Skip to main content

Tokoh Edisi 781 | Tokoh

Page 1

24

27 Januari - 2 Februari 2014


EKSPRESSO

2

27 JANUARI - 2 Februari 2014

27 JANUARI - 2 Februari 2014

GORO-GORO

klik: www.tokoh.co.id

Menu Sehat ala Sarwan

HUJAN

mingguantokoh @mingguantokoh

Amat duduk menatap hujan. Sejak subuh, air langit itu sudah mendongkel-dongkel membuat semua kuyup. Lalu Amat bertanya dalm hati. “Untuk siapa hujan ini turun?” Ia lihat anak-anak tetangga, jalan ke sekolah memakai payung yang terlalu kecil. Sepatunya ditenteng bersama buku dan tasnya. Tapi ia tertawa dan berteriak-teriak ketika melihat kawannya kejeblos masuk selokan. Baju dan buku-bukunya basah. “Waktu kecil dulu, kita juga banyak tertawa, seperti me­ reka,” kata Amat ketika istrinya menghampiri membawa segelas kopi. “Anak-anak sekarang memang terlalu banyak tertawa!” kata Bu Amat kesal. “Apa saja ditertawai. Masak temannya masuk got bukannya ditolong tapi ditertawai? Tidak tahu aturan!” Amat tertawa. Anak yang kejeblos itu, ketika berdiri, di­dorong lagi oleh teman-temannya ke got. Tapi dia berhasil menarik tangan temannya itu bersama masuk got. Anak-anak menjerit kegirangan. “Jangan ditonton Pak, nanti tambah nakal!” “Anak kecil memang lebih baik nakal.” “Ah! Bapak ini yang nggak-nggak saja!. Kalau kecilnya sudah nakal, besarnya pasti jadi orang tak bener!” “Salah, Bu! Riset membuktikann anak nakal itu biasanya pin­ tar!” “Siapa bilang! Itu riset keblinger! Mana ada anak nakal itu pintar. Kalau nakal pasti goblok. Nah, kalau goblok biasanya lalu nakal! Lihat saja nanti! Anak-anak lain jam begini sudah di kelas. Anak-anak itu paling banter mau cari alasan bolos karena bajunya basah!” Bu Amat lantas menutup jendela. Lalu mendamprat suami­ nya. “Bapak jangan mengajari anak-anak itu bolos! Nanti orang­ tuanya protes kalau anaknya tidak lulus UN!” Amat tercengang. “Mengajari anak-anak itu bolos? Apa hubungannya. Bapak cuma nonton hujan kok! Apa salahnya nonton hujan?” “Tapi Bapak sudah tertawa!” “Ada yang jatuh ke got. Lucu! Apa salahnya orang tertawa?” “Tidak boleh tertawa! Mereka kira Bapak menertawakan mereka. Jadi mereka senang, terus saja main-main sampai lupa sekolah. Besok kalau hujan lagi tutup saja jendelanya!” Besoknya, pagi-pagi kembali hujan. Pak Amat tidak berani buka jendela. Tapi gemerisik air hujan begitu seksi. Amat tergoda. Setelah mengintip dan ternyata tak ada anak-anak, Amat membuka jedela. Suara hujan menyerbu masuk. Amat merasa diserang semangat. Rumah terasa kembali diberondong kehidupan, Amat me­ nikmati suasana itu dengan nikmat. Ia teringat bagaimana dulu ia main kasti hujan-hujanan. Pulang sekolah hujan-hujanan. Ketika kedengaran entakan kaki Bu Amat datang, Amat cepat menutup jendela, lalu pura-pura baca koran. Bu Amat meletakkan gelas kopi di meja, sambil sambat, “Aduh pengap, Pak. Kenapa jendela tidak dibuka, tukar udara demi kesehatan!” Bu Amat langsung buka jendela. Begitu terbuka, memberon­ dong masuk suara gelak tertawa dan pekik anak-anak. Mereka main bola di air yang tergenang. Ketika salah satu masuk selokan, yang lain ikut mencebur. Akhirnya semua bergulat rebutan bola di selokan. Bu Amat tertawa terpingkal-pingkal. Amat segera mendekat lalu menutup jendela. “Jangan ditutup, Pak!” “Katanya tidak boleh tertawa! Nanti anak-anak bolos!” “Ini kan hari Minggu! Amat terpaksa membuka jendela lagi. Lalu ikut bersama-sama tertawa. Bahkan berteriak memberi semangat anak-anak itu. Esoknya, hari Senin, Pak RT bertandang. Dengan hormat, ia minta, agar Amat tidak membuka jendela lagi, kalau hujan. “Soalnya anak-anak pada sakit, tidak sekolah semua, akibat hujan-hujanan main bola di selokan,” kata Pak RT. Amat mengangguk supaya tidak memperuncing masalah. Tapi Bu Amat marah besar, “Apa hubungannya!”

Putu Wijaya

Baca Habis Semua Tulisan Beberapa komentar masuk ke redaksi Tokoh terkait perubah­an yang kami lakukan. Bapak Ngurah di Jalan Gatot Subroto Denpasar menelepon, tulisan Goro-goro Putu Wijaya, mengapa sering berpindahpindah halaman? Apakah tidak bisa ditetapkan saja halamannya? Selama beberapa edisi yang lalu, Goro-goro memang be­berapa kali pindah halaman. Terkadang di halaman Inspirasi, kadang berpin­ dah Snapshot, sesekali di halaman What’s Up dan kemudian di hala­ man Dara. Jika begitu ke­jadiannya, ada hal teknis terkait tata letak yang memengaruhi. Tetapi, jangan kha­ watir, kini ha­laman Goro-goro sudah pasti tetap di halaman Eks­presso. Selain itu, ada juga komentar dari Ibu Komang Sri di Tuban. “Tokoh sekarang kian enak dibaca. Saya suka halaman yang ada resep­nya, apalagi

O

M G

kini ditambah. Resep itu siapa yang buat ya? Apakah Tokoh bisa tambah ha­laman lagi?” begitu pesannya. Ada dua halaman resep di Tokoh. Pertama, Resep ala Chef. Resep ini disediakan oleh chef berbagai hotel dan restoran yang tergabung dalam Indonesian Chef Association Bali. Chef yang mem­ buat resep, selalu kami tampilkan foto dan namanya. Tiap minggu, selalu berbeda. Kedua, Resep­ne Sarwan, dibuat oleh Sarwan, pe­ serta kompetisi masak Master­chef. Beberapa resep Sarwan digunakan hotel dan restoran di Surabaya. Apakah Tokoh bisa menambah halaman lagi? Kami berharap iya. Tetapi, untuk menambah halaman memerlukan kajian operasional yang lebih jauh. Doakan saja kami bisa menambah halaman. Ada juga pesan dari Ibu Anna di Sanur. “Tiap Minggu, saya pasti membaca habis semua tu­

lisan di Tokoh. Semua rubrik saya suka. Tetapi, yang pertama kali saya baca, tergantung beritanya. Saya suka tulisan di Life Story. Seperti tulisan tentang Liburan Berujung Maut, saya sampai menangis mem­ bacanya,” kata Bu Anna. Senada dengan Ibu Anna, Bapak Rena Krisnanda melalui Facebook menyampaikan, Tokoh­ merupakan media yang tak pernah terlewatkan dibaca oleh keluarga saya. Terima kasih atas respons pem­ baca Tokoh. Kami berharap, Tokoh bisa menjadi sumber ins­pirasi dan media yang mence­rahkan. Kami menunggu saran dan kritik yang lain agar kami bisa terus mening­ katkan kualitas. Sekali lagi, terima kasih. Salam.

Ralat Terjadi kesalahan penulisan nama pada rubrik Inspirasi edisi 780. Tertulis Okin Adnyana, seharusnya Okin Adiyana.

Terpaksa Makan sambil Menunggu Uang

Pulang kantor, saya dan istri berencana mampir untuk mem­ beli makanan di warung lang­ ganan. Dalam perjalanan menuju warung, saya sempat menanya­ kan apakah istri membawa uang. Karena hembusan angin cukup kencang, saya mendengar istri saya mengatakan, bawa. Dengan percaya diri, kami langsung ke warung. Awalnya kami mau membungkus makanan untuk makan di rumah. Warung langganan ini biasanya ramai dan kami jarang mendapat tempat duduk. Ternyata ketika kami datang sore itu, warung sepi. Kami pun memilih untuk makan di warung itu. Pilihan menu tentu saja yang sesuai dengan selera. Telor bum­ bu pedas dan tempe mendoan. Istri saya memesan pepes ikan dan telor bumbu pedas. Minum­ an kami sama-sama teh botol. Sambil makan kami ngobrol tentang berbagai hal. Selesai makan, saya langsung meminta uang kepada istri un­ tuk membayar. Dia malah kaget karena dari tadi sudah bilang tidak bawa uang. Saya yang salah mendengar. Jawaban tidak bawa, yang saya dengar bawa. Oh My

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

God….kami makan tanpa mem­ bawa uang. Bongkar isi tas, tak ada uang terselip. Kami pun mulai berakal. Istri saya yang sudah selesai makan, pura-pura makan lagi melan­ jutkan sisa nasinya. Saya ngacir keluar warung mencari ATM terdekat. Tukang parkir pun saya beritahu saya keluar sebentar dan akan kembali lagi. Begitu keluar dari warung, saya lalu mengingat-ingat dimana ATM terdekat. Saya khawatir juga kalau-kalau di ATM yang saya tuju sedang perbaikan atau uangnya kosong. Sembari ber­ doa, saya mencari ATM yang dekat dengan GOR Ngurah Rai. Akhirnya ATM pun saya temukan dan harus menunggu untuk ambil uang. Ada seorang ibu yang ada di dalam bilik ATM. Hingga 10 menit, ibu itu tidak keluar-keluar. Saya jadi tidak enak hati karena meninggalkan istri

di warung. Tiba-tiba ibu dalam bilik ATM keluar untuk memang­ gil satpam. Satpam pun datang dan membantu ibu itu. Urusan belum selesai, karena satpam keluar dan ibu itu meminta saya untuk mencari tahu bagaimana mengecek saldo. Saya pun mem­ bantunya mencari tahu berapa saldo tabungannya. Lima menit kemudian, ibu itu keluar ATM. Saya langsung menarik uang dan secepatnya pergi dari ATM dan kembali ke warung. Di warung, saya melihat istri saya menanti dengan wajah cemas. Nasi yang tadinya sisa, menjadi ludes dimakan sambil menunggu saya. Setelah mem­ bayar, kami lalu pulang. Kami berdua tertawa cekikikan karena hampir malu di depan kasir. Peng­ alaman ini membuat saya selalu menyelipkan uang di dompet untuk berjaga-jaga. –Rama Dipa

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lain­ nya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Pan­ jang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­kretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Pal­ merah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram– Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

23

Biasanya orang ingin makan makanan enak namun banyak dari mereka membatalkannya karena takut banyak kolesterol yang terkandung di dalamnya. Tapi kini, tak perlu takut. Chef Sarwan punya solus­ inya. Sarwan membuat menu makanan nonkoles­ terol dan minuman sehat juga. Menu sehat ini juga bisa dinikmati di Hotel Sahid Surabaya.

Chef Sarwan

B

agaimana rasa dan cara mengolahnya? Sarwan berbagi resep. Chef yang memiliki ciri khas masakan In­ donesia ini, digandeng Hotel Sa­hid untuk menyajikan menu un­t uk tamu hotel. Beberapa menu di antaranya, Bebek Non­Kolesterol, Resep Rawon Kendil Tulangan Sahid dan Kutuk Masak Bumbu Kluwek. Minumannya ada Nawisu Juice dan Strawberry Banana Milk Shake. “Bagi penikmat makanan yang tidak suka makanan dan mimunan yang mengandung lemak, coba saja menu saya. Seperti bebek, banyak yang tidak suka dengan bebek karena makanan yang berkolesterol

tinggi. Resep saya akan membantu untuk mengurangi kandungan ko­ lesterol yang ada di bebek,” ujarnya saat di Hotel Sahid Surabaya be­ berapa pekan lalu. Caranya, rebus bebek di kuali hing­ ga tiga jam lebih. Air rebusan diganti lima hingga enam kali, su­ paya lemak berkurang. Langkah berikutnya, tiriskan dan goreng. “Ingat, bumbunya ha­ rus sesuai resep saya, yakni banyak rempah,” ujarnya. Sarwan me­ mang memiliki cirri khas dengan rasa yang pedas dan banyak

rempah. Menu kedua yakni Resep Ra­won Kendil Tulangan Sahid yang dibuat dengan menonjol­ kan rasa bumbu yang merasuk ke tulangnya. Jika tu­ langnya disesap, bumbunya akan berasa. Menu selanjutnya adalah Kutuk Masak Bumbu Kluwek. Kutuk ini sebelum digoreng ditaburi jeruk nipis supaya tidak

amis. “Oiya, kalau ingin meng­ ganti ikan kutuknya dengan ikan lain bisa. Yang penting ikannya padat,” katanya. “Sementara untuk membuat minuman Nawisu Juice dengan bahan nanas 200 gram, sawi tiga lembar dan susu nonfat. Bisa juga diberi gula yang rendah kalori. Semua bahan diblender, pasti rasanya enak. Rasa sawinya tak kentara, jadi seperti jus avokad,” ujarnya. Strawberry Banana Milk Shake dengan bahan satu pisang kepok

merah, satu scoop stroberi, satu ons Grenadine sirup dan tiga scoop es lalu diblender. “Rasanya segar,” ujarnya. Meski Sarwan sudah menye­ barkan resepnya di beberapa hotel dan restoran, ia mengatakan jika menu yang ia buat tidak sama dari satu tempat ke tempat lain­ nya. Tetapi rasa dan ciri khasnya tetap sama. “Resepnya sama semua tapi menu makanannya berbeda-beda dong, tidak boleh sama,” katanya. – Diyah/Ratna Hidayati


22

W H AT ’ S U P

27 januari - 2 Februari 2014

27 januari - 2 Februari 2014

K O M U N I TA S S E P E D A T U A I N D O N E S I A

Menarik Sejenis

Peminat sepeda onthel kian banyak dari waktu ke waktu. Sekarang ini, khususnya di kota-kota besar, kita makin sering disuguhi pemandangan kelompok-kelompok pesepeda onthel melalui jalan-jalan kota pada harihari libur, khususnya ­Minggu pagi. Bukan sekadar bersepeda santai, kelompok-kelompok pesepeda onthel ini juga kerap tampil di berbagai acara sosial maupun hiburan.

P

kecil menyukai sepeda, dan keg­ emarannya itu tak hilang hingga de­ wasa. Kapan pun ada kesempatan, jika memungkinkan ia akan ber­ sepeda. Tak terbatas hanya sepeda onthel, dulu ia juga termasuk penggemar sepeda modern yang menurut Teddy dari sisi harga ada ‘kastanya’. Dari harga yang biasa saja sampai yang berbunyi ‘jut-jut’ (jutaan atau puluhan juta). Tak mau bersaing dengan hal semacam itu, karena hakikat bersepeda itu adalah untuk kesehatan juga refreshing bukan soal gengsi-gengsian, Teddy pun merasa lebih nyaman dengan sepeda onthel yang tak kenal ‘kasta’. Mungkin, kar­ ena itu juga, komunitas sepeda onthel ini begitu subur tumbuhnya. Komunitas Onthel Batavia sendiri, tutur Teddy, berdiri sejak Agustus 2005. Awalnya, Teddy yang gemar ber­ sepeda datang ke Monas di Minggu pagi. Di sana berjumpa dengan satudua pengguna sepeda tua juga. Tak terasa, aktif ber­ sepedaan di Monas mem­ buatnya memiliki banyak teman yang juga pengge­ mar sepeda tua. “Jumlah­ nya makin banyak, akhirnya kami sepakat membentuk sebuah komunitas yang disebut Komunitas ­Onthel Batavia. Nama Batavia disesuaikan dengan sepeda t u a , dengan nama Batavia jadi terke­ san tua. Sekarang ini anggotanya sudah mencapai 3.000 orang,” imbuhnya. Komunitas ini kemudian meng­

Tim Gowes KoSTI

sumber foto sepedawordpress

Komunitas sepeda tua

induk ke Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KoSTI) yang berdiri tiga tahun kemudian,” paparnya, seraya menambahkan, Mei 2013 lalu, un­ tuk kedua kalinya KoSTI mengikuti kongres International Veteran Cycle Association (IVCA) di Ceko. Indonesia adalah Negara kedua di Asia, setelah

Jepang, yang menjadi anggota resmi IVCA. Yang menarik pada saat itu, para perwakilan KoSTI dalam menggikuti reli mengguna­ kan pakai­ an adat Sunda sehingga secara tidak langsung KoSTI telah memperkenal­kan budaya bangsa Indonesia di dunia internasional. DARI MURAH SAMPAI PULUHAN JUTA Untuk masuk menjadi anggota komunitas sepeda tua, tuturnya, tidak ada persyaratan khusus ke­ cuali memiliki sepeda tua. “Asalkan bentuknya tua, tidak masalah, bisa masuk sebagai anggota. Jadi tidak ada syarat merek atau buatan negara mana, atau tahun pem­ buatan. Yang penting sepeda tua. Kan pabrik sepeda tua juga sudah tidak ada. Yang ada adalah pabrik yang membuat sepeda-sepeda baru model klasik. Selain itu, kami juga tidak mengenakan iuran pada anggota,” ungkap Teddy yang be­ lum lama ini berhasil memboyong sepeda tua buatan tahun 1800-an dari sebuah museum pribadi di Ceko.

Tapi diakui Teddy pula, garagara peminat sepeda onthel se­ makin banyak, permintaan akan sepeda model itu pun meningkat pesat. Dan, hal ini otomatis mem­ pengaruhi harga jual sepeda tua itu. “Tahun 2007 saya masih bisa beli sepeda onthel

dengan harga Rp 25.000. Tetapi sekarang mungkin harga segitu, sudah tidak bisa lagi. Ini kan hukum supply-demand,” ujar Teddy yang memiliki tujuh sepeda onthel di rumahnya. Berbicara harga memang relatif, dari yang relatife murah sampai yang relatif mahal. Malah saat ini ada showroom sepeda model klasik buatan Holland yang menjual sepedanya seharga Rp 48 hingga 70 juta. Tapi tentu saja tak perlu khawatir, karena sepeda onthel juga banyak diproduksi di Indone­ sia, baik dari Yogyakarta, Tegal, dll. dengan harga relatif terjangkau. Hanya saja pesan Teddy, bagi yang ingin membeli sepeda tua orisinal agar berhati-hati agar tidak tertipu. “Sulit menentukan­ nya (sepeda orisinal). Saya sempat tiga kali tertipu. Ini akibat supplydemand juga. Supply kurang, se­ mentara permintaan begitu tinggi. Jadi bagi yang ingin beli sepeda orisinal, sebaiknya masuk di klub atau komunitas sepeda tua dulu. Nanti di sana bisa saling bertukarinformasi, bisa belajar mengenali

“Pernahkah Anda berpikir, Anda pernah bersama di kehidup­ an sebelumnya?” tanya Putu Arsaningsih, S.E., pendiri Yayasan Cinta Kasih ini kepada dua sahabat yang datang berkonsultasi padanya. Keduanya tampak terheran-heran tak percaya sembari meng­geleng-gelengkan kepalanya. Sejurus kemudian Putu Arsa­ningsih, S.E. menggerak-gerakkan jari-jemari tangannya seperti menghitung sesuatu. Hal yang sama juga dilakukan sekretarisnya Adek Dharana, yang men­ dampingi Bunda Ningsih, panggilan karib Arsaningsih. “Pada empat kehidupan terdahulu kalian adalah kakak beradik,” ujar Bunda yang diiyakan Adek.

sumber foto sepedawordpress

barang. Karena sepeda tua orisinal meski masih ada, namun sulit men­ carinya,” jelasnya. KONGRES KOSTI DI BALI Terkait KoSTI, Teddy menu­ turkan, tak lama lagi organisasi tersebut akan menggelar kongres yang rencananya diselenggarakan di Denpasar, 8-9 Februari men­ datang. Sekitar 3.000 orang akan hadir di sana. Ini adalah Kongres ke-3, setelah sebelumnya di Bo­ gor tahun 2008 (Kongres 1) dan Yogyakarta tahun 2011 (Kongres ke-2). “Acaranya selain laporan pertanggungjawaban kepengurusan periode 2011-2014, juga pemilihan ketua baru,” katanya, sembari me­ nambahkan, kali ini jumlah sepeda yang dibawa dibatasi. Hal ini berdasarkan pengalaman sebelumnya ketika KoSTI mengge­ lar ‘Bandung Lautan Onthel’ yang diikuti 16.000 penggemar sepeda onthel dari berbagai daerah di Indo­ nesia, juga dari mancanegara seperti Amerika, Belanda, Australia, Rusia, Thailand, dan Malaysia. Akibatnya, Bandung sungguh-sungguh menjadi ‘lautan’ onthel yang ternyata ber­ dampak kurang baik karena terjadi kemacetan. Sebagian masyarakat pun mengeluhkan hal tersebut. Hal ini menjadi pembelajaran bagi penyelenggara, untuk ke depan­ nya lebih berhati-hati, dalam meng­ gelar kegiatan-kegiatan akbar. “Jadi, kita membatasi kegiatan-kegiatan besar, khususnya terkait jumlah sepeda yang dibawa. Coba bayang­ kan saja, kalau 1.000 orang saja membawa sepeda ukuran panjang 2 meter, akan jadi seperti apa. Kami tidak ingin masyarakat terganggu, jadi harus dibatasi. Karena itu, untuk kongres di Bali pun demikian. Jumlah peserta yang datang boleh banyak, tapi untuk sepeda yang dibawa, maksimal 3.000 sepeda. Kami tidak ingin jor-joran,” tuturnya. Untuk memeriahkan acara, sekaligus kampanye dan sosialisasi kongres, KoSTI akan menurunkan Tim Gowes yang akan berangkat ke Bali dari Jakarta, dengan bersepeda onthel. Tim ini akan menempuh jarak 1.300 km selama 18 hari 17 malam, melewati 62 kabupaten/ kota di lima provinsi. –Diana Runtu/ Inten Indrawati

3

Arsaningsih

Makin Tua Makin Berkilau

esatnya pertumbuhan klub dan komunitas pesepeda onthel di Indonesia, juga diakui Ketua I DPP Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KoSTI), Teddy Nugraha. Pertumbuhan klub dan komunitas sepeda onthel dalam enam-tujuh tahun terakhir boleh dibilang cukup signifikan. Saat ini, ujarnya, jumlah anggotanya sudah mencapai 3 juta orang di seluruh Indonesia yang berasal dari 22 provinsi. Kenaikan signifikan juga bisa dilihat dari jumlah klub dan komunitas yang tumbuh subur pada lima tahun terakhir. Pada 2008 saat Kongres KoSTI pertama kali digelar, jumlah klub/ komunitas masih sekitar 131. Tetapi, lima tahun kemudian jumlah tersebut membengkak menjadi 700-an. Sekalipun tidak tercatat dalam lembaga rekor, namun den­ gan jumlah ini merupakan rekor tertinggi di dunia. Indonesia men­ jadi negara terbanyak jumlah klub/ komunitas sepeda tua di dunia. Pertumbuhan pesat ini, boleh jadi agak diluar dugaan. Karena pada sepuluh tahun lalu, masih sangat jarang mereka yang mau bersepeda onthel di jalan-jalan kota besar. Yang paling sering terlihat biasa­nya, hanya pedagang somay atau ojek sepeda. “Iya, makanya dulu di awal-awal sering diledek tu­ kang somay atau tukang ojek. Dulu di Monas, hanya ada satu-dua orang yang bersepedaan dengan sepeda onthel pada Minggu pagi. Tapi sekarang sudah sangat banyak,” kenang Teddy yang juga membidani lahirnya Komunitas Onthel Batavia pada 2005. Teddy sendiri mengaku sejak

S E L E B R I TA S

K

ehidupan saat ini tak lepas dari kar­ ma (perbuatan) kita sebelumnya. Kare­ na itu pula ia menegaskan, tak ada sesuatu yang kebetulan, semua ada keterhubungan dengan Tuhan, ­atman/jiwatman, dan hukum karma. Termasuk hari kelahir­an seseorang. Kalau pun hari kelahiran itu mem­ bawa karakter-karakter yang tidak baik, Bunda menyarankan jangan terpaku dengan hal itu. “Pakai itu sebagai acuan mengintrospeksi diri agar bisa berbuat yang lebih baik lagi. Ini bukan untuk siapa-siapa tetapi untuk diri kita,” ujarnya. Beberapa tahun terakhir ini nama Bunda Ningsih cukup ­f amiliar di telinga masyarakat Bali. Ia di­undang ke berbagai tempat dan acara untuk memberikan workshop Soul Illumination. Dalam pelatihan ini, peserta dikenalkan bagaimana mencerahkan jiwa dengan konsep energi, dan proses keterhubungan dengan Tuhan agar bisa membangkitkan energi Il­ lahi. Konsep energi ini bukan sesuatu yang baru. “Konsep energi ini ses­ ungguhnya semua ada di Bali dalam berbagai kegiatan ritualnya seperti ngulapin, melaspas, dll. Hanya saja ini harus dikupas lebih mendalam lagi se­hingga makna dan tujuan dari ritual itu didapatkan,” ucapnya. Perempuan kelahiran Yogya­karta, 17 Desember 1968 ini meng­awali ak­ tivitasnya sebagai instruks­tur senam hamil tahun 2000. Saat itu, belum banyak pelayanan senam untuk ibu hamil. “Waktu itu saya masih sakitsakitan, kondisi tidak nyaman. Karena saya meng­ajar senam, kondisi harus bugar terus. Saya mendalami energi agar bisa menyembuhkan diri sendi­ ri,” ungkapnya. Dari sana kemudian ia berpikir mengombinasikan senam hamil tersebut dengan konsep energi. Terciptalah senam hamil Yophytta, kolaborasi dari yoga, pilates, dan taichi. Senam ini merupakan afir­ masi dengan dasar konsep energi. Sampai saat ini, pencipta dan pelatih Yophytta Materna bagi bidan ini sudah ber­keliling ke seluruh kota besar di

Indonesia dan melatih hingga 11 ribu ibu hamil di seluruh Indonesia. Senam ini sudah dirasakan man­ faatnya. Bayi-bayi yang lahir dari rahim ibu yang saat hamil mengikuti senam Yophytta ini cen­derung lebih tenang, sabar, dan kualitasnya lebih bagus. Para ibu pun bisa melalui pro­ ses persalinan dengan rileks tanpa tekanan. Karena pada dasarnya senam ini mengajar­kan bagaimana melepas­ kan diri dari perasa­an-perasaan tidak nyaman, emosio­nal, dan penolakan tubuh. Proses sakit sesungguhnya berasal dari pola pikir yang salah. Melalui senam ini juga dibersihkan rekaman-rekaman negatif dan energi negatif pada ibu yang cenderung akan menem­pel pada si jabang bayi kelak. “Semua rekaman negatif itu bisa dihilangkan melalui konsep energi. Karena itu harus tahu metodenya dulu. Jika sudah mempelajari energi, kita bisa mendeteksi rekaman negatif itu dan meluluhkannya,” ujar Bunda yang kemudian membuka Klinik Pe­ nyembuh dengan Energi tahun 2004 ini. “Dari kajian yang dilakukan sejak 2002 itu, kami membuat detail den­ gan pemahaman dan mengubah pola pikir yang salah sehingga kami berani membuat pelatihan dan menyebar­ luaskan konsep energi ini,” imbuh Adek Dharana. Tahun 2010, Bunda Ningsih juga mengajar sampai ke Brunei, Srilanka, Malaysia, Singapura, Cina, dan Thai­ land. Senam Yophytta ini mereka kembangkan dan sudah dipahami hingga puluhan ribu jiwa. KONSEP ENERGI Energi menjadi suatu hal men­ dasar sekali dalam kehidupan kita yang perlu dipelajari. Energi bagaikan tongkat penuntun bagi orang buta. Dengan memahami energi, akan lebih membantu memilah jalan Tuhan, jalan yang baik dan buruk. Ada tiga energi yang di­kenal, yakni energi Illahi, ener­ gi prana (alam), dan tenaga dalam. Hukum energi adalah menarik se­ jenis. Untuk menyamakan diri dengan energi Tuhan, lepaskan sadripu (kama: nafsu, keinginan; lobha: tamak, rakus;

krodha: kemarah­ an; moha: kebin­ gungan; mada: mabuk; matsarya: dengki, iri hati), dan harus berani keluar dari zona nyaman. Ketika terhubung de­ ngan Tuhan, kita harus rendah hati, ikhlas, dan tak punya keinginan. Karena, energi mengikuti pikiran dan pikiran adalah awal ter­b entuknya suatu karma. Pikiran positif akan memberikan karma positif. Jika memahami energi lebih da­ lam, kita bisa mengukur batin/kata hati dengan energi. Dengan menem­ pel­kan lidah ke langit-langit akan meningkatkan tingkat energi karena bagian rongga mulut adalah bagian tubuh yang tidak terhubung secara energi. Energi bisa dilihat dengan kasat mata. Caranya, tempelkan lidah ke langit-langit, lempar pandangan mata ke langit, pusatkan pada satu titik sejauh dua meter dari mata kita. Tiap orang akan melihat energi dengan bentuk berbeda-beda, ada yang melihat seper­ti butiran air yang bergerak-gerak, ada juga yang melihat seperti spermatozoa yang bergerakgerak, dsb. Berdasarkan konsep energi, tiap manusia memancarkan energi dari tubuhnya sehingga bila kita mampu melihat, tubuh kita di­kelilingi oleh sebuah medan energi yang biasa disebut dengan aura. Aura ini ber­ macam-macam, ada aura kesehat­an, mental, emosional, spiritual, dsb. Dalam masalah emosi, yang berperan adalah aura emosional. Tebal tipisnya aura ini ditentukan oleh suasana diri kita. Apabila kita dalam kondisi damai maka aura emosional ini akan tebal, memancar luas. Sebaliknya, jika da­ lam kondisi marah, aura emosional ini akan menjadi sangat tipis. Hal ini terjadi karena dalam kondisi marah energi kita akan banyak terbuang

keluar, terkirim dan menempel pada orang yang kita marahi sehingga me­ lukai orang tersebut secara energi. Energi sejenis menarik sejenisnya. Apabila Anda berdekatan de­ngan sese­orang yang sedang marah dan Anda pun merasakan tiba-tiba ada rasa yang tidak nyaman atau merasakan ada kemarahan dalam diri Anda tanpa ada pemicu yang jelas, sadarilah dalam diri Anda ada bibit kemarahan yang sedang menguat karena menemukan se­suatu yang sama. Dua medan negatif berlipat ganda secara cepat, bila keduanya bertemu satu sama lain, dan tak akan membuahkan satu kebaikan pun. Anda akan tahu soal ini dari pengalaman hidup Anda, dua medan negatif yang bersatu bukanlah pemandangan yang indah. Ketika kita marah, seringkali kita tidak menyadari apa saja yang terucap atau keluar dari mulut kita. Kata-kata yang terucap bahkan melukai orang yang menjadi sasaran marah kita. Kita bisa saja meminta maaf apabila kemu­ dian sadar tidak seharusnya marahmarah. Tetapi bisakah Anda menarik rasa luka atau menarik ucapan katakata yang sudah terlanjur keluar. Orang awam mungkin bisa memaafkan tetapi luka karena kata-kata yang menyakit­ kan tidaklah mudah disembuh­kan. Apa yang bisa dilakukan bila Anda menyadari hal ini? Anda menyadari ke­ marahan adalah sesuatu yang merugi­ kan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Lantas bagai­manakah Anda menyikapi hal ini? Mengubah orang lain tidaklah bijaksana. Yang bisa dilakukan

adalah menyadari diri, ada kemarahan dalam diri, dan segera berupaya agar energi diri tidak sama dengan energi kemarah­an orang lain, yaitu dengan cara mengubah kemarahan dalam diri menjadi cinta kasih. Bila merasakan emosi akan keluar, tarik napas secara dalam, cari cara untuk berlalu secara sopan, menjauh sejenak, menarik diri sejenak mencari waktu untuk diri sendiri kemudian hening sehingga Anda dapat memulihkan diri dari se­ mua perasaan negatif, menyadari, dan belajar menerima semua apa adanya, memulihkan diri, dan bisa kembali dengan perasaan yang menyenangkan. Memancarkan kedamaian dan cinta kembali. Senantiasa menjaga diri selalu dalam kondisi penuh cinta dan damai menciptakan perisai yang tidak dapat ditembus dengan hal negatif apa pun sehingga hal negatif apa pun yang dikirimkan orang kepada Anda tidak akan mampu menyentuh Anda. Jika sudah penuh dengan cinta, medan energi cinta sudah meradiasi de­ngan begitu kuatnya, Anda tidak saja mampu melindungi diri namun juga mampu memancarkan cinta kepada orang yang paling membenci Anda sekali pun. “Mari kita semua segera meng­ ubah diri karena usia yang terbatas, mumpung masih muda dan sehat. Ketika mau belajar, kosongkan cangkir untuk mendapatkan pelajaran itu, dan letakkan cangkir lebih rendah daripada tekonya. Semuanya perlu perubahan, ambil hal-hal yang positif,” imbaunya. –Inten Indrawati/Ratna Hidayati


INSPIRASI

4

27 JANUARI - 2 Februari 2014

Temukan Rezeki dari Hobi Menulis Awalnya, Tya Marty Al-Jahira menyukai tulis-menulis hanya sebatas hobi. Mulai dari rajin menulis buku harian, kemudian merambah ke blog. Lewat blog ia menulis tentang hal-hal menarik di sekelilingnya, terkadang ia juga membuat cerpen. Tak disangka hobi yang pada awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, berubah menjadi lebih produktif.

D

unia tulis-menulis tidak lagi sekadar hobi tapi menjadi pekerjaan yang menghasilkan rupiah. Menariknya, penghasilan yang dia dapat bukan hanya dari kegiatan tulis-menulis tapi juga dari bisnis kerajinan yang terinspirasi dari tulisannya sendiri. “Ini memang tak disangkasangka. Awalnya saya hanya hobi menulis untuk mengisi waktu luang. Tapi setelah bergabung dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), kegiatan yang tadinya hanya hobi berubah menjadi kegiatan yang menghasilkan uang. Pendiri komunitas, Ibu Indari mendorong kami untuk menulis buku. Materinya bebas namun lebih baik adalah hal-hal yang akrab di sekitar kita. Suatu yang biasa-biasa saja, bisa menjadi luar biasa jika kita bisa menulisnya dengan baik,” tutur Tya yang sekarang menjadi koordinator komunitas IIDN wilayah Jabodetabek. “Aku menemukan komunitas ini secara tidak sengaja. Waktu itu aku berselancar di internet, ingin tahu apakah ada komunitas menulis. Eh, ternyata ada IIDN. Karena namanya ‘Ibu-Ibu’, aku sempat tanya, apakah yang bergabung di sini harus berstatus ibu rumah tangga karena aku belum menikah. Dijawab bisa, karena yang dimaksud ‘Ibu-Ibu’ adalah perempuan. Hanya saja memang kebetulan anggotanya kebanyakan para ibu rumah tangga,” tuturnya. Di komunitas itulah, Tya banyak belajar tentang dunia tulis-menulis, mulai dari teknik menulis, pemilih­ an topik, dll. Kebetulan, jelas Tya, pendiri dari komunitas tersebut selain juga seorang penulis aktif, dia juga memiliki agency naskah untuk disalurkan ke berbagai penerbit. “Aku dan sejumlah ibu mendapat tawaran untuk menulis buku,” ucap Tya yang menulis buku pertamanya tentang khasiat istimewa jambu klutuk. Sebagai seorang pemula, Tya mengaku, tak mau mencari materimateri sulit. Karena itu, begitu tawaran menulis buku datang, salah satu yang terlintas di benaknya adalah jambu klutuk. Bagi Tya, jambu klutuk memang sudah tak asing lagi, karena di sekitar rumahnya banyak masyarakat menanam pohon berkhasiat itu. Bahkan di dekat rumahnya ada perkebunan jambu klutuk. “Dengan begitu aku tak perlu

terlalu repot mencari nara­ sumber­nya. Ada petani jambu klutuk, dia bisa banyak cerita tentang jambu klutuk dan khasiat­ nya. Aku juga membaca sejumlah buku yang mengurai tentang buah tersebut. Aku pikir ini buku yang bermanfaat, orang mungkin hanya tahu manfaat buahnya, padahal bisa lebih dari itu. Mulai dari buah, daun, bahkan batangnya pun bermanfaat,” tutur Tya yang mengonsumsi jambu klutuk hampir tiap hari. “Pohon jambu klutuk itu, rajin berbuah. Musimnya hampir sepanjang tahun,” tambah gadis kelahiran Jepara 1986 ini. Dari penulisan buku yang di­ selesaikannya dalam tempo kurang dari sebulan itu, ia mendapat sejumlah uang yang jumlahnya relatif lumayan. Rupiah yang didapatnya itu, makin mendorong Tya untuk lebih giat menulis dan menghasilkan buku. Ia menjadi lebih jeli lagi dalam mengamati keadaan di sekitarnya dan tren yang ada. Ia juga mencari inspirasi penulisan dari buku-buku atau majalah yang dibacanya. “Ada banyak sumber inspirasi, yang penting kita jeli saja,” ucap Tya yang kemudian menulis buku tentang ‘Curhat Bisnis’ bersama sejumlah ibu anggota komunitas IIDN. Sekarang ini, ungkapnya, ia tengah mengumpulkan bahan cara membuat kreasi hand bouquet, bunga tangan untuk pernikahan. “Aku sudah survei di toko-toko buku, ternyata buku sejenis ini sa­

ngat jarang di pasaran. Maksudku, kalaupun ada harganya mahal, karena bukunya luks. Jadi aku ingin membuat versi sederhana dengan harga terjangkau,” katanya. Soal membuat hand bouquet ini juga bukan hal asing bagi Tya karena ia kerap membantu orangtuanya merangkai bunga. Untuk mendapatkan bahanbahan itu, ia melakukan survei pustaka, juga wawancara dengan sejumlah pengusaha hand bouquet. “Aku banyak wawancara dengan ibu-ibu yang mempunyai bisnis hand bouquet dan seserahan pe­ ngantin. Aku tanya bunga-bunga apa saja yang bagus untuk hand bouquet, rangkaiannya bagai­ mana, lalu pita yang cocok seperti apa. Aku tanya macam-macam. Sampai di rumah aku praktikkan cara membuatnya. Hasil praktik itulah yang aku tulis,” papar Tya yang rencananya akan membuat 20 kreasi hand bouquet dalam bukunya. BISNIS POHON PALSU Di luar itu, tutur Tya, kini ia juga menekuni bisnis kerajinan ‘pohon palsu’. Yang menarik, ins­ pirasi kerajinan tersebut muncul dari buku yang ditulisnya. Berawal saat proses pembuatan buku khasiat istimewa jambu klutuk, yang sempat membuatnya kelabakan karena kehabisan bahan. “Jumlah halaman buku yang harus ditulis 120 halaman. Aku merasa semua hal sudah ditulis tapi ternyata belum mencukupi

27 JANUARI - 2 Februari 2014

>>>

MANDALIKA

Sinergi Pemprov dan TP PKK NTB >>>

Perangi Penyalahgunaan Narkoba Banyaknya kasus penyalahgunaan narkoba di Nusa Tenggara Barat menjadi perhatian khusus Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Hj. Erica Zainul Majdi. Bersama dengan pengurus Tim Penggerak PKK Provinsi NTB yang baru dilantik Jumat (24/1), organisasi wanita ini akan bekerja keras membantu BNN NTB khususnya untuk “menyelamatkan” anak-anak NTB dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Banyak hal yang bisa dilakukan berbagai pihak untuk tujuan yang sama, namun PKK NTB akan mengambil peran memberikan pendidikan tentang bahaya narkoba.

Tya Marty Al-Jahira

untuk 120 halaman. Aku bingung mau menulis apa lagi. Jadi aku baca berulang-ulang naskahnya, bagian mana yang kurang. Ternyata, pembahasan soal batang pohon. Lalu aku cari bahan-bahan yang terkait pohon jambu, kelebihankelebihan dan manfaatnya. Dari pencarian itulah, aku menemukan bahwa batang pohon jambu selain kuat dan keras juga mudah dibentuk menjadi produk kerajinan,” jelas Tya. Dari temuan tersebut, Tya pun berpikir kenapa tidak mencoba membuat kerajinan pohon yang salah satu materinya adalah pohon jambu klutuk. Untuk mendapatkan pohonnya, tidak sulit karena ia bisa membelinya dari petani jambu klutuk. “Harga­ nya tergantung pohonnya, yang paling murah harganya Rp 5.000. Kalau pohonnya bagus bentuknya, harganya bisa mencapai Rp 20.000-an,” jelasnya. Pohon tersebut setelah dibersihkan kemudian divernis agar terlihat mengilap. Kemudian, tinggal memilih pohon jambu

itu akan digabungkan dengan apa, pohon jeruk, apel, bunga sakura, dll. Ada banyak pilihan, dan semuanya menarik. Tapi yang paling sering dibuat Tya dan banyak penggemarnya adalah pohon bunga sakura. “Pohon jambu mudah dibentuk, juga tidak pecah ketika dibor. Pohon ini juga kuat, tidak keropos, sehingga kerajinan bisa tahan lama,” tuturnya. Awalnya, pohon sakura itu ha­ nya dipajang di rumah. Tapi kemudian, baik teman, saudara maupun kerabat yang datang ke rumahnya tertarik melihat karya Tya. Mereka pun mulai memesan. Promosi dari mulut ke mulut ini, ternyata sa­ ngat manjur, karena pesanan demi pesanan berdatangan. Tya menjual karyanya antara Rp 100 ribu s.d. Rp 600 ribu. Harga pohon, kata Tya, tergantung antara lain bentuk pohon, kerumitan pembuatannya. Makin tinggi pohon yang dipesan, berarti makin mahal dan rumit, karena material yang digunakan lebih banyak. “Untuk satu pohon, masa pengerjaannya hanya 1-2 hari,” katanya. Banyaknya pemesanan, membuat Tya tidak dapat lagi hanya menangani sendiri produksinya. Beruntung ayahnya yang juga gemar kerajinan, ikut membantu. Selain memajang produknya di rumah, Tya juga menitipkan pohon­ nya di toko kerajinan temannya. “Pohon ‘palsu’ sakura ini, terlihat menarik, seperti aslinya. Karena itu, banyak yang tertarik,” tambahnya. Saat ini, ucapnya lagi, boleh dibilang ia menjadi sangat sibuk. Selain menulis buku, mengurus bisnis kerajinan, ia juga masih mengajar sebagai guru honorer di sekolah swasta tak jauh dari rumahnya. Ia merasa beruntung karena menemukan rezeki dari hobi yang ditekuninya. Lebih dari itu, ia tak perlu banyak keluar rumah untuk bisa menghasilkan uang. “Yang penting tekun, kreatif, dan inovatif,” tandasnya. – Diana Runtu/Ratna Hidayati

21

Pemberian penghargaan Adi Bakti Utama 20 tahun dan Adi Bakti Madya 15 tahun kepada pengurus TP PKK.

K

emudahan memperoleh narkoba, menurut Hj. Erica, menjadi salah satu masalah yang sulit diatasi. Namun, dengan pendidikan dan wawasan tentang bahaya narkoba, diharapkan dapat memutuskan keinginan untuk mendapatkan barang haram yang merusak itu. “Pendidikan tentang bahaya narkoba diharapkan akan membantu menanggulangi penyalahgunaan narkoba, semudah apa pun narkoba bisa didapatkan,” ungkap Hj. Erica, usai acara serah terima Ketua TP PKK NTB sekaligus pelantikan Pengurus TP PKK NTB periode 2014-2018. Inilah salah satu yang ia maksud sebagai visi besar dari organisasi ini dalam membangun TP PKK NTB yang sinergi dan koordinatif dalam menjalankan roda organisasi. Jika dilihat dari sejarah kelahirannya, PKK lahir dari sebuah

gerakan masyarakat karena ada­ nya keprihatinan akan tingkat kesejahteraan masyarakat. Itulah sebabnya gerakan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan PKK ini selalu fokus pada programprogram peningkatan kesejahtera­ an masyarakat, khususnya di keluarga. Gerakan ini tumbuh dari gerakan swadaya masyarakat, dari, oleh dan dijalankan oleh masyarakat itu sendiri. Kata gerakan yang terkan­dung dalam TP PKK, dicermati Gubernur NTB sebagai sebuah dinamika yang harus berjalan. “Membangun sinergi dengan masyarakat sangat diperlukan ka­rena tidak tidak ada satu gerakan apa pun yang bisa sukses maksimal tanpa dukungan masyarakat. Pastikan semua unsur penggerak itu berjalan dengan baik,” ujar Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Karenanya, ia mengajak TP PKK NTB untuk mengingat se-

Pelantikan Pengurus TP PKK periode 2014-2018.

jarah lahirnya PKK yang datang dari inisiatif lokal (Jawa Te­ ngah) yang kemudian menasional dan diadopsi oleh pemerintah pusat sebagai sebuah organisasi perempu­an yang mampu menggerakkan program-programnya, yang sekali­gus juga membantu pemerintah. Gubernur berharap bahwa akan ada kontribusi riil dari inisiatif lokal di NTB sehingga bisa diadopsi sebagai sesuatu yang baik untuk pembangunan bangsa dan negara. “Peran istri dan kaum perempuan dalam mendukung dan menyukseskan pembangunan bangsa, mendorong terwujudnya masyarakat yang sejahtera, maju dan mandiri, sangat pen­

Hj. Erica Zainul Majdi

ting dan strategis,” ujar Majdi. Dan, untuk mewujudkan tujuan tersebut, tentu bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kolaborasi dan kemitraan yang sinergi antara pemerintah dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk melibatkan peran aktif PKK dan memberdayakan segenap potensi kaum perempuan. Kebersamaan yang utuh diiringi keahlian, kreativitas dan kinerja yang tinggi, meski pun dihadapkan pada berbagai keterbatasan adalah modal kuat untuk itu. “Pemerintah provinsi sadar benar memiliki keterbatasan. Tidak mungkin seluruh tugas pembangunan dan agenda besar

dalam membangun daerah ini dapat dilakukan sendiri melainkan membutuhkan peran serta berbagai elemen masyarakat, salah satunya PKK,” katanya. Luasnya cakupan programprogram PKK, keberhasilan pelaksanaannya akan sangat ditentukan oleh adanya sinergi dan koordinasi antar unsur-unsur di internal PKK, mulai dari dasa wisma, TP PKK terkecil di tingkat kelurahan/ desa hingga TP PKK Provinsi NTB. “Kunci kesuksesan adalah kemampuan bekerjasama dalam mengeksplorasi potensi baik, jangan repot membahas yang tidak baiknya,” kata gubernur mengingatkan. Selain itu, koordinasi dan sinergi mulai dibangun oleh Hj.Erica dengan lembaga donor dan bantuan asing yang memiliki program-program terkait. Sebagai Ketua TP PKK NTB, ia melakukan terobosan-terobosan yang dapat menggerakkan organi­ sasi ini dengan program-program yang langsung dapat menyentuh kebutuhan masyarakat NTB. “Kami (TP PKK NTB) akan membuka jalur komunikasi dan menjajaki kemungkinan kerja­ sama program dengan lembaga­lembaga internasional, seperti dengan Bank Dunia dengan tetap menjaga kemandirian dan faktor sosio-kultur di Nusa Tenggara Barat,” kata Hj. Erica tentang salah satu terobosan yang mulai dilakukannya. Dan pertemuan perdana TP PKK NTB dengan Bank Dunia, rencananya dilakukan 29 Januari 2014. - Naniek I. Taufan/Inten Indrawati

Pengurus TP PKK periode 2014-2018.


NINE

20

>>>

Jumilah

27 JANUARI - 2 Februari 2014

>>>

Gerakkan Sekolah Jumilah dan Jambanisasi Riuh suara anak-anak usia dini belajar mengenal huruf dan angka-angka terdengar di sebuah ­ruangan sangat sederhana terbuat dari batako. Dari sebuah dusun sederhana di balik bukit kawasan wisata Pantai Senggigi, Dusun Duduk Bawah, Desa Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat di Nusa Tenggara Barat inilah, gelak tawa anak-anak yang tengah bel­ajar dalam kondisi yang sangat sederhana menjadi bagian keseharian dari dusun tersebut.

S

ore itu, 15 dari 52 anak peserta sekolah ini tengah asyik belajar dengan seorang guru sederhana yang semula buta huruf, namun, karena semangat belajarnya yang tinggi membuat dia akhirnya bisa melek huruf. Dialah Jumilah. Perempuan sederhana yang tidak pernah mengenyam pendidikan resmi ini akhirnya menemukan kebahagiaan hidupnya dengan mengajar. Sambil mengajar, Jumilah sesekali menggendong anaknya yang masih kecil. Tangan kiri Jumilah, menggendong anaknya yang menggelantung di pinggangnya, sementara tangan kanannya me-

reka di sekolah resmi,” ungkapnya. Dan, di antara murid-muridnya, juga kini telah banyak yang melanjutkan sekolah. “Anak-anak yang belajar di sini sudah banyak yang melanjutkan ke jenjang SMP dan SMA,” ujarnya. Namun, sebagian besar dari me­reka berusia prasekolah, siswa kelas I dan II SD, serta mereka yang putus SD. Keseharian mereka umumnya diisi dengan bermain atau membantu pekerjaan orangtua mereka di kebun. Anak didik Jumilah ini banyak yang putus SD karena ketiadaan biaya, juga karena kemiskinan orangtua mereka di­sertai dengan rendahnya kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anak.

megang spidol menulis di white board. Murid-murid di Sekolah Jumilah adalah anak-anak usia dini, anak-anak yang tidak bersekolah di sekolah umum, mereka yang menikah di usia remaja dan orang dewasa yang buta aksara. Kegiatan belajar ini dilakukan di sebuah ruang terbuka bangunan semipermanen berukuran 8 meter x 4 meter yang merupakan bagian dari rumah Jumilah yang sebenarnya tidak luas. Tiap Minggu dan Senin pukul 15.00-18.00 wita, Jumilah selalu menyiapkan waktunya untuk mengajar dengan fasilitas sederhana hanya dengan beberapa meja, satu papan tulis dan alat tulis menulis seadanya. “Anak-anak duduk leseh­ an, santai seperti ini,” katanya. Selama bertahun-tahun Sekolah Jumilah berjalan. Guru Jumilah akhirnya mampu meyakinkan masyarakat di sekitarnya dan juga orangtua anak didiknya tentang pentingnya pendidikan. Ia juga menjadi “ibu daftar” bagi anak-anak usia dini yang belajar di sini. “Jika saatnya masuk sekolah tiba, saya yang mendaftarkan me­

Sementara itu, mata pelajaran yang disampaikan Guru Jumilah tidak harus berasal darinya melainkan tergantung dari pilihan siswa saat itu. Misalnya pelajaran tentang masalahmasalah kehutanan yang dapat menyebabkan bencana bagi manusia, seperti soal penebangan liar. Hal ini ia ajarkan pada anak didiknya, karena di sekitar tempat mereka tinggal terdapat hutan. “Dan, beberapa tahun lalu, banjir sempat melanda dusun kami,” katanya. Itulah sebabnya, ia memberikan materi tentang bagaimana memelihara hutan agar tidak menimbulkan bencana banjir bagi manusia. Demikian pula dengan pelajaran menggambar. Jumilah meminta anak didiknya menggambar pohon kelapa. Gambar yang diinginkan sang guru bukannya hasil gambar yang bagus dan rapi, melainkan kegunaan pohon kelapa yang digambar tersebut. Anak didiknya kemudian bergantian me­ rinci kegunaan buah kelapa, serabut, batok, daun hingga batangnya. Jumilah juga mengajarkan tentang budi pekerti dengan cerita dan

27 JANUARI - 2 Februari 2014

INSPIRASI

5

Prabhu Darmayasa

Belajar Weda tak Rumit Kemorosotan moral anak bangsa yang kini banyak diresahkan berbagai pihak divonis sebagai salah satu imbas dari kemajuan teknologi yang tak diimbangi dengan kekuatan iman. Mengapa sampai terjadi demikian? Bisa jadi ini dikarenakan kurangnya pemahaman akan ajaran-ajaran agama yang mereka anut. Bagaimana nasib anak bangsa ke depan ini juga menjadi kekhawatiran praktisi spiritualisme Prabhu Darmayasa. kehidupan sekarang ini,” ujarnya. Inilah yang perlu disentuhkan ke umat Hindu, yang tentu saja perlu diajarkan juga ajaran-ajaran dari kitab Weda lainnya, termasuk ajaran-ajaran dari lontar. Hanya saja, ia mengingatkan harus ada penyaringan karena tak semua penulis lontar mengetahui ajaran Weda.

dongeng-dongeng. Pelajaran yang diterima anak didiknya tidak hanya di aula tersebut, melainkan ia meng­ ajak anak-anak tersebut menyusuri sungai untuk menunjukkan betapa berbahayanya jika sungai dipakai sebagai tempat membuang sampah. Ia menjelaskan sampah yang dibuang ke sungai tersebut, akan menumpuk dan dapat menutupi saluran, sehingga ketika debit air banyak, air sungai akan meluap, tumpah ke mana-mana hingga akhirnya masuk ke desa-desa. Saat inilah ia meng­ ajarkan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dengan membersihkan sampah plastik, ranting, dan daun yang bisa menyumbat aliran air saat musim hujan. Tidak lupa, Jumilah mengajak mereka ke kebun-kebun sekitar pemukiman mereka untuk menunjukkan beragam jenis tanaman yang berfungsi dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, mulai dari manfaat sebagai obat-obatan hingga manfaat lainnya. Hal lain yang diajarkannya adalah keterampilan seperti membuat ketupat, lontong, kue-kue dari beras dan anyamananyaman sederhana yang bahannya lebih banyak diperoleh dari alam sekitar tempat mereka tinggal. Tidak sedikit pun terlintas dalam benaknya untuk menerima penghargaan atau apresiasi dari pihak lain tentang apa yang telah dilakukannya bagi masyarakat di dusunnya. “Apa yang saya lakukan ini semata-mata demi anak-anak di sini. Saya merasakan sendiri betapa sulit mengembangkan diri tanpa bekal kemampuan membaca dan menulis,” ungkapnya. Selain aktif mengajar anakanak, Jumilah juga aktif mengajak masyarakat untuk hidup sehat de­ ngan menggagas Arisan Jamban. Ide ini muncul karena banyak kasus pertengkaran antarwarga di dusun tempatnya tinggal itu, salah satunya karena buang hajat sembarangan. “Bau kotoran yang dibuang sembarangan itu, jadi masalah pertengkaran antarwarga di sini,” ujarnya saat ditemui di tempatnya mengajar. “Rata-rata warga di sini tidak mempunyai jamban, jika ingin

buang hajat di sela-sela rumah penduduk atau di sungai kering itu,” ujarnya. Ia sendiri mengaku kerap kesal karena bau kotoran itu juga sangat mengganggunya. Apalagi di depan rumahnya terdapat sebuah sungai kecil berbatu yang airnya tidak selamanya banyak. Orangorang biasa buang hajat di sela-sela batu yang membuat baunya sampai ke rumah Jumilah. Tiap pagi tiba ia harus turun ke kali yang dangkal itu, membawa sekop untuk menanam kotoran-kotoran itu. Ia sengaja memperlihatkan pada warga yang biasa membuang hajat itu, bahwa ia membawa sekop untuk menanam kotoran tersebut agar tehindar dari bau. “Tiap subuh tiba saya sudah harus duduk nongkrong di pinggir sungai agar tidak ada orang yang buang hajat di depan rumah saya, agar mereka malu,” ungkapnya. Tetapi hal itu rupanya tidak juga menyadarkan warga. Karena itulah ia mendapat ide untuk membuat jamban di rumahrumah penduduk dengan cara arisan. Ia membentuk kelompok arisan jamban sebanyak 20 kepala keluarga. “Tiap tanggal 1 tiba, saya meminta warga yang tergabung dalam satu kelompok, untuk mengumpulkan uang Rp 50.000 sebagai dana pembuatan jamban,” ujar Jumilah. Jumilah menyempatkan dirinya menjadi “mandor” dan sebagai motor penggerak dalam pekerjaan tersebut. Ia juga yang

bercapek-capek pergi ke toko bangunan untuk membeli bahan dari uang tersebut. Program jambanisasi yang dimulai pada April 2011 dan dilakukan secara swadaya ini dibuat secara bergilir dari satu rumah ke rumah lainnya. Semacam arisan namun tidak dikocok. Siapa yang dirasa lebih membutuhkan lebih dahulu, dialah yang akan kena giliran untuk dibuatkan jamban dari dana yang terkumpul itu berdasarkan hasil musyawarah. Tiap sebulan sekali saat terkumpul uang Rp 1.000.000 dari 20 warga yang tergabung dalam kelompok ini, mereka bekerja secara gotong royong dalam sehari bisa membuat sebuah jamban. Begitu seterusnya, 20 orang tersebut pada akhirnya mendapat giliran memiliki jamban. “Desember 2013 lalu, 20 anggota tersebut telah memiliki jamban,” ujarnya. Jumilah pun bisa tersenyum karena bau tidak sedap dari kotoran manusia yang kerap dirasakannya itu sudah tidak terasa lagi. Apalagi saat ini, program tersebut dilanjutkan oleh kelompok-kelompok lain di dusun tersebut. Dan dalam waktu tidak terlalu lama, jika program jambanisasi swadaya ini berjalan baik, maka semua warga Dusun Duduk Bawah akan memiliki jamban. Itu artinya, cita-cita hidup sehat yang diharapkan dapat terwujud. - Naniek I. Taufan/Inten Indrawati

“B

anyak anak-anak kita tak tersentuh ajaran kitab suci. Pelajaran agama selama ini banyak untuk hapalan saja, hanya untuk mencari nilai, dan lulus ujian. Pewaris dharma (kebaikan) tak tersentuh dharma,” ungkap Pendiri Ashram Parama Dhama, Denpasar, Bali tahun 2006 yang mengajarkan yoga meditasi, Bhagavad Githa, dll. Prabhu Darmayasa yang memprakarsai peluncuran album Puja Bhagavad Githa, Selasa (21/1) ini mengatakan, cara menyentuh darma sesungguhnya sederhana saja. Di Bali khususnya, masyarakat sudah lumrah melakukan ritual-ritual upacara. Namun sayang, sebagian besar masyarakat masih belum mengerti makna dari upacara yang dilakukannya. Upacara tersebut masih menjadi suatu formalitas yang harus dilakukan, demi menjaga status sosial di masyarakat, dan untuk kepentingan bisnis. “Ketika kita menyentuh kitab suci, semua akan terasa seimbang. Dengan mendalami kitab suci, kita akan bisa melihat upacara lebih ringan, tanpa mengurangi nilai upacara apalagi menyetopnya,” ujarnya. Mengapa Weda jarang tersentuh di masyarakat? Ini karena tak ada yang mentradisikan. “Belajar-mengajar Weda belum kita warisi sebagai tradisi karena penyampaian agama kita lebih cenderung pada penekanan upacara dan lain-lain, ‘kemeriahan’ luarnya agama. Sedangkan hal yang sangat penting, yaitu mengisi jiwa dan atma umat dengan sentuhansentuhan kitab suci Weda ternyata masih dinomorsekiankan. Padahal kitab-kitab suci memberikan penekanan penting untuk penyebaran darma melalui penyebaran ajaran-ajaran suci Weda,” paparnya. Kitab Çatapatha Brähmaëa memberikan perumpamaan indah mengenai masalah mempelajari Weda. Menurut kitab Çatapatha Brähmaëa ini, belajar Weda merupakan pilihan sangat indah dan diberikan keutamaan, dalam arti, kita dianjurkan lebih banyak memusatkan perhatian untuk lebih meningkatkan volume belajar Weda, terlebih lagi para Brähmaëa, yang memang kewajibannya adalah belajar dan mengajarkan ajaran-ajaran suci Weda.

Weda sebagai kitab suci umat Hindu disebutkannya memiliki jumlah yang tak terbatas. Salah satu contohnya saja satu Kitab Purana memiliki 18.000 sloka (ayat). Sementara, umat Hindu memiliki 18 Kitab Purana. Ada juga Kitab Itihasa yang memuat kisah kepahlawanan Mahabharata dan Ramayana. Mahabharata saja terdiri dari 18 parwa, yang satu parwa satu buku. Belum lagi kitab-kitab lain. “Kitab-kitab ini bukan hiburan semata namun juga memiliki nilai keagamaan, spiritual, dan yang mengajarkan catur purusa artha: dharma, artha, kama, dan moksha,” ujarnya. Kitab yang utama adalah Catur Weda. Untuk mempelajarinya perlu pemahaman khusus, masyarakat umum tak akan siap menerimanya. Menurut pendapat pendeta-pendeta Weda, Catur Weda ini untuk orangorang tertentu/terpelajar karena bahasa-bahasanya berkulit. Satu kata bisa memiliki 54 arti. Jika tak familiar dengan kata tersebut bisa salah mengartikannya. Karena itulah, diturunkan kitab-kitab Weda lainnya yang menjelaskan mantram-mantram Weda itu sehingga masyarakat umum khususnya di zaman kaliyuga ini bisa mengerti. “Akhirnya, Bhagavad Githa adalah intisari dari Weda yang cukup mudah dipahami masyarakat dalam

AJARAN DARMA Ajaran darma mengenalkan diri kita bagaimana bersikap di lingkungan masyarakat, kepada Tuhan, mengasihi yang lain, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, dan akhirnya bisa hidup tenang dan bahagia. “Karena itu, menyentuhkan ajaran suci pada anak sangat mendesak. Jika tidak, jangan bermimpi bisa melihat masa depan. Jika ini meredup sama dengan ruangan tanpa lampu, gelap gulita,” katanya. Yang perlu dicamkan, belajar Weda tidaklah rumit. Bisa dipelajari siapa saja, sesederhana, seindah, dan senyaman menarik, menahan dan mengeluarkan napas. “Begitu melakukannya, kita akan ketagihan terus,” ucapnya. Salah satu pengalaman nyata dikisahkan Prabhu. Ada sebuah keluarga yang awalnya tak pernah tertarik dengan Bhagavad Githa. Namun, setelah belajar membaca Weda, mereka berebutan membaca Bhagavad Githa. Tak hanya antara orangtua dan anak, bahkan pekerja rumah tangganya pun ikut berebutan. Kenapa bisa demikian? Ini karena mereka sudah mengetahui ajaran Weda dengan tepat, mereka sudah mencicipinya. Weda tidak mengajarkan orang berteori. Dari teknik yang diajarkan itu, seorang anak yang masih duduk di kelas 1 SD pun mampu menghapal beberapa sloka dari kitab suci. PRABHU DARMAYASA Siapa Prabhu Darmayasa ini? Ia adalah I Made Darmayasa, M.A.,

seorang pencari makna spiritual sejak kecil yang lahir di desa seni Ubud, Bali. Sejak kelas 6 SD sudah belajarmengajar yoga dan meditasi, serta menjalankan vegetarian mulai tahun1970-an. Setelah menyelesaikan studinya di PGAHN Denpasar, melanjutkan ke IHD (sekarang UNHI) Denpasar. Ia tak sampai menuntaskan pendidikannya di sini, karena melanjutkan studinya ke India. Sarjana Sanskerta alumni University of Delhi, India ini telah memperoleh gelar Rasa Acharya Prabhuraja dari guru spiritualnya melalui inisiasi acharya di tepi sungai Gangga di kaki Himalaya, sebuah gelar diksha setelah melewati proses inisiasi dwijati dan trijati. Rasa Acharya adalah gelar dalam ranah spiritual yang sangat sulit diperoleh oleh masyarakat umum, melalui Perguruan Spiritual Rasa Sampradaya dari Swami Haridas yang sangat terkenal di India Utara. Sebuah gelar yang mengharuskan bahwa apa yang diajarkan pada siswanya adalah sesuatu yang juga telah dilakukan olehnya. Aktivitas Prabhu lainnya adalah sebagai Presiden dari International Divine Love Society dan Perwakilan Indonesia untuk World Ramayana Conference serta berkecimpung dalam lembaga yang aktif menyebarkan bahasa Sanskerta yaitu Lembaga Sanskrit Bhasha Prachar Samiti. Ia juga seorang yang sangat mendalami pengetahuan-pengetahuan Weda, khususnya Bhagavad Githa. Ia juga menulis banyak puisi dalam bahasa Hindi dan Sanskrit, selain dalam bahasa Indonesia dan Bali. Puisi Sanskerta berjudul “Ashcaryo’ham” banyak mendapatkan pujian dari para sarjana Sanskerta dan sarjana Weda di India. Selain dimuat di beberapa majalah Sanskerta di

Prabhu Darmayasa

India, “Ashcaryo’ham” juga pernah ditempel di majalah dinding sebuah universitas Sanskerta selama berbulan-bulan. Dalam ilmu meditasi dan yoga, Prabhu Darmayasa adalah Master Kundalini yang merupakan murid tunggal dari Siddhayogi Acharya-Shri Kamal Kishore Gosvami, seorang kepala pendeta sebuah temple yang sangat disucikan dan terkenal di daerah Vrindavan, negara bagian Uttar Pradesh, India. Beberapa waskita menyebutnya sebagai Trah Dewa Rajayogi. Prabhu Darmayasa adalah seorang yogi, pendiri, dan master dari Meditasi Angka yang telah membimbing ribuan orang di seluruh dunia di dalam mendalami yoga, meditasi dan pembangkitan kundalini untuk kembali menemukan jalan kebahagiaan sejati. Penggagas program tirtayatra ke tempat-tempat suci di India ini juga merupakan penulis yang aktif. Buku Keagungan Sapi Menurut Weda, Vegetarian dan Ahimsa Dharma, Chanakya Niti Sastra, Panca Tantra, Waisnava Dharma Warisan Leluhur Kita, Menyelam dalam Lautan Ramayana, Sanskerta dan Tat Tvam Asi adalah sebagian buku-bukunya yang terus dicetak ulang sampai saat ini. Ia pernah menjadi wartawan lepas, aktif menulis di majalah Warta Hindu Dharma dan Karya Bhakti. Selain berceramah keliling di India dalam bahasa Hindi, Prabhu juga seorang Dharma duta resmi Parisada Hindu Dharma Pusat dan aktif berceramah keliling Indonesia di tahun 1990-an. Berkeliling untuk ceramah Dharma/Dharmawacana juga dilakukan di kota-kota besar dan pelosok-pelosok perdesaan di India dalam bahasa Hindi. Satu set kaset Bhagavad Githa juga secara resmi dikeluarkan oleh PHDI Pusat pada tahun 1990-an. Setelah mengundurkan diri dari Kedubes Indonesia di New Delhi, India pada tahun 2008, Prabhu Darmayasa sering diundang memberikan dharma wacana di lingkungan masyarakat umum dan pembinaan rohani Hindu di beragam perusahaan seperti Telkom, Pertamina, BNI, Kantor Pajak, BI, PLN, serta menjadi narasumber di berbagai forum internasional. –Inten Indrawati/Ratna Hidayati


6

l i f e s to ry

27 januari - 2 Februari 2014

Cinta Bersemi di Indekos

S

BELAJAR KE BANDUNG Kondisi serupa dialami juga

oleh Putu Rediasa (41). Pria asal Seririt, Buleleng ini lebih beruntung. Ia masih bisa melihat indahnya dunia hingga usia 4 tahun. Setelahnya itu, dunianya gelap. Penyebabnya sama dengan Srinadi, ia sempat mengalami panas tinggi hingga step yang mengakibatkan kebutaan. Rediasa menjadi penghuni Yayasan Panti Guna Dria Raba Denpasar dan menempuh pendidikan dasarnya di SLB A Denpasar. Ia yang tergabung dalam Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) DPC Denpasar sempat melanjutkan sekolahnya hingga ke Bandung. Di komunitas mereka, sekolah tunanetra yang konon tertua di Indonesia itu menjadi incaran para penyandang tunanetra ini untuk mengejar ilmu baru. “Tiap ada ilmu baru tentang pijatmemijat, seperti shiatsu, sekolah ini menjadi prioritas. Setelah itu baru diteruskan ke sekolah tunanetra lainnya di Indonesia,” ungkap Rediasa. Meski dengan keterbatasannya yang total tak bisa melihat, itu tak menjadikannya halangan untuk pergi ke Bandung. “Awalnya saja saya diantar oleh pihak Mitra Bhakti Pertuni yang menggandeng Bank Dagang Bali sebagai donatur.

Setelah itu, saya bergaul dan mencari teman disana yang bisa memberitahukan saya seluk-beluk kehidupan di Bandung,” tuturnya. Syukurnya, dengan kebutaannya ini ia mengaku tak pernah sampai diperlakukan jahat oleh orang lain. “Yang penting penampilan kita jangan sampai mencolok/mengundang perhatian. Jika memegang uang, jangan sampai terlihat,” imbuhnya. KETEMU JODOH Jika sudah jodoh tak akan lari gunung dikejar. Ungkapan ini sangat tepat untuk pasutri tunanetra ini. Meski keduanya pernah sekolah di SLB A Denpasar, me­ reka tak pernah bertemu di sana, mungkin karena berbeda angkatan. Srinadi dan Rediasa justru bertemu di tempat indekos sekitar tahun 2000. Ternyata mereka berada pada satu tempat indekos di daerah Panjer, Denpasar, tak seberapa jauh jaraknya dari SLB A Denpasar. Singkat cerita, kisah kasih terajut di antara keduanya. Namun sayang, keluarga Srinadi tak merestui hubungan mereka. Alasannya, karena Rediasa berasal dari Buleleng yang dianggap berkarakter kasar. Srinadi pun lantas dipindahkan, kembali ke

Sejak kecil Rizky dilatih untuk bisa menuntun orangtuanya

S U D U T PA N D A N G

19

Perilaku Seks Masa Kini, Normalkah?

“Saya benci orangtua saya, kenapa dulu saya tidak dibiarkan mati saja, daripada jadi orang tak berguna”. Kalimat tersebut sempat terlintas dalam benak Kadek Srinadi 32 tahun lalu, saat ia masih berumur 5 tahun. Saat itu ia baru bisa mengingat apa yang terjadi pada dirinya.

ejak usia dua bulan, orangtuanya ber­ pisah. Srinadi diasuh sang nenek yang saat itu masih sibuk bekerja. Saat ditinggal kerja, Srinadi diasuh anak-anak neneknya yang saat itu masih kecil-kecil. Sejak si bayi Srinadi ditinggal ibunya, ia terus menangis. Kondisi ini membuat Srinadi mengalami panas tinggi yang berujung step. Sejak itu penglihatannya mulai terganggu. Waktu itu sang nenek tak begitu mengenal pengobatan medis, yang ia tahu jika sakit berobat ke balian dengan sistem pengobatan tradisional. Srinadi kecil pun diajak berobat ke balian. Matanya yang sakit ditetesi minyak. “Saya baru bisa merekam semua kejadian itu saat berumur 5 tahun. Kata nenek, sejak itu penglihatan saya mulai kabur,” kisahnya. Ketika hendak memasuki sekolah dasar di daerah asalnya di Tabanan, Srinadi sempat minder dengan ketaksempurnaannya. Mata kanannya atrofi (bola mata mengecil), dan mata kiri kabur. Namun, saat melihat teman-teman sekolahnya yang senasib dengan dirinya mampu, Srinadi kecil pun bersemangat untuk sekolah. Jenjang pendidikan SD dilanjut­ kannya di SLB A Denpasar. Ia mengaku usianya agak terlambat masuk sekolah. Di usianya yang ke 13 tahun, Srinadi baru duduk di kelas 5 SD. Di sela-sela ke­ sibukannya sebagai siswa, terbersit keinginannya untuk berjumpa sang ibu yang belum pernah ia kenali. Ibu kandungnya sudah menikah lagi dan menetap di Singaraja. Informasi ini ia dapatkan dari kakaknya yang memiliki teman di Singaraja. “Kakak tidak mau mengajak saya ketemu ibu. Akhirnya saya nekat pergi sendiri dari Denpasar ke Singaraja. Saya ketemu juga dengan ibu. Ibu saya menangis. Saya menginap dua hari disana,” tuturnya. Sejatinya mata kirinya itu sudah pernah dioperasi saat dia berumur 19 tahun. Kata dokter seperti yang dikutip Srinadi, saraf mata kirinya lemah, ada katarak di belakang retina, kornea matanya diganti. Namun, operasi tersebut tak memberikan perubahan. Matanya tetap tidak bisa melihat dengan jelas. “Pascaoperasi penglihatan dapat terang sebentar, sete­lah itu kabur lagi karena ba­nyak menonton televisi,” ujarnya.

27 januari - 2 Februari 2014

Pasutri Rediasa-Srinadi

Tabanan. Namun, itu tak memutuskan hubungannya dengan Rediasa. Komunikasi tetap terjalin lewat telepon seluler. Sesekali, mereka bisa bertemu walaupun hanya sebentar, ketika ada rapat Pertuni di Denpasar yang tak pernah dilewatkan Srinadi. Tahun 2005, keduanya memantapkan diri untuk menikah. Srinadi diminta Rediasa datang ke rumah tuanya di Buleleng. Dengan menumpangi bus dari Ubung, Denpasar, Srinadi berangkat seorang diri ke Seririt menuju rumah Rediasa. Keluarga Rediasa yang menyetujui rencana pernikahan mereka berencana hendak melarikan Srinadi, atau di Bali diistilahkan kawin lari. Setelah berembug de­ ngan keluarga besar Rediasa, pihak aparat yang turut dilibatkan itu menghubungi keluarga Srinadi dan menyampaikan rencana pernikahan Rediasa-Srinadi. Keluarga Srinadi meminta Srinadi pulang dulu ke rumah dan berbicara baik-baik dengan keluarga. Keluarga Srinadi pun berembug secara adat, dan Srinadi diingatkan akan keputusannya menikahi Rediasa bahwa segala akibatnya nanti ditanggung sendiri, dan jangan kembali pulang. Srinadi menyanggupinya. Rencana kawin lari itu pun batal. Karena Rediasa diharuskan menjemput calon istri­ nya ke Tabanan, untuk dinikahi. Keduanya pun akhirnya menikah. INGIN ANAK MANDIRI Kini, pasutri Rediasa-Srinadi yang sudah dikaruniai dua anak laki-laki menetap di Denpasar dengan menyewa dua buah kamar kecil di bilangan Panjer, Denpasar. Satu kamar untuk tempat tidur mereka berempat dengan ekstra bed, satu kamar lagi difungsikan untuk kamar pijat. Rediasa menopang kebutuhan keluarganya dengan profesinya sebagai tukang pijat. Terkadang ada pasien yang datang ke tempat mereka, bisa juga menerima panggilan. Ratarata ia bisa mengambil pasien tiga orang perhari. Sementara, Srinadi yang dulu juga sempat memijat khusus perempuan, kini hanya fokus sebagai ibu rumah tangga dan mengurus kedua anaknya. Dengan penglihatan yang

kabur, dengan jarak panjang yang jelas hingga 5 meter saja, tak menyurutkan niat Srinadi untuk berbelanja ke pasar ke warung atau mini market sesuai permintaan anaknya, Putu Rizky Sukmayasa dan Made Indra Sastra Winata. Rizky (8) yang kini sudah duduk di kelas 3 SD itu, sejak berusia 3 tahun sudah kerap digandeng kemana-mana oleh ibu dan bapaknya. “Saya latih dia untuk bisa mencari dan mengingat jalan sendiri. Minimal rute rumah-pasar-warung-mini marketsekolah. Biar dia bisa menuntun orangtuanya yang tak bisa melihat ini, agar mereka mandiri dan mengerti dengan kondisi kami,” ujar Srinadi. Segala kebutuhan sang anak sudah berusaha dipenuhinya. Ia bersyukur anak-anak mereka mengerti keadaan orangtuanya yang sempat juga menjadi bahan ledekan teman-temennya. Srinadi pernah mendengar teman Rizky mengatakan tentang kebutaan orangtuanya. Namun dengan ­pede Rizky menjawab ‘yang penting kan ibunya bisa memberikan uang. Srinadi trenyuh mendengar jawaban anaknya. Karena itu saat tahun, ketika anaknya minta makan di luar, pasutri ini menyanggupinya. “Saya ingin memberikan kebanggaan padanya. Walau memiliki orangtua buta, masih bisa pergi jalan-jalan seperti anak lainnya,” ujar Srinadi yang kini tengah hamil anak ketiganya. Hanya satu yang tak bisa dilakukan pasutri ini, yakni meng­ ajari anak-anaknya baca tulis. Mereka hanya mengenal huruf braille. Jika ada PR, mereka biasanya me­n gerjakan sendiri. Srinadi meng­aku hanya bisa menyimpulkan dari apa yang dibaca anaknya. Sementara, untuk pelajaran Bahasa Bali, ia memilih meleskan anaknya, karena ia sendiri tak mengerti. Harapannya cuma satu, kelak anak-anak bisa bekerja dan hidup mandiri. Sebesar apapun masalah di keluarganya, ia tetap ingin memperhankannya. Srinadi tak mau kesalahan orangtuanya dulu juga menimpa anak-anak mereka. –Inten Indrawati/Ngurah Budi

Tiga buah video ditayang­kan melalui sabak ­sebelum diskusi terbatas “Edukasi Seks yang Tepat bagi Anak” yang dihelat ­Mingguan Tokoh di ­Warung 63 Denpasar di­ mulai. Video ­pertama ­menayangkan se­pasang murid SMK di Bali melakukan oral seks. Video kedua, sepa­ sang ­murid berbaju putih-biru melakukan hubung­an seks di seko­ lah. Video itu jelas direkam oleh orang lain. Adegan itu pun ­sempat terhenti ketika dari pintu yang ter­ buka, tiba-tiba datang siswi lainnya. Bukan­ nya malu, ­mereka malah ditawarkan bergabung. Akhirnya, pasangan murid itu meneruskan hubungan seks mereka dengan ditonton murid lain. Video ketiga, sepasang murid SMA berseragam Pramuka, juga melaku­ kan seks, dengan merekam sendiri video mereka.

“S

elama satu dekade terakhir, fakta perilaku seks di kalangan remaja berjalan sendiri,” kata dr. Oka Negara, FIAS, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Pertanyaan remaja yang sering diterima dr. Oka melalui SMS bukan lagi soal remaja yang takut hamil. “Tetapi kenyataannya, saya sering mendapat SMS, Dok, saya baru saja minum obat X. Tapi kok belum luruh juga kandungan saya?” tutur dr. Oka. Menurutnya, akses internet memudahkan remaja mencari informasi apa pun, termasuk obat yang bisa meluruhkan kandungan. “Sebuah situs menawarkan obat maag, yang harga aslinya hanya Rp 20 ribu per butir dengan harga Rp 300 ribu per butir untuk meluruhkan kandungan. Mereka beli secara online kemudian mengambil pesanannya di toko obat di Jalan Gajah Mada Denpasar,” imbuhnya. Fenomena teranyar, merebaknya istilah “cabe-cabean.” Istilah ini diguna­ kan untuk perempuan yang suka nongkrong di balapan liar dengan berpakaian celana pendek atau rok mini superketat. Bahkan, tak jarang terjadi transaksi minuman keras, narkoba, dan aktivitas seksual. Para perempuan yang dijuluki “cabe-cabean” ini, dijadikan piala bergilir bagi pemenang balapan liar ini. “Bukannya takut, mereka malah bangga dengan hal itu. Bahkan, mereka berusaha melakukan persiapan agar mampu memuaskan si pemenang,” tutur dr. Oka. Berbeda sebutan dengan perempuan, lelaki diberi sebutan “terong-terongan”. Ada

Dyah Ayu Kartika Paramita, M.Psi.

dr. Oka Negara, FIAS

Prof. I Nyoman Mangku Karmaya

Ni Putu Natalya

juga istilah “anak paprika”. Sebut­an ini untuk menunjukkan “kelas” yang lebih tinggi. Anak paprika ini lebih berduit, bawaannya mobil, pakai parfum mahal, dan tempat nongkrongnya bukan lagi di balapan liar tetapi di klub malam. Sebuah hasil awal dari survei yang dilakukan Kita Sayang Remaja (Kisara) PKBI Bali, diungkap Ni Putu Natalya. “Sebagian besar remaja di Denpasar sudah melakukan seks, baik itu seks anal, seks oral, atau pun melalui vagina. Yang pernah berpacaran, pasti sudah melakukan ciuman bibir. Survei itu dilakukan terhadap remaja berusia 15-24 tahun,” ungkap Zeni, panggilan karib relawan Kisara ini. Kisara juga melakukan konseling. “Umumnya, kami menangani kasus kehamilan tak diinginkan. Di samping itu, tiap hari kami menerima pertanya­an tentang masturbasi. Mastur­basi itu normal nggak? Terus, kalau saya melakukan hubungan seks sama pacar saya, aman nggak?” papar mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Udayana ini. “Pertanyaannya kini, apakah perilaku seks remaja yang sekarang ini normal atau tidak?” tanya Prof. I Nyoman Mangku Karmaya dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Provinsi Bali. “Kini yang berubah adalah nilai dan cara pandang. Dulu kita menciptakan nilai, seks itu suci, hanya boleh dilakukan setelah menikah. Ketika budaya berkembang, seks menjadi lebih bebas. Orang-orang yang masih mempertahankan konsep yang dulu dan konsep sekarang, berbenturan. Perubahan cara pandang ini, menunjukkan perbedaan antara anak dan orangtua. “Ketika masalah dibenturkan, semua memakai cara pandang masing-masing,” imbuh dr. Oka. Dokter Oka pernah ditelepon seorang guru BP di sebuah SMP di Denpasar. “Saya bingung, siswa saya masih di ruangan BP. Dia tanya, Bu, anak seumuran saya sudah boleh ciuman atau belum?” kisah dr. Oka mengutip guru tersebut. “Guru itu bi­ngung bagaimana menjawabnya. Kalau dijawab nggak boleh, dia kehilangan respek dari anak didik. Kalau bilang iya, bisa disebarkan ke teman-teman yang lain. Ternyata boleh lho ciuman sama pacar. Saran saya ketika itu, anak SMP itu suruh bercerita, jangan dikasih jawaban. Menurutmu bagaimana, tanya saja. Kalau jawab nggak, aman. Kalau jawab iya, nilainya berbelok, diluruskan,” papar staf bagian andrologi dan seksologi Fakultas Kedokteran Unud ini. Menurut dr. Oka, remaja kini terpapar begitu banyak informasi. Hasil survei, sumber informasi seks pertama bagi remaja perempuan dan laki-laki adalah teman. Karena teman sebaya, pengetahuannya pasti terbatas. Di peringkat kedua, remaja perempuan lebih suka bertanya informasi tentang

seks pada ibunya. Sementara 80% remaja laki-laki lebih suka mencari melalui media massa. Sialnya, media sering memberikan informasi yang tak tepat. Contohnya, ada iklan tentang memperbesar penis. Di internet, informasi tentang penis dalam mesin pencarian yang menduduki peringkat enam teratas justru hanya mitos. Sangat masuk akal remaja tidak memproteksi diri­nya karena mendapatkan informasi yang salah. Kasus di Nusa Dua, anak SMP berangkat ke sekolah lebih pagi. Bukan­ nya langsung ke sekolah, ia malah mampir dulu ke lokasi PSK. Ada istilah di kalangan remaja ini, mereka mencari pekerja seks yang masih perawan. Artinya, PSK yang belum melayani pelanggan. Sebalik­nya, mengapa PSK mau melayani anak SMP? Karena menurut mereka, keputihan bisa disembuhkan jika berhubungan seksual dengan anak muda. Selain itu, bisa awet muda. “Ini semua hanya mitos,” tegas dr. Oka.

dengan anak walau kesempatan ada,” ujarnya. “Jadi poinnya, bagaimana anak bisa menjaga diri, bertanggung jawab atas perubahan yang terjadi. Dia bisa menjaga tubuhnya, termasuk alat reproduksinya. Kita memperkuat psikis mental. Kita mengantar mereka sampai dewasa dengan aman dan pe­ ngetahuan. Kita juga harus melibatkan orang dewasa. Banyak orang dewasa mencari orang muda belia karena mitos itu. Orang dewasa harus melin­ dungi,” tegas Mangku Karmaya yang juga aktif di Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali ini. Zeni menambahkan, orangtua jangan hanya melarang tanpa penjelasan. “Saya pernah memberikan ceramah, ada remaja yang bertanya tentang masturbasi. Di sebelahnya ada orangtuanya. Orangtuanya melarang bertanya hal semacam itu. Orangtua harus bisa menyampaikan informasi yang benar. Misalnya, perilaku seksual akan memberi kenikmatan tapi ketika melakukan sebelum menikah bisa terjadi kehamilan. Harus me­nyeluruh. Makin dilarang makin penasaran. Remaja ingin tahu,” kata Zeni. Menurut dr. Oka, remaja perlu akses; akses informasi yang benar, akses pelayanan yang proremaja, dan akses pemberdayaan. “Akses pemberdayaan perlu agar remaja berdaya, memiliki sifat asertif. Bisa memilih tempat beraktivitas yang tepat. Bukan nongkrong di tempat yang nggak jelas. Di Bali, misalnya, remaja nongkrong di depan minimarket. Kalau sudah begitu, bir laku banget,” susulnya.

anak, misalnya saat anak badmood, orangtua tahu sinyal yang ditunjukkan anak. Dengan melihat sinyal anak kita, kita paling tidak bisa menyapa. Kadang sulit diungkap, anak diam. Bisa ditanya, dari mana, kok kelihatan sedih. Kalau dibilang, nggak apa-apa. Tunggu. Biarkan dia, beri ruang dan waktu sendiri,” kata Dyah yang aktif di Biro Psikologi Pradnyagama ini menjelaskan. Terkait kepemilikan, perasaan kurang terhadap fisik mereka bisa jadi bumerang. Ada anak yang payudaranya tumbuh lebih cepat. Ada yang payudaranya lebih besar. Ada anak yang belum menstruasi sementara temantemannya sudah. “Ada yang bangga, ada yang tidak percaya diri. Untuk mengatasi hal itu, saya menggunakan terapi cermin,” kata Dyah. Metode terapi cermin ini, remaja baik perempuan atau laki-laki diminta berdiri di depan cermin dalam kondisi telanjang bulat pada malam hari, tentu di kamar masing-masing. Refleksi malam hari menyiratkan ketenangan. Mereka diminta memandang dirinya di cermin, melakukan observasi diri. Tubuh mereka seperti apa, dsb. Perhatikan bagian tubuh yang tidak disukai dan disukai. Misalnya, tidak suka karena kulit gelap. Jadinya, dia tidak populer di lingkungannya. “Ini kan kesalahan berpikir. Ada terapi, kamu berharga lho, dibandingkan teman yang lain. Tuliskan kekurangan dan kelebihanmu. Setelah itu, mereka diminta menggambarkan kembali dirinya. Awalnya, bagian yang tidak disukai bisa saja diberi warna hitam. Lakukan berkali-kali. Gambar berulang ulang. Sampai akhirnya mereka menyadari, menerima, dan mencintai tubuhnya sendiri,” papar Dyah. Selain itu, menurut psikolog yang juga aktif di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Denpasar, kemampuan membuat target juga harus dikembangkan. Biasanya, mereka ha­nya berpikir jangka pendek. Misalnya, sekarang kelas 3 SMA, targetnya ya lulus UN. Coba tanyakan, apa pe­kerjaan yang diinginkan. Lalu, turunkan, kuliahnya di mana agar bisa mencapai pekerjaan itu. Turunkan sampai masa sekarang. Skema pun terbentuk. “Target itu tersambung dengan citra diri,” lanjutnya. Di sisi lain, Dyah menekankan pentingnya makan malam bersama keluarga. Saking banyak­nya aktivitas keluarga, banyak hal yang berubah. Salah satunya, kebiasa­ an makan malam bersama keluarga. Makan malam adalah waktu yang baik untuk menciptakan kebersamaan dalam keluarga. “Yang sering melakukan makan bersama, kelekatan emosinya lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Di meja makan, orangtua dan anak bisa berdiskusi banyak hal, mulai dari norma samapai nasihat dalam situasi yang cair dari hati ke hati,” katanya. – Wirati Astiti/Ratna Hidayati

TIGA HAL POKOK Menyikapi hal ini, Mangku ­Karmaya memberi masukan. Ada tiga hal pokok yang bisa dilakukan di rumah dan sekolah. Pertama, ajarkan anak menghargai diri sendiri. Apakah kita pernah memuji anak, baik di rumah atau di sekolah? Dengan pujian, mereka merasa ada dan diterima sehingga mereka punya mental yang mantap. Ironisnya, anak jarang dapat penghargaan yang bagus. “Anak sing taen beneh. Kamu gini aja nggak bisa, salah terus. Orangtua selalu menghakimi anak, nggak pernah mendengarkan pendapat anak. Kalau begitu, anak mencari penghargaan di luar. Karena itu, hargai sosok anak kita; anak kandung, anak didik. Ajak dia menghargai dirinya sendiri. Kalau dia bisa menghargai diri sendiri, dia bisa menghargai orang lain,” papar Mangku Karmaya. Kedua, komunikasi yang baik antara orangtua dan anak. Komunikasi bisa untuk mengekspresikan diri. Kenyataannya, orangtua cenderung tertutup. “Saya sering bilang pada pasien, lakukan kontak mata. Kalau bicara pandang mata anak. Mata itu simbol pikiran. Dari mata kita bisa tahu, apakah anak sedang sedih, gembira, dsb. Kalau kita bicara dan anak bersikap lain-lain, ada sesuatu yang disembunyikan. Perhatikan juga intonasi saat bicara. Ajak anak bicara, bukan tertutup. Lakukan kontak bodi, dengan peluk dan cium. Anak senang dipeluk orangtuanya. Kadang saat anak sakit diselimuti baju orangtuanya, anak itu merasa sudah lebih baik. Ketiga, ajari mereka agar bersikap asertif, bisa menolak ajakan yang buruk. “Sebenarnya gampang tapi orangtua enggan. Mungkin bapak atau ibu sibuk bekerja, jadi malas. Akhir­ nya, kegagalan membina hubungan

TERAPI CERMIN Menurut Dyah Ayu Kartika Paramita, M.Psi. Psikolog, remaja perlu diberi pemahaman tentang kepemilikan. Dia harus menyadari dirinya sendiri. Dengan menyadari diri sendiri, ia bisa mencintai dirinya sendiri pula. Ada satu kasus, seorang remaja merasa sangat jelek. Di lingkungannya, tak ada yang mengatakan dia cantik. Dia tidak memahami tubuhnya sendiri. Ketika tumbuh dewasa, pacarnya mengatakan dia cantik. Disebut cantik oleh pacarnya, citra dirinya pun meningkat. Parahnya, citra diri ini justru dibentuk dari orang lain. Pacarnya pun jadi pahlawan, kemudian dia mulai lebih terbuka kepada pacarnya, mau dicium sampai akhirnya melakukan hubungan seks. Orangtuanya kemudian bingung, bilang kalau anaknya berubah. “Orangtua harus mengerti tentang pemahaman akan kebutuhan. Selama ini, yang disampaikan orangtua hanya kebutuhan orangtua, dari mana, mau ke mana, sama siapa. Sementara, kebutuhan anak, bagaimana dia bisa bercerita tentang dirinya. Orangtua dituntut modern saat ini. Orangtua modern tidak harus punya ipad atau facebook. Namun, tahu dan mengerti kebutuhan


D AYA C I P TA

18

Mainan dari Barang Bekas Anda memiliki barang bekas? Jangan langsung dibuang begitu saja. Pilah dan pilih siapa tahu ada yang masih bisa di­ manfaatkan untuk membuat mainan. Kuncinya, adalah kreatif dalam meng­ kreasikan barang tersebut. Hasilnya, bisa mengurangi sampah dan membuat ­mainan bermanfaat.

K

onsep daur ulang b a ra n g b e k a s sering kita de­ ngar. Banyak juga yang melakukan daur ulang secara mandiri. Bagi anak-anak, barang bekas bisa dijadikan mainan. Daripada menumpuk tak berguna, lebih baik dikreas­ ikan agar bermanfaat. Kak Ade dari Davincio pun se­ring mengajarkan anak didiknya untuk berkreasi dengan barang bekas. “Mengajak anak untuk mem­ buat mainan dari barang bekas menjadikan mereka secara tidak langsung peduli lingkun­ gan. Mereka tidak akan sem­ barangan membuang sampah. Barang yang masih bisa dipakai bisa diolah menjadi mainan. Nanti mainannya bisa dipakai sendiri atau dipakai bersama teman-temannya,” ujar pria ber­ nama lengkap Ade Santoso ini. Tiap Jumat di sekolah ­D avincio, anak-anak diajak untuk membuat mainan dari barang bekas yang tidak ter­ pakai. Masing-masing anak membawa bahan yang ditu­ gaskan. Di sekolah yang ber­ lokasi di Jalan Sedap Malam, Denpasar ini, mereka lalu mer­ akit mainan tersebut. Hasilnya memang tidak sempurna tetapi

apapun kreasi anak-anak sudah menunjuk­kan mereka tertarik untuk berkreasi. Saat Tokoh mewawancarai Kak Ade, anak-anak itu baru saja menyelesaikan pembuatan mobil-mobilan dari botol bekas minuman. Hasilnya langsung mereka jadikan teman bermain di saat istirahat. “Kami me­ nyesuaikan dengan tema dari Dinas Pendidikan, misalnya tema rekreasi, sub tema ken­

Kak Ade

daraan. Kami ajak anak-anak membuat kendaraan. Bahan dari barang bekas dan mudah didapat,” tandasnya. Bahan yang harus disiap­ kan antara lain botol bekas minuman, lidi/tusuk sate, lem, rubber/karton, tali, tutup botol, dan kertas hias. Kebanyakan

Hasil kreasi dari barang bekas

anak-anak menggunakan botol plastik bekas susu atau yoghurt. Setelah isinya diminum, botol­ nya dibersihkan lalu dijadikan bahan mainan. Untuk tutup botol diperlukan 4 biji dan yang digunakan adalah tutup botol

Bahan-bahan untuk membuat mobil-mobilan

air mineral. Keempat tutup botol ini menjadi roda. Cara membuatnya, pertama lidi/tusuk sate dipotong se­ ukuran jari tangan. Buat dua potongan yang sama. Keduanya lalu ditempel di botol. Bisa menggunakan rubber atau bisa ditempel di karton terlebih da­ hulu lalu dilem di botol. Lidi/ tusuk sate ini menjadi garden

tempat menempelnya roda. Kedua, pasang tutup botol di ujung-ujung lidi/tusuk sate. Anak-anak bisa meminta ban­ tuan orang dewasa untuk me­ lubangi tutup botol itu. Ketiga, sembari menunggu lem merekat kuat, botol bisa dihias dengan potongan kertas warna-warni sesuka hati. Keem­ pat, pasang tali untuk menarik mobil-mobilan itu. “Cara mem­ buatnya mudah,” ujar Ketut Raditya Pratama, salah satu anak didik Kak Ade. Walaupun tangannya belepotan lem, ia semangat mengerjakan mainan kreasi dari barang bekas itu. Hal yang sama juga ditunjuk­ kan Kevin, Laura, dan Renza. Mereka bahkan memamerkan hasil karyanya berupa mobil balap dari botol bekas. Selain mobil balap, anakanak juga ada yang membuat roket. Caranya hampir sama dengan membuat mobil balap namun diberi aksesoris dari pipet serta kertas rumbairumbai. “Mengajak anak berkreasi dengan barang bekas sekalian mengajarkan mereka untuk mengenal bank sampah. Be­ danya, kami tidak membayar dengan uang tetapi dengan had­ iah berupa buku, pensil, bah­ kan ada yang minta dibuatkan gambar, lalu mereka mewarnai gambar itu,” ujar Kak Ade. Bagi orangtua, berkreasi dengan barang bekas bisa di­ lakukan di rumah. Bahan-bahan seperti koran be­ kas bisa dijadikan tempat pulpen. Plastik-plastik yang antiair bisa dijahit lalu dibuat menjadi tas atau dompet. Jadi, ka­ lau mau kreatif, apapun bisa di­ jadikan barang bermanfaat. Se­ lamat mencoba. –Ngurah Budi/Wirati Astiti

Ketut Raditya sedang mengerjakan mobil-mobilan

27 januari - 2 Februari 2014

27 januari - 2 Februari 2014

Hasil karya anak-anak Davincio

l i f e s to ry

Tak Ada Kertas, Tanah pun Jadi

7

Hidup terkungkung dalam kebodohan, bukanlah hal yang me­ngenakkan. Selain tidak dihargai orang, ruang gerak juga ter­batas bahkan kerapkali kena tipu. Tidak bisa baca dan tulis alias buta huruf adalah salah satu faktor utama kebodohan itu. Untuk bisa keluar dari situasi itu, tidak semua orang bisa melakukannya. Namun, bagi mereka yang memiliki tekad yang kuat dengan se­mangat juang yang tinggi, keluar dari kebodohan bukanlah hal yang mustahil. Salah satunya Jumilah, perempuan dusun yang me­retas kebahagiaan­nya dengan berbagi ilmu kepada se­ sama. Hebatnya, ilmu yang dibaginya itu adalah ilmu baca tulis yang setelah dewasa baru bisa ia lakukan.

D

engan penuh semangat, Jumilah yang mengaku telah bertekad meningkatkan derajat pendidikan bagi anak-anak di Dusun Duduk Bawah, Desa Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, tempatnya tinggal. Ia tidak ingin anak-anak di dusun tersebut mengalami nasib yang sama dengannya. Ia ingat satu pengalaman yang tidak mengenakkan akibat ia merasa “bodoh”. Suatu ketika, ceritanya, ia didatangi seorang laki-laki yang menawarkan sebuah arloji untuk ditukar dengan seekor sapi. Kare­ na ketakutan yang tanpa sebab, dia akhirnya menangis dan berlari mencari ayahnya untuk menceritakan hal tersebut. Ketika Jumilah dan sang ayah kembali ke lokasi penggembalaan tersebut, lelaki tadi sudah tak ada dan membawa sapinya. “Saya merasakan hal itu sebagai nasib orang bodoh yang tidak bersekolah, selalu jadi sasaran dibodohi orang-orang pintar,” ujar Jumilah. Jumilah adalah sosok perempuan pekerja keras dengan kemauan yang keras pula. Sejak kecil ia buta huruf

karena sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan. Jumilah hidup dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, yang memandang­ nya sebagai perempuan biasa yang tidak diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki, termasuk kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Jumilah sendiri, waktu itu, belum memiliki keberanian dan kemampuan untuk keluar dari paragdigma tersebut. Namun, titik balik dalam kehidupannya terjadi di tahun 2003 kala itu ia sedang bekerja sebagai pekerja rumah tanggaketika sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Mataram masuk ke dusunnya dengan membentuk Kelompok yang diberi nama Kahuripan dengan aktivitas antara lain memberdayakan perempuan di bidang ekonomi produktif, pendidikan, dan pelestarian lingkungan hidup. Dalam kelompok usaha tersebut, dia menjadi kepala divisi usaha. Untuk itulah Jumilah harus berurusan dengan angka dan catat mencatat. Karena ia baru saja bisa baca dan tulis, soal catat mencatat setoran ini, seringkali membuat bingung kelompok yang juga beranggotakan

pedagang bakulan ini. Dari sinilah, di tahun 2004, semangatnya mulai tampak untuk terus belajar menulis, diantaranya dengan berguru kepada anak kandungnya yang waktu itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar. “Ketika belajar membaca dari anak saya, ia suka marah kalau saya sering salah mengeja dan dianggap rewel karena saya suka tanya-tanya terus,” katanya polos. Kemauannya yang keras untuk belajar, memacu semangat­nya untuk tahu banyak hal. Saking inginnya bisa membaca dan menulis ia pun punya nazar (niat) mulia, mengabdi dengan mengajar. “Waktu itu, saya berjanji, jika nanti bisa lancar membaca dan menulis, saya ­ingin mengabdi bagi masyarakat,” ungkap­nya. Mulainya ia dapat membaca dan menulis mendorong ia terus aktif dalam kelompok yang dibuat itu. Jumilah akhirnya lancar baca tulis dan mampu membangun rasa percaya dirinya untuk juga mulai bicara dan menyumbangkan usulan-usul­ an sederhana yang datang dari pikiran sederhananya berdasarkan kenyataan hidup yang ada di sekitarnya. Konsistensi dan komitmennya yang kian hari terus Jumilah bersama anak didiknya

bertambah untuk berubah dan meningkat­kan kapasitas dan kemampuan diri, mendorong Jumilah mengajak beberapa temannya untuk membentuk kelompok belajar di dusunnya. Keinginan ini berangkat dari persoalan yang dilihatnya pada lingkungan sekitar, bahwa anak-anak di dusunnya yang tidak berkesempatan belajar di sekolah

karena berbagai faktor alasan, remaja bahkan orang dewasa yang tidak bisa baca tulis membuat ia prihatin. “Masak sih sampai akhir hayatnya mereka tidak bisa baca dan tulis,” ungkapnya suatu sore saat ditemui di aula sederhana tempat mereka belajar yang merupakan sumbangan dari Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi. Realitas hidup dan pengalaman pribadi yang dia hadapi selama ini, membuat Jumilah bersungguhsungguh melaksanakan proses pembelajaran untuk membuat anak-anak yang kurang ber­untung itu setidaknya bisa membaca dan menulis. Ia ingin melakukan perubah­a n bagi masyarakat di dusunnya. Ia prihatin, karena sampai di tahun 2004, anak-anak di dusunnya rata-rata hanya tamat SD. Perubahan itu ia mulai dari dirinya sendiri. Jumilah putus pendidikan

formal­nya hanya hingga kelas dua SD pada saat ia belum bisa baca dan tulis, gara-gara bapaknya tidak mampu menyumbang kepada sekolah untuk mendirikan tembok pembatas sekolah. Ia diminta keluar dari sekolah tersebut. Kini ia mengajarkan anak didiknya dengan sistem pembelajaran tak seperti sekolah formal, yakni siswa duduk di kursi, memperhatikan guru menyampaikan materi pelajaran di depan kelas. Di Sekolah Jumilah, siswa dibebaskan berkreasi untuk meman­c ing kreativitasnya. Menulis dan membaca tidak hanya dilakukan di atas kertas memakai pensil atau bolpoin, melainkan juga memakai alat dan media apa saja yang ada di sekitarnya. “Bahkan menulis dan menggambar di tanah menggunakan kerikil dan ranting kayu, kami lakukan,” ujarnya. Berkat semangat dan kerja keras serta keikhlasannya mendidik anak-anak di dusunnya, Jumilah kerap diundang menjadi nara­ sumber untuk berbagai kegiatan yang inspiratif bahkan hingga tingkat nasional. Ia pernah menjadi narasumber radio swasta terkemuka di Jakarta, ia juga menjadi pada forum Temu Bintang Nasional, di Makassar dan pada ajang Bersinarlah Wanitawanita Indonesia di Jakarta. Serta beberapa forum lainnya. “Tiap kali pulang dari perjalanan di forumforum tersebut, ia selalu membawa oleh-oleh buku dan pensil, bolpoin serta pensil warna dan buku gambar untuk anak didiknya di Sekolah Jumilah. “Saya tidak malu untuk minta kawan-kawan lain di forum itu untuk mengirim oleh-oleh buku dan pensil bagi anak-anak di sini,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan/Ngurah Budi


BUNDA & ANANDA

8

27 JANUARI - 2 Februari 2014

Menyapih tanpa Mengabaikan Minggu lalu, Anissa terus menangis. Dalam sehari lebih dari 10 kali balita berusia tiga tahun ini menangis. Ibunya sudah tahu penyebab tangisan Anissa. “Dia menangis karena saya sapih. Saya ingin dia belajar minum susu botol,” ungkap ibunya.

dr. Ni Made Sumiartini

M

enyapih Anis­ sa membuat ibunya sempat ragu, apakah disapih atau tidak. Jika dibiarkan terus minum ASI, ia khawatir, Anissa akan sulit dilepaskan jika suatu saat ibunya harus bertu­ gas ke luar kota. Dari beberapa usul dan saran temannya, ia mengoleskan lipstik di pu­ ting payudara. Ternyata Anissa merasa ada yang aneh dengan rasa puting ibunya. Itulah yang membuatnya menangis karena tak bisa minum ASI. Pengalaman Bu Adit lain lagi. Ketika ia menyapih Adit karena Adit akan punya adik, puting payudara diberi daun sirih. Daun yang rasanya pahit ini membuat Adit tak mau lagi minum ASI. “Saya sebenarnya tidak tega, tetapi dalam kondisi hamil, susah untuk memberikan dia ASI. Akhirnya saya pilih un­ tuk menyapih Adit,” ujarnya. Menyapih merupakan suatu proses berhentinya masa me­ nyusui yang dapat dilakukan secara bertahap atau seketika. Proses menyapih dapat di­ sebabkan oleh berhentinya sang anak menyusu pada ibunya atau bisa juga sang ibu yang berhenti menyusui anaknya, atau bisa juga keduanya. Masa menyapih ini merupa­ kan pengalaman emosional bagi sang ibu, anak juga sang ayah. Ketiga pihak tersebut merupa­ kan ikatan kesatuan yang tidak dapat dilepaskan. Kenapa ayah juga terlibat? Karena ayah juga berperan dan memberikan pe­ ngaruh tersendiri dalam proses menyusui. “ W H O d a n I DA I h a n y a mengeluarkan kebijakan un­ tuk memberikan ASI eks­klusif

selama 6 bulan pertama ke­ mudian dianjurkan untuk tetap diberikan berdampingan de­ ngan makanan padat sampai usia 2 tahun atau lebih. Tidak ada aturan baku kapan anak harus disapih. Banyak orang­ tua menyapih anaknya pada usia 1-2 tahun bahkan 4 tahun. Semua tergantung situasi dan kondisi masing-masing,” ujar dr. Ni Made Sumiartini, Sp.A. Banyak masyarakat berang­ gapan jika anak terus disusui nantinya susah disapih dan anak sulit mandiri. Menurut dr. Sumi, tak ada hubungan antara anak disapih dengan kemandirian anak. “Idealnya, penyapihan di­ lakukan jika anak sudah mampu untuk mengonsumsi makanan pendamping ASI,” ujar dokter anak yang praktik di RSAD Denpasar, RSIA Puri Bunda, dan Apotek Pandu Medika ini. Ia menambahkan, proses pe­ nyapihan bisa dilakukan secara bertahap ataupun mendadak/ seketika. Proses penyapihan seketika umumnya dilakukan dalam keadaan terpaksa, mi­ salnya ibu mendadak jatuh sakit atau harus pergi jauh sehingga tidak memungkinkan untuk menyusui anak. Sedangkan pe­n yapihan bertahap dibagi menjadi dua, natural weaning/ penyapihan alami (tidak me­ maksa dan mengikuti tahapan perkembangan anak) dan mo­ ther led weaning (ibu yang me­ nentukan kapan saat menyapih anaknya). Pada awal proses penyapih­ an, anak biasanya rewel dan gelisah. Dengan penyapihan alami, semua itu bisa dihindari mengingat saat memasuki usia batita sebetulnya ketergan­ tungan anak pada ASI sudah semakin berkurang. Dalam mother led weaning yang dibu­ tuhkan adalah kesiapan mental ibu juga dukungan dari ling­ kungan, terutama ayah (suami) sebagai sosok yang dapat memberikan kenyamanan selain ibu dengan cara mengajak anak bermain. Bila sudah mantap un­ tuk menyapih, laku­ kanlah penyapihan dengan sabar dan tidak terburu-buru karena sikap ibu dalam menyapih berpengaruh pada kesiapan si balita. “Ada kesan penyapihan

27 JANUARI - 2 Februari 2014

G R I YA

Pertegas Taman dengan Tanaman Border

17

Kehadiran sebuah taman dalam sebuah rumah atau bangunan lain memiliki makna yang lebih. Selain memberikan kesejuk­ an dan sebagai penyerap polutan, taman memberikan sentuhan estetika. Bahkan, ada beberapa masyarakat yang memiliki la­ han luas sengaja mengkomposisikan taman lebih luas daripada bangunannya.

P

akan membuat anak kehilangan kenyamanan. Minum ASI bu­ kan satu-satunya upaya untuk mendapatkan kenyamanan. Ada cara lain yang bisa membuat anak nyaman, misalnya meme­ luk anak untuk memberikan kehangatan. Menyapih tanpa mengabaikan kenyamanan anak tetap bisa dilakukan,” ujar is­ tri dr. Made Tangkas, SpOG., MPH ini. Dokter Sumi menambahkan, pemberian obat-obatan atau ramuan di puting payudara ibu sebagai upaya penyapihan bisa membahayakan. Selain sang ibu, anak juga bisa menjadi korban, misalnya, anak menelan obatobatan tersebut sehingga terjadi keracunan pada anak. Hal ini juga bisa m e ­

Empeng

nyebabkan anak trauma dan mengalami tekanan psikis. Ibu empat anak ini menyarankan agar saat menyapih jangan meng­ gunakan obat atau ramuan demi keamanan anak. Jangan Beralih ke Dot Dari beberapa referensi menyebutkan, persiapan penya­ pihan mulai dilakukan jika suplai ASI akan berkurang secara bertahap seiring dengan berkurangnya bayi mengisap payudara. Bayi sudah bisa mi­ num susu melalui sebuah cang­ kir atau botol. Jangan menawar­ kan menyusui bila melihat bayi Anda mulai meminta menyusui atau kurangi porsinya satu kali setiap beberapa hari atau satu porsi tiap minggunya, semua tergantung pada kenyamanan ibu, dan kesediaan bayi untuk bekerja sama. Jika harus melakukan pe­ nyapihan mendadak, ibu harus berkomunikasi dengan anaknya. Bicarakan situasi yang ter­ jadi pada anak.Seberapa kecil usia anak Anda, anak tetap mengerti dan memiliki kemam­ puan untuk mengerti kata-kata dari orang di lingkungannya. Tunggu­ lah anak sampai merasa haus atau lapar, karena biasanya pada saat itu anak dapat mene­ rima minuman se­ lain ASI. Alihkan perhatiannya pada mainan yang ia suka sambil memberikan makanan/minuman lain

sehingga anak tidak mencaricari ASI. Coba berikan susu formula yang memiliki rasa mendekati ASI. Anak usia di atas satu tahun dapat diberikan susu UHT. “Sapih anak dalam keadaan sehat. Hindari saat anak sedang sakit, marah arau sedih, karena akan membuat anak tertekan dan tidak bahagia. Penyapihan dapat berjalan lancar bila ada dukung­ an positif dari suami. Misalnya, di malam hari, bayi anak ingin minum susu, ayahlah yang harus bangun untuk membuatkan susu. Ini artinya peran lingkungan juga sangat besar jika ingin proses penyapihan berjalan lancar,” ujar dokter asal Klungkung tetapi lahir dan besar di Singaraja ini. Dokter Sumi juga mengingat­ kan para orangtua, jangan me­ nyapih anak dengan mengalih­ kannya ke benda lain seperti em­ peng (dot) atau botol susu. Meski tidak ada larangan khusus, dot berpeluang besar membuat anak jadi “malas makan”. Empeng juga berisiko membuat anak memiliki ikatan emosional yang kuat pada benda tersebut, sehingga kelak akan sulit mengubah kebiasaan mengempengnya. Selain itu ben­ tuk anatomi gigi akan berubah menjadi maju/tonggos. “Kalau di negara Barat yang sangat mem­ perhatikan kesehatan lingkungan, empeng memang sering dipakai. Mereka punya tempat penyim­ panan khusus empeng. Kalau di Indonesia umumnya, orang sembarangan menempatkan empeng. Ini akan mempermudah penularan penyakit,” tegasnya. –Ngurah Budi/Wirati Astiti

engelompokan ta­ nam­an dilihat dari fungsi tanaman da­ lam pembentuk dan pengisi ruang meliputi, tanaman penutup lantai (ground cover), tanaman pembentuk dinding, pembatas dan pengarah, tanaman pengatap atau peneduh, tanaman sebagai ornamen/penghias atau pengisi ruangan. Namun, kali ini kita akan membahas tanaman border atau biasa juga disebut ta­n aman list, pinggiran atau tanam­an pembatas. Sesuai de­ ngan namanya, tanaman border memiliki fungsi untuk memper­ tegas bentuk taman. Menurut pemilik Stan Bunga Puputan Garden, Ahmad, pada prinsipnya semua tanaman bisa dipakai tanaman border. Hanya saja harus disesuaikan dengan bentuk taman yang dibuat. Tanaman border biasanya lebih

rendah dari tanaman lainnya dan diposisikan paling pinggir. “Jika diibaratkan dalam kertas ia berfungsi sebagai garis ping­ gir. Atau sebagai pigura lukisan atau foto. Jadi, bentuk yang ingin ditampilkan lebih jelas terlihat,” ujar Ahmad. Tanaman border termasuk dalam klasifikasi tanaman pem­ bentuk dinding rendah yang tanamannya setinggi mata kaki sampai setinggi lutut, seperti tanaman semak yang masih pendek/rendah. Bahkan, agar terlihat lebih cantik ukuran­ nya seringkali diminimkan alias dibuat lebih kecil dari ukuran yang sebenarnya. Tanaman semak adalah tanam­ an yang percabangannya langsung menyebar dari mulai permukaan media tanaman. Tinggi tanaman semak rendah antara 0,5 meter sampai 1 meter. Tanaman ini akan

lebih efektif pemanfaatannya jika ditanam secara berkelompok atau merumpun. Perawakannya yang bunglon banyak dipakai sebagai tanamn transisi antara pohon dan groundcover, penye­ marak taman dan tanaman pem­ batas. Bunga dan daunnya pun dinilai sangat indah dan seringkali disajikan dalam taman atau ruang sebagai hiasan. TANAMAN BORDER Tanaman border ini membu­ tuhkan pemangkasan atau penya­ pihan secara rutin, karena jenis tanaman ini perkembangbiakan­ nya cukup cepat. Pemangkasan, pembentukan, dan penyapihan rutin akan menjadikan tajuknya cantik dan rimbun. Tanaman ber­ bunga juga dimungkinkan dipakai sebagai tanaman border. Dengan bunga-bunga yang bermekaran akan menambah kecantikan ta­ man. Menurut Ahmad, pemilihan tanaman border disesuaikan dengan jenis tanaman yang me­ nyertainya. Jika tanaman border itu mengelilingi atau membatasi tanaman-tanaman ber­u kuran

besar seperti tanam­a n peneduh, pilihlah tanaman border yang ukur­ annya agak besar, seperti spyder lily atau sering juga disebut lili siam/lili paris. Sebaliknya, jika tanaman bor­ der itu difungsikan untuk membatasi taman yang pohon­pohonnya lebih ke­ cil, seperti puringpuringan atau ta­ naman hias lainnya, sebaiknya memilih tanaman border yang ber­ukuran ke­ cil, se­p erti tanam­ Ahmad sedang menyepih tanaman pandan sirih an taiwan bea­u ty, tanaman pandan sirihnya itu. kerasi, dan kembang siang. Tanaman-tanaman itu di tanam Harga tanaman border ini pun di media sekam yang berisikan ku­ relatif murah. Seperti tanaman pandan sirih dijual hanya Rp 2.000 lit padi, tanah dan pupuk kandang. per kantung polibag. Perawatan­ Media sekam ini dikatakannya nya pun mudah, cukup disiram lebih bagus daripada media tanah, dengan air 1-2 kali sehari. “Dalam karena selain ringan, akarnya ce­ sebulan saja, tanaman ini sudah pat berkembang. “Karena media banyak bertumbuh,” ujar Ahmad sekam tak sekeras tanah,” imbuh­ yang sedari tadi sibuk menyapih nya. –Inten Indrawati /Wirati Astiti


PELESIR

16

Mengintip Kampung Seni Desa Kamasan Salah satu keunggulan pariwisata Kabupaten Klungkung adalah Desa Wisata Kamasan. Desa wisata ini dikenal sebagai pusat berkembangnya sekaligus gudangnya seni lukis wayang klasik. Lukisan atau ukiran tradisional yang berintikan wayang inilah yang membawa daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun seniman yang berkunjung.

IB Ketut Danendra

D

esa Kamasan secara geografis termasuk desa dataran rendah dekat dengan Pantai Klotok atau Pantai Jumpai. Berjarak sekitar 43 km dari Ibu Kota Denpasar atau sekitar 90 menit perjalanan dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Sedangkan dari Kota Semarapura hanya berjarak sekitar 2 km ke arah selatan. Selama ini, Desa Wisata Kamasan tersohor melalui keindahan seni budayanya. Baik dalam membuat seni ukir pada logam emas, perak, ukiran tembaga, kuningan juga selongsong peluru. Namun, yang paling khas dan dikenal luas hingga ke manca­ negara adalah lukisan tradisional wayangnya. Menurut Kepala Desa Kamasan, Ida Bagus Ketut Danendra, kegairah­ an berkesenian di desa ini tak pernah surut. Nampaknya masyarakat Kamasan memiliki komitmen tinggi untuk melestarikan warisan leluhur mereka. Hal ini pula yang meng­ undang gairah wisatawan lokal maupun mancanegara terus berdatangan. Dulu, kata IB Danendra seni lukis tokoh pewayangan tersebut lebih dijadikan sebagai hiasan di atas kain. Ribuan jejak tangan mere­ ka diguratkan diatas langse, parbe, ider-ider yang menjadi pelengkap dekorasi tempat suci, juga ada

umbul-umbul termasuk di dinding pura. Karenanya, lukisan atau ukiran gaya Kamasan atau wayang Kamasan dapat dikatakan agak tua umurnya dari konteks sejarahnya, dan hingga sekarang masih eksis. Masyarakat di kawasan Desa Wisata Kamasan, umumnya memiliki mata pencaharian sebagai seniman lukis dan ukir. Ini bisa terlihat dari keberadaan bengkel-bengkel kerja para seniman lukis dan ukir yang tersebar di Desa Kamasan. Hasil karya seni yang dibuat seniman di sini detailnya sangat halus , sehingga menghadirkan daya tarik dan ciri khas tersendiri yang tidak terdapat di tempat lain. Menurut I Gede Eka Wedasmara, Koordinator Kampung Seni BNI Desa Kamasan ini, orang yang datang lebih banyak karena tertarik dengan lukisan gaya Kamasan tetap mempertahankan pakem atau gaya klasiknya secara turun-menurun se­ hingga membuatnya semakin unik. Bahkan di beberapa media, katanya terungkap pengakuan pelukis kaliber dunia seperti R. Bonnet dan Walter Spies terhadap keunggulan kualitas dan keunikan lukisan Kamasan. Demikian pula menurut para kolektor dan pecinta lukisan, gaya Kamasan dianggap masih sangat halus dan canggih, bersih, tidak ribut dengan detail yang tidak penting dan sangat jelas pesan ceritanya. Begitu juga, warna yang digunakan penuh dengan filosofi, yang dijabarkan dalam karya kanvas tersebut . Selain itu Warna-warna yang dipakai untuk membuat lukisan asli, keseluruhannya dari bahan alami, dominan cokelat tanah de­ ngan ilustrasi merah serta garis arsir hitam, membuat lukisan Kamasan ini mempunyai gaya tersendiri. Siapa­ pun pengunjung yang datang, dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan ukiran dan lukisan yang dikerjakan para seniman. LUKISAN GAYA KLASIK Corak lukisan Bali klasik dalam lukisan Kamasan, oleh Eka Wedasmara dikatakan sangat mudah di­ kenali. Mulai dari warna dasarnya

Aktivitas ibu-ibu tengah menyelesaikan lukisannya

27 januari - 2 Februari 2014

27 januari - 2 Februari 2014

d i g i R e n Steel Bo Bermain musik merupakan hobi ­mereka. Namun,mereka tetap mem­prioritaskan pendidikan. Bahkan, beberapa ta­ waran manggung di luar Bali harus ditolak ­karena jadwal­ nya berbarengan dengan ujian. Kelima mahasiswa Fisio­ terapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini tetap punya obsesi untuk go nasional.

S

Kunjungan Mari Elka Pangestu saat peresmian Kampung BNI Seni Desa Kamasan

yang cokelat muda. Warna ini diambil dari batu gamping yang dicelup dalam air. Begitu juga lukisannya didominasi oleh karakter-karakter tokoh wayang dalam epos Maha­ barata, Ramayana, kekawin Arjuna dan Suthasoma, hingga semakin mudah dikenali. Dalam setiap seni lukis wayang Kamasan juga terdapat simbol, makna dan fungsi tokoh, binatang, pohon, batu-batuan, air dan sebagainya. Se­tiap gerakan juga mempunyai makna. Ada cara tersendiri untuk me­ netapkan tokoh-tokoh yang ada, baik yang penting maupun tidak pen­ting, tua dan muda, baik dan jahat, laki-laki dan perempuan, kalah dan menang, termasuk pula flash back, kuat atau tidak kuat, tokoh sang ksatria, raja serta masyarakat biasa, semuanya tergambar dengan sangat tertata pada setiap srakenan atau adegan cerita. Sementara I Ketut Widastra, salah seorang yang menggeluti lukisan tradisional ini secara turuntemurun, menceritakan kalau proses menggambar lukisan tradisional wayang Kamasan melalui beberapa tahap. Mulai dari molokin , mengatur komposisi dan proporsi wayang degan pensil. Dilanjutkan ngereka, yakni memperhatikan urutannya mulai dari sket wajah, bagian badan dan kaki serta yang terakhir menyelesaikan bagian gelungnya. Untuk pewarnaannya, kata Widastra menggunakan bahan alam seperti batu gamping,warna hitam memakai jelaga, dan warna hijau

serta biru dari dedaunan. Masih ada lagi proses nyawi, yakni mengias ukir-ukiran pada wayang, yang akan memberikan aksen yang kuat di bagian akhir ukiran sehingga terkesan timbul. Meskipun lukisan tradisional tergolong yang mengusung gaya klasik, menurut beberapa orang wisatawan domestik yang kebetulan berkunjung ke Kamasan, lukisan Kamasan juga bisa menjadi pajangan yang indah di dinding rumah, tipe

apapun, termasuk rumah bergaya minimalis modern. Ketika lukisan klasik ini dipasang di salah satu dinding, akan mampu mempermanis tampilan rumah. Menurut sejarah yang secara singkat diungkapkan Eka Wedasmara,

warisan budaya ini dapat dilihat pada peninggalan raja Klungkung, yang berupa dua bangunan yang masih terawat yakni Kerta Gosa dan Taman Gili. Pada kedua bangunan ini pula kita dapat menyaksikan bukti sejarah karya adiluhung para seniman lukis tradisional wayang Kamasan. Lukisan-lukisan tersebut bercerita tentang perjalanan Bhima ke Swarga Loka, Diah Tantri, Sang Garuda mencari Amerta dan Palelindon. Guratannya terlihat pada bagian langit Kerta Gosa, dan masih di rawat sampai saat ini. Bicara keberadaan Kampung Seni secara umum, IB Danendra mengatakan masyarakat, khususnya para pengrajin telah diberikan pelatihan oleh BNI. Ada juga kesempatan pameran dan bantuan urusan permodal­ an. Jelas ada perubahannya dan itu terasa meski diakuinya masih perlahan, sebab belum semua mendapat bantuan, masih perlu dkembangkan pemerataannya. Lebih lanjut dikatakannya , PKK dengan Dasa Wisma desa setempat tak ketinggalan juga mendongkrak masyarakatnya secara umum untuk memilik kemauan untuk maju. Apalagi di kawasan Kamasan senimannya bukan hanya seni lukis saja tapi juga ada kerajinan uang kepeng, selongsong peluru, serta perak. Diluar kerajinan, IB Danendra masih berharap akan ada yang membantu menata pasar tradisonalnya. Agar keberadaanya untuk masyarakat bisa lebih lama. Sementara ini kegiatan hanya berjalan sejak pukul 5.30 s.d pukul 8 saja. – Sri Ardhini/Inten Indrawati

Eka Wedasmara dengan latar belakang lukisan khas Kamasan

teel Bone Rigid terbentuk 1 November 2010. Nama band berisi kata bone alias tulang karena mereka banyak mempelajari tulang di bangku kuliah. Band ini berawal dari keinginan untuk tampil di Pekan Olahraga dan Seni Hippocrates (Porsehip) tahun 2010. Mereka terdiri dari I Dewa Gede Alit Kamayoga (vocal), Wahyu Palguna (lead guitar), I Gede Mediastama (rhythm guitar), Dwi Halim Kevin Gautama (bass), dan Dwi Putra Negara (drum). Dari ajang Porsehip ini mereka eksis hingga ini. Mereka pun sering tampil di Mangsi Coffee bersama band-band lain. “Salah satu yang membuat kami eksis adalah kami satu jurusan, satu angkatan, dan satu kelas. Jadi mudah untuk komunikasi. Mau latihan juga gampang. Kekompakan juga menjadi modal kami sehingga bisa bertahan,” ujar Kevin. Ia menambahkan band ini awalnya beraliran classic rock namun beralih ke rock n roll. Idola mereka dalam bermusik adalah musisi papan atas seperti AC/DC, Led Zeppelin, Pink Floyd, Jimi Hendrix & The Experience, The Doors, dan banyak lagi. Sebagai band dengan aliran rock n roll, mereka mendapat apresiasi dari musisi lain. “Sekarang kan jarang ada anak muda yang main di aliran rock n roll. Kami pun disambut dengan ha­n gat oleh musisi lain. Melalui musik kami memiliki banyak teman,” ujar Wahyu yang meng­aku hobi utamanya memancing, sedang­ kan main musik karena ikut-ikutan temannya. “Ngeband membuat pergaulan kami tambah luas, kami menjadi makin dewasa tetapi tetap low profile. Melalui musik kami bisa menyalurkan aspirasi dan ekspresi serta menghibur orang. Bahkan bermusik bisa membuat orangtua bangga,” imbuh Dewa Alit. Para personil Steel Bone Rigid memang memprioritaskan pendidikan mere­ ka. Ini merupakan hal yang bisa membanggakan orangtua karena mereka bisa menempatkan mana yang harus diprioritaskan. Kelima

anak muda ini mengaku akan terus bertahan walaupun sudah tamat kuliah. Putra yang juga anggota Bali Extreme Drummer menambahkan ngeband membuatnya ba­nyak kenal dengan musisi. “Banyak musisi berarti banyak yang diajak sharing dan ba­nyak tempat belajar. Skill pun jadi nambah,” ujar pria asal BB Agung, Negara ini. Hal yang sama diungkapkan Dede, sapaan akrab Gede Mediastama. “Lebih banyak sukanya kalau ngeband, dukanya tidak ada,” ujar penghobi game online ini. Sebagai band yang sudah sering pentas, mereka kerap diundang ke acara ulang tahun, pentas seni di sekolah, sampai ­acara peluncuran album. “Di awal terbentuk, kami pernah punya pengalaman yang selalu teringat sampai sekarang. Kami diundang tampil di sebuah acara otomotif. Karena acaranya molor, jadwal kami pun ikut molor. Kami diberi waktu tampil setelah acara puncak. Begitu acara puncak selesai, penonton bubar, tinggal panitia yang bersih-bersih. Kami pun tampil di hadapan panitia yang bersih-bersih. Maunya tidak usah tampil tetapi kami pro­fesional karena sudah diundang,” kenang Kevin. Pengalaman itu membuat Steel Bone Rigid makin dewasa. Mereka pun banyak belajar dari kehidupan termasuk dalam urusan mencari ide lagu. Ada saja hal-hal yang mereka lihat lalu dibahas untuk menjadi lagu. “Targetnya awal tahun 2014 kami meluncurkan mini album yang berisi 8 lagu kami dan 1 cover version. Tetapi, baru lima lagu yang sudah siap,” ujar Putra. Lima lagu ini adalah “Dibelai”, “Show Me What You’ve Got”, “Pussy Like Cheese”, “Good”, dan “Red”. Dibelai satunya-satunya lagu berbahasa Indonesia yang mengisahkan kehidupan manusia yang rawan godaan. “Lirik lagunya sangat dalam kare­na itu bisa multitafsir. Intinya adalah bagaimana kita membawa diri dalam kehidup­a n ini,” jelas Dewa Alit. Lagu Show Me What You’ve Got merupakan sindiran bagi orang yang suka NATO (No ­A ction Talk

DARA

9

Ingin Tampil di “Dahsyat”

Only). Lagu Pussy Like Cheese bertemakan wanita de­ngan lirik-lirik nakal ala Steel Bone Rigid. Lagu Red pun menceritakan tentang wanita cantik berpayung merah di tengah hujan. “Kalau lagu Good me­ngandung makna apapun yang kita punya bagus atau bisa juga diartikan apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja,” kata

Dewa Alit yang hobi membaca jurnal untuk menambah pengetahuan ini. Selain minialbum yang masih tertunda, mereka punya obsesi untuk go nasional. “Kami ingin tampil di Dahsyat,” tegas Wahyu. Temantemannya pun kompak mengatakan Steel Bone Rigid harus punya impian untuk go nasional.

Catatan prestasi band rock n roll ini lumayan banyak, di antaranya Follower Choice 4 Bosche tahun 2013, juara 1 Talent Search Dynamite 2013, dan Juara 1 Eksada 2013. Lagu Dibelai pun sempat masuk chart no 1 di radio Cassanova FM. –Ngurah Budi/Inten Indrawati


BUGAR

10

27 JANUARI - 2 Februari 2014

Hindari Gemuk Awal Cegah Diabetes Diabetes mellitus atau dikenal dengan penyakit kencing manis, kini bagai tsunami yang menyerang dunia. Hasil survei Diabetes IDF 2013, ASEAN merupakan wilayah dengan jumlah penyandang terbesar di dunia seba­nyak 23 juta dari total 381 penderita diabetes di dunia. Tahun 2035 penyakit ini diramalkan meningkat menjadi 39 juta penderita diabetes di Asia.

I

ndonesia menduduki peringkat keempat jum­ lah penderita terbanyak di Asia. Penderita dia­ betes Indonesia mencapai 7 juta jiwa pada tahun 2011. Tahun 2012 meningkat 7,1 juta, dan terus meningkat menjadi 8,5 juta jiwa di tahun 2013. Ironisnya, 70 per­ sen masyarakat Indonesia tidak mengetahui dirinya terserang penyakit yang disebut penyakit biaya tinggi ini. Presiden Federasi Diabetes In­ ternasional dr. Saukhat M.Sadikot mengatakan, jumlah penderita diabetes kini cenderung naik bahkan dulunya dalam 7 detik satu orang diabetes meninggal dunia, sekarang justru lebih cepat menjadi 6 detik. Direktur Pengendalian Penya­ kit Tidak Menular Kemenkes dr. Ekowati Rahajeng, SKM, M.Kes mengatakan, di Indonesia diabe­ tes merupakan ancaman serius bagi pembangunan kesehatan karena dapat menimbulkan ke­ butaan, gagal ginjal, kebutaan, jantung, dan stroke. “Saat ini kami fokus pada pengendalian faktor risiko diabetes melalui upaya pro­ motif dan preventif dengan tidak mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif. Kegiatan pengen­ dalian diabetes sudah dilakukan melalui Pos Pembinaan Terpadu

Dr. dr. I Ketut Suastika

atau Posbindu. Kegiatan ini me­ libatkan peran serta masyarakat dalam pengendalian faktor risiko diabetes secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya. Kemenkes juga sedang ber­ upaya melakukan kontrol pada makanan, dengan Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, yang me­ wajibkan semua makanan fastfood dan industri makanan tidak hanya menampilkan kandungan gula, kalori dan sebagainya, tapi juga menjelaskan fungsi dari kandun­ gan tersebut. Presiden Direktur PT Kal­be Farma Tbk. Irawati Setiady me­ nyatakan, Kalbe telah mengampa­ nyekan “Gerakan Stop Diabetes”

Sehat ala Ade Rai

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sehat ala Ade Rai” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id Rubrik ini diasuh Ade Rai.

Fitnesmania tentunya sudah tahu benar bahwa gaya hidup fitnes, apabila dijalankan dengan baik, akan memberikan manfaat banyak kesehatan. Selain memiliki pola latihan yang terstruktur, pola nutrisi yang syarat gizi dan energi, dan istirahat yang baik, ada beberapa elemen dalam gaya hidup fitnes yang cenderung mudah terlupakan namun merupakan bagian yang penting dalam optimalisasi kesehatan dan daya tahan tubuh. Imunitas atau daya tahan tubuh adalah salah satu elemen gaya hidup fitnes yang pa­ling identik dengan arti kata “sehat”. Bagaimana tidak? Sehat secara umum bisa diartikan sebagai kondisi tubuh yang baik dan tidak menderita sakit. Kita se­ mua juga tentunya mengerti arti dari frase daya tahan tubuh. Tetapi, bagaimana caranya menjaga daya tahan tubuh agar selalu baik? Berikut ini adalah beberapa cara ampuh untuk menjaga dan bahkan meningkatkan daya tahan tubuh. Jurus 1: Jagalah Kebersihan Tubuh (Personal Hygiene) Sebagai individu yang memiliki tingkat aktivitas

dengan mengajak masyarakat Indonesia menerapkan 3 J yakni jumlah, jenis dan jadwal yang berkaitan dengan pola makan untuk menjaga kadar gula darah. “Berbagai kegiatan digelar di be­ berapa kota di Indonesia dengan melibatkan masyarakat seperti jalan santai sekaligus mengkam­ panyekan gerakan ini,” ujarnya dalam pertemuan para ahli dia­ betes “Global Diabetes Forum” di Kuta (18/1). Menurut Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Bali Prof. Dr. dr. I Ketut Suastika, Sp.PD. KEMD, kondisi penderita diabetes di Bali berkisar 6 persen dari total penduduk dewasa. Menurutnya, kecendrungan pe­ nyakit ini menjadi meningkat ka­ rena dibarengi dengan pendapatan masyarakat yang lebih baik. “Di daerah Legian, dan salah satu daerah di Ubud, kondisi kegemuk­ an cukup tinggi, dan ini sangat berpotensi untuk menjadi kencing manis,” ujar dokter yang juga Rek­ tor Universitas Udayana ini. Penyakit ini disebut sebagai penyakit dengan biaya tinggi. Karena itu, ia berharap, pence­ gahan merupakan solusi terbaik dari masalah diabetes. “Solusinya sederhana, kita harus mulai ma­ kan yang sehat dan seimbang dan berolahraga,” sarannya.

dr. Ekowati Rahajeng Faktor kegemukan, meru­ pakan faktor risiko yang sedang mengancam penduduk Bali. Saat masyarakat melakukan peme­ riksaan, ia sangat menyayangkan, kondisinya sudah menderita ken­ cing manis dalam kurun waktu yang sangat lama. “Pencegahan perlu sekali diketahui sejak awal. Check up bagi yang berusia 40 tahun ke atas dengan faktor risiko, seperti gemuk, keturunan, ibu yang pernah melahirkan bayi besar 4 kilogram ke atas. Check up sebaiknya dilakukan setahun sekali,” sarannya. Ia menyatakan, penyakit dia­ betes merupakan penyakit pro­ gresif, sehingga apapun dipakai obat, penyakit ini tidak akan pernah sembuh dan terus akan diderita sepanjang umur. “Mulamulanya memang pengobatan dengan exercise, kemudian mi­ num obat satu pil, dua pil, kemu­ dian suntikan. Kalau komplikasi banyak dan serius, bisa gagal

jantung, ginjal, kebutaan, bah­ kan kematian. Disamping rasa kesakitan atau kematian, biaya pengobatannya mahal sekali. Kalau sudah kena ginjal, harus minum obat ginjal lagi, sudah kena jantung harus minum obat jantung,” ujarnya. Prof. Suastika berharap, ada satu kebijakan pemerintah untuk mengkampanyekan pencegahan diabetes ini ke sekolah-sekolah mulai dari lingkup terkecil. Satu contoh di Singapura, saat pulang sekolah, anak gemuk tidak diberi­ kan pulang dulu, tapi diajak ber­ olahraga atau diajarkan makan­an sehat. Anak-anak harus dilarang untuk gemuk. Hal ini harus diso­ sialisasikan kepada orangtua dan guru. Kebijakan ini juga bisa di­ terapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Disamping para guru memperhatikan pendidikan, juga harus mengingatkan anak, agar tidak gemuk. Edukasi makanan sehat harus terus dilakukan. Sebaiknya, orang dewasa makan rata-rata 30 kalori per kilogram berat badan. Jika ak­ tivitas berat, tinggal menambah­ kan berapa persen lagi. Contoh, usia 50 tahun, kebutuhan makan 1500 kalori. Ini bisa didapat dari 50 persen karbohidrat, 20 lemak, 20 protein, dan 10 vitamin. “Ini disesuaikan dengan aktivitas sese­ orang. Jadi tak benar harus banyak makan daging saja, atau makan sayur saja, atau karbohidrat saja, semua unsur gizi diperlukan de­ ngan seimbang,” ujarnya. Pasien diabetes mendapat tanggungan jaminan kesehatan dari BPJS. Karena itu, Perkeni telah melatih para dokter di layanan primer untuk memiliki pengetahuan yang cukup baik dalam melayani penderita diabe­ tes, sehingga diharapkan, makin banyak orang tidak menderita komplikasi karena segera ter­ tangani, biaya bisa dikurangi, dan tak banyak pasien yang antre ke RS Sanglah. –Wirati Astiti/Ngurah Budi

Jurus Meningkatkan Daya Tahan Tubuh (1) fisik yang tinggi, tentunya tubuh kita cukup sering berkeringat. Keringat adalah sarana pembuangan ko­ toran dan racun dari dalam tubuh, sekaligus sebagai medium untuk menjaga suhu tubuh dalam reaksinya terhadap panas dan lembab. Tubuh yang basah dan berkeringat, selain sudah penuh dengan kotoran dan racun, juga cukup rentan sebagai tempat hinggapnya debu maupun partikel kuman dan bakteri yang terbang di udara. Lipatan-lipatan tubuh seperti ketiak, pangkal paha, dan lipatan jari adalah wilayah yang paling tinggi tingkat kelembabannya, sekaligus merupakan tempat perkembangbiakan kuman yang sangat cepat. Mem­ biarkan tubuh dalam kondisi tersebut terlalu lama tanpa dibersihkan adalah salah satu jurus pasti untuk menjadi rumah baru bagi kuman dan penyakit. Fitnesmania juga umumnya adalah individu yang dinamis, sehingga banyak bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini berarti lebih mungkin pula terekspos pada kuman dan bakteri yang melemah­ kan kondisi tubuh. Dalam salah satu survey kuman yang diadakan, ditemukan beberapa tempat/benda yang memiliki tingkat kuman yang tinggi namun juga yang paling sering dipegang atau dikunjungi, seperti: pegangan trolley supermarket, pegangan pada eskala­ tor, uang, keran dan gagang pintu toilet umum, dan pusat kebugaran! Mengenai tinggi rendahnya tingkat

kuman di tempat umum memang sangat tergan­ tung pada pengelola masing-masing fasilitas umum tersebut, namun setidaknya fitnesmania selalu sadar untuk membersihkan tangan yang merupakan “sarana transportasi populer” banyak kuman. Tubuh yang bersih adalah tubuh yang jauh dari kotoran dan kuman. Untuk memastikannya, cobalah beberapa pointer berikut ini dan jadikanlah pointerpointer ini sebagai kebiasaan daripada sesuatu yang dilakukan kalau sedang ingin: - Mandilah minimal 2 kali sehari dengan sabun anti­ kuman. - Sikat gigilah minimal 2 kali sehari, dan gunakan cairan kumur pembunuh kuman bila memung­ kinkan. - Hindari keringat berlebihan dengan menggunakan anti-perspiran. - Pastikan mencuci tangan dengan sabun hingga bersih setiap kali sebelum dan sesudah beraktifitas. (Sebuah survey di Inggris menemukan 70% pria dan 50% wanita tidak mencuci tangannya sehabis buang air di toilet umum!) - Hindari sentuhan tangan yang belum dicuci bersih pada mata, hidung, mulut, dan telinga. - Sediakan dan gunakan selalu gel pembunuh kuman setiap sehabis beraktivitas.

27 JANUARI - 2 Februari 2014

STYLE

Kreasi Endek ala Didiet Maulana

Di panggung Hotel Aston, Bali, beberapa waktu lalu, Didiet Maulana, salah seorang desainer papan atas ibu kota, menyuguhkan karyanya yang berba­ han endek. Ia total menggarap tenun ikat Bali ini dengan daya kreasinya.

D

engan sederhana ia mampu me­ masangkan pesona kain tradisional ini dengan apa saja serta dikena­ kan oleh siapa saja. Seperti pada deret­an koleksi ready to wear kali ini, ada rok, juga pasangan kain dengan beragam siluet atasan yang feminin untuk wanita. Sedangkan para pria, tampil maskulin melalui celana panjang dan kemeja. Di sini Didiet memilih beragam motif termasuk endek patra, dengan warna mulai dari hijau,ungu, tosca, hingga merah apik membungkus karyanya. Lelaki yang dikenal fokus dan konsisten mengangkat tenun ikat di Indonesia ini, sejak kehadiran karya­ nya di tahun 2011, ia berhasil menorehkan warna tersendiri dalam dunia fashion. Kali ini, ia juga mempermanis desainnya dengan bordir dan aplikasi endek. Didiet yang sempat

merancang busana para menteri keuangan negara peserta APEC tahun silam ini, mengaku bahagia dengan semakin meningkat­ nya apresiasi para desainer juga pelaku ekonomi kreatif di Kota Denpasar, Bali. Selanjutnya sebagai Wakil Ketua Komite In­ donesia Kreatif Berbasis Budaya Bidang Tenun, Didiet kuat memegang komitmen menggu­ nakan tenun ikat di berbagai kesempatan. Selain itu bicara konsep, ia selalu hadir de­ ngan ciri khas desain clothing line Ikat Indonesia berupa cutting yang simpel serta minimalis dengan tetap menjaga unsur kemudahan dan kenyamanan pemakainya. – Sri Ardhini/Wirati Astiti

15


J E L I TA

14

Amankah Suntik Putih? Tren suntik putih saat ini semakin po­ puler dilakukan perempuan ber­bagai kalangan. Apalagi dengan iklan yang menggoda membuat banyak perem­ puan ingin mencoba. Ditambah adanya anggapan kalau perempuan berkulit putih lebih baik dibandingkan dengan yang berkulit gelap.

D

ari pantauan Tokoh, saat ini cukup banyak tersedia produk pemutih, mulai dari krim, masker, suntik, maupun tablet. Suntik putih, salah satu pilihan yang pal­ ing favorit. Hal ini menyebabkan makin banyaknya klinik kecantik­ an yang menyediakan layanan suntik putih. Lebih yakin lagi, karena sejumlah klinik menyedia­ kan dokter untuk berkonsultasi. Menurut dr. AA Ari A. Kayika, Sp.KK., cara kerja suntik putih adalah dengan memasukkan cairan vitamin C dengan meng­ gunakan suntikan. “Meskipun vitamin C bahan dasar suntik putih dapat larut dalam air, begitu pula jika asupannya berlebihan dapat dikeluarkan secara oto­ matis melalui urin, namun memi­ liki efek samping ketika dikon­ sumsi dengan dosis yang tidak tepat,” ujarnya. Prosedur kecantikan yang satu ini banyak dijalani para perempuan yang menginginkan hasil yang cepat untuk merubah warna kulitnya. Konon, dengan suntik vitamin C bukan saja membuat badan jadi segar dan sehat, tapi juga membuat kulit si pemakai menjadi mulus. Lebih dari itu, produk ini juga diklaim bisa membuat pemakainya awet muda. Lantas bagaimana dengan efek sampingnya? Efek samping suntik putih, kata dokter Kayika, terjadinya batu ginjal. Pada seseorang yang mempunyai keturunan penyakit ginjal, vitamin C yang berlebih bisa mengendap menjadi kristal apalagi orang tersebut kurang mi­ num air. Vitamin C yang disuntik­ kan di kulit dalam dosis yang berlebihan, sebagian besar akan diserap ginjal dan ginjal akan bekerja keras mengurai kelebih­ an vitamin C dalam tubuh. Kerja keras ini disinyalir bisa meng­ akibatkan kegagal­an ginjal pada pengguna suntik putih. “Ka­rena itu, sebelum suntik putih, konsul­ tasikan riwayat penyakit Anda,” jelasnya. Dokter Kayika menyarankan, sebaiknya seseorang yang ter­ bukti mempunyai keturunan penyakit batu ginjal tidak melaku­ kan suntik vitamin C. Pengidap maag juga harus berhati-hati, karena vitamin C yang bersifat asam. Sebelum mengonsumsi vitamin C dianjurkan makan ter­

dr. AA Ari A. Kayika, Sp.KK.

lebih dahulu demi menghindari rasa perih di daerah lambung. Ia berharap, para perempuan hendaknya berpikir panjang dan jangan terbuai dengan imingiming, sekali pun demi kecantikan. Begitu pula remaja putri yang suka mengonsumsi Vitamin C dosis tinggi. Siklus mens tidak teratur dan sedikit, hanya satu sampai tiga hari. Kemungkinan pula pada usia 35-36 tahun akan mengalami menopause dini. Me­ mang, ia mengakui, vitamin C bermanfaat untuk tubuh asalkan dikonsumsi dengan dosis yang disarankan. Kembali ke masalah suntik vita­ min C, ia menegas­ kan, perem­ puan hen­d aknya berpikir panjang jika ada tawaran-tawaran menggiurkan seperti suntik vitamin C bisa menghilangkan kerut­ an, melangsingkan, atau bahkan membuat kulit putih permanen selamanya dengan satu kali suntik. Dalam produk pemutih kulit biasa­ nya mengandung zat-zat tertentu, seperti vitamin A, E, C, hidroguinim, hojic acid, asam retinoat, dan AHA yang pada prinsipnya mencegah pem­b entukan pig­ men yang berlebihan. Namun, sekali lagi ia menegaskan, bahanbahan tersebut memi­ liki efek samping yang

luas bahkan membahayakan jika digunakan dalam waktu panjang. Terkait produk pemutih kulit, kata dokter Kayika, sebaiknya dikon­ sultasikan kepada ahlinya. Sebab, batasan penggunaannya meliputi area tertentu dari wajah, tidak digunakan secara sistemik, dan aktivitas seringnya terkena sinar matahari. Jangan sampai pengaruh paparan sinar matahari justru membuat seseorang yang meng­ gunakan produk pemutih menda­ patkan masalah lebih berat di kemudian hari. Selain itu, dalam memilih produk pemutih kulit juga harus melihat jenis dan kon­ disi kulit pemakai agar hasilnya tidak mengecewakan,” ujarnya. Biasa­nya pemakaian krim pemutih dilakukan pada malam hari sekali dalam sehari. Lebih lanjut dikatakannya, prosedur suntik putih tak bisa dilakukan sembarang orang sebab tanpa dosis yang tepat, suntik putih dengan vitamin C akan mengancam. Memang, vitamin C dengan kadar tinggi akan dikeluar­ kan lagi oleh sistem tubuh melalui urin. Namun masalahnya tidak hanya sampai di situ, kelebihan vitamin C dalam jangka waktu lama akan menimbun endapan Vitamin C dalam tubuh. Endapan ini sangat berpotensi membentuk

27 januari - 2 Februari 2014

27 januari - 2 Februari 2014

www.ceriwis.com

kristal berbahaya yang juga bisa berujung pada batu ginjal Bahaya suntik putih yang di­ lakukan secara terus-menerus bisa merangsang munculnya batu em­ pedu, menyebabkan di antaranya penipisan tulang, pengeroposan, mengganggu siklus menstruasi, menghambat kerja vitamin lainnya, mengundang fase menopause le­ bih awal. Tapi, tak bisa dimung­ kiri, manfaat vitamin C memang cukup baik bagi tubuh namun jauh lebih aman jika penggunaannya dengan cara dioles ketimbang sistem injeksi. “Sebaiknya le­ bih berhati-hati dalam memilih produk kecantikan,” sarannya.

Bahaya suntik putih yang di­lakukan secara terus-menerus bisa merangsang munculnya batu empedu, menyebabkan di antaranya penipisan tulang, pengeroposan, mengganggu siklus menstruasi, menghambat kerja vitamin lainnya, mengundang fase menopause lebih awal

Sesungguhnya suntik putih menu­ rut dokter Kayika, adalah istilah yang digunakan seseorang untuk mendapatkan perawatan kulitnya agar menjadi putih dengan me­ masukkan obat ke dalam tubuh dengan cara disuntikkan. Ia menekankan perlu dipahami,tidak ada orang men­ jadi putih secara instan. Yang terjadi adalah produk terse­ but menghambat pembentukan pigmen sehingga pigmen di dalam permukaan kulit jumlah­ nya berkurang. Hal ini terjadi kare­na beberapa bahan pemutih menghambat suatu enzim dalam pembentukan pigmen tersebut. Selain itu, lanjutnya, vitamin C mampu mengaktifkan kolagen sehingga kulit menjadi lebih kencang dan kenyal, dalam pe­ nampakkan di kulit luar akan terlihat lebih cerah dari sebelum­ nya. Hanya patut diwaspadai, penggunaan dalam jangka waktu lama. “Diperlukan konsultasi dan pemeriksaan laboratorium sebelum dan setelah penyuntik­ an menghindari hal yang tidak diinginkan,” sarannya.

MITOS ATAU FAKTA

11

Jangan Takut Memadang Mata Merah Selama ini, cara-cara tradisional un­ tuk penanganan mata merah masih di­ percaya dan dilakukan di masyarakat. Sakit mata/mata merah bisa disem­ buhkan dengan mem­basuhkan air kencing ke mata, air susu ibu, air rendaman daun sirih, air liur pertama dan kotoran telinga pagi, dll. Ada juga yang memakai getah tanaman tertentu. Ketika sese­orang menderita sakit mata merah, kita seringkali di­ larang menatap mata orang tersebut agar tak ketular­an. Berikut penjelas­ an dr. Putu Yulia­wati, Sp.M., staf Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Unud/RS Sanglah.

S

akit mata merah atau konjungtivitis adalah infeksi pada konjung­ tiva. Konjungtiva ada­ lah selaput bening yang menutupi bagian putih bola mata dan ke­ lopak mata. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus dan alergi. Konjungtivitis yang disebab­ kan oleh bakteri dan virus dapat menular kepada orang lain. Penu­ laran konjungtivitis dapat melalui kontak tangan penderita misalnya sehabis memegang mata merah lalu menyentuh mata sebelah­nya

– Sri Ardhini/Wirati Astiti dr. Oka Negara, FIAS

tanpa cuci tangan dahulu, kontak dengan bantal, handuk, kacamata yang sama dipakai oleh penderita mata merah. Daya tahan tubuh menurun saat kita meriang, demam dan flu juga mudah menderita mata merah. Mata merah dapat terjadi pada satu mata atau kedua mata. Mata merah tidak ditularkan melalui pandangan mata atau bercermin. Jangan takut untuk berhadapan dengan penderita mata merah selama tidak terjadi kontak langsung dengan mata

Kirim surat Anda ke ­Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

“Dok, aku baru menikah sebulan. Aku terkejut dan baru tahu kalau suamiku ternyata gemar nonton video porno, terutama video porno Jepang, yang artisnya cantik-cantik dan gayanya aneh-aneh. Aku diminta ikut menonton dan me­ng­ikuti yang ada di video. Bahaya nggak ini dok?” (Rani,24) Semua orang sesungguhnya menyukai melihat materi bermuatan pornografi, misalnya seorang laki-laki dewasa yang melihat perempuan dewasa lainnya telanjang atau sekadar ada sebagian bagian tubuh yang “nyembul” atau “terbuka”. Karena semua itu sesungguh­nya menyenangkan dan membuat rasa nyaman. Otak akan mengeluarkan substansi hormo­nal yang namanya endorfin yang berperan dalam membuat rasa senang. Cuma saja, tidak bisa seenaknya dan semaunya, karena ada yang membatasi semua itu

untuk dieksplorasi. Video porno komer­sial di Indonesia dilarang, di negara liberal seperti Amerika Serikat, Jepang dan negaranegara Eropa hal seperti ini diperbolehkan dengan batasan khusus. Kalau di Amerika Se­ rikat batasannya adalah usia, kalau di Jepang, selain usia, juga tampilan film yang harus disensor mozaik di bagian kelamin. Itu misalnya. Sekadar tambahan informasi, sesungguhnya fakta menyebutkan tidak ada hubungan langsung antara efek bahaya yang ditakutkan seperti kejadian kriminalitas seksual dengan

pen­d erita. Kon­ jungtivitis yang disebabkan oleh alergi tidak ditular­ kan ke orang lain. Penyebab alergi bisa karena ke­ masukan benda asing ke mata, kon­ tak dengan bahan alergen sehingga menyebabkan mata merah. Sakit mata me­ rah atau konjungti­ vitis diawali dengan gejala ngeres pada mata seperti ada pasir atau kelilipan, kemudian mata akan merah, keluar kotoran mata berwarna putih bening atau kekuningan, bengkak, nyeri dan berair. Kotoran mata yang banyak akan menyulitkan membuka mata saat bangun tidur di pagi hari. Konjungtivitis tidak menyebabkan penglihatan menjadi buram. PENGOBATAN Pengobatan mata merah atau konjungtivitis disesuaikan den­ gan penyebabnya. Konjungtivitis yang dikarenakan bakteri diobati dengan antibiotika, virus diobati dengan antivirus dan penyebab alergi diobati dengan obat anti­ alergi. “Bila terserang mata merah segera datang ke dokter untuk mendapatkan pengobatan,” sa­ rannya. Pengobatan sendiri di ru­ mah misalnya dengan getah tana­ man tertentu, air liur pertama, kotoran telinga pagi, air kencing,

basah setiap ada kotoran mata. Kapas air hangat untuk mem­ bersihkan mata kanan tidak digunakan lagi untuk mata kiri atau sebaliknya. l Selalu mencuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan mata merah. Misalnya setelah meneteskan obat mata, membersihkan ko­ toran mata atau menyentuh mata merah. lTidak menyentuh mata yang sehat setelah kontak dengan air susu ibu, dan air daun sirih tidak disa­ rankan karena dapat menim­ bulkan iritasi di mata atau alergi terhadap kandungan ter­ tentu pada ba­ han tersebut. Saat men­ derita mata merah atau konjungtivitis perlu memperhatikan dan men­ jaga kondisi agar tidak mem­ perparah penyakitnya sehingga mengakibatkan lamanya proses penyembuhan. Langkah langkah yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: l Banyak istirahat di rumah dan tidak beraktivitas di luar rumah. l Bersihkan kotoran mata dengan kapas air hangat atau lap

mata yang merah. l Hindari kontak langsung dengan barang-barang yang di­ pakai oleh penderita mata merah seperti bantal, handuk dan ka­ camata. l Tidak menggunakan lensa kontak saat menderita mata merah/konjungtivitis. l Segera ke dokter untuk mendapatkan pengobatan. –Inten Indrawati/Ngurah Budi

SUAMI GEMAR VIDEO PORNO pornografi. Di negara-negara yang pornografi diatur dan dilegalkan, justru angka kriminalitas seksualnya rendah. Manusia adalah makhluk sek­s ual, yang artinya secara ­a lamiah akan mengalami sebuah siklus ada­nya kematangan seksual, dengan kon­sekuensi ada kebutuhan seksual yang jika ditutup-tutupi malah akan mengakibatkan agresifitas berlebihan untuk mencari tau dan meng­eksplotasi tanpa terarah, yang lebih berpotensi menjadi ancaman kriminalitas seksual. Secara personal, selama materi pornografi, termasuk video porno tidak dieksplorasi dan dikonsumsi secara ber­ lebihan, hal ini bisa memunculkan keuntungan, kegembira­ an dan kenyamanan, bahkan pada dunia medis, video porno juga diselipkan sebagai bagian terapi seksual. Asal semua dilakukan dengan kendali dan rasa tanggung jawab meman­ faatkannya. Nah, itu artinya yang harus dihindari adalah menyaksi-

kan video porno yang terlalu sering, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Lalu, menyaksikan video porno yang terlalu ekstrem (misalnya seks dengan alat-alat berbahaya, seks dengan anak-anak, seks dengan binatang, dll) karena sekali dua kali atau malah bisa sering kali menjadi referensi dan sumber inspirasi juga buat ditiru. Selanjutnya, pikirkan baik-baik tentang partner yang diajak menonton video porno atau jika ingin melanjutkan ke tahapan aktivitas seksual, jangan dengan pasangan yang berisiko, baik risiko medis (bisa terinfeksi infeksi menular seksual bila mengajak pasangan yang sudah terinfeksi sebelumnya), atau risiko sosial, karena mengajak pasangan sah orang lain misalnya. Memang sebaiknya kalaupun ingin menyaksikan video porno, sebaiknya dilakukan bersamasama atau sepengetahu­an bersama pasangan sahnya dan disetujui bersama. Itu akan jauh lebih menyenangkan dan

lebih aman. Seringkali agenda menonton video porno bersama, justru menjadi “sumber rekomendasi” dan “sumber inspirasi” bersama pasangan untuk meningkatkan variasi seksual bersama. Terakhir, buat semua orang yang ingin mengkonsumsi materi pornografi, gunakanlah materi pornografi secara bertanggung jawab, artinya: 1) Tepat waktu, jangan sampai mengganggu aktivitas yang lain, 2) Tepat orang, jangan mengajak orang lain yang “mengundang risiko” jika menyaksikannya, lebih baik dengan pasangan yang sah, 3) Tepat target, gunakan kesempatan mengonsumsi materi pornografi hanya untuk kepentingan mencari referensi buat variasi seksual bersama pasangan misalnya, untuk mengatasi kejenuhan, atau hanya untuk sekadar tahu saja, dan 4) Tepat frekuen­ si, jangan keseringan, nanti malah berlebihan dan bikin kecanduan.


RESEP ALA CHEF

12

27 JANUARI - 2 Februari 2014

Sajian Ikan Terbang

Menikmati keindahan burung yang terbang sudah biasa. Namun, menikmati gurihnya ikan gurami terbang di meja makan itu baru luar biasa. Dijamin acara makan-makan pasti nikmat dan spesial. Gurami terbang dibentuk seperti ikan yang mempunyai sayap. Bentuk sayap ini adalah daging dari ikan yang disayat agar terpisah dari tulang tengahnya. Soal rasa, Ketut Wardana dijamin gurih. Cocok sekali disantap sebagai lauk dengan nasi dan tambahan pelecing gurami terbang bersama Ketut Wardana, kangkung. Yuk, kita belajar membuat ikan Executive Sous Chef Hotel Kuta Paradiso.

Gurami Terbang 40 gram : terasi 200 gram : tomat 300 gram : sereh 5 gram : daun jeruk 30 gram : kecap manis Garam dan merica

Bahan: 350 gram : ikan gurami 1 liter : minyak goreng 60 gram : kangkung

300 200 200 100

gram gram gram gram

: : : :

bawang merah bawang putih cabai merah besar cabai merah kecil

Nasi Campur Nasi putih, daging ayam, sayur kalas, sate lilit, telur rebus, dendeng sapi, udang goreng krispi, dan udang panggang. Bahan: 200 gram : bawang merah 150 gram : bawang putih 400 gram : cabai besar merah 15 gram : cabai kecil merah 20 gram : kemiri 7 gram : ketumbar 150 gram : jahe 200 gram : laos 100 gram : kunir 80 gram : kencur 40 gram : gula jawa 50 gram : santan kental 15 gram : terasi lombok 5 gram : daun jeruk 10 gram : sereh 3 gram : daun salam 40 gram : kacang panjang 150 gram : daging ayam 2 buah : udang galah Garam dan merica Cara membuat daging ayam: - Semua bumbu dibersihkan lalu dikupas dan cuci hingga

bersih dan haluskan - Panaskan wajan lalu masukan minyak dan bumbu halus, goreng hingga harum. - Masukkan daging ayam lalu aduk rata. Tambahkan sedikit santan. Masak sampai ayam matang.

Cara membuat: - Bersihkan ikan gurami lalu rendam dengan air garam dan jeruk nipis selama 15 menit. - Iris ikan gurami tanpa terlepas dari tulangnya. Tekan dengan sendok goreng selama ikan digoreng supaya bentuk ikan tersebut seperti ikan terbang. Goreng hingga warnanya berubah kecokelatan. - Semua bumbu diulek untuk sambal kemudian tumis. - ��������������������������� Kangkung direbus hingga matang, tiriskan. - Sajikan ikan bersama dengan re­­busan kangkung dan sambal.

Cara membuat sayur kalasan: - Rebus kacang panjang. - Bumbu ditumis, tambahkan santan. Siap digunakan sebagai campuran bumbu kacang panjang. Cara membuat udang panggang: - Bersihkan udang galah lalui bumbui dengan bumbu tumis tadi, lalu panggang hingga kemerahan.

27 JANUARI - 2 Februari 2014

C U L I N A RY C O R N E R

Wayan Langen

13

Tantangan Membuat Kue “Awalnya, saya tamat dari Akademi Perhotelan di Jalan Kamboja tahun 1975. Setelah tamat, saya merantau mencari peng­ alaman kerja di beberapa restoran di Pulau Jawa,” tutur lelaki asal Gianyar ini mengenang ­pengalamannya dulu.

K

Bebek Krispi Bahan: 1 ekor : bebek 85 gram : bawang merah 50 gram : bawang putih 150 gram : gula merah 120 gram : cabai merah 85 gram : jahe 115 gram : laos 35 gram : kapulaga 50 gram : kunir 130 gram : sereh 15 gram : kemiri 200 ml : minyak Garam, merica putih, dan meri­ ca hitam secukupnya

Cara membuat: - Bebek dicuci sampai bersih, lalu dibelah menjadi dua bagian. - Haluskan semua bumbu dan guling-gulingkan bebek ke dalamnya. Biarkan selama semalam. - Bebek dikukus selama 20 menit. Angkat dan tiriskan. - Panaskan minyak goreng dan bebek siap digoreng krispi. - Siap dihidangkan.

Wayan Langen

etertarikannya bekerja di bidang kuliner karena memang ada bakat dari keluarganya. “Nenek saya berjualan nasi babi guling. Di samping itu, bapak dan ibu berjualan kue laklak. Saya sering membantu membuat tepung bahan utama dari kue laklak dan memarut singkong,” kata Wakil Ketua Pengembangan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Indonesian Chef Association (ICA) Bali ini. Sejak kecil, ia sudah belajar, dalam membuat kue memang tingkat kesulitan lebih besar. Ia diajarkan kesabaran menunggu kue matang, teliti dalam hal ukuran agar hasil kue menjadi sempurna. Melihat hal itu, dalam benak Langen, sudah tergambar pilihannya setamat SMA akan meneruskan ke Akademi Perhotelan. “Saya memang ingin bekerja di hotel,” ujarnya. Tamat dari Akademi Perhotelan, ia melanglang buana ke Pulau Jawa mencoba peruntungannya bekerja di restoran. Setahun kemudian, Langen kembali ke Bali. Tahun 1977, Langen magang di Hotel Bali

Beach Sanur. Selesai magang, ia melamar ke Hotel Oberoi Seminyak. Hanya delapan bulan bekerja di bagian dapur, ia lalu tertarik mencoba ke bagian pastry. Kariernya di Oberoi mulai dari cook helper sampai menjadi asisten chef pastry. Menurut Langen, berbagai pengalam­ an yang ia dapatkan selama bekerja di Oberoi yang merupakan titik awal kariernya di bidang pastry. Ia mengakui, memang sangat tertarik dengan bagian kue dan roti. Di samping karena sejak kecil memang menyukai hal itu melihat dari usaha orangtua. Ia merasa banyak tantangan untuk berkreasi. “Kebanyakan telur malah encer, kebanyakan tepung malah kue bantat dan tidak mengembang. Tak hanya ketelitian dan kesabaran, kreasi juga diperlukan. Menghias kue agar menjadi cantik, juga perlu diperhatikan,” kata Langen. Mulailah, ia berkreasi dari satu kue dan terus berkembang. Tahun 1994, ia pindah ke Hotel Mercure yang dulu bernama Surya Beach Hotel. Kepindahannya ke sana karena ia ingin mengembangkan diri dan menam-

bah wawasan. Waktu 2,5 tahun, berkarier di Mercure, ia pindah ke Mabisa Hotel Legian. Jabatannya naik menjadi Koordinator Food and Beverage. Tahun 1998, ada kesempatan berkarier di hotel yang lebih besar, tak disia-siakan. Ia pindah kerja ke Hard Rock Hotel dan dipercaya di bagian pastry. Tahun 2000, ketika Sekolah Perhotelan Bali dibuka, ia tertarik bergabung. “Ada kebanggaan tersendiri menjadi pengajar,” kata Langen. Ia menuturkan, sukanya mengajar ketika melihat anak didik sukses atau ada yang bekerja ke luar negeri. Sementara kadang ada rasa sedikit kesal, melihat masih ada anak-anak yang kemauannya belajarnya kurang. Namun, ini menjadi suatu tantangan bagi Langen, untuk mencari solusi yang tepat. “Saya harus berpikir lebih keras mencari metode apa yang harus digunakan agar anak didik lebih tertarik. Memang kadang ada juga anak yang bandel. Tapi dari kesulitan itu, membuat para dosen menjadi lebih kreatif. Selain itu, sesama dosen biasanya saling bertukar informasi untuk mengembangkan ide-ide kreatif,” kata Dosen Pastry SPB ini. Menurut Langen, ia tak terlalu mulukmuluk. Semua perjalanan hidup ia lakoni bagai air mengalir. Ia hanya ingin terus meningkatkan kualitas diri baik dalam bidang pendidikan maupun dalam bidang spiritual, agar hidup menjadi lebih bermakna. –Wirati Astiti/Ratna Hidayati

Es Tofu Kembang Tahu

Sarwan

Babi Guling Bahan: 1 ekor 300 gram 350 gram 150 gram 200 gram 400 gram 300 gram 200 gram 150 gram 700 gram 100 gram 50 gram 100 gram 700 ml 1 kg 30 gram 20 gram

: : : : : : : : : : : : :

babi guling bawang putih bawang merah kemiri lombok merah laos jahe kapulaga kunir sereh terasi gula merah basa wewangen (bisa beli di pasar siap saji) : minyak : daun singkong : garam : merica putih

Cara membuat: - Rajang semua bumbu lalu tumis hingga harum. - Rebus daun singkong hingga matang. - Siapkan babi yang akan di­ guling. Bersihkan babi. - Masukkan semua bumbu serta rebusan daun singkong ke dalam perut babi yang sudah dibersihkan, lalu jahit dengan menggunakan tali. - Siapkan bara api, dan guling babi selama 4 jam hingga warna babi berubah menjadi merah kecokelatan. - Babi guling siap dihidangkan. –Wirati Astiti/Ratna Hidayati

Bahan: 300 gr 100 gr ½ buah 2 ruas 1 biji 3 biji 500 ml

Bahan: 150 gr 1½ tofu 150 gr 500 ml 2 lembar 10 gr 150 gr 3 ruas jari 50 ml

Ca Ayam Sawi Putih

: ayam fillet iris memanjang, rendam air jeruk nipis : sawi putih potong kasar : bawang bombai cincang halus : jari jahe, iris korek api : cabe merah besar, iris korek api : cabai kecil iris kecil : air

1 bungkus : penyedap rasa 1 buah : jeruk nipis, ambil airnya Minyak atau margarin secukupnya Gula, garam, lada secukupnya Cara membuat: - Panaskan minyak atau margarin. - Masukkan bawang bombai dan jahe, tumis hingga harum. - Masukkan ayam lalu bolak-

balik hingga berubah warna kecokelatan. - Masukkan cabai merah, cabai kecil, aduk-aduk lalu tambahkan air, gula, garam, penyedap rasa dan lada lalu masukkan sawi putih hingga matang dan mendidih, siap dihidangkan.

: kembang tahu : potong dadu : pacar cina, siap pakai : susu segar : daun pandan : vanili bubuk : gula pasir : kayu manis : sirup merah, buat garnis

Cara membuat: - Rendam kembang tahu sampa mengembang, potong-potong. - Rebus susu dan daun pandan, tambahkan gula, kayu manis dan vanili, aduk hingga mendidih dan gula larut. - Masukkan kembang tahu dan pacar cina, aduk-aduk rata, angkat dan dinginkan.

Sup Ayam Jamur Bahan: 350 gr : daging ayam, lumuri jeruk nipis, potong dadu 100 gr : jamur kuping, diiris-iris, rendam dengan air panas 100 gr : kancing, belah 2 atau 4 1000 ml : air 2 batang : daun prei iris tipis-tipis ½ buah : bawang bombai potong halus 2 biji : kaldu blok Garam, gula, pala dan lada secukupnya Minyak atau margarin secukupnya

Cara membuat: - Panaskan minyak atau margarin, masukkan bawang prei dan bawang bombai tumis hingga harum. - Masukkan ayam lalu bolak-balik hingga berubah warna lalu tambahkan air hingga mendidih. - Masukkan jamur kuping, jamur kancing hingga mendidih. - Masukkan garam, gula, pala, kaldu blok dan lada hingga mendidih, angkat lalu taburi dengan bawang goreng, siap disajikan.

- Siapkan gelas saji, tambahkan es serut, tuang ke dalam gelas, tambahkan di atasnya sirup merah.


RESEP ALA CHEF

12

27 JANUARI - 2 Februari 2014

Sajian Ikan Terbang

Menikmati keindahan burung yang terbang sudah biasa. Namun, menikmati gurihnya ikan gurami terbang di meja makan itu baru luar biasa. Dijamin acara makan-makan pasti nikmat dan spesial. Gurami terbang dibentuk seperti ikan yang mempunyai sayap. Bentuk sayap ini adalah daging dari ikan yang disayat agar terpisah dari tulang tengahnya. Soal rasa, Ketut Wardana dijamin gurih. Cocok sekali disantap sebagai lauk dengan nasi dan tambahan pelecing gurami terbang bersama Ketut Wardana, kangkung. Yuk, kita belajar membuat ikan Executive Sous Chef Hotel Kuta Paradiso.

Gurami Terbang 40 gram : terasi 200 gram : tomat 300 gram : sereh 5 gram : daun jeruk 30 gram : kecap manis Garam dan merica

Bahan: 350 gram : ikan gurami 1 liter : minyak goreng 60 gram : kangkung

300 200 200 100

gram gram gram gram

: : : :

bawang merah bawang putih cabai merah besar cabai merah kecil

Nasi Campur Nasi putih, daging ayam, sayur kalas, sate lilit, telur rebus, dendeng sapi, udang goreng krispi, dan udang panggang. Bahan: 200 gram : bawang merah 150 gram : bawang putih 400 gram : cabai besar merah 15 gram : cabai kecil merah 20 gram : kemiri 7 gram : ketumbar 150 gram : jahe 200 gram : laos 100 gram : kunir 80 gram : kencur 40 gram : gula jawa 50 gram : santan kental 15 gram : terasi lombok 5 gram : daun jeruk 10 gram : sereh 3 gram : daun salam 40 gram : kacang panjang 150 gram : daging ayam 2 buah : udang galah Garam dan merica Cara membuat daging ayam: - Semua bumbu dibersihkan lalu dikupas dan cuci hingga

bersih dan haluskan - Panaskan wajan lalu masukan minyak dan bumbu halus, goreng hingga harum. - Masukkan daging ayam lalu aduk rata. Tambahkan sedikit santan. Masak sampai ayam matang.

Cara membuat: - Bersihkan ikan gurami lalu rendam dengan air garam dan jeruk nipis selama 15 menit. - Iris ikan gurami tanpa terlepas dari tulangnya. Tekan dengan sendok goreng selama ikan digoreng supaya bentuk ikan tersebut seperti ikan terbang. Goreng hingga warnanya berubah kecokelatan. - Semua bumbu diulek untuk sambal kemudian tumis. - ��������������������������� Kangkung direbus hingga matang, tiriskan. - Sajikan ikan bersama dengan re­­busan kangkung dan sambal.

Cara membuat sayur kalasan: - Rebus kacang panjang. - Bumbu ditumis, tambahkan santan. Siap digunakan sebagai campuran bumbu kacang panjang. Cara membuat udang panggang: - Bersihkan udang galah lalui bumbui dengan bumbu tumis tadi, lalu panggang hingga kemerahan.

27 JANUARI - 2 Februari 2014

C U L I N A RY C O R N E R

Wayan Langen

13

Tantangan Membuat Kue “Awalnya, saya tamat dari Akademi Perhotelan di Jalan Kamboja tahun 1975. Setelah tamat, saya merantau mencari peng­ alaman kerja di beberapa restoran di Pulau Jawa,” tutur lelaki asal Gianyar ini mengenang ­pengalamannya dulu.

K

Bebek Krispi Bahan: 1 ekor : bebek 85 gram : bawang merah 50 gram : bawang putih 150 gram : gula merah 120 gram : cabai merah 85 gram : jahe 115 gram : laos 35 gram : kapulaga 50 gram : kunir 130 gram : sereh 15 gram : kemiri 200 ml : minyak Garam, merica putih, dan meri­ ca hitam secukupnya

Cara membuat: - Bebek dicuci sampai bersih, lalu dibelah menjadi dua bagian. - Haluskan semua bumbu dan guling-gulingkan bebek ke dalamnya. Biarkan selama semalam. - Bebek dikukus selama 20 menit. Angkat dan tiriskan. - Panaskan minyak goreng dan bebek siap digoreng krispi. - Siap dihidangkan.

Wayan Langen

etertarikannya bekerja di bidang kuliner karena memang ada bakat dari keluarganya. “Nenek saya berjualan nasi babi guling. Di samping itu, bapak dan ibu berjualan kue laklak. Saya sering membantu membuat tepung bahan utama dari kue laklak dan memarut singkong,” kata Wakil Ketua Pengembangan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Indonesian Chef Association (ICA) Bali ini. Sejak kecil, ia sudah belajar, dalam membuat kue memang tingkat kesulitan lebih besar. Ia diajarkan kesabaran menunggu kue matang, teliti dalam hal ukuran agar hasil kue menjadi sempurna. Melihat hal itu, dalam benak Langen, sudah tergambar pilihannya setamat SMA akan meneruskan ke Akademi Perhotelan. “Saya memang ingin bekerja di hotel,” ujarnya. Tamat dari Akademi Perhotelan, ia melanglang buana ke Pulau Jawa mencoba peruntungannya bekerja di restoran. Setahun kemudian, Langen kembali ke Bali. Tahun 1977, Langen magang di Hotel Bali

Beach Sanur. Selesai magang, ia melamar ke Hotel Oberoi Seminyak. Hanya delapan bulan bekerja di bagian dapur, ia lalu tertarik mencoba ke bagian pastry. Kariernya di Oberoi mulai dari cook helper sampai menjadi asisten chef pastry. Menurut Langen, berbagai pengalam­ an yang ia dapatkan selama bekerja di Oberoi yang merupakan titik awal kariernya di bidang pastry. Ia mengakui, memang sangat tertarik dengan bagian kue dan roti. Di samping karena sejak kecil memang menyukai hal itu melihat dari usaha orangtua. Ia merasa banyak tantangan untuk berkreasi. “Kebanyakan telur malah encer, kebanyakan tepung malah kue bantat dan tidak mengembang. Tak hanya ketelitian dan kesabaran, kreasi juga diperlukan. Menghias kue agar menjadi cantik, juga perlu diperhatikan,” kata Langen. Mulailah, ia berkreasi dari satu kue dan terus berkembang. Tahun 1994, ia pindah ke Hotel Mercure yang dulu bernama Surya Beach Hotel. Kepindahannya ke sana karena ia ingin mengembangkan diri dan menam-

bah wawasan. Waktu 2,5 tahun, berkarier di Mercure, ia pindah ke Mabisa Hotel Legian. Jabatannya naik menjadi Koordinator Food and Beverage. Tahun 1998, ada kesempatan berkarier di hotel yang lebih besar, tak disia-siakan. Ia pindah kerja ke Hard Rock Hotel dan dipercaya di bagian pastry. Tahun 2000, ketika Sekolah Perhotelan Bali dibuka, ia tertarik bergabung. “Ada kebanggaan tersendiri menjadi pengajar,” kata Langen. Ia menuturkan, sukanya mengajar ketika melihat anak didik sukses atau ada yang bekerja ke luar negeri. Sementara kadang ada rasa sedikit kesal, melihat masih ada anak-anak yang kemauannya belajarnya kurang. Namun, ini menjadi suatu tantangan bagi Langen, untuk mencari solusi yang tepat. “Saya harus berpikir lebih keras mencari metode apa yang harus digunakan agar anak didik lebih tertarik. Memang kadang ada juga anak yang bandel. Tapi dari kesulitan itu, membuat para dosen menjadi lebih kreatif. Selain itu, sesama dosen biasanya saling bertukar informasi untuk mengembangkan ide-ide kreatif,” kata Dosen Pastry SPB ini. Menurut Langen, ia tak terlalu mulukmuluk. Semua perjalanan hidup ia lakoni bagai air mengalir. Ia hanya ingin terus meningkatkan kualitas diri baik dalam bidang pendidikan maupun dalam bidang spiritual, agar hidup menjadi lebih bermakna. –Wirati Astiti/Ratna Hidayati

Es Tofu Kembang Tahu

Sarwan

Babi Guling Bahan: 1 ekor 300 gram 350 gram 150 gram 200 gram 400 gram 300 gram 200 gram 150 gram 700 gram 100 gram 50 gram 100 gram 700 ml 1 kg 30 gram 20 gram

: : : : : : : : : : : : :

babi guling bawang putih bawang merah kemiri lombok merah laos jahe kapulaga kunir sereh terasi gula merah basa wewangen (bisa beli di pasar siap saji) : minyak : daun singkong : garam : merica putih

Cara membuat: - Rajang semua bumbu lalu tumis hingga harum. - Rebus daun singkong hingga matang. - Siapkan babi yang akan di­ guling. Bersihkan babi. - Masukkan semua bumbu serta rebusan daun singkong ke dalam perut babi yang sudah dibersihkan, lalu jahit dengan menggunakan tali. - Siapkan bara api, dan guling babi selama 4 jam hingga warna babi berubah menjadi merah kecokelatan. - Babi guling siap dihidangkan. –Wirati Astiti/Ratna Hidayati

Bahan: 300 gr 100 gr ½ buah 2 ruas 1 biji 3 biji 500 ml

Bahan: 150 gr 1½ tofu 150 gr 500 ml 2 lembar 10 gr 150 gr 3 ruas jari 50 ml

Ca Ayam Sawi Putih

: ayam fillet iris memanjang, rendam air jeruk nipis : sawi putih potong kasar : bawang bombai cincang halus : jari jahe, iris korek api : cabe merah besar, iris korek api : cabai kecil iris kecil : air

1 bungkus : penyedap rasa 1 buah : jeruk nipis, ambil airnya Minyak atau margarin secukupnya Gula, garam, lada secukupnya Cara membuat: - Panaskan minyak atau margarin. - Masukkan bawang bombai dan jahe, tumis hingga harum. - Masukkan ayam lalu bolak-

balik hingga berubah warna kecokelatan. - Masukkan cabai merah, cabai kecil, aduk-aduk lalu tambahkan air, gula, garam, penyedap rasa dan lada lalu masukkan sawi putih hingga matang dan mendidih, siap dihidangkan.

: kembang tahu : potong dadu : pacar cina, siap pakai : susu segar : daun pandan : vanili bubuk : gula pasir : kayu manis : sirup merah, buat garnis

Cara membuat: - Rendam kembang tahu sampa mengembang, potong-potong. - Rebus susu dan daun pandan, tambahkan gula, kayu manis dan vanili, aduk hingga mendidih dan gula larut. - Masukkan kembang tahu dan pacar cina, aduk-aduk rata, angkat dan dinginkan.

Sup Ayam Jamur Bahan: 350 gr : daging ayam, lumuri jeruk nipis, potong dadu 100 gr : jamur kuping, diiris-iris, rendam dengan air panas 100 gr : kancing, belah 2 atau 4 1000 ml : air 2 batang : daun prei iris tipis-tipis ½ buah : bawang bombai potong halus 2 biji : kaldu blok Garam, gula, pala dan lada secukupnya Minyak atau margarin secukupnya

Cara membuat: - Panaskan minyak atau margarin, masukkan bawang prei dan bawang bombai tumis hingga harum. - Masukkan ayam lalu bolak-balik hingga berubah warna lalu tambahkan air hingga mendidih. - Masukkan jamur kuping, jamur kancing hingga mendidih. - Masukkan garam, gula, pala, kaldu blok dan lada hingga mendidih, angkat lalu taburi dengan bawang goreng, siap disajikan.

- Siapkan gelas saji, tambahkan es serut, tuang ke dalam gelas, tambahkan di atasnya sirup merah.


J E L I TA

14

Amankah Suntik Putih? Tren suntik putih saat ini semakin po­ puler dilakukan perempuan ber­bagai kalangan. Apalagi dengan iklan yang menggoda membuat banyak perem­ puan ingin mencoba. Ditambah adanya anggapan kalau perempuan berkulit putih lebih baik dibandingkan dengan yang berkulit gelap.

D

ari pantauan Tokoh, saat ini cukup banyak tersedia produk pemutih, mulai dari krim, masker, suntik, maupun tablet. Suntik putih, salah satu pilihan yang pal­ ing favorit. Hal ini menyebabkan makin banyaknya klinik kecantik­ an yang menyediakan layanan suntik putih. Lebih yakin lagi, karena sejumlah klinik menyedia­ kan dokter untuk berkonsultasi. Menurut dr. AA Ari A. Kayika, Sp.KK., cara kerja suntik putih adalah dengan memasukkan cairan vitamin C dengan meng­ gunakan suntikan. “Meskipun vitamin C bahan dasar suntik putih dapat larut dalam air, begitu pula jika asupannya berlebihan dapat dikeluarkan secara oto­ matis melalui urin, namun memi­ liki efek samping ketika dikon­ sumsi dengan dosis yang tidak tepat,” ujarnya. Prosedur kecantikan yang satu ini banyak dijalani para perempuan yang menginginkan hasil yang cepat untuk merubah warna kulitnya. Konon, dengan suntik vitamin C bukan saja membuat badan jadi segar dan sehat, tapi juga membuat kulit si pemakai menjadi mulus. Lebih dari itu, produk ini juga diklaim bisa membuat pemakainya awet muda. Lantas bagaimana dengan efek sampingnya? Efek samping suntik putih, kata dokter Kayika, terjadinya batu ginjal. Pada seseorang yang mempunyai keturunan penyakit ginjal, vitamin C yang berlebih bisa mengendap menjadi kristal apalagi orang tersebut kurang mi­ num air. Vitamin C yang disuntik­ kan di kulit dalam dosis yang berlebihan, sebagian besar akan diserap ginjal dan ginjal akan bekerja keras mengurai kelebih­ an vitamin C dalam tubuh. Kerja keras ini disinyalir bisa meng­ akibatkan kegagal­an ginjal pada pengguna suntik putih. “Ka­rena itu, sebelum suntik putih, konsul­ tasikan riwayat penyakit Anda,” jelasnya. Dokter Kayika menyarankan, sebaiknya seseorang yang ter­ bukti mempunyai keturunan penyakit batu ginjal tidak melaku­ kan suntik vitamin C. Pengidap maag juga harus berhati-hati, karena vitamin C yang bersifat asam. Sebelum mengonsumsi vitamin C dianjurkan makan ter­

dr. AA Ari A. Kayika, Sp.KK.

lebih dahulu demi menghindari rasa perih di daerah lambung. Ia berharap, para perempuan hendaknya berpikir panjang dan jangan terbuai dengan imingiming, sekali pun demi kecantikan. Begitu pula remaja putri yang suka mengonsumsi Vitamin C dosis tinggi. Siklus mens tidak teratur dan sedikit, hanya satu sampai tiga hari. Kemungkinan pula pada usia 35-36 tahun akan mengalami menopause dini. Me­ mang, ia mengakui, vitamin C bermanfaat untuk tubuh asalkan dikonsumsi dengan dosis yang disarankan. Kembali ke masalah suntik vita­ min C, ia menegas­ kan, perem­ puan hen­d aknya berpikir panjang jika ada tawaran-tawaran menggiurkan seperti suntik vitamin C bisa menghilangkan kerut­ an, melangsingkan, atau bahkan membuat kulit putih permanen selamanya dengan satu kali suntik. Dalam produk pemutih kulit biasa­ nya mengandung zat-zat tertentu, seperti vitamin A, E, C, hidroguinim, hojic acid, asam retinoat, dan AHA yang pada prinsipnya mencegah pem­b entukan pig­ men yang berlebihan. Namun, sekali lagi ia menegaskan, bahanbahan tersebut memi­ liki efek samping yang

luas bahkan membahayakan jika digunakan dalam waktu panjang. Terkait produk pemutih kulit, kata dokter Kayika, sebaiknya dikon­ sultasikan kepada ahlinya. Sebab, batasan penggunaannya meliputi area tertentu dari wajah, tidak digunakan secara sistemik, dan aktivitas seringnya terkena sinar matahari. Jangan sampai pengaruh paparan sinar matahari justru membuat seseorang yang meng­ gunakan produk pemutih menda­ patkan masalah lebih berat di kemudian hari. Selain itu, dalam memilih produk pemutih kulit juga harus melihat jenis dan kon­ disi kulit pemakai agar hasilnya tidak mengecewakan,” ujarnya. Biasa­nya pemakaian krim pemutih dilakukan pada malam hari sekali dalam sehari. Lebih lanjut dikatakannya, prosedur suntik putih tak bisa dilakukan sembarang orang sebab tanpa dosis yang tepat, suntik putih dengan vitamin C akan mengancam. Memang, vitamin C dengan kadar tinggi akan dikeluar­ kan lagi oleh sistem tubuh melalui urin. Namun masalahnya tidak hanya sampai di situ, kelebihan vitamin C dalam jangka waktu lama akan menimbun endapan Vitamin C dalam tubuh. Endapan ini sangat berpotensi membentuk

27 januari - 2 Februari 2014

27 januari - 2 Februari 2014

www.ceriwis.com

kristal berbahaya yang juga bisa berujung pada batu ginjal Bahaya suntik putih yang di­ lakukan secara terus-menerus bisa merangsang munculnya batu em­ pedu, menyebabkan di antaranya penipisan tulang, pengeroposan, mengganggu siklus menstruasi, menghambat kerja vitamin lainnya, mengundang fase menopause le­ bih awal. Tapi, tak bisa dimung­ kiri, manfaat vitamin C memang cukup baik bagi tubuh namun jauh lebih aman jika penggunaannya dengan cara dioles ketimbang sistem injeksi. “Sebaiknya le­ bih berhati-hati dalam memilih produk kecantikan,” sarannya.

Bahaya suntik putih yang di­lakukan secara terus-menerus bisa merangsang munculnya batu empedu, menyebabkan di antaranya penipisan tulang, pengeroposan, mengganggu siklus menstruasi, menghambat kerja vitamin lainnya, mengundang fase menopause lebih awal

Sesungguhnya suntik putih menu­ rut dokter Kayika, adalah istilah yang digunakan seseorang untuk mendapatkan perawatan kulitnya agar menjadi putih dengan me­ masukkan obat ke dalam tubuh dengan cara disuntikkan. Ia menekankan perlu dipahami,tidak ada orang men­ jadi putih secara instan. Yang terjadi adalah produk terse­ but menghambat pembentukan pigmen sehingga pigmen di dalam permukaan kulit jumlah­ nya berkurang. Hal ini terjadi kare­na beberapa bahan pemutih menghambat suatu enzim dalam pembentukan pigmen tersebut. Selain itu, lanjutnya, vitamin C mampu mengaktifkan kolagen sehingga kulit menjadi lebih kencang dan kenyal, dalam pe­ nampakkan di kulit luar akan terlihat lebih cerah dari sebelum­ nya. Hanya patut diwaspadai, penggunaan dalam jangka waktu lama. “Diperlukan konsultasi dan pemeriksaan laboratorium sebelum dan setelah penyuntik­ an menghindari hal yang tidak diinginkan,” sarannya.

MITOS ATAU FAKTA

11

Jangan Takut Memadang Mata Merah Selama ini, cara-cara tradisional un­ tuk penanganan mata merah masih di­ percaya dan dilakukan di masyarakat. Sakit mata/mata merah bisa disem­ buhkan dengan mem­basuhkan air kencing ke mata, air susu ibu, air rendaman daun sirih, air liur pertama dan kotoran telinga pagi, dll. Ada juga yang memakai getah tanaman tertentu. Ketika sese­orang menderita sakit mata merah, kita seringkali di­ larang menatap mata orang tersebut agar tak ketular­an. Berikut penjelas­ an dr. Putu Yulia­wati, Sp.M., staf Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Unud/RS Sanglah.

S

akit mata merah atau konjungtivitis adalah infeksi pada konjung­ tiva. Konjungtiva ada­ lah selaput bening yang menutupi bagian putih bola mata dan ke­ lopak mata. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus dan alergi. Konjungtivitis yang disebab­ kan oleh bakteri dan virus dapat menular kepada orang lain. Penu­ laran konjungtivitis dapat melalui kontak tangan penderita misalnya sehabis memegang mata merah lalu menyentuh mata sebelah­nya

– Sri Ardhini/Wirati Astiti dr. Oka Negara, FIAS

tanpa cuci tangan dahulu, kontak dengan bantal, handuk, kacamata yang sama dipakai oleh penderita mata merah. Daya tahan tubuh menurun saat kita meriang, demam dan flu juga mudah menderita mata merah. Mata merah dapat terjadi pada satu mata atau kedua mata. Mata merah tidak ditularkan melalui pandangan mata atau bercermin. Jangan takut untuk berhadapan dengan penderita mata merah selama tidak terjadi kontak langsung dengan mata

Kirim surat Anda ke ­Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sex Edu”di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id. Rubrik ini diasuh ­Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar.

“Dok, aku baru menikah sebulan. Aku terkejut dan baru tahu kalau suamiku ternyata gemar nonton video porno, terutama video porno Jepang, yang artisnya cantik-cantik dan gayanya aneh-aneh. Aku diminta ikut menonton dan me­ng­ikuti yang ada di video. Bahaya nggak ini dok?” (Rani,24) Semua orang sesungguhnya menyukai melihat materi bermuatan pornografi, misalnya seorang laki-laki dewasa yang melihat perempuan dewasa lainnya telanjang atau sekadar ada sebagian bagian tubuh yang “nyembul” atau “terbuka”. Karena semua itu sesungguh­nya menyenangkan dan membuat rasa nyaman. Otak akan mengeluarkan substansi hormo­nal yang namanya endorfin yang berperan dalam membuat rasa senang. Cuma saja, tidak bisa seenaknya dan semaunya, karena ada yang membatasi semua itu

untuk dieksplorasi. Video porno komer­sial di Indonesia dilarang, di negara liberal seperti Amerika Serikat, Jepang dan negaranegara Eropa hal seperti ini diperbolehkan dengan batasan khusus. Kalau di Amerika Se­ rikat batasannya adalah usia, kalau di Jepang, selain usia, juga tampilan film yang harus disensor mozaik di bagian kelamin. Itu misalnya. Sekadar tambahan informasi, sesungguhnya fakta menyebutkan tidak ada hubungan langsung antara efek bahaya yang ditakutkan seperti kejadian kriminalitas seksual dengan

pen­d erita. Kon­ jungtivitis yang disebabkan oleh alergi tidak ditular­ kan ke orang lain. Penyebab alergi bisa karena ke­ masukan benda asing ke mata, kon­ tak dengan bahan alergen sehingga menyebabkan mata merah. Sakit mata me­ rah atau konjungti­ vitis diawali dengan gejala ngeres pada mata seperti ada pasir atau kelilipan, kemudian mata akan merah, keluar kotoran mata berwarna putih bening atau kekuningan, bengkak, nyeri dan berair. Kotoran mata yang banyak akan menyulitkan membuka mata saat bangun tidur di pagi hari. Konjungtivitis tidak menyebabkan penglihatan menjadi buram. PENGOBATAN Pengobatan mata merah atau konjungtivitis disesuaikan den­ gan penyebabnya. Konjungtivitis yang dikarenakan bakteri diobati dengan antibiotika, virus diobati dengan antivirus dan penyebab alergi diobati dengan obat anti­ alergi. “Bila terserang mata merah segera datang ke dokter untuk mendapatkan pengobatan,” sa­ rannya. Pengobatan sendiri di ru­ mah misalnya dengan getah tana­ man tertentu, air liur pertama, kotoran telinga pagi, air kencing,

basah setiap ada kotoran mata. Kapas air hangat untuk mem­ bersihkan mata kanan tidak digunakan lagi untuk mata kiri atau sebaliknya. l Selalu mencuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan mata merah. Misalnya setelah meneteskan obat mata, membersihkan ko­ toran mata atau menyentuh mata merah. lTidak menyentuh mata yang sehat setelah kontak dengan air susu ibu, dan air daun sirih tidak disa­ rankan karena dapat menim­ bulkan iritasi di mata atau alergi terhadap kandungan ter­ tentu pada ba­ han tersebut. Saat men­ derita mata merah atau konjungtivitis perlu memperhatikan dan men­ jaga kondisi agar tidak mem­ perparah penyakitnya sehingga mengakibatkan lamanya proses penyembuhan. Langkah langkah yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: l Banyak istirahat di rumah dan tidak beraktivitas di luar rumah. l Bersihkan kotoran mata dengan kapas air hangat atau lap

mata yang merah. l Hindari kontak langsung dengan barang-barang yang di­ pakai oleh penderita mata merah seperti bantal, handuk dan ka­ camata. l Tidak menggunakan lensa kontak saat menderita mata merah/konjungtivitis. l Segera ke dokter untuk mendapatkan pengobatan. –Inten Indrawati/Ngurah Budi

SUAMI GEMAR VIDEO PORNO pornografi. Di negara-negara yang pornografi diatur dan dilegalkan, justru angka kriminalitas seksualnya rendah. Manusia adalah makhluk sek­s ual, yang artinya secara ­a lamiah akan mengalami sebuah siklus ada­nya kematangan seksual, dengan kon­sekuensi ada kebutuhan seksual yang jika ditutup-tutupi malah akan mengakibatkan agresifitas berlebihan untuk mencari tau dan meng­eksplotasi tanpa terarah, yang lebih berpotensi menjadi ancaman kriminalitas seksual. Secara personal, selama materi pornografi, termasuk video porno tidak dieksplorasi dan dikonsumsi secara ber­ lebihan, hal ini bisa memunculkan keuntungan, kegembira­ an dan kenyamanan, bahkan pada dunia medis, video porno juga diselipkan sebagai bagian terapi seksual. Asal semua dilakukan dengan kendali dan rasa tanggung jawab meman­ faatkannya. Nah, itu artinya yang harus dihindari adalah menyaksi-

kan video porno yang terlalu sering, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Lalu, menyaksikan video porno yang terlalu ekstrem (misalnya seks dengan alat-alat berbahaya, seks dengan anak-anak, seks dengan binatang, dll) karena sekali dua kali atau malah bisa sering kali menjadi referensi dan sumber inspirasi juga buat ditiru. Selanjutnya, pikirkan baik-baik tentang partner yang diajak menonton video porno atau jika ingin melanjutkan ke tahapan aktivitas seksual, jangan dengan pasangan yang berisiko, baik risiko medis (bisa terinfeksi infeksi menular seksual bila mengajak pasangan yang sudah terinfeksi sebelumnya), atau risiko sosial, karena mengajak pasangan sah orang lain misalnya. Memang sebaiknya kalaupun ingin menyaksikan video porno, sebaiknya dilakukan bersamasama atau sepengetahu­an bersama pasangan sahnya dan disetujui bersama. Itu akan jauh lebih menyenangkan dan

lebih aman. Seringkali agenda menonton video porno bersama, justru menjadi “sumber rekomendasi” dan “sumber inspirasi” bersama pasangan untuk meningkatkan variasi seksual bersama. Terakhir, buat semua orang yang ingin mengkonsumsi materi pornografi, gunakanlah materi pornografi secara bertanggung jawab, artinya: 1) Tepat waktu, jangan sampai mengganggu aktivitas yang lain, 2) Tepat orang, jangan mengajak orang lain yang “mengundang risiko” jika menyaksikannya, lebih baik dengan pasangan yang sah, 3) Tepat target, gunakan kesempatan mengonsumsi materi pornografi hanya untuk kepentingan mencari referensi buat variasi seksual bersama pasangan misalnya, untuk mengatasi kejenuhan, atau hanya untuk sekadar tahu saja, dan 4) Tepat frekuen­ si, jangan keseringan, nanti malah berlebihan dan bikin kecanduan.


BUGAR

10

27 JANUARI - 2 Februari 2014

Hindari Gemuk Awal Cegah Diabetes Diabetes mellitus atau dikenal dengan penyakit kencing manis, kini bagai tsunami yang menyerang dunia. Hasil survei Diabetes IDF 2013, ASEAN merupakan wilayah dengan jumlah penyandang terbesar di dunia seba­nyak 23 juta dari total 381 penderita diabetes di dunia. Tahun 2035 penyakit ini diramalkan meningkat menjadi 39 juta penderita diabetes di Asia.

I

ndonesia menduduki peringkat keempat jum­ lah penderita terbanyak di Asia. Penderita dia­ betes Indonesia mencapai 7 juta jiwa pada tahun 2011. Tahun 2012 meningkat 7,1 juta, dan terus meningkat menjadi 8,5 juta jiwa di tahun 2013. Ironisnya, 70 per­ sen masyarakat Indonesia tidak mengetahui dirinya terserang penyakit yang disebut penyakit biaya tinggi ini. Presiden Federasi Diabetes In­ ternasional dr. Saukhat M.Sadikot mengatakan, jumlah penderita diabetes kini cenderung naik bahkan dulunya dalam 7 detik satu orang diabetes meninggal dunia, sekarang justru lebih cepat menjadi 6 detik. Direktur Pengendalian Penya­ kit Tidak Menular Kemenkes dr. Ekowati Rahajeng, SKM, M.Kes mengatakan, di Indonesia diabe­ tes merupakan ancaman serius bagi pembangunan kesehatan karena dapat menimbulkan ke­ butaan, gagal ginjal, kebutaan, jantung, dan stroke. “Saat ini kami fokus pada pengendalian faktor risiko diabetes melalui upaya pro­ motif dan preventif dengan tidak mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif. Kegiatan pengen­ dalian diabetes sudah dilakukan melalui Pos Pembinaan Terpadu

Dr. dr. I Ketut Suastika

atau Posbindu. Kegiatan ini me­ libatkan peran serta masyarakat dalam pengendalian faktor risiko diabetes secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya. Kemenkes juga sedang ber­ upaya melakukan kontrol pada makanan, dengan Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, yang me­ wajibkan semua makanan fastfood dan industri makanan tidak hanya menampilkan kandungan gula, kalori dan sebagainya, tapi juga menjelaskan fungsi dari kandun­ gan tersebut. Presiden Direktur PT Kal­be Farma Tbk. Irawati Setiady me­ nyatakan, Kalbe telah mengampa­ nyekan “Gerakan Stop Diabetes”

Sehat ala Ade Rai

Kirim surat Anda ke Redaksi Tokoh dan cantumkan “Sehat ala Ade Rai” di amplop. Bisa juga dikirim ke redaksi@tokoh.co.id Rubrik ini diasuh Ade Rai.

Fitnesmania tentunya sudah tahu benar bahwa gaya hidup fitnes, apabila dijalankan dengan baik, akan memberikan manfaat banyak kesehatan. Selain memiliki pola latihan yang terstruktur, pola nutrisi yang syarat gizi dan energi, dan istirahat yang baik, ada beberapa elemen dalam gaya hidup fitnes yang cenderung mudah terlupakan namun merupakan bagian yang penting dalam optimalisasi kesehatan dan daya tahan tubuh. Imunitas atau daya tahan tubuh adalah salah satu elemen gaya hidup fitnes yang pa­ling identik dengan arti kata “sehat”. Bagaimana tidak? Sehat secara umum bisa diartikan sebagai kondisi tubuh yang baik dan tidak menderita sakit. Kita se­ mua juga tentunya mengerti arti dari frase daya tahan tubuh. Tetapi, bagaimana caranya menjaga daya tahan tubuh agar selalu baik? Berikut ini adalah beberapa cara ampuh untuk menjaga dan bahkan meningkatkan daya tahan tubuh. Jurus 1: Jagalah Kebersihan Tubuh (Personal Hygiene) Sebagai individu yang memiliki tingkat aktivitas

dengan mengajak masyarakat Indonesia menerapkan 3 J yakni jumlah, jenis dan jadwal yang berkaitan dengan pola makan untuk menjaga kadar gula darah. “Berbagai kegiatan digelar di be­ berapa kota di Indonesia dengan melibatkan masyarakat seperti jalan santai sekaligus mengkam­ panyekan gerakan ini,” ujarnya dalam pertemuan para ahli dia­ betes “Global Diabetes Forum” di Kuta (18/1). Menurut Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Bali Prof. Dr. dr. I Ketut Suastika, Sp.PD. KEMD, kondisi penderita diabetes di Bali berkisar 6 persen dari total penduduk dewasa. Menurutnya, kecendrungan pe­ nyakit ini menjadi meningkat ka­ rena dibarengi dengan pendapatan masyarakat yang lebih baik. “Di daerah Legian, dan salah satu daerah di Ubud, kondisi kegemuk­ an cukup tinggi, dan ini sangat berpotensi untuk menjadi kencing manis,” ujar dokter yang juga Rek­ tor Universitas Udayana ini. Penyakit ini disebut sebagai penyakit dengan biaya tinggi. Karena itu, ia berharap, pence­ gahan merupakan solusi terbaik dari masalah diabetes. “Solusinya sederhana, kita harus mulai ma­ kan yang sehat dan seimbang dan berolahraga,” sarannya.

dr. Ekowati Rahajeng Faktor kegemukan, meru­ pakan faktor risiko yang sedang mengancam penduduk Bali. Saat masyarakat melakukan peme­ riksaan, ia sangat menyayangkan, kondisinya sudah menderita ken­ cing manis dalam kurun waktu yang sangat lama. “Pencegahan perlu sekali diketahui sejak awal. Check up bagi yang berusia 40 tahun ke atas dengan faktor risiko, seperti gemuk, keturunan, ibu yang pernah melahirkan bayi besar 4 kilogram ke atas. Check up sebaiknya dilakukan setahun sekali,” sarannya. Ia menyatakan, penyakit dia­ betes merupakan penyakit pro­ gresif, sehingga apapun dipakai obat, penyakit ini tidak akan pernah sembuh dan terus akan diderita sepanjang umur. “Mulamulanya memang pengobatan dengan exercise, kemudian mi­ num obat satu pil, dua pil, kemu­ dian suntikan. Kalau komplikasi banyak dan serius, bisa gagal

jantung, ginjal, kebutaan, bah­ kan kematian. Disamping rasa kesakitan atau kematian, biaya pengobatannya mahal sekali. Kalau sudah kena ginjal, harus minum obat ginjal lagi, sudah kena jantung harus minum obat jantung,” ujarnya. Prof. Suastika berharap, ada satu kebijakan pemerintah untuk mengkampanyekan pencegahan diabetes ini ke sekolah-sekolah mulai dari lingkup terkecil. Satu contoh di Singapura, saat pulang sekolah, anak gemuk tidak diberi­ kan pulang dulu, tapi diajak ber­ olahraga atau diajarkan makan­an sehat. Anak-anak harus dilarang untuk gemuk. Hal ini harus diso­ sialisasikan kepada orangtua dan guru. Kebijakan ini juga bisa di­ terapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Disamping para guru memperhatikan pendidikan, juga harus mengingatkan anak, agar tidak gemuk. Edukasi makanan sehat harus terus dilakukan. Sebaiknya, orang dewasa makan rata-rata 30 kalori per kilogram berat badan. Jika ak­ tivitas berat, tinggal menambah­ kan berapa persen lagi. Contoh, usia 50 tahun, kebutuhan makan 1500 kalori. Ini bisa didapat dari 50 persen karbohidrat, 20 lemak, 20 protein, dan 10 vitamin. “Ini disesuaikan dengan aktivitas sese­ orang. Jadi tak benar harus banyak makan daging saja, atau makan sayur saja, atau karbohidrat saja, semua unsur gizi diperlukan de­ ngan seimbang,” ujarnya. Pasien diabetes mendapat tanggungan jaminan kesehatan dari BPJS. Karena itu, Perkeni telah melatih para dokter di layanan primer untuk memiliki pengetahuan yang cukup baik dalam melayani penderita diabe­ tes, sehingga diharapkan, makin banyak orang tidak menderita komplikasi karena segera ter­ tangani, biaya bisa dikurangi, dan tak banyak pasien yang antre ke RS Sanglah. –Wirati Astiti/Ngurah Budi

Jurus Meningkatkan Daya Tahan Tubuh (1) fisik yang tinggi, tentunya tubuh kita cukup sering berkeringat. Keringat adalah sarana pembuangan ko­ toran dan racun dari dalam tubuh, sekaligus sebagai medium untuk menjaga suhu tubuh dalam reaksinya terhadap panas dan lembab. Tubuh yang basah dan berkeringat, selain sudah penuh dengan kotoran dan racun, juga cukup rentan sebagai tempat hinggapnya debu maupun partikel kuman dan bakteri yang terbang di udara. Lipatan-lipatan tubuh seperti ketiak, pangkal paha, dan lipatan jari adalah wilayah yang paling tinggi tingkat kelembabannya, sekaligus merupakan tempat perkembangbiakan kuman yang sangat cepat. Mem­ biarkan tubuh dalam kondisi tersebut terlalu lama tanpa dibersihkan adalah salah satu jurus pasti untuk menjadi rumah baru bagi kuman dan penyakit. Fitnesmania juga umumnya adalah individu yang dinamis, sehingga banyak bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini berarti lebih mungkin pula terekspos pada kuman dan bakteri yang melemah­ kan kondisi tubuh. Dalam salah satu survey kuman yang diadakan, ditemukan beberapa tempat/benda yang memiliki tingkat kuman yang tinggi namun juga yang paling sering dipegang atau dikunjungi, seperti: pegangan trolley supermarket, pegangan pada eskala­ tor, uang, keran dan gagang pintu toilet umum, dan pusat kebugaran! Mengenai tinggi rendahnya tingkat

kuman di tempat umum memang sangat tergan­ tung pada pengelola masing-masing fasilitas umum tersebut, namun setidaknya fitnesmania selalu sadar untuk membersihkan tangan yang merupakan “sarana transportasi populer” banyak kuman. Tubuh yang bersih adalah tubuh yang jauh dari kotoran dan kuman. Untuk memastikannya, cobalah beberapa pointer berikut ini dan jadikanlah pointerpointer ini sebagai kebiasaan daripada sesuatu yang dilakukan kalau sedang ingin: - Mandilah minimal 2 kali sehari dengan sabun anti­ kuman. - Sikat gigilah minimal 2 kali sehari, dan gunakan cairan kumur pembunuh kuman bila memung­ kinkan. - Hindari keringat berlebihan dengan menggunakan anti-perspiran. - Pastikan mencuci tangan dengan sabun hingga bersih setiap kali sebelum dan sesudah beraktifitas. (Sebuah survey di Inggris menemukan 70% pria dan 50% wanita tidak mencuci tangannya sehabis buang air di toilet umum!) - Hindari sentuhan tangan yang belum dicuci bersih pada mata, hidung, mulut, dan telinga. - Sediakan dan gunakan selalu gel pembunuh kuman setiap sehabis beraktivitas.

27 JANUARI - 2 Februari 2014

STYLE

Kreasi Endek ala Didiet Maulana

Di panggung Hotel Aston, Bali, beberapa waktu lalu, Didiet Maulana, salah seorang desainer papan atas ibu kota, menyuguhkan karyanya yang berba­ han endek. Ia total menggarap tenun ikat Bali ini dengan daya kreasinya.

D

engan sederhana ia mampu me­ masangkan pesona kain tradisional ini dengan apa saja serta dikena­ kan oleh siapa saja. Seperti pada deret­an koleksi ready to wear kali ini, ada rok, juga pasangan kain dengan beragam siluet atasan yang feminin untuk wanita. Sedangkan para pria, tampil maskulin melalui celana panjang dan kemeja. Di sini Didiet memilih beragam motif termasuk endek patra, dengan warna mulai dari hijau,ungu, tosca, hingga merah apik membungkus karyanya. Lelaki yang dikenal fokus dan konsisten mengangkat tenun ikat di Indonesia ini, sejak kehadiran karya­ nya di tahun 2011, ia berhasil menorehkan warna tersendiri dalam dunia fashion. Kali ini, ia juga mempermanis desainnya dengan bordir dan aplikasi endek. Didiet yang sempat

merancang busana para menteri keuangan negara peserta APEC tahun silam ini, mengaku bahagia dengan semakin meningkat­ nya apresiasi para desainer juga pelaku ekonomi kreatif di Kota Denpasar, Bali. Selanjutnya sebagai Wakil Ketua Komite In­ donesia Kreatif Berbasis Budaya Bidang Tenun, Didiet kuat memegang komitmen menggu­ nakan tenun ikat di berbagai kesempatan. Selain itu bicara konsep, ia selalu hadir de­ ngan ciri khas desain clothing line Ikat Indonesia berupa cutting yang simpel serta minimalis dengan tetap menjaga unsur kemudahan dan kenyamanan pemakainya. – Sri Ardhini/Wirati Astiti

15


PELESIR

16

Mengintip Kampung Seni Desa Kamasan Salah satu keunggulan pariwisata Kabupaten Klungkung adalah Desa Wisata Kamasan. Desa wisata ini dikenal sebagai pusat berkembangnya sekaligus gudangnya seni lukis wayang klasik. Lukisan atau ukiran tradisional yang berintikan wayang inilah yang membawa daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun seniman yang berkunjung.

IB Ketut Danendra

D

esa Kamasan secara geografis termasuk desa dataran rendah dekat dengan Pantai Klotok atau Pantai Jumpai. Berjarak sekitar 43 km dari Ibu Kota Denpasar atau sekitar 90 menit perjalanan dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Sedangkan dari Kota Semarapura hanya berjarak sekitar 2 km ke arah selatan. Selama ini, Desa Wisata Kamasan tersohor melalui keindahan seni budayanya. Baik dalam membuat seni ukir pada logam emas, perak, ukiran tembaga, kuningan juga selongsong peluru. Namun, yang paling khas dan dikenal luas hingga ke manca­ negara adalah lukisan tradisional wayangnya. Menurut Kepala Desa Kamasan, Ida Bagus Ketut Danendra, kegairah­ an berkesenian di desa ini tak pernah surut. Nampaknya masyarakat Kamasan memiliki komitmen tinggi untuk melestarikan warisan leluhur mereka. Hal ini pula yang meng­ undang gairah wisatawan lokal maupun mancanegara terus berdatangan. Dulu, kata IB Danendra seni lukis tokoh pewayangan tersebut lebih dijadikan sebagai hiasan di atas kain. Ribuan jejak tangan mere­ ka diguratkan diatas langse, parbe, ider-ider yang menjadi pelengkap dekorasi tempat suci, juga ada

umbul-umbul termasuk di dinding pura. Karenanya, lukisan atau ukiran gaya Kamasan atau wayang Kamasan dapat dikatakan agak tua umurnya dari konteks sejarahnya, dan hingga sekarang masih eksis. Masyarakat di kawasan Desa Wisata Kamasan, umumnya memiliki mata pencaharian sebagai seniman lukis dan ukir. Ini bisa terlihat dari keberadaan bengkel-bengkel kerja para seniman lukis dan ukir yang tersebar di Desa Kamasan. Hasil karya seni yang dibuat seniman di sini detailnya sangat halus , sehingga menghadirkan daya tarik dan ciri khas tersendiri yang tidak terdapat di tempat lain. Menurut I Gede Eka Wedasmara, Koordinator Kampung Seni BNI Desa Kamasan ini, orang yang datang lebih banyak karena tertarik dengan lukisan gaya Kamasan tetap mempertahankan pakem atau gaya klasiknya secara turun-menurun se­ hingga membuatnya semakin unik. Bahkan di beberapa media, katanya terungkap pengakuan pelukis kaliber dunia seperti R. Bonnet dan Walter Spies terhadap keunggulan kualitas dan keunikan lukisan Kamasan. Demikian pula menurut para kolektor dan pecinta lukisan, gaya Kamasan dianggap masih sangat halus dan canggih, bersih, tidak ribut dengan detail yang tidak penting dan sangat jelas pesan ceritanya. Begitu juga, warna yang digunakan penuh dengan filosofi, yang dijabarkan dalam karya kanvas tersebut . Selain itu Warna-warna yang dipakai untuk membuat lukisan asli, keseluruhannya dari bahan alami, dominan cokelat tanah de­ ngan ilustrasi merah serta garis arsir hitam, membuat lukisan Kamasan ini mempunyai gaya tersendiri. Siapa­ pun pengunjung yang datang, dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan ukiran dan lukisan yang dikerjakan para seniman. LUKISAN GAYA KLASIK Corak lukisan Bali klasik dalam lukisan Kamasan, oleh Eka Wedasmara dikatakan sangat mudah di­ kenali. Mulai dari warna dasarnya

Aktivitas ibu-ibu tengah menyelesaikan lukisannya

27 januari - 2 Februari 2014

27 januari - 2 Februari 2014

d i g i R e n Steel Bo Bermain musik merupakan hobi ­mereka. Namun,mereka tetap mem­prioritaskan pendidikan. Bahkan, beberapa ta­ waran manggung di luar Bali harus ditolak ­karena jadwal­ nya berbarengan dengan ujian. Kelima mahasiswa Fisio­ terapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini tetap punya obsesi untuk go nasional.

S

Kunjungan Mari Elka Pangestu saat peresmian Kampung BNI Seni Desa Kamasan

yang cokelat muda. Warna ini diambil dari batu gamping yang dicelup dalam air. Begitu juga lukisannya didominasi oleh karakter-karakter tokoh wayang dalam epos Maha­ barata, Ramayana, kekawin Arjuna dan Suthasoma, hingga semakin mudah dikenali. Dalam setiap seni lukis wayang Kamasan juga terdapat simbol, makna dan fungsi tokoh, binatang, pohon, batu-batuan, air dan sebagainya. Se­tiap gerakan juga mempunyai makna. Ada cara tersendiri untuk me­ netapkan tokoh-tokoh yang ada, baik yang penting maupun tidak pen­ting, tua dan muda, baik dan jahat, laki-laki dan perempuan, kalah dan menang, termasuk pula flash back, kuat atau tidak kuat, tokoh sang ksatria, raja serta masyarakat biasa, semuanya tergambar dengan sangat tertata pada setiap srakenan atau adegan cerita. Sementara I Ketut Widastra, salah seorang yang menggeluti lukisan tradisional ini secara turuntemurun, menceritakan kalau proses menggambar lukisan tradisional wayang Kamasan melalui beberapa tahap. Mulai dari molokin , mengatur komposisi dan proporsi wayang degan pensil. Dilanjutkan ngereka, yakni memperhatikan urutannya mulai dari sket wajah, bagian badan dan kaki serta yang terakhir menyelesaikan bagian gelungnya. Untuk pewarnaannya, kata Widastra menggunakan bahan alam seperti batu gamping,warna hitam memakai jelaga, dan warna hijau

serta biru dari dedaunan. Masih ada lagi proses nyawi, yakni mengias ukir-ukiran pada wayang, yang akan memberikan aksen yang kuat di bagian akhir ukiran sehingga terkesan timbul. Meskipun lukisan tradisional tergolong yang mengusung gaya klasik, menurut beberapa orang wisatawan domestik yang kebetulan berkunjung ke Kamasan, lukisan Kamasan juga bisa menjadi pajangan yang indah di dinding rumah, tipe

apapun, termasuk rumah bergaya minimalis modern. Ketika lukisan klasik ini dipasang di salah satu dinding, akan mampu mempermanis tampilan rumah. Menurut sejarah yang secara singkat diungkapkan Eka Wedasmara,

warisan budaya ini dapat dilihat pada peninggalan raja Klungkung, yang berupa dua bangunan yang masih terawat yakni Kerta Gosa dan Taman Gili. Pada kedua bangunan ini pula kita dapat menyaksikan bukti sejarah karya adiluhung para seniman lukis tradisional wayang Kamasan. Lukisan-lukisan tersebut bercerita tentang perjalanan Bhima ke Swarga Loka, Diah Tantri, Sang Garuda mencari Amerta dan Palelindon. Guratannya terlihat pada bagian langit Kerta Gosa, dan masih di rawat sampai saat ini. Bicara keberadaan Kampung Seni secara umum, IB Danendra mengatakan masyarakat, khususnya para pengrajin telah diberikan pelatihan oleh BNI. Ada juga kesempatan pameran dan bantuan urusan permodal­ an. Jelas ada perubahannya dan itu terasa meski diakuinya masih perlahan, sebab belum semua mendapat bantuan, masih perlu dkembangkan pemerataannya. Lebih lanjut dikatakannya , PKK dengan Dasa Wisma desa setempat tak ketinggalan juga mendongkrak masyarakatnya secara umum untuk memilik kemauan untuk maju. Apalagi di kawasan Kamasan senimannya bukan hanya seni lukis saja tapi juga ada kerajinan uang kepeng, selongsong peluru, serta perak. Diluar kerajinan, IB Danendra masih berharap akan ada yang membantu menata pasar tradisonalnya. Agar keberadaanya untuk masyarakat bisa lebih lama. Sementara ini kegiatan hanya berjalan sejak pukul 5.30 s.d pukul 8 saja. – Sri Ardhini/Inten Indrawati

Eka Wedasmara dengan latar belakang lukisan khas Kamasan

teel Bone Rigid terbentuk 1 November 2010. Nama band berisi kata bone alias tulang karena mereka banyak mempelajari tulang di bangku kuliah. Band ini berawal dari keinginan untuk tampil di Pekan Olahraga dan Seni Hippocrates (Porsehip) tahun 2010. Mereka terdiri dari I Dewa Gede Alit Kamayoga (vocal), Wahyu Palguna (lead guitar), I Gede Mediastama (rhythm guitar), Dwi Halim Kevin Gautama (bass), dan Dwi Putra Negara (drum). Dari ajang Porsehip ini mereka eksis hingga ini. Mereka pun sering tampil di Mangsi Coffee bersama band-band lain. “Salah satu yang membuat kami eksis adalah kami satu jurusan, satu angkatan, dan satu kelas. Jadi mudah untuk komunikasi. Mau latihan juga gampang. Kekompakan juga menjadi modal kami sehingga bisa bertahan,” ujar Kevin. Ia menambahkan band ini awalnya beraliran classic rock namun beralih ke rock n roll. Idola mereka dalam bermusik adalah musisi papan atas seperti AC/DC, Led Zeppelin, Pink Floyd, Jimi Hendrix & The Experience, The Doors, dan banyak lagi. Sebagai band dengan aliran rock n roll, mereka mendapat apresiasi dari musisi lain. “Sekarang kan jarang ada anak muda yang main di aliran rock n roll. Kami pun disambut dengan ha­n gat oleh musisi lain. Melalui musik kami memiliki banyak teman,” ujar Wahyu yang meng­aku hobi utamanya memancing, sedang­ kan main musik karena ikut-ikutan temannya. “Ngeband membuat pergaulan kami tambah luas, kami menjadi makin dewasa tetapi tetap low profile. Melalui musik kami bisa menyalurkan aspirasi dan ekspresi serta menghibur orang. Bahkan bermusik bisa membuat orangtua bangga,” imbuh Dewa Alit. Para personil Steel Bone Rigid memang memprioritaskan pendidikan mere­ ka. Ini merupakan hal yang bisa membanggakan orangtua karena mereka bisa menempatkan mana yang harus diprioritaskan. Kelima

anak muda ini mengaku akan terus bertahan walaupun sudah tamat kuliah. Putra yang juga anggota Bali Extreme Drummer menambahkan ngeband membuatnya ba­nyak kenal dengan musisi. “Banyak musisi berarti banyak yang diajak sharing dan ba­nyak tempat belajar. Skill pun jadi nambah,” ujar pria asal BB Agung, Negara ini. Hal yang sama diungkapkan Dede, sapaan akrab Gede Mediastama. “Lebih banyak sukanya kalau ngeband, dukanya tidak ada,” ujar penghobi game online ini. Sebagai band yang sudah sering pentas, mereka kerap diundang ke acara ulang tahun, pentas seni di sekolah, sampai ­acara peluncuran album. “Di awal terbentuk, kami pernah punya pengalaman yang selalu teringat sampai sekarang. Kami diundang tampil di sebuah acara otomotif. Karena acaranya molor, jadwal kami pun ikut molor. Kami diberi waktu tampil setelah acara puncak. Begitu acara puncak selesai, penonton bubar, tinggal panitia yang bersih-bersih. Kami pun tampil di hadapan panitia yang bersih-bersih. Maunya tidak usah tampil tetapi kami pro­fesional karena sudah diundang,” kenang Kevin. Pengalaman itu membuat Steel Bone Rigid makin dewasa. Mereka pun banyak belajar dari kehidupan termasuk dalam urusan mencari ide lagu. Ada saja hal-hal yang mereka lihat lalu dibahas untuk menjadi lagu. “Targetnya awal tahun 2014 kami meluncurkan mini album yang berisi 8 lagu kami dan 1 cover version. Tetapi, baru lima lagu yang sudah siap,” ujar Putra. Lima lagu ini adalah “Dibelai”, “Show Me What You’ve Got”, “Pussy Like Cheese”, “Good”, dan “Red”. Dibelai satunya-satunya lagu berbahasa Indonesia yang mengisahkan kehidupan manusia yang rawan godaan. “Lirik lagunya sangat dalam kare­na itu bisa multitafsir. Intinya adalah bagaimana kita membawa diri dalam kehidup­a n ini,” jelas Dewa Alit. Lagu Show Me What You’ve Got merupakan sindiran bagi orang yang suka NATO (No ­A ction Talk

DARA

9

Ingin Tampil di “Dahsyat”

Only). Lagu Pussy Like Cheese bertemakan wanita de­ngan lirik-lirik nakal ala Steel Bone Rigid. Lagu Red pun menceritakan tentang wanita cantik berpayung merah di tengah hujan. “Kalau lagu Good me­ngandung makna apapun yang kita punya bagus atau bisa juga diartikan apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja,” kata

Dewa Alit yang hobi membaca jurnal untuk menambah pengetahuan ini. Selain minialbum yang masih tertunda, mereka punya obsesi untuk go nasional. “Kami ingin tampil di Dahsyat,” tegas Wahyu. Temantemannya pun kompak mengatakan Steel Bone Rigid harus punya impian untuk go nasional.

Catatan prestasi band rock n roll ini lumayan banyak, di antaranya Follower Choice 4 Bosche tahun 2013, juara 1 Talent Search Dynamite 2013, dan Juara 1 Eksada 2013. Lagu Dibelai pun sempat masuk chart no 1 di radio Cassanova FM. –Ngurah Budi/Inten Indrawati


BUNDA & ANANDA

8

27 JANUARI - 2 Februari 2014

Menyapih tanpa Mengabaikan Minggu lalu, Anissa terus menangis. Dalam sehari lebih dari 10 kali balita berusia tiga tahun ini menangis. Ibunya sudah tahu penyebab tangisan Anissa. “Dia menangis karena saya sapih. Saya ingin dia belajar minum susu botol,” ungkap ibunya.

dr. Ni Made Sumiartini

M

enyapih Anis­ sa membuat ibunya sempat ragu, apakah disapih atau tidak. Jika dibiarkan terus minum ASI, ia khawatir, Anissa akan sulit dilepaskan jika suatu saat ibunya harus bertu­ gas ke luar kota. Dari beberapa usul dan saran temannya, ia mengoleskan lipstik di pu­ ting payudara. Ternyata Anissa merasa ada yang aneh dengan rasa puting ibunya. Itulah yang membuatnya menangis karena tak bisa minum ASI. Pengalaman Bu Adit lain lagi. Ketika ia menyapih Adit karena Adit akan punya adik, puting payudara diberi daun sirih. Daun yang rasanya pahit ini membuat Adit tak mau lagi minum ASI. “Saya sebenarnya tidak tega, tetapi dalam kondisi hamil, susah untuk memberikan dia ASI. Akhirnya saya pilih un­ tuk menyapih Adit,” ujarnya. Menyapih merupakan suatu proses berhentinya masa me­ nyusui yang dapat dilakukan secara bertahap atau seketika. Proses menyapih dapat di­ sebabkan oleh berhentinya sang anak menyusu pada ibunya atau bisa juga sang ibu yang berhenti menyusui anaknya, atau bisa juga keduanya. Masa menyapih ini merupa­ kan pengalaman emosional bagi sang ibu, anak juga sang ayah. Ketiga pihak tersebut merupa­ kan ikatan kesatuan yang tidak dapat dilepaskan. Kenapa ayah juga terlibat? Karena ayah juga berperan dan memberikan pe­ ngaruh tersendiri dalam proses menyusui. “ W H O d a n I DA I h a n y a mengeluarkan kebijakan un­ tuk memberikan ASI eks­klusif

selama 6 bulan pertama ke­ mudian dianjurkan untuk tetap diberikan berdampingan de­ ngan makanan padat sampai usia 2 tahun atau lebih. Tidak ada aturan baku kapan anak harus disapih. Banyak orang­ tua menyapih anaknya pada usia 1-2 tahun bahkan 4 tahun. Semua tergantung situasi dan kondisi masing-masing,” ujar dr. Ni Made Sumiartini, Sp.A. Banyak masyarakat berang­ gapan jika anak terus disusui nantinya susah disapih dan anak sulit mandiri. Menurut dr. Sumi, tak ada hubungan antara anak disapih dengan kemandirian anak. “Idealnya, penyapihan di­ lakukan jika anak sudah mampu untuk mengonsumsi makanan pendamping ASI,” ujar dokter anak yang praktik di RSAD Denpasar, RSIA Puri Bunda, dan Apotek Pandu Medika ini. Ia menambahkan, proses pe­ nyapihan bisa dilakukan secara bertahap ataupun mendadak/ seketika. Proses penyapihan seketika umumnya dilakukan dalam keadaan terpaksa, mi­ salnya ibu mendadak jatuh sakit atau harus pergi jauh sehingga tidak memungkinkan untuk menyusui anak. Sedangkan pe­n yapihan bertahap dibagi menjadi dua, natural weaning/ penyapihan alami (tidak me­ maksa dan mengikuti tahapan perkembangan anak) dan mo­ ther led weaning (ibu yang me­ nentukan kapan saat menyapih anaknya). Pada awal proses penyapih­ an, anak biasanya rewel dan gelisah. Dengan penyapihan alami, semua itu bisa dihindari mengingat saat memasuki usia batita sebetulnya ketergan­ tungan anak pada ASI sudah semakin berkurang. Dalam mother led weaning yang dibu­ tuhkan adalah kesiapan mental ibu juga dukungan dari ling­ kungan, terutama ayah (suami) sebagai sosok yang dapat memberikan kenyamanan selain ibu dengan cara mengajak anak bermain. Bila sudah mantap un­ tuk menyapih, laku­ kanlah penyapihan dengan sabar dan tidak terburu-buru karena sikap ibu dalam menyapih berpengaruh pada kesiapan si balita. “Ada kesan penyapihan

27 JANUARI - 2 Februari 2014

G R I YA

Pertegas Taman dengan Tanaman Border

17

Kehadiran sebuah taman dalam sebuah rumah atau bangunan lain memiliki makna yang lebih. Selain memberikan kesejuk­ an dan sebagai penyerap polutan, taman memberikan sentuhan estetika. Bahkan, ada beberapa masyarakat yang memiliki la­ han luas sengaja mengkomposisikan taman lebih luas daripada bangunannya.

P

akan membuat anak kehilangan kenyamanan. Minum ASI bu­ kan satu-satunya upaya untuk mendapatkan kenyamanan. Ada cara lain yang bisa membuat anak nyaman, misalnya meme­ luk anak untuk memberikan kehangatan. Menyapih tanpa mengabaikan kenyamanan anak tetap bisa dilakukan,” ujar is­ tri dr. Made Tangkas, SpOG., MPH ini. Dokter Sumi menambahkan, pemberian obat-obatan atau ramuan di puting payudara ibu sebagai upaya penyapihan bisa membahayakan. Selain sang ibu, anak juga bisa menjadi korban, misalnya, anak menelan obatobatan tersebut sehingga terjadi keracunan pada anak. Hal ini juga bisa m e ­

Empeng

nyebabkan anak trauma dan mengalami tekanan psikis. Ibu empat anak ini menyarankan agar saat menyapih jangan meng­ gunakan obat atau ramuan demi keamanan anak. Jangan Beralih ke Dot Dari beberapa referensi menyebutkan, persiapan penya­ pihan mulai dilakukan jika suplai ASI akan berkurang secara bertahap seiring dengan berkurangnya bayi mengisap payudara. Bayi sudah bisa mi­ num susu melalui sebuah cang­ kir atau botol. Jangan menawar­ kan menyusui bila melihat bayi Anda mulai meminta menyusui atau kurangi porsinya satu kali setiap beberapa hari atau satu porsi tiap minggunya, semua tergantung pada kenyamanan ibu, dan kesediaan bayi untuk bekerja sama. Jika harus melakukan pe­ nyapihan mendadak, ibu harus berkomunikasi dengan anaknya. Bicarakan situasi yang ter­ jadi pada anak.Seberapa kecil usia anak Anda, anak tetap mengerti dan memiliki kemam­ puan untuk mengerti kata-kata dari orang di lingkungannya. Tunggu­ lah anak sampai merasa haus atau lapar, karena biasanya pada saat itu anak dapat mene­ rima minuman se­ lain ASI. Alihkan perhatiannya pada mainan yang ia suka sambil memberikan makanan/minuman lain

sehingga anak tidak mencaricari ASI. Coba berikan susu formula yang memiliki rasa mendekati ASI. Anak usia di atas satu tahun dapat diberikan susu UHT. “Sapih anak dalam keadaan sehat. Hindari saat anak sedang sakit, marah arau sedih, karena akan membuat anak tertekan dan tidak bahagia. Penyapihan dapat berjalan lancar bila ada dukung­ an positif dari suami. Misalnya, di malam hari, bayi anak ingin minum susu, ayahlah yang harus bangun untuk membuatkan susu. Ini artinya peran lingkungan juga sangat besar jika ingin proses penyapihan berjalan lancar,” ujar dokter asal Klungkung tetapi lahir dan besar di Singaraja ini. Dokter Sumi juga mengingat­ kan para orangtua, jangan me­ nyapih anak dengan mengalih­ kannya ke benda lain seperti em­ peng (dot) atau botol susu. Meski tidak ada larangan khusus, dot berpeluang besar membuat anak jadi “malas makan”. Empeng juga berisiko membuat anak memiliki ikatan emosional yang kuat pada benda tersebut, sehingga kelak akan sulit mengubah kebiasaan mengempengnya. Selain itu ben­ tuk anatomi gigi akan berubah menjadi maju/tonggos. “Kalau di negara Barat yang sangat mem­ perhatikan kesehatan lingkungan, empeng memang sering dipakai. Mereka punya tempat penyim­ panan khusus empeng. Kalau di Indonesia umumnya, orang sembarangan menempatkan empeng. Ini akan mempermudah penularan penyakit,” tegasnya. –Ngurah Budi/Wirati Astiti

engelompokan ta­ nam­an dilihat dari fungsi tanaman da­ lam pembentuk dan pengisi ruang meliputi, tanaman penutup lantai (ground cover), tanaman pembentuk dinding, pembatas dan pengarah, tanaman pengatap atau peneduh, tanaman sebagai ornamen/penghias atau pengisi ruangan. Namun, kali ini kita akan membahas tanaman border atau biasa juga disebut ta­n aman list, pinggiran atau tanam­an pembatas. Sesuai de­ ngan namanya, tanaman border memiliki fungsi untuk memper­ tegas bentuk taman. Menurut pemilik Stan Bunga Puputan Garden, Ahmad, pada prinsipnya semua tanaman bisa dipakai tanaman border. Hanya saja harus disesuaikan dengan bentuk taman yang dibuat. Tanaman border biasanya lebih

rendah dari tanaman lainnya dan diposisikan paling pinggir. “Jika diibaratkan dalam kertas ia berfungsi sebagai garis ping­ gir. Atau sebagai pigura lukisan atau foto. Jadi, bentuk yang ingin ditampilkan lebih jelas terlihat,” ujar Ahmad. Tanaman border termasuk dalam klasifikasi tanaman pem­ bentuk dinding rendah yang tanamannya setinggi mata kaki sampai setinggi lutut, seperti tanaman semak yang masih pendek/rendah. Bahkan, agar terlihat lebih cantik ukuran­ nya seringkali diminimkan alias dibuat lebih kecil dari ukuran yang sebenarnya. Tanaman semak adalah tanam­ an yang percabangannya langsung menyebar dari mulai permukaan media tanaman. Tinggi tanaman semak rendah antara 0,5 meter sampai 1 meter. Tanaman ini akan

lebih efektif pemanfaatannya jika ditanam secara berkelompok atau merumpun. Perawakannya yang bunglon banyak dipakai sebagai tanamn transisi antara pohon dan groundcover, penye­ marak taman dan tanaman pem­ batas. Bunga dan daunnya pun dinilai sangat indah dan seringkali disajikan dalam taman atau ruang sebagai hiasan. TANAMAN BORDER Tanaman border ini membu­ tuhkan pemangkasan atau penya­ pihan secara rutin, karena jenis tanaman ini perkembangbiakan­ nya cukup cepat. Pemangkasan, pembentukan, dan penyapihan rutin akan menjadikan tajuknya cantik dan rimbun. Tanaman ber­ bunga juga dimungkinkan dipakai sebagai tanaman border. Dengan bunga-bunga yang bermekaran akan menambah kecantikan ta­ man. Menurut Ahmad, pemilihan tanaman border disesuaikan dengan jenis tanaman yang me­ nyertainya. Jika tanaman border itu mengelilingi atau membatasi tanaman-tanaman ber­u kuran

besar seperti tanam­a n peneduh, pilihlah tanaman border yang ukur­ annya agak besar, seperti spyder lily atau sering juga disebut lili siam/lili paris. Sebaliknya, jika tanaman bor­ der itu difungsikan untuk membatasi taman yang pohon­pohonnya lebih ke­ cil, seperti puringpuringan atau ta­ naman hias lainnya, sebaiknya memilih tanaman border yang ber­ukuran ke­ cil, se­p erti tanam­ Ahmad sedang menyepih tanaman pandan sirih an taiwan bea­u ty, tanaman pandan sirihnya itu. kerasi, dan kembang siang. Tanaman-tanaman itu di tanam Harga tanaman border ini pun di media sekam yang berisikan ku­ relatif murah. Seperti tanaman pandan sirih dijual hanya Rp 2.000 lit padi, tanah dan pupuk kandang. per kantung polibag. Perawatan­ Media sekam ini dikatakannya nya pun mudah, cukup disiram lebih bagus daripada media tanah, dengan air 1-2 kali sehari. “Dalam karena selain ringan, akarnya ce­ sebulan saja, tanaman ini sudah pat berkembang. “Karena media banyak bertumbuh,” ujar Ahmad sekam tak sekeras tanah,” imbuh­ yang sedari tadi sibuk menyapih nya. –Inten Indrawati /Wirati Astiti


D AYA C I P TA

18

Mainan dari Barang Bekas Anda memiliki barang bekas? Jangan langsung dibuang begitu saja. Pilah dan pilih siapa tahu ada yang masih bisa di­ manfaatkan untuk membuat mainan. Kuncinya, adalah kreatif dalam meng­ kreasikan barang tersebut. Hasilnya, bisa mengurangi sampah dan membuat ­mainan bermanfaat.

K

onsep daur ulang b a ra n g b e k a s sering kita de­ ngar. Banyak juga yang melakukan daur ulang secara mandiri. Bagi anak-anak, barang bekas bisa dijadikan mainan. Daripada menumpuk tak berguna, lebih baik dikreas­ ikan agar bermanfaat. Kak Ade dari Davincio pun se­ring mengajarkan anak didiknya untuk berkreasi dengan barang bekas. “Mengajak anak untuk mem­ buat mainan dari barang bekas menjadikan mereka secara tidak langsung peduli lingkun­ gan. Mereka tidak akan sem­ barangan membuang sampah. Barang yang masih bisa dipakai bisa diolah menjadi mainan. Nanti mainannya bisa dipakai sendiri atau dipakai bersama teman-temannya,” ujar pria ber­ nama lengkap Ade Santoso ini. Tiap Jumat di sekolah ­D avincio, anak-anak diajak untuk membuat mainan dari barang bekas yang tidak ter­ pakai. Masing-masing anak membawa bahan yang ditu­ gaskan. Di sekolah yang ber­ lokasi di Jalan Sedap Malam, Denpasar ini, mereka lalu mer­ akit mainan tersebut. Hasilnya memang tidak sempurna tetapi

apapun kreasi anak-anak sudah menunjuk­kan mereka tertarik untuk berkreasi. Saat Tokoh mewawancarai Kak Ade, anak-anak itu baru saja menyelesaikan pembuatan mobil-mobilan dari botol bekas minuman. Hasilnya langsung mereka jadikan teman bermain di saat istirahat. “Kami me­ nyesuaikan dengan tema dari Dinas Pendidikan, misalnya tema rekreasi, sub tema ken­

Kak Ade

daraan. Kami ajak anak-anak membuat kendaraan. Bahan dari barang bekas dan mudah didapat,” tandasnya. Bahan yang harus disiap­ kan antara lain botol bekas minuman, lidi/tusuk sate, lem, rubber/karton, tali, tutup botol, dan kertas hias. Kebanyakan

Hasil kreasi dari barang bekas

anak-anak menggunakan botol plastik bekas susu atau yoghurt. Setelah isinya diminum, botol­ nya dibersihkan lalu dijadikan bahan mainan. Untuk tutup botol diperlukan 4 biji dan yang digunakan adalah tutup botol

Bahan-bahan untuk membuat mobil-mobilan

air mineral. Keempat tutup botol ini menjadi roda. Cara membuatnya, pertama lidi/tusuk sate dipotong se­ ukuran jari tangan. Buat dua potongan yang sama. Keduanya lalu ditempel di botol. Bisa menggunakan rubber atau bisa ditempel di karton terlebih da­ hulu lalu dilem di botol. Lidi/ tusuk sate ini menjadi garden

tempat menempelnya roda. Kedua, pasang tutup botol di ujung-ujung lidi/tusuk sate. Anak-anak bisa meminta ban­ tuan orang dewasa untuk me­ lubangi tutup botol itu. Ketiga, sembari menunggu lem merekat kuat, botol bisa dihias dengan potongan kertas warna-warni sesuka hati. Keem­ pat, pasang tali untuk menarik mobil-mobilan itu. “Cara mem­ buatnya mudah,” ujar Ketut Raditya Pratama, salah satu anak didik Kak Ade. Walaupun tangannya belepotan lem, ia semangat mengerjakan mainan kreasi dari barang bekas itu. Hal yang sama juga ditunjuk­ kan Kevin, Laura, dan Renza. Mereka bahkan memamerkan hasil karyanya berupa mobil balap dari botol bekas. Selain mobil balap, anakanak juga ada yang membuat roket. Caranya hampir sama dengan membuat mobil balap namun diberi aksesoris dari pipet serta kertas rumbairumbai. “Mengajak anak berkreasi dengan barang bekas sekalian mengajarkan mereka untuk mengenal bank sampah. Be­ danya, kami tidak membayar dengan uang tetapi dengan had­ iah berupa buku, pensil, bah­ kan ada yang minta dibuatkan gambar, lalu mereka mewarnai gambar itu,” ujar Kak Ade. Bagi orangtua, berkreasi dengan barang bekas bisa di­ lakukan di rumah. Bahan-bahan seperti koran be­ kas bisa dijadikan tempat pulpen. Plastik-plastik yang antiair bisa dijahit lalu dibuat menjadi tas atau dompet. Jadi, ka­ lau mau kreatif, apapun bisa di­ jadikan barang bermanfaat. Se­ lamat mencoba. –Ngurah Budi/Wirati Astiti

Ketut Raditya sedang mengerjakan mobil-mobilan

27 januari - 2 Februari 2014

27 januari - 2 Februari 2014

Hasil karya anak-anak Davincio

l i f e s to ry

Tak Ada Kertas, Tanah pun Jadi

7

Hidup terkungkung dalam kebodohan, bukanlah hal yang me­ngenakkan. Selain tidak dihargai orang, ruang gerak juga ter­batas bahkan kerapkali kena tipu. Tidak bisa baca dan tulis alias buta huruf adalah salah satu faktor utama kebodohan itu. Untuk bisa keluar dari situasi itu, tidak semua orang bisa melakukannya. Namun, bagi mereka yang memiliki tekad yang kuat dengan se­mangat juang yang tinggi, keluar dari kebodohan bukanlah hal yang mustahil. Salah satunya Jumilah, perempuan dusun yang me­retas kebahagiaan­nya dengan berbagi ilmu kepada se­ sama. Hebatnya, ilmu yang dibaginya itu adalah ilmu baca tulis yang setelah dewasa baru bisa ia lakukan.

D

engan penuh semangat, Jumilah yang mengaku telah bertekad meningkatkan derajat pendidikan bagi anak-anak di Dusun Duduk Bawah, Desa Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, tempatnya tinggal. Ia tidak ingin anak-anak di dusun tersebut mengalami nasib yang sama dengannya. Ia ingat satu pengalaman yang tidak mengenakkan akibat ia merasa “bodoh”. Suatu ketika, ceritanya, ia didatangi seorang laki-laki yang menawarkan sebuah arloji untuk ditukar dengan seekor sapi. Kare­ na ketakutan yang tanpa sebab, dia akhirnya menangis dan berlari mencari ayahnya untuk menceritakan hal tersebut. Ketika Jumilah dan sang ayah kembali ke lokasi penggembalaan tersebut, lelaki tadi sudah tak ada dan membawa sapinya. “Saya merasakan hal itu sebagai nasib orang bodoh yang tidak bersekolah, selalu jadi sasaran dibodohi orang-orang pintar,” ujar Jumilah. Jumilah adalah sosok perempuan pekerja keras dengan kemauan yang keras pula. Sejak kecil ia buta huruf

karena sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan. Jumilah hidup dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, yang memandang­ nya sebagai perempuan biasa yang tidak diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki, termasuk kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Jumilah sendiri, waktu itu, belum memiliki keberanian dan kemampuan untuk keluar dari paragdigma tersebut. Namun, titik balik dalam kehidupannya terjadi di tahun 2003 kala itu ia sedang bekerja sebagai pekerja rumah tanggaketika sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Mataram masuk ke dusunnya dengan membentuk Kelompok yang diberi nama Kahuripan dengan aktivitas antara lain memberdayakan perempuan di bidang ekonomi produktif, pendidikan, dan pelestarian lingkungan hidup. Dalam kelompok usaha tersebut, dia menjadi kepala divisi usaha. Untuk itulah Jumilah harus berurusan dengan angka dan catat mencatat. Karena ia baru saja bisa baca dan tulis, soal catat mencatat setoran ini, seringkali membuat bingung kelompok yang juga beranggotakan

pedagang bakulan ini. Dari sinilah, di tahun 2004, semangatnya mulai tampak untuk terus belajar menulis, diantaranya dengan berguru kepada anak kandungnya yang waktu itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar. “Ketika belajar membaca dari anak saya, ia suka marah kalau saya sering salah mengeja dan dianggap rewel karena saya suka tanya-tanya terus,” katanya polos. Kemauannya yang keras untuk belajar, memacu semangat­nya untuk tahu banyak hal. Saking inginnya bisa membaca dan menulis ia pun punya nazar (niat) mulia, mengabdi dengan mengajar. “Waktu itu, saya berjanji, jika nanti bisa lancar membaca dan menulis, saya ­ingin mengabdi bagi masyarakat,” ungkap­nya. Mulainya ia dapat membaca dan menulis mendorong ia terus aktif dalam kelompok yang dibuat itu. Jumilah akhirnya lancar baca tulis dan mampu membangun rasa percaya dirinya untuk juga mulai bicara dan menyumbangkan usulan-usul­ an sederhana yang datang dari pikiran sederhananya berdasarkan kenyataan hidup yang ada di sekitarnya. Konsistensi dan komitmennya yang kian hari terus Jumilah bersama anak didiknya

bertambah untuk berubah dan meningkat­kan kapasitas dan kemampuan diri, mendorong Jumilah mengajak beberapa temannya untuk membentuk kelompok belajar di dusunnya. Keinginan ini berangkat dari persoalan yang dilihatnya pada lingkungan sekitar, bahwa anak-anak di dusunnya yang tidak berkesempatan belajar di sekolah

karena berbagai faktor alasan, remaja bahkan orang dewasa yang tidak bisa baca tulis membuat ia prihatin. “Masak sih sampai akhir hayatnya mereka tidak bisa baca dan tulis,” ungkapnya suatu sore saat ditemui di aula sederhana tempat mereka belajar yang merupakan sumbangan dari Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi. Realitas hidup dan pengalaman pribadi yang dia hadapi selama ini, membuat Jumilah bersungguhsungguh melaksanakan proses pembelajaran untuk membuat anak-anak yang kurang ber­untung itu setidaknya bisa membaca dan menulis. Ia ingin melakukan perubah­a n bagi masyarakat di dusunnya. Ia prihatin, karena sampai di tahun 2004, anak-anak di dusunnya rata-rata hanya tamat SD. Perubahan itu ia mulai dari dirinya sendiri. Jumilah putus pendidikan

formal­nya hanya hingga kelas dua SD pada saat ia belum bisa baca dan tulis, gara-gara bapaknya tidak mampu menyumbang kepada sekolah untuk mendirikan tembok pembatas sekolah. Ia diminta keluar dari sekolah tersebut. Kini ia mengajarkan anak didiknya dengan sistem pembelajaran tak seperti sekolah formal, yakni siswa duduk di kursi, memperhatikan guru menyampaikan materi pelajaran di depan kelas. Di Sekolah Jumilah, siswa dibebaskan berkreasi untuk meman­c ing kreativitasnya. Menulis dan membaca tidak hanya dilakukan di atas kertas memakai pensil atau bolpoin, melainkan juga memakai alat dan media apa saja yang ada di sekitarnya. “Bahkan menulis dan menggambar di tanah menggunakan kerikil dan ranting kayu, kami lakukan,” ujarnya. Berkat semangat dan kerja keras serta keikhlasannya mendidik anak-anak di dusunnya, Jumilah kerap diundang menjadi nara­ sumber untuk berbagai kegiatan yang inspiratif bahkan hingga tingkat nasional. Ia pernah menjadi narasumber radio swasta terkemuka di Jakarta, ia juga menjadi pada forum Temu Bintang Nasional, di Makassar dan pada ajang Bersinarlah Wanitawanita Indonesia di Jakarta. Serta beberapa forum lainnya. “Tiap kali pulang dari perjalanan di forumforum tersebut, ia selalu membawa oleh-oleh buku dan pensil, bolpoin serta pensil warna dan buku gambar untuk anak didiknya di Sekolah Jumilah. “Saya tidak malu untuk minta kawan-kawan lain di forum itu untuk mengirim oleh-oleh buku dan pensil bagi anak-anak di sini,” ungkapnya. -Naniek I. Taufan/Ngurah Budi


6

l i f e s to ry

27 januari - 2 Februari 2014

Cinta Bersemi di Indekos

S

BELAJAR KE BANDUNG Kondisi serupa dialami juga

oleh Putu Rediasa (41). Pria asal Seririt, Buleleng ini lebih beruntung. Ia masih bisa melihat indahnya dunia hingga usia 4 tahun. Setelahnya itu, dunianya gelap. Penyebabnya sama dengan Srinadi, ia sempat mengalami panas tinggi hingga step yang mengakibatkan kebutaan. Rediasa menjadi penghuni Yayasan Panti Guna Dria Raba Denpasar dan menempuh pendidikan dasarnya di SLB A Denpasar. Ia yang tergabung dalam Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) DPC Denpasar sempat melanjutkan sekolahnya hingga ke Bandung. Di komunitas mereka, sekolah tunanetra yang konon tertua di Indonesia itu menjadi incaran para penyandang tunanetra ini untuk mengejar ilmu baru. “Tiap ada ilmu baru tentang pijatmemijat, seperti shiatsu, sekolah ini menjadi prioritas. Setelah itu baru diteruskan ke sekolah tunanetra lainnya di Indonesia,” ungkap Rediasa. Meski dengan keterbatasannya yang total tak bisa melihat, itu tak menjadikannya halangan untuk pergi ke Bandung. “Awalnya saja saya diantar oleh pihak Mitra Bhakti Pertuni yang menggandeng Bank Dagang Bali sebagai donatur.

Setelah itu, saya bergaul dan mencari teman disana yang bisa memberitahukan saya seluk-beluk kehidupan di Bandung,” tuturnya. Syukurnya, dengan kebutaannya ini ia mengaku tak pernah sampai diperlakukan jahat oleh orang lain. “Yang penting penampilan kita jangan sampai mencolok/mengundang perhatian. Jika memegang uang, jangan sampai terlihat,” imbuhnya. KETEMU JODOH Jika sudah jodoh tak akan lari gunung dikejar. Ungkapan ini sangat tepat untuk pasutri tunanetra ini. Meski keduanya pernah sekolah di SLB A Denpasar, me­ reka tak pernah bertemu di sana, mungkin karena berbeda angkatan. Srinadi dan Rediasa justru bertemu di tempat indekos sekitar tahun 2000. Ternyata mereka berada pada satu tempat indekos di daerah Panjer, Denpasar, tak seberapa jauh jaraknya dari SLB A Denpasar. Singkat cerita, kisah kasih terajut di antara keduanya. Namun sayang, keluarga Srinadi tak merestui hubungan mereka. Alasannya, karena Rediasa berasal dari Buleleng yang dianggap berkarakter kasar. Srinadi pun lantas dipindahkan, kembali ke

Sejak kecil Rizky dilatih untuk bisa menuntun orangtuanya

S U D U T PA N D A N G

19

Perilaku Seks Masa Kini, Normalkah?

“Saya benci orangtua saya, kenapa dulu saya tidak dibiarkan mati saja, daripada jadi orang tak berguna”. Kalimat tersebut sempat terlintas dalam benak Kadek Srinadi 32 tahun lalu, saat ia masih berumur 5 tahun. Saat itu ia baru bisa mengingat apa yang terjadi pada dirinya.

ejak usia dua bulan, orangtuanya ber­ pisah. Srinadi diasuh sang nenek yang saat itu masih sibuk bekerja. Saat ditinggal kerja, Srinadi diasuh anak-anak neneknya yang saat itu masih kecil-kecil. Sejak si bayi Srinadi ditinggal ibunya, ia terus menangis. Kondisi ini membuat Srinadi mengalami panas tinggi yang berujung step. Sejak itu penglihatannya mulai terganggu. Waktu itu sang nenek tak begitu mengenal pengobatan medis, yang ia tahu jika sakit berobat ke balian dengan sistem pengobatan tradisional. Srinadi kecil pun diajak berobat ke balian. Matanya yang sakit ditetesi minyak. “Saya baru bisa merekam semua kejadian itu saat berumur 5 tahun. Kata nenek, sejak itu penglihatan saya mulai kabur,” kisahnya. Ketika hendak memasuki sekolah dasar di daerah asalnya di Tabanan, Srinadi sempat minder dengan ketaksempurnaannya. Mata kanannya atrofi (bola mata mengecil), dan mata kiri kabur. Namun, saat melihat teman-teman sekolahnya yang senasib dengan dirinya mampu, Srinadi kecil pun bersemangat untuk sekolah. Jenjang pendidikan SD dilanjut­ kannya di SLB A Denpasar. Ia mengaku usianya agak terlambat masuk sekolah. Di usianya yang ke 13 tahun, Srinadi baru duduk di kelas 5 SD. Di sela-sela ke­ sibukannya sebagai siswa, terbersit keinginannya untuk berjumpa sang ibu yang belum pernah ia kenali. Ibu kandungnya sudah menikah lagi dan menetap di Singaraja. Informasi ini ia dapatkan dari kakaknya yang memiliki teman di Singaraja. “Kakak tidak mau mengajak saya ketemu ibu. Akhirnya saya nekat pergi sendiri dari Denpasar ke Singaraja. Saya ketemu juga dengan ibu. Ibu saya menangis. Saya menginap dua hari disana,” tuturnya. Sejatinya mata kirinya itu sudah pernah dioperasi saat dia berumur 19 tahun. Kata dokter seperti yang dikutip Srinadi, saraf mata kirinya lemah, ada katarak di belakang retina, kornea matanya diganti. Namun, operasi tersebut tak memberikan perubahan. Matanya tetap tidak bisa melihat dengan jelas. “Pascaoperasi penglihatan dapat terang sebentar, sete­lah itu kabur lagi karena ba­nyak menonton televisi,” ujarnya.

27 januari - 2 Februari 2014

Pasutri Rediasa-Srinadi

Tabanan. Namun, itu tak memutuskan hubungannya dengan Rediasa. Komunikasi tetap terjalin lewat telepon seluler. Sesekali, mereka bisa bertemu walaupun hanya sebentar, ketika ada rapat Pertuni di Denpasar yang tak pernah dilewatkan Srinadi. Tahun 2005, keduanya memantapkan diri untuk menikah. Srinadi diminta Rediasa datang ke rumah tuanya di Buleleng. Dengan menumpangi bus dari Ubung, Denpasar, Srinadi berangkat seorang diri ke Seririt menuju rumah Rediasa. Keluarga Rediasa yang menyetujui rencana pernikahan mereka berencana hendak melarikan Srinadi, atau di Bali diistilahkan kawin lari. Setelah berembug de­ ngan keluarga besar Rediasa, pihak aparat yang turut dilibatkan itu menghubungi keluarga Srinadi dan menyampaikan rencana pernikahan Rediasa-Srinadi. Keluarga Srinadi meminta Srinadi pulang dulu ke rumah dan berbicara baik-baik dengan keluarga. Keluarga Srinadi pun berembug secara adat, dan Srinadi diingatkan akan keputusannya menikahi Rediasa bahwa segala akibatnya nanti ditanggung sendiri, dan jangan kembali pulang. Srinadi menyanggupinya. Rencana kawin lari itu pun batal. Karena Rediasa diharuskan menjemput calon istri­ nya ke Tabanan, untuk dinikahi. Keduanya pun akhirnya menikah. INGIN ANAK MANDIRI Kini, pasutri Rediasa-Srinadi yang sudah dikaruniai dua anak laki-laki menetap di Denpasar dengan menyewa dua buah kamar kecil di bilangan Panjer, Denpasar. Satu kamar untuk tempat tidur mereka berempat dengan ekstra bed, satu kamar lagi difungsikan untuk kamar pijat. Rediasa menopang kebutuhan keluarganya dengan profesinya sebagai tukang pijat. Terkadang ada pasien yang datang ke tempat mereka, bisa juga menerima panggilan. Ratarata ia bisa mengambil pasien tiga orang perhari. Sementara, Srinadi yang dulu juga sempat memijat khusus perempuan, kini hanya fokus sebagai ibu rumah tangga dan mengurus kedua anaknya. Dengan penglihatan yang

kabur, dengan jarak panjang yang jelas hingga 5 meter saja, tak menyurutkan niat Srinadi untuk berbelanja ke pasar ke warung atau mini market sesuai permintaan anaknya, Putu Rizky Sukmayasa dan Made Indra Sastra Winata. Rizky (8) yang kini sudah duduk di kelas 3 SD itu, sejak berusia 3 tahun sudah kerap digandeng kemana-mana oleh ibu dan bapaknya. “Saya latih dia untuk bisa mencari dan mengingat jalan sendiri. Minimal rute rumah-pasar-warung-mini marketsekolah. Biar dia bisa menuntun orangtuanya yang tak bisa melihat ini, agar mereka mandiri dan mengerti dengan kondisi kami,” ujar Srinadi. Segala kebutuhan sang anak sudah berusaha dipenuhinya. Ia bersyukur anak-anak mereka mengerti keadaan orangtuanya yang sempat juga menjadi bahan ledekan teman-temennya. Srinadi pernah mendengar teman Rizky mengatakan tentang kebutaan orangtuanya. Namun dengan ­pede Rizky menjawab ‘yang penting kan ibunya bisa memberikan uang. Srinadi trenyuh mendengar jawaban anaknya. Karena itu saat tahun, ketika anaknya minta makan di luar, pasutri ini menyanggupinya. “Saya ingin memberikan kebanggaan padanya. Walau memiliki orangtua buta, masih bisa pergi jalan-jalan seperti anak lainnya,” ujar Srinadi yang kini tengah hamil anak ketiganya. Hanya satu yang tak bisa dilakukan pasutri ini, yakni meng­ ajari anak-anaknya baca tulis. Mereka hanya mengenal huruf braille. Jika ada PR, mereka biasanya me­n gerjakan sendiri. Srinadi meng­aku hanya bisa menyimpulkan dari apa yang dibaca anaknya. Sementara, untuk pelajaran Bahasa Bali, ia memilih meleskan anaknya, karena ia sendiri tak mengerti. Harapannya cuma satu, kelak anak-anak bisa bekerja dan hidup mandiri. Sebesar apapun masalah di keluarganya, ia tetap ingin memperhankannya. Srinadi tak mau kesalahan orangtuanya dulu juga menimpa anak-anak mereka. –Inten Indrawati/Ngurah Budi

Tiga buah video ditayang­kan melalui sabak ­sebelum diskusi terbatas “Edukasi Seks yang Tepat bagi Anak” yang dihelat ­Mingguan Tokoh di ­Warung 63 Denpasar di­ mulai. Video ­pertama ­menayangkan se­pasang murid SMK di Bali melakukan oral seks. Video kedua, sepa­ sang ­murid berbaju putih-biru melakukan hubung­an seks di seko­ lah. Video itu jelas direkam oleh orang lain. Adegan itu pun ­sempat terhenti ketika dari pintu yang ter­ buka, tiba-tiba datang siswi lainnya. Bukan­ nya malu, ­mereka malah ditawarkan bergabung. Akhirnya, pasangan murid itu meneruskan hubungan seks mereka dengan ditonton murid lain. Video ketiga, sepasang murid SMA berseragam Pramuka, juga melaku­ kan seks, dengan merekam sendiri video mereka.

“S

elama satu dekade terakhir, fakta perilaku seks di kalangan remaja berjalan sendiri,” kata dr. Oka Negara, FIAS, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Pertanyaan remaja yang sering diterima dr. Oka melalui SMS bukan lagi soal remaja yang takut hamil. “Tetapi kenyataannya, saya sering mendapat SMS, Dok, saya baru saja minum obat X. Tapi kok belum luruh juga kandungan saya?” tutur dr. Oka. Menurutnya, akses internet memudahkan remaja mencari informasi apa pun, termasuk obat yang bisa meluruhkan kandungan. “Sebuah situs menawarkan obat maag, yang harga aslinya hanya Rp 20 ribu per butir dengan harga Rp 300 ribu per butir untuk meluruhkan kandungan. Mereka beli secara online kemudian mengambil pesanannya di toko obat di Jalan Gajah Mada Denpasar,” imbuhnya. Fenomena teranyar, merebaknya istilah “cabe-cabean.” Istilah ini diguna­ kan untuk perempuan yang suka nongkrong di balapan liar dengan berpakaian celana pendek atau rok mini superketat. Bahkan, tak jarang terjadi transaksi minuman keras, narkoba, dan aktivitas seksual. Para perempuan yang dijuluki “cabe-cabean” ini, dijadikan piala bergilir bagi pemenang balapan liar ini. “Bukannya takut, mereka malah bangga dengan hal itu. Bahkan, mereka berusaha melakukan persiapan agar mampu memuaskan si pemenang,” tutur dr. Oka. Berbeda sebutan dengan perempuan, lelaki diberi sebutan “terong-terongan”. Ada

Dyah Ayu Kartika Paramita, M.Psi.

dr. Oka Negara, FIAS

Prof. I Nyoman Mangku Karmaya

Ni Putu Natalya

juga istilah “anak paprika”. Sebut­an ini untuk menunjukkan “kelas” yang lebih tinggi. Anak paprika ini lebih berduit, bawaannya mobil, pakai parfum mahal, dan tempat nongkrongnya bukan lagi di balapan liar tetapi di klub malam. Sebuah hasil awal dari survei yang dilakukan Kita Sayang Remaja (Kisara) PKBI Bali, diungkap Ni Putu Natalya. “Sebagian besar remaja di Denpasar sudah melakukan seks, baik itu seks anal, seks oral, atau pun melalui vagina. Yang pernah berpacaran, pasti sudah melakukan ciuman bibir. Survei itu dilakukan terhadap remaja berusia 15-24 tahun,” ungkap Zeni, panggilan karib relawan Kisara ini. Kisara juga melakukan konseling. “Umumnya, kami menangani kasus kehamilan tak diinginkan. Di samping itu, tiap hari kami menerima pertanya­an tentang masturbasi. Mastur­basi itu normal nggak? Terus, kalau saya melakukan hubungan seks sama pacar saya, aman nggak?” papar mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Udayana ini. “Pertanyaannya kini, apakah perilaku seks remaja yang sekarang ini normal atau tidak?” tanya Prof. I Nyoman Mangku Karmaya dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Provinsi Bali. “Kini yang berubah adalah nilai dan cara pandang. Dulu kita menciptakan nilai, seks itu suci, hanya boleh dilakukan setelah menikah. Ketika budaya berkembang, seks menjadi lebih bebas. Orang-orang yang masih mempertahankan konsep yang dulu dan konsep sekarang, berbenturan. Perubahan cara pandang ini, menunjukkan perbedaan antara anak dan orangtua. “Ketika masalah dibenturkan, semua memakai cara pandang masing-masing,” imbuh dr. Oka. Dokter Oka pernah ditelepon seorang guru BP di sebuah SMP di Denpasar. “Saya bingung, siswa saya masih di ruangan BP. Dia tanya, Bu, anak seumuran saya sudah boleh ciuman atau belum?” kisah dr. Oka mengutip guru tersebut. “Guru itu bi­ngung bagaimana menjawabnya. Kalau dijawab nggak boleh, dia kehilangan respek dari anak didik. Kalau bilang iya, bisa disebarkan ke teman-teman yang lain. Ternyata boleh lho ciuman sama pacar. Saran saya ketika itu, anak SMP itu suruh bercerita, jangan dikasih jawaban. Menurutmu bagaimana, tanya saja. Kalau jawab nggak, aman. Kalau jawab iya, nilainya berbelok, diluruskan,” papar staf bagian andrologi dan seksologi Fakultas Kedokteran Unud ini. Menurut dr. Oka, remaja kini terpapar begitu banyak informasi. Hasil survei, sumber informasi seks pertama bagi remaja perempuan dan laki-laki adalah teman. Karena teman sebaya, pengetahuannya pasti terbatas. Di peringkat kedua, remaja perempuan lebih suka bertanya informasi tentang

seks pada ibunya. Sementara 80% remaja laki-laki lebih suka mencari melalui media massa. Sialnya, media sering memberikan informasi yang tak tepat. Contohnya, ada iklan tentang memperbesar penis. Di internet, informasi tentang penis dalam mesin pencarian yang menduduki peringkat enam teratas justru hanya mitos. Sangat masuk akal remaja tidak memproteksi diri­nya karena mendapatkan informasi yang salah. Kasus di Nusa Dua, anak SMP berangkat ke sekolah lebih pagi. Bukan­ nya langsung ke sekolah, ia malah mampir dulu ke lokasi PSK. Ada istilah di kalangan remaja ini, mereka mencari pekerja seks yang masih perawan. Artinya, PSK yang belum melayani pelanggan. Sebalik­nya, mengapa PSK mau melayani anak SMP? Karena menurut mereka, keputihan bisa disembuhkan jika berhubungan seksual dengan anak muda. Selain itu, bisa awet muda. “Ini semua hanya mitos,” tegas dr. Oka.

dengan anak walau kesempatan ada,” ujarnya. “Jadi poinnya, bagaimana anak bisa menjaga diri, bertanggung jawab atas perubahan yang terjadi. Dia bisa menjaga tubuhnya, termasuk alat reproduksinya. Kita memperkuat psikis mental. Kita mengantar mereka sampai dewasa dengan aman dan pe­ ngetahuan. Kita juga harus melibatkan orang dewasa. Banyak orang dewasa mencari orang muda belia karena mitos itu. Orang dewasa harus melin­ dungi,” tegas Mangku Karmaya yang juga aktif di Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali ini. Zeni menambahkan, orangtua jangan hanya melarang tanpa penjelasan. “Saya pernah memberikan ceramah, ada remaja yang bertanya tentang masturbasi. Di sebelahnya ada orangtuanya. Orangtuanya melarang bertanya hal semacam itu. Orangtua harus bisa menyampaikan informasi yang benar. Misalnya, perilaku seksual akan memberi kenikmatan tapi ketika melakukan sebelum menikah bisa terjadi kehamilan. Harus me­nyeluruh. Makin dilarang makin penasaran. Remaja ingin tahu,” kata Zeni. Menurut dr. Oka, remaja perlu akses; akses informasi yang benar, akses pelayanan yang proremaja, dan akses pemberdayaan. “Akses pemberdayaan perlu agar remaja berdaya, memiliki sifat asertif. Bisa memilih tempat beraktivitas yang tepat. Bukan nongkrong di tempat yang nggak jelas. Di Bali, misalnya, remaja nongkrong di depan minimarket. Kalau sudah begitu, bir laku banget,” susulnya.

anak, misalnya saat anak badmood, orangtua tahu sinyal yang ditunjukkan anak. Dengan melihat sinyal anak kita, kita paling tidak bisa menyapa. Kadang sulit diungkap, anak diam. Bisa ditanya, dari mana, kok kelihatan sedih. Kalau dibilang, nggak apa-apa. Tunggu. Biarkan dia, beri ruang dan waktu sendiri,” kata Dyah yang aktif di Biro Psikologi Pradnyagama ini menjelaskan. Terkait kepemilikan, perasaan kurang terhadap fisik mereka bisa jadi bumerang. Ada anak yang payudaranya tumbuh lebih cepat. Ada yang payudaranya lebih besar. Ada anak yang belum menstruasi sementara temantemannya sudah. “Ada yang bangga, ada yang tidak percaya diri. Untuk mengatasi hal itu, saya menggunakan terapi cermin,” kata Dyah. Metode terapi cermin ini, remaja baik perempuan atau laki-laki diminta berdiri di depan cermin dalam kondisi telanjang bulat pada malam hari, tentu di kamar masing-masing. Refleksi malam hari menyiratkan ketenangan. Mereka diminta memandang dirinya di cermin, melakukan observasi diri. Tubuh mereka seperti apa, dsb. Perhatikan bagian tubuh yang tidak disukai dan disukai. Misalnya, tidak suka karena kulit gelap. Jadinya, dia tidak populer di lingkungannya. “Ini kan kesalahan berpikir. Ada terapi, kamu berharga lho, dibandingkan teman yang lain. Tuliskan kekurangan dan kelebihanmu. Setelah itu, mereka diminta menggambarkan kembali dirinya. Awalnya, bagian yang tidak disukai bisa saja diberi warna hitam. Lakukan berkali-kali. Gambar berulang ulang. Sampai akhirnya mereka menyadari, menerima, dan mencintai tubuhnya sendiri,” papar Dyah. Selain itu, menurut psikolog yang juga aktif di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Denpasar, kemampuan membuat target juga harus dikembangkan. Biasanya, mereka ha­nya berpikir jangka pendek. Misalnya, sekarang kelas 3 SMA, targetnya ya lulus UN. Coba tanyakan, apa pe­kerjaan yang diinginkan. Lalu, turunkan, kuliahnya di mana agar bisa mencapai pekerjaan itu. Turunkan sampai masa sekarang. Skema pun terbentuk. “Target itu tersambung dengan citra diri,” lanjutnya. Di sisi lain, Dyah menekankan pentingnya makan malam bersama keluarga. Saking banyak­nya aktivitas keluarga, banyak hal yang berubah. Salah satunya, kebiasa­ an makan malam bersama keluarga. Makan malam adalah waktu yang baik untuk menciptakan kebersamaan dalam keluarga. “Yang sering melakukan makan bersama, kelekatan emosinya lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Di meja makan, orangtua dan anak bisa berdiskusi banyak hal, mulai dari norma samapai nasihat dalam situasi yang cair dari hati ke hati,” katanya. – Wirati Astiti/Ratna Hidayati

TIGA HAL POKOK Menyikapi hal ini, Mangku ­Karmaya memberi masukan. Ada tiga hal pokok yang bisa dilakukan di rumah dan sekolah. Pertama, ajarkan anak menghargai diri sendiri. Apakah kita pernah memuji anak, baik di rumah atau di sekolah? Dengan pujian, mereka merasa ada dan diterima sehingga mereka punya mental yang mantap. Ironisnya, anak jarang dapat penghargaan yang bagus. “Anak sing taen beneh. Kamu gini aja nggak bisa, salah terus. Orangtua selalu menghakimi anak, nggak pernah mendengarkan pendapat anak. Kalau begitu, anak mencari penghargaan di luar. Karena itu, hargai sosok anak kita; anak kandung, anak didik. Ajak dia menghargai dirinya sendiri. Kalau dia bisa menghargai diri sendiri, dia bisa menghargai orang lain,” papar Mangku Karmaya. Kedua, komunikasi yang baik antara orangtua dan anak. Komunikasi bisa untuk mengekspresikan diri. Kenyataannya, orangtua cenderung tertutup. “Saya sering bilang pada pasien, lakukan kontak mata. Kalau bicara pandang mata anak. Mata itu simbol pikiran. Dari mata kita bisa tahu, apakah anak sedang sedih, gembira, dsb. Kalau kita bicara dan anak bersikap lain-lain, ada sesuatu yang disembunyikan. Perhatikan juga intonasi saat bicara. Ajak anak bicara, bukan tertutup. Lakukan kontak bodi, dengan peluk dan cium. Anak senang dipeluk orangtuanya. Kadang saat anak sakit diselimuti baju orangtuanya, anak itu merasa sudah lebih baik. Ketiga, ajari mereka agar bersikap asertif, bisa menolak ajakan yang buruk. “Sebenarnya gampang tapi orangtua enggan. Mungkin bapak atau ibu sibuk bekerja, jadi malas. Akhir­ nya, kegagalan membina hubungan

TERAPI CERMIN Menurut Dyah Ayu Kartika Paramita, M.Psi. Psikolog, remaja perlu diberi pemahaman tentang kepemilikan. Dia harus menyadari dirinya sendiri. Dengan menyadari diri sendiri, ia bisa mencintai dirinya sendiri pula. Ada satu kasus, seorang remaja merasa sangat jelek. Di lingkungannya, tak ada yang mengatakan dia cantik. Dia tidak memahami tubuhnya sendiri. Ketika tumbuh dewasa, pacarnya mengatakan dia cantik. Disebut cantik oleh pacarnya, citra dirinya pun meningkat. Parahnya, citra diri ini justru dibentuk dari orang lain. Pacarnya pun jadi pahlawan, kemudian dia mulai lebih terbuka kepada pacarnya, mau dicium sampai akhirnya melakukan hubungan seks. Orangtuanya kemudian bingung, bilang kalau anaknya berubah. “Orangtua harus mengerti tentang pemahaman akan kebutuhan. Selama ini, yang disampaikan orangtua hanya kebutuhan orangtua, dari mana, mau ke mana, sama siapa. Sementara, kebutuhan anak, bagaimana dia bisa bercerita tentang dirinya. Orangtua dituntut modern saat ini. Orangtua modern tidak harus punya ipad atau facebook. Namun, tahu dan mengerti kebutuhan


NINE

20

>>>

Jumilah

27 JANUARI - 2 Februari 2014

>>>

Gerakkan Sekolah Jumilah dan Jambanisasi Riuh suara anak-anak usia dini belajar mengenal huruf dan angka-angka terdengar di sebuah ­ruangan sangat sederhana terbuat dari batako. Dari sebuah dusun sederhana di balik bukit kawasan wisata Pantai Senggigi, Dusun Duduk Bawah, Desa Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat di Nusa Tenggara Barat inilah, gelak tawa anak-anak yang tengah bel­ajar dalam kondisi yang sangat sederhana menjadi bagian keseharian dari dusun tersebut.

S

ore itu, 15 dari 52 anak peserta sekolah ini tengah asyik belajar dengan seorang guru sederhana yang semula buta huruf, namun, karena semangat belajarnya yang tinggi membuat dia akhirnya bisa melek huruf. Dialah Jumilah. Perempuan sederhana yang tidak pernah mengenyam pendidikan resmi ini akhirnya menemukan kebahagiaan hidupnya dengan mengajar. Sambil mengajar, Jumilah sesekali menggendong anaknya yang masih kecil. Tangan kiri Jumilah, menggendong anaknya yang menggelantung di pinggangnya, sementara tangan kanannya me-

reka di sekolah resmi,” ungkapnya. Dan, di antara murid-muridnya, juga kini telah banyak yang melanjutkan sekolah. “Anak-anak yang belajar di sini sudah banyak yang melanjutkan ke jenjang SMP dan SMA,” ujarnya. Namun, sebagian besar dari me­reka berusia prasekolah, siswa kelas I dan II SD, serta mereka yang putus SD. Keseharian mereka umumnya diisi dengan bermain atau membantu pekerjaan orangtua mereka di kebun. Anak didik Jumilah ini banyak yang putus SD karena ketiadaan biaya, juga karena kemiskinan orangtua mereka di­sertai dengan rendahnya kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anak.

megang spidol menulis di white board. Murid-murid di Sekolah Jumilah adalah anak-anak usia dini, anak-anak yang tidak bersekolah di sekolah umum, mereka yang menikah di usia remaja dan orang dewasa yang buta aksara. Kegiatan belajar ini dilakukan di sebuah ruang terbuka bangunan semipermanen berukuran 8 meter x 4 meter yang merupakan bagian dari rumah Jumilah yang sebenarnya tidak luas. Tiap Minggu dan Senin pukul 15.00-18.00 wita, Jumilah selalu menyiapkan waktunya untuk mengajar dengan fasilitas sederhana hanya dengan beberapa meja, satu papan tulis dan alat tulis menulis seadanya. “Anak-anak duduk leseh­ an, santai seperti ini,” katanya. Selama bertahun-tahun Sekolah Jumilah berjalan. Guru Jumilah akhirnya mampu meyakinkan masyarakat di sekitarnya dan juga orangtua anak didiknya tentang pentingnya pendidikan. Ia juga menjadi “ibu daftar” bagi anak-anak usia dini yang belajar di sini. “Jika saatnya masuk sekolah tiba, saya yang mendaftarkan me­

Sementara itu, mata pelajaran yang disampaikan Guru Jumilah tidak harus berasal darinya melainkan tergantung dari pilihan siswa saat itu. Misalnya pelajaran tentang masalahmasalah kehutanan yang dapat menyebabkan bencana bagi manusia, seperti soal penebangan liar. Hal ini ia ajarkan pada anak didiknya, karena di sekitar tempat mereka tinggal terdapat hutan. “Dan, beberapa tahun lalu, banjir sempat melanda dusun kami,” katanya. Itulah sebabnya, ia memberikan materi tentang bagaimana memelihara hutan agar tidak menimbulkan bencana banjir bagi manusia. Demikian pula dengan pelajaran menggambar. Jumilah meminta anak didiknya menggambar pohon kelapa. Gambar yang diinginkan sang guru bukannya hasil gambar yang bagus dan rapi, melainkan kegunaan pohon kelapa yang digambar tersebut. Anak didiknya kemudian bergantian me­ rinci kegunaan buah kelapa, serabut, batok, daun hingga batangnya. Jumilah juga mengajarkan tentang budi pekerti dengan cerita dan

27 JANUARI - 2 Februari 2014

INSPIRASI

5

Prabhu Darmayasa

Belajar Weda tak Rumit Kemorosotan moral anak bangsa yang kini banyak diresahkan berbagai pihak divonis sebagai salah satu imbas dari kemajuan teknologi yang tak diimbangi dengan kekuatan iman. Mengapa sampai terjadi demikian? Bisa jadi ini dikarenakan kurangnya pemahaman akan ajaran-ajaran agama yang mereka anut. Bagaimana nasib anak bangsa ke depan ini juga menjadi kekhawatiran praktisi spiritualisme Prabhu Darmayasa. kehidupan sekarang ini,” ujarnya. Inilah yang perlu disentuhkan ke umat Hindu, yang tentu saja perlu diajarkan juga ajaran-ajaran dari kitab Weda lainnya, termasuk ajaran-ajaran dari lontar. Hanya saja, ia mengingatkan harus ada penyaringan karena tak semua penulis lontar mengetahui ajaran Weda.

dongeng-dongeng. Pelajaran yang diterima anak didiknya tidak hanya di aula tersebut, melainkan ia meng­ ajak anak-anak tersebut menyusuri sungai untuk menunjukkan betapa berbahayanya jika sungai dipakai sebagai tempat membuang sampah. Ia menjelaskan sampah yang dibuang ke sungai tersebut, akan menumpuk dan dapat menutupi saluran, sehingga ketika debit air banyak, air sungai akan meluap, tumpah ke mana-mana hingga akhirnya masuk ke desa-desa. Saat inilah ia meng­ ajarkan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dengan membersihkan sampah plastik, ranting, dan daun yang bisa menyumbat aliran air saat musim hujan. Tidak lupa, Jumilah mengajak mereka ke kebun-kebun sekitar pemukiman mereka untuk menunjukkan beragam jenis tanaman yang berfungsi dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, mulai dari manfaat sebagai obat-obatan hingga manfaat lainnya. Hal lain yang diajarkannya adalah keterampilan seperti membuat ketupat, lontong, kue-kue dari beras dan anyamananyaman sederhana yang bahannya lebih banyak diperoleh dari alam sekitar tempat mereka tinggal. Tidak sedikit pun terlintas dalam benaknya untuk menerima penghargaan atau apresiasi dari pihak lain tentang apa yang telah dilakukannya bagi masyarakat di dusunnya. “Apa yang saya lakukan ini semata-mata demi anak-anak di sini. Saya merasakan sendiri betapa sulit mengembangkan diri tanpa bekal kemampuan membaca dan menulis,” ungkapnya. Selain aktif mengajar anakanak, Jumilah juga aktif mengajak masyarakat untuk hidup sehat de­ ngan menggagas Arisan Jamban. Ide ini muncul karena banyak kasus pertengkaran antarwarga di dusun tempatnya tinggal itu, salah satunya karena buang hajat sembarangan. “Bau kotoran yang dibuang sembarangan itu, jadi masalah pertengkaran antarwarga di sini,” ujarnya saat ditemui di tempatnya mengajar. “Rata-rata warga di sini tidak mempunyai jamban, jika ingin

buang hajat di sela-sela rumah penduduk atau di sungai kering itu,” ujarnya. Ia sendiri mengaku kerap kesal karena bau kotoran itu juga sangat mengganggunya. Apalagi di depan rumahnya terdapat sebuah sungai kecil berbatu yang airnya tidak selamanya banyak. Orangorang biasa buang hajat di sela-sela batu yang membuat baunya sampai ke rumah Jumilah. Tiap pagi tiba ia harus turun ke kali yang dangkal itu, membawa sekop untuk menanam kotoran-kotoran itu. Ia sengaja memperlihatkan pada warga yang biasa membuang hajat itu, bahwa ia membawa sekop untuk menanam kotoran tersebut agar tehindar dari bau. “Tiap subuh tiba saya sudah harus duduk nongkrong di pinggir sungai agar tidak ada orang yang buang hajat di depan rumah saya, agar mereka malu,” ungkapnya. Tetapi hal itu rupanya tidak juga menyadarkan warga. Karena itulah ia mendapat ide untuk membuat jamban di rumahrumah penduduk dengan cara arisan. Ia membentuk kelompok arisan jamban sebanyak 20 kepala keluarga. “Tiap tanggal 1 tiba, saya meminta warga yang tergabung dalam satu kelompok, untuk mengumpulkan uang Rp 50.000 sebagai dana pembuatan jamban,” ujar Jumilah. Jumilah menyempatkan dirinya menjadi “mandor” dan sebagai motor penggerak dalam pekerjaan tersebut. Ia juga yang

bercapek-capek pergi ke toko bangunan untuk membeli bahan dari uang tersebut. Program jambanisasi yang dimulai pada April 2011 dan dilakukan secara swadaya ini dibuat secara bergilir dari satu rumah ke rumah lainnya. Semacam arisan namun tidak dikocok. Siapa yang dirasa lebih membutuhkan lebih dahulu, dialah yang akan kena giliran untuk dibuatkan jamban dari dana yang terkumpul itu berdasarkan hasil musyawarah. Tiap sebulan sekali saat terkumpul uang Rp 1.000.000 dari 20 warga yang tergabung dalam kelompok ini, mereka bekerja secara gotong royong dalam sehari bisa membuat sebuah jamban. Begitu seterusnya, 20 orang tersebut pada akhirnya mendapat giliran memiliki jamban. “Desember 2013 lalu, 20 anggota tersebut telah memiliki jamban,” ujarnya. Jumilah pun bisa tersenyum karena bau tidak sedap dari kotoran manusia yang kerap dirasakannya itu sudah tidak terasa lagi. Apalagi saat ini, program tersebut dilanjutkan oleh kelompok-kelompok lain di dusun tersebut. Dan dalam waktu tidak terlalu lama, jika program jambanisasi swadaya ini berjalan baik, maka semua warga Dusun Duduk Bawah akan memiliki jamban. Itu artinya, cita-cita hidup sehat yang diharapkan dapat terwujud. - Naniek I. Taufan/Inten Indrawati

“B

anyak anak-anak kita tak tersentuh ajaran kitab suci. Pelajaran agama selama ini banyak untuk hapalan saja, hanya untuk mencari nilai, dan lulus ujian. Pewaris dharma (kebaikan) tak tersentuh dharma,” ungkap Pendiri Ashram Parama Dhama, Denpasar, Bali tahun 2006 yang mengajarkan yoga meditasi, Bhagavad Githa, dll. Prabhu Darmayasa yang memprakarsai peluncuran album Puja Bhagavad Githa, Selasa (21/1) ini mengatakan, cara menyentuh darma sesungguhnya sederhana saja. Di Bali khususnya, masyarakat sudah lumrah melakukan ritual-ritual upacara. Namun sayang, sebagian besar masyarakat masih belum mengerti makna dari upacara yang dilakukannya. Upacara tersebut masih menjadi suatu formalitas yang harus dilakukan, demi menjaga status sosial di masyarakat, dan untuk kepentingan bisnis. “Ketika kita menyentuh kitab suci, semua akan terasa seimbang. Dengan mendalami kitab suci, kita akan bisa melihat upacara lebih ringan, tanpa mengurangi nilai upacara apalagi menyetopnya,” ujarnya. Mengapa Weda jarang tersentuh di masyarakat? Ini karena tak ada yang mentradisikan. “Belajar-mengajar Weda belum kita warisi sebagai tradisi karena penyampaian agama kita lebih cenderung pada penekanan upacara dan lain-lain, ‘kemeriahan’ luarnya agama. Sedangkan hal yang sangat penting, yaitu mengisi jiwa dan atma umat dengan sentuhansentuhan kitab suci Weda ternyata masih dinomorsekiankan. Padahal kitab-kitab suci memberikan penekanan penting untuk penyebaran darma melalui penyebaran ajaran-ajaran suci Weda,” paparnya. Kitab Çatapatha Brähmaëa memberikan perumpamaan indah mengenai masalah mempelajari Weda. Menurut kitab Çatapatha Brähmaëa ini, belajar Weda merupakan pilihan sangat indah dan diberikan keutamaan, dalam arti, kita dianjurkan lebih banyak memusatkan perhatian untuk lebih meningkatkan volume belajar Weda, terlebih lagi para Brähmaëa, yang memang kewajibannya adalah belajar dan mengajarkan ajaran-ajaran suci Weda.

Weda sebagai kitab suci umat Hindu disebutkannya memiliki jumlah yang tak terbatas. Salah satu contohnya saja satu Kitab Purana memiliki 18.000 sloka (ayat). Sementara, umat Hindu memiliki 18 Kitab Purana. Ada juga Kitab Itihasa yang memuat kisah kepahlawanan Mahabharata dan Ramayana. Mahabharata saja terdiri dari 18 parwa, yang satu parwa satu buku. Belum lagi kitab-kitab lain. “Kitab-kitab ini bukan hiburan semata namun juga memiliki nilai keagamaan, spiritual, dan yang mengajarkan catur purusa artha: dharma, artha, kama, dan moksha,” ujarnya. Kitab yang utama adalah Catur Weda. Untuk mempelajarinya perlu pemahaman khusus, masyarakat umum tak akan siap menerimanya. Menurut pendapat pendeta-pendeta Weda, Catur Weda ini untuk orangorang tertentu/terpelajar karena bahasa-bahasanya berkulit. Satu kata bisa memiliki 54 arti. Jika tak familiar dengan kata tersebut bisa salah mengartikannya. Karena itulah, diturunkan kitab-kitab Weda lainnya yang menjelaskan mantram-mantram Weda itu sehingga masyarakat umum khususnya di zaman kaliyuga ini bisa mengerti. “Akhirnya, Bhagavad Githa adalah intisari dari Weda yang cukup mudah dipahami masyarakat dalam

AJARAN DARMA Ajaran darma mengenalkan diri kita bagaimana bersikap di lingkungan masyarakat, kepada Tuhan, mengasihi yang lain, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, dan akhirnya bisa hidup tenang dan bahagia. “Karena itu, menyentuhkan ajaran suci pada anak sangat mendesak. Jika tidak, jangan bermimpi bisa melihat masa depan. Jika ini meredup sama dengan ruangan tanpa lampu, gelap gulita,” katanya. Yang perlu dicamkan, belajar Weda tidaklah rumit. Bisa dipelajari siapa saja, sesederhana, seindah, dan senyaman menarik, menahan dan mengeluarkan napas. “Begitu melakukannya, kita akan ketagihan terus,” ucapnya. Salah satu pengalaman nyata dikisahkan Prabhu. Ada sebuah keluarga yang awalnya tak pernah tertarik dengan Bhagavad Githa. Namun, setelah belajar membaca Weda, mereka berebutan membaca Bhagavad Githa. Tak hanya antara orangtua dan anak, bahkan pekerja rumah tangganya pun ikut berebutan. Kenapa bisa demikian? Ini karena mereka sudah mengetahui ajaran Weda dengan tepat, mereka sudah mencicipinya. Weda tidak mengajarkan orang berteori. Dari teknik yang diajarkan itu, seorang anak yang masih duduk di kelas 1 SD pun mampu menghapal beberapa sloka dari kitab suci. PRABHU DARMAYASA Siapa Prabhu Darmayasa ini? Ia adalah I Made Darmayasa, M.A.,

seorang pencari makna spiritual sejak kecil yang lahir di desa seni Ubud, Bali. Sejak kelas 6 SD sudah belajarmengajar yoga dan meditasi, serta menjalankan vegetarian mulai tahun1970-an. Setelah menyelesaikan studinya di PGAHN Denpasar, melanjutkan ke IHD (sekarang UNHI) Denpasar. Ia tak sampai menuntaskan pendidikannya di sini, karena melanjutkan studinya ke India. Sarjana Sanskerta alumni University of Delhi, India ini telah memperoleh gelar Rasa Acharya Prabhuraja dari guru spiritualnya melalui inisiasi acharya di tepi sungai Gangga di kaki Himalaya, sebuah gelar diksha setelah melewati proses inisiasi dwijati dan trijati. Rasa Acharya adalah gelar dalam ranah spiritual yang sangat sulit diperoleh oleh masyarakat umum, melalui Perguruan Spiritual Rasa Sampradaya dari Swami Haridas yang sangat terkenal di India Utara. Sebuah gelar yang mengharuskan bahwa apa yang diajarkan pada siswanya adalah sesuatu yang juga telah dilakukan olehnya. Aktivitas Prabhu lainnya adalah sebagai Presiden dari International Divine Love Society dan Perwakilan Indonesia untuk World Ramayana Conference serta berkecimpung dalam lembaga yang aktif menyebarkan bahasa Sanskerta yaitu Lembaga Sanskrit Bhasha Prachar Samiti. Ia juga seorang yang sangat mendalami pengetahuan-pengetahuan Weda, khususnya Bhagavad Githa. Ia juga menulis banyak puisi dalam bahasa Hindi dan Sanskrit, selain dalam bahasa Indonesia dan Bali. Puisi Sanskerta berjudul “Ashcaryo’ham” banyak mendapatkan pujian dari para sarjana Sanskerta dan sarjana Weda di India. Selain dimuat di beberapa majalah Sanskerta di

Prabhu Darmayasa

India, “Ashcaryo’ham” juga pernah ditempel di majalah dinding sebuah universitas Sanskerta selama berbulan-bulan. Dalam ilmu meditasi dan yoga, Prabhu Darmayasa adalah Master Kundalini yang merupakan murid tunggal dari Siddhayogi Acharya-Shri Kamal Kishore Gosvami, seorang kepala pendeta sebuah temple yang sangat disucikan dan terkenal di daerah Vrindavan, negara bagian Uttar Pradesh, India. Beberapa waskita menyebutnya sebagai Trah Dewa Rajayogi. Prabhu Darmayasa adalah seorang yogi, pendiri, dan master dari Meditasi Angka yang telah membimbing ribuan orang di seluruh dunia di dalam mendalami yoga, meditasi dan pembangkitan kundalini untuk kembali menemukan jalan kebahagiaan sejati. Penggagas program tirtayatra ke tempat-tempat suci di India ini juga merupakan penulis yang aktif. Buku Keagungan Sapi Menurut Weda, Vegetarian dan Ahimsa Dharma, Chanakya Niti Sastra, Panca Tantra, Waisnava Dharma Warisan Leluhur Kita, Menyelam dalam Lautan Ramayana, Sanskerta dan Tat Tvam Asi adalah sebagian buku-bukunya yang terus dicetak ulang sampai saat ini. Ia pernah menjadi wartawan lepas, aktif menulis di majalah Warta Hindu Dharma dan Karya Bhakti. Selain berceramah keliling di India dalam bahasa Hindi, Prabhu juga seorang Dharma duta resmi Parisada Hindu Dharma Pusat dan aktif berceramah keliling Indonesia di tahun 1990-an. Berkeliling untuk ceramah Dharma/Dharmawacana juga dilakukan di kota-kota besar dan pelosok-pelosok perdesaan di India dalam bahasa Hindi. Satu set kaset Bhagavad Githa juga secara resmi dikeluarkan oleh PHDI Pusat pada tahun 1990-an. Setelah mengundurkan diri dari Kedubes Indonesia di New Delhi, India pada tahun 2008, Prabhu Darmayasa sering diundang memberikan dharma wacana di lingkungan masyarakat umum dan pembinaan rohani Hindu di beragam perusahaan seperti Telkom, Pertamina, BNI, Kantor Pajak, BI, PLN, serta menjadi narasumber di berbagai forum internasional. –Inten Indrawati/Ratna Hidayati


INSPIRASI

4

27 JANUARI - 2 Februari 2014

Temukan Rezeki dari Hobi Menulis Awalnya, Tya Marty Al-Jahira menyukai tulis-menulis hanya sebatas hobi. Mulai dari rajin menulis buku harian, kemudian merambah ke blog. Lewat blog ia menulis tentang hal-hal menarik di sekelilingnya, terkadang ia juga membuat cerpen. Tak disangka hobi yang pada awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, berubah menjadi lebih produktif.

D

unia tulis-menulis tidak lagi sekadar hobi tapi menjadi pekerjaan yang menghasilkan rupiah. Menariknya, penghasilan yang dia dapat bukan hanya dari kegiatan tulis-menulis tapi juga dari bisnis kerajinan yang terinspirasi dari tulisannya sendiri. “Ini memang tak disangkasangka. Awalnya saya hanya hobi menulis untuk mengisi waktu luang. Tapi setelah bergabung dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), kegiatan yang tadinya hanya hobi berubah menjadi kegiatan yang menghasilkan uang. Pendiri komunitas, Ibu Indari mendorong kami untuk menulis buku. Materinya bebas namun lebih baik adalah hal-hal yang akrab di sekitar kita. Suatu yang biasa-biasa saja, bisa menjadi luar biasa jika kita bisa menulisnya dengan baik,” tutur Tya yang sekarang menjadi koordinator komunitas IIDN wilayah Jabodetabek. “Aku menemukan komunitas ini secara tidak sengaja. Waktu itu aku berselancar di internet, ingin tahu apakah ada komunitas menulis. Eh, ternyata ada IIDN. Karena namanya ‘Ibu-Ibu’, aku sempat tanya, apakah yang bergabung di sini harus berstatus ibu rumah tangga karena aku belum menikah. Dijawab bisa, karena yang dimaksud ‘Ibu-Ibu’ adalah perempuan. Hanya saja memang kebetulan anggotanya kebanyakan para ibu rumah tangga,” tuturnya. Di komunitas itulah, Tya banyak belajar tentang dunia tulis-menulis, mulai dari teknik menulis, pemilih­ an topik, dll. Kebetulan, jelas Tya, pendiri dari komunitas tersebut selain juga seorang penulis aktif, dia juga memiliki agency naskah untuk disalurkan ke berbagai penerbit. “Aku dan sejumlah ibu mendapat tawaran untuk menulis buku,” ucap Tya yang menulis buku pertamanya tentang khasiat istimewa jambu klutuk. Sebagai seorang pemula, Tya mengaku, tak mau mencari materimateri sulit. Karena itu, begitu tawaran menulis buku datang, salah satu yang terlintas di benaknya adalah jambu klutuk. Bagi Tya, jambu klutuk memang sudah tak asing lagi, karena di sekitar rumahnya banyak masyarakat menanam pohon berkhasiat itu. Bahkan di dekat rumahnya ada perkebunan jambu klutuk. “Dengan begitu aku tak perlu

terlalu repot mencari nara­ sumber­nya. Ada petani jambu klutuk, dia bisa banyak cerita tentang jambu klutuk dan khasiat­ nya. Aku juga membaca sejumlah buku yang mengurai tentang buah tersebut. Aku pikir ini buku yang bermanfaat, orang mungkin hanya tahu manfaat buahnya, padahal bisa lebih dari itu. Mulai dari buah, daun, bahkan batangnya pun bermanfaat,” tutur Tya yang mengonsumsi jambu klutuk hampir tiap hari. “Pohon jambu klutuk itu, rajin berbuah. Musimnya hampir sepanjang tahun,” tambah gadis kelahiran Jepara 1986 ini. Dari penulisan buku yang di­ selesaikannya dalam tempo kurang dari sebulan itu, ia mendapat sejumlah uang yang jumlahnya relatif lumayan. Rupiah yang didapatnya itu, makin mendorong Tya untuk lebih giat menulis dan menghasilkan buku. Ia menjadi lebih jeli lagi dalam mengamati keadaan di sekitarnya dan tren yang ada. Ia juga mencari inspirasi penulisan dari buku-buku atau majalah yang dibacanya. “Ada banyak sumber inspirasi, yang penting kita jeli saja,” ucap Tya yang kemudian menulis buku tentang ‘Curhat Bisnis’ bersama sejumlah ibu anggota komunitas IIDN. Sekarang ini, ungkapnya, ia tengah mengumpulkan bahan cara membuat kreasi hand bouquet, bunga tangan untuk pernikahan. “Aku sudah survei di toko-toko buku, ternyata buku sejenis ini sa­

ngat jarang di pasaran. Maksudku, kalaupun ada harganya mahal, karena bukunya luks. Jadi aku ingin membuat versi sederhana dengan harga terjangkau,” katanya. Soal membuat hand bouquet ini juga bukan hal asing bagi Tya karena ia kerap membantu orangtuanya merangkai bunga. Untuk mendapatkan bahanbahan itu, ia melakukan survei pustaka, juga wawancara dengan sejumlah pengusaha hand bouquet. “Aku banyak wawancara dengan ibu-ibu yang mempunyai bisnis hand bouquet dan seserahan pe­ ngantin. Aku tanya bunga-bunga apa saja yang bagus untuk hand bouquet, rangkaiannya bagai­ mana, lalu pita yang cocok seperti apa. Aku tanya macam-macam. Sampai di rumah aku praktikkan cara membuatnya. Hasil praktik itulah yang aku tulis,” papar Tya yang rencananya akan membuat 20 kreasi hand bouquet dalam bukunya. BISNIS POHON PALSU Di luar itu, tutur Tya, kini ia juga menekuni bisnis kerajinan ‘pohon palsu’. Yang menarik, ins­ pirasi kerajinan tersebut muncul dari buku yang ditulisnya. Berawal saat proses pembuatan buku khasiat istimewa jambu klutuk, yang sempat membuatnya kelabakan karena kehabisan bahan. “Jumlah halaman buku yang harus ditulis 120 halaman. Aku merasa semua hal sudah ditulis tapi ternyata belum mencukupi

27 JANUARI - 2 Februari 2014

>>>

MANDALIKA

Sinergi Pemprov dan TP PKK NTB >>>

Perangi Penyalahgunaan Narkoba Banyaknya kasus penyalahgunaan narkoba di Nusa Tenggara Barat menjadi perhatian khusus Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Hj. Erica Zainul Majdi. Bersama dengan pengurus Tim Penggerak PKK Provinsi NTB yang baru dilantik Jumat (24/1), organisasi wanita ini akan bekerja keras membantu BNN NTB khususnya untuk “menyelamatkan” anak-anak NTB dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Banyak hal yang bisa dilakukan berbagai pihak untuk tujuan yang sama, namun PKK NTB akan mengambil peran memberikan pendidikan tentang bahaya narkoba.

Tya Marty Al-Jahira

untuk 120 halaman. Aku bingung mau menulis apa lagi. Jadi aku baca berulang-ulang naskahnya, bagian mana yang kurang. Ternyata, pembahasan soal batang pohon. Lalu aku cari bahan-bahan yang terkait pohon jambu, kelebihankelebihan dan manfaatnya. Dari pencarian itulah, aku menemukan bahwa batang pohon jambu selain kuat dan keras juga mudah dibentuk menjadi produk kerajinan,” jelas Tya. Dari temuan tersebut, Tya pun berpikir kenapa tidak mencoba membuat kerajinan pohon yang salah satu materinya adalah pohon jambu klutuk. Untuk mendapatkan pohonnya, tidak sulit karena ia bisa membelinya dari petani jambu klutuk. “Harga­ nya tergantung pohonnya, yang paling murah harganya Rp 5.000. Kalau pohonnya bagus bentuknya, harganya bisa mencapai Rp 20.000-an,” jelasnya. Pohon tersebut setelah dibersihkan kemudian divernis agar terlihat mengilap. Kemudian, tinggal memilih pohon jambu

itu akan digabungkan dengan apa, pohon jeruk, apel, bunga sakura, dll. Ada banyak pilihan, dan semuanya menarik. Tapi yang paling sering dibuat Tya dan banyak penggemarnya adalah pohon bunga sakura. “Pohon jambu mudah dibentuk, juga tidak pecah ketika dibor. Pohon ini juga kuat, tidak keropos, sehingga kerajinan bisa tahan lama,” tuturnya. Awalnya, pohon sakura itu ha­ nya dipajang di rumah. Tapi kemudian, baik teman, saudara maupun kerabat yang datang ke rumahnya tertarik melihat karya Tya. Mereka pun mulai memesan. Promosi dari mulut ke mulut ini, ternyata sa­ ngat manjur, karena pesanan demi pesanan berdatangan. Tya menjual karyanya antara Rp 100 ribu s.d. Rp 600 ribu. Harga pohon, kata Tya, tergantung antara lain bentuk pohon, kerumitan pembuatannya. Makin tinggi pohon yang dipesan, berarti makin mahal dan rumit, karena material yang digunakan lebih banyak. “Untuk satu pohon, masa pengerjaannya hanya 1-2 hari,” katanya. Banyaknya pemesanan, membuat Tya tidak dapat lagi hanya menangani sendiri produksinya. Beruntung ayahnya yang juga gemar kerajinan, ikut membantu. Selain memajang produknya di rumah, Tya juga menitipkan pohon­ nya di toko kerajinan temannya. “Pohon ‘palsu’ sakura ini, terlihat menarik, seperti aslinya. Karena itu, banyak yang tertarik,” tambahnya. Saat ini, ucapnya lagi, boleh dibilang ia menjadi sangat sibuk. Selain menulis buku, mengurus bisnis kerajinan, ia juga masih mengajar sebagai guru honorer di sekolah swasta tak jauh dari rumahnya. Ia merasa beruntung karena menemukan rezeki dari hobi yang ditekuninya. Lebih dari itu, ia tak perlu banyak keluar rumah untuk bisa menghasilkan uang. “Yang penting tekun, kreatif, dan inovatif,” tandasnya. – Diana Runtu/Ratna Hidayati

21

Pemberian penghargaan Adi Bakti Utama 20 tahun dan Adi Bakti Madya 15 tahun kepada pengurus TP PKK.

K

emudahan memperoleh narkoba, menurut Hj. Erica, menjadi salah satu masalah yang sulit diatasi. Namun, dengan pendidikan dan wawasan tentang bahaya narkoba, diharapkan dapat memutuskan keinginan untuk mendapatkan barang haram yang merusak itu. “Pendidikan tentang bahaya narkoba diharapkan akan membantu menanggulangi penyalahgunaan narkoba, semudah apa pun narkoba bisa didapatkan,” ungkap Hj. Erica, usai acara serah terima Ketua TP PKK NTB sekaligus pelantikan Pengurus TP PKK NTB periode 2014-2018. Inilah salah satu yang ia maksud sebagai visi besar dari organisasi ini dalam membangun TP PKK NTB yang sinergi dan koordinatif dalam menjalankan roda organisasi. Jika dilihat dari sejarah kelahirannya, PKK lahir dari sebuah

gerakan masyarakat karena ada­ nya keprihatinan akan tingkat kesejahteraan masyarakat. Itulah sebabnya gerakan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan PKK ini selalu fokus pada programprogram peningkatan kesejahtera­ an masyarakat, khususnya di keluarga. Gerakan ini tumbuh dari gerakan swadaya masyarakat, dari, oleh dan dijalankan oleh masyarakat itu sendiri. Kata gerakan yang terkan­dung dalam TP PKK, dicermati Gubernur NTB sebagai sebuah dinamika yang harus berjalan. “Membangun sinergi dengan masyarakat sangat diperlukan ka­rena tidak tidak ada satu gerakan apa pun yang bisa sukses maksimal tanpa dukungan masyarakat. Pastikan semua unsur penggerak itu berjalan dengan baik,” ujar Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi. Karenanya, ia mengajak TP PKK NTB untuk mengingat se-

Pelantikan Pengurus TP PKK periode 2014-2018.

jarah lahirnya PKK yang datang dari inisiatif lokal (Jawa Te­ ngah) yang kemudian menasional dan diadopsi oleh pemerintah pusat sebagai sebuah organisasi perempu­an yang mampu menggerakkan program-programnya, yang sekali­gus juga membantu pemerintah. Gubernur berharap bahwa akan ada kontribusi riil dari inisiatif lokal di NTB sehingga bisa diadopsi sebagai sesuatu yang baik untuk pembangunan bangsa dan negara. “Peran istri dan kaum perempuan dalam mendukung dan menyukseskan pembangunan bangsa, mendorong terwujudnya masyarakat yang sejahtera, maju dan mandiri, sangat pen­

Hj. Erica Zainul Majdi

ting dan strategis,” ujar Majdi. Dan, untuk mewujudkan tujuan tersebut, tentu bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kolaborasi dan kemitraan yang sinergi antara pemerintah dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk melibatkan peran aktif PKK dan memberdayakan segenap potensi kaum perempuan. Kebersamaan yang utuh diiringi keahlian, kreativitas dan kinerja yang tinggi, meski pun dihadapkan pada berbagai keterbatasan adalah modal kuat untuk itu. “Pemerintah provinsi sadar benar memiliki keterbatasan. Tidak mungkin seluruh tugas pembangunan dan agenda besar

dalam membangun daerah ini dapat dilakukan sendiri melainkan membutuhkan peran serta berbagai elemen masyarakat, salah satunya PKK,” katanya. Luasnya cakupan programprogram PKK, keberhasilan pelaksanaannya akan sangat ditentukan oleh adanya sinergi dan koordinasi antar unsur-unsur di internal PKK, mulai dari dasa wisma, TP PKK terkecil di tingkat kelurahan/ desa hingga TP PKK Provinsi NTB. “Kunci kesuksesan adalah kemampuan bekerjasama dalam mengeksplorasi potensi baik, jangan repot membahas yang tidak baiknya,” kata gubernur mengingatkan. Selain itu, koordinasi dan sinergi mulai dibangun oleh Hj.Erica dengan lembaga donor dan bantuan asing yang memiliki program-program terkait. Sebagai Ketua TP PKK NTB, ia melakukan terobosan-terobosan yang dapat menggerakkan organi­ sasi ini dengan program-program yang langsung dapat menyentuh kebutuhan masyarakat NTB. “Kami (TP PKK NTB) akan membuka jalur komunikasi dan menjajaki kemungkinan kerja­ sama program dengan lembaga­lembaga internasional, seperti dengan Bank Dunia dengan tetap menjaga kemandirian dan faktor sosio-kultur di Nusa Tenggara Barat,” kata Hj. Erica tentang salah satu terobosan yang mulai dilakukannya. Dan pertemuan perdana TP PKK NTB dengan Bank Dunia, rencananya dilakukan 29 Januari 2014. - Naniek I. Taufan/Inten Indrawati

Pengurus TP PKK periode 2014-2018.


22

W H AT ’ S U P

27 januari - 2 Februari 2014

27 januari - 2 Februari 2014

K O M U N I TA S S E P E D A T U A I N D O N E S I A

Menarik Sejenis

Peminat sepeda onthel kian banyak dari waktu ke waktu. Sekarang ini, khususnya di kota-kota besar, kita makin sering disuguhi pemandangan kelompok-kelompok pesepeda onthel melalui jalan-jalan kota pada harihari libur, khususnya ­Minggu pagi. Bukan sekadar bersepeda santai, kelompok-kelompok pesepeda onthel ini juga kerap tampil di berbagai acara sosial maupun hiburan.

P

kecil menyukai sepeda, dan keg­ emarannya itu tak hilang hingga de­ wasa. Kapan pun ada kesempatan, jika memungkinkan ia akan ber­ sepeda. Tak terbatas hanya sepeda onthel, dulu ia juga termasuk penggemar sepeda modern yang menurut Teddy dari sisi harga ada ‘kastanya’. Dari harga yang biasa saja sampai yang berbunyi ‘jut-jut’ (jutaan atau puluhan juta). Tak mau bersaing dengan hal semacam itu, karena hakikat bersepeda itu adalah untuk kesehatan juga refreshing bukan soal gengsi-gengsian, Teddy pun merasa lebih nyaman dengan sepeda onthel yang tak kenal ‘kasta’. Mungkin, kar­ ena itu juga, komunitas sepeda onthel ini begitu subur tumbuhnya. Komunitas Onthel Batavia sendiri, tutur Teddy, berdiri sejak Agustus 2005. Awalnya, Teddy yang gemar ber­ sepeda datang ke Monas di Minggu pagi. Di sana berjumpa dengan satudua pengguna sepeda tua juga. Tak terasa, aktif ber­ sepedaan di Monas mem­ buatnya memiliki banyak teman yang juga pengge­ mar sepeda tua. “Jumlah­ nya makin banyak, akhirnya kami sepakat membentuk sebuah komunitas yang disebut Komunitas ­Onthel Batavia. Nama Batavia disesuaikan dengan sepeda t u a , dengan nama Batavia jadi terke­ san tua. Sekarang ini anggotanya sudah mencapai 3.000 orang,” imbuhnya. Komunitas ini kemudian meng­

Tim Gowes KoSTI

sumber foto sepedawordpress

Komunitas sepeda tua

induk ke Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KoSTI) yang berdiri tiga tahun kemudian,” paparnya, seraya menambahkan, Mei 2013 lalu, un­ tuk kedua kalinya KoSTI mengikuti kongres International Veteran Cycle Association (IVCA) di Ceko. Indonesia adalah Negara kedua di Asia, setelah

Jepang, yang menjadi anggota resmi IVCA. Yang menarik pada saat itu, para perwakilan KoSTI dalam menggikuti reli mengguna­ kan pakai­ an adat Sunda sehingga secara tidak langsung KoSTI telah memperkenal­kan budaya bangsa Indonesia di dunia internasional. DARI MURAH SAMPAI PULUHAN JUTA Untuk masuk menjadi anggota komunitas sepeda tua, tuturnya, tidak ada persyaratan khusus ke­ cuali memiliki sepeda tua. “Asalkan bentuknya tua, tidak masalah, bisa masuk sebagai anggota. Jadi tidak ada syarat merek atau buatan negara mana, atau tahun pem­ buatan. Yang penting sepeda tua. Kan pabrik sepeda tua juga sudah tidak ada. Yang ada adalah pabrik yang membuat sepeda-sepeda baru model klasik. Selain itu, kami juga tidak mengenakan iuran pada anggota,” ungkap Teddy yang be­ lum lama ini berhasil memboyong sepeda tua buatan tahun 1800-an dari sebuah museum pribadi di Ceko.

Tapi diakui Teddy pula, garagara peminat sepeda onthel se­ makin banyak, permintaan akan sepeda model itu pun meningkat pesat. Dan, hal ini otomatis mem­ pengaruhi harga jual sepeda tua itu. “Tahun 2007 saya masih bisa beli sepeda onthel

dengan harga Rp 25.000. Tetapi sekarang mungkin harga segitu, sudah tidak bisa lagi. Ini kan hukum supply-demand,” ujar Teddy yang memiliki tujuh sepeda onthel di rumahnya. Berbicara harga memang relatif, dari yang relatife murah sampai yang relatif mahal. Malah saat ini ada showroom sepeda model klasik buatan Holland yang menjual sepedanya seharga Rp 48 hingga 70 juta. Tapi tentu saja tak perlu khawatir, karena sepeda onthel juga banyak diproduksi di Indone­ sia, baik dari Yogyakarta, Tegal, dll. dengan harga relatif terjangkau. Hanya saja pesan Teddy, bagi yang ingin membeli sepeda tua orisinal agar berhati-hati agar tidak tertipu. “Sulit menentukan­ nya (sepeda orisinal). Saya sempat tiga kali tertipu. Ini akibat supplydemand juga. Supply kurang, se­ mentara permintaan begitu tinggi. Jadi bagi yang ingin beli sepeda orisinal, sebaiknya masuk di klub atau komunitas sepeda tua dulu. Nanti di sana bisa saling bertukarinformasi, bisa belajar mengenali

“Pernahkah Anda berpikir, Anda pernah bersama di kehidup­ an sebelumnya?” tanya Putu Arsaningsih, S.E., pendiri Yayasan Cinta Kasih ini kepada dua sahabat yang datang berkonsultasi padanya. Keduanya tampak terheran-heran tak percaya sembari meng­geleng-gelengkan kepalanya. Sejurus kemudian Putu Arsa­ningsih, S.E. menggerak-gerakkan jari-jemari tangannya seperti menghitung sesuatu. Hal yang sama juga dilakukan sekretarisnya Adek Dharana, yang men­ dampingi Bunda Ningsih, panggilan karib Arsaningsih. “Pada empat kehidupan terdahulu kalian adalah kakak beradik,” ujar Bunda yang diiyakan Adek.

sumber foto sepedawordpress

barang. Karena sepeda tua orisinal meski masih ada, namun sulit men­ carinya,” jelasnya. KONGRES KOSTI DI BALI Terkait KoSTI, Teddy menu­ turkan, tak lama lagi organisasi tersebut akan menggelar kongres yang rencananya diselenggarakan di Denpasar, 8-9 Februari men­ datang. Sekitar 3.000 orang akan hadir di sana. Ini adalah Kongres ke-3, setelah sebelumnya di Bo­ gor tahun 2008 (Kongres 1) dan Yogyakarta tahun 2011 (Kongres ke-2). “Acaranya selain laporan pertanggungjawaban kepengurusan periode 2011-2014, juga pemilihan ketua baru,” katanya, sembari me­ nambahkan, kali ini jumlah sepeda yang dibawa dibatasi. Hal ini berdasarkan pengalaman sebelumnya ketika KoSTI mengge­ lar ‘Bandung Lautan Onthel’ yang diikuti 16.000 penggemar sepeda onthel dari berbagai daerah di Indo­ nesia, juga dari mancanegara seperti Amerika, Belanda, Australia, Rusia, Thailand, dan Malaysia. Akibatnya, Bandung sungguh-sungguh menjadi ‘lautan’ onthel yang ternyata ber­ dampak kurang baik karena terjadi kemacetan. Sebagian masyarakat pun mengeluhkan hal tersebut. Hal ini menjadi pembelajaran bagi penyelenggara, untuk ke depan­ nya lebih berhati-hati, dalam meng­ gelar kegiatan-kegiatan akbar. “Jadi, kita membatasi kegiatan-kegiatan besar, khususnya terkait jumlah sepeda yang dibawa. Coba bayang­ kan saja, kalau 1.000 orang saja membawa sepeda ukuran panjang 2 meter, akan jadi seperti apa. Kami tidak ingin masyarakat terganggu, jadi harus dibatasi. Karena itu, untuk kongres di Bali pun demikian. Jumlah peserta yang datang boleh banyak, tapi untuk sepeda yang dibawa, maksimal 3.000 sepeda. Kami tidak ingin jor-joran,” tuturnya. Untuk memeriahkan acara, sekaligus kampanye dan sosialisasi kongres, KoSTI akan menurunkan Tim Gowes yang akan berangkat ke Bali dari Jakarta, dengan bersepeda onthel. Tim ini akan menempuh jarak 1.300 km selama 18 hari 17 malam, melewati 62 kabupaten/ kota di lima provinsi. –Diana Runtu/ Inten Indrawati

3

Arsaningsih

Makin Tua Makin Berkilau

esatnya pertumbuhan klub dan komunitas pesepeda onthel di Indonesia, juga diakui Ketua I DPP Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KoSTI), Teddy Nugraha. Pertumbuhan klub dan komunitas sepeda onthel dalam enam-tujuh tahun terakhir boleh dibilang cukup signifikan. Saat ini, ujarnya, jumlah anggotanya sudah mencapai 3 juta orang di seluruh Indonesia yang berasal dari 22 provinsi. Kenaikan signifikan juga bisa dilihat dari jumlah klub dan komunitas yang tumbuh subur pada lima tahun terakhir. Pada 2008 saat Kongres KoSTI pertama kali digelar, jumlah klub/ komunitas masih sekitar 131. Tetapi, lima tahun kemudian jumlah tersebut membengkak menjadi 700-an. Sekalipun tidak tercatat dalam lembaga rekor, namun den­ gan jumlah ini merupakan rekor tertinggi di dunia. Indonesia men­ jadi negara terbanyak jumlah klub/ komunitas sepeda tua di dunia. Pertumbuhan pesat ini, boleh jadi agak diluar dugaan. Karena pada sepuluh tahun lalu, masih sangat jarang mereka yang mau bersepeda onthel di jalan-jalan kota besar. Yang paling sering terlihat biasa­nya, hanya pedagang somay atau ojek sepeda. “Iya, makanya dulu di awal-awal sering diledek tu­ kang somay atau tukang ojek. Dulu di Monas, hanya ada satu-dua orang yang bersepedaan dengan sepeda onthel pada Minggu pagi. Tapi sekarang sudah sangat banyak,” kenang Teddy yang juga membidani lahirnya Komunitas Onthel Batavia pada 2005. Teddy sendiri mengaku sejak

S E L E B R I TA S

K

ehidupan saat ini tak lepas dari kar­ ma (perbuatan) kita sebelumnya. Kare­ na itu pula ia menegaskan, tak ada sesuatu yang kebetulan, semua ada keterhubungan dengan Tuhan, ­atman/jiwatman, dan hukum karma. Termasuk hari kelahir­an seseorang. Kalau pun hari kelahiran itu mem­ bawa karakter-karakter yang tidak baik, Bunda menyarankan jangan terpaku dengan hal itu. “Pakai itu sebagai acuan mengintrospeksi diri agar bisa berbuat yang lebih baik lagi. Ini bukan untuk siapa-siapa tetapi untuk diri kita,” ujarnya. Beberapa tahun terakhir ini nama Bunda Ningsih cukup ­f amiliar di telinga masyarakat Bali. Ia di­undang ke berbagai tempat dan acara untuk memberikan workshop Soul Illumination. Dalam pelatihan ini, peserta dikenalkan bagaimana mencerahkan jiwa dengan konsep energi, dan proses keterhubungan dengan Tuhan agar bisa membangkitkan energi Il­ lahi. Konsep energi ini bukan sesuatu yang baru. “Konsep energi ini ses­ ungguhnya semua ada di Bali dalam berbagai kegiatan ritualnya seperti ngulapin, melaspas, dll. Hanya saja ini harus dikupas lebih mendalam lagi se­hingga makna dan tujuan dari ritual itu didapatkan,” ucapnya. Perempuan kelahiran Yogya­karta, 17 Desember 1968 ini meng­awali ak­ tivitasnya sebagai instruks­tur senam hamil tahun 2000. Saat itu, belum banyak pelayanan senam untuk ibu hamil. “Waktu itu saya masih sakitsakitan, kondisi tidak nyaman. Karena saya meng­ajar senam, kondisi harus bugar terus. Saya mendalami energi agar bisa menyembuhkan diri sendi­ ri,” ungkapnya. Dari sana kemudian ia berpikir mengombinasikan senam hamil tersebut dengan konsep energi. Terciptalah senam hamil Yophytta, kolaborasi dari yoga, pilates, dan taichi. Senam ini merupakan afir­ masi dengan dasar konsep energi. Sampai saat ini, pencipta dan pelatih Yophytta Materna bagi bidan ini sudah ber­keliling ke seluruh kota besar di

Indonesia dan melatih hingga 11 ribu ibu hamil di seluruh Indonesia. Senam ini sudah dirasakan man­ faatnya. Bayi-bayi yang lahir dari rahim ibu yang saat hamil mengikuti senam Yophytta ini cen­derung lebih tenang, sabar, dan kualitasnya lebih bagus. Para ibu pun bisa melalui pro­ ses persalinan dengan rileks tanpa tekanan. Karena pada dasarnya senam ini mengajar­kan bagaimana melepas­ kan diri dari perasa­an-perasaan tidak nyaman, emosio­nal, dan penolakan tubuh. Proses sakit sesungguhnya berasal dari pola pikir yang salah. Melalui senam ini juga dibersihkan rekaman-rekaman negatif dan energi negatif pada ibu yang cenderung akan menem­pel pada si jabang bayi kelak. “Semua rekaman negatif itu bisa dihilangkan melalui konsep energi. Karena itu harus tahu metodenya dulu. Jika sudah mempelajari energi, kita bisa mendeteksi rekaman negatif itu dan meluluhkannya,” ujar Bunda yang kemudian membuka Klinik Pe­ nyembuh dengan Energi tahun 2004 ini. “Dari kajian yang dilakukan sejak 2002 itu, kami membuat detail den­ gan pemahaman dan mengubah pola pikir yang salah sehingga kami berani membuat pelatihan dan menyebar­ luaskan konsep energi ini,” imbuh Adek Dharana. Tahun 2010, Bunda Ningsih juga mengajar sampai ke Brunei, Srilanka, Malaysia, Singapura, Cina, dan Thai­ land. Senam Yophytta ini mereka kembangkan dan sudah dipahami hingga puluhan ribu jiwa. KONSEP ENERGI Energi menjadi suatu hal men­ dasar sekali dalam kehidupan kita yang perlu dipelajari. Energi bagaikan tongkat penuntun bagi orang buta. Dengan memahami energi, akan lebih membantu memilah jalan Tuhan, jalan yang baik dan buruk. Ada tiga energi yang di­kenal, yakni energi Illahi, ener­ gi prana (alam), dan tenaga dalam. Hukum energi adalah menarik se­ jenis. Untuk menyamakan diri dengan energi Tuhan, lepaskan sadripu (kama: nafsu, keinginan; lobha: tamak, rakus;

krodha: kemarah­ an; moha: kebin­ gungan; mada: mabuk; matsarya: dengki, iri hati), dan harus berani keluar dari zona nyaman. Ketika terhubung de­ ngan Tuhan, kita harus rendah hati, ikhlas, dan tak punya keinginan. Karena, energi mengikuti pikiran dan pikiran adalah awal ter­b entuknya suatu karma. Pikiran positif akan memberikan karma positif. Jika memahami energi lebih da­ lam, kita bisa mengukur batin/kata hati dengan energi. Dengan menem­ pel­kan lidah ke langit-langit akan meningkatkan tingkat energi karena bagian rongga mulut adalah bagian tubuh yang tidak terhubung secara energi. Energi bisa dilihat dengan kasat mata. Caranya, tempelkan lidah ke langit-langit, lempar pandangan mata ke langit, pusatkan pada satu titik sejauh dua meter dari mata kita. Tiap orang akan melihat energi dengan bentuk berbeda-beda, ada yang melihat seper­ti butiran air yang bergerak-gerak, ada juga yang melihat seperti spermatozoa yang bergerakgerak, dsb. Berdasarkan konsep energi, tiap manusia memancarkan energi dari tubuhnya sehingga bila kita mampu melihat, tubuh kita di­kelilingi oleh sebuah medan energi yang biasa disebut dengan aura. Aura ini ber­ macam-macam, ada aura kesehat­an, mental, emosional, spiritual, dsb. Dalam masalah emosi, yang berperan adalah aura emosional. Tebal tipisnya aura ini ditentukan oleh suasana diri kita. Apabila kita dalam kondisi damai maka aura emosional ini akan tebal, memancar luas. Sebaliknya, jika da­ lam kondisi marah, aura emosional ini akan menjadi sangat tipis. Hal ini terjadi karena dalam kondisi marah energi kita akan banyak terbuang

keluar, terkirim dan menempel pada orang yang kita marahi sehingga me­ lukai orang tersebut secara energi. Energi sejenis menarik sejenisnya. Apabila Anda berdekatan de­ngan sese­orang yang sedang marah dan Anda pun merasakan tiba-tiba ada rasa yang tidak nyaman atau merasakan ada kemarahan dalam diri Anda tanpa ada pemicu yang jelas, sadarilah dalam diri Anda ada bibit kemarahan yang sedang menguat karena menemukan se­suatu yang sama. Dua medan negatif berlipat ganda secara cepat, bila keduanya bertemu satu sama lain, dan tak akan membuahkan satu kebaikan pun. Anda akan tahu soal ini dari pengalaman hidup Anda, dua medan negatif yang bersatu bukanlah pemandangan yang indah. Ketika kita marah, seringkali kita tidak menyadari apa saja yang terucap atau keluar dari mulut kita. Kata-kata yang terucap bahkan melukai orang yang menjadi sasaran marah kita. Kita bisa saja meminta maaf apabila kemu­ dian sadar tidak seharusnya marahmarah. Tetapi bisakah Anda menarik rasa luka atau menarik ucapan katakata yang sudah terlanjur keluar. Orang awam mungkin bisa memaafkan tetapi luka karena kata-kata yang menyakit­ kan tidaklah mudah disembuh­kan. Apa yang bisa dilakukan bila Anda menyadari hal ini? Anda menyadari ke­ marahan adalah sesuatu yang merugi­ kan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Lantas bagai­manakah Anda menyikapi hal ini? Mengubah orang lain tidaklah bijaksana. Yang bisa dilakukan

adalah menyadari diri, ada kemarahan dalam diri, dan segera berupaya agar energi diri tidak sama dengan energi kemarah­an orang lain, yaitu dengan cara mengubah kemarahan dalam diri menjadi cinta kasih. Bila merasakan emosi akan keluar, tarik napas secara dalam, cari cara untuk berlalu secara sopan, menjauh sejenak, menarik diri sejenak mencari waktu untuk diri sendiri kemudian hening sehingga Anda dapat memulihkan diri dari se­ mua perasaan negatif, menyadari, dan belajar menerima semua apa adanya, memulihkan diri, dan bisa kembali dengan perasaan yang menyenangkan. Memancarkan kedamaian dan cinta kembali. Senantiasa menjaga diri selalu dalam kondisi penuh cinta dan damai menciptakan perisai yang tidak dapat ditembus dengan hal negatif apa pun sehingga hal negatif apa pun yang dikirimkan orang kepada Anda tidak akan mampu menyentuh Anda. Jika sudah penuh dengan cinta, medan energi cinta sudah meradiasi de­ngan begitu kuatnya, Anda tidak saja mampu melindungi diri namun juga mampu memancarkan cinta kepada orang yang paling membenci Anda sekali pun. “Mari kita semua segera meng­ ubah diri karena usia yang terbatas, mumpung masih muda dan sehat. Ketika mau belajar, kosongkan cangkir untuk mendapatkan pelajaran itu, dan letakkan cangkir lebih rendah daripada tekonya. Semuanya perlu perubahan, ambil hal-hal yang positif,” imbaunya. –Inten Indrawati/Ratna Hidayati


EKSPRESSO

2

27 JANUARI - 2 Februari 2014

27 JANUARI - 2 Februari 2014

GORO-GORO

klik: www.tokoh.co.id

Menu Sehat ala Sarwan

HUJAN

mingguantokoh @mingguantokoh

Amat duduk menatap hujan. Sejak subuh, air langit itu sudah mendongkel-dongkel membuat semua kuyup. Lalu Amat bertanya dalm hati. “Untuk siapa hujan ini turun?” Ia lihat anak-anak tetangga, jalan ke sekolah memakai payung yang terlalu kecil. Sepatunya ditenteng bersama buku dan tasnya. Tapi ia tertawa dan berteriak-teriak ketika melihat kawannya kejeblos masuk selokan. Baju dan buku-bukunya basah. “Waktu kecil dulu, kita juga banyak tertawa, seperti me­ reka,” kata Amat ketika istrinya menghampiri membawa segelas kopi. “Anak-anak sekarang memang terlalu banyak tertawa!” kata Bu Amat kesal. “Apa saja ditertawai. Masak temannya masuk got bukannya ditolong tapi ditertawai? Tidak tahu aturan!” Amat tertawa. Anak yang kejeblos itu, ketika berdiri, di­dorong lagi oleh teman-temannya ke got. Tapi dia berhasil menarik tangan temannya itu bersama masuk got. Anak-anak menjerit kegirangan. “Jangan ditonton Pak, nanti tambah nakal!” “Anak kecil memang lebih baik nakal.” “Ah! Bapak ini yang nggak-nggak saja!. Kalau kecilnya sudah nakal, besarnya pasti jadi orang tak bener!” “Salah, Bu! Riset membuktikann anak nakal itu biasanya pin­ tar!” “Siapa bilang! Itu riset keblinger! Mana ada anak nakal itu pintar. Kalau nakal pasti goblok. Nah, kalau goblok biasanya lalu nakal! Lihat saja nanti! Anak-anak lain jam begini sudah di kelas. Anak-anak itu paling banter mau cari alasan bolos karena bajunya basah!” Bu Amat lantas menutup jendela. Lalu mendamprat suami­ nya. “Bapak jangan mengajari anak-anak itu bolos! Nanti orang­ tuanya protes kalau anaknya tidak lulus UN!” Amat tercengang. “Mengajari anak-anak itu bolos? Apa hubungannya. Bapak cuma nonton hujan kok! Apa salahnya nonton hujan?” “Tapi Bapak sudah tertawa!” “Ada yang jatuh ke got. Lucu! Apa salahnya orang tertawa?” “Tidak boleh tertawa! Mereka kira Bapak menertawakan mereka. Jadi mereka senang, terus saja main-main sampai lupa sekolah. Besok kalau hujan lagi tutup saja jendelanya!” Besoknya, pagi-pagi kembali hujan. Pak Amat tidak berani buka jendela. Tapi gemerisik air hujan begitu seksi. Amat tergoda. Setelah mengintip dan ternyata tak ada anak-anak, Amat membuka jedela. Suara hujan menyerbu masuk. Amat merasa diserang semangat. Rumah terasa kembali diberondong kehidupan, Amat me­ nikmati suasana itu dengan nikmat. Ia teringat bagaimana dulu ia main kasti hujan-hujanan. Pulang sekolah hujan-hujanan. Ketika kedengaran entakan kaki Bu Amat datang, Amat cepat menutup jendela, lalu pura-pura baca koran. Bu Amat meletakkan gelas kopi di meja, sambil sambat, “Aduh pengap, Pak. Kenapa jendela tidak dibuka, tukar udara demi kesehatan!” Bu Amat langsung buka jendela. Begitu terbuka, memberon­ dong masuk suara gelak tertawa dan pekik anak-anak. Mereka main bola di air yang tergenang. Ketika salah satu masuk selokan, yang lain ikut mencebur. Akhirnya semua bergulat rebutan bola di selokan. Bu Amat tertawa terpingkal-pingkal. Amat segera mendekat lalu menutup jendela. “Jangan ditutup, Pak!” “Katanya tidak boleh tertawa! Nanti anak-anak bolos!” “Ini kan hari Minggu! Amat terpaksa membuka jendela lagi. Lalu ikut bersama-sama tertawa. Bahkan berteriak memberi semangat anak-anak itu. Esoknya, hari Senin, Pak RT bertandang. Dengan hormat, ia minta, agar Amat tidak membuka jendela lagi, kalau hujan. “Soalnya anak-anak pada sakit, tidak sekolah semua, akibat hujan-hujanan main bola di selokan,” kata Pak RT. Amat mengangguk supaya tidak memperuncing masalah. Tapi Bu Amat marah besar, “Apa hubungannya!”

Putu Wijaya

Baca Habis Semua Tulisan Beberapa komentar masuk ke redaksi Tokoh terkait perubah­an yang kami lakukan. Bapak Ngurah di Jalan Gatot Subroto Denpasar menelepon, tulisan Goro-goro Putu Wijaya, mengapa sering berpindahpindah halaman? Apakah tidak bisa ditetapkan saja halamannya? Selama beberapa edisi yang lalu, Goro-goro memang be­berapa kali pindah halaman. Terkadang di halaman Inspirasi, kadang berpin­ dah Snapshot, sesekali di halaman What’s Up dan kemudian di hala­ man Dara. Jika begitu ke­jadiannya, ada hal teknis terkait tata letak yang memengaruhi. Tetapi, jangan kha­ watir, kini ha­laman Goro-goro sudah pasti tetap di halaman Eks­presso. Selain itu, ada juga komentar dari Ibu Komang Sri di Tuban. “Tokoh sekarang kian enak dibaca. Saya suka halaman yang ada resep­nya, apalagi

O

M G

kini ditambah. Resep itu siapa yang buat ya? Apakah Tokoh bisa tambah ha­laman lagi?” begitu pesannya. Ada dua halaman resep di Tokoh. Pertama, Resep ala Chef. Resep ini disediakan oleh chef berbagai hotel dan restoran yang tergabung dalam Indonesian Chef Association Bali. Chef yang mem­ buat resep, selalu kami tampilkan foto dan namanya. Tiap minggu, selalu berbeda. Kedua, Resep­ne Sarwan, dibuat oleh Sarwan, pe­ serta kompetisi masak Master­chef. Beberapa resep Sarwan digunakan hotel dan restoran di Surabaya. Apakah Tokoh bisa menambah halaman lagi? Kami berharap iya. Tetapi, untuk menambah halaman memerlukan kajian operasional yang lebih jauh. Doakan saja kami bisa menambah halaman. Ada juga pesan dari Ibu Anna di Sanur. “Tiap Minggu, saya pasti membaca habis semua tu­

lisan di Tokoh. Semua rubrik saya suka. Tetapi, yang pertama kali saya baca, tergantung beritanya. Saya suka tulisan di Life Story. Seperti tulisan tentang Liburan Berujung Maut, saya sampai menangis mem­ bacanya,” kata Bu Anna. Senada dengan Ibu Anna, Bapak Rena Krisnanda melalui Facebook menyampaikan, Tokoh­ merupakan media yang tak pernah terlewatkan dibaca oleh keluarga saya. Terima kasih atas respons pem­ baca Tokoh. Kami berharap, Tokoh bisa menjadi sumber ins­pirasi dan media yang mence­rahkan. Kami menunggu saran dan kritik yang lain agar kami bisa terus mening­ katkan kualitas. Sekali lagi, terima kasih. Salam.

Ralat Terjadi kesalahan penulisan nama pada rubrik Inspirasi edisi 780. Tertulis Okin Adnyana, seharusnya Okin Adiyana.

Terpaksa Makan sambil Menunggu Uang

Pulang kantor, saya dan istri berencana mampir untuk mem­ beli makanan di warung lang­ ganan. Dalam perjalanan menuju warung, saya sempat menanya­ kan apakah istri membawa uang. Karena hembusan angin cukup kencang, saya mendengar istri saya mengatakan, bawa. Dengan percaya diri, kami langsung ke warung. Awalnya kami mau membungkus makanan untuk makan di rumah. Warung langganan ini biasanya ramai dan kami jarang mendapat tempat duduk. Ternyata ketika kami datang sore itu, warung sepi. Kami pun memilih untuk makan di warung itu. Pilihan menu tentu saja yang sesuai dengan selera. Telor bum­ bu pedas dan tempe mendoan. Istri saya memesan pepes ikan dan telor bumbu pedas. Minum­ an kami sama-sama teh botol. Sambil makan kami ngobrol tentang berbagai hal. Selesai makan, saya langsung meminta uang kepada istri un­ tuk membayar. Dia malah kaget karena dari tadi sudah bilang tidak bawa uang. Saya yang salah mendengar. Jawaban tidak bawa, yang saya dengar bawa. Oh My

mingguan berita wanita Penerbit PT Tarukan Media Dharma Terbit sejak 9 November 1998

God….kami makan tanpa mem­ bawa uang. Bongkar isi tas, tak ada uang terselip. Kami pun mulai berakal. Istri saya yang sudah selesai makan, pura-pura makan lagi melan­ jutkan sisa nasinya. Saya ngacir keluar warung mencari ATM terdekat. Tukang parkir pun saya beritahu saya keluar sebentar dan akan kembali lagi. Begitu keluar dari warung, saya lalu mengingat-ingat dimana ATM terdekat. Saya khawatir juga kalau-kalau di ATM yang saya tuju sedang perbaikan atau uangnya kosong. Sembari ber­ doa, saya mencari ATM yang dekat dengan GOR Ngurah Rai. Akhirnya ATM pun saya temukan dan harus menunggu untuk ambil uang. Ada seorang ibu yang ada di dalam bilik ATM. Hingga 10 menit, ibu itu tidak keluar-keluar. Saya jadi tidak enak hati karena meninggalkan istri

di warung. Tiba-tiba ibu dalam bilik ATM keluar untuk memang­ gil satpam. Satpam pun datang dan membantu ibu itu. Urusan belum selesai, karena satpam keluar dan ibu itu meminta saya untuk mencari tahu bagaimana mengecek saldo. Saya pun mem­ bantunya mencari tahu berapa saldo tabungannya. Lima menit kemudian, ibu itu keluar ATM. Saya langsung menarik uang dan secepatnya pergi dari ATM dan kembali ke warung. Di warung, saya melihat istri saya menanti dengan wajah cemas. Nasi yang tadinya sisa, menjadi ludes dimakan sambil menunggu saya. Setelah mem­ bayar, kami lalu pulang. Kami berdua tertawa cekikikan karena hampir malu di depan kasir. Peng­ alaman ini membuat saya selalu menyelipkan uang di dompet untuk berjaga-jaga. –Rama Dipa

Bagi pembaca yang memiliki kisah unik, seru, menyebalkan, atau mengasyikkan dan ingin berbagi dengan pembaca lain­ nya, silakan kirim kisah Anda ke redaksi@tokoh.co.id. Pan­ jang naskah maksimal 3.000 karakter. Sertakan juga nama dan no kontak Anda. Naskah yang muat di rubrik “OMG” akan mendapat bingkisan Tokoh. Info lebih lanjut, silakan hubungi Redaksi Mingguan Tokoh (0361) 425373

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ratna Hidayati. Redaktur Pelaksana: Ngurah Budi. Pemimpin Perusahaan: IDK Suwantara. Staf Redaksi/Pemasaran Denpasar: IG.A. Sri Ardhini, Wirati Astiti, Sagung Inten, Tini Dwi Rahayu. Redaksi/Pemasaran Jakarta: Diana Runtu, Sri Iswati. NTB: Naniek Dwi Surahmi. Desain Grafis: IDN Alit Budiartha, I Made Ary Supratman. Sirkulasi: Kadek Sepi Purnama. Se­kretariat: Ayu Agustini, Putu Agus Mariantara, Hariyono. Alamat Redaksi/Iklan Denpasar: Gedung Pers Bali K. Nadha, Lantai III, Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar 80117–Telepon (0361) 425373, 7402414, 416676–Faksimile (0361) 425373. Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi Jakarta: Jalan Pal­ merah Barat 21 G Jakarta Pusat 10270–Telepon (021) 5357603 - Faksimile (021) 5357605. NTB: Jalan Bangau No.15 Cakranegara, Mataram– Telepon (0370) 639543–Faksimile (0370) 628257. Jawa Timur: Permata Darmo Bintoro, Jalan Taman Ketampon 22-23 Surabaya–Telepon (031) 5633456–Faksimile (031) 5675240. Surat Elektronik: redaksi@tokoh.co.id, iklan@tokoh.co.id. Website: www.tokoh.co.id. Bank: BCA Cabang Palmerah Barat Jakarta. Nomor Rekening: PT Tarukan Media Dharma: 229.3006644 Percetakan: BP Jalan Kebo Iwa 63 A Denpasar.

23

Biasanya orang ingin makan makanan enak namun banyak dari mereka membatalkannya karena takut banyak kolesterol yang terkandung di dalamnya. Tapi kini, tak perlu takut. Chef Sarwan punya solus­ inya. Sarwan membuat menu makanan nonkoles­ terol dan minuman sehat juga. Menu sehat ini juga bisa dinikmati di Hotel Sahid Surabaya.

Chef Sarwan

B

agaimana rasa dan cara mengolahnya? Sarwan berbagi resep. Chef yang memiliki ciri khas masakan In­ donesia ini, digandeng Hotel Sa­hid untuk menyajikan menu un­t uk tamu hotel. Beberapa menu di antaranya, Bebek Non­Kolesterol, Resep Rawon Kendil Tulangan Sahid dan Kutuk Masak Bumbu Kluwek. Minumannya ada Nawisu Juice dan Strawberry Banana Milk Shake. “Bagi penikmat makanan yang tidak suka makanan dan mimunan yang mengandung lemak, coba saja menu saya. Seperti bebek, banyak yang tidak suka dengan bebek karena makanan yang berkolesterol

tinggi. Resep saya akan membantu untuk mengurangi kandungan ko­ lesterol yang ada di bebek,” ujarnya saat di Hotel Sahid Surabaya be­ berapa pekan lalu. Caranya, rebus bebek di kuali hing­ ga tiga jam lebih. Air rebusan diganti lima hingga enam kali, su­ paya lemak berkurang. Langkah berikutnya, tiriskan dan goreng. “Ingat, bumbunya ha­ rus sesuai resep saya, yakni banyak rempah,” ujarnya. Sarwan me­ mang memiliki cirri khas dengan rasa yang pedas dan banyak

rempah. Menu kedua yakni Resep Ra­won Kendil Tulangan Sahid yang dibuat dengan menonjol­ kan rasa bumbu yang merasuk ke tulangnya. Jika tu­ langnya disesap, bumbunya akan berasa. Menu selanjutnya adalah Kutuk Masak Bumbu Kluwek. Kutuk ini sebelum digoreng ditaburi jeruk nipis supaya tidak

amis. “Oiya, kalau ingin meng­ ganti ikan kutuknya dengan ikan lain bisa. Yang penting ikannya padat,” katanya. “Sementara untuk membuat minuman Nawisu Juice dengan bahan nanas 200 gram, sawi tiga lembar dan susu nonfat. Bisa juga diberi gula yang rendah kalori. Semua bahan diblender, pasti rasanya enak. Rasa sawinya tak kentara, jadi seperti jus avokad,” ujarnya. Strawberry Banana Milk Shake dengan bahan satu pisang kepok

merah, satu scoop stroberi, satu ons Grenadine sirup dan tiga scoop es lalu diblender. “Rasanya segar,” ujarnya. Meski Sarwan sudah menye­ barkan resepnya di beberapa hotel dan restoran, ia mengatakan jika menu yang ia buat tidak sama dari satu tempat ke tempat lain­ nya. Tetapi rasa dan ciri khasnya tetap sama. “Resepnya sama semua tapi menu makanannya berbeda-beda dong, tidak boleh sama,” katanya. – Diyah/Ratna Hidayati


24

27 Januari - 2 Februari 2014


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tokoh Edisi 781 | Tokoh by e-Paper KMB - Issuu