Skip to main content

Tokoh Edisi 823 | Tokoh

Page 1

24

17 - 23 November 2014


2

Ekspresso

17 - 23 November 2014

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi

Wanita Penentu Masa Depan Bangsa Saat syukuran HUT ke-16 Tabloid Tokoh, kami mendapat julukan sebagai “Slimming Team” karena hanya berkekuatan 10 orang di Denpasar, 1 orang di Jakarta, dan 1 orang di NTB. “Slimming Team” ini membuat kami harus pandai-pandai mengatur diri, agar semua tugas yang menjadi tanggung jawab kami, bisa terselesaikan. Walaupun tim ramping, kami tidak berkecil hati. Kami selalu didukung oleh Kelompok Media Bali Post. Sinergi inilah yang menjadikan kami selalu percaya diri. Kami yang mengusung semangat “we are superteam” percaya prinsip sapu lidi. Jika lidi-lidi itu dibiarkan terpisah, sangat mudah untuk dipatahkan. Tetapi, jika lidilidi itu sudah bersatu dan diikat sebagai sapu, sangat sulit untuk mematahkannya. Dukungan semangat juga datang dari Pemimpin Kelompok Media Bali Post ABG Satria ­Naradha. “Tokoh harus melangkah lebih dahsyat untuk perjuangan di bidang pers mewujudkan segmentasi yang hendak difokus-

kan, yakni wanita dan keluarga. Segmentasi ini harus mendapat porsi yang benar-benar sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini,”ujarnya. Satria Naradha menambahkan, wanita dan keluarga merupakan segmen yang paling besar dan menentukan. Wanita merupakan penentu masa depan bangsa. Wanita akan melahirkan generasigenerasi yang menentukan masa

depan bangsa ini. “Pesta” sudah usai. Terima kasih untuk semuanya. Kini saatnya kami bergegas untuk bekerja menyelesaikan program kerja 2014 dan menyiapkan program kerja 2015. Kami akan lebih intens menggarap segmen wanita dan keluarga. Jalinan relasi dengan berbagai pihak akan kami tingkatkan. Semoga Tokoh sebagai bacaan wanita dan keluarga selalu ditunggu kehadirannya. Salam

Tablet yang Menyadarkan Hari itu Senin seperti biasa tiap sekolah melaksanakan upa­ cara bendera. Kemudian tiap guru menuju ke kelas masing-masing untuk menunaikan tugas seperti biasa setelah bel pelajaran berbunyi. Dua jam pelajaran telah berlalu giliranku untuk istirahat ke ruang guru. Di ruangan itu sudah ku­saksi­ kan keramaian teman-teman yang asyik melihat-lihat tampilan tablet yang dilengkapi contoh perangkat pembelajaran. Rupanya penjual tablet tersebut cukup pintar memikat minat calon pembeli. Dengan bonus perangkat pembelajaran tersebut tentulah keinginan untuk memiliki tablet tersebut sangat besar. Tanpa pikir panjang teman-teman banyak yang tertarik apalagi ada penawaran beli sepuluh buah dapat bonus satu tablet. Kami sibuk mencari peserta agar terhimpun sepuluh orang pembeli supaya dapat bonus satu, yang bisa diuangkan sehingga harganya jatuh lebih murah. Walaupun merek tablet ter­ sebut, bukan merupakan merk bergengsi tidak menyurut­kan

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Bu Amat ditanya Bu Made. “Bu Amat, saya ketinggalan banyak, habis suami saya terus mengikuti RUU pemilihan kepala daerah. Banyak orang memujikan demokrasi. Apa sih demokrasi Pancasila itu, Bu?” Bu Amat tak berani menjawab, takut salah, lalu menanyai suaminya. Tetapi Amat juga takut keliru. Ia ke rumah Ami cari masukan. Tetapi Ami sedang bertengkar dengan Sugi, suaminya. Hanya soal kecil, tapi buntutnya panjang. “Apakah Kadek, anak mereka, akan memasang nama bapaknya di belakang namanya, sehingga jadi Kadek Sugi? Atau namanya ditambah saja, misalnya: Kadek Undagi,” cerita Amat, setelah pulang kembali. “Terus akhirnya?” “Mereka minta saran bapak. Bapak sendiri tidak keberatan dinamakan Kadek Sugi! Itu kan bapaknya.” “Tidak bisa!”protes Bu Amat, “lebih baik yang netral saja. Kadek Undagi atau Kadek siapa begitu!” Bu Amat langsung ke rumah Ami, memprotes kalau Kadek harus memikul nama bapaknya. “Pakai nama keluarga itu kebiasaan orang bule. Kita di Bali memberi nama anak harus ada maknanya. Tergantung dari siapa yang dumadi! Kalau namanya salah, anak akan sakit-sakitan!” “Jadi akhirnya bagaimana? Kadek Sugi atau Kadek Undagi?” tanya Amat ketika istrinya pulang. “Ya belum jelas. Dua lawan dua. Bapak sama dengan Sugi dan saya sama dengan Ami. Masih sama kuat. Seri. Mungkin mereka harus ke balian dan bertanya siapa yang dumadi. Lalu tanya nama yang mana baiknya untuk Kadek.” “Tapi Ami dan Sugi harus ditanya dulu, setuju atau tidak pergi ke balian? Mereka kan sarjana, mana mau diajak ke balian!” Ternyata betul. Baik Ami maupun Sugi tak mau diajak konsultasi ke balian. “Ami tidak mau Kadek dikasi nama oleh balian! Anak Ami mesti Ami yang kasih nama!”kata Ami. “Ami, bukan balian yang ngasih nama, tapi balian menanyakan kepada yang dumadi siapa dulu namanya. Lalu menanyakan bailnya nama Kadek siapa? Begitu!” “Tidak!” “Jadi Kadek Undagi?” “Ya!” “Tapi suami kamu setuju tidak?” “Saya setuju, Bu!” Bu Amat terkejut. Ia tak percaya, sebab nada suara Sugi seperti orang kecewa. “Nama itu akan dipakai seumur hidup. Jangan sampai salah satu dari kalian kurang sreg.” “Saya sudah sreg, Bu!!” “Jangan begitu, Nak Sugi. Bapak setuju dengan Kadek Sugi. Nak Sugi juga. Ibu juga kalau dibujuk lama-lama pasti mau, asal Nak Sugi mantap dan bersikeras. Ya kan, Bu?” Bu Amat bingung. Tetapi kemudian mengangguk. “Nah itu. Sekarang sudah 3 lawan 1. Ami harus mengalah.” “Ya sudah Nak Sugi. Masak soal nama saja dipersoalkan. Ibu setuju saja cucu kami diberi nama Kadek Sugi. Nanti Ami ibu ajak bicara. Tiga lawan satu, ya kan mestinya menang yang tiga.” Sugi ketawa. “Itu demokrasi Barat, Bu, Pak. Yang lebih banyak yang menang. Kita kan demokrasi Pancasila. Hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Walau pun suara Ami lebih kecil, tapi kalau lebih baik, bisa menang setelah dimusyawarahkan!” Amat tak bisa membantah. “Nah Bu Made, saya tidak tahu apa sebenarnya demokrasi,” kata Bu Amat menceritakan peristiwa nama cucunya itu,”Maka sejak itu nama cucu kami, Kadek Undagi.” Bu Made manggut-manggut. Malam hari, ketika ia nonton TV lagi dengan suaminya, lanjutan RUU pemilihan kepala daerah, ia nyeletuk: “Tapi, Pak, menurut Bu Amat, pendapat yang lebih sedikit itu, menang menurut demokrasi Pancasila. Betul?”

Putu Wijaya

Kru Tokoh saat perayaan HUT ke-16

minat kami untuk dapat memilikinya. Banyak teman-teman guru yang mengingatkan agar mengurungkan niat untuk membeli supaya tidak tertipu. Setelah diberikan informasi seperti itu, ada dua teman yang mengurungkan niat tidak jadi membeli. “Tak usah membeli ntar ketipu, apa yakin isinya lengkap sesuai dengan apa yang ditawarkan?” kata salah satu temanku. Aku memang sempat berpikir gak jadi membeli, tapi hati nuraniku berkata, “Saya harus konskuen dengan keputusan. Belajar satya wacana,” kataku dalam hati. Dengan jurus pemasaran yang handal, sales tersebut berusaha meyakinkan calon pembeli. Tiap kecurigaan yang berbau penipuan dilontarkan teman selalu dimentahkan de­ ngan menyodorkan identitas diri berupa KTP dan no HP sales

yang bernama Ferry itu. Keyakinan itu membuat temanku memutuskan menye­ pakati mengambil tablet dan meminjam dana koperasi de­ ngan pembayaran lunas. Se­telah menyerahkan barang, Ferry segara berlalu dengan dalih mau memenuhi pesanan barang di tempat lain dan berjanji besok datang membawa kabel data penghubung flash disk. Sampai lewat pukul 10.00 sesuai waktu yang dijanjikan Ferry tak kunjung datang. Hampir semua temanku menghubungi nomor ponselnya tak nyambung. OMG… ternyata kami benarbenar tertipu. Kelengkapan tablet yang dijanjikan ternyata hanya hisapan jempol. Cerita ini sengaja aku bagikan buat pembaca agar tidak ada korban lain seperti yang kami alami. Ni Wayan Weti

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

demokrasi

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­F aksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang ­Pal­m erah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

17 - 23 November 2014

Meriah dan P

Berkesan

erayaan HUT ke-16 Tokoh, Senin (10/11) berlangsung meriah dan berkesan. Acara diawali dengan persembahyangan bersama, sambutan Direktur PT Tarukan Media Dharma Gde Palgunadi, pengarahan dari Pimpinan Kelompok Media Bali Post ABG Satria Naradha, pemotongan tumpeng, peniupan lilin ulang tahun, dan ramah tamah untuk kalangan internal.

23 Letkol. (Inf) Teddy Arifiyanto S., S.IP (Dandim 1611/Badung) “Selamat Ulang Tahun ­Tokoh. Ada angka isti­ mewa, HUT ke-16 di ­bulan 11 ini ada kesamaan dengan Kodim 1611. Semoga kerja sama yang sudah terjalin selama ini bisa ditingkatkan. Semoga Tokoh makin sukses, makin dicintai wanita dan seluruh masyarakat.”

Acara berikutnya, Tokoh mengadakan open house yang diihadiri para relasi. Mereka sekalian melakukan donor darah yang bekerja sama dengan Hsen Chii dan PMI Badung dengan bonus pembacaan garis tangan dari Guru Mangku Hipno dan tim Brahmakunta. Terima kasih kepada semua yang sudah mendoakan Tokoh. Semoga Tokoh tampil lebih baik di tahun berikutnya.

Ny. Selly D. Mantra (Ketua TP PKK Kota Denpasar)

Sambutan Pimpinan Kelompok Media Bali Post ABG Satria Naradha

“Tokoh satu-satunya ta­bloid wanita di Bali. Semoga bisa mengangkat potensi wanita di Bali. Semoga masyarakat Bali bisa me­ngenal tokohtokoh wanita. Semoga kerja sama yang sudah terjalin dengan TP PKK Denpasar bisa terus terjalin. Selamat ulang tahun Tokoh.”

Ny. Ida Ayu Ambari (Istri Sekda Kabupaten Gianyar)

Pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Direktur PT Tarukan Media Dharma Gde Palgunadi

Baca garis tangan

“Perayaan HUT Tokoh yang berbarengan dengan Hari Pahlawan sangat spesial. Menurut saya, pahlawan di era sekarang adalah orang yang bisa mengatur waktu sehingga peran publik dan domestik berjalan ber­ iringan. Karier sukses keluarga bahagia. Selamat ulang tahun untuk Tokoh”

Cek darah gratis

Donor darah

Tiup lilin ulang tahun Tokoh bersama Ny. Satria Naradha, Ny. Selly D. Mantra, dan para mitra kerja dari beberapa organisasi wanita


Metropolitan

22

17 - 23 November 2014

Engkong Naim “Bertelur” nusia bertelur ini menjadi sesuatu yang menarik bagi kalangan medis. Meski ada keraguan, tetap saja mereka harus melakukan penelitian guna membuktikan benar atau tidaknya, sekaligus memberi penjelasan pada masyarakat yang sudah telanjur heboh. Pihak RSCM sendiri telah menyatakan kesediaannya untuk melakukan obeservasi jika Engkong Sinin mau datang ke RSCM.

Jakarta dihebohkan kabar manusia bertelur. Suatu yang mustahil namun kakek Sinin (62), manusia yang bisa bertelur itu, memperlihatkan bukti sejumlah ‘telur’ yang dikeluarkannya yang kemudian diliput oleh media massa. Warga pun berbondong-bondong mendatangi rumah si kakek Jl. Tanjung Wangi, Penjaringan, Jakarta Utara.

S

aking hebohnya, Dinas Kesehatan Pemda DKI Jakarta pun turun tangan. ‘Telur-telur’ tersebut kemudian diperiksa. Tidak hanya itu, kakek Sinin pun dibawa ke rumah sakit umum daerah Koja, Jakarta Utara, akhir pekan lalu, untuk observasi lebih lanjut. Tim dokter ingin menyaksikan sendiri kakek Sinin bertelur dan akan langsung memeriksa telur tersebut jika benar-benar keluar. Namun, empat hari di rumah sakit, telur yang ditunggutunggu tidak juga keluar. “Merasa ingin keluar tapi tidak keluar juga, nggak tahu kenapa,” kata si kakek yang mengaku kondisi tubuhnya sangat fit selama di rumah sakit. Mendapat perawatan khusus terkait masalah yang dialaminya, menurut Sinin, sudah lama diharapkannya. Sejak dulu dia bolak-balik ke rumah sakit terkait permasalahan itu, namun dokter tidak bisa memecahkannya. Saat di rumah sakit pekan lalu, ‘telur’ tidak keluar. Tapi anehnya, setelah ia dipulangkan pihak rumah sakit, Senin (10/11), Sinin bisa bertelur lagi. Saat Engkong Naim, begitu ia biasa disapa, bertelur, kebetulan rumahnya sedang ramai oleh masyarakat. Memang sejak berita si Engkong bisa bertelur me­ nyebar luas, rumahnya tak pernah sepi dari kunjungan masyarakat. Rasa penasaran orang ingin melihat dari dekat ‘telur-telur’ yang dihasilkan Sinin membuat mereka betah berlama-lama di sana. Tak sia-sia, karena akhirnya

Engkong Naim bertelur lagi. Setidaknya hal itu disaksikan langsung oleh warga setempat, yang ikut membantu mengeluarkan telur dengan cara mengurut-urut punggungnya. “Saya penasaran ingin melihat Engkong bertelur, ternyata kejadian. Saya sudah lihat Engkong bertelur sejak waktu itu, dan sekarang lihat lagi. Malah ikut bantu mengurut-urut punggungnya supaya telurnya bisa keluar,” ujar Efendi. Telur yang dikeluarkan Sinin setelah keluar dari rumah sakit, kini sudah di tangan tim dokter untuk diteliti. Saat akan bertelur, Sinin mengaku selalu merasa kesakitan amat sangat. Itu sebabnya ia selalu mengerang-erang. “Badan Engkong rasanya sakit, tulang-tulang rasanya sakit semua,” ucapnya. Itulah yang selalu dirasakannya selama ber­tahuntahun setiap kali akan bertelur. Namun, dokter tidak bisa melihat itu karena saat di rumah sakit, dia tidak bisa bertelur. “Saya enggak stres waktu di rumah sakit, tapi telur nggak keluar juga. Padahal sudah diurut-urut punggungnya,” kata lelaki asal Grobongan, Semarang, Jawa Tengah, yang mengaku ‘bertelur’ sejak 1998 dan sudah menghasilkan 200-an ‘telur’. DUBUR TIDAK LECET Dari hasil sementara pemeriksaan tim dokter RSUD Koja Jakarta Utara terhadap tubuh Sinin justru tidak menunjukkan keanehan. Setidaknya, dubur saluran ‘telur-telur’ itu keluar

Engkong Naim saat di rumah sakit

tidak mengalami luka ataupun lecet. Padahal sebagai orang yang mengklaim dirinya mengeluarkan benda semacam ‘telur’, normalnya dubur akan lecet atau ada tanda bekas lecet atau luka. “Duburnya nggak lecet sama sekali. Semua bagian tubuhnya masih bagus,” ungkap Kepala IGD RSUD Koja, dr Dedi kepada wartawan. “Padahal ayam pun kalau bertelur, apal-

Rumah Sinin selalu ramai pengunjung sejak berita dirinya bisa bertelur menyebar luas

agi berkali-kali, pasti ada luka dan merah. Nah ini kan manusia. Orang yang disodomi saja, pasti lecet dan

ada bekasnya. Ini, kan, yang keluar telur yang ukurannya lebih besar,” papar dr. Dedi lagi. Banyak dari kalangan medis meragukan klaim manusia bertelur. Dalam sejarah medis, tidak pernah terjadi adanya manusia bertelur, apalagi oleh seorang laki-kali. Ada dugaan, benda yang diklaim mirip telur itu, kemungkinan adalah gumpalan lemak yang dikenal sebagai lipoma. Tumor atau daging tumbuh, juga bisa keluar melalui dubur. Namun, tidak mungkin terjadi berkali-kali dan dalam waktu yang terus menerus. Jika tumor keluar harusnya disertai dengan darah. Betapapun, kasus klaim ma-

AIR MATA KRISTAL Dulu kasus aneh yang juga pernah menghebohkan masyarakat, air mata batu kristal. Mungkin masyarakat belum lupa kasus yang mengebohkan dua tahun lalu, yakni adanya klaim air mata manusia berubah jadi batu semacam kristal. Adalah Tina Agustina, warga Sumedang, Jawa Barat, yang ketika itu diberitakan air matanya dapat berubah menjadi batu kristal. Banyak orang yang telah melihatnya, bahkan, konon, Camat Cisarua, Kab Sumedang, Tono Suhartono, mengaku pernah melihat langsung air mata kristal itu beberapa kali. Tina pun akhirnya menjalani pemeriksaan di rumah sakit mata di Bandung, Jawa Barat. Sementara butir-butir berbentuk seperti kristal di periksa di laboratorium geologi. Hasilnya, klaim itu ternyata palsu. Hasil pemeriksaan laboratorium geologi menyebutkan, batu yang seperti kristal itu bukan produksi tubuh manusia, me-

lainkan bahan sintetik yang telah diproses seperti perhiasan imitasi. Dokter Hikmat Wangsaatmadja, salah satu dokter yang ikut memeriksa, meminta agar Tina menghentikan praktek tersebut karena dikhawatirkan akan menimbulkan infeksi pada matanya. Diduga, Tina memasukkan benda kristal ukuran kecil ke atas bola mata di atas ujung alis. Nantinya, batu-batu itu akan turun dengan sendirinya lewat kelopak bagian bawah. Trik itu sangat berbahaya karena ini bisa melukai matanya. Jika merujuk kasus Tina, apakah apa yang terjadi pada Engkong Naim juga merupakan sebuah trik? Tunggu saja hasil pemeriksaan lebih lanjut. –Diana Runtu

Sosialita

17 - 23 November 2014

3

Dayu Kondi

Kepuasan Luar Biasa Jangan pernah beranggapan wanita yang sudah kawin dan punya anak akan menurun produktivitas, kinerja, atau kariernya. Buktinya, Ida Ayu Indra Kondi Santosa Wananjaya, S.H., M.Kn., bukan hanya mampu meng­ubah anggapan tersebut, malah tetap menumbuhkan minat untuk terus berkembang dan terus berprestasi.

D

ayu Kondi, begitu ia biasa disapa, memang dikenal sebagai perempuan smart dan selalu tampil dengan citra profesional dalam menjalankan profesinya. Tiap hari ia hadir di kantor dengan busana yang elegan, wajah segar penuh percaya diri. Hal itu juga nampak saat Tokoh berkunjung ke kantornya di kawasan Jalan Tukad Musi, Renon, Denpasar. Bicara profesional sudah pasti, sebab peraih The Best Notaris In Service Excellent of The Year 2014 ini adalah sosok wanita Bali yang luar biasa. Dalam tiap langkahnya dipastikan berbasis knowledge, skill dan attitude yang baik. Selain itu pemikiranpemikirannya tentang pelestarian seni dan budaya serta perjuangan te rh a d a p ke s etaraan hak dan langkah peremp u a n s a ­n g a t konsisten dilakukannya sebagai sebuah se­mangat ngayah untuk masyarakat Bali. Sejak 1995, ibu dari �������������� I.B. Reza Awatara Pidada,S.H., I.B. Rendy Laksana Pidada, S.H., dan I.A. Regina Gitaloka Pidada, S.Ked. ini, tercatat sudah memulai kiprahnya dalam bidang seni, budaya serta hukum adat. Tidak hanya sampai di situ, aktivitasnya bertambah sebagai pemerhati wanita, kare­na ia melihat masih banyaknya kasus-kasus yang melibatkan wanita. Dari pengamatan ibu tiga anak ini, lemahnya pemahaman hukum, juga turut mendorong pembagian peran masing-masing di dalam keluarga, baik istri dan suami rentan terjadi pergesekan yang meng­arah pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kepeduliannya tersebut ternyata memberikan nilai lebih dan prestasi tersendiri

bagi istri Ida ��������������� Bagus Gede Wa��� nanjaya, S.H., yang hingga kini cukup banyak memperoleh penghargaan. Termasuk yang diterimanya belum lama ini, yakni terpilih sebagai salah seorang peneri­ma anugerah “The Best Inspiring Women of The Year 2014”. Sebuah penghargaan bergengsi bagi wanita Indonesia , setelah melalui pertimbangan dan pengkajian yang mendal a m t e r ­h a d a p prestasinya yang cemerlang dan kepeduliannya yang konsisten pada persoalan wanita serta dan

mamp u meng­ inspirasi lingkungannya. Dengan menerima peng­h argaan ke-11, untuk tingkat nasional dari 7 Media , IHRDP (Internasional Human Resources Development Program), FPPB (Forum Peduli Prestasi Bangsa) ini. justru menjadi suatu cambuk bagi Penasehat Pura Kahyangan Jagat Bali ini agar bisa berbuat lebih untuk masyarakat dan bisa menjadi panut­ an atau teladan bagi wanita lainnya. “Saya ingin mengabdikan hidup buat

masyarakat Bali yang kurang mampu, terutama di bidang pendidikan, adat dan budaya. Makanya saya ingin memiliki tempat pendidikan gratis buat anak-anak yang kurang mampu di Bali,” tegas Dayu Kondi yang sering diminta sebagai pembicara dalam berbagai workshop ini.

DORONG WANITA SIAP HADAPI MEA Ditanya soal emansipasi saat ini, alumni S2 Kenotariatan Universitas Airlangga ini tidak hanya berarti mendapatkan hak memperoleh pendidikan atau hak untuk mendapatkan jabatan di pemerintahan dan pekerjaan setara dengan kaum pria. Namun, terpenting adalah bagaimana seorang wanita mau memposisikan dirinya untuk merebut kedudukan dan mengambil semua kesempatan. “Percayalah, saat kita berhasil menyelesaikan setiap ‘job task’ dalam daftar, ada kepuasan yang luar biasa. At the end of the day, we got that sense of control,” tegasnya. Sebagai wanita dan sebagai ibu, tetap ha­r us profesional dalam berkarier sesuai bidangnya masing-masing. Sikap tersebut ditunjukkannya dengan bertanggung jawab penuh terhadap apa yang dikerjakan. Dengan rasa tanggung jawab, ia tidak akan pernah merasa terbebani dengan tugas di kantor dan di rumah. “Jadikan pekerjaan adalah bagian dari rutinitas hidup kita. Sehingga akan mudah menikmati kedua peran, sebagai ibu rumah tangga dan wanita yang berkarier dengan membuat aturan main hingga kedua peran tersebut bisa dilakonkan sama baiknya,” ujar putri dari Drs. ������������������� Ida Bagus Santosa (Alm) dan Ida Ayu Kartini (Almh) ini. Selanjutnya, keberadaan tokoh perempuan dari Griya Pidada Klungkung ini, sebagai President Bali International Women Center (BIWC), bukan hanya

Dayu Kondi dan keluarga

memberinya kesempatan terhormat bertemu dan melakukan pembicaraan dengan sejumlah tokoh wanita dunia dan pemimpin organisasi kemanusiaan lainnya , namun ia juga memiliki tugas yang tidak ringan terkait wanita Bali, untuk hadir dan bisa berjuang di tataran nasional dan internasional. Ke depan, wanita Bali bukan hanya mengurusi persoalanpersoalan domestik semata, tapi turut dalam pergaulan global. “Di sini peran saya mendorong agar wanita Hindu di Bali berkiprah ke jejaring yang lebih luas. Harus ada banyak pembagian tugas, ini pesan Bung Karno pada wanita Indonesia,” papar putri tokoh Hindu Indonesia, (alm.) Ida Pedanda Gede Oka Puniatmaja yang juga pendiri World Hindu Federation ini. Ke depan, ia juga mengingat­ kan masyarakat akan menghadapi momentum yang sangat kompetitif, utamanya dalam bidang ekonomi dan industri, era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), Dayu Kondi mengatakan

sebagai konsekuensi dari berlakunya kesepakatan regional maka mau tidak mau kita harus menyiapkan diri. Menurutnya, ini tantangan buat kita semua. Sosialisasi sudah dilakukan pemerintah dalam konteks persiapan MEA yang bukan semata mengenai cara-cara menembus pasar ASEAN, tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana pengusaha lokal kita bisa bertahan di pasar lokal di tengah besarnya arus produk dari ASEAN Karenanya, nenek seorang cucu yang tetap energik ini menyarankan untuk wanita tidak hanya menunggu tapi membantu pemerintah. “Dengan cara memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk melakukan persiapan dengan percepatan peningkatan kompetensi masing-masing. Inilah cara kita agar bisa dengan baik merespons tantangan global. Negara anggota ASEAN sudah menandatangani Mutual Recognition Arrangements (MRA) untuk delapan profesi prioritas yakni, jasa akuntansi, teknik, kualifikasi survei, arsitektur, keperawatan, kesehatan, praktisi gigi, dan pariwisata,” tutur wanita yang menjadikan hampir semua pejuang wanita sebagai inspirasinya ini. Satu hal lagi yang tak lupa selalu ditekankan wanita yang memilih berpikir positif, selalu bersyukur dan ikhlas ini di setiap kesempatan berbicara di depan umum, adalah bagaimana wanita Bali menjadi wanita yang berkepribadian sesuai adat dan budaya. Selama ini kegiatan adat dan budaya di Bali selalu melibatkan wanita, sehingga peranan wanita dalam kehidupan bermasyarakat sangat besar. –ard


4

Inspirasi

17 - 23 November 2014

Ikut Jejak Suami

T

Acara pisah sambut di Kementerian Kesehatan

api jabatan yang ‘tertunda’ itu akhirnya datang juga lima tahun kemudian. Senin 27 Oktober lalu, Nila Moeloek dilantik menjadi Menteri Kesehatan Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo- Jusuf Kalla. Seperti menteri lain di Kabinet Jokowi-JK, maka Nila pun langsung tancap gas seusai dilantik di Istana Negara. Dia juga termasuk salah satu menteri yang ikut sibuk dalam pembagian ‘Kartu Sakti’ Jokowi. Maklum, salah satu yang dibagikan adalah Kartu Indonesia Sehat (KIS). Dia juga melakukan ‘blusukan’ dengan meninjau puskesmaspuskesmas dan posyandu. Salah satunya di Puskesmas Dupak Surabaya, Jumat (6/11) lalu. Salah satu yang menjadi prioritas program kerjanya adalah menekan angka kematian ibu (AKI) pasca melahirkan yang menurutnya masih tinggi di Indonesia. “Angka kematian ibu tidak berdiri sendiri. Harus ada dukungan semua sehingga penurunan angka kematian ibu bisa berhasil,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. Sasaran Pembangunan Milenium (MDG) menargetkan angka kematian ibu (AKI) Indonesia pada tahun 2015 sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup namun berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup, meningkat drastis dari SDKI 2007 sebesar 228 per 100.000 kelahiran

hidup . “AKI merupakan salah satu target MDGs (Millenium Development Goals), dan itu harus dicapai Indonesia pada 2015. MDGS adalah pekerjaan sulit, terlebih bila angka kematian ibu masih bertanda merah. Karena itu kerja sama dengan banyak sector harus kita tingkatkan,” paparnya. Menurutnya, sebagai wanita kita harus tahu bagaimana menjaga kesehatan diri sendiri, misalnya, pengetahuan mengenai penggunaan KB dan perencanaan anak. “Kita (perempuan) tentu harus mikir untuk diri kita. Kalau mau punya anak kita harus tahu bagaimana mendidik dan menjaga kesehatan anak. Kita juga harus tahu bagaimana menjaga kesehatan diri sendiri,” ujar Nila saat serah terima jabatan dengan mantan Menkes Nafsiah Mboi di Gedung Kementerian Kesehatan. Wanita, tambahnya, harus

Nila Moeloek

tahu merencanakan anak sebatas kemampuan. Itu tanggung jawab. Kalau kita tidak mampu, jangan kita memberikan generasi lemah,” tegasnya. Di lingkungan Kementerian Kesehatan sosok Nila memang bukan sosok baru. Setidaknya, saat suaminya dr Farid Anfasa Moeloek menjadi Menteri Kesehatan Kabinet Reformasi Pembangunan BJ Habibie, Nila kerap berkunjung ke kementerian itu yang dulunya bernama Departemen Kesehatan. Bahkan setelah itupun Nila termasuk salah satu yang aktif di organisasi Dharma Wanita Kementerian Kesehatan. Nila sendiri berlatar belakang ahli oftalmologi (ilmu kesehatan mata). Ia lahir di Jakarta 11 April 1949 dan menjadi salah satu staf ahli divisi tumor mata di RSCM Kirana Jakarta. Sebelum dengan kesibukannya yang sekarang, ibu tiga anak ini, termasuk wanita yang sangat sibuk. Ia bukan saja aktif sebagai tenaga pengajar di program doktor pasca sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tapi juga di beberapa rumah sakit, salah satunya adalah RS Mata ‘AINI’ dimana dia telah 32 tahun mengabdi. Belum lagi, ia juga dipercaya Presiden SBY untuk menjadi Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs2009-2014. Sebagai utusan khusus, Nila adalah duta

Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek di sela-sela acara serah terima jabatan di Kemenkes

Mandalika

21

Bersantai di Taman Udayana

Nila Djuwita Moeloek

Mungkin sebagian orang belum lupa ketika tahun 2009 lalu, saat mantan Presiden SBY melakukan fit and proper test calon menteri­menterinya. Saat itu Nila Djuwita Moeloek menjadi salah satu yang ­dipanggil ke Puri Cikeas, kediaman pribadi Presiden SBY. Biasanya orang yang dipanggil ke Cikeas, bakal menjadi menteri nantinya. Orang menyebut fit and proper test itu hanyalah formalitas. Tapi apa yang terjadi, nama­nya dicoret, SBY justru memilih Endang Rahayu Sedia­ ningsih (alm) sebagai Menkes. Publik terkejut. Lebih tak me­ngenakkan lagi ketika itu beberapa karangan bunga ucapan selamat sudah telanjur datang ke rumah Nila. Entah apa yang terjadi ketika itu.

17 - 23 November 2014

Presiden yang bertugas menyampaikan berbagai hal tentang MDGs, tidak saja kepada para pemangku kepentingan di kabupaten dan kota, tetapi juga nasional, regional, bahkan global. Ia juga anggota dewan The Partnership for Maternal Child and Neonatal Health, sebuah lembaga yang melaksanakan inisiatif strategis Sekjen PBB untuk Kesehatan Ibu dan Anak, serta advisory board member dari EAT Forum, sebuah inisiatif global berfokus pada isu pangan, kesehatan dan sustainability. Bekal pengalaman tersebut tampaknya dianggap cukup oleh Presiden Joko Widodo untuk mempercayakan tugas-tugas di

Nila Moeloek bersama suami

Kementrian Kesehatan kepada Nila. Menurut Nila, ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan sungguh diluar dugaannya. “ Tu h a n m a h a t a h u . Tu han memberikan saya beban pekerjaan di pundak saya untuk memimpin Kementerian Kesehatan. Ini bukan tugas yang ringan,” ujarnya. Namun, katanya, ia merasa bersyukur dan bahagia mendapat kesempatan

mengemban tugas mulia ini. Dia meminta agar jajaran Kemenkes ikut membantu dan mendukungnya dalam menunaikan tugas tersebut. Karena akunya, ia tak mungkin sendirian dalam menjalankan tugas itu. “Ini adalah pekerjaan mulia. Mari kita bergandeng tangan, pekerjaan ini bukan untuk saya, bukan untuk Anda, tetapi masyarakat yang belum merasakan keberuntungan dan kemerdekaan bangsa kita. Masih banyak masyarakat kita yang tidak dapat memenuhi kesehatannya dengan sebaik-baiknya,” kata Nila. Seperti menteri lain di Kabinet Jokowi-JK, Nila pun sangat sibuk dengan berbagai agenda kerja setiap harinya. Dia memang bisa sepenuhnya focus ke pekerjaan, karena kebetulan ketiga anaknya tidak lagi terlalu membutuhkan perhatian khusus darinya. Pasalnya, mereka--Muhammad Reiza, Puti Alifa, dan Puti Annisa--- sudah menikah. Bahkan dua dari tiga anaknya itu kini tinggal di Amerika. Menurut suaminya, Farid Anfasa Moeloek, dirinya dan anak-anak mendukung tugas yang emban Nila. “Ini adalah tanggung jawab besar, ini adalah sebuah amanah dari Yang Maha Kuasa,” ujar Farid di selasela acara serah terima Menteri Kesehatan. “Anak-anak sudah besar-besar mereka berharap mamanya bisa bekerja dengan baik untuk rakyat,” ujarnya. –Diana Runtu

Nila Moeloek (kiri) suaminya Farid Anfasa Moeloek dan Nafsiah Mboi, mantan Menkes

Taman Udayana yang dulunya menjadi jalur utama menuju Bandara Selaparang Mataram, kini berubah menjadi ramai oleh berbagai kegiatan yang dilakukan oleh warga Kota Mataram. Hari Minggu pagi, di sepanjang jalan Udayana Mataram selalu dipenuhi oleh warga yang berolahraga dan berekreasi. Apalagi, setelah jalur Udayana ini diberlakukan sebagai jalur car free day tiap Minggu pagi, warga Kota Mataram, tumpah ruah bersantai dan berolahraga di kawasan ini.

T

idak hanya di Hari Minggu saja, Taman Udayana Mataram kini menjadi pilihan utama untuk tempat tongkrongan baik bagi anak muda maupun keluarga. Karena itu, di sore hari, taman ini selalu padat dengan orang yang berolahraga di fasilitas-fasilitas olahraga yang disiapkan Pemerintah Kota Mataram. Di samping itu, sore hari merupakan waktu yang juga dipilih oleh keluarga untuk menikmati tempat nongkrong ini sembari menikmati berbagai

kuliner yang dijajakan oleh sekitar 120 pedagang kaki lima yang terdata oleh Dinas Pertamanan Kota Mataram. Taman Udayana awalnya ditata sebagai hutan kota (kawasan terbuka hijau), sejak tahun 2001. Penataan yang terbilang apik itu, sedikit demi sedikit mengundang warga Kota Mataram untuk datang ke taman ini untuk olah raga (jogging) di bawah pohon-pohon teduh yang sengaja ditanam. Ada juga yang datang untuk bersantai. “Lama-lama masyarakat terlihat meminati kawasan ini sehingga menjadi ramai,” ujar Kemal Islam, Kepala Dinas Pertamanan Kota Mataram. Dan, semakin hari minat warga untuk menjadikan kawasan Udayana sebagai tempat nongkrong, semakin ramai. Hal inilah yang membuat pedagang asongan dan pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai kuliner dan juga tempat minum kopi, semakin hari semakin banyak pula. Perkembangan ini mulai terlihat setidaknya dalam

10 tahun terakhir. Menyikapi semakin ramainya kunjungan warga ke kawasan Udayana yang dibarengi dengan makin bertambahnya pula pedagang kaki lima, Pemerintah Kota Mataram terus menata kawasan ini menjadi lebih apik lagi. “120 pedagang kaki lima berjualan di kawasan ini,” ujar Kemal. Para pedagang ini kemudian diakomodir dan ditata oleh Pemerintah Kota Mataram agar tidak tampak kumuh. Para pedagang yang tadinya berdagang di trotoar-trotoar kawasan

Udayana, kini telah berjejer rapi masuk ke dalam taman pada bagian barat dan timur taman. Para pedagang di taman ini kemudian menjajakan dagangannya dengan cara menggelar karpet atau tikar, duduk lesehan di depan lapak-lapak dagangannya. Selain menata para pedagang kaki lima, Pemerintah Kota Mataram juga memasilitasi para pedagang dengan membuatkan lapak-lapak. Setidaknya, menurut Kemal, sudah ada 70 lapak

yang diberikan Pemerintah Kota Mataram untuk para pedagang. Sedangkan 50 lapak lagi tengah disiapkan untuk dipergunakan oleh para pedagang kaki lima. “Lapak-lapak tersebut boleh dipakai gratis, tanpa dipungut biaya,” ungkap Kemal. Tidak hanya para pedagang kaki lima yang difasilitasi Pemerintah Kota Mataram, melainkan fasilitas olahraga juga disiapkan untuk warga yang datang. Areal untuk ketangkasan sepeda bagi anak-anak dan remaja. Jalan-jalan di dalam taman juga sengaja ditata sebagai areal jogging. “Khusus di areal ini tidak diperbolehkan sama sekali untuk berjualan, melainkan khusus sebagai tempat jogging bagi warga,” ungkap Kemal tentang lahan hijau di bagian barat sebelah utara kawasan Udayana. Ada juga fasilitas senam. Dan semua areal kawasan Taman Udayana diperuntukan bagi warga secara gratis. Taman Udayana yang memiliki sebuah tugu bernama tugu Bumi Gora yang dibuat sejak tahun 1980an, menjadi ikon taman ini. Berbagai kegiatan seperti pentas musik dan kegiatan lainnya kerap dilakukan di sini. Lokasinya berada di tengah-tengah taman Udayana. Perkembangan kunjungan warga ke taman yang semakin ramai, membuka banyak peluang usaha bagi yang jeli “membaca pasar”. Dibandingkan dengan hari-hari lain, waktu kunjungan yang paling padat adalah di malam Minggu (Sabtu malam). Karena itu, saat malam Minggu, Taman Udayana akan dimeriahkan oleh hadirnya kereta-kereta wisata malam yang dipenuhi

lampu-lampu hias. Dari jauh, beragam bentuk (rata-rata binatang) kereta malam yang dipenuhi lampu hias, seperti ayam, bebek, mobil-mobilan hingga burung merak, akan sibuk lalu-lalang di sepanjang kawasan ini. Lampu hias dan pemilihan ornamen binatang sengaja dibuat untuk menarik perhatian anak-anak. Kereta wisata ini dapat mengangkut empat hingga enam orang. Dengan biaya sewa Rp 25 ribu sekali jalan berkeliling sepanjang kawasan Udayana (ke selatan hingga perempatan BI dan ke utara hingga bundaran Bandara Selaparang Mataram, pengunjung dapat menikmati keramaian di sekitarnya. Kereta wisata sengaja dimodifikasi dengan cara dikayuh seperti sepeda, agar para penyewa bisa membawanya sendiri. “Kalau mau ‘disupiri’ petugasnya, tambah biayanya Rp 5 ribu menjadi Rp 30 ribu sekali jalan,” kata Endang (52), pemilik kereta wisata sewaan ini. Sebanyak 27 kereta wisata

malam yang biasa beroperasi di kawasan Udayana mulai sore hingga sekitar pukul 11 malam. Kereta wisata malam ini hadir sekitar satu tahun terakhir. Penghasilan para pemilik kereta malam jika kunjungan ramai sekali bisa mencapai Rp 300 ribu-Rp 350 ribu, khususnya di malam Minggu. “Tapi di hari lain, tidak begitu banyak, biasa saja, kadang ada kadang juga tidak ada yang menyewa,” ungkap Endang yang setiap hari mengoperasikan kereta wisata malamnya bersama suaminya Andi Poniran (60). Empat buah kereta wisata malam yang mereka miliki ini, memberikan penghasilan yang lumayan sehingga mereka mengaku tiap hari, ramai tidak ramai pengunjung, mereka tetap keluar untuk menunggu para penyewa. Kerlap-kerlip lampu hias pada kereta wisata malam yang dilengkapi dengan musik yang selalu hidup, menambah keunikan bersantai di Taman Udayana. -Naniek I. Taufan


20

Nine

17 - 23 November 2014

Dari Pedagang Bakul sampai Buruh Migran

Endang ketika asistensi peserta paralegal di Desa di Kabupaten Belu, Atambua

T

ahun 1996, kasuskasus buruh migran khususnya TKW asal NTB banyak mencuat. Tidak satu pun ada lembaga yang menanganinya. Apalagi kasus-tersebut menurutnya banyak menimpa keluarga rekan-rekannya di PPK Mataram, yang saling bercerita tentang kisah-kisah sedih yang dialami keluarga mereka yang menjadi TKW atau TKI di luar negeri. Di sanalah Endang mulai melirik penanganan-penanganan kasus TKW yang kemudian berkembang juga menangani kasus-kasus yang menimpa TKI asal NTB, di mana bertepatan dengan saat ia duduk sebagai direktur lembaga ini. Sebuah keberanian mengambil sikap ditunjukkan Endang ketika memutuskan menambah kesibukan kerja organisasi yang dipimpinnya dengan menangani kasus buruh migran yang tentu saja memiliki konsekuensi lebih besar dibandingkan mengurus ibu-ibu pedagang bakulan. Dalam penanganan isu buruh migran memerlukan hal yang spesifik dalam menanganinya terbilang rumit karena melibatkan hubungan dua negara, Indonesia dan negara tempat buruh migran bekerja dan terkena masalah. Juga membutuhkan kesiapan mental dan psikologi dalam penanganannya. Apalagi

diakuinya kala itu ia sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam hal ini. “Awalnya dulu belepotan menanganinya karena tidak punya pengalaman sama sekali,” ungkap perempuan berusia 54 tahun ini. Kasus-demi kasus yang masuk dan ditanganinya akhirnya membuatnya berusaha keras untuk belajar tentang banyak hal mengenai penanganan permasalahan buruh migran. Termasuk juga belajar tentang strategi yang harus dijalankan ketika berhubungan dengan banyak pihak yang terlibat di dalamnya. “Di masa-masa itu, saya menangani kasus sambil jalan, sambil belajar,” ujar Endang. Ia mulai belajar tentang aturanaturan hukum negara tempat

TKI/TKW NTB bermasalah dan segala hal berkaitan dengan ini. Sampai akhirnya, perjuangan ia dan kawan-kawannya di PPK selama lima tahun sejak tahun 2005, mampu menangani kasus Adi Bin Asnawi, TKI asal Kediri Lombok Barat yang terancam hukuman gantung di Malaysia yang akhirnya kembali ke pangkuan keluarganya, tahun 2010. Ia juga harus belajar bagaimana strategi komunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari Kepala Daerah asal TKI/TKW bermasalah (bupati, walikota, Gubernur NTB), Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/ Kota / Provinsi/, Kedutaan Besar Republik Indonesia di tempat TKI/TKW bermasalah, Kementerian Luar Negeri RI, Kementerian Tenaga Kerja RI, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) hingga korban dan keluarga korban serta banyak lagi pihak lain termasuk PJTKI yang mengirim TKI/ TKW bermasalah. Sebuah kompleksitas yang harus ia hadapi. Yang lebih berat dari itu rupanya ada lagi, dimana saat menangani kasus yang subyek dan obyeknya tidak jelas keberadaannya, yakni menangani TKI atau TKW asal NTB yang sudah lama hilang kontak dengan keluarganya dan tidak diketahui keberadaannya. Menurutnya, yang paling tidak tega ia hadapi adalah kenyataan ketika ada keluarga

Asistensi peserta pelatihan paralegal di desa di kupang, NTT

TKI/TKW yang datang menitip harapan besar padanya untuk bisa menyelamatkan keluarga mereka yang tertimpa masalah di luar negeri. “Mereka datang dengan harapan yang menyedihkan, terutama bagi TKI/TKW yang sudah lama hilang. Mau tidak mau saya dan kawan-kawan harus berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk membantu,” ujar ibu dua anak, Kartika Puji Astiti (26) dan Guru Sugiharto (23), ini. Kini, tidak kurang dari 18 tahun istri dari Bagus Wirateja (56) ini, bergelut dalam advokasi-advokasi buruh migran asal NTB yang mengalami masalah di berbagai negara tempat mereka bekerja. Sekitar 4000an kasus yang diterima Pancakarsa juga kasus-kasus yang pernah ditanganinya membuatnya mengelus dada melihat nasib para buruh migran ini. Apalagi sejak tahun 2007, ia tidak lagi menjadi direktur lembaga ini melainkan fokus sebagai Koordinator Advokasi Pancakarsa Mataram. “Jangan Tanya bagaimana perasaan saya selama terlibat dalam advokasi ini,” katanya pendek sembari tersenyum. Endang melihat dan merasakan benar bagaimana getirnya nasib para TKW dan TKI NTB yang mengalami berbagai masalah baik sebelum berangkat ke luar negeri maupun masalah yang terjadi selama mereka bekerja di luar negeri. Ada yang mengalami penipuan oleh calo, gaji yang tidak pernah dibayarkan (bahkan ada kasus TKW yang 10 tahun gajinya tidak dibayar), kasus yang terjadi di penampungan sebelum mereka diberangkatkan, pelecehan seksual, penyiksaan, overstay, pembunuhan hingga yang pulang meninggal dunia. Semua yang telah dilaluinya itu, adalah peristiwa yang mengadukaduk emosinya, bercampur sedih, terharu, bahagia, memilukan dan sebagainya. Bahkan ada seorang TKW yang diantarnya pulang ke Lombok Timur, lalu menemukan di rumah TKW ada perempuan lain yang sudah dinikahi suaminya, sehingga TKW itu tidak bisa pulang ke rumahnya. Rumah yang dibangun dari hasil gajinya selama menjadi TKW yang dikirim tiap

Inspirasi

Improvisasi Perkaya Kreativitas

Endang Susilowati

Berawal dari ketidaktahuan tentang penanganan kasus-kasus buruh migran yang menimpa TKI dan TKW asal Nusa Tenggara Barat, Endang Susilowati, mantan Direktur Eksekutif Persatuan Pancakarsa (PPK) Mataram (1996-2007), tetap maju membantu para buruh migran yang tertimpa masalah hanya bermodal tekad dan niat baik. Ia tergabung dengan Pancakarsa Mataram, sejak tahun 1988 saat lembaga ini mulai berdiri (masih yayasan). Awalnya Endang dan rekanrekannya fokus pada pengembangan ekonomi ibu-ibu pedagang kecil/ bakulan di Mataram. “Kami mendampingi ibu-ibu pedagang bakulan untuk pengembangan usaha dari aspek pasar, modal dan manajemen usaha secara sederhana,” ujarnya.

17 - 23 November 2014

Endang Susilowati

bulan kepada suaminya itu. Belum lagi ketika menemukan kasus anak-anak yang lahir tidak jelas dari para TKW, akibat perkosaan, suka sama suka lalu ditelantarkan dan lain-lain. “Sekitar tahun 1996 Pancakarsa memiliki desa binaan di Lombok Tengah. Di sana ada 37 anak yang lahir dari TKW akibat perkosaan dan suka sama suka kemudian ditelantarkan dan lain-lain.Kasus-kasus semacam ini banyak terjadi tidak hanya di tahun 1996 saja,” katanya. Apa yang sudah digelutinya selama 18 tahun ini diakuinya tidak merupakan sebuah cita-cita bagi dirinya, melainkan mengalir alami begitu saja. “Pekerjaan ini tidak terpikirkan sebelumnya apalagi jadi cita-cita, tapi mengalir saja dimulai dari tidak tahu menjadi tahu,” ujar nenek satu cucu ini. Bahkan kini, ia tidak hanya menangani kasus-kasus yang menimpa TKI/ TKW saja melainkan juga memberi perhatian pada anak-anak dan keluarga mereka. Karena selain mengalami kasus sebagai buruh migran, beberapa TKW juga mengalami kasus kekerasan dalam rumah tangga dan anak-anak mereka terlantar. Pendekatan kini dilakukan juga pada keluarga TKI/ TKW bermasalah. Misalnya, dengan mengurus anak-anak TKI/TKW yang bermasalah itu agar dapat atau tetap bersekolah, bekerjasama dengan panti-panti dan dinas sosial dan lainnya. Selain karena pekerjaan yang memang harus dilakukan lembaganya, apa yang kini dilakukan Endang juga karena melihat realita yang tidak menguntungkan bagi TKI/TKW berkasus yang membuatnya tidak bisa diam karena hatinya tersentuh untuk turut membantu. Kini, sembari mengemong cucu pertamanya yang baru berusia enam bulan, Endang masih tetap menangani kasus-kasus TKI/ TKW dan tidak tahu kapan ia harus berhenti. “Selama saya masih bisa membantu, saya tidak akan berhenti,” ujarnya. -Naniek I. Taufan

Endang bersama suami dan anaknya, saat pernikahan putri pertamanya

Duet Indra Lesmana dan Dewa Budjana dikenal sebagai musisi jazz papan atas Indonesia. Keduanya tak pelit berbagi ilmu. Mereka bahkan berkolaborasi dengan musisi-musisi muda. Bagi Indra, ada semangat beda ketika mereka bermusik dengan yang muda. Indra dan Budjana pun banyak bercerita diselasela workshop di Shankara Resto, Sanur, Rabu (12/11) malam.

“I

ndra ini anak ajaib. Tahun 1981 saya dapat informasi dia main bersama ayahnya (Jack Lesmana) di RRI Denpasar yang di Jalan Melati. Saya bela-belain datang agar bisa bertemu Indra. Mau masuk back stage gagal. Inilah yang membuat saya kemudian hijrah ke Jakarta untuk berguru kepada Om Jack dan Indra,” kenang Budjana. Gitaris band Gigi ini juga menuturkan dirinya menjadi murid ketiga Jack Lesmana saat membuka sekolah musik Farabi. “Saya hanya bertahan sebulan karena uang hanya cukup untuk bayar sebulan. Saya lalu bilang ke Om Jack, saya mau belajar musik tetapi tidak punya uang. Ternyata saya diperbolehkan tetap belajar walau tidak bayar bahkan numpang tinggal di rumah mereka. Dari modal nekat itulah saya menjadi dekat dengan Indra,” kata Budjana lagi. Kedekatan keduanya membuat mereka memiliki chemistry di music jazz. Mereka sering membuat komposisi bersama. Ada yang sudah direkam, ada yang belum. Tahun 2015, duet ini berencana merilis album yang materinya sudah mereka siapkan. Budjana pun mempromosikan musisi jazz di Bali untuk sering-sering nge-jam bareng Indra karena mulai Desember 2014, Indra Lesmana pindah ke Bali. “Saya bukan anak ajaib seperti kata Budjana. Kebetulan saya dibesarkan di keluarga pemusik. Tiap hari bermusik. Menurut saya, siapa pun bisa seperti saya kalau lingkungannya mendukung. Sejak kecil, musisi keluar-masuk rumah, suasana memang gitu. Tidur dengar musik, bangun dengar musik. Pulang sekolah juga dengar musik akhirnya saya pun melanjutkan kuliah musik di Australia,” ujar Indra Lesmana, pria

kelahiran Jakarta, 28 Maret 1966 ini. Ia menambahkan ayahnya membuat atmosfir musik di rumah. Suasana benar-benar dibuat agar menghasilkan musisi yang kreatif. Ternyata pola yang diterapkan ini berhasil melahirkan musisi-musisi andal seperti Budjana, Tohpati, Anto Hoed, dll. “Setelah ayah meninggal, saya merasa tidak mampu mengurus sekolah. Saya pengen cari pengalaman lain. Setelah berkelana dan mendapat pengalaman baru, akhirnya saya sadar saya harus mengajar lagi untuk berbagi ilmu. Generasi sudah berubah. Saya pengen mengembangkan di Bali. Desember ini saya pindah ke Bali, tinggal di Sanur,” ujar adik Mira Lesmana ini. SEMANGAT DENGAN YANG MUDA Karier Indra dalam dunia musik dimulai saat usianya 10 tahun. Ia tampil bersama ayahnya di Bandung, Maret 1976 dengan instrumen keyboard. Dua bulan kemudian, bertempat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Indra bermain keyboard dalam sebuah konser jazz yang melibatkan musisi senior seperti Jack Lesmana, Benny Likumahuwa, dan penyanyi Broery Marantika. Tahun 1978, Indra mulai merekam dan merilis album pertamanya “Ayahku Sahabatku”. Ta h u n 1 9 7 8 , I n dra bersama ayahnya berkesempatan pergi ke Australia untuk tampil dalam pekan budaya ASEAN Trade Fair. Saat itulah, atas saran ayahnya,

Indra Lesmana saat tampil bersama Dewa Budjana

Penampilan Indra Lesmana (kanan)

Indra mencoba untuk mengikuti ujian masuk di Conservatorium of Music dan akhirnya diterima. Atas bantuan Kedutaan Australia, Indra mendapatkan beasiswa penuh untuk sekolah di New South Wales Conservatory School of Music di Sydney. Kementrian Luar Negeri Australia pun memberikan izin menetap bagi Indra dan keluarganya. Mengenai kolaborasinya dengan Dewa Budjana, Indra mengaku paling banyak berpartner dengan pria asal Klungkung ini. “Kami pernah

buat original soundtrack, buat band, dan buat komposisi berdua. Selera kami sama. Mengarang lagu satu selera. Pernah kami buat lagu satu hari jadi,” kenang juri Indonesian Idol ini. Saat workshop jazz di Shankara ini, Boni, seorang pianis yang juga guru di Farabi menanyakan bagaimana Indra dan Budjana bisa berimprovisasi. Pertanyaan ini dijawab Indra dengan menuturkan pengalamannya bermusik. “Jazz penuh improvisasi. Komposisinya juga dari improvisasi

5 tertulis. Buat lagu perlu spontanitas, jadi tema, lalu jadi lagu. Jazz sekarang berkembang. Di Amerika Serikat ada komunitas yang menjaga estetika musik jazz. Sama kayak masyarakat dan komunitas yang menjaga gamelan di Bali agar tetap eksis. Kemudian ada seniman-seniman baru yang mengembangkan jazz sehingga bisa liar membuka area-area yang tidak disentuh musisi AS,” jelasnya. Ia juga menuturkan India banyak memberi pengaruh jazz sehingga komposisi musik jazz melebar. Improvisasi dan spontanitas ini akan memperkaya kreativitas. Ini akan lahirkan banyak musisi muda karena mereka tidak jauh dari improvisasi. Indonesia menurut Indra, menjadi negara yang musisi jazznya terbanyak di Asia. Indra juga menceritakan dirinya sering bermusik dengan Budjana kemudian mereka mencari teman hingga mendapatkan Sadhu Rasjidi (putra musisi Idang Rasjidi) sebagai bassist dan Raffi sebagai drummer. “Mereka berdua masih muda dan punya bakat musik luar biasa. Ada tenaga dan semangat baru ketika bermain dengan yang muda, tapi bukan berarti melupakan yang tua. Kalau main sama yang tua, habis main obrolan soal penyakit, obat, dan kolesterol. Tetapi, kalau sama yang muda, habis main, obrolan beda dan menambah semangat,” ujarnya sembari tertawa. Workshop yang diawali instrumen “Somewhere Somehow ” pun dinikmati pengunjung dan penikmat jazz. “Tak ada song list, pokoknya kita bermusik,” ujar Indra setelah alunan “Joged” dan “Dancing Tears”. –Ngurah Budi


Woman on Top

6

Henny Suyasih

Semua harus Seimbang Siang itu di Kantor Lurah Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya, Mataram, Henny ­Suyasih, Lurah Dasan Cermen, tengah me­ nyimak seorang laki-laki yang tengah me­ nyampaikan masalahnya. Setelah semua masalah sudah disampaikan oleh warganya itu, Henny lalu memberi pendapatnya seba­ gai solusi tentang masalah yang dialaminya. “Ya begitulah, tugas saya juga harus me­ nyelesaikan masalah yang terjadi dalam masyarakat di Dasan Cermen ini,” katanya tersenyum.

M

asalah tanah waris­ an yang di bawa

oleh warga tadi, adalah salah satu dari masalah warga Dasan Cermen yang menjadi tanggung jawabnya untuk diselesaikan de­ ngan baik dan adil sesuai porsinya sebagai lurah, demi kedamaian bersama. Sejauh ini, menurut Henny yang menjadi Lurah Dasan Cermen sejak tahun 2012 ini, semua permasalahan yang muncul dalam masyarakatnya dapat

diselesaikan dengan baik. Diangkat sebagai salah seorang lurah di usia yang terbilang muda, 36 tahun, tidak membuat Henny kalah dengan mereka yang senior. Kreativitasnya dalam memimpin kelurahan ini telah mengantar Dasan Cermen meraih berbagai penghargaan baik tingkat Kota Mataram maupun tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebut saja, Kelurahan Dasan Cermen pernah meraih Juara I dalam Lomba Posyandu tingkat Kota

Mataram tahun 2013. Di bawah kepemimpinannya pula, Dasan Cermen meraih Juara I Lomba Kelurahan Tingkat Kota Mataram, tahun 2014. Lalu mendapat Juara II dalam Lomba Kelurahan tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, tahun 2014. Lebih dari prestasi yang sudah diraih itu, sejak diberikan tanggung jawab memimpin wilayah Dasan Cermen, Henny menjadikan wilayah ini lebih bersih. Di samping melaksanakan tugastugas kepemerintahan, Henny memiliki kepedulian membangun Dasan Cermen yang bersih. Berawal dari pemandangan kumuh yang terlihat di Dasan Cermen, membuat Henny turun menggerakan masyarakat untuk mengajaknya hidup sehat. Mulai dari mengajak ibu-ibu untuk tertib mengumpulkan sampah rumah tangga hingga dilarang membuang sampah sembarangan, melainkan harus dibuang ke dalam tempat sampah. Menurutnya, masalah kebersihan adalah hal utama yang harus

diperhatikan. Karena jika ingin bekerja dengan nyaman, maka harus dimulai dari lingkungan yang bersih. “Suasana kerja menjadi lebih fresh jika lingkungan sekitar bersih,” kata istri dari Irwan Haryadi ini. Ia berupaya keras untuk mengubah prilaku masyarakatnya dari kebiasaan membuang sampah sembarangan hingga akhirnya mau tertib bahkan hingga menjadikan sampah-sampah tersebut bernilai ekonomis. Ia bahkan menggerakan seluruh kepala lingkungan dan tokoh masyarakat serta tokoh agama di Dasan Cermen untuk membantunya menyosialisasikan kebiasaan hidup bersih dan tertib dengan memilah sampah organik dan anorganik. “Kalau pun tidak dapat memilah sampah organik dan anorganik,

setidaknya target pentingnya adalah masyarakat mau membuang dan mengumpulkan sampah di tempat sampah, tidak dibuang sembarangan apalagi di aliran kali yang melintas di wilayah Dasan Cermen,” ujarnya. Dua tugas sekaligus diemban Henny, yakni sebagai lurah dan sebagai ibu rumah tangga. Ia menyadari bagaimana pun, sebagai seorang wanita ia tidak boleh melupakan keluarga. “Semua harus seimbang, antara tugas sebagai abdi negara dan tugas keluarga harus sama-sama dijalankan dengan seimbang,” ujar ibu dari Rafi Kashtari Irsyady dan Hisyam Athaya Ramadhan ini. -Naniek I. Taufan

Sudut Pandang

17 - 23 November 2014

17 - 23 November 2014

19

Gerakan Penghijauan hanya Slogan? Tanggal 21 November diperingati seba­ gai hari pohon. Pohon pun kerap dikaitkan dengan lingkungan. Masyarakat tak harus menunggu hari pohon untuk berbuat demi lingkungan. Kali ini Tokoh menghadirkan laporan ­mengenai apa yang sudah dilakukan masyarakat Jakarta, NTB, dan Bali berkaitan dengan pohon.

P

embenahan lingkungan di Jakarta memang bukan suatu yang mudah. Lingkungan Jakarta yang sudah telanjur rusak akibat pembangunan yang tak terkendali, menjadi salah satu penyebabnya. Salah satu bukti dari kerusakan lingkungan yang parah itu adalah banjir yang kerap melanda Jakarta. Salah satu sebabnya adalah berkurangnya daerah resapan air dan kurangnya penghijauan. Lahan-lahan yang tadinya taman dan daerah resapan air telah berubah fungsi. Kalaupun keberadaan taman itu ada, namun tidak terurus apalagi ditanami pohon. Penghijauan seolah hanya jadi slogan. Beberapa tahun terakhir ini gerak Pemda DKI Jakarta dalam menata lingkungan, khususnya penghijauan, terlihat marak. Bisa jadi ini karena kali ini dana yang digelontorkan untuk itu, kali ini, lumayan besar. Salah satu yang disasar Pemda DKI Jakarta adalah meningkatkan RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang memang sangat minim di Jakarta. Target Jakarta adalah memiliki 30% RTH, sedang yang baru terealisasi 9,8% (dari luas daratan Jakarta 661,52 km2). Menambah

Nandar Sunandar

RTH memang tidak mudah karena sulit mencari lahan kosong di Jakarta. Untuk mendapatkannya berarti harus melakukan pembebasan lahan yang kebanyakan sudah menjadi pemukiman dan perkantoran. Tahun ini, untuk menghijaukan Jakarta, Pemda mengalokasikan dana Rp 2 triliun lebih. Dana ini selain untuk pembangunan dan pemeliharaan RTH, pembelian pohon, pembebasan lahan, dll. Anggaran ini mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Un-

Rutin Tanam Pohon Tiap Tahun Di Bali, Rotary Club Bali Taman selalu rutin melakukan penanaman pohon minimal sekali setahun. “Dalam proyek pengadaan air bersih, kami selalu melakukan penanaman pohon. Tujuannya untuk menjaga konservasi air,” ujar Nyoman Nilawati dari Rotary Club Bali Taman. Menurut Ibu Teladan Bali Tahun 2008 ini, pengadaan air bersih dan penanaman pohon sudah dilakukan sejak tahun 2006 sampai sekarang. “Hingga kini sudah sekitar 100 ribu pohon kami tanam tersebar

Nyoman Nilawati

di beberapa kabupaten di Bali. Kami mengkhususkan pengadaan air bersih pada wilayah-wilayah kering yang ada di pelosok seperti daerah Kubu Karangasem. Tidak hanya pengadaan air bersih, kami juga melanjutkan dengan menanam pohon. Beberapa pohon yang kami tanam ada juga tanaman produktif,” kata Nilawati. Pohon yang ditanam ada yang berjenis buah seperti mangga, manggis, durian, juwet, kopi, cokelat. Untuk pohon pelindung seperti albesia dan kejimas. Ia mengatakan, setelah penanaman pohon, mereka rutin datang berkunjung untuk mengetahui, bagaimana kelangsungan proyek air bersih yang mereka bangun. Begitu juga, sekaligus memantau perkembangan pohon yang mereka tanam. “Di beberapa daerah yang ditanami buah seperti mangga, kopi, cokelat, durian sudah menghasilkan. Kami senang melihat, pohon yang kami tanam produktif dan memberi manfaat secara ekonomi bagi masyarakat setempat,” ucapnya. Ia menambahkan, pilihan pohon yang ditanam memang yang tidak terlalu membutuhkan air, sehingga tidak masalah bila ditanam di daerah yang kering. -Wirati Astiti

tuk perbaikan taman misalnya, kalau tahun 2012 lalu hanya sekitar Rp 300 jutaan sedang tahun ini rencananya hingga Rp 20 miliaran. Jumlah itu belum termasuk dana untuk pembangunan RTH. Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Nandar Sunandar berharap, program penghijauan Jakarta mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Ada banyak bentuk dukungan, misalnya saja dengan ikut menanam pohon ataupun menyumbang bibit-bibit pohon. “Diharapkan masyarakat ikut mendukung program penghijauan, bisa dengan menyumbangkan pohon ataupun bibit,” kata pria yang suka bersepeda ini. Namun, jika ingin melakukan gerakan penananan hendaknya berkoordinasi dengan dinas pertamanan yang nantinya akan melakukan analisa tentang kebutuhan tanaman yang disesuaikan dengan tanah dan daerahnya. Sekarang ini taman dan RTH yang ada di Jakarta telah dirancang dengan tata estetika yang berbeda. Karena itu aksi penanaman perlu pengawasan. “Koordinasi diperlukan agar nilai estetikanya tetap terjaga,” kata Nandar yang baru 10 bulan menjabat Kepala Dinas Pertamanan. TREMBESI COCOK DI JAKARTA Ada banyak program terkait penghijauan yang dilakukan Dinas Pertamanan saat ini. Program terkait peran serta masyarakat misalnya, meminta setiap Rukun Tetangga melakukan penanaman 10 pohon. Selain itu, juga melakukan penanaman pohon di kawasan resapan air. Ajakan ini juga mendapat sambutan positif dari berbagai organisasi kemasyarakatan juga perusahaan-perusahaan swasta

Dinas Pertanamanan DKI tengah melakukan penanaman dalam rangka program penghijauan

yang ikut bergerak demi terciptanya ‘Jakarta Ijo Royo-royo’. Banyak di antaranya menanam pohon trembesi. Pohon besar ini dianggap cocok untuk Jakarta karena pohon ini mempunyai daya kuat untuk menyerap air. Keberadaan banyak pohon trembesi ini setidaknya bisa membantu dalam mengatasi masalah banjir yang kerap menyerang Jakarta. Selain itu, pohon yang bisa mencapai ketinggian 40 meter ini, juga bisa membantu mengatasi masalah polusi Jakarta. Sebab, pohon ini mampu menyerap gas berbahaya seperti karbondioksida (CO2) dan karbonmonoksida (CO) yang menjadi penyebab global warming. Pengamat Perkotaan, Nirwono Joga dari Universitas Trisakti Jakarta, mengatakan, anggaran yang besar harus disertai dengan kinerja jajaran Pemrov DKI Jakarta agar apa yang diharapkan bisa berhasil. Ada beberapa usulan yang disampaikannya,

di antaranya, bekerja sama dengan swasta dalam konsep taman dan pemeliharaan. Imbalannya, pihak swasta dapat memberi namanya pada taman sponsor itu. Ada yang menyarankan agar dalam rangka menjadikan “Jakarta Ijo Royo-royo” jangan dengan penanaman pohon secara instan melainkan dengan pola regenerasi. Karena menanam pohon secara instan tidak mempunyai akar tunjang yang kuat. Menurut Endes Dahlan, ahli hutan kota dari Institut Pertanian Bogor, era awal penanaman pohon di Jakarta dimulai zaman Ali Sadikin. Saat itu, Bang Ali banyak menanam pohon instan. Langkah ini kemudian diikuti oleh gubernur-gubernur Jakarta setelahnya. Padahal seharusnya menamam pohon instan harus diganti dengan penanaman bibit atau pohon yang usianya maksimal 1 tahun. Karena pohon yang ditanam dari bibit mempunyai akar tunjang lebih kokoh. –Diana Runtu

Melanggar Awiq-awiq Tak Dapat Pelayanan Sampah menjadi salah satu masalah yang sulit dituntaskan jika tidak ada kesadaran dan kepedulian semua pihak dalam penanganannya. Menggerakkan orang untuk peduli pada lingkungan yang bersih dan bebas sampah, juga bukan persoalan mudah. Karena itulah, demi menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, Kelurahan Dasan Cermen Mataram, membuat kesepakatan yang mengandung “daya paksa” bagi warga untuk mau tertib menyikapi sampah, dengan melahirkan Awiq-Awiq tentang Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan. “Dalam pembuatan awiq-awiq di lima lingkungan yang ada di Kelurahan Dasan Cermen Mataram, selain Ketua RT dan Kepala Lingkungan serta warga juga melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat,“ ungkap Henny Suyasih, S. STP, Lurah Dasan Cermen Mataram. Dalam awiq-awiq tersebut tertulis sanksi-sanksi bagi warga lingkungan masing-masing yang tidak mematuhinya. Beberapa isi dari awiq-awiq yang dibuat oleh warga di lingkungan Dasan Cermen Asri, misalnya, disepakati bahwa masyarakat di lingkungan itu diwajibkan untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan yang sebelumnya sudah dipilah antara sampah organik dan anorganik. Masyarakat juga dilarang keras buang air sembarangan di saluran dan sungai. Selain itu juga tidak diperkenankan membuang atau mengalirkan air limbah ke tempat yang menimbulkan genangan. Ada pula sanksi yang dijatuhkan jika warga tidak

mematuhi awiq-awiq tersebut, berupa teguran lisan dan denda jika mengabaikan teguran lisan hingga tiga kali. Bagi warga yang tidak mematuhi ketentuanketentuan tersebut secara terus menerus tidak akan mendapat pelayanan apapun dari Ketua RT ataupun Kepala Lingkungannya. “Awiq-awiq ini cukup efektif, meskipun dibutuhkan sosialisasi yang terus menerus untuk bisa tertib,” kata Henny. Tidak kurang dari satu dam truk sampah rumah tangga dari lima lingkungan dihasilkan di Dasan Cermen yang kemudian dikumpulkan pada bank sampah milik kelurahan ini. Dan di bank sampah inilah dilakukan pemilahan sampah organik dan anorganik. Sampah-sampah ini lalu dikelola sehingga menjadi komoditi yang bernilai ekonomis. Untuk mengelola sampah-sampah yang dikumpulkan itu, pada tahun 2013, Kelurahan Dasan Cermen membentuk Kelompok Siaga Sampah terpadu. Kelompok inilah yang melatih para ibu rumah tangga dan kader-kader kelurahan untuk memanfaatkan sampah anorganik, khususnya sampah plastik bekas minuman gelas, menjadi kerajinan yang apik. Para ibu dan kader kelurahan inilah yang kemudian mengubah sampah menjadi beraneka produk kerajinan yang unik seperti ingke (alas makan), vas bunga, keranjang, topi dan lainnya yang kemudian dijual dan mendapat banyak pesanan. Di kelurahan ini, sampah menjadi bernilai. “Jangan lagi melihat sampah sebelah mata. Karena sampah dapat membawa berkah,” katanya. -Naniek I. Taufan


Kreasi

18

17 - 23 November 2014

Ekspresikan Kesucian Bunga Jepun lewat Tarian

17 - 23 November 2014

Life

Story

7

Dari Pengamen Jalanan Jadi Musisi Berbakat “Salam hangat dari Kapolda Jawa Barat. Mudah-mudahan memotivasi masyarakat Jawa Barat untuk lebih berkreasi lagi dan begitu juga memotivasi seluruh Indonesia,” ungkap Komisaris Besar Polisi Erwin C. Rusmana, Direktur Binmas Polda Jawa Barat, menyampaikan pesan dari Kapolda Jawa Barat,­Irjen. Pol. Dr. Mochamad Iriawan, kepada Rismawanda pada malam Grand Final Indonesia Mencari Bakat (IMB) 2014.

I

Kesucian dening masa Sekar Jepun pinaka sarana Tat kala manggehang Ning kayun sujati Unteng ne pinaka Paleburan Panca Maha Bhuta Kuning petak................kesucianne Ring Sang Hyang Widhi Wasa Mogi asung kerta Dulurin sembah bakti Reff : Ampurayang solah ingsung Jagadhita kalanggengin.

T

arian ini ditarikan lima orang penari dengan pakaian berwarna putih, kuning, merah, dan hijau sesuai warna bunga jepun dan daunnya. Penari menggunakan gelung di bagian kepala dengan hiasan bunga jepun. Tarian yang berdurasi 8 menit ini menceritakan tentang keindahan bunga jepun dengan berbagai corak warna dan bentuk. Bentuk keunikan bunga jepun juga dituangkan dalam tarian tersebut. Sampai saat ini, sebagian besar masyarakat Badung, baik itu siswi,

remaja putri, dan ibu PKK sudah bisa menarikan tarian ini. Bahkan, tarian ini sudah dijadikan tarian penyambutan wajib dalam setiap kegiatan di Pemkab. Badung. Yang unik, dalam tarian tersebut, tidak saja ada gamelan, tapi ada juga sindennya. Kalimatnya sangat in­ dah, menggambarkan kesucian bunga jepun. Bunga jepun merupakan salah satu jenis bunga yang paling sering digunakan sebagai sarana persem­ bahyangan bagi umat Hindu. Selain memiliki aroma yang harum, bunga jepun juga memiliki warna yang

riawan yang sedianya akan menonton langsung acara grand final itu, batal hadir karena tengah menjalankan tugas pengamanan “Persib Juara”. Dalam waktu bersamaan, Minggu, 9 November 2014, masyarakat Jawa Barat tumpah ruah di jalan merayakan kemenangan kesebelasan kesayangan mereka, Persib Bandung yang men­ juarai laga final ISL 2014. Sebagai Kapolda Jawa Barat, Iriawan hari itu tengah fokus melakukan pengamanan perayaan “Persib Juara”. Di hari yang sama, malam harinya, Rismawanda tampil dalam grand final IMB 2014. Berduet dengan Sandrina, juara IMB 2013, Rismawanda tampil apik dan penuh penghayatan me­ mainkan biola hadiah istimewa dari Kapolda Jawa Barat itu. Penampilan

beragam, mulai dari putih, merah, ungu, dan kuning. Keistimewaan bunga jepun, sering digunakan untuk menyambut wisatawan, dengan menyelipkan bunga ini di telinga mereka. Pertumbuhan bunga ini tidak mengenal musim, dan akan terus mekar sepanjang waktu. Pohon bunga jepun sangat mudah kita temui di sepanjang jalan. Saat pohon ini berbunga akan tampak keindahan dan keasrian daerah tersebut. Uniknya, ada nilai filosofi yang bisa diambil dari bunga jepun terse­ but. Filosofi ini membuat bunga jepun dilirik Pemkab Badung untuk dijadikan maskot. Berbagai kreasi diciptakan dari bunga jepun. Selain lagu Bunga Jepun, ada juga Tari Sekar Jepun yang keduanya dijadi­ kan maskot Pemkab. Badung. Awal terciptanya maskot ini, ide dari Ny. Ratna Agung selaku Ketua PKK Kabupaten Badung. Ketika itu, ada rencana kunjungan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, tahun 2008. Waktu itu Pemkab. Badung belum memiliki maskot. Ny. Ratna Gde Agung melihat keunikan dari bunga jepun ini. Ia mengatakan, ada beberapa makna filosofi yang didapat dari pohon jepun tersebut. Pohon jepun adalah pohon yang kokoh yang mampu hidup puluhan bahkan ratus­an tahun, walau dalam cuca panas dan kering atau hujan. Walau­ pun pohon jepun tinggi, akarnya tidak akan pernah mengganggu lingkungannya dan tidak memba­ hayakan pihak lain. Sari bunga jepun yang harum tidak akan ternoda oleh kumbang karena sarinya jauh di dalam sehingga sulit dijamah se­ hingga kesuciannya tetap terjamin.

Sari yang melekat pada mahkotanya sebagai cerminan makhluk sosial tidak boleh ekslusif dan egois, namun harus menyatu dengan ling­ kungannya. Demikian juga seorang pemimpin harus mampu menyatu dengan rakyatnya. Kelopak dari bunga jepun melambangkan arah penjuru mata angin (pengider-ider) tempat berstananya para dewa. Batangnya juga sangat bermanfaat untuk membuat pratima. Bunga jepun kering dapat dimanfaatkan aroma terapi. Menurutnya, di awal ada yang tidak setuju mengapa harus memilih bunga jepun. “Ada yang mengata­ kan, kenapa tidak memilih bunga cempaka. Kalau menurut saya, selain berbagai kelebihan bunga jepun, saya merasa kurang mantap saat sem­ bahyang kalau tidak ada bunga jepun,” kata N y. Ra t n a Agung.

pamungkasnya di babak akhir IMB 2014, mengundang decak kagum pe­ nonton. Bahkan dewan juri yang terdiri dari Soimah, Deddy Corbuzier, Titi Rajo Bintang dan Adi MS, memberi­ kan standing applause secara serentak usai Rismawanda tampil memukau membawakan pertunjukan bertema ‘Biola Maut Sang Panglima.’ Tepuk tangan panjang itu membuat ibunda Rismawanda, Kusniati, yang turut hadir menangis terharu menyak­ sikan betapa anaknya itu mendapat kehormatan sedemikian rupa. Perem­ puan berusia 52 tahun itu, tak sanggup menahan haru tiap kali menyaksikan Rismawanda tampil di panggung me­ wah IMB. Ketika Riswanda dinyatakan sebagai pemenang ajang pencarian bakat itu, tangis haru sang bunda tiada terbendung. “Ibu nyaris pingsan,” kata

Saat menilai ke salah satu TK di daerah Legian, Ny. Ratna Gde Agung bertemu dengan penyanyi Bali D.Antoni. Dari pertemuan itu, Ny. Ratna Agung meminta D.Antoni membuatkan lagu “Bunga Jepun”. Dari ide Ny. Ratna Agung ter­ sebut, mulailah konsep Tari Sekar Jepun dibahas dan dimatangkan dengan memohon petunjuk dari Ida Ratu Peranda, agar nilai kes­ akralannya bisa masuk ke dalam tarian tersebut. Himpunan Seniman Kabupaten Badung mulai men­ godok konsep ini dan menuangkan dalam konsep tari melalui beberapa kali diskusi dan latihan, termasuk masuk­an dari Bupati Badung dan Ny. Ratna Gde Agung. -Wirati Astiti

Rismawanda bersama ibu dan saudara-sudaranya

Rismawanda (paling kiri) bersama rekan-rekan sesama pengamen di rumah singgah KPM Dewi Sartika

Indah, kakak Rismawanda yang turut hadir. Ia seperti tidak percaya apa yang tengah didengar dan disaksikannya. Anaknya yang tidak pernah mengenal not balok dan tangga nada itu akhirnya menjadi seorang bintang dengan spesi­ fikasi musisi berbakat. Siapa sangka, anak yang hidup­ nya di jalanan sebagai pengamen itu, akhirnya meraih kesuksesan yang luar biasa, menjadi seorang bintang setelah me­nyisihkan ribuan anak muda lainnya yang sama-sama memimpikan menjadi seorang bintang dalam audisi demi audisi di seluruh Indonesia, hingga pergelaran demi pergelaran dalam persaingan yang sengit di panggung megah tersebut. Melihat penampilan Rismawanda di panggung spektakuler IMB seperti menyodorkan kontradiksi dari perjalanan hidup seorang Ris­ mawanda. Jalanan dan kehidupan yang serba sulit adalah potret keseharian kehidu­ pan Rismawanda dan keluarganya. Di sebuah rumah kontrakan ukuran sekitar 5x6 meter di lorong sempit Kelurahan Arcamanik, Kecamatan Bina Harapan, Kota Bandung, Rismawanda tinggal bersama ibu dan kelima saudaranya, yang tiga di antaranya juga sempat menjadi pengamen jalanan bersama Rismawanda. Mereka bersaudara 10 orang, seorang meninggal dunia dan dua orang lainnya telah menikah dan tinggal terpisah dengan mereka. Dari rumah inilah ia berangkat merajut mimpinya meraih kehidupan yang layak. Namun apa daya, jalanan yang menjadi tempatnya mencari nafkah tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk itu. PENGHASILAN RP 50 RIBU Kerasnya hidup di jalanan sudah dialaminya sejak berusia delapan tahun. Bermodal alat musik kecrekkecrek sederhana yang dibuat sendiri, Rismawanda menaklukan jalanan yang

sewaktu-waktu bisa saja merenggut nyawanya. “Rismawanda sudah mulai mengamen sejak usia delapan tahun,” ungkap Kusniati. Sepuluh tahun tera­ khir, ia “menikmati” pedihnya hidup di jalanan Kota Bandung. Meski begitu, Rismawanda tidak pernah mengeluh sedikit pun. Ia sangat memahami orangtuanya membutuhkan bantuannya untuk menopang ekonomi keluarga. Maka dengan mengamen itulah satu-satunya keahlian yang bisa dilakukannya. “Risma sampai putus sekolah demi membantu mencari uang untuk kami makan sehari-hari,” ungkap Kusniati menitikkan air mata. Sesungguhnya Rismawanda tidak ingin sekolahnya putus, namun ia tidak punya pilihan lain. Anak muda dengan bakat alami kelahiran 6 September 1995 ini hanya mengenyam pendidikan sampai bangku kelas empat SD. Ia pernah pu­ nya tekad untuk tidak mengamen lagi jika suatu hari nanti ia mendapat peker­ jaan yang layak, karena hidup di jalanan itu bukan hal yang menyenangkan. Banyak godaan yang dapat men­ jerumuskan ke dunia hitam. Kehidu­ pan jalanan, banyak pula membuka kesempatan-kesempatan yang bisa saja menjebaknya sewaktu-waktu dalam dunia kriminal. Namun, kegigihan Ris­ mawanda berjuang untuk keluarganya membuatnya tidak sempat berpikir yang aneh-aneh. “Risma mah, anaknya baik, sopan, sholeh, rajin salat dan tidak merokok. Dia tidak pernah tersinggun­ gan, baik banget anaknya,” kata Kusniati menangis haru. Meski sebagai seorang pengamen, di mata Kusniati, Rismawanda adalah anak yang membanggakan. Ketegaran­ nya menjadi tulang punggung keluarga kerap membuat ibundanya ini terharu tiap hari ia menunjukkan perhatiannya pada keluarga dengan membawa uang hasil jerih payahnya sebagai pengamen di sepanjang Jalan Laswi dan Lapangan

Pensi hingga Jalan Ahmad Yani Kota Bandung. Penghasilan Rismawanda sebagai seorang pengamen biasanya hanya sekiatr Rp 20.000 hingga Rp 50.000. “Biasanya dia bagi dua dengan saya untuk kebutuhan makan adikadiknya. Jika dia bawa pulang uang hanya Rp 20.000, dia selalu minta maaf pada saya,” kata Kusniati yang selalu bersyukur tiap kali anaknya itu membawa pulang uang berapa pun jumlahnya. Sebelum lolos dalam audisi IMB 2014, bakat Rismawanda ditemu­ kan oleh sebuah Lembaga Swa­ daya Masyarakat bernama Kelompok Perempuan Mandiri (KPM) Dewi Sartika, Bandung. “Rismawanda kami temukan di jalanan bersama ibunya saat mengamen,” kata Priston dari KMP Dewi Sartika. Lembaga inilah yang kemudian membina Risma. Kusniati pun diberikan pelatihan keterampilan agar memiliki keahlian sehingga tidak menjadi bagian dari kehidupan jalanan. Pada masa-masa awal penampi­ lannya di panggung IMB 2014, Ris­ mawanda sebenarnya sempat kesulitan dengan biola yang dimainkannya. Biola itu tidak sesuai dengan spesifikasi ke­ butuhannya tampil di panggung spek­ takuler itu. Kabar ini akhirnya sampai di telinga Irjen. Pol. Dr. Mochamad Iriawan. Dengan segera Kapolda Jawa Barat ini merespons kesulitan Rismawanda yang kemudian membelikan sebuah biola buatan Jerman yang akhirnya mengantar Rismawanda menjadi Bintang IMB 2014. Alunan lirih biola yang dimainkannya, mengirim pesan terima kasih yang tak terhingga kepada Iriawan. “Pak Kapolda seperti dewa penolong bagi kami semua,” ungkap Kusniati sambil menangis dan berharap bisa bertemu langsung dengan Kapolda Jawa Barat ini untuk mengucapkan terima kasih secara langsung.- Naniek I. Taufan


8

Bunda & Ananda

17 - 23 November 2014

Satu Anak Satu Pohon

Berbagai cara dilakukan para orangtua tempo dulu, untuk lebih mendekatkan dan menanamkan kecintaan buah hatinya pada pepohonan maupun lingkungan. Salah satunya dengan menciptakan lagu anak-anak, seperti “Lihat Kebunku” yang syairnya sarat dengan makna menanamkan kecintaan pada pepohonan maupun lingkungan.

Ni Made Sumantri

Nyoman Darmini

agu itu sampai saat ini masih asyik untuk diperdengarkan kepada anak-anak. Diciptakannya lagu itu tentu saja bertujuan agar anak-anak dari kecil sudah terbiasa menanam pohon, merawat dan memetik hasil dari tanaman yang ditanamnya itu. Bukan sebaliknya, tak pernah menanam malah mambabat hutan yang seharusnya dilindungi. Kini anak-anak juga terus diingatkan untuk mengenali pepohonan, misalnya dengan meminta mereka mencatat jumlah dan nama pohon yang ada di rumah. Dari hal sederhana ini diharapkan mereka akan memiliki kepedulian terhadapan tanaman. Menurut Kepala SD 1 Peguyangan Drs. I Nyoman Arya, keluarga punya peran besar untuk menumbuhkan kebiasaan menanam pohon minimal di lingkungan tempat tinggalnya. Selanjutnya merawat pepohonan itu dengan menyiram maupun membersihkan tanaman

pengganggu lainnya. ‘’Keluarga sebagai pendidik pertama dan utama harus dikembalikan. Walaupun tidak sepenuhnya, setidak-tidaknya, para orangtua menyadari akan tanggungjawab itu,’’ ujarnya. Lelaki kelahiran Denpasar, 31 Desember 1960 itu menyadari, fenomena sosial yang terjadi saat ini, makin menjauhkan anak-anak dengan lingkungan. Lahan yang terbatas dan kesibukan yang padat, membuat hari-hari anak-anak itu makin jauh saja dengan lingkungan. Pohon tak lagi menjadi sahabat tempat mereka bermain sembunyi-sembunyian. Pohon tak lagi menjadi tempat mereka mendapatkan buah, lantaran buah sudah tersedia di dalam kulkas. Belajar dari pengalaman menumbuhkan kesadaran siswa untuk terbiasa menanam pohon, menyiram maupun merawat di sekolah yang dipimpinnya, akhirnya mendatangkan berkah tersendiri bagi seluruh

L

warga sekolah. ‘’Saya selalu melibatkan anak-anak untuk bersamasama menanam pohon, menyiram maupun merawatnya. Mereka pun dengan senang hati melakukan,’’ ujar bapak dua anak ini. Selain kenyamanan yang didapat, sekolah ini pun sukses meraih predikat Adiwiyata, prestasi sekolah di bidang lingkungan. Arya menambahkan banyak cara yang bisa dilakukan untuk membiasakan anak-anak sejak kecil terbiasa menanam pohon dan merawatnya. Salah satunya membentuk klub peduli lingkungan. Siswa masingmasing kelas diberikan tanggungjawab mengelola kebun. Termasuk mengumpulkan sampah organik maupun organik yang dapat diolah menjadi pupuk maupun dijual. Dra. Ni Made Sumantri, Kepala SD 2 Peguyangan melihat anak-anak sekarang makin jauh saja dengan kebiasaan menanam pohon. Termasuk merawat maupun menyiram sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Berbagai permasalahan yang menjauhkan anak-anak itu dengan kebiasaan menanam pohon, menyiram maupun merawat pohon sebagai bentuk kecintaan ada lingkungan harus diatasi bersama. ‘’Sepertinya kesibukan anak-anak, yang membuat mereka tak bisa melakukan aktivitas yang berkaitan erat dengan lingkungan,’’ katanya. Ni Made Sumantri yang juga istri dari I Nyoman Arya, mengajak para orangtua untuk menciptakan suasana agar anak-anak makin dekat dengan lingkungan. Kedekatan akan

17 - 23 November 2014

17

Bangunan Bergaya Kolonial Pintu kayu gebyok besar, menjadi entrance rumah tinggal pasutri Patrick Casalini dan Ririn Suhartini di kawasan Kerobokan Denpasar, Bali. Tanah seluas 6 are yang bentuknya melebar ke belakang, disulap menjadi sebuah hunian sejuk dan menarik berkonsep kolonial, by Pro House Concept.

D

i tangan pasutri yang juga mengembangkan bisnis properti PT Tamara Bali Indah ini, konsep kolonial diterjemahkan dengan

menampilkan arsitektur bangunan serba putih. Bangunan ini memiliki langit-langit yang tinggi, sehingga temperatur dalam ruangan tidak panas, walau tanpa pengondisian

udara. Kondisi ini didukung pula dengan bukaan-bukaan lebar pada jendela, yang memungkinkan udara dan sinar matahari masuk ke dalam ruangan. Sehingga, siang hari

tak perlu menyalakan lampu. Bangunan bergaya kolonial ini juga mengusung konsep green architect dan lebih mengedepankan unsur alami. Dalam artian, pasutri ini memberikan space yang luas untuk taman. Pilihan tanaman se­ perti jenis palem-paleman, pisangpisangan dan tanaman rambat mampu menetralisir panas. Demikian halnya dengan unsur air yang dihadirkan lewat kolam ikan dan kolam renang yang membentang memanjang, menjadi view di ruang makan dan dapur, yang sekaligus

menjadi ruang bersantai menikmati suasana segar nan hijau. Pemilihan material alami seper­ti lantai kayu, dinding batu alam dan gedeg menjadikan suasana hunian ini seolah menyatu dengan alam. Meski bergaya kolonial, Tamara Villa & Spa ini menyelipkan beberapa pajangan etnik berbau tradisi Nusantara sebagai dekorasi pemanis ruang­ an. Bahkan, satu bangunan yang diperuntukkan tamu (guest house) mengadopsi bentuk bangunan jineg dan gladag. –Inten Indrawati

Anak-anak menyiram tanaman

membuat mereka makin cinta dan selanjutnya akan tumbuh rasa peduli. Alangkah indahnya hidup ini jika banyak pohon yang tumbuh, sehingga makin banyak saja yang memproduksi oksigen yang sangat dibutuhkan manusia. Cara yang dilakukan lewat praktik menanam pepohonan di pot, lantaran terbatasnya areal sekolah termasuk halaman rumah. ‘’Menanam pohon di pot itu sama saja dengan di tanah. Hanya saja medianya yang berbeda. Jika dirawat dengan baik tanaman itu akan tumbuh dengan baik,’’ kata Sumantri. Siasati Keterbatasan Lahan dengan Polibag Hal senada dilakukan di SD 8 Dauh Puri. Menurut Ida Ayu Putu Tirta, Kepala SD 8 Dauh Puri, keterbatasan lahan di sekolah membuat mereka menyiasati dengan mengenalkan penanaman pohon dalam polibag. “Kebetulan kami mendapat bibit pohon dari Dinas Pertanian Provinsi Bali. Kami ajak anak-anak untuk menanam bibit tersebut lalu merawat bersama,” ujarnya. Siswa tidak hanya diberikan teori saja, namun langsung praktik. Misal-

nya, diminta melakukan eksperimen penanaman pohon lalu mencatat perkembangan pohon tersebut. Siswa kelas VI bahkan dikenalkan cara mencangkul agar mereka tahu dari awal proses menanam pohon. Sementara itu di TK Negeri Pembina Denpasar, baru mulai masuk sekolah, anak-anak sudah membawa satu pohon. “Pohon ini kami tanam di lingkungan sekolah. Selanjutnya anak-anaklah yang bertugas merawat karena berisi nama masing-masing. Kalau ada pohon yang mati, segera diganti,” ujar Kepala TK Negeri Pembina Denpasar Ni Nyoman Darmini, S.Pd, M.Pd. Selain mempraktikkan di sekolah, anak-anak TK ini juga diajak sekolah lab. Ini merupakan program sekolah mengajak anak-anak ke luar sekolah untuk mengenal lebih dekat lingkungannya. Kegiatan ini diantaranya menanam mangrove di hutan bakau, menanam pohon di Puncak Bon, Petang dan mengunjungi kebun stoberi di Bedugul. Dengan melihat dari dekat dan melakukan sendiri upaya kepedulian lingkungan ini diharapkan anak-anak akan makin cinta lingkungan.

Ruang keluarga di lantai atas

Tempat bersantai di dek atas

Guest house yang memakai bangunan jineng dan gladag. Memakai dinding kayu dan gedeg, serta lantai kayu untuk menetralisir panasnya iklim tropis

–Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

Si Pentol, Anak yang Diculik

Si Pentol sedang asyik bermain petak umpet. Ketika bersembunyi di balik semak, tiba-tiba seorang penculik bertubuh kekar mendekatinya. Made Taro Laki-laki itu berpura-pura berbaik hati. Ia memberi si Pentol sebatang manisan cokelat, lalu menggendong dan melarikannya ke dalam hutan. Si Pentol berontak dan berteriak, tetapi tak seorang pun yang mendengar teriakan itu. Dalam perjalanan ke dalam hutan lebat, Si Pentol menangis terus. Ia takut dan memanggil-manggil ayah dan ibunya. Penculik yang jahat itu berusaha menghibur korbannya dengan bernyanyi, tetapi anak itu tidak juga berhenti menangis. “Berhentilah menangis, Sayangku,” hibur penculik itu. “Setiba di rumahku nanti kau akan terheran-heran. Di halaman rumahku tumbuh sebuah pohon yang terbesar dan tertinggi di dunia. Dari puncak pohon itu kamu dapat melihat seluruh keindahan dunia. Ada gedung pencakar langit, ada danau luas dan biru, dan pabrik-pabrik yang mengepulkan asap. Yang mengherankan lagi, Sayangku, pohon itu memiliki batang yang luar biasa besarnya, sehingga seluruh penduduk dunia yang saling berpegangan, tidak berhasil memeluknya.” Cerita aneh penculik itu tidak mempan. Anak kecil dalam gendongan penculik itu masih juga menangis. “Aku juga punya sapi raksasa,” sambung penculik itu.

“Besarnya luar biasa. Sekali minum, ia menghabiskan air sungai di seluruh dunia.” Si Pentol tiba-tiba berhenti menangis. Penculik itu senang, lalu menurunkan anak yang diculik itu dari gendongannya. “Bagus benar cerita Paman!” kata anak kecil itu. “Ajaib dan mengherankan! Di rumahku juga terjadi keajaiban.” “Wah, wah, keajaiban apa itu?” tanya penculik itu penasaran. “Aku punya genderang raksasa, warisan dari kakekku. Sekali pukul, genderang itu membahana dan suaranya terdengar ke seluruh dunia.” “Ah, bohong itu!” sanggah si penculik. “Dari mana kakekmu mendapatkan kayu untuk genderang sebesar itu?” “Ya, dari pohon yang tumbuh di halaman rumahmu!” jawab si Pentol bersungguh-sungguh. “Lalu, dari mana kau dapat kulit hewan untuk membuat genderang sebesar itu?” “Ya, dari sapi raksasa milikmu.” “Lalu, dari mana kau membunyikan genderang itu sehingga terdengar di seluruh dunia?” “Ya, dari puncak pohon yang tumbuh di halaman rumahmu.” Si Penculik, laki-laki kekar itu mulai curiga. “Janganjangan anak kecil ini ajaib dan sakti,” pikirnya. Ia menyuruh anak kecil itu naik ke punggungnya, lalu secepatnya mengantar kembali ke tempatnya bermain petak umpet.

Kamar tidur anak. Dinding kamar mandi yang membatasinya dengan kamar tidur memakai kaca bening untuk memberi kesan lebih luas pada ruang

Kamar tidur utama yang ­memiliki akses langsung k­ e ­ruang wardrobe dan kamar mandi

General Contractor

Building Consultant Architectural Drawing

Interior & Exterior Designer

Landscaping Work Art Work

Jalan Serma Kawi 15 - 17 Denpasar, Bali. Tlp. (0361) 243717. Hp: (0361) 7875878, 08161671071. Email: tudejak@yahoo.com

Pemanfaatan Sinar Matahari untuk Pencahayaan Pertanyaan seputar griya dan properti dapat Anda kirim ke tudejak@yahoo.com atau redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Tata Mitra Selaras, Ketua Tim Arsitek: N.G. Dwi Mahadipta, ST.MT.IAI

Tanya: Wilayah Indonesia beriklim tropis dan mendapatkan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Bagimana cara memanfaatkan sinar matahari ini untuk pencahayaan bangunan? (Bambang, Denpasar) Jawab: Sebelumnya, perlu diketahui perbedaan dari sinar dan cahaya. Cahaya (light) merupakan gelombang elektromagnetik panjang antara 380 hingga 700 nm (nanometer, 1 nm+10-9 m), dengan urutan warna ultraungu, ungu, nila, biru, hijau, kuning, jingga, merah, dan infra-merah. Sedangkan sinar (ray) adalah berkas atau spektrum cahaya

yang mengarah ke suatu tujuan. Beberapa warna sinar dari spektrum cahaya tidak dapat dilihat tanpa bantuan alat khusus seperti sinar gamma, sinar x, sinar kosmik, dan lain-lain. Maka, kita sering mendengar “cahaya matahari menyinari bumi” (Satwiko). Dalam memanfaatkan cahaya matahari sebagai pencahayaan alami, harus diingat bahwa matahari selain membawa terang, juga membawa panas. Cahaya yang dimanfaatkan untuk pencahayaan ruangan adalah cahaya bola langit (skylight). Sedangkan cahaya matahari langsung dapat dimanfaatkan untuk ruangan-ruangan khusus yang membutuhkan cahaya matahari langsung. Secara prinsip, terang alami langsung dapat dibedakan menjadi empat (4) yaitu, matahari langsung pada bidang kerja, cahaya pantulan benda-benda sekitar, cahaya pantulan halaman, kemudian dipantulkan oleh langit-langit atau dinding ke bidang kerja

dan cahaya pantulan dari lantai dipantulkan ke langit-langit. Pemanfaatan cahaya matahari sebagai pencahayaan alamai perlu memperhatikan hal-hal berikut: pembayangan, untuk menjaga cahaya matahari langsung tidak masuk ke dalam ruangan melalui bukaan (memanfaatkan terang matahari dan meminimalkan panasnya). Perlu diketahui, jika cahaya matahari langsung pada bidang jendela dapat merambatkan 80%-90% panas ke dalam ruangan. Teknik pembayangan dilakukan dengan memakai overhang, kisi-kisi, dan tirai. Pemasangan kisikisi pada bagian dalam jendela menurunkan rambatan panas matahari hingga 30%-40%. Sedangkan, kisi-kisi yang dipasang di bagian luar jendela dapat menurunkan rambatan panas hingga 5%-10%. Selain itu, pengaturan letak dan dimensi bukaan perlu diperhatikan agar cahaya bola langit dapat dimanfaatkan dengan optimal. Pemilihan warna dan tek-

stur permukaan ruangan juga diperlukan untuk memperoleh pemantulan yang baik. Tanpa menyilaukan mata. Dewasa ini, dengan perkembangan teknologi, banyak terobosan dalam pemanfaatan cahaya matahari sebagai pencahayaan alamai seperti penggunaan sun tunnel dan solar tube.


Edukasi

16

17 - 23 November 2014

Tumpek Wariga

Momen Manusia “Menyapa” Pohon Tradisi di Bali, manusia memperingati hari kelahirannya tiap 210 hari, yang biasa disebut otonan. Demikian halnya dengan pohon, yang diber­ lakukan sama, yakni diberikan peng­hormatan secara simbolik tiap Tumpek Wariga. Karena itu, masyarakat Bali kerap menyebut Tumpek Wariga ini sebagai otonan pohon.

T

umpek Wariga sering pula disebut Tumpek Bubuh, Tumpek Pengatag, atau Tumpek Pengarah. Menurut praktisi bebantenan Ida Ayu Nirka dari Griya Pangsan, Petang, Badung, Tumpek Wariga merupakan salah satu wujud umat Hindu dalam mengajegkan (menjaga/melestarikan) Tri Hita Karana (parahyangan, pawongan, palemahan), yakni menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan. Tumpek wariga dirayakan tiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga, 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Tahun 2014, Tumpek Wariga jatuh pada 26 April dan 22 November. Ini adalah hari untuk menghaturkan puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai D e w a Sangkara, dewa

Dayu Biang Nirka

penguasa tumbuh-tumbuhan yang dikonkretkan melalui mengupacarai pepohonan dengan bebantenan dan menghaturkan bubuh (bubur). “Bah-

kan, pada masyarakat Hindu Bali yang memiliki Pura Subak, dibuatkan tempat khusus Sang Hyang Sangkara, manifestasi Sang Hyang Widhi yang berfungsi melindungi/memberikan kemakmuran pada tumbuh-tumbuhan,” ujar Dayu Biang, demikian ia biasa disapa. Karena dalam rangkaian upakara itu, ada menghaturkan bubuh, maka Tumpek Wariga sering disebut Tumpek Bubuh. Bubuh (bubur) merupakan simbol pupuk/rabuk. Tujuannya, supaya tumbuh-tumbuhan hidup subur, cepat besar dan berbuah, yang tentu saja membawa kemakmuran dan keharmonisan bagi manusia. Bubuh ini diisi di banten, di sasat, dan pada gantungan-gantungan. Tak setiap desa desa/wilayah di Bali memikili tradisi atau bebantenan sama dalam suatu upacara. Menurut desa mawacara di Desa Petang, Pangsan, Badung, banten yang dihaturkan saat Tumpek Wariga adalah tulang pengambyan, pejati, tumpeng dulang

pitu (7) atau tumpeng dulang lima (5). “Jika ingin mengambil tingkatan upakara yang lebih besar, namanya ngerasakan, ini memakai daging guling,” ucapnya. UPACARA POHON Segala macam tumbuhan yang berguna bagi manusia patut diberikan penghormatan pada hari suci ini. Namun, konkretnya tak semua pohon bisa diberikan upacara. Yang paling banyak bisa dilihat adalah meng­ upacarai pohon-pohon berbuah, seperti pohon kelapa dan mangga. Pada pohon-pohon berbatang besar ini, ada tradisi umat Hindu neteknetek pohon atau melukai batangbatang pohon dengan pisau. “Itu maksudnya sesapang (sapaan manusia kepada pohon), yang diikuti oleh kata-kata…kaki-kaki, dadong kije? Ye gelem. Gelem engken? Gelem Nged”, ungkap Dayu Biang Nirka. Tujuannya, agar pohon itu berbuah banyak untuk menyongsong kedatangan Hari Raya Galungan 25 hari mendatang, dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan umatnya terhadap tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, daun-daunan dan bunga-bungaan.

Perayaan hari Tumpek Wariga mengajarkan pada umat manusia bahwa kita wajib bersyukur atas segala kehidupan dalam alam ini. Menghormati dan menghargai bumi dengan segala isinya, khususnya tanaman. Ini memberikan makna bahwa sudah seharusnya manusia mengasihi dan menyayangi alam dan lingkungan yang telah berjasa menopang hidup dan penghidupannya. Pada Tumpek Wariga, momentum kasih sayang kepada alam diarahkan kepada tumbuh-tumbuh­ an. Betapa besarnya peranan tumbuh-tumbuhan dalam memberi hidup umat manusia. Hampir seluruh kebutuh­an hidup umat manusia bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pangan, sandang hingga papan. Kare­na itu, tak keliru jika tradisi perayaan Tumpek Wariga ini disepadankan sebagai peringatan Hari Bumi ala Bali. Namun demikian, Dayu Biang mengingatkan, penghormatan manusia pada tumbuh-tumbuhan jangan hanya saat Tumpek Wariga. Rasa kasih kepada sumber kehidupan dan kemakmuran manusia itu harus diaplikasikan dalam kehidupan seharihari. Misalnya, menjaga hutan tetap asri dengan tidak melakukan peneba­ ngan pohon sembarangan. Tiap orang menanam satu pohon, tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi polusi berlebihan ke air, udara, dan tanah, niscaya kehidupan manusia akan menemui kedamaian. Melalui perayaan Tumpek Wariga ini sejatinya umat Hindu diingatkan betapa pentingnya merawat alam dengan menanam tumbuh-tumbuh­ an. Tak hanya tumbuhan yang buah atau daunnnya berguna untuk sumber makanan, tetapi juga pohon-pohon untuk menjaga keseimbangan alam menghasilkan oksigen dan menyerap polusi udara. –Inten Indrawati

Jelajah Wisata Kuliner Kota Bogor Jika Anda berkesempatan mengunjungi Bogor, Jawa Barat, jangan hanya pelesir ke Kebun Raya Bogor tapi sempatkan diri untuk berburu makanan enak. Kota yang jaraknya sekitar 60 km dari Ja­ karta ini, selain dikenal memiliki segudang jajanan enak yang sayang jika dilewatkan. Makanan apa yang Anda cari, makanan khas lokal? Makanan khas Indonesia atau Eropa atau makanan kreatif ? Anda dapat menemukan semuanya di sini, dengan rasa yang enak juga terjangkau oleh ‘kantong’ Anda.

S

alah satu jajanan paling terkenal dari Bogor adalah asinan bogor, baik itu asinan sayuran maupun buah-buahan yang disajikan dengan kuah asam, plus kacang goreng dan kerupuk kuning. Orangorang dari luar kota biasanya pulang membawa asinan ini sebagai oleholehnya. Jika Anda tertarik, maka bisa berkunjung ke

salah satu penjual asinan terkenal di kota itu, di Jl Binamarga Bogor. Suka makaroni panggang? Datang­ lah ke Jl Salak No 24. Rumah makan yang berbentuk rumah tinggal dua lantai---agaknya pemilik usaha tetap mempertahankan ciri bangunan itu--lumayan luas. Sepertinya pemilik usaha ingin menghadirkan suasana ‘home sweet home’ agar pengunjung betah berlama-lama menikmati aneka kuliner yang ditawarkan. Jika ingin suasana berbeda, Anda bisa memilih makan di pe­karangan yang di­ tumbuhi banyak tanaman sembari melihat anak Macaroni panggang

bermain ayunan. Nah, jika memilih makanan, jangan lupa menyicipi makaroni bakar andalan rumah makan ini. Ditanggung, pasti ketagihan. Selain makaroni, ada sejumlah makanan enak lainnya, baik makanan local atau khas Indonesia ataupun makanan Eropa. Jika Anda datang di hari libur, siap-siap untuk mengantri. Jika malas mengantri, jangan khawatir, karena di sekitar resto itu, atau di Jl Salak itu terdapat beberapa rumah makan yang juga menyajikan makaroni panggang sebagai makanan

andalan, yang rasanya juga tak kalah enak. Selain resto-resto makaroni panggang, ada juga resto jenis makan­ an lainnya. Jadi, sekali berkunjung ke Jl Salak, Anda punya banyak pilihan makanan. Kalau mau jalan sedikit, maka tak jauh dari sana ada Jl Pang­r ango yang juga marak dengan tempat makanan enak. Di antaranya yang terkenal adalah ‘Kedai Kita’ yang ter­­kenal dengan pizza kayu bakar. Sensasi rasa­n ya sungguh berbeda dengan pizza pada umumnya, apalagi limpahan keju yang meleleh membuat makanan ini sungguh menggoda. Di kawasan Pangrango pula bercokol ‘Klappertaart Huiz’ yang terkenal dengan klappertaart, pastel tutup dan macaroni schotel. Selain kedua restoran itu, tentu saja masih banyak pilihan resto lainnya yang juga terletak di sana. Nah yang mungkin tidak asing bagi Anda adalah kawasan Gang Aut. Kawasan pecinan yang terletak di perbatasan antara Jl Suryakencana dengan Jl Siliwangi, termasuk yang paling ramai dikunjungi karena pilihan makanannya sangat beragam, umum-

nya makanan lokal, seperti; asinan jagung bakar, soto mie ciseeng, toge goreng, aneka pepes, laksa, rujak uleg toko bima, mie tasik, soto mie Agih, bakso kikil Pak Jaka, es bir kocok, martabak, asinan bogor Gedung Dalam, dll. Kalau mau coba rasa yang unik di sana ada cungkringan yang penjajanya menggunakan gerobak untuk berjualan. Cungkringan adalah makanan ini terbuat dari kikil dan kepala kambing yang disajikan dengan kuah dan sambal kacang, plus lontong supaya tambah nikmat. Bagi yang ingin makanan mengandung babi, bisa berkunjung ke Ngo Hiang, Jl Suryakencana 309A. Salah satu makanan andalan di sini adalah ngo hiang campur. Ngo hiang semacam rolade yang dibuat dari campuran daging babi, udang, sagu. Satu porsi ngo hiang campur berisi ngo hiang, tahu, kentang dengan suraman kuah kental manis gurih, plus acar ketimun, lobak dan wortel. Masih terkait daging babi. Pemandangan ini boleh dibilang amat jarang ada, khususnya di Jakarta, yakni penjual sate babi gerobakan. Kalau biasanya yang dijual di pinggir jalan adalah sate kambing, ayam, di kawasan Gg Aut (Jl Suryakencana) ini ada penjual sate babi pinggir jalan. Sebenarnya masih banyak lagi pusat kuliner di Bogor selain yang disebutkan di atas. Di antaranya, pusat kuliner di Jl Pajajaran, Taman Kencana, Sudirman, kawasan Bantarjati, dll. –Diana Runtu

Dara

17 - 23 November 2014

9

Andri

Tidak Bisa Instan

Miracle Aesthetic Clinic

Bangun Rumah untuk Keluarga Prasejahtera Andri bersama Wali Kota IB Rai D. Mantra dan Ny. Selly D. Mantra

Tahun 2012 silam, anak muda yang satu ini terpilih sebagai Runner up I Duta Endek Kota Denpasar. Ia pun mendapat tugas mem­ promosikan kain endek di kalangan remaja dan masyarakat.

S

ebagai Duta Endek, pemilik nama panjang Ketut Andri Sena ini, cukup banyak mendapat pembekalan, salah satunya wawasan mengenai tenun ikat bernama endek ini juga bertambah. Ia makin me­ ngenal endek yang merupakan salah kearifan budaya lokal bernilai seni tinggi. Produk yang menjadi salah satu unggulan, pada industri kreatif Kota Denpasar. Dia melihat kain tenun khas Bali ini sangat mampu bertahan sepanjang masa, tidak akan lekang oleh zaman. Bahkan, katanya endek mampu menyesuaikan dengan perkembangan mode dan tren tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya, se­ hingga makin diminati berbagai kalangan. Hal ini juga yang akhirnya membuat pelajar yang biasa dipanggil Andri ini, makin tertarik dan menyukai produk lokal ini. Bahkan demi rasa cintanya pada endek Andri tertarik mencoba membuat usaha yang berkreasi menggunakan bahan endek dengan model berbeda dibandingkan yang ada selama ini. Apalagi menurut siswa kelas XII SMA Negeri 5 Denpasar ini, ke­inginannya untuk berwirausaha sudah tumbuh saat ia kecil. Begitu ada kesempatan ia pun tidak menunggu

lama, dan segera menghadirkan pakaian tren masa kini ditambah dengan sentuhan kain endek dengan label “Endek Wear” Andri mengaku modal untuk membuka usaha pakaian sepenuhnya berasal dari tabungannya sendiri. “Selama menjalankan usaha ini, saya

sekaligus belajar untuk menata keuangan. Bersyukur saya tidak mengalami kesulitan, sebab yang paling penting uang pribadi dan uang bisnis tidak saya jadikan satu,” ucap pengagum pengusaha sukses Chairul Tanjung ini. Sampai saat ini Andri mengatakan belum mengidolakan seorang

Andri Sena bersama temannya yang memakai karyanya

desainer. Pakaian-pakaian yang trendi yang diperuntukkan kalanga remaja itu di produksi untuk label “Endek Wear” seluruhnya didesain oleh Andri sendiri. Untuk ide dan inspirasi pengembangan kreasi dan desainnya, Andri juga tak ke­ tinggalan mengikuti tren baju anak muda zaman sekarang. Mengenai dukungan, putra bungsu dari empat bersaudara buah hati pasangan suami istri Nyoman Sudira dan Made Darpini, ternyata sangat luar biasa didukung oleh orang-orang terdekatnya, terutama dukungan besar dari ketiga orang kakaknya. Kakak-kakak Andri tentu menginginkan usaha yang digeluti adik mereka berjalan baik dan terus lancar. Selanjutnya Andri menga­ takan ia tahu membuka usaha sendiri perlu waktu dan tidak bisa instan. Mulai dari memikirkan ide awal, membuka, memperkenalkan dan mempromosikan usaha tersebut, namun Andri tidak merasa lelah, malah ia menjalankannya dengan senang hati. “Ini karena adanya dukungan teman -teman dan yang pasti juga dukungan keluarga jadi penyemangat yang utama saya,” katanya. Untuk usaha pakainnya itu pemilik motto hidup “do, get, be everything” ini melakukan promosi melalui berbagai media sosial dan situs jual-beli on line, sehingga pembelinya bisa mencakup seluruh penjuru negeri ini. Namun, Andri dengan jujur mengakui saat ini ia sedang vakum sementara arena fokus untuk Ujian Nasional SMA dan segala persiapan ujian yang lainnya. “Kelas XII ini saya memang berniat fokus belajar,” ujar Andri masih memancang pilihan melanjutkan di bidang kesehatan atau ekonomi. Mengenai kenangan dan pengalaman, Andri menyebutkan yang paling berkesan adalah saat ia diberikan kesempatan oleh Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ny. Selly Dharmawijaya Mantra mengisi fashion show di acara Denpasar Festival (Denfes) beberapa waktu lalu. Ia sangat senang, karena endek karyanya yang bisa dikenakan di berbagai acara itu tampil di panggung diperagakan oleh temantemannya dari Duta Endek 2012. Salah satu yang menjadi semangat juga untuk Andri dalam menjalankan usaha “Endek Wear” miliknya adalah respons yang ia terima. “Secara keseluruhan, respons yang saya terima sangat baik, bahkan tak jarang ada yang memberi masukan dan berbagi ide yang dapat membantu saya dalam berkarya. Saya ingin juga menjadikan teman-teman remaja lainnya merasa endek ini punya kita dan kita bangga memakainya” jawabnya -Nina

Sebagai kelanjutan dari program kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk “Believe in MIRACLE: The Miracle Touch for a Happy Healthy Home”, Miracle bekerja sama dengan Habitat for Humanity Indonesia mengadakan kegiatan “Women Build” untuk membangun dua (2) rumah layak huni bagi keluarga prasejahtera pada Sabtu ( 8/11), di Banjar Rintis Lapang, Gobleg, Buleleng. Jap Budi Wijaya, Direktur Operasional Miracle Aesthetic Clinic menjelaskan, program ini sebagai bentuk kepedulian Miracle terhadap lingkungan sosial. “Kami terdorong membantu keluarga prasejahtera memiliki rumah layak huni, sehingga memberikan dasar yang kuat untuk dapat meningkatkan kehidupan mereka menjadi lebih baik,” ujarnya. Dikatakannya, kegiatan ini melibatkan para perempuan, baik dari internal Miracle maupun eksternal, sebab mereka memiliki peran sangat penting dalam kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Melalui kegiatan ini pula Miracle mengajak dan meningkatkan kesadaran perempuan Indonesia lainnya untuk peduli dan ikut mewujudkan rumah layak huni bagi keluarga prasejahtera. “Fenomena kawasan kumuh dengan rumah tidak layak huni, disertai taraf kesejahteraan yang masih rendah, secara tidak langsung menjadi tanggung jawab kita sebagai warga negara untuk membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan,” ungkap Budi Wijaya didampingi Upik Rustiah, Clinic Manager Miracle Aesthetic Clinic Denpasar Sementara James Tumbuan, Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia menjelaskan bahwa perempuanlah yang paling berat merasakan dampak dari tinggal di rumah tidak layak huni. Kepedulian dan keterlibatan perempuan yang digalang oleh Miracle merupakan momentum yang patut dikembangkan. Selain itu, Clareta Gozali, Manager Pengembangan Program Bali dari Habitat for Humanity Indonesia menambahkan, pemilihan lokasi dan keluarga mitra penerima bantuan sudah melalui tahap analisa dan penilaian. – Sri Ardhini

Wali Kota Buka Seminar Tata Rias Seminar Gratis “Tata Rias Pengantin Bali Madya dan Tata Rias Pengantin Bali Agung”, sekaligus Uji Kompetensi dilaksanakan Jumat (14/11) di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Denpasar. Seminar yang dibuka Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra didampingi Ny. Ida Ayu Selly D. Mantra tersebut dimeriahkan dengan pertunjukan tari kreasi “Tektok Mahabrata” oleh Sanggar Tari Purna, Bone Gianyar. Pada kesempatan itu diserahkan pula 40 beasiswa dari Kemendiknas kepada warga Desa Dauh Puri Kaja dan Peguyangan Kaja, Denpasar. Wali Kota IB Rai Mantra memberikan apresiasi positif terhadap AA Ayu Ketut Agung yang merupakan pakar kecantikan serta pemilik LKP dan TUK Agung. Ia mengatakan apa yang telah dilakukan Bu Agung adalah sebagai upaya mengentaskan kemiskinan dan buta huruf lewat kejar paket dan pelatihan keterampilan di bidang tata rias. Keterampilan dan kecakapan ini disampaikannya pula haruslah terukur. Karena itu, uji kompetensi mutlak diikuti untuk mengukur sejauh mana keahlian yang didapat telah dikuasai, yang natinya bisa dipraktikkan optimal. Uji kompetensi menghadirkan empat tim penguji dari Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) pusat. Acara yang diikuti ratusan peserta yang digelar atas kerjasama WHDI Bali, LKP Agung, Viva Cosmetic, dan Harian Bisnis Bali (Kelompok Media Bali Post) tersebut dihadiri Ny. Sri Utari Satria Naradha, Direktur Distribusi Viva Cosmetics Wilayah Indonesia Timur Yusuf Wiharto, Kepala Perwakilan Viva Cosmetics Bali Wayan Suyadnya, serta undangan penting lainnya. –Inten Indrawati


Bugar

10

17 - 23 November 2014

Diabetes/Kencing Manis: Kenali Gejalanya, Hindari Komplikasinya

(7) Riwayat gangguan toleransi glukosa, gula darah puasa terganggu, (8) Penyakit dengan resistensi insulin (Obesitas, acanthosis nigrikans ), (9) Kelompok etnis tertentu seperti etnis asli Amerika, Afrika Amerika, Asia Amerika, Kepulauan Pasifik, Latin, (10)Wanita dengan sindrom ovarium polisitik (Polycysytic Ovary syndrome).

dr. Raymond Sebastian,Sp.PD Poliklinik Penyakit dalam (Outpatient Dept.) Rumah Sakit SILOAM Appointment : (0361) 779-900 ext. 29701 Hp: 081219209799 Email : Raymond.sebastian@siloamhospitals.com Diabetes mellitus biasa dikenal sebagai penyakit DM/kencing manis. Penyakit ini sering menyerang masyarakat kita. Faktor lingkungan dan gaya hidup perkotaan yang tidak sehat, seperti makan yang berlebihan, makanan mengandung berlemak, kurang aktivitas fisik, dan stres memainkan peran utama memicu penyakit ini. Hasil studi epidemiologi di Jakarta beberapa waktu lalu untuk membuktikan keberadaan peningkatan prevalensi diabetes mellitus dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, yang diikuti pada tahun 2001 di Depok (daerah sub-urban Jakarta) menjadi 14,7%. Sehingga WHO memperkirakan bahwa Indonesia akan peringkat ke-4 sebagian besar kasus diabetes di dunia pada 2030. Hasil cross–sectional study (tahun 2011) yang dilakukan oleh FK Udayana/ Sanglah, RS Harapan Kita, bekerjasama dengan salah satu universitas Jepang (Kobe Women University) terhadap1840 subjek, pria dan wanita, umur 13-100 tahun di 7 desa yang berbeda di provinsi Bali, menunjukkan prevalensi gangguan gula puasa (Impaired Fasting Glucosa) dan DM adalah 13.1 % dan 5.3 %. Angka yang cukup tinggi untuk Impaired Fasting Glucosa /pre-diabetes, sehingga wajib diwaspadai, karena bila tidak dikendalikan, dapat menjadi penderita DM di masa mendatang. Penyakit DM ini perlu diwaspadai/ dihindari karena sering menyebabkan komplikasi. Komplikasi umum adalah penyakit jantung koroner, penyakit ginjal, stroke, infeksi, kaki diabetes (diabetes foot), retinopati (penyakit pada mata), diabetes neuropati Untuk memahami penyakit ini, telah memperkenalkan beberapa istilah: Glukosa darah: Gula darah yang diperoleh dari makanan, dan kemudian menjadi

Skrining DM pada orang tanpa faktor risiko harus dilakukan pada orang yang berusia > 45 tahun, bila hasil normal dapat diulang minimal setiap 3 tahun sekali, kecuali ditemukan gejal klinis baru. Sedangkan untuk kelompok risiko tinggi, walaupun tidak ada gejala yang khas dan hasil negatif, maka pemeriksaan selanjutnya dapat dilakukan setahun sekali. Pada pasien dengan risiko tinggi dengan gejala yang khas, tetapi hasilnya negatif, maka tetap disarankan untuk melakukan konfirmasi ulang pada hari lain.

sumber energi bagi organ-organ tubuh Insulin: Enzim yang dikeluarkan oleh pankreas untuk mengikat gula darah sebelum digunakan oleh organ-organ tubuh Secara umum diabetes terjadi karena ketidakseimbangan antara tingkat insulin dan kadar gula darah, sering disebut resistensi insulin. Klasifikasi DM menurut American Diabetes Association (ADA) 2009 1. DM tipe 1: di mana pankreas tidak dapat/gagal memproduksi insulin 2. DM tipe 2: tingkat jumlah/insulin kurang/tidak mampu mengimbangi kadar gula darah. 3. Jenis lain dari DM/hyperglycemic : biasanya karena kelainan genetik, proses infeksi 4. Gestational diabetes: diabetes mellitus yang timbul pada kehamilan Kenali gejala khas penyakit DM: polyphagia (terlalu banyak makan), polidipsia (banyak minum), polyruria (banyak kencing), disertai penurunan berat badan yang cepat tanpa alasan yang jelas. Namun, seringkali hanya muncul dari gejala yang timbul merupakan gejala tidak spesifik seperti kelemahan, kesemutan, luka yang tidak kunjung sembuh, mata kabur, disfungsi seksual (pria), gatal di alat kelamin (perempuan) Diagnosa pasti DM: gejala yang khas dengan hasil tes darah : 1. Puasa gula darah > 126 mg/ dL Ini berarti bahwa sampel darah yang diambil setelah puasa, yang tidak makan selama minimal 8 jam, minum air tanpa gula diizinkan. 2. Glukosa darah random/acak > 200mg/dL Artinya sampel darah yang diambil terlepas dari kapan/waktu makan terakhir.

dr. Raymond Sebastian,Sp.PD

3. Glukosa darah 2 jam post prandial > 200 mg/dL Artinya sampel darah yang diambil 2 jam setelah diberikan larutan gula (oral glucose tolerance test). 4. HbA1c > 6.5 % HbA1c adalah kadar rata2 gula darah seseorang selama 3 bukan terakhir. Orang-orang yang perlu didorong untuk melakukan skrining adalah semua orang dewasa dengan indeks massa tubuh/BMI > 25 kg/m2 (obesitas/kegemukan), dengan faktor risiko lain sebagai berikut: (1) Tidak aktif/jarang melakukan kegiatan fisik, (2) Riwayat keluarga diabetes (terutama orang tua kandung) , (3) Wanita dengan riwayat diabetes mellitus selama kehamilan/melahirkan bayi > 4 kg, (4) Hipertensi (> 140/90), (5) Kadar lemak tubuh : HDL <35 mg/ dL atau trigliserida> 250 mg/dL, (6) Memiliki penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah),

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Faktor keturunan tidak dapat dicegah, tapi gaya hidup bisa diubah. Tips pencegahan berikut: 1. Membiasakan diri hidup sehat. 2. Biasakan diri untuk berolahraga secara teratur. 3. Tidur yang teratur 4. Jangan makan permen, cokelat, atau makanan dengan kandungan garam yang tinggi. Hindari makanan siap saji mengandung tingkat tinggi karbohidrat dan lemak. 5. Banyak konsumsi sayuran dan buahbuahan. Buah-buahan yang manis tidak meningkatkan kadar glukosa darah. 6. Skrining pada orang berisiko tinggi dan orang yang berusia 45 tahun ke atas. Sumber : ADA, Standards of Medical Care in Diabetes 2014, Diabetes Care Volume 37, Supplement 1, January 2014 Ketut Suastika, et al Prevalence of Obesity, Metabolic Syndrome, Impaired Fasting Glycemia, and Diabetes in Selected Villages of Bali, Indonesia, Journal of the ASEAN Federation of Endocrine Society , 2011 Alvin Powers, Diabetes Mellitus, 18th Harrison ‘s Principles of Internal Medicine

Style

17 - 23 November 2014

Kilau Berlian

untuk Momen

Istimewa

Berlian adalah simbol keabadian cinta atau diamond are ­forever. Begitu sebutan yang diberikan banyak orang ter­ hadap perhiasan yang satu ini. Apapun bentuk dan desainnya, kilau berlian berhasil menyihir perhatian terutama perempuan, sulit menolak pesona perhiasan yang satu ini.

S

Putu Ayu Indra Kusuma Dewi

elain itu, keunikan karakter berlian juga mampu membuat batu mulia ini menjadi primadona paling berharga. Tak heran, jika banyak kisah mengungkapkan pemberian perhiasan berlian pada orang terkasih dalam kesempatan istimewa menjadi momen yang tak terlupakan seumur hidup. Menurut Putu Ayu Indra Kusuma Dewi, pemilik’Piny Jewelery’ sebagai perhiasan, desain berlian kian bervariasi mengikuti tren. Mulai dari koleksi paling simpel yang digemari untuk dikenakan sehari-hari, hingga model anting panjang bertatahkan berlian

putih, yang cocok untuk pesta dan sanggup membangun citra dengan gaya elegan Ayu Indra juga mengatakan koleksinya berupa cincin, gelang, liontin, dan bros, lebih banyak bertatahkan berlian putih, namun beberapa divariasikan dengan bebatuan seperti garnet, ruby, safir atau mutiara. Sedangkan, sebagai pengikat berlian koleksinya dipilih emas putih atau platinum, karena kualitasnya mampu mendukung kilau berlian. Dari beragam desain berlian yang ditampilkan pada halaman Style Tokoh pekan ini, adakah yang cocok untuk mengabadikan kenangan indah Anda? – Sri Ardhini

15


Jelita

14

karang gigi dan menjaga kesehat­an gusi dan gigi. Selanjutnya menggunakan fluoride secara regu­ ler bermanfaat melemahkan karang gigi saat menyikat gigi. Namun, tujuan ini kata dokter Wulan akan menjadi hilang jika kita segera makan atau minum setelah menyikat gigi. Jangan lupa, tegasnya kesehatan mulut yang baik juga dipengaruhi gaya hidup dan pola makan yang sehat. Jika mungkin hindari merokok karena membuat napas tidak enak juga membuat noda pada gigi. Sikat gigi dua kali dalam sehari, yang terpenting adalah sebelum berangkat tidur. “Jika melakukan diet, lakukan yang benar dan tepat. Jangan lupa pula, sebelum melakukan prosedur kecantikan gigi, sebaiknya periksakan gigi Wulan, ada beberapa jenis kosmetik gigi dahulu kesehatan gigi Anda,” katanya. – Sri Ardhini yang banyak dilakukan untuk mempercantik penampilan. Diantaranya; pemutihan gigi (teeth hitening). Hal ini katanya biasanya direferensikan bagi para perokok yang warna gigi tidak lagi putih. Ada dental fillings , yaitu prosedur tambal gigi biasa, tapi dengan bahan yang berwarna sejenis warna gigi. Kemudian , prosedur implan gigi atau penanaman gigi, yang dilakukan untuk menggantikan gigi yang tanggal. “Biasanya, gigi yang ditanam sekalian dengan akarnya. Sebab, gigi ompong cenderung menghadirkan kesan tua,”ucapnya. Selain itu lanjut Wulan ada juga bonding, yakni memperbaiki gigi yang patah. “Perbaikan gigi patah ini memakai bahan yang menyerupai enamel gigi. Lalu bahan tersebut ditempelkan di permukaan gigi. Barulah gigi yang sudah ditempel tersebut dipahat lalu dilapis agar menyerupai gigi asli,” tuturnya. Berikutnya , untuk mengatasi gigi yang saling bertumpuk ataupun berjarak menjadi lebih rapi dapat dilakukan dengan dental veneers. “Caranya dengan melapis gigi menggunakan bahan mirip enamel gigi sehingga gigi tampak lebih rapi,”katanya.

Gigi Sehat Senyum pun Cemerlang Penampilan yang menarik tidak cukup hanya dengan wajah bersih dan mata yang berbinar. Namun, susunan gigi yang rapi dan bersih pun berperan. Senyuman menjadi lebih lepas dengan deret­an gigi yang indah. Terutama saat sese­orang berinteraksi dengan orang lain, ke­bersihan dan putihnya gigi menjadi hal yang penting.

M

enurut drg. Dewa Ayu Wulandari saat ditemui di Kamandhani Dental Care, kini makin banyak orang yang memerlukan layanan kecantikan gigi. Mereka bukan hanya mengobati gigi yang sakit, juga demi perbaikan penampilan. Karena , prosedur kecantikan gigi juga berfungsi untuk mengembalikan posisi gigi yang tidak tepat akibat berbagai hal. Secara umum, dipaparkan oleh dokter

17 - 23 November 2014

LAKUKAN PERAWATAN Jika ingin menjaga gigi, gusi dan mulut selalu tetap sehat maka perawatan sangatlah penting. Seluruh tubuh kita, kata Wulan dipengaruhi oleh kesehatan mulut.Karenanya, sikatlah gigi secara rutin serta lakukan pula flossing gigi, yakni membersihkan sela-sela gigi menggunakan dental floss (benang gigi). Flossing juga berperan dalam penghapusan

17 - 23 November 2014

Mitos

11

Stres Sebabkan Keguguran?

K

ekhawatiran akan keguguran kerap menghantui ibuibu hamil. Berikut ini, dr. I A Chandranita Manuaba, Sp.OG. M.M., yang berpraktik di RSUD Badung, RSU Manuaba, dan RS Prima Medika mencoba meluruskan beberapa mitos yang berkembang di masyarakat. Mitos : Ibu yang pernah keguguran, pasti akan keguguran lagi pada kehamilan berikutnya Fakta: wanita yang sudah pernah mengalami keguguran memang akan memiliki kecen­ derungan mengalami keguguran berulang dibandingkan dengan wanita yang belum pernah mengalami keguguran. Penelitian menemukan seorang ibu yang pernah 1 kali mengalami keguguran akan berisiko mengalami keguguran lagi pada kehamilan berikutnya sebesar 25 %. Sedangkan ibu yang sudah mengalami keguguran 2 kali akan mempunyai risiko keguguran kembali sebesar 50%, demikian seterusnya. Pada setiap kehamilan memang memiliki risiko keguguran sekitar 15%-40%, dan antara 60%-75% biasanya terjadi se­belum kehamilan mencapai 3 bulan (trimester 1). Penyebab keguguran umumnya dibagi menjadi dua faktor

besar yaitu, kelainan dari faktor janin dan kelainan dari faktor ibu. Keguguran yang terjadi sebelum kehamilan memasuki 9 minggu biasanya disebabkan oleh faktor janin. Misalnya, terjadi kelainan kromosom berat pada janin sehingga pertumbuhan janin terhenti. Sedangkan jika keguguran yang terjadi setelah kandungan di atas 9 minggu, biasanya disebabkan oleh faktor ibu, antara lain adanya kelainan bentuk rahim, kelainan pembekuan darah, kelainan hormonal, penyakit ibu seperti autoimun dll. Mitos: Wanita yang punya riwayat aborsi beberapakali, akan susah hamil Fakta: Mitos ini tidak sepenuh­nya salah. Wanita yang melakukan aborsi dengan cara yang kurang bersih, dimana dalam proses aborsi itu terjadi infeksi, maka nantinya wanita tersebut

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

Cepat Loyo “Pak Dokter, satu tahun terakhir ini saya mengalami disfungsi ereksi. Kadang-kadang mau ereksi namun cepat sekali loyo. Saya berumur 54 tahun dengan tiga anak, apakah memang sudah wajar terjadi hal ini di usia saya? Dan apakah ini bisa digolongkan disfungsi ereksi yang serius? Bagaimana cara awal mengetahuinya lebih dini. Sekian, mohon penjelasannya.“ (Wi, Denpasar) Sebenarnya tidak sedikit yang mengalami keluhan serupa, ka­rena hampir 25% laki-laki di Indonesia memiliki gangguan ereksi dengan keluhan tidak merasakan keke­ rasan ereksi yang optimal lagi. Tentu saja ini akan membawa akibat cukup serius dalam kepuasan seksual pasangan yang akhirnya mengganggu keharmonisan rumah tangga serta aktivitas sehari-

hari juga. Disfungsi ereksi adalah kondisi saat laki-laki tidak dapat mencapai atau memper­tahankan ereksi penis yang ­optimal untuk mencapai kepuasan seksual dalam hubungan seksual. Sebagai deteksi awal ada sebuah cara sederhana yang bisa dilakukan buat mencari tahu apa­k ah ­g angguan ereksi yang dialami itu termasuk yang ri­ngan,

akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan kehamilan berikutnya. Karena, infeksi yang terjadi sangat mungkin akan mengenai saluran telur atau tuba fallopii, sehingga tuba fallopii akan mengalami penyempitan atau tersumbat total. Hal ini menyebabkan proses pembuahan sulit terjadi. Perlu diketahui, proses pembuahan (pertemuan sperma dan sel telur) terjadi di saluran telur untuk kemudian setelah mengalami beberapa kali pembelahan sel, barulah calon janin akan tertanam di dalam rahim. Keseluruhan proses, mulai dari pembuahan sampai pembelahan menjadi beberapa sel inilah yang akan terhambat jika saluran telur (tuba fallopii) sudah menyempit atau tersumbat akibat terjadinya infeksi saat melakukan aborsi. Mitos : Pendarahan dan kram perut adalah tanda keguguran Fakta: Salah satu tanda akan terjadinya atau sedang terjadinya keguguran adalah terjadinya perdarahan dan atau kram perut bagian bawah. Perdarahan atau kram perut dapat terjadi bersamaan atau sendiri sendiri. Kram perut menandakan bahwa rahim sedang berkontraksi oleh karena suatu sebab dan apabila kontraksi tersebut berlanjut maka keguguran dapat saja terjadi. Sedangkan perdarahan yang terjadi menandakan bahwa kekuatan implantasi (menempelnya) kehamilan didalam rahim sedang mengalami sedang, atau berat. Sebuah cara mengukur sederhana meng­ ukur kekerasan ereksi penis yang disebut tes Erection Hardness Score (EHS). EHS ini me­ ngelompokkan kekerasan ereksi dalam empat skala. Coba disimak keempat skala tersebut sekalian membandingkan dengan kondisi ereksi masing-masing: w Skala1: Saat ereksi, penis mem­

besar namun tidak mengeras, kalau diraba atau dipencet terasa serupa tape singkong. Disfungsi ereksi dalam skala ini termasuk gangguan ereksi derajat berat. w Skala2: Penis terasa keras namun tidak cukup keras untuk penetrasi dalam hubungan seksual, kalau diraba atau dipencet terasa seperti pisang yang sudah dibuka kulit buahnya. Disfungsi Ereksi skala ini terbilang berat, penis membesar namun tidak cukup keras. w Skala3: Penis cukup keras untuk penetrasi namun benarbenar keras, teraba seperti sosis. Walaupun masih bisa melakukan hubungan seks, ereksi yang dirasakan tetap tidak optimal. Sering kali disfungsi ereksi di skala ringan ini tidak disadari laki-laki. w Skala4: Saat ereksi, penis keras seluruhnya dan tegang sepenuhnya, seperti buah ketimun.

yang membahayakan adalah bagaimana sikap ibu hamil tersebut terhadap stres yang dialami. Jika ibu hamil itu cenderung bersikap negatif, hal ini tentu saja dapat mempengaruhi kehamilannya. Karena seorang ibu hamil harus memberi rangsangan positif terhadap janin dalam kandungannya. Oleh sebab itu, sebaiknya jauhkan ibu hamil dari kondisi stres.

Mitos : Keguguran terjadi karena ibu hamil mengalami stres Fakta: Stres pada kehamilan tidak akan menyebabkan terjadinya keguguran. Sebenarnya bukan stres itulah yang akan mempengaruhi kehamilan, tetapi

Mitos: Mengonsumsi nanas dalam bentuk buah segar atau minuman jus, dapat menyebabkan keguguran Fakta : Memang mitos tentang konsumsi nanas segar sering mengkhawatirkan ibu hamil. Salah satu zat yang terkandung dalam buah nanas segar adalah bromelian. Bromelian dalam jumlah banyak memang dapat melunakkan otot-otot dalam tubuh termasuk otot mulut rahim (serviks). Karena itu, mengonsumsi nanas segar dalam jumlah banyak memang tidak diperbolehkan bagi ibu hamil karena akan memicu terjadinya perlunakan mulut rahim sehingga bisa saja berlanjut terjadi keguguran. Namun, jika nanas dikonsumsi dalam jumlah sedikit, tentu saja tidak akan menyebabkan keguguran. Dan, ibu hamil lebih disarankan jika ibu hamil mengonsumsi nanas olahan (nanas kalengan, cake nanas, dll), karena enzim bromelian akan rusak dengan proses pengolahan nanas tersebut. –Inten Indrawati

Ereksi terasa optimal dan saat penetrasi akan terasa maksimal sehingga hubungan seksual terasa memuaskan. Kemudian, perlu sekali memperhatikan apa yang menjadi penyebab gangguan seksual, dalam hal ini gangguan ereksi, mulai dari problem ada tidaknya problem psikis seperti: adanya stres (permasalahan dengan istri, pekerjaan, orang lain, dll), atau justru penyebab fisik antara lain : 1) Kelelahan, yang bisa menyebabkan aliran darah terganggu, 2) Penyakit, misalnya kencing manis dan kolesterol tinggi, 3) Merokok, di mana nikotin yang terserap oleh darah akan dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah, penyumbatan pembuluh darah, termasuk penyumbatan pembuluh darah dalam penis, 4) Mengonsumsi obatan-obatan tertentu juga dapat menyebabkan disfungsi ereksi, demikian pula kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol dan makanan yang mengan­ dung kolesterol tinggi dapat menyumbat pembuluh darah. Satu lagi yang bisa jadi ada hubungan dengan pertanyaan adalah faktor usia dan penuaan, yang erat kaitannya kemudian dengan penurunan level hormon seksual, dalam hal ini adalah hormon testosteron. Kadar hormon testosteron

menurun akan muncul keluhan yang dapat menurunkan kualitas hidup seseorang juga secara umum. Saat seseorang mengalami penurunan kadar testosteron, yang paling sering terjadi adalah meningkatnya lemak di perut sehingga terlihat perut membuncit, rambut yang mulai berkurang sehingga mengalami kebotakan. Yang kemudian sering dikeluhkan adalah fungsi seksual yang menurun sehingga sering muncul dorongan seksual yang menurun, tidak maksimalnya ereksi dan tidak merasakan orgasme yang baik lagi. Kemungkinan ini yang sudah terjadi. Jika sudah mulai mengalami gangguan ereksi yang tidak optimal, prinsip utamanya sebenarnya adalah makin awal dikonsultasikan dan dicari penyebabnya maka akan menjadi makin lebih cepat sembuh. Menentukan jenis penyebabnya adalah hal yang paling penting dilakukan, dengan berkonsultasi ke dokter yang paham kesehatan seksual. Prinsip terapi medis sebenarnya bisa dilakukan lewat tahapan pertama pemberian obat oral (diminum), jika gagal bisa dilanjutkan dengan tahap kedua lewat injeksi atau suntikan dan terakhir lewat operasi. Semua tergantung dari jenis gangguan seksualnya.

dr. I A Chandranita Manuaba, Sp.OG. M.M.

gangguan sehingga menimbulkan perdarahan. Apakah perdarahan atau kram perut saat hamil trimester 1 merupakan tanda pasti keguguran? belum tentu juga. Karena terjadinya perdarahan dapat juga disebabkan karena penyebab lain seperti erosi mulut rahim, kehamilan dengan kanker rahim dll. Sedangkan kram perut bisa juga terjadi karena faktor kelelahan, dll.


Kuliner

17 - 23 November 2014

12

Cokelat Spesial di Hari Ulang Tahun Memainkan tangan mengolah cokelat, bukanlah hal mudah. Teknik keterampilan tangan ini, memerlukan kesabaran dan kreativitas. Itulah yang dituturkan Chef Pastry Bakery Hotel Sanur Paradise Plaza, Ketut Surna, saat sibuk membuat dekorasi kue ulangtahun untuk HUT ke-16, Tabloid Tokoh.

U

ntuk sajian kue ulang tahun ini dibuat spesial karena bahan utama kue dibuat dari sponge cake cokelat. Ada isian di dalam sponge cake yakni buah ceri hitam, whipping cream, simple sirup, rhum, dan sirup dari buah ceri. Bahan-bahan tambahan tersebut yang membuat kue ini lebih terasa lembut di lidah. “Yang memakannya juga tidak enek,” ujar Ketut Surna. Menurut Ketut Surna, kue ini merupakan kue dasar dari blackforest. Untuk hiasan atau dekorasi sekeliling kue semuanya menggunakan cokelat. “Kami menggunakan cokelat dark yang dilelehkan kemudian dibentuk sesuai dengan

keinginan,” kata Surna. Untuk bagian pinggir dibuat seperti pagar pembatas. Kue dibentuk menyerupai pagar dengan tiga cokelat yang berbeda warna, kuning, biru tua, dan cokelat. Teknik kesulitannya, kata Surna, terletak pada waktu melelehkan cokelat. Untuk alat yang digunakan mengolah cokelat, haruslah benar-benar steril dalam artian sangat bersih, tidak ada bekas minyak, atau dalam kondisi basah. Dengan kebersihan alat, akan membuat cokelat leleh yang dihasilkan menjadi sempurna. Selain itu, saat mengaduk cokelat juga harus tepat, karena bisa saja cokelat cepat menggumpal.

Untuk hiasan di atas kue, Surna membuat bunga mawar dari cokelat leleh. Caranya, setelah cokelat dilelehkan, dituang ke meja marmer. Kemudian tunggu beberapa menit, setelah cokelat mengeras, mulailah dengan menggunakan cetakan, cokelat diserut sehingga mendapatkan bunga mawar cantik. Sedangkan, untuk hiasan berbentuk pita-pita cokelat, dibuat dengan cara, setelah cokelat dilelehkan, dituang ke plastik khusus yang sudah

ada motifnya. Setelah menempel dan mengeras, cokelat dilepas. Agar lebih manis, Surna membuat kartu ucapan dari cokelat putih. Untuk tulisan, ia menggunakan cokelat leleh. Menurut Surna, untuk membuat tulisan, memang diperlukan jiwa seni dan juga kreativitas. Sebagai pemanis akhir, ia memasang empat buah ceri merah dan satu pita yang dilekatkan untuk mengikat kue ulang tahun tersebut, sebagai kado persembahan yang sangat spesial. Menurut Surna, kue dengan cokelat leleh merupakan kue bercita rasa tinggi, dalam artian, harganya memang lebih mahal. Karena selain bahan utamanya cokelat yang harganya juga mahal, diperlukan seni dan kreativitas dari pembuatnya. Sehingga, tak salah kue-kue seperti ini harganya tergolong mahal. Menurut Surna, ada kelebihan dari kue yang dibuatnya, karena krim yang digunakan tidak menggunakan krim kocok biasa. Biasanya, untuk membuat krim, digunakan margarin, gula halus, pewarna, dan perasa kemudian dikocok. Krim seperti ini, jika dimakan, akan menimbulkan rasa`lemak di lidah. Sementara, teknik yang ia lakukan, gula direbus terlebih dahulu, lalu putih telur dikocok sampai putih. Kemudian gula yang panas dimasukkan ke dalam kocokan putih telur, sehingga putih telur menjadi matang dan gula benar-benar larut. Setelah dingin, baru ditambahkan butter sehingga krim benar-benar halus dan lembut. Karena itu juga, membuat harga kue

Praktis dengan Bumbu Kokita Tumpeng nasi kuning sering digunakan untuk berbagai perayaan syukuran, seperti acara ulang tahun. Banyak orang berpikir, membuat nasi kuning sulit dan ribet, sehingga lebih baik membeli saja. Padahal, membuat nasi kuning sangat mudah. Apalagi, kini sudah ada bumbu nasi kuning siap pakai yang bisa membantu Anda, seperti produk dari Kokita, Bumbu Nasi Kuning kokita. Membuatnya juga sangat mudah, seperti dituturkan Bapak Simpen, Area Manager Kokita. Ia mengatakan, ada dua cara memasak nasi kuning, menggunakan magic com dan kukusan tradisional. Untuk 500 gram beras membutuhkan satu bungkus bumbu nasi kuning Kokita. Caranya, masukkan beras ke dalam magic com, beri air sesuai takaran, masukkan bumbu nasi kuning Kokita, beri daun jeruk, daun sereh, dan daun salam. Hidup-

kan magic com, tunggu beberapa saat, nasi kuning Anda sudah siap. Setelah matang, diaduk-aduk rata. Jika menggunakan kukusan, caranya juga tak rumit. Saat beras diaron, baru masukkan bumbu nasi kuning Kokita. Beri daun salam, daun jeruk, dan sereh. Kukus sampai matang. Menurutnya, dengan adanya bumbu nasi kuning Kokita ini, memasak jadi lebih mudah dan praktis. “Anda tak perlu memasukkan santan lagi ke dalam beras,” kata Simpen. Nasi tumpeng dilengkapi dengan beberapa isian, seperti serundeng, kacang goreng, ayam goreng, tempe kering pedas manis, mi goreng, dan dilengkapi sambal bajak dan sambal terasi. Untuk ayam goreng, caranya, bersihkan ayam. Kemudian potongpotong sesuai selera. Rebus ayam dengan bumbu ayam goreng Kokita. Setelah airnya meresap, goreng ayam sampai berwarna kuning kecokelatan. Untuk tempe kering pedas manis, potong tempe seperti korek api. Goreng setengah matang. Tu m i s s a m b a l terasi Kokita dan sambal bangkok Kokita dengan perbandingan 1:3. Kemudian tuang tempe goreng ke dalam sambal tadi. Aduk rata, Area Manager Kokita Bali, Simpen dan Ricky

Tumpeng nasi kuning

sisihkan. “Sambal ini memang sangat enak dengan perpaduan antara sambal terasi dan sambal bangkok. Rasa pedas manisnya menyatu dalam bumbu tempe kering pedas manis. Sementara, untuk telur dadar dibuat dengan cara, telur dikocok ditambahkan dengan bumbu INTI D Kokita. Beri irisan seledri dan potongan cabai jika ingin pedas. Kemudian ambil teplon dan buat telur dadar. Telur diiris memanjang sehingga lebih manis. Untuk mi goreng, gunakan bumbu INTI A,C, dan D. Setelah bumbu ditumis, masukkan daging cincang. Masukkan mi dan sayursayuran sesuai selera. Aduk rata, dan siap sajikan. Semua perlengkapan ini ditata di samping tumpeng nasi kuning. Beri taburan serundeng dan kacang goreng. Sebagai pemanis, beri irisan mentimun dan tomat. Tumpeng nasi kuning Kokita ini juga turut mendukung perayaan HUT ke- 16 ahun Tabloid Tokoh. Menurut Simpen, segala macam

masakan apapun, sudah tersedia bumbunya. Ada 4 jenis bumbu Kokita. Bumbu INTI A dengan ba-

17 - 23 November 2014

Kue-kue Spesial yang Jadi Tren

Chef Pastry Bakery Hotel Sanur Paradise Plaza, Ketut Surna

menjadi lebih mahal. Kadang, masyarakat, banyak heran, mengapa ada kue yang sangat mahal, padahal kecil. Sementara, ada kue besar, harganya murah. Untuk menentukan, banyak faktor yang diperhatikan, mulai dari kue utamanya, apakah sponge cake atau bolu biasa. Krim di dalam kue,juga menentukan, apakah teksturnya halus atau kasar. Begitu juga, bahan dekorasi kuenya, apakah hanya krim biasa, atau cokelat leleh. Kreasi kue juga penting, apakah membutuhkan seni dan keterampilan tangan, atau menggunakan bahan sudah jadi. Surna menegaskan, memang keahlian membuat kue memerlukan keterampilan lebih dari memasak. “Kalau salah memasak, masih tetap bisa diolah menjadi makanan. Tapi kalau membuat kue rusak atau tidak mengembang, sudah gagal,” kata Surna. -Wirati Astiti han dasar dominasi cabai. Bumbu ini cocok untuk membuat sambal goreng hati dan ayam rica-rica. Bumbu INTI B dominan kunyit, cocok untuk rendang dan ayam bumbu kuning. Bumbu INTI C dominan rasa kemiri cocok untuk sayur lodeh dan bumbu opor. Bumbu INTI D dengan bawang putih, cocok untuk segala macam jenis tumisan, perkedel, dan chicken nugget. Sambal Kokita juga banyak variasi, di antaranya sambal terasi dan sambal bajak. “Pilihan dari Kokita sangat banyak tergantung masakan apa yang dibuat. Sudah ada 4 jenis bumbu yang disesuaikan dengan menu makanan. Sambal Kokita juga sangat praktis. Bisa langsung dimakan dan dijadikan bekal untuk bepergian. Tersedia sambal Kokita dalam kemasan kecil sehingga praktis di bawa kemana saja,” kata Simpen. -Wirati Astiti

Berbagai hidangan kue dipamerkan dalam ajang “Festival Tren Pastry & Dessert”, Kamis (13/11) di Sanur. Acara ini digelar untuk memberi wawasan kepada hotel dan restoran dalam menyajikan hidangan beragam kue kepada wisatawan.

“M

Chef Edy

elalui kegi­ atan yang mengangkat konsep festival, maka terinspirasi beraneka ragam cake, pastry, and dessert ala Jepang dan Korea. Festival pastry ini diisi dengan demo utama dan demo stall berkonsep unik dan sehat yang diprediksi menjadi tren pastry di tahun 2015,” kata Marketing Communications Manager PT Gandum Mas Kencana, Imam Setia. Pada ajang ini menampilkan sejumlah chef atau koki dari dalam negeri dan asing, antara lain Joy Pelo Jr, yakni international pastry chef dan chocolatier yang sebe­ lumnya menjadi pengajar di William Angliss Institute of Tafe Australia. Sedangkan dari Indonesia

13

yakni Santi dari hotel di Lombok, Edy Eryana dari Yogyakarta, Deny Sualang, dan Nur Abdulah chef Gandum Kencana yang berpeng­ alaman sebagai pastry consultant dan technical advisor. “Ajang demo pastry yang diadakan reguler ini bertujuan untuk memberikan inspirasi mengenai segala hal tentang tren pastry dan cake terkini dan akan datang,” kata Imam Setia. Ia mengatakan hal menarik lainnya dari patissera adalah hadirnya berbagai aplikasi terkini yang dirangkum menjadi empat tema besar yang unik. “Patissera juga mengulas secara spesifik mengenai ‘healthy pastry & dessert’. Ini tidak hanya menawarkan sehat, namun juga dikemas dengan gaya Korea,” katanya. Kegiatan ini tidak hanya meng­ hadirkan stall tematik, terdapat juga stall haan whiptopp yang khusus mendemokan kreasi topping powder untuk aplikasi des­s ert, beverege and blending cream serta stall cokelat. Kegiat­ an ini mendapat perhatian bagi penggemar kue, karena secara langsung bisa melihat demo para chef yang tampil di ajang festival tersebut. –Wirati Astiti

Bebek Bakar Saus Tiram Sarwan

Bola-bola Tahu Kepiting Bahan: 2 buah : tahu putih ukuran besar, haluskan 200 gr : daging kepiting 1 butir : telor 3 sdm : tepung terigu protein sedang 3 sdm : bawang putih goreng, haluskan 1 sdm : saus tiram 1 sdm : minyak wijen 40 gr : keju parut ½ sdt : lada bubuk Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Minyak goreng secukupnya Cara Membuat: - Campur semua bahan jadi satu, kecuali minyak. Aduk hingga kalis lalu bentuk bolabola hingga semua bahan habis. - Panaskan minyak, goreng bola-bola hingga kecokelatan dan matang. - Siap untuk dihidangkan dengan saus sambal.

Bahan: 500 gr : bebek file 3 siung : bawang puting 1 sdm : jahe halus 1 sdt : kunyit halus 1 sdt : ketumbar halus Garam, lada, kaldu bubuk secukupnya. Bumbu Saus : 3 sdm : saus tiram 2 sdm : saus raja rasa 1 sdm : kecap manis 1 sdt : lada bubuk kasar 1 buah : bawang bombay cincang halus 100 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya.

Cara Membuat: - Lumuri file bebek dengan bahan di atas, diamkan selama 5 menit, lalu bakar di atas teflon anti lengket, bolak-balik dan diolesin dengan margarin dan sisa-sisa bumbu, panggang dan bolak-balik hinga kecokelatan dan matang, sisihkan. - Tumis bawang bombay cincangan hingga harum, lalu masukkan semua sisa bahan saus, aduk-aduk hingga mendidih dan masukkan bebek bakar, masak selama 5 menit, angkat. - Bebek siap dihidangkan (bebek bisa dipotong menurut selera)

Sup Bakso Ikan Jamur Bahan: 10 butir : bakso ikan, belah tengahnya persegi 4, usahakan tidak putus 1 buah : wortel manis, iris bulat-bulat 1 buah : bawang bombay, iris serong 1 buah : bawang bombay sedang, cincang halus 1sdm : bawang putih goreng 75 grm : jamur kuping, iris-iris 50 grm : kembang tahu yang sudah direndam air, iris menurut selera. 700 ml : air 1sdt : lada bubuk

Garam, gula, kaldu bubuk secukupnya. Cara Membuat: - Tumis irisan bawang bombay hingga layu, lalu masukkan ayam, aduk-aduk perlahan, masak hingga kecokelatan. - Masukkan irisan bawang prei dan irisan wortel, aduk, masak hingga layu, sisihkan. - Siapkan panci, rebus air, masukkan tumisan ayam dan wortel. - Masukkan bahan-bahan lainnya, masak hingga mendidih, masak dengan api sedang, lalu siap untuk dihidangkan.


Kuliner

17 - 23 November 2014

12

Cokelat Spesial di Hari Ulang Tahun Memainkan tangan mengolah cokelat, bukanlah hal mudah. Teknik keterampilan tangan ini, memerlukan kesabaran dan kreativitas. Itulah yang dituturkan Chef Pastry Bakery Hotel Sanur Paradise Plaza, Ketut Surna, saat sibuk membuat dekorasi kue ulangtahun untuk HUT ke-16, Tabloid Tokoh.

U

ntuk sajian kue ulang tahun ini dibuat spesial karena bahan utama kue dibuat dari sponge cake cokelat. Ada isian di dalam sponge cake yakni buah ceri hitam, whipping cream, simple sirup, rhum, dan sirup dari buah ceri. Bahan-bahan tambahan tersebut yang membuat kue ini lebih terasa lembut di lidah. “Yang memakannya juga tidak enek,” ujar Ketut Surna. Menurut Ketut Surna, kue ini merupakan kue dasar dari blackforest. Untuk hiasan atau dekorasi sekeliling kue semuanya menggunakan cokelat. “Kami menggunakan cokelat dark yang dilelehkan kemudian dibentuk sesuai dengan

keinginan,” kata Surna. Untuk bagian pinggir dibuat seperti pagar pembatas. Kue dibentuk menyerupai pagar dengan tiga cokelat yang berbeda warna, kuning, biru tua, dan cokelat. Teknik kesulitannya, kata Surna, terletak pada waktu melelehkan cokelat. Untuk alat yang digunakan mengolah cokelat, haruslah benar-benar steril dalam artian sangat bersih, tidak ada bekas minyak, atau dalam kondisi basah. Dengan kebersihan alat, akan membuat cokelat leleh yang dihasilkan menjadi sempurna. Selain itu, saat mengaduk cokelat juga harus tepat, karena bisa saja cokelat cepat menggumpal.

Untuk hiasan di atas kue, Surna membuat bunga mawar dari cokelat leleh. Caranya, setelah cokelat dilelehkan, dituang ke meja marmer. Kemudian tunggu beberapa menit, setelah cokelat mengeras, mulailah dengan menggunakan cetakan, cokelat diserut sehingga mendapatkan bunga mawar cantik. Sedangkan, untuk hiasan berbentuk pita-pita cokelat, dibuat dengan cara, setelah cokelat dilelehkan, dituang ke plastik khusus yang sudah

ada motifnya. Setelah menempel dan mengeras, cokelat dilepas. Agar lebih manis, Surna membuat kartu ucapan dari cokelat putih. Untuk tulisan, ia menggunakan cokelat leleh. Menurut Surna, untuk membuat tulisan, memang diperlukan jiwa seni dan juga kreativitas. Sebagai pemanis akhir, ia memasang empat buah ceri merah dan satu pita yang dilekatkan untuk mengikat kue ulang tahun tersebut, sebagai kado persembahan yang sangat spesial. Menurut Surna, kue dengan cokelat leleh merupakan kue bercita rasa tinggi, dalam artian, harganya memang lebih mahal. Karena selain bahan utamanya cokelat yang harganya juga mahal, diperlukan seni dan kreativitas dari pembuatnya. Sehingga, tak salah kue-kue seperti ini harganya tergolong mahal. Menurut Surna, ada kelebihan dari kue yang dibuatnya, karena krim yang digunakan tidak menggunakan krim kocok biasa. Biasanya, untuk membuat krim, digunakan margarin, gula halus, pewarna, dan perasa kemudian dikocok. Krim seperti ini, jika dimakan, akan menimbulkan rasa`lemak di lidah. Sementara, teknik yang ia lakukan, gula direbus terlebih dahulu, lalu putih telur dikocok sampai putih. Kemudian gula yang panas dimasukkan ke dalam kocokan putih telur, sehingga putih telur menjadi matang dan gula benar-benar larut. Setelah dingin, baru ditambahkan butter sehingga krim benar-benar halus dan lembut. Karena itu juga, membuat harga kue

Praktis dengan Bumbu Kokita Tumpeng nasi kuning sering digunakan untuk berbagai perayaan syukuran, seperti acara ulang tahun. Banyak orang berpikir, membuat nasi kuning sulit dan ribet, sehingga lebih baik membeli saja. Padahal, membuat nasi kuning sangat mudah. Apalagi, kini sudah ada bumbu nasi kuning siap pakai yang bisa membantu Anda, seperti produk dari Kokita, Bumbu Nasi Kuning kokita. Membuatnya juga sangat mudah, seperti dituturkan Bapak Simpen, Area Manager Kokita. Ia mengatakan, ada dua cara memasak nasi kuning, menggunakan magic com dan kukusan tradisional. Untuk 500 gram beras membutuhkan satu bungkus bumbu nasi kuning Kokita. Caranya, masukkan beras ke dalam magic com, beri air sesuai takaran, masukkan bumbu nasi kuning Kokita, beri daun jeruk, daun sereh, dan daun salam. Hidup-

kan magic com, tunggu beberapa saat, nasi kuning Anda sudah siap. Setelah matang, diaduk-aduk rata. Jika menggunakan kukusan, caranya juga tak rumit. Saat beras diaron, baru masukkan bumbu nasi kuning Kokita. Beri daun salam, daun jeruk, dan sereh. Kukus sampai matang. Menurutnya, dengan adanya bumbu nasi kuning Kokita ini, memasak jadi lebih mudah dan praktis. “Anda tak perlu memasukkan santan lagi ke dalam beras,” kata Simpen. Nasi tumpeng dilengkapi dengan beberapa isian, seperti serundeng, kacang goreng, ayam goreng, tempe kering pedas manis, mi goreng, dan dilengkapi sambal bajak dan sambal terasi. Untuk ayam goreng, caranya, bersihkan ayam. Kemudian potongpotong sesuai selera. Rebus ayam dengan bumbu ayam goreng Kokita. Setelah airnya meresap, goreng ayam sampai berwarna kuning kecokelatan. Untuk tempe kering pedas manis, potong tempe seperti korek api. Goreng setengah matang. Tu m i s s a m b a l terasi Kokita dan sambal bangkok Kokita dengan perbandingan 1:3. Kemudian tuang tempe goreng ke dalam sambal tadi. Aduk rata, Area Manager Kokita Bali, Simpen dan Ricky

Tumpeng nasi kuning

sisihkan. “Sambal ini memang sangat enak dengan perpaduan antara sambal terasi dan sambal bangkok. Rasa pedas manisnya menyatu dalam bumbu tempe kering pedas manis. Sementara, untuk telur dadar dibuat dengan cara, telur dikocok ditambahkan dengan bumbu INTI D Kokita. Beri irisan seledri dan potongan cabai jika ingin pedas. Kemudian ambil teplon dan buat telur dadar. Telur diiris memanjang sehingga lebih manis. Untuk mi goreng, gunakan bumbu INTI A,C, dan D. Setelah bumbu ditumis, masukkan daging cincang. Masukkan mi dan sayursayuran sesuai selera. Aduk rata, dan siap sajikan. Semua perlengkapan ini ditata di samping tumpeng nasi kuning. Beri taburan serundeng dan kacang goreng. Sebagai pemanis, beri irisan mentimun dan tomat. Tumpeng nasi kuning Kokita ini juga turut mendukung perayaan HUT ke- 16 ahun Tabloid Tokoh. Menurut Simpen, segala macam

masakan apapun, sudah tersedia bumbunya. Ada 4 jenis bumbu Kokita. Bumbu INTI A dengan ba-

17 - 23 November 2014

Kue-kue Spesial yang Jadi Tren

Chef Pastry Bakery Hotel Sanur Paradise Plaza, Ketut Surna

menjadi lebih mahal. Kadang, masyarakat, banyak heran, mengapa ada kue yang sangat mahal, padahal kecil. Sementara, ada kue besar, harganya murah. Untuk menentukan, banyak faktor yang diperhatikan, mulai dari kue utamanya, apakah sponge cake atau bolu biasa. Krim di dalam kue,juga menentukan, apakah teksturnya halus atau kasar. Begitu juga, bahan dekorasi kuenya, apakah hanya krim biasa, atau cokelat leleh. Kreasi kue juga penting, apakah membutuhkan seni dan keterampilan tangan, atau menggunakan bahan sudah jadi. Surna menegaskan, memang keahlian membuat kue memerlukan keterampilan lebih dari memasak. “Kalau salah memasak, masih tetap bisa diolah menjadi makanan. Tapi kalau membuat kue rusak atau tidak mengembang, sudah gagal,” kata Surna. -Wirati Astiti han dasar dominasi cabai. Bumbu ini cocok untuk membuat sambal goreng hati dan ayam rica-rica. Bumbu INTI B dominan kunyit, cocok untuk rendang dan ayam bumbu kuning. Bumbu INTI C dominan rasa kemiri cocok untuk sayur lodeh dan bumbu opor. Bumbu INTI D dengan bawang putih, cocok untuk segala macam jenis tumisan, perkedel, dan chicken nugget. Sambal Kokita juga banyak variasi, di antaranya sambal terasi dan sambal bajak. “Pilihan dari Kokita sangat banyak tergantung masakan apa yang dibuat. Sudah ada 4 jenis bumbu yang disesuaikan dengan menu makanan. Sambal Kokita juga sangat praktis. Bisa langsung dimakan dan dijadikan bekal untuk bepergian. Tersedia sambal Kokita dalam kemasan kecil sehingga praktis di bawa kemana saja,” kata Simpen. -Wirati Astiti

Berbagai hidangan kue dipamerkan dalam ajang “Festival Tren Pastry & Dessert”, Kamis (13/11) di Sanur. Acara ini digelar untuk memberi wawasan kepada hotel dan restoran dalam menyajikan hidangan beragam kue kepada wisatawan.

“M

Chef Edy

elalui kegi­ atan yang mengangkat konsep festival, maka terinspirasi beraneka ragam cake, pastry, and dessert ala Jepang dan Korea. Festival pastry ini diisi dengan demo utama dan demo stall berkonsep unik dan sehat yang diprediksi menjadi tren pastry di tahun 2015,” kata Marketing Communications Manager PT Gandum Mas Kencana, Imam Setia. Pada ajang ini menampilkan sejumlah chef atau koki dari dalam negeri dan asing, antara lain Joy Pelo Jr, yakni international pastry chef dan chocolatier yang sebe­ lumnya menjadi pengajar di William Angliss Institute of Tafe Australia. Sedangkan dari Indonesia

13

yakni Santi dari hotel di Lombok, Edy Eryana dari Yogyakarta, Deny Sualang, dan Nur Abdulah chef Gandum Kencana yang berpeng­ alaman sebagai pastry consultant dan technical advisor. “Ajang demo pastry yang diadakan reguler ini bertujuan untuk memberikan inspirasi mengenai segala hal tentang tren pastry dan cake terkini dan akan datang,” kata Imam Setia. Ia mengatakan hal menarik lainnya dari patissera adalah hadirnya berbagai aplikasi terkini yang dirangkum menjadi empat tema besar yang unik. “Patissera juga mengulas secara spesifik mengenai ‘healthy pastry & dessert’. Ini tidak hanya menawarkan sehat, namun juga dikemas dengan gaya Korea,” katanya. Kegiatan ini tidak hanya meng­ hadirkan stall tematik, terdapat juga stall haan whiptopp yang khusus mendemokan kreasi topping powder untuk aplikasi des­s ert, beverege and blending cream serta stall cokelat. Kegiat­ an ini mendapat perhatian bagi penggemar kue, karena secara langsung bisa melihat demo para chef yang tampil di ajang festival tersebut. –Wirati Astiti

Bebek Bakar Saus Tiram Sarwan

Bola-bola Tahu Kepiting Bahan: 2 buah : tahu putih ukuran besar, haluskan 200 gr : daging kepiting 1 butir : telor 3 sdm : tepung terigu protein sedang 3 sdm : bawang putih goreng, haluskan 1 sdm : saus tiram 1 sdm : minyak wijen 40 gr : keju parut ½ sdt : lada bubuk Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya Minyak goreng secukupnya Cara Membuat: - Campur semua bahan jadi satu, kecuali minyak. Aduk hingga kalis lalu bentuk bolabola hingga semua bahan habis. - Panaskan minyak, goreng bola-bola hingga kecokelatan dan matang. - Siap untuk dihidangkan dengan saus sambal.

Bahan: 500 gr : bebek file 3 siung : bawang puting 1 sdm : jahe halus 1 sdt : kunyit halus 1 sdt : ketumbar halus Garam, lada, kaldu bubuk secukupnya. Bumbu Saus : 3 sdm : saus tiram 2 sdm : saus raja rasa 1 sdm : kecap manis 1 sdt : lada bubuk kasar 1 buah : bawang bombay cincang halus 100 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya.

Cara Membuat: - Lumuri file bebek dengan bahan di atas, diamkan selama 5 menit, lalu bakar di atas teflon anti lengket, bolak-balik dan diolesin dengan margarin dan sisa-sisa bumbu, panggang dan bolak-balik hinga kecokelatan dan matang, sisihkan. - Tumis bawang bombay cincangan hingga harum, lalu masukkan semua sisa bahan saus, aduk-aduk hingga mendidih dan masukkan bebek bakar, masak selama 5 menit, angkat. - Bebek siap dihidangkan (bebek bisa dipotong menurut selera)

Sup Bakso Ikan Jamur Bahan: 10 butir : bakso ikan, belah tengahnya persegi 4, usahakan tidak putus 1 buah : wortel manis, iris bulat-bulat 1 buah : bawang bombay, iris serong 1 buah : bawang bombay sedang, cincang halus 1sdm : bawang putih goreng 75 grm : jamur kuping, iris-iris 50 grm : kembang tahu yang sudah direndam air, iris menurut selera. 700 ml : air 1sdt : lada bubuk

Garam, gula, kaldu bubuk secukupnya. Cara Membuat: - Tumis irisan bawang bombay hingga layu, lalu masukkan ayam, aduk-aduk perlahan, masak hingga kecokelatan. - Masukkan irisan bawang prei dan irisan wortel, aduk, masak hingga layu, sisihkan. - Siapkan panci, rebus air, masukkan tumisan ayam dan wortel. - Masukkan bahan-bahan lainnya, masak hingga mendidih, masak dengan api sedang, lalu siap untuk dihidangkan.


Jelita

14

karang gigi dan menjaga kesehat­an gusi dan gigi. Selanjutnya menggunakan fluoride secara regu­ ler bermanfaat melemahkan karang gigi saat menyikat gigi. Namun, tujuan ini kata dokter Wulan akan menjadi hilang jika kita segera makan atau minum setelah menyikat gigi. Jangan lupa, tegasnya kesehatan mulut yang baik juga dipengaruhi gaya hidup dan pola makan yang sehat. Jika mungkin hindari merokok karena membuat napas tidak enak juga membuat noda pada gigi. Sikat gigi dua kali dalam sehari, yang terpenting adalah sebelum berangkat tidur. “Jika melakukan diet, lakukan yang benar dan tepat. Jangan lupa pula, sebelum melakukan prosedur kecantikan gigi, sebaiknya periksakan gigi Wulan, ada beberapa jenis kosmetik gigi dahulu kesehatan gigi Anda,” katanya. – Sri Ardhini yang banyak dilakukan untuk mempercantik penampilan. Diantaranya; pemutihan gigi (teeth hitening). Hal ini katanya biasanya direferensikan bagi para perokok yang warna gigi tidak lagi putih. Ada dental fillings , yaitu prosedur tambal gigi biasa, tapi dengan bahan yang berwarna sejenis warna gigi. Kemudian , prosedur implan gigi atau penanaman gigi, yang dilakukan untuk menggantikan gigi yang tanggal. “Biasanya, gigi yang ditanam sekalian dengan akarnya. Sebab, gigi ompong cenderung menghadirkan kesan tua,”ucapnya. Selain itu lanjut Wulan ada juga bonding, yakni memperbaiki gigi yang patah. “Perbaikan gigi patah ini memakai bahan yang menyerupai enamel gigi. Lalu bahan tersebut ditempelkan di permukaan gigi. Barulah gigi yang sudah ditempel tersebut dipahat lalu dilapis agar menyerupai gigi asli,” tuturnya. Berikutnya , untuk mengatasi gigi yang saling bertumpuk ataupun berjarak menjadi lebih rapi dapat dilakukan dengan dental veneers. “Caranya dengan melapis gigi menggunakan bahan mirip enamel gigi sehingga gigi tampak lebih rapi,”katanya.

Gigi Sehat Senyum pun Cemerlang Penampilan yang menarik tidak cukup hanya dengan wajah bersih dan mata yang berbinar. Namun, susunan gigi yang rapi dan bersih pun berperan. Senyuman menjadi lebih lepas dengan deret­an gigi yang indah. Terutama saat sese­orang berinteraksi dengan orang lain, ke­bersihan dan putihnya gigi menjadi hal yang penting.

M

enurut drg. Dewa Ayu Wulandari saat ditemui di Kamandhani Dental Care, kini makin banyak orang yang memerlukan layanan kecantikan gigi. Mereka bukan hanya mengobati gigi yang sakit, juga demi perbaikan penampilan. Karena , prosedur kecantikan gigi juga berfungsi untuk mengembalikan posisi gigi yang tidak tepat akibat berbagai hal. Secara umum, dipaparkan oleh dokter

17 - 23 November 2014

LAKUKAN PERAWATAN Jika ingin menjaga gigi, gusi dan mulut selalu tetap sehat maka perawatan sangatlah penting. Seluruh tubuh kita, kata Wulan dipengaruhi oleh kesehatan mulut.Karenanya, sikatlah gigi secara rutin serta lakukan pula flossing gigi, yakni membersihkan sela-sela gigi menggunakan dental floss (benang gigi). Flossing juga berperan dalam penghapusan

17 - 23 November 2014

Mitos

11

Stres Sebabkan Keguguran?

K

ekhawatiran akan keguguran kerap menghantui ibuibu hamil. Berikut ini, dr. I A Chandranita Manuaba, Sp.OG. M.M., yang berpraktik di RSUD Badung, RSU Manuaba, dan RS Prima Medika mencoba meluruskan beberapa mitos yang berkembang di masyarakat. Mitos : Ibu yang pernah keguguran, pasti akan keguguran lagi pada kehamilan berikutnya Fakta: wanita yang sudah pernah mengalami keguguran memang akan memiliki kecen­ derungan mengalami keguguran berulang dibandingkan dengan wanita yang belum pernah mengalami keguguran. Penelitian menemukan seorang ibu yang pernah 1 kali mengalami keguguran akan berisiko mengalami keguguran lagi pada kehamilan berikutnya sebesar 25 %. Sedangkan ibu yang sudah mengalami keguguran 2 kali akan mempunyai risiko keguguran kembali sebesar 50%, demikian seterusnya. Pada setiap kehamilan memang memiliki risiko keguguran sekitar 15%-40%, dan antara 60%-75% biasanya terjadi se­belum kehamilan mencapai 3 bulan (trimester 1). Penyebab keguguran umumnya dibagi menjadi dua faktor

besar yaitu, kelainan dari faktor janin dan kelainan dari faktor ibu. Keguguran yang terjadi sebelum kehamilan memasuki 9 minggu biasanya disebabkan oleh faktor janin. Misalnya, terjadi kelainan kromosom berat pada janin sehingga pertumbuhan janin terhenti. Sedangkan jika keguguran yang terjadi setelah kandungan di atas 9 minggu, biasanya disebabkan oleh faktor ibu, antara lain adanya kelainan bentuk rahim, kelainan pembekuan darah, kelainan hormonal, penyakit ibu seperti autoimun dll. Mitos: Wanita yang punya riwayat aborsi beberapakali, akan susah hamil Fakta: Mitos ini tidak sepenuh­nya salah. Wanita yang melakukan aborsi dengan cara yang kurang bersih, dimana dalam proses aborsi itu terjadi infeksi, maka nantinya wanita tersebut

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu” di ­amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh. co.id. Rubrik ini diasuh Asosiasi ­Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

Cepat Loyo “Pak Dokter, satu tahun terakhir ini saya mengalami disfungsi ereksi. Kadang-kadang mau ereksi namun cepat sekali loyo. Saya berumur 54 tahun dengan tiga anak, apakah memang sudah wajar terjadi hal ini di usia saya? Dan apakah ini bisa digolongkan disfungsi ereksi yang serius? Bagaimana cara awal mengetahuinya lebih dini. Sekian, mohon penjelasannya.“ (Wi, Denpasar) Sebenarnya tidak sedikit yang mengalami keluhan serupa, ka­rena hampir 25% laki-laki di Indonesia memiliki gangguan ereksi dengan keluhan tidak merasakan keke­ rasan ereksi yang optimal lagi. Tentu saja ini akan membawa akibat cukup serius dalam kepuasan seksual pasangan yang akhirnya mengganggu keharmonisan rumah tangga serta aktivitas sehari-

hari juga. Disfungsi ereksi adalah kondisi saat laki-laki tidak dapat mencapai atau memper­tahankan ereksi penis yang ­optimal untuk mencapai kepuasan seksual dalam hubungan seksual. Sebagai deteksi awal ada sebuah cara sederhana yang bisa dilakukan buat mencari tahu apa­k ah ­g angguan ereksi yang dialami itu termasuk yang ri­ngan,

akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan kehamilan berikutnya. Karena, infeksi yang terjadi sangat mungkin akan mengenai saluran telur atau tuba fallopii, sehingga tuba fallopii akan mengalami penyempitan atau tersumbat total. Hal ini menyebabkan proses pembuahan sulit terjadi. Perlu diketahui, proses pembuahan (pertemuan sperma dan sel telur) terjadi di saluran telur untuk kemudian setelah mengalami beberapa kali pembelahan sel, barulah calon janin akan tertanam di dalam rahim. Keseluruhan proses, mulai dari pembuahan sampai pembelahan menjadi beberapa sel inilah yang akan terhambat jika saluran telur (tuba fallopii) sudah menyempit atau tersumbat akibat terjadinya infeksi saat melakukan aborsi. Mitos : Pendarahan dan kram perut adalah tanda keguguran Fakta: Salah satu tanda akan terjadinya atau sedang terjadinya keguguran adalah terjadinya perdarahan dan atau kram perut bagian bawah. Perdarahan atau kram perut dapat terjadi bersamaan atau sendiri sendiri. Kram perut menandakan bahwa rahim sedang berkontraksi oleh karena suatu sebab dan apabila kontraksi tersebut berlanjut maka keguguran dapat saja terjadi. Sedangkan perdarahan yang terjadi menandakan bahwa kekuatan implantasi (menempelnya) kehamilan didalam rahim sedang mengalami sedang, atau berat. Sebuah cara mengukur sederhana meng­ ukur kekerasan ereksi penis yang disebut tes Erection Hardness Score (EHS). EHS ini me­ ngelompokkan kekerasan ereksi dalam empat skala. Coba disimak keempat skala tersebut sekalian membandingkan dengan kondisi ereksi masing-masing: w Skala1: Saat ereksi, penis mem­

besar namun tidak mengeras, kalau diraba atau dipencet terasa serupa tape singkong. Disfungsi ereksi dalam skala ini termasuk gangguan ereksi derajat berat. w Skala2: Penis terasa keras namun tidak cukup keras untuk penetrasi dalam hubungan seksual, kalau diraba atau dipencet terasa seperti pisang yang sudah dibuka kulit buahnya. Disfungsi Ereksi skala ini terbilang berat, penis membesar namun tidak cukup keras. w Skala3: Penis cukup keras untuk penetrasi namun benarbenar keras, teraba seperti sosis. Walaupun masih bisa melakukan hubungan seks, ereksi yang dirasakan tetap tidak optimal. Sering kali disfungsi ereksi di skala ringan ini tidak disadari laki-laki. w Skala4: Saat ereksi, penis keras seluruhnya dan tegang sepenuhnya, seperti buah ketimun.

yang membahayakan adalah bagaimana sikap ibu hamil tersebut terhadap stres yang dialami. Jika ibu hamil itu cenderung bersikap negatif, hal ini tentu saja dapat mempengaruhi kehamilannya. Karena seorang ibu hamil harus memberi rangsangan positif terhadap janin dalam kandungannya. Oleh sebab itu, sebaiknya jauhkan ibu hamil dari kondisi stres.

Mitos : Keguguran terjadi karena ibu hamil mengalami stres Fakta: Stres pada kehamilan tidak akan menyebabkan terjadinya keguguran. Sebenarnya bukan stres itulah yang akan mempengaruhi kehamilan, tetapi

Mitos: Mengonsumsi nanas dalam bentuk buah segar atau minuman jus, dapat menyebabkan keguguran Fakta : Memang mitos tentang konsumsi nanas segar sering mengkhawatirkan ibu hamil. Salah satu zat yang terkandung dalam buah nanas segar adalah bromelian. Bromelian dalam jumlah banyak memang dapat melunakkan otot-otot dalam tubuh termasuk otot mulut rahim (serviks). Karena itu, mengonsumsi nanas segar dalam jumlah banyak memang tidak diperbolehkan bagi ibu hamil karena akan memicu terjadinya perlunakan mulut rahim sehingga bisa saja berlanjut terjadi keguguran. Namun, jika nanas dikonsumsi dalam jumlah sedikit, tentu saja tidak akan menyebabkan keguguran. Dan, ibu hamil lebih disarankan jika ibu hamil mengonsumsi nanas olahan (nanas kalengan, cake nanas, dll), karena enzim bromelian akan rusak dengan proses pengolahan nanas tersebut. –Inten Indrawati

Ereksi terasa optimal dan saat penetrasi akan terasa maksimal sehingga hubungan seksual terasa memuaskan. Kemudian, perlu sekali memperhatikan apa yang menjadi penyebab gangguan seksual, dalam hal ini gangguan ereksi, mulai dari problem ada tidaknya problem psikis seperti: adanya stres (permasalahan dengan istri, pekerjaan, orang lain, dll), atau justru penyebab fisik antara lain : 1) Kelelahan, yang bisa menyebabkan aliran darah terganggu, 2) Penyakit, misalnya kencing manis dan kolesterol tinggi, 3) Merokok, di mana nikotin yang terserap oleh darah akan dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah, penyumbatan pembuluh darah, termasuk penyumbatan pembuluh darah dalam penis, 4) Mengonsumsi obatan-obatan tertentu juga dapat menyebabkan disfungsi ereksi, demikian pula kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol dan makanan yang mengan­ dung kolesterol tinggi dapat menyumbat pembuluh darah. Satu lagi yang bisa jadi ada hubungan dengan pertanyaan adalah faktor usia dan penuaan, yang erat kaitannya kemudian dengan penurunan level hormon seksual, dalam hal ini adalah hormon testosteron. Kadar hormon testosteron

menurun akan muncul keluhan yang dapat menurunkan kualitas hidup seseorang juga secara umum. Saat seseorang mengalami penurunan kadar testosteron, yang paling sering terjadi adalah meningkatnya lemak di perut sehingga terlihat perut membuncit, rambut yang mulai berkurang sehingga mengalami kebotakan. Yang kemudian sering dikeluhkan adalah fungsi seksual yang menurun sehingga sering muncul dorongan seksual yang menurun, tidak maksimalnya ereksi dan tidak merasakan orgasme yang baik lagi. Kemungkinan ini yang sudah terjadi. Jika sudah mulai mengalami gangguan ereksi yang tidak optimal, prinsip utamanya sebenarnya adalah makin awal dikonsultasikan dan dicari penyebabnya maka akan menjadi makin lebih cepat sembuh. Menentukan jenis penyebabnya adalah hal yang paling penting dilakukan, dengan berkonsultasi ke dokter yang paham kesehatan seksual. Prinsip terapi medis sebenarnya bisa dilakukan lewat tahapan pertama pemberian obat oral (diminum), jika gagal bisa dilanjutkan dengan tahap kedua lewat injeksi atau suntikan dan terakhir lewat operasi. Semua tergantung dari jenis gangguan seksualnya.

dr. I A Chandranita Manuaba, Sp.OG. M.M.

gangguan sehingga menimbulkan perdarahan. Apakah perdarahan atau kram perut saat hamil trimester 1 merupakan tanda pasti keguguran? belum tentu juga. Karena terjadinya perdarahan dapat juga disebabkan karena penyebab lain seperti erosi mulut rahim, kehamilan dengan kanker rahim dll. Sedangkan kram perut bisa juga terjadi karena faktor kelelahan, dll.


Bugar

10

17 - 23 November 2014

Diabetes/Kencing Manis: Kenali Gejalanya, Hindari Komplikasinya

(7) Riwayat gangguan toleransi glukosa, gula darah puasa terganggu, (8) Penyakit dengan resistensi insulin (Obesitas, acanthosis nigrikans ), (9) Kelompok etnis tertentu seperti etnis asli Amerika, Afrika Amerika, Asia Amerika, Kepulauan Pasifik, Latin, (10)Wanita dengan sindrom ovarium polisitik (Polycysytic Ovary syndrome).

dr. Raymond Sebastian,Sp.PD Poliklinik Penyakit dalam (Outpatient Dept.) Rumah Sakit SILOAM Appointment : (0361) 779-900 ext. 29701 Hp: 081219209799 Email : Raymond.sebastian@siloamhospitals.com Diabetes mellitus biasa dikenal sebagai penyakit DM/kencing manis. Penyakit ini sering menyerang masyarakat kita. Faktor lingkungan dan gaya hidup perkotaan yang tidak sehat, seperti makan yang berlebihan, makanan mengandung berlemak, kurang aktivitas fisik, dan stres memainkan peran utama memicu penyakit ini. Hasil studi epidemiologi di Jakarta beberapa waktu lalu untuk membuktikan keberadaan peningkatan prevalensi diabetes mellitus dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, yang diikuti pada tahun 2001 di Depok (daerah sub-urban Jakarta) menjadi 14,7%. Sehingga WHO memperkirakan bahwa Indonesia akan peringkat ke-4 sebagian besar kasus diabetes di dunia pada 2030. Hasil cross–sectional study (tahun 2011) yang dilakukan oleh FK Udayana/ Sanglah, RS Harapan Kita, bekerjasama dengan salah satu universitas Jepang (Kobe Women University) terhadap1840 subjek, pria dan wanita, umur 13-100 tahun di 7 desa yang berbeda di provinsi Bali, menunjukkan prevalensi gangguan gula puasa (Impaired Fasting Glucosa) dan DM adalah 13.1 % dan 5.3 %. Angka yang cukup tinggi untuk Impaired Fasting Glucosa /pre-diabetes, sehingga wajib diwaspadai, karena bila tidak dikendalikan, dapat menjadi penderita DM di masa mendatang. Penyakit DM ini perlu diwaspadai/ dihindari karena sering menyebabkan komplikasi. Komplikasi umum adalah penyakit jantung koroner, penyakit ginjal, stroke, infeksi, kaki diabetes (diabetes foot), retinopati (penyakit pada mata), diabetes neuropati Untuk memahami penyakit ini, telah memperkenalkan beberapa istilah: Glukosa darah: Gula darah yang diperoleh dari makanan, dan kemudian menjadi

Skrining DM pada orang tanpa faktor risiko harus dilakukan pada orang yang berusia > 45 tahun, bila hasil normal dapat diulang minimal setiap 3 tahun sekali, kecuali ditemukan gejal klinis baru. Sedangkan untuk kelompok risiko tinggi, walaupun tidak ada gejala yang khas dan hasil negatif, maka pemeriksaan selanjutnya dapat dilakukan setahun sekali. Pada pasien dengan risiko tinggi dengan gejala yang khas, tetapi hasilnya negatif, maka tetap disarankan untuk melakukan konfirmasi ulang pada hari lain.

sumber energi bagi organ-organ tubuh Insulin: Enzim yang dikeluarkan oleh pankreas untuk mengikat gula darah sebelum digunakan oleh organ-organ tubuh Secara umum diabetes terjadi karena ketidakseimbangan antara tingkat insulin dan kadar gula darah, sering disebut resistensi insulin. Klasifikasi DM menurut American Diabetes Association (ADA) 2009 1. DM tipe 1: di mana pankreas tidak dapat/gagal memproduksi insulin 2. DM tipe 2: tingkat jumlah/insulin kurang/tidak mampu mengimbangi kadar gula darah. 3. Jenis lain dari DM/hyperglycemic : biasanya karena kelainan genetik, proses infeksi 4. Gestational diabetes: diabetes mellitus yang timbul pada kehamilan Kenali gejala khas penyakit DM: polyphagia (terlalu banyak makan), polidipsia (banyak minum), polyruria (banyak kencing), disertai penurunan berat badan yang cepat tanpa alasan yang jelas. Namun, seringkali hanya muncul dari gejala yang timbul merupakan gejala tidak spesifik seperti kelemahan, kesemutan, luka yang tidak kunjung sembuh, mata kabur, disfungsi seksual (pria), gatal di alat kelamin (perempuan) Diagnosa pasti DM: gejala yang khas dengan hasil tes darah : 1. Puasa gula darah > 126 mg/ dL Ini berarti bahwa sampel darah yang diambil setelah puasa, yang tidak makan selama minimal 8 jam, minum air tanpa gula diizinkan. 2. Glukosa darah random/acak > 200mg/dL Artinya sampel darah yang diambil terlepas dari kapan/waktu makan terakhir.

dr. Raymond Sebastian,Sp.PD

3. Glukosa darah 2 jam post prandial > 200 mg/dL Artinya sampel darah yang diambil 2 jam setelah diberikan larutan gula (oral glucose tolerance test). 4. HbA1c > 6.5 % HbA1c adalah kadar rata2 gula darah seseorang selama 3 bukan terakhir. Orang-orang yang perlu didorong untuk melakukan skrining adalah semua orang dewasa dengan indeks massa tubuh/BMI > 25 kg/m2 (obesitas/kegemukan), dengan faktor risiko lain sebagai berikut: (1) Tidak aktif/jarang melakukan kegiatan fisik, (2) Riwayat keluarga diabetes (terutama orang tua kandung) , (3) Wanita dengan riwayat diabetes mellitus selama kehamilan/melahirkan bayi > 4 kg, (4) Hipertensi (> 140/90), (5) Kadar lemak tubuh : HDL <35 mg/ dL atau trigliserida> 250 mg/dL, (6) Memiliki penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah),

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Faktor keturunan tidak dapat dicegah, tapi gaya hidup bisa diubah. Tips pencegahan berikut: 1. Membiasakan diri hidup sehat. 2. Biasakan diri untuk berolahraga secara teratur. 3. Tidur yang teratur 4. Jangan makan permen, cokelat, atau makanan dengan kandungan garam yang tinggi. Hindari makanan siap saji mengandung tingkat tinggi karbohidrat dan lemak. 5. Banyak konsumsi sayuran dan buahbuahan. Buah-buahan yang manis tidak meningkatkan kadar glukosa darah. 6. Skrining pada orang berisiko tinggi dan orang yang berusia 45 tahun ke atas. Sumber : ADA, Standards of Medical Care in Diabetes 2014, Diabetes Care Volume 37, Supplement 1, January 2014 Ketut Suastika, et al Prevalence of Obesity, Metabolic Syndrome, Impaired Fasting Glycemia, and Diabetes in Selected Villages of Bali, Indonesia, Journal of the ASEAN Federation of Endocrine Society , 2011 Alvin Powers, Diabetes Mellitus, 18th Harrison ‘s Principles of Internal Medicine

Style

17 - 23 November 2014

Kilau Berlian

untuk Momen

Istimewa

Berlian adalah simbol keabadian cinta atau diamond are ­forever. Begitu sebutan yang diberikan banyak orang ter­ hadap perhiasan yang satu ini. Apapun bentuk dan desainnya, kilau berlian berhasil menyihir perhatian terutama perempuan, sulit menolak pesona perhiasan yang satu ini.

S

Putu Ayu Indra Kusuma Dewi

elain itu, keunikan karakter berlian juga mampu membuat batu mulia ini menjadi primadona paling berharga. Tak heran, jika banyak kisah mengungkapkan pemberian perhiasan berlian pada orang terkasih dalam kesempatan istimewa menjadi momen yang tak terlupakan seumur hidup. Menurut Putu Ayu Indra Kusuma Dewi, pemilik’Piny Jewelery’ sebagai perhiasan, desain berlian kian bervariasi mengikuti tren. Mulai dari koleksi paling simpel yang digemari untuk dikenakan sehari-hari, hingga model anting panjang bertatahkan berlian

putih, yang cocok untuk pesta dan sanggup membangun citra dengan gaya elegan Ayu Indra juga mengatakan koleksinya berupa cincin, gelang, liontin, dan bros, lebih banyak bertatahkan berlian putih, namun beberapa divariasikan dengan bebatuan seperti garnet, ruby, safir atau mutiara. Sedangkan, sebagai pengikat berlian koleksinya dipilih emas putih atau platinum, karena kualitasnya mampu mendukung kilau berlian. Dari beragam desain berlian yang ditampilkan pada halaman Style Tokoh pekan ini, adakah yang cocok untuk mengabadikan kenangan indah Anda? – Sri Ardhini

15


Edukasi

16

17 - 23 November 2014

Tumpek Wariga

Momen Manusia “Menyapa” Pohon Tradisi di Bali, manusia memperingati hari kelahirannya tiap 210 hari, yang biasa disebut otonan. Demikian halnya dengan pohon, yang diber­ lakukan sama, yakni diberikan peng­hormatan secara simbolik tiap Tumpek Wariga. Karena itu, masyarakat Bali kerap menyebut Tumpek Wariga ini sebagai otonan pohon.

T

umpek Wariga sering pula disebut Tumpek Bubuh, Tumpek Pengatag, atau Tumpek Pengarah. Menurut praktisi bebantenan Ida Ayu Nirka dari Griya Pangsan, Petang, Badung, Tumpek Wariga merupakan salah satu wujud umat Hindu dalam mengajegkan (menjaga/melestarikan) Tri Hita Karana (parahyangan, pawongan, palemahan), yakni menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan. Tumpek wariga dirayakan tiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga, 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Tahun 2014, Tumpek Wariga jatuh pada 26 April dan 22 November. Ini adalah hari untuk menghaturkan puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai D e w a Sangkara, dewa

Dayu Biang Nirka

penguasa tumbuh-tumbuhan yang dikonkretkan melalui mengupacarai pepohonan dengan bebantenan dan menghaturkan bubuh (bubur). “Bah-

kan, pada masyarakat Hindu Bali yang memiliki Pura Subak, dibuatkan tempat khusus Sang Hyang Sangkara, manifestasi Sang Hyang Widhi yang berfungsi melindungi/memberikan kemakmuran pada tumbuh-tumbuhan,” ujar Dayu Biang, demikian ia biasa disapa. Karena dalam rangkaian upakara itu, ada menghaturkan bubuh, maka Tumpek Wariga sering disebut Tumpek Bubuh. Bubuh (bubur) merupakan simbol pupuk/rabuk. Tujuannya, supaya tumbuh-tumbuhan hidup subur, cepat besar dan berbuah, yang tentu saja membawa kemakmuran dan keharmonisan bagi manusia. Bubuh ini diisi di banten, di sasat, dan pada gantungan-gantungan. Tak setiap desa desa/wilayah di Bali memikili tradisi atau bebantenan sama dalam suatu upacara. Menurut desa mawacara di Desa Petang, Pangsan, Badung, banten yang dihaturkan saat Tumpek Wariga adalah tulang pengambyan, pejati, tumpeng dulang

pitu (7) atau tumpeng dulang lima (5). “Jika ingin mengambil tingkatan upakara yang lebih besar, namanya ngerasakan, ini memakai daging guling,” ucapnya. UPACARA POHON Segala macam tumbuhan yang berguna bagi manusia patut diberikan penghormatan pada hari suci ini. Namun, konkretnya tak semua pohon bisa diberikan upacara. Yang paling banyak bisa dilihat adalah meng­ upacarai pohon-pohon berbuah, seperti pohon kelapa dan mangga. Pada pohon-pohon berbatang besar ini, ada tradisi umat Hindu neteknetek pohon atau melukai batangbatang pohon dengan pisau. “Itu maksudnya sesapang (sapaan manusia kepada pohon), yang diikuti oleh kata-kata…kaki-kaki, dadong kije? Ye gelem. Gelem engken? Gelem Nged”, ungkap Dayu Biang Nirka. Tujuannya, agar pohon itu berbuah banyak untuk menyongsong kedatangan Hari Raya Galungan 25 hari mendatang, dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan umatnya terhadap tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, daun-daunan dan bunga-bungaan.

Perayaan hari Tumpek Wariga mengajarkan pada umat manusia bahwa kita wajib bersyukur atas segala kehidupan dalam alam ini. Menghormati dan menghargai bumi dengan segala isinya, khususnya tanaman. Ini memberikan makna bahwa sudah seharusnya manusia mengasihi dan menyayangi alam dan lingkungan yang telah berjasa menopang hidup dan penghidupannya. Pada Tumpek Wariga, momentum kasih sayang kepada alam diarahkan kepada tumbuh-tumbuh­ an. Betapa besarnya peranan tumbuh-tumbuhan dalam memberi hidup umat manusia. Hampir seluruh kebutuh­an hidup umat manusia bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Mulai dari pangan, sandang hingga papan. Kare­na itu, tak keliru jika tradisi perayaan Tumpek Wariga ini disepadankan sebagai peringatan Hari Bumi ala Bali. Namun demikian, Dayu Biang mengingatkan, penghormatan manusia pada tumbuh-tumbuhan jangan hanya saat Tumpek Wariga. Rasa kasih kepada sumber kehidupan dan kemakmuran manusia itu harus diaplikasikan dalam kehidupan seharihari. Misalnya, menjaga hutan tetap asri dengan tidak melakukan peneba­ ngan pohon sembarangan. Tiap orang menanam satu pohon, tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi polusi berlebihan ke air, udara, dan tanah, niscaya kehidupan manusia akan menemui kedamaian. Melalui perayaan Tumpek Wariga ini sejatinya umat Hindu diingatkan betapa pentingnya merawat alam dengan menanam tumbuh-tumbuh­ an. Tak hanya tumbuhan yang buah atau daunnnya berguna untuk sumber makanan, tetapi juga pohon-pohon untuk menjaga keseimbangan alam menghasilkan oksigen dan menyerap polusi udara. –Inten Indrawati

Jelajah Wisata Kuliner Kota Bogor Jika Anda berkesempatan mengunjungi Bogor, Jawa Barat, jangan hanya pelesir ke Kebun Raya Bogor tapi sempatkan diri untuk berburu makanan enak. Kota yang jaraknya sekitar 60 km dari Ja­ karta ini, selain dikenal memiliki segudang jajanan enak yang sayang jika dilewatkan. Makanan apa yang Anda cari, makanan khas lokal? Makanan khas Indonesia atau Eropa atau makanan kreatif ? Anda dapat menemukan semuanya di sini, dengan rasa yang enak juga terjangkau oleh ‘kantong’ Anda.

S

alah satu jajanan paling terkenal dari Bogor adalah asinan bogor, baik itu asinan sayuran maupun buah-buahan yang disajikan dengan kuah asam, plus kacang goreng dan kerupuk kuning. Orangorang dari luar kota biasanya pulang membawa asinan ini sebagai oleholehnya. Jika Anda tertarik, maka bisa berkunjung ke

salah satu penjual asinan terkenal di kota itu, di Jl Binamarga Bogor. Suka makaroni panggang? Datang­ lah ke Jl Salak No 24. Rumah makan yang berbentuk rumah tinggal dua lantai---agaknya pemilik usaha tetap mempertahankan ciri bangunan itu--lumayan luas. Sepertinya pemilik usaha ingin menghadirkan suasana ‘home sweet home’ agar pengunjung betah berlama-lama menikmati aneka kuliner yang ditawarkan. Jika ingin suasana berbeda, Anda bisa memilih makan di pe­karangan yang di­ tumbuhi banyak tanaman sembari melihat anak Macaroni panggang

bermain ayunan. Nah, jika memilih makanan, jangan lupa menyicipi makaroni bakar andalan rumah makan ini. Ditanggung, pasti ketagihan. Selain makaroni, ada sejumlah makanan enak lainnya, baik makanan local atau khas Indonesia ataupun makanan Eropa. Jika Anda datang di hari libur, siap-siap untuk mengantri. Jika malas mengantri, jangan khawatir, karena di sekitar resto itu, atau di Jl Salak itu terdapat beberapa rumah makan yang juga menyajikan makaroni panggang sebagai makanan

andalan, yang rasanya juga tak kalah enak. Selain resto-resto makaroni panggang, ada juga resto jenis makan­ an lainnya. Jadi, sekali berkunjung ke Jl Salak, Anda punya banyak pilihan makanan. Kalau mau jalan sedikit, maka tak jauh dari sana ada Jl Pang­r ango yang juga marak dengan tempat makanan enak. Di antaranya yang terkenal adalah ‘Kedai Kita’ yang ter­­kenal dengan pizza kayu bakar. Sensasi rasa­n ya sungguh berbeda dengan pizza pada umumnya, apalagi limpahan keju yang meleleh membuat makanan ini sungguh menggoda. Di kawasan Pangrango pula bercokol ‘Klappertaart Huiz’ yang terkenal dengan klappertaart, pastel tutup dan macaroni schotel. Selain kedua restoran itu, tentu saja masih banyak pilihan resto lainnya yang juga terletak di sana. Nah yang mungkin tidak asing bagi Anda adalah kawasan Gang Aut. Kawasan pecinan yang terletak di perbatasan antara Jl Suryakencana dengan Jl Siliwangi, termasuk yang paling ramai dikunjungi karena pilihan makanannya sangat beragam, umum-

nya makanan lokal, seperti; asinan jagung bakar, soto mie ciseeng, toge goreng, aneka pepes, laksa, rujak uleg toko bima, mie tasik, soto mie Agih, bakso kikil Pak Jaka, es bir kocok, martabak, asinan bogor Gedung Dalam, dll. Kalau mau coba rasa yang unik di sana ada cungkringan yang penjajanya menggunakan gerobak untuk berjualan. Cungkringan adalah makanan ini terbuat dari kikil dan kepala kambing yang disajikan dengan kuah dan sambal kacang, plus lontong supaya tambah nikmat. Bagi yang ingin makanan mengandung babi, bisa berkunjung ke Ngo Hiang, Jl Suryakencana 309A. Salah satu makanan andalan di sini adalah ngo hiang campur. Ngo hiang semacam rolade yang dibuat dari campuran daging babi, udang, sagu. Satu porsi ngo hiang campur berisi ngo hiang, tahu, kentang dengan suraman kuah kental manis gurih, plus acar ketimun, lobak dan wortel. Masih terkait daging babi. Pemandangan ini boleh dibilang amat jarang ada, khususnya di Jakarta, yakni penjual sate babi gerobakan. Kalau biasanya yang dijual di pinggir jalan adalah sate kambing, ayam, di kawasan Gg Aut (Jl Suryakencana) ini ada penjual sate babi pinggir jalan. Sebenarnya masih banyak lagi pusat kuliner di Bogor selain yang disebutkan di atas. Di antaranya, pusat kuliner di Jl Pajajaran, Taman Kencana, Sudirman, kawasan Bantarjati, dll. –Diana Runtu

Dara

17 - 23 November 2014

9

Andri

Tidak Bisa Instan

Miracle Aesthetic Clinic

Bangun Rumah untuk Keluarga Prasejahtera Andri bersama Wali Kota IB Rai D. Mantra dan Ny. Selly D. Mantra

Tahun 2012 silam, anak muda yang satu ini terpilih sebagai Runner up I Duta Endek Kota Denpasar. Ia pun mendapat tugas mem­ promosikan kain endek di kalangan remaja dan masyarakat.

S

ebagai Duta Endek, pemilik nama panjang Ketut Andri Sena ini, cukup banyak mendapat pembekalan, salah satunya wawasan mengenai tenun ikat bernama endek ini juga bertambah. Ia makin me­ ngenal endek yang merupakan salah kearifan budaya lokal bernilai seni tinggi. Produk yang menjadi salah satu unggulan, pada industri kreatif Kota Denpasar. Dia melihat kain tenun khas Bali ini sangat mampu bertahan sepanjang masa, tidak akan lekang oleh zaman. Bahkan, katanya endek mampu menyesuaikan dengan perkembangan mode dan tren tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya, se­ hingga makin diminati berbagai kalangan. Hal ini juga yang akhirnya membuat pelajar yang biasa dipanggil Andri ini, makin tertarik dan menyukai produk lokal ini. Bahkan demi rasa cintanya pada endek Andri tertarik mencoba membuat usaha yang berkreasi menggunakan bahan endek dengan model berbeda dibandingkan yang ada selama ini. Apalagi menurut siswa kelas XII SMA Negeri 5 Denpasar ini, ke­inginannya untuk berwirausaha sudah tumbuh saat ia kecil. Begitu ada kesempatan ia pun tidak menunggu

lama, dan segera menghadirkan pakaian tren masa kini ditambah dengan sentuhan kain endek dengan label “Endek Wear” Andri mengaku modal untuk membuka usaha pakaian sepenuhnya berasal dari tabungannya sendiri. “Selama menjalankan usaha ini, saya

sekaligus belajar untuk menata keuangan. Bersyukur saya tidak mengalami kesulitan, sebab yang paling penting uang pribadi dan uang bisnis tidak saya jadikan satu,” ucap pengagum pengusaha sukses Chairul Tanjung ini. Sampai saat ini Andri mengatakan belum mengidolakan seorang

Andri Sena bersama temannya yang memakai karyanya

desainer. Pakaian-pakaian yang trendi yang diperuntukkan kalanga remaja itu di produksi untuk label “Endek Wear” seluruhnya didesain oleh Andri sendiri. Untuk ide dan inspirasi pengembangan kreasi dan desainnya, Andri juga tak ke­ tinggalan mengikuti tren baju anak muda zaman sekarang. Mengenai dukungan, putra bungsu dari empat bersaudara buah hati pasangan suami istri Nyoman Sudira dan Made Darpini, ternyata sangat luar biasa didukung oleh orang-orang terdekatnya, terutama dukungan besar dari ketiga orang kakaknya. Kakak-kakak Andri tentu menginginkan usaha yang digeluti adik mereka berjalan baik dan terus lancar. Selanjutnya Andri menga­ takan ia tahu membuka usaha sendiri perlu waktu dan tidak bisa instan. Mulai dari memikirkan ide awal, membuka, memperkenalkan dan mempromosikan usaha tersebut, namun Andri tidak merasa lelah, malah ia menjalankannya dengan senang hati. “Ini karena adanya dukungan teman -teman dan yang pasti juga dukungan keluarga jadi penyemangat yang utama saya,” katanya. Untuk usaha pakainnya itu pemilik motto hidup “do, get, be everything” ini melakukan promosi melalui berbagai media sosial dan situs jual-beli on line, sehingga pembelinya bisa mencakup seluruh penjuru negeri ini. Namun, Andri dengan jujur mengakui saat ini ia sedang vakum sementara arena fokus untuk Ujian Nasional SMA dan segala persiapan ujian yang lainnya. “Kelas XII ini saya memang berniat fokus belajar,” ujar Andri masih memancang pilihan melanjutkan di bidang kesehatan atau ekonomi. Mengenai kenangan dan pengalaman, Andri menyebutkan yang paling berkesan adalah saat ia diberikan kesempatan oleh Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ny. Selly Dharmawijaya Mantra mengisi fashion show di acara Denpasar Festival (Denfes) beberapa waktu lalu. Ia sangat senang, karena endek karyanya yang bisa dikenakan di berbagai acara itu tampil di panggung diperagakan oleh temantemannya dari Duta Endek 2012. Salah satu yang menjadi semangat juga untuk Andri dalam menjalankan usaha “Endek Wear” miliknya adalah respons yang ia terima. “Secara keseluruhan, respons yang saya terima sangat baik, bahkan tak jarang ada yang memberi masukan dan berbagi ide yang dapat membantu saya dalam berkarya. Saya ingin juga menjadikan teman-teman remaja lainnya merasa endek ini punya kita dan kita bangga memakainya” jawabnya -Nina

Sebagai kelanjutan dari program kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk “Believe in MIRACLE: The Miracle Touch for a Happy Healthy Home”, Miracle bekerja sama dengan Habitat for Humanity Indonesia mengadakan kegiatan “Women Build” untuk membangun dua (2) rumah layak huni bagi keluarga prasejahtera pada Sabtu ( 8/11), di Banjar Rintis Lapang, Gobleg, Buleleng. Jap Budi Wijaya, Direktur Operasional Miracle Aesthetic Clinic menjelaskan, program ini sebagai bentuk kepedulian Miracle terhadap lingkungan sosial. “Kami terdorong membantu keluarga prasejahtera memiliki rumah layak huni, sehingga memberikan dasar yang kuat untuk dapat meningkatkan kehidupan mereka menjadi lebih baik,” ujarnya. Dikatakannya, kegiatan ini melibatkan para perempuan, baik dari internal Miracle maupun eksternal, sebab mereka memiliki peran sangat penting dalam kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Melalui kegiatan ini pula Miracle mengajak dan meningkatkan kesadaran perempuan Indonesia lainnya untuk peduli dan ikut mewujudkan rumah layak huni bagi keluarga prasejahtera. “Fenomena kawasan kumuh dengan rumah tidak layak huni, disertai taraf kesejahteraan yang masih rendah, secara tidak langsung menjadi tanggung jawab kita sebagai warga negara untuk membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan,” ungkap Budi Wijaya didampingi Upik Rustiah, Clinic Manager Miracle Aesthetic Clinic Denpasar Sementara James Tumbuan, Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia menjelaskan bahwa perempuanlah yang paling berat merasakan dampak dari tinggal di rumah tidak layak huni. Kepedulian dan keterlibatan perempuan yang digalang oleh Miracle merupakan momentum yang patut dikembangkan. Selain itu, Clareta Gozali, Manager Pengembangan Program Bali dari Habitat for Humanity Indonesia menambahkan, pemilihan lokasi dan keluarga mitra penerima bantuan sudah melalui tahap analisa dan penilaian. – Sri Ardhini

Wali Kota Buka Seminar Tata Rias Seminar Gratis “Tata Rias Pengantin Bali Madya dan Tata Rias Pengantin Bali Agung”, sekaligus Uji Kompetensi dilaksanakan Jumat (14/11) di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha (Bali TV), Denpasar. Seminar yang dibuka Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra didampingi Ny. Ida Ayu Selly D. Mantra tersebut dimeriahkan dengan pertunjukan tari kreasi “Tektok Mahabrata” oleh Sanggar Tari Purna, Bone Gianyar. Pada kesempatan itu diserahkan pula 40 beasiswa dari Kemendiknas kepada warga Desa Dauh Puri Kaja dan Peguyangan Kaja, Denpasar. Wali Kota IB Rai Mantra memberikan apresiasi positif terhadap AA Ayu Ketut Agung yang merupakan pakar kecantikan serta pemilik LKP dan TUK Agung. Ia mengatakan apa yang telah dilakukan Bu Agung adalah sebagai upaya mengentaskan kemiskinan dan buta huruf lewat kejar paket dan pelatihan keterampilan di bidang tata rias. Keterampilan dan kecakapan ini disampaikannya pula haruslah terukur. Karena itu, uji kompetensi mutlak diikuti untuk mengukur sejauh mana keahlian yang didapat telah dikuasai, yang natinya bisa dipraktikkan optimal. Uji kompetensi menghadirkan empat tim penguji dari Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) pusat. Acara yang diikuti ratusan peserta yang digelar atas kerjasama WHDI Bali, LKP Agung, Viva Cosmetic, dan Harian Bisnis Bali (Kelompok Media Bali Post) tersebut dihadiri Ny. Sri Utari Satria Naradha, Direktur Distribusi Viva Cosmetics Wilayah Indonesia Timur Yusuf Wiharto, Kepala Perwakilan Viva Cosmetics Bali Wayan Suyadnya, serta undangan penting lainnya. –Inten Indrawati


8

Bunda & Ananda

17 - 23 November 2014

Satu Anak Satu Pohon

Berbagai cara dilakukan para orangtua tempo dulu, untuk lebih mendekatkan dan menanamkan kecintaan buah hatinya pada pepohonan maupun lingkungan. Salah satunya dengan menciptakan lagu anak-anak, seperti “Lihat Kebunku” yang syairnya sarat dengan makna menanamkan kecintaan pada pepohonan maupun lingkungan.

Ni Made Sumantri

Nyoman Darmini

agu itu sampai saat ini masih asyik untuk diperdengarkan kepada anak-anak. Diciptakannya lagu itu tentu saja bertujuan agar anak-anak dari kecil sudah terbiasa menanam pohon, merawat dan memetik hasil dari tanaman yang ditanamnya itu. Bukan sebaliknya, tak pernah menanam malah mambabat hutan yang seharusnya dilindungi. Kini anak-anak juga terus diingatkan untuk mengenali pepohonan, misalnya dengan meminta mereka mencatat jumlah dan nama pohon yang ada di rumah. Dari hal sederhana ini diharapkan mereka akan memiliki kepedulian terhadapan tanaman. Menurut Kepala SD 1 Peguyangan Drs. I Nyoman Arya, keluarga punya peran besar untuk menumbuhkan kebiasaan menanam pohon minimal di lingkungan tempat tinggalnya. Selanjutnya merawat pepohonan itu dengan menyiram maupun membersihkan tanaman

pengganggu lainnya. ‘’Keluarga sebagai pendidik pertama dan utama harus dikembalikan. Walaupun tidak sepenuhnya, setidak-tidaknya, para orangtua menyadari akan tanggungjawab itu,’’ ujarnya. Lelaki kelahiran Denpasar, 31 Desember 1960 itu menyadari, fenomena sosial yang terjadi saat ini, makin menjauhkan anak-anak dengan lingkungan. Lahan yang terbatas dan kesibukan yang padat, membuat hari-hari anak-anak itu makin jauh saja dengan lingkungan. Pohon tak lagi menjadi sahabat tempat mereka bermain sembunyi-sembunyian. Pohon tak lagi menjadi tempat mereka mendapatkan buah, lantaran buah sudah tersedia di dalam kulkas. Belajar dari pengalaman menumbuhkan kesadaran siswa untuk terbiasa menanam pohon, menyiram maupun merawat di sekolah yang dipimpinnya, akhirnya mendatangkan berkah tersendiri bagi seluruh

L

warga sekolah. ‘’Saya selalu melibatkan anak-anak untuk bersamasama menanam pohon, menyiram maupun merawatnya. Mereka pun dengan senang hati melakukan,’’ ujar bapak dua anak ini. Selain kenyamanan yang didapat, sekolah ini pun sukses meraih predikat Adiwiyata, prestasi sekolah di bidang lingkungan. Arya menambahkan banyak cara yang bisa dilakukan untuk membiasakan anak-anak sejak kecil terbiasa menanam pohon dan merawatnya. Salah satunya membentuk klub peduli lingkungan. Siswa masingmasing kelas diberikan tanggungjawab mengelola kebun. Termasuk mengumpulkan sampah organik maupun organik yang dapat diolah menjadi pupuk maupun dijual. Dra. Ni Made Sumantri, Kepala SD 2 Peguyangan melihat anak-anak sekarang makin jauh saja dengan kebiasaan menanam pohon. Termasuk merawat maupun menyiram sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Berbagai permasalahan yang menjauhkan anak-anak itu dengan kebiasaan menanam pohon, menyiram maupun merawat pohon sebagai bentuk kecintaan ada lingkungan harus diatasi bersama. ‘’Sepertinya kesibukan anak-anak, yang membuat mereka tak bisa melakukan aktivitas yang berkaitan erat dengan lingkungan,’’ katanya. Ni Made Sumantri yang juga istri dari I Nyoman Arya, mengajak para orangtua untuk menciptakan suasana agar anak-anak makin dekat dengan lingkungan. Kedekatan akan

17 - 23 November 2014

17

Bangunan Bergaya Kolonial Pintu kayu gebyok besar, menjadi entrance rumah tinggal pasutri Patrick Casalini dan Ririn Suhartini di kawasan Kerobokan Denpasar, Bali. Tanah seluas 6 are yang bentuknya melebar ke belakang, disulap menjadi sebuah hunian sejuk dan menarik berkonsep kolonial, by Pro House Concept.

D

i tangan pasutri yang juga mengembangkan bisnis properti PT Tamara Bali Indah ini, konsep kolonial diterjemahkan dengan

menampilkan arsitektur bangunan serba putih. Bangunan ini memiliki langit-langit yang tinggi, sehingga temperatur dalam ruangan tidak panas, walau tanpa pengondisian

udara. Kondisi ini didukung pula dengan bukaan-bukaan lebar pada jendela, yang memungkinkan udara dan sinar matahari masuk ke dalam ruangan. Sehingga, siang hari

tak perlu menyalakan lampu. Bangunan bergaya kolonial ini juga mengusung konsep green architect dan lebih mengedepankan unsur alami. Dalam artian, pasutri ini memberikan space yang luas untuk taman. Pilihan tanaman se­ perti jenis palem-paleman, pisangpisangan dan tanaman rambat mampu menetralisir panas. Demikian halnya dengan unsur air yang dihadirkan lewat kolam ikan dan kolam renang yang membentang memanjang, menjadi view di ruang makan dan dapur, yang sekaligus

menjadi ruang bersantai menikmati suasana segar nan hijau. Pemilihan material alami seper­ti lantai kayu, dinding batu alam dan gedeg menjadikan suasana hunian ini seolah menyatu dengan alam. Meski bergaya kolonial, Tamara Villa & Spa ini menyelipkan beberapa pajangan etnik berbau tradisi Nusantara sebagai dekorasi pemanis ruang­ an. Bahkan, satu bangunan yang diperuntukkan tamu (guest house) mengadopsi bentuk bangunan jineg dan gladag. –Inten Indrawati

Anak-anak menyiram tanaman

membuat mereka makin cinta dan selanjutnya akan tumbuh rasa peduli. Alangkah indahnya hidup ini jika banyak pohon yang tumbuh, sehingga makin banyak saja yang memproduksi oksigen yang sangat dibutuhkan manusia. Cara yang dilakukan lewat praktik menanam pepohonan di pot, lantaran terbatasnya areal sekolah termasuk halaman rumah. ‘’Menanam pohon di pot itu sama saja dengan di tanah. Hanya saja medianya yang berbeda. Jika dirawat dengan baik tanaman itu akan tumbuh dengan baik,’’ kata Sumantri. Siasati Keterbatasan Lahan dengan Polibag Hal senada dilakukan di SD 8 Dauh Puri. Menurut Ida Ayu Putu Tirta, Kepala SD 8 Dauh Puri, keterbatasan lahan di sekolah membuat mereka menyiasati dengan mengenalkan penanaman pohon dalam polibag. “Kebetulan kami mendapat bibit pohon dari Dinas Pertanian Provinsi Bali. Kami ajak anak-anak untuk menanam bibit tersebut lalu merawat bersama,” ujarnya. Siswa tidak hanya diberikan teori saja, namun langsung praktik. Misal-

nya, diminta melakukan eksperimen penanaman pohon lalu mencatat perkembangan pohon tersebut. Siswa kelas VI bahkan dikenalkan cara mencangkul agar mereka tahu dari awal proses menanam pohon. Sementara itu di TK Negeri Pembina Denpasar, baru mulai masuk sekolah, anak-anak sudah membawa satu pohon. “Pohon ini kami tanam di lingkungan sekolah. Selanjutnya anak-anaklah yang bertugas merawat karena berisi nama masing-masing. Kalau ada pohon yang mati, segera diganti,” ujar Kepala TK Negeri Pembina Denpasar Ni Nyoman Darmini, S.Pd, M.Pd. Selain mempraktikkan di sekolah, anak-anak TK ini juga diajak sekolah lab. Ini merupakan program sekolah mengajak anak-anak ke luar sekolah untuk mengenal lebih dekat lingkungannya. Kegiatan ini diantaranya menanam mangrove di hutan bakau, menanam pohon di Puncak Bon, Petang dan mengunjungi kebun stoberi di Bedugul. Dengan melihat dari dekat dan melakukan sendiri upaya kepedulian lingkungan ini diharapkan anak-anak akan makin cinta lingkungan.

Ruang keluarga di lantai atas

Tempat bersantai di dek atas

Guest house yang memakai bangunan jineng dan gladag. Memakai dinding kayu dan gedeg, serta lantai kayu untuk menetralisir panasnya iklim tropis

–Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit

Si Pentol, Anak yang Diculik

Si Pentol sedang asyik bermain petak umpet. Ketika bersembunyi di balik semak, tiba-tiba seorang penculik bertubuh kekar mendekatinya. Made Taro Laki-laki itu berpura-pura berbaik hati. Ia memberi si Pentol sebatang manisan cokelat, lalu menggendong dan melarikannya ke dalam hutan. Si Pentol berontak dan berteriak, tetapi tak seorang pun yang mendengar teriakan itu. Dalam perjalanan ke dalam hutan lebat, Si Pentol menangis terus. Ia takut dan memanggil-manggil ayah dan ibunya. Penculik yang jahat itu berusaha menghibur korbannya dengan bernyanyi, tetapi anak itu tidak juga berhenti menangis. “Berhentilah menangis, Sayangku,” hibur penculik itu. “Setiba di rumahku nanti kau akan terheran-heran. Di halaman rumahku tumbuh sebuah pohon yang terbesar dan tertinggi di dunia. Dari puncak pohon itu kamu dapat melihat seluruh keindahan dunia. Ada gedung pencakar langit, ada danau luas dan biru, dan pabrik-pabrik yang mengepulkan asap. Yang mengherankan lagi, Sayangku, pohon itu memiliki batang yang luar biasa besarnya, sehingga seluruh penduduk dunia yang saling berpegangan, tidak berhasil memeluknya.” Cerita aneh penculik itu tidak mempan. Anak kecil dalam gendongan penculik itu masih juga menangis. “Aku juga punya sapi raksasa,” sambung penculik itu.

“Besarnya luar biasa. Sekali minum, ia menghabiskan air sungai di seluruh dunia.” Si Pentol tiba-tiba berhenti menangis. Penculik itu senang, lalu menurunkan anak yang diculik itu dari gendongannya. “Bagus benar cerita Paman!” kata anak kecil itu. “Ajaib dan mengherankan! Di rumahku juga terjadi keajaiban.” “Wah, wah, keajaiban apa itu?” tanya penculik itu penasaran. “Aku punya genderang raksasa, warisan dari kakekku. Sekali pukul, genderang itu membahana dan suaranya terdengar ke seluruh dunia.” “Ah, bohong itu!” sanggah si penculik. “Dari mana kakekmu mendapatkan kayu untuk genderang sebesar itu?” “Ya, dari pohon yang tumbuh di halaman rumahmu!” jawab si Pentol bersungguh-sungguh. “Lalu, dari mana kau dapat kulit hewan untuk membuat genderang sebesar itu?” “Ya, dari sapi raksasa milikmu.” “Lalu, dari mana kau membunyikan genderang itu sehingga terdengar di seluruh dunia?” “Ya, dari puncak pohon yang tumbuh di halaman rumahmu.” Si Penculik, laki-laki kekar itu mulai curiga. “Janganjangan anak kecil ini ajaib dan sakti,” pikirnya. Ia menyuruh anak kecil itu naik ke punggungnya, lalu secepatnya mengantar kembali ke tempatnya bermain petak umpet.

Kamar tidur anak. Dinding kamar mandi yang membatasinya dengan kamar tidur memakai kaca bening untuk memberi kesan lebih luas pada ruang

Kamar tidur utama yang ­memiliki akses langsung k­ e ­ruang wardrobe dan kamar mandi

General Contractor

Building Consultant Architectural Drawing

Interior & Exterior Designer

Landscaping Work Art Work

Jalan Serma Kawi 15 - 17 Denpasar, Bali. Tlp. (0361) 243717. Hp: (0361) 7875878, 08161671071. Email: tudejak@yahoo.com

Pemanfaatan Sinar Matahari untuk Pencahayaan Pertanyaan seputar griya dan properti dapat Anda kirim ke tudejak@yahoo.com atau redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh Tata Mitra Selaras, Ketua Tim Arsitek: N.G. Dwi Mahadipta, ST.MT.IAI

Tanya: Wilayah Indonesia beriklim tropis dan mendapatkan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Bagimana cara memanfaatkan sinar matahari ini untuk pencahayaan bangunan? (Bambang, Denpasar) Jawab: Sebelumnya, perlu diketahui perbedaan dari sinar dan cahaya. Cahaya (light) merupakan gelombang elektromagnetik panjang antara 380 hingga 700 nm (nanometer, 1 nm+10-9 m), dengan urutan warna ultraungu, ungu, nila, biru, hijau, kuning, jingga, merah, dan infra-merah. Sedangkan sinar (ray) adalah berkas atau spektrum cahaya

yang mengarah ke suatu tujuan. Beberapa warna sinar dari spektrum cahaya tidak dapat dilihat tanpa bantuan alat khusus seperti sinar gamma, sinar x, sinar kosmik, dan lain-lain. Maka, kita sering mendengar “cahaya matahari menyinari bumi” (Satwiko). Dalam memanfaatkan cahaya matahari sebagai pencahayaan alami, harus diingat bahwa matahari selain membawa terang, juga membawa panas. Cahaya yang dimanfaatkan untuk pencahayaan ruangan adalah cahaya bola langit (skylight). Sedangkan cahaya matahari langsung dapat dimanfaatkan untuk ruangan-ruangan khusus yang membutuhkan cahaya matahari langsung. Secara prinsip, terang alami langsung dapat dibedakan menjadi empat (4) yaitu, matahari langsung pada bidang kerja, cahaya pantulan benda-benda sekitar, cahaya pantulan halaman, kemudian dipantulkan oleh langit-langit atau dinding ke bidang kerja

dan cahaya pantulan dari lantai dipantulkan ke langit-langit. Pemanfaatan cahaya matahari sebagai pencahayaan alamai perlu memperhatikan hal-hal berikut: pembayangan, untuk menjaga cahaya matahari langsung tidak masuk ke dalam ruangan melalui bukaan (memanfaatkan terang matahari dan meminimalkan panasnya). Perlu diketahui, jika cahaya matahari langsung pada bidang jendela dapat merambatkan 80%-90% panas ke dalam ruangan. Teknik pembayangan dilakukan dengan memakai overhang, kisi-kisi, dan tirai. Pemasangan kisikisi pada bagian dalam jendela menurunkan rambatan panas matahari hingga 30%-40%. Sedangkan, kisi-kisi yang dipasang di bagian luar jendela dapat menurunkan rambatan panas hingga 5%-10%. Selain itu, pengaturan letak dan dimensi bukaan perlu diperhatikan agar cahaya bola langit dapat dimanfaatkan dengan optimal. Pemilihan warna dan tek-

stur permukaan ruangan juga diperlukan untuk memperoleh pemantulan yang baik. Tanpa menyilaukan mata. Dewasa ini, dengan perkembangan teknologi, banyak terobosan dalam pemanfaatan cahaya matahari sebagai pencahayaan alamai seperti penggunaan sun tunnel dan solar tube.


Kreasi

18

17 - 23 November 2014

Ekspresikan Kesucian Bunga Jepun lewat Tarian

17 - 23 November 2014

Life

Story

7

Dari Pengamen Jalanan Jadi Musisi Berbakat “Salam hangat dari Kapolda Jawa Barat. Mudah-mudahan memotivasi masyarakat Jawa Barat untuk lebih berkreasi lagi dan begitu juga memotivasi seluruh Indonesia,” ungkap Komisaris Besar Polisi Erwin C. Rusmana, Direktur Binmas Polda Jawa Barat, menyampaikan pesan dari Kapolda Jawa Barat,­Irjen. Pol. Dr. Mochamad Iriawan, kepada Rismawanda pada malam Grand Final Indonesia Mencari Bakat (IMB) 2014.

I

Kesucian dening masa Sekar Jepun pinaka sarana Tat kala manggehang Ning kayun sujati Unteng ne pinaka Paleburan Panca Maha Bhuta Kuning petak................kesucianne Ring Sang Hyang Widhi Wasa Mogi asung kerta Dulurin sembah bakti Reff : Ampurayang solah ingsung Jagadhita kalanggengin.

T

arian ini ditarikan lima orang penari dengan pakaian berwarna putih, kuning, merah, dan hijau sesuai warna bunga jepun dan daunnya. Penari menggunakan gelung di bagian kepala dengan hiasan bunga jepun. Tarian yang berdurasi 8 menit ini menceritakan tentang keindahan bunga jepun dengan berbagai corak warna dan bentuk. Bentuk keunikan bunga jepun juga dituangkan dalam tarian tersebut. Sampai saat ini, sebagian besar masyarakat Badung, baik itu siswi,

remaja putri, dan ibu PKK sudah bisa menarikan tarian ini. Bahkan, tarian ini sudah dijadikan tarian penyambutan wajib dalam setiap kegiatan di Pemkab. Badung. Yang unik, dalam tarian tersebut, tidak saja ada gamelan, tapi ada juga sindennya. Kalimatnya sangat in­ dah, menggambarkan kesucian bunga jepun. Bunga jepun merupakan salah satu jenis bunga yang paling sering digunakan sebagai sarana persem­ bahyangan bagi umat Hindu. Selain memiliki aroma yang harum, bunga jepun juga memiliki warna yang

riawan yang sedianya akan menonton langsung acara grand final itu, batal hadir karena tengah menjalankan tugas pengamanan “Persib Juara”. Dalam waktu bersamaan, Minggu, 9 November 2014, masyarakat Jawa Barat tumpah ruah di jalan merayakan kemenangan kesebelasan kesayangan mereka, Persib Bandung yang men­ juarai laga final ISL 2014. Sebagai Kapolda Jawa Barat, Iriawan hari itu tengah fokus melakukan pengamanan perayaan “Persib Juara”. Di hari yang sama, malam harinya, Rismawanda tampil dalam grand final IMB 2014. Berduet dengan Sandrina, juara IMB 2013, Rismawanda tampil apik dan penuh penghayatan me­ mainkan biola hadiah istimewa dari Kapolda Jawa Barat itu. Penampilan

beragam, mulai dari putih, merah, ungu, dan kuning. Keistimewaan bunga jepun, sering digunakan untuk menyambut wisatawan, dengan menyelipkan bunga ini di telinga mereka. Pertumbuhan bunga ini tidak mengenal musim, dan akan terus mekar sepanjang waktu. Pohon bunga jepun sangat mudah kita temui di sepanjang jalan. Saat pohon ini berbunga akan tampak keindahan dan keasrian daerah tersebut. Uniknya, ada nilai filosofi yang bisa diambil dari bunga jepun terse­ but. Filosofi ini membuat bunga jepun dilirik Pemkab Badung untuk dijadikan maskot. Berbagai kreasi diciptakan dari bunga jepun. Selain lagu Bunga Jepun, ada juga Tari Sekar Jepun yang keduanya dijadi­ kan maskot Pemkab. Badung. Awal terciptanya maskot ini, ide dari Ny. Ratna Agung selaku Ketua PKK Kabupaten Badung. Ketika itu, ada rencana kunjungan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, tahun 2008. Waktu itu Pemkab. Badung belum memiliki maskot. Ny. Ratna Gde Agung melihat keunikan dari bunga jepun ini. Ia mengatakan, ada beberapa makna filosofi yang didapat dari pohon jepun tersebut. Pohon jepun adalah pohon yang kokoh yang mampu hidup puluhan bahkan ratus­an tahun, walau dalam cuca panas dan kering atau hujan. Walau­ pun pohon jepun tinggi, akarnya tidak akan pernah mengganggu lingkungannya dan tidak memba­ hayakan pihak lain. Sari bunga jepun yang harum tidak akan ternoda oleh kumbang karena sarinya jauh di dalam sehingga sulit dijamah se­ hingga kesuciannya tetap terjamin.

Sari yang melekat pada mahkotanya sebagai cerminan makhluk sosial tidak boleh ekslusif dan egois, namun harus menyatu dengan ling­ kungannya. Demikian juga seorang pemimpin harus mampu menyatu dengan rakyatnya. Kelopak dari bunga jepun melambangkan arah penjuru mata angin (pengider-ider) tempat berstananya para dewa. Batangnya juga sangat bermanfaat untuk membuat pratima. Bunga jepun kering dapat dimanfaatkan aroma terapi. Menurutnya, di awal ada yang tidak setuju mengapa harus memilih bunga jepun. “Ada yang mengata­ kan, kenapa tidak memilih bunga cempaka. Kalau menurut saya, selain berbagai kelebihan bunga jepun, saya merasa kurang mantap saat sem­ bahyang kalau tidak ada bunga jepun,” kata N y. Ra t n a Agung.

pamungkasnya di babak akhir IMB 2014, mengundang decak kagum pe­ nonton. Bahkan dewan juri yang terdiri dari Soimah, Deddy Corbuzier, Titi Rajo Bintang dan Adi MS, memberi­ kan standing applause secara serentak usai Rismawanda tampil memukau membawakan pertunjukan bertema ‘Biola Maut Sang Panglima.’ Tepuk tangan panjang itu membuat ibunda Rismawanda, Kusniati, yang turut hadir menangis terharu menyak­ sikan betapa anaknya itu mendapat kehormatan sedemikian rupa. Perem­ puan berusia 52 tahun itu, tak sanggup menahan haru tiap kali menyaksikan Rismawanda tampil di panggung me­ wah IMB. Ketika Riswanda dinyatakan sebagai pemenang ajang pencarian bakat itu, tangis haru sang bunda tiada terbendung. “Ibu nyaris pingsan,” kata

Saat menilai ke salah satu TK di daerah Legian, Ny. Ratna Gde Agung bertemu dengan penyanyi Bali D.Antoni. Dari pertemuan itu, Ny. Ratna Agung meminta D.Antoni membuatkan lagu “Bunga Jepun”. Dari ide Ny. Ratna Agung ter­ sebut, mulailah konsep Tari Sekar Jepun dibahas dan dimatangkan dengan memohon petunjuk dari Ida Ratu Peranda, agar nilai kes­ akralannya bisa masuk ke dalam tarian tersebut. Himpunan Seniman Kabupaten Badung mulai men­ godok konsep ini dan menuangkan dalam konsep tari melalui beberapa kali diskusi dan latihan, termasuk masuk­an dari Bupati Badung dan Ny. Ratna Gde Agung. -Wirati Astiti

Rismawanda bersama ibu dan saudara-sudaranya

Rismawanda (paling kiri) bersama rekan-rekan sesama pengamen di rumah singgah KPM Dewi Sartika

Indah, kakak Rismawanda yang turut hadir. Ia seperti tidak percaya apa yang tengah didengar dan disaksikannya. Anaknya yang tidak pernah mengenal not balok dan tangga nada itu akhirnya menjadi seorang bintang dengan spesi­ fikasi musisi berbakat. Siapa sangka, anak yang hidup­ nya di jalanan sebagai pengamen itu, akhirnya meraih kesuksesan yang luar biasa, menjadi seorang bintang setelah me­nyisihkan ribuan anak muda lainnya yang sama-sama memimpikan menjadi seorang bintang dalam audisi demi audisi di seluruh Indonesia, hingga pergelaran demi pergelaran dalam persaingan yang sengit di panggung megah tersebut. Melihat penampilan Rismawanda di panggung spektakuler IMB seperti menyodorkan kontradiksi dari perjalanan hidup seorang Ris­ mawanda. Jalanan dan kehidupan yang serba sulit adalah potret keseharian kehidu­ pan Rismawanda dan keluarganya. Di sebuah rumah kontrakan ukuran sekitar 5x6 meter di lorong sempit Kelurahan Arcamanik, Kecamatan Bina Harapan, Kota Bandung, Rismawanda tinggal bersama ibu dan kelima saudaranya, yang tiga di antaranya juga sempat menjadi pengamen jalanan bersama Rismawanda. Mereka bersaudara 10 orang, seorang meninggal dunia dan dua orang lainnya telah menikah dan tinggal terpisah dengan mereka. Dari rumah inilah ia berangkat merajut mimpinya meraih kehidupan yang layak. Namun apa daya, jalanan yang menjadi tempatnya mencari nafkah tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk itu. PENGHASILAN RP 50 RIBU Kerasnya hidup di jalanan sudah dialaminya sejak berusia delapan tahun. Bermodal alat musik kecrekkecrek sederhana yang dibuat sendiri, Rismawanda menaklukan jalanan yang

sewaktu-waktu bisa saja merenggut nyawanya. “Rismawanda sudah mulai mengamen sejak usia delapan tahun,” ungkap Kusniati. Sepuluh tahun tera­ khir, ia “menikmati” pedihnya hidup di jalanan Kota Bandung. Meski begitu, Rismawanda tidak pernah mengeluh sedikit pun. Ia sangat memahami orangtuanya membutuhkan bantuannya untuk menopang ekonomi keluarga. Maka dengan mengamen itulah satu-satunya keahlian yang bisa dilakukannya. “Risma sampai putus sekolah demi membantu mencari uang untuk kami makan sehari-hari,” ungkap Kusniati menitikkan air mata. Sesungguhnya Rismawanda tidak ingin sekolahnya putus, namun ia tidak punya pilihan lain. Anak muda dengan bakat alami kelahiran 6 September 1995 ini hanya mengenyam pendidikan sampai bangku kelas empat SD. Ia pernah pu­ nya tekad untuk tidak mengamen lagi jika suatu hari nanti ia mendapat peker­ jaan yang layak, karena hidup di jalanan itu bukan hal yang menyenangkan. Banyak godaan yang dapat men­ jerumuskan ke dunia hitam. Kehidu­ pan jalanan, banyak pula membuka kesempatan-kesempatan yang bisa saja menjebaknya sewaktu-waktu dalam dunia kriminal. Namun, kegigihan Ris­ mawanda berjuang untuk keluarganya membuatnya tidak sempat berpikir yang aneh-aneh. “Risma mah, anaknya baik, sopan, sholeh, rajin salat dan tidak merokok. Dia tidak pernah tersinggun­ gan, baik banget anaknya,” kata Kusniati menangis haru. Meski sebagai seorang pengamen, di mata Kusniati, Rismawanda adalah anak yang membanggakan. Ketegaran­ nya menjadi tulang punggung keluarga kerap membuat ibundanya ini terharu tiap hari ia menunjukkan perhatiannya pada keluarga dengan membawa uang hasil jerih payahnya sebagai pengamen di sepanjang Jalan Laswi dan Lapangan

Pensi hingga Jalan Ahmad Yani Kota Bandung. Penghasilan Rismawanda sebagai seorang pengamen biasanya hanya sekiatr Rp 20.000 hingga Rp 50.000. “Biasanya dia bagi dua dengan saya untuk kebutuhan makan adikadiknya. Jika dia bawa pulang uang hanya Rp 20.000, dia selalu minta maaf pada saya,” kata Kusniati yang selalu bersyukur tiap kali anaknya itu membawa pulang uang berapa pun jumlahnya. Sebelum lolos dalam audisi IMB 2014, bakat Rismawanda ditemu­ kan oleh sebuah Lembaga Swa­ daya Masyarakat bernama Kelompok Perempuan Mandiri (KPM) Dewi Sartika, Bandung. “Rismawanda kami temukan di jalanan bersama ibunya saat mengamen,” kata Priston dari KMP Dewi Sartika. Lembaga inilah yang kemudian membina Risma. Kusniati pun diberikan pelatihan keterampilan agar memiliki keahlian sehingga tidak menjadi bagian dari kehidupan jalanan. Pada masa-masa awal penampi­ lannya di panggung IMB 2014, Ris­ mawanda sebenarnya sempat kesulitan dengan biola yang dimainkannya. Biola itu tidak sesuai dengan spesifikasi ke­ butuhannya tampil di panggung spek­ takuler itu. Kabar ini akhirnya sampai di telinga Irjen. Pol. Dr. Mochamad Iriawan. Dengan segera Kapolda Jawa Barat ini merespons kesulitan Rismawanda yang kemudian membelikan sebuah biola buatan Jerman yang akhirnya mengantar Rismawanda menjadi Bintang IMB 2014. Alunan lirih biola yang dimainkannya, mengirim pesan terima kasih yang tak terhingga kepada Iriawan. “Pak Kapolda seperti dewa penolong bagi kami semua,” ungkap Kusniati sambil menangis dan berharap bisa bertemu langsung dengan Kapolda Jawa Barat ini untuk mengucapkan terima kasih secara langsung.- Naniek I. Taufan


Woman on Top

6

Henny Suyasih

Semua harus Seimbang Siang itu di Kantor Lurah Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya, Mataram, Henny ­Suyasih, Lurah Dasan Cermen, tengah me­ nyimak seorang laki-laki yang tengah me­ nyampaikan masalahnya. Setelah semua masalah sudah disampaikan oleh warganya itu, Henny lalu memberi pendapatnya seba­ gai solusi tentang masalah yang dialaminya. “Ya begitulah, tugas saya juga harus me­ nyelesaikan masalah yang terjadi dalam masyarakat di Dasan Cermen ini,” katanya tersenyum.

M

asalah tanah waris­ an yang di bawa

oleh warga tadi, adalah salah satu dari masalah warga Dasan Cermen yang menjadi tanggung jawabnya untuk diselesaikan de­ ngan baik dan adil sesuai porsinya sebagai lurah, demi kedamaian bersama. Sejauh ini, menurut Henny yang menjadi Lurah Dasan Cermen sejak tahun 2012 ini, semua permasalahan yang muncul dalam masyarakatnya dapat

diselesaikan dengan baik. Diangkat sebagai salah seorang lurah di usia yang terbilang muda, 36 tahun, tidak membuat Henny kalah dengan mereka yang senior. Kreativitasnya dalam memimpin kelurahan ini telah mengantar Dasan Cermen meraih berbagai penghargaan baik tingkat Kota Mataram maupun tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebut saja, Kelurahan Dasan Cermen pernah meraih Juara I dalam Lomba Posyandu tingkat Kota

Mataram tahun 2013. Di bawah kepemimpinannya pula, Dasan Cermen meraih Juara I Lomba Kelurahan Tingkat Kota Mataram, tahun 2014. Lalu mendapat Juara II dalam Lomba Kelurahan tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, tahun 2014. Lebih dari prestasi yang sudah diraih itu, sejak diberikan tanggung jawab memimpin wilayah Dasan Cermen, Henny menjadikan wilayah ini lebih bersih. Di samping melaksanakan tugastugas kepemerintahan, Henny memiliki kepedulian membangun Dasan Cermen yang bersih. Berawal dari pemandangan kumuh yang terlihat di Dasan Cermen, membuat Henny turun menggerakan masyarakat untuk mengajaknya hidup sehat. Mulai dari mengajak ibu-ibu untuk tertib mengumpulkan sampah rumah tangga hingga dilarang membuang sampah sembarangan, melainkan harus dibuang ke dalam tempat sampah. Menurutnya, masalah kebersihan adalah hal utama yang harus

diperhatikan. Karena jika ingin bekerja dengan nyaman, maka harus dimulai dari lingkungan yang bersih. “Suasana kerja menjadi lebih fresh jika lingkungan sekitar bersih,” kata istri dari Irwan Haryadi ini. Ia berupaya keras untuk mengubah prilaku masyarakatnya dari kebiasaan membuang sampah sembarangan hingga akhirnya mau tertib bahkan hingga menjadikan sampah-sampah tersebut bernilai ekonomis. Ia bahkan menggerakan seluruh kepala lingkungan dan tokoh masyarakat serta tokoh agama di Dasan Cermen untuk membantunya menyosialisasikan kebiasaan hidup bersih dan tertib dengan memilah sampah organik dan anorganik. “Kalau pun tidak dapat memilah sampah organik dan anorganik,

setidaknya target pentingnya adalah masyarakat mau membuang dan mengumpulkan sampah di tempat sampah, tidak dibuang sembarangan apalagi di aliran kali yang melintas di wilayah Dasan Cermen,” ujarnya. Dua tugas sekaligus diemban Henny, yakni sebagai lurah dan sebagai ibu rumah tangga. Ia menyadari bagaimana pun, sebagai seorang wanita ia tidak boleh melupakan keluarga. “Semua harus seimbang, antara tugas sebagai abdi negara dan tugas keluarga harus sama-sama dijalankan dengan seimbang,” ujar ibu dari Rafi Kashtari Irsyady dan Hisyam Athaya Ramadhan ini. -Naniek I. Taufan

Sudut Pandang

17 - 23 November 2014

17 - 23 November 2014

19

Gerakan Penghijauan hanya Slogan? Tanggal 21 November diperingati seba­ gai hari pohon. Pohon pun kerap dikaitkan dengan lingkungan. Masyarakat tak harus menunggu hari pohon untuk berbuat demi lingkungan. Kali ini Tokoh menghadirkan laporan ­mengenai apa yang sudah dilakukan masyarakat Jakarta, NTB, dan Bali berkaitan dengan pohon.

P

embenahan lingkungan di Jakarta memang bukan suatu yang mudah. Lingkungan Jakarta yang sudah telanjur rusak akibat pembangunan yang tak terkendali, menjadi salah satu penyebabnya. Salah satu bukti dari kerusakan lingkungan yang parah itu adalah banjir yang kerap melanda Jakarta. Salah satu sebabnya adalah berkurangnya daerah resapan air dan kurangnya penghijauan. Lahan-lahan yang tadinya taman dan daerah resapan air telah berubah fungsi. Kalaupun keberadaan taman itu ada, namun tidak terurus apalagi ditanami pohon. Penghijauan seolah hanya jadi slogan. Beberapa tahun terakhir ini gerak Pemda DKI Jakarta dalam menata lingkungan, khususnya penghijauan, terlihat marak. Bisa jadi ini karena kali ini dana yang digelontorkan untuk itu, kali ini, lumayan besar. Salah satu yang disasar Pemda DKI Jakarta adalah meningkatkan RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang memang sangat minim di Jakarta. Target Jakarta adalah memiliki 30% RTH, sedang yang baru terealisasi 9,8% (dari luas daratan Jakarta 661,52 km2). Menambah

Nandar Sunandar

RTH memang tidak mudah karena sulit mencari lahan kosong di Jakarta. Untuk mendapatkannya berarti harus melakukan pembebasan lahan yang kebanyakan sudah menjadi pemukiman dan perkantoran. Tahun ini, untuk menghijaukan Jakarta, Pemda mengalokasikan dana Rp 2 triliun lebih. Dana ini selain untuk pembangunan dan pemeliharaan RTH, pembelian pohon, pembebasan lahan, dll. Anggaran ini mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Un-

Rutin Tanam Pohon Tiap Tahun Di Bali, Rotary Club Bali Taman selalu rutin melakukan penanaman pohon minimal sekali setahun. “Dalam proyek pengadaan air bersih, kami selalu melakukan penanaman pohon. Tujuannya untuk menjaga konservasi air,” ujar Nyoman Nilawati dari Rotary Club Bali Taman. Menurut Ibu Teladan Bali Tahun 2008 ini, pengadaan air bersih dan penanaman pohon sudah dilakukan sejak tahun 2006 sampai sekarang. “Hingga kini sudah sekitar 100 ribu pohon kami tanam tersebar

Nyoman Nilawati

di beberapa kabupaten di Bali. Kami mengkhususkan pengadaan air bersih pada wilayah-wilayah kering yang ada di pelosok seperti daerah Kubu Karangasem. Tidak hanya pengadaan air bersih, kami juga melanjutkan dengan menanam pohon. Beberapa pohon yang kami tanam ada juga tanaman produktif,” kata Nilawati. Pohon yang ditanam ada yang berjenis buah seperti mangga, manggis, durian, juwet, kopi, cokelat. Untuk pohon pelindung seperti albesia dan kejimas. Ia mengatakan, setelah penanaman pohon, mereka rutin datang berkunjung untuk mengetahui, bagaimana kelangsungan proyek air bersih yang mereka bangun. Begitu juga, sekaligus memantau perkembangan pohon yang mereka tanam. “Di beberapa daerah yang ditanami buah seperti mangga, kopi, cokelat, durian sudah menghasilkan. Kami senang melihat, pohon yang kami tanam produktif dan memberi manfaat secara ekonomi bagi masyarakat setempat,” ucapnya. Ia menambahkan, pilihan pohon yang ditanam memang yang tidak terlalu membutuhkan air, sehingga tidak masalah bila ditanam di daerah yang kering. -Wirati Astiti

tuk perbaikan taman misalnya, kalau tahun 2012 lalu hanya sekitar Rp 300 jutaan sedang tahun ini rencananya hingga Rp 20 miliaran. Jumlah itu belum termasuk dana untuk pembangunan RTH. Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Nandar Sunandar berharap, program penghijauan Jakarta mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Ada banyak bentuk dukungan, misalnya saja dengan ikut menanam pohon ataupun menyumbang bibit-bibit pohon. “Diharapkan masyarakat ikut mendukung program penghijauan, bisa dengan menyumbangkan pohon ataupun bibit,” kata pria yang suka bersepeda ini. Namun, jika ingin melakukan gerakan penananan hendaknya berkoordinasi dengan dinas pertamanan yang nantinya akan melakukan analisa tentang kebutuhan tanaman yang disesuaikan dengan tanah dan daerahnya. Sekarang ini taman dan RTH yang ada di Jakarta telah dirancang dengan tata estetika yang berbeda. Karena itu aksi penanaman perlu pengawasan. “Koordinasi diperlukan agar nilai estetikanya tetap terjaga,” kata Nandar yang baru 10 bulan menjabat Kepala Dinas Pertamanan. TREMBESI COCOK DI JAKARTA Ada banyak program terkait penghijauan yang dilakukan Dinas Pertamanan saat ini. Program terkait peran serta masyarakat misalnya, meminta setiap Rukun Tetangga melakukan penanaman 10 pohon. Selain itu, juga melakukan penanaman pohon di kawasan resapan air. Ajakan ini juga mendapat sambutan positif dari berbagai organisasi kemasyarakatan juga perusahaan-perusahaan swasta

Dinas Pertanamanan DKI tengah melakukan penanaman dalam rangka program penghijauan

yang ikut bergerak demi terciptanya ‘Jakarta Ijo Royo-royo’. Banyak di antaranya menanam pohon trembesi. Pohon besar ini dianggap cocok untuk Jakarta karena pohon ini mempunyai daya kuat untuk menyerap air. Keberadaan banyak pohon trembesi ini setidaknya bisa membantu dalam mengatasi masalah banjir yang kerap menyerang Jakarta. Selain itu, pohon yang bisa mencapai ketinggian 40 meter ini, juga bisa membantu mengatasi masalah polusi Jakarta. Sebab, pohon ini mampu menyerap gas berbahaya seperti karbondioksida (CO2) dan karbonmonoksida (CO) yang menjadi penyebab global warming. Pengamat Perkotaan, Nirwono Joga dari Universitas Trisakti Jakarta, mengatakan, anggaran yang besar harus disertai dengan kinerja jajaran Pemrov DKI Jakarta agar apa yang diharapkan bisa berhasil. Ada beberapa usulan yang disampaikannya,

di antaranya, bekerja sama dengan swasta dalam konsep taman dan pemeliharaan. Imbalannya, pihak swasta dapat memberi namanya pada taman sponsor itu. Ada yang menyarankan agar dalam rangka menjadikan “Jakarta Ijo Royo-royo” jangan dengan penanaman pohon secara instan melainkan dengan pola regenerasi. Karena menanam pohon secara instan tidak mempunyai akar tunjang yang kuat. Menurut Endes Dahlan, ahli hutan kota dari Institut Pertanian Bogor, era awal penanaman pohon di Jakarta dimulai zaman Ali Sadikin. Saat itu, Bang Ali banyak menanam pohon instan. Langkah ini kemudian diikuti oleh gubernur-gubernur Jakarta setelahnya. Padahal seharusnya menamam pohon instan harus diganti dengan penanaman bibit atau pohon yang usianya maksimal 1 tahun. Karena pohon yang ditanam dari bibit mempunyai akar tunjang lebih kokoh. –Diana Runtu

Melanggar Awiq-awiq Tak Dapat Pelayanan Sampah menjadi salah satu masalah yang sulit dituntaskan jika tidak ada kesadaran dan kepedulian semua pihak dalam penanganannya. Menggerakkan orang untuk peduli pada lingkungan yang bersih dan bebas sampah, juga bukan persoalan mudah. Karena itulah, demi menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, Kelurahan Dasan Cermen Mataram, membuat kesepakatan yang mengandung “daya paksa” bagi warga untuk mau tertib menyikapi sampah, dengan melahirkan Awiq-Awiq tentang Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan. “Dalam pembuatan awiq-awiq di lima lingkungan yang ada di Kelurahan Dasan Cermen Mataram, selain Ketua RT dan Kepala Lingkungan serta warga juga melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat,“ ungkap Henny Suyasih, S. STP, Lurah Dasan Cermen Mataram. Dalam awiq-awiq tersebut tertulis sanksi-sanksi bagi warga lingkungan masing-masing yang tidak mematuhinya. Beberapa isi dari awiq-awiq yang dibuat oleh warga di lingkungan Dasan Cermen Asri, misalnya, disepakati bahwa masyarakat di lingkungan itu diwajibkan untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan yang sebelumnya sudah dipilah antara sampah organik dan anorganik. Masyarakat juga dilarang keras buang air sembarangan di saluran dan sungai. Selain itu juga tidak diperkenankan membuang atau mengalirkan air limbah ke tempat yang menimbulkan genangan. Ada pula sanksi yang dijatuhkan jika warga tidak

mematuhi awiq-awiq tersebut, berupa teguran lisan dan denda jika mengabaikan teguran lisan hingga tiga kali. Bagi warga yang tidak mematuhi ketentuanketentuan tersebut secara terus menerus tidak akan mendapat pelayanan apapun dari Ketua RT ataupun Kepala Lingkungannya. “Awiq-awiq ini cukup efektif, meskipun dibutuhkan sosialisasi yang terus menerus untuk bisa tertib,” kata Henny. Tidak kurang dari satu dam truk sampah rumah tangga dari lima lingkungan dihasilkan di Dasan Cermen yang kemudian dikumpulkan pada bank sampah milik kelurahan ini. Dan di bank sampah inilah dilakukan pemilahan sampah organik dan anorganik. Sampah-sampah ini lalu dikelola sehingga menjadi komoditi yang bernilai ekonomis. Untuk mengelola sampah-sampah yang dikumpulkan itu, pada tahun 2013, Kelurahan Dasan Cermen membentuk Kelompok Siaga Sampah terpadu. Kelompok inilah yang melatih para ibu rumah tangga dan kader-kader kelurahan untuk memanfaatkan sampah anorganik, khususnya sampah plastik bekas minuman gelas, menjadi kerajinan yang apik. Para ibu dan kader kelurahan inilah yang kemudian mengubah sampah menjadi beraneka produk kerajinan yang unik seperti ingke (alas makan), vas bunga, keranjang, topi dan lainnya yang kemudian dijual dan mendapat banyak pesanan. Di kelurahan ini, sampah menjadi bernilai. “Jangan lagi melihat sampah sebelah mata. Karena sampah dapat membawa berkah,” katanya. -Naniek I. Taufan


20

Nine

17 - 23 November 2014

Dari Pedagang Bakul sampai Buruh Migran

Endang ketika asistensi peserta paralegal di Desa di Kabupaten Belu, Atambua

T

ahun 1996, kasuskasus buruh migran khususnya TKW asal NTB banyak mencuat. Tidak satu pun ada lembaga yang menanganinya. Apalagi kasus-tersebut menurutnya banyak menimpa keluarga rekan-rekannya di PPK Mataram, yang saling bercerita tentang kisah-kisah sedih yang dialami keluarga mereka yang menjadi TKW atau TKI di luar negeri. Di sanalah Endang mulai melirik penanganan-penanganan kasus TKW yang kemudian berkembang juga menangani kasus-kasus yang menimpa TKI asal NTB, di mana bertepatan dengan saat ia duduk sebagai direktur lembaga ini. Sebuah keberanian mengambil sikap ditunjukkan Endang ketika memutuskan menambah kesibukan kerja organisasi yang dipimpinnya dengan menangani kasus buruh migran yang tentu saja memiliki konsekuensi lebih besar dibandingkan mengurus ibu-ibu pedagang bakulan. Dalam penanganan isu buruh migran memerlukan hal yang spesifik dalam menanganinya terbilang rumit karena melibatkan hubungan dua negara, Indonesia dan negara tempat buruh migran bekerja dan terkena masalah. Juga membutuhkan kesiapan mental dan psikologi dalam penanganannya. Apalagi

diakuinya kala itu ia sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam hal ini. “Awalnya dulu belepotan menanganinya karena tidak punya pengalaman sama sekali,” ungkap perempuan berusia 54 tahun ini. Kasus-demi kasus yang masuk dan ditanganinya akhirnya membuatnya berusaha keras untuk belajar tentang banyak hal mengenai penanganan permasalahan buruh migran. Termasuk juga belajar tentang strategi yang harus dijalankan ketika berhubungan dengan banyak pihak yang terlibat di dalamnya. “Di masa-masa itu, saya menangani kasus sambil jalan, sambil belajar,” ujar Endang. Ia mulai belajar tentang aturanaturan hukum negara tempat

TKI/TKW NTB bermasalah dan segala hal berkaitan dengan ini. Sampai akhirnya, perjuangan ia dan kawan-kawannya di PPK selama lima tahun sejak tahun 2005, mampu menangani kasus Adi Bin Asnawi, TKI asal Kediri Lombok Barat yang terancam hukuman gantung di Malaysia yang akhirnya kembali ke pangkuan keluarganya, tahun 2010. Ia juga harus belajar bagaimana strategi komunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari Kepala Daerah asal TKI/TKW bermasalah (bupati, walikota, Gubernur NTB), Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/ Kota / Provinsi/, Kedutaan Besar Republik Indonesia di tempat TKI/TKW bermasalah, Kementerian Luar Negeri RI, Kementerian Tenaga Kerja RI, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) hingga korban dan keluarga korban serta banyak lagi pihak lain termasuk PJTKI yang mengirim TKI/ TKW bermasalah. Sebuah kompleksitas yang harus ia hadapi. Yang lebih berat dari itu rupanya ada lagi, dimana saat menangani kasus yang subyek dan obyeknya tidak jelas keberadaannya, yakni menangani TKI atau TKW asal NTB yang sudah lama hilang kontak dengan keluarganya dan tidak diketahui keberadaannya. Menurutnya, yang paling tidak tega ia hadapi adalah kenyataan ketika ada keluarga

Asistensi peserta pelatihan paralegal di desa di kupang, NTT

TKI/TKW yang datang menitip harapan besar padanya untuk bisa menyelamatkan keluarga mereka yang tertimpa masalah di luar negeri. “Mereka datang dengan harapan yang menyedihkan, terutama bagi TKI/TKW yang sudah lama hilang. Mau tidak mau saya dan kawan-kawan harus berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk membantu,” ujar ibu dua anak, Kartika Puji Astiti (26) dan Guru Sugiharto (23), ini. Kini, tidak kurang dari 18 tahun istri dari Bagus Wirateja (56) ini, bergelut dalam advokasi-advokasi buruh migran asal NTB yang mengalami masalah di berbagai negara tempat mereka bekerja. Sekitar 4000an kasus yang diterima Pancakarsa juga kasus-kasus yang pernah ditanganinya membuatnya mengelus dada melihat nasib para buruh migran ini. Apalagi sejak tahun 2007, ia tidak lagi menjadi direktur lembaga ini melainkan fokus sebagai Koordinator Advokasi Pancakarsa Mataram. “Jangan Tanya bagaimana perasaan saya selama terlibat dalam advokasi ini,” katanya pendek sembari tersenyum. Endang melihat dan merasakan benar bagaimana getirnya nasib para TKW dan TKI NTB yang mengalami berbagai masalah baik sebelum berangkat ke luar negeri maupun masalah yang terjadi selama mereka bekerja di luar negeri. Ada yang mengalami penipuan oleh calo, gaji yang tidak pernah dibayarkan (bahkan ada kasus TKW yang 10 tahun gajinya tidak dibayar), kasus yang terjadi di penampungan sebelum mereka diberangkatkan, pelecehan seksual, penyiksaan, overstay, pembunuhan hingga yang pulang meninggal dunia. Semua yang telah dilaluinya itu, adalah peristiwa yang mengadukaduk emosinya, bercampur sedih, terharu, bahagia, memilukan dan sebagainya. Bahkan ada seorang TKW yang diantarnya pulang ke Lombok Timur, lalu menemukan di rumah TKW ada perempuan lain yang sudah dinikahi suaminya, sehingga TKW itu tidak bisa pulang ke rumahnya. Rumah yang dibangun dari hasil gajinya selama menjadi TKW yang dikirim tiap

Inspirasi

Improvisasi Perkaya Kreativitas

Endang Susilowati

Berawal dari ketidaktahuan tentang penanganan kasus-kasus buruh migran yang menimpa TKI dan TKW asal Nusa Tenggara Barat, Endang Susilowati, mantan Direktur Eksekutif Persatuan Pancakarsa (PPK) Mataram (1996-2007), tetap maju membantu para buruh migran yang tertimpa masalah hanya bermodal tekad dan niat baik. Ia tergabung dengan Pancakarsa Mataram, sejak tahun 1988 saat lembaga ini mulai berdiri (masih yayasan). Awalnya Endang dan rekanrekannya fokus pada pengembangan ekonomi ibu-ibu pedagang kecil/ bakulan di Mataram. “Kami mendampingi ibu-ibu pedagang bakulan untuk pengembangan usaha dari aspek pasar, modal dan manajemen usaha secara sederhana,” ujarnya.

17 - 23 November 2014

Endang Susilowati

bulan kepada suaminya itu. Belum lagi ketika menemukan kasus anak-anak yang lahir tidak jelas dari para TKW, akibat perkosaan, suka sama suka lalu ditelantarkan dan lain-lain. “Sekitar tahun 1996 Pancakarsa memiliki desa binaan di Lombok Tengah. Di sana ada 37 anak yang lahir dari TKW akibat perkosaan dan suka sama suka kemudian ditelantarkan dan lain-lain.Kasus-kasus semacam ini banyak terjadi tidak hanya di tahun 1996 saja,” katanya. Apa yang sudah digelutinya selama 18 tahun ini diakuinya tidak merupakan sebuah cita-cita bagi dirinya, melainkan mengalir alami begitu saja. “Pekerjaan ini tidak terpikirkan sebelumnya apalagi jadi cita-cita, tapi mengalir saja dimulai dari tidak tahu menjadi tahu,” ujar nenek satu cucu ini. Bahkan kini, ia tidak hanya menangani kasus-kasus yang menimpa TKI/ TKW saja melainkan juga memberi perhatian pada anak-anak dan keluarga mereka. Karena selain mengalami kasus sebagai buruh migran, beberapa TKW juga mengalami kasus kekerasan dalam rumah tangga dan anak-anak mereka terlantar. Pendekatan kini dilakukan juga pada keluarga TKI/ TKW bermasalah. Misalnya, dengan mengurus anak-anak TKI/TKW yang bermasalah itu agar dapat atau tetap bersekolah, bekerjasama dengan panti-panti dan dinas sosial dan lainnya. Selain karena pekerjaan yang memang harus dilakukan lembaganya, apa yang kini dilakukan Endang juga karena melihat realita yang tidak menguntungkan bagi TKI/TKW berkasus yang membuatnya tidak bisa diam karena hatinya tersentuh untuk turut membantu. Kini, sembari mengemong cucu pertamanya yang baru berusia enam bulan, Endang masih tetap menangani kasus-kasus TKI/ TKW dan tidak tahu kapan ia harus berhenti. “Selama saya masih bisa membantu, saya tidak akan berhenti,” ujarnya. -Naniek I. Taufan

Endang bersama suami dan anaknya, saat pernikahan putri pertamanya

Duet Indra Lesmana dan Dewa Budjana dikenal sebagai musisi jazz papan atas Indonesia. Keduanya tak pelit berbagi ilmu. Mereka bahkan berkolaborasi dengan musisi-musisi muda. Bagi Indra, ada semangat beda ketika mereka bermusik dengan yang muda. Indra dan Budjana pun banyak bercerita diselasela workshop di Shankara Resto, Sanur, Rabu (12/11) malam.

“I

ndra ini anak ajaib. Tahun 1981 saya dapat informasi dia main bersama ayahnya (Jack Lesmana) di RRI Denpasar yang di Jalan Melati. Saya bela-belain datang agar bisa bertemu Indra. Mau masuk back stage gagal. Inilah yang membuat saya kemudian hijrah ke Jakarta untuk berguru kepada Om Jack dan Indra,” kenang Budjana. Gitaris band Gigi ini juga menuturkan dirinya menjadi murid ketiga Jack Lesmana saat membuka sekolah musik Farabi. “Saya hanya bertahan sebulan karena uang hanya cukup untuk bayar sebulan. Saya lalu bilang ke Om Jack, saya mau belajar musik tetapi tidak punya uang. Ternyata saya diperbolehkan tetap belajar walau tidak bayar bahkan numpang tinggal di rumah mereka. Dari modal nekat itulah saya menjadi dekat dengan Indra,” kata Budjana lagi. Kedekatan keduanya membuat mereka memiliki chemistry di music jazz. Mereka sering membuat komposisi bersama. Ada yang sudah direkam, ada yang belum. Tahun 2015, duet ini berencana merilis album yang materinya sudah mereka siapkan. Budjana pun mempromosikan musisi jazz di Bali untuk sering-sering nge-jam bareng Indra karena mulai Desember 2014, Indra Lesmana pindah ke Bali. “Saya bukan anak ajaib seperti kata Budjana. Kebetulan saya dibesarkan di keluarga pemusik. Tiap hari bermusik. Menurut saya, siapa pun bisa seperti saya kalau lingkungannya mendukung. Sejak kecil, musisi keluar-masuk rumah, suasana memang gitu. Tidur dengar musik, bangun dengar musik. Pulang sekolah juga dengar musik akhirnya saya pun melanjutkan kuliah musik di Australia,” ujar Indra Lesmana, pria

kelahiran Jakarta, 28 Maret 1966 ini. Ia menambahkan ayahnya membuat atmosfir musik di rumah. Suasana benar-benar dibuat agar menghasilkan musisi yang kreatif. Ternyata pola yang diterapkan ini berhasil melahirkan musisi-musisi andal seperti Budjana, Tohpati, Anto Hoed, dll. “Setelah ayah meninggal, saya merasa tidak mampu mengurus sekolah. Saya pengen cari pengalaman lain. Setelah berkelana dan mendapat pengalaman baru, akhirnya saya sadar saya harus mengajar lagi untuk berbagi ilmu. Generasi sudah berubah. Saya pengen mengembangkan di Bali. Desember ini saya pindah ke Bali, tinggal di Sanur,” ujar adik Mira Lesmana ini. SEMANGAT DENGAN YANG MUDA Karier Indra dalam dunia musik dimulai saat usianya 10 tahun. Ia tampil bersama ayahnya di Bandung, Maret 1976 dengan instrumen keyboard. Dua bulan kemudian, bertempat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Indra bermain keyboard dalam sebuah konser jazz yang melibatkan musisi senior seperti Jack Lesmana, Benny Likumahuwa, dan penyanyi Broery Marantika. Tahun 1978, Indra mulai merekam dan merilis album pertamanya “Ayahku Sahabatku”. Ta h u n 1 9 7 8 , I n dra bersama ayahnya berkesempatan pergi ke Australia untuk tampil dalam pekan budaya ASEAN Trade Fair. Saat itulah, atas saran ayahnya,

Indra Lesmana saat tampil bersama Dewa Budjana

Penampilan Indra Lesmana (kanan)

Indra mencoba untuk mengikuti ujian masuk di Conservatorium of Music dan akhirnya diterima. Atas bantuan Kedutaan Australia, Indra mendapatkan beasiswa penuh untuk sekolah di New South Wales Conservatory School of Music di Sydney. Kementrian Luar Negeri Australia pun memberikan izin menetap bagi Indra dan keluarganya. Mengenai kolaborasinya dengan Dewa Budjana, Indra mengaku paling banyak berpartner dengan pria asal Klungkung ini. “Kami pernah

buat original soundtrack, buat band, dan buat komposisi berdua. Selera kami sama. Mengarang lagu satu selera. Pernah kami buat lagu satu hari jadi,” kenang juri Indonesian Idol ini. Saat workshop jazz di Shankara ini, Boni, seorang pianis yang juga guru di Farabi menanyakan bagaimana Indra dan Budjana bisa berimprovisasi. Pertanyaan ini dijawab Indra dengan menuturkan pengalamannya bermusik. “Jazz penuh improvisasi. Komposisinya juga dari improvisasi

5 tertulis. Buat lagu perlu spontanitas, jadi tema, lalu jadi lagu. Jazz sekarang berkembang. Di Amerika Serikat ada komunitas yang menjaga estetika musik jazz. Sama kayak masyarakat dan komunitas yang menjaga gamelan di Bali agar tetap eksis. Kemudian ada seniman-seniman baru yang mengembangkan jazz sehingga bisa liar membuka area-area yang tidak disentuh musisi AS,” jelasnya. Ia juga menuturkan India banyak memberi pengaruh jazz sehingga komposisi musik jazz melebar. Improvisasi dan spontanitas ini akan memperkaya kreativitas. Ini akan lahirkan banyak musisi muda karena mereka tidak jauh dari improvisasi. Indonesia menurut Indra, menjadi negara yang musisi jazznya terbanyak di Asia. Indra juga menceritakan dirinya sering bermusik dengan Budjana kemudian mereka mencari teman hingga mendapatkan Sadhu Rasjidi (putra musisi Idang Rasjidi) sebagai bassist dan Raffi sebagai drummer. “Mereka berdua masih muda dan punya bakat musik luar biasa. Ada tenaga dan semangat baru ketika bermain dengan yang muda, tapi bukan berarti melupakan yang tua. Kalau main sama yang tua, habis main obrolan soal penyakit, obat, dan kolesterol. Tetapi, kalau sama yang muda, habis main, obrolan beda dan menambah semangat,” ujarnya sembari tertawa. Workshop yang diawali instrumen “Somewhere Somehow ” pun dinikmati pengunjung dan penikmat jazz. “Tak ada song list, pokoknya kita bermusik,” ujar Indra setelah alunan “Joged” dan “Dancing Tears”. –Ngurah Budi


4

Inspirasi

17 - 23 November 2014

Ikut Jejak Suami

T

Acara pisah sambut di Kementerian Kesehatan

api jabatan yang ‘tertunda’ itu akhirnya datang juga lima tahun kemudian. Senin 27 Oktober lalu, Nila Moeloek dilantik menjadi Menteri Kesehatan Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo- Jusuf Kalla. Seperti menteri lain di Kabinet Jokowi-JK, maka Nila pun langsung tancap gas seusai dilantik di Istana Negara. Dia juga termasuk salah satu menteri yang ikut sibuk dalam pembagian ‘Kartu Sakti’ Jokowi. Maklum, salah satu yang dibagikan adalah Kartu Indonesia Sehat (KIS). Dia juga melakukan ‘blusukan’ dengan meninjau puskesmaspuskesmas dan posyandu. Salah satunya di Puskesmas Dupak Surabaya, Jumat (6/11) lalu. Salah satu yang menjadi prioritas program kerjanya adalah menekan angka kematian ibu (AKI) pasca melahirkan yang menurutnya masih tinggi di Indonesia. “Angka kematian ibu tidak berdiri sendiri. Harus ada dukungan semua sehingga penurunan angka kematian ibu bisa berhasil,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. Sasaran Pembangunan Milenium (MDG) menargetkan angka kematian ibu (AKI) Indonesia pada tahun 2015 sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup namun berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup, meningkat drastis dari SDKI 2007 sebesar 228 per 100.000 kelahiran

hidup . “AKI merupakan salah satu target MDGs (Millenium Development Goals), dan itu harus dicapai Indonesia pada 2015. MDGS adalah pekerjaan sulit, terlebih bila angka kematian ibu masih bertanda merah. Karena itu kerja sama dengan banyak sector harus kita tingkatkan,” paparnya. Menurutnya, sebagai wanita kita harus tahu bagaimana menjaga kesehatan diri sendiri, misalnya, pengetahuan mengenai penggunaan KB dan perencanaan anak. “Kita (perempuan) tentu harus mikir untuk diri kita. Kalau mau punya anak kita harus tahu bagaimana mendidik dan menjaga kesehatan anak. Kita juga harus tahu bagaimana menjaga kesehatan diri sendiri,” ujar Nila saat serah terima jabatan dengan mantan Menkes Nafsiah Mboi di Gedung Kementerian Kesehatan. Wanita, tambahnya, harus

Nila Moeloek

tahu merencanakan anak sebatas kemampuan. Itu tanggung jawab. Kalau kita tidak mampu, jangan kita memberikan generasi lemah,” tegasnya. Di lingkungan Kementerian Kesehatan sosok Nila memang bukan sosok baru. Setidaknya, saat suaminya dr Farid Anfasa Moeloek menjadi Menteri Kesehatan Kabinet Reformasi Pembangunan BJ Habibie, Nila kerap berkunjung ke kementerian itu yang dulunya bernama Departemen Kesehatan. Bahkan setelah itupun Nila termasuk salah satu yang aktif di organisasi Dharma Wanita Kementerian Kesehatan. Nila sendiri berlatar belakang ahli oftalmologi (ilmu kesehatan mata). Ia lahir di Jakarta 11 April 1949 dan menjadi salah satu staf ahli divisi tumor mata di RSCM Kirana Jakarta. Sebelum dengan kesibukannya yang sekarang, ibu tiga anak ini, termasuk wanita yang sangat sibuk. Ia bukan saja aktif sebagai tenaga pengajar di program doktor pasca sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tapi juga di beberapa rumah sakit, salah satunya adalah RS Mata ‘AINI’ dimana dia telah 32 tahun mengabdi. Belum lagi, ia juga dipercaya Presiden SBY untuk menjadi Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs2009-2014. Sebagai utusan khusus, Nila adalah duta

Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek di sela-sela acara serah terima jabatan di Kemenkes

Mandalika

21

Bersantai di Taman Udayana

Nila Djuwita Moeloek

Mungkin sebagian orang belum lupa ketika tahun 2009 lalu, saat mantan Presiden SBY melakukan fit and proper test calon menteri­menterinya. Saat itu Nila Djuwita Moeloek menjadi salah satu yang ­dipanggil ke Puri Cikeas, kediaman pribadi Presiden SBY. Biasanya orang yang dipanggil ke Cikeas, bakal menjadi menteri nantinya. Orang menyebut fit and proper test itu hanyalah formalitas. Tapi apa yang terjadi, nama­nya dicoret, SBY justru memilih Endang Rahayu Sedia­ ningsih (alm) sebagai Menkes. Publik terkejut. Lebih tak me­ngenakkan lagi ketika itu beberapa karangan bunga ucapan selamat sudah telanjur datang ke rumah Nila. Entah apa yang terjadi ketika itu.

17 - 23 November 2014

Presiden yang bertugas menyampaikan berbagai hal tentang MDGs, tidak saja kepada para pemangku kepentingan di kabupaten dan kota, tetapi juga nasional, regional, bahkan global. Ia juga anggota dewan The Partnership for Maternal Child and Neonatal Health, sebuah lembaga yang melaksanakan inisiatif strategis Sekjen PBB untuk Kesehatan Ibu dan Anak, serta advisory board member dari EAT Forum, sebuah inisiatif global berfokus pada isu pangan, kesehatan dan sustainability. Bekal pengalaman tersebut tampaknya dianggap cukup oleh Presiden Joko Widodo untuk mempercayakan tugas-tugas di

Nila Moeloek bersama suami

Kementrian Kesehatan kepada Nila. Menurut Nila, ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan sungguh diluar dugaannya. “ Tu h a n m a h a t a h u . Tu han memberikan saya beban pekerjaan di pundak saya untuk memimpin Kementerian Kesehatan. Ini bukan tugas yang ringan,” ujarnya. Namun, katanya, ia merasa bersyukur dan bahagia mendapat kesempatan

mengemban tugas mulia ini. Dia meminta agar jajaran Kemenkes ikut membantu dan mendukungnya dalam menunaikan tugas tersebut. Karena akunya, ia tak mungkin sendirian dalam menjalankan tugas itu. “Ini adalah pekerjaan mulia. Mari kita bergandeng tangan, pekerjaan ini bukan untuk saya, bukan untuk Anda, tetapi masyarakat yang belum merasakan keberuntungan dan kemerdekaan bangsa kita. Masih banyak masyarakat kita yang tidak dapat memenuhi kesehatannya dengan sebaik-baiknya,” kata Nila. Seperti menteri lain di Kabinet Jokowi-JK, Nila pun sangat sibuk dengan berbagai agenda kerja setiap harinya. Dia memang bisa sepenuhnya focus ke pekerjaan, karena kebetulan ketiga anaknya tidak lagi terlalu membutuhkan perhatian khusus darinya. Pasalnya, mereka--Muhammad Reiza, Puti Alifa, dan Puti Annisa--- sudah menikah. Bahkan dua dari tiga anaknya itu kini tinggal di Amerika. Menurut suaminya, Farid Anfasa Moeloek, dirinya dan anak-anak mendukung tugas yang emban Nila. “Ini adalah tanggung jawab besar, ini adalah sebuah amanah dari Yang Maha Kuasa,” ujar Farid di selasela acara serah terima Menteri Kesehatan. “Anak-anak sudah besar-besar mereka berharap mamanya bisa bekerja dengan baik untuk rakyat,” ujarnya. –Diana Runtu

Nila Moeloek (kiri) suaminya Farid Anfasa Moeloek dan Nafsiah Mboi, mantan Menkes

Taman Udayana yang dulunya menjadi jalur utama menuju Bandara Selaparang Mataram, kini berubah menjadi ramai oleh berbagai kegiatan yang dilakukan oleh warga Kota Mataram. Hari Minggu pagi, di sepanjang jalan Udayana Mataram selalu dipenuhi oleh warga yang berolahraga dan berekreasi. Apalagi, setelah jalur Udayana ini diberlakukan sebagai jalur car free day tiap Minggu pagi, warga Kota Mataram, tumpah ruah bersantai dan berolahraga di kawasan ini.

T

idak hanya di Hari Minggu saja, Taman Udayana Mataram kini menjadi pilihan utama untuk tempat tongkrongan baik bagi anak muda maupun keluarga. Karena itu, di sore hari, taman ini selalu padat dengan orang yang berolahraga di fasilitas-fasilitas olahraga yang disiapkan Pemerintah Kota Mataram. Di samping itu, sore hari merupakan waktu yang juga dipilih oleh keluarga untuk menikmati tempat nongkrong ini sembari menikmati berbagai

kuliner yang dijajakan oleh sekitar 120 pedagang kaki lima yang terdata oleh Dinas Pertamanan Kota Mataram. Taman Udayana awalnya ditata sebagai hutan kota (kawasan terbuka hijau), sejak tahun 2001. Penataan yang terbilang apik itu, sedikit demi sedikit mengundang warga Kota Mataram untuk datang ke taman ini untuk olah raga (jogging) di bawah pohon-pohon teduh yang sengaja ditanam. Ada juga yang datang untuk bersantai. “Lama-lama masyarakat terlihat meminati kawasan ini sehingga menjadi ramai,” ujar Kemal Islam, Kepala Dinas Pertamanan Kota Mataram. Dan, semakin hari minat warga untuk menjadikan kawasan Udayana sebagai tempat nongkrong, semakin ramai. Hal inilah yang membuat pedagang asongan dan pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai kuliner dan juga tempat minum kopi, semakin hari semakin banyak pula. Perkembangan ini mulai terlihat setidaknya dalam

10 tahun terakhir. Menyikapi semakin ramainya kunjungan warga ke kawasan Udayana yang dibarengi dengan makin bertambahnya pula pedagang kaki lima, Pemerintah Kota Mataram terus menata kawasan ini menjadi lebih apik lagi. “120 pedagang kaki lima berjualan di kawasan ini,” ujar Kemal. Para pedagang ini kemudian diakomodir dan ditata oleh Pemerintah Kota Mataram agar tidak tampak kumuh. Para pedagang yang tadinya berdagang di trotoar-trotoar kawasan

Udayana, kini telah berjejer rapi masuk ke dalam taman pada bagian barat dan timur taman. Para pedagang di taman ini kemudian menjajakan dagangannya dengan cara menggelar karpet atau tikar, duduk lesehan di depan lapak-lapak dagangannya. Selain menata para pedagang kaki lima, Pemerintah Kota Mataram juga memasilitasi para pedagang dengan membuatkan lapak-lapak. Setidaknya, menurut Kemal, sudah ada 70 lapak

yang diberikan Pemerintah Kota Mataram untuk para pedagang. Sedangkan 50 lapak lagi tengah disiapkan untuk dipergunakan oleh para pedagang kaki lima. “Lapak-lapak tersebut boleh dipakai gratis, tanpa dipungut biaya,” ungkap Kemal. Tidak hanya para pedagang kaki lima yang difasilitasi Pemerintah Kota Mataram, melainkan fasilitas olahraga juga disiapkan untuk warga yang datang. Areal untuk ketangkasan sepeda bagi anak-anak dan remaja. Jalan-jalan di dalam taman juga sengaja ditata sebagai areal jogging. “Khusus di areal ini tidak diperbolehkan sama sekali untuk berjualan, melainkan khusus sebagai tempat jogging bagi warga,” ungkap Kemal tentang lahan hijau di bagian barat sebelah utara kawasan Udayana. Ada juga fasilitas senam. Dan semua areal kawasan Taman Udayana diperuntukan bagi warga secara gratis. Taman Udayana yang memiliki sebuah tugu bernama tugu Bumi Gora yang dibuat sejak tahun 1980an, menjadi ikon taman ini. Berbagai kegiatan seperti pentas musik dan kegiatan lainnya kerap dilakukan di sini. Lokasinya berada di tengah-tengah taman Udayana. Perkembangan kunjungan warga ke taman yang semakin ramai, membuka banyak peluang usaha bagi yang jeli “membaca pasar”. Dibandingkan dengan hari-hari lain, waktu kunjungan yang paling padat adalah di malam Minggu (Sabtu malam). Karena itu, saat malam Minggu, Taman Udayana akan dimeriahkan oleh hadirnya kereta-kereta wisata malam yang dipenuhi

lampu-lampu hias. Dari jauh, beragam bentuk (rata-rata binatang) kereta malam yang dipenuhi lampu hias, seperti ayam, bebek, mobil-mobilan hingga burung merak, akan sibuk lalu-lalang di sepanjang kawasan ini. Lampu hias dan pemilihan ornamen binatang sengaja dibuat untuk menarik perhatian anak-anak. Kereta wisata ini dapat mengangkut empat hingga enam orang. Dengan biaya sewa Rp 25 ribu sekali jalan berkeliling sepanjang kawasan Udayana (ke selatan hingga perempatan BI dan ke utara hingga bundaran Bandara Selaparang Mataram, pengunjung dapat menikmati keramaian di sekitarnya. Kereta wisata sengaja dimodifikasi dengan cara dikayuh seperti sepeda, agar para penyewa bisa membawanya sendiri. “Kalau mau ‘disupiri’ petugasnya, tambah biayanya Rp 5 ribu menjadi Rp 30 ribu sekali jalan,” kata Endang (52), pemilik kereta wisata sewaan ini. Sebanyak 27 kereta wisata

malam yang biasa beroperasi di kawasan Udayana mulai sore hingga sekitar pukul 11 malam. Kereta wisata malam ini hadir sekitar satu tahun terakhir. Penghasilan para pemilik kereta malam jika kunjungan ramai sekali bisa mencapai Rp 300 ribu-Rp 350 ribu, khususnya di malam Minggu. “Tapi di hari lain, tidak begitu banyak, biasa saja, kadang ada kadang juga tidak ada yang menyewa,” ungkap Endang yang setiap hari mengoperasikan kereta wisata malamnya bersama suaminya Andi Poniran (60). Empat buah kereta wisata malam yang mereka miliki ini, memberikan penghasilan yang lumayan sehingga mereka mengaku tiap hari, ramai tidak ramai pengunjung, mereka tetap keluar untuk menunggu para penyewa. Kerlap-kerlip lampu hias pada kereta wisata malam yang dilengkapi dengan musik yang selalu hidup, menambah keunikan bersantai di Taman Udayana. -Naniek I. Taufan


Metropolitan

22

17 - 23 November 2014

Engkong Naim “Bertelur” nusia bertelur ini menjadi sesuatu yang menarik bagi kalangan medis. Meski ada keraguan, tetap saja mereka harus melakukan penelitian guna membuktikan benar atau tidaknya, sekaligus memberi penjelasan pada masyarakat yang sudah telanjur heboh. Pihak RSCM sendiri telah menyatakan kesediaannya untuk melakukan obeservasi jika Engkong Sinin mau datang ke RSCM.

Jakarta dihebohkan kabar manusia bertelur. Suatu yang mustahil namun kakek Sinin (62), manusia yang bisa bertelur itu, memperlihatkan bukti sejumlah ‘telur’ yang dikeluarkannya yang kemudian diliput oleh media massa. Warga pun berbondong-bondong mendatangi rumah si kakek Jl. Tanjung Wangi, Penjaringan, Jakarta Utara.

S

aking hebohnya, Dinas Kesehatan Pemda DKI Jakarta pun turun tangan. ‘Telur-telur’ tersebut kemudian diperiksa. Tidak hanya itu, kakek Sinin pun dibawa ke rumah sakit umum daerah Koja, Jakarta Utara, akhir pekan lalu, untuk observasi lebih lanjut. Tim dokter ingin menyaksikan sendiri kakek Sinin bertelur dan akan langsung memeriksa telur tersebut jika benar-benar keluar. Namun, empat hari di rumah sakit, telur yang ditunggutunggu tidak juga keluar. “Merasa ingin keluar tapi tidak keluar juga, nggak tahu kenapa,” kata si kakek yang mengaku kondisi tubuhnya sangat fit selama di rumah sakit. Mendapat perawatan khusus terkait masalah yang dialaminya, menurut Sinin, sudah lama diharapkannya. Sejak dulu dia bolak-balik ke rumah sakit terkait permasalahan itu, namun dokter tidak bisa memecahkannya. Saat di rumah sakit pekan lalu, ‘telur’ tidak keluar. Tapi anehnya, setelah ia dipulangkan pihak rumah sakit, Senin (10/11), Sinin bisa bertelur lagi. Saat Engkong Naim, begitu ia biasa disapa, bertelur, kebetulan rumahnya sedang ramai oleh masyarakat. Memang sejak berita si Engkong bisa bertelur me­ nyebar luas, rumahnya tak pernah sepi dari kunjungan masyarakat. Rasa penasaran orang ingin melihat dari dekat ‘telur-telur’ yang dihasilkan Sinin membuat mereka betah berlama-lama di sana. Tak sia-sia, karena akhirnya

Engkong Naim bertelur lagi. Setidaknya hal itu disaksikan langsung oleh warga setempat, yang ikut membantu mengeluarkan telur dengan cara mengurut-urut punggungnya. “Saya penasaran ingin melihat Engkong bertelur, ternyata kejadian. Saya sudah lihat Engkong bertelur sejak waktu itu, dan sekarang lihat lagi. Malah ikut bantu mengurut-urut punggungnya supaya telurnya bisa keluar,” ujar Efendi. Telur yang dikeluarkan Sinin setelah keluar dari rumah sakit, kini sudah di tangan tim dokter untuk diteliti. Saat akan bertelur, Sinin mengaku selalu merasa kesakitan amat sangat. Itu sebabnya ia selalu mengerang-erang. “Badan Engkong rasanya sakit, tulang-tulang rasanya sakit semua,” ucapnya. Itulah yang selalu dirasakannya selama ber­tahuntahun setiap kali akan bertelur. Namun, dokter tidak bisa melihat itu karena saat di rumah sakit, dia tidak bisa bertelur. “Saya enggak stres waktu di rumah sakit, tapi telur nggak keluar juga. Padahal sudah diurut-urut punggungnya,” kata lelaki asal Grobongan, Semarang, Jawa Tengah, yang mengaku ‘bertelur’ sejak 1998 dan sudah menghasilkan 200-an ‘telur’. DUBUR TIDAK LECET Dari hasil sementara pemeriksaan tim dokter RSUD Koja Jakarta Utara terhadap tubuh Sinin justru tidak menunjukkan keanehan. Setidaknya, dubur saluran ‘telur-telur’ itu keluar

Engkong Naim saat di rumah sakit

tidak mengalami luka ataupun lecet. Padahal sebagai orang yang mengklaim dirinya mengeluarkan benda semacam ‘telur’, normalnya dubur akan lecet atau ada tanda bekas lecet atau luka. “Duburnya nggak lecet sama sekali. Semua bagian tubuhnya masih bagus,” ungkap Kepala IGD RSUD Koja, dr Dedi kepada wartawan. “Padahal ayam pun kalau bertelur, apal-

Rumah Sinin selalu ramai pengunjung sejak berita dirinya bisa bertelur menyebar luas

agi berkali-kali, pasti ada luka dan merah. Nah ini kan manusia. Orang yang disodomi saja, pasti lecet dan

ada bekasnya. Ini, kan, yang keluar telur yang ukurannya lebih besar,” papar dr. Dedi lagi. Banyak dari kalangan medis meragukan klaim manusia bertelur. Dalam sejarah medis, tidak pernah terjadi adanya manusia bertelur, apalagi oleh seorang laki-kali. Ada dugaan, benda yang diklaim mirip telur itu, kemungkinan adalah gumpalan lemak yang dikenal sebagai lipoma. Tumor atau daging tumbuh, juga bisa keluar melalui dubur. Namun, tidak mungkin terjadi berkali-kali dan dalam waktu yang terus menerus. Jika tumor keluar harusnya disertai dengan darah. Betapapun, kasus klaim ma-

AIR MATA KRISTAL Dulu kasus aneh yang juga pernah menghebohkan masyarakat, air mata batu kristal. Mungkin masyarakat belum lupa kasus yang mengebohkan dua tahun lalu, yakni adanya klaim air mata manusia berubah jadi batu semacam kristal. Adalah Tina Agustina, warga Sumedang, Jawa Barat, yang ketika itu diberitakan air matanya dapat berubah menjadi batu kristal. Banyak orang yang telah melihatnya, bahkan, konon, Camat Cisarua, Kab Sumedang, Tono Suhartono, mengaku pernah melihat langsung air mata kristal itu beberapa kali. Tina pun akhirnya menjalani pemeriksaan di rumah sakit mata di Bandung, Jawa Barat. Sementara butir-butir berbentuk seperti kristal di periksa di laboratorium geologi. Hasilnya, klaim itu ternyata palsu. Hasil pemeriksaan laboratorium geologi menyebutkan, batu yang seperti kristal itu bukan produksi tubuh manusia, me-

lainkan bahan sintetik yang telah diproses seperti perhiasan imitasi. Dokter Hikmat Wangsaatmadja, salah satu dokter yang ikut memeriksa, meminta agar Tina menghentikan praktek tersebut karena dikhawatirkan akan menimbulkan infeksi pada matanya. Diduga, Tina memasukkan benda kristal ukuran kecil ke atas bola mata di atas ujung alis. Nantinya, batu-batu itu akan turun dengan sendirinya lewat kelopak bagian bawah. Trik itu sangat berbahaya karena ini bisa melukai matanya. Jika merujuk kasus Tina, apakah apa yang terjadi pada Engkong Naim juga merupakan sebuah trik? Tunggu saja hasil pemeriksaan lebih lanjut. –Diana Runtu

Sosialita

17 - 23 November 2014

3

Dayu Kondi

Kepuasan Luar Biasa Jangan pernah beranggapan wanita yang sudah kawin dan punya anak akan menurun produktivitas, kinerja, atau kariernya. Buktinya, Ida Ayu Indra Kondi Santosa Wananjaya, S.H., M.Kn., bukan hanya mampu meng­ubah anggapan tersebut, malah tetap menumbuhkan minat untuk terus berkembang dan terus berprestasi.

D

ayu Kondi, begitu ia biasa disapa, memang dikenal sebagai perempuan smart dan selalu tampil dengan citra profesional dalam menjalankan profesinya. Tiap hari ia hadir di kantor dengan busana yang elegan, wajah segar penuh percaya diri. Hal itu juga nampak saat Tokoh berkunjung ke kantornya di kawasan Jalan Tukad Musi, Renon, Denpasar. Bicara profesional sudah pasti, sebab peraih The Best Notaris In Service Excellent of The Year 2014 ini adalah sosok wanita Bali yang luar biasa. Dalam tiap langkahnya dipastikan berbasis knowledge, skill dan attitude yang baik. Selain itu pemikiranpemikirannya tentang pelestarian seni dan budaya serta perjuangan te rh a d a p ke s etaraan hak dan langkah peremp u a n s a ­n g a t konsisten dilakukannya sebagai sebuah se­mangat ngayah untuk masyarakat Bali. Sejak 1995, ibu dari �������������� I.B. Reza Awatara Pidada,S.H., I.B. Rendy Laksana Pidada, S.H., dan I.A. Regina Gitaloka Pidada, S.Ked. ini, tercatat sudah memulai kiprahnya dalam bidang seni, budaya serta hukum adat. Tidak hanya sampai di situ, aktivitasnya bertambah sebagai pemerhati wanita, kare­na ia melihat masih banyaknya kasus-kasus yang melibatkan wanita. Dari pengamatan ibu tiga anak ini, lemahnya pemahaman hukum, juga turut mendorong pembagian peran masing-masing di dalam keluarga, baik istri dan suami rentan terjadi pergesekan yang meng­arah pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kepeduliannya tersebut ternyata memberikan nilai lebih dan prestasi tersendiri

bagi istri Ida ��������������� Bagus Gede Wa��� nanjaya, S.H., yang hingga kini cukup banyak memperoleh penghargaan. Termasuk yang diterimanya belum lama ini, yakni terpilih sebagai salah seorang peneri­ma anugerah “The Best Inspiring Women of The Year 2014”. Sebuah penghargaan bergengsi bagi wanita Indonesia , setelah melalui pertimbangan dan pengkajian yang mendal a m t e r ­h a d a p prestasinya yang cemerlang dan kepeduliannya yang konsisten pada persoalan wanita serta dan

mamp u meng­ inspirasi lingkungannya. Dengan menerima peng­h argaan ke-11, untuk tingkat nasional dari 7 Media , IHRDP (Internasional Human Resources Development Program), FPPB (Forum Peduli Prestasi Bangsa) ini. justru menjadi suatu cambuk bagi Penasehat Pura Kahyangan Jagat Bali ini agar bisa berbuat lebih untuk masyarakat dan bisa menjadi panut­ an atau teladan bagi wanita lainnya. “Saya ingin mengabdikan hidup buat

masyarakat Bali yang kurang mampu, terutama di bidang pendidikan, adat dan budaya. Makanya saya ingin memiliki tempat pendidikan gratis buat anak-anak yang kurang mampu di Bali,” tegas Dayu Kondi yang sering diminta sebagai pembicara dalam berbagai workshop ini.

DORONG WANITA SIAP HADAPI MEA Ditanya soal emansipasi saat ini, alumni S2 Kenotariatan Universitas Airlangga ini tidak hanya berarti mendapatkan hak memperoleh pendidikan atau hak untuk mendapatkan jabatan di pemerintahan dan pekerjaan setara dengan kaum pria. Namun, terpenting adalah bagaimana seorang wanita mau memposisikan dirinya untuk merebut kedudukan dan mengambil semua kesempatan. “Percayalah, saat kita berhasil menyelesaikan setiap ‘job task’ dalam daftar, ada kepuasan yang luar biasa. At the end of the day, we got that sense of control,” tegasnya. Sebagai wanita dan sebagai ibu, tetap ha­r us profesional dalam berkarier sesuai bidangnya masing-masing. Sikap tersebut ditunjukkannya dengan bertanggung jawab penuh terhadap apa yang dikerjakan. Dengan rasa tanggung jawab, ia tidak akan pernah merasa terbebani dengan tugas di kantor dan di rumah. “Jadikan pekerjaan adalah bagian dari rutinitas hidup kita. Sehingga akan mudah menikmati kedua peran, sebagai ibu rumah tangga dan wanita yang berkarier dengan membuat aturan main hingga kedua peran tersebut bisa dilakonkan sama baiknya,” ujar putri dari Drs. ������������������� Ida Bagus Santosa (Alm) dan Ida Ayu Kartini (Almh) ini. Selanjutnya, keberadaan tokoh perempuan dari Griya Pidada Klungkung ini, sebagai President Bali International Women Center (BIWC), bukan hanya

Dayu Kondi dan keluarga

memberinya kesempatan terhormat bertemu dan melakukan pembicaraan dengan sejumlah tokoh wanita dunia dan pemimpin organisasi kemanusiaan lainnya , namun ia juga memiliki tugas yang tidak ringan terkait wanita Bali, untuk hadir dan bisa berjuang di tataran nasional dan internasional. Ke depan, wanita Bali bukan hanya mengurusi persoalanpersoalan domestik semata, tapi turut dalam pergaulan global. “Di sini peran saya mendorong agar wanita Hindu di Bali berkiprah ke jejaring yang lebih luas. Harus ada banyak pembagian tugas, ini pesan Bung Karno pada wanita Indonesia,” papar putri tokoh Hindu Indonesia, (alm.) Ida Pedanda Gede Oka Puniatmaja yang juga pendiri World Hindu Federation ini. Ke depan, ia juga mengingat­ kan masyarakat akan menghadapi momentum yang sangat kompetitif, utamanya dalam bidang ekonomi dan industri, era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), Dayu Kondi mengatakan

sebagai konsekuensi dari berlakunya kesepakatan regional maka mau tidak mau kita harus menyiapkan diri. Menurutnya, ini tantangan buat kita semua. Sosialisasi sudah dilakukan pemerintah dalam konteks persiapan MEA yang bukan semata mengenai cara-cara menembus pasar ASEAN, tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana pengusaha lokal kita bisa bertahan di pasar lokal di tengah besarnya arus produk dari ASEAN Karenanya, nenek seorang cucu yang tetap energik ini menyarankan untuk wanita tidak hanya menunggu tapi membantu pemerintah. “Dengan cara memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk melakukan persiapan dengan percepatan peningkatan kompetensi masing-masing. Inilah cara kita agar bisa dengan baik merespons tantangan global. Negara anggota ASEAN sudah menandatangani Mutual Recognition Arrangements (MRA) untuk delapan profesi prioritas yakni, jasa akuntansi, teknik, kualifikasi survei, arsitektur, keperawatan, kesehatan, praktisi gigi, dan pariwisata,” tutur wanita yang menjadikan hampir semua pejuang wanita sebagai inspirasinya ini. Satu hal lagi yang tak lupa selalu ditekankan wanita yang memilih berpikir positif, selalu bersyukur dan ikhlas ini di setiap kesempatan berbicara di depan umum, adalah bagaimana wanita Bali menjadi wanita yang berkepribadian sesuai adat dan budaya. Selama ini kegiatan adat dan budaya di Bali selalu melibatkan wanita, sehingga peranan wanita dalam kehidupan bermasyarakat sangat besar. –ard


2

Ekspresso

17 - 23 November 2014

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi

Wanita Penentu Masa Depan Bangsa Saat syukuran HUT ke-16 Tabloid Tokoh, kami mendapat julukan sebagai “Slimming Team” karena hanya berkekuatan 10 orang di Denpasar, 1 orang di Jakarta, dan 1 orang di NTB. “Slimming Team” ini membuat kami harus pandai-pandai mengatur diri, agar semua tugas yang menjadi tanggung jawab kami, bisa terselesaikan. Walaupun tim ramping, kami tidak berkecil hati. Kami selalu didukung oleh Kelompok Media Bali Post. Sinergi inilah yang menjadikan kami selalu percaya diri. Kami yang mengusung semangat “we are superteam” percaya prinsip sapu lidi. Jika lidi-lidi itu dibiarkan terpisah, sangat mudah untuk dipatahkan. Tetapi, jika lidilidi itu sudah bersatu dan diikat sebagai sapu, sangat sulit untuk mematahkannya. Dukungan semangat juga datang dari Pemimpin Kelompok Media Bali Post ABG Satria ­Naradha. “Tokoh harus melangkah lebih dahsyat untuk perjuangan di bidang pers mewujudkan segmentasi yang hendak difokus-

kan, yakni wanita dan keluarga. Segmentasi ini harus mendapat porsi yang benar-benar sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini,”ujarnya. Satria Naradha menambahkan, wanita dan keluarga merupakan segmen yang paling besar dan menentukan. Wanita merupakan penentu masa depan bangsa. Wanita akan melahirkan generasigenerasi yang menentukan masa

depan bangsa ini. “Pesta” sudah usai. Terima kasih untuk semuanya. Kini saatnya kami bergegas untuk bekerja menyelesaikan program kerja 2014 dan menyiapkan program kerja 2015. Kami akan lebih intens menggarap segmen wanita dan keluarga. Jalinan relasi dengan berbagai pihak akan kami tingkatkan. Semoga Tokoh sebagai bacaan wanita dan keluarga selalu ditunggu kehadirannya. Salam

Tablet yang Menyadarkan Hari itu Senin seperti biasa tiap sekolah melaksanakan upa­ cara bendera. Kemudian tiap guru menuju ke kelas masing-masing untuk menunaikan tugas seperti biasa setelah bel pelajaran berbunyi. Dua jam pelajaran telah berlalu giliranku untuk istirahat ke ruang guru. Di ruangan itu sudah ku­saksi­ kan keramaian teman-teman yang asyik melihat-lihat tampilan tablet yang dilengkapi contoh perangkat pembelajaran. Rupanya penjual tablet tersebut cukup pintar memikat minat calon pembeli. Dengan bonus perangkat pembelajaran tersebut tentulah keinginan untuk memiliki tablet tersebut sangat besar. Tanpa pikir panjang teman-teman banyak yang tertarik apalagi ada penawaran beli sepuluh buah dapat bonus satu tablet. Kami sibuk mencari peserta agar terhimpun sepuluh orang pembeli supaya dapat bonus satu, yang bisa diuangkan sehingga harganya jatuh lebih murah. Walaupun merek tablet ter­ sebut, bukan merupakan merk bergengsi tidak menyurut­kan

bacaan wanita dan keluarga

Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

Bu Amat ditanya Bu Made. “Bu Amat, saya ketinggalan banyak, habis suami saya terus mengikuti RUU pemilihan kepala daerah. Banyak orang memujikan demokrasi. Apa sih demokrasi Pancasila itu, Bu?” Bu Amat tak berani menjawab, takut salah, lalu menanyai suaminya. Tetapi Amat juga takut keliru. Ia ke rumah Ami cari masukan. Tetapi Ami sedang bertengkar dengan Sugi, suaminya. Hanya soal kecil, tapi buntutnya panjang. “Apakah Kadek, anak mereka, akan memasang nama bapaknya di belakang namanya, sehingga jadi Kadek Sugi? Atau namanya ditambah saja, misalnya: Kadek Undagi,” cerita Amat, setelah pulang kembali. “Terus akhirnya?” “Mereka minta saran bapak. Bapak sendiri tidak keberatan dinamakan Kadek Sugi! Itu kan bapaknya.” “Tidak bisa!”protes Bu Amat, “lebih baik yang netral saja. Kadek Undagi atau Kadek siapa begitu!” Bu Amat langsung ke rumah Ami, memprotes kalau Kadek harus memikul nama bapaknya. “Pakai nama keluarga itu kebiasaan orang bule. Kita di Bali memberi nama anak harus ada maknanya. Tergantung dari siapa yang dumadi! Kalau namanya salah, anak akan sakit-sakitan!” “Jadi akhirnya bagaimana? Kadek Sugi atau Kadek Undagi?” tanya Amat ketika istrinya pulang. “Ya belum jelas. Dua lawan dua. Bapak sama dengan Sugi dan saya sama dengan Ami. Masih sama kuat. Seri. Mungkin mereka harus ke balian dan bertanya siapa yang dumadi. Lalu tanya nama yang mana baiknya untuk Kadek.” “Tapi Ami dan Sugi harus ditanya dulu, setuju atau tidak pergi ke balian? Mereka kan sarjana, mana mau diajak ke balian!” Ternyata betul. Baik Ami maupun Sugi tak mau diajak konsultasi ke balian. “Ami tidak mau Kadek dikasi nama oleh balian! Anak Ami mesti Ami yang kasih nama!”kata Ami. “Ami, bukan balian yang ngasih nama, tapi balian menanyakan kepada yang dumadi siapa dulu namanya. Lalu menanyakan bailnya nama Kadek siapa? Begitu!” “Tidak!” “Jadi Kadek Undagi?” “Ya!” “Tapi suami kamu setuju tidak?” “Saya setuju, Bu!” Bu Amat terkejut. Ia tak percaya, sebab nada suara Sugi seperti orang kecewa. “Nama itu akan dipakai seumur hidup. Jangan sampai salah satu dari kalian kurang sreg.” “Saya sudah sreg, Bu!!” “Jangan begitu, Nak Sugi. Bapak setuju dengan Kadek Sugi. Nak Sugi juga. Ibu juga kalau dibujuk lama-lama pasti mau, asal Nak Sugi mantap dan bersikeras. Ya kan, Bu?” Bu Amat bingung. Tetapi kemudian mengangguk. “Nah itu. Sekarang sudah 3 lawan 1. Ami harus mengalah.” “Ya sudah Nak Sugi. Masak soal nama saja dipersoalkan. Ibu setuju saja cucu kami diberi nama Kadek Sugi. Nanti Ami ibu ajak bicara. Tiga lawan satu, ya kan mestinya menang yang tiga.” Sugi ketawa. “Itu demokrasi Barat, Bu, Pak. Yang lebih banyak yang menang. Kita kan demokrasi Pancasila. Hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Walau pun suara Ami lebih kecil, tapi kalau lebih baik, bisa menang setelah dimusyawarahkan!” Amat tak bisa membantah. “Nah Bu Made, saya tidak tahu apa sebenarnya demokrasi,” kata Bu Amat menceritakan peristiwa nama cucunya itu,”Maka sejak itu nama cucu kami, Kadek Undagi.” Bu Made manggut-manggut. Malam hari, ketika ia nonton TV lagi dengan suaminya, lanjutan RUU pemilihan kepala daerah, ia nyeletuk: “Tapi, Pak, menurut Bu Amat, pendapat yang lebih sedikit itu, menang menurut demokrasi Pancasila. Betul?”

Putu Wijaya

Kru Tokoh saat perayaan HUT ke-16

minat kami untuk dapat memilikinya. Banyak teman-teman guru yang mengingatkan agar mengurungkan niat untuk membeli supaya tidak tertipu. Setelah diberikan informasi seperti itu, ada dua teman yang mengurungkan niat tidak jadi membeli. “Tak usah membeli ntar ketipu, apa yakin isinya lengkap sesuai dengan apa yang ditawarkan?” kata salah satu temanku. Aku memang sempat berpikir gak jadi membeli, tapi hati nuraniku berkata, “Saya harus konskuen dengan keputusan. Belajar satya wacana,” kataku dalam hati. Dengan jurus pemasaran yang handal, sales tersebut berusaha meyakinkan calon pembeli. Tiap kecurigaan yang berbau penipuan dilontarkan teman selalu dimentahkan de­ ngan menyodorkan identitas diri berupa KTP dan no HP sales

yang bernama Ferry itu. Keyakinan itu membuat temanku memutuskan menye­ pakati mengambil tablet dan meminjam dana koperasi de­ ngan pembayaran lunas. Se­telah menyerahkan barang, Ferry segara berlalu dengan dalih mau memenuhi pesanan barang di tempat lain dan berjanji besok datang membawa kabel data penghubung flash disk. Sampai lewat pukul 10.00 sesuai waktu yang dijanjikan Ferry tak kunjung datang. Hampir semua temanku menghubungi nomor ponselnya tak nyambung. OMG… ternyata kami benarbenar tertipu. Kelengkapan tablet yang dijanjikan ternyata hanya hisapan jempol. Cerita ini sengaja aku bagikan buat pembaca agar tidak ada korban lain seperti yang kami alami. Ni Wayan Weti

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

demokrasi

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­F aksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang ­Pal­m erah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

Mozaik

17 - 23 November 2014

Meriah dan P

Berkesan

erayaan HUT ke-16 Tokoh, Senin (10/11) berlangsung meriah dan berkesan. Acara diawali dengan persembahyangan bersama, sambutan Direktur PT Tarukan Media Dharma Gde Palgunadi, pengarahan dari Pimpinan Kelompok Media Bali Post ABG Satria Naradha, pemotongan tumpeng, peniupan lilin ulang tahun, dan ramah tamah untuk kalangan internal.

23 Letkol. (Inf) Teddy Arifiyanto S., S.IP (Dandim 1611/Badung) “Selamat Ulang Tahun ­Tokoh. Ada angka isti­ mewa, HUT ke-16 di ­bulan 11 ini ada kesamaan dengan Kodim 1611. Semoga kerja sama yang sudah terjalin selama ini bisa ditingkatkan. Semoga Tokoh makin sukses, makin dicintai wanita dan seluruh masyarakat.”

Acara berikutnya, Tokoh mengadakan open house yang diihadiri para relasi. Mereka sekalian melakukan donor darah yang bekerja sama dengan Hsen Chii dan PMI Badung dengan bonus pembacaan garis tangan dari Guru Mangku Hipno dan tim Brahmakunta. Terima kasih kepada semua yang sudah mendoakan Tokoh. Semoga Tokoh tampil lebih baik di tahun berikutnya.

Ny. Selly D. Mantra (Ketua TP PKK Kota Denpasar)

Sambutan Pimpinan Kelompok Media Bali Post ABG Satria Naradha

“Tokoh satu-satunya ta­bloid wanita di Bali. Semoga bisa mengangkat potensi wanita di Bali. Semoga masyarakat Bali bisa me­ngenal tokohtokoh wanita. Semoga kerja sama yang sudah terjalin dengan TP PKK Denpasar bisa terus terjalin. Selamat ulang tahun Tokoh.”

Ny. Ida Ayu Ambari (Istri Sekda Kabupaten Gianyar)

Pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Direktur PT Tarukan Media Dharma Gde Palgunadi

Baca garis tangan

“Perayaan HUT Tokoh yang berbarengan dengan Hari Pahlawan sangat spesial. Menurut saya, pahlawan di era sekarang adalah orang yang bisa mengatur waktu sehingga peran publik dan domestik berjalan ber­ iringan. Karier sukses keluarga bahagia. Selamat ulang tahun untuk Tokoh”

Cek darah gratis

Donor darah

Tiup lilin ulang tahun Tokoh bersama Ny. Satria Naradha, Ny. Selly D. Mantra, dan para mitra kerja dari beberapa organisasi wanita


24

17 - 23 November 2014


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 823 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu