Skip to main content

Tokoh Edisi 819 | Tokoh

Page 1

24

20 - 26 Oktober 2014


2

Ekspresso

20 - 26 Oktober 2014

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi Putu Wijaya

Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana Kolonel CZI Abdijon Sinaga (lima dari kiri) saat berkunjung ke Gedung Pers Bali K. Nadha

Mari Majukan Dunia Pendidikan

Menjadi guru merupakan pekerjaan mulia. Guru dianggap pahlawan tanpa tanda jasa. Banyak anak-anak yang kemudian memiliki cita-cita sebagai guru. Namun, tak semua bisa mencapai cita­c itanya itu ka­r ena keterbatasan akses mereka mendapatkan pendidikan. Hal ini biasanya dialami anak-anak yang berada di wilayah pelosok maupun pedalaman. Untuk mengatasi keterbatasan akses ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan TNI. Bentuk kerja sama ini

direalisasikan dengan memberi pelatihan kepada bintara­bintara yang bertugas di dae­ rah perbatasan, daerah pelosok, dan daerah pedalaman. Selanjutnya bintara-bintara ini menjadi guru. Mereka mengajar anak-anak di wilayah mereka bertugas. Kepala Penerangan Ko dam IX/Udayana Kolonel CZI Abdijon Sinaga menuturkan peran tentara sebagai guru ini sebenarnya dilakukan sejak lama. Hal ini menunjukkan TNI selain sebagai penjaga keamanan wilayah Republik Indonesia juga bisa berkontribusi memajukan dunia pendidikan. Kisah-kisah prajurit d i w i l a y a h perbatasan dan

Cerita Senasib Suatu hari kami mendapat undangan sekeluarga untuk menghadiri upacara padiksan di Geria Aan. Saat itu situasi terasa cukup akrab, kami seperti sudah saling mengenal bersama undangan lain padahal kami baru bertemu saat itu. Beliau yang berasal dari Denpasar terus bersenda gurau dengan calon pendeta yang akan menjadi sulinggih. Demikian pula saya sebagai teman dekat de­n gan calon pendeta juga gayung bersambut mengenai kenangan masa lalu. Gelak tawa tidak putus-putus karena sama-sama memiliki kedekatan. Betapa indah dan akrabnya situasi selama di sana, sehingga berlanjut de­ ngan penyampaian pengalaman masing-masing. Salah seorang tamu dari Denpasar menyampaikan peng­

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

alaman, ketika Beliau memberikan Parisuda Pariksa di Karang­ asem. Setelah upacara selesai, beliau dimohon untuk menikmati boga yang telah disiapkan. Begitu turun dari tempat berlangsungnya acara, beliau akan memakai sandalnya, ternyata sandal yang baru saja dibeli tidak ada. Yang ada di sana hanya sandal jepit yang disambung. Setelah beliau selesai berce­ rita, saya pun ikut menyampaikan pengalaman. Saya pernah diundang teman dari Puri Siangan. Saat itu ada upacara

pelosok ini diungkapkan Kolonel Abdijon saat berkunjung ke Gedung Pers Bali K. Nadha. Dalam kunjungan tersebut Kapendam IX/Udayana ini didampingi stafnya. Mereka diterima Direktur Pemberitaan Bali TV Dewi Martika, Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi Bali Post Nyoman Wirata, Pemimpin Umum DenPost Nyoman Gde Sur­ yawan, dan Redaktur Pelaksana Tokoh Ngurah Budi. Ka p e n d a m I X / U d a y a n a ini juga menuturkan sinergi yang bisa dilakukan TNI dan elemen masyarakat termasuk pers. Berbagai permasalahan yang terjadi dan berkembang di masyarakat harus dicermati dengan baik agar tidak salah mengambil langkah. Salam

pernikahan, kami menikmati jajan dan minuman bersama tamu-tamu yang lain. Beberapa menit kemudian, kami dipersilakan untuk menikmati santap siang. Selesai makan bersama, kami siap-siap untuk pulang. Seketika itu saya kaget, karena alas kaki yang baru saja dibeli tidak ada. Yang ada hanya satu sandal yang sudah patah di bawahnya tetapi capnya sama. Usai bercerita, kami dipersilakan untuk makan bersama sambil tertawa, keluarlah ucap­ an ‘senasib’ ha....ha.....ha. Sete­ lah itu kami pulang ke rumah masing-masing. Anak Agung Raka

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

hantu

Rumah di belakang rumah Amat hancur. Pemiliknya pindah ke Jakarta. Ia mengaku tempat itu angker dan

tidak hoki. Satu ketika, pemiliknya kembali. Tapi ia tidak datang untuk melihat rumahnya. Ia bertamu ke rumah Amat, mendesak Amat membeli rumahnya. Karena boleh dicicil, Amat setuju. Awalnya Bu Amat tidak sepakat. Tapi kemudian ia mimpi bertemu ibunya yang menasehati agar rumah itu dibeli. Ternyata buat Amat, rumah itu membawa hoki. Setelah diperbailki, bisa dikontrakkan. Lumayan untuk mempertahankan agar asap terus mengepul di dapur. Berbagai orang sudah mengontrak rumah itu. Ada keluarga, mahasiswa, perusahaan, organisasi dan sebagainya. Tapi rata-rata tidah lebih dari 2 tahun. Semua mengaku rumah itu ada hantunya. Amat antara percaya dan tidak, pada hantu. Ia tidak mau terlibat jauh oleh dunia itu. Setelah pasaran pengontrak sepi, Amat berunding dengan istrinya. Diiputuskan, daripada lama kosong, lebih baik rumah dijual. Sebuah plang bertuliskan “DIJUAL” lantas ditancapkan di depan rumah itu. Tapi baru lima hari, dicabut kembali. Bu Amat bermimpi ketemu dengan hantu yang menunggu rumah itu. “Hantu itu minta supaya rumah tidak dijual, karena anaknya yang kembar 10 masih kecil-kecil,”kata Amat kepada para tetangga yang seru bertanya-tanya. “Hantu itu berjanji tidak akan mengganggu lagi, tertulis dalam kontrak dengan cap jempol di atas meterai 6 ribu,”sambung Bu Amat. Semua tetangga tertawa mendengar penjelasan itu. Tapi kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala, karena justru sejak plang dicabut bertubi-tubi datang calon pembeli. Begitu derasnya kedatangan yang berminat, Amat merasa terganggu. Orang-orang yang mau membeli rumah itu seperti memaksa. Mereka siap dengan harga berapa pun. Amat capek menjelaskan. Waktunya habis hanya untuk menolak. Lalu Amat bertindak. Sebuah plang bertuliskan “TIDAK DIJUAL” dipasang. Anehnya akibat plang itu, peminat makin gencar datang. Mereka rebutan membujuk Amat untuk menjual. Konon karena mendapat informasi di “facebook” rumah itu membawa hoki. Makin ditolak, pembeli kian nekat. Ada pembeli yang jelas-jelas utusan beberapa pejabat. Tawaran mereka menggiurkan sekali. Ada yang berani menawar Rp 1 miliar. “Satu miliar bersih Pak, semua biaya yang menyangkut transaksi, pajak, notaris, semua kami tanggung,” kata seorang peminat. Iman Amat mulai goyang. Ia juga kepingin merasakan pegang duit satu miliar. “Kapan lagi,” bujuk Amat pada istrinya. “Bapak bukan ingin membelanjakan uang itu, hanya sekadar mau mencoba bagaimana rasanya punya satu miliar? Apa dunia akan berubah?!” “Sabar Pak, tunggu sampai ada wangsit dari mimpi,”kata Bu Amat menolak bujukan suaminya. Tapi satu bulan berlalu, Bu Amat belum dapat impian lagi. Malahan imannya juga mulai kesemsem oleh satu miliar. Akhirnya dia menyerah. “Ya sudahlah, Pak. Jual saja. Asal mau nambahin sedikit lagi,” kata Bu Amat. Langsung Amat mencabut plang tidak dijual itu. Begitu dicabut, seluruh tetangga kasak-kusuk, Amat diisukan sudah ketiban rezeki satu miliar. Malamnya, banyak tetangga datang untuk mengucapkan selamat. Tapi buntutnya tidak enak. Berbagai keluhan rumah tangga mereka dicurahkan. Kesimpulannya, banyak yang menuntut persen uang dengar. Ada yang mau pinjam 200 juta sebab anaknya akan masuk fakultas kedokteran. Sampai jauh malan Bu Amat meladeni para tetangga itu. Pagi-pagi ketika mau rebahan. sudah muncul lagi kenalan dan sahabat, mengucapkan selamat. Buntutnya juga sama. Minta atau pinjam uang. Esoknya, saudara-saudara dari kampung muncul. Ada juga yang baru Amat kenal, tapi mengaku famili. Mereka datang membawa berbagai oleh-oleh. Kemudian ujung-ujungnya sama. Minta sumbangan atau mau pinjam untuk, bayar hutangkah, biaya perhelatankah atau nebus sawah yang digadaikan. Amat sampai kelenger. Ia ngumpet di belakang rumah, memandangi rumah berhantu itu. Sambil bertanya di dalam hati: kenapa orang kecil kalau dapat rezeki digerogoti? Tiba-tiba seorang perempuan cantik muncul menegur. “Jadi rumah tetap mau dijual Pak?” “Ya.” “Besok akan datang lagi saudara-saudara dari desa mau pinjam uang!” “Masak? Kok mereka tahu?” “Saya yang ngasih tahu!” “Kamu siapa?” “Saya hantu di rumah belakang itu.” Amat bengong. Tiba-tiba tubuhnya diguncang. Gelagapan Amat membuka mata. Di depannya istrinya pegang plang “TIDAK DIJUAL”. “Cepat, Pak! Pasang lagi ini! “Lho kenapa? “Belum terima satu miliar, yang menggerogoti sudah lebih dari dua miliar!!!”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­F aksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang ­Pal­m erah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

20 - 26 Oktober 2014

Mozaik

Aksi Julang Emas di Panggung Hanoman Melihat kepintaran hewan-hewan beraksi di animal education show di Bali Safari & Marine Park, Gianyar, saya jadi kagum. Aksi yang dimulai pukul 11.00 di panggung Hanoman ini, menyedot banyak pengunjung. Walaupun terik matahari begitu menyengat, dan duduk di lapangan terbuka, tak mengurangi penasaran para pengunjung yang sebagian besar para wisatawan asing itu.

T

Tiara bersama Julang Emas

iara, seorang perempuan cantik dan penuh senyum memanggil satu per satu hewan untuk menunjukkan kepintaran dan kelucuan mereka di panggung. Pertama, burung merpati putih mulai berterbangan menuju panggung. Dilanjutkan dengan aksi kocak kumpul­ an anjing lucu berambut tebal. Aksi marmut yang membuat geregetan para pengunjung yang berlarian keliling panggung. Kemudian, ayam unik mulai bergaya bak peragawati mengitari panggung seolah berbaris menyapa penonton. Maskot Borneo burung julang emas yang paling menyedot perhatian. Dengan bulu penuh warna-warni, terlihat sa­ ngat indah. Uniknya, burung julang emas jantan memiliki kantung leher berwarna kuning, sementara, yang betina, kantung lehernya berwarna biru. Tak ketinggalan burung elang Arjuna beraksi terbang ke sana kemari menunjukkan kehebatannya. Salah satu penonton diminta maju ke panggung dan membawa

piring yang berisi umpan makanan. Langsung saja elang dengan perkasa menyambarnya sangat cepat, secepat kedipan mata. Tiba-tiba, Tiara membawa sebutir telur yang sangat besar. Ternyata, setelah dibuka, di dalamnya, ada bayi ular jagung yang berasal dari benua Amerika. Warna ular tersebut sungguh unik, kuning keemasan, dan menggeliat manis

Madu yang Pahit Sabtu, 11 Oktober, Fremantle Productions bersama LBH Apik Bali, meluncurkan film “Bitter Honey ” (madu yang pahit), di Denpasar. Film ini berkisah tentang kehidupan poligami di Bali. Dra. Ninik S. Mahar, Msi, Field Manager Indonesia Elemental Productions, yang memproduksi film ini, mengatakan, dibalik kekuatan budaya di Bali, ternyata ada tantangan yang masih dihadapi para perempuan yakni soal poligami. Padahal, persoalan itu bisa diselesaikan perempuan itu sendiri. Fim ini mengungkapkan, poligami secara adat bisa diterima, tapi disisi lain ada perjuangan para istri dan dinamika dalam keluarga poligami. Fremantle Productions bekerja sama dengan LBH Apik Bali tahun 2013-2014, sudah memutar film ini ke DPRD Bali. Selama 6 bulan, film ini juga diputar keliling ke desa-desa

beberapa kabupaten di Bali. Tujuannya, agar ada kesadaran kolektif dalam kapasitas masing-masing, demi perubahan sosial ke depannya. Film ini bertujuan untuk penyadaran kepada masyarakat di Bali, tentang kasus poligami. Harapan kepada wakil rakyat, mereka bisa ambil bagian untuk membuat UU yang lebih melindungi perempuan dan anak-anak. Luh Anggreni dari LBH Apik Bali mengisahkan, dalam film ini menceritakan tiga keluarga yang meng­ alami kasus poligami. Dari ketiga keluarga ini, masing-masing memiliki persoalannya tersendiri. Rata-rata para istri tidak tahu, suaminya sudah punya istri. Mereka akhirnya me­ nerima kondisi itu de­ngan terpaksa karena sudah hamil. Kehidupan poligami terjadi dalam satu rumah, dimana para istri berkumpul semua. Ketika, mereka diwawancarai terpisah, tampak

di jari-jari Tiara. Walaupun saya melihatnya bergidik karena geli, tapi aksi Tiara itu, justru sangat disukai para pengunjung. Aksi seru berlanjut dengan hadir­ nya musang si pemanjat pohon. Musang tersebut disebut sebagai musang terbesar di dunia. Yang paling membuat penonton ketawa ngakak, ulah dua orangutan yang menunjukkan kepiawaiannya bersenam. Setelah senam, salah satu orangutan itu langsung mengambil satu butir kelapa dan langsung mengupas serabutnya dengan giginya yang kuat. Dengan kepintarannya, ia langsung memecahkan kepala tersebut, dan menyedot airnya untuk menghilangkan dahaganya selama show. Tak lupa setelah itu, orangutan itu menyengir dan menunjukkan giginya yang putih. Karuan saja, aksi kocak itu, membuat penonton tertawa cekikikan. Sementara, orangutan yang satunya lagi, segera membawa tempat sampah, dan memasukkan serabut kelapa tadi ke dalamnya. Aksi tersebut mengakhiri animal education show siang itu. –Wirati Astiti

mata mereka berkaca-kaca menunjukkan ada persoalan sebenarnya yang mereka alami. Uniknya, anakanak mereka kagum dengan ayah mereka, tapi mereka tidak mau berpoligami seperti ayahnya, karena mereka tahu penderitaan ibunya. Ibunya bekerja sendiri menghidupi keluarganya, dan perempuan juga tidak memgeluh dengan kondisi tersebut. Anggreni mengungkapkan, Ro­ bert, salah seorang antropologi dari AS, yang juga pemilik Fremantle Productions ini, awalnya, membuat film dokumentasi untuk korban 65. Dalam perjalanannya, melihat ada kasus poligami yang berkembang di Bali yang menarik untuk diangkat. “Film ini digunakan LBH Apik Bali untuk sosialisasi pemberdayaan perempuan ke seluruh Bali,” kata Anggreni, yang ikut bermain dalam film tersebut. Anggreni menegaskan, dengan berbagai penderitaan yang dialami perempuan dalam kasus poligami, ia menegaskan, sebaiknya poligami dihapuskan. –Wirati Astiti

23

Seminar Seks dan Harmoni Keluarga RSIA Puri Bunda kembali menggelar seminar menarik. Kali ini peserta akan mendapatkan tips-tips untuk makin mempererat atau memulihkan kembali harmoni kebersamaan Anda dan pasangan. Semniar bertema ”Seks dan Harmoni Keluarga Menuju Kehamilan dan Persalinan yang Aman” menghadirkan pembicara Prof. Dr. dr. Nyoman Mangku Karmaya, M.Repro., PA(K) dan Prof. dr. Made Kornia Karkata, SpOG(K) dengan moderator dr. Made Suyasa Jaya, SpOG(K). Seminar dilaksanakan Minggu (2/11) pukul 08.30-12.00 wita di Sector Bar and Restaurant Inna Grand Bali Beach Hotel Sanur, Bali. Tiket hanya Rp. 25.000 (seminar kit, coffee break, door prize). Untuk info dan pendaftaran silakan menghubungi RSIA Puri Bunda. –bns

ARMS Kendalikan Risiko Investasi Gejolak pasar keuangan Indonesia masih terus terjadi akibat sentimen global dan kondisi fundamental dalam negeri. Pelaku pasar masih was-was mencermati beragam kebijakan dalam dan luar negeri yang dirasa berpengaruh pada kondisi pasar dalam negeri. Produk asuransi dinilai sebagai salah satu bentuk investasi yang tepat untuk melindungi nasabah. Namun, produk asu­ ransi ini haruslah bisa menjaga risiko di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan gejolak pasar keuangan dalam negeri. Demikian diungkapkan Direktur Penjualan dan Pemasaran Asuransi Jiwa Generali Indonesia, Wianto Chen dalam konferensi pers yang digelar Jumat (17/10) di Hotel Aston, Denpasar Bali. “PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia memberikan solusi dengan mengendalikan risiko investasi melalui Auto Risks Management System (ARMS),” ujarnya. ARMS merupakan sistem perlindungan nasabah dari fluktuasi pasar saham. Sistem ARMS memudahkan investor dalam mengelola risiko investasi. Teknologi ARMS mampu memindahkan instrumen portofolio secara otomatis. “Portofolio nasabah di unit link yang ditempatkan pada investasi berbasis saham dan atau obligasi, secara otomatis akan dipindahkan ke unit link de­ ngan jenis investasi berbasis pasar uang ketika pasar bergerak jatuh,” jelasnya. Dengan sistem ARMS, setiap nasabah memiliki keleluasaan untuk mengatur sendiri konfigurasi aset investasinya sesuai dengan profil risiko yang dimiliki, sekaligus menentukan sendiri parameter yang diperlukan. Melalui sistem ARMS ini, Wianto mengaku turut mendongkrak perolehan premi. “Sekalipun kondisi pasar modal tengah fluktuatif, produk unitlink masih menarik minat masyarakat,” pungkasnya. –ten


Metropolitan

22

20 - 26 oktober 2014

“Srikandi” dan “Agustin” Antar Jokowi ke Istana

Dalam sepekan terakhir pemberitaan Jokowi dan Jusuf Kalla akan menggunakan kereta kencana dalam kirab budaya rakyat, seusai pelantikan­ nya di Gedung DPR/MPR, Senin (20/10), menghiasi media massa. Belakangan tersiar kabar Jokowi-Kalla tidak jadi naik kereta kencana melainkan andong hias ke kantornya yang baru, Istana Merdeka, Jalan Merdeka Utara, Jakarta. Apapun transportasi­nya, entah itu kereta kencana ataupun andong hias, pasti akan menjadi pertunjukkan menarik.

S

elama ini, memang tidak pernah terjadi presiden terpilih dipesta­kan begitu antusias oleh masyarakat. Baru Jokowi lah yang mengalami ini. Biasanya masyarakat hanya melihat pelantikan presiden di layar kaca. Tapi kali ini berbeda. Masyarakat bukan saja ingin terlibat langsung dalam mengantar Jokowi menuju Istana Negara tapi juga merayakannya dengan pesta rakyat. Adalah para relawan yang mengkoordinir pesta rakyat yang akan digelar seusai pelantikan Jokowi. Sebuah perhelatan besar disiapkan mereka, mulai dari Bundaran HI sampai Istana Negara. Rakyat akan mengantarkan Jokowi-JK menuju Istana Kepresidenan diiringi komunitas seni, karnaval batik, reog, ondel-ondel, barongsai, abang none, sepeda onthel dan perwakilan daerah seluruh Indonesia. Pesta ini akan makin afdol kare­ na adanya ‘jamuan’ gratis untuk rakyat yang disiapkan oleh komunitas pedagang bakso, siomay, dll. Ratusan pedagang ini akan berjejer di sepanjang Bundaran Hotel Indonesia hingga Monumen Nasional. Mereka akan dibagi menjadi tiga titik, yaitu di sekitar Bundaran HI, sepanjang Jalan MH Thamrin, hingga menuju Monas, dan di Monas itu sendiri. Selanjutnya, Presiden dan Wapres akan melakukan teleconference dengan masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia dari Istana Negara. Sedang sore hingga

malam diadakan Konser Rakyat di Tugu Monas bersama Slank dan ratusan artis papan atas. JokowiJK hadir untuk menyapa seluruh rakyat, menyampaikan pidato serta potong tumpeng. Malam harinya, pukul 19.00, di Monas akan dilepas ratusan lampion terbang. Tak dimungkiri, salah satu pertunjukkan yang paling menarik dan ditunggu-tunggu masyarakat adalah saat Jokowi-JK naik kereta kencana. Ada dua kereta yang disiapkan untuk keduanya. Masing-masing satu kereta untuk Jokowi dan istri, dan satu lagi, Jusuf Kalla dan istri. Kereta kencana ini bukanlah disiapkan khusus untuk acara kirab Jokowi. Namun, kereta-kereta yang dibeli Pemrov DKI Jakarta tahun lalu untuk mensukseskan acara Pagelaran Agung Keraton Sedunia (World Heritage Festival), Desember 2013. Salah satu dari kereta kencana itu, bahkan, telah dinaiki Jokowi saat event akbar itu. “Perbaikan sedang kami lakukan supaya kereta ini terlihat megah saat membawa Pak Jokowi. Banyak hal yang harus diperbaiki. Misalnya warnanya kan terlihat agak pudar, maka kami cat lagi. Begitu juga lampunya dibraso supaya mengkilap. Sehingga ketika dipakai kereta ini akan terlihat menarik. Kita harus membuat ini sebaik mungkin apalagi kejadian seperti ini, kan, baru pertama kali,” ungkap Seto, seniman museum, yang tengah mengerjakan pengecatan ulang pada bodi kereta. Untuk mendukung kirab ini,

Kereta-kereta Kencana

20 - 26 oktober 2014

Sosialita

3

Ni Ketut Ari Wijayanti

Pelanggan adalah Sahabat Kini makin banyak yang puas dengan hasil polesan tangannya dan tim make -up artist miliknya.Tanda-tanda pelanggan cocok dengan riasannya terbukti dengan mereka selalu kembali menggunakan jasanya. Bahkan saat ini ia kebanjiran permintaan untuk merias.

Salah satu Kereta yang rencananya bakal digunakan dalam arakan

empat kuda didatangkan dari Solo beserta kusir, salah satunya Mudjio­ no. Warga Kelurahan Jajar, Solo, ini, memang memiliki peternakan kuda. Kuda-kudanya kerap menjadi langganan acara-acara festival di Solo saat Jokowi menjadi Wali Kota Solo. Bahkan ketika Pagelaran Agung Keraton Sedunia, kuda Mudjiono pun ikut diberangkatkan ke Jakarta. “Dua kuda yang akan membawa Jokowi namanya, Srikandi dan Agustin, keduanya kuda betina. Dua kuda lainnya milik teman saya,” jelasnya. “Kuda-kuda itu jenis kuda khusus yang tidak takut kerumunan manusia atau keramaian,” ucap Mudjiono yang nantinya akan menjadi kusir kereta Jokowi.

Karena sampai Jumat (17/10), masih terdapat kesimpangsiuran kabar, antara kereta kencana, kereta biasa atau andong hias. Namun, apapun transportasi yang akan membawa Jokowi, Srikandi dan Agustin, dua kuda yang biasa dipakai Jokowi di Solo, akan ‘terlibat’ dalam prosesi arak-arakan itu. Pemda DKI Jakarta masih meyakini bahwa Jokowi akan naik kereta kencana karena itu persiapan terus

Usulan kereta kencana ini sebenarnya datang dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta sebagai wujud dari partisipasi mereka pada acara pelantikan Jokowi-JK. Mereka berharap Jokowi-JK menggunakan kereta kencana dalam prosesi arak-arakan menuju Istana Negara. Menurut Ida Subaedah dari Disparbud DKI Jakarta, pihaknya belum mendapat konfirmasi tentang

dilakukan mereka. Sementara Jay Wijayanto, Koordinator Kirab Budaya Rakyat, mengatakan, bukan kereta kencana tapi kereta biasa. Malah ketika dikonfirmasi wartawan, Jay mengaku sempat kaget dengan adanya pemberitaan tentang kereta kencana yang akan digunakan Jokowi. “Saya kaget ada pemberitaan soal Pak Jokowi naik kereta kencana. Bukan kereta kencana, tapi kereta kuda biasa. Tapi bukan andong, ya,” katanya kepada pers di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (17/10/2014). Namun, ia membenarkan bahwa kereta yang dipakai nanti adalah kereta yang berada di Taman Mini Indonesia Indah dan Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta.

perubahan transportasi. Karenanya dua kereta kencana yang berasal dari Keraton Yogyakarta dan Solo, tetap disiapkan. Nantinya, kata Ida, ada dua hulu yang disiapkan di kiri dan kanan untuk mengawal kereta. Abdee Negara Slank yang menjadi Penanggung Jawab acara mengaku belum tahu tentang adanya perubahan transportasi. Sejauh ini, katanya, dia hanya tahu transportasi nantinya antara kereta kencana dan andong. “Keputusannya, H-1,” kata Abdee. Ya, kereta kencana atau andong memang belum diputuskan, namun yang pasti Srikandi dan Agustin yang nantinya akan membawa Jokowi ke Istana.

ANTARA KERETA KENCANA ATAU ANDONG Meskipun berita kereta kencana telah tersebar luas namun sesungguhnya belum ada kepastian jenis transportasi apa yang akan digunakan.

-Diana Runtu

M

Ari dan putrinya Aura

eski usahanya masih baru, pemilik nama Ni Ketut Ari Wijayanti, S.E., ini tergolong seorang yang aktif dan kreatif. Ia dianggap berhasil melakukan make over, alias hasil yang memukau, berbeda dengan wajah aslinya. Karena itu pula, dalam waktu singkat klien dari Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal, yang berlokasi di Jalan Letda Tantular No. 9, Renon, Denpasar ini, terus bertambah. Silih berganti orang berdatangan meminta jasanya baik untuk merias pengan­tin, riasan pesta, ataupun riasan wisuda dan pelayanan perawat­an kecantikan lainnya. Malah, berkat kecekatan dan telantanya, Ari, begitu sapaan akrabnya, cukup banyak menangani

urusan tata rias para artis lokal maupun nasional. Ia juga sempat diminta menangani busana dan tata rias MC untuk acara Grand Final Duta Endek Kota Denpasar serta Grand Final Putra Putri Tuna Rungu beberapa waktu lalu. Bahkan, belum lama juga, ketika Bali mendatangkan para pemain Mahabharata, ia bersama tim make- up artist-nya, dipercaya menangati tata rias untuk rombongan pemeran Mahabharata tersebut. “Senang pastinya. Sebab ketujuh artis Bollywod ini sangat diidolakan banyak orang. Kami bukan hanya bisa bertemu tetapi langsung menyentuh wajah mereka,” ujar istri Gde Andika Paramartha ini. Ari pun lantas berkisah, awal mula ia mengarungi usahanya ini. Diakuinya semuanya memang tak lepas dari hobinya sejak muda yang

Ari dan tim make-up artisnya diantara artis Mahabharata

menyukai bidang fashion dan tata rias. Ini juga yang mendasari usaha yang dibangunnnya sejak 2011 tersebut, ternyata berkembang cepat. Kalaupun diawal ia lebih konsentrasi di bidang jasa me­nangani calon pengantin, namun karena permohonan pelanggan pula, ia akhirnya menyediakan dan melengkapinya dengan jasa mempercantik diri maupun melakukan perawatan lainnya secara menyeluruh, yakni salon dan spa. Usaha jasa ini akan terus berkembang karena semua orang terutama perempuan menyadari kecantikan dapat meningkatkan kepercayaan diri. Begitu juga tiap perempuan, tentu ingin memiliki penampilan yang menawan di tiap kesempatan. Wajah bersinar, kulit terawat dan kenyal, tata rias serasi dan sesuai dengan even yang dihadiri. Begitu juga de­ ngan rambut yang terawat, sehat dan tertata rapi mengikuti tren terkini. Terlebih berpenampilan menarik dengan kepercayaan diri yang kuat membuat seseorang mudah bergaul dengan lingkungan sekitarnya. “ Sebagai pemilik jasa yang profesional, kami memiliki keahlian dalam make-up artist yang mampu menonjolkan kelebihan dan menutupi kekurangan orang untuk mendapatkan gaya natural, fresh, elegan, maupun glamor,”lanjut Ari yang sempat memperdalam soal kecantikan di RudyHadisuwarno dan Menakjinggo ini. Meski saat ini sektor jasa seper­ti yang dijalankannya makin menjamur, namun Ari tidak merasa khawatir, sebab ia berpijak pada tagline_nya “Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal One Shop Treatment

with Good Quality & Good Price,” sudah sangat memahami bagaimana memberikan kepuasan dan kualitas untuk penampilan menyeluruh, mulai tata rias hingga busananya.” Kami selalu memosisikan pelanggan sebagai sahabat sehingga dapat mendiskusikan keinginan pelanggan dan menghasilkan karya rias dan penampilan yang sempurna,” kata ibu dari Aura, Arjun, dan Alga ini. SIAP DATANG KE TEMPAT KLIEN Selanjutnya, memahami kalau dinamika di dunia salon, spa dan bridal, sangat dinamis, dan menuntut perlunya upgrading, selain mengandalkan tenaga berkualitas dan memiliki kompetensi, Ari tidak pernah lupa mengasah kemampuannya dengan terus mengikuti sejumlah seminar dan workshop. Dengan tim yang berkualitas dan sarat pengalaman pula, usaha jasa miliknya siap bersaing dengan salon yang sudah memiliki reputasi nasional sekalipun Bicara jasa menangani per­ nikahan yang menjadi awal usaha­ nya, Ari mengatakan tiap orang memimpikan pernikahan dengan kesan terindah. Bisa tampil menawan, cantik, elegan,dan glamor pun menjadi unsur terpenting yang diinginkan setiap pengantin. Sedang­ kan, persiapan mengenai tempat, prewedding, busana dan make- up, hingga urusan dokumentasi kerap menjadi hal yang memusing­kan, karena ini menyangkut biaya yang tidaklah sedikit. Perempuan kelahiran 3 Mei 1987 ini pun memikirkan hal ter­ sebut. Ia ingin membantu meringan­

kan beban mereka, dengan menawarkan program paket pernikahan. Paket harga tersedia beragam, disesuaikan dengan fasilitas dan ketersediaan anggaran calon pengantin, termasuk pilihan tema tradisional maupun internasional. “Tim dari Cahya Dewi Salon Spa & Bridal juga siap datang ke tempat Anda, untuk membantu menangani merias agar terlihat menawan saat pemotretan untuk foto pre-wedding maupun di hari H. Termasuk siap membuatkan busana pengantin sesuai keinginan calon pengan­ tin,” ujarnya. Bukan hanya itu, tiap bulan, dia selalu memperbarui koleksi gaun pengantinnya. Ia terus memutakhirkan sesuai dengan tren yang berkembang. Bahkan, Ari berkeinginan lebih banyak lagi menambah koleksi gaun pengantin yang bahannya dari endek. Di sisi lain, kecintaan ibu muda ini pada kekayaan budaya Bali seperti ragam tekstil, upacara adat, kesenian tradisional juga kerajinan tangannya membuat Ari selalu memasukkan unsur lokal ini pada desain-desain baju pengantinnya. Malah hal ini menjadi salah satu ciri khasnya pada koleksi busana modifikasinya. Kini pada tahun ketiga, Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal makin bersolek diri dengan menambah jenis layanan yang masih berkaitan dengan pernikahan. Selain salon, spa dan bridal, ini pun melengkapi layanannya dengan fotografi pernikahan. Jadi, setiap pasangan calon pengantin tak perlu repot mencari fotografer perkawinannya. Ia menjamin layanan tak mainmain dalam urusan kualitas produk dan pelayanan. Menariknya lagi, ia juga menyediakan jasa pre-wedding treatment, dimana calon pengantin bakal dimanjakan dengan berbagai treatment spa. Selain itu , juga tersedia pelayanan istimewa berupa massage for pregnant women (massage untuk ibu hamil) dengan produk yang memang diperuntukkan bagi ibu hamil. Apakah Ari sudah puas dengan usahanya? Ia mengaku belum dan masih ingin terus mengembangkan dan meningkatkan servisnya. Disamping itu Ari juga ingin sekali menambah fasilitas jasanya dengan menyiapkan wedding card dan suvenir termasuk membangun gedung untuk acara pernikahan. Apalagi usaha sang suami yang bergerak dibidang jasa sound sistem dan lighting, akan sangat mendukungnya membuat one stop wedding . “Mudah-mudahan mimpi ini segera dapat terealisasi untuk dapat lebih banyak membantu calon pengantin ,” ujar putri bungsu pasutri I Ketut Wija (alm) dan Ni Made Mawa asal Kapal, Badung ini. Ari mengatakan semua keberhasilannya ini karena doa-doa tulus dari keluarga dan kerabatnya. “Selain itu, saya akui, usaha ini berkembang pesat juga berkat dukungan dan dorongan penuh dari suami,” katanya mengaku beruntung bisa mendapatkan jodoh seorang suami yang memberinya ruang ber­gerak untuk menyalurkan kreativitas. “Izinkan kami menjadi orang pertama yang menjadikan Anda pengan­tin tercantik sesuai impian, di momen terindah dalam hidup Anda,” ujarnya ramah. -ard


4

Inspirasi

20 - 26 Oktober 2014

Tanpa Modal Hasil Jutaan Rupiah Ingin berbisnis namun tak punya modal? Atau ingin berbisnis namun terbentur waktu karena harus mengurus rumah tangga? Mungkin apa yang dilakukan Yannie dapat menjadi inspirasi Anda yang ingin mencari penghasilan tambahan tanpa mengeluarkan modal besar, juga tanpa harus banyak keluar rumah untuk mempromosikan produknya. Yannie

Y

Aneka jenis kerajinan yang terbuat dari sisik ikan

annie, begitu wanita asal Jawa Timur ini akrab disapa, memulai bisnisnya kerajinan dari sisik ikan nyaris tanpa modal. Namun dengan ketelatenannya, kini ia berhasil meraup keuntungan bersih rata-rata Rp 3-4 juta-an per-bulan hanya dari aksesoris sisik ikan. Jika melihat nilainya, mungkin, tidak terlalu besar. Namun terbilang lumayan, karena ia nyaris tidak mengeluarkan modal uang untuk mendapatkan material dasar. Apalagi, penghasilan Rp3 juta pun didapatnya karena usaha yang dilakukannya sendiri itu, memang tidak besar. “Bisnis ini saya jalani, sebenarnya, bukan semata-mata ingin mencari uang. Tapi ini hanya sekadar hobi, yang ternyata bisa mendapatkan uang. Ini juga bukan usaha yang besar, karenanya pendapatannya pun tidak terlalu besar. Tapi lumayan ya sebulan antara Rp3-4 juta-an. Saya pun mengerjakannya di sela-sela waktu luang karena masih harus mencurahkan sebagian waktu saya untuk mengurus rumah tangga, keluarga,” ungkap wanita cantik ini. Yannie mengaku sejak dulu menyenangi kerajinan. Namun dulu ia membuatnya hanya sebatas hobi. Mulai dari menjahit, menyulam, dll, yang dikerjakannya saat senggang. Ketika menikah, hobi itu tetap dilakukannya. Suatu ketika ia melihat sisik ikan yang cukup besar, lantas terlintas dalam pikirannya untuk mencoba membuat aksesoris. “Saya ini penggemar aksesoris. Saya punya koleksi aksesoris, yang sebagian di antaranya adalah bikinan sendiri de­ ngan menggunakan bermacam-macam bahan. Rasanya puas bisa menciptakan, mendesain sendiri, apalagi kalau mendapat pujian karya kita ini bagus,” ungkap ibu dua anak ini. Nah, ketika melihat sisik ikan ukur­ an besar, daya kreativitas Yannie pun tergugah. Sontak dalam benaknya terbentuk sebuah desain untuk membuat aksesoris dari sisik ikan. “Saya gunakan sisik ikan kakap merah karena ukurannya besar. Di Manado, ikan kakap merah bisa sepanjang 70 cm, makanya sisiknya pun besar-besar. Nggak tahu bagaimana, tapi ketika saya melihat sisik ikan itu, langsung saja terpikir ingin membuat anting, kalung, gelang, pasti akan cantik terlihat,” tutur Yannie yang telah delapan tahun menetap di Manado, Sulawesi Utara, mengikuti tugas suaminya. Memproses sisik ikan untuk menjadi kerajinan, menurut Yannie, cukup mudah. Untuk menghilangkan amis, ia hanya merendam sisik ikan itu dengan sabun rinso. Setelah bau amis hilang, sisik ikan diangin-anginkan supaya ke­ ring. Menurut Yannie, dibanding jenis ikan lainnya, sisik ikan kakap merah

lebih indah. Tanpa harus dibentuk lagi, sisik ikan itu sudah tampak menarik. Apalagi setelah dicuci, warna sisik ikan itu akan menjadi putih cemerlang. “Beda dengan sisik ikan lain, kakap merah sisiknya indah. Setelah dicuci warnanya akan terlihat putih cemerlang. Teksturnya menarik, jadi tak perlu dibentuk lagi sudah terlihat cantik,” katanya. AKTIVITAS ISENG MENJADI ‘SUMBER’ UANG Menurutnya, ketika memulai membuat kerajinan aksesoris itu, tak terpikir untuk berbisnis. Aksesoris itu hanya untuk dipakai sendiri. “Kadang saya mengkombinasikan dengan material lain supaya lebih menarik,” tambahnya seraya berkata, biasanya ia mengerjakannya hobinya itu di saat menunggu anak pulang sekolah atau anakanaknya tidur di malam hari. “Yang paling sering saya mengerjakannya di malam hari, kadang bisa sampai jam 2 pagi, karena kelewat asyik,” ucapnya tertawa. Hobinya ini berubah jadi ‘uang’ saat temantemannya merasa tertarik dengan aksesoris-aksesoris yang dipakainya. “Mereka suka, katanya ‘cantik’. Lalu memesan pada saya bebe­ rapa set,” katanya. Sejak itu, kata Yannie, ia membuat kerajinan aksesoris bukan hanya untuk dipakai sendiri tapi juga untuk memenuhi pesanan teman-temannya. Ia merasa beruntung ka­ rena mempunyai banyak teman, mereka inilah yang ‘membantunya’ mempromosikan dari mulut ke mulut. “Mereka pakai aksesoris buatan saya, kemudian ada temannya yang tanya, akhirnya memesan. Begitu seterusnya, sampai akhirnya ‘pekerjaan iseng’ ini bisa menjadi peluang usaha,” katanya. Melihat ada peluang yang bagus, ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengikuti program bimbingan UKM yang diadakan pemda setempat. “Dari sisik ikan itu saya buat menjadi an­ ting, gelang, kalung, bros, tusuk jilbab, dll. Bahkan merangkai bunga pun bisa dengan sisik ikan. Lewat

tuknya tidak bagus. Itu semua dibuang,” jelas Yannie yang berpameran di Jakarta atas fasilitas dari Dinas Perdagangan Provinsi Sulawesi Utara. Menurut Yannie, usaha kerajinan aksesoris dari sisik ikan ini sudah ditekuninya selama tiga tahun. Kebetulan, tambahnya, di Manado tempatnya menetap, tidak banyak yang menjalani usaha tersebut sehingga ia menjadi le­bih leluasa. Selain promosi dari mulut ke mulut, ia jmemasukkan produknya ke beberapa toko souvenir, juga mengirim ke sejumlah daerah seperti Kalimantan dan Surabaya. “Saya juga sering pameran tapi kebanyakan hanya di Manado. Saya pameran di Jakarta baru kali ini,” kata Yannie yang kerap menerima pesanan souvenir pernikahan. Menurutnya, pameran adalah ke­ sempatan yang paling menyenangkan karena umumnya ia bisa mendapatkan hasil yang lumayan besar. Belum lama ini, katanya ia pameran di sebuah hotel, hanya dalam tempo empat hari ia berhasil meraup untung sekitar Rp 6 juta dari penjualan aksesoris sisik ikan.

Mandalika

Menuju NTB Bebas Kanker Serviks

Yannie

internet saya juga suka melihat berbagai model. Karena memang kerajinan sisik ikan, kan, banyak juga dibuat di daerah lain. Tapi saya lihat, produk mereka berbeda. Kalau mereka membentuk sisik ikan menjadi berbagai bentuk yang mereka inginkan, sedangkan saya tidak. Saya biarkan tekstur aslinya, karena menurut saya indah,” tuturnya panjang lebar. Lalu dari mana ia mendapat material sisik ikan tersebut? Menurut Yannie, sisik ikan adalah limbah yang dibuang pedagang ikan. Maka tak heran kalau ia bisa mendapatkannya secara gratis. “Biasanya seminggu sekali saya ambil di pasar, sekitar 3 kg. Kemudian saya rendam rinso untuk menghilangkan bau amisnya”. Dari jumlah 3 kg itu, tuturnya, tidak semua sisik bisa dipakai. “Pekerjaan cukup memakan waktu adalah menyortir sisik-sisik itu untuk mencari yang bertektur bagus. Sebagai gambaran, dari satu ekor ikan kakap merah, hanya sepertiga sisiknya yang bisa digunakan. Jadi tidak bisa semua, karena ada yang rusak, ada yang ben-

20 - 26 Oktober 2014

“Jumlah yang lumayan, kan? Padahal modalnya sangat minim sekali. Umumnya ibu-ibu beli tidak hanya satu, tapi sekali beli banyak item. Mungkin karena harganya murah. Untuk anting, gelang, tusuk jelbab berkisar Rp30 ribu, kalung Rp40 ribu. Harganya bisa lebih dari itu jika dikombinasikan dengan material lain. Seperti ini, kombinasi dengan batok kelapa,”katanya. Sebenarnya ada banyak kerajinan yang bisa dikembangkannya dengan menggunakan sisik ikan. Misalnya, lukisan, tas, dll. “Masih banyak kreasi yang bisa dikembangkan dengan sisik ikan ini. Saya punya banyak ide, tapi lihat nanti saja, karena pasti ada konsekuensinya, seperti waktu dan modal, misalnya”. Kini bisnis Yannie tidak melulu aksesoris sisik ikan, tapi ia juga membuat kerajinan tas, dompet, dll, dari kain Manado. “Prospeknya cukup bagus karena banyak wisatawan yang ingin mencari souvenir khas Manado, beli tas atau dompet yang terbuat dari kain khas motif Manado,” katanya. — Diana Runtu

21

Perjuangan Tim Penggerak PKK NTB untuk membebaskan perempuan NTB dari kanker serviks dilakukan dengan berbagai ikhtiar. Sosialisasi-sosialisasi tentang deteksi dini kanker serviks (serviks) ke masyarakat terus dilakukan. Beberapa waktu lalu, PKK NTB melakukan sosialisasi Program Deteksi Dini Kanker Serviks kepada 47 orang perempuan yang tergabung dalam GOW yang mewakili masing-masing organisasi wanita.

Ketua Tim Penggerak PKK NTB, HJ. Erica Zainul Majdi, bersama Prof. DR. Alexander EW Peters (kiri) dan Dr. Dodi (kanan)

K

anker leher rahim adalah tumor ganas yang mengenai leher rahim yang disebabkan oleh HPV (Human Papilloma Virus) yang onkogenik. Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak yang diderita oleh perempuan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI yang disampaikan Dr. Dodi, AK., Sp.OG (K), Koordinator Female Cancer Programme (FCP) Lombok, terdapat satu perempuan di Indonesia meninggal dunia akibat kanker leher rahim setiap satu jam. Di dunia, tiap dua menit perempuan meninggal akibat kanker leher rahim. “Setiap perempuan berisiko terkena kanker leher rahim,” kata dr. Dodi. Dibutuhkan kepedulian semua pihak, khususnya kesadaran para perempuan untuk dapat mencegahnya. Ini sangat mungkin dilakukan karena menurut Prof. Dr. Alexander EW Peters, ahli ginekologi asal Belanda yang hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut, mengingat proses perjalanan leher rahim yang terpapar HPV dari sel normal yang berkembang hingga akhirnya menjadi kanker serviks ada masa 10 tahun. Paling cepat tiga tahun. “Dalam masa 10 tahun itu, kita bisa melakukan intervensi pencegahan dengan deteksi dini kanker leher rahim,” ungkapnya. Peters melansir data WHO, bahwa kanker serviks berhubungan dengan kemiskinan. Karena itulah, ia mengajak seluruh pihak untuk dapat menjangkau para wanita yang berada dalam kategori ini yang biasanya kebanyakan berada sangat jauh dari fasilitas kesehatan dan juga berpendidikan rendah, guna melakukan sosialisasi atau bahkan melakukan kegiatan deteksi dini langsung ke wilayah-wilayah. Mengingat mereka bertanggung jawab pada keluarga, maka para perempuan harus di­ selamatkan dari kanker serviks

yang mematikan ini. “Kita tidak bisa hanya menunggu di rumah sakit atau puskesmas saja, melainkan harus turun menjangkau mereka. Meski pun jika datang ke rumah sakit atau puskesmas, harus segera ditangani,” ujarnya. Dengan deteksi dini kanker serviks, harapan­nya generasi berikutnya tidak ada lagi perempuan yang meninggal karena kanker serviks. Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi yang sangat konsen membebaskan perempuan NTB dari kanker leher rahim ini, mengungkapkan kepada seluruh peserta yang hadir bahwa tidak ada alasan untuk tidak melakukan deteksi dini kanker serviks. Para perempuan yang hadir dalam kegiatan itu diminta untuk pandai-pandai mengomunikasikan dan menyebarluaskan informasi yang mereka dapat terkait deteksi dini kanker serviks, kepada anggota keluarga dan masyarakat sekitar. “Saya harap semua yang hadir disini bisa pandai-pandai mengomunikasikan kepada anggota keluarga, masyarakat dan organisasi

masing-masing, bahwa dengan prosedural deteksi kanker serviks yang sama sekali tidak menyakitkan, dalam waktu yang singkat, tenaga medis yang berkompeten dan tanpa dipungut biaya, maka tidak alasan bagi perempuan di NTB untuk tidak melakukan deteksi dini kanker serviks, untuk tidak memeriksakan dirinya, untuk tidak mendeteksi apakah di rahimnya ada bibit kanker atau tidak, dan untuk tidak segera mendapatkan penanganan-penanganan yang diperlukan,” kata Erica pada sosialiasi yang dihadiri oleh Gabung­ an Organisasi Wanita (GOW) se-Pulau Lombok tersebut. Deteksi dini kanker serviks merupakan hal yang sangat pen­ ting, pasalnya, kanker serviks adalah momok yang menakutkan bagi kaum perempuan dan merupakan pembunuh kaum perempuan yang terjadi bukan cuma di Indonesia, melainkan juga di dunia. Erica berharap agar momen sosialisasi ini dapat digunakan sebagai langkah lebih maju dalam penanggulangan kanker serviks di NTB, dengan langsung mempersiapkan dan merencanakan peng­ organisasian di masing-masing organisasi, mengenai rencana penyelenggaraan deteksi dini kanker serviks. “Saya harap, ke­ sempatan ini bisa dimanfaatkan untuk kebaikan kita bersama. Saya yakin betul, jika ibu-ibu mau berperan aktif dalam hal ini, maka ibu-ibu yang ada di sini merupakan pahlawan untuk menciptakan NTB yang perempuannya terbebas dari kanker serviks,” katanya. Ia meyakinkan, bahwa segala tindakan atau pemeriksaan bahkan terapi yang dilakukan un-

Salah satu faktor pemicu kanker serviks adalah pada perempuan yang menikah usia dini

tuk memberantas kanker serviks, tidak akan berpengaruh pada menstruasi, maupun kehidupan seksual wanita. Menurut Dr. Dodi, deteksi dini kanker serviks melalui Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), adalah pemeriksaan kanker serviks dengan cara inspeksi visual pada serviks dengan pemberian asam asetat. Setelah dilihat posisinya, leher rahim dipulas dengan asam asetat 3-5%, selama 1 menit. Pemberian ini tidak menyakitkan dan hasilnya langsung dapat disimpulkan saat itu juga apakah Normal (Negatif), ataupun Positif (ada lesi pra-kanker). Jika melalui IVA dinyatakan positif mengidap virus HPV, selanjutnya akan dilakukan tindakan Cryotherapy, dengan tingkat kesembuhan yang dapat mencapai 100%, sehingga akan terhindar dari risiko kanker serviks yang sangat mematikan. “Jika terdeteksi sejak dini dan menemukan sel tersebut belum berubah menjadi kanker, maka dapat diobati dan bisa sembuh 100%. Namun jika sel sudah berubah menjadi kanker, maka tidak lagi bisa disembuhkan. Tindakan penyelamatan tidak bisa dilakukan dengan operasi sekali pun,” ujarnya. Menurutnya, ba­ nyak perempuan yang datang ketika kanker serviks sudah stadium lanjut, sehingga dokter tidak bisa berbuat banyak untuk bisa menyelamatkannya. Hal yang pa­ling

Para perempuan dari Gabungan Organisasi Wanita (GOW) NTB, diharapkan dapat menyosialisasikan deteksi dini kanker serviks

mungkin dilakukan jika kanker serviks sudah stadium lanjut adalah menunda kematian dengan obatobat penyanggah yang tidak bisa menyembuhkan kanker serviks. Inilah pentingnya deteksi dini kan­ ker leher rahim, agar begitu terlihat ada bibit kanker, bisa segera diobati hingga tuntas sebelum sempat menjadi kanker. Selama sebelum menjadi kan­ ker, penyakit ini tidak memberikan keluhan apa-apa pada perempuan yang mengalaminya. Hanya saja ada tanda-tanda yang perlu diwaspadai adalah keputihan yang berbau, berwarna serta gatal juga vagina yang mudah ber­darah, pendarahan di luar masa haid, pen­­darahan saat senggama dan nyeri pinggul. Faktor risiko terjadinya kanker leher rahim adalah, kebiasaan ganti pasangan seksual, menikah muda, infeksi menular seksual, merokok, ba­nyak melahirkan hingga kekurang­an vitamin A atau C atau E dan juga faktor lainnya. Risiko tertinggi ada pada perempuan usia antara 30-50 tahun. Penyebabnya bisa jamur, virus, bakteri, benda asing atau protozoa. “Jika penyebabnya jamur, bakteri, benda asing dan protozoa masih bisa diobati dan 100 % bisa sembuh. Namun jika penyebabnya virus, tidak bisa di­ sembuhkan dengan cara apa pun,” ungkap dr. Dodi. Di Nusa Tenggara Barat khususnya di Pulau Lombok, ada 26 Puskesmas dan rumah sakit yang menerima pemeriksaan IVA untuk deteksi dini kanker leher rahim, secara gratis. Di Mataram, bisa datang ke RSUP NTB, RSUD Kota Mataram, Puskesmas Ma­ taram, Ampenan, Karang Taliwang, Pagesangan, Cakranegara. Lombok Tengah, RSUD Praya, Puskesmas Praya, Sengkol dan Mujur. Sedang­ kan di Lombok Timur, RSUD Soe­­djono Selong, Puskesmas Terara, Masbagik, Dasan Lekong, Selong dan Aikmel. Lombok Barat, di RSUD Patut Patuh Patju Gerung, Puskesmas Meninting, Kediri, Labuapi, Narmada dan Lingsar. Lombok Utara di RSUD Tanjung, Puskesmas Tanjung dan Bayan. Program ini secara bertahap nantinya akan sampai ke Pulau Sumbawa. -Naniek I. Taufan


20

Nine

20 - 26 Oktober 2014

Kakak-Adik Jago Lukis

Di dalam sebuah rumah sangat sederhana di deretan Asrama Brimob Polda Nusa Tenggara Barat yang terletak di pesisir Pantai Ampenan, terdapat puluhan piala berjejer rapi di atas sebuah lemari kaca yang juga sangat sederhana. Lima puluh enam piala tersebut adalah ke­ banggaan Pratatih Ingati atas prestasi yang diraih kedua putrinya, Krisdayanti Dosreis Junior (14) dan Krisabella Dosreis Junior (13), dalam karya-karya lukisan mereka yang atraktif.

T

alenta me­ lukis kakakberadik ini lahir dari ketelatenan sang ibu, Pra­ tati. Bahkan, lukisan Kris­ dayanti yang kini duduk di kelas 1 SMP berjudul Back of Bird, pernah lolos untuk mengikuti kompetisi da­ lam ajang Look and Learn Art London, Inggris, tahun 2012. Memiliki tiga anak perempuan dengan bakat yang sama, membuat Pra­ tatih memberikan perhatian ekstra terhadap ketiganya terutama pada kedua anak yang sudah sering meng­ ikuti berbagai ajang lomba dan kompetisi melukis baik lokal maupun nasional. Bakat mereka sebagai pe­ lukis rupanya mewarisi bakat ibunya, Pratatih, yang juga seorang guru melukis di beberapa sekolah di Mataram. Ia juga mengajar melukis secara privat. Sebagai perempuan, Pratatih terbilang sangat ulet dalam membimbing anak-anaknya hingga mereka ber­ prestasi. Uniknya, bakat melukis Pratatih adalah bakat alami. Ia tidak pernah secara khusus meng­ enyam pendidikan seni melukis namun melukis adalah kesehari­ an dan panggilan jiwanya. Ia bisa melukis secara otodidak. Ia menjadi seorang ibu yang selalu memberi semangat bagi ke­ langsungan bakat putri-putrinya.

Pratatih Ingati

Meski tidak sedikit biaya yang harus ia dan suaminya keluarkan untuk mendukung keduanya terutama ketika mengikuti lombalomba, Pratatih terlihat tidak pernah menyerah dalam kehidup­ an yang sederhana. Biaya latihan melukis bagi kedua putrinya dengan materi dan bahan melukis yang tidak murah harganya, men­ jadi kenikmatan tersendiri bagi Pratatih dalam mengatur keuang­ an keluarganya yang tergolong sederhana itu.

Baginya, meskipun peng­ hasilan biasa saja yang ia te­ rima tiap bulannya, namun tidak pernah menghambat untuk mendukung bakat anak-anaknya. “Saya selalu berusaha memenuhi semua kebutuhan melukis mereka meskipun biayanya lumayan besar,” ujarnya tersenyum. Karena alasan itulah, Pra­ tatih merasa perlu ikut membantu suaminya yang seorang polisi berpangkat biasa dalam memenuhi kebutuhan keluarga dengan menjadi guru melukis di beberapa sekolah maupun secara privat. “Semua saya lakukan dengan suka-cita demi anak-anak saya,” ka­ tanya. Krisdayanti yang lahir di Mataram 6 Juli 2000 dan Krisabella, 15 Mei 2001 telah memperlihatkan bakat melukis mereka sejak anakanak. Keinginan melukis da­ tang karena seringnya me­ reka melihat ibundanya juga me­ lukis. Kebiasaan mencorat-coret tembok sejak kecil membuat Pratatih langsung berinisiatif men­ dorong mereka untuk terus mau menuangkan kebiasaan tersebut pada media lukis yang sebenarnya seperti buku gambar, kertas dan kanvas secara bertahap. Pratatih dan Domingos tidak pernah memaksa mereka untuk tertarik menekuni dunia melukis melainkan hanya memberi do­ rongan dan bimbingan untuk lebih

Pratatih bersama kedua putrinya Kris dan Bella yang berprestasi atas bimbingannya

Inspirasi

20 - 26 Oktober 2014

5

Ni Putu Shinta Sutami

Proses Mencari Jati Diri Dalam proses perjalanan diri ke dalam, membutuhkan wak­ tu serta komitmen pribadi. Itulah yang kini sedang dilakoni Ni Putu Shinta Sutami yang lebih dikenal masyarakat sebagai spiritualis. Salah satu tulisannya berjudul “Berdamailah de­ ngan Diri” yang pernah dimuat di media massa, sepertinya tepat mewakili perjalanan spiritualnya sebagai abdi Tuhan.

adalah aset yang terpenting. Bahkan, sebagai wanita Bali ia memberanikan diri memegang toko bebas pajak (DFS/ IDP). Dalam kurun waktu yang sama, ia juga mendapatkan kepercayaan sebagai marketing untuk air India dari PT Bumi Dirganusa/Jagat Tour and Travel. Waktu itu, India masih dilihat sebelah mata. Sampai akh­ irnya travel tempatnya bekerja itu membantu membawa traveltravel besar Indonesia ke India. Shinta Sutami semakin diberi­ kan kepercayaan besar akan sepak terjangnya dalam menge­ nalkan India kepada travel-travel di Indonesia. Ditambah lagi, kar­ ena banyak yang menyebutkan dirinya peranakan India. Padahal, ia wanita asli Bali, buah pasangan seorang ABRI, I Nengah Tantera (alm.) dan seorang guru Ni Ko­ mang Sudarmi, yang numpang lahir di Surabaya. Shinta Sutami pun sering ngayah jika ada guruguru spiritual India mengunjungi Bali. Ia yang membantu men­ jemput, membuat makanannya, dll. Sebaliknya, ia pun juga kerap melakukan perjalanan spiritual ke India. Dalam satu kurun waktu, ia tak pernah puas dengan mengam­ bil hanya satu pekerjaan. Ia pun tercatat pernah bekerja di be­ berapa hotel besar di Bali, seperti Chains Hotel dan Dynasty Hotel, Kuta. Di sela waktu kerjanya itu,

Ni Putu Shinta Sutami

S

Atas prestasi kedua putrinya, Pratatih mendapat kunjungan khusus dari Novita Ariyanti Iriawan, Ketua Bhayangkari NTB

menemukan dan mengarahkan bakat tersebut menjadi sebuah karya. Di samping itu, Pratatih rajin mengajak anak-anaknya mengunjungi pameran-pameran lukisan di Mataram. Tidak itu saja, anak-anak ini suka menon­ ton pertunjukan-pertunjukan seni yang ada di Mataram. “Saya melihat mereka tertarik untuk melukis, saat itulah saya mulai mengarahkan mereka pelan-pelan mengikuti naluri seni mereka,” ungkapnya. Atas bimbingannya itu, satupersatu akhirnya karya kedua anaknya lahir dan satu-persatu pula karya-karya tersebut menda­ pat penghargaan sebagai juara dalam lomba-lomba yang diikuti di Mataram bahkan tingkat nasional. Krisabella pernah menjadi Duta Nusa Tenggara Barat pada Fes­ tival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang diselenggarakan di Mataram NTB. Bahkan, salah satu karya Krisdayanti pernah dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta pada Agustus 2010. Dan salah satu karyanya yang menjadi juara tahun 2006, pernah dipa­ merkan di Jepang. Menurut Pratatih, bakat me­ lukis keduanya memang telah terlihat sejak usia kanak-kanak. “Sejak umur 2 tahun ketika me­ reka telah dapat memegang pena, mereka sudah tampak tertarik menggambar,” katanya. Sebagai ibu, Pratatih tahu benar peran­ nya dalam mendukung keduanya. Pratatih terbilang bertangan dingin dalam hal ini, karena bakat yang sama juga kini tengah diperlihatkan oleh anak ketiganya yang baru

berusia 3 tahun, Kristalya Martha Doreis Junior, yang karya lukisan pertamanya juga sudah pernah dipamerkan di Taman Budaya NTB. Kebiasaan anak-anaknya mencorat-coret tembok rumah di masa kecilnya, ia biarkan saja. Karena menurutnya, itulah cikalbakal mereka mengekspresikan bakatnya tanpa dibatasi. Sebagai ibu, ia tidak pernah mengeluh me­ lihat tembok yang penuh coretan. Karena di sanalah letak kebanggaan perempuan hitam manis ini. Bakat melukis keduanya yang telah berhasil meraih banyak prestasi ini tidak membuat Pra­ tatih mengarahkan mereka untuk melanjutkan pendidikan khusus ke sekolah seni. “Saya serahkan pada pilihan mereka,” katanya. Ia hanya berharap ketika Krisdayanti yang bercita-cita menjadi polisi dan Krisabella yang bercita-cita menjadi dokter, dapat menjadi polisi dan dokter plus. “Polisi dan dokter plus yang bisa melukis,” harapnya. “Terima kasih Tuhan, berkat anak-anak inilah, kami dikenal dan bisa bertatap muka dengan orang-orang penting,” ujar Pra­ tatih. Bagaimana tidak, diakui Pratatih, karena prestasi kedua anaknyalah yang membuat ia dan suaminya dikenal. Bahkan, karena mereka pulalah ia dapat diberi kepercayaan untuk mengajar eks­ trakurikuler di beberapa sekolah swasta dan menjadi guru les privat melukis. Pratatih terbilang berhasil membawa Kris dan Bella menjadi anak-anak yang dapat memberikan kebanggaan bagi kedua orang­ tuanya. –Naniek I. Taufan

hinta Sutami menun­ taskan pendidikan strata -nya di Fakuk­ tas Hukum Univer­ sitas Udayana tahun 1985. Entah kenapa, sebagai sarjana hukum, ia malah lebih banyak berkeci­ mpung di bidang pariwisata dan bergabung di Yayasan Kherta Wisata. Dari sinilah karirnya dimulai. Tahun 1987, Bali dipakai sebagai pilot project BKS (Bursa Kerja Swasta) dari Kementerian Tenaga Kerja. Shinta Sutami yang ditunjuk sebagai direktris saat itu membuat pelatihan pramuwisma. Programnya, memperkuat AKAL, AKAD, AKAN (antar kerja antar lokal, antar kerja antar daerah, dan luar negeri). Saat menjadi dosen yayasan di Kertha Wisata ini, ia juga kerap diminta menjadi dosen tamu di lembaga pendidi­ kan lain, menjadi guest speaker, dll., sampai akhirnya tahun 1990 ia memutuskan hengkang dari yayasan tersebut. Shinta Sutami ingin berkiprah di hotel, menggeluti SDM (human capital). Karena menurutnya, ma­ nusia dalam sebuah perusahaan

Shinta Sutami memberi ceramah

Shinta Sutami membuat rujak bersama anak-anak

ia masih tetap sebagai marketing air India. Tahun 2005, Sinta Su­ tami mulai melakukan pelayananpelayanan. Ia sangat terinspirasi dan bangga dengan tokoh wanita Hindu Ibu Gedong (almh.) yang mampu berbicara tentang Hindu di Gedung Putih. Dalam perjalanannya mencari jati diri, di tahun 2006 Shinta Sutami diingatkan lonceng ke­ matian anaknya. Anak remajanya yang baru berusia 14 tahun itu meninggal karena kecelakaan. Shinta Sutami terkenang betul permintaan anaknya enam bulan menjelang dipanggil Sang Pen­ cipta, “Mama jangan kerja, ingin sama Mama terus”. Tragedi ini menjadi kilas-balik perjalanan seorang Shinta Sutami. Dari sana ia belajar sebuah makna, bahwa yang di ataslah Sang Pemilik Jiwa. Dalam sampah ada bunga, dan da­ lam bunga pasti juga ada sampah. Itu pula yang mengetuk pintu hat­ inya untuk menjadi seorang abdi di kegiatan sosial spiritual. Jabatan puncak sebagai Human Resources Manager (HRM) di Hotel Dynasty pun dilepaskannya. Dalam pemujaan, sebuah proses bukan sesuatu yang mu­ dah. Namun sebagai abdi/pengayah adalah menjadi instru­ men yang indah. Hanya dengan landasan bhakti dan ketulusan tanpa memikirkan hasil, ia mantap melangkahkan kakinya sebagai “pelayan”. LOVE is the only POWER. Pelayanan ia lakukan melalui menjadi pemerhati ma­ kanan sehat, terus berjalan dan fokus agar semakin peduli kepada masyarakat untuk hidup sehat sederhana dengan pendidikan

nilai-nilai kemanusian yang su­ dah lama terlupakan. Ditambah senantiasa selalu mengumandan­ gkan untuk memberikan waktu untuk tubuh beristirahat 10-15

menit dengan latihan relaksasi, dengan berterimakasih pada set­ iap organ tubuh. Masyarakat luas pun meresponsn dan menyenangi latihan tersebut. Karena mungkin kata-kata meditasi terlalu seram bagi mereka. Namun intinya adalah mengistirahatkan tubuh untuk relaks, karena kerja, pikiran yang tidak fokus menyebabkan tubuh lelah. Untuk mencintai tubuh, konsumsi makanan sehat dan terapkan pola hidup sehat. Kurangi keinginan, sehingga bisa berkarya. Wanita yang sehat jasmani dan rohani, wanita yang mulia di mata Sang Pencipta, keluarga dan masyarakat. The end of education is character, money come and goes, morality come and growth, demikian sabda guru spiritual yang terus ia ingat dan dipakainya sebagai pijakan berjalan. Kebahagiaan sederhana yang kita ciptakan untuk perjalanan jiwa, perjalanan ke dalam diri. Setiap perubahan, meskipun perubahan yang lebih baik, pasti ada ketidaknyamanan. Dan ketidaknyamanan itulah yang harus diubah menjadi ke­ nyamanan. Hidup selalu ada perubahan,berubah menjadi dewasa,menjadi dewasa yang terus-menerus menciptakan dirisendiri tanpa henti. Tentunya dengan hal-hal positif.

Kenalkan Pola Hidup Sehat Shinta Sutami yang menyebut dirinya pengayah, abdi, dan pe­ merhati wanita ini masih merekam pengalaman-pengalamannya saat melakukan pelayanan. Salah satunya di sebuah pulau terpen­ cil di Sumatera yakni Pulau Legundi. Dari Pelabuhan Bakahuni Lampung, ia harus menaiki boat 2 jam-an. Pelayanan tersebut ia lakukan murni untuk kemanusiaan dan memotivasi masyarakat untuk hidup sehat. Karena di daerah tersebut, angka kematian ibu melahirkan cukup tinggi yang tentunya diawali karena makanan dan pola hidup tak sehat. Ia banyak belajar tentang hal ini dari rajin mengikuti seminar, membaca literatur dan kemudian menerapkannya dalam kehidu­ pan sehari-hari. Ia pun kini sering diundang beberapa pihak, baik itu untuk mengajarkan anak-anak TK memasak makanan sehat, memotivasi masyarakat untuk melakukan pap smear, diundang umat hingga ke Lampung dan Jambi untuk melatih dan sharing tentang belajar mencari diri ke dalam, menjadi konsultan HRD, menjadi tour guide perjalanan spiritual ke India, hingga terlibat dalam Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah (P4D) beberapa tahun silam.- Inten Indrawati


Woman on Top

6

20 - 26 oktober 2014

Luh Putu Suparmi, S.H. M.M.

Hipnoterapi Bentuk Etika Siswa Di masa pensiunnya, perempuan satu ini bukannya ­menikmati masa tuanya dengan melepaskan urusan peker­ jaan. Di usia 63 tahun, istri Drs. I Wayan Nuada, S.H., M.M. ini justru makin padat aktivitas. Hampir tak ada celah waktu baginya untuk sekadar rileks. Ibu empat anak yang masih energik ini adalah Luh Putu Suparmi, S.H. M.M.

I

a selalu sungguh-sungguh dalam melakukan apa yang ditugaskan kepadanya. Karena itu, tak heran jika predikat Guru Teladan I Kota Denpasar dan Guru Teladan II Provinsi Bali diraihnya di tahun 1994. Prestasi ini pula yang kemudian membuatnya dipercaya memimpin SMPN 9 Denpasar tahun 20092011. Ia pun berhasil meraih predikat Kepala Sekolah Berprestasi Tahun 2011. Setelah memasuki masa pensiun, ia kem­ bali dirangkul menjadi Kepala SMP Pelangi Dhama Nusantara (PDN) yang berlokasi di kawasan Panjer, Denpasar Selatan. Untuk memajukan sekolah yang dipimpinnya ini, Su­ parmi konsen mengarahkan muridnya untuk memiliki kecerdasan yang beretika. Siswa tak hanya dituntut untuk cerdas dalam akademis, namun lebih diarahkan untuk memiliki sikap perilaku dan etika yang baik. Kejujuran merupakan salah satu sikap dasar yang harus dipegang siswa. Tak ja­ rang kasus ini pun ditemui di sekolahnya. Ia mengisahkan, salah seorang muridnya pernah kehilangan barang. Yang dilakukan Suparmi adalah mengajak semua siswa berdoa dan bersembahyang bersama. “Saya

katakan, meski kita tak bisa melihat siapa pencurinya, Tuhan Mahatahu segalanya. Jika merasa bersalah, bertobatlah dan minta maaf kepada Tuhan. Letakkan barang yang sudah diambil itu di suatu tempat. Cara ini cukup ampuh untuk menyadarkan siswa. Akhirnya barang itu tak jadi hilang,” paparnya. Ini dikatakannya pula bagian dari ilmu hipnoterapi yang kini tengah didalaminya bersama putra bungsunya I Ketut Nugraha Swadharma, S.E., M.M., TH., CHt., MNNLP, CI., CCH., TCH. Hipnoterapi ini dikatakan­ nya mampu membantu mengatasi berbagai masalah, seperti penyakit medis, nonmedis, kecanduan game, rokok, ngompol, kegemu­ kan, trauma, depresi, fobia, latah, gagap, sering kesurupan, tidak konsen belajar, suka melawan orangtua, tidak suka makan sayur, dan hal negatif lainnya. Hipnoterapi ini untuk perilaku dan hidup yang lebih baik. BUAT CATATAN KECIL Tak jarang pula ilmu hipnoterapinya ini dimanfaatkannya untuk mendengarkan dan memberikan saran kepada guru, siswa, bah­ kan orangtua siswa yang mengalami masalah. Secara tak langsung pula, Suparmi yang

seorang pengacara ini menjadi penasihat dan konsultan hukum bagi mereka. “Ilmu hukum ini luas. Apa pun profesinya, harus tahu hukum. Seperti kita berkendaraan di jalan raya, jika lampu merah, berhenti,” contohnya. Suparmi yang belajar penyembuhan se­ jak tahun 1987 ini mengaku masa orientasi sekolah (MOS) menjadi salah satu kesempa­ tan yang dimanfaatkannya untuk menerapi seluruh guru dan siswa agar berikutnya dapat fokus mengikuti pelajaran, dan mengajar dengan kasih sayang serta peka, dengan membuka indera kee­ namnya. Dalam kesibukannya itu, alat komunikasi berupa telepon geng­ gam menjadi sarana efektif baginya untuk berkomunikasi. “Dengan HP, saya bisa bekerja kapan pun dan di mana pun. Misalkan jika ingin bertemu klien, bisa sambil makan di suatu tempat, semuanya fleksibel,” ujarnya. Dalam menangani suatu kasus, Suparmi kerap berkon­ sultasi dengan sang suami yang juga menguasai ilmu hukum. Sebagai makhluk

sosial di masyarakat, pasutri ini dianggap tokoh. Bahkan sampai kini, Suparmi masih dipercaya sebagai Ketua PKK Banjar Abian Nangka Kelod. “Paling jika hanya ada keg­ iatan, saya mengarahkan dan mengontrol saja,” ujarnya. Sebagai umat Hindu Bali, dalam urusan sembahyang, khususnya banten, Suparmi mengaku tak pernah membeli. Ia selalu membuatnya sendiri. Bahkan, ia pun mengonsep runtutan bebantenan yang harus diper­ siapkannya. Dalam catatan kecil yang terdiri dari be­ berapa lembar kertas itu, ia membuat semacam pand­ uan, yang dikatakannya itu nanti bisa dipelajari anakcucunya dalam membuat banten. –Inten Indrawati

20 - 26 oktober 2014

Sudut Pandang

19

Penjaga Perbatasan sekaligus Guru Tahun 2014, kurikulum 2013 dilaksanakan secara bertahap di semua satuan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Kurikulum 2013 juga akan di­ laksanakan prajurit TNI yang diperbantukan se­ bagai pendidik di satuan pendidikan dasar di daerah khusus. Bagaimana mekanismenya?

A

gar dapat melak­ sanakan imple­ mentasi kuriku­ lum 2013 secara menyeluruh, para prajurit TNI yang diperbantukan sebagai pen­ didik di daerah khusus juga harus memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep, pendekatan,

dan strategi implementasi kuri­ kulum tersebut. Karena itu, Ke­ mendikbud bekerja sama dengan Markas Besar TNI melaksanakan bimbingan teknis kepada prajurit TNI yang diperbantukan sebagai pendidik di daerah khusus. Program bimbingan tek­ nis ���������������������������� ini ������������������������ ber­tujuan untuk ������� mengem­

bangkan kompetensi dan kiner­ ja prajurit TNI yang diberi pembekal­a n sebagai pendidik di daerah khusus dalam imple­ mentasi kurikulum 2013. ����� Kuri­ kulum 2013 di­harapkan dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan sikap,

Dulu hanya Calistung Sekarang Sesuai Kurikulum 2013 Kerjasama yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan TNI AD merupakan kelanjutan dari program yang digodok sejak tahun 2011. Salah satu tujuannya adalah men­ ingkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di wilayah pelosok dan terpencil. “Ini merupakan bukti kepedulian TNI terhadap bangsa dan negara. Selain menjaga keamanan, TNI juga ikut berkontri­ busi di dunia pendidikan,” ungkap Kapendam IX/ Udayana Kolonel CZI Abdijon Sinaga disela-sela kunjungan ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Kamis (16/10). Ia menambahkan, tahun ini Kodam IX/Udayana menugaskan 68 bintara untuk mengikuti pelatihan pola 52 yang terkait dengan kurikulum 2013. Bin­ tara-bintara ini nantinya akan bertugas di wilayah perbatasan RI-Timor Leste. Mereka akan mengajar di wilayah terpencil yang aksesnya sulit dijangkau. Pelajaran yang diberikan kepada siswa SD dan SMP sesuai dengan kurikulum 2013. Beda dengan zaman

dulu, materi hanya seputar membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Untuk tingkat SMA, para tentara hanya menjadi mentor untuk mata pelajaran Kewiraan. “TNI punya konsep sebagai pelatih. Anggota mulai dari bintara hingga perwira harus tahu Cara Memberikan Instruksi (CMI). Ini merupakan modal untuk menjadi guru di tempat bertugas. Selain itu, mereka juga harus memiliki kesiapan ­mengajar (siapjar) sebagai bukti administrasi. Lebih detail lagi, ada yang namanya tugas khusus yang dijabarkan dalam tugas terkandung, diantaranya mengajar masyarakat, serta tugas nyata kembali. Semua pola ini sudah dimiliki TNI. Jadi ketika ang­ gota TNI diminta menjadi guru di wilayah pelosok, wilayah terpencil, atau wilayah perbatasan, itu tidak masalah,” ujar Kapendam. Ia pun menuturkan pengalamannya ketika menjadi Komandan Kodim di Pulau Seram. Di wilayahnya itu sangat terpencil, tiap tiga menit ber­ jalan bertemu laut atau hutan. Karena ter­pencilnya, anggota TNI lah yang menjadi guru. Kalau pasuk­ an yang bertugas di wilayah terpencil itu bisa membaur dengan masyarakat maka akan terlihat suasana haru saat mereka ditarik. “Masyarakat pasti menangis kalau masa tugas TNI itu selesai. Artinya, pengabdian mereka diterima masyarakat. Tetapi, ada juga oknum yang nakal. Ini biasanya kami tarik lebih awal,” kenangnya. Pengalaman lainnya di wilayah perbatasan RI-Malaysia di Serawak, anggota TNI tidak hanya menjaga keamanan tetapi juga mengajak masyarakat untuk belajar. Kisah para prajurit ini sampai ada yang dibuatkan film dokumenter. Pela­ jaran yang diberikan tentu saja menitikberatkan kepada bela negara. Terkait materi pelajaran, ­Kolonel Abdijon mengakui saat ini untuk materi SD dan SMP masih bisa dijangkau bintara. Tetapi, untuk SMA biasanya ditangani perwira. Semua ini juga tergantung situasi di lapangan. Kalau di wilayah tersebut sudah ada sekolah dan gu­ runya, mereka hanya sekali waktu mengajar. Tetapi, ada sekolah yang tidak punya guru karena gurunya mudik, maka anggota TNI inilah yang menjadi guru. -Ngurah Budi

Mendikbud Muhammad Nuh saat tampil memberikan pencerahan kurikulum 2013 serta kondisi pendidikan di Indonesia umumnya di Nusa Dua, Jumat, (10/10)

keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Setelah mengikuti kegiatan bimtek Kurikulum 2013, para pra­ jurit TNI yang ditugaskan sebagai pendidik di daerah khusus di­ harapkan dapat memahami kom­ petensi, proses pembelajaran, dan penilaian dalam implementasi Kurikulum 2013. Demikian disampaikan Mendikbud Muhammad Nuh saat tampil memberikan pencerahan kurikulum 2013 serta kondisi pendidikan di Indonesia umumnya di Nusa Dua, Jumat, (10/10) bagi prajurit TNI yang diperbantu­ kan sebagai pendidik di daerah khusus. Menurut Muhammad Nuh, TNI sebagai komponen bangsa berkewajiban untuk memper­ siapkan generasi yang mampu mengelola dan menjawab ber­ bagai persoalan dan tantangan tersebut sesuai dengan zaman­ nya. Karena itu, anak-anak harus mendapatkan layanan pendidik­ an yang makin terjangkau dan makin berkualitas. Mereka harus mendapatkan layanan pendidikan sedini mungkin, setinggi mungkin dan mampu menjangkau seluas mungkin, termasuk bagi yang tidak terjangkau. “TNI berada dimana-mana di seluruh tanah air tidak terkecuali di daerah khusus, yang tugas pokoknya adalah menjaga keamanan dan ke­utuhan NKRI, akan tetapi biasa juga diberi tugas tambahan untuk turut juga mencerdaskan anak bangsa, men­ jadi guru di sekolah-sekolah di daerah khusus,” ujarnya. Menurut Mendikbud, dalam tahun 2014 ada 2 ribu prajurit TNI baik dari angkatan laut, angkatan udara dan angkatan darat yang akan ditugaskan di daerah khusus. Daerah khusus yang dimaksud adalah daerah perbatasan, daerah terluar, terdepan dan daerah terpencil lainnya. Jadi, di sam­ ping prajurit itu menjaga daerah perbatasan, mereka juga akan tampil sebagai guru. Kalau pun nanti di daerah tersebut tidak ada anak-anak, minimal para prajurit

tersebut bisa mengajar anaknya sendiri. Mereka juga menjadi data provider yang menyampai­ kan, berapa anak usia sekolah, berapa KK, posisinya dimana, di titik koordinat berapa, maka pemerintah akan menindaklanjuti dengan mendirikan sekolah disana dekat dengan pos pengamanan. Saat mengajar para prajurit TNI ini akan memakai seragam guru. “Kalau pelajaran pembentukan karakter mereka bisa memakai baju tentara,” ucapnya. Muhammad Nuh menam­ bahkan, dalam kurikulum 2013, ada beberapa pelajaran yang disempurnakan, misalnya, dalam pelajaran sejarah tidak lagi hanya berupa hapalan, namun, ada aktualisasi sehingga anak-anak tidak kehilangan masa kekinian dan tidak membosankan. Sejarah tidak hanya pendekatan masa lalu semata. Tapi, kejadian sejarah ditarik ke masa kini, ke depannya seperti apa. Ia menyatakan, program TNI menjadi pendidik ini akan di­ agendakan tiap tahun. “Walaupun menteri pendidikannya nanti bukan saya, tapi program ini akan diteruskan,” kata Muham­ mad Nuh. Asisten Teritorial Mabes TNI Mayjen TNI I Ngakan Gede Sugi­ artha Garjita mengatakan, TNI memiliki peran ganda disam­ ping sebagai penjaga wilayah perbatasan, juga sebagai tenaga pendidik. Selama ini pendidikan di wilayah terpencil dan pelo­ sok belum semua terjangkau. Karena itu, prajurit TNI siap untuk membantu mencerdaskan gene­r asi bangsa. Karenanya, mereka diberikan pelatihan kurikulum 13. Pelatihan ini dilakukan selama enam hari dengan tiga pos, Medan untuk Indonesia bagian Barat, Bali untuk Indonesia bagian Tengah, dan Makasar untuk Indonesia bagian Timur. Prajurit TNI yang ikut pelatihan ini, minimal sersan, tamatan SMA. Mereka nanti di­tugaskan mengajar di sekolah dasar. –Wirati Astiti


Kreasi

18

“Perang Tipat-Bantal” Tradisi Unik di Desa Kapal Jika dilempari benda, orang pasti akan marah. Bahkan, tidak sedikit yang ter­ singgung hingga berbuah dendam. Tapi, beda dengan yang satu ini. Masyarakat saling lempar tipat (ketupat) dan bantal (kue tradisional Bali) justru menari-nari dengan riang. Terlebih bagi yang kena lemparan, mereka akan menari meng­ ikuti irama musik tanpa ada ambisi atau­ pun dendam. Itulah perang tipat - bantal yang dilakukan masyarakat Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Selasa (14/10).

T

radisi ini rutin dige­ lar setiap tahun, tepatnya pada Sasih Kapat, sekitar bulan September – Oktober. Tradisi ini berkaitan erat dengan kehidup­ an pertanian masyarakat Desa Kapal yang dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas berlimpahnya hasil panen di desa ini. Pelaksanaannya dipusatkan di Pura Desa dan Puseh Desa Adat Kapal. Tipat dimaknai seba­ gai simbol energi predana (femi­ nimisme) dan bantal sebagai simbol purusa (maskulin) yang diwakili oleh keberadaan ibu pertiwi atau bumi dalam bentuk fisiknya sebagai tanah. Pangan yang dihasilkannya merupakan senjata utama untuk mempertah­ ankan diri dalam kehidupan. Tradisi perang tipat – bantal tahun ini menjadi lebih unik karena dikolaborasikan dengan garapan seni. Dramatari karya Anak Agung Gede Rahma Putra

ini menceritakan asal-muasal ter­ jadinya perang tersebut. Garap­ an ini menampilkan Tari Baris Bantal dan Rejang Tipat yang dibawa­k an seniman remaja. Musik iringannya menggunakan barungan gamelan selonding, sehingg terkesan agung dan klasik. Garapan ini menceritakan ke­ datangan Ki Kebo Iwa atas utusan Raja Bali, Asta Sura Ratna Bhumi Banten untuk memperbaiki Candi di Kahyangan Purusada di Desa Kapal. Namun suatu ketika Desa Kapal dijumpai dalam kondisi paceklik, tidak ada pangan yang mengakibatkan kekacauan dan menyedihkan. Ki Kebo Iwa akhirnya memo­ hon petunjuk kepada Sang Pen­ cipta dengan cara melakukan yoga semadi di Kahyangan Pu­ rusada. Dalam semadinya men­ dapatkan wahyu dari Hyang Pa­ supati agar warga disana melak­ sanakan Aci Rah Pengangon atau Aci Rare Angon dengan sarana

20 - 26 oktober 2014

20 - 26 oktober 2014

bagai senjata. Tabuh baleganjur dan suara kentongan menjadi iringan perang itu. Setelah ada instruksi dari prajuru (aparat) desa, kedua kelompok kemudian saling serang dan saling lempar dengan tipat dan bantal itu. Pada awalnya perang berlang­ sung di jaba tengah, selanjut­nya di jaba sisi, jalan raya Desa Kapal. Tipat ataupun bantal bagai pe­ luru yang melesat begitu cepat. Masyarakat yang menjadi pelem­ par, bagai kesurupan yang me­ nyerang dengan membabi buta. Bahkan, banyak diantara mereka yang telanjang dada, namun tetap mengenakan busana adat seperti udeng, kain dan selempot. Walau diharuskan melempar dalam satu arah yakni utara dan

selatan, tetapi ada juga yang jahil melempar ke arah masyarakat yang menyaksikan tradisi itu. Namun, semuanya gembira dan senang. Uniknya, meski saling serang dan saling lempar dengan tipat dan bantal, tidak ada yang sampai luka atau cedera. Malah dalam semangat mereka itu lebih banyak mengekspresikan gelak tawa. Perang berlangsung sekitar 30 menit, masyarakat kemudian meng­akhiri dengan saling ber­ salaman dan saling memaafkan. Semua warga kemudian member­ sihkan jalan dari sisa-sisa perang tipat dan bantal itu. Warga juga disarankan untuk mengambil sebagian tipat dan bantal itu un­ tuk dibawa pulang, selanjutnya ditebarkan di ladang maupun sawah. Bendesa Adat Kapal, Anak Agung Gede Dharmayasa menga­ takan, mengambil sebagian tipat dan bantal untuk di bawa pulang sebagai bentuk permohonan agar semua warga bisa tetap dilimpah­ kan kesuburan, pangan dan kes­ ejahteraan. “Ini merupakan sebuah bentuk penghormatan terhadap energi semesta yang menciptakan kehidupan serta sebuah prosesi untuk melestarikan kelangsung­ an kehiduan itu sendiri dengan konsep menjaga ibu pertiwi, tanah yang merupakan wujud nyata pe­ nopang dan pemberi kehidupan bagi setiap makhluk di muka bumi ini,” katanya. Desa Adat Kapal, jelasnya, memiliki sebanyak 2247 kepala ke­ luarga, yang terdiri dari 18 Banjar Adat. Untuk acara ini, masing-mas­ ing kepala keluarga dikenakan 1 kg beras atau ketan. Paling sedikit terkumpul 1800 kg atau 1,8 ton tipat dan bantal. “Itu juga sebagian, karena ada juga yang tidak datang” imbuhnya. -Darsana

Story

7

Parang Menempel Harta Melayang Sisi tiba-tiba terbangun dari tidurnya sekitarnya pukul 03.45 wita. Lehernya terasa dingin seper­ ti tengah menyentuh besi. Begitu matanya ter­ buka, ia sangat kaget dan ketakutan. Sebilah parang menempel di lehernya. Demikian juga di leher suaminya. Empat orang kawanan peram­ pok bercadar masuk ke dalam rumahnya. Para perampok mengancam agar Sisi dan suami tidak berteriak.

T

menghaturkan tipat – bantal. Ked­ ua aturan itu seba­ gai simbol sumber kehidupan, karena penyebab dari se­ gala paceklik (ke­ laparan) karena ketiadaan sumber kehidupan terse­ but. Sejak saat itu aci tersebut rutin dilaksanakan, di­ mana masyarakat Desa Kapal ber­ kumpul di de­ pan Pura Desa. Masyarakat ke­ mudian membagi diri menjadi dua kelompok yang masing-masing memegang tipat dan bantal se­

Life

akut yang luar biasa dirasakan oleh perempuan berusia 40 tahun ini, terlebih lagi ketika melihat anak laki-lakinya yang berusia sembilan tahun ini terlelap di tempat tidur di samping tempat tidur mereka. Sisi (bukan nama sebenarnya) dan keluarga kecilnya baru beberapa minggu pindah ke rumah baru mereka itu, sehingga mereka bertiga masih harus tidur satu kamar. Barang-barang lain masih berantakan dan belum semuanya tertata dengan baik. “Saya takut sekali kalau-kalau anak saya tiba-tiba terbangun ketakutan lalu berteriak,” ujarnya mengenang kejadian tiga tahun lalu itu. Ia tidak ingin lagi menceritakan dan merasakan kembali ketakutan dan cemas yang luar biasa itu. Namun, karena ia ingin membagi kisah ini kepada pembaca, agar berhatihati, maka ia bersedia untuk mengisahkannya. Ia juga tidak bersedia mengungkap identitas asli dan tempatnya tinggal kini,

semata-mata demi menjaga keselamatan putranya. Tiap kali ia menceritakan kisah ini, ia selalu ngeri membayangkannya. Hari itu tidak ada firasat apa-apa yang dirasakan oleh Sisi. Semua berjalan seperti biasa. Ia asyik berbenah, mengatur barang-barang hingga

rapi di rumah barunya di Pulau Lombok. Beberapa barang lain masih ditumpuk di kamar depan yang bersebelahan dengan kamar utama yang sementara dipakai tidur oleh mereka bertiga. Sisi dan suaminya dicekam rasa cemas yang luar biasa ketika menyaksikan kawanan perampok membongkar seluruh isi rumahnya untuk menemukan barang-barang berharga. Laptop, ponsel, dan barang berharga lainnya yang ada di meja tamu sudah diambil semua. Para perampok meminta ia menyerahkan seluruh perhiasan emas dan uang serta barang berharga lainnya. “Operasi senyap” kawanan perampok itu begitu rapi dan tidak menimbulkan kegaduhan. Karena sebenarnya di kamar belakang, ada ipar laki-laki Sisi yang juga tengah menginap di rumahnya. Ia sama sekali tidak tahu kejadian itu sampai akhirnya ia dibangunkan oleh suami Sisi setelah para perampok itu pergi. Parang masih menempel di leher mereka berdua ketika mata Sisi tak lepas memandang anak laki-lakinya yang terlihat pulas. Dalam hati ia berdoa pada Allah SWT agar melelapkan anaknya, jangan sampai terbangun dan melihat kejadian itu. Ia memikirkan dampak psikologi anaknya jika ia tahu

dan melihat kejadian itu secara langsung. Dengan todongan parang bermata mengkilat di leher, Sisi menunjukkan tempat penyimpanan perhiasannya. “Semua diambil tak bersisa sama sekali,” ungkapnya. Ia sempat meminta agar kawanan perampok itu boleh mengambil semua barang miliknya asal jangan mengganggu anaknya. Beruntunglah kawanan perampok itu tidak mengganggu keluarganya. Sebelum parampok-perampok itu beranjak meninggalkan rumahnya, ia sempat berdialog dengan para penjahat itu. Ada kisah menggelikan di balik kesedihan dan ketakutan Sisi dalam peristiwa perampokan itu. AMBIL PONSEL KEMBALIKAN KARTU Saat kawanan perampok mengambil semua ponsel milik Sisi, milik suami dan iparnya yang tergeletak di meja ruang tengah, Sisi sempat meminta agar perampok itu sudi memberikan nomor ponsel tersebut. “Silahkan bawa ponselnya tapi tolong nomornya kembalikan ke saya,” pinta Sisi pada perampok. Perampok itupun mengikuti keinginan Sisi. Ia membuka ponsel tersebut dan menyerahkan nomornya itu kepada Sisi. Sisi merasa penting mendapatkan nomor-nomor tersebut karena di sanalah semua nomor kolega bisnisnya tersimpan. Peristiwa itu menjadi bagian yang lucu yang kadang menghiburnya dari sebuah kejadian yang mengerikan. Tadinya ia ingin membiarkan nomor tersebut agar bisa dilacak, namun ia tiba-tiba berpikir, paling-paling perampoknya akan segera membuang nomor itu begitu keluar dari rumahnya. Ke j a d i a n itu terjadi

begitu cepat, hanya sekitar setengah jam, para perampok sudah dapat membawa semua harta kekayaannya yang mudah diangkut. Setelah kejadian itulah, barulah ipar dan tetangganya tahu. Di pagi buta itu, suasana rumah Sisi sempat ramai. Perampok melenggang dengan cepat tanpa diketahui jejaknya. Perampokan yang begitu cepat itu meninggalkan trauma bagi Sisi dalam waktu yang cukup panjang. Peristiwa itu sempat mengguncang jiwanya hingga bermingguminggu lamanya. Bukan soal harta yang dirampok yang ia pikirkan melainkan ia selalu terguncang tiap kali membayangkan peristiwa itu. Parang sudah di leher dan anaknya yang tidur di samping mereka. Ia merasa beruntung karena anaknya tidak terbangun dini hari itu. Dalam traumanya itu, Sisi sempat pucat pasi hingga berhari-hari lamanya. Ia terguncang dan sering melamun. Karena itulah, ibunda dan saudara-saudaranya sempat membawanya ke psikolog untuk mengembalikan rasa percaya dirinya. Sisi juga sempat dibawa ke “orang pintar” untuk menstabilkan kondisi kejiwaannya. Pengobatan dan penyembuhan traumanya ini berlangsung hingga sekitar dua minggu, sampai akhirnya ia kembali kuat menjadi dirinya sendiri. Peristiwa itu kini menjadi pelajaran berharga baginya agar senantiasa berhati-hati. Seluruh pintu masuk di rumah Sisi kini dibuat dengan sangat permanen dan kuat demi menjaga keselamatan anakanaknya. -Naniek I. Taufan

Perampokan yang begitu cepat itu meninggalkan trau­ ma bagi Sisi dalam waktu yang cukup panjang. Peristiwa itu sempat mengguncang jiwa­ nya hingga berminggu-minggu lamanya.


Bunda & Ananda

8

20 - 26 Oktober 2014

Menuangkan Ide

lewat Gambar

W

iwik sedang asyik menggambar bunga mawar. Bunga itu ditempatkan dalam sebuah vas bunga. Warna mawar dipilih merah sedangkan vas bunga berwarna biru. Hampir setengah jam ia menyelesaikan gambarnya termasuk pewarnaan. “Kalau sudah menggambar, Wiwik sangat tekun dan lupa hal-hal lain. Pulang sekolah langsung menggambar sampai lupa makan,” ungkap Bu Wini, ibu Wiwik. Begitu tahu buah hatinya suka menggambar, ia menyiapkan semua perlengkapan menggambar. “Saya pernah menanyakan apakah mau ikut les menggambar, Wiwik bilang tidak mau. Saya juga tidak memaksa. Solusinya saya siapkan peralatan gambar di rumah,” ujarnya. Ia menambahkan anaknya suka menggambar bunga dan karak­ter putri yang ada di buku komik maupun dongeng. Walau bentuk gambar tak mirip aslinya, Bu Wini tak mempermasalahkan. Putu Ebo, salah seorang penggiat seni khususnya kartun dan komik di Bali menuturkan, menggambar memiliki dampak luar biasa. Salah satunya adalah menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Ketika aktivitas ini dilakukan sejak kecil, ini akan membuat anak mampu mengembangkan jiwa kreativitasnya. Hal senada diungkapkan Fransiska Remila, Brand Manager PT Faber-Castell International Indonesia. “Dunia kreativitas khususnya gambar tidak boleh

Fransiska Remila

Hari Imam Wahyudi

berhenti saat menuju remaja karena selama ini hanya semarak bagi anak-anak tingkat TK dan SD. Kreativitas merupakan salah satu bagian penting dalam melakukan inovasi dan merealisasikan ideide,” ujarnya. Ia menambahkan, di kantor pusat Faber-Castell di Jerman, ada sekolah khusus yang dibuka untuk anak-anak yang ingin mengembangkan kemampuan menggambar. Bahkan ada juga sekolah khusus yang menjadi tempat persiapan sebelum seorang mahasiswa masuk ke jurusan seni. Adanya lembaga semacam ini sangat membantu anak-anak untuk menyalurkan dan mengasah bakat mereka dalam bidang menggambar. “Di sekolah ini ada juga tempat untuk art therapy yang dipakai untuk mengatasi perkembangan psikologi anak. Dari gambar-gambar yang dibuat anak-anak bisa bisa diketahui karakter si anak. Di Indonesia, sudah ada rencana untuk membuat sekolah semacam itu, tetapi masih terkendala perizinan,” ujar Siska yang didamping Mr. Joel Frommann, Area Manager FaberCastell Asia Pasifik.

(otak) sedangkan remaja dan dewasa sudah bisa dinilai dari analisa kepribadian. “Semua anak pada dasarnya suka menggambar. Disuruh buat manusia tetapi bentuk seperti lidi, itu tidak masalah pada usia TK.

PERKEMBANGAN KOGNITIF Dari penjelasan H a r i I m a m Wa h y u d i , S.Psi.,Psikolog.,Cht, fase menggambar saat anakanak, remaja, dan dewasa sangat berbeda. Ketika anak-anak, gambar yang dihasilkan hanya bisa dilihat dari perkembangan kognitif

Suasana lomba gambar

Lama-lama ia akan mampu membuat manusia yang lebih baik. Makin lama komposisi dan anatominya makin baik. Seringkali orangtua tidak sabaran dan me­nyalahkan anaknya kalau gambarnya tidak lengkap. Jangan lakukan hal ini. Sekali anak disalahkan itu akan menutup ruang kreativitasnya,” ujar psikolog di konsultan psikologi dan klinik hypnotherapy “Dian Selaras” ini. Hari menambahkan melalui aktivitas menggambar, selain meng­ asah kemampuan kognitif anak, juga mengasah kemampuan motorik kasar dan halus. Pergerakan ta­ ngan saat membuat sketsa maupun mengarsir merupakan bagian dari kemampuan motorik. Jika ada yang tidak beres dari gerakan motorik ini, orangtua harus melakukan pengamatan lebih dalam. Anak yang suka menggambar biasanya suka menuangkan apa yang ia lihat atau idenya ke dalam media gambar. Warna-warna yang digunakan pun akan menunjukkan kreativitas si anak. “Pemilihan warna ini bisa menunjukkan suasana hati anak. Orangtua harus peka dalam hal ini. Acara menggambar bersama antara anak dan orangtua bisa menjadi ajang dialog dan komunikasi. Momen ini ja­

ngan dipakai untuk mendikte anak atau mengkritik karya anak. Sebaliknya, orangtua harus memotivasi anaknya. Jika anaknya salah, beri penjelasan secara elegan sambil bercerita. Menggambar juga bisa menjadi solusi terapi diri sendiri,” ujar psikolog yang juga Wakil Ketua II HIMPSI Bali ini. Mengenai perlu atau tidaknya anak les menggambar, ini kembali kepada si anak. Jika si anak menginginkan dan orangtua memiliki kemampuan untuk memenuhi keingin­a n anaknya, tentu tidak masalah. Yang penting, jangan memaksa anak untuk melakukan sesuatu demi ambisi orangtua. Salah satu contoh, jika ada lomba menggambar, kadang orangtua yang lebih sibuk. Lomba menggambar bagi anak-a anak harus dijadikan ajang uji nyali dan uji mental menghadapi persaingan. Hari mengingatkan anak yang pintar menggambar tidak selalu anak yang cerdas. Namun, anak yang pintar menggambar adalah anak yang memiliki jiwa kreativitas tinggi. Orang tua juga diingatka untuk mengoleksi hasil karya anak sejak kecil. Suatu saat nanti ketika anak beranjak remaja, ia bisa melihat bagaimana perkembangan daya kreativitasnya. -Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit Raja tidak Mau Makan

Di kalangan rakyat, Raja Windusara dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana. Beliau selalu memperhatikan Made Taro kesejahteraan rakyatnya. Namun, sang Raja mempunyai kebiasaan buruk, yakni tidak mau makan tanpa hidangan ikan tuna. Juru masak kerajaan setiap hari pergi ke pasar membeli ikan tuna untuk Paduka Raja. Tibalah musim pancaroba. Angin kencang melanda negeri itu. Banyak rumah roboh dan pohon-pohon tumbang. Para nelayan tak ada yang berani melaut, karena air laut membuncah dan ombak besar bergulung-gulung. Keadaan seperti itu terjadi berbulan-bulan. Berbulan-bulan pula Raja Windusara tidak mau makan. Badannya kurus dan kehilangan semangat hidup. Para patih mengusulkan kepada Raja agar dibuat sayembara. “Barang siapa yang menyerahkan ikan tuna kepada Paduka Raja, akan mendapatkan hadiah besar.” Seorang nelayan terketuk hatinya. Ia menurunkan perahunya lalu menerobos angin kencang dan gelombang besar ke tengah laut. Untunglah, atas perlindungan Yang Kuasa, ia mendapatkan seekor ikan tuna besar. Karena senangnya, ia tidak pulang ke rumah, tetapi langsung menyerahkan ikan itu kepada Paduka Raja. Ketika menginjakkan kaki di depan pintu gerbang istana, tiba-tiba ia dicegat oleh penjaga pintu. “Hai, mau ke mana kau, Nelayan?!” seru penjaga pintu. “Hamba mau mengaturkan ikan tuna ini kepada Raja.” jawab Nelayan dengan hormat.

Griya

17

Rumah Bambu Jadi Pilihan

Biarkan Anak

Menggambar bagi anak-anak merupakan aktivitas yang menyenangkan. Mereka bisa menuangkan ide yang ada dalam benak mereka. Urusan gambar itu bagus atau tidak, tak usah risau. Hal terpenting adalah anak bisa mengekspresikan jiwa seni dan kreativitas mereka. Ini juga merupakan terapi.

20 - 26 Oktober 2014

“Tahukah kamu bahwa kamu akan mendapatkan hadiah besar?” “Ya, hamba tahu. Hamba persembahkan ikan ini cuma-cuma, bukan untuk mendapatkan hadiah.” “Bagus! Tetapi kamu harus menerima hadiah itu! Hadiah itu separuh untukku dan separuh untukmu. Kalau kau tidak mau menerima, kau tidak kuizinkan masuk. Mengerti?” Nelayan yang polos itu mengangguk, lalu bergegas menghadap Paduka Raja. “Hadiah apa yang kau inginkan? Emas-perak atau uang?” tanya Raja dengan wajah berseri-seri. “Maaf, hamba tidak mengharapkan hadiah. Hamba melaut karena hamba kasihan kepada Paduka.” “Janjiku harus kutepati. Sekali lagi, hadiah apa yang kau inginkan?” “Kalau hamba harus menerima, hamba mohon hadiah seratus cambukan.” Raja terkejut. “Cambukan? Kamu seharusnya mendapat penghargaan, bukan hukuman.” “Benar, Tuanku! Hamba berjanji kepada penjaga pintu gerbang untuk membagi hadiah itu. Separuh untuk dia dan separuh untuk hamba. Kalau hamba tidak menyerahkannya, maka hamba tidak diizinkan masuk.” Raja murka seketika. Beliau memanggil penjaga pintu gerbang itu, lalu mencambuknya limapuluh kali, ditambah lagi dengan hukuman pecat. Sedangkan hadiah cambukan untuk nelayan, diganti dengan mengangkat nelayan itu menjadi pegawai istana.

Kemampuan Indonesia dalam menghasilkan produk-produk kreatif memang tidak perlu diragukan lagi. Kerajinan bambu Indonesia misalnya, sudah berkembang sedemikian rupa sehingga bukan saja berkualitas tinggi tapi juga desain produk yang makin atraktif. Tak heran kalau permintaan pasar internasional terhadap kerajinan ­bamboo, khususnya, terus tumbuh setiap tahun.

D

Serba bambu

i Trade Expo Indonesia 2014 yang baru saja usai digelar di Kemayoran, Jakarta, kerajinan bambu mendapat tempat yang ‘eye- catching’ . Begitu masuk pintu utama pameran, mata pengunjung langsung ‘dibenturkan’ pemandangan indah area ‘house of Indonesia’ dimana kerajinan bambu berada. Mulai dari rumah dua lantai, gazebo hingga mebel. Ada juga gazebo yang dibuat seperti bar mini untuk melayani pemesanan kopi. Sedang disampingnya berada rak bamboo setinggi dua meter tempat aneka kopi nusantara. Memang di area House of Indonesia itu bukan hanya ada kerajinan bamboo tapi juga produk lainnya yang menjadi unggulan ekspor Indonesia. Seperti meja dari bongkah­ an kayu, juga gazebo yang terbuat dari kayu beratap jerami. Tak kalah menarik, sebuah sepeda terbuat dari bamboo ‘diparkir’ di sana. Sepeda yang banyak menarik perhatian buyer asing ini adalah salah satu koleksi Paguyuban Sepeda Bambu ‘Jatnika’. Adalah Undagi Jatnika Nagamiharja yang menciptakan alat transportasi yang ramah lingkung­an itu. Bukan hanya sepeda, Jatnika yang juga Ketua Yayasan Bambu Indonesia, juga memproduksi aneka mebel dan rumah bambu.

Semuanya memang serba bambu. Di ‘bengkelnya’ kawasan Perum Bumi Cibinong Endah, Kabupaten Bogor, berbagai produk mebel termasuk rumah-rumah contoh yang terbuat dari bambu, dipamerkan. Baik rumah maupun mebel bamboo ini telah berhasil menembus pasar ekspor ke sejumlah Negara seperti Spanyol, AS, Taiwan juga Jerman. Bagusnya prospek pemasaran kerajinan bambu Indonesia di pasar internasional juga diakui oleh Masgun, Kepala Produksi Shaniqua. “Permintaan aneka produk bambu di mancanegara tergolong tinggi. Karena produk bambu Indonesia selain kualitasnya bagus, juga kreatif. Harganya pun kompetitif,” ungkap lelaki yang telah 15 tahun bergelut di bidang produksi kerajinan bambu. Menurut Masgun, ekspor ter­ besar perusahaannya adalah ke ­Ne­gara-negara Eropa seperti; Jerman, Prancis, Spanyol, Italia, Yunani, Belanda dan Ukraine, juga Turki. “Mereka umumnya pedagang yang juga memiliki show room di negara­ nya. Setiap bulan kami mengeks­ por rata-rata empat container ke ­Negara-negara itu. Itemnya beragam, seperti mebel, dll,” jelasnya. Karena pelanggan kebanyakan dari Eropa, maka ketika terjadi krisis ekonomi di Eropa beberapa tahun lalu, pihaknya sempat terpukul.

Aneka mebel produk unggulan indonesia

“Namun kini sudah kembali normal, pesanan sudah lancar lagi,” ungkapnya. Untuk menjamin pasokan material, tambahnya, mereka bekerja sama dengan petani bamboo Rangkasbitung, Lebak, Banten, di tempat dimana pabriknya berada. “Kami juga memberi pelatihan pada me­ reka, misalnya bagaimana membudi­ dayakan pohon bambu, cara mene­ bang pohon bambu yang benar, jadi jangan asal-asalan,” tuturnya. Selain mebel, pihaknya juga mengembangkan rumah bamboo. Sambil menunjuk rumah bambu dua lantai yang dipajang di area ‘house of Indonesia’ , Masgun mengatakan, selama pameran banyak yang menanyakan rumah bambunya. Ada banyak model, katanya, namun yang dipajang di pameran ini model yang biasa untuk digunakan sebagai cottage di tempat-tempat wisata. Seorang pengunjung sempat bertanya, berapa lama ketahanan rumah bambunya? Apakah tidak bocor kala hujan, mengingat atap­ nya hanya­lah dari rumbia? Lalu pengunjung itupun menyarankan bagaimana jika bagian dalam atap, sebelum dilapisi rumbia, diberi alas plastik. Menjawab pertanyaan ini, Masgun mengatakan, ketahanan produk bambu, seperti rumah mi­s alnya, bisa mencapai 10 tahun lebih. “Semuanya tergantung pada pembuatannya juga maintenance. Jika dilakukan dengan baik,

Ruang tidur di lantai dua rumah bambu

kualitasnya akan tetap bertahan,” jelasnya. Soal bocor, ia mengatakan, ja­ ngan khawatir. “Rumah contoh kami sampai sekarang masih bertahan dengan baik padahal usianya sudah 12 tahun lebih. Rumah contoh itu jadi tempat tinggal bos kami kalau beliau meninjau pabrik. Bahkan sampai sekarang saya belum pernah melakukan penggantian atap, baik karena rusak atau bocor karena hujan,” tambah Masgun. Namun, ia kurang setuju jika atap diberi lapisan plastik sebelum digunakan rumbia. Menurutnya, plastic akan menimbulkan hawa panas. Dalam iklim seperti sekarang ini, dimana suhu bisa sangat panas, hal itu akan kurang tepat. Justru sebaliknya, dengan rumah bamboo

beratap rumbia, meski cuaca di luar panas, ketika masuk ke rumah, akan terasa lebih sejuk. Ini karena pengaruh konstruksi bangunan dari bambu juga atap rumbia. “Namun begitu, kami juga me­ nerima jika ada konsumen datang dengan membawa desain sendiri. Jadi semua terserah pada konsumen, kita tinggal membuatkan saja,” tandasnya. Lalu mahalkah konstruksi bambu itu? Menurut Masgun, harganya relatif. Tapi jika dibanding dengan kayu, tentu saja bambu relatif lebih murah. Untuk rumah berlantai dua ukuran 6x4 meter ini, dibandrol de­ ngan harga Rp 30 juta, sedang gazebo kopi ukuran standar dilepas dengan harga Rp 7,5 juta, gazebo lebih kecil berharga Rp 6 juta. –Diana Runtu

Masgun kepala produksi shaniqua


Edukasi

16

20 - 26 oktober 2014

Satu Buku Satu Tahun R

I Bagus ­Widjna Baratanatyam Pembukaan roadshow Perpustakaan Cerdaskan Bangsa di Bali ditandai dengan pemulukan kulkul

tan ini pun dikemas sedemikian rupa dengan harapan dapat menyatukan visi bersama untuk gerakan gemar membaca. Karena itu pula, dalam talkshow tersebut dihadirkan narasumber dari beberapa unsur, di antaranya budayawan Bali Prof. Dibia, Sekda Provinsi Bali Cokorda Ngurah Pemayun, Kepala Perpustakaan Nasional RI Dra. Hj. Sri Sularsih, M.Si, artis Happy Salma, dan dipandu presenter Ririn Agustarini. Diikuti berbagai komponen masyarakat, seperti ­pengelola perpustakaan, kasek, guru, forum komunitas gemar membaca, dan para siswa. Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta yang membacakan sambutan tertulis Gubernur Bali mengatakan, membaca me­rupakan kunci keberhasilan anak di sekolah. Dalam artian, dengan minat baca tinggi makan akan tinggi

pula prestasi anak. Namun, untuk mendapatkan hasil optimal perlu melibatkan peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah, serta menjadi tanggung jawab bersama. Salah satunya, dengan peran perpustakaan untuk melayani masyarakat yang haus ilmu pengetahuan. Pendidikan dan perpustakaan menjadi satu kesatuan. Pendidikan untuk semua akan lebih berhasil jika dilengkapi dengan perpustakaan. “Masyarakat dan budaya Bali sesungguhnya juga sudah punya tradisi membaca, yang disebut nyastra,” ungkap Sudikerta. Kepala Perpustakaan Nasional RI Dra. Hj. Sri Sularsih M.Si. menambahkan, perpustakaan adalah sarana belajar sepanjang hayat. Perpustakaan merupakan pendukung sistem pendidikan nasional. Belajar tak cukup hanya dengan

sistem formal, namun juga informal. “Belajar ya…membaca. Karena dengan membaca, ilmu dan wawasan terus bertambah,” ujarnya. Keberhasilan pembangunan suatu bangsa dikatakannya juga tergantung kualitas SDM. Solusinya hanya dengan pendidikan. Peran perpustakaan sebagai sumber belajar. Semua ilmu ada di sana, mulai dari ilmu agama, teknik, seni, dll. “Buku adalah sumber ilmu. Kita bisa membuka jendela dunia dengan membaca, bisa menjelajah dunia mana pun. Dengan banyak membaca, kita bisa berpikir besar, berjiwa besar, dan menjadi sosok besar, seperti Ir. Sukarno,” ucapnya. Minat baca masyarakat Indonesia yang rata-rata membaca 0-1 buku pertahun tergolong rendah, dibandingkan AS yang rata-rata 30

buku per tahun, Jepang 10 buku, dan negara ASEAN 2-3 buku. Karena itu ia mengatakan budaya baca ini harus mulai dibangun dari unit masyarakat terkecil yakni keluarga. Namun, setelah dikaji, Sularsih mengungkapkan masyarakat Indonesia tidak suka membaca bukan karena minat baca yang rendah, tetapi bahan yang dibaca tidak ada. Untuk itu, pemerintah melalui Badan Perpustakaan Nasional menambah bahan bacaan untuk perpustakaan hingga 23 ribu, dan mengadakan mobil perpustakaan keliling 600 unit. Dari stimulan tersebut, kunjungan ke perpustakaan meningkat. “Akses kunjungan perpustakaan online perhari 1200-1500. Kami berharap perpusatakaan yang sudah berkembang ini dioptimalkan lagi dengan memperbanyak kegiatan,” ujarnya. –Inten Indrawati

Dari “Bujang Sembilan” hingga “Kelok 44” Jika Anda berkunjung ke Sumatera Barat, ­jangan lupa mampirlah ke Danau Maninjau. Dijamin, tidak menyesal. Panorama indah Danau Maninjau akan langsung membuat Anda terpesona. Inilah salah satu danau terluas di Indonesia, yang berdasarkan data memiliki luas 99,5 km2 dan kedalamanan maksimum 495 m.

D

anau vulkanik yang berada di ketinggian 461,50 m dari permukaan laut ini, letak persisnya di Kecamata­n Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Konon, keindahan Danau Maninjau ini begitu memikat hati Presiden Soekarno sehingga lahirlah pantun, “Jika makan pinang, makanlah dengan sirih hijau. Jangan datang ke Ranah Minang, kalau tak mampir ke Maninjau”.

Seperti halnya legenda Kebo Iwa di Danau Batur, maka Danau Maninjau pun memiliki legenda tersendiri. Maninjau lekat dengan legenda “Bujang Sembilan”. Alkisah ada satu keluarga terdiri dari 10 orang, 9 orang laki-laki (bujang) dan seorang perempuan bernama Sani. Sani yang rupawan lagi baik budi, kemudian menjalin cinta dengan Sigiran. Dalam tata adat yang kuno,

9

Sebuah festival seni internasional yang berlangsung di Korea Selatan, meng­ hadirkan dua seniman muda Bali, awal Oktober lalu. I Bagus ­Widjna Bara­ tanatyam (25) dan Sri Ayu Pradnya ­Larasari (17) diundang mewakili Indone­ sia dalam forum seni budaya yang ber­ tajuk Storytelling Asia, Asian Myths: A Treasure Trouve for the 21 st Century Imagination.

Roadshow Perpustakaan Nasional RI 2014 yang digelar di Bali, diisi dengan berbagai kegiatan, yakni lomba mewarnai untuk anak PAUD, lomba menggambar untuk anak SD, lomba poster untuk anak SMP, lomba kreasi jingle untuk anak SMA, dan talkshow yang meng­hadirkan artis Happy Salma.

oadshow yang mengambil tema “Perpustakaan Cerdaskan Bangsa, Wujudkan Indonesia Gemar Membaca” tersebut dipusatkan di Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi), Renon Denpasar, Rabu (15/10). Ketua kegiatan yang juga Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Badan Perpustakaan Nasional Dra. Ovi Sofiana, M.Si. mengatakan roadshow ini untuk menyosialisasikan eksistensi perpustakaan dalam upaya menumbuhkan budaya baca dan meningkatkan pemahaman pentingnya budaya baca serta perpustakaan bagi masyarakat. Di tahun 2014 ini, roadshow dilakukan di tujuh provinsi, dan Bali menjadi provinsi terakhir. Kegia-

Dara

20 - 26 oktober 2014

alkisah keduanya dituding telah melakukan perbuatan hina. Kedua­n ya sadar betul, hidup dalam stigma hina, sama artinya dengan kematian. Tidak satu orang pun sudi menampung mereka, terlebih mereka dikucilkan dari pergaulan. Hidup serasa mati. Karena itu, mereka kemudian mereka melakukan aksi “bunuh diri” dengan melompat ke dalam kawah Gunung Tinjau. Masyarakat sesungguhnya tidak ada yang peduli. Akan tetapi menjadi peduli manakala sebelum melakukan terjun kawah, kedua­ nya mengatakan sesuatu yang cukup mencengangkan. Dengan tingkat kepasrahan tinggi Sani dan

Sigiran mengatakan, jika gunung tidak meletus, itu artinya mereka memang melakukan perbuatan hina. Sebaliknya, jika Gunung Tinjau meletus setelah mereka nyemplung, itu artinya mereka berkata benar, tidak melakukan perbuatan hina. Ternyata, gunung itu meletus! Ledakan dahsyatnya, tidak saja “menghukum” masyarakat yang telah menuduh keliru terhadap Sani dan Sigiran, tetapi juga membekaskan sebuah kubangan mahabesar yang kemudian menjelma menjadi danau. Danau Maninjau. Di luar spesifikasi danau dan legenda yang melatarbelakanginya, Maninjau juga menawarkan

banyak sekali hal-hal yang bisa dibilang menakjubkan. Salah satunya adalah jalanan menukikmeliuk dari atas ke pinggiran danau, yang dikenal dengan rute (jalan) Kelok 44. Silakan berimajinasi…. Dari ketinggian lebih dari 4,5 kilometer, menukik curam meliuk-liuk dalam 44 kali kelokan. Bagaimana kita menghitung kelokan? Tidak perlu capek… karena Dinas Perhubungan Kabupaten Agam sudah meletakkan rambu penanda kelokan lengkap dengan nomor kelokan berikut papan reklame. Karena itu, untuk pengemudi, baik sepeda motor maupun mobil, sama sekali tidak disarankan lewat jalur ini, jika kemampuan mengemudinya pas-pasan. Benar. Kelok 44 memang tantangan bagi pengemudi. Medan yang menukik terjal, berkelok-kelok, plus tebing curam di kiri dan kanan, adalah medan yang menantang untuk ditaklukkan, sekaligus medan yang sangat berbahaya. Akan tetapi, jika diarungi dengan santai, sesungguhnya rute kelok 44 sangat indah. Bahkan di beberapa titik kelok, tersedia semacam rest area atau view area. Di situ, pelancong bisa berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan Danau Maninjau. Beberapa titik pemberhentian bahkan tampak beberapa kedai menjual minuman dan snack. –Diana Runtu

Natya dan Laras Memukau Warga Negeri Gingseng

B

aratanatyam menyajikan pertunjuk­ an wayang kulit yang mengangkat cerita Ramayana sedangkan Larasari diundang sebagai storyteller (pendongeng), menuturkan sebuah dongeng Nusantara. Sungguh tak diduga, penampilan kedua seniman kakak beradik itu disimak penuh perhatian masyarakat setempat. Baratanatyam yang akrab dipanggil Natya dan Larasari akrab disapa Laras, adalah dua insan yang sedang menggeliat sebagai pegiat seni andal Bali. Natya adalah seorang dalang muda yang telah menorehkan reputasi sebagai Juara I dalam lomba wayang kulit se-Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2013. September lalu ia mewakili Bali dalam Festival Dalang Muda Nasional di Jakarta. Laras adalah gadis yang multi talenta khususnya dalam bidang seni. Dua bidang seni, tari dan dongeng, telah berkali-kali menghormatinya sebagai sang juara tingkat Bali. Tak tangggung-tanggung, pada tanggal 3 Oktober lalu, dara asal Banjar Babakan, Sukawati, Gianyar ini dinobatkan di Jakarta sebagai anak dan remaja yang berdedikasi terhadap kebudayaan oleh pemerintah RI. Dedikasi Natya dan Laras yang berkibar di bawah panji Sanggar Natyalaras Sukawati ini rupa­n ya menarik perhatian komunitas seni internasional. Natya yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2-nya di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dan

Laras yang kini duduk di kelas III SMA Negeri 3 Denpasar, sempat unjuk kebolehan dalam Kongres Internasional Sastra Anak 2013 yang berlangsung di Kuta, Bali, diikuti oleh 120 peserta dari 21 negara wilayah Asia, Eropa, dan Amerika. Natya mementaskan wayang kulit dan Laras meng­ isahkan sebuah dongeng Bali, Pan Balang Tamak. Pada lawatannya di Korea dari tanggal 1 hingga tanggal 7 Oktober kali ini, keduanya di­ hadirkan di sana juga sesuai dengan spesialisasinya masing-ma­ sing. Tetapi keduanya mendapat tugas khusus. Selain mementaskan wayang dan mendongeng, Natya dan Laras diminta menggelar workshop—disebut program pengalaman-yaitu membuat wayang kulit dan mengajar tari Bali, yang diikuti 60 anak dan remaja Korea Selatan. Di akhir workshop, Laras

didaulat menyajikan sebuah tari Bali secara utuh. Festival seni internasional itu digelar di Kota Paju—sekitar 70 km arah barat Kota Seoul. Sete­ lah pembukaan festival, pada 4 Oktober digelarlah beragam program seni sejak pagi hingga malam hari yang diawali dengan sajian dongeng. Ratusan

Sri Ayu Pradnya ­Larasari

penonton yang terdiri dari anakanak, para remaja, dan didampingi orang-orang dewasa, menyaksikan dengan antusias. Teks dalam bahasa Korea yang ditampilkan dalam layar di sam­p ing panggung membuat penonton begitu tekun menyimak penampilan para pen­dongeng yang bertutur de­ngan bahasa nasional masing-masing. Larasari yang tampil paling awal menggunakan bahasa Indonesia.

Sebuah dongeng rakyat Maluku Utara, Hua Lo Puu, yang digali dan disusun oleh Murti Bunanta, disajikan penuh menarik oleh Laras. Hua Lo Puu berkisah tentang seorang bayi yang berubah menjadi seekor burung. Penonton terpukau dengan cerita dan cara Laras membawakan dongeng berdurasi sekitar 10 menit itu. Laras tampil mengenakan kostum tari Manukrawa, tari burung rawa yang popular di Bali. Sekelebat tarian burung dengan iringan suara gamelan nan ritmis, mengawali kehadiran Laras saat memasuki panggung. Sepotong nyanyian dengan melodi Gending Sriwijaya (Sumatera Selatan) dilantunkan merdu: wahai kawan dengarlah dongeng dari Indonesia. Kemudian mimik dan bahasa tubuh yang disajikan Laras mengisahkan Hua Lo Puu, diikuti penonton dengan tekun. Penonton pun terbawa terenyuh, ketika mengungkapkan kesedihan si ibu ketika ke­hilangan bayi. Laras mengungkapkan de­

ngan sepenggal nyanyian dengan melodi lagu Butet (Sumatera Utara): Tuhan, kembalikan kembalikan oh kembalikan, anakku anakku anakku sayang, kembalikan oh Tuhan anakku sayang. Kim NamIl, seorang novelis terkenal Korea terpukau dengan sajian dongeng Laras. “Sungguh sebuah penampilan mendongeng yang kreatif,” ujar Kim dalam bahasa Korea. Setelah memukau dengan sajian dongengnya, satu jam kemudian Laras tampil di hadapan penonton yang sama sebagai penari. Dalam kesempatan itu ia menyuguhkan tari Terunajaya. “Hebat, hebat, saya baru tahu secara langsung tari Bali, saya terpesona dengan seluruh gerakan dan ekspresi muka dari Laras,” kata Ayswaria Wariar, seorang penari senior dan artistik direktur dari Gujarat, India, yang dalam festival itu menyajikan tari klasik Bharatanayatyam, setelah penampilan Laras. Wayang kulit Bali yang dibawakan Natya berlangsung pada sore hari dalam program yang disebut Konser Asia. Tampak penonton penuh sesak dan tak sabar menanti pertunjukan dimulai. Bersumber dari epos Ramayana, Natya memberi judul pementasannya “War and Peace” (Perang dan Damai). Penampilan Natya dikemas secara terbuka alias tanpa layar/kelir (seperti pementasan Wayang Gedog di Bali). Diiringi dengan musik/ gamalen (rekaman), penonton menyimak secara menyeluruh aksi sang dalang. Mimik dalang ketika memainkan beragam karater tokoh wayang disimak dengan gamblang. Demikian pula aksen-aksen permainan cepala yang dijepit jemari kaki kanan dalang dapat diperhatikan penonton yang menyaksikan dari jarak dekat. Pagelaran wayang yang berdurasi 20 menit itu tampaknya membuat penonton penasaran. Sehabis pementasan, sebagian penonton merangsek ke panggung menyimak lebih dekat boneka-boneka dari kulit sapi itu. Kera putih Anoman yang jadi pahlawan dalam pementasan itu tampak begitu digandrungi. Meosjin, seru mereka dalam bahasa Korea yang artinya mengagumkan. -Kadek Suartaya


Bugar

10

20 - 26 Oktober 2014

Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Gejala Saraf Terjepit di Pergelangan Tangan dr. Deddy Andaka, M.Biomed, Sp.S

Klinik Rawat Jalan (Outpatient Dept.) Rumah Sakit Siloam Appointment : (0361) 779-900 ext. 29701. Hp: 08174750822 Email : deddy.andaka@siloamhospitals.com. Twitter @DeddyAndaka daerah yang dipersarafi oleh saraf medianus, tidak jarang rasa nyeri dan kesemutan hanya pada pergelangan tangan, atau malah selu­ ruh tangan. Gejala sensorik dapat menjalar sampai lengan bawah (di bawah siku). Gejala CTS biasanya memburuk pada malam hari dan sering membuat pasien terbangun dari tidur. Aktivitas yang memerlukan gerak­ an berulang-ulang pada tangan dan pergelangan tangan dapat memperberat gejala. Dengan mengibasngibaskan tangan, atau mengaliri tangan dengan air hangat dikatakan dapat mengurangi gejala CTS.

dr. Deddy Andaka, M.Biomed, Sp.S

B

ila Anda mengalami kesemut­ an, rasa tebal, atau nyeri pada telapak dan jari-jari tangan, dan bahkan mulai merasa lebih lemah ketika menggenggam berhati-hatilah, mungkin saja Anda menga­ lami Carpal Tunnel Syndrome (CTS). CTS merupakan kumpulan tanda dan gejala yang diakibatkan oleh penekanan pada saraf medianus yang berjalan melalui terowongan carpal. Pasien biasanya akan mengalami gejala seperti di atas, sesuai dengan area yang dipersarafi oleh saraf medianus. CTS cukup sering dijumpai dalam praktik sehari-hari. Meski gejala biasanya terbatas pada

Pemeriksaan pasien CTS Beberapa pemerik­ saan perlu dilakukan un­ tuk memperkuat dugaan CTS. Dari pemeriksaan fisik, perlu dinilai kekuatan otot-otot terutama pada jari-jari tangan. Beberapa test seperti test Phalen dan Tinel dapat digunakan untuk memunculkan gejala CTS ini. Pemeriksaan elektrodi­ agnosis wajib dilakukan untuk memastikan CTS sekaligus untuk melihat seberapa kerusakan yang terjadi pada saraf. Hal ini penting untuk pena­ nganan, maupun menyam­ paikan bagaimana proses penyembuhan CTS ini kedepannya (prognosis).

Penanganan CTS Ada beberapa pilihan yang tersedia untuk penanganan pasien dengan CTS, yang tergantung dari berat ringannya gang­ guan saraf yang terjadi. Untuk pasien CTS dengan gejala yang ringan sampai sedang, terapi konservatif (tanpa operasi) menjadi pilihan utama dengan tingkat keberhasilan yang bisa mencapai 93%. Terapi konservatif ini meliputi modifikasi aktivitas sehari-hari, pemasangan wrist splinting, obat-obatan, ultrasound, exercise, dan yoga. Kombi­ nasi terapi dikatakan lebih efektif daripada hanya 1 modalitas terapi. Untuk pasien dengan gejala CTS yang

sedang-berat dan menetap (mati rasa dan nyeri, fungsi tangan berkurang, atau otototot tangan mengecil), durasi gejala yang lama (lebih dari 6 bulan), dan dikonfirmasi dengan elektrodiagnostik ada gangguan pada saraf medianus disarankan untuk dilakukan pembedahan dekompresi. Pem­ bedahan sebelum 6 bulan dimungkinkan pada pasien CTS yang tidak mengalami perbaikan dalam 6 minggu terapi kon­ servatif, atau gejalanya sering kambuh setelah perbaikan awal dengan terapi konservatif. Ada beberapa parameter yang dapat digunakan untuk memprediksi kegagalan terapi konservatif, di antaranya gejala yang sudah lebih dari 10 bulan, usia lebih dari 50 tahun, kesemutan atau rasa nyeri yang menetap, gangguan diskriminasi 2 titik atau lebih dari 6 mm dari pemeriksaan sensorik, tanda Phalen yang positif kurang dari 30 detik, hasil pemerik­ saan elektrodiagnos­ tik yang menunjukkan pemanjangan latensi motorik dan sensorik. Seiring waktu, CTS dapat menimbulkan kerusakan saraf yang permanen, bahkan akan cenderung bertambah buruk bila dibiarkan (seperti: otot- otot tangan mengecil dan kekuatan menggenggam berkurang). Untuk itu, bila Anda menemukan gelaja-gejala tersebut di atas segeralah berkon­ sultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.

20 - 26 Oktober 2014

Style

Siluet Bustier untuk Busana Pengantin

Modern

Cantik, elegan, gagah dan glamor. Inilah se­ bagian alasan pasangan pengantin memilih busana dari Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal untuk acara pernikahannya. Sebab, setiap calon pengantin ingin tampil fresh, cantik, ­elegan dan romantis pada momen yang ­sangat spesial tersebut termasuk untuk ­kepentingan foto prewed-nya.

M

enurut sang pemilik, Ari Wi­ jayanti bersama berkembang­ nya tren fashion, ia pun terus mengembangkan idenya. Apalagi semakin banyaknya diperlukan busana yang menarik untuk kegiatan foto prewed. Beberapa kebaya dibuat lebih menegas­ kan modernitas dengan bustier yang ditempel lace pilihan de­ ngan beads multi color sehingga menimbulkan efek berbeda dan terlihat tidak biasa, dipadukan dengan selendang pada dua sisi pundak. Selain itu kata Ari, siluet bustier, juga menghadirkan kesan seksi yang merupakan bagian dari pesona perempuan. Di sini eksotika perempuan benar-benar

digali dalam setiap rancangan­ nya. Untuk mempermanis penampilan, Ari juga sesekali memberi­ kan sentuhan lipit di bagian pinggang tulle berbentuk panjang menjuntai. Baju pengan­ tin koleksi Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal kali ini pun dipersembahkan bagi calon pengantin yang ­ingin tampil modern tanpa me­ ninggalkan ciri khas Bali. Apalagi, ditunjang de­ ngan aksesori seperti ikat pinggang emas, gelang, subeng, dan hiasan kepala yang semuanya khas Bali. – Sri Ardhini

15


14

Jelita

Jangan Lupa Oleskan Tabir Surya Siku dan lutut yang halus dan bersih mencerminkan pemiliknya se­ bagai sosok yang peduli, sebab siku dan lutut umumnya sering ter­ abaikan. Namun, tanpa di sadari, siku dan lutut menjadi bagian kulit yang kerap memperlihatkan adanya perbedaan warna kulit. Pada siku dan lutut biasanya akan tampak lebih hitam atau gelap. Akibat­ nya, perempuan pun merasa tidak percaya diri, terutama saat mengena­kan pakaian terbuka.

K

arenanya, banyak orang mencoba beragam cara untuk memutihkan dua area tersebut. Bahkan tak jarang, nekad menggunakan produk pemutih yang mengandung bahan berbahaya, atau bahan kimia tertentu dengan kadar yang cukup tinggi, tanpa memperhatikan efek buruk akibat penggunaan berlebihan pada kesehatan kulit. Menurut dr. Kadek Trisnadewi, M.Biomed (AAM), faktor yang membuat siku dan lutut cenderung terlihat gelap, adalah melanin (pigmen kulit), Zat ini merupakan penentu cerah tidaknya kulit seseorang. Semakin banyak kandungan melanin pada kulit, maka kulit pun semakin gelap. Selain itu siku dan lutut memiliki lapisan kulit yang lebih tebal dibandingkan lapisan kulit lainnya. Begitupun udara yang dingin dan kering pada musim kemarau akan membuat kulit menjadi kering dan kasar, karena kehilangan kelembabannya. Dikatakannya bagian siku dan lutut adalah bagian tubuh yang paling banyak memiliki lipatan. Dibagian ini juga jarang terjadi pengelupasan, itu artinya sel-sel kulit mati akan semakin menumpuk dibagian ini. Sel kulit mati inilah yang membuatnya nampak lebih gelap. Bisa juga siku tidak hanya semakin hitam, tapi juga kasar, dan menebal.Begitu pula dengan kulit di area lutut memiliki masalah yang sama, yaitu bisa tampak lebih hitam dan kasar. Hal ini, diakibatkan siku dan lutut merupakan salah satu bagian tubuh yang sering digunakan sehingga mudah mengalami kekeringan dan gesekan. Jika ditambah dengan kurang maksimalnya perawatan mengakibatkan penumpukkan sel kulit mati dan menjadikannya tampak lebih hitam. Dalam beberapa kasus, siku dan lutut yang gelap dapat disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu atau gangguan medis, seperti penyakit exsim. Bicara perawatan yang dapat dilakukan demi mendapatkan kulit siku dan lutut yang lebih cerah dan halus dokter Kadek memaparkan sebagai berikut . Diingatkannya untuk memakai sabun mandi atau pembersih tubuh lainnya yang mengandung exfoliating gel. Merendam siku dan lutut dalam air hangat yang diberi tetesan olive oil, agar menjadi lebih lembut dan sel kulit matinya terkelupas dan bersih. Dapat juga menggunakan sepon khusus (loofa) atau batu apung untuk menggosok siku dan lutut yang kasar. Dilakukan dengan lembut dan hati-hati. Dokter Kadek mengatakan eksfoliasi atau pengelupasan sel-sel kulit mati juga penting untuk mengatasi problem siku serta lutut yang kering dan kasar. Untuk pemilihan body

www.blogspot.com

scrub, disarankan menghindari scrub yang mengandung alkohol, sebab ini membuat problem siku dan lutut yang sudah kering dan kasar menjadi lebih buruk. Bagi pemilik kulit sangat kering, ulangi kegiatan ini beberapa hari hingga siku dan lutut menjadi halus dan lembut. Setelah hasilnya diperoleh, lakukan scrub sesekali saja. Namun, ditekankannya agar kita tetap berhati-hati, karena bagian tersebut rapuh dan mudah terluka. Jika merasakan kapalan di siku dan lutut mulai berkurang maka hentikan penggosokan. Lanjutkan dengan mengaplikasikan krim pencerah kulit untuk membersihkan sisa melanin yang terdapat pada lapisan kulit. Disamping itu , memijat siku dengan susu dapat pula dilakukan untuk meremajakan kulit sehingga kulit di sekitar siku dan lutut menjadi lebih

lembut dan cerah. Dokter Kadek juga menambahkan informasinya, kalau siku dan lutut kita memiliki kelenjar minyak yang lebih sedikit daripada bagian kulit lainnya. Hal ini membuat kedua wilayah itu senantiasa dalam keadaa n kering. Karenanya, jangan lupa memakai pelembab, agar area kulit siku dan lutut tetap lembab. Gunakan pelembab yang khusus untuk merawat kedua area kulit tersebut, atau bisa menggunakan body butter yang mengandung madu atau cocoa. Selanjutnya untuk melembabkan dan merehidrasi kulit secara seksama, pilihlah produk krim pelembab yang mengandung aloe vera (getah lidah buaya) dan vitamin E. Disamping itu katanya kita juga dapat menggunakan minyak zaitun, minyak almond, minyak lavender, atau virgin coconut oil untuk menyehatkan dan menghaluskan kulit kering. Jangan lupa, lanjutnya oleskan tabir surya ber -SPF

Debu Sebabkan Flu? Flu atau yang lebih dikenal dengan influenza adalah penyakit yang sangat sering dialami semua orang. Flu disebabkan oleh virus yang menginfeksi jalan napas.

D

www.blogspot.com

tinggi, sebelum berkegiatan di luar ruangan dan terpapar langsung sinar matahari. Ini juga sebagai perawatan serta cara alami mencegah kulit siku dan lutut menjadi gelap kembali. Untuk malam hari sebelum tidur, gunakan body lotion atau body butter untuk menghaluskan dan menjaga kelembaban kulit. Jangan lupa juga untuk mengonsumsi air putih, buah dan sayuran yang cukup agar kelembaban kulit terjaga. Gunakan sunscreen jika sering melakukan kegiatan diluar ruangan. Bukan hanya wajah diolesi sunscreen, tapi juga siku dan lutut pun memerlukan perlindungan dari paparan langsung sinar matahari. Lutut dan siku juga merupakan bagian yang sering mendapatkan tekanan lebih, misalnya saat kita berlutut atau bertopang dagu. Hal ini membuat kulit membentuk ‘pertahanan diri’ sehingga terbentuk lapisan kulit atas yang lebih tebal yang sering disebut kapalan. Karenanya, hilangkan kebiasaan bertopang dagu atau berlutut terlalu lama, sebab bisa menjadikan kulit siku dan lutut lebih tebal dan menghitam. Minyak kelapa murni sudah dipakai sejak berabad-abad silam dan telah menjadi resep kecantikan turun menurun. Kandungan asam laurat yang ada pada minyak kelapa diketahui ampuh menjauhkan kulit dari infeksi bakteri dan jamur. Selain itu larutan minyak kelapa murni dapat melembapkan kulit yang kering . Kandungan ini tentunya ampuh melembutkan bagian siku dan lutut. Saat ini ada minyak kelapa murni yang proses pembuatannya tanpa melalui pemanasan (virgin coconut oil). Minyak ini bisa juga digunakan untuk melembabkan kulit yg kering. Cara penggunaannya, oleskan secara rutin minyak kelapa setiap habis mandi terutama setelah mandi pagi. Yang terakhir dan terpenting adalah, lakukan perawatan secara rutin dan berkesinambungan, karena penyebab ke­ ring dan kusamnya kulit siku dan lutut selalu ada di sekitar kita, sehingga bila perawatan dihentikan, maka kulit siku dan lutut akan kembali kusam dan kering. – Sri Ardhini

Mitos

20 - 26 oktober 2014

20 - 26 oktober 2014

okter AA Ngr. Gd. Dharmayuda mengatakan, virus yang menginfeksi terdiri dari tiga jenis yaitu Tipe A, Tipe B dan Tipe C. “Tipe yang paling sering ditemukan pada manusia adalah Tipe A. Kebanyakan orang yang terkena flu secara musiman biasanya sembuh total dalam satu sampai dua minggu,” jelas Kepala Puskesmas I Denpasar Selatan ini. Tetapi, ada pula yang berlanjut dengan gejala lebih serius dan sampai mengancam nyawa, seperti pneumonia (radang paru-paru). Flu sangat cepat sekali menyebar dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung, bersin, batuk, berbagi minuman maupun alat makan. Gejala yang sering muncul adalah demam, terkadang sampai menggigil, gangguan pernapasan (batuk, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat), nyeri kepala, dan nyeri otot. Gejala lain adalah mual-mual, muntah dan juga diare. Tetapi, gejala gangguan pencernaan tersebut lebih sering terjadi pada anak-anak. Flu yang begitu sering dialami masyarakat ini membuat sebagian meyakini mitos-mitos terkait penyebab maupun pengobatannya. Berikut penjelasan dr. Dharmayuda, Wakil Sekretaris IDI Cabang Denpasar. Mitos: Ketika kedinginan, kita akan mudah kena flu Fakta: Kondisi cuaca memang berpengaruh dengan munculnya gangguan pernapasan. Secara normal (fisiologis) dalam keadaan dingin, tubuh manusia akan langsung membuat sistem pertahanan dengan cara menghangatkan udara yang dihirup lewat hidung dengan cara menambah aliran darah ke hidung. Hal ini berakibat hidung kita akan terasa mampet seperti pilek disertai dengan keluarnya cairan bening dari hidung. Namun keadaan ini tidak sepenuh-

nya gejala flu, karena untuk membuktikan ada tidaknya virus penyebab flu tersebut diperlukan pemeriksaan khusus berupa pemeriksaan hapusan (swab) cairan hidung. Virus memang ada di udara bebas (aerosol) yang bisa terhirup oleh manusia. Tetapi, tanpa keadaaan cuaca dingin pun kejadian flu bisa mudah terjadi. Keadaan cuaca dingin secara tidak langsung bisa berpengaruh ke sistem daya tahan tubuh manusia yang akhirnya memudahkan manusia terinfeksi berbagai macam penyakit yang disebabkan baik oleh virus maupun bakteri. Selain itu, saat munculnya musim dingin, kebanyakan orang akan lebih banyak waktunya berada di dalam rumah dimana hal ini lebih menurunkan risiko kontak dengan virus influenza. Mitos: Debu menyebabkan flu Fakta: Debu merupakan salah satu jenis benda asing yang bisa mempengaruhi sistem pernapasan manusia. Sistem pernapasan manusia dimulai dari hidung, dimana hidung dilengkapi dengan sistem pertahanan mekanis yaitu berupa rambut-rambut halus (silia) yang akan menyaring udara yang dihirup agar bersih dan terbebas dari benda asing, salah satunya debu. Banyaknya benda-benda asing yang tersaring tersebut terlihat dari adanya kotoran pada lubang hidung. Begitu volume debu tersebut berlebihan tentunya juga akan mengganggu. Secara spontan manusia akan berusaha mengeluarkan debu tersebut dengan cara bersin dan juga batuk. Jadi, bersin dan batuk tersebut merupakan mekanisme pertahanan juga dari sistem pernapasan manusia untuk mengeluarkan benda asing yang ada di dalam saluran pernapasan. Debu yang terhirup sebagai benda asing merupakan faktor risiko dari munculnya gejala flu. Karena, sangat memungkinkan saat debu tersebut terhirup secara bersamaan dengan virus yang ada di udara. Namun, debu belum tentu menyebabkan flu, harus dibuktikan dengan laboratorium

11

untuk menemukan adanya virus. Mitos: Antibiotik efektif untuk mengh­ entikan flu Fakta: Flu disebabkan oleh virus. Sehingga, pengobatan yang efektif justru dengan pemberian antivirus dan bukan antibiotik. Antibiotik hanya diperuntukkan pada penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Pada flu, antibiotik sangat tidak diperlukan kecuali adanya infeksi sekunder lain yang serius. Pemberian antibiotik justru akan menimbulkan risiko lain seperti alergi. Selain itu pula, pemberian antibiotik yang tidak diperlukan justru akan memicu pertumbuhan dari jenis (strain) bakteri tertentu yang akhirnya bisa menyebabkan timbulnya kekebalan (resistensi) kuman terhadap antibiotik. Hal ini pastinya akan sangat merugikan bagi tubuh manusia. Hal utama yang harus dilakukan adalah dengan melakukan pencegahan terhadapa virus influenza. Dengan menjaga daya tahan tubuh tetap optimal merupakan kunci pokok dalam pencegahan, yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, dengan pemberian kekebalan dari luar tubuh berupa vaksinasi, virus influenza dinilai cukup efektif dalam upaya pencegahan. Mitos: Flu bisa sembuh hanya dengan beristirahat Fakta: Menerapkan pola hidup sehat dengan salah satunya beristirahat yang cukup merupakan sebuah upaya untuk menjaga tubuh tetap dalam keadaan optimal. Daya tahan tubuh manusia tentunya akan sangat baik dalam mengantisipasi faktor-faktor risiko munculnya flu. Dengan demikian, istirahat memang salah

satu upaya penting yang harus dilakukan oleh setiap orang yang terserang flu. Walaupun terkadang harus disertai de­ ngan upaya lain seperti minum air hangat, berkumur dengan air hangat dicampur garam sampai mengonsumsi obatobat yang bersifat simptomatis (berdasarkan gejala yang muncul) seperti parasetamol untuk mengatasi demamnya, obat pelega hidung (dekongestan) untuk mengurangi gejala pilek serta minum obat pereda batuk. Mitos: Minum susu da­ pat meningkatkan produksi lendir hidung selama flu Fakta: Susu mengandung banyak sekali vitamin dan protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dalam keadaan sakit yang disebabkan akibat adanya penurunan daya tahan tubuh, pemberian susu justru sangat membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Bayi yang sedang mengalami flu justru disarankan untuk tetap mendapatkan ASI, sebagai salah satu sumber nutrisinya. Mitos: Vitamin C adalah pahlawan bagi para pen­ derita flu Fakta: Vitamin C merupakan salah satu jenis antioksidan yang berfungsi dalam meningkatkan daya tahan tubuh manusia. Dengan mengkonsumsi vitamin C secara rutin memang sangat membantu dalam menjaga stamina dan daya tahan tubuh. Dalam keadaan tubuh terserang penyakit terutama yang disebabkan oleh virus, pemberian vitamin C memang sangat membantu. Namun demikian, dalam keadaan flu dengan berbagai gejala yang muncul, selain vitamin C juga diperlukan pengobatan pendukung lain yang diharapakan lebih cepat mengurangi gejala yang muncul. Jadi, tidak sepenuhnya saat flu tersebut muncul, vitamin C memberikan jawaban atas semua gejala yang ditimbulkan oleh virus influenza tersebut. -Inten Indrawati

Istri Menolak sejak Awal Menikah ‘’Dok, saya sudah 1,5 tahun menikah tapi kenapa istri saya tidak pernah mau diajak berhubungan intim sampai sekarang ini. Apakah mungkin istri saya takut sakit saat hubungan intim, dan apa solusi nya agar saya bisa mendapatkan momen pertama saya,dok?” (Aal,27)

Terkejut juga saya saat membaca pertanyaan ini. Satu setengah tahun tentu saja sebuah waktu yang cukup lama bagi sepasang suami istri untuk tidak melakukan hubungan seksual, padahal salah satu yang diharapkan dari sebuah pernikahan adalah memiliki ke­ turunan, dan untuk mendapatkan keturunan secara alamiah tentu saja harus dengan melakukan hubungan seksual. Hubungan seks saat ini memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah fungsi reproduksi dan fungsi rekreasi. Reproduksi, seperti yang disebut­ kan tadi, untuk mendapatkan keturunan, sedangkan fungsi rekreasi adalah untuk mendapatkan kenikmatan, kesenangan, atau kenyamanan. Aktivitas seks yang dilakukan dengan baik, disertai komunikasi seksual yang baik, justru akan membahagiakan dan meningkatkan kualitas hidup. Tentu saja yang kemudian perlu dilakukan adalah dengan membuka keran komunikasi seksual yang

bisa jadi selama ini buntu. Tentu perlu pendekatan khusus jika selama ini tidak terbiasa terbuka berbicara tentang hal-hal yang berkaitan secara seksual dengan pasangan. Suka tidak suka, ini memang harus dilakukan. Ada beberapa hal juga yang perlu ditanyakan atau dicari tahu sebelumnya. Yang pertama adalah kepada diri sendiri, apakah bagi diri sendiri ini merupakan sebuah masalah besar yang harus dicari solusinya? Untuk pasangan awam, apalagi di usia masih muda, justru seharusnya di usia sekian dorongan seksual masih sedang hangat bahkan sedang membara. Kemudian dicari tahu dan bicara­k an baik-baik, untuk menentukan apakah sesungguhnya kita sudah mengenal dengan baik pasangan kita seutuhnya, pernahkah melihatnya dengan jelas dalam keadaan sedang terbuka bersama, dan dilihat langsung kondisi fisiknya. Bukan bermaksud membodohi, tetapi pernah ada kejadian di mana seorang suami yang tidak pernah berhubungan seksual ternyata belakangan baru tersadar bahwa sesungguhnya yang dinikahi bu-

kanlah seorang perempuan, karena selama ini tidak pernah melihat pasangan dalam keadaan tanpa busana, kalaupun tidur bersama juga mematikan lampu. Semoga bukan ini yang dimaksud. Jika bukan itu, pertanyaan berikutnya apakah selama ini sudah pernah mencoba melakukan hubungan seksual walau dipaksakan? Kalau pernah, bagaimana responsnya? Apakah menolak keras, atau mau mencoba melakukan hubungan seksual tetapi merasakan nyeri atau malah kita merasa kesulitan untuk melakukan penetrasi atau memasukkan penis ke dalam vagina? Kemungkinan diagnosisnya akhirnya beragam. Jika istri menolak karena merasa tidak memiliki gairah seksual, bisa saja yang terjadi adalah gangguan dorongan seksual yang menurun atau Hipoactive Sexual Desire. Jika menolak karena setelah dicoba ternyata terasa sakit, bisa saja yang terjadi adalah gangguan nyeri saat berhubungan seksual yang disebut dengan Dyspareunia. Kurangnya pemanasan seksual yang akhirnya tidak menimbulkan perlendiran vagina saat berhubungan seksual juga bisa terjadi dan

jika dipaksakan bisa memicu rasa nyeri. Jika sempat dicoba untuk berhubungan seksual tetapi terasa mulut vagina tertutup rapat karena ada kekejangan otot vagina, bisa saja yang terjadi adalah Vaginismus. Ada kemungkinan lainnya juga adalah penolakan karena memang merasa ada rasa jijik buat melakukan hubungan seksual, yang disebut dengan Aversi Seksual. Satu kemungkinan lain yang juga perlu dipertanyakan adalah apakah kira-kira ada orientasi seksual yang berbeda dari yang diharapkan suami, maksudnya sebenarnya jangan-jangan secara seksual si istri lebih tertarik kepada perempuan, dan bukan laki-laki, yang disebut de­ngan homoseksual, atau jika terjadi pada perempuan disebut dengan lesbian, dan baginya pernikahan adalah alasan untuk terlihat menjadi lebih wajar menurutnya di hadapan orang lain. Jadi sebenarnya cukup banyak pertanyaan, yang perlu dijawab dulu, jika hanya melihat keterangan singkat dari yang ditanyakan. Tetapi dari semua itu tentu saja pendekatan untuk melakukan diskusi terbuka bersama pasangan, atau bisa disebut dengan berkomunikasi seksual adalah sebuah keharusan, sekaligus sebuah hal yang perlu hati-hati dilakukan untuk mendapatkan jawaban. Kemudian seandainya yang kemungkinan terjadi adalah beberapa gangguan

yang berkaitan dengan hilangnya dorongan seksual, bisa kemudian mencari pertolongan ke dokter yang paham kesehatan seksual, untuk memastikan penyebabnya, siapa tahu terjadi penurunan level hormon testosteron, yang juga terdapat pada perempuan, sebagai hormon yang bertanggung jawab mengatur dorongan seksual. Jika yang terjadi adalah berkaitan dengan tidak adanya lubrikasi vagina dan rasa nyeri jika dipaksakan untuk berhubungan seksual karena vagina yang tidak mengalami pelumasan, juga bisa dibantu oleh dokter dengan pemberian obat golongan PDE-5 inhibitor yang akan membantu pelebaran pembuluh darah seputar vagina. Jika ternyata yang terjadi adalah nyeri dyspareunia, atau kaku otot vagina yang disebut dengan vaginismus, atau malah penolakan yang berupa aversi seksual, maka ini perlu penanganan dengan cermat dan hati-hati karena sering kali penyebabnya adalah permasalahan psikis atau trauma psikologis seksual di masa lalu yang belum tuntas dan masih berdampak di saat sekarang. Jadi, pastikan dulu jenis gangguan dan penyebab pastinya, untuk kemudian mendapatkan penanganan yang lebih baik dan lebih tepat. Makin awal dikonsultasikan makin baik.


12

Kuliner

20 - 26 Oktober 2014

Menu Kepiting Crab Cake Spesial dari Bali Safari ala Chef Juna A

nda pasti sudah biasa makan menu spesial di restoran. Namun, kalau Anda sedang makan diintip dua ekor singa, itu baru luar biasa. Sensasi ini dapat Anda nikmati di Tsavo Lion Restaurant, Bali Safari & Marine Park, Gianyar. Sembari menikmati makan siang dan makan malam istimewa, mata Anda akan dimanjakan dengan dua ekor singa yang sibuk berjalan ke sana-

Chef Mahadi

Pan Seared Scallops Bahan: 80 gr : kerang 5 gr : peterseli cincang s/p (untuk memberi rasa) 30 gr : paprika merah untuk diblender 1 sdm : gula 1 sdm : cuka masak 50 gr : asparagus yang sudah direndam dalam air mendiidh 5 gr : bawang putih cincang 15 gr : mentega 10 gr : kubis merah 5 gr : lemon 1 sdt : balsamic reduction

20 - 26 Oktober 2014

- Blender paprika merah dengan gula, cuka, s/p, jadikan pure. - Masak asparagus dengan mentega, bawang putih, dan s/p - Makanan siap dihidangkan. - Tata asparagus di atas piring. Taruh kerang dan beri blenderan paprika.

Cara Membuat: - Kerang direndam dengan s/p, lemon, dan peterseli. Kemudian masukkan ke pan, masak sampai kecokelatan.

ke mari di samping Anda. Namun, Anda tak perlu khawatir, karena ada pembatas kaca antara taman dan restoran. Kali ini, Tokoh memberikan empat resep sajian istimewa Executive Chef Mahadi, untuk pencinta kuliner dari dua restoran di Bali Safari. Ada Pan Seared Scallops, Stuffed Chicken Breast, Nasi Campur, dan satu menu dari Uma Restaurant, Vegetarian Combo. Selamat mencoba.

Resep

S

elebriti Chef Juna kembali menjadi trending topik di perhelatan Nusa Dua Fiesta (NDF), Minggu (12/10) di Penin­ sula Nusa Dua Bali. Kali ini berkolaborasi dengan Chef Putu Juliada dari Indonesian Chef

Stuffed Chicken Breast Bahan: 120 gr : dada ayam 30 gr : daun bayam 5 gr : bawang bombay diiris 5 gr : bawang putih diiris 10 gr : keju 30 ml : krim masak 5 gr : keju 30 ml : white wine Gula 20 gr : mentega 50 ml : susu s/p (pemberi rasa)

Cara membuat: - Rendam dada ayam dengan s/p dan gula. - Pipihkan ayam, isi di dalamnya dengan daun bayam, keju, dan bawang bombay. Dimasak di atas pan dengan api sedang sampai matang. - Masak keju dengan susu, men­ tega, s/p, dan gula sampai lembut. - Masak keju dengan bawang bombay, bawang putih, white wine, krim masak dan dibumbui dengan s/p. - Siap sajikan.

: : : : : : : :

nasi kuning dibuat tumpeng tempe bacem urapan sambal udang sate lilit emping blinjo kacang saur rendang sapi

Cara membuat: Campur semua bahan jadi satu di piring.

Vegetarian Combo Bahan: 150 gr 15 gr 20 gr 20 gr 15 gr 10 gr

: nasi kukus : terong dipotong dan masukkan ke dalam pan dan diberi bumbu balado. Tumis sampai matang. : pepes jamur : pepes tahu : urap sayur : rempeyek kacang

Cara membuat: Tata semua masakan di piring. Siap sajikan. –Wirati Astiti

Cara membuat: - Semua bahan dicampur jadi satu. Panaskan pan. Lumerkan mentega, panggang adonan bulat pilih. Siap sajikan dengan salad campur.

Crab Burger Bahan: 100 gr : daging kepiting 2 potong : roti tawar 1 sdm : mustard Merica dan garam secukupnya

Cara Membuat: - Campur daging, garam, merica, dan mustard. Bentuk adonan bulat pipih. Panggang. Siapkan roti tawar. Beri daging panggang tadi. Tambahkan daun selada dan tomat. Siap sajikan.

Tumis Kepiting Basa Genep Chef Putu Juliada

Nasi Campur Bahan: 100 gr 40 gr 40 gr 50 gr 2 tusuk 20 gr 20 gr 50 gr

Association (ICA) Bali. Mereka mendemokan tiga masakan kepiting, Crab Cake, Crab Burger, dan Tumis Kepiting Basa Genep. Kali ini, Chef Juna menggunakan daging kepiting yang sudah siap digunakan. Jika Anda tertarik mencobannya, siapkan terlebih dahulu daging kepiting. Caranya, cuci bersih kepi­ ting, beri tetesan cuka, kemudian rebus kepiting di dalam campuran wortel, bawang bombay, dan prei. Setelah kepiting masak, angkat dan sisihkan. Kemudian, keluarkan daging kepiting, dan siap digunakan. Selamat mencoba.

Bahan: 200 gr : daging kepiting 1 sdm : mustard 3 sdm : mayonaise 3 sdm : tepung roti 5 gr : kucai Garam dan merica secukupnya.

13

Chef Putu Juliada bersama Chef Juna

Lidah Ungkep Cabe Hijau Sarwan Bahan: 1 buah : 7 buah : 4 siung : 5 buah : 10 buah : 2 buah :

lidah dipresto, iris serong bawang merah, iris kasar bawang putih, iris serong cabe hijau besar, iris serong cabe kecil, iris serong cabe besar merah, iris serong

2 buah : tomat mangkal, iris kasar 1 sdt : lada bubuk 100 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya.

berkurang serta bumbu meresap. - Siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng.

Cara membuat: - Panaskan margarine, masukkan bahan bumbu yang diiris lalu aduk merata, tumis hingga harum. - Masukkan irisan lidah serta masukkan air, garam, gula, lada dan kaldu bubuk. Aduk agar bumbu merata, tutuplah panci dan masak hingga air

Cara membuat: - Buat adonan, campur tepung, gula dan garam, masukkan air, aduk sampai menjadi adonan. Lalu masukkan telor, aduk

: : : :

basa genep daging kepiting minyak kelapa cabai hijau

Cara membuat: - Tumis basa genep, tambahkan cabai hijau. Masukkan daging kepiting aduk rata, siap disajikan. –Wirati Astiti

Sup Kambing

Bahan: 750 gr : daging kambing, potong menurut selera 2 buah : tomat, potong menurut selera 2 batang : daun bawang pre, iris serong 1 ruas : jari jahe, memarkan Gula, garam dan kaldu bubuk secukupnya. Bumbu 5 siung 7 buah 1 sdt

yang dihaluskan: : bawang putih : bawang merah : lada butir

Cara Membuat : - Rebus daging kambing beserta tulangnya dan jahe sampai empuk. - Goreng bumbu halus sampai harum. - Masukkan bumbu halus irisan bawang pre, gula, garam dan kaldu bubuk ke dalam rebusan daging kambing, masak hingga mendidih lalu masukan irisan tomat. - Siap dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng.

Pisang Crispi Olala Bahan: 1 sisir dan 1 buah : pisang, iris serong jadi 3 bagian 300 gr : tepung terigu segitiga biru 2 buah : telor 200 ml : air 400 gr : tepung panir Gula, garam secukupnya.

Bahan: 3 sdm 250 gr 3 sdm 4 biji

- -

-

-

lagi sampai telor tercampur merata Masukan irisan pisang, aduk sampai bahan adonan tercampur merata. Masukkan ke dalam tepung panir, bolak-balik pisang hingga seluruh permukaannya terbalut tepung panir, lakukan hingga pisang habis. Panaskan minyak, lalu masukkan pisang, goreng dan bolakbalik pisang hingga kecokelatan dan matang. Siap untuk dihidangkan.


12

Kuliner

20 - 26 Oktober 2014

Menu Kepiting Crab Cake Spesial dari Bali Safari ala Chef Juna A

nda pasti sudah biasa makan menu spesial di restoran. Namun, kalau Anda sedang makan diintip dua ekor singa, itu baru luar biasa. Sensasi ini dapat Anda nikmati di Tsavo Lion Restaurant, Bali Safari & Marine Park, Gianyar. Sembari menikmati makan siang dan makan malam istimewa, mata Anda akan dimanjakan dengan dua ekor singa yang sibuk berjalan ke sana-

Chef Mahadi

Pan Seared Scallops Bahan: 80 gr : kerang 5 gr : peterseli cincang s/p (untuk memberi rasa) 30 gr : paprika merah untuk diblender 1 sdm : gula 1 sdm : cuka masak 50 gr : asparagus yang sudah direndam dalam air mendiidh 5 gr : bawang putih cincang 15 gr : mentega 10 gr : kubis merah 5 gr : lemon 1 sdt : balsamic reduction

20 - 26 Oktober 2014

- Blender paprika merah dengan gula, cuka, s/p, jadikan pure. - Masak asparagus dengan mentega, bawang putih, dan s/p - Makanan siap dihidangkan. - Tata asparagus di atas piring. Taruh kerang dan beri blenderan paprika.

Cara Membuat: - Kerang direndam dengan s/p, lemon, dan peterseli. Kemudian masukkan ke pan, masak sampai kecokelatan.

ke mari di samping Anda. Namun, Anda tak perlu khawatir, karena ada pembatas kaca antara taman dan restoran. Kali ini, Tokoh memberikan empat resep sajian istimewa Executive Chef Mahadi, untuk pencinta kuliner dari dua restoran di Bali Safari. Ada Pan Seared Scallops, Stuffed Chicken Breast, Nasi Campur, dan satu menu dari Uma Restaurant, Vegetarian Combo. Selamat mencoba.

Resep

S

elebriti Chef Juna kembali menjadi trending topik di perhelatan Nusa Dua Fiesta (NDF), Minggu (12/10) di Penin­ sula Nusa Dua Bali. Kali ini berkolaborasi dengan Chef Putu Juliada dari Indonesian Chef

Stuffed Chicken Breast Bahan: 120 gr : dada ayam 30 gr : daun bayam 5 gr : bawang bombay diiris 5 gr : bawang putih diiris 10 gr : keju 30 ml : krim masak 5 gr : keju 30 ml : white wine Gula 20 gr : mentega 50 ml : susu s/p (pemberi rasa)

Cara membuat: - Rendam dada ayam dengan s/p dan gula. - Pipihkan ayam, isi di dalamnya dengan daun bayam, keju, dan bawang bombay. Dimasak di atas pan dengan api sedang sampai matang. - Masak keju dengan susu, men­ tega, s/p, dan gula sampai lembut. - Masak keju dengan bawang bombay, bawang putih, white wine, krim masak dan dibumbui dengan s/p. - Siap sajikan.

: : : : : : : :

nasi kuning dibuat tumpeng tempe bacem urapan sambal udang sate lilit emping blinjo kacang saur rendang sapi

Cara membuat: Campur semua bahan jadi satu di piring.

Vegetarian Combo Bahan: 150 gr 15 gr 20 gr 20 gr 15 gr 10 gr

: nasi kukus : terong dipotong dan masukkan ke dalam pan dan diberi bumbu balado. Tumis sampai matang. : pepes jamur : pepes tahu : urap sayur : rempeyek kacang

Cara membuat: Tata semua masakan di piring. Siap sajikan. –Wirati Astiti

Cara membuat: - Semua bahan dicampur jadi satu. Panaskan pan. Lumerkan mentega, panggang adonan bulat pilih. Siap sajikan dengan salad campur.

Crab Burger Bahan: 100 gr : daging kepiting 2 potong : roti tawar 1 sdm : mustard Merica dan garam secukupnya

Cara Membuat: - Campur daging, garam, merica, dan mustard. Bentuk adonan bulat pipih. Panggang. Siapkan roti tawar. Beri daging panggang tadi. Tambahkan daun selada dan tomat. Siap sajikan.

Tumis Kepiting Basa Genep Chef Putu Juliada

Nasi Campur Bahan: 100 gr 40 gr 40 gr 50 gr 2 tusuk 20 gr 20 gr 50 gr

Association (ICA) Bali. Mereka mendemokan tiga masakan kepiting, Crab Cake, Crab Burger, dan Tumis Kepiting Basa Genep. Kali ini, Chef Juna menggunakan daging kepiting yang sudah siap digunakan. Jika Anda tertarik mencobannya, siapkan terlebih dahulu daging kepiting. Caranya, cuci bersih kepi­ ting, beri tetesan cuka, kemudian rebus kepiting di dalam campuran wortel, bawang bombay, dan prei. Setelah kepiting masak, angkat dan sisihkan. Kemudian, keluarkan daging kepiting, dan siap digunakan. Selamat mencoba.

Bahan: 200 gr : daging kepiting 1 sdm : mustard 3 sdm : mayonaise 3 sdm : tepung roti 5 gr : kucai Garam dan merica secukupnya.

13

Chef Putu Juliada bersama Chef Juna

Lidah Ungkep Cabe Hijau Sarwan Bahan: 1 buah : 7 buah : 4 siung : 5 buah : 10 buah : 2 buah :

lidah dipresto, iris serong bawang merah, iris kasar bawang putih, iris serong cabe hijau besar, iris serong cabe kecil, iris serong cabe besar merah, iris serong

2 buah : tomat mangkal, iris kasar 1 sdt : lada bubuk 100 ml : air Gula, garam, kaldu bubuk secukupnya.

berkurang serta bumbu meresap. - Siap untuk disajikan dengan taburan bawang putih goreng.

Cara membuat: - Panaskan margarine, masukkan bahan bumbu yang diiris lalu aduk merata, tumis hingga harum. - Masukkan irisan lidah serta masukkan air, garam, gula, lada dan kaldu bubuk. Aduk agar bumbu merata, tutuplah panci dan masak hingga air

Cara membuat: - Buat adonan, campur tepung, gula dan garam, masukkan air, aduk sampai menjadi adonan. Lalu masukkan telor, aduk

: : : :

basa genep daging kepiting minyak kelapa cabai hijau

Cara membuat: - Tumis basa genep, tambahkan cabai hijau. Masukkan daging kepiting aduk rata, siap disajikan. –Wirati Astiti

Sup Kambing

Bahan: 750 gr : daging kambing, potong menurut selera 2 buah : tomat, potong menurut selera 2 batang : daun bawang pre, iris serong 1 ruas : jari jahe, memarkan Gula, garam dan kaldu bubuk secukupnya. Bumbu 5 siung 7 buah 1 sdt

yang dihaluskan: : bawang putih : bawang merah : lada butir

Cara Membuat : - Rebus daging kambing beserta tulangnya dan jahe sampai empuk. - Goreng bumbu halus sampai harum. - Masukkan bumbu halus irisan bawang pre, gula, garam dan kaldu bubuk ke dalam rebusan daging kambing, masak hingga mendidih lalu masukan irisan tomat. - Siap dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng.

Pisang Crispi Olala Bahan: 1 sisir dan 1 buah : pisang, iris serong jadi 3 bagian 300 gr : tepung terigu segitiga biru 2 buah : telor 200 ml : air 400 gr : tepung panir Gula, garam secukupnya.

Bahan: 3 sdm 250 gr 3 sdm 4 biji

- -

-

-

lagi sampai telor tercampur merata Masukan irisan pisang, aduk sampai bahan adonan tercampur merata. Masukkan ke dalam tepung panir, bolak-balik pisang hingga seluruh permukaannya terbalut tepung panir, lakukan hingga pisang habis. Panaskan minyak, lalu masukkan pisang, goreng dan bolakbalik pisang hingga kecokelatan dan matang. Siap untuk dihidangkan.


14

Jelita

Jangan Lupa Oleskan Tabir Surya Siku dan lutut yang halus dan bersih mencerminkan pemiliknya se­ bagai sosok yang peduli, sebab siku dan lutut umumnya sering ter­ abaikan. Namun, tanpa di sadari, siku dan lutut menjadi bagian kulit yang kerap memperlihatkan adanya perbedaan warna kulit. Pada siku dan lutut biasanya akan tampak lebih hitam atau gelap. Akibat­ nya, perempuan pun merasa tidak percaya diri, terutama saat mengena­kan pakaian terbuka.

K

arenanya, banyak orang mencoba beragam cara untuk memutihkan dua area tersebut. Bahkan tak jarang, nekad menggunakan produk pemutih yang mengandung bahan berbahaya, atau bahan kimia tertentu dengan kadar yang cukup tinggi, tanpa memperhatikan efek buruk akibat penggunaan berlebihan pada kesehatan kulit. Menurut dr. Kadek Trisnadewi, M.Biomed (AAM), faktor yang membuat siku dan lutut cenderung terlihat gelap, adalah melanin (pigmen kulit), Zat ini merupakan penentu cerah tidaknya kulit seseorang. Semakin banyak kandungan melanin pada kulit, maka kulit pun semakin gelap. Selain itu siku dan lutut memiliki lapisan kulit yang lebih tebal dibandingkan lapisan kulit lainnya. Begitupun udara yang dingin dan kering pada musim kemarau akan membuat kulit menjadi kering dan kasar, karena kehilangan kelembabannya. Dikatakannya bagian siku dan lutut adalah bagian tubuh yang paling banyak memiliki lipatan. Dibagian ini juga jarang terjadi pengelupasan, itu artinya sel-sel kulit mati akan semakin menumpuk dibagian ini. Sel kulit mati inilah yang membuatnya nampak lebih gelap. Bisa juga siku tidak hanya semakin hitam, tapi juga kasar, dan menebal.Begitu pula dengan kulit di area lutut memiliki masalah yang sama, yaitu bisa tampak lebih hitam dan kasar. Hal ini, diakibatkan siku dan lutut merupakan salah satu bagian tubuh yang sering digunakan sehingga mudah mengalami kekeringan dan gesekan. Jika ditambah dengan kurang maksimalnya perawatan mengakibatkan penumpukkan sel kulit mati dan menjadikannya tampak lebih hitam. Dalam beberapa kasus, siku dan lutut yang gelap dapat disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu atau gangguan medis, seperti penyakit exsim. Bicara perawatan yang dapat dilakukan demi mendapatkan kulit siku dan lutut yang lebih cerah dan halus dokter Kadek memaparkan sebagai berikut . Diingatkannya untuk memakai sabun mandi atau pembersih tubuh lainnya yang mengandung exfoliating gel. Merendam siku dan lutut dalam air hangat yang diberi tetesan olive oil, agar menjadi lebih lembut dan sel kulit matinya terkelupas dan bersih. Dapat juga menggunakan sepon khusus (loofa) atau batu apung untuk menggosok siku dan lutut yang kasar. Dilakukan dengan lembut dan hati-hati. Dokter Kadek mengatakan eksfoliasi atau pengelupasan sel-sel kulit mati juga penting untuk mengatasi problem siku serta lutut yang kering dan kasar. Untuk pemilihan body

www.blogspot.com

scrub, disarankan menghindari scrub yang mengandung alkohol, sebab ini membuat problem siku dan lutut yang sudah kering dan kasar menjadi lebih buruk. Bagi pemilik kulit sangat kering, ulangi kegiatan ini beberapa hari hingga siku dan lutut menjadi halus dan lembut. Setelah hasilnya diperoleh, lakukan scrub sesekali saja. Namun, ditekankannya agar kita tetap berhati-hati, karena bagian tersebut rapuh dan mudah terluka. Jika merasakan kapalan di siku dan lutut mulai berkurang maka hentikan penggosokan. Lanjutkan dengan mengaplikasikan krim pencerah kulit untuk membersihkan sisa melanin yang terdapat pada lapisan kulit. Disamping itu , memijat siku dengan susu dapat pula dilakukan untuk meremajakan kulit sehingga kulit di sekitar siku dan lutut menjadi lebih

lembut dan cerah. Dokter Kadek juga menambahkan informasinya, kalau siku dan lutut kita memiliki kelenjar minyak yang lebih sedikit daripada bagian kulit lainnya. Hal ini membuat kedua wilayah itu senantiasa dalam keadaa n kering. Karenanya, jangan lupa memakai pelembab, agar area kulit siku dan lutut tetap lembab. Gunakan pelembab yang khusus untuk merawat kedua area kulit tersebut, atau bisa menggunakan body butter yang mengandung madu atau cocoa. Selanjutnya untuk melembabkan dan merehidrasi kulit secara seksama, pilihlah produk krim pelembab yang mengandung aloe vera (getah lidah buaya) dan vitamin E. Disamping itu katanya kita juga dapat menggunakan minyak zaitun, minyak almond, minyak lavender, atau virgin coconut oil untuk menyehatkan dan menghaluskan kulit kering. Jangan lupa, lanjutnya oleskan tabir surya ber -SPF

Debu Sebabkan Flu? Flu atau yang lebih dikenal dengan influenza adalah penyakit yang sangat sering dialami semua orang. Flu disebabkan oleh virus yang menginfeksi jalan napas.

D

www.blogspot.com

tinggi, sebelum berkegiatan di luar ruangan dan terpapar langsung sinar matahari. Ini juga sebagai perawatan serta cara alami mencegah kulit siku dan lutut menjadi gelap kembali. Untuk malam hari sebelum tidur, gunakan body lotion atau body butter untuk menghaluskan dan menjaga kelembaban kulit. Jangan lupa juga untuk mengonsumsi air putih, buah dan sayuran yang cukup agar kelembaban kulit terjaga. Gunakan sunscreen jika sering melakukan kegiatan diluar ruangan. Bukan hanya wajah diolesi sunscreen, tapi juga siku dan lutut pun memerlukan perlindungan dari paparan langsung sinar matahari. Lutut dan siku juga merupakan bagian yang sering mendapatkan tekanan lebih, misalnya saat kita berlutut atau bertopang dagu. Hal ini membuat kulit membentuk ‘pertahanan diri’ sehingga terbentuk lapisan kulit atas yang lebih tebal yang sering disebut kapalan. Karenanya, hilangkan kebiasaan bertopang dagu atau berlutut terlalu lama, sebab bisa menjadikan kulit siku dan lutut lebih tebal dan menghitam. Minyak kelapa murni sudah dipakai sejak berabad-abad silam dan telah menjadi resep kecantikan turun menurun. Kandungan asam laurat yang ada pada minyak kelapa diketahui ampuh menjauhkan kulit dari infeksi bakteri dan jamur. Selain itu larutan minyak kelapa murni dapat melembapkan kulit yang kering . Kandungan ini tentunya ampuh melembutkan bagian siku dan lutut. Saat ini ada minyak kelapa murni yang proses pembuatannya tanpa melalui pemanasan (virgin coconut oil). Minyak ini bisa juga digunakan untuk melembabkan kulit yg kering. Cara penggunaannya, oleskan secara rutin minyak kelapa setiap habis mandi terutama setelah mandi pagi. Yang terakhir dan terpenting adalah, lakukan perawatan secara rutin dan berkesinambungan, karena penyebab ke­ ring dan kusamnya kulit siku dan lutut selalu ada di sekitar kita, sehingga bila perawatan dihentikan, maka kulit siku dan lutut akan kembali kusam dan kering. – Sri Ardhini

Mitos

20 - 26 oktober 2014

20 - 26 oktober 2014

okter AA Ngr. Gd. Dharmayuda mengatakan, virus yang menginfeksi terdiri dari tiga jenis yaitu Tipe A, Tipe B dan Tipe C. “Tipe yang paling sering ditemukan pada manusia adalah Tipe A. Kebanyakan orang yang terkena flu secara musiman biasanya sembuh total dalam satu sampai dua minggu,” jelas Kepala Puskesmas I Denpasar Selatan ini. Tetapi, ada pula yang berlanjut dengan gejala lebih serius dan sampai mengancam nyawa, seperti pneumonia (radang paru-paru). Flu sangat cepat sekali menyebar dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung, bersin, batuk, berbagi minuman maupun alat makan. Gejala yang sering muncul adalah demam, terkadang sampai menggigil, gangguan pernapasan (batuk, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat), nyeri kepala, dan nyeri otot. Gejala lain adalah mual-mual, muntah dan juga diare. Tetapi, gejala gangguan pencernaan tersebut lebih sering terjadi pada anak-anak. Flu yang begitu sering dialami masyarakat ini membuat sebagian meyakini mitos-mitos terkait penyebab maupun pengobatannya. Berikut penjelasan dr. Dharmayuda, Wakil Sekretaris IDI Cabang Denpasar. Mitos: Ketika kedinginan, kita akan mudah kena flu Fakta: Kondisi cuaca memang berpengaruh dengan munculnya gangguan pernapasan. Secara normal (fisiologis) dalam keadaan dingin, tubuh manusia akan langsung membuat sistem pertahanan dengan cara menghangatkan udara yang dihirup lewat hidung dengan cara menambah aliran darah ke hidung. Hal ini berakibat hidung kita akan terasa mampet seperti pilek disertai dengan keluarnya cairan bening dari hidung. Namun keadaan ini tidak sepenuh-

nya gejala flu, karena untuk membuktikan ada tidaknya virus penyebab flu tersebut diperlukan pemeriksaan khusus berupa pemeriksaan hapusan (swab) cairan hidung. Virus memang ada di udara bebas (aerosol) yang bisa terhirup oleh manusia. Tetapi, tanpa keadaaan cuaca dingin pun kejadian flu bisa mudah terjadi. Keadaan cuaca dingin secara tidak langsung bisa berpengaruh ke sistem daya tahan tubuh manusia yang akhirnya memudahkan manusia terinfeksi berbagai macam penyakit yang disebabkan baik oleh virus maupun bakteri. Selain itu, saat munculnya musim dingin, kebanyakan orang akan lebih banyak waktunya berada di dalam rumah dimana hal ini lebih menurunkan risiko kontak dengan virus influenza. Mitos: Debu menyebabkan flu Fakta: Debu merupakan salah satu jenis benda asing yang bisa mempengaruhi sistem pernapasan manusia. Sistem pernapasan manusia dimulai dari hidung, dimana hidung dilengkapi dengan sistem pertahanan mekanis yaitu berupa rambut-rambut halus (silia) yang akan menyaring udara yang dihirup agar bersih dan terbebas dari benda asing, salah satunya debu. Banyaknya benda-benda asing yang tersaring tersebut terlihat dari adanya kotoran pada lubang hidung. Begitu volume debu tersebut berlebihan tentunya juga akan mengganggu. Secara spontan manusia akan berusaha mengeluarkan debu tersebut dengan cara bersin dan juga batuk. Jadi, bersin dan batuk tersebut merupakan mekanisme pertahanan juga dari sistem pernapasan manusia untuk mengeluarkan benda asing yang ada di dalam saluran pernapasan. Debu yang terhirup sebagai benda asing merupakan faktor risiko dari munculnya gejala flu. Karena, sangat memungkinkan saat debu tersebut terhirup secara bersamaan dengan virus yang ada di udara. Namun, debu belum tentu menyebabkan flu, harus dibuktikan dengan laboratorium

11

untuk menemukan adanya virus. Mitos: Antibiotik efektif untuk mengh­ entikan flu Fakta: Flu disebabkan oleh virus. Sehingga, pengobatan yang efektif justru dengan pemberian antivirus dan bukan antibiotik. Antibiotik hanya diperuntukkan pada penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Pada flu, antibiotik sangat tidak diperlukan kecuali adanya infeksi sekunder lain yang serius. Pemberian antibiotik justru akan menimbulkan risiko lain seperti alergi. Selain itu pula, pemberian antibiotik yang tidak diperlukan justru akan memicu pertumbuhan dari jenis (strain) bakteri tertentu yang akhirnya bisa menyebabkan timbulnya kekebalan (resistensi) kuman terhadap antibiotik. Hal ini pastinya akan sangat merugikan bagi tubuh manusia. Hal utama yang harus dilakukan adalah dengan melakukan pencegahan terhadapa virus influenza. Dengan menjaga daya tahan tubuh tetap optimal merupakan kunci pokok dalam pencegahan, yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, dengan pemberian kekebalan dari luar tubuh berupa vaksinasi, virus influenza dinilai cukup efektif dalam upaya pencegahan. Mitos: Flu bisa sembuh hanya dengan beristirahat Fakta: Menerapkan pola hidup sehat dengan salah satunya beristirahat yang cukup merupakan sebuah upaya untuk menjaga tubuh tetap dalam keadaan optimal. Daya tahan tubuh manusia tentunya akan sangat baik dalam mengantisipasi faktor-faktor risiko munculnya flu. Dengan demikian, istirahat memang salah

satu upaya penting yang harus dilakukan oleh setiap orang yang terserang flu. Walaupun terkadang harus disertai de­ ngan upaya lain seperti minum air hangat, berkumur dengan air hangat dicampur garam sampai mengonsumsi obatobat yang bersifat simptomatis (berdasarkan gejala yang muncul) seperti parasetamol untuk mengatasi demamnya, obat pelega hidung (dekongestan) untuk mengurangi gejala pilek serta minum obat pereda batuk. Mitos: Minum susu da­ pat meningkatkan produksi lendir hidung selama flu Fakta: Susu mengandung banyak sekali vitamin dan protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dalam keadaan sakit yang disebabkan akibat adanya penurunan daya tahan tubuh, pemberian susu justru sangat membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Bayi yang sedang mengalami flu justru disarankan untuk tetap mendapatkan ASI, sebagai salah satu sumber nutrisinya. Mitos: Vitamin C adalah pahlawan bagi para pen­ derita flu Fakta: Vitamin C merupakan salah satu jenis antioksidan yang berfungsi dalam meningkatkan daya tahan tubuh manusia. Dengan mengkonsumsi vitamin C secara rutin memang sangat membantu dalam menjaga stamina dan daya tahan tubuh. Dalam keadaan tubuh terserang penyakit terutama yang disebabkan oleh virus, pemberian vitamin C memang sangat membantu. Namun demikian, dalam keadaan flu dengan berbagai gejala yang muncul, selain vitamin C juga diperlukan pengobatan pendukung lain yang diharapakan lebih cepat mengurangi gejala yang muncul. Jadi, tidak sepenuhnya saat flu tersebut muncul, vitamin C memberikan jawaban atas semua gejala yang ditimbulkan oleh virus influenza tersebut. -Inten Indrawati

Istri Menolak sejak Awal Menikah ‘’Dok, saya sudah 1,5 tahun menikah tapi kenapa istri saya tidak pernah mau diajak berhubungan intim sampai sekarang ini. Apakah mungkin istri saya takut sakit saat hubungan intim, dan apa solusi nya agar saya bisa mendapatkan momen pertama saya,dok?” (Aal,27)

Terkejut juga saya saat membaca pertanyaan ini. Satu setengah tahun tentu saja sebuah waktu yang cukup lama bagi sepasang suami istri untuk tidak melakukan hubungan seksual, padahal salah satu yang diharapkan dari sebuah pernikahan adalah memiliki ke­ turunan, dan untuk mendapatkan keturunan secara alamiah tentu saja harus dengan melakukan hubungan seksual. Hubungan seks saat ini memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah fungsi reproduksi dan fungsi rekreasi. Reproduksi, seperti yang disebut­ kan tadi, untuk mendapatkan keturunan, sedangkan fungsi rekreasi adalah untuk mendapatkan kenikmatan, kesenangan, atau kenyamanan. Aktivitas seks yang dilakukan dengan baik, disertai komunikasi seksual yang baik, justru akan membahagiakan dan meningkatkan kualitas hidup. Tentu saja yang kemudian perlu dilakukan adalah dengan membuka keran komunikasi seksual yang

bisa jadi selama ini buntu. Tentu perlu pendekatan khusus jika selama ini tidak terbiasa terbuka berbicara tentang hal-hal yang berkaitan secara seksual dengan pasangan. Suka tidak suka, ini memang harus dilakukan. Ada beberapa hal juga yang perlu ditanyakan atau dicari tahu sebelumnya. Yang pertama adalah kepada diri sendiri, apakah bagi diri sendiri ini merupakan sebuah masalah besar yang harus dicari solusinya? Untuk pasangan awam, apalagi di usia masih muda, justru seharusnya di usia sekian dorongan seksual masih sedang hangat bahkan sedang membara. Kemudian dicari tahu dan bicara­k an baik-baik, untuk menentukan apakah sesungguhnya kita sudah mengenal dengan baik pasangan kita seutuhnya, pernahkah melihatnya dengan jelas dalam keadaan sedang terbuka bersama, dan dilihat langsung kondisi fisiknya. Bukan bermaksud membodohi, tetapi pernah ada kejadian di mana seorang suami yang tidak pernah berhubungan seksual ternyata belakangan baru tersadar bahwa sesungguhnya yang dinikahi bu-

kanlah seorang perempuan, karena selama ini tidak pernah melihat pasangan dalam keadaan tanpa busana, kalaupun tidur bersama juga mematikan lampu. Semoga bukan ini yang dimaksud. Jika bukan itu, pertanyaan berikutnya apakah selama ini sudah pernah mencoba melakukan hubungan seksual walau dipaksakan? Kalau pernah, bagaimana responsnya? Apakah menolak keras, atau mau mencoba melakukan hubungan seksual tetapi merasakan nyeri atau malah kita merasa kesulitan untuk melakukan penetrasi atau memasukkan penis ke dalam vagina? Kemungkinan diagnosisnya akhirnya beragam. Jika istri menolak karena merasa tidak memiliki gairah seksual, bisa saja yang terjadi adalah gangguan dorongan seksual yang menurun atau Hipoactive Sexual Desire. Jika menolak karena setelah dicoba ternyata terasa sakit, bisa saja yang terjadi adalah gangguan nyeri saat berhubungan seksual yang disebut dengan Dyspareunia. Kurangnya pemanasan seksual yang akhirnya tidak menimbulkan perlendiran vagina saat berhubungan seksual juga bisa terjadi dan

jika dipaksakan bisa memicu rasa nyeri. Jika sempat dicoba untuk berhubungan seksual tetapi terasa mulut vagina tertutup rapat karena ada kekejangan otot vagina, bisa saja yang terjadi adalah Vaginismus. Ada kemungkinan lainnya juga adalah penolakan karena memang merasa ada rasa jijik buat melakukan hubungan seksual, yang disebut dengan Aversi Seksual. Satu kemungkinan lain yang juga perlu dipertanyakan adalah apakah kira-kira ada orientasi seksual yang berbeda dari yang diharapkan suami, maksudnya sebenarnya jangan-jangan secara seksual si istri lebih tertarik kepada perempuan, dan bukan laki-laki, yang disebut de­ngan homoseksual, atau jika terjadi pada perempuan disebut dengan lesbian, dan baginya pernikahan adalah alasan untuk terlihat menjadi lebih wajar menurutnya di hadapan orang lain. Jadi sebenarnya cukup banyak pertanyaan, yang perlu dijawab dulu, jika hanya melihat keterangan singkat dari yang ditanyakan. Tetapi dari semua itu tentu saja pendekatan untuk melakukan diskusi terbuka bersama pasangan, atau bisa disebut dengan berkomunikasi seksual adalah sebuah keharusan, sekaligus sebuah hal yang perlu hati-hati dilakukan untuk mendapatkan jawaban. Kemudian seandainya yang kemungkinan terjadi adalah beberapa gangguan

yang berkaitan dengan hilangnya dorongan seksual, bisa kemudian mencari pertolongan ke dokter yang paham kesehatan seksual, untuk memastikan penyebabnya, siapa tahu terjadi penurunan level hormon testosteron, yang juga terdapat pada perempuan, sebagai hormon yang bertanggung jawab mengatur dorongan seksual. Jika yang terjadi adalah berkaitan dengan tidak adanya lubrikasi vagina dan rasa nyeri jika dipaksakan untuk berhubungan seksual karena vagina yang tidak mengalami pelumasan, juga bisa dibantu oleh dokter dengan pemberian obat golongan PDE-5 inhibitor yang akan membantu pelebaran pembuluh darah seputar vagina. Jika ternyata yang terjadi adalah nyeri dyspareunia, atau kaku otot vagina yang disebut dengan vaginismus, atau malah penolakan yang berupa aversi seksual, maka ini perlu penanganan dengan cermat dan hati-hati karena sering kali penyebabnya adalah permasalahan psikis atau trauma psikologis seksual di masa lalu yang belum tuntas dan masih berdampak di saat sekarang. Jadi, pastikan dulu jenis gangguan dan penyebab pastinya, untuk kemudian mendapatkan penanganan yang lebih baik dan lebih tepat. Makin awal dikonsultasikan makin baik.


Bugar

10

20 - 26 Oktober 2014

Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Gejala Saraf Terjepit di Pergelangan Tangan dr. Deddy Andaka, M.Biomed, Sp.S

Klinik Rawat Jalan (Outpatient Dept.) Rumah Sakit Siloam Appointment : (0361) 779-900 ext. 29701. Hp: 08174750822 Email : deddy.andaka@siloamhospitals.com. Twitter @DeddyAndaka daerah yang dipersarafi oleh saraf medianus, tidak jarang rasa nyeri dan kesemutan hanya pada pergelangan tangan, atau malah selu­ ruh tangan. Gejala sensorik dapat menjalar sampai lengan bawah (di bawah siku). Gejala CTS biasanya memburuk pada malam hari dan sering membuat pasien terbangun dari tidur. Aktivitas yang memerlukan gerak­ an berulang-ulang pada tangan dan pergelangan tangan dapat memperberat gejala. Dengan mengibasngibaskan tangan, atau mengaliri tangan dengan air hangat dikatakan dapat mengurangi gejala CTS.

dr. Deddy Andaka, M.Biomed, Sp.S

B

ila Anda mengalami kesemut­ an, rasa tebal, atau nyeri pada telapak dan jari-jari tangan, dan bahkan mulai merasa lebih lemah ketika menggenggam berhati-hatilah, mungkin saja Anda menga­ lami Carpal Tunnel Syndrome (CTS). CTS merupakan kumpulan tanda dan gejala yang diakibatkan oleh penekanan pada saraf medianus yang berjalan melalui terowongan carpal. Pasien biasanya akan mengalami gejala seperti di atas, sesuai dengan area yang dipersarafi oleh saraf medianus. CTS cukup sering dijumpai dalam praktik sehari-hari. Meski gejala biasanya terbatas pada

Pemeriksaan pasien CTS Beberapa pemerik­ saan perlu dilakukan un­ tuk memperkuat dugaan CTS. Dari pemeriksaan fisik, perlu dinilai kekuatan otot-otot terutama pada jari-jari tangan. Beberapa test seperti test Phalen dan Tinel dapat digunakan untuk memunculkan gejala CTS ini. Pemeriksaan elektrodi­ agnosis wajib dilakukan untuk memastikan CTS sekaligus untuk melihat seberapa kerusakan yang terjadi pada saraf. Hal ini penting untuk pena­ nganan, maupun menyam­ paikan bagaimana proses penyembuhan CTS ini kedepannya (prognosis).

Penanganan CTS Ada beberapa pilihan yang tersedia untuk penanganan pasien dengan CTS, yang tergantung dari berat ringannya gang­ guan saraf yang terjadi. Untuk pasien CTS dengan gejala yang ringan sampai sedang, terapi konservatif (tanpa operasi) menjadi pilihan utama dengan tingkat keberhasilan yang bisa mencapai 93%. Terapi konservatif ini meliputi modifikasi aktivitas sehari-hari, pemasangan wrist splinting, obat-obatan, ultrasound, exercise, dan yoga. Kombi­ nasi terapi dikatakan lebih efektif daripada hanya 1 modalitas terapi. Untuk pasien dengan gejala CTS yang

sedang-berat dan menetap (mati rasa dan nyeri, fungsi tangan berkurang, atau otototot tangan mengecil), durasi gejala yang lama (lebih dari 6 bulan), dan dikonfirmasi dengan elektrodiagnostik ada gangguan pada saraf medianus disarankan untuk dilakukan pembedahan dekompresi. Pem­ bedahan sebelum 6 bulan dimungkinkan pada pasien CTS yang tidak mengalami perbaikan dalam 6 minggu terapi kon­ servatif, atau gejalanya sering kambuh setelah perbaikan awal dengan terapi konservatif. Ada beberapa parameter yang dapat digunakan untuk memprediksi kegagalan terapi konservatif, di antaranya gejala yang sudah lebih dari 10 bulan, usia lebih dari 50 tahun, kesemutan atau rasa nyeri yang menetap, gangguan diskriminasi 2 titik atau lebih dari 6 mm dari pemeriksaan sensorik, tanda Phalen yang positif kurang dari 30 detik, hasil pemerik­ saan elektrodiagnos­ tik yang menunjukkan pemanjangan latensi motorik dan sensorik. Seiring waktu, CTS dapat menimbulkan kerusakan saraf yang permanen, bahkan akan cenderung bertambah buruk bila dibiarkan (seperti: otot- otot tangan mengecil dan kekuatan menggenggam berkurang). Untuk itu, bila Anda menemukan gelaja-gejala tersebut di atas segeralah berkon­ sultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.

20 - 26 Oktober 2014

Style

Siluet Bustier untuk Busana Pengantin

Modern

Cantik, elegan, gagah dan glamor. Inilah se­ bagian alasan pasangan pengantin memilih busana dari Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal untuk acara pernikahannya. Sebab, setiap calon pengantin ingin tampil fresh, cantik, ­elegan dan romantis pada momen yang ­sangat spesial tersebut termasuk untuk ­kepentingan foto prewed-nya.

M

enurut sang pemilik, Ari Wi­ jayanti bersama berkembang­ nya tren fashion, ia pun terus mengembangkan idenya. Apalagi semakin banyaknya diperlukan busana yang menarik untuk kegiatan foto prewed. Beberapa kebaya dibuat lebih menegas­ kan modernitas dengan bustier yang ditempel lace pilihan de­ ngan beads multi color sehingga menimbulkan efek berbeda dan terlihat tidak biasa, dipadukan dengan selendang pada dua sisi pundak. Selain itu kata Ari, siluet bustier, juga menghadirkan kesan seksi yang merupakan bagian dari pesona perempuan. Di sini eksotika perempuan benar-benar

digali dalam setiap rancangan­ nya. Untuk mempermanis penampilan, Ari juga sesekali memberi­ kan sentuhan lipit di bagian pinggang tulle berbentuk panjang menjuntai. Baju pengan­ tin koleksi Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal kali ini pun dipersembahkan bagi calon pengantin yang ­ingin tampil modern tanpa me­ ninggalkan ciri khas Bali. Apalagi, ditunjang de­ ngan aksesori seperti ikat pinggang emas, gelang, subeng, dan hiasan kepala yang semuanya khas Bali. – Sri Ardhini

15


Edukasi

16

20 - 26 oktober 2014

Satu Buku Satu Tahun R

I Bagus ­Widjna Baratanatyam Pembukaan roadshow Perpustakaan Cerdaskan Bangsa di Bali ditandai dengan pemulukan kulkul

tan ini pun dikemas sedemikian rupa dengan harapan dapat menyatukan visi bersama untuk gerakan gemar membaca. Karena itu pula, dalam talkshow tersebut dihadirkan narasumber dari beberapa unsur, di antaranya budayawan Bali Prof. Dibia, Sekda Provinsi Bali Cokorda Ngurah Pemayun, Kepala Perpustakaan Nasional RI Dra. Hj. Sri Sularsih, M.Si, artis Happy Salma, dan dipandu presenter Ririn Agustarini. Diikuti berbagai komponen masyarakat, seperti ­pengelola perpustakaan, kasek, guru, forum komunitas gemar membaca, dan para siswa. Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta yang membacakan sambutan tertulis Gubernur Bali mengatakan, membaca me­rupakan kunci keberhasilan anak di sekolah. Dalam artian, dengan minat baca tinggi makan akan tinggi

pula prestasi anak. Namun, untuk mendapatkan hasil optimal perlu melibatkan peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah, serta menjadi tanggung jawab bersama. Salah satunya, dengan peran perpustakaan untuk melayani masyarakat yang haus ilmu pengetahuan. Pendidikan dan perpustakaan menjadi satu kesatuan. Pendidikan untuk semua akan lebih berhasil jika dilengkapi dengan perpustakaan. “Masyarakat dan budaya Bali sesungguhnya juga sudah punya tradisi membaca, yang disebut nyastra,” ungkap Sudikerta. Kepala Perpustakaan Nasional RI Dra. Hj. Sri Sularsih M.Si. menambahkan, perpustakaan adalah sarana belajar sepanjang hayat. Perpustakaan merupakan pendukung sistem pendidikan nasional. Belajar tak cukup hanya dengan

sistem formal, namun juga informal. “Belajar ya…membaca. Karena dengan membaca, ilmu dan wawasan terus bertambah,” ujarnya. Keberhasilan pembangunan suatu bangsa dikatakannya juga tergantung kualitas SDM. Solusinya hanya dengan pendidikan. Peran perpustakaan sebagai sumber belajar. Semua ilmu ada di sana, mulai dari ilmu agama, teknik, seni, dll. “Buku adalah sumber ilmu. Kita bisa membuka jendela dunia dengan membaca, bisa menjelajah dunia mana pun. Dengan banyak membaca, kita bisa berpikir besar, berjiwa besar, dan menjadi sosok besar, seperti Ir. Sukarno,” ucapnya. Minat baca masyarakat Indonesia yang rata-rata membaca 0-1 buku pertahun tergolong rendah, dibandingkan AS yang rata-rata 30

buku per tahun, Jepang 10 buku, dan negara ASEAN 2-3 buku. Karena itu ia mengatakan budaya baca ini harus mulai dibangun dari unit masyarakat terkecil yakni keluarga. Namun, setelah dikaji, Sularsih mengungkapkan masyarakat Indonesia tidak suka membaca bukan karena minat baca yang rendah, tetapi bahan yang dibaca tidak ada. Untuk itu, pemerintah melalui Badan Perpustakaan Nasional menambah bahan bacaan untuk perpustakaan hingga 23 ribu, dan mengadakan mobil perpustakaan keliling 600 unit. Dari stimulan tersebut, kunjungan ke perpustakaan meningkat. “Akses kunjungan perpustakaan online perhari 1200-1500. Kami berharap perpusatakaan yang sudah berkembang ini dioptimalkan lagi dengan memperbanyak kegiatan,” ujarnya. –Inten Indrawati

Dari “Bujang Sembilan” hingga “Kelok 44” Jika Anda berkunjung ke Sumatera Barat, ­jangan lupa mampirlah ke Danau Maninjau. Dijamin, tidak menyesal. Panorama indah Danau Maninjau akan langsung membuat Anda terpesona. Inilah salah satu danau terluas di Indonesia, yang berdasarkan data memiliki luas 99,5 km2 dan kedalamanan maksimum 495 m.

D

anau vulkanik yang berada di ketinggian 461,50 m dari permukaan laut ini, letak persisnya di Kecamata­n Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Konon, keindahan Danau Maninjau ini begitu memikat hati Presiden Soekarno sehingga lahirlah pantun, “Jika makan pinang, makanlah dengan sirih hijau. Jangan datang ke Ranah Minang, kalau tak mampir ke Maninjau”.

Seperti halnya legenda Kebo Iwa di Danau Batur, maka Danau Maninjau pun memiliki legenda tersendiri. Maninjau lekat dengan legenda “Bujang Sembilan”. Alkisah ada satu keluarga terdiri dari 10 orang, 9 orang laki-laki (bujang) dan seorang perempuan bernama Sani. Sani yang rupawan lagi baik budi, kemudian menjalin cinta dengan Sigiran. Dalam tata adat yang kuno,

9

Sebuah festival seni internasional yang berlangsung di Korea Selatan, meng­ hadirkan dua seniman muda Bali, awal Oktober lalu. I Bagus ­Widjna Bara­ tanatyam (25) dan Sri Ayu Pradnya ­Larasari (17) diundang mewakili Indone­ sia dalam forum seni budaya yang ber­ tajuk Storytelling Asia, Asian Myths: A Treasure Trouve for the 21 st Century Imagination.

Roadshow Perpustakaan Nasional RI 2014 yang digelar di Bali, diisi dengan berbagai kegiatan, yakni lomba mewarnai untuk anak PAUD, lomba menggambar untuk anak SD, lomba poster untuk anak SMP, lomba kreasi jingle untuk anak SMA, dan talkshow yang meng­hadirkan artis Happy Salma.

oadshow yang mengambil tema “Perpustakaan Cerdaskan Bangsa, Wujudkan Indonesia Gemar Membaca” tersebut dipusatkan di Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi), Renon Denpasar, Rabu (15/10). Ketua kegiatan yang juga Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Badan Perpustakaan Nasional Dra. Ovi Sofiana, M.Si. mengatakan roadshow ini untuk menyosialisasikan eksistensi perpustakaan dalam upaya menumbuhkan budaya baca dan meningkatkan pemahaman pentingnya budaya baca serta perpustakaan bagi masyarakat. Di tahun 2014 ini, roadshow dilakukan di tujuh provinsi, dan Bali menjadi provinsi terakhir. Kegia-

Dara

20 - 26 oktober 2014

alkisah keduanya dituding telah melakukan perbuatan hina. Kedua­n ya sadar betul, hidup dalam stigma hina, sama artinya dengan kematian. Tidak satu orang pun sudi menampung mereka, terlebih mereka dikucilkan dari pergaulan. Hidup serasa mati. Karena itu, mereka kemudian mereka melakukan aksi “bunuh diri” dengan melompat ke dalam kawah Gunung Tinjau. Masyarakat sesungguhnya tidak ada yang peduli. Akan tetapi menjadi peduli manakala sebelum melakukan terjun kawah, kedua­ nya mengatakan sesuatu yang cukup mencengangkan. Dengan tingkat kepasrahan tinggi Sani dan

Sigiran mengatakan, jika gunung tidak meletus, itu artinya mereka memang melakukan perbuatan hina. Sebaliknya, jika Gunung Tinjau meletus setelah mereka nyemplung, itu artinya mereka berkata benar, tidak melakukan perbuatan hina. Ternyata, gunung itu meletus! Ledakan dahsyatnya, tidak saja “menghukum” masyarakat yang telah menuduh keliru terhadap Sani dan Sigiran, tetapi juga membekaskan sebuah kubangan mahabesar yang kemudian menjelma menjadi danau. Danau Maninjau. Di luar spesifikasi danau dan legenda yang melatarbelakanginya, Maninjau juga menawarkan

banyak sekali hal-hal yang bisa dibilang menakjubkan. Salah satunya adalah jalanan menukikmeliuk dari atas ke pinggiran danau, yang dikenal dengan rute (jalan) Kelok 44. Silakan berimajinasi…. Dari ketinggian lebih dari 4,5 kilometer, menukik curam meliuk-liuk dalam 44 kali kelokan. Bagaimana kita menghitung kelokan? Tidak perlu capek… karena Dinas Perhubungan Kabupaten Agam sudah meletakkan rambu penanda kelokan lengkap dengan nomor kelokan berikut papan reklame. Karena itu, untuk pengemudi, baik sepeda motor maupun mobil, sama sekali tidak disarankan lewat jalur ini, jika kemampuan mengemudinya pas-pasan. Benar. Kelok 44 memang tantangan bagi pengemudi. Medan yang menukik terjal, berkelok-kelok, plus tebing curam di kiri dan kanan, adalah medan yang menantang untuk ditaklukkan, sekaligus medan yang sangat berbahaya. Akan tetapi, jika diarungi dengan santai, sesungguhnya rute kelok 44 sangat indah. Bahkan di beberapa titik kelok, tersedia semacam rest area atau view area. Di situ, pelancong bisa berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan Danau Maninjau. Beberapa titik pemberhentian bahkan tampak beberapa kedai menjual minuman dan snack. –Diana Runtu

Natya dan Laras Memukau Warga Negeri Gingseng

B

aratanatyam menyajikan pertunjuk­ an wayang kulit yang mengangkat cerita Ramayana sedangkan Larasari diundang sebagai storyteller (pendongeng), menuturkan sebuah dongeng Nusantara. Sungguh tak diduga, penampilan kedua seniman kakak beradik itu disimak penuh perhatian masyarakat setempat. Baratanatyam yang akrab dipanggil Natya dan Larasari akrab disapa Laras, adalah dua insan yang sedang menggeliat sebagai pegiat seni andal Bali. Natya adalah seorang dalang muda yang telah menorehkan reputasi sebagai Juara I dalam lomba wayang kulit se-Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2013. September lalu ia mewakili Bali dalam Festival Dalang Muda Nasional di Jakarta. Laras adalah gadis yang multi talenta khususnya dalam bidang seni. Dua bidang seni, tari dan dongeng, telah berkali-kali menghormatinya sebagai sang juara tingkat Bali. Tak tangggung-tanggung, pada tanggal 3 Oktober lalu, dara asal Banjar Babakan, Sukawati, Gianyar ini dinobatkan di Jakarta sebagai anak dan remaja yang berdedikasi terhadap kebudayaan oleh pemerintah RI. Dedikasi Natya dan Laras yang berkibar di bawah panji Sanggar Natyalaras Sukawati ini rupa­n ya menarik perhatian komunitas seni internasional. Natya yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2-nya di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dan

Laras yang kini duduk di kelas III SMA Negeri 3 Denpasar, sempat unjuk kebolehan dalam Kongres Internasional Sastra Anak 2013 yang berlangsung di Kuta, Bali, diikuti oleh 120 peserta dari 21 negara wilayah Asia, Eropa, dan Amerika. Natya mementaskan wayang kulit dan Laras meng­ isahkan sebuah dongeng Bali, Pan Balang Tamak. Pada lawatannya di Korea dari tanggal 1 hingga tanggal 7 Oktober kali ini, keduanya di­ hadirkan di sana juga sesuai dengan spesialisasinya masing-ma­ sing. Tetapi keduanya mendapat tugas khusus. Selain mementaskan wayang dan mendongeng, Natya dan Laras diminta menggelar workshop—disebut program pengalaman-yaitu membuat wayang kulit dan mengajar tari Bali, yang diikuti 60 anak dan remaja Korea Selatan. Di akhir workshop, Laras

didaulat menyajikan sebuah tari Bali secara utuh. Festival seni internasional itu digelar di Kota Paju—sekitar 70 km arah barat Kota Seoul. Sete­ lah pembukaan festival, pada 4 Oktober digelarlah beragam program seni sejak pagi hingga malam hari yang diawali dengan sajian dongeng. Ratusan

Sri Ayu Pradnya ­Larasari

penonton yang terdiri dari anakanak, para remaja, dan didampingi orang-orang dewasa, menyaksikan dengan antusias. Teks dalam bahasa Korea yang ditampilkan dalam layar di sam­p ing panggung membuat penonton begitu tekun menyimak penampilan para pen­dongeng yang bertutur de­ngan bahasa nasional masing-masing. Larasari yang tampil paling awal menggunakan bahasa Indonesia.

Sebuah dongeng rakyat Maluku Utara, Hua Lo Puu, yang digali dan disusun oleh Murti Bunanta, disajikan penuh menarik oleh Laras. Hua Lo Puu berkisah tentang seorang bayi yang berubah menjadi seekor burung. Penonton terpukau dengan cerita dan cara Laras membawakan dongeng berdurasi sekitar 10 menit itu. Laras tampil mengenakan kostum tari Manukrawa, tari burung rawa yang popular di Bali. Sekelebat tarian burung dengan iringan suara gamelan nan ritmis, mengawali kehadiran Laras saat memasuki panggung. Sepotong nyanyian dengan melodi Gending Sriwijaya (Sumatera Selatan) dilantunkan merdu: wahai kawan dengarlah dongeng dari Indonesia. Kemudian mimik dan bahasa tubuh yang disajikan Laras mengisahkan Hua Lo Puu, diikuti penonton dengan tekun. Penonton pun terbawa terenyuh, ketika mengungkapkan kesedihan si ibu ketika ke­hilangan bayi. Laras mengungkapkan de­

ngan sepenggal nyanyian dengan melodi lagu Butet (Sumatera Utara): Tuhan, kembalikan kembalikan oh kembalikan, anakku anakku anakku sayang, kembalikan oh Tuhan anakku sayang. Kim NamIl, seorang novelis terkenal Korea terpukau dengan sajian dongeng Laras. “Sungguh sebuah penampilan mendongeng yang kreatif,” ujar Kim dalam bahasa Korea. Setelah memukau dengan sajian dongengnya, satu jam kemudian Laras tampil di hadapan penonton yang sama sebagai penari. Dalam kesempatan itu ia menyuguhkan tari Terunajaya. “Hebat, hebat, saya baru tahu secara langsung tari Bali, saya terpesona dengan seluruh gerakan dan ekspresi muka dari Laras,” kata Ayswaria Wariar, seorang penari senior dan artistik direktur dari Gujarat, India, yang dalam festival itu menyajikan tari klasik Bharatanayatyam, setelah penampilan Laras. Wayang kulit Bali yang dibawakan Natya berlangsung pada sore hari dalam program yang disebut Konser Asia. Tampak penonton penuh sesak dan tak sabar menanti pertunjukan dimulai. Bersumber dari epos Ramayana, Natya memberi judul pementasannya “War and Peace” (Perang dan Damai). Penampilan Natya dikemas secara terbuka alias tanpa layar/kelir (seperti pementasan Wayang Gedog di Bali). Diiringi dengan musik/ gamalen (rekaman), penonton menyimak secara menyeluruh aksi sang dalang. Mimik dalang ketika memainkan beragam karater tokoh wayang disimak dengan gamblang. Demikian pula aksen-aksen permainan cepala yang dijepit jemari kaki kanan dalang dapat diperhatikan penonton yang menyaksikan dari jarak dekat. Pagelaran wayang yang berdurasi 20 menit itu tampaknya membuat penonton penasaran. Sehabis pementasan, sebagian penonton merangsek ke panggung menyimak lebih dekat boneka-boneka dari kulit sapi itu. Kera putih Anoman yang jadi pahlawan dalam pementasan itu tampak begitu digandrungi. Meosjin, seru mereka dalam bahasa Korea yang artinya mengagumkan. -Kadek Suartaya


Bunda & Ananda

8

20 - 26 Oktober 2014

Menuangkan Ide

lewat Gambar

W

iwik sedang asyik menggambar bunga mawar. Bunga itu ditempatkan dalam sebuah vas bunga. Warna mawar dipilih merah sedangkan vas bunga berwarna biru. Hampir setengah jam ia menyelesaikan gambarnya termasuk pewarnaan. “Kalau sudah menggambar, Wiwik sangat tekun dan lupa hal-hal lain. Pulang sekolah langsung menggambar sampai lupa makan,” ungkap Bu Wini, ibu Wiwik. Begitu tahu buah hatinya suka menggambar, ia menyiapkan semua perlengkapan menggambar. “Saya pernah menanyakan apakah mau ikut les menggambar, Wiwik bilang tidak mau. Saya juga tidak memaksa. Solusinya saya siapkan peralatan gambar di rumah,” ujarnya. Ia menambahkan anaknya suka menggambar bunga dan karak­ter putri yang ada di buku komik maupun dongeng. Walau bentuk gambar tak mirip aslinya, Bu Wini tak mempermasalahkan. Putu Ebo, salah seorang penggiat seni khususnya kartun dan komik di Bali menuturkan, menggambar memiliki dampak luar biasa. Salah satunya adalah menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Ketika aktivitas ini dilakukan sejak kecil, ini akan membuat anak mampu mengembangkan jiwa kreativitasnya. Hal senada diungkapkan Fransiska Remila, Brand Manager PT Faber-Castell International Indonesia. “Dunia kreativitas khususnya gambar tidak boleh

Fransiska Remila

Hari Imam Wahyudi

berhenti saat menuju remaja karena selama ini hanya semarak bagi anak-anak tingkat TK dan SD. Kreativitas merupakan salah satu bagian penting dalam melakukan inovasi dan merealisasikan ideide,” ujarnya. Ia menambahkan, di kantor pusat Faber-Castell di Jerman, ada sekolah khusus yang dibuka untuk anak-anak yang ingin mengembangkan kemampuan menggambar. Bahkan ada juga sekolah khusus yang menjadi tempat persiapan sebelum seorang mahasiswa masuk ke jurusan seni. Adanya lembaga semacam ini sangat membantu anak-anak untuk menyalurkan dan mengasah bakat mereka dalam bidang menggambar. “Di sekolah ini ada juga tempat untuk art therapy yang dipakai untuk mengatasi perkembangan psikologi anak. Dari gambar-gambar yang dibuat anak-anak bisa bisa diketahui karakter si anak. Di Indonesia, sudah ada rencana untuk membuat sekolah semacam itu, tetapi masih terkendala perizinan,” ujar Siska yang didamping Mr. Joel Frommann, Area Manager FaberCastell Asia Pasifik.

(otak) sedangkan remaja dan dewasa sudah bisa dinilai dari analisa kepribadian. “Semua anak pada dasarnya suka menggambar. Disuruh buat manusia tetapi bentuk seperti lidi, itu tidak masalah pada usia TK.

PERKEMBANGAN KOGNITIF Dari penjelasan H a r i I m a m Wa h y u d i , S.Psi.,Psikolog.,Cht, fase menggambar saat anakanak, remaja, dan dewasa sangat berbeda. Ketika anak-anak, gambar yang dihasilkan hanya bisa dilihat dari perkembangan kognitif

Suasana lomba gambar

Lama-lama ia akan mampu membuat manusia yang lebih baik. Makin lama komposisi dan anatominya makin baik. Seringkali orangtua tidak sabaran dan me­nyalahkan anaknya kalau gambarnya tidak lengkap. Jangan lakukan hal ini. Sekali anak disalahkan itu akan menutup ruang kreativitasnya,” ujar psikolog di konsultan psikologi dan klinik hypnotherapy “Dian Selaras” ini. Hari menambahkan melalui aktivitas menggambar, selain meng­ asah kemampuan kognitif anak, juga mengasah kemampuan motorik kasar dan halus. Pergerakan ta­ ngan saat membuat sketsa maupun mengarsir merupakan bagian dari kemampuan motorik. Jika ada yang tidak beres dari gerakan motorik ini, orangtua harus melakukan pengamatan lebih dalam. Anak yang suka menggambar biasanya suka menuangkan apa yang ia lihat atau idenya ke dalam media gambar. Warna-warna yang digunakan pun akan menunjukkan kreativitas si anak. “Pemilihan warna ini bisa menunjukkan suasana hati anak. Orangtua harus peka dalam hal ini. Acara menggambar bersama antara anak dan orangtua bisa menjadi ajang dialog dan komunikasi. Momen ini ja­

ngan dipakai untuk mendikte anak atau mengkritik karya anak. Sebaliknya, orangtua harus memotivasi anaknya. Jika anaknya salah, beri penjelasan secara elegan sambil bercerita. Menggambar juga bisa menjadi solusi terapi diri sendiri,” ujar psikolog yang juga Wakil Ketua II HIMPSI Bali ini. Mengenai perlu atau tidaknya anak les menggambar, ini kembali kepada si anak. Jika si anak menginginkan dan orangtua memiliki kemampuan untuk memenuhi keingin­a n anaknya, tentu tidak masalah. Yang penting, jangan memaksa anak untuk melakukan sesuatu demi ambisi orangtua. Salah satu contoh, jika ada lomba menggambar, kadang orangtua yang lebih sibuk. Lomba menggambar bagi anak-a anak harus dijadikan ajang uji nyali dan uji mental menghadapi persaingan. Hari mengingatkan anak yang pintar menggambar tidak selalu anak yang cerdas. Namun, anak yang pintar menggambar adalah anak yang memiliki jiwa kreativitas tinggi. Orang tua juga diingatka untuk mengoleksi hasil karya anak sejak kecil. Suatu saat nanti ketika anak beranjak remaja, ia bisa melihat bagaimana perkembangan daya kreativitasnya. -Ngurah Budi

Mendongeng Lima Menit Raja tidak Mau Makan

Di kalangan rakyat, Raja Windusara dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana. Beliau selalu memperhatikan Made Taro kesejahteraan rakyatnya. Namun, sang Raja mempunyai kebiasaan buruk, yakni tidak mau makan tanpa hidangan ikan tuna. Juru masak kerajaan setiap hari pergi ke pasar membeli ikan tuna untuk Paduka Raja. Tibalah musim pancaroba. Angin kencang melanda negeri itu. Banyak rumah roboh dan pohon-pohon tumbang. Para nelayan tak ada yang berani melaut, karena air laut membuncah dan ombak besar bergulung-gulung. Keadaan seperti itu terjadi berbulan-bulan. Berbulan-bulan pula Raja Windusara tidak mau makan. Badannya kurus dan kehilangan semangat hidup. Para patih mengusulkan kepada Raja agar dibuat sayembara. “Barang siapa yang menyerahkan ikan tuna kepada Paduka Raja, akan mendapatkan hadiah besar.” Seorang nelayan terketuk hatinya. Ia menurunkan perahunya lalu menerobos angin kencang dan gelombang besar ke tengah laut. Untunglah, atas perlindungan Yang Kuasa, ia mendapatkan seekor ikan tuna besar. Karena senangnya, ia tidak pulang ke rumah, tetapi langsung menyerahkan ikan itu kepada Paduka Raja. Ketika menginjakkan kaki di depan pintu gerbang istana, tiba-tiba ia dicegat oleh penjaga pintu. “Hai, mau ke mana kau, Nelayan?!” seru penjaga pintu. “Hamba mau mengaturkan ikan tuna ini kepada Raja.” jawab Nelayan dengan hormat.

Griya

17

Rumah Bambu Jadi Pilihan

Biarkan Anak

Menggambar bagi anak-anak merupakan aktivitas yang menyenangkan. Mereka bisa menuangkan ide yang ada dalam benak mereka. Urusan gambar itu bagus atau tidak, tak usah risau. Hal terpenting adalah anak bisa mengekspresikan jiwa seni dan kreativitas mereka. Ini juga merupakan terapi.

20 - 26 Oktober 2014

“Tahukah kamu bahwa kamu akan mendapatkan hadiah besar?” “Ya, hamba tahu. Hamba persembahkan ikan ini cuma-cuma, bukan untuk mendapatkan hadiah.” “Bagus! Tetapi kamu harus menerima hadiah itu! Hadiah itu separuh untukku dan separuh untukmu. Kalau kau tidak mau menerima, kau tidak kuizinkan masuk. Mengerti?” Nelayan yang polos itu mengangguk, lalu bergegas menghadap Paduka Raja. “Hadiah apa yang kau inginkan? Emas-perak atau uang?” tanya Raja dengan wajah berseri-seri. “Maaf, hamba tidak mengharapkan hadiah. Hamba melaut karena hamba kasihan kepada Paduka.” “Janjiku harus kutepati. Sekali lagi, hadiah apa yang kau inginkan?” “Kalau hamba harus menerima, hamba mohon hadiah seratus cambukan.” Raja terkejut. “Cambukan? Kamu seharusnya mendapat penghargaan, bukan hukuman.” “Benar, Tuanku! Hamba berjanji kepada penjaga pintu gerbang untuk membagi hadiah itu. Separuh untuk dia dan separuh untuk hamba. Kalau hamba tidak menyerahkannya, maka hamba tidak diizinkan masuk.” Raja murka seketika. Beliau memanggil penjaga pintu gerbang itu, lalu mencambuknya limapuluh kali, ditambah lagi dengan hukuman pecat. Sedangkan hadiah cambukan untuk nelayan, diganti dengan mengangkat nelayan itu menjadi pegawai istana.

Kemampuan Indonesia dalam menghasilkan produk-produk kreatif memang tidak perlu diragukan lagi. Kerajinan bambu Indonesia misalnya, sudah berkembang sedemikian rupa sehingga bukan saja berkualitas tinggi tapi juga desain produk yang makin atraktif. Tak heran kalau permintaan pasar internasional terhadap kerajinan ­bamboo, khususnya, terus tumbuh setiap tahun.

D

Serba bambu

i Trade Expo Indonesia 2014 yang baru saja usai digelar di Kemayoran, Jakarta, kerajinan bambu mendapat tempat yang ‘eye- catching’ . Begitu masuk pintu utama pameran, mata pengunjung langsung ‘dibenturkan’ pemandangan indah area ‘house of Indonesia’ dimana kerajinan bambu berada. Mulai dari rumah dua lantai, gazebo hingga mebel. Ada juga gazebo yang dibuat seperti bar mini untuk melayani pemesanan kopi. Sedang disampingnya berada rak bamboo setinggi dua meter tempat aneka kopi nusantara. Memang di area House of Indonesia itu bukan hanya ada kerajinan bamboo tapi juga produk lainnya yang menjadi unggulan ekspor Indonesia. Seperti meja dari bongkah­ an kayu, juga gazebo yang terbuat dari kayu beratap jerami. Tak kalah menarik, sebuah sepeda terbuat dari bamboo ‘diparkir’ di sana. Sepeda yang banyak menarik perhatian buyer asing ini adalah salah satu koleksi Paguyuban Sepeda Bambu ‘Jatnika’. Adalah Undagi Jatnika Nagamiharja yang menciptakan alat transportasi yang ramah lingkung­an itu. Bukan hanya sepeda, Jatnika yang juga Ketua Yayasan Bambu Indonesia, juga memproduksi aneka mebel dan rumah bambu.

Semuanya memang serba bambu. Di ‘bengkelnya’ kawasan Perum Bumi Cibinong Endah, Kabupaten Bogor, berbagai produk mebel termasuk rumah-rumah contoh yang terbuat dari bambu, dipamerkan. Baik rumah maupun mebel bamboo ini telah berhasil menembus pasar ekspor ke sejumlah Negara seperti Spanyol, AS, Taiwan juga Jerman. Bagusnya prospek pemasaran kerajinan bambu Indonesia di pasar internasional juga diakui oleh Masgun, Kepala Produksi Shaniqua. “Permintaan aneka produk bambu di mancanegara tergolong tinggi. Karena produk bambu Indonesia selain kualitasnya bagus, juga kreatif. Harganya pun kompetitif,” ungkap lelaki yang telah 15 tahun bergelut di bidang produksi kerajinan bambu. Menurut Masgun, ekspor ter­ besar perusahaannya adalah ke ­Ne­gara-negara Eropa seperti; Jerman, Prancis, Spanyol, Italia, Yunani, Belanda dan Ukraine, juga Turki. “Mereka umumnya pedagang yang juga memiliki show room di negara­ nya. Setiap bulan kami mengeks­ por rata-rata empat container ke ­Negara-negara itu. Itemnya beragam, seperti mebel, dll,” jelasnya. Karena pelanggan kebanyakan dari Eropa, maka ketika terjadi krisis ekonomi di Eropa beberapa tahun lalu, pihaknya sempat terpukul.

Aneka mebel produk unggulan indonesia

“Namun kini sudah kembali normal, pesanan sudah lancar lagi,” ungkapnya. Untuk menjamin pasokan material, tambahnya, mereka bekerja sama dengan petani bamboo Rangkasbitung, Lebak, Banten, di tempat dimana pabriknya berada. “Kami juga memberi pelatihan pada me­ reka, misalnya bagaimana membudi­ dayakan pohon bambu, cara mene­ bang pohon bambu yang benar, jadi jangan asal-asalan,” tuturnya. Selain mebel, pihaknya juga mengembangkan rumah bamboo. Sambil menunjuk rumah bambu dua lantai yang dipajang di area ‘house of Indonesia’ , Masgun mengatakan, selama pameran banyak yang menanyakan rumah bambunya. Ada banyak model, katanya, namun yang dipajang di pameran ini model yang biasa untuk digunakan sebagai cottage di tempat-tempat wisata. Seorang pengunjung sempat bertanya, berapa lama ketahanan rumah bambunya? Apakah tidak bocor kala hujan, mengingat atap­ nya hanya­lah dari rumbia? Lalu pengunjung itupun menyarankan bagaimana jika bagian dalam atap, sebelum dilapisi rumbia, diberi alas plastik. Menjawab pertanyaan ini, Masgun mengatakan, ketahanan produk bambu, seperti rumah mi­s alnya, bisa mencapai 10 tahun lebih. “Semuanya tergantung pada pembuatannya juga maintenance. Jika dilakukan dengan baik,

Ruang tidur di lantai dua rumah bambu

kualitasnya akan tetap bertahan,” jelasnya. Soal bocor, ia mengatakan, ja­ ngan khawatir. “Rumah contoh kami sampai sekarang masih bertahan dengan baik padahal usianya sudah 12 tahun lebih. Rumah contoh itu jadi tempat tinggal bos kami kalau beliau meninjau pabrik. Bahkan sampai sekarang saya belum pernah melakukan penggantian atap, baik karena rusak atau bocor karena hujan,” tambah Masgun. Namun, ia kurang setuju jika atap diberi lapisan plastik sebelum digunakan rumbia. Menurutnya, plastic akan menimbulkan hawa panas. Dalam iklim seperti sekarang ini, dimana suhu bisa sangat panas, hal itu akan kurang tepat. Justru sebaliknya, dengan rumah bamboo

beratap rumbia, meski cuaca di luar panas, ketika masuk ke rumah, akan terasa lebih sejuk. Ini karena pengaruh konstruksi bangunan dari bambu juga atap rumbia. “Namun begitu, kami juga me­ nerima jika ada konsumen datang dengan membawa desain sendiri. Jadi semua terserah pada konsumen, kita tinggal membuatkan saja,” tandasnya. Lalu mahalkah konstruksi bambu itu? Menurut Masgun, harganya relatif. Tapi jika dibanding dengan kayu, tentu saja bambu relatif lebih murah. Untuk rumah berlantai dua ukuran 6x4 meter ini, dibandrol de­ ngan harga Rp 30 juta, sedang gazebo kopi ukuran standar dilepas dengan harga Rp 7,5 juta, gazebo lebih kecil berharga Rp 6 juta. –Diana Runtu

Masgun kepala produksi shaniqua


Kreasi

18

“Perang Tipat-Bantal” Tradisi Unik di Desa Kapal Jika dilempari benda, orang pasti akan marah. Bahkan, tidak sedikit yang ter­ singgung hingga berbuah dendam. Tapi, beda dengan yang satu ini. Masyarakat saling lempar tipat (ketupat) dan bantal (kue tradisional Bali) justru menari-nari dengan riang. Terlebih bagi yang kena lemparan, mereka akan menari meng­ ikuti irama musik tanpa ada ambisi atau­ pun dendam. Itulah perang tipat - bantal yang dilakukan masyarakat Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Selasa (14/10).

T

radisi ini rutin dige­ lar setiap tahun, tepatnya pada Sasih Kapat, sekitar bulan September – Oktober. Tradisi ini berkaitan erat dengan kehidup­ an pertanian masyarakat Desa Kapal yang dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas berlimpahnya hasil panen di desa ini. Pelaksanaannya dipusatkan di Pura Desa dan Puseh Desa Adat Kapal. Tipat dimaknai seba­ gai simbol energi predana (femi­ nimisme) dan bantal sebagai simbol purusa (maskulin) yang diwakili oleh keberadaan ibu pertiwi atau bumi dalam bentuk fisiknya sebagai tanah. Pangan yang dihasilkannya merupakan senjata utama untuk mempertah­ ankan diri dalam kehidupan. Tradisi perang tipat – bantal tahun ini menjadi lebih unik karena dikolaborasikan dengan garapan seni. Dramatari karya Anak Agung Gede Rahma Putra

ini menceritakan asal-muasal ter­ jadinya perang tersebut. Garap­ an ini menampilkan Tari Baris Bantal dan Rejang Tipat yang dibawa­k an seniman remaja. Musik iringannya menggunakan barungan gamelan selonding, sehingg terkesan agung dan klasik. Garapan ini menceritakan ke­ datangan Ki Kebo Iwa atas utusan Raja Bali, Asta Sura Ratna Bhumi Banten untuk memperbaiki Candi di Kahyangan Purusada di Desa Kapal. Namun suatu ketika Desa Kapal dijumpai dalam kondisi paceklik, tidak ada pangan yang mengakibatkan kekacauan dan menyedihkan. Ki Kebo Iwa akhirnya memo­ hon petunjuk kepada Sang Pen­ cipta dengan cara melakukan yoga semadi di Kahyangan Pu­ rusada. Dalam semadinya men­ dapatkan wahyu dari Hyang Pa­ supati agar warga disana melak­ sanakan Aci Rah Pengangon atau Aci Rare Angon dengan sarana

20 - 26 oktober 2014

20 - 26 oktober 2014

bagai senjata. Tabuh baleganjur dan suara kentongan menjadi iringan perang itu. Setelah ada instruksi dari prajuru (aparat) desa, kedua kelompok kemudian saling serang dan saling lempar dengan tipat dan bantal itu. Pada awalnya perang berlang­ sung di jaba tengah, selanjut­nya di jaba sisi, jalan raya Desa Kapal. Tipat ataupun bantal bagai pe­ luru yang melesat begitu cepat. Masyarakat yang menjadi pelem­ par, bagai kesurupan yang me­ nyerang dengan membabi buta. Bahkan, banyak diantara mereka yang telanjang dada, namun tetap mengenakan busana adat seperti udeng, kain dan selempot. Walau diharuskan melempar dalam satu arah yakni utara dan

selatan, tetapi ada juga yang jahil melempar ke arah masyarakat yang menyaksikan tradisi itu. Namun, semuanya gembira dan senang. Uniknya, meski saling serang dan saling lempar dengan tipat dan bantal, tidak ada yang sampai luka atau cedera. Malah dalam semangat mereka itu lebih banyak mengekspresikan gelak tawa. Perang berlangsung sekitar 30 menit, masyarakat kemudian meng­akhiri dengan saling ber­ salaman dan saling memaafkan. Semua warga kemudian member­ sihkan jalan dari sisa-sisa perang tipat dan bantal itu. Warga juga disarankan untuk mengambil sebagian tipat dan bantal itu un­ tuk dibawa pulang, selanjutnya ditebarkan di ladang maupun sawah. Bendesa Adat Kapal, Anak Agung Gede Dharmayasa menga­ takan, mengambil sebagian tipat dan bantal untuk di bawa pulang sebagai bentuk permohonan agar semua warga bisa tetap dilimpah­ kan kesuburan, pangan dan kes­ ejahteraan. “Ini merupakan sebuah bentuk penghormatan terhadap energi semesta yang menciptakan kehidupan serta sebuah prosesi untuk melestarikan kelangsung­ an kehiduan itu sendiri dengan konsep menjaga ibu pertiwi, tanah yang merupakan wujud nyata pe­ nopang dan pemberi kehidupan bagi setiap makhluk di muka bumi ini,” katanya. Desa Adat Kapal, jelasnya, memiliki sebanyak 2247 kepala ke­ luarga, yang terdiri dari 18 Banjar Adat. Untuk acara ini, masing-mas­ ing kepala keluarga dikenakan 1 kg beras atau ketan. Paling sedikit terkumpul 1800 kg atau 1,8 ton tipat dan bantal. “Itu juga sebagian, karena ada juga yang tidak datang” imbuhnya. -Darsana

Story

7

Parang Menempel Harta Melayang Sisi tiba-tiba terbangun dari tidurnya sekitarnya pukul 03.45 wita. Lehernya terasa dingin seper­ ti tengah menyentuh besi. Begitu matanya ter­ buka, ia sangat kaget dan ketakutan. Sebilah parang menempel di lehernya. Demikian juga di leher suaminya. Empat orang kawanan peram­ pok bercadar masuk ke dalam rumahnya. Para perampok mengancam agar Sisi dan suami tidak berteriak.

T

menghaturkan tipat – bantal. Ked­ ua aturan itu seba­ gai simbol sumber kehidupan, karena penyebab dari se­ gala paceklik (ke­ laparan) karena ketiadaan sumber kehidupan terse­ but. Sejak saat itu aci tersebut rutin dilaksanakan, di­ mana masyarakat Desa Kapal ber­ kumpul di de­ pan Pura Desa. Masyarakat ke­ mudian membagi diri menjadi dua kelompok yang masing-masing memegang tipat dan bantal se­

Life

akut yang luar biasa dirasakan oleh perempuan berusia 40 tahun ini, terlebih lagi ketika melihat anak laki-lakinya yang berusia sembilan tahun ini terlelap di tempat tidur di samping tempat tidur mereka. Sisi (bukan nama sebenarnya) dan keluarga kecilnya baru beberapa minggu pindah ke rumah baru mereka itu, sehingga mereka bertiga masih harus tidur satu kamar. Barang-barang lain masih berantakan dan belum semuanya tertata dengan baik. “Saya takut sekali kalau-kalau anak saya tiba-tiba terbangun ketakutan lalu berteriak,” ujarnya mengenang kejadian tiga tahun lalu itu. Ia tidak ingin lagi menceritakan dan merasakan kembali ketakutan dan cemas yang luar biasa itu. Namun, karena ia ingin membagi kisah ini kepada pembaca, agar berhatihati, maka ia bersedia untuk mengisahkannya. Ia juga tidak bersedia mengungkap identitas asli dan tempatnya tinggal kini,

semata-mata demi menjaga keselamatan putranya. Tiap kali ia menceritakan kisah ini, ia selalu ngeri membayangkannya. Hari itu tidak ada firasat apa-apa yang dirasakan oleh Sisi. Semua berjalan seperti biasa. Ia asyik berbenah, mengatur barang-barang hingga

rapi di rumah barunya di Pulau Lombok. Beberapa barang lain masih ditumpuk di kamar depan yang bersebelahan dengan kamar utama yang sementara dipakai tidur oleh mereka bertiga. Sisi dan suaminya dicekam rasa cemas yang luar biasa ketika menyaksikan kawanan perampok membongkar seluruh isi rumahnya untuk menemukan barang-barang berharga. Laptop, ponsel, dan barang berharga lainnya yang ada di meja tamu sudah diambil semua. Para perampok meminta ia menyerahkan seluruh perhiasan emas dan uang serta barang berharga lainnya. “Operasi senyap” kawanan perampok itu begitu rapi dan tidak menimbulkan kegaduhan. Karena sebenarnya di kamar belakang, ada ipar laki-laki Sisi yang juga tengah menginap di rumahnya. Ia sama sekali tidak tahu kejadian itu sampai akhirnya ia dibangunkan oleh suami Sisi setelah para perampok itu pergi. Parang masih menempel di leher mereka berdua ketika mata Sisi tak lepas memandang anak laki-lakinya yang terlihat pulas. Dalam hati ia berdoa pada Allah SWT agar melelapkan anaknya, jangan sampai terbangun dan melihat kejadian itu. Ia memikirkan dampak psikologi anaknya jika ia tahu

dan melihat kejadian itu secara langsung. Dengan todongan parang bermata mengkilat di leher, Sisi menunjukkan tempat penyimpanan perhiasannya. “Semua diambil tak bersisa sama sekali,” ungkapnya. Ia sempat meminta agar kawanan perampok itu boleh mengambil semua barang miliknya asal jangan mengganggu anaknya. Beruntunglah kawanan perampok itu tidak mengganggu keluarganya. Sebelum parampok-perampok itu beranjak meninggalkan rumahnya, ia sempat berdialog dengan para penjahat itu. Ada kisah menggelikan di balik kesedihan dan ketakutan Sisi dalam peristiwa perampokan itu. AMBIL PONSEL KEMBALIKAN KARTU Saat kawanan perampok mengambil semua ponsel milik Sisi, milik suami dan iparnya yang tergeletak di meja ruang tengah, Sisi sempat meminta agar perampok itu sudi memberikan nomor ponsel tersebut. “Silahkan bawa ponselnya tapi tolong nomornya kembalikan ke saya,” pinta Sisi pada perampok. Perampok itupun mengikuti keinginan Sisi. Ia membuka ponsel tersebut dan menyerahkan nomornya itu kepada Sisi. Sisi merasa penting mendapatkan nomor-nomor tersebut karena di sanalah semua nomor kolega bisnisnya tersimpan. Peristiwa itu menjadi bagian yang lucu yang kadang menghiburnya dari sebuah kejadian yang mengerikan. Tadinya ia ingin membiarkan nomor tersebut agar bisa dilacak, namun ia tiba-tiba berpikir, paling-paling perampoknya akan segera membuang nomor itu begitu keluar dari rumahnya. Ke j a d i a n itu terjadi

begitu cepat, hanya sekitar setengah jam, para perampok sudah dapat membawa semua harta kekayaannya yang mudah diangkut. Setelah kejadian itulah, barulah ipar dan tetangganya tahu. Di pagi buta itu, suasana rumah Sisi sempat ramai. Perampok melenggang dengan cepat tanpa diketahui jejaknya. Perampokan yang begitu cepat itu meninggalkan trauma bagi Sisi dalam waktu yang cukup panjang. Peristiwa itu sempat mengguncang jiwanya hingga bermingguminggu lamanya. Bukan soal harta yang dirampok yang ia pikirkan melainkan ia selalu terguncang tiap kali membayangkan peristiwa itu. Parang sudah di leher dan anaknya yang tidur di samping mereka. Ia merasa beruntung karena anaknya tidak terbangun dini hari itu. Dalam traumanya itu, Sisi sempat pucat pasi hingga berhari-hari lamanya. Ia terguncang dan sering melamun. Karena itulah, ibunda dan saudara-saudaranya sempat membawanya ke psikolog untuk mengembalikan rasa percaya dirinya. Sisi juga sempat dibawa ke “orang pintar” untuk menstabilkan kondisi kejiwaannya. Pengobatan dan penyembuhan traumanya ini berlangsung hingga sekitar dua minggu, sampai akhirnya ia kembali kuat menjadi dirinya sendiri. Peristiwa itu kini menjadi pelajaran berharga baginya agar senantiasa berhati-hati. Seluruh pintu masuk di rumah Sisi kini dibuat dengan sangat permanen dan kuat demi menjaga keselamatan anakanaknya. -Naniek I. Taufan

Perampokan yang begitu cepat itu meninggalkan trau­ ma bagi Sisi dalam waktu yang cukup panjang. Peristiwa itu sempat mengguncang jiwa­ nya hingga berminggu-minggu lamanya.


Woman on Top

6

20 - 26 oktober 2014

Luh Putu Suparmi, S.H. M.M.

Hipnoterapi Bentuk Etika Siswa Di masa pensiunnya, perempuan satu ini bukannya ­menikmati masa tuanya dengan melepaskan urusan peker­ jaan. Di usia 63 tahun, istri Drs. I Wayan Nuada, S.H., M.M. ini justru makin padat aktivitas. Hampir tak ada celah waktu baginya untuk sekadar rileks. Ibu empat anak yang masih energik ini adalah Luh Putu Suparmi, S.H. M.M.

I

a selalu sungguh-sungguh dalam melakukan apa yang ditugaskan kepadanya. Karena itu, tak heran jika predikat Guru Teladan I Kota Denpasar dan Guru Teladan II Provinsi Bali diraihnya di tahun 1994. Prestasi ini pula yang kemudian membuatnya dipercaya memimpin SMPN 9 Denpasar tahun 20092011. Ia pun berhasil meraih predikat Kepala Sekolah Berprestasi Tahun 2011. Setelah memasuki masa pensiun, ia kem­ bali dirangkul menjadi Kepala SMP Pelangi Dhama Nusantara (PDN) yang berlokasi di kawasan Panjer, Denpasar Selatan. Untuk memajukan sekolah yang dipimpinnya ini, Su­ parmi konsen mengarahkan muridnya untuk memiliki kecerdasan yang beretika. Siswa tak hanya dituntut untuk cerdas dalam akademis, namun lebih diarahkan untuk memiliki sikap perilaku dan etika yang baik. Kejujuran merupakan salah satu sikap dasar yang harus dipegang siswa. Tak ja­ rang kasus ini pun ditemui di sekolahnya. Ia mengisahkan, salah seorang muridnya pernah kehilangan barang. Yang dilakukan Suparmi adalah mengajak semua siswa berdoa dan bersembahyang bersama. “Saya

katakan, meski kita tak bisa melihat siapa pencurinya, Tuhan Mahatahu segalanya. Jika merasa bersalah, bertobatlah dan minta maaf kepada Tuhan. Letakkan barang yang sudah diambil itu di suatu tempat. Cara ini cukup ampuh untuk menyadarkan siswa. Akhirnya barang itu tak jadi hilang,” paparnya. Ini dikatakannya pula bagian dari ilmu hipnoterapi yang kini tengah didalaminya bersama putra bungsunya I Ketut Nugraha Swadharma, S.E., M.M., TH., CHt., MNNLP, CI., CCH., TCH. Hipnoterapi ini dikatakan­ nya mampu membantu mengatasi berbagai masalah, seperti penyakit medis, nonmedis, kecanduan game, rokok, ngompol, kegemu­ kan, trauma, depresi, fobia, latah, gagap, sering kesurupan, tidak konsen belajar, suka melawan orangtua, tidak suka makan sayur, dan hal negatif lainnya. Hipnoterapi ini untuk perilaku dan hidup yang lebih baik. BUAT CATATAN KECIL Tak jarang pula ilmu hipnoterapinya ini dimanfaatkannya untuk mendengarkan dan memberikan saran kepada guru, siswa, bah­ kan orangtua siswa yang mengalami masalah. Secara tak langsung pula, Suparmi yang

seorang pengacara ini menjadi penasihat dan konsultan hukum bagi mereka. “Ilmu hukum ini luas. Apa pun profesinya, harus tahu hukum. Seperti kita berkendaraan di jalan raya, jika lampu merah, berhenti,” contohnya. Suparmi yang belajar penyembuhan se­ jak tahun 1987 ini mengaku masa orientasi sekolah (MOS) menjadi salah satu kesempa­ tan yang dimanfaatkannya untuk menerapi seluruh guru dan siswa agar berikutnya dapat fokus mengikuti pelajaran, dan mengajar dengan kasih sayang serta peka, dengan membuka indera kee­ namnya. Dalam kesibukannya itu, alat komunikasi berupa telepon geng­ gam menjadi sarana efektif baginya untuk berkomunikasi. “Dengan HP, saya bisa bekerja kapan pun dan di mana pun. Misalkan jika ingin bertemu klien, bisa sambil makan di suatu tempat, semuanya fleksibel,” ujarnya. Dalam menangani suatu kasus, Suparmi kerap berkon­ sultasi dengan sang suami yang juga menguasai ilmu hukum. Sebagai makhluk

sosial di masyarakat, pasutri ini dianggap tokoh. Bahkan sampai kini, Suparmi masih dipercaya sebagai Ketua PKK Banjar Abian Nangka Kelod. “Paling jika hanya ada keg­ iatan, saya mengarahkan dan mengontrol saja,” ujarnya. Sebagai umat Hindu Bali, dalam urusan sembahyang, khususnya banten, Suparmi mengaku tak pernah membeli. Ia selalu membuatnya sendiri. Bahkan, ia pun mengonsep runtutan bebantenan yang harus diper­ siapkannya. Dalam catatan kecil yang terdiri dari be­ berapa lembar kertas itu, ia membuat semacam pand­ uan, yang dikatakannya itu nanti bisa dipelajari anakcucunya dalam membuat banten. –Inten Indrawati

20 - 26 oktober 2014

Sudut Pandang

19

Penjaga Perbatasan sekaligus Guru Tahun 2014, kurikulum 2013 dilaksanakan secara bertahap di semua satuan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Kurikulum 2013 juga akan di­ laksanakan prajurit TNI yang diperbantukan se­ bagai pendidik di satuan pendidikan dasar di daerah khusus. Bagaimana mekanismenya?

A

gar dapat melak­ sanakan imple­ mentasi kuriku­ lum 2013 secara menyeluruh, para prajurit TNI yang diperbantukan sebagai pen­ didik di daerah khusus juga harus memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep, pendekatan,

dan strategi implementasi kuri­ kulum tersebut. Karena itu, Ke­ mendikbud bekerja sama dengan Markas Besar TNI melaksanakan bimbingan teknis kepada prajurit TNI yang diperbantukan sebagai pendidik di daerah khusus. Program bimbingan tek­ nis ���������������������������� ini ������������������������ ber­tujuan untuk ������� mengem­

bangkan kompetensi dan kiner­ ja prajurit TNI yang diberi pembekal­a n sebagai pendidik di daerah khusus dalam imple­ mentasi kurikulum 2013. ����� Kuri­ kulum 2013 di­harapkan dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan sikap,

Dulu hanya Calistung Sekarang Sesuai Kurikulum 2013 Kerjasama yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan TNI AD merupakan kelanjutan dari program yang digodok sejak tahun 2011. Salah satu tujuannya adalah men­ ingkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di wilayah pelosok dan terpencil. “Ini merupakan bukti kepedulian TNI terhadap bangsa dan negara. Selain menjaga keamanan, TNI juga ikut berkontri­ busi di dunia pendidikan,” ungkap Kapendam IX/ Udayana Kolonel CZI Abdijon Sinaga disela-sela kunjungan ke Gedung Pers Bali K. Nadha, Kamis (16/10). Ia menambahkan, tahun ini Kodam IX/Udayana menugaskan 68 bintara untuk mengikuti pelatihan pola 52 yang terkait dengan kurikulum 2013. Bin­ tara-bintara ini nantinya akan bertugas di wilayah perbatasan RI-Timor Leste. Mereka akan mengajar di wilayah terpencil yang aksesnya sulit dijangkau. Pelajaran yang diberikan kepada siswa SD dan SMP sesuai dengan kurikulum 2013. Beda dengan zaman

dulu, materi hanya seputar membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Untuk tingkat SMA, para tentara hanya menjadi mentor untuk mata pelajaran Kewiraan. “TNI punya konsep sebagai pelatih. Anggota mulai dari bintara hingga perwira harus tahu Cara Memberikan Instruksi (CMI). Ini merupakan modal untuk menjadi guru di tempat bertugas. Selain itu, mereka juga harus memiliki kesiapan ­mengajar (siapjar) sebagai bukti administrasi. Lebih detail lagi, ada yang namanya tugas khusus yang dijabarkan dalam tugas terkandung, diantaranya mengajar masyarakat, serta tugas nyata kembali. Semua pola ini sudah dimiliki TNI. Jadi ketika ang­ gota TNI diminta menjadi guru di wilayah pelosok, wilayah terpencil, atau wilayah perbatasan, itu tidak masalah,” ujar Kapendam. Ia pun menuturkan pengalamannya ketika menjadi Komandan Kodim di Pulau Seram. Di wilayahnya itu sangat terpencil, tiap tiga menit ber­ jalan bertemu laut atau hutan. Karena ter­pencilnya, anggota TNI lah yang menjadi guru. Kalau pasuk­ an yang bertugas di wilayah terpencil itu bisa membaur dengan masyarakat maka akan terlihat suasana haru saat mereka ditarik. “Masyarakat pasti menangis kalau masa tugas TNI itu selesai. Artinya, pengabdian mereka diterima masyarakat. Tetapi, ada juga oknum yang nakal. Ini biasanya kami tarik lebih awal,” kenangnya. Pengalaman lainnya di wilayah perbatasan RI-Malaysia di Serawak, anggota TNI tidak hanya menjaga keamanan tetapi juga mengajak masyarakat untuk belajar. Kisah para prajurit ini sampai ada yang dibuatkan film dokumenter. Pela­ jaran yang diberikan tentu saja menitikberatkan kepada bela negara. Terkait materi pelajaran, ­Kolonel Abdijon mengakui saat ini untuk materi SD dan SMP masih bisa dijangkau bintara. Tetapi, untuk SMA biasanya ditangani perwira. Semua ini juga tergantung situasi di lapangan. Kalau di wilayah tersebut sudah ada sekolah dan gu­ runya, mereka hanya sekali waktu mengajar. Tetapi, ada sekolah yang tidak punya guru karena gurunya mudik, maka anggota TNI inilah yang menjadi guru. -Ngurah Budi

Mendikbud Muhammad Nuh saat tampil memberikan pencerahan kurikulum 2013 serta kondisi pendidikan di Indonesia umumnya di Nusa Dua, Jumat, (10/10)

keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Setelah mengikuti kegiatan bimtek Kurikulum 2013, para pra­ jurit TNI yang ditugaskan sebagai pendidik di daerah khusus di­ harapkan dapat memahami kom­ petensi, proses pembelajaran, dan penilaian dalam implementasi Kurikulum 2013. Demikian disampaikan Mendikbud Muhammad Nuh saat tampil memberikan pencerahan kurikulum 2013 serta kondisi pendidikan di Indonesia umumnya di Nusa Dua, Jumat, (10/10) bagi prajurit TNI yang diperbantu­ kan sebagai pendidik di daerah khusus. Menurut Muhammad Nuh, TNI sebagai komponen bangsa berkewajiban untuk memper­ siapkan generasi yang mampu mengelola dan menjawab ber­ bagai persoalan dan tantangan tersebut sesuai dengan zaman­ nya. Karena itu, anak-anak harus mendapatkan layanan pendidik­ an yang makin terjangkau dan makin berkualitas. Mereka harus mendapatkan layanan pendidikan sedini mungkin, setinggi mungkin dan mampu menjangkau seluas mungkin, termasuk bagi yang tidak terjangkau. “TNI berada dimana-mana di seluruh tanah air tidak terkecuali di daerah khusus, yang tugas pokoknya adalah menjaga keamanan dan ke­utuhan NKRI, akan tetapi biasa juga diberi tugas tambahan untuk turut juga mencerdaskan anak bangsa, men­ jadi guru di sekolah-sekolah di daerah khusus,” ujarnya. Menurut Mendikbud, dalam tahun 2014 ada 2 ribu prajurit TNI baik dari angkatan laut, angkatan udara dan angkatan darat yang akan ditugaskan di daerah khusus. Daerah khusus yang dimaksud adalah daerah perbatasan, daerah terluar, terdepan dan daerah terpencil lainnya. Jadi, di sam­ ping prajurit itu menjaga daerah perbatasan, mereka juga akan tampil sebagai guru. Kalau pun nanti di daerah tersebut tidak ada anak-anak, minimal para prajurit

tersebut bisa mengajar anaknya sendiri. Mereka juga menjadi data provider yang menyampai­ kan, berapa anak usia sekolah, berapa KK, posisinya dimana, di titik koordinat berapa, maka pemerintah akan menindaklanjuti dengan mendirikan sekolah disana dekat dengan pos pengamanan. Saat mengajar para prajurit TNI ini akan memakai seragam guru. “Kalau pelajaran pembentukan karakter mereka bisa memakai baju tentara,” ucapnya. Muhammad Nuh menam­ bahkan, dalam kurikulum 2013, ada beberapa pelajaran yang disempurnakan, misalnya, dalam pelajaran sejarah tidak lagi hanya berupa hapalan, namun, ada aktualisasi sehingga anak-anak tidak kehilangan masa kekinian dan tidak membosankan. Sejarah tidak hanya pendekatan masa lalu semata. Tapi, kejadian sejarah ditarik ke masa kini, ke depannya seperti apa. Ia menyatakan, program TNI menjadi pendidik ini akan di­ agendakan tiap tahun. “Walaupun menteri pendidikannya nanti bukan saya, tapi program ini akan diteruskan,” kata Muham­ mad Nuh. Asisten Teritorial Mabes TNI Mayjen TNI I Ngakan Gede Sugi­ artha Garjita mengatakan, TNI memiliki peran ganda disam­ ping sebagai penjaga wilayah perbatasan, juga sebagai tenaga pendidik. Selama ini pendidikan di wilayah terpencil dan pelo­ sok belum semua terjangkau. Karena itu, prajurit TNI siap untuk membantu mencerdaskan gene­r asi bangsa. Karenanya, mereka diberikan pelatihan kurikulum 13. Pelatihan ini dilakukan selama enam hari dengan tiga pos, Medan untuk Indonesia bagian Barat, Bali untuk Indonesia bagian Tengah, dan Makasar untuk Indonesia bagian Timur. Prajurit TNI yang ikut pelatihan ini, minimal sersan, tamatan SMA. Mereka nanti di­tugaskan mengajar di sekolah dasar. –Wirati Astiti


20

Nine

20 - 26 Oktober 2014

Kakak-Adik Jago Lukis

Di dalam sebuah rumah sangat sederhana di deretan Asrama Brimob Polda Nusa Tenggara Barat yang terletak di pesisir Pantai Ampenan, terdapat puluhan piala berjejer rapi di atas sebuah lemari kaca yang juga sangat sederhana. Lima puluh enam piala tersebut adalah ke­ banggaan Pratatih Ingati atas prestasi yang diraih kedua putrinya, Krisdayanti Dosreis Junior (14) dan Krisabella Dosreis Junior (13), dalam karya-karya lukisan mereka yang atraktif.

T

alenta me­ lukis kakakberadik ini lahir dari ketelatenan sang ibu, Pra­ tati. Bahkan, lukisan Kris­ dayanti yang kini duduk di kelas 1 SMP berjudul Back of Bird, pernah lolos untuk mengikuti kompetisi da­ lam ajang Look and Learn Art London, Inggris, tahun 2012. Memiliki tiga anak perempuan dengan bakat yang sama, membuat Pra­ tatih memberikan perhatian ekstra terhadap ketiganya terutama pada kedua anak yang sudah sering meng­ ikuti berbagai ajang lomba dan kompetisi melukis baik lokal maupun nasional. Bakat mereka sebagai pe­ lukis rupanya mewarisi bakat ibunya, Pratatih, yang juga seorang guru melukis di beberapa sekolah di Mataram. Ia juga mengajar melukis secara privat. Sebagai perempuan, Pratatih terbilang sangat ulet dalam membimbing anak-anaknya hingga mereka ber­ prestasi. Uniknya, bakat melukis Pratatih adalah bakat alami. Ia tidak pernah secara khusus meng­ enyam pendidikan seni melukis namun melukis adalah kesehari­ an dan panggilan jiwanya. Ia bisa melukis secara otodidak. Ia menjadi seorang ibu yang selalu memberi semangat bagi ke­ langsungan bakat putri-putrinya.

Pratatih Ingati

Meski tidak sedikit biaya yang harus ia dan suaminya keluarkan untuk mendukung keduanya terutama ketika mengikuti lombalomba, Pratatih terlihat tidak pernah menyerah dalam kehidup­ an yang sederhana. Biaya latihan melukis bagi kedua putrinya dengan materi dan bahan melukis yang tidak murah harganya, men­ jadi kenikmatan tersendiri bagi Pratatih dalam mengatur keuang­ an keluarganya yang tergolong sederhana itu.

Baginya, meskipun peng­ hasilan biasa saja yang ia te­ rima tiap bulannya, namun tidak pernah menghambat untuk mendukung bakat anak-anaknya. “Saya selalu berusaha memenuhi semua kebutuhan melukis mereka meskipun biayanya lumayan besar,” ujarnya tersenyum. Karena alasan itulah, Pra­ tatih merasa perlu ikut membantu suaminya yang seorang polisi berpangkat biasa dalam memenuhi kebutuhan keluarga dengan menjadi guru melukis di beberapa sekolah maupun secara privat. “Semua saya lakukan dengan suka-cita demi anak-anak saya,” ka­ tanya. Krisdayanti yang lahir di Mataram 6 Juli 2000 dan Krisabella, 15 Mei 2001 telah memperlihatkan bakat melukis mereka sejak anakanak. Keinginan melukis da­ tang karena seringnya me­ reka melihat ibundanya juga me­ lukis. Kebiasaan mencorat-coret tembok sejak kecil membuat Pratatih langsung berinisiatif men­ dorong mereka untuk terus mau menuangkan kebiasaan tersebut pada media lukis yang sebenarnya seperti buku gambar, kertas dan kanvas secara bertahap. Pratatih dan Domingos tidak pernah memaksa mereka untuk tertarik menekuni dunia melukis melainkan hanya memberi do­ rongan dan bimbingan untuk lebih

Pratatih bersama kedua putrinya Kris dan Bella yang berprestasi atas bimbingannya

Inspirasi

20 - 26 Oktober 2014

5

Ni Putu Shinta Sutami

Proses Mencari Jati Diri Dalam proses perjalanan diri ke dalam, membutuhkan wak­ tu serta komitmen pribadi. Itulah yang kini sedang dilakoni Ni Putu Shinta Sutami yang lebih dikenal masyarakat sebagai spiritualis. Salah satu tulisannya berjudul “Berdamailah de­ ngan Diri” yang pernah dimuat di media massa, sepertinya tepat mewakili perjalanan spiritualnya sebagai abdi Tuhan.

adalah aset yang terpenting. Bahkan, sebagai wanita Bali ia memberanikan diri memegang toko bebas pajak (DFS/ IDP). Dalam kurun waktu yang sama, ia juga mendapatkan kepercayaan sebagai marketing untuk air India dari PT Bumi Dirganusa/Jagat Tour and Travel. Waktu itu, India masih dilihat sebelah mata. Sampai akh­ irnya travel tempatnya bekerja itu membantu membawa traveltravel besar Indonesia ke India. Shinta Sutami semakin diberi­ kan kepercayaan besar akan sepak terjangnya dalam menge­ nalkan India kepada travel-travel di Indonesia. Ditambah lagi, kar­ ena banyak yang menyebutkan dirinya peranakan India. Padahal, ia wanita asli Bali, buah pasangan seorang ABRI, I Nengah Tantera (alm.) dan seorang guru Ni Ko­ mang Sudarmi, yang numpang lahir di Surabaya. Shinta Sutami pun sering ngayah jika ada guruguru spiritual India mengunjungi Bali. Ia yang membantu men­ jemput, membuat makanannya, dll. Sebaliknya, ia pun juga kerap melakukan perjalanan spiritual ke India. Dalam satu kurun waktu, ia tak pernah puas dengan mengam­ bil hanya satu pekerjaan. Ia pun tercatat pernah bekerja di be­ berapa hotel besar di Bali, seperti Chains Hotel dan Dynasty Hotel, Kuta. Di sela waktu kerjanya itu,

Ni Putu Shinta Sutami

S

Atas prestasi kedua putrinya, Pratatih mendapat kunjungan khusus dari Novita Ariyanti Iriawan, Ketua Bhayangkari NTB

menemukan dan mengarahkan bakat tersebut menjadi sebuah karya. Di samping itu, Pratatih rajin mengajak anak-anaknya mengunjungi pameran-pameran lukisan di Mataram. Tidak itu saja, anak-anak ini suka menon­ ton pertunjukan-pertunjukan seni yang ada di Mataram. “Saya melihat mereka tertarik untuk melukis, saat itulah saya mulai mengarahkan mereka pelan-pelan mengikuti naluri seni mereka,” ungkapnya. Atas bimbingannya itu, satupersatu akhirnya karya kedua anaknya lahir dan satu-persatu pula karya-karya tersebut menda­ pat penghargaan sebagai juara dalam lomba-lomba yang diikuti di Mataram bahkan tingkat nasional. Krisabella pernah menjadi Duta Nusa Tenggara Barat pada Fes­ tival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang diselenggarakan di Mataram NTB. Bahkan, salah satu karya Krisdayanti pernah dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta pada Agustus 2010. Dan salah satu karyanya yang menjadi juara tahun 2006, pernah dipa­ merkan di Jepang. Menurut Pratatih, bakat me­ lukis keduanya memang telah terlihat sejak usia kanak-kanak. “Sejak umur 2 tahun ketika me­ reka telah dapat memegang pena, mereka sudah tampak tertarik menggambar,” katanya. Sebagai ibu, Pratatih tahu benar peran­ nya dalam mendukung keduanya. Pratatih terbilang bertangan dingin dalam hal ini, karena bakat yang sama juga kini tengah diperlihatkan oleh anak ketiganya yang baru

berusia 3 tahun, Kristalya Martha Doreis Junior, yang karya lukisan pertamanya juga sudah pernah dipamerkan di Taman Budaya NTB. Kebiasaan anak-anaknya mencorat-coret tembok rumah di masa kecilnya, ia biarkan saja. Karena menurutnya, itulah cikalbakal mereka mengekspresikan bakatnya tanpa dibatasi. Sebagai ibu, ia tidak pernah mengeluh me­ lihat tembok yang penuh coretan. Karena di sanalah letak kebanggaan perempuan hitam manis ini. Bakat melukis keduanya yang telah berhasil meraih banyak prestasi ini tidak membuat Pra­ tatih mengarahkan mereka untuk melanjutkan pendidikan khusus ke sekolah seni. “Saya serahkan pada pilihan mereka,” katanya. Ia hanya berharap ketika Krisdayanti yang bercita-cita menjadi polisi dan Krisabella yang bercita-cita menjadi dokter, dapat menjadi polisi dan dokter plus. “Polisi dan dokter plus yang bisa melukis,” harapnya. “Terima kasih Tuhan, berkat anak-anak inilah, kami dikenal dan bisa bertatap muka dengan orang-orang penting,” ujar Pra­ tatih. Bagaimana tidak, diakui Pratatih, karena prestasi kedua anaknyalah yang membuat ia dan suaminya dikenal. Bahkan, karena mereka pulalah ia dapat diberi kepercayaan untuk mengajar eks­ trakurikuler di beberapa sekolah swasta dan menjadi guru les privat melukis. Pratatih terbilang berhasil membawa Kris dan Bella menjadi anak-anak yang dapat memberikan kebanggaan bagi kedua orang­ tuanya. –Naniek I. Taufan

hinta Sutami menun­ taskan pendidikan strata -nya di Fakuk­ tas Hukum Univer­ sitas Udayana tahun 1985. Entah kenapa, sebagai sarjana hukum, ia malah lebih banyak berkeci­ mpung di bidang pariwisata dan bergabung di Yayasan Kherta Wisata. Dari sinilah karirnya dimulai. Tahun 1987, Bali dipakai sebagai pilot project BKS (Bursa Kerja Swasta) dari Kementerian Tenaga Kerja. Shinta Sutami yang ditunjuk sebagai direktris saat itu membuat pelatihan pramuwisma. Programnya, memperkuat AKAL, AKAD, AKAN (antar kerja antar lokal, antar kerja antar daerah, dan luar negeri). Saat menjadi dosen yayasan di Kertha Wisata ini, ia juga kerap diminta menjadi dosen tamu di lembaga pendidi­ kan lain, menjadi guest speaker, dll., sampai akhirnya tahun 1990 ia memutuskan hengkang dari yayasan tersebut. Shinta Sutami ingin berkiprah di hotel, menggeluti SDM (human capital). Karena menurutnya, ma­ nusia dalam sebuah perusahaan

Shinta Sutami memberi ceramah

Shinta Sutami membuat rujak bersama anak-anak

ia masih tetap sebagai marketing air India. Tahun 2005, Sinta Su­ tami mulai melakukan pelayananpelayanan. Ia sangat terinspirasi dan bangga dengan tokoh wanita Hindu Ibu Gedong (almh.) yang mampu berbicara tentang Hindu di Gedung Putih. Dalam perjalanannya mencari jati diri, di tahun 2006 Shinta Sutami diingatkan lonceng ke­ matian anaknya. Anak remajanya yang baru berusia 14 tahun itu meninggal karena kecelakaan. Shinta Sutami terkenang betul permintaan anaknya enam bulan menjelang dipanggil Sang Pen­ cipta, “Mama jangan kerja, ingin sama Mama terus”. Tragedi ini menjadi kilas-balik perjalanan seorang Shinta Sutami. Dari sana ia belajar sebuah makna, bahwa yang di ataslah Sang Pemilik Jiwa. Dalam sampah ada bunga, dan da­ lam bunga pasti juga ada sampah. Itu pula yang mengetuk pintu hat­ inya untuk menjadi seorang abdi di kegiatan sosial spiritual. Jabatan puncak sebagai Human Resources Manager (HRM) di Hotel Dynasty pun dilepaskannya. Dalam pemujaan, sebuah proses bukan sesuatu yang mu­ dah. Namun sebagai abdi/pengayah adalah menjadi instru­ men yang indah. Hanya dengan landasan bhakti dan ketulusan tanpa memikirkan hasil, ia mantap melangkahkan kakinya sebagai “pelayan”. LOVE is the only POWER. Pelayanan ia lakukan melalui menjadi pemerhati ma­ kanan sehat, terus berjalan dan fokus agar semakin peduli kepada masyarakat untuk hidup sehat sederhana dengan pendidikan

nilai-nilai kemanusian yang su­ dah lama terlupakan. Ditambah senantiasa selalu mengumandan­ gkan untuk memberikan waktu untuk tubuh beristirahat 10-15

menit dengan latihan relaksasi, dengan berterimakasih pada set­ iap organ tubuh. Masyarakat luas pun meresponsn dan menyenangi latihan tersebut. Karena mungkin kata-kata meditasi terlalu seram bagi mereka. Namun intinya adalah mengistirahatkan tubuh untuk relaks, karena kerja, pikiran yang tidak fokus menyebabkan tubuh lelah. Untuk mencintai tubuh, konsumsi makanan sehat dan terapkan pola hidup sehat. Kurangi keinginan, sehingga bisa berkarya. Wanita yang sehat jasmani dan rohani, wanita yang mulia di mata Sang Pencipta, keluarga dan masyarakat. The end of education is character, money come and goes, morality come and growth, demikian sabda guru spiritual yang terus ia ingat dan dipakainya sebagai pijakan berjalan. Kebahagiaan sederhana yang kita ciptakan untuk perjalanan jiwa, perjalanan ke dalam diri. Setiap perubahan, meskipun perubahan yang lebih baik, pasti ada ketidaknyamanan. Dan ketidaknyamanan itulah yang harus diubah menjadi ke­ nyamanan. Hidup selalu ada perubahan,berubah menjadi dewasa,menjadi dewasa yang terus-menerus menciptakan dirisendiri tanpa henti. Tentunya dengan hal-hal positif.

Kenalkan Pola Hidup Sehat Shinta Sutami yang menyebut dirinya pengayah, abdi, dan pe­ merhati wanita ini masih merekam pengalaman-pengalamannya saat melakukan pelayanan. Salah satunya di sebuah pulau terpen­ cil di Sumatera yakni Pulau Legundi. Dari Pelabuhan Bakahuni Lampung, ia harus menaiki boat 2 jam-an. Pelayanan tersebut ia lakukan murni untuk kemanusiaan dan memotivasi masyarakat untuk hidup sehat. Karena di daerah tersebut, angka kematian ibu melahirkan cukup tinggi yang tentunya diawali karena makanan dan pola hidup tak sehat. Ia banyak belajar tentang hal ini dari rajin mengikuti seminar, membaca literatur dan kemudian menerapkannya dalam kehidu­ pan sehari-hari. Ia pun kini sering diundang beberapa pihak, baik itu untuk mengajarkan anak-anak TK memasak makanan sehat, memotivasi masyarakat untuk melakukan pap smear, diundang umat hingga ke Lampung dan Jambi untuk melatih dan sharing tentang belajar mencari diri ke dalam, menjadi konsultan HRD, menjadi tour guide perjalanan spiritual ke India, hingga terlibat dalam Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah (P4D) beberapa tahun silam.- Inten Indrawati


4

Inspirasi

20 - 26 Oktober 2014

Tanpa Modal Hasil Jutaan Rupiah Ingin berbisnis namun tak punya modal? Atau ingin berbisnis namun terbentur waktu karena harus mengurus rumah tangga? Mungkin apa yang dilakukan Yannie dapat menjadi inspirasi Anda yang ingin mencari penghasilan tambahan tanpa mengeluarkan modal besar, juga tanpa harus banyak keluar rumah untuk mempromosikan produknya. Yannie

Y

Aneka jenis kerajinan yang terbuat dari sisik ikan

annie, begitu wanita asal Jawa Timur ini akrab disapa, memulai bisnisnya kerajinan dari sisik ikan nyaris tanpa modal. Namun dengan ketelatenannya, kini ia berhasil meraup keuntungan bersih rata-rata Rp 3-4 juta-an per-bulan hanya dari aksesoris sisik ikan. Jika melihat nilainya, mungkin, tidak terlalu besar. Namun terbilang lumayan, karena ia nyaris tidak mengeluarkan modal uang untuk mendapatkan material dasar. Apalagi, penghasilan Rp3 juta pun didapatnya karena usaha yang dilakukannya sendiri itu, memang tidak besar. “Bisnis ini saya jalani, sebenarnya, bukan semata-mata ingin mencari uang. Tapi ini hanya sekadar hobi, yang ternyata bisa mendapatkan uang. Ini juga bukan usaha yang besar, karenanya pendapatannya pun tidak terlalu besar. Tapi lumayan ya sebulan antara Rp3-4 juta-an. Saya pun mengerjakannya di sela-sela waktu luang karena masih harus mencurahkan sebagian waktu saya untuk mengurus rumah tangga, keluarga,” ungkap wanita cantik ini. Yannie mengaku sejak dulu menyenangi kerajinan. Namun dulu ia membuatnya hanya sebatas hobi. Mulai dari menjahit, menyulam, dll, yang dikerjakannya saat senggang. Ketika menikah, hobi itu tetap dilakukannya. Suatu ketika ia melihat sisik ikan yang cukup besar, lantas terlintas dalam pikirannya untuk mencoba membuat aksesoris. “Saya ini penggemar aksesoris. Saya punya koleksi aksesoris, yang sebagian di antaranya adalah bikinan sendiri de­ ngan menggunakan bermacam-macam bahan. Rasanya puas bisa menciptakan, mendesain sendiri, apalagi kalau mendapat pujian karya kita ini bagus,” ungkap ibu dua anak ini. Nah, ketika melihat sisik ikan ukur­ an besar, daya kreativitas Yannie pun tergugah. Sontak dalam benaknya terbentuk sebuah desain untuk membuat aksesoris dari sisik ikan. “Saya gunakan sisik ikan kakap merah karena ukurannya besar. Di Manado, ikan kakap merah bisa sepanjang 70 cm, makanya sisiknya pun besar-besar. Nggak tahu bagaimana, tapi ketika saya melihat sisik ikan itu, langsung saja terpikir ingin membuat anting, kalung, gelang, pasti akan cantik terlihat,” tutur Yannie yang telah delapan tahun menetap di Manado, Sulawesi Utara, mengikuti tugas suaminya. Memproses sisik ikan untuk menjadi kerajinan, menurut Yannie, cukup mudah. Untuk menghilangkan amis, ia hanya merendam sisik ikan itu dengan sabun rinso. Setelah bau amis hilang, sisik ikan diangin-anginkan supaya ke­ ring. Menurut Yannie, dibanding jenis ikan lainnya, sisik ikan kakap merah

lebih indah. Tanpa harus dibentuk lagi, sisik ikan itu sudah tampak menarik. Apalagi setelah dicuci, warna sisik ikan itu akan menjadi putih cemerlang. “Beda dengan sisik ikan lain, kakap merah sisiknya indah. Setelah dicuci warnanya akan terlihat putih cemerlang. Teksturnya menarik, jadi tak perlu dibentuk lagi sudah terlihat cantik,” katanya. AKTIVITAS ISENG MENJADI ‘SUMBER’ UANG Menurutnya, ketika memulai membuat kerajinan aksesoris itu, tak terpikir untuk berbisnis. Aksesoris itu hanya untuk dipakai sendiri. “Kadang saya mengkombinasikan dengan material lain supaya lebih menarik,” tambahnya seraya berkata, biasanya ia mengerjakannya hobinya itu di saat menunggu anak pulang sekolah atau anakanaknya tidur di malam hari. “Yang paling sering saya mengerjakannya di malam hari, kadang bisa sampai jam 2 pagi, karena kelewat asyik,” ucapnya tertawa. Hobinya ini berubah jadi ‘uang’ saat temantemannya merasa tertarik dengan aksesoris-aksesoris yang dipakainya. “Mereka suka, katanya ‘cantik’. Lalu memesan pada saya bebe­ rapa set,” katanya. Sejak itu, kata Yannie, ia membuat kerajinan aksesoris bukan hanya untuk dipakai sendiri tapi juga untuk memenuhi pesanan teman-temannya. Ia merasa beruntung ka­ rena mempunyai banyak teman, mereka inilah yang ‘membantunya’ mempromosikan dari mulut ke mulut. “Mereka pakai aksesoris buatan saya, kemudian ada temannya yang tanya, akhirnya memesan. Begitu seterusnya, sampai akhirnya ‘pekerjaan iseng’ ini bisa menjadi peluang usaha,” katanya. Melihat ada peluang yang bagus, ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengikuti program bimbingan UKM yang diadakan pemda setempat. “Dari sisik ikan itu saya buat menjadi an­ ting, gelang, kalung, bros, tusuk jilbab, dll. Bahkan merangkai bunga pun bisa dengan sisik ikan. Lewat

tuknya tidak bagus. Itu semua dibuang,” jelas Yannie yang berpameran di Jakarta atas fasilitas dari Dinas Perdagangan Provinsi Sulawesi Utara. Menurut Yannie, usaha kerajinan aksesoris dari sisik ikan ini sudah ditekuninya selama tiga tahun. Kebetulan, tambahnya, di Manado tempatnya menetap, tidak banyak yang menjalani usaha tersebut sehingga ia menjadi le­bih leluasa. Selain promosi dari mulut ke mulut, ia jmemasukkan produknya ke beberapa toko souvenir, juga mengirim ke sejumlah daerah seperti Kalimantan dan Surabaya. “Saya juga sering pameran tapi kebanyakan hanya di Manado. Saya pameran di Jakarta baru kali ini,” kata Yannie yang kerap menerima pesanan souvenir pernikahan. Menurutnya, pameran adalah ke­ sempatan yang paling menyenangkan karena umumnya ia bisa mendapatkan hasil yang lumayan besar. Belum lama ini, katanya ia pameran di sebuah hotel, hanya dalam tempo empat hari ia berhasil meraup untung sekitar Rp 6 juta dari penjualan aksesoris sisik ikan.

Mandalika

Menuju NTB Bebas Kanker Serviks

Yannie

internet saya juga suka melihat berbagai model. Karena memang kerajinan sisik ikan, kan, banyak juga dibuat di daerah lain. Tapi saya lihat, produk mereka berbeda. Kalau mereka membentuk sisik ikan menjadi berbagai bentuk yang mereka inginkan, sedangkan saya tidak. Saya biarkan tekstur aslinya, karena menurut saya indah,” tuturnya panjang lebar. Lalu dari mana ia mendapat material sisik ikan tersebut? Menurut Yannie, sisik ikan adalah limbah yang dibuang pedagang ikan. Maka tak heran kalau ia bisa mendapatkannya secara gratis. “Biasanya seminggu sekali saya ambil di pasar, sekitar 3 kg. Kemudian saya rendam rinso untuk menghilangkan bau amisnya”. Dari jumlah 3 kg itu, tuturnya, tidak semua sisik bisa dipakai. “Pekerjaan cukup memakan waktu adalah menyortir sisik-sisik itu untuk mencari yang bertektur bagus. Sebagai gambaran, dari satu ekor ikan kakap merah, hanya sepertiga sisiknya yang bisa digunakan. Jadi tidak bisa semua, karena ada yang rusak, ada yang ben-

20 - 26 Oktober 2014

“Jumlah yang lumayan, kan? Padahal modalnya sangat minim sekali. Umumnya ibu-ibu beli tidak hanya satu, tapi sekali beli banyak item. Mungkin karena harganya murah. Untuk anting, gelang, tusuk jelbab berkisar Rp30 ribu, kalung Rp40 ribu. Harganya bisa lebih dari itu jika dikombinasikan dengan material lain. Seperti ini, kombinasi dengan batok kelapa,”katanya. Sebenarnya ada banyak kerajinan yang bisa dikembangkannya dengan menggunakan sisik ikan. Misalnya, lukisan, tas, dll. “Masih banyak kreasi yang bisa dikembangkan dengan sisik ikan ini. Saya punya banyak ide, tapi lihat nanti saja, karena pasti ada konsekuensinya, seperti waktu dan modal, misalnya”. Kini bisnis Yannie tidak melulu aksesoris sisik ikan, tapi ia juga membuat kerajinan tas, dompet, dll, dari kain Manado. “Prospeknya cukup bagus karena banyak wisatawan yang ingin mencari souvenir khas Manado, beli tas atau dompet yang terbuat dari kain khas motif Manado,” katanya. — Diana Runtu

21

Perjuangan Tim Penggerak PKK NTB untuk membebaskan perempuan NTB dari kanker serviks dilakukan dengan berbagai ikhtiar. Sosialisasi-sosialisasi tentang deteksi dini kanker serviks (serviks) ke masyarakat terus dilakukan. Beberapa waktu lalu, PKK NTB melakukan sosialisasi Program Deteksi Dini Kanker Serviks kepada 47 orang perempuan yang tergabung dalam GOW yang mewakili masing-masing organisasi wanita.

Ketua Tim Penggerak PKK NTB, HJ. Erica Zainul Majdi, bersama Prof. DR. Alexander EW Peters (kiri) dan Dr. Dodi (kanan)

K

anker leher rahim adalah tumor ganas yang mengenai leher rahim yang disebabkan oleh HPV (Human Papilloma Virus) yang onkogenik. Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak yang diderita oleh perempuan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI yang disampaikan Dr. Dodi, AK., Sp.OG (K), Koordinator Female Cancer Programme (FCP) Lombok, terdapat satu perempuan di Indonesia meninggal dunia akibat kanker leher rahim setiap satu jam. Di dunia, tiap dua menit perempuan meninggal akibat kanker leher rahim. “Setiap perempuan berisiko terkena kanker leher rahim,” kata dr. Dodi. Dibutuhkan kepedulian semua pihak, khususnya kesadaran para perempuan untuk dapat mencegahnya. Ini sangat mungkin dilakukan karena menurut Prof. Dr. Alexander EW Peters, ahli ginekologi asal Belanda yang hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut, mengingat proses perjalanan leher rahim yang terpapar HPV dari sel normal yang berkembang hingga akhirnya menjadi kanker serviks ada masa 10 tahun. Paling cepat tiga tahun. “Dalam masa 10 tahun itu, kita bisa melakukan intervensi pencegahan dengan deteksi dini kanker leher rahim,” ungkapnya. Peters melansir data WHO, bahwa kanker serviks berhubungan dengan kemiskinan. Karena itulah, ia mengajak seluruh pihak untuk dapat menjangkau para wanita yang berada dalam kategori ini yang biasanya kebanyakan berada sangat jauh dari fasilitas kesehatan dan juga berpendidikan rendah, guna melakukan sosialisasi atau bahkan melakukan kegiatan deteksi dini langsung ke wilayah-wilayah. Mengingat mereka bertanggung jawab pada keluarga, maka para perempuan harus di­ selamatkan dari kanker serviks

yang mematikan ini. “Kita tidak bisa hanya menunggu di rumah sakit atau puskesmas saja, melainkan harus turun menjangkau mereka. Meski pun jika datang ke rumah sakit atau puskesmas, harus segera ditangani,” ujarnya. Dengan deteksi dini kanker serviks, harapan­nya generasi berikutnya tidak ada lagi perempuan yang meninggal karena kanker serviks. Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Hj. Erica Zainul Majdi yang sangat konsen membebaskan perempuan NTB dari kanker leher rahim ini, mengungkapkan kepada seluruh peserta yang hadir bahwa tidak ada alasan untuk tidak melakukan deteksi dini kanker serviks. Para perempuan yang hadir dalam kegiatan itu diminta untuk pandai-pandai mengomunikasikan dan menyebarluaskan informasi yang mereka dapat terkait deteksi dini kanker serviks, kepada anggota keluarga dan masyarakat sekitar. “Saya harap semua yang hadir disini bisa pandai-pandai mengomunikasikan kepada anggota keluarga, masyarakat dan organisasi

masing-masing, bahwa dengan prosedural deteksi kanker serviks yang sama sekali tidak menyakitkan, dalam waktu yang singkat, tenaga medis yang berkompeten dan tanpa dipungut biaya, maka tidak alasan bagi perempuan di NTB untuk tidak melakukan deteksi dini kanker serviks, untuk tidak memeriksakan dirinya, untuk tidak mendeteksi apakah di rahimnya ada bibit kanker atau tidak, dan untuk tidak segera mendapatkan penanganan-penanganan yang diperlukan,” kata Erica pada sosialiasi yang dihadiri oleh Gabung­ an Organisasi Wanita (GOW) se-Pulau Lombok tersebut. Deteksi dini kanker serviks merupakan hal yang sangat pen­ ting, pasalnya, kanker serviks adalah momok yang menakutkan bagi kaum perempuan dan merupakan pembunuh kaum perempuan yang terjadi bukan cuma di Indonesia, melainkan juga di dunia. Erica berharap agar momen sosialisasi ini dapat digunakan sebagai langkah lebih maju dalam penanggulangan kanker serviks di NTB, dengan langsung mempersiapkan dan merencanakan peng­ organisasian di masing-masing organisasi, mengenai rencana penyelenggaraan deteksi dini kanker serviks. “Saya harap, ke­ sempatan ini bisa dimanfaatkan untuk kebaikan kita bersama. Saya yakin betul, jika ibu-ibu mau berperan aktif dalam hal ini, maka ibu-ibu yang ada di sini merupakan pahlawan untuk menciptakan NTB yang perempuannya terbebas dari kanker serviks,” katanya. Ia meyakinkan, bahwa segala tindakan atau pemeriksaan bahkan terapi yang dilakukan un-

Salah satu faktor pemicu kanker serviks adalah pada perempuan yang menikah usia dini

tuk memberantas kanker serviks, tidak akan berpengaruh pada menstruasi, maupun kehidupan seksual wanita. Menurut Dr. Dodi, deteksi dini kanker serviks melalui Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), adalah pemeriksaan kanker serviks dengan cara inspeksi visual pada serviks dengan pemberian asam asetat. Setelah dilihat posisinya, leher rahim dipulas dengan asam asetat 3-5%, selama 1 menit. Pemberian ini tidak menyakitkan dan hasilnya langsung dapat disimpulkan saat itu juga apakah Normal (Negatif), ataupun Positif (ada lesi pra-kanker). Jika melalui IVA dinyatakan positif mengidap virus HPV, selanjutnya akan dilakukan tindakan Cryotherapy, dengan tingkat kesembuhan yang dapat mencapai 100%, sehingga akan terhindar dari risiko kanker serviks yang sangat mematikan. “Jika terdeteksi sejak dini dan menemukan sel tersebut belum berubah menjadi kanker, maka dapat diobati dan bisa sembuh 100%. Namun jika sel sudah berubah menjadi kanker, maka tidak lagi bisa disembuhkan. Tindakan penyelamatan tidak bisa dilakukan dengan operasi sekali pun,” ujarnya. Menurutnya, ba­ nyak perempuan yang datang ketika kanker serviks sudah stadium lanjut, sehingga dokter tidak bisa berbuat banyak untuk bisa menyelamatkannya. Hal yang pa­ling

Para perempuan dari Gabungan Organisasi Wanita (GOW) NTB, diharapkan dapat menyosialisasikan deteksi dini kanker serviks

mungkin dilakukan jika kanker serviks sudah stadium lanjut adalah menunda kematian dengan obatobat penyanggah yang tidak bisa menyembuhkan kanker serviks. Inilah pentingnya deteksi dini kan­ ker leher rahim, agar begitu terlihat ada bibit kanker, bisa segera diobati hingga tuntas sebelum sempat menjadi kanker. Selama sebelum menjadi kan­ ker, penyakit ini tidak memberikan keluhan apa-apa pada perempuan yang mengalaminya. Hanya saja ada tanda-tanda yang perlu diwaspadai adalah keputihan yang berbau, berwarna serta gatal juga vagina yang mudah ber­darah, pendarahan di luar masa haid, pen­­darahan saat senggama dan nyeri pinggul. Faktor risiko terjadinya kanker leher rahim adalah, kebiasaan ganti pasangan seksual, menikah muda, infeksi menular seksual, merokok, ba­nyak melahirkan hingga kekurang­an vitamin A atau C atau E dan juga faktor lainnya. Risiko tertinggi ada pada perempuan usia antara 30-50 tahun. Penyebabnya bisa jamur, virus, bakteri, benda asing atau protozoa. “Jika penyebabnya jamur, bakteri, benda asing dan protozoa masih bisa diobati dan 100 % bisa sembuh. Namun jika penyebabnya virus, tidak bisa di­ sembuhkan dengan cara apa pun,” ungkap dr. Dodi. Di Nusa Tenggara Barat khususnya di Pulau Lombok, ada 26 Puskesmas dan rumah sakit yang menerima pemeriksaan IVA untuk deteksi dini kanker leher rahim, secara gratis. Di Mataram, bisa datang ke RSUP NTB, RSUD Kota Mataram, Puskesmas Ma­ taram, Ampenan, Karang Taliwang, Pagesangan, Cakranegara. Lombok Tengah, RSUD Praya, Puskesmas Praya, Sengkol dan Mujur. Sedang­ kan di Lombok Timur, RSUD Soe­­djono Selong, Puskesmas Terara, Masbagik, Dasan Lekong, Selong dan Aikmel. Lombok Barat, di RSUD Patut Patuh Patju Gerung, Puskesmas Meninting, Kediri, Labuapi, Narmada dan Lingsar. Lombok Utara di RSUD Tanjung, Puskesmas Tanjung dan Bayan. Program ini secara bertahap nantinya akan sampai ke Pulau Sumbawa. -Naniek I. Taufan


Metropolitan

22

20 - 26 oktober 2014

“Srikandi” dan “Agustin” Antar Jokowi ke Istana

Dalam sepekan terakhir pemberitaan Jokowi dan Jusuf Kalla akan menggunakan kereta kencana dalam kirab budaya rakyat, seusai pelantikan­ nya di Gedung DPR/MPR, Senin (20/10), menghiasi media massa. Belakangan tersiar kabar Jokowi-Kalla tidak jadi naik kereta kencana melainkan andong hias ke kantornya yang baru, Istana Merdeka, Jalan Merdeka Utara, Jakarta. Apapun transportasi­nya, entah itu kereta kencana ataupun andong hias, pasti akan menjadi pertunjukkan menarik.

S

elama ini, memang tidak pernah terjadi presiden terpilih dipesta­kan begitu antusias oleh masyarakat. Baru Jokowi lah yang mengalami ini. Biasanya masyarakat hanya melihat pelantikan presiden di layar kaca. Tapi kali ini berbeda. Masyarakat bukan saja ingin terlibat langsung dalam mengantar Jokowi menuju Istana Negara tapi juga merayakannya dengan pesta rakyat. Adalah para relawan yang mengkoordinir pesta rakyat yang akan digelar seusai pelantikan Jokowi. Sebuah perhelatan besar disiapkan mereka, mulai dari Bundaran HI sampai Istana Negara. Rakyat akan mengantarkan Jokowi-JK menuju Istana Kepresidenan diiringi komunitas seni, karnaval batik, reog, ondel-ondel, barongsai, abang none, sepeda onthel dan perwakilan daerah seluruh Indonesia. Pesta ini akan makin afdol kare­ na adanya ‘jamuan’ gratis untuk rakyat yang disiapkan oleh komunitas pedagang bakso, siomay, dll. Ratusan pedagang ini akan berjejer di sepanjang Bundaran Hotel Indonesia hingga Monumen Nasional. Mereka akan dibagi menjadi tiga titik, yaitu di sekitar Bundaran HI, sepanjang Jalan MH Thamrin, hingga menuju Monas, dan di Monas itu sendiri. Selanjutnya, Presiden dan Wapres akan melakukan teleconference dengan masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia dari Istana Negara. Sedang sore hingga

malam diadakan Konser Rakyat di Tugu Monas bersama Slank dan ratusan artis papan atas. JokowiJK hadir untuk menyapa seluruh rakyat, menyampaikan pidato serta potong tumpeng. Malam harinya, pukul 19.00, di Monas akan dilepas ratusan lampion terbang. Tak dimungkiri, salah satu pertunjukkan yang paling menarik dan ditunggu-tunggu masyarakat adalah saat Jokowi-JK naik kereta kencana. Ada dua kereta yang disiapkan untuk keduanya. Masing-masing satu kereta untuk Jokowi dan istri, dan satu lagi, Jusuf Kalla dan istri. Kereta kencana ini bukanlah disiapkan khusus untuk acara kirab Jokowi. Namun, kereta-kereta yang dibeli Pemrov DKI Jakarta tahun lalu untuk mensukseskan acara Pagelaran Agung Keraton Sedunia (World Heritage Festival), Desember 2013. Salah satu dari kereta kencana itu, bahkan, telah dinaiki Jokowi saat event akbar itu. “Perbaikan sedang kami lakukan supaya kereta ini terlihat megah saat membawa Pak Jokowi. Banyak hal yang harus diperbaiki. Misalnya warnanya kan terlihat agak pudar, maka kami cat lagi. Begitu juga lampunya dibraso supaya mengkilap. Sehingga ketika dipakai kereta ini akan terlihat menarik. Kita harus membuat ini sebaik mungkin apalagi kejadian seperti ini, kan, baru pertama kali,” ungkap Seto, seniman museum, yang tengah mengerjakan pengecatan ulang pada bodi kereta. Untuk mendukung kirab ini,

Kereta-kereta Kencana

20 - 26 oktober 2014

Sosialita

3

Ni Ketut Ari Wijayanti

Pelanggan adalah Sahabat Kini makin banyak yang puas dengan hasil polesan tangannya dan tim make -up artist miliknya.Tanda-tanda pelanggan cocok dengan riasannya terbukti dengan mereka selalu kembali menggunakan jasanya. Bahkan saat ini ia kebanjiran permintaan untuk merias.

Salah satu Kereta yang rencananya bakal digunakan dalam arakan

empat kuda didatangkan dari Solo beserta kusir, salah satunya Mudjio­ no. Warga Kelurahan Jajar, Solo, ini, memang memiliki peternakan kuda. Kuda-kudanya kerap menjadi langganan acara-acara festival di Solo saat Jokowi menjadi Wali Kota Solo. Bahkan ketika Pagelaran Agung Keraton Sedunia, kuda Mudjiono pun ikut diberangkatkan ke Jakarta. “Dua kuda yang akan membawa Jokowi namanya, Srikandi dan Agustin, keduanya kuda betina. Dua kuda lainnya milik teman saya,” jelasnya. “Kuda-kuda itu jenis kuda khusus yang tidak takut kerumunan manusia atau keramaian,” ucap Mudjiono yang nantinya akan menjadi kusir kereta Jokowi.

Karena sampai Jumat (17/10), masih terdapat kesimpangsiuran kabar, antara kereta kencana, kereta biasa atau andong hias. Namun, apapun transportasi yang akan membawa Jokowi, Srikandi dan Agustin, dua kuda yang biasa dipakai Jokowi di Solo, akan ‘terlibat’ dalam prosesi arak-arakan itu. Pemda DKI Jakarta masih meyakini bahwa Jokowi akan naik kereta kencana karena itu persiapan terus

Usulan kereta kencana ini sebenarnya datang dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta sebagai wujud dari partisipasi mereka pada acara pelantikan Jokowi-JK. Mereka berharap Jokowi-JK menggunakan kereta kencana dalam prosesi arak-arakan menuju Istana Negara. Menurut Ida Subaedah dari Disparbud DKI Jakarta, pihaknya belum mendapat konfirmasi tentang

dilakukan mereka. Sementara Jay Wijayanto, Koordinator Kirab Budaya Rakyat, mengatakan, bukan kereta kencana tapi kereta biasa. Malah ketika dikonfirmasi wartawan, Jay mengaku sempat kaget dengan adanya pemberitaan tentang kereta kencana yang akan digunakan Jokowi. “Saya kaget ada pemberitaan soal Pak Jokowi naik kereta kencana. Bukan kereta kencana, tapi kereta kuda biasa. Tapi bukan andong, ya,” katanya kepada pers di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (17/10/2014). Namun, ia membenarkan bahwa kereta yang dipakai nanti adalah kereta yang berada di Taman Mini Indonesia Indah dan Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta.

perubahan transportasi. Karenanya dua kereta kencana yang berasal dari Keraton Yogyakarta dan Solo, tetap disiapkan. Nantinya, kata Ida, ada dua hulu yang disiapkan di kiri dan kanan untuk mengawal kereta. Abdee Negara Slank yang menjadi Penanggung Jawab acara mengaku belum tahu tentang adanya perubahan transportasi. Sejauh ini, katanya, dia hanya tahu transportasi nantinya antara kereta kencana dan andong. “Keputusannya, H-1,” kata Abdee. Ya, kereta kencana atau andong memang belum diputuskan, namun yang pasti Srikandi dan Agustin yang nantinya akan membawa Jokowi ke Istana.

ANTARA KERETA KENCANA ATAU ANDONG Meskipun berita kereta kencana telah tersebar luas namun sesungguhnya belum ada kepastian jenis transportasi apa yang akan digunakan.

-Diana Runtu

M

Ari dan putrinya Aura

eski usahanya masih baru, pemilik nama Ni Ketut Ari Wijayanti, S.E., ini tergolong seorang yang aktif dan kreatif. Ia dianggap berhasil melakukan make over, alias hasil yang memukau, berbeda dengan wajah aslinya. Karena itu pula, dalam waktu singkat klien dari Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal, yang berlokasi di Jalan Letda Tantular No. 9, Renon, Denpasar ini, terus bertambah. Silih berganti orang berdatangan meminta jasanya baik untuk merias pengan­tin, riasan pesta, ataupun riasan wisuda dan pelayanan perawat­an kecantikan lainnya. Malah, berkat kecekatan dan telantanya, Ari, begitu sapaan akrabnya, cukup banyak menangani

urusan tata rias para artis lokal maupun nasional. Ia juga sempat diminta menangani busana dan tata rias MC untuk acara Grand Final Duta Endek Kota Denpasar serta Grand Final Putra Putri Tuna Rungu beberapa waktu lalu. Bahkan, belum lama juga, ketika Bali mendatangkan para pemain Mahabharata, ia bersama tim make- up artist-nya, dipercaya menangati tata rias untuk rombongan pemeran Mahabharata tersebut. “Senang pastinya. Sebab ketujuh artis Bollywod ini sangat diidolakan banyak orang. Kami bukan hanya bisa bertemu tetapi langsung menyentuh wajah mereka,” ujar istri Gde Andika Paramartha ini. Ari pun lantas berkisah, awal mula ia mengarungi usahanya ini. Diakuinya semuanya memang tak lepas dari hobinya sejak muda yang

Ari dan tim make-up artisnya diantara artis Mahabharata

menyukai bidang fashion dan tata rias. Ini juga yang mendasari usaha yang dibangunnnya sejak 2011 tersebut, ternyata berkembang cepat. Kalaupun diawal ia lebih konsentrasi di bidang jasa me­nangani calon pengantin, namun karena permohonan pelanggan pula, ia akhirnya menyediakan dan melengkapinya dengan jasa mempercantik diri maupun melakukan perawatan lainnya secara menyeluruh, yakni salon dan spa. Usaha jasa ini akan terus berkembang karena semua orang terutama perempuan menyadari kecantikan dapat meningkatkan kepercayaan diri. Begitu juga tiap perempuan, tentu ingin memiliki penampilan yang menawan di tiap kesempatan. Wajah bersinar, kulit terawat dan kenyal, tata rias serasi dan sesuai dengan even yang dihadiri. Begitu juga de­ ngan rambut yang terawat, sehat dan tertata rapi mengikuti tren terkini. Terlebih berpenampilan menarik dengan kepercayaan diri yang kuat membuat seseorang mudah bergaul dengan lingkungan sekitarnya. “ Sebagai pemilik jasa yang profesional, kami memiliki keahlian dalam make-up artist yang mampu menonjolkan kelebihan dan menutupi kekurangan orang untuk mendapatkan gaya natural, fresh, elegan, maupun glamor,”lanjut Ari yang sempat memperdalam soal kecantikan di RudyHadisuwarno dan Menakjinggo ini. Meski saat ini sektor jasa seper­ti yang dijalankannya makin menjamur, namun Ari tidak merasa khawatir, sebab ia berpijak pada tagline_nya “Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal One Shop Treatment

with Good Quality & Good Price,” sudah sangat memahami bagaimana memberikan kepuasan dan kualitas untuk penampilan menyeluruh, mulai tata rias hingga busananya.” Kami selalu memosisikan pelanggan sebagai sahabat sehingga dapat mendiskusikan keinginan pelanggan dan menghasilkan karya rias dan penampilan yang sempurna,” kata ibu dari Aura, Arjun, dan Alga ini. SIAP DATANG KE TEMPAT KLIEN Selanjutnya, memahami kalau dinamika di dunia salon, spa dan bridal, sangat dinamis, dan menuntut perlunya upgrading, selain mengandalkan tenaga berkualitas dan memiliki kompetensi, Ari tidak pernah lupa mengasah kemampuannya dengan terus mengikuti sejumlah seminar dan workshop. Dengan tim yang berkualitas dan sarat pengalaman pula, usaha jasa miliknya siap bersaing dengan salon yang sudah memiliki reputasi nasional sekalipun Bicara jasa menangani per­ nikahan yang menjadi awal usaha­ nya, Ari mengatakan tiap orang memimpikan pernikahan dengan kesan terindah. Bisa tampil menawan, cantik, elegan,dan glamor pun menjadi unsur terpenting yang diinginkan setiap pengantin. Sedang­ kan, persiapan mengenai tempat, prewedding, busana dan make- up, hingga urusan dokumentasi kerap menjadi hal yang memusing­kan, karena ini menyangkut biaya yang tidaklah sedikit. Perempuan kelahiran 3 Mei 1987 ini pun memikirkan hal ter­ sebut. Ia ingin membantu meringan­

kan beban mereka, dengan menawarkan program paket pernikahan. Paket harga tersedia beragam, disesuaikan dengan fasilitas dan ketersediaan anggaran calon pengantin, termasuk pilihan tema tradisional maupun internasional. “Tim dari Cahya Dewi Salon Spa & Bridal juga siap datang ke tempat Anda, untuk membantu menangani merias agar terlihat menawan saat pemotretan untuk foto pre-wedding maupun di hari H. Termasuk siap membuatkan busana pengantin sesuai keinginan calon pengan­ tin,” ujarnya. Bukan hanya itu, tiap bulan, dia selalu memperbarui koleksi gaun pengantinnya. Ia terus memutakhirkan sesuai dengan tren yang berkembang. Bahkan, Ari berkeinginan lebih banyak lagi menambah koleksi gaun pengantin yang bahannya dari endek. Di sisi lain, kecintaan ibu muda ini pada kekayaan budaya Bali seperti ragam tekstil, upacara adat, kesenian tradisional juga kerajinan tangannya membuat Ari selalu memasukkan unsur lokal ini pada desain-desain baju pengantinnya. Malah hal ini menjadi salah satu ciri khasnya pada koleksi busana modifikasinya. Kini pada tahun ketiga, Cahya Dewi Salon, Spa & Bridal makin bersolek diri dengan menambah jenis layanan yang masih berkaitan dengan pernikahan. Selain salon, spa dan bridal, ini pun melengkapi layanannya dengan fotografi pernikahan. Jadi, setiap pasangan calon pengantin tak perlu repot mencari fotografer perkawinannya. Ia menjamin layanan tak mainmain dalam urusan kualitas produk dan pelayanan. Menariknya lagi, ia juga menyediakan jasa pre-wedding treatment, dimana calon pengantin bakal dimanjakan dengan berbagai treatment spa. Selain itu , juga tersedia pelayanan istimewa berupa massage for pregnant women (massage untuk ibu hamil) dengan produk yang memang diperuntukkan bagi ibu hamil. Apakah Ari sudah puas dengan usahanya? Ia mengaku belum dan masih ingin terus mengembangkan dan meningkatkan servisnya. Disamping itu Ari juga ingin sekali menambah fasilitas jasanya dengan menyiapkan wedding card dan suvenir termasuk membangun gedung untuk acara pernikahan. Apalagi usaha sang suami yang bergerak dibidang jasa sound sistem dan lighting, akan sangat mendukungnya membuat one stop wedding . “Mudah-mudahan mimpi ini segera dapat terealisasi untuk dapat lebih banyak membantu calon pengantin ,” ujar putri bungsu pasutri I Ketut Wija (alm) dan Ni Made Mawa asal Kapal, Badung ini. Ari mengatakan semua keberhasilannya ini karena doa-doa tulus dari keluarga dan kerabatnya. “Selain itu, saya akui, usaha ini berkembang pesat juga berkat dukungan dan dorongan penuh dari suami,” katanya mengaku beruntung bisa mendapatkan jodoh seorang suami yang memberinya ruang ber­gerak untuk menyalurkan kreativitas. “Izinkan kami menjadi orang pertama yang menjadikan Anda pengan­tin tercantik sesuai impian, di momen terindah dalam hidup Anda,” ujarnya ramah. -ard


2

Ekspresso

20 - 26 Oktober 2014

GORO-GORO

DAri daPUr Redaksi Putu Wijaya

Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana Kolonel CZI Abdijon Sinaga (lima dari kiri) saat berkunjung ke Gedung Pers Bali K. Nadha

Mari Majukan Dunia Pendidikan

Menjadi guru merupakan pekerjaan mulia. Guru dianggap pahlawan tanpa tanda jasa. Banyak anak-anak yang kemudian memiliki cita-cita sebagai guru. Namun, tak semua bisa mencapai cita­c itanya itu ka­r ena keterbatasan akses mereka mendapatkan pendidikan. Hal ini biasanya dialami anak-anak yang berada di wilayah pelosok maupun pedalaman. Untuk mengatasi keterbatasan akses ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan TNI. Bentuk kerja sama ini

direalisasikan dengan memberi pelatihan kepada bintara­bintara yang bertugas di dae­ rah perbatasan, daerah pelosok, dan daerah pedalaman. Selanjutnya bintara-bintara ini menjadi guru. Mereka mengajar anak-anak di wilayah mereka bertugas. Kepala Penerangan Ko dam IX/Udayana Kolonel CZI Abdijon Sinaga menuturkan peran tentara sebagai guru ini sebenarnya dilakukan sejak lama. Hal ini menunjukkan TNI selain sebagai penjaga keamanan wilayah Republik Indonesia juga bisa berkontribusi memajukan dunia pendidikan. Kisah-kisah prajurit d i w i l a y a h perbatasan dan

Cerita Senasib Suatu hari kami mendapat undangan sekeluarga untuk menghadiri upacara padiksan di Geria Aan. Saat itu situasi terasa cukup akrab, kami seperti sudah saling mengenal bersama undangan lain padahal kami baru bertemu saat itu. Beliau yang berasal dari Denpasar terus bersenda gurau dengan calon pendeta yang akan menjadi sulinggih. Demikian pula saya sebagai teman dekat de­n gan calon pendeta juga gayung bersambut mengenai kenangan masa lalu. Gelak tawa tidak putus-putus karena sama-sama memiliki kedekatan. Betapa indah dan akrabnya situasi selama di sana, sehingga berlanjut de­ ngan penyampaian pengalaman masing-masing. Salah seorang tamu dari Denpasar menyampaikan peng­

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

alaman, ketika Beliau memberikan Parisuda Pariksa di Karang­ asem. Setelah upacara selesai, beliau dimohon untuk menikmati boga yang telah disiapkan. Begitu turun dari tempat berlangsungnya acara, beliau akan memakai sandalnya, ternyata sandal yang baru saja dibeli tidak ada. Yang ada di sana hanya sandal jepit yang disambung. Setelah beliau selesai berce­ rita, saya pun ikut menyampaikan pengalaman. Saya pernah diundang teman dari Puri Siangan. Saat itu ada upacara

pelosok ini diungkapkan Kolonel Abdijon saat berkunjung ke Gedung Pers Bali K. Nadha. Dalam kunjungan tersebut Kapendam IX/Udayana ini didampingi stafnya. Mereka diterima Direktur Pemberitaan Bali TV Dewi Martika, Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi Bali Post Nyoman Wirata, Pemimpin Umum DenPost Nyoman Gde Sur­ yawan, dan Redaktur Pelaksana Tokoh Ngurah Budi. Ka p e n d a m I X / U d a y a n a ini juga menuturkan sinergi yang bisa dilakukan TNI dan elemen masyarakat termasuk pers. Berbagai permasalahan yang terjadi dan berkembang di masyarakat harus dicermati dengan baik agar tidak salah mengambil langkah. Salam

pernikahan, kami menikmati jajan dan minuman bersama tamu-tamu yang lain. Beberapa menit kemudian, kami dipersilakan untuk menikmati santap siang. Selesai makan bersama, kami siap-siap untuk pulang. Seketika itu saya kaget, karena alas kaki yang baru saja dibeli tidak ada. Yang ada hanya satu sandal yang sudah patah di bawahnya tetapi capnya sama. Usai bercerita, kami dipersilakan untuk makan bersama sambil tertawa, keluarlah ucap­ an ‘senasib’ ha....ha.....ha. Sete­ lah itu kami pulang ke rumah masing-masing. Anak Agung Raka

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

hantu

Rumah di belakang rumah Amat hancur. Pemiliknya pindah ke Jakarta. Ia mengaku tempat itu angker dan

tidak hoki. Satu ketika, pemiliknya kembali. Tapi ia tidak datang untuk melihat rumahnya. Ia bertamu ke rumah Amat, mendesak Amat membeli rumahnya. Karena boleh dicicil, Amat setuju. Awalnya Bu Amat tidak sepakat. Tapi kemudian ia mimpi bertemu ibunya yang menasehati agar rumah itu dibeli. Ternyata buat Amat, rumah itu membawa hoki. Setelah diperbailki, bisa dikontrakkan. Lumayan untuk mempertahankan agar asap terus mengepul di dapur. Berbagai orang sudah mengontrak rumah itu. Ada keluarga, mahasiswa, perusahaan, organisasi dan sebagainya. Tapi rata-rata tidah lebih dari 2 tahun. Semua mengaku rumah itu ada hantunya. Amat antara percaya dan tidak, pada hantu. Ia tidak mau terlibat jauh oleh dunia itu. Setelah pasaran pengontrak sepi, Amat berunding dengan istrinya. Diiputuskan, daripada lama kosong, lebih baik rumah dijual. Sebuah plang bertuliskan “DIJUAL” lantas ditancapkan di depan rumah itu. Tapi baru lima hari, dicabut kembali. Bu Amat bermimpi ketemu dengan hantu yang menunggu rumah itu. “Hantu itu minta supaya rumah tidak dijual, karena anaknya yang kembar 10 masih kecil-kecil,”kata Amat kepada para tetangga yang seru bertanya-tanya. “Hantu itu berjanji tidak akan mengganggu lagi, tertulis dalam kontrak dengan cap jempol di atas meterai 6 ribu,”sambung Bu Amat. Semua tetangga tertawa mendengar penjelasan itu. Tapi kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala, karena justru sejak plang dicabut bertubi-tubi datang calon pembeli. Begitu derasnya kedatangan yang berminat, Amat merasa terganggu. Orang-orang yang mau membeli rumah itu seperti memaksa. Mereka siap dengan harga berapa pun. Amat capek menjelaskan. Waktunya habis hanya untuk menolak. Lalu Amat bertindak. Sebuah plang bertuliskan “TIDAK DIJUAL” dipasang. Anehnya akibat plang itu, peminat makin gencar datang. Mereka rebutan membujuk Amat untuk menjual. Konon karena mendapat informasi di “facebook” rumah itu membawa hoki. Makin ditolak, pembeli kian nekat. Ada pembeli yang jelas-jelas utusan beberapa pejabat. Tawaran mereka menggiurkan sekali. Ada yang berani menawar Rp 1 miliar. “Satu miliar bersih Pak, semua biaya yang menyangkut transaksi, pajak, notaris, semua kami tanggung,” kata seorang peminat. Iman Amat mulai goyang. Ia juga kepingin merasakan pegang duit satu miliar. “Kapan lagi,” bujuk Amat pada istrinya. “Bapak bukan ingin membelanjakan uang itu, hanya sekadar mau mencoba bagaimana rasanya punya satu miliar? Apa dunia akan berubah?!” “Sabar Pak, tunggu sampai ada wangsit dari mimpi,”kata Bu Amat menolak bujukan suaminya. Tapi satu bulan berlalu, Bu Amat belum dapat impian lagi. Malahan imannya juga mulai kesemsem oleh satu miliar. Akhirnya dia menyerah. “Ya sudahlah, Pak. Jual saja. Asal mau nambahin sedikit lagi,” kata Bu Amat. Langsung Amat mencabut plang tidak dijual itu. Begitu dicabut, seluruh tetangga kasak-kusuk, Amat diisukan sudah ketiban rezeki satu miliar. Malamnya, banyak tetangga datang untuk mengucapkan selamat. Tapi buntutnya tidak enak. Berbagai keluhan rumah tangga mereka dicurahkan. Kesimpulannya, banyak yang menuntut persen uang dengar. Ada yang mau pinjam 200 juta sebab anaknya akan masuk fakultas kedokteran. Sampai jauh malan Bu Amat meladeni para tetangga itu. Pagi-pagi ketika mau rebahan. sudah muncul lagi kenalan dan sahabat, mengucapkan selamat. Buntutnya juga sama. Minta atau pinjam uang. Esoknya, saudara-saudara dari kampung muncul. Ada juga yang baru Amat kenal, tapi mengaku famili. Mereka datang membawa berbagai oleh-oleh. Kemudian ujung-ujungnya sama. Minta sumbangan atau mau pinjam untuk, bayar hutangkah, biaya perhelatankah atau nebus sawah yang digadaikan. Amat sampai kelenger. Ia ngumpet di belakang rumah, memandangi rumah berhantu itu. Sambil bertanya di dalam hati: kenapa orang kecil kalau dapat rezeki digerogoti? Tiba-tiba seorang perempuan cantik muncul menegur. “Jadi rumah tetap mau dijual Pak?” “Ya.” “Besok akan datang lagi saudara-saudara dari desa mau pinjam uang!” “Masak? Kok mereka tahu?” “Saya yang ngasih tahu!” “Kamu siapa?” “Saya hantu di rumah belakang itu.” Amat bengong. Tiba-tiba tubuhnya diguncang. Gelagapan Amat membuka mata. Di depannya istrinya pegang plang “TIDAK DIJUAL”. “Cepat, Pak! Pasang lagi ini! “Lho kenapa? “Belum terima satu miliar, yang menggerogoti sudah lebih dari dua miliar!!!”

Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Gde Palgunadi. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri A r d h i n i , W i r a t i A s t i t i , S a g u n g I n t e n . J a k a r t a : D i a n a Ru n t u . N T B : N a n i e k D w i S u r a h m i . D e s a i n G r a f i s : I D N A l i t Budi­a rtha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­k retariat: Ayu ­A gustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­D enpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­merah ­Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­Telepon (0370) 639543– ­F aksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–­­ ­F aksi­m ile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang ­Pal­m erah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

20 - 26 Oktober 2014

Mozaik

Aksi Julang Emas di Panggung Hanoman Melihat kepintaran hewan-hewan beraksi di animal education show di Bali Safari & Marine Park, Gianyar, saya jadi kagum. Aksi yang dimulai pukul 11.00 di panggung Hanoman ini, menyedot banyak pengunjung. Walaupun terik matahari begitu menyengat, dan duduk di lapangan terbuka, tak mengurangi penasaran para pengunjung yang sebagian besar para wisatawan asing itu.

T

Tiara bersama Julang Emas

iara, seorang perempuan cantik dan penuh senyum memanggil satu per satu hewan untuk menunjukkan kepintaran dan kelucuan mereka di panggung. Pertama, burung merpati putih mulai berterbangan menuju panggung. Dilanjutkan dengan aksi kocak kumpul­ an anjing lucu berambut tebal. Aksi marmut yang membuat geregetan para pengunjung yang berlarian keliling panggung. Kemudian, ayam unik mulai bergaya bak peragawati mengitari panggung seolah berbaris menyapa penonton. Maskot Borneo burung julang emas yang paling menyedot perhatian. Dengan bulu penuh warna-warni, terlihat sa­ ngat indah. Uniknya, burung julang emas jantan memiliki kantung leher berwarna kuning, sementara, yang betina, kantung lehernya berwarna biru. Tak ketinggalan burung elang Arjuna beraksi terbang ke sana kemari menunjukkan kehebatannya. Salah satu penonton diminta maju ke panggung dan membawa

piring yang berisi umpan makanan. Langsung saja elang dengan perkasa menyambarnya sangat cepat, secepat kedipan mata. Tiba-tiba, Tiara membawa sebutir telur yang sangat besar. Ternyata, setelah dibuka, di dalamnya, ada bayi ular jagung yang berasal dari benua Amerika. Warna ular tersebut sungguh unik, kuning keemasan, dan menggeliat manis

Madu yang Pahit Sabtu, 11 Oktober, Fremantle Productions bersama LBH Apik Bali, meluncurkan film “Bitter Honey ” (madu yang pahit), di Denpasar. Film ini berkisah tentang kehidupan poligami di Bali. Dra. Ninik S. Mahar, Msi, Field Manager Indonesia Elemental Productions, yang memproduksi film ini, mengatakan, dibalik kekuatan budaya di Bali, ternyata ada tantangan yang masih dihadapi para perempuan yakni soal poligami. Padahal, persoalan itu bisa diselesaikan perempuan itu sendiri. Fim ini mengungkapkan, poligami secara adat bisa diterima, tapi disisi lain ada perjuangan para istri dan dinamika dalam keluarga poligami. Fremantle Productions bekerja sama dengan LBH Apik Bali tahun 2013-2014, sudah memutar film ini ke DPRD Bali. Selama 6 bulan, film ini juga diputar keliling ke desa-desa

beberapa kabupaten di Bali. Tujuannya, agar ada kesadaran kolektif dalam kapasitas masing-masing, demi perubahan sosial ke depannya. Film ini bertujuan untuk penyadaran kepada masyarakat di Bali, tentang kasus poligami. Harapan kepada wakil rakyat, mereka bisa ambil bagian untuk membuat UU yang lebih melindungi perempuan dan anak-anak. Luh Anggreni dari LBH Apik Bali mengisahkan, dalam film ini menceritakan tiga keluarga yang meng­ alami kasus poligami. Dari ketiga keluarga ini, masing-masing memiliki persoalannya tersendiri. Rata-rata para istri tidak tahu, suaminya sudah punya istri. Mereka akhirnya me­ nerima kondisi itu de­ngan terpaksa karena sudah hamil. Kehidupan poligami terjadi dalam satu rumah, dimana para istri berkumpul semua. Ketika, mereka diwawancarai terpisah, tampak

di jari-jari Tiara. Walaupun saya melihatnya bergidik karena geli, tapi aksi Tiara itu, justru sangat disukai para pengunjung. Aksi seru berlanjut dengan hadir­ nya musang si pemanjat pohon. Musang tersebut disebut sebagai musang terbesar di dunia. Yang paling membuat penonton ketawa ngakak, ulah dua orangutan yang menunjukkan kepiawaiannya bersenam. Setelah senam, salah satu orangutan itu langsung mengambil satu butir kelapa dan langsung mengupas serabutnya dengan giginya yang kuat. Dengan kepintarannya, ia langsung memecahkan kepala tersebut, dan menyedot airnya untuk menghilangkan dahaganya selama show. Tak lupa setelah itu, orangutan itu menyengir dan menunjukkan giginya yang putih. Karuan saja, aksi kocak itu, membuat penonton tertawa cekikikan. Sementara, orangutan yang satunya lagi, segera membawa tempat sampah, dan memasukkan serabut kelapa tadi ke dalamnya. Aksi tersebut mengakhiri animal education show siang itu. –Wirati Astiti

mata mereka berkaca-kaca menunjukkan ada persoalan sebenarnya yang mereka alami. Uniknya, anakanak mereka kagum dengan ayah mereka, tapi mereka tidak mau berpoligami seperti ayahnya, karena mereka tahu penderitaan ibunya. Ibunya bekerja sendiri menghidupi keluarganya, dan perempuan juga tidak memgeluh dengan kondisi tersebut. Anggreni mengungkapkan, Ro­ bert, salah seorang antropologi dari AS, yang juga pemilik Fremantle Productions ini, awalnya, membuat film dokumentasi untuk korban 65. Dalam perjalanannya, melihat ada kasus poligami yang berkembang di Bali yang menarik untuk diangkat. “Film ini digunakan LBH Apik Bali untuk sosialisasi pemberdayaan perempuan ke seluruh Bali,” kata Anggreni, yang ikut bermain dalam film tersebut. Anggreni menegaskan, dengan berbagai penderitaan yang dialami perempuan dalam kasus poligami, ia menegaskan, sebaiknya poligami dihapuskan. –Wirati Astiti

23

Seminar Seks dan Harmoni Keluarga RSIA Puri Bunda kembali menggelar seminar menarik. Kali ini peserta akan mendapatkan tips-tips untuk makin mempererat atau memulihkan kembali harmoni kebersamaan Anda dan pasangan. Semniar bertema ”Seks dan Harmoni Keluarga Menuju Kehamilan dan Persalinan yang Aman” menghadirkan pembicara Prof. Dr. dr. Nyoman Mangku Karmaya, M.Repro., PA(K) dan Prof. dr. Made Kornia Karkata, SpOG(K) dengan moderator dr. Made Suyasa Jaya, SpOG(K). Seminar dilaksanakan Minggu (2/11) pukul 08.30-12.00 wita di Sector Bar and Restaurant Inna Grand Bali Beach Hotel Sanur, Bali. Tiket hanya Rp. 25.000 (seminar kit, coffee break, door prize). Untuk info dan pendaftaran silakan menghubungi RSIA Puri Bunda. –bns

ARMS Kendalikan Risiko Investasi Gejolak pasar keuangan Indonesia masih terus terjadi akibat sentimen global dan kondisi fundamental dalam negeri. Pelaku pasar masih was-was mencermati beragam kebijakan dalam dan luar negeri yang dirasa berpengaruh pada kondisi pasar dalam negeri. Produk asuransi dinilai sebagai salah satu bentuk investasi yang tepat untuk melindungi nasabah. Namun, produk asu­ ransi ini haruslah bisa menjaga risiko di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan gejolak pasar keuangan dalam negeri. Demikian diungkapkan Direktur Penjualan dan Pemasaran Asuransi Jiwa Generali Indonesia, Wianto Chen dalam konferensi pers yang digelar Jumat (17/10) di Hotel Aston, Denpasar Bali. “PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia memberikan solusi dengan mengendalikan risiko investasi melalui Auto Risks Management System (ARMS),” ujarnya. ARMS merupakan sistem perlindungan nasabah dari fluktuasi pasar saham. Sistem ARMS memudahkan investor dalam mengelola risiko investasi. Teknologi ARMS mampu memindahkan instrumen portofolio secara otomatis. “Portofolio nasabah di unit link yang ditempatkan pada investasi berbasis saham dan atau obligasi, secara otomatis akan dipindahkan ke unit link de­ ngan jenis investasi berbasis pasar uang ketika pasar bergerak jatuh,” jelasnya. Dengan sistem ARMS, setiap nasabah memiliki keleluasaan untuk mengatur sendiri konfigurasi aset investasinya sesuai dengan profil risiko yang dimiliki, sekaligus menentukan sendiri parameter yang diperlukan. Melalui sistem ARMS ini, Wianto mengaku turut mendongkrak perolehan premi. “Sekalipun kondisi pasar modal tengah fluktuatif, produk unitlink masih menarik minat masyarakat,” pungkasnya. –ten


24

20 - 26 Oktober 2014


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook