekolah. Dikatakannya, jika dalam semester 1 di tahun 2015 ini ada 5 orang peserta mampu menempati posisi ranking 1–3 di kelasnya, maka Pasraman akan mewujudkan hadiah kunjungan wisata ke Pulau Jawa. Semua yang dilakukan rutin setiap pekannya termasuk kegiatan menyambut tahun baru tersebut, bagi Byang Mangku menjadi harapan agar peserta Pasraman dapat mengamalkan Tri Kaya Parisudha (3 tingkah laku yang harus disucikan), Catur Paramita (empat bentuk budi luhur) dan Catur Guru dalam kehidupan sehari-dari. “Selain itu, kami berupaya menjaga kesehatan anak-anak dengan mengadakan pemeriksaan gigi dan mata, fisik secara berkala setiap 6 bulan sekali, dengan mendatangkan dokter ke Pasraman,” katanya. –Sri Ardhini
Bintik Berair di Kelamin Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar. “Dok, saya ingin tanya tentang keluhan di kelamin saya, tampak bintik-bintik berarir mengumpul, jika pecah rasa sakitnya luar biasa, sampai memakai celana dalam pun rasanya perih jika bergesekan dengan celana dalam. Apakah merupakan jenis penyakit kelamin yang berbahaya? Penularannya melalui apa? Apakah penyakit ini memang bisa kambuh lagi karena ini yang kedua kalinya dan bintik-bintiknya selalu sama pada daerah itu saja? (Putra-Mengwi)”
Jika dicermati secara singkat dari keluhan dan gejalanya, sepertinya yang sedang dialami adalah salah satu jenis infeksi menular seksual yaitu herpes kelamin. Tetapi akan jauh lebih baik hal ini dipastikan dengan memeriksakan diri langsung ke dokter, supaya tepat diagnosis dan tepat penanganan. Jika ini benar herpes kelamin, maka perlu diketahui bahwa herpes kelamin sering menjadi momok dan membuat stres karena sifatnya yang tidak bisa disembuhkan dan berulang. Mengapa? Karena
belum ada obat yang sanggup mengeliminasi virus penyebabnya, yaitu virus herpes simpleks, dari tubuh sejak tertular. Herpes kelamin bisa tampak di penis, vagina, termasuk di pintu dubur serta pantat dan pangkal paha. Jika virus aktif akan muncul gejala awal mulai pada hari ke 4-7 setelah terinfeksi dan berlanjut hingga minggu kedua. Akan terasa gatal di kelamin, disertai kemudian rasa panas bercampur kesemutan dan sakit. Lalu muncul bercak kemerahan berisi bintik-bintik
kecil berair, diikuti sekumpulan bintik lepuhan kecil terasa nyeri. Lepuhan ini pecah dan bergabung membentuk luka melingkar. Luka yang terbentuk ini biasanya menimbulkan nyeri dan membentuk keropeng (luka yang mengering). Luka baru akan membaik dalam waktu 10 hari tetapi bisa meninggalkan jaringan parut. Gejala lain yang sering juga menyertai adalah berupa kelenjar getah bening selangkangan biasanya agak membesar. Gejala awal ini sifatnya lebih nyeri, lebih lama dan lebih meluas dibandingkan gejala berikutnya dan mungkin disertai dengan demam dan perasaan tidak enak badan. Saat virus sedang tidak aktif, umumnya penderita tidak menampakkan gejala apapun, ia terlihat seperti orang sehat. Namun perlu diingat bahwa sekali terinfeksi -walaupun kelihatannya sudah sembuh- virus herpes simpleks ini tetap berada dalam tubuh dan sewaktuwaktu bisa kambuh. Meski tidak aktif, cairan penderita (air liur, sperma, dan cairan kelamin wanita) tetap dapat menularkan
virus pada orang lain. Tanda awal herpes kelamin yang kambuh adalah rasa gatal. Rasa gatal pada perempuan lebih ringan dibanding pada laki-laki. Rata-rata frekuensi kambuhnya adalah 4 kali pada tahun pertama. Meski demikian, jumlah kambuh mungkin saja bervariasi mengingat kondisi tubuh tiaptiap orang berbeda. Bagi yang memiliki lebih dari satu pasangan, mestinya waspada dengan penyakit ini. Makin sering berganti pasangan, risiko tertularnya makin tinggi, terlebih bagi perempuan. Faktanya, perempuan memiliki risiko terinfeksi herpes dua kali lipat lebih besar dibanding laki-laki. Hal ini dikarenakan permukaan organ kelamin perempuan lebih luas dari laki-laki sehingga memungkinkan paparan infeksi virus menjadi lebih besar. Selain resiko tertular yang lebih tinggi, penyakit herpes kelamin pada perempuan juga menimbulkan masalah yang jauh lebih banyak. Misalnya, pada ibu hamil yang menderita herpes kelamin bisa menyebabkan keguguran, gangguan saraf otak janin, hingga
kebutaan. Itulah mengapa perempuan harus pandaipandai menjaga diri agar tidak tertular berbagai infeksi menular seksual. Karena disebabkan oleh virus, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit herpes kelamin, sehingga pencegahan adalah cara yang terbaik. Kalaupun ada obat yang bisa diberikan, tujuannya adalah untuk meringankan gejala dan membantu meningkatkan imunitas tubuh. Juga yang perlu dilakukan adalah menjaga pola makan untuk dapat lebih ditingkatkan konsumsi sayur dan buah-buahan sebagai sumber vitamin dan antioksidan, mengistirahatkan tubuh dengan tidak begadang dan bekerja berlebihan sehingga mendapatkan tidur yang cukup, serta hindari stres karena kondisi stress malah akan memperburuk penyakit dan mempersering kekambuhan. Jadi, pastikan Anda memastikannya dengan memeriksakan ke dokter terlebih dahulu, sekalian untuk rekomendasi penanganan yang lebih tepat.
10
Bugar
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Imunisasi pada Remaja Oleh :
Dr. I Gusti Ngurah Twi Adnyana, SpA Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Siloam Bali
I
munisasi atau vaksinasi selama ini hampir selalu dianggap sebagai program kesehatan yang hanya diwajibkan untuk bayi dan anak balita. Padahal imunisasi juga perlu diberikan pada usia remaja sebagai upaya pencegahan terhadap berbagai penyakit yang kemungkinan menyerang pada rentang usia tersebut. Usia remaja (adolescence) berdasarkan batasan dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) adalah kelompok usia antara 10 sampai 19 tahun. Dari rentang ini masih dibagi menjadi 3 kelompok usia yaitu remaja dini (early adolescence) 10-13 tahun, remaja pertengahan (mid adolescence) 14-16 tahun, dan remaja lanjut (late adolescence) 17-19 tahun. Masa remaja adalah suatu periode pertumbuhan pesat kedua yang merupakan suatu periode terpaparnya anak pada lingkungan yang lebih luas dan beragam. Masa remaja merupakan masa dimana seorang anak akan selalu mencoba berbagai peran dan menantang berbagai risiko. Pada masa ini seorang anak rentan berhadapan dengan berbagai masalah baik pendidikan, sosial kemasyarakatan, psikologis, aktualisasi diri dan tentunya juga masalah kesehatan. Peralihan dari usia anak ke usia remaja sampai usia dewasa akan diikuti berbagai perubahan berbagai fungsi faali (fisiologi) tubuh yang salah satunya adalah faal kekebalan (fisiologi imunitas). Perubahan fungsi fisiologi kekebalan diantaranya respons terhadap paparan penyakit, kemampuan tubuh membentuk zat kekebalan sebagai respons pemberian vaksin dan toleransi tubuh terhadap tingkat keamanan vaksin.
Respons kekebalan (respons imun) pada usia remaja berbeda dengan respons pada usia anak, karena selain dipengaruhi faktor jenis kelamin, genetik dan ras juga dipengaruhi oleh faktor hormon. Upaya perlindungan (protektif) dan pencegahan (preventif) harus dilakukan lebih awal di usia remaja dengan pertimbangan untuk melengkapi bila ada imunisasi pada saat anak tertunda atau terlewat, adanya kasus penyakit yang muncul kembali setelah sekian puluh tahun dinyatakan hilang (reemerging disease) seperti beberapa kasus polio dan difteria di Indonesia yang muncul lagi, serta adanya perubahan status imun pada usia remaja. Salah satu penyakit yang tidak berbahaya tetapi memberi dampak penurunan aktivitas sehari-hari (daily activity), gangguan proses belajar dan penurunan produktivitas pada usia remaja adalah influenza. Anak usia sekolah merupakan kelompok yang paling sering terinfeksi virus influenza dengan angka serangan (attack rates) pada usia pra-sekolah (preschool age) dan usia sekolah (school age) mencapai 15%-42% per tahun. Beberapa penyakit menular seperti campak (measles), gondongan (mump), infeksi rubella dan cacar air (varicella) harus dicegah segera sebelum remaja melanjutkan sekolah yang lebih tinggi, apalagi bila akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Berbagai penyakit yang pada masa anak belum menyebabkan angka kesakitan (morbiditas) yang tinggi ternyata pada masa remaja dapat menyebabkan peningkatan angka kematian (mortalitas) seperti kanker hati dan kanker leher rahim. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Satuan Tugas Imu-
Gambar 1: Jadual Imunisasi IDAI tahun 2008
Dr. I Gusti Ngurah Twi Adnyana, SpA nisasi terus melakukan pemutakhiran terhadap jadwal imunisasi dengan berbagai pengembangan, perbaikan, penambahan komponen vaksin dan perluasan cakupan sasaran vaksinasi. Pada jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2008 rentang usia sasaran imunisasi adalah 0 sampai 12 tahun. Pada jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2010 dilakukan penambahan komponen vaksin dan perluasan sasaran imunisasi dengan mencakup usia remaja, sehingga cakupan rentang usia sasaran imunisasi menjadi 0 sampai 18 tahun. Jadwal vaksinasi paling mutakhir sesuai rekomendasi IDAI yang digunakan sampai saat ini adalah jadwal vaksinasi tahun 2014. Upaya berkesinambungan untuk pemutakhiran jadual imunisasi oleh Satgas Imunisasi IDAI bisa dilihat pada gambar. (Gambar 1) dan (Gambar 2)
Hepatitis B Data dari WHO menyatakan bahwa hampir 80% kasus kanker hati di negara endemis disebabkan oleh virus hepatitis B. Pemberian imunisasi hepa-
titis B bertujuan mencegah timbulnya kanker hati pada saat dewasa dan mencegah penularan virus dari ibu ke bayi. Pemberian imunisasi hepatitis B diperlukan bagi remaja yang belum pernah diimunisasi atau terlambat lebih dari 1 bulan dari jadwal seharusnya. Satu pertanyaan yang sering disampaikan oleh para orang tua adalah jika seseorang sudah mendapat vaksin hepatitis B lengkap pada masa anak, apakah perlu dilakukan ulangan/booster saat remaja. Pada prinsipnya pengulangan imunisasi hepatitis B tidak diperlukan lagi bagi orang yang memberikan respons yang baik pasca imunisasi. Dosis booster baru direkomendasikan apabila tidak ada pembentukan antibodi atau kadar antibodi telah menurun di bawah ambang pencegahan (kurang dari 10 μg/dl). Imunisasi regular hepatitis B pada remaja (usia 11-12 tahun) yang belum pernah mendapatkan imunisasi, masih memberikan dampak yang bermakna dalam penurunan angka kejadian hepatitis Vaksin Tetanus dan Difteri Toksoid (Td) Vaksin Td direkomendasikan untuk anak usia 10 - 14 tahun terutama remaja putri untuk mencegah kemungkinan terjadinya tetanus pada bayi yang akan dilahirkan nanti. Pemberian dosis Booster Td bertujuan memperpanjang perlindungan terhadap tetanus dan difteri. Vaksin Varisela Komplikasi dan kematian akibat varisela lebih tinggi pada kelompok usia di bawah 15 tahun. Vaksinasi varisela sebaiknya diberikan pada remaja usia 11-12 tahun yang belum mendapat vaksinasi dan belum pernah menderita varisela. Apabila diberikan pada usia kurang dari 13 tahun, vaksin dosis tunggal memberikan perlindungan antibodi lebih dari 95%. Vaksin Influenza Remaja usia 10-18 tahun meru-
Gambar 2: Jadual Imunisasi IDAI tahun 2014
pakan kelompok risiko tinggi yang dapat menderita komplikasi berat terhadap infeksi influenza. Berdasarkan rekomendasi American Academiy of Pediatrics (AAP) maupun Advisory Committee on Immunization Pactice (ACIP) maka semua anak usia 6 bulan sampai 18 tahun dianjurkan untuk mendapat vaksin influenza. Pemberian vaksin ini lebih ditekankan pada anak usia sekolah karena populasi tersebut mempunyai risiko tertinggi dibandingkan orang dewasa. Di samping itu beberapa data menyatakan bahwa pemberian vaksinasi menurunkan penularan pada sesama anak sekolah yang selanjutnya menurunkan pula transmisi influenza di rumah tangga dan komunitas.
Vaksin Hepatitis A Indonesia merupakan negra endemis infeksi hepatitis A. Pada wilayah dengan prevalensi tinggi, hepatitis A utamanya menyerang anak berusia dibawah 10 tahun dan menyerang usia remaja dan dewasa muda di wilayah dengan prevalensi sedang. Hepatitis A sebenarnya tidak mengakibatkan risiko kematian yang besar, namun karena transmisi dan laju penularan yang sangat cepat maka penyakit ini rentan menimbulkan wabah (outbreak). Oleh karena itulah, penyakit ini mendapat perhatian besar baik dari masyarakat kesehatan maupun pemerintah. Pemberian imunisasi hepatitis A merupakan cara pencegahan yang sangat efektif terjadinya wabah. Batas umur maksimal vaksinasi hepatitis A adalah antara 10 -15 tahun
Vaksin Human Papillomavirus (HPV) Human Papilloma Virus (HPV) merupakan salah satu jenis virus yang menyerang manusia. Ada sekitar 120 tipe HPV, namun sebagian besar tidak berbahaya. Strain HPV tipe 6 dan 11 tidak menyebabkan kanker, tetapi dapat menimbulkan kutil kelamin, sedangkan HPV Tipe 16 dan 18 dapat menyebabkan kanker leher rahim. Kanker leher rahim yang biasanya terjadi setelah jangka waktu 5-10 tahun setelah seorang wanita menderita infeksi human papilloma virus (HPV). Selain itu pelipatgandaan jumlah sel, pematangan dan perubahan sel leher rahim paling pesat terjadi sebelum usia 20 tahun. Segala bentuk paparan baik mekanik, kimiawi, dan infeksi yang terjadi pada periode sebelum usia 20 tahun sangat rentan menyebabkan terjadinya perubahan sifat sel ke arah keganasan. Sebagai tindak lanjut Satgas imunisasi IDAI mulai tahun 2010 melakukan pengembangan jadwal dengan merekomendasikan pemberian vaksin HPV mulai usia 10 tahun pada remaja putri.
Style
Pesona Motif Milo Migliavacca, perancang busana profesional dari Milan, Italia yang kini menetap di Bali ini, sejak tahun 1973 tak pernah berhenti berkarya. Belum lama ia kembali me luncurkan rancang annya di The Bar Mulia Resot & Villas, Nusa Dua.
Milo Migliavacca
D
i sini ia kembali mengeksplor asi keindahan dan keunikan bahan –bahan bermotif lokal maupun dari negara lain.
Kreasinya seolah tak pernah habis menghiasi dunia fashion. Setiap helai kain yang dirancang dan dikenakan para model selalu punya daya tarik dan karakter tersendiri. Desainer yang pernah dino batkan sebagai “The Original Prince of Batik Couture” ini terlihat lebih banyak menampil kan desainnya yang simpel tanpa banyak permainan. Pilihannya fokus pada pesona motif , men jadikan koleksinya tampil kasual tanpa menghilangkankan kesan elegannya. Pada koleksinya ini Milo se lain menampilkan berbagai gaun juga dilengkapi dengan kemeja untuk laki-laki. Model busana dengan aneka motif pekan ini, cukup menarik untuk menjadi referensi fashion. Bagaimana dengan Anda. - Sri Ardhini
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
15
16
Pendekar IKIP PGRI Bali Taklukkan Persilatan Dunia
Berita gembira kembali menghampiri kampus pencetak calon guru di Jalan Seroja Denpasar itu. Tiga mahasiswi Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), Ni Kadek Ratna Dewi, Ida Ayu Putu Candra Murtiadi, dan Luh Putu Eka Pratiwi, berhasil menorehkan prestasi di tingkat internasional dalam bidang olahraga pencak silat pada nomor seni beregu putri, yang berlangsung 7-16 Januari 2015 di Thailand.
“K
etiga pendekar” IKIP PGRI Bali ini turut andil dalam keberhasilan Tim Indonesia menjadi juara umum pada kejuaraan dunia pencak silat di Negeri Gajah Putih tersebut dengan mengemas total sembilan medali emas, tujuh perak dan tiga perunggu. “Tahun 2012 kami sudah pernah bertarung di nomor yang sama di Thailand dengan lawan yang sama. Waktu itu nilai kami masih sama dengan lawan berat kami Vietnam,” ungkap Dayu Candra. Belajar dari pengalaman tersebut, tiap pertandingan yang selalu diambil (direkam) gambarnya, trio pendekar silat ini mempelajari kelemahan mereka. “Syukur, tahun ini kami berhasil menggondol medali emas, nikai kami jauh melampaui mereka,” imbuh Ratna Dewi dan Luh Putu Eka hampir berbarengan. Untuk mencapai kesuksesan tersebut, ketiganya telah digodok langsung mengikuti latihan-latihan rutin di Jakarta sejak Juni 2014. “Besok kami berangkat lagi ke Jakarta
PERJALANAN wisata kali ini akan menyuguhkan betapa indahnya menyusuri sungai Musi di Palembang. Bila Anda berkunjung ke Palembang, jangan sampai melewatkan waktu untuk melakukan tur di Sungai Musi yang memiliki panjang 750 km. Karena itu pula, sungai ini tercatat sebagai sungai terpanjang di Sumatera. Dilihat dari sejarahnya, kota Palembang telah berusia lebih dari 1.300 tahun dan termasuk kota tertua di Indonesia. Kata Palembang berasal dari kata “Pa” dan “Lembang”, yang memiliki arti tempat dan Lembang berarti tergenang air. Jadi Palembang dapat diartikan sebagai tempat yang selalu digenangi air. (Buku Panduan Wisata TOURIST BOOK`S GUIDE, Pemerintah Kota Palembang, Dinas Pariwisata dan Seni Budaya). Sumatera Selatan dikenal juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya karena wilayah ini pada abad VII hingga XII Masehi merupakan
mengikuti Pelatnas untuk persiapan maju ke SEA Games Juni 2015 di Singapura,” ujar Ratna Dewi, Sabtu (19/1) saat menghadap Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. didampingi PD III FPOK I Nyoman Suarjana, S.Pd. dan Dosen Pembina, Made Sudarma. Rektor Suarta tak bisa menyembunyikan kegembiraannya akan prestasi gemilang ini. Harapannya untuk melahirkan regenerasi baru di IKIP PGRI Bali terkabul. Sudah ada Maria Natalonda lainnya—mahasiswi IKIP PGRI Bali yang berprestasi internasional dalam olahraga-- yang siap berkontribusi mengharumkan nama bangsa dan Negara Indonesia, daerah Bali, dan kampus IKIP PGRI Bali. “Dengan prestasi ini, kami berharap IKIP PGRI Bali semakin bisa eksis dengan mengokohkan diri di bidang olahraga,” ucapnya. Karena itu ia mengatakan akan lebih mengoptimalkan lagi UKMUKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang ada di kampus, baik itu di bidang olahraga, seni, dan ilmu pengetahuan. Dengan membuat UKM-UKM ini, Rektor Suarta mengaku lebih mudah memantau ak-
tivitas mahasiswa yang menonjol dan potensial. Sehingga, ketika ada kejuaraan-kejuaraan semacam ini ataupun lomba-lomba lainnya, tak perlu lagi mnyeleksi khusus, tinggal mengambil dari UKM-UKM tersebut. Dan, peluang itu dinilainya cukup besar di IKIP PGRI Bali. Dengan prestasi dunia ini, adakah semacam MoU antara Kemenpora dan Kemendikbud? Menjawab pertanyaan itu, Rektor Suarta mengaku sedang menjajagi kemungkinan ke arah tersebut, melalui atlet dan Dekan FPOK. Jalur mediasi untuk menuju ke arah tersebut sudah pula dilakukannya dengan mengundang Kemenpora 2014 lalu yang diwakili pakar olahraga, memberikan ceramah nasional di IKIP PGRI Bali. “Semoga nanti kami bisa membuat MoU dengan Kemenpora,” harapnya. Tak hanya itu, IKIP PGRI Bali juga menjajagi kerjasama lain dengan dua perguruan tinggi di Malaysia. “Rencananya, pertengahan Februari ini kami terbang ke sana. Entah itu MoU nya di bidang olahraga atau
Ketiga pendekar IKIP PGRI Bali didampingi PD III FPOK Nyoman Suarjana, dan Dosen Pembina Made Sudarma, bersama Rektor Made Suarta (tengah) dan PR I Pade Bawa
seni budaya,” ungkapnya. Melihat perkembangan IKIP PGRI Bali yang kian melaju ini, Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. beserta jajarannya sangat mendukung dengan pengembangan sarana-prasarana. “Tahun 2015, kami sudah berencana selain membangun ruang perkuliahan juga membangun gedung olahraga,” ujarnya. Rektor Suarta mengimbuhkan, peningkatan kualitas secara terus menerus dilakukan tak hanya pada sarana prasarana, namun kualitas di segala bidang, termasuk proses belajar mengajar, akademik, olahraga, seni, dan SDM. PELANTIKAN BPM & BEM Di hari yang sama, dilakukan juga Pelantikan Dewan Per-
Pelantikan BPM dan BEM IKIP PGRI Bali masa bakti 2015/2016 oleh Rektor Made Suarta
Jembatan Ampera
perlu menempuh jarak yang jauh. Cukup beberapa kilometer saja, Anda akan merasa betapa indahnya melakukan perjalanan wisata di atas alur sungai yang cukup lebar itu. Terlebih, jalur yang dilintasi memiliki nilai sejarah yang besar, seperti melaju di bawah jembatan Ampera, serta berkunjung ke Pulau Kemaro. Saat tur di Sungai Musi maka Anda akan menemukan beberapa tempat wisata menarik seperti rumah rakit khas Palembang, serta beberapa tempat ibadah klenteng. Karena itu pula, Sungai Musi sering disebut sebagai ikon pariwisatanya Kota Palembang dan Sumatera Selatan
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
9
Komitmen Usung Budaya Lokal musyawaratan Mahasiswa (DPM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IKIP PGRI Bali periode 2015/2016 di Gedung Auditorium Redha Gunawan di kampus setempat. Kepemimpinan Kadek Pande Yulia Sanjaya digantikan oleh Ni Luh Ayu Laras Setiadi sebagai Presiden BEM masa bakti 2015/2016. Pada kesempatan itu, ketiga pendekar silat putri yang telah mengharumkan nama IKIP PGRI Bali di kancah dunia tersebut juga diundang ke atas panggung. Ia berharap prestasi luar biasa yang diraih ketiga atlet silat itu bisa mencambuk mahasiswa lainnya untuk berlomba-lomba mengukir prestasi di bidang apa pun. Dan, IKIP PGRI Bali, siap memasilitasi itu semua. Rektor Suarta juga manyampaikan bahwa UKM-UKM yang ada di IKIP PGRi Bali bisa menjadi wadah dan mediasinya. Sebut saja salah satunya, UKM Teater yang rupanya sudah memiliki MoU dengan TVRI, dan akan segera memasuki proses syuting ketiga untuk sebuah garapan sinetron. “Keberhasilan lahir dari kebersamaan, prestasi lahir dari persatuan di segala lini. Teori itu enting, tetapi lebih penting tauladan,” ucapnya bijak. –ten
Pesona Sungai Musi Ikon Pariwisata Palembang
pusat kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Indonesia. Disamping itu, Sumatera Selatan sering pula disebut sebagai Daerah Batang Hari Sembilan, karena dikawasan ini terdapat 9 sungai besar yang dapat dilayari sampai jauh ke hulu, yaitu Sungai Musi, Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Kelingi, Sungai Rawas, Sungai Batanghari Leko dan Sungai Lalan serta puluhan lagi cabangcabangnya. Wisatawan yang datang ke tanah Sriwijaya ini, tidak akan lengkap bila mengabaikan tur di Sungai Musi. Tur di sungai tersebut tidak
Green School Bali
Edukasi
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Pulau kemaro (salah satu objek di alur sungai musi)
pada umumnya. Masyarakat setempat mengandalkan sungai ini untuk transportasi sehingga Anda akan melihat banyak perahu motor membawa penumpang untuk menyebrang. Kini, selain pemerintah setempat telah memiliki kapal motor yang cukup besar, sering disebut kapal pesiar lokal, untuk mengantar tamu-tamu pemerintah setempat, warga juga banyak yang memiliki kapal serupa. Kapal-kapal inilah yang bisa disewa wisatawan untuk menikmati indahnya alam di sekitar Sungai Musi. Untuk berkeliling Sungai Musi,
pengunjung harus menggunakan perahu motor yang dapat disewa di bawah jembatan Ampera, tepat di depan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II atau di depan Benteng Kuto Besak. Biasanya pengunjung berdatangan pada sore hingga malam hari untuk menyaksikan matahari terbenam dan suasana malam yang diterangi lampu-lampu di sekitar sungai. Pada malam Minggu atau malam liburan lainnya, biasanya jumlah pengunjung yang mengunjungi jembatan Ampera dan sekitarnya akan lebih banyak. -Asmara
Dari sekian banyak sekolah internasional yang ada di Bali, Green School Bali memiliki konsep yang benar-benar berbeda. Sekolah yang memberikan pendidikan tentang lingkungan hidup yang menakjubkan dengan metode pendidikan berbasis holistik ini memiliki komitmen untuk mengusung kearifan lokal demi menjaga harmoni dengan lingkungannya.
K
omitm e n G re e n School dalam merangkul kearifan lokal bisa dilihat pada programprogram yang bernapaskan seni budaya Bali, yang diangkat menjadi kegiatan formal, bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. “Ini masuk dalam mata pelajaran sehari-hari,” jelas Giyan Antari, Communication Assistant Green School Bali. Di Green School terdapat Kelas Budaya Indonesia yang meliputi pembelajaran mengenai budaya Bali. Selain itu, Green School juga memiliki mata pelajaran Budaya Bali yang merupakan salah satu mata pelajaran spesialis yang ditawarkan pada seluruh murid Green School. Kelas ini secara spesifik mengajarkan mengenai memanah Bali dan Mepantigan. Dalam prosesnya, kelas ini juga diperkenalkan dengan macam kain tridatu, kain poleng, dan kearifan lokal lain yang ada di Bali. Selain itu, mereka juga diajarkan tari topeng yang sudah dikombinasikan. “Hal ini kami lakukan agar seni budaya Bali itu lebih berwarna, dan lebih banyak variasi agar tidak membosankan,” tutur Putu Witsen, guru Budaya Bali di sekolah hijau ini. Seniman Bali yang sudah melanglang buana ini juga mengenalkan bentuk penghormatan kepada pertiwi dengan mengajak anak-anak bermain di kolam lumpur. Dalam kesempatan itu, Putu Witsen menjelaskan bahwa orang Bali yang makanannya adalah nasi yang berasal dari padi, ditanam di tanah berlumpur.“Mereka harus r espect terhadap pertiwi melalui media lumpur itu,” tegasnya. Bahkan terkadang, anak-anakdiajak minum memakai ceret yang terbuat dari perpaduan antara air dan tanah. Konsepnya jelas, menghormati air dan tanah melalui cara minum orang Bali. Dengan menghormati air
dan tanah inilah terjadi keseimbangan sehingga sejuk. Pengajaran di kelas Budaya Bali ini bervariasi. Ada mepan tigan, jegog,juga monkey jumping yang dilakukan di sungai di belakang sekolah.
JEGOG Gamelan khas Kabupaten Jembrana, Bali ini memiliki daya tarik tersendiri tak hanya bagi siswa Green School, namunjuga para staf yang kini mulai turut berlatih di waktu senggang mereka. Hal ini d i s a m p a i k a n Ke t u t Nentrem, guru pelatih jegog yang belum lama ini mementaskan jegog bersama siswa Green School dalam sebuah acara sekolah, setelah 3 bulan berlatih. Di Green School, jegog diajarkan pada beberapa kelas tiap Selasa dan Jumat, dan tiap bulan dipentaskan. Mereka diajarkan nada yang sederhana dengan bantuan angka (solmisasi). KetutNentrem menjelaskan, gamelan jegog dengan 8 bilah daun itu merupakan seperangkat gamelan yang dibuat dari bahan bambu dengan bentuk dan ukuran yang besar. Ketika seperangkat instrumen jegog ini dimainkan oleh beberapa orang dengan
suara yang berbeda-beda, menghasilkan suatu nada yang harmonis. Itulah mengapa kini jegog makin mendapat tempat di hati siswa maupun staf Green School. Untuk sementara, mereka berlatih jegog di Ruang Sangkep. Sesuai dengan namanya, sangkep (Bahasa Bali) dalam Bahasa Indonesia berarti rapat. Di ruang terbuka seperti aula ini pun kerap difungsikan sebagai ruang pertemuan antara staf, guru, kepala sekolah, maupun tempat berkreativitas siswa. Di Ruang Sangkep ini, menurut Giyan Antari, tiap Jumat pagi dipakai sebagai tempat breakfast
Kelas Memanah yang diajarkan Putu Witsen
sembari mendengar wejangan-wejangan, arahan dan motivasi dari kepala sekolah. Tempat ini juga menjadi tempat mengapresiasi dan berkoordinasi. “Misalkan kemarinnya ada yang membantu kita, di sinilah biasanya kami mengucapkan terimakasih atas bantuannya tersebut. Di sini terjalin rasa saling menghargai satu sama lain,” ucapnya.
MAKANAN HIGIENIS Untuk urusan makanan bagi 500 orang murid, guru, dan staf di Green School dita ngani oleh Kadek Lastrini, head kitchen Green School. Setiap harinya, disiapkan dua menu pilihan, yakni masakan internasional dan masakan Indonesia. Menu tiap hari dikombinasikan, seperti sushi, hamburger, pizza, dll. untuk menu internasional, dan gado-gado, nasi goreng, sate, sambal matah, dll., untuk menu Indonesia. Untuk pilihan lain, mereka juga bisa mengunjungi Warung Green yang menyediakan raw food dan menu sehat lainnya dan dijamin higienis. Meski tak berlatar belakang chef, oleh pendiri Green School Bali, pasutri John A.Hardy bersama Cynthia Hardy, Bu Kadek kerap dikirim belajar langsung kepada ahlinya. Bahkan, ketika berkesempatan ke India bersama pasutri tersebut, Bu Kadek dikirim ke sebuah kampung tradisional di India belajar masak langsung di rumah orang India tersebut. Ini dikatakan Bu Kadek semacam tantangan. Bu Kadek juga mengerti betul selera pasutri tersebut yang tak mau merubah taste original dari sebuah masakan. “Boleh saja memodifikasi untuk kreatifitas, tapi basic jangan dilupakan,” ucap perempuan yang sudah 18 tahun bergelut dalam urusan masak-memasak ini. Yang paling penting dalamkegiatan memasak ini dikatakan Bu Kadek adalah selalu menjaga kehigienisan makanan mulai dari proses hingga penghidangannya, serta menjaga mood dalam memasak karena akan sangat berpengaruh kepada rasa makanan. Untuk segala urusan dapur ini, ia dibantu 9 staf yang merupakan ibuibu rumah tangga dari masyarakat sekitar (lokal). Menariknya, Green School tak hanya me nerapkan prinsip sustainability (keberlanjut an) dari konsep bangunan, fasilitas sekolah, dan kegiatan akademis, namun juga hingga ke urusan dapur. “Konsepnya sustainable, semua saling mendukung. Sampai kotoran dapur pun bisa terpakai dengan diolah menjadi kompos,” jelas Bu Kadek. Karena di sekolah ini juga ada kebun, diakui Bu Kadek, tak jarang anak-anak melihat langsung bahkan ikut memetik cabe serta turut melihat dan mengerjakan di dapur. “Jadi mereka respect sekali. Mereka tahu darimana asal makanan dan tahu benar makanan yang mereka makan,” tutur Bu Kadek. KULKUL CONNECTION Selain program beasiswa yang diberikan kepada 34 anak lokal Bali, Pembina Yayasan KulKul yang menaungi Green School, Dr. Tirka Widanti, mengatakan ada juga program ekstra
kurikuler bagi mereka yakni les Bahasa Inggris gratis. Program ini merupakan bentuk kontribusi Green School kepada masyarakat sekitar, yang dilaksanakan setiap hari, Senin sampai Jumat. “Sekarang sudah ada 7 kelas, dengan jumlah total 111 anak,” ujar I Made Soma, S.Pd., foreign language teacher, yang mengkoordinatori kegiatan ini. Kelas ini dikelompokkan berdasarkan usia, dan masing-masing kelompok dibedakan lagi berdasarkan tingkat kemahiran anak. Soma mengatakan, dalam pengajarannya mengadopsi kurikulum milik sekolah Bapak Tim Fijal di Kanada. “Semua materi Bahasa Inggris sama seperti umumnya, hanya saja ditulis penuturasli/native speaker,” jelas Soma. Tiap tahun, pesertanya bertambah. Tahun pertama diikuti 90 anak, dan hingga saat ini total 111 partisipan yang bergabung dalam kelas ini, didahului dengan wawancara. Mereka yang akhirnya berkesempatan ikut dalam kelas
ini, bukan dilihat kemampuannya, namun lebih kepada komitmen mereka untuk mengikuti pelajaran ini. Dari semua anak yang ikut dalam kelas yang sudah berlangsung sejak 2013 ini, Soma mengatakan mereka sangat antusias. Kalaupun ada kendala, lebih kepada jadwal kelas Kulkul Connection yang berbenturan dengan jadwal kegiatan lain atau les mereka di luar sekolah. Dan, meski pengakuan para orangtua murid yang mengatakan pengajaran Bahasa Inggris di sekolah anak mereka berbeda dengan di KulKul, Soma berkeyakinan program Green School yang memberikan pengajaran Bahasa Inggris pada anak-anak lokal ini pasti ada dampak positifnya. Dari Kulkul Connection ini, Green School ingin menunjukkan bahwa sebenarnya Green School tak menutup diri dengan lingkungan, Green School adalah milik masyarakat, milik bersama. Di kelas formal, Soma mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMA dimana 80% bahasa pengantarnya memakai Bahasa Indonesia. Pelajaran Bahasa Indonesia ada di semua tingkatan. Sebagai guru Bahasa Indonesia untuk orang ekspatriat, ia memposisikan dirinya sebagai teman agar mereka nyaman menerima materi. Dan yang paling menarik adalah, sebutan untuk semua guru pengajar di Green School adalah “Bapak” dan “Ibu”, bukan “Mr.” atau “Miss” seperti yang dipakai sekolah internasional pada umumnya. –ten
8
Bunda & Ananda
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Belajar Toleransi dari Nonton TV Bersama Pada zaman dulu, televisi (TV) merupakan barang mewah. Satu desa mungkin hanya ada satu TV. Tetapi, seiring perkembangan zaman, televisi bukan lagi barang mewah. Satu rumah minimal memiliki satu TV. Bahkan ada yang satu kamar berisi satu TV. Bagaimana jika kamar anak-anak juga berisi TV. Apa dampaknya bagi mereka? Anita Avianty
“K
Suasana menonton TV di kamar
ami hanya punya satu TV yang ditempatkan di ruang keluarga. Kami langganan TV kabel plus internet dan telepon. Jadi semua ditaruh di ruang keluarga. Kalau mau naruh TV di kamar, perlu biaya lagi untuk beli TV,” ungkap Parama Dewi, ibu rumah tangga yang memiliki tiga putra. Ia menuturkan anak-anaknya suka nonton film kartun. Itu pula salah satu alasan ia dan suaminya untuk berlangganan TV kabel. Namun, Dewi tak melepas begitu saja anak-anaknya menonton TV. Ia kerap mendampingi anak-anak. “Ada hikmahnya ketika kami hanya punya satu TV. Anak-anak belajar toleransi terhadap orangtua dan saudara. Mereka harus saling mengalah dalam urusan pemilihan acara yang mau ditonton. Tapi, namanya anak-anak kadang berantem sebentar, lalu rukun lagi,” ujar wanita asal Sukawati, Gianyar ini. Ia mengaku kadang harus berteriak untuk mengingatkan anakanak waktu nonton TV sudah habis dan berganti waktu belajar. Idealnya, Dewi mengatakan akan lebih bagus kalau tidak ada TV di rumah karena waktu senggang bisa dimanfaatkan dengan ngobrol bersama anggota keluarga. Namun, karena perkembangan teknologi makin canggih dan informasi sangat cepat, orangtualah yang harus pandai mengatur. Pengalaman serupa diungkapkan Anita Avianty yang memiliki dua putri. “Bagi saya, kamar tidur adalah tempat untuk istirahat. Kalau istirahat ya tidur, bukan nonton TV. Kalau belajar, kami gunakan
ruang perpustakaan. TV kami tempatkan di ruang tengah sebagai public area,” ujar Sr. Manager CSR & Corporate Communication Services XL ini. Pengaturan ruang ini sudah dibahas dengan anak-anak sejak awal. “Mereka sempat keberatan karena ada temannya yang punya TV di kamar. Saya sampaikan tiap rumah punya aturan masingm asing. Anak-anak akhirnya mengerti. Saya memberi kelonggaran dengan menyiapkan audio saja di kamar. Kadang-kadang RALAT Terdapat kekeliruan keterang an foto pada tulisan di rubrik “Bunda & Ananda”, tertulis “AA Ngurah Yuliartha” seharusnya “AA Kartika, S.H.”. Redaksi mohon mohon maaf atas kekeliruan tersebut.
AA Kartika, S.H.
mereka nonton juga melalui gadget saat di kamar,” imbuh wanita yang sudah 9 tahun berkecimpung di dunia telekomunikasi ini. Seperti halnya Dewi, Anita juga memilih berlangganan TV kabel. Namun, ia sudah mengingatkan anak-anaknya mana saluran yang boleh ditonton anak-anak. Tetapi, kadang PRT yang iseng nonton infotaiment atau sinetron. Anita juga menegaskan TV bukan segalagalanya karena masih ada hal lain yang bisa dikerjakan. Anak-anaknya pun ternyata tidak tiap hari bisa menonton TV karena mereka sibuk sekolah, les, dan kegiatan lain. Waktu yang paling lowong untuk menonton TV hanya hari Sabtu. Jika Dewi dan Anita memilih pola satu rumah satu TV, beda dengan Sekar yang menempatkan TV di kamar anak sulungnya. “Anak saya suka main play station (PS), TV yang ada di kamar hanya dipakai untuk main PS. Kalau dia mau nonton acara TV, dia ikut di kamar saya,” ujar ibu tiga anak ini.
DAMPINGI ANAK SAAT MENONTON Dari berbagai pengalaman ibuibu ini, Lyly Puspa Palupi Sutaryo, M.Si, Psi mengatakan lebih banyak negatifnya jika menempatkan TV dalam kamar anak. Ia salut dengan apa yang dilakukan Dewi dan Anita karena sudah meminimalkan anak kecanduan TV. “Fungsi kamar tidur untuk istirahat. Kalau ada TV malah mengganggu. Idealnya, TV ditempatkan di ruang keluarga yang bisa diakses bersama. Saat menonton pun, orangtua atau orang yang lebih dewasa wajib mendampingi untuk memberikan pemahaman tentang acara-acara yang ditampilkan. Tidak semua acara ditujukan untuk anak-anak,” ujar psikolog yang menyelesaikan pendidikan S1 di Unika Atmajaya Jakarta dan S2 di Universitas Indonesia ini. Menonton bersama ini juga melatih rasa toleransi, negosiasi, atau kompromi. Anak-anak memiliki fase meniru. Apa yang dilihat bisa ditiru. Demikian juga dengan tayangan TV. Kadang anak-anak merasa apa yang ada di TV itu nyata sehingga langsung ditiru. Karena itu, perlu penjelasan bahwa acara yang ditampilkan ada yang hanya akting. Selain itu, kalau anak terlalu sering menonton TV juga tidak bagus. Anggota Himpsi Bali ini mengingatkan orangtua harus meminimalkan anak berada dalam ruangan dalam keadaan serba ada apalagi membiarkan anak hanya dengan TV dan PS serta menyiapkan semua keperluan dengan alasan agar anak tidak kemana-mana. Sekali waktu anak harus diberikan bersosialisasi dan melakukan permainan tim. Kalau anak sudah
berada di zone nyaman (hanya di dalam kamar), mereka akan enggan untuk keluar dari zone itu. Ini akan berdampak di masa depannya. Daya juang anak menjadi kurang karena tidak pernah dipacu untuk berusaha mendapatkan sesuatu harus melalui usaha. Mereka juga cenderung menjadi pemalu dan kurang percaya diri. Orangtua juga memiliki tugas berat karena bisa mengatur waktu untuk mendampingi anak saat menonton TV. “Orangtua perlu memiliki wawasan tentang acara yang ditonton. Ketika anak bertanya, orangtua bisa menjawab. Atau, lakukan diskusi setelah menonton TV sehingga anak-anak tidak menelan bulat-bulat apa yang ditampilkan di TV. Ini memang tugas yang berat dan dilematis karena di satu sisi ada orangtua yang sibuk berkarier sehingga waktu untuk anak terbatas,” ujar staf Bagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RS Sanglah ini. Lyly memberikan solusi bagi orangtua yang sibuk. Antara orangtua dan anak harus membuat kesepakatan, kapan waktu untuk menonton TV, kapan waktu belajar, kapan waktu bermain, dan kapan waktu istirahat. Semua harus disepakati bersama. Semua harus punya komitmen untuk melaksanakan kesepakatan itu. –Ngurah Budi
Made Taro
di warung,” katanya. Ia bergegas menuju warung. Di sebuah tikungan ia mendengar seorang nenek mengomel, tetapi omelannya seperti melafalkan mantra. Pemuda itu penasaran, ingin mengetahui apa yang terjadi. Dari sebuah celah dinding, ia melihat nenek tua itu memasang panci di atas kompor. Ia mengambil satu sendok beras, mencampurnya dengan bumbu, lalu menuangkannya ke panci. Sambil menempelkan kedua tangannya ke dada, nenek tua itu berucap : “Wo, wo, wo, … hem hem sir sir, maliung liang laham piyes.” Ucapan itu diulang tiga kali. Apa yang terjadi? Dari panci itu meleleh bubur berbau sangat gurih. Pemuda itu membatalkan rencananya ke warung. “Buat apa susah-susah, kalau telah kutemukan jalan pintas!” pikirnya. Ia berlari pulang. Sesampai di dapur, ia memasang panci di atas kompor. Kemudian menuang-
Beragam Bentuk Kerajinan Rotan
Lyly Puspa Palupi Sutaryo
kan satu sendok beras bercampur bumbu. “Wo, wo, wo … hem hem sir sir, maliung liang laham piyes,” ucapnya sambil berdiri tegak dan menempelkan kedua tangannya di dada. Setelah ucapan pertama, ia melihat berasnya yang satu sendok itu menjadi bubur. Ucapan kedua, ia melihat bubur yang beraroma gurih itu memenuhi panci. Dalam ucapan ketiga, ia melihat bubur gurih itu meluap. Ia segera mengambil sebuah piring. Piring itu penuh bubur. Ia ambil lagi sebuah piring. Penuh! Ia ambil dandang. Penuh, penuh, penuh! Bagaimana itu? Bubur itu meleleh terus, memenuhi kompor, meleleh ke lantai, memenuhi dapur, lalu meleleh ke halaman, meleleh ke rumah tetangga, meleleh ke jalan raya, dan …. meleleh sampai ke halaman rumah nenek tua. Nenek tua itu berlari-lari menuju asal bubur itu. Didapatinya mahasiswa itu bergelantungan di sebuah pohon sambil berteriak minta tolong. Dari tempatnya bergelantungan, mahasiswa itu melihat sang nenek masuk dapur. Sesaat kemudian tak ada lagi bubur yang meleleh. “Anakku!” kata nenek itu kepada sang mahasiswa. “Ilmu tidak dapat dipelajari dalam waktu singkat dan setengah-setengah. Kamu bisa memulai, tetapi tidak bisa mengakhiri.”
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
17
Salah satu material alam yang bisa menjadi pilihan furnitur Anda adalah rotan. Dibandingkan dengan kayu yang juga menampilkan kesan alami, rotan memiliki beberapa keunggulan yakni lebih ringan, kuat, elastis/mudah dibentuk, dan tentunya lebih murah.
K
Mendongeng Lima Menit Bubur Sarapan Pagi Di sebuah rumah kecil, tinggal seorang mahasiswa. Pagi-pagi benar sebelum berangkat kuliah, ia ingin memasak untuk sarapan. Sial, sisa beras masih satu sendok makan. “Lebih baik aku membeli sarapan pagi
Griya
arena sifatnya yang elastis itu pula, rotan tak hanya dimanfaatkan sebagai furnitur, namun juga dianyam menjadi dekorasi atau perlengkapan rumah lainnya, seperti kap lampu, ayunan bayi, tempat jemuran, tempat baju kotor, hingga pernak-pernik kecil lainnya seperti tatkan gelas atau piring. Semua tergantung dari kreasi si pengerajin. Siti Rohana (42), pemilik Surya Linda Jaya, pengerajin rotan yang sudah 23 tahun menggeluti bisnis ini bersama suaminya Kamim Tohari, mengatakan kerajinan rotan yang diproduksinya di sini (Bali), bahan bakunya dipasok dari daerah Jember, Surabaya, dan Kalimantan. Produk rotan yang paling banyak diminati pasar adalah kursi. Satu set kursi lengkap dengan dudukan spon, yakni 2 kursi single, 1 sofa dengan 3 dudukan, dan 1 meja ditawarkan mulai Rp 4,5 juta. Produk-produk rotan ini kerap pula dikombinasikan dengan material lain, seperti kayu, besi, bambu, dan enceng gondok, yang disesuaikan dengan konsep
atau kesan yang ingin ditampilkan konsumen. Demikian halnya dengan pilihan finishing. Finishing sangat berperan besar memberikan keindahan pada produk rotan. Meski saat ini pilihan warna lebih bervariasi seperti warna-
masih menjadi primadona karena nuansa naturalnya. Tahapan finishing produk rotan, utamanya furnitur, diawali dengan membersihkan permukaan rotan dari debu, minyak, wax, dll., mengurangi kandungan air pada rotan dengan cara pemanasan (oil bathing treatment). Ada 4 teknik finishing rotan. Pertama, natural coating, yakni dengan mengamplas halus furnitur rotan dan diberi sanding sealer, kemudian diberi pelapis akhir dengan menggunakan clear coating (cat tranparan). “Dengan proses tersebut, serat-serat rotan akan tampak lebih alami. Warna rotan yang putih kekuningan atau kuning kecokelatan akan muncul dengan pesona naturalnya,” jelas
Siti Rohana
pat memberikan kesan antik atau klasik yang disebabkan oleh kedalaman nuansa warna gelap-terang yang diciptakannya. Produk ini diaplikasikan dengan cara dikuas, kemudian dibal (wipping). Keempat, stain. Jika menginginkan furnitur rotan berwarna gelap dapat dilakukan proses finishing dengan menggunakan stain. Rotan akan mendapatkan warna
yang sama, senada, atau seragam dan merata jika dicampurkan dengan sanding-sealer. Kemudian kursi rotan diberi cat pelapis (top coating) transparan. Untuk menjaga furnitur rotan Anda tetap awet, Siti Rohana menyarankan untuk tidak terpapar sinar matahari langsung ataupun terkena air. “Akan lebih awet jika diperuntukkan interior,” tegasnya. –Inten Indrawati
Tips praktis merawat furnitur rotan agar tahan lebih lama :
warna fancy yang cenderung sedikit kehijau-hijauan, cokelat tua, bahkan hitam, putih, abuabu, atau ada juga yang dibuat seperti warna kursi klasik dan antik, namun warna cokelat, kecokelatan, kuning, dan krem
perempuan asal Lumajang, Jawa Timur ini. Kedua, fancy colour. Fancy adalah ragam produk pengecatan yang dapat menciptakan efek unik pada hasil finishing furnitur rotan. Produk-produk yang termasuk dalam kelompok fancy adalah fancy sealer yang memberi efek warna pastel semi transparan, fancy pearl yang memberi efek kilauan mutiara dan fancy glitter yang memberi efek metalik. Ketiga, water based glaze. Teknik ini adalah pewarnaan poripori kayu berpengencer air yang tidak berbau (ramah lingkungan), dan cepat kering. Karena mewarnai pori-pori, produk ini dapat mengekspos keindahan serat atau tekstur dari substrat yang digunakan. Bila Water Based Glaze ini diaplikasikan pada lekukan-lekukan ukiran atau sela-sela anyaman, da-
- Gunakan lap kering untuk menghilangkan debu. Lakukan pembersihan tersebut minimal seminggu sekali. Jangan gunakan bahan kimia karena dapat merusak rotan. - Untuk membersihkan kotoran serta debu yang terdapat di selasela, gunakan detergen cair, jangan terlalu tebal. Setelahnya, lap dengan kain kering. - Jika warna rotan sudah terlihat pudar, cat kembali agar warnanya tetap terlihat cantik. - Agar terhindar dari rayap, gunakan larutan kamper dan minyak tanah. Cukup semprotkan larutan tersebut pada rotan atau masukkan dalam lubang pada furnitur rota yang dibuat oleh rayap.
18
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Janganlah melupakan sebuah pengalaman. Baik itu pengalaman me nyenangkan, sedih, gembira, mengecewakan ataupun menyakitkan. Sebab, dalam pengalam an itu terdapat proses pembelajaran sebagai bekal hidup untuk menuju kebahagiaan. Seperti pepatah mengatakan, “Pengalaman adalah guru yang paling utama”.
P
esan itulah yang tersirat dalam karya seni berjudul “Tari Kreasi Janmantara”. Karya seni berdurasi 11 menit itu merupakan karya dari I Made Nova Antara, S.Sn, seorang seniman muda dari Desa Legian, Kuta. Tari Janmantara dipentaskan pada saat Ujian Akhir Sarjana Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar 2013 silam. Sebagai penggarap tabuh I Gede Arnawa dan didukung penabuh dari Sekeha Gong Banjar Sedang, Abiansemal – Badung. Meski dengan konsep sederhana, namun mampu menghasilkan karya seni yang baik, artinya bisa diterima di kalangan masyatakat. Idenya lahir dari pertunjukan Dramatari Arja RRI Denpasar yang mengangkat cerita panji yaitu Pangeran Kodok. Cerita tersebut kemudian dikemas dalam seni kelompok kecil yang didukung 7 penari laki-laki. Dalam karya seni itu, Made Nova Antara tampak lihai mengungkap cerita panji khususnya karakter Prabu Jenggala. Kelahirannya sebagai Pangeran Kodok, tidak membuatnya bersedih. Dengan kesaktian yang ia miliki tidak menjadi sombong. Justru lebih banyak bersyukur dan berbuat baik. “Mengangkat karakter, menjadi tantangan saya,” kata koreografi yang biasa tampil sebagai penggarap tari kreasi Kabupaten Badung.
a r a t n a m n a J Tari Kreasi
Kreasi
Pengalaman Itu sangat Berharga
Di samping mengutamakan karakter, dalam garapan itu Nova juga lebih banyak menampilkan permainan busana. Gerakan melepas kostum itu ditarikan, artinya ditata sehingga menjadi sangat indah. Mulai dari gerakan melepas kostum dengan ge rak tari yang dijiwai, sehingga menjadi satu kesatuan dalam tari yang indah. Busananya, memakai gelung an lengkap dengan bancangan sebagai identitas dari kesenian arja. Demikian juga memakai sesaputan yang sudak dikreasikan. Pada umumnya sesaputan menjadi satu, namum dalam karya ini dibelah menjadi dua, sehingga kain bisa dibawa ke atas sebagai latar penokohan. Artinya, penggunaan saput lebih dikembangkan menjadi indah. Dalam penyajiannya, dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu pada bagian flash back yang menceritakan Prabu Jenggala berterima kasih kepada Bhatara Siwa yang memberikan anugrah dengan wujud tampan (setelah menjadi godogan). Dalam adegan papeson menggambarkan karakter Prabu Jenggala yang bijaksana, tegas, dan berwibawa dalam memimpin kerajaannya.
Dalam adegan ini digambarkan gerakan-gerakan pengarjaan yang sudah dikembangkan, seperti gerak nyemprot, tetanganan, nabdab gelung dan lainnya. Kekhasan dari tari arja dikreasikan sehingga menjadi gerak tari yang baru. Pa d a b a g i a n pengawak, menceritakan Prabu Jengala yang teringat saat dirinya menjadi seekor godogan (kodok). Dalam adegan ini
lebih banyak menyajikan pendramaan dengan gerak-gerak mencerminkan kesedihan dan perasaan yang menjadi pengalaman sangat berharga bagi dirinya. Pada bagian pengecet, tari ini mengangkat pikiran Prabu Jenggala yang pernah menjadi kodok. Hal itu kemudian digambarkan oleh para penari yang berubah wujud menjadi kodok. Para penari itu melepas pakiannya dengan gerakan-gerakan yang betul-betul tertata. Selanjutnya mereka menari kodok yang riang, penuh canda, menggoda yang terkadang mengundang tawa. Prabu Jeng-
gala teringat lagi bahwa dia seorang raja, maka ketika melihat kodok ia menyayangi kodok tersebut termasuk ciptaan Tuhan lainnya. Nova Antara mengatakan, pengalaman itu sangat berharga. Baik, buruk, menyakitkan ataupun menjengkelkan tetap menjadi pembelajaran buat diri sendiri. “Lewat garapan ini, saya tak hanya menghibur masyarakat. Lewat sajian seni ini juga mengingatkan kepada semua orang bahwa pengalaman itu sangat berharga. Karena itu cermin kita untuk melangkah ke depan,” ungkap mahasiswa Pascasarjana ISI Denpasar ini. -Darsana
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
7
Abaikan Teror SMS, Selamat dari Penipuan Beberapa waktu lalu, Mariam (42) tibatiba menerima telepon dari nomor yang tidak dikenalnya. Biasanya, jika nomor yang masuk ke telepon genggamnya tidak dikenal, Mariam cenderung mengabaikannya. Namun entah mengapa hari itu, ia iseng menerima panggilan tidak dikenal tersebut. Dari ujung telepon itu, seorang perempuan tiba-tiba menangis sambil memperkenalkan dirinya bernama Tutik (bukan nama sebenarnya), sebagai kawan SMA dari Mariam. “Saya tertegun men coba mengingat. Namanya saya ingat, tapi butuh beberapa waktu untuk mengingat orangnya yang mana di antara ba nyak teman SMA saya,” kata Mariam.
W
ajar saja jika Mariam lupalupa ingat pada Tutik. Ia hanya pernah satu kelas dengan Tutik (42), saat kelas satu SMA di Bima, tahun 1990. “Sudah 25 tahun yang lalu karena kelas 2 SMA saya pindah ke Jakarta,” kata Mariam. Mariam tentu saja senang bisa menyambung kembali tali silaturahmi dengan Tutik setelah sekian lama tidak pernah berkabar, sejak berpisah seperempat abad yang lalu. Awalnya, Mariam yang kini menetap di Mataram itu berpikir, Tutik menangis karena senang bisa bertemu kembali dengan Mariam, kawan SMA-nya. Telepon pertama itu, cukuplah membuat Mariam menemukan kembali kawan lamanya. Nomornya disimpan dan Tutik mengatakan kerinduannya untuk bertemu dengan Mariam. Seminggu berlalu. Mariam kembali menerima telepon dari Tutik. Mereka mengobrol biasa dan berakhir begitu saja. Dua hari kemudian Mariam mene rima pesan pendek dari Tutik. “Kawanku Mariam, berkenanlah meminjamkan uang padaku Rp 1 juta, untuk menambah kebutuhan dalam proyek jalan yang sedang dikerjakan suami saya. Nanti jika uang terminnya keluar dua minggu lagi akan saya ganti. Terima kasih, dari kawanmu Tutik,” itu bunyi SMS yang membuat Mariam merasa kaget. Mariam yang yang dikenal oleh Tutik sebagai juara kelas ini, tidak langsung membalas SMS tersebut melainkan sempat berfikir beberapa saat. 25 tahun tidak pernah menjalin komunikasi dengan
Tutik yang sesungguhnya bukan sahabat melainkan hanya kawan biasa, Mariam menyadari bahwa selama itu ia tidak tahu tentang perkembangan kehidupan Tutik. Ia hanya tahu dari cerita Tutik bahwa kini Tutik telah memiliki dua orang anak dan mereka sempat tinggal di Jakarta lalu pindah ke Lombok. Tidak lebih dari itu. Tiba-tiba Tutik datang meminjam uang Rp 1 juta, sungguh agak tidak masuk akal baginya mengingat ia mengatakan bahwa suaminya memiliki pekerjaan sebagai kontraktor. “Kalau pinjam uang Rp 100 juta mungkin lebih masuk akal buat saya,” katanya. Dari sanalah Mariam memilih diam, tidak membalas SMS tersebut. Namun, “teror” SMS kawan SMA-nya itu terus berlanjut. Tutik terus menerus menelepon dan mengirimkan pesan pendek selama berhari-hari. “Saya balas SMS tersebut dengan mengatakan bahwa saya tidak memiliki uang saat itu,” kata Mariam. Lagi-lagi keesokan harinya, Tutik terus mengirim SMS tidak henti-hentinya. “Saya bukannya tidak mau membantu tapi rasanya ini permintaan tidak wajar,” katanya. Selang beberapa waktu, Tutik kembali mengirim pesan pendek yang lagi-lagi hendak pinjam uang. “Kali ini alasannya dia sudah tidak punya uang sama sekali, untuk makan dan kebutuhan anak-anaknya,” ujar Mariam yang sempat merasa, apakah ia begitu tega tidak memberikan pinjaman pada orang yang membutuhkan. Mariam terus menelisik dan “membaca” pikiran Tutik. Hanya selang beberapa hari, Mariam kembali “diteror” SMS Tutik
tkh/net
yang kali ini minta pinjam uang lagi alasannya anaknya sakit dan masuk rumah sakit. “Ini alasan terus berubah dan makin tidak masuk akal,” katanya. BANYAK YANG KENA TIPU Meski pun SMS dan telepon tidak pernah dibalas oleh Mariam, Tutik tidak pernah menyerah untuk berusaha. Logikanya, kata Mariam, jika orang sudah tidak mau membalas SMS berarti harusnya tahu diri bahwa ia tidak disukai. Tapi Tutik seperti mati rasa dan benar-benar bermuka tembok. Di sinilah ia menduga, bahwa Tutik tidak hanya menghubunginya untuk hal yang sama, melainkan juga kemungkinan sudah banyak orang yang ia “tipu”. Sampai akhirnya seminggu kemudian, Tutik kembali mengirim pesan pendek. “Kawanku
Mariam, tolonglah saya mau pinjam uang, anak saya sakit, belum bayar sekolah. Uang saya habishabisan untuk membiayai pencalonan suami saya saat pemilihan anggota legislatif (Tutik menyebut partainya). Suami saya gagal, uang saya habis. Sekarang, saya ditinggalkan oleh suami saya. Setelah habis-habisan saya tidak lagi punya apa-apa, saya hendak diceraikan. Tolonglah kawan,” bunyi SMS Tutik kepada Mariam. Mariam makin berhati-hati ketika menerima SMS terakhir ini. Ia pun mencoba menghubungi beberapa kawan SMA-nya yang lain untuk mencari informasi tentang Tutik. Tiga orang pertama yang dihubunginya, memiliki cerita yang sama. “Ternyata kawan-kawan SMA saya yang lain juga dihubungi oleh Tutik. Alasannya semua hampir sama,” ujar Mariam. Bahkan beberapa kawan lainnya,
ternyata sudah kena tipu gaya Tutik. “Kawan-kawan saya yang lain juga tidak pernah ketemu muka dengan Tutik, ia hanya mengirim nomor rekening untuk meminta bantuan kawan-kawannya. Di sinilah baru terungkap jika Tutik sudah sering melakukan hal ini. Setelah dihitung, sudah cukup banyak Tutik melakukan hal ini. Mengingat Tutik adalah kawan sekolah mereka, mereka pun memaafkan Tutik yang akhirnya mengaku bersalah dan berjanji tidak akan mengulanginya. Mariam merasa beruntung masih bisa berpikir dengan matang, sehingga Tutik sulit memperdayainya. Dari pengalamannya inilah, ia berharap tidak ada lagi yang mudah tertipu. “Lebih baik dipikirkan matangmatang dan berhati-hati, sebelum mengambil keputusan atas dasar kasihan pada orang lain,” ujarnya. -Naniek I. Taufan
6
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
an Popong Otje Djundjun
Yang Tua tetap Berkarya Usianya boleh dibilang sangat sepuh, 76 ta hun, namun semangatnya luar biasa. Nenek delapan cucu ini tetap terjun ke dunia poli tik meski usianya sudah sepuh, bahkan dia kini menjadi anggota DPR tertua di Senayan, Jakarta. Mungkin masyarakat belum lupa ba gaimana aksi Popong saat menjadi pemimpin sementara sidang paripurna DPR periode 2014-2019 pada 1 Oktober 2014.
S
idang yang berlangsung ricuh ini baru berakhir pada dini hari. Sebagai Ketua Sidang, Popong dihujani banyak protes juga interupsi. Tapi istri mantan Walikota Bandung era tahun 1970-an ini tetap tenang seolah tak terpengaruh kegaduh an persidangan. Di dunia politik, memang Popong bukanlah orang baru. Ia telah menjadi anggota DPR sejak tahun 1987. Sampai sekarang ini, ia telah menjadi anggota DPR RI selama lima periode, tahun 1987, 1992, 1993, 2009 dan 2014. “Saya sempat berhenti sepuluh tahun, mulai tahun 1999. Baru pada 2009 masuk lagi, itupun karena diminta
oleh partai saya untuk nyalon lagi. Saya pun siap,” tutur ibu empat anak ini di Senayan, Jakarta. Menurut Popong dunia politik telah ditekuninya sejak muda. Ia juga aktif berorganisasi. Untuk politik, katanya, tidak ada batasan usia. “Dunia politik itu bukan seperti PNS yang ada batas usianya, atau tentara ada batas umur kudu sekian. Tapi kalau di politik mah nggak ada,” ucap Popong dengan logat Sunda-nya yang kental. Bagi wanita kelahiran 30 Desember 1938 ini, menjadi anggota DPR semata-mata adalah pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Tidak ada motivasi lain. Berkiprah di politik, merupakan tempatnya mengabdi ke-
pada masyarakat. Karenanya ia bertekad menjalankan tugasnya di DPR dengan sebaik-baiknya. “DPR itu bukan tempat mencari uang. Kalau mau mencari uang ya menjadi pengusaha bukan di sini,” tegas Popong yang mempunyai motto; ‘Yang muda yang berkarya, yang tua tetap berkarya’. Menjadi anggota DPR, telah mendapat dukungan dari keempat anaknya juga cucunya. “Mereka juga sangat mendukung saya. Mereka kan tahu saya ini orangnya seperti apa,” kata Popong. Di sisi lain, dirinya pun merasa mampu mengembang tugas sebagai anggota dewan. “Tugas sebagai anggota dewan itu kan ada tiga, membuat undangundang, mengatur uang rakyat yang disebut APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) agar kembali kepada rakyat berupa program-program yang bermanfaat, serta, mengawasi kinerja pemerintah. Nah tugas-tugas itulah yang akan saya jalankan dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa tanggung jawab,” tegasnya. Berbicara dengan Ceu Popong—begitu ia akrab disebut, tak mengesankan kalau usianya telah sangat lanjut. Di DPR,
Made Rahayuni
Perkembangan industri kecantikan makin pesat. Tentu saja, persaingan makin ketat, dan mengharuskan insan profesi yang ber gerak di bidang kecantikan terus mengasah diri. Salah satunya, dengan giat mengikuti seminar kecantikan untuk terus mengikuti tren terbaru. Demikian diungkapkan, Ketua Tiara Kusuma Ka bupaten Tabanan, Ni Made Rahayuni, saat semi nar yang bertajuk “The Perfection Make Up of Daday Khogidar dan Etika Busana dari Poppy Chandra”, Kamis (29/1) di Aston Denpasar.
R
di Tabanan. Dengan LKP Candra Dewi, ia sudah banyak memberikan pelatihan kepada para perempuan di Tabanan agar mampu memiliki keterampilan di bidang tata rias. “Sebagai kepedulian saya kepada generasi muda, dan juga sudah merupakan program kerja, LKP Candra Dewi rutin menggelar pelatihan tata rias. Peserta se bagian besar usianya di bawah 40 tahun. Saat ini, sudah ada ratusan murid lulusan LKP Candra Dewi,”
Popong dikenal sebagai anggota yang disiplin dan tegas dalam menyampaikan pendapatnya. Seperti pada periode sebelumnya, pada periode kali ini pun, Popong kembali menempati Komisi X yang membidangi antara lain; pendidikan, kebudayaan, pariwisata, pemuda, olah raga, perpustakaan dan ekonomi kreatif. Ini sesuai dengan latar belakang pendidikan Popong yang kuliah di FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Padjajaran, Bandung. (FKIP Unpad kini menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). Lalu apa rahasianya Ceu Popong bisa tetap tampil prima di usia yang telah lanjut? Menurut Popong, tidak ada rahasia khusus. Apa yang dijalankannya adalah sama dengan yang dilakukan orang lain yang menjalani
nakan untuk diri sendiri, keahlian tata rias juga dapat digunakan sebagai pencari nafkah,” tambah Rahayuni. Ia sangat bersyukur, sudah banyak lulusannya membuka salon sendiri. Artinya, kata Rahayuni, mereka sudah bisa mandiri dan menciptakan lapangan pekerjaan. Ia juga sangat bersyukur da pat duduk di kepengurusan Tiara Kusuma Provinsi Bali, karena makin banyak mendapatkan in formasi seputar kecantikan, yang ia bisa sampaikan ke anak didiknya di Tabanan, seperti seminar yang digelar DPD Tiara Kusuma Bali. Selain seminar, ada juga lomba evening make up dan lomba sanggul gala kreasi modern, yang digelar DPD Tiara Kusuma Bali. Menurut Rahayuni, ilmu dalam seminar dan kreasi peserta lomba, tentu akan makin memberi inspirasi bagi para penggiat dunia kecantikan dalam berkreasi. Menurut Ketua DPD Tiara Kusuma Bali, Dra. Ketut Sriathi, Tiara Kusuma merupakan organ isasi profesi di bidang kecantikan yang terus meningkatkan keteram
Siap Bersaing di Era Global
ahayuni, selain sebagai dipercaya memimpin Tiara Kusuma Tabanan, ia juga dipercaya sebagai Ben dahara II Pengurus DPD Tiara Kusuma Bali, yang pelantikannya dilakukan setelah acara seminar kecantikan. Mantan anggota DPRD Ka bupaten Tabanan ini, sangat konsen dengan pelatihan kepada para generasi muda, khususnya
Women on Top hidup sehat, yakni, mengonsumsi makanan sehat dan istirahat yang teratur dan berolahraga “Saya menjalani pola hidup sehat, juga rajin mengonsumsi sayuran, serta menjalani puasa dan olahraga. Selain itu, ya dalam menjalani segala sesuatu, baik itu kehidup an maupun pekerjaan dilakukan dengan ikhlas dan enjoy,” ucap Popong yang juga memiliki hobi menulis. Menurut Popong, perasaan enjoy adalah penting karena itu akan membuat kita tetap sehat. “Segala yang dilakukan dengan enjoy, akan menyenangkan dan itu akan membuat kita tetap sehat. Tapi kalau kita bekerja dengan terpaksa, itu malah bisa menjadi penyakit,” ucap peraih peraih doktor kehormatan dari Universitas Pendidik an Indonesia ini. –Diana Runtu
pilan anggotanya, baik dengan pelatihan-pelatihan maupun seminar. Ia berharap, organisasi ini mampu mencetak ahli-ahli ke cantikan profesional. Saat ini, organisasi profesi persatuan ahli kecantikan dan pengusaha salon Tiara Kusuma Bali ini, diperkuat 25 orang pengurus yang diam bil dari masing-masing cabang. Tujuannya, agar memudahkan koordinasi dan pengembangan organsiasi. Menyikapi tantangan ke depan, selain merancang program organ isasi yang relevan dengan kebutu han organisasi, ke depan juga akan mengupayakan studi banding ke luar negeri untuk mengingkatkan daya saing anggotanya. Harapan nya ke depan, anggota DPD Tiara Kusuma mampu mengembangkan iklim kompetisi yang sehat dan baik dengan mengedepankan profesionalisme SDM menuju daya saing di era global. “Saya berharap, ke depan organisasi ini dapat makin bertumbuh dan anggotanya semakin banyak,” kata Sriathi. –ast
Made Rahayuni
kata Rahayuni. Ia menambahkan, saat ini, tata rias sudah menjadi aktivitas har ian, karena banyak kegiatan upac ara atau pun berbagai kesempatan orang membutuhkan jasa tukang rias. “Ini merupakan peluang usaha yang sangat menjanjikan. Selain keterampilan ini bisa digu
Made Rahayuni bersama Ketua DPD Tiara Kusuma Bali Dra. Ketut Sriathi (tiga dari kanan)
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
PNS dapat Pensiun Bekal Hari Tua Berita tentang PNS di Jakarta yang mendapat penghasilan jutaan rupiah membuat minat menjadi PNS cukup tinggi. Penghasilan yang tinggi itu tentu harus dibarengi dengan memberikan pelayanan publik yang maksimal. PNS juga harus siap ditugaskan dimana pun. Bagaimana komentar para PNS di Bali mengenai kinerja dan suka duka mereka?
“P
NS itu kerjanya lebih santai dan ada waktu luang yang masih tersisa untuk keluarga,” ujar Rusma Primayanthi, salah seorang PNS di Sekretariat Kantor DPRD Bali. Menurut perempuan 29 ini, awalnya tak terpikirkan untuk bekerja menjadi PNS. Tamat dari Sastra Inggris Unud, ia malah kepikiran untuk bekerja di hotel. Namun, sang ayah yang juga seorang PNS, memin tanya mengikuti jejaknya menjadi PNS. Menurut ayahnya, perempuan memang cocoknya kerja jadi PNS ka
rena lebih santai dan masih ada waktu tersisa untuk mengurus keluarga. Jam kerjanya lebih ringan dan Hari Sabtu dan Minggu dapat libur. Selain itu, PNS bisa jadi bekal untuk hari tua karena ada dana pensiun. Dalam pikiran perempuan yang kini bertugas di bagian Publikasi dan Komunikasi Sekteratriat DPRD Bali ini, PNS itu hanya menerima tamatan jurusan Hukum, Sosial, dan Administrasi. Dia merasa, pendidikannya yang jurusan Sastra Inggris tidak nyambung dan ia sama sekali tidak tahu kerjanya PNS itu seperti apa. Saat ia didaftarkan ayahnya, tahun 2008 ia sudah pesimis, apalagi saingannya banyak. “Syukur saya diterima bersama dua orang lainnya. Kebetulan, memang waktu itu mencari lulusan Sastra. Sudah jodoh mungkin kerja jadi PNS,” kata perempuan murah senyum ini. Awal bekerja ia ditempatkan di Dinas Pendidikan. Lima bulan di sana, ia dipindahkan ke bagian Protokol Gubernur. Setelah 7 bulan, ia dipindahkan lagi ke bagian Penanaman Modal. Setelah setahun lebih mengasah ilmu di sana, ia dipindahkan ke DPRD Bali. Kini sudah 4 tahun waktu yang ia lewati bek-
erja di sana. Ia merasa, cukup puas ditempatkan di sana. Setelah sekian lama bekerja, ia dapat merasakan bekerja sebagai PNS ia lebih banyak mendapatkan waktu luang untuk keluarganya. Jam kerja sudah terjadwal dan kinerjanya sangat rutin. Selama ia bekerja, ia merasakan belum ada kesulitan dan tantangan. Baginya, semua ia jalani sebagai suatu proses belajar, dimana pun ia ditempatkan. Satu kesempatan tak pernah disasiakan, itulah prinsipnya. Ia mendapatkan beasiswa melanjutkan studi ke jenjang S-2, Kajian Budaya Unud. Waktu kuliahnya sudah diatur mulai sore hari pukul 5 sampai 9 malam. Kuliahnya mulai Hari Senin sampai Kamis. Di sinilah ia merasa ada tantangan karena ia harus bisa membagi waktunya untuk bekerja, keluarga, dan pendidikannya. Syukur, ia mengatakan, sudah mampu menjalankan dengan baik. “Saat ini saya sedang menyusun tesis,” ujarnya. Rusma merasa cocok sekali bekerja di tempatnya kini karena berhubungan dengan ilmu yang ia kuasai. Dalam pandangannya, bekerja sebagai PNS atau pengusaha sama saja. Tergantung dari kita bagaimana mengatur waktu. Ia pun ada keinginan, kalau nanti anaknya sudah besar, ada peluang mencari usaha sampingan, karena masih tersisa waktu Sabtu dan Minggu. Apalagi, ia memiliki keterampilan membuat kue. Saat ini, ia belum memaksimalkan keahliannya dalam membuat kue
Calon Doktor Hukum Pilih Kopi Ketika pertama kali membuka usaha warung kopi, Imam Sofyan tidak menduga, bahwa di Mataram, Nusa Tenggara Barat, ternyata cukup banyak orang yang mencari kopi enak. Awalnya Alumni Fakultas Hukum Universitas Mataram tahun 2000 ini, mencoba memperkenalkan usaha ini kepada pelanggan kawan-kawan sendiri. Lama-kelamaan usaha yang dimulai sejak tahun 2013 ini, berjalan lancar dan banyak dicari. Mulai dengan sebuah warung kopi berukuran 4 m x 6 m yang dibuka di Pajang Mataram, usaha Imam berkembang pesat hingga akhirnya sejak lima bulan yang lalu ia memiliki sebuah kafe di Jalan Adisucipto Mataram. Jika warung kopinya dulu hanya bisa menampung 17 pelanggan, maka kini kafe kopi Imam bisa menampung 70 hingga 100 pengunjung. Kafe kopi yang diberi nama Bandini Koffie ini sengaja didesain sebagai tempat nongkrong. Namun, jangan salah, ini bukan tempat nongkrong sembarang nongkrong, melainkan nongkrong yang “berisi”.
Bagi yang senang berdiskusi, maka Bandini Koffie bisa jadi tempat alternatif untuk itu. “Suasana diskusi memang sengaja dibangun di kafe ini agar nongkrong ada manfaatnya. Jika perlu hasil diskusi pelanggan bisa menginspirasi untuk membuka usaha-usaha baru,” ungkap Imam yang seorang Magister Hukum Bisnis lulusan Fakultas Hukum Universitas Mataram tahun 2008 ini. Imam, calon doktor yang memang sengaja memilih berwiraswasta, untuk dapat membuka lapangan kerja. Kini, setidaknya ada 15 karyawan yang bekerja di kafe yang buka mulai pukul 09.00 wita hingga pukul 24.00 wita ini. Ayah tiga orang anak yang kini tengah menyelesaikan studi Doktornya di Fakultas Hukum Universitas Mataram ini, telah menemukan konsep yang pas dalam menjalankan bisnis ini. Live musik (jazz khususnya) yang digelar tiap malam di kafe ini, menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat kopi yang menjadi pelanggannya. Tujuh pilihan kopi dengan satu menu
19
PANEN BUMBASTIS
PT XL Axiata, Tbk. (XL) kembali mengapresiasi para mitra retail-nya di seluruh Indonesia melalui program PANEN BUMBASTIS (Banyak Untung Menjual Bebas dan FantASTIS Hadiahnya). Pemenangnya adalah retailer Outlet yang menunjukkan kinerja terbaik berjualan paket data XL secara nasional. Deputy CCO XL East and North Region Kencono Wibowo mengatakan, Program BUMBASTIS adalah salah satu upaya XL dalam menghargai para retailer sebagai mitra terdepan kami dalam menyediakan layanan XL. Pemenang program Panen Bumbastis East Region area Denpasar adalah Yogie Cell, Shindu Cell dan Opsi. Penyerahan hadiah dilakukan di Kuta, Kamis (29/1) dirangkaikan dengan dimulainya kerja sama XL dengan Cellular World. Tiap pembelian gadget di Cellular World dan menggunakan paket data XL akan mendapatkan kupon undian dengan hadiah utama mobil. -Ngurah Budi
Workshop Strategi Pelaporan Pajak
BisnisBali bekerja sama dengan Bank BPD Bali, Dinas Koperasi dan UKM Kota Denpasar, IDX, dan FEB Uniknas University menggelar workshop di wantilan gedung Pers Bali K. Nadha, Kamis (29/1). Workshop bertema “Strategi Pelaporan Pajak yang Aman Berbasis Sistem Informasi Akuntansi” ini dibuka Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Denpasar Erwin Suryadarma Sena. Workshop diikuti 300 peserta. Dalam workshop dijelaskan mengenai strategi pelaporan pajak yang aman berbasis sistem informasi akuntansi yang sangat diperlukan wajib pajak. -Ngurah Budi dengan menerima pesanan. “Saya hanya membuat kue untuk kebutuhan keluarga,” kata Rusma. Namun, ia tak menampik mungkin ke depan, keterampilannya bisa ia jadikan usaha sampingan di luar jam kerjanya. Menjadi PNS sangat menjanjikan juga dilontarkan Yanik, salah seorang PNS di RS pemerintah ini. Walaupun saat gadis, ia sering membantu usaha ibunya membuat pesanan canang, ia ingin juga bekerja di kantor. Dalam anggapannya, menjadi PNS dapat dijadikan masa depan yang baik. Pengabdiannya yang sudah cukup lama (honorer) akhirnya berbuah hasil. Ia diangkat menjadi PNS. Jam kerja di RS dari pukul 07.00 sampai pukul 13.00. Ia bersyukur, walau hanya tamat SMA, ia bisa menjadi PNS. Apalagi, kini setelah ia menikah, ia merasakan manfaatnya. Sisa waktunya bisa ia gunakan untuk mengasuh anaknya.
andalan yakni Bandini spesial dapat dinikmati di kafe ini dengan harga Rp 18.000 hingga Rp 30.000/cangkir. Selain kopi, kafe ini menyiapkan berbagai minuman lain seperti jus, ada pula berbagai snack dan makanan. “Pengalaman saat buka warung kopi pertama, menu kopi hanya bisa dinikmati oleh orang tua saja, sedang anak-anak yang ikut berkunjung dengan para orang tua ini tidak bisa menikmatinya. Karena itu, kafe Bandini Koffie kini menyiapkan menu lebih lengkap agar bisa juga dinikmati oleh seluruh keluarga,” ungkap Imam yang juga seorang pengacara ini. Kafe yang namanya diambil dari nama nenek dan mertuanya ini, memiliki keunikan tersendiri. Banyak yang menduga nama kafe ini dari Bahasa Itali. “Padahal nama itu saya ambil dari nama mertua dan nenek saya. Keduanya sama-sama bernama Bandini,” kata Imam tertawa. Nama ini rupanya membawa hoki bagi usaha Imam yang bisa menghabiskan 10 hingga 20 kilogram kopi setiap dua minggu ini. Setidaknya, pelanggannya datang kembali tiga sampai empat kali dalam satu minggu. Kini, Imam tengah terus mencari dan menemukan serta mengembangkan kopi lokal sebagai sajian utama menu kopi di kafenya. Sejauh ini, kafe miliknya telah menyajikan Kopi Tambora dan Kopi Kadindi (Dompu), Kopi Tepal (Sumbawa) serta Kopi Sembalun. -Naniek I. Taufan
Lain lagi penuturan Sastrawati, yang saat ini menjadi PNS di Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Menjadi PNS sudah menjadi cita-citanya sejak kecil karena melihat orangtua yang juga seorang PNS. “PNS dapat pensiun, bisa menjadi bekal hari tua,” kata perempuan yang juga bersuamikan PNS ini. Menurutnya, bekerja sebagai PNW waktunya jelas sehingga ia masih bisa mengurus anak-anaknya. Ia memang tak memilih menjadi wirausaha karena memang tak ada modal dan keterampilan untuk berwirausaha. Menurutnya, menjadi PNS juga memiliki tantangan seperti harus disiplin mengikuti aturan yang ada, memiliki dedikasi tinggi, dan siap untuk mendapatkan tugas tambahan dari atasan. “Bekerja dimana saja menurut saya, pasti ada tantangan, tergantung kita menyikapinya. Bagi saya, jalani saja sesuai aturan,” kata Sastrawati. -Wirati Astiti
20
Nine
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Ratusan Tukung Suun Menjanda Puluhan perempuan yang memakai sarung duduk di pojok bagian barat, persis di depan pintu masuk pasar tradisional Kebon Roek Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di areal parkir ini, mereka mengobrol satu sama lain, sambil sesekali matanya awas memperhatikan kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor yang masuk ke areal parkir pasar tersebut.
B
egitu pula dengan para tukang suun lainnya yang berada di pintu masuk sebelah timur pasar ini. Saat melihat ada beberapa kendaraan mobil dan sepeda motor yang masuk ke areal parkir, mereka pun sigap terburu-buru berdiri dan segera mendekat. “Bawain Bu….,” kata salah seorang di antara mereka menawarkan jasa suun (junjung/ jinjing) barang belanjaan. Sejak pagi, bahkan ada yang sejak subuh hari, para perempuan tersebut mulai bekerja sebagai tukang suun di pasar terbesar kedua di Mataram ini. Bagi mereka, geliat aktivitas
pasar ini adalah rupiah demi rupiah yang dikumpulkan untuk menyambung kehidupan bersama keluarga mereka. “Jika pasar ramai khususnya menjelang hari-hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru dan hari besar lainnya, itulah tempat kami mendapatkan rezeki lebih banyak,” ungkap Kartini, salah seorang tukang suun. Rezeki itu akan semakin banyak mereka dapatkan di bulan puasa, karena hampir setiap hari pasar selalu ramai. “Kami bisa dapat upah Rp 50.000 sampai Rp 70.000 sehari,” tambah Kartini polos. Di hari biasa, mereka mengantongi upah rata-rata Rp
20 ribu-Rp 30 ribu perhari. Bagusnya, dalam menjalankan pekerjaannya ini, sekali pun jumlah mereka banyak, para perempuan tukang suun, saling menjaga dan menghormati satu sama lain, setidaknya tidak saling rebut pelanggan yang akan memakai jasa mereka. “Siapa saja yang ditunjuk oleh pembeli yang ingin memakai jasa kami, kami tidak boleh meng-
Kartini (tengah), tukang suun di Pasar Kebon Roek
10.000. “Tapi itu tidak sering, hanya sesekali saja,” kata Raihan. Selain mereka mendapat upah dari membantu membawakan atau suun belajaan pembeli, mereka juga bisa mendapat upah dari mengangkut barang dagangan yang dibawa pedagang dari tempat parkir ke lokasi tempatnya berjualan di dalam pasar.
Perempuan tukang su’un di Pasar Kebon Roek tengah berbagi rejeki yang diberikan seorang pengunjung pasar
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Dr. HC. Nyoman Gunarsa Jadi Sumber Inspirasi Jurnalis TV Perancis
Selain membantu membawakan belanjaan, mereka biasanya mengetahui seluk beluk pasar, sehingga mengerti lokasi-lokasi penjualan berbagai kebutuhan pokok masyarakat ini. Dengan cekatan mereka akan menunjukkan tempat di mana lokasi yang menjual kebutuhan yang dibutuhkannya, jika pembeli tidak mengetahui tempatnya. Mereka juga akan membantu memilih dan memilah barang-barang berkualitas baik selama proses belanja tersebut. Tiap hari, para perempuan ini bergelut dengan beban yang teramat berat, karena orang yang berbelanja di pasar induk ini, bisa dipastikan berbelanja dalam jumlah yang banyak. Puluhan kilogram menjadi bebannya tiap hari, namun mereka menikmati itu sebagai bagian dari risiko pekerjaan yang harus diterimanya demi keluarga. “Malam hari baru
ganggu kawan tersebut apalagi merebut pelanggan. Kami sadar bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur,” kata Isa, tukang suun lainnya. Kesederhanaan cara berpikir dan saling mawas dirinya inilah yang membuat mereka tidak pernah rebut satu sama lain, khususnya dalam hal mendapatkan pelanggan atau pengguna jasa mereka. Mereka adalah tulang pung-
gung keluarga yang mau tidak mau harus bekerja keras demi kelangsungan hidup keluarga. Karena banyak di antara lebih dari 100 orang tukang suun ini yang hidup menjanda. “Dari jumlah tukang suun yang lebih dari 100 orang ini, kebanyakan janda,” jelas Kartini yang mengaku pernah mencatat lebih dari 100 tukang suun di Pasar Kebon Roek ini. -Naniek I. Taufan
terasa pegal dan otot-otot saya puluhan tahun lamanya. “Dari sakit,” ungkap Bibi Naah yang kini upah Rp 200, saya sudah menberusia sekitar 60 tahun. jadi tukang suun,” kata Isa. Para Meski ia terbilang paling tua tukang suun yang kini bekerja di di antara tukang suun lainnya, Pasar Kebon Roek ini dulunya semangat Naah tetap menyala. bekerja di Pasar ACC Ampenan. Ia terlihat gesit dan tidak kalah “Saat Pasar Kebon Roek dibuka, dengan para tukang suun lain- kami membagi diri, ada yang tetap nya yang bahkan ada yang masih bekerja di Pasar ACC Ampenan berusia puluhan tahun. “Ada juga dan sebagian ke Kebon Roek ini,” yang masih bersekolah, biasanya ujar Kartini. mereka kerja siang hari setelah Rejeki yang mereka dapatkan, pulang sekolah,” kata Kartini. selain dari bekerja mereka juga Para tukang suun ini memang kerap mendapat pembagian uang belum memiliki kelompok seperti dari orang-orang yang sengaja porter resmi yang ada dan bekerja memberi mereka. Meski pun jumdi pasar ini. Tetapi keberadaan lahnya tidak banyak, tampak mermereka sangat membantu pem- eka bersyukur dengan apa yang beli karena porter yang laki- mereka dapat hari itu. Membawa laki di pasar ini hanya membantu pulang rejeki halal bagi keluarga para pedagang untuk mengang- mereka. -Naniek I. Taufan kut dagangan di kioskios atau los saja, tidak membantu membawakan barang belanjaan pembeli. “Beruntung ada tukang suun yang bisa membantu membawakan saya barang belanjaan yang banyak dan berat. Tenaga mereka terbilang kuat,” ujar Mahani, salah seorang pembeli yang selalu memakai jasa tukang suun. Bekerja sebagai tukang suun adalah pilihan terakhir di tengah ketiadaan lapangan kerja bagi perempuan yang rata-rata tidak menamatkan pendidikan yang layak. Bahkan beberapa di antaranya menjadi tukang suun secara turun temurun. Mereka menggeluti pekerjaan ini ada yang bahkan sudah Raihan, tukang suun di Pasar Kebon Roek
5
* Kiblat Figur Seniman dan Budayawan Dunia Dr. HC. Nyoman Gunarsa menjadi sumber inspirasi bidang seni dan budaya Indonesia oleh jurnalis televisi (TV) Perancis. Ini bukan pertama kalinya Sang Maestro Lukis kelahiran Banda, Klungkung menjadi narasumber berkompeten di bidangnya. Dedikasinya yang tinggi terhadap seni dan budaya menjadikannya kiblat figur seniman dan budayawan dunia. Profilnya dipublikasikan di negara yang dikenal moncer dengan fashion dan gaya hidupnya itu.
Perempuan tukang su’un di Pasar Kebon Roek
60 Tahun masih Nyuun Para tukang suun ini kebanyakan berasal dari desa-desa dan perkampungan di sekitar Pasar Kebon Roek, seperti, Teloka, Medas, Batu Layar, Sesela, Kebon Indah, Kampung Banjar, Pondok Perasi, Bintaro, Sesela Ireng dan lainnya. Para tukang suun ini tidak pernah mematok berapa harga sewa jasa mereka selama ikut berkeliling membawakan belanjaan para pembeli di pasar ini. “Semua tergantung dari keikhlasan orang yang memakai jasa kami. Berapa pun diberikan, kami tetap mensyukurinya,” ujar Raihan, tukang suun lainnya. Karena bagaimana pun, mereka menggantungkan harapan hidup sehari-hari dari penghasilan mengangkut dagangan atau membawa belanjaan. Namun upah rata-rata yang biasa mereka terima sekali suun mengikuti pembeli berbelanja adalah Rp 3.000. Ada juga yang menerima Rp
Inspirasi
Salah satu sketsa (pastel) potret salah seorang delegasi Perancis yang dicontohkan Sang Maestro bahwa kecantikan seorang wanita itu menghidupkan daya ciptanya. Karya tersebut dikerjakan hanya dalam waktu ± 15 menit.
M
aestro Gunarsa mengatakan siap saat kru jurnalis TV Perancis itu memilihnya sebagai sumber inspirasi. “Saya siap saja ketika mereka berkirim kabar untuk mewawancarai saya. Materi yang ditanyakan seputar budaya di Indonesia. Budaya di Indonesia menjadi referensi Negara Perancis yang juga sedang gencargencarnya mengembangkan budaya mereka. Ibaratnya, mereka studi banding,” terang Maestro Gunarsa. Dalam kesempatan tersebut Maestro Gunarsa menandaskan bahwa budaya di Indonesia khususnya di Bali, mengangkat nilai-nilai kearifan lokal namun bersifat universal. Di dalam seni dan budaya Bali terkandung filosofi orang Bali yang hingga kini menjadi tuntunan hidup (way of life) masyarakat Bali bahkan dunia. Sebagai profil seorang maestro seni, Nyoman Gunarsa dikenal memiliki wawasan luas, tidak egosentris dan menerima budaya luar untuk memperkaya budaya lokal. “Saya sudah pameran keliling Eropa, Amerika Serikat, Perancis dan negara-negara Asia lainnya dan mereka respek terhadap budaya di Indonesia,” ujarnya. MARTABAT WANITA Selain seni dan budaya, jurnalis TV Perancis yang terdiri enam (6) orang tersebut juga minta pendapat Sang Maestro tentang wanita Indonesia dan kiprah mereka dalam kesehariannya. Tentang hal itu Maestro Gunarsa menandaskan bahwa wanita adalah figur yang luar biasa. Peran dan kiprah wanita Indonesia dalam berbagai bidang sangat menakjubkan. “Saya men-
(melukis-red), Maestro Gunarsa senantiasa mengedepankan unsur etika dan estetika. “Wanita Indonesia adalah pejuang yang berjuang demi kehormatan dan harga diri bangsa ini. Banyak wanita menjadi pahlawan bangsa seperti RA Kartini, Dewi Sartika, Cut Nya Dien, dll. Wanita merupakan sumber inspirasi saya dalam berkesenian karena saya mencintai keindahan dan kecantikan. Tanpa wanita, hidup ini gersang. Wanita memberikan inspirasi hidup dalam berkreativitas. Di Bali kita kenal Dewi Saraswati sebagai dewa ilmu pengetahuan, keindahan dan harmoni, sama seperti Dewa Aprodite di Eropa. Wanita bukan konco wingking semata, tetapi juga sebagai prameswari (raja wanita) dalam keluarga. Setiap lukisan yang saya pamerkan, selalu menonjolkan sisi keindahan wanita dan justru inilah yang banyak dikoleksi. Saat pameran/demo di Perancis, saya sempat melukis (sketsa) seorang wanita. Mereka kagum karena saya melukis hanya dalam waktu 2 menit saja. Mereka sangat mengapresiasi saya,” papar Sang Maestro bangga. PENGGIAT DAN PEJUANG SENI Sosok Maestro Gunarsa memang identik dengan seni dan budaya itu sendiri. Hidup dan kehidupannya tercurah untuk mengabdi pada seni. Tak hanya seni lukis tetapi juga seni tari, gamelan, pembinaan budaya barong, cinta budaya keris dan sebagainya. Di kalangan seniman dan budayawan dalam dan luar negeri, maestro seni lukis ini tak hanya dikenal sebagai penggiat tetapi juga pejuang seni yang tak pernah berhenti berkarya dan upaya melestarikannya. Salah satunya telah menyelenggarakan seminar internasional Seni Lukis Klasik Bali (SLKB) dengan mengundang para pemerhati seni budaya dari dalam dan luar negeri.
Maestro Nyoman Gunarsa berbicara tentang peran wanita Indonesia yang sejajar dengan kaum pria. Banyak diantaranya menjadi tokoh-tokoh nasional yang dikagumi dunia seperti Ida I Dewa Istri Kania, Cut Nyak Dien, Megawati, pengusaha sukses Muryati Sudibyo, Susi Pujiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan.
“SLKB sendiri merupakan harta karun atau warisan budaya bangsa yang tiada ternilai harganya, yang sudah tidak bisa lagi dikritik atau dikomentari karena sudah merupakan filosofi mati hidupnya orang Bali. SLKB sudah dikagumi dunia sejak masyarakat Eropa mengenal dunia Timur abad XV. Lewat seminar itu saya memperjuangkan SLKB menjadi salah satu warisan budaya nasional (WBN) dan warisan budaya dunia (WBD),” jelasnya. Bagi Maestro Gunarsa, buah karya SLKB bukan sekedar untuk kepentingan upacara ritual saja, tetapi ikut mengisi ruangruang bergengsi gedung-gedung pemerintah, rumah para pejabat, gedung konglomerat, dsb. Bahkan karya tersebut sejajar dengan karya maestro-maestro dunia seperti Michael Angelo, Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso, Salvador Dali, Affandi, Hendra dan Sudjoyono.
starikan terus menerus. “Bentuk atap bangunan style Bali seperti atap Bale Gedung Rata, atap Bale Wantilan, atap Bangunan Meru berbentuk atap Limasan atau atap Bebarongan. Tentu atap-atap tersebut berfungsi untuk diisi ornamen-ornamen berupa Mahkota/Murda, Gelungan ataupun Bugbug berukir, Janggar berukir, Ringringan berukir dan genteng Bersubeng. Ini merupakan cirri khas atap bangunan khas Bali,” tegas Maestro Gunarsa.
gatakan bahwa wanita Indonesia tiada duanya. Mereka memiliki DARI SENIMAN peran yang sangat luar biasa, SAMPAI PRESIDEN baik dalam perannya di keluMaestro Nyoman Gunarsa arga, di masyarakat, di politik/ memang bukan seniman kekenegaraan bahkan di dalam banyakan. Perjuangan panjang bidang seni dan budaya. Wanita untuk menjadi seorang maestro bagi saya tidak saja telah menjadi yang diakui dunia tidak didapatsumber inspirasi tetapi motivator nya secara instan. Itu diakuinya yang begitu kuat yang mayoritas lewat bukunya yang berjudul mewarnai karya-karya saya,” ‘Dari Seniman Sampai Presikatanya. den’. Seniman berjuluk ‘Tangan Itu sebabnya Maestro Gunarsa Emas’ ini membuktikan bahwa menempatkan wanita lebih sebamenjadi seorang maestro lewat gai subjek dan bukan objek dari perjuangan yang tak pernah sebuah karya. “Wanita adalah putus. ”Menjadi maestro yang JANGAN SAMPAI LUNTUR pihak yang harus dihormati dan Terhadap nilai-nilai kearifan diakui kualitas kesenimanandijunjung tinggi martabatnya. lokal yang mulai luntur khusus- nya, tidak bisa didapat secara Banyak pelukis yang menjadikan nya pada bangunan/gedung- instan. Tantangannya sangat wanita sebagai objek lukisannya. gedung pemerintahan, turut berat dan melewati perjuangan Wanita memang sangat layak mengundang keprihatinan Sang panjang dan tidak mudah,” kadijadikan model lukisan tetapi Maestro. Dikatakan, arsitektur tanya. –ari bukan dilecehkan dengan mebudaya Bali pada lukis mereka berjam-jam dalam gedung-gedung pose telanjang. Saya sangat tidak pemerintahan setuju,” katanya turut menginyang mulai luntur, gatkan. harus disikapi seBagi Maestro Gunarsa, wanita cepatnya. Ciri khas identik dengan keindahan (beauatap rumah/banty) dan kecantikan (beautiful). gunan khas Bali “Saya suka keindahan dan kecanyang sudah turun tikan. Saya suka wanita cantik, temurun dan menitu sebabnya mayoritas lukisan jadi identitasnya saya adalah wanita-wanita cantik Bali harus diperkhususnya wanita Bali dalam setahankan dan dilegala aktivitasnya. Tapi saya tidak pernah melukis wanita dalam pose telanjang, sebaliknya saya melukis wanita Bali dengan busana adat saat mereka menari atau sembahyang. Wanita adalah figur yang luhur, yang agung, yang harus dijunjung tinggi harkat, martabat dan kehormatanDelegasi Perancis foto bersama di depan pintu rumah nya,” tandasnya. Sang Maestro Nyoman Gunarsa didampingi Staf Dalam berkarya Suasana ketika Sang Maestro melukis salah seorang delegasi Perancis di ruang studio. Kedutaan RI di Paris.
4
Inspirasi
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Caisar Putra Aditya
Tukang Ojek, Artis, Akhirnya Jualan Siomay
Dunia entertainment bisa begitu manis tapi juga bisa menjadi begitu pahit bagi pelakunya. Suatu ketika karier begitu melejet di luar dugaan, namun di kali lain, bisa tiba-tiba nyungsep tanpa sempat si pelaku mencari pegangan lain. Ada banyak artis mengalami ini. Ada banyak yang berhasil survive namun tak sedikit yang akhirnya hidupnya memprihatinkan.
S
alah satu yang sempat merasakan manisnya ketenaran adalah Caisar Putra Aditya atau akrab disebut Caesar YKS. Di masa jayanya, siapa yang tak kenal dengan Caesar dan goyangannya disukai masyarakat seantero negri. Kepopuleran ini membawa kehidupan si pemilik goyang yang tadinya biasa-biasanya saja, berubah drastis. Perekonomian keluarganya terdongkrak, seiring dengan membanjirnya job-job yang datang. Maklum selain tampil di YKS (Yuk Keep Smile), dia juga tampil di sejumlah acara televise lainnya. Bahkan sempat main film dan menjadi bintang iklan. Tapi ketenaran di dunia entertainment hanya sebentar dirasakannya. Namanya mulai melambung awalnya lewat acara sahur ‘Yuk Kita Sahur’ tahun 2013 kemudian dilanjutkan di acara ‘Yuk Keep Smile’, namun program YKS itu terkena ‘semprit’ gara-gara sebuah goyangan kreasi baru yang yang dianggap tidak pantas ditonton oleh masyarakat. Buntutnya, acara tersebut pun akhirnya bubar. Bersamaan dengan itu karier Caesar di panggung hiburan Tanah Air perlahan meredup. Namanya mulai dilupakan orang. Tahutahu muncul kabar mengejutkan Caesar menjadi penjual tahu. “Ya, aku terima saja. Dulu saat menciptakan goyang itu, aku ngak sadar bahwa goyangan itu tidak patut jika ditonton anak-anak. Waktu itu (menciptakan goayangan) mengalir saja. Sampai akhirnya dapat teguran. Ya, aku terima ,” ungkap mantan bintang iklan Sarimi ini. Setelah program YKS berhenti tayang, lelaki kelahiran Jakarta Agustus 1989 ini, masih mendapat undangan muncul di beberapa acara televise, juga off air. Namun job-job yang datang tidak lagi sebanyak dulu. Menurut Caesar, sejak awal dia sangat menyadari bahwa berkarier di dunia entertainment tidak lah bisa menjadi pegangan hidup. Jadi, tambahnya, ketika ia kembali kekehidupan biasa, dia tidak kaget lagi. Apalagi, katanya, sejak dulu, sebelum setenar sekarang pun kehidupan yang dijalaninya biasa-biasa saja. Bahkan dia juga pernah menjalani hidup susah. “Jadi dengan kejadian itu, dan apa yang aku alami sekarang, tidak membuat aku putus asa, dan bersedih. Bagi aku, yang penting orang mau berusaha, terus berjuang tak kenal menyerah, dan melakukan pekerjaan apapun asalkan halal dan tetap bersemangat, pasti akan ber-
hasil. Aku juga tidak perlu merasa malu dengan apa yang aku kerjakan. Aku yakin, pasti akan ada jalan untuk kemajuan,” ungkap suami dari Indadari ini. Usaha Sendiri Saat ini Caesar yang kini banting stir berjualan tahu dan siomay mengaku, merasa nyaman dengan usahanya. Meskipun usaha di bidang kuliner ini tergolong kecil, namun prospeknya cukup menjanjikan. “Hasilnya cukup lumayan, pembeli yang datang banyak. Apalagi kalau aku menunggui warung, banyak yang datang. Ada yang datang tadinya hanya ingin foto-foto, tapi akhirnya beli juga…hahahah,” kata Caesar yang telah empat bulan membuka warung yang diberinya nama ‘Warung tahu Joget’. Di warung yang terletak di Cimanggis ini, Caesar melayani pembelinya hanya bersama istrinya, tidak ada petugas lainnya. “Sebenarnya berusaha di bidang kuliner ini bukan tiba-tiba. Tapi sudah lama ide ini ada, istri saya sejak dulu ingin membuka warung jajanan. Namun baru bisa terwujud saat ini,” kata bintang film ‘Jomblo Keep Smile’ ini. Memiliki usaha sendiri, menurutnya, lebih menjanjikan daripada menjalani profesi keartisan yang bisa tiba-tiba redup tanpa bisa dicegah. Meski begitu diakuinya, kesempatannya berkarier di dunia hiburan meski hanya sebentar namun telah memberi banyak hal, baik itu pengalaman maupun materi, yang menjadi modal kehidupannya di kemudian hari. “Dulu aku menjalani kehidupan yang biasabiasa saja. Saya pernah menjadi pengojek motor saat SMA untuk menambah-nambah uang jajan karena orangtua saya (ayah) pensiunan sedang ibu hanya ibu rumahtangga biasa. Aku juga pernah menjadi satpam. Jadi bagi aku, bekerja apa saja yang penting halal, aku jalani. Lalu, aku mendapat kesempatan tampil
Caesar di acara Soimah, kemudian acara sahur YKS. Dulu, karena aku tidak pandai bicara, jadi disuruh joget saja, sebelum acara ditutup. Yang namanya pekerjaan, kebetulan aku juga suka berjoget, disuruh joget ya aku lakukan saja. Ternyata banyak yang suka. Untuk membuat kreasi joget, aku nonton Youtube juga mendapat masukan dari orang-orang sekeliling aku. Sampai akhirnya goyangan aku itu menjadi terkenal dan disukai masyarakat. Ibu Soimah, juga
orang-orang sekeliling saya, paling berjasa dalam kesuksesan karier aku di dunia entertainment. Dan juga, aku merasa, doa Ibu untuk keberhasilan hidup aku, didengar Tuhan, Alhamdulilah” ungkapnya panjang lebar. Bisa menjadi artis ngetop, tutur Caesar, tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Ibarat mimpi, begitu katanya. “Tiba-tiba orang banyak kenal aku. Tiba-tiba banyak orang yang memanggil-manggil nama aku, ‘Caesar…Caesar…Yuk Keep Smile….’. Mereka, dari anak-anak sampai orang dewasa, mulai dari minta tandatangan sampai fotofoto . Ini rasanya seperti mimpi. Saya berpikir, ya Allah kok sampai segininya ya. Alhamdulilah,” tuturnya. Dari kesuksesan yang meski hanya singkat itu, katanya, banyak hal (materi) yang diperolehnya. Selain untuk mencukupi kebutuhannya sendiri, juga bisa membantu orangtua, bahkan bisa meng-umrahkan ibunya ke Tanah Suci. Karena itu, kata Caesar,
ia sangat bersyukur sekali atas apa yang dicapainya. Ia juga mengaku tidak menyesal atas kehidupan yang biasa-biasa yang kini dijalaninya. Dia ikhlas. “Aku sadar kehidupan itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Apa yang aku dapat selama ini adalah titipan Allah. Yang penting bagi kita adalah bagaimana terus memperbaiki diri, terus berusaha. Sekarang aku merasa nyaman dengan memiliki usaha ini. Aku ingin focus berusaha. Sepertinya aku tidak ingin kembali ke dunia hiburan, ingin focus di sini saja. Kalaupun nantinya ada kesempatan lagi, ya hanya sesekali saja, yang utama adalah membesarkan usaha ini. Aku merasa, berjuang dengan upaya sendiri seperti sekarang lebih enak dan memuaskan,” ungkap Caesar yang mengaku selalu optimis memandang kehidupannya.
Mandalika
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Geliat Pasar Kebon Roek
21
Pecahan Pasar Ampenan
–Diana Runtu
S
eperti halnya pasarpasar tradisional lainnya, aktivitas di Pasar Kebon Roek Ampenan, di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat mulai menggeliat sejak pukul lima pagi. Tidak kurang dari 900 pedagang yang berasal dari Lombok Barat dan Kota Mataram, memenuhi pasar dengan luas areal lebih kurang satu hektare ini. “Luas areal pasar seluruhnya sekitar satu hektare, sedangkan luas bangunan pasar dan lokasi yang dipakai untuk berjualan 5.000 meter persegi,” ungkap Roos Haryadi, SE., Kepala Pasar Kebon Roek Ampenan. Ada pedagang yang menempati sekitar 400 los dan kios dan sekitar 100 pedagang bakulan lain-
Los buah di Pasar Kebon Roek
nya berjualan di sekitar areal parkir dan teras pasar. “Sesungguhnya jumlah los dan kios di Pasar Kebon Roek adalah sekitar 800, namun karena lantai dua tidak terpakai, maka los dan kios hanya terpakai 400 saja,” kata Roos. Pasar Kebon Roek yang memiliki fasilitas 7 kamar mandi dan mushala ini adalah pasar terbesar kedua setelah Pasar Mandalika di Bertais Mataram. Aktivitas di pasar ini berlangsung dari pagi hingga sore hari tanpa henti. Tidak kurang dari 40 petugas mengurus pasar ini. Ada yang bertugas sebagai tenaga keamanan sejumlah 16 orang, petugas kebersihan 12 orang, juru pungut dan tugas-tugas lainnya.
Roos Haryadi, SE.
Berburu Ikan Laut Segar di Pasar Kebon Roek
Suasana pasar Roke Ampenan yang menjual berbagai hasil tangkapan laut
Pasar tradisonal ini memang disiapkan oleh Pemerintah Kota Mataram yang bisa diakses oleh pedagang dengan harga yang sangat murah. “Pedagang hanya membayar sewa ruang Rp 2.500 permeter persegi perbulan dan Rp 800 untuk biaya retribusi perhari,” ujar Roos. Pada perkembangan terakhir, kini Pasar Kebon Roek menjadi semakin nyaman bagi para pedagang ketika di beberapa bagian lorong yang tadinya merupakan teras pasar, kini telah diberi atap permanen. “Kami tidak lagi kepanasan dan kehujanan,” ujar salah seorang pedagang bakulan yang
tadinya mendapat jatah di los lantai dua, namun lebih memilih berjualan di bawah dengan alasan di lantai dua dagangannya sulit laku. Selain soal keamanan, kelebihan lain dari Pasar Kebon Roek adalah tersedianya ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan di laut sekitar Pasar Kebon Roek. Pantai-pantai tempat nelayan berlabuh membawa ikan-ikan segar dan langsung dijual di pasar, terbilang dekat. Seperti Pantai Ampenan, Pantai Yanjung Karang, Senggigi dan sepanjang garis Pantai Ampenan yang jaraknya ke Pasar Kebon Roke hanya sekitar 15-20 menit
berkendaraan. “Meski pun sedikit lebih mahal, ikannya masih segar dan baru saja naik (dari pantai),” ujar Hj. Kalsum, yang mengaku selalu datang belanja sore hari untuk bisa mendapatkan ikan laut yang benar-benar segar. Ikan-ikan laut segar hasil pancingan nelayan ini, dapat ditemui di sudut kiri bagian utara dari Pasar Kebon Roek di los ikan. Sebagai pembeli, Hj. Kalsum dan pembeli lainnya selalu berharap bisa memdapatkan ikan yang benar-benar segar yang terhindar dari bahanbahan kimia. Memenuhi keiginan pembeli, para penjual ikan di Pasar Kebon Roek mengaku, menghindari bahan-bahan kimia berbahaya untuk mengawetkan ikan dagangan mereka. Sebagai Kepala Pasar Kebon Roek, Roos selalu mengingatkan para penjual ikan agar tidak menggunakan bahan kimia untuk mengawetkan ikan-ikan mereka. Secara umum, para pedagang di pasar ini terlihat menggunakan es batu untuk mengawetkan ikan secara alami. -Naniek I. Taufan
Cikal bakal Pasar Kebon Roek sesungguhnya berasal dari Pasar Ampenan yang kini dikenal dengan sebutan Pasar ACC. Ketika Pasar ACC tidak lagi mampu menampung penjual dan membludaknya pembeli karena lokasi pasar yang relatif kecil, maka dibukalah Pasar Kebon Roek, yang terbilang besar. “Pasar Kebon Roek ini merupakan pecahan dari Pasar ACC,” kata Asis Pitoyo, Wakil Kepala Pasar Kebon Roek, yang sebelumnya bertindak sebagai kepala keamanan pasar ini. Sebagai salah satu pasar tradisional terbesar di Mataram, Pasar Kebon Roek yang diresmikan sejak tahun 2007 ini, menyediakan segala kebutuhan bagi masyarakat secara lengkap. “52 unit kios berbagai ukuran dan 800 los pedagang, menjual segala kebutuhan masyarakat,” kata Roos. Ikan-ikan segar yang dijual di pasar ini berasal dari Pantai Tanjung Karang, Mataram, Labuhan Lombok dan Tanjung Luar Lombok Timur, juga datang dari Pulau Jawa. Sayur-sayuran sebagian besar merupakan hasil petani lokal. Salah satu hal yang menonjol dari pasar ini adalah soal keamanan. Meskipun pasar ini terbuka dan tidak berpintu khusus, sejauh ini tetap dalam keadaan aman, terutama bagi barang-barang yang ditinggalkan pedagang. “Sekalipun dikelilingi perkampungan dan dalam kondisi terbuka semua, Pasar Kebon Roek bisa dibilang paling aman,” kata Asis Pitoyo. Demikian juga dalam aktivitas sehari-hari, sejauh ini Pasar Kebon Roek relatif aman dari aksi pencopetan dan lainnya. Pasar Kebon Roek yang berlantai dua ini awalnya terlihat sangat rapi, karena seluruh pedagang menempati los-los dan kioskios yang sudah disediakan di lantai satu dan lantai dua tersebut. Namun, menurut Pitoyo yang bertugas di bidang keamanan pasar sejak pasar ini mulai beroperasi, rapi dan bersihnya pasar ini hanya mampu bertahan sekitar tujuh bulan. “Para pedagang di lantai dua turun untuk berjualan di bawah, di teras dan sekitar lantai satu pasar. Para pedagang sempat mengaku rugi karena pembeli hampir seluruhnya memilih berbelanja di lantai satu,” ungkap Pitoyo dan Roos yang mencoba memaklumi situasi lantai dua pasar ini, sebagian besar kosong tidak terisi. Untuk menjaga agar situasi di teras dan sekitar lantai satu yang dipakai untuk berdagang tetap rapi, para pedagang bakulan ini diatur sedemikian rupa sehingga tetap memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Meski pun sudah diatur begitu, tetap saja di beberapa titik seperti di pintu masuk utama pasar, pedagang masih menggunakan lorong sebagai tempat berjalannya pembeli ini sebagai tempat berjualan. “Mengatur pedagang itu gampang-gampang sulit khususnya untuk soal ketertiban,” ujar Roos yang selalu berupaya mengajak para pedagang untuk tetap menjaga kerapian dan kebersihan. Soal kebersihan juga menjadi sorotan kepala pasar ini. Meski terbilang lumayan bersih namun sampah menjadi persoalan tersendiri. Para petugas kebersihan sejauh ini telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga agar pasar ini tetap bersih. “Setidaknya empat kali sehari pasar dibersihkan, mulai dari pagi, lalu sekitar pukul satu siang, pukul empat sore dan malam hari,” kata Roos. Mengenai hal ini, sebagai kepala pasar, Roos berharap agar para penjual dan juga pengunjung (pembeli) memiliki kesadaran bersama untuk tidak membuang sampah sembarangan agar pasar terlihat tetap bersih.
Suasana pasar Roke Ampenan yang menjual berbagai kebutuhan dapur
22
Sosialita
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Ngaben Bersama di Cilincing
Minggu (25/1), areal Graha Yadnya yang terletak di komplek Krematorium, Cilincing, Jakarta Utara, sangat ramai. Sejak pagi-pagi sekali ratusan umat Hindu datang dari berbagai tempat di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) memadati areal tersebut.
S
uasana ramai itu seolah mendapat restu dari alam karena pagi itu langit begitu cerah. Padahal biasanya, sejak beberapa hari belakangan, hujan selalu turun di pagi hari mengantar orang-orang yang akan pergi bekerja. Siang atau sore, Jakarta kembali diguyur hujan entah dalam intensitas ringan maupun sedang. Bahkan beberapa wilayah di Jakarta Utara, di Cilincing khususnya, saat itu masih terendam banjir. Tapi hari itu, ‘kemuraman’ yang melanda Jakarta dalam beberapa hari terakhir tidak terlihat. Ini mungkin ini menjadi pertanda baik karena pagi itu akan dilaksanakan upacara ngaben bersama yang dipimpin Mangku Lawa. “Ini adalah ngaben bersama. Ada lima, masing-masing 3 dari Jakarta Utara, 1 dari Cijantung, Jakarta Timur, dan 1 dari Bekasi. Mereka meninggal pada waktu yang berbeda, antara dua minggu hingga sebulan. Tapi oleh keluarganya masing-masing telah dikremasi dan abunya disimpan di krematorium. Setelah itu pihak keluarga menemui pendeta untuk mencarikan waktu yang baik untuk melakukan ngaben. Maka dari perhitungan, 25 Januari 2014 adalah hari baik untuk pengabenan,” jelas Mangku Made Subadra. Ngaben adalah hal penting dalam agama Hindu. Menurut kepercayaan Hindu, jasad manusia terdiri dari badan kasar (fisik) dan badan alus (roh). Badan kasar dibentuk oleh 5 unsur yang disebut Panca Maha Bhuta, yang terdiri dari pertiwi (tanah), apah (air), teja (api), bayu (angin), serta akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia yang kemudian digerakkan oleh roh. Ketika seseorang meninggal, yang mati sebetulnya hanyalah jasadnya saja, sementara rohnya tidak. Oleh sebab itu, untuk menyucikan roh tersebut diperlukan upacara ngaben untuk memisahkan antara jasad kasar dan roh tersebut. Upacara ngaben dapat juga dilihat sebagai upaya untuk mengantarkan roh menuju Brahma-loka yaitu linggih Dewa Brahma sebagai manifes-
Made Subadra
tasi Hyang Widhi (Tuhan) dalam mencipta. Upacara ngaben itu mulai pukul 08.00 hingga lewat tengah hari, namun seluruh rangkaian upacara pada hari itu baru berakhir sekitar pukul 18.00. Dari lima yang diabenkan, dua di antaranya melanjutkan dengan nyekah, sedang tiga lainnya rencananya akan melakukannya di Bali. “Sebelum upacara ngaben, dilakukan upacara nunas atma yang dilakukan di Pura Dalem yang dilakukan pihak keluarga. Setelah itu menuju Graha Yadnya untuk melakukan upacara ngaben. Tapi sebelumnya, pihak yang mewakili keluarga melapor ke Pura Segara yang menyatakan akan melakukan ngaben untuk keluarganya. Namun pihak keluarga yang berduka tidak bisa memasuki Pura jadi
harus diwakilkan oleh orang lain,” jelas Mangku Subadra lagi. Setelah ngaben, tahapan selanjutnya adalah upacara nyekah atau sering juga disebut upacara mamukur atau ada juga yang menyebut upakara ngeroras. “Kalau di Bali, upacara ngeroras biasanya dilakukan setelah 12 hari. Namun kalau di sini (Jakarta) bisa dilakukan langsung, tidak menunggu. Jadi bisa dipersingkat waktunya,” jelasnya lagi. Setelah semua rangkaian upacara selesai, barulah keluarga duka bisa masuk ke Pura Segara untuk bersembahyang. “Keluarga sudah bisa masuk karena sudah bersih,” tambahnya. Setelah
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
3
Ayu Puspitasari
Kreasikan Busana Tenun Bali itu, sekitar pukul 18.00 lebih, rombongan keluarga bersama pemangku menuju Gunung Salak. “Ini disebut maajar-ajar, tirta yatra. Maksudnya adalah melaporkan bahwa upacara sudah selesai. Ini wajib dilakukan, namun bisa ditunda, misalnya melakukannya nanti di Bali. Namun tetap harus
dilakukan,” ucap Made Subadra yang juga ikut ke Gunung Salak. Rangkaian selanjutnya adalah keluarga kembali ke rumah masingmasing dengan pemangku untuk melakukan mepaingkup, tujuannya menstanakan roh suci di sanggah/merajan keluarga. –Diana Runtu
NGABEN TIDAK HARUS “WAH” Menurut Mangku Subadra, pelaksanaan ngaben di Jakarta memang agak berbeda dengan yang umumnya dilakukan di Bali. Contohnya, tidak adanya bade dan lembu “Kami tidak membuat bade dan lembu. Meski begitu, tidak mengurangi ritual itu sendiri. Itu hanyalah sarana untuk mengembalikan atma orang yang meninggal ke tempat asal. Jadi tidak apa-apa kalau tidak ada itu,” ucapnya. Kalau di Bali, jenazah akan ditempatkan di bade untuk diusung beramai-ramai ke tempat upacara ngaben diiringi dengan gamelan, kidung suci dan diikuti oleh seluruh keluarga dan masyarakat. Tapi kondisi Jakarta kurang mendukung, berbeda dengan Bali yang sangat mendukung untuk melakukan prosesi semacam itu. “Jadi yang terpenting bukan dari ‘Wah’-nya tapi dari pelaksanaan upacaranya,” tambahnya. Ngaben sebagaimana yang kita lihat diselenggarakan di Bali, terlihat megah dan meriah. Tapi itu tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit. “Kami di sini melakukannya secara sederhana,” ucapnya.
Di krematorium, keluarga duka bisa memilih perabuan dengan cara kremasi oven ataupun dengan kayu bakar. Kebanyakan keluarga memilih kremasi karena dianggap lebih efisien. “Kremasi hanya salah satu alternatif yang dianggap lebih efisien, dengan mempertimbangkan kondisi yang ada,” tambahnya. Banyak orang Bali dan beragama Hindu yang tinggal di Jakarta, merasa sangat bersyukur bisa melaksanakan ngaben di Jakarta. Dari segi pembiayaan pun jauh lebih murah, apalagi jika dilakukan bersama dengan yang lain. Lalu ia pun bercerita tentang pengalaman keluarganya yang menjalani ngaben di Jakarta. “Ketika itu salah satu keluarga saya meninggal dunia. Bersamaan dengan itu ada juga umat lain yang meninggal. Akhirnya kami melakukan ngaben bersama. Dengan ngaben bersama, biaya yang dikeluarkan pun bisa ditekan menjadi jauh lebih murah. Setidaknya, untuk ngaben dua jenazah termasuk biayanya seperti konsumsi, dll menghabiskan sekitar Rp 9,6 juta itu pun dibagi dua. Nah kalau di Bali, wah… saya tidak bisa membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan, pasti lebih dari itu,” paparnya. Dengan adanya itu, maka banyak masyarakat Bali yang ada di Jakarta maupun di Botabek merasa sangat bersyukur karena bisa melaksanakan kewajiban dengan biaya yang terjangkau. Selain itu, di Graha Yadnya pun pernah digelar acara ngaben massal. Untuk biaya bisa secara suka rela diberikan oleh keluarga duka. Ngaben ini diikuti oleh umat se-Jabodetabek. “Ketika itu cukup banyak yang ikut karena kabar ini disebarkan ke seluruh banjar di Jabodetabek. Kalau tidak salah, biaya ngaben masal itu menghabiskan seratus juta rupiah lebih, namun keluarga-keluarga hanya dikenakan biaya suka rela saja. Misalnya untuk konsumsi, dll. Karena untuk biaya ngaben sendiri sudah ada bantuan dana,” ungkapnya. –Diana Runtu
Tenunan khas Bali bukan saja indah dipakai untuk busana ke kantor, tapi kini kain sudah dijadikan sebagai busana sehari-hari ataupun busana pesta. Aneka model busana dapat dikreasikan, mulai dari busana anak-anak hingga orang dewasa. Semua dibuat nyaman dalam balutan busana tenun Bali.
S
alah satu penggiat busana tenun Bali adalah Ayu Puspita sari. Wanita kelahir an Surabaya, 26 November ini se dang merintis usaha yang sangat menjanjikan ini dengan menggu nakan label “Novee Collections”. Kisah ketertarikannya ini, su dah berawal sejak kecil. “Waktu kecil saya sudah terpesona den gan keindahan kain tenun yang dikenakan oleh wanita Bali saat pergi ke acara persembahyangan. Orang-orang berpakaian endek Bali terlihat sangat anggun, ter hormat, berwibawa dan sangat enak dipandang. Saya melihat aneka ragam motif dan warna tenun Bali yang digunakan para pemedek sembahyang. Sejak itulah tenun Bali menjadi impian saya. Suatu saat nanti, saya akan punya usaha sendiri mendesain dan membuat pakaian tenun Bali. Jadi ini bukan sekadar hobi, namun hasrat yang sangat kuat memotivasi saya. Termasuk kecintaan saya terhadap dunia
fashion,” kata Ayu. Sejak remaja Ayu sudah me nyukai dunia fashion. Pada masamasa sekolah, ia suka memakai seragam sekolah yang model nya dibuat sedikit berbeda dari model seragam yang semestinya, hanya karena ingin sedikit tampil beda dan lebih fashionable. Ia menambahkan, dulu sa ngat prihatin melihat tenun Bali yang sempat agak terlupakan dan kurang diminati. Ia mengamati, toko-toko yang menjual tenun Bali pada waktu itu begitu lesu. Sekarang, ia ikut senang, karena sudah banyak desainer ibu kota yang juga menggunakan produk tenun Bali. Malah, beberapa tahun belakangan ini, kata Ayu, pengusaha tenun Bali di Bali makin bergairah dalam ber kreasi. “Dulu, mungkin tenun Bali hanya dipakai untuk baju kantor dengan desain sederhana dan berkesan membosankan. Namun sekarang, saya lihat masyarakat Bali sudah menghargai dan men cintai produk lokal dan ikut
Koleksi busana di Novee Collections
melestarikan budaya Bali dengan memakai baju tenun Bali di ber bagai kesempatan. Baju tenun Bali dipakai sebagai busana kerja di berbagai perkantoran, dengan desain yang lebih modern namun tidak menyimpang jauh dari un sur tradisional,” kata Ayu. Untuk mempromosikan tenun Bali, ia selalu memakai busana te nun Bali dalam berbagai kesem patan, sehingga teman-teman melihatnya identik dengan te nun Bali. “Pernah suatu ketika, saat saya berada di pusat per belanjaan, saya didekati seorang wanita hanya untuk mengata kan baju tenun Bali yang saya pakai bagus dan pesan dimana. Koleksi saya memang didesain untuk acara kasual dan nya man dipakai sehari-hari. Dalam kesempatan yang lebih resmi pun saya memakai tenun Bali,” tutur wanita yang membuka butik busana tenun Bali sejak tahun 2012 ini. Ia senang karena makin ba nyak orang yang memakai kolek sinya, akan makin membantu promosi produknya dan ikut menjaga kelestarian tenun Bali. Karena itu, dalam kesempatan ini Ayu juga berterima kasih kepada semua pelanggan Novee Collections, atas dukungannya selama ini. Ayu memiliki target ke de pan, menjadikan tenun Bali
sebagai salah satu “signature clothing” untuk bahan pakai an di Bali khususnya dan In donesia secara umum yang dikenal secara internasional. “Target saya, a nytime anywhere orang lihat tenun Bali, pikiran mereka langsung ke Bali dan Indonesia. Konsumen saya se lama ini datang dari berbagai tempat di Indonesia bahkan ada juga permintaan dari Malaysia, Singap ura, dan Australia,” kata Ayu. Bagi yang tertarik de ngan koleksi busana di Novee Collections, bisa datang ke butik yang juga kediaman Ayu di Jalan Gunung Salak 31 Pa dangsambian
Denpasar. Alangkah baiknya, jika dengan perjanjian terlebih dahulu. Pemesanan juga dapat dilakukan secara online, seperti layaknya pelanggan dari luar Bali. Ayu bisa dihubungi via whatsapp nomor 0896 5703 7440, pin BBM 7F4C5BF2. Untuk penger jaan busana biasanya memakan waktu 1-3 minggu. Ada beragam desain yang cocok untuk acara kasual maupun acara yang lebih resmi atau untuk busana kerja. Koleksi lengkapnya bisa di lihat di facebook page Novee Collections atau bisa follow instagram @ noveecollections atau w ww.noveecollectionsbali. com.-ast.
2
Ekspresso DAri daPUr Redaksi Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
Jangan Abaikan Kependudukan
Masalah kependudukan ibarat memegang telur. Kalau terlalu erat, telur bisa pecah. Kalau dilonggarkan, telur bisa jatuh. Harus ada strategi untuk memegangnya. Kependudukan juga demikian. Kalau dikekang, bisa berhadapan dengan hak reproduksi manusia. Kalau tidak diatur, jumlah penduduk bisa berlimpah. Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi pemerintah untuk mengatasi persoalan ini. Sejak tahun 1970 ketika KB mulai diperkenalkan ternyata membuahkan hasil yang cukup efektif. Hingga kini, jika dikalkulasi, ada 100 juta kelahiran yang bisa ditekan. Jika ini tidak dilakukan sejak tahun 1970, bisa jadi penduduk Indonesia sekarang 330 juta jiwa. Wilayah Indonesia ini tentu akan disesaki penduduk. Jika masalah penduduk sudah tertangani dengan baik, masalah-masalah lain akan lebih mudah untuk diatasi. Karena itu, pemerintah perlu memberi perhatian terhadap masalah
Simakrama Tabloid Tokoh dengan jajaran Perwakilan BKKBN Provinsi Bali yang dipimpin Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali IB Wirama, S.H., M.Kes (tengah, endek coklat).
kependudukan. Jangan sekali-kali mengabaikan masalah kependudukan. Demikian antara lain yang terungkap dalam simakrama Tabloid Tokoh dengan jajaran Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Kamis (29/1). “Kami dari BKKBN melakukan pembinaan dari jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Jangka pendek dengan menyasar pasangan usia subur, jangka menengah dengan menyasar rema-
ja melalui Generasi Berencana (GenRe), dan jangka panjang dengan menyasar balita melalui Bina Keluarga Balita,” ungkap Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali IB Wirama, S.H., M.Kes. Dalam kesempatan tersebut dibicarakan mengenai agenda yang bisa digarap Tokoh dan BKKBN, diantaranya Festival Keluarga dan Pemilihan Ibu Teladan se-Bali. Jajaran Perwakilan BKKBN Bali menyambut positif semua agenda yang disampaikan dan siap untuk bekerja sama.
Bawangnya jangan Dikupas Di daerah saya di Flores, ketika keluarga atau tetangga ada yang mengadakan hajatan maka orang-orang akan berkumpul di rumah si pemilik hajatan untuk ikut membantu mempersiapkan hajatan. Mulai dari urusan masak maupun menghias atau mempersiapkan tempat hajatan. Anak-anak perempuan biasanya mengurusi semua menu untuk hajatan, mulai dari mempersiapkan bumbu, memasak bahan masakan dan lainnya, sedangkan kaum pria akan menghias tempat atau menyembelih hewan. Saya berpikir bahwa semua daerah seperti itu. Namun, ketika pertama kali saya mengikuti hajatan salah satu keluarga kenalan saya di Bali, yaitu di Palasari, Negara, ada kejadian yang membuat saya selalu terngiang. Kejadiannya ketika hari itu, kenalan yang saya akan mengadakan hajatan. Seperti pada umumnya, tetangga mereka ramai-ramai datang membantu. Hari pertama semua berjalan seperti kegiatan gotong royong
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
pada umumnya dan saya pun turut di dalamnya. Di hari kedua, di siang hari, saya kembali berbaur dengan tetangga lain untuk mempersiapkan segalanya karena acaranya dilaksanakan esok hari. Ketika sedang duduk, saya melihat tumpukan bumbu seperti bawang merah dan bawang putih, jahe dan lainnya belum dikupas. Ibu-ibu lainnya tidak melakukan apapun terhadap bumbu-bumbu itu. Karena berpikir bahwa mungkin ibu-ibu itu akan melakukan hal lain, saya dengan seorang kenalan lain yang berasal dari luar Bali, memutuskan untuk mengupas atau membersihkan bumbu itu. Tiba-tiba, saya ditegur. “Dik, yang itu jangan dibersihkan. Itu tugasnya bapakbapak.”
Hah?????? Kenapa memangnya? Masa bapak-bapak itu disuruh mengupas bumbu-bumbu ini??? Saya merasa seperti perempuan tidak berguna he…he… he… Ternyata ketika saya bertanya kepada ibu kenalan saya itu, dia mengatakan bahwa untuk urusan itu memang sudah adatnya seperti itu. Laki-laki yang akan memasak sate itu dan rasa sate yang dimasak para laki-laki lebih enak. Belum selesai sampai di situ... pukul 03.00 saya terbangun. Di dapur semua para pria dengan berpakaian adat mengerjakan tugas mereka. Oh My God inilah adat istiadat suatu daerah. Inilah pelajaran baru dari banyaknya adat budaya di Indonesia. Yoda, Flores
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
GORO-GORO
NAMA
Seorang tetangga melahirkan anak pertamanya, setelah 11 tahun menikah. Ia minta nama buat bayinya Putu Wijaya pada Amat. “Saya ingin anak saya punya nama yang membawa hoki. Bukan nama yang terlalu berat yang bisa jadi bumerang yang membuat dia penyakitan seperti anak tetangga saya. Jangan sampai nanti dia terpaksa gonta-ganti namanya setelah besar!” Amat bingung. “Kenapa mesti minta nama dari saya? “Kami sudah minta pada banyak orang, tapi semua tidak cocok!” “Tidak cocok bagaimana?” “Ya, begitu, setelah diberi nama, anak saya nangis terus, tidak jelas, apa sebabnya.” “Sudah dibawa ke puskesmas?” “ Sudah. mantri bilang, tidak apa-apa, anak saya sehat. Menyusuinya juga rakus.” “Jangan mantri, bawa ke dokter.” “Sudah. Sudah dibawa ke dokter. Lalu pindah ke dokter lain, untuk second opinion. Tapi jawabnya sama. Anak saya tidak sakit.” “Kalau begitu bawa ke balian!” “Sudah. Balian bilang, tanya Pak Amat. Makanya kami datang kemari minta nama. Baiknya siapa, Pak Amat, anak saya laki. Lahirnya wuku Langkir, Selasa Pon.” Amat berpikir. “Coba cari di buku tuntunan nama anak, di situ banyak pilihan.” Tetangga itu terdiam, dia berunding dengan suaminya, lalu menjawab. “Tapi balian bilang, minta nama dari Bapak.” Bu Amat yang menemani Amat menghadapi tetangga itu, memberi isyarat pada suaminya. Maksudnya supaya Amat menolak. Tapi Amat salah pengertian. “Baik, nanti Bapak pikirkan. Besok pagi coba barangkali sudah dapat.” Setelah tetangga pergi, bu Amat mendamprat Amat. “Kenapa tidak menolak saja. Nanti kalau salah lagi, kita pasti dirongrong terus!” “Habis, isyaratnya begitu, tidak jelas. Lagi pula apa salahnya menolong tetangga memberi nama, kan tidak ada ruginya?!” “Rugi!” “Ruginya apa?” “Rugi waktu. Rugi pikiran! Rugi duit.” “Rugi duit?” “Ya!” “Kok rugi duit?” “Habis kata Ami, ide itu mahal. Bukan saja nomor cantik HP yang bisa dijual, nama orang juga!” Amat ketawa. “Ibu ini kok jadi komersil sekali sekarang? Apa salah menolong tetangga. Itu kan dharma, Bu.” “Dharma, dharma terus. Dharma itu kan buat orang yang kelebihan duit. Buat kita yang pas-pasan, menolong diri sendiri juga dharma!” Amat tidak menjawab, sebab suara istrinya sudah makin tinggi. Ia tidak mau menghabiskan tenaga untuk bertengkar. Semalaman Amat bepikir, mencari, sebuah nama. Tapi kian dicari, nama itu makin ngumpet. Sampai subuh, karena kelelahan mencari Amat tertidur. Jam sepuluh pagi, Bu Amat membangunkan suaminya. Amat gelagapan terbangun. “Sudah datang?” “Siapa? Tetangga yang minta nama itu?” “Ya!” “Bukan hanya sudah datang, tapi sudah pulang.” Amat kecewa sekali. “Memang barangkali kita belum diperbolehkan oleh Yang Di Atas Itu, memberi dharma. Terus mereka kecewa?” “Kecewa ? Kenapa kecewa?” “Pasti mereka keki, memberi nama saja tidak ikhlas, apalagi duit. Dharma kan bagus!” “Ya itu!” “Ya itu apa?” “Saya katakan, Bapak tidak bisa tidur sampai subuh, dan minta maaf tak mampu memberi dharma. Bukan tidak bisa, belum ketemu.” “Mereka pasti kecewa!” Bu Amat tersenyum. “Bukan kecewa. Malah memberikan ini.” Bu Amat mengulurkan amplop yang isinya tebal. “Tiga juta. Anaknya akan diberi nama Dharma. Bapak praktik jadi dukun nama saja mulai sekarang!”
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Mozaik
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
3
Mbok Tumpuk
Tiap Hari Makan Batang Daun Lompong Pagi itu, matahari mulai naik mendekati atas kepala. Bilik rumah dan batu bata merah kuno, nampak jelas menghiasi permukiman para penduduk yang ada di tepian jalan kaki Gunung Wilis. Ada sebuah rumah mungil berukuran 3x4 meter milik mbok Tumpuk (80).
Mbok Tumpuk
S
etelah dicari-cari, mbok Tumpuk tengah mencuci pakaian kotor dan mandi di sungai. Kedua tangan nenek tua itu, tengah sibuk menggosokgosokkan rambut panjang yang sudah memutih dengan rumput yang ada di tepian sungai. “Wonten nopo dik, mriki (ada apa adik ke sini),” kata, warga Dusun Sidodadi RT 10/RW 02, Desa Ketandan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun ini. Atas bantuan seorang warga, komunikasi bahasa Jawa Madiunan berjalan mulus. Komunikasi harus lebih keras bagaikan orang tengah berteriak kencang karena mbok Tumpuk tidak jelas lagi pendengarannya. Perbincangan kemudian berlanjut ke rumah mbok Tumpuk. Begitu pintu terbuka, mbok Tumpuk segera memasuki ruangan tanpa kamar itu. Karena tidak ada penerangan lampu listrik, Mbok Tumpuk, langsung mencari korek api lalu menyalakan dua buah lampu templok dengan bahan bakar minyak tanah. Meski dengan tangan gemetar, Mbok Tumpuk, terus berusaha menggoreskan bagian pentol batang api pada bagian kasar pada bungkus korek. Tak lama ruangan berukuran 3x4 meter itu, mendadak terang dan
jelas. Tembok dari bata merah kuno, juga nampak dengan jelas meski dalam keadaan kumuh dipenuhi sarang laba-laba. Mbok Tumpuk, melanjutkan cerita kehidupannya yang sudah bertahun-tahun dijalaninya seorang diri. Beberapa tahun yang lalu, suaminya telah meninggal dunia. Begitu juga anak semata wayangnya, meninggal saat masih
ladang demi memperoleh sesuap nasi. Mbok Tumpuk, akhirnya rela, tiap hari makan tumbuh-tumbuhan yang masih bisa dikonsumsi, sayur kangkung, daun telo rambat, daun singkong dan lainnya. Batang daun atau tumbuhan lompong/tales pun kerap dijadikan pengganjal perut lapar. “Terkadang kalau ada warga yang memberi singkong, ya dibuat tiwul. Begitu juga telo
Mbok Tumpuk tengah beristirahat di kamarnya
balita. Kini, Mbok Tumpuk, hidup sebatangkara. Untuk menjalani kehidupan, Mbok Tumpuk, harus menerima apa adanya. Bahkan, tidak segan-segan lagi jika harus menerima uluran tangan dari tetangga dekat. Karena di usia sudah senja, tentu sisa tenaga yang dimilikinya mulai rapuh. Bahkan, tidak mungkin lagi untuk bekerja keras di
Tampak depan rumah Mbok Tumpuk
rambat/ubi jalar, direbus,” tutur Mbok Tumpuk. Untuk makan siangnya, Mbok Tumpuk harus memotong dua batang daun tales yang ada di depan rumahnya untuk dimasak/rebus. Batang tales yang sudah dipotong dari induknya, Mbok Tumpuk, membuang bagian daunnya yang sudah tua. “Meskipun daunnya masih muda, tapi rasanya ngak enak. Tapi masih enak bagian batangnya, lunak dan cocok untuk orang seperti saya yang sudah ompong,” terangnya lagi. Sebelum batang tales itu dimasak terlebih dulu dipotong-potong kecil, dan dibiarkan dulu hingga bagian getahnya keluar. Setelah itu, baru dicuci sembari diremas-remas agar bagian getahnya mau hilang hingga bersih, lalu direbus. Untuk menambah rasa, Mbok Tumpuk, memberikan garam secukupnya. “Dua batang daun tales, cukup untuk makan siang dan malam. Jika ada untung/rezeki, ya ada aja tetangga yang ngantar nasi lauk seadanya. Meskipun hidup serba kekurangan, saya tidak mau minta-minta tetangga,” jelas Mbok Tumpuk. -Ajun Ally
Mbok Tumpuk tengah memotong batang lompong atau tales
Berharap ada Listrik Banyaknya tikus-tikus berkeliaran di dalam ruangan rumah maupun tempat tidurnya sering jadi masalah Mbok Tumpuk. Saat tidur malam hari, ia sering menjadi sasaran gigitan tikus. Agar tidak kena gigitan tikus, Mbok Tumpuk tiap mau tidur terlebih dulu membungkus kaki maupun tangannya menggunakan kain jarit miliknya. “Makanya, kain jarit atau pakaian saya banyak yang sobek karena digigiti tikus lapar,” ujarnya. Soal lampu listrik, mbok Tumpuk mengaku sangat membutuhkan penerangan seperti layaknya tetangga yang sudah lama menikmati terangnya lampu listrik. Tapi, jika menghubungkan lampu listrik dari tetangga ke rumahnya, ia takut tidak bisa bayar setiap bulannya. Selain itu, juga ingin hidup layak menempati rumah miliknya meskipun sangat kecil. Baginya yang terpenting jika malam hari, tidak begitu kedinginan akibat terpaan angin kencang dari Gunung Wilis. Tapi semua harapan maupun keinginan, hanya mimpi dan angan-angan belaka. Karena Mbok Tumpuk, telah menyadari tidak akan mampu mencukupi semua kebutuhan itu. Mengingat usia sudah tua, tapi jika pemerintah mau peduli memperbaiki rumahnya, Mbok Tumpuk, menyambut baik dan dengan senang hati atas kepedulian itu. “Tentu, sudah dapat mengurangi penderitaan saya yang hidup sebatangkara. Tapi nyatanya, saya hidup sudah bertahun-tahun di rumah bagaikan gubuk tua ini, tidak ada tanda-tanda pemerintah mau peduli? Makanya itu, saya tidak bisa berbuat banyak karena bapak-bapak pejabat di luar sana, tidak bisa untuk memikirkan nasib saya yang hidup seperti ini. Tapi, meskipun miskin, saya tetap bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tandas Mbok Tumpuk. Disinggung soal bantuan dana rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari tahun ke tahun di Kabupaten Madiun? Mbok Tumpuk geleng-geleng kepala, bahkan mengaku tidak tahu apa itu bantuan dana RTLH itu. --Ajun Ally
24
What’s Up
Edisi 834/ 2 - 8 februari 2015
BIGREDS Bali
Fanatisme Supporter Liverpool
Bagi pecinta sepak bola khususnya liga Inggris, pasti tahu tentang You’ll Walk Never Alone (YWNA). Ini lagu yang identik dengan klub Liverpool. Fans Liverpool pasti akrab dengan lagu yang dinyanyikan setiap The Reds bertanding di Stadion Anfield. Semangat dukungan tak hanya dari fans yang ada di Inggris. Fans dari negara lain termasuk Indonesia pun tak kalah semangatnya mendukung Liverpool tiap bertanding. Supporter ini tergabung dalam BigReds.
B
old Indonesia Group of Red’s Supporters (BIGREDS) didirikan 28 Desember 1999. Ini adalah suporter klub sepak bola mancanegara pertama yang berdiri di Indonesia. BIGREDS juga menjadi suporter klub pertama di Indonesia yang mendapatkan status Branch (sebutan resmi klub suporter Liverpool FC) dari klub yang didukungnya. Momen tersebut terjadi 18 O ktober 2004. November 2012, anggota resmi BIGREDS tercatat lebih dari 5.200 tersebar di 27 regional di berbagai kota di Indonesia. “Berbagai kegiatan rutin pun digelar di semua
regional BIGREDS seperti kegiatan wajib nonton bareng (nonbar), futsal, sepak bola, bulutangkis dan lain-lain. Berbagai ide dari setiap member di regional membuat mereka juga tak jarang membuat kegiatan insidental sep erti kegiatan off season yang bertujuan meningkatkan keguyuban internal maupun kegiatan sosial untuk memperkuat hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar,” ujar David Allen, Humas 1 BIGREDS Bali. Kreativitas juga membuat BIGREDS menjadi inisiator kegiatan sosial bernama One Goal One Thousand (OGOT).
“Ide kegiatan ini adalah untuk tiap gol yang diciptakan oleh Liverpool FC maka suporter menyumbangkan seribu rupiah, meski pada praktiknya banyak yang menyumbang lebih dari nominal itu untuk setiap gol yang tercipta,” imbuh I Putu Manik Ardita, Humas 2 BIGREDS Bali. Kegiatan peduli sosial ini pertama kali didengungkan tahun 2009 bertujuan untuk membantu sesama yang membutuhkan. Kegiatan OGOT ini berlaku secara nasional dan menjadi kegiatan rutin seluruh BIGREDS regional. Putu menambahkan ada tiga bidang yang disasar dari hasil OGOT, sepak bola, anak-anak, dan pendidikan.
kafé di Denpasar untuk “Nonton Bareng”. Karena kesamaan kecintaan terhadap LFC inilah yang menjadi awal adanya niat untuk mengajukan Bali sebagai salah satu regional dari BIGREDS,” ujar David yang dikenal sebagai MC dan presenter ini. Saat ini BIGREDS Bali dipimpin Sajar Apriadi sebagai Ketua Kordinator Wilayah dan Natha sebagai Wakil Kordinator Wilayah untuk masa periode 2014-2017. Anggota BIGREDS Bali biasanya kumpul untuk nobar di Warung Bu Umi di Kuta Central Park. “Anggota BIGREDS tidak
BIGREDS Bali sendiri berdiri 17 Desember 2011. “Kami terbentuk setelah beberapa fans Liverpool FC seringkali berjumpa di salah satu
hanya pria. Yang wanita juga ada. Biasanya kalau acara nobar tidak terlalu malam, mereka ikut hadir untuk memberikan dukungan bagi
Loyalitas tanpa Batas Alasan paling utama bagi Yura Karlinda Wiasa Putri bergabung sebagai member BIGREDS karena ia mencintai Liverpool. “Liverpool merupakan klub sepak bola yang hebat dengan supporter yang sangat luar biasa. Menyenangkan menjadi salah satu bagian dari sebuah supporter sepak bola yang mendapatkan pengakuan secara resmi dari klub,” ujar wanita yang akrab disapa Yura ini. Ia mengaku banyak suka yang dialami dibanding duka selama bergabung sebagai member BIGREDS. BIGREDS sudah seperti keluarga, rasa loyalitas tanpa batas untuk klub dan sesama penggemar Liverpool sangat tinggi. “Tiap pertandingan baik menang, kalah, juara atau tidak, tidak mengubah kecintaan para penggemar Liverpool. BIGREDS selalu merah, ramai , kompak dan yang pasti tetap YNWA selalu. Kalau untuk dukanya sih hampir tidak ada, ya paling mentok kalau nonbar terus Liverpool kalah, nah baru terasa dukanya,” imbuhnya. Ada satu hal yang paling berkesan dan tidak terlupakan bagi Yura ketika Liverpool Tour ke Indonesia. BIGREDS Bali pergi ke Jakarta untuk menyaksikan klub kesayangan mereka bermain. Di GBK lautan merah para pendukung Liverpool dari berbagai daerah sangat luar biasa hebat. Menyaksikan secara langsung klub tercinta bersama para pencinta Liverpool dari seluruh Indonesia merupakan momen yang paling membahagiakan bagi Yura secara pribadi. –Ngurah Budi
Kegiatan BIGREDS Bali
iverpool. Paling seru ya saat L nobar. Sebelum pertandingan di mulai, kami ikut berdiri, angkat slayer, kayak penonton di stadion,” tutur David yang mengaku kagum dengan Liverpool sebagai tim yang punya sejarah panjang dan prestasi luar biasa. Sementara Putu mengaku mengagumi Liverpool karena terkesan dengan YWNA. Di Inggris tahun 1970-an, YNWA lebih dikenal sebagai sebuah hits dari grup band asal Liverpool bernama Gerry and The Pacemaker. Pertama kali lagu ini masuk ke dalam fondasi kuat Liverpool saat Garry Marsden mempersembahkan lagu tersebut ke Bill Shankly, manajer Liverpool. Shankly jatuh hati pada lagu tersebut pertama kali saat didengarkan oleh Gerry. Gerry Marsden adalah pemimpin band Gerry and The Pacemaker yang juga teman dekat Bill Shankly. Dari altar pertunjukkan fans Liverpool yang disebut “The Kop” dikumandangkanlah untuk pertama kali You’ll Never Walk Alone. Hingga kini tradisi di Anfield, YNWA biasanya diperdengarkan fans Liverpool sesaat sebelum kick off dan 5 menit sebelum bubaran pertandingan. Lagu yang menggambarkan tentang kamu tidak sendirian ini menunjukkan setelah melalui masa sulit (badai) pasti akan ada masa cerah (langit keemasan).–Ngurah Budi