HARIAN UNTUK UMUM TERBIT SEJAK 1 MARET 2004 LANGGANAN LOMBOK Rp.85.000 SUMBAWA Rp.90.000 ECERAN Rp 5.000 Online :http://www.suarantb.com
SUARA NTB
16 HALAMAN NOMOR 104 TAHUN KE 13
E-mail: hariansuarantb@gmail.com
SABTU, 15 JULI 2017
TELEPON: Iklan/Redaksi/Sirkulasi (0370) 639543 Facsimile: (0370) 628257
Pengemban Pengamal Pancasila
Amaq Rumisin
Potret Kemiskinan Kawasan Lingkar Wisata Kuranji Pariwisata NTB sedang melesat maju. Tetapi, majunya sektor ini, tampaknya belum diimbangi kualitas hidup masyarakat khususnya yang tinggal di lingkar wisata itu. Namun segencar apapun Pemprov NTB menekan angka kemiskinan, jika tidak ada partisipasi pemerintah kabupaten dan kota sebagai “pemilik’ warga, penurunan pada angka dua persen per tahun menjadi sulit. Kantong-kantong kemiskinan di kawasan pesisir yang dijadikan objek wisata, buktinya masih banyak yang belum tersentuh. Seperti pemandangan di kawasan pesisir Kuranji, Desa Kebon Ayu, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat.
SEBUAH gubuk tampak mencolok, berdiri di sudut sebidang tanah di Lingkungan Kuranji Bangsal, Desa Kebon Ayu. Gubuk itu ukuran 5 x 3 meter, menempel jadi dinding berbahan gedek dan triplek bekas, atapnya sambungan asbes. Ini satu-satunya gubuk yang berdiri beberapa jengkal dari bibir pantai Kuranji Bangsal. Posisi yang sangat riskan, karena jika terkena hempasan ombak sedikit saja langsung roboh. Tanpa aliran listrik,
penerangan hanya mengandalkan lampu teplok. Di dalam gubuk itu hanya sekat menjadi dua ruangan, berbaur kamar tidur dengan dapur. Di gubuk itu tinggal Amaq Rumisin (50) bersama istrinya Inaq Rinase (40) serta anak gadis mereka yang berusia 19 tahun. Mereka tidur seadanya dalam satu kamar. “Begini sudah keadaan kami,” kata Rumisin dengan aksen Sasak. Bersambung ke hal 15
(Suara NTB/ars)
GUBUK - Gubuk tempat tinggal Amaq Rumisin (50). Ia tinggal bersama istrinya Inaq Rinase (40), bersama seorang putrinya.
”Hortipark”Telantar
Pemprov Tak Berani Alokasikan Anggaran
TO K O H
Menunggu Perda
PEMERINTAH pusat telah menerbitkan PP No. 18 Tahun 2017 tentang Protokoler dan Kedudukan Keuangan DPRD Provinsi. Dimana, dalam PP tersebut, penghasilan anggota DPRD akan dinaikkan. Namun, hingga saat ini Pemprov NTB belum dapat menetapkan besaran kenaikan penghasilan para wakil rakyat NTB yang duduk di Udayana tersebut. Pasalnya, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Ditjen Bina Keuangan Daerah meminta supaya Pemda/ DPRD membuat Perda terkait dengan hal tersebut. Bersambung ke hal 15
Mataram (Suara NTB) Status lahan yang menjadi lokasi pengembangan hortipark di Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah masih belum jelas. Pemprov NTB dan Pemkab Lombok Tengah (Loteng) sudah mengajukan permohonan pengelolaan lahan seluas 300 hektar lebih ke BPN. Namun hingga saat ini proyek tersebut telantar. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Disbun) NTB, Ir. Husnul Fauzi, M.Si menegaskan, pihaknya belum menerima jawaban resmi dari BPN terkait dengan permintaan pengelolaan lahan tersebut. Sehingga, status lahan yang menjadi lokasi pengembangan hortipark tersebut masih belum jelas. Untuk itu, Husnul mengatakan Pemprov tidak akan berani mengalokasikan anggaran untuk melanjutkan pengembangan hortipark sebelum status lahannya clear and clean.
“Kita ndak berani mengalokasikan anggaran sepanjang belum clear lahannya. Kita tidak mau mengalokasikan kalau belum jelas statusnya,” kata Husnul ketika dikonfirmasi Suara NTB, Jumat (14/7) siang kemarin. Ia mengatakan, ketika Bupati Loteng dijabat Penjabat Bupati, Ibnu Slaim, SH, M.Si, Pemda Loteng sudah mengajukan permohonan ke BPN setempat. Bersambung ke hal 15
H.Supran (Suara NTB/dok)
KO M E N TTAA R Dibatasi Pekan Depan SEBANYAK 15 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemprov NTB diperingatkan segera menuntaskan kajian akademis tentang pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dinas maupun badan. Belasan OPD tersebut di-deadline menuntaskan kajian pembentukan UPT hingga pekan depan. Kepala Biro Organisasi Setda NTB, H. Yusron Hadi, ST, MUM yang dikonfirmasi Suara NTB, Jumat (14/7) siang kemarin, usai rapat koordinasi dengan seluruh OPD mengatakan baru beberapa SKPD yang telah membuat kajian akademis mengenai pembentukan UPT yang ada di OPD masingmasing. ‘’Tersisa mungkin sekitar 15 SKPD yang kajian UPTD/UPTB belum rampung,’’ katanya. Bersambung ke hal 15 H.Yusron Hadi (Suara NTB/dok)
(Suara NTB/dok)
TELANTAR - Bangunan kantor hortipark di Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah yang telantar.
Proyek Terminal Haji Dilanjutkan
Pelabuhan Telong Elong Belum Ada Kejelasan Mataram (Suara NTB) Proyek Terminal Haji di areal Lombok Internasional Airport (LIA) dipastikan akan segera dilanjutkan pembangunannya. Pemprov NTB melalui Biro Administrasi Pengendalian Pembangunan dan Layanan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (APP dan LPBJP) telah berhasil mencari rekanan yang akan mengerjakan proyek yang sudah mangkrak dalam proses lelang yang dilakukan di Unit Layanan Pengadaan (ULP). Untuk menuntaskan pembangunan proyek Terminal Haji, Pemprov mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,8 miliar tahun 2017 ini. Sementara itu, untuk proyek lainnya seperti Pelabuhan Telong Elong, Lombok Timur masih belum ada kepastian kapan akan dilanjutkan. Dinas Perhubungan (Dishub) NTB mengaku masih melakukan kajian
yang lebih detail terkait proyek yang sudah lama mangkrak tersebut. Kepala Dishub NTB, Drs. L. Bayu Windya, M.Si yang dikonfirmasi Suara NTB, Jumat
(14/7) siang kemarin mengatakan proyek Terminal Haji akan segera dikerjakan oleh rekanan yang memenangkan proyek tersebut. Bersambung ke hal 15
(Suara NTB/dok)
RUSAK - Kondisi bagian dalam gedung Terminal Haji yang rusak parah
123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 melalui kuasa hukumnya Mataram (Suara NTB) 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 Kasus proyek vertical tak gentar. “Silakan saja, 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 dryer pada Dinas Pertanian mau panggil paksa kita siap 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 Tanaman Pangan dan Hor- kok,” kata kuasa hukum BS, 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 tikultura (Distan TPH) Agus Sugiarto, SH.,MH ke123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 Provinsi NTB masih alot. pada Suara NTB Jumat (14/ 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 Apalagi tersangka sudah 7). Sejak awal kasus ini 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 empat kali dipanggil dan menggelinding dan mene123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 tak kunjung hadir. Dua kali tapkan kliennya sebagai ter123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 tanpa keterangan, dua lagi sangka, Agus Sugiarto ter123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 dengan alasan. Kejati NTB us melawan. Upaya perla123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 pun mengancam memang- wanan kepada Kejati NTB 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 ditunjukkan dengan tidak gil paksa tersangka BS. 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 ‘’Kalau panggilan ketiga menghadiri panggilan dan 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 nanti tanpa keterangan, ya bahkan mengajukan pra 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 berikutnya kita jemput peradilan. Meski kalah, an123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 paksa,’’ ancam Aspidsus caman pra peradilan 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 Kejati NTB, Ery Ariansyah berikutnya memungkinkan 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 diajukan kembali. Harahap, SH. 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 Menanggapi itu, BS Bersambung ke hal 15 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901 123456789012345678901234567890121234567890123456789012345678901212345678901
Tersangka Kasus ”Vertical Dryer” Tak Gentar Dijemput Paksa
Petani Rumput Laut Beralih Menangkap Benih Lobster Mataram (Suara NTB) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB mengklaim program unggulan budidaya rumput laut masih tetap eksis sampai saat ini. Meskipun banyak juga petani rumput laut yang beralih menjadi nelayan penangkap benih lobster di Lombok Timur dan Lombok Tengah. Kepala DKP NTB, Ir. Lalu Hamdi, M.Si mengatakan, pada tahun 2016 lalu produksi rumput laut di NTB memang sedikit menurun. Tetapi penurunan produksinya masih mencapai target yang ditetapkan dalam RPJMD NTB 2013-2018. Ia menyebutkan, jumlah produksi rumput laut tahun 2016 sebesar 950 ribu ton. ‘’Kita punya produksi sedikit memang menurun tetapi tidak banyak menurunnya. Tapi masih dalam kategori tercapai target. Kita punya target tahun 2016 itu 950 ribu ton, itu tercapai. Setiap tahun terus mencapai target. Sekarang ini pengolahan rumput laut sudah berkembang,” kata Hamdi ketika dikonfirmasi Suara NTB, Jumat (14/7) siang kemarin. Data DKP NTB, rumput laut merupakan penyumbang utama produksi perikanan budidaya. Produksi rumput laut pada 2015 mencapai 918.021 ton basah, meningkat dibandingan tahun sebelumnya sebanyak 770.374 ton. Kemudian pada 2016 meningkat menjadi 950 ribu ton. Adapun target produksi rumput laut hingga 2018 mencapai 1 juta ton. Selain mengejar target produksi secara kuantitatif, kata Hamdi, pihaknya juga mendorong pengembangan industrialisasi pengolahan rumput laut. Bersambung ke hal 15
SUARA MATARAM
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
Halaman 2 (Suara NTB/cem)
PENJELASAN - Pihak Dishub Kota Mataram memberi penjelasan kepada jukir di Pasar Kebon Roek
Dialihkan ke BKD PENGELOLAAN pusat penjualan mutiara atau MCC yang berada di simpang empat Pagesangan dialihkan ke Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Mataram. Sebelumnya kewenangan pengelolaan aset Pemkot Mataram ini berada di tangan Dinas Perdagangan. ‘’Jadi MCC itu akan kita serahkan pengelolaannya ke BKD,” ujar Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, S.Pi, Jumat (14/7). Setelah usulan pengalihan kewenangan pengelolaan ini disetujui BKD, Alwan mengatakan menjadi kewenangan BKD untuk menyerahkan ke SKPD mana sebagai pengelola selanjutnya, apakah dikelola sendiri oleh BKD atau diserahkan ke Dinas Koperasi, Perindustrian, dan UMKM Kota Mataram. Karena menurutnya pengelolaan MCC lebih dekat dengan tupoksi Dinas Koperasi, Perindustrian, dan UMKM. Mengingat pelaku usaha bidang perhiasan mutiara maupun emas berada di bawah binaan dinas tersebut. ‘’Kita ingin bagaimana mendekatkan OPD ini dengan pelakunya, dengan (pedagang) yang ada di situ,’’ ujarnya. Alwan mengatakan, pengelolaan ini dilakukan Dinas Perdagangan bukan karena tidak mampu mengelola aset tersebut. Hanya saja ia ingin mengembalikan kepada SKPD yang lebih berwenang sesuai fungsinya. Dengan demikian pembinaan para pelaku industri kerajinan mutiara bisa lebih maksimal. ‘’Bukan kita merasa tidak mampu. Kita lihat dari fungsinya. Karena untuk mengembangkan kerajinan bukan kewenangan Dinas Perdagangan lagi,’’ ujarnya. MCC menurut Alwan, memiliki perlakuan khusus. MCC tersebut bukan pasar tradisional yang berada di bawah pengelolaan dinasnya. “Ada aktivitas (usaha) yang besar di situ. Bagaimana menciptakan kerajinan yang bagus untuk kota ini,” ujarnya. Alwan mengatakan, pihaknya telah menyerahkan aset tersebut kepada BKD sekitar dua pekan lalu. Sejauh ini belum ada keputusan final terkait kelanjutan pengelolaannya karena masih dalam tahap pembahasan. ‘’Ini masih kita rapatkan lagi. Nanti terserah BKD mau diserahkan ke mana,’’ katanya. Jumlah ruang yang ada di bangunan dua lantai itu sekitar 24 unit, namun tak semua ruang terisi. (ynt) Lalu Alwan Basri
Jukir dan Petugas Pasar Saling Klaim Lahan Parkir Mataram (Suara NTB) Permasalahan parkir bukan saja soal maraknya juru parker (Jukir) liar yang menggembosi retribusi daerah. Kawasan pasar tradisional jadi titik krusial penanganan parkir di Kota Mataram. Antara jukir dan petugas pasar saling klaim kepemilikan lahan. Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, Drs. H. Khalid menegaskan, tim operasi gabungan kini sedang fokus mengawal titik - titik parkir di semua pasar tradisional di Kota Mat-
jukir utama memiliki 10 - 15 jukir pembantu. Pola dilakukan jukir utama tidak benar, karena minimal satu jukir utama memiliki 3 - 5 jukir pembantu. Khalid menegaskan, tidak saja menertibkan parkir. Tetapi bagaimana pengelolaan parkir di pasar tradisional menggunakan karcis. Kepala pasar sambungnya, tetap memiliki tanggung jawab terhadap lahan parkir. Demikian pula, Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman memiliki tanggung jawab terhadap
Petugas Keamanan Keluhkan Keberadaan PSK di Pasar Cakra Mataram (Suara NTB) – Petugas keamanan Pasar Cakranegara mengeluhkan keberadaan PSK (Pekerja Seks Komersial) yang mangkal pada malam hari di tempat tersebut. Petugas keamanan sendiri tak bisa menertibkan mereka karena terbatasnya jumlah personel. Diketahui jumlah petugas keamanan Pasar Cakranegara sebanyak 10 orang. Karena itulah diharapkan bantuan dari pihak kepolisian untuk menangani persoalan tersebut. Hal ini diungkapkan salah seorang petugas keamanan Pasar Cakranegara, I Nengah Semara, Jumat (14/7). Para PSK tersebut juga telah membuat pihaknya resah. “Kita selaku (petugas) keamanan pasar selalu merasa resah. Di pasar yang sangat bebas itu tidak ditanggapi (aparat) Kota Mataram,” jelasnya. Semara pun berharap Pemkot Mataram dalam hal ini Dinas Perdagangan bisa menangani persoalan tersebut dan mensterilkan area pasar dari kegiatan-kegiatan negatif. Ia mengatakan, para PSK mangkal di area pasar setiap malam. Selain dijadikan pangkalan PSK, ia juga menyebut banyak preman yang datang membawa minuman keras dan mabuk-mabukan di dalam pasar. “Banyak sekali premanpreman yang bawa minuman, mabuk. Terus kita tidak bisa sebagai pengaman, petugas,” ujarnya. “Kita minta sama dinas, juga penegak hukum petugas kepolisian untuk keamanan di sana,” tambahnya. Jumlah PSK yang kerap ditemukan mangkal di pasar sekitar delapan sampai 10 orang. Beberapa waktu lalu pernah digelar operasi oleh Satpol PP Kota Mataram bersama kepolisian. Namun para
(Suara NTB/dok)
Polres Mataram akan Tangani Dugaan Pungli di Pasar Tradisional Mataram (Suara NTB) – Praktik pungli yang diduga masih marak di pasar tradisional khususnya Pasar Kebon Roek belum bisa ditangani hingga kini. Untuk mengatasi persoalan ini, rencananya Polres Mataram akan turun tangan. “Kalau sudah ada indikasi, kami akan turun. Pasti itu,” kata Wakapolres Mataram, Kompol I Made Baduarsa, SH.,MH ditemui di Pendopo Walikota Mataram, Jumat (14/ 7). Baduarsa mengatakan, selama ini pihaknya belum menerima secara langsung adanya laporan pungli di pasar tradisional dari Tim Saber Pungli Kota Mataram. Karena itulah pihaknya belum bisa turun tangan. ‘’Ada center (pusat) pengaduan pungli di wilayah hukum Kota Mataram ini. Secara spesifik saya selaku Ketua Pelaksana II itu belum ada laporannya,’’ jelasnya. Jika ada laporan yang masuk kepada pihaknya, biasanya akan disertai data rinci sehingga bisa langsung diturunkan Pokja penindakan. ‘’Kami belum terima secara spesifik bahwa ada dari masyarakat yang bertransaksi di pasar itu keberatan dengan adanya pungli maupun termasuk pemalakan-pemalakan di situ,” jelasnya. Baduarsa menegaskan, semua lapisan masyarakat berhak melaporkan jika menemukan adanya praktik pungli di pasar tradisional maupun instansi pemerintah. Hal itu pun telah diatur dalam Perpres terkait Saber Pungli. ‘’Diwajibkan seluruh masyarakat yang mengetahui, yang melihat atau mengalami langsung kejadian pungutan liar itu agar melapor kepada UPT Kota Mataram baik melalui SMS, email, bisa juga langsung. Identitas dari pelapor akan kami rahasiakan,’’ terangnya. Baduarsa menerangkan, kategori pungli ialah pemberian sejumlah uang karena terpaksa kepada pihak-pihak tertentu. ‘’Kategori pungli itu selama orang yang dipungut merasa keberatan dan tidak ikhlas memberikan sudah masuk kategori pungli. Tidak hitungan ribuan, ratusan, dan sebagainya, tidak dikategorikan harus sekian juta, sekian ratus ribu. Selama masih ada keberatan,” paparnya. Walaupun nilai pungutannya kecil, tapi jika diberlakukan kepada banyak orang maka oknum yang melakukan hal tersebut akan mendapatkan keuntungan yang banyak. (ynt)
(Suara NTB/ynt)
RESAH - Ruko yang berada di depan Pasar Cakranegara. Petugas keamanan di pasar ini diresahkan dengan banyaknya PSK yang mangkal pada malam hari. PSK ini kembali lagi mangkal di tempat tersebut. “Tetap mereka balik,” ujarnya. Semara juga menduga transaksi PSK bersama pelanggannya dilakukan di tempat tersebut. Ia mengatakan petugas keamanan pasar juga pernah berkelahi dengan preman. Ia tidak ingin keberadaan preman di tempat tersebut bisa merusak bangunan pasar yang merupakan aset Pemkot Mataram. “Petugas keamanan sering diteror sampai kita dilempar batu,” ujarnya. Dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, S.Pi menyampaikan, dari laporan yang diterima pihaknya, keberadaan PSK tidak hanya di
Pasar Cakranegara, tapi juga di pasar tradisional yang lain. “Ada juga di Pasar Mandalika, Pasar Panglima,” sebutnya. Alwan mengatakan, akan menyampaikan persoalan ini ke tim yustisi agar segera ditindaklanjuti. “Nanti akan kita koordinasikan bentuk tindakannya seperti apa. Yang jelas segera kami akan lakukan penindakan. Segera kami lakukan pembersihan di situ,” jelasnya. Kemarin Dinas Perdagangan Kota Mataram mengumpulkan seluruh petugas keamanan dari semua pasar tradisional di Kota Mataram. Dalam kesempatan tersebut, dikumpulkan berbagai keluhan dan masukan dari para petugas keamanan. (ynt)
parkir di taman - taman kota. Tetapi, Pendapatan Asli Daerah (PAD) diperoleh dari retribusi parkir tepi jalan umum diserahkan ke Dishub. Dishub selaku pemilik otoritas pengelolaan parkir tepi jalan umum berdasarkan mandat dari SK Walikota. ‘’Boleh saja kepala pasar gonta - ganti jukir. Tapi PAD parkir tetap diserahkan ke Dishub,’’ terangnya. Terkait realisasi parkir dari target yang semula sebesar Rp 2 miliar dan tercapai Rp 1,4 miliar itu terjadi tahun 2016.
Untuk tahun 2017 ini, Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pengelolaan Perparkiran sudah bisa memberikan setoran PAD dari parkir sebesar Rp 165-168 juta tiap bulan. Ini berarti kata dia, dalam setahun Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Perhubungan Kota Mataram bisa memberikan kontribusi ke kas daerah berkisar Rp 2 miliar. ‘’Realisasi perolehan dari retribusi parkir ini karena manajemen pengelolaan mulai berhasil menutup kebocoran yang terjadi selama ini,’’ katanya. (cem)
Rekanan Penunggak Parkir Bangkrut Mataram (Suara NTB) Dinas Perhubungan Kota Mataram tengah berupaya mencari dua rekanan yang menunggak pajak. Namun, pihak ketiga yang mengelola pajak parkir di tahun 2000 dan 2001 tak ditemukan. Kabarnya, rekanan tersebut bangkrut. Nilai tunggakan keduanya berbeda - beda. Koperasi SBSI yang mengelola pajak parkir mulai April hingga Juni 2000 tak menyetor kekurangan pembayaran pajak parkir senilai Rp 94.763.966. Sementara, CV. Selaparang Citra Sarana di tahun 2001 senilai Rp 117.499.100. Sejak tahun 2001, kala itu Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika telah melakukan penagihan. Namun, tidak ada itikad baik rekanan menyetorkan kekurangan pajak ke kas daerah. Kekurangan penyetoran itu jadi temuan Inspektorat Kota Mataram. Sehingga, Dishub berupaya mencari jalan tengah dengan mengajukan penghapusan ke Tim TPTGR. ‘’Kita
sudah meminta penghapusan dan melengkapi dokumen dibutuhkan,’’ kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, Drs. H. Khalid, Jumat (14/7). Dari sisi teknis, pihaknya sudah memenuhi syarat penghapusan. Munculnya tunggakan tersebut jadi pertanyaan padahal telah diajukan penghapusan. Menurutnya, Inspektorat juga telah mencari dua rekanan tersebut tapi nihil. ‘’Kita juga sudah cari tapi sudah ndak ada. Perusahaan itu bangkrut,” cetusnya. Khalid menambahkan, tunggakan itu merupakan kasus lama ketika ia masih menjabat sebagai lurah. Sehingga, secara teknis tidak diketahui seperti apa persoalan sebelumnya. Inspektur Inspektorat Kota Mataram, Ir. H. Makbul Ma’shum mengatakan, permintaan penghapusan tunggakan PAD memang telah diajukan oleh Dinas Perhubungan. Tetapi tidak bisa serta merta dihapus, karena membutuhkan proses panjang. Inspektorat tengah mendalami historis kasus tersebut. ‘’Kami harus dalami dulu,’’ cetusnya. (cem)
H. Khalid
(Suara NTB/cem)
Bappeda Susun RKP Atasi Banjir
(Suara NTB/ynt)
I Made Baduarsa
aram. Titik tersebut dianggap sebagai lokasi yang krusial karena antara petugas pasar dan jukir saling klaim lahan parkir. Dishub memperbaiki serta membenahi sistem pengelolaan parkir di pasar bekerjasama dengan Dinas Perdagangan. Terutama, bagaimana jukir di pasar menggunakan karcis. ‘’Setiap pasar nanti ada tim pengawas yang mengawasi mereka,’’ kata Khalid, Jumat (14/7). Hasil pemantauan tim khususnya di Pasar Kebon Roek. Tim menemukan satu
Mataram (Suara NTB) Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang khususnya Ditjen Cipta Karya mulai menyusun Rencana Kawasan Permukiman (RKP). RKP ini untuk mengatasi banjir yang selama ini terjadi di Kota Mataram. Kepala Bappeda Kota Mataram, Ir. Amiruddin memaparkan, perkembangan dinamis dan cukup besar terjadi di Kota Mataram. Terlebih dengan dilakukan revisi terhadap Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Revisi ini telah berjalan dan posisinya tengah dievaluasi oleh Pemprov NTB. Namun demikian yang jadi catatan bahwa kondisi di kawasan permukiman sangat memprihatinkan. Apalagi beberapa wilayah terjadi banjir. Diakui, secara terpadu dilakukan penanganan. Di sisi lain, Balai Wilayah Sungai membuat mas-
(Suara NTB/cem)
SUSUN DOKUMEN - Kepala Bappeda Kota Mataram, Amiruddin dan Dirjen Keterpaduan Infrastruktur Kementerian PUPR, Edward Abdurahman duduk bersama dalam rencana penyusunan dokumen RKP, Jumat (14/7). ter plan drainase. Dinas PUPR, Perumahan dan Kawasan Permukiman, dan Dinas Lingkungan Hidup melakukan upaya untuk menghindari titik banjir dan genangan. ‘’Namun kejadian itu tetap
terjadi sehingga jadi kekhawatiran kepala daerah,’’ terang Amir, Jumat (14/7). Dia heran, pengembangan kawasan permukiman di Kota Mataram dipusatkan di daerah selatan. Padahal, itu kawasan rendah
dan dekat pesisir pantai. Disisi lain, kawasan permukiman terutama penempatan jaringan air minum, listrik dan penggalian belum ada keterpaduan. Sehingga, penyusunan dokumen RKP diharapkan berbasis masalah. Artinya, RKP memberikan kebijakan pemukiman, hunian dan rencana keterpaduan infrastruktur mengatasi banjir di Kota Mataram. “Kawasan permukiman diharapkan menjawab persoalan terjadi tiap tahunnya,” katanya. Dirjen Keterpaduan Infrastruktur Kementerian PUPR, Ir. Edward Abdurahman menyampaikan, dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional tahap ketiga dan nawacita pemerintah pusat bahwa ketersedian infrastruktur, air minum, dan sanitasi sebagai dasar pengembangan kawasan permukiman di perkotaan agar tercipta kota tanpa kumuh. RPJMN 2016 - 2019, bagaimana membangun daer-
ah pinggiran dengan meningkatkan kualitas infrastruktur sebagai isu strategis membangun permukiman. ‘’Menjamin ketersedian mewujudkan perkotaan dan pemukiman yang inklusif,’’ terangnya. Pertumbuhan penduduk tambah Edward, jadi tantangan kawasan permukiman. Termasuk permasalahan kualitas dan kuantitas infrastruktur rendah. Masyarakat kota tumbuh secara sporadis tidak ada keterpaduan pemanfaatan dan pengendalian. ‘’RKP ditetapkan kepala daerah kemudian ditinjau dalam 5 tahun. Khusus di Mataram, penyusunan RKP dimulai dengan dilakukan survei mulai 10 Juni Agustus,’’ terangnya. Edward meyakini daerah memiliki komitmen membangunan dan meningkatkan kualitas kawasan permukinan sebagai upaya memaksimalkan penanganan persoalan seperti banjir dan lain sebagainya. (cem)
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
EKONOMI DAN BISNIS
Halaman 3
NTB akan Jadi Pelopor Pabrik Mini Kosmetik AKHIR bulan ini, mesinmesin untuk memproduksi kosmetik berbahan dasar rumput laut akan dipasang. Selanjutnya, diuji coba dan beroperasi. NTB akan menjadi salah satu provinsi penghasil kosmetik di Indonesia. “Setelah dipasang mesinnya, di-setting. Dilakukan pelatihan untuk operasional mesin, barulah beroperasi,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Ir. L. Hamdi, M.Si., menjawab Suara NTB di Mataram, Jumat (14/7). Selain itu, pihaknya juga akan merancang draf kerjasama dengan pengusa(Suara NTB/bul) ha perorangan yang melakL. Hamdi sanakan operasional pabrik. MoU-nya akan menyepakati apa model bagi hasil yang akan dibagi dengan pemerintah daerah, serta berapa besarannya. “Karena kita yang siapkan lahan, siapkan bangunan. Akan ada kesepakatan pembagian keuntungan. Itulah yang akan masuk ke PAD,” demikian L. Hamdi. Mantan Kepala Bidang P4K di Dinas Kelautan Perikanan Provinsi NTB ini, memaparkan, pabrik kecil atau unit pengolahan akan dipusatkan di Banyumulek, Lombok Barat. Bangunan pabrik mini telah disiapkan oleh pemerintah daerah. Pabrik mini dimaksud berada satu kompleks dengan Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek, Lombok Barat. Bangunannya di bagian timur RPH itu sudah siap digunakan, demikian juga listrik untuk kebutuhan operasional pabrik mini. Untuk kebutuhan pabrik mini, tahap awal dalam sebulan sekitar 500 kg rumput laut kering. Beberapa produk kosmetik yang dihasilkan misalnya, sabun rumput laut, sampo rumput laut, lulur, odol, pewangi ruangan dan sejenisnya. Rencananya akan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah, terutama di hotel-hotel yang tersebar cukup banyak di NTB. L. Hamdi mengatakan, rumput laut sebagai salah satu produk unggulan daerah yang masuk dalam program Pijar (Sapi, Jagung dan Rumput Laut), orientasinya tidak lagi kepada produksi. Sebab produksi rumput laut sudah memenuhi sasaran yang dicapai. Pada tahun 2016 lalu mencapai 1,026 juta ton/basah, rumput laut jenis Kotoni, Spinosim, dan Grasilaria. Dari produksi yang tercapai tahun 2015 lalu sebanyak 937.462 ton. Atas dasar itu, pemerintah daerah menggiatkan produkproduk jadi berbahan dasar rumput laut. Saat ini tak lagi produksinya untuk dijual dalam bentuk gelondongan. Karenanya, pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang bergerak di bidang pengolahan berbahan dasar rumput laut diperbanyak. “Kita mendorong UMKM untuk melakukan olahan-olahan, buat oleh-oleh dari rumput laut. Kita mendorong agar yang dijual sudah dalam bentuk tepung, bukan rumput lautnya langsung,” katanya. Dengan akan beroperasinya pabrik mini kosmetik dan makin banyaknya UMKM rumput laut, nilai tambah akan lebih banyak didapatkan. Masyarakat pesisir lebih termotivasi untuk berproduksi. (bul)
Membangun Pembangkit Listrik Bertenaga Nuklir
Mataram (Suara NTB) NTB akan dijadikan provinsi pelopor membangun pembangkit listrik bertenaga nuklir (PLTN). Komisi VII DPR RI pada APBN 2018 akan mengupayakan dukungan anggaran untuk dilakukan feasibility study. Hal ini dikatakan Anggota Komisi VII DPRRI Dapil NTB, Dr. Kurtubi, pada kegiatan Pembinaan dan Pengawasan Terpadu Terhadap Pelaku Usaha Pertambangan di Jayakarta Hotel, Lombok Barat, Jumat (14/7). Kegiatan ini difasilitasi Ditjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM ini, hadir puluhan pelaku usaha pertambangan di provinsi ini. Pada kesempatan ini, Kurtubi mengatakan, Menteri ESDM Ignasius Jonan juga telah meminta disiapkan pulaupulau kecil sebagai lokasi pembangunan PLTN dimaksud, karena pembangunan PLTN menjadi kebijakan pusat. Apalagi, keinginan bangsa Indonesia untuk membangun
pembangkit listrik alternatif ini sebenarnya telah digagas sejak tahun 1950-an, di masa Presiden Soekarno. Ketika negara-negara lain belum berpikir sejauh itu, bangsa Indonesia telah ingin memulainya. Namun, dalam perjalanannya, rencana tersebut lamban akibat penolakan dari berbagai pihak. Padahal, ini sudah menjadi kebijakan pemerintah dan amanat undang-undang. Pemerintah akan membangkitkan kembali semangat membangun PLTN ini. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan listrik di negeri ini yang penduduknya sudah sekian besar agar investasi tumbuh dan perekonomian tumbuh dua digit. “Satu-satunya sayarat untuk
itu, listriknya harus cukup. Untuk bisa cukup, nuklir harus masuk, menguatkan pembangkit listrik batu bara, tenaga surya, tenaga angin. Setelah sekian tahun, kita akan berikhtiar, NTB akan jadi pelopor, kita akan coba NTB jadi tempat pembangunannya pembangkit listrik tenaga nuklir ini,” tegasnya. NTB saat ini membutuhkan dukungan kebutuhan listrik cukup besar. Bahkan perhitungan PLN, setiap tahun pertumbuhan kebutuhan listrik mencapai 100 Megawatt di provinsi ini. Cukup besar. Apalagi, perusahaan tambang, PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) akan membangun smelter yang kebutuhan listriknya mencapai
300 Megawatt. Belum lagi di Kabupaten Lombok Utara akan dibangun kota industri baru melalui proyek global hub yang saat ini juga berprogres, sehingga kebutuhan listriknya mencapai 1.000 Megawatt. “Kita berbicara sepuluh tahun ke depan, 1.500 Megawatt dibutuhkan listrik. Dari pihak AMNT sudah siap, dari pihak global hub juga sudah siap. Kita harus segera mempersiapkan memenuhi kebutuhannya,” ujarnya. Pulau-pulau kecil yang ada di provinsi ini bisa jadi alternatif. Alasannya, penduduk yang minim dapat mengurangi resistensi (penolakan) di masyarakat. Kendati demikian, Dr. Kurtubi tak menyebutkan mana pulau kecil, atau gili yang akan menjadi perioritas. Nantinya Badan Tenaga Nuklir (Batan) yang akan melakukan uji kelayakan, di mana lokasi yang paling tepat. Karena itulah, DPR akan men-
dukung anggaran untuk melakukan uji kelayakan ini. “Tidak bisa dengan PLTU ecek-ecek, 7 MW dari pembangkit listrik batu bara, 1 MW. Itu tetap dibangun, tetapi hanya jadi pendukung. Pembangkit dari nuklir yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan ke depan,” imbuhnya. Di berbagai negara di dunia ini, ujarnya, sudah mulai bergeser memanfaatkan tenaga nuklir. Cina misalnya, pembangkit listrik tenaga batu bara sudah tidak lagi dibangun, karena dianggap sudah sangat mencemari lingkungan dan PLTN menjadi pilihan utama. “Soal investor, gampang, yang penting ada izin-izin, banyak yang akan datang jadi investornya. Nantinya akan mengadopsi teknologi yang dari Timur Tengah, Cina, Amerika atau Prancis. Yang penting kita siapkan dulu,” demikian Dr. Kurtubi. (bul)
Banyak ”Tidur”, Stasiun Pengisian Bahan Bakar bagi Nelayan Mataram (Suara NTB) Investasi untuk fasilitas infrastruktur penyediaan bahan bakar bagi nelayan nampaknya tak begitu menggiurkan bagi para pengusaha minyak. Yang telah ada, kondisinya mangkrak. Subsidi bahan bakar untuk nelayan pun tak sampai. Salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Bintaro, Ampenan Mataram salah satu contohnya. Infrastruktur SPBN yang disiapkan bagi nelayan di pesisir Pantai Ampenan itu tak lagi difungsikan. Entah karena alasan apa. SPBN tersebut hanya sebentar beroperasi, sekitar tahun 2016 lalu. Setelah itu, SPBN itu “tertidur” hingga saat ini. Tak hanya di situ, di tempat-tempat lain kondisinya nyaris sama. Nelayanpun terpaksa harus
mencari SPBU lainnya. “Di sini sudah tidak lagi beroperasi. Ndak tahu kenapa. Kita cari bahan bakar ke Meninting (Lombok Barat). Bayar ongkos ojek lagi,” kata salah satu nelayan di Bintaro, saat ditemui media ini. SPBU tersebut sebelumnya cukup membantu nelayan setempat, karena tak perlu jauhjauh mencari bahan bakar untuk melaut. Setelah SPBU tersebut tak lagi beroperasi, otomatis ada penambahan biaya yang harus dikeluarkan. Atau sama artinya, subsidi harga untuk bahan bakar nelayan, digembosi lagi dari ongkos ojek yang harus dikeluarkan, untuk mendapatkan bahan bakar. Umumnya mereka menginginkan, pelayanan kepada masyarakat yang notabenenya miskin ini, lebih dekat, agar tak menjadi kesulitan bagi mereka. Sementara itu, keterangan Sales Representative Pertamina Terminal Bahan Bakar M i n y a k (TBBM) Ampenan Reggi Senjang Paramagarjita, menyebutkan daerah yang belum memi-
(Suara NTB/bul)
TAK BERFUNGSI - SPBN di Bintaro yang tak difungsikan oleh pemiliknya. Entah karena alasan apa. SPBN ini dulunya sangat membantu nelayan sekitar, kini SPBN ini termasuk yang tidak dimanfaatkan lagi. liki SPBN adalah Kabupaten Sumbawa Barat, Kota Bima dan Kabupaten Dompu. Untuk saat ini, ada sembilan SPBN yang diperuntukkan bagi para nelayan. Sebagian besar tersebar di Pulau Lombok, yakni tiga di Kabupaten Lombok Timur, satu di Lombok Barat, satu di Lombok Utara dan satu di Kota Mataram. Sementara SPBN yang dibangun di area Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Teluk Awang, Kabupaten Lombok Tengah, belum masuk catatan Pertamina, karena belum beroperasi meskipun dibangun sejak beberapa tahun lalu. Untuk wilayah Pulau Sumba-
wa, hanya ada tiga SPBN, yakni dua di Kabupaten Sumbawa, dan satu di Kabupaten Bima. Dari sembilan SPBN tersebut, ada dua yang tidak beroperasi, yakni SPBN di Kota Mataram, dan di Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Keduanya tidak berfungsi sejak beberapa tahun lalu, karena persoalan pemiliknya kesulitan modal. Pertamina pun mendorong para investor untuk membangun SPBN di lokasi-lokasi yang menjadi konsentrasi para nelayan, terutama di Pulau Sumbawa. Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas), I Komang Gandhi, mengaku, berinvestasi
di SPBN menurutnya tak terlalu menarik. Hal disebabkan omzetnya yang terbatas, dan mekanisme pemberian kuota yang juga dibatasi oleh Pertamina. “Sudah jelas berapa jumlah nelayan, berapa kebutuhannya sudah dihitung. Itulah jumlah pasokan yang akan diberikan. Beda dengan SPBU, siapa saja boleh membeli dan kebutuhan sebarapa banyak, dipenuhi,” ujarnya. Kendati demikian, Gandhi menegaskan, SPBU - SPU di tempat lain, tetap akan memberikan pelayanan kepada nelayan. Selama menunjukkan kartu nelayan yang dimilikinya (rekomendasi) untuk pembelian.(bul)
PPI Waspadai Permainan Spekulan Sembako Mataram (Suara NTB) Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) juga tak tinggal diam mengantisipasi kemungkinan permainan spkelutan, terutama untuk komoditas Sembako. Perusahaan pelat merah ini menyiapkan stok cukup banyak untuk menjaga stabilisasi harga. PT PPI, sebagai salah satu perusahaan milik pemerintah yang bergerak dalam usaha perdagangantelahmenunjukan eksistensinya dengan baik. Berdiri sejak tahun 2003, PT PPI berkembang menjadi perusahaan besar dengan jumlah cabang yang tersebar di seluruh indonesia di 32 provinsi dan memiliki kuranglebih760 karyawan yang berkualitas. Sesuai dengan misinya, melakukan Perdagangan Umum dan khusus yang menangani beraneka ragam produk sejak dari hulu hingga hilir secara komersial, terukur. Melak-
sanakan transaksi perdagangan lokal maupun lintas Negara, melakukan produksi barangbarang yang mendukung perdagangan. Pengamananhargajugadilakukan secara masif, terutama saat antisipasi kenaikan harga akibat tingginya permintaan pada bulan puasa lalu. PPI ikut menjual beberapa komoditas pokok penyumbang inflasi, salah satunya cabai. “Sampai sekarang stok barang di kitamasihcukupbanyak.Berapapun kebutuhan masyarakat, kami penuhi, terutama beras, gula pasir dan telur,” kata Wasid, Manajer PPI untuk Wilayah NTB. Kepada Suara NTB di Mataram, Jumat (15/7) dikatakan, PPI menyiapkan stok besar cuk-
Jumat, 14/07/17
up banyak. Stok tersebut disimpan di mitra-mitranya. Berasbesar tersebut diserap dari kelompok-kelompok tani yang juga menjadi mitranya. Stok ini akan dikeluarkan secara massif bila dilihat ada kemungkinan terjadi kenaikan harga beras. “Kalau spekulannya mainmain mau menjual dengan harga tinggi, kita hantAm dengan operasi pasar,” demikian penegasannya. PPI tetap menyediakan beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bahkan untuk beras kualitas super, Wasid mengatakan, PPI menjualnya dengan harga Rp 8.400/Kg. Dijamin berasnya adalah beras lokal. “Umumnya kita ngambil dari Lombok
Timur. Berapa ton yang diminta masyarakat, kami siapkan. Dan memang kami pasarkan di tingkat lokal,” ujarnya. PPI adalah mitra pemerintah. Perusahaan ini juga mendukung kegiatan serupa yang dilakukan oleh Perum Bulog, sebagai sebagai perusahaan yang sama, perusahaan milik pemerintah. Selain beras, Wasid mengatakan, PPI menyiapkan gula pasir dalam juMlah cukup besar. Ia menjualnya dengan harga sesuai ketentuan pemerintah, Harga Eceran Tertinggi (HET), Rp 12.500/Kg. “Persediaan kita untuk gula pasir mencapai ratusan ton. Tersimpan di Bali. Kami tinggal datangkan kalau permintaan banyak,” demikian Wasid.(bul)
SUARA PULAU LOMBOK
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
Lakukan Pemekaran Kecamatan KABUPATEN Lombok Timur (Lotim) di bawah kepemimpin Bupati, H. Moch Ali Bin Dachlan saat ini terdapat 20 kecamatan. Dari jumlah itu, Pemkab Lotim kembali akan mengusulkan dilakukan pemekaran terhadap tiga kecamatan, yakni Kecamatan Aikmel, Sikur dan Sambelia. Dari tiga kecamatan ini, hanya Kecamatan Aikmel yang berpeluang dimekarkan, sementara dua kecamatan lainnya masih dalam posisi menggantung. Dikonfirmasi di ruang kerjanya, Jumat (14/7), Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Kabupaten Lotim, Drs. H.M. Juaini Taofik, menjelaskan, pemekaran kecamatan dilakukan oleh Pemkab Lotim untuk mendekatkan pelayanan terhadap masyarakat. Pasalnya, Kabupaten Lotim yang memilih wilayah cukup luas serta jumlah penduduk terbanyak di NTB yakni sekitar 1,3 juta jiwa sangat tepat bila pemekaran kecamatan terus dilakukan. Belajar dari pemekaran sebelumnya, lanjut Taofik, pemekaran kecamatan ini sangat menguntungkan bagi masyarakat, mulai dari pelayanan pembuatan dokumen kependudukan, pelayanan kesehatan maupun yang lainnya. Menurutnya, dengan dilakukan pemekaran kecamatan ini, maka seluruh pihak terkait seperti pembangunan instansi kesehatan, Polsek maupun yang lainnya akan mengikuti ke depannya. “Adanya pemekaran kecamatan ini akan semakin dinamis, semakin bagus, pelayanan kepada masyarakat akan semakin dekat,” imbuhnya. Hanya saja, katanya, dari tiga kecamatan yang diusulkan, hanya satu kecamatan yang sangat berpeluang tuntas tahun 2017 ini yakni kecamatan Aikmel yang dimekarkan menjadi Kecamatan Lenek. Berpeluangnya terwujud Kecamatan Aikmel ini, karena dari beberapa kriteria maupun persyaratan sudah memenuhi, mulai dari jumlah desa yang akan masuk ke Kecamatan Lenek sebanyak 10 desa maupun persetujuan dari sejumlah pihak serta persyaratan-persyaratan yang lain. “Jumlah desa di Kecamatan Aikmel saat ini sebanyak 24 desa, sehingga nanti 12 desa di masuk Kecamatan Aikmel, sementara 10 desa masuk wilayah Kecamatan Aikmel. Intinya untuk pemekaran Kecamatan Aikmel ini tidak ada masalah dan dapat tuntas tahun ini,” klaimnya. Sementara, untuk kecamatan lainnya belum dapat dipastikan pemekarannya, hingga saat ini terdapat berbagai kendala, seperti di Kecamatan Sikur yang akan dimekarkan menjadi Kecamatan Kotaraja, hingga saat ini masih terdapat penolakan dari salah satu desa, yakni Desa Jurit Utara. Sedangkan untuk Kecamatan Sambelia yang direncanakan dimekarkan menjadi Kecamatan Kokok Puteq masih terdapat kekurangan desa, karena persyaratan dalam pemekaran minimal harus terdapat 10 desa di dalamnya, sementara jumlah desa yang masuk ke Kecamatan Kokok Puteq baru enam desa. Kendati demikian, Taofik menegaskan jika masih ada celah untuk dilakukan pemekaran terhadap dua kecamatan tersebut. Namun, dapat dipastikan dua kecamatan itu tidak dapat tuntas tahun 2017. “Masih ada celah untuk dilakukan pemekaran, tapi untuk tuntasnya kita pastikan tidak dapat terealisasi tahun ini,” ujarnya. (yon) H. M. Juaini Taofik (Suara NTB/yon)
Pilkada Lotim
Belum Ada Partai Kantongi Keputusan DPP Selong (Suara NTB) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Lotim tinggal setahun lagi. Partai-partai politik yang akan menjadi kendaraan para kandidat bakal calon terus bergerilya. Namun sampai saat ini belum ada satupun partai yang mengabarkan sudah mengantongi keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) masing-masing. Termasuk Partai Hanura Lotim yang diketahui sudah mendukung pasangan H. M. Sukiman Azmy dan H. Rumaksi atau yang kini diperkenalkan dengan sebutan pasangan Sukma. Ketua DPC Partai Hanura Lotim, Daeng Ihsan mengaku belum mengantongi surat DPP Hanura. Keputusan final dari pimpinan pusat Hanura kata Daeng Ihsan sedang diperjuangkan. Lobi-lobi politik katanya sedang dilakukan bersama partaipartai mitra koalisi lainnya, seperti PDIP dan PKPI yang sudah sepakat dengan bentukan koalisi Trisakti. Pengakuan senada disampaikan Ketua DPC PKPI Lotim, Asatul Anwar. Pihaknya belum mengantongi keputusan dari DPP-nya. Namun pihaknya yakin, koalisi yang sudah dibangun di Lotim untuk mendukung pasangan Sukma ini sudah mantap. Apalagi koalisi ini merupakan koalisi turunan dari pusat. Disebut koalisi di Jakarta merupakan koalisi antara PDIP, PKPI, Hanura. Ada juga partai lain yang diharapkan dapat segera turut gabung dalam koalisi untuk memenangkan pasangan Sukma, seperti Partai Nasdem. Selanjutnya dikatakan tiga partai, PKPI, Hanura dan PDIP sudah mantap mendukung pasangan H. M. Sukiman Azmy dan H. Rumaksi. Pilihan PKPI kepada pasangan mantan Bupati Lotim dengan politisi Udayana itu, karena satu-satunya yang mendaftar ke PKPI. Targetnya tidak lain, pasangan Sukma ini bisa tampil sebagai pemenang di Lotim pada Pilkada 2018 mendatang. (rus)
Wisata Kayangan Kekurangan Tempat Kuliner Tanjung (Suara NTB) Objek-objek wisata di Kabupaten Lombok Utara (KLU) berada pada tahap pengembangan oleh desa dan Pokdarwis setempat. Namun keberadaan sarana prasarana seperti kuliner yang representatif ditengarai masih minim, sehingga perlu ditumbuhkan. Salah satunya di Kecamatan Kayangan. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan, Kelautan dan Perikanan KLU H. Syamsul Rizal, SPi., mengaku potensi wisata alam yang banyak tersebar di Desa Santong dan Desa Pendua, mulai menarik minat pengunjung lokal baik dari KLU maupun luar daerah. Hanya saja di sepanjang rute perjalanan menuju objek wisata itu, belum memiliki satu pun wisata kuliner yang dibutuhkan. Itulah alasan Dishub menggenjot penyaluran bantuan bibit ikan mas dan lele ke sejumlah kolam masyarakat. “Kelompok yang di Desa Pendua sudah kota drop bantuan ikannya, jumlahnya 42 ribu ekor. Dan hari ini (kemarin, red) kita dropping pakan sebanyak 14 ton berikut biaya pembersihan kolam dengan dana 1 jutaan,” ungkap Plt. Kepala Dishubkanlut KLU, H. Syamsul Rizal, S.Pi., Jumat (14/7). Jumlah kolam ikan milik kelompok di Desa Pendua Kecamatan Kayangan sekitar 146 unit. Jumlah ini masih akan bertambah dengan adanya kolam swadaya yang dibuat masyarakat secara individu. Sebagai salah satu usaha ekonomi profuktif, Rizal mengatakan akan mendampingi masyarakat hingga mandiri. Pada fase awal ini, Dishubkanlut dan Unram akan turun membantu mengontrol mulai dari penebaran bibit hingga panen. Sebagai bentuk dukungan lanjutan, pada APBD Perubahan 2017 mendatang Dishubkanlut akan membantu prasarana pendukung untuk wisata kuliner. Dengan dana sekitar Rp 150 juta, kelompok dibantu perkakas olahan ikan dari freezer, pemanggang, hingga pengolah bumbu-bumbu ikan. “Roh ke depan di Pendua ini, masyarakat membuat wisata kuliner untuk mendukung destinasi wisata air terjun yanv ada di Kecamatan setempat. Supaya orang yang pergi ke destinasi wisata di sana tidak jauh-jauh mencari kuliner sampai ke Tanjung, Nipah dan sebagainya,” papar Rizal. Selain kolam permanen, kelompok kolam marjinal dari bahan terpal juga sudah dibantu. Untuk saat ini, ada masing-masing 2 paket kegiatan yang disalurkan kepada kelompok bersangkutan yaitu 2 paket bibit lele masing-masing 20 ribu ekor dan 2 paket pakan masing-masing 2 ton pakan. (ari)
Halaman 4
Terjerat Persoalan Hukum, Kades Pemongkong Dicopot Sementara Selong (Suara NTB) Kepala Desa (Kades) Pemongkong, LMM terpaksa harus rela melepas jabatannya sebagai orang nomor satu di Desa Pemongkong. Jabatannya sebagai kades langsung dicopot oleh Pemda Lombok Timur (Lotim) setelah yang bersangkutan ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Lotim. LMM diduga terlibat dalam penerbitan puluhan sertifikat bodong di Kawasan Hutan Lindung Sekaroh beberapa waktu lalu. Pemberhentikan Kades Pemongkong, menurut Kasi Pembinaan Pemerintahan dan BPD Bidang Pemerintahan dan Kelembagaan Desa pada Dinas PMD Lotim Lukmanul Hakim masih bersifat sementara. Pemberhentian sementara ini untuk memperlancar pelayanan di Desa Pemongkong. Dalam hal ini, Pemda Lotim menunjuk Camat Jerowaru, Lalu Ahmad Zulkifli, sebagai Pelaksana Tugas (Plt) di Kades Pemongkong.
Lukmanul Hakim, menjelaskan, pada dasarnya dalam aturan bahwa bagi siapapun, termasuk kades yang tejerat persoalan hukum, seperti korupsi dan penyelewenangan wewenang, sejak ditetapkan sebagai tersangka sudah diberhentikan. Sehingga itulah yang diterapkan terhadap Kades Pemongkong, yang diberhentikan sementara sejak tanggal 4 Juli 2017 lalu. Selama pemberhentian se-
mentara itu, lanjutnya, yang sebagian dari hak-hak yang bersangkutan tetap diberikan sembari menunggu dilakukan proses inkracht di pengadilan. Pasalnya, apabila dalam proses di pengadilan yang bersangkutan divonis bersalah, maka akan langsung dilakukan pemberhentian secara permanen. Dan apabila dinyatakan tidak bersalah, maka yang bersangkutan dapat dikembalikan dalam jabatan-
nya sebagai Kades Pemongkong. Diketahui sebelumnya, Kades Pemongkong, LMMditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Kejari Lotim atas keterlibatannya dalam penerbitan sertifikat tanah di kawasan hutan Lindung Sekaroh. Pasalnya, pada tahun 2001-2002, LMM ketika itu menjabat sebagai Kades Sekaroh sebelum dilakukan pemekaran desa. Dalam kasus ini, Kejari lotim juga menetapkan lima tersangka lainnya yang semuanya merupakan mantan pegawai Badan Pertanahan (BPN) Lotim. Penetapan Kades Pemongkong sebagai tersangka terdapat dalam berkas terpisah dari lima tersangka lainnya yang merupakan mantan pegawai BPN. (yon)
Lukmanul Hakim (Suara NTB/yon)
(Suara NTB/rus)
POTENSI BESAR – Pantai Tampah Galuh, salah satu potensi pariwisata Lotim yang belum digarap maksimal. Kawasan ini harus segera ditata dan dilengkapi dengan sarana prasarana yang lengkap.
Potensi Pariwisata Lotim Belum Dikelola Maksimal Selong (Suara NTB) Sektor pariwisata di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) adalah salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) yang terbilang masih tersembunyi. Pasalnya, potensi besar yang dimiliki Lotim itu sampai sekarang belum terkelola dengan baik. Potensi besar itu diharapkan bisa terungkap. Hal ini yang mendorong Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Lotim, Akhmad Roji agar bagaimana sektor ini mampu memberikan PAD besar bagi daerah dan bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, ujarnya, penataan destinasi
wisata yang memadai akan melahirkan sumber pendapatan. Dalam hal ini, pemerintah tidak bisa serta merta langsung menarik retribusi pada suatu hotel dan restoran secara maksimal, jika fasilitas yang diberikan pemerintah masih terbatas. “Tidak mengherankan jika banyak yang menolak memberikan retribusi,” akunya pada Suara NTB, Jumat (14/7). Pengganti Widiyanto ini mendorong pemerintah untuk membuat regulasi-regulasi terkait penataan kawasan. Sumbersumber penataan kawasan ini tidak hanya dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Namun bisa dikejar ke
kantor-kantor kementerian yang ada di pusat. Dalam hal ini, ujarnya, pemerintah cukup dengan membuatkan musala, kamar kecil dan fasilitas penunjang lainnya. Hal senada diungkapkan anggota BPPD Lotim Munadi. Menurutnya, pembangunan destinasi wisata yang baik harus memiliki sarana dan prasarana pendukung di suatu objek wisata dan diklaim bisa menghadirkan uang untuk daerah. Munadi mencontohkan, penataan kawasan Pantai Pink dan sekitarnya. Kawasan ini saat ini cukup minim fasilitas penunjang. Tidak ada fasilitas pendukung. Jika dibangunkan seperti kawasan
Pendirian BPR
KLU Tunggu Langkah Provinsi Tanjung (Suara NTB) Pro kontra merger Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di kabupaten/kota dari PD ke PT yang masih berlanjut, ternyata turut mempengaruhi langkah Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) untuk menyertakan saham pada usaha perbankan tersebut. Sejak kajian akademis diselesaikan 2015 lalu, wacana pendirian BPR di KLU hingga kini masih menunggu tindak lanjut dari Pemprov NTB selaku pemegang saham mayoritas di BPR. Kepada Suara NTB, Jumat (14/7), Kepala Bappeda KLU, Herianto, SP., mengaku Pemda KLU belum bisa mengambil langkah, karena persoalan BPR belum selesai di tingkat provinsi dengan kabupaten/kota. Namun demikian, KLU sudah sangat siap membentuk Perusda bersama tersebut baik dalam bentuk PD maupun PT. “Kita tunggu provinsi dulu, karena BPR yang ada di KLU masih milik Lombok Barat. Tetapi menurut kemampuan keuangan kita, bisa, kenapa tidak bisa,” ungkap Herianto. Ia meyakinkan Pemda KLU sangat mendukung terbentuknya BPR. Mengingat jumlah dan keberadaan UMKM maupun kelompok-kelompok peternak dan pertanian sudah tumbuh dengan pesat. BPR nantinya akan diperankan untuk mendukung percepatan usaha ekonomi kelompok melalui fungsi intermediasi BPR. Herianto mengamati, sejauh ini dukungan permodalan UMKM dan kelompok usaha ekonomi produktif di KLU masih brgantung pada sejumlah lembaga keuangan. Di lembaga keuangan bank, ketergantungan masih berada pada Bank
NTB, BNI, BRI dan Bank Mandiri. Sedangkan pada lembaga keuangan non bank, UMKM maupun masyarakat secara individu masih mengakses LKM Desa dan koperasi. Hanya saja, akses permodalan pada lembaga yang disebutkan terakhir dikhawatirkan masih terkendala dengan beban bunga pinjaman yang relatif tinggi. “Di Lombok Utara itu yang kita berdayakan, bagaimana masyarakat mudah mengakses modal. Tapi bagaimana juga supaya bisa usaha masyarakat dan usaha BPR berkontribusi balik ke Pemda,” jelasnya. Terpisah, perihal wacana pendirian BPR dibenarkan oleh Tim Pengkaji Akademis, dari Fakultas Ekonomi Unram, Dr. Agusdin, SE. MBA., Kamis (13/7) lalu. Dijumpai di Kantor Pemda KLU, pakar ekonomi SDM ini mengklaim bahwa secara akademis, KLU layak mendirikan lembaga keuangan bank. “Saya ikut dulu mengkaji, dan layak didirikan. Tetapi saya lupa rinciannya karena itu 2 tahun lalu,” ujar Agusdin singkat. Hal senada dibenarkan mantan Kabag Ekonimi Setda KLU, yang terlibat merancang pendirian BPR, Agus Tisno. Menurutnya, kajian akademis sudah dilaksanakan namun pelaksanaannya belum dilaksanakan hingga saat ini. “Sudah, hanya kajian akademis. Dasar itu sebetulnya acuan kita mengajukan Perda. Tetapi tidak dilaksanakan, karena rencana Pemprov menggabung BPR menjadi PT. Sehingga ke depan kalaupun ada, BPR di KLU akan menjadi cabang,” demikian Agus Tisno. (ari)
Pemasaran ASEL Ditarget Masuk Ritel Modern Selong (Suara NTB) Pemasaran air minum dalam kemasan yang diproduksi PT Energi Selaparang ditargetkan masuk ritel modern. Produk lokal ini diharapkan bisa turut dijual oleh Alfamart, Indomaret dan perusahaan ritel modern lainnya di wilayah Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Demikian harapan Direktur Utama (Dirut) PT Energi Selaparang, Supardi, SH., pada Suara NTB, Jumat (14/ 7). Dirut yang dilantik Kamis (13/7) lalu menginginkan produk ASEL ini juga tidak saja dipasarkan di Lotim. Tapi meluas di luar Lotim. “Kita juga ingin ekspansi nanti ke luar Lotim karena kita kan bebas menjualnya ke mana saja,” ucapnya. Mengawali langkahnya memimpin perusahaan Lotim yang belum lama berdiri ini, produk ASEL ingin ditingkatkan produksinya. Diakui saat ini masih rata-rata di bawah 1.000 botol dan gelas per hari, maka target ke depan harus
bisa tembus 1.500 sehari. “Untuk gelas saja kita targetkan ke depan 1.000 botol per hari,” sebutnya. Target produksi tersebut diakui harus seimbang dengan permintaan pasar. Peluang pasar terus akan ditingkatkan seiring dengan upaya peningkatan pendapatan buat perusahaan. Seluruh masyarakat Lotim diharapkan mengkonsumsi air ASEL. Sebagai salah satu produk unggulan daerah, air minum dalam kemasan merek ASEL ini terus meluas pemasarannya. Mengenai kualitas, diyakinkan tidaklah kalah dengan produk lainnya, karena sudah memenuhi standar nasional Indonesia (SNI) dan sudah melalui tahapan pemeriksaan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Disoal mengenai target pendapatan asli daerah (PAD), pihaknya masih belum menghitung detail. Selaku dirut baru ia mengaku harus berkoordinasi dengan jajaran direksi di lingkup PT Energi
(Suara NTB/rus)
Supardi Selaparang. Pada prinsipnya, kata dia, perusahaan daerah yang didirikan Pemkab Lotim ini harus mendatangkan keuntungan bagi Lotim. Sebagai perusahaan yang memproduksi air minum, maka produk jualannya haruslah laku di pasar dan dinikmati masyarakat Lotim. (rus)
parkir misalnya itu semua bisa menjadi sumber pendapatan buat daerah. Keterbatasan sarana dan prasarana penunjang inilah yang disebut menjadi salah satu kendala promosi wisata. Bahkan beberapa kali saat menjual Lotim di sejumlah daerah, Munadi ini mengaku malu saat ditanya soal fasilitas apa yang ada di destinasi wisata yang dipromosikan. “Saya pernah malu di Makassar saat promosikan Pantai Pink dan ditanya apa fasilitasnya,” akunya. Keinginan BPPD Lotim ini,pariwisata Lotim ini bisa hidup dan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Lotim lainnya. (rus)
Penyuluh Pertanian di KLU Terkesan Dianaktirikan Tanjung (Suara NTB) Keberadaan penyuluh pertanian sangat penting bagi proses pemberdayaan para kelompok tani (umum) di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Namun tidak jarang rotasi di sebuah daerah menyebabkan penyuluh keluar dari tupoksi fungsionalnya. Di KLU sendiri, geliat penyuluhan pertanian dipandang mati suri. Dikonfirmasi Suara NTB, Jumat (14/7), Ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian KLU, I Made Radita, mengklaim keberadaan penyuluh masih terkesan dianaktirikan. Di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KLU, penyuluh tidak didesain selayaknya mitra pemerintah. “Penyuluh sepertinya dianaktirikan. Oleh Kadis tidak dibuatkan koordinator penyuluh, sehingga nyaris tidak berjalan secara mekanisme kelembagaan,” ungkap Radita. Di KLU, jumlah pertanian berstatus PNS tercatat masih 11 orang. Radita mengklaim seluruhnya tergolong penyuluh senior. Jumlah ini menyusut setelah pemerintahmengaturPenyuluhPerikanan dan Penyuluh Kehutanan di tarik ke provinsi. Jumlah ini bertambah setelah menjadi 47 orang, setelah pemerintah merekrut 24 orang THL (tenaga harian lepas) menjadi CPNS dan sisanya Petugas Penyuluh Pertanian dan Kontrak (P3K). Peran penyuluh pertanian jelas Radita, seolah tidak memiliki gereget pasca-OPD baru di KLU. Tupoksi yang dijalankan hanya bersifat perbantuan di bawah UPTD Dinas di Kecamatan. Padahal dalam peran, status penyuluh dipandang menjadi faktor utama yang menentukan tingkat keberhasilan kelompok pertanian di masyarakat. “Penyuluh tidak diberikan tupoksi yang jelas. Ada tupoksinya tapi kawan-kawan tidak digiring ke tupoksinya. Contoh, dalam mendukung WUB (wira usaha baru) itu penyuluh diminta padahal tupoksinya jauh sekali,” tandas mantan Kabid Penyuluh yang kini jadi staf di Dinas Penendalian Penduduk KB dan Pemdes KLU ini. Terpisah, Kepala Dinas Ke-
(Suara NTB/ari)
Made Radita tahanan Pangan, Penyuluh dan Pertanian Lombok Utara, Ir. Melta, membantah tudingan penyuluh di KLU mati suri. Melta justru berbalik menyindir bahwa yang mati suri adalah personalnya. “Tidak mati suri, tapi dia (dimaksud Made Radita, red) yang mati suri. Orang sekarang saja penyuluh mendampingi petani di manamana,” kata Melta. Di dinas yang dipimpinnya, Melta mengaku tengah memerankan penyuluh pada berbagai kegiatan, salah satunya membina kelompok melalui program bina kawasan. Misalnya kawasan sayur dan kawasan peternak. “Di Desa Sesait penyuluh sampai mendampingi kelompok hingga mampu mengakses pasar,” katanya. Dari jumlah 47 orang penyuluh yang ada, Melta mengutarakan rencananya untuk memback up kegiatan kelompok di semua desa. Saat ini jumlah desa di KLU sebanyak 43 desa (termasuk 10 Desa Persiapan). Desa-desa itu akan dibantu dengan masing-masing 1 orang penyuluh. Sisa 3 penyuluh lagi, akan ditempatkan di dinas sebagai penyuluh kabupaten yang akan mengkoordinir 43 penyuluh agar mampu menterjemahkan program daerah. “Kalau hubungannya dengan Perhiptani, itu organisasi mitra. Dimana orangnya, kita bermitra untuk mendukung Taruna tani ataupun Komite Penyuluhan,” tutup Melta. (ari)
SUARA PULAU LOMBOK
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
Halaman 5
Ratusan Hektar Tanaman Tembakau Rusak Gelar Operasi Senyap GUNA mendukung terciptanya stabilitas keamanan di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), jajaran Kodim 1620/Loteng sejak beberapa bulan terakhir menggelar operasi senyap. Kodim menyebar hampir seluruh personel yang dimiliki ke semua daerah. Terutama ke daerah-daerah yang dinilai rawan terjadi aksi kejahatan. Dandim 1620/ Loteng, Letkol. Inf. Is Abul Rasi, kepada Suara NTB, Jumat (14/7), mengatakan, operasi dilaksanakan menjelang tengah malam hingga dini hari. Karena saat inilah waktu yang rawan terjadi (Suara NTB/dok) aksi kejahatan, terutama penIs Abul Rasi curian dan perampokan. “Jadi kita bukan tidak mendukung upaya menjaga stabilitas keamanan. Justru kita sangat intens membantu dengan melakukan operasi-operasi khusus yang mendukung secara langsung upaya menjaga stabilitas keamanan di daerah ini,” ujarnya. Personel yang dilibatkan bukan hanya yang ada di Kodim 1620/Loteng saja. Personel-personel di semua Koramil yang ada di bawah juga ikut dilibatkan dan dilengkapi senjata lengkap. Secara umum operasi yang digelar berupa patroli wilayah, baik itu dalam skala besar maupun skala kecil. “Untuk operasi skala besar biasanya melibatkan personil dari Kodim dengan personil Koramil,” ujarnya. Pihaknya berharap, dengan operasi yang digelar jajaran TNI, keamanan di Loteng bisa tetap terjaga. Walaupun demikian, dukungan dari seluruh elemen masyarakat tetap diharapkan. Mengingat, TNI juga terbatas, baik itu dari sisi jumlah personel maupun peralatan, sehingga tidak akan bisa optimal, kalau tanpa dukungan masyarakat. Paling tidak masyarakat turut meningkatkan kewaspadaan diri. Tidak kemudian, hanya mengandalkan keberadaan TNI maupun aparat keamanan lainnya. Karena semua pihak didaerah ini punya tugas dan fungsi yang sama. Untuk bagaimana bisa bersama-sama mendukung terwujudnya stabilitas keamanan wilayah, karena keamanan memainkan peran penting dalam rangka mendukung proses pembangunan di daerah ini. (kir)
Diincar Banyak Figur
Suhaili Tidak Mau Gegabah Tentukan Pendamping Praya (Suara NTB) Sebagai salah satu figur yang yang cukup diperhitungkan untuk maju pada Pilkada NTB 2018 mendatang, nama H.M. Suhaili FT, banyak diincar figur lainnya untuk menjadi pendamping. Bahkan, tercatat sudah ada sekitar 10 figur yang telah menawarkan diri untuk menjadi pendamping Bupati Lombok Tengah (Loteng) tersebut maju di Pilkada NTB. Meski demikian, H.M. Suhaili FT, mengaku enggan untuk jumawa melihat banyaknya figur yang sudah mendekatinya ini. Ia mengaku tidak ingin gegabah menentukan pendamping yang akan dijadikan pasangannya pada Pilkada NTB. “Kita lihat saja nanti,” ujar kepada wartawan, Jumat (14/7). Sebelumnya Suhaili mengaku, kalau sudah cukup banyak figur yang “melamar” untuk menjadi pendamping. Tapi untuk menentukan siap pendamping, ada mekanismenya dan sangat tergantung kondisi serta peta politik yang ada. Kepastian partai politik yang menjadi mitra koalisi juga bisa menjadi salah satu faktor utama dalam mempertimbangkan figur pendamping pada Pilkada NTB mendatang. Terlebih Partai Golkar tidak bisa mengusung pasangan calon kepala daerah sendiri tanpa berkoalisi dengan partai politik lain, sehingga suara dari partai politik yang jadi mitra koalisi Partai Golkar pada Pilkada NTB nantinya akan sangat menentukan siapa figur calon wakil gubernur yang akan digandeng. “Prosesnya masing cukup panjang. Dan, masih ada cukup waktu untuk mempertimbangkan figurfigur yang ada,” tegas Ketua DPD I Partai Golkar NTB ini. (kir)
Lobar Sayangkan Usulan Belum Direspons Kemenhub Giri Menang (Suara NTB) – Pemkab Lombok Barat (Lobar) telah mengusulkan Lombok khususnya Lobar sebagai pintu gerbang boleh dimasuki kapal pesiar jenis yacht. Usulan itu ditujukan ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ditembuskan ke Menko Kemaritiman. Namun hingga saat ini, usulan itu belum direspons kementerian terkait. Akibat dari itu, investor pun belum bisa mengusulkan izin pembangunan dermaga marina di wilayah Gili Gede Sekotong. “Kami sudah usulkan sejak lama itu ke Kementerian Perhubungan dengan tembusan ke Menko Kemaritiman. Namun sampai saat ini belum dijawab,” aku Asisten II Setda Lobar H. Poniman, Jumat (14/7). Dijelaskan, pintu masuk kapal pesair itu sendiri ditetapkan dalam keputusan presiden, sehingga untuk memasukkan Lobar perlu diusulkan ke pusat. Ia berharap agar usulan ini segera direspons, karena manfaatnya besar bagi daerah dan masyarakat sekitar. Diakuinya, setelah ada izin dari pusat, barulah investor bisa mengajukan permohonan perizinan terkait pembangunan pelabuhan marina dan sebagainya. Tapi kalau belum dibuka Lobar sebagai pintu gerbang masuknya kapal pesiar oleh pusat, maka investor tidak bisa mengajukan izin ke Pemda. Sejauh ini pihak investor belum mengajukan perizinan ke pemda. Terkait harapan warga agar segera direalisasikan dermaga marina itu, menurut mantan kadis Koperasi ini pemda juga sangat berharap sebab jika ada dermaga itu menjadi tambahan pemasukan ke PAD. Lebih penting warga sekitar bisa terserap sebagai tenaga kerja. (her)
Petani di Loteng Diimbau Alih Komoditi Praya (Suara NTB) Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) telah mendata sekitar 477 hektar lebih tanaman tembakau di daerah ini, rusak akibat kondisi cuaca yang tidak menentu sepekan terakhir. Guna menimimalisir kerugian yang lebih besar, petani di daerah ini diimbau untuk beralih menanam komoditi lain yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Loteng, Ir. L. Iskandar, saat dikonfirmasi Suara NTB di ruang kerjanya, Jumat (14/7). Ia menjelaskan, dari hasil pendataan yang dilakukan pihaknya total luas tanam tembakau tahun ini mencapai
6.200 hektar lebih. “Dari total luas tanam tembakau tersebut, 477 hektar lebih di antaranya rusak dan terancam rusak,” terangnya. Kalaupun bisa diselamatkan, peluang untuk selamat terbilang kecil, sehingga untuk mengurangi potensi keru-
gian yang lebih besar, para petani yang tanaman tembakaunya rusak diharapkan tidak menanam tembakau kembali. Tetapi menanam komoditi lain yang risiko jauh lebih kecil. “Salah satunya jagung. Komoditi ini termasuk komoditi
dampak cuaca tersebut. Diakuinya, tembakau menjadi salah satu komoditi andalan bagi petani di daerah ini, sehingga hampir setiap tahun luas tanaman tembakau di Loteng tercatat cukup tinggi. Tapi belakangan ada tren penurunan luas tanam tembakau di daerah ini. Bahkan tahun ini, besar kemungkinan target luas tanam tembakau seluas 8.480 hektar tidak akan tercapai. Kondisi tersebut makin diperparah dengan banyaknya tanaman tembakau yang rusak akibat cuaca buruk. (kir)
Jadi Temuan BPK
PT ILBB dan Tripat Tak Setor Dividen ke Daerah
(Suara NTB/her)
MENYUSUT - Debet air Bendungan Tibu Kuning menyusut. Kondisi ini berpengaruh terhadap hasil pertanian di Sekotong.
Antisipasi Gagal Panen
Distan Lobar Segera Bangun Sumur Bor di Batu Putih Giri Menang (Suara NTB) – Dinas Pertanian (Distan) Lombok Barat (Lobar) merespons harapan masyarakat khususnya petani Batu Putih ekotong yang mengalami gagal panen akibat debet air irigasi bendungan Tibu Kuning di wilayah itu menurun. Distan berencana mengarahkan program sumur bor ke wilayah itu, sebab rencana ppembangunan sumur di Kedaro mengalami kendala debet air yang minim. “Terkait keluhan petani di Batu Putih Sekotong akan kami upayakan,’’ jelas Kepala Distan Lobar Muhur Zokhri, Jumat (14/7).
Dijelaskan, tim konsultan sebanyak dua kali sudah turun untuk melakukan pemeriksaan di lokasi. Namun setelah diperiksa debet airnya rendah di sana, sehingga tidak layak dibangun sumur bor. Untuk itu, bantuan dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi akan diarahkan ke titik lain yang memungkinkan dibangun sumur bor. Karena itu pihaknya pun mencoba merencanakan titik yang lain, termasuk di Desa Batu Putih, namun perlu dilakukan uji geolistrik yang melibatkan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. Jika
hasil uji layak, maka pembangunan sumur bor inipun bakal direalisasikan tahun ini. Pihaknya memilih di mana lokasi yang layak dan penting dibutuhkan warga, seperti di daerah yang rawan kekeringan. Lebih jauh dikatakan, ada beberapa program untuk antisipasi ancaman kekeringan termasuk pembangunan, irigasi sumur air dangkal, irigasi air dalam. Untuk sumur dangkal jelasnya ada 17 paket, embung rakyat yang didanai dari pusat ada 15 titik, dam ada 3 unit, sehingga totalnya 18 unit. Termasuk program air sumur dalam sebanyak satu paket. (her)
Giri Menang (Suara NTB) Dua Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Indotan Lombok Barat Bangkit (PT ILBB) dan PT. Tripat menjadi salah satu temuan BPK pada LHP tahun 2016. Meski temuan bersifat administrative, namun temuan ini terbilang sulit ditindaklanjuti, karena perlu koordinasi dengan DPRD dan Notaris. Temuan PT ILBB ini menyangkut dividen yang tak disetor. Sedangkan PT Tripat terkait MoU antara pihak ketiga dan Tripat. Di samping itu Perusda ini tak menyetor dividen ke Pemda. Asisten II Setda Lobar, H. Poniman mengakui jika dua Perusda ini menjadi temuan BPK pada LHP tahun 2016. “PT. ILBB dan Tripat itu jadi temuan BPK terkait administratif, perusahaan ini tak setor dividen,” akunya, Jumat (14/7). Dijelaskan kondisi PT ILBB kolaps, sehingga tidak jalan. Termasuk di Tripat menjadi temuan BPK. Temuan di dua perusda ini, jelasnya, menyangkut MoU di LCC. Sejauh ini, setahunya perusda ini juga belum menyetor PAD ke daerah. Penyebab kenapa Tripat belum setor dividen menurutnya seharusnya yang lebih tahu adalah direksi lama. Sementara pemda berharap BUMD setor dividen, kemungkinan penyebabnya merugi atau kendala lain harus melapor pada pemegang saham, dalam hal ini pemda. Intinya temuan BPK ini wajib diselesaikan, termasuk
temuan yang bersifat administratif. Penyelesaian ini sendiri ditarget tanggal 18 Juli mendatang. Untuk menuntaskan temuan ini, harus cepat dikomunikasikan dengan dewan dan notaris. Termasuk terkait temuan PT Tripat dan PT ILBB (Indotan) juga segera diselesaikan. Menyoal kondisi PT Tripat yang mati suri, menurutnya perlu dibenahi, sebab jabatan direktur utama perusda ini kosong. Terkait usulan dewan agar pengisian jabatan dirut dilakukan proses seleksi terbuka, menurutnya jika saran yang positif boleh-boleh saja dilakukan, namun hal itu tergantung pemegang saham dalam hal ini bupati. Sejauh ini posisi Dirut PT. Tripat kosong, menyusul L. Azril Sopanhadi habis masa jabatannya dan sampai saat ini belum ditunjuk Plt-nya. Ala an belum diisi, ujarnya, karena pemilik saham sedang memerintahkan Inspektorat melakukan pemeriksaan terhadap PT. Tripat. Jika sudah dilakukan pemeriksaan, maka jelas apa hasilnya, berdasarkan itu pula pejabat yang baru ditugaskan di sana jadi jelas apa yang dilakukan. Terkait kritikan dewan pemda lemah pengawasan terhadap BUMD, menurut Poniman bahwa pemda tetap melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap BUMD. Melalui Inspektorat, pemda melakukan pemeriksaan dan tetap melakukan pengawasan terhadap BUMD. (her)
PDIP Diisukan Merapat ke Sajim
PAN dan Golkar Beri Sinyal ke Fauzan Giri Menang (Suara NTB) Sejumlah partai politik (parpol) besar mulai menampakkan sinyal arah dukungan ke bakal calon bupati (bacabup) dan bakal calon wakil bupati (bacawabup) yang bakal bertarung pada pilkada 2018 mendatang. Tiga parpol dikabarkan memberi sinyal dukungan, di antaranya Golkar dan PAN mengarah ke H. Fauzan Khalid, sedangkan PDIP diisukan merapat ke Dr. H. L. Sajim Sastrawan. PAN menguatkan sinyal ke petahana setelah Ketua Umum DPP PAN H. Zulkifli Hasan yang juga Ketua MPR bertemu dengan H. Fauzan Khalid di Sumbawa. Fauzan Khalid tak sendiri, namun bersama TGH. Ahyar Abduh yang ingin maju di Pilkada NTB. Pertemuan mereka konon membahas masalah Pilkada Lobar. Bahkan di dalam pertemuan itu, tampak ikut sejumlah petinggi PAN Lobar. Dikonfirmasi terkait hal ini, H. Fauzan Khalid enggan memberikan komentar, na-
mun ia berkeyakinan PAN akan mendukung dirinya. “Saya belum bisa sampaikan, off the record saja ya,” jelasnya sembari menceritakan pertemuannya dengan Ketum PAN. Sementara itu, Wakil Ketua II DPD PAN Lobar, Andi Irawan menyatakan sejauh ini terkait kepastian PAN mendukung petahana belum ada keputusan dari Ketua Umum DPP. “Supaya kita jangan salah, pada saat pertemuan di Sumbawa belum ada keputusan dari ketum,” bantahnya. Dijelaskan, pertemuan antara Ketum PAN dengan H. Fauzan Khalid dan TGH. Ahyar Abduh di Sumbawa merupakan pertemuan biasa yang sifatnya koordinasi. Namun di dalam pertemuan itu dibahas juga masalah politik terkait Pilkada dan Pilkada NTB 2018, termasuk masalah Pemilu Legislatif 2019. Terkait masalah sikap politik Ketum PAN pada Pilkada Lobar jelas Andi belum ada yang pasti. Tidak saja bagi petaha-
na, namun kandidat lain juga. Sementara sinyal kuat Golkar mengarah ke H. Fauzan Khalid tampak dari sisi intensitas pertemuan Hj. Sumiatun yang tak lain Ketua DPD II Partai Golkar Lobar dengan Fauzan Khalid. Jumat kemarin, politisi asal Sekotong ini menemui Fauzan Khalid di kantornya. Ditanya apakah sinyal kuat Golkar ke Fauzan Khalid, Sumiatun menjawab seolah memberi sinyal. “Insyallah (Golkar ke petahana), kita tidak tahu besok apa yang terjadi jadi jawaban saya insyallah,” katanya. Kedatangannya ke kantor bupati, jelasnya, merupakan silaturahmi biasa, termasuk koordinasi. Menurutnya, terkait keputusan Golkar belum waktunya, karena perlu koordinasi dengan pusat. Ia menepis isu Golkar sudah mengeluarkan rekomendasi untuk mendukung Fauzan Khalid. Pada bagian lain, PDIP diisukan bakal mengarahkan dukungan antara dua pilihan,
Suhaili Gerah Rencana Pembangunan Kereta Gantung Dipolitisir Praya (Suara NTB) Rencana pembangunan kereta gantung di jalur pendakian Gunung Rinjani di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) dalam beberapa terakhir jadi topik hangat di kalangan masyarakat hingga merambah jejaring media sosial. Rencana tersebut pun menimbulkan pro-kontra di tengah masyarakat. Melihat kondisi ini, Bupati Lombok Tengah (Loteng), H.M. Suhaili FT, pun mulai gerah. Terlebih, belakangan ada indikasi kalau rencana pembangunan kereta gantung tersebut sudah mulai dipolitisir. “Kita apresiasi atas kritikan dari berbagai pihak dan kalangan terhadap rencana ini. Tapi jangan dipolitisir,” ujar H.M. Suhaili FT, kepada wartawan usai olahraga pagi di Bencingah Agung Praya,
dengan risiko kecil dan tahan dengan perubahan cuaca. Sehingga kalau petani mau beralih menanam jagung, potensi kerugian bisa diminimalisir,” ujarnya. Terhadap para petani yang tanaman tembakaunya rusak akibat dampak cuaca yang tidak menentu, pihaknya kini tengah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk menentukan langkah apa yang akan dilakukan. Adanya kebijakan itu nanti bisa meringankan beban para petani yang terkena
Jumat (14/7). Menurutnya, pembangunan kereta gantung bisa dikatakan semacam mimpi atau cita-cita lama masyarakat dan Pemkab Loteng. Mimpi ini coba direalisasikan oleh Pemkab Loteng dengan mempertajam rencana pembangunannya dengan menggandeng investor dan mendapat sambutan bagus. Bahkan, katanya, sudah ada calon investor yang siap bekerjasama membangun kereta gantung dan diitindaklanjuti dengan melakukan feasibility study (FS) terkait rencana pembangunan kereta gantung tersebut. Saat ini FS pembangunan kereta gantung sudah selesai disusun dan nantinya akan dilanjutkan dengan penyusunan masterplan. Sembari itu, pihak investor juga tengah berupaya memenuhi semua
persyaratan perizinan yang diperlukan. Termasuk pengajuan Hak Guna Usaha (HGU) lahan lokasi pembangunan kereta gantung sedang diurus pihak investor. Pihak investor dalam hal ini tidak memaksakan kereta gantung harus dibangun, karena semua prosedur yang berlaku akan diikuti. Jika memang tidak diizinkan oleh pihak pengelolan kawasan yang terkena sebagai lokasi pembangunan, pihak investor tidak akan memaksakan diri. Lagi pula, lanjutnya, pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sudah memberikan lampu hijau. Asalkan tidak di lokasi-lokasi yang memang dilarang. “Kan di kawasan TNGR ada yang namanya zona pemanfaatannya. Nah, itulah yang nantinya akan dimanfaatkan oleh pihak investor sebagai
lokasi pembangunan kereta gantung ini,” tegasnya. Luas lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan tiang kereta gantung juga tidak terlalu banyak hanya beberapa are saja di setiap titiknya, sehingga tidak akan banyak membutuhkan lahan. “Prinsipnya rencana pembangunan kereta gantung tetap berjalan,” ujarnya. Apalagi kereta gantung sebagai salah satu upaya bagi pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan di daerah ini, khususnya sektor pariwisata. Adanya kekhawatiran pembangunan kereta gantung bakal mematikan potensi lokal, semisal pemandu wisata menurut Suhaili, itu tidak benar. Justru dengan adanya kereta gantung tersebut nantinya, akan membuka potensi lainnya yang bisa dikembangkan oleh masyarakat lokal. (kir)
(Suara NTB/her)
PERTEMUAN - Pertemuan antara Fauzan Khalid dan TGH. Ahyar Abduh dengan Ketum PAN H. Zulkifli Hasan di Sumbawa beberapa waktu lalu. Meski demikian, PAN masih belum memberikan arah dukungan pada Pilkada Lobar dan Pilkada NTB. yakni H. L. Sajim Sastrawan dan H. Fauzan Khalid. Bahkan informasi yang diperoleh koran ini, PDIP hampir mengarah ke Sajim Sastrawan. Dikonfirmasi terkait hal ini Ketua DPC PDIP Lobar, H Sardian, mengaku PDIP belum me-
mutuskan dukungan ke kandidat tertentu. Sebab sejauh ini hasil penjaringan bakal segera diusulkan ke DPD I lalu ke DPP.”Jadi belum diputuskan, prosesnya tengah berlangsung dan segera diusulkan ke DPD dan DPP,” jelasnya. (her)
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
Dugaan Pungli Prona, Polisi Lengkapi Petunjuk Jaksa Sumbawa Besar (Suara NTB) Berkas kasus dugaan pungli prona di Desa Labuhan Bajo, Kecamatan masih dalam peyidikan pihak Polres Sumbawa. Berkas kasus dengan tiga tersangka tersebut masih dilengkapi pihak kepolisian setelah sebelumnya beberapa kali terjadi bolak balik bekas. Kasat Reskrim Polres Sumbawa, AKP Elyas Ericson, S.H., SIK, Jumat (14/7) kemarin mengakui kasus pungli prona tersebutmasih dalam proses penyidikan. Dalam kasus ini tiga orang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sebelumnya pihaknya sudah pernah mengirimkan berkas ke kejaksaan. Hanya saja berkas tersebut belum dinyatakan lengkap atau P21. “Masih proses sidik. Berkasnya belum dinyatakan P21,” terangnya. Dijelaskan Ericson, dalam kasus ini sudah beberapa kali terjadi bolak balik berkas. Sesuai petunjuk jaksa, pihaknya diminta untuk melakukan pemeriksaan tambahan terhadap saksi-saski. Saat ini pihaknya tengah melengkapi berkas tersebut untuk dikirimkan kembali ke kejaksaan. “Kami tengah melengkapi berkas sesuai dengan petunjuk Kejaksaan,” pungkasnya. Seperti diberitakan Suara NTB, kasus dugaan pungli prona di Desa Labuhan Bajo, Kecamatan Utan terungkap saat pejabat desa terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) pihak kepolisian. Dugaan pungli ini prona tersebut dengan cara meminta sejumlah uang kepada masyarakat. Rata-rata satu sertifikat Rp 300 ribu. Alasannya untuk administrasi blangko dan lainnya. Praktik tersebut diduga sudah berlangsung sejak April 2016 lalu. Dimana dari 200 sertifikat yang diurus, 195 sertifikat sudah diambil masyarakat. Dalam kasus ini tiga orang ditetapkan sebagai tersangka yakni Kades, Sekdes dan Bendahara Desa setempat. (ind)
SUARA PULAU SUMBAWA
Halaman 6
Pemicu Kebakaran Wisma Daerah, Polisi Tunggu Uji Laboratorium Sumbawa Besar (Suara NTB) Pihak kepolisian belum bisa menyimpulkan penyebab kebakaran gedung bersejarah Wisma Daerah Kabupaten Sumbawa yang terjadi beberapa waktu lalu. Asal muasal api baru diketahui setelah adanya hasil uji laboratorium dari Pusat Laboratortium Forensik (Puslabfor) Denpasar Bali. Kasat Reskrim Polres Sumbawa, AKP Elyas Ericson, SH., SIK yang ditemui Jumat (14/7) kemarin menyampaikan, tim Puslabfor Depasar Bali sudah turun melakukan olah TKP selama dua hari. Sejumlah barang bukti seperti arang sisa kebakaran, tembaga dan trafo AC sudah diambil. Selain itu, tim Inafis Polda juga sudah melakukan olah TKP dan mengambil beberapa barang bukti. Barang bukti tersebut akan dibawa ke Bali untuk diuji laboratorium disana. Hal ini guna mengetahui penyebab kebakaran ter-
jadi. Apakah disebabkan karena arus pendek atau lainnya. “Akan dianalisa dan diteliti dulu di Puslabfor Bali. Penyebab kebakaran kita tunggu hasil uji labfor nantinya,” tukas Ericson. Seperti diberitakan, gedung bersejarah Wisma Daerah Sumbawa atau Istana Putih ludes dilalap si jago merah pada Selasa (11/7) lalu. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 09.45 Wita. Semua pihak terkait termasuk masyarakat memadati lokasi secara bersamasama memadamkan api gedung yang menjadi salah satu Ikon
Sumbawa tersebut. Tak sedikit yang menitikan air mata dengan terbakarnya Wisma Daerah. Dimana selain bernilai sejarah, gedung tersebut teryata juga salah satu aset nasional. Selain kerugian material, penyeyab kebakaran belum diketahui hingga saat ini. Guna mengetahui penyeyab terjadinya kebakaran, Polres Sumbawa berkoordinasi dengan Inafis Polda NTB dan Puslabfor di Denpasar Bali. Sehari setelah kebakaran, 5 personil tim Inafis Polda turun melakukan olah TKP. Kemudian pada Kamis (13/
7) hingga Jumat (14/7) kemarin giliran dua personil tim Puslabfor melakukan olah TKP. Di lokasi tim tersebut didampingi pihak Polres Sumbawa. Dari olah TKP yang dilakukan tim, sejumlah barang bukti diamankan untuk diuji laboratorium. Hal ini guna mengetahui penyebab terjadinya kebakar a n . (ind)
Elyas Ericson (Suara NTB/dok)
Ditabrak Minibus, Seorang Penjual Sayur Tewas Sumbawa Besar (Suara NTB) Ahmad, seorang penjual sayur harus menghembuskan nafas terakhirnya di Puskesmas Alas. Yang bersangkutan meregang nyawa akibat ditabrak sebuah minibus, Kamis (13/7) malam sekitar pukul 23.30 Wita. Kecelakaan lalu lintas tersebut terjadi di Jalan Raya Litas Sumbawa-Tano KM 77-78, tepatnya di jalan lurus Dusun Ai Jati, Desa Mapin Kebak, Kecamatan Alas Barat. Hingga kini minibus yang menabrak korban belumdiketahui identitasnya. Sebab, setelah menabrak,pelaku langsung kabur. Informasi dari Bagian Humas Polres Sumbawa, Jumat (14/7) kemarin, sebelum lakalantas terjadi, korban yang mengendarai Yamaha Vega ZR EA 6006 HB melaju dari arah Poto Tano menuju Sumbawa membawa sayur. Kemudian sebuah minibus yang identitasnya tidak diketahui melaju dari arah belakang. Tepatnya di jalan lurus Dusun Ai Jati, Desa Mapin Kebak melaju dengan kecepata tinggi. Minibus tersebut hendak menyalip kendaraan korban. Namun minibus menyenggol bagian kanan bak sayur yang dibawa korban. Sehingga kendaraan korban terdorong dan kehilangan keseimbangan. Kemudian terperosok da menabrak pohon yang berada disebelah kiri jalan. Kendaraan minibus tersebut tak berhenti untuk melakukan pertolongan, tetapi melaju menuju Sumbawa. Korban mengalami luka-luka kemudian dilarikan warga ke Puskesmas Alas untuk diberikan pertolongan. Namun nyawanya tak terselamatkan. (ind)
Diduga, Tersangka Kasus Predator Anak Memiliki Kelainan Seksual Taliwang (Suara NTB) Satuan Reserse dan Kriminal (Sat Reskrim) Polres Sumbawa Barat terus mendalami kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak (kasus predator anak). Baik itu dugaan keterlibatan oknum lainnya, maupun adanya indikasi penyimpangan seksual (Sexual Disorder) yang diderita oleh tersangka ini. Kapolres Sumbawa Barat kepada Suara NTB melalui Kasat Reskrim Iptu I Putu Agus Indra Permana SIK, Jumat (14/7) kemarin mengatakan, saat ini pihaknya masih terus mendalami kasus tersebut. Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah tersangka ini memiliki perilaku seksual yang menyimpang atau tidak. Untuk mendalami dugaan penyimpangan perilaku seksual ini, pihaknya akan dibantu oleh psikolog yang akan melakukan pemeriksaan terhadap kondisi tersangka. Selain itu, psikolog ini juga diharapkan bisa membantu pemulihan kondisi korban yang sampai dengan saat ini masih dalam kondisi trauma. Makanya dalam beberapa hari kedepan, psikolog ini akan datang ke Sumbawa Barat untuk melakukan pemeriksaan. “Sesuai jadwal, minggu depan mereka (psikolog) akan datang kesini untuk melakukan pemeriksaan,” ungkapnya. Disebutkannya, indikasi awal kaitannya dengan penyimpangan seksual ini sudah ada. Hal tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap beberapa orang saksi dan temanteman tersangka. Bahkan tersangka, kerap mengelus paha teman laki-lakinya. Tersangka juga kerap melakukan halhal yang tidak sewajarnya di hadapan teman-temannya. Tentu pengakuan tersebut merupakan petunjuk baru bagi aparat setempat untuk menindak lanjutinya. Hanya saja pihaknya belum bisa menyimpulkan apakah benar ada kelainan atau tidak. “Dugaan sementara kearah sana (dugaan penyimpangan seksual) sudah ada tinggal kita pastikan dengan hasil pemeriksaan psikoginya,” imbuhnya. Sementara kaitannya dengan keterlibatan oknum lainnya, sampai dengan saat pihaknya ini belum bisa memastikan ada atau tidaknya. Karena saat ini pihaknya tengah fokus untuk melengkapi berkas hasil pemeriksaan terhadap beberapa orang saksi dalam kasus ini. Bahkan ada tiga orang saksi lagi yang akan dilakukan pemeriksaan guna merampungkan berkas kasus ini. “Kita belum bisa pastikan adanya keterlibatan oknum lainnya, karena sampai dengan saat ini kita baru bisa simpulkan baru satu orang ini saja sebagai pelaku tunggal,” tandasnya. Catatan Suara NTB menyebutkan, kasus dugaan tindak pidana sodomi ini dilakukan SS (37) terhadap ZF (4) yang dilakukan sekitar beberapa hari yang lalu. Perbuatan tidak senonoh tersebut dilakukan di sungai dekat dengan kediaman tersangka. Sementara untuk saat ini SS sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan di Mapolres untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sedangkan untuk kondisi korban ZF saat ini sudah berangsur membaik meskipun rasa trauma akibat perbuatan tersangka masih ada. (ils)
I Putu Agus Indra Permana
(Suara NTB/bug)
PENINJAUAN - Perwakilan Kemendagri saat melakukan peninjauan tapal batas KSB dan KS, Rabu lalu.
Kemendagri Undang KSB dan KS Terkait Penyelesaian Tapal Batas Taliwang (Suara NTB) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) akan mengundang Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dan Kabupaten Sumbawa (KS) guna penyelesaian tapal batas kedua kabupaten. Sebelumnya Kemendagri telah menurunkan tim Direkotrat Jenderal (Ditjen) Bina Administrasi Kewilayahan pada, 13 Juli lalu meninjau langsung tapal sejumlah titik tapal batas yang sejauh ini masing-masing kabupaten mengklaimnya. Kepala Bagian Pemerintah-
an Sekretarian Daerah (Setda) KSB, Muhammad Enang Ariyanto, S.Sos mengatakan, undangan Kemendagri itu merupakan tindaklanjut hasil penjiauan lapangannya. Rencananya kedua kabupaten akan diundang pada tanggal 17 hingga 18 Juli ini. “Jadi kita akan memenuhi undangan Kemendagri itu,” terangnya kepada wartawan. Menurut dia, Pemda KSB berharap dari hasil pertemuan nanti Kemendagri dapat segera melakukan penetapan. Sebab
selama ini baik KSB dan KS telah menyerahkan sepenuhnya penyelesaian tapal batas itu di tingkat pusat. “Kemungkinan setelah kita bertemu, Kemendagri bisa menerbitkan Permendagri penetapan tapal batas kita,” harapnya. Saat turun lapangan, Kemendagri yang diwakili Kasubdit Batas Daerah Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan meninjau setidaknya tiga titik batas wilayah yang samasama diklaim kedua kabupaten. Di antaranya sumur Haji
Calon Penerima Program Bariri Nelayan Mulai Buka Rekening Taliwang (Suara NTB) Para nelayan calon penerima bantuan program Bariri Nelayan mulai melakukan pembukaan rekening bank. Sejak awal pekan ini, proses pembukaan rekening tersebut di mulai di kecamatan Poto Tano dan Sekongkang. Sekretaris Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Zainal Arifin, SP mengatakan, pihaknya bersama Bank BRI selaku mitra telah membuka pelayanan pembukaan rekening di dua kecamatan itu. “Kita mulai hari Rabu lalu. Dan yang pertama kita sasar desa Poto Tano,” katanya kepada media ini, Jum’at (14/7). Para calon penerima bantuan Bariri Nelayan sangat antusias dengan dimulainya pembukaan rekening tersebut. Menurut Arifin, keraguan para nelayan yang sebelumnya merasa tidak bisa memenuhi kewajiban menambung sebesar 10 persen dari nlai bantuan yang akan diterimanya tidak lagi dirasakan. Bahkan terdapat diantara para nelayan yang langsung mampu memenuhi besaran kewajiban menambungnya itu. “Yang di Tano ada yang langsung 10 persen. Dan yang lainnya menyatakan akan segera memenuhinya dengan cara mencicil,” sebutnya. Bagi para nelayan yang telah memenuhi kewajiban menabung awal sebesar 10 persen, oleh DKP KSB akan segera dipersiapkan untuk mendapatkan bantuan. Arifin menyebutkan, sambil proses
(Suara NTB/bug)
PEMBUKAAN REKENING - Antusiasme nelayan desa Poto Tano penerima bantuan program Bariri Nelayan melakukan pembukaan rekening. pembukaan rekening berjalan di seluruh kecamatan, pihaknya secara paralel menyiapkan alat-alat bantuan yang akan disalurkan itu. “Jadi sambil jalan. Bahkan kemarin yang Poto Tano sudah ada kita minta datang ke kantor untuk penerimaan secara simbolis baru kita antarkan barangnya. Tapi mereka belum ada kesempatan datang ke sini,” klaimnya. Ditanya mengenai kelanjutan kewajiban menabung para penerima bantuan hingga 150 persen dari nilai bantuan? Arifin mengaku, hal tersebut sudah tidak ada persoalan. Setelah menadapatkan penjelasan detail dari pemerintah, para nelayan telah menyatakan kesediaannya untuk menuntaskan kewajibannya tersebut.
“Kita juga tidak memberikan batas waktu memenuhi kewajiban yang (menambung) 150 persen itu. Tapi kami sampaikan makin cepat dipenuhi maka mereka cepat pula memanfaatkan dana itu untuk permodalannya sendiri,” sambung Arifin. Selanjutnya ia menyampaikan, pembukaan rekening penerima bantuan program Bariri Nelayan ini akan dikebut pihaknya bersama Bank BRI. Pelayanan langsung pun diterapkan dengan mendatangi desa-desa nelayan penerima. “Demikian juga dengan proses menabungnya, Bank BRI melalui mitranya di desa nelayan setempat dapat melayani nelayan. Jadi mereka tidak perlu bersusah payah datang langsung ke Bank,” tukasnya. (bug)
Ako yang diklaim oleh KS sebagai batas wilayah sebenarnya, berikutnya titik koordinat sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur NTB Nomor 298 Tahun 2009 tentang tapal batas KSB - KS yang diklaim Pemda KSB. Terakhir, titik koordinat batas awal KSB-KS sesuai dengan Undang Undang (UU) Nomor 30 Tahun 2003 tentang Pembentukan KSB yang berbatasan antara kecamatan Seteluk (KSB) dengan Kecamatan Alas (KSB) sebelum kedua kecamatan mengal-
ami pemekaran. Endang kembali menyampaikan, apapun hasil penetapan Kemendagri terkait tapal batas kedua kabupaten akan dipatuhi oleh Pemda KSB. Sebab sebelumnya KSB telah menyerahkan sepenuhnya penyelesaiannya kepada Kemendagri. “Harapan kita Sumbawa juga demikian. Karena bagaimana pun persoalan tapal batas ini harus selesai untuk ketertiban administrasi kewilayahan kedua kabupaten,” imbuhnya. (bug)
Pemkab Genjot Jalan Wilayah Terisolir Sumbawa Besar (Suara NTB) Pemkab Sumbawa terus melakukan percepatan pemerataan pembangunan infrastruktur khususnya di wilayah terisolir. Dalam peningkatan konektivitas antar wilayah melalui program pemeliharan, rehabilitasi dan peningkatan jalan kabupaten. Seperti dijelaskan Sekda Sumbawa, Drs. H.Rasyidi, Jumat (14/7) kemarin, sejak 2016 ruasruas jalan di wilayah terisolir seperti Lantung – Ropang, Batu Dulang – Tepal, Tepal – Batu Rotok, Kwangko - Mata – Tolo’oi telah dilakukan rehabilitasi dan peningkatan secara bertahap dalam rangka mengejar target 100 persen jalan mantap pada 2021. Sedangkan terhadap ruas-ruas jalan yang menjadi kewenangan provinsi seperti Pal IV Lenangguar, Lenangguar – Lunyuk, Sumbawa Besar – Semongkat – Batu Dulang, pemerintah daerah terus secara aktif berkoordinasi dengan pemprov dalam upaya ter-
us mendorong peningkatan kemantapan ruas-ruas jalan tersebut. Terhadap masukan usulan dari fraksi dewan terkait penggunaan material konstruksi jalan, pemerintah daerah akan menyesuaikan dengan kondisi lapangan sehingga kemantapan jalan diukur dengan kemantapan transportasi yang ditandai dengan keamanan, kenyamanan dan kelancaran yang dirasakan oleh pengguna jalan. Untuk status jalan hutan lindung pada ruas jalan dalam kawasan Pulau Moyo sepanjang 59 Km, Marente-Mate Mega kecamatan Alas, Pidang-Mata kecamatan Tarano dan lain-lain, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Sumbawa sudah melakukan identifikasi terhadap data ruas jalan tersebut serta kemungkinan dimasukan dalam data K1 (Jalan Kabupaten). Sedangkan untuk status hutan lindungnya akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Dishut NTB untuk perubahan statusnya. (arn)
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
SUARA PULAU SUMBAWA
Halaman 7
Kerjasama Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu dengan Harian Suara NTB
Empat Puskesmas Diakreditasi Tahun Ini, Unit Kempo dan Ranggo Lebih Awal Dompu (Suara NTB) Pemerintah daerah (Pemda) Dompu melalui Dinas Kesehatan melakukan akreditasi terhadap 4 puskesmas tahun 2017. Puskesmas Kempo, dan Puskesmas Ranggo saat ini sedang dilakukan penilaian. Sementara itu, Puskesmas Dompu Barat dan Puskesmas Dompu Timur akan dilakukan penilai September 2017 mendatang. Akreditasi ini dilakukan sebagai upaya mendorong standarisasi pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat. Kepala Dinas Kesehatan Dompu melalui kepala bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan (SDK), Abubakar Husain, A.Mg kepada Suara NTB saat mendampingi tim penilai akreditasi Puskesmas Kempo, Jumat (14/7) kemarin, mengungkapkan, ada 4 Puskesmas yang dinilai proses akreditasinya tahun 2017 ini. Tapi proses penilaianya dilakukan dalam 2 tahap, tahap pertama dilakukan terhadap Puskesmas Kempo dan Rang-
go yang dilakukan selama 3 hari, Kamis – Sabtu (13 - 15/ 7). Penilaian akreditasi tahap kedua lakukan pada September 2017 mendatang terhadap Puskesmas Dompu barat dan Puskesmas Dompu timur. Akreditasi Puskesmas, lanjut Abubakar, sebagai tindak lanjut dari Peraturan Mentri Kesehatan RI Nomor 46 tahun 2015 lalu tentang akreditasi Puskesmas, klinik pratama, tempat praktik mandiri dokter, dan tempat praktik mandiri dokter gigi. Akreditasi ini menjadi syarat untuk bisa bermitra dengan BPJS kesehatan dan batas waktu pelaksanaan akreditasi hingga 2019. Akreditasi ini dimaksudkan untuk mendorong standarisasi layanan kesehatan bagi masyarakat secara nasional. Sehingga yang dinilai, tidak hanya pada administrasi kesehatan termasuk standar operasional pelayanan (SOP) dan administrasi lainnya, tapi juga pada pelayanan. Pelayanan ini juga menyangkut pelayanan
Kades Timu : Sekdes Tidak Dilantik, Tak Ada Masalah Bima (Suara NTB) Kepala Desa (Kades) Timu Kecamatan Bolo, Arsyad mengaku, tidak ada masalah mengenai, Sekretaris Desa (Sekdes) Silahturahman, yang belum dilantik secara resmi oleh dirinya, hingga saat ini. “Tidak masalah, saya sudah keluarkan Surat Keputusan (SK),” kata Arsyad menjawab Suara NTB, Jum’at (14/7). Bahkan, sebelum mengeluarkan SK tersebut, meski tanpa melantik. Arsyad mengaku terlebih dahulu dikomunikasikan dan dik(Suara NTB/uki) Arsyad oordinasikan dengan Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri. Bupati pun merespon dengan baik. “Intinya tidak ada masalah. Soal ini juga saya laporkan kepada Bupati,” katanya. Arsyad mengaku, sejak menerima SK. Yang bersangkutan masuk kantor, dan menjalani aktivitas sebagai Sekdes. Bahkan kerap mewakili dirinya untuk menghadiri undangan atau kegiatan formal dan informal. Meski demikian, Kades tidak menjelaskan, saat ditanyakan mengapa tidak melantik resmi dan hanya memberikan SK. Karena proses tersebut berbeda dengan Sekdes yang lain, yang semuanya dilantik dengan resmi oleh Kades. “Pelantikan hanya kegiatan seremonial, tidak bersifat administrasi. Lagipula jika ada yang keberatan, silahkan dilaporkan dan diselesaikan ke ranah hukum,” tegasnya. Seperti diberitakan sebelumnya, sejak lolos seleksi penjaringan perangkat desa serentak, Sekdes belum lama ini, hampir seluruhnya dilantik. Tapi berbeda dengan Sekdes Desa Timu Kecamatan Bolo, Silahturahman, hingga kini belum juga dilantik oleh Kepala Desa (Kades), Arsyad. Silahturahman mengaku bingung atas sikap Kades itu. Sementara pada sisi lain, dirinya didesak oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMDes) Kabupaten Bima, agar menyerahkan Berita Acara Proses (BAP) pelantikan. “Pertanyaannya bagaimana bisa menyerahkan BAP pelantikan, sementara saya belum dilantik. Saya kan hanya diberikan SK oleh Kades,” ujarnya kepada Suara NTB akhir pekan kemarin. Menurutnya, dokumen BAP tersebut penting untuk diserahkan. Karena merupakan salahsatu dokumen, sebagai syarat pencairan gaji bulan ini. Selain SK penetapan Sekdes, KTP aktif dan akta kelahiran. “Dokumen yang lain semuanya sudah lengkap, hanya BAP pelantikan saja yang masih kurang,” katanya. (uki)
Capaian PAD Diharapkan Lebih Maksimal Sumbawa Besar (Suara NTB) Sekda Sumbawa, Drs. H. Rasyidi menyambut baik harapan fraksi-fraksi dewan agar pencapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD) lebih maksimal. Meskipun kinerja pengelolaan PAD pada 2016 telah mencapai angka 93,44 persen. Pihaknya optimis pada 2017 tingkat realisasi pad akan tercapai sesuai target yang ditetapkan. Sebagaimana disampaikan Sekda dalam lanjutan Paripurna, Jawaban Bupati Sumbawa terhadap pemandangan umum fraksi-fraksi DPRD atas Raperda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD 2016, Jumat (14/7). Dalam mengoptimalkan PAD, khususnya dari komponen retribusi daerah, pemerintah daerah telah menindaklanjuti usul saran tersebut melalui dua langkah strategis. Yakni, penyempurnaan regulasi retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha dan retribusi perizinan tertentu. Kemudian, melakukan evaluasi progres pencapaian target dan kendala yang dihadapi. “Dengan langkah-langkah tersebut kami optimis realisasi retribusi daerah pada 2016 yang hanya mencapai angka 77,46 persen akan meningkat secara signifikan di tahun 2017,” terangnya. Selanjutnya, dalam memperkuat kemandirian fiskal daerah, pihakya melakukan intensifikasi sesuai dengan objek pajak daerah dan objek retribusi daerah yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. Dalam batas-batas yang diperkenankan UU. No. 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Namun UU tersebut menganut sistem closed list (daftar tertutup), sehingga pemerintah daerah tidak diperkenankan menambah objek pajak dan objek retribusi di luar yang diatur dalam ketentuan tersebut. Selain itu, pemerintah juga menunjang tumbuh kembangnya perekonomian yang sehat. Dengan mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif, mempermudah, mempercepat dan meningkatkan pelayanan perizinan yang berorientasi pada peningkatan kemudahan berusaha (easiness of doing bussiness) di daerah ini. Dalam rangka itu, sesuai RPJMD telah dilakukan langkah proaktif terkait dengan penataan dan pembangunan pasar sebagai sarana perekonomian rakyat yang paling esensial. Pembangunan Pasar Distribusi Pada 2017 telah dialokasikan anggaran untuk review DED dan kajian teknis untuk pembangunan pusat distribusi Karang Dima. Pusat distribusi ini sebagai pengganti istilah pasar induk sebagaimana diatur dalam Permendag nomor 37 tahun 2017. Pembangunan fisik pusat distribusi ini akan dimulai pada 2018. Sehingga, sebelum berakhirnya masa pemerintahan HusniMo, pusat distribusi yang diidam-idamkan dapat diwujudkan. Pada 2017 juga diprogramkan penyusunan DED pembangunan pasar Seketeng karena sudah menjadi komitmen pemerintah daerah bahwa keberadaan pasar Seketeng sebagai pasar rakyat Tipe A tetap dipertahankan. (arn)
medis dan non medis, serta pelayanan kesehatan bagi masyarakat serta lingkungan. “Pada dasarnya, akreditasi ini mengamanahkan agar kita mencatat apa yang dikerjakan dan kerjakan apa yang dicatat,” terangnya. Di Dompu, lanjut Abubakar, baru Puskesmas Dompu Kota yang telah dilakukan penilaian akreditasinya tahun 2016 lalu dengan akreditasi dasar. Proses akreditasi untuk Puskesmas Kempo dan Ranggo yang sedang dilakukan penilaian diharapkan memenuhi syarat akreditasi dasar hingga madya. “Kalau kita berharap bisa mendapat akreditasi Madya atau Utama,” ungkapnya. Kepala Puskesmas Kempo, Faisal, SKM mengatakan, proses akreditasi yang sedang dilakukan penilaian, ada 776 elemen yang dinilai selama 2 hari masa penilaian dan Jumat ini menjadi hari kedua masa penilaian. Pada hari ketiga akan dilakukan penelusuran ter-
(Suara NTB/ula)
AKREDITASI - Puskesmas Kempo yang sedang dilakukan penilaian untuk (Suara NTB/ula) akreditasi Puskesmas tahun 2017 oleh tim akreditas puskesmas pusat, Jumat Kabid Pelayanan dan Sumber Daya (14/7) kemarin. Kesehatan (SDK), Abubakar Husain, A.Mg. hadap 776 elemen yang ditanyakan secara administrasi dan kepada petugas. “Hari ketiga besok akan dilakukan penelusuran ke lapangan,” katanya. Di Puskesmas Kempo, ada beberapa layanan yang dibu-
ka melalui poli umum, poli anak, poli KIA/KB dan juga ada layanan IGD serta ruang rawat inap. Untuk mendukung layanan ini, Puskemas Kempo memiliki 3 orang dokter umum, 26 perawat, 48 bidan,
4 sanitarian, 6 promkes, 3 analis, 3 pegus gizi, dan 6 orang tenaga administrasi. Selain di Puskesmas, para tenaga kesehatan ini juga bertugas di 4 Pustu dan 5 Poskesdes di wilayah Kecamatan Kempo
yang menjadi wilayah binaan Puskesmas Kempo. “Saat penilaian selama 2 hari ini, ada beberapa catatan untuk kita perbaiki dan itu baik untuk perbaikan pelayanan,” jelas Faisal. (ula/*)
Limbah RPH Resahkan Masyarakat dan Diadukan ke Dinas LH Dompu (Suara NTB) Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) di Lingkungan Larema Kelurahan Simpasai yang dibuang di tempat terbuka kembali meresahkan masyarakat. Bau menyengat dari limbah bekas pemotongan hewan sudah diadukan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Kabupaten Dompu. Kabid Lingkungan Hidup Dinas LHK, Andi Bahtiar, ST, M.Si membenarkan, adanya laporan tersebut. “Laporan masyarakat atas bau limbah yang dihasilkan kotoran sapi itu,” katanya kepada Suara NTB ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Menindaklanjuti leporan ini pihaknya langsung berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Kesahatan Hewan (Disnakeswan) Dompu. Hasilnya, Disnakeswan bersedia meninjau kondisi RPH, terlebih memasang pipa saluran
pembuangan limbahnya. RPH ini, jelas Andi Bahtiar, sebenarnya dalam waktu dekat sudah tidak dioperasikan lagi. Sebab akan dipindah ke RPH baru di Lingkungan Bali Bunga. Hanya saja, sejak pembangunannya beberapa tahun
lalu, RPH Bali Bunga tak bisa beroperasi lantaran terkendala akses jalan. “Jalannya dulu kan ndak dikasi orang. Sekarang sudah dikasi makanya baru diperbaiki,” ujarnya. Masyarakat Lingkungan Larema yang mengajukan laporan tersebut cukup banyak, mereka kini hanya bisa menunggu tindak lanjut dari Disnakeswan. LHK kata Andi Bahtiar, tak bisa memastikan kapan pemasangan pipa saluran limbah itu direalisasikan. Yang jelas
tegas dia, Disnakeswan harus segera mungkin menyikapinya. Karena bagaimana pun keberadaan limbah tersebut sudah cukup lama mengganggu kenyamanan masyarakat, terlebih berpotensi menimbulkan penyakit. “Lingkungan hidup tetap memberikan saran, apalagi ini kan persoalan kecil artinya tidak membutuhkan biaya banyak untuk mengelolanya. Saya yakin peternakan akan dengan cepat menanganinya,” tandas Andi Bahtiar. (jun)
Kalangan DPRD Dompu Dorong Pemda Realisasikan Dukungan Bagi UMKM
(Suara NTB/ula)
BERKELIARAN - Hewan ternak masyarakat tampak berkeliaran bebas di Taman Kota Dompu, Kamis (13/7).
Ternak Masih Bebas Berkeliaran di Dompu Dompu (Suara NTB) Ternak masyarakat masih berkeliaran bebas di taman Kota, halaman Kantor Bupati dan DPRD Dompu. Akibatnya, tidak hanya mengganggu aktivitas publik. Tetapi, tanaman bunga habis dijejali ternak yang diduga sengaja dilepas pemiliknya ini. Sekretaris Satuan Pol PP A. Haliq, BA., yang dikonfirmasi mengaku sulit menertibkan ternak-ternak tersebut. Alasannya, demi mengindari konflik dengan para peternak. “Hari ini kami operasi besok lagi dilepas. Bahkan sengaja digembala ke sana,” ujarnya kepada Suara NTB saat ditemui di ruang kerjaya, Kamis (13/7). Beberapa kali upaya penertiban yang dilakukan pihaknya selalu mendapat perlawanan dari masyarakat.
Seperti saat operasi siang hari misalnya, ketika ternak ingin diamankan masyarakat sontak meneriaki dan mengumpat-ngumpat petugas. Untuk melawan aksi-aksi semacam ini jelas dia, tak bisa dilakukan karena kepentingan kondusivitas keamanan daerah. “Betul-bentul mengganggu kenyamanan di kota ini. Jelas itu merupakan pelanggaran tapi itulah kendala yang kami hadapi,” jelasnya. Untuk ternak sapi tak pernah ditertibkan pihaknya karena tak memiliki kandang, terkecuali untuk ternak kambing sudah cukup sering dilakukan. Saat ditahan pihaknya, para peternak datang untuk menebus ternaknya sesuai aturan yang tertuang dalam Perda, hanya saja denda ini tak bisa memberikan efek jera
bagi masyarakat. Persoalan ini menurut dia, tidak terletak pada kurangnya upaya penertiban pihaknya, tetapi karena rendahnya kesadaran masyarakat. “Mereka bayar denda namun masih saja mengalanginya lagi. Bukan berarti kami mencari uang dendanya itu, kami mencari kesadaran masyarakatnya,” kata A Haliq. Bupati Dompu pun kata dia, sudah beberapa kali memanggil pihaknya untuk menuntaskan persoalan ini, hanya saja untuk penertiban rutin tak bisa dilakukan karena terkendala kemampuan personel dan sebagainya, tapi untuk pengawasan lapangan tetap rutin dilakukan pihaknya. “Operasinya nanti tergantung dari laporan hasil pengawasan itu, pengawasan tiap hari kita lakukan,” pungkasnya. (jun)
TNT Fokus Ubah Ketergantungan Masyarakat Pada Hutan Dompu (Suara NTB) Ketergantungan masyarakat pada hasil hutan kayu masih menjadi persoalan serius di Dompu. Aktifitas ini telah berimbas pada gundulnya kawasan hutan negara, terlebih mengikis keberadaan sumber mata air pegunungan. Karenanya balai Taman Nasional Tambora (TNT) fokus melakukan upaya pecegahan, terutama mengubah ketergantungan masyarakat pada hasil hutan kayu. “Mengingat pentingnya kawasan hutan tersebut makanya kita ingim merubah tingkah laku masyarakat selama ini yang tergantung pada hasil hutan kayu,” kata Humas TNT Dedi Aminudin kepada Suara NTB beberapa waktu lalu. Mengingat kawasan hutan tambora khususnya wilayah pengelolaan TNT ini mengandalkan wisata alam, maka teknis pence-
gahannya ialah dengan pemberdayaan masyarakat lingkar tambora, seperti mengelola tempat penginapan, membuat rumah makan dan menyediakan jasa serta peralatan pendakian yang dibutuhkan pengunjung. Untuk sementara, desa yang sudah diberdayakan itu, sebut Dedi Aminudin, yakni Desa Kawinda Toi dan Pancasila. Sementara, 10 desa di lingkar tambora lainya akan diprioritaskan tahun ini. “Nanti kelompok pecinta alam ini juga akan kita rangkul untuk menyatukan pikiran dengan kita, apapun kebutuhan mereka inshaallah akan kita penuhi,” ujarnya. 12 desa lingkar tambora jelas dia memiliki karakter dan potensi wisata yang berbeda, sehingga pengembanganya harus disesuaikan dengan potensi yang dimiliki. Desa Piong misalnya, sangat cocok untuk wisata berkuda karena trek jalur pendakiannya
tidak terlalu terjal. Dengan munculnya sumber penghasilan lain bagi masyarakat lingkar tambora ini dipastikan dengan sendirinya masyarakat akan mengubah ketergatunya pada hasil hutan kayu. Terlebih bisa beraktifitas dengan tenang karena tidak lagi melanggar sebagaimana kegiatan menebang kayu. “Output-nya nanti ya untuk menghilangkan ketergantungan itu,” jelasnya. Aktivitas pembalakan liar di lingkar tambora tambah dia masih terus berlangsung, untuk itu rencananya Tanggal 18 Juli mendatang pihaknya bersama kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, jajaran Polres Dompu, Bima Kota, Kabupaten Bima serta Kodim Bima dan Dompu akan menggelar rapat koordinasi untuk membahas persoalan utama di kawasan hutan tambora. (jun)
Dompu (Suara NTB) Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat Provinsi ke 24 dengan berbagai event yang menyertainya di Dompu beberapa waktu lalu menjadi catatan untuk pengembangan ekonomi dan kemajuan daerah kedepan. Selain persoalan akomodasi, tempat makan dan tempat penjualan tetap produk ekonomi kreatif yang sulit ditemukan. Dewan pun mendorong pemerintah daerah (Pemda) untuk mendukung produk ekonomi kreatif sebagai bentuk dukungan bagi UMKM lokal. M. Iradat, pelaku ekonomi kreatif mengungkapkan, event gelar dagang yang dilaksanakan sebagai rangkaian dalam Harganas ke 24 pada 9-10 Juli lalu, mengungkapkan, harapannya agar ada tempat promosi yang berkelanjutan. Walaupun berskala kecil dan akan menjadi semangat perekat kekeluargaan kedompuan. “Bagi kami, event seperti ini media promosi seremonial, bukannya tidak bersyukur, malah ribuan kesyukuran. Kami ingin lebih ada kontinyuitas. Minimal dalam skala kecil dan semangat perekat kekeluargaan kedompuan,” katanya. Geliat ekonomi kreatif khas daerah seperti madu, kopi, kerajinan tangan, kuliner dan jajanan khas Dompu, kaos budaya dan lain dalam satu lokasi atau areal bisnis. Di dalamnya tersedia wadah untuk pentas seni dan budaya. “Ini juga menjadi ikon mencirikan aktivitas dan karakter Dompu yang spesifik,” harapnya. Anggota Komisi II DPRD Dompu, Abdullah, S.Kel mengatakan, produk Ekonomi Kreatif semestinya mendapat tempat dan support yang reel dan nyata dari Pemda karena tertuang di RPJMD Kabupaten Dompu.
“Kita masih ingat beberapa saat lalu Pemda dengan tegas menolak hadirnya retail modern dengan harapan UMKM Lokal tumbuh dan berkembang dengan baik. Komitmen itulah saya pikir saatnya ditunjukkan oleh Pemda Dompu dengan hadirnya semangat dan geliat yang dipelopori beberapa komunitas muda – mudi dengan beragam produk kreatifnya,” katanya. Ekonomi kreatif hadir tidak saja memiliki dampak ekonomis, kata Abdullah, tapi sekaligus sebagai identitas keragaman kuliner dan budaya. Pendatang dengan mudah mengetahui sejarah daerah dengan mengenal dan memiliki produk – produk UMKM. “Sebagai anggota komisi 2 sangat - sangat mendukung dan support atas niat baik dari pemuda – pemudi kreatif Dompu. Saya berharap kepada Pemda Dompu untuk mensupport moral dan moril. Infrastruktur dan permodalan dengan akses dan bunga rendah untuk mereka,” harapnya. Produk hasil kreativitas ini, lanjut Abdullah, harus juga diperkenalkan dalam event – event pameral lokal maupun lintas daerah, sehingga akan mempengaruhi kuantitas dan kualitasnya. Disamping itu akan menambah pengetahuannya karena bisa membanding – bandingkan dengand aerah lain. “Jika ini menjadi salah satu agenda Pemda Dompu dan semangat kita semua, maka inilah ikhtiar sesungguhnya kita menyelesaikan beberapa hal yang terkait peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat, pengentasan kemiskinan, pengurangan angka pengangguran dan penciptaan lapangan kerja baru,” katanya. (ula)
(Suara NTB/ula)
GELAR DAGANG - Produk ekonomi kreatif khas daerah Dompu pada gelar dagang peringatan Harganas ke 24, Senin (10/7).
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
Atensi Narkoba di Kawasan Wisata KEPOLISIAN membantah kecolongan setelah beberapa kali pengungkapan kasus narkoba di Gili Trawangan. Narkoba masih saja bisa masuk ke ikon wisata NTB itu. Warga negara Selandia Baru, Darren Lee Wong ditangkap April 2017 lalu atas dugaan kepemilikan kokain, sabu, dan ekstasi di kawasan Senggigi. Pekerja teknik yang kini sedang menjalani persidangan itu membeli narkoba di Gili Trawangan. Kemudian pengungkapan akhir pekan lalu, ter(Suara NTB/why) sangka AP asal Ampenan, Komang Sandi Arsana menjual sabu, ganja, ekstasi, dan kokain ditangkap Gili Trawangan. Dirresnarkoba Polda NTB, Kombes Pol I Komang Sandi Arsana menjelaskan, penindakan pihaknya itu adalah wujud atensi kepolisian memberantas narkoba di kawasan wisata. “Semua tempat yang menjadi tempat peredaran, apalagi tempat wisata, kita atensi. Ini juga terkait citra pariwisata yang perlu kita jaga,” jelasnya, Jumat (14/7). Menurut hasil analisa pengungkapan sejumlah kasus, ia menyebutkan, narkoba yang beredar di NTB berasal dari luar daerah, seperti Bali, Riau, dan Malaysia. Untuk itu pihaknya menggandeng Polda daerah setempat untuk menyelidiki jalur-jalur pengiriman dan pemain bisnis haram narkoba. “Di sini kan tidak ada yang memproduksi, paling besar itu dari luar,” ujarnya. Di Gili Trawangan sendiri asal barang selain dari Mataram juga dari Bali. “Kita lihat kan dari barang buktinya. Di sini lazimnya sabu, ganja. Tapi kalau sudah ada kokain, ekstasi, analisa kami kemungkinan dari Bali,” bebernya. Ia mengatakan, jalur masuk narkoba ke Gili Trawangan itu dapat melalui pelabuhan tikus atau melalui kapal cepat. “Tapi kita belum bisa pastikan dibawa pakai itu (fastboat), tetapi analisa, kalau bukan lewat sana ya lewat mana lagi,” ujarnya. Pihaknya kini terus menjalin koordinasi dengan kepolisian jajaran maupun masyarakat untuk meningkatkan pengawasan dan pencegahan masuknya narkoba ke kawasan wisata. (why)
POLHUKAM
Halaman 8
Polisi Dalami Dugaan Korupsi Penataan Kawasan Pusuk Sembalun Mataram (Suara NTB) – Polres Lombok Timur (Lotim) memetakan aktor terkait proyek penataan kawasan Pusuk Sembalun. Proyek senilai Rp 2 miliar itu masih dalam tahap penyelidikan. Penyidik juga masih menunggu hasil audit investigasi BPKP Perwakilan NTB. “Belum turun hasilnya dari BPKP,” ungkap Kapolres Lombok Timur, AKBP Wingky Adhityo Kusumo, ditemui di Mapolda NTB, Jumat (14/7). Penyidik pun masih meme-
takan siapa-siapa saja yang ikut terlibat dalam pengerjaan proyek pada tahun 2015 itu. “Belum ada tersangkanya. Tapi semua saksi-saksi sudah diperiksa. Khususnya dari Di-
nas Pariwisata Lombok Timur,” terangnya. Penataan kawasan Pusuk Sembalum dikerjakan dengan anggaran dari Kementerian Pariwisata tahun 2015.
Kasus K2 Dompu
Penyidik Periksa Saksi BKN Regional X Denpasar
(Suara NTB/dok)
Mataram (Suara NTB) – Tugas penyidik melengkapi berkas kasus K2 Dompu dengan tersangka HBY masih berlanjut. Penyidikan ke Denpasar, Bali, memeriksa pejabat Badan Kepegawaian Negara (BKN) Regional X. “Minggu depan akan ke Bali meminta keterangan saksi melengkapi petunjuk jaksa,” ungkap Kasubdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda NTB melalui Kabid Humas, AKBP Tri Budi Pangastuti, Jumat (14/7). Penyidik diminta jaksa untuk memperkuat kembali unsur niat jahat dalam dugaan korupsi rekrutmen 134 CPNS Dompu yang berasal dari honorer. Ia menambahkan, pemeriksaan saksi dari BKN tersebut hanya pemeriksaan tambahan. Bukan saksi baru. “Tambahan keterangan dari saksi yang sudah diperiksa sebelumnya. Sesuai petunjuk jaksa. Untuk materi pemeriksaan itu sudah masuk teknis, tidak bisa kita jelaskan,” jelasnya. Pekan lalu, penyidik Subdit III Tipikor sudah memeriksa kembali 134 CPNS tidak memenuhi kriteria, di Dompu. “Saksi itu orang-orang yang memperoleh SK,” sebut Tri Budi. Bupati Dompu, H. Bambang M. Yasin atau akrab disapa HBY disangkakan pasal 2 pasal 3UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak pidana Korupsi. HBY diduga berperan meluluskan 134 honorer K2 sebagai CPNS pada 2015. Padahal, 134 orang itu tidak memenuhi kriteria, seperti dinyatakan BKD Dompu dan BKN Regional X Denpasar. Sebelumnya, Kejati NTB mengembalikan berkas tersangka Bupati Dompu karena dinilai belum lengkap, khususnya mengenai unsur pidana dugaan korupsi rekrutmen tersebut. Unsur niat jahat yang disangkakan kepada tersangka, dalam bentuk perintah dari Bupati untuk meluluskan 134 orang honorer tidak memenuTri Budi Pangastuti hi kriteria menjadi CPNS. (why)
sejumlah saksi, antara lain, asisten III Setda Lotim, Khairil Anwar Mahdi yang diperiksa dalam kapasitas sebagai mantan Kadispar Lotim, yang bertindak sebagai kuasa pengguna anggaran dan pejabat pembuat komitmen proyek tersebut. Saksi lainnya yakni, bagian seksi objek wisata tujuan wisata, pejabat pelaksana teknis kegiatan, dan kontraktor rekanan pelaksana proyek. (why)
Dipertimbangkan Dihentikan
Penanganan Kasus Alat Pemecah Eceng Gondok Mataram (Suara NTB) – Dugaan korupsi pengadaan alat pemecah eceng gondok di Bendungan Batujai, Praya senilai Rp 1,5 miliar akan tutup buku. Polres Lombok Tengah belum secara resmi menghentikan kasus proyek BWS Nusa Tenggara I itu. “Nanti akan kita gelar perkara dulu di Polda. Apakah perlu dilanjutkan apa dihentikan,” ungkap Kapolres Lombok Tengah, AKBP Kholilurrochman, Jumat (14/7) ditemui di Mapolda NTB. Ia menyebutkan, kasus itu masih tertahan di tingkat penyelidikan. Penyidik pun belum menemukan indikasi penyimpangan seperti dilaporkan masyarakat pada 2014 itu. “Kasus ini masih penyelidikan. Nanti kita lihat kalau dihentikan, pertimbangannya apa,” jelasnya. Kholilur mengatakan, alat tersebut sudah berfungsi menurut pantauan terakhir awal tahun ini. Hasil penyelidikan awal, lanjut dia, penyidik menemukan pelaksanaan proyek sudah sesuai dengan
Gerindra Tidak Ingin Sekadar Jadi Penggembira Mataram (Suara NTB) Menghadapi Pilkada 2018, Partai Gerindra kembali memasang target tinggi, yakni bisa memenangkan pertarungan di pilkada NTB, dan tiga Kabupaten/Kota. Gerindra ingin mengulang kesuksesannya di pemilukada serentak 2015 lalu. Di mana Gerindra banyak sukses meraih kemenangan di pertarungan kepala daerah. Demikian disampaikan oleh Sekretaris DPD Partai Gerindra NTB, H. Sakdudin pada Suara NTB, Jumat (14/7). Diakui oleh Sakdudin, bahwa pilkada NTB menjadi pertarungan yang cukup penting bagi Gerindra. Sebab, pilkada serentak 2018, berdekatan dengan pemilu 2019, di mana Gerindra memiliki agenda untuk kembali mencalonkan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto sebagai calon Presiden. “Makanya kenapa Gerindra memutuskan dukungan pada Wali Kota Mataram, H. Ahyar Abduh, dari jauhjauh hari tidak main-main, tapi kami ingin bertarung,” tegas Sakdudin. Sebagai partai pemenang kedua pemilu 2014, Gerindra juga memiliki rasa gengsi kalau tidak memasang calon. “Ya kami ingin bersaing, karena kalau tidak bersaing itu tidak pas, makanya Gerindra itu sejak awal menyatakan dukungan bukan Sekarang,” ujarnya. (ndi)
Pola anggaran Tugas Perbantuan (TP) yang nilainya mencapai Rp 2 miliar. Dinas Pariwisata Lotim menggunakan anggaran itu untuk pembangunan fisik Gapura Sebau, Taman Pusuk, Sembalun, dan pembangunan gerbang selamat datang. Pembangunan fisik itu menelan anggaran Rp 1,6 miliar. Penyidik tipikor Satreskrim Polres Lotim sudah memeriksa
penganggaran. Laporan masyarakat sebelumnya menduga alat itu mangkrak. Kasus itu mulai diselidiki sejak 2014. Pantauan kepolisian terakhir alat itu dapat digunakan. Tim penyidik Tipikor Satreskrim Polres Lombok Tengah pada Agustus 2016 lalu turun ke lapangan mengecek kondisi alat yang pengadaaannya melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) I Nusa Tenggara tahun 2014. Alat yang sebelumnya diduga mangkrak itu beroperasi setelah ada anggaran operasional. Namun penyidik juga menyasar soal proyek pengadaannya, selain spesifikasi alat. Catatan terakhir Suara NTB, dalam penanganan kasus itu, 13 orang sudah dimintai keterangan. Proyek itu bersumber dari Ditjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum tahun anggaran 2013. Proyek kemudian dimenangkan PT Sumber Logam Nusantara (SLN) dengan nilai kontrak Rp 1,5 miliar. (why)
TGH Hasanain Belum Didukung Partai Demokrat (Suara NTB/penrem)
SEMANGAT - Anggota Satgas TMMD dan masyarakat saat pembuatan jalan di Kecamatan Jonggat Loteng.
TMMD Ciptakan Kebersamaan yang Erat antara TNI dan Rakyat Mataram (Suara NTB) Pelaksanaan kegiatan TMMD ke-99 tahun 2017 di wilayah Kodim 1620/Loteng, tidak hanya membawa kemajuan bagi wilayah yang menjadi sasaran. Namun juga menciptakan kebersamaan yang erat antara TNI dengan masyarakat. Kedekatan tidak hanya terlihat saat masyarakat dan Satgas TMMD bergotong royong mengerjakan berbagai sasaran fisik saja, namun juga kedekatan tersebut terjalin saat mareka selesai melaksanakan aktivitas. “Hal ini dikarenakan anggota Satgas selama pelaksanaan TMMD tinggal atau tidur lang-
sung di rumah warga, “ kata Danrem 162/WB Kolonel Farid Makruf, MA, Jumat (14/7). Selain bertujuan untuk mempermudah menuju lokasi sasaran TMMD, sambung Danrem, lebih penting dari itu anggota Satgas dapat berbaur dalam waktu yang cukup panjang di tengah-tengah masyarakat. Sehingga diharapkan akan tumbuh ikatan persaudaraan yang kuat antara anggota Satgas dengan masyarakat, begitu juga antar masyarakat itu sendiri. Selain itu, dengan adanya anggota Satgas yang bertempat tinggal di rumah warga ini, membuat warga menjadi senang karena mereka merasa tidak
ada jarak antar mereka. Ini terlihat juga pada Jumat kemarin. Meskipun cuaca agak sedikit mendung, namun anggota Satgas TMMD dan masyarakat dua desa tersebut tetap bersemangat melanjutkan pekerjaan mereka, seperti pembuatan jalan di Desa Bun Gini dan pembuatan Pos Kamling di Desa Bu Waru Kecamatan Jonggat Loteng. “Kebersamaan ini diharapkan dapat terus terjaga, tidak hanya pada saat pelaksanaan kegiatan TMMD saja, namun juga pada setiap kesempatan karena dengan kebersamaan maka segala permasalahan dapat teratasi,” harap Danrem. (ars/*)
Panggung Prajurit Tutup Rangkaian Peringatan Hari Bhayangkara Mataram (Suara NTB) Ratusan personel polisi dan prajurit TNI berbaur di Lapangan Gajah Mada Mapolda NTB, Jumat (14/7). Mereka bersatu dalam panggung prajurit memperingati Hari Bhayangkara ke-71. Kapolda NTB, Brigjen Pol Drs Firli bahkan ikut menyumbangkan lagu, bernyanyi diiringi tari para personel yang turut hadir. Panggung prajurit itu menutup seluruh rangkaian kegiatan peringatan Hari Bhayangkara ke-71 di Polda NTB. Panggung prajurit itu diharapkan dapat memperkokoh soliditas TNI-Polri. Sebab, tantangan menjaga keutuhan NKRI ke depan akan semakin kompleks. Dinamika masyarakat belakangan, termasuk dinamika negara lain memerlukan sinergi dan soliditas aparat penegak hukum, maupun TNI yang berfungsi sebagai alat pertahanan negara. “Kita harapkan soliditas antara TNI dan Polri dalam tercipta dengan baik,” tegas Wakapolda NTB, Kombes Pol Drs Imam Margono ditemui usai kegiatan. Polisi dan TNI dalam menja-
Mataram (Suara NTB) Bakal calon Bupati Kabupaten Lombok Barat (Lobar), TGH. Hasanain Juaini, mengaku sampai saat ini belum mendapatkan partai pendukung, sebagai kendaraan politiknya di Pilkada Lobar tahun 2018. Ia mengatakan, adapun pencalonanya saat ini baru sebatas diajukan oleh organisasi NW, bukan dicalonkan oleh partai. Oleh karena itu, ia akan segera mencari partai politik untuk mendukungnya bertarung. “Kan ini baru keputusan organisasi untuk menunjuk saya untuk diajukan sebagai calon, ini baru hanya organisasi, bukan oleh partai,” ujar Hasanain. Pimpinan ponpes NW Nurul Haramain, Narmada Lobar ini mengaku, bahwa dirinya hanya baru final sebagai calon di tingkat organisasi NW. Adapun kemudian dia ditunjuk, karena dipandang oleh organisasi akan dapat membawa perubahan. “Final saya baru di organisasi saja, lalu kenapa organisasi mengutus saya, karena organisasi berpandangan bahwa kader-kader yang diberikan rekomendasi ini bisa berbuat dan bermanfaat dan berguna untuk Lobar,” ujarnya. Lantas bagaimana dengan dukungan partai Demokrat, apakah Hasanain sudah mendapatkan dukungan secara otomatis dari partai Demokrat ? Sebab Partai Demokrat NTB, yang berafiliasi dengan NW, maka Hasan-
ain otomatis juga mendapatkan dukungan. “Jadi partai belum, karena partai itu punya mekanisme, dan apalagi soal pasangan, juga masih belum ini. Dan saya juga cukup mendadak diberitahukan untuk maju di Lobar,” sebutnya. Namun demikian, pascapengumuman dari NW bahwa dirinya yang diutus untuk bertarung. Mantan Ketua KPU Lobar ini menyampaikan bahwa ia akan segera malakukan konsolidasi, dan membangun komunikasi politik dengan sejumlah partai. “Kan Demokrat juga tidak bisa mengusung sendirian, tapi ini kan waktu masih panjang ini, makanya saya belum bisa katakan banyak,” pungkasnya. Sebelumnya, Ketua DPD Partai Demokrat NTB, TGH. Mahally Fikri juga mengakui bahwa Demokrat belum memberikan dukungannya secara formal pada para kandidat bakal calon kepala daerah yang direkomendasikan oleh NW. Posisis Demokrat munurut Mahally, bahwa hanya akan memprioritaskannya saja. “Ya tentu kita akan memberikan prioritas pada para calon yang sudah diumumnkan NW ini. Tapi meskipun belum kita keluarkan secara resmi, namun NW dan Demokrat ini sudah pasti, karena dia ibarat mata uang, tidak akan ada gambar burung Garuda tanpa gambar angka seribu, begitu juga sebalikanya,” pungkasnya. (ndi)
(Suara NTB/why)
PANGGUNG PRAJURIT - Kapolda NTB, Brigjen Pol Firli bernyanyi di atas panggung prajurit di lapangan Gajah Mada Mapolda NTB, Jumat (14/7). ga keamanan NTB sering terlibat dalam kegiatan bersama. Paling intens adalah keberadaan Babinsa dan Bhabinkamtibmas di desa dan kelurahan. “Khususnya dalam melaksanakan tugas di lapangan dapat berjalan dengan bagus, koordinasi lancar, itulah yang kita harapkan,” imbuh dia. Dalam kegiatan tersebut,
turut dibagikan pula doorprize utama lima unit sepeda motor bagi para peserta. Prajurit Dua Doni Setyawan dari Batalion Yonif 742/ SWY, salah satu pemenangnnya. “Saya merasa kaget mendapat hadiah sepeda motor. Selamat Ulang Tahun Bhayangkara ke 71 Semoga Jaya Selalu,” ujarnya. (why)
(Suara NTB/ndi)
BALIHO - Baliho berukuran raksasa milik TGH. Hasanain Juaini telah bertebaran di sejumlah titik keramain di wilayah Lombok Barat pascadirinya dinyatakan sebagai bakal calon bupati oleh NW.
Jendela Sastra
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
Halaman 9 (Michael Jadach / fineartamerica.com)
CERPEN
Om Sam Berumah di Sawah Muliadi G.F. DI depan pos ronda pagi itu, dua orang pemuda bertemu secara tak sengaja dan langsung tertawa ketika saling melihat bawaan masing-masing: plang papan bertuliskan DIJUAL. “Eh, kau juga?” tanya Asse. “Iya. Kau jugakah?” kata Lajong. Asse yang pertama duduk di pos ronda, seperti isyarat bagi Lajong untuk melakukan yang sama. Berdampingan. Plang papan digeletakkan di depan kaki mereka. “Tinggal sawah itu yang hidup.” Asse menunjuk sepetak sawah di seberang jalan, yang berbentuk bujur sangkar dengan satu sisi terbuka ke arah jalan sedangkan tiga sisi lainnya dipagari rumah-rumah batu. Di dalamnya, tampak padi-padi hijau bergoyang diembus angin. “Sawah Om Sam,” timpal Lajong. “Tetangga saya Burhan yang garap. Itu pun karena dibayar. Dia satu-satunya petani yang beruntung. Seperti pegawai, terima gaji tiap bulan.” “Dari siapa?” “Tante Jumiati, istri Om Sam. Hasil sawahnya sendiri ndak seberapa. Bisa kaubayangkan berapa yang bisa dihasilkan sawah 4 are begitu?” “Kalau dia butuh satu penggarap lagi, saya sedia.” “Bisa. Tapi bunuh Burhan dulu. Setelah kita saling bunuh, barulah....” “Sembarangan,” Lajong menukas dan tertawa. “Untung sa-tahu kau.” “Sawah itu mimpi,” kata Asse seperti bicara pada dirinya sendiri. “Maksudnya?” “Kau ndak tahu?” Asse menggerutu. “Itulah kau, kurang gaul.” “Apa yang ndak sa-tahu?” “Ini Tante Jum sendiri yang cerita sama saya. Katanya, sawah itu masih hidup karena mimpi suaminya. Dulu, waktu Om Sam masih kecil, dia punya mimpi. Waktu pertama kali temani bapaknya kerja di sawah, melihat padi-padi segar di depannya, saat itu juga dia langsung membayangkan betapa senangnya kalau suatu hari nanti dia bisa punya rumah di tengah persawahan, bisa tiap hari lihat padi-padi dari atas rumah, cukup dengan membuka jendela. Sa-kira, semua orang pasti senang membayang-
kan itu. Tapi tidak semua mampu mewujudkan. Om Sam pun tidak.” “Ada apa dengan Om Sam?” “Dengar dulu. Karena tuntutan hidup, dia harus membenamkan mimpi itu bertahuntahun lamanya. Bapaknya sudah berpesan, ‘Kamu harus sekolah tinggi-tinggi agar tidak seperti saya yang sepanjang hidup cuma sibuk di sawah.’ Lulus SMA, Om Sam kerja sambilan untuk membiayai kuliahnya. Karena tekun dan jujur, kariernya cepat menanjak, sampai-sampai saat lulus kuliah, dia sudah memegang posisi penting di perusahaan tempatnya kerja. Saking pentingnya, lahir semacam gurauan, tidak seorang pun bisa menggantikannya kecuali mau perusahaan itu rubuh.” Asse mengeluarkan kretek dan menyulutnya. Ia menawari Lajong. “Ah, saya sudah berhenti,” kata Lajong. “Sa-punya-keluarga makan apa kalau saya tetap merokok? Kau saja.” Asse mengisap kretek dan melanjutkan, “Bapak Om Sam cuma sebentar menikmati kerja keras anaknya. Itu membikin Om Sam sedih sekali. Sulit menerima kalau orang seperti bapaknya, yang tiap detik hidupnya dihabiskan memikirkan keluarga, cuma bisa menikmati manis buah didikannya sebentar saja. Om Sam sendiri heran, kenapa dulu bapaknya minta dia sekolah tinggi-tinggi supaya tidak kerja di sawah, begitu hinakah kerjaan di sawah? Tidak, tidak. Dia menolak paham seperti itu. Bagi Om Sam, justru pengalaman kerja di sawahlah yang membentuk semangat kerjanya saat dewasa.” Ia mengisap lagi kreteknya. “Lima tahun lalu mereka liburan ke desa ini. Kau tahu, ‘kan, mereka tinggalnya di kota? Nah, waktu itulah, Om Sam teringat lagi pada mimpi masa kecilnya. Tapi saat itu, desa sudah berubah. Bahkan di tempat yang dulunya hanya ditinggali ular pun muncul rumah-rumah batu. Apalagi persawahan yang dibelah jalan poros ini. Itu wajar, bukankah tanah dekat jalan tempat yang cocok ditinggali dan untuk bangun usaha? Tidak peduli mahal, orang-orang kota tetap memburunya. Mahalnya juga yang menggoda pe-
milik sawah untuk melepas tanah mereka. Akhirnya, rumah-rumah baru pun mengganti padi tumbuh di sawah. Sebagian jadi ruko seperti yang berderet di sana itu.” Lajong melihat ke arah yang ditunjuk Asse dan menganggukangguk. “Semua itu salah di mata Om Sam,” kata Asse. “Kemajuan tidak semestinya membunuh sawah. Dia pun batalkan niatnya bangun rumah di persawahan seperti mimpinya semula. Dia ndak tega meniru pemilik rumah-rumah baru itu, yang mengusir sawah dari desa.” “Sa-pikir sudah begitu maunya dunia, Kawan,” imbuh Lajong. “Hemm.. ya. Itu pasti.” Asse meludahkan serbuk kretek dari bibirnya. “Lorong-lorong juga makin banyak, saling-silang membelah, memotong-motong desa. Dulu jarak rumah kau ke sa-punya-rumah dekat saja, ‘kan? Sekarang lain. Tapi mungkin begitulah, majunya daerah juga ditandai banyaknya lorong.” Sebuah truk 10 roda bermesin ribut lewat. Asse menunggu. “Om Sam punya kebiasaan kalau pulang,” katanya kemudian. “Jalan-jalan pagi. Kadang dia masuk satu lorong dan keluar di lorong lain, tersesat.” Asse tertawa. Lajong ikut tertawa. “Terus?” “Terus, sambil jalan, sering dijumpainya orang tua seangkatan bapaknya. Bapakmu salah satunya. Yah, mereka tidak lagi kenal Om Sam. Bagaimana tidak, mereka sudah tua sekali. Soal ini, Om Sam pernah bergurau sama istrinya, ‘Sekarang, mencangkul saja satu kali, pasti patah dua punggung orangorang tua itu.’ He He!” Lewatlah motor dengan knalpot bagai bazoka, membenamkan tawa Asse. “Lihat itu,” kata Asse. “Anak muda.... Ada banyak anak muda sebenarnya, sedikit di bawah umur kita, Jong. Lihat saja tepitepi lorong dan jalan. Menggosip, main gitar, main hape di tangan. Dengan motor-motor baru. Sebagian melintas dengan seragam kerja. Atau di sana, di warnet Rudi. Begitu juga yang dilihat Om Sam waktu itu. Ramai, desa ini ramai anak muda. Tapi di sawahsawah yang tersisa, Om Sam lihat hanya ada satu-dua orang, tua-
tua pula, bekerja dalam sepi. Tidak ada lagi anak-anak di sawah.” Ia berhenti untuk membiarkan matanya mengikuti sebuah jip mewah melintas. “Om Sam yang malang, kegagalan mimpinya ndak bikin dia kapok bermimpi.” “Mimpi apa lagi?” ujar Lajong. “Dengar saja. Om Sam kemudian bertekad melawan.” “Caranya?” Asse menoleh. “Saya bilang dengar saja!” katanya. “Om Sam mau mengembalikan kecintaan anak-anak kepada sawah. Tapi bagaimana? Saya sendiri sulit membayangkan dia tinggalkan pekerjaannya yang mapan di kota, lalu pulang ke desa, gulung lengan baju, dan turun ke sawah yang sudah lama ditinggalkannya.” Lajong mengangguk-angguk. “Tapi Tante Jum tidak bisa mencegah. Dalam keluarga itu, kata-kata Om Sam sedikit lagi kayak wahyu, nyaris selalu benar. Kau mungkin ndak pernah ketemu dia, Jong, tapi saya sering. Memang, dia jarang bicara, tapi satu kali bicara pasti yang keluar dari mulutnya betul-betul sudah dimasak matang-matang di kepalanya, dan pengalaman telah membuktikan keputusan-keputusannya seringkali, kalau tidak selalu, tepat jadinya. Itu membikin segan orang lain, di keluarganya maupun di tempat kerja. Karena itu, saat tahun itu Reza anak
sulungnya lulus SMA, Tante Jum ndak bisa melawan keputusan suaminya yang minta Reza pilih kuliah di jurusan pertanian. Meski Tante Jum tahu, dan saya juga tahu, Reza lebih tertarik ke musik. Tante Jum cuma membesarkan hati anaknya, menasihati, apa yang terasa keliru belum tentu memang begitu, malah bisa jadi menguntungkan.” Lajong mengangguk-angguk lagi. “Empat tahun berlalu,” sambung Asse, “Om Sam tidak sabar menunggu lulusnya Reza. Di tahun terakhir kuliah, Reza mengaku pada Tante Jum dia jengah terlalu sering ditelepon bapaknya, ‘Kapan skripsimu selesai? Kapan ujian? Kapan wisuda?’ “Tapi, kaulihat sendiri, Jong, desa ini cepat saja sudah jadi kota. Saat Reza lulus, nyaris seluruh sawah sudah terganti rumah batu. Yang tersisa tinggal sawah kita dan sawah di depan sana itu, sawah Om Sam. Om Sam kecewa. Tante Jum sering mendapatinya termenung-menung, memikirkan mimpinya yang akan gagal lagi. Om Sam belum menyerah, dia pun mengambil apa yang dirasanya jalan tengah: dia minta Reza menerima pekerjaan jadi penyuluh pertanian di daerah lain, yang persawahannya masih hidup. “Tapi, rupanya panggilan jiwa sudah menguasai Reza.
Saat kuliah, ternyata anak itu serius mengasah bakat musiknya diam-diam. Salah satunya dengan bekerja paruh waktu jadi pemusik di kafe terkenal di kota. Tante Jum baru sadar mungkin itu sebabnya dulu Reza mengajukan syarat bersedia kuliah asal dibolehkan mengontrak rumah sendiri. Lulus kuliah, Reza sudah mantap mencemplungkan dirinya lebih dalam lagi ke bidang itu. “Maka terjadilah pemberontakan dalam keluarga itu, Jong. Panggilan jiwa coba menggeser wibawa kepala keluarga. Dan, panggilan jiwalah yang menang. Tidak peduli keutuhan keluarga jadi taruhan. Reza kemudian nekat ke ibukota. Kalau ndak salah, sekarang dia sedang membantu persiapan album seorang penyanyi terkenal. Tekadnya untuk tidak kembali mungkin sudah membaja, karena saat bapaknya meninggal, anak itu juga ndak pulang. “Kecewa berat, Om Sam tambah sering lagi mengajak Tante Jum ke desa. Kadang tinggal cukup lama, sampai timbul kesan kalau Om Sam tidak peduli lagi pada pekerjaannya. Dia lebih-lebih lagi memperhatikan sawahnya, satu dari tiga sawah tersisa, sawah yang hidup-matinya kini bergantung pada gaji Burhan.” Asse membuang sisa kreteknya, lalu berkata, “Seperti kau tahu, sudah sebulan ini Om Sam sudah berumah di sawah. Saya
ragu mau bilang ini beruntung atau tidak: serangan jantung merenggut hidupnya saat dia kebetulan sedang di desa. Tante Jum yang mengusahakan jenazah suaminya dimakamkan di tengah sawah itu. Begitulah.” Ia berdiri, meregangkan badan, dan memungut plangnya. “Kau yakin mau melakukan ini?” “Iya. Seperti kau,” jawab Lajong, ikut berdiri. “Keberuntungan kita ndak sebagus Burhan.” Keduanya menyeberang lalu menyusuri tepi sawah Om Sam. Di tengah sawah itu, tampak bangunan makam berwarna putih. “Tante Jum juga kasih tahu saya,” kata Asse sambil berjalan, “seolah berwasiat, kalau nanti dia juga meninggal, maunya dimakamkan di sawah ini. Berdampingan sama suaminya, melihat sampai mana dua impian Om Sam yang gagal bisa menahan sawahnya hidup di kenyataan.” “Semua orang punya impian,” timpal Lajong. “Kita juga punya.” “Mimpi saya sekarang cuma satu: ada orang yang beli sa-punya-sawah.” “Ya, semoga, Asse, semoga. Dan segera.” “Ya, segera.”(*)
Muliadi G.F. tinggal di Barru, Sulawesi Selatan.
PUISI Cintopa Satria Adepradana
Lirik Lagu yang Lupa Dinyanyikan
Antara Lagu dan Jalan Pulang
:Ahsani
:Ahsani
Lagu serupa jingga Ditulis pagi pada gigil batu Seingatku lewat meditasi petang panjang memahat kata Namun ingatku alpa Lirik itu berulang-ulang mestinya kusebut berkali-kali sebelum dengkur tidur sebelum sebentuk mimpi mencipta baris baru melewatkan bait yang raib ditulis tangan
Setangkup hujan kutangkap Menulis gerai dalam derai Sesekali ia melagu di pelupuk :air matamu?
Seperti Embun
Maria
Selarut malam ia mengendap Tanpa suara namun berjejak Menubuh, tertidur di rimbun daun Lalu sedetik, Angin menggugurkannya menjadi hujan
Apa sebenarnya agama air matamu Biarku-se-iman-kan hujan Pada Syahadat yang sempat tersendat Antara lirik lagu dan bait puisi (2017)
Kita bergumam saja Tapi kau boleh berdengung Sebab kau terlampau nanar
Butir-butirnya bergulir ciumi bumi Dengan sajak kehilangan Yang tersisa hanyalah setinggal
Jangan biarkan butir-butir lirik Bernyanyi terlalu panjang
Tetap aku tak hafal
Aku takut Terlampau panjang Terlampau nanar
Sesekali dengan ingat harusnya sempurna Lagu mengetuk minta bernyanyi Setelah semua selesai Benar-benar usai
Pelupuk air matamu tak ingat jalan pulang
Begitulah perjumpaan Yang kekal sebatas tolehan (2017)
Boneka Jika suka, ambillah Jika tidak, Jangan purapura lalu diamdiam mengaku jadi pemiliknya (2017)
(2017) Namamu terlupa di dada tak berbahasa tak terbaca (2017)
Cintopa Satria Adepradana bergiat di UKMF Teater Putih, Universitas Mataram.
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
PENDIDIKAN
Halaman 10
Jalur Mandiri Unram
Butuh Tambahan Fasilitas KEBERADAAN madrasah sebagai lembaga pendidikan yang mayoritasnya dikelola swadaya oleh masyarakat harus diakui mengalami banyak kelemahan dan kekurangan, terutama dalam hal fasilitas fisik gedung madrasah. Di satu sisi, posisi madrasah menjadi pilihan sekaligus alternatif masyarakat memasukkan anak-anak mereka ke madrasah. Masyarakat menilai, pembelajaran di madrasah san(Suara NTB/dys) gag baik dalam pembentuH. Nasarudin kan karakter anak. Di hadapan Anggota Komisi VIII DPR RI saat melakukan kunjungan kerja di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Jumat (14/7), Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) NTB H. Nasarudin, mengutarakan jika madrasah bagi masyarakat NTB sudah menjadi pilihan belajar yang baik. Hal itu terbukti dari animo masyarakat memasukkan anakanak mereka ke madrasah dan pondok pesantren. Hanya saja, animo tinggi masyarakat belum didukung oleh fasilitas memadai madrasah. Banyak gedung fisik madrasah yang butuh perbaikan sebagai tempat belajar. Sebagai contoh kata Nasarudin, pada penerimaan peserta didik baru tahun ini MTsN 1 Mataram memiliki peminat tinggi dengan jumlah pendaftar 900 orang, akan tetapi yang diterima berdasarkan kuota hanya 200 orang. “Mereka butuh fasilitas bantuan fisik, tidak hanya di Kota Mataram tapi juga di daerah,” ujarnya. Ditambahkan, melihat tingginya animo masyarakat masuk madrasah yang luar biasa, Kemenag NTB akan mengusulkan penambahan RKB tahun depan termasuk juga soal penambahan tenaga pendidik. “Masyarakat NTB sudah mempercayakan anak-anak mereka masuk madrasah, hal itu dibuktikan membeludaknya pendaftar tiap tahun. Kasihan mereka ditolak karena daya tampung kurang,” ujarnya. Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Dr. H. Ahmad mempersilakan bagi lembaga-lembaga pendidikan mengajukan proposal. Mengenai penganggaran, DPR RI siap membantu setelah melakukan kajian terlebih dahulu. (dys)
Tingkat Persaingan Tinggi, Ribuan Peserta Bakal Terpental Mataram (Suara NTB) – Tingkat persaingan di Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Mandiri sangat tinggi. Ribuan peserta dipastikan bakal terpental. Tercatat sekitar 7.500 orang yang mendaftar mengikuti seleksi jalur mandiri itu, dengan total peminat yang memilih Program Studi (Prodi) pada dua pilihan sebanyak 14.220 orang. Sementara itu, daya tampung untuk Jalur Mandiri bagi Prodi S1 Reguler hanya 1.200 untuk 35 Prodi. Sedangkan daya tampung untuk S1 Non Reguler untuk 12 Prodi dan empat Prodi Diploma III sebanyak 1.800 kursi. “Tingkat persaingan cukup tinggi pada Prodi tertentu,” ujar Wakil Rektor I Universitas Mataram bidang Akademik, Prof. Dr. Ir. H. Lalu Wiresapta Karyadi, M.Si., Jumat (14/7). Dari total 7.500 peserta yang akan mengikuti ujian seleksi Jalur Mandiri, 60 persen terdiri dari peserta seleksi bidang Sosial Humaniora (Soshum) dan 40 persen peserta yang memilih bidang Sains dan Teknologi (Saintek). Menurut Wiresapta calon mahasiswa yang diterima akan bertambah mencapai to-
tal 3.000-an untuk prodi regular dan non regular. Langkah ini dilakukan untuk mengisi kursi kosong, karena ada calon mahasiswa yang lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tidak melaksanakan daftar ulang. “Yang tidak mendaftar ulang biasanya kita isikan melalui penerimaan di Jalur Mandiri,” ujarnya. Penambahan kuota itu dilakukan untuk mengantisipasi tidak boleh adanya kursi kosong, karena jika ada kursi kosong maka akan menurunkan akreditasi. “Jika kurang yang diterima, itu tidak boleh, yang memungkinkan adalah bertambah,” kata Wiresapta. Tingkat persaingan dipastikan sangat tinggi. Wiresap-
ta mengambil contoh beberapa prodi yang tingkat keketatan masuk sangat tinggi. Seperti pada Prodi Kedokteran, yang memiliki daya tampung hanya 22 orang. Namun pendaftar yang menjadikannya pilihan pertama sebanyak 450 orang, sementara yang menjadikan pilihan kedua sebanyak 151. “Sebanyak 601 orang memperebutkan 22 kursi,” katanya. Prodi Farmasi misalnya, pendaftar yang menjadikan pilihan pertama sebanyak 247, yang menjadikan pilihan kedua sebanyak 275. Total sebanyak 522 peminat memperebutkan hanya15 kursi. Begitu pula di Prodi Teknik Informatika, kuota yang tersedia sebanyak 27, total peminat sebanyak 466 orang. Pada Prodi Soshum, per-
Inspektorat NTB Awasi Penyelenggaraan Pendidikan SMA/SMK Mataram (Suara NTB) – Inspektorat NTB akan mengawasi penyelenggaraan pendidikan SMA/SMK Negeri di NTB. Agar terwujudnya pengendalian internal yang baik di masing-masing perangkat daerah, dan sekolah yang menjadi tanggung jawab provinsi. Terutama agar tertib tata kelola keuangan bidang pendidikan. Demikian disampaikan Inspektur pada Inspektorat NTB, Ibnu Salim, SH.,M.Si., dikonfirmasi Jumat (14/7). Menurutnya, semua kegiatan SMA terutama yang ditarik pengelolaannya ke Pemerintah Provinsi menjadi tanggung tanggung jawab Inspektorat NTB dan Inspektorat kementerian terkait. Namun bisa didelegasikan ke Inspektorat Provinsi. “Terutama dana pusat dari pemerintah pusat yang ke kita (ke daerah),” katanya. Inspektorat provinsi, katanya, bisa melakukan pengawasan sesuai perintah gubernur. Juga sebagai pengawas internal seluruh organisasi perangkat daerah termasuk kegiatan SMA/SMK. Agar terwujudnya pengendalian internal yang baik di masing-masing perangkat daerah dan sekolah. “Termasuk sebagai terwujunya tertib tata kelola keuangan itu sendiri di bidang pendidikan, termasuk kepatuhan terhadap perundang-undangan,” tegas Ibnu. Sebelumnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB menegaskan akan ada pengawasan dari Inspektorat. Terutama pada mekanisme penarikan Biaya Penyelenggaraan Pendidikan (BPP) di SMA/SMK. Penarikan BPP harus sesuai dengan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Penarikan BPP bagi siswa mampu hanya untuk menutupi kekurangan anggaran pada program tahunan sekolah. “Program tahunan itu kuncinya, itulah yang kita periksa dan itu yang akan disampaikan ke inspektorat,” ujar Kepala Dinas Dikbud NTB, Drs. H. Muh. Suruji ditemui di kantornya, belum lama ini. Suruji menegaskan, di akhir tahun nanti Inspektorat yang akan memeriksa program sekolah. Berkaitan dengan kebenaran pelaksanaan program itu. Jangan sampai nantinya memungut BPP menggunakan angka maksimun, padahal tidak sebesar itu yang dibutuhkan. (ron)
(Suara NTB/ron)
H. Lalu Wiresapta Karyadi saingan juga sangat ketat. Di Prodi S1 Reguler Akuntansi, kuota tersedia hanya 45 kursi. Peminat yang menjadikan pilihan pertama sebanyak 554 dan yang menjadikan pilihan kedua sebanyak 380, total 934 peminat akan bersaing. Di Prodi Manajemen, sebanyak 45 total 1.460 peminat akan memperebutkan hanya 45 kursi. Demikian juga dengan
Prodi Ilmu Hukum, kuota sebanyak 90 orang akan diperebuktan total 1.033 peminat. Wiresapta menekankan, peserta ujian seleksi Jalur Mandiri harus benar-benar menyiapkan diri untuk tes kali ini. Karena kualitas dan tingkat kesulitannya tidak berbeda jauh dengan SBMPTN. “Karena soalnya juga soal standar SBMPTN dengan format dan sistem analisis yang sama, untuk itu tidak bisa peserta ini meremehkan, apalagi karena menganggap ‘hanya’ tes mandiri, kemudian ‘dientengkan’,” katanya. Penerimaan mahasiswa baru Jalur Mandiri sendiri merupakan pintu terakhir bagi calon mahaiswa untuk bisa masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Sebelumnya calon mahasiswa dapat memilih SNMPTN dan SBMPTN. Wiresapta juga menekankan kepada peserta ujian seleksi Jalur Mandiri agar tidak mempercayai calo atau oknum tertentu yang mengaku dapat meluluskan peserta. (ron)
Dikbud Rampungkan Revisi SK GTT dan TOTT
(Suara NTB/dys)
SERAHKAN - Rektor UIN Mataram H. Mutawalli menyerahkan cinderamata kepada ketua tim rombongan kerja Komisi VIII DPR RI H. Ahmad, Jumat (14/7).
Komisi VIII DPR RI Komitmen Bantu Pengembangan UIN Mataram (Suara NTB) Sebanyak 11 anggota Komisi VIII DPR RI didampingi Direktur Diktis Kementerian Agama RI melakukan kunjungan kerja spesifik ke Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Jumat (14/7). Mereka disambut Rektor UIN Mataram Dr. H. Mutawali dan segenap civitas akademika UIN Mataram, termasuk juga Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) NTB Nasarudin. Rektor UIN Mataram Dr. H. Mutawalli, pada kesempatan itu mengaku bangga, karena perjuangan perubahan status dari IAIN ke UIN tidak terlepas dari duku-
ngan Komisi VIII DPR RI di dalamnya. Itu juga yang menjadi semangat dalam pengembangan UIN Mataram kini. Selain itu, Mutawalli memaparkan setiap kebijakan di UIN senantiasa mempertimbangkan kepentingan orang banyak dibandingkan kepentingan orang dan golongan. “Inilah yang menjadi paradigma kami dalam membangun UIN sekarang. Setiap siapapun yang menjadi pemimpin merupakan amanah. Maka dari itu tidak boleh terjadi penyimpangan-penyimpangan,” ungkapnya. Mutawali menegaskan, NTB harus terus dikembangkan meski dalam tantangan berbagai arus ideologi berbeda. Menjawab beragamnya arua ideologi tersebut, UIN dalam perspektif akademiknya kini mengembangkan Islam moderat atau Islam nusantara. “Keberagaman sudah menjadi fitrah, ide ini harus mendapat dukungan dari Komisi VIII,” sambungnya. Sementara menjelaskan progres UIN, Mutawalli menyebut saat ini terjadi perubahan drastis sejal status IAIN berubah menjadi UIN. Pada penerimaan mahasiswa baru tahun ini, pem-
inatnya terus membeludak. Sementara daya tampung masih sedikit. Sehingga secara objektif kekurangan ruangan. Padahal di satu sisi setiap anak harus mendapat akses untuk memenuhi pendidikan. Menanggapi hal itu, Ketua Tim Rombongan Kerja Komisi VIII DPR RI, Dr. H. Ahmad, MA., menyambut baik komitmen UIN yang akan menjadikan kampus sebagai lembaga yang mengembangkan ajaran Islam wasathiyah atau moderat. Diungkapkan, hal itu sejalan dengan keinginan pemerintah yang berkomitmen melalui peningkatan status IAIN ke UIN dalam rangka mengembangkan ajaran Islam wasathiyah. Dirinya pun berpesan agar UIN secara kelembagaan agar terus mengembangkan diri menjadi kampus berkualitas dan dapat bersaing dengan UIN yang telah ada sebelumnya. “DPR siap membantu pengembangan kampus UIN. Sekulerisme dan radikalisme jadi tantangan dunia. Di manamana, karena itu akan jadi konflik di masyarakat, saya titip betul kepada masyakakat NTB,” ujarnya. (dys)
DINAS Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Barat (Lobar) berencana merampungkan revisi SK Guru Tidak Tetap (GTT) dan Tenaga Operator Tidak Tetap (TOTT) sekolah sebelum Agustus 2017. Hal ini dilakukan untuk memastikan agar mereka yang benar-benar berhak, bisa mendapatkan haknya. Bahkan Dikbud mengecek penumpang gelap yang masuk di SK tersebut. “Sebelum Agustus, Insyaallah revisinya sudah keluar,” ungkap Kepala Dinas Dikbud Lobar M. Hendrayadi saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (14/7). Menurutnya, sejauh ini dari temuan pihaknya terdapat tujuh nama GTT yang tidak berhak, namun tercantum dalam SK. Di antaranya mereka yang sudah ada di dalam SK Guru Tetap Daerah (GTD) namun masuk dalam SK GTT dan OS. Selanjutnya juga ada yang namanya ganda dan muncul dua kali. Kemudian ada nama yang muncul, padahal faktanya sudah tidak aktif lagi. “Ke tujuh GTT ini sudah teridentifikasi di awal, sehingga belum sempat dicairkan. Kita tahan,” jelasnya. Di luar yang tujuh ini, terdapat satu orang lagi yang diduga kuat merupakan penumpang gelap, yakni salah satu GTT di Kecamatan Sekotong. Informasinya, pihak sekolah tidak mengajukan, namun malah namanya ada di SK. Diduga ada permainan dari oknum penginput data di Dikbud. “Kita sedang selidiki, kalau terbukti satu orang ini benar-benar penumpang gelap dan tidak berhak, dan ada kesengajaan dari oknum staf, saya akan berikan sanksi,” tegasnya. Diungkapkan, pada SK GTT dan TOTT yang sudah ditandatangani Bupati Lobar H. Fauzan Khalid terdapat 806 GTT dan sekitar 120 orang. Kuota operator sebenarnya 300 orang, hanya saja tidak masuk seluruhnya, karena data dari sekolah tidak memenuhi syarat. Dikbud meminta dituliskan operator sekolah, namun malah dituliskan Staf TU
(Suara NTB/dok)
M. Hendrayadi serta Tendik atau Tenaga Kependidikan. Tentu tidak akan terbaca. “Sama halnya dengan di SDN 4 Buwun Mas, itu satupun baik GTT dan Operator Sekolahnya, tidak ada yang masuk dalam SK, karena kesalahan data yang diberikan ke kita. SK nanti akan kita perbaiki,” jelasnya. Selanjutnya berkaitan dengan jumlah GTT dan operator sekolah yang terdata berhak, namun tidak masuk dalam SK sejauh ini hanya ditemukan di SDN 4 Buwun Mas. Kemudian operator sekolah tentunya di sejumlah sekolah yang belum masuk dalam SK. Operator sekolah wajib ada satu orang yang di-SK-kan di sekolah itu. Lebih lanjut dikatakannya, syarat untuk terdata di SK itu adalah, bagi sekolah yang berada di daerah terpencil minimal sudah mengabdi menjadi GTT selama lima tahun lebih, menjadi guru kelas atau mengajar 12 jam per minggu. Selanjutnya untuk sekolah yang berada di daerah yang tidak terpencil, syaratnya GTT itu harus mengabdi sembilan tahun lebih, kemudian menjadi guru kelas atau mengajar 12 jam per minggu. Hendrayadi mempersilakan siapapun yang merasa dirinya memenuhi syarat untuk melaporkan diri dengan membawa bukti. Kalau bukti ada, tinggal dilakukan pemanggilan terhadap kepala sekolah terkait untuk diklarifikasi kebenarannya. “Kita ingin benarbenar transparan dan profesional. Kita tidak mau menutupi apapun,” tandasnya. (her)
Halaman 11
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
Kasdiono : Semua Pengurus Cabor dan KONI Harus Kompak Mataram (Suara NTB) – Ketua Komisi V DPRD NTB, H.MNS Kasdiono mengatakan untuk meraih target 17 emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Jawa Barat (Jabar) 2020 bukan hal yang mudah. Untuk mewujudkan target itu dia mengajak semua atlet, pelatih, pengurus cabor serta pemerhati dan pelaku olahraga di NTB untuk menjaga kebersamaan dan saling mendukung dalam hal meningkatkan prestasi NTB di PON 2020. Demikian disampaikan H. MNS. Kasdiono diacara halalbihalal, di lantai 12 Golden Palace, Kamis (13/7), pukul 20.00 wita.”Kita menginginkan prestasi olahraga NTB terus membanggakan. Oleh karena itu kita semua harus kompak,”ucapnya. Halalbihalal KONI NTB tersebut mengundang para tokoh olahraga daerah, pengurus cabang olahraga, utusan KONI Kabupaten/Kota, tokoh agama dan pelatih serta para atlet pelatda Mayung. Ditengah-tengah acara halalbihalal yang juga dihadiri Kadispora NTB Hj. Hus-
nanidiaty Nurdin, mantan Ketum KONI NTB yang kini menjabat Komisi V DPRD NTB juga tak lupa menyampaikan harapan-harapannya untuk Musorprov besok. Sebagai pelopor era kebangkitan prestasi olahraga NTB, Kasdiono sangat berharap prestasi membanggakan yang pernah diraih NTB bisa ditingkatkan. Kasdiono mengingatkan bahwa jika ingin berhasil maka semua harus bersatu. “Sebaliknya jika tidak bersatu, jangan harap tujuan kita bisa berhasil,” katanya. Sementara itu H Andy Hadianto mengungkapkan bahwa dirinya akan mengakhiri tugasnya selaku Ketua Umum KONI NTB, Jumat (14/7) kemarin sekaligus mempertanggungjawabkan kepemimpinan di periode lalu, di Musorprov di tempat yang sama. Sebagaimana diketahui, dalam Musorprov dengan agenda utama pemihan ketua umum, hanya Andy Hadianto yang (kembali) mendaftarkan diri untuk dicalonkan. Sehingga bisa jadi saat Musorprov hanya ada satu calon tunggal. (fan)
(Suara NTB/fan)
DIBUKA - Musorprov KONI NTB resmi dibukaWakil Gubernur NTB, Muh. Amin di Hotel Golden Palace Mataram, Jumat (14/7) kemarin. DihadiriWakil Ketua KONI Pusat Mayjen TNI (Purn) Suwarno, Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB, H. MNS. Kasdiono dan Ketua Umum KONI NTB, H. Andy Hadianto. Dan dihadiri 57 anggota KONI NTB.
Musorprov KONI NTB Resmi Digelar
Wagub Minta Jangan Gontok-gontokan
Mataram (Suara NTB) Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB dibuka oleh Wakil Gubernur NTB, Muhammad Amin, di Hotel Golden Palace Mataram, Jumat (14/7). Wagub berharap Musprov berjalan lancar dan tidak ada gontok-gontokan. Demikian disampaikan Wagub NTB, Muhammad Amin dalam sambutannya. Dia mengatakan harus disadari bahwa prestasi olahraga di NTB tumbuh dengan pelan namun terus meningkat. Dari 3 emas di PON Kaltim 2008, kemudian 11 emas, 5 perak dan 8 perunggu di PON Riau. Selanjutnya PON Jabar 2016 meraih 11 emas, 10 perak dan 18 perunggu. Prestasi NTB di PON Jabar diakui Wagub NTB meningkat, karena ada peningkatan di medali perak. “Prestasi ini harus terus ditingkatkan,”ucapnya dihadapan 180 peserta yang berasal dari perwakilan 47 cabor, 10 KONI Kabupaten/kota dan perwakilan KONI Provinsi dan KONI Pusat. Hadir juga Wakil Ketua KONI Pusat, Suwarno, ketua umum KONI NTB, H. Andy Hadianto
HILANG HILANG STNK R2 HONDA DR6448CD NOKA/NOSIN :MH1JFW117GK399222/ JFW1E-1394317 AN. I GEDE SUDANA HILANG DISEKITAR JL. PEJANGGIK
dan Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB, H. MNS. Kasdiono.
Lanjut Wagub, untuk meningkatkan prestasi olahraga
SALON
SALON
Vmel Griya Manten & Salon, mnrm prwtan rmbut,kulit &tubuh,Rias pngantin&wisuda, mnyediakn pnywaan bju pngntn &bju adat ank,tersedia pkt pernikahan,Promo ramadhan :smoothing disc.30%, Jl Bungkarno N0.99 Pagutan,Hp:087765029666
Al Beauty Salon & Spa,promo : pkt full body treatment terlaris ONE DAY SPA(13 trtment) hny 250rb free fc antiaging 135rb,pkt plangsing(fc strika wjah+akupuntur prut)hny 175rb,smoothing spa free msker rmbt stlh 3hr, Jl.Pancaka No.5, Kr.Medain,Hp: 081907050543
Yanti Salon & Spa menerima : prwtan wajah & rambut, SPA pkt I : body mssage,Body Scrub,Totok wjah =80rb, SPA pkt II : body mssage,body scrub,totok wjah,Ratus Vagina : 105rb, Jl.BungKarno,Kr.genteng, tlp. 081917913809 RINA SALON,melayani : Rias Pngntn,kursus make-up & sanggul,ptng rmbut & kriting, Pnywaan pkaian adat ankank&dwsa, sewa mobil antik,&dekorasi.jl.jndrl sudirman Gg.Jawa No.1,Rembiga-Mtr,087855311441(Hj.Ninik Ridwan) KITA-KITA SALON & SPA, Prmo:Mnrik Smoothing Colour hnya Rp 100-400rb, Ombre/Highlight Rp 75-250rb, Make Up Wisuda+Hair Do Rp 150rb, Jl. Arya Bnjar Gtas, Bagek Kembar Tanjung Krng Sekarbela, Hub. 081917347453, Pin BB D34158D4 SALON DEWA-DEWI,menerima: Rias Pengantin Bali, Agung&Modifikasi,Pkt Prewed dgh harga trjngkau. Menerima Prwatan wajah & rambut. Hub: Rika (081917965628)jl.Teleq raya no.26 Kr.bedil, FB:Dewa-Dewi Payas Bali Mataram, IG :Rika_Pratistha
NTB di PON Papua semua pengurus harus membangun komitmen kuat. Pasalnya membangun prestasi olahraga itu bukan kerja satu pihak namun semua pihak. Indikator prestasi yang diraih itu lebih baik kata Wagub buah dari perjuangan.
SALON LKP YUNI SALON Promo Krsus Kilat Unt Smua Prgrm Bljr Hy 1 Bln Anda Siap Bekerja dan Buka Usha Salon. Berminat Hub. YUNI SALON. Jl. Dr. Sutomo No. 18 Krg Bru Mtrm. Hp: 087865155031/ 081236448081
SYAFIRA SALON MUSLIMAH Salon & Spa Menerima: Paket Pengantin, perawatan pengantin, make up wisuda, SPA, Prawatn Kutu, Totok Guasa, totok aura, V SPA, totok payudara, totok langsing Jl. Pendidikan No. 11 Mataram telp. 0370636344, 08180373677
TWIN’S SALON, Paket Perawatan Trjangkau : Pkt 1 = Facial + totok wajh + Crmbath+Catok vit (40rb),Pkt 2=Crmbath+Massage +Lulur+facial+Totok Wjah+Ctok +Mskr Bdan+ratus Vagina (100rb), dan Masih Bnyk Lagi Pkt Trjangkau Lainnya, Hub: 087 765860889/085937064233, jl.Salak Gg II No.5, Tohpati
AYSHA SALON AND BODY TREATMENT, mlyani: prwatan rmbt&kulit, opening trial facial treatment by eternal beauty,mngatasi: wjah kriput,mnghlngkn bkas jrwat mncrahkan wjah,mnghlngkn flek, alamat : jl. dr. soetomo ,kr. baru, mtr, hp : 087800106674/ 082147428836
Quen Shi Salon & Day Spa Menerima:Cream Bath, Hair mask, Colouring, Smoothing, Body Masage, Body Scrub, Body Mask, Milk Bath, Ear Candle, Mani & pedi cure, Ratus, Sauna & Facial, disc. 30% smooting & Rebonding . Alamat. JL. Airlangga No. 30 Gomong HP. 081917388443
AMYRALD SALON & SPA,mlyani prwtan khusus wjah,rmbt &bdan.Promo smoothing 100-300rb,Facial whitening+ozone+totok aura (2jam)125rb, mngtasi kulit brjrwat,flek &mncrhkan kulit,make-up wisuda 150rb,lulur+massage+sauna 85rb, jl.swasembada 11c, kekalik jaya, hub.085239056182 (lidya)
Rcsm Youfo MTR salon Spa Muslimah, Prm Lbra:gratis cutting hair u/rbondng & smoothing.Prwtan Spa,facial,Creambath,Galvanic Spa.Facial Free Massage tgn&kaki mlai dr 65rb.Jl Kertanegara Btn Palm Indah I,Blkang Apotek Panjitilar. FB&IG:Youfo Mataram. WA: 087765893848
Perjuangan pengurus KONI NTB yang sudah terlihat itu tentu harus didukung, sehingga prestasi yang sudah ada bisa terus ditingkatkan. “Saya berharap semua elemen pengurus semakin dapat menyatukan kebersamaan dalam meraih prestasi. Pemerintah provinsi akan mendukung penuh persiapan KONI NTB menghadapi PON 2020,”terangnya. Diharapkannya, Musorprov KONI NTB itu ditempuh secara musyawarah. Hindari secara voting-votingan. Kalau sudah ada dasar yang sangat kuat kata Wagub tentu pengurus cabor harus terus mendorong prestasi yang sudah ada. “Kita tidak ingin mendengar ada tandingan, karena yang kita ingin adalah prestasi. Jangan sampai menonjolkan kekuatan individu disini,”ingatnya seraya menambahkan bahwa dia berharap target 17 emas NTB di PON bisa dicapai. (fan)
LOWONGAN DIBUTUHKAN SEGERA PEMBANTU RUMAH TANGGA (PRT) DIUTAMAKAN YANG BELUM MENIKAH , MAU TINGGAL DI DALAM, GAJI+THR. HUBUNGI BPK ADI (081917109080) DIBUTUHKAN TENAGA AHLI UNTUK MENJAHIT SEGALA JENIS TAS (YANG SEKEDAR BISA MENJAHIT AKAN DIBIMBING LAGI) ALAMAT : JL.JENDRAL SUDIRMAN,BTN KOREM, BLOK A NO.1 ,HUB. MOH.GHAZALI, HP : 081 917 267 007 DBTH KARYAWATI AKUNTANSI MAX. 30TH PENDIDIKAN MIN D.III AKUNTANSI LAMARAN KE. WIN ADVERTISING JL. PANCA USAHA NO. 26 CAKRANEGARA TELP. 0370-629262
Menembak Ingin Loloskan Tiga Atlet ke PON Remaja 2018 Mataram (Suara NTB) Sukses meraih satu medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja di Surabaya 2014, cabor menembak kembali siapkan atlet menghadapi PON Remaja 2018. Pelatih Menembak NTB, Andik Budi Hariono yang dikonfirmasi Suara NTB di Mataram, Jumat (14/7) kemarin mengatakan ketiga atlet yang sudah disiapkan Perbakin NTB untuk PON Remaja itu adalah I Kadek Yogi Permana, Ahmad Dani dan Abi Ahmad Dava.”Kita sudah siapkan tiga atlet untuk mengikuti PON Remaja 2018,”ucapnya. Sebelum ambil bagian di PON Remaja di Kaltim 2018 ketiga atlet menembak itu kata Andik akan mengikuti Kejurnas Menembak Awang Faroek, di Kaltim, 1 Agustus 2017. Kejurnas Awang Faroek itu kata Andik sebagai ajang kualifikasi atlet PON Remaja. Selain mengirim tiga atlet
LOWONGAN DIBUTUHKAN SEGERA TERAPIS SALON, SUDAH BERPENGALAMAN DIBIDANG SALON KECANTIKAN DAN TREATMENT, BELUM MENIKAH, UNTUK DITEMPATKAN DI INA PARISKA SALON CAB. MATARAM, LAMARAN DIKIRIM KE INA PARISKA SALON, JL. MAJAPAHIT NO. 31 B-C MATARAM DIBUTUHKAN SEGERA ADMIN, KASIR, WAITERS, KIRIM LAMARAN LANGSUNG KE LUMBUNG RESTO EPICENTRUM MALL LT. 2 DICARI SEGERA SOPIR PRIA/WNT, BAWA SIM & KTP LOMBOK TAKSI JL. KOPERASI NO.102 MATARAM HUB. 087865493799.
LOWONGAN DBTH SOPIR MIN SIM B1 UMUM/SMP MAX 35TH SEHAT, JUJUR DOMISILI SEKITAR MATARAM LAMARAN DIANTAR SENDIRI KE PT. DAWITA A.P JL. PANCA USAHA NO. 26 CAKRANEGARA MATARAM TELP. 0370-620236 Perusahaan Farmacy membutuhkn: Salesman TO/ Kanvas dgn syrt:Pria max 30th,pendidikan min.SMA, pnglman min.1thn, mnguasai area lombok(TO), P.Sumbawa (Kanvas),mmliki sim C(TO), Krm lmran: PT.Lenko Surya Perkasa,Jl.Ry Sandik No.19, 081915726592 PATRA SALON membutuhkan kryawan, yg blum berpngalman siap d training, diutamakan yang belum menikah, hub : 087864337006, jl. swakarya No.21 A kekaliksekarbela. AMYRALD SALON membutuhkan karyawan yang professional/berpengalaman, disiplin, bertanggung jawab, pekerja keras & mau ditarget. gaji 1-2jt/bln.Hp 085239056182/jl. swasembada 11 c, kekalik jaya.
(Suara NTB/fan)
Andik Budi Hariono remaja, Cabor menembak dibawah binaan Perbakin NTB ini akan mengirim tujuh atlet senior. Keikutsertaan tujuh atlet senior nanti untuk mencari tiket ke Asian Games 2018. Diantara tujuh atlet senior yang akan dipersiapkan ke Kejurnas Menembak Awang Faroek itu adalah Dimas Restu Arindra Putra, Ni Wayan Yuliarthi, Bima Putra Eka Budi Kusumawardana dan Citra Putri Budi Andini. Target atlet senior di event itu untuk meraih tiket Asian Games 2018. (fan)
RUPA-RUPA PURI MAMA, Menyewakan Toyota Hiace, muat hingga 16 Orang dengan supir,penyewaan bisa disewa terpisah, bisa armadanya saja, Informasi penyewaan, Hub : 082266194177 GameHouse: MELAYANI PENGISIAN GAME PC/LAPTOP (GAME SELALU UPDATE), SERVICE PC/LAPTOP, RAKIT PC GAMING, DAN MAINTENANCE PC/ LAPTOP. JL. PENDIDIKAN NO. 2 (UTARA KAMPUS AMM) HP. 085858403130 Airlangga Fotocopy Menerima: Foto Copy, Print, Jilid Skripsi, Jilid Spiral, Jilid Buku, Laminating dan Menyediakan alat tulis kantor, alatalat listrik, pulsa DLL. . Alamat. JL. Airlangga No. 30 Gomong HP. 081803740769 V Laundry Menerima: cuci setrika, cuci karpet, cuci boneka,cuci gorden, cuci tas + sepatu DLL. Alamat. JL. Airlangga No. 30 Gomong HP. 081803740769 DIJUAL LAHAN 3ARE JL. NAGA PASA 15 CAKRA SELATAN HUB. 08123705621 TANPA PERANTARA Allea Galeri, galeri fashion menyediakan Kain Tenun, Kain Songket dan menerima Jahit Busana, Lokasi : Jalan Swasembada , Hp : 081907000477, WA : 08194111079, PIN BBM :d6e340dc
SUARA NTB
Sabtu, 15 Juli 2017
Halaman 12
RUKO - VILA - KOST
RUPA - RUPA
RUPA - RUPA
RUPA - RUPA
zPenanggung Jawab: Agus Talino zRedaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab : Raka Akriyani zKoordinator Liputan : Fitriani Agustina, Marham, Moh. Azhar zRedaktur : Fitriani Agustina, Marham, Izzul Khairi, Moh. Azhar, Haris Mahtul zStaf Redaksi zMataram : Moh. Azhar, Haris Mahtul, Afandi, M. Nasir, Hari Aryanti, Ahmad Bulkaini, M. Kasim, Darsono Yusin Sali, Sahmad Darmi, Atanasius Rony Fernandez, Linggauni, Wahyu Widiantoro, Akhmad Hiswandi zLombok Barat: M.Haeruzzubaidi. zLombok Tengah : Munakir. zLombokTimur : Rusliadi, Yoni Ariadi. zKLU : Johari. zSumbawa Barat : Heri Andi. zSumbawa : Arnan Jurami, Indra Jauhari. zDompu : Nasrullah. Bima : Rafiin. zTim Grafis : A.Aziz (koordinator), Mandri Wijaya, Didik Maryadi, Jamaludin, Muhammad Kasim. zKantor Redaksi : Jalan Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, zFacsimile: (0370) 628257. zTarif Iklan : Iklan Baris : Rp 20.000/baris Min 2 baris max 10 baris (1 baris 30 character). zDisplay B/W (2 kolom/lebih): Rp 30.000/mmk. zDisplay F/C : Rp 35.000/mmk. zIklan Keluarga : Rp 20.000./mmk. zIklan Advertorial : Rp 15.000/mmk. zIklan NTB Emas (1 X 50 mmk): Rp 500.000/bulan (25 X muat). Iklan Peristiwa : Rp 350.000/kavling. zAlamat Bagian Langganan/ Pengaduan Langganan: Jalan Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, zFacsimile: (0370) 628257. zHarga Langganan: Rp 85.000 sebulan (Pulau Lombok) Rp 90.000 sebulan (Pulau Sumbawa), Pembayaran di muka. zHarga eceran Rp 5.000. Terbit 6 kali se-minggu. Penerbit: PT SUARA NTB PERS. Percetakan PT Bali Post, Jalan Kepundung 67 A Denpasar.
SUARA NTB
„ Wartawan SUARA NTB selalu membawa tanda pengenal, dan tidak diperkenankan menerima/meminta apa pun dari nara sumber.
SUARA NTB
Sabtu, 15 Juli 2017
Halaman 13
RUPA-RUPA
RUPA-RUPA
MENU : NASI KELOR, NASI LEBUI, BEBALUNG, SOTO, PELECING, RUJAK, ES KELAPA MUDA TEMAT & MENERIMA PESANAN NASI KOTAK, SNACK KANTOR. HUBUNGI IBU IDA AHMADI HP 081907415439
gin Belajar Pin ANIMASI ? SETIAP MINGGU PAGI - SORE DI TAMAN MAYURA
HUBUNGI :
081917002381
COUNTER PAINT ART GALLERY MINIMALIS LUNA MAYA EKAGITT
Menyediakan aneka hidangan & melayani pesanan nasi kotak, snack box dan menerima rantangan
Penjualan dgn Fee 3% Tanpa dikenakan biaya & tidak mengikat
Rp. 995 Jt
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
Tuntaskan Proyek Mangkrak MEMULAI pekerjaan kadang-kadang lebih mudah ketimbang menuntaskannya. Potret inilah yang sering terlihat dalam penyelenggaraan pembangunan di daerah ini. Entah berapa banyak proyek atau pembangunan yang tidak kunjung tuntas meski sudah dimulai dan menghabiskan banyak anggaran. Celakanya lagi, uang yang dipakai justru merupakan uang yang bersumber dari sumbangsih rakyat, alias APBN dan APBD. Di tangan pemerintah, uang rakyat seolah dikelola secara amatiran. Lahirlah proyek-proyek mubazir yang membuat rakyat rugi berulangkali. Daftar proyek yang mubazir di tengah jalan seharusnya tidak bertambah panjang dari tahun ke tahun. Namun, alih-alih menyusut, jumlahnya terus saja bertambah. Hampir setiap tahun kita menyaksikan satu atau dua proyek bernilai besar yang mangkrak tanpa jelas ujungnya. Jika ingin melihat pemicunya, problem ini bisa ditelusuri jauh ke belakang. Salah satu hal yang sudah pasti bermasalah tentunya adalah perencanaan. Bisa jadi proyek yang dibuat memang berdasarkan kebutuhan masyarakat. Namun, proses perencanaannya tidak komprehensif. Misalnya saja, proyek penyulingan air laut atau sumur bor untuk mengatasi kekeringan atau krisis air bersih. Untuk sumur bor, sejumlah titik yang dibor awalnya bisa berfungsi mengalirkan air untuk masyarakat. Namun, usia proyek ini kemudian hanya satu minggu. Selebihnya, proyek ini mangkrak tidak berfungsi. Padahal, untuk satu titik sumur bor saja, ada Rp 200 juta yang dihabiskan. Proyek penyulingan air laut untuk warga yang di daerah kering pun bernasib serupa. Proyek bernilai miliaran rupiah ini, tidak bisa berfungsi karena adanya kendala teknis. Problem teknis semacam inilah yang entah mengapa sering tidak dikalkulasi dalam proses perencanaan. Dua jenis proyek itu hanya satu dari sekian banyak proyek mangkrak yang menghabiskan anggaran dalam jumlah banyak, lalu tidak menghasilkan manfaat bagi masyarakat setempat. Proyek hortipark di Lombok Tengah (Loteng) juga hingga kini masih bernasib serupa. Status lahan yang menjadi lokasi pengembangan hortipark di Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah masih belum jelas. Padahal, Pemprov NTB dan Pemkab Loteng sudah mengajukan permohonan pengelolaan lahan seluas 300 hektar lebih ke BPN. Namun hingga saat ini proyek tersebut telantar. Proyek lain seperti Terminal Haji di Bandara Internasional Lombok, dan proyek lainnya juga seharusnya bisa diperhatikan kelanjutannya. Upaya untuk melanjutkan yang tersendat memang pasti harus melalui jalan yang sulit. Namun, jika para pemangku amanah bisa fokus mengurai benang kusut persoalan, tentu kendala itu akan ditemukan jalan keluarnya. Kini, masyarakat NTB sebagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap proyek-proyek itu akan menunggu keseriusan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Selaku pemegang amanah, sudah seharusnya mereka menuntaskan apa yang sudah mereka mulai. Alangkah tidak eloknya jika pemerintah menjadikan hal ini sebagai sesuatu yang menjadi kebiasaan. Dengan tuntasnya proyek-proyek mangkrak, masyarakat yang menjadi sasaran proyek ini tentu akan lebih diringankan beban hidupnya. Mereka akan bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintahnya. Hal ini, pada gilirannya juga akan menjadi modal sosial yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan. Sebab, pada dasarnya, para pemangku amanah bekerja dan dipekerjakan memang untuk melayani rakyatnya. Kecuali, mereka bekerja untuk kepentingan dan tujuan lain selain kepentingan rakyat banyak. (*)
RADIO
OPINI
Halaman 14
Anomali Pencabutan Subsidi Listrik dan Penambahan Subsidi bagi Parpol serta Anggota Dewan Oleh: Kata‘subsidi’ mungkin sudah tidak lagi terdengar asing di telinga masyarakat. Kata ter sebut seringkali di dengar ketika momenmomen tertentu misalnya disubsidi bahan bakar minyak (BBM), subsidi pupuk petani, subsidi listrik dan lain sebagainya. Namun, akan sebaliknya akan merasa asing terdengar jika ‘subsidi’ ini disandingkan dengan ‘partai politik’ dan ‘anggota dewan’. I tengah hirukpikuknya masyarakat (kurang mampu) atau rumah tangga yang ribut akan masalah pencabutan subsidi listrik. K arena akan berdampak pada pembengkakan pengeluaran untuk pembayaran listrik setiap bulannya. Sedangkan sebaliknya, para anggota dewan dan juga partai politik tentu akan mendapatkan tambahan penghidupan dan operasional yang cukup signifikan. Tulisan ini coba penulis mengutip dari berbagai sumber media massa (Kompas dan Suara NTB) baik cetak maupun online. Penambahan subsidi bagi partai politik cukup tinggi yakni di mana pada awalnya per-suara dihitung sebesar Rp 108,- kini menjadi 1000 persen yakni Rp 1000 per-suara. Jumlah tersebut merupakan ketentuan yang telah disetujui oleh pemerintah tanpa disertai dengan syarat-syarat yang ekstraketat. Syamsudin Haris mencatat (Kompas 11/7/2017), setidaknya ada lima syarat yang harus dirumuskan dan dipertimbangkan oleh pemerintah sebelum memberikan persetujuan atas penambahan subsidi bagi parpol tersebut. Pertama, harus ada kesepakatan pemerintah dan DPR mengenai besaran maksimum subsidi Negara bagi parpol, apakah 10, 30, 70 atau 100 persen dari kebutuhan pembiayaan parpol pertahun. Dicontohkan misalnya pengalaman negara-negara lain di mana Turki dan Meksio itu di atas 75 %, Jerman dan Nikaragua sebesar 30-60%, serta Inggris dan Australia di bawah 25%. Dan ada juga Negara yang tidak memberikan subsidi seperti selandia baru. Kedua, subsidi negara dengan persentase maksimum yang disepakati itu hendaknya tidak digelontorkan sekaligus, tetapi secara bertahap mengingat ruang fiscal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang juga terbatas. Ketiga, subsidi negara yag bersumber dari APBN tersebut tidak harus semuanya berbentuk uang tunai. Jadi, bisa subsidi negara tersebut
Johan Rahmatulloh, S.H.,M.H.
(Koord. Divisi Hukum dan Peradilan Somasi NTB)
dalam bentuk kampanye melalui media oleh negara sehingga potensi penyalahgunaan pun bisa dihindari. Keempat, pengelolaan dana subsidi negara bagi parpol harus dilakukan secara transparan melalui mekanisme pertanggungjawaban yang juga jelas serta standar dan prosedur yang memenuhi standar prinsip tata kelola keuangan yang baik. Kelima, pemerintah perlu membuat skema pengawasan dan standar supervisi yang baku agar penggunaannya benar-benar positif berkontribusi bagi perbaikan kualitas parpol dan demokrasi kita. Oleh karena itu, menurut hemat saya bahwa syarat-syarat untuk memberikan atau menambahkan subsidi bagi partai politik seharusnya perlu menjadi atensi khusus pemerintah secara ketat agar tidak menciderai hak-hak rakyat khususnya yang masyarakat yang termasuk dalam kategori rentan seperti masyarakat miskin, disabilitas, keluarga buruh migran dan lain sebagainya. Disisi lain, dengan adanya kebijakan penambahan subsidi bagi parpol tersebut juga diikuti dengan wacana kenaikan tunjangan pendapatan bagi sejumlah anggota DPRD. Wacana kenaikan tersebut dikuatkan dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2017 Tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Dalam Bab II Penghasilan, Tunjangan Kesejahteraan, Dan Uang Jasa Pengabdian Pimpinan Dan AnggotA DPRD Bagian Kesatu Penghasilan Pimpinan dan Anggota DPRD Pasal 2 (1) Penghasilan Pimpinan dan Anggota DPRD terdiri atas penghasilan yang pajaknya dibebankan pada: a. APBD, meliputi: 1. uang representasi; 2. tunjangan keluarga;3. tunjangan beras; 4. uang paket; 5. tunjangan jabatan; 6. tunjangan alat kelengkapan; dan 7. tunjangan alat kelengkapan lain. b. Pimpinan dan Anggota DPRD yang bersangkutan, meliputi: 1. tunjangan komunikasi intensif; dan 2. tunjangan reses. Tentu saja dengan terbitnya peraturan pemerintah tersebut membuat anggota dewan di daerah bertepuk tangan sembari tersenyum manis menyambutnya. Meskipun, harus menunggu beberapa regulasi pelaksananya seperti peraturan menteri dalam negeri (Permendagri) dan peraturan daerah (Perda) , tetapi itu tidak menjadi masalah yang terlalu dikhawatirkan oleh para anggota dewan. Sebab, jika melihat antusiasime para anggota dewan tersebut lihat
saja anggota dewan di daerah khususnya di NTB secara responsif menyusun peraturan daerah inisiatif agar tunjangan tersebut dapat dengan segera diakomodir dalam RAPBD Perubahan Tahun 2017 mendatang. Penghasilan para anggota dewan setiap bulan tersebut jika dikabulkan adalah sekitar Rp 51,9 juta. Meskipun ini masih menjadi debatable karena masih harus diselaraskan dengan kondisi fiskal daerah. Dan juga menjadi tidak etis apabila didukung dengan kinerja yang baik dan belum menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat. Secara yuridis, keinginan para anggota dewan agar tunjangannya secara cepat terealisiasi tidaklah salah karena telah ada peraturan pemerintah sebagai payung hukumnya. Akan tetapi, menurut hemat saya perlu kiranya dipertimbangkan dari aspek sosiologisnya yakni kondisi social masyarakat. Berdasarkan fakta melalui data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 menyebutkan bahwa masyarakat miskin di NTB masih cukup tinggi yakni sekitar 786.580 orang dan hanya turun 0,46 persen. Di mana angka kemiskinan tertinggi di Kabupaten Lombok Utara, kedua di Kabupaten Lombok Timur dan ketiga di Kabupaten Lombok Barat. Di sisi lain, program rumah tidak layak huni (RTLH) di NTB masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah. Di mana yang banyaknya penerima RTLH itu terverifikasi sebanyak 248 ribu, akan tetapi setiap tahunnya hanya dapat terealisasi 10 ribu saja. Ini menjadi suatu ironis tersendiri di tengah kondisi social masyarakat belum membaik, di mana para anggota dewan dan parpol berteriak agar tunjangannya dan operasionalnya segera dinaikkan. Meskipun pemerintah daerah berkomitmen secara anggaran dalam RAPBDP 2017 mendatang mengalokasikan 1,3 Triliun untuk mengentaskan kemiskinan, akan tetapi dalam batas penalaran yang wajar menurut hemat saya bahwa hajatan untuk menurunkan angka kemiskinan tersebut akan sulit teralisasi secara signifikan apabila dikaitkan dengan kebijakan pencabutan subsidi untuk tariff dasar listrik (TDL) di lingkungan rumah tangga. Berdasarkan pencabutan subsidi tersebut di mana PLN kemudian melakukan pencabutan terhadap 327.588 lebih pengguna listrik 900VA untuk rumah tangga dan 169.158 ribu tidak dicabut subsidi karena tergolong masyarakat miskin. Dari sisi peningkatan pendapatan, di mana kebijakan pencabutan subsidi listrik ini cukup baik
karena menghasilkan pemasukan atau pendapatan bagi Perum PLN yang cukup signifikan yakni sekitar Rp 1 miliar lebih. Kebijakan tersebut secara rasional memang dihajatkan untuk memenuhi hak-hak masyarakat yang belum teraliri listrik, akan tetapi patut untuk dikawal dan diprioritaskan adalah masyarakat kurang mampu. Jangan sampai, kebijakan tersebut mengedepankan para pengusaha developer yang saat ini marak membangun perumahan-perumahan. Sebab, hal demikian cenderung menimbulkan kesenjangan dan ketidakadilan di tengah-tengah masyarakat khususnya masyarakat kurang mampu. Oleh karena itu, menurut hemat saya kebijakan memberikan tunjangan kepada anggota dewan dan subsidi bagi partai politik perlu dipertimbangkan kembali agar terjadi keseimbangan dan keadilan yang merata. Sehingga anggaran-anggaran tersebut dapat dialokasikan untuk program-program pengentasan kemiskinan dan program rumah tidak layak huni (RTLH) dan program-program lainnya untuk kesejahteraan menjadi prioritas karena menyangkut hak-hak dasar masyarakat yang menjadi tanggung jawab pemerintah yang masih tertunda, agar segera dapat terealisasi dengan cepat dan sesuai dengan apa yang diharapkan. (*)
Petani rumput laut beralih menangkap benih lobster Program Pijar terancam
*** Banyak ”tidur”, stasiun pengisian bahan bakar bagi nelayan Akibat perencanaan kurang matang
***
RAGAM
SUARA NTB Sabtu, 15 Juli 2017
Potret Kemiskinan Kawasan Lingkar Wisata Kuranji Dari Hal. 1 Dia dulu tinggal di pemukiman bersama warga lainnya. Hidup pria yang sehari-hari menjadi buruh bangunan ini menjadi kian sulit ketika dua anak laki-lakinya menikah dan harus punya rumah. Beban sebagai orang tua ditanggungnya dengan merelakan sepetak tanah kurang dari satu are itu dipakai untuk bangun gubuk dua anaknya yang sudah menikah. Dia terpaksa pindah. “Waktu itu bingung mau pindah ke mana. Terus, ada yang kasi pinjam tanah ini, saya pakai bangun rumah,” tuturnya, menunjuk gubuk yang dibangun di atas petakan tanah milik orang itu. Sudah 11 tahun Rumisin hidup di gubuk yang ukurannya tidak normal untuk tempat tinggal itu. Tanpa plafon, apalagi lantai memadai. Keluar masuk satu-satunya pintu, dia harus agak merunduk. Rumisin sadar, dia tidak selamanya tinggal di gubuk itu, ketika pemilik tanah menjual atau dipakai untuk kepentingan sendiri, maka dia harus angkat kaki. Penghasilan utamanya bersumber dari buruh. Menjadi pembantu tukang bangunan, dengan gaji per hari antara Rp 20.000 sampai Rp 30.000. itu pun jika ada pekerjaan. Sumber tambahan adalah dari lapak yang dibuka di pinggir pantai, memanfaatkan ramainya pengunjung, tapi keramaian itu hanya didapati setiap hari Minggu. Setelah itu, hari hari biasa sepi. “Rp 1000 rupiah pun kadang ndak ada dapat,” kata Inaq Rinase. Sebagai warga miskin umumnya, bantuan pemerintah tentu akan sangat berharga jika saja ada yang turun. Tapi sampai dengan 11 tahun gubuk itu berdiri, jangankan sentuhan bantuan untuk rumah layak huni, sentuhan bantuan paling sederhana seperti beras sejahtera (Rastra) atau bantuan langsung tunai tak pernah dirasakan. Pantas saja, karena dia mengaku tidak pernah tersentuh pendataan. “Ndak pernah ada yang data saya ke sini,’’ ujarnya pasrah. Amaq Rumisin dan Inaq Rinase sebenarnya tinggal di kawasan potensial karena jadi salah satu area yang ditetapkan sebagai destinasi wisata lokal. Di kawasana itu, oleh dikelola oleh kelompok warga sadar wisata. Pantai Kuranji terletak sebelah barat pusat pemerintahan Kecamatan Labuapi, Lombok Barat yang berjarak sekitar 3 kilometer. Dari pusat Kota Mataram berjarak sekitar 7 kilometer arah selatan. Pantai ini mulai ramai didatangi oleh para wisatawan khususnya wisatawan lokal sejak ditetapkan sebagai salah satu tujuan wisata di Lombok Barat tahun 2013 lalu. Di sana sudah siapkan berbagai sarana diantaranya panggung acara yang dibangun di lapanagan pinggir pantai, diperuntukkan bagi acara-acara pertunjukan monolog. Di samping itu juga dibangun tempat berjualan bagi para warga yang berbentuk lapak-lapak yang luasnya masing-masing 4 meter persegi yang berjejer dipinggir Pantai Kuranji. Di sinilah para warga menjajakan jualannya. Salah satunya lapak milik Inaq Ranise. Tidak saja Rumisin, ada banyak warga lainnya yang dibelit kemiskinan di ka-
wasan wisata tersebut dan perlu sentuhan. Setidaknya pengembangan ekonomi kreatif di kawasan lingkar wisata. Masyarakat NTB memang masih hidup di bawah garis kemiskinan, kendati pariwisata semakin berkembang. Hal ini dipicu masih rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat di bidang pariwisata dan wirausaha. ‘’Salah satu penyebabnya itu karena kualitas SDM bidang pariwisata rendah. Selain itu, masyarakat tidak memiliki jiwa enterpreneurship (wirausaha). Jadi sulit meskipun pariwisata kita sedang berkembang,’’ kata Pemerhati Pariwisata Drs. I Putu Gede, M.Par kepada Suara NTB, di Mataram belum lama ini. Menurutnya, hanya sebagian kecil masyarakat yang terlibat langsung dalam sektor pariwisata. Beberapa lainnya hanya menyentuh bagian paling bawah, misalnya menjadi office boy atau cleaning service. Hal ini disebabkan karena masyarakat tidak mengetahui kebutuhan pasar akan dunia pariwisata. Ia mengatakan bahwa pemerintah sudah memiliki gerakan untuk meningkatkan kualitas SDM ini. Namunia menduga pemerintah seperti tidak melakukannya secara utuh. ‘’Saya lihat pemerintah sudah bergerak, memberikan seminar dan pelatihan. Tetapi tidak ditindaklanjuti dengan memberikan bantuan modal atau bantuan anggaran untuk mereka bekembang. Kalaupun ada, hanya sebagian kecil,’’ ungkapnya. Rudi misalnya, salah seorang warga Sekotong, Kabupaten Lombok Barat yang berada di sekitar destinasi wisata. Ia mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat Sekotong merupakan orang miskin. Kendati pariwisata di tempat ini terus berkembang, namun ia melihat masyarakat Sekotong masih banyak yang miskin tanpa perubahan apapun. ‘’Coba bapak dan ibu pejabat datang saja lihat kondisi kami di Sekotong. Sebagian besar mengandalkan hasil tangkapan ikan, itupun kalau ada. Kami tidak pernah melihat pariwisata ini bisa meningkatkan perekonomian kami, meskipun kami juga sangat berharap demikian,’’ kata Rudi. Masyarakat juga harus dibekali dengan ilmu untuk berwirausaha. Sebab jika dilihat, saat ini sebagian besar sektor pariwisata justru dikuasai oleh warga asing. Sementara warga atau masyarakat lokal hanya gigit jari karena tidak memiliki modal untuk berkembang. Pemerintah diharapkan dapat melihat ini sebagai suatu permasalahan serius. Pasalnya sektor pariwisata merupakan sektor yang menjanjikan untuk menekan jumlah masyarakat miskin. Namun jika masalah kualitas SDM ini terus dibiarkan tanpa mencari solusi yang tepat, maka masyarakat di sekitar destinasi wisata akan terus berada dibawah garis kemiskinan. (ars/lin)
Dibatasi Pekan Depan Dari Hal. 1 Ia menyebutkan, beberapa OPD yang belum merampungkan kajian akademis pembentukan UPT antara lain Dinas Kesehatan sebanyak satu UPT. Kemudian Dinas PUPR 6 UPT, Dinas Sosial 8 UPT. Selain itu, Yusron tak menyebutkan secara rinci OPD lainnya yang belum menuntaskan kajian pembentukan UPT. Yusron mengatakan, pihaknya sudah melayangkan surat beberapa kali kepada OPD yang belum menuntaskan kajian pembentukan UPT. Sehingga, pada hari ini dilakukan pemanggilan kepada seluruh OPD yang ada. ‘’Pertemuan sekarang ini kita peringatkan, kita kasih batas waktu. Minggu depan sudah paling lambat tidak ada alasan untuk tidak dipenuhi,” katanya. Jika ada OPD yang belum menuntaskan kajian pembentukan UPT hingga batas waktu yang telah ditentukan maka pihaknya akan memberikan teguran. Menurut Yusron, kajian pembentukan UPT ini sangat penting mengingat hal ini menjadi legalitas formal. Sehingga sedapat mungkin, kajian pembentukan UPT ini seluruhnya sudah rampung
sebelum pembahasan RAPBD 2018. “Tentu lucu, APBD kita bahas ternyata di kemudian hari menurut penilaian ada UPTD yang perlu tambahan. Oleh karena itu sedapat mungkin proses ini berjalan selesai sebelum pembahasan APBD 2018. Sehingga kalau ada rekomendasi bisa dilaksanakan, selaras dengan penganggaran,’’ ujarnya. Yusron menyebutkan, jumlah UPT dinas maupun badan saat ini sekitar 93 unit. UPT yang ada sebelumnya dibentuk berdasarkan kebutuhan daerah, namun legalitas formalnya belum ada lantaran belum adanya Permendagri. Saat ini, katanya sudah ada Permendagri yang mengatur tentang pembentukan UPT. ‘’Sekarang ada peraturan baru yang meminta harus ada kajiannya. Pembentukannya kemarin atas dasar kebutuhan kita. Cuma untuk merapikan kembali oleh Kementerian Dalam Negeri membuat kajian-kajian setiap OPD. Itu kita harapkan dalam pekan depan sudah rampung kajian ini,” tandasnya. (nas)
Halaman 15
Yoga Bersama Hendritake di Lombok Anak Tak Diterima di Sekolah Negeri Dikbud NTB Kembali Epicentrum Mall Didatangi Masyarakat
Mataram (Suara NTB) Yoga merupakan aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca indera dan tubuhnya secara keseluruhan. Aktivitas ini merupakan salah satu olahraga yang baik untuk membuat pikiran dan badan menjadi lebih bugar. Oleh sebab itu, Lombok Epicentrum Mall (LEM) menyelenggarakan yoga bersama instruktur yoga Hendritake. “Di Lombok ini yang kedua kalinya, nanti ada lagi. Kesan selama di Lombok penduduknya ramah, kita enjoy alamnya benar-benar masih alam. Untuk masyarakat yang baru pertama kali yoga coba saja, jangan takut untuk mencoba nanti bisa ketagihan,” kata Hendritake, di Mataram, Jumat (14/7). Diakuinya, banyak keunggulan yang didapatkan dari melakukan yoga, terutama soal kesehatan. Manajemen LEM mengundang Hendritake untuk memandu para peserta agar lebih mengenal tentang yoga. Kegiatan itu akan dilakukan pada Sabtu dan Minggu, 15-16 Juli ini. Selain yoga, akan dilakukan pula zumba. Yoga juga bermanfaat untuk menurunkan berat badan, asalkan memerhatikan pola makan. Selain itu pola hidup sehat juga sangat menunjang, sehingga manfaat dari melakukan yoga dapat dirasakan. “Yoga ini banyak manfaatnya, bagi pemula jangan ragu dan jangan malu untuk melakukan yoga. Semua bisa, tidak ada batasan usia,” ujarnya. Beberapa manfaat melakukan yoga, di antaranya fleksibilitas dengan gerakan-ger-
akan yoga dapat membantu meregangkan dan meningkatkan fleksibilitas tubuh. Seiring waktu, kegiatan yoga dapat meningkatkan kelenturan paha belakang, punggung, bahu, dan pinggul dengan melakukan yoga secara teratur.Selain itu juga bermanfaat untuk mengatur kekuatan beberapa anggota tubuh. Bukan itu saja, yoga juga bermanfaat untuk mengembangkan otot. dapat meningkatkan massa otot. Dengan yoga, otototot tubuh akan semakin kencang. Manfaat lainnya untuk mencegah nyeri, karena dapat meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan tubuh dapat membantu mencegah sakit punggung. Yoga dapat melemaskan kembali tulang dan otot yang kaku sehingga mencegah nyeri punggung. Selain itu juga dapat mem-
Dari Hal. 1
Provinsi itu akan menjadi inisiatif DPRD NTB. Saat ini sedang dibahas bersama Biro Hukum untuk pembuatan Raperdanya. Ketika ditanya apakah mungkin kenaikan penghasilan DPRD NTB itu masuk dalam APBD Perubahan 2017. Sementara Raperda masih dalam proses penyusunan? Supran mengatakan masih bisa diakomodir dalam APBD perubahan. Namun yang menjadi masalah apakah penetapan besaran kenaikannya akan mengacu kepada Permendagri yang lama
perlancar pernapasan melalui latihan pernapasan Yoga, yang disebut Pranayama, memberi perhatian pada nafas dan mengajarkan bagaimana kita dapat menggunakan paru-paru untuk meningkatkan taraf kesehatan. Latihan napas juga dapat membantu membersihkan saluran hidung dan bahkan menenangkan sistem saraf pusat. Selain manfaat fisik, ada pula manfaat secara mental. Yaitu Ketenangan mental melalui teknik meditasi yang bermanfaat untuk membantu menenangkan pikiran. Selanjutnya dapat Mengurangi stress, saat berkonsentrasi, masalah sehari-hari, baik besar maupun kecil, akan mencair sehingga akan terbebas dar tekanan stres. Konsentrasi bisa menjadi sarana relaksasi pikiran yang sangat dibutuhkan oleh pikiran yang sedang stres. (lin)
(Suara NTB/lin)
FOTO BERSAMA - Hendritake (kelima dari kiri) saat foto bersama manajemen Lombok Epicentrum Mall, Jumat (14/7).
Mataram (Suara NTB) Protes pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Sistem Zonasi Jalur Umum berlanjut pada Jumat (14/7). Masyarakat yang merupakan orang tua dan wali siswa mendatangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB sejak pagi hari. Mereka tetap ingin anaknya diterima di SMA/SMK Negeri yang berada di wilayah tempat tinggalnya. Puluhan masyarakat pada pagi hari sudah berkumpul di Dinas Dikbud NTB. Mereka ditemui Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Dikbud NTB, Drs. H. Surya Bahari. Pihak dinas hanya menjanjikan akan mengecek ke sekolah-sekolah, untuk melihat adanya kuota yang masih tersedia. Salah seorang wali murid yang mengaku sebagai Koordinator, H. Mahmud mengatakan mereka sebagai warga Kota Mataram meminta Pemerintah Provinsi NTB untuk bertanggung jawab. Karena anaknya yang berada di daerah zona sekolah negeri malah tidak diterima di sekolah itu. “Bagaimana tidak memprotes sistem pendaftarannya seperti ini, anak yang berada di zonasinya sekolah banyak yang kepental, malah memprioritaskan orangorang di luar zona,” katanya. Disinggung terkait adanya arahan bagi yang tidak diterima di sekolah negeri, sebaiknya memilih sekolah swasta. Mahmud menegaskan, tetap ingin anaknya masuk di sekolah negeri. “Coba yang ngomong begitu (menyarankan ke sekolah swasta), mengalami hal seperti kami,” ujarnya. Mahmud menantang kepala sekolah untuk membuka berkas pendaftaran PPDB, agar melihat
seberapa besar siswa yang berada di zonasi itu diterima, dan seberapa banyak siswa yang di luar zona itu yang diterima. “Keinginan kami datang ke sini, kami warga kota menuntut hak kami untuk bisa bersekolah di dalam kota. Ini hak kami yang kami tuntut! Kami di sini ndak anarkis, kami menuntut hak masyarakat agar bisa bersekolah di dalam kota. Tidak ada tendensi apapun, kami di sini memperjuangkan hak-hak sekolah anak kami,” tegasnya. Ia bersama masyarakat lainnya mengumpulkan bukti pendaftaran anak mereka. Langkah itu dilakukan untuk mengakomodir masyarakat yang anaknya terpental dari zonasi sekolah negeri. “Agar diakomodir Dinas Dikbud NTB. Masyarakat Kota Mataram harus sekolah di Kota Mataram,” harapnya.
ta DPRD NTB tersebut. Pasalnya, usulan kenaikan penghasilan itu sudah ada payung hukumnya berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 18 Tahun 2017 tentang Protokoler dan Kedudukan Keuangan DPRD Provinsi. DPRD NTB melalui Sekretariat Dewan mengirim surat kepada TAPD perihal usulan penambahan penghasilan bagi pimpinan dan anggota DPRD NTB dengan total Rp 10,1 miliar. Yang terdiri dari penambahan tunjangan komunikasi intensif sebesar Rp 5,4 miliar, tunjangan transportasi sebesar Rp
3,2 miliar, dan untuk tunjangan reses terakhir sebesar Rp 1,3 miliar, yang akan dibayarkan selama tujuh bulan kedepan. Dari permintaan penambahan pengahasilan pada tiga item tersebut, penghasilan masingmasing anggota dewan tiap bulannya akan bertambah sebesar Rp 14 juta lebih dari pendapatan sebelumnya Rp 37,8 juta. Sehingga jika diakumulasikan, total pendapatan yang akan diterima oleh satu orang anggota dewan setiap bulan Rp 51,9 juta. (nas)
Tunggu Petunjuk Ditemui terpisah, Sekretaris Dinas Dikbud NTB, Drs. Sukran, mengatakan ia akan pergi ke sekolah-sekolah untuk melihat sekolah yang masih tersedia kuota untuk penerimaan siswa. “Ini saya mau ke sekolah-sekolah dulu, cek kuota,” katanya singkat ketika coba dikonfirmasi Suara NTB. Terpisah, Kepala Dinas Dikbud NTB, Drs. H. Muh. Suruji dikonfirmasi Jumat siang, mengatakan masih menunggu petunjuk dari pemerintah pusat. Nantinya kalau tidak ada arahan dari pemerintah pusat mengenai PPDB, maka akan tetap sesuai petunjuk teknis (juknis) PPDB yang ada. “Kami masih menunggu petunjuk pusat. Jika tidak ada arahan, tetap sesuai juknis,” kata Suruji. (ron)
Menunggu Perda “Jadi, menurut penjelasan dari Dirjen Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri beberapa hari lalu bahwa harus terbit dulu Perda sebagai tindak lanjut PP No 18 Tahun 2017,” kata Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset daerah (BPKAD) NTB, Drs. H. Supran, MM ketika dikonfirmasi Suara NTB di Mataram, kemarin. Supran mengatakan, Raperda tentang Protokoler, Kedudukan dan Keuangan DPRD
atau PP yang terbaru. “Bisa jadi bulan Juli atau Agustus sudah dibahas. Perda tentang protokoler, kedudukan keuangan DPRD. Apapun alasannya kalau sudah PP pasti ada. Tetap terbebani APBD. Tapi kan haknya DPRD. Mau ndak mau harus dianggarkan,” katanya. Pemprov NTB menyatakan, tidak mungkin akan menolak usulan kenaikan penghasilan anggota DPRD. Ia menjelaskan, TAPD bukan dalam posisi setuju atau tidak setuju dengan usulan kenaikan penghasilan anggo-
Petani Rumput Laut Beralih Menangkap Benih Lobster Dari Hal. 1 Ia mengklaim saat ini sudah mulai berkembang Usaha Kecil Mikro (UKM) yang mengolah rumput laut menjadi makanan yang dijadikan oleh-oleh seperti dodol, manisan dan tortila. “Ada berbagai ragam produk-produk konsumsi oleh-oleh berbahan baku rumput laut,” katanya. Selain itu, ada juga pabrik kosmetik yang dikembangkan di
Banyumulek, Lombok Barat. Pabrik kosmetik berbahan baku rumput laut ini, kata Hamdi nilai investasinya sekitar Rp 2 miliar. Pabrik kosmetik ini merupakan kerjasama pemerintah daerah dengan salah seorang pengusaha asal Bogor Jawa Barat. Ia menyebutkan, dari total produksi rumput laut tersebut sekitar 45 ribu ton yang diolah menjadi produk-produk makanan di dalam daerah. Sementara
sisanya dikirim ke luar daerah seperti Surabaya dan Bali. Bahkan, banyak yang diekspor. Tahun 2016, Pemprov sebenarnya menargetkan produksi rumput laut sebesar satu juta ton. Namun mampu tercapai sebesar 950 ribu ton. Meskipun tak mencapai tafget satu juta ton, namun masih mencapai target RPJMD. Hamdi menjelaskan produksi rumput laut di NTB terjadi sedi-
kit penurunan lantaran pengaruh cuaca terutama tahun 2014 dan 2015. Selain itu, banyak petani rumput laut di Lombok Timur dan Lombok Tengah yang berlaih profesi menjadi nelayan penangkap benih lobster. “Sekarang ini kita mau dorong kembali melalui pemberian bantuan paket budidaya yang diberikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Mudah-mudahan rumput laut
ini akan semakin berlipat-lipat ganda produksi,” katanya. Menurutnya, fluktuasi harga rumput laut kering mempengaruhi berlaihnya petani rumput laut menjadi nelayan penangkap benih lobster. Saat ini, harga rumput laut kering berkisar antara Rp 7.500 -9.000 per kg.”Dengan demikian tentunya nelayan itu akan memperoleh hasil pendapatan yang tinggi,” katanya. (nas)
Tersangka Kasus ”Vertical Dryer” Tak Gentar Dijemput Paksa Dari Hal. 1 Secara norma hukum, tiga kali panggilan tak hadir, maka tersangka dijemput paksa. Agus Sugiarto mengaku sadar itu, namun sejak awal sudah mengingatkan penyidik agar taat juga dengan aturan tentang aturan dan etika pemanggilan tersangka. ‘’Dalam panggilan sebelumnya masak tidak ada pasalnya, ya jelas ini kan tidak taat aturan,’’ tegasnya. Termasuk dalam panggilan ter-
akhir Senin kemarin, surat dikirim ke Pemprov NTB. Padahal kliennya BS, sudah non job dari jabatan Kepala Diskop dan UMKM Provinsi NTB. Hal ini menunjukkan penyidik menurutnya belum maksimal menjalankan protap pemanggilan tersangka. Sementara untuk panggilan kelima ini, dia akui sudah menerima dari petugas pengantar surat Kejati NTB. Dia pun menyatakan kesiapannya hadir pada panggilan tersebut untuk diden-
gar keterangan dalam kasus dugaan penyimpangan penempatan alat pengering padi senilai Rp 680 juta tahun 2016. Itu pun jika tidak ada celah aturan yang dilanggar penyidik dalam panggilan diterimanya. “Insya Allah kita siap hadir kok,” jelasnya. Bagaimana dengan rencana praperadilan lagi? Terkait ini Ketua Dewan Pimpinan Cabang PerhimpunanAdvokatIndonesia(DPC Peradi) Kota Mataram ini tak melupakan rencana itu. Sambil ber-
jalan, dia sedang mengkaji kemungkinan praperadilan baru dengan mengidentifikasifaktahukumbaru yang bisa jadi celah hukum. Langkah pra peradilan ini menurutnya bagian dari proses mencari keadilan ketika dianggap proses hukum itu tak sesuai prosedur. Cara ini juga menjadi hak setiap warga negara yang dijadikan tersangka oleh Aparat Penegak Hukum (APH), bahwa masih ada celah hukum untuk menganulir proses hukum, terma-
suk dilakukan Kejati NTB. Soal rencana praperadilan itu, Aspidsus sebelumnya menanggapi santai. Pihaknya juga bergeming, tetap melanjutkan proses hukum. Namun dia sangsi akan ada praperadilan karena putusan pengadilan yang menolak praperadilan tersangka itu sudah incraht. “Kecuali praperadilannya dikabulkan, kita otomatis akan hentikan kasus ini. Tapi kan ditolak, bagi saya tidak mungkin ada praperadilan lagi,” ujarnya ragu. (ars)
Pemprov Tak Berani Alokasikan Anggaran Dari Hal. 1 Namun, hingga saat ini masih belum ada jawaban dari BPN. Husnul menjelaskan, pengelolaan hortipark selama ini tidak ada kaitannya dengan provinsi. Karena yang mengelola hortipark tersebut sejak awal adalah Pemkab Loteng. Sepanjang izin pengelolaan lahan sudah keluar maka pihaknya akan memfasilitasi pengembangan hortipark tersebut. Baik dukungan anggaran melalui APBD provinsi maupun meminta dukungan pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian. “Sepanjang ini clear, kita akan turun tangan nanti,” ucapnya. Ia menambahkan, pengembangan hortipark tersebut memang dulu masuk dalam RPJMD
yang digagas Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) sebelumnya. Namun, dalam revisi RPJMD NTB 2013-2018, pengembangan hortipark ini tidak muncul lagi. Dalam revisi RPJMD NTB 2013-2018, katanya lebih ditekankan kepada produksi tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai. Meskipun demikian, kata Husnul, karena ini program yang menjadi prioritas awal maka akan tetap dikembangkan. ‘’Kalau memang sudah clear secara umum di dalam status kepemilikan lahan, yang kemudian daerah minta porsi untuk pengelolaan boleh secara aturan, kita dorong dikembangkan. Karena itu cukup berpotensi untuk sinergi antara wisata dengan agrobisnis,” tandasnya.
Diketahui, lahan yang menjadi lokasi pengembangan hortipark saat ini, merupakan lahan kebun kopi yang dikelola oleh PT. Tresno Kenangan atas dasar Hak Guna Usaha (HGU). Artinya, lahan tersebut bukan milik PT. Tresno Kenangan. Hanya saja, negara memberikan kuasa kepada perusahaan tersebut untuk mengelolanya.HGUPT.TresnoKenangan itu sendiri sudah berakhir pada tahun 2000 silam. Sehingga secara otomatis, lahan tersebut dikembalikan ke negara. Beberapa tahun setelah HGU habis, pihak PT. Tresno Kenangan sempat mengajukan permohonan perpanjangan HGU. Tetapi, karena banyak persyaratan yang tidak bisa dipenuhi oleh perusahaan, permohonan tersebut tidak dikabulkan oleh Pemkab
Loteng kala itu. Sehingga sekitar tahun 2008, Pemkab Loteng melakukan take over (mengambil alih) lahan tersebut. Atas dasar HGU PT. Tresno Kenangan sudah dinyatakan kadaluarsa. Pasca pengambilalihan lahan, PT. Tresno Kenangan kemudian mengajukan gugatan perdata. Dengan dalih telah terjadi pengerusahakan aset milik perusahaan. Seperti tanaman kopi dan beberapa aset lainnya. Dalam proses gugatan, PT. Tresno Kenangan kemudian dinyatakan menang oleh pengadilan. Hingga proses kasasi di tingkat Mahkmah Agung (MA), PT. Tresno Kenangan tetap dimenangkan. Tapi putusannya, Pemkab Loteng diwajibkan membayar denda atau ganti rugi sebesar Rp 597 juta kepada PT.
Tresno Kenangan. Atas putusan kewajiban membayar denda itulah Pemkab Loteng kemudian mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Tetapi ditolak oleh MA. Karena upaya PK ditolak, pada tahun 2014 lalu Pemkab Loteng kemudian membayar ganti rugi sesuai keputusan MA tersebut. Sehingga persoalan hukum dinyatakan selesai. Adapun lahan, tetap kembali ke Pemkab Loteng. Karena status lahan tersebut merupakan tanah negara. Semua gugatan PT. Tresno Kenangan seperti soal kepemilikan lahan dan sebagainya, selain persoalan ganti rugi aset, tidak dikabulkan oleh MA. Sehingga Pemkab Loteng hanya diwajibkan membayar ganti rugi. Persoalan kepemilikan lahan, tetap dikembalikan ke Pemkab Loteng. (nas)
Pelabuhan Telong Elong Belum Ada Kejelasan Dari Hal. 1 Dipastikan, proyek tersebut akan tuntas tahun ini sehingga dapat difungsikan pada 2018 mendatang. ‘’Target penyelesaian sesuai dengan batas waktu tender, tahun ini selesai,’’ katanya. Bayu mengatakan, proyek kelanjutan pembangunan Terminal Haji ini sama pentingnya dengan proyek-proyek lainnya. Artinya, semua proyek yang dilaksanakan tahun ini semuanya prioritas, bukan saja Terminal Haji. Ia mengatakan, akan terus memantau dan
memacu pekerjaan yang akan dilakukan rekanan. Sehingga proyek tersebut selesai tepat waktu sesuai dengan yang ada dalam kontrak. Setelah pembangunan terhenti, kondisi Terminal Haji memang sangat memprihatinkan. Sehingga, selain memperbaiki beberapa bagian bangunan utama, tahun ini juga akan dilengkapi fasilitas pendukung seperti kelengkapan meubler dan sejumlah perbaikan fasilitas yang rusak. Pasalnya, ada beberapa fasilitas yang rusak dan hilang karena dicuri.
Tahun 2015 lalu tidak ada paket pekerjaan yang dilaksanakan untuk proyek terminal haji. Begitu juga tahun 2016. Pembangunan gedung terminal haji LIA sempat terhambat pada tahun 2014. Pasalnya, pembangunan gedung itu sedang dalam penanganan aparat penegak hukum. Selain itu, pembangunannya juga terhambat lantaran adanya gangguan dari masyarakat sekitar yang masih mengklaim persoalan Terminal Haji. Proyek Terminal Haji LIA dimulai sejak tahun anggaran 2011, dengan total kebutuhan anggaran
sebesar Rp 16,63 miliar lebih. Pada 2011 dialokasikan anggaran sebesar Rp 8,81 miliar lebih, pada 2012 dialokasikan lagi sebesar Rp 1,09 miliar lebih, dan pada 2013 sebesar Rp 1,73 miliar lebih. Pada tahun 2014 lalu, dianggarkan sebesar Rp 650 juta untuk pembangunan sayap kiri dan kanan terminal haji. Sementara itu, untuk kelanjutan pembangunan Pelabuhan Telong Elong Lombok Timur, Bayu mengatakan belum dianggarkan dalam APBD provinsi. Kelanjutan pembangunan pelabuhan yang berada di Kecama-
tan Jerowaru, Lombok Timur itu masih perlu kajian yang mendalam dan detail. Menurut mantan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) NTB ini, perlu dipertimbangkan banyak aspek sebelum ada keputusan untuk melanjutkan pembangunannya. “Kalau Telong Elong belum dianggarkan. Kita kaji, harus ada kajiannya. Karena yang kajiannya harus cermat, lebih detail, mempertimbangkan banyak aspek. Untuk tahun ini proyek Terminal Haji saja yang dulu,” tandasnya. (nas)
BERLANGGANAN/PENGADUAN LANGGANAN HUBUNGI : 081917168822 - 081238792598
Sabtu, 15 Juli 2017
suarantb.com
@suarantbcom
@suarantbcom
http://facebook.com/suarantbdotcom
http://twitter.com/suarantbcom
http://instagram.com/suarantbcom
TELEPON: Iklan/Redaksi/Sirkulasi (0370) 639543 Facsimile: (0370) 628257
Strategi Pengentasan Kemiskinan Perlu Dievaluasi
(Suara NTB/ndi)
Mataram (Suara NTB) Semangat menurunkan kemiskinan dua persen per tahun, sepertinya masih cukup sulit dicapai oleh pemerintah Provinsi NTB. Sebab berbagai program pengentasan kemiskinan yang telah dicanangkan, belum menyentuh langsung pada sasaran. Tak heran jika angka kemiskinan tak pernah bisa berkurang, bahkan cendrung meningkat. Kondisi yang demikian mendapat sorotan dari kalangan para wakil rakyat di DPRD NTB. Para wakil rakyat menilai, bahwa ada yang keliru dalam strategi penanganan kemiskininan. Pemprov NTB nampaknya masih
Yek Agil
berkutat pada persoalan teknis, sehingga persoalan yang substansial masih jauh bisa disentuh. Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi II DPRD NTB, yang membidangi masalah prekonomian, Yek Agil, pada Suara NTB yang ditemui diruang kerjanya, kemarin. “Persoalannya masih berkutat pada masalah koordinasi, sehingga program pengentasan kemiskinan kita ibarat menggarami air laut. Semua program ditumpuk pada satu tempat,” ujar Yek Agil. Kesatuan data terkait kantongkantong kemiskinan baik dengan pemerintah pusat maupun kabupaten/kota belum seragam. Oleh karena itu, ia meminta agar kembali melakukan evaluasi dari semua sisi, termasuk jenis kemiskinan. “Kita harus berbagi peran, makanya perlu jelas identifikasi masalahnya secara menyeluruh. Disisir kembali, dari A sampai Z, dari sisi struktur kemiskinan, sampai kedalamannya,” kata Yek Agil. Lebih lanjut disampaikan oleh politisi PKS itu, anggaran untuk pengentasan kemiskinan pada tahun anggaran 2017 ini sudah cukup besar. Namun hal itu tidak akan
bisa mempengaruhi penurunan kemiskinan jika pola eksekusi anggaran masih sama dengan pola lama, yakni selalu pada akhir tahun. “Jangan seperti pola sebelumnya, tapi sekarang harus dieksekusi awal tahun, karena belanja pemerintah itu jadi stimulus bagi prekonomian masyarakat. Dengan eksekusi lebih awal, sehingga bisa cepat dilihat grafik. Kalau angka di atas meja dan kondisi rill lapangan beda, maka pada APBDP bisa diperbaiki,” ungkapnya. Dia mengingatkan pada pemerintah daerah, agar memahami komponen pembentuk kemiskinan masyarakat. Karena menurunya, kemiskinan di masyarakat tidak saja serta-merta dibentuk oleh persoalan materi belaka. Namun kemiskinan juga bisa jadi akibat persoalan mental. “Bicara kemiskinan bukan soal materi saja, tapi ada banyak faktor yang membentuk kemiskinan. Kebiasaan masyarakat, agama, sosial, itu juga sangat mempengaruhi,” katanya. Ia mengilustrasikan soal kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi mental, seperti pada musim panen di Desa, masyarakat memiliki banyak uang, namun karena gaya hidup yang konsumtif, maka uang tersebut tak mampu dikelola. Sehingga dalam waktu yang relatif singkat masyatakat kembali menjadi miskin, ujarnya. (ndi)
Sumbawa Percepat Pembangunan Infrastruktur Jalan Sumbawa Besar (Suara NTB) Pemkab Sumbawa terus melakukan percepatan pemerataan pembangunan infrastruktur khususnya di wilayah terisolir. Hal ini dihajatkan untuk peningkatan konektivitas antarwilayah melalui program pemeliharan, rehabilitasi dan peningkatan jalan kabupaten. Seperti dijelaskan Sekda Sumbawa, Drs. H.Rasyidi, Jumat (14/ 7), sejak 2016 ruas-ruas jalan di wilayah terisolir seperti Lantung – Ropang, Batu Dulang – Tepal, Tepal – Batu Rotok, Kwangko - Mata – Tolo’oi telah dilakukan rehabilitasi dan peningkatan secara bertahap dalam rangka mengejar tar-
get 100 persen jalan mantap pada 2021. Sedangkan terhadap ruasruas jalan yang menjadi kewenangan provinsi seperti Pal IV Lenangguar, Lenangguar – Lunyuk, Sumbawa Besar – Semongkat – Batu Dulang, pemerintah daerah terus secara aktif berkoordinasi dengan pemprov dalam upaya terus mendorong peningkatan kemantapan ruas-ruas jalan tersebut. Terhadap masukan usulan dari fraksi Dewan terkait penggunaan material konstruksi jalan, pemerintah daerah akan menyesuaikan dengan kondisi lapangan sehingga kemantapan jalan diukur dengan kemantapan transportasi yang
ditandai dengan keamanan, kenyamanan dan kelancaran yang dirasakan oleh pengguna jalan. Untuk status jalan hutan lindung pada ruas jalan dalam kawasan Pulau Moyo sepanjang 59 Km, Marente-Mate Mega kecamatan Alas, Pidang-Mata kecamatan Tarano dan lain-lain, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Sumbawa sudah melakukan identifikasi terhadap data ruas jalan tersebut serta kemungkinan dimasukan dalam data K1 (Jalan Kabupaten). Sedangkan untuk status hutan lindungnya akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Dishut NTB untuk perubahan statusnya. (arn)
Lotim Berjaya di O2SN Provinsi Selong (Suara NTB) Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat provinsi yang dilaksanakan dari tanggal 10 hingga 12 Juli 2017, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mengukir prestasi yang cukup gemilang. Pasalnya, para atlet Lotim di masing-masing cabang olahr-
aga (cabor) berhasil meraih juara, sehingga mengantarkan Lotim sebagai juara umum. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Lotim, Drs. M. Zaini, Kamis (13/7) mengatakan, keberhasilan Kabupaten Lotim menjadi juara umum dalam O2SN tingkat provinsi merupakan prestasi yang cuk-
(Suara NTB/dok)
M. Zaini up gemilang. Duta-duta Lotim menjadi juara di cabor silat, atletik, renang, bulu tangkis dan karate. Meski demikian, katanya, ia berharap prestasi itu tidak menjadikan para pelatih maupun atlet serta pemerintah berbangga hati, karena ada event yang lebih tinggi. Untuk itu, ia mengimbau supaya perjuangan terus dilakukan untuk mewakili NTB ke tingkat nasional. Disebutkan Zaini, medali yang didapatkan oleh perwakilan Lotim dalam 02SN tingkat provinsi itu, di antaranya pada cabor silat, perwakilan Lotim berhasil mendapatkan tiga emas. Sementara untuk renang berhasil meraih satu perak dan bulu tangkis, para atlet Lotim berhasil meraih satu perak dan satu perunggu. Selanjutnya untuk cabang olahraga karate, Lotim berhasil mendapatkan satu perak dan satu perunggu, serta cabor terakhir yakni atletik, perwakilan Lotim harus puas dengan dua medali perunggu. “Dengan menyabet juara umum tingkat provinsi NTB, kita sangat bersyukur namun tidak boleh berbangga hati karena ada event yang lebih tinggi yang akan dihadapi oleh para atlet,” ungkapnya. (yon)
MA Muallimat NW Perbanyak Pendidikan Agama Selong (Suara NTB) – MA Muallimat NW Pancor yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darunnahdlatain (YPHPPD) NW Pancor semakin dilirik siswi dari luar daerah. Menggaungnya nama MA Muallimat tidak terlepas dari penggodokan ilmu agama yang terus diterapkannya. Kepada Suara NTB, Jumat (14/7), Kepala MA Muallimat NW Pancor, Drs. Humaidi menyebutkan, saat ini tercatat puluhan siswi yang berasal dari luar Provinsi NTB sudah diterima di MA Muallimat NW Pancor. Mereka berasal dari Pulau Sulawesi sebanyak 10 orang, Flores, NTT sebanyak 5 orang, Bali 4 orang, Sumbawa 4 orang, dan Kalimantan serta sejumlah daerah lainnya di Indonesia. Sementara itu, khususnya untuk di pulau Lombok, rata-rata terdapat siswa yang mendaftar seperti Lombok Utara, Lombok Barat, Mataram dan kabupaten/kota lainnya. Selain itu, katanya, jumlah pendaftar melampaui dari kursi yang tersedia sebanyak 215 kursi dengan jumlah pendaftar sebanyak 687 orang. Sedangkan 215 siswi yang sudah diterima tersebut setelah melalui berbagai macam tes, seperti IQ, emosional, spiritual, tes baca Alquran Bahasa Inggris serta seleksi kesehatan. “Tes yang dilakukan itu langsung mengarah kepada penentuan jurusan, seperti juruan IPA, Matematika,” sebutnya. Dalam kegiatan pengenalan pendidikan madrasah di MA Muallimat
(Suara NTB/yon)
PERIKSA KESEHATAN - Salah satu alumni yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan memeriksa kesehatan dari peserta didik baru di MA Muallimat NW Pancor. NW Pancor terhadap para peserta didik baru. Pihaknya melibatkan para alumni yang saat ini berprofesi sebagai dokter, guru, maupun yang masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah ataupun di MDQH NW Pancor. “Bahkan yang banyak melirik Muallimat adalah siswi dari SMP, tentu ini merupakan hal yang sangat positif,” terangnya. Siti Madinatul Munawaroh, salah satu peserta didik baru di MA Muallimat NW Pancor asal Bali, ini mengungkapkan bahwa alasan dipilihnya MA. Muallimat NW Pancor dikarenakan pendidikan agama yang diberikan begitu lengkap. Itulah yang mendasarinya untuk melanjutkan pendidikannya di madrasah yang berbasis perempuan tersebut.
Hal senada juga disampaikan, Syafira Pratiwi, asal Flores NTT, jika MA Muallimat NW Pancor sudah dikenal cukup baik di mata keluarga dan masyarakat di Flores. Pasalnya, di tahun-tahun sebelumnya terdapat sejumlah warga di Flores yang mengenyam pendidikan di MA Muallimat NW Pancor dan cukup meninggalkan kesan yang sangat positif. Sedangkan, Delta Delita, asal Kalimantan Barat ini menyebut bahwa alasan ia melanjutkan pendidikannya di MA Muallimat NW Pancor atas dorongan dari orang tuanya. Delita yang sebelumnya mengenyam pendidikan di MTsN 1 Pontianak Kalimantan Barat ini menyebut keunggulan pembelajaran agama dominan dilakukan di MA Muallimat Pancor. (yon)
Lobar Ancam Segel ’’Provider’’ Penunggak Retribusi Tower Giri Menang (Suara NTB) Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Lombok Barat (Lobar) tak bisa mentorelir sikap para provider pemilik tower yang ada di wilayah Lobar. Pasalnya, hampir sebesar Rp 1,2 miliar total retribusi yang belum terbayar untuk tahun 2016. Pihak dinas terkait pun telah mengirim surat sebagai peringatan keras bagi provider namun belum ditanggapi. Jika teguran ketiga tidak diindahkan maka provider ini bakal disegel. Kepala Dinas Kominfo Lobar, Budi Dharmajaya mengatakan sampai sejauh ini ada lima provider yang masih menunggak retribusi tahun 2016 dengan nilai hampir Rp 1,2 miliar. “Ada lima provider, nilainya Rp 1,2 miliar yang belum terbayar dari total Rp1,6 miliar yang seharusnya kita terima,” ungkapnya Jumat (14/7). Budi menambahkan bahwa di-
rinya sudah melakukan komunikasi atau semacam rapat dengan pihak pengusaha provider untuk sesegera mungkin untuk menyelesaikan tunggakan itu. Dari hasil rapat itu, pihak Kominfo sepakat akan segera bersurat ke lima provider nakal tersebut. “Mereka sudah berjanji akan segera membayar tunggakan itu. Kita berikan deadline hingga 31 Juli ini,” imbuhnya. Dijelaskan Budi Dharmajaya, pihaknya sudah berusaha maksimal untuk menagih tunggakan retribusi provider itu. Buktinya, sudah beberapa kali pertemuan dilakukan dengan pihak provider di Lobar, namun hasilnya masih ada beberapa yang belum menunaikan kewajibannya. “Seharusnya kita saling membantu. Kita (Pemda dan Pengusaha) samasama saling membutuhkan, seharusnya pula sama-sama menguntung-
kan,” tegasnya. Lalu bagaimana dengan retribusi tahun 2017 ini ? mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Lobar itu mengatakan bahwa pembayaran retribusi provider akan jatuh tempo pada akhir tahun mendatang. Namun yang jelas nilainya hampir sama dengan tahun 2016 lalu yakni Rp1,6 miliar. “Bagi yang nunggak, dalam aturan yang ada dikenakan denda sebesar 4 persen,” katanya. Bagi para penunggak retribusi tersebut, pihaknya akan melayangkan surat peringatan atau teguran yang pertama yang deadline nya sampai 31 Juli mendatang. Jika masih saja membandel, maka akan dilayangkan surat teguran ke-2. “Kalau sampai surat teguran ke-3 tetap tidak digubris, maka akan kita tindak tegas dengan langkah penyegelan sesuai aturan yang ada,” pungkasnya. (her)