Skip to main content

Tokoh edisi 794 | Tokoh

Page 1

28 April - 4 Mei 2014

24

In ac raf t 2 0 1 4

Jendela Perkembangan Kerajinan Indonesia Suasana nyaman langsung terasa begitu memasuki arena pameran Inacraft 2014 yang berlangsung di Jakarta Convention Center, 23-27 April. Stres dan penat karena kemacetan lalu lintas yang kian parah ditambah cuaca terik tak terhingga, seolah hilang begitu melihat aneka produk kerajinan ditata apik di tiap stand.

hanya yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari daerahdaerah. Seperti saya, yang jauhjauh datang dari Bandung. Orang asing juga banyak yang datang, selain pengunjung biasa, ke­banyakan mereka adalah pelaku bisnis kerajinan,” ungkap Ny Herlina sambil mengamati kerajinan anyaman Lombok. Respons luar biasa dari masyarakat juga pelaku bisnis handi­ craft, mendorong gairah pengrajin untuk menciptakan karya-karya kreatif dan inovatif. “Umumnya, para pengrajin mempersiapkan

A

da 1290 stand dengan ribuan item produk yang disajikan 1.600 UKM dalam pameran itu, mulai dari perhiasan, ­pakaian, aksesoris, souvenir, kerajinan ­tangan, peralatan rumah tangga, dll. Selain UKM dalam negeri, peserta pameran dari luar negeri pun tak ketinggalan, ikut ambil bagian dalam pameran kerajinan terakbar itu, di antaranya; Vietnam, Hong Kong dan UEA. Sebenarnya jumlah UKM yang ingin ikut berpameran lebih dari yang ada sekarang. Setidaknya ada 150 pelaku industri kerajinan ingin ikut berpartisipasi dalam pameran yang banyak diminati oleh pembeli asing ini. Namun, karena lahan yang tersedia terbatas, hanya 25.070 M2, sudah full terpaksa mereka batal ikut serta. “Iya, banyak yang tidak bisa kami tampung karena tempatnya terbatas, sudah full,” ujar pelaksana pameran, ­Bramantyo. Pameran yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, memang bagai magnet bagi para penyuka produk-produk kerajinan maupun pelaku bisnis kerajinan. Tak heran kalau pengunjungnya yang kebanyakan kaum wanita, melimpah meski untuk masuk setiap pengunjung dikenakan tiket Rp 20.000. Standstand yang paling

ramai pengunjung biasanya, selain kerajinan, juga produk-produk fashion seperti pakaian, stand-stand batik baik itu hanya menjual kain maupun pakaian jadi. “Barang baru, model baru, krea­ tif dan inovatif selalu tampil setiap kali Inacraft digelar. Mungkin ini karena banyaknya pengunjung yang datang, bukan

sebaik-baiknya untuk tampil di Inacraft, termasuk membuat produk khusus untuk dipamerkan di sini. Istilahnya, launching produk pas momen Inacraft. Itu sebabnya, saya selalu datang ke Jakarta (Inacraft) setiap kali pameran ini digelar. Selain untuk melihat-lihat produkproduk yang sedang tren juga belanja,” ungkap wanita ber­ usia 50 tahun ini sambil

Kerajinan pelepah pisang

menambahkan dirinya optimis prospek bisnis di bidang handicraft Indonesia semakin cerah di masa datang. “Saya sudah empat tahun di bidang ini, prospeknya bagus. Kerajinan-kerajinan Indonesia tak kalah dengan negara lain, malah menurut beberapa klien saya yang dari luar negeri, kerajinan kita lebih bagus, baik dalam kreativitas maupun kualitas,” ucapnya. Seperti Ny Herlina, ada banyak lagi pembeli-pembeli dalam negeri yang datang ke Inacraft untuk berburu kerajinan. Bahkan pembali asing pun tak kurang banyak­ n y a . Ta r g e t omzet transaksi penjualan tahun ini Rp 117,6 miliar dan kontrak dagang sebesar 9 juta US dolar. Sedang target pengunjung selama lima hari pameran digelar sekitar 200.000 orang, dan 1.000 orang pembeli dari dalam dan luar negeri. Bagi pasar kerajinan internasional, Inacraft boleh dibilang telah menjadi ‘jendela’ perkembangan kerajinan Indonesia. Tak heran kalau pameran ini telah menjadi salah satu destinasi bagi bagi pembeli dalam memburu kerajinan-kerajinan berkualitas. Ini memang menjadi tantangan tersendiri bagaimana agar kerajinan Indonesia makin kreatif, bermutu serta makin dikenal pasar dunia. Setiap tahunnya di bulan April, selain Indonesia sejumlah negara di Asia Selatan seperti India, Thailand dan Cina, juga menggelar pameran kerajinan. Pembeli dari Eropa pasti akan berkunjung ke negara-negara tersebut, termasuk Indonesia. Hal ini tentunya tantangan tersendiri bagi Inacraft, khususnya para pelaku industri kerajinan Tanah Air untuk terus menerus memperbaiki diri. Produk-produk yang dipamerkan di event ini, bukan hanya sekadar beragam, tapi lebih dari itu, harus kreatif dan inovatif. TAHUN 2015 GILIRAN BALI Berbeda dengan tahun lalu, kali ini Inacraft mengetengahkan produk unggulan dari Jawa Tengah, bukan hanya produk-produk kerajinannya tapi juga seni dan budaya Jawa Tengah. Ini adalah

salah satu upaya dari Inacraft mengangkat kebudayaan dan produk yang dihasilkan daerah-daerah di Indo­nesia agar lebih dikenal bukan hanya di dalam negeri tapi juga ke pasar internasional. “Tahun lalu kami mengetengah­ kan kebudayaan dan produkproduk unggulan dari Yogyakarta, tahun ini giliran Jawa Tengah. Tahun depan (2015) rencananya Inacraft akan menampilkan kebudayaan, kesenian juga produk-produk unggulan dari Bali,” ungkap Ketua Panitia Pelaksana Inacraft 2014, Hadi Sunarno, sembari menambahkan, tema Inacraft 2014 adalah ‘From Smart Village to Global Market’. Presiden SBY dalam sambutan­ nya pada pembukaan pameran mengaku menyukai produkproduk kerajinan dalam negeri. “Saya pribadi, Ibu Ani dan keluarga, suka handicraft. Kami cinta produk Indonesia dan sering membeli,” ujar Presiden seraya berharap masyarakat Indonesia juga bukan sekadar cinta produk Indonesia tapi juga membeli dan memakainya. Dari tahun ke tahun, kerajinan dalam negeri berkembang pesat. Prospek kerajinan di masa depan, baik. Para pelaku bisnis kerajinan menjaga dan meningkatkan kualitas produk agar dapat bersaing dengan industri kerajinan negara lain. “Agar efisien dan harus produktif, dengan kualitas sama harga bisa bersaing. Di luar negeri ekonomi kreatif ini gabungan seni budaya dan teknologi. Dalam negeri , seni budaya dan kerajinan tangan,” tuturnya. Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyinggung soal produk kerajinan ramah lingkungan. Ia berharap kerajinan menjadi produk yang ramah lingkungan sehingga tidak terganjal sistem perdagangan internasional non ­t ariff barriers yang diterapkan banyak negara maju. “Konon, barang yang tidak ramah lingkungan tidak lolos dalam dunia perdagangan inter­nasional. Jadi saya minta lingkungan juga diperhatikan,” ujarnya. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, industri kerajinan Indonesia mempunyai prospek dan peluang besar untuk berkembang. Dalam lima tahun terakhir, industri kerajinan tumbuh 5% dengan nilai ekspor mencapai 700 juta dolar AS, dengan tujuan Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Jepang dan Hong Kong. Disebutkan juga, kontribusi kerajinan terhadap PDB (produk domestik bruto) nasional pada tahun 2013 mencapai Rp 92,6 triliun dan industri kreatif mencapai Rp 641,815 triliun. Dengan capaian sebesar ini, industri kreatif menjadi salah satu pilar dalam perekonomian Indonesia. –Diana Runtu


EKSPRESSO

2

28 APRIL - 4 MEI 2014

GORO-GORO

klik: www.tokoh.co.id mingguantokoh @mingguantokoh

Semangat Tokoh! Hasil penghitungan suara hasil pemilu 2014 sudah dilakukan. Berbagai hal terjadi. Ada petahana bertahan, ada yang terjungkal, ada wajah baru duduk di kursi wakil rakyat, dan ada pendatang baru yang gagal. Tetapi, yang masih tetap adalah kuota 30% perempuan di parlemen tidak jua tercapai. Perempuan yang lolos sebagai wakil rakyat di DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, DPR RI dan DPD masih jauh dari angka 30%. Tetapi, di pundak

caleg perempuan yang lolos bisa digantungkan harapan, apa yang diinginkan kaum perempuan demi kesetaraan gender. Selain berita hasil penghitungan suara yang menghiasi media massa pascapemilu 2014, masyarakat dikagetkan dengan kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang terjadi di sebuah sekolah internasional di Jakarta. Kasus pelecehan seksual menurut dr. Sri Wahyuni, Sp.KJ ibarat gunung es. Kasus yang terlihat

Kru Tokoh menyerahan kenang-kenangan kepada Ratna Hidayati (barisan depan ketiga dari kanan)

O

M G

hanya yang muncul di permukaan, padahal di masyarakat ada kasus lain. Kasus pelecehan seksual yang tersembunyi ini memang disembunyikan karena dianggap aib keluarga. Berbagai upaya harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kasuskasus serupa. Peran orangtua dalam membimbing dan mendidik anak sangat menentukan karakter anak. Ingatkan anak untuk tidak terlalu percaya dengan orang asing yang baru dikenal. Bahkan dengan orang yang sudah dikenal pun perlu waspada. Dalam edisi kali ini, kami mengupas apa saja yang termasuk pelecehan seksual dan bagaimana orangtua harus menangani anaknya jika menjadi korban kekerasan seksual. Kami ingin berbagi informasi untuk meningkatkan kewaspadaan semua orang. Satu hal yang tak kalah pen­ ting yang kami sampaikan edisi kali ini adalah pengunduran diri Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Tokoh, Ratna Hidayati. Terhitung mulai 25 April 2014, Ratna pindah ke Surabaya. Perpisahan dengan kru Tokoh dilaksanakan Senin (21/4) ditandai dengan penyerahan kenang-kenangan dan foto bersama. Ucapan terima kasih atas kerjasama selama ini dan permohonan maaf pun disampaikan Ratna kepada kru, relasi, dan pembaca Tokoh. Semoga Tokoh sebagai mingguan berita wanita tetap bersemangat. Semangat Tokoh!

Niat Cari Untung malah Rugi Dari kecil, orangtua saya memang selalu mengajarkan anakanaknya untuk hidup sederhana dan mandiri. Meskipun biaya kuliah saya masih ditanggung orangtua, tapi untuk uang saku/ biaya kebutuhan lainnya saya sudah tidak pernah diberi lagi mengingat status saya yang kuliah sambil bekerja. Setiap semester baru akan dimulai, mahasiswa selalu melakukan penyusunan jadwal mata kuliah. Kebetulan saya kuliah di perguruan tinggi swasta yang jadwal mata kuliahnya bisa dipilih sendiri oleh mahasiswa. Saya berencana mengambil mata kuliah dengan jumlah standar agar tidak mengganggu pekerjaan. Sebelumnya, saya minta persetujuan dosen pembim­ bing apakah mata kuliah yang akan saya ambil tersebut sudah

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

memenuhi atau tidak dan dosen menyetujui mata kuliah yang saya pilih itu. Setelah disetujui dosen, muncul niat saya untuk “korupsi”. Jujur saja, saya tidak pernah melakukan ini ke orangtua, tapi melihat keadaan orangtua saya sedang “punya”, saya pikir tidak masalah selama jumlahnya masih wajar. Saya meminta uang Rp 2,5 juta untuk membayar kuliah dengan alasan banyak mengambil mata kuliah dan ingin cepatcepat lulus, orangtua saya pun tidak curiga, lagi pula pada saat itu IPK saya juga tinggi.

Keesokan harinya saya langsung melakukan pembayaran Rp 2,3 juta. Saya pikir lumayan dapat untung meskipun hanya Rp 200 ribu. Tiga hari kemudian mendadak saya diinfokan lagi oleh dosen pembimbing untuk mengambil satu mata kuliah penting dan saya menurut pada saat itu juga melakukan pembayaran Rp 300 ribu untuk mata kuliah tambahan tersebut. Inilah karma yang saya dapat­ kan karena berbohong kepada orangtua, bukannya untung, malah rugi.

Tina, Tabanan

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Putu Wijaya

UNAS

Bu Amat menggedor suaminya yang lagi pulas. Amat membuka mata malas. “Apa Bu?” “Gawat, Pak!” Amat mengusap mata heran melihat wajah istrinya beringas. “Ada apa,? Kok pagi-pagi, hari libur sudah mau jalan? Mau ke mana?” Bu Amat menarik suaminya keluar kamar. Lalu menunjuk ke luar jendela. Di depan pos hansip kelihatan ibu-ibu kompleks berkumpul. Semuanya memakai pakaian bertempur. Amat heran. “Mau apa mereka?” “Mau demo!” “Demo apa?” “Demo karena soal-soal Unas susah sekali. Banyak anak-anak menangis karena itu menyimpang dari apa yang ada di uji cobanya!” “Ya kan itu namanya ujian!” “Bukan! Itu bukan ujian lagi! Itu jebakan! Penipuan! Masak pemerintah tega menipu rakyatnya sendiri? Itu perbuatannya orang-orang yang menyusun bahan ujian itu! Mereka ingin kelihatan angker! Mau angker kok nakut-nakutin anak kecil! Kalau berani lawan itu musuh-musuh kita. Kok yang dihajar anak-anak kita? Kalau dia punya anak yang ikut ujian, kelakuannya tidak akan kejam kayak ini saya mau ikut demo!” Amat mencoba menenangkan. Tapi Bu Amat sudah buru-buru mau terjun. Bergabung dengan kelompok ibu yang berang itu. “Bu, dengerin, kita sudah tua. Sebaiknya jangan ikut-ikutan. Kalau ujiannya susah, berarti nanti hanya anak yang pintar lulus. Itu gunanya sekolah, bikin anak pintar. Kalau tidak pintar ya buat apa lulus, nanti di perguruan tinggi juga akan di dikeluarkan!’ “Salah Pak! Bapak ini ikut-ikutan saja. Bapak kira kalau soalmya sulit jawabannya, anak kita akan kontan pintar? Salah, Pak. Yang betul kalau soal sulit, sebagian besar anak kita tidak akan lulus! Mau dikemanakan mereka? Nilai rapornya sejak kelas dua tidak akan ber­ arti. Padahal itulah cara yang paling tepat untuk menilai kepintaran mereka. Belum lagi ada tes masuk perguruan tinggi. Hanya anak pintar yang akan lolos. Tapi biar pintar kalau malas, mereka akan ditendang keluar. Itu kan sudah cukup untuk meningkatkan mutu pendidikan kita! Sudah, kalau Bapak setuju pemerintah, silakan! Saya tidak! Ini negara merdeka, kita bebas berpendapat! Mestinya kalau mau mengayomi rakyat, umumkan sebelumnya ujian akan susah, pasti semua akan siap-siap! Kecuali kalau memang maunya bikin kita ketakutan! Itu namanya sewenang-wenang!” Amat mau membantah lagi, tapi Bu Amat membentak. “Sudah! Bapak ke sebelah saja sekarang, lihat si Nindya anak tetangga yang juara kelas sejak kelas satu SMP itu! Bujuk dia, nangis semalaman karena soal biologinya seperti soal untuk cari gelar doktor, katanya. Dia sudah pasti tidak akan lulus. Dia sudah coba gantung diri, karena malu! Untung ketahuan! Lihat sana!” Amat terkekut. Ia tidak bertanya lagi, lalu bergegas ke sebelah. Kedengaran suara ramai dan tangis. Bu Amat pakai sepatu olahraga Amat. Ia menyambar pisang dan kotak makan yang sudah disiapkannya beserta sebotol air putih. Ia juga mengambil payung. Berkaca sebentar memperbaiki topinya. Bahkan sempat mengganti kostumnya dengan kaus oblong bergambar Bob Marley, lalu keluar rumah. Tetapi di depan pos hansip sepi. Hanya ada Made Si Hansip yang lagi nonton tinju. “De! Mana ibu-ibu yang mau demo? Sudah berangkat?” “Belum, Bu!” “Mana mereka?” “Ke rumah Bu Sagung di ujung!” “Ngapain ke situ. Dia kan orang Diknas?” “Tadi disusulin menantu Bu Sagung! “Kenapa?” “Mengingatkan hari ini ada arisan warga di rumahnya, beliau sudah masak besar. Sayang nanti mubasir!” Bu Amat tercengang. “Terus demonya tidak jadi?” “Katanya ramalan cuaca mengatakan hari ini temperatur bisa mendekati 40 derajat, Bu. Jadi banyak ibu-ibu keberatan turun ke jalan!”

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­ Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

I N F O TO R I A L

28 APRIL - 4 MEI 2014

23

Pemda Gianyar Bangkitkan Endek Gianyar HUT ke-243 Gianyar belum lama ini menjadi menarik dengan di tetapkannya Bunga Pucuk sebagai maskot kabupaten Gianyar. Semakin semarak lagi karena pada ke­ sempatan yang sama dihadirkan pula karya seni tenun ikat atau endek yang indah bermotifkan bunga pucuk dalam sebuah pagelaran fashion show.

Bupati Gianyar dan jajaran SKPD mengenakan endek pucuk

AA Gde Agung Bharata

IB Gaga Adi Saputra

ianyar adalah kota seni dan budaya. Sebut­ an ini tidak salah, sebab hampir seluruh wilayahnya dipenuhi dengan berbagai hasil karya seni. Gianyar juga bisa dikatakan gudangnya seniman dan perupa yang andal. Bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional. Menurut Kepala Dinas Perindustrian Gianyar, Ir. Wayan Suamba, M.T.,Gianyar bukan hanya etalase seni, budaya dan kerajinan, namun di sana juga ada proses kreatifnya. Salah satunya kegiatan bidang pertenunan, dengan hasilnya yang memiliki corak dan gaya yang luar biasa indah. Namun, saat ini produk kerajinan tangan Gianyar ini sedang mengalami kelesuan . Untuk inilah, Sekda Gianyar Drs. IB Gaga Adi Saputra, M.Si meng­ ungkapkan, pemerintah melakukan berbagai upaya demi memajukan kembali pertenunan di Gianyar. Mulai dari penggunaan seragam endek untuk PNS seminggu sekali dan akan diperluas lagi kepada para pelaku usaha yang ada di Gianyar secara bertahap. Hal ini juga menjadi tantangan bagi pengrajin tenun, bukan hanya meningkatkan produksi tapi juga kualitas. Mereka juga, kata IB Gaga harus jeli menangkap selera pasar. Pemerin­ tah pun akan terus melakukan terobosan, seperti bekerjasama dengan BUMN melalui CSR-nya mendiklat calon wirausaha muda Gianyar untuk mengembangkan desain sesuai selera pasar. Seperti, diklat di IGTC Sentul Bogor. Dan jika memungkinkan, Pemda juga akan merekrut satu angkatan dengan biaya APBD, sehing­ ga kuantitas dan kualitas tenun ikat Gianyar semakin meningkat. Selain itu, pemerintah juga menyertakan pengrajin dalam pameran industri kreatif , baik di dalam maupun di luar daerah. Tak ketinggalan dihadirkannya fashion show endek

bermotif maskotnya Gianyar. Bahkan, dalam fashion show busana endek dengan motif khas Gianyar oleh desainer kawakan Gianyar yang sudah punya nama di kancah nasional maupun internasional seperti Tjok Abi, Tu De Togog dan Bintang Mira , yang tampil beda dengan dikolaborasikannya musik dan gamelan Bali Bone Alit. Suamba menambahkan, peme­ rintah juga sudah memberikan ke­ sempatan seorang desainer pemula, Rani yang merupakan alumni IGTC (International Garment Training Centre) Sentul Bogor. Rani mengikuti diklat setahun atas kerja sama Exim Bank dengan Pemkab Gianyar pada tahun 2012. Juga, ada Dian perancang muda lainnya, yang adalah alumni Esmod Perancis. “Acara ini sebagai media untuk memberikan kesempatan mereka lebih lagi menyosialisasikan kepada masyarakat, kalau endek tidak hanya bisa dikenakan untuk busana formal, tapi juga dunia fashion bisa menjadikannya dikenakan di banyak kesempatan,” ujar Suamba. S Begitu juga yang ditekankan Sekda Gianyar, bahwa hal tersebut juga bertujuan untuk mengangkat keberadaan endek di Gianyar yang awalnya muncul di era tahun 1953 dan dipelopori oleh cap Togog, cap

G

Bakti, cap Chili, cap Putri Bali dan cap Anoman. Namun, semuanya sempat mengalami kelesuan baik produksi maupun penjualannya. Sebab, saat itu minat pengrajin mengembangkan tenun ini makin hari makin menurun. Melalui acara ini pula, lanjut Suamba pemerintah Gianyar memfasilitasi berbagai pembinaan kepada seluruh pengrajin tenun khususnya endek untuk bangkit lagi. Sebab, endek bukan hanya merupakan potensi lokal juga potensi nasional dalam rangka mengaplikasikan program nasional MP 3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), berdasar Kepres No. 32 tanggal 20 Mei 2011, dan Bali masuk dalam wilayah Bali-Nusa Tenggara. “Selain untuk pengembangan kepariwisataan yang berbasiskan budaya lokal, cara ini juga sebagai refleksi menuju acara yang lebih besar seperti Gianyar Carnaval Festival dan fashion show yang memang bercirikan khas Gianyar sebagai kota seni dan budaya. Sesuai dengan blue print Gianyar yaitu revitalisasi menuju kabupaten unggulan dalam bidang seni dan budaya,” papar IB Gaga lebih lanjut. GAUNGKAN ENDEK PUCUK Bunga Pucuk, kini telah resmi sebagai maskot Gianyar. Maskot yang digagas Bupati Gianyar AA Gde Agung Bharata ini, berhasil di launching bertepatan dengan HUT ke-234 Gianyar, Sabtu (19/4). Begitu juga endek bermotif pucuk yang diluncurkan bersamaan, juga inisiatif Bupati. Untuk ini, pemerintah menggandeng beberapa desainer Gianyar untuk lebih mempopulerkan endek pucuk. Kedepannya akan diciptakan kreasi tarian pucuk, musik gamelan pucuk,

Para Dasainer bersama model yang mengenakan kreasinya

lagu khas Pucuk, Carnaval Festival, dan fashion pucuk. Endek pucuk ini sangat unik, ka­ rena mengombinasikan proses kerja membatik, tenun ikat dan songket. Ini merupakan produk kreasi baru yang diciptakan pengrajin tenun IB Adnyana dari Blahbatuh Gianyar.Tenun ikat pada teknik ini adalah memberikan motif pada pakan benang, selanjutnya pakan benang ini ditenun sehingga memberikan motif tersendiri. Segala upaya untuk mengoptimalkan aset budaya milik masyarakat Gianyar yang dikenal sangat kreatif dan inovatif ini pun terus dilakukan. Bukan hanya kesenian dan kerajinan, begitu juga potensi-potensi daerah lainnya, termasuk pertanian yang terus mendapatkan permintaaan dan pengembangannya demi dapat me­ningkatkan perekonomian masyarakat Gianyar. Menurut Sekda Gianyar, hal ini berkenaan pula dengan Inpres No:06/2009 tentang Ekonomi Kreatif yang meliputi 15 bidang, yakni Periklanan; Arsitektur; Pasar Seni dan Barang Antik; Kerajinan; Desain; Fashion (Mode); Film Video dan Fotografi; Permainan Interaktif; Musik; Seni Pertunjukan; Penerbitan dan Percetakan; Layanan Komputer dan Piranti Lunak; Radio dan Televisi; Riset dan Pengembangan; dan Kuliner. Tujuh (7) bidang, antara lain arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan , desain, fashion, seni pertunjukan dna kuliner yang sedang dan akan selalu didorong dan dibantu dalam hal pengembangan kreativitasnya melalui peningkatan kualitas bahan, desain, pemanfaatan bahan baku, pemanfaatan teknologi, peningkatan kualitas SDM, peningkat­ an promosi dan pemasarannya. Sementara, Bintang Mira, salah seorang desainer papan atas Bali, mengatakan sebagai masyarakat Gianyar ia mengaku sangat antusias ketika Pemda Gianyar, menggagas ide untuk membangkitkan endek Gianyar. “Apalagi Gianyar sangat kaya tekstil dan seni. Dalam pikiran saya bagaimana agar kain endek ini bisa dikenal secara nasional maupun internasioanl,” ungkap anggota APPMI Bali ini sembari mengungkapkan perlunya visi untuk bangkitkan endek Gianyar melalui empat (4) langkah yakni (1) Membuat website, (2) Meng­adakan pelatihan desain dan manajemen untuk para pengrajin endek yang mati suri, (3) Menyediakan rumah

Wayan Suamba

ikat yang lengkap dan kaya desain seperti rumah mode di Bandung, (4) Mengadakan fashion show dan carnaval.“Diharapkan program ini akan mencapai gol dalam lima tahun dan ada komitmen dari setiap bupati untuk melanjutkan empat langkah dasar ini,” tandasnya. Begitu juga dengan Tude Togog, desainer senior yang juga seorang pengrajin ini, sangat atusias dan mendukung program menggiatkan produksi endek Gianyar ini, dengan langkah awal memproduksi endek pucuk. Dengan memproduksi lebih banyak lagi, begitu yang mengenakannya, diperoleh dua keuntungan sekaligus. Bangkitnya pengrajin endek dan lebih lagi menyosialisasikan bunga pucuk sebagai maskotnya Gianyar. Seperti saat puncak acara HUT, ia mengatakan senang melihat semua jajaran SKPD mengenakan endek dengan motif bunga pucuk. “Akan semakin indah nilai seninya dipandang, jika kita dengan mudah dan jelas melihat motifnya bunga pucuknya,” kata desainer yang memiliki idealisme tinggi akan sebuah karya ini. Dengan terpilihnya bunga pucuk sebagai maskot Gianyar, imbuhnya lagi, ini akan menjadikan peng­ rajin lainnya lebih bergairah untuk menuangkannya dalam segala bentuk kerajinan dan seni yang ada di wilayah Gianyar. Tude juga mengatakan kondisi yang baik ini juga tak lepas dari giatnya Denpasar memelopori dan mengampanyekan kembali penggunaan endek. “Gianyar pun akan semakin semarak dengan kekayaan motif tenun tradisionalnya,” pungkas anggota APPMI Bali ini. -ard


22

W H AT ’ S U P

28 April - 4 Mei 2014

HUT ke-51 BKOW Bali

Lanjutkan Sosialisasi Politik Ramah Keluarga Memperingati hari jadi BKOW Bali ke-51, telah digelar serangkaian aktivitas dan kreativitas. Bahkan, wadah organisasi perempuan di Bali ini telah memulai kegiatannya sejak 20 Mei 2013, tepat di Hari Kebangkitan Nasional. “Kami sengaja mengambil roh kebangkitan agar perempuan-perempuan Indonesia bangkit mengisi dunia politik praktis,” ungkap Ketua Badan Koordinasi ­Organisasi Wanita (BKOW) Bali Dr. AAA Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M., M.H. ini.

Ketua dan pengurus BKOW Bali saat studi banding ke Yogyakarta

Ketua BKOW, Tini Gorda bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar serta Ketua Kowani, Dewi Motik

K

alaupun kenyataannya belum menghasilkan sesuatu yang maksimal, paling tidak menurut Gung Tini, mereka telah berbuat yang terbaik. Sebab, dengan me­n gusung tema “Politik Ramah Keluar­ga”, mereka dapat mencarikan solusi yang terbaik nantinya, bagi perempuan dan siapa saja yang akan berkiprah dalam politik praktis. Dikatakannya, politik ramah keluar­ ga adalah sebuah solusi untuk meminimalisasi politik uang. “Walau belum berhasil mengantarkan perempuan sesuai dengan target kami 15%, namun kami tidak pesimis. Solusi ini adalah solusi yang pertama dan harus terus disosialisasikan sedini mungkin dan sesering mungkin,” ujar Gung Tini. Pendekatan kekeluargaan, face to face, door to door dan selalu mau berkomunikasi dan berkoordinasi, ini sistem cell yang akan sangat panjang waktunya. Ketua Perdiknas ini yakin program ramah keluarga akan membawa perubahan. Studi banding ke BKOW Yogyakarta pun menjadi puncak HUT ke-51 BKOW Bali sekaligus menambah wawasan pe­ngurus dan anggota BKOW. “Begitu banyak kegiatan yang dilaksanakan BKOW Bali, namun muaranya hanya satu yakni perempuan mampu ber­ kegiatan di luar rutinitas. Perempuan mau berkegiatan di tengah kesibuk­an

domestiknya. Perempuan pantas tampil sesuai dengan kompetensinya. Sudah saatnya pula perempuan menentukan dan tetap dalam bingkai mampu bijaksana di semua kegiatan, agar tidak terjadi benturan dengan suami, anak-anak dan keluarga,” papar Gung Tini. TERUS BERKEGIATAN Bulan Mei tahun silam di-launching HUT ke-51 BKOW Bali, yang disingkronkan dengan bedah buku “Bunga Rampai Kiprah Emas Perempuan Indonesia Menuju Bali Ramah Keluarga”, melalui keluarga menyelamatkan Bali. “Selanjutnya kami mengadakan silaturahmi antara BKOW, Perwatusi dan para caleg perempuan dengan salah satu agenda penyampaian pengalaman anggota dewan perempuan dari Ibu Mas dan Ibu Purnami untuk bersinergi dalam berkegiatan yang dirangkaikan dengan HUT ke-51

BKOW Bali dengan tema ‘Sudah Saatnya Perempuan Menentukan’,” ungkap Dewi Sinaryati Rully, S.E., Ketua Wanita Islam (WI) yang menjadi leading sector HUT ke-51 BKOW Bali. Dewi Rully juga memaparkan perihal kegiatan serangkaian HUT ke-51 BKOW Bali tersebut. Dari rangkaian aktivitas HUT, telah dilangsungkan roadshow ke beberapa organisasi wanita yang berada dalam payung BKOW, berkenaan dengan perayaan keagamaan maupun memperingati hari-hari besar nasional, seperti buka puasa bersama anak yatim piatu dan kaum duafa. Juga, kunjungan ke Yayasan Kerti Praja (YKP), Yayasan Pembina Korban HIVAIDS. Roadshow ke GOW Gianyar, Jembrana dan yang lainnya untuk memberikan edukasi, seperti public speaking. Tak ketinggalan BKOW bersinergi dengan Perwatusi, menyelenggarakan Gebyar Senam Osteoporosis dan lebih jauh mengenal tentang mengenal penyakit osteoporosis. Selain itu, telah pula dilangsungkan interaktif di BaliTV dalam program “Perempuan Dalam Berita”, menyelenggarakan beberapa seminar nasional yang salah satunya dikaitkan dengan Hari Sumpah Pemuda dengan tema “Generasi Emas Berwawasan Kebangsaan Adalah Aset Bangsa” yang menghadirkan narasumber Mentri ESDM Ir.Jero Wacik, S.E. Berbagai talkshow untuk menambah waw a s a n s e p e r­ ti “Menjunjung Tinggi Ke­bhinekaan Menuju Indonesia Sejahtera”, pengembangan kepribadian dari Rudy Hadisuwarno. Juga, kerjasama dengan DPD Himpunan Pengembangan Kepribadian Indonesia Jawa Barat. Bahkan, mereka pun sempat me­ ngadakan acara yang cukup unik yakni, “Meeting on the bus Sarbagita”. Program lainnya adalah seluruh organisasi wanita mendukung anak-anak yang bermasalah dengan hukum melalui pengumpulan koin Rp1.000 kepada Lembaga Perlindungan Anak. Selain itu, Dewi Rully juga menyampaikan kalau BKOW pun sempat mengadakan bakti sosial memberikan bantuan kepada korban letusan Gunung Kelud berupa uang tunai dan bantuan lain-

nya dengan datang langsung ke lokasi. “Kami juga ada jadwal menerima kunjungan studi banding dari beberapa BKOW lainnya di Indonesia, di antaranya BKOW Provinsi Papua Barat dan mengajak mereka melihat beberapa aktivitas kreatif anggota BKOW Bali,” ujar Dewi Rully. Dalam rangka memperingati Hari Ibu, BKOW juga melangsungkan aneka kegiatan kreatif untuk menciptakan kekompakan keluarga, di samping turut melestarikan budaya dengan

mengadakan lomba desain busana berbahan endek. “Tak ketinggalan juga cukup intens melakukan koordinasi dengan caleg perempuan dalam rangka pengawalan suara 230% dalam pemilu legislatif 2014 belum lama ini,” lanjut Gung Tini sambil menambahkan bahwa jajaran pengurus dan anggota BKOW Bali akan terus melanjutkan sosialisasi pendidikan Politik ramah Keluarga, yang sudah dilaksanakan sejak setahun belakangan ini. “Sukses BKOW suksesnya kita semua,” tandasnya. –ard.

Puncak HUT ke-51 BKOW Bali dilangsungkan di Yogyakarta

BKOW ketika melaksanan talkshow menghadirkan Wayan Koster

3

Nikita Willy

Hasrat Terpendam Pendidikan dan karier, dua hal itu yang kini menjadi fokus perhatian Nikita Willy. Urusan cinta, apalagi soal menikah muda, Nikita mengaku santai-santai saja. Ia tak ter­ pengaruh meski belakangan banyak artis muda menikah. “Aku masih 19 tahun, nggak terpikir untuk menikah muda. Santai aja. Fokus aku saat ini pada karier dan pendidikan, itu yang penting,” ungkap Nikita yang dua pekan lalu meraih penghargaan kategori Artis Terfavorit di Panasonic Gobel Awards yang berlangsung di Jakarta Theater, Jakarta. Ini adalah ketiga kalinya Nikita meraih penghargaan untuk kategori yang sama setelah 2010 dan 2011. kapanlagi.com

U

rusan cinta Nikita memang akhir-akhir ini sering jadi bahan gosip menarik di dunia entertainment. Gadis kelahiran 29 Juni 1994 ini, belakangan jarang terlihat berduaan dengan sang kekasih, Diego Michiels. Termasuk ketika ia menghadiri acara Panasonic Gobel Awards pada 5 April lalu. Begitupun saat Niki menggelar acara syukuran terkait prestasinya di acara bergengsi tersebut. Tak heran gosip hubungan cintanya kandas, berhembus makin kencang. Nikita sendiri yang kerap diberondong pertanyaan pers soal kisah cintanya, tidak membenarkan atau mengatakan tidak terkait gosip tersebut. “Aku dengan semua orang berkomunikasi dengan lancar dan baik-baik saja,” ucap Niki diplomatis ketika ditanya apa masih ada komunikasi antara dirinya dengan Diego. Nikita dan Diego yang pesepak bola memang menjalani hubungan cinta jarak jauh. Diego mengikuti pemusatan latihan tim nasional yang kerap melakukan lawatan ke luar negeri untuk uji coba. Keduanya memang sama-sama sangat sibuk. Nikita sendiri hari-harinya dihabiskan di lokasi syuting. “Aku sibuk banget. Tiap hari, bahkan hampir 24 jam berada di lokasi syuting. Kalau stripping tidak bisa kemana-mana,” ungkap penembang ‘Kutetap Menanti’ dan ‘Keyakinan Hati’, ini. Bertahun-tahun menekuni dunia entertainment rupanya telah mengajarkan Niki bagaimana caranya berhadapan dengan pers yang memberondongnya dengan pertanyaan yang sulit. Dia tidak ingin terpancing, maka jawaban-jawaban “abu-abu” yang meluncur dari bibirnya. Niki memang enggan menjawab pertanyaan yang bersifat pribadi. Responsnya berbeda jika ditanyakan padanya soal karier atau aktivitasnya yang lain. Bicara soal kesibukan karier, anak pertama pasangan Henry Willy-Yora Febrine ini, memang luar biasa. Di usia 6 tahun ia telah memulai debutnya di dunia sinteron yang berjudul ‘Bulan dan Bintang’. Tapi namanya baru mulai dikenal luas saat tampil dalam Roman Picisan bersama Evan Sanders. Sejak itu kariernya di dunia akting terus menanjak. Tiap hari para pemirsa televisi bisa melihat wajahnya yang wara-wiri di berbagai sinetron, FTV, iklan dan acara-acara lainnya di

Kegiatan sosial membantu korban letusan Gunung Kelud

Ucapan terima kasih Dr., Ir., Wayan Koster, M.M. l Pangdam IX Udayana Wali Kota Denpasar l Bupati Gianyar l Perdiknas ­Denpasar l CNI l Teh Sosro l Sarana Dewata ­ l Sri Wigunawati l Bank Mutiara l BPR Dewangga Bali Artha l BPR Sadu Artha l Erlangga Mantik l Perwatusi Bali l Toko Nyoman Tabanan l Puri Gede Karangasem l Ir. Ketut Witarka Yudiata, M.T. l Seluruh Organisasi yang tergabung dalam wadah BKOW

S E L E B R I TA S

28 april - 4 mei 2014

l

l

Nikita bersama mama dan, adiknya

F o t o

c o v e r

televisi. Ia memang sibuk luar biasa, tak heran kalau pendidikannya keteteran karena harus syuting. Jalur home schooling pun dipilih dan disesuaikan dengan jadwal kerjanya. Meski telah bekerja keras sejak usia muda, Niki mengaku tetap enjoy. Ia menyukai dunia akting, juga berbagai kegiatan lainnya di bidang entertainment. Selama 14 tahun kariernya malang-melintang di dunia hiburan, Niki telah membintangi 26 sinetron, 12 FTV, 2 film dan 35 iklan produk. Tak puas hanya di dunia akting, Nikita yang memiliki suara lembut pun merambah ke dunia menyanyi. Dari kiprahnya itu, telah lahir dua album; Lebih dari Indah pada 2012 dan Surat Kecil untuk Tuhan pada 2013 lalu, delapan single dan dua video music; ‘Ku Ingin Setia’ dan ‘Lagi Bohong’. Kerja kerasnya di dunia hiburan tak sia-sia karena berbagai penghargaan berhasil diraihnya. Selain penghargaan Panasonic Gobel Awards, ia juga berhasil menyabet penghargaan Indonesia Kids Choice Award tiga tahun berturut-turut 2010, 2011, 2012 untuk kategori Aktris Wanita Terfavorit. Bahkan di event tersebut ia juga berhasil meraih Indonesian Star Wannabe Award. Sedang di dunia tarik suara, meski belum meraih penghargaan, namun karyanya sudah mulai diperhitungkan setidaknya masuk dalam daftar nominasi untuk penghargaan-penghargaan musik. Menurut Nikita apa yang telah dicapainya selama ini, selain berkat kerja keras dan totalitasnya dalam bekerja, juga karena support yang besar dari keluarga, kerabat juga para fansnya. “Aku mencapai itu semua berkat dukungan penuh dari keluarga, juga dari para penggemar serta doa dari anak-anak asuh aku,” tambah bintang sinetron Safa dan Marwah, ini. BISNIS PROPERTI Dalam bekerja, kata pemeran sinetron Putri yang Ditukar, ini, ia tidak berpikir tentang dapat penghargaan atau tidak, namun berkarya sebaikbaiknya. “Aku hanya menjalani pekerjaan secara profesional. Disuruh akting ini, aku jalani, disuruh akting begitu, aku jalani. Aku bekerja sebaikbaiknya, total. Itu aja sih. Jadi dalam bekerja aku lakukan sebaik-baiknya. Bahwa pemirsa menyukai aku, dan menjadikan aku artis favorit, aku sangat beruntung banget,” ungkap bintang iklan Dettol Body Wash ini. Terkait akting sebenarnya ada hasrat Nikita yang sejak lama terpendam yakni bermain film. Sepanjang 14 tahun kariernya, baru tiga judul film yang dibintanginya, Bestfriend?, Married by Accident, dan Tertipu Laris Manis. Itupun sudah lama sekali, yakni 2008 dan 2010. Kesibukan di sinetron dan FTV membuat ia tak bisa berakting di layar lebar. Padahal tawaran bermain film banyak berdatangan. “Iya, aku kepengen banget membintangi film tapi aku terikat kontrak di PH,” ucap gadis yang gemar mengoleksi tas dan sepatu high heels ini. Kesibukannya yang luar biasa dalam berkarier sudah barang tentu berdampak pada pendidikannya. Saat akhir masa SMA nya, ia terpaksa menjalani home schooling, kemudian ketika kuliah ia terpaksa ambil cuti tahun lalu. Menurutnya, cuti kuliah bukan semata-mata karena sibuk bekerja

d e p a n

k a p a n l a g i . c o m

tapi karena kurang menyukai bidang yang diambilnya yakni, bisnis manajemen. Dulu, ia mengambil jurusan tersebut karena tertarik belajar bisnis. Namun, setelah dijalani ternyata tak sesuai harapannya. Ia pun pindah ke jurusan hukum. “Aku awalnya tak tahu sama sekali mengenai hukum. Hanya saja waktu itu ada kejadian di mana aku sering menghadiri persidangan (kasus pengeroyokan yang dilakukan Diego Michielsred). Aku merasa seru aja kalau menjadi lawyer. Makanya aku mengambil jurusan ini,” ungkapnya. Karena ini jurusan yang disukainya, Niki berjanji akan fokus pada pendidikannya. Meskipun sibuk bekerja, ia bertekad meluangkan waktu untuk belajar sungguh-sungguh mengejar ketert-

inggalan pelajaran. “Kali ini beneran kuliahnya,” janji Niki sembari tertawa. Berbeda dengan kebanyakan gadis seusianya yang gemar hura-hura ketika memiliki uang yang melimpah, Nikita tidaklah demikian. Ia lebih suka memanfaatkan penghasilan yang diperolehnya dengan bekerja keras untuk hal-hal bermanfaat. Salah satunya dengan berinvestasi di bisnis properti. Untuk tahap pertama ia membangun Winona Resident yang letaknya tak jauh dari rumahnya di kawasan Jatiwaringin, Jakarta Timur. “Tahap awal empat rumah berlantai dua. Sudah ada yang beli,” katanya seraya menambahkan, tertarik bisnis properti karena selain keuntungannya lebih bagus juga balik modalnya cepat. –Diana Runtu

Holiday Camp Terbesar di Singapura Kini Hadir di Bali Apa yang unik dari program ini? Program ini dibuat untuk anak-anak remaja selama empat hari tiga malam, dikemas dengan sangat menyenangkan, menarik, dan berdampak maksimal. Anak-anak dilatih untuk menemukan quantum leap (terobosan baru yang positif) dalam dirinya. Ria Devina (Surabaya), setelah ikut I Am Gifted Camp menerapkan strategi belajar dengan mind mapping, speed reading dan time management berhasil meningkatkan IPK-nya dari 2,79 menjadi 3,44 dan 3,53. Sekarang ia belajar lebih tenang dan juga sudah tahu tujuannya apa, sudah ada rencana untuk masa depannya. Selain itu, Ria Devina juga bisa lebih sabar, tidak emosional, lebih menghargai orangtuanya, dan berkomunikasi dengan lebih baik lagi sehingga hubungan dengan orangtuanya menjadi lebih harmonis. Adam Khoo, Chief Master Trainer dan No.1 Success Coach dari Singapura mengatakan, “Kita percaya, jika orang lain bisa menjadi pemenang, kita juga bisa!” Ini masalah kemampuan dan strategi saja. Murid yang nilainya jelek di sekolah bukan berarti mereka bodoh atau lamban tapi karena mereka tidak tahu bagaimana strategi belajar yang lebih efektif. Dalam buku I Am Gifted, So Are YouTM! Adam mengatakan semua murid tidak ada yang malas, bodoh atau berbeda, semua punya potensi yang besar, hanya kurang jelas tujuan dan panutan yang baik bagi mereka. Tiap anak itu spesial! Ingin anak-anak Anda tahu strategi belajar yang tepat? Punya pola pikir positif, goal setting, time management, self motivation, dll.? Ingin anak-anak Anda mengalami transformasi dalam hidupnya? Dapatkan rahasianya di seminar gratis untuk remaja 10-19 tahun bersama orangtuanya pada Minggu, 4 Mei 2014 di 100 Sunset 2 Hotel, Jln. Sunset Road No. 100 C, Kuta Bali, pukul 13.30-16.30. Daftar segera, tempat terbatas! Hubungi: 031-7178 7638 atau 0813 3120 7928 www.akltg.com.


4

INSPIRASI

28 APRIL - 4 MEI 2014

Drg. AA Ayu Dewi Harmini

Perjuangan Mewujudkan Mimpi “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”, begitulah ungkapan WS Rendra dalam Puisi Paman Doblang. Ungkapan tersebut sangat tepat ditujukan bagi seseorang yang telah berjuang untuk katakatanya. Berjuang untuk menjadi lebih baik dari hari ini, berjuang mewujudkan kata-kata yang semula hanya mimpi dan kata-kata. Kini semuanya menjadi nyata, dan terbukti. Perjuangan itu merupakan tangga untuk segala keberhasilan, segala kesuksesan yang ­mutlak diidamkan setiap orang.

S

emua orang pasti ingin hidup berhasil. Keberasilan tidak bisa diraih begitu saja. Harus melalui pengorbanan dan kerja keras, serta dibarengi de­ ngan doa dan keyakinan kita pada Tuhan. Usaha keras dan rajin bertaqwa menjadikan kita orang yang penuh pendirian dan yakin, segalanya akan terwujud. Dokter Dewi salah satunya. Kerja keras yang ia lakukan selama ini tidak lain berkat restu dari Tuhan YME hingga bisa menjadi seorang dokter sekaligus pengusaha se­ perti saat ini. Kerja keras adalah salah satu karakteristik dokter cantik yang kerap disapa Dokter Dewi ini. Sejak kecil ia sudah menikmati susahnya mencari uang. Walaupun ayahnya kala itu menjabat Kepala LP, ia tetap dididik bagaimana mencari uang dengan kerja keras. Masa kecilnya sempat diisi dengan berjualan baju, dan menjadi instruktur senam ketika remaja. Meski tetap mendapat uang sekolah dari sang ayah, Dokter Dewi mengaku untuk mendapatkan uang tambahan untuk membeli keperluan tersier, dirinya harus mencari uang sendiri. Dari sanalah tekad juangnya terasah. Apa yang ingin dicapainya harus diwujudkan, dan harus memiliki target ke depan. Koordinator Dokter Gigi Rumah Sakit Bhakti Rahayu tersebut mempunyai prinsip bahwa waktu adalah segalanya, “time is money”. Memanfaatkan dan mengatur waktu itu sangat diperlukan. Ia sa­ngat menghargai waktu, dan diatur agar semua bisa berjalan seiring. Apalagi, kegiatan Dokter Dewi terbilang padat. Mulai dari mengurus keluarga, pekerjaan di kantor, memantau usaha yang sedang dirintis, dan praktik malam. Saat ditemui di tempat praktiknya di Apotek Kimia Farma, Jalan Gatsu Barat, denpasar, ia menceritakan berbagai rutinitasnya sebagai seorang dokter yang tidak terlepas dari kodrat sebagai perempuan. Pukul 05.00, ia mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk keluarga, seperti menyajikan sarapan pagi. Keluarga dibia­ sakan untuk sarapan yang harus dimasaknya sendiri. Usai me­ nyiapkan makanan, pukul 08.00, ia sudah harus ada di kantor untuk menjalankan tugas sebagai Koor-

dinator Dokter Gigi di Rumah Sakit Bhakti Rahayu. Selanjutnya rutinitas dilanjutkan dengan melihat kondisi atau keadaan usaha salon yang ia rintis sejak beberapa bulan lalu, tepatnya di depan Pasar Sanglah Jln. Waturenggong No.25 Denpasar. Tempat usaha yang strategis itu memungkinkan untuk dijangkau dari berbagai arah tujuan, harganya pun cukup terjangkau ekonomi menengah ke atas. Selain salon, ada pula koskosan yang beralamat di Jln. A. Yani Utara Perum Calista 8 Denpasar. “Karena profesi saya dokter yang menghabiskan banyak waktu di RS dan tempat praktik, saya memilih membangun usaha yang tidak mesti meluangkan banyak waktu, tidak mesti ditunggu, dan tidak harus repot ke sana-sini, yakni kos-kosan dan salon, belum

pelayanan yang berkualitas. Di samping merias wajah, dr. Dewi memiliki hobi mencari uang. “Maka dari tulah, hobi ke salon itu, saya ubah menjadi bisnis. Hobi juga harus mendatangkan untung. Hobi harus disalurkan dengan bisnis, saya juga tidak sembarang memilih jenis usaha dan tempatnya. Saya survei dengan baik, bagaimana peluang ke depan,” kisah wanita yang memiliki moto, “hidup itu indah” ini. Walau terbilang sudah mapan, dokter Dewi tak lantas ingin berfoya-foya. Banyak hal ke depan yang harus dipikirkan, bagaimana masa tuanya kelak. Pemilik nama drg. AA Ayu Dewi Harmini ini, memang selalu tertawa dan ceria. Di tengah padatnya aktivitas, ia tetap semangat dan bahagia. “Saya selalu begitu, karena saya selalu

Drg. AA Ayu Dewi Harmini bersama keluarga

lagi mengurus keluarga,” terang wanita kelahiran Singaraja, 11 Juni 1967 ini. Ia menjelaskan, usaha koskosan tidak mesti ditunggu. Sementara, usaha salon sudah ada pegawainya, ia hanya mengatur beberapa. “Saya mendirikan usaha salon karena pada dasarnya saya suka ke salon untuk refleksi, pijat, spa, dan perawatan. Semua itu refresing bagi saya. Kemudian, hobi saya ke salon itu, saya jadikan bisnis. Mumpung ada salon, ada penghasilan tambahan dan saya juga bisa perawatan di sana,” imbuhnya sembari tertawa. Ibu yang memiliki hobi merias wajah ini mengatakan salonnya ini tidak sekadar salon. Salon ini dikemas agar mampu menjangkau masyarakat bawah dengan

berpikir positif, tidak ada dengki, iri, dendam dalam hati. Sebisa mungkin kita berpikir positif dan serahkan semua pada Tuhan, agar semua dilancarkan,” ujarnya. Profesi sebagai dokter tidak membuat ibu tiga anak itu lupa bersosialisasi. Jika ada kematian, odalan di desa, ngayah, atau ke­ giatan menyamabraya, dokter Dewi pasti selalu hadir. Baginya ngayah merupakan kewajiban sebagai warga dan sangat penting untuk kelangsungan hidup ke depan. ”Kegiatan bermasyarakat itu tidak ingin saya lewatkan, sebisa mungkin hadir, sebab bagaimana pun nanti, yang akan membantu saya ketika mempunyai acara, masyarakat sekitar juga. Walau tidak bisa bantu banyak saya tetap hadir, setidaknya bantu-bantu

Drg. AA Ayu Dewi Harmini

sebisanya,” begitu pengakuan istri I Made Oka Supiatna ini. Mental situation Dokter Dewi tentu harus cepat diadaptasi. Ia harus secepat mungkin beradap­ tasi dengan kegiatannya yang padat. Segudang kegiatan itu menjadikannya harus kuat menempatkan pikiran, mental, dan kondisi. Sebisa mungkin dokter yang tinggal di Jln. A. Yani Utara Perum Calista No. 24 itu tidak membawa masalah kantor ke rumah, atau membawa masalah pribadi ke kantor, atau pun masalah kantor dibawa-bawa sewaktu ngayah. Untung saja, lingkungan dokter menjadikannya lebih dewasa untuk mengahadapi orang-orang dengan lingkungan yang berbeda, apalagi meng­hadapi pasien yang banyak tipenya. “Kunci saya, harus bisa melihat dengan siapa kita berbicara, dan bagaimana seharusnya berbicara di lingkungan seperti itu. Ketika meng­urus usaha atau ngayah, urusan di kantor dihentikan, tidak perlu dipikirkan lagi, agar fokus,” kata dokter Dewi bersungguh-sungguh. Segala hal dilakukan Dokter Dewi harus sungguh-sungguh terlebih gelar dokter yang diembannya tidaklah gampang. Perlu kesungguhan dan ketekunan. Alasan itu­lah yang menjadikannya tidak sembarang menggunakan uang. Kuliah dokter yang tidak murah melatih dirinya agar hemat dan bijak menggunakan uang. “Saya jarang makanmakan di restoran, hanya sesekali. Lebih baik uang itu saya tabung sebaik-baiknya untuk bekal anak saya dan bekal hari tua,” katanya. Banyak keinginan yang masih bersarang di otaknya, masih ba­ nyak mimpi yang belum terwujud. “Semoga Tuhan selalu memberkati,” ujarnya ketika satu-persatu impiannya mulai terwujud. Ia menyadari betul sebuah perjuangan. “Kejarlah keinginanmu, semasih lagi ada waktu...”, begitu lirik lagu Chrisye yang pantas menggambarkan bagaimana kegigihan Dokter Dewi dalam membina dirinya sendiri agar setiap keingin­ annya dapat terlaksana, sebelum usia tua, sebelum makin renta.

“Sampai saat ini, memang hidup saya dan keluarga sudah dibilang layak tetapi saya tetap berusaha mencari-cari lagi peluang bisnis yang baru untuk hari tua. Ndak mau toh, hari tua nanti bisanya cuma minta uang sama anak? Maka dari itu, semasih ada waktu saya memanfaatkan betul untuk mencari uang dan menabung,” imbuhnya. Memang segala sesuatunya perlu diwujudkan, dengan usaha dan doa. Usaha yang dibarengi oleh doa akan nampak nyata, dan selalu dilancarkan. Dokter Dewi selalu berpegang teguh pada prinsip itu. “Apa pun yang saya lakukan, saya ucapkan syukur kepada Tuhan, Hyang Widhi Wasa. Saya hanya bisa berusaha, selebihnya saya kembalikan kepada Beliau,” tuturnya. Dokter yang memiliki paras ayu itu memang patut menjadi inspirasi. Di tengah kesibukannya ia tetap menjadi dirinya sendiri, selalu tersenyum, selalu bersyukur. Kesuksesannya saat ini tidak membuat ibu Ode Mahesa Putra, Ogek Dwi Shvitri, dan Triayu Narita Sari itu lupa diri. “Segala kesuksesan ini selalu saya syukuri, sebab semuanya titipan Tuhan, hanya Beliau yang memiliki kehendak. Semua ini milik Tuhan, hanya saja saya yang dipercayai untuk mengembannya. Mudahmudahan Tuhan selalu memberi jalan,” terangnya. Ternyata, Dokter Dewi juga sempat ditawari menjadi caleg. Namun, ia harus berpikir lima kali untuk menerima. “Saya memikirkan waktu. Kalau jadi caleg memang harus betul-betul meluangkan waktu, saya akan sangat rugi bila harus meninggalkan perkerjaan sebagai dokter, me­ ninggalkan waktu bersama kelu­ar­ ga hanya demi jadi caleg,” ungkapnya dengan tertawa nyaring. Ditanya terkait pandangannya tentang keberadaan wanita saat ini, dokter Dewi memaparkan bahwa menjadi wanita tidak perlu hanya menunggu suami pulang kantor. “Tidak jarang saya melihat mereka yang suaminya bekerja susah payah, hanya shopping atau pagi-pagi sudah ngerumpi. Itu menurut saya buangbuang waktu dan energi. Untuk apa kita membicarakan orang lain? Lebih baik kita membantu suami bekerja,” tuturnya. Harapannya ke depan, semoga wanita Bali saat ini dapat membuka wawasan dan menanggapi lingkungan sekitar. Tidak hanya mahir di dapur, tapi mahir membagi waktu untuk kegiatan bermanfaat lainnya. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk dapat hasil yang maksimal. “Mari kita sama-sama berbuat baik, tidak ada waktu untuk sirik urusan orang lain. Ingat Tuhan, selalu utamakan Beliau. Baru bangun, langsung ucapkan doa, agar segala kelancaran selalu menemani. Segala sesuatunya sudah ada yang mengatur,” tandasnya. -Wulan Dewi

28 APRIL - 4 MEI 2014

MANDALIKA

Telusuri Legenda La Hila di Dongo, Bima

21

Alam pedesaan yang masih terjaga dengan masyarakatnya yang lugu adalah keunikan tersendiri wilayah Donggo yang berada di atas gugusan perbukitan bagian utara Kabupaten Bima. Donggo merupakan salah satu desa tradisional yang menyimpan kekhasan tersendiri di Bima. Untuk mencapai Donggo, membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam dari Kota Bima, atau 30 menit dari Sila Kecamatan Bolo sebagai lokasi terdekat untuk mencapai Donggo. Setelah perjalanan 30 menit dari Sila, kita akan tiba di tempat tertinggi wilayah ini yakni Pesanggrahan. Pesanggrahan artinya persinggahan.

P

esanggarahan ini merupakan rumah yang dibangun di zaman Belanda yang dibuat khusus sebagai tempat peristirahatan bagi Raja Bima. Bangunan yang kini berusia lebih dari 70 tahun ini masih dilestarikan sesuai dengan bentuk dan model aslinya. Bangunan yang bertahan dengan keasliannya ini merupakan salah satu tujuan wisata terutama bagi penduduk lokal Bima sejak puluhan tahun silam. Dari sini, sejauh mata memandang, Kota Bima di bagian timur tampak

dari kecamatan-kecamatan yang berdekatan dengan Donggo, se­ perti Kecamatan Bolo dan lainnya. Selain itu, musim ramai kunjungan Pesanggrahan Donggo adalah saat Lebaran tiba. Orang Bima menyebutnya lao ndiha yang artinya pergi beramai-ramai atau pergi berwisata. Dan, salah satu tujuan lao ndiha ini adalah Pesanggrahan Donggo. Rupanya kebiasaan itu masih terus berlangsung hingga sekarang. Menurut Muhtar, penjaga Pesanggrahan ini, tiapkali waktu pembagian rapor tiba, Pesanggrahan

Legenda La Hila yang meninggalkan jejak dongeng dalam masyarakat Donggo dan Bima, menjadi salah satu tujuan berwisata ke desa ini

dengan jelas. Pelabuhan dan teluk melengkapi pemandangan khas daerah pegunungan. Udara sejuk dan nyaman, sangat terasa berbeda dengan udara di Bima yang terkenal sangat panas. Tiga puluh tahun lalu lokasi ini masih merupakan hutan yang belum terawat dengan baik dan belum tertata. Untuk mencapai Donggo, hanya truk yang biasa dipakai mereka untuk berwisata. Masyarakat Bima yang berwisata ke sini, dulunya, dimaknai sebagai wisata hutan dan pegunungan. Pesanggrahan ini ramai sekali dikunjungi murid-murid sekolah terutama saat usai pembagian rapor. Mereka berasal

ini akan sangat ramai dikunjungi mereka yang berwisata. Bukan itu saja, sekarang lokasi ini malah akan tambah ramai juga ketika musimmusim liburan sekolah, Lebaran, Tahun Baru dan lainnya. Mereka yang berwisata di sini, biasanya memenuhi areal halaman Pesanggarahan dari halaman depan hingga belakang. Asyiknya, berwisata di sini masih gratis alias tiap kunjungan tidak dikenakan bayaran. Para pengunjung hanya diminta untuk membersihkan lokasi dari sampah yang dibawanya agar lokasi ini tetap terlihat bersih dan rapi. Lokasi Pesanggrahan ini, kini sudah bukan merupakan hutan tak terawat lagi, melainkan telah ditata

Eksotika keunikan desa tradisional Donggo adalah rumah-rumah penduduk yang bangun di lereng-lereng perbukitan

dengan baik dan telah tampak sebagai lokasi wisata yang siap secara fisik. Di sekitarnya juga telah dikelilingi rumah-rumah warga, sebuah pedesaan yang sejuk dan nyaman. Bangunan putih khas Belanda ini memiliki empat kamar tidur , dua kamar mandi dan satu ruang tamu. Pesanggrahan ini, akhir-akhir ini mulai disewakan sebagai penginapan dengan tarif yang sangat terjangkau. Donggo, masih menyimpan keunikan karena rata-rata rumahrumah di sini adalah rumah khas Suku Mbojo, yakni rumah panggung yang terbuat dari kayu. Tidak banyak bangunan modern berdiri di sini. Jika di tempat-tempat lain di Bima, rumah-rumah khas seperti ini hanya sedikit dijumpai, diganti dengan rumah-rumah modern dari tembok mengikuti model-model terbaru. Keunikan dan kekhasan tradisional Mbojo semakin terasa dengan jompa-jompa (lumbung tempat penyimpanan padi khas Bima) yang bisa dilihat hampir di semua rumah penduduknya. Letakletak rumah tradisional, bahkan ada yang berada di lereng-lereng gunung yang terjal dan curam menambah eksotisme pedesaan di gugusan pegunungan Bima ini. Bagian lain dari Donggo yang unik untuk ditelusuri adalah beberapa tempat bersejarah yang bagi orang Donggo adalah legenda yang masih dipercaya hingga hari ini. Misalnya, legenda rakyat La Hila. Melewati jalan setapak yang nyaris tak tampak karena ditumbuhi semak belukar dan pepohonan, perjalanan menuju sebuah batu berukuran besar yang di atasnya terdapat sebuah jejak seperti telapak kaki bagian kiri. Mengunjungi sebuah batu besar dengan permukaan yang rata, di sebuah gang bernama La Hila, cerita itu pun mengalir dari salah seorang warga Donggo, Sudarman, yang kerap mengantar tamu

untuk berkunjung ke tempat yang diyakini tempat menghilangnya putri La Hila tersebut. Pada batu besar itu terlihat sebuah telapak kaki utuh ukuran rata-rata. Telapak kaki inilah yang diyakini masyarakat Donggo sebagai jejak terakhir La Hila. La Hila yang berambut panjang bergalahgalah itu menghilang di sebuah hutan di pinggir sungai tempatnya biasa mandi, karena tak dapat memilih antara dua lelaki yang meminangnya. Tak sanggup menghadapi tekanan akan pilihan sulit itu, La Hila pun menghilang. Orang tidak mengetahui ke arah mana ia pergi. Namun, dari jejak terakhirnya berupa telapak kaki pada batu besar tersebut, ia diperkirakan menghilang ke arah selatan, karena dari jejak tersebut jari-jari kaki menghadap selatan sedangkan tumitnya berada di utara. Legenda La Hila sangat terkenal di Bima. Di sekitar jejak terakhir La Hila di batu tersebut, tumbuh pohon-pohon bambu besar yang getahnya berwarna merah. Pohon bambu tersebut, oleh masyarakat disebut dapat berdarah jika dilukai atau ditebang. Konon, dalam legenda tersebut, ketika La Hila menghilang, ibundanya mencari ke sana ke mari, termasuk ke tempat

di mana ia biasa mandi. Di sanalah, Sang Ibunda menumpahkan segala kesedihannya hingga akhirnya tak sengaja memegang bambu yang menurut legenda tersebut tiba-tiba muncul di samping jejak terakhir La Hila tersebut. Saat itulah, bambu tersebut bicara, bahwa dialah La Hila. Ia berpesan agar bambu tersebut jangan dilukai atau pun ditebang. Dan, bambu ini dikenal dengan nama Bambu La Hila. Bambu yang jika disentuh akan menangis. Sayangnya, bambu yang tumbuh di sekitar batu besar jejak La Hila tersebut sudah tidak ada lagi. Menurut Sudarman, sejak beberapa tahun lalu, bambu yang menyertai legenda rakyat Bima tersebut, tidak lagi bisa tumbuh di tempat tersebut. Hingga saat ini, ujar Sudarman, masyarakat sekitar masih kerap mendengar rintihan yang datang dari hutan sekitar tempat mereka tinggal yang berdekatan dengan batu jejak kaki yang diyakini La Hila tersebut. Percaya atau tidak, yang pasti legenda La Hila turut memperkaya kebudayaan dan tradisi rakyat Bima dan ceritera-ceritera rakyat tersebut kerap menyimpan petuah-petuah dan pesan-pesan bijak bagi masyarakat yang mempercayainya. -Naniek I. Taufan

Pesanggrahan yang menjadi salah satu tujuan wisata Donggo


20

NINE

28 APRIL - 4 MEI 2014

Baiq Eva N. Parangan

BKBPP Tempat Curhat Remaja Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk memimpin sebuah in­ stitusi yang sama. Dibutuhkan kreativitas lebih dari pemimpin itu untuk dapat “membunuh” kejenuhan berada di tempat yang sama dalam satu dasawarsa. Namun, tentu tidak hanya itu alasannya. Melainkan juga dibu­ tuhkan keikhlasan dalam menjalankan tugas yang telah diamanahkan itu.

H

al itulah yang kini te­ ngah dijalani dra. Baiq Eva N. Parangan, M.Si., Kepala Badan Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan (BKBPP) Lombok Barat. Sejak tahun 2004, mantan Camat Gerung (1999-2003) telah memimpin institusi yang berkaitan dengan ke­ luarga berencana, perempuan dan anak ini. Ia hanya sempat pindah tugas selama satu tahun yaitu pada tahun 2009, ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Lombok Barat. Namun kemu­ dian, kembali lagi ke BKBPP yang dulu bernama BKBKS (Badan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera) Lombok Barat. Saking lamanya di BKBPP, Eva mengaku sudah kebal mendengar tiap kali mutasi dilakukan. Ia siap ditempatkan di mana saja ter­ masuk tetap di tempatnya saat ini. Selama 10 tahun itu, dinamika birokrasi Lombok Barat terus ber­ putar. Setidaknya telah terjadi tiga kali pergantian Bupati Lombok Barat dan tiga kali pula institusi ini berganti nomenklatur (dari BKKBN, BKBKS hingga BKBPP). Bisa dibilang, saat ini ia adalah Pimpinan Badan terlama di Lombok Barat. “Syukurnya saya tidak bosan dan tetap bisa menikmati tugas ini,” ungkap perempuan kelahiran 15 Mei 1962 ini. Hal ini tentu saja karena ia termasuk perempuan yang aktif dan tidak bisa diam. Selalu ada saja yang dikerjakannya untuk menghidupkan suasana kerja baik di kantor maupun di lapangan. Untuk urusan pekerjaan, Eva tampaknya lebih banyak turun ke lapangan ketimbang diam di kantor. Satu hari di kantor dan empat hari di lapangan. Eva rajin turun lapangan karena tuntutan tugas yang baginya meng­ haruskan ia untuk banyak bertemu dengan masyarakat. “BKBPP tidak melulu mengurus soal kontrasepsi melainkan jauh lebih luas dari pada itu, seperti pendewasaan usia pernikahan, masalah kesehatan reproduksi dan lainnya,” katanya. Untuk dua hal ini, ia keluar masuk sekolah di Lombok Barat untuk bertemu, berdialog hingga mendengarkan curhat para remaja berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan permasalahan lain yang mereka alami. Selain itu, ia juga selalu melakukan pendekatan dengan masyarakat berdialog tentang ketah­ anan keluarga. Tugas yang didukung penuh oleh seluruh stafnya ini berupa­ ya memberdayakan para perempuan dalam peningkatan ekonomi keluarga melalui kelompok UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera). Eva mengaku sangat menikmati tugas tersebut juga karena menda­ patkan banyak pengalaman khususnya dalam hal pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Selain sebagai tempat curhat para remaja, Eva juga rupanya menjadi tempat curhat para perempuan yang mengalami KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). “Dari berbagai permasalahan yang dikeluhkan para remaja dan ibu-ibu, saya bisa mengambil hikmahnya dan saya bisa terus berpikir untuk men­

dra. Baiq Eva N. Parangan, M.Si.

carikan jalan keluar terbaik untuk masalah yang dihadapi,” katanya. Itu artinya secara tidak langsung, masalah mereka membuatnya berupaya keras untuk mencarikan jalan keluar. “Bahagia sekali jika bisa menda­ maikan pasangan yang bahkan hampir bercerai menjadi rukun kembali,” katanya. Menjadi tempat curhat bagi remaja dan ibu-ibu bukan tanpa alasan melainkan karena rajinnya ia turun lapangan untuk tugas pelayanan KB keliling, melakukan pembinaan ke­ luarga hingga menyeleng­ garakan berbagai lomba di desa-desa, membuat ia dikenal masyarakat. Kon­ seling seperti ini biasanya dilakukan di Pusat Pelayan­ an Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), yang memiliki 57 orang konselor. “Ka­ lau ada yang mengadu permasalahannya, segera kami koordinasikan de­ ngan P2TP2A yang memi­ liki psikolog,” kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lombok Barat ini. Munculnya kebera­ nian berkonsultasi tentang masalah perempuan dan anak di Lombok Barat, tidak lepas dari gencarnya sosialisasi yang dilakukan BKBPP Lombok Barat selama 10 tahun terakhir. Ia menikmati tugasnya ini meski 10 tahun tak bergeser lebih karena ia “setia” pada janji pengantar tugasnya. “Saat dulu saya melamar pekerjaan ini, saya telah menyatakan ber­ sedia ditempatkan di mana saja dengan situasi fasilitas apa pun. Dulu saya mela­ mar kerja dan tidak pernah melamar fasilitas peker­ jaan,” ungkap putri sulung pasangan mantan Bupati Lombok Barat, Ratmadji dan Baiq Fahriah ini. Darah pekerja Eva tampaknya mengalir dari

sang ayah. Ia pun mengenang ba­ gaimana ayahandanya itu menyiapkan ia dan keempat saudara lainnya untuk menjadi pribadi-pribadi mandiri. Ke­ tika ayahnya menjadi Bupati Lombok Barat di usia remajanya, ia sering “protes” ketika tiap hari Sabtu tiba, kelima bersaudara ini diboyong dari Pendopo Bupati yang berada Mataram (belum ada pemisahan Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram), ke sebidang sawah dan kebun milik ayahnya. “Lokasinya sepi dan jauh dari keramaian,” katanya. Di sanalah Sang Bupati itu “mendidik” anak-anaknya untuk mandiri. “Kami semua diajarkan memba­ jak sawah dan menanam padi saat musim tanam dan memanen padi saat musim panen tiba,” katanya. Menurut ayahnya, itulah salah satu cara ia mem­ perkenalkan dan mengajarkan mereka untuk tidak hanya mengetahui tentang proses penanaman hingga panen padi, tapi juga merasakan betapa tidak mudahnya petani menghasilkan beras yang dimakan oleh mereka. Dulu, meninggalkan kota dengan keramaian malam minggu juga jauh dari kawan-kawan sempat membuat mereka kesal. Tidak hanya itu, mereka

INSPIRASI

28 APRIL - 4 MEI 2014

Sagung Diva, Peserta Ujian TRP Termuda di Indonesia

Dra. B. Eva N. Parangan sosialisasi di radio-radio

tinggal kesepian selama malam minggu itu tanpa televisi pula. “Tapi hari inilah kami memetik hasil dari apa yang diajarkan oleh Mamiq (panggilan khas ayah dalam masyarakat Sasak) dulu,” ujar ibunda dari Baiq Hulum Nuzully (30) dan Baiq Diar Ardila (24) ini. Didikan Ratmadji untuk membuat anak-anaknya menjadi anak-anak mandiri dan bertanggung jawab juga dilakukan di Pendopo Bupati. Meski ada pembantu dan staf yang mengerjakan semua hal di Pendopo, tapi anak-anaknya memiliki tugas masing-masing. “Kami diberi tugas masing-masing seperti menyuci, me­ nyetrika bahkan pergi ke pasar meski pun ada orang yang memang bertugas untuk itu,” katanya.

Kini Eva merasakan manfaat dari didikan itu termasuk tanggung jawab dalam menjalankan tugas yang telah diberikan padanya. Ia bercita-cita akan tumbuh dan berkembang keluargakeluarga (orang tua, anak dan ling­ kungan) yang mampu membentuk menjadi keluarga yang sejahtera dan tangguh. ”Dalam keluarga sejahtera pasti akan menjadi kuat dan mampu menjadi pilar bagi generasi berkualitas yang akan melanjutkan pembangunan bangsa ke depan,” ujar mantan Camat Gerung Lombok Barat, camat pe­ rempuan pertama di wilayah Bali dan Nusra waktu itu, yang memiliki obsesi untuk membangun keluarga-keluarga berkualitas di NTB, khususnya di Lombok Barat ini. -Naniek I. Taufan

M

Sagung Diva (kanan) dan Bu Agung

inggu (20/4), untuk kesekian kalinya Tem­ pat Uji Kompetensi (TUK) Agung menyelenggarakan ujian Tata Rias Pengantin Bali (TRP) yang diikuti 24 peserta. Namun, ada yang berbeda dari ujian kali ini. Diva yang baru duduk di bangku kelas VI SDN 28 Dangin Puri, Denpasar itu menjadi peserta ujian TRP Bali termuda di Bali. Bahkan, menurut tim penguji dari LSK, Diva menjadi peserta ujian Tata Rias Pengantin termuda di Indonesia. Jauh sebelumnya, tepatnya sejak dua tahun terakhir, Sagung Diva sudah serius berlatih tata rias pada waktu-waktu luangnya. Pemi­ lik nama lengkap AA Sagung Diva Wastuningtyas ini juga kerap mengi­ kuti roadshow-roadshow yang dige­ lar LKP Agung ke instansi-­instansi pemerintah maupun swasta, kam­ pus, juga organisasi perempuan di kabupaten/kota se-Bali. Pada tiap kegiatan tersebut, Sagung Diva kebagian mendemokan bagaimana memasang make up, membuat dan memasang sanggul, serta menata riasan rambut. Keterlibatan putri kedua Bu Agung tersebut tentunya makin mengasah keterampilan tata riasnya, hingga kini di usianya yang belum genap 12 tahun, Sagung Diva telah lulus uji kompetensi. Rupanya, hadirnya Sagung Diva sebagai peñata rias belia yang tampil dalam beberapakali roadshow yang juga diliput BaliTV itu membawa dampak positif secara meluas. Tak sedikit ibu-ibu, kini mengkursuskan putrinya tata rias. “Ini tentunya sangat baik sekali, karena ini salah satu kegiatan positif untuk bisa mengisi waktu luang mereka. Selain itu, tata rias dan busana adat Bali merupakan bagian dari adat dan budaya kita. Dan, sudah seharus­ nyalah dikenalkan sejak dini agar

mereka lebih mencintai adat dan budayanya sendiri,” ujar Bu Agung ketika ditemui di sela-sela penjurian Lomba Busana Adat ke Pura Ber­ pasangan tingkat SMP dan SMA/ SMK dalam Porsenijar Denpasar 2014, Senin (21/4) di Aula PKBM Agung, Jalan Anggrek Denpasar. Penerima Anugerah Peduli Pendidikan (APP Award) dari Kemendikbud tahun 2013 ini mengimbuhkan, dalam roadshowroadshow tata rias yang terus digelar bekerjasama dengan Viva Cosmetic tersebut, selain diajarkan trik praktis membuat dan memasang tengkuluk lelunakan serta pusung tagel (sang­ gul Bali) dan modern, Bu Agung juga mengajarkan tata rias untuk diri sendiri, dan etika berbusana adat Bali yang baik dan benar. Dari 30 roadshow yang ditarget­ kan sepanjang tahun 2014 ini, sudah berjalan 21 kali. Seminggu terakhir

ini saja, pelatihan tata rias sehari tanpa dipungut biaya itu sudah berlangsung di Polres Klungkung, Kamis (23/4); Gianyar, Jumat (25/4); dan di Wantilan Bali TV Denpasar, Sabtu (26/4). Bu Agung mengaku terkesan dengan acara di Klung­ kung, karena kegiatan yang diikuti anggota Bhayangkari dan GOW Klungkung itu dihadiri juga oleh seluruh istri kapolsek hingga dari daerah Nusa Penida. Bahkan, me­ reka telah mempersiapkan empat model yang satu di antaranya adalah istri Kapolsek Nusa Penida. Dan, di tahun ini pun, seperti tahun-tahun sebelumnya, Bu Agung mengagendakan melaksanakan roadshow ke Nusa Penida. Memang, setiap tahun, LKP Agung pasti mem­ berikan pelatihan tata rias untuk masyarakat di seberang lautan terse­ but. Bahkan, seperti di tahun 2013 lalu, 30 masyarakat Nusa Penida diberikan beasiswa dan diboyong ke LKP Agung di Denpasar, diberikan kursus tata rias dan busana adat Bali yang lebih intensif. Selain itu, Bu Agung juga terke­ san dengan apresiasi positif Kapolres Klungkung AKBP Ni Wayan Sri ­Yudayatni Wirawati yang sangat peduli wanita dan mendukung pelatihan tata rias ini sebagai salah satu upaya menjaga keharmonisan keluarga. Sebagai seorang wanita, terlepas dari profesi apa pun, wanita selalu dituntut untuk tetap tampil cantik dan menarik, terutama di mata suami. Karena itu, ia menga­ takan berias itu penting, namun disesuaikan juga dengan situasi dan kondisi­nya. Ia berterimakasih karena telah terjalin kerjasama yang baik antara Polres Klungkung, LKP Agung, dan Viva Cosmetic dalam pelatihan tata rias, yang telah berbagi trik singkat berias cepat untuk para peserta. Di samping itu, pemaparan Bu Agung dengan bahasa sederhana dan menarik ini lebih mudah dipa­ hami dan dimengerti, sehingga mu­ dah pula dilakukan. Di akhir acara, AKBP Sri Yudayatni menyerahkan kenang-kenangan kepada pimpinan LKP Agung, AA Ayu Ketut Agung.

5

Sagung Diva saat mendemokan tata rias

DISKON KURSUS 50%

M

emperingati Hari Kartini, Galungan dan Kuningan, Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung memberikan kesempatan luas kepada masyarakat umum untuk mengikuti kursus regu­ ler dengan memberikan diskon 50%. Materi yang diajarkan mencakup Tata Kecantikan Kulit (perawatan muka, make up wajah, perawatan kaki dan tangan, perawatan tubuh) senilai Rp 3 juta; Tata Kecantikan Rambut (potong, kriting, blow, set, sanggul, creambath, pelurusan, dan cat rambut), senilai Rp 3 juta; dan Tata Rias Pengantin Bali (payas nista, madya, utama, modifikasi, tengkuluk lelunakan) senilai Rp 3 juta. Total nilai kursus Rp 9 juta. Namun, pada kesempatan kali ini, hanya dengan berkontribusi Rp 4,5 juta, peserta kursus bisa mengikuti semua materi tersebut. “Peserta hanya membayar sekali, kursus sampai bisa. Peserta kursus cukup datang membawa diri, karena semua peralatan dan perlengkapan kursus disiapkan LKP Agung,” jelas Pimpinan LKP Agung, AA Ayu Ketut Agung. LKP Agung yang juga merupakan Tempat Uji Kompetensi (TUK) Tata Kecantikan Kulit satu-satunya di Bali, dan TUK Tata Rias Pengantin, melaksanakan uji kompetensi yang diuji tim Lembaga Sertifikasi Kom­ petensi (LSK) pusat. Sertifikasi uji kompetensi ini dikatakannya penting dimiliki bagi mereka yang bergelut di bidang tata rias sebagai pengakuan atas kompetensi/kemampuannya. “Bagi pemilik salon atau individu yang belum belum bersertifikasi, silakan hubungi kami, karena setiap bulan kami mengadakan uji kompetensi,” imbau Bu Agung. LKP Agung memiliki tempat belajar yang memadai dan kondusif di dua tempat di Denpasar, dengan instruktur yang mempunyai latar be­ lakang keahlian dan pengalaman legal yang tentunya telah mengantongi sertifikat kompetensi di bidang tata kecantikan. Sampai saat ini LKP Agung telah menamatkan 7.600 siswa didiknya yang sudah tersebar di Bali dan Nusantara. Disediakan pula beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Masyarakat yang berminat, silakan mendaftar di Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 231985, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www. salonagung.com. –iin

Sagung Diva (lima dari kanan, atas) bersama Bu Agung dan peserta lainnya, usai uji kompetensi


6

l i f e s to ry

Buka Mata hanya Empat Jam Tidak pernah dibayangkan pasangan Ni Wayan Satya Murni dan Wayan Suparma Sudiatmika jika anak laki-laki pertama dan satu-satunya, Rio (7) mengalami lumpuh saraf. Dua tahun awal pertumbuhannya Rio sangat normal. Bahkan ia sudah bisa bicara dan berdiri. Namun suatu malam, Rio mengalami panas tinggi dan kejang-kejang. Sejak saat itu Rio terus menerus mengalami kondisi tersebut sehingga harus keluar masuk RS. Selama lima tahun, Rio pulang balik RSUD Karangasem. Ia meng­ habiskan pertumbuhannya dengan dirawat inap di RSUD Karangasem.

M

urni menuturkan anaknya paling lama dirawat di RSUD Karang­ asem selama sebulan. Diper­ bolehkan pulang dan setelah se­minggu kembali balik ke RS untuk mendapatkan perawatan. ‘’Paling lama seminggu di rumah. Setelah itu kejang dan panasnya kumat lagi,’’ ungkapnya. Rio didiagnosa menderita cerebral parsi atau kecacatan di otak sehingga ia mengalami lum­ puh. Pada awalnya, Rio masih bisa

duduk, makan dan mengambil barang sendiri. Ia juga masih bisa mengenali orang-orang. Namun, seiring perjalanan waktu, Rio menjadi lumpuh total. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur sambil memandang kosong ke depan. Keterbatasan ekonomi membuat Rio tidak bisa dibawa ke RS Sanglah. Sampai akhirnya, kondisi Rio diketahui media massa sehingga banyak bantuan datang. Melihat kondisi Rio yang tidak membaik juga pihak dokter di RSUD Karangasem kemudian

merujuk ke RS Sanglah. Rio dirawat di RS Sanglah sejak Kamis (10/4). Ia men­ jalani pemeriksaan gelom­ bang otak untuk mengetahui kondisinya secara pasti. “Dari hasil pemeriksaan, gelombang otak Rio memperlihatkan kondisi yang abnormal. Kon­ disi ini tentu mengkhawatir­ kan kami,” ujar Murni. Dari pemeriksaan gelombang otak tersebut, kemungkinan Rio untuk kembali normal su­ dah tertutup. “Kata dokter dengan kondisi ini, anak saya tidak bisa kembali normal,” ujarnya sedih. Saat ditemui di ruang Jem­ piring kamar 3, Rio tampak tertidur pulas. Sesekali badan­ nya mengejang jika ia men­ dengar suara atau dipegang. Dari luar, Rio tampak seperti anak yang normal. Namun, jika anaknya bangun tatapan­ nya kosong dan hanya menuju satu arah. Ia juga sudah tidak bisa mengenali siapapun dan hanya bisa berbaring tanpa bergerak kecuali dibantu. Karena tidak bisa makan den­ gan normal, selama delapan bulan ini Rio hanya minum susu melalui sonde atau selang yang

dimasukkan lewat hidung yang tersambung ke lambung. Untuk itu Murni harus rutin memberi­ kan Rio susu setidaknya dua jam

sekali. Untuk kencing maupun BAB, Rio melakukannya tanpa sadar. Bahkan sejak beberapa hari lalu Rio tidak bisa kenc­ ing sendiri sehingga harus dipasang kateter. “Perutnya kembung karena tidak bisa kencing. Makanya dipasang kateter,” tutur Murni. Sejak lumpuh total selama delapan bulan ini Rio juga sama sekali tidak menangis meski badannya ditusuk jar­ um infus maupun jarum suntik berkali-kali. Meski kemung­ kinan untuk normal sudah tidak bisa lagi, tetapi Murni berharap agar kondisi Rio bisa lebih baik. “Setidaknya tidak terus berbaring tak bergerak seperti ini,” harapnya. Rio sendiri sudah diterapi untuk merangsang refleks geraknya, namun hingga saat ini belum menunjukkan hasil. Anak yang seharusnya duduk di kelas 1 SD ini tetap tidak bergerak dan menghabiskan waktu di tempat tidur. Menu­ rut Murni, jika anaknya diberi obat antikejang bisa seharian tidak bangun. Dalam sehari Rio membuka mata hanya sekitar empat jam, selebihnya dihabiskan untuk tidur. -Wira

S U D U T PA N D A N G

28 april- 4 mei 2014

28 april - 4 mei 2014

19

Perjuangan Perempuan di Politik

Sekarang Menanam, Nanti Memetik Perjuangan para perempuan ke kancah politik dipenuhi berbagai kisah manis dan sedih. Ada yang lolos dan ada yang gagal. Yang lolos ingin terus berjuang untuk perempuan dan anak. Sementara yang gagal, merasa mendapatkan pembelajaran politik luar biasa. Mereka miris dengan sikap pragmatis masyarakat. Berikut penuturan, Utami Dwi Suryadi, Sumiati, Evi Lestari, dan Fania Yulianthi.

U

tami Dwi Surya­ di, petahana yang kembali lolos se­ bagai anggota DPRD Provinsi Bali mengatakan, ke depan, ia akan melanjutkan pro­ gram yang belum selesai pada pe­ riode sebelumnya, seperti Raperda Anak. Ia menyatakan, akan lebih fokus pada persoalan perempuan dan anak, agama, adat, dan budaya sesuai dengan tugasnya di komisi IV. Untuk pendekatan ke masyarakat, wakil dari Partai Demokrat ini me­ ngatakan, akan lebih ditingkatkan. Melihat pelaksanaan Pemilu 2014, ia mengaku kaget, karena banyak masyarakat yang notabene tinggal di perkotaan masih saja bersikap pragmatis. “Mereka hanya berpikir, apa yang bisa diberikan para caleg saat itu, kalau mereka memilihnya. Mereka tidak melihat, bagaimana kinerja anggota DPRD selama lima tahun,” ujar Utami. Ni Made Sumiati, petahana dari Partai PDI Perjuangan yang juga kembali lolos berkantor di DPRD Bali, mengatakan, akan terus berjuang dengan Sumiati Center. Ia mengatakan, memiliki sembilan program inti yang sudah terlak­ sana selama ini. Ke depan, akan ditambahkan dua poin. Pertama, gerakan tani dan nelayan. Kedua,

Sumiati

Fanina Yulianthi

Metta Dewinta

Utami Dwi Suryadi

pemberdayaan wanita perdesaan untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan. “Untuk home industry perempuan, seperti pembuat jaja begina dan minyak kelapa ini perlu harus didukung dengan modal. Kami bisa ambilkan modal yang tidak perlu dikembalikan seperti modal instan dan bansos. Begitu juga, home industry laki-laki peng­ rajin arak tradisional. Dengan adanya perda minuman beralkohol tradisional Bali, yang kebetulan saya ketua pansusnya. Mengapa sampai sekarang belum efektif dan masih banyak pengrajin diciduk pertugas kepolisian. Ke depan akan saya efektifkan,” kata Sumiati. Pengalaman melalui rangkaian pemilu diungkapkan Putu Metta Dewinta Wandy. Awalnya ia merasa terpaksa demi melengkapi kuota 30% perempuan. “Tetapi, setelah berjalannya proses, mulai dari ikut rapat-rapat dan kegiatan partai, saya mulai suka politik. Saya merasa apa yang saya pelajari di S-1 dan sekarang di S-2 nyambung dengan bidang ini. Saya bisa klo begini,” ungkap mahasiswi Program Magis­ ter S-2 Ilmu Hukum Universitas Udayana ini. Metta melakukan pendekatan mulai dari orang-orang yang pa­ling terdekat, yakni keluarga besar, kemudian banjar, dan melakukan pendekatan ke ibu-ibu yang ter­ gabung dalam kegiatan PKK serta posyandu. Yang tidak kalah penting, Metta juga berkomunikasi dengan seka teruna di beberapa banjar di Dentim untuk mendulang suara. “Seka teruna merupakan wadah generasi muda yang berpandangan terbuka, dan tidak meremehkan saya. Mungkin karena sama-sama

muda, jadi mereka mendukung kaum muda. Melalui seka teruna inilah saya menjelaskan niat saya, dan meminta bantuan dari seka teruna untuk meneruskan kepada konstituen saya, mengapa harus memilih saya,” ujar Metta. Begitu tahu suara yang diraih hingga 3.000 lebih Metta dan timnya senang karena perjuangan mere­ka bersama konstituen selama ini berhasil. Dari sekian caleg ternyata, Metta dipercaya bisa mewakili masyarakat Dentim untuk duduk di kursi DPRD Kota Denpasar. Ia pun menjadi satu-satunya perempuan di komposisi DPRD Kota Denpasar periode 2014-2019. “Sebagai satu-satunya perem­ puan yang lolos, pertama tentunya saya akan memperhatikan konstit­ uen saya, ibu-ibu dan seka teruna selaku generasi muda. Itu yang akan menjadi fokus saya, di samping saya juga ingin memperhatikan masalah hukum, sebab ini cocok dengan bidang keilmuan saya,” tegasnya. Metta berharap kaum perem­ puan agar bangkit dan berkarya. Sesungguhnya sudah banyak kesem­patan yang diberikan untuk perempuan berkarya. Pemberian kuota 30% itu misalnya, meskipun diawal merasa kurang sreg untuk masuk politik tapi ia mencoba dan berhasil. “Kalaupun tidak berhasil, saya memperoleh kesempatan baru untuk mencoba hal baru dan memiliki banyak teman. Daripada dari awal sudah memvonis diri tidak bisa, lebih baik mencoba bagaimana pun hasilnya nanti,” ujar Metta.

dalam Pemilu 2014 mengaku santai saja. “Sebagai bendahara partai, saya kalau tidak ikut nyaleg kan lucu. Dengan berjalannya waktu, semakin banyak kesibukan saya sebagai ibu yang harus mengantar anak-anak sekolah, akhirnya saya berpikir. Toh, Bapak sudah nyaleg juga, ya saya yang mundur. Ini se­ mua murni keinginan saya bukan atas saran Bapak,” ujar istri Pasek Suardika ini. Ia menuturkan, walaupun tiga kali pertemuan masimakrama di Denpasar Barat, suara untuk Evi tembus 1.000-an. Itu bagi Evi sangat luar biasa karena hanya dengan tiga kali pertemuan. Ke depan, ia belum memastikan apakah terus berpolitik atau berhenti. “Saat ini konsentrasi sebagai ibu rumah tangga dulu,” kata Evi. Lain lagi cerita Fanina Yulianthi, caleg Demokrat yang gagal ke DPRD Bali. Menurutnya, sebagai pendatang baru pengalaman menjadi caleg sa­ngat berwarna. “Di tengah masyarakat yang mulai sangat pragmatis saya masih berdiri idealis, karena saya tidak ingin menodai demokrasi de­ ngan cara yang tidak santun. Tawaran money politic dari berbagai pihak sangat kuat di saat saya berjuang, tapi saya lebih memilih pendekatan yang tidak merusak moral masyarakat dan ingin lolos menjadi DPRD dengan terhormat,” ujar putri Tutik Kusuma Wardhani, anggota DPRD Bali pe­ riode 2009-2014 ini. Ke depan, ia kembali fokus pada perusahaannya, dan tak kapok untuk berpolitik. Usianya masih terbilang muda. Ia mengatakan, masih banyak cara un­ tuk membantu masyarakat bisa lewat safari kesehatan yang sudah selama ini ia lakukan.

Dari pengamatan Ni Nyoman Masni, pendiri Kaukus Perempuan Politik, ia bangga karena caleg-caleg perempuan bermunculan. Terlepas dari profesional atau tidaknya mere­ ka. Yang penting ada keberanian tampil dan unjuk gigi di ajang politik, untuk berpolitik praktis. “Sebagai kader yang lebih tua saya berharap, seandainya belum lolos pada pemilu ini, bukan berarti perempuan harus diam. Bagaikan tanaman, sekarang kita menanam mungkin memetiknya bukan seka­ rang tapi nanti,” tegas pensiunan jaksa ini. Masni berharap agar kader perempuan ini belajar mencermati apa yang dialami dan diperoleh pada pemilu bisa dijadikan tolok ukur untuk ke depannya. Apa yang harus dilakukan lebih baik dan lebih ber­ strategi dari yang sudah. “Yang penting, jika ingin maju ke pileg mendatang apa yang sudah dilakukan hari ini terus dibina dan dievaluasi sehingga tidak ada istilah kader karbitan atau instan. Kuncinya atau modalnya adalah ada kemauan, semangat, ketekunan, dan konsis­ tensi,” ujar perempuan yang juga Ketua LPA Bali ini. Jika ada kemauan dibumbui se­ mangat yang tinggi untuk berjuang dan tekun menghadapi pasti akan ada hasilnya. Selain itu, konsisten melakukan kegiatan kepartaian. Jangan karena tidak dapat sekarang terus ngambul, menjelang pemilu berikutnya baru muncul lagi. Khusus untuk DPD, ia ber­ pesan, dari sekarang harus pelajari apa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat. Apa kepentingan daerah untuk disuarakan nantinya harus diketahui calon. –Tim Tokoh

JANGAN NGAMBUL Sementara itu, Evi Lestari, caleg dari Partai Demokrat yang gagal


D AYA C I P TA

18

Kreatif Olah Sampah

Sampah masih saja menjadi permasalahan yang dihadapi negara ini. Kurangnya ke­pedulian masingmasing individu pemicu belum terselesaikannya masalah ini. Berbagai upaya dilakukan untuk me­ ngelola sampah. Salah satunya membuat barang bermanfaat dari barang bekas.

Catur Yudha Hariani

P

PLH (Pusat Pen­ didikan Lingkungan Hidup) Bali meru­ pakan organisasi yang dibentuk oleh para pemer­ hati lingkungan yang memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap ling­ kungan. Saat ini terdapat 4 cabang PPLH yang tersebar di Indonesia. Salah satunya ada di Bali. PPLH Bali mulai dirintis tahun 1996 dan resmi berdiri tahun 1997. Catur Yudha Hariani, Direktur PPLH Bali menuturkan berdirinya di Bali merupakan perkembangan dari PPLH Seloliman yang be­ rada di Jawa Timur. Dua cabang

lainnya ada di Makassar (PPLH Puntondo) dan Sumatera Utara (PPLH Bohorok). “Melalui wadah inilah kami memberikan edukasi guna meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai lingkungan,” ujar perempuan yang akrab disapa Catur ini. Program di Bali diawali dengan mengikutsertakan para guru, lalu diberikan pelatihan menyangkut berbagai aspek lingkungan hidup. Perkumpulan guru ini kemudian diberi nama SGPL (Sekaa Guru Peduli Lingkungan). Berbaren­ gan dengan itu dibentuk pula ‘Green Team’ yang mewadahi kegiatan peduli lingkungan untuk anak muda serta DCG (Denpasar Clean & Green) Berlians, kelompok masyarakat peduli lingkungan. “Sebesar apapun usaha kita untuk mengatasi masalah sampah jika tidak dibarengi oleh kepedu­ lian dan aksi nyata dari setiap masyarakat, usaha akan sulit ber­ hasil,” tandasnya. Aksi nyata yang diwujudkan melalui program peduli lingkungan yang tidak hanya mem­

bantu mengatasi per­ soalan sampah tetapi juga menguntungkan dari segi ekonomi. Aksi tersebut yakni peman­ faatan sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis. Sampah berupa kertas bekas, sachet makanan dan minuman, gelas plas­ tik, botol plastik dan lain-lain. Catur menjelas­ kan bahwa sampahsa mpa h terseb ut berasal dari bank sampah yang men­ jual sampah kum­ pulannya ke PPLH Bali. Masyarakat khususnya dalam ru­ mah tangga dapat ikut berperan dengan memilah sampah yang bernilai guna ke­ mudian disalurkan ke bank sampah yang ada di wilayahnya. Tidak cukup bahan dari barang bekas. Dibutuhkan pula alat seperti

gunting, cutter serta mesin jahit. Aksesori pula ditambahkan seper­ ti tali, retsluiting, dan busa agar produk tampak lebih menarik dan nyaman. Proses pembuatan dari barang

bekas menurut Catur gampanggampang susah. Susahnya yaitu dalam mengolah agar label pada kemasan tidak terlihat. “Masih

sangat perlu belajar dalam hal mendesain,” tambahnya. Proses pengolahan bisa dengan dijahit, dianyam maupun dirajut. Yang terpenting pula cara memotong bahan dari barang bekas harus rapi dan bersih. “Meniru pembuatan­ nya tidak susah asal sudah niat pasti bisa dan orang yang memang hobi pasti tidak akan bosan,” ucapnya. Berbagai kreasi produk pun tercipta dari olahan sampah tersebut. Seperti ko­ tak pensil, tas, dompet, vas bunga, celemek, pembatas buku, dan lainnya. Bentuk dan coraknya unik. Har­ ga berkisar dari Rp 5 ribu sampai Rp 80.000, tergantung dari barang pe­ sanan konsumen. Harga produk ter­ gantung dari ting­ kat kerumitan dan waktu penger­ jaannya. Keun­ tungan dari pen­ jualan barang– barang keraji­nan tersebut akan dibagikan kepada pengrajin serta digunakan untuk ke­langsungan or­ ganisasinya sendiri. Adanya pesanan dari konsumen membuat Catur makin termotivasi untuk mengerjakannya dengan cepat. Khusus di PPLH sendiri ter­ dapat 4 orang pekerja aktif. Tidak hanya itu orang-orang dalam forum DCG juga turut berperan. Mereka biasanya menitipkan hasil produk buatannya ke PPLH untuk kemudian dipasarkan. Pemasaran dilakukan melalui outlet Fair Trade Indonesia, ikut dalam pameran lingkungan seperti Denpasar Fes­ tival dan Sanur Village Festival serta melalui jejaring sosial seperti Facebook. Catur berpesan agar masyarakat makin sadar terhadap pentingnya menjaga lingkungan, karena jika lingkungan rusak kar­ ena ulah kita, kita jugalah yang akan rugi karena kerusakan itu. -Ari

Mindset Seorang Drug-Free Fitnessmania (5-habis) Mindset #4: Tiap hari saya ingin menjadi yang terbaik dari diri saya (The Best of Myself) dan untuk itu saya berikan diri saya pengerahan upaya yang terbaik. Fitnessmania natural menyadari meskipun ia memi­ liki idola, ia tidak ingin menjadi idolanya. Ia memiliki pengertian yang jelas akan siapa jati dirinya. Ia hanya mengukur keberhasilan dari apa yang bisa ia capai melalui usaha terbaiknya, bukan melalui apa yang orang lain nilai atau komentar atas dirinya. Baginya, diri sendiri adalah kritik yang paling pedas, dan kritikan ini ia berikan lagi kepada dirinya setiap hari agar bisa lebih baik dari hari sebelumnya. Baginya, setiap hari adalah sangat berharga karena ia kembali diberikan satu kesempatan lagi untuk men­ jadi yang terbaik, untuk menang. Ya, baginya kemena­ ngan tidak diukur dari berapa banyak orang yang ia ka­

lahkan. Baginya, ia hanya perlu me­ngalahkan 1 orang dan orang tersebut adalah dirinya sendiri. Baginya, menjadi lebih baik dari orang lain adalah hal yang tidak penting. Toh kesempatan mengalahkan orang lain hanya datang kalau ada kesempatan berkompetisi. Dengan dirinya sendiri, ia berkompetisi tiap hari dan selalu mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menang setiap harinya. Kalaupun tiba saatnya berkompetisi dan pemilik mindset natural ini ha­ rus kalah, baginya tidak masalah, karena selama ia sudah tampil lebih baik dari dirinya yang terbaik sebelumnya, ia sudah merasa menang. Mindset keliru berpikir sebaliknya. Baginya, menang berarti mengalahkan orang lain. Menggunakan steroids atau obat-obatan untuk meningkatkan performa adalah bukti keberanian dirinya untuk menempuh segala cara agar bisa menang. Mindset keliru mengidentifikasi orang yang tidak mau memakai steroids sebagai penakut. Dengan demikian ia mengkonfirmasikan dirinya lebih superior daripada mereka yang memilih untuk natural. Keberanian, baginya merupakan suatu kualitas diri yang patut dibanggakan. Ia belum menyadari bahwa keberanian menggunakan

28 april - 4 mei 2014

28 april - 4 mei 2014

obat-obatan pemacu performa (dengan mempertaruh­ kan kesehat­an seumur hidupnya) demi mengejar sebuah prestasi dengan cara yang curang adalah keberanian yang semu. Keberanian ini tidak akan diingat, dan mungkin hanya akan dipuji oleh sekelompok kecil orang yang memiliki mindset yang sama. Sehingga ia hanya merasa atau men­ jadi signifikan dalam dunia kecilnya. Di mata dunia yang sejati dan lebih luas, dirinya layaknya petarung bersen­ jata di ajang pertarungan tangan kosong. Kalaupun ia bertarung di ajang yang tepat, di mana semua pe­tarung juga menggunakan senjata, ia senantiasa akan diseli­ muti ketidak­adilan saat kalah menyalahkan musuhnya mengguna­kan senjata yang lebih besar dan lebih lengkap. Hidup, pada akhirnya adalah pilihan. Membuat pilihan sebaiknya diawali oleh suatu pemikiran yang matang dan sehat. “Makin kita belajar, makin kita menyadari kita tidak mengetahui apa-apa, di saat itulah kita makin hidup ka­ rena kita akan tumbuh dari makin banyak pembelajaran. Makin kita tidak belajar, makin kita akan merasa telah mengetahui segalanya, dan di saat itulah kita telah ber­ henti hidup karena kita sudah tidak tumbuh akibat tidak adanya pembelajaran baru.”

l i f e s to ry

7

Persembahan Spektakuler Brahma Kunta untuk “Bali Sehat” “Pejamkan mata, luruskan tangan kanan ke depan,” ujar Guru Mangku Hipno yang bernama lengkap GMH. KG Suatma Yasa S.H., CH., CHt., MNNLP kepada orang yang ada di depannya. Pria yang akrab dipanggil Guru Mangku ini lalu membaca mantra sembari memutar tangannya seperti memberikan energi. Tak lama kemudian, ia mengambil parang dan menebas tangan kanan orang itu. Luar biasa…tangan itu tidak terluka.

Guru Mangku Hipno sedang membaca garis tangan

O

rang yang di­tebas itu hanya ter­ bengong karena tangannya tidak apa-apa. Kemudian, ia diberi lagi energi. Transfer energi dari Guru Mangku ini dipakai un­ tuk menghipnosis orang kedua. Orang yang dihipnosis itu dalam hitungan detik tertidur. Ketika diperintahkan angkat tangan, dia angkat tangan. Semua perintah dituruti termasuk perintah untuk kembali sampai orang kedua itu kembali sadar. “Orang Bali punya kelebi­ han yang membuat Bali men­ jadi bercahaya di mata dunia dan kaum spiritualis. Sejak lahir orang Bali yang beragama Hindu sudah bersemayam sembilan dewata dalam dirinya atau Dewata Nawa Sanga. Kekuatan ini kemudian memvibrasi orang-orang yang tinggal di Bali,” ujar Guru Mangku. Kekuatan sembilan dewata itu antara lain Dewa Brahma di tulang ekor, Dewa Wisnu di kemaluan,

Dewa Rudra di pusar, Dewa Iswara di ulu hati, Dewa Ma­ heswara di kerongkongan, Dewa Mahadewa di kening, Dewa Siwa di ubun-ubun, Dewa Sambhu di telinga kanan, dan Dewa Sang­ kara di telinga kiri. Jika semua ini diaktivasi, manusia Bali akan memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Proses aktivasi ini tidak me­ merlukan waktu lama. Kalau sudah aktif, akan memancarkan aura yang luar biasa sehingga orang akan lebih berbuat baik atau melakukan hal-hal positif. Proses aktivasi ini bisa diapatkan dengan mengikuti workshop spek­ takuler “Bali Sehat” yang diadakan Minggu (4/5) di Gedung PWI Bali pukul 15.00-17.00. Workshop spektakuler berupa pelatihan dan penyembuhan su­ per cepat oleh diri sendiri dengan metode hipnotherapi prana (body, mind soul refresh) dipimpin Guru Mangku sebagai putra Bali untuk orang Bali dengan ilmu Bali mo­

Guru Mangku memberikan motivasi bagi peserta workshop

dern. “Ini merupakan persem­ bahan spektakuler Brahma Kunta untuk “Bali Sehat”. Dalam workshop kami akan mengguncang, menggebrak, menggoyang kuat, penyakit tubuh, pikiran dan peras­ aan hingga tersembuhkan,” ujarnya. Selama ini workshop lebih banyak dilakukan orang luar Bali, selesai workshop mereka pergi. Tetapi, kalau dilakukan oleh orang Bali, se­ lesai workshop mereka masih bisa saling berkomunikasi karena berada di Bali. Hal ini dibuktikan Guru Mangku yang sudah menggelar workshop serupa diikuti 150 orang peserta pada 18 April 2014 di Gedung Nari Graha dan ada peserta yang meminta kem­ bali diadakan karena telah membuktikan hasilnya secara langsung. Karena itulah dige­ lar lagi di Gedung PWI Bali di Lumintang, Denpasar dengan biaya Rp 250 ribu per orang. Selain pelatihan untuk meng­ aktifkan 9 titik cahaya itu, peserta akan diajak melakukan penyem­ buhan psikosomatis (penyakit aki­ bat salah olah rasa dan olah pikir). Ada 13 penyakit yang sebabkan oleh salah olah rasa dan olah pikir ini, depresi, stres, gangguan pencernaan, nyeri punggung, in­ somnia, gangguan tulang belakang bagian bawah, ginjal, dispepsia, hepatitis, penurunan kekebalan tubuh, diabetes, dimensia senelis, dan leukemia. “Semua penyakit ini akan disembuh­kan dengan hipnosis Bali yang memakai kekuatan mantra dan energi atau sihir vedik hanya dalam waktu 10 menit. Berbeda dengan hipnosis modern yang memerlukan waktu lebih lama karena ada proses komunikasi antara orang yang melakukan hipnosis dengan yang dihipnosis. Kadang orang salah menafsir­ kan hipnosis sebagai gendam. Kalau digunakan untuk hal-hal negatif namanya gendam. Tetapi, saya mengingatkan hipnosis yang dipelajari ini hanya untuk kebaik­ an, untuk penyembuhan diri dan pengembangan diri ke arah positif,” tegas pria kelahiran Singa­ raja, 18 Februari 1967 ini. Ia menjelaskan dalam kondisi sadar, proses penyembuhan pe­ nyakit mencapai 12% tetapi jika dilakukan di alam bawah sadar, penyembuhan bisa mencapai 88%. Hal ini sering dibuktikan Guru Mangku melalui penuturan orang-orang yang sembuh. Ada orang yang pilek bertahun-tahun, setelah mengikuti workshop men­ jadi sembuh. Ada istri yang hubun­ gannya tidak harmonis dengan suaminya, hampir 5 tahun mereka selalu cekcok. Tetapi, sete­lah mengikuti ­workshop, perempuan bisa mengatasi emosinya dan hubungan dengan sang suami rukun kembali.

Guru Mangku mengatakan setelah aktivasi dilakukan, peserta akan diajak membuktikan energi itu ada dan dapat dirasakan. Kare­ na itu ia menegaskan hipnosis Bali itu ilmu praktis dan bukan teoritis. Setelah workshop, pe­ serta akan mendapat keuntungan karena bisa membuka jalan untuk sukses, sehat, harta berlimpah, penuh kasih sayang, dan bahagia. Kebiasaan buruk bisa dihilangkan. Inspirasi kecerdasan terbuka karena pikiran menjadi fokus dan intuisi tajam. Peserta juga bisa mendapatkan imunitas terhadap penyakit, black magic, dan yang terpenting mengetahui rahasia penyembuhan diri sendiri. Ia juga memaparkan tentang metode By Said yang diper­ kenalkan komunitas Brahma Kunta ini. “By artinya bayu, Sa artinya Sabda, Id artinya Idep. Jadi kami menghidupkan bayu,

sabda, dan idep dari orang agar menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Ke depan, ini yang akan banyak diperlukan karena mudah dipelajari dan praktis. Efeknya juga bisa langsung dirasakan. Ini meru­ pakan ilmu warisan nenek moyang,” tegas suami AA Sg. Inten, SE, CH.,CHt., MNNLP ini. Brahma Kunta Supranatural dan Spiritual Modern Center merupakan pusat pembelajaran dan pelatihan spiritual, penyem­ buhan, pembentukan karakter, hipnotherapi dan prana. Guru Mangku yang juga founder Brahma Kunta, pa­ kar prana dan hipnotherapi, motivator spiritual, professional healer, instruktur medi­ tasi trancedental dan ilmu palmistry (garis tangan) dan metafisika berharap program ini bisa dikerjasamakan dengan instansi pemerintah agar PNS bisa semangat, sehat, dan cerdas, dengan perusahaan swasta agar karyawan berprestasi dan se­ mangat, dan dengan sekolah agar siswa menjadi lebih focus belajar, berkarakter, dan se­mangat juga. Bagi peserta yang berminat untuk mengikuti workshop bisa menghubungi center Brahma Kunta Supranatural dan Spiri­ tual di Perumahan Gunung Sari Indah, Jln Tukad Buana 1 no 61 Kebo Iwa Utara, Denpasar. “Pada akhirnya workshop ini akan membawa peserta kearah lebih baik karena kebiasaan buruk akan dinetralisir dan segala potensi diri akan dimaksimalkan. Ingat, hanya orang uang bertindak dan mampu berubahlah yang akan keluar se­ bagai pemenang. Perubahan dan tindakan nyata adalah rasa syukur yang paling murni dari seorang manusia,” kata Guru Mangku Hipno. –wah

Suasana workshop yang dipimpin Guru Mangku Hipno


8

BUNDA & ANANDA

28 APRIL - 4 MEI 2014

Jangan Terlalu Dikekang Jangan Terlalu Dibebaskan

28 APRIL - 4 MEI 2014

Sekolah CIS Bali

Dipersiapkan untuk Lahirkan Generasi Unggul CIS Bali di Badung, Kadisdikpora menyambut baik dan berharap CIS Bali mampu melahirkan tamatantamatan yang bernilai plus juga. “Sesuai visi sekolahnya yang menggunakan kurikulum standar nasional plus, saya berharap tamatannya juga benar-benar plus dan unggul di berbagai bidang, sanggup berkompetisi, berdaya saing dan berkarakter unggul. Saya rasa pengelola CIS Bali sudah lebih paham dengan hal itu,” tambah Widia Astika.

Terjadinya kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak merupakan fenomena gunung es. Hanya beberapa kasus yang muncul di permukaan padahal yang tidak terungkap masih ada. Bagaimana orangtua menjaga anaknya agar tidak menjadi ­korban kekerasan seksual dan bagaimana sikap orangtua yang anaknya menjadi korban pelecehan seksual memerlukan penanganan yang intensif. Hal ini diungkapkan dr. AA Sri Wahyuni, Sp.KJ, Kepala Bagian SMF Psikiatri RS Sanglah.

dr. Sri Wahyuni

“K

asus-kasus pelecehan seksual mungkin tiap hari terjadi tetapi ada yang menganggap ini sebuah aib se­ hingga tidak dilaporkan sehing­ ga kasusnya tidak terungkap. Kadang ada juga yang terungkap setelah berlalu sekian lama. Itupun karena keluarga baru tahu. Pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja, di rumah, di sekolah, di panti asuhan, di tempat bermain,” ujar dr. Yuni. Dari kasus-kasus yang terjadi, anak-anak paling banyak menjadi korban. Hal ini terjadi karena mereka tidak cukup kuat mentalnya sehingga mudah dipengaruhi orang lain. Selain itu, adanya dominasi hubungan, misalnya antara guru-siswa, senior-yunior, pengasuh-anak asuh membuat anak-anak atau yang lebih muda tertekan. Kare­ na berada di posisi yang lemah, anak-anak pun menjadi korban kekerasan seksual. Namun, pelaku kekerasan seksual ini tidak selalu orang dewasa, kare­ na ada juga yang dilakukan teman sebaya. Anak yang diasuh orangtua tunggal maupun anak tunggal juga rentan mengalami ke­ ke­r asan seksual. “Anak yang di­a suh orangtua tunggal kehi­ langan salah satu kasih sayang, bisa kasih ibu atau kasih sayang ayah. Karena kehilangan satu kasih sayang ini mereka jadi rapuh dan mudah goyah sehingga mudah menjadi korban kekerasan seksual. Tetapi, tidak semua anak yang diasuh orangtua tunggal mengalami hal ini. Anak tunggal juga rentan karena mereka jarang bergaul dengan teman-temannya. Dia lebih banyak bergaul de­ ngan teman orangtuanya. Ini membuka peluang terjadinya

pelecehan seksual. Tetapi, ini juga kasusistis. Sekarang tergantung bagai­ mana orangtua bisa memberikan kasih sayang kepada anak dan bagaimana mendampingi anak saat bermain,” imbuh Ketua Lentera Anak Bangsa (LAB) Bali ini. Ia menambahkan tindakan yang termasuk kekerasan seksual antara lain meraba organ sensual, memotret bagian tubuh, menunjukkan potret atau film yang berkaitan dengan bagian tubuh, pemerkosaan, sodomi, dan pedofilia. Untuk menghindari terjadinya kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak, orangtua harus bisa member pemahaman kepada anak-anak siapa orang-orang yang harus diwaspadai. Kadang­ kala orang yang dekat dengan anak bisa melakukan pelecehan seksual juga. Hal ini menurut dr. Yuni karena sekarang banyak orang “sakit”. Hal ini terlihat adanya kasus ayah menghamili anak. Anak yang seharusnya dilindungi malah diancam. Anak perempuan juga jangan terlalu dengan dekat lawan jenis untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Orangtua yang memilih mempekerjakan sopir atau tukang ojek untuk antar jemput anak juga harus waspada. Ingatkan anak-anak untuk berhati-hati. Perusahaan yang berhubungan dengan anak-anak atau sekolah juga harus berhati-hati dalam merekrut karyawan karena lokasi yang banyak anak-anak menjadi salah satu tempat bagi pelaku kekerasan seksual mencari mangsa. “Hal terpenting adalah orangtua jangan terlalu mengekang dan jangan terlalu membebaskan,” ujar dr. Yuni. 90% KELAINAN JIWA Bagi anak-anak yang pernah menjadi korban kekerasan seksual harus segera mendapat penanganan intensif. Orang-

tuanya pun harus mendapat penanganan agar mereka segera pulih. Di negara lain, ada orang yang dulu menjadi korban kemudian bertekad untuk bangkit dari keterpurukan dan menjadi pendamping bagi korban-­korban kekerasan seksual. Tujuannya, mengurangi penderitaan korban sekaligus mengedukasi anakanak lain agar tidak kasusnya tidak menimpa mereka. Bukan tidak mungkin anak yang menjadi korban akan menjadi korban lagi yang dilakukan pelaku lain. “Anak yang menjadi korban kekerasa seksual biasanya meng­ alami depresi sehingga tidak mau sekolah, tidak konsentrasi terhadap pelajaran, bahkan suka membolos. Kalau ini dibiarkan dipendam lama, penanganan menjadi lebih sulit. Rasa cemas, takut dan disosiatif (sering pingsan) bisa menjadi tanda awal anak yang mengalami kekerasan seksual,” ujar dokter spesialis kejiwaan yang sedang menempuh pendidikan S-3 ini. Dari penelitian di Inggris Raya tahun 2012, anak-anak yang pernah mengalami keke­ rasan seksual, 90% diantaranya mengalami gangguan jiwa berat. Untuk menghindari dampak yang parah ini, korban harus mendapat penangan dari tim medis secepatnya. Penanganan

ini juga tergantung bagaimana latar belakang keluarga. Kalau keluarga tertutup, sulit untuk untuk dilakukan terapi. Tetapi, jika keluarga terbuka, penyelesaian atau proses penyembuhan bisa dilakukan dengan maksimal. Korban kekerasan seksual bisa disembuhkan secara kejiwaan tergantung bagaimana dia dikuatkan. “Kasus kekerasan seksual masih terjadi karena penegak­ an hukum tidak tegas. Selain itu, pemerintah tidak memberi perhatian serius bagi para korban. Seharusnya pemerintah menanggung biaya terapi bagi korban. Selama ini sakit hanya diidentikkan dengan sakit fisik sedangkan sakit kejiwaan diabaikan. Inilah yang perlu pemahaman bersama dan sinergi untuk menjaga agar anak-anak tidak menjadi korban kekerasan seksual,” tegas dr. Yuni. Kebebasan saat ini sangat mempengaruhi pola pikir sehingga secara tidak langsung justru terseret arus globalisasi pergaulan dan kebebasn yang tidak menentu atau tidak ter­ kendali. “Kita lihat saja bagaimana pertumbuhan anakanak perempuan saat ini. Dari olah berprilaku, berpakaian, masih ada hal-hal yang harus kita rem sehingga bisa mencetak perempuan yang santun,

berbudi dan beretika. Sebab hal tersebut , jika tidak diperhatikan bakal menjadi salah satu pemicu terjadinya pelecehan seksual pada anak-anak perempuan,” ujar Ni Nyoman Masni, Ketua LPA Bali. Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya pelecehan karena kecendrungan orangtua yang tidak mampu untuk memarahi atau mengendalikan keinginan anaknya, sehingga anak-anaknya terlalu bebas berkembangnya. Beberapa kejadian akibat berkenalan di dunia maya dan berlanjut janjian via telepon untuk ketemuan dan akhirnya semudah itu seorang anak perempuan menyerahkan dirinya. Hal ini lebih banyak terjadi pada kalangan yang ekonominya terbatas atau pas-pasan. Mereka sibuk mencari nafkah jadi tidak punya waktu untuk mendengar ceramah, mendengar berita apalagi membaca. Makanya kebanyakan perempuan korban pelecehan dari kalangan mene­ngah ke bawah. “Saya prihatin dengan mere­ ka yang belum bisa mengendalikan rumah tangga dengan baik, karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi, jadi tidak ada kesempatan berpikir atau menambah ilmu,” tegas peraih predikat Ibu Teladan se-Bali tahun 2005 ini. –Ngurah Budi

17

Gedung CIS Bali

Kehadiran Sekolah CIS (Cerdas Insan Sejahtera) Bali memang dipersiapkan untuk melahirkan generasi unggul. Visi sekolah yang mengedepankan kualitas di atas rata-rata ini, bisa menjadi refe­ rensi orangtua dalam menentukan masa depan anak-anaknya. Harapan masyarakat/orang tua untuk memberikan pendidik­an yang berkualitas bagi anak-anaknya adalah kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Dari waktu ke waktu tuntutan masyarakat ter­h adap pendidikan yang memadai, makin besar. Itu sebabnya Dinas Pendidik­ an Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Badung berharap terhadap pengelola sekolah swasta

untuk terus mening­katkan kualitasnya dalam upaya menyikapi globalisasi saat ini. Kadisdikpora Badung Drs. I Ketut Widia Astika, M.M. meng­ apresiasi kehadiran sekolah swasta yang memiliki standar pendidikan nasional plus. Menurutnya, era globalisasi menuntut sekolah untuk menyiapkan generasi unggul dan siap berkompetisi di berbagai bidang. “Sekolah swasta saat ini memang dituntut untuk mampu memberikan lebih. Mereka harus bisa mencetak generasi unggul dan siap berkompetisi. Jika tidak, akan ditinggalkan masyarakat,” jelasnya. Terhadap keberadaan Sekolah

Siswa sedang belajar komputer

BUKAN PAPAN NAMA Saat ini, lanjut Widia Astika, masyarakat/orang tua sudah cerdas dalam memilih sekolah. Me­ reka tidak lagi berpolemik dalam menentukan sekolah (negeri atau swasta). Bahkan, orangtua yang mapan cenderung menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta meskipun biayanya cukup mahal. Disinilah kiprah sekolah swasta membuktikan kualitasnya. “Sekolah plus haruslah memenuhi kriterianya sebagai sekolah yang benar-benar bernilai plus. Dari luas areal/lahan yang memadai, gedung sekolah yang repre­s entatif hingga fasilitas belajar­-mengajarnya bernilai plus. Lebih lengkap dan berkualitas. Bukan sekadar papan nama yang dipajang hanya untuk menarik minat masyarakat,” tutur Widia Astika mengingatkan.

Drs. I Ketut Widia Astika, M.M.

berkualitas global. Sekolah ini menjamin tamatannya menjadi generasi siap berkompetisi, berkarakter, cerdas dan unggul. Sekolah CIS Bali berlokasi di Perum Dalung Permai, Jln. Bhineka Nusa Kangin1-X Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali. Sekolah ini berada di kawasan cukup strategis, mudah dijangkau dan dekat dengan fasilitas umum. CIS Bali adalah sekolah terintegrasi yang terdiri PG (Play Group), TK (A dan B), SD, SMP dan SMA serta Program Diploma (D1 dan D2) Pariwisata. CIS Bali ada-

KUALITAS GLOBAL CIS Bali adalah sekolah yang dirancang sebagai sekolah masa depan demi memenuhi tuntutan masyarakat terhadap pendidikan

lah sekolah bilingual yang tetap mengedepankan kearifan lokal. Sekolah CIS Bali berdiri di atas lahan seluas 4.200 m2 terdiri empat (4) lantai. Lantai I terdiri dari 12 ruangan termasuk ruang kelas (untuk PG, TK dan SD), ruang komputer, perpustakaan, ruang guru, ruang bermain (untuk PG, TK), ruang administrasi, dll. Di lantai II terdiri dari 12 ruangan untuk kegiatan belajar-mengajar siswa SMP (termasuk ruang laboratorium) dan lantai III untuk kegiatan belajar siswa SMA dan kegiatan perkuliahan maha­siswa D1-D2 Pariwisata. Lantai IV ber­u pa ruang­an terbuka serba guna. Selain gedung dan kelas, CIS Bali bakal dilengkapi juga dengan kantin, kolam renang, klinik, kope­ rasi, lapangan basket/futsal bahkan ruang berkesenian (band, gamelan, dll.) untuk mendukung sarana eks­ trakurikuler siswa. Fasilitas sekolah tersedia lengkap dan terbaru. Tahun ajaran baru 20142015, Sekolah CIS Bali menerima pendaftaran siswa baru. Pendaftaran dimulai 1 Januari 2014-31 Juni 2014. Mendaftar pada Januari 2014 mendapatkan potongan biaya 25%, Februari 20%, Maret 15%, April 10% dan Mei 5% dari uang pembangunan dan SPP satu (1) bulan.

Sekolah CIS Bali - Alamat: Perum Dalung Permai, Jln. Bhineka Nusa Kangin1-X Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali. - Tlp/Faks: (0361) 4012333, 8052666 - Website: www.cis.school.bali.com - Email: info@cis.school.bali.com dan cis.school.bali@gmail.com

Para siswa saat pentas dalam suatu acara

Waiter

www.nonstop-online.com

House keeping

Ekstrakurikuler renang

Karyawan Front Office Bali Tulip Hotel & Restaurant


PELESIR

16

28 april - 4 mei 2014

Menikmati Sanur di Akhir Pekan

Pantai Sanur sudah dikenal keindahannya sampai ke mancanegara. Pantai Sanur pertama kali dikenal­kan seorang pelukis berkebangsaan Belgia AJ. Le Mayeur bersama istrinya yang sudah menetap di Bali sejak tahun 1937. Daya pikat pantai ini, di sebelah utaranya berbentuk sete­ngah lingkaran dan di bagian selatannya berbelok dari arah timur ke barat, demikian juga dengan ombaknya yang tak terlalu besar dan tenang.

28 april - 4 mei 2014

P

antai ini terkenal de­n gan pantai­n ya yang putih ber­ sih dan sa­ngat lembut. Di­ samping itu juga, Pantai Sanur me­rupakan pantai yang banyak terdapat batu karang. Kawasan Sanur merupakan altrenatif bagi para turis lokal maupun asing yang ingin meng­hindari ke­ramaian di pantai Kuta. Di area ini ketenangan dan kenyaman­ an adalah prioritas utama. Bagi mereka yang suka menikmati matahari terbit maka Sanur adalah tempat yang sangat tepat. Keindahan ka­ wasan pantai Sanur dengan berjejer hotel berbintang di sekitar pantai, dapat Anda nikmati dengan mengikuti areal jogging track yang terbentang di pinggir pantai Sanur. Jalur jogging track yang tersedia sudah diberi paving yang dapat diguna­ kan untuk berjalan kaki, lari, dan naik sepeda. Biasanya, war­ ga sering berangkat pagi-pagi sekali ke Pantai Sanur saat langit masih gelap, karena mereka tidak ingin melewatkan matahari terbit dari tempat ini. Sepanjang jalan, Anda dapat mencium wangi kopi dan harumnya roti karena saat itu biasanya hotel-hotel di sepanjang jalur jogging track sedang menghidangkan sarapan

Sanur, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kre­ atif Mari Elka Pangestu mencoba langsung wisata bersepeda di areal jogging track Sanur, Sabtu (19/4). Dengan mengambil start dari Griya San­trian Sanur tempatnya menginap, Mari Elka Pangestu yang ditemani beberapa staf

9

Lu h Ay u S ri S u s m h it a

Mulai dari Kampus Berawal dari coba-coba, gadis cantik ini berhasil menjadi Duta GenRe tahun 2014 sekaligus mewakili Bali ke tingkat Nasional. Ia adalah Luh Ayu Sri Susmhita. Mita meng­alahkan 18 orang lainnya dari seluruh PIKM (Pusat Informasi Konseling Mahasiswa). “Awalnya diberitahu Ketua IKM (Ikatan Mahasiswa ) Jurusan Kebidanan Poltekkes ada pemilihan Duta GenRe Bali 2014. Tetapi, ini pemilihannya masih lingkup PIKM Poltekkes saja dulu. Ternyata saya terpilih dan mewakili PIKM Yowana Bhakti Poltekkes Denpasar untuk ajang tingkat provinsi yang diadakan Per­wakilan BKKBN Bali,” ungkapnya. nya. Pembuatan ma­ teri presentasi yang merupa­k an syarat utama lomba ini pun diakui Mita tidaklah mudah. “Yang paling tidak terlupakan dan paling ber­k endala pada saat pembuatan presentasi. Banyak revisi baik dari pem­ bina dan juga temanteman, ” ungkap ga­ dis yang ramah ini. Materi dari presen­ tasi ini sendiri me­ nyangkut bagaimana cara menyampaikan informasi program GenRe yang sede­ mikian banyaknya agar mudah dicerna oleh remaja.

Mari Elka Pangestu bersama rombongan wisata bersepeda

bagi para tamu­ nya. Rata-rata restoran me­ reka memang m e n g ­h a d a p pantai, jadi para tamu hotel sara­ pan sambil me­ nikmati indahnya pantai di pagi hari. Bagi Anda yang datang subuh, ­jangan takut kelaparan, Anda bisa membeli jajanan seperti lumpia, tahu, tempe goreng, jagung rebus yang bertebaran di areal pantai. Warung-warung kecil juga banyak untuk membeli roti dan minuman, termasuk mam­ pir ke warung nasi Men Weti. Di beberapa bagian pantai terdapat jukung (perahu) berwarna-warni yang indah. Untuk mengenal lebih dekat kawasan

DARA

Kemenparekraf dan Yayasan Pembangunan Sanur, mulai bersepeda mulai pukul 06.30. Sampai di Museum Le Mayeur, rombong­ an wisata bersepeda yang dipim­pin Mari Elka Pangestu berhenti. Ia langsung meninjau ke dalam museum. Setelah kurang lebih 15 menit, rombongan melanjutkan kembali bersepeda dan mampir untuk sarapan di

rute 7 kilometer yang kami lewati tadi. Misalnya saya lihat, antara orang berjalan dengan bersepeda sempit, kurang nyaman. Apakah nantinya akan dibuat dua jalur atau diperlebar sudah direncanakan dengan baik. Pantai ini memang untuk publik, tapi bagaimana pantai bisa rapi, termasuk tempat bilas dan MCK. Mudah-mudahan tahun ini

G

Warung Men Weti Pantai Segara Sanur. Wa­ rung Men Weti sederhana dan kecil. Namun, pengunjungnya tiap hari antri. Nasi campur Men Weti berisi nasi putih, jukut urap (sayur urap Bali dengan parut­an kelapa bakar), telur dengan sambal tomat pedas, sate lilit, ayam betutu, tuna pedas dengan bumbu khas Bali serta kerupuk kulit ayam yang renyah. Tak ketinggalan sambal matah. Mari Elka Pang­ estu sangat menikmati nasi campur Men Weti. Setelah sempat mengobrol dengan beberapa peng­unjung warung Men Wati, ia meneruskan perjalanan bersepeda ke Pasar Sindhu. Setelah melihat aneka oleh-oleh yang dijual di Pasar Sindhu, rombongan kembali ke Griya Santrian. Mari Elka Pangestu mengatakan, kawasan Sanur merupakan bagian program Kawasan Stra­ tegi Pariwisata Nasional (KSPN) yang digagas Ke­ menterian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ke­ menparekraf). “Sudah dua tahun lalu program KSPN ini digelontorkan. Sudah ada perencanaan dengan pemerin­tah dae­ rah, untuk memperbaiki dan menyempurnakan

bisa dimulai disempurnakan,” tutur Mari di sela-sela sarapan di Warung Men Weti. Mari mengatakan, suasana Sanur sangat luar biasa. Perasaannya ­tenang, melihat pan­ tai dan matahari terbit. Namun, menurut­ nya, akan lebih baik dan nyaman, jika ditata se­hingga dapat meningkatkan wisatawan. Ia mengatakan, dalam master plan su­ dah dibuatkan paket turnya untuk paket jalan-jalan ke Pantai Sanur. Untuk kawasan KSPN Sanur dikucurkan dana sebesar Rp 5 miliar. “Dengan sentuhan KSPN tersebut nantinya kawasan ini akan menjadi lebih menarik, dan wisatawan yang tinggal di hotel di kawasan Sanur akan lebih betah dan menambah waktu kunjungannya,” ucap Mari yang sudah terbiasa bersepeda ini. Dewi, seorang warga yang ditemui Tokoh di Pantai Sanur menuturkan, ia lebih nyaman datang ke Pantai Sanur pada Sabtu pagi, sebab Minggu pagi pantai Sanur lumayan ramai dikunjungi warga. “Biasanya kami memilih untuk parkir di kawasan pantai Segara, salah satu pantai di Sanur yang mudah sekali diakses dari jalan Danau Tamblingan, jalan utama di kawasan Sanur. Saya biasa berolahraga tiap Sabtu bersama teman-teman di areal pantai setelah sebelumnya mengitari jogging track. Olahraga kami akhirnya dengan sarapan di warung Men Weti,” ujar karyawan swasta ini. -Wirati Astiti

enRe atau Gene­ rasi Berencana merupakan pro­ gram BKKBN yang menyasar remaja. Perem­ puan kelahiran 4 Juli 1994 ini menuturkan walaupun hampir serupa dengan pemilihan kontes kecantikan atau teruna-teruni, tapi GenRe ini sendiri tidak memi­ liki syarat fisik yang meliputi tinggi dan sebagainya. Syarat ter­ pentingnya adalah kemampuan berpikir dan berkomunikasi untuk menyosialisasikan tujuan GenRe. Salah satu misi GenRe adalah menyosialisasikan pendewasaan usia perkawinan. Saat ini usia kawin pertama usia 15-19 ta­ hun sekitar 48/1000. BKKBN menargetkan menjadi 30/1000. Makin muda usia kawin peluang memiliki anak lebih besar. Karena itu remaja-remaja harus memiliki perencanaan yang matang sesuai tagline “Muda Berencana”. Tugas sebagai Duta GenRe

Bali ini adalah untuk mengingatkan remaja agar tidak terjerumusan ke hal-hal negatif. Tentunya tidak mudah untuk menjalankan tugas tersebut, mengingat remaja Bali pada umumnya sangat banyak. Untuk melaksanakan tugasnya sebagai Duta GenRe Bali ini, Mita mengaku memulainya dari lingkup terdekat yaitu lingkungan kampus. “Supaya efektif kita mulai dulu dari lingkungan yang paling dekat. Kampus dulu setelah itu baru me­ nyasar banjar-banjar yang ada di Bali. Gimana caranya menyosial­ isasikan ke teman-teman, karena saya lihat di kampus juga masih banyak yang belum tahu. Setelah berhasil di lingkungan kampus baru bisa keluar untuk menyosialisasikan dengan remaja yang ada di Bali bersama-sama dengan PIK M untuk memberikan sosialisasi mengenai program GenRe ini,” paparnya. Terpilih sebagai Duta GenRe Bali 2014 ini tentu saja tidak mudah bagi Mita. Banyak hal-hal yang dilalui­

Temu kangen alumni SMP 1 Tabanan angkatan 1983, yang dilangsungkan di resto kawasan Renon Denpasar,(21/4). Acara ini sebagai ajang persiapan rencana reuni akbar SMP 1 Tabanan.

KETUA ASRAMA Mengikuti suatu perlombaan tentu saja mengalami beberapa perubahan yang dirasakan, tidak terkecuali sulung dari 5 bersaudara ini. Perubahan yang dirasakan pu­ tri dari pasangan I Putu Suarsana, S.E dan Dra. Ni Nyoman Ratmini ini meliputi sikap, penampilan dan etika. “Perubahannya banyak banget karena lingkupnya udah Bali. Jadi sebagai duta paling tidak dari sikap, penampilan dan etika harus benar-benar diperhatikan. Jadi harus hati-hati dalam melangkah

supaya berpredikat sebagai duta tapi malah memberikan contoh yang tidak baik,” tegasnya. Ter­pilih sebagai Duta GenRe Bali 2014 menghadirkan kesan sendiri bagi Mita. Selain senang, ia juga tetap bersyukur karena telah diberikan kepercayaan sebagai Duta. Mita sendiri mendapat dukungan dari banyak pihak mulai dari orangtua hingga teman-temannya. Orang­ tua Mita sangat mendukung dan berpesan agar Mita tidak sombong setelah menyadang gelar Duta GenRe 2014. Gadis yang hobi nonton ini melakukan kegiatan sehari-hari biasa seperti mahasiswa lainnya. Mulai dari belajar di kampus dari pukul 07.30 sampai 16.00 dan juga mengerjakan tugas lainnya. “Kuliah seperti biasa. Untuk organisasi ke­ betulan IKM dan BEM tidak ikut, tapi saya sebagai Ketua Asrama disini,” ungkapnya. Mita memang tinggal di asrama selama mengikuti pendidikan di Poltekkes Bali. Menjadi seorang bidan meru­ pakan cita-cita yang didambakan oleh Mita. Ia mengambil jurusan Kebidanan. Ketertarikannya pada dunia kebidanan ia ingin meno­ long perempuan yang mengalami masalah dalam hal kesehatannya. “Karena saya perempuan jadi saya ingin lebih dekat dengan perem­ puan. Salah satu alasannya karena bidang ini berhubungan erat dengan kesehatan,” ucap alumni dari SMA

1 Singaraja ini. Karena berada di dalam lingkungan asrama, tentu saja ia terikat dengan beberapa peraturan dari asramanya. Diantaranya ha­ nya boleh pulang pada hari Sabtu-Minggu. Banyak suka dan duka yang dirasakan oleh Mita selama berada da­ lam lingkungan as­ rama. “Sukanya itu karena merupa­ kan peng­alaman baru berada di lingkungan wa­ nita semua kan berbeda dengan SMA, SMP dan SD yang berada di lingkungan heterogen dimana campur antara wanita dan prianya. Seka­ ligus dapat lebih mengerti tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh wan­ ita. Kalau dukanya sih kebanyakan tugas dan yang pasti jauh dari keluarga,” tuturnya. Setelah lulus nanti, Mita memi­ liki keinginan yang unik untuk pekerjaannya. Berbeda dengan mahasiswa lainnya yang akan memilih untuk bekerja di daerah perkotaan, gadis yang berasal dari Singaraja ini berkeinginan untuk memilih daerah terpencil sebagai lokasinya bekerja. “Saya memiliki keinginan untuk bekerja di daerah terpencil, kalau bisa diluar Bali. Hal ini karena menurut saya pengalamannya jauh lebih banyak dibandingkan di Bali. Ini sih masih keinginan aja ya. Astungkara dapat terpenuhi.”ucapnya. Mita tertarik untuk bekerja di daerah Timur seperti Flores atau Papua karena sebenarnya tugas bidan adalah un­ tuk bekerja di desa sehingga ilmu­ nya lebih dapat diaplikasikan. Walaupun fasilitas di desa masih kurang, Mita berkeinginan untuk memeratakan antara desa dan kota “ Jadi biar gak ada lagi pepatah yang mengatakan yang kaya tetap kaya dan yang miskin tetap miskin. Mungkin ini salah satu bentuk perhatian kecil yang bisa saya berikan, agar di desa juga tidak ketinggalan zaman dengan di kota. Karena semua orang pada dasarnya berhak mendapatkan pelayanan kesehat­ an yang sama rata,” ungkapnya. -Hemma


10

BUGAR

28 APRIL - 4 MEI 2014

Apa dan Bagaimana Masa Dua Tahun Pertama Si Buah Hati? yang sangat penting dilakukan untuk tindak lanjut lebih awal. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesejah­ teraan bayi selama kehamilan yang bahkan dapat menimbulkan dampak yang fatal infeksi dalam rahim (intra uterin infection). Infeksi dalam rahim yang perlu mendapat perhatian dan penting untuk dilakukan deteksi secara dini adalah infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes). Infeksi ini bisa menyebabkan kelainan bawaan yang berat pada bayi diantara­ nya Katarak Kongenital (katarak bawaan sejak lahir), Hidrosefalus, Mikrosefali, Gangguan fungsi hati berat, pengapuran otak (kalsifikasi otak) serta infeksi jaringan otak karena herpes (ensefalitis herpes simpleks). Infeksi TORCH sering tidak menunjukkan gejala klinik yang khas pada ibu, sehingga sangat dianjurkan untuk dilaku­ kan upaya skrining rutin bagi ibu hamil pada masa antenatal untuk dr. I Gusti Ngurah Twi Adnyana, SpA tindak lanjut tatalaksana lebih dini. Masalah kesehatan ibu dan bayi Manifestasi klinik infeksi TORCH pada sesungguhnya merupakan dua hal bayi yang sebagian besar di jaringan yang berkelanjutan, saling terkait dan otak dan persarafan membawa dampak tidak terpisahkan. Kesehatan bayi gangguan tumbuh kembang yang berat sangat ditentukan oleh kesejahteraan di kemudian hari. Masa antenatal juga merupakan bayi saat masih dalam kandungan dan kondisi kesehatan ibu saat hamil. waktu untuk mempersiapkan produksi Karena itu maka upaya menurunkan nutrisi yang ideal untuk bayi. Sebagai­ Angka Kematian Ibu dan Bayi juga mana kita ketahui ASI merupakan memerlukan manajemen kesehatan nu­t risi alamiah dengan kandungan yang berkelanjutan, saling terkait dan nu­t rien yang sangat lengkap yang dibutuhkan bayi untuk proses tumbuh tidak terpisahkan. Periode diantara awal kehidupan si kembangnya. Bayi mempunyai hak buah hati saat masih dalam kandungan untuk mendapatkan ASI sedangkan Ibu hingga ulang tahunnya yang ke – 2 mempunyai kewajiban untuk memberi­ merupakan jendela peluang yang pa­ kan ASI kepada bayi. Untuk itu maka ling penting dan menentukan kualitas pada periode antenatal selain peme­ generasi penerus bangsa. Tumbuh riksaan kehamilan, juga sangat penting kembang seorang anak merupakan dilakukan konseling lebih awal tentang suatu proses yang terus menerus. ASI dan menyusui. Hal ini supaya pada Dengan demikian maka manajemen dan saat melahirkan ibu sudah mempunyai pemantauan kesehatan yang berkelan­ pemahaman yang baik tentang ASI dan jutan pada periode yang disebut masa persiapan yang optimal untuk proses emas ini merupakan investasi yang menyusui. Beberapa Rumah Sakit saat sangat penting dan berharga bagi si ini, mulai mengembangkan konsep pelayanan antenatal terpadu yaitu buah hati. pemeriksaan kehamilan rutin dengan pengembangan poliklinik laktasi un­ Periode Antenatal Selama ini pemeriksaan kehamilan tuk memberikan pelayanan konseling rutin (pemeriksaan antenatal) masih tentang ASI yang meliputi pemaha­ difokuskan pada aspek kesehatan ibu man, persiapan, cara pemberian serta (aspek maternal), padahal kondisi ke­ penyimpanan ASI yang benar. sehatan bayi juga sangat ditentukan Periode Perinatal oleh kondisi bayi selama masa kehamil­ Periode ini dimulai saat usia 28 an (masa antenatal). Deteksi secara dini terhadap berbagai faktor yang minggu kehamilan sampai dengan usia berpengaruh terhadap kesejahteraan 7 hari setelah lahir. Periode ini sa­ janin dalam kandungan merupakan hal ngat penting terutama terkait dengan

kematangan organ – organ vital bayi diantaranya yang terpenting adalah otak, jantung dan paru. Otak berkem­ bang paling pesat pada usia kehamilan 29 minggu begitu juga penglihatan dan pendengaran. Fungsi Paru dan saluran pencernaan bayi hampir matang pada usia 30 minggu, pada usia 32 minggu bayi mulai menghirup cairan ketuban untuk melatih fungsi paru. Pada usia 36 minggu bayi mulai mendapat zat kekebalan tubuh (antibody) dari ibu­ nya. Pada periode ini maka kelenjar produksi ASI juga berkembang dengan pesat. Sehingga penting untuk dilakukan pemeriksaan dan konseling ASI yang lebih intensif. Berdasarkan Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit dari Health Technology Assesment (HTA) Indonesia 2010 dari kemenkes, maka pemeriksaan bayi baru lahir di­ lakukan pada saat : Bayi baru lahir; pemeriksaan rutin, kemudian dilanjutkan dengan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), pemberian sun­ tikan vitamin K1 dan salep/tetes mata antibiotika. Untuk program Imunisasi sesuai rekomendasi Kemenkes dan IDAI diberikan injeksi vaksin Hepatitis B dalam 24 jam setelah lahir dan vaksin polio oral 2 tetes sebelum pulang. Pada usia 6 – 12 dilakukan evaluasi tanda vital lebih lanjut Dalam 1 minggu pasca lahir untuk memantau kecenderungan pola tum­ buh kembangnya dan kemungkinan adanya kelainan bawaan, salah satunya penyakit jantung bawaan Periode usia 2 tahun pertama Periode ini merupakan masa yang penting bagi seorang anak dilihat dari berbagai aspek, baik pertumbuhan, perkembangan dan mekanisme perta­ hanan tubuh..Pada usia 24 bulan per­ tama tinggi badan anak akan bertam­ bah lebih cepat. Periode ini juga sangat menentukan untuk tumbuh kembang anak di masa dewasa. Pola asupan nutrisi yang optimal sangat penting pada periode ini untuk mencapai tahap pertumbuhan yang sesuai dengan pola yang sudah ditentukan. Dari aspek perkembangan, massa otak manusia terbentuk 70 persen sampai usia dua tahun pertama kehidupan. Selanjutnya sampai usia 5 tahun massa otak 90 persen dari otak manusia dewasa yang memiliki berat 1,4 kilogram. Pemben­ tukan kecerdasan setelah usia 5 tahun tidak memberi pengaruh besar. Pertumbuhan merupakan suatu progres yang bersifat kuantitatif, terkait dengan pertambahan ukuran anatomi tubuh yang disebut antropometri, seperti berat badan, tinggi badan,

lingkar kepala, tebal lemak, volume organ tubuh dan sebagainya. Sedang­ kan perkembangan adalah progres yang bersifat kualitatif, terkait dengan perkembangan fungsi seperti kemam­ puan gerak / motorik, kemampuan bahasa dan aspek psikososial. Kedua aspek ini harus dipantau secara berkesi­ nambungan, berkala, dan komperehen­ sif dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu. Saat ini begitu banyak piranti deteksi gangguan tumbuh kembang yang sudah diterapkan di praktik klinik untuk memantau proses tumbuh kem­ bang secara berkelanjutan dan deteksi dini adanya gangguan tumbuh kembang untuk dilakukan intervensi lebih awal. Mekanisme pembentukan sistem kekebalan tubuh (sistem imun) sangat progresif pada periode usia 2 tahun pertama ini. Secara alami ketika dilahir­ kan, bayi sudah memiliki sistem imun terhadap berbagai jenis serangan atau paparan zat asing yang masuk dalam tubuh. Kekebalan ini diterima dari ibu selama hamil, yang dikenal sebagai antibodi ibu (maternal antibody). Maternal antibody adalah kekebalan pasif pada bayi yang diterima dari ibunya. Perlindungan yang ditimbulkan bersifat sementara dan kadar antibodi akan berkurang setelah beberapa minggu atau bulan, dan kekebalan pada bayi juga akan menurun. Proses transfor­ masi antibodi ini berlangsung melalui plasenta pada usia 2 bulan terakhir masa kehamilan. Maternal Antibody mulai menurun pada usia 2 bulan dan terus berangsur-angsur menurun sampai enam bulan. Dengan semakin menurunnya maternal antibody pada bayi, maka diperlukan proses imunisasi untuk merangsang pembentukan sistem imun dari bayi terhadap paparan benda asing secara mandiri baik bakteri mau­ pun virus. Sasaran imunisasi untuk anak dika­ te­gorikan menjadi 2, yaitu imunisasi untuk bayi dan imunisasi untuk periode sampai usia 24 bulan. Untuk bayi, imu­ nisasi yang diberikan merupakan imu­ nisasi dasar yang terdiri atas Hepatitis B diberikan saat baru lahir, kemudian usia 1 bulan dan berikutnya usia 6 bu­ lan. Vaksin BCG diberikan antara usia 2 sampai 3 bulan. Polio diberikan saat lahir, kemudian mengikuti jadual vaksi­ nasi DPT (Diphteria, Pertusis Tetanus), Hib (Hemophillus influenza b), vaksin rotavirus dan vaksin pnemokokus, yaitu saat usia 2, 4 dan 6 bulan. Selanjutnya diberikan imunisasi campak pada saat bayi berusia 9 bulan. Vaksin lain yang terjadual mulai usia 6 bulan adalah vaksin influenza,yang diulang setiap setahun sekali. Pada rentang usia 12 sampai 24

bulan, imunisasi yang diberikan meru­ pakan imunisasi lanjutan dan imunisasi penguatan (booster). Imunisasi lanjutan yang diberikan pada usia 12 bulan ada­ lah vaksin cacar air (varicella) dan pada usia 15 bulan diberikan vaksin MMR (Mump, rubella, Measles). Sedangkan untuk jadual imunisasi booster untuk vaksin pnemokokus diberikan saat bayi berusia antara 12 – 15 bulan sekali saja dan untuk vaksin DPT, Hib, polio pada usia 18 bulan (minimal berjarak 12 bulan dari DPT,Hib, polio dosis terak­ hir). Selanjutnya bayi berusia 24 bulan diberikan imunisasi campak (minimum berjarak 6 bulan dari campak dosis pertama). Menurut Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (Satgas Imunisasi PP IDAI) pemberian dosis booster vaksin direko­ mendasikan karena mekanisme imuni­ tas yang terbentuk setelah pemberian vaksin dosis terakhir, akan menurun pada saat bayi mencapai usia 15 bulan sampai dengan 18 bulan sehingga perlu dosis penguatan untuk mencapai daya perlindungan yang optimal. Dengan jadwal pemberian vaksin yang begitu banyak jenisnya dalam satu periode pemberian sesuai rekomendasi ter­ baru dari Satgas Imunisasi PP IDAI, saat ini telah dikembangkan sediaan vaksin kombinasi yaitu beberapa jenis vaksin dalam 1 sediaan suntikan sekali pakai yang bertujuan untuk mengurangi trauma suntikan pada bayi. Sebagai kesimpulan, beberapa hal penting yang ditekankan pada uraian ini yaitu Masalah kesehatan ibu dan bayi merupakan suatu rangkaian yang berke­ sinambungan, saling terkait dan tidak terpisahkan. Upaya ini sudah dimulai sejak janin dalam kandungan. Periode usia 2 tahun pertama merupakan masa emas se­ orang bayi terkait dengan perkem­bangan fungsi otak, gangguan kesejahteraan janin dalam rahim, persiapan menyusui dan manajemen laktasi, proses tumbuh kem­ bang serta sistem kekebalan tubuh. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dianjurkan suatu manajemen kesehatan bayi yang merupakan suatu rangkaian yang berkelanjutan, periodik dan sistematis, yaitu deteksi dini fak­ tor resiko selama dalam kandungan, konseling ASI dan manajemen Laktasi pada masa antenatal, pemantauan dan deteksi dini gangguan tumbuh kem­ bang secara berkala serta pemberian imunisasi sesuai jadwal. dr. I Gusti Ngurah Twi Adnyana, SpA DEPARTMENT OF PEDIATRIC SILOAM HOSPITALS BALI Contact : +6281230358686, Email : twi.adnyana@siloamhospitals.com

28 APRIL - 4 MEI 2014

STYLE

15

Smart Casual ala DiDesa

Untuk pekan ini Style Tokoh memilih rancangan desainer Erma Sary. Melalui brand_ nya “DiDesa” ia menghadirkan koleksi pakaian ready to wear. Deretan kreasinya kali ini sangat menarik dan mampu mencerminkan kesan cerdas, energik, indipenden dan elegan wanita di berbagai kesempatan .

D

esain mo­ dern yang dikombi­ nasikannya dengan unsur lokal seperti batik dan tenun ikat ini,

merupakan salah satu tindakan Erma Sary untuk selalu menyer­ takan unsur tradisi dalam setiap karyanya. Begitu juga dengan pilihan warna-warna kuat seperti hitam, biru tua, abu-abu serta putih berhasil lebih lagi memunculkan keindahan setiap ak­

sen tradisional pada semua dress miliknya. Busana siap pakai dengan desain bercode smart casual ini garis modelnya simpel tapi tegas. Maka, sangat cocok dikenakan pa­ra wanita modern yang aktif, memiliki kepribadian yang menye­ nangkan dan ingin tetap menjaga penampilan dan kenyamannya di segala suasana. -Sri Ardhini


J E L I TA

14

28 april - 4 mei 2014

dr. Kadek Trisnadewi

Jika kurang tidur dan keesokan paginya wajah terlihat lelah dengan mata sembab, itu adalah hal yang lumrah. Namun, bagaimana jika wajah selalu terlihat kuyu dengan kantung mata dan lingkaran hitam pada mata? Selama ini masih banyak orang beranggapan jika seseorang memi­ liki lingkaran hitam di arena mata karena faktor kurang tidur, kelelah­ an atau menatap layar komputer dalam waktu lama. Menurut dr. Kadek Trisnadewi, tidak selamanya lingkar hitam tersebut karena kelelahan ataupun menatap layar komputer. Lingkaran hitam di mata bisa jadi terkait karena penyakit hati, anemia, dan dehidrasi. Dikatakannya penyebab mun­ culnya lingkaran hitam di sekitar area mata diantaranya karena penuaan. Kulit halus dan tipis di bawah mata akan semakin menipis seiring bertambahnya usia. Pem­ buluh darah pun lebih menonjol dan menyebabkan lingkaran hitam di bawah mata. Fator genetika juga me­mainkan peran besar dalam urusan ling­ karan hitam sekitar mata. Jika pe­ nyebabnya faktor genetik, katanya agak sulit untuk menghilangkan. Namun, bukan tidak mungkin dilakukan tindakan klinis untuk menguranginya atau teknik riasan untuk menyamarkannya. Lingkaran gelap di sekitar mata pun bisa dapat disebabkan oleh gizi buruk. Diet sehat dan bergizi penuh dengan vitamin seperti A, C, K, E dapat membantu meng­ hilangkan lingkaran hitam. Begitu juga kelelahan yang berlebih mem­ buat kulit pucat. Pembuluh darah di bawah kulit menjadi tampak biru atau lebih gelap. Merokok dan minuman beral­ kohol pun bisa jadi penyebabnya. Lingkaran hitam pada mata bisa menjadi pertanda hilangnya air dari tubuh dan terlalu banyak asupan minuman berkafein.” Paparan sinar matahari berlebih juga akan memproduksi melanin berlebih. Ketika melanin sedang

dibuat pada lapisan epidermis, kulit tampak coklat dan lapisan dermis tampak abu-abu kebiruan. Begitupun perubahan hormon, menjadikan perubahan fase kulit selama kehamilan dan menstruasi , menjadikan warna gelap di bawah mata,”paparnya. Selanjutnya setiap kondisi yang menyebabkan mata terasa gatal dapat pula membuat lingkaran gelap karena menggosok atau mengaruk kulit di sekitar mata Pe­ nyebab lainnya adalah aler­g i, yang bisa di­ atasi dengan menghindari pencetus al­ ergi, misalkan debu, maka­ nan, atau bah­ kan produk ko­ smetik. Sementara kantung mata terjadi akibat terlalu banyak men­ gonsumsi makanan yang kandungan garamnya tinggi, sehingga tubuh menjadi sembap terutama di daerah bawah mata (garam bersifat retensi air). Disamping itu, menangis juga memicu terjadinya kantung mata karena daerah bawah mata men­ gandung garam yang berasal dari air mata sehingga cairan tertarik ke daerah sana. MENGHILANGKAN KANTUNG MATA Dengan memakai krim mata se­ tiap pagi dan malam hari akan mem­ bantu me­n yamarkan atau bahkan menghilang­ kan lingkaran hitam di sekitar mata. Krim mata biasanya mengandung kafein atau zat pencerah lainnya yang membantu mencerahkan kulit dan juga bisa membantu melancarkan peredaran darah di kulit sekitar mata. Langkah sederhana lainnya adalah dengan mengompres dengan es batu. Ini bisa mengu­ rangi kantung mata ringan. Supaya efektif lakukan hal ini sekitar 10 menit, sebelum tidur siang dan atau malam. Ketika bangun, mata akan terasa lebih sejuk. Teh celup kantong bekas, dari teh hitam dan teh hijau ternyata juga mempunyai khasiat yang cukup efektif untuk mengatasi lingkar hitam, karena mengandung zat tannin, yang dapat me­ nyempitkan pembuluh darah dan mengencang­

kan kulit. Dengan begitu, pembuluh darah akan lancar, sehingga dapat mengurangi pembengkakan di seki­ tar mata. Yang tak kalah sering juga di­ lakukan yakni menggunakan irisan mentimun. Mentimun sangat baik untuk menghilangkan lingkar gelap di area mata karena bisa berfungsi sebagai astrigen yang dapat melan­ carkan peredaran darah. Sedangkan, bagi yang ingin cara instan, kata dokter Kadek bisa memakai concealer yang me­ nyamarkan lingkaran hitam diseki­ tar mata. Dengan mengoleskan concealer yang senada dengan warna kulit setelah menggunakan pelembab dan sebelum mengguna­ kan make-up lainnya. Selain itu, facial dengan massage di sekitar mata, dapat mence­ gah bahkan mengurangi kantung mata kare­ na mem­ perlancar sirkulasi dan sistem pem­ buangan nya. Perlu juga men­ gubah kebiasaan buruk sebelum ti­ dur. Seperti membiar­ kan make up tanpa dihapus terlebih dahulu. “Memakai riasan selama tidur dapat mengiritasi kulit sekitar mata sehingga dapat membuat kulit menjadi lebih gelap, ”katanya. Hal yang tak kalah penting diperlukan adalah tidur yang cu­ kup. “Terlalu sering begadang juga menyebabkan mengapa lingkaran hitam muncul di sekitar mata. Usahakan agar tubuh beristirahat dengan maksimal ketika malam hari,.” lanjutnya. Sementara bicara penanganan kantung mata secara klinis, dikata­

kannya perlu dilakukan tindakan observasi. Ada empat tingka­ tan kantung mata. Pada tingkat pertama masih bisa dilakukan penanganan dengan krim mata dan merubah gaya hidup lebih sehat.Untuk kondisi kantung mata tingkat kedua, bisa dilakukan radio frequency atau pulsed light. Ini dapat membantu mengurangi pembengkakan pada mata yang bersifat lebih permanen. Untuk kantung mata yang lebih tinggi, pada level tiga dan empat, yakni ketika bentuk kantung mata sangat menonjol dan saat diraba terasa keras, perlu dilakukan tindakan surgical yang lebih serius

MITOS ATAU FAKTA

Vertigo Gejala Stroke?

Bersihkan Make Up sebelum Tidur Memiliki lingkaran hitam di bawah mata dapat merusak penampilan. Wajah jadi terlihat sayu, kusam dan tidak sehat. Jeleknya lagi kantung mata dan lingkaran hitam mata ini cenderung membuat seseorang tampak lebih tua.

28 april - 4 mei 2014

www.tentangwanita.com

dan hanya bisa ditangani oleh dokter bedah atau dokter bedah kecantikan. Pada level tersebut kantung mata sudah berisi lemak dan perlu dikeluarkan dengan teknik blepharoplasty. “Maka sangat baik jika kita semua mulai hidup sehat dengan mengonsumsi makanan ber­ gizi dan seimbang yang diiringi olahraga teratur. Hal penting lainnya untuk dilakukan adalah tidur berkualitas yang cukup, tidak berlebihan, tapi juga jangan kurang,”pungkas dokter Kadek yang tengah menyelesaikan tesis S2 Anti Aging-nya di Unud. – Sri Ardhini

Pagi-pagi, Wati (42) sudah bersiap menjalani aktivitasnya, namun tiba-tiba ia merasakan kepalanya berputar disertai mual-muntah. Oleh kerabatnya, ia langsung dibawa ke RS terdekat. Menurut dokter, Wati terserang v ­ ertigo. “Padahal, kemarinnya saya baik-baik saja, bahkan tidur lebih awal,” ujarnya. Serangan vertigo juga dialami Ayu (55). Bahkan, ia mengaku sudah beberapakali terserang vertigo. Apakah setiap sakit kepala berputar adalah vertigo? Apakah vertigo ini penyakit keturunan? Atau juga sebagai gejala stroke seperti mitos yang beredar? Apa itu vertigo? Berikut penjelasan ­dr. I Ketut Mudanayasa, Sp.S

M

enurut dokter yang praktik di RS Surya Husa­ da, Ubung dan di Poliklinik Saraf RS Jiwa Provinsi Bali ini, vertigo sebenarnya bukan suatu penyakit, melainkan gejala yang mengindikasikan adanya suatu penyakit tertentu. Kelainan yang menimbulkan gejala vertigo dapat berasal dari kelainan pada sistem vestibuler (sistem ke­seimbangan pada telinga dalam), sistem visual dan sistem somatosensorik (otot dan sendi), sehingga gejala vertigo yang umumnya terjadi di masyarakat tidak memiliki keterkaitan dangan genetik (faktor keturunan). Tetapi, pada jenis vertigo akibat penyakit meniere, suatu penyakit akibat gangguan kronis pada telinga dalam, yang terjadi penumpukan cairan endolimf (hidrop endolimf), de­ ngan gejala vertigo disertai telinga mendenging, telinga terasa penuh dan terjadi penurunan pendengaran. Maka, faktor genetik memiliki pe­ ra­nan, dimana terjadi gangguan gen pembawa pada kromosom 6. Vertigo merupakan suatu ben­ tuk gangguan orientasi dimana perasaan dirinya bergerak berputar

dr. Oka Negara, FIAS

atau bergelombang ter­hadap ruang­an sekitarnya (vertigo subyek­tif) atau ruangan sekitarnya bergerak ter­ hadap dirinya (vertigo obyektif). Vertigo dibagi menjadi beberapa jenis tergantung pada kelainan yang terjadi. Jika kelainan terjadi pada sistem vestibular yang terdapat pada labirin, vertigo yang dirasakan seperti berputar. Jika kelainan ada pada sistem visual dan somatosensori (otot, tendon dan sendi), vertigo yang dirasakan seperti melayang, goyang atau rasa tidak seimbang. Ve r t i g o k e b a n y a k a n m e ­ nyerang wanita usia 35 tahun-50 tahun. Sementara vertigo sentral lebih banyak dialami orangtua di atas usia 50 tahun. Antara lakilaki dan perempuan, persentasenya hampir sama. Vertigo lebih banyak dipengaruhi sirkulasi darah ke otak dan penyakit metabolisme lainnya seperti hipertensi, kencing manis, hiper-kolesterol. Vertigo disebabkan oleh ba­nyak hal, di antaranya, keadaan ling­kungan, seperti mabuk laut, darat dan udara (motion sickness); kelainan telinga, endapan debris (kotoran) pada labi­ rin, infeksi telinga, keradangan pada saraf keseimbangan (neuritis ves-

Kirim surat Anda ke ­Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

PEDOFILIA “Dok, saya bertanya ini karena merasa “parno” nih, sejak kasus pelecehan seksual terhadap anak di sebuah sekolah internasional itu terungkap di koran dan televisi. Soalnya anak saya juga bersekolah di sekolah serupa. Saya jadi ingin tanya dok, tentang pedofilia. Apa penyebabnya, kenapa anak-anak yang dijadikan sasaran, bagaimana mengenali pelakunya dan apa bisa disembuhkan, dok? Maaf, jadi banyak tanya nih, terima kasih.” (Jess, 34) Pertanyaan serupa juga di­ tanyakan oleh beberapa orang via email. Pedofilia berasal dari akar kata “pedo” yang artinya anak dan “filia” yang berarti cinta atau rasa sayang. Pedofil­ ia memiliki makna ketertarikan orang dewasa (atau yang diang­ gap sudah cukup umur) untuk melakukan aktivitas seksual dengan anak-anak (atau yang dianggap belum cukup umur). Yang dimaksud dengan anak adalah mereka yang berusia 12

tahun ke bawah. Pedofilia sering kali di­ hubungkan dengan masalah krisis identitas, yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan, peristiwa psikologis masa lalu yang dialami dan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Belum bisa dijelaskan apakah ada faktor biologis atau genetika yang kuat berperan membentuk seseorang menjadi pelaku pedofilia. Jika pem­ bentukan identitas diri dilalui

tibularis); tumor; stroke; alkohol dan obat obat-obatan tertentu; gangguan metabolik, seperti anemia, rendah­ nya gula darah (hipoglikemia), dll. Mitos: Tiap sakit kepala berputar adalah vertigo Fakta: Tidak selalu. Yang umum disebut vertigo oleh kebanyakan orang adalah pusing berputar. Ke­ cuali, pada migrainus vertigo/basiler vertigo. Pada migrainus vertigo, memang ada nyeri kepala dan pus­ ing berputar, yang disebut dengan migran vertigo. Mitos: Vertigo selalu didahului oleh nyeri kepala Fakta: Sebelum menentukan apakah seseorang mengalami ver­ tigo atau nyeri kepala harus jelas dulu kalau vertigo yang dimaksud adalah pusing berputar, muyeng ato kepala terasa ringan dan nyeri kepala tersebut adalah rasa nyeri, pening atau berat pada kepala. Namun, tidak semua jenis vertigo didahului nyeri kepala, terutama pada vertigo perifer, seseorang hanya akan me­ ngeluh pusing berputar (vertigo) tanpa ada keluhan nyeri kepala. Tetapi, pada vertigo sentral, yang kelainannya terjadi pada otak, nyeri kepala tersebut bisa mendahului,

bersamaan atau timbul setelah se­ rangan vertigo. Misalnya, pada tumor otak (tumor sudut serebellopontin), stroke sistem vertebrobasiler dan migren basiler. Mitos: Vertigo adalah gejala stroke Fakta: Stroke yang terjadi pada sistem arteri vertebrobasiler yaitu pembuluh darah yang mensuplai darah untuk otak bagian belakang seperti otak kecil (serebelum), batang otak dan kortek occipital dapat menimbulkan gejala vertigo namun biasanya disertai oleh gejala lain seperti gangguan pengelihat­ an, rasa tebal atau kesemutan di sekitar mulut, nyeri kepala, mual muntah, men­denging pada telinga dan kelumpuhan pada saraf-saraf wajah. Namun, gejala vertigo yang timbul akibat kelainan pada sistem keseimba­n gan (sistem vestibular perifer pada telinga tengah, visual dan somatosensori pada otot, ten­ don dan sendi) bukan merupakan gejala dari stroke. Mitos: Vertigo adalah penyakit keturunan? Fakta: Tidak, tapi vertigo ber­

dengan masa lalu yang traumatik dan lingkungan yang mem­ bentuknya juga ada yang men­ dorong seseorang untuk me­ mandang dirinya menjadi lebih memilih melakukan aktivitas seksual dengan anak-anak, maka itulah menjadi penyebabnya. Jika ditelaah kembali pembentukan identitas diri yang gagal ini bisa disebabkan karena beberapa hal; 1) Trauma psikis masa kecil, misalnya pengalaman saat di masa kanak-kanak pernah sebagai korban pedofilia juga, atau melihat kejadian pedofilia di depan matanya, yang akh­ irnya menempatkan kejadian ini sebagai sebuah standar perilaku seksual buatnya, 2) Inferioritas atau rendah diri, karena selama ini merasa tidak punya kelebih­ an, merasa gagal dalam relasi sosial antar sebayanya,sehingga dengan menguasai anak kecil secara seksual dia akan merasa memiliki “power” sebagai orang yang punya harga diri, 3) Anti­ sosial atau kurangnya sosialisasi, terutama saat berada di kalang­ an sebayanya yang dewasa, yang akhirnya memilih lebih nyaman dengan anak-anak. Mengapa sasarannya ada­ lah anak-anak, karena den­ gan sebaya yang dewasa dia

merasa tidak nyaman atau tidak mendapatkan pengakuan serta kekuasa­an secara seksual, maka dia akan memilih anak-anak untuk dikuasai atau didominasi. Power-nya didapat di sini. Men­ jadi dominan. Kepuasaan seksual yang didapatkan juga menjadi saat yang dinanti buat menda­ patkan relaksasi untuk bisa meningkatkan kualitas hidup hariannya. Untuk mengenali seorang pelaku pedofilia kalau selama ini yang bersangkutan dalam lingkungan pergaulan so­ sialnya masih bisa larut dengan orang kebanyakan tentu saja akan sulit dibedakan, hanya pendekatan tentang kehidupan pribadi dan lingkungan sosial­ nya yang bisa dijadikan cara menduga dan mengenal secara awal. Sementara untuk yang lebih lanjut, biasanya yang ber­ sangkutan akan susah bergaul dengan lepas termasuk dalam konteks candaan seksual secara verbal dengan teman sebaya, cenderung menghindari pem­ bicaraan seksual dengan sebaya, atau malah menarik diri dari lingkung­an pergaulan sebaya. Juga bisa terlihat lebih apatis, dan lebih senang mengikuti acara atau sesi dengan anakanak. Kalau ditelusuri lagi dalam

dr. I Ketut Mudanayasa, Sp.S.

11

sifat familial. Artinya, 15%-20% gejala tersebut bisa muncul pada keluarga lain. Mitos: Vertigo dapat terjadi berulang Fakta: Seseorang yang sudah pernah mengalami serangan vertigo dapat kembali mengalami vertigo atau bahkan vertigonya berkalikali kumat walaupun sudah minum obat. Hal tersebut terjadi akibat meningkatnya pelepasan CRF/ CRH (corticotropin releasing fak­ tor/hormon) dari hipotalamus ke­ tika ada rangsangan fisik (gerakan), kelainan organik dan atau psikis (stres), sehingga menyebabkan terganggunya keseimbangan saraf otonom. Jika rangsangan tersebut terjadi berulang, gejala vertigo dan gejala penyerta lainnya seperti mual muntah dan muka pucat, akan berulang juga. PENANGANAN VERTIGO 1. Istirahat yang cukup, mengu­ rangi stres, mencukupi keburuh­ an tubuh terhadap zat gizi, mineral, kalsium dan vitamin. 2. Menghindari faktor pence­ tus, seperti lingkungan yg bu­ ruk, kebisingan dan perubahan udara yang mencolok, memper­ baiki posisi tidur, dan saat bekerja 3. Menghindari makanan berlemak tinggi, tinggi karbohidrat, seafood, alkohol, kopi berlebihan, minuman bersoda, membatasi konsumsi garam 4. Hindari obat-obatan terten­ tu yang menimbulkan vertigo, seperti gentamisin, streptomi­ sin, pengencer darah (salisilat) 5. Minum obat yang meringank­ an gejala vertigo, seperti golon­ gan antihistamin dan anti-mual 6. Melatih sistem keseimbangan dangan melatih gerakan kepala dan leher. –Inten Indrawati

konteks arsip personalnya, kadang bisa dijumpai dokumen­ tasi berupa file foto atau tulisan tentang anak-anak, terutama pornografi anak. Be­ berapa realitas itu bisa dijadikan dugaan adanya kemungkinan pedofilia. Karena termasuk ke dalam golongan parafilia, atau pe­ rilaku seksual yang dianggap tidak normal, kesembuhan yang diharapkan orang banyak untuknya mau kembali ke ak­ tivitas seksual dengan pasangan seksual orang dewasa, se­ ring kali memang tidak mu­ dah. Perlu pendekatan khusus untuk menelusuri masa lalu dan trauma psikisnya, disini profesi psikolog atau psikiater me­ megang peranan lebih banyak buat membantunya, walau kemungkinan cukup berat untuk di”normal”kan berdasar­ kan persepsi umum. Paling tidak target terapi adalah yang bersangkutan tidak melaku­ kan “aksi” pedofilia atau agresi seksual ke anak-anak. Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah, perilaku pedofilia yang dibiarkan dan dilakukan dengan bergantiganti sasaran seksual, akan berisiko juga dalam penular­an infeksi menular seksual.


RESEP ALA CHEF

12

28 APRIL - 4 MEI 2014

Kakul dan Belut Jadi Primadona Kakul dan belut merupakan jenis lauk yang sudah tak asing bagi masyarakat Bali. Walaupun sebagian masyarakat takut memasaknya karena licin dan agak sulit, rasa makanan olahan dua bahan ini sangat enak. Bahkan, turis asing sangat menggemari makanan dari belut dan kakul.

D

alam acara Gia­ nyar Festival 2014, President Indonesian Chef Association (ICA) Henry Alexie Bloem, mendemokan cara membuat hidangan yang lezat dari bahan dasar kakul dan belut. Sebelum memasak, ia memberikan tips cara membersihkan belut. Lempar belut dalam keadaan hidup atau dibakar hidup-hidup. Otomatis lendirnya langsung keluar dan tangan kita tidak lengket membersihkan lendir. Kemudian keprak dengan palu. Untuk mengolahnya sangat mudah. Panaskan minyak, goreng sebentar 100 gram belut dengan minyak panas, kemudian angkat. Jangan terlalu kering agar daging terasa kenyal. Bumbu daging belut, cukup gunakan sambal bongkot/kecicang. Bahannya sama dengan sambal mentah Bali terdiri dari 2 sendok

makan irisan bawang merah, 1 sendok makan cabai rawit, ½ sendok teh terasi bakar, dan garam secukupnya. Tambahkan kecicang dan 2 sendok makan minyak kelapa asli. Sambal bongkot dimasak sebentar, masukkan belut goreng tadi. Beri perasan jeruk lemo. Tambahkan 3 sendok makan kelapa parut yang sudah dibakar. Masak sampai harum tambahkan gula, garam, dan merica secukupnya agar lebih sedap. Untuk menghidangkannya, agar tampil istimewa, ambil satu lembar roti chapati dari India. Taruh masakan lindung tadi di dalamnya. Gulung dan sajikan lindung spesial. Sedangkan, untuk memasak kakul, ia memberikan tips. Rendam 100 gram kakul dalam air 3-4 hari. Ganti airnya tiap hari. Dengan cara ini, otomatis kotorannya akan keluar sendiri termasuk lendir. Setelah itu ujung kakul dipotong. Tujuannya untuk membuang ko-

28 APRIL - 4 MEI 2014

C U L I N A RY C O R N E R

Sensasi Nasi Men Weti Waktu masih menunjukkan pukul 06.30. Namun, warung nasi Ayam Men Weti yang berlokasi di Jalan Pantai Segara sudah ramai dikunjungi konsumen. Walaupun warung belum buka, sebagian besar orang sudah duduk berjejer di warungnya.

H

Demo masak yang dilakukan Chef Henry Alexie Bloem (kanan)

toran. Rebus kakul dengan air mendidih tambahkan 2 lembar daun salam. Kakul akan lepas sendiri dan langsung dicukil untuk mendapatkan dagingnya. Cara memasaknya: rebus kakul sebentar dan goreng. Buat bumbunya dari 2 butir bawang putih, 1 ruas jari kencur, sedikit kunyit dan garam. Tumis bumbu, masukkan 2 butir cabai rawit, beri sedikit gula dan merica. Masak sampai kakul matang. Ambil satu lembar rice paper roll, roti dari Vietnam. Basahi roti dengan air, bisa juga diganti dengan wine. Roti diberi dengan masakan kakul tadi. Gulung dan sajikan.

ari itu, Sabtu (19/4) Men Wati kedatangan tamu istimewa, yakni Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu. Kedatangan Menparekraf disambut hangat para pengunjung yang sedang menikmati lezatnya nasi Men Weti. Beberapa orang, malah sibuk mengabadikan foto

kehadiran menteri perempuan yang sangat menyukai olahraga menyelam ini. Mari Elka Pangestu menuturkan, dari dulu ia sangat ingin menikmati nasi ayam Bali Men Weti. “Akhirnya saya kesampai­ an juga makan di warung Men Weti,” ujarnya sembari tertawa. Ketika ditanya Menparekraf, sejak kapan berjualan, Men Weti

Olahan belut istimewa Mari Elka Pangestu (kiri) sedang menikmati nasi Men Weti

Dari kiri: Kepala Desa Sanur Kaja Made Sudana, Men Weti, dan Mari Elka Pangestu

terlihat gugup. Ia mengaku kaget dan gembira kedatangan menteri. Saking senangnya, tangannya memeluk tangan Menparekraf. Namun, ia masih bingung menjawab perta­ nyaan Mari Elka Pangestu. Kepala Desa Sanur Kaja Made Sudana, yang turut bersepeda bersama Mari Elka Pangestu pagi itu, mencoba membantu memberi penjelasan. Men Weti sudah berjualan sejak tahun 1976. Dulunya, ada pedagang sate kambing yang berjualan di dekat pura. Namun, karena banyaknya keluhan dari warga areal pura kotor, kini hanya warung Men Weti yang masih ada.

Jangan Pernah Mengubah Resep Asli

Olahan kakul spesial

Menurut chef AA Putra Dalem, jangan pernah meng­ ubah resep karena itu warisan dari nenek moyang. Bumbu Bali banyak berasal dari umbi-umbian seperti bawang merah, bawah putih, kunyit, jahe, lengkuas sampai gamongan. Bumbu Bali tidak ada yang enak tapi jika digoreng akan memberikan aroma yang sedap. Bumbu Bali dapat juga digunakan untuk pengobatan atau usada. Contohnya, kunyit untuk obat luka, jahe untuk pemanas, sereh untuk wangi-wangian. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, perlu memang ada per­ ubahan dari segi penyajian makanan, tanpa menghilangkan resep dasar makanan tersebut. Daerah Gianyar merupakan daerah asal legendaris makanan Bali seperti bali guling, bebek, dan jajanan Bali. Sementara menurut chef Wayan Bagiana, di tempatnya bekerja ia memiliki satu tempat memasak yang menyerupai dapur atau paon Bali.

Sarwan

Paon Bali ini dibuat dengan dinding dari bambu, tembok dari bahan polpolan, termasuk alatalat masak seperti kukusan, sidu, kekeb, dan kayu bakar. “Dengan paon Bali, saya mengajarkan para tamu kelas memasak seperti cara membuat basa gede,dan cara menikmati masakan Bali. Masyarakat

AA Putra Dalem pernah menjabat sebagai executive chef di beberapa hotel ternama. Ia juga aktif di beberapa organisasi di antaranya pernah menjabat Presiden IJUMPI Jakarta, voice President of Los Toques Blanches on Section, Portram PHRI Komdajaya, advisor of ICA Bali. Berbagai penghargaan telah ia kantungi antara lain The Best Balinese Food Ambassador at Dirty Duck Dinner 3- Hongkong dan The Best Employee of the Year

Bali biasa menikmati masakan Bali dengan tangan. Demi kesehatan si penikmat, perlu diperhatikan pemilihan bahan, seperti sayur tidak busuk, cara memasak, dan menyajikannya. Makanan panas disajikan panas, begitu juga makanan dingin disajikan dingin,” ujarnya. –Wirati Astiti

Mandarin Oeriental. Wayan Bagiana saat ini menjabat Corporate Exe­cutive Chef Komaneka Resort. Pernah be­kerja di Eurest Company Australia sebagai chef de cuisine, dan di New Caledonia sebagai Indonesian chef. Ia juga pernah tampil bersama chef Bara mengisi acara “Gula-gula” di televisi swasta nasional. Ia pernah muncul di TV 5 French do Monde dalam mempromosikan masakan Bali.

Sudana sudah biasa mendengar kesibukan Men Weti mulai pukul 03.00. Ia juga tahu, kalau sayuran bahan pokok menu andalannya, dipetik di halaman rumah Men Weti. Sudana tahu banyak tentang perkembangan daerah sekitar pantai Segara, karena ayahnya I Made Jelas, ikut mendirikan pasar seni di daerah tersebut. “Pasar seni tersebut dulunya berasal dari extention Hotel Bali Beach, kemudian pindah ke Pantai Segara atas izin lurah Ketut Berata zaman itu. Tiap banjar diberikan kesempatan untuk ikut berjualan di pasar seni,” ucapnya. Menurut Men Weti, tiap hari warungnya mulai buka pukul 07.00 sampai pukul 11.00. Rata-rata pengunjung berkisar sampai dua ratusan. Menurut Mari Elka Pangestu, rasa masakan nasi ayam Men Weti sangat enak, terutama sambalnya yang pedas. Sementara, salah satu pengunjung Dwi mengatakan, tiap pagi ia selalu menyempatkan makan nasi di warung Men Weti untuk sarapan. Walaupun sudah datang pagi, tetap saja mengantri. Dwi mengaku, tak pernah bosan walaupun makan tiap hari dan harus mengantri. “Sambalnya mantap,” ujar karyawan swasta ini. –Wirati Astiti

“Dulunya sebelum punya warung, Men Weti berjualan nasi dengan menjungjung keranjang di pantai. Dari rumahnya di Jalan Danau Buyan. Men Weti naik angkot, kebetulan sopirnya dulu adalah Ketut Sudikerta yang kini sudah menjabat Wakil Gubernur Bali”

Sup Iga Sapi Bola-bola Makaroni

Chef Bagiana (kiri) dan Chef Agung Dalem

“Dulunya sebelum punya warung, Men Weti berjualan nasi dengan menjungjung keranjang di pantai. Dari rumahnya di Jalan Danau Buyan. Men Weti naik angkot, kebetulan sopirnya dulu adalah Ketut Sudikerta yang kini sudah menjabat Wakil Gubernur Bali,” kata Sudana. Bertetangga dengan Men Weti,

13

Bahan: 250 gr 2 sdm 1 buah 2 siung 2 helai 5 biji 5 biji 5 biji

: makaroni rebus, tiriskan : margarin : bawang bombai, cincang halus : bawang putih, cincang halus : bawang pre, cincang halus : sosis ayam/sapi, potong kecil-kecil : bakso, potong tipis-tipis : bakso ikan,

potong tipis-tipis 1½ sdm : kecap manis 1½ sdm : saus tiram 1 sdm : minyak wijen Garam, gula, dan merica seccukupnya

- Tambahkan garam, gula dan merica secukupnya, aduk rata, angkat. - Bola-bola makaroni siap dihidangkan.

Cara membuat: - Panaskan margarin, tumis bawang bombai, bawang putih, dan daun pre hingga harum. - Masukkan sosis, lalu bakso dan bakso ikan, tumis hingga berubah warna. - Masukkan makaroni rebus, tambahkan kecap manis, saus tiram dan wijen.

Ayam Bumbu Kecap Bahan: 500 gr : ayam potong dipotong menurut selera 5 biji : bawang merah, cincang kasar 3 siung : bawah putih, cincang kasar 2 ruas : jari jahe, memarkan 1 sdt : lada bubuk 5 biji : cabai kecil, cincang halus 100 ml : kecap manis 300 ml : air 1 bungkus: penyedap rasa Minyak atau margarin secukup­nya

Cara membuat: - Panaskan minyak atau margarin, masukkan bawang merah dan bawang putih dan jahe hingga harum. - Masukkan ayam bolak-balik hingga berubah warna. - Masukkan cabai kecil, kecap manis, air, bolak-balik tambahkan lada dan masukkan penyedap rasa, bolak-balik hingga merata dan biarkan air hingga berkurang dan bumbu meresap, siap untuk disajikan.

Bahan: 500 gr : tulang iga sapi 1.500 ml : air 2 sdm : minyak goreng untuk menumis 250 gr : wortel, potong bulat 300 gr : kentang, potong dadu 2 batang : daun bawang, iris halus 1 buah : tomat, belah jadi 6 Bumbu halus: 3 siung : bawang putih 1½ sdt : merica 5 biji : cengkih 5 siung : bawang merah ½ butir : pala 4 cm : jahe, memarkan Gula dan garam secukupnya

Cara membuat: - Potong-potong tulang iga. - Rebus air sampai mendidih, masukkan tulang iga, massak sampai empuk, angkat, sisihkan air kaldunya untuk kuah sup. - Tumis bumbu halus sampai harum. - Masukkan bumbu ke dalam air kaldu sisa rebusan tulang iga, aduk rata, masak hingga mendidih. - Tambahkan wortel, kentang dan bumbu lainnya, masak sampai sayuran setengah matang, masukkan tulang iga, daun bawang, seledri, tomat. - Masak sampai semua bahan matang, angkat. - Sajikan sup iga dengan taburan bawang goreng di atasnya.


RESEP ALA CHEF

12

28 APRIL - 4 MEI 2014

Kakul dan Belut Jadi Primadona Kakul dan belut merupakan jenis lauk yang sudah tak asing bagi masyarakat Bali. Walaupun sebagian masyarakat takut memasaknya karena licin dan agak sulit, rasa makanan olahan dua bahan ini sangat enak. Bahkan, turis asing sangat menggemari makanan dari belut dan kakul.

D

alam acara Gia­ nyar Festival 2014, President Indonesian Chef Association (ICA) Henry Alexie Bloem, mendemokan cara membuat hidangan yang lezat dari bahan dasar kakul dan belut. Sebelum memasak, ia memberikan tips cara membersihkan belut. Lempar belut dalam keadaan hidup atau dibakar hidup-hidup. Otomatis lendirnya langsung keluar dan tangan kita tidak lengket membersihkan lendir. Kemudian keprak dengan palu. Untuk mengolahnya sangat mudah. Panaskan minyak, goreng sebentar 100 gram belut dengan minyak panas, kemudian angkat. Jangan terlalu kering agar daging terasa kenyal. Bumbu daging belut, cukup gunakan sambal bongkot/kecicang. Bahannya sama dengan sambal mentah Bali terdiri dari 2 sendok

makan irisan bawang merah, 1 sendok makan cabai rawit, ½ sendok teh terasi bakar, dan garam secukupnya. Tambahkan kecicang dan 2 sendok makan minyak kelapa asli. Sambal bongkot dimasak sebentar, masukkan belut goreng tadi. Beri perasan jeruk lemo. Tambahkan 3 sendok makan kelapa parut yang sudah dibakar. Masak sampai harum tambahkan gula, garam, dan merica secukupnya agar lebih sedap. Untuk menghidangkannya, agar tampil istimewa, ambil satu lembar roti chapati dari India. Taruh masakan lindung tadi di dalamnya. Gulung dan sajikan lindung spesial. Sedangkan, untuk memasak kakul, ia memberikan tips. Rendam 100 gram kakul dalam air 3-4 hari. Ganti airnya tiap hari. Dengan cara ini, otomatis kotorannya akan keluar sendiri termasuk lendir. Setelah itu ujung kakul dipotong. Tujuannya untuk membuang ko-

28 APRIL - 4 MEI 2014

C U L I N A RY C O R N E R

Sensasi Nasi Men Weti Waktu masih menunjukkan pukul 06.30. Namun, warung nasi Ayam Men Weti yang berlokasi di Jalan Pantai Segara sudah ramai dikunjungi konsumen. Walaupun warung belum buka, sebagian besar orang sudah duduk berjejer di warungnya.

H

Demo masak yang dilakukan Chef Henry Alexie Bloem (kanan)

toran. Rebus kakul dengan air mendidih tambahkan 2 lembar daun salam. Kakul akan lepas sendiri dan langsung dicukil untuk mendapatkan dagingnya. Cara memasaknya: rebus kakul sebentar dan goreng. Buat bumbunya dari 2 butir bawang putih, 1 ruas jari kencur, sedikit kunyit dan garam. Tumis bumbu, masukkan 2 butir cabai rawit, beri sedikit gula dan merica. Masak sampai kakul matang. Ambil satu lembar rice paper roll, roti dari Vietnam. Basahi roti dengan air, bisa juga diganti dengan wine. Roti diberi dengan masakan kakul tadi. Gulung dan sajikan.

ari itu, Sabtu (19/4) Men Wati kedatangan tamu istimewa, yakni Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu. Kedatangan Menparekraf disambut hangat para pengunjung yang sedang menikmati lezatnya nasi Men Weti. Beberapa orang, malah sibuk mengabadikan foto

kehadiran menteri perempuan yang sangat menyukai olahraga menyelam ini. Mari Elka Pangestu menuturkan, dari dulu ia sangat ingin menikmati nasi ayam Bali Men Weti. “Akhirnya saya kesampai­ an juga makan di warung Men Weti,” ujarnya sembari tertawa. Ketika ditanya Menparekraf, sejak kapan berjualan, Men Weti

Olahan belut istimewa Mari Elka Pangestu (kiri) sedang menikmati nasi Men Weti

Dari kiri: Kepala Desa Sanur Kaja Made Sudana, Men Weti, dan Mari Elka Pangestu

terlihat gugup. Ia mengaku kaget dan gembira kedatangan menteri. Saking senangnya, tangannya memeluk tangan Menparekraf. Namun, ia masih bingung menjawab perta­ nyaan Mari Elka Pangestu. Kepala Desa Sanur Kaja Made Sudana, yang turut bersepeda bersama Mari Elka Pangestu pagi itu, mencoba membantu memberi penjelasan. Men Weti sudah berjualan sejak tahun 1976. Dulunya, ada pedagang sate kambing yang berjualan di dekat pura. Namun, karena banyaknya keluhan dari warga areal pura kotor, kini hanya warung Men Weti yang masih ada.

Jangan Pernah Mengubah Resep Asli

Olahan kakul spesial

Menurut chef AA Putra Dalem, jangan pernah meng­ ubah resep karena itu warisan dari nenek moyang. Bumbu Bali banyak berasal dari umbi-umbian seperti bawang merah, bawah putih, kunyit, jahe, lengkuas sampai gamongan. Bumbu Bali tidak ada yang enak tapi jika digoreng akan memberikan aroma yang sedap. Bumbu Bali dapat juga digunakan untuk pengobatan atau usada. Contohnya, kunyit untuk obat luka, jahe untuk pemanas, sereh untuk wangi-wangian. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, perlu memang ada per­ ubahan dari segi penyajian makanan, tanpa menghilangkan resep dasar makanan tersebut. Daerah Gianyar merupakan daerah asal legendaris makanan Bali seperti bali guling, bebek, dan jajanan Bali. Sementara menurut chef Wayan Bagiana, di tempatnya bekerja ia memiliki satu tempat memasak yang menyerupai dapur atau paon Bali.

Sarwan

Paon Bali ini dibuat dengan dinding dari bambu, tembok dari bahan polpolan, termasuk alatalat masak seperti kukusan, sidu, kekeb, dan kayu bakar. “Dengan paon Bali, saya mengajarkan para tamu kelas memasak seperti cara membuat basa gede,dan cara menikmati masakan Bali. Masyarakat

AA Putra Dalem pernah menjabat sebagai executive chef di beberapa hotel ternama. Ia juga aktif di beberapa organisasi di antaranya pernah menjabat Presiden IJUMPI Jakarta, voice President of Los Toques Blanches on Section, Portram PHRI Komdajaya, advisor of ICA Bali. Berbagai penghargaan telah ia kantungi antara lain The Best Balinese Food Ambassador at Dirty Duck Dinner 3- Hongkong dan The Best Employee of the Year

Bali biasa menikmati masakan Bali dengan tangan. Demi kesehatan si penikmat, perlu diperhatikan pemilihan bahan, seperti sayur tidak busuk, cara memasak, dan menyajikannya. Makanan panas disajikan panas, begitu juga makanan dingin disajikan dingin,” ujarnya. –Wirati Astiti

Mandarin Oeriental. Wayan Bagiana saat ini menjabat Corporate Exe­cutive Chef Komaneka Resort. Pernah be­kerja di Eurest Company Australia sebagai chef de cuisine, dan di New Caledonia sebagai Indonesian chef. Ia juga pernah tampil bersama chef Bara mengisi acara “Gula-gula” di televisi swasta nasional. Ia pernah muncul di TV 5 French do Monde dalam mempromosikan masakan Bali.

Sudana sudah biasa mendengar kesibukan Men Weti mulai pukul 03.00. Ia juga tahu, kalau sayuran bahan pokok menu andalannya, dipetik di halaman rumah Men Weti. Sudana tahu banyak tentang perkembangan daerah sekitar pantai Segara, karena ayahnya I Made Jelas, ikut mendirikan pasar seni di daerah tersebut. “Pasar seni tersebut dulunya berasal dari extention Hotel Bali Beach, kemudian pindah ke Pantai Segara atas izin lurah Ketut Berata zaman itu. Tiap banjar diberikan kesempatan untuk ikut berjualan di pasar seni,” ucapnya. Menurut Men Weti, tiap hari warungnya mulai buka pukul 07.00 sampai pukul 11.00. Rata-rata pengunjung berkisar sampai dua ratusan. Menurut Mari Elka Pangestu, rasa masakan nasi ayam Men Weti sangat enak, terutama sambalnya yang pedas. Sementara, salah satu pengunjung Dwi mengatakan, tiap pagi ia selalu menyempatkan makan nasi di warung Men Weti untuk sarapan. Walaupun sudah datang pagi, tetap saja mengantri. Dwi mengaku, tak pernah bosan walaupun makan tiap hari dan harus mengantri. “Sambalnya mantap,” ujar karyawan swasta ini. –Wirati Astiti

“Dulunya sebelum punya warung, Men Weti berjualan nasi dengan menjungjung keranjang di pantai. Dari rumahnya di Jalan Danau Buyan. Men Weti naik angkot, kebetulan sopirnya dulu adalah Ketut Sudikerta yang kini sudah menjabat Wakil Gubernur Bali”

Sup Iga Sapi Bola-bola Makaroni

Chef Bagiana (kiri) dan Chef Agung Dalem

“Dulunya sebelum punya warung, Men Weti berjualan nasi dengan menjungjung keranjang di pantai. Dari rumahnya di Jalan Danau Buyan. Men Weti naik angkot, kebetulan sopirnya dulu adalah Ketut Sudikerta yang kini sudah menjabat Wakil Gubernur Bali,” kata Sudana. Bertetangga dengan Men Weti,

13

Bahan: 250 gr 2 sdm 1 buah 2 siung 2 helai 5 biji 5 biji 5 biji

: makaroni rebus, tiriskan : margarin : bawang bombai, cincang halus : bawang putih, cincang halus : bawang pre, cincang halus : sosis ayam/sapi, potong kecil-kecil : bakso, potong tipis-tipis : bakso ikan,

potong tipis-tipis 1½ sdm : kecap manis 1½ sdm : saus tiram 1 sdm : minyak wijen Garam, gula, dan merica seccukupnya

- Tambahkan garam, gula dan merica secukupnya, aduk rata, angkat. - Bola-bola makaroni siap dihidangkan.

Cara membuat: - Panaskan margarin, tumis bawang bombai, bawang putih, dan daun pre hingga harum. - Masukkan sosis, lalu bakso dan bakso ikan, tumis hingga berubah warna. - Masukkan makaroni rebus, tambahkan kecap manis, saus tiram dan wijen.

Ayam Bumbu Kecap Bahan: 500 gr : ayam potong dipotong menurut selera 5 biji : bawang merah, cincang kasar 3 siung : bawah putih, cincang kasar 2 ruas : jari jahe, memarkan 1 sdt : lada bubuk 5 biji : cabai kecil, cincang halus 100 ml : kecap manis 300 ml : air 1 bungkus: penyedap rasa Minyak atau margarin secukup­nya

Cara membuat: - Panaskan minyak atau margarin, masukkan bawang merah dan bawang putih dan jahe hingga harum. - Masukkan ayam bolak-balik hingga berubah warna. - Masukkan cabai kecil, kecap manis, air, bolak-balik tambahkan lada dan masukkan penyedap rasa, bolak-balik hingga merata dan biarkan air hingga berkurang dan bumbu meresap, siap untuk disajikan.

Bahan: 500 gr : tulang iga sapi 1.500 ml : air 2 sdm : minyak goreng untuk menumis 250 gr : wortel, potong bulat 300 gr : kentang, potong dadu 2 batang : daun bawang, iris halus 1 buah : tomat, belah jadi 6 Bumbu halus: 3 siung : bawang putih 1½ sdt : merica 5 biji : cengkih 5 siung : bawang merah ½ butir : pala 4 cm : jahe, memarkan Gula dan garam secukupnya

Cara membuat: - Potong-potong tulang iga. - Rebus air sampai mendidih, masukkan tulang iga, massak sampai empuk, angkat, sisihkan air kaldunya untuk kuah sup. - Tumis bumbu halus sampai harum. - Masukkan bumbu ke dalam air kaldu sisa rebusan tulang iga, aduk rata, masak hingga mendidih. - Tambahkan wortel, kentang dan bumbu lainnya, masak sampai sayuran setengah matang, masukkan tulang iga, daun bawang, seledri, tomat. - Masak sampai semua bahan matang, angkat. - Sajikan sup iga dengan taburan bawang goreng di atasnya.


J E L I TA

14

28 april - 4 mei 2014

dr. Kadek Trisnadewi

Jika kurang tidur dan keesokan paginya wajah terlihat lelah dengan mata sembab, itu adalah hal yang lumrah. Namun, bagaimana jika wajah selalu terlihat kuyu dengan kantung mata dan lingkaran hitam pada mata? Selama ini masih banyak orang beranggapan jika seseorang memi­ liki lingkaran hitam di arena mata karena faktor kurang tidur, kelelah­ an atau menatap layar komputer dalam waktu lama. Menurut dr. Kadek Trisnadewi, tidak selamanya lingkar hitam tersebut karena kelelahan ataupun menatap layar komputer. Lingkaran hitam di mata bisa jadi terkait karena penyakit hati, anemia, dan dehidrasi. Dikatakannya penyebab mun­ culnya lingkaran hitam di sekitar area mata diantaranya karena penuaan. Kulit halus dan tipis di bawah mata akan semakin menipis seiring bertambahnya usia. Pem­ buluh darah pun lebih menonjol dan menyebabkan lingkaran hitam di bawah mata. Fator genetika juga me­mainkan peran besar dalam urusan ling­ karan hitam sekitar mata. Jika pe­ nyebabnya faktor genetik, katanya agak sulit untuk menghilangkan. Namun, bukan tidak mungkin dilakukan tindakan klinis untuk menguranginya atau teknik riasan untuk menyamarkannya. Lingkaran gelap di sekitar mata pun bisa dapat disebabkan oleh gizi buruk. Diet sehat dan bergizi penuh dengan vitamin seperti A, C, K, E dapat membantu meng­ hilangkan lingkaran hitam. Begitu juga kelelahan yang berlebih mem­ buat kulit pucat. Pembuluh darah di bawah kulit menjadi tampak biru atau lebih gelap. Merokok dan minuman beral­ kohol pun bisa jadi penyebabnya. Lingkaran hitam pada mata bisa menjadi pertanda hilangnya air dari tubuh dan terlalu banyak asupan minuman berkafein.” Paparan sinar matahari berlebih juga akan memproduksi melanin berlebih. Ketika melanin sedang

dibuat pada lapisan epidermis, kulit tampak coklat dan lapisan dermis tampak abu-abu kebiruan. Begitupun perubahan hormon, menjadikan perubahan fase kulit selama kehamilan dan menstruasi , menjadikan warna gelap di bawah mata,”paparnya. Selanjutnya setiap kondisi yang menyebabkan mata terasa gatal dapat pula membuat lingkaran gelap karena menggosok atau mengaruk kulit di sekitar mata Pe­ nyebab lainnya adalah aler­g i, yang bisa di­ atasi dengan menghindari pencetus al­ ergi, misalkan debu, maka­ nan, atau bah­ kan produk ko­ smetik. Sementara kantung mata terjadi akibat terlalu banyak men­ gonsumsi makanan yang kandungan garamnya tinggi, sehingga tubuh menjadi sembap terutama di daerah bawah mata (garam bersifat retensi air). Disamping itu, menangis juga memicu terjadinya kantung mata karena daerah bawah mata men­ gandung garam yang berasal dari air mata sehingga cairan tertarik ke daerah sana. MENGHILANGKAN KANTUNG MATA Dengan memakai krim mata se­ tiap pagi dan malam hari akan mem­ bantu me­n yamarkan atau bahkan menghilang­ kan lingkaran hitam di sekitar mata. Krim mata biasanya mengandung kafein atau zat pencerah lainnya yang membantu mencerahkan kulit dan juga bisa membantu melancarkan peredaran darah di kulit sekitar mata. Langkah sederhana lainnya adalah dengan mengompres dengan es batu. Ini bisa mengu­ rangi kantung mata ringan. Supaya efektif lakukan hal ini sekitar 10 menit, sebelum tidur siang dan atau malam. Ketika bangun, mata akan terasa lebih sejuk. Teh celup kantong bekas, dari teh hitam dan teh hijau ternyata juga mempunyai khasiat yang cukup efektif untuk mengatasi lingkar hitam, karena mengandung zat tannin, yang dapat me­ nyempitkan pembuluh darah dan mengencang­

kan kulit. Dengan begitu, pembuluh darah akan lancar, sehingga dapat mengurangi pembengkakan di seki­ tar mata. Yang tak kalah sering juga di­ lakukan yakni menggunakan irisan mentimun. Mentimun sangat baik untuk menghilangkan lingkar gelap di area mata karena bisa berfungsi sebagai astrigen yang dapat melan­ carkan peredaran darah. Sedangkan, bagi yang ingin cara instan, kata dokter Kadek bisa memakai concealer yang me­ nyamarkan lingkaran hitam diseki­ tar mata. Dengan mengoleskan concealer yang senada dengan warna kulit setelah menggunakan pelembab dan sebelum mengguna­ kan make-up lainnya. Selain itu, facial dengan massage di sekitar mata, dapat mence­ gah bahkan mengurangi kantung mata kare­ na mem­ perlancar sirkulasi dan sistem pem­ buangan nya. Perlu juga men­ gubah kebiasaan buruk sebelum ti­ dur. Seperti membiar­ kan make up tanpa dihapus terlebih dahulu. “Memakai riasan selama tidur dapat mengiritasi kulit sekitar mata sehingga dapat membuat kulit menjadi lebih gelap, ”katanya. Hal yang tak kalah penting diperlukan adalah tidur yang cu­ kup. “Terlalu sering begadang juga menyebabkan mengapa lingkaran hitam muncul di sekitar mata. Usahakan agar tubuh beristirahat dengan maksimal ketika malam hari,.” lanjutnya. Sementara bicara penanganan kantung mata secara klinis, dikata­

kannya perlu dilakukan tindakan observasi. Ada empat tingka­ tan kantung mata. Pada tingkat pertama masih bisa dilakukan penanganan dengan krim mata dan merubah gaya hidup lebih sehat.Untuk kondisi kantung mata tingkat kedua, bisa dilakukan radio frequency atau pulsed light. Ini dapat membantu mengurangi pembengkakan pada mata yang bersifat lebih permanen. Untuk kantung mata yang lebih tinggi, pada level tiga dan empat, yakni ketika bentuk kantung mata sangat menonjol dan saat diraba terasa keras, perlu dilakukan tindakan surgical yang lebih serius

MITOS ATAU FAKTA

Vertigo Gejala Stroke?

Bersihkan Make Up sebelum Tidur Memiliki lingkaran hitam di bawah mata dapat merusak penampilan. Wajah jadi terlihat sayu, kusam dan tidak sehat. Jeleknya lagi kantung mata dan lingkaran hitam mata ini cenderung membuat seseorang tampak lebih tua.

28 april - 4 mei 2014

www.tentangwanita.com

dan hanya bisa ditangani oleh dokter bedah atau dokter bedah kecantikan. Pada level tersebut kantung mata sudah berisi lemak dan perlu dikeluarkan dengan teknik blepharoplasty. “Maka sangat baik jika kita semua mulai hidup sehat dengan mengonsumsi makanan ber­ gizi dan seimbang yang diiringi olahraga teratur. Hal penting lainnya untuk dilakukan adalah tidur berkualitas yang cukup, tidak berlebihan, tapi juga jangan kurang,”pungkas dokter Kadek yang tengah menyelesaikan tesis S2 Anti Aging-nya di Unud. – Sri Ardhini

Pagi-pagi, Wati (42) sudah bersiap menjalani aktivitasnya, namun tiba-tiba ia merasakan kepalanya berputar disertai mual-muntah. Oleh kerabatnya, ia langsung dibawa ke RS terdekat. Menurut dokter, Wati terserang v ­ ertigo. “Padahal, kemarinnya saya baik-baik saja, bahkan tidur lebih awal,” ujarnya. Serangan vertigo juga dialami Ayu (55). Bahkan, ia mengaku sudah beberapakali terserang vertigo. Apakah setiap sakit kepala berputar adalah vertigo? Apakah vertigo ini penyakit keturunan? Atau juga sebagai gejala stroke seperti mitos yang beredar? Apa itu vertigo? Berikut penjelasan ­dr. I Ketut Mudanayasa, Sp.S

M

enurut dokter yang praktik di RS Surya Husa­ da, Ubung dan di Poliklinik Saraf RS Jiwa Provinsi Bali ini, vertigo sebenarnya bukan suatu penyakit, melainkan gejala yang mengindikasikan adanya suatu penyakit tertentu. Kelainan yang menimbulkan gejala vertigo dapat berasal dari kelainan pada sistem vestibuler (sistem ke­seimbangan pada telinga dalam), sistem visual dan sistem somatosensorik (otot dan sendi), sehingga gejala vertigo yang umumnya terjadi di masyarakat tidak memiliki keterkaitan dangan genetik (faktor keturunan). Tetapi, pada jenis vertigo akibat penyakit meniere, suatu penyakit akibat gangguan kronis pada telinga dalam, yang terjadi penumpukan cairan endolimf (hidrop endolimf), de­ ngan gejala vertigo disertai telinga mendenging, telinga terasa penuh dan terjadi penurunan pendengaran. Maka, faktor genetik memiliki pe­ ra­nan, dimana terjadi gangguan gen pembawa pada kromosom 6. Vertigo merupakan suatu ben­ tuk gangguan orientasi dimana perasaan dirinya bergerak berputar

dr. Oka Negara, FIAS

atau bergelombang ter­hadap ruang­an sekitarnya (vertigo subyek­tif) atau ruangan sekitarnya bergerak ter­ hadap dirinya (vertigo obyektif). Vertigo dibagi menjadi beberapa jenis tergantung pada kelainan yang terjadi. Jika kelainan terjadi pada sistem vestibular yang terdapat pada labirin, vertigo yang dirasakan seperti berputar. Jika kelainan ada pada sistem visual dan somatosensori (otot, tendon dan sendi), vertigo yang dirasakan seperti melayang, goyang atau rasa tidak seimbang. Ve r t i g o k e b a n y a k a n m e ­ nyerang wanita usia 35 tahun-50 tahun. Sementara vertigo sentral lebih banyak dialami orangtua di atas usia 50 tahun. Antara lakilaki dan perempuan, persentasenya hampir sama. Vertigo lebih banyak dipengaruhi sirkulasi darah ke otak dan penyakit metabolisme lainnya seperti hipertensi, kencing manis, hiper-kolesterol. Vertigo disebabkan oleh ba­nyak hal, di antaranya, keadaan ling­kungan, seperti mabuk laut, darat dan udara (motion sickness); kelainan telinga, endapan debris (kotoran) pada labi­ rin, infeksi telinga, keradangan pada saraf keseimbangan (neuritis ves-

Kirim surat Anda ke ­Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

PEDOFILIA “Dok, saya bertanya ini karena merasa “parno” nih, sejak kasus pelecehan seksual terhadap anak di sebuah sekolah internasional itu terungkap di koran dan televisi. Soalnya anak saya juga bersekolah di sekolah serupa. Saya jadi ingin tanya dok, tentang pedofilia. Apa penyebabnya, kenapa anak-anak yang dijadikan sasaran, bagaimana mengenali pelakunya dan apa bisa disembuhkan, dok? Maaf, jadi banyak tanya nih, terima kasih.” (Jess, 34) Pertanyaan serupa juga di­ tanyakan oleh beberapa orang via email. Pedofilia berasal dari akar kata “pedo” yang artinya anak dan “filia” yang berarti cinta atau rasa sayang. Pedofil­ ia memiliki makna ketertarikan orang dewasa (atau yang diang­ gap sudah cukup umur) untuk melakukan aktivitas seksual dengan anak-anak (atau yang dianggap belum cukup umur). Yang dimaksud dengan anak adalah mereka yang berusia 12

tahun ke bawah. Pedofilia sering kali di­ hubungkan dengan masalah krisis identitas, yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan, peristiwa psikologis masa lalu yang dialami dan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Belum bisa dijelaskan apakah ada faktor biologis atau genetika yang kuat berperan membentuk seseorang menjadi pelaku pedofilia. Jika pem­ bentukan identitas diri dilalui

tibularis); tumor; stroke; alkohol dan obat obat-obatan tertentu; gangguan metabolik, seperti anemia, rendah­ nya gula darah (hipoglikemia), dll. Mitos: Tiap sakit kepala berputar adalah vertigo Fakta: Tidak selalu. Yang umum disebut vertigo oleh kebanyakan orang adalah pusing berputar. Ke­ cuali, pada migrainus vertigo/basiler vertigo. Pada migrainus vertigo, memang ada nyeri kepala dan pus­ ing berputar, yang disebut dengan migran vertigo. Mitos: Vertigo selalu didahului oleh nyeri kepala Fakta: Sebelum menentukan apakah seseorang mengalami ver­ tigo atau nyeri kepala harus jelas dulu kalau vertigo yang dimaksud adalah pusing berputar, muyeng ato kepala terasa ringan dan nyeri kepala tersebut adalah rasa nyeri, pening atau berat pada kepala. Namun, tidak semua jenis vertigo didahului nyeri kepala, terutama pada vertigo perifer, seseorang hanya akan me­ ngeluh pusing berputar (vertigo) tanpa ada keluhan nyeri kepala. Tetapi, pada vertigo sentral, yang kelainannya terjadi pada otak, nyeri kepala tersebut bisa mendahului,

bersamaan atau timbul setelah se­ rangan vertigo. Misalnya, pada tumor otak (tumor sudut serebellopontin), stroke sistem vertebrobasiler dan migren basiler. Mitos: Vertigo adalah gejala stroke Fakta: Stroke yang terjadi pada sistem arteri vertebrobasiler yaitu pembuluh darah yang mensuplai darah untuk otak bagian belakang seperti otak kecil (serebelum), batang otak dan kortek occipital dapat menimbulkan gejala vertigo namun biasanya disertai oleh gejala lain seperti gangguan pengelihat­ an, rasa tebal atau kesemutan di sekitar mulut, nyeri kepala, mual muntah, men­denging pada telinga dan kelumpuhan pada saraf-saraf wajah. Namun, gejala vertigo yang timbul akibat kelainan pada sistem keseimba­n gan (sistem vestibular perifer pada telinga tengah, visual dan somatosensori pada otot, ten­ don dan sendi) bukan merupakan gejala dari stroke. Mitos: Vertigo adalah penyakit keturunan? Fakta: Tidak, tapi vertigo ber­

dengan masa lalu yang traumatik dan lingkungan yang mem­ bentuknya juga ada yang men­ dorong seseorang untuk me­ mandang dirinya menjadi lebih memilih melakukan aktivitas seksual dengan anak-anak, maka itulah menjadi penyebabnya. Jika ditelaah kembali pembentukan identitas diri yang gagal ini bisa disebabkan karena beberapa hal; 1) Trauma psikis masa kecil, misalnya pengalaman saat di masa kanak-kanak pernah sebagai korban pedofilia juga, atau melihat kejadian pedofilia di depan matanya, yang akh­ irnya menempatkan kejadian ini sebagai sebuah standar perilaku seksual buatnya, 2) Inferioritas atau rendah diri, karena selama ini merasa tidak punya kelebih­ an, merasa gagal dalam relasi sosial antar sebayanya,sehingga dengan menguasai anak kecil secara seksual dia akan merasa memiliki “power” sebagai orang yang punya harga diri, 3) Anti­ sosial atau kurangnya sosialisasi, terutama saat berada di kalang­ an sebayanya yang dewasa, yang akhirnya memilih lebih nyaman dengan anak-anak. Mengapa sasarannya ada­ lah anak-anak, karena den­ gan sebaya yang dewasa dia

merasa tidak nyaman atau tidak mendapatkan pengakuan serta kekuasa­an secara seksual, maka dia akan memilih anak-anak untuk dikuasai atau didominasi. Power-nya didapat di sini. Men­ jadi dominan. Kepuasaan seksual yang didapatkan juga menjadi saat yang dinanti buat menda­ patkan relaksasi untuk bisa meningkatkan kualitas hidup hariannya. Untuk mengenali seorang pelaku pedofilia kalau selama ini yang bersangkutan dalam lingkungan pergaulan so­ sialnya masih bisa larut dengan orang kebanyakan tentu saja akan sulit dibedakan, hanya pendekatan tentang kehidupan pribadi dan lingkungan sosial­ nya yang bisa dijadikan cara menduga dan mengenal secara awal. Sementara untuk yang lebih lanjut, biasanya yang ber­ sangkutan akan susah bergaul dengan lepas termasuk dalam konteks candaan seksual secara verbal dengan teman sebaya, cenderung menghindari pem­ bicaraan seksual dengan sebaya, atau malah menarik diri dari lingkung­an pergaulan sebaya. Juga bisa terlihat lebih apatis, dan lebih senang mengikuti acara atau sesi dengan anakanak. Kalau ditelusuri lagi dalam

dr. I Ketut Mudanayasa, Sp.S.

11

sifat familial. Artinya, 15%-20% gejala tersebut bisa muncul pada keluarga lain. Mitos: Vertigo dapat terjadi berulang Fakta: Seseorang yang sudah pernah mengalami serangan vertigo dapat kembali mengalami vertigo atau bahkan vertigonya berkalikali kumat walaupun sudah minum obat. Hal tersebut terjadi akibat meningkatnya pelepasan CRF/ CRH (corticotropin releasing fak­ tor/hormon) dari hipotalamus ke­ tika ada rangsangan fisik (gerakan), kelainan organik dan atau psikis (stres), sehingga menyebabkan terganggunya keseimbangan saraf otonom. Jika rangsangan tersebut terjadi berulang, gejala vertigo dan gejala penyerta lainnya seperti mual muntah dan muka pucat, akan berulang juga. PENANGANAN VERTIGO 1. Istirahat yang cukup, mengu­ rangi stres, mencukupi keburuh­ an tubuh terhadap zat gizi, mineral, kalsium dan vitamin. 2. Menghindari faktor pence­ tus, seperti lingkungan yg bu­ ruk, kebisingan dan perubahan udara yang mencolok, memper­ baiki posisi tidur, dan saat bekerja 3. Menghindari makanan berlemak tinggi, tinggi karbohidrat, seafood, alkohol, kopi berlebihan, minuman bersoda, membatasi konsumsi garam 4. Hindari obat-obatan terten­ tu yang menimbulkan vertigo, seperti gentamisin, streptomi­ sin, pengencer darah (salisilat) 5. Minum obat yang meringank­ an gejala vertigo, seperti golon­ gan antihistamin dan anti-mual 6. Melatih sistem keseimbangan dangan melatih gerakan kepala dan leher. –Inten Indrawati

konteks arsip personalnya, kadang bisa dijumpai dokumen­ tasi berupa file foto atau tulisan tentang anak-anak, terutama pornografi anak. Be­ berapa realitas itu bisa dijadikan dugaan adanya kemungkinan pedofilia. Karena termasuk ke dalam golongan parafilia, atau pe­ rilaku seksual yang dianggap tidak normal, kesembuhan yang diharapkan orang banyak untuknya mau kembali ke ak­ tivitas seksual dengan pasangan seksual orang dewasa, se­ ring kali memang tidak mu­ dah. Perlu pendekatan khusus untuk menelusuri masa lalu dan trauma psikisnya, disini profesi psikolog atau psikiater me­ megang peranan lebih banyak buat membantunya, walau kemungkinan cukup berat untuk di”normal”kan berdasar­ kan persepsi umum. Paling tidak target terapi adalah yang bersangkutan tidak melaku­ kan “aksi” pedofilia atau agresi seksual ke anak-anak. Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah, perilaku pedofilia yang dibiarkan dan dilakukan dengan bergantiganti sasaran seksual, akan berisiko juga dalam penular­an infeksi menular seksual.


10

BUGAR

28 APRIL - 4 MEI 2014

Apa dan Bagaimana Masa Dua Tahun Pertama Si Buah Hati? yang sangat penting dilakukan untuk tindak lanjut lebih awal. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesejah­ teraan bayi selama kehamilan yang bahkan dapat menimbulkan dampak yang fatal infeksi dalam rahim (intra uterin infection). Infeksi dalam rahim yang perlu mendapat perhatian dan penting untuk dilakukan deteksi secara dini adalah infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes). Infeksi ini bisa menyebabkan kelainan bawaan yang berat pada bayi diantara­ nya Katarak Kongenital (katarak bawaan sejak lahir), Hidrosefalus, Mikrosefali, Gangguan fungsi hati berat, pengapuran otak (kalsifikasi otak) serta infeksi jaringan otak karena herpes (ensefalitis herpes simpleks). Infeksi TORCH sering tidak menunjukkan gejala klinik yang khas pada ibu, sehingga sangat dianjurkan untuk dilaku­ kan upaya skrining rutin bagi ibu hamil pada masa antenatal untuk dr. I Gusti Ngurah Twi Adnyana, SpA tindak lanjut tatalaksana lebih dini. Masalah kesehatan ibu dan bayi Manifestasi klinik infeksi TORCH pada sesungguhnya merupakan dua hal bayi yang sebagian besar di jaringan yang berkelanjutan, saling terkait dan otak dan persarafan membawa dampak tidak terpisahkan. Kesehatan bayi gangguan tumbuh kembang yang berat sangat ditentukan oleh kesejahteraan di kemudian hari. Masa antenatal juga merupakan bayi saat masih dalam kandungan dan kondisi kesehatan ibu saat hamil. waktu untuk mempersiapkan produksi Karena itu maka upaya menurunkan nutrisi yang ideal untuk bayi. Sebagai­ Angka Kematian Ibu dan Bayi juga mana kita ketahui ASI merupakan memerlukan manajemen kesehatan nu­t risi alamiah dengan kandungan yang berkelanjutan, saling terkait dan nu­t rien yang sangat lengkap yang dibutuhkan bayi untuk proses tumbuh tidak terpisahkan. Periode diantara awal kehidupan si kembangnya. Bayi mempunyai hak buah hati saat masih dalam kandungan untuk mendapatkan ASI sedangkan Ibu hingga ulang tahunnya yang ke – 2 mempunyai kewajiban untuk memberi­ merupakan jendela peluang yang pa­ kan ASI kepada bayi. Untuk itu maka ling penting dan menentukan kualitas pada periode antenatal selain peme­ generasi penerus bangsa. Tumbuh riksaan kehamilan, juga sangat penting kembang seorang anak merupakan dilakukan konseling lebih awal tentang suatu proses yang terus menerus. ASI dan menyusui. Hal ini supaya pada Dengan demikian maka manajemen dan saat melahirkan ibu sudah mempunyai pemantauan kesehatan yang berkelan­ pemahaman yang baik tentang ASI dan jutan pada periode yang disebut masa persiapan yang optimal untuk proses emas ini merupakan investasi yang menyusui. Beberapa Rumah Sakit saat sangat penting dan berharga bagi si ini, mulai mengembangkan konsep pelayanan antenatal terpadu yaitu buah hati. pemeriksaan kehamilan rutin dengan pengembangan poliklinik laktasi un­ Periode Antenatal Selama ini pemeriksaan kehamilan tuk memberikan pelayanan konseling rutin (pemeriksaan antenatal) masih tentang ASI yang meliputi pemaha­ difokuskan pada aspek kesehatan ibu man, persiapan, cara pemberian serta (aspek maternal), padahal kondisi ke­ penyimpanan ASI yang benar. sehatan bayi juga sangat ditentukan Periode Perinatal oleh kondisi bayi selama masa kehamil­ Periode ini dimulai saat usia 28 an (masa antenatal). Deteksi secara dini terhadap berbagai faktor yang minggu kehamilan sampai dengan usia berpengaruh terhadap kesejahteraan 7 hari setelah lahir. Periode ini sa­ janin dalam kandungan merupakan hal ngat penting terutama terkait dengan

kematangan organ – organ vital bayi diantaranya yang terpenting adalah otak, jantung dan paru. Otak berkem­ bang paling pesat pada usia kehamilan 29 minggu begitu juga penglihatan dan pendengaran. Fungsi Paru dan saluran pencernaan bayi hampir matang pada usia 30 minggu, pada usia 32 minggu bayi mulai menghirup cairan ketuban untuk melatih fungsi paru. Pada usia 36 minggu bayi mulai mendapat zat kekebalan tubuh (antibody) dari ibu­ nya. Pada periode ini maka kelenjar produksi ASI juga berkembang dengan pesat. Sehingga penting untuk dilakukan pemeriksaan dan konseling ASI yang lebih intensif. Berdasarkan Panduan Tatalaksana Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit dari Health Technology Assesment (HTA) Indonesia 2010 dari kemenkes, maka pemeriksaan bayi baru lahir di­ lakukan pada saat : Bayi baru lahir; pemeriksaan rutin, kemudian dilanjutkan dengan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), pemberian sun­ tikan vitamin K1 dan salep/tetes mata antibiotika. Untuk program Imunisasi sesuai rekomendasi Kemenkes dan IDAI diberikan injeksi vaksin Hepatitis B dalam 24 jam setelah lahir dan vaksin polio oral 2 tetes sebelum pulang. Pada usia 6 – 12 dilakukan evaluasi tanda vital lebih lanjut Dalam 1 minggu pasca lahir untuk memantau kecenderungan pola tum­ buh kembangnya dan kemungkinan adanya kelainan bawaan, salah satunya penyakit jantung bawaan Periode usia 2 tahun pertama Periode ini merupakan masa yang penting bagi seorang anak dilihat dari berbagai aspek, baik pertumbuhan, perkembangan dan mekanisme perta­ hanan tubuh..Pada usia 24 bulan per­ tama tinggi badan anak akan bertam­ bah lebih cepat. Periode ini juga sangat menentukan untuk tumbuh kembang anak di masa dewasa. Pola asupan nutrisi yang optimal sangat penting pada periode ini untuk mencapai tahap pertumbuhan yang sesuai dengan pola yang sudah ditentukan. Dari aspek perkembangan, massa otak manusia terbentuk 70 persen sampai usia dua tahun pertama kehidupan. Selanjutnya sampai usia 5 tahun massa otak 90 persen dari otak manusia dewasa yang memiliki berat 1,4 kilogram. Pemben­ tukan kecerdasan setelah usia 5 tahun tidak memberi pengaruh besar. Pertumbuhan merupakan suatu progres yang bersifat kuantitatif, terkait dengan pertambahan ukuran anatomi tubuh yang disebut antropometri, seperti berat badan, tinggi badan,

lingkar kepala, tebal lemak, volume organ tubuh dan sebagainya. Sedang­ kan perkembangan adalah progres yang bersifat kualitatif, terkait dengan perkembangan fungsi seperti kemam­ puan gerak / motorik, kemampuan bahasa dan aspek psikososial. Kedua aspek ini harus dipantau secara berkesi­ nambungan, berkala, dan komperehen­ sif dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu. Saat ini begitu banyak piranti deteksi gangguan tumbuh kembang yang sudah diterapkan di praktik klinik untuk memantau proses tumbuh kem­ bang secara berkelanjutan dan deteksi dini adanya gangguan tumbuh kembang untuk dilakukan intervensi lebih awal. Mekanisme pembentukan sistem kekebalan tubuh (sistem imun) sangat progresif pada periode usia 2 tahun pertama ini. Secara alami ketika dilahir­ kan, bayi sudah memiliki sistem imun terhadap berbagai jenis serangan atau paparan zat asing yang masuk dalam tubuh. Kekebalan ini diterima dari ibu selama hamil, yang dikenal sebagai antibodi ibu (maternal antibody). Maternal antibody adalah kekebalan pasif pada bayi yang diterima dari ibunya. Perlindungan yang ditimbulkan bersifat sementara dan kadar antibodi akan berkurang setelah beberapa minggu atau bulan, dan kekebalan pada bayi juga akan menurun. Proses transfor­ masi antibodi ini berlangsung melalui plasenta pada usia 2 bulan terakhir masa kehamilan. Maternal Antibody mulai menurun pada usia 2 bulan dan terus berangsur-angsur menurun sampai enam bulan. Dengan semakin menurunnya maternal antibody pada bayi, maka diperlukan proses imunisasi untuk merangsang pembentukan sistem imun dari bayi terhadap paparan benda asing secara mandiri baik bakteri mau­ pun virus. Sasaran imunisasi untuk anak dika­ te­gorikan menjadi 2, yaitu imunisasi untuk bayi dan imunisasi untuk periode sampai usia 24 bulan. Untuk bayi, imu­ nisasi yang diberikan merupakan imu­ nisasi dasar yang terdiri atas Hepatitis B diberikan saat baru lahir, kemudian usia 1 bulan dan berikutnya usia 6 bu­ lan. Vaksin BCG diberikan antara usia 2 sampai 3 bulan. Polio diberikan saat lahir, kemudian mengikuti jadual vaksi­ nasi DPT (Diphteria, Pertusis Tetanus), Hib (Hemophillus influenza b), vaksin rotavirus dan vaksin pnemokokus, yaitu saat usia 2, 4 dan 6 bulan. Selanjutnya diberikan imunisasi campak pada saat bayi berusia 9 bulan. Vaksin lain yang terjadual mulai usia 6 bulan adalah vaksin influenza,yang diulang setiap setahun sekali. Pada rentang usia 12 sampai 24

bulan, imunisasi yang diberikan meru­ pakan imunisasi lanjutan dan imunisasi penguatan (booster). Imunisasi lanjutan yang diberikan pada usia 12 bulan ada­ lah vaksin cacar air (varicella) dan pada usia 15 bulan diberikan vaksin MMR (Mump, rubella, Measles). Sedangkan untuk jadual imunisasi booster untuk vaksin pnemokokus diberikan saat bayi berusia antara 12 – 15 bulan sekali saja dan untuk vaksin DPT, Hib, polio pada usia 18 bulan (minimal berjarak 12 bulan dari DPT,Hib, polio dosis terak­ hir). Selanjutnya bayi berusia 24 bulan diberikan imunisasi campak (minimum berjarak 6 bulan dari campak dosis pertama). Menurut Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (Satgas Imunisasi PP IDAI) pemberian dosis booster vaksin direko­ mendasikan karena mekanisme imuni­ tas yang terbentuk setelah pemberian vaksin dosis terakhir, akan menurun pada saat bayi mencapai usia 15 bulan sampai dengan 18 bulan sehingga perlu dosis penguatan untuk mencapai daya perlindungan yang optimal. Dengan jadwal pemberian vaksin yang begitu banyak jenisnya dalam satu periode pemberian sesuai rekomendasi ter­ baru dari Satgas Imunisasi PP IDAI, saat ini telah dikembangkan sediaan vaksin kombinasi yaitu beberapa jenis vaksin dalam 1 sediaan suntikan sekali pakai yang bertujuan untuk mengurangi trauma suntikan pada bayi. Sebagai kesimpulan, beberapa hal penting yang ditekankan pada uraian ini yaitu Masalah kesehatan ibu dan bayi merupakan suatu rangkaian yang berke­ sinambungan, saling terkait dan tidak terpisahkan. Upaya ini sudah dimulai sejak janin dalam kandungan. Periode usia 2 tahun pertama merupakan masa emas se­ orang bayi terkait dengan perkem­bangan fungsi otak, gangguan kesejahteraan janin dalam rahim, persiapan menyusui dan manajemen laktasi, proses tumbuh kem­ bang serta sistem kekebalan tubuh. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dianjurkan suatu manajemen kesehatan bayi yang merupakan suatu rangkaian yang berkelanjutan, periodik dan sistematis, yaitu deteksi dini fak­ tor resiko selama dalam kandungan, konseling ASI dan manajemen Laktasi pada masa antenatal, pemantauan dan deteksi dini gangguan tumbuh kem­ bang secara berkala serta pemberian imunisasi sesuai jadwal. dr. I Gusti Ngurah Twi Adnyana, SpA DEPARTMENT OF PEDIATRIC SILOAM HOSPITALS BALI Contact : +6281230358686, Email : twi.adnyana@siloamhospitals.com

28 APRIL - 4 MEI 2014

STYLE

15

Smart Casual ala DiDesa

Untuk pekan ini Style Tokoh memilih rancangan desainer Erma Sary. Melalui brand_ nya “DiDesa” ia menghadirkan koleksi pakaian ready to wear. Deretan kreasinya kali ini sangat menarik dan mampu mencerminkan kesan cerdas, energik, indipenden dan elegan wanita di berbagai kesempatan .

D

esain mo­ dern yang dikombi­ nasikannya dengan unsur lokal seperti batik dan tenun ikat ini,

merupakan salah satu tindakan Erma Sary untuk selalu menyer­ takan unsur tradisi dalam setiap karyanya. Begitu juga dengan pilihan warna-warna kuat seperti hitam, biru tua, abu-abu serta putih berhasil lebih lagi memunculkan keindahan setiap ak­

sen tradisional pada semua dress miliknya. Busana siap pakai dengan desain bercode smart casual ini garis modelnya simpel tapi tegas. Maka, sangat cocok dikenakan pa­ra wanita modern yang aktif, memiliki kepribadian yang menye­ nangkan dan ingin tetap menjaga penampilan dan kenyamannya di segala suasana. -Sri Ardhini


PELESIR

16

28 april - 4 mei 2014

Menikmati Sanur di Akhir Pekan

Pantai Sanur sudah dikenal keindahannya sampai ke mancanegara. Pantai Sanur pertama kali dikenal­kan seorang pelukis berkebangsaan Belgia AJ. Le Mayeur bersama istrinya yang sudah menetap di Bali sejak tahun 1937. Daya pikat pantai ini, di sebelah utaranya berbentuk sete­ngah lingkaran dan di bagian selatannya berbelok dari arah timur ke barat, demikian juga dengan ombaknya yang tak terlalu besar dan tenang.

28 april - 4 mei 2014

P

antai ini terkenal de­n gan pantai­n ya yang putih ber­ sih dan sa­ngat lembut. Di­ samping itu juga, Pantai Sanur me­rupakan pantai yang banyak terdapat batu karang. Kawasan Sanur merupakan altrenatif bagi para turis lokal maupun asing yang ingin meng­hindari ke­ramaian di pantai Kuta. Di area ini ketenangan dan kenyaman­ an adalah prioritas utama. Bagi mereka yang suka menikmati matahari terbit maka Sanur adalah tempat yang sangat tepat. Keindahan ka­ wasan pantai Sanur dengan berjejer hotel berbintang di sekitar pantai, dapat Anda nikmati dengan mengikuti areal jogging track yang terbentang di pinggir pantai Sanur. Jalur jogging track yang tersedia sudah diberi paving yang dapat diguna­ kan untuk berjalan kaki, lari, dan naik sepeda. Biasanya, war­ ga sering berangkat pagi-pagi sekali ke Pantai Sanur saat langit masih gelap, karena mereka tidak ingin melewatkan matahari terbit dari tempat ini. Sepanjang jalan, Anda dapat mencium wangi kopi dan harumnya roti karena saat itu biasanya hotel-hotel di sepanjang jalur jogging track sedang menghidangkan sarapan

Sanur, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kre­ atif Mari Elka Pangestu mencoba langsung wisata bersepeda di areal jogging track Sanur, Sabtu (19/4). Dengan mengambil start dari Griya San­trian Sanur tempatnya menginap, Mari Elka Pangestu yang ditemani beberapa staf

9

Lu h Ay u S ri S u s m h it a

Mulai dari Kampus Berawal dari coba-coba, gadis cantik ini berhasil menjadi Duta GenRe tahun 2014 sekaligus mewakili Bali ke tingkat Nasional. Ia adalah Luh Ayu Sri Susmhita. Mita meng­alahkan 18 orang lainnya dari seluruh PIKM (Pusat Informasi Konseling Mahasiswa). “Awalnya diberitahu Ketua IKM (Ikatan Mahasiswa ) Jurusan Kebidanan Poltekkes ada pemilihan Duta GenRe Bali 2014. Tetapi, ini pemilihannya masih lingkup PIKM Poltekkes saja dulu. Ternyata saya terpilih dan mewakili PIKM Yowana Bhakti Poltekkes Denpasar untuk ajang tingkat provinsi yang diadakan Per­wakilan BKKBN Bali,” ungkapnya. nya. Pembuatan ma­ teri presentasi yang merupa­k an syarat utama lomba ini pun diakui Mita tidaklah mudah. “Yang paling tidak terlupakan dan paling ber­k endala pada saat pembuatan presentasi. Banyak revisi baik dari pem­ bina dan juga temanteman, ” ungkap ga­ dis yang ramah ini. Materi dari presen­ tasi ini sendiri me­ nyangkut bagaimana cara menyampaikan informasi program GenRe yang sede­ mikian banyaknya agar mudah dicerna oleh remaja.

Mari Elka Pangestu bersama rombongan wisata bersepeda

bagi para tamu­ nya. Rata-rata restoran me­ reka memang m e n g ­h a d a p pantai, jadi para tamu hotel sara­ pan sambil me­ nikmati indahnya pantai di pagi hari. Bagi Anda yang datang subuh, ­jangan takut kelaparan, Anda bisa membeli jajanan seperti lumpia, tahu, tempe goreng, jagung rebus yang bertebaran di areal pantai. Warung-warung kecil juga banyak untuk membeli roti dan minuman, termasuk mam­ pir ke warung nasi Men Weti. Di beberapa bagian pantai terdapat jukung (perahu) berwarna-warni yang indah. Untuk mengenal lebih dekat kawasan

DARA

Kemenparekraf dan Yayasan Pembangunan Sanur, mulai bersepeda mulai pukul 06.30. Sampai di Museum Le Mayeur, rombong­ an wisata bersepeda yang dipim­pin Mari Elka Pangestu berhenti. Ia langsung meninjau ke dalam museum. Setelah kurang lebih 15 menit, rombongan melanjutkan kembali bersepeda dan mampir untuk sarapan di

rute 7 kilometer yang kami lewati tadi. Misalnya saya lihat, antara orang berjalan dengan bersepeda sempit, kurang nyaman. Apakah nantinya akan dibuat dua jalur atau diperlebar sudah direncanakan dengan baik. Pantai ini memang untuk publik, tapi bagaimana pantai bisa rapi, termasuk tempat bilas dan MCK. Mudah-mudahan tahun ini

G

Warung Men Weti Pantai Segara Sanur. Wa­ rung Men Weti sederhana dan kecil. Namun, pengunjungnya tiap hari antri. Nasi campur Men Weti berisi nasi putih, jukut urap (sayur urap Bali dengan parut­an kelapa bakar), telur dengan sambal tomat pedas, sate lilit, ayam betutu, tuna pedas dengan bumbu khas Bali serta kerupuk kulit ayam yang renyah. Tak ketinggalan sambal matah. Mari Elka Pang­ estu sangat menikmati nasi campur Men Weti. Setelah sempat mengobrol dengan beberapa peng­unjung warung Men Wati, ia meneruskan perjalanan bersepeda ke Pasar Sindhu. Setelah melihat aneka oleh-oleh yang dijual di Pasar Sindhu, rombongan kembali ke Griya Santrian. Mari Elka Pangestu mengatakan, kawasan Sanur merupakan bagian program Kawasan Stra­ tegi Pariwisata Nasional (KSPN) yang digagas Ke­ menterian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ke­ menparekraf). “Sudah dua tahun lalu program KSPN ini digelontorkan. Sudah ada perencanaan dengan pemerin­tah dae­ rah, untuk memperbaiki dan menyempurnakan

bisa dimulai disempurnakan,” tutur Mari di sela-sela sarapan di Warung Men Weti. Mari mengatakan, suasana Sanur sangat luar biasa. Perasaannya ­tenang, melihat pan­ tai dan matahari terbit. Namun, menurut­ nya, akan lebih baik dan nyaman, jika ditata se­hingga dapat meningkatkan wisatawan. Ia mengatakan, dalam master plan su­ dah dibuatkan paket turnya untuk paket jalan-jalan ke Pantai Sanur. Untuk kawasan KSPN Sanur dikucurkan dana sebesar Rp 5 miliar. “Dengan sentuhan KSPN tersebut nantinya kawasan ini akan menjadi lebih menarik, dan wisatawan yang tinggal di hotel di kawasan Sanur akan lebih betah dan menambah waktu kunjungannya,” ucap Mari yang sudah terbiasa bersepeda ini. Dewi, seorang warga yang ditemui Tokoh di Pantai Sanur menuturkan, ia lebih nyaman datang ke Pantai Sanur pada Sabtu pagi, sebab Minggu pagi pantai Sanur lumayan ramai dikunjungi warga. “Biasanya kami memilih untuk parkir di kawasan pantai Segara, salah satu pantai di Sanur yang mudah sekali diakses dari jalan Danau Tamblingan, jalan utama di kawasan Sanur. Saya biasa berolahraga tiap Sabtu bersama teman-teman di areal pantai setelah sebelumnya mengitari jogging track. Olahraga kami akhirnya dengan sarapan di warung Men Weti,” ujar karyawan swasta ini. -Wirati Astiti

enRe atau Gene­ rasi Berencana merupakan pro­ gram BKKBN yang menyasar remaja. Perem­ puan kelahiran 4 Juli 1994 ini menuturkan walaupun hampir serupa dengan pemilihan kontes kecantikan atau teruna-teruni, tapi GenRe ini sendiri tidak memi­ liki syarat fisik yang meliputi tinggi dan sebagainya. Syarat ter­ pentingnya adalah kemampuan berpikir dan berkomunikasi untuk menyosialisasikan tujuan GenRe. Salah satu misi GenRe adalah menyosialisasikan pendewasaan usia perkawinan. Saat ini usia kawin pertama usia 15-19 ta­ hun sekitar 48/1000. BKKBN menargetkan menjadi 30/1000. Makin muda usia kawin peluang memiliki anak lebih besar. Karena itu remaja-remaja harus memiliki perencanaan yang matang sesuai tagline “Muda Berencana”. Tugas sebagai Duta GenRe

Bali ini adalah untuk mengingatkan remaja agar tidak terjerumusan ke hal-hal negatif. Tentunya tidak mudah untuk menjalankan tugas tersebut, mengingat remaja Bali pada umumnya sangat banyak. Untuk melaksanakan tugasnya sebagai Duta GenRe Bali ini, Mita mengaku memulainya dari lingkup terdekat yaitu lingkungan kampus. “Supaya efektif kita mulai dulu dari lingkungan yang paling dekat. Kampus dulu setelah itu baru me­ nyasar banjar-banjar yang ada di Bali. Gimana caranya menyosial­ isasikan ke teman-teman, karena saya lihat di kampus juga masih banyak yang belum tahu. Setelah berhasil di lingkungan kampus baru bisa keluar untuk menyosialisasikan dengan remaja yang ada di Bali bersama-sama dengan PIK M untuk memberikan sosialisasi mengenai program GenRe ini,” paparnya. Terpilih sebagai Duta GenRe Bali 2014 ini tentu saja tidak mudah bagi Mita. Banyak hal-hal yang dilalui­

Temu kangen alumni SMP 1 Tabanan angkatan 1983, yang dilangsungkan di resto kawasan Renon Denpasar,(21/4). Acara ini sebagai ajang persiapan rencana reuni akbar SMP 1 Tabanan.

KETUA ASRAMA Mengikuti suatu perlombaan tentu saja mengalami beberapa perubahan yang dirasakan, tidak terkecuali sulung dari 5 bersaudara ini. Perubahan yang dirasakan pu­ tri dari pasangan I Putu Suarsana, S.E dan Dra. Ni Nyoman Ratmini ini meliputi sikap, penampilan dan etika. “Perubahannya banyak banget karena lingkupnya udah Bali. Jadi sebagai duta paling tidak dari sikap, penampilan dan etika harus benar-benar diperhatikan. Jadi harus hati-hati dalam melangkah

supaya berpredikat sebagai duta tapi malah memberikan contoh yang tidak baik,” tegasnya. Ter­pilih sebagai Duta GenRe Bali 2014 menghadirkan kesan sendiri bagi Mita. Selain senang, ia juga tetap bersyukur karena telah diberikan kepercayaan sebagai Duta. Mita sendiri mendapat dukungan dari banyak pihak mulai dari orangtua hingga teman-temannya. Orang­ tua Mita sangat mendukung dan berpesan agar Mita tidak sombong setelah menyadang gelar Duta GenRe 2014. Gadis yang hobi nonton ini melakukan kegiatan sehari-hari biasa seperti mahasiswa lainnya. Mulai dari belajar di kampus dari pukul 07.30 sampai 16.00 dan juga mengerjakan tugas lainnya. “Kuliah seperti biasa. Untuk organisasi ke­ betulan IKM dan BEM tidak ikut, tapi saya sebagai Ketua Asrama disini,” ungkapnya. Mita memang tinggal di asrama selama mengikuti pendidikan di Poltekkes Bali. Menjadi seorang bidan meru­ pakan cita-cita yang didambakan oleh Mita. Ia mengambil jurusan Kebidanan. Ketertarikannya pada dunia kebidanan ia ingin meno­ long perempuan yang mengalami masalah dalam hal kesehatannya. “Karena saya perempuan jadi saya ingin lebih dekat dengan perem­ puan. Salah satu alasannya karena bidang ini berhubungan erat dengan kesehatan,” ucap alumni dari SMA

1 Singaraja ini. Karena berada di dalam lingkungan asrama, tentu saja ia terikat dengan beberapa peraturan dari asramanya. Diantaranya ha­ nya boleh pulang pada hari Sabtu-Minggu. Banyak suka dan duka yang dirasakan oleh Mita selama berada da­ lam lingkungan as­ rama. “Sukanya itu karena merupa­ kan peng­alaman baru berada di lingkungan wa­ nita semua kan berbeda dengan SMA, SMP dan SD yang berada di lingkungan heterogen dimana campur antara wanita dan prianya. Seka­ ligus dapat lebih mengerti tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh wan­ ita. Kalau dukanya sih kebanyakan tugas dan yang pasti jauh dari keluarga,” tuturnya. Setelah lulus nanti, Mita memi­ liki keinginan yang unik untuk pekerjaannya. Berbeda dengan mahasiswa lainnya yang akan memilih untuk bekerja di daerah perkotaan, gadis yang berasal dari Singaraja ini berkeinginan untuk memilih daerah terpencil sebagai lokasinya bekerja. “Saya memiliki keinginan untuk bekerja di daerah terpencil, kalau bisa diluar Bali. Hal ini karena menurut saya pengalamannya jauh lebih banyak dibandingkan di Bali. Ini sih masih keinginan aja ya. Astungkara dapat terpenuhi.”ucapnya. Mita tertarik untuk bekerja di daerah Timur seperti Flores atau Papua karena sebenarnya tugas bidan adalah un­ tuk bekerja di desa sehingga ilmu­ nya lebih dapat diaplikasikan. Walaupun fasilitas di desa masih kurang, Mita berkeinginan untuk memeratakan antara desa dan kota “ Jadi biar gak ada lagi pepatah yang mengatakan yang kaya tetap kaya dan yang miskin tetap miskin. Mungkin ini salah satu bentuk perhatian kecil yang bisa saya berikan, agar di desa juga tidak ketinggalan zaman dengan di kota. Karena semua orang pada dasarnya berhak mendapatkan pelayanan kesehat­ an yang sama rata,” ungkapnya. -Hemma


8

BUNDA & ANANDA

28 APRIL - 4 MEI 2014

Jangan Terlalu Dikekang Jangan Terlalu Dibebaskan

28 APRIL - 4 MEI 2014

Sekolah CIS Bali

Dipersiapkan untuk Lahirkan Generasi Unggul CIS Bali di Badung, Kadisdikpora menyambut baik dan berharap CIS Bali mampu melahirkan tamatantamatan yang bernilai plus juga. “Sesuai visi sekolahnya yang menggunakan kurikulum standar nasional plus, saya berharap tamatannya juga benar-benar plus dan unggul di berbagai bidang, sanggup berkompetisi, berdaya saing dan berkarakter unggul. Saya rasa pengelola CIS Bali sudah lebih paham dengan hal itu,” tambah Widia Astika.

Terjadinya kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak merupakan fenomena gunung es. Hanya beberapa kasus yang muncul di permukaan padahal yang tidak terungkap masih ada. Bagaimana orangtua menjaga anaknya agar tidak menjadi ­korban kekerasan seksual dan bagaimana sikap orangtua yang anaknya menjadi korban pelecehan seksual memerlukan penanganan yang intensif. Hal ini diungkapkan dr. AA Sri Wahyuni, Sp.KJ, Kepala Bagian SMF Psikiatri RS Sanglah.

dr. Sri Wahyuni

“K

asus-kasus pelecehan seksual mungkin tiap hari terjadi tetapi ada yang menganggap ini sebuah aib se­ hingga tidak dilaporkan sehing­ ga kasusnya tidak terungkap. Kadang ada juga yang terungkap setelah berlalu sekian lama. Itupun karena keluarga baru tahu. Pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja, di rumah, di sekolah, di panti asuhan, di tempat bermain,” ujar dr. Yuni. Dari kasus-kasus yang terjadi, anak-anak paling banyak menjadi korban. Hal ini terjadi karena mereka tidak cukup kuat mentalnya sehingga mudah dipengaruhi orang lain. Selain itu, adanya dominasi hubungan, misalnya antara guru-siswa, senior-yunior, pengasuh-anak asuh membuat anak-anak atau yang lebih muda tertekan. Kare­ na berada di posisi yang lemah, anak-anak pun menjadi korban kekerasan seksual. Namun, pelaku kekerasan seksual ini tidak selalu orang dewasa, kare­ na ada juga yang dilakukan teman sebaya. Anak yang diasuh orangtua tunggal maupun anak tunggal juga rentan mengalami ke­ ke­r asan seksual. “Anak yang di­a suh orangtua tunggal kehi­ langan salah satu kasih sayang, bisa kasih ibu atau kasih sayang ayah. Karena kehilangan satu kasih sayang ini mereka jadi rapuh dan mudah goyah sehingga mudah menjadi korban kekerasan seksual. Tetapi, tidak semua anak yang diasuh orangtua tunggal mengalami hal ini. Anak tunggal juga rentan karena mereka jarang bergaul dengan teman-temannya. Dia lebih banyak bergaul de­ ngan teman orangtuanya. Ini membuka peluang terjadinya

pelecehan seksual. Tetapi, ini juga kasusistis. Sekarang tergantung bagai­ mana orangtua bisa memberikan kasih sayang kepada anak dan bagaimana mendampingi anak saat bermain,” imbuh Ketua Lentera Anak Bangsa (LAB) Bali ini. Ia menambahkan tindakan yang termasuk kekerasan seksual antara lain meraba organ sensual, memotret bagian tubuh, menunjukkan potret atau film yang berkaitan dengan bagian tubuh, pemerkosaan, sodomi, dan pedofilia. Untuk menghindari terjadinya kasus-kasus kekerasan seksual terhadap anak, orangtua harus bisa member pemahaman kepada anak-anak siapa orang-orang yang harus diwaspadai. Kadang­ kala orang yang dekat dengan anak bisa melakukan pelecehan seksual juga. Hal ini menurut dr. Yuni karena sekarang banyak orang “sakit”. Hal ini terlihat adanya kasus ayah menghamili anak. Anak yang seharusnya dilindungi malah diancam. Anak perempuan juga jangan terlalu dengan dekat lawan jenis untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Orangtua yang memilih mempekerjakan sopir atau tukang ojek untuk antar jemput anak juga harus waspada. Ingatkan anak-anak untuk berhati-hati. Perusahaan yang berhubungan dengan anak-anak atau sekolah juga harus berhati-hati dalam merekrut karyawan karena lokasi yang banyak anak-anak menjadi salah satu tempat bagi pelaku kekerasan seksual mencari mangsa. “Hal terpenting adalah orangtua jangan terlalu mengekang dan jangan terlalu membebaskan,” ujar dr. Yuni. 90% KELAINAN JIWA Bagi anak-anak yang pernah menjadi korban kekerasan seksual harus segera mendapat penanganan intensif. Orang-

tuanya pun harus mendapat penanganan agar mereka segera pulih. Di negara lain, ada orang yang dulu menjadi korban kemudian bertekad untuk bangkit dari keterpurukan dan menjadi pendamping bagi korban-­korban kekerasan seksual. Tujuannya, mengurangi penderitaan korban sekaligus mengedukasi anakanak lain agar tidak kasusnya tidak menimpa mereka. Bukan tidak mungkin anak yang menjadi korban akan menjadi korban lagi yang dilakukan pelaku lain. “Anak yang menjadi korban kekerasa seksual biasanya meng­ alami depresi sehingga tidak mau sekolah, tidak konsentrasi terhadap pelajaran, bahkan suka membolos. Kalau ini dibiarkan dipendam lama, penanganan menjadi lebih sulit. Rasa cemas, takut dan disosiatif (sering pingsan) bisa menjadi tanda awal anak yang mengalami kekerasan seksual,” ujar dokter spesialis kejiwaan yang sedang menempuh pendidikan S-3 ini. Dari penelitian di Inggris Raya tahun 2012, anak-anak yang pernah mengalami keke­ rasan seksual, 90% diantaranya mengalami gangguan jiwa berat. Untuk menghindari dampak yang parah ini, korban harus mendapat penangan dari tim medis secepatnya. Penanganan

ini juga tergantung bagaimana latar belakang keluarga. Kalau keluarga tertutup, sulit untuk untuk dilakukan terapi. Tetapi, jika keluarga terbuka, penyelesaian atau proses penyembuhan bisa dilakukan dengan maksimal. Korban kekerasan seksual bisa disembuhkan secara kejiwaan tergantung bagaimana dia dikuatkan. “Kasus kekerasan seksual masih terjadi karena penegak­ an hukum tidak tegas. Selain itu, pemerintah tidak memberi perhatian serius bagi para korban. Seharusnya pemerintah menanggung biaya terapi bagi korban. Selama ini sakit hanya diidentikkan dengan sakit fisik sedangkan sakit kejiwaan diabaikan. Inilah yang perlu pemahaman bersama dan sinergi untuk menjaga agar anak-anak tidak menjadi korban kekerasan seksual,” tegas dr. Yuni. Kebebasan saat ini sangat mempengaruhi pola pikir sehingga secara tidak langsung justru terseret arus globalisasi pergaulan dan kebebasn yang tidak menentu atau tidak ter­ kendali. “Kita lihat saja bagaimana pertumbuhan anakanak perempuan saat ini. Dari olah berprilaku, berpakaian, masih ada hal-hal yang harus kita rem sehingga bisa mencetak perempuan yang santun,

berbudi dan beretika. Sebab hal tersebut , jika tidak diperhatikan bakal menjadi salah satu pemicu terjadinya pelecehan seksual pada anak-anak perempuan,” ujar Ni Nyoman Masni, Ketua LPA Bali. Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya pelecehan karena kecendrungan orangtua yang tidak mampu untuk memarahi atau mengendalikan keinginan anaknya, sehingga anak-anaknya terlalu bebas berkembangnya. Beberapa kejadian akibat berkenalan di dunia maya dan berlanjut janjian via telepon untuk ketemuan dan akhirnya semudah itu seorang anak perempuan menyerahkan dirinya. Hal ini lebih banyak terjadi pada kalangan yang ekonominya terbatas atau pas-pasan. Mereka sibuk mencari nafkah jadi tidak punya waktu untuk mendengar ceramah, mendengar berita apalagi membaca. Makanya kebanyakan perempuan korban pelecehan dari kalangan mene­ngah ke bawah. “Saya prihatin dengan mere­ ka yang belum bisa mengendalikan rumah tangga dengan baik, karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi, jadi tidak ada kesempatan berpikir atau menambah ilmu,” tegas peraih predikat Ibu Teladan se-Bali tahun 2005 ini. –Ngurah Budi

17

Gedung CIS Bali

Kehadiran Sekolah CIS (Cerdas Insan Sejahtera) Bali memang dipersiapkan untuk melahirkan generasi unggul. Visi sekolah yang mengedepankan kualitas di atas rata-rata ini, bisa menjadi refe­ rensi orangtua dalam menentukan masa depan anak-anaknya. Harapan masyarakat/orang tua untuk memberikan pendidik­an yang berkualitas bagi anak-anaknya adalah kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Dari waktu ke waktu tuntutan masyarakat ter­h adap pendidikan yang memadai, makin besar. Itu sebabnya Dinas Pendidik­ an Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Badung berharap terhadap pengelola sekolah swasta

untuk terus mening­katkan kualitasnya dalam upaya menyikapi globalisasi saat ini. Kadisdikpora Badung Drs. I Ketut Widia Astika, M.M. meng­ apresiasi kehadiran sekolah swasta yang memiliki standar pendidikan nasional plus. Menurutnya, era globalisasi menuntut sekolah untuk menyiapkan generasi unggul dan siap berkompetisi di berbagai bidang. “Sekolah swasta saat ini memang dituntut untuk mampu memberikan lebih. Mereka harus bisa mencetak generasi unggul dan siap berkompetisi. Jika tidak, akan ditinggalkan masyarakat,” jelasnya. Terhadap keberadaan Sekolah

Siswa sedang belajar komputer

BUKAN PAPAN NAMA Saat ini, lanjut Widia Astika, masyarakat/orang tua sudah cerdas dalam memilih sekolah. Me­ reka tidak lagi berpolemik dalam menentukan sekolah (negeri atau swasta). Bahkan, orangtua yang mapan cenderung menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta meskipun biayanya cukup mahal. Disinilah kiprah sekolah swasta membuktikan kualitasnya. “Sekolah plus haruslah memenuhi kriterianya sebagai sekolah yang benar-benar bernilai plus. Dari luas areal/lahan yang memadai, gedung sekolah yang repre­s entatif hingga fasilitas belajar­-mengajarnya bernilai plus. Lebih lengkap dan berkualitas. Bukan sekadar papan nama yang dipajang hanya untuk menarik minat masyarakat,” tutur Widia Astika mengingatkan.

Drs. I Ketut Widia Astika, M.M.

berkualitas global. Sekolah ini menjamin tamatannya menjadi generasi siap berkompetisi, berkarakter, cerdas dan unggul. Sekolah CIS Bali berlokasi di Perum Dalung Permai, Jln. Bhineka Nusa Kangin1-X Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali. Sekolah ini berada di kawasan cukup strategis, mudah dijangkau dan dekat dengan fasilitas umum. CIS Bali adalah sekolah terintegrasi yang terdiri PG (Play Group), TK (A dan B), SD, SMP dan SMA serta Program Diploma (D1 dan D2) Pariwisata. CIS Bali ada-

KUALITAS GLOBAL CIS Bali adalah sekolah yang dirancang sebagai sekolah masa depan demi memenuhi tuntutan masyarakat terhadap pendidikan

lah sekolah bilingual yang tetap mengedepankan kearifan lokal. Sekolah CIS Bali berdiri di atas lahan seluas 4.200 m2 terdiri empat (4) lantai. Lantai I terdiri dari 12 ruangan termasuk ruang kelas (untuk PG, TK dan SD), ruang komputer, perpustakaan, ruang guru, ruang bermain (untuk PG, TK), ruang administrasi, dll. Di lantai II terdiri dari 12 ruangan untuk kegiatan belajar-mengajar siswa SMP (termasuk ruang laboratorium) dan lantai III untuk kegiatan belajar siswa SMA dan kegiatan perkuliahan maha­siswa D1-D2 Pariwisata. Lantai IV ber­u pa ruang­an terbuka serba guna. Selain gedung dan kelas, CIS Bali bakal dilengkapi juga dengan kantin, kolam renang, klinik, kope­ rasi, lapangan basket/futsal bahkan ruang berkesenian (band, gamelan, dll.) untuk mendukung sarana eks­ trakurikuler siswa. Fasilitas sekolah tersedia lengkap dan terbaru. Tahun ajaran baru 20142015, Sekolah CIS Bali menerima pendaftaran siswa baru. Pendaftaran dimulai 1 Januari 2014-31 Juni 2014. Mendaftar pada Januari 2014 mendapatkan potongan biaya 25%, Februari 20%, Maret 15%, April 10% dan Mei 5% dari uang pembangunan dan SPP satu (1) bulan.

Sekolah CIS Bali - Alamat: Perum Dalung Permai, Jln. Bhineka Nusa Kangin1-X Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali. - Tlp/Faks: (0361) 4012333, 8052666 - Website: www.cis.school.bali.com - Email: info@cis.school.bali.com dan cis.school.bali@gmail.com

Para siswa saat pentas dalam suatu acara

Waiter

www.nonstop-online.com

House keeping

Ekstrakurikuler renang

Karyawan Front Office Bali Tulip Hotel & Restaurant


D AYA C I P TA

18

Kreatif Olah Sampah

Sampah masih saja menjadi permasalahan yang dihadapi negara ini. Kurangnya ke­pedulian masingmasing individu pemicu belum terselesaikannya masalah ini. Berbagai upaya dilakukan untuk me­ ngelola sampah. Salah satunya membuat barang bermanfaat dari barang bekas.

Catur Yudha Hariani

P

PLH (Pusat Pen­ didikan Lingkungan Hidup) Bali meru­ pakan organisasi yang dibentuk oleh para pemer­ hati lingkungan yang memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap ling­ kungan. Saat ini terdapat 4 cabang PPLH yang tersebar di Indonesia. Salah satunya ada di Bali. PPLH Bali mulai dirintis tahun 1996 dan resmi berdiri tahun 1997. Catur Yudha Hariani, Direktur PPLH Bali menuturkan berdirinya di Bali merupakan perkembangan dari PPLH Seloliman yang be­ rada di Jawa Timur. Dua cabang

lainnya ada di Makassar (PPLH Puntondo) dan Sumatera Utara (PPLH Bohorok). “Melalui wadah inilah kami memberikan edukasi guna meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai lingkungan,” ujar perempuan yang akrab disapa Catur ini. Program di Bali diawali dengan mengikutsertakan para guru, lalu diberikan pelatihan menyangkut berbagai aspek lingkungan hidup. Perkumpulan guru ini kemudian diberi nama SGPL (Sekaa Guru Peduli Lingkungan). Berbaren­ gan dengan itu dibentuk pula ‘Green Team’ yang mewadahi kegiatan peduli lingkungan untuk anak muda serta DCG (Denpasar Clean & Green) Berlians, kelompok masyarakat peduli lingkungan. “Sebesar apapun usaha kita untuk mengatasi masalah sampah jika tidak dibarengi oleh kepedu­ lian dan aksi nyata dari setiap masyarakat, usaha akan sulit ber­ hasil,” tandasnya. Aksi nyata yang diwujudkan melalui program peduli lingkungan yang tidak hanya mem­

bantu mengatasi per­ soalan sampah tetapi juga menguntungkan dari segi ekonomi. Aksi tersebut yakni peman­ faatan sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis. Sampah berupa kertas bekas, sachet makanan dan minuman, gelas plas­ tik, botol plastik dan lain-lain. Catur menjelas­ kan bahwa sampahsa mpa h terseb ut berasal dari bank sampah yang men­ jual sampah kum­ pulannya ke PPLH Bali. Masyarakat khususnya dalam ru­ mah tangga dapat ikut berperan dengan memilah sampah yang bernilai guna ke­ mudian disalurkan ke bank sampah yang ada di wilayahnya. Tidak cukup bahan dari barang bekas. Dibutuhkan pula alat seperti

gunting, cutter serta mesin jahit. Aksesori pula ditambahkan seper­ ti tali, retsluiting, dan busa agar produk tampak lebih menarik dan nyaman. Proses pembuatan dari barang

bekas menurut Catur gampanggampang susah. Susahnya yaitu dalam mengolah agar label pada kemasan tidak terlihat. “Masih

sangat perlu belajar dalam hal mendesain,” tambahnya. Proses pengolahan bisa dengan dijahit, dianyam maupun dirajut. Yang terpenting pula cara memotong bahan dari barang bekas harus rapi dan bersih. “Meniru pembuatan­ nya tidak susah asal sudah niat pasti bisa dan orang yang memang hobi pasti tidak akan bosan,” ucapnya. Berbagai kreasi produk pun tercipta dari olahan sampah tersebut. Seperti ko­ tak pensil, tas, dompet, vas bunga, celemek, pembatas buku, dan lainnya. Bentuk dan coraknya unik. Har­ ga berkisar dari Rp 5 ribu sampai Rp 80.000, tergantung dari barang pe­ sanan konsumen. Harga produk ter­ gantung dari ting­ kat kerumitan dan waktu penger­ jaannya. Keun­ tungan dari pen­ jualan barang– barang keraji­nan tersebut akan dibagikan kepada pengrajin serta digunakan untuk ke­langsungan or­ ganisasinya sendiri. Adanya pesanan dari konsumen membuat Catur makin termotivasi untuk mengerjakannya dengan cepat. Khusus di PPLH sendiri ter­ dapat 4 orang pekerja aktif. Tidak hanya itu orang-orang dalam forum DCG juga turut berperan. Mereka biasanya menitipkan hasil produk buatannya ke PPLH untuk kemudian dipasarkan. Pemasaran dilakukan melalui outlet Fair Trade Indonesia, ikut dalam pameran lingkungan seperti Denpasar Fes­ tival dan Sanur Village Festival serta melalui jejaring sosial seperti Facebook. Catur berpesan agar masyarakat makin sadar terhadap pentingnya menjaga lingkungan, karena jika lingkungan rusak kar­ ena ulah kita, kita jugalah yang akan rugi karena kerusakan itu. -Ari

Mindset Seorang Drug-Free Fitnessmania (5-habis) Mindset #4: Tiap hari saya ingin menjadi yang terbaik dari diri saya (The Best of Myself) dan untuk itu saya berikan diri saya pengerahan upaya yang terbaik. Fitnessmania natural menyadari meskipun ia memi­ liki idola, ia tidak ingin menjadi idolanya. Ia memiliki pengertian yang jelas akan siapa jati dirinya. Ia hanya mengukur keberhasilan dari apa yang bisa ia capai melalui usaha terbaiknya, bukan melalui apa yang orang lain nilai atau komentar atas dirinya. Baginya, diri sendiri adalah kritik yang paling pedas, dan kritikan ini ia berikan lagi kepada dirinya setiap hari agar bisa lebih baik dari hari sebelumnya. Baginya, setiap hari adalah sangat berharga karena ia kembali diberikan satu kesempatan lagi untuk men­ jadi yang terbaik, untuk menang. Ya, baginya kemena­ ngan tidak diukur dari berapa banyak orang yang ia ka­

lahkan. Baginya, ia hanya perlu me­ngalahkan 1 orang dan orang tersebut adalah dirinya sendiri. Baginya, menjadi lebih baik dari orang lain adalah hal yang tidak penting. Toh kesempatan mengalahkan orang lain hanya datang kalau ada kesempatan berkompetisi. Dengan dirinya sendiri, ia berkompetisi tiap hari dan selalu mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menang setiap harinya. Kalaupun tiba saatnya berkompetisi dan pemilik mindset natural ini ha­ rus kalah, baginya tidak masalah, karena selama ia sudah tampil lebih baik dari dirinya yang terbaik sebelumnya, ia sudah merasa menang. Mindset keliru berpikir sebaliknya. Baginya, menang berarti mengalahkan orang lain. Menggunakan steroids atau obat-obatan untuk meningkatkan performa adalah bukti keberanian dirinya untuk menempuh segala cara agar bisa menang. Mindset keliru mengidentifikasi orang yang tidak mau memakai steroids sebagai penakut. Dengan demikian ia mengkonfirmasikan dirinya lebih superior daripada mereka yang memilih untuk natural. Keberanian, baginya merupakan suatu kualitas diri yang patut dibanggakan. Ia belum menyadari bahwa keberanian menggunakan

28 april - 4 mei 2014

28 april - 4 mei 2014

obat-obatan pemacu performa (dengan mempertaruh­ kan kesehat­an seumur hidupnya) demi mengejar sebuah prestasi dengan cara yang curang adalah keberanian yang semu. Keberanian ini tidak akan diingat, dan mungkin hanya akan dipuji oleh sekelompok kecil orang yang memiliki mindset yang sama. Sehingga ia hanya merasa atau men­ jadi signifikan dalam dunia kecilnya. Di mata dunia yang sejati dan lebih luas, dirinya layaknya petarung bersen­ jata di ajang pertarungan tangan kosong. Kalaupun ia bertarung di ajang yang tepat, di mana semua pe­tarung juga menggunakan senjata, ia senantiasa akan diseli­ muti ketidak­adilan saat kalah menyalahkan musuhnya mengguna­kan senjata yang lebih besar dan lebih lengkap. Hidup, pada akhirnya adalah pilihan. Membuat pilihan sebaiknya diawali oleh suatu pemikiran yang matang dan sehat. “Makin kita belajar, makin kita menyadari kita tidak mengetahui apa-apa, di saat itulah kita makin hidup ka­ rena kita akan tumbuh dari makin banyak pembelajaran. Makin kita tidak belajar, makin kita akan merasa telah mengetahui segalanya, dan di saat itulah kita telah ber­ henti hidup karena kita sudah tidak tumbuh akibat tidak adanya pembelajaran baru.”

l i f e s to ry

7

Persembahan Spektakuler Brahma Kunta untuk “Bali Sehat” “Pejamkan mata, luruskan tangan kanan ke depan,” ujar Guru Mangku Hipno yang bernama lengkap GMH. KG Suatma Yasa S.H., CH., CHt., MNNLP kepada orang yang ada di depannya. Pria yang akrab dipanggil Guru Mangku ini lalu membaca mantra sembari memutar tangannya seperti memberikan energi. Tak lama kemudian, ia mengambil parang dan menebas tangan kanan orang itu. Luar biasa…tangan itu tidak terluka.

Guru Mangku Hipno sedang membaca garis tangan

O

rang yang di­tebas itu hanya ter­ bengong karena tangannya tidak apa-apa. Kemudian, ia diberi lagi energi. Transfer energi dari Guru Mangku ini dipakai un­ tuk menghipnosis orang kedua. Orang yang dihipnosis itu dalam hitungan detik tertidur. Ketika diperintahkan angkat tangan, dia angkat tangan. Semua perintah dituruti termasuk perintah untuk kembali sampai orang kedua itu kembali sadar. “Orang Bali punya kelebi­ han yang membuat Bali men­ jadi bercahaya di mata dunia dan kaum spiritualis. Sejak lahir orang Bali yang beragama Hindu sudah bersemayam sembilan dewata dalam dirinya atau Dewata Nawa Sanga. Kekuatan ini kemudian memvibrasi orang-orang yang tinggal di Bali,” ujar Guru Mangku. Kekuatan sembilan dewata itu antara lain Dewa Brahma di tulang ekor, Dewa Wisnu di kemaluan,

Dewa Rudra di pusar, Dewa Iswara di ulu hati, Dewa Ma­ heswara di kerongkongan, Dewa Mahadewa di kening, Dewa Siwa di ubun-ubun, Dewa Sambhu di telinga kanan, dan Dewa Sang­ kara di telinga kiri. Jika semua ini diaktivasi, manusia Bali akan memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Proses aktivasi ini tidak me­ merlukan waktu lama. Kalau sudah aktif, akan memancarkan aura yang luar biasa sehingga orang akan lebih berbuat baik atau melakukan hal-hal positif. Proses aktivasi ini bisa diapatkan dengan mengikuti workshop spek­ takuler “Bali Sehat” yang diadakan Minggu (4/5) di Gedung PWI Bali pukul 15.00-17.00. Workshop spektakuler berupa pelatihan dan penyembuhan su­ per cepat oleh diri sendiri dengan metode hipnotherapi prana (body, mind soul refresh) dipimpin Guru Mangku sebagai putra Bali untuk orang Bali dengan ilmu Bali mo­

Guru Mangku memberikan motivasi bagi peserta workshop

dern. “Ini merupakan persem­ bahan spektakuler Brahma Kunta untuk “Bali Sehat”. Dalam workshop kami akan mengguncang, menggebrak, menggoyang kuat, penyakit tubuh, pikiran dan peras­ aan hingga tersembuhkan,” ujarnya. Selama ini workshop lebih banyak dilakukan orang luar Bali, selesai workshop mereka pergi. Tetapi, kalau dilakukan oleh orang Bali, se­ lesai workshop mereka masih bisa saling berkomunikasi karena berada di Bali. Hal ini dibuktikan Guru Mangku yang sudah menggelar workshop serupa diikuti 150 orang peserta pada 18 April 2014 di Gedung Nari Graha dan ada peserta yang meminta kem­ bali diadakan karena telah membuktikan hasilnya secara langsung. Karena itulah dige­ lar lagi di Gedung PWI Bali di Lumintang, Denpasar dengan biaya Rp 250 ribu per orang. Selain pelatihan untuk meng­ aktifkan 9 titik cahaya itu, peserta akan diajak melakukan penyem­ buhan psikosomatis (penyakit aki­ bat salah olah rasa dan olah pikir). Ada 13 penyakit yang sebabkan oleh salah olah rasa dan olah pikir ini, depresi, stres, gangguan pencernaan, nyeri punggung, in­ somnia, gangguan tulang belakang bagian bawah, ginjal, dispepsia, hepatitis, penurunan kekebalan tubuh, diabetes, dimensia senelis, dan leukemia. “Semua penyakit ini akan disembuh­kan dengan hipnosis Bali yang memakai kekuatan mantra dan energi atau sihir vedik hanya dalam waktu 10 menit. Berbeda dengan hipnosis modern yang memerlukan waktu lebih lama karena ada proses komunikasi antara orang yang melakukan hipnosis dengan yang dihipnosis. Kadang orang salah menafsir­ kan hipnosis sebagai gendam. Kalau digunakan untuk hal-hal negatif namanya gendam. Tetapi, saya mengingatkan hipnosis yang dipelajari ini hanya untuk kebaik­ an, untuk penyembuhan diri dan pengembangan diri ke arah positif,” tegas pria kelahiran Singa­ raja, 18 Februari 1967 ini. Ia menjelaskan dalam kondisi sadar, proses penyembuhan pe­ nyakit mencapai 12% tetapi jika dilakukan di alam bawah sadar, penyembuhan bisa mencapai 88%. Hal ini sering dibuktikan Guru Mangku melalui penuturan orang-orang yang sembuh. Ada orang yang pilek bertahun-tahun, setelah mengikuti workshop men­ jadi sembuh. Ada istri yang hubun­ gannya tidak harmonis dengan suaminya, hampir 5 tahun mereka selalu cekcok. Tetapi, sete­lah mengikuti ­workshop, perempuan bisa mengatasi emosinya dan hubungan dengan sang suami rukun kembali.

Guru Mangku mengatakan setelah aktivasi dilakukan, peserta akan diajak membuktikan energi itu ada dan dapat dirasakan. Kare­ na itu ia menegaskan hipnosis Bali itu ilmu praktis dan bukan teoritis. Setelah workshop, pe­ serta akan mendapat keuntungan karena bisa membuka jalan untuk sukses, sehat, harta berlimpah, penuh kasih sayang, dan bahagia. Kebiasaan buruk bisa dihilangkan. Inspirasi kecerdasan terbuka karena pikiran menjadi fokus dan intuisi tajam. Peserta juga bisa mendapatkan imunitas terhadap penyakit, black magic, dan yang terpenting mengetahui rahasia penyembuhan diri sendiri. Ia juga memaparkan tentang metode By Said yang diper­ kenalkan komunitas Brahma Kunta ini. “By artinya bayu, Sa artinya Sabda, Id artinya Idep. Jadi kami menghidupkan bayu,

sabda, dan idep dari orang agar menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Ke depan, ini yang akan banyak diperlukan karena mudah dipelajari dan praktis. Efeknya juga bisa langsung dirasakan. Ini meru­ pakan ilmu warisan nenek moyang,” tegas suami AA Sg. Inten, SE, CH.,CHt., MNNLP ini. Brahma Kunta Supranatural dan Spiritual Modern Center merupakan pusat pembelajaran dan pelatihan spiritual, penyem­ buhan, pembentukan karakter, hipnotherapi dan prana. Guru Mangku yang juga founder Brahma Kunta, pa­ kar prana dan hipnotherapi, motivator spiritual, professional healer, instruktur medi­ tasi trancedental dan ilmu palmistry (garis tangan) dan metafisika berharap program ini bisa dikerjasamakan dengan instansi pemerintah agar PNS bisa semangat, sehat, dan cerdas, dengan perusahaan swasta agar karyawan berprestasi dan se­ mangat, dan dengan sekolah agar siswa menjadi lebih focus belajar, berkarakter, dan se­mangat juga. Bagi peserta yang berminat untuk mengikuti workshop bisa menghubungi center Brahma Kunta Supranatural dan Spiri­ tual di Perumahan Gunung Sari Indah, Jln Tukad Buana 1 no 61 Kebo Iwa Utara, Denpasar. “Pada akhirnya workshop ini akan membawa peserta kearah lebih baik karena kebiasaan buruk akan dinetralisir dan segala potensi diri akan dimaksimalkan. Ingat, hanya orang uang bertindak dan mampu berubahlah yang akan keluar se­ bagai pemenang. Perubahan dan tindakan nyata adalah rasa syukur yang paling murni dari seorang manusia,” kata Guru Mangku Hipno. –wah

Suasana workshop yang dipimpin Guru Mangku Hipno


6

l i f e s to ry

Buka Mata hanya Empat Jam Tidak pernah dibayangkan pasangan Ni Wayan Satya Murni dan Wayan Suparma Sudiatmika jika anak laki-laki pertama dan satu-satunya, Rio (7) mengalami lumpuh saraf. Dua tahun awal pertumbuhannya Rio sangat normal. Bahkan ia sudah bisa bicara dan berdiri. Namun suatu malam, Rio mengalami panas tinggi dan kejang-kejang. Sejak saat itu Rio terus menerus mengalami kondisi tersebut sehingga harus keluar masuk RS. Selama lima tahun, Rio pulang balik RSUD Karangasem. Ia meng­ habiskan pertumbuhannya dengan dirawat inap di RSUD Karangasem.

M

urni menuturkan anaknya paling lama dirawat di RSUD Karang­ asem selama sebulan. Diper­ bolehkan pulang dan setelah se­minggu kembali balik ke RS untuk mendapatkan perawatan. ‘’Paling lama seminggu di rumah. Setelah itu kejang dan panasnya kumat lagi,’’ ungkapnya. Rio didiagnosa menderita cerebral parsi atau kecacatan di otak sehingga ia mengalami lum­ puh. Pada awalnya, Rio masih bisa

duduk, makan dan mengambil barang sendiri. Ia juga masih bisa mengenali orang-orang. Namun, seiring perjalanan waktu, Rio menjadi lumpuh total. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur sambil memandang kosong ke depan. Keterbatasan ekonomi membuat Rio tidak bisa dibawa ke RS Sanglah. Sampai akhirnya, kondisi Rio diketahui media massa sehingga banyak bantuan datang. Melihat kondisi Rio yang tidak membaik juga pihak dokter di RSUD Karangasem kemudian

merujuk ke RS Sanglah. Rio dirawat di RS Sanglah sejak Kamis (10/4). Ia men­ jalani pemeriksaan gelom­ bang otak untuk mengetahui kondisinya secara pasti. “Dari hasil pemeriksaan, gelombang otak Rio memperlihatkan kondisi yang abnormal. Kon­ disi ini tentu mengkhawatir­ kan kami,” ujar Murni. Dari pemeriksaan gelombang otak tersebut, kemungkinan Rio untuk kembali normal su­ dah tertutup. “Kata dokter dengan kondisi ini, anak saya tidak bisa kembali normal,” ujarnya sedih. Saat ditemui di ruang Jem­ piring kamar 3, Rio tampak tertidur pulas. Sesekali badan­ nya mengejang jika ia men­ dengar suara atau dipegang. Dari luar, Rio tampak seperti anak yang normal. Namun, jika anaknya bangun tatapan­ nya kosong dan hanya menuju satu arah. Ia juga sudah tidak bisa mengenali siapapun dan hanya bisa berbaring tanpa bergerak kecuali dibantu. Karena tidak bisa makan den­ gan normal, selama delapan bulan ini Rio hanya minum susu melalui sonde atau selang yang

dimasukkan lewat hidung yang tersambung ke lambung. Untuk itu Murni harus rutin memberi­ kan Rio susu setidaknya dua jam

sekali. Untuk kencing maupun BAB, Rio melakukannya tanpa sadar. Bahkan sejak beberapa hari lalu Rio tidak bisa kenc­ ing sendiri sehingga harus dipasang kateter. “Perutnya kembung karena tidak bisa kencing. Makanya dipasang kateter,” tutur Murni. Sejak lumpuh total selama delapan bulan ini Rio juga sama sekali tidak menangis meski badannya ditusuk jar­ um infus maupun jarum suntik berkali-kali. Meski kemung­ kinan untuk normal sudah tidak bisa lagi, tetapi Murni berharap agar kondisi Rio bisa lebih baik. “Setidaknya tidak terus berbaring tak bergerak seperti ini,” harapnya. Rio sendiri sudah diterapi untuk merangsang refleks geraknya, namun hingga saat ini belum menunjukkan hasil. Anak yang seharusnya duduk di kelas 1 SD ini tetap tidak bergerak dan menghabiskan waktu di tempat tidur. Menu­ rut Murni, jika anaknya diberi obat antikejang bisa seharian tidak bangun. Dalam sehari Rio membuka mata hanya sekitar empat jam, selebihnya dihabiskan untuk tidur. -Wira

S U D U T PA N D A N G

28 april- 4 mei 2014

28 april - 4 mei 2014

19

Perjuangan Perempuan di Politik

Sekarang Menanam, Nanti Memetik Perjuangan para perempuan ke kancah politik dipenuhi berbagai kisah manis dan sedih. Ada yang lolos dan ada yang gagal. Yang lolos ingin terus berjuang untuk perempuan dan anak. Sementara yang gagal, merasa mendapatkan pembelajaran politik luar biasa. Mereka miris dengan sikap pragmatis masyarakat. Berikut penuturan, Utami Dwi Suryadi, Sumiati, Evi Lestari, dan Fania Yulianthi.

U

tami Dwi Surya­ di, petahana yang kembali lolos se­ bagai anggota DPRD Provinsi Bali mengatakan, ke depan, ia akan melanjutkan pro­ gram yang belum selesai pada pe­ riode sebelumnya, seperti Raperda Anak. Ia menyatakan, akan lebih fokus pada persoalan perempuan dan anak, agama, adat, dan budaya sesuai dengan tugasnya di komisi IV. Untuk pendekatan ke masyarakat, wakil dari Partai Demokrat ini me­ ngatakan, akan lebih ditingkatkan. Melihat pelaksanaan Pemilu 2014, ia mengaku kaget, karena banyak masyarakat yang notabene tinggal di perkotaan masih saja bersikap pragmatis. “Mereka hanya berpikir, apa yang bisa diberikan para caleg saat itu, kalau mereka memilihnya. Mereka tidak melihat, bagaimana kinerja anggota DPRD selama lima tahun,” ujar Utami. Ni Made Sumiati, petahana dari Partai PDI Perjuangan yang juga kembali lolos berkantor di DPRD Bali, mengatakan, akan terus berjuang dengan Sumiati Center. Ia mengatakan, memiliki sembilan program inti yang sudah terlak­ sana selama ini. Ke depan, akan ditambahkan dua poin. Pertama, gerakan tani dan nelayan. Kedua,

Sumiati

Fanina Yulianthi

Metta Dewinta

Utami Dwi Suryadi

pemberdayaan wanita perdesaan untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan. “Untuk home industry perempuan, seperti pembuat jaja begina dan minyak kelapa ini perlu harus didukung dengan modal. Kami bisa ambilkan modal yang tidak perlu dikembalikan seperti modal instan dan bansos. Begitu juga, home industry laki-laki peng­ rajin arak tradisional. Dengan adanya perda minuman beralkohol tradisional Bali, yang kebetulan saya ketua pansusnya. Mengapa sampai sekarang belum efektif dan masih banyak pengrajin diciduk pertugas kepolisian. Ke depan akan saya efektifkan,” kata Sumiati. Pengalaman melalui rangkaian pemilu diungkapkan Putu Metta Dewinta Wandy. Awalnya ia merasa terpaksa demi melengkapi kuota 30% perempuan. “Tetapi, setelah berjalannya proses, mulai dari ikut rapat-rapat dan kegiatan partai, saya mulai suka politik. Saya merasa apa yang saya pelajari di S-1 dan sekarang di S-2 nyambung dengan bidang ini. Saya bisa klo begini,” ungkap mahasiswi Program Magis­ ter S-2 Ilmu Hukum Universitas Udayana ini. Metta melakukan pendekatan mulai dari orang-orang yang pa­ling terdekat, yakni keluarga besar, kemudian banjar, dan melakukan pendekatan ke ibu-ibu yang ter­ gabung dalam kegiatan PKK serta posyandu. Yang tidak kalah penting, Metta juga berkomunikasi dengan seka teruna di beberapa banjar di Dentim untuk mendulang suara. “Seka teruna merupakan wadah generasi muda yang berpandangan terbuka, dan tidak meremehkan saya. Mungkin karena sama-sama

muda, jadi mereka mendukung kaum muda. Melalui seka teruna inilah saya menjelaskan niat saya, dan meminta bantuan dari seka teruna untuk meneruskan kepada konstituen saya, mengapa harus memilih saya,” ujar Metta. Begitu tahu suara yang diraih hingga 3.000 lebih Metta dan timnya senang karena perjuangan mere­ka bersama konstituen selama ini berhasil. Dari sekian caleg ternyata, Metta dipercaya bisa mewakili masyarakat Dentim untuk duduk di kursi DPRD Kota Denpasar. Ia pun menjadi satu-satunya perempuan di komposisi DPRD Kota Denpasar periode 2014-2019. “Sebagai satu-satunya perem­ puan yang lolos, pertama tentunya saya akan memperhatikan konstit­ uen saya, ibu-ibu dan seka teruna selaku generasi muda. Itu yang akan menjadi fokus saya, di samping saya juga ingin memperhatikan masalah hukum, sebab ini cocok dengan bidang keilmuan saya,” tegasnya. Metta berharap kaum perem­ puan agar bangkit dan berkarya. Sesungguhnya sudah banyak kesem­patan yang diberikan untuk perempuan berkarya. Pemberian kuota 30% itu misalnya, meskipun diawal merasa kurang sreg untuk masuk politik tapi ia mencoba dan berhasil. “Kalaupun tidak berhasil, saya memperoleh kesempatan baru untuk mencoba hal baru dan memiliki banyak teman. Daripada dari awal sudah memvonis diri tidak bisa, lebih baik mencoba bagaimana pun hasilnya nanti,” ujar Metta.

dalam Pemilu 2014 mengaku santai saja. “Sebagai bendahara partai, saya kalau tidak ikut nyaleg kan lucu. Dengan berjalannya waktu, semakin banyak kesibukan saya sebagai ibu yang harus mengantar anak-anak sekolah, akhirnya saya berpikir. Toh, Bapak sudah nyaleg juga, ya saya yang mundur. Ini se­ mua murni keinginan saya bukan atas saran Bapak,” ujar istri Pasek Suardika ini. Ia menuturkan, walaupun tiga kali pertemuan masimakrama di Denpasar Barat, suara untuk Evi tembus 1.000-an. Itu bagi Evi sangat luar biasa karena hanya dengan tiga kali pertemuan. Ke depan, ia belum memastikan apakah terus berpolitik atau berhenti. “Saat ini konsentrasi sebagai ibu rumah tangga dulu,” kata Evi. Lain lagi cerita Fanina Yulianthi, caleg Demokrat yang gagal ke DPRD Bali. Menurutnya, sebagai pendatang baru pengalaman menjadi caleg sa­ngat berwarna. “Di tengah masyarakat yang mulai sangat pragmatis saya masih berdiri idealis, karena saya tidak ingin menodai demokrasi de­ ngan cara yang tidak santun. Tawaran money politic dari berbagai pihak sangat kuat di saat saya berjuang, tapi saya lebih memilih pendekatan yang tidak merusak moral masyarakat dan ingin lolos menjadi DPRD dengan terhormat,” ujar putri Tutik Kusuma Wardhani, anggota DPRD Bali pe­ riode 2009-2014 ini. Ke depan, ia kembali fokus pada perusahaannya, dan tak kapok untuk berpolitik. Usianya masih terbilang muda. Ia mengatakan, masih banyak cara un­ tuk membantu masyarakat bisa lewat safari kesehatan yang sudah selama ini ia lakukan.

Dari pengamatan Ni Nyoman Masni, pendiri Kaukus Perempuan Politik, ia bangga karena caleg-caleg perempuan bermunculan. Terlepas dari profesional atau tidaknya mere­ ka. Yang penting ada keberanian tampil dan unjuk gigi di ajang politik, untuk berpolitik praktis. “Sebagai kader yang lebih tua saya berharap, seandainya belum lolos pada pemilu ini, bukan berarti perempuan harus diam. Bagaikan tanaman, sekarang kita menanam mungkin memetiknya bukan seka­ rang tapi nanti,” tegas pensiunan jaksa ini. Masni berharap agar kader perempuan ini belajar mencermati apa yang dialami dan diperoleh pada pemilu bisa dijadikan tolok ukur untuk ke depannya. Apa yang harus dilakukan lebih baik dan lebih ber­ strategi dari yang sudah. “Yang penting, jika ingin maju ke pileg mendatang apa yang sudah dilakukan hari ini terus dibina dan dievaluasi sehingga tidak ada istilah kader karbitan atau instan. Kuncinya atau modalnya adalah ada kemauan, semangat, ketekunan, dan konsis­ tensi,” ujar perempuan yang juga Ketua LPA Bali ini. Jika ada kemauan dibumbui se­ mangat yang tinggi untuk berjuang dan tekun menghadapi pasti akan ada hasilnya. Selain itu, konsisten melakukan kegiatan kepartaian. Jangan karena tidak dapat sekarang terus ngambul, menjelang pemilu berikutnya baru muncul lagi. Khusus untuk DPD, ia ber­ pesan, dari sekarang harus pelajari apa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat. Apa kepentingan daerah untuk disuarakan nantinya harus diketahui calon. –Tim Tokoh

JANGAN NGAMBUL Sementara itu, Evi Lestari, caleg dari Partai Demokrat yang gagal


20

NINE

28 APRIL - 4 MEI 2014

Baiq Eva N. Parangan

BKBPP Tempat Curhat Remaja Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk memimpin sebuah in­ stitusi yang sama. Dibutuhkan kreativitas lebih dari pemimpin itu untuk dapat “membunuh” kejenuhan berada di tempat yang sama dalam satu dasawarsa. Namun, tentu tidak hanya itu alasannya. Melainkan juga dibu­ tuhkan keikhlasan dalam menjalankan tugas yang telah diamanahkan itu.

H

al itulah yang kini te­ ngah dijalani dra. Baiq Eva N. Parangan, M.Si., Kepala Badan Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan (BKBPP) Lombok Barat. Sejak tahun 2004, mantan Camat Gerung (1999-2003) telah memimpin institusi yang berkaitan dengan ke­ luarga berencana, perempuan dan anak ini. Ia hanya sempat pindah tugas selama satu tahun yaitu pada tahun 2009, ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Lombok Barat. Namun kemu­ dian, kembali lagi ke BKBPP yang dulu bernama BKBKS (Badan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera) Lombok Barat. Saking lamanya di BKBPP, Eva mengaku sudah kebal mendengar tiap kali mutasi dilakukan. Ia siap ditempatkan di mana saja ter­ masuk tetap di tempatnya saat ini. Selama 10 tahun itu, dinamika birokrasi Lombok Barat terus ber­ putar. Setidaknya telah terjadi tiga kali pergantian Bupati Lombok Barat dan tiga kali pula institusi ini berganti nomenklatur (dari BKKBN, BKBKS hingga BKBPP). Bisa dibilang, saat ini ia adalah Pimpinan Badan terlama di Lombok Barat. “Syukurnya saya tidak bosan dan tetap bisa menikmati tugas ini,” ungkap perempuan kelahiran 15 Mei 1962 ini. Hal ini tentu saja karena ia termasuk perempuan yang aktif dan tidak bisa diam. Selalu ada saja yang dikerjakannya untuk menghidupkan suasana kerja baik di kantor maupun di lapangan. Untuk urusan pekerjaan, Eva tampaknya lebih banyak turun ke lapangan ketimbang diam di kantor. Satu hari di kantor dan empat hari di lapangan. Eva rajin turun lapangan karena tuntutan tugas yang baginya meng­ haruskan ia untuk banyak bertemu dengan masyarakat. “BKBPP tidak melulu mengurus soal kontrasepsi melainkan jauh lebih luas dari pada itu, seperti pendewasaan usia pernikahan, masalah kesehatan reproduksi dan lainnya,” katanya. Untuk dua hal ini, ia keluar masuk sekolah di Lombok Barat untuk bertemu, berdialog hingga mendengarkan curhat para remaja berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan permasalahan lain yang mereka alami. Selain itu, ia juga selalu melakukan pendekatan dengan masyarakat berdialog tentang ketah­ anan keluarga. Tugas yang didukung penuh oleh seluruh stafnya ini berupa­ ya memberdayakan para perempuan dalam peningkatan ekonomi keluarga melalui kelompok UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera). Eva mengaku sangat menikmati tugas tersebut juga karena menda­ patkan banyak pengalaman khususnya dalam hal pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Selain sebagai tempat curhat para remaja, Eva juga rupanya menjadi tempat curhat para perempuan yang mengalami KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). “Dari berbagai permasalahan yang dikeluhkan para remaja dan ibu-ibu, saya bisa mengambil hikmahnya dan saya bisa terus berpikir untuk men­

dra. Baiq Eva N. Parangan, M.Si.

carikan jalan keluar terbaik untuk masalah yang dihadapi,” katanya. Itu artinya secara tidak langsung, masalah mereka membuatnya berupaya keras untuk mencarikan jalan keluar. “Bahagia sekali jika bisa menda­ maikan pasangan yang bahkan hampir bercerai menjadi rukun kembali,” katanya. Menjadi tempat curhat bagi remaja dan ibu-ibu bukan tanpa alasan melainkan karena rajinnya ia turun lapangan untuk tugas pelayanan KB keliling, melakukan pembinaan ke­ luarga hingga menyeleng­ garakan berbagai lomba di desa-desa, membuat ia dikenal masyarakat. Kon­ seling seperti ini biasanya dilakukan di Pusat Pelayan­ an Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), yang memiliki 57 orang konselor. “Ka­ lau ada yang mengadu permasalahannya, segera kami koordinasikan de­ ngan P2TP2A yang memi­ liki psikolog,” kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lombok Barat ini. Munculnya kebera­ nian berkonsultasi tentang masalah perempuan dan anak di Lombok Barat, tidak lepas dari gencarnya sosialisasi yang dilakukan BKBPP Lombok Barat selama 10 tahun terakhir. Ia menikmati tugasnya ini meski 10 tahun tak bergeser lebih karena ia “setia” pada janji pengantar tugasnya. “Saat dulu saya melamar pekerjaan ini, saya telah menyatakan ber­ sedia ditempatkan di mana saja dengan situasi fasilitas apa pun. Dulu saya mela­ mar kerja dan tidak pernah melamar fasilitas peker­ jaan,” ungkap putri sulung pasangan mantan Bupati Lombok Barat, Ratmadji dan Baiq Fahriah ini. Darah pekerja Eva tampaknya mengalir dari

sang ayah. Ia pun mengenang ba­ gaimana ayahandanya itu menyiapkan ia dan keempat saudara lainnya untuk menjadi pribadi-pribadi mandiri. Ke­ tika ayahnya menjadi Bupati Lombok Barat di usia remajanya, ia sering “protes” ketika tiap hari Sabtu tiba, kelima bersaudara ini diboyong dari Pendopo Bupati yang berada Mataram (belum ada pemisahan Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram), ke sebidang sawah dan kebun milik ayahnya. “Lokasinya sepi dan jauh dari keramaian,” katanya. Di sanalah Sang Bupati itu “mendidik” anak-anaknya untuk mandiri. “Kami semua diajarkan memba­ jak sawah dan menanam padi saat musim tanam dan memanen padi saat musim panen tiba,” katanya. Menurut ayahnya, itulah salah satu cara ia mem­ perkenalkan dan mengajarkan mereka untuk tidak hanya mengetahui tentang proses penanaman hingga panen padi, tapi juga merasakan betapa tidak mudahnya petani menghasilkan beras yang dimakan oleh mereka. Dulu, meninggalkan kota dengan keramaian malam minggu juga jauh dari kawan-kawan sempat membuat mereka kesal. Tidak hanya itu, mereka

INSPIRASI

28 APRIL - 4 MEI 2014

Sagung Diva, Peserta Ujian TRP Termuda di Indonesia

Dra. B. Eva N. Parangan sosialisasi di radio-radio

tinggal kesepian selama malam minggu itu tanpa televisi pula. “Tapi hari inilah kami memetik hasil dari apa yang diajarkan oleh Mamiq (panggilan khas ayah dalam masyarakat Sasak) dulu,” ujar ibunda dari Baiq Hulum Nuzully (30) dan Baiq Diar Ardila (24) ini. Didikan Ratmadji untuk membuat anak-anaknya menjadi anak-anak mandiri dan bertanggung jawab juga dilakukan di Pendopo Bupati. Meski ada pembantu dan staf yang mengerjakan semua hal di Pendopo, tapi anak-anaknya memiliki tugas masing-masing. “Kami diberi tugas masing-masing seperti menyuci, me­ nyetrika bahkan pergi ke pasar meski pun ada orang yang memang bertugas untuk itu,” katanya.

Kini Eva merasakan manfaat dari didikan itu termasuk tanggung jawab dalam menjalankan tugas yang telah diberikan padanya. Ia bercita-cita akan tumbuh dan berkembang keluargakeluarga (orang tua, anak dan ling­ kungan) yang mampu membentuk menjadi keluarga yang sejahtera dan tangguh. ”Dalam keluarga sejahtera pasti akan menjadi kuat dan mampu menjadi pilar bagi generasi berkualitas yang akan melanjutkan pembangunan bangsa ke depan,” ujar mantan Camat Gerung Lombok Barat, camat pe­ rempuan pertama di wilayah Bali dan Nusra waktu itu, yang memiliki obsesi untuk membangun keluarga-keluarga berkualitas di NTB, khususnya di Lombok Barat ini. -Naniek I. Taufan

M

Sagung Diva (kanan) dan Bu Agung

inggu (20/4), untuk kesekian kalinya Tem­ pat Uji Kompetensi (TUK) Agung menyelenggarakan ujian Tata Rias Pengantin Bali (TRP) yang diikuti 24 peserta. Namun, ada yang berbeda dari ujian kali ini. Diva yang baru duduk di bangku kelas VI SDN 28 Dangin Puri, Denpasar itu menjadi peserta ujian TRP Bali termuda di Bali. Bahkan, menurut tim penguji dari LSK, Diva menjadi peserta ujian Tata Rias Pengantin termuda di Indonesia. Jauh sebelumnya, tepatnya sejak dua tahun terakhir, Sagung Diva sudah serius berlatih tata rias pada waktu-waktu luangnya. Pemi­ lik nama lengkap AA Sagung Diva Wastuningtyas ini juga kerap mengi­ kuti roadshow-roadshow yang dige­ lar LKP Agung ke instansi-­instansi pemerintah maupun swasta, kam­ pus, juga organisasi perempuan di kabupaten/kota se-Bali. Pada tiap kegiatan tersebut, Sagung Diva kebagian mendemokan bagaimana memasang make up, membuat dan memasang sanggul, serta menata riasan rambut. Keterlibatan putri kedua Bu Agung tersebut tentunya makin mengasah keterampilan tata riasnya, hingga kini di usianya yang belum genap 12 tahun, Sagung Diva telah lulus uji kompetensi. Rupanya, hadirnya Sagung Diva sebagai peñata rias belia yang tampil dalam beberapakali roadshow yang juga diliput BaliTV itu membawa dampak positif secara meluas. Tak sedikit ibu-ibu, kini mengkursuskan putrinya tata rias. “Ini tentunya sangat baik sekali, karena ini salah satu kegiatan positif untuk bisa mengisi waktu luang mereka. Selain itu, tata rias dan busana adat Bali merupakan bagian dari adat dan budaya kita. Dan, sudah seharus­ nyalah dikenalkan sejak dini agar

mereka lebih mencintai adat dan budayanya sendiri,” ujar Bu Agung ketika ditemui di sela-sela penjurian Lomba Busana Adat ke Pura Ber­ pasangan tingkat SMP dan SMA/ SMK dalam Porsenijar Denpasar 2014, Senin (21/4) di Aula PKBM Agung, Jalan Anggrek Denpasar. Penerima Anugerah Peduli Pendidikan (APP Award) dari Kemendikbud tahun 2013 ini mengimbuhkan, dalam roadshowroadshow tata rias yang terus digelar bekerjasama dengan Viva Cosmetic tersebut, selain diajarkan trik praktis membuat dan memasang tengkuluk lelunakan serta pusung tagel (sang­ gul Bali) dan modern, Bu Agung juga mengajarkan tata rias untuk diri sendiri, dan etika berbusana adat Bali yang baik dan benar. Dari 30 roadshow yang ditarget­ kan sepanjang tahun 2014 ini, sudah berjalan 21 kali. Seminggu terakhir

ini saja, pelatihan tata rias sehari tanpa dipungut biaya itu sudah berlangsung di Polres Klungkung, Kamis (23/4); Gianyar, Jumat (25/4); dan di Wantilan Bali TV Denpasar, Sabtu (26/4). Bu Agung mengaku terkesan dengan acara di Klung­ kung, karena kegiatan yang diikuti anggota Bhayangkari dan GOW Klungkung itu dihadiri juga oleh seluruh istri kapolsek hingga dari daerah Nusa Penida. Bahkan, me­ reka telah mempersiapkan empat model yang satu di antaranya adalah istri Kapolsek Nusa Penida. Dan, di tahun ini pun, seperti tahun-tahun sebelumnya, Bu Agung mengagendakan melaksanakan roadshow ke Nusa Penida. Memang, setiap tahun, LKP Agung pasti mem­ berikan pelatihan tata rias untuk masyarakat di seberang lautan terse­ but. Bahkan, seperti di tahun 2013 lalu, 30 masyarakat Nusa Penida diberikan beasiswa dan diboyong ke LKP Agung di Denpasar, diberikan kursus tata rias dan busana adat Bali yang lebih intensif. Selain itu, Bu Agung juga terke­ san dengan apresiasi positif Kapolres Klungkung AKBP Ni Wayan Sri ­Yudayatni Wirawati yang sangat peduli wanita dan mendukung pelatihan tata rias ini sebagai salah satu upaya menjaga keharmonisan keluarga. Sebagai seorang wanita, terlepas dari profesi apa pun, wanita selalu dituntut untuk tetap tampil cantik dan menarik, terutama di mata suami. Karena itu, ia menga­ takan berias itu penting, namun disesuaikan juga dengan situasi dan kondisi­nya. Ia berterimakasih karena telah terjalin kerjasama yang baik antara Polres Klungkung, LKP Agung, dan Viva Cosmetic dalam pelatihan tata rias, yang telah berbagi trik singkat berias cepat untuk para peserta. Di samping itu, pemaparan Bu Agung dengan bahasa sederhana dan menarik ini lebih mudah dipa­ hami dan dimengerti, sehingga mu­ dah pula dilakukan. Di akhir acara, AKBP Sri Yudayatni menyerahkan kenang-kenangan kepada pimpinan LKP Agung, AA Ayu Ketut Agung.

5

Sagung Diva saat mendemokan tata rias

DISKON KURSUS 50%

M

emperingati Hari Kartini, Galungan dan Kuningan, Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung memberikan kesempatan luas kepada masyarakat umum untuk mengikuti kursus regu­ ler dengan memberikan diskon 50%. Materi yang diajarkan mencakup Tata Kecantikan Kulit (perawatan muka, make up wajah, perawatan kaki dan tangan, perawatan tubuh) senilai Rp 3 juta; Tata Kecantikan Rambut (potong, kriting, blow, set, sanggul, creambath, pelurusan, dan cat rambut), senilai Rp 3 juta; dan Tata Rias Pengantin Bali (payas nista, madya, utama, modifikasi, tengkuluk lelunakan) senilai Rp 3 juta. Total nilai kursus Rp 9 juta. Namun, pada kesempatan kali ini, hanya dengan berkontribusi Rp 4,5 juta, peserta kursus bisa mengikuti semua materi tersebut. “Peserta hanya membayar sekali, kursus sampai bisa. Peserta kursus cukup datang membawa diri, karena semua peralatan dan perlengkapan kursus disiapkan LKP Agung,” jelas Pimpinan LKP Agung, AA Ayu Ketut Agung. LKP Agung yang juga merupakan Tempat Uji Kompetensi (TUK) Tata Kecantikan Kulit satu-satunya di Bali, dan TUK Tata Rias Pengantin, melaksanakan uji kompetensi yang diuji tim Lembaga Sertifikasi Kom­ petensi (LSK) pusat. Sertifikasi uji kompetensi ini dikatakannya penting dimiliki bagi mereka yang bergelut di bidang tata rias sebagai pengakuan atas kompetensi/kemampuannya. “Bagi pemilik salon atau individu yang belum belum bersertifikasi, silakan hubungi kami, karena setiap bulan kami mengadakan uji kompetensi,” imbau Bu Agung. LKP Agung memiliki tempat belajar yang memadai dan kondusif di dua tempat di Denpasar, dengan instruktur yang mempunyai latar be­ lakang keahlian dan pengalaman legal yang tentunya telah mengantongi sertifikat kompetensi di bidang tata kecantikan. Sampai saat ini LKP Agung telah menamatkan 7.600 siswa didiknya yang sudah tersebar di Bali dan Nusantara. Disediakan pula beasiswa kursus gratis bagi mereka yang kurang mampu dan putus sekolah, yang benar-benar berminat di bidang tata kecantikan. Syarat dan ketentuan berlaku. Masyarakat yang berminat, silakan mendaftar di Sekretariat LKP Agung, Jalan Anggrek No. 12 Kreneng, Denpasar. Telepon 0361 233850, 231985, faks. 0361 247153. Cabang Tohpati, Jalan WR. Supratman No. 303 A, Tohpati, Denpasar. Email: lkp_agung@yahoo.com. website: www. salonagung.com. –iin

Sagung Diva (lima dari kanan, atas) bersama Bu Agung dan peserta lainnya, usai uji kompetensi


4

INSPIRASI

28 APRIL - 4 MEI 2014

Drg. AA Ayu Dewi Harmini

Perjuangan Mewujudkan Mimpi “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”, begitulah ungkapan WS Rendra dalam Puisi Paman Doblang. Ungkapan tersebut sangat tepat ditujukan bagi seseorang yang telah berjuang untuk katakatanya. Berjuang untuk menjadi lebih baik dari hari ini, berjuang mewujudkan kata-kata yang semula hanya mimpi dan kata-kata. Kini semuanya menjadi nyata, dan terbukti. Perjuangan itu merupakan tangga untuk segala keberhasilan, segala kesuksesan yang ­mutlak diidamkan setiap orang.

S

emua orang pasti ingin hidup berhasil. Keberasilan tidak bisa diraih begitu saja. Harus melalui pengorbanan dan kerja keras, serta dibarengi de­ ngan doa dan keyakinan kita pada Tuhan. Usaha keras dan rajin bertaqwa menjadikan kita orang yang penuh pendirian dan yakin, segalanya akan terwujud. Dokter Dewi salah satunya. Kerja keras yang ia lakukan selama ini tidak lain berkat restu dari Tuhan YME hingga bisa menjadi seorang dokter sekaligus pengusaha se­ perti saat ini. Kerja keras adalah salah satu karakteristik dokter cantik yang kerap disapa Dokter Dewi ini. Sejak kecil ia sudah menikmati susahnya mencari uang. Walaupun ayahnya kala itu menjabat Kepala LP, ia tetap dididik bagaimana mencari uang dengan kerja keras. Masa kecilnya sempat diisi dengan berjualan baju, dan menjadi instruktur senam ketika remaja. Meski tetap mendapat uang sekolah dari sang ayah, Dokter Dewi mengaku untuk mendapatkan uang tambahan untuk membeli keperluan tersier, dirinya harus mencari uang sendiri. Dari sanalah tekad juangnya terasah. Apa yang ingin dicapainya harus diwujudkan, dan harus memiliki target ke depan. Koordinator Dokter Gigi Rumah Sakit Bhakti Rahayu tersebut mempunyai prinsip bahwa waktu adalah segalanya, “time is money”. Memanfaatkan dan mengatur waktu itu sangat diperlukan. Ia sa­ngat menghargai waktu, dan diatur agar semua bisa berjalan seiring. Apalagi, kegiatan Dokter Dewi terbilang padat. Mulai dari mengurus keluarga, pekerjaan di kantor, memantau usaha yang sedang dirintis, dan praktik malam. Saat ditemui di tempat praktiknya di Apotek Kimia Farma, Jalan Gatsu Barat, denpasar, ia menceritakan berbagai rutinitasnya sebagai seorang dokter yang tidak terlepas dari kodrat sebagai perempuan. Pukul 05.00, ia mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk keluarga, seperti menyajikan sarapan pagi. Keluarga dibia­ sakan untuk sarapan yang harus dimasaknya sendiri. Usai me­ nyiapkan makanan, pukul 08.00, ia sudah harus ada di kantor untuk menjalankan tugas sebagai Koor-

dinator Dokter Gigi di Rumah Sakit Bhakti Rahayu. Selanjutnya rutinitas dilanjutkan dengan melihat kondisi atau keadaan usaha salon yang ia rintis sejak beberapa bulan lalu, tepatnya di depan Pasar Sanglah Jln. Waturenggong No.25 Denpasar. Tempat usaha yang strategis itu memungkinkan untuk dijangkau dari berbagai arah tujuan, harganya pun cukup terjangkau ekonomi menengah ke atas. Selain salon, ada pula koskosan yang beralamat di Jln. A. Yani Utara Perum Calista 8 Denpasar. “Karena profesi saya dokter yang menghabiskan banyak waktu di RS dan tempat praktik, saya memilih membangun usaha yang tidak mesti meluangkan banyak waktu, tidak mesti ditunggu, dan tidak harus repot ke sana-sini, yakni kos-kosan dan salon, belum

pelayanan yang berkualitas. Di samping merias wajah, dr. Dewi memiliki hobi mencari uang. “Maka dari tulah, hobi ke salon itu, saya ubah menjadi bisnis. Hobi juga harus mendatangkan untung. Hobi harus disalurkan dengan bisnis, saya juga tidak sembarang memilih jenis usaha dan tempatnya. Saya survei dengan baik, bagaimana peluang ke depan,” kisah wanita yang memiliki moto, “hidup itu indah” ini. Walau terbilang sudah mapan, dokter Dewi tak lantas ingin berfoya-foya. Banyak hal ke depan yang harus dipikirkan, bagaimana masa tuanya kelak. Pemilik nama drg. AA Ayu Dewi Harmini ini, memang selalu tertawa dan ceria. Di tengah padatnya aktivitas, ia tetap semangat dan bahagia. “Saya selalu begitu, karena saya selalu

Drg. AA Ayu Dewi Harmini bersama keluarga

lagi mengurus keluarga,” terang wanita kelahiran Singaraja, 11 Juni 1967 ini. Ia menjelaskan, usaha koskosan tidak mesti ditunggu. Sementara, usaha salon sudah ada pegawainya, ia hanya mengatur beberapa. “Saya mendirikan usaha salon karena pada dasarnya saya suka ke salon untuk refleksi, pijat, spa, dan perawatan. Semua itu refresing bagi saya. Kemudian, hobi saya ke salon itu, saya jadikan bisnis. Mumpung ada salon, ada penghasilan tambahan dan saya juga bisa perawatan di sana,” imbuhnya sembari tertawa. Ibu yang memiliki hobi merias wajah ini mengatakan salonnya ini tidak sekadar salon. Salon ini dikemas agar mampu menjangkau masyarakat bawah dengan

berpikir positif, tidak ada dengki, iri, dendam dalam hati. Sebisa mungkin kita berpikir positif dan serahkan semua pada Tuhan, agar semua dilancarkan,” ujarnya. Profesi sebagai dokter tidak membuat ibu tiga anak itu lupa bersosialisasi. Jika ada kematian, odalan di desa, ngayah, atau ke­ giatan menyamabraya, dokter Dewi pasti selalu hadir. Baginya ngayah merupakan kewajiban sebagai warga dan sangat penting untuk kelangsungan hidup ke depan. ”Kegiatan bermasyarakat itu tidak ingin saya lewatkan, sebisa mungkin hadir, sebab bagaimana pun nanti, yang akan membantu saya ketika mempunyai acara, masyarakat sekitar juga. Walau tidak bisa bantu banyak saya tetap hadir, setidaknya bantu-bantu

Drg. AA Ayu Dewi Harmini

sebisanya,” begitu pengakuan istri I Made Oka Supiatna ini. Mental situation Dokter Dewi tentu harus cepat diadaptasi. Ia harus secepat mungkin beradap­ tasi dengan kegiatannya yang padat. Segudang kegiatan itu menjadikannya harus kuat menempatkan pikiran, mental, dan kondisi. Sebisa mungkin dokter yang tinggal di Jln. A. Yani Utara Perum Calista No. 24 itu tidak membawa masalah kantor ke rumah, atau membawa masalah pribadi ke kantor, atau pun masalah kantor dibawa-bawa sewaktu ngayah. Untung saja, lingkungan dokter menjadikannya lebih dewasa untuk mengahadapi orang-orang dengan lingkungan yang berbeda, apalagi meng­hadapi pasien yang banyak tipenya. “Kunci saya, harus bisa melihat dengan siapa kita berbicara, dan bagaimana seharusnya berbicara di lingkungan seperti itu. Ketika meng­urus usaha atau ngayah, urusan di kantor dihentikan, tidak perlu dipikirkan lagi, agar fokus,” kata dokter Dewi bersungguh-sungguh. Segala hal dilakukan Dokter Dewi harus sungguh-sungguh terlebih gelar dokter yang diembannya tidaklah gampang. Perlu kesungguhan dan ketekunan. Alasan itu­lah yang menjadikannya tidak sembarang menggunakan uang. Kuliah dokter yang tidak murah melatih dirinya agar hemat dan bijak menggunakan uang. “Saya jarang makanmakan di restoran, hanya sesekali. Lebih baik uang itu saya tabung sebaik-baiknya untuk bekal anak saya dan bekal hari tua,” katanya. Banyak keinginan yang masih bersarang di otaknya, masih ba­ nyak mimpi yang belum terwujud. “Semoga Tuhan selalu memberkati,” ujarnya ketika satu-persatu impiannya mulai terwujud. Ia menyadari betul sebuah perjuangan. “Kejarlah keinginanmu, semasih lagi ada waktu...”, begitu lirik lagu Chrisye yang pantas menggambarkan bagaimana kegigihan Dokter Dewi dalam membina dirinya sendiri agar setiap keingin­ annya dapat terlaksana, sebelum usia tua, sebelum makin renta.

“Sampai saat ini, memang hidup saya dan keluarga sudah dibilang layak tetapi saya tetap berusaha mencari-cari lagi peluang bisnis yang baru untuk hari tua. Ndak mau toh, hari tua nanti bisanya cuma minta uang sama anak? Maka dari itu, semasih ada waktu saya memanfaatkan betul untuk mencari uang dan menabung,” imbuhnya. Memang segala sesuatunya perlu diwujudkan, dengan usaha dan doa. Usaha yang dibarengi oleh doa akan nampak nyata, dan selalu dilancarkan. Dokter Dewi selalu berpegang teguh pada prinsip itu. “Apa pun yang saya lakukan, saya ucapkan syukur kepada Tuhan, Hyang Widhi Wasa. Saya hanya bisa berusaha, selebihnya saya kembalikan kepada Beliau,” tuturnya. Dokter yang memiliki paras ayu itu memang patut menjadi inspirasi. Di tengah kesibukannya ia tetap menjadi dirinya sendiri, selalu tersenyum, selalu bersyukur. Kesuksesannya saat ini tidak membuat ibu Ode Mahesa Putra, Ogek Dwi Shvitri, dan Triayu Narita Sari itu lupa diri. “Segala kesuksesan ini selalu saya syukuri, sebab semuanya titipan Tuhan, hanya Beliau yang memiliki kehendak. Semua ini milik Tuhan, hanya saja saya yang dipercayai untuk mengembannya. Mudahmudahan Tuhan selalu memberi jalan,” terangnya. Ternyata, Dokter Dewi juga sempat ditawari menjadi caleg. Namun, ia harus berpikir lima kali untuk menerima. “Saya memikirkan waktu. Kalau jadi caleg memang harus betul-betul meluangkan waktu, saya akan sangat rugi bila harus meninggalkan perkerjaan sebagai dokter, me­ ninggalkan waktu bersama kelu­ar­ ga hanya demi jadi caleg,” ungkapnya dengan tertawa nyaring. Ditanya terkait pandangannya tentang keberadaan wanita saat ini, dokter Dewi memaparkan bahwa menjadi wanita tidak perlu hanya menunggu suami pulang kantor. “Tidak jarang saya melihat mereka yang suaminya bekerja susah payah, hanya shopping atau pagi-pagi sudah ngerumpi. Itu menurut saya buangbuang waktu dan energi. Untuk apa kita membicarakan orang lain? Lebih baik kita membantu suami bekerja,” tuturnya. Harapannya ke depan, semoga wanita Bali saat ini dapat membuka wawasan dan menanggapi lingkungan sekitar. Tidak hanya mahir di dapur, tapi mahir membagi waktu untuk kegiatan bermanfaat lainnya. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk dapat hasil yang maksimal. “Mari kita sama-sama berbuat baik, tidak ada waktu untuk sirik urusan orang lain. Ingat Tuhan, selalu utamakan Beliau. Baru bangun, langsung ucapkan doa, agar segala kelancaran selalu menemani. Segala sesuatunya sudah ada yang mengatur,” tandasnya. -Wulan Dewi

28 APRIL - 4 MEI 2014

MANDALIKA

Telusuri Legenda La Hila di Dongo, Bima

21

Alam pedesaan yang masih terjaga dengan masyarakatnya yang lugu adalah keunikan tersendiri wilayah Donggo yang berada di atas gugusan perbukitan bagian utara Kabupaten Bima. Donggo merupakan salah satu desa tradisional yang menyimpan kekhasan tersendiri di Bima. Untuk mencapai Donggo, membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam dari Kota Bima, atau 30 menit dari Sila Kecamatan Bolo sebagai lokasi terdekat untuk mencapai Donggo. Setelah perjalanan 30 menit dari Sila, kita akan tiba di tempat tertinggi wilayah ini yakni Pesanggrahan. Pesanggrahan artinya persinggahan.

P

esanggarahan ini merupakan rumah yang dibangun di zaman Belanda yang dibuat khusus sebagai tempat peristirahatan bagi Raja Bima. Bangunan yang kini berusia lebih dari 70 tahun ini masih dilestarikan sesuai dengan bentuk dan model aslinya. Bangunan yang bertahan dengan keasliannya ini merupakan salah satu tujuan wisata terutama bagi penduduk lokal Bima sejak puluhan tahun silam. Dari sini, sejauh mata memandang, Kota Bima di bagian timur tampak

dari kecamatan-kecamatan yang berdekatan dengan Donggo, se­ perti Kecamatan Bolo dan lainnya. Selain itu, musim ramai kunjungan Pesanggrahan Donggo adalah saat Lebaran tiba. Orang Bima menyebutnya lao ndiha yang artinya pergi beramai-ramai atau pergi berwisata. Dan, salah satu tujuan lao ndiha ini adalah Pesanggrahan Donggo. Rupanya kebiasaan itu masih terus berlangsung hingga sekarang. Menurut Muhtar, penjaga Pesanggrahan ini, tiapkali waktu pembagian rapor tiba, Pesanggrahan

Legenda La Hila yang meninggalkan jejak dongeng dalam masyarakat Donggo dan Bima, menjadi salah satu tujuan berwisata ke desa ini

dengan jelas. Pelabuhan dan teluk melengkapi pemandangan khas daerah pegunungan. Udara sejuk dan nyaman, sangat terasa berbeda dengan udara di Bima yang terkenal sangat panas. Tiga puluh tahun lalu lokasi ini masih merupakan hutan yang belum terawat dengan baik dan belum tertata. Untuk mencapai Donggo, hanya truk yang biasa dipakai mereka untuk berwisata. Masyarakat Bima yang berwisata ke sini, dulunya, dimaknai sebagai wisata hutan dan pegunungan. Pesanggrahan ini ramai sekali dikunjungi murid-murid sekolah terutama saat usai pembagian rapor. Mereka berasal

ini akan sangat ramai dikunjungi mereka yang berwisata. Bukan itu saja, sekarang lokasi ini malah akan tambah ramai juga ketika musimmusim liburan sekolah, Lebaran, Tahun Baru dan lainnya. Mereka yang berwisata di sini, biasanya memenuhi areal halaman Pesanggarahan dari halaman depan hingga belakang. Asyiknya, berwisata di sini masih gratis alias tiap kunjungan tidak dikenakan bayaran. Para pengunjung hanya diminta untuk membersihkan lokasi dari sampah yang dibawanya agar lokasi ini tetap terlihat bersih dan rapi. Lokasi Pesanggrahan ini, kini sudah bukan merupakan hutan tak terawat lagi, melainkan telah ditata

Eksotika keunikan desa tradisional Donggo adalah rumah-rumah penduduk yang bangun di lereng-lereng perbukitan

dengan baik dan telah tampak sebagai lokasi wisata yang siap secara fisik. Di sekitarnya juga telah dikelilingi rumah-rumah warga, sebuah pedesaan yang sejuk dan nyaman. Bangunan putih khas Belanda ini memiliki empat kamar tidur , dua kamar mandi dan satu ruang tamu. Pesanggrahan ini, akhir-akhir ini mulai disewakan sebagai penginapan dengan tarif yang sangat terjangkau. Donggo, masih menyimpan keunikan karena rata-rata rumahrumah di sini adalah rumah khas Suku Mbojo, yakni rumah panggung yang terbuat dari kayu. Tidak banyak bangunan modern berdiri di sini. Jika di tempat-tempat lain di Bima, rumah-rumah khas seperti ini hanya sedikit dijumpai, diganti dengan rumah-rumah modern dari tembok mengikuti model-model terbaru. Keunikan dan kekhasan tradisional Mbojo semakin terasa dengan jompa-jompa (lumbung tempat penyimpanan padi khas Bima) yang bisa dilihat hampir di semua rumah penduduknya. Letakletak rumah tradisional, bahkan ada yang berada di lereng-lereng gunung yang terjal dan curam menambah eksotisme pedesaan di gugusan pegunungan Bima ini. Bagian lain dari Donggo yang unik untuk ditelusuri adalah beberapa tempat bersejarah yang bagi orang Donggo adalah legenda yang masih dipercaya hingga hari ini. Misalnya, legenda rakyat La Hila. Melewati jalan setapak yang nyaris tak tampak karena ditumbuhi semak belukar dan pepohonan, perjalanan menuju sebuah batu berukuran besar yang di atasnya terdapat sebuah jejak seperti telapak kaki bagian kiri. Mengunjungi sebuah batu besar dengan permukaan yang rata, di sebuah gang bernama La Hila, cerita itu pun mengalir dari salah seorang warga Donggo, Sudarman, yang kerap mengantar tamu

untuk berkunjung ke tempat yang diyakini tempat menghilangnya putri La Hila tersebut. Pada batu besar itu terlihat sebuah telapak kaki utuh ukuran rata-rata. Telapak kaki inilah yang diyakini masyarakat Donggo sebagai jejak terakhir La Hila. La Hila yang berambut panjang bergalahgalah itu menghilang di sebuah hutan di pinggir sungai tempatnya biasa mandi, karena tak dapat memilih antara dua lelaki yang meminangnya. Tak sanggup menghadapi tekanan akan pilihan sulit itu, La Hila pun menghilang. Orang tidak mengetahui ke arah mana ia pergi. Namun, dari jejak terakhirnya berupa telapak kaki pada batu besar tersebut, ia diperkirakan menghilang ke arah selatan, karena dari jejak tersebut jari-jari kaki menghadap selatan sedangkan tumitnya berada di utara. Legenda La Hila sangat terkenal di Bima. Di sekitar jejak terakhir La Hila di batu tersebut, tumbuh pohon-pohon bambu besar yang getahnya berwarna merah. Pohon bambu tersebut, oleh masyarakat disebut dapat berdarah jika dilukai atau ditebang. Konon, dalam legenda tersebut, ketika La Hila menghilang, ibundanya mencari ke sana ke mari, termasuk ke tempat

di mana ia biasa mandi. Di sanalah, Sang Ibunda menumpahkan segala kesedihannya hingga akhirnya tak sengaja memegang bambu yang menurut legenda tersebut tiba-tiba muncul di samping jejak terakhir La Hila tersebut. Saat itulah, bambu tersebut bicara, bahwa dialah La Hila. Ia berpesan agar bambu tersebut jangan dilukai atau pun ditebang. Dan, bambu ini dikenal dengan nama Bambu La Hila. Bambu yang jika disentuh akan menangis. Sayangnya, bambu yang tumbuh di sekitar batu besar jejak La Hila tersebut sudah tidak ada lagi. Menurut Sudarman, sejak beberapa tahun lalu, bambu yang menyertai legenda rakyat Bima tersebut, tidak lagi bisa tumbuh di tempat tersebut. Hingga saat ini, ujar Sudarman, masyarakat sekitar masih kerap mendengar rintihan yang datang dari hutan sekitar tempat mereka tinggal yang berdekatan dengan batu jejak kaki yang diyakini La Hila tersebut. Percaya atau tidak, yang pasti legenda La Hila turut memperkaya kebudayaan dan tradisi rakyat Bima dan ceritera-ceritera rakyat tersebut kerap menyimpan petuah-petuah dan pesan-pesan bijak bagi masyarakat yang mempercayainya. -Naniek I. Taufan

Pesanggrahan yang menjadi salah satu tujuan wisata Donggo


22

W H AT ’ S U P

28 April - 4 Mei 2014

HUT ke-51 BKOW Bali

Lanjutkan Sosialisasi Politik Ramah Keluarga Memperingati hari jadi BKOW Bali ke-51, telah digelar serangkaian aktivitas dan kreativitas. Bahkan, wadah organisasi perempuan di Bali ini telah memulai kegiatannya sejak 20 Mei 2013, tepat di Hari Kebangkitan Nasional. “Kami sengaja mengambil roh kebangkitan agar perempuan-perempuan Indonesia bangkit mengisi dunia politik praktis,” ungkap Ketua Badan Koordinasi ­Organisasi Wanita (BKOW) Bali Dr. AAA Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M., M.H. ini.

Ketua dan pengurus BKOW Bali saat studi banding ke Yogyakarta

Ketua BKOW, Tini Gorda bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar serta Ketua Kowani, Dewi Motik

K

alaupun kenyataannya belum menghasilkan sesuatu yang maksimal, paling tidak menurut Gung Tini, mereka telah berbuat yang terbaik. Sebab, dengan me­n gusung tema “Politik Ramah Keluar­ga”, mereka dapat mencarikan solusi yang terbaik nantinya, bagi perempuan dan siapa saja yang akan berkiprah dalam politik praktis. Dikatakannya, politik ramah keluar­ ga adalah sebuah solusi untuk meminimalisasi politik uang. “Walau belum berhasil mengantarkan perempuan sesuai dengan target kami 15%, namun kami tidak pesimis. Solusi ini adalah solusi yang pertama dan harus terus disosialisasikan sedini mungkin dan sesering mungkin,” ujar Gung Tini. Pendekatan kekeluargaan, face to face, door to door dan selalu mau berkomunikasi dan berkoordinasi, ini sistem cell yang akan sangat panjang waktunya. Ketua Perdiknas ini yakin program ramah keluarga akan membawa perubahan. Studi banding ke BKOW Yogyakarta pun menjadi puncak HUT ke-51 BKOW Bali sekaligus menambah wawasan pe­ngurus dan anggota BKOW. “Begitu banyak kegiatan yang dilaksanakan BKOW Bali, namun muaranya hanya satu yakni perempuan mampu ber­ kegiatan di luar rutinitas. Perempuan mau berkegiatan di tengah kesibuk­an

domestiknya. Perempuan pantas tampil sesuai dengan kompetensinya. Sudah saatnya pula perempuan menentukan dan tetap dalam bingkai mampu bijaksana di semua kegiatan, agar tidak terjadi benturan dengan suami, anak-anak dan keluarga,” papar Gung Tini. TERUS BERKEGIATAN Bulan Mei tahun silam di-launching HUT ke-51 BKOW Bali, yang disingkronkan dengan bedah buku “Bunga Rampai Kiprah Emas Perempuan Indonesia Menuju Bali Ramah Keluarga”, melalui keluarga menyelamatkan Bali. “Selanjutnya kami mengadakan silaturahmi antara BKOW, Perwatusi dan para caleg perempuan dengan salah satu agenda penyampaian pengalaman anggota dewan perempuan dari Ibu Mas dan Ibu Purnami untuk bersinergi dalam berkegiatan yang dirangkaikan dengan HUT ke-51

BKOW Bali dengan tema ‘Sudah Saatnya Perempuan Menentukan’,” ungkap Dewi Sinaryati Rully, S.E., Ketua Wanita Islam (WI) yang menjadi leading sector HUT ke-51 BKOW Bali. Dewi Rully juga memaparkan perihal kegiatan serangkaian HUT ke-51 BKOW Bali tersebut. Dari rangkaian aktivitas HUT, telah dilangsungkan roadshow ke beberapa organisasi wanita yang berada dalam payung BKOW, berkenaan dengan perayaan keagamaan maupun memperingati hari-hari besar nasional, seperti buka puasa bersama anak yatim piatu dan kaum duafa. Juga, kunjungan ke Yayasan Kerti Praja (YKP), Yayasan Pembina Korban HIVAIDS. Roadshow ke GOW Gianyar, Jembrana dan yang lainnya untuk memberikan edukasi, seperti public speaking. Tak ketinggalan BKOW bersinergi dengan Perwatusi, menyelenggarakan Gebyar Senam Osteoporosis dan lebih jauh mengenal tentang mengenal penyakit osteoporosis. Selain itu, telah pula dilangsungkan interaktif di BaliTV dalam program “Perempuan Dalam Berita”, menyelenggarakan beberapa seminar nasional yang salah satunya dikaitkan dengan Hari Sumpah Pemuda dengan tema “Generasi Emas Berwawasan Kebangsaan Adalah Aset Bangsa” yang menghadirkan narasumber Mentri ESDM Ir.Jero Wacik, S.E. Berbagai talkshow untuk menambah waw a s a n s e p e r­ ti “Menjunjung Tinggi Ke­bhinekaan Menuju Indonesia Sejahtera”, pengembangan kepribadian dari Rudy Hadisuwarno. Juga, kerjasama dengan DPD Himpunan Pengembangan Kepribadian Indonesia Jawa Barat. Bahkan, mereka pun sempat me­ ngadakan acara yang cukup unik yakni, “Meeting on the bus Sarbagita”. Program lainnya adalah seluruh organisasi wanita mendukung anak-anak yang bermasalah dengan hukum melalui pengumpulan koin Rp1.000 kepada Lembaga Perlindungan Anak. Selain itu, Dewi Rully juga menyampaikan kalau BKOW pun sempat mengadakan bakti sosial memberikan bantuan kepada korban letusan Gunung Kelud berupa uang tunai dan bantuan lain-

nya dengan datang langsung ke lokasi. “Kami juga ada jadwal menerima kunjungan studi banding dari beberapa BKOW lainnya di Indonesia, di antaranya BKOW Provinsi Papua Barat dan mengajak mereka melihat beberapa aktivitas kreatif anggota BKOW Bali,” ujar Dewi Rully. Dalam rangka memperingati Hari Ibu, BKOW juga melangsungkan aneka kegiatan kreatif untuk menciptakan kekompakan keluarga, di samping turut melestarikan budaya dengan

mengadakan lomba desain busana berbahan endek. “Tak ketinggalan juga cukup intens melakukan koordinasi dengan caleg perempuan dalam rangka pengawalan suara 230% dalam pemilu legislatif 2014 belum lama ini,” lanjut Gung Tini sambil menambahkan bahwa jajaran pengurus dan anggota BKOW Bali akan terus melanjutkan sosialisasi pendidikan Politik ramah Keluarga, yang sudah dilaksanakan sejak setahun belakangan ini. “Sukses BKOW suksesnya kita semua,” tandasnya. –ard.

Puncak HUT ke-51 BKOW Bali dilangsungkan di Yogyakarta

BKOW ketika melaksanan talkshow menghadirkan Wayan Koster

3

Nikita Willy

Hasrat Terpendam Pendidikan dan karier, dua hal itu yang kini menjadi fokus perhatian Nikita Willy. Urusan cinta, apalagi soal menikah muda, Nikita mengaku santai-santai saja. Ia tak ter­ pengaruh meski belakangan banyak artis muda menikah. “Aku masih 19 tahun, nggak terpikir untuk menikah muda. Santai aja. Fokus aku saat ini pada karier dan pendidikan, itu yang penting,” ungkap Nikita yang dua pekan lalu meraih penghargaan kategori Artis Terfavorit di Panasonic Gobel Awards yang berlangsung di Jakarta Theater, Jakarta. Ini adalah ketiga kalinya Nikita meraih penghargaan untuk kategori yang sama setelah 2010 dan 2011. kapanlagi.com

U

rusan cinta Nikita memang akhir-akhir ini sering jadi bahan gosip menarik di dunia entertainment. Gadis kelahiran 29 Juni 1994 ini, belakangan jarang terlihat berduaan dengan sang kekasih, Diego Michiels. Termasuk ketika ia menghadiri acara Panasonic Gobel Awards pada 5 April lalu. Begitupun saat Niki menggelar acara syukuran terkait prestasinya di acara bergengsi tersebut. Tak heran gosip hubungan cintanya kandas, berhembus makin kencang. Nikita sendiri yang kerap diberondong pertanyaan pers soal kisah cintanya, tidak membenarkan atau mengatakan tidak terkait gosip tersebut. “Aku dengan semua orang berkomunikasi dengan lancar dan baik-baik saja,” ucap Niki diplomatis ketika ditanya apa masih ada komunikasi antara dirinya dengan Diego. Nikita dan Diego yang pesepak bola memang menjalani hubungan cinta jarak jauh. Diego mengikuti pemusatan latihan tim nasional yang kerap melakukan lawatan ke luar negeri untuk uji coba. Keduanya memang sama-sama sangat sibuk. Nikita sendiri hari-harinya dihabiskan di lokasi syuting. “Aku sibuk banget. Tiap hari, bahkan hampir 24 jam berada di lokasi syuting. Kalau stripping tidak bisa kemana-mana,” ungkap penembang ‘Kutetap Menanti’ dan ‘Keyakinan Hati’, ini. Bertahun-tahun menekuni dunia entertainment rupanya telah mengajarkan Niki bagaimana caranya berhadapan dengan pers yang memberondongnya dengan pertanyaan yang sulit. Dia tidak ingin terpancing, maka jawaban-jawaban “abu-abu” yang meluncur dari bibirnya. Niki memang enggan menjawab pertanyaan yang bersifat pribadi. Responsnya berbeda jika ditanyakan padanya soal karier atau aktivitasnya yang lain. Bicara soal kesibukan karier, anak pertama pasangan Henry Willy-Yora Febrine ini, memang luar biasa. Di usia 6 tahun ia telah memulai debutnya di dunia sinteron yang berjudul ‘Bulan dan Bintang’. Tapi namanya baru mulai dikenal luas saat tampil dalam Roman Picisan bersama Evan Sanders. Sejak itu kariernya di dunia akting terus menanjak. Tiap hari para pemirsa televisi bisa melihat wajahnya yang wara-wiri di berbagai sinetron, FTV, iklan dan acara-acara lainnya di

Kegiatan sosial membantu korban letusan Gunung Kelud

Ucapan terima kasih Dr., Ir., Wayan Koster, M.M. l Pangdam IX Udayana Wali Kota Denpasar l Bupati Gianyar l Perdiknas ­Denpasar l CNI l Teh Sosro l Sarana Dewata ­ l Sri Wigunawati l Bank Mutiara l BPR Dewangga Bali Artha l BPR Sadu Artha l Erlangga Mantik l Perwatusi Bali l Toko Nyoman Tabanan l Puri Gede Karangasem l Ir. Ketut Witarka Yudiata, M.T. l Seluruh Organisasi yang tergabung dalam wadah BKOW

S E L E B R I TA S

28 april - 4 mei 2014

l

l

Nikita bersama mama dan, adiknya

F o t o

c o v e r

televisi. Ia memang sibuk luar biasa, tak heran kalau pendidikannya keteteran karena harus syuting. Jalur home schooling pun dipilih dan disesuaikan dengan jadwal kerjanya. Meski telah bekerja keras sejak usia muda, Niki mengaku tetap enjoy. Ia menyukai dunia akting, juga berbagai kegiatan lainnya di bidang entertainment. Selama 14 tahun kariernya malang-melintang di dunia hiburan, Niki telah membintangi 26 sinetron, 12 FTV, 2 film dan 35 iklan produk. Tak puas hanya di dunia akting, Nikita yang memiliki suara lembut pun merambah ke dunia menyanyi. Dari kiprahnya itu, telah lahir dua album; Lebih dari Indah pada 2012 dan Surat Kecil untuk Tuhan pada 2013 lalu, delapan single dan dua video music; ‘Ku Ingin Setia’ dan ‘Lagi Bohong’. Kerja kerasnya di dunia hiburan tak sia-sia karena berbagai penghargaan berhasil diraihnya. Selain penghargaan Panasonic Gobel Awards, ia juga berhasil menyabet penghargaan Indonesia Kids Choice Award tiga tahun berturut-turut 2010, 2011, 2012 untuk kategori Aktris Wanita Terfavorit. Bahkan di event tersebut ia juga berhasil meraih Indonesian Star Wannabe Award. Sedang di dunia tarik suara, meski belum meraih penghargaan, namun karyanya sudah mulai diperhitungkan setidaknya masuk dalam daftar nominasi untuk penghargaan-penghargaan musik. Menurut Nikita apa yang telah dicapainya selama ini, selain berkat kerja keras dan totalitasnya dalam bekerja, juga karena support yang besar dari keluarga, kerabat juga para fansnya. “Aku mencapai itu semua berkat dukungan penuh dari keluarga, juga dari para penggemar serta doa dari anak-anak asuh aku,” tambah bintang sinetron Safa dan Marwah, ini. BISNIS PROPERTI Dalam bekerja, kata pemeran sinetron Putri yang Ditukar, ini, ia tidak berpikir tentang dapat penghargaan atau tidak, namun berkarya sebaikbaiknya. “Aku hanya menjalani pekerjaan secara profesional. Disuruh akting ini, aku jalani, disuruh akting begitu, aku jalani. Aku bekerja sebaikbaiknya, total. Itu aja sih. Jadi dalam bekerja aku lakukan sebaik-baiknya. Bahwa pemirsa menyukai aku, dan menjadikan aku artis favorit, aku sangat beruntung banget,” ungkap bintang iklan Dettol Body Wash ini. Terkait akting sebenarnya ada hasrat Nikita yang sejak lama terpendam yakni bermain film. Sepanjang 14 tahun kariernya, baru tiga judul film yang dibintanginya, Bestfriend?, Married by Accident, dan Tertipu Laris Manis. Itupun sudah lama sekali, yakni 2008 dan 2010. Kesibukan di sinetron dan FTV membuat ia tak bisa berakting di layar lebar. Padahal tawaran bermain film banyak berdatangan. “Iya, aku kepengen banget membintangi film tapi aku terikat kontrak di PH,” ucap gadis yang gemar mengoleksi tas dan sepatu high heels ini. Kesibukannya yang luar biasa dalam berkarier sudah barang tentu berdampak pada pendidikannya. Saat akhir masa SMA nya, ia terpaksa menjalani home schooling, kemudian ketika kuliah ia terpaksa ambil cuti tahun lalu. Menurutnya, cuti kuliah bukan semata-mata karena sibuk bekerja

d e p a n

k a p a n l a g i . c o m

tapi karena kurang menyukai bidang yang diambilnya yakni, bisnis manajemen. Dulu, ia mengambil jurusan tersebut karena tertarik belajar bisnis. Namun, setelah dijalani ternyata tak sesuai harapannya. Ia pun pindah ke jurusan hukum. “Aku awalnya tak tahu sama sekali mengenai hukum. Hanya saja waktu itu ada kejadian di mana aku sering menghadiri persidangan (kasus pengeroyokan yang dilakukan Diego Michielsred). Aku merasa seru aja kalau menjadi lawyer. Makanya aku mengambil jurusan ini,” ungkapnya. Karena ini jurusan yang disukainya, Niki berjanji akan fokus pada pendidikannya. Meskipun sibuk bekerja, ia bertekad meluangkan waktu untuk belajar sungguh-sungguh mengejar ketert-

inggalan pelajaran. “Kali ini beneran kuliahnya,” janji Niki sembari tertawa. Berbeda dengan kebanyakan gadis seusianya yang gemar hura-hura ketika memiliki uang yang melimpah, Nikita tidaklah demikian. Ia lebih suka memanfaatkan penghasilan yang diperolehnya dengan bekerja keras untuk hal-hal bermanfaat. Salah satunya dengan berinvestasi di bisnis properti. Untuk tahap pertama ia membangun Winona Resident yang letaknya tak jauh dari rumahnya di kawasan Jatiwaringin, Jakarta Timur. “Tahap awal empat rumah berlantai dua. Sudah ada yang beli,” katanya seraya menambahkan, tertarik bisnis properti karena selain keuntungannya lebih bagus juga balik modalnya cepat. –Diana Runtu

Holiday Camp Terbesar di Singapura Kini Hadir di Bali Apa yang unik dari program ini? Program ini dibuat untuk anak-anak remaja selama empat hari tiga malam, dikemas dengan sangat menyenangkan, menarik, dan berdampak maksimal. Anak-anak dilatih untuk menemukan quantum leap (terobosan baru yang positif) dalam dirinya. Ria Devina (Surabaya), setelah ikut I Am Gifted Camp menerapkan strategi belajar dengan mind mapping, speed reading dan time management berhasil meningkatkan IPK-nya dari 2,79 menjadi 3,44 dan 3,53. Sekarang ia belajar lebih tenang dan juga sudah tahu tujuannya apa, sudah ada rencana untuk masa depannya. Selain itu, Ria Devina juga bisa lebih sabar, tidak emosional, lebih menghargai orangtuanya, dan berkomunikasi dengan lebih baik lagi sehingga hubungan dengan orangtuanya menjadi lebih harmonis. Adam Khoo, Chief Master Trainer dan No.1 Success Coach dari Singapura mengatakan, “Kita percaya, jika orang lain bisa menjadi pemenang, kita juga bisa!” Ini masalah kemampuan dan strategi saja. Murid yang nilainya jelek di sekolah bukan berarti mereka bodoh atau lamban tapi karena mereka tidak tahu bagaimana strategi belajar yang lebih efektif. Dalam buku I Am Gifted, So Are YouTM! Adam mengatakan semua murid tidak ada yang malas, bodoh atau berbeda, semua punya potensi yang besar, hanya kurang jelas tujuan dan panutan yang baik bagi mereka. Tiap anak itu spesial! Ingin anak-anak Anda tahu strategi belajar yang tepat? Punya pola pikir positif, goal setting, time management, self motivation, dll.? Ingin anak-anak Anda mengalami transformasi dalam hidupnya? Dapatkan rahasianya di seminar gratis untuk remaja 10-19 tahun bersama orangtuanya pada Minggu, 4 Mei 2014 di 100 Sunset 2 Hotel, Jln. Sunset Road No. 100 C, Kuta Bali, pukul 13.30-16.30. Daftar segera, tempat terbatas! Hubungi: 031-7178 7638 atau 0813 3120 7928 www.akltg.com.


EKSPRESSO

2

28 APRIL - 4 MEI 2014

GORO-GORO

klik: www.tokoh.co.id mingguantokoh @mingguantokoh

Semangat Tokoh! Hasil penghitungan suara hasil pemilu 2014 sudah dilakukan. Berbagai hal terjadi. Ada petahana bertahan, ada yang terjungkal, ada wajah baru duduk di kursi wakil rakyat, dan ada pendatang baru yang gagal. Tetapi, yang masih tetap adalah kuota 30% perempuan di parlemen tidak jua tercapai. Perempuan yang lolos sebagai wakil rakyat di DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, DPR RI dan DPD masih jauh dari angka 30%. Tetapi, di pundak

caleg perempuan yang lolos bisa digantungkan harapan, apa yang diinginkan kaum perempuan demi kesetaraan gender. Selain berita hasil penghitungan suara yang menghiasi media massa pascapemilu 2014, masyarakat dikagetkan dengan kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang terjadi di sebuah sekolah internasional di Jakarta. Kasus pelecehan seksual menurut dr. Sri Wahyuni, Sp.KJ ibarat gunung es. Kasus yang terlihat

Kru Tokoh menyerahan kenang-kenangan kepada Ratna Hidayati (barisan depan ketiga dari kanan)

O

M G

hanya yang muncul di permukaan, padahal di masyarakat ada kasus lain. Kasus pelecehan seksual yang tersembunyi ini memang disembunyikan karena dianggap aib keluarga. Berbagai upaya harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kasuskasus serupa. Peran orangtua dalam membimbing dan mendidik anak sangat menentukan karakter anak. Ingatkan anak untuk tidak terlalu percaya dengan orang asing yang baru dikenal. Bahkan dengan orang yang sudah dikenal pun perlu waspada. Dalam edisi kali ini, kami mengupas apa saja yang termasuk pelecehan seksual dan bagaimana orangtua harus menangani anaknya jika menjadi korban kekerasan seksual. Kami ingin berbagi informasi untuk meningkatkan kewaspadaan semua orang. Satu hal yang tak kalah pen­ ting yang kami sampaikan edisi kali ini adalah pengunduran diri Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Tokoh, Ratna Hidayati. Terhitung mulai 25 April 2014, Ratna pindah ke Surabaya. Perpisahan dengan kru Tokoh dilaksanakan Senin (21/4) ditandai dengan penyerahan kenang-kenangan dan foto bersama. Ucapan terima kasih atas kerjasama selama ini dan permohonan maaf pun disampaikan Ratna kepada kru, relasi, dan pembaca Tokoh. Semoga Tokoh sebagai mingguan berita wanita tetap bersemangat. Semangat Tokoh!

Niat Cari Untung malah Rugi Dari kecil, orangtua saya memang selalu mengajarkan anakanaknya untuk hidup sederhana dan mandiri. Meskipun biaya kuliah saya masih ditanggung orangtua, tapi untuk uang saku/ biaya kebutuhan lainnya saya sudah tidak pernah diberi lagi mengingat status saya yang kuliah sambil bekerja. Setiap semester baru akan dimulai, mahasiswa selalu melakukan penyusunan jadwal mata kuliah. Kebetulan saya kuliah di perguruan tinggi swasta yang jadwal mata kuliahnya bisa dipilih sendiri oleh mahasiswa. Saya berencana mengambil mata kuliah dengan jumlah standar agar tidak mengganggu pekerjaan. Sebelumnya, saya minta persetujuan dosen pembim­ bing apakah mata kuliah yang akan saya ambil tersebut sudah

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

memenuhi atau tidak dan dosen menyetujui mata kuliah yang saya pilih itu. Setelah disetujui dosen, muncul niat saya untuk “korupsi”. Jujur saja, saya tidak pernah melakukan ini ke orangtua, tapi melihat keadaan orangtua saya sedang “punya”, saya pikir tidak masalah selama jumlahnya masih wajar. Saya meminta uang Rp 2,5 juta untuk membayar kuliah dengan alasan banyak mengambil mata kuliah dan ingin cepatcepat lulus, orangtua saya pun tidak curiga, lagi pula pada saat itu IPK saya juga tinggi.

Keesokan harinya saya langsung melakukan pembayaran Rp 2,3 juta. Saya pikir lumayan dapat untung meskipun hanya Rp 200 ribu. Tiga hari kemudian mendadak saya diinfokan lagi oleh dosen pembimbing untuk mengambil satu mata kuliah penting dan saya menurut pada saat itu juga melakukan pembayaran Rp 300 ribu untuk mata kuliah tambahan tersebut. Inilah karma yang saya dapat­ kan karena berbohong kepada orangtua, bukannya untung, malah rugi.

Tina, Tabanan

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca ­lainnya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. ­Panjang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Putu Wijaya

UNAS

Bu Amat menggedor suaminya yang lagi pulas. Amat membuka mata malas. “Apa Bu?” “Gawat, Pak!” Amat mengusap mata heran melihat wajah istrinya beringas. “Ada apa,? Kok pagi-pagi, hari libur sudah mau jalan? Mau ke mana?” Bu Amat menarik suaminya keluar kamar. Lalu menunjuk ke luar jendela. Di depan pos hansip kelihatan ibu-ibu kompleks berkumpul. Semuanya memakai pakaian bertempur. Amat heran. “Mau apa mereka?” “Mau demo!” “Demo apa?” “Demo karena soal-soal Unas susah sekali. Banyak anak-anak menangis karena itu menyimpang dari apa yang ada di uji cobanya!” “Ya kan itu namanya ujian!” “Bukan! Itu bukan ujian lagi! Itu jebakan! Penipuan! Masak pemerintah tega menipu rakyatnya sendiri? Itu perbuatannya orang-orang yang menyusun bahan ujian itu! Mereka ingin kelihatan angker! Mau angker kok nakut-nakutin anak kecil! Kalau berani lawan itu musuh-musuh kita. Kok yang dihajar anak-anak kita? Kalau dia punya anak yang ikut ujian, kelakuannya tidak akan kejam kayak ini saya mau ikut demo!” Amat mencoba menenangkan. Tapi Bu Amat sudah buru-buru mau terjun. Bergabung dengan kelompok ibu yang berang itu. “Bu, dengerin, kita sudah tua. Sebaiknya jangan ikut-ikutan. Kalau ujiannya susah, berarti nanti hanya anak yang pintar lulus. Itu gunanya sekolah, bikin anak pintar. Kalau tidak pintar ya buat apa lulus, nanti di perguruan tinggi juga akan di dikeluarkan!’ “Salah Pak! Bapak ini ikut-ikutan saja. Bapak kira kalau soalmya sulit jawabannya, anak kita akan kontan pintar? Salah, Pak. Yang betul kalau soal sulit, sebagian besar anak kita tidak akan lulus! Mau dikemanakan mereka? Nilai rapornya sejak kelas dua tidak akan ber­ arti. Padahal itulah cara yang paling tepat untuk menilai kepintaran mereka. Belum lagi ada tes masuk perguruan tinggi. Hanya anak pintar yang akan lolos. Tapi biar pintar kalau malas, mereka akan ditendang keluar. Itu kan sudah cukup untuk meningkatkan mutu pendidikan kita! Sudah, kalau Bapak setuju pemerintah, silakan! Saya tidak! Ini negara merdeka, kita bebas berpendapat! Mestinya kalau mau mengayomi rakyat, umumkan sebelumnya ujian akan susah, pasti semua akan siap-siap! Kecuali kalau memang maunya bikin kita ketakutan! Itu namanya sewenang-wenang!” Amat mau membantah lagi, tapi Bu Amat membentak. “Sudah! Bapak ke sebelah saja sekarang, lihat si Nindya anak tetangga yang juara kelas sejak kelas satu SMP itu! Bujuk dia, nangis semalaman karena soal biologinya seperti soal untuk cari gelar doktor, katanya. Dia sudah pasti tidak akan lulus. Dia sudah coba gantung diri, karena malu! Untung ketahuan! Lihat sana!” Amat terkekut. Ia tidak bertanya lagi, lalu bergegas ke sebelah. Kedengaran suara ramai dan tangis. Bu Amat pakai sepatu olahraga Amat. Ia menyambar pisang dan kotak makan yang sudah disiapkannya beserta sebotol air putih. Ia juga mengambil payung. Berkaca sebentar memperbaiki topinya. Bahkan sempat mengganti kostumnya dengan kaus oblong bergambar Bob Marley, lalu keluar rumah. Tetapi di depan pos hansip sepi. Hanya ada Made Si Hansip yang lagi nonton tinju. “De! Mana ibu-ibu yang mau demo? Sudah berangkat?” “Belum, Bu!” “Mana mereka?” “Ke rumah Bu Sagung di ujung!” “Ngapain ke situ. Dia kan orang Diknas?” “Tadi disusulin menantu Bu Sagung! “Kenapa?” “Mengingatkan hari ini ada arisan warga di rumahnya, beliau sudah masak besar. Sayang nanti mubasir!” Bu Amat tercengang. “Terus demonya tidak jadi?” “Katanya ramalan cuaca mengatakan hari ini temperatur bisa mendekati 40 derajat, Bu. Jadi banyak ibu-ibu keberatan turun ke jalan!”

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­kretariat: Ayu ­Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A ­Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan ­Pal­m erah ­B arat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram–­ Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

I N F O TO R I A L

28 APRIL - 4 MEI 2014

23

Pemda Gianyar Bangkitkan Endek Gianyar HUT ke-243 Gianyar belum lama ini menjadi menarik dengan di tetapkannya Bunga Pucuk sebagai maskot kabupaten Gianyar. Semakin semarak lagi karena pada ke­ sempatan yang sama dihadirkan pula karya seni tenun ikat atau endek yang indah bermotifkan bunga pucuk dalam sebuah pagelaran fashion show.

Bupati Gianyar dan jajaran SKPD mengenakan endek pucuk

AA Gde Agung Bharata

IB Gaga Adi Saputra

ianyar adalah kota seni dan budaya. Sebut­ an ini tidak salah, sebab hampir seluruh wilayahnya dipenuhi dengan berbagai hasil karya seni. Gianyar juga bisa dikatakan gudangnya seniman dan perupa yang andal. Bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional. Menurut Kepala Dinas Perindustrian Gianyar, Ir. Wayan Suamba, M.T.,Gianyar bukan hanya etalase seni, budaya dan kerajinan, namun di sana juga ada proses kreatifnya. Salah satunya kegiatan bidang pertenunan, dengan hasilnya yang memiliki corak dan gaya yang luar biasa indah. Namun, saat ini produk kerajinan tangan Gianyar ini sedang mengalami kelesuan . Untuk inilah, Sekda Gianyar Drs. IB Gaga Adi Saputra, M.Si meng­ ungkapkan, pemerintah melakukan berbagai upaya demi memajukan kembali pertenunan di Gianyar. Mulai dari penggunaan seragam endek untuk PNS seminggu sekali dan akan diperluas lagi kepada para pelaku usaha yang ada di Gianyar secara bertahap. Hal ini juga menjadi tantangan bagi pengrajin tenun, bukan hanya meningkatkan produksi tapi juga kualitas. Mereka juga, kata IB Gaga harus jeli menangkap selera pasar. Pemerin­ tah pun akan terus melakukan terobosan, seperti bekerjasama dengan BUMN melalui CSR-nya mendiklat calon wirausaha muda Gianyar untuk mengembangkan desain sesuai selera pasar. Seperti, diklat di IGTC Sentul Bogor. Dan jika memungkinkan, Pemda juga akan merekrut satu angkatan dengan biaya APBD, sehing­ ga kuantitas dan kualitas tenun ikat Gianyar semakin meningkat. Selain itu, pemerintah juga menyertakan pengrajin dalam pameran industri kreatif , baik di dalam maupun di luar daerah. Tak ketinggalan dihadirkannya fashion show endek

bermotif maskotnya Gianyar. Bahkan, dalam fashion show busana endek dengan motif khas Gianyar oleh desainer kawakan Gianyar yang sudah punya nama di kancah nasional maupun internasional seperti Tjok Abi, Tu De Togog dan Bintang Mira , yang tampil beda dengan dikolaborasikannya musik dan gamelan Bali Bone Alit. Suamba menambahkan, peme­ rintah juga sudah memberikan ke­ sempatan seorang desainer pemula, Rani yang merupakan alumni IGTC (International Garment Training Centre) Sentul Bogor. Rani mengikuti diklat setahun atas kerja sama Exim Bank dengan Pemkab Gianyar pada tahun 2012. Juga, ada Dian perancang muda lainnya, yang adalah alumni Esmod Perancis. “Acara ini sebagai media untuk memberikan kesempatan mereka lebih lagi menyosialisasikan kepada masyarakat, kalau endek tidak hanya bisa dikenakan untuk busana formal, tapi juga dunia fashion bisa menjadikannya dikenakan di banyak kesempatan,” ujar Suamba. S Begitu juga yang ditekankan Sekda Gianyar, bahwa hal tersebut juga bertujuan untuk mengangkat keberadaan endek di Gianyar yang awalnya muncul di era tahun 1953 dan dipelopori oleh cap Togog, cap

G

Bakti, cap Chili, cap Putri Bali dan cap Anoman. Namun, semuanya sempat mengalami kelesuan baik produksi maupun penjualannya. Sebab, saat itu minat pengrajin mengembangkan tenun ini makin hari makin menurun. Melalui acara ini pula, lanjut Suamba pemerintah Gianyar memfasilitasi berbagai pembinaan kepada seluruh pengrajin tenun khususnya endek untuk bangkit lagi. Sebab, endek bukan hanya merupakan potensi lokal juga potensi nasional dalam rangka mengaplikasikan program nasional MP 3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), berdasar Kepres No. 32 tanggal 20 Mei 2011, dan Bali masuk dalam wilayah Bali-Nusa Tenggara. “Selain untuk pengembangan kepariwisataan yang berbasiskan budaya lokal, cara ini juga sebagai refleksi menuju acara yang lebih besar seperti Gianyar Carnaval Festival dan fashion show yang memang bercirikan khas Gianyar sebagai kota seni dan budaya. Sesuai dengan blue print Gianyar yaitu revitalisasi menuju kabupaten unggulan dalam bidang seni dan budaya,” papar IB Gaga lebih lanjut. GAUNGKAN ENDEK PUCUK Bunga Pucuk, kini telah resmi sebagai maskot Gianyar. Maskot yang digagas Bupati Gianyar AA Gde Agung Bharata ini, berhasil di launching bertepatan dengan HUT ke-234 Gianyar, Sabtu (19/4). Begitu juga endek bermotif pucuk yang diluncurkan bersamaan, juga inisiatif Bupati. Untuk ini, pemerintah menggandeng beberapa desainer Gianyar untuk lebih mempopulerkan endek pucuk. Kedepannya akan diciptakan kreasi tarian pucuk, musik gamelan pucuk,

Para Dasainer bersama model yang mengenakan kreasinya

lagu khas Pucuk, Carnaval Festival, dan fashion pucuk. Endek pucuk ini sangat unik, ka­ rena mengombinasikan proses kerja membatik, tenun ikat dan songket. Ini merupakan produk kreasi baru yang diciptakan pengrajin tenun IB Adnyana dari Blahbatuh Gianyar.Tenun ikat pada teknik ini adalah memberikan motif pada pakan benang, selanjutnya pakan benang ini ditenun sehingga memberikan motif tersendiri. Segala upaya untuk mengoptimalkan aset budaya milik masyarakat Gianyar yang dikenal sangat kreatif dan inovatif ini pun terus dilakukan. Bukan hanya kesenian dan kerajinan, begitu juga potensi-potensi daerah lainnya, termasuk pertanian yang terus mendapatkan permintaaan dan pengembangannya demi dapat me­ningkatkan perekonomian masyarakat Gianyar. Menurut Sekda Gianyar, hal ini berkenaan pula dengan Inpres No:06/2009 tentang Ekonomi Kreatif yang meliputi 15 bidang, yakni Periklanan; Arsitektur; Pasar Seni dan Barang Antik; Kerajinan; Desain; Fashion (Mode); Film Video dan Fotografi; Permainan Interaktif; Musik; Seni Pertunjukan; Penerbitan dan Percetakan; Layanan Komputer dan Piranti Lunak; Radio dan Televisi; Riset dan Pengembangan; dan Kuliner. Tujuh (7) bidang, antara lain arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan , desain, fashion, seni pertunjukan dna kuliner yang sedang dan akan selalu didorong dan dibantu dalam hal pengembangan kreativitasnya melalui peningkatan kualitas bahan, desain, pemanfaatan bahan baku, pemanfaatan teknologi, peningkatan kualitas SDM, peningkat­ an promosi dan pemasarannya. Sementara, Bintang Mira, salah seorang desainer papan atas Bali, mengatakan sebagai masyarakat Gianyar ia mengaku sangat antusias ketika Pemda Gianyar, menggagas ide untuk membangkitkan endek Gianyar. “Apalagi Gianyar sangat kaya tekstil dan seni. Dalam pikiran saya bagaimana agar kain endek ini bisa dikenal secara nasional maupun internasioanl,” ungkap anggota APPMI Bali ini sembari mengungkapkan perlunya visi untuk bangkitkan endek Gianyar melalui empat (4) langkah yakni (1) Membuat website, (2) Meng­adakan pelatihan desain dan manajemen untuk para pengrajin endek yang mati suri, (3) Menyediakan rumah

Wayan Suamba

ikat yang lengkap dan kaya desain seperti rumah mode di Bandung, (4) Mengadakan fashion show dan carnaval.“Diharapkan program ini akan mencapai gol dalam lima tahun dan ada komitmen dari setiap bupati untuk melanjutkan empat langkah dasar ini,” tandasnya. Begitu juga dengan Tude Togog, desainer senior yang juga seorang pengrajin ini, sangat atusias dan mendukung program menggiatkan produksi endek Gianyar ini, dengan langkah awal memproduksi endek pucuk. Dengan memproduksi lebih banyak lagi, begitu yang mengenakannya, diperoleh dua keuntungan sekaligus. Bangkitnya pengrajin endek dan lebih lagi menyosialisasikan bunga pucuk sebagai maskotnya Gianyar. Seperti saat puncak acara HUT, ia mengatakan senang melihat semua jajaran SKPD mengenakan endek dengan motif bunga pucuk. “Akan semakin indah nilai seninya dipandang, jika kita dengan mudah dan jelas melihat motifnya bunga pucuknya,” kata desainer yang memiliki idealisme tinggi akan sebuah karya ini. Dengan terpilihnya bunga pucuk sebagai maskot Gianyar, imbuhnya lagi, ini akan menjadikan peng­ rajin lainnya lebih bergairah untuk menuangkannya dalam segala bentuk kerajinan dan seni yang ada di wilayah Gianyar. Tude juga mengatakan kondisi yang baik ini juga tak lepas dari giatnya Denpasar memelopori dan mengampanyekan kembali penggunaan endek. “Gianyar pun akan semakin semarak dengan kekayaan motif tenun tradisionalnya,” pungkas anggota APPMI Bali ini. -ard


28 April - 4 Mei 2014

24

In ac raf t 2 0 1 4

Jendela Perkembangan Kerajinan Indonesia Suasana nyaman langsung terasa begitu memasuki arena pameran Inacraft 2014 yang berlangsung di Jakarta Convention Center, 23-27 April. Stres dan penat karena kemacetan lalu lintas yang kian parah ditambah cuaca terik tak terhingga, seolah hilang begitu melihat aneka produk kerajinan ditata apik di tiap stand.

hanya yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari daerahdaerah. Seperti saya, yang jauhjauh datang dari Bandung. Orang asing juga banyak yang datang, selain pengunjung biasa, ke­banyakan mereka adalah pelaku bisnis kerajinan,” ungkap Ny Herlina sambil mengamati kerajinan anyaman Lombok. Respons luar biasa dari masyarakat juga pelaku bisnis handi­ craft, mendorong gairah pengrajin untuk menciptakan karya-karya kreatif dan inovatif. “Umumnya, para pengrajin mempersiapkan

A

da 1290 stand dengan ribuan item produk yang disajikan 1.600 UKM dalam pameran itu, mulai dari perhiasan, ­pakaian, aksesoris, souvenir, kerajinan ­tangan, peralatan rumah tangga, dll. Selain UKM dalam negeri, peserta pameran dari luar negeri pun tak ketinggalan, ikut ambil bagian dalam pameran kerajinan terakbar itu, di antaranya; Vietnam, Hong Kong dan UEA. Sebenarnya jumlah UKM yang ingin ikut berpameran lebih dari yang ada sekarang. Setidaknya ada 150 pelaku industri kerajinan ingin ikut berpartisipasi dalam pameran yang banyak diminati oleh pembeli asing ini. Namun, karena lahan yang tersedia terbatas, hanya 25.070 M2, sudah full terpaksa mereka batal ikut serta. “Iya, banyak yang tidak bisa kami tampung karena tempatnya terbatas, sudah full,” ujar pelaksana pameran, ­Bramantyo. Pameran yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, memang bagai magnet bagi para penyuka produk-produk kerajinan maupun pelaku bisnis kerajinan. Tak heran kalau pengunjungnya yang kebanyakan kaum wanita, melimpah meski untuk masuk setiap pengunjung dikenakan tiket Rp 20.000. Standstand yang paling

ramai pengunjung biasanya, selain kerajinan, juga produk-produk fashion seperti pakaian, stand-stand batik baik itu hanya menjual kain maupun pakaian jadi. “Barang baru, model baru, krea­ tif dan inovatif selalu tampil setiap kali Inacraft digelar. Mungkin ini karena banyaknya pengunjung yang datang, bukan

sebaik-baiknya untuk tampil di Inacraft, termasuk membuat produk khusus untuk dipamerkan di sini. Istilahnya, launching produk pas momen Inacraft. Itu sebabnya, saya selalu datang ke Jakarta (Inacraft) setiap kali pameran ini digelar. Selain untuk melihat-lihat produkproduk yang sedang tren juga belanja,” ungkap wanita ber­ usia 50 tahun ini sambil

Kerajinan pelepah pisang

menambahkan dirinya optimis prospek bisnis di bidang handicraft Indonesia semakin cerah di masa datang. “Saya sudah empat tahun di bidang ini, prospeknya bagus. Kerajinan-kerajinan Indonesia tak kalah dengan negara lain, malah menurut beberapa klien saya yang dari luar negeri, kerajinan kita lebih bagus, baik dalam kreativitas maupun kualitas,” ucapnya. Seperti Ny Herlina, ada banyak lagi pembeli-pembeli dalam negeri yang datang ke Inacraft untuk berburu kerajinan. Bahkan pembali asing pun tak kurang banyak­ n y a . Ta r g e t omzet transaksi penjualan tahun ini Rp 117,6 miliar dan kontrak dagang sebesar 9 juta US dolar. Sedang target pengunjung selama lima hari pameran digelar sekitar 200.000 orang, dan 1.000 orang pembeli dari dalam dan luar negeri. Bagi pasar kerajinan internasional, Inacraft boleh dibilang telah menjadi ‘jendela’ perkembangan kerajinan Indonesia. Tak heran kalau pameran ini telah menjadi salah satu destinasi bagi bagi pembeli dalam memburu kerajinan-kerajinan berkualitas. Ini memang menjadi tantangan tersendiri bagaimana agar kerajinan Indonesia makin kreatif, bermutu serta makin dikenal pasar dunia. Setiap tahunnya di bulan April, selain Indonesia sejumlah negara di Asia Selatan seperti India, Thailand dan Cina, juga menggelar pameran kerajinan. Pembeli dari Eropa pasti akan berkunjung ke negara-negara tersebut, termasuk Indonesia. Hal ini tentunya tantangan tersendiri bagi Inacraft, khususnya para pelaku industri kerajinan Tanah Air untuk terus menerus memperbaiki diri. Produk-produk yang dipamerkan di event ini, bukan hanya sekadar beragam, tapi lebih dari itu, harus kreatif dan inovatif. TAHUN 2015 GILIRAN BALI Berbeda dengan tahun lalu, kali ini Inacraft mengetengahkan produk unggulan dari Jawa Tengah, bukan hanya produk-produk kerajinannya tapi juga seni dan budaya Jawa Tengah. Ini adalah

salah satu upaya dari Inacraft mengangkat kebudayaan dan produk yang dihasilkan daerah-daerah di Indo­nesia agar lebih dikenal bukan hanya di dalam negeri tapi juga ke pasar internasional. “Tahun lalu kami mengetengah­ kan kebudayaan dan produkproduk unggulan dari Yogyakarta, tahun ini giliran Jawa Tengah. Tahun depan (2015) rencananya Inacraft akan menampilkan kebudayaan, kesenian juga produk-produk unggulan dari Bali,” ungkap Ketua Panitia Pelaksana Inacraft 2014, Hadi Sunarno, sembari menambahkan, tema Inacraft 2014 adalah ‘From Smart Village to Global Market’. Presiden SBY dalam sambutan­ nya pada pembukaan pameran mengaku menyukai produkproduk kerajinan dalam negeri. “Saya pribadi, Ibu Ani dan keluarga, suka handicraft. Kami cinta produk Indonesia dan sering membeli,” ujar Presiden seraya berharap masyarakat Indonesia juga bukan sekadar cinta produk Indonesia tapi juga membeli dan memakainya. Dari tahun ke tahun, kerajinan dalam negeri berkembang pesat. Prospek kerajinan di masa depan, baik. Para pelaku bisnis kerajinan menjaga dan meningkatkan kualitas produk agar dapat bersaing dengan industri kerajinan negara lain. “Agar efisien dan harus produktif, dengan kualitas sama harga bisa bersaing. Di luar negeri ekonomi kreatif ini gabungan seni budaya dan teknologi. Dalam negeri , seni budaya dan kerajinan tangan,” tuturnya. Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyinggung soal produk kerajinan ramah lingkungan. Ia berharap kerajinan menjadi produk yang ramah lingkungan sehingga tidak terganjal sistem perdagangan internasional non ­t ariff barriers yang diterapkan banyak negara maju. “Konon, barang yang tidak ramah lingkungan tidak lolos dalam dunia perdagangan inter­nasional. Jadi saya minta lingkungan juga diperhatikan,” ujarnya. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, industri kerajinan Indonesia mempunyai prospek dan peluang besar untuk berkembang. Dalam lima tahun terakhir, industri kerajinan tumbuh 5% dengan nilai ekspor mencapai 700 juta dolar AS, dengan tujuan Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Jepang dan Hong Kong. Disebutkan juga, kontribusi kerajinan terhadap PDB (produk domestik bruto) nasional pada tahun 2013 mencapai Rp 92,6 triliun dan industri kreatif mencapai Rp 641,815 triliun. Dengan capaian sebesar ini, industri kreatif menjadi salah satu pilar dalam perekonomian Indonesia. –Diana Runtu


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook