24
24 - 30 November 2014
2
Ekspresso
24 - 30 November 2014
GORO-GORO
DAri daPUr Redaksi
Recharge Power Melaksanakan banyak aktivitas kadang membuat kita bingung. Mana yang harus didahulukan. Mana yang menjadi prioritas. Bagaimana caranya agar semua kegiatan bisa dilaksanakan sampai tuntas? Jawabannya adalah mengenali potensi diri. Kita harus tahu sebatas mana kemampuan kita, dimana keahlian kita, dan siapa yang kita akan bekerja. Kalau sudah saling memahami, kegiatan yang berat pun akan terasa ringan. Hal yang penting adalah masingmasing personal memahami tugas dan tanggung jawabnya. Pengenalan potensi diri ini kami dapatkan dari pelatihan singkat bersama Ida Ayu Maharatni, S.Psi. Wanita yang akrab disapa Dayu Nanik ini memberikan cara pengenalan diri kepada kami. Dari hasil tes yang diberikan, kami menjadi tahu dimana kekuatan kami dan dimana kelemahan kami. Dalam kerja tim, potensi kekuatan inilah yang
Putu Wijaya
Suasana pelatihan mengenali potensi diri
harus disinergikan. Dari hasil pelatihan singkat yang kami anggap sebagai recharger power ini juga menjadi modal untuk menghadapi tahun 2015. Agenda-agenda kegiatan sudah kami siapkan. Semoga semua bisa terlaksana. Edisi kali ini kami persembahkan untuk para guru karena tanggal 25 November diperingati sebagai Hari PGRI.
Para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa banyak memberi kontribusi dalam kehidupan ini. Beberapa kisah guru kami tampilkan untuk dijadikan cerminan. Menjadi guru yang baik itu susah karena harus bisa menjadi teladan bagi siswa. Namun, walaupun berat, masih ada yang mau menjadi guru. Guru tak harus di sekolah. Di mana pun kita bisa menjadi guru asalkan bisa menjadi contoh yang baik. Salam
Gara-gara Jemuran Hari ini adalah hari yang menakutkan bagi semua orang, Malam Jumat Kliwon. Kata orang, saat malam Jumat Kliwon banyak hantu, setan, dan jin berkeliaran. Walaupun demikian, aku dan teman-temanku, Tini, Winda, dan Luh De telah sepakat akan menonton film horor terbaru yang berjudul Insidious 2. Malam ini begitu sunyi. Di rumah hanya ada aku dan adik laki-lakiku. Ayah dan ibuku masih bekerja di warung. Biasanya mereka pulang dari warung pukul 22.00. Apalagi kalau ada teman-teman bapakku, pasti diajak ngobrol semalaman. Sambil menunggu kedatang an Tini, Winda, dan Luh De. Aku menyiapkan laptop dan film yang akan ditonton. Tepat pukul 21.00 mereka datang. Dengan cepat mereka naik ke kasur dan menarik selimut sambil memegang erat bantal dan gu ling. Tak lupa mereka membawa beberapa keripik dan kacang untuk camilan. “Cepet dong, Er!” kata Winda “Awas lho, sekarang kan malam Jumat Kliwon, nanti
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
tahu-tahu ada hantu lagi. Hiiii seremm,” kata Luh De. Film pun diputar, awalnya semua berjalan lancar. Namun. tiba-tiba “Planggg” “Aduh, apaan tuh Er?” kata Tini. “Mana aku tahu, mungkin ada kucing yang jatuhin sesuatu di deket WC,” jawabku. “Coba cek, entar ada maling gimana? Aduh, bakalan hilang nih motorku. Yuk cek!” kata Winda panik. Akhirnya kami memutuskan untuk mengecek suara tadi. Langkah demi langkah kami telusuri. Angin berhembus membuat bulu kuduk merinding. Teringat malam ini adalah malam Jumat Kliwon menambah ngeri suasana. Tiba-tiba di pojok WC terlihat
samar-samar bayangan putih. Tini melihatnya dan berteriak. “Hantu...!!! Setan!!!! Kuntilanak!!!” Semua pun berlari keluar rumah. Di luar ada beberapa bapak-bapak yang kaget dan langsung menenangkan kami dan bertanya pada kami meng apa sampai berteriak. Dengan nafas terengah-engah kami menjelaskan bahwa ada hantu di WC. Bapak itu pun masuk dan mencoba mengecek. Ternyata bayangan putih tadi adalah jemuran baju putih milik adikku. OMG!! Malunya kita. Coba aja tadi aku enggak lupa menaikkan jemuran. Pasti enggak akan ada kejadian memalukan ini. Semua ini gara-gara jemuran. Ni Putu Erna Libya
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
24 - 30 November 2014
23
BBM
Santer selentingan BBM pasti akan naik. Sembilan bahan pokok dapur sudah ambil ancang-ancang untuk melompat. Ibu-ibu pada kesal. Lalu pemerintah disalahkan. Amat berusaha menjelaskan kenapa BBM harus naik, “Kalau tidak, kita akan bangkrut,” kata Amat. Ibu-ibu protes. “Bukan akan lagi, kita sudah bangkrut. Pak Amat kan tidak ngerti urusan dapur. Tahunya makanan sudah terhidang. Kalau telat, marah. Kalau kurang bumbu, langsung ngambek, makan di warung. Kan begitu, Bu Amat?!” Bu Amat bukan saja membenarkan, tapi juga menambahkan. “Seakanakan, dapur itu memang tugas, kewajiban dan tanggungjawab para ibu tok! Betul tidak, Pak?!” damprat Bu Amat kepada suaminya. Amat sebenarnya mau menjawab. Tapi membaca gelagat istrinya yang sudah digerpol ibu-ibu tetagga, ia merasa lebih bijak diam. Bu Amat jadi dapat angin. Ia terus mengupas sifat-sifat jelek kaum lelaki. “Itu menunjukkan bahwa kaum lelaki itu kurang bisa tenggang rasa. Tidak mau melihat persoalan secara bulat, tuntas dan lengkap. Mengagumi buku hanya dari kulitnya, tanpa membaca isinya! Betul tidak, Pak?” Amat mengangguk, seperti membenarkan. Padahal dalam hati berteriak: tidak!! “Bagaimana bisa masak kalau harga cabai, bawang, daging, garam, tomat, membubung, sementara uang jatah dapur tidak bertambah bahkan sering dikurangi dengan alasan ini-itu?!” Amat tidak sanggup lagi diam. Ia buru-buru masuk kamar. Merogoh dompet. Lalu kembali dengan sejumlah uang. “Ini!” kata Amat menaruh uang itu di meja depan istrinya duduk. Bu Amat terkejut. “Uang apa itu, Pak?” “Uang suami yang tidak mau direcokin tetek bengek dapur, untuk menjaga ketenangan bekerja!” Bu Amat nampak bingung. “Ketenangan bekerja?” “Ya!” Amat langsung ngeloyor keluar rumah, sebelum istrinya sempat menjawab. Ia keki merasa disindir. “Mestinya ibu kamu itu ngomong saja terus-terang minta tambahan biaya belanja dapur,” kata Amat pada Ami, di rumah Ami. “Mestinya ibu kamu itu melihat bapak ini tidak seperti laki-laki lain, yang egois, yang tidak peduli urusan dapur,” lanjut Amat. “Mestinya ibu kamu, jangan menampung semua hasutan dan kasakkusuk ibu-ibu tetangga yang kerjanya hanya nonton sinetron dan mekutu di rumah, sementara suaminya seradak-seruduk, jatuh-bangun cari nafkah! Mestinya....” Ami cepat memotong. “Mesti bapak mengerti, ibu itu lelah, ingin ngobrol apa saja untuk melepaskan bebannya!” Amat terkejut. Ami terus menyambung. “Mestinya Bapak paham, perhatian bapak, kesediaan bapak untuk mendengarkan dengan sabar unek-unek ibu, akan membuat ibu kembali segar dan bersemangat kerja di dapur, walau pun harga sembako melonjak, sedang belanja yang bapak berikan tidak cukup!” Mestnya ....” Amat mau menjawab, tapi Ami tidak memberi kesempatan. “Mestinya, setelah hidup bersama puluhan tahun, bapak mengerti sifatsifat ibu yang sabar, setia dan tidak pernah mengeluh meskipun bapak bawa ibu ke neraka! Mestinya ...”. Amat langsung pulang. Ia merasa bahwa ia sudah bersikap tak adil. Ia memang seperti kata istrinya, laki-laki yang egois. Sampai di rumah, ternyata rumah kosong. Tapi di meja makan sudah siap makanan dengan lauk-pauk yang disukai Amat. Ketika Amat membalikkan piring nasi yang tertelungkup, ia hampir berteriak, karena di situ menggeletak uang yang pagi tadi diberikanya. Hampir malam, baru Bu Amat pulang. Nampak sangat lelah. Ia langsung tidur, mandi pun tak sempat. Amat lalu menghampiri, memijit kakinya. Bukannya terbangun, Bu Amat malah makin dalam tertidur. Amat menyelimuti tubuh istrinya, ketika terdengar pintu depan diketuk. Ia bergegas ke depan. Ternyata pembantu orang kaya yang baru pindahan itu. “Saya diminta nyonya menanyakan, apa Bu Amat besok bisa datang lebih pagi, karena cucian banyak sekali?” Amat bingung. “Cucian apa? Kok istri bapak disuruh datang lebih pagi?” “Ya. Kalau tidak, nyonya akan cari orang lain.” Amat tambah bingung. Untung istrinya datang dan menjawab. “Katakan pada Nyonya, tidak bisa. Ibu sudah tertalu tua, tenaga ibu tidak kuat lagi menjadi tukang cuci. Ibu berhenti.” Amat ternganga. Baru sadar bahwa selama ini, ia sudah bangkrut! Uang belanja dapur tak pernah cukup. Tapi sebaliknya dari mengeluh apalagi protes -seperti ibu-ibu tetangga- istrinya diam-diam berjuang melawan biaya hidup yang terus melonjak, walaupun BBM tidak naik.
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Dekranasda Kota Denpasar Bersinar di Ajang Bali Fashion Tendance 2015 Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Denpasar berhasil membawa material endek untuk mewarnai pagelaran “Bali Fashion Tendance 2015” bertemakan “Svarga Svarna” yang digelar Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Bali, Sabtu (15/11) di ST Suites, Seminyak, Kuta.
D
alam acara yang menampilkan gambaran tren busana 2015 dan melibatkan 45 desainer lokal maupun luar negeri tersebut, Dekranasda Kota Denpasar turut memeriahkan acara dengan menghadirkan empat desainer lokal Kota Denpasar. Mereka adalah Rhea Cempaka, Suandewi Anyar, Sri Sri Embroidery & Textile, dan Kwace Bali, yang tergabung dalam Asosiasi Bordir, Endek, dan Songket (Asbest) Kota Denpasar. Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ida Ayu Selly D. Mantra mengatakan, ini pertama kalinya pengrajin atau UKM Kota Denpasar ambil bagian dalam acaranya APPMI Bali. Program ini merupakan rangkaian kegiatan Pra –Denpasar Festival (Denfes) 2014. Tujuannya jelas, untuk mengangkat, mengembangkan, serta melestarikan tenun ikat Bali yang bernama endek. “Selain itu, APPMI Bali dalam even ini juga sama turut mengangkat material kain tenun khas Bali. Jadi, tepat rasanya jika progam kami bersinergi untuk terus melanjutkan promosi endek sebagai salah satu produk unggulan Kota Denpasar di kalangan
yang lebih luas dengan melibatkan desainer berbakat dan pengrajin binaan Dekranasda,” ucapnya. Dikatakannya pula, ajang ini menjadi ujian untuk peningkatan kualitas penampilan karya keempat anggota Asbest tersebut. Dan, secara keseluruhan Selly D. Mantra melihat apa yang ditampilkan di panggung Bali Fashion Tendance 2015 kali ini, semuanya mengalami peningkatan dengan semakin terlihatnya karakter masing-masing. “Ini karena pengalaman mereka yang semakin sering tampil,” katanya saat ditemui usai menyaksikan langsung acara fashion show di ST Suite , Seminyak, Kuta pekan lalu. Selanjutnya istri orang nomor satu di Kota Denpasar, IB Rai Dharma wijaya Mantra ini juga berharap, para desainer kota Denpasar dapat meningkatkan kreativitas dan inovasi karyanya dalam fashion yang berbudaya. Salah satunya tidak berhenti mengangkat tenun ikat khas Bali, endek yang juga merupakan bagian dari warisan budaya. “Sebab endek, jika tidak dikembangkan mengikuti tren, akan susah berkembang, dan mungkin saja lama-kelamaan akan ditinggalkan,” tandasnya.
Ida Ayu Selly D. Mantra MELENGGANG CEMERLANG Sementara di atas panggung catwalk Bali Fashion Tendance 2015, empat desainer binaan Dekranasda Kota Denpasar berhasil mengisi kesempatan tersebut dengan karyakarya mereka yang memamerkan keindahan perpaduan unsur tradisi onal, bahan lokal bernama endek dengan sentuhan modern melalui busana ready to wear untuk dapat dikenakan di berbagai acara. Terlihat Rhea Cempaka, yang semakin dikenal dengan karya-karya kebaya berbahan endek ini sukses menghadirkan koleksinya dengan mengusung tema “Putri Cening Ayu”. Inspirasinya yang diangkat dari budaya lokal Bali ini semakin segar dilengkapi aksesori perak berupa bros, anting, gelang, cucuk, kalung, dan subeng berornamen khas Bali untuk mempercantik penampilan. Disusul Suandewi Anyar mem bawakan tema “Rectoverso”, tampil dengan desain gaya bebasnya para bohemian yang gemar berpetualang an. Ia menampilkan bahan endek dilengkapi sifon berwarna alam serta aksesori dari kulit, kayu, dan logam. Sementara Kwace Bali melenggang dengan inspirasi garis asimetrisnya. Mengusung tema “Abirama” yang diterjemahkannya tanpa aksesori, demi menekankan keunikan desainnya, pada keindah an motif di atas kain endek yang digunakannya. Sedangkan SRI SRI Embroidery & Textile, di ajang tersebut terlihat lebih berfokus pada busana kasual
yang siap pakai, terlihat berhasil menghadirkan endek dengan tema “Metropolitan Sexy”. Pada koleksi spesialnya, yakni pilihan busana untuk wanita karier termasuk ibu rumah tangga yang independen namun memiliki pekerjaan atau kegiatan usaha. Dalam kesempatan tersebut keempat desainer Kota Denpasar ini, mengaku kepada Tokoh sangat berterima kasih atas semua binaan, dukungan dan kesempatan, baik di ajang lokal maupun nasional yang diberikan Pemerintah Kota Denpasar melalui Dekranasda Kota Denpasar selama ini. “Dengan kesempatan seperti ini saya pribadi merasakan sangat bermanfaat. Hal ini menjadikan potensi dan kreativitas saya semakin tergali. Karenanya, ketika dibukakan jalan kami tidak akan main-main. Apalagi saat kami hadir di panggung sebesar Bali Fashion Tendance 2015 ini atas nama Kota Denpasar, ” ucap AA Sri Wariyani pemilik SRI SRI Embroidery & Textile yang juga ketua Asbest Kota Denpasar dan diamini ketiga rekannya. Hal senada disampaikan Rhea Cempaka. Ia sangat bersyukur atas
semua kesempatan yang melibatkan mereka, khususnya anggota Asbest Kota Denpasar untuk ikut bersama-sama membawa dan mengangkat produk-produk lokal unggulan Kota Denpasar di berbagai ajang bergengsi. Di sini katanya bukan hanya produk mereka semakin dikenal namun juga memacu masing-masing me ningkatkan nilai di dalamnya, baik secara kualitas maupun kreativitas. “Kami berharap adanya support yang berkelanjutan untuk semua desainer, pengrajin atau UKM yang ada di Kota Denpasar,” ujar Rhea. Sementara Deden Iswanto, salah seorang perancang senior ibukota yang juga hadir menyaksikan langsung acara Bali Fashion Tendance 2015 tersebut mengatakan pengamatannya terhadap kehadiran Dekranasda Kota Denpasar. Katanya, untuk menunjukkkan kematangan hasil sebuah desain yang ditampilkan, para desainer secara umum sangat memerlukan jam terbang yang panjang dan cukup banyak. Namun, bicara busana siap pakai dan untuk jualan, maka karya-karya empat desainer dari Kota Denpasar diakuinya berhasil. -ard
Dari kiri: pemilik Dewi Anyar, Rhea Cempaka, Sri Sri Embroidery dan Kwace
Metropolitan
22
Menyusuri Jejak Hindu di Kampung Tugu Kampung Tugu di Kelurahan Semper Barat, Jakarta Utara, kini tidak asri lagi. Kampung yang dulunya adalah areal persawahan dan perkebunan, kini terlihat gersang dan menjadi areal parkir kontainer yang berhimpitan dengan pemukiman padat penduduk. Peninggalan masa lalu, nyaris tak tersisa. Padahal Kampung Tugu yang merupakan salah satu kampung tertua di Indonesia, begitu sarat dengan nilai-nilai historis perjalanan Indonesia.
D
i sana ditemukan ‘jejak’ Kerajaan Ta r u m a n a g a r a , sebuah kerajaan Hindu yang menguasai wilayah barat Pulau Jawa pada abad ke 4 hingga ke 7 M. Di sana juga ditemukan ‘jejak’ orang-orang Portugis yang pernah berkuasa sebelum akhirnya dikalahkan Belanda. Tapi jejak kisah-kisah yang kini hanya ada dalam catatan sejarah itu, ‘nyaris’ tak terlihat lagi. Beruntung, ‘identitas’ itu belum sepenuhnya terhapus lantaran ada Gereja Tugu yang tetap berdiri kokoh. Bentuk gereja yang didirikan p a d a tahun 1744 i n i , tetap
dipertahankan hingga kini dan itulah yang menjadi saksi sejarah kehadiran warga Portugis di sana. Namun, sebenarnya gereja yang ada sekarang adalah bangunan ketiga setelah dua bangunan yang didirikan sebelumnya (terbuat dari kayu), yakni tahun 1678 dan 1738, hancur. Memang disayangkan, kesadaran mempertahankan nilai-nilai sejarah sangat minim, baik pemerintah maupun masyarakat setempat. Kampung tertua di Jakarta itu, dibiarkan tumbuh mengikuti perubahan kondisi sosial, ekonomi d a n politik
Sosialita
24 - 30 November 2014
24 - 30 November 2014
3
Komang Komarasari Astiti
Melengkapi Kebahagiaan Hati Tri Kaya Parisudha, itulah pedoman hidupku. Berpikir yang benar, berkata yang benar, berbuat yang pun yang benar. Tri Kaya Parisudha, Tri Kaya Parisudha itulah pedoman hidupku. Demikian syair lagu “Tri Kaya Parisudha” yang sering didendangkan anak-anak Pasraman “Beji Mandala Asti” di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Kebupaten Buleleng.
A
perkotaan. Tidak ada ‘proteksi’ terhadap kawasan bersejarah itu, kecuali penetapan Gereja Tugu sebagai cagar budaya. Maklum, kebanyakan masyarakat bukanlah penduduk asli kampung itu, sementara penduduk aslinya hanya tersisa sedikit. Mereka kini menjadi ‘minoritas’ di kampungnya. Memang ada upaya dari pemerintah kota Jakarta Utara untuk menghidupkan kembali kejayaan Kampung Tugu sebagai pusat kesenian campuran, yakni, Betawi dan Portugis. Namun, usaha yang dilakukan masih belum maksimal. Sedang sebagian kecil penduduk asli keturunan Portugis berupaya mempertahankan kesenian Keroncong Tugu. Meski disebut ‘keroncong’ namun musik dari ‘Keroncong Tugu’ ini sungguh berbeda dari keroncong yang biasa kita dengar. Dari segi tempo, Keroncong Tugu lebih cepat dan dinyanyikan lebih bersemangat. Karena itu, musik ini juga dipakai untuk mengiringi orang berdansa. Alat musiknya pun agak berbeda. Pada gitar misalnya, lebih kecil dari gitar biasa dengan jumlah senar lima. Di kalangan penduduk Tugu, gitar ini disebut “jitera” yang dibuat dari batang pohon waru yang dibobok. Oma Quiko bercerita, dulu sebagian keturunan Portugis di kampung itu, berbicara dalam bahasa Portugis campur Melayu. Namun, seiring waktu, penggunaan bahasa itu pun terkikis menjadi pemakaian bahasa Indonesia. Hal ini karena adanya pendeta Melchior Leijdekker yang memperkenalkan bahasa Indonesia. Tentang kebudayaan masa lalu, katanya, tidak banyak yang bisa dipertahankan. “Yang masih ada hingga sekarang adalah musik Keroncong Tugu juga beberapa tarian Portugis yang selalu ditampilkan se-
tiap Festival Tugu,” kata Oma yang berusia 80 tahun ini. JADI TEMPAT KERAMAT Tentang asal usul penamaan Kampung Tugu ini, ada banyak versi yang berkembang. Ada yang menyebut berasal dari kata Portugu-ese (Portugis). Namun ada yang berkeyakinan bahwa nama itu muncul berlatar belakang sejarah, yakni ditemukannya prasasti (batu tulis) bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta. Prasati yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi ini, merupakan salah satu dari tujuh prasasti Raja Purnawar-
Secara garis besar, prasasti itu bercerita tentang Purnawarman memerintahkan pembuatan saluran irigasi sepanjang 15 km diberi nama Candrabhaga. Ia juga memerintahkan menggali kali Gomati. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau. Sungai Candrabhaga dalam prasasti Tugu tak lain adalah bagian dari Kali Cakung yang sekarang masih mengalir di daerah Tugu. Entah benar atau tidak, sempat
Gereja Tugu
man dari Kerajaan Tarumanagara. Prasasti berbentuk bulat telur itu ditemukan tahun 1879 dan kemudian disimpan di gedung Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Watenschappen (sekarang disebut Museum Nasional) pada 1911. Prasasi ini dibuat terkait dengan selesainya pembangunan dua sungai Candrabhaga dan Gomati. Lokasi ditemukannya prasasti itu sempat menjadi tempat keramat bagi masyarakat. Bahkan, kata warga setempat, sampai tahun 80an tempat tersebut sering diziarahi orang. Mereka membuat bangunan sederhana berpagar bilik di atas lokasi bekas penggalian prasasti. Tapi tempat itu kini telah tergusur oleh pembangunan jalan tembus Tugu menuju kawasan pergudangan Cakung.
muncul dugaan kalau ibukota Kerajaan Tarumanagara berada di sekitar Kampung Tugu, di dekat aliran Kali Cakung. Hal ini berdasarkan penelitin J Noorduyun dan H Th Verstappen pada tahun 1972. Setelah masa Kerajaan Tarumanagara berakhir, tidak tercatat lagi apa yang terjadi pada kawasan Kampung Tugu. Nama itu baru kembali muncul dengan adanya kekalahan Portugis dari Belanda dalam Perang Malaka. Konon, sebagian dari tawaran Belanda (orang-orang Portugis) dibuang di kawasan Kampung Tugu yang ketika itu merupakan daerah hutan dan rawa. Keberadaan orang-orang Portugis yang kemudian kawin dengan penduduk lokal dan ikut mempengaruhi kebudayaan masyarakat setempat. –Diana Runtu
lunan lagu dengan syair yang indah ini membuat yang menyanyikan akan meresapi dan menjadi tahu bahwa selalu berpikir, berkata dan berbuat yang baik, karena itulah pedoman hidupnya. Demikian yang disampaikan Dra. Komang Komarasari Astiti, M.M., pemilik Bali Mas ACE Tour & Travel dan Pendiri Yayasan Dinamika Ananda Nusantra tahun 2006 yang menaungi Pasraman “Beji Mandala Asti”di rumah sekaligus kantornya di Perumahan Pondok Galeria pekan lalu. Setiap Minggu, perempuan yang juga dikenal dengan nama Byang Mangku Komang Komarasari Astiti ini, bersama sang suami Guru Mangku Made Sedana Putra pulang ke Buleleng, untuk segera berkumpul bersama anak –anak peserta pasramannya. Di sana, sebelum menginjak pada materi yang akan diberikan, setelah melakukan Tri Sandya dan doa memulai pekerjaaan, seluruh anak melantunkan lagu “Tri Kaya Parisudha” untuk menciptakan atmosfir yang kondusif bagi mereka. Langkah kecil tapi nyata ini yang dilakukannya, untuk turut menyiapkan calon SDM yang bukan hanya berbudi pekerti luhur, tapi juga berkualitas. Program pasraman merupakan praktek secara nyata yang dilaksanakan, di sekolah hanya sebatas teori ilmu pengetahuannya saja. Saat ini anggota pasraman adalah murid TK, SD, dan SMP. “Dengan memahami pedoman hidup ini, diharapkan anak-anak bisa menularkan kepada keluarga masingmasing, teman di sekolah bahkan di lingkungan sekitarnya,” ujar Astiti yang dipanggil Ninik oleh anak-anak Pasraman, yang didirikannya sejak enam bulan lalu tersebut. “Kami menjalankan kegiatan pasraman yang bernafaskan agama Hindu dan budaya Bali dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Seperti selalu menggunakan salam umat Hindu (panganjali umat) saat berjumpa seseorang atau memulai suatu pembicaraan dalam pertemuan, yakni “Om Swastyastu “ (semoga selalu dalam keadaan selamat di bawah lindungan Tuhan) Aktivitas di hari Minggu pun dilanjutkan dengan mewarnai dan menggambar. Bagi anak-anak yang belum mau pulang ke rumah masing-masing takkala kegiatan di pasraman usai. Kegiatan lainnya yang ada di pasraman juga menumbuhkan kemandirian dan keberanian setiap anak untuk tampil. “Misalnya kami bertanya siapa hari ini yang mau memimpin Tri Sandya, anak-anak sudah berani saling mendahului tunjuk tangan,” ucapnya penuh semangat. Bukan hanya, rupanya potensi seninya pun ikut bertumbuh , bahkan mereka sudah pula memiliki seka janger dan sudah pernah pentas. Anak-anak juga dilatih untuk melakukan pelaksanaan pedoman kegiatan sehari-hari sebagai umat Hindu, seperti Tri Sandya tiga kali sehari. Begitu juga dengan doa seharihari mulai dari doa bangun tidur “Om prabatha kalasca ya namah swaha “ ( Oh Hyang Widhi, hamba memujamu, bahwa hamba telah bangun pagi dalam keadaan selamat). Doa memulai suatu pekerjaan, “Om awighnam astu namo sidham, Om sidhirastu tad astu swaha (Ya Tuhan, semoga atas berkenanmu, tiada suatu halangan bagi hamba memulai pekerjaan ini dan semoga berhasil baik). Doa sebelum makan, “Om anugraha amrtadi sanjiwani ya namah swaha” (Oh Hyang Widhi, semoga makanan ini menjadi amerta yang menghidupkan hamba). Doa menjelang tidur, “O m a s a t o
ma sat ganaya tamaso ma jayatir ganaya, mrityor mamritam gamaya” (Ya Tuhan tuntunlah hamba dari jalan yang sesat menuju jalan yang benar, dari jalan gelap ke jalan terang, hindarkanlah hamba dari kematian menuju kehidupan abadi) . Doa mengakhiri pekerjaan, “Om Dewa Suksma Parama Acintya Ya Namah Swaha, Sarwa Karya Prasidhantam Om Santih, Santih, Santih, Om (Ya Tuhan, dalam wujud parama acintya yang maha gaib dan maha karya, hanya atas anugrahmulah maka pekerjaan ini berhasil dengan baik. semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selamanya). Selama melakukan aktivitas di pasraman, kata ibu dari Putu Agus Satria Jayatama S Putra, S.Ked., dan Made Prima Sakti Jayatama S Putra ini ia juga menekankan tentang Tat Twam Asi, saya adalah kamu, kamu adalah saya. Dengan ini, diharapkan anak-anak akan saling menghormati satu sama lainnya, menghargai sesama teman, dan sesama umat. “Kami juga melatih kepribadian, dengan mengingatkan menjaga bebersihan tubuh hingga cara berbicara yang baik dan bahasa yang santun. Juga untuk selalu mengedepankan etika, baik untuk berpakaian, bertamu, makan termasuk etika terhadap sesama umat,” lanjut Astiti didampingi sang suami. SAMA – SAMA BAHAGIA Untuk mengimbangi kepenatan setelah anak-anak disibukkan kegiat an belajar di sekolah juga berbagai ekstra kurikuler, maka pada Minggu pagi atau Sabtu sore , Astiti mengajak mereka bersama jalan kaki ke pantai, mandi di laut, senam atau yoga dan relaksasi. “Biasanya pada kegiatan relaksasi, anak-anak dibiarkan tidur sebisanya dengan tetap dipantau sambil mendengarkan alunan musik alam yang damai. Mereka seringkali terlelap sampai 10 - 15 menit. Setelah itu, kami bangunkan kembali, dan anak-anak terlihat lebih segar,”ujar putri ketiga dari lima bersaudara dari pasutri Ketut Sundia Wiyasadan Ni Ketut Sri Suadi ini. Peserta pasraman juga diajarkan selalu menjaga lingkungan hidup, kebersihan, dengan membiasak an membuang dan memasukkan sampah pada tempatnya dan sesuai jenis sampahnya, sampah plastik, sampah kertas, dan sampah organik yang semuanya disediakan di lingkungan pasraman, Harapannya anak-anak juga akan melakukan hal yang sama di rumah, di sekolah dan di mana saja, sehingga kebersihan di lingkungan dapat terjaga dengan baik. Ia juga menjelaskan kalau kegiat an seminggu sekali ini berlangsung selama 2 jam secara kontinyu. Setiap pertemuan selalu diakhiri dengan makan bersama ala kadarnya, lengkap dengan mengucapkan doa sebelum makan agar makanan tersebut berguna bagi kesehatan tubuh anak-anak, dan tidak lupa mengucapkan doa
Astiti dan keluarga
mengakhiri kegiatan di pasraman. Salah satu peritiwa yang menarik, katanya adalah cerita seorang ibu yang menyampaikan , putrinya yang peserta pasraman ketika hendak makan bersama, meminta kakak dan ibunya duduk dulu, kemudian diajak bersama-sama memegang piring nasinya dan si anak pun memimpin keluarganya berdoa sebelum makan. Ada lagi cerita lainnya yang membuat Astiti tertegun, ketika seorang anak berkata, “Ninik... Ariesta sudah mengikuti Ninik belajar bisnis... membuat kue”. “ Padahal di setiap pertemuan kami tidak pernah menyebut atau menyinggung soal bisnis. Mungkin saja orangtua mereka yang menyampaikan kalau kami berbisnis, biar bisa membantu orang,” katanya mengenang sambil tersenyum. Ditanya apa yang diperoleh dari aksi sosialnya ini, Astiti mengakui kegiatan ini, adalah bagian dari mimpinya sejak lama yang ingin memiliki panti asuhan. Namun, hal
tersebut belum dapat terwujud, maka langkah ini baginya menjadi awal yang cukup indah. Apa yang dilakukan katanya melengkapi kebahagian hatinya dalam hidup ini. Bahkan putranya sangat mendukung dengan membantu dengan melakukan pemeriksaan kesehatan pada anak-anak di pasrmana. Astiti juga pun menambahkan ia sangat menikmati dunia anak yang penuh keceriaan tanpa beban. Suasananya berhasil menyegarkan jiwanya. “Anak-anak itu juga berhak bahagia dengan segala kegiatan yang dilakukannya di sini,” katanya. Begitulah selintas kegiatan yang dilaksanakan di Pasraman “Beji Mandala Asti”, yang konsepnya murni untuk yadnya disertai suatu harapan luhur. Ke depannya, generasi muda umumnya dan khususnya di kalangan Maha Warga Bhujangga Waisnawa akan menjadi generasi yang berbudi pekerti luhur, panutan yang baik di masyarakat dengan pribadi yang lebih baik dan mulia.-ard
Astiti dan anak-anak Pasraman
Inspirasi
4
24 - 30 November 2014
Retno Lestari Priansari Marsudi
The Iron Lady Indonesia Karier menjulang, keluarga yang harmonis, rasanya hidup Retno Lestari Priansari Marsudi terlihat begitu sempurna. Wanita yang dijuluki ‘The Iron Lady’ oleh pers Belanda ini, mengaku sangat terberkati dengan apa yang diraihnya dalam kehidupan ini. Baginya, meski kariernya bersinar cemerlang namun keluarga adalah yang utama. “Saya ini tak akan mampu menjadi seperti sekarang kalau bukan karena dukungan keluarga. Saya merasa beruntung memiliki keluarga yang luar biasa,” ungkap Retno.
S
enin 27 Oktober 2014 bisa dibilang menjadi hari bersejarah bagi Retno, saat itu ia dilantik sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu). Pengangkatan ini sekaligus menoreh sejarah baru bagi Indonesia yang untuk pertama kalinya memiliki Menteri Luar Negeri perempuan. Sebagaimana diketahui, jabatan Menteri Luar Negeri biasanya ‘dikuasai’ oleh kaum laki-laki. Sejak merdeka 69 tahun lalu, tonggak kepemimpinan diplomasi Indonesia selalu dijabat oleh tokoh-tokoh pria, di antara nya, Achmad Subarjo, Sutan Syahir, Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, hingga Hassan Wirajuda dan Marty Natalegawa. Namun kini di era ‘Jokowi-JK’, perempuan diberi kesempatan memimpin garda utama diplomasi Negara di tatanan internasional. Retno dikenal sebagai negosiator handal, liat, detil dan forceful, tegas, disiplin tinggi, pantang menunda pekerjaan. Dan, Jokowi tahu itu. Kabarnya, tidak sebagaimana kebanyakan calon menteri lainnya yang dihubungi pada ‘detik-detik terakhir’, Retno justru telah dihubungi jauh-jauh hari. “Saya telah sangat diberkati dalam hal karier saya,” ungkap Retno yang juga menjadi orang pertama Indonesia yang memperoleh bintang jasa ‘Order of Merit’ dari Raja Norwegia saat dia menjadi Duta Besat RI di Islandia dan Norwegia. Ya, Retno memang patut amat bersyukur karena ia bukan hanya berhasil meraih karier yang cemerlang tapi rumah tangganya pun ‘aman tentrem’. Padahal, berkarier di bidang diplomatic bukan hal yang mudah bagi seorang perempuan apalagi yang telah berkeluarga. Mobilitas yang tinggi dan kerap melanglang buana adalah tantang an tersendiri. Belum lagi karena jabatan yang diembannya, mengharuskan dia menetap sementara di
luar negeri. Itu artinya dia tidak bisa selalu bersama keluarganya. “Saya akui, ketika profesi ini dipegang seorang wanita, ada tantangan tersendiri. Apalagi bila sudah berkeluarga. Tapi menurut saya yang terpenting adalah team work dalam keluarga,” katanya seraya mengucap syukur karena dirinya dikaruniai keluarga yang mendukungnya dalam segala hal. Menurut Retno, karier dan rumah tangga dapat berjalan se iring sejalan. “Tak ada yang perlu dikorbankan semuanya bisa berjalan beriringan,” kata wanita yang gemar bersepeda ke kantornya KBRI Den Haag sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Komunikasi adalah salah satu kuncinya, kata Retno. Dengan komunikasi yang baik, hubungan antara anggota keluarga bisa selalu terjadi meski tidak bertemu secara fisik. Dia sendiri ketika memilih berkarir di bi lang diplomatic sudah mengerti benar akan risiko yang akan dihadapi nya. Begitu juga sang suami, Agus Marsudi, yang mengerti benar konsekuensinya dengan mengizinkan istrinya te rus menekuni kariernya. Beruntung, Agus yang seorang arsitek memiliki pekerjaan yang ‘luwes’ sehingga punya banyak kesempatan mendam pingi istrinya saat bertugas ke luar negeri. Dua anaknya, Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi, juga memberi support yang luar biasa pada ibunya dalam berkarier. Menurut Retno, sejak kecil mereka telah diajarkan mandiri. “Saya tekankan mereka harus mampu ‘berdiri di atas kaki sen diri’,” tambahnya.
Retno Marsudi dan suaminya Agus Marsudi di Belanda
TAK LUPA ‘AKAR’ Wanita kelahiran Semarang 27 November 1962 ini mengaku, sekalipun kerap melanglang buana dan berinteraksi dengan nilai-nilai internasional, namun ia bukanlah orang yang lupa pada ‘akarnya’. Karena ia tahu orang yang sukses adalah orang yang memiliki ‘akar’ yang kuat. Dalam kehidupan kesehariannya, ia menerapkan pendekatan ‘olah rasa’ , sesuatu yang membuatnya lebih sensitive pada lingkungan. Menjadi diplomat telah menjadi cita-cita Retno sejak remaja. Itu sebabnya setamat SMA ia mengambil jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Prestasi akademik yang bagus, membuat Departemen Luar Negeri (Deplu) kepincut. Ia berhasil lolos tes sehingga berhak atas beasiswa yang diberikan Deplu bagi mahasiswa berprestasi.
Retno Lestari Priansari Marsudi
Setamat kuliah yang diselesaikannya dalam tempo relative cepat--- 3 tahun 10 bulan dan menjadi lulusan Fisipol Termuda saat itu--- ia langsung mengikuti serangkaian pendidikan diplomat untuk kemudian menempati sejumlah penugasan. Bagi Retno dunia diplomasi sangatlah menarik dan dinamis. Seorang diplomat harus menjalani mobilitas tinggi dan berinteraksi dengan berbagai golongan masyarakat. “Saya sangat menikmati profesi ini,” tambahnya. Salah satu yang mengesankannya adalah saat bertugas di Canberra, Australia, sebagai staf penerangan,
tahun 1990-an. Saat itu hubungan Indonesia sedang tegang karena masalah Timor Timur. ”Waktu itu betul-betul masa yang sangat challenging bagi diplomat Indonesia yang ada di Australia. Mulai dari ancaman, blockade sampai bagaimana kita harus bisa menghadapi pers, masyarakat serta pemerintah Australia,” ujar penyuka jogging dan naik gunung ini. Berbagai penugasan membuat Retno semakin matang. Ia juga termasuk salah satu negosiator ulung yang dimiliki Deplu. Ia piawai memainkan peran dalam memposisikan Indonesia dimata dunia. Tak heran ia kerap memimpin delegasi Indonesia untuk berbagai perundingan penting. Kehandalan Retno dalam bernegosiasi juga diakui oleh mantan Ketua Kontras, Usman Hamid. Keduanya pernah berkerja sama dalam Tim Pencari Fakta (TPF) Kasus Pembunuhan Aktivis HAM Munir. Retno yang juga anggota TPF harus melakukan negosiasi diplomasi yang sangat alot dengan pihak Belanda, tempat dimana Munir ditemukan tewas tak kala pesawat yang membawanya mendapat di bandara udara Schipol, Belanda. Bagi Retno, pengalamannya bekerja dalam TPF Munir memberi sebuah pelajaran yang tak pernah akan dapat diperolehnya dari sekolah manapun. –Diana Runtu
24 - 30 November 2014
Mandalika
NTB “Dijual” di WIC
21
West Nusa Tenggara, a hidden paradise. Kalimat ini tertulis di backdrop yang dipasang di panggung utama acara Women International Club (WIC) ke-47 tahun 2014, yang berlangsung di Hall B Jakarta Convention Centre (JCC), beberapa waktu lalu.
K
eunikan ragam budaya Nusa Tenggara Barat tampil di acara Women International Club (WIC) ke47 tahun 2014. Kegiatan bazar amal yang dibuka secara resmi oleh ibu negara Hj. Iriana Joko Widodo, Rabu (19/11) ini, mengangkat tema tentang Nusa Tenggara Barat. Mulai dari Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo, Hj. Mufidah Jusuf Kalla, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, Ketua Dekranasda NTB, Hj. Erica Zainul
suatu”. Sesuatu itu, salah satunya adalah keunikan dan kekayaan budaya Sasak, Samawa, Mbojo, tiga suku asli (Lombok, Sumbawa dan Bima) yang ada di daerah tersebut yang berhasil “dijual” Dekranasda NTB untuk dapat meraih kesempatan ini. Itulah sebabnya, dari 34 provinsi di Indonesia, Bumi Gora berhasil terpilih sebagai partner WIC ke-47 tahun 2014 untuk menjadi tuan rumah. Menurut Erica, budaya Nusa Tenggara Barat ditampilkan setiap hari selama WIC ini berlangsung, 1920 November 2014. “Ini adalah
Hj. Erica Zainul Majdi (tengah) bersama tim dari Dekranasda NTB
Majdi, Ketua Dekranasda Jakarta, Veronika Basuki Tjahya Purnama, juga panitia dan pengurus WIC, menggunakan kain motif tenun/ songket Sasak, Samawa dan Mbojo. Tampilnya Nusa Tenggara Barat sebagai partner ajang WIC yang beranggotakan istri para duta besar negara-negara sahabat dan ibu-ibu yang memiliki kepedulian sosial dan kemanusiaan ini, tidak lepas dari keberhasilan networking yang dibangun oleh Dekranasda NTB di bawah kepemimpinan Erica. Mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah kegiatan sekelas WIC bukanlah hal yang mudah, jika memang NTB tidak memiliki “se-
kesempatan emas bagi NTB untuk memperkenalkan diri kepada dunia,” ungkap Erica. Dalam bazar ini diikuti 48 gerai mancanegara yang menjual barang dari setiap negara, juga 217 gerai usaha dan makanan yang mempromosikan kesenian dan kebudayaan Indonesia, adalah ajang penting bagi Nusa Tenggara Barat untuk tampil “memamerkan” keberagaman budayanya. Keindahan dan keunikan tenun songket Nusa Tenggara Barat, membuat Ibu Negara spontan menggeser posisi berdirinya dari podium saat menyampaikan sambutannya, demi memamerkan kepada seluruh tamu undangan keindahan kain motif Nusa Teng-
Proses pembuatan tenun NTB dipamerkan pada Ibu Negara, Hj. Iriana Joko Widodo dan para tamu VVIP
Hj. Erica Zainul Majdi bersama Ibu Negara dan Pengurus WIC
gara Barat yang dipakainya. Selain memberikan apresiasi terhadap kiprah WIC selama ini, Iriana juga mengapresiasi pemerintah dan masyarakat NTB yang dinilainya memiliki kekayaan dan keunikan budaya, panorama alam, pantai dan gili yang indah, kerajinan, kuliner, mutiara dan lain-lain yang menarik minat wisatawan untuk datang berkunjung ke Lombok dan Sumbawa. Nuansa Nusa Tenggara Barat terasa kental selama kegiatan berlangsung, khususnya pada acara pembukaan. Dua layar raksasa yang berada di samping kiri dan kanan panggung utama serta enam buah monitor layar lebar, secara terus-menerus menayangkan film promosi pariwisata “experience the wonder - Visit Lombok Sumbawa” yang memperlihatkan keindahan NTB sebagai surga tersembunyi. “Bahkan di latar panggung utama terpampang birunya Gunung Rinjani, rumah tradisional lengge Suku Mbojo Bima, pacuan kuda dan air terjun benang kelambu,” ujar Drs. HL. Gita Aryadi, Ketua Harian Dekranasda NTB. Gending gamelan pesasakan yang ditabuh sekehe dari anjungan NTB di Taman Mini Indonesia Indah, mengalun merdu meng iringi gadis-gadis menarikan tarian
“dedare sukerare”. Ibu Negara Iriana, menandai pembukaan kegiat an ini dengan pemukul an gendang beleq (alat musik tradisonal Sasak). “Ini menjadi ajang penting untuk memperkenalkan syurga tersembunyi dari Nusa Tenggara Barat,” lanjut mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, NTB ini. Kesempatan baik ini dipergunakan Erica untuk menjelaskan tentang kain tenun dan k erajinan-kerajinan khas NTB kepada Ibu Negara, Iriana, Hj. Mufidah Jusuf Kalla dan Presiden RI kelima, Megawati Soekarno putri ketika mengunjungi beberapa stan utama khususnya saat Ibu Negara spontan menggeser posisinya m e n g u n j u n g i s t a n untuk bisa pamer kain tenun NTB yang dipakainya dekranasda NTB yang menampilkan aneka ragam corak (pakaian khas perempuan suku dan motif kain tenun dan kerajin Sasak). Selain menampilkan berbagai an ketak hasil kerajinan tangan masyarakat NTB. Di stan ini, produk kerajinan dari berbagai Ibu Negara dan tamu VVIP lain- negara dan daerah, bazar amal juga nya juga menyaksikan peragaan menampilkan berbagai atraksi ke nyesek (menenun) yang dilakukan senian antara lain Tari Kathak dari seorang gadis berbaju lambung India, Tari Enggang dari Kalimantan, tari tradisional Serng Isan dari Thailand, Pertunjukan Hula dari grup Haoloha Hoku-Ke’a Jepang, orkestra angklung Sunda, Tari Cilinaya dari Bali, tarian Rusia, tari Yavi Rau dari Fiji dan lain lain. “Dekranasda NTB akan memanfaatkan setiap momentummomentum strategis seperti di WIC ini untuk terus mempromosikan potensi dan hasil karya para perajin di daerah, sembari terus berupaya meningkatkan skill pengrajin, pemutahiran desain, manajemen dan tentu menjalin kemitraan penguatan modal bagi pengrajin,” kata Erica. Ibu Negara memukul Gendang Beleq membuka Basar WIC ke-47 -Naniek I. Taufan
20
Nine Kompol Ni Made Pujewati, SIK.
24 - 30 November 2014
Menjadi seorang Polisi Wanita (Polwan) adalah hal yang menyenang kan bagi Komisaris Polisi (Kompol) Ni Made Pujewati, SIK., yang kini menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala Kepolisian Resort (Polres) Mataram, Polda Nusa Tenggara Barat. Perjalanan karir ibu satu anak ini, terbilang terus meningkat. Setidaknya, tiga jabatan penting di Polres Mataram pernah diembannya, seperti menjadi Kapolsek Senggigi, yang tempat tugasnya penuh tantangan dan sangat kompleks.
Wakapolres Mataram, Ni Made Pujewati saat memantau pengamanan demonstrasi di Mataram
B
agaimana tidak, ka wasan Senggigi ada lah kawasan utama yang menjadi ikon pariwisata Nusa Tenggara Barat. Tentu saja, Puje, panggilan akrab nya, harus bekerja keras untuk mengamankan daerah pariwisata tersebut, mengingat banyaknya wisatawan asing yang berkunjung ke sana. Menjaga stabilitas wilayah menjadi fokus utamanya kala itu demi menjamin keamananan orang asing, karena ini berkaitan dengan negara lain. Sadar akan tantangan tugas yang berat itu, Puje rela banyak kehilangan waktu liburnya. Sela ma tiga tahun ia menjadi Kapolsek Senggigi (2008-2011), selama itu pula ia tidak pernah ambil cuti. Seluruh waktunya ia perguna kan untuk bekerja. Ia banyak berada di lapangan untuk men gontrol langsung situasi wilayah. Bagi Puje, kehilangan waktu cuti tiadalah berarti untuknya diban dingkan keamanan wilayah yang dipimpinnya itu. “Dari sana saya banyak belajar dengan berbagai pengalaman yang sangat ber harga,” ungkapnya. Pengalaman itu juga didapatkannya ketika berkesempatan melakukan studi banding tentang sistem kepolisian di Jepang, bersama 25 polisi seIndonesia, tahun 2010. Tuntas mengawal kamtibmas di wilayah itu, Pujewati kembali mendapat kepercayaan dengan diangkat sebagai Kabag. Sumda Polres Mataram yang bertu gas melaksanakan pembinaan administrasi personel, sarana dan prasarana, pelatihan fungsi, pelayanan kesehatan, bantuan dan penerapan hukum. Tugas ini
membuatnya lebih banyak berada di kantor dibandingkan di lapang an. Tugas ini bisa berarti sebagai penyeimbang baginya untuk lebih memahami ragam tugas dalam institusi kepolisian. Dua pengalaman terakhir ini, ditambah lagi dengan berbagai pengalaman tugas lain sebelum nya, membuat Polwan kelahiran Mataram, 20 Juli 1974 ini semakin matang. 16 Desember 2013, ia pun mendapat kepercayaan yang lebih tinggi, yakni sebagai Wakapolres Mataram. Tugas ini bukan tugas biasa, mengingat kompleksitas Mataram sebagai Ibu Kota Provinsi Nusa Teng gara Barat menjadi barometer kamtibmas bagi Polres lain yang ada di daerah ini. Tugas ini tidak lagi pandang jenis kelamin, karena ketika Kompol Pujewati diberikan tugas tersebut, maka ia dianggap mampu untuk melaksanakan. Benar saja, ketika ia menjadi
Inspirasi
Sinergi Dukung Ajeg Bali
Tak Pernah Cuti
Wakapolres Mataram, Pujewati memperlihatkan tanggung jawab itu dengan rajin turun ke lapang an, mengontrol dan mengawasi langsung anak buahnya. Menu rutnya, untuk memastikan semua berjalan dengan baik dan tepat, tidak mungkin bisa hanya dengan menerima laporan saja, melainkan harus mengawasi langsung ke lapangan jika memang sangat dibutuhkan untuk membantu tugas Kapolres. Karena itulah, ia terbilang rajin terlihat di lapangan bersama anak buahnya. Kisahnya menjadi seorang Bhayangkara berawal dari ia “lupa” untuk memikirkan masa depan pendidikannya karena ia rajin menjadi seorang atlit bulu tangkis. Kegemarannya pada olah raga yang telah ditekuninya sejak usia SMP dan berlanjut ke SMA saat ia duduk di SMAN 1 Mataram ini, membuat ia pernah singgah di Pelatda PBSI NTB. Ia bahkan pernah mengikuti berba gai kejuaraan nasional di berbagai daerah hingga mengikuti Pra PON cabang olah raga bulutangkis. Asyik dengan berbagai latihan dan kejuaraan membuat ia lupa bahwa sekolah SMA-nya sudah mau selesai. “Kawan-kawan saya sudah menentukan ingin kuliah di UI, UGM dan universitas lainnya, sementara saya belum menentu kan pilihan, karena lupa,” ujarnya tertawa. Sampai akhirnya, orangtua nya, I Wayan Berata (alm.) yang seorang purnawirawan tentara dan ibundanya Ni Ketut Sinka, mengingatkannya akan hal itu. “Bukan sekadar mengingatkan, tapi menawarkan untuk meng ikuti tes Polwan. Kebetulan ayah
24 - 30 November 2014
Bersama anggota dalam suatu kesempatan pembinaan
saya ingin sekali ada anaknya yang menjadi polisi,” katanya. Mungkin inilah jalan kehidupan Pujewati, yang langsung mengi yakan tawaran tersebut. Sejak pertama mengikuti pendidikan polisi, Pujewati langsung jatuh hati pada korps Bhayangkara. Berbagai pengalaman tugas se lama 20 tahun terakhir ini pun menjadi pengalaman berharga dalam hidupnya, terutama kini saat mengemban tugas sebagai Wakapolres Mataram. Meski banyak kehilangan wak tu bersama keluarga, ibu dari Bintang Paramarta (3) ini, bersyu kur memiliki seorang suami yang seprofesi dengannya, Komisaris Polisi Dewa Sucipto yang kini ber tugas di Inspektorat Pengawasan Umum Daerah (Itwasda) Polda NTB. Suami yang sangat me mahami tugas-tugasnya sebagai seorang Wakapolres. Setidaknya, ia tidak perlu banyak bicara untuk meyakinkan suaminya jika harus banyak meninggalkan keluarga terutama di waktu malam hari. Dan tidak perlu banyak pertan yaan padanya, ketika ia harus bekerja melebihi jam kantor. “Tidak perlu banyak penjelasan apalagi berdebat, sudah samasama paham tentang tugas-tugas polisi,” ujarnya tersenyum. Namun begitu, Pujewati teta plah seorang perempuan yang memiliki tanggung jawab terhadap anak dan keluarga. Di tengah kes ibukannya yang terbilang sangat padat, yang membuatnya tidak banyak memiliki waktu bersama keluarga, ia selalu memberi per
Bersama Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana dan tokoh masyarakat, tokoh agama di Kantor Walikota Mataram
hatian pada buah hatinya yang masih kecil itu dengan menyiasati waktu untuk bisa bercanda dan menemani anaknya tersebut. Jika waktu itu ada, ia akan segera pergi mengajak anaknya untuk jalanjalan menikmati waktu bersama. Namun jika ada panggilan tugas mendadak, ia harus segera ber siap untuk kembali melaksanakan tugas tersebut. “Saat seperti itu, harus ada pilihan yang saya ambil,” katanya. Protes kecil kerap muncul dari bibir buah hatinya karena sering ditinggal. Sambil tersenyum Puje wati mengatakan, bahwa salah satu cara menyiasatinya adalah menunggu si kecil tidur terlebih dahulu barulah ia berangkat. Atau jika ada tugas yang mengharus kannya segera pergi dari rumah yang membuat anaknya kadang menangis saat hendak ditinggal, maka di sinilah tempatnya ia harus memilih. Sejauh ini, Pujewati e njoy mengatur waktu antara tugas dan keluarga (anak dan suami) sehingga tidak ada yang terganggu satu sama lain. Kebetulan selama tahun 2014, berdasarkan hasil evaluasi Polres Mataram, ungkapnya, kondisi Mataram relatif kondusif. “Angka kriminalitas secara umum turun hingga 40%,” katanya. Kondisi inilah yang membuat ia lumayan memiliki waktu yang cukup buat keluarga. “Pagi fokus di kan tor, malam hari bisa bersama keluarga,” katanya. Keluarga, terutama Bintang anaknya, adalah penyemangat dan motivasi baginya dalam bekerja. -Naniek I. Taufan
Saat berkunjung ke Jepang ketika melakukan studi banding Sistem Kepolisian
5
Hari ini, Minggu (23/11), AA Ayu Ketut Agung diundang menghadiri sekaligus merias busana tengkuluk lelunakan bagi Gamelan Ary Suta Center Philharmony yang mengisi puncak acara “9th Hindu for Generation (HFG) Ceremony” yang digelar Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) Universitas Indonesia. Ini merupakan kelanjutan dari kerjasama sebelumnya, dimana Bu Agung diundang sebagai narasumber dalam Pelatihan Duta Muda Hindu 2014, Minggu (19/10) di Kampus setempat.
P
elatihan tata rias tersebut mencakup materi tata rias untuk diri sendiri, mem buat dan memasang sanggul Bali, sanggul modern, busana tengkuluk lelunakan, dan etika berbusana adat ke Pura yang baik dan benar. Hadir pula narasumber Ny.Bintang Puspayoga, Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bali yang juga istri Menteri Koperasi dan UMKM RI, Ny. Wisnu Tenaya dan Ny. Satria Naradha (Humas WHDI Bali). Dalam tiap pelatihan tata rias, termasuk pelatihan di UI ini, Bu Agung pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, selalu disupport Viva Cosmetics. Menu rut Direktur Distribusi Viva Cos metics Wilayah Indonesia Timur, Yusuf Wiharto, Viva Cosmetics made in Indonesia ini memang sudah diformulasi khusus dan disesuaikan untuk daerah tropis. Kerjasama Bu Agung dengan Viva Cosmetics sudah berjalan empat (4) tahun. Bahkan di tahun 2014, diagendakan 30 kali roadshow tata rias yang dilaksanakan hingga ke pelososk desa, merang kul instansi pemerintah, instansi swasta, dan organisasi wanita di Bali. “Jumlah roadshow itu tak
menutup kemungkinan bertam bah,” ujar Yusuf yang rupanya telah menyepakati melanjutkan kerjasama dengan LKP Agung untuk tahun 2015. Yusuf mengungkapkan alasan nya terus mensupport tiap ke giatan Bu Agung. “Saya lihat Bu Agung sangat memperhatikan budaya dan membantu anak-anak hingga mereka mendapatkan bea siswa, dsb.Ini patut didukung dan kami bisa bersinergi,” ujarnya. Kegiatan pelatihan dan kursus tata rias yang dilakukan Bu Agung ini bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat dengan memberi bekal keterampilan agar masyarakat bisa meningkatkan perekonomiannya. “Peran serta Viva sangat besar, khususnya kepada saya. Karena dalam memberikan kursus dan pelatihan tata rias, Viva selalu mensupport saya, dan saya ber bagi kepada mereka memberikan keterampilan tata rias. Saya juga berjuang mencarikan mereka bea siswa ke Kemendikbud. Jadi, sinergi ini benar-benar efektif. Intinya saya ingin semua masyarakat bisa dan mampu mengusai keterampilan tata rias untuk perekonomian yang lebih baik,” timpal Bu Agung. Kerjasama yang cukup baik antara Bu Agung (LKP Agung)
Bu Agung tampak akrab bersama Viva 3 Generasi. Duduk : Masmuin Kuntjoro dan Murni Tjandra. Atas: Bu Agung (kiri), Theresia I. Kuntjoro, Yusuf Wiharto, dan salah satu staf PT Vitapharm
dengan Viva Cosmetics ini di tunjukkan pula dengan hadirnya “Viva 3 Generasi” yakni opa dan oma (Masmuin Kuntjoro dan Murni Tjandra), ibu (Theresia I. Kuntjoro), cucu (Yusuf Wiharto), dalam acara Seminar Tata Rias sekaligus Uji Kompetensi yang digelar di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jumat (14/11). Acara yang dibuka Wali Kota Denpasar IB Rai D. Man tra beserta Ny. Selly D. Mantra itu dirangkaikan juga dengan penyeraha n 40 beasiswa dari Kemendiknas kepada warga Desa Dauh Puri Kaja dan Peguyangan Kaja, Denpasar. Selain Viva, Bu Agung juga kerap didukung The Gamelan Ary Suta Center Philharmony, terutama ketika mengisi acara di Jakarta. Tiap penampilannya, selalu
menggunakan busana adat Bali, seperti pusung tagel atau tengkuluk lelunakan. “Saya bersyukur didu kung banyak pihak. Karena kami tak akan bisa kerja sendiri. Sinergi ini tentunya untuk mendukung ajeg Bali,” ucap Bu Agung. DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Melihat antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap bidang tata rias dan busana adat Bali ini, Bu Agung memberikan kesempatan luas kepada masyarakat umum untuk mengikuti kursus reguler di LKP Agung dengan memberikan diskon 50%. Materi yang diajar kan mencakup Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin. LKP Agung memiliki tempat belajar yang memadai dan kondusif di
dua tempat di Denpasar, dan dita ngani langsung Bu Agung dibantu instruktur lain yang mempunyai latar belakang keahlian dan peng alaman legal yang telah mengan tongi sertifikat kompetensi di bi dang tata kecantikan. Disediakan pula beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecan tikan. Semua peralatan kursus disiapkan lembaga. Syarat dan ketentuan berlaku. Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com.
Ny. Satria Naradha, Ny. Bintang Puspayoga, dan Bu Agung diterima Ary Suta bersama Ny. Otie Ary Suta dalam sebuah kesempatan di Jakarta
–Inten Indrawati
Woman on Top
6
dr. AA Ampera Prihatini, M.M.
Klinik Berhenti Merokok Keberadaan Puskesmas di masing-masing kecamatan, cukup berperan strategis bagi pelayanan kesehatan masyarakat di sekitarnya. Di Pus kesmas I Denpasar Utara (Denut) misalnya, rata-rata kunjungan per hari hingga 150 pasien. “Kasus yang banyak ditemui di pelayanan dasar ini adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), gigi (seperti gigi berlubang), kulit, hipertensi, dan diabet,” ungkap Kepala Puskesmas I Denut, dr. AA Ampera Prihatini, M.M.
D
i puskesmas yang berlokasi di Jalan Kamboja Denpasar ini, memiliki fasilitas klinik umum, poli Anak, poli Gigi, KB, KIA, laboratorium, serta Konseling/Klinik Remaja. “Awalnya pukesmas ini difokuskan untuk konseling remaja. Namun sayang tak berjalan optimal. Mungkin anak-anak sekolahan enggan dan malu jika diketahui mereka memiliki masalah,” ujarnya mengira-ngira. Di penghujung tahun 2013, puskesmas yang berada di kompleks persekolahan ini ditunjuk sebagai tempat pelayanan Klinik Berhenti Merokok (KBM), di Denpasar. Sasarannya adalah perokok pemula yang notabene anak-anak sekolah, agar mereka tak sampai terlanjur/kecanduan menghisap rokok. Klinik ini melayani konsultasi tiap Selasa dan Jumat. Namun, tak kemungkinan di hari lain jika
kebetulan petugasnya ada. “Bagi masyarakat yang ingin berhenti atau punya keluhan, kami sarankan datang ke KBM,” ucapnya. Penyuluhan tentang bahaya merokok, Perda Rokok dan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) disosialisasikan melalui film singkat yang diputar secara terus-menerus di layar TV ruang tunggu puskesmas. Dari melihat tayangan itu, ada beberapa yang merespons, bertanya kepada petugas, dan akhirnya berkonsultasi/konseling. “Dari tiga orang yang bertanya, paling cuma satu orang yang mau konseling. Banyak yang beralasan sibuk. Karena niat berhenti merokok harus dari diri sendiri,” ujarnya. Masyarakat masih kurang memanfaatkan fasilitas KBM ini. Terlihat dari Januari hingga Oktober 2014, tercatat 16 pasien yang berkunjung, dan empat di antaranya berhasil berhenti merokok. Pekan lalu, dalam rangka Hari
Kesehatan Nasional ke-50, Kementer i a n Ke s e h a t a n RI serent ak di seluruh Indonesia membubuhkan cap tangan komitmen berhenti merokok. Di Denpasar, hal ini dilakukan juga oleh Wa l i K o t a D e n p a s a r, I B D h a rmawijaya Mantra
dan seluruh masyarakat.. Kegiatan yang berlangsung di Lapangan I Gusti Agung Made Agung (Lapangan Puputan Badung)ini pun tercatat dalam Rekor Muri. “Jadi, adanya Klinik Berhenti Merokok di Puskesmas I Denut ini sudah sangat tepat,” ucap istri AA Gde Putra Wiryawan yang sempat menjabat Kepala Puskesmas I Dentim tahun 2002-2009, dan Kepala Puskesmas I Denut mulai tahun 2009 ini. Tentunya, aturan tak tertulis “berhenti merokok” ia terapkan di internalnya juga. Minimal tidak merokok di dalam gedung. Stafnya yang perokok pun dikonseling untuk mendapatkan hidup yang lebih sehat. “Dari lima staf yang merokok, empat orang sudah bisa berhenti. Satu orang masih gagal, namun sudah bisa mengu-
24 - 30 November 2014
ranginya, ini karena faktor lingkungan dia,” ujar Ampera. KELAS IBU HAMIL Sebagai seorang kepala puskesmas yang membawahi 41 staf, ia mengutamakan disiplin dan mererapkan keterbukaan. Kalau pun ada masalah yang perlu penyelesaian secara internal, staf itu akan dipanggil dan diajak bicara, pendekatan perorangan. Ampera menegaskan, saat ini puskesmas yang dipimpinnya fokus kepada pelayanan kesehatan reproduksi wanita untuk mencegah kanker serviks. Pencegahan alternatif ini dilakukan dengan metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat), medote yang mudah, murah dan praktis. Mereka yang hasil IVA-nya positif diberikan tindakan cryo yang berfungsi melumerkan sel kanker dengan cara mendinginkannya. Sebagai upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak, di tahun 2013 tepatnya Bulan Mei, puskesmas ini membuka kelas ibu hamil. Kelas ini merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, nifas, KB pasca salin, pencegahan komplikasi, perawatan bayi baru lahir dan aktifitas fisik/senam hamil. Dengan adanya kelas ibu dan senam hamil, diharapkan terjadi peningkatan pemahaman terhadap pentingnya kesehatan ibu hamil dan meningkatnya partisipasi suami ataupun keluarga yang menunjang kesejahteraan ibu saat hamil,bersalin dan nifas dengan tujuan kesakitan dan angka kematian ibu dan bayi dapat ditekan. –Inten Indrawati
Sudut Pandang
24 - 30 November 2014
19
Pengabdian “Maksi” Gaji “Minim” Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru banyak memberi kontribusi dalam perkembangan bangsa ini. Namun, masih ada guru-guru yang hidup pontang-panting. Mereka bertahan sebagai guru demi idealism tetapi kadang tak kuat menahan himpitan ekonomi. Momen Hari PGRI yang diperingati tiap tanggal 25 November, bisa menjadi bahan renungan, apa yang harus dilakukan guru.
D
i era sekarang ini, masih ada guru yang hanya mendapat honor ratusan ribu rupiah. Kenyataan pahit ini bukan hanya terjadi di daerah tapi juga di Jakarta yang nota bene adalah Ibu Kota Negara. Jadi, jangan dikira kalau menjadi gaji guru nonPNS di Jakarta , berpenghasilan besar. Bahkan boleh dibilang, masih banyak guru non-PNS di Jakarta bergaji di bawah UMR. Gaji para buruh pabrik malah lebih bagus karena mereka mendapat sesuai UMR yang di DKI Jakarta jumlahnya Rp 2,4 juta dan sebentar lagi akan meningkat menjadi Rp2,7 juta(UMR 2015). Fakta memprihatinkan ini sungguh jauh berbeda dengan guru berstatus PNS yang boleh dibilang kesejahteraannya saat ini relatif baik. Gaji guru PNS SD, misalnya, berikut segala macam tunjangan yang didapatnya, bervariasi tergantung dari golongannya. Bisa berkisar Rp 8-12 jutaan, bahkan lebih jika memiliki jabatan tertentu di sekolah. Jika dibanding dengan guru nonPNS bagai ‘bumi dan langit’. Padahal beban kerja mereka, sama atau malah tak jarang, jauh lebih besar dibanding mereka yang berstatus PNS. Maka tak usah heran kalau demi mencukupi kebutuhannya,
para guru non-PNS ini pontangpanting bekerja sambilan. Itulah ‘potret buram’ kebanyakan guru non-PNS. Sebenarnya cerita muram ini bukan hal yang baru. Sejak lama disuarakan, dan pemerintah pun bukannya tidak tahu. Namun, tetap saja tidak ada perubahan yang berarti. Tuntutan mereka agar pemerintah menetapkan UMG (upah minimum guru), sampai kini belum terwujud. Sementara BOP yang didapat pun tidak seberapa, begitu pula tunjangan fungsional yang diterima pertiga bulan, tapi itupun tidak semua guru bisa menerimanya. Entah kenapa, dimana ‘nyangkutnya’ uang fungsional itu tidak ada yang tahu. TAK BERANI PROTES “Nggak ada yang berani tanya, lagipula mau tanya kemana? Menjadi guru honorer posisinya ‘rawan’ ‘ditendang’ , apalagi jika dianggap ‘rewel’, bertanya ini-itu meski merupakan haknya. Jadi tidak ada yang berani. Kebanyakan hanya diam, menerima saja,” ungkap Suryani (bukan nama sebenarnya), guru honorer di sebuah SD negeri di bilangan Jakarta Barat. Sembari mewanti-wanti agar namanya tidak disebutkan karena khawartir kariernya akan kandas, ia bertutur tentang nasib teman-
temannya yang sesama guru honorer yang masih mendapat upah jauh dari layak. Dia sendiri pun, katanya, juga mendapat honor jauh dari layak. Namun, katanya, masih jauh lebih baik dibanding temantemannya. Sebagai gambaran, honornya per bulan sekitar Rp 1,1 juta, plus tunjangan fungsional Rp 900 ribu dan uang BOP Rp 400 ribu. “Jika dilihat, memang jumlahnya Rp 2,4 juta. Tapi jangan lupa, fungsional itu tidak diterima per bulan, nanti setelah tiga bulan baru dirapel. Sementara kebutuhan hidup bergulir setiap waktu, dari mana uang untuk menutupi? Malah ada teman saya, sebelumnya dapat (fungsional) kemudian berbulan-bulan tidak dapat. Tidak ada rapelan, alias hangus,” tutur ibu tiga anak ini. Tapi, apa yang didapatnya masih lebih baik dibanding teman-temannya sesama honorer. “Teman-teman saya masih ada yang mendapat honor antara Rp 500 ribu hingga 700 ribu. Sementara tunjangan fungsional tidak menentu, alias kadang dapat- kadang tidak. Tapi dia tidak berani bertanya, takut! Syukur saya tidak pernah tidak dapat. Saya
Siswa Wajib Bawa Laptop Guru tak Bisa Beli Laptop Zaman globalisasi meng haruskan semua orang tidak lagi buta informasi teknologi (IT) termasuk para guru dan siswa. Bagaimana kesiapan para guru dalam menyikapi kurikulum 2013 yang mengharuskan para guru melek IT? Menurut AA Ketut Sujana, salah seorang guru SMA 4 Denpasar, sekarang ini, guru tidak lagi tugasnya hanya mengajar, namun, guru dan siswa diharapkan bersama-sama belajar, agar proses belajar mengajar semakin baik. “Apalagi, kurikulum 2013, memang mengharuskan para guru harus menguasai IT. Dalam menyampaikan materi bahan pelajaran, ada model-model pembelajaran yang mengharuskan para guru menggunakan komputer. Minimal para guru harus menguasai program powerpoint dan word,” tutur guru biologi ini.
AA Sujana
Sekarang, menurut Ketua Tim Pengembangan Kurikulum Provinsi Bali ini, siswa memang diwajibkan membawa laptop. Menurut penilaiannya, siswa juga sudah lebih siap
menyambut zaman melek IT ini. Karena, kalau mereka tidak siap, mereka akan ketinggalan dari yang lain. Misalnya, bisa saja mereka membuat tugas dengan mencari di internet, seperti google, atau blog. Siswa juga harus presentasi menggunakan laptop. Seperti siswa di SMAN 4 Denpasar. Sebagian besar mereka sudah siap dengan laptop. Malah, para siswa lebih canggih dari para gurunya. Menurut Sujana, walaupun ia seorang guru, ia tetap tidak malu belajar kepada siswa. Karena proses belajar mengajar memerlukan sinergi yang baik antara guru dan siswa. Tak ada salahnya guru dan siswa sama-sama belajar untuk membuat proses belajar mengajar menjadi lebih mantap dan nyaman. Ia mencontohkan pelajaran biologi. Dalam materi peredaran darah, ia harus menunjukkan gam-
terima fungsional sejak 2005, ketika itu hanya Rp 50 ribu,” katanya. TAK ADA SLIP GAJI Yani bertutur, mengajar di sekolah negeri telah ditekuninya belasan tahun. Sebelumnya ia sempat juga menyambi di sekolah swasta dengan gaji yang lumayan bagus. Namun, karena ingin ‘mengejar’ status PNS, ia pun rela melepas pekerjaannya sebagai guru swasta, sekalipun konsekwensinya keuangan keluarganya jadi morat-marit lantaran kecilnya honor guru di sekolah negeri. Untuk menyiasati, ia pun seperti kebanyakan guru lainnya, mencoba mencari pekerjaan sambilan. “Saya memberi les, meski itu dilakukan secara diam-diam. Kami dilarang memberi les pada anak murid. Saat ini saya punya murid 15 orang. Meski terlihat banyak, namun nominalnya sungguh ‘menyedihkan’. Setiap murid hanya mampu membayar Rp 100 ribu per bulan. Untungnya ada tiga murid yang dari keluarga berpunya, mereka sanggup membayar antara Rp 500 ribu-800 ribu sebulan. Pendapatan bar dengan powerpoint, ada gambar dan suara. Apalagi, ada ada program animasi dan flash, sehingga gambar yang ditampilkan terlihat seperti asli, sehingga siswa menjadi lebih tertarik mendengarkan pelajaran dan lebih mengerti serta mampu menangkap penjelasan gurunya. Bagi guru-guru yang belum melek IT, memang ada pelatihan in house training, seperti yang dilakukan di SMAN 4 Denpasar. Tiap semester, ada tiga hari yang disiapkan untuk para guru berlatih IT. Sujana yang juga menjadi fasilitator tingkat nasional ini mengatakan, mungkin ada satu atau dua orang guru yang tidak mau belajar IT, alasannya karena faktor usia atau sudah mau pensiun. Namun, secara umum, saat ia memberikan pelatihan ke beberapa wilayah Indonesia Timur, seperti Larantuka, Tambulaka, ia melihat para guru sudah sebagian besar melek IT. “Karena jika mereka tidak menguasai IT, mereka sendiri akan ketinggalan dan tidak bisa mengikuti kurikulum 2013,” kata Sujana. Beda penuturan Suryani (nama samaran), guru non PNS di Jakarta. Dengan kondisi penghasilan pas-
inilah yang saya pakai untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga,” papar Yani yang sejak belasan tahun menjadi single parent. Sayangnya, yang namanya les, tidak menentu. Jumlah murid les itu bisa ‘naik-turun’, itu artinya pendapatan pun tak menentu pula. “Pernah saya hanya punya lima murid les, atau pada hari libur sekolah, malah tinggal satu orang,” katanya lagi. Karena itu, di Hari Guru 2014 ini, ia memohon agar pemerintah memperhatikan kesejahteraan para guru non-PNS. Pemerintah selama ini hanya memperhatikan guru PNS saja, padahal guru non-PNS pun peranannya tak kalah penting dalam membangun dunia pendidikan Indonesia. “Pemerintah, tolong tetapkan gaji minimal guru, sehingga kami memiliki standar gaji yang jelas. Apalagi selama ini, saya misalnya, setiap kali terima upah, tidak pernah mendapat slip gaji sehingga sampai kini tidak tahu berapa sebenarnya honor yang seharusnya dibayarkan. Kami hanya diberi uang cash, dan tanda tangan di buku. Hanya itu,” ujarnya. Ketika ditanya mengapa tidak pindah profesi jika memang penghasilan sebagai guru non-PNS tidak layak? Yani mengatakan, menjadi guru adalah tugas mulia dan ini sepenuhnya pengabdian yang maksimal. “Sebagian besar guru memang seperti itu. Kebanggaan seorang guru adalah keberhasilannya ‘mencetak’ generasi-generasi penerus bangsa yang andal di masa depan. Itulah sebabnya kenapa banyak guru tetap bertahan sekalipun bergaji minim,” katanya. –Diana Runtu pasan, akan sangat berat bagi mereka untuk menjalankan kurikulum 2013. “Untuk keperluan belajar-mengajar, kami juga harus keluar uang dari kocek sendiri juga. Belum lagi, harus memiliki laptop karena memasukkan nilai-nilai dan lain-lain harus ke dalam komputer. Di sekolah ada komputer, tapi jumlahnya hanya beberapa. Lagi pula, apakah kami harus bekerja di sekolah sepan jang hari gara-gara memakai komputer sekolah? Maka salah satu jalan adalah membeli laptop. Tapi dari mana uangnya? Lahhhh, untuk kehidupan sehari-hari saja sulit, bagaimana mungkin membeli laptop?” ungkapnya lagi. Karenanya, harap guru yang bergelar Magister Administrasi Pendidikan ini, solusinya adalah pemerintah meningkatkan kesejahteraan para guru non-PNS dengan gaji yang layak. Sebab, dengan kesejahteraan yang layak, para guru bisa berkonsentrasi penuh dalam melakukan pekerjaannya sebagai pendidik dan ini tentunya berkait dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada si murid. –Wirati Astiti/Diana Runtu
24 - 30 November 2014
18
Disperindag Kota Denpasar Gelar Lomba Cipta Karya Kreatif 2014
Janji sebuah produk, salah satunya terlihat dari desain, kemasan atau packagingnya. Sebab, desain atau kemasan yang unik sangat mudah menjadi daya tarik. Hal ini penting dan menjadi perhatian dalam pergerakan industri kreatif termasuk untuk memenangkan persaingan.
D
emi pengembangan kreativitas desain dan kemasan pula, Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar serta Denpasar Design Centre (DDC) kembali menyelenggarakan “Lomba Cipta Karya Kreatif 2014” dalam berbagai kategori. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si., didampingi Koordinator DDC, I Gst, Ngurah Gede Suyasa, lomba ini untuk merekatkan sinergi pemerintah, swasta, komunitas, kreator, dan publik luas dalam ranah
kreativitas dan desain. DDC sebagai salah satu bentuk fasilitas dan layanan one stop service laju pertumbuhan IKM dan UKM, terutama aspek desain kemasan, produk, tekstil, teknologi informasi dan komunikasi, serta hak kekayaan intelektual (HaKI) pun menyadari stimulus tersebut. Wayan Gatra mengatakan “Lomba Cipta Karya Kreatif 2014” ini dikelola dan diselenggarakan oleh DDC untuk : Merangsang dan mendorong laju pertumbuhan karya kreatif, inovatif dan aplikatif bermutu tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat luas; Meningkatkan apresiasi, konsumsi dan pember-
dayaan pilar industri kreatif lokal untuk siap bersaing skala nasional dan internasional; Meningkatkan dan mengembangkan minat, bakat, keahlian dan kreativitas budaya di kalangan profesi dan khalayak umum; Meluaskan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, serta media lain yang berbasis akar kultur dan kearifan lokal. Lomba Desain Endek bertujuan : Melestarikan dan mengembangkan seni budaya endek Bali; Menggali ide kreatif dan apresiasi generasi muda merancang motif; Mendorong lahir motif endek dan memperkaya nuansa endek, serta meningkatkan promosinya.
Wayan Gatra
Lomba Kemasan Produk Makanan untuk: Meningkatkan pemahaman pentingnya kemasan bagi sebuah produk; Meningkatkan kemasan sebagai media perlindungan dan pengawetan serta media
komunikasi dan informasi (identitas produk) kepada konsumen; Mendorong lahirnya desain dan karya kemasan yang kreatif, inovatif juga fungsional dan menciptakan respons positif bagi konsumen; Memperkaya ragam kemasan makanan khas Kota Denpasar dan Bali. Lomba Aplikasi - Konten Mobile bertujuan untuk: Meningkatkan terciptanya perangkat lunak berbasis mobile bertema seni-budaya; Menggali ide kreatif generasi muda untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya Bali; Mendorong sinergi antara TIK, kewirausahaan, seni dan budaya sebagai pilar kreativitas lokal yang menjangkau dunia global; Memperkaya kontribusi TIK dalam dokumentasi, distribusi dan promosi seni budaya Bali. Lebih lanjut Wayan Gatra mengatakan , kompetisi ini melombakan desain alat- alat pengembangan ide dan fungsi, agar muncul bentuk baru yang lebih kreatif dan memungkinkan dipakai semua orang. - ard
3.Hasil karya orisinil, bukan tiruan dari karya lain. 4.Karya belum pernah diikutsertakan pada lomba sejenis lainnya. 5.Wajib mengisi formulir pendaftaran, menandatangani surat pernyataan orisinalitas dan bersedia mentaati seluruh ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan panitia.
Persyaratan Umum Lomba Aplikasi Konten Mobile: 1.Lomba terbuka hanya untuk siswa SMA/SMK dan mahasiswa Perguruan Tinggi di Bali. Melampirkan kartu siswa atau mahasiswa yang masih berlaku. Peserta lomba boleh perorangan atau kelompok (maksimal 3 orang) 2.Tidak dipungut biaya pendaftaran. 3.Hasil karya orisinil, bukan tiruan dari karya lain. 4.Karya belum pernah diikutsertakan pada lomba sejenis lainnya. 5.Wajib mengisi formulir pendaftaran, menandatangani surat pernyataan orisinalitas dan bersedia mentaati seluruh ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan panitia. Suasana penilain Lomba Cipta Kreatif tahun lalu
BERHADIAH TROPI dan UANG TUNAI
Jadwal Kegiatan Call for entry/pendaftaran peserta: 1 September - 30 November 2014 Pengumpulan persyaratan dan materi lomba : 30 November 2014 Penjurian: 1 s.d 10 Desember 2014 Pengumuman, penyerahan hadiah dan pameran karya pemenang digelar pada acara Denpasar Festival (Denfes) 2014 Hadiah - Ditetapkan tiga pemenang lomba dalam tiap kategori - Pemenang mendapatkan Trophy & Piagam Penghargaan dari Pemerintah Kota Denpasar dan Denpasar Design Centre -Uang Tunai Kategori Cipta Desain Motif Endek Juara I Rp 3.000.000, Juara II Rp 2. 500.000, Juara III Rp 2 .000.000 Kategori Cipta Kemasan Pai Susu Juara I Rp 2.000.000, Juara II Rp 1.500.000, Juara III Rp 1.000.000 Kategori Cipta Kemasan Betutu Juara I Rp 2.500.000, Juara II Rp 2.000.000, Juara III Rp 1.500.000 Kategori Cipta Aplikasi Konten Mobile Juara I Rp 4.500.000, Juara II Rp 3.500.000, Juara III Rp 2.500.000 Kategori Cipta Desain Produk Inovatif Juara I Rp 3.500.000, Juara II Rp 3.000.000, Juara III Rp 2.500.000
Persyaratan Persyaratan Umum Lomba Desain Endek : 1.Lomba terbuka untuk umum; perorangan atau kelompok. 2.Tidak dipungut biaya pendaftaran. 3.Hasil karya orisinil, bukan tiruan dari karya lain. 4.Karya belum pernah diikutsertakan pada lomba sejenis lainnya. 5.Wajib mengisi formulir pendaftaran, menandatangani surat pernyataan orisinalitas dan bersedia mentaati seluruh ketentuan yang ditetapkan panitia. Persyaratan Umum Lomba Kemasan Produk Makanan: 1.Lomba terbuka untuk umum; perorangan atau kelompok (maksimal 3 orang) 2.Tidak dipungut biaya pendaftaran.
Konsep desain alat yang dapat diikutsertakan: 1. Harus orisinal. 2. Dapat direalisasikan kedalam bentuk bernilai artistik dan imajinatif. 3. Mempunyai fungsi dan memudahkan kegiatan keseharian. 4. Dapat merupakan modifikasi, daur ulang atau penambahan fungsi dari alat tertentu yang ada. 5. Tidak boleh menggunakan bahan bakar jenis apapun. 6. Jika menggunakan sumber listrik,t idak melebihi kapasitas tegangan 12 Volt. 7. Ukuran alat yang didesain bebas. 8. Belum pernah diproduksi secara massal dan/atau diperjualbelikan. 9. Tidak pernah diikutkan dalam kompetisi sejenis dimanapun. Ketentuan peserta 1. Perorangan atau kelompok (maksimum 5 orang). 2. Kewarganegaraan Indonesia tanpa batasan usia. 3. Harus mengisi formulir pendaftaran. 4. Peserta dapat mengirim desain maksimal 3 karya desain. Prosedur Lomba Dewan Juri “Lomba Cipta Karya Kreatif 2014 “terdiri atas unsur DDC akademisi, pengamat, desainer, dan praktisi lainnya. Dewan Juri akan bekerja secara independen dan keputusan Dewan Juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Kriteria umum penilaian untuk Lomba Cipta Karya Kreatif 2014 adalah: 1.Konsep yang orisinal, inovatif dan mempunyai nilai tambah (added value). 2.Kemampuan teknis yang matang dan berkualitas dalam mewujudkan desain/karya/aplikasi. 3.Desain/karya mencerminkan eksplorasi mendalam terhadap khazanah seni-budaya Bali, mempunyai nilai artistik yang baik, mengusung semangat pembaharuan dan berorientasi pada pengejewantahan semangat Bali yang terbuka dan mendunia. Untuk kategori Lomba Desain Endek, desain dan karya jadi kain endek diharapkan: 1.Mencerminkan motif dan filosofi yang diinspirasi dari khazanah seni-budaya Bali, namun bernuansa universal. 2.Mempunyai karakter desain yang segar dan elegan. 3.Mempunyai daya saing kualitas dan daya jual yang tinggi. 4.Pemilihan dan penggunaan material berbasis ramah lingkungan.
Alamat Pendaftaran
Pendaftaran Lomba Cipta Karya Kreatif 2014 dilakukan di: Denpasar Design Centre (DDC) Jalan Melati No. 31 Denpasar 80233 BALI; Telepon ( 0361) 2103555 / 0361.224548 Faksimili ( 0361) 244648; E-mail rumahkemasandenpasar@gmail.com
24 - 30 November 2014
Life
Story
Bayiku Mau Ditukar Tahun 2001, kala melahirkan anak ketiganya di sebuah rumah sakit di Mataram, NTB, Nagita (40), bukan nama sebenarnya, ingat sebuah kejadian yang sempat membuatnya takut. Siang itu, setelah semua proses pengurusan persalinan rampung, Nagita dipindahkan ke kamar ruang rawat. Beberapa jam setelah melahirkan, seorang ibu yang juga lebih dulu melahirkan darinya, sekitar dua jam sebelumnya, menggedor kamar ruang rawatnya.
N
agita yang sedikit heran bangun membukakan pintu. Kebetulan saat itu ia tengah sendiri bersama bayinya. Sementara suaminya kembali ke kantor hingga sore hari usai menemaninya melahirkan. Seorang iparnya tengah menunggui anak pertama mereka yang masih kecil di rumah. Ibu berusia sekitar setengah baya itu lalu mendekati puterinya dan tersenyum senang. “Lucu ya anaknya bu…, rambutnya hitam dan lebat pula,” ungkap Nagita menirukan perempuan itu. Nagita yang heran agak kebingungan menghadapi keramahan ibu yang baru saja dilihatnya itu. Ibu itu hendak mengangkat bayinya ke gendongan, namun Nagita mencegahnya. “Jangan Bu, tidak usah digendong, kasian dia masih tidur,” kata Nagita. Ibu itu pun mengurungkan niatnya menggendong bayi Nagita. Nagita makin heran melihat tingkah si ibu yang begitu peduli pada bayinya, padahal ibu itu sendiri baru saja melahirkan seorang bayi. “Mestinya dia gregetan pada kelucuan bayinya sendiri, karena kami sama-sama melahirkan di hari yang sama, hanya beda dua jam saja,” kata Nagita. Si ibu beberapa kali bolak-balik kamarnya siang itu. Sampai menjelang sore, ibu yang sampai sekarang tidak ia tahu namanya itu bertanya kepada Nagita. “Ini anak ke berapa?” “Anak ke tiga,” jawab Nagita. “Anak pertama dan kedua laki-laki atau perempuan?” tanya ibu itu. “Perempuan semua,” ujar Nagita. “Duh… senangnya punya anak perempuan banyak ya….,” kata si ibu mencium
bayi mungil itu. Nagita tersenyum penuh tanda tanya melihat perhatian si ibu kepada bayinya. “Apa tidak ingin punya anak laki-laki?” lanjut si ibu. “Ingin sekali bu, tapi apa pun yang Tuhan kasih, saya terima, mungkin suatu hari nanti saya bisa punya anak laki-laki,” kata Nagita. “Ibu punya anak berapa?” Nagita bertanya balik. “Lima...semuanya laki-laki,” ungkap si ibu. Di sinilah Nagita baru memahami mengapa si ibu yang tampaknya berada itu begitu perhatian pada
anaknya. Beberapa saat si ibu terdiam sambil memandang bayi Nagita. Nagita pun demikian. Suasana sempat hening. Beberapa saat kemudian dengan lembut si ibu bicara padanya. Namun, apa yang didengarnya dari suara pelan si ibu, bagaikan petir di siang bolong yang menyambar-nyambar di sekitarnya. “Bagaimana kalau kita tukar bayi kita, agar saya mendapat anak perempuan dan Mbak punya anak laki-laki,”
7
LOOP KePo Cetak Digital Creator LOOP KePo (Kreatif Project) sebagai rangkaian kegiatan yang khusus diperuntukkan bagi LOOPers (sebutan pelanggan LOOP) digelar di GOR Ngurah Rai, Denpasar, Minggu (16/11). Event ini mengangkat sisi edukasi, kreativitas, dan teknologi digital. VP Sales & Marketing Telkomsel Area Jawa Bali Herry Setiawan mengatakan, para LOOPers yang berusia 12-19 tahun merupakan generasi dengan konsumsi yang sangat tinggi terhadap media sosial dan aplikasi digital. Mereka memiliki potensi yang amat besar untuk berpartisipasi secara aktif dalam perkembangan industri digital di Tanah Air, salah satunya dengan menyalurkan kreativitas mereka untuk menciptakan berbagai konten dan menjadikan mereka digital creator. Avent di Denpasar menghadirkan Joko Anwar dan Raditya Dika. -rls
Polytron Zeromatic Ruby Mengulang keberhasilan pada Primadona Zero Pressure, kini PT Hartono Istana Teknologi yang berbasis di Jawa Tengah memproduksi kembali mesin cuci dengan menyempurnakan teknologi dari Primadona Zeropress sebelumnya. Produk mesin cuci baru dengan teknologi canggih ini dinamakan Zeromatic Ruby Series. Santo Kadarusman, Public Relations dan Marketing Event Manager me ngatakan Zeromatic Ruby dipasarkan dengan harga yang tidak berbeda jauh dari Primadona Zeromatic. Ia berharap hadirnya Zeromatic Ruby dapat mendongktak penjualan produk home appliances yang sempat anjlok dalam beberapa bulan ini akibat gejolak politik dan melonjaknya kurs harga rupiah terhadap dolar.-rls ujar si ibu menawarkan. Kaget yang luar biasa dirasakan Nagita. “Itu kekagetan yang paling dahsyat yang pernah saya alami sepanjang hidup saya,” kata Nagita yang langsung menolak penawaran itu. Si ibu belum menyerah hingga berkali-kali merayu Nagita yang terasa mulai ketakutan. Penolakan tegas dari Nagita membuat si ibu langsung keluar dan kembali ke kamarnya setelah sempat berada dalam situasi yang tegang. Beruntung seorang perawat datang membuat suasana ketegangan Nagita sedikit rilek. “Perawat itu cerita bahwa si ibu di kamar sebelah tidak mau menyusui anaknya meski pun anaknya menangis,” kata Nagita yang memilih diam tidak menceritakan kejadian barusan pada siapa-siapa. Hanya iparnya yang ia ceritakan ketika meminta bantuan untuk menjaganya. Sebelum iparnya itu datang, Nagita menutup rapat-rapat pintu kamar dan tidak ingin si ibu tadi datang lagi menjenguk bayinya. “Saya takut sekali bayi saya diculik,” katanya. Beberapa kali Nagita berpura-pura merem saat si ibu mengetuk pintu kamarnya dan mengintip dari kaca kamar rumah sakit itu. “Pokoknya saya
tidak mau ibu itu melihat bayi saya lagi,” katanya. Bagaimana pun juga, bayi perempuan yang mungil itu adalah darah dagingnya. Ia tidak habis pikir mengapa si ibu punya niatan menukar bayinya sendiri. Kini, bayi kecil Nagita itu telah tumbuh menjadi seorang remaja. “Sudah kelas satu SMP,” katanya. Nagita tidak pernah menceritakan hal itu pada siapa pun termasuk pada suami dan anaknya ini. satu-satunya tempat ia bercerita tentang peristiwa itu adalah iparnya, karena ia membutuhkan bantuannya kala itu. Ia meminta iparnya itu untuk tidak menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Ia menyimpan rahasia itu agar tidak ada yang menceritakannya kembali kelak. “Saya trauma dengan situasi itu,” kata Nagita yang mengaku sempat shock waktu itu. Kisah ini mau ia ceritakan kembali, semata-mata untuk mengingatkan para ibu yang baru melahirkan, agar berhati-hati terhadap orang di sekitarnya. Tidak hanya penculikan bayi yang bisa terjadi melainkan apa yang dialaminya sangat mungkin terjadi. Ia bersyukur masih memiliki kontrol yang baik, hingga mampu lolos dari rayuan si ibu yang datang bertubi-tubi. -Naniek I. Taufan
Bunda & Ananda
8
24 - 30 November 2014
Ingatkan Anak Cuci Alat Kelamin
Orangtua perlu memperhatikan alat kelamin anaknya. Perhatian ini diberikan sejak anak masih kecil, terutama cara menjaga kebersihan dan cara perawatan. Jangan sampai terjadi iritasi atau infeksi pada kelamin anak.
dr. Dina Wahyuni, Sp.KK
S
aat mandi Reno biasa menggunakan cara mandi kilat. Tak sampai lima, siswa kelas 2 SD ini sudah keluar kamar mandi. Tetapi, kalau sudah dimandikan ayahnya, ia pasti menjerit. Apalagi kalau bagian penisnya dibersihkan. “Kalau urusan membersihkan penis, bagian ayahnya. Kan ayahnya yang lebih paham bagaimana caranya,” ungkap Bu Dewi, ibu Reno. Ia mengaku hanya mengingatkan putranya untuk mencuci alat kelamin usai buang air kecil. Jika Bu Dewi menyerahkan urusan kebersihan kelamin anak laki-laki kepada suami, sebaliknya Pak Deddy menyerahkan urusan membersihkan vagina dua putrinya kepada sang istri. “Anak-anak maunya dibersihkan oleh ibunya. Kami sangat menjaga kebersihan dan ke sehatan anak-anak,” ujar pria yang bekerja sebagai wiraswasta ini. Secara aturan tak ada yang menentukan ayah memperhatikan kebersihkan alat kelamin anak laki-laki sedangkan ibu memperhatikan kebersihkan alat kelamin anak perempuan. Namun, karena kebiasaan, terbentuklah pola se perti itu.
Tetapi, bagi yang memiliki anak laki-laki dan perempuan, harus bisa melakukan semuanya. “Kalau urusan mandikan dan urus an membersihkan kelamin anak laki-laki dan anak perempuan kami tidak membedakan, tergantung siapa yang punya waktu, dia yang mengurus anak,” kata Bu Tini yang punya dua anak ini. Dari pengalamannya, Bu Tini mengaku membersihkan alat kelamin putrinya lebih sulit. Misalnya, tidak boleh terlalu lembab dan harus sering-sering ganti celana dalam. Ia pun harus sering memantau kebersihkan kedua buah hatinya. Menurut dr. Dina Wahyuni, Sp.KK, laki-laki dan perempuan sebagai mahluk ciptaan Tuhan harus menghargai pemberian Tuhan dan merawat dengan baik pemberian itu, termasuk bagianbagian kecil seperti alat kelamin. “Alat kelamin laki-laki dan perempuan sangat berbeda dari bentuk, struktur, fungsi, maupun kegunaannya sehingga cara perawatannya pun berbeda. Karena itu para orangtua sebaiknya selalu mengajarkan anak-anak cara membersihkan alat kelaminnya agar tidak terjadi iritasi/alergi dan infeksi baik infeksi bakteri maupun infeksi jamur. Apalagi bagi anak yang sudah bisa mandi sendiri,” ujar dokter spesialis kulit dan kelamin yang bertugas di RS Indra, RS Prima Medika, dan Apotek Pandu Medika ini. Bagi orangtua, dr.Dina memberikan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk merawat penis dan vagina buah hati mereka. Pertama, tiap buang air besar maupun kecil, usahakan selalu mencuci bagian luar kelamin dengan air. Untuk laki-laki cukup dibersihkan dengan air bersih setelah itu dikeringkan. Apabila dibiarkan lembab akan menyebabkan infeksi jamur dan bakteri. Untuk anak perempuan, siram air dari depan vagina ke belakang, jangan melakukan dari belakang ke depan. Tujuannya mencegah masuk-masuknya kuman dari
anus ke vagina dan saluran kemih. Apabila mikroorganisme di anus masuk ke saluran kemih, dapat menyebabkan infeksi saluran kemih yang mengakibatkan anak sulit buang air kecil dan demam mendadak. Kedua, saat mandi, anak perempuan tidak perlu mencuci vagina dengan sabun secara berlebihan agar tidak menimbulkan iritasi. “Untuk anak laki-laki yang belum disunat, saat mandi tarik perlahan kulup sampai kepala penis menyembul. Setelah itu kotoran yang menempel harus dibersihkan. Bagi yang sudah disunat, pembersihan lebih gampang karena kulup sudah terbuka,” ujar dr. Dina.
Ketiga, memperhatikan kebersihan pakaian dalam anak-anak. Ia menyarankan dalam sehari anakanak minimal mengganti pakaian dalamnya dua kali dan sebaiknya menggunakan kain dari katun. “Jangan pernah bertukar pakaian dalam dengan orang lain. Hal ini harus diperhatikan karena pakaian dalam yang lembab memudahkan terkena infeksi jamur di daerah tersebut,” tegasnya Keempat, hindari penggunaan pewangi yang beralkohol, bedak wangi, minyak-minyakan, antiseptik di daerah kelamin maupun bokong anak-anak karena dapat menimbulkan iritasi atau alergi di daerah tersebut.
Khusus untuk bayi, gunakan kapas bersih yang telah dibasahi air hangat. Untuk anak laki-laki diusapkan di daerah penis dan sekitarnya serta bersihkan juga kotoran yang menempel di sekitar kulup. Untuk perempuan, usap dari daerah vagina ke anus. Usapkan juga di lipatan paha sampai pangkal paha. “Bersihkan daerah yang akan ditutup popok. Biarkan kering terlebih dahulu dengan menggunakan lap yang lembut. Setelah kering baru menggunakan popok,” ujar dr. Dina seraya mengingatkan jika ada keluhan yang mengkhawatirkan tentang penis atau vagina anak segeralah menghubungi dokter. –Ngurah Budi
“Untuk anak laki-laki yang belum disunat, saat mandi tarik perlahan kulup sampai kepala penis menyembul. Setelah itu kotoran yang menempel harus dibersihkan.
Griya
24 - 30 November 2014
17
Anggrek untuk Dekorasi
Bunga anggrek yang memiliki bahasa latin orchidaceae ini memang cantik. Meskipun tak mengeluarkan bau harum seperti tanaman bunga kebanyakan, anggrek masih menjadi primadona para pencinta tanaman hias, dengan beragam jenis dan warnanya.
B
eberapa tahun terakhir, aggrek tak lagi sekadar menghiasi kebun bunga yang media keberadaannya sebagai tanaman gantung atau ditempel pada pohon lain. Kini, tanaman anggrek lebih banyak dipasok oleh hotel dan restoran. “Mereka memanfaatkannya sebagai dekorasi seperti vas yang diletakkan di lobi, kantor, kamar, bahkan di toilet. Bahkan, banyak yang membeli tanaman anggrek untuk gift,” ujar Ni Wayan Srilaba, pemilik Sentra Anggrek Duta Orchid di kawasan Jalan Hang Tuah, Denpasar. Di tempatnya ini tersedia dua jenis anggrek, yakni dendrobium dan anggrek bulan.
Anggrek dendrobium ini memiliki beragam bentuk dan warna yang menawan. Sementara anggrek bulan, umum yang ditemui berwarna putih dan ungu. Di sentranya ini, ketersediaan anggrek bulan cukup mendominasi. Menurut Srilaba, untuk media tanamnya, ia menggunakan mos untuk hasil yang lebih maksimal. Mos adalah media tanam yang terbuat dari ampas rumput laut. Sifatnya lebih lembab dan menyerap banyak air. Karena itu ia mengatakan untuk perawatannya, cukup disiram dua kali seminggu. “Bisa dicek dengan menekan-nekan mos. Jika agak kering, beri air,” ungkapnya. Aggrek bulan cenderung sensitif dengan suhu panas dan sinar ma-
tahari, idealnya hanya sekitar 30%. Sebaiknya, di atas tanaman ini dipasang pelindung untuk menghindari paparan sinar matahari langsung. Tarif anggrek bulan standar Rp 95 ribu per pohon, dan Rp 135 ribu untuk produk premium yang bibitnya impor. Untuk jenis anggrek dendrobium, Srilaba menggunakan media tanam arang. Arang yang dipakainya ini adalah arang yang keras, bisa dari kayu kopi atau bakau, yang proses dari kayu menjadi arang melalui pengovenan. “Arang ini harus kuat karena akar tanaman akan mengikat diri disana. Dengan media arang ini lebih bagus tumbuhnya, lapukannya lama, karena arang tak menyimpan air,” ujarnya. Sementara, dengan media pakis, ia menjelaskan pelapukannya cepat karena menyimpan banyak air. Ia berpengaruh kepada tananaman menjadi cepat rusak dan ditumbuhi jamur. “Anggrek perlu banyak air, tetapi tidak direndam. Anggrek idealnya disiram dua kali sehari,” ucapnya.
Srilaba dengan tanaman anggrek koleksinya
–Inten Indrawati
Bagi yang sudah disunat, pembersihan lebih gampang karena kulup sudah terbuka”
Mendongeng Lima Menit Guru dan Serigala
Pada suatu sore seorang guru pulang sekolah naik sepeda. Di jalan yang sepi, dari arah belakang Made Taro tiba-tiba ia mendengar seekor serigala berteriak-teriak. “Auuuw…, tolong, tolong, tolong, auuuw…!” Guru itu menoleh lalu turun dari sepedanya. “Tolonglah aku, Tuan Guru!” kata Serigala terengah-engah ketakutan. “Seorang pemburu membawa bedil mengejarku. Sembunyikanlah aku, Tuan Guru!” Guru yang baik budi itu mengeluarkan buku-bukunya dari kantong barang yang selalu dibawanya. Serigala itu disuruh bersembunyi dalam kantong itu, lalu ditimbun dengan buku-buku. Sesaat kemudian muncul pemburu yang sedang mengejar serigala itu. “Ada melihat serigala lewat ke sini?” tanya pemburu itu. “Tidak, Tuan!” jawab guru itu. Setelah keadaan aman, Tuan Guru melepaskan serigala itu. Namun apa yang terjadi? Serigala memperlihatkan gigi-giginya hendak merobek-robek tubuh Tuan Guru. Kebetulan di jalan yang sepi itu lewat seorang tua. Guru itu berteriak minta tolong.
“Apa yang terjadi?” tanya orang tua itu. Tuan Guru menjelaskan peristiwa yang sebenarnya, tetapi segera dibantah oleh Serigala. “Bohong itu, Kakek Tua! Guru yang berniat tidak baik itu menangkap aku, lalu memasukkannya ke dalam kantong. Agar aku tidak bisa melepaskan diri, guru itu menimbunku dengan buku-bukunya yang sangat berat. Hampir mati aku!” kata Serigala berpura-pura menahan napas putus-putus. “Maaf, aku tidak melihat kenyataannya. Cobalah peristiwa itu diragakan kembali, sehingga aku dapat mengambil keputusan yang bijaksana,” kata orang tua itu. Tuan Guru mengeluarkan buku-bukunya dari kantong, lalu Serigala meloncat masuk ke dalamnya. Setelah itu, Tuan Guru menimbunnya dengan buku-bukunya. “Jelas sekarang,” kata orang tua itu. Ia mengeluarkan pedangnya, lalu tanpa ragu-ragu ia menusukkan ujung pedang itu perlahan-lahan ke dasar kantong. Dari dalam kantong itu terdengar rintihan Serigala meminta maaf. “Berbuat baik budi itu sangat baik, Tuan Guru,” kata orang tua itu. “Namun perlu pengetahuan dan pengalaman, sehingga kita dapat menentukan kapan dan untuk siapa baik budi itu.”
General Contractor
Building Consultant Architectural Drawing
Interior & Exterior Designer
Landscaping Work Art Work
Jln. Pemuda V/11B Renon. Tlp. (0361) 247060. Email: tms_group@yahoo.com
Ciptakan Kesan Dramatis dengan Pencahayaan Buatan Pertanyaan seputar griya dan properti dapat Anda kirim ke tms_group@yahoo.com atau redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Tata Mitra Selaras, Ketua Tim Arsitek: N.G. Dwi Mahadipta, ST.MT.IAI Tanya: Saya berrencana membangun sebuah rumah dan menerapkan pencahayaan buatan secara optimal dalam bangunan. Bagaimana memanfaatkan pencahayaan buatan dalam suatu perancangan banguna? (Agung, Badung) Jawab: Dalam perancangan arsitektur, aspek pencahayaan khususnya pencahayaan buatan memegang peranan penting. Pencahayaan tidak hanya sebatas membuat terang, tetapi lebih dari itu, pencahayaan dapat mem-
berikan aksen dan kesan dramatis pada bangunan. Penggunaan pencahayaan disesuaikan dengan kebutuhan. Teknik pencahayaan buatan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu teknik pencahayaan langsung, teknik pencahayaan tidak langsung, dan teknik pencahayaan aksen. Teknik pencahayaan langsung adalah teknik pencahayaan umum dengan mengarahkan cahaya pada suatu bidang (gelap). Pencahayaan langsung dibedakan menjadi dua, yaitu pencahayaan dinding dan pencahayaan langit-langit. Pencahayaan dinding yaitu pencahayaan yang mengarahkan cahaya ke dinding/tidak ke objek, sehingga memberikan kesan yang dramatis. Dalam pencahayaan dinding, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Antara lain, dengan perletakan lampu agak jauh dari dinding untuk menghindari hotspot sehingga memberikan kesan yang lembut. Hindari menyorot dinding
mengkilap karena akan memantulkan cahaya. Untuk dinding bertekstur seperti batu alam, lampu dapat diletakkan pada jarak 25-30 cm dari dinding untuk mendapatkan karakter dari tekstur batu alam. Untuk bidang dinding yang luas dapat digunakan lampu dengan sebaran cahaya kerucut dengan jarak lampu 30-40 cm dari dinding, dan jarak tiap lampu 120 cm. Sedangkan untuk teknik pencahayaan langsung ke langit-langit (plafon), hal-hal yang perlu diperhatikan adalah perletakan sumber cahaya agar tidak terlihat dan hanya pendar cahaya yang terlihat. Penggunaan lampu yang terlalu sedikit akan menimbulkan bayangan yang kuat, sedangkan penggunaan lampu yang terlalu banyak akan menyebabkan washout dan menghilangkan detail-detail yang ingin ditonjolkan. Pencahayaan tak langsung dirancang untuk memberikan cahaya mer-
ata yang tidak menimbulkan bnyangan pada bidang vertikal maupun horizontal, dan memberikan kesan lembut (soft). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pencahayaan tak langsung adalah warna, tekstur, dan detail ruang harus terukur oleh sumber cahaya yang dipilih, jarak sumber cahaya dari dinding antara 12-15 cm, karakter material dan finishing plafon tidak mengkilap, penggantian lampu, idealnya dilakukan bersamaan untuk keseragaman warna. Te k n i k p e n c a hayaan aksen digunakan untuk memberikan efek khusus yang diinginkan pada suatu bidang atau objek. Pencahayaan aksen terdiri dari pencahayaan
baur yang memberikan kesan merata dan lembut pada suatu bidang atau objek dan menggunakan jenis lampu floodlight, pencahayaan sorot yang memokuskan cahaya pada suatu objek dengan menggunakan jenis lampu spotlight, pencahayaan background untuk menampilkan tekstur material di belakang objek dan menonjolkan siluet objek.
Edukasi
16 IKIP PGRI Bali kembali menerima kabar gembira. Salah seorang dosennya, baru saja berhasil menyandang titel doktor. Dr. I Made Darmada, M.Pd. adalah dosen bergelar doktor ke-13 yang dimiliki Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) terfavorit di Bali ini. Hal ini tentunya makin menunjukkan komitmen lembaga ini untuk terus meningkatkan kualitasnya, salah satunya kualitas SDM/ tenaga pengajar/dosen.
R
ektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. menyambut gembira kabar ini. Ia bersyukur para dosen merespons positif kebijakan lembaga yang memberikan beasiswa kepada dosen yang melanjutkan pendidikan tingginya ke jenjang S-2 dan S-3. “Dengan respons dan kerjasama yang baik dari para dosen, jadi bisa saling mengisi untuk menghasilkan yang lebih baik bagi kampus kita tercinta,” ujarnya. Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. yang didampingi Sekretaris Yayasan Gusti Ngurah Oka, S.H. menegaskan pihak lembaga secara berkesinambungan tetap memberikan support kepada dosen yang mengikuti studi lanjut, beasiswa Rp 10 juta untuk S-2, dan Rp 15 juta untuk S-3.
24 - 30 November 2014
Disertasi Dosen IKIP PGRI Bali Temukan 7 Teori Kreativitas Hidup 7 TEORI KREATIVITAS HIDUP Dalam disertasinya yang berjudul “Pengembangan Kreativitas Siswa SMK Berdasarkan Budaya Lokal dalam Konteks Industri Kreatif ”, Darmada mengangkat pis bolong (uang kepeng) sebagai kearifan lokal Bali yang disebut pancadatu dikonstelasi dengan kreativitas. “Konsep menyambungkan industri kreatif dengan industri pariwisata, membangun Bali dalam zaman industri kreatif yang dikonstelasikan dengan kreativitas, industri kreatif, dan teori kreativitas hidup,” jelasnya tentang garis besar hasil penelitiannya tersebut. Penelitiannya ini dilakukan di SMKN 2 Sukawati Gianyar pada program keahlian desain dan produksi kriya kerajinan logam, menggunakan pendekatan kualitatif etnografi, dengan analisis model interaktif. Darmada yang menuntaskan S-3nya di Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta ini mengatakan latar belakang diangkatnya judul ini karena melihat Bali merupakan masyarakat kreatif yang setiap karyanya selalu bertumpu pada nilai-nilai budaya lokal adiluhung, yang dapat diwujudkan dalam berbagai komponen dalam sektor industri kreatif. Kemudian, kreativitas tersebut mendukung industri pariwisata yang
dibangkitkan oleh ide-ide perpaduan antara seni budaya (kreativitas artistik), bisnis, dan teknologi (inovasi), yang bermuara pada nilai-nilai ekonomi baru. Penelitian ini bertujuan menggali peran budaya lokal Bali untuk pengembangan kreativitas siswa SMK dalam konteks industri kreatif, serta menginterpretasikan dampak dan makna pengembangan kreativitas siswa SMK berdasarkan budaya lokal Bali dalam konteks industri kreatif. Dari hasil penelitiannya tersebut, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP PGRI Bali ini mendapatkan be-
berapa penemuan. Pertama, konsep kreativitas ekonomi tebentuk dari economic balivogenic. Kedua, konsep kreativitas sosial terbentuk dari social balivogenic. Ketiga, konsep kreativitas spiritual religious terbentuk dari spiritual religious balivogenic. Keempat, pengembangan kreativitas melalui ajaran pancadatu yang dikonstelasi dengan ajaran dewata nawa sanga sebagai sumber dari segala sumber pengetahuan, digerakkan bhakti dalam putaran swastika, menemukan konsep kreativitas sakral dan konsep kreativitas propan. Kelima, keterjalinan antara konsep kreativitas sakral
dan konsep kreativitas propan menemukan teori tentang kreativitas kehidupan. Lebih lanjut Darmada menjelaskan, teori kreativitas kehidupan merupakan interkorelasi antara konsep kreativitas sakral berada pada aliran subjektivitas/spirit ual. Dan, konsep kreativitas propan berada pada aliran objektivitas/ material. “Teori kreativitas hidup ini dapat menjelaskan pengembangan kreativitas dalam konteks industri kreatif yang bersifat sakral yang akan memiliki nilai spiritual, dan bersifat propan yang akan mamiliki nilai material komersial,” ujarnya. Teori kreativitas kehidupan ini dikatakannya berkaitan dengan zaman pada konteks industri kreatif yang terdesain dari mantra (ide, gagasan, konsep yang akan menjadi penggeraknya), tantra (mewujudkan ide, gagasan dan konsep tersebut), dan yantra (perwujudan yang akan melahirkan berbagai dimensi aliran/zaman yang meliputi tradisional, modern, dan postmodern/kontemporer). Keenam,penelitian pengembangan kreativitas dalam konteks industri kreatif merupakan dampak positif dari geografi, pengetahuan tradisional, kurikulum, sosio-ekonomi, sosio-kultural, dan sosio-religius. Ketujuh, menemukan makna sakral dan makna propan. –ten
Sensasi Berenang di Tirta Gangga Salah satu objek wisata yang terkenal di Karangasem adalah Tirta Gangga. Objek wisata taman air ini berlokasi di Desa Ababi, kecamatan Abang, Karangasem. Jaraknya sekitar 100 km dari Denpasar. Tirta Gangga, kawasan yang sejuk karena terletak di kaki gunung Agung dan berada persis di pinggir jalan raya Amlapura. Tempat wisata ini tak hanya ramai dikunjungi turis asing, namun, warga Karangasem dan sekitarnya juga kerap datang berlibur ke Tirta Gangga.
M
enurut cerita, taman air ini adalah warisan dari kerajaan Karangasem yang dibangun raja Karangasem Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem tahun 1946. Nama Tirta Gangga, berasal dari kata Tirta yang berarti air suci dan Gangga yang artinya nama sungai di India. Komplek taman Tirta Gangga sebelumnya pernah hancur oleh letusan gunung Agung tahun 1963. Pemerintah Karangasem membangun kembali taman ini dan diperuntukkan untuk kawasan wisata.
Saat memasuki objek wisata ini, kolam pertama yang terlihat adalah kolam ikan yang di bagian tengahnya terdapat puluhan patung prajurit yang memegang gada. Di kolam ini terdapat juga petak-petak kecil untuk kita dapat berjalan di atas kolam tersebut. Petak-petak itu berbentuk segi enam dan saling berderet satu sama lainnya. Setelah kolam ikan, terdapat menara air yang berada di tengah taman kecil berbentuk bundar yang dikelilingi sepuluh patung prajurit yang memegang gada. Menara air ini terlihat seperti kuncup bunga teratai dan
tingginya sekitar 10 meter dengan bentuk meru tumpang solas, yang biasa terdapat di Pura. Dari puncak menara ini, air mengalir dan berjatuhan melewati setiap susunan tum pangnya. Pada areal taman sebelah kanan dari pintu masuk taman ini, ada tempat yang lebih tinggi, yang merupakan sumber mata air yang terlindung dengan pohon beringin besar. Menurut cerita salah satu warga, sumber mata air ini sering dijadikan air suci untuk sembahyang bagi umat Hindu dan juga menjadi sumber air minum bagi warga Karangasem. Pada bagian bawah dari sumber air tersebut terdapat dua kolam air jernih yang salah satunya digunakan sebagai kolam renang untuk umum. Ko l a m r e n a n g i n i berdesain masa lalu kar-
ena masih terbuat dari bahan seperti batu padas. Pada bagian barat biasa digunakan anakanak karena lebih dangkal, sedangkan bagian timur yang lebih dalam digunakan untuk orang dewasa. Kolam ikan luasnya sekitar 50 x 20 meter persegi. Kolam ini paling luas dengan berbagai macam ikan hias. Selain itu, kolam ini juga dihubungkan sebuah jembatan yang terbuat dari batu padas dengan hiasan empat patung naga pada setiap sisinya. Pada bagian ujung barat taman ini terdapat sebuah bale bengong yang berukuran besar, yang biasa digunakan pengunjung untuk bersantai. Melihat air kolam yang sangat jernih, saya tertarik untuk mencoba berenang. Saat turun, terasa tubuh mengigil karena air terasa sangat dingin. Apalagi, saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Saya mencoba bertahan dengan berdiri beberapa menit di dalam kolam. Lama-kelamaan, saya mencoba mengikuti beberapa pengunjung yang asyik berenang. Ternyata, rasa dingin yang tadinya membuat saya menggigil menjadi berubah. Sensasinya benar-benar berbeda dengan berenang di kolam renang buatan manusia. Saya sarankan jika Anda berkunjung ke Tirta Gangga, sempatkan diri berenang di kolam ini. Karena Anda dapat menikmati air sejuk pegunungan yang sangat jernih berasal dari sumber mata air. Anda tak usah khawatir, karena disediakan kamar mandi ganti untuk membasuh badan dan sangat bersih. Tiket masuk ke Tirta Gangga Rp 5000 dan tiket berenang Rp 10.000. –Wirati Astiti
Dara
24 - 30 November 2014
9
Ingin Pintar? Jadilah Guru Guru, patut digugu dan ditiru. Masih pantaskah label itu melekat pada profesi guru/dosen/tenaga pendidik di era kekininan? Menurut Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum., untuk menjadi guru yang digugu dan ditiru itu secara teori mudah. Rektor Suarta selalu menanamkan nilai pendidikan karakter sejak dini kepada mahasiswa baru IKIP PGRI Bali yang merupakan calon-calon guru masa depan
Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum.
“I
ni terkait dengan teladan. Artinya, ketika guru melarang muridnya merokok, gurunya dulu yang harus tak merokok. Teladan jauh lebh baik daripada macan kertas. Digugu ucapannya dan ditiru pe-
rilakunya,” ujarnya. Namun sayang, di era kekinian profesi guru banyak tercoreng karena ulah oknum. Guru yang seharusnya menjadi teladan, justru menjadi pelaku sejumlah kasus tak terpuji, yang akhirnya merembet ke guru lain. “Mungkin itu guru instan yang kurang tahu posisinya, yang tidak tahu perilaku dan kode etik seorang guru,” ujarnya geram. Sekarang ini, ia melihat ada dua alasan seseorang memilih profesi guru. Pertama, karena terpaksa serta melihat situasi dan perkembangan zaman sekarang profesi guru mendapat perhatian dari pemerintah, Singkat kata, kesejahteraan guru diperhatikan. Karena itu, banyak sarjana nonLPTK (Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan) menyeberang mengambil Akta Mengajar 4 untuk memperoleh “SIM Mengajar”. Jadi, mentalnya memang tak
dipersiapkan menjadi guru. Alasan kedua, karena motivasi alamiah yang memang dari keinginan sendiri. Seperti halnya dirinya. Karyawan pertama IKIP PGRI Bali yang akhirnya menduduki jabatan Rektor ini mengisahkan bahwa menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil. “Keinginan itu muncul saat SD kelas 5,” ungkapnya. Hal ini dikarenakan rasa ka gumnya pada sosok gurunya, IB Anom Ranuara. Apa pun pertanyaan yang diajukan muridnya ketika itu, termasuk dari Suarta bocah, pasti bisa dijawab. “Kesimpulan saya saat itu, guru itu pintar pandai cerdas. Jadi, jika ingin pintar jadilah guru. Cita-cita itu terus bersemayam dan tak pernah pudar,” ucapnya. UTAMAKAN ETIKA Hingga tamat SMA, cita-cita itu pun masih menjadi tujuannya. Suarta yang berhasil memperoleh
rangking 3 saat itu ditanya gurunya hendak melanjutkan kuliah dimana. Dengan yakin ia menjawab, “IKIP Singaraja, saya mau jadi guru Pak”. Sang guru bukannya bangga mendengar pernyataan muridnya, namun justru miris dan menyarankan Suarta untuk tak memilih profesi guru seperti apa yang dilakoninya. “Kenapa mau jadi guru? Guru itu gajinya kecil, mendingan jadi pegawai bank. Biar Bapak saja yang melarat,” ujar Suarta mengutip kata-kata guru SMA-nya itu. Namun, Suarta tak tergoyahkan. Ia tetap berpegang pada tekadnya bahwa ia ingin jadi orang pintar, yakni dengan menjadi guru. Dalam konteks kekinian, guru dikatakannya semestinya selalu memberikan jawaban/solusi, membantu atas permasalahan yang dibawa murid-muridnya, serta fair (tidak pernah ber bohong). Karena itu, profesi guru
ditegaskannya sangat mulia. Karena itu pula, ia mengatakan jika orang yang menjadi guru karena faktor alamiah, pengabdian itu tak menjadi soal. Namun jika profesi guru yang melekat pada seseorang dikarenakan faktor kondisi, pengabdian ini justru menjadi tantangan besar baginya. Apalagi menghadapi anak/murid zaman sekarang yang perilakunya berbeda dengan anak zaman dulu. Etika anak zaman sekarang dinilainya agak vulgar serta kurang rasa hormat kepada guru. Untuk mengantisipasi itu, di IKIP PGRI Bali yang merupakan lembaga pencetak calon guru, Rektor Suarta sudah menanamkan sejak awal tentang kode etik guru melalui pendidikan karakter yang mengutamakan etika. Inilah yang nantinya akan berdampak pada ouput dan outcome peserta didik. –Inten Indrawati
Guru Kaya Harta Kaya Ilmu Sudah 30 tahun Salmah, S.Pd, yang kini mengajar di SMPN 1 Wawo Bima, menjadi guru. Beberapa kali pindah mengajar, mulai dari SMP 1 Singaraja Bali, hingga ke SMP 1 Ende dan akhirnya kembali mengajar di Desa Wawo, membuatnya makin mencintai profesi ini. Meski sekolah ini berada di perdesaan tidak membuat para guru di SMPN 1 Wawo kehilangan kreativitas. Setidaknya dalam 5 tahun terakhir, SMP ini telah menjadi nominee dalam berbagai lomba kreativitas guru. Mengajar di perdesaan yang tentu saja dengan segala keterbatasannya, tidak membuat para guru di sini, khususnya Salmah sebagai guru IPA, menyerah. Apa yang tidak bisa diperoleh sebagaimana fasilitas di sekolah-sekolah perkotaan, mereka siasati dengan apa yang ada. Bahkan dengan kreativitas itu, mereka dapat membuat dan memanfaatkan limbah seperti plastik bekas untuk media pembelajaran yang memudahkan pemahaman siswa, seperti membuat biologi. “Jika tidak ada alat atau bahan yang
dibutuhkan di laboratorium dalam pelajaran biologi, ya saya ajak anak-anak keluar kelas, untuk mencarinya,” ungkapnya. Salmah mengungkapkan tidak selamanya mengajar di sekolah pedesaan itu penuh dengan kekurangan, melainkan justru ada kelebihannya. Itu semua memang tergantung dari kemauan dan kreativitas gurunya. Mereka memanfaatkan apa yang bisa didapat dari sekitarnya. “Kita yang ada di desa, khususnya pelajaran IPA, justru daya dukung alam untuk pelajaran ini tinggi sekali,” ujarnya. Murid-murid bisa langsung belajar di alam dan melihat serta mengamati secara langsung tentang fenomena-fenomena atau gejala alam yang terjadi dalam lingkup ilmu pengetahuan alam. Anak-anak desa bisa secara langsung melihat, misalnya jamur atau tumbuhan lainnya yang tumbuh di alam, yang tentu saja, kesempatan seperti ini tidak bisa didapatkan dengan mudah oleh anak-anak yang bersekolah di kota. Meski tinggal di desa, Salmah dan guru lainnya di sekolah ini, rajin mengakses internet untuk berkomunikasi dengan rekan-rekan sesama gurunya yang berada di
Salmah, S.Pd., dengan koleksi buku di perpustakaan
kota, seperti mendapatkan informasi tentang berbagai lomba bidang pendidikan. Dari lomba-lomba yang pernah diikuti, empat dari sejumlah guru desa ini telah berhasil meraih berbagai prestasi, seperti menjadi Guru Teladan tingkat Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima bahkan pernah menjadi nominee tingkat nasional. Dalam lomba kreativitas guru, Guru SMPN 1 Wawo yang diwakili Salmah, pernah menjadi nominee. Menurut Salmah, kebanggaan mereka menjadi guru desa salah satunya adalah
murid-murid yang bisa diarahkan untuk taat aturan sekolah. Tidak pernah terlibat tawuran dan relatif mudah diatur. “Ini ibadah yang pahalanya tidak akan pernah putus,” ujar Salmah yang sangat bangga menjadi guru desa. Ia bisa memiliki kekayaan berlipat-lipat menjalani profesi sebagai guru, kaya harta dan kaya ilmu. “Harta saya adalah murid-murid saya dan ilmu adalah pelengkap harta saya,” ungkap Salmah yang membuka perpustakaan sederhana di rumah panggungnya ini. -Naniek I. Taufan
Bugar
10
24 - 30 November 2014
Rumah Sakit Siloam Bali Siap Melayani Peserta BPJS Kesehatan Rumah Sakit Siloam Bali merupakan rumah sakit swasta yang dibangun untuk melayani seluruh lapisan masyarakat. Sesuai dengan misi Siloam Hospitals yaitu menjadi pilihan terpercaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ber taraf internasional, pendidikan kesehatan dan penelitian, Rumah Sakit Siloam Bali ingin menjadi rumah sakit yang terpercaya bagi seluruh kalangan masyarakat. Rumah Sakit Siloam Bali ingin memberikan pelayanan standar in ternasional tidak hanya bagi kalangan atas saja namun ingin memberikan pelayanan internasional tersebut un tuk masyarakat tidak mampu, pegawai negeri, para guru, serta para pekerja swasta lainnya. Rumah Sakit Siloam Bali bukan dibangun hanya untuk melayani kalangan turis asing, ekspatriat, atau pun kalangan menengah ke atas saja, akan tetapi Rumah Sakit Siloam Bali dibangun untuk dapat melayani seluruh lapisan masyarakat di Bali. Dengan mengusung salah satu visi
Siloam Hospitals yakni scale, yang artinya menciptakan keterjangkauan bagi segala strata sosial dan ekonomi. Rumah Sakit Siloam Bali turut ber partisipasi dalam sistem pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan JKBM di tingkat daerah. Wujud lain kepedulian Rumah Sakit Siloam Bali kepada seluruh lapisan masyarakat, ditunjukan dengan cara bekerjasama dengan BPJS. Hal ini dibuktikan dengan penandatanganan kontrak kerjasama serta telah diterimanya pasien BPJS sejak 1 November 2014. Dalam memberikan pelayanan,
Gedung Rumah Sakit Siloam Bali
Style
24 - 30 November 2014
15
Harmoni Busana
Tri Hita Karana Tri Hita Karana, adalah tema sentral yang dituangkan seorang Dewi Suarjani pada pagelaran “Bali Fashion Tendance Svarga Svarna 2015”, yang berlangsung pekan lalu di ST Suites, Seminyak, Kuta.
P
Penandatanganan MOU BPJS-Siloam Bali
umah Sakit Siloam Bali berkomitmen R untuk tidak membedakan atau men diskriminasi antara pasien umum mau pun pasien BPJS. Rumah Sakit Siloam Bali akan memberikan pelayanan yang sama dari segi obat, pelayanan, standar tindakan, maupun perawatan. Pada tahap awal, Rumah Sakit Siloam Bali menyiapkan 50 tempat tidur untuk layanan rawat inap peserta BPJS yang telah dirujuk oleh fasilitas kesehatan primer. Sementara waktu untuk layan an rawat jalan, Rumah Sakit Siloam Bali baru menerima pelayanan untuk spesialis penyakit dalam, spesialis saraf, dan spesialis anak. Ke depannya secara bertahap, Rumah Sakit Siloam Bali juga akan membuka pelayanan untuk spesialis THT (Telinga-HidungTenggorokan), spesialis mata, serta pelayanan dokter gigi. Untuk layanan rawat jalan atau poliklinik akan dilayani pada hari Senin hingga Jumat, pukul 08.00–16.00. Selain itu, Rumah Sakit Siloam Bali juga melayani layanan hemodialisis (cuci darah) dan katerisasi jantung (Cathlab). Untuk jenis pelayanan hemo dialisis, Rumah Sakit Siloam Bali saat ini memiliki 4 mesin cuci darah. Untuk
unit pelayanan intensif, Rumah Sakit Siloam Bali masih memiliki beberapa keterbatasan dalam hal fasilitas, namun Rumah Sakit Siloam Bali menargetkan akan membuka seluruh jenis pelayanan yang ada di Rumah Sakit Siloam Bali untuk BPJS dalam waktu dekat dan akan diinformasikan kemudian. Dalam bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, Rumah Sakit Siloam Bali termasuk dalam kategori rumah sakit rujukan tipe B, oleh karena itu Rumah Sakit Siloam Bali dapat menerima rujukan dari dokter atau layanan fasili tas kesehatan primer BPJS, Puskesmas, ataupun rumah sakit tipe C dan D. Adapun persyaratannya, pasien BPJS wajib membawa surat rujukan dari fasilitas tersebut di atas. Namun, hal ini tidak berlaku bagi pasien dengan keadaan gawat darurat. Dengan infor masi ini diharapkan bagi peserta BPJS khususnya daerah Kuta, Jimbaran, Nusa Dua, Benoa, yang ingin melakukan pelayanan kesehatan dapat meman faatkan akses kesehatan ini, mengingat tempat tersebut dekat dengan Rumah Sakit Siloam Bali yang beralamat di Jalan Sunset Road Nomor 818, KutaBadung.
ada acara tersebut, ang gota Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Bali ini, menyajikan sederetan karyanya terbalut dengan bahan tradisional Bali, endek. Sentuhan aplikasi brokat yang dibordir tipis, menguatkan ciri khas desain seorang Dewi Suarjani, yang benang merahnya menekankan gaya dres feminin seksi dan elegan. Desainer pemilik Dewi Fashion, di kawasan Jalan Wijaya Kusuma ini mengaku terinspirasi dari konsep budaya masyarakat Bali. Tri Hita Karana, konsep yang me nempatkan kata cinta di urutan pertama
dalam nilai keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Selanjutnya tercipta suatu keharmo nisan di dalam hidup. Penuh dengan cinta dan bahagia sehingga manusia dalam menjalani hidupnya benar-benar selaras. Terjemahannya dihadirkan dengan pilihan warna hitam. keemasan, perak, coklat dan hijau. Koleksinya yang turut menye marakkan Fashion Tendance 2015 kali ini dilengkapi pula dengan keindahan akse sori dari Anonymity Jewelery by Fanni Smith dan J-cool shoes by Joanne. – Sri Ardhini
Jelita
14
Tips Praktis Putihkan Ketiak Sebagai seorang perempuan tentu tampil dengan wajah dan tubuh yang bersih dan segar menjadi sangat penting. Kondisi ketiak adalah salah satu faktor yang cukup berperan. Namun, masih banyak orang yang menyepelekan bagian tubuh yang satu ini. Padahal, ketiak yang bersih dan wangi akan sangat mendukung penampilan seseorang menjadi lebih percaya diri.
A
palagi ketiak adalah salah satu bagian tubuh yang menjadi penyebab masalah bau badan yang sangat mengganggu bagi banyak orang. Betapa tidak, bau badan tidak hanya akan mengganggu penampilan, tapi juga mengurangi rasa percaya diri. Seseorang menjadi tidak maksimal dalam beraktivitas karena menjadi was-was dalam bergerak. Maka yang namanya perawatan mutlak diperlukan .Hal ini juga disampaikan oleh Rai Sariani pemilik Spa Supplier Gaya Warna, saat ditemui di kantornya di Kawasan Jalan Gunung Sanghyang Kerobokan ini. Begitu juga, ketika ketiak tampak kecoklat-coklatan, berwarna gelap bahkan hitam, dipastikan keadaan seperti itu membuat seseorang tidak nyaman. Termasuk peluh yang berlebihan di ketiak pun sering menjadi masalah. Selain mengurangi kenyamanan, juga menganggu penampilan, bahkan ini dapat membuat kepercayaan seseorang
menjadi hilang, terutama perempuan yang suka mengenakan pakaian tanpa lengan. Dikatakannya ketiak termasuk salah satu daerah paling sensitif sehingga perlu cara yang khusus untuk merawatnya. Beberapa penyebab ketiak menjadi berwarna kehitaman dan berbau kurang sedap diantaranya : qPenggunaan deodoran yang tidak sesuai dengan PH kulit q Penggunaan pisau cukur yang menyebabkan kulit terkelupas. q Mengonsumsi makanan yang menyebabkan meningkatnya produksi keringat yang berlebih. Hal- hal tersebut, kata Rai Sariani dapat menyebabkan menurunnya kepercayaan diri atau minder. “Jika tidak segera diatasi, maka dapat membuat bau badan memunculkan aroma yang tidak sedap itu,” katanya. Maka bagi mereka yang menginginkan ketiak yang putih, Rai Sarian pun memaparkan metoda perawatan secara tra
24 - 30 November 2014 disional yakni: qUntuk lulur atau scrub-nya tumbuklan beras sehingga menjadi butiran butiran halus. Kemudian campurkan dengan air hangat lalu digosokan kebagian ketiak sampai mengering dan berjatuhan. Setelahnya bilas dengan air bersih. Bisa juga digunakan lulur atau body scrub yang bisa didapatkan di toko- toko kosmetik. Ini bisa dilakukan satu minggu sekali. q Untuk maskernya bisa memakai tepung beras halus yang dicampur madu dan air hangat. Oleskan pada ketiak dan diamkan selama 5 menit lalu bilas dengan air bersih. Masker selalu digunakan setelah memakai lulur atau scrub. q Sedangkan untuk perawatan setiap hari bisa digunakan pasta gigi yang mengan dung fluoride. Setiap mandi oleskan pasta gigi sedikit saja pada ketiak lalu digosok -gosokan dengan lembut. Bisa dibantu dengan loofah atau serabut natural, ini sangat bagus membantu menghilangkan sisa sisa deodoran dan mencerahkan kulit ketiak Anda. Selain hal tersebut Rai Sariani juga memberikan tips atau langkah – langkah untuk mencegah ketiak hitam dan berbau kurang sedap : 1.Gunakanlah deodoran yang sesuai PH dengan kulit Anda 2.Bisa melakukan wax treatment atau biasa dikenal dengan pencabutan rambut dengan lem hangat. Ini akan membantu menghilangkan rambut pada ketiak dan juga mengangkat sel sel kulit mati sehingga kulit ketiak akan menjadi lebih bersih. 3.Mengonsumsi lebih banyak sayur - sayuran dan buah - buahan yang bisa membantu mencerahkan kulit. 4.Mengonsumsi minuman tradisional seperti jamu kunyit asam atau teh herbal maupun ramuan jamu lainnya akan sangat membantu mengurangi bau ketiak yang kurang sedap. 5.Bersihkan sisa-sisa deodoran atau bedak yang melekat pada ketiak setiap kali mandi. – Sri Ardhini
Mitos
24 - 30 November 2014
11
Hubungan Seks Saat Hamil Muda, Amankah?
”I
bu hamil jangan bepergian dengan pesawat terbang, jangan berhubungan seks selama hamil muda, jangan menggunakan komputer”. Beribu kata ”jangan” dipantangkan bagi ibu hamil. Katanya, berbahaya dan bisa menyebabkan keguguran. Berikut penjelasan dr. I A Chandranita Manuaba, Sp.OG. M.M. Mitos: Selama hamil, tambalan pada gigi ibu harus dikeluarkan karena dapat menyebabkan kegu guran Fakta: Tambalan yang membahayakan bagi ibu hamil adalah tambalan jenis amalgam. Karena, amalgam mengandung merkuri yang dapat membahayakan kehamilan. Tetapi untuk proses menambal gigi sebenarnya tidak ada larangan sejauh kondisi kehamilan tersebut baik-baik saja. Justru, pada ibu hamil yang mengalami masalah gigi berlubang sebaiknya segera konsultasi dengan dokter gigi untuk perawatan gigi berlubang tersebut. Gigi berlubang merupakan sumber infeksi yang dapat mempengaruhi kehamilan. Biasanya jika pasien mengatakan pada dokter gigi yang menangani bahwa ia sedang hamil, dokter gigi akan memilihkan tambalan putih (white filling) yang aman bagi kehamilan. Mitos: Berpergian dengan pesa wat terbang dapat menyebabkan keguguran. Fakta : Ibu hamil sebenarnya boleh saja bepergian dengan pesawat terbang. Namun, sebelum rencana bepergian itu
dilakukan, hendaknya dilakukan pemeriksaan menyeluruh terlebih dahulu agar diketahui secara pasti bahwa kehamilan saat itu dalam keadaan baik. Umur kehamilan yang dianggap aman untuk terbang berkisar antara 14-30 minggu. Tentu saja dalam hal ini kondisi kehamilan harus baik dan tanpa penyulit. Beberapa tips untuk terbang saat hamil adalah: l Pilih tempat duduk di lorong sehingga ibu hamil lebih lelu asa untuk ke toilet l Minumlah cukup air putih agar tidak dehidrasi l Posisikan sabuk pengaman dengan baik dan nyaman se hingga tidak menekan perut l Pakailah pakaian longgar dan alas kaki yang nyaman l Tidak membawa tas terlalu
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
Fase Falik “Dok, saya beberapa waktu yang lalu sempat terkejut dan panik sekali, melihat putri saya yang masih berusia 4 tahun suka memegangmegang kelaminnya sembunyi-sembunyi di kamarnya dan terlihat menikmatinya. Saya sempat browsing, disebutkan anak saya sedang berada pada fase falik. Benar begitu ya, Dok? Sekalian juga, bagaimana sebaiknya sikap saya menghadapi hal ini? Terimakasih atas jawabannya.” (Tuti, 25 thn) Fase falik adalah fase di mana si anak mulai merasakan sensasi seksual di kelaminnya pertama kali. Kalau ditelusuri lagi ada tahapan fase-fase sensasi seksual yang berbeda di tahapan perkembangannya. Usia baru lahir sampai
dua tahun, sensasi seksualnya di mulut, sehingga disebut fase oral. Usia 2-3 tahun sensasi seksualnya di dubur, sehingga disebut fase anal. Waktu usia 3-5 atau 3-6 tahun sensasi seksualnya di kelamin, yang disebut fase falik tadi, seringkali
berat sehingga akan mem bebani diri sendiri
Mitos: Pemeriksaan ultrasonografi (USG), apalagi USG 4D bisa me nyebabkan keguguran Fakta : Pemeriksaan USG termasuk USG 4 dimensi sangat aman bagi ibu hamil dan tidak akan menimbulkan risiko cacat pada janin dalam rahim. Sesuai dengan sebutannya, pemeriksaan USG ( Ultra SonoGrafi) hanya mengunakan gelombang suara (bukan gelombang radioaktif seperti yang sering dimitoskan) yang tentunya aman dipakai setiap kali ibu hamil memeriksakan kehamilannya. Malahan saat i n i p e m e riksaan USG sudah menjadi kebutuh an utama bagi ibu hamil untuk mengetahui perkembangan janin termasuk menilai ada tidaknya kecacatan pada bayi, serta untuk melihat kondisi dan lokasi menempelnya plasenta, serta menilai cairan ketuban. Mitos: Hubungan seks selama hamil dapat menyebabkan ke guguran Fakta: Hubungan seks yang dilakukan saat hamil muda sebenarnya cukup aman dan tidak akan menyebabkan keguguran sejauh dilakukan dengan hati-hati dan bersih. Namun, pada kondisi tertentu, seperti plasenta yang
tanpa disadari dan dipahami dengan baik. Lalu 6-11 tahun adalah fase laten di mana si anak tidak fokus dengan sensasi seksual tetapi lebih banyak di tumbuh kembang fisik dan kognitif (masa sekolah). Usia 12 tahun ke atas sudah masuk fase genital, memasuki perkenalan dan tahapan kehidupan seksual sesungguhnya yang ditandai dengan adanya tanda-tanda pubertas, dan sensasi seksual sudah dinikmati di organ-organ seksnya secara sadar. Jika kemudian orangtua, menemukan putrinya sedang memegang-megang kelaminnya dan terlihat menikmatinya, respons yang sebaiknya dilakukan adalah dengan dibiarkan saja, tanpa harus panik dan bereaksi berlebihan, selama tidak mengganggu lingkungan sekitar. Ada kalanya malah bukan hanya menggesek-gesekkan kelaminnya di kamar, tetapi bisa juga, ada kasus, si anak sering telanjang dan memegang-megang kelaminnya di depan orang lain, misalnya di hadapan tamu saat ada yang berkunjung ke rumah atau saat ibunya arisan bareng teman-teman ibunya, kejadian ini kadang membuat malu atau
tertanam di bawah, ibu hamil dengan mulut rahim yang mengalami erosi berat, ibu hamil dengan “serviks incompeten” ( serviks terbuka), riwayat keguguran sebelumnya, hamil pertama kali pada usia 35 tahun ke atas, hubungan seksual memang tidak dianjurkan demi keamanan kehamilan. Menurut Anne Perez DelBoy, seorang profesor obstetri dan ginekologi dari Colombia University hubungan seks saat hamil sama sekali tidak membahayakan kehamilan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan hubungan seksual adalah: l Kebersihan dan kesiapan suami dan istri harus diutamakan l Pilih posisi yang memberi rasa nyaman bagi ibu hamil seperti misalnya posisi istri di atas, po sisi duduk dengan istri di atas pangkuan, posisi berbaring ke samping dengan posisi suami di belakang istri. l Jika terjadi kram perut atau kontraksi, segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Mitos: Penggunaan komputer dapat memicu keguguran Fakta: pemakaian komputer tidak akan memicu keguguran. Menurut Lori Wolfe seorang konselor genetik dari US, sampai saat ini belum ada bukti yang menyatakan bahwa bekerja di depan komputer akan menyebabkan keguguran. Yang jelas, seorang ibu hamil tidak disarankan duduk terlalu lama di depan komputer. Bukan karena takut radiasi dari komputer tersebut, tetapi karena duduk terlalu lama dapat membuat kelelahan tulang punggung dan menghambat sirkulasi darah . Sebaiknya lakukan peregangan secara berkala dan perhatikan posisi duduk serta posisi punggung saat bekerja . –Inten Indrawati
si ibu menjadi tidak nyaman. Kalau kejadiannya seperti ini tinggal ajak ke dalam kamar dan alihkan perhatian, dan jangan dimarahi karena bisa menjadi nanti terekam dalam memori si anak sebagai sebuah kejadian yang baginya memegang kelamin atau beraktivitas seksual itu adalah sebuah hal terlarang, ini akan berpotensi akan persepsi buruk seksual di masa depannya. Tetapi jika ini terlalu sering dan mengganggu, dialihkan saja ke hal lain, misalnya dengan mengajak bermain yang lain atau diberikan permainan yang lebih menarik dan disukainya. Kebiasaan ini nantinya akan hilang seiring waktu. Nantinya anak akan beralih ke fase laten. Jadi akan berhenti sekitar usia 5 atau 6 tahun biasanya. Kesempatan dan kejadian seperti ini juga dapat menjadi momentum buat orangtua zaman sekarang untuk mengajarkan pendidikan seks pada anak, sehingga suka tidak suka, orang tua juga perlu belajar banyak tentang bagaimana berkomunikasi seksual kepada anaknya. Beberapa cara singkat dapat diikuti sebagai berikut; ciptakan
suasana bahwa kebersamaan orang tua, baik ayah dan ibu adalah sebagai sumber informasi seksual yang sama. Tetapi memang akhirnya nanti akan terseleksi, yang sebaiknya lebih berperan adalah yang memang paling punya kualitas waktu terbaik yang paling se ring bersama si anak. Misalnya ibunya. Tetapi bukan berarti si ayah lalu tidak melakukan apa-apa atau tidak berperan dalam komunikasi seksual bersama anaknya, hal ini tetap harus dilakukan. Di usia bermain, tentu saja ajarkan anak untuk memahami dirinya dengan menyenangkan dan berkomunikasi sambil bermain. Ajarkan anak dengan menggunakan alat bantu permainan yang disukainya, serta libatkan anak untuk mengenali organ tubuhnya dengan baik sambil melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya memberitahukan tentang nama dan fungsi kelaminnya sambil me ngajarkan mandi sendiri saat dimandikan di kamar mandi. Ini akan baik buat si anak dan melekat memorinya akan hal baik dan berguna seputar keadaan seksualitasnya.
12
Kuliner
24 - 30 November 2014
Promosi Masakan Bali dalam Kompetisi Chef Profesional Berbagai macam masakan tradisional Bali mulai dari makanan pembuka, makanan utama sampai makanan penutup disajikan dalam ajang “Balinese Rijztaffel Cooking Competition,” Jumat (14/11) di Hotel Inna Bali, Denpasar.
K
ompetisi memasak yang diikuti para chef profesional dan sekolah perhotelan yang ada di Bali ini, merupakan rangkaian pra-event “Denpasar Festival” yang ke-7, tahun 2014. Kegiatan kompetisi memasak ini merupakan penyelenggaraan yang kedua kalinya. Yang pertama telah dilaksanakan Desember 2013 di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur. Ketua Indonesian Chef Association (ICA) Bali Komang Adi Arsana mengatakan, melalui budaya kuliner yang arif serta dapat meletakkan pakem atau norma tradisi seni gastronomi,
tanpa menodai tradisi religius, insan chef profesional bersama pemerintah harus tetap mampu menjaga khasanah budaya kuliner nasional dan Bali pada khususnya. Para chef diharapkan dapat menempatkan diri sejajar dengan profesional chef dari negara lain. Para chef juga ikut membangun pariwisata Indonesia melalui kemajemukan seni gastronomi mancanegara. Budaya kuliner yang arif adalah kemampuan dari insan profesi onal chef melalui wadah Indonesian Chef Association untuk menggabungkan produk lokal dengan produk nonlokal, baik tren makanan dan temuan produk baru
berupa bahan makanan, mesin pengolah, dan teknik memasak. Meletakkan pakem atau norma tradisi seni gastronomi adalah kemampuan dari insan profesional chef melalui wadah Indonesian Chef Association di dalam mempresentasikan seni gastronomi ke khalayak dengan selalu bermuara tradisi warisan budaya kuliner, mampu menjaga dan memper tahankan serta melestarikan warisan budaya kuliner nasional. Seni gastronomi yang dimaksud adalah tata cara pengolahan bahan makanan, tata cara meng hidangkan, dan tata cara penulisan menu makanan termasuk resep makanan. Ia mengatakan, dalam ajang kompetisi ini, kesempatan profesional chef dan junior chef dapat memperlihatkan hasil olahan budaya kuliner dalam bentuk balinese rijztaffel serta mampu mempersiapkan diri lebih dinamis dan siap menyongsong perkembangan pariwisata. Para chef diharapkan tetap berpegang teguh dalam budaya adat daerah dengan tampilan kuliner yang proporsional, higienis, sehingga mampu menjadi inspirasi bagi pemerintah dan masyarakat kota Denpasar. Menurut Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, keberadaan kuliner yang ada di Kota Denpasar saat ini berkembang cukup pesat. Hal ini terlihat dari aneka usaha kuliner yang ada di Kota Denpasar. Ia berharap, melalui ajang kompetisi memasak
antar chef profesional ini, dapat meningkatkan kecintaan kita pada kuliner khas Bali. Ia berharap, hotel-hotel yang ada di Bali dapat memperkenalkan masakan khas Bali kepada wisatawan domestik dan turis asing sehingga kedepannya masakan Bali menjadi populer di kalangan wisatawan.
Tim juri yang terdiri dari Ketut Swastika, Ida Bagus Parwata, A.A.Raka Dalem, IGM Iwan Dusanta, dan Putu Ambara, menetapkan juara I: Santika Siligita, Juara II: Sanur Paradise Plaza, Juara III: The Chedi, Juara Harapan: Bali Safari and Marine Park. –Wirati Astiti
Lezatnya Gurami di Pondok Mina
13
Berkunjung ke Amlapura, kata teman saya, ga seru kalau tidak mampir ke Pondok Mina Amlapura. Rumah makan ini disebut sangat terkenal seantero Bali, bagi yang berkunjung ke Amlapura. Tempatnya sangat strategis, di pinggir di jalan Untung Surapati Amlapura. Tempatnya asyik karena dikelilingi kolam ikan. Pengunjung bisa makan sembari melihat ikan-ikan yang sibuk berenang di kolam.
M
enu yang disediakan spesial gurami. Mulai dari gurami bakar, goreng, asam manis, dan pepes. Walaupun ada juga menu lain seperti ayam goreng, capcay, nasi goreng, dan mi goreng. Namun, rumah makan ini terkenal karena kelezatan ikan guraminya. Kenapa? Karena ikan yang dipilih sangat segar dan dimasak dalam kondisi baru saja diangkat dari kolam. Sehingga, Anda harus sabar saat menunggu makanan untuk dihidangkan. Semuanya segar dan tentu saja lezat. Satu paket gurami bakar dan goreng disajikan bersama nasi putih, disertai sambal merah, lalapan, dan plecing kangkung atau urapan ala Pondok Mina, ditambah kacang tanah goreng. Ikan bakarnya menggunakan bumbu spesial, beda dengan ikan bakar kebanyakan. Pepes guraminya, menggunakan bumbu khas tradisional Bali atau yang
biasa disebut basa genep. Walaupun banyak rumah makan menawarkan pepes gurami dengan bumbu genep, menu sajian Pondok Mina tentu berbeda. Seperti dituturkan, Loise, seorang turis asal Eropa yang baru pertamakali makan di Pondok Mina. “Rasanya enak, tapi harus pelan-pelan makannya, karena ada tulang ikan. Tapi saya suka bumbu pepesnya,” tuturnya. Uniknya, tempat makanan atau piringnya terbuat dari dulang kayu. Mungkin, pemikiran pemiliknya, agar lebih khas karena Amlapura juga penghasil dulang yang bagus. Sebagian besar, warga karangasem, sudah biasa makan di pondok Mina. Saat waktu makan siang dan makan malam, Pondok Mina ramai dikunjungi. “Rombongan pejabat dari luar Karangasem biasa makan di sini,” kata Krisna, seorang
pengunjung asal Denpasar yang sedang makan gurami asam manis di Pondok Mina. Ia menuturkan, pernah dua kali bersama kantornya, makan di Pondok Mina. Jam buka rumah makan ini mulai pukul 9.00 sampai 22.00. Jika Anda berkunjung ke Amlapura, cobalah mampir ke Pondok Mina. Manjakan selera makan Anda sembari menikmati kolam ikan dan suasana sejuk Kota Amlapura. –Wirati Astiti
Tim juri
Bola Kornet Tahu Saus Tiram Sarwan
Suasana kompetisi
24 - 30 November 2014
Kerang Rebus Berempah Bahan: 1 kg : kerang yang sudah dibersihkan 2 lemar : daun salam 2 batang : serai, memarkan 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 ruas : jari jahe, memarkan 1 liter : air 1 buah : bawang bombay, iris korek api Garam, gula, kaldu bubuk secukupnya Bahan Sambal Celupan: 200 gr : kacang tanah sangrai, haluskan 3 siung : bawang putih 3 buah : cabe merah 10 buah : cabe kecil rawit 50 ml : kecap manis 30 ml : air hangat Cara Membuat: - Rebus semua bahan jadi satu, masak hingga mendidih dan matang (kerang membuka), lalu tiriskan. Cara membuat sambal celupan: - Haluskan semua bahan celupan, lalu panaskan minyak, sangrai bumbu halus, tumis sampai harum, lalu masukkan halusan kacang, kecap, air dan tambahkan garam dan gula, aduk merata, masak hingga mendidih dan matang. - Siap dihidangkan dengan rebusan kerang.
Kakap Asam Manis Bahan: 500 gr : kakap, bersihkan, sayat-sayat punggungnya 1 sdm : air jeruk nipis 1 sdm : bawang putih halus 3 sdm : tepung maizena Minyak goreng secukupnya Bahan Saus: 1 buah : bawang bombay, iris dadu 1 ruas : jari jahe, memarkan 1 buah : bawang pre, iris serong 1 buah : tomat, potong-potong menurut selera 1 sdm : lada 1 buah : cabe besar, iris serong 7 buah : cabe rawit, potong jadi 3 3 sdm : saus sambal 4 sdm : saus tomat
1 sdm : kecap manis 1 sdm : minyak wijen 1 sdm : air jeruk nipis Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat: - Campur ikan gurami dengan air jeruk dan bawang putih halus hingga merata, lalu lumuri dengan tepung maizena, goreng hingga matang dan kecokelatan, sisihkan. - Tumis bawang bombay dan irisan bawang pre hingga layu, lalu masukkan semua bahan saus jadi satu, aduk-aduk merata hingga mendidih dan mengental, tiriskan. - Siap untuk dihidangkan dengan gurami goreng.
Bahan: 250 gr : kornet bernardi 400 gr : tahu putih kukus, dihaluskan 1 butir : telor 3 sdm : sagu atau maizena 3 butir : cengkih 1 ruas : jari kayu manis 1 sdt : lada bubuk 1 buah : daun bawang, iris halus 2 sdm : bawang putih, haluskan Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Minyak goreng secukupnya Bumbu Saus Kare: 2 lbr : daun jeruk 1 batang : kayu manis, memarkan 200 ml : santan encer 100 ml : santan kental Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Minyak secukupnya Bumbu 7 buah 3 siung 1 sdm 1 ruas 1 ruas 3 butir 5 buah
yang dihaluskan: : bawang merah : bawang putih : ketumbar : jari kunyit bakar : jari jahe : kemiri sangrai : cabe kecil
Cara membuat saus kare: - Tumis bumbu halus sampai harum, lalu masukkan daun jeruk,
kayu manis, cengkih aduk merata. Masukkan santan encer, masak hingga mendidih, lalu masukan santan kental, gunakan api sedang agar santan tidak pecah, aduk perlahan dan masak hingga mendidih. Tambahkan garam, gula dan kaldu bubuk, siap disajikan dengan bola kornet tahu.
Cara Membuat Bola Kornet Tahu: - Campur bahan jadi satu, lalu bentuk bola-bola, goreng hingga matang dan kecokelatan, lalu tiri kan. Siap untuk disajikan dengan saus karenya.
12
Kuliner
24 - 30 November 2014
Promosi Masakan Bali dalam Kompetisi Chef Profesional Berbagai macam masakan tradisional Bali mulai dari makanan pembuka, makanan utama sampai makanan penutup disajikan dalam ajang “Balinese Rijztaffel Cooking Competition,” Jumat (14/11) di Hotel Inna Bali, Denpasar.
K
ompetisi memasak yang diikuti para chef profesional dan sekolah perhotelan yang ada di Bali ini, merupakan rangkaian pra-event “Denpasar Festival” yang ke-7, tahun 2014. Kegiatan kompetisi memasak ini merupakan penyelenggaraan yang kedua kalinya. Yang pertama telah dilaksanakan Desember 2013 di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur. Ketua Indonesian Chef Association (ICA) Bali Komang Adi Arsana mengatakan, melalui budaya kuliner yang arif serta dapat meletakkan pakem atau norma tradisi seni gastronomi,
tanpa menodai tradisi religius, insan chef profesional bersama pemerintah harus tetap mampu menjaga khasanah budaya kuliner nasional dan Bali pada khususnya. Para chef diharapkan dapat menempatkan diri sejajar dengan profesional chef dari negara lain. Para chef juga ikut membangun pariwisata Indonesia melalui kemajemukan seni gastronomi mancanegara. Budaya kuliner yang arif adalah kemampuan dari insan profesi onal chef melalui wadah Indonesian Chef Association untuk menggabungkan produk lokal dengan produk nonlokal, baik tren makanan dan temuan produk baru
berupa bahan makanan, mesin pengolah, dan teknik memasak. Meletakkan pakem atau norma tradisi seni gastronomi adalah kemampuan dari insan profesional chef melalui wadah Indonesian Chef Association di dalam mempresentasikan seni gastronomi ke khalayak dengan selalu bermuara tradisi warisan budaya kuliner, mampu menjaga dan memper tahankan serta melestarikan warisan budaya kuliner nasional. Seni gastronomi yang dimaksud adalah tata cara pengolahan bahan makanan, tata cara meng hidangkan, dan tata cara penulisan menu makanan termasuk resep makanan. Ia mengatakan, dalam ajang kompetisi ini, kesempatan profesional chef dan junior chef dapat memperlihatkan hasil olahan budaya kuliner dalam bentuk balinese rijztaffel serta mampu mempersiapkan diri lebih dinamis dan siap menyongsong perkembangan pariwisata. Para chef diharapkan tetap berpegang teguh dalam budaya adat daerah dengan tampilan kuliner yang proporsional, higienis, sehingga mampu menjadi inspirasi bagi pemerintah dan masyarakat kota Denpasar. Menurut Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, keberadaan kuliner yang ada di Kota Denpasar saat ini berkembang cukup pesat. Hal ini terlihat dari aneka usaha kuliner yang ada di Kota Denpasar. Ia berharap, melalui ajang kompetisi memasak
antar chef profesional ini, dapat meningkatkan kecintaan kita pada kuliner khas Bali. Ia berharap, hotel-hotel yang ada di Bali dapat memperkenalkan masakan khas Bali kepada wisatawan domestik dan turis asing sehingga kedepannya masakan Bali menjadi populer di kalangan wisatawan.
Tim juri yang terdiri dari Ketut Swastika, Ida Bagus Parwata, A.A.Raka Dalem, IGM Iwan Dusanta, dan Putu Ambara, menetapkan juara I: Santika Siligita, Juara II: Sanur Paradise Plaza, Juara III: The Chedi, Juara Harapan: Bali Safari and Marine Park. –Wirati Astiti
Lezatnya Gurami di Pondok Mina
13
Berkunjung ke Amlapura, kata teman saya, ga seru kalau tidak mampir ke Pondok Mina Amlapura. Rumah makan ini disebut sangat terkenal seantero Bali, bagi yang berkunjung ke Amlapura. Tempatnya sangat strategis, di pinggir di jalan Untung Surapati Amlapura. Tempatnya asyik karena dikelilingi kolam ikan. Pengunjung bisa makan sembari melihat ikan-ikan yang sibuk berenang di kolam.
M
enu yang disediakan spesial gurami. Mulai dari gurami bakar, goreng, asam manis, dan pepes. Walaupun ada juga menu lain seperti ayam goreng, capcay, nasi goreng, dan mi goreng. Namun, rumah makan ini terkenal karena kelezatan ikan guraminya. Kenapa? Karena ikan yang dipilih sangat segar dan dimasak dalam kondisi baru saja diangkat dari kolam. Sehingga, Anda harus sabar saat menunggu makanan untuk dihidangkan. Semuanya segar dan tentu saja lezat. Satu paket gurami bakar dan goreng disajikan bersama nasi putih, disertai sambal merah, lalapan, dan plecing kangkung atau urapan ala Pondok Mina, ditambah kacang tanah goreng. Ikan bakarnya menggunakan bumbu spesial, beda dengan ikan bakar kebanyakan. Pepes guraminya, menggunakan bumbu khas tradisional Bali atau yang
biasa disebut basa genep. Walaupun banyak rumah makan menawarkan pepes gurami dengan bumbu genep, menu sajian Pondok Mina tentu berbeda. Seperti dituturkan, Loise, seorang turis asal Eropa yang baru pertamakali makan di Pondok Mina. “Rasanya enak, tapi harus pelan-pelan makannya, karena ada tulang ikan. Tapi saya suka bumbu pepesnya,” tuturnya. Uniknya, tempat makanan atau piringnya terbuat dari dulang kayu. Mungkin, pemikiran pemiliknya, agar lebih khas karena Amlapura juga penghasil dulang yang bagus. Sebagian besar, warga karangasem, sudah biasa makan di pondok Mina. Saat waktu makan siang dan makan malam, Pondok Mina ramai dikunjungi. “Rombongan pejabat dari luar Karangasem biasa makan di sini,” kata Krisna, seorang
pengunjung asal Denpasar yang sedang makan gurami asam manis di Pondok Mina. Ia menuturkan, pernah dua kali bersama kantornya, makan di Pondok Mina. Jam buka rumah makan ini mulai pukul 9.00 sampai 22.00. Jika Anda berkunjung ke Amlapura, cobalah mampir ke Pondok Mina. Manjakan selera makan Anda sembari menikmati kolam ikan dan suasana sejuk Kota Amlapura. –Wirati Astiti
Tim juri
Bola Kornet Tahu Saus Tiram Sarwan
Suasana kompetisi
24 - 30 November 2014
Kerang Rebus Berempah Bahan: 1 kg : kerang yang sudah dibersihkan 2 lemar : daun salam 2 batang : serai, memarkan 2 ruas : jari lengkuas, memarkan 1 ruas : jari jahe, memarkan 1 liter : air 1 buah : bawang bombay, iris korek api Garam, gula, kaldu bubuk secukupnya Bahan Sambal Celupan: 200 gr : kacang tanah sangrai, haluskan 3 siung : bawang putih 3 buah : cabe merah 10 buah : cabe kecil rawit 50 ml : kecap manis 30 ml : air hangat Cara Membuat: - Rebus semua bahan jadi satu, masak hingga mendidih dan matang (kerang membuka), lalu tiriskan. Cara membuat sambal celupan: - Haluskan semua bahan celupan, lalu panaskan minyak, sangrai bumbu halus, tumis sampai harum, lalu masukkan halusan kacang, kecap, air dan tambahkan garam dan gula, aduk merata, masak hingga mendidih dan matang. - Siap dihidangkan dengan rebusan kerang.
Kakap Asam Manis Bahan: 500 gr : kakap, bersihkan, sayat-sayat punggungnya 1 sdm : air jeruk nipis 1 sdm : bawang putih halus 3 sdm : tepung maizena Minyak goreng secukupnya Bahan Saus: 1 buah : bawang bombay, iris dadu 1 ruas : jari jahe, memarkan 1 buah : bawang pre, iris serong 1 buah : tomat, potong-potong menurut selera 1 sdm : lada 1 buah : cabe besar, iris serong 7 buah : cabe rawit, potong jadi 3 3 sdm : saus sambal 4 sdm : saus tomat
1 sdm : kecap manis 1 sdm : minyak wijen 1 sdm : air jeruk nipis Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Cara Membuat: - Campur ikan gurami dengan air jeruk dan bawang putih halus hingga merata, lalu lumuri dengan tepung maizena, goreng hingga matang dan kecokelatan, sisihkan. - Tumis bawang bombay dan irisan bawang pre hingga layu, lalu masukkan semua bahan saus jadi satu, aduk-aduk merata hingga mendidih dan mengental, tiriskan. - Siap untuk dihidangkan dengan gurami goreng.
Bahan: 250 gr : kornet bernardi 400 gr : tahu putih kukus, dihaluskan 1 butir : telor 3 sdm : sagu atau maizena 3 butir : cengkih 1 ruas : jari kayu manis 1 sdt : lada bubuk 1 buah : daun bawang, iris halus 2 sdm : bawang putih, haluskan Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Minyak goreng secukupnya Bumbu Saus Kare: 2 lbr : daun jeruk 1 batang : kayu manis, memarkan 200 ml : santan encer 100 ml : santan kental Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Minyak secukupnya Bumbu 7 buah 3 siung 1 sdm 1 ruas 1 ruas 3 butir 5 buah
yang dihaluskan: : bawang merah : bawang putih : ketumbar : jari kunyit bakar : jari jahe : kemiri sangrai : cabe kecil
Cara membuat saus kare: - Tumis bumbu halus sampai harum, lalu masukkan daun jeruk,
kayu manis, cengkih aduk merata. Masukkan santan encer, masak hingga mendidih, lalu masukan santan kental, gunakan api sedang agar santan tidak pecah, aduk perlahan dan masak hingga mendidih. Tambahkan garam, gula dan kaldu bubuk, siap disajikan dengan bola kornet tahu.
Cara Membuat Bola Kornet Tahu: - Campur bahan jadi satu, lalu bentuk bola-bola, goreng hingga matang dan kecokelatan, lalu tiri kan. Siap untuk disajikan dengan saus karenya.
Jelita
14
Tips Praktis Putihkan Ketiak Sebagai seorang perempuan tentu tampil dengan wajah dan tubuh yang bersih dan segar menjadi sangat penting. Kondisi ketiak adalah salah satu faktor yang cukup berperan. Namun, masih banyak orang yang menyepelekan bagian tubuh yang satu ini. Padahal, ketiak yang bersih dan wangi akan sangat mendukung penampilan seseorang menjadi lebih percaya diri.
A
palagi ketiak adalah salah satu bagian tubuh yang menjadi penyebab masalah bau badan yang sangat mengganggu bagi banyak orang. Betapa tidak, bau badan tidak hanya akan mengganggu penampilan, tapi juga mengurangi rasa percaya diri. Seseorang menjadi tidak maksimal dalam beraktivitas karena menjadi was-was dalam bergerak. Maka yang namanya perawatan mutlak diperlukan .Hal ini juga disampaikan oleh Rai Sariani pemilik Spa Supplier Gaya Warna, saat ditemui di kantornya di Kawasan Jalan Gunung Sanghyang Kerobokan ini. Begitu juga, ketika ketiak tampak kecoklat-coklatan, berwarna gelap bahkan hitam, dipastikan keadaan seperti itu membuat seseorang tidak nyaman. Termasuk peluh yang berlebihan di ketiak pun sering menjadi masalah. Selain mengurangi kenyamanan, juga menganggu penampilan, bahkan ini dapat membuat kepercayaan seseorang
menjadi hilang, terutama perempuan yang suka mengenakan pakaian tanpa lengan. Dikatakannya ketiak termasuk salah satu daerah paling sensitif sehingga perlu cara yang khusus untuk merawatnya. Beberapa penyebab ketiak menjadi berwarna kehitaman dan berbau kurang sedap diantaranya : qPenggunaan deodoran yang tidak sesuai dengan PH kulit q Penggunaan pisau cukur yang menyebabkan kulit terkelupas. q Mengonsumsi makanan yang menyebabkan meningkatnya produksi keringat yang berlebih. Hal- hal tersebut, kata Rai Sariani dapat menyebabkan menurunnya kepercayaan diri atau minder. “Jika tidak segera diatasi, maka dapat membuat bau badan memunculkan aroma yang tidak sedap itu,” katanya. Maka bagi mereka yang menginginkan ketiak yang putih, Rai Sarian pun memaparkan metoda perawatan secara tra
24 - 30 November 2014 disional yakni: qUntuk lulur atau scrub-nya tumbuklan beras sehingga menjadi butiran butiran halus. Kemudian campurkan dengan air hangat lalu digosokan kebagian ketiak sampai mengering dan berjatuhan. Setelahnya bilas dengan air bersih. Bisa juga digunakan lulur atau body scrub yang bisa didapatkan di toko- toko kosmetik. Ini bisa dilakukan satu minggu sekali. q Untuk maskernya bisa memakai tepung beras halus yang dicampur madu dan air hangat. Oleskan pada ketiak dan diamkan selama 5 menit lalu bilas dengan air bersih. Masker selalu digunakan setelah memakai lulur atau scrub. q Sedangkan untuk perawatan setiap hari bisa digunakan pasta gigi yang mengan dung fluoride. Setiap mandi oleskan pasta gigi sedikit saja pada ketiak lalu digosok -gosokan dengan lembut. Bisa dibantu dengan loofah atau serabut natural, ini sangat bagus membantu menghilangkan sisa sisa deodoran dan mencerahkan kulit ketiak Anda. Selain hal tersebut Rai Sariani juga memberikan tips atau langkah – langkah untuk mencegah ketiak hitam dan berbau kurang sedap : 1.Gunakanlah deodoran yang sesuai PH dengan kulit Anda 2.Bisa melakukan wax treatment atau biasa dikenal dengan pencabutan rambut dengan lem hangat. Ini akan membantu menghilangkan rambut pada ketiak dan juga mengangkat sel sel kulit mati sehingga kulit ketiak akan menjadi lebih bersih. 3.Mengonsumsi lebih banyak sayur - sayuran dan buah - buahan yang bisa membantu mencerahkan kulit. 4.Mengonsumsi minuman tradisional seperti jamu kunyit asam atau teh herbal maupun ramuan jamu lainnya akan sangat membantu mengurangi bau ketiak yang kurang sedap. 5.Bersihkan sisa-sisa deodoran atau bedak yang melekat pada ketiak setiap kali mandi. – Sri Ardhini
Mitos
24 - 30 November 2014
11
Hubungan Seks Saat Hamil Muda, Amankah?
”I
bu hamil jangan bepergian dengan pesawat terbang, jangan berhubungan seks selama hamil muda, jangan menggunakan komputer”. Beribu kata ”jangan” dipantangkan bagi ibu hamil. Katanya, berbahaya dan bisa menyebabkan keguguran. Berikut penjelasan dr. I A Chandranita Manuaba, Sp.OG. M.M. Mitos: Selama hamil, tambalan pada gigi ibu harus dikeluarkan karena dapat menyebabkan kegu guran Fakta: Tambalan yang membahayakan bagi ibu hamil adalah tambalan jenis amalgam. Karena, amalgam mengandung merkuri yang dapat membahayakan kehamilan. Tetapi untuk proses menambal gigi sebenarnya tidak ada larangan sejauh kondisi kehamilan tersebut baik-baik saja. Justru, pada ibu hamil yang mengalami masalah gigi berlubang sebaiknya segera konsultasi dengan dokter gigi untuk perawatan gigi berlubang tersebut. Gigi berlubang merupakan sumber infeksi yang dapat mempengaruhi kehamilan. Biasanya jika pasien mengatakan pada dokter gigi yang menangani bahwa ia sedang hamil, dokter gigi akan memilihkan tambalan putih (white filling) yang aman bagi kehamilan. Mitos: Berpergian dengan pesa wat terbang dapat menyebabkan keguguran. Fakta : Ibu hamil sebenarnya boleh saja bepergian dengan pesawat terbang. Namun, sebelum rencana bepergian itu
dilakukan, hendaknya dilakukan pemeriksaan menyeluruh terlebih dahulu agar diketahui secara pasti bahwa kehamilan saat itu dalam keadaan baik. Umur kehamilan yang dianggap aman untuk terbang berkisar antara 14-30 minggu. Tentu saja dalam hal ini kondisi kehamilan harus baik dan tanpa penyulit. Beberapa tips untuk terbang saat hamil adalah: l Pilih tempat duduk di lorong sehingga ibu hamil lebih lelu asa untuk ke toilet l Minumlah cukup air putih agar tidak dehidrasi l Posisikan sabuk pengaman dengan baik dan nyaman se hingga tidak menekan perut l Pakailah pakaian longgar dan alas kaki yang nyaman l Tidak membawa tas terlalu
Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.
Fase Falik “Dok, saya beberapa waktu yang lalu sempat terkejut dan panik sekali, melihat putri saya yang masih berusia 4 tahun suka memegangmegang kelaminnya sembunyi-sembunyi di kamarnya dan terlihat menikmatinya. Saya sempat browsing, disebutkan anak saya sedang berada pada fase falik. Benar begitu ya, Dok? Sekalian juga, bagaimana sebaiknya sikap saya menghadapi hal ini? Terimakasih atas jawabannya.” (Tuti, 25 thn) Fase falik adalah fase di mana si anak mulai merasakan sensasi seksual di kelaminnya pertama kali. Kalau ditelusuri lagi ada tahapan fase-fase sensasi seksual yang berbeda di tahapan perkembangannya. Usia baru lahir sampai
dua tahun, sensasi seksualnya di mulut, sehingga disebut fase oral. Usia 2-3 tahun sensasi seksualnya di dubur, sehingga disebut fase anal. Waktu usia 3-5 atau 3-6 tahun sensasi seksualnya di kelamin, yang disebut fase falik tadi, seringkali
berat sehingga akan mem bebani diri sendiri
Mitos: Pemeriksaan ultrasonografi (USG), apalagi USG 4D bisa me nyebabkan keguguran Fakta : Pemeriksaan USG termasuk USG 4 dimensi sangat aman bagi ibu hamil dan tidak akan menimbulkan risiko cacat pada janin dalam rahim. Sesuai dengan sebutannya, pemeriksaan USG ( Ultra SonoGrafi) hanya mengunakan gelombang suara (bukan gelombang radioaktif seperti yang sering dimitoskan) yang tentunya aman dipakai setiap kali ibu hamil memeriksakan kehamilannya. Malahan saat i n i p e m e riksaan USG sudah menjadi kebutuh an utama bagi ibu hamil untuk mengetahui perkembangan janin termasuk menilai ada tidaknya kecacatan pada bayi, serta untuk melihat kondisi dan lokasi menempelnya plasenta, serta menilai cairan ketuban. Mitos: Hubungan seks selama hamil dapat menyebabkan ke guguran Fakta: Hubungan seks yang dilakukan saat hamil muda sebenarnya cukup aman dan tidak akan menyebabkan keguguran sejauh dilakukan dengan hati-hati dan bersih. Namun, pada kondisi tertentu, seperti plasenta yang
tanpa disadari dan dipahami dengan baik. Lalu 6-11 tahun adalah fase laten di mana si anak tidak fokus dengan sensasi seksual tetapi lebih banyak di tumbuh kembang fisik dan kognitif (masa sekolah). Usia 12 tahun ke atas sudah masuk fase genital, memasuki perkenalan dan tahapan kehidupan seksual sesungguhnya yang ditandai dengan adanya tanda-tanda pubertas, dan sensasi seksual sudah dinikmati di organ-organ seksnya secara sadar. Jika kemudian orangtua, menemukan putrinya sedang memegang-megang kelaminnya dan terlihat menikmatinya, respons yang sebaiknya dilakukan adalah dengan dibiarkan saja, tanpa harus panik dan bereaksi berlebihan, selama tidak mengganggu lingkungan sekitar. Ada kalanya malah bukan hanya menggesek-gesekkan kelaminnya di kamar, tetapi bisa juga, ada kasus, si anak sering telanjang dan memegang-megang kelaminnya di depan orang lain, misalnya di hadapan tamu saat ada yang berkunjung ke rumah atau saat ibunya arisan bareng teman-teman ibunya, kejadian ini kadang membuat malu atau
tertanam di bawah, ibu hamil dengan mulut rahim yang mengalami erosi berat, ibu hamil dengan “serviks incompeten” ( serviks terbuka), riwayat keguguran sebelumnya, hamil pertama kali pada usia 35 tahun ke atas, hubungan seksual memang tidak dianjurkan demi keamanan kehamilan. Menurut Anne Perez DelBoy, seorang profesor obstetri dan ginekologi dari Colombia University hubungan seks saat hamil sama sekali tidak membahayakan kehamilan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan hubungan seksual adalah: l Kebersihan dan kesiapan suami dan istri harus diutamakan l Pilih posisi yang memberi rasa nyaman bagi ibu hamil seperti misalnya posisi istri di atas, po sisi duduk dengan istri di atas pangkuan, posisi berbaring ke samping dengan posisi suami di belakang istri. l Jika terjadi kram perut atau kontraksi, segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Mitos: Penggunaan komputer dapat memicu keguguran Fakta: pemakaian komputer tidak akan memicu keguguran. Menurut Lori Wolfe seorang konselor genetik dari US, sampai saat ini belum ada bukti yang menyatakan bahwa bekerja di depan komputer akan menyebabkan keguguran. Yang jelas, seorang ibu hamil tidak disarankan duduk terlalu lama di depan komputer. Bukan karena takut radiasi dari komputer tersebut, tetapi karena duduk terlalu lama dapat membuat kelelahan tulang punggung dan menghambat sirkulasi darah . Sebaiknya lakukan peregangan secara berkala dan perhatikan posisi duduk serta posisi punggung saat bekerja . –Inten Indrawati
si ibu menjadi tidak nyaman. Kalau kejadiannya seperti ini tinggal ajak ke dalam kamar dan alihkan perhatian, dan jangan dimarahi karena bisa menjadi nanti terekam dalam memori si anak sebagai sebuah kejadian yang baginya memegang kelamin atau beraktivitas seksual itu adalah sebuah hal terlarang, ini akan berpotensi akan persepsi buruk seksual di masa depannya. Tetapi jika ini terlalu sering dan mengganggu, dialihkan saja ke hal lain, misalnya dengan mengajak bermain yang lain atau diberikan permainan yang lebih menarik dan disukainya. Kebiasaan ini nantinya akan hilang seiring waktu. Nantinya anak akan beralih ke fase laten. Jadi akan berhenti sekitar usia 5 atau 6 tahun biasanya. Kesempatan dan kejadian seperti ini juga dapat menjadi momentum buat orangtua zaman sekarang untuk mengajarkan pendidikan seks pada anak, sehingga suka tidak suka, orang tua juga perlu belajar banyak tentang bagaimana berkomunikasi seksual kepada anaknya. Beberapa cara singkat dapat diikuti sebagai berikut; ciptakan
suasana bahwa kebersamaan orang tua, baik ayah dan ibu adalah sebagai sumber informasi seksual yang sama. Tetapi memang akhirnya nanti akan terseleksi, yang sebaiknya lebih berperan adalah yang memang paling punya kualitas waktu terbaik yang paling se ring bersama si anak. Misalnya ibunya. Tetapi bukan berarti si ayah lalu tidak melakukan apa-apa atau tidak berperan dalam komunikasi seksual bersama anaknya, hal ini tetap harus dilakukan. Di usia bermain, tentu saja ajarkan anak untuk memahami dirinya dengan menyenangkan dan berkomunikasi sambil bermain. Ajarkan anak dengan menggunakan alat bantu permainan yang disukainya, serta libatkan anak untuk mengenali organ tubuhnya dengan baik sambil melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya memberitahukan tentang nama dan fungsi kelaminnya sambil me ngajarkan mandi sendiri saat dimandikan di kamar mandi. Ini akan baik buat si anak dan melekat memorinya akan hal baik dan berguna seputar keadaan seksualitasnya.
Bugar
10
24 - 30 November 2014
Rumah Sakit Siloam Bali Siap Melayani Peserta BPJS Kesehatan Rumah Sakit Siloam Bali merupakan rumah sakit swasta yang dibangun untuk melayani seluruh lapisan masyarakat. Sesuai dengan misi Siloam Hospitals yaitu menjadi pilihan terpercaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ber taraf internasional, pendidikan kesehatan dan penelitian, Rumah Sakit Siloam Bali ingin menjadi rumah sakit yang terpercaya bagi seluruh kalangan masyarakat. Rumah Sakit Siloam Bali ingin memberikan pelayanan standar in ternasional tidak hanya bagi kalangan atas saja namun ingin memberikan pelayanan internasional tersebut un tuk masyarakat tidak mampu, pegawai negeri, para guru, serta para pekerja swasta lainnya. Rumah Sakit Siloam Bali bukan dibangun hanya untuk melayani kalangan turis asing, ekspatriat, atau pun kalangan menengah ke atas saja, akan tetapi Rumah Sakit Siloam Bali dibangun untuk dapat melayani seluruh lapisan masyarakat di Bali. Dengan mengusung salah satu visi
Siloam Hospitals yakni scale, yang artinya menciptakan keterjangkauan bagi segala strata sosial dan ekonomi. Rumah Sakit Siloam Bali turut ber partisipasi dalam sistem pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan JKBM di tingkat daerah. Wujud lain kepedulian Rumah Sakit Siloam Bali kepada seluruh lapisan masyarakat, ditunjukan dengan cara bekerjasama dengan BPJS. Hal ini dibuktikan dengan penandatanganan kontrak kerjasama serta telah diterimanya pasien BPJS sejak 1 November 2014. Dalam memberikan pelayanan,
Gedung Rumah Sakit Siloam Bali
Style
24 - 30 November 2014
15
Harmoni Busana
Tri Hita Karana Tri Hita Karana, adalah tema sentral yang dituangkan seorang Dewi Suarjani pada pagelaran “Bali Fashion Tendance Svarga Svarna 2015”, yang berlangsung pekan lalu di ST Suites, Seminyak, Kuta.
P
Penandatanganan MOU BPJS-Siloam Bali
umah Sakit Siloam Bali berkomitmen R untuk tidak membedakan atau men diskriminasi antara pasien umum mau pun pasien BPJS. Rumah Sakit Siloam Bali akan memberikan pelayanan yang sama dari segi obat, pelayanan, standar tindakan, maupun perawatan. Pada tahap awal, Rumah Sakit Siloam Bali menyiapkan 50 tempat tidur untuk layanan rawat inap peserta BPJS yang telah dirujuk oleh fasilitas kesehatan primer. Sementara waktu untuk layan an rawat jalan, Rumah Sakit Siloam Bali baru menerima pelayanan untuk spesialis penyakit dalam, spesialis saraf, dan spesialis anak. Ke depannya secara bertahap, Rumah Sakit Siloam Bali juga akan membuka pelayanan untuk spesialis THT (Telinga-HidungTenggorokan), spesialis mata, serta pelayanan dokter gigi. Untuk layanan rawat jalan atau poliklinik akan dilayani pada hari Senin hingga Jumat, pukul 08.00–16.00. Selain itu, Rumah Sakit Siloam Bali juga melayani layanan hemodialisis (cuci darah) dan katerisasi jantung (Cathlab). Untuk jenis pelayanan hemo dialisis, Rumah Sakit Siloam Bali saat ini memiliki 4 mesin cuci darah. Untuk
unit pelayanan intensif, Rumah Sakit Siloam Bali masih memiliki beberapa keterbatasan dalam hal fasilitas, namun Rumah Sakit Siloam Bali menargetkan akan membuka seluruh jenis pelayanan yang ada di Rumah Sakit Siloam Bali untuk BPJS dalam waktu dekat dan akan diinformasikan kemudian. Dalam bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, Rumah Sakit Siloam Bali termasuk dalam kategori rumah sakit rujukan tipe B, oleh karena itu Rumah Sakit Siloam Bali dapat menerima rujukan dari dokter atau layanan fasili tas kesehatan primer BPJS, Puskesmas, ataupun rumah sakit tipe C dan D. Adapun persyaratannya, pasien BPJS wajib membawa surat rujukan dari fasilitas tersebut di atas. Namun, hal ini tidak berlaku bagi pasien dengan keadaan gawat darurat. Dengan infor masi ini diharapkan bagi peserta BPJS khususnya daerah Kuta, Jimbaran, Nusa Dua, Benoa, yang ingin melakukan pelayanan kesehatan dapat meman faatkan akses kesehatan ini, mengingat tempat tersebut dekat dengan Rumah Sakit Siloam Bali yang beralamat di Jalan Sunset Road Nomor 818, KutaBadung.
ada acara tersebut, ang gota Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Bali ini, menyajikan sederetan karyanya terbalut dengan bahan tradisional Bali, endek. Sentuhan aplikasi brokat yang dibordir tipis, menguatkan ciri khas desain seorang Dewi Suarjani, yang benang merahnya menekankan gaya dres feminin seksi dan elegan. Desainer pemilik Dewi Fashion, di kawasan Jalan Wijaya Kusuma ini mengaku terinspirasi dari konsep budaya masyarakat Bali. Tri Hita Karana, konsep yang me nempatkan kata cinta di urutan pertama
dalam nilai keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Selanjutnya tercipta suatu keharmo nisan di dalam hidup. Penuh dengan cinta dan bahagia sehingga manusia dalam menjalani hidupnya benar-benar selaras. Terjemahannya dihadirkan dengan pilihan warna hitam. keemasan, perak, coklat dan hijau. Koleksinya yang turut menye marakkan Fashion Tendance 2015 kali ini dilengkapi pula dengan keindahan akse sori dari Anonymity Jewelery by Fanni Smith dan J-cool shoes by Joanne. – Sri Ardhini
Edukasi
16 IKIP PGRI Bali kembali menerima kabar gembira. Salah seorang dosennya, baru saja berhasil menyandang titel doktor. Dr. I Made Darmada, M.Pd. adalah dosen bergelar doktor ke-13 yang dimiliki Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) terfavorit di Bali ini. Hal ini tentunya makin menunjukkan komitmen lembaga ini untuk terus meningkatkan kualitasnya, salah satunya kualitas SDM/ tenaga pengajar/dosen.
R
ektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. menyambut gembira kabar ini. Ia bersyukur para dosen merespons positif kebijakan lembaga yang memberikan beasiswa kepada dosen yang melanjutkan pendidikan tingginya ke jenjang S-2 dan S-3. “Dengan respons dan kerjasama yang baik dari para dosen, jadi bisa saling mengisi untuk menghasilkan yang lebih baik bagi kampus kita tercinta,” ujarnya. Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. yang didampingi Sekretaris Yayasan Gusti Ngurah Oka, S.H. menegaskan pihak lembaga secara berkesinambungan tetap memberikan support kepada dosen yang mengikuti studi lanjut, beasiswa Rp 10 juta untuk S-2, dan Rp 15 juta untuk S-3.
24 - 30 November 2014
Disertasi Dosen IKIP PGRI Bali Temukan 7 Teori Kreativitas Hidup 7 TEORI KREATIVITAS HIDUP Dalam disertasinya yang berjudul “Pengembangan Kreativitas Siswa SMK Berdasarkan Budaya Lokal dalam Konteks Industri Kreatif ”, Darmada mengangkat pis bolong (uang kepeng) sebagai kearifan lokal Bali yang disebut pancadatu dikonstelasi dengan kreativitas. “Konsep menyambungkan industri kreatif dengan industri pariwisata, membangun Bali dalam zaman industri kreatif yang dikonstelasikan dengan kreativitas, industri kreatif, dan teori kreativitas hidup,” jelasnya tentang garis besar hasil penelitiannya tersebut. Penelitiannya ini dilakukan di SMKN 2 Sukawati Gianyar pada program keahlian desain dan produksi kriya kerajinan logam, menggunakan pendekatan kualitatif etnografi, dengan analisis model interaktif. Darmada yang menuntaskan S-3nya di Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta ini mengatakan latar belakang diangkatnya judul ini karena melihat Bali merupakan masyarakat kreatif yang setiap karyanya selalu bertumpu pada nilai-nilai budaya lokal adiluhung, yang dapat diwujudkan dalam berbagai komponen dalam sektor industri kreatif. Kemudian, kreativitas tersebut mendukung industri pariwisata yang
dibangkitkan oleh ide-ide perpaduan antara seni budaya (kreativitas artistik), bisnis, dan teknologi (inovasi), yang bermuara pada nilai-nilai ekonomi baru. Penelitian ini bertujuan menggali peran budaya lokal Bali untuk pengembangan kreativitas siswa SMK dalam konteks industri kreatif, serta menginterpretasikan dampak dan makna pengembangan kreativitas siswa SMK berdasarkan budaya lokal Bali dalam konteks industri kreatif. Dari hasil penelitiannya tersebut, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP PGRI Bali ini mendapatkan be-
berapa penemuan. Pertama, konsep kreativitas ekonomi tebentuk dari economic balivogenic. Kedua, konsep kreativitas sosial terbentuk dari social balivogenic. Ketiga, konsep kreativitas spiritual religious terbentuk dari spiritual religious balivogenic. Keempat, pengembangan kreativitas melalui ajaran pancadatu yang dikonstelasi dengan ajaran dewata nawa sanga sebagai sumber dari segala sumber pengetahuan, digerakkan bhakti dalam putaran swastika, menemukan konsep kreativitas sakral dan konsep kreativitas propan. Kelima, keterjalinan antara konsep kreativitas sakral
dan konsep kreativitas propan menemukan teori tentang kreativitas kehidupan. Lebih lanjut Darmada menjelaskan, teori kreativitas kehidupan merupakan interkorelasi antara konsep kreativitas sakral berada pada aliran subjektivitas/spirit ual. Dan, konsep kreativitas propan berada pada aliran objektivitas/ material. “Teori kreativitas hidup ini dapat menjelaskan pengembangan kreativitas dalam konteks industri kreatif yang bersifat sakral yang akan memiliki nilai spiritual, dan bersifat propan yang akan mamiliki nilai material komersial,” ujarnya. Teori kreativitas kehidupan ini dikatakannya berkaitan dengan zaman pada konteks industri kreatif yang terdesain dari mantra (ide, gagasan, konsep yang akan menjadi penggeraknya), tantra (mewujudkan ide, gagasan dan konsep tersebut), dan yantra (perwujudan yang akan melahirkan berbagai dimensi aliran/zaman yang meliputi tradisional, modern, dan postmodern/kontemporer). Keenam,penelitian pengembangan kreativitas dalam konteks industri kreatif merupakan dampak positif dari geografi, pengetahuan tradisional, kurikulum, sosio-ekonomi, sosio-kultural, dan sosio-religius. Ketujuh, menemukan makna sakral dan makna propan. –ten
Sensasi Berenang di Tirta Gangga Salah satu objek wisata yang terkenal di Karangasem adalah Tirta Gangga. Objek wisata taman air ini berlokasi di Desa Ababi, kecamatan Abang, Karangasem. Jaraknya sekitar 100 km dari Denpasar. Tirta Gangga, kawasan yang sejuk karena terletak di kaki gunung Agung dan berada persis di pinggir jalan raya Amlapura. Tempat wisata ini tak hanya ramai dikunjungi turis asing, namun, warga Karangasem dan sekitarnya juga kerap datang berlibur ke Tirta Gangga.
M
enurut cerita, taman air ini adalah warisan dari kerajaan Karangasem yang dibangun raja Karangasem Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem tahun 1946. Nama Tirta Gangga, berasal dari kata Tirta yang berarti air suci dan Gangga yang artinya nama sungai di India. Komplek taman Tirta Gangga sebelumnya pernah hancur oleh letusan gunung Agung tahun 1963. Pemerintah Karangasem membangun kembali taman ini dan diperuntukkan untuk kawasan wisata.
Saat memasuki objek wisata ini, kolam pertama yang terlihat adalah kolam ikan yang di bagian tengahnya terdapat puluhan patung prajurit yang memegang gada. Di kolam ini terdapat juga petak-petak kecil untuk kita dapat berjalan di atas kolam tersebut. Petak-petak itu berbentuk segi enam dan saling berderet satu sama lainnya. Setelah kolam ikan, terdapat menara air yang berada di tengah taman kecil berbentuk bundar yang dikelilingi sepuluh patung prajurit yang memegang gada. Menara air ini terlihat seperti kuncup bunga teratai dan
tingginya sekitar 10 meter dengan bentuk meru tumpang solas, yang biasa terdapat di Pura. Dari puncak menara ini, air mengalir dan berjatuhan melewati setiap susunan tum pangnya. Pada areal taman sebelah kanan dari pintu masuk taman ini, ada tempat yang lebih tinggi, yang merupakan sumber mata air yang terlindung dengan pohon beringin besar. Menurut cerita salah satu warga, sumber mata air ini sering dijadikan air suci untuk sembahyang bagi umat Hindu dan juga menjadi sumber air minum bagi warga Karangasem. Pada bagian bawah dari sumber air tersebut terdapat dua kolam air jernih yang salah satunya digunakan sebagai kolam renang untuk umum. Ko l a m r e n a n g i n i berdesain masa lalu kar-
ena masih terbuat dari bahan seperti batu padas. Pada bagian barat biasa digunakan anakanak karena lebih dangkal, sedangkan bagian timur yang lebih dalam digunakan untuk orang dewasa. Kolam ikan luasnya sekitar 50 x 20 meter persegi. Kolam ini paling luas dengan berbagai macam ikan hias. Selain itu, kolam ini juga dihubungkan sebuah jembatan yang terbuat dari batu padas dengan hiasan empat patung naga pada setiap sisinya. Pada bagian ujung barat taman ini terdapat sebuah bale bengong yang berukuran besar, yang biasa digunakan pengunjung untuk bersantai. Melihat air kolam yang sangat jernih, saya tertarik untuk mencoba berenang. Saat turun, terasa tubuh mengigil karena air terasa sangat dingin. Apalagi, saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Saya mencoba bertahan dengan berdiri beberapa menit di dalam kolam. Lama-kelamaan, saya mencoba mengikuti beberapa pengunjung yang asyik berenang. Ternyata, rasa dingin yang tadinya membuat saya menggigil menjadi berubah. Sensasinya benar-benar berbeda dengan berenang di kolam renang buatan manusia. Saya sarankan jika Anda berkunjung ke Tirta Gangga, sempatkan diri berenang di kolam ini. Karena Anda dapat menikmati air sejuk pegunungan yang sangat jernih berasal dari sumber mata air. Anda tak usah khawatir, karena disediakan kamar mandi ganti untuk membasuh badan dan sangat bersih. Tiket masuk ke Tirta Gangga Rp 5000 dan tiket berenang Rp 10.000. –Wirati Astiti
Dara
24 - 30 November 2014
9
Ingin Pintar? Jadilah Guru Guru, patut digugu dan ditiru. Masih pantaskah label itu melekat pada profesi guru/dosen/tenaga pendidik di era kekininan? Menurut Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum., untuk menjadi guru yang digugu dan ditiru itu secara teori mudah. Rektor Suarta selalu menanamkan nilai pendidikan karakter sejak dini kepada mahasiswa baru IKIP PGRI Bali yang merupakan calon-calon guru masa depan
Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum.
“I
ni terkait dengan teladan. Artinya, ketika guru melarang muridnya merokok, gurunya dulu yang harus tak merokok. Teladan jauh lebh baik daripada macan kertas. Digugu ucapannya dan ditiru pe-
rilakunya,” ujarnya. Namun sayang, di era kekinian profesi guru banyak tercoreng karena ulah oknum. Guru yang seharusnya menjadi teladan, justru menjadi pelaku sejumlah kasus tak terpuji, yang akhirnya merembet ke guru lain. “Mungkin itu guru instan yang kurang tahu posisinya, yang tidak tahu perilaku dan kode etik seorang guru,” ujarnya geram. Sekarang ini, ia melihat ada dua alasan seseorang memilih profesi guru. Pertama, karena terpaksa serta melihat situasi dan perkembangan zaman sekarang profesi guru mendapat perhatian dari pemerintah, Singkat kata, kesejahteraan guru diperhatikan. Karena itu, banyak sarjana nonLPTK (Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan) menyeberang mengambil Akta Mengajar 4 untuk memperoleh “SIM Mengajar”. Jadi, mentalnya memang tak
dipersiapkan menjadi guru. Alasan kedua, karena motivasi alamiah yang memang dari keinginan sendiri. Seperti halnya dirinya. Karyawan pertama IKIP PGRI Bali yang akhirnya menduduki jabatan Rektor ini mengisahkan bahwa menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil. “Keinginan itu muncul saat SD kelas 5,” ungkapnya. Hal ini dikarenakan rasa ka gumnya pada sosok gurunya, IB Anom Ranuara. Apa pun pertanyaan yang diajukan muridnya ketika itu, termasuk dari Suarta bocah, pasti bisa dijawab. “Kesimpulan saya saat itu, guru itu pintar pandai cerdas. Jadi, jika ingin pintar jadilah guru. Cita-cita itu terus bersemayam dan tak pernah pudar,” ucapnya. UTAMAKAN ETIKA Hingga tamat SMA, cita-cita itu pun masih menjadi tujuannya. Suarta yang berhasil memperoleh
rangking 3 saat itu ditanya gurunya hendak melanjutkan kuliah dimana. Dengan yakin ia menjawab, “IKIP Singaraja, saya mau jadi guru Pak”. Sang guru bukannya bangga mendengar pernyataan muridnya, namun justru miris dan menyarankan Suarta untuk tak memilih profesi guru seperti apa yang dilakoninya. “Kenapa mau jadi guru? Guru itu gajinya kecil, mendingan jadi pegawai bank. Biar Bapak saja yang melarat,” ujar Suarta mengutip kata-kata guru SMA-nya itu. Namun, Suarta tak tergoyahkan. Ia tetap berpegang pada tekadnya bahwa ia ingin jadi orang pintar, yakni dengan menjadi guru. Dalam konteks kekinian, guru dikatakannya semestinya selalu memberikan jawaban/solusi, membantu atas permasalahan yang dibawa murid-muridnya, serta fair (tidak pernah ber bohong). Karena itu, profesi guru
ditegaskannya sangat mulia. Karena itu pula, ia mengatakan jika orang yang menjadi guru karena faktor alamiah, pengabdian itu tak menjadi soal. Namun jika profesi guru yang melekat pada seseorang dikarenakan faktor kondisi, pengabdian ini justru menjadi tantangan besar baginya. Apalagi menghadapi anak/murid zaman sekarang yang perilakunya berbeda dengan anak zaman dulu. Etika anak zaman sekarang dinilainya agak vulgar serta kurang rasa hormat kepada guru. Untuk mengantisipasi itu, di IKIP PGRI Bali yang merupakan lembaga pencetak calon guru, Rektor Suarta sudah menanamkan sejak awal tentang kode etik guru melalui pendidikan karakter yang mengutamakan etika. Inilah yang nantinya akan berdampak pada ouput dan outcome peserta didik. –Inten Indrawati
Guru Kaya Harta Kaya Ilmu Sudah 30 tahun Salmah, S.Pd, yang kini mengajar di SMPN 1 Wawo Bima, menjadi guru. Beberapa kali pindah mengajar, mulai dari SMP 1 Singaraja Bali, hingga ke SMP 1 Ende dan akhirnya kembali mengajar di Desa Wawo, membuatnya makin mencintai profesi ini. Meski sekolah ini berada di perdesaan tidak membuat para guru di SMPN 1 Wawo kehilangan kreativitas. Setidaknya dalam 5 tahun terakhir, SMP ini telah menjadi nominee dalam berbagai lomba kreativitas guru. Mengajar di perdesaan yang tentu saja dengan segala keterbatasannya, tidak membuat para guru di sini, khususnya Salmah sebagai guru IPA, menyerah. Apa yang tidak bisa diperoleh sebagaimana fasilitas di sekolah-sekolah perkotaan, mereka siasati dengan apa yang ada. Bahkan dengan kreativitas itu, mereka dapat membuat dan memanfaatkan limbah seperti plastik bekas untuk media pembelajaran yang memudahkan pemahaman siswa, seperti membuat biologi. “Jika tidak ada alat atau bahan yang
dibutuhkan di laboratorium dalam pelajaran biologi, ya saya ajak anak-anak keluar kelas, untuk mencarinya,” ungkapnya. Salmah mengungkapkan tidak selamanya mengajar di sekolah pedesaan itu penuh dengan kekurangan, melainkan justru ada kelebihannya. Itu semua memang tergantung dari kemauan dan kreativitas gurunya. Mereka memanfaatkan apa yang bisa didapat dari sekitarnya. “Kita yang ada di desa, khususnya pelajaran IPA, justru daya dukung alam untuk pelajaran ini tinggi sekali,” ujarnya. Murid-murid bisa langsung belajar di alam dan melihat serta mengamati secara langsung tentang fenomena-fenomena atau gejala alam yang terjadi dalam lingkup ilmu pengetahuan alam. Anak-anak desa bisa secara langsung melihat, misalnya jamur atau tumbuhan lainnya yang tumbuh di alam, yang tentu saja, kesempatan seperti ini tidak bisa didapatkan dengan mudah oleh anak-anak yang bersekolah di kota. Meski tinggal di desa, Salmah dan guru lainnya di sekolah ini, rajin mengakses internet untuk berkomunikasi dengan rekan-rekan sesama gurunya yang berada di
Salmah, S.Pd., dengan koleksi buku di perpustakaan
kota, seperti mendapatkan informasi tentang berbagai lomba bidang pendidikan. Dari lomba-lomba yang pernah diikuti, empat dari sejumlah guru desa ini telah berhasil meraih berbagai prestasi, seperti menjadi Guru Teladan tingkat Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima bahkan pernah menjadi nominee tingkat nasional. Dalam lomba kreativitas guru, Guru SMPN 1 Wawo yang diwakili Salmah, pernah menjadi nominee. Menurut Salmah, kebanggaan mereka menjadi guru desa salah satunya adalah
murid-murid yang bisa diarahkan untuk taat aturan sekolah. Tidak pernah terlibat tawuran dan relatif mudah diatur. “Ini ibadah yang pahalanya tidak akan pernah putus,” ujar Salmah yang sangat bangga menjadi guru desa. Ia bisa memiliki kekayaan berlipat-lipat menjalani profesi sebagai guru, kaya harta dan kaya ilmu. “Harta saya adalah murid-murid saya dan ilmu adalah pelengkap harta saya,” ungkap Salmah yang membuka perpustakaan sederhana di rumah panggungnya ini. -Naniek I. Taufan
Bunda & Ananda
8
24 - 30 November 2014
Ingatkan Anak Cuci Alat Kelamin
Orangtua perlu memperhatikan alat kelamin anaknya. Perhatian ini diberikan sejak anak masih kecil, terutama cara menjaga kebersihan dan cara perawatan. Jangan sampai terjadi iritasi atau infeksi pada kelamin anak.
dr. Dina Wahyuni, Sp.KK
S
aat mandi Reno biasa menggunakan cara mandi kilat. Tak sampai lima, siswa kelas 2 SD ini sudah keluar kamar mandi. Tetapi, kalau sudah dimandikan ayahnya, ia pasti menjerit. Apalagi kalau bagian penisnya dibersihkan. “Kalau urusan membersihkan penis, bagian ayahnya. Kan ayahnya yang lebih paham bagaimana caranya,” ungkap Bu Dewi, ibu Reno. Ia mengaku hanya mengingatkan putranya untuk mencuci alat kelamin usai buang air kecil. Jika Bu Dewi menyerahkan urusan kebersihan kelamin anak laki-laki kepada suami, sebaliknya Pak Deddy menyerahkan urusan membersihkan vagina dua putrinya kepada sang istri. “Anak-anak maunya dibersihkan oleh ibunya. Kami sangat menjaga kebersihan dan ke sehatan anak-anak,” ujar pria yang bekerja sebagai wiraswasta ini. Secara aturan tak ada yang menentukan ayah memperhatikan kebersihkan alat kelamin anak laki-laki sedangkan ibu memperhatikan kebersihkan alat kelamin anak perempuan. Namun, karena kebiasaan, terbentuklah pola se perti itu.
Tetapi, bagi yang memiliki anak laki-laki dan perempuan, harus bisa melakukan semuanya. “Kalau urusan mandikan dan urus an membersihkan kelamin anak laki-laki dan anak perempuan kami tidak membedakan, tergantung siapa yang punya waktu, dia yang mengurus anak,” kata Bu Tini yang punya dua anak ini. Dari pengalamannya, Bu Tini mengaku membersihkan alat kelamin putrinya lebih sulit. Misalnya, tidak boleh terlalu lembab dan harus sering-sering ganti celana dalam. Ia pun harus sering memantau kebersihkan kedua buah hatinya. Menurut dr. Dina Wahyuni, Sp.KK, laki-laki dan perempuan sebagai mahluk ciptaan Tuhan harus menghargai pemberian Tuhan dan merawat dengan baik pemberian itu, termasuk bagianbagian kecil seperti alat kelamin. “Alat kelamin laki-laki dan perempuan sangat berbeda dari bentuk, struktur, fungsi, maupun kegunaannya sehingga cara perawatannya pun berbeda. Karena itu para orangtua sebaiknya selalu mengajarkan anak-anak cara membersihkan alat kelaminnya agar tidak terjadi iritasi/alergi dan infeksi baik infeksi bakteri maupun infeksi jamur. Apalagi bagi anak yang sudah bisa mandi sendiri,” ujar dokter spesialis kulit dan kelamin yang bertugas di RS Indra, RS Prima Medika, dan Apotek Pandu Medika ini. Bagi orangtua, dr.Dina memberikan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk merawat penis dan vagina buah hati mereka. Pertama, tiap buang air besar maupun kecil, usahakan selalu mencuci bagian luar kelamin dengan air. Untuk laki-laki cukup dibersihkan dengan air bersih setelah itu dikeringkan. Apabila dibiarkan lembab akan menyebabkan infeksi jamur dan bakteri. Untuk anak perempuan, siram air dari depan vagina ke belakang, jangan melakukan dari belakang ke depan. Tujuannya mencegah masuk-masuknya kuman dari
anus ke vagina dan saluran kemih. Apabila mikroorganisme di anus masuk ke saluran kemih, dapat menyebabkan infeksi saluran kemih yang mengakibatkan anak sulit buang air kecil dan demam mendadak. Kedua, saat mandi, anak perempuan tidak perlu mencuci vagina dengan sabun secara berlebihan agar tidak menimbulkan iritasi. “Untuk anak laki-laki yang belum disunat, saat mandi tarik perlahan kulup sampai kepala penis menyembul. Setelah itu kotoran yang menempel harus dibersihkan. Bagi yang sudah disunat, pembersihan lebih gampang karena kulup sudah terbuka,” ujar dr. Dina.
Ketiga, memperhatikan kebersihan pakaian dalam anak-anak. Ia menyarankan dalam sehari anakanak minimal mengganti pakaian dalamnya dua kali dan sebaiknya menggunakan kain dari katun. “Jangan pernah bertukar pakaian dalam dengan orang lain. Hal ini harus diperhatikan karena pakaian dalam yang lembab memudahkan terkena infeksi jamur di daerah tersebut,” tegasnya Keempat, hindari penggunaan pewangi yang beralkohol, bedak wangi, minyak-minyakan, antiseptik di daerah kelamin maupun bokong anak-anak karena dapat menimbulkan iritasi atau alergi di daerah tersebut.
Khusus untuk bayi, gunakan kapas bersih yang telah dibasahi air hangat. Untuk anak laki-laki diusapkan di daerah penis dan sekitarnya serta bersihkan juga kotoran yang menempel di sekitar kulup. Untuk perempuan, usap dari daerah vagina ke anus. Usapkan juga di lipatan paha sampai pangkal paha. “Bersihkan daerah yang akan ditutup popok. Biarkan kering terlebih dahulu dengan menggunakan lap yang lembut. Setelah kering baru menggunakan popok,” ujar dr. Dina seraya mengingatkan jika ada keluhan yang mengkhawatirkan tentang penis atau vagina anak segeralah menghubungi dokter. –Ngurah Budi
“Untuk anak laki-laki yang belum disunat, saat mandi tarik perlahan kulup sampai kepala penis menyembul. Setelah itu kotoran yang menempel harus dibersihkan.
Griya
24 - 30 November 2014
17
Anggrek untuk Dekorasi
Bunga anggrek yang memiliki bahasa latin orchidaceae ini memang cantik. Meskipun tak mengeluarkan bau harum seperti tanaman bunga kebanyakan, anggrek masih menjadi primadona para pencinta tanaman hias, dengan beragam jenis dan warnanya.
B
eberapa tahun terakhir, aggrek tak lagi sekadar menghiasi kebun bunga yang media keberadaannya sebagai tanaman gantung atau ditempel pada pohon lain. Kini, tanaman anggrek lebih banyak dipasok oleh hotel dan restoran. “Mereka memanfaatkannya sebagai dekorasi seperti vas yang diletakkan di lobi, kantor, kamar, bahkan di toilet. Bahkan, banyak yang membeli tanaman anggrek untuk gift,” ujar Ni Wayan Srilaba, pemilik Sentra Anggrek Duta Orchid di kawasan Jalan Hang Tuah, Denpasar. Di tempatnya ini tersedia dua jenis anggrek, yakni dendrobium dan anggrek bulan.
Anggrek dendrobium ini memiliki beragam bentuk dan warna yang menawan. Sementara anggrek bulan, umum yang ditemui berwarna putih dan ungu. Di sentranya ini, ketersediaan anggrek bulan cukup mendominasi. Menurut Srilaba, untuk media tanamnya, ia menggunakan mos untuk hasil yang lebih maksimal. Mos adalah media tanam yang terbuat dari ampas rumput laut. Sifatnya lebih lembab dan menyerap banyak air. Karena itu ia mengatakan untuk perawatannya, cukup disiram dua kali seminggu. “Bisa dicek dengan menekan-nekan mos. Jika agak kering, beri air,” ungkapnya. Aggrek bulan cenderung sensitif dengan suhu panas dan sinar ma-
tahari, idealnya hanya sekitar 30%. Sebaiknya, di atas tanaman ini dipasang pelindung untuk menghindari paparan sinar matahari langsung. Tarif anggrek bulan standar Rp 95 ribu per pohon, dan Rp 135 ribu untuk produk premium yang bibitnya impor. Untuk jenis anggrek dendrobium, Srilaba menggunakan media tanam arang. Arang yang dipakainya ini adalah arang yang keras, bisa dari kayu kopi atau bakau, yang proses dari kayu menjadi arang melalui pengovenan. “Arang ini harus kuat karena akar tanaman akan mengikat diri disana. Dengan media arang ini lebih bagus tumbuhnya, lapukannya lama, karena arang tak menyimpan air,” ujarnya. Sementara, dengan media pakis, ia menjelaskan pelapukannya cepat karena menyimpan banyak air. Ia berpengaruh kepada tananaman menjadi cepat rusak dan ditumbuhi jamur. “Anggrek perlu banyak air, tetapi tidak direndam. Anggrek idealnya disiram dua kali sehari,” ucapnya.
Srilaba dengan tanaman anggrek koleksinya
–Inten Indrawati
Bagi yang sudah disunat, pembersihan lebih gampang karena kulup sudah terbuka”
Mendongeng Lima Menit Guru dan Serigala
Pada suatu sore seorang guru pulang sekolah naik sepeda. Di jalan yang sepi, dari arah belakang Made Taro tiba-tiba ia mendengar seekor serigala berteriak-teriak. “Auuuw…, tolong, tolong, tolong, auuuw…!” Guru itu menoleh lalu turun dari sepedanya. “Tolonglah aku, Tuan Guru!” kata Serigala terengah-engah ketakutan. “Seorang pemburu membawa bedil mengejarku. Sembunyikanlah aku, Tuan Guru!” Guru yang baik budi itu mengeluarkan buku-bukunya dari kantong barang yang selalu dibawanya. Serigala itu disuruh bersembunyi dalam kantong itu, lalu ditimbun dengan buku-buku. Sesaat kemudian muncul pemburu yang sedang mengejar serigala itu. “Ada melihat serigala lewat ke sini?” tanya pemburu itu. “Tidak, Tuan!” jawab guru itu. Setelah keadaan aman, Tuan Guru melepaskan serigala itu. Namun apa yang terjadi? Serigala memperlihatkan gigi-giginya hendak merobek-robek tubuh Tuan Guru. Kebetulan di jalan yang sepi itu lewat seorang tua. Guru itu berteriak minta tolong.
“Apa yang terjadi?” tanya orang tua itu. Tuan Guru menjelaskan peristiwa yang sebenarnya, tetapi segera dibantah oleh Serigala. “Bohong itu, Kakek Tua! Guru yang berniat tidak baik itu menangkap aku, lalu memasukkannya ke dalam kantong. Agar aku tidak bisa melepaskan diri, guru itu menimbunku dengan buku-bukunya yang sangat berat. Hampir mati aku!” kata Serigala berpura-pura menahan napas putus-putus. “Maaf, aku tidak melihat kenyataannya. Cobalah peristiwa itu diragakan kembali, sehingga aku dapat mengambil keputusan yang bijaksana,” kata orang tua itu. Tuan Guru mengeluarkan buku-bukunya dari kantong, lalu Serigala meloncat masuk ke dalamnya. Setelah itu, Tuan Guru menimbunnya dengan buku-bukunya. “Jelas sekarang,” kata orang tua itu. Ia mengeluarkan pedangnya, lalu tanpa ragu-ragu ia menusukkan ujung pedang itu perlahan-lahan ke dasar kantong. Dari dalam kantong itu terdengar rintihan Serigala meminta maaf. “Berbuat baik budi itu sangat baik, Tuan Guru,” kata orang tua itu. “Namun perlu pengetahuan dan pengalaman, sehingga kita dapat menentukan kapan dan untuk siapa baik budi itu.”
General Contractor
Building Consultant Architectural Drawing
Interior & Exterior Designer
Landscaping Work Art Work
Jln. Pemuda V/11B Renon. Tlp. (0361) 247060. Email: tms_group@yahoo.com
Ciptakan Kesan Dramatis dengan Pencahayaan Buatan Pertanyaan seputar griya dan properti dapat Anda kirim ke tms_group@yahoo.com atau redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Tata Mitra Selaras, Ketua Tim Arsitek: N.G. Dwi Mahadipta, ST.MT.IAI Tanya: Saya berrencana membangun sebuah rumah dan menerapkan pencahayaan buatan secara optimal dalam bangunan. Bagaimana memanfaatkan pencahayaan buatan dalam suatu perancangan banguna? (Agung, Badung) Jawab: Dalam perancangan arsitektur, aspek pencahayaan khususnya pencahayaan buatan memegang peranan penting. Pencahayaan tidak hanya sebatas membuat terang, tetapi lebih dari itu, pencahayaan dapat mem-
berikan aksen dan kesan dramatis pada bangunan. Penggunaan pencahayaan disesuaikan dengan kebutuhan. Teknik pencahayaan buatan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu teknik pencahayaan langsung, teknik pencahayaan tidak langsung, dan teknik pencahayaan aksen. Teknik pencahayaan langsung adalah teknik pencahayaan umum dengan mengarahkan cahaya pada suatu bidang (gelap). Pencahayaan langsung dibedakan menjadi dua, yaitu pencahayaan dinding dan pencahayaan langit-langit. Pencahayaan dinding yaitu pencahayaan yang mengarahkan cahaya ke dinding/tidak ke objek, sehingga memberikan kesan yang dramatis. Dalam pencahayaan dinding, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Antara lain, dengan perletakan lampu agak jauh dari dinding untuk menghindari hotspot sehingga memberikan kesan yang lembut. Hindari menyorot dinding
mengkilap karena akan memantulkan cahaya. Untuk dinding bertekstur seperti batu alam, lampu dapat diletakkan pada jarak 25-30 cm dari dinding untuk mendapatkan karakter dari tekstur batu alam. Untuk bidang dinding yang luas dapat digunakan lampu dengan sebaran cahaya kerucut dengan jarak lampu 30-40 cm dari dinding, dan jarak tiap lampu 120 cm. Sedangkan untuk teknik pencahayaan langsung ke langit-langit (plafon), hal-hal yang perlu diperhatikan adalah perletakan sumber cahaya agar tidak terlihat dan hanya pendar cahaya yang terlihat. Penggunaan lampu yang terlalu sedikit akan menimbulkan bayangan yang kuat, sedangkan penggunaan lampu yang terlalu banyak akan menyebabkan washout dan menghilangkan detail-detail yang ingin ditonjolkan. Pencahayaan tak langsung dirancang untuk memberikan cahaya mer-
ata yang tidak menimbulkan bnyangan pada bidang vertikal maupun horizontal, dan memberikan kesan lembut (soft). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pencahayaan tak langsung adalah warna, tekstur, dan detail ruang harus terukur oleh sumber cahaya yang dipilih, jarak sumber cahaya dari dinding antara 12-15 cm, karakter material dan finishing plafon tidak mengkilap, penggantian lampu, idealnya dilakukan bersamaan untuk keseragaman warna. Te k n i k p e n c a hayaan aksen digunakan untuk memberikan efek khusus yang diinginkan pada suatu bidang atau objek. Pencahayaan aksen terdiri dari pencahayaan
baur yang memberikan kesan merata dan lembut pada suatu bidang atau objek dan menggunakan jenis lampu floodlight, pencahayaan sorot yang memokuskan cahaya pada suatu objek dengan menggunakan jenis lampu spotlight, pencahayaan background untuk menampilkan tekstur material di belakang objek dan menonjolkan siluet objek.
24 - 30 November 2014
18
Disperindag Kota Denpasar Gelar Lomba Cipta Karya Kreatif 2014
Janji sebuah produk, salah satunya terlihat dari desain, kemasan atau packagingnya. Sebab, desain atau kemasan yang unik sangat mudah menjadi daya tarik. Hal ini penting dan menjadi perhatian dalam pergerakan industri kreatif termasuk untuk memenangkan persaingan.
D
emi pengembangan kreativitas desain dan kemasan pula, Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar serta Denpasar Design Centre (DDC) kembali menyelenggarakan “Lomba Cipta Karya Kreatif 2014” dalam berbagai kategori. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gatra, M.Si., didampingi Koordinator DDC, I Gst, Ngurah Gede Suyasa, lomba ini untuk merekatkan sinergi pemerintah, swasta, komunitas, kreator, dan publik luas dalam ranah
kreativitas dan desain. DDC sebagai salah satu bentuk fasilitas dan layanan one stop service laju pertumbuhan IKM dan UKM, terutama aspek desain kemasan, produk, tekstil, teknologi informasi dan komunikasi, serta hak kekayaan intelektual (HaKI) pun menyadari stimulus tersebut. Wayan Gatra mengatakan “Lomba Cipta Karya Kreatif 2014” ini dikelola dan diselenggarakan oleh DDC untuk : Merangsang dan mendorong laju pertumbuhan karya kreatif, inovatif dan aplikatif bermutu tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat luas; Meningkatkan apresiasi, konsumsi dan pember-
dayaan pilar industri kreatif lokal untuk siap bersaing skala nasional dan internasional; Meningkatkan dan mengembangkan minat, bakat, keahlian dan kreativitas budaya di kalangan profesi dan khalayak umum; Meluaskan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, serta media lain yang berbasis akar kultur dan kearifan lokal. Lomba Desain Endek bertujuan : Melestarikan dan mengembangkan seni budaya endek Bali; Menggali ide kreatif dan apresiasi generasi muda merancang motif; Mendorong lahir motif endek dan memperkaya nuansa endek, serta meningkatkan promosinya.
Wayan Gatra
Lomba Kemasan Produk Makanan untuk: Meningkatkan pemahaman pentingnya kemasan bagi sebuah produk; Meningkatkan kemasan sebagai media perlindungan dan pengawetan serta media
komunikasi dan informasi (identitas produk) kepada konsumen; Mendorong lahirnya desain dan karya kemasan yang kreatif, inovatif juga fungsional dan menciptakan respons positif bagi konsumen; Memperkaya ragam kemasan makanan khas Kota Denpasar dan Bali. Lomba Aplikasi - Konten Mobile bertujuan untuk: Meningkatkan terciptanya perangkat lunak berbasis mobile bertema seni-budaya; Menggali ide kreatif generasi muda untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya Bali; Mendorong sinergi antara TIK, kewirausahaan, seni dan budaya sebagai pilar kreativitas lokal yang menjangkau dunia global; Memperkaya kontribusi TIK dalam dokumentasi, distribusi dan promosi seni budaya Bali. Lebih lanjut Wayan Gatra mengatakan , kompetisi ini melombakan desain alat- alat pengembangan ide dan fungsi, agar muncul bentuk baru yang lebih kreatif dan memungkinkan dipakai semua orang. - ard
3.Hasil karya orisinil, bukan tiruan dari karya lain. 4.Karya belum pernah diikutsertakan pada lomba sejenis lainnya. 5.Wajib mengisi formulir pendaftaran, menandatangani surat pernyataan orisinalitas dan bersedia mentaati seluruh ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan panitia.
Persyaratan Umum Lomba Aplikasi Konten Mobile: 1.Lomba terbuka hanya untuk siswa SMA/SMK dan mahasiswa Perguruan Tinggi di Bali. Melampirkan kartu siswa atau mahasiswa yang masih berlaku. Peserta lomba boleh perorangan atau kelompok (maksimal 3 orang) 2.Tidak dipungut biaya pendaftaran. 3.Hasil karya orisinil, bukan tiruan dari karya lain. 4.Karya belum pernah diikutsertakan pada lomba sejenis lainnya. 5.Wajib mengisi formulir pendaftaran, menandatangani surat pernyataan orisinalitas dan bersedia mentaati seluruh ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan panitia. Suasana penilain Lomba Cipta Kreatif tahun lalu
BERHADIAH TROPI dan UANG TUNAI
Jadwal Kegiatan Call for entry/pendaftaran peserta: 1 September - 30 November 2014 Pengumpulan persyaratan dan materi lomba : 30 November 2014 Penjurian: 1 s.d 10 Desember 2014 Pengumuman, penyerahan hadiah dan pameran karya pemenang digelar pada acara Denpasar Festival (Denfes) 2014 Hadiah - Ditetapkan tiga pemenang lomba dalam tiap kategori - Pemenang mendapatkan Trophy & Piagam Penghargaan dari Pemerintah Kota Denpasar dan Denpasar Design Centre -Uang Tunai Kategori Cipta Desain Motif Endek Juara I Rp 3.000.000, Juara II Rp 2. 500.000, Juara III Rp 2 .000.000 Kategori Cipta Kemasan Pai Susu Juara I Rp 2.000.000, Juara II Rp 1.500.000, Juara III Rp 1.000.000 Kategori Cipta Kemasan Betutu Juara I Rp 2.500.000, Juara II Rp 2.000.000, Juara III Rp 1.500.000 Kategori Cipta Aplikasi Konten Mobile Juara I Rp 4.500.000, Juara II Rp 3.500.000, Juara III Rp 2.500.000 Kategori Cipta Desain Produk Inovatif Juara I Rp 3.500.000, Juara II Rp 3.000.000, Juara III Rp 2.500.000
Persyaratan Persyaratan Umum Lomba Desain Endek : 1.Lomba terbuka untuk umum; perorangan atau kelompok. 2.Tidak dipungut biaya pendaftaran. 3.Hasil karya orisinil, bukan tiruan dari karya lain. 4.Karya belum pernah diikutsertakan pada lomba sejenis lainnya. 5.Wajib mengisi formulir pendaftaran, menandatangani surat pernyataan orisinalitas dan bersedia mentaati seluruh ketentuan yang ditetapkan panitia. Persyaratan Umum Lomba Kemasan Produk Makanan: 1.Lomba terbuka untuk umum; perorangan atau kelompok (maksimal 3 orang) 2.Tidak dipungut biaya pendaftaran.
Konsep desain alat yang dapat diikutsertakan: 1. Harus orisinal. 2. Dapat direalisasikan kedalam bentuk bernilai artistik dan imajinatif. 3. Mempunyai fungsi dan memudahkan kegiatan keseharian. 4. Dapat merupakan modifikasi, daur ulang atau penambahan fungsi dari alat tertentu yang ada. 5. Tidak boleh menggunakan bahan bakar jenis apapun. 6. Jika menggunakan sumber listrik,t idak melebihi kapasitas tegangan 12 Volt. 7. Ukuran alat yang didesain bebas. 8. Belum pernah diproduksi secara massal dan/atau diperjualbelikan. 9. Tidak pernah diikutkan dalam kompetisi sejenis dimanapun. Ketentuan peserta 1. Perorangan atau kelompok (maksimum 5 orang). 2. Kewarganegaraan Indonesia tanpa batasan usia. 3. Harus mengisi formulir pendaftaran. 4. Peserta dapat mengirim desain maksimal 3 karya desain. Prosedur Lomba Dewan Juri “Lomba Cipta Karya Kreatif 2014 “terdiri atas unsur DDC akademisi, pengamat, desainer, dan praktisi lainnya. Dewan Juri akan bekerja secara independen dan keputusan Dewan Juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Kriteria umum penilaian untuk Lomba Cipta Karya Kreatif 2014 adalah: 1.Konsep yang orisinal, inovatif dan mempunyai nilai tambah (added value). 2.Kemampuan teknis yang matang dan berkualitas dalam mewujudkan desain/karya/aplikasi. 3.Desain/karya mencerminkan eksplorasi mendalam terhadap khazanah seni-budaya Bali, mempunyai nilai artistik yang baik, mengusung semangat pembaharuan dan berorientasi pada pengejewantahan semangat Bali yang terbuka dan mendunia. Untuk kategori Lomba Desain Endek, desain dan karya jadi kain endek diharapkan: 1.Mencerminkan motif dan filosofi yang diinspirasi dari khazanah seni-budaya Bali, namun bernuansa universal. 2.Mempunyai karakter desain yang segar dan elegan. 3.Mempunyai daya saing kualitas dan daya jual yang tinggi. 4.Pemilihan dan penggunaan material berbasis ramah lingkungan.
Alamat Pendaftaran
Pendaftaran Lomba Cipta Karya Kreatif 2014 dilakukan di: Denpasar Design Centre (DDC) Jalan Melati No. 31 Denpasar 80233 BALI; Telepon ( 0361) 2103555 / 0361.224548 Faksimili ( 0361) 244648; E-mail rumahkemasandenpasar@gmail.com
24 - 30 November 2014
Life
Story
Bayiku Mau Ditukar Tahun 2001, kala melahirkan anak ketiganya di sebuah rumah sakit di Mataram, NTB, Nagita (40), bukan nama sebenarnya, ingat sebuah kejadian yang sempat membuatnya takut. Siang itu, setelah semua proses pengurusan persalinan rampung, Nagita dipindahkan ke kamar ruang rawat. Beberapa jam setelah melahirkan, seorang ibu yang juga lebih dulu melahirkan darinya, sekitar dua jam sebelumnya, menggedor kamar ruang rawatnya.
N
agita yang sedikit heran bangun membukakan pintu. Kebetulan saat itu ia tengah sendiri bersama bayinya. Sementara suaminya kembali ke kantor hingga sore hari usai menemaninya melahirkan. Seorang iparnya tengah menunggui anak pertama mereka yang masih kecil di rumah. Ibu berusia sekitar setengah baya itu lalu mendekati puterinya dan tersenyum senang. “Lucu ya anaknya bu…, rambutnya hitam dan lebat pula,” ungkap Nagita menirukan perempuan itu. Nagita yang heran agak kebingungan menghadapi keramahan ibu yang baru saja dilihatnya itu. Ibu itu hendak mengangkat bayinya ke gendongan, namun Nagita mencegahnya. “Jangan Bu, tidak usah digendong, kasian dia masih tidur,” kata Nagita. Ibu itu pun mengurungkan niatnya menggendong bayi Nagita. Nagita makin heran melihat tingkah si ibu yang begitu peduli pada bayinya, padahal ibu itu sendiri baru saja melahirkan seorang bayi. “Mestinya dia gregetan pada kelucuan bayinya sendiri, karena kami sama-sama melahirkan di hari yang sama, hanya beda dua jam saja,” kata Nagita. Si ibu beberapa kali bolak-balik kamarnya siang itu. Sampai menjelang sore, ibu yang sampai sekarang tidak ia tahu namanya itu bertanya kepada Nagita. “Ini anak ke berapa?” “Anak ke tiga,” jawab Nagita. “Anak pertama dan kedua laki-laki atau perempuan?” tanya ibu itu. “Perempuan semua,” ujar Nagita. “Duh… senangnya punya anak perempuan banyak ya….,” kata si ibu mencium
bayi mungil itu. Nagita tersenyum penuh tanda tanya melihat perhatian si ibu kepada bayinya. “Apa tidak ingin punya anak laki-laki?” lanjut si ibu. “Ingin sekali bu, tapi apa pun yang Tuhan kasih, saya terima, mungkin suatu hari nanti saya bisa punya anak laki-laki,” kata Nagita. “Ibu punya anak berapa?” Nagita bertanya balik. “Lima...semuanya laki-laki,” ungkap si ibu. Di sinilah Nagita baru memahami mengapa si ibu yang tampaknya berada itu begitu perhatian pada
anaknya. Beberapa saat si ibu terdiam sambil memandang bayi Nagita. Nagita pun demikian. Suasana sempat hening. Beberapa saat kemudian dengan lembut si ibu bicara padanya. Namun, apa yang didengarnya dari suara pelan si ibu, bagaikan petir di siang bolong yang menyambar-nyambar di sekitarnya. “Bagaimana kalau kita tukar bayi kita, agar saya mendapat anak perempuan dan Mbak punya anak laki-laki,”
7
LOOP KePo Cetak Digital Creator LOOP KePo (Kreatif Project) sebagai rangkaian kegiatan yang khusus diperuntukkan bagi LOOPers (sebutan pelanggan LOOP) digelar di GOR Ngurah Rai, Denpasar, Minggu (16/11). Event ini mengangkat sisi edukasi, kreativitas, dan teknologi digital. VP Sales & Marketing Telkomsel Area Jawa Bali Herry Setiawan mengatakan, para LOOPers yang berusia 12-19 tahun merupakan generasi dengan konsumsi yang sangat tinggi terhadap media sosial dan aplikasi digital. Mereka memiliki potensi yang amat besar untuk berpartisipasi secara aktif dalam perkembangan industri digital di Tanah Air, salah satunya dengan menyalurkan kreativitas mereka untuk menciptakan berbagai konten dan menjadikan mereka digital creator. Avent di Denpasar menghadirkan Joko Anwar dan Raditya Dika. -rls
Polytron Zeromatic Ruby Mengulang keberhasilan pada Primadona Zero Pressure, kini PT Hartono Istana Teknologi yang berbasis di Jawa Tengah memproduksi kembali mesin cuci dengan menyempurnakan teknologi dari Primadona Zeropress sebelumnya. Produk mesin cuci baru dengan teknologi canggih ini dinamakan Zeromatic Ruby Series. Santo Kadarusman, Public Relations dan Marketing Event Manager me ngatakan Zeromatic Ruby dipasarkan dengan harga yang tidak berbeda jauh dari Primadona Zeromatic. Ia berharap hadirnya Zeromatic Ruby dapat mendongktak penjualan produk home appliances yang sempat anjlok dalam beberapa bulan ini akibat gejolak politik dan melonjaknya kurs harga rupiah terhadap dolar.-rls ujar si ibu menawarkan. Kaget yang luar biasa dirasakan Nagita. “Itu kekagetan yang paling dahsyat yang pernah saya alami sepanjang hidup saya,” kata Nagita yang langsung menolak penawaran itu. Si ibu belum menyerah hingga berkali-kali merayu Nagita yang terasa mulai ketakutan. Penolakan tegas dari Nagita membuat si ibu langsung keluar dan kembali ke kamarnya setelah sempat berada dalam situasi yang tegang. Beruntung seorang perawat datang membuat suasana ketegangan Nagita sedikit rilek. “Perawat itu cerita bahwa si ibu di kamar sebelah tidak mau menyusui anaknya meski pun anaknya menangis,” kata Nagita yang memilih diam tidak menceritakan kejadian barusan pada siapa-siapa. Hanya iparnya yang ia ceritakan ketika meminta bantuan untuk menjaganya. Sebelum iparnya itu datang, Nagita menutup rapat-rapat pintu kamar dan tidak ingin si ibu tadi datang lagi menjenguk bayinya. “Saya takut sekali bayi saya diculik,” katanya. Beberapa kali Nagita berpura-pura merem saat si ibu mengetuk pintu kamarnya dan mengintip dari kaca kamar rumah sakit itu. “Pokoknya saya
tidak mau ibu itu melihat bayi saya lagi,” katanya. Bagaimana pun juga, bayi perempuan yang mungil itu adalah darah dagingnya. Ia tidak habis pikir mengapa si ibu punya niatan menukar bayinya sendiri. Kini, bayi kecil Nagita itu telah tumbuh menjadi seorang remaja. “Sudah kelas satu SMP,” katanya. Nagita tidak pernah menceritakan hal itu pada siapa pun termasuk pada suami dan anaknya ini. satu-satunya tempat ia bercerita tentang peristiwa itu adalah iparnya, karena ia membutuhkan bantuannya kala itu. Ia meminta iparnya itu untuk tidak menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Ia menyimpan rahasia itu agar tidak ada yang menceritakannya kembali kelak. “Saya trauma dengan situasi itu,” kata Nagita yang mengaku sempat shock waktu itu. Kisah ini mau ia ceritakan kembali, semata-mata untuk mengingatkan para ibu yang baru melahirkan, agar berhati-hati terhadap orang di sekitarnya. Tidak hanya penculikan bayi yang bisa terjadi melainkan apa yang dialaminya sangat mungkin terjadi. Ia bersyukur masih memiliki kontrol yang baik, hingga mampu lolos dari rayuan si ibu yang datang bertubi-tubi. -Naniek I. Taufan
Woman on Top
6
dr. AA Ampera Prihatini, M.M.
Klinik Berhenti Merokok Keberadaan Puskesmas di masing-masing kecamatan, cukup berperan strategis bagi pelayanan kesehatan masyarakat di sekitarnya. Di Pus kesmas I Denpasar Utara (Denut) misalnya, rata-rata kunjungan per hari hingga 150 pasien. “Kasus yang banyak ditemui di pelayanan dasar ini adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), gigi (seperti gigi berlubang), kulit, hipertensi, dan diabet,” ungkap Kepala Puskesmas I Denut, dr. AA Ampera Prihatini, M.M.
D
i puskesmas yang berlokasi di Jalan Kamboja Denpasar ini, memiliki fasilitas klinik umum, poli Anak, poli Gigi, KB, KIA, laboratorium, serta Konseling/Klinik Remaja. “Awalnya pukesmas ini difokuskan untuk konseling remaja. Namun sayang tak berjalan optimal. Mungkin anak-anak sekolahan enggan dan malu jika diketahui mereka memiliki masalah,” ujarnya mengira-ngira. Di penghujung tahun 2013, puskesmas yang berada di kompleks persekolahan ini ditunjuk sebagai tempat pelayanan Klinik Berhenti Merokok (KBM), di Denpasar. Sasarannya adalah perokok pemula yang notabene anak-anak sekolah, agar mereka tak sampai terlanjur/kecanduan menghisap rokok. Klinik ini melayani konsultasi tiap Selasa dan Jumat. Namun, tak kemungkinan di hari lain jika
kebetulan petugasnya ada. “Bagi masyarakat yang ingin berhenti atau punya keluhan, kami sarankan datang ke KBM,” ucapnya. Penyuluhan tentang bahaya merokok, Perda Rokok dan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) disosialisasikan melalui film singkat yang diputar secara terus-menerus di layar TV ruang tunggu puskesmas. Dari melihat tayangan itu, ada beberapa yang merespons, bertanya kepada petugas, dan akhirnya berkonsultasi/konseling. “Dari tiga orang yang bertanya, paling cuma satu orang yang mau konseling. Banyak yang beralasan sibuk. Karena niat berhenti merokok harus dari diri sendiri,” ujarnya. Masyarakat masih kurang memanfaatkan fasilitas KBM ini. Terlihat dari Januari hingga Oktober 2014, tercatat 16 pasien yang berkunjung, dan empat di antaranya berhasil berhenti merokok. Pekan lalu, dalam rangka Hari
Kesehatan Nasional ke-50, Kementer i a n Ke s e h a t a n RI serent ak di seluruh Indonesia membubuhkan cap tangan komitmen berhenti merokok. Di Denpasar, hal ini dilakukan juga oleh Wa l i K o t a D e n p a s a r, I B D h a rmawijaya Mantra
dan seluruh masyarakat.. Kegiatan yang berlangsung di Lapangan I Gusti Agung Made Agung (Lapangan Puputan Badung)ini pun tercatat dalam Rekor Muri. “Jadi, adanya Klinik Berhenti Merokok di Puskesmas I Denut ini sudah sangat tepat,” ucap istri AA Gde Putra Wiryawan yang sempat menjabat Kepala Puskesmas I Dentim tahun 2002-2009, dan Kepala Puskesmas I Denut mulai tahun 2009 ini. Tentunya, aturan tak tertulis “berhenti merokok” ia terapkan di internalnya juga. Minimal tidak merokok di dalam gedung. Stafnya yang perokok pun dikonseling untuk mendapatkan hidup yang lebih sehat. “Dari lima staf yang merokok, empat orang sudah bisa berhenti. Satu orang masih gagal, namun sudah bisa mengu-
24 - 30 November 2014
ranginya, ini karena faktor lingkungan dia,” ujar Ampera. KELAS IBU HAMIL Sebagai seorang kepala puskesmas yang membawahi 41 staf, ia mengutamakan disiplin dan mererapkan keterbukaan. Kalau pun ada masalah yang perlu penyelesaian secara internal, staf itu akan dipanggil dan diajak bicara, pendekatan perorangan. Ampera menegaskan, saat ini puskesmas yang dipimpinnya fokus kepada pelayanan kesehatan reproduksi wanita untuk mencegah kanker serviks. Pencegahan alternatif ini dilakukan dengan metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat), medote yang mudah, murah dan praktis. Mereka yang hasil IVA-nya positif diberikan tindakan cryo yang berfungsi melumerkan sel kanker dengan cara mendinginkannya. Sebagai upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak, di tahun 2013 tepatnya Bulan Mei, puskesmas ini membuka kelas ibu hamil. Kelas ini merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, nifas, KB pasca salin, pencegahan komplikasi, perawatan bayi baru lahir dan aktifitas fisik/senam hamil. Dengan adanya kelas ibu dan senam hamil, diharapkan terjadi peningkatan pemahaman terhadap pentingnya kesehatan ibu hamil dan meningkatnya partisipasi suami ataupun keluarga yang menunjang kesejahteraan ibu saat hamil,bersalin dan nifas dengan tujuan kesakitan dan angka kematian ibu dan bayi dapat ditekan. –Inten Indrawati
Sudut Pandang
24 - 30 November 2014
19
Pengabdian “Maksi” Gaji “Minim” Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru banyak memberi kontribusi dalam perkembangan bangsa ini. Namun, masih ada guru-guru yang hidup pontang-panting. Mereka bertahan sebagai guru demi idealism tetapi kadang tak kuat menahan himpitan ekonomi. Momen Hari PGRI yang diperingati tiap tanggal 25 November, bisa menjadi bahan renungan, apa yang harus dilakukan guru.
D
i era sekarang ini, masih ada guru yang hanya mendapat honor ratusan ribu rupiah. Kenyataan pahit ini bukan hanya terjadi di daerah tapi juga di Jakarta yang nota bene adalah Ibu Kota Negara. Jadi, jangan dikira kalau menjadi gaji guru nonPNS di Jakarta , berpenghasilan besar. Bahkan boleh dibilang, masih banyak guru non-PNS di Jakarta bergaji di bawah UMR. Gaji para buruh pabrik malah lebih bagus karena mereka mendapat sesuai UMR yang di DKI Jakarta jumlahnya Rp 2,4 juta dan sebentar lagi akan meningkat menjadi Rp2,7 juta(UMR 2015). Fakta memprihatinkan ini sungguh jauh berbeda dengan guru berstatus PNS yang boleh dibilang kesejahteraannya saat ini relatif baik. Gaji guru PNS SD, misalnya, berikut segala macam tunjangan yang didapatnya, bervariasi tergantung dari golongannya. Bisa berkisar Rp 8-12 jutaan, bahkan lebih jika memiliki jabatan tertentu di sekolah. Jika dibanding dengan guru nonPNS bagai ‘bumi dan langit’. Padahal beban kerja mereka, sama atau malah tak jarang, jauh lebih besar dibanding mereka yang berstatus PNS. Maka tak usah heran kalau demi mencukupi kebutuhannya,
para guru non-PNS ini pontangpanting bekerja sambilan. Itulah ‘potret buram’ kebanyakan guru non-PNS. Sebenarnya cerita muram ini bukan hal yang baru. Sejak lama disuarakan, dan pemerintah pun bukannya tidak tahu. Namun, tetap saja tidak ada perubahan yang berarti. Tuntutan mereka agar pemerintah menetapkan UMG (upah minimum guru), sampai kini belum terwujud. Sementara BOP yang didapat pun tidak seberapa, begitu pula tunjangan fungsional yang diterima pertiga bulan, tapi itupun tidak semua guru bisa menerimanya. Entah kenapa, dimana ‘nyangkutnya’ uang fungsional itu tidak ada yang tahu. TAK BERANI PROTES “Nggak ada yang berani tanya, lagipula mau tanya kemana? Menjadi guru honorer posisinya ‘rawan’ ‘ditendang’ , apalagi jika dianggap ‘rewel’, bertanya ini-itu meski merupakan haknya. Jadi tidak ada yang berani. Kebanyakan hanya diam, menerima saja,” ungkap Suryani (bukan nama sebenarnya), guru honorer di sebuah SD negeri di bilangan Jakarta Barat. Sembari mewanti-wanti agar namanya tidak disebutkan karena khawartir kariernya akan kandas, ia bertutur tentang nasib teman-
temannya yang sesama guru honorer yang masih mendapat upah jauh dari layak. Dia sendiri pun, katanya, juga mendapat honor jauh dari layak. Namun, katanya, masih jauh lebih baik dibanding temantemannya. Sebagai gambaran, honornya per bulan sekitar Rp 1,1 juta, plus tunjangan fungsional Rp 900 ribu dan uang BOP Rp 400 ribu. “Jika dilihat, memang jumlahnya Rp 2,4 juta. Tapi jangan lupa, fungsional itu tidak diterima per bulan, nanti setelah tiga bulan baru dirapel. Sementara kebutuhan hidup bergulir setiap waktu, dari mana uang untuk menutupi? Malah ada teman saya, sebelumnya dapat (fungsional) kemudian berbulan-bulan tidak dapat. Tidak ada rapelan, alias hangus,” tutur ibu tiga anak ini. Tapi, apa yang didapatnya masih lebih baik dibanding teman-temannya sesama honorer. “Teman-teman saya masih ada yang mendapat honor antara Rp 500 ribu hingga 700 ribu. Sementara tunjangan fungsional tidak menentu, alias kadang dapat- kadang tidak. Tapi dia tidak berani bertanya, takut! Syukur saya tidak pernah tidak dapat. Saya
Siswa Wajib Bawa Laptop Guru tak Bisa Beli Laptop Zaman globalisasi meng haruskan semua orang tidak lagi buta informasi teknologi (IT) termasuk para guru dan siswa. Bagaimana kesiapan para guru dalam menyikapi kurikulum 2013 yang mengharuskan para guru melek IT? Menurut AA Ketut Sujana, salah seorang guru SMA 4 Denpasar, sekarang ini, guru tidak lagi tugasnya hanya mengajar, namun, guru dan siswa diharapkan bersama-sama belajar, agar proses belajar mengajar semakin baik. “Apalagi, kurikulum 2013, memang mengharuskan para guru harus menguasai IT. Dalam menyampaikan materi bahan pelajaran, ada model-model pembelajaran yang mengharuskan para guru menggunakan komputer. Minimal para guru harus menguasai program powerpoint dan word,” tutur guru biologi ini.
AA Sujana
Sekarang, menurut Ketua Tim Pengembangan Kurikulum Provinsi Bali ini, siswa memang diwajibkan membawa laptop. Menurut penilaiannya, siswa juga sudah lebih siap
menyambut zaman melek IT ini. Karena, kalau mereka tidak siap, mereka akan ketinggalan dari yang lain. Misalnya, bisa saja mereka membuat tugas dengan mencari di internet, seperti google, atau blog. Siswa juga harus presentasi menggunakan laptop. Seperti siswa di SMAN 4 Denpasar. Sebagian besar mereka sudah siap dengan laptop. Malah, para siswa lebih canggih dari para gurunya. Menurut Sujana, walaupun ia seorang guru, ia tetap tidak malu belajar kepada siswa. Karena proses belajar mengajar memerlukan sinergi yang baik antara guru dan siswa. Tak ada salahnya guru dan siswa sama-sama belajar untuk membuat proses belajar mengajar menjadi lebih mantap dan nyaman. Ia mencontohkan pelajaran biologi. Dalam materi peredaran darah, ia harus menunjukkan gam-
terima fungsional sejak 2005, ketika itu hanya Rp 50 ribu,” katanya. TAK ADA SLIP GAJI Yani bertutur, mengajar di sekolah negeri telah ditekuninya belasan tahun. Sebelumnya ia sempat juga menyambi di sekolah swasta dengan gaji yang lumayan bagus. Namun, karena ingin ‘mengejar’ status PNS, ia pun rela melepas pekerjaannya sebagai guru swasta, sekalipun konsekwensinya keuangan keluarganya jadi morat-marit lantaran kecilnya honor guru di sekolah negeri. Untuk menyiasati, ia pun seperti kebanyakan guru lainnya, mencoba mencari pekerjaan sambilan. “Saya memberi les, meski itu dilakukan secara diam-diam. Kami dilarang memberi les pada anak murid. Saat ini saya punya murid 15 orang. Meski terlihat banyak, namun nominalnya sungguh ‘menyedihkan’. Setiap murid hanya mampu membayar Rp 100 ribu per bulan. Untungnya ada tiga murid yang dari keluarga berpunya, mereka sanggup membayar antara Rp 500 ribu-800 ribu sebulan. Pendapatan bar dengan powerpoint, ada gambar dan suara. Apalagi, ada ada program animasi dan flash, sehingga gambar yang ditampilkan terlihat seperti asli, sehingga siswa menjadi lebih tertarik mendengarkan pelajaran dan lebih mengerti serta mampu menangkap penjelasan gurunya. Bagi guru-guru yang belum melek IT, memang ada pelatihan in house training, seperti yang dilakukan di SMAN 4 Denpasar. Tiap semester, ada tiga hari yang disiapkan untuk para guru berlatih IT. Sujana yang juga menjadi fasilitator tingkat nasional ini mengatakan, mungkin ada satu atau dua orang guru yang tidak mau belajar IT, alasannya karena faktor usia atau sudah mau pensiun. Namun, secara umum, saat ia memberikan pelatihan ke beberapa wilayah Indonesia Timur, seperti Larantuka, Tambulaka, ia melihat para guru sudah sebagian besar melek IT. “Karena jika mereka tidak menguasai IT, mereka sendiri akan ketinggalan dan tidak bisa mengikuti kurikulum 2013,” kata Sujana. Beda penuturan Suryani (nama samaran), guru non PNS di Jakarta. Dengan kondisi penghasilan pas-
inilah yang saya pakai untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga,” papar Yani yang sejak belasan tahun menjadi single parent. Sayangnya, yang namanya les, tidak menentu. Jumlah murid les itu bisa ‘naik-turun’, itu artinya pendapatan pun tak menentu pula. “Pernah saya hanya punya lima murid les, atau pada hari libur sekolah, malah tinggal satu orang,” katanya lagi. Karena itu, di Hari Guru 2014 ini, ia memohon agar pemerintah memperhatikan kesejahteraan para guru non-PNS. Pemerintah selama ini hanya memperhatikan guru PNS saja, padahal guru non-PNS pun peranannya tak kalah penting dalam membangun dunia pendidikan Indonesia. “Pemerintah, tolong tetapkan gaji minimal guru, sehingga kami memiliki standar gaji yang jelas. Apalagi selama ini, saya misalnya, setiap kali terima upah, tidak pernah mendapat slip gaji sehingga sampai kini tidak tahu berapa sebenarnya honor yang seharusnya dibayarkan. Kami hanya diberi uang cash, dan tanda tangan di buku. Hanya itu,” ujarnya. Ketika ditanya mengapa tidak pindah profesi jika memang penghasilan sebagai guru non-PNS tidak layak? Yani mengatakan, menjadi guru adalah tugas mulia dan ini sepenuhnya pengabdian yang maksimal. “Sebagian besar guru memang seperti itu. Kebanggaan seorang guru adalah keberhasilannya ‘mencetak’ generasi-generasi penerus bangsa yang andal di masa depan. Itulah sebabnya kenapa banyak guru tetap bertahan sekalipun bergaji minim,” katanya. –Diana Runtu pasan, akan sangat berat bagi mereka untuk menjalankan kurikulum 2013. “Untuk keperluan belajar-mengajar, kami juga harus keluar uang dari kocek sendiri juga. Belum lagi, harus memiliki laptop karena memasukkan nilai-nilai dan lain-lain harus ke dalam komputer. Di sekolah ada komputer, tapi jumlahnya hanya beberapa. Lagi pula, apakah kami harus bekerja di sekolah sepan jang hari gara-gara memakai komputer sekolah? Maka salah satu jalan adalah membeli laptop. Tapi dari mana uangnya? Lahhhh, untuk kehidupan sehari-hari saja sulit, bagaimana mungkin membeli laptop?” ungkapnya lagi. Karenanya, harap guru yang bergelar Magister Administrasi Pendidikan ini, solusinya adalah pemerintah meningkatkan kesejahteraan para guru non-PNS dengan gaji yang layak. Sebab, dengan kesejahteraan yang layak, para guru bisa berkonsentrasi penuh dalam melakukan pekerjaannya sebagai pendidik dan ini tentunya berkait dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada si murid. –Wirati Astiti/Diana Runtu
20
Nine Kompol Ni Made Pujewati, SIK.
24 - 30 November 2014
Menjadi seorang Polisi Wanita (Polwan) adalah hal yang menyenang kan bagi Komisaris Polisi (Kompol) Ni Made Pujewati, SIK., yang kini menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala Kepolisian Resort (Polres) Mataram, Polda Nusa Tenggara Barat. Perjalanan karir ibu satu anak ini, terbilang terus meningkat. Setidaknya, tiga jabatan penting di Polres Mataram pernah diembannya, seperti menjadi Kapolsek Senggigi, yang tempat tugasnya penuh tantangan dan sangat kompleks.
Wakapolres Mataram, Ni Made Pujewati saat memantau pengamanan demonstrasi di Mataram
B
agaimana tidak, ka wasan Senggigi ada lah kawasan utama yang menjadi ikon pariwisata Nusa Tenggara Barat. Tentu saja, Puje, panggilan akrab nya, harus bekerja keras untuk mengamankan daerah pariwisata tersebut, mengingat banyaknya wisatawan asing yang berkunjung ke sana. Menjaga stabilitas wilayah menjadi fokus utamanya kala itu demi menjamin keamananan orang asing, karena ini berkaitan dengan negara lain. Sadar akan tantangan tugas yang berat itu, Puje rela banyak kehilangan waktu liburnya. Sela ma tiga tahun ia menjadi Kapolsek Senggigi (2008-2011), selama itu pula ia tidak pernah ambil cuti. Seluruh waktunya ia perguna kan untuk bekerja. Ia banyak berada di lapangan untuk men gontrol langsung situasi wilayah. Bagi Puje, kehilangan waktu cuti tiadalah berarti untuknya diban dingkan keamanan wilayah yang dipimpinnya itu. “Dari sana saya banyak belajar dengan berbagai pengalaman yang sangat ber harga,” ungkapnya. Pengalaman itu juga didapatkannya ketika berkesempatan melakukan studi banding tentang sistem kepolisian di Jepang, bersama 25 polisi seIndonesia, tahun 2010. Tuntas mengawal kamtibmas di wilayah itu, Pujewati kembali mendapat kepercayaan dengan diangkat sebagai Kabag. Sumda Polres Mataram yang bertu gas melaksanakan pembinaan administrasi personel, sarana dan prasarana, pelatihan fungsi, pelayanan kesehatan, bantuan dan penerapan hukum. Tugas ini
membuatnya lebih banyak berada di kantor dibandingkan di lapang an. Tugas ini bisa berarti sebagai penyeimbang baginya untuk lebih memahami ragam tugas dalam institusi kepolisian. Dua pengalaman terakhir ini, ditambah lagi dengan berbagai pengalaman tugas lain sebelum nya, membuat Polwan kelahiran Mataram, 20 Juli 1974 ini semakin matang. 16 Desember 2013, ia pun mendapat kepercayaan yang lebih tinggi, yakni sebagai Wakapolres Mataram. Tugas ini bukan tugas biasa, mengingat kompleksitas Mataram sebagai Ibu Kota Provinsi Nusa Teng gara Barat menjadi barometer kamtibmas bagi Polres lain yang ada di daerah ini. Tugas ini tidak lagi pandang jenis kelamin, karena ketika Kompol Pujewati diberikan tugas tersebut, maka ia dianggap mampu untuk melaksanakan. Benar saja, ketika ia menjadi
Inspirasi
Sinergi Dukung Ajeg Bali
Tak Pernah Cuti
Wakapolres Mataram, Pujewati memperlihatkan tanggung jawab itu dengan rajin turun ke lapang an, mengontrol dan mengawasi langsung anak buahnya. Menu rutnya, untuk memastikan semua berjalan dengan baik dan tepat, tidak mungkin bisa hanya dengan menerima laporan saja, melainkan harus mengawasi langsung ke lapangan jika memang sangat dibutuhkan untuk membantu tugas Kapolres. Karena itulah, ia terbilang rajin terlihat di lapangan bersama anak buahnya. Kisahnya menjadi seorang Bhayangkara berawal dari ia “lupa” untuk memikirkan masa depan pendidikannya karena ia rajin menjadi seorang atlit bulu tangkis. Kegemarannya pada olah raga yang telah ditekuninya sejak usia SMP dan berlanjut ke SMA saat ia duduk di SMAN 1 Mataram ini, membuat ia pernah singgah di Pelatda PBSI NTB. Ia bahkan pernah mengikuti berba gai kejuaraan nasional di berbagai daerah hingga mengikuti Pra PON cabang olah raga bulutangkis. Asyik dengan berbagai latihan dan kejuaraan membuat ia lupa bahwa sekolah SMA-nya sudah mau selesai. “Kawan-kawan saya sudah menentukan ingin kuliah di UI, UGM dan universitas lainnya, sementara saya belum menentu kan pilihan, karena lupa,” ujarnya tertawa. Sampai akhirnya, orangtua nya, I Wayan Berata (alm.) yang seorang purnawirawan tentara dan ibundanya Ni Ketut Sinka, mengingatkannya akan hal itu. “Bukan sekadar mengingatkan, tapi menawarkan untuk meng ikuti tes Polwan. Kebetulan ayah
24 - 30 November 2014
Bersama anggota dalam suatu kesempatan pembinaan
saya ingin sekali ada anaknya yang menjadi polisi,” katanya. Mungkin inilah jalan kehidupan Pujewati, yang langsung mengi yakan tawaran tersebut. Sejak pertama mengikuti pendidikan polisi, Pujewati langsung jatuh hati pada korps Bhayangkara. Berbagai pengalaman tugas se lama 20 tahun terakhir ini pun menjadi pengalaman berharga dalam hidupnya, terutama kini saat mengemban tugas sebagai Wakapolres Mataram. Meski banyak kehilangan wak tu bersama keluarga, ibu dari Bintang Paramarta (3) ini, bersyu kur memiliki seorang suami yang seprofesi dengannya, Komisaris Polisi Dewa Sucipto yang kini ber tugas di Inspektorat Pengawasan Umum Daerah (Itwasda) Polda NTB. Suami yang sangat me mahami tugas-tugasnya sebagai seorang Wakapolres. Setidaknya, ia tidak perlu banyak bicara untuk meyakinkan suaminya jika harus banyak meninggalkan keluarga terutama di waktu malam hari. Dan tidak perlu banyak pertan yaan padanya, ketika ia harus bekerja melebihi jam kantor. “Tidak perlu banyak penjelasan apalagi berdebat, sudah samasama paham tentang tugas-tugas polisi,” ujarnya tersenyum. Namun begitu, Pujewati teta plah seorang perempuan yang memiliki tanggung jawab terhadap anak dan keluarga. Di tengah kes ibukannya yang terbilang sangat padat, yang membuatnya tidak banyak memiliki waktu bersama keluarga, ia selalu memberi per
Bersama Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana dan tokoh masyarakat, tokoh agama di Kantor Walikota Mataram
hatian pada buah hatinya yang masih kecil itu dengan menyiasati waktu untuk bisa bercanda dan menemani anaknya tersebut. Jika waktu itu ada, ia akan segera pergi mengajak anaknya untuk jalanjalan menikmati waktu bersama. Namun jika ada panggilan tugas mendadak, ia harus segera ber siap untuk kembali melaksanakan tugas tersebut. “Saat seperti itu, harus ada pilihan yang saya ambil,” katanya. Protes kecil kerap muncul dari bibir buah hatinya karena sering ditinggal. Sambil tersenyum Puje wati mengatakan, bahwa salah satu cara menyiasatinya adalah menunggu si kecil tidur terlebih dahulu barulah ia berangkat. Atau jika ada tugas yang mengharus kannya segera pergi dari rumah yang membuat anaknya kadang menangis saat hendak ditinggal, maka di sinilah tempatnya ia harus memilih. Sejauh ini, Pujewati e njoy mengatur waktu antara tugas dan keluarga (anak dan suami) sehingga tidak ada yang terganggu satu sama lain. Kebetulan selama tahun 2014, berdasarkan hasil evaluasi Polres Mataram, ungkapnya, kondisi Mataram relatif kondusif. “Angka kriminalitas secara umum turun hingga 40%,” katanya. Kondisi inilah yang membuat ia lumayan memiliki waktu yang cukup buat keluarga. “Pagi fokus di kan tor, malam hari bisa bersama keluarga,” katanya. Keluarga, terutama Bintang anaknya, adalah penyemangat dan motivasi baginya dalam bekerja. -Naniek I. Taufan
Saat berkunjung ke Jepang ketika melakukan studi banding Sistem Kepolisian
5
Hari ini, Minggu (23/11), AA Ayu Ketut Agung diundang menghadiri sekaligus merias busana tengkuluk lelunakan bagi Gamelan Ary Suta Center Philharmony yang mengisi puncak acara “9th Hindu for Generation (HFG) Ceremony” yang digelar Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) Universitas Indonesia. Ini merupakan kelanjutan dari kerjasama sebelumnya, dimana Bu Agung diundang sebagai narasumber dalam Pelatihan Duta Muda Hindu 2014, Minggu (19/10) di Kampus setempat.
P
elatihan tata rias tersebut mencakup materi tata rias untuk diri sendiri, mem buat dan memasang sanggul Bali, sanggul modern, busana tengkuluk lelunakan, dan etika berbusana adat ke Pura yang baik dan benar. Hadir pula narasumber Ny.Bintang Puspayoga, Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bali yang juga istri Menteri Koperasi dan UMKM RI, Ny. Wisnu Tenaya dan Ny. Satria Naradha (Humas WHDI Bali). Dalam tiap pelatihan tata rias, termasuk pelatihan di UI ini, Bu Agung pemilik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, selalu disupport Viva Cosmetics. Menu rut Direktur Distribusi Viva Cos metics Wilayah Indonesia Timur, Yusuf Wiharto, Viva Cosmetics made in Indonesia ini memang sudah diformulasi khusus dan disesuaikan untuk daerah tropis. Kerjasama Bu Agung dengan Viva Cosmetics sudah berjalan empat (4) tahun. Bahkan di tahun 2014, diagendakan 30 kali roadshow tata rias yang dilaksanakan hingga ke pelososk desa, merang kul instansi pemerintah, instansi swasta, dan organisasi wanita di Bali. “Jumlah roadshow itu tak
menutup kemungkinan bertam bah,” ujar Yusuf yang rupanya telah menyepakati melanjutkan kerjasama dengan LKP Agung untuk tahun 2015. Yusuf mengungkapkan alasan nya terus mensupport tiap ke giatan Bu Agung. “Saya lihat Bu Agung sangat memperhatikan budaya dan membantu anak-anak hingga mereka mendapatkan bea siswa, dsb.Ini patut didukung dan kami bisa bersinergi,” ujarnya. Kegiatan pelatihan dan kursus tata rias yang dilakukan Bu Agung ini bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat dengan memberi bekal keterampilan agar masyarakat bisa meningkatkan perekonomiannya. “Peran serta Viva sangat besar, khususnya kepada saya. Karena dalam memberikan kursus dan pelatihan tata rias, Viva selalu mensupport saya, dan saya ber bagi kepada mereka memberikan keterampilan tata rias. Saya juga berjuang mencarikan mereka bea siswa ke Kemendikbud. Jadi, sinergi ini benar-benar efektif. Intinya saya ingin semua masyarakat bisa dan mampu mengusai keterampilan tata rias untuk perekonomian yang lebih baik,” timpal Bu Agung. Kerjasama yang cukup baik antara Bu Agung (LKP Agung)
Bu Agung tampak akrab bersama Viva 3 Generasi. Duduk : Masmuin Kuntjoro dan Murni Tjandra. Atas: Bu Agung (kiri), Theresia I. Kuntjoro, Yusuf Wiharto, dan salah satu staf PT Vitapharm
dengan Viva Cosmetics ini di tunjukkan pula dengan hadirnya “Viva 3 Generasi” yakni opa dan oma (Masmuin Kuntjoro dan Murni Tjandra), ibu (Theresia I. Kuntjoro), cucu (Yusuf Wiharto), dalam acara Seminar Tata Rias sekaligus Uji Kompetensi yang digelar di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Jumat (14/11). Acara yang dibuka Wali Kota Denpasar IB Rai D. Man tra beserta Ny. Selly D. Mantra itu dirangkaikan juga dengan penyeraha n 40 beasiswa dari Kemendiknas kepada warga Desa Dauh Puri Kaja dan Peguyangan Kaja, Denpasar. Selain Viva, Bu Agung juga kerap didukung The Gamelan Ary Suta Center Philharmony, terutama ketika mengisi acara di Jakarta. Tiap penampilannya, selalu
menggunakan busana adat Bali, seperti pusung tagel atau tengkuluk lelunakan. “Saya bersyukur didu kung banyak pihak. Karena kami tak akan bisa kerja sendiri. Sinergi ini tentunya untuk mendukung ajeg Bali,” ucap Bu Agung. DISKON 50% KURSUS TATA RIAS Melihat antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap bidang tata rias dan busana adat Bali ini, Bu Agung memberikan kesempatan luas kepada masyarakat umum untuk mengikuti kursus reguler di LKP Agung dengan memberikan diskon 50%. Materi yang diajar kan mencakup Tata Kecantikan Kulit, Tata Kecantikan Rambut, dan Tata Rias Pengantin. LKP Agung memiliki tempat belajar yang memadai dan kondusif di
dua tempat di Denpasar, dan dita ngani langsung Bu Agung dibantu instruktur lain yang mempunyai latar belakang keahlian dan peng alaman legal yang telah mengan tongi sertifikat kompetensi di bi dang tata kecantikan. Disediakan pula beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecan tikan. Semua peralatan kursus disiapkan lembaga. Syarat dan ketentuan berlaku. Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 081 1393602, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www.salonagung.com.
Ny. Satria Naradha, Ny. Bintang Puspayoga, dan Bu Agung diterima Ary Suta bersama Ny. Otie Ary Suta dalam sebuah kesempatan di Jakarta
–Inten Indrawati
Inspirasi
4
24 - 30 November 2014
Retno Lestari Priansari Marsudi
The Iron Lady Indonesia Karier menjulang, keluarga yang harmonis, rasanya hidup Retno Lestari Priansari Marsudi terlihat begitu sempurna. Wanita yang dijuluki ‘The Iron Lady’ oleh pers Belanda ini, mengaku sangat terberkati dengan apa yang diraihnya dalam kehidupan ini. Baginya, meski kariernya bersinar cemerlang namun keluarga adalah yang utama. “Saya ini tak akan mampu menjadi seperti sekarang kalau bukan karena dukungan keluarga. Saya merasa beruntung memiliki keluarga yang luar biasa,” ungkap Retno.
S
enin 27 Oktober 2014 bisa dibilang menjadi hari bersejarah bagi Retno, saat itu ia dilantik sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu). Pengangkatan ini sekaligus menoreh sejarah baru bagi Indonesia yang untuk pertama kalinya memiliki Menteri Luar Negeri perempuan. Sebagaimana diketahui, jabatan Menteri Luar Negeri biasanya ‘dikuasai’ oleh kaum laki-laki. Sejak merdeka 69 tahun lalu, tonggak kepemimpinan diplomasi Indonesia selalu dijabat oleh tokoh-tokoh pria, di antara nya, Achmad Subarjo, Sutan Syahir, Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, hingga Hassan Wirajuda dan Marty Natalegawa. Namun kini di era ‘Jokowi-JK’, perempuan diberi kesempatan memimpin garda utama diplomasi Negara di tatanan internasional. Retno dikenal sebagai negosiator handal, liat, detil dan forceful, tegas, disiplin tinggi, pantang menunda pekerjaan. Dan, Jokowi tahu itu. Kabarnya, tidak sebagaimana kebanyakan calon menteri lainnya yang dihubungi pada ‘detik-detik terakhir’, Retno justru telah dihubungi jauh-jauh hari. “Saya telah sangat diberkati dalam hal karier saya,” ungkap Retno yang juga menjadi orang pertama Indonesia yang memperoleh bintang jasa ‘Order of Merit’ dari Raja Norwegia saat dia menjadi Duta Besat RI di Islandia dan Norwegia. Ya, Retno memang patut amat bersyukur karena ia bukan hanya berhasil meraih karier yang cemerlang tapi rumah tangganya pun ‘aman tentrem’. Padahal, berkarier di bidang diplomatic bukan hal yang mudah bagi seorang perempuan apalagi yang telah berkeluarga. Mobilitas yang tinggi dan kerap melanglang buana adalah tantang an tersendiri. Belum lagi karena jabatan yang diembannya, mengharuskan dia menetap sementara di
luar negeri. Itu artinya dia tidak bisa selalu bersama keluarganya. “Saya akui, ketika profesi ini dipegang seorang wanita, ada tantangan tersendiri. Apalagi bila sudah berkeluarga. Tapi menurut saya yang terpenting adalah team work dalam keluarga,” katanya seraya mengucap syukur karena dirinya dikaruniai keluarga yang mendukungnya dalam segala hal. Menurut Retno, karier dan rumah tangga dapat berjalan se iring sejalan. “Tak ada yang perlu dikorbankan semuanya bisa berjalan beriringan,” kata wanita yang gemar bersepeda ke kantornya KBRI Den Haag sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Komunikasi adalah salah satu kuncinya, kata Retno. Dengan komunikasi yang baik, hubungan antara anggota keluarga bisa selalu terjadi meski tidak bertemu secara fisik. Dia sendiri ketika memilih berkarir di bi lang diplomatic sudah mengerti benar akan risiko yang akan dihadapi nya. Begitu juga sang suami, Agus Marsudi, yang mengerti benar konsekuensinya dengan mengizinkan istrinya te rus menekuni kariernya. Beruntung, Agus yang seorang arsitek memiliki pekerjaan yang ‘luwes’ sehingga punya banyak kesempatan mendam pingi istrinya saat bertugas ke luar negeri. Dua anaknya, Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi, juga memberi support yang luar biasa pada ibunya dalam berkarier. Menurut Retno, sejak kecil mereka telah diajarkan mandiri. “Saya tekankan mereka harus mampu ‘berdiri di atas kaki sen diri’,” tambahnya.
Retno Marsudi dan suaminya Agus Marsudi di Belanda
TAK LUPA ‘AKAR’ Wanita kelahiran Semarang 27 November 1962 ini mengaku, sekalipun kerap melanglang buana dan berinteraksi dengan nilai-nilai internasional, namun ia bukanlah orang yang lupa pada ‘akarnya’. Karena ia tahu orang yang sukses adalah orang yang memiliki ‘akar’ yang kuat. Dalam kehidupan kesehariannya, ia menerapkan pendekatan ‘olah rasa’ , sesuatu yang membuatnya lebih sensitive pada lingkungan. Menjadi diplomat telah menjadi cita-cita Retno sejak remaja. Itu sebabnya setamat SMA ia mengambil jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Prestasi akademik yang bagus, membuat Departemen Luar Negeri (Deplu) kepincut. Ia berhasil lolos tes sehingga berhak atas beasiswa yang diberikan Deplu bagi mahasiswa berprestasi.
Retno Lestari Priansari Marsudi
Setamat kuliah yang diselesaikannya dalam tempo relative cepat--- 3 tahun 10 bulan dan menjadi lulusan Fisipol Termuda saat itu--- ia langsung mengikuti serangkaian pendidikan diplomat untuk kemudian menempati sejumlah penugasan. Bagi Retno dunia diplomasi sangatlah menarik dan dinamis. Seorang diplomat harus menjalani mobilitas tinggi dan berinteraksi dengan berbagai golongan masyarakat. “Saya sangat menikmati profesi ini,” tambahnya. Salah satu yang mengesankannya adalah saat bertugas di Canberra, Australia, sebagai staf penerangan,
tahun 1990-an. Saat itu hubungan Indonesia sedang tegang karena masalah Timor Timur. ”Waktu itu betul-betul masa yang sangat challenging bagi diplomat Indonesia yang ada di Australia. Mulai dari ancaman, blockade sampai bagaimana kita harus bisa menghadapi pers, masyarakat serta pemerintah Australia,” ujar penyuka jogging dan naik gunung ini. Berbagai penugasan membuat Retno semakin matang. Ia juga termasuk salah satu negosiator ulung yang dimiliki Deplu. Ia piawai memainkan peran dalam memposisikan Indonesia dimata dunia. Tak heran ia kerap memimpin delegasi Indonesia untuk berbagai perundingan penting. Kehandalan Retno dalam bernegosiasi juga diakui oleh mantan Ketua Kontras, Usman Hamid. Keduanya pernah berkerja sama dalam Tim Pencari Fakta (TPF) Kasus Pembunuhan Aktivis HAM Munir. Retno yang juga anggota TPF harus melakukan negosiasi diplomasi yang sangat alot dengan pihak Belanda, tempat dimana Munir ditemukan tewas tak kala pesawat yang membawanya mendapat di bandara udara Schipol, Belanda. Bagi Retno, pengalamannya bekerja dalam TPF Munir memberi sebuah pelajaran yang tak pernah akan dapat diperolehnya dari sekolah manapun. –Diana Runtu
24 - 30 November 2014
Mandalika
NTB “Dijual” di WIC
21
West Nusa Tenggara, a hidden paradise. Kalimat ini tertulis di backdrop yang dipasang di panggung utama acara Women International Club (WIC) ke-47 tahun 2014, yang berlangsung di Hall B Jakarta Convention Centre (JCC), beberapa waktu lalu.
K
eunikan ragam budaya Nusa Tenggara Barat tampil di acara Women International Club (WIC) ke47 tahun 2014. Kegiatan bazar amal yang dibuka secara resmi oleh ibu negara Hj. Iriana Joko Widodo, Rabu (19/11) ini, mengangkat tema tentang Nusa Tenggara Barat. Mulai dari Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo, Hj. Mufidah Jusuf Kalla, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof. Dr. Yohana Susana Yembise, Ketua Dekranasda NTB, Hj. Erica Zainul
suatu”. Sesuatu itu, salah satunya adalah keunikan dan kekayaan budaya Sasak, Samawa, Mbojo, tiga suku asli (Lombok, Sumbawa dan Bima) yang ada di daerah tersebut yang berhasil “dijual” Dekranasda NTB untuk dapat meraih kesempatan ini. Itulah sebabnya, dari 34 provinsi di Indonesia, Bumi Gora berhasil terpilih sebagai partner WIC ke-47 tahun 2014 untuk menjadi tuan rumah. Menurut Erica, budaya Nusa Tenggara Barat ditampilkan setiap hari selama WIC ini berlangsung, 1920 November 2014. “Ini adalah
Hj. Erica Zainul Majdi (tengah) bersama tim dari Dekranasda NTB
Majdi, Ketua Dekranasda Jakarta, Veronika Basuki Tjahya Purnama, juga panitia dan pengurus WIC, menggunakan kain motif tenun/ songket Sasak, Samawa dan Mbojo. Tampilnya Nusa Tenggara Barat sebagai partner ajang WIC yang beranggotakan istri para duta besar negara-negara sahabat dan ibu-ibu yang memiliki kepedulian sosial dan kemanusiaan ini, tidak lepas dari keberhasilan networking yang dibangun oleh Dekranasda NTB di bawah kepemimpinan Erica. Mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah kegiatan sekelas WIC bukanlah hal yang mudah, jika memang NTB tidak memiliki “se-
kesempatan emas bagi NTB untuk memperkenalkan diri kepada dunia,” ungkap Erica. Dalam bazar ini diikuti 48 gerai mancanegara yang menjual barang dari setiap negara, juga 217 gerai usaha dan makanan yang mempromosikan kesenian dan kebudayaan Indonesia, adalah ajang penting bagi Nusa Tenggara Barat untuk tampil “memamerkan” keberagaman budayanya. Keindahan dan keunikan tenun songket Nusa Tenggara Barat, membuat Ibu Negara spontan menggeser posisi berdirinya dari podium saat menyampaikan sambutannya, demi memamerkan kepada seluruh tamu undangan keindahan kain motif Nusa Teng-
Proses pembuatan tenun NTB dipamerkan pada Ibu Negara, Hj. Iriana Joko Widodo dan para tamu VVIP
Hj. Erica Zainul Majdi bersama Ibu Negara dan Pengurus WIC
gara Barat yang dipakainya. Selain memberikan apresiasi terhadap kiprah WIC selama ini, Iriana juga mengapresiasi pemerintah dan masyarakat NTB yang dinilainya memiliki kekayaan dan keunikan budaya, panorama alam, pantai dan gili yang indah, kerajinan, kuliner, mutiara dan lain-lain yang menarik minat wisatawan untuk datang berkunjung ke Lombok dan Sumbawa. Nuansa Nusa Tenggara Barat terasa kental selama kegiatan berlangsung, khususnya pada acara pembukaan. Dua layar raksasa yang berada di samping kiri dan kanan panggung utama serta enam buah monitor layar lebar, secara terus-menerus menayangkan film promosi pariwisata “experience the wonder - Visit Lombok Sumbawa” yang memperlihatkan keindahan NTB sebagai surga tersembunyi. “Bahkan di latar panggung utama terpampang birunya Gunung Rinjani, rumah tradisional lengge Suku Mbojo Bima, pacuan kuda dan air terjun benang kelambu,” ujar Drs. HL. Gita Aryadi, Ketua Harian Dekranasda NTB. Gending gamelan pesasakan yang ditabuh sekehe dari anjungan NTB di Taman Mini Indonesia Indah, mengalun merdu meng iringi gadis-gadis menarikan tarian
“dedare sukerare”. Ibu Negara Iriana, menandai pembukaan kegiat an ini dengan pemukul an gendang beleq (alat musik tradisonal Sasak). “Ini menjadi ajang penting untuk memperkenalkan syurga tersembunyi dari Nusa Tenggara Barat,” lanjut mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, NTB ini. Kesempatan baik ini dipergunakan Erica untuk menjelaskan tentang kain tenun dan k erajinan-kerajinan khas NTB kepada Ibu Negara, Iriana, Hj. Mufidah Jusuf Kalla dan Presiden RI kelima, Megawati Soekarno putri ketika mengunjungi beberapa stan utama khususnya saat Ibu Negara spontan menggeser posisinya m e n g u n j u n g i s t a n untuk bisa pamer kain tenun NTB yang dipakainya dekranasda NTB yang menampilkan aneka ragam corak (pakaian khas perempuan suku dan motif kain tenun dan kerajin Sasak). Selain menampilkan berbagai an ketak hasil kerajinan tangan masyarakat NTB. Di stan ini, produk kerajinan dari berbagai Ibu Negara dan tamu VVIP lain- negara dan daerah, bazar amal juga nya juga menyaksikan peragaan menampilkan berbagai atraksi ke nyesek (menenun) yang dilakukan senian antara lain Tari Kathak dari seorang gadis berbaju lambung India, Tari Enggang dari Kalimantan, tari tradisional Serng Isan dari Thailand, Pertunjukan Hula dari grup Haoloha Hoku-Ke’a Jepang, orkestra angklung Sunda, Tari Cilinaya dari Bali, tarian Rusia, tari Yavi Rau dari Fiji dan lain lain. “Dekranasda NTB akan memanfaatkan setiap momentummomentum strategis seperti di WIC ini untuk terus mempromosikan potensi dan hasil karya para perajin di daerah, sembari terus berupaya meningkatkan skill pengrajin, pemutahiran desain, manajemen dan tentu menjalin kemitraan penguatan modal bagi pengrajin,” kata Erica. Ibu Negara memukul Gendang Beleq membuka Basar WIC ke-47 -Naniek I. Taufan
Metropolitan
22
Menyusuri Jejak Hindu di Kampung Tugu Kampung Tugu di Kelurahan Semper Barat, Jakarta Utara, kini tidak asri lagi. Kampung yang dulunya adalah areal persawahan dan perkebunan, kini terlihat gersang dan menjadi areal parkir kontainer yang berhimpitan dengan pemukiman padat penduduk. Peninggalan masa lalu, nyaris tak tersisa. Padahal Kampung Tugu yang merupakan salah satu kampung tertua di Indonesia, begitu sarat dengan nilai-nilai historis perjalanan Indonesia.
D
i sana ditemukan ‘jejak’ Kerajaan Ta r u m a n a g a r a , sebuah kerajaan Hindu yang menguasai wilayah barat Pulau Jawa pada abad ke 4 hingga ke 7 M. Di sana juga ditemukan ‘jejak’ orang-orang Portugis yang pernah berkuasa sebelum akhirnya dikalahkan Belanda. Tapi jejak kisah-kisah yang kini hanya ada dalam catatan sejarah itu, ‘nyaris’ tak terlihat lagi. Beruntung, ‘identitas’ itu belum sepenuhnya terhapus lantaran ada Gereja Tugu yang tetap berdiri kokoh. Bentuk gereja yang didirikan p a d a tahun 1744 i n i , tetap
dipertahankan hingga kini dan itulah yang menjadi saksi sejarah kehadiran warga Portugis di sana. Namun, sebenarnya gereja yang ada sekarang adalah bangunan ketiga setelah dua bangunan yang didirikan sebelumnya (terbuat dari kayu), yakni tahun 1678 dan 1738, hancur. Memang disayangkan, kesadaran mempertahankan nilai-nilai sejarah sangat minim, baik pemerintah maupun masyarakat setempat. Kampung tertua di Jakarta itu, dibiarkan tumbuh mengikuti perubahan kondisi sosial, ekonomi d a n politik
Sosialita
24 - 30 November 2014
24 - 30 November 2014
3
Komang Komarasari Astiti
Melengkapi Kebahagiaan Hati Tri Kaya Parisudha, itulah pedoman hidupku. Berpikir yang benar, berkata yang benar, berbuat yang pun yang benar. Tri Kaya Parisudha, Tri Kaya Parisudha itulah pedoman hidupku. Demikian syair lagu “Tri Kaya Parisudha” yang sering didendangkan anak-anak Pasraman “Beji Mandala Asti” di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Kebupaten Buleleng.
A
perkotaan. Tidak ada ‘proteksi’ terhadap kawasan bersejarah itu, kecuali penetapan Gereja Tugu sebagai cagar budaya. Maklum, kebanyakan masyarakat bukanlah penduduk asli kampung itu, sementara penduduk aslinya hanya tersisa sedikit. Mereka kini menjadi ‘minoritas’ di kampungnya. Memang ada upaya dari pemerintah kota Jakarta Utara untuk menghidupkan kembali kejayaan Kampung Tugu sebagai pusat kesenian campuran, yakni, Betawi dan Portugis. Namun, usaha yang dilakukan masih belum maksimal. Sedang sebagian kecil penduduk asli keturunan Portugis berupaya mempertahankan kesenian Keroncong Tugu. Meski disebut ‘keroncong’ namun musik dari ‘Keroncong Tugu’ ini sungguh berbeda dari keroncong yang biasa kita dengar. Dari segi tempo, Keroncong Tugu lebih cepat dan dinyanyikan lebih bersemangat. Karena itu, musik ini juga dipakai untuk mengiringi orang berdansa. Alat musiknya pun agak berbeda. Pada gitar misalnya, lebih kecil dari gitar biasa dengan jumlah senar lima. Di kalangan penduduk Tugu, gitar ini disebut “jitera” yang dibuat dari batang pohon waru yang dibobok. Oma Quiko bercerita, dulu sebagian keturunan Portugis di kampung itu, berbicara dalam bahasa Portugis campur Melayu. Namun, seiring waktu, penggunaan bahasa itu pun terkikis menjadi pemakaian bahasa Indonesia. Hal ini karena adanya pendeta Melchior Leijdekker yang memperkenalkan bahasa Indonesia. Tentang kebudayaan masa lalu, katanya, tidak banyak yang bisa dipertahankan. “Yang masih ada hingga sekarang adalah musik Keroncong Tugu juga beberapa tarian Portugis yang selalu ditampilkan se-
tiap Festival Tugu,” kata Oma yang berusia 80 tahun ini. JADI TEMPAT KERAMAT Tentang asal usul penamaan Kampung Tugu ini, ada banyak versi yang berkembang. Ada yang menyebut berasal dari kata Portugu-ese (Portugis). Namun ada yang berkeyakinan bahwa nama itu muncul berlatar belakang sejarah, yakni ditemukannya prasasti (batu tulis) bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta. Prasati yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi ini, merupakan salah satu dari tujuh prasasti Raja Purnawar-
Secara garis besar, prasasti itu bercerita tentang Purnawarman memerintahkan pembuatan saluran irigasi sepanjang 15 km diberi nama Candrabhaga. Ia juga memerintahkan menggali kali Gomati. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau. Sungai Candrabhaga dalam prasasti Tugu tak lain adalah bagian dari Kali Cakung yang sekarang masih mengalir di daerah Tugu. Entah benar atau tidak, sempat
Gereja Tugu
man dari Kerajaan Tarumanagara. Prasasti berbentuk bulat telur itu ditemukan tahun 1879 dan kemudian disimpan di gedung Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Watenschappen (sekarang disebut Museum Nasional) pada 1911. Prasasi ini dibuat terkait dengan selesainya pembangunan dua sungai Candrabhaga dan Gomati. Lokasi ditemukannya prasasti itu sempat menjadi tempat keramat bagi masyarakat. Bahkan, kata warga setempat, sampai tahun 80an tempat tersebut sering diziarahi orang. Mereka membuat bangunan sederhana berpagar bilik di atas lokasi bekas penggalian prasasti. Tapi tempat itu kini telah tergusur oleh pembangunan jalan tembus Tugu menuju kawasan pergudangan Cakung.
muncul dugaan kalau ibukota Kerajaan Tarumanagara berada di sekitar Kampung Tugu, di dekat aliran Kali Cakung. Hal ini berdasarkan penelitin J Noorduyun dan H Th Verstappen pada tahun 1972. Setelah masa Kerajaan Tarumanagara berakhir, tidak tercatat lagi apa yang terjadi pada kawasan Kampung Tugu. Nama itu baru kembali muncul dengan adanya kekalahan Portugis dari Belanda dalam Perang Malaka. Konon, sebagian dari tawaran Belanda (orang-orang Portugis) dibuang di kawasan Kampung Tugu yang ketika itu merupakan daerah hutan dan rawa. Keberadaan orang-orang Portugis yang kemudian kawin dengan penduduk lokal dan ikut mempengaruhi kebudayaan masyarakat setempat. –Diana Runtu
lunan lagu dengan syair yang indah ini membuat yang menyanyikan akan meresapi dan menjadi tahu bahwa selalu berpikir, berkata dan berbuat yang baik, karena itulah pedoman hidupnya. Demikian yang disampaikan Dra. Komang Komarasari Astiti, M.M., pemilik Bali Mas ACE Tour & Travel dan Pendiri Yayasan Dinamika Ananda Nusantra tahun 2006 yang menaungi Pasraman “Beji Mandala Asti”di rumah sekaligus kantornya di Perumahan Pondok Galeria pekan lalu. Setiap Minggu, perempuan yang juga dikenal dengan nama Byang Mangku Komang Komarasari Astiti ini, bersama sang suami Guru Mangku Made Sedana Putra pulang ke Buleleng, untuk segera berkumpul bersama anak –anak peserta pasramannya. Di sana, sebelum menginjak pada materi yang akan diberikan, setelah melakukan Tri Sandya dan doa memulai pekerjaaan, seluruh anak melantunkan lagu “Tri Kaya Parisudha” untuk menciptakan atmosfir yang kondusif bagi mereka. Langkah kecil tapi nyata ini yang dilakukannya, untuk turut menyiapkan calon SDM yang bukan hanya berbudi pekerti luhur, tapi juga berkualitas. Program pasraman merupakan praktek secara nyata yang dilaksanakan, di sekolah hanya sebatas teori ilmu pengetahuannya saja. Saat ini anggota pasraman adalah murid TK, SD, dan SMP. “Dengan memahami pedoman hidup ini, diharapkan anak-anak bisa menularkan kepada keluarga masingmasing, teman di sekolah bahkan di lingkungan sekitarnya,” ujar Astiti yang dipanggil Ninik oleh anak-anak Pasraman, yang didirikannya sejak enam bulan lalu tersebut. “Kami menjalankan kegiatan pasraman yang bernafaskan agama Hindu dan budaya Bali dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Seperti selalu menggunakan salam umat Hindu (panganjali umat) saat berjumpa seseorang atau memulai suatu pembicaraan dalam pertemuan, yakni “Om Swastyastu “ (semoga selalu dalam keadaan selamat di bawah lindungan Tuhan) Aktivitas di hari Minggu pun dilanjutkan dengan mewarnai dan menggambar. Bagi anak-anak yang belum mau pulang ke rumah masing-masing takkala kegiatan di pasraman usai. Kegiatan lainnya yang ada di pasraman juga menumbuhkan kemandirian dan keberanian setiap anak untuk tampil. “Misalnya kami bertanya siapa hari ini yang mau memimpin Tri Sandya, anak-anak sudah berani saling mendahului tunjuk tangan,” ucapnya penuh semangat. Bukan hanya, rupanya potensi seninya pun ikut bertumbuh , bahkan mereka sudah pula memiliki seka janger dan sudah pernah pentas. Anak-anak juga dilatih untuk melakukan pelaksanaan pedoman kegiatan sehari-hari sebagai umat Hindu, seperti Tri Sandya tiga kali sehari. Begitu juga dengan doa seharihari mulai dari doa bangun tidur “Om prabatha kalasca ya namah swaha “ ( Oh Hyang Widhi, hamba memujamu, bahwa hamba telah bangun pagi dalam keadaan selamat). Doa memulai suatu pekerjaan, “Om awighnam astu namo sidham, Om sidhirastu tad astu swaha (Ya Tuhan, semoga atas berkenanmu, tiada suatu halangan bagi hamba memulai pekerjaan ini dan semoga berhasil baik). Doa sebelum makan, “Om anugraha amrtadi sanjiwani ya namah swaha” (Oh Hyang Widhi, semoga makanan ini menjadi amerta yang menghidupkan hamba). Doa menjelang tidur, “O m a s a t o
ma sat ganaya tamaso ma jayatir ganaya, mrityor mamritam gamaya” (Ya Tuhan tuntunlah hamba dari jalan yang sesat menuju jalan yang benar, dari jalan gelap ke jalan terang, hindarkanlah hamba dari kematian menuju kehidupan abadi) . Doa mengakhiri pekerjaan, “Om Dewa Suksma Parama Acintya Ya Namah Swaha, Sarwa Karya Prasidhantam Om Santih, Santih, Santih, Om (Ya Tuhan, dalam wujud parama acintya yang maha gaib dan maha karya, hanya atas anugrahmulah maka pekerjaan ini berhasil dengan baik. semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selamanya). Selama melakukan aktivitas di pasraman, kata ibu dari Putu Agus Satria Jayatama S Putra, S.Ked., dan Made Prima Sakti Jayatama S Putra ini ia juga menekankan tentang Tat Twam Asi, saya adalah kamu, kamu adalah saya. Dengan ini, diharapkan anak-anak akan saling menghormati satu sama lainnya, menghargai sesama teman, dan sesama umat. “Kami juga melatih kepribadian, dengan mengingatkan menjaga bebersihan tubuh hingga cara berbicara yang baik dan bahasa yang santun. Juga untuk selalu mengedepankan etika, baik untuk berpakaian, bertamu, makan termasuk etika terhadap sesama umat,” lanjut Astiti didampingi sang suami. SAMA – SAMA BAHAGIA Untuk mengimbangi kepenatan setelah anak-anak disibukkan kegiat an belajar di sekolah juga berbagai ekstra kurikuler, maka pada Minggu pagi atau Sabtu sore , Astiti mengajak mereka bersama jalan kaki ke pantai, mandi di laut, senam atau yoga dan relaksasi. “Biasanya pada kegiatan relaksasi, anak-anak dibiarkan tidur sebisanya dengan tetap dipantau sambil mendengarkan alunan musik alam yang damai. Mereka seringkali terlelap sampai 10 - 15 menit. Setelah itu, kami bangunkan kembali, dan anak-anak terlihat lebih segar,”ujar putri ketiga dari lima bersaudara dari pasutri Ketut Sundia Wiyasadan Ni Ketut Sri Suadi ini. Peserta pasraman juga diajarkan selalu menjaga lingkungan hidup, kebersihan, dengan membiasak an membuang dan memasukkan sampah pada tempatnya dan sesuai jenis sampahnya, sampah plastik, sampah kertas, dan sampah organik yang semuanya disediakan di lingkungan pasraman, Harapannya anak-anak juga akan melakukan hal yang sama di rumah, di sekolah dan di mana saja, sehingga kebersihan di lingkungan dapat terjaga dengan baik. Ia juga menjelaskan kalau kegiat an seminggu sekali ini berlangsung selama 2 jam secara kontinyu. Setiap pertemuan selalu diakhiri dengan makan bersama ala kadarnya, lengkap dengan mengucapkan doa sebelum makan agar makanan tersebut berguna bagi kesehatan tubuh anak-anak, dan tidak lupa mengucapkan doa
Astiti dan keluarga
mengakhiri kegiatan di pasraman. Salah satu peritiwa yang menarik, katanya adalah cerita seorang ibu yang menyampaikan , putrinya yang peserta pasraman ketika hendak makan bersama, meminta kakak dan ibunya duduk dulu, kemudian diajak bersama-sama memegang piring nasinya dan si anak pun memimpin keluarganya berdoa sebelum makan. Ada lagi cerita lainnya yang membuat Astiti tertegun, ketika seorang anak berkata, “Ninik... Ariesta sudah mengikuti Ninik belajar bisnis... membuat kue”. “ Padahal di setiap pertemuan kami tidak pernah menyebut atau menyinggung soal bisnis. Mungkin saja orangtua mereka yang menyampaikan kalau kami berbisnis, biar bisa membantu orang,” katanya mengenang sambil tersenyum. Ditanya apa yang diperoleh dari aksi sosialnya ini, Astiti mengakui kegiatan ini, adalah bagian dari mimpinya sejak lama yang ingin memiliki panti asuhan. Namun, hal
tersebut belum dapat terwujud, maka langkah ini baginya menjadi awal yang cukup indah. Apa yang dilakukan katanya melengkapi kebahagian hatinya dalam hidup ini. Bahkan putranya sangat mendukung dengan membantu dengan melakukan pemeriksaan kesehatan pada anak-anak di pasrmana. Astiti juga pun menambahkan ia sangat menikmati dunia anak yang penuh keceriaan tanpa beban. Suasananya berhasil menyegarkan jiwanya. “Anak-anak itu juga berhak bahagia dengan segala kegiatan yang dilakukannya di sini,” katanya. Begitulah selintas kegiatan yang dilaksanakan di Pasraman “Beji Mandala Asti”, yang konsepnya murni untuk yadnya disertai suatu harapan luhur. Ke depannya, generasi muda umumnya dan khususnya di kalangan Maha Warga Bhujangga Waisnawa akan menjadi generasi yang berbudi pekerti luhur, panutan yang baik di masyarakat dengan pribadi yang lebih baik dan mulia.-ard
Astiti dan anak-anak Pasraman
2
Ekspresso
24 - 30 November 2014
GORO-GORO
DAri daPUr Redaksi
Recharge Power Melaksanakan banyak aktivitas kadang membuat kita bingung. Mana yang harus didahulukan. Mana yang menjadi prioritas. Bagaimana caranya agar semua kegiatan bisa dilaksanakan sampai tuntas? Jawabannya adalah mengenali potensi diri. Kita harus tahu sebatas mana kemampuan kita, dimana keahlian kita, dan siapa yang kita akan bekerja. Kalau sudah saling memahami, kegiatan yang berat pun akan terasa ringan. Hal yang penting adalah masingmasing personal memahami tugas dan tanggung jawabnya. Pengenalan potensi diri ini kami dapatkan dari pelatihan singkat bersama Ida Ayu Maharatni, S.Psi. Wanita yang akrab disapa Dayu Nanik ini memberikan cara pengenalan diri kepada kami. Dari hasil tes yang diberikan, kami menjadi tahu dimana kekuatan kami dan dimana kelemahan kami. Dalam kerja tim, potensi kekuatan inilah yang
Putu Wijaya
Suasana pelatihan mengenali potensi diri
harus disinergikan. Dari hasil pelatihan singkat yang kami anggap sebagai recharger power ini juga menjadi modal untuk menghadapi tahun 2015. Agenda-agenda kegiatan sudah kami siapkan. Semoga semua bisa terlaksana. Edisi kali ini kami persembahkan untuk para guru karena tanggal 25 November diperingati sebagai Hari PGRI.
Para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa banyak memberi kontribusi dalam kehidupan ini. Beberapa kisah guru kami tampilkan untuk dijadikan cerminan. Menjadi guru yang baik itu susah karena harus bisa menjadi teladan bagi siswa. Namun, walaupun berat, masih ada yang mau menjadi guru. Guru tak harus di sekolah. Di mana pun kita bisa menjadi guru asalkan bisa menjadi contoh yang baik. Salam
Gara-gara Jemuran Hari ini adalah hari yang menakutkan bagi semua orang, Malam Jumat Kliwon. Kata orang, saat malam Jumat Kliwon banyak hantu, setan, dan jin berkeliaran. Walaupun demikian, aku dan teman-temanku, Tini, Winda, dan Luh De telah sepakat akan menonton film horor terbaru yang berjudul Insidious 2. Malam ini begitu sunyi. Di rumah hanya ada aku dan adik laki-lakiku. Ayah dan ibuku masih bekerja di warung. Biasanya mereka pulang dari warung pukul 22.00. Apalagi kalau ada teman-teman bapakku, pasti diajak ngobrol semalaman. Sambil menunggu kedatang an Tini, Winda, dan Luh De. Aku menyiapkan laptop dan film yang akan ditonton. Tepat pukul 21.00 mereka datang. Dengan cepat mereka naik ke kasur dan menarik selimut sambil memegang erat bantal dan gu ling. Tak lupa mereka membawa beberapa keripik dan kacang untuk camilan. “Cepet dong, Er!” kata Winda “Awas lho, sekarang kan malam Jumat Kliwon, nanti
bacaan wanita dan keluarga
Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998
tahu-tahu ada hantu lagi. Hiiii seremm,” kata Luh De. Film pun diputar, awalnya semua berjalan lancar. Namun. tiba-tiba “Planggg” “Aduh, apaan tuh Er?” kata Tini. “Mana aku tahu, mungkin ada kucing yang jatuhin sesuatu di deket WC,” jawabku. “Coba cek, entar ada maling gimana? Aduh, bakalan hilang nih motorku. Yuk cek!” kata Winda panik. Akhirnya kami memutuskan untuk mengecek suara tadi. Langkah demi langkah kami telusuri. Angin berhembus membuat bulu kuduk merinding. Teringat malam ini adalah malam Jumat Kliwon menambah ngeri suasana. Tiba-tiba di pojok WC terlihat
samar-samar bayangan putih. Tini melihatnya dan berteriak. “Hantu...!!! Setan!!!! Kuntilanak!!!” Semua pun berlari keluar rumah. Di luar ada beberapa bapak-bapak yang kaget dan langsung menenangkan kami dan bertanya pada kami meng apa sampai berteriak. Dengan nafas terengah-engah kami menjelaskan bahwa ada hantu di WC. Bapak itu pun masuk dan mencoba mengecek. Ternyata bayangan putih tadi adalah jemuran baju putih milik adikku. OMG!! Malunya kita. Coba aja tadi aku enggak lupa menaikkan jemuran. Pasti enggak akan ada kejadian memalukan ini. Semua ini gara-gara jemuran. Ni Putu Erna Libya
Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan nomor kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373
24 - 30 November 2014
23
BBM
Santer selentingan BBM pasti akan naik. Sembilan bahan pokok dapur sudah ambil ancang-ancang untuk melompat. Ibu-ibu pada kesal. Lalu pemerintah disalahkan. Amat berusaha menjelaskan kenapa BBM harus naik, “Kalau tidak, kita akan bangkrut,” kata Amat. Ibu-ibu protes. “Bukan akan lagi, kita sudah bangkrut. Pak Amat kan tidak ngerti urusan dapur. Tahunya makanan sudah terhidang. Kalau telat, marah. Kalau kurang bumbu, langsung ngambek, makan di warung. Kan begitu, Bu Amat?!” Bu Amat bukan saja membenarkan, tapi juga menambahkan. “Seakanakan, dapur itu memang tugas, kewajiban dan tanggungjawab para ibu tok! Betul tidak, Pak?!” damprat Bu Amat kepada suaminya. Amat sebenarnya mau menjawab. Tapi membaca gelagat istrinya yang sudah digerpol ibu-ibu tetagga, ia merasa lebih bijak diam. Bu Amat jadi dapat angin. Ia terus mengupas sifat-sifat jelek kaum lelaki. “Itu menunjukkan bahwa kaum lelaki itu kurang bisa tenggang rasa. Tidak mau melihat persoalan secara bulat, tuntas dan lengkap. Mengagumi buku hanya dari kulitnya, tanpa membaca isinya! Betul tidak, Pak?” Amat mengangguk, seperti membenarkan. Padahal dalam hati berteriak: tidak!! “Bagaimana bisa masak kalau harga cabai, bawang, daging, garam, tomat, membubung, sementara uang jatah dapur tidak bertambah bahkan sering dikurangi dengan alasan ini-itu?!” Amat tidak sanggup lagi diam. Ia buru-buru masuk kamar. Merogoh dompet. Lalu kembali dengan sejumlah uang. “Ini!” kata Amat menaruh uang itu di meja depan istrinya duduk. Bu Amat terkejut. “Uang apa itu, Pak?” “Uang suami yang tidak mau direcokin tetek bengek dapur, untuk menjaga ketenangan bekerja!” Bu Amat nampak bingung. “Ketenangan bekerja?” “Ya!” Amat langsung ngeloyor keluar rumah, sebelum istrinya sempat menjawab. Ia keki merasa disindir. “Mestinya ibu kamu itu ngomong saja terus-terang minta tambahan biaya belanja dapur,” kata Amat pada Ami, di rumah Ami. “Mestinya ibu kamu itu melihat bapak ini tidak seperti laki-laki lain, yang egois, yang tidak peduli urusan dapur,” lanjut Amat. “Mestinya ibu kamu, jangan menampung semua hasutan dan kasakkusuk ibu-ibu tetangga yang kerjanya hanya nonton sinetron dan mekutu di rumah, sementara suaminya seradak-seruduk, jatuh-bangun cari nafkah! Mestinya....” Ami cepat memotong. “Mesti bapak mengerti, ibu itu lelah, ingin ngobrol apa saja untuk melepaskan bebannya!” Amat terkejut. Ami terus menyambung. “Mestinya Bapak paham, perhatian bapak, kesediaan bapak untuk mendengarkan dengan sabar unek-unek ibu, akan membuat ibu kembali segar dan bersemangat kerja di dapur, walau pun harga sembako melonjak, sedang belanja yang bapak berikan tidak cukup!” Mestnya ....” Amat mau menjawab, tapi Ami tidak memberi kesempatan. “Mestinya, setelah hidup bersama puluhan tahun, bapak mengerti sifatsifat ibu yang sabar, setia dan tidak pernah mengeluh meskipun bapak bawa ibu ke neraka! Mestinya ...”. Amat langsung pulang. Ia merasa bahwa ia sudah bersikap tak adil. Ia memang seperti kata istrinya, laki-laki yang egois. Sampai di rumah, ternyata rumah kosong. Tapi di meja makan sudah siap makanan dengan lauk-pauk yang disukai Amat. Ketika Amat membalikkan piring nasi yang tertelungkup, ia hampir berteriak, karena di situ menggeletak uang yang pagi tadi diberikanya. Hampir malam, baru Bu Amat pulang. Nampak sangat lelah. Ia langsung tidur, mandi pun tak sempat. Amat lalu menghampiri, memijit kakinya. Bukannya terbangun, Bu Amat malah makin dalam tertidur. Amat menyelimuti tubuh istrinya, ketika terdengar pintu depan diketuk. Ia bergegas ke depan. Ternyata pembantu orang kaya yang baru pindahan itu. “Saya diminta nyonya menanyakan, apa Bu Amat besok bisa datang lebih pagi, karena cucian banyak sekali?” Amat bingung. “Cucian apa? Kok istri bapak disuruh datang lebih pagi?” “Ya. Kalau tidak, nyonya akan cari orang lain.” Amat tambah bingung. Untung istrinya datang dan menjawab. “Katakan pada Nyonya, tidak bisa. Ibu sudah tertalu tua, tenaga ibu tidak kuat lagi menjadi tukang cuci. Ibu berhenti.” Amat ternganga. Baru sadar bahwa selama ini, ia sudah bangkrut! Uang belanja dapur tak pernah cukup. Tapi sebaliknya dari mengeluh apalagi protes -seperti ibu-ibu tetangga- istrinya diam-diam berjuang melawan biaya hidup yang terus melonjak, walaupun BBM tidak naik.
Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budia rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Sek retariat: Ayu A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Palm erah B arat 21 G Jakarta Pusat 10270– Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–Telepon (0370) 639543– Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456– F aksim ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BRI Cabang G ajah Mada Denpasar. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 0017-01-001010-30-6. Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.
Dekranasda Kota Denpasar Bersinar di Ajang Bali Fashion Tendance 2015 Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Denpasar berhasil membawa material endek untuk mewarnai pagelaran “Bali Fashion Tendance 2015” bertemakan “Svarga Svarna” yang digelar Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Bali, Sabtu (15/11) di ST Suites, Seminyak, Kuta.
D
alam acara yang menampilkan gambaran tren busana 2015 dan melibatkan 45 desainer lokal maupun luar negeri tersebut, Dekranasda Kota Denpasar turut memeriahkan acara dengan menghadirkan empat desainer lokal Kota Denpasar. Mereka adalah Rhea Cempaka, Suandewi Anyar, Sri Sri Embroidery & Textile, dan Kwace Bali, yang tergabung dalam Asosiasi Bordir, Endek, dan Songket (Asbest) Kota Denpasar. Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ida Ayu Selly D. Mantra mengatakan, ini pertama kalinya pengrajin atau UKM Kota Denpasar ambil bagian dalam acaranya APPMI Bali. Program ini merupakan rangkaian kegiatan Pra –Denpasar Festival (Denfes) 2014. Tujuannya jelas, untuk mengangkat, mengembangkan, serta melestarikan tenun ikat Bali yang bernama endek. “Selain itu, APPMI Bali dalam even ini juga sama turut mengangkat material kain tenun khas Bali. Jadi, tepat rasanya jika progam kami bersinergi untuk terus melanjutkan promosi endek sebagai salah satu produk unggulan Kota Denpasar di kalangan
yang lebih luas dengan melibatkan desainer berbakat dan pengrajin binaan Dekranasda,” ucapnya. Dikatakannya pula, ajang ini menjadi ujian untuk peningkatan kualitas penampilan karya keempat anggota Asbest tersebut. Dan, secara keseluruhan Selly D. Mantra melihat apa yang ditampilkan di panggung Bali Fashion Tendance 2015 kali ini, semuanya mengalami peningkatan dengan semakin terlihatnya karakter masing-masing. “Ini karena pengalaman mereka yang semakin sering tampil,” katanya saat ditemui usai menyaksikan langsung acara fashion show di ST Suite , Seminyak, Kuta pekan lalu. Selanjutnya istri orang nomor satu di Kota Denpasar, IB Rai Dharma wijaya Mantra ini juga berharap, para desainer kota Denpasar dapat meningkatkan kreativitas dan inovasi karyanya dalam fashion yang berbudaya. Salah satunya tidak berhenti mengangkat tenun ikat khas Bali, endek yang juga merupakan bagian dari warisan budaya. “Sebab endek, jika tidak dikembangkan mengikuti tren, akan susah berkembang, dan mungkin saja lama-kelamaan akan ditinggalkan,” tandasnya.
Ida Ayu Selly D. Mantra MELENGGANG CEMERLANG Sementara di atas panggung catwalk Bali Fashion Tendance 2015, empat desainer binaan Dekranasda Kota Denpasar berhasil mengisi kesempatan tersebut dengan karyakarya mereka yang memamerkan keindahan perpaduan unsur tradisi onal, bahan lokal bernama endek dengan sentuhan modern melalui busana ready to wear untuk dapat dikenakan di berbagai acara. Terlihat Rhea Cempaka, yang semakin dikenal dengan karya-karya kebaya berbahan endek ini sukses menghadirkan koleksinya dengan mengusung tema “Putri Cening Ayu”. Inspirasinya yang diangkat dari budaya lokal Bali ini semakin segar dilengkapi aksesori perak berupa bros, anting, gelang, cucuk, kalung, dan subeng berornamen khas Bali untuk mempercantik penampilan. Disusul Suandewi Anyar mem bawakan tema “Rectoverso”, tampil dengan desain gaya bebasnya para bohemian yang gemar berpetualang an. Ia menampilkan bahan endek dilengkapi sifon berwarna alam serta aksesori dari kulit, kayu, dan logam. Sementara Kwace Bali melenggang dengan inspirasi garis asimetrisnya. Mengusung tema “Abirama” yang diterjemahkannya tanpa aksesori, demi menekankan keunikan desainnya, pada keindah an motif di atas kain endek yang digunakannya. Sedangkan SRI SRI Embroidery & Textile, di ajang tersebut terlihat lebih berfokus pada busana kasual
yang siap pakai, terlihat berhasil menghadirkan endek dengan tema “Metropolitan Sexy”. Pada koleksi spesialnya, yakni pilihan busana untuk wanita karier termasuk ibu rumah tangga yang independen namun memiliki pekerjaan atau kegiatan usaha. Dalam kesempatan tersebut keempat desainer Kota Denpasar ini, mengaku kepada Tokoh sangat berterima kasih atas semua binaan, dukungan dan kesempatan, baik di ajang lokal maupun nasional yang diberikan Pemerintah Kota Denpasar melalui Dekranasda Kota Denpasar selama ini. “Dengan kesempatan seperti ini saya pribadi merasakan sangat bermanfaat. Hal ini menjadikan potensi dan kreativitas saya semakin tergali. Karenanya, ketika dibukakan jalan kami tidak akan main-main. Apalagi saat kami hadir di panggung sebesar Bali Fashion Tendance 2015 ini atas nama Kota Denpasar, ” ucap AA Sri Wariyani pemilik SRI SRI Embroidery & Textile yang juga ketua Asbest Kota Denpasar dan diamini ketiga rekannya. Hal senada disampaikan Rhea Cempaka. Ia sangat bersyukur atas
semua kesempatan yang melibatkan mereka, khususnya anggota Asbest Kota Denpasar untuk ikut bersama-sama membawa dan mengangkat produk-produk lokal unggulan Kota Denpasar di berbagai ajang bergengsi. Di sini katanya bukan hanya produk mereka semakin dikenal namun juga memacu masing-masing me ningkatkan nilai di dalamnya, baik secara kualitas maupun kreativitas. “Kami berharap adanya support yang berkelanjutan untuk semua desainer, pengrajin atau UKM yang ada di Kota Denpasar,” ujar Rhea. Sementara Deden Iswanto, salah seorang perancang senior ibukota yang juga hadir menyaksikan langsung acara Bali Fashion Tendance 2015 tersebut mengatakan pengamatannya terhadap kehadiran Dekranasda Kota Denpasar. Katanya, untuk menunjukkkan kematangan hasil sebuah desain yang ditampilkan, para desainer secara umum sangat memerlukan jam terbang yang panjang dan cukup banyak. Namun, bicara busana siap pakai dan untuk jualan, maka karya-karya empat desainer dari Kota Denpasar diakuinya berhasil. -ard
Dari kiri: pemilik Dewi Anyar, Rhea Cempaka, Sri Sri Embroidery dan Kwace
24
24 - 30 November 2014