Skip to main content

Tokoh Edisi 785 | Tokoh

Page 1

24 Februari - 2 Maret 2014

24

Mengusung Fashion dengan Konten Lokal dan Konsep Hijau Eksistensi produk fashion Indonesia makin diperhitung­ kan di pasar internasional. Hal ini terlihat dari per­ tumbuhan ekspor produk ­fashion yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Jika melihat tren pertumbuhan dalam lima tahun terakhir (2008-2012), terlihat per­ tumbuhan yang cukup signifikan, 10,95% per tahun. ­Bahkan tahun lalu pertumbuhannya 6,4% atau lebih tinggi dari pertumbuhan nasional, 5,7%.

T

ren menggembira­ kan ini makin menye­ mangati para pelaku industri fashion Indo­ nesia dalam berkarya dan berkreasi demi mendapat tempat lebih luas lagi di panggung fashion internasional. Di sisi lain, kampanye mencintai produk fashion Indonesia atau ‘Local Movement’ terus dikumandangkan. Gerakan ini dibuat agar dapat me­ ningkatkan jumlah pengguna produk lokal sehinga akan memacu percepa­ tan produksi produk Indonesia, serta promosi ke luar negeri. Indonesia Fashion Week (IFW) 2014 yang digelar 20-23 Februari di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, adalah salah satu yang ikut mengusung gerakan ini dalam pagelarannya. Pelaku industri fashion Indonesia tidak sendirian, karena empat kementerian terjun langsung mem­ beri dukungan. Kementerian Pa r i w i s a t a d a n Ekonomi Kreatif serta Kementerian Perdagangan yang selain mendukung Local Movement juga mengusung Green Movement, disamping menjalankan pro­ gram pengembangan branding. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah tampil de­ ngan pro­ gram kelompok kerja kreatif untuk mengembangkan kualitas produk na­ sional yang mampu bersaing di tingkat internasional. Semua langkah ini dijalankan dalam rangka membawa Indonesia menjadi salah satu pusat mode dunia di masa depan. Impian ini bukan sekadar ‘bunga tidur’, juga bukan suatu yang mus­ tahil karena sejatinya Indonesia memiliki segala sumber daya un­ tuk mencapai itu. Seperti yang di­ sampaikan Dody Edward, Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemen­ terian Perdagangan, yang menyebut, Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk terus berkembang dan menjadi pusat mode di kawasan regional, serta memainkan peranan penting di tingkat global. Fashion Indonesia didukung oleh kekayaan budaya yang menjadi sumber inspirasi tanpa batas bagi para pelaku fashion Indonesia untuk terus mengem­ bangkan kreativitas dan inovasinya. Hal senada juga disampaikan Ketua Umum APPMI (Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia), Taruna K Kusmayadi, yang menyebut, IFW

sebagai the biggest fashion movement. Karena ajang ini bukan sekadar page­ laran fashion biasa, melainkan sebuah gerakan untuk memperbaiki industri fashion Indonesia dalam segala sisi de­ ngan mengandeng berbagai pihak. “IFW tahun ini mengusung konsep ‘Local Movement ‘ dan ‘Green Movement’. Gerakan ini mer­ upakan ajakan un­ tuk bangsa untuk mencintai produk Indonesia, juga ajakan bagi pelaku dan pencinta fashion untuk sadar de­ngan konsep ‘sustain-

able fashion’ atau ecofashion,” ucapnya pada pembu­ kaan IFW 2014, Kamis (20/2). Mari Elka Pangestu, Men­ teri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat pembuka event akbar ini mengatakan IFW bukan sekadar pameran biasa melainkan upaya berbagai pihak yang punya mimpi agar Indonesia men­ jadi salah satu pusat mode dunia tahun 2025. “Fashion merupakan salah satu industri yang penting da­ lam pengembangan industri kreatif. Bahkan tahun lalu pertumbuhannya 6,4% atau lebih tinggi dari per­ tumbuhan nasional sebe­ sar 5,7%,” ucap Mari Elka. Ia menambahkan,

untuk mewujudkan mimpi itu keempat kementerian telah berbagi tugas. Kemen­ parekraf menangani tren mode, Kemen­ perin bahan baku, Kementerian Koperasi dan UKM pembinaan UKM, Kementerian Perdagangan pasar dan bisnis. Blueprint tersebut telah menyepaka­ ti ready to wear craft fashion sebagai tools yang ampuh untuk menembus pasar dunia. “Ready to wear Indonesia adalah ready to wear yang memiliki konten lokal berkualitas global dan mengusung konsep hijau,” kata Mari Elka. MEWAH DAN GLAMOUR Indonesia Fashion Week 2014 ini memang tampil berbeda dari tahun sebelum­nya. Kali ini IFW berusaha mem­ buat arus baru di dunia fashion yaitu arus kecintaan masyarakat Indonesia akan produk lokal. Produsen fashion dibimb­ ing untuk membuat produk lokal yang inovatif dan modern agar mampu bersa­ ing dengan produk asing. Dari konsep tersebut, Indonesia Fashion Week 2014 memunculkan ide untuk menyatukan potensi desainer dan brand. Sebanyak 160 desain lokal dan 512 brand ikut ambil bagian dalam event akbar ini, jumlah ini lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Selain desainer dalam negeri, juga hadir de­ sainer internasional di antaranya dari Argentina, Maroko, dan Jepang. Para desainer dan merek ini dikelompok­ kan dalam berbagai zona yaitu; Men’s Wear, Women’s Wear, Muslim’s Wear, Kid’s Wear, Aksesoris, Tekstil, dan Green Point. Acara pembukaan yang digelar di Plenary Hall JCC makin meriah dan me­ narik ketika Deden Siswanto dan Sofie menampilkan karya-karyanya yang kental nuansa etnik tampil. Peng­ gunaan bahan-bahan de­ngan warna mengkilat membuat karya-karya terkesan mewah dan glamour. Desainer lain yang juga me­ nampilkan karyanya pada pembukaan IFW adalah Ali Charisma, Votum dan Mardiana Ika serta desainer interna­ sional seperti Steven Tach (Jepang) dan Said Mahrouf (Maroko). Selain para desainer papan itu, acara pembukaan juga dimeriahkan dengan karya-karya para desainer pemula yang berasal dari 12 sekolah mode. Sekolah-sekolah tersebut menampil­ kan tren yang bertema Recovery. Tema tersebut merupakan hasil pemikiran tim Indonesia Trend-setter yang dibentuk APPMI dan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tren yang ditampilkan adalah gaya busana berbasis Indonesia yang mengedepankan karakter berbagai daerah seperti Solo, Banjarmasin, Jakarta, serta Raja Ampat. Yang juga menarik dalam IFW kali ini adalah hadirnya Zalora sebagao official e-commerce partner. Ini adalah yang kedua kalinya Zalora tampil se­ bagai salah satu spon­ sor sejak tahun 2012. Zalora membangun booth khusus di lobi utama. Di sana tersedia seperang­

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu meninjau pameran

kat komputer dan internet guna me­ mungkinkan pengunjung memenuhi hasrat belanjanya di situs zalora.co.id. Di booth berlatar belakang warna hitamputih, warna khas Zalora, pengunjung diajak untuk merasakan pengalaman berbelanja online yang nyaman, mudah dan aman. Zalora juga menggelar workshop di mini stage yang membahas tentang marketplace yang akan diluncurkan dalam waktu dekat. Platform baru ini berperan sebagai wadah untuk mengembang­ kan bisnis para desainer dan pelaku

ritel fashion independen dengan cara memperkenalkan produk dan merek mereka pada pelangan situs e-commerce tersebut. –Diana Runtu


EKSPRESSO

2

24 Februari - 2 Maret 2014

GORO-GORO

klik: www.tokoh.co.id

Lat

mingguantokoh @mingguantokoh

Putu Wijaya

Pilih Nyawa atau Gaya? Kasus kecelakaan yang ter­ jadi di jalan raya bisa menimpa siapa saja. Namun, kecelakaan yang melibatkan pelajar banyak mendapat perhatian. Data Polda Bali tahun 2013 menyebutkan pelajar berada di urutan kedua setelah karyawan dalam klasifikasi profesi. Jika dilihat dari sisi usia, pelaku kecelakaan paling banyak usia 16-25 tahun (740) disusul usia 10-15 tahun (107). Hal yang perlu diperhatikan adalah usia 10-15 tahun. Nor­ malnya ini adalah usia untuk anak sekolah SD hingga SMP. Bagaima­ na mereka menjadi pelaku kecela­ kaan? Apakah mereka memiliki SIM? Bagaimana peran orangtuan­ ya? Pertanyaan-pertanyaan yang muncul ini kami bahas dalam dis­ kusi terbatas yang menjadi agenda rutin Mingguan Tokoh. Kami ingin

O

mendapatkan sudut pandang dari berbagai pihak yang berkompeten sehingga pemahaman mengenai kasus menjadi terbuka. Peran orangtua menjadi faktor utama yang disoroti. Ada orangtua yang sibuk bekerja sehingga tidak bisa mengantar-jemput anaknya sekolah. Karena sibuk, mereka memilih memberikan kendaraan bermotor untuk anaknya, pa­ dahal dari sisi aturan anak usia 10-15 tahun belum bisa memiliki SIM. Kondisi psikis mereka juga masih labil. Orangtua harusnya lebih bijaksana dan memikirkan pilihan lain. Alternatifnya adalah menggunakan jasa ojek, naik angkutan umum, atau orangtua yang meluangkan waktu untuk antar-jemput anak. Ini adalah konsekuensi yang harus dipilih sebagai orangtua yang punya anak

M G

sekolah. Jangan menjadi orangtua yang bangga anaknya bisa naik kendaraan bermotor. Jika anak melakukan kompro­ mi, orangtua harus memiliki sikap tegas. Tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor sebelum berusia 17 tahun. Ketegasan ini menjadi modal kedisiplinan. Kalau di rumah sudah disiplin, di jalan raya juga harus disiplin. Ikuti tata tertib lalu lintas. Kalau pakai helm, ya harus pakai helm. Jangan gayagayaan di jalan. Penuturan menarik seorang narasumber yang anaknya masih SMP dan menolak memakai helm saat ia berpakaian adat. Pilihan pertama, pakai helm dan ke seko­ lah dibonceng kakak yang sudah memiliki SIM. Pilihan kedua, jika tak mau pakai helm, silakan naik angkutan umum. Pilihan ketiga, jika tidak mau, pilhan pertama dan kedua, lebih baik jangan sekolah. Nyawa lebih penting dari gaya. Redaksi

Kisah Nyata yang Mendebarkan

Sekitar tahun 1980-an masyarakat Denpasar sering digemparkan oleh berita (apakah itu isu ataukah me­ mang benar adanya) tentang konon adanya sosok misterius yang suka membuat ulah di beberapa wilayah kota, entah tujuannya mau meram­ pok ataukah menculik, tidak jelas. Yang pasti beritanya simpang siur, namun cukup membuat masyarakat Bali khususnya Denpasar waktu itu merasa resah, mencekam, dan mu­ dah curiga kepada setiap sosok asing yang masuk di wilayah banjarnya. Waktu itu saya baru tamat Seko­ lah Pariwisata di Denpasar dan juga baru belajar bekerja di sebuah hotel yang tidak begitu besar beralamat di Jalan Bakung Sari Kuta dan merang­ kap melayani tur lokal khususnya ke destinasi seperti Kintamani, Besakih, dan Tanah Lot. Pada waktu itu kalau tidak salah akan dilangsungkan upacara besar Eka Dasa Rudra periode kedua di Pura Besakih. Pada suatu malam pukul 20.00 tamu hotel tempat saya be­kerja datang sekeluarga ke front office mau mendaftar ikut tur ke Be­ sakih keesokan hari. Tentu dalam hal ini saya harus memberitahukan ke sopir minibus yang biasa mengantar tur. Sayangnya, ia sudah pulang duluan pukul 18.00. Jika tidak, pasti besok dia akan datang agak siang seba­ gaimana biasa kalau tidak ada jadwal

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tur. Pada masa itu, tidak ada telepon rumah dan kami belum mengenal handphone. Satu-satunya jalan harus memberitahukan langsung ke rumah­ nya di seputaran Padang Sambian. Celakanya, saya belum tahu alamat atau lokasi persis rumah Pak Sopir. Singkat cerita pergilah saya sendirian pakai motor ke rumah Pak Sopir se­telah tutup kantor sekitar pukul 22.00. Di Padang Sambian suasana sudah agak sepi, hanya ada beberapa orang bergerombol di pinggir jalan. Begitu memasuki jalan kecil yang belum beraspal, saya tuntun motor sambil menanyakan lokasi rumah Pak Sopir (kalau saya tidak salah namanye Pak Wayan Rete). Sesuai petunjuk orang yang bergerombol tadi, saya kemudian masuk ke sebuah gang kecil sambil menuntun motor. Pintu pekarangan waktu itu ham­ pir semuanya tidak menggunakan daun pintu saya coba masuki sambil mengucapkan permisi, tapi tidak ada jawaban. Yang ada hanya suara riuh gonggongan anjing yang terus

mengikuti saya. Di pintu terakhir di ujung gang ada orang yang menyahuti saya dan benar saja itu adalah rumah Pak Sopir yang saya cari dan kebetul­ an belum tidur. Lalu saya ceritakan tentang mengapa saya datang men­ cari Pak Sopir malam-malam. Ketika ngobrol di dalam rumah Pak Sopir tiba-tiba saya dengar suara beberapa orang ramai di luar (katanya sambil membawa senjata tajam) yang bertanya kepada tuan rumah, “Apakah ada yang melihat orang ­asing tadi masuk ke sini?” Saya sungguh takut luar biasa. Lalu Pak Sopir keluar men­ jelaskan duduk persoalan yang sebe­ narnya. De­ngan alasan kesela­matan, Pak Sopir melarang saya pulang malam itu alias menginap semalam di rumah Pak Sopir yang sederhana beralaskan selembar tikar. Benar-benar sebuah pengalaman suka-duka sebagai buruh kecil tapi sangat berkesan dan tak mudah dilupakan. I Ketut Panca Putra Cakranegara, Mataram

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lain­ nya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Pan­ jang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

24 Februari - 2 Maret 2014

Amat kesiangan. Ia jatuh bangun ke kamar kecil, mandi, dan dandan. Panik, karena sepatu yang hampir setahun tidak terpakai entah nyelip di mana. Kemudian gentayangan cari kaus kaki karena yang kiri dan kanan beda warna. Belum lagi bolong dimakan tikus. Tapi akhirnya siap juga. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Amat patah semangat. Ia ambruk ke kursi seperti nangka busuk. Wajahnya berkerut. “Kenapa, Pak? Kok belum berangkat? Pusing? Amat membuka kancing baju batiknya. “Kenapa? Kurang sehat?” Amat menanggalkan batiknya. “Kenapa dibuka? Mau tukar pakai apa? Batik sudah pas. Sopan dan kelihatan lebih muda!” Amat menggeleng. “Kenapa?’ “Sudah lat!” Suara amat parau. Ia menunjuk ke jam dinding. “Lihat sudah jam 10.00. Janjinya jam 09.00. Belum jalan macet ada pawai.” Bu Amat menoleh ke jam dinding heran. “Jam sepuluh apa? Ini baru jam sembilan. Jam dinding itu kan mati?” Amat terkejut. Ia melihat lagi ke jam dinding. Baru teringat lagi jam itu sudah tiga hari tak berfungsi. Amat langsung memakai lagi batiknya dengan panik. “Kancingnya salah!” Amat memperbaiki kancing bajunya. Bu amat membantu. Tanpa pakai kaus kaki akhirnya amat berangkat. “Hati-hati!” Hampir saja Amat menabrak nenek tetangga yang sedang berjemur. Sambil minta maaf, Amat bergegas ke jalan cari angkutan umum. Pukul 7 malam, baru amat kembali ke rumah. “Bagaimana, Pak, lat?” “Ya, lat juga.”“Tapi ketemu?” “Ya ketemu. Karena kapal terbangnya juga lat.” “Jadi sudah disampaikan?” “Ya sudah. Tapi sudah lat!” “Lho, bukannya ke Jakarta hanya 2 jam. Paling banter jam 2 siang sudah sampai ke kantornya. Kan di Jakarta mundur satu jam?” “Betul. Tapi sudah lat.” “Lat bagaimana?” “Penutupan kan Januari, ini sudah Feburari”! “Lho Januari kan baru pembukaan. Januari tahun depan baru penutupan! Bapak ini bagaimana!” Amat tercengang, seperti tak percaya. Bu Amat lantas mengambil guntingan koran yang berisi pengumuman. “Ini baca pakai kacamatanya jangan cuma ditebak-tebak! Penutupan akhir Januari tahun depan!” Bu Amat memaksa suaminya membaca pakai kacamata baca. “Ya kan?! Tapi tadi sudah diberikan tidak amplopnya?” Amat masih heran. “Kok bisa keliru lat sampai dua kali hari ini aku?” “Makanya tidurnya jangan suka lat. Sebab kalau lat bangun Bapak jadi gugup, semua mau buru-buru. Semua jadi salah. Sepatu sudah dipakai dicari ke mana-mana, kaus kaki kiri dan kanan lain warna, jam mati dibaca, pengu­ muman bukannya dibaca tapi ditebak. Sana mandi dulu, dari lapangan terbang singgah ke mana saja tadi, tengah malam baru pulang kayak bujangan!” Amat tak menanggapi. Tapi ia manut, buru-buru ke kamar mandi. Setelah itu menyerbu meja makan. Kemudian cari koran yang tak sempat disingkapnya tadi pagi. Ternyata Gunung Kelud sudah meletus. Wilayah yang diamankan men­ capai radius 35 Km. Beberapa penerbangan dibatalkan. Amat cepat menghidupkan TV. Menguntit kesigapan JK, ia tak mau ketinggalan berita. Langsung menempel ke saluran TV yang membawanya dekat dengan kawasan bencana. “Setelah Medan, Manado, kini Kediri, apa gunung juga suka main kompak-kompakan? Tidak ada yang mau lat batuk? Untuk menggemboskan sedikit semangat jor-joran agar jangan terlalu meledak nanti dalam Pemilu?” tanya Amat dalam hati. Tengah malam, baru Amat mendusin, ia tertidur di depan TV. Tapi TV itu sudah dimatikan. Baru Amat ingat itu hari Rabu. Ia ada janji. Cepat-cepat Amat masuk kamar. Lampu sudah dimatikan. Entah jam berapa sudah saat itu. Ia menubruk meja dan sesuatu jatuh berisik. Amat tak peduli. Bu amat menggerundel. “Sudah lat!” Amat bersorak dalam hati. Ada lat yang membawa bencana. Tapi juga ada lat yang menambah pesona. Esoknya, di luar kebiasaan, keduanya sama-sama lat bangun pagi.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­kretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Pal­ merah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram– Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

I N F O TO R I A L

23

Semarak HUT ke-45 Perdiknas Denpasar

Siapkan Pendidikan Berkualitas bagi Anak Bangsa Suasana kebersa­ maan sangat terasa pada puncak acara HUT ke- 45 Perdik­ nas Denpasar, pagi itu. Tampak semua peserta, keluarga besar Perdiknas Denpasar antusias dan tersenyum ba­ hagia bersiap-siap mengikuti ber­ bagai pagelaran yang meng­usung tema “Dari Kesederhanaan Kita Tingkatkan Rasa Kekeluargaan”.

P

ada puncak acara terse­ but hadir pula Kadisdik­ pora Kota Denpasar, IGN Eddy Mulya, Ny. Bintang Puspayoga, Ny. AA Sri Utari Satria Naradha. Bersama Pendiri dan Ketua Perdiknas Denpasar, bertem­ pat di depan Gedung Perdikas, Jalan Tukad Yeh Aya, Denpasar, melepas ratusan peserta gerak jalan santai, Minggu (16/2). “Gerak jalan santai kali ini, selain melibatkan civitas akademika Un­ diknas, siswa SMP Nasional, SMA Nasional, dan SMK Teknologi Na­ sional, juga seluruh karyawan dan para pendidik di lingkungan Perdiknas. Setelah jalan santai mereka kembali di area halaman Perdiknas ini untuk mengkuti beragam acara lainnya,” ungkap Ketua Panitia HUT ke- 45 Perdiknas Denpasar, Dr.Drs. I Ketut Subanda, M.Si. Kegiatan puncak acara HUT ke-45 Perdiknas sekaligus Dies Natalis pada hari tersebut, semakin meriah dengan diselenggarakannya demo kecantikan oleh Ibu Agung dari Salon Agung serta

Pendiri Utama Perdiknas Ketut Sambreg dan Ketua Perdiknas bersiap melakukan pemotongan tumpeng

dilangsungkannya pula aneka lomba dan pengundian door prize. Sebelum acara berakhir juga dilaksanakan pem­ berian penghargaan kesetiaan dosen guru dan karyawan Perdiknas, kali ini untuk mereka yang telah mengabdi selama 25 tahun. Menurut Ketua Perdiknas Dr. AAA Ngr. Tini Rusmini Gorda, S.H., M.H., M.M., usia ke-45 Perdiknas kali ini, diibaratkannya sebagai kon­ teks dasar kemerdekaan bangsa Indonesia di tahun 45. Sedangkan, kesederhanaan yang diangkat menjadi tema, diharapkan dapat mengikuti rasa kekeluargaan. “Kejujuran juga merupakan kesederhanaan yang paling tinggi nilainya dan digunakan dalam menjalin hubungan antar unit di Perdiknas,” katanya. Seluruh lembaga pendidikan yang ada di bawah Perdiknas juga diharap­ kan terus memberikan kontribusi bagi generasi muda, para tunas bangsa yang ingin mencari ilmu. Pembentukan karakter pada mereka di jenjang S-1 dan S-2, juga sesuai dengan program pemerintah Indonesia. Bahwa, tepat 100 tahun Indonesia Merdeka tahun 2045 merupakan pencanangan gene­ rasi berkarakter, generasi emas. Selanjutnya kata Gung Tini, ke­ beradaan Perdiknas semakin kokoh, karena lulusan semua lembaga pen­ didikan memiliki nilai plus, sebab me­reka telah dibekali pendidikan karakter. Hali ini juga menjadi modal

Demo Kecantikan oleh Salon Agung

Kadisdikpora Kota Denpasar IGN Eddy Mulya, Ny. Bintang Puspayoga dan Ny, AA Sri Utari Naradha pada Puncak Acara HUT ke-45 Perdiknas

Kunjungan ke Panti Jompo Tresna Werda Wana Seraya

Perdiknas untuk terus maju memberi­ kan kontribusi yang terbaik yakni pen­ didikan berkualitas bagi anak bangsa. Pendiri utama Perdiknas Drs. Ketut Sambreg, M.M., mengungkap­ kan, di tahun 1969 Perdiknas hanya memiliki Akademi Keuangan dan Perbankan, yang akhirnya menjadi cikal bakal keberadaan Undiknas Uni­ versity saat ini. Hal tersebut katanya didirikan demi dapat memberikan tempat pendidikan di Bali bagi putraputri Bali. “Karena kami melihat pada masa itu, semakin banyak putra-putri Bali yang melanjutkan kuliahnya ke Jawa. Karena itulah kami mendirikan lem­ baga pendidikan. Begitu kami meng­ umumkannya, masyarakat sangat an­ tusias. Tercatat pendaftar pertama 159

orang. Selanjutnya, terus bertambah dan berkembang sampai sekarang,” tutur Ketut Sambreg. Ia menggantungkan harapan besar agar lembaga yang dirintisnya bersama dengan I Gusti Ngurah Gorda (alm.), baik itu SMP, SMA, SMK Teknologi Nasional hingga Undiknas yang berada di bawah naungan Perdiknas Denpasar ini, terus maju. Selanjutnya, segera dibuka S-3 Jurusan Manajemen. BERBAGI DENGAN LANSIA DAN ANAK PANTI ASUHAN Aktivitas sebelumya yang juga merupakan rangkaian peringatan HUT ke-45 Perdiknas, yakni kunjungan sosial ke Panti Jompo Tresna Werda Wana Seraya, Biaung, dan Panti Asu­ han Tatwam Asi, di Jalan Jaya Giri,

Kunjungan ke Panti Asuhan Tatwam Asi

Berfoto bersama usai demo kecantikan

Renon Denpasar. Ketika mengunjungi para lan­ sia, rombongan Panitia HUT ke-45 Perdiknas, mengajak pula dokter, untuk memberikan pemeriksaan kesehatan gratis. “Ini adalah salah satu bentuk kepedulain Perdiknas terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang ada. Selama ini kami juga mengajarkan dan menanamkan nilai kemanusiaaan dan kepedulian ini pada anak didik di lingkungan Perdiknas,” ungkap Su­ banda yang juga Dekan Fisip Undiknas University ini. Harapannya, dengan kehadiran langsung di lokasi panti, dapat mem­ berikan manfaat secara riil bagi para lansia. Subanda mengatakan, lansia yang ada di panti jompo adalah orang yang berjasa dan mempunyai nilai, meski sudah lanjut usia. Perjuangan, motivasi serta spirit mereka menjadi dorongan tersendiri bagi Perdiknas untuk melaksanakan bakti sosial ini. “Siapa tahu ada di antara mereka yang ikut berjuang untuk bangsa ini. Sebagai generasi muda perlu juga bercermin dari mereka,” ungkap Gung Tini. Sementara, Ketut Sambreg juga mengungkapkan kebahagiannya, ke­ tika beberapa hari sebelum puncak acara dirinya juga berkesempatan bersama-sama rombongan Perdik­ nas melakukan aktivitas sosial untuk membantu sesama. Ia kembali meng­ aku senang ketika berada di tengahtengah mereka. Ia juga berharap, penghuni panti yang disebutnya penglingsir tersebut masih memiliki umur panjang. –ard

Foto bersama usai pemberian penghargaan kesetiaan dosen, guru dan karyawan Perdiknas.


W H AT ’ S U P

22

Cinta Sejati tak Memilih

Jumat (21/2), bertempat di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha, Bunda Arsa­ningsih menerima Penghargaan Tri Hita Karana ­Nugraha dari Bali Travel News. Dedikasi perempuan kelahiran Yogyakarta, Desember 1968 ini menjadi sorotan masyarakat luas atas keaktifan­nya mengajarkan dan berbagi ajar­an cinta kasih. Workshopnya di­kenal dengan Soul Illumination telah banyak membantu dan menyembuhkan orang-orang untuk mencapai ke­ seimbangan hidup, mensyukuri, menyadari potensi diri, ber­kelimpahan secara material dan spiritual, sehat secara jasmani dan rohani.

Bunda Arsaningsih menerima Penghargaan THK Nugraha dari BTN, Jumat (21/2)

“L

ife with Love” adalah salah satu a c a r a yang digelar Bunda Arsaning­ sih, kerjasama antara Yayasan Cinta Kasih dan Love and Peace Corporation, Sabtu (15/2) di Kasa Bunga Restauran, Renon, Denpasar. Direktur Love and Peace Corporation, Adek Dha­ rana didampingi Ketua Yayasan Cahaya Cinta Kasih, dr. Netty Santyari mengatakan, di malam perenungan yang bertema “Life with Love” ini peserta diajak memahami apa itu cinta. Kalimat “Life with Love” ini indah didengar. Mengucapkannya saja, kita akan tersenyum. Sekitar 150 peserta yang memenuhi halaman sangat antusias menyi­ mak kata demi kata dari Bunda Arsaningsih, guru energi dan ahli fengshui. “Bulan ini bulan penuh cinta, semua orang merayakan hari kasih sayang. Jika paham energi, walaupun banyak pro dan kon­ tra tentang valentine, dengan memahami energi, ketika semua memikirkan tentang cinta, maka di hari yang luar biasa ini, energi cinta pun memenuhi bumi ini,” ujar Bunda. Valentine bukan hanya sekadar Valentine. Namun, yang perlu dimaknai adalah, ketika banyak orang memikirkan cinta, ba­ nyak orang ingin berbagi, maka dunia dipenuhi dengan energi cinta. “Tidak salah jika hari ini kami mengumpulkan Bapak/Ibu di sini untuk berbagi cinta, dan belajar menyatu dengan alam,” ucapnya.

Pemilihan tempat pun tak sembarangan. Secara energi, Kasa Bunga penuh dengan energi cinta, karena sering berlangsung event cinta, seperti pernikahan dan ulang tahun. Jadi, energi cinta sangat kuat. Harapannya, setelah mengikuti renungan ini, para peserta pulang dipenuhi rasa cinta yang meluap, yang se­ lama ini mungkin belum pernah didapatkan. CINTA SEJATI Dalam renungan jiwa yang di­ pandu Bunda Arsaningsih, malam itu para peserta dibantu untuk membebaskan diri dari semua be­ lengu sakit hati, dendam dan juga membebaskan semua keterikatan setahap demi setahap, dengan

memahami makna cinta. Cinta sejati yang diungkapkan Bunda adalah cinta yang tak mengikat. Cinta sejati adalah cinta yang membebaskan, cinta yang mem­ buat kita benar-benar terbebas dari ikatan keduniawian, sehingga dapat terhubung dengan Tuhan. Mengapa kita tak bisa ter­ hubung dengan Tuhan? Karena kita masih memiliki hambatan cinta. Ada hambatan cinta, tak menemukan pasangan yang tepat dalam hidup ini. Ini membuat kon­ disi dalam keluarga menjadi tak nyaman. Sering kita temukan ada pasangan yang sebenarnya baikbaik saja, menjadi tidak harmonis karena ada hal negatif, pengaruh dari luar seperti iri hati. Malam renungan yang ber­

“Life with Love” di Kasa Bunga Restauran, Sabtu (15/2)

S E L E B R I TA S

Irma Dharmawangsa

Sangat Kaku

tepatan dengan upacara Hindu yakni Tumpek Wayang, dikatakan Bunda memiliki makna sebagai proses hidup manusia. Manusia hanyalah wayang-wayang yang menjalankan swadarmanya ma­ sing-masing, supaya proses ke­ hidupan di alam ini bisa berjalan baik. Semua adalah skenario Tuhan, dan sang sutradara akan memberikan jalan terbaik kepada orang yang total mau menyerah­ kan hidup kepada Tuhan. Rencana Tuhan lebih indah dibandingkan rencana manusia. Terkadang kita banyak berencana, akhirnya me­ lenceng, yang berjalan adalah ke­ hendak Tuhan. Dari per­masalahan ter­s ebut, pelajaran yang kita dapatkan adalah menjadi ikhlas untuk menerima semuanya. MEMBUKA HATI DENGAN KASIH Dalam Soul Illumination Level 1, secara energi kita sudah dia­ jak melepaskan kemarahan, iri hati dan sadripu yang ada dalam diri. Sehingga cakra jantung akan mengembang. Tetapi belum tentu juga ketika cakra ini mengem­ bang, seseorang akan terbuka untuk cinta. Trauma akan cinta, sakit hati, akan membuat hati tidak terbuka. “Untuk menerima semua pembelajaran, hati harus dibuka dengan cinta agar semua bisa masuk,” ujarnya. Ketika masih ada rasa sakit hati, kita akan menutup diri rapat dan menjadi orang yang terbatas. Ketika takut mencintai, takut dicintai, maka keterhubungan de­ ngan Tuhan akan terbatas. “Ingat, bahwa cinta Tuhan tak terbatas. Ketika hendak menyentuh Tuhan, harus bebaskan diri dari rasa sakit hati,” ujar Bunda. Misalkan, kita punya trauma masa kecil, ibu cerewet, ayah keras, dan terus terbawa, itu yang membuat kita tertutup. Meminta maaf secara batin dan memaafkan akan membuat kita lebih damai. Rasa sakit hati, biasanya muncul dari orang-orang yang dekat de­ ngan kita, seperti orangtua, kelu­ arga, teman. Kita tak bisa memilih semua yang ada pada diri kita.

24 Februari - 2 maret 2014

24 Februari - 2 maret 2014

Belakangan ini suasana gedung Komisi Pemberantasan Korupsi terasa lebih berwarna. Pasalnya, sejumlah artis datang menyambangi gedung tersebut, tapi bukan untuk unjuk kebolehan akting atau pun menyanyi, melainkan untuk diperiksa terkait kasus Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, adik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Artis yang hadir, di antaranya Jennifer Dunn dan Rebecca Soejati Reijman. Suasana datangnya artis-artis ke KPK ini mirip seperti ketika kasus aliran dana Akil Mochtar meledak yang ternyata juga menyangkut ke sejumlah artis.

I

Bunda Arsaningsih

Semua harus diterima, seburuk apapun, mereka orangtua kita. Kita lahir dari benih cinta mereka, menjadi anak. Maka, maafkanlah orangtua. Bayangkan apapun yang mereka lakukan, terimalah karena kita tak bisa memiih. Karena ini proses kita bertumbuh untuk menjadi lebih baik, karena ini karma kita. Sadari dan pahami, apa pun yang terjadi menjadikan kita tegar dan kuat. Maafkanlah setiap orang. KEKERASAN HATI Kekerasan hati muncul karena kita mengalami trauma yang tak terselesaikan. Bila kekerasan hati masih ada, cinta dan semuanya akan tertutup. Untuk member­ sihkan semua hambatan cinta, kita perlu melepaskan semua trauma batin, lebih dalam ber­ serah pada Tuhan. Biarkan cinta Tuhan menyembuhkan semua luka hati kita. Biarkan cinta Tuhan memenuhi diri kita, memancar, dan meluas , sehingga seluruh bumi dipenuhi cinta. Cinta harus dipancarkan lebih dalam kepada siapa saja, orang baik, orang buruk, orang berbeda agama. Hanya, kebetu­ lan saja kita lahir dari orangtua yang berbeda-beda. Berlapang dada, membuka hati, melupa­ kan semua kebencian, sakit hati, trauma, penuhi diri kita dengan cinta. Maka, cinta Tuhan akan memenuhi diri kita. Dalam acara “Life with Love” Bunda Arsaningsih juga meluncur­ kan dan membagikan buku saku renungan jiwa, yang bisa dipakai sebagai renungan harian. Renun­ gan jiwa tersebut dikatakan Bunda didapatkannya melalui proses meditasi. Pencerahan dari Bunda Ar­ saningsih bisa juga disimak dalam siaran interaktif di Radio Genta tiap Rabu pukul 17.00, juga di Bali TV tiap Sabtu pukul 15.30-16.00 dalam acara Renungan Jiwa. Bisa juga bergabung di akun sosial facebook (FB): Bunda Arsaning­ sih. –ten

rma Dharmawangsa yang mengaku mengikuti pemberitaan kasus-kasus ter­s ebut merasa prihatin de­n gan fenomena ini. Namun, katanya, ada kasus yang dapat dihindari tapi ada juga yang tidak dapat dihindari. Sebut saja kasus pemba­ yaran honor artis yang dilakukan oleh mantan Ketua MK saat dia berkampanye sebagai calon gubernur Kalimantan. ”Kasus ini kan sulit dihindari, namanya pembayaran, artis tidak bertanya dari mana uang yang dipakai untuk membayar. Kami su­ dah bekerja (menyanyi) dan dibayar, itu saja. Bahwa kemudian, ternyata asal uang itu bermasalah, ya, si artis tidak bisa disalahkan. Lain halnya kalau si artis tidak menyanyi atau hanya menyanyi sekali, lalu dibayar dengan nilai yang tidak masuk akal, inilah yang harus dipertanyakan. Tidak bekerja dapat mobil Alphard, misalnya. Ini kan nggak masuk akal. Pasti ada apa-apanya. Kan, tidak mungkin orang mengeluar­ kan uang besar tanpa ada maksud tertentu,” ujar Irma menanggapi maraknya pemberitaan artis-artis yang diperiksa KPK. Tapi, tambahnya, semua itu berpulang kepada artis yang bersangkutan. Untuk menilai, kata penembang hits Awas Ulat Bulu ini, mudah saja. Tinggal dilihat apakah wajar atau tidak uang atau barang yang diberikan dengan kerja kita. Diakuinya, menjadi artis memang tidak mudah. Begitu ba­nyak tan­ tangan dalam karier j u g a godaan y a n g datang. Karena itu, mental harus kuat, iman harus setebal baja. “Seba­ gai manusia, siapa sih yang nggak tergiur ketika disodori orang uang yang besar atau barang berharga mahal. Yah, tergiur sih boleh-boleh saja, itu manusiawi. Tapi untuk men­ erima, nanti dulu! Pemberian yang tak jelas tidak mungkin tanpa embel-embel. Aku yakin betul hal itu. Hal-hal seperti ini, kan, pasti semua artis juga tahu. Jadi, itu memang kembali ke diri masing-masing, dalam artian, kekuatan iman masing-masing,” ucap gadis kelahiran Jakarta, 4 Februari 1983 ini. Kekasih pesinetron Dwi Andhika ini mengaku tidak bisa berkomentar terlalu jauh karena memang tidak tahu persis kasus tersebut dan apa yang melatarbelakanginya. Ia justru mengaku lebih suka berbicara tentang kegiatan-kegiatan positif artis yang dilakukan di luar dari kariernya. Salah satunya adalah aktivitas

social. Belakangan, ujar Irma, makin banyak artis yang mau terlibat dalam berbagai aksi sosial. RAIH PENGHARGAAN TOKOH PEDULI Kepedulian artis yang berdampak langsung ke masyarakat ini, sungguh menggembirakan. “Jadi artis bukan hanya bisa menghibur lewat talenta yang dimilikinya tapi juga membantu dalam hal lain. Apalagi belakangan begitu banyak bencana alam di negeri kita, yang menuntut perhatian semua pihak, tak terkecuali artis,” ujar Irma yang pekan lalu bersama Gerakan Artis Indonesia Peduli (GAIP) melakukan penggalangan dana untuk membantu para korban bencana meletusnya Gunung Kelud di Jawa Timur. Ini aksi ketiga GAIP setelah terbentuk sebagai sebuah lembaga sosial. Sebelumnya, GAIP yang baru dua bulan ini berdiri, telah melakukan aksi sosial ke tempat pengungsian warga korban mele­ tusnya Gunung Sinabung dan kor­ ban banjir Jakarta. “Kalau sebe­

lumnya kami bergerak spontan, kini lebih terorganisir, sudah ada lem­b aganya berbadan hukum. Dengan begitu bantuan-bantuan yang mengalir bisa terdata dan jelas. Ja­ngan sampai menimbulkan kecurigaan karena bantuan masuk dan keluar semua terdata,” jelas Irma yang belum lama ini menerima penghargaan atas berbagai aktivitas­ nya di kegiatan sosial. Irma mengaku tak menyangka kalau keter­ libatannya di berbagai kegiatan sosial ternyata menjadi catatan tersendiri bagi Kementerian Sosial dan Yayasan Karier dan Prestasi. Karena itu, ia terkejut ketika dikabarkan sebagai salah satu penerima penghargaan sebagai Tokoh Peduli Mencerdaskan Anak Negeri. “Iya, aku sempat kaget dapat kabar itu. Nggak nyangka aja ada yang memperhatikan. Ini jauh dari pikiranku, bahkan tidak pernah terpikirkan samasekali,” ungkap penyanyi dangdut ini yang bersama 15 tokoh lainnya menerima penghargaan tersebut, di antaranya, Ayu Azhari dan Dwi Andhika. Bagi Irma yang baru pertama kalinya menda­ pat penghargaan di bidang sosial, mengaku, aktif di kegiatan sosial bukan dimaksudkan mencari pengakuan atau apa pun namun murni karena panggilan jiwa untuk membantu sesama yang kekurangan atau membutuhkan uluran kasih. Seper­ti yang belum lama ini dilakukannya ber­ sama teman-temannya terlibat dalam aksi sosial membantu para korban bencana meletusnya Gunung Sinabung. Hidup, ungkapnya, tidak semata-mata mengejar materi duniawi, mengejar karier ce­ merlang, tapi juga tak kalah pentingnya adalah berbagi dengan sesama. Ini untuk keseimba­ngan jiwa. Dengan aktif di berbagai kegiatan sosial, menurutnya, membuat dirinya makin peka dan peduli. KESEMPATAN JADI SIMPANAN PEJABAT Berbicara tentang karier me­nyanyinya, Irma berharap, tahun 2014 akan lebih baik daripada sebelumnya. Tahun lalu, kariernya boleh dibilang meningkat pesat, bukan hanya pekerjaan manggungnya me­ limpah tapi ia juga berhasil meluncurkan album Awas Ulat Bulu yang berisi sejumlah lagulagu hitsnya seperti Sir Gobang Gosir, Bocor, Awas Ulat Bulu, dll. “Album ini berisi singlesingle hits dan beberapa lagu baru,” ucap Irma yang juga meluncurkan single duetnya bersama sang kekasih, Dwi An­ dhika, bertajuk Tahu & Tempe. “Sedang single-ku sendiri, juga akan segera dirilis. Mungkin pertengahan bulan depan. Ini ciptaan sendiri, lho,” tambah­ nya sembari tertawa. Tidak hanya di dunia me­ nyanyi, pemilik ‘goyang donat’ ini juga merambah ke dunia akting lewat penampilannya di sinetron Ibrahim Anak Betawi dan film bergenre horor ber­ judul Santet Goyang Dangdut. Di film ini, Irma bermain sebagai penyanyi dangdut yang menjadi simpanan pejabat. Hal itu dilakukan ka­rena ia tergiur

3 dengan kehidupan glamor dan mewah. Irma bahkan tak peduli anggapan negatif orang terh­ adapnya. “Buatku, peran apa pun pasti bakal mendatangkan tantangan. Apalagi bisa berak­ ting di layar lebar merupakan kesempatan emas. Dari situ aku juga bisa menggali pengala­ man berharga di luar sebagai penyanyi,” ujarnya. Namanya baru, tentu saja Irma masih mengaku sangat kaku dalam berakting. Apalagi ketika harus berakting menan­ gis, Irma benar-benar gelaga­ pan. “Aku diminta sutradara untuk menangis, aduh, susah banget. Tapi berkat bimbingan teman-teman, juga sutradara, akhirnya bisa juga. Yah, seba­ gai pendatang baru di dunia akting, aku memiliki banyak kekurang­an, termasuk dalam mengekspresikan sesuatu. Aku masih harus banyak belajar,” ujar presenter acara musik di CB TV ini. Irma mengaku merasa asyik menjalani karier barunya di bidang akting yang menurutnya sangat menantang. “Karier menyanyi tetap jalan terus, itu yang utama. Sedang akting, se­panjang me­ mungkinkan, aku tetap akan mencobanya. Ini penting setidaknya pengala­man-pengalaman ini akan mengasah kemampuanku,” tambah Irma yang juga sibuk mengurusi bisnis mobil bekas dan kuliner. Tapi untuk beberapa waktu ke depan, tuturnya, kemungkinan ia akan fokus ke dunia menyanyi karena sejumlah pekerjaan terkait kampanye Pemilu sudah didapatnya. “Yah, ini rezeki Pemilu…hahahaha. Sudah banyak yang mendekat, namun belum ada jadwalnya karena memang dari KPU mereka belum mendapat jadwal kampanye. Jadi aku diminta standby. Tapi yang terdekat adalah kampanye di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada pertengahan Maret,” ujarnya. Dengan padatnya aktivitas, Irma mengaku harus pandai-pandai membagi waktu dan men­ jaga kesehatan. “Kan percuma banyak pekerjaan kalau kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Maka itu, aku harus disiplin soal menjaga kes­ ehatan,” tambahnya. Dengan seabrek kesibukan seputar kariernya, lalu bagaimana dengan rencana pernikahan yang konon bakal digelar tahun ini? Menjawab hal ini, Irma tertawa ngakak. Diakuinya, mempersiapkan itu memang berat namun tetap menyenangkan karena itu memang menjadi impian dirinya juga Dhika yang telah setahun lebih berpacaran. Apalagi untuk menjaga kebersamaan mereka, boleh dibi­ lang tidak mudah. Pasalnya, sebelumnya, sempat tersiar kabar kalau orangtua Dhika kurang setuju. “Rencananya memang tahun ini, tapi kapan per­ sisnya, belum bisa menginformasikan. Tunggu saja, ya,” katanya. – Diana Runtu


4

INSPIRASI

24 Februari - 2 Maret 2014

MANDALIKA

Potensi Sadar sebelum Kondisi kian Parah Mutiara NTB Oppie Andaresta

Menjadi Duta Lingkungan Hidup bukan sekadar wara-wiri menghadiri acara-acara se­ remonial dan mengajak orang mencintai lingkungan, namun juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oppie Andaresta misal­ nya. Duta Lingkungan Hidup 2011 ini bukan hanya sibuk mengedukasi masyarakat tapi juga melakukannya di rumah.

“S

aya mengajari anak bagai­ mana mencintai lingkungan, bagaimana membuang sampah yang benar. Sekarang Kai (Kai Matari Bejo Kaler, anak semata wayang Oppie- Kurt Kaler, suaminya, Red.) sudah bisa memilah sampah organik dan anorganik,” tutur Oppie Andaresta. Memulainya, kata penyanyi yang ngetop lewat tembang Cuma Khayalan, harus dari diri sendiri. “Ketika kita mengajak orang lain untuk mencintai lingkungan, sebelumnya kita juga melakukannya sendiri. Jadi, bukan sekadar ngomong,” kata Oppie. “Bagaimana kita mau menyadarkan atau mengajak orang lain, kalau diri kita sendiri tidak melakukannya? Jadi mulailah dari hal-hal kecil di lingkungan kita, urusan sampah misalnya, dll.,” tambahnya. Bahkan, kata Oppie, dia dan keluarganya bukan sekadar menciptakan lingkungan asri di rumahnya yang memang telah berkonsep go green tapi juga mempraktikkan hidup hemat energi. Salah satunya adalah dengan samasekali tidak memasang AC (air conditioner) di rumahnya yang terletak di bilangan Sawangan, Depok, Jawa Barat. “Kami sudah mengonsep ini sejak awal. Pe­ karangan rumah yang dipenuhi banyak

24 Februari - 2 Maret 2014

pohon, baik y a n g be­­sar maupun sedang, merancang bangunan rumah dengan banyak jendela besar sehingga sirkulasi udara bagus,” jelasnya. Dia berharap masyarakat juga melakukan hal yang sama, memba­ ngun kesadaran diri sendiri untuk cinta lingkungan. Apa yang terjadi akhir-akhir ini, tutur wanita kelahiran 20 Januari 1973 ini, sungguh membuatnya prihatin. “Masalah banjir, tanah longsor, dll., yang belum lama ini terjadi, itu sungguh memprihatinkan,” ucapnya. Bencana alam itu, tambahnya, ada yang tak bisa dihindari tapi ada juga yang bisa dihindari atau diminimalisir. Yang tak dapat dihindari, seperti meletusnya gunung atau terjadinya angin putting beliung. Tapi masalah banjir dan longsor, harusnya ini dapat dihindari atau diminimalisir. “Banjir yang terjadi sekarang, kan, karena ulah manusia sendiri. Misalnya soal sampah yang dibuang sembarangan. Di sisi lain, fasilitas tempat sampah di jalan-jalan pun kurang sehingga ketika kita ingin buang sampah, tidak ada tong sampah, akhirnya buang sembarangan, buang di kali. Memang persoalan ini (banjir) sangat kompleks, karena banyak faktor lain, misalnya soal kemiskinan, tempat permukiman di bantaran sungai. Jadi aku pikir untuk menyelesaikannya memang dibutuhkan waktu,” tutur Oppie yang tengah mempersiapkan album kesepuluhnya. Sebenarnya, lanjut Oppie, kondisi memprihatinkan bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga dunia. Feno­

mena global warming sudah makin terasa. Bayangkan saja, tutur wanita yang bersuamikan seorang berkebangsaan Amerika berdarah Jerman, ketika curah hujan di Indonesia begitu tinggi, di beberapa tempat terjadi badai salju, tapi di belahan bumi lain, seperti di California, AS, suhu luar biasa panasnya. Bahkan di Australia yang letaknya berdekatan dengan Indonesia, suhu panasnya menembus rekor 46 derajat Celcius. “Ini kan lucu. Sementara di tempat lain curah hujan tinggi dan badai salju, lucunya di daerah lain, malah suhu panas luar biasa. Inikan sebenarnya fenomena yang sudah jelas, dampak global warming yang makin nyata. Nah, yang bikin terjadinya global warming, siapa lagi, kalau bukan manusia,” paparnya panjang lebar. Karena itu, sebelum kondisi makin parah, Oppie mengajak sekaligus menggugah ke­ sadaran masyarakat untuk cinta bumi. Oppie setuju bahwa mengedukasi masyarakat mencintai bumi sebaiknya dilakukan sejak dini, yakni terhadap anak-anak. Itu sebabnya, dia pun rajin berkeliling Indonesia khususnya ke sekolah-sekolah untuk mengedukasi mereka. Karena berlatar belakang sebagai penyanyi dan pencipta lagu, Oppie pun selalu menyanyi saat melakukan edukasi. “Saya tetap menjalankan tugastugas sebagai Duta Lingkungan Hidup, tapi lebih terfokus pada edukasi anak,” kata wanita berdarah Minang ini. Tiga tahun lalu, Oppie melahirkan sebuah buku bertema lingkungan, “Bumi­ku Lestari”. Isinya tentang menanam dan memelihara pohon, 3R (reduce, reuse, recycle), sampah dan hidup hemat energi. Buku setebal 32 halaman ini berisi gambar-gambar menarik dan cerita petualangan yang umumnya disukai anak-anak. Buku ini, katanya, cocok bagi anak-anak yang sedang bel­ ajar membaca. Menurut Oppie, buku itu merupakan pengalamannya dalam mendidik anaknya mencintai lingkung­ an. “Waktu itu dia masih berusia lima tahun,” katanya. Dia ingin, anaknya juga anak yang lain, mencintai lingkungan dan terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Pada usia anak, akan lebih mudah membentuk karakternya. Itu juga yang saya terapkan pada anak saya,” kata Oppie yang berencana meluncurkan buku keduanya bertepatan dengan Hari Bumi pada April men­ datang. – Diana Runtu

Kilau mutiara kian bersinar dari Bumi Gora, provinsi yang dikenal sebagai penghasil mutiara terbaik dunia. Daya pikat mutiara kini menjadi andalan Provinsi NusaTenggara Barat untuk menarik kunjungan wisatawan ke Lombok dan Sumbawa. Mutiara merupakan salah satu komoditi unggulan Indonesia yang pembudidayaannya banyak dilakukan di NTB.

S

elama ini mutiara sudah menjadi ikon NTB dengan kualitas dikenal sebagai yang terbaik di dunia. Selain sebagai destinasi pariwisata unggulan Provinsi NTB, Lombok­Sumbawa juga kini dikenal sebagai sentra perdagangan mutiara terbesar di Indonesia. Secara umum mutiara NTB memiliki keunggulan komparatif. Perairan NTB merupakan hamparan mutiara. Kualitas terbaik yang dimiliki oleh mutiara NTB ini, tidak terlepas dari kondisi perairan NTB yang sangat potensial dan cocok untuk tempat pembudidayaan mutiara. Karena, budidaya mutiara sungguh tergantung pada kondisi perairan yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan serta kualitas mutiara yang dihasilkan. Lokasi sepanjang perairan di NTB, rata-rata cocok untuk budidaya kerang mutiara. Popularitas mutiara NTB inilah yang membuat Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, memfasilitasi berdirinya Rumah Mutiara Indonesia (RMI) yang berlokasi di depan Bandara Internasional

Lombok (BIL). Berdirinya RMI yang diresmikan beberapa waktu lalu ini, semakin mengukuhkan citra Nusa Tenggara Barat, sebagai daerah penghasil mutiara berkualitas dunia. “Kondisi perairan Nusa Tenggara Barat yang relatif bersih dari pencemaran dan kaya akan nutrient, merupakan area potensial untuk budidaya mutiara. Salah

satu jenis mutiara bermutu yang berhasil dibudidayakan adalah jenis south sea pearl (mutiara laut selatan), dengan produksi berkisar 0,5 hingga 0,8 ton setiap tahunnya, serta mampu menghasilkan devisa hingga mencapai dua juta dolar Amerika Serikat pertahun. Jepang, China, Hongkong, Singapura, Australia dan Eropa merupakan negara-negara tujuan ekspor mutiara kami,” ungkap H. Muhammad Amin, SH., M.Si, Wakil Gubernur NTB. Mutiara Lombok Sumbawa umumnya berjenis Pinctada Maxima yang menghasilkan mutiara laut selatan (south sea pearl) dan telah menjadi primadona mutiara, dengan 27 jenis warna mutiara dengan tiga

warna unggulannya, yaitu bronze, metal, dan emerald emas kehijauan. Keunikan serta kekayaan variasi warna mutiara Lombok Sumbawa dikarenakan perairan NTB merupakan tempat bertemunya persebaran spesies kerang berbibir kuning atau emas yang berada di Palawan dan Filipina dengan kerang berbibir putih di Papua hingga Australia. Inilah yang membuat mutiara Lombok Sumbawa menjadi unggul diban­ding lainnya. Menurutnya, selain biji mutiara yang bernilai tinggi, limbah kulit kerang mutiara telah dimanfaatkan menjadi berbagai bentuk kerajinan tangan dan perabot rumah tangga yang tentunya indah dan eksotis dalam berbagai bentuk kerajinan cukli. Jika pada awal perkembangannya di era tahun 1980an, kegiatan budidaya mutiara masih sangat bergantung pada tenaga ahli mutiara dari Jepang, saat ini seluruh teknologi budidaya, mulai dari tahap penyuntikan, pembesaran dan pemanenan, telah dapat dilakukan oleh tenaga lokal dan telah berlangsung proses transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari perguliran usaha mutiara ini, manfaat ekonomi yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh perusahaan mutiara, namun juga oleh masyarakat pesisir. keberadaan perusahaan mutiara telah membuka lapangan kerja dan usaha bagi masyarakat, serta mendorong tumbuhnya Usaha

21

Kecil Menengah (UKM). “Saat ini, lebih dari 40 UKM bergerak dalam usaha kerajinan tangan dan pemasaran perhiasan berbahan dasar mutiara. Hal ini menunjukkan, usaha budidaya mutiara telah menjadi salah satu sumber nafkah bagi sebagian masyarakat pesisir dan penggerak perekonomiannya,” katanya. Di tengah persaingan perdagangan internasional, selain terus menjaga dan meningkatkan kualitas mutiara, dibutuhkan pula rangkaian upaya promosi yang terpadu. Terlebih saat ini, berbagai jenis mutiara telah memasuki pasar mutiara dunia. Kompetitor bisnis mutiara seperti Cina dan India dengan mutiara air tawarnya, membuat NTB harus tetap mempertahankan kualitas mutiaranya. Oleh karena itu, keberadaan Rumah Mutiara Indonesia menjadi sangat strategis, sebagai pusat rujukan dan informasi dari keberadaan mutiara Nusa Tenggara Barat. Ke depannya, RMI akan diikhtiarkan sebagai pusat pemasaran dan lelang berskala internasional, yang mampu memasilitasi pembelian dan penjualan mutiara asal Nusa Tenggara Barat. Rumah Mutiara Indonesia diharapkan dapat memberi manfaat optimal bagi pengembangan potensi mutiara di daerah ini, dan meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya masyarakat pesisir. –Naniek I. Taufan

Tuntut Wanita jadi Fasilitator dan Motivator Keluarga

Hari Kesatuan Gerak PKK yang ke-42 Tahun 2014 akan dipusatkan di kota Mataram sekitar awal April 2014 mendatang. Meski kegiatan tersebut masih dua bulan lagi, TP PKK Provinsi NTB, sudah mulai menyelenggarakan berbagai kegiatan termasuk kegiatan sosial. Beberapa waktu lalu, Ketua TP PKK NTB, Hj. Erica Zainul

Majdi bersama pengurus lainnya melakukan kunjungan silaturrahmi di Desa Mujur Kecamatan Mujur Kabupaten Lombok Tengah. Kunjungan ini dilakukan untuk memberikan bantuan berupa paket sembako kepada keluarga kurang mampu. Selain itu, Ibu Gubernur NTB ini juga memberikan bantuan secara khusus kepada

masyarakat kurang mampu yang telah membantu program pemerintah dalam menyukseskan keluarga berencana. “Kita memiliki 10 program pokok PKK, salah satunya harus ber-KB, kita harus menjadi keluarga bahagia, sejahtera dan berkualitas,” ungkap Erica di hadapan ibu-ibu pengurus PKK Kabupaten Lombok Tengah dan Kecamatan serta Desa di Lombok Tengah. Kegiatan tersebut juga dihadiri para kader posyandu yang berada di Gumi Tata Tuhu Trasna (julukan Kabupaten Lombok Tengah). Peran kaum wanita memang sangat penting dalam mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera. Wanita dituntut dapat menjadi fasililator dan motivator bagi ke­ sejahteraan keluarga. Bagaimana pun, yang paling bertanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga di samping suami adalah istri. “Kabupaten Lombok Tengah merupakan daerah yang memi-

liki nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang tinggi, itu jadi modal yang kuat untuk membina keluarga bahagia dan sejahtera,” kata Erica. Apalagi daerah ini memiliki legenda Putri Nyale atau Putri Mandalika yang menjadikan jiwa dan pengorbanan yang tulus untuk membangun Bumi Tatas Tuhu Tresna lebih baik dari masa lalu dan meraih keluarga bahagia

dan sejahtera di masa yang akan datang. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian penyelenggaraan, sosialisasi bahaya kanker leher rahim (serviks) dan kanker payudara yang menghadirkan para dokter spesialis yang didatangkan khusus dalam rangka memberikan pemaham­an terhadap gejala dini penyakit tersebut. - Naniek I Taufan.


NINE

20

24 Februari - 2 Maret 2014

ini, menurut para pembuatnya, ditemukan sepanjang proses pembuatan pangaha bunga yang sudah berlangsung puluhan tahun. Hanya saja, ada satu keaslian dari pangaha bunga yang jarang ditemukan saat ini, yakni bentuknya. “Pangaha bunga yang asli, bentuknya berupa tiga tangkai dengan dua kelopak bunga di masing-masing tangkainya,” kata Masitah. Pangaha bunga yang ada sekarang telah berubah bentuknya menjadi yang lebih praktis, yakni tiga kelopak bunga saja atau berbentuk seperti tiga cincin. “Pangaha bunga yang asli berupa tiga tangkai dengan dua kelopak bunga di masing-masing tangkainya, hanya bisa didapat kalau ada pesanan khusus,” kata Masitah. Perubahan bentuk ini terjadi, diungkapkannya karena pangaha bunga saat ini lebih sering dijadikan oleh-oleh keluar daerah, seperti Jakarta, Mataram, Makassar dan Jawa. Bentuk asli pangaha bunga berupa tiga tangkai dengan dua kelopak bunga di masing-masing tangkainya, lebih besar dan memakan banyak tempat sehingga agak rumit jika dikemas. Demikian juga untuk acara-acara, pangaha bunga dengan bentuknya yang asli sulit dikemas dalam wadah-wadah mika praktis yang banyak saat ini. Karena itu, bentuk pangaha bunga sekarang menjadi tinggal masing-masing tiga kelopak. Bentuk ini diakui lebih praktis dan aman dari patah karena mudah dikemas

Proses penggorengan Pangaha Bunga baik dalam kardus maupun wadah mika. Kalau patah, harga pangaha bunga akan sangat jatuh, bahkan orang tidak mau membelinya. Meski bentuknya kini telah berubah dari aslinya, ada satu kekhasan pangaha bunga yang hingga saat ini yang masih dimiliki jajanan tradisional ini, yakni, bentuk samping pangaha bunga yang bergerigi. Manis rupanya jika dilihat, dan sangat khas. Bentuk bergerigi ini diperoleh dengan cara memotong adonan sebelum dibentuk dengan sebuah alat yang juga khas yang biasa disebut, padati. TAK DIJUAL DI PASAR Harga pangaha bunga dengan bentuk sekarang lebih murah, hanya Rp 12 ribu per 100 buah, sementara pangaha bunga dengan bentuk asli, Rp 30.000 per 100 buah. Pangaha bunga bisa bertahan lama hingga satu bulan, asal tetap dalam bungkusan plastik. Kue khas ini bisa tahan lama karena cara pengolahannya. Tepung ketan sebagai bahan utamanya, sebelum dijadikan adonan, disangrai (digoreng tanpa minyak). Bahan baku lainnya, hanya garam dan air kapur saja. Meski demikian, rasanya sungguh gurih dan renyah. Jika ada pesanan khusus, pangaha bunga juga bisa dicampur

telur agar terasa lebih gurih lagi. “Telur yang dipakai harus telur ayam kampung atau telur bebek. Jika memakai telur ras tidak akan renyah,” kata Masitah yang banyak juga menerima pesanan pangaha bunga campur telur. Harganya sedikit lebih mahal, yakni Rp 15.000 per 100 buah. Menggoreng pangaha bunga tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak biasa. Karena salah satu proses yang menentukan renyah tidaknya pangaha bunga adalah saat menggorengnya. Saat menggoreng pangaha bunga harus dimasukan satu persatu dalam minyak, tidak bisa dimasukan sekaligus karena rentan lengket. Bisnis rumah tangga ini akan semakin sibuk, usai Lebaran Idul Fitri. Karena di saat itulah, banyak keluarga menikahkan anak-anaknya sehingga pesanan pangaha bunga meningkat. Dalam sehari, Masitah bisa menghabiskan 50 kilogram tepung ketan untuk membuat pangaha bungga. Pada hari-hari biasa, paling banter hanya menghabiskan 10-13 kilogram tepung ketan. Masitah dan Meri membuat pangaha bunga hampir setiap hari untuk persediaan. Mereka sengaja tidak menjualnya di pasar dan tidak menjualnya kepada penjual yang akan menjual ke pasar, agar harga pangaha bunga buatannya tetap stabil. -- Naniek I. Taufan.

LP2B Informatika Bali

Sekolah Pencetak SDM Kompeten di Bali Timur

Dedek Arimbawa, S.H. LP2B Informatika Bali adalah sekolah pencetak SDM berkompeten di bidang teknologi yang terbaik, terfavorit danmenjadi satu-satunya di Bali Timur. LP2B Informatika Bali tidak hanya mempersiapkan mahasiswanya untuk siap mengisi bursa kerja yang ada, tetapi juga pencipta lapangan kerja sebagai seorang entrepreneur yang berkompeten di bidang teknologi, informasi dan komputer (TIK). Menurut Dirut LP2B Informatika Bali Dedek Arimbawa, S.H., sekolah ini mampu menjawab kebutuhan user (pengguna tenaga kerja) terhadap tenaga kerja (naker) yang memiliki kompetensi TIK. “LP2B Informatika Bali adalah pilihan cerdas generasi muda yang ingin meraih masa depan gemilang,” paparnya.

Mengapa LP2B Informatika Bali? Mengapa LP2B Informatika Bali layak menjadi pilihan? Jawabannya sangat jelas. Sekolah ini memberikan yang terbaik dalam segala hal, bahkan satu-satunya yang terdepan di wilayah Bali Timur. “LP2B Informatika Bali adalah satu-satunya kampus komputer dengan gedung megah di lokasi premium dan strategis di Gianyar. Kampus yang berada di jantung kota ini dilengkapi dengan laboratorium terlengkap dan modern, peralatan terbaru yang digunakan di dunia internasional, menggunakan software terbaru dalam perkuliahan, disupport oleh owner yang berpengalaman di bidang perhotelan dan pariwisata maupun bidang teknologi informatika dan komputer seperti carrier center, advertizing dan sebagainya,” jelas Dirut Dedek Arimbawa. Tak sebatas itu, LP2B Informatika Bali juga “dikawal” oleh dosen profesional yang sesuai dengan bidang dan keahliannya. Sekolah ini juga dilengkapi dengan fasilitas kelas yang terbaik seperti AC, monitor dosen, jaringan dan akses wifi gratis. LP2B Informatika Bali memiliki perpustakaan dengan koleksi buku yang lengkap dan terbaru. “Dengan berbagai fasilitas terkini, kami menjamin lulusan LP2B Informatika Bali siap bersaing di dunia kerja. Kami menjamin 100% dan bisa dibuktikan,” kata Dedek Arimbawa lagi. Saat ini, owner LP2B Informatika Bali bersiap meresmikan kehadiran kampus terbaru (Kampus C-kampus ketiga) di Jalan Dharma Giri No. 99 Gianyar. Menurut rencana, kampus yang berdiri megah dengan fasilitas terkini, siap diresmikan 5 Maret 2014. “Kampus ketiga ini dibangun dengan tujuan untuk menampung minat generasi muda yang semakin tinggi untuk menekuni bidang

TIK, apalagi dunia kerja menuntut naker untuk menguasai bidang tersebut,” tutur pengusaha mapan ini. Dengan bertambahnya kampus LP2B Informatika Bali, peluang gene­ rasi muda makin terbuka lebar untuk mengisi berbagai formasi kerja. “Kami mengimbau generasi muda di Gianyar dan Bali untuk segera bergabung dengan kami,” ujarnya. Program Profesional LP2B Informatika Bali menawarkan beberapa program profesional yakni: - Desain Grafis & Multimedia Program ini menciptakan lulusan yang menguasai desain grafis dengan menggunakan aplikasi software terkini dan mempunyai konsep desain yang baik dan memiliki daya jual. Materi per­ kuliahan yang akan dipelajari di antaranya typography, vector drawing, digital imaging, prepress dan digital printing. - Administrasi Rumah Sakit Program ini menciptakan lulusan yang menguasai administrasi rumah sakit yang berbasis komputer sehingga mampu memberikan pelayanan yang cepat dan handal. Peluang kerja antara lain, rekam medis, front office, customer service, ­system control obat, keuangan, akuntansi, marketing rumah sakit dan lainnya. - Manajemen Bisnis & Akuntansi Program studi ini pun siap menciptakan lulusan profesional yang menguasai bidang administrasi bisnis dan akuntansi dengan menggunakan software computer untuk menunjang kegiatan dan pengelolaan bisnis perusahaan. Materi perkuliahan meliputi laporan keuangan, perpajakan, marketing, finance dengan menggunakan software aplikasi yang dipakai di dunia kerja.

5

Sabar Menunggu Ombak

Salah satu jajanan tradisional Bima yang hingga kini masih tetap bertahan sebagai ciri khas kabupaten paling Timur Nusa Tenggara Barat ini, adalah kue bunga atau yang oleh masyarakat Bima dikenal sebagai pangaha bunga. “Pangaha” artinya kue dan “bunga” artinya bunga karena bentuk jajanan tradisional ini persis seperti bunga. Jajanan khas ini hanya bisa ditemui di Bima, terutama di daerah asalnya daerah Kananga Sila Kecamatan Bolo. Bentuknya yang sederhana dengan bahan yang sangat mudah didapat, membuat jajanan ini tidak lekang dimakan zaman. keahlian ibundanya dalam membuat kue tradisional ini. Secara tidak langsung anakanak di sentra pembuatan pangaha bunga ini mewarisi keahlian pembuatan pangaha bunga dari orangtua dan lingkungan mereka. Meskipun usaha ini merupakan industri rumahan yang sederhana, penghasilan dari para pembuatnya terbilang sangat lumayan. Masitah, sarjana Hukum lulusan Universitas Mataram lebih memilih menggeluti usaha ini karena penghasilannya yang lumayan. Pangaha bunga buatan Masitah termasuk salah satu yang paling banyak dicari, baik untuk acara-acara tradisional di Sila dan Bima, maupun sebagai oleh-oleh ke luar daerah. Hal yang sama juga diungkapkan Meri Sulianti (51), pembuat pangaha bunga yang juga mewarisi keahlian ini dari orangtuanya. Meri mengaku penghasilan dari membuat pangaha bunga sangat bisa membantu biaya sekolah keenam anaknya hingga ada yang mencapai jenjang sarjana. Di samping itu, ia juga mengaku usaha ini sangat bisa membantu ekonomi keluarganya sehari-hari. Hal ini tidak lepas dari lancarnya usaha ini bergulir. Pembuatan pangaha bunga, rupanya berkembang dengan sangat baik khususnya dari segi kualitas. Menurut Masita dan Meri, pangaha bunga sekarang rata-rata renyah rasanya. Berbeda dengan sebelumnya, yang terasa agak keras. Perubahan rasa dari keras menjadi renyah

INSPIRASI

Arnold Sebastian Egg

Oleh-oleh Pangaha Bunga dari Bima

Pangaha bunga, hingga kini tetap menjadi salah satu jajanan tradisional penting dalam tiap upacara-upacara tradisional orang Bima terutama di Sila, seperti perkawinan, sunatan ataupun acara lainnya. Pangaha bunga menjadi kue wajib yang dihidangkan, baik sebagai penganan saat kegiatan berlangsung ataupun untuk oleh-oleh yang dibawa pulang para tamu usai mengikuti acara terutama yang berbau tradisional. Rasanya yang gurih dengan bentuk sederhana menjadikan jajanan tradisional ini disukai sebagai camilan. Pangaha bunga telah menjadi industri rumah tangga yang tidak pernah mati sejak puluhan tahun yang lalu di Desa Kananga Sila. “Terutama di RT 06 dan 07, usaha rumah tangga pembuatan pangaha bunga berkembang dengan baik,” kata Masitah, salah seorang pembuat pangaha bunga di Kananga. Di rumah-rumah penduduk pada dua RT ini, pangaha bunga diproduksi setiap hari. Industri rumah tangga ini banyak melibatkan tenaga kerja ibu rumah tangga maupun gadis remaja. Usaha pembuatan pangaha bunga, menjadi aktivitas sehari-hari bagi para perempuan desa ini. Sampai anakanak pun turut membantu dan terampil dalam proses pembuatan pangaha bunga. Hal inilah yang membuat para pembuat pangaha bunga di desa diwarisi secara turun temurun. Salah satunya Masitah. Ia mewarisi

24 Februari - 2 Maret 2014

Kampus LP2B Informatika Bali yang baru. - Teknik Komputer Menciptakan lulusan yang profesional yang dibekali dengan kemampuan dalam mengatasi trouble shooting perangkat keras, membangun jaringan terpadu, baik dengan media kabel maupun wireless. Materi perkuliahan yang akan dipelajari yaitu jaringan, sistem operasi, hardware dan trouble shooting serta basis data.

- Manajemen Informatika Menciptakan lulusan profesional yang merancang dan membuat sistem informasi yang terintegrasi dengan data base. Materi perkuliahan yang akan dipelajari di antaranya sistem informasi manajemen, jaringan komputer, web design concept, bahasa pemrograman, data base dan sebagainya. –ari.

Alamat Kampus LP2B Bali: LP2B Informatika Jl. Bypass Dharma Giri No 99 Gianyar, Telp. 0361 8958429 LP2B Perhotelan Jl. Kebo Iwa No 21 Gianyar, Telp. 0361 943671, Fax. 0361 943283 Jl. Bypass Dharma Giri No 23 Gianyar, Telp. 0361 8958252 Kampus LP2B Negara Jl. Banyu Biru Km 4 Denpasar Gilimanuk, Telp. 0365 4731558 Email : info@lp2b-informatika.com www.lp2b-informatika.com

Bagi orang yang suka bisnis dan online, tentu mengenal tokobagus.com. Situs ini menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli di dunia maya. Segala macam barang dan jasa bisa ditemukan di situs ini. Situs usaha ini dimulai di Bali tahun 2005 ini lalu hijrah ke Jakarta tahun 2011.

Arnold Sebastian Egg

N

ama Arnold Sebastian Egg tak bisa dipisahkan dari tokobagus.com. Ia adalah pendiri situs ini, walaupun kini sudah keluar dari tokobagus. com. Tahun 2012, Arnold mulai usaha baru dengan nama happy­ holiday.travel. “Saya mundur dari tokobagus.com karena bosan, tiap hari kerjaan saya hanya tanda tangan. Saya mau jadi entrepreneur. Saya melihat bisnis e-commerce merupakan pasar yang sangat potensial,” ujar pria Belanda yang sudah menjadi warga negara Indonesia ini. Dari data yang ia peroleh, di Indonesia tahun 2013 ada 73 juta pengguna internet dan 4,6 juta di antaranya adalah pengguna yang suka belanja online. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan. Potensi ini sangat luar biasa jika digarap serius. Arnold yang akrab disapa Arno juga menunjukkan data mengenai pendapatan situs Amazon yang mencapai 170 miliar, Alibaba 100 miliar, dan Zalando 5 miliar dalam kurs dolar AS. Ini bukannya tanpa kerja keras pendiri dan pengelola situs. “Jika mau buka usaha, pertama harus sabar. Ibarat orang main surfing, sabar menunggu ombak. Kalau ombak bagus dan lancar, bisa sampai di pantai. Kedua, fokus dengan apa yang dipikirkan dan dikerjakan. Ketiga, jaga kualitas. Kualitas terbaik akan menjadikan usaha terbaik. Keempat, data. Saya baru bangun lihat data. Harus selalu pantau perkembangan. Kelima, buat sesuatu yang konsumen inginkan. Keenam, bangun tim yang tangguh,” jelas pria kelahir­ an Gouda, Belanda, 26 Maret 1980 ini.

Arnold datang ke Indonesia tahun 2000 setelah menyelesaikan kuliah di Amerika Serikat. Ia lulus dari Fakultas Teknologi Informasi, James Madison University, AS tahun 1999. Awalnya ia hanya ingin berlibur. Namun, saat liburan itu ia menemukan ide untuk berbisnis. Ia sudah bermimpi, jika ingin sukses berbisnis cara terbaik memulainya dari Indonesia. Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial karena jumlah penduduk kelas menengahnya yang sedang tumbuh. Ia tidak memilih berbisnis di Eropa karena di sana sudah banyak perusahaan besar di berbagai sektor dan persaingannya sangat ketat. Ia pun melihat peluang bisnis e-commerce sangat terbuka. Di Belanda, Arnold sudah berbisnis e­ -commerce dan kemudian akhirnya dia lebih tertarik untuk mencoba menjalankan bisnisnya di Indonesia. Arnold lalu membuat situs jual beli bernama tokobagus.com. Pemilihan nama ini karena situsnya mendesain setiap pengguna dapat domain atau shop alias toko sendiri sedangkan kata “bagus” banyak digunakan di Indonesia. Bisnis ini dijalankan dari rumah kontrakan dengan tiga karyawan. Awalnya Arnold hanya menawarkan jasa pembuatan situs e-commerce. Tahun 2005, barulah ia mulai bisnis jual beli secara online. Tahun 2008 ia mendapat investor baru yang mau bermitra dengannya. Usaha ini pun pindah ke Jakarta tahun 2011 agar lebih dekat kepada pelanggan demi pengembangan situs tersebut. “Saya pindah ke Jakarta karena banyak pemegang keputusan ada di Jakarta. Bisnis menjadi lebih cepat,” ungkapnya mengenai alasan pindah ke Jakarta. Dalam berbisnis, Arno mengaku lebih suka membuat start-up. Nanti ketika sudah tua, dia tinggal mengurus saja. Saat ini ia masih ingin melakukan banyak hal. Market place seperti tokobagus.com sudah ia buat bikin. Kini saatnya online travel agent dengan Happy Holiday. Setelah ini nanti akan menyusul B2C (business to consumer).”Saya le­ bih suka fighting. Orang yang terlalu santai dan tak punya fighting spirit lagi itu berbahaya, ter-

masuk juga buat kesehatan fisik. Kalau sudah berhasil dengan sa­tu hal, saya akan membuat se­ suatu yang baru lagi. Ini sekaligus pembuktian bahwa kesuksesan ­tokobagus.com bukanlah kebetul­ an saja. Saya ingin membuat masterpiece yang lain juga. Ini juga buat menguji sendiri,” tegasnya. Setelah melepaskan tokobagus. com, Arno memulai petualangan barunya. Ia masih memilih dunia e-commerce. Tahun 2012, ia membuat Happyholiday.travel. Situs ini menyediakan berbagai keperluan untuk bepergian, mulai dari paket tur, penyewaan kamar hotel, sampai penyewaan kendaraan. Saat ini, layanan yang paling banyak diminta adalah pemesanan hotel. Ia menilai orang Indonesia lebih suka berwisata dibanding orang Eropa. “Coba kita lihat status Facebook atau Twitter orang Indonesia. Ada yang ke Bangkok, Hongkong, Singapura, dan itu berlangsung sepanjang tahun. Beda dengan orang Eropa yang hanya melakukannya di musim panas, setelah mengumpulkan duit dalam waktu lama,” kata Arno. Model bisnis Happy Holiday berbasis transaksi, beda dengan Tokobagus yang mengandalkan trafik. Sekarang ini tak begitu peduli dengan jumlah pengun-

jung setiap harinya, namun yang pen­ting adalah berapa transaksi yang mereka dapat. Omzet lebih pen­ting. Model bisnis yang meng­ andalkan transaksi ini sekaligus juga akan menjadi ajang pembuktian bagi Arno. “Prospek orang yang melakukan perjalanan wisata sangat besar, mulai dari wisata domestik hingga internasional. Orang tidak mau beli paket, lebih suka cari sendiri.

Situasi dunia pariwisata sedang bagus dan akan terus berkembang jika penerbangan juga ditambah,” ujar ayah dua anak ini. Ia menegaskan fokusnya untuk jasa pemesanan hotel, termasuk pengurusan voucher. Situs ini sudah punya jaringan dengan 200 ribu hotel di seluruh dunia. Selain hotel, juga ada homestay. Sistem pembayaran yang diterapkan juga fleksibel, bisa di situs Happyholiday atau bisa langsung di hotel. “Ke depan saya sudah punya impian membuat sesuatu yang lebih besar. Saya yakin nanti akan ada waktu yang tepat untuk B2C tapi bukan sekarang. Sekarang ini masih banyak kendala soal infrastruktur dan fasilitas. Agar bisa membangun B2C yang baik, perlu facility center di masingmasing provinsi, sehingga tiap daerah bisa memiliki stok dan bisa mengirim pesanan dengan cepat. Sebab, bicara toko online yang sukses adalah bicara soal kecepat­ an pengiriman pesanan. Bahwa Tokobagus bisa sukses karena semua gratis. Nah, dengan Happy Holiday aku ingin membuktikan bahwa saya juga bisa membangun bisnis yang membukukan omzet. Saya ingin membuat yang seperti Amazon.com. Kalau mau besar ya harus sabar,” ujar Direktur Happyholiday.travel yang fasih berbahasa Indonesia ini. –Ngurah Budi


l i f e s to ry

6

24 Februari - 2 maret 2014

Makin Keras Tangisan Makin Keras Siksaan Setelah mandi dan berdandan, Karisa (25), nama samaran, keluar dari kamar kostnya. Ia tersenyum ramah. Wajahnya yang hitam manis disapu bedak dan gincu tebal membuat dandanannya mencolok menor. Sesekali rekanrekan­nya menyapa sambit tertawa-tawa. Hidup Karina kini tampak riang setelah meng­ alami trauma siksaan majikannya beberapa tahun lalu. Namun, keriangan Karina hanya pada wajahnya, tidak pada hatinya. Bagaimana tidak, bebas dari siksa majikan, ia terjerat ke dunia hitam pelacuran. Sesekali, mata Karina basah saat berkisah namun ia berusaha tegar.

I

a dibesarkan orangtua yang memiliki 12 anak dalam situasi kehidupan ekonomi tidak mampu. Orang tuanya hanya petani sayur yang tidak memiliki lahan. Sepetak lahan ukuran kecil yang dipinjamkan orang lain menjadi tempatnya menanam sayuran tersebut. Kerja serabutan dengan penghasilan kecil dijalani keluarga ini. Karina adalah anak ke 5 dari 12 bersaudara. Ia sempat mengenyam pendidikan hingga bangku SMP. ”Karena tidak punya biaya, saya dan saudarasaudara saya hanya mampu sekolah sampai SMP bahkan ada yang hanya lulus SD saja, waktu itu,” ujarnya. Mereka semua kerja serabutan demi menghidupi diri masingmasing. Tahun 2004, ia meninggalkan kampung halamannya mencari pekerjaan ke Sulawesi. Kepergian­ nya ke Sulawesi bisa dikatakan sebagai pelarian karena ia menolak dikawinkan usai lulus SMP. ”Mungkin orangtua saya merasa agar saya terbebas dari kemiskinan dan beban mereka berkurang jika kami anakanaknya menikah di usia belia,” katanya. Ia sama sekali tidak menyalahkan orangtuanya, ia maklum sepenuhnya. Namun, Karina, menolak menikah belia, ia lari ke Sulawesi hingga akhirnya ke Lombok. Dengan penuh keberanian ia berangkat ke Makassar mengikuti beberapa kawan lainnya yang mempunyai tujuan sama, mencari pekerjaan. Ia termasuk beruntung karena hanya dalam hitungan minggu, ia telah berhasil mendapat pekerjaan pertama sebagai penjaga rumah dengan gaji Rp 500.000/bulan. Itu berlangsung selama empat bulan. Sebagai anak yang lumayan pintar, ia memilih keluar dari pekerjaan itu dan ikut kursus baby sitter di sebuah yayasan. ”Katanya gaji sebagai peng­ asuh bayi lebih besar, makanya saya ikut kursus dan meninggalkan pekerjaan sebagai penjaga rumah orang” katanya. Ia terbilang terampil, sehingga begitu selesai menjalani kursus, ia langsung bisa bekerja di beberapa tempat dengan gaji rata-rata Rp 700.000. Ia bekerja dari satu rumah ke rumah lainnya mengurus bayi. Ia merasa bahagia dan tertolong hidupnya karena di samping ia sendiri bisa mulai menikmati kehidupan yang sedikit mulai enak, ia juga bisa mengirimkan uang tersebut sebagiannya untuk biaya sekolah adiknya. ”Tiap bulan saya bisa kirim uang untuk membiayai adik saya sekolah,”

ungkapnya polos. Suatu hari di Juni 2008 lalu, ia bekerja pada sebuah keluarga kaya, Tantri (39), bukan nama sebenarnya, untuk mengasuh anak mereka yang berusia 13 bulan. Belum lagi sebulan ia bekerja di rumah Tantri, keluarga ini pindah ke Manado. Tantri mengajaknya ikut dengan gaji yang cukup besar. Karena tergiur dengan janji gaji Rp 1 Juta/bulan, gadis lugu bertubuh kurus ini, mau ikut majikannya tersebut. Tiba di Manado, ia mulai menjalani pekerjaannya mengasuh bayi tersebut. Entah apa yang terjadi, ia tiba-tiba menemukan majikannya itu suka kalap tanpa sebab. Lima hari pertama bekerja, ia sudah mulai disiksa, tanpa tahu kesalahan­ nya. Peristiwa yang sama terus berlangsung sepanjang hampir delapan bulan. Ia mau keluar dan lari dari rumah tersebut kebingungan mau ke mana. Ia sama sekali tidak mengenal kota tersebut. Selain itu, ia tahan menderita karena janji gaji besar itu belum juga diberikan. ”Saya sangat berharap gaji itu dapat diberikan agar saya bisa mengirimkan untuk adik dan orangtua saya di kampung,” katanya sedih. Matanya berkaca, ia menangis. Ia memang kebingungan menentukan sikapnya karena majikannya tinggal selalu berpindah-pindah. Hingga akhirnya pindah ke Lombok. Pernah ia minta pulang, namun tidak pernah diizinkan. Pernah pula ia berusaha kabur, namun jalan keluar tidak setitik pun ia temukan. Kelakuan majikannya semakin menjadi-jadi ketika tinggal di Lombok. ”Rumah selalu terkunci rapat-rapat. Jika majikan pergi, saya terkunci di dalam rumah,” katanya. Selama delapan bulan,ia disekap, sama sekali tidak pernah menerima gaji sekali pun. Padahal pekerjaannya bukan hanya sebagai baby sitter seperti pada perjanjian kerja, melainkan semua urusan rumah tangga. Ia mengerjakan semua hal karena majikannya tidak memiliki pembantu lain kecuali dirinya. De­ ngan pekerjaan yang berat ter­ sebut, ia mengaku hampir-hampir tak sanggup melakukannya. ”Saya hanya diberi makan nasi dan telur setiap hari selama bekerja. Kalau pun ada sayur sisa beberapa hari lalu di kulkas, barulah saya makan sayur,” katanya. Deritanya menjadi semakin hari semakin tak sanggup ditanggungnya. Ia kerap dipukuli di sekujur tubuhnya hingga kepala, dijambak

rambutnya, dicakar bahkan diputar lehernya. Bukan hanya dengan ta­ ngan ia disiksa, dengan sapu, gun­ting atau alat lain yang dekat dengan majikannya saat marah, kerap mampir ke tubuhnya. Bahkan ia pernah disiram air panas. ”Penyiksaan itu selalu terjadi saat ada kesalahan kecil yang tidak sengaja saya buat. Tidak ada badan saya yang tidak sakit saat ini,” katanya. Dalam sakit dan luka yang dalam, Karisa hanya bisa pasrah mengingat ia tak boleh menangis apalagi melawan. ”Kalau menangis tambah keras saya di­

pukul, diinjak, dibanting dan dihajar. Siksaan makin keras juga. Makanya untuk minta pulang lagi, saya tidak berani,” katanya. Hal inilah yang membuat ia nekad melarikan diri pada suatu subuh. ”Begitu ada kesempatan, dinihari itu, saya lari keluar rumah meski saya tidak tahu harus ke

mana,” katanya. Sebelum ia melarikan diri subuh itu, malam harinya ia mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari menidurkan bayi, setrika, membersihkan rumah, menyeterika, mencuci pakaian, memasak nasi dan lain-lain hingga larut malam. Dinihari pukul 01.00 ia melihat majikannya sudah tertidur pulas. Diam-diam ia membereskan pakainnya dan mengambil kunci untuk kemudian kabur saat itu. Tidak ada rasa takut ketika ia harus berlari meski ia belum mengenal Lombok. Namun, ia ingat, suatu hari ia pernah diajak majikan­nya keluar bersama dan ia melihat ada kantor polisi dekat sekali dari rumah majikannya itu. ”Saya lari mencari kantor polisi itu,” ujarnya. Menenteng dua tas di pundak, ia menuju kantor polisi. Kebetul­ an di tengah jalan ia bertemu anggota polisi dan membawa serta menyelamatkannya. Dengan wajah lebam, leher terdapat luka cakaran dan mata masih terlihat merah akibat pukul­ an majikannya, ia mengaku sedih mengingat keluarganya kala itu. Ia bahkan tidak berani mengabarkan berita duka tersebut kepada orang-

tua dan keluarganya. Semua polisi yang melihatnya malam itu tampak kasihan padanya. Ia diberi makan dan selimut serta menginap di kantor polisi. Ia diperlakukan dengan baik sehingga ia merasa itulah hari pertama ia merasa nyaman hidup setelah delapan bulan ia hidup bagai dalam neraka. Ia juga divisum di Rumah Sakit Kemala Hikmah Mataram. Kepolisi­an juga langsung meng­hubungi sebuah lembaga perlindungan perempuan untuk membantunya menangani kasus ini. Karisa pun mendapat bantuan hukum se­kaligus penanganan kesehatan di RS Islam Siti Hajar Mataram. Ia tidak ingin ketemu siapa-siapa. Beberapa lama kemudian kondisi emosi dan psikologinya stabil namun ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan majikannya yang sudah beberapa kali ingin minta ketemu. ”Saya tidak mau berdamai, majikan saya harus dihukum,” katanya. Hingga akhirnya majikannya itu menjalani hukuman. Setelah semua selesai, ia tidak tahu harus ke mana. Ingin pulang ke kampung halaman, sangatlah mustahil baginya yang sudah terlanjur malu telah meninggalkan keluarganya. ”Saya jalan ke sana ke mari, malu terlalu lama bergantung hidup pada lembaga itu,” ujarnya. Karisa sempat stres berat meng­ hadapi situasi itu sampai ia bertemu seorang perempuan yang menjadi mucikari.”Pilihan sulit yang akhirnya harus saya jalani,” katanya menutup obrolan. -Naniek I. Taufan

24 Februari - 2 maret 2014

S U D U T PA N D A N G

19

Orangtua Korbankan Anak? Kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi Rabu (5/2) di Jalan Raya Lukluk membuat masyarakat miris. Pelakunya siswi SMP yang diduga baru belajar menyetir. Dua korban tewas dalam kecelakaan tersebut. Kasus yang melibatkan siswa SMP pernah terjadi 28 Oktober 2011. Kecelaka­ an akibat out of control di Renon ini mengakibatkan dua pelajar SMP tewas. Di Jakarta, kasus kecelakaan di tol Jagorawi, 8 September 2013 menghebohkan karena tersangkanya AQJ (13 tahun), anak musisi Ahmad Dhani. Kecelakaan ini menyebabkan delapan nyawa melayang.

“K

ami punya aturan di sekolah. Siswa tidak boleh membawa sepeda motor atau mobil ke sekolah. Aturan ini sudah tertulis dalam buku saku dan disepakati orangtua. Jika melanggar, ada pemotongan poin. Kenyataan di lapangan banyak siswa yang membawa motor atau mobil. Karena sekolah melarang, mereka parkir di halaman kantor DPD Golkar Bali atau di areal parkir Pura Jagatnatha,” ungkap Drs. AA Gd. Agung Rimbya Temaja, M.Ag., Kepala SMP 1 Denpasar. Setelah ditelusuri, banyaknya siswa yang melanggar itu tak lepas dari faktor orangtua. Alasan orangtua, tidak bisa mengantarkan anaknya sekolah dan jarak sekolah dari rumah jauh sehingga anak diberi sepeda motor atau mobil. Parahnya lagi ketika diadakan razia, siswa yang berusia di bawah 17 tahun ini sudah memiliki SIM. “Mungkin orangtua nego buat SIM atau lainnya. Dari dulu masalahnya begini saja tapi tidak ada tindak lanjut,” ujarnya dalam diskusi terbatas “Kecelakaan Lalu Lintas di Kalangan Pelajar” yang digelar Mingguan Tokoh, Selasa (18/2). Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali I Made Rai Ridartha, ATD, Dipl.UG, MEngSc mengatakan, ia tidak heran kalau kecelakaan lalu lintas banyak dan tingkat fatalitas sangat tinggi. Mengapa? “Kare­ na perilaku berlalu lintas kita buruk. Contoh, pelanggaran. Usia kepemilikan SIM tak cukup tapi bisa punya SIM. Selain itu, karena kita tidak memenuhi perlengkapan keselamatan berkendara. Sudahkah memakai helm secara benar? Sabuk pengaman diabaikan, ramburambu lalu lintas tidak dihiraukan. Pelanggaran-pelanggaran inilah yang memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas. Kalau ada kecelakaan, jangan salahkan siapa-siapa,” katanya. Dulu diprediksi, kecelakaan lalu lintas sebagai penyebab kematian nomor dua akan terjadi tahun 2020. Tetapi, kenyataannya saat ini sudah menjadi peringkat kedua. Tahun sebelumnya, berada di peringkat ketujuh. Wadir Lantas Polda Bali AKBP Heri Armanto Sutikno, S.H., M.Si. mengakui, banyak kasus-kasus kecelakaan yang terjadi di Bali yang melibatkan pelajar. Pelajar menduduki peringkat kedua korban kecelakaan lalu lintas dari segi profesi, yaitu sebesar 761 orang pada tahun 2013. Dari sisi usia pelaku kecelakaan lalu lintas, pelaku berusia 10-15

tahun sebanyak 107 orang dan usia 16-25 tahun sebanyak 740 orang. Pelaku berusia 16-25 tahun ini berada di peringkat pertama dari sisi jumlah kasus. “Data WHO menunjukkan Indonesia berada di peringkat kelima jumlah korban meninggal terbanyak karena kecelakaan lalu lintas. Di Bali, tahun 2013 terjadi 2.127 kecelakaan dengan korban meninggal dunia 564. Jika dirata-rata, tiap hari ada dua nyawa melayang akibat kecelakaan lalu lintas,” paparnya. Sebagai upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas, Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 4 tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan. Dari Inpres itu, disebutkan Kapolri bertanggung jawab untuk memperbaiki perilaku pengguna jalan melalui pendidikan keselamatan berlalu lintas, meningkatkan kualitas sistem uji SIM, dan penegakan hukum di jalan, serta mengembangkan sistem pendataan kecelakaan lalu lintas. “Kami tentu tidak bisa bekerja sendiri. Perlu kerja sama dengan pihak lain. Contoh, kepemilikan SIM oleh anak di bawah usia 17 tahun. Kami mohon data dari sekolah siapa saja siswa SMP yang sudah memiliki SIM. Kami akan telusuri, bagaimana dia bisa mendapatkan SIM. Selama ini, dari pengalaman yang ada, pencari SIM ini menggunakan KTP sementara. Kami akan terus memperbaiki sistem agar pencari SIM benar-benar terseleksi. Petugas kepolisian pun akan kami tindak tegas jika terbukti melakukan pelanggar­an dari proses pembuatan SIM,” kata pria kelahiran Jakarta, 14 Mei 1969 ini. Dalam upaya meningkatkan kualitas uji SIM, Heri mengatakan, ujian teori dan praktik harus dilalui. Lalu, bagaimana kasus jika peserta ujian teori dan praktik tidak meminta bantuan petugas mereka tidak lulus, tetapi kalau dibantu petugas, mereka bisa lulus? “Kalau ada yang seperti itu, tolong dilaporkan,” katanya tegas. Menurut Heri, semua pencari SIM harus lulus ujian teori dan praktik. Jika tidak lulus, mereka punya waktu dua minggu berikutnya untuk mengikuti ujian ulang. Kepolisian juga sedang mengkaji merit point system. “Nanti ada sistem poin bagi pengendara. Jumlah pelanggar­ an dihitung dan berpengaruh terhadap kepemilikan SIM mereka. Misalnya, SIM ditahan, tidak bisa memiliki SIM baru, dsb.,” ungkapnya. Pelanggaran yang mudah ditemukan misalnya, angkutan barang yang digunakan mengangkut orang, berhenti di zebra cross, berbon-

AA Gd. Agung Rimbya Temaja

Heri Armanto Sutikno

I Made Rai Ridartha

cengan lebih dari dua orang, memutar arah. Selain itu, dari sisi perlengkapan kendaraan banyak ditemukan pelanggaran spion, tidak menggunakan helm, dsb. “Pelajar banyak yang tidak pakai helm,” ungkap Heri. Jumlah kasus pelanggaran lalu lintas dari kalangan pelajar tahun 2013 mencapai 12.513 naik 469 kasus dibandingkan tahun 2012 sebesar 12.044 pelanggaran. Jika dilihat keseluruhan, kasus pelanggaran yang dilakukan pelajar satu-satunya pelanggaran yang mengalami kenaikan pada tahun 2013 dibandingkan pelanggaran yang dilakukan profesi lain seperti PNS dan karyawan swasta. Ketika dihadapkan pertanyaan apakah saat mengenakan pakaian adat, boleh tidak mengenakan helm, Kombes Heri dan Rai Ridartha mengatakan ada kebijakan khusus yang berlaku di Bali. “Jika mengenakan pakaian adat boleh tidak mengenakan helm tetapi hanya untuk jarak dekat, paling jauh 10 km dan batas kecepatan 20 km/jam. Bagi umat muslim, kebijakan ini berlaku pada hari Jumat,” ujar Rai. Bagi pelajar, kesempatan ini kadang dijadikan alasan untuk tidak mengenakan helm, apalagi tiap purnama dan tilem siswa di Bali mayoritas menggunakan pakaian adat. “Walaupun ada aturan itu, sedekat apa pun, potensi kecelakaan ada. Soal ini, ada dua kubu; yang tetap pakai helm dan tidak pakai helm saat berpakaian adat,” ungkapnya. “Alasan orang tidak pakai helm saat pakai baju adat karena kalau sudah pakai baju adat, kita dilindungi Tuhan. Saya tunjukkan gambar siswi kecelakaan saat pakai baju adat. Alasan lain, kepala tidak suci kalau pakai helm. Tiap masuk pura, kita disucikan pakai tirta. Alasan lain, takut helm hilang di pura. Ini kan masalah kriminalitas. Yang belum bisa saya jawab, kalau pakai sanggul. Sedangkan bagi yang tetap memakai helm saat berpakaian adat karena keselamatan dan kebersihan. Yang pakai helm, wajah lebih bersih,” papar Rai Ridharta. AKBP Heri juga menuturkan pen-

Yohanes Kartika Herdiyanto

I Nyoman Sadha

I Nyoman Subrata

galamannya mengenai sulitnya memasukkan kurikulum lalu lintas ke dunia pendidikan di Bali. Ketika ber­tugas di Kalimantan, ia melakukan kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan pemerintah kabupaten. Lalu lintas bisa masuk kurikulum bahkan modul untuk siswa diperbanyak melalui anggaran yang ditetapkan di APBD. “Di Bali kami sudah mencoba untuk melakukan terobosan ini tetapi belum berhasil. Yang sudah terlaksana hanya pemberian sosialisasi saat masa orientasi siswa (MOS),” ujarnya. Menurut Rimbya Temaja, sulitnya materi lalu lintas masuk dalam kurikulum disebabkan sudah padatnya materi kurikulum. Solusinya, diberikanlah waktu saat MOS. Pola ini sudah diterapkan di sekolah. Tiap Senin juga ada upacara yang inspektur upacaranya dari kepolisian. Drs. I Nyoman Subrata, M.M. mengakui masalah kurikulum lalu lintas ini sudah sempat dibahas. “Kami akan bahas lagi nanti sekalian berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga di kabupaten/kota. Beberapa sekolah sudah mengaplikasikan pen­ tingnya pemahaman berlalu lintas dalam sosialisasi saat MOS dan menyelipkan di beberapa mata pelajar seperti Pendidikan Kewarganegaraan dan Budi Pekerti,” ujar Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Bali ini. Menurut Rai Ridartha, sosialisasi kepada siswa tentang keselamatan berlalu lintas jangan hanya saat MOS. “Edukasi ini harus terus diberikan, seper­ti memberikan pelajaran matematika kepada siswa. Apakah kita mau nyawa anakanak melayang akibat kecelakaan lalu lintas? Jika nyawa itu penting, sepadat apa pun, pendidikan lalu lintas harus masuk dalam kurikulum. Di seluruh dunia, pendidikan berlalu lintas sangat penting,” tegasnya. Pria asal Pejeng, Gianyar ini menyoroti orangtua yang berkontribusi jika anaknya yang masih di bawah usia 17 tahun diizinkan mengendarai motor atau mobil lalu kecelakaan. Orangtua bisa dikenakan sanksi karena melakukan pembiaran. Jika dirunut ke belakang, orangtualah yang memberikan fasilitas itu. Seharusnya orangtua tegas untuk melarang, jangan memberikan anak mengendarai kendaraan sendiri jika belum cukup umur. “Kalau alasan orangtua sibuk, kembali pada hakikat. Apakah karena kesibukan lalu orangtua rela mengorbankan anaknya?” tanyanya retoris. Yohanes Kartika Herdiyanto, Kepala Bagian Psikologi Industri/Organisasi dan Sosial Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana menjelaskan, ketika aturan sudah dibuat, aturan itu harus diikuti. Kalau ada larangan mengendarai kendaraan bagi anak di bawah usia 17 tahun, maka orangtua yang harus bertanggung jawab untuk mengantar anak.

Kalau orangtua membiarkan anaknya mengendarai kendaraan sendiri, itu mengawali ketidakdisiplinan. “Perilaku orangtua akan memengaruhi anak. Anak akan mencontoh orangtua. Anak yang fisiknya besar belum tentu psikisnya stabil. Karena itu, fisik tidak bisa dijadikan ukuran untuk memberikan anak boleh mengendarai kendaraan,” tandasnya. Ia pun sepakat dengan apa yang disampaikan Rai Ridartha, perilaku berlalu lintas orang Indonesia umumnya sangat buruk. Apalagi remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan. Begitu disalip, mereka langsung emosi dan ikut ngebut. Emosi inilah yang harus dipahami orangtua sebelum memberikan kunci dan kendaraan kepada anaknya. Pengaruh kelompok sebaya juga kerap dijadikan acuan oleh anak-anak. “Ada anak yang minder tidak naik motor padahal teman sebayanya sudah naik motor. Dalam kondisi ini, orangtua harus tegas dan disiplin. Sikap tegas orangtua ini kerap dianggap tega banget sama anak. Tapi jangan salah, di balik tega itu ada pendidikan dan pendisiplinan. Jangan berikan motor untuk anak yang belum cukup umur. Kita harus berpatokan ada aturan. Kadang memang ada anak yang mengatur orangtuanya,” tegas dosen dan peneliti kelahiran Kediri, 7 Mei 1981 ini. “Fenomena yang terjadi sekarang ini sangat kompleks. Orangtua sibuk kerja, tidak bisa antar-jemput anak. Kalau memang tidak bisa, carikan tukang ojek atau suruh naik angkutan umum. Sekarang orangtua cenderung melepas anaknya. Contoh kecil, dulu saya sering mendapat cerita rakyat (satua) dari orangtua,” ujar I Nyoman Sadha, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bali. Ia menambahkan, jika anak di bawah 17 tahun mengendarai kendaraan sendiri lalu kecelakaan, orangtuanya bisa dijerat hukum. Misalnya, seorang ibu menyuruh anak sulungnya membeli nasi. Karena malas, anak sulung ini menyuruh adiknya atau anak bungsu untuk membeli. Ternyata anak bungsu ini kecelakaan dan mengakibatkan orang meninggal. “Jika dilihat dari teori sebab-akibat, semua komponen ini sebagai penyebab, mulai dari si ibu sampai anak bungsu. Tetapi Indonesia menggunakan teori keseimbangan. Siapa yang paling terakhir, itulah yang bertanggung jawab. Bagi saya, seharusnya orangtualah yang paling bertanggung jawab karena dia tahu semua perilaku anaknya dan kadang melakukan pembiaran,” tegas mantan jaksa ini. AKBP Heri menambahkan, pembagian kesalahan pada kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak di bawah umur sedang dikaji. “Kalau memenuhi persyaratan, akan diterapkan. Orangtua bisa dikenai hukuman juga,” katanya. – Ngurah Budi


D AYA C I P TA

18

Kreasi Bunga Kering

Bunga merupakan perwujudan nyata dari rasa, kasih, sayang, cinta, syukur, hormat, senang/gembira/bahagia, sedih, duka dan rasa lainnya. Semua rasa tersebut bisa di­ wakili dengan bunga. Selama ada manusia selama itu pula memerlukan bunga. Ada dua jenis bunga yang umum dipakai, yakni bunga asli yang segar, dan bunga buatan. bunga. Buat beberapa banyak.

B

Asri di antara bunga kering kreasi “Indah Asri”

unga segar memi­ liki nilai lebih kare­ na kesegarannya serta warna dan variasinya sangat alamiah. Kebanyakan orang lebih menyukai bunga segar. Kelemahan­ nya, bunga segar tidak dapat bertahan lama, kurang dari seminggu sudah layu. Bunga buatan adalah bunga yang dibuat dari bahan-bahan apa saja seper­ti kertas, plastik, kain, kayu, log­ am, kristal. Selain dari bahan-ba­han tersebut, ada pula bunga yang dibuat dari bahan tumbu­ han pilihan melalui proses pengeringan, pengawetan, pewar­ naan kemudian di­ susun atau dibentuk menyerupai bunga dengan bantuan lem/ perekat. Bunga itu dis­ ebut bunga kering. Kreasi merangkai bunga kering adalah keahlian yang dapat dipelajari dan ditekuni sebagai hobi. Itu pula yang dilakoni Made Asri Restuastuti Kardha, S.P. ini bersama kedua orangtuanya. Di bawah bendera “Indah Asri (Dried Flo­wers)”, produk bunga kering­nya kerap di­ pamerkan di Bali, luar Bali, hingga ke Thailand. Mereka juga dipercaya memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat luas. Asri mengatakan, tak hanya bunga segar yang dapat dikeringkan, tapi juga buah-buahan, bijibijian, dedaunan, rantingrantingan, bahkan tumbuhan semak yang memiliki bentuk indah dapat dikreasikan menjadi hiasan bunga kering. Semua tergantung pada kreativitas untuk memanfaatkan dan memilih tanaman yang banyak tumbuh di sekeliling kita. Proses pembuatan bunga ker­ ing yang dilakukan adalah sebagai berikut: Pencarian Bahan Baku Bahan utama yang bisa dipakai untuk membuat bunga kering adalah bagian dari tumbuh-tumbuhan yang sebagian besar dianggap sebagai sampah atau limbah. Misalnya, bunga pisang-pisangan (heliconia), biji buah palm, buah mahoni, buah rotan, kelopak buah, pelepah, ranting-

ran­t ingan, akar-akaran, rumputrumpuan, dll. Disamping itu, ada pula beberapa bahan bisa didapatkan dengan cara membeli, seperti kulit (klobot) jagung dan daun lontar. Proses pengolahan Pemilihan Bahan Bahan-bahan yang sudah didapat, dipilih/sortir kembali. Bahan yang terlalu muda atau tua sebaiknya tidak dipergunakan, karena akan

dalam cairan pemutih, tiriskan, cuci atau bilas dengan air bersih, tiris­ kan dan jemur di bawah sinar matahari sampai kering Petik kelopak buah palem karena juga akan dimanfaatkan menjadi bunga. Rendam bahan dalam cairan pemutih, tiriskan, cuci atau bilas dengan air bersih, tiriskan dan jemur di bawah sinar matahari sampai kering Ranting buahnya juga dapat dimanfaatkan menjadi ranting atau cabang yang dapat dikombinasi dengan buah palem atau bahan lainnya. Kuncupkan ranting-ranting dari buah palem dengan bantuan tali supaya lurus. Tujuannya agar ranting rapi dan mempercantik hasil akhir dari bunga yang akan dibuat. Jemur dibawah sinar ma­ tahari sampai kering. Setelah ker­ ing, ranting dicat dengan menggu­ nakan cat mowilex warna cokelat. Setelah kering, semua bahan tadi (buah palem, kelopak buah palem, dan ranting palem) siap untuk dirangkai menjadi bunga. PALEM RENCE Cara membuat: Buah palem yang sudah dipro­ ses dan sudah kering, dibor Lem di ranting palem yg sudah dicat cokelat. Kira-kira 15 buah palem untuk satu tangkai. Sambung ranting palem yang sudah dilem dengan bambu

bahan yang direndam. Jika bahannya keras dan berserat, akan memakan waktu yang lebih lama. Bahan yang telah direndam, ditiriskan dan dicuci agar sisa-sisa cairan tadi hilang. Proses selanjutnya adalah pe­ warnaan. Pewarna yang dipakai untuk mewarnai bahan adalah pewarna tekstil dengan cara merebus bahan ke dalam cairan warna. Setelah diwarna, bahan dijemur kembali.

mempengaruhi mutu dari produk yang dihasilkan. Penjemuran Bahan Setelah disortir, bahan-bahan ter­ pilih dijemur di bawah sinar matahari. Proses ini memakan waktu yang relatif lama, tergantung dari bahan yang dijemur. Proses Pengawetan dan Pewarnaan Bahan yang telah dipilih, direndam di dalam cairan pemutih agar warna bahan yang tadinya cokelat ke­ hitaman, dinetralkan warnanya men­ jadi putih (krem). Disamping itu, ba­ han juga menjadi awet dan anti jamur. Lama perendaman tergantung dari

Proses Kreasi Pembentukan menjadi bunga Setelah benar-benar kering, bahan dirakit dan dibentuk se­ hingga menyerupai bunga den­ gan bantuan lem tembak. Cara membuat bunga lainnya yaitu dengan mempergunakan bantuan alat seperti alat border dan juga alat press. Kedua alat ini berfungsi untuk membentuk helaian daun atau bahan sehingga menyerupai kelopak bunga yang kita ingin rangkai. MEMBUAT BUNGA DARI BAHAN KULIT JAGUNG Kreasi ini adalah yang paling mudah dibuat, karena bahannya mudah didapat, dan pembuatannya bisa secara manual, tanpa bantuan alat khusus. Cara Membuat: Kulit jagung yang sudah diproses, dipotong-potong selebar ± 5cm Pelintir bagian tengah potongan kulit jagung, dijadikan satu, sehingga dapat membentuk seperti kelopak

Sisa-sisa potongan kulit jagung yang kecil-kecil, disusun dan di­ potong sampai halus untuk dijadikan sari bunga. Kelopak-kelopak bunga yang sudah dibuat, dirakit atau dirangkai sehingga menjadi bentuk bunga. Rapikan bagian bawah bunga, ke­ mudian tambahkan kawat dan bambu sebagai batangnya Dengan dasar pembuatan yang sama seperti diatas, kelopak-kelopak bunga yang terbentuk tadi dapat dirangkai menjadi beberapa jenis bunga lainnya sesuai dengan kreasi dan kreativitas masing-masing MEMBUAT BUNGA DARI BAHAN PALEM PUTRI Proses pembuatan: Buah Palem Putri yang sudah merah di pohon (hampir rontok), dipetik beserta rant­ ingnya. Petik buah palem satu-persatu, rendam buah palem dalam air agar mudah menguliti kulit­nya, rendam bahan buah palem putri yang sudah dikuliti

24 Februari - 2 maret 2014

24 Februari - 2 maret 2014

BUNGA MENUR Cara membuat: Buah palem putri yang sudah diproses dan sudah kering dibelah menjadi 2 bagian. Rapikan bekas potongan. Usahakan besar dan bentuknya sama. 2. Rangkai potongan buah palm di marigold (sari bunga) sehingga dapat menyerupai bentuk bunga dengan bantuan lem. KREASI BUNGA DENGAN BAHAN KELOPAK BUAH PALM PUTRI Cara membuat: Kelopak buah palm yang sudah diproses dan sudah kering, dihilang­ kan bagian bawahnya. Rence atau rangkai kelopak buah palem tadi di ranting palem, kloping kelapa, marigold atau buah palem ekor tupai dengan cara di lem satupersatu. -Inten Indrawati

l i f e s to ry

7

Satu Jam Sama dengan Satu Hari Tujuh tahun lalu, Gung Oka masih duduk di bangku SD kelas 5. Jarak dari rumah ke sekolah biasa ia tempuh hanya beberapa menit dengan ber­ jalan kaki. Untuk itu ia harus melewati pematang sawah, meniti jembatan kayu di tengah tegalan bambu, baru kemudian sampai di sekolahnya yang berada di antara permukiman penduduk di Ke­ robokan. “Bisa juga lewat jalan besar, tapi jalan­ nya agak jauh. Saya jalan kaki ke sekolah, jadi lewat jalan itu saja,” kisahnya.

S

ama seperti hari-hari sebelumnya, hari itu Gung Oka juga melalui jalan yang sama. Ketika hen­ dak melewati jembatan, tiba-tiba Gung Oka dipanggil enam bocah lakilaki sebayanya. “Gung, sini dulu,” ujar salah seorang di antaranya. Gung Oka menjawab,”Ndak, saya mau sekolah”. Bocah tadi kembali menyahut,”Nanti saya yang bilang sama orangtua. Besok saja sekolah,” ujarnya lagi kepada Gung Oka untuk meyakinkan. Akhirnya Gung Oka setuju, ia diajak bermain ke rumah bocah-bocah itu. “Tempatnya tak ter­ lalu jauh, kami berjalan kaki. Rumahnya sama seperti rumah-rumah biasa, tapi rumah dia yang paling bagus, berukiran Bali. Saya lihat di sana tidak ada motor,” ungkapnya. Sesampai di rumah bocah itu, Gung Oka diperkenalkan dengan ayah dan ibunya. Oleh mereka, Gung Oka sempat ditawari makan siang, namun Gung Oka menolak. Begitu juga saat ditawari minum. “Tidak, saya sudah bawa bekal minuman,” sahutnya. Se­ lanjutnya, keenam bocah sebayanya itu mengajak Gung Oka bermain kelereng dan memancing. Hari menjelang sore, Gung Oka diantarkan pulang, hanya sampai di ujung jembatan, tempat mer­ eka menjemput Gung Oka tadi. Gung Oka diberikan uang Rp 75 ribu, yang kemudian langsung dimasukkan Gung Oka ke saku celana sekolahnya. Saat melewati pematang sawah, ia teringat dengan satu lembar uang Rp 50 ribu, satu lembar uang Rp 20 ribu, dan satu lembar uang Rp 5 ribu yang tadi diberikan temannya itu. Ketika ia merogoh kantong celananya, Gung Oka hanya mendapati tiga lembar daun bambu di sana. Ia sempat heran dan membuang daun-daun itu begitu saja. Sekitar pukul 16.00 Gung Oka sampai di rumahnya. Sekembalinya Gung Oka, orangtuanya langsung me­ meluknya. Mereka tampak cemas dan marah. “Kemana saja kamu empat hari hilang dari rumah,” tanya sang ibu. “Kok empat hari? Saya kan cuma pergi sehari sampai sore saja,” sahutnya. Gung Oka pun menceritakan pengalamannya tadi kepada orangtuanya yang mengaku bingung mencarinya kemana-mana. Keesokan harinya, Gung Oka sakit mata yang tak kunjung sembuh sampai lima hari. Oleh ibunya, ia diajak berobat ke balian (orang pintar), sekalian me­ nanyakan perihal menghilangnya Gung Oka selama empat hari tersebut. Oleh

balian itu, sakit matanya hanya ditetesi tirta/air suci yang selanjutnya berangsurangsur membaik dan sembuh. Balian itu juga mengatakan bahwa meng­ hilangnya Gung Oka selama empat hari itu dikarenakan engkebin memedi (di­sembunyikan wong samar/makhluk halus/astral). Untuk itu, ia dibuatkan banten panebusan yang dihaturkan di jembatan itu. Setelah kejadian itu, Gung Oka tak berani lagi melewati jalan ­pintas itu menuju ke sekolah. Sejak saat itu pula, Gung Oka selalu diantarjemput sekolah oleh ibunya. “Percaya tak percaya, memedi atau wong samar itu ada. Dunia mereka sama dengan dunia manusia. Hanya saja, tanah di sana berwarna agak merah kecoklatan seperti tanah liat dan per­ mukaannya kenyal jika diinjak. Di atas tanah kurang lebih sampai sejengkal agak berasap. Di sana juga mengenal beberapa suku, sama seperti di dunia manusia. Perbedaan waktunya, satu jam di dunia gaib sama dengan satu hari di dunia manusia,” ungkap Jero Mangku Batur yang oleh masyarakat luas lebih dikenal dengan sebutan Jero Mangku Gamang, karena kemampuannya ber­ interaksi dengan makhluk halus. Ia memaparkan, apa yang ada di dunia manusia, juga ada di alam gaib, kecuali kendaraan bermotor. Di alam gaib, kendaraan mereka adalah ujung daun pisang dan yang paling hebat ada­ lah patahan batu bata. Mereka tinggal duduk di atasnya dan memerintahkan arah tujuan mereka. Terkait pohon pisang, Jero Mangku mengingatkan untuk tidak menanam­ nya di halaman depan rumah. Itu juga berlaku untuk pohon beringin, bunut, dan pule. “Tiap memetik buah pisang, tebang semua batangnya. Karena, batang pisang yang masih berdiri ini kerap dipakai teluh (santet), makhluk alam gaib pun senang di sana. Si pemilik rumah bisa sakit,” ingatnya. Jero Mangku yang belum lama ini juga dipercaya mengawal syuting alam gaib dalam siaran “Mr. Tukul Jalanjalan” yang mengambil lokasi di Bali, mengatakan di alam gaib mengenal lima wangsa yakni samar, gamang, memedi, tonya, dan rerek tungek (sundel bolong). ­Mereka senang menempati rumah kosong, pohon bambu/pinggir sungai, pohon-pohon rindang yang di­ pakai berteduh di pinggir sungai seperti beringin, pule, bunut, kepuh. Ia juga kerap dipercaya masyarakat untuk mencari orang hilang, terutama

Jero Mangku Gamang

dari kawasan bendungan di Mambal sampai Tangtu, yang termasuk di dalam­ nya di antaranya jembatan Sungai Ayung di Jalan Padma dan Bendungan Oongan yang terkenal angker. Seperti beberapa tahun lalu, ada anak kecil tenggelam di sungai ayung dekat Pura Beji. Setelah berinteraksi dengan penunggu alam gaib di sana, Jero Mangku mendapat­ kan petunjuk untuk mencari korban di Bendungan Oongan. Tepat pukul 09.00 keesokan harinya, korban menyembul dari permukaan air di bendungan t e r­

sebut. Selain itu, ia juga sering dim­ inta bantuan un­ tuk hal-hal berbau magis lainnya. “Sebentar ini saya harus berangkat, katanya di kantor sering kehilangan,” ujar Jero Mangku yang sore itu sudah bersiap-siap be­ rangkat menuju perkantoran yang tak mau ia sebutkan namanya tersebut. ALAM GAIB Jero Mangku di Pura Batur Kelawas­

an Pasung Gerigis, Tonja ini mengisah­ kan ikhwal dirinya mampu berhubungan dengan alam gaib. Dulu, saat ia masih kelas 1 SD, saat Nyepi, penerangan hanya dengan menggunakan lilin. Ia bermain memati dan menghidupkan lilin. Namun saat lilin ditiup, ia dipanggil kakek-kakek. Ia mengikuti kakek-kakek itu sampai ke arah sungai. “Saya sudah nyemplung ke sungai sampai air sebahu, langsung ditarik orangtua saya. Rupa­ nya, sedari tadi mereka membuntuti saya,” ujarnya. Setelah Jero Mangku dibawa kem­ bali pulang, selang dua jam ia kembali dijemput kakek-kakek itu sekitar pukul 23.00. Ia diajak ke Pura Beji Desa Tonja dekat jembatan di Jalan Padma. Ia diberi­ kan mainan bagus-bagus, diperlihatkan rumah-rumah bagus berkilau dari emas, perak dan perunggu. Kakek itu hanya memperkenalkan alam gaib kepadanya dan mengatakan jika mau masuk harus ada tanda pengenal. “Bentuknya seperti lempengan tembaga berukuran 4 cm x 2,5 cm. Lempengan itu dimasukkan ke sebuah batu yang ada pecahannya yang secara alam gaib merupakan pintu gerbangnya. Kinerjanya mirip seperti kartu ATM. Ketika saya masukkan itu, pintu terbuka sedikit, saya lihat terang dan merah, saya kaget, lalu mencabut paksa lempengan itu sehingga patah. Karena itu, di sana saya dipanggil Jro Gede Compeng,” paparnya. Saat kelas 2 SMP ia juga pernah hilang di Lapangan Lumintang, Den­ pasar. “Saya melihat teman-teman lari,

tetapi saya berpikir kenapa saya tidak dipanggil-panggil. Ternyata mereka tak meliahat saya, hanya saya yang bisa lihat. Akhirnya, saya ditemukan guru olahraga saya di pinggir sungai dekat lapangan,” kisahnya. Ada juga pengalamannya saat mengikuti ujian di STM Rekayasa. Ia heran, padahal sedari tadi ia masih di lapangan dan baru saja masuk kelas, soal-soal ujian di mejanya sudah terisi. Alhasil hasil ujiannya betul semua. Kepala sekolah curiga dan memintanya mengikuti ujian ulang di kantor kepala sekolah. Saat mengerjakan soal itu seolah-olah ada yang menggerakkan tangannya. “Dari beberapa soal itu, sengaja dibuat salah lima, biar guru tak curiga lagi,” ujarnya. Kejadian-kejadian mistis itu kerap berulang hingga ia menginjak bangku SMA. Setelah ditanyakan ke balian, ia dikatakan memang disenangi oleh alam gaib, karena kakeknya (alm.) sudah mengizinkan/mewarisi kemampuannya untuk bisa mengetahui alam gaib. Oleh orangtuanya, Jero Mangku dibuatkan otonan besar di antaranya di sungai, di laut, di perempatan, di pura desa, di dapur, di sumur, di merajan, dan di bale. Setelah dibuatkan otonan itu, ia jarang hilang lagi. “Di alam gaib tidak suka keributan. Mahluk-mahluk gaib tak suka mendengar kata-kata keras, kotor dan jorok. Karena itu, hati-hati bersikap khususnya di tempat-tempat yang dikatakan angker, ” ingatnya. –Inten Indrawati


BUNDA & ANANDA

8

24 Februari - 2 Maret 2014

Jangan Biarkan Trauma Mengendap di Memori Anak Letusan Gunung Kelud membuat warga yang tinggal di dekat gunung itu harus mengungsi. Suasana mencekam dan penuh ketakut­ an akan dirasakan warga, apalagi bagi anak-anak. Evakuasi harus dilakukan cepat sehingga tidak semua barang bisa dibawa. Hal terpenting adalah nyawa selamat.

Ni Made Trisna Susanti

P

roses yang dialami anak-anak mulai dari mendengar le­ tusan gunung, lalu mengungsi, dan hidup di peng­ ungsian akan terekam di memori mereka. Hal ini bisa menjadikan mereka trauma jika mendengar suara-suara yang mirip letusan. Trauma biasanya sangat mem­ bekas di memori anak-anak. Jangankah hal-hal besar seperti letusan gunung, hal-hal sepele pun kadang bisa terekam di memori mereka. Misalnya, si A anak yang aktif sedangkan si B sangat pendiam. Karena terlalu aktif, si A ditegur gurunya. Hal ini terjadi berkalikali. Si B yang sering melihat hal tersebut menjadi takut duluan. Ia berpikir jika ia melakukan hal yang sama, ia akan ditegur. Hal yang lebih parah lagi adalah si B tak mau sekolah karena takut ditegur. Ada seorang dokter cantik datang ke psikolog. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di memorinya yang tak bisa ia hilang­ kan. “Saya waktu kecil gendut. Ada teman yang selalu mengejek

24 Februari - 2 Maret 2014

Depan Dua Lantai Belakang Tiga Lantai Memiliki lahan dengan posisi miring ternyata memberi berkah. Posisi ini membuat rumah menjadi unik. Hal ini terbukti di rumah dr. I Made Tangkas, Sp.OG. MPH. Rumah ini mempertahan­ kan kontur miring sehingga posisi rumah dari depan dan dari belakang tampak beda.

S

Foto: www.beritabali.com

saya. Ejekan itu selalu terngiang di benak saya. Setelah beranjak remaja, saya menjadikan ejekan itu sebagai penyemangat untuk melakukan perubahan. Saya diet dan berhasil menjadi kurus. Seka­ rang, tiap bertemu temen itu, saya menjadi trauma. Ada rasa jengkel. Padahal saya harusnya berterima kasih karena berkat dia, saya bisa berubah,” tuturnya kepada psikolog. Pengalaman trauma yang dia­ lami di masa anak-anak bentuknya bisa bermacam-macam. Jika tidak segera dihapus, memori itu akan mengganggu. “Anak yang ingin diceritakan tentang sesuatu oleh orangtuanya, tetapi orangtuanya bilang nanti…nanti…akhirnya membuat anak bosan. Anak bisa menilai orangtuanya tidak kooperatif. Akhirnya si anak pun menjadi anak yang pendiam dan tertutup. Ini juga trauma,” ungkap Ni Made Trisna Susanti, S.Psi, Psikolog. Dalam hal trauma, ada yang dikenal dengan post traumatic stress disorder (PSTD). Ini meru­ pakan gangguan stress yang tim­ bul berkaitan dengan peristiwa traumatis luar biasa. PSTD ter­ masuk gangguan kejiwaan yang berat. Untuk mengatasi PSTD ini telah dikembangkan terapi perilaku, hipnoterapi yang cukup efektif asalkan penderita menda­ pat dukungan dari lingkungan terdekatnya. Mengatasi trauma pada anakanak memerlukan keterlibatan orangtua. Apa yang terjadi seka­ rang pasti memiliki penyebab di waktu sebelumnya. Orangtua harus introspeksi jika mengamati anaknya menjadi pendiam. Trisna mengingatkan orangtua untuk belajar mendengar apa cerita dan keluhan anak serta memulihkan kondisi anak jika si anak meng­

alami trauma. Ini jika orangtua menyadari kesalahan ada di pihak mereka. Tetapi, jika tidak disa­ dari, anak akan selalu disalahkan. Trauma ini harus segera ditangani agar tidak selamanya mengendap di memori anak. “Penggunaan kata-kata seperti di tempat gelap ada hantu, kalau nakal ditangkap polisi menimbul­ kan trauma psikis bagi anak-anak. Begitu melihat tempat gelap, anak akan langsung berasumsi, ada hantu. Kalau mengatakan anak na­ kal ditangkap polisi sama artinya dengan ancaman. Lama kelamaan ancaman ini juga menimbulkan trauma. Memang ada orangtua yang menggunakan ancaman agar anak menuruti orangtua,” ujar psikolog di Biro Konsultasi

Psikologi Dian Selaras ini. Salah satu solusi untuk meng­ hapus trauma adalah dengan hipnosis. Melalui hipnosis, trauma yang selama ini tersimpan di memori bisa dihapuskan. Ketika proses hipnosis, ada yang sampai menangis untuk menghapuskan memorinya itu. Namun, satu hal yang diingatkan Trisna adalah penghapusan ini tidak bisa dipak­ sakan tetapi harus diminta oleh yang bersangkutan. Saat ini yang mulai dilakukan adalah self hypnosis. Metode ini membuat seseorang yang mengalami masalah melakukan terapinya sendiri tentunya setelah ia memahami apa itu hipnosis. Metode ini didukung magic com­ munication. Artinya, komunikasi

sebagai sesuatu yang sangat pen­ ting. “Misalnya ada orang yang sangat takut gelap. Orang itu bisa diingatkan penting nggak kata ge­ lap itu. Kalau tidak penting, kata gelap bisa diabaikan. Sebaliknya kalau kata yang tidak penting itu selalu dipikirkan dan diingat, itu­ lah yang akan menjadi penyakit,” ujar psikolog lulusan Universitas Muhammadiyah Malang ini. Hipnosis selain bisa dilakukan sendiri sebagai motivator un­ tuk bangkit dan membersihkan memori, juga bisa melibatkan orang yang memahami hipnosis. Namun, dalam kondisi ini, antara hipnotis dengan yang dihipnosis harus menyamakan persepsi dulu. Selain itu juga ada “izin” yang akan dihipnosis. –Ngurah Budi

Self hipnosis menjadi salah satu upaya untuk menghilangkan trauma

G R I YA

aat membeli lahan se­ luas 5,8 are ini tahun 2007, dr. Tangkas dan istri sudah mem­ bayangkan bentuk rumah rumah yang akan dibangun. Mereka mempertahankan kontur tanah yang miring ini. Pengurugan dan penyenderan hanya dilakukan di bagian bawah yang berbatasan dengan sungai. Selebihnya, ba­ ngunan yang menyesuaikan de­ ngan kontur tanah. Hanya ada dua bangunan di lahan ini. Bangunan utama seluas

810 m2 dan jineng yang juga berfungsi sebagai “wantilan”. Ba­ ngunan utama terdiri dari kamar tidur, ruang tamu, ruang karaoke, dapur, dan ruang praktik dokter. Uniknya, jika dilihat dari depan bangunan ini terdiri dari dua lan­ tai. Tetapi, jika masuk ke dalam lalu berdiri di jineng, bangunan utama terdiri dari tiga lantai. “Awalnya kami ingin rumah yang minimalis tradisional. Jineng merupakan bangunan wajib yang sudah kami pikirkan dari dulu,” ujar dr. Ni Made Sumiartini,

Kolam di belakang rumah

Ruang tamu

Sp.A, istri dr. Tangkas. Jineng ini multifungsi karena bisa dijadikan tempat latihan menabuh dan menari serta dijadikan tempat menyimpan peralatan dr. Tang­ kas yang juga penari topeng ini. Bagian atas dulunya dirancang un­ tuk kamar tidur, tetapi sekarang lebih banyak difungsikan sebagai kamar suci. Sebuah kolam renang dengan pemandangan ke sungai dan rerimbunan pohon membuat sua­ sana rumah ini sejuk. Di malam hari, suara serangga menjadi musik yang mengiringi tuan ru­ mah menuju peraduan. Sesibuk apapun, pasangan dokter yang dikaruniai empat anak ini selalu menyempatkan diri untuk me­ nikmati suasana rumah. Karena suasana yang nyaman ini, banyak kolega dan saudara yang berkun­ jung dan mengadakan kegiatan seperti arisan dan reuni. Tampak belakang rumah

–Ngurah Budi

Jineng sekaligus wantilan

Suasana dalam jineng

17


i n f o to r i a l

16

24 Februari - 2 maret 2014

HUT ke- 2 6 W HDI Prov i n si B a l i

Dimeriahkan Seka Gong Dewi Laksmi Puncak peringatan HUT ke-26 WHDI Provinsi Bali, diselenggarakan di Gedung Kesenian I Ketut Mario, Tabanan. Dari kejauhan telah terlihat keramaian dan kesan meriahnya. Sebab sebelum acara puncak, digelar beberapa lomba dan dilangsungkan bazar di areal tersebut yang diisi seluruh WHDI kabupaten/ kota se-Bali. Dan, jauh sebelum itu, aneka lomba juga dilak­sanakan di internalWHDI masing-masing di tiap ­kabupaten/kota se-Bali.

P

Kegiatan WHDI Peduli Lingkungn

ada puncak HUT tersebut, hadir Bu­ pati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, Ketua Umum WHDI Pusat Ny. Ir. Rataya B.Kentjanawathy Suwisma, Ketua WHDI Provinsi Bali Ny. Bintang Pus­ payoga, Penasihat, Ketua dan Wakil Ketua WHDI kabupaten/kota se-Bali. Selain itu, tampak pula hadir pinisepuh WHDI, Ny. Prof Ngurah, Ny. Prof. Mantra, Ni Nyoman Masni serta per­ wakilan pengurus dan anggota WHDI kabupaten/kota se-Bali. Bupati Tabanan Eka Wiryastuti mengatakan bangga serta merasa terhormat, Tabanan mendapat kesem­ patan dan dipercaya menjadi tempat pelaksanaan peringatan puncak HUT ke-26 WHDI Provinsi Bali. Selain itu, ia mengatakan mendukung segala

aktivitas WHDI, disertai harapan keg­ iatan pengabdian tanpa pamrih dan tulus tersebut mampu meningkatkan srada dan bakti demi tujuan yang lebih besar. Ketua Panitia Pelaksana Ni Made Putriningsih Wirna, S.E., dalam sambutan­nya mengatakan, serangka­ ian HUT ke-26 WHDI Bali, sebel­ umnya telah dilaksanakan berbagai kegiatan sosial, seni budaya, seminar, anjangsana ke pinisepuh, dan keg­ iatan lainnya di Kota Tabanan. “Hal yang sama dilaksanakan pula oleh WHDI kabupaten/kota se-Bali. Mer­ eka memperingati HUT ini dengan melakukan ber­bagai kegiatan sosial dan budaya, yang disesuaikan dengan kondisi yang ada di tempat mereka masing-masing. Hanya saja, puncak acaranya dilakukan bersama-sama di

PENARI SENIOR NGAYAH UNTUK WHDI Yang menarik di acara ini adalah tampilnya dua seka gong wanita. Yang pertama adalah Seka Gong WHDI, yang bernama Dewi Laksmi. Anggotanya ter­ diri dari para pengurus WHDI Provinsi Bali. “Ini juga bagian dari konsep ngayah,” kata Ny. Bintang Puspayoga sembari menjelaskan bahwa kelompok tersebut masih tergolong pemula. Di

Pementasan Tari Legong

Tema

Pilih Kerja di Kantor

Melihat iklan L-Men yang menampilkan model yang keren membuat I Dewa Gede Agung Dwi Temaja tertarik. Ia pun ingin seperti model itu dengan bentuk badan ideal. “Saya ikut ­fitness untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ­ideal,” ujar pria yang akrab disapa Tema ini.

Penampilan Seka Gong Dewi Laksmi

Tabanan ini,” ungkap Ketua WHDI Provinsi Bali Ny. Bintang Puspayoga usai membacakan Sejarah Singkat WHDI. Bintang Puspayoga melanjut­ kan, sebelum puncak acara, WHDI Provinsi juga telah melaksanakan be­ berapa kegiatan sosial serta persem­ bahyangan bersama. “Sedangkan, beberapa lomba seperti kramaning sembah, lomba busana ke pura, pelaksanaannya bersamaan dengan hari dilangsungkannya puncak acara,” lanjutnya. Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum WHDI Pusat Ny.Ir. Rataya B. Kentjanawathy Suwisma mengajak seluruh hadirin, pengurus dan anggota WHDI untuk turut berperan dalam pelaksanaan Pemilu 9 April 2014. “Sebagaimana tema HUT kali ini, yakni ‘Jadilan Pemilih Cerdas dalam Pesta Demokrasi yang Jurdil , demi Terwujudnya Bangsa Indonesia yang Damai Sejahtera dan Bermartabat’. Tema ini sangat relevan diangkat kare­ na negara kita Indonesia akan segera melaksanakan pesta demokrasi, yaitu pemilu legislatif,” papar Rataya. Ny. Rataya juga menandaskan meski WHDI bukan organisasi politik, tetapi WHDI sebagai organ­ isasi sosial keagamaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, memiliki kedudukan yang sejajar dengan organisasi-organisasi lainnya di Indonesia. WHDI juga memiliki fungsi sentral dan strategis dalam berkontribusi pada pembangunan bangsa dan negara. Rataya pun tak lupa mengajak seluruh anggota WHDI menjadi pemilih yang cerdas.

24 Februari - 2 maret 2014

S

Bupati Tabanan, Ketua Umum WHDI Pusat, Ketua WHDI Bali dan Penasihat, Ketua serta Wakil ketua WHDI Kabupaten-Kota

ebelum me­ nekuni olahraga kebugaran di fit­ ness center,Tema gemar bermain sepak bola. Postur tubuhnya yang tinggi membuatnya cocok sebagai kiper. Ia pun pernah menjadi kiper Perseden U-21. Namun, sekarang ia jarang bermain sepak bola karena kesibukannya. Sejak ikut fitness, badan­ nya mulai terbentuk. Ia tidak

D ARA menang di Bali dan masuk grand­ final di Jakarta,” ujar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Udayana ini. Sebagai juara di Regional Bali, Tema sangat senang. Awalnya ia ragu karena melihat para pe­ serta lainnya memiliki kualitas yang sangat baik. D i ajang nasional, persaingan lebih ketat lagi. Tema terpilih menjadi 20 grand finalis dari hampir 4.000 pe­ serta au­

merasa kurus lagi. “Dulu tinggi saya 178 dengan berat 55 kg. Setelah fitness menjadi 68 kg,” ungkapnya. Dengan bobot yang ideal ini, ia memberanikan diri ikut ajang L-Men of The Year tahun 2012. Keluarga dan teman-temannya mendukung upaya Tema di ajang ini. Ia punya keinginan untuk menjadi model. “Saya gagal mencapai final ke Jakarta. Di Bali saya hanya meraih gelar The Most Favorite. Tahun 2013 saya ikut lagi. Ternyata saya

9 disi seluruh Indonesia. Pengalam­ an gagalnya finalis dari Bali pada tahun-tahun sebelum­ nya membuat pria kelahir­a n Den­ pasar 20 April 1990 ini ingin berbuat lebih baik. Perjuan­ gan keras Tema mem­ buahkan ha­ sil. Ia meraih gelar 1 st Run­ ner Up L-Men of The Year 2013. Salah satu hadiahnya adalah Tema berhak menjadi model iklan untuk produk LMen. Apa yang ia inginkan akhirnya tercapai. Tema pun menjadi public figure berkat usaha kerasnya. “Menjadi public figure membuat saya dikenal lebih banyak orang, memudahkan saya untuk berbagi dan menginspirasi orang lain sesuai dengan tujuan diadakannya L-Men of The Year,” ujar putra kedua pasangan Dewa Alit Mudiarta-Dewa Ayu Rai Wahyuni ini. Walaupun sudah sukses di kancah na­ sional, Tema punya impian lain. Ia ­ingin menyelesaikan pen­ didikannya di Fakul­ tas Ekonomi Uni­ versitas Udayana.

Dari semua yang sudah dilalui­nya, Tema mengatakan pe­ngalaman yang paling berkesan tentunya meraih gelar 1st Runner Up 2013 dan menjadi juri dalam ajang ini di tahun 2014. “Dari peserta saya beralih menjadi juri yang menilai mereka,” kata Tema yang rajin berdiskusi dengan kakaknya, Dewa Agung Mahendra mengenai masalah kesehatan ini. Walaupun sudah dikenal kare­ na wajahnya terpampang di ke­ masan L-Men, Tema mengaku memilih akan tetap di Bali. Be­ berapa pemenang L-Men ada yang sudah masuk ke dunia entertainment. Tema mengaku lebih memilih bekerja di kan­ tor daripada terjun ke dunia entertain­ment. Kepada generasi muda Bali, Tema berpesan jadilah pemuda yang bisa membanggakan daerah melalui berbagai keahlian yang dimiliki. “Dari segi kesehatan saya menyarankan jadilah generasi muda antirokok. Tidak merokok merupa­ kan cara hidup sehat yang simpel,” ujarnya mengingatkan untuk olah­ raga teratur, makan teratur, dan istirahat teratur sebagai pola hidup sehat. –Ngurah Budi.

Penanganan Stroke Dengan DSA

Paduan Suara Kota Denpasar

kesempatan tersebut mereka tampil megambel dalam tiga sesi, yakni sebagai salah satu pembuka acara, mengiringi fashion show tata rias busana pengantin, serta mengiringi peserta dan undangan saat bersantap siang. Seka Gong yang kedua, terdiri dari seniman-seniman wanita Kota Denpasar, yang sudah pada mumpuni dengan alat yang bernama gamelan tersebut. Para seniman tersebut hadir mengiringi tarian pembuka, Tari Sekar Sandat, dan tari pergaulan yakni Tari Joged. Ketika Tari Joged muncul suasana menjadi hangat dan semarak, sebab para penari turun panggung dan mengajak para undangan turut menari bersama. Tak kalah menarik pula dengan tarian Legong Kraton, karena penarinya adalah tokoh-tokoh senior di antaranya Ny. Komang Arsana (istri mantan Wali Kota Denpasar almar­ hum Arsana) dan Ny. Asiawati Oka

Penampilan tari Joged

(istri mantan Gubernur Bali ­almarhum IB Oka). Saat menyanyikan Lagu Kebang­ saan Indonesia Raya, Hymne WHDI dan Mars WHDI, tampil grup paduan suara dari Denpasar Timur, yang merupakan pemenang loba paduan suara yang dilangsungkan WHDI Kota Denpasar. Beberapa hari setelah puncak acara HUT, masih ada satu kegiatan lagi yang dilaksanakan yakni, WHDI Peduli Lingkungan. Program ini di­ jalankan dengan melakukan kegiatan penghijauan. Kegiatan ini kata Bintang Puspayoga, merupakan gagasan Bupati Tabanan, untuk turut menyemarakkan HUT ke-26 WHDI. “Semoga melalui kegiatan penghijauan melalui penana­ man pohon di kawasan Pantai Soka ini, lebih mampu lagi menggemakan keberadaan WHDI di tengah-tengah masyarakat,” katanya. Selain itu, Bintang Puspayoga, sangat mengapresiasi gagasan Bupati Tabanan atas kepeduliannya menjaga lingkungan dengan penanaman pohon. Apalagi menurutnya wanita Hindu memiliki peranan yang penting dalam merawat serta menjaga lingkungan untuk tetap hijau. Harapannya ke de­ pan, penanaman pohon cemara udang tersebut dapat memberikan manfaat untuk menahan abrasi, serta tindakan ini bisa dicontoh kabupaten/kota lain­ nya di Bali. Bupati Tabanan Eka Wiryas­ tuti menambahkan, aktivitas positif ini mesti disertai dengan pemeliharaan lebih lanjut, agar dapat mewujudkan serta menyelamatkan lingkungan yang hijau dan sehat. – Sri Ardhini.

Pembuluh darah merupa­ kan salah satu organ penting dari makhluk hidup. Tolok ukur kesehatan seorang ma­ nusia bisa dilihat dari pem­ buluh darahnya. Makin tidak sehat gaya hidupnya, maka makin besar potensi gang­ guan di pembuluh darah. Gangguan pada pembuluh darah yang disebabkan gaya hidup tidak sehat adalah tim­ bulnya plak atau timbunan lemak di pembuluh darah sehingga aliran darah men­ jadi tidak lancar. Hal ini dialami dr. Made Wardana, Sp.KK. Ia meng­ alami penyumbatan pada pembuluh darahnya. hingga mengalami stroke ringan. Ditemui beberapa waktu lalu, Wardana menuturkan jika penyumbatan terjadi pada pembuluh darah di otak sehingga bagian terten­ tu di tubuhnya tidak menda­ patkan cukup darah. “Saya mengalami kelumpuhan pada bagian kiri dan tangan kiri saya mengalami kesemut­ an,” ujarnya. Ia kemudian memeriksakan ke dokter saraf dan disarankan untuk menjalani pemeriksaan MRI

untuk mengetahui lokasi penyumbatan. “Dari hasil MRI ternyata ada penyum­ batan dan kematian sel di beberapa bagian pembuluh darah yang menuju otak,” tutur Wardana. Sebagai seorang dokter, Wardana tahu bagaimana efek dan bahayanya jika pembuluh darah tersum­ bat. Ia kemudian mencari informasi apakah ada teknik pengobatan untuk mengo­ bati pembuluh darahnya yang tersumbat. “Saya cari di internet ternyata ada teknik untuk mengeruk plak di pembuluh darah. Teknik tersebut sudah dikerjakan di salah satu RS di Jakata,” tutur Wardana. Setelah mencari informasi lebih lanjut, ternyata di Den­ pasar, Bali sudah ada rumah sakit yang memiliki alat cathlab yang terkini untuk tindakan DSA tersebut dan bisa digunakan tidak hanya sebatas penyakit jantung tetapi penyakit saraf dan pembuluh darah lainnya. Teknik yang dimaksud Wa r d a n a a d a l a h t e k n i k Intra­a rterial Thrombolysis

Trials (ITT) dengan DSA (Digital Substraction Angi­ ography) untuk penyakit stroke akut. Jadi sebuah se­ lang dipasang dan dimasuk­ kan sepanjang pembuluh darah. Pada saat sampai di daerah penyumbatan, obat pelarut sumbatan akan disemprotkan untuk meng­

hancurkan plak penyebab sumbatan tersebut. “Saya men jalan in ya sekitar 30 menit dan tidak merasakan sakit samasekali,” tutur Wardana. Lanjutnya ketika di­ semprotkan obat pelarut sumbatan ia hanya mera­ sakan panas atau dingin.

Setelah tindakan tersebut, perlahan-lahan koordinasi tubuh bagian kirinya yang sempat terganggu perlahan membaik. Untuk informasi mengenai teknik ini, bisa menghubungi Sandri (Mar­ keting) di 082144878012/ 081999132328 atau PIN BB 24E5B1B8.


BUGAR

10

24 Februari - 2 Maret 2014

Debu Vulkanik Ganggu Saluran Pernapasan Warga di sekitar Gunung Kelud tidak dapat menjalankan aktivitas seperti biasa setelah terjadinya letusan gunung itu. Daerah mereka masih diselimuti debu vulkanik. Debu ini bahkan sampai di Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung. Bagaimana dampak debu vulkanik bagi kesehatan?

dr. Wulan Sari Dwi Sutanegara

K

omponen yang terkandung dalam debu vulkanik sangat berbahaya. Letusan gunung berapi, biasanya mengandung banyak partikelpartikel yang bersifat karsiogenik, seperti arsenik, logam besi dan sifatnya asam mengandung sulfur belerang. “Dampak serius akan terjadi pada saluran pernapasan baik atas maupun bawah, baik jangka pendek maupun jangka panjang atau tahunan serta dapat menimbulkan mutasi sel,” ujar

dr. Wulan Sari Dwi Sutanegara, Sp.THT. (KL). Ia menyebutkan, jangka pendek, tergantung dari ba­nyaknya paparan yang masuk dan kasar atau halusnya debu vulkanik tersebut. Debu ini dapat mengakibatkan pembengkakan pada saluran napas terutama pada anak-anak yang saluran napasnya lebih kecil dari orang dewasa. Mereka akan merasa tercekik dan mengakibatkan sesak napas. Efek pada orang dewasa, dapat merusak mukosa hidung apabila terhirup. “Karena ada kandungan logam besi di dalam debu tersebut, harus berhati-hati, jangan sampai hidung digosok-gosok yang akibatnya malah dapat menimbulkan trauma pendarahan di hidung,” kata dosen Fakultas Kedokteran Unud ini. Parahnya lagi, debu vulkanik ini bersifat kasar dan halus. Jika dihirup, debu vulkanik akan menempel di hidung dan paru-paru. “Debu yang bersifat kasar, asal tidak digosok-gosok, dapat dihilangkan dengan pembersihan atau cuci air garam. Pembilasan dengan air bersih atau air meng­ alir. Sedangkan, kalau debu halus karena ukurannya mikro, dapat memicu alergi. Penderita langsung bersin-bersin karena hidungnya tersumbat. Penderita asma akan kumat,” jelasnya. Menurutnya, penderita harus segera ditangani dokter untuk melakukan pencucian atau toilet

Sehat ala Ade Rai

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sehat ala Ade Rai” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id Rubrik ini diasuh Ade Rai.

Sebuah badan independen di Amerika Serikat mencoba melakukan survei terhadap beberapa alasan orang memulai suatu program latihan atau menjadi anggota di suatu pusat kebugaran. Berikut ini adalah urutan 10 besarnya: - Memperbaiki penampilan tubuh - Menjadi lebih menarik bagi lawan jenis - Meningkatkan performa olahraga - Diperintahkan oleh dokter - Untuk menjaga kesehatan / mencegah penyakit - Untuk bisa lebih aktif - Untuk memperbaiki performa seksual - Bersosialisasi / mendapat teman baru - Mencari tantangan baru - Katanya bisa membuat awet muda Kalau berbicara mengenai “memperbaiki penampilan tubuh” sebagai prioritas utama bagi mayoritas fitnessmania di Amerika Serikat, tampaknya tidak akan berbeda banyak dengan di Indonesia. Hanya

24 Februari - 2 Maret 2014

Gaya Unik Anak Muda

15

Modelnya khas, perpaduan tradisional dan modern. Semakin menarik dan unik karena ada unsur musik. “Ini memang karya dari dan untuk anak muda. Untuk cewek maupun cowok agar bisa tampil dengan gaya berbeda,” ujar sang pemilik I Gede Fredy Widamahanata.

G

aya yang kasual dan gaul ada pada koleksi tas –tas pi­ lihan Tokoh kali ini. Meski “Mahanata” adalah merek lokal, namun tas model selempang dan ransel yang simpel ini sangat cocok dan trendi untuk dibawa ke sekolah, ke kampus, bahkan ke kantor ataupun ditenteng untuk hang out. Tiga konsep yang diusung Fredy sang desainer, tradisional, modern, dan musik adalah unsur yang ada pada setiap jiwa anak muda. Unsur tradisional untuk sebuah pelestari­ an, modern mewakili kekinian dan zaman yang terus bergerak maju se-

Foto: metrotvnews.com

hidung. “Walaupun hidung sudah memiliki proteksi sendiri, ada sapu seperti rambut kecil dalam hidung, namun, debu vulkanik dapat melekat dan lengket. Kadangkala cairan hidung tak mampu membersihkan sendiri diperlukan toilet hidung yang dilakukan petugas kesehatan atau dokter THT,” kata dr. Wulan Sari. Debu vulkanik juga dapat mengakibatkan hidung tersumbat. Zat logam yang masuk tidak semua bisa dibersihkan, ada mungkin yang menempel di hidung yang memiliki struktur lekuklekuk sehingga bisa saja debu itu bersembunyi. Tubuh akan merespons, ada sesuatu yang tidak bisa dihilangkan. Dalam jangka panjang atau permanen, akan muncul keluhan hidung buntu. Selain debu bisa masuk ke hidung, debu vulkanik bisa juga masuk ke telinga. Sama seperti hidung, sebaiknya rasa gatal di te­ linga jangan sembarangan dikurekkurek. Sering terjadi keinginan mengorek justru malah kotoran terdorong ke dalam. Bahayanya, debu vulkanik mengandung logam besi yang dapat melukai liang telinga kalau mengorek-ngorek telinga. “Kalau dibiarkan akan timbul penyempitan dan rasa gatal. Sebaiknya datang ke petugas kesehatan

STYLE

agar dibantu toilet telinga. Kalau langsung dibersihkan dengan toilet telinga, efeknya akan aman. Namun, kalau dibiarkan kan terjadi penggumpalan kotoran telinga yang keras,” ujarnya. Selain debu vulkanik, letusan juga mengeluarkan uap panas yang

mengakibatkan mukosa meleleh dan menimbulkan pembengkakan di saluran napas, saluran makanan, dan kulit kita pun melepuh seperti gosong. Staf SMF THT Sub Divisi Rinologi Alergi Imonologi RS Sanglah ini menyebutkan, paparan debu vulkanik yang dihirup dalam jangka panjang, dapat memicu perubahan sel antara lain tumor atau kanker, bisa di paruparu atau di saluran napas. Menurutnya, tidak ada obat spesifik diminum untuk mencegah paparan debu ini, namun, bila muncul alergi, akan diberikan obat alergi.

Bila terjadi kondisi serius, pengobatan dengan pemberian obat antibengkak dan antiradang, dibantu dengan suplemen tambahan yang bersifat antioksidan untuk menangkal efek jangka panjang. Ia menyarankan, bagi siapa saja setiap keluar rumah agar menggunakan masker untuk menghindari paparan debu vulkanik secara langsung. Hal ini juga perlu dilakukan di daerah de­ ngan polusi tinggi seperti di jalan raya saat sedang berkendara. Saat ini, sudah tersedia aneka model masker, menempel di telinga, diikat di belakang kepala, masker berbentuk penutup hidung dan mulut. Secara umum, semua jenis mas­ ker ini menyaring debudebu mikro dari udara. Namun, ia menyarankan, pilihlah masker yang berpori-pori paling halus. Bagi penderita alergi, dapat dilakukan tes di poliklinik THT se­ perti di RS Sanglah. Penderita alergi dapat melakukan imonoterapi yakni penyuntikkan zat allergen yang sensitif dengan dosis kecil secara berulang. Terapi ini dapat dilakukan pada anak-anak dan dewasa. Khusus alergi debu, terapi yang dimulai dari usia dua tahun hasilnya lebih bagus. Penyuntikkan dilakukan pada hasil tes alergi di atas 3, atau sudah mendapatkan pengobatan tapi keluhan tidak berubah. –Wirati Astiti

Bagaimana Otot Tumbuh?

dangkan musik bahasa universal yang mudah dipahami semua orang. Tidak main-main pula, untuk kreativitasnya ini, Fredy meng­ ambil inspirasi desain tas brand di Eropa dan luar negeri lainnya. Ini, katanya demi berhasilnya kolaborasi antara modern dengan konsep tradisionalnya. Sedangkan bicara kualitas, ia juga memilih bahan kanvas yang nomor satu, dan tak ketinggalan sentuhan bahan etnik yakni kain endek. Sedangkan untuk proses pembuatan, Fredy mengatakan tidak 100% handmade, tapi melalui bantuan mesin guna mempercepat produksinya. – Sri Ardhini

I Gede Fredy Widamahanata

(1)

ada 2 hal yang harus terjadi agar penampilan tubuh bisa menjadi lebih baik. Apa itu? Yang pertama adalah massa otot yang meningkat, yang kedua adalah massa lemak yang menyusut. Dengan memahami bagaimana dan mengapa otot bisa tumbuh, mungkin fitnessmania akan meningkatkan peluang untuk mewujudkan prioritas pertama tersebut menjadi lebih besar.

(Growth Hormone) dan testosteron akan memuncak dan perlahan kembali ke normal 90 menit sesudahnya. Kedua hormon inilah yang selain merupakan hormon kunci untuk peningkatan massa otot, juga merupakan hormon yang dibutuhkan untuk tetap awet muda. Untuk bisa maksimal, stimulasi untuk pertumbuhan otot harus memenuhi setidaknya dua syarat:

Siklus Terjadinya Pertumbuhan Otot Pertumbuhan otot atau meningkatkan massa otot adalah suatu transisi fisik yang terjadi melalui suatu proses atau siklus yang berulangulang. Proses tersebut terdiri dari 4 aktivitas yang saling bergantungan dalam suatu pola yang membentuk lingkaran mata rantai.

Mind-To-Muscle Connection adalah komponen utama dalam setiap sesi latihan. Di mana terjadi hubungan antara otak dan otot, sehingga otot menerima kontraksi maksimal sesuai perintah dari otak. Untuk membentuk mind-to-muscle connection ini, teknik latihan beban yang efektif sangat menentukan.

Stimulasi: Adanya rangsangan dalam bentuk latihan beban. Tubuh tidak mengenal latihan beban sebagai rangsangan yang ditujukan untuk menambah otot. Tetapi, tubuh lebih mengenal rangsangan ini sebagai munculnya tekanan fisik dan kebutuhan untuk menggunakan serabut otot yang ada untuk menggerakkan tekanan tersebut. Dalam proses ini, tekanan yang muncul melalui sistematika latihan beban yang terstruktur, akan memicu reaksi kimiawi dan hormonal yang condong pada pertumbuhan otot. Saat latihan, hormon pertumbuhan

Intensitas yang Tepat Dalam hal ini, beban yang dipakai adalah maksimal dan berada dalam jangkauan total repetisi 6 hingga 12 saat melebihi gagal positif. Di samping itu, untuk meraih hasil yang optimal, otot yang perlu mengalami rangsangan terbesar terletak pada otot type II di dalam tubuh kita, yang memiliki kapasitas membesar antara 25% - 100% dari ukuran aslinya. Untuk meraihnya, bagian positif dari setiap repetisi latihan beban perlu dilakukan dengan tempo yang relatif lebih cepat daripada bagian negatif dari repetisi.

Foto by : Wis Putra


J E L I TA

14

Cantik dengan Teknologi

Topik kecantik­ an selalu menjadi perbincangan yang menarik. Sejak da­hulu kecantikan menjadi salah satu perhatian perempuan. Perempuan selalu peduli dan berupaya tampil cantik di berbagai kesempatan. Ketika perempuan memiliki aktivitas yang sangat padat dan harus tetap menjaga penampilannya, sementara waktu tidak cukup untuk merawat kecantikan, maka teknologi kecantikan menjadi solusi. Menurut dr. Laksmi Duarsa, Sp.KK., menjaga kesehatan kulit, wajah khususnya, dewasa ini sudah menjadi suatu kebutuhan. Meski demikian, perawatan kecantikan di era sekarang ini, selain masih ada yang mengandalkan tradisi, banyak juga yang memilih menggunakan atau mengombinasikannya dengan kemajuan teknologi. Sebab, banyak ramuan juga dibuat dengan memanfaatkan teknologi. Sebagai manusia, lanjutnya, tak ada seorang pun yang memiliki proporsi wajah yang sempurna. Untuk memperbaiki struktur atau penampilan mata, hidung, dan bibir, peran dari teknologi sering tak terhindarkan. “Ada sebagian orang yang takut menggunakan teknologi untuk kecantikannya, tapi sebagaian lagi justru mendewakan

segala bentuk teknologi untuk kecantikannya. Semua berpulang pada yang bersangkutan,” katanya. Apalagi saat ini, kemajuan teknologi bukan hanya milik alat telekomunikasi seperti telepon seluler dan komputer, tapi juga bidang kecantikan. Bersama majunya pengetahuan seiring dengan kemajuan zaman, teknologi yang berkaitan dengan kecantikan juga terus meng­ alami perkembangan. Dengan teknologi canggih siapapun dapat mengubah atau memperbaiki tampilan wajahnya. Dokter Laksmi mengatakan, perkembangan makna cantik ter­gantung situasi dan kondisi wilayah masingmasing serta cara pandang seseorang. Dikatakannya, cara pandang seseorang inilah yang memiliki perbedaan satu de­ ngan lainnya. Perbedaan ini juga merupakan suatu kewajaran. Selain itu, ada juga perkembangan definisi lainnya yakni versi produk –produk kecantikan. Baginya, yang utama kecantikan seorang perempuan adalah anugerah. “Boleh saja menjaga atau merawatnya dengan bantuan teknologi selama dilakukan dengan dengan tepat di tempat yang tepat dan oleh ahlinya. Serta sebelumnya sudah cukup mendapatkan edukasi mengenai untung dan ruginya,” ujarnya. –Sri Ardhini.

24 Februari - 2 maret 2014

Miracle Segera Luncurkan Home Care Facial Kit Tahun 2013, Miracle sudah berusia 17 tahun. Ini menjadi sebuah momentum untuk semua moving from good performance to great performance, dengan memberikan kualitas layanan dan hasil yang lebih baik untuk semua para pelanggan setia Miracle di Bali khususnya serta seluruh masyarakat Indonesia umumnya. Bagaimana agar mereka mendapatkan penampilan terbaik dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik pula. Operasional Direktur Miracle Jap Budi Wijaya, mengungkapkan jika tahun 2013 adalah tahun yang menggairahkan bagi Miracle, maka tahun 2014 akan menjadi tahun lebih menggairahkan lagi. Kendati kinerja ekonomi Indonesia beberapa waktu terakhir menunjukkan berbagai tantangan, namun tidak mengurangi keyakinannya bahwa tahun 2014 ini, menjadi tahun yang lebih baik. Gonjang-ganjing kampanye politik menjelang election tidak akan menyurutkan semangatnya untuk lebih mengekspose diri melalaui berbagai marketing communication champaign yang telah dirancang dengan lebih terintegrasi. Selain itu, kata Jap Budi Wijaya, Miracle juga merencanakan secara selektif hadir di lebih banyak lokasi di Indonesia untuk memberikan aksesibilitas yang lebih mudah bagi para pelanggannya. “Going forwad kami juga ingin membuat makin banyak kalangan masyarakat di Indonesia merasakan experience the Miracle touch,” katanya. Mereka, lanjutnya tanpa perlu datang ke klinik kami, sudah bisa menghadirkan sentuhan-sentuhan

keajaiban itu di rumah. “Kami akan meluncurkan produk home care facial kit dalam waktu dekat,” cetusnya. Selanjutnya, demi mewujudkan Indonesia menjadi negara ekonomi terbesar ketujuh di dunia, Miracle pun terpanggil untuk turut berpartisipasi dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia. “Hal ini kami laksanakan melalui Miracle Akademi, yang mulai tahun 2014 ini akan membuka diri untuk membekali para praktisi bisnis di luar grup Miracle dengan keterampilan dan sumber daya yang diperlukan untuk menjadikan diri mereka kompetitif,” tuturnya. Dari akademi inilah nantinya diharapkan akan terbentuk suatu network para pelaku bisnis estetika berkulaitas tinggi untuk menjadikan Indonesia semakin cantik dan sejahtera. Mengenai terbukanya Indonesia terhadap pasar global dalam waktu yang dekat ini, Jap Budi Wijaya menekankan hal ini perlu disikapi dengan proaktif. Ia menyadari industri estetika tidak akan luput dari serbuan pemain asing. “Kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujarnya. Kendati menyadari bahwa sebagian segmen pasar di Indonesia masih luar negeri minded. “Namun, tidak berlebihan rasanya jika Miracle mulai mencanangkan niat untuk mengikuti jejak berbagai brand Indonesia yang telah mampu membuat dirinya hadir di luar negeri,” lanjutnya, dan menambahkan yakin dengan dukungan dan doa restu serta kerja keras semua pihak hal tersebut dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. – Sri Ardhini.

24 Februari- 2 maret 2014

MITOS ATAU FAKTA

Suami Ejakulasi Dini Istri Masturbasi Masturbasi atau onani adalah perang­sangan seksual yang sengaja dilakukan pada alat kelamin untuk memperoleh ­kenikmatan dan kepuasan seksual. Perangsangan ini dapat dilakukan ­tanpa alat bantu ataupun menggunakan ­sesuatu alat atau objek, atau kom­binasinya.

M

enurut Sekretaris Asosiasi Seksologi Indonesia (A SI) Bali dr. Oka Negara, FIAS., masturbasi se­harusnya tidak lagi dipandang sebagai suatu hal yang tabu. Bukan juga sebuah dosa dan berefek buruk, karena secara medis tidak ada akibat buruk yang ditimbulkan selama tidak menggunakan alat bantu yang kotor dan dilakukan terlalu sering yang berpotensi mengakibatkan ketergantungan. Tanpa harus menutup mata, sesungguhnya masturbasi sudah sangat umum dilakukan oleh anak muda. Baik pada laki-laki maupun perempuan. “Hampir semua lakilaki pernah melakukannya, sedangkan pada perempuan masih dalam jumlah lebih sedikit di­b anding laki-laki,” ungkapnya. Dokter Oka Negara me­ ngatakan, zaman dulu memang masturbasi dianggap sebagai hal yang tidak baik. Anggapan memalukan dan berdosa terlanjur

dr. Oka Negara, FIAS

melekat dan salah kaprah. Belum ditemukan bukti bahwa orang yang melakukan masturbasi bisa menimbulkan penyakit dan mem­ bahayakan kesehatan. Berikut beberapa pendapat yang masih keliru tentang masturbasi. Mitos : Hanya orang-orang tertentu saja yang melakukan masturbasi. Fakta: Tidak ada perbedaan ketika seseorang melakukan masturbasi dengan yang tidak melakukan masturbasi. Hampir 100% laki-laki pernah melakukan masturbasi dan perempuan mendekati 80%. Jadi, tidak peduli apakah orang tersebut berasal dari ras, suku tertentu, pekerjaan tertentu, hingga sosial ekonomi tinggi atau rendah. Orang akan bisa terus melakukan hal yang sama karena masturbasi dianggap sebagai jalan keluar untuk mereka dapat rileks dan beristirahat. Mitos: Masturbasi tidak baik untuk kesehatan. Fakta: Banyak beredar informasi keliru tentang akibat mastur-

Kirim surat Anda ke ­Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

“Dok, suamiku 27 tahun, lebih tua dua tahun dari aku, sering sekali merayuku untuk melakukan hubungan intim di kolam renang. Katanya sudah mulai bosan dengan berhubungan intim yang begitu-gitu saja. Kami sudah menikah hampir tiga tahun. Sebenarnya, amankah ini untuk dicoba?” (Tara,25) Berhubungan seksual dalam air bisa menjadi pilihan variasi seksual yang fun, sekaligus menggairahkan. Sudah sering pasangan suami-istri mengeluhkan hubung­ an seksual yang membosankan hanya gara-gara dilakukan de­ ngan cara konvensional dan itu-itu saja. Karenanya mencoba hal yang mendebarkan dengan mencoba melakukan hubungan seksual di kolam renang, atau malah di kolam permandian umum, pantai, di laut terbuka, hingga air terjun di tempat tersembunyi tentu saja akan menjadi sebuah tantangan baru demi mendapatkan kepuasan seksual yang maksimal. Tentu saja semua harus disepakati bersama dan tanpa ada satu pihak

pun yang terpaksa. Bisa dicoba dulu dengan melakukan hubungan seksual dalam air yang lebih aman yaitu di jacuzzi atau bathtub de­ ngan menggunakan air hangat. Hubungan seksual dalam air di kolam renang akan menjadi aman jika air yang digunakan adalah air bersih dan tidak me­ ngandung kuman serius. Pastikan air yang digunakan adalah air yang memenuhi syarat kesehatan (tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau), seperti yang cukup untuk dipakai mandi atau membasuh diri, membersihkan tubuh yang penuh keringat dan kotoran harian, termasuk mandi bareng pasangan. Air secara psikis juga dianggap membawa kesegar­ an. Setiap aliran dan guyuran air

basi, misalnya bisa menyebabkan jerawat dan dapat membuat seseorang buta. Tidak ada dasar ilmiah di balik semua klaim ter­sebut. Semua peneliti dan ilmuwan sepakat mengatakan bahwa masturbasi tidak berbahaya. Bisa jadi, wacana tersebut beredar hanya untuk menakut-nakuti anak muda agar mengendalikan diri dari dorong­an seksualnya, agar digunakan untuk aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Mitos: Masturbasi hanya dilakukan anak muda. Fakta: Tidak ada batas usia untuk melakukan masturbasi. Anakanak muda biasanya a k t i f secara seksual d a n m e r e k a melakukan masturbasi karena tidak ada pasangan. Statistik menunjukkan, laki-laki dan perempuan dewasa melakukan masturbasi hampir tiap minggu, meskipun mereka tidak melakukan-

nya sesering anak remaja. Jadi, masturbasi bisa dilakukan siapa saja. Mitos: Perempuan tidak melakukan masturbasi. Fakta: Memang banyak studi dan survei menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak melakukan masturbasi dibandingkan perempuan. Itu artinya, bukan berarti perempuan tidak melakukannya. Tetapi, memang seringkali perempuan enggan mengakui kalau mereka melakukan masturbasi juga, karena adanya pandangan negatif di masyarakat. Padahal, beberapa fakta menyatakan bahwa perempuan s e b e narnya t e l a h melakukan masturbasi. Mit o s : L a k i laki atau perempuan yang sudah menikah atau sudah punya pasangan, tidak melakukan masturbasi.

11 Fakta: Ini pendapat yang keliru. Karena, ba­n yak orang yang dalam hubungannya telah melakukan masturbasi secara diam-diam tanpa sepe­ngetahuan pasangannya. Tidak ada aturan yang melarang seseorang yang sedang menjalin sebuah hubungan untuk melakukan masturbasi, karena ini merupakan kepentingan pribadi setiap orang. Banyak pasangan yang ketika pasangannya sedang jauh misalnya karena tugas pekerjaan, memuaskan dorongan seksualnya lewat masturbasi. Demikian juga beberapa kasus ketika suami mengalami ejakulasi dini, si istri melanjutkan memuaskan dorongan seksualnya sembunyisembunyi dengan bermasturbasi. Mitos: Terlalu banyak masturbasi itu berbahaya. Fakta: Secara ilmiah, tidak ada efek kesehatan yang merugikan pada mereka yang melakukan masturbasi. Justru mereka yang teratur melakukan aktivitas seksual, termasuk juga masturbasi bisa terhindar dari risiko masalah ke­ sehatan. Karena, aktivitas seksual yang memuaskan akan memunculkan aktivasi hormon dan substansi yang berguna membuat tubuh menjadi nyaman dan menyehatkan, seperti dopamin, endorfin hingga oksitosin, termasuk jangka panjang meningkatkan nitrit oksida yang membuat bugar dan panjang usia. Tetapi, tentu saja sepanjang hal ini tidak meng­akibatkan kecanduan dan mempengaruhi kehidupan pribadi mereka. Pada beberapa kasus yang cukup jarang terjadi, seseorang mungkin akan kehilangan minat dalam melakukan hubungan seks dan lebih memilih melakukan masturbasi. Inilah yang seharusnya tidak boleh dilakukan, karena masturbasi dikatakan sehat selama tidak mempengaruhi kehidupan pribadi seseorang. –Inten Indrawati

Ingin Coba di Kolam Renang yang menerpa tubuh akan dirasa­ kan membawa kesegaran dan ketenangan. Bagaimana dengan organ intim? Sama juga. Karena organ intim perlu dibersihkan setiap hari, maka air pun akan bermanfaat banyak untuk kebersihan penis dan vagina. Cukup dengan air bersih saja, penis lebih mudah dibersihkan. Sedangkan vagina tentu saja perlu cara yang benar untuk membersihkannya, terlebih di saat buang air kecil, atau buang air besar, jangan sampai justru malah ada kotoran dari dubur yang masuk ke liang vagina misalnya. Jika kuman yang masuk jumlahnya berlebihan karena air yang digunakan tidak bersih, atau vagina kemasukan bahan-bahan yang berbahaya yang bersifat merusak dinding vagina, tentu saja akhirnya vagina bisa lecet, luka, meradang atau terkena infeksi. Tetapi, selama pasangan tidak mengidap infeksi menular seksual, baik yang disebakan oleh virus, bakteri, hingga jamur,

sesungguhnya penetrasi tidak ada bedanya antara di air maupun di tempat kering. Lalu, adakah manfaat berhubungan seksual di kolam renang? Manfaatnya lebih ke psikis. Ini bisa dilakukan bila hubungan seksual sudah mendatangkan rasa bosan dan aktivitas harian juga sering mendatangkan ketegangan, baik di pekerjaan, pergaulan sosial, termasuk di hubungan dengan pasangan. Kebugaran bisa didapatkan kembali dengan menyingkirkan gangguan psikis melalui relaksasi. Dengan melakukan hubungan seksual di kolam renang, yang menjadi target adalah melakukan variasi seksual, melenyapkan kebosanan dan membuang ke­tega­ngan. Air bisa membawa sensasi relaksasi yang menyegarkan pikiran sekali­ gus badan, apalagi bisa dilakukan dengan pasangan sambil melakukan pijatan mesra bergantian untuk mengendorkan ketagangan otot dan memperlancar peredaran darah. Sebagai tujuan akhir dari se-

mua tentu saja adalah pencapaian kepuasan seksual yang maksimal. Saat orgasme maksimal terjadi, maka otak akan melepaskan oksitosin dan endorfin, yang membuat rasa nikmat, lega sekaligus rileks yang amat sangat. Satu lagi, hati-hati dilihat dan bahkan direkam orang jika melakukannya di tempat terbuka yang bisa diakses publik. Pandaipandailah memilih tempat dan situasi. Jadi, hubungan seksual di kolam renang sebenarnya juga merupakan upaya variasi seksual. Variasi seksual itu kuncinya adalah disukai, disetujui bersama, tanpa paksaan dan tidak mengundang bahaya. Variasi seksual yang unik, menegangkan dan belum pernah dilakukan, sering kali sangat ditunggu dan bisa membakar hasrat dan dorongan seksual menjadi lebih menggelora. Silakan saja dilakukan, asal jangan menggunakan alat-alat bantu seksual yang berbahaya, atau di tempat yang berbahaya.


12

RESEP ALA CHEF

Sedap dan Nikmat

Cuaca hujan dan dingin, enaknya makan sup yang panas. Apalagi sup sari laut. Untuk membuat kuahnya agar sedap, gunakan kulit udang dan sisa potongan ikan. Sementara dagingnya, kita gunakan sebagai isian supnya. Jadi, tak ada bahan yang terbuang. Rasa sup juga makin sedap dan nikmati. Selain itu, Anda dapat juga mencoba salad kacang merah, dada ayam panggang, dan hidangan penutup Nougat Dessert. Berikut resep Executive Chef Hotel Melia Bali Nusa Dua IGN Kanca.

Sup Sari Laut Bahan: 200 gram : kulit udang 400 gram : potongan ikan 30 gram : bawang merah diiris 30 gram : bawang putih diiris 30 gram : kunir diiris 30 gram : jahe diiris 20 gram : sereh diiris 20 buah : lombok merah diiris 3 lembar : daun jeruk 10 lembar : daun ketumbar 3 lembar : daun salam 20 gram : batang seledri Garam dan merica 30 gram : bawang goreng 20 gram : asam 30 ml : minyak Garam dan merica 100 gram : cumi-cumi dipotong cincin 100 gram : udang dikupas 100 gram : ikan laut dipotong-potong kotak

24 Februari - 2 Maret 2014

Dada Ayam Panggang Bahan: 650 gram : dada ayam dengan kulit 30 gram : bawang putih 20 gram : kunyit 3 lembar : daun jeruk 1 sdt : bubuk ketumbar 20 ml : minyak 1 buah : jeruk lemo 30 ml : kecap manis 40 gram : gula 2 sdm : air jahe 2 buah : jeruk nipis Garam dan merica

IGN Kanca

- Panaskan kembali lalu masukkan udang, cumi, dan potongan ikan masak lagi lima menit. - Hidangkan sup hias dengan sereh dan daun ketumbar.

Bahan ketela ravioli: 400 gram : tepung ketela 1 butir : telur ayam 20 ml : minyak 100 gram : jamur diiris 20 gram : bawang merah diiris 10 gram : bawang putih diiris 5 gram : daun ketumbar 15 gram : lombok merah 25 ml : minyak Garam dan merica Cara membuat: - Bawang merah dan kunyit dihaluskan. Masukkan ketumbar, garam, dan merica. - Daun jeruk dipotong-potong, masukkan ke bumbu tadi, tuangi minyak, beri perasan jeruk lemo. Lumuri dada ayam dengan bumbu ini, kemudian panggang sampai kuning kecokelatan.

: : : : : :

putih telur gula halus krim masak kacang dicincang kismis madu

Bahan saus: 200 gram : buah pepaya potong kecil 50 gram : madu 5 gram : kayu manis 2 gram : parutan kulit jeruk nipis 10 gram : mentega

Cara membuat: - Tumis semua bumbu lalu campur dengan kulit udang dan bagian ikan yang tidak terpakai. - Panaskan air lalu masukkan bahan tadi, masak dengan api kecil selama dua jam. Kemudian disaring.

Bean Salad Bahan: 400 gram : kacang merah 30 gram : bawang bombai 50 gram : tomat dikupas Bahan saus: 20 gram : mustard 30 ml : minyak zaitun 20 ml : peterseli dicincang 100 gram : irisan mentimun 10 gram : daun bawang Garam dan merica Cara membuat: - Kacang direndam selama satu jam. Kemudian rebus dengan sedikit garam. Tiriskan. - Tomat dan bawang bombai dipotong kecil. - Mustard, minyak zaitun, garam, merica dikocok, kemudian masukkan kacang, tomat, bawang bombai, dan peterseli. - Irisan mentimun dibuat lingkaran. Hidangkan kacang tadi dalam lingkaran irisan mentimun. Tambahkan daun bawang sebagai hiasan di atasnya.

Hiasan: krim, stroberi, dan daun mint.

IGN Kanca

13

Masak sambil Belajar Filosofi Hidup

K

Adonan ravioli: - Tepung ketela dicampur dengan telur ayam, minyak, dan garam tambahkan sedikit air lalu diuleni sampai lembut. Buat bulatan bulan kecil dan pipihkan. Isi bulatan dengan adonan isi. Isi: Panaskan minyak masukkan bawang, lombok merah, dan daun ketumbar tumis sampai harum, tambahkan jamur, garam, dan merica lalu dinginkan. - Ambil satu kulit ravioli yang pipih tadi. Isi adonan isi 1 sdt jamur tadi. - Bentuk hingga tertutup rapat, kemudian rebus lima menit dalam air mendidih. Cara membuat saus: - Gula dipanaskan, masukkan kecap hitam, air jahe, dan perasan jeruk nipis. - Masak dengan api kecil. - Sajikan ravioli dnegan ayam panggang bersama sausnya.

Nougat Dessert Bahan: 50 gram 50 gram 200 gram 25 gram 10 gram 50 gram

C U L I N A RY C O R N E R

24 Februari - 2 Maret 2014

Cara membuat: - Buat sirup dengan sedikit air. - Kocok putih telur sampai lembut dan kental. Masukkan sirup dan madu. - Kocok krim sampai kental untuk dicampur dengan putih telur dan sirup tadi. Masukkan kismis dan kacang diaduk terus, dan masukkan dalan cetakan. Dinginkan. Untuk membuat saus: - Panaskan mentega, masukkan kulit jeruk nipis, kayu manis, dan pepaya. Masukkan sedikit air. - Sajikan kue tadi bersama saus dan hias dengan krim, stroberi, dan daun mint. –Wirati Astiti

esukaannya memasak memang sejak kecil. Namun, kondisi kehidupan yang kacau-balau lantaran terpengaruh kehidup­ an berjudi di desa asalnya Karangasem, membuatnya merantau ke Denpasar. Kehidupan IGN Kanca pun berubah. Selain kini menjabat executive chef Melia Bali, ia sudah melanglang buana ke beberapa negara menunjukkan kepiawaiannya memasak. Dari hobinya membaca buku, ia banyak belajar tentang makanan dan filosofi kehidupan. Seperti apa? Kanca menuturkan, kehidupannya sempat kacau karena salah pergaulan. “Gara-gara judi,” tuturnya sembari tertawa. Karena sudah bosan dengan kehidupannya yang buruk, Kanca nekat kabur mencari sepupunya di Denpasar. “Di sanalah saya menumpang sementara. Saya diajak bertemu pemilik Santrian Beach Cottage Sanur. Kebetulan sepupu bekerja di sana,” kata lelaki usia 55 tahun ini. Kanca bekerja sebagai pekerja rumah tangga selama tiga tahun di rumah pe­milik hotel yang kini berubah nama menjadi Hotel Santrian. Kemudian, Kanca diberi kesempatan bekerja di Hotel Santrian. Ia bekerja all around mulai dari dapur, bagian bersih-bersih, semua dipelajarinya, termasuk accounting, dan front office. “Saya bekerja di sana, mulai ada sembilan kamar sampai 100 kamar,” kata Kanca. Tahun 1978, Kanca diberi kesempatan mengenyam pendidikan tata boga di BPLP (Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua) Bali selama tiga bulan. Setelah menyelesaikan pen-

didikannya, Kanca bekerja di dua tempat. Pagi hari bekerja di Santrian dan sore hari bekerja di Hotel Sanur Beach. Selain ilmu memasak, Kanca banyak belajar dari berbagai seminar dan pelatihan yang ia geluti. Salah satunya, seminar tentang Gugus Kendali Mutu dengan narasumber Prof. Manuaba dan Prof. Nala. Dari sinilah, ia mengaku, cikal-cakal ilmu pelengkapnya sebagai executive chef. Kanca juga belajar ilmu manajemen dan kepemimpinan. Sampai sekarang, ia sudah memiliki 27 sertifikat. Setelah dari Santrian, ia sempat bekerja di Camplung Mas Kuta selama satu tahun sebelum ke Melia Bali. Uniknya, awal bekerja, ia sempat ingin mengundurkan diri karena lamarannya sebagai chef de partie tidak diterima. Kanca tidak diterima karena belum ada pengalaman bekerja di hotel berbintang lima. Tahun 1985 ia sudah digaji Rp 1 juta plus uang lain di Camplung Mas. Sedangkan di Melia Bali, ia ditawari gaji Rp 125.000. Kanca menolak. Namun, executive sous chef I Ketut Darta memberikan motivasi kepadanya, “Bekerja di bintang lima mungkin sebagai ekor tapi ekor gajah, daripada kerja sebagai kepala itik.” Akhirnya, Kanca menerima tawaran itu. Satu bulan bekerja di sana, ia diangkat sebagai chef de partie. Menyandang jabatan itu, cara bekerja Kanca juga berubah, bahkan ia mengatakan hampir bekerja 24 jam. Mulai dari dapur panas, dapur dingin, dan membuat patung es. Dalam ren­ tang waktu empat bulan, ia diangkat menjadi junior sous chef.

Kanca mendapat kesempatan melakukan cross training ke Madrid Spanyol, Thailand, dan Jepang. Sampai akhirnya, ia menjabat executive chef di Melia Bali. Kanca banyak belajar masak­ an dan gastronomi dari buku. Bukan hanya urusan memasak, Kanca juga menyukai buku sejarah, politik, dan biografi. Dari bukulah, ia belajar tentang asal-mula masakan dan filosofi kehidupan yang sa­ngat berhubungan dengan masakan. Satu contoh, saat suku Barbar Cina masuk ke Indonesia, mereka membawa juga kebudayaan mereka dalam hal makanan, seperti nasi goreng, capcay, fuyunghai. Makan­an itu dibuat berdasarkan satu filosofi, tak ada sisa makanan atau jangan sampai membuang makanan. Kerak nasi dijadikan kerupuk, nasi basi menjadi nasi goreng. Sisa sayuran untuk capcay. Dalam lontar Caruban juga mengatur tentang masakan Bali, termasuk pengaturan porsi jumlah bumbu-bumbu seperti lengkuas, jahe, kunyit, dan kencur. Namun, masakan Bali dalam lontar lebih cederung digunakan sebagai bahan upacara seperti lawar dan sate banten. –Wirati Astiti

Ayam Bumbu Kuning Sarwan Bahan: 500 gr : ayam, bersihkan, lumuri dengan perasan air jeruk nipis 2 batang : daun bawang, potong-potong 1 buah : cabai merah besar, potong-potong 1 buah : tomat merah, potong-potong 1 buah : tomat hijau, potong-potong 2 lembar : daun jeruk, ambil tulangnya 1 batang : serai, ambil putih nya, memarkan 200 ml : air Garam, gula, kaldu bubuk, lada secukupnya

Jus Tomat Agar-agar

Bumbu halus: 7 butir : bawang merah 3 siung : bawang putih 3 ruas : jari kunyit, bakar 1 buah : cabai merah besar 3 buah : cabai kecil 5 butir : kemiri, sangrai

Bahan: 1 bks : agar-agar 100 gr : gula pasir 300 ml : susu cair 250 gr : tomat buah yang matang Sirup secukupnya Es batu secukupnya

Cara membuat: - Panaskan minyak/margarin, lalu masukkan bumbu halus, tumis hingga harum, masukkan serai dan daun jeruk, aduk-aduk, tambahkan cabai merah besar, tumis hingga harum. - Masukkan ayam, tambahkan air hingga mendidih, masukkan garam, gula, kaldu bubuk juga lada, bolak-balik ayam agar bumbu meresap. - Tambahkan tomat dan daun

Cara membuat: - Campur agar-agar, gula, dan susu dalam panci, didihkan, angkat. - Biarkan agar-agar agak dingin, masukkan digelas saji, biarkan agak beku. - Blender tomat, sirup, dan es batu sampai lembut. - Tuang jus tomat dalam gelas saji. - Siap dihidangkan selagi dingin.

bawang, biarkan air berkurang, angkat, masakan siap dihidang­ kan dengan taburan bawang putih goreng.

Gurami Goreng Sambal Petis Bahan: 500 gr : gurami, bersihkan, rendam dengan air jeruk nipis, diamkan selama 5 menit 1 buah : jeruk nipis 2 biji : bawang merah, cincang kasar 3 buah : cabai merah besar, cincang kasar 7 buah : cabai kecil, cincang kasar 4 sdm : petis yang sudah matang 2 siung : bawang putih, cincang halus Garam, gula secukupnya

Cara membuat: - Lumuri gurami yang telah direndam dengan air jeruk nipis dengan bawang putih yang telah dicincang halus, diamkan selama 7 menit. - Panaskan minyak, goreng gurami hingga matang dan kecokelatan, tiriskan. - Panaskan minyak, masukkan bawang merah, cabai merah dan cabai kecil hingga matang, taruh dalam cobek, masukkan petis, garam dan gula, lalu campur jadi satu, penyetpenyet dengan garpu atau sendok.


12

RESEP ALA CHEF

Sedap dan Nikmat

Cuaca hujan dan dingin, enaknya makan sup yang panas. Apalagi sup sari laut. Untuk membuat kuahnya agar sedap, gunakan kulit udang dan sisa potongan ikan. Sementara dagingnya, kita gunakan sebagai isian supnya. Jadi, tak ada bahan yang terbuang. Rasa sup juga makin sedap dan nikmati. Selain itu, Anda dapat juga mencoba salad kacang merah, dada ayam panggang, dan hidangan penutup Nougat Dessert. Berikut resep Executive Chef Hotel Melia Bali Nusa Dua IGN Kanca.

Sup Sari Laut Bahan: 200 gram : kulit udang 400 gram : potongan ikan 30 gram : bawang merah diiris 30 gram : bawang putih diiris 30 gram : kunir diiris 30 gram : jahe diiris 20 gram : sereh diiris 20 buah : lombok merah diiris 3 lembar : daun jeruk 10 lembar : daun ketumbar 3 lembar : daun salam 20 gram : batang seledri Garam dan merica 30 gram : bawang goreng 20 gram : asam 30 ml : minyak Garam dan merica 100 gram : cumi-cumi dipotong cincin 100 gram : udang dikupas 100 gram : ikan laut dipotong-potong kotak

24 Februari - 2 Maret 2014

Dada Ayam Panggang Bahan: 650 gram : dada ayam dengan kulit 30 gram : bawang putih 20 gram : kunyit 3 lembar : daun jeruk 1 sdt : bubuk ketumbar 20 ml : minyak 1 buah : jeruk lemo 30 ml : kecap manis 40 gram : gula 2 sdm : air jahe 2 buah : jeruk nipis Garam dan merica

IGN Kanca

- Panaskan kembali lalu masukkan udang, cumi, dan potongan ikan masak lagi lima menit. - Hidangkan sup hias dengan sereh dan daun ketumbar.

Bahan ketela ravioli: 400 gram : tepung ketela 1 butir : telur ayam 20 ml : minyak 100 gram : jamur diiris 20 gram : bawang merah diiris 10 gram : bawang putih diiris 5 gram : daun ketumbar 15 gram : lombok merah 25 ml : minyak Garam dan merica Cara membuat: - Bawang merah dan kunyit dihaluskan. Masukkan ketumbar, garam, dan merica. - Daun jeruk dipotong-potong, masukkan ke bumbu tadi, tuangi minyak, beri perasan jeruk lemo. Lumuri dada ayam dengan bumbu ini, kemudian panggang sampai kuning kecokelatan.

: : : : : :

putih telur gula halus krim masak kacang dicincang kismis madu

Bahan saus: 200 gram : buah pepaya potong kecil 50 gram : madu 5 gram : kayu manis 2 gram : parutan kulit jeruk nipis 10 gram : mentega

Cara membuat: - Tumis semua bumbu lalu campur dengan kulit udang dan bagian ikan yang tidak terpakai. - Panaskan air lalu masukkan bahan tadi, masak dengan api kecil selama dua jam. Kemudian disaring.

Bean Salad Bahan: 400 gram : kacang merah 30 gram : bawang bombai 50 gram : tomat dikupas Bahan saus: 20 gram : mustard 30 ml : minyak zaitun 20 ml : peterseli dicincang 100 gram : irisan mentimun 10 gram : daun bawang Garam dan merica Cara membuat: - Kacang direndam selama satu jam. Kemudian rebus dengan sedikit garam. Tiriskan. - Tomat dan bawang bombai dipotong kecil. - Mustard, minyak zaitun, garam, merica dikocok, kemudian masukkan kacang, tomat, bawang bombai, dan peterseli. - Irisan mentimun dibuat lingkaran. Hidangkan kacang tadi dalam lingkaran irisan mentimun. Tambahkan daun bawang sebagai hiasan di atasnya.

Hiasan: krim, stroberi, dan daun mint.

IGN Kanca

13

Masak sambil Belajar Filosofi Hidup

K

Adonan ravioli: - Tepung ketela dicampur dengan telur ayam, minyak, dan garam tambahkan sedikit air lalu diuleni sampai lembut. Buat bulatan bulan kecil dan pipihkan. Isi bulatan dengan adonan isi. Isi: Panaskan minyak masukkan bawang, lombok merah, dan daun ketumbar tumis sampai harum, tambahkan jamur, garam, dan merica lalu dinginkan. - Ambil satu kulit ravioli yang pipih tadi. Isi adonan isi 1 sdt jamur tadi. - Bentuk hingga tertutup rapat, kemudian rebus lima menit dalam air mendidih. Cara membuat saus: - Gula dipanaskan, masukkan kecap hitam, air jahe, dan perasan jeruk nipis. - Masak dengan api kecil. - Sajikan ravioli dnegan ayam panggang bersama sausnya.

Nougat Dessert Bahan: 50 gram 50 gram 200 gram 25 gram 10 gram 50 gram

C U L I N A RY C O R N E R

24 Februari - 2 Maret 2014

Cara membuat: - Buat sirup dengan sedikit air. - Kocok putih telur sampai lembut dan kental. Masukkan sirup dan madu. - Kocok krim sampai kental untuk dicampur dengan putih telur dan sirup tadi. Masukkan kismis dan kacang diaduk terus, dan masukkan dalan cetakan. Dinginkan. Untuk membuat saus: - Panaskan mentega, masukkan kulit jeruk nipis, kayu manis, dan pepaya. Masukkan sedikit air. - Sajikan kue tadi bersama saus dan hias dengan krim, stroberi, dan daun mint. –Wirati Astiti

esukaannya memasak memang sejak kecil. Namun, kondisi kehidupan yang kacau-balau lantaran terpengaruh kehidup­ an berjudi di desa asalnya Karangasem, membuatnya merantau ke Denpasar. Kehidupan IGN Kanca pun berubah. Selain kini menjabat executive chef Melia Bali, ia sudah melanglang buana ke beberapa negara menunjukkan kepiawaiannya memasak. Dari hobinya membaca buku, ia banyak belajar tentang makanan dan filosofi kehidupan. Seperti apa? Kanca menuturkan, kehidupannya sempat kacau karena salah pergaulan. “Gara-gara judi,” tuturnya sembari tertawa. Karena sudah bosan dengan kehidupannya yang buruk, Kanca nekat kabur mencari sepupunya di Denpasar. “Di sanalah saya menumpang sementara. Saya diajak bertemu pemilik Santrian Beach Cottage Sanur. Kebetulan sepupu bekerja di sana,” kata lelaki usia 55 tahun ini. Kanca bekerja sebagai pekerja rumah tangga selama tiga tahun di rumah pe­milik hotel yang kini berubah nama menjadi Hotel Santrian. Kemudian, Kanca diberi kesempatan bekerja di Hotel Santrian. Ia bekerja all around mulai dari dapur, bagian bersih-bersih, semua dipelajarinya, termasuk accounting, dan front office. “Saya bekerja di sana, mulai ada sembilan kamar sampai 100 kamar,” kata Kanca. Tahun 1978, Kanca diberi kesempatan mengenyam pendidikan tata boga di BPLP (Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua) Bali selama tiga bulan. Setelah menyelesaikan pen-

didikannya, Kanca bekerja di dua tempat. Pagi hari bekerja di Santrian dan sore hari bekerja di Hotel Sanur Beach. Selain ilmu memasak, Kanca banyak belajar dari berbagai seminar dan pelatihan yang ia geluti. Salah satunya, seminar tentang Gugus Kendali Mutu dengan narasumber Prof. Manuaba dan Prof. Nala. Dari sinilah, ia mengaku, cikal-cakal ilmu pelengkapnya sebagai executive chef. Kanca juga belajar ilmu manajemen dan kepemimpinan. Sampai sekarang, ia sudah memiliki 27 sertifikat. Setelah dari Santrian, ia sempat bekerja di Camplung Mas Kuta selama satu tahun sebelum ke Melia Bali. Uniknya, awal bekerja, ia sempat ingin mengundurkan diri karena lamarannya sebagai chef de partie tidak diterima. Kanca tidak diterima karena belum ada pengalaman bekerja di hotel berbintang lima. Tahun 1985 ia sudah digaji Rp 1 juta plus uang lain di Camplung Mas. Sedangkan di Melia Bali, ia ditawari gaji Rp 125.000. Kanca menolak. Namun, executive sous chef I Ketut Darta memberikan motivasi kepadanya, “Bekerja di bintang lima mungkin sebagai ekor tapi ekor gajah, daripada kerja sebagai kepala itik.” Akhirnya, Kanca menerima tawaran itu. Satu bulan bekerja di sana, ia diangkat sebagai chef de partie. Menyandang jabatan itu, cara bekerja Kanca juga berubah, bahkan ia mengatakan hampir bekerja 24 jam. Mulai dari dapur panas, dapur dingin, dan membuat patung es. Dalam ren­ tang waktu empat bulan, ia diangkat menjadi junior sous chef.

Kanca mendapat kesempatan melakukan cross training ke Madrid Spanyol, Thailand, dan Jepang. Sampai akhirnya, ia menjabat executive chef di Melia Bali. Kanca banyak belajar masak­ an dan gastronomi dari buku. Bukan hanya urusan memasak, Kanca juga menyukai buku sejarah, politik, dan biografi. Dari bukulah, ia belajar tentang asal-mula masakan dan filosofi kehidupan yang sa­ngat berhubungan dengan masakan. Satu contoh, saat suku Barbar Cina masuk ke Indonesia, mereka membawa juga kebudayaan mereka dalam hal makanan, seperti nasi goreng, capcay, fuyunghai. Makan­an itu dibuat berdasarkan satu filosofi, tak ada sisa makanan atau jangan sampai membuang makanan. Kerak nasi dijadikan kerupuk, nasi basi menjadi nasi goreng. Sisa sayuran untuk capcay. Dalam lontar Caruban juga mengatur tentang masakan Bali, termasuk pengaturan porsi jumlah bumbu-bumbu seperti lengkuas, jahe, kunyit, dan kencur. Namun, masakan Bali dalam lontar lebih cederung digunakan sebagai bahan upacara seperti lawar dan sate banten. –Wirati Astiti

Ayam Bumbu Kuning Sarwan Bahan: 500 gr : ayam, bersihkan, lumuri dengan perasan air jeruk nipis 2 batang : daun bawang, potong-potong 1 buah : cabai merah besar, potong-potong 1 buah : tomat merah, potong-potong 1 buah : tomat hijau, potong-potong 2 lembar : daun jeruk, ambil tulangnya 1 batang : serai, ambil putih nya, memarkan 200 ml : air Garam, gula, kaldu bubuk, lada secukupnya

Jus Tomat Agar-agar

Bumbu halus: 7 butir : bawang merah 3 siung : bawang putih 3 ruas : jari kunyit, bakar 1 buah : cabai merah besar 3 buah : cabai kecil 5 butir : kemiri, sangrai

Bahan: 1 bks : agar-agar 100 gr : gula pasir 300 ml : susu cair 250 gr : tomat buah yang matang Sirup secukupnya Es batu secukupnya

Cara membuat: - Panaskan minyak/margarin, lalu masukkan bumbu halus, tumis hingga harum, masukkan serai dan daun jeruk, aduk-aduk, tambahkan cabai merah besar, tumis hingga harum. - Masukkan ayam, tambahkan air hingga mendidih, masukkan garam, gula, kaldu bubuk juga lada, bolak-balik ayam agar bumbu meresap. - Tambahkan tomat dan daun

Cara membuat: - Campur agar-agar, gula, dan susu dalam panci, didihkan, angkat. - Biarkan agar-agar agak dingin, masukkan digelas saji, biarkan agak beku. - Blender tomat, sirup, dan es batu sampai lembut. - Tuang jus tomat dalam gelas saji. - Siap dihidangkan selagi dingin.

bawang, biarkan air berkurang, angkat, masakan siap dihidang­ kan dengan taburan bawang putih goreng.

Gurami Goreng Sambal Petis Bahan: 500 gr : gurami, bersihkan, rendam dengan air jeruk nipis, diamkan selama 5 menit 1 buah : jeruk nipis 2 biji : bawang merah, cincang kasar 3 buah : cabai merah besar, cincang kasar 7 buah : cabai kecil, cincang kasar 4 sdm : petis yang sudah matang 2 siung : bawang putih, cincang halus Garam, gula secukupnya

Cara membuat: - Lumuri gurami yang telah direndam dengan air jeruk nipis dengan bawang putih yang telah dicincang halus, diamkan selama 7 menit. - Panaskan minyak, goreng gurami hingga matang dan kecokelatan, tiriskan. - Panaskan minyak, masukkan bawang merah, cabai merah dan cabai kecil hingga matang, taruh dalam cobek, masukkan petis, garam dan gula, lalu campur jadi satu, penyetpenyet dengan garpu atau sendok.


J E L I TA

14

Cantik dengan Teknologi

Topik kecantik­ an selalu menjadi perbincangan yang menarik. Sejak da­hulu kecantikan menjadi salah satu perhatian perempuan. Perempuan selalu peduli dan berupaya tampil cantik di berbagai kesempatan. Ketika perempuan memiliki aktivitas yang sangat padat dan harus tetap menjaga penampilannya, sementara waktu tidak cukup untuk merawat kecantikan, maka teknologi kecantikan menjadi solusi. Menurut dr. Laksmi Duarsa, Sp.KK., menjaga kesehatan kulit, wajah khususnya, dewasa ini sudah menjadi suatu kebutuhan. Meski demikian, perawatan kecantikan di era sekarang ini, selain masih ada yang mengandalkan tradisi, banyak juga yang memilih menggunakan atau mengombinasikannya dengan kemajuan teknologi. Sebab, banyak ramuan juga dibuat dengan memanfaatkan teknologi. Sebagai manusia, lanjutnya, tak ada seorang pun yang memiliki proporsi wajah yang sempurna. Untuk memperbaiki struktur atau penampilan mata, hidung, dan bibir, peran dari teknologi sering tak terhindarkan. “Ada sebagian orang yang takut menggunakan teknologi untuk kecantikannya, tapi sebagaian lagi justru mendewakan

segala bentuk teknologi untuk kecantikannya. Semua berpulang pada yang bersangkutan,” katanya. Apalagi saat ini, kemajuan teknologi bukan hanya milik alat telekomunikasi seperti telepon seluler dan komputer, tapi juga bidang kecantikan. Bersama majunya pengetahuan seiring dengan kemajuan zaman, teknologi yang berkaitan dengan kecantikan juga terus meng­ alami perkembangan. Dengan teknologi canggih siapapun dapat mengubah atau memperbaiki tampilan wajahnya. Dokter Laksmi mengatakan, perkembangan makna cantik ter­gantung situasi dan kondisi wilayah masingmasing serta cara pandang seseorang. Dikatakannya, cara pandang seseorang inilah yang memiliki perbedaan satu de­ ngan lainnya. Perbedaan ini juga merupakan suatu kewajaran. Selain itu, ada juga perkembangan definisi lainnya yakni versi produk –produk kecantikan. Baginya, yang utama kecantikan seorang perempuan adalah anugerah. “Boleh saja menjaga atau merawatnya dengan bantuan teknologi selama dilakukan dengan dengan tepat di tempat yang tepat dan oleh ahlinya. Serta sebelumnya sudah cukup mendapatkan edukasi mengenai untung dan ruginya,” ujarnya. –Sri Ardhini.

24 Februari - 2 maret 2014

Miracle Segera Luncurkan Home Care Facial Kit Tahun 2013, Miracle sudah berusia 17 tahun. Ini menjadi sebuah momentum untuk semua moving from good performance to great performance, dengan memberikan kualitas layanan dan hasil yang lebih baik untuk semua para pelanggan setia Miracle di Bali khususnya serta seluruh masyarakat Indonesia umumnya. Bagaimana agar mereka mendapatkan penampilan terbaik dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik pula. Operasional Direktur Miracle Jap Budi Wijaya, mengungkapkan jika tahun 2013 adalah tahun yang menggairahkan bagi Miracle, maka tahun 2014 akan menjadi tahun lebih menggairahkan lagi. Kendati kinerja ekonomi Indonesia beberapa waktu terakhir menunjukkan berbagai tantangan, namun tidak mengurangi keyakinannya bahwa tahun 2014 ini, menjadi tahun yang lebih baik. Gonjang-ganjing kampanye politik menjelang election tidak akan menyurutkan semangatnya untuk lebih mengekspose diri melalaui berbagai marketing communication champaign yang telah dirancang dengan lebih terintegrasi. Selain itu, kata Jap Budi Wijaya, Miracle juga merencanakan secara selektif hadir di lebih banyak lokasi di Indonesia untuk memberikan aksesibilitas yang lebih mudah bagi para pelanggannya. “Going forwad kami juga ingin membuat makin banyak kalangan masyarakat di Indonesia merasakan experience the Miracle touch,” katanya. Mereka, lanjutnya tanpa perlu datang ke klinik kami, sudah bisa menghadirkan sentuhan-sentuhan

keajaiban itu di rumah. “Kami akan meluncurkan produk home care facial kit dalam waktu dekat,” cetusnya. Selanjutnya, demi mewujudkan Indonesia menjadi negara ekonomi terbesar ketujuh di dunia, Miracle pun terpanggil untuk turut berpartisipasi dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia. “Hal ini kami laksanakan melalui Miracle Akademi, yang mulai tahun 2014 ini akan membuka diri untuk membekali para praktisi bisnis di luar grup Miracle dengan keterampilan dan sumber daya yang diperlukan untuk menjadikan diri mereka kompetitif,” tuturnya. Dari akademi inilah nantinya diharapkan akan terbentuk suatu network para pelaku bisnis estetika berkulaitas tinggi untuk menjadikan Indonesia semakin cantik dan sejahtera. Mengenai terbukanya Indonesia terhadap pasar global dalam waktu yang dekat ini, Jap Budi Wijaya menekankan hal ini perlu disikapi dengan proaktif. Ia menyadari industri estetika tidak akan luput dari serbuan pemain asing. “Kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujarnya. Kendati menyadari bahwa sebagian segmen pasar di Indonesia masih luar negeri minded. “Namun, tidak berlebihan rasanya jika Miracle mulai mencanangkan niat untuk mengikuti jejak berbagai brand Indonesia yang telah mampu membuat dirinya hadir di luar negeri,” lanjutnya, dan menambahkan yakin dengan dukungan dan doa restu serta kerja keras semua pihak hal tersebut dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. – Sri Ardhini.

24 Februari- 2 maret 2014

MITOS ATAU FAKTA

Suami Ejakulasi Dini Istri Masturbasi Masturbasi atau onani adalah perang­sangan seksual yang sengaja dilakukan pada alat kelamin untuk memperoleh ­kenikmatan dan kepuasan seksual. Perangsangan ini dapat dilakukan ­tanpa alat bantu ataupun menggunakan ­sesuatu alat atau objek, atau kom­binasinya.

M

enurut Sekretaris Asosiasi Seksologi Indonesia (A SI) Bali dr. Oka Negara, FIAS., masturbasi se­harusnya tidak lagi dipandang sebagai suatu hal yang tabu. Bukan juga sebuah dosa dan berefek buruk, karena secara medis tidak ada akibat buruk yang ditimbulkan selama tidak menggunakan alat bantu yang kotor dan dilakukan terlalu sering yang berpotensi mengakibatkan ketergantungan. Tanpa harus menutup mata, sesungguhnya masturbasi sudah sangat umum dilakukan oleh anak muda. Baik pada laki-laki maupun perempuan. “Hampir semua lakilaki pernah melakukannya, sedangkan pada perempuan masih dalam jumlah lebih sedikit di­b anding laki-laki,” ungkapnya. Dokter Oka Negara me­ ngatakan, zaman dulu memang masturbasi dianggap sebagai hal yang tidak baik. Anggapan memalukan dan berdosa terlanjur

dr. Oka Negara, FIAS

melekat dan salah kaprah. Belum ditemukan bukti bahwa orang yang melakukan masturbasi bisa menimbulkan penyakit dan mem­ bahayakan kesehatan. Berikut beberapa pendapat yang masih keliru tentang masturbasi. Mitos : Hanya orang-orang tertentu saja yang melakukan masturbasi. Fakta: Tidak ada perbedaan ketika seseorang melakukan masturbasi dengan yang tidak melakukan masturbasi. Hampir 100% laki-laki pernah melakukan masturbasi dan perempuan mendekati 80%. Jadi, tidak peduli apakah orang tersebut berasal dari ras, suku tertentu, pekerjaan tertentu, hingga sosial ekonomi tinggi atau rendah. Orang akan bisa terus melakukan hal yang sama karena masturbasi dianggap sebagai jalan keluar untuk mereka dapat rileks dan beristirahat. Mitos: Masturbasi tidak baik untuk kesehatan. Fakta: Banyak beredar informasi keliru tentang akibat mastur-

Kirim surat Anda ke ­Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

“Dok, suamiku 27 tahun, lebih tua dua tahun dari aku, sering sekali merayuku untuk melakukan hubungan intim di kolam renang. Katanya sudah mulai bosan dengan berhubungan intim yang begitu-gitu saja. Kami sudah menikah hampir tiga tahun. Sebenarnya, amankah ini untuk dicoba?” (Tara,25) Berhubungan seksual dalam air bisa menjadi pilihan variasi seksual yang fun, sekaligus menggairahkan. Sudah sering pasangan suami-istri mengeluhkan hubung­ an seksual yang membosankan hanya gara-gara dilakukan de­ ngan cara konvensional dan itu-itu saja. Karenanya mencoba hal yang mendebarkan dengan mencoba melakukan hubungan seksual di kolam renang, atau malah di kolam permandian umum, pantai, di laut terbuka, hingga air terjun di tempat tersembunyi tentu saja akan menjadi sebuah tantangan baru demi mendapatkan kepuasan seksual yang maksimal. Tentu saja semua harus disepakati bersama dan tanpa ada satu pihak

pun yang terpaksa. Bisa dicoba dulu dengan melakukan hubungan seksual dalam air yang lebih aman yaitu di jacuzzi atau bathtub de­ ngan menggunakan air hangat. Hubungan seksual dalam air di kolam renang akan menjadi aman jika air yang digunakan adalah air bersih dan tidak me­ ngandung kuman serius. Pastikan air yang digunakan adalah air yang memenuhi syarat kesehatan (tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau), seperti yang cukup untuk dipakai mandi atau membasuh diri, membersihkan tubuh yang penuh keringat dan kotoran harian, termasuk mandi bareng pasangan. Air secara psikis juga dianggap membawa kesegar­ an. Setiap aliran dan guyuran air

basi, misalnya bisa menyebabkan jerawat dan dapat membuat seseorang buta. Tidak ada dasar ilmiah di balik semua klaim ter­sebut. Semua peneliti dan ilmuwan sepakat mengatakan bahwa masturbasi tidak berbahaya. Bisa jadi, wacana tersebut beredar hanya untuk menakut-nakuti anak muda agar mengendalikan diri dari dorong­an seksualnya, agar digunakan untuk aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Mitos: Masturbasi hanya dilakukan anak muda. Fakta: Tidak ada batas usia untuk melakukan masturbasi. Anakanak muda biasanya a k t i f secara seksual d a n m e r e k a melakukan masturbasi karena tidak ada pasangan. Statistik menunjukkan, laki-laki dan perempuan dewasa melakukan masturbasi hampir tiap minggu, meskipun mereka tidak melakukan-

nya sesering anak remaja. Jadi, masturbasi bisa dilakukan siapa saja. Mitos: Perempuan tidak melakukan masturbasi. Fakta: Memang banyak studi dan survei menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak melakukan masturbasi dibandingkan perempuan. Itu artinya, bukan berarti perempuan tidak melakukannya. Tetapi, memang seringkali perempuan enggan mengakui kalau mereka melakukan masturbasi juga, karena adanya pandangan negatif di masyarakat. Padahal, beberapa fakta menyatakan bahwa perempuan s e b e narnya t e l a h melakukan masturbasi. Mit o s : L a k i laki atau perempuan yang sudah menikah atau sudah punya pasangan, tidak melakukan masturbasi.

11 Fakta: Ini pendapat yang keliru. Karena, ba­n yak orang yang dalam hubungannya telah melakukan masturbasi secara diam-diam tanpa sepe­ngetahuan pasangannya. Tidak ada aturan yang melarang seseorang yang sedang menjalin sebuah hubungan untuk melakukan masturbasi, karena ini merupakan kepentingan pribadi setiap orang. Banyak pasangan yang ketika pasangannya sedang jauh misalnya karena tugas pekerjaan, memuaskan dorongan seksualnya lewat masturbasi. Demikian juga beberapa kasus ketika suami mengalami ejakulasi dini, si istri melanjutkan memuaskan dorongan seksualnya sembunyisembunyi dengan bermasturbasi. Mitos: Terlalu banyak masturbasi itu berbahaya. Fakta: Secara ilmiah, tidak ada efek kesehatan yang merugikan pada mereka yang melakukan masturbasi. Justru mereka yang teratur melakukan aktivitas seksual, termasuk juga masturbasi bisa terhindar dari risiko masalah ke­ sehatan. Karena, aktivitas seksual yang memuaskan akan memunculkan aktivasi hormon dan substansi yang berguna membuat tubuh menjadi nyaman dan menyehatkan, seperti dopamin, endorfin hingga oksitosin, termasuk jangka panjang meningkatkan nitrit oksida yang membuat bugar dan panjang usia. Tetapi, tentu saja sepanjang hal ini tidak meng­akibatkan kecanduan dan mempengaruhi kehidupan pribadi mereka. Pada beberapa kasus yang cukup jarang terjadi, seseorang mungkin akan kehilangan minat dalam melakukan hubungan seks dan lebih memilih melakukan masturbasi. Inilah yang seharusnya tidak boleh dilakukan, karena masturbasi dikatakan sehat selama tidak mempengaruhi kehidupan pribadi seseorang. –Inten Indrawati

Ingin Coba di Kolam Renang yang menerpa tubuh akan dirasa­ kan membawa kesegaran dan ketenangan. Bagaimana dengan organ intim? Sama juga. Karena organ intim perlu dibersihkan setiap hari, maka air pun akan bermanfaat banyak untuk kebersihan penis dan vagina. Cukup dengan air bersih saja, penis lebih mudah dibersihkan. Sedangkan vagina tentu saja perlu cara yang benar untuk membersihkannya, terlebih di saat buang air kecil, atau buang air besar, jangan sampai justru malah ada kotoran dari dubur yang masuk ke liang vagina misalnya. Jika kuman yang masuk jumlahnya berlebihan karena air yang digunakan tidak bersih, atau vagina kemasukan bahan-bahan yang berbahaya yang bersifat merusak dinding vagina, tentu saja akhirnya vagina bisa lecet, luka, meradang atau terkena infeksi. Tetapi, selama pasangan tidak mengidap infeksi menular seksual, baik yang disebakan oleh virus, bakteri, hingga jamur,

sesungguhnya penetrasi tidak ada bedanya antara di air maupun di tempat kering. Lalu, adakah manfaat berhubungan seksual di kolam renang? Manfaatnya lebih ke psikis. Ini bisa dilakukan bila hubungan seksual sudah mendatangkan rasa bosan dan aktivitas harian juga sering mendatangkan ketegangan, baik di pekerjaan, pergaulan sosial, termasuk di hubungan dengan pasangan. Kebugaran bisa didapatkan kembali dengan menyingkirkan gangguan psikis melalui relaksasi. Dengan melakukan hubungan seksual di kolam renang, yang menjadi target adalah melakukan variasi seksual, melenyapkan kebosanan dan membuang ke­tega­ngan. Air bisa membawa sensasi relaksasi yang menyegarkan pikiran sekali­ gus badan, apalagi bisa dilakukan dengan pasangan sambil melakukan pijatan mesra bergantian untuk mengendorkan ketagangan otot dan memperlancar peredaran darah. Sebagai tujuan akhir dari se-

mua tentu saja adalah pencapaian kepuasan seksual yang maksimal. Saat orgasme maksimal terjadi, maka otak akan melepaskan oksitosin dan endorfin, yang membuat rasa nikmat, lega sekaligus rileks yang amat sangat. Satu lagi, hati-hati dilihat dan bahkan direkam orang jika melakukannya di tempat terbuka yang bisa diakses publik. Pandaipandailah memilih tempat dan situasi. Jadi, hubungan seksual di kolam renang sebenarnya juga merupakan upaya variasi seksual. Variasi seksual itu kuncinya adalah disukai, disetujui bersama, tanpa paksaan dan tidak mengundang bahaya. Variasi seksual yang unik, menegangkan dan belum pernah dilakukan, sering kali sangat ditunggu dan bisa membakar hasrat dan dorongan seksual menjadi lebih menggelora. Silakan saja dilakukan, asal jangan menggunakan alat-alat bantu seksual yang berbahaya, atau di tempat yang berbahaya.


BUGAR

10

24 Februari - 2 Maret 2014

Debu Vulkanik Ganggu Saluran Pernapasan Warga di sekitar Gunung Kelud tidak dapat menjalankan aktivitas seperti biasa setelah terjadinya letusan gunung itu. Daerah mereka masih diselimuti debu vulkanik. Debu ini bahkan sampai di Surabaya, Yogyakarta, dan Bandung. Bagaimana dampak debu vulkanik bagi kesehatan?

dr. Wulan Sari Dwi Sutanegara

K

omponen yang terkandung dalam debu vulkanik sangat berbahaya. Letusan gunung berapi, biasanya mengandung banyak partikelpartikel yang bersifat karsiogenik, seperti arsenik, logam besi dan sifatnya asam mengandung sulfur belerang. “Dampak serius akan terjadi pada saluran pernapasan baik atas maupun bawah, baik jangka pendek maupun jangka panjang atau tahunan serta dapat menimbulkan mutasi sel,” ujar

dr. Wulan Sari Dwi Sutanegara, Sp.THT. (KL). Ia menyebutkan, jangka pendek, tergantung dari ba­nyaknya paparan yang masuk dan kasar atau halusnya debu vulkanik tersebut. Debu ini dapat mengakibatkan pembengkakan pada saluran napas terutama pada anak-anak yang saluran napasnya lebih kecil dari orang dewasa. Mereka akan merasa tercekik dan mengakibatkan sesak napas. Efek pada orang dewasa, dapat merusak mukosa hidung apabila terhirup. “Karena ada kandungan logam besi di dalam debu tersebut, harus berhati-hati, jangan sampai hidung digosok-gosok yang akibatnya malah dapat menimbulkan trauma pendarahan di hidung,” kata dosen Fakultas Kedokteran Unud ini. Parahnya lagi, debu vulkanik ini bersifat kasar dan halus. Jika dihirup, debu vulkanik akan menempel di hidung dan paru-paru. “Debu yang bersifat kasar, asal tidak digosok-gosok, dapat dihilangkan dengan pembersihan atau cuci air garam. Pembilasan dengan air bersih atau air meng­ alir. Sedangkan, kalau debu halus karena ukurannya mikro, dapat memicu alergi. Penderita langsung bersin-bersin karena hidungnya tersumbat. Penderita asma akan kumat,” jelasnya. Menurutnya, penderita harus segera ditangani dokter untuk melakukan pencucian atau toilet

Sehat ala Ade Rai

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sehat ala Ade Rai” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id Rubrik ini diasuh Ade Rai.

Sebuah badan independen di Amerika Serikat mencoba melakukan survei terhadap beberapa alasan orang memulai suatu program latihan atau menjadi anggota di suatu pusat kebugaran. Berikut ini adalah urutan 10 besarnya: - Memperbaiki penampilan tubuh - Menjadi lebih menarik bagi lawan jenis - Meningkatkan performa olahraga - Diperintahkan oleh dokter - Untuk menjaga kesehatan / mencegah penyakit - Untuk bisa lebih aktif - Untuk memperbaiki performa seksual - Bersosialisasi / mendapat teman baru - Mencari tantangan baru - Katanya bisa membuat awet muda Kalau berbicara mengenai “memperbaiki penampilan tubuh” sebagai prioritas utama bagi mayoritas fitnessmania di Amerika Serikat, tampaknya tidak akan berbeda banyak dengan di Indonesia. Hanya

24 Februari - 2 Maret 2014

Gaya Unik Anak Muda

15

Modelnya khas, perpaduan tradisional dan modern. Semakin menarik dan unik karena ada unsur musik. “Ini memang karya dari dan untuk anak muda. Untuk cewek maupun cowok agar bisa tampil dengan gaya berbeda,” ujar sang pemilik I Gede Fredy Widamahanata.

G

aya yang kasual dan gaul ada pada koleksi tas –tas pi­ lihan Tokoh kali ini. Meski “Mahanata” adalah merek lokal, namun tas model selempang dan ransel yang simpel ini sangat cocok dan trendi untuk dibawa ke sekolah, ke kampus, bahkan ke kantor ataupun ditenteng untuk hang out. Tiga konsep yang diusung Fredy sang desainer, tradisional, modern, dan musik adalah unsur yang ada pada setiap jiwa anak muda. Unsur tradisional untuk sebuah pelestari­ an, modern mewakili kekinian dan zaman yang terus bergerak maju se-

Foto: metrotvnews.com

hidung. “Walaupun hidung sudah memiliki proteksi sendiri, ada sapu seperti rambut kecil dalam hidung, namun, debu vulkanik dapat melekat dan lengket. Kadangkala cairan hidung tak mampu membersihkan sendiri diperlukan toilet hidung yang dilakukan petugas kesehatan atau dokter THT,” kata dr. Wulan Sari. Debu vulkanik juga dapat mengakibatkan hidung tersumbat. Zat logam yang masuk tidak semua bisa dibersihkan, ada mungkin yang menempel di hidung yang memiliki struktur lekuklekuk sehingga bisa saja debu itu bersembunyi. Tubuh akan merespons, ada sesuatu yang tidak bisa dihilangkan. Dalam jangka panjang atau permanen, akan muncul keluhan hidung buntu. Selain debu bisa masuk ke hidung, debu vulkanik bisa juga masuk ke telinga. Sama seperti hidung, sebaiknya rasa gatal di te­ linga jangan sembarangan dikurekkurek. Sering terjadi keinginan mengorek justru malah kotoran terdorong ke dalam. Bahayanya, debu vulkanik mengandung logam besi yang dapat melukai liang telinga kalau mengorek-ngorek telinga. “Kalau dibiarkan akan timbul penyempitan dan rasa gatal. Sebaiknya datang ke petugas kesehatan

STYLE

agar dibantu toilet telinga. Kalau langsung dibersihkan dengan toilet telinga, efeknya akan aman. Namun, kalau dibiarkan kan terjadi penggumpalan kotoran telinga yang keras,” ujarnya. Selain debu vulkanik, letusan juga mengeluarkan uap panas yang

mengakibatkan mukosa meleleh dan menimbulkan pembengkakan di saluran napas, saluran makanan, dan kulit kita pun melepuh seperti gosong. Staf SMF THT Sub Divisi Rinologi Alergi Imonologi RS Sanglah ini menyebutkan, paparan debu vulkanik yang dihirup dalam jangka panjang, dapat memicu perubahan sel antara lain tumor atau kanker, bisa di paruparu atau di saluran napas. Menurutnya, tidak ada obat spesifik diminum untuk mencegah paparan debu ini, namun, bila muncul alergi, akan diberikan obat alergi.

Bila terjadi kondisi serius, pengobatan dengan pemberian obat antibengkak dan antiradang, dibantu dengan suplemen tambahan yang bersifat antioksidan untuk menangkal efek jangka panjang. Ia menyarankan, bagi siapa saja setiap keluar rumah agar menggunakan masker untuk menghindari paparan debu vulkanik secara langsung. Hal ini juga perlu dilakukan di daerah de­ ngan polusi tinggi seperti di jalan raya saat sedang berkendara. Saat ini, sudah tersedia aneka model masker, menempel di telinga, diikat di belakang kepala, masker berbentuk penutup hidung dan mulut. Secara umum, semua jenis mas­ ker ini menyaring debudebu mikro dari udara. Namun, ia menyarankan, pilihlah masker yang berpori-pori paling halus. Bagi penderita alergi, dapat dilakukan tes di poliklinik THT se­ perti di RS Sanglah. Penderita alergi dapat melakukan imonoterapi yakni penyuntikkan zat allergen yang sensitif dengan dosis kecil secara berulang. Terapi ini dapat dilakukan pada anak-anak dan dewasa. Khusus alergi debu, terapi yang dimulai dari usia dua tahun hasilnya lebih bagus. Penyuntikkan dilakukan pada hasil tes alergi di atas 3, atau sudah mendapatkan pengobatan tapi keluhan tidak berubah. –Wirati Astiti

Bagaimana Otot Tumbuh?

dangkan musik bahasa universal yang mudah dipahami semua orang. Tidak main-main pula, untuk kreativitasnya ini, Fredy meng­ ambil inspirasi desain tas brand di Eropa dan luar negeri lainnya. Ini, katanya demi berhasilnya kolaborasi antara modern dengan konsep tradisionalnya. Sedangkan bicara kualitas, ia juga memilih bahan kanvas yang nomor satu, dan tak ketinggalan sentuhan bahan etnik yakni kain endek. Sedangkan untuk proses pembuatan, Fredy mengatakan tidak 100% handmade, tapi melalui bantuan mesin guna mempercepat produksinya. – Sri Ardhini

I Gede Fredy Widamahanata

(1)

ada 2 hal yang harus terjadi agar penampilan tubuh bisa menjadi lebih baik. Apa itu? Yang pertama adalah massa otot yang meningkat, yang kedua adalah massa lemak yang menyusut. Dengan memahami bagaimana dan mengapa otot bisa tumbuh, mungkin fitnessmania akan meningkatkan peluang untuk mewujudkan prioritas pertama tersebut menjadi lebih besar.

(Growth Hormone) dan testosteron akan memuncak dan perlahan kembali ke normal 90 menit sesudahnya. Kedua hormon inilah yang selain merupakan hormon kunci untuk peningkatan massa otot, juga merupakan hormon yang dibutuhkan untuk tetap awet muda. Untuk bisa maksimal, stimulasi untuk pertumbuhan otot harus memenuhi setidaknya dua syarat:

Siklus Terjadinya Pertumbuhan Otot Pertumbuhan otot atau meningkatkan massa otot adalah suatu transisi fisik yang terjadi melalui suatu proses atau siklus yang berulangulang. Proses tersebut terdiri dari 4 aktivitas yang saling bergantungan dalam suatu pola yang membentuk lingkaran mata rantai.

Mind-To-Muscle Connection adalah komponen utama dalam setiap sesi latihan. Di mana terjadi hubungan antara otak dan otot, sehingga otot menerima kontraksi maksimal sesuai perintah dari otak. Untuk membentuk mind-to-muscle connection ini, teknik latihan beban yang efektif sangat menentukan.

Stimulasi: Adanya rangsangan dalam bentuk latihan beban. Tubuh tidak mengenal latihan beban sebagai rangsangan yang ditujukan untuk menambah otot. Tetapi, tubuh lebih mengenal rangsangan ini sebagai munculnya tekanan fisik dan kebutuhan untuk menggunakan serabut otot yang ada untuk menggerakkan tekanan tersebut. Dalam proses ini, tekanan yang muncul melalui sistematika latihan beban yang terstruktur, akan memicu reaksi kimiawi dan hormonal yang condong pada pertumbuhan otot. Saat latihan, hormon pertumbuhan

Intensitas yang Tepat Dalam hal ini, beban yang dipakai adalah maksimal dan berada dalam jangkauan total repetisi 6 hingga 12 saat melebihi gagal positif. Di samping itu, untuk meraih hasil yang optimal, otot yang perlu mengalami rangsangan terbesar terletak pada otot type II di dalam tubuh kita, yang memiliki kapasitas membesar antara 25% - 100% dari ukuran aslinya. Untuk meraihnya, bagian positif dari setiap repetisi latihan beban perlu dilakukan dengan tempo yang relatif lebih cepat daripada bagian negatif dari repetisi.

Foto by : Wis Putra


i n f o to r i a l

16

24 Februari - 2 maret 2014

HUT ke- 2 6 W HDI Prov i n si B a l i

Dimeriahkan Seka Gong Dewi Laksmi Puncak peringatan HUT ke-26 WHDI Provinsi Bali, diselenggarakan di Gedung Kesenian I Ketut Mario, Tabanan. Dari kejauhan telah terlihat keramaian dan kesan meriahnya. Sebab sebelum acara puncak, digelar beberapa lomba dan dilangsungkan bazar di areal tersebut yang diisi seluruh WHDI kabupaten/ kota se-Bali. Dan, jauh sebelum itu, aneka lomba juga dilak­sanakan di internalWHDI masing-masing di tiap ­kabupaten/kota se-Bali.

P

Kegiatan WHDI Peduli Lingkungn

ada puncak HUT tersebut, hadir Bu­ pati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, Ketua Umum WHDI Pusat Ny. Ir. Rataya B.Kentjanawathy Suwisma, Ketua WHDI Provinsi Bali Ny. Bintang Pus­ payoga, Penasihat, Ketua dan Wakil Ketua WHDI kabupaten/kota se-Bali. Selain itu, tampak pula hadir pinisepuh WHDI, Ny. Prof Ngurah, Ny. Prof. Mantra, Ni Nyoman Masni serta per­ wakilan pengurus dan anggota WHDI kabupaten/kota se-Bali. Bupati Tabanan Eka Wiryastuti mengatakan bangga serta merasa terhormat, Tabanan mendapat kesem­ patan dan dipercaya menjadi tempat pelaksanaan peringatan puncak HUT ke-26 WHDI Provinsi Bali. Selain itu, ia mengatakan mendukung segala

aktivitas WHDI, disertai harapan keg­ iatan pengabdian tanpa pamrih dan tulus tersebut mampu meningkatkan srada dan bakti demi tujuan yang lebih besar. Ketua Panitia Pelaksana Ni Made Putriningsih Wirna, S.E., dalam sambutan­nya mengatakan, serangka­ ian HUT ke-26 WHDI Bali, sebel­ umnya telah dilaksanakan berbagai kegiatan sosial, seni budaya, seminar, anjangsana ke pinisepuh, dan keg­ iatan lainnya di Kota Tabanan. “Hal yang sama dilaksanakan pula oleh WHDI kabupaten/kota se-Bali. Mer­ eka memperingati HUT ini dengan melakukan ber­bagai kegiatan sosial dan budaya, yang disesuaikan dengan kondisi yang ada di tempat mereka masing-masing. Hanya saja, puncak acaranya dilakukan bersama-sama di

PENARI SENIOR NGAYAH UNTUK WHDI Yang menarik di acara ini adalah tampilnya dua seka gong wanita. Yang pertama adalah Seka Gong WHDI, yang bernama Dewi Laksmi. Anggotanya ter­ diri dari para pengurus WHDI Provinsi Bali. “Ini juga bagian dari konsep ngayah,” kata Ny. Bintang Puspayoga sembari menjelaskan bahwa kelompok tersebut masih tergolong pemula. Di

Pementasan Tari Legong

Tema

Pilih Kerja di Kantor

Melihat iklan L-Men yang menampilkan model yang keren membuat I Dewa Gede Agung Dwi Temaja tertarik. Ia pun ingin seperti model itu dengan bentuk badan ideal. “Saya ikut ­fitness untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ­ideal,” ujar pria yang akrab disapa Tema ini.

Penampilan Seka Gong Dewi Laksmi

Tabanan ini,” ungkap Ketua WHDI Provinsi Bali Ny. Bintang Puspayoga usai membacakan Sejarah Singkat WHDI. Bintang Puspayoga melanjut­ kan, sebelum puncak acara, WHDI Provinsi juga telah melaksanakan be­ berapa kegiatan sosial serta persem­ bahyangan bersama. “Sedangkan, beberapa lomba seperti kramaning sembah, lomba busana ke pura, pelaksanaannya bersamaan dengan hari dilangsungkannya puncak acara,” lanjutnya. Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum WHDI Pusat Ny.Ir. Rataya B. Kentjanawathy Suwisma mengajak seluruh hadirin, pengurus dan anggota WHDI untuk turut berperan dalam pelaksanaan Pemilu 9 April 2014. “Sebagaimana tema HUT kali ini, yakni ‘Jadilan Pemilih Cerdas dalam Pesta Demokrasi yang Jurdil , demi Terwujudnya Bangsa Indonesia yang Damai Sejahtera dan Bermartabat’. Tema ini sangat relevan diangkat kare­ na negara kita Indonesia akan segera melaksanakan pesta demokrasi, yaitu pemilu legislatif,” papar Rataya. Ny. Rataya juga menandaskan meski WHDI bukan organisasi politik, tetapi WHDI sebagai organ­ isasi sosial keagamaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, memiliki kedudukan yang sejajar dengan organisasi-organisasi lainnya di Indonesia. WHDI juga memiliki fungsi sentral dan strategis dalam berkontribusi pada pembangunan bangsa dan negara. Rataya pun tak lupa mengajak seluruh anggota WHDI menjadi pemilih yang cerdas.

24 Februari - 2 maret 2014

S

Bupati Tabanan, Ketua Umum WHDI Pusat, Ketua WHDI Bali dan Penasihat, Ketua serta Wakil ketua WHDI Kabupaten-Kota

ebelum me­ nekuni olahraga kebugaran di fit­ ness center,Tema gemar bermain sepak bola. Postur tubuhnya yang tinggi membuatnya cocok sebagai kiper. Ia pun pernah menjadi kiper Perseden U-21. Namun, sekarang ia jarang bermain sepak bola karena kesibukannya. Sejak ikut fitness, badan­ nya mulai terbentuk. Ia tidak

D ARA menang di Bali dan masuk grand­ final di Jakarta,” ujar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Udayana ini. Sebagai juara di Regional Bali, Tema sangat senang. Awalnya ia ragu karena melihat para pe­ serta lainnya memiliki kualitas yang sangat baik. D i ajang nasional, persaingan lebih ketat lagi. Tema terpilih menjadi 20 grand finalis dari hampir 4.000 pe­ serta au­

merasa kurus lagi. “Dulu tinggi saya 178 dengan berat 55 kg. Setelah fitness menjadi 68 kg,” ungkapnya. Dengan bobot yang ideal ini, ia memberanikan diri ikut ajang L-Men of The Year tahun 2012. Keluarga dan teman-temannya mendukung upaya Tema di ajang ini. Ia punya keinginan untuk menjadi model. “Saya gagal mencapai final ke Jakarta. Di Bali saya hanya meraih gelar The Most Favorite. Tahun 2013 saya ikut lagi. Ternyata saya

9 disi seluruh Indonesia. Pengalam­ an gagalnya finalis dari Bali pada tahun-tahun sebelum­ nya membuat pria kelahir­a n Den­ pasar 20 April 1990 ini ingin berbuat lebih baik. Perjuan­ gan keras Tema mem­ buahkan ha­ sil. Ia meraih gelar 1 st Run­ ner Up L-Men of The Year 2013. Salah satu hadiahnya adalah Tema berhak menjadi model iklan untuk produk LMen. Apa yang ia inginkan akhirnya tercapai. Tema pun menjadi public figure berkat usaha kerasnya. “Menjadi public figure membuat saya dikenal lebih banyak orang, memudahkan saya untuk berbagi dan menginspirasi orang lain sesuai dengan tujuan diadakannya L-Men of The Year,” ujar putra kedua pasangan Dewa Alit Mudiarta-Dewa Ayu Rai Wahyuni ini. Walaupun sudah sukses di kancah na­ sional, Tema punya impian lain. Ia ­ingin menyelesaikan pen­ didikannya di Fakul­ tas Ekonomi Uni­ versitas Udayana.

Dari semua yang sudah dilalui­nya, Tema mengatakan pe­ngalaman yang paling berkesan tentunya meraih gelar 1st Runner Up 2013 dan menjadi juri dalam ajang ini di tahun 2014. “Dari peserta saya beralih menjadi juri yang menilai mereka,” kata Tema yang rajin berdiskusi dengan kakaknya, Dewa Agung Mahendra mengenai masalah kesehatan ini. Walaupun sudah dikenal kare­ na wajahnya terpampang di ke­ masan L-Men, Tema mengaku memilih akan tetap di Bali. Be­ berapa pemenang L-Men ada yang sudah masuk ke dunia entertainment. Tema mengaku lebih memilih bekerja di kan­ tor daripada terjun ke dunia entertain­ment. Kepada generasi muda Bali, Tema berpesan jadilah pemuda yang bisa membanggakan daerah melalui berbagai keahlian yang dimiliki. “Dari segi kesehatan saya menyarankan jadilah generasi muda antirokok. Tidak merokok merupa­ kan cara hidup sehat yang simpel,” ujarnya mengingatkan untuk olah­ raga teratur, makan teratur, dan istirahat teratur sebagai pola hidup sehat. –Ngurah Budi.

Penanganan Stroke Dengan DSA

Paduan Suara Kota Denpasar

kesempatan tersebut mereka tampil megambel dalam tiga sesi, yakni sebagai salah satu pembuka acara, mengiringi fashion show tata rias busana pengantin, serta mengiringi peserta dan undangan saat bersantap siang. Seka Gong yang kedua, terdiri dari seniman-seniman wanita Kota Denpasar, yang sudah pada mumpuni dengan alat yang bernama gamelan tersebut. Para seniman tersebut hadir mengiringi tarian pembuka, Tari Sekar Sandat, dan tari pergaulan yakni Tari Joged. Ketika Tari Joged muncul suasana menjadi hangat dan semarak, sebab para penari turun panggung dan mengajak para undangan turut menari bersama. Tak kalah menarik pula dengan tarian Legong Kraton, karena penarinya adalah tokoh-tokoh senior di antaranya Ny. Komang Arsana (istri mantan Wali Kota Denpasar almar­ hum Arsana) dan Ny. Asiawati Oka

Penampilan tari Joged

(istri mantan Gubernur Bali ­almarhum IB Oka). Saat menyanyikan Lagu Kebang­ saan Indonesia Raya, Hymne WHDI dan Mars WHDI, tampil grup paduan suara dari Denpasar Timur, yang merupakan pemenang loba paduan suara yang dilangsungkan WHDI Kota Denpasar. Beberapa hari setelah puncak acara HUT, masih ada satu kegiatan lagi yang dilaksanakan yakni, WHDI Peduli Lingkungan. Program ini di­ jalankan dengan melakukan kegiatan penghijauan. Kegiatan ini kata Bintang Puspayoga, merupakan gagasan Bupati Tabanan, untuk turut menyemarakkan HUT ke-26 WHDI. “Semoga melalui kegiatan penghijauan melalui penana­ man pohon di kawasan Pantai Soka ini, lebih mampu lagi menggemakan keberadaan WHDI di tengah-tengah masyarakat,” katanya. Selain itu, Bintang Puspayoga, sangat mengapresiasi gagasan Bupati Tabanan atas kepeduliannya menjaga lingkungan dengan penanaman pohon. Apalagi menurutnya wanita Hindu memiliki peranan yang penting dalam merawat serta menjaga lingkungan untuk tetap hijau. Harapannya ke de­ pan, penanaman pohon cemara udang tersebut dapat memberikan manfaat untuk menahan abrasi, serta tindakan ini bisa dicontoh kabupaten/kota lain­ nya di Bali. Bupati Tabanan Eka Wiryas­ tuti menambahkan, aktivitas positif ini mesti disertai dengan pemeliharaan lebih lanjut, agar dapat mewujudkan serta menyelamatkan lingkungan yang hijau dan sehat. – Sri Ardhini.

Pembuluh darah merupa­ kan salah satu organ penting dari makhluk hidup. Tolok ukur kesehatan seorang ma­ nusia bisa dilihat dari pem­ buluh darahnya. Makin tidak sehat gaya hidupnya, maka makin besar potensi gang­ guan di pembuluh darah. Gangguan pada pembuluh darah yang disebabkan gaya hidup tidak sehat adalah tim­ bulnya plak atau timbunan lemak di pembuluh darah sehingga aliran darah men­ jadi tidak lancar. Hal ini dialami dr. Made Wardana, Sp.KK. Ia meng­ alami penyumbatan pada pembuluh darahnya. hingga mengalami stroke ringan. Ditemui beberapa waktu lalu, Wardana menuturkan jika penyumbatan terjadi pada pembuluh darah di otak sehingga bagian terten­ tu di tubuhnya tidak menda­ patkan cukup darah. “Saya mengalami kelumpuhan pada bagian kiri dan tangan kiri saya mengalami kesemut­ an,” ujarnya. Ia kemudian memeriksakan ke dokter saraf dan disarankan untuk menjalani pemeriksaan MRI

untuk mengetahui lokasi penyumbatan. “Dari hasil MRI ternyata ada penyum­ batan dan kematian sel di beberapa bagian pembuluh darah yang menuju otak,” tutur Wardana. Sebagai seorang dokter, Wardana tahu bagaimana efek dan bahayanya jika pembuluh darah tersum­ bat. Ia kemudian mencari informasi apakah ada teknik pengobatan untuk mengo­ bati pembuluh darahnya yang tersumbat. “Saya cari di internet ternyata ada teknik untuk mengeruk plak di pembuluh darah. Teknik tersebut sudah dikerjakan di salah satu RS di Jakata,” tutur Wardana. Setelah mencari informasi lebih lanjut, ternyata di Den­ pasar, Bali sudah ada rumah sakit yang memiliki alat cathlab yang terkini untuk tindakan DSA tersebut dan bisa digunakan tidak hanya sebatas penyakit jantung tetapi penyakit saraf dan pembuluh darah lainnya. Teknik yang dimaksud Wa r d a n a a d a l a h t e k n i k Intra­a rterial Thrombolysis

Trials (ITT) dengan DSA (Digital Substraction Angi­ ography) untuk penyakit stroke akut. Jadi sebuah se­ lang dipasang dan dimasuk­ kan sepanjang pembuluh darah. Pada saat sampai di daerah penyumbatan, obat pelarut sumbatan akan disemprotkan untuk meng­

hancurkan plak penyebab sumbatan tersebut. “Saya men jalan in ya sekitar 30 menit dan tidak merasakan sakit samasekali,” tutur Wardana. Lanjutnya ketika di­ semprotkan obat pelarut sumbatan ia hanya mera­ sakan panas atau dingin.

Setelah tindakan tersebut, perlahan-lahan koordinasi tubuh bagian kirinya yang sempat terganggu perlahan membaik. Untuk informasi mengenai teknik ini, bisa menghubungi Sandri (Mar­ keting) di 082144878012/ 081999132328 atau PIN BB 24E5B1B8.


BUNDA & ANANDA

8

24 Februari - 2 Maret 2014

Jangan Biarkan Trauma Mengendap di Memori Anak Letusan Gunung Kelud membuat warga yang tinggal di dekat gunung itu harus mengungsi. Suasana mencekam dan penuh ketakut­ an akan dirasakan warga, apalagi bagi anak-anak. Evakuasi harus dilakukan cepat sehingga tidak semua barang bisa dibawa. Hal terpenting adalah nyawa selamat.

Ni Made Trisna Susanti

P

roses yang dialami anak-anak mulai dari mendengar le­ tusan gunung, lalu mengungsi, dan hidup di peng­ ungsian akan terekam di memori mereka. Hal ini bisa menjadikan mereka trauma jika mendengar suara-suara yang mirip letusan. Trauma biasanya sangat mem­ bekas di memori anak-anak. Jangankah hal-hal besar seperti letusan gunung, hal-hal sepele pun kadang bisa terekam di memori mereka. Misalnya, si A anak yang aktif sedangkan si B sangat pendiam. Karena terlalu aktif, si A ditegur gurunya. Hal ini terjadi berkalikali. Si B yang sering melihat hal tersebut menjadi takut duluan. Ia berpikir jika ia melakukan hal yang sama, ia akan ditegur. Hal yang lebih parah lagi adalah si B tak mau sekolah karena takut ditegur. Ada seorang dokter cantik datang ke psikolog. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di memorinya yang tak bisa ia hilang­ kan. “Saya waktu kecil gendut. Ada teman yang selalu mengejek

24 Februari - 2 Maret 2014

Depan Dua Lantai Belakang Tiga Lantai Memiliki lahan dengan posisi miring ternyata memberi berkah. Posisi ini membuat rumah menjadi unik. Hal ini terbukti di rumah dr. I Made Tangkas, Sp.OG. MPH. Rumah ini mempertahan­ kan kontur miring sehingga posisi rumah dari depan dan dari belakang tampak beda.

S

Foto: www.beritabali.com

saya. Ejekan itu selalu terngiang di benak saya. Setelah beranjak remaja, saya menjadikan ejekan itu sebagai penyemangat untuk melakukan perubahan. Saya diet dan berhasil menjadi kurus. Seka­ rang, tiap bertemu temen itu, saya menjadi trauma. Ada rasa jengkel. Padahal saya harusnya berterima kasih karena berkat dia, saya bisa berubah,” tuturnya kepada psikolog. Pengalaman trauma yang dia­ lami di masa anak-anak bentuknya bisa bermacam-macam. Jika tidak segera dihapus, memori itu akan mengganggu. “Anak yang ingin diceritakan tentang sesuatu oleh orangtuanya, tetapi orangtuanya bilang nanti…nanti…akhirnya membuat anak bosan. Anak bisa menilai orangtuanya tidak kooperatif. Akhirnya si anak pun menjadi anak yang pendiam dan tertutup. Ini juga trauma,” ungkap Ni Made Trisna Susanti, S.Psi, Psikolog. Dalam hal trauma, ada yang dikenal dengan post traumatic stress disorder (PSTD). Ini meru­ pakan gangguan stress yang tim­ bul berkaitan dengan peristiwa traumatis luar biasa. PSTD ter­ masuk gangguan kejiwaan yang berat. Untuk mengatasi PSTD ini telah dikembangkan terapi perilaku, hipnoterapi yang cukup efektif asalkan penderita menda­ pat dukungan dari lingkungan terdekatnya. Mengatasi trauma pada anakanak memerlukan keterlibatan orangtua. Apa yang terjadi seka­ rang pasti memiliki penyebab di waktu sebelumnya. Orangtua harus introspeksi jika mengamati anaknya menjadi pendiam. Trisna mengingatkan orangtua untuk belajar mendengar apa cerita dan keluhan anak serta memulihkan kondisi anak jika si anak meng­

alami trauma. Ini jika orangtua menyadari kesalahan ada di pihak mereka. Tetapi, jika tidak disa­ dari, anak akan selalu disalahkan. Trauma ini harus segera ditangani agar tidak selamanya mengendap di memori anak. “Penggunaan kata-kata seperti di tempat gelap ada hantu, kalau nakal ditangkap polisi menimbul­ kan trauma psikis bagi anak-anak. Begitu melihat tempat gelap, anak akan langsung berasumsi, ada hantu. Kalau mengatakan anak na­ kal ditangkap polisi sama artinya dengan ancaman. Lama kelamaan ancaman ini juga menimbulkan trauma. Memang ada orangtua yang menggunakan ancaman agar anak menuruti orangtua,” ujar psikolog di Biro Konsultasi

Psikologi Dian Selaras ini. Salah satu solusi untuk meng­ hapus trauma adalah dengan hipnosis. Melalui hipnosis, trauma yang selama ini tersimpan di memori bisa dihapuskan. Ketika proses hipnosis, ada yang sampai menangis untuk menghapuskan memorinya itu. Namun, satu hal yang diingatkan Trisna adalah penghapusan ini tidak bisa dipak­ sakan tetapi harus diminta oleh yang bersangkutan. Saat ini yang mulai dilakukan adalah self hypnosis. Metode ini membuat seseorang yang mengalami masalah melakukan terapinya sendiri tentunya setelah ia memahami apa itu hipnosis. Metode ini didukung magic com­ munication. Artinya, komunikasi

sebagai sesuatu yang sangat pen­ ting. “Misalnya ada orang yang sangat takut gelap. Orang itu bisa diingatkan penting nggak kata ge­ lap itu. Kalau tidak penting, kata gelap bisa diabaikan. Sebaliknya kalau kata yang tidak penting itu selalu dipikirkan dan diingat, itu­ lah yang akan menjadi penyakit,” ujar psikolog lulusan Universitas Muhammadiyah Malang ini. Hipnosis selain bisa dilakukan sendiri sebagai motivator un­ tuk bangkit dan membersihkan memori, juga bisa melibatkan orang yang memahami hipnosis. Namun, dalam kondisi ini, antara hipnotis dengan yang dihipnosis harus menyamakan persepsi dulu. Selain itu juga ada “izin” yang akan dihipnosis. –Ngurah Budi

Self hipnosis menjadi salah satu upaya untuk menghilangkan trauma

G R I YA

aat membeli lahan se­ luas 5,8 are ini tahun 2007, dr. Tangkas dan istri sudah mem­ bayangkan bentuk rumah rumah yang akan dibangun. Mereka mempertahankan kontur tanah yang miring ini. Pengurugan dan penyenderan hanya dilakukan di bagian bawah yang berbatasan dengan sungai. Selebihnya, ba­ ngunan yang menyesuaikan de­ ngan kontur tanah. Hanya ada dua bangunan di lahan ini. Bangunan utama seluas

810 m2 dan jineng yang juga berfungsi sebagai “wantilan”. Ba­ ngunan utama terdiri dari kamar tidur, ruang tamu, ruang karaoke, dapur, dan ruang praktik dokter. Uniknya, jika dilihat dari depan bangunan ini terdiri dari dua lan­ tai. Tetapi, jika masuk ke dalam lalu berdiri di jineng, bangunan utama terdiri dari tiga lantai. “Awalnya kami ingin rumah yang minimalis tradisional. Jineng merupakan bangunan wajib yang sudah kami pikirkan dari dulu,” ujar dr. Ni Made Sumiartini,

Kolam di belakang rumah

Ruang tamu

Sp.A, istri dr. Tangkas. Jineng ini multifungsi karena bisa dijadikan tempat latihan menabuh dan menari serta dijadikan tempat menyimpan peralatan dr. Tang­ kas yang juga penari topeng ini. Bagian atas dulunya dirancang un­ tuk kamar tidur, tetapi sekarang lebih banyak difungsikan sebagai kamar suci. Sebuah kolam renang dengan pemandangan ke sungai dan rerimbunan pohon membuat sua­ sana rumah ini sejuk. Di malam hari, suara serangga menjadi musik yang mengiringi tuan ru­ mah menuju peraduan. Sesibuk apapun, pasangan dokter yang dikaruniai empat anak ini selalu menyempatkan diri untuk me­ nikmati suasana rumah. Karena suasana yang nyaman ini, banyak kolega dan saudara yang berkun­ jung dan mengadakan kegiatan seperti arisan dan reuni. Tampak belakang rumah

–Ngurah Budi

Jineng sekaligus wantilan

Suasana dalam jineng

17


D AYA C I P TA

18

Kreasi Bunga Kering

Bunga merupakan perwujudan nyata dari rasa, kasih, sayang, cinta, syukur, hormat, senang/gembira/bahagia, sedih, duka dan rasa lainnya. Semua rasa tersebut bisa di­ wakili dengan bunga. Selama ada manusia selama itu pula memerlukan bunga. Ada dua jenis bunga yang umum dipakai, yakni bunga asli yang segar, dan bunga buatan. bunga. Buat beberapa banyak.

B

Asri di antara bunga kering kreasi “Indah Asri”

unga segar memi­ liki nilai lebih kare­ na kesegarannya serta warna dan variasinya sangat alamiah. Kebanyakan orang lebih menyukai bunga segar. Kelemahan­ nya, bunga segar tidak dapat bertahan lama, kurang dari seminggu sudah layu. Bunga buatan adalah bunga yang dibuat dari bahan-bahan apa saja seper­ti kertas, plastik, kain, kayu, log­ am, kristal. Selain dari bahan-ba­han tersebut, ada pula bunga yang dibuat dari bahan tumbu­ han pilihan melalui proses pengeringan, pengawetan, pewar­ naan kemudian di­ susun atau dibentuk menyerupai bunga dengan bantuan lem/ perekat. Bunga itu dis­ ebut bunga kering. Kreasi merangkai bunga kering adalah keahlian yang dapat dipelajari dan ditekuni sebagai hobi. Itu pula yang dilakoni Made Asri Restuastuti Kardha, S.P. ini bersama kedua orangtuanya. Di bawah bendera “Indah Asri (Dried Flo­wers)”, produk bunga kering­nya kerap di­ pamerkan di Bali, luar Bali, hingga ke Thailand. Mereka juga dipercaya memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat luas. Asri mengatakan, tak hanya bunga segar yang dapat dikeringkan, tapi juga buah-buahan, bijibijian, dedaunan, rantingrantingan, bahkan tumbuhan semak yang memiliki bentuk indah dapat dikreasikan menjadi hiasan bunga kering. Semua tergantung pada kreativitas untuk memanfaatkan dan memilih tanaman yang banyak tumbuh di sekeliling kita. Proses pembuatan bunga ker­ ing yang dilakukan adalah sebagai berikut: Pencarian Bahan Baku Bahan utama yang bisa dipakai untuk membuat bunga kering adalah bagian dari tumbuh-tumbuhan yang sebagian besar dianggap sebagai sampah atau limbah. Misalnya, bunga pisang-pisangan (heliconia), biji buah palm, buah mahoni, buah rotan, kelopak buah, pelepah, ranting-

ran­t ingan, akar-akaran, rumputrumpuan, dll. Disamping itu, ada pula beberapa bahan bisa didapatkan dengan cara membeli, seperti kulit (klobot) jagung dan daun lontar. Proses pengolahan Pemilihan Bahan Bahan-bahan yang sudah didapat, dipilih/sortir kembali. Bahan yang terlalu muda atau tua sebaiknya tidak dipergunakan, karena akan

dalam cairan pemutih, tiriskan, cuci atau bilas dengan air bersih, tiris­ kan dan jemur di bawah sinar matahari sampai kering Petik kelopak buah palem karena juga akan dimanfaatkan menjadi bunga. Rendam bahan dalam cairan pemutih, tiriskan, cuci atau bilas dengan air bersih, tiriskan dan jemur di bawah sinar matahari sampai kering Ranting buahnya juga dapat dimanfaatkan menjadi ranting atau cabang yang dapat dikombinasi dengan buah palem atau bahan lainnya. Kuncupkan ranting-ranting dari buah palem dengan bantuan tali supaya lurus. Tujuannya agar ranting rapi dan mempercantik hasil akhir dari bunga yang akan dibuat. Jemur dibawah sinar ma­ tahari sampai kering. Setelah ker­ ing, ranting dicat dengan menggu­ nakan cat mowilex warna cokelat. Setelah kering, semua bahan tadi (buah palem, kelopak buah palem, dan ranting palem) siap untuk dirangkai menjadi bunga. PALEM RENCE Cara membuat: Buah palem yang sudah dipro­ ses dan sudah kering, dibor Lem di ranting palem yg sudah dicat cokelat. Kira-kira 15 buah palem untuk satu tangkai. Sambung ranting palem yang sudah dilem dengan bambu

bahan yang direndam. Jika bahannya keras dan berserat, akan memakan waktu yang lebih lama. Bahan yang telah direndam, ditiriskan dan dicuci agar sisa-sisa cairan tadi hilang. Proses selanjutnya adalah pe­ warnaan. Pewarna yang dipakai untuk mewarnai bahan adalah pewarna tekstil dengan cara merebus bahan ke dalam cairan warna. Setelah diwarna, bahan dijemur kembali.

mempengaruhi mutu dari produk yang dihasilkan. Penjemuran Bahan Setelah disortir, bahan-bahan ter­ pilih dijemur di bawah sinar matahari. Proses ini memakan waktu yang relatif lama, tergantung dari bahan yang dijemur. Proses Pengawetan dan Pewarnaan Bahan yang telah dipilih, direndam di dalam cairan pemutih agar warna bahan yang tadinya cokelat ke­ hitaman, dinetralkan warnanya men­ jadi putih (krem). Disamping itu, ba­ han juga menjadi awet dan anti jamur. Lama perendaman tergantung dari

Proses Kreasi Pembentukan menjadi bunga Setelah benar-benar kering, bahan dirakit dan dibentuk se­ hingga menyerupai bunga den­ gan bantuan lem tembak. Cara membuat bunga lainnya yaitu dengan mempergunakan bantuan alat seperti alat border dan juga alat press. Kedua alat ini berfungsi untuk membentuk helaian daun atau bahan sehingga menyerupai kelopak bunga yang kita ingin rangkai. MEMBUAT BUNGA DARI BAHAN KULIT JAGUNG Kreasi ini adalah yang paling mudah dibuat, karena bahannya mudah didapat, dan pembuatannya bisa secara manual, tanpa bantuan alat khusus. Cara Membuat: Kulit jagung yang sudah diproses, dipotong-potong selebar ± 5cm Pelintir bagian tengah potongan kulit jagung, dijadikan satu, sehingga dapat membentuk seperti kelopak

Sisa-sisa potongan kulit jagung yang kecil-kecil, disusun dan di­ potong sampai halus untuk dijadikan sari bunga. Kelopak-kelopak bunga yang sudah dibuat, dirakit atau dirangkai sehingga menjadi bentuk bunga. Rapikan bagian bawah bunga, ke­ mudian tambahkan kawat dan bambu sebagai batangnya Dengan dasar pembuatan yang sama seperti diatas, kelopak-kelopak bunga yang terbentuk tadi dapat dirangkai menjadi beberapa jenis bunga lainnya sesuai dengan kreasi dan kreativitas masing-masing MEMBUAT BUNGA DARI BAHAN PALEM PUTRI Proses pembuatan: Buah Palem Putri yang sudah merah di pohon (hampir rontok), dipetik beserta rant­ ingnya. Petik buah palem satu-persatu, rendam buah palem dalam air agar mudah menguliti kulit­nya, rendam bahan buah palem putri yang sudah dikuliti

24 Februari - 2 maret 2014

24 Februari - 2 maret 2014

BUNGA MENUR Cara membuat: Buah palem putri yang sudah diproses dan sudah kering dibelah menjadi 2 bagian. Rapikan bekas potongan. Usahakan besar dan bentuknya sama. 2. Rangkai potongan buah palm di marigold (sari bunga) sehingga dapat menyerupai bentuk bunga dengan bantuan lem. KREASI BUNGA DENGAN BAHAN KELOPAK BUAH PALM PUTRI Cara membuat: Kelopak buah palm yang sudah diproses dan sudah kering, dihilang­ kan bagian bawahnya. Rence atau rangkai kelopak buah palem tadi di ranting palem, kloping kelapa, marigold atau buah palem ekor tupai dengan cara di lem satupersatu. -Inten Indrawati

l i f e s to ry

7

Satu Jam Sama dengan Satu Hari Tujuh tahun lalu, Gung Oka masih duduk di bangku SD kelas 5. Jarak dari rumah ke sekolah biasa ia tempuh hanya beberapa menit dengan ber­ jalan kaki. Untuk itu ia harus melewati pematang sawah, meniti jembatan kayu di tengah tegalan bambu, baru kemudian sampai di sekolahnya yang berada di antara permukiman penduduk di Ke­ robokan. “Bisa juga lewat jalan besar, tapi jalan­ nya agak jauh. Saya jalan kaki ke sekolah, jadi lewat jalan itu saja,” kisahnya.

S

ama seperti hari-hari sebelumnya, hari itu Gung Oka juga melalui jalan yang sama. Ketika hen­ dak melewati jembatan, tiba-tiba Gung Oka dipanggil enam bocah lakilaki sebayanya. “Gung, sini dulu,” ujar salah seorang di antaranya. Gung Oka menjawab,”Ndak, saya mau sekolah”. Bocah tadi kembali menyahut,”Nanti saya yang bilang sama orangtua. Besok saja sekolah,” ujarnya lagi kepada Gung Oka untuk meyakinkan. Akhirnya Gung Oka setuju, ia diajak bermain ke rumah bocah-bocah itu. “Tempatnya tak ter­ lalu jauh, kami berjalan kaki. Rumahnya sama seperti rumah-rumah biasa, tapi rumah dia yang paling bagus, berukiran Bali. Saya lihat di sana tidak ada motor,” ungkapnya. Sesampai di rumah bocah itu, Gung Oka diperkenalkan dengan ayah dan ibunya. Oleh mereka, Gung Oka sempat ditawari makan siang, namun Gung Oka menolak. Begitu juga saat ditawari minum. “Tidak, saya sudah bawa bekal minuman,” sahutnya. Se­ lanjutnya, keenam bocah sebayanya itu mengajak Gung Oka bermain kelereng dan memancing. Hari menjelang sore, Gung Oka diantarkan pulang, hanya sampai di ujung jembatan, tempat mer­ eka menjemput Gung Oka tadi. Gung Oka diberikan uang Rp 75 ribu, yang kemudian langsung dimasukkan Gung Oka ke saku celana sekolahnya. Saat melewati pematang sawah, ia teringat dengan satu lembar uang Rp 50 ribu, satu lembar uang Rp 20 ribu, dan satu lembar uang Rp 5 ribu yang tadi diberikan temannya itu. Ketika ia merogoh kantong celananya, Gung Oka hanya mendapati tiga lembar daun bambu di sana. Ia sempat heran dan membuang daun-daun itu begitu saja. Sekitar pukul 16.00 Gung Oka sampai di rumahnya. Sekembalinya Gung Oka, orangtuanya langsung me­ meluknya. Mereka tampak cemas dan marah. “Kemana saja kamu empat hari hilang dari rumah,” tanya sang ibu. “Kok empat hari? Saya kan cuma pergi sehari sampai sore saja,” sahutnya. Gung Oka pun menceritakan pengalamannya tadi kepada orangtuanya yang mengaku bingung mencarinya kemana-mana. Keesokan harinya, Gung Oka sakit mata yang tak kunjung sembuh sampai lima hari. Oleh ibunya, ia diajak berobat ke balian (orang pintar), sekalian me­ nanyakan perihal menghilangnya Gung Oka selama empat hari tersebut. Oleh

balian itu, sakit matanya hanya ditetesi tirta/air suci yang selanjutnya berangsurangsur membaik dan sembuh. Balian itu juga mengatakan bahwa meng­ hilangnya Gung Oka selama empat hari itu dikarenakan engkebin memedi (di­sembunyikan wong samar/makhluk halus/astral). Untuk itu, ia dibuatkan banten panebusan yang dihaturkan di jembatan itu. Setelah kejadian itu, Gung Oka tak berani lagi melewati jalan ­pintas itu menuju ke sekolah. Sejak saat itu pula, Gung Oka selalu diantarjemput sekolah oleh ibunya. “Percaya tak percaya, memedi atau wong samar itu ada. Dunia mereka sama dengan dunia manusia. Hanya saja, tanah di sana berwarna agak merah kecoklatan seperti tanah liat dan per­ mukaannya kenyal jika diinjak. Di atas tanah kurang lebih sampai sejengkal agak berasap. Di sana juga mengenal beberapa suku, sama seperti di dunia manusia. Perbedaan waktunya, satu jam di dunia gaib sama dengan satu hari di dunia manusia,” ungkap Jero Mangku Batur yang oleh masyarakat luas lebih dikenal dengan sebutan Jero Mangku Gamang, karena kemampuannya ber­ interaksi dengan makhluk halus. Ia memaparkan, apa yang ada di dunia manusia, juga ada di alam gaib, kecuali kendaraan bermotor. Di alam gaib, kendaraan mereka adalah ujung daun pisang dan yang paling hebat ada­ lah patahan batu bata. Mereka tinggal duduk di atasnya dan memerintahkan arah tujuan mereka. Terkait pohon pisang, Jero Mangku mengingatkan untuk tidak menanam­ nya di halaman depan rumah. Itu juga berlaku untuk pohon beringin, bunut, dan pule. “Tiap memetik buah pisang, tebang semua batangnya. Karena, batang pisang yang masih berdiri ini kerap dipakai teluh (santet), makhluk alam gaib pun senang di sana. Si pemilik rumah bisa sakit,” ingatnya. Jero Mangku yang belum lama ini juga dipercaya mengawal syuting alam gaib dalam siaran “Mr. Tukul Jalanjalan” yang mengambil lokasi di Bali, mengatakan di alam gaib mengenal lima wangsa yakni samar, gamang, memedi, tonya, dan rerek tungek (sundel bolong). ­Mereka senang menempati rumah kosong, pohon bambu/pinggir sungai, pohon-pohon rindang yang di­ pakai berteduh di pinggir sungai seperti beringin, pule, bunut, kepuh. Ia juga kerap dipercaya masyarakat untuk mencari orang hilang, terutama

Jero Mangku Gamang

dari kawasan bendungan di Mambal sampai Tangtu, yang termasuk di dalam­ nya di antaranya jembatan Sungai Ayung di Jalan Padma dan Bendungan Oongan yang terkenal angker. Seperti beberapa tahun lalu, ada anak kecil tenggelam di sungai ayung dekat Pura Beji. Setelah berinteraksi dengan penunggu alam gaib di sana, Jero Mangku mendapat­ kan petunjuk untuk mencari korban di Bendungan Oongan. Tepat pukul 09.00 keesokan harinya, korban menyembul dari permukaan air di bendungan t e r­

sebut. Selain itu, ia juga sering dim­ inta bantuan un­ tuk hal-hal berbau magis lainnya. “Sebentar ini saya harus berangkat, katanya di kantor sering kehilangan,” ujar Jero Mangku yang sore itu sudah bersiap-siap be­ rangkat menuju perkantoran yang tak mau ia sebutkan namanya tersebut. ALAM GAIB Jero Mangku di Pura Batur Kelawas­

an Pasung Gerigis, Tonja ini mengisah­ kan ikhwal dirinya mampu berhubungan dengan alam gaib. Dulu, saat ia masih kelas 1 SD, saat Nyepi, penerangan hanya dengan menggunakan lilin. Ia bermain memati dan menghidupkan lilin. Namun saat lilin ditiup, ia dipanggil kakek-kakek. Ia mengikuti kakek-kakek itu sampai ke arah sungai. “Saya sudah nyemplung ke sungai sampai air sebahu, langsung ditarik orangtua saya. Rupa­ nya, sedari tadi mereka membuntuti saya,” ujarnya. Setelah Jero Mangku dibawa kem­ bali pulang, selang dua jam ia kembali dijemput kakek-kakek itu sekitar pukul 23.00. Ia diajak ke Pura Beji Desa Tonja dekat jembatan di Jalan Padma. Ia diberi­ kan mainan bagus-bagus, diperlihatkan rumah-rumah bagus berkilau dari emas, perak dan perunggu. Kakek itu hanya memperkenalkan alam gaib kepadanya dan mengatakan jika mau masuk harus ada tanda pengenal. “Bentuknya seperti lempengan tembaga berukuran 4 cm x 2,5 cm. Lempengan itu dimasukkan ke sebuah batu yang ada pecahannya yang secara alam gaib merupakan pintu gerbangnya. Kinerjanya mirip seperti kartu ATM. Ketika saya masukkan itu, pintu terbuka sedikit, saya lihat terang dan merah, saya kaget, lalu mencabut paksa lempengan itu sehingga patah. Karena itu, di sana saya dipanggil Jro Gede Compeng,” paparnya. Saat kelas 2 SMP ia juga pernah hilang di Lapangan Lumintang, Den­ pasar. “Saya melihat teman-teman lari,

tetapi saya berpikir kenapa saya tidak dipanggil-panggil. Ternyata mereka tak meliahat saya, hanya saya yang bisa lihat. Akhirnya, saya ditemukan guru olahraga saya di pinggir sungai dekat lapangan,” kisahnya. Ada juga pengalamannya saat mengikuti ujian di STM Rekayasa. Ia heran, padahal sedari tadi ia masih di lapangan dan baru saja masuk kelas, soal-soal ujian di mejanya sudah terisi. Alhasil hasil ujiannya betul semua. Kepala sekolah curiga dan memintanya mengikuti ujian ulang di kantor kepala sekolah. Saat mengerjakan soal itu seolah-olah ada yang menggerakkan tangannya. “Dari beberapa soal itu, sengaja dibuat salah lima, biar guru tak curiga lagi,” ujarnya. Kejadian-kejadian mistis itu kerap berulang hingga ia menginjak bangku SMA. Setelah ditanyakan ke balian, ia dikatakan memang disenangi oleh alam gaib, karena kakeknya (alm.) sudah mengizinkan/mewarisi kemampuannya untuk bisa mengetahui alam gaib. Oleh orangtuanya, Jero Mangku dibuatkan otonan besar di antaranya di sungai, di laut, di perempatan, di pura desa, di dapur, di sumur, di merajan, dan di bale. Setelah dibuatkan otonan itu, ia jarang hilang lagi. “Di alam gaib tidak suka keributan. Mahluk-mahluk gaib tak suka mendengar kata-kata keras, kotor dan jorok. Karena itu, hati-hati bersikap khususnya di tempat-tempat yang dikatakan angker, ” ingatnya. –Inten Indrawati


l i f e s to ry

6

24 Februari - 2 maret 2014

Makin Keras Tangisan Makin Keras Siksaan Setelah mandi dan berdandan, Karisa (25), nama samaran, keluar dari kamar kostnya. Ia tersenyum ramah. Wajahnya yang hitam manis disapu bedak dan gincu tebal membuat dandanannya mencolok menor. Sesekali rekanrekan­nya menyapa sambit tertawa-tawa. Hidup Karina kini tampak riang setelah meng­ alami trauma siksaan majikannya beberapa tahun lalu. Namun, keriangan Karina hanya pada wajahnya, tidak pada hatinya. Bagaimana tidak, bebas dari siksa majikan, ia terjerat ke dunia hitam pelacuran. Sesekali, mata Karina basah saat berkisah namun ia berusaha tegar.

I

a dibesarkan orangtua yang memiliki 12 anak dalam situasi kehidupan ekonomi tidak mampu. Orang tuanya hanya petani sayur yang tidak memiliki lahan. Sepetak lahan ukuran kecil yang dipinjamkan orang lain menjadi tempatnya menanam sayuran tersebut. Kerja serabutan dengan penghasilan kecil dijalani keluarga ini. Karina adalah anak ke 5 dari 12 bersaudara. Ia sempat mengenyam pendidikan hingga bangku SMP. ”Karena tidak punya biaya, saya dan saudarasaudara saya hanya mampu sekolah sampai SMP bahkan ada yang hanya lulus SD saja, waktu itu,” ujarnya. Mereka semua kerja serabutan demi menghidupi diri masingmasing. Tahun 2004, ia meninggalkan kampung halamannya mencari pekerjaan ke Sulawesi. Kepergian­ nya ke Sulawesi bisa dikatakan sebagai pelarian karena ia menolak dikawinkan usai lulus SMP. ”Mungkin orangtua saya merasa agar saya terbebas dari kemiskinan dan beban mereka berkurang jika kami anakanaknya menikah di usia belia,” katanya. Ia sama sekali tidak menyalahkan orangtuanya, ia maklum sepenuhnya. Namun, Karina, menolak menikah belia, ia lari ke Sulawesi hingga akhirnya ke Lombok. Dengan penuh keberanian ia berangkat ke Makassar mengikuti beberapa kawan lainnya yang mempunyai tujuan sama, mencari pekerjaan. Ia termasuk beruntung karena hanya dalam hitungan minggu, ia telah berhasil mendapat pekerjaan pertama sebagai penjaga rumah dengan gaji Rp 500.000/bulan. Itu berlangsung selama empat bulan. Sebagai anak yang lumayan pintar, ia memilih keluar dari pekerjaan itu dan ikut kursus baby sitter di sebuah yayasan. ”Katanya gaji sebagai peng­ asuh bayi lebih besar, makanya saya ikut kursus dan meninggalkan pekerjaan sebagai penjaga rumah orang” katanya. Ia terbilang terampil, sehingga begitu selesai menjalani kursus, ia langsung bisa bekerja di beberapa tempat dengan gaji rata-rata Rp 700.000. Ia bekerja dari satu rumah ke rumah lainnya mengurus bayi. Ia merasa bahagia dan tertolong hidupnya karena di samping ia sendiri bisa mulai menikmati kehidupan yang sedikit mulai enak, ia juga bisa mengirimkan uang tersebut sebagiannya untuk biaya sekolah adiknya. ”Tiap bulan saya bisa kirim uang untuk membiayai adik saya sekolah,”

ungkapnya polos. Suatu hari di Juni 2008 lalu, ia bekerja pada sebuah keluarga kaya, Tantri (39), bukan nama sebenarnya, untuk mengasuh anak mereka yang berusia 13 bulan. Belum lagi sebulan ia bekerja di rumah Tantri, keluarga ini pindah ke Manado. Tantri mengajaknya ikut dengan gaji yang cukup besar. Karena tergiur dengan janji gaji Rp 1 Juta/bulan, gadis lugu bertubuh kurus ini, mau ikut majikannya tersebut. Tiba di Manado, ia mulai menjalani pekerjaannya mengasuh bayi tersebut. Entah apa yang terjadi, ia tiba-tiba menemukan majikannya itu suka kalap tanpa sebab. Lima hari pertama bekerja, ia sudah mulai disiksa, tanpa tahu kesalahan­ nya. Peristiwa yang sama terus berlangsung sepanjang hampir delapan bulan. Ia mau keluar dan lari dari rumah tersebut kebingungan mau ke mana. Ia sama sekali tidak mengenal kota tersebut. Selain itu, ia tahan menderita karena janji gaji besar itu belum juga diberikan. ”Saya sangat berharap gaji itu dapat diberikan agar saya bisa mengirimkan untuk adik dan orangtua saya di kampung,” katanya sedih. Matanya berkaca, ia menangis. Ia memang kebingungan menentukan sikapnya karena majikannya tinggal selalu berpindah-pindah. Hingga akhirnya pindah ke Lombok. Pernah ia minta pulang, namun tidak pernah diizinkan. Pernah pula ia berusaha kabur, namun jalan keluar tidak setitik pun ia temukan. Kelakuan majikannya semakin menjadi-jadi ketika tinggal di Lombok. ”Rumah selalu terkunci rapat-rapat. Jika majikan pergi, saya terkunci di dalam rumah,” katanya. Selama delapan bulan,ia disekap, sama sekali tidak pernah menerima gaji sekali pun. Padahal pekerjaannya bukan hanya sebagai baby sitter seperti pada perjanjian kerja, melainkan semua urusan rumah tangga. Ia mengerjakan semua hal karena majikannya tidak memiliki pembantu lain kecuali dirinya. De­ ngan pekerjaan yang berat ter­ sebut, ia mengaku hampir-hampir tak sanggup melakukannya. ”Saya hanya diberi makan nasi dan telur setiap hari selama bekerja. Kalau pun ada sayur sisa beberapa hari lalu di kulkas, barulah saya makan sayur,” katanya. Deritanya menjadi semakin hari semakin tak sanggup ditanggungnya. Ia kerap dipukuli di sekujur tubuhnya hingga kepala, dijambak

rambutnya, dicakar bahkan diputar lehernya. Bukan hanya dengan ta­ ngan ia disiksa, dengan sapu, gun­ting atau alat lain yang dekat dengan majikannya saat marah, kerap mampir ke tubuhnya. Bahkan ia pernah disiram air panas. ”Penyiksaan itu selalu terjadi saat ada kesalahan kecil yang tidak sengaja saya buat. Tidak ada badan saya yang tidak sakit saat ini,” katanya. Dalam sakit dan luka yang dalam, Karisa hanya bisa pasrah mengingat ia tak boleh menangis apalagi melawan. ”Kalau menangis tambah keras saya di­

pukul, diinjak, dibanting dan dihajar. Siksaan makin keras juga. Makanya untuk minta pulang lagi, saya tidak berani,” katanya. Hal inilah yang membuat ia nekad melarikan diri pada suatu subuh. ”Begitu ada kesempatan, dinihari itu, saya lari keluar rumah meski saya tidak tahu harus ke

mana,” katanya. Sebelum ia melarikan diri subuh itu, malam harinya ia mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari menidurkan bayi, setrika, membersihkan rumah, menyeterika, mencuci pakaian, memasak nasi dan lain-lain hingga larut malam. Dinihari pukul 01.00 ia melihat majikannya sudah tertidur pulas. Diam-diam ia membereskan pakainnya dan mengambil kunci untuk kemudian kabur saat itu. Tidak ada rasa takut ketika ia harus berlari meski ia belum mengenal Lombok. Namun, ia ingat, suatu hari ia pernah diajak majikan­nya keluar bersama dan ia melihat ada kantor polisi dekat sekali dari rumah majikannya itu. ”Saya lari mencari kantor polisi itu,” ujarnya. Menenteng dua tas di pundak, ia menuju kantor polisi. Kebetul­ an di tengah jalan ia bertemu anggota polisi dan membawa serta menyelamatkannya. Dengan wajah lebam, leher terdapat luka cakaran dan mata masih terlihat merah akibat pukul­ an majikannya, ia mengaku sedih mengingat keluarganya kala itu. Ia bahkan tidak berani mengabarkan berita duka tersebut kepada orang-

tua dan keluarganya. Semua polisi yang melihatnya malam itu tampak kasihan padanya. Ia diberi makan dan selimut serta menginap di kantor polisi. Ia diperlakukan dengan baik sehingga ia merasa itulah hari pertama ia merasa nyaman hidup setelah delapan bulan ia hidup bagai dalam neraka. Ia juga divisum di Rumah Sakit Kemala Hikmah Mataram. Kepolisi­an juga langsung meng­hubungi sebuah lembaga perlindungan perempuan untuk membantunya menangani kasus ini. Karisa pun mendapat bantuan hukum se­kaligus penanganan kesehatan di RS Islam Siti Hajar Mataram. Ia tidak ingin ketemu siapa-siapa. Beberapa lama kemudian kondisi emosi dan psikologinya stabil namun ia sama sekali tidak ingin bertemu dengan majikannya yang sudah beberapa kali ingin minta ketemu. ”Saya tidak mau berdamai, majikan saya harus dihukum,” katanya. Hingga akhirnya majikannya itu menjalani hukuman. Setelah semua selesai, ia tidak tahu harus ke mana. Ingin pulang ke kampung halaman, sangatlah mustahil baginya yang sudah terlanjur malu telah meninggalkan keluarganya. ”Saya jalan ke sana ke mari, malu terlalu lama bergantung hidup pada lembaga itu,” ujarnya. Karisa sempat stres berat meng­ hadapi situasi itu sampai ia bertemu seorang perempuan yang menjadi mucikari.”Pilihan sulit yang akhirnya harus saya jalani,” katanya menutup obrolan. -Naniek I. Taufan

24 Februari - 2 maret 2014

S U D U T PA N D A N G

19

Orangtua Korbankan Anak? Kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi Rabu (5/2) di Jalan Raya Lukluk membuat masyarakat miris. Pelakunya siswi SMP yang diduga baru belajar menyetir. Dua korban tewas dalam kecelakaan tersebut. Kasus yang melibatkan siswa SMP pernah terjadi 28 Oktober 2011. Kecelaka­ an akibat out of control di Renon ini mengakibatkan dua pelajar SMP tewas. Di Jakarta, kasus kecelakaan di tol Jagorawi, 8 September 2013 menghebohkan karena tersangkanya AQJ (13 tahun), anak musisi Ahmad Dhani. Kecelakaan ini menyebabkan delapan nyawa melayang.

“K

ami punya aturan di sekolah. Siswa tidak boleh membawa sepeda motor atau mobil ke sekolah. Aturan ini sudah tertulis dalam buku saku dan disepakati orangtua. Jika melanggar, ada pemotongan poin. Kenyataan di lapangan banyak siswa yang membawa motor atau mobil. Karena sekolah melarang, mereka parkir di halaman kantor DPD Golkar Bali atau di areal parkir Pura Jagatnatha,” ungkap Drs. AA Gd. Agung Rimbya Temaja, M.Ag., Kepala SMP 1 Denpasar. Setelah ditelusuri, banyaknya siswa yang melanggar itu tak lepas dari faktor orangtua. Alasan orangtua, tidak bisa mengantarkan anaknya sekolah dan jarak sekolah dari rumah jauh sehingga anak diberi sepeda motor atau mobil. Parahnya lagi ketika diadakan razia, siswa yang berusia di bawah 17 tahun ini sudah memiliki SIM. “Mungkin orangtua nego buat SIM atau lainnya. Dari dulu masalahnya begini saja tapi tidak ada tindak lanjut,” ujarnya dalam diskusi terbatas “Kecelakaan Lalu Lintas di Kalangan Pelajar” yang digelar Mingguan Tokoh, Selasa (18/2). Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali I Made Rai Ridartha, ATD, Dipl.UG, MEngSc mengatakan, ia tidak heran kalau kecelakaan lalu lintas banyak dan tingkat fatalitas sangat tinggi. Mengapa? “Kare­ na perilaku berlalu lintas kita buruk. Contoh, pelanggaran. Usia kepemilikan SIM tak cukup tapi bisa punya SIM. Selain itu, karena kita tidak memenuhi perlengkapan keselamatan berkendara. Sudahkah memakai helm secara benar? Sabuk pengaman diabaikan, ramburambu lalu lintas tidak dihiraukan. Pelanggaran-pelanggaran inilah yang memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas. Kalau ada kecelakaan, jangan salahkan siapa-siapa,” katanya. Dulu diprediksi, kecelakaan lalu lintas sebagai penyebab kematian nomor dua akan terjadi tahun 2020. Tetapi, kenyataannya saat ini sudah menjadi peringkat kedua. Tahun sebelumnya, berada di peringkat ketujuh. Wadir Lantas Polda Bali AKBP Heri Armanto Sutikno, S.H., M.Si. mengakui, banyak kasus-kasus kecelakaan yang terjadi di Bali yang melibatkan pelajar. Pelajar menduduki peringkat kedua korban kecelakaan lalu lintas dari segi profesi, yaitu sebesar 761 orang pada tahun 2013. Dari sisi usia pelaku kecelakaan lalu lintas, pelaku berusia 10-15

tahun sebanyak 107 orang dan usia 16-25 tahun sebanyak 740 orang. Pelaku berusia 16-25 tahun ini berada di peringkat pertama dari sisi jumlah kasus. “Data WHO menunjukkan Indonesia berada di peringkat kelima jumlah korban meninggal terbanyak karena kecelakaan lalu lintas. Di Bali, tahun 2013 terjadi 2.127 kecelakaan dengan korban meninggal dunia 564. Jika dirata-rata, tiap hari ada dua nyawa melayang akibat kecelakaan lalu lintas,” paparnya. Sebagai upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas, Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 4 tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan. Dari Inpres itu, disebutkan Kapolri bertanggung jawab untuk memperbaiki perilaku pengguna jalan melalui pendidikan keselamatan berlalu lintas, meningkatkan kualitas sistem uji SIM, dan penegakan hukum di jalan, serta mengembangkan sistem pendataan kecelakaan lalu lintas. “Kami tentu tidak bisa bekerja sendiri. Perlu kerja sama dengan pihak lain. Contoh, kepemilikan SIM oleh anak di bawah usia 17 tahun. Kami mohon data dari sekolah siapa saja siswa SMP yang sudah memiliki SIM. Kami akan telusuri, bagaimana dia bisa mendapatkan SIM. Selama ini, dari pengalaman yang ada, pencari SIM ini menggunakan KTP sementara. Kami akan terus memperbaiki sistem agar pencari SIM benar-benar terseleksi. Petugas kepolisian pun akan kami tindak tegas jika terbukti melakukan pelanggar­an dari proses pembuatan SIM,” kata pria kelahiran Jakarta, 14 Mei 1969 ini. Dalam upaya meningkatkan kualitas uji SIM, Heri mengatakan, ujian teori dan praktik harus dilalui. Lalu, bagaimana kasus jika peserta ujian teori dan praktik tidak meminta bantuan petugas mereka tidak lulus, tetapi kalau dibantu petugas, mereka bisa lulus? “Kalau ada yang seperti itu, tolong dilaporkan,” katanya tegas. Menurut Heri, semua pencari SIM harus lulus ujian teori dan praktik. Jika tidak lulus, mereka punya waktu dua minggu berikutnya untuk mengikuti ujian ulang. Kepolisian juga sedang mengkaji merit point system. “Nanti ada sistem poin bagi pengendara. Jumlah pelanggar­ an dihitung dan berpengaruh terhadap kepemilikan SIM mereka. Misalnya, SIM ditahan, tidak bisa memiliki SIM baru, dsb.,” ungkapnya. Pelanggaran yang mudah ditemukan misalnya, angkutan barang yang digunakan mengangkut orang, berhenti di zebra cross, berbon-

AA Gd. Agung Rimbya Temaja

Heri Armanto Sutikno

I Made Rai Ridartha

cengan lebih dari dua orang, memutar arah. Selain itu, dari sisi perlengkapan kendaraan banyak ditemukan pelanggaran spion, tidak menggunakan helm, dsb. “Pelajar banyak yang tidak pakai helm,” ungkap Heri. Jumlah kasus pelanggaran lalu lintas dari kalangan pelajar tahun 2013 mencapai 12.513 naik 469 kasus dibandingkan tahun 2012 sebesar 12.044 pelanggaran. Jika dilihat keseluruhan, kasus pelanggaran yang dilakukan pelajar satu-satunya pelanggaran yang mengalami kenaikan pada tahun 2013 dibandingkan pelanggaran yang dilakukan profesi lain seperti PNS dan karyawan swasta. Ketika dihadapkan pertanyaan apakah saat mengenakan pakaian adat, boleh tidak mengenakan helm, Kombes Heri dan Rai Ridartha mengatakan ada kebijakan khusus yang berlaku di Bali. “Jika mengenakan pakaian adat boleh tidak mengenakan helm tetapi hanya untuk jarak dekat, paling jauh 10 km dan batas kecepatan 20 km/jam. Bagi umat muslim, kebijakan ini berlaku pada hari Jumat,” ujar Rai. Bagi pelajar, kesempatan ini kadang dijadikan alasan untuk tidak mengenakan helm, apalagi tiap purnama dan tilem siswa di Bali mayoritas menggunakan pakaian adat. “Walaupun ada aturan itu, sedekat apa pun, potensi kecelakaan ada. Soal ini, ada dua kubu; yang tetap pakai helm dan tidak pakai helm saat berpakaian adat,” ungkapnya. “Alasan orang tidak pakai helm saat pakai baju adat karena kalau sudah pakai baju adat, kita dilindungi Tuhan. Saya tunjukkan gambar siswi kecelakaan saat pakai baju adat. Alasan lain, kepala tidak suci kalau pakai helm. Tiap masuk pura, kita disucikan pakai tirta. Alasan lain, takut helm hilang di pura. Ini kan masalah kriminalitas. Yang belum bisa saya jawab, kalau pakai sanggul. Sedangkan bagi yang tetap memakai helm saat berpakaian adat karena keselamatan dan kebersihan. Yang pakai helm, wajah lebih bersih,” papar Rai Ridharta. AKBP Heri juga menuturkan pen-

Yohanes Kartika Herdiyanto

I Nyoman Sadha

I Nyoman Subrata

galamannya mengenai sulitnya memasukkan kurikulum lalu lintas ke dunia pendidikan di Bali. Ketika ber­tugas di Kalimantan, ia melakukan kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan pemerintah kabupaten. Lalu lintas bisa masuk kurikulum bahkan modul untuk siswa diperbanyak melalui anggaran yang ditetapkan di APBD. “Di Bali kami sudah mencoba untuk melakukan terobosan ini tetapi belum berhasil. Yang sudah terlaksana hanya pemberian sosialisasi saat masa orientasi siswa (MOS),” ujarnya. Menurut Rimbya Temaja, sulitnya materi lalu lintas masuk dalam kurikulum disebabkan sudah padatnya materi kurikulum. Solusinya, diberikanlah waktu saat MOS. Pola ini sudah diterapkan di sekolah. Tiap Senin juga ada upacara yang inspektur upacaranya dari kepolisian. Drs. I Nyoman Subrata, M.M. mengakui masalah kurikulum lalu lintas ini sudah sempat dibahas. “Kami akan bahas lagi nanti sekalian berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga di kabupaten/kota. Beberapa sekolah sudah mengaplikasikan pen­ tingnya pemahaman berlalu lintas dalam sosialisasi saat MOS dan menyelipkan di beberapa mata pelajar seperti Pendidikan Kewarganegaraan dan Budi Pekerti,” ujar Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Bali ini. Menurut Rai Ridartha, sosialisasi kepada siswa tentang keselamatan berlalu lintas jangan hanya saat MOS. “Edukasi ini harus terus diberikan, seper­ti memberikan pelajaran matematika kepada siswa. Apakah kita mau nyawa anakanak melayang akibat kecelakaan lalu lintas? Jika nyawa itu penting, sepadat apa pun, pendidikan lalu lintas harus masuk dalam kurikulum. Di seluruh dunia, pendidikan berlalu lintas sangat penting,” tegasnya. Pria asal Pejeng, Gianyar ini menyoroti orangtua yang berkontribusi jika anaknya yang masih di bawah usia 17 tahun diizinkan mengendarai motor atau mobil lalu kecelakaan. Orangtua bisa dikenakan sanksi karena melakukan pembiaran. Jika dirunut ke belakang, orangtualah yang memberikan fasilitas itu. Seharusnya orangtua tegas untuk melarang, jangan memberikan anak mengendarai kendaraan sendiri jika belum cukup umur. “Kalau alasan orangtua sibuk, kembali pada hakikat. Apakah karena kesibukan lalu orangtua rela mengorbankan anaknya?” tanyanya retoris. Yohanes Kartika Herdiyanto, Kepala Bagian Psikologi Industri/Organisasi dan Sosial Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana menjelaskan, ketika aturan sudah dibuat, aturan itu harus diikuti. Kalau ada larangan mengendarai kendaraan bagi anak di bawah usia 17 tahun, maka orangtua yang harus bertanggung jawab untuk mengantar anak.

Kalau orangtua membiarkan anaknya mengendarai kendaraan sendiri, itu mengawali ketidakdisiplinan. “Perilaku orangtua akan memengaruhi anak. Anak akan mencontoh orangtua. Anak yang fisiknya besar belum tentu psikisnya stabil. Karena itu, fisik tidak bisa dijadikan ukuran untuk memberikan anak boleh mengendarai kendaraan,” tandasnya. Ia pun sepakat dengan apa yang disampaikan Rai Ridartha, perilaku berlalu lintas orang Indonesia umumnya sangat buruk. Apalagi remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan. Begitu disalip, mereka langsung emosi dan ikut ngebut. Emosi inilah yang harus dipahami orangtua sebelum memberikan kunci dan kendaraan kepada anaknya. Pengaruh kelompok sebaya juga kerap dijadikan acuan oleh anak-anak. “Ada anak yang minder tidak naik motor padahal teman sebayanya sudah naik motor. Dalam kondisi ini, orangtua harus tegas dan disiplin. Sikap tegas orangtua ini kerap dianggap tega banget sama anak. Tapi jangan salah, di balik tega itu ada pendidikan dan pendisiplinan. Jangan berikan motor untuk anak yang belum cukup umur. Kita harus berpatokan ada aturan. Kadang memang ada anak yang mengatur orangtuanya,” tegas dosen dan peneliti kelahiran Kediri, 7 Mei 1981 ini. “Fenomena yang terjadi sekarang ini sangat kompleks. Orangtua sibuk kerja, tidak bisa antar-jemput anak. Kalau memang tidak bisa, carikan tukang ojek atau suruh naik angkutan umum. Sekarang orangtua cenderung melepas anaknya. Contoh kecil, dulu saya sering mendapat cerita rakyat (satua) dari orangtua,” ujar I Nyoman Sadha, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Bali. Ia menambahkan, jika anak di bawah 17 tahun mengendarai kendaraan sendiri lalu kecelakaan, orangtuanya bisa dijerat hukum. Misalnya, seorang ibu menyuruh anak sulungnya membeli nasi. Karena malas, anak sulung ini menyuruh adiknya atau anak bungsu untuk membeli. Ternyata anak bungsu ini kecelakaan dan mengakibatkan orang meninggal. “Jika dilihat dari teori sebab-akibat, semua komponen ini sebagai penyebab, mulai dari si ibu sampai anak bungsu. Tetapi Indonesia menggunakan teori keseimbangan. Siapa yang paling terakhir, itulah yang bertanggung jawab. Bagi saya, seharusnya orangtualah yang paling bertanggung jawab karena dia tahu semua perilaku anaknya dan kadang melakukan pembiaran,” tegas mantan jaksa ini. AKBP Heri menambahkan, pembagian kesalahan pada kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak di bawah umur sedang dikaji. “Kalau memenuhi persyaratan, akan diterapkan. Orangtua bisa dikenai hukuman juga,” katanya. – Ngurah Budi


NINE

20

24 Februari - 2 Maret 2014

ini, menurut para pembuatnya, ditemukan sepanjang proses pembuatan pangaha bunga yang sudah berlangsung puluhan tahun. Hanya saja, ada satu keaslian dari pangaha bunga yang jarang ditemukan saat ini, yakni bentuknya. “Pangaha bunga yang asli, bentuknya berupa tiga tangkai dengan dua kelopak bunga di masing-masing tangkainya,” kata Masitah. Pangaha bunga yang ada sekarang telah berubah bentuknya menjadi yang lebih praktis, yakni tiga kelopak bunga saja atau berbentuk seperti tiga cincin. “Pangaha bunga yang asli berupa tiga tangkai dengan dua kelopak bunga di masing-masing tangkainya, hanya bisa didapat kalau ada pesanan khusus,” kata Masitah. Perubahan bentuk ini terjadi, diungkapkannya karena pangaha bunga saat ini lebih sering dijadikan oleh-oleh keluar daerah, seperti Jakarta, Mataram, Makassar dan Jawa. Bentuk asli pangaha bunga berupa tiga tangkai dengan dua kelopak bunga di masing-masing tangkainya, lebih besar dan memakan banyak tempat sehingga agak rumit jika dikemas. Demikian juga untuk acara-acara, pangaha bunga dengan bentuknya yang asli sulit dikemas dalam wadah-wadah mika praktis yang banyak saat ini. Karena itu, bentuk pangaha bunga sekarang menjadi tinggal masing-masing tiga kelopak. Bentuk ini diakui lebih praktis dan aman dari patah karena mudah dikemas

Proses penggorengan Pangaha Bunga baik dalam kardus maupun wadah mika. Kalau patah, harga pangaha bunga akan sangat jatuh, bahkan orang tidak mau membelinya. Meski bentuknya kini telah berubah dari aslinya, ada satu kekhasan pangaha bunga yang hingga saat ini yang masih dimiliki jajanan tradisional ini, yakni, bentuk samping pangaha bunga yang bergerigi. Manis rupanya jika dilihat, dan sangat khas. Bentuk bergerigi ini diperoleh dengan cara memotong adonan sebelum dibentuk dengan sebuah alat yang juga khas yang biasa disebut, padati. TAK DIJUAL DI PASAR Harga pangaha bunga dengan bentuk sekarang lebih murah, hanya Rp 12 ribu per 100 buah, sementara pangaha bunga dengan bentuk asli, Rp 30.000 per 100 buah. Pangaha bunga bisa bertahan lama hingga satu bulan, asal tetap dalam bungkusan plastik. Kue khas ini bisa tahan lama karena cara pengolahannya. Tepung ketan sebagai bahan utamanya, sebelum dijadikan adonan, disangrai (digoreng tanpa minyak). Bahan baku lainnya, hanya garam dan air kapur saja. Meski demikian, rasanya sungguh gurih dan renyah. Jika ada pesanan khusus, pangaha bunga juga bisa dicampur

telur agar terasa lebih gurih lagi. “Telur yang dipakai harus telur ayam kampung atau telur bebek. Jika memakai telur ras tidak akan renyah,” kata Masitah yang banyak juga menerima pesanan pangaha bunga campur telur. Harganya sedikit lebih mahal, yakni Rp 15.000 per 100 buah. Menggoreng pangaha bunga tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak biasa. Karena salah satu proses yang menentukan renyah tidaknya pangaha bunga adalah saat menggorengnya. Saat menggoreng pangaha bunga harus dimasukan satu persatu dalam minyak, tidak bisa dimasukan sekaligus karena rentan lengket. Bisnis rumah tangga ini akan semakin sibuk, usai Lebaran Idul Fitri. Karena di saat itulah, banyak keluarga menikahkan anak-anaknya sehingga pesanan pangaha bunga meningkat. Dalam sehari, Masitah bisa menghabiskan 50 kilogram tepung ketan untuk membuat pangaha bungga. Pada hari-hari biasa, paling banter hanya menghabiskan 10-13 kilogram tepung ketan. Masitah dan Meri membuat pangaha bunga hampir setiap hari untuk persediaan. Mereka sengaja tidak menjualnya di pasar dan tidak menjualnya kepada penjual yang akan menjual ke pasar, agar harga pangaha bunga buatannya tetap stabil. -- Naniek I. Taufan.

LP2B Informatika Bali

Sekolah Pencetak SDM Kompeten di Bali Timur

Dedek Arimbawa, S.H. LP2B Informatika Bali adalah sekolah pencetak SDM berkompeten di bidang teknologi yang terbaik, terfavorit danmenjadi satu-satunya di Bali Timur. LP2B Informatika Bali tidak hanya mempersiapkan mahasiswanya untuk siap mengisi bursa kerja yang ada, tetapi juga pencipta lapangan kerja sebagai seorang entrepreneur yang berkompeten di bidang teknologi, informasi dan komputer (TIK). Menurut Dirut LP2B Informatika Bali Dedek Arimbawa, S.H., sekolah ini mampu menjawab kebutuhan user (pengguna tenaga kerja) terhadap tenaga kerja (naker) yang memiliki kompetensi TIK. “LP2B Informatika Bali adalah pilihan cerdas generasi muda yang ingin meraih masa depan gemilang,” paparnya.

Mengapa LP2B Informatika Bali? Mengapa LP2B Informatika Bali layak menjadi pilihan? Jawabannya sangat jelas. Sekolah ini memberikan yang terbaik dalam segala hal, bahkan satu-satunya yang terdepan di wilayah Bali Timur. “LP2B Informatika Bali adalah satu-satunya kampus komputer dengan gedung megah di lokasi premium dan strategis di Gianyar. Kampus yang berada di jantung kota ini dilengkapi dengan laboratorium terlengkap dan modern, peralatan terbaru yang digunakan di dunia internasional, menggunakan software terbaru dalam perkuliahan, disupport oleh owner yang berpengalaman di bidang perhotelan dan pariwisata maupun bidang teknologi informatika dan komputer seperti carrier center, advertizing dan sebagainya,” jelas Dirut Dedek Arimbawa. Tak sebatas itu, LP2B Informatika Bali juga “dikawal” oleh dosen profesional yang sesuai dengan bidang dan keahliannya. Sekolah ini juga dilengkapi dengan fasilitas kelas yang terbaik seperti AC, monitor dosen, jaringan dan akses wifi gratis. LP2B Informatika Bali memiliki perpustakaan dengan koleksi buku yang lengkap dan terbaru. “Dengan berbagai fasilitas terkini, kami menjamin lulusan LP2B Informatika Bali siap bersaing di dunia kerja. Kami menjamin 100% dan bisa dibuktikan,” kata Dedek Arimbawa lagi. Saat ini, owner LP2B Informatika Bali bersiap meresmikan kehadiran kampus terbaru (Kampus C-kampus ketiga) di Jalan Dharma Giri No. 99 Gianyar. Menurut rencana, kampus yang berdiri megah dengan fasilitas terkini, siap diresmikan 5 Maret 2014. “Kampus ketiga ini dibangun dengan tujuan untuk menampung minat generasi muda yang semakin tinggi untuk menekuni bidang

TIK, apalagi dunia kerja menuntut naker untuk menguasai bidang tersebut,” tutur pengusaha mapan ini. Dengan bertambahnya kampus LP2B Informatika Bali, peluang gene­ rasi muda makin terbuka lebar untuk mengisi berbagai formasi kerja. “Kami mengimbau generasi muda di Gianyar dan Bali untuk segera bergabung dengan kami,” ujarnya. Program Profesional LP2B Informatika Bali menawarkan beberapa program profesional yakni: - Desain Grafis & Multimedia Program ini menciptakan lulusan yang menguasai desain grafis dengan menggunakan aplikasi software terkini dan mempunyai konsep desain yang baik dan memiliki daya jual. Materi per­ kuliahan yang akan dipelajari di antaranya typography, vector drawing, digital imaging, prepress dan digital printing. - Administrasi Rumah Sakit Program ini menciptakan lulusan yang menguasai administrasi rumah sakit yang berbasis komputer sehingga mampu memberikan pelayanan yang cepat dan handal. Peluang kerja antara lain, rekam medis, front office, customer service, ­system control obat, keuangan, akuntansi, marketing rumah sakit dan lainnya. - Manajemen Bisnis & Akuntansi Program studi ini pun siap menciptakan lulusan profesional yang menguasai bidang administrasi bisnis dan akuntansi dengan menggunakan software computer untuk menunjang kegiatan dan pengelolaan bisnis perusahaan. Materi perkuliahan meliputi laporan keuangan, perpajakan, marketing, finance dengan menggunakan software aplikasi yang dipakai di dunia kerja.

5

Sabar Menunggu Ombak

Salah satu jajanan tradisional Bima yang hingga kini masih tetap bertahan sebagai ciri khas kabupaten paling Timur Nusa Tenggara Barat ini, adalah kue bunga atau yang oleh masyarakat Bima dikenal sebagai pangaha bunga. “Pangaha” artinya kue dan “bunga” artinya bunga karena bentuk jajanan tradisional ini persis seperti bunga. Jajanan khas ini hanya bisa ditemui di Bima, terutama di daerah asalnya daerah Kananga Sila Kecamatan Bolo. Bentuknya yang sederhana dengan bahan yang sangat mudah didapat, membuat jajanan ini tidak lekang dimakan zaman. keahlian ibundanya dalam membuat kue tradisional ini. Secara tidak langsung anakanak di sentra pembuatan pangaha bunga ini mewarisi keahlian pembuatan pangaha bunga dari orangtua dan lingkungan mereka. Meskipun usaha ini merupakan industri rumahan yang sederhana, penghasilan dari para pembuatnya terbilang sangat lumayan. Masitah, sarjana Hukum lulusan Universitas Mataram lebih memilih menggeluti usaha ini karena penghasilannya yang lumayan. Pangaha bunga buatan Masitah termasuk salah satu yang paling banyak dicari, baik untuk acara-acara tradisional di Sila dan Bima, maupun sebagai oleh-oleh ke luar daerah. Hal yang sama juga diungkapkan Meri Sulianti (51), pembuat pangaha bunga yang juga mewarisi keahlian ini dari orangtuanya. Meri mengaku penghasilan dari membuat pangaha bunga sangat bisa membantu biaya sekolah keenam anaknya hingga ada yang mencapai jenjang sarjana. Di samping itu, ia juga mengaku usaha ini sangat bisa membantu ekonomi keluarganya sehari-hari. Hal ini tidak lepas dari lancarnya usaha ini bergulir. Pembuatan pangaha bunga, rupanya berkembang dengan sangat baik khususnya dari segi kualitas. Menurut Masita dan Meri, pangaha bunga sekarang rata-rata renyah rasanya. Berbeda dengan sebelumnya, yang terasa agak keras. Perubahan rasa dari keras menjadi renyah

INSPIRASI

Arnold Sebastian Egg

Oleh-oleh Pangaha Bunga dari Bima

Pangaha bunga, hingga kini tetap menjadi salah satu jajanan tradisional penting dalam tiap upacara-upacara tradisional orang Bima terutama di Sila, seperti perkawinan, sunatan ataupun acara lainnya. Pangaha bunga menjadi kue wajib yang dihidangkan, baik sebagai penganan saat kegiatan berlangsung ataupun untuk oleh-oleh yang dibawa pulang para tamu usai mengikuti acara terutama yang berbau tradisional. Rasanya yang gurih dengan bentuk sederhana menjadikan jajanan tradisional ini disukai sebagai camilan. Pangaha bunga telah menjadi industri rumah tangga yang tidak pernah mati sejak puluhan tahun yang lalu di Desa Kananga Sila. “Terutama di RT 06 dan 07, usaha rumah tangga pembuatan pangaha bunga berkembang dengan baik,” kata Masitah, salah seorang pembuat pangaha bunga di Kananga. Di rumah-rumah penduduk pada dua RT ini, pangaha bunga diproduksi setiap hari. Industri rumah tangga ini banyak melibatkan tenaga kerja ibu rumah tangga maupun gadis remaja. Usaha pembuatan pangaha bunga, menjadi aktivitas sehari-hari bagi para perempuan desa ini. Sampai anakanak pun turut membantu dan terampil dalam proses pembuatan pangaha bunga. Hal inilah yang membuat para pembuat pangaha bunga di desa diwarisi secara turun temurun. Salah satunya Masitah. Ia mewarisi

24 Februari - 2 Maret 2014

Kampus LP2B Informatika Bali yang baru. - Teknik Komputer Menciptakan lulusan yang profesional yang dibekali dengan kemampuan dalam mengatasi trouble shooting perangkat keras, membangun jaringan terpadu, baik dengan media kabel maupun wireless. Materi perkuliahan yang akan dipelajari yaitu jaringan, sistem operasi, hardware dan trouble shooting serta basis data.

- Manajemen Informatika Menciptakan lulusan profesional yang merancang dan membuat sistem informasi yang terintegrasi dengan data base. Materi perkuliahan yang akan dipelajari di antaranya sistem informasi manajemen, jaringan komputer, web design concept, bahasa pemrograman, data base dan sebagainya. –ari.

Alamat Kampus LP2B Bali: LP2B Informatika Jl. Bypass Dharma Giri No 99 Gianyar, Telp. 0361 8958429 LP2B Perhotelan Jl. Kebo Iwa No 21 Gianyar, Telp. 0361 943671, Fax. 0361 943283 Jl. Bypass Dharma Giri No 23 Gianyar, Telp. 0361 8958252 Kampus LP2B Negara Jl. Banyu Biru Km 4 Denpasar Gilimanuk, Telp. 0365 4731558 Email : info@lp2b-informatika.com www.lp2b-informatika.com

Bagi orang yang suka bisnis dan online, tentu mengenal tokobagus.com. Situs ini menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli di dunia maya. Segala macam barang dan jasa bisa ditemukan di situs ini. Situs usaha ini dimulai di Bali tahun 2005 ini lalu hijrah ke Jakarta tahun 2011.

Arnold Sebastian Egg

N

ama Arnold Sebastian Egg tak bisa dipisahkan dari tokobagus.com. Ia adalah pendiri situs ini, walaupun kini sudah keluar dari tokobagus. com. Tahun 2012, Arnold mulai usaha baru dengan nama happy­ holiday.travel. “Saya mundur dari tokobagus.com karena bosan, tiap hari kerjaan saya hanya tanda tangan. Saya mau jadi entrepreneur. Saya melihat bisnis e-commerce merupakan pasar yang sangat potensial,” ujar pria Belanda yang sudah menjadi warga negara Indonesia ini. Dari data yang ia peroleh, di Indonesia tahun 2013 ada 73 juta pengguna internet dan 4,6 juta di antaranya adalah pengguna yang suka belanja online. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan. Potensi ini sangat luar biasa jika digarap serius. Arnold yang akrab disapa Arno juga menunjukkan data mengenai pendapatan situs Amazon yang mencapai 170 miliar, Alibaba 100 miliar, dan Zalando 5 miliar dalam kurs dolar AS. Ini bukannya tanpa kerja keras pendiri dan pengelola situs. “Jika mau buka usaha, pertama harus sabar. Ibarat orang main surfing, sabar menunggu ombak. Kalau ombak bagus dan lancar, bisa sampai di pantai. Kedua, fokus dengan apa yang dipikirkan dan dikerjakan. Ketiga, jaga kualitas. Kualitas terbaik akan menjadikan usaha terbaik. Keempat, data. Saya baru bangun lihat data. Harus selalu pantau perkembangan. Kelima, buat sesuatu yang konsumen inginkan. Keenam, bangun tim yang tangguh,” jelas pria kelahir­ an Gouda, Belanda, 26 Maret 1980 ini.

Arnold datang ke Indonesia tahun 2000 setelah menyelesaikan kuliah di Amerika Serikat. Ia lulus dari Fakultas Teknologi Informasi, James Madison University, AS tahun 1999. Awalnya ia hanya ingin berlibur. Namun, saat liburan itu ia menemukan ide untuk berbisnis. Ia sudah bermimpi, jika ingin sukses berbisnis cara terbaik memulainya dari Indonesia. Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial karena jumlah penduduk kelas menengahnya yang sedang tumbuh. Ia tidak memilih berbisnis di Eropa karena di sana sudah banyak perusahaan besar di berbagai sektor dan persaingannya sangat ketat. Ia pun melihat peluang bisnis e-commerce sangat terbuka. Di Belanda, Arnold sudah berbisnis e­ -commerce dan kemudian akhirnya dia lebih tertarik untuk mencoba menjalankan bisnisnya di Indonesia. Arnold lalu membuat situs jual beli bernama tokobagus.com. Pemilihan nama ini karena situsnya mendesain setiap pengguna dapat domain atau shop alias toko sendiri sedangkan kata “bagus” banyak digunakan di Indonesia. Bisnis ini dijalankan dari rumah kontrakan dengan tiga karyawan. Awalnya Arnold hanya menawarkan jasa pembuatan situs e-commerce. Tahun 2005, barulah ia mulai bisnis jual beli secara online. Tahun 2008 ia mendapat investor baru yang mau bermitra dengannya. Usaha ini pun pindah ke Jakarta tahun 2011 agar lebih dekat kepada pelanggan demi pengembangan situs tersebut. “Saya pindah ke Jakarta karena banyak pemegang keputusan ada di Jakarta. Bisnis menjadi lebih cepat,” ungkapnya mengenai alasan pindah ke Jakarta. Dalam berbisnis, Arno mengaku lebih suka membuat start-up. Nanti ketika sudah tua, dia tinggal mengurus saja. Saat ini ia masih ingin melakukan banyak hal. Market place seperti tokobagus.com sudah ia buat bikin. Kini saatnya online travel agent dengan Happy Holiday. Setelah ini nanti akan menyusul B2C (business to consumer).”Saya le­ bih suka fighting. Orang yang terlalu santai dan tak punya fighting spirit lagi itu berbahaya, ter-

masuk juga buat kesehatan fisik. Kalau sudah berhasil dengan sa­tu hal, saya akan membuat se­ suatu yang baru lagi. Ini sekaligus pembuktian bahwa kesuksesan ­tokobagus.com bukanlah kebetul­ an saja. Saya ingin membuat masterpiece yang lain juga. Ini juga buat menguji sendiri,” tegasnya. Setelah melepaskan tokobagus. com, Arno memulai petualangan barunya. Ia masih memilih dunia e-commerce. Tahun 2012, ia membuat Happyholiday.travel. Situs ini menyediakan berbagai keperluan untuk bepergian, mulai dari paket tur, penyewaan kamar hotel, sampai penyewaan kendaraan. Saat ini, layanan yang paling banyak diminta adalah pemesanan hotel. Ia menilai orang Indonesia lebih suka berwisata dibanding orang Eropa. “Coba kita lihat status Facebook atau Twitter orang Indonesia. Ada yang ke Bangkok, Hongkong, Singapura, dan itu berlangsung sepanjang tahun. Beda dengan orang Eropa yang hanya melakukannya di musim panas, setelah mengumpulkan duit dalam waktu lama,” kata Arno. Model bisnis Happy Holiday berbasis transaksi, beda dengan Tokobagus yang mengandalkan trafik. Sekarang ini tak begitu peduli dengan jumlah pengun-

jung setiap harinya, namun yang pen­ting adalah berapa transaksi yang mereka dapat. Omzet lebih pen­ting. Model bisnis yang meng­ andalkan transaksi ini sekaligus juga akan menjadi ajang pembuktian bagi Arno. “Prospek orang yang melakukan perjalanan wisata sangat besar, mulai dari wisata domestik hingga internasional. Orang tidak mau beli paket, lebih suka cari sendiri.

Situasi dunia pariwisata sedang bagus dan akan terus berkembang jika penerbangan juga ditambah,” ujar ayah dua anak ini. Ia menegaskan fokusnya untuk jasa pemesanan hotel, termasuk pengurusan voucher. Situs ini sudah punya jaringan dengan 200 ribu hotel di seluruh dunia. Selain hotel, juga ada homestay. Sistem pembayaran yang diterapkan juga fleksibel, bisa di situs Happyholiday atau bisa langsung di hotel. “Ke depan saya sudah punya impian membuat sesuatu yang lebih besar. Saya yakin nanti akan ada waktu yang tepat untuk B2C tapi bukan sekarang. Sekarang ini masih banyak kendala soal infrastruktur dan fasilitas. Agar bisa membangun B2C yang baik, perlu facility center di masingmasing provinsi, sehingga tiap daerah bisa memiliki stok dan bisa mengirim pesanan dengan cepat. Sebab, bicara toko online yang sukses adalah bicara soal kecepat­ an pengiriman pesanan. Bahwa Tokobagus bisa sukses karena semua gratis. Nah, dengan Happy Holiday aku ingin membuktikan bahwa saya juga bisa membangun bisnis yang membukukan omzet. Saya ingin membuat yang seperti Amazon.com. Kalau mau besar ya harus sabar,” ujar Direktur Happyholiday.travel yang fasih berbahasa Indonesia ini. –Ngurah Budi


4

INSPIRASI

24 Februari - 2 Maret 2014

MANDALIKA

Potensi Sadar sebelum Kondisi kian Parah Mutiara NTB Oppie Andaresta

Menjadi Duta Lingkungan Hidup bukan sekadar wara-wiri menghadiri acara-acara se­ remonial dan mengajak orang mencintai lingkungan, namun juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oppie Andaresta misal­ nya. Duta Lingkungan Hidup 2011 ini bukan hanya sibuk mengedukasi masyarakat tapi juga melakukannya di rumah.

“S

aya mengajari anak bagai­ mana mencintai lingkungan, bagaimana membuang sampah yang benar. Sekarang Kai (Kai Matari Bejo Kaler, anak semata wayang Oppie- Kurt Kaler, suaminya, Red.) sudah bisa memilah sampah organik dan anorganik,” tutur Oppie Andaresta. Memulainya, kata penyanyi yang ngetop lewat tembang Cuma Khayalan, harus dari diri sendiri. “Ketika kita mengajak orang lain untuk mencintai lingkungan, sebelumnya kita juga melakukannya sendiri. Jadi, bukan sekadar ngomong,” kata Oppie. “Bagaimana kita mau menyadarkan atau mengajak orang lain, kalau diri kita sendiri tidak melakukannya? Jadi mulailah dari hal-hal kecil di lingkungan kita, urusan sampah misalnya, dll.,” tambahnya. Bahkan, kata Oppie, dia dan keluarganya bukan sekadar menciptakan lingkungan asri di rumahnya yang memang telah berkonsep go green tapi juga mempraktikkan hidup hemat energi. Salah satunya adalah dengan samasekali tidak memasang AC (air conditioner) di rumahnya yang terletak di bilangan Sawangan, Depok, Jawa Barat. “Kami sudah mengonsep ini sejak awal. Pe­ karangan rumah yang dipenuhi banyak

24 Februari - 2 Maret 2014

pohon, baik y a n g be­­sar maupun sedang, merancang bangunan rumah dengan banyak jendela besar sehingga sirkulasi udara bagus,” jelasnya. Dia berharap masyarakat juga melakukan hal yang sama, memba­ ngun kesadaran diri sendiri untuk cinta lingkungan. Apa yang terjadi akhir-akhir ini, tutur wanita kelahiran 20 Januari 1973 ini, sungguh membuatnya prihatin. “Masalah banjir, tanah longsor, dll., yang belum lama ini terjadi, itu sungguh memprihatinkan,” ucapnya. Bencana alam itu, tambahnya, ada yang tak bisa dihindari tapi ada juga yang bisa dihindari atau diminimalisir. Yang tak dapat dihindari, seperti meletusnya gunung atau terjadinya angin putting beliung. Tapi masalah banjir dan longsor, harusnya ini dapat dihindari atau diminimalisir. “Banjir yang terjadi sekarang, kan, karena ulah manusia sendiri. Misalnya soal sampah yang dibuang sembarangan. Di sisi lain, fasilitas tempat sampah di jalan-jalan pun kurang sehingga ketika kita ingin buang sampah, tidak ada tong sampah, akhirnya buang sembarangan, buang di kali. Memang persoalan ini (banjir) sangat kompleks, karena banyak faktor lain, misalnya soal kemiskinan, tempat permukiman di bantaran sungai. Jadi aku pikir untuk menyelesaikannya memang dibutuhkan waktu,” tutur Oppie yang tengah mempersiapkan album kesepuluhnya. Sebenarnya, lanjut Oppie, kondisi memprihatinkan bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga dunia. Feno­

mena global warming sudah makin terasa. Bayangkan saja, tutur wanita yang bersuamikan seorang berkebangsaan Amerika berdarah Jerman, ketika curah hujan di Indonesia begitu tinggi, di beberapa tempat terjadi badai salju, tapi di belahan bumi lain, seperti di California, AS, suhu luar biasa panasnya. Bahkan di Australia yang letaknya berdekatan dengan Indonesia, suhu panasnya menembus rekor 46 derajat Celcius. “Ini kan lucu. Sementara di tempat lain curah hujan tinggi dan badai salju, lucunya di daerah lain, malah suhu panas luar biasa. Inikan sebenarnya fenomena yang sudah jelas, dampak global warming yang makin nyata. Nah, yang bikin terjadinya global warming, siapa lagi, kalau bukan manusia,” paparnya panjang lebar. Karena itu, sebelum kondisi makin parah, Oppie mengajak sekaligus menggugah ke­ sadaran masyarakat untuk cinta bumi. Oppie setuju bahwa mengedukasi masyarakat mencintai bumi sebaiknya dilakukan sejak dini, yakni terhadap anak-anak. Itu sebabnya, dia pun rajin berkeliling Indonesia khususnya ke sekolah-sekolah untuk mengedukasi mereka. Karena berlatar belakang sebagai penyanyi dan pencipta lagu, Oppie pun selalu menyanyi saat melakukan edukasi. “Saya tetap menjalankan tugastugas sebagai Duta Lingkungan Hidup, tapi lebih terfokus pada edukasi anak,” kata wanita berdarah Minang ini. Tiga tahun lalu, Oppie melahirkan sebuah buku bertema lingkungan, “Bumi­ku Lestari”. Isinya tentang menanam dan memelihara pohon, 3R (reduce, reuse, recycle), sampah dan hidup hemat energi. Buku setebal 32 halaman ini berisi gambar-gambar menarik dan cerita petualangan yang umumnya disukai anak-anak. Buku ini, katanya, cocok bagi anak-anak yang sedang bel­ ajar membaca. Menurut Oppie, buku itu merupakan pengalamannya dalam mendidik anaknya mencintai lingkung­ an. “Waktu itu dia masih berusia lima tahun,” katanya. Dia ingin, anaknya juga anak yang lain, mencintai lingkungan dan terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Pada usia anak, akan lebih mudah membentuk karakternya. Itu juga yang saya terapkan pada anak saya,” kata Oppie yang berencana meluncurkan buku keduanya bertepatan dengan Hari Bumi pada April men­ datang. – Diana Runtu

Kilau mutiara kian bersinar dari Bumi Gora, provinsi yang dikenal sebagai penghasil mutiara terbaik dunia. Daya pikat mutiara kini menjadi andalan Provinsi NusaTenggara Barat untuk menarik kunjungan wisatawan ke Lombok dan Sumbawa. Mutiara merupakan salah satu komoditi unggulan Indonesia yang pembudidayaannya banyak dilakukan di NTB.

S

elama ini mutiara sudah menjadi ikon NTB dengan kualitas dikenal sebagai yang terbaik di dunia. Selain sebagai destinasi pariwisata unggulan Provinsi NTB, Lombok­Sumbawa juga kini dikenal sebagai sentra perdagangan mutiara terbesar di Indonesia. Secara umum mutiara NTB memiliki keunggulan komparatif. Perairan NTB merupakan hamparan mutiara. Kualitas terbaik yang dimiliki oleh mutiara NTB ini, tidak terlepas dari kondisi perairan NTB yang sangat potensial dan cocok untuk tempat pembudidayaan mutiara. Karena, budidaya mutiara sungguh tergantung pada kondisi perairan yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan serta kualitas mutiara yang dihasilkan. Lokasi sepanjang perairan di NTB, rata-rata cocok untuk budidaya kerang mutiara. Popularitas mutiara NTB inilah yang membuat Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, memfasilitasi berdirinya Rumah Mutiara Indonesia (RMI) yang berlokasi di depan Bandara Internasional

Lombok (BIL). Berdirinya RMI yang diresmikan beberapa waktu lalu ini, semakin mengukuhkan citra Nusa Tenggara Barat, sebagai daerah penghasil mutiara berkualitas dunia. “Kondisi perairan Nusa Tenggara Barat yang relatif bersih dari pencemaran dan kaya akan nutrient, merupakan area potensial untuk budidaya mutiara. Salah

satu jenis mutiara bermutu yang berhasil dibudidayakan adalah jenis south sea pearl (mutiara laut selatan), dengan produksi berkisar 0,5 hingga 0,8 ton setiap tahunnya, serta mampu menghasilkan devisa hingga mencapai dua juta dolar Amerika Serikat pertahun. Jepang, China, Hongkong, Singapura, Australia dan Eropa merupakan negara-negara tujuan ekspor mutiara kami,” ungkap H. Muhammad Amin, SH., M.Si, Wakil Gubernur NTB. Mutiara Lombok Sumbawa umumnya berjenis Pinctada Maxima yang menghasilkan mutiara laut selatan (south sea pearl) dan telah menjadi primadona mutiara, dengan 27 jenis warna mutiara dengan tiga

warna unggulannya, yaitu bronze, metal, dan emerald emas kehijauan. Keunikan serta kekayaan variasi warna mutiara Lombok Sumbawa dikarenakan perairan NTB merupakan tempat bertemunya persebaran spesies kerang berbibir kuning atau emas yang berada di Palawan dan Filipina dengan kerang berbibir putih di Papua hingga Australia. Inilah yang membuat mutiara Lombok Sumbawa menjadi unggul diban­ding lainnya. Menurutnya, selain biji mutiara yang bernilai tinggi, limbah kulit kerang mutiara telah dimanfaatkan menjadi berbagai bentuk kerajinan tangan dan perabot rumah tangga yang tentunya indah dan eksotis dalam berbagai bentuk kerajinan cukli. Jika pada awal perkembangannya di era tahun 1980an, kegiatan budidaya mutiara masih sangat bergantung pada tenaga ahli mutiara dari Jepang, saat ini seluruh teknologi budidaya, mulai dari tahap penyuntikan, pembesaran dan pemanenan, telah dapat dilakukan oleh tenaga lokal dan telah berlangsung proses transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari perguliran usaha mutiara ini, manfaat ekonomi yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh perusahaan mutiara, namun juga oleh masyarakat pesisir. keberadaan perusahaan mutiara telah membuka lapangan kerja dan usaha bagi masyarakat, serta mendorong tumbuhnya Usaha

21

Kecil Menengah (UKM). “Saat ini, lebih dari 40 UKM bergerak dalam usaha kerajinan tangan dan pemasaran perhiasan berbahan dasar mutiara. Hal ini menunjukkan, usaha budidaya mutiara telah menjadi salah satu sumber nafkah bagi sebagian masyarakat pesisir dan penggerak perekonomiannya,” katanya. Di tengah persaingan perdagangan internasional, selain terus menjaga dan meningkatkan kualitas mutiara, dibutuhkan pula rangkaian upaya promosi yang terpadu. Terlebih saat ini, berbagai jenis mutiara telah memasuki pasar mutiara dunia. Kompetitor bisnis mutiara seperti Cina dan India dengan mutiara air tawarnya, membuat NTB harus tetap mempertahankan kualitas mutiaranya. Oleh karena itu, keberadaan Rumah Mutiara Indonesia menjadi sangat strategis, sebagai pusat rujukan dan informasi dari keberadaan mutiara Nusa Tenggara Barat. Ke depannya, RMI akan diikhtiarkan sebagai pusat pemasaran dan lelang berskala internasional, yang mampu memasilitasi pembelian dan penjualan mutiara asal Nusa Tenggara Barat. Rumah Mutiara Indonesia diharapkan dapat memberi manfaat optimal bagi pengembangan potensi mutiara di daerah ini, dan meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya masyarakat pesisir. –Naniek I. Taufan

Tuntut Wanita jadi Fasilitator dan Motivator Keluarga

Hari Kesatuan Gerak PKK yang ke-42 Tahun 2014 akan dipusatkan di kota Mataram sekitar awal April 2014 mendatang. Meski kegiatan tersebut masih dua bulan lagi, TP PKK Provinsi NTB, sudah mulai menyelenggarakan berbagai kegiatan termasuk kegiatan sosial. Beberapa waktu lalu, Ketua TP PKK NTB, Hj. Erica Zainul

Majdi bersama pengurus lainnya melakukan kunjungan silaturrahmi di Desa Mujur Kecamatan Mujur Kabupaten Lombok Tengah. Kunjungan ini dilakukan untuk memberikan bantuan berupa paket sembako kepada keluarga kurang mampu. Selain itu, Ibu Gubernur NTB ini juga memberikan bantuan secara khusus kepada

masyarakat kurang mampu yang telah membantu program pemerintah dalam menyukseskan keluarga berencana. “Kita memiliki 10 program pokok PKK, salah satunya harus ber-KB, kita harus menjadi keluarga bahagia, sejahtera dan berkualitas,” ungkap Erica di hadapan ibu-ibu pengurus PKK Kabupaten Lombok Tengah dan Kecamatan serta Desa di Lombok Tengah. Kegiatan tersebut juga dihadiri para kader posyandu yang berada di Gumi Tata Tuhu Trasna (julukan Kabupaten Lombok Tengah). Peran kaum wanita memang sangat penting dalam mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera. Wanita dituntut dapat menjadi fasililator dan motivator bagi ke­ sejahteraan keluarga. Bagaimana pun, yang paling bertanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga di samping suami adalah istri. “Kabupaten Lombok Tengah merupakan daerah yang memi-

liki nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang tinggi, itu jadi modal yang kuat untuk membina keluarga bahagia dan sejahtera,” kata Erica. Apalagi daerah ini memiliki legenda Putri Nyale atau Putri Mandalika yang menjadikan jiwa dan pengorbanan yang tulus untuk membangun Bumi Tatas Tuhu Tresna lebih baik dari masa lalu dan meraih keluarga bahagia

dan sejahtera di masa yang akan datang. Kegiatan ini juga merupakan rangkaian penyelenggaraan, sosialisasi bahaya kanker leher rahim (serviks) dan kanker payudara yang menghadirkan para dokter spesialis yang didatangkan khusus dalam rangka memberikan pemaham­an terhadap gejala dini penyakit tersebut. - Naniek I Taufan.


W H AT ’ S U P

22

Cinta Sejati tak Memilih

Jumat (21/2), bertempat di Wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha, Bunda Arsa­ningsih menerima Penghargaan Tri Hita Karana ­Nugraha dari Bali Travel News. Dedikasi perempuan kelahiran Yogyakarta, Desember 1968 ini menjadi sorotan masyarakat luas atas keaktifan­nya mengajarkan dan berbagi ajar­an cinta kasih. Workshopnya di­kenal dengan Soul Illumination telah banyak membantu dan menyembuhkan orang-orang untuk mencapai ke­ seimbangan hidup, mensyukuri, menyadari potensi diri, ber­kelimpahan secara material dan spiritual, sehat secara jasmani dan rohani.

Bunda Arsaningsih menerima Penghargaan THK Nugraha dari BTN, Jumat (21/2)

“L

ife with Love” adalah salah satu a c a r a yang digelar Bunda Arsaning­ sih, kerjasama antara Yayasan Cinta Kasih dan Love and Peace Corporation, Sabtu (15/2) di Kasa Bunga Restauran, Renon, Denpasar. Direktur Love and Peace Corporation, Adek Dha­ rana didampingi Ketua Yayasan Cahaya Cinta Kasih, dr. Netty Santyari mengatakan, di malam perenungan yang bertema “Life with Love” ini peserta diajak memahami apa itu cinta. Kalimat “Life with Love” ini indah didengar. Mengucapkannya saja, kita akan tersenyum. Sekitar 150 peserta yang memenuhi halaman sangat antusias menyi­ mak kata demi kata dari Bunda Arsaningsih, guru energi dan ahli fengshui. “Bulan ini bulan penuh cinta, semua orang merayakan hari kasih sayang. Jika paham energi, walaupun banyak pro dan kon­ tra tentang valentine, dengan memahami energi, ketika semua memikirkan tentang cinta, maka di hari yang luar biasa ini, energi cinta pun memenuhi bumi ini,” ujar Bunda. Valentine bukan hanya sekadar Valentine. Namun, yang perlu dimaknai adalah, ketika banyak orang memikirkan cinta, ba­ nyak orang ingin berbagi, maka dunia dipenuhi dengan energi cinta. “Tidak salah jika hari ini kami mengumpulkan Bapak/Ibu di sini untuk berbagi cinta, dan belajar menyatu dengan alam,” ucapnya.

Pemilihan tempat pun tak sembarangan. Secara energi, Kasa Bunga penuh dengan energi cinta, karena sering berlangsung event cinta, seperti pernikahan dan ulang tahun. Jadi, energi cinta sangat kuat. Harapannya, setelah mengikuti renungan ini, para peserta pulang dipenuhi rasa cinta yang meluap, yang se­ lama ini mungkin belum pernah didapatkan. CINTA SEJATI Dalam renungan jiwa yang di­ pandu Bunda Arsaningsih, malam itu para peserta dibantu untuk membebaskan diri dari semua be­ lengu sakit hati, dendam dan juga membebaskan semua keterikatan setahap demi setahap, dengan

memahami makna cinta. Cinta sejati yang diungkapkan Bunda adalah cinta yang tak mengikat. Cinta sejati adalah cinta yang membebaskan, cinta yang mem­ buat kita benar-benar terbebas dari ikatan keduniawian, sehingga dapat terhubung dengan Tuhan. Mengapa kita tak bisa ter­ hubung dengan Tuhan? Karena kita masih memiliki hambatan cinta. Ada hambatan cinta, tak menemukan pasangan yang tepat dalam hidup ini. Ini membuat kon­ disi dalam keluarga menjadi tak nyaman. Sering kita temukan ada pasangan yang sebenarnya baikbaik saja, menjadi tidak harmonis karena ada hal negatif, pengaruh dari luar seperti iri hati. Malam renungan yang ber­

“Life with Love” di Kasa Bunga Restauran, Sabtu (15/2)

S E L E B R I TA S

Irma Dharmawangsa

Sangat Kaku

tepatan dengan upacara Hindu yakni Tumpek Wayang, dikatakan Bunda memiliki makna sebagai proses hidup manusia. Manusia hanyalah wayang-wayang yang menjalankan swadarmanya ma­ sing-masing, supaya proses ke­ hidupan di alam ini bisa berjalan baik. Semua adalah skenario Tuhan, dan sang sutradara akan memberikan jalan terbaik kepada orang yang total mau menyerah­ kan hidup kepada Tuhan. Rencana Tuhan lebih indah dibandingkan rencana manusia. Terkadang kita banyak berencana, akhirnya me­ lenceng, yang berjalan adalah ke­ hendak Tuhan. Dari per­masalahan ter­s ebut, pelajaran yang kita dapatkan adalah menjadi ikhlas untuk menerima semuanya. MEMBUKA HATI DENGAN KASIH Dalam Soul Illumination Level 1, secara energi kita sudah dia­ jak melepaskan kemarahan, iri hati dan sadripu yang ada dalam diri. Sehingga cakra jantung akan mengembang. Tetapi belum tentu juga ketika cakra ini mengem­ bang, seseorang akan terbuka untuk cinta. Trauma akan cinta, sakit hati, akan membuat hati tidak terbuka. “Untuk menerima semua pembelajaran, hati harus dibuka dengan cinta agar semua bisa masuk,” ujarnya. Ketika masih ada rasa sakit hati, kita akan menutup diri rapat dan menjadi orang yang terbatas. Ketika takut mencintai, takut dicintai, maka keterhubungan de­ ngan Tuhan akan terbatas. “Ingat, bahwa cinta Tuhan tak terbatas. Ketika hendak menyentuh Tuhan, harus bebaskan diri dari rasa sakit hati,” ujar Bunda. Misalkan, kita punya trauma masa kecil, ibu cerewet, ayah keras, dan terus terbawa, itu yang membuat kita tertutup. Meminta maaf secara batin dan memaafkan akan membuat kita lebih damai. Rasa sakit hati, biasanya muncul dari orang-orang yang dekat de­ ngan kita, seperti orangtua, kelu­ arga, teman. Kita tak bisa memilih semua yang ada pada diri kita.

24 Februari - 2 maret 2014

24 Februari - 2 maret 2014

Belakangan ini suasana gedung Komisi Pemberantasan Korupsi terasa lebih berwarna. Pasalnya, sejumlah artis datang menyambangi gedung tersebut, tapi bukan untuk unjuk kebolehan akting atau pun menyanyi, melainkan untuk diperiksa terkait kasus Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, adik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Artis yang hadir, di antaranya Jennifer Dunn dan Rebecca Soejati Reijman. Suasana datangnya artis-artis ke KPK ini mirip seperti ketika kasus aliran dana Akil Mochtar meledak yang ternyata juga menyangkut ke sejumlah artis.

I

Bunda Arsaningsih

Semua harus diterima, seburuk apapun, mereka orangtua kita. Kita lahir dari benih cinta mereka, menjadi anak. Maka, maafkanlah orangtua. Bayangkan apapun yang mereka lakukan, terimalah karena kita tak bisa memiih. Karena ini proses kita bertumbuh untuk menjadi lebih baik, karena ini karma kita. Sadari dan pahami, apa pun yang terjadi menjadikan kita tegar dan kuat. Maafkanlah setiap orang. KEKERASAN HATI Kekerasan hati muncul karena kita mengalami trauma yang tak terselesaikan. Bila kekerasan hati masih ada, cinta dan semuanya akan tertutup. Untuk member­ sihkan semua hambatan cinta, kita perlu melepaskan semua trauma batin, lebih dalam ber­ serah pada Tuhan. Biarkan cinta Tuhan menyembuhkan semua luka hati kita. Biarkan cinta Tuhan memenuhi diri kita, memancar, dan meluas , sehingga seluruh bumi dipenuhi cinta. Cinta harus dipancarkan lebih dalam kepada siapa saja, orang baik, orang buruk, orang berbeda agama. Hanya, kebetu­ lan saja kita lahir dari orangtua yang berbeda-beda. Berlapang dada, membuka hati, melupa­ kan semua kebencian, sakit hati, trauma, penuhi diri kita dengan cinta. Maka, cinta Tuhan akan memenuhi diri kita. Dalam acara “Life with Love” Bunda Arsaningsih juga meluncur­ kan dan membagikan buku saku renungan jiwa, yang bisa dipakai sebagai renungan harian. Renun­ gan jiwa tersebut dikatakan Bunda didapatkannya melalui proses meditasi. Pencerahan dari Bunda Ar­ saningsih bisa juga disimak dalam siaran interaktif di Radio Genta tiap Rabu pukul 17.00, juga di Bali TV tiap Sabtu pukul 15.30-16.00 dalam acara Renungan Jiwa. Bisa juga bergabung di akun sosial facebook (FB): Bunda Arsaning­ sih. –ten

rma Dharmawangsa yang mengaku mengikuti pemberitaan kasus-kasus ter­s ebut merasa prihatin de­n gan fenomena ini. Namun, katanya, ada kasus yang dapat dihindari tapi ada juga yang tidak dapat dihindari. Sebut saja kasus pemba­ yaran honor artis yang dilakukan oleh mantan Ketua MK saat dia berkampanye sebagai calon gubernur Kalimantan. ”Kasus ini kan sulit dihindari, namanya pembayaran, artis tidak bertanya dari mana uang yang dipakai untuk membayar. Kami su­ dah bekerja (menyanyi) dan dibayar, itu saja. Bahwa kemudian, ternyata asal uang itu bermasalah, ya, si artis tidak bisa disalahkan. Lain halnya kalau si artis tidak menyanyi atau hanya menyanyi sekali, lalu dibayar dengan nilai yang tidak masuk akal, inilah yang harus dipertanyakan. Tidak bekerja dapat mobil Alphard, misalnya. Ini kan nggak masuk akal. Pasti ada apa-apanya. Kan, tidak mungkin orang mengeluar­ kan uang besar tanpa ada maksud tertentu,” ujar Irma menanggapi maraknya pemberitaan artis-artis yang diperiksa KPK. Tapi, tambahnya, semua itu berpulang kepada artis yang bersangkutan. Untuk menilai, kata penembang hits Awas Ulat Bulu ini, mudah saja. Tinggal dilihat apakah wajar atau tidak uang atau barang yang diberikan dengan kerja kita. Diakuinya, menjadi artis memang tidak mudah. Begitu ba­nyak tan­ tangan dalam karier j u g a godaan y a n g datang. Karena itu, mental harus kuat, iman harus setebal baja. “Seba­ gai manusia, siapa sih yang nggak tergiur ketika disodori orang uang yang besar atau barang berharga mahal. Yah, tergiur sih boleh-boleh saja, itu manusiawi. Tapi untuk men­ erima, nanti dulu! Pemberian yang tak jelas tidak mungkin tanpa embel-embel. Aku yakin betul hal itu. Hal-hal seperti ini, kan, pasti semua artis juga tahu. Jadi, itu memang kembali ke diri masing-masing, dalam artian, kekuatan iman masing-masing,” ucap gadis kelahiran Jakarta, 4 Februari 1983 ini. Kekasih pesinetron Dwi Andhika ini mengaku tidak bisa berkomentar terlalu jauh karena memang tidak tahu persis kasus tersebut dan apa yang melatarbelakanginya. Ia justru mengaku lebih suka berbicara tentang kegiatan-kegiatan positif artis yang dilakukan di luar dari kariernya. Salah satunya adalah aktivitas

social. Belakangan, ujar Irma, makin banyak artis yang mau terlibat dalam berbagai aksi sosial. RAIH PENGHARGAAN TOKOH PEDULI Kepedulian artis yang berdampak langsung ke masyarakat ini, sungguh menggembirakan. “Jadi artis bukan hanya bisa menghibur lewat talenta yang dimilikinya tapi juga membantu dalam hal lain. Apalagi belakangan begitu banyak bencana alam di negeri kita, yang menuntut perhatian semua pihak, tak terkecuali artis,” ujar Irma yang pekan lalu bersama Gerakan Artis Indonesia Peduli (GAIP) melakukan penggalangan dana untuk membantu para korban bencana meletusnya Gunung Kelud di Jawa Timur. Ini aksi ketiga GAIP setelah terbentuk sebagai sebuah lembaga sosial. Sebelumnya, GAIP yang baru dua bulan ini berdiri, telah melakukan aksi sosial ke tempat pengungsian warga korban mele­ tusnya Gunung Sinabung dan kor­ ban banjir Jakarta. “Kalau sebe­

lumnya kami bergerak spontan, kini lebih terorganisir, sudah ada lem­b aganya berbadan hukum. Dengan begitu bantuan-bantuan yang mengalir bisa terdata dan jelas. Ja­ngan sampai menimbulkan kecurigaan karena bantuan masuk dan keluar semua terdata,” jelas Irma yang belum lama ini menerima penghargaan atas berbagai aktivitas­ nya di kegiatan sosial. Irma mengaku tak menyangka kalau keter­ libatannya di berbagai kegiatan sosial ternyata menjadi catatan tersendiri bagi Kementerian Sosial dan Yayasan Karier dan Prestasi. Karena itu, ia terkejut ketika dikabarkan sebagai salah satu penerima penghargaan sebagai Tokoh Peduli Mencerdaskan Anak Negeri. “Iya, aku sempat kaget dapat kabar itu. Nggak nyangka aja ada yang memperhatikan. Ini jauh dari pikiranku, bahkan tidak pernah terpikirkan samasekali,” ungkap penyanyi dangdut ini yang bersama 15 tokoh lainnya menerima penghargaan tersebut, di antaranya, Ayu Azhari dan Dwi Andhika. Bagi Irma yang baru pertama kalinya menda­ pat penghargaan di bidang sosial, mengaku, aktif di kegiatan sosial bukan dimaksudkan mencari pengakuan atau apa pun namun murni karena panggilan jiwa untuk membantu sesama yang kekurangan atau membutuhkan uluran kasih. Seper­ti yang belum lama ini dilakukannya ber­ sama teman-temannya terlibat dalam aksi sosial membantu para korban bencana meletusnya Gunung Sinabung. Hidup, ungkapnya, tidak semata-mata mengejar materi duniawi, mengejar karier ce­ merlang, tapi juga tak kalah pentingnya adalah berbagi dengan sesama. Ini untuk keseimba­ngan jiwa. Dengan aktif di berbagai kegiatan sosial, menurutnya, membuat dirinya makin peka dan peduli. KESEMPATAN JADI SIMPANAN PEJABAT Berbicara tentang karier me­nyanyinya, Irma berharap, tahun 2014 akan lebih baik daripada sebelumnya. Tahun lalu, kariernya boleh dibilang meningkat pesat, bukan hanya pekerjaan manggungnya me­ limpah tapi ia juga berhasil meluncurkan album Awas Ulat Bulu yang berisi sejumlah lagulagu hitsnya seperti Sir Gobang Gosir, Bocor, Awas Ulat Bulu, dll. “Album ini berisi singlesingle hits dan beberapa lagu baru,” ucap Irma yang juga meluncurkan single duetnya bersama sang kekasih, Dwi An­ dhika, bertajuk Tahu & Tempe. “Sedang single-ku sendiri, juga akan segera dirilis. Mungkin pertengahan bulan depan. Ini ciptaan sendiri, lho,” tambah­ nya sembari tertawa. Tidak hanya di dunia me­ nyanyi, pemilik ‘goyang donat’ ini juga merambah ke dunia akting lewat penampilannya di sinetron Ibrahim Anak Betawi dan film bergenre horor ber­ judul Santet Goyang Dangdut. Di film ini, Irma bermain sebagai penyanyi dangdut yang menjadi simpanan pejabat. Hal itu dilakukan ka­rena ia tergiur

3 dengan kehidupan glamor dan mewah. Irma bahkan tak peduli anggapan negatif orang terh­ adapnya. “Buatku, peran apa pun pasti bakal mendatangkan tantangan. Apalagi bisa berak­ ting di layar lebar merupakan kesempatan emas. Dari situ aku juga bisa menggali pengala­ man berharga di luar sebagai penyanyi,” ujarnya. Namanya baru, tentu saja Irma masih mengaku sangat kaku dalam berakting. Apalagi ketika harus berakting menan­ gis, Irma benar-benar gelaga­ pan. “Aku diminta sutradara untuk menangis, aduh, susah banget. Tapi berkat bimbingan teman-teman, juga sutradara, akhirnya bisa juga. Yah, seba­ gai pendatang baru di dunia akting, aku memiliki banyak kekurang­an, termasuk dalam mengekspresikan sesuatu. Aku masih harus banyak belajar,” ujar presenter acara musik di CB TV ini. Irma mengaku merasa asyik menjalani karier barunya di bidang akting yang menurutnya sangat menantang. “Karier menyanyi tetap jalan terus, itu yang utama. Sedang akting, se­panjang me­ mungkinkan, aku tetap akan mencobanya. Ini penting setidaknya pengala­man-pengalaman ini akan mengasah kemampuanku,” tambah Irma yang juga sibuk mengurusi bisnis mobil bekas dan kuliner. Tapi untuk beberapa waktu ke depan, tuturnya, kemungkinan ia akan fokus ke dunia menyanyi karena sejumlah pekerjaan terkait kampanye Pemilu sudah didapatnya. “Yah, ini rezeki Pemilu…hahahaha. Sudah banyak yang mendekat, namun belum ada jadwalnya karena memang dari KPU mereka belum mendapat jadwal kampanye. Jadi aku diminta standby. Tapi yang terdekat adalah kampanye di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada pertengahan Maret,” ujarnya. Dengan padatnya aktivitas, Irma mengaku harus pandai-pandai membagi waktu dan men­ jaga kesehatan. “Kan percuma banyak pekerjaan kalau kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Maka itu, aku harus disiplin soal menjaga kes­ ehatan,” tambahnya. Dengan seabrek kesibukan seputar kariernya, lalu bagaimana dengan rencana pernikahan yang konon bakal digelar tahun ini? Menjawab hal ini, Irma tertawa ngakak. Diakuinya, mempersiapkan itu memang berat namun tetap menyenangkan karena itu memang menjadi impian dirinya juga Dhika yang telah setahun lebih berpacaran. Apalagi untuk menjaga kebersamaan mereka, boleh dibi­ lang tidak mudah. Pasalnya, sebelumnya, sempat tersiar kabar kalau orangtua Dhika kurang setuju. “Rencananya memang tahun ini, tapi kapan per­ sisnya, belum bisa menginformasikan. Tunggu saja, ya,” katanya. – Diana Runtu


EKSPRESSO

2

24 Februari - 2 Maret 2014

GORO-GORO

klik: www.tokoh.co.id

Lat

mingguantokoh @mingguantokoh

Putu Wijaya

Pilih Nyawa atau Gaya? Kasus kecelakaan yang ter­ jadi di jalan raya bisa menimpa siapa saja. Namun, kecelakaan yang melibatkan pelajar banyak mendapat perhatian. Data Polda Bali tahun 2013 menyebutkan pelajar berada di urutan kedua setelah karyawan dalam klasifikasi profesi. Jika dilihat dari sisi usia, pelaku kecelakaan paling banyak usia 16-25 tahun (740) disusul usia 10-15 tahun (107). Hal yang perlu diperhatikan adalah usia 10-15 tahun. Nor­ malnya ini adalah usia untuk anak sekolah SD hingga SMP. Bagaima­ na mereka menjadi pelaku kecela­ kaan? Apakah mereka memiliki SIM? Bagaimana peran orangtuan­ ya? Pertanyaan-pertanyaan yang muncul ini kami bahas dalam dis­ kusi terbatas yang menjadi agenda rutin Mingguan Tokoh. Kami ingin

O

mendapatkan sudut pandang dari berbagai pihak yang berkompeten sehingga pemahaman mengenai kasus menjadi terbuka. Peran orangtua menjadi faktor utama yang disoroti. Ada orangtua yang sibuk bekerja sehingga tidak bisa mengantar-jemput anaknya sekolah. Karena sibuk, mereka memilih memberikan kendaraan bermotor untuk anaknya, pa­ dahal dari sisi aturan anak usia 10-15 tahun belum bisa memiliki SIM. Kondisi psikis mereka juga masih labil. Orangtua harusnya lebih bijaksana dan memikirkan pilihan lain. Alternatifnya adalah menggunakan jasa ojek, naik angkutan umum, atau orangtua yang meluangkan waktu untuk antar-jemput anak. Ini adalah konsekuensi yang harus dipilih sebagai orangtua yang punya anak

M G

sekolah. Jangan menjadi orangtua yang bangga anaknya bisa naik kendaraan bermotor. Jika anak melakukan kompro­ mi, orangtua harus memiliki sikap tegas. Tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor sebelum berusia 17 tahun. Ketegasan ini menjadi modal kedisiplinan. Kalau di rumah sudah disiplin, di jalan raya juga harus disiplin. Ikuti tata tertib lalu lintas. Kalau pakai helm, ya harus pakai helm. Jangan gayagayaan di jalan. Penuturan menarik seorang narasumber yang anaknya masih SMP dan menolak memakai helm saat ia berpakaian adat. Pilihan pertama, pakai helm dan ke seko­ lah dibonceng kakak yang sudah memiliki SIM. Pilihan kedua, jika tak mau pakai helm, silakan naik angkutan umum. Pilihan ketiga, jika tidak mau, pilhan pertama dan kedua, lebih baik jangan sekolah. Nyawa lebih penting dari gaya. Redaksi

Kisah Nyata yang Mendebarkan

Sekitar tahun 1980-an masyarakat Denpasar sering digemparkan oleh berita (apakah itu isu ataukah me­ mang benar adanya) tentang konon adanya sosok misterius yang suka membuat ulah di beberapa wilayah kota, entah tujuannya mau meram­ pok ataukah menculik, tidak jelas. Yang pasti beritanya simpang siur, namun cukup membuat masyarakat Bali khususnya Denpasar waktu itu merasa resah, mencekam, dan mu­ dah curiga kepada setiap sosok asing yang masuk di wilayah banjarnya. Waktu itu saya baru tamat Seko­ lah Pariwisata di Denpasar dan juga baru belajar bekerja di sebuah hotel yang tidak begitu besar beralamat di Jalan Bakung Sari Kuta dan merang­ kap melayani tur lokal khususnya ke destinasi seperti Kintamani, Besakih, dan Tanah Lot. Pada waktu itu kalau tidak salah akan dilangsungkan upacara besar Eka Dasa Rudra periode kedua di Pura Besakih. Pada suatu malam pukul 20.00 tamu hotel tempat saya be­kerja datang sekeluarga ke front office mau mendaftar ikut tur ke Be­ sakih keesokan hari. Tentu dalam hal ini saya harus memberitahukan ke sopir minibus yang biasa mengantar tur. Sayangnya, ia sudah pulang duluan pukul 18.00. Jika tidak, pasti besok dia akan datang agak siang seba­ gaimana biasa kalau tidak ada jadwal

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

tur. Pada masa itu, tidak ada telepon rumah dan kami belum mengenal handphone. Satu-satunya jalan harus memberitahukan langsung ke rumah­ nya di seputaran Padang Sambian. Celakanya, saya belum tahu alamat atau lokasi persis rumah Pak Sopir. Singkat cerita pergilah saya sendirian pakai motor ke rumah Pak Sopir se­telah tutup kantor sekitar pukul 22.00. Di Padang Sambian suasana sudah agak sepi, hanya ada beberapa orang bergerombol di pinggir jalan. Begitu memasuki jalan kecil yang belum beraspal, saya tuntun motor sambil menanyakan lokasi rumah Pak Sopir (kalau saya tidak salah namanye Pak Wayan Rete). Sesuai petunjuk orang yang bergerombol tadi, saya kemudian masuk ke sebuah gang kecil sambil menuntun motor. Pintu pekarangan waktu itu ham­ pir semuanya tidak menggunakan daun pintu saya coba masuki sambil mengucapkan permisi, tapi tidak ada jawaban. Yang ada hanya suara riuh gonggongan anjing yang terus

mengikuti saya. Di pintu terakhir di ujung gang ada orang yang menyahuti saya dan benar saja itu adalah rumah Pak Sopir yang saya cari dan kebetul­ an belum tidur. Lalu saya ceritakan tentang mengapa saya datang men­ cari Pak Sopir malam-malam. Ketika ngobrol di dalam rumah Pak Sopir tiba-tiba saya dengar suara beberapa orang ramai di luar (katanya sambil membawa senjata tajam) yang bertanya kepada tuan rumah, “Apakah ada yang melihat orang ­asing tadi masuk ke sini?” Saya sungguh takut luar biasa. Lalu Pak Sopir keluar men­ jelaskan duduk persoalan yang sebe­ narnya. De­ngan alasan kesela­matan, Pak Sopir melarang saya pulang malam itu alias menginap semalam di rumah Pak Sopir yang sederhana beralaskan selembar tikar. Benar-benar sebuah pengalaman suka-duka sebagai buruh kecil tapi sangat berkesan dan tak mudah dilupakan. I Ketut Panca Putra Cakranegara, Mataram

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lain­ nya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Pan­ jang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

24 Februari - 2 Maret 2014

Amat kesiangan. Ia jatuh bangun ke kamar kecil, mandi, dan dandan. Panik, karena sepatu yang hampir setahun tidak terpakai entah nyelip di mana. Kemudian gentayangan cari kaus kaki karena yang kiri dan kanan beda warna. Belum lagi bolong dimakan tikus. Tapi akhirnya siap juga. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Amat patah semangat. Ia ambruk ke kursi seperti nangka busuk. Wajahnya berkerut. “Kenapa, Pak? Kok belum berangkat? Pusing? Amat membuka kancing baju batiknya. “Kenapa? Kurang sehat?” Amat menanggalkan batiknya. “Kenapa dibuka? Mau tukar pakai apa? Batik sudah pas. Sopan dan kelihatan lebih muda!” Amat menggeleng. “Kenapa?’ “Sudah lat!” Suara amat parau. Ia menunjuk ke jam dinding. “Lihat sudah jam 10.00. Janjinya jam 09.00. Belum jalan macet ada pawai.” Bu Amat menoleh ke jam dinding heran. “Jam sepuluh apa? Ini baru jam sembilan. Jam dinding itu kan mati?” Amat terkejut. Ia melihat lagi ke jam dinding. Baru teringat lagi jam itu sudah tiga hari tak berfungsi. Amat langsung memakai lagi batiknya dengan panik. “Kancingnya salah!” Amat memperbaiki kancing bajunya. Bu amat membantu. Tanpa pakai kaus kaki akhirnya amat berangkat. “Hati-hati!” Hampir saja Amat menabrak nenek tetangga yang sedang berjemur. Sambil minta maaf, Amat bergegas ke jalan cari angkutan umum. Pukul 7 malam, baru amat kembali ke rumah. “Bagaimana, Pak, lat?” “Ya, lat juga.”“Tapi ketemu?” “Ya ketemu. Karena kapal terbangnya juga lat.” “Jadi sudah disampaikan?” “Ya sudah. Tapi sudah lat!” “Lho, bukannya ke Jakarta hanya 2 jam. Paling banter jam 2 siang sudah sampai ke kantornya. Kan di Jakarta mundur satu jam?” “Betul. Tapi sudah lat.” “Lat bagaimana?” “Penutupan kan Januari, ini sudah Feburari”! “Lho Januari kan baru pembukaan. Januari tahun depan baru penutupan! Bapak ini bagaimana!” Amat tercengang, seperti tak percaya. Bu Amat lantas mengambil guntingan koran yang berisi pengumuman. “Ini baca pakai kacamatanya jangan cuma ditebak-tebak! Penutupan akhir Januari tahun depan!” Bu Amat memaksa suaminya membaca pakai kacamata baca. “Ya kan?! Tapi tadi sudah diberikan tidak amplopnya?” Amat masih heran. “Kok bisa keliru lat sampai dua kali hari ini aku?” “Makanya tidurnya jangan suka lat. Sebab kalau lat bangun Bapak jadi gugup, semua mau buru-buru. Semua jadi salah. Sepatu sudah dipakai dicari ke mana-mana, kaus kaki kiri dan kanan lain warna, jam mati dibaca, pengu­ muman bukannya dibaca tapi ditebak. Sana mandi dulu, dari lapangan terbang singgah ke mana saja tadi, tengah malam baru pulang kayak bujangan!” Amat tak menanggapi. Tapi ia manut, buru-buru ke kamar mandi. Setelah itu menyerbu meja makan. Kemudian cari koran yang tak sempat disingkapnya tadi pagi. Ternyata Gunung Kelud sudah meletus. Wilayah yang diamankan men­ capai radius 35 Km. Beberapa penerbangan dibatalkan. Amat cepat menghidupkan TV. Menguntit kesigapan JK, ia tak mau ketinggalan berita. Langsung menempel ke saluran TV yang membawanya dekat dengan kawasan bencana. “Setelah Medan, Manado, kini Kediri, apa gunung juga suka main kompak-kompakan? Tidak ada yang mau lat batuk? Untuk menggemboskan sedikit semangat jor-joran agar jangan terlalu meledak nanti dalam Pemilu?” tanya Amat dalam hati. Tengah malam, baru Amat mendusin, ia tertidur di depan TV. Tapi TV itu sudah dimatikan. Baru Amat ingat itu hari Rabu. Ia ada janji. Cepat-cepat Amat masuk kamar. Lampu sudah dimatikan. Entah jam berapa sudah saat itu. Ia menubruk meja dan sesuatu jatuh berisik. Amat tak peduli. Bu amat menggerundel. “Sudah lat!” Amat bersorak dalam hati. Ada lat yang membawa bencana. Tapi juga ada lat yang menambah pesona. Esoknya, di luar kebiasaan, keduanya sama-sama lat bangun pagi.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­kretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Pal­ merah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram– Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

I N F O TO R I A L

23

Semarak HUT ke-45 Perdiknas Denpasar

Siapkan Pendidikan Berkualitas bagi Anak Bangsa Suasana kebersa­ maan sangat terasa pada puncak acara HUT ke- 45 Perdik­ nas Denpasar, pagi itu. Tampak semua peserta, keluarga besar Perdiknas Denpasar antusias dan tersenyum ba­ hagia bersiap-siap mengikuti ber­ bagai pagelaran yang meng­usung tema “Dari Kesederhanaan Kita Tingkatkan Rasa Kekeluargaan”.

P

ada puncak acara terse­ but hadir pula Kadisdik­ pora Kota Denpasar, IGN Eddy Mulya, Ny. Bintang Puspayoga, Ny. AA Sri Utari Satria Naradha. Bersama Pendiri dan Ketua Perdiknas Denpasar, bertem­ pat di depan Gedung Perdikas, Jalan Tukad Yeh Aya, Denpasar, melepas ratusan peserta gerak jalan santai, Minggu (16/2). “Gerak jalan santai kali ini, selain melibatkan civitas akademika Un­ diknas, siswa SMP Nasional, SMA Nasional, dan SMK Teknologi Na­ sional, juga seluruh karyawan dan para pendidik di lingkungan Perdiknas. Setelah jalan santai mereka kembali di area halaman Perdiknas ini untuk mengkuti beragam acara lainnya,” ungkap Ketua Panitia HUT ke- 45 Perdiknas Denpasar, Dr.Drs. I Ketut Subanda, M.Si. Kegiatan puncak acara HUT ke-45 Perdiknas sekaligus Dies Natalis pada hari tersebut, semakin meriah dengan diselenggarakannya demo kecantikan oleh Ibu Agung dari Salon Agung serta

Pendiri Utama Perdiknas Ketut Sambreg dan Ketua Perdiknas bersiap melakukan pemotongan tumpeng

dilangsungkannya pula aneka lomba dan pengundian door prize. Sebelum acara berakhir juga dilaksanakan pem­ berian penghargaan kesetiaan dosen guru dan karyawan Perdiknas, kali ini untuk mereka yang telah mengabdi selama 25 tahun. Menurut Ketua Perdiknas Dr. AAA Ngr. Tini Rusmini Gorda, S.H., M.H., M.M., usia ke-45 Perdiknas kali ini, diibaratkannya sebagai kon­ teks dasar kemerdekaan bangsa Indonesia di tahun 45. Sedangkan, kesederhanaan yang diangkat menjadi tema, diharapkan dapat mengikuti rasa kekeluargaan. “Kejujuran juga merupakan kesederhanaan yang paling tinggi nilainya dan digunakan dalam menjalin hubungan antar unit di Perdiknas,” katanya. Seluruh lembaga pendidikan yang ada di bawah Perdiknas juga diharap­ kan terus memberikan kontribusi bagi generasi muda, para tunas bangsa yang ingin mencari ilmu. Pembentukan karakter pada mereka di jenjang S-1 dan S-2, juga sesuai dengan program pemerintah Indonesia. Bahwa, tepat 100 tahun Indonesia Merdeka tahun 2045 merupakan pencanangan gene­ rasi berkarakter, generasi emas. Selanjutnya kata Gung Tini, ke­ beradaan Perdiknas semakin kokoh, karena lulusan semua lembaga pen­ didikan memiliki nilai plus, sebab me­reka telah dibekali pendidikan karakter. Hali ini juga menjadi modal

Demo Kecantikan oleh Salon Agung

Kadisdikpora Kota Denpasar IGN Eddy Mulya, Ny. Bintang Puspayoga dan Ny, AA Sri Utari Naradha pada Puncak Acara HUT ke-45 Perdiknas

Kunjungan ke Panti Jompo Tresna Werda Wana Seraya

Perdiknas untuk terus maju memberi­ kan kontribusi yang terbaik yakni pen­ didikan berkualitas bagi anak bangsa. Pendiri utama Perdiknas Drs. Ketut Sambreg, M.M., mengungkap­ kan, di tahun 1969 Perdiknas hanya memiliki Akademi Keuangan dan Perbankan, yang akhirnya menjadi cikal bakal keberadaan Undiknas Uni­ versity saat ini. Hal tersebut katanya didirikan demi dapat memberikan tempat pendidikan di Bali bagi putraputri Bali. “Karena kami melihat pada masa itu, semakin banyak putra-putri Bali yang melanjutkan kuliahnya ke Jawa. Karena itulah kami mendirikan lem­ baga pendidikan. Begitu kami meng­ umumkannya, masyarakat sangat an­ tusias. Tercatat pendaftar pertama 159

orang. Selanjutnya, terus bertambah dan berkembang sampai sekarang,” tutur Ketut Sambreg. Ia menggantungkan harapan besar agar lembaga yang dirintisnya bersama dengan I Gusti Ngurah Gorda (alm.), baik itu SMP, SMA, SMK Teknologi Nasional hingga Undiknas yang berada di bawah naungan Perdiknas Denpasar ini, terus maju. Selanjutnya, segera dibuka S-3 Jurusan Manajemen. BERBAGI DENGAN LANSIA DAN ANAK PANTI ASUHAN Aktivitas sebelumya yang juga merupakan rangkaian peringatan HUT ke-45 Perdiknas, yakni kunjungan sosial ke Panti Jompo Tresna Werda Wana Seraya, Biaung, dan Panti Asu­ han Tatwam Asi, di Jalan Jaya Giri,

Kunjungan ke Panti Asuhan Tatwam Asi

Berfoto bersama usai demo kecantikan

Renon Denpasar. Ketika mengunjungi para lan­ sia, rombongan Panitia HUT ke-45 Perdiknas, mengajak pula dokter, untuk memberikan pemeriksaan kesehatan gratis. “Ini adalah salah satu bentuk kepedulain Perdiknas terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang ada. Selama ini kami juga mengajarkan dan menanamkan nilai kemanusiaaan dan kepedulian ini pada anak didik di lingkungan Perdiknas,” ungkap Su­ banda yang juga Dekan Fisip Undiknas University ini. Harapannya, dengan kehadiran langsung di lokasi panti, dapat mem­ berikan manfaat secara riil bagi para lansia. Subanda mengatakan, lansia yang ada di panti jompo adalah orang yang berjasa dan mempunyai nilai, meski sudah lanjut usia. Perjuangan, motivasi serta spirit mereka menjadi dorongan tersendiri bagi Perdiknas untuk melaksanakan bakti sosial ini. “Siapa tahu ada di antara mereka yang ikut berjuang untuk bangsa ini. Sebagai generasi muda perlu juga bercermin dari mereka,” ungkap Gung Tini. Sementara, Ketut Sambreg juga mengungkapkan kebahagiannya, ke­ tika beberapa hari sebelum puncak acara dirinya juga berkesempatan bersama-sama rombongan Perdik­ nas melakukan aktivitas sosial untuk membantu sesama. Ia kembali meng­ aku senang ketika berada di tengahtengah mereka. Ia juga berharap, penghuni panti yang disebutnya penglingsir tersebut masih memiliki umur panjang. –ard

Foto bersama usai pemberian penghargaan kesetiaan dosen, guru dan karyawan Perdiknas.


24 Februari - 2 Maret 2014

24

Mengusung Fashion dengan Konten Lokal dan Konsep Hijau Eksistensi produk fashion Indonesia makin diperhitung­ kan di pasar internasional. Hal ini terlihat dari per­ tumbuhan ekspor produk ­fashion yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Jika melihat tren pertumbuhan dalam lima tahun terakhir (2008-2012), terlihat per­ tumbuhan yang cukup signifikan, 10,95% per tahun. ­Bahkan tahun lalu pertumbuhannya 6,4% atau lebih tinggi dari pertumbuhan nasional, 5,7%.

T

ren menggembira­ kan ini makin menye­ mangati para pelaku industri fashion Indo­ nesia dalam berkarya dan berkreasi demi mendapat tempat lebih luas lagi di panggung fashion internasional. Di sisi lain, kampanye mencintai produk fashion Indonesia atau ‘Local Movement’ terus dikumandangkan. Gerakan ini dibuat agar dapat me­ ningkatkan jumlah pengguna produk lokal sehinga akan memacu percepa­ tan produksi produk Indonesia, serta promosi ke luar negeri. Indonesia Fashion Week (IFW) 2014 yang digelar 20-23 Februari di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, adalah salah satu yang ikut mengusung gerakan ini dalam pagelarannya. Pelaku industri fashion Indonesia tidak sendirian, karena empat kementerian terjun langsung mem­ beri dukungan. Kementerian Pa r i w i s a t a d a n Ekonomi Kreatif serta Kementerian Perdagangan yang selain mendukung Local Movement juga mengusung Green Movement, disamping menjalankan pro­ gram pengembangan branding. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah tampil de­ ngan pro­ gram kelompok kerja kreatif untuk mengembangkan kualitas produk na­ sional yang mampu bersaing di tingkat internasional. Semua langkah ini dijalankan dalam rangka membawa Indonesia menjadi salah satu pusat mode dunia di masa depan. Impian ini bukan sekadar ‘bunga tidur’, juga bukan suatu yang mus­ tahil karena sejatinya Indonesia memiliki segala sumber daya un­ tuk mencapai itu. Seperti yang di­ sampaikan Dody Edward, Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemen­ terian Perdagangan, yang menyebut, Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk terus berkembang dan menjadi pusat mode di kawasan regional, serta memainkan peranan penting di tingkat global. Fashion Indonesia didukung oleh kekayaan budaya yang menjadi sumber inspirasi tanpa batas bagi para pelaku fashion Indonesia untuk terus mengem­ bangkan kreativitas dan inovasinya. Hal senada juga disampaikan Ketua Umum APPMI (Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia), Taruna K Kusmayadi, yang menyebut, IFW

sebagai the biggest fashion movement. Karena ajang ini bukan sekadar page­ laran fashion biasa, melainkan sebuah gerakan untuk memperbaiki industri fashion Indonesia dalam segala sisi de­ ngan mengandeng berbagai pihak. “IFW tahun ini mengusung konsep ‘Local Movement ‘ dan ‘Green Movement’. Gerakan ini mer­ upakan ajakan un­ tuk bangsa untuk mencintai produk Indonesia, juga ajakan bagi pelaku dan pencinta fashion untuk sadar de­ngan konsep ‘sustain-

able fashion’ atau ecofashion,” ucapnya pada pembu­ kaan IFW 2014, Kamis (20/2). Mari Elka Pangestu, Men­ teri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat pembuka event akbar ini mengatakan IFW bukan sekadar pameran biasa melainkan upaya berbagai pihak yang punya mimpi agar Indonesia men­ jadi salah satu pusat mode dunia tahun 2025. “Fashion merupakan salah satu industri yang penting da­ lam pengembangan industri kreatif. Bahkan tahun lalu pertumbuhannya 6,4% atau lebih tinggi dari per­ tumbuhan nasional sebe­ sar 5,7%,” ucap Mari Elka. Ia menambahkan,

untuk mewujudkan mimpi itu keempat kementerian telah berbagi tugas. Kemen­ parekraf menangani tren mode, Kemen­ perin bahan baku, Kementerian Koperasi dan UKM pembinaan UKM, Kementerian Perdagangan pasar dan bisnis. Blueprint tersebut telah menyepaka­ ti ready to wear craft fashion sebagai tools yang ampuh untuk menembus pasar dunia. “Ready to wear Indonesia adalah ready to wear yang memiliki konten lokal berkualitas global dan mengusung konsep hijau,” kata Mari Elka. MEWAH DAN GLAMOUR Indonesia Fashion Week 2014 ini memang tampil berbeda dari tahun sebelum­nya. Kali ini IFW berusaha mem­ buat arus baru di dunia fashion yaitu arus kecintaan masyarakat Indonesia akan produk lokal. Produsen fashion dibimb­ ing untuk membuat produk lokal yang inovatif dan modern agar mampu bersa­ ing dengan produk asing. Dari konsep tersebut, Indonesia Fashion Week 2014 memunculkan ide untuk menyatukan potensi desainer dan brand. Sebanyak 160 desain lokal dan 512 brand ikut ambil bagian dalam event akbar ini, jumlah ini lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Selain desainer dalam negeri, juga hadir de­ sainer internasional di antaranya dari Argentina, Maroko, dan Jepang. Para desainer dan merek ini dikelompok­ kan dalam berbagai zona yaitu; Men’s Wear, Women’s Wear, Muslim’s Wear, Kid’s Wear, Aksesoris, Tekstil, dan Green Point. Acara pembukaan yang digelar di Plenary Hall JCC makin meriah dan me­ narik ketika Deden Siswanto dan Sofie menampilkan karya-karyanya yang kental nuansa etnik tampil. Peng­ gunaan bahan-bahan de­ngan warna mengkilat membuat karya-karya terkesan mewah dan glamour. Desainer lain yang juga me­ nampilkan karyanya pada pembukaan IFW adalah Ali Charisma, Votum dan Mardiana Ika serta desainer interna­ sional seperti Steven Tach (Jepang) dan Said Mahrouf (Maroko). Selain para desainer papan itu, acara pembukaan juga dimeriahkan dengan karya-karya para desainer pemula yang berasal dari 12 sekolah mode. Sekolah-sekolah tersebut menampil­ kan tren yang bertema Recovery. Tema tersebut merupakan hasil pemikiran tim Indonesia Trend-setter yang dibentuk APPMI dan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tren yang ditampilkan adalah gaya busana berbasis Indonesia yang mengedepankan karakter berbagai daerah seperti Solo, Banjarmasin, Jakarta, serta Raja Ampat. Yang juga menarik dalam IFW kali ini adalah hadirnya Zalora sebagao official e-commerce partner. Ini adalah yang kedua kalinya Zalora tampil se­ bagai salah satu spon­ sor sejak tahun 2012. Zalora membangun booth khusus di lobi utama. Di sana tersedia seperang­

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu meninjau pameran

kat komputer dan internet guna me­ mungkinkan pengunjung memenuhi hasrat belanjanya di situs zalora.co.id. Di booth berlatar belakang warna hitamputih, warna khas Zalora, pengunjung diajak untuk merasakan pengalaman berbelanja online yang nyaman, mudah dan aman. Zalora juga menggelar workshop di mini stage yang membahas tentang marketplace yang akan diluncurkan dalam waktu dekat. Platform baru ini berperan sebagai wadah untuk mengembang­ kan bisnis para desainer dan pelaku

ritel fashion independen dengan cara memperkenalkan produk dan merek mereka pada pelangan situs e-commerce tersebut. –Diana Runtu


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook