Bali Post Januarii 2014 20 0 | 133 - 19 Januar
Buku Ba’asyir Jadi Rujukan Ngruki Vs Ba’asyir Mirip Bom Ransel di Warung Tegal
R 20.000 RP 20 00 00
DAFTAR ISI KILAS BERITA Tahun 2013 Kasus Curanmor Meningkat 54,57 Persen 6 LAPORAN UTAMA Buku Ba’asyir Jadi Rujukan 8 Ngruki VS Ba’asyir 9
LENSA
Mirip Bom Ransel di Warung Tegal 10 POLITIK Netralitas Rawan Pengingkaran 12 LINGKUNGAN Cuaca Buruk Nelayan Terpuruk 14
OLAHRAGA Menunggu Kiprah Solskjaer 28 Gusti Ngurah Rusta Wijaya Pensiun Dini dari Basket 30 KRIMINAL Langkah Pemberantasan Narkoba Terhadang Hukuman Ringan 32 Kembang Api Picu Keributan 34 EKONOMI Harga Elpiji “Terbang” Konsumen Bimbang 36 PARIWISATA
Kebanjiran 26
Membidik Wisatawan ”Jetset” 38 Tak Sebatas Berkantong Tebal 39 EVENT
Perangi Sampah Plastik 41 KERAJINAN
Sampah Membawa Berkah 42 TRADISI OPINI Bali Tanpa Pertanian? 16 JAJAK PENDAPAT
Tergantung Mentalitas Aparatur Desa 17 PENDIDIKAN
Bus Ajaib untuk Seniman 18 Tingkatkan Produksi Pertanian Manfaatkan Penelitian PT 19
MANCANEGARA Kejahatan Seksual Kembali Terjadi di India 20 Penyelamatan Dramatis di Antartika 21 DAERAH SE Mendagri Bingungkan Desa 22 Dampak SE Mendagri 20 Pilkel di Tabanan Tertunda 23 KESEHATAN Mengikuti Ideal ’’Ciranjiwi’’ Rishi Markandeya Raih Kesehatan Fisik, Mental dan Spiritual 24 Mantra Tryambakam Strategi Mencapai Keabadian 25
Tradisi Unik di Bayung Gede Ari-ari Digantung di Pohon, Jenazah Dikubur Tanpa Kain 44 PROPERTI
Hati-hati, Banyak Pengembang Nakal di Bali 46 Harga Lahan Melambung Hemat Biaya, Kualitas Asal-asalan 47 GAYA HIDUP
Songket Bali Bikin Lengket 48 BUDAYA
Kawasan Subak Pulagan Jadi WBD, Terus Diincar Investor 50
13 - 19 Januari 2014
3
3
DARI PEMBACA
Prihatinkan Jalan Desa Bapak Bupati Buleleng dan Kadis PU Buleleng yang terhormat, saya adalah salah satu dari ribuan warga masyarakat Desa Gesing yang merasa sangat prihatin dengan jalan yang menuju ke desa kami, tepatnya dari pertigaan Tabog sepanjang dua kilometer karena dengan melihat kondisi seperti itu sudah sangat tidak layak dilintasi dengan menggunakan kendaraan. Kami adalah warga yang taat membayar pajak sehingga kami juga berhak menuntut untuk mendapat pelayanan fasilitas umum yang layak dari pemerintah. Mohon diperhatikan dan realisasinya. Nang Cace Desa Gesing, Buleleng
Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata
Perjuangkan Penolakan Reklamasi Kepada masyarakat Bali yang merasa hidup dan cari makan sehingga bisa hidup layak bahkan kaya, mari kita tentang reklamasi yang akan menghancurkan Bali. Kita orang kelas bawah akan makin terjepit oleh sifat tamak para pemimpin kita, karena tidak ada jalan korupsi. Kami mohon semua yang merasa sebagai ketua agamawan, DPRD Bali tingkat II dan pusat harus memperjuangkan penolakan reklamasi demi keajegan Bali yang kita sayangi. Made Suadi Denpasar
Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Sri Hartini, Suana, Sueca, Yudi Winanto Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Diah Dewi, Yudi Karnaedi, Wira Sanjiwani, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Widana. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Adnyana, Gianyar: Agung Dharmada, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Budi Wiryanto Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan
Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Badung Meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ada dua hal sangat mendasar yang harus dilakukan pemerintah yaitu eďŹ siensi dan produktivitas masyarakat. EďŹ siensi yaitu menekan pengeluaran masyarakat, ada beberapa hal yang harus dilakukan, misalnya dalam sektor pendidikan hendaknya penerimaan siswa baru SMP dan SMA Negeri diterapkan sistem rayonisasi. Maksudnya, penerimaan siswa baru dengan mengutamakan siswa-siswa yang tempat tinggalnya di sekitar letak sekolah. Hal tersebut di samping menekan pengeluaran siswa, juga mengurangi subsidi BBM dan mengurangi kepadatan lalu lintas dan lainnya. Dalam sektor kesehatan, pemerintah hendaknya meningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan memperbanyak ruang rawat inap di setiap puskesmas. Dengan demikian diharapkan masyarakat yang kurang mampu dapat mengurangi pengeluaran seperti untuk jenis penyakit demam berdarah. Sementara itu, banyak masyarakat kita yang kurang mampu harus dirawat di rumah sakit mahal karena terbatasnya kamar yang disediakan pemerintah. Meningkatkan produktivitas masyarakat, pemerintah hendaknya menerapkan kebijakan yang mendorong masyarakat menjadi produktif dengan menyediakan program-program yang memberi dampak ekonomi. Karena permasalahan ini meliputi berbagai aspek maka perlu ditangani dengan sistem manajemen yang profesional. Drs. I Nyoman Bintara Br. Pengiasan Mengwi, Badung
4
NTB Agus Talino, Syamsudin Karim, Izzul Khairi, Raka Akriyani Surabaya Bambang Wiliarto Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP
13 - 19 Januari 2014
4
5
KILAS BERITA
Tahun 2013
Kasus Curanmor Meningkat 54,57 Persen
K
asus kriminalitas secara umum di Bali pada tahun 2013 mengalami penurunan dibandingkan 2012 lalu. Penurunan ini terlihat dari jumlah kasus pada 2013 mencapai 7.785 kasus dan pada 2012 lalu sebanyak 8.100 kasus kriminal. Akan tetapi, kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2012 lalu. Pada 2013 lalu, jumlah curanmor di wilayah hukum Polda Bali mencapai 541 kasus. Sedangkan pada 2012 lalu kasus curanmor hanya 350 kasus. Artinya, ada peningkatan yang signifikan, yakni 54,57 persen. Hal ini disampaikan Kapolda Bali Irjen Pol Drs. A.J. Benny Mokalu dalam jumpa pers, Senin (30/12) lalu. Dikatakannya, kejahatan konvensional dan trans nasional juga mengalami penurunan, masing-masing mencapai 5,04 persen dan 5,92 persen. Tak hanya itu, kasus lakalantas juga mengalami penurunan dibandingkan 2012 lalu. Kasus ini mencapai 2.535 dengan korban meninggal 559 pada 2012 menurun menjadi 1994 (500 meninggal) pada 2013. “Secara kuantitas dan kualitas mengalami penurunan,” ujar Kapolda Benny Mokalu. Pramana Wijaya
MBP/eka
Santap Nasi Goreng, Cuaca Buruk, Nelayan Siswa SD Keracunan Berhenti Melaut PULUHAN siswa S D N 1 Wa n a g iri, Banjar Sawah, Wanagiri, Selemadeg, Tabanan, Senin (30/12), mengalami keracunan. Diduga pemicu keracunan itu akibat memakan nasi goreng bungkus yang dijual di kantin sekolah tersebut. Kejadian ini usai para siswa melakukan aksi bersih-bersih. Setelah itu, sejumlah siswa menikmati nasi goreng bungkus. Mereka pun akhirnya pulang. Tidak beberapa lama, para siswa yang menyantap nasi goreng itu, merasa mual-mual dan disertai muntah-muntah. Kepala Dinas Kesehata Tabanan, dr. Suratmika mengatakan, dugaan pemicu keracunan itu, yakni nasi goreng bungkus yang dimakan siswa sebelumnya. Para siswa yang mengalami mual dan muntah akhirnya dirujuk ke Puskesmas Selemadeg. Dari puluhan siswa yang menjalani perawatan, 16 siswa terpaksa dirujuk ke RS UD Tabanan. Budi Wiryanto
6
CUACA buruk dalam beberapa minggu terakhir ini berdampak pada penghasilan nelayan di Jembrana. Pasalnya, para nelayan di pesisir Bali Barat ini tidak bisa melakukan aktivitas melaut. Para nelayan yang tinggal di Desa Pengambengan, Jembrana ini, terpaksa berhenti sementara ke tengah laut untuk mencari ikan, karena cuaca buruk. “Kalau pun dipaksakan melaut, nanti hasilnya juga tidak ada, sehingga percuma,” ujar Basri nelayan setempat, Senin (30/12) lalu. Nelayan di desa ini, biasanya melaut secara bersama-sama. Satu pasang perahu biasanya terisi 35 sampai 40 orang. Bila beruntung, hasilnya sekali melaut bisa mencapai puluhan ton ikan segar. Basri mengakui, sejak tiga bulan belakangan ini, hasil tangkapan lumayan banyak. Sayang, akibat angin kencang ini, pihaknya bersama rekan-rekannya satu profesi harus memarkir perahu untuk beberapa saat. “Mudah-mudahan anginnya segera normal, sehingga kami bisa melaut lagi,” ujarnya. IB. Surya Darma
13 - 19 Januari 2014
MBP/olo
6
Gudang Ludes Terbakar SEBUAH gudang di jalan raya Celuk, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Sabtu (28/12) lalu, ludes terbakar. Api yang menghanguskan bangunan gudang itu membuat sejumlah warga sekitarnya waswas. Mengingat, di sebelah gudang yang terbakar terdapat sejumlah artshop dan bengkel cuci mobil. Kebakaran diduga akibat adanya kelalaian dari istri penjaga gudang, yakni Eka Komala Sari. Awalnya Eka Komala Sari sedang memasak di dapur yang ada di dalam gudang yang dikontrak Yulianti. Ketika memasak tersebut, anak dari Komala Sari yang masih balita menangis. Melihat hal itu, wanita muda ini pun meninggalkan dapur
yang juga menjadi tempat keluarganya itu tidur, yang satu bangunan dengan gudang. Wanita itu langsung menuju ke seberang jalan bersama anaknya. Berselang 15 menit kemudian, suaminya, Moh. Aris yang tengah tidur di gudang terbangun. Saat itulah sudah melihat asap mengepul dari kamar sekaligus dapur mereka. Penjaga gudang itu langsung teriak minta pertolongan warga sekitarnya. Empat unit mobil pemadam kebakaran juga didatangkan ke lokasi membantu pemadaman api. Hingga akhirnya pukul 13.00 wita, api berhasil dipadamkan petugas. Sayang bangunan gudang ludes terbakar. Agung Darmada
MBP/dar
Longsor Tutup Jalan di Tegallalang
MBP/ap
Banjir Landa Brazil, 45 Orang Tewas BANJIR ternyata bukan hanya di Indonesia. Buktinya, negara maju seperti Brazil juga tak luput dari bencana ini. Bahkan, jumlah korban jiwa akibat banjir di negara bagian Minas Gerais dan Espirito Santo di Brazil Tenggara mencapai 45 orang. Dinas Pertahanan Sipil lokal menyebutkan hal itu, Jumat (27/12) lalu menyebutkan, sebanyak 27 orang dikonďŹ rmasi tewas di Espirito Santo dan 18 di Minas Gerais. Lebih dari 60.000 orang dipaksa meninggalkan rumah mereka akibat tanah longsor dan banjir yang meluas di Espirito Santo, tempat 52 dari 78 kotapraja di negara bagian tersebut dinyatakan berada dalam kondisi darurat. Di Minas Gerais, 25 kota kecil mengumumkan keadaan darurat.
Dalam satu wawancara radio, Gubernur Negara Bagian Espirito Santo Renato Casagrande mengatakan, badai selama dua hari itu adalah bencana alam terbesar dalam sejarah negara bagian tersebut. Minas Gerais belum mengajukan permohonan bantuan dari pemerintah federal. Sementara satu rombongan pekerja bantuan terdiri atas prajurit militer, petugas pemadam dan Pasukan Keamanan Nasional dikirim ke Espirito Santo setelah pemerintah setempat meminta bantuan federal untuk upaya pencarian dan pertolongan. Petugas pemadam juga membantu menyelamatkan orang dari daerah terpencil dan terkucil. Agustoni
BENCANA longsor kembali terjadi di Gianyar. Kali ini longsor terjadi di Banjar Bilukan, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Kamis (27/12) lalu. Longsor di sebelah kanan dan kiri tebing di kawasan itu membuat akses jalan menghubungkan Sebatu dengan Taro, Tegallalang putus. Petugas dari BPBD, TNI dan Polri ikut membantu evakuasi longsoran sehingga arus lalu lintas kembali normal. Longsor terjadi sekitar pukul 01.30 wita. Tebing setinggi 5,5 meter yang ada di jalan itu longsor ke jalan. Sehingga akses jalan yang biasa dilalui oleh kendaraan tertutup oleh tanah dan pepohonan yang longsor. Peristiwa longsornya tebing di Jalan Sebatu-Taro itu dilaporkan ke badan penanggulangan bencana daerah Kabupaten Gianyar. Puluhan petugas dibantu dengan alat berat melalukan evakuasi sehingga pada Jumat (28/12) sudah bisa dilalui oleh kendaraaan. “Sisa-sisa lumpur yang masih ada membuat jalan licin, sehingga pengendara mesti hati-hati melewati jalan tersebut,� kata Kabid BPBD Wayan Eka Putra. Agung Darmada
MBP/dar
7
LAPORAN UTAMA
Buku Ba’asyir
Jadi Rujukan
’’
Jangankan hartanya, nyawanya saja bisa diambil.’’ Demikian salah satu doktrin yang selama ini dipahami benar oleh terduga teroris. Karenanya, mereka tidak segansegan merampok bank, toko emas dan usaha lainnya untuk membiayai kegiatan terorismenya. Demikian pula mereka tanpa merasa berdosa memasang bom di tempat-tempat ibadah, restoran, hotel dan meledakkan diri saat orang sembahyang. Perilaku yang sangat memprihatinkan. Hal ini pulalah yang menjadi sorotan Kapolri Jenderal Pol. Sutarman, menyusul tertembakmatinya enam terduga teroris di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten pada malam tahun baru 2014. Atas kondisi itu, ia pun mengimbau kepada para ulama dan tokoh agama di Indonesia untuk berhati-hati terhadap doktrinasi teroris yang mulai gencar di masyarakat. ‘’Mereka (teroris) bergerak sendiri-sendiri, bahkan melakukan doktrinasi, maka kita mengimbau kepada alim ulama, tokoh masyarakat untuk menyampaikan kepada masyarakat,’’ kata Sutarman. Sutarman menambahkan, para alim
8
ulama harus meluruskan pandangan yang keliru tentang biaya operasional yang digunakan untuk berbuat kejahatan. ‘’Bahwa melakukan suatu tujuan dengan merampok untuk membiayai operasionalnya itu saya kira agama mana pun tidak membenarkan. Oleh karenanya, kita harus bisa menyampaikan,’’ katanya. Ia juga mengimbau agar kepolisian mampu untuk membendung dana bantuan kepada teroris dari kelompok teroris internasional untuk menghambat aksi jahatnya tersebut. ‘’Anggaran teroris itu didapat dari merampok. Tadinya mereka ragu-ragu, tetapi karena ada bukunya Abu Bakar Ba’asyir, ‘Tadzkiroh’ yang mengatakan merampok itu dihalalkan untuk perbuatan yang mereka anggap jihad,’’ katanya. Sutarman mengatakan imbauan tersebut untuk mempersempit pergerakan kelompok teroris Abu Roban yang berada di wilayah Barat dan Timur. Selain menembak mati enam orang teroris di Ciputat, Densus 88 sebelumnya menangkap hidup-hidup terduga teroris yang cukup berperan yakni Anton. Ia ditangkap di Banyumas, Jawa Tengah, beberapa jam sebelum ‘’eksekusi’’ teroris Ciputat. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Boy Rafli Amar mengatakan, Anton alias Septi merupakan peletak bom dalam pengeboman di Vihara Ekayana, Jakarta Barat, pada Agustus 2013. ‘’Anton termasuk eksekutor langsung peletak bom di Vihara Ekayana dan beberapa kegiatan fa’i (pengumpulan dana untuk membiayai aksi teror) lainnya,’’ katanya. Boy mengatakan, aksi pengeboman di tempat ibadah umat Buddha itu adalah aksi solidaritas mereka atas isu kekerasan terhadap Muslim Rohingya, Myanmar, beberapa waktu lalu. ‘’Itu menjadi inspirasi mereka untuk melakukan aksi penyerangan
dan menjadikan vihara sebagai target,’’ katanya. Boy menjelaskan, Anton juga merupakan perencana dan pelaksana dalam penyerangan anggota kepolisian. Anton juga merupakan ahli perakit bom dalam kelompok Abu Roban. Ia juga memastikan adanya keterkaitan Anton dengan teroris yang digerebek di Kampung Sawah, Ciputat, Selasa (31/12) lalu. Menurutnya, baik Anton maupun tujuh pelaku yang diringkus di kontrakan berukuran 3 x 8 meter itu adalah samasama kelompok Abu Roban. ‘’Anton ahli dalam perakitan bom, dia juga sebagai pelaksana dan perencana, memang cukup dominan perannya,’’ katanya. Selain ahli dalam merakit bom, ternyata Anton mengaku telah menyiapkan ‘’pengantin’’ atau pelaku bom bunuh diri untuk meledakkan 50 vihara di Jakarta. Tak hanya vihara, sejumlah penyerangan Polsek, tempat ibadah, dan kegiatan fa’i juga telah disiapkan rapi oleh mereka. Pascapenangkapan, polisi kini menyebar foto-foto mereka. Tujuannya, agar para keluarga mereka datang ke RS Bhayangkara, tempat jenazah mereka dititipkan, untuk kepentingan tes DNA. Sementara itu wanita yang mengaku sebagai ibu angkat dari enam terduga teroris yang tewas, Musdalifah, menolak rencana autopsi pihak kepolisian. Menurut Musdalifah, Dayat cs. sudah jelas tewas karena ditembak, sehingga tidak perlu lagi autopsi. Musdalifah datang bersama sejumlah orang yang mengaku keluarga keenam terduga teroris. Mereka melakukan proses identifikasi. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri memerlukan kehadiran dan keterangan serta DNA keluarga para terduga teroris untuk mengidentifikasi keenam jenazah yang tewas dalam penggerebekan di Ciputat. LAPORAN
13 - 19 Januari 2014
8
Ngruki
Vs
BERBAGAI badan intelijen menuduh Ba’asyir sebagai kepala spiritual Jemaah Islamiyah (JI). Namun ia kerap mebantah tuduhan tersebut. Perjalanan kariernya dimulai dengan menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Solo. Selanjutnya adalah menjabat Sekretaris Pemuda Al-Irsyad Solo, kemudian terpilih menjadi Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (1961), Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam, memimpin Pondok Pesantren Al Mu’min (1972) dan Ketua Organisasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), 2002. Uztad Abu beberapa kali berurusan dengan pihak keamanan. Bahkan pada tahun 1983, Abu Bakar Ba’asyir ditangkap. Ia dituduh menghasut orang untuk menolak asas tunggal Pancasila. Abu Bakar Ba’asyir bin Abubakar Abud atau biasa dipanggil Ustadztad Abu Abu lahir di Jombang, 17 Agustus 1938. Ia pernah menjadi siswa Pondok Pesantren Gontor, Jombang, Jawa Timur, lulus 1959 dan merupakan alumnus Fakultas Dakwah Universitas Al-Irsyad, Solo, Jawa Tengah, lulus tahun 1963. Ustad Abu pernah menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Solo dan menjabat Sekretaris Pemuda Al-Irsyad Solo. Pada tahun 1961 ia terpilih menjadi
Ba’asyir
Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam, dan memimpin Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo, Jawa Tengah, pada 1972. Sekembalinya ke Indonesia dari Malaysia, Ba’asyir menjadi Ketua Organisasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), tahun 2002. Ba’asyir mendirikan Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, pada 10 Maret 1972. Pondok yang kemudian dikenal sebagai Pesantren Ngruki itu didirikannya bersama Abdullah Sungkar, Yoyo Roswadi, Abdul Qohar H Daeng Matase, dan Abdullah Baraja. Pondok Pesantren seluas 8.000 meter persegi ini berlokasi di Jalan Gading Kidul 72 A, Desa Ngruki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Atas berbagai kasus terorisme di Indonesia, nama Abu Bakar Ba’asyir selalu dikait-kaitkan. Akhirnya ia ditangkap Densus 88 di Banjar Patroman, Ciamis, Jawa Barat. Ia ditangkap Senin pagi (9/8/2010) dalam perjalanan pulang menuju Jawa Tengah. Seperti banyak menduga penangkapan ini dikaitkan dengan aksi terorisme di Indonesia. Ia pun akhirnya diadili dan masuk jeruji besi. Pusat Data
9
LAPORAN UTAMA
Mirip Bom Ransel di Warung Tegal
S
ehari sebelum tertembak, terduga teroris Dayat terlihat tergesagesa ketika masuk ke rumah kontraknya. Meti, tetangganya yang selalu diajak bertegur sapa malah diacuhkan. Begitu menstandar motornya, Dayat langsung masuk dan tak keluar lagi. Baru keesokan harinya, Meti tahu bahwa Dayat yang dikenalnya sebagai pegawai ekspedisi tewas di ujung gang rumahnya. “Pak Dayat terlihat balik ke kontrakan pada hari Senin tanggal 30 Desember setelah izin pulang kampung dengan membawa dua tas ransel besar sehari sebelum Natal. Ketika itu, dia terlihat tergesa-gesa,” kata Meti, warga yang tinggal bersebelahan dengan rumah kontrakan Dayat. Meti menjelaskan, ketika itu Dayat terlihat kembali ke kontrakan sekitar pukul 18.30 WIB. Dayat yang kerap menggunakan jaket merah dan motor bebek, langsung masuk ke dalam kontrakan tanpa berbincang sedikit pun.
Karena pintu kontrakan selalu ditutup, maka Meti pun tidak sempat menanyakan. Namun, dirinya sempat mendengar Dayat berbicara melalui sambungan telepon dengan suara kencang. “Seperti terlihat orang sedang tergesa-gesa,” katanya. Saat kembali ke kontrakan terakhir kali, Meti tidak melihat Dayat membawa tas ransel. Padahal, sehari sebelum Natal, Dayat dan rekannya terlihat membawa tas ransel besar dan dua boneka merah muda. “Satu hari sebelum Natal, Pak dayat bilang ke saya ingin pulang kampung. Dia dan rekannya membawa tas ransel dan dua boneka pink,” ujarnya. Setelah penggerebekan oleh Densus 88, Meti pun baru sadar bahwa tas ransel yang dibawa Dayat dan rekannya sangat mirip dengan sebuah tas ransel berisi bom yang tertinggal di sebuah warteg Cikupa. “Mirip banget tas ransel berisi bom yang tertinggal di warteg dengan milik Pak Dayat dan rekannya. Apalagi, kejadian dan waktu bersamaan dengan
Mbp/ant
10
kepergian Pak Dayat pulang kampung,” ujarnya. Kapolri Jenderal Pol. Sutarman mengatakan salah satu terduga teroris yang tewas dalam baku tembak dengan Densus 88 Mabes Polri di Ciputat, Tangerang Selatan, berencana pergi ke Suriah untuk melancarkan aksinya. “Nurul Haq berencana akan berjihad ke Suriah dan sudah menyiapkan diri dengan paspor dan sebagainya,” kata Sutarman. Sutarman menjelaskan, terduga teroris yang tergabung dalam kelompok Abu Roban tersebut juga terafiliasi dengan sindikat teroris internasional yakni Al-
polisi menyebar enam foto terduga teroris yang tertembak saat penggerebekan di Ciputat pada malam tahun baru 2014.
13 - 19 Januari 2014
10
Polisi menunjukkan sejumlah barang bukti yang berhasil disita saat penggerebekan di rumah kontrakan Dayat di Ciputat, Tangerang Selatan. Barang bukti ini diyakini polisi akan digunakan para terduga teroris uintuk melakukan aksinya di sejumlah tempat di Jakarta.
Qaeda yang pernah dipimpin Osama bin Laden. “Ini terkoneksi senior-seniornya yang berjumlah 72 orang, seperti Nurdin M Top, Ashari, tetapi mereka sudah tobat dan sadar, nah yang didikannya ini belum sadar,� katanya. Dia mengatakan, Nurul Haq juga pernah mengikuti beberapa pelatihan merakit bom di Poso, Sulawesi Tengah. Sutarman menduga sebelum penggerebekan oleh Densus 88, Nurul Haq dan komplotannya akan membagi-bagikan uang hasil perampokan BRI di Tangerang karena ditemukan barang bukti uang tunai senilai Rp 200 juta di rumah kontrakan di Jalan KH Dewantoro. Gang H Hasan RT 04/07 Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan. Selain itu, lanjutnya, barang bukti
yang ditemukan yakni tiga bom pipa besi, tiga bom pipa paralon, lima buah golok sepanjang 50 cm, enam senjata api yang terdiri atas lima pistol rakitan, satu revolver kaliber 38 dengan nomor seri yang dihapus, 34 peluru berukuran 9 milimeter, print-out target peledakan bom, tulisan tangan merakit bom, dan sejumlah buku. Selain itu juga ditemukan motor. Motor Honda berpelat nomor B 6516 VGE yang awalnya berpelat nomor B 6620 SPS diduga kuat hasil perampasan terhadap satpam ketika aksi penembakan terhadap polisi di Pondok Aren, Tangerang Selatan. “Saya yakin 100 persen itu Nurul Haq karena telah dicocokkan DNA dengan orangtuanya ternyata benar,� katanya.
Sutarman mengatakan kelompok teroris tersebut juga terkait dengan bom yang ditemukan di warteg di Panonga. Sebelumnya, sejak Selasa (31/12) sore hingga Rabu (1/1) pagi tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri dan Polda Metro Jaya melakukan penggerebekan di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan. Dalam penggerebekan yang disertai baku tembak itu, enam terduga teroris tewas. Terduga teroris yang tewas adalah Nurul Haq alias Dirman, Ozi alias Tomo, Rizal alias Hendi, Edo alias Ando, dan Amril. Sementara Dayat tewas ditembak di ujung Gang Hasan ketika hendak kabur. Teroris Ciputat Pusat Data 13 - 19 Januari 2014
11
11
POLITIK
Netralitas Rawan Pengingkaran
T
ahun politik 2014 merupakan tonggak baru dalam membangun peradaban bangsa. Perubahan sangat terbuka terjadi tergantung fakta politik yang akan tersaji. Pesta demokrasi sebagai proses regenerasi kepemimpinan tetap harus memiliki rambu-rambu terukur, salah satunya terkait netralitas aparatur pemerintahan. Dalam konteks ini, netralitas menjadi bagian yang selalu diperdebatkan. Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI/Polri merupakan unsur aparatur negara yang selama ini getol mengkampanyekan netralitas. Namun, pengingkaran terhadap prinsip netralitas
Menyikapi praktik dan penjabaran netralitas PNS dan TNI/Polri dalam perpolitikan nasional ini I Nyoman Pasek, S.H. dari LSM Api Semar menggugatnya. Ia menilai netralitas sangat sulit diukur baik secara personal maupun kelembagaan. ‘’Fakta masih terjadi mobilisasi dan penggiringan PNS dalam kesempatan pesta demokrasi. PNS juga sulit melepaskan diri dari praktik ini karena terkait dengan jabatan dan mutasi,’’ ujarnya. Pasek yang juga praktisi hukum ini menilai slogan netralitas hanya manis dan nikmat untuk diwacanakan. Praktik pengingkaran terhadap prinsip-prinsip netralitas
Mbp/dok
Netralitas Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam pesta demokrasi hanya sebatas slogan. Faktanya, PNS kerap dimobilisasi atasannya untuk kepentingan pemenangan kandidat tertentu. Bahkan, di tingkat birokrat keberpihakan terhadap kandidat dalam pesta politik seolah menjadi ‘’kewajiban’’ untuk mengamankan jabatan.
masih menjadi fakta umum. Dipanggilnya sejumlah pejabat publik dan birokrat oleh Panwaslu terkait dengan perilakunya dalam pesta politik, merupakan indikasi adanya pengingkaran atas netralitas. Bahkan, netralitas di kalangan birokrat sangat sulit dijabarkan. Keberpihakan terhadap salah satu kandidat terlebih dalam pilkada seolah menjadi pilihan sikap mengingat akan berkorelasi dengan jabatan. Terbentuknya blok-blok birokrat dalam pesta demokrasi pun menguat setiap pesta demokrasi digelar.
12
jamak terjadi. ‘’Siapa bilang oknum Polisi/ TNI termasuk PNS tidak ambil bagian dalam pesta politik. Undang-undangnya mungkin diwajibkan netral, namun praktiknya secara individu pelanggaran netralitas gampang ditemukan,’’ ujarnya. Bahkan, di kalangan PNS bahkan yang sudah memiliki jabatan, cerdas dan cermat dalam menentukan apilikasi dukungan politik akan menentukan kariernya. Jika calon yang didukung menang, jabatan basah menati. Sebaliknya, jika calon yang didukungnya kalah maka demosasi jabatan akan
menjadi mimpi buruk. Untuk itu, kata dia, netralitas atas nama lembaga sangat mungkin dilakukan, namun ketika kembali pada oknumnya, maka netralitas hanyalah sebatas kata. Ia berharap PNS termasuk TNI/ Polri kembali pada tugas pokoknya yakni pada fungsi-fungsi pelayanan publik. Jika dirujuk sesuai ketentuan Undangundang, 22 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan pemilu, yang kemudian ditindaklanjuti dengan Undang-undang 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD serta Undangundang 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden sebenarnya PNS sebagai warga negara bisa terlibat dalam pesta politik namun sebatas sebagai peserta kempanye. Namun, dalam Pasal 84 Undangundang 10 Tahun 2008 telah diatur tentang pelaksana, peserta dan petugas kampanye. Berdasarkan kutipan ketentuan tersebut, dapat diketahui bahwa PNS dapat menjadi peserta kampanye dengan beberapa persyaratan. Namun, dilarang sebagai pelaksana kampanye. Ketentuan tentang PNS sebagai peserta kampanye dipertegas pula dalam Undang-undang 42 Tahun 2008 pada Pasal 41 ayat (1) huruf e, ayat (4), dan ayat (5). Dalam undang-undang yang sama Pasal 43, dinyatakan pula bahwa pejabat struktural dan pejabat fungsional dalam jabatan negeri dilarang membuat keputusan dan atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye. Ketentuan lain terkait PNS dalam pusaran politik adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2004. PP ini secara tegas menyebutkan, bahwa PNS dilarang menjadi anggota atau pengurus partai politik. PNS yang menjadi anggota atau pengurus partai politik diberhentikan sebagai PNS. Bagi PNS yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan sebagaimana yang disebutkan di atas, dijatuhi hukuman sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pejabat Pembina Kepegawaian instansi pusat dan daerah bertanggung jawab untuk segera mengambil tindakan apabila terdapat PNS dilingkungannya yang melakukan pelanggaran terhadap netralitas PNS. Dira Arsana
13 - 19 Januari 2014
12
13
LINGKUNGAN
Bali Post/olo
Sejumlah nelayan mengangkat perahu ke tepi pantai. Mereka enggan melaut karena cuaca buruk.
Cuaca Buruk Nelayan Terpuruk
M
asyarakat pesisir di Kabupaten Jembrana selama tiga tahun terakhir, tak merasakan masa panen tangkapan ikan. Mereka merasakan paceklik ikan dan membuat usaha mengalami kerugian. Kehidupan nelayan kini menjadi terpuruk saat cuaca buruk. Saat ini perahu-perahu selerek dengan bobot di bawah 20 GT ini hanya mampu menjangkau di sekitar perairan Bali. Sehingga para nelayan sangat bergantung adanya ikan di perairan ini. Biaya operasional untuk berlayar mencari ikan lebih banyak ketimbang hasil tangkapan ikan. Kondisi ini membuat para pemilik perahu dan awak perahu terpuruk. Bahkan beberapa pengusaha perahu belum mampu memperpanjang perizinan karena pendapatan yang tersendat. ‘’Ada beberapa pemilik terpaksa menjual perahu lantaran tidak bisa bertahan, beberapa yang lain hanya berjaga-jaga satu tahun. Tetapi kenyataannya dua tahun lebih paceklik ikan,’’ terang Ketut Madri nelayan asal Yeh Kuning, Jembrana. Lima bulan terakhir, sudah mulai panen
14
13 - 19 Januari 2014
tetapi bukan jenis ikan yang menjadi bahan baku pabrik pengalengan ikan di Pengambengan. Beberapa awak perahu terpaksa nekat menggadaikan sejumlah barang berharga mereka lantaran lamanya paceklik. Situasi saat ini benar-benar bertolak belakang ketimbang saat mereka merasakan panen melimpah. Saat panen, mereka sengaja membeli sejumlah barang elektronik hingga perhiasan. Tetapi saat paceklik berkepanjangan, mereka terpaksa menjual barang elektronik, sepeda motor bahkan hingga piring hias. Nasib serupa juga dialami para nelayan tradisional di pesisir Jembrana yang menggunakan jukung. Mereka yang menggantungkan hidup dari tangkapan di perairan dangkal tidak bisa melaut khususnya saat cuaca buruk. Angin kencang dan hujan lebat, menjadi momok para nelayan. Bahkan beberapa dari mereka terpaksa beralih profesi menjadi buruh bangunan dan buruh serabutan. Karena angin kencang, nelayan di Desa Pengambengan, Jembrana, terpaksa libur melaut, meskipun dalam beberapa bulan terakhir hasil tangkapan
cukup besar. Seperti akhir Desember ini angin kencang bertiup setiap hari, sehingga membuat para nelayan tradisional di Desa Pengambengan, terpaksa libur melaut. Mereka enggan melaut hingga ke tengah karena jaring juga tidak bisa diturunkan lantaran ombak cukup besar. Bisri, nelayan jaring dari Pengambengan mengatakan beberapa perahu yang nekat berangkat melaut, tidak membawa hasil saat ke darat. Bahkan di antaranya ada yang menerima resiko jaring terjatuh ke laut disapu ombak. Nelayan yang menggunakan perahu selerek di Desa Pengambengan, rata-rata melaut bersama-sama antara 35 orang untuk setiap pasang perahu. ‘’Baru tiga bulan Merasakan tangkapan melimpah, sekarang dihadapkan cuaca buruk. Mudah-mudahan cuaca buruk hanya sebentar,” harapnya. Saat hasil tangkapan melimpah, Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan, dipenuhi ribuan orang yang mencari nafkah. Saking melimpahnya, banyak ikan yang jatuh diambil warga untuk dijual lagi. Surya Dharma
Lenyap Ditelan Ombak
S
ejumlah nelayan di Yeh Malet, Desa Antiga Kelod dan Tanah Ampo sebelah dermaga kapal pesiar, Manggis, Karangasem, mengaku galau. Beberapa minggu ini mereka jarang melaut. Cuaca buruk. Angin kencang, gelombang tinggi tak terduga. Laut sering berkabut. Kabut tebal membuat jarak pandang makin dekat. Made Jania alias Polos, Ketut Lanus dan Pusut, nelayan dari Yeh Malet tak berani melaut. Takut tersesat atau tak bisa pulang. Kata Polos, minggu lalu ada nelayan Amed Abang nekat melaut ketika cuaca berkabut. Akibatnya, dia tidak bisa melihat tetenger --- Gunung Agung. Nelayan nahas itu akhirnya terdampar di pantai Lombok Timur. Selain tersesat, tali penarik perahu putus berkalikali. Padahal, nelayan Amed yang nahas itu sudah dibantu nelayan asal Seraya untuk menarik perahu mesin degdeg (mesin kecil). Namun karena tali penarik putus, nelayan nahas itu akhirnya hanya memungut mesin dan
ikannya. Sementara perahunya hilang lenyap di telan ombak. Kerugian nelayan tak kecil. Satu perahu mencapai Rp 15 juta. Setelah dijemput petugas dan keluarganya di pantai Lombok Timur, nelayan nahas itu akhirnya pulang dengan selamat. Selama ini cukup banyak nelayan hilang di laut tanpa pernah diketahui nasibnya. Itulah nelayan kecil yang bertaruh nyawa mencari penghidupan di lautan. Jumlah nelayan di Karangasem dalam ratusan kelompok diperkirakan mencapai 50 ribu orang. Selain ikan jarang didapat, nelayan juga kesulitan mendapatkan BBM. Jaring nelayan di lautan Yeh Malet kerap ludes diseruduk kapal besar oleh boat wisatawan. Polos mengatakan, nelayan di Yeh mallet sulit membeli BBM. BBM di SPBU yang sebenarnya untuk nelayan, kerap tidak mau dijual petugas SPBU. Alasannya habis. Padahal setelah diselidiki nelayan, BBM untuk nelayan dijual ke pemilik boat. Polos menduga karyawan tukang cor BBM di SPBU lebih
memilih mengecor untuk kepentingan pengusaha boat, karena per jirigen isi 30 liter, tukang cor mendapat cuk Rp 5 ribu. ‘’Kalau nelayan kecil hendak membeli BBM dikatakan sudah habis. Namun pukul 22.00 atau pukul 23.00 baru beroperasi atau ngecor,’’ ujar nelayan itu, saat ditemui memperbaiki jaring di bangunan milik kelompok nelayan, Kamis (2/1). Saat cuaca buruk nelayan tak melaut. Apalagi ikan sulit didapat. Sementara itu, jaring nelayan di Manggis hancur garagara diseruduk kapal. Persoalan ini sudah terjadi sejak dulu, tetapi tetap saja tak ada jalan keluar. Padahal kehilangan jaring per buah nilainya Rp 3 juta. Kalau jaring nelayan tak disapu kapal besar, sering diseruduk boat yang membawa wisman dari Benoa hendak berwisata Tirta ke Gili Terawangan dekat Candidasa. ‘’Nakhoda boat itu ngebut, kami tak bisa mengejar. Jadinya, tak ada jalan keluar, misalnya tak diberi ganti rugi oleh pelaku,’’ ujar Lanus. Budana
Bali Post/bud
Paceklik ikan dan cuaca buruk, nelayan Yeh Malet memperbaiki jaring. 13 - 19 Januari 2014
15
OPINI
Bali Tanpa Pertanian?
P
ertanian Bali, mau dibawa ke mana, jika lahannya terus digerus dengan caplokan alih fungsi ke arah nonpertanian yang tidak terkendali, jika petaninya semakin menua tanpa regenerasi (karena generasi mudanya ‘’malu’’ jadi petani), sumber air irigasinya semakin dikuras pihak lain dengan kepentingan yang tidak memihak pertanian, jika regulasi (Perda 16 Tahun 2009 RTRW Bali, UU 41 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, UU No. 16 Tahun 2013 Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, dengan berbagai aturan yang menyertainya) dikesampingkan begitu saja oleh para pemangku kebijakan, stakeholder yang berkewajiban menjalankannya? Alih fungsi lahan dan ketersediaan air irigasi tantangan utama pertanian Bali. Produktivitas pertanian sangat mungkin bisa kita pertahankan dan bahkan kita tingkatkan. Melalui penerapan berbagai teknologi di bidang budi daya pertanian, alih teknologi relatif dapat diatasi, asalkan ada kemauan dan kerja keras semua pihak yang terkait, terutama dimotori oleh kebijakan pemerintah yang memihak secara sungguh-sungguh kepada petani. Kalau kita ingin sungguh-sungguh, sekali lagi sungguh-sungguh mau membangun sektor pertanian di Bali, tentu kita harus mengambil tindakan yang jelas guna menemukan jalan keluar (solusi) untuk mengatasi problem ini. Caranya sepertinya ini cukup solutif, pertanian Bali harus produktif, artistik dan berbudaya adiluhung. Produktif artinya mampu memproduksi produk yang memadai dari segi kuantitas maupun kualitas. Kuantitas sesuai dengan kebutuhan lokal, nasional dan internasional, dengan pertimbangan tepat waktu, musim, permintaan pasar. Stop alih fungsi lahan pertanian. Terapkan regulasi yang mendukung mempertahankan luasan geografis lahan pertanian, bahkan jika memungkinkan diperluas lagi. Maka regulasi yang ada seperti penerapan yang konsisten terhadap UU 41
16
13 - 19 Januari 2014
Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan beserta turunannya, yang antara lain mewajibkan setiap daerah otonom (kabupaten/kota) menyediakan lahan pertanian “abadi”, wajib dan harus diterapkan di Bali. Memperbaiki pengelolaan sumber air irigasi dan infrastrukturnya, melalui koordinasi dengan berbagai pihak terkait, dengan melindungi dan meningkatkan luasan hutan, penerapan regulasi yang ada, dan penganggaran yang memadai untuk menopang pembangunan infrastruktur irigasi tersebut, baik di tingkat pemerintah pusat, maupun daerah. Petani perlu SDM handal, jangan pertanian dimonopoli oleh orang miskin, tua dan “bodoh” (sehingga dapat selalu dibodoh-bodohi terutama menjelang pemilu) seperti sekarang. Petani eksisting saat ini, kita tingkatkan kemampuan pengetahuan dan teknologinya, dibantu permodalan dengan cerdas dan logis sesuai karakter dunia usaha pertanian (seperti Bank Pertanian, asuransi pertanian dan sebagainya). Dan mengajak generasi
muda mau menggeluti sektor ini di negeri sendiri (sebab kalau di luar negeri seperti di Jepang misalnya, banyak pemuda kita yang dengan sangat tekun dan bangga saat pulang kampung dengan menjadi buruh tani di sana, karena penghasilannya yang memadai). Pendidikan formal dan informal sangat perlu di bidang ini diperbanyak, untuk mendapatkan alih teknologi dan pengetahuan secara terstruktur dan terus berkembang sesuai tuntutan zaman. Keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian, yang wajib diwujudkan dengan penganggaran yang lebih tinggi, dan berlaku adil terhadap semua pelaku tani ini. Pertanian Bali yang artistik dan berbudaya adiluhung, ini untuk mempertahankan filosofi handal Bali (yang sebenarnya universal) Tri Hita Karana, dan untuk menopang sektor jasa pariwisata (karena sebenarnya walaupun sektor pariwisata menghasilkan devisa yang tinggi, namun eksistensinya untuk Bali sangat tertopang oleh adat budaya tani Bali). Pertanian melibatkan makhluk hidup (tumbuhan maupun hewan) yang bila dilakukan dengan penataan dengan sentuhan kreasi seni budaya, alami maupun buatan akan melahirkan suatu ruang yang memiliki keindahan yang mempesona. Kearifan lokal khususnya Bali sudah memiliki cita rasa ini dengan sangat mumpuni, dan adiluhung. Jangan kesampingkan hal ini. Nilai ini pada jangka pendek dan panjang mampu mendatangkan keuntungan lahiriah (ekonomis dan kesehatan) maupun bathiniah (cita rasa dan ngulangunin yang merupakan bagian yang tidak dapat dipungkiri sangat diperlukan oleh manusia ini). Yang terakhir, hargai pelaku taninya. Petani juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan mereka dengan budak belian. Perlakukan dan hargai, hormati mereka dengan layak. Penulis, Staf Pengajar pada Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa Denpasar
J A J A K P E N DA PAT
Tergantung Mentalitas Aparatur Desa
P
emberdayaan dan optimalisasi pemerintah desa kini didukung Undang-undang (UU). Pengesahan UU Desa pada penghujung tahun 2013 diharapkan bisa menjadi momentum menuju pembangunan ekonomi kerakyatan. Aliran dana pemerintah yang bisa langsung dikelola aparatur desa diharapkan bisa menjadi energi tambahan dalam memberdayakan potensi pedesaan. Sebagai lembaga pemerintah terbawah, desa diharapkan bisa melakukan pemetaan secara cermat, sehingga strategi dan pengalokasian dana pemerintah bisa optimal. Namun, keraguan atas kecakapan dan mentalitas aparatur desa dalam mengelola anggaran pemerintah justru mematik kekhawatiran. Banyak pihak waswas kalau aliran dana ke pemerintahan desa akan menyuburkan korupsi atau setidaknya membuka ruang korupasi. Demikian terungkap ketika Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat terkait dengan UU Desa. Berdasarkan tabulasi atas jawaban responden, pengesahan UU Desa ini memang bisa memberikan angin segar dalam pembangunan desa. Namun, terkait dengan potensi terjadinya peningkatan korupsi pasca-UU Desa disahkan, 35 persen responden mengkhawatirkan hal ini akan terjadi. Masalahnya, kini proses pemilihan kepala desa tak murni lagi bebas kepentingan politik. Kini, pendekatan ekonomi dalam pemilihan kades sangat kental. Kondisi ini akan membuat pihak-pihak yang berkepentingan akan menggunakan dana-dana pemerintahan desa untuk kepentingan pribadi. Korupsi bisa terjadi untuk pembiayaan politisasi pemilihan kades. Potensi korupsi juga terbuka ketika mentalitas aparatur desa belum teruji. Terlebih pengawasan dana desa ini juga belum tersistem. Badan Perwakilan Desa yang selama ini menjadi mitra kepala desa juga belum banyak tahu teknis pengelolaan dana ini. Hal ini jelas sangat riskan menimbulkan
penyalahgunaan anggaran desa. Selebihnya, 44 persen responden tidak berpikir ke arah itu, responden mengatakan kucuran dana ke pemerintahan desa tak otomatis membuat korupsi menjamur, sepanjang pengawasan ketat. Mestinya setelah UU ini disahkan sosialisasi segera dilakukan dan penjabaran UU ini dibuat. Edukasi terhadap aparatur desa untuk mengawasi tata buku dan mempertanggungjawabkan keuangan negara harus segera dilakukan. Responden berpendapat kasus korupsi banyak terjadi justru karena sistem pengawasan lemah. Selebihnya, 21 persen responden mengaku tak bisa mengomentari masalah ini. Mereka mengaku belum tahu isi dan pasal-pasal dalam UU Desa yang disahkan DPR-RI. Sedangkan terkait dengan efektivitas UU Desa dalam membangun wilayah pedesaan, 71 persen meyakini bahwa UU Desa ini akan memberi ruang kepada aparatur desa mengatasi permasalahan kependudukan dan kemiskinan karena memiliki kedekatan hubungan emosional dengan masyarakatnya. Namun, 19 persen responden lainnya mengaku tidak yakin UU Desa ini akan efektif mengatasi kemiskinan dan masalah kependudukan pedesaan. Bahkan, pembangunan ekonomi pedesaan akan sulit diwujudkan mengingat terkendala banyak hal. Buktinya, pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) juga tak jelas hasilnya. ADD malah digunakan untuk kepentingan proyek ďŹ sik yang tidak berkorelasi langsung dengan pemberdayaan ekonomi. Pemerintahan desa lebih banyak membangun tampa ba-
tas dan menata kantor dinasnya. Jika pola ini tak dibenahi, kucuran dana pasca-UU Desa disahkan tak akan efektif. Selebihnya, 10 persen responden tak memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Menyikapi hal ini, responden berharap sebelum kucuran dana pemerintah dilakukan pemerintah pusat. Provinsi dan kabupaten wajib melakukan pelatihan dan edukasi terhadap aparatur desa. Penjabaran atas UU Desa juga harus jelas, setidaknya terkait dengan penggunaan anggaran yang ada. Jangan sampai dana pemerintah yang dikucurkan ke desa dijadikan lahan untuk meningkatkan pendapat aparatur desa. Dira Arsana
13 - 19 Januari 2014
17
PENDIDIKAN
Bus Ajaib untuk Seniman
S
ebagai lembaga pendidikan seni, SMKN 3 Sukawati ikut memberi andil besar melahirkan seniman cilik. Untuk melestarikan seni budaya itu, pemerintah pusat memberikan bantuan sebuah bus khusus. Dikatakan khusus karena bus ini hanya diperuntukkan bagi SMKN 3 Sukawati yang dulu bernama Kokar dan SMKI. Kedua, bus ini khusus dipakai oleh siswa untuk ngayah dan pentas seni. Sekaligus dipakai sebagai media edukasi, tepatnya lab praktik bagi siswa seni pertunjukkan dan pariwisata. Maka jadilah bus ini menggunakan sistem knock down. Dua sisi bus yang terkesan berlantai dua ini masing-masing bisa difungsikan. Di level atas dipakai
untuk tempat duduk, di bagian bawah dipakai langsung untuk ‘’kalangan’’ atau stage pentas. Makanya banyak kalangan menyebut bus ajaib karena serbaguna. Jika mau pentas, siswa sejak awal sudah berhias dengan pakaian tradisionalnya, sekaa gambelan pun demikian tak perlu lagi menghabiskan waktu lama. Mobil tinggal diarahkan ke lokasi pentas. Pintu bus dibuka, sekaa gambelan dan penari sudah siap beraksi. Bahkan lighting pun sudah siap dipakai. Sehabis pentas, tinggal menutup pintu bus. Tak perlu tenda, tak perlu panggung dan tak perlu sound system, semuanya ada di bus ini, tegas Kepala SMKN 3 Sukawati Drs. I Ketut Suandi Gunastra, M.Pd.H.
Diakuinya, bus bantuan Direktorat Bidang Pembinaan SMK Kemendikbud ini dipakai aktivitas ngayah seni pertunjukkan siswa SMKN 3 Sukawati. Sekalipun dia akui selama ini sekolah yang memiliki 700 siswa ini tak memiliki anggaran untuk kegiatan sosial. Di sisi lain SMKN 3 Sukawati juga mendapat 204 beasiswa, yang berupa bebas SPP selama setahun bagi siswa berprestasi atau siswa dari KK kurang mampu atau tergolong anak yatim piatu. Beasiswa ini khusus diperuntukkan untuk Prodi Seni Pertunjukkan yakni seni tari, karawitan, musik dan pedalangan. Sueca
Bus ajaib milik SMKN 3 Sukawati untuk pentas seni.
18
13 - 19 Januari 2014
Tingkatkan Produksi Pertanian
Manfaatkan Penelitian PT LEMBAGA pendidikan tinggi di Bali secara kontinu melaksanakan aktivitas penelitian dan pengembangan teknologi karena hal itu merupakan tuntutan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Berbagai jenis penelitian juga dilaksanakan di bidang pertanian. Bahkan, sebagian besar dari produk penelitian itu bersifat aplikatif sehingga bisa dimanfaatkan oleh para petani untuk meningkatkan produksi pertaniannya. Namun, sangat sedikit dari hasil penelitian itu tersosialisasikan dengan baik kepada para petani di Bali sehingga belum bisa dimanfaatkan untuk membantu petani dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya. “Pemerintah daerah di Bali semestinya bisa menjalin sinergi dengan perguruan tinggi guna mengadopsi hasil penelitian tersebut dalam rangka memajukan sektor pertanian Bali,” kata peneliti dan pengamat pertanian Universitas Udayana Dr. GN Alit Susanta Wirya, S.P., M.Agr., Kamis (2/1) . Doktor pertanian lulusan Jepang ini menilai sinergitas antara peneliti dengan pemerintah daerah untuk mengaplikasikan hasil-hasil penelitian itu secara langsung kepada petani masih rendah. Akibatnya, banyak sekali hasil penelitian yang bersifat aplikatif dan dinyakini mampu membantu petani dalam meningkatkan produktivitas produk pertaniannya hanya jadi pajangan di perpustakaan. “Jalinan sinergitas antara pemda dan perguruan tinggi ini harus ditingkatkan. Sebagai peneliti, kami sebenarnya juga sangat berkepentingan agar hasil penelitian yang telah dilakukan dengan susah payah itu bisa diadopsi oleh
para petani,” katanya. Hal senada juga dilontarkan I Putu Sudiarta S.P., M.Si., Ph.D. Dikatakan, pemanfaatan hasil penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi bisa dijadikan salah satu terobosan untuk mendongkrak sektor pertanian yang saat ini dalam kondisi terpuruk. Ditegaskan, banyak faktor yang menyebabkan pertanian Bali makin terpuruk. Di samping daya saing produk pertanian Bali relatif masih rendah, kebijakan pemerintah yang cenderung tidak berpihak kepada bidang pertanian juga turut andil memperburuk uruk kondisi pertanian Bali. Karena na daya saing yang rendah, mayoritas oritas masyarakat Bali pun tidak tertarik lagi menekuni sektor pertanian tanian lantaran dinilai tidak menjanjikan untuk peningkatan tan kesejahteraan hidup. “Proteksi dari pemerintah ah terhadap produk-produk roduk pertanian lokall juga sangat rendah. Produk-produk roduk-produk pertanian impor begitu bebas masuk suk Bali dan tampil sebagai agai kompetitor yang sangat ngat berat bagi produk-produk oduk pertanian lokal. Kebijakan bijakan untuk memproteksi ksi produk pertanian lokal al itu yang belum terlihat dan n tetap berkutat di tataran wacana na semata tanpa terlihat ada aksi nyata yata untuk mewujudkan hal tersebut,” ut,” tegasnya.
I Putu Sudiarta
Sumatika ka
GN Alit Susanta Wirya 13 - 19 Januari 2014
19
MANCANEGARA
Kejahatan Seksual Kembali Terjadi di India
L
agi-lagi, kasus pemerkosaan terjadi di India. Seorang remaja perempuan diperkosa bergiliran dalam dua insiden terpisah. Nahasnya, remaja berusia 16 tahun ini akhirnya tewas dibakar hidup-hidup. Tindak pemerkosaan terjadi dua kali pada hari yang berbeda. Remaja ini mengaku diperkosa secara bergiliran oleh sekelompok pemuda pada 26 Oktober 2013 lalu. Usai melapor ke polisi, korban kemudian pulang ke rumahnya yang ada di Kota Madhyagram, sekitar 25 km dari Kalkuta. Namun nahas, korban kembali diperkosa oleh sekelompok pemuda di dekat rumahnya. Korban mengaku ada lebih dari enam pemuda yang memperkosanya. Tidak dijelaskan lebih lanjut apakah dia melaporkan pemerkosaan kedua kepada polisi.
20
13 - 19 Januari 2014
Namun beberapa waktu lalu, korban dibakar hidup-hidup oleh dua orang yang dekat dengan pelaku pemerkosaan. Setelah menjalani perawatan medis selama beberapa hari, korban akhirnya meninggal dunia di rumah sakit pada malam tahun baru. “Korban memberikan keterangan dalam kondisi sekarat di depan pejabat kesehatan bahwa dia dibakar oleh dua orang yang mengaku dekat dengan pelaku pemerkosaan, ketika korban sedang sendirian di rumah,� kata polisi setempat, Nimbala Santosh Uttamrao. Kepolisian setempat telah berhasil menangkap sejumlah pelaku dua bulan setelah kejadian pertama. Pemburuan terhadap pelaku lainnya masih terus dilakukan. “Para pelaku berusaha membunuh anak perempuan saya dengan membakarnya hidup-hidup untuk menutupi kejahatan mereka,� ucap ayah korban
yang berprofesi sebagai sopir taksi. Kasus pemerkosaan terbaru ini telah memicu aksi protes warga di Kalkuta. Dilaporkan ada ratusan aktivis setempat yang ikut serta dalam aksi protes ini. Aksi kekerasan, pelecehan dan pemerkosaan brutal yang kerap menimpa kaum wanita di India terus menjadi sorotan. Terutama pascatewasnya seorang mahasiswi setempat setelah diperkosa secara bergiliran di dalam sebuah bus yang melaju di Kota New Delhi, tahun 2013 lalu. Insiden tersebut menghebohkan publik, tidak hanya di India namun juga dunia. Insiden tersebut bahkan mendorong parlemen India untuk menerapkan aturan yang lebih ketat bagi para pelaku pemerkosaan dan pelaku kejahatan seks lainnya di India. Gugiek Savindra
Penyelamatan Dramatis di Antartika PULUHAN penumpang kapal pesiar MV Akademik Shokalskiy yang tengah melakukan pelayaran Spirit of Mawson yang merupakan napak tilas perjalanan ilmuan Douglas Mawson terpaksa harus kedinginan terjebak di bongkahan es. Kapal pesiar yang mereka tumpangi terjebak di perairan beku Antartika di Kutub Selatan. Kapal buatan Rusia itu terjebak sekitar 1.500 mil laut di Hobart Selatan, dekat pangkalan militer Perancis di pinggir Antartika. Kapal itu mengangkut 74 orang penumpang yang terdiri dari ilmuwan, turis, petualang, dan wartawan Guardian. Kapal pemecah es pun dipanggil untuk melakukan pertolongan. Andrea HaywardMaher dari Badan Keamanan Transportasi Laut Australia mengatakan kapal itu terjebak di daerah yang cukup terpencil. “Untuk saat ini kondisi mereka aman tetapi kami terus memantau secara dekat kondisi kapal dan penumpangnya. Kita juga mempersiapkan langkah tanggap darurat untuk mengantisipasi memburuknya kondisi kapal pesiar itu,” katanya. “Kapal pesiar itu juga tidak mengalami kerusakan untuk saat ini dan muda-mudahan saja kita bisa segera memecah bongkahan es di sana agar penumpang bisa dipindahkan jika memang langkah itu diperlukan,” katanya. Namun tampaknya masalah yang dihadapi tidaklah semudah itu. Kapal pemecah es yang diharapkan mampu membebaskan MV Akademik Shokalskiy justru ikut-ikutan terjebak di es. Akhirnya helikopter digunakan untuk menyelamatkan para korban. Total 52 orang penumpang kapal berhasil diterbangkan ke kapal pemecah es Aurora Australis dalam operasi penyelamatan yang berlangsung lebih dari empat jam. Sejumlah kru memberitakan kabar penyelamatan mereka lewat akun media sosial mereka. “Kami berhasil sampai di kapal Aurora Australis dengan selamat. Terima kasih banyak yang tidak terkira untuk warga Cina dan AusAntarctic atas kerja kerasnya,” demikian tulis pimpinan misi riset antartika, Profesor Chris Turney dalam akun twitter-nya. Juru bicara ekspedisi Alvin Stone, mengatakan anggotanya sangat lega. Sementara jurnalis BBC Andrew Luck-Baker, yang juga berada di kapal Akademik Shokalskiy mengatakan keberhasilan upaya penyelamatan ini benarbenar mengejutkan. Gugiek Savindra
DAERAH
SE Mendagri Bingungkan Desa
S
ekitar November hingga Desember 2013, sejumlah desa di Kecamatan Banjar, Kecamatan Seririt dan Kecamatan Busungbiu di Kabupaten Buleleng sudah bersiap menggelar pemilihan perbekel (pilkel) atau pemilihan kepala desa. Namun tiba-tiba terbit Surat Edaran (SE) Mendagri No. 140/7635/PMD yang intinya melarang adanya kegiatan pilkel pada tahun 2014. Alasannya untuk mengamankan pelaksanaan Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres). Turunnya SE Mendagri itu membuat suasana di desa itu bergejolak. Pasalnya, sejumlah desa mengadakan persiapan hingga 80 persen. Calon perbekel sudah ditetapkan, bahkan ada desa yang sudah mencetak surat suara. Aparat di desa yang siap melaksanakan pilkel itu pun sempat melakukan aksi ke Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Buleleng dan bertemu Bupati untuk mempertanyakan masalah tersebut. Pemkab tampaknya mendukung SE Mendagri tersebut sehingga pilkel memang harus ditunda. Oleh pihak desa, SE Mendagri tersebut dianggap membingungkan. Dalam SE disebutkan bahwa pilkel dilarang dilaksanakan tahun 2014. Bupati dan wali kota diminta untuk memberhentikan perbekel yang masa jabatannya bera-
khir tahun 2014 dan menunjuk pelaksana tugas perbekel. Yang membuat bingung, dalam SE itu tidak disebutkan adanya larangan untuk melakukan pelantikan perbekel tahun 2014. Namun pemkab tampaknya tak mau melantik perbekel pada tahun 2014, meskipun pilkel itu sendiri dilaksanakan pada tahun 2013. Kepala BPMPD Gede Sandhiyasa mengatakan, di Kabupaten Buleleng terdapat 24 perbekel yang masa jabatannya berakhir Januari 2014. Dari jumlah itu, sebanyak 9 perbekel berada di Kecamatan Banjar. Semua desa yang masa jabatan perbekelnya berakhir Januari 2014 sudah melakukan proses tahapan pilkel. Bahkan banyak desa yang sudah menetapkan calon dan siap melaksanakan pemilihan bulan Desember ini. “Namun karena selama tahun 2014 tak boleh ada pilkel dan pelantikan perbekel, maka pilkel tak bisa dilaksanakan. Meski misalnya pilkel dilaksanakan bulan Desember, namun pelantikan tetap tak bisa dilakukan bulan Januari,” katanya. Terkait masalah ini, sejumlah fraksi di DPRD Buleleng juga memiliki tafsir sendiri terkait SE Mendagri tersebut yang ujungnya membuat masyarakat semakin bingung. Ketua Fraksi Golkar Susila Umbara menilai pilkel yang dilaksanakan bulan Desember ini sebenarnya tidak
Sejumlah tokoh warga di sejumlah desa di Kecamatan Banjar mendatangi Kantor BPMPD Buleleng untuk mempertanyakan pilkel yang ditunda padahal warga sudah menyiapkan surat suara.
22
13 - 19 Januari 2014
masalah jika tetap dilaksanakan. Sesuai Perda Buleleng, tahapan pilkel dilakukan empat bulan sebelum masa jabatan perbekel habis. Menurutnya, desa yang hendak melaksanakan pilkel itu masa jabatan perbekelnya habis bulan Januari 2014. Sehingga pilkel tetap bisa dilaksanakan Desember 2013 karena hal itu sudah sesuai dengan perda. Dalam SE Mendagri, kata Susila Umbara, hanya disebutkan bahwa pilkel tak boleh dilaksanakan tahun 2014. Dalam SE itu tak disebutkan adanya larangan untuk melakukan pelantikan perbekel tahun 2014. “Jadi, desa itu bisa melaksanakan pilkel akhir tahun ini, sementara pelantikan dilaksanakan Januari sesuai waktu berakhirnya masa jabatan perbekel. Artinya tak ada masalah. Itu sudah sesuai dengan perda,” katanya. Namun, Ketua Fraksi PDI-P Mangku Mertayasa berpendapat berbeda. Menurutnya SE Mendagri tersebut sudah tegas menyatakan tidak ada pelaksanaan pilkel di tahun 2014. Dan pada poin kedua dari SE tersebut juga ditegaskan bahwa Bupati diminta memberhentikan perbekel yang masa jabatannya berakhir tahun 2014 dan menunjuk seorang pejabat perbekel. “Ini artinya apa, jika seorang perbekel masa jabatannya berakhir tahun 2014, meski itu bulan Januari, perbekel itu harus diberhentikan dan Bupati diminta menunjuk pejabat sementara. Itu artinya tak boleh ada pelantikan,” katanya. Sampai berakhirnya tahun 2013, masalah pelarangan pilkel itu ternyata belum selesai juga. Memang ada sejumlah desa yang tunduk pada SE Mendagri dan langsung membubarkan panitia pilkel sekaligus membubarkan calon perbekel yang sudah ditetapkan. Namun tetap saja ada desa yang tetap melakukan pilkel pada tahun 2013. Perbekel yang dihasilkan oleh pilkel tersebut kini terancam tak bisa dilantik pada tahun 2014 karena terganjal SE Mendagri. “Memang ada desa yang ngotot melakukan pilkel. Kini kita carikan solusi terkait perbekel yang sudah dihasilkan dari pilkel tersebut,” kata Kepala BPMPD Sandhiyasa. Adnyana Ole
Warga Desa Unggahan Kecamatan Seririt mendatangi Kantor Camat Seririt karena pilkel yang sudah siap dilaksanakan di desa itu tiba-tiba ditunda
Dampak SE Mendagri
20 Pilkel di Tabanan Tertunda EDARAN Menteri Dalam Negeri (Mendagri) No. 140/7635/PMD, berpolemik. Surat ini melarang pemilihan perbekel (pilkel) hingga Pemilu 2014 mendatang. Pelarangan ini juga melanda Tabanan. Sedikitnya, 20 desa terpaksa menunda pilkel di tahun 2014. Meski ditunda, kondisinya masih tenang. Belum ada reaksi apapun. Justru, beberapa perbekel jabatannya ditambah dengan status pejabat sementara (pjs). Penetapan Pjs. bagi mantan perbekel ini tak melanggar aturan. Syaratnya, disepakati oleh Badan Perwakilan Desa (BPD). “Aturannya, mantan perbekel boleh ditunjuk menjadi Pjs. Dengan status tokoh masyarakat,” kata Ketua Forum Perbekel Tabanan Wayan Alit Sutama, Rabu (25/12). Perbekel Bajera ini menambahkan, Surat Edaran (SE) Mendagri sempat menjadi perbincangan serius para perbekel.
Namun, berdasarkan aturan, menjelang pemilu dilarang menggelar pilkel. Sebaliknya, perbekel yang habis masa jabatannya diganti dengan Pjs. Para Pjs. ini bisa berasal dari beberapa komponen. Di antaranya, PNS di kecamatan atau tokoh masyarakat. Khusus, tokoh masyarakat, kata Alit Sutama, diserahkan ke masingmasing BPD. “Kalau di Desa Bajera, kebetulan saya yang ditunjuk sebagai tokoh. Jadi, ditetapkan sebagai Pjs. hingga pilkel setelah pemilu,” katanya. Berdasarkan usulan anggotanya, kata Sutama, banyak perbekel yang berharap bisa diberikan kesempatan menjadi Pjs. Alasan utamanya, untuk keamanan selama pemilu. Apalagi, para perbekel sudah memahami kondisi desa masingmasing. “Harapannya memang seperti itu. Tapi, semuanya tergantung BPD atau kebijakan Bupati,” tegasnya. Jika Pjs. dari kecamatan, pihaknya khawatir, pelayanan di kecamatan akan terganggu. Sebab, jum-
lah PNS di kecamatan cenderung kurang. Sehingga, diusulkan menggunakan tokoh masyarakat sebagai Pjs. Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Tabanan Made Sudarya, membenarkan banyaknya pilkel yang tertunda akibat aturan Mendagri. Pejabat ini menjelaskan, begitu edaran turun, pihaknya mensosialisasikan ke seluruh desa, terutama yang akan menggelar pilkel. “Kita sudah berikan pemahaman, tak ada pilkel hingga Pemilu 2014,” katanya. Terkait usulan Pjs. dari mantan perbekel, katanya, kebijakan itu diserahkan ke desa masing-masing. Syaratnya, tak melanggar aturan yang ada. Ditambahkan, dari total 133 desa di Tabanan, 97 perbekel baru sudah dilantik. Mereka hasil pilkel sepanjang tahun 2013. “Kalau 2014 hanya tersisa 20 perbekel,” pungkasnya. Budi Wiriyanto 13 - 19 Januari 2014
23
K E S E H ATA N
Mengikuti Ideal ’’Ciranjiwi’’ Rishi Markandeya
Raih Kesehatan Fisik, Mental dan Spiritual
K
eberadaan kesehatan sesungguhnya bagian integral dan krusial bagi setiap makhluk hidup. Kesehatan perlu diperjuangkan dan diupayakan secara optimal, sehingga seseorang dapat memeroleh derajat kesehatan penuh vitalitas. Dengan memiliki kesegaran jasmani yang memadai seseorang akan bisa hidup lebih baik dan berharga bagi semua. Sayangnya, banyak tidak perduli dan mengelola dengan baik kehidupannya. Apalagi, berusaha mengantisipasi lebih dini sehingga sering terjadi setelah sakit baru bingung mencari obat. Sakit memang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan. Jika mau sedikit bersusah payah mencapai derajat ‘’kesehatan’’ yang memadai tidak sulit didapat. Misalnya, dengan cara melakukan olahraga rutin, memperhatikan istirahat, makan yang sehat. Sayangnya, dewasa ini mayoritas manusia menjalani hidupnya dengan tidak memperhatian pola makan, pola hidup dan pola istirahat yang baik dan proporsional. Selain itu, pikiran yang menjadi pengendali indria tidak di-manage dengan baik. Jika pikiran dikondisikan pada alur visi yang positif, yakni senantiasa dikondisikan damai, tenang dan penuh kasih sayang dalam mengapresiasi segala persoalan dan juga memberi persepsi positif di kala berinteraksi dengan orang lain, maka tubuh akan sulit ditembus penyakit. Sesungguhnya, pikiran memegang kunci penting mendapatkan kehidupan lebih fresh dan sehat. Malah pada orang yang kuat pikiran-
24
13 - 19 Januari 2014
nya, setelah dilatih dengan astanggayoga -- delapan disiplin yang dikembangkan Rishi Patanjali yakni: yama, niyama, asana, pranayama, pratihara, darana, dyana dan samadi. Disiplin yang merupakan laku para yogi, rishi, sidha, pertapa, muni itu merupakan jawaban aneka masalah hidup termasuk kesehatan. Dengan pikiran kuat terfokus, apa yang dikehendaki para pertapa itu akan terjadi. Jangankan hanya kesehatan fisik, mental dan spiritualitas, level keabadian menjadi sesuatu yang bukan luar biasa bagi para sadhu itu. Untuk manusia awam yang tidak melakukan laku shadana – disiplin spiritualitas yang ketat dan ekstra seperti apa yang dilakoni para pertapa agung itu, kiranya cukup mendapat anugerah kesehatan fisik sangatlah mudah. Contoh ekstremnya, dipraktikkan Rishi ‘’abadi’’ Markandeya. Rishi yang menanam pancadatu – persembahan lima logam, emas, perak, perunggu, kuningan dan besi itu di Pura Basukihan Besakih pada abad ke-8 itu, sesungguhnya merupakan rishi yang abadi terus ada badan wadagnya tidak pernah terurai. Anak semata wayang Rishi Merkandu ini berasal dari tanah Bharatawarsa alias India. Markandeya sebetulnya, bukan saja hidup di Indonesia dengan pasramannya yang terkenal di Gunung Raung, Banyuwangi, Jawa Timur dan Pura Gunung Raung, Taro, Tegallalang, Gianyar, Tetapi rishi yang mencapai kehidupan chiranjiwi – selalu terlihat muda umur 16 tahun ini , sudah melanglang buana pada zaman Ramayana 25 ribu tahun sebelum masehi dan beberapa kali menjadi penasihati Raja Yudhisthira ketika menjalani masa hukuman 14 tahun di hutan Kamyaka, zaman Mahabharata 5 ribu tahun sebelum masehi. Kenapa manusia yang fisiknya disangga
panca maha bhuta – unsur pertiwi (tanah) apah (air) teja (api) bayu (angin) dan akasa (ether) itu bisa hidup abadi seperti halnya manusia kosmis dan super lainnya yang hidup di gugusan Gunung Himalaya. Mereka kerap menjadi delegasi Tuhan dalam membantu segenap makhluk hidup. Ketika laku spiritualitas tingkat tinggi dilakukan dan mendapat anugerah Shiva, maka ‘’prestasi’’ luar biasa itu bukan ‘’omong kosong’’ bisa diwujudkan. Sudah pasti, tidak sembarang orang bisa memeroleh berkah ciranjiwi alias menjadi manusia abadi itu dari Shiva Mahadewa. Anugerah itu wajib diperoleh dengan usaha keras karena menuntut persyaratan rumit dan khusus. Bukan saja sekadar mengupayakan vegetarian, kuat dalam berjapa minimal 21.000 per hari, kirtan – melagukan kidung suci, abhiseka memandikan linggam, mauna sering tapa diam, praktik meditasi Shiva Siddhanta. Tetapi sang shadaka juga harus melakukan shadana ekstra keras lainnya seperti senantiasa mempersembahkan atmaarpanam – mengaturkan atman sebagai persembahan utama, juga vairagya -- tidak memiliki ikatan materialistis meski kenyataan dia hidup secara duniawi dan berinteraksi dengan lainnya -- dan juga mengupayakan tyaga – melakukan pengorbanan tanpa pamrih. Item-item shadana itu harus diupayakan dengan kesadaran penuh, kerendahan hati, kasih sayang dan penyerahan diri total-total surrender -- kepada Tuhan. Namun, kalau sekadar kesehatan fisik dan mental, usaha 10 persen saja yang dilakukan para yogi itu, diyakini bisa mendapatkan berkah kesehatan signifikan. Paling tidak bisa hidup penuh dinamika, vitalitas, dan fit sehari-hari. Giriana Saputra
Mantra Tryambakam Strategi Mencapai Keabadian
Om Tryambakam yajamahe Sugandhim pustivardhanam Urvarukamiva bandhanan Mrityomukshiya mamritat MANTRA Shiva yang ada pada Veda itu sangat dahsyat. Kurang lebih artinya ‘’Aku memuja Shiva bermata tiga yang berada di mana-mana. Berikanlan hamba kesehatan alami. Berikanlah hamba juga kebebasan seperti mentimun yang terlepas dari kulitnya, dan bimbinglah hamba ini oh Shiva Mahadewa dari siklus kehidupan samsara -- mati hidup berulang, ini mencapai pada tahap kekekalan alias keabadian. Biasanya, mantra ini diaplikasikan manakala memohon anugerah kesehatan. Seperti saat peringatan ulang tahun. Mantra itu menjadi manjur jika disertai persembahan yadnya utama api suci homa. Bisa Rudra homa, Gayatri homa, Narayana homa dan jenis homa lainnya. Mantra Trayambakam yang terdiri dari 40 suku kata itu juga dipergunakan untuk pemujaan pada siang hari. Sesuai ketentuan Upanisad di sana wejangkan, siklus hidup manusia yang dikelompoknya satu hari itu, terentang selama 116 tahun. Pada periode itu dilakukan pemujaan pagi, siang dan sore. Pemujaan pagi hari sampai umur 24 tahun menggunakan mantra Gayatri. Pemujaan dengan meditasi minimal satu jam atau namasmarana – mengulangulang nama Gayatri -- minimal 1.200
dalam sehari. Ketika, pada siklus itu seseorang mengalami sakit, maka dengan cara meditasi sampaikan permohonan kepada Shiva. ‘’Bagaimana hamba bisa melanjutkan pemujaan siang hari, Oh Shiva jika saat ini diberikan sakit,’’. Biasanya, setelah itu orang itu akan sehat kembali. Periode siang hari dari umur 24 hingga umur 68 tahun. Pada periode siang ini mantra yang dipergunakan adalah Trayambakam, yang terdiri dari 40 suku kata. Demikian juga prosedurnya, jika terjadi sakit maka disampaikan kepada Shiva. ‘’Bagaimana hamba bisa melakukan pemujaan sore jika diberikan sakit fisik ini’’. Maka dalam waktu singkat sakit yang diderita akan sirna. Sedangkan waktu pemujaan sore selama 48 tahun yakni dari umur 68 sampai umur 116 tahun. Pada periode terakhir pemujaan diarahkan kepada Surya alias aditya. Sesungguhnya, mantra trayambakan ini dipergunakan pada berbagai kegiatan. Sering dipraktikkan pada saat melakukan yoga asana. Para praktisi yoga asana, sangat memuliakan mantra Shiva ini. Bahkan sebelum memulai gerakan seperti suryanamaskar, shirsasana, halangasana, dan lainnya, mantra trayambakam ini dichanting-kan – diucapkan lebih dulu. Kehadiran mantra ini sangat dahsyat. Mantra yang diberikan Shiva ini awalnya dipergunakan untuk mengurip alias menghidupkan Dewa Yama. Ceritanya, Rishi Markandeya bertapa di depan linggayoni. Disiplin itu dilakukan karena Markandeya, awalnya hanya memiliki umur pendek. Ayahnya Rishi Merkandu memohon dari Tuhan, anak yang cerdas dan menguasai Weda sejak kecil. Walau kemudian umur anak itu pendek, hal itu tidak masalah buat Merkandu. Tetapi menjelang umurnya 16 tahun, Rishi Merkandu, tampak resah dan gelisah memikirkan akan ditinggalkan anak semata wayangnya yang ganteng dan cerdas. Dia kini mulai terikat kuat dengan anaknya. Mengetahui ayahnya cemas, Markandeya bertanya kepada ayahnya ada apa gerangan yang membuat ayahnya pucat. Akhirnya, Markandu buka rahasia. ‘’Sesuai perjanjian dengan Dewata, saat ini kamu harus meninggalkan badan fisikmu,’’ ujar Markandu. Sebetulnya, ayahnya sudah
punya solusi. ‘’Jika kamu mau, kamu bisa memohon anugerah dari Shiva. Hanya itu jalan satu-satunya. Caranya kamu bertapa di hutan di depan linggayoni,’’ Saran dari ayahnya dilakukan Markandeya dengan keteguhan dan rasa bakti yang tinggi. Setiap hari dia memuja, melakukan abhiseka – memandikan linggayoni -- dan meditasi di depan linggayoni. Meski sedang melakukan shadana strike Dewa Yama tetap mengutus anah buahnya untuk menjemput Markandeya. Karena tapanya yang kuat, aura spiritualnya tidak bisa ditembus utusan Yama. Akhirnya, Yama sendiri yang datang menjemput. Dengan menggunakan laso – tali panjang ada jeratannya, Yama melemparkan laso itu ke Markandeya saat dia sedang meditasi. Markandeya spontan berteriak Om Namah Shiva Ya. Ucapan Markandeya yang keras dan ada rasa ketakutan itu, membuat Shiva keluar dari linggayoni dan tanpa berpikir panjang melesatkan senjata tri sulanya kepada Yama. Terbunuhnya Yama membuat para Dewa yang lain memohon anugerah dari Shiva. Akhirnya, mantra Trayambakan itulah diberikan untuk menghidupkan kembali Dewa Yama. Dan sejak peristiwa itu, Markandeya sendiri mendapat berkah hidup abadi alias mencapai ciranjiwi – selalu tampak muda usia 16 tahun. Giriana Saputra 13 - 19 Januari 2014
25
LENSA
KEBANJIRAN Dua orang turis tampak melintas di Jalan Dewi Sri, Kuta, belum lama ini saat area tersebut dilanda banjir. Di musim hujan seperti saat ini, beberapa ruas jalan di Kuta memang langganan banjir.
MBP/Eka
OLAHRAGA
Menunggu Kiprah Solskjaer
S
ebagai bagian dari tim yang mencetak gol penentu kemenangan di final Liga Champions, Ole Gunnar Solskjaer paham benar apa yang pantas dipertaruhkan untuk meraih sukses di level tertinggi. Kualitasnya sebagai penyerang haus gol akan membantu Cardiff City bersinar kembali di paro kedua musim ini. Dikenal dengan julukan the Baby-faced Assassin, Solskjaer membantu mantan klubnya Manchester United mencapai puncak kejayaan pada 1999. Sumbangan
satu golnya di tiga menit jelang pertandingan berakhir, member kemenangan MU 2-1 atas Bayern Munich pada final Liga Champions di Barcelona. Tidak hanya itu, MU dimusim yang sama juga menggondol gelar juara ompetisi Liga Utama Inggris dan Piala FA. Gelar Treble Winners pun disandang the Red Devils yang kala itu diperkuat oleh sederet pemain kuncilnya yang tergabung di “The Class of ‘92 yakni David Beckham, Nicky Butt, Ryan Giggs, Gary Neville, Phil Neville dan Paul Scholes .
Cardiff City tidak mencapai level setinggi dan secemerlang MU di bawah arahan pelatih Sir Alex Ferguson. Namun dalam beberapa tahun terakhir klub tersebut mencatat prestasi impresif dengan meraih tiket promosi dan berlaga di strata satu kompetisi Liga Inggris. Klub yang berada di Wales itu, juga tampil di final Piala FA 2008 melawan Porstmouth serta final Piala Liga menghadapi Liverpool. Ini menjadi catatan terbaik Cardiff yang absen 51 tahun di kompetisi Liga Utama Inggris.
MBP/rtr
Mantan pemain Manchester United Ole Gunnar Solskjaer ditunjuk sebagai pelatih klub Cardiff City, mengganti Malky Mackay yang dipecat pekan lalu.
28
13 - 19 Januari 2014
Namun di musim pertama bersaing dengan klub-klub top tersebut, Cardiff justru dilanda konflik internal. Pemilik klub Vincent Tan, milyuner asal Malaysia, berselisih faham dengan manajer sebelumnya Malky Mackay. Hasilnya pelatih asal Skotlandia itu dipecat pekan lalu. Kini saat Cardiff terlempar hingga peringkat ke-17 klasemen dan hanya terpaut 1 poin saja dari zona degradasi, Tan pun berpaling kepada Solskjaer. Pelatih asal Norwegia itu diharapkan bisa mengembalikan prestasi klubnya dan menjaga pencapaian yang telah diraih selama ini. Solskjaer yang kelahiran Kristiansund, 26 Februari 1973 tiba di Cardiff setelah tiga musim menangani klub Norwegia Molde. Kepergiannya ke Inggris meninggalkan romantika atas Tippeligaen (kompetisi Divisi 1 Norwegia) yang menjadi awal kariernya. Sepanjang tiga musim mengawal Molde, Solskjaer menyumbang dua gelar juara Liga yang merupakan trofi pertama klub itu setelah menunggu 102 tahun. Etalase pretasinya dilengkapi dengan tropi juara Piala Norwegia yang diraih musim lalu. Namun penghargaan dikancah domestik itu, belum dinilai sepadan dengan pencapaian pribadinya secara internasional. Prestasi Molde tidak sebanding dengan rivalnya Rosenborg Trondheim yang telah melanglang buana di Benua Biru itu. Bahkan Rosenborg telah 11 kali lolos kualifikasi Liga Champions sejak 1995 hingga 2007. Sepanjang memimpin Molde, Solskjaer
sendiri menyadari klubnya kalah kelas. Di kompetisi Liga Eropa, Molde pun tak mampu lolos hingga fase gugur. Di musim terakhirnya, Molde menjalani kompetisi dengan buruk setelah hanya mengumpulkan 7 poin saja dalam 11 pertandingan. Upaya mempertahankan gelar juara liga untuk ketiga kalinya berturutturut pun dalam ancaman bahaya. Setahun lalu, Solskjaer dalam wawancara dengan kantor berita Reuters, menyatakan bahwa dia dan keluarganya nyaman tinggal di Kristiansund. Tetapi keinginan untuk kembali ke kompetisi Liga Inggris tak bisa ditolak bila ada penawaran. “Anakanak senang tinggal di Norwegia,” kata bapak dari Noah, Karna dan Elijah. “Tetapi selanjutnya, jika ada peluang, anda tidak akan pernah tahu jawabannya ,” katanya setelah menolak penawaran menjadi pelatih Aston Villa pada 2012. Penawaran itu pun tiba di penghujung akhir tahun 2013. Tugas utamanya adalah memimpin Cardiff menghadapi Newcastle di St James Park di putaran ketiga Piala FA. Itu ujian pertamanya sebagai pelatih. Saat sebagai pemain MU, Solskjaer meraih kemenangan 2-0 pada final Piala FA 1999 dan menjadi awal prestasi tertinggi MU Trebel Winners. Selama membela MU, Solskjaer tampil 366 kali, mencetak 126 gol, menyumbang gelar juara Liga Utama Inggris 1997, 2000, 2001, 2003 dan 2007 serta Piala FA lagi pada 2004. Bahkan 91 gol di antaranya dihasilkan di Old Trafford , kandang MU. Di timnas Norwegia, dia mencetak 23
gol dalam 67 pertandingan internasional termasuk tamil di Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Julukan Baby-faced Assassin tidak disukai meski ia memiliki kecermatan mencetak gol di detik-detik akhir menjelang pertandingan. Ia tidak memerlukan strategi rumit namun dengan penyelesaian sederhana di mana gol itu terkadang menjadi penentu kemenangan MU Bersama Teddy Sheringham, Solskjaer sering berada di bangku cadangan. Ferguson lebih menyukai duet Dwight Yorke dan Andy Cole sebagai mesin gol MU sehingga Sheringham dan Solskjaer dijuluki sebagai Super Sub. Dalam konferensi pers pertamanya di Cardiff, Solskjaer berjanji akan membawa tim barunya itu lebih baik dibandingkan rival utamanya dari Wales Swansea City. Tentu saja dukungan dari manajemen dan fans amat diperlukan, selain kerja sama tim dan pengalaman pribadinya untuk mengembalikan pamor klub yang bermarkas di Cardiff City Stadium itu. Meski the Bluebirds mampu menahan MU 2-2 pada pertemuan pertama di Liga Inggris musim ini, Solskjaer juga meminta maaf kepada pendukung Cardiff yang ia hancurkan bersama Ferguson dan Roy Keane di Old Trafford di masa lalu. ”Kami bisa saling memaafkan sepanjang bisa sejalan dalam pemahaman dan menikmati kompetisi Liga Utama Inggris ini,” katanya seperti dikutip situs www.premierelegue.com. Yudi Winanto
OLAHRAGA
Gusti Ngurah Rusta Wijaya
Pensiun Dini dari Basket
A
walnya diajak oleh temanteman sebayanya bermain bola basket saat duduk di bangku SMP pada 1996. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya kepincut untuk menggeluti olahraga yang sekarang banyak digemari oleh kaum hawa ini. Itulah sosok I Gusti Ngurah Rusta Wijaya. Rusta memulai kariernya pada Popwil di Semarang (Jateng) pada 2000. Saat itu klub yang dibelanya mampu meraih medali perak. Pada tahun yang sama, ia mengikuti Pra-PON yang berlangsung di Denpasar, alhasil berhasil meloloskan Bali ke PON 2000 di Jawa Timur yang akhirnya sukses merebut perunggu. Perolehan juara tiga tersebut menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya tim basket bisa menyabet medali di ajang PON. Klub pertama yang dibelanya di Pulau Dewata adalah Merpati Denpasar. Selanjutnya Rusta hijrah ke Jakarta pada 2002 untuk membela klub profesional Kalila hingga 2012. Tim yang dinaungi Aburizal Bakrie ini sudah berubah nama menjadi Pelita Jaya. Selama 10 tahun berkiprah di ibu kota, Rusta pernah terpilih menjadi pemain All Stars Liga Basket Indonesia, menjuarai kontes slam dunk dan memperkuat tim nasional Indonesia dalam kejuaraan Asia di Cina. Ia belum mampu memberikan medali bagi Indonesia di negara Tirai Bambu karena hanya menang sekali saat meladeni Sri Lanka. ‘’Kami kalah postur tubuh dengan peserta lainnya,’’ kenangnya. Memasuki 2011 dirinya berhenti sejenak bermain basket karena mengalami cedera serius pada bahunya sehingga harus dioperasi di Filipina selama dua bulan. Setelah sembuh ia kembali membela Pelita Jaya mengikuti Seri NBL 2011/2012 di Denpasar. Sialnya, Rusta mengalami cedera lagi, kali ini tangan kanannya patah. Pada 2012, pria kelahiran 22 Maret 1982 ini memutuskan pensiun dini dikarenakan desakan kedua orangtuanya, Gusti
30
13 - 19 Januari 2014
Putu Swijaya dan Desak Nyoman Rusmi, yang tidak mau putra satusatunya dari tiga bersaudara, jauh dari rumah. ‘’Berat meninggalkan olahraga yang puluhan tahun digeluti serta telah membesarkan nama saya di kancah nasional dan internasional. Namun, apa boleh buat, saya harus mengikuti kemauan orangtua. Anak Bali harus berbakti kepada orangtua karena mereka pasti mengarahkan anaknya ke jalur yang baik untuk masa de-pan,’’ katanya. Rusta melihat pretasi basket Bali li mengalami penurunan prestasi yang ng signifikan. Untuk meningkatkan kembali, ia beserta sahabatnya membuka buka sekolah Elite Basketball Academyy di GOR Ngurah Rai, Denpasar, padaa 13 Oktober 2013 lalu. Dalam waktu satu tahun, hasil asil polesannya sudah kelihatan. Tujuh juh pemain didikannya mampu menyumumbangkan medali perunggu bagi Bali dalam kejurnas kelompok umur (KU) 14 di Jakarta. ‘’Saya yakin lima tahun ke depan mereka dapat mengembalikan alikan kejayaan basket Bali di ajang nasional. sional. Dalam waktu dekat, saya dan pengurus ngurus Elite Basketball Academy berkeinginan nginan membuat lapangan, sehingga latihan tihan anak-anak lebih terprogram dan serius,’’ ius,’’ tegasnya. Saat ini Rusta juga melatih tim basket SMA 1 Denpasar (Smansa) sa) dan SMP Santo Yosep. Ia berpeluang ng melatih tim Bali yang akan terjunn pada Pra-PON 2015 mendaNama tang. Panggilan Putu Eka Tempat/Tgl. Lahir Parananda Status Orangtua
: I Gusti Ngurah Rusta Wijaya : Rusta : Denpasar, 22 Maret 1982 : Kepala Pelatih Elite Basketball Academy Denpasar : Gusti Putu Swijaya Desak Nyoman Rusmi
KRIMINAL
Langkah Pemberantasan Narkoba
Terhadang Hukuman Ringan G
erakan Badan Narkotika Nasional (BNN) agar semua pihak peduli dan ambil bagian dalam upaya pember-
antasan narkoba di tengah masyarakat, nampaknya mendapat kendala sekaligus sandungan. Hadangan itu rupanya berada
di tangan hakim, yang dengan keyakinannya menghukum ringan pelaku dan bahkan vonis bebas.
I Gusti Gede Suryasa
Jhon Korassa, S.H.
Vonis Mencengangkan LANGKAH diambil Majelis Hakim pimpinan Madi Masuri, memvonis terdakwa Hendra Kurniawan 10 bulan penjara dan pacarnya, Nana Juhariani divonis bebas di PN Denpasar, minggu lalu mengundang tanda tanya. Padahal Jaksa Penuntut Umum (JPU) menutut terdakwa 15 tahun penjara. Atas putusan hakim itu, banyak pihak tercengang. Seolah pelajaran ilmu hukum yang didapatkan pihak kubu Badan Narkotika Nasional (BNN), jaksa dan hakim sangat jauh berbeda, sehingga penafsiran atas pelanggaran hukum dilakukan terdakwa sangat signifikan. Adalah Kepala BNN Badung Kompol I Gusti Gede Suryasa mempertanyakan vonis tersebut. Selaku institusi mempertanyakan, apa yang menjadi pertimbangan hakim sehingga divonis ringan bahkan bebas. Dalam kaitan ini, pihaknya menunggu apa upaya jaksa penuntut umum (JPU). “Untuk menentukan upaya selanjutnya, itu wewenang BNN Provinsi Bali. Tapi saya berharap ada upaya lanjutan proses hukumnya,” ujar mantan Kasubdit I Dit. Narkoba Polda Bali ini. Suryasa melihat, jika memang mereka para terdakwa itu pemakai, semestinya direhabilitasi semua. Artinya, BNN lebih dulu merehablitasi mereka dan tidak mungkin diarah-
32
13 - 19 Januari 2014
kan ke pidana. Atas vonis itu, disikapi pula oleh praktisi hukum, Jhon Korassa, S.H.. Ia mengaku sangat kecewa dengan vonis itu. Ia pun berharap Komisi Yudisial (KY) turun tangan menyelidiki vonis ringan dan bebas tersebut. “Kok bisa dituntut 15 tahun divonis 10 bulan dan divonis bebas? Asas kepatutan hukum dilabrak dan KY mestinya menyelidiki ini. Terus terang saya sangat kecewa,” tegas Jhon Korassa. Jika para terdakwa pemakai, Ketua LBH Peta Bali ini menegaskan, sejak awal BNN akan merujuknya ke tempat rehabilitasi. Karena BNN punya alat bukti kuat, makanya kasusnya dilanjutkan hingga persidangan. “BNN lebih tahu dan paham siapa itu pemakai dan pengedar. Apalagi pihak jaksa sepaham dengan BNN sehingga kasus itu maju ke persidangan,” ujarnya. Selain itu, Jhon Korassa berharap kasus itu dikembangkan, terutama terkait transaksi di rekening Hendra. “Kenapa tidak diusut upaya money laundring? Saya yakin BNN punya alat bukti kuat terkait kasus ini. Mungkin ada apa-apanya ini,” tegasnya. Kertanegara
Keputusan atau vonis dibuat Majelis Hakim pimpinan Madi Masuri terhadap terdakwa Hendra Kurniawan dan pacarnya Nana Juhariani, menggambarkan betapa beratnya langkah untuk bebasnya negara ini dari serbuan barang terlarang narkotika. Dalam sidang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar tersebut, terdakwa yang dituntut berat justru mendapatkan hukuman yang super minimal. Terdakwa Hendra divonis 10 bulan penjara dan pacarnya Juhariani divonis bebas. Hakim rupanya mempunyai pertimbangan lain atas tafsir dalam pasal 127 ayat 1 KUHP UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika. Akibatnya, putusan hakim itu “jungkir balik” dibandingkan dengan tuntutan jaksa Wayan Wiradharma. Sebelumnya, jaksa
menuntut Hendra supaya manghukum terdakwa selama 15 tahun penjara. Rupanya terdakwa Hendra sedang bernasib mujur. Apalagi Nana Juhariani lebih beruntung lagi yakni divonis bebas, sehingga mereka bisa tertawa dan juga berpelukan dengan pengacaranya dibarengi tangis haru dan bahagia. Atas putusan ringan itu, tinggallah jaksa penuntut umum (JPU) yang diwakili Eddy Hartaka, dibikin tak berdaya dan melongo. Atas keputusan itu, jaksa mengatakan pikir-pikir dan sebaliknya kuasa hukum terdakwa, Dwi Harianto justru ikut terharu. Usai sidang, dia mengatakan bahwa putusan majelis hakim itu merupakan putusan yang berdasarkan fakta hukum. Kasus ini rupanya tidak hanya dua ter-
dakwa itu yang masuk tangkapan BNN. Sebelumnya, polisi menangkap Sebastian Simanjuntak, Alfath Fitra Kusuma dan Sugiono alias Kwok Jiang alias Gede, yang semuanya sudah divonis. Komplotan ini kedapatan membawa sabu-sabu (SS) seberat 408,7 gram. Dari hasil pengembangan itulah kemudian ditangkap Hendra asal Lombok bersama Nana. Hendra dituntut 15 tahun, terdakwa Hendra juga dituntut membayar denda Rp 3 miliar subsider 6 bulan penjara. Beda halnya dengan sang kekasih Nana Juhariani. Oleh jaksa, dia dituntut lima tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider 4 bulan penjara. Made Miasa
Protes Uang Kos, Malah Ditusuk
M
aksud hati memprotes kenaikan uang kos, I Made Mastra (42) malah kena tusuk. Kejadiannya di Jalan Soka, tepatnya di depan Gang Kertapura V, Kesiman, Dentim, Selasa (31/12) lalu. Mastra ketika itu ditusuk sang pemilik kos, tersangka I Ketut Suradana (47). Kejadiannya berawal Mastra yang kos di rumah tersangka di Jalan Soka, Gang Kertapura IV Nomor 16, Kesiman, Dentim itu, tidak mau uang kosnya dinaikkan tersangka. Ujung-ujungnya kedua pria itu bersitegang. Menurut Kapolsek Dentim Kompol M. Ikhwan Lazuardi, Rabu (1/1) lalu, sehari setelah kejadian, Mastra dan Suradana, ternyata masih mendendam. Nah ketika tersangka Suradana yang berangkat kerja sebagai satpam di Padanggalak, rupanya disusul Mastra. Keduanya akhirnya bertemu di Gang Kertapura IV. Begitu berhadap-hadapan, keduanya bertengkar hebat. Juragan dan penghuni kos ini sama-sama ngotot. Situasi semakin memanas, sehingga mereka adu jotos. Saat itulah tersangka Suradana mengeluarkan pisau dari balik bajunya. Pisau itu kemudian dihujamkannya ke perut kiri dan pinggang Mastra. Darah segar seketika muncrat dari kedua luka di perut Mastra. Dia mengerang kesakitan dan akhirnya ambruk di jalan. Melihat lawannya tak berdaya, tersangka Suradana bergegas kabur dari lokasi kejadian. “Korban mengalami luka tusuk 2 cm dengan kedalaman 5 cm. Luka lagi satu sedalam 1 cm. Korban lalu dilarikan ke RS Dharma Yadnya (tak jauh dari lokasi kejadian),” tegas Kapolsek Dentim. Kapolsek Lazuardi didampingi Kanitreskrim Iptu Dicky menyebutkan, tersangka Suradana sudah ditahan dan barang buktinya diamankan. “Tersangka mengaku, pisau itu selalu dibawa dan biasanya dipakai mencari daun,” tegas Iptu Dicky. Yang jelas, gara-gara masalah sepele yang mestinya bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan kepala dingin, sang juragan kos mendekam di sel. Dia terancam hukuman penjara, lantaran tak mampu menahan emosi. Jika saja tersangka Suradana mau
kompromi, dia pasti menikmati uang hasil menyewakan kamar dan tidak menginap berbulan-bulan di Hotel Prodeo.
MBP/ist
Kapolsek Dentim, Kompol M. Ikhwan Lazuardi menunjukkan barang bukti milik tersangka I Ketut Suradana (diborgol). 13 - 19 Januari 2014
33
KRIMINAL
MBP/robin
Gede Bayu, warga Desa Tinga Tinga, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, terbaring lemas setelah dua jari tangannya putus akibat ledakan kembang api.
Kembang Api Picu Keributan
S
eperti tahun-tahun sebelumnya, pesta menyambut Tahun Baru 2014 yang baru saja berlalu tak lepas dari suara kembang api dan mercon. Masyarakat agaknya tak dapat lepas dari bunyi-bunyian memekakkan telinga setiap berhari raya. Ratusan ribu kembang api dan mercon senilai miliaran rupiah membahana di seluruh Bali menjelang dan pascapenutupan tahun 2013 pada Selasa (31/12) lalu. Suara ledakan yang bersahut-sahutan mirip dengan perang dunia, kita seakanakan terkurung tembakan. Sebelumnya aparat desa adat dan instansi terkait, termasuk polisi, dengan tegas melarang warga menyalakan kembang api dan mercon saat menyambut malam tahun baru. Fakta di lapangan, kembang api lontar dengan ukuran besar masih marak kita jumpai. Dengan demikian, razia atau penertiban yang dilakukan polisi nyaris tak membuahkan hasil. Bahkan beberapa hari menjelang acara penutupan tahun, sejumlah pedagang kaki lima kucingkucingan dengan petugas, termasuk ada swalayan ternama yang menjual kembang api ukuran besar (lebih dari 2 inci). Dengan demikian, tekad desa adat menekan peredaran kembang api dan mercon gagal total. Hal ini mengindikasikan peredaran benda yang cukup berbahaya dan memengkakkan telinga itu masih bebas dijual di pasaran. Banyak warga akhirnya bertanya-tanya, kenapa kembang
34
13 - 19 Januari 2014
api ukuran besar dan mercon masih marak di masyarakat padahal sebelumnya Polda Bali jelas-jelas mengeluarkan pengumuman bahwa kembang api dan mercon dilarang dihidupkan saat menyambut tahun baru. Jika demikian halnya, pengumuman itu hanyalah macan kertas dan wibawa Polda Bali dilecehkan masyarakat. Larangan tersebut hanyalah larangan, tetapi banyak orang melanggarnya sehingga perayaan malam tahun baru tetap saja mengkhawatirkan bagi kita. Selain bunyi kembang api yang sangat keras, ledakannya juga membahayakan karena dapat meluncur ke mana-mana. Bahkan ada warga yang secara sengaja membunyikan kembang api untuk mengusik ketenangan tetangganya, supaya tak bisa tenang merayakan tahun baru. Pemakaian kembang api ukuran besar dan mercon jika dibiarkan begitu saja, maka suasana nyaman dan tenang di masyarakat dapat terganggu. Padahal merayakan tahun baru sejatinya bukan dengan suara keras atau ledakan, tetapi lebih penting dengan suasana tenang, riang gembira, dan suka cita. Celakanya kembang api luncur ini berisiko tinggi, tak hanya menyebabkan luka, tetapi juga keributan. Hal itu pula terjadi di Karangasem saat perayaan malam tahun baru lalu. Kejadiannya di ujung barat By-pass Padangkerta, Kecamatan Karangasem, yang berbatasan dengan Kecamatan Bebandem. Dua kelom-
pok pemuda masing-masing dari Bungaya dan Padangkerta majaguran (berkelahi) sesaat setelah pergantian tahun. Perkelahian bermula ketika tiga pemuda dari Padangkerta melintas mengendarai sepeda motor di sana. Saat mereka memacu motornya, tiba-tiba kelompok pemuda Bungaya yang nongkrong di sana menyalakan kembang api. Diduga karena sama-sama dalam pengaruh miras, ketiga pemuda dari Padangkerta itu nekat berhenti, lalu dengan gagah berani menanyakan siapa yang menyalakan kembang api tersebut. Bentrok ďŹ sik akhirnya terjadi sehingga mengakibatkan seorang pemuda dari Padangkerta terluka. Bentrok massa berhasil dicegah belasan polisi yang segera merapat ke TKP. Difasilitasi Kapolres Karangasem AKBP Gede Adhi Mulyawarman, tokoh-tokoh masyarakat dari kedua kubu dipertemukan. Mereka akhirnya sepakat menyelesaikan kasus tersebut secara damai. ‘’Kasusnya dipicu kesalahpahaman. Kita buka ruang untuk damai, kalau tidak bisa proses,’’ ungkap Kapolres. Kasus kedua terjadi di Sidemen sekitar pukul 20.30. Seorang bocah dipukul seorang pria dewasa ketika menyalakan kembang api. Aksi pemukulan tersebut nyaris meluas karena orangtua sang bocah tidak terima ulah pelaku. Kapolres dan Dandim Karangasem segera terjun ke lokasi kejadian untuk menenangkan massa.
MBP/wiadnyana
Razia yang dipimpin Kapolsek Denbar AKP Erwin Pratomo, menyita 32 meriam rakitan dan sekitar 400 liter minuman keras alias miras dengan berbagai merek.
Selain mengakibatkan keributan, kembang api juga mengakibatkan puluhan orang luka bakar sehingga mesti dirawat di rumah sakit (RS). Menurut petugas medis RSUP Sanglah, pada malam pergantian tahun, dalam jarak tak lebih dari dua jam belasan pasien masuk UGD. Rata-rata para korban mengalami luka-luka di tangan maupun bagian tubuh luar lainnya. “Sebagian besar korban masuk rumah sakit akibat kena ledakan mercon dan kembang api. Yang lainnya, korban lakalantas serta penusukan dan tindak kekerasan,” tambah petugas medis itu. Salah seorang korban,Wira Peramana mengaku, bahwa saat malam tahun baru dia menghidupkan kembang api luncur. Luncuran pertama hingga keempat berjalan normal. Namun saat luncuran ke-
lima, tiba-tiba kembang api itu meledak. “Kembang api itu saya pegang dengan tangan kiri. Saat meledak, tangan saya rasanya panas dan ada darah yang ke luar. Saya baru menyadari saat berada di rumah sakit jika dua jari saya putus,” tegas Wira. Hal senada diungkapkan korban lainnya, Putu Pande Agus Indrawan. Siswa kelas 1 SMP Bangli ini mengalami retak pada tulang ibu jari. Dia telah menjalani operasi. “Kata dokter, setelah tiga bulan, kondisi ibu jari anak saya baru bisa kembali normal,” jelas Alit, ayah Pande. Yang lebih parah adalah Gede Bayu (20), warga Desa Tinga Tinga, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Dia dilarikan ke rumah sakit lantaran mengalami luka serius akibat kena ledakan kembang api. Ledakan kembang api mengenai tangan kanan-
nya, sehingga menyebabkan dua jarinya terpaksa diamputasi. Menurut korban, ledakan terjadi setelah dia menyalakan kembang api kelima di rumahnya. Sebelumnya, ledakan kembang api tampak lancar. Namun tiba-tiba ledakan terhenti. Bayu kemudian memegang bagian atas kembang api. Nah, saat dipegang itulah kembang api kelima seketika meledak di tangannya. ‘’Ledakan kembang api berhenti, lalu saya pegang bagian atasnya. Tetapi tiba-tiba meledak,’’ ucap Bayu, Kamis (2/1) lalu.
13 - 19 Januari 2014
35
EKONOMI
Harga Elpiji “Terbang�
D
iibaratkan bertinju, pada awal tahun kuda kayu 2014 ini para ibu-ibu rumah tangga (RT) kena pukulan telak pada hulu hatinya. Tak ayal lagi para ibu-ibu RT dibuat bimbang dan mengurut dada setelah PT Pertamina (Persero) mengumumkan, per 1 Januari 2014 menaikkan harga elpiji nonsubsidi tabung 12 kg sebesar 68 persen. Rupanya pihak Pertamina punya alasan kuat untuk menaikkan harga elpiji 12 kg itu. Adalah Wakil Presiden Komunikasi Ali Mundakir mengemukakan, kenaikan harga itu dilakukan untuk menekan kerugian bisnis elpiji 12 kg. Atas alasan
36
13 - 19 Januari 2014
itu, terhitung mulai 1 Januari 2014 pukul 00.00, harga baru elpiji nonsubsidi 12 kg secara serentak di seluruh Indonesia diberlakukan dengan rata-rata kenaikan di tingkat konsumen sebesar Rp 3.959 per kg. Artinya, per tabung elpiji 12 kg, kenaikan harganya mencapai Rp 47.508. Dengan demikian harga elpiji 12 kg akan menjadi Rp 117.708 per tabung yang sebelumnya di tingkat pengecer Rp 75.000. Artinya pula, di tingkat konsumen juga akan membengkak diperkirakan ada variasi antara Rp 125-140 ribu per tabung. Ali mengatakan, kenaikan harga merupakan tindak lanjut rekomendasi Badan
Pemeriksa Keuangan yang menyebutkan kerugian bisnis elpiji nonsubsidi pada 2011-Oktober 2012 sebesar Rp 7,73 triliun sebagai kerugian negara. Khusus konsumen ekonomi lemah dan usaha mikro, pemerintah telah menyediakan elpiji tiga kg bersubsidi yang harganya lebih murah. Pertamina telah mengembangkan sistem monitoring penyaluran elpiji 3 kg (simol3k) yang akan mengatasi kekhawatiran migrasi konsumen 12 kg ke 3 kg pascakenaikan. Dampak kenaikan harga elpiji 12 kg mau tak mau membuat konsumen harus lebih mengencangkan ikat pinggangnya.
Konsumen Bimbang Kenaikan elpiji itu dinilai telah “mencekik” leher orang-orang kecil. “Sebab, sebelumnya harga elpiji 12 kg hanya Rp 76 ribu,” kata pengecer elpiji Nengah Nasih di Denpasar. Nasih khawatir membuat warga beralih membeli elpiji tiga kilogram yang disubsidi pemerintah. “Yang 3 kg juga sekarang naik jadi Rp 16.500 dari Rp 14 ribu. Ini masih di distributor, bukan harga eceran,” katanya. Wayan Wenten, pembuat kerupuk rumahan, juga mengaku tidak bisa banyak berkomentar menyikapi kebijakan Pertamina tersebut. “Yang jelas hidup tambah susah,” keluhnya.
Memang tidak mudah menyiasati kenaikan biaya operasional di saat daya beli masyarakat justru melemah. Karena itu, keluhan yang dikemukakan oleh para pengguna elpiji bukan tanpa alasan. “Kenaikan harga elpiji terlalu cepat, setidaknya ada jeda setelah pemerintah memutuskan menaikkan harga BBM,” ucapnya. Direktur Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Bali Putu Armaya mengakui kenaikan elpiji 12 kg merugikan konsumen di Indonesia, termasuk Bali. “Untuk menekan kerugian, Pertamina mestinya tidak membebani konsumen. Kenaikan ini akan menimbulkan disparitas
harga yang tinggi antara 12 kg dan 3 kg,” katanya. Kondisi ini akan memicu terjadinya migrasi besar-besaran dari penggunaan elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg. Sebab, selisih harga yang ditawarkan sangat tinggi. Artinya, hak masyarakat kelas menengah ke bawah akan “dirampok” oleh kelas menengah atas. Meski elpiji 3 kg naik, tetapi tetap saja terjadi perbedaan harga yang sangat jauh. Kondisi tersebut juga berpotensi memicu terjadi kecurangan dan penyelundupan,” papar Armaya. Puspawati 13 - 19 Januari 2014
37
PARIWISATA
Membidik Wisatawan ”Jetset”
B
ali saat ini membutuhkan pasar wisatawan yang berkualitas daripada hanya mengejar kuantitas untuk meningkatkan pariwisata. Pasar wisatawan yang berkualitas akan mampu meningkatkan pendapatan dari pariwisata di Pulau Dewata. Seperti, kalangan jetset dari Australia, untuk satu paket bisa mencapai nilai 40 ribu dolar Australia, dibandingkan dengan nilai turis kalangan menengah hanya 1.000 dolar Australia per paket. Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali I.B. Ngurah Wijaya mengatakan, wisatawan jetset alias berkantong tebal ini menginginkan pelayanan yang mewah dan belum dinikmati oleh wisatawan umumnya. Bali memiliki potensi tersebut, namun belum digarap maksimal oleh industri pariwisata, pemerintah dan stakeholder lainnya. “Bali harus membidik wisatawan yang mempunyai spending menengah dan tinggi, karena pariwisata Bali berbasis pada budaya. Bicara budaya adalah kehidupan dan cara hidup orang Bali yang berbasis agama dan budaya Hindu Bali. Masyarakat mengeluarkan kurang lebih 20-an persen dari pendapatanya untuk mempertahankan budayanya,” ungkapnya. Dikatakannya, wisman berkualitas adalah turis
yang memiliki tingkat pengeluaran tinggi dan lama tinggalnya panjang atau berkantong tebal. Dengan begitu diharapkan kontribusi mereka terhadap devisa negara semakin besar. “Pasar wisatawan yang mempunyai daya beli menengah dan tinggi hampir ada di semua negara. Hanya saja, tinggal bagaimana menyasar pasar tersebut. Bali harus siap dengan produk-produk yang layak di jual ke pasar. Seperti, pelayanan bandara, pelayanan dari semua aparat pemerintah dan swasta,” ucapnya. Wisatawan MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) juga diidentikan sebagai wisatawan jetset. Pengeluaran mereka tercatat tujuh kali lipat lebih besar daripada turis biasa dan tinggal lebih lama. Wisatawan biasanya mempertimbangan kapan waktu berwisata dan bujetnya. Namun, beda dengan wisatawan MICE, kedatangan mereka adalah keharusan, sebab datang untuk urusan pekerjaan. Karena itu, wisatawan MICE sangat berpotensial dan mulai dilirik berbagai negara di dunia. Bandar Udara Internasional I Gusti
Ngurah Rai juga menyiapkan parkir untuk pesawat berukuran sedang yang biasanya mengangkut wisatawan kalangan jetset. Parkir ini untuk pesawat ukuran sedang yang biasanya dicarter oleh wisatawan kalangan jetset atau berkantong tebal. Selain itu, juga pesawat yang digunakan oleh tamu kehormatan negara atau VIP. “Selain itu, memang jumlah kedatangan pesawat carteran itu sangat banyak mencapai 1.000 pesawat yang mendarat ke bandara ini setiap tahun. Daya tampung parkir itu hanya untuk 14 pesawat yang telah disiapkan di sebelah selatan,” ujar Pejabat Angkasa Pura I Bandara Internasional Ngurah Rai, Purwanto. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen merupakan pesawat carteran yang berasal dari berbagai negara di penjuru dunia. Pertumbuhan pesawat carteran yang tergolong tidak terjadwal itu cukup tinggi. Secara keseluruhan pertumbuhan penumpang menggunakan jasa penerbangan melalui bandara ini sekitar 15 persen setiap tahun. “Pertumbuhan penumpang domestik pada tahun ini mencapai 21 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sedangkan mancanegara sekitar sembilan persen,” sebutnya Parwata
MBP/ist
Bali sebagai destinasi pariwisata dunia tidak semata-mata hanya terpaku pada kuantitas, melainkan menitikberatkan pada kualitas dengan menyasar wisatawan menengah ke atas alias berkantong tebal.
38
13 - 19 Januari 2014
Tak Sebatas Berkantong Tebal WISATAWAN berkualitas identik berasal dari negara kaya. Ke depan, pelaku pariwisata Bali berharap wisatawan berkualitas tidak sebatas wisatawan berkantong tebal melainkan sejauh mana mereka juga bisa memiliki kepedulian dan memberikan manfaat positif terhadap budaya, lingkungan dan pengembangan pariwisata Bali. Nyaris, kantong-kantong tempat wisatawan berkualitas ada di setiap negara di dunia. Kelompok wisatawan yang berkantong tebal di setiap negara persentase berbeda sesuai tingkat kemakmuran negara tersebut. Misalnya, kawasan menjadi tempat tinggal wisatawan berkantong tebal seperti Amerika Utara, Eropa Barat, Timur Tengah, Jepang, Cina, Australia, Singapura, Thailand dan lainnya. Dilihat dari kelas kamar hotel, kamar hotel bintang 5 di Bali menjadi sasaran wisatawan berkantong tebal. Ini menjadi ukuran yang wajar, kamar hotel bintang di Bali ditawarkan mulai 200-500 dolar per malam. Jika dikalkulasi sementara, jumlah kamar hotel di Bali berkisar 72.000 kamar ditambah vila. Hampir 40 persen jumlah kamar hotel tersebut merupakan hotel bintang 5. Jumlah kamar hotel bintang lima di Bali mencapai 28.800 kamar. Kamar bintang lima di Bali rata-rata terisi 70 persen (dalam hitungan rata-rata persentase per tahun). Diprediksi tahun 2012 ada sekitar 1.120.000 orang wisman dan wisdom tergolong berkantong tebal. Jika komposisi jumlah kamar dan tren tingkat hunian kamar hotel bintang 5 terjual makin besar, income pariwisata dari sektor perhotelan meningkat, uang servis untuk karyawan meningkat, termasuk uang yang dibelanjakan wisatawan berkantong tebal di Bali juga meningkat. Ke depan, pelaku pariwisata Bali berharap pengertian wisatawan berkualitas mengikuti tren pariwisata dunia. Pengertian wisatawan berkualitas di Bali sudah mengalami perubahan. “Arti wisatawan berkualitas tidak hanya kaya, melainkan wajib juga menghargai budaya dan lingkungan di Bali. Wisatawan berkualitas dekat dengan masyarakat berinteraksi secara kultural, kepedulian sosial tinggi kepada masyarakat di Bali,� ungkap Dewan Penasihat DPD Asita Bali, Bagus Sudibya. Wakil Ketua GIPI Bali ini melihat wisatawan berkantong tebal ini tidak mesti menginap di hotel bintang 5. Wisatawan berkantong tebal yang memiliki kepedulian sosial tinggi juga menginap di pondok wisata milik masyarakat. Wisatawan berkualitas ini bisa berinteraksi positif dengan pemilik pondok wisata. Apabila di sekitar pondok wisata tersebut ada anak yang cerdas tetapi memiliki keterbatasan biaya sekolah bisa dibantu wisatawan berkualitas. “Jika wisatawan berkualitas ini peduli dengan budaya dan SDM masyarakat, diharapkan akan terjadi perubahan kepemilikan dan pengelolaan sarana penunjang pariwisata di Bali. Artinya, usaha pariwisata yang selama ini dikuasai orang luar bisa dialihkan kembali kepada masyarakat Bali dengan cara yang lebih bermartabat,� tegasnya. Parwata Selain mengejar kualitas dengan membidik kalangan jetset, wisatawan ke Bali harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan budaya Pulau Dewata yang menjadi daya tarik utama pariwisata.
MBP/ist
EVENT
MBP/Suryawan
SOUL HEALING - Bertepatan dengan perayaan ulang tahun Yayasan Cinta Kasih, Minggu (29/12) lalu, diluncurkan Soul Healing di Wantilan Gedung Pers K. Nadha Bali TV. Acara yang diisi dengan meditasi bersama dan acara hiburan ini dihadiri Ketua WHDI Bali Nyonya Bintang Puspayoga, Pimpinan KMB Satria Naradha, Gusti Bagus Oka, Ketua Yayasan Cahaya Cinta Kasih Dr. Nyoman Netty Satyari Gendra, dan Bunda Arsaningsih.
40
13 - 19 Januari 2014
MBP/Eka
PERANGI SAMPAH PLASTIK - Gerakan memerangi sampah plastik berlangsung pada Minggu (29/12) lalu di Pantai Padanggalak hingga Pantai Semawang. Aksi bersih-bersih sampah plastik ini diikuti ribuan warga, anggota TNI AD, dan kalangan perhotelan. Tak hanya memerangi sampah, dilakukan juga pelepasan tukik di Pantai Semawang, Sanur, dalam rangka melakukan pelestarian penyu.
13 - 19 Januari 2014
41
KERAJINAN
Sampah Membawa
S
ampah, wow menjijikan! Itu kata orang, tetapi tidak demikian halnya dengan I Wayan Sutama. Lelaki kelahiran Denpasar, 12 juli 1974 justru menganggap sampah itu pembawa berkah. Dengan mengumpulkan barang bekas utamanya limbah plastik, kemudian mengolahnya hingga menjadi barang yang bernilai ekonomi. “Selain untuk menciptakan lingkungan yang bersih, mengolah sampah plastik juga sebagai cara untuk memberdayakan masyarakat. Karena disitu ada proses penciptaan lapangan pekerjaan bagi mereka,” kata ketua sekaligus pemilik Bank Sampah Sewaka Guna Warga yang b erI Wayan Sutama
42
13 - 19 Januari 2014
lokasi di Jl. Astasura I tepatnya di Banjar Benbiyu, Desa Peguyangan Kaja, Denpasar Utara ini. Lelaki kalem ini menegaskan, selain berdampak pada pemberdayaan lingkungan, mengolah sampah plastik juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan. “Iming-iming seperti inilah yang selalu saya katakan pada masyarakat agar mau mengumpulkan sampahnya, bukan membakar apalagi membuang sembarangan,” imbuhnya. Dan benar, untuk mendapatkan sampah plastik Sutama membeli pada masyarakat. Mula-mula di lingkungan masyarakat Desa Peguyangan Kaja kemudian lebih luas hingga ke kawasan wisata Ubud. Ia membeli pada bank-bank sampah yang ada. “Khusus untuk masyarakat Desa Peguyangan mereka menabung sampah kemudian menarik uang,” ujarnya.
Berkah Setiap hari ada saja masyarakat yang membawa sampah plastik ke tempatnya. Setelah sampah itu ditimbang kemudian mencatatnya. Sayangnya, Sutama tidak mau merinci berapa harga sampah plastik perkilonya. Ia hanya mengatakan, masyarakat yang menarik tabungannya setiap menjelang hari raya Galungan untuk keperluan upacara atau untuk keperluan pesta merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Selain masyarakat desa, Sutama juga memiliki nasabah siswa setingkat SD. Setiap Sabtu murid-murid dari sekolah dasar yang ada di desa tersebut menabung sampah. Untuk saat ini, SD 6, SD 8 dan SD 18 Peguyangan yang rajin menabung sampah. Masing-masing sekolah ada 20 anak yang membawa 5 sampai 10 kilo sampah dalam seminggu. “Setelah enam bulan, semesteran
mereka menarik tabungannya untuk keperluan sekolah,” jelasnya. Untuk mengolah sampah plastik itu, dirinya mempekerjakan 5 orang yang merupakan warga desa tersebut. Mereka bekerja dari pagi sampai 8 sampai jam 5 sore. Meski fokus pada pengolahan limbah plastik, namun bank sampah juga melakukan budidaya pepaya organik. “Harapannya partisipasi masyarakat dan masalah sampah bisa teratasi disamping mampu menghasilkan ekonomi,” tegasnya. Lalu bagaimana prosesnya? Sampah plastik yang terkumpul dikelupas merek dan labenya. Kemudian melakukan pemilahan berdasarkan warna dan jenisnya, seperti jenis emberan, keran, omplong, pet dan lainnya. Selanjutnya proses penggilingan. Setelah keluar baru dibersihkan selanjutnya dijemur hingga kering. Setelah
menjadi barang jadi, selanjutnya dikirim ke Jawa untuk didaur ulang. “Saya memiliki kendala pada persaingan yang begitu ketat, utamanya pemulung dari Jawa,” ungkapnya. Sutama mengaku, usaha ini ia lakoni awal tahun 2013 lalui. Hal itu bermula dari adanya lomba desa tingkat nasional yang salah satu syaratnya harus ada bank sampah. “Kebetulan ada lahan kosong maka saya coba memanfaatkannya menjadi bank sampah. Itu juga karena dukungan masyarakat hingga sekarang ini,” aku lelaki yang pernah bercita-cita menjadi polisi itu. Budarsana LAPORAN
TRADISI
Tradisi Unik di Bayung Gede
Ari-ari Digantung di Pohon, Jenazah Dikubur Tanpa Kain
S
ejumlah desa di Bali banyak memiliki tradisi unik. Salah satu desa kuno yang masih memegang teguh tradisinya sampai saat ini yakni Desa Bayung Gede, di Kabupaten Bangli. Desa yang terletak di Kecamatan Kintamani ini menyimpan tradisi unik terkait pelaksanaan upacara yadnya, mulai dari kelahiran, perkawinan, hingga prosesi ritual kematian. Di Bali, umumnya ari-ari atau plasenta yang menyertai bayi saat lahir akan dikubur di areal pakarangan rumah. Namun, di Desa Adat Bayung Gede, Kintamani, ariari tidak dikubur melainkan digantung di pohon. Sesuai kepercayaan masyarakat setempat, ari-ari tidak dikuburkan di areal pakarangan rumah. Melainkan dimasukkan
ke dalam batok kelapa kemudian digantung di sebuah kuburan khusus yang disebut dengan setra ari-ari. Tradisi unik yang sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu itu hingga sekarang masih dijalankan masyarakat setempat. Menurut tokoh masyarakat yang dituakan di Desa Bayung Gede yang disebut dengan istilah Jero Kubayan Muncuk, tradisi unik yang diwarisinya itu bertujuan agar lingkungan Desa Bayung Gede tetap bersih dah suci dari segala kotoran. Ari-ari yang dikubur di areal pakarangan rumah dipercaya menyebabkan pakarangan menjadi leteh. Jika leteh, Jero Kubayan sangat pantang untuk mengunjungi rumah tersebut. Prosesi menggantung ari-ari di setra ariari Bayung Gede pun tergolong unik. Ari-ari
hanya boleh dibawa ke setra saat subuh atau saat matahari terbenam. Sangat pantang untuk membawa ari-ari saat matahari terbit. Dijelaskan Jero Kubayan Muncuk, sebelum ari-ari dimasukkan dalam batok kelapa, ari-ari terlebih dahulu dibersihkan. Setelah bersih, kemudian dimasukkan ke dalam batok kelapa kemudian diikat dengan tali yang disebut dengan salang tabu. Oleh sang ayah, ari-ari tersebut harus dibawa menuju setra ariari dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan membawa arit (sabit). Arit yang dibawa nantinya digunakan untuk memotong cabang pohon yang akan dipakai tempat menggantung ari-ari tersebut. Pohon yang digantungi juga bukan sembarang pohon.
MBP/Swasrina
Tampak ari-ari digantung di pohon yang tumbuh di areal setra ari-ari. Tradisi unik yang ada di Desa Adat Bayung Gede itu hingga kini masih tetap dijalankan masyarakat setempat.
Pohon yang banyak tumbuh di setra ari-ari bernama pohon kayu ‘’bungkak’’ dan dipercaya mampu menetralisir bau seperti halnya keberadaan pohon taru menyan di Desa Trunyan. “Setelah menggantung ari-ari, sang ayah harus balik kanan dan tidak boleh menoleh ke belakang lagi,” kata Jero Kubayan Muncuk. Usai menggantung ari-ari, keluarga si bayi juga diwajibkan mencari rumpun paku untuk kemudian dipasang di depan rumah. Hal itu sebagai tanda bahwa di dalam pakarangan tersebut baru saja ada bayi yang lahir. “Itu sebagai tanda bahwa di rumah tersebut ada ibu yang melahirkan,” imbuhnya. Ditambahkannya, selama masa cuntaka Jero Kubayan Mucuk sangat pantang datang ke rumah tesebut karena dianggap sebagai tempat yang leteh. Tak hanya keunikan dalam penguburan ari-ari, keunikan lainnya juga terlihat dalam tradisi perkawinan di Bayung Gede. Warga yang baru saja menikah dilarang memasuki pakarangan inti dan tidak dianggap sebagai warga Desa Bayung Gede sebelum
membayar tumbakan (sejenis mas kawin) yang diserahkan kepada pihak desa. Mas kawin yang dimaksud berupa dua ekor sapi jantan dan betina. Sementara desa adat hanya memberikan waktu kepada sang pengantin selama satu bulan saja. Selama belum mampu membayar tumbakan, pasangan pengantin dilarang melintas di jalan utama dan juga masuk ke areal pura setempat. Selama itu juga, pengantin dituntut untuk melakukan prosesi panyekeban dengan tinggal di sebuah gubug kecil di ujung desa. “Ketika tumbakan itu sudah dibayar, baru mereka boleh kembali seperti warga yang lainnya,” terang Jero Kubayan Muncuk. Keunikan lainnya yang masih dipegang teguh masyarakat Bayung Gede juga terlihat pada prosesi penguburan jenazah. Jika pada umumnya jenazah dikubur dengan dibalut kafan, di Bayung Gede jenazah justru dikubur tanpa sehelai benang pun. Sebab, sesuai kepercayaan masyarakat setempat, manusia yang lahir tanpa busana juga
harus dikubur tanpa busana. Selain itu, jika pada umumnya jenazah dikubur terlentang, di Bayung Gede hal itu hanya berlaku untuk penguburan jenazah perempuan saja. Jenazah warga yang berjenis kelamin laki-laki dikubur dalam posisi tertelungkup. Menurut Jero Kubayan Muncuk, tradisi itu merupakan simbol antara laki-laki dan perempuan di masa hidupnya. Selain prosesi penguburan, prosesi pangabenan di desa setempat pun tak sama seperti pangabenan pada umumnya. Saat akan melakukan upacara pangabenan, jenazah yang sebelumnya dikubur tidak akan digali. Upacara pangabenan hanya dilakukan di atas makam. Pangabenan di Bayung Gede sangat sederhana. Tidak mempergunakan bade maupun lembu sebagaimana pada umumnya. Banten yang digunakan pun sesuai dengan banten yang diwarisi oleh tradisi mereka. “Di sini prosesi pangabenan benar-benar sederhana,” ujarnya. Dayu Swasrina
ER TPRRAODPI S I TI
Hati-hati, Banyak Pengembang Nakal di Bali
H
ak-hak konsumen yang tak terpenuhi sudah menjadi permasalahan umum yang terjadi di Bali. Kerap kali konsumen dikecewakan karena rumah yang dibeli tidak sesuai ekspektasi atau promosi dari pihak pengembang. Dari pengamatan Yayasan Lembaga Pengaduan Konsumen (YLPK) Provinsi Bali, masih banyak pengembang perumahan di Bali yang mengabaikan hak-hak konsumen demi mengejar keuntungan sebesar-besarnya. Masalah ini jelas tidak boleh terjadi. Dengan dalih apa pun, pembeli berhak mendapatkan haknya, terlebih jika sudah
46
13 - 19 Januari 2014
ada perjanjian antara kedua belah pihak. Konsumen memiliki hak untuk menggugat pengembang secara hukum jika merasa dirugikan. ‘’Konsumen harus kritis dan tegas dalam memilih pengembang. Soalnya banyak pengembang nakal di Bali. Konsumen yang dikecewakan karena hak-haknya tidak terpenuhi bisa saja mengadu ke YLPK,’’ ujar Direktur YLPK Bali Putu Armaya, S.H. Armaya mengatakan, konsumen harus kritis mengenai sejauh mana tanggung jawab pengembang dalam memasarkan produknya. Misalnya saja menyangkut kualitas bangunan yang harus sesuai perjanjian ataupun
ketersediaan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos). Sesuai Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999, konsumen memiliki hak atas informasi yang jelas dan jujur mengenai pemanfaatan barang dan jasa. Jika konsumen ada yang dirugikan atas kualitas perumahan yang jelek, padahal pengembang memberikan janji akan membangun dengan kualitas baik, maka konsumen bisa menggugat secara hukum. ‘’Sesuai UU Nomor 8 Tahun 1999, sanksi bagi pengembang nakal berupa penjara 5 tahun dan denda Rp 5 miliar,’’ ujar Armaya. Dedy
Harga Lahan Melambung
Hemat Biaya, Kualitas Asal-asalan TINGGINYA harga lahan di Bali membuat para pebisnis properti khususnya perumahan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah, mesti putar otak untuk menekan harga jual sewajar mungkin. Beberapa strategi diterapkan, salah satunya dengan meminimalisir biaya pembangunan rumah. Strategi menekan biaya pembangunan rumah terbilang cukup efektif. Setidaknya, dengan menggunakan material rumah yang tidak terlalu wah, pengembang bisa menawarkan produknya dengan harga terjangkau. Ini menjadi keuntungan tersediri bagi pengembang. Sebab, di tengah persaingan bisnis properti saat ini,
calon konsumen cenderung memilih membeli rumah dengan harga serendah mungkin. Bukan hanya penggunaan material dengan kualitas tidak terlalu bagus, tidak sedikit pengembang yang justru terkesan menggarap proyek asal jadi. Campuran beton dipermainkan atau pemasangan fasilitas air bersih yang asal-asalan, adalah contoh rendahnya kualitas demi menekan biaya pembangunan. Alhasil, konsumen dikecewakan. Belum apa-apa, berbagai kerusakan sudah terjadi pada rumah yang dibelinya. Masalah-masalah seperti atap bocor, cat tembok keropos, ornamen mengelupas, bahkan tembok yang mulai retak menjadi masalah yang kerap ditemui konsumen. ‘’Seperti rumah yang saya
beli sekitar lima bulan lalu, sumur bornya awalnya tidak ada masalah. Airnya lancar di awal. Tetapi, lama-lama air kecratkecrit dan keruh. Setelah dicek, instalasi sumur bornya yang bermasalah. Jadi, saya terpaksa harus keluar biaya lagi untuk membuat sumur bor baru,’’ ujar Wayan Wirdana, salah seorang konsumen perumahan asal Gianyar. Meski mengaku kecewa, dia mengaku tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, pengembang terkesan menghindar dari tanggung jawab dengan alasan tanggung jawab sudah sepenuhnya di tangan pembeli. ‘’Ya sudah, mau bagaimana lagi. Yang penting buat saya, bisa punya rumah dengan harga masih terjangkau,” katanya. Dedy
13 - 19 Januari 2014
47
GAYA HIDUP
Songket Bali Bikin Lengket
D
aya tarik Bali memang bikin wisatawan makin terpikat. Tidak hanya alamnya yang indah dan budayanya yang kuat, juga sisi produk kerajinannya yang menawan. Daya pikat kerajinan tangan Bali memang unik dan tiada duanya. Apakah kerajinan berbahan kayu, perak, lukisan sampai pada produk kain. Selama ini kain endek Bali memang sudah ramai dipakai masyarakat. Penggunaannya tidak hanya pada kegiatan upacara
48
13 - 19 Januari 2014
adat, juga sudah menjadi seragam pegawai negeri atau pun karyawan perusahaan. Denpasar misalnya sudah menempatkan kain endek agar membumi digunakan masyarakat untuk mendorong hidupnya industri kecil tersebut. Selain endek, ada juga kerajinan kain yang tetap eksis di tengah perkembangan fashion yang begitu luas di Bali. Kain itu adalah songket. Songket Bali memang tampil wah, menawan dengan benangbenang emasnya mengkilap.
Kain tradisional songket dibuat menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) atau tenun cacag. Keberadaan songket Bali khususnya, rupanya tak lekang oleh waktu. Kehadirannya di tengah masyarakat makin lengket karena selalu digunakan saat upacara agama dan adat. Keberadaan kain songket yang penampilannya wah dan terkesan rumit itu, sejalan dengan harganya. Harga kain songket relatif lebih mahal dibandingkan kain-kain lainnya.
Walau untuk kasus tertentu, kain Bali lainnya yang punya nilai sakral memang harganya jauh lebih mahal seperti kain geringsing ataupun cepuk. Kain songket digunakan terutama oleh kalangan menak dan masyarakat berada. Bagi masyarakat biasa, kain songket hanya digunakan untuk acara-acara yang dipandang memiliki arti penting seperti halnya saat menikah. Kebanyakan pengantin menggunakan kain songket dibandingkan dengan jenis kain lainnya. Keberadaan songket dapat dilihat dari jenis benang penyusun motifnya. Songket benang emas misalnya, hanya menggunakan benang emas dalam desainnya. Benangnya mahal, maka harga songket benang emas biasanya juga lebih mahal.
Terutama bila songket ini didesain dengan motif yang sangat rapat dan padat. Ada juga songket benang perak. Kain jenis ini dibuat dari benang perak. Songket jenis ini relatif lebih terkenal di masyarakat. Buktinya masyarakat lebih banyak menggunakan songket ini, di samping relatif lebih murah tetapi terlihat elegan. Selain songket benang emas dan perak, ada juga songket kain benang katun. Songket benang katun ini ternyata paling banyak digunakan masyarakat di Bali. Tentu saja karena harga songket ini lebih terjangkau dibandingkan songket benang emas dan benang perak. Tetapi ada juga berkembang kain songket benang campuran. Songket jenis inilah sedang ngetren pada saat ini. Kain ini meng-
gunakan kombinasi jenis benang, baik kombinasi benang katun dan emas, atau benang katun-perak, atau benang emasperak. Kain ini relatif diburu, di samping terjangkau juga penampilannya sedikit wah dan variasi motifnya beragam yang digemari generasi muda. Bagusnya motif-motif songket Bali yang digemari anak muda, baik dipakai saat upacara adat, ke pura dan lain-lain, memberi harapan baik bagi ajeg-nya industri kecil kain ini. Produksi kain songket Bali relatif menurun, tetapi menyebar di tiap daerah seperti di Gianyar, Jembrana ataupun Sidemen Karangasem. Pusat data
LAPORAN
13 - 19 Januari 2014 49
BUDAYA
Kawasan Subak Pulagan Jadi WBD, Terus Diincar Investor
M
endengar kata subak, pikiran langsung melayang ke Pulau Dewata. Di Bali, subak dikenal sebagai organisasi masyarakat yang mengatur sistem irigasi sawah dalam cocok tanam. Salah satu yang terkenal adalah subak Pulagan di Desa Tampak Siring, Kecamatan Tampak Siring, Gianyar. Kini, UNESCO telah mencatatnya sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD). Pekaseh subak Pulagan Sang Nyoman Astika menyampaikan, Subak Pulagan sudah ada sejak dulu dan tertua. Sehingga kesakralan, adat istiadat dan kesan tradisional masih terasa sangat kental. Namun, diakui menjadi WBD baru-baru ini, tepatnya pada bulan November 2012. “Dunia sudah mengakui. Sehingga, kami harus menjaga kawasan ini sebagai warisan untuk anak cucu nanti. Sebab, para investor sudah banyak yang mengincar untuk membangun vila dan bungalo,” ungkapnya. Subak di sini, sambung Astika, terdiri dari lima banjar yakni Tegal Suci, Penaka, Mantering, Buruan dan Griya. Luas sawah dari subak Pulagan sekitar 103 hektar dengan 240 kecoran air. “Sumber air berasal dari utara kawasan. Tepatnya di Tirta Empul sampai batas selatan Tukad Kesah. Dari Tirta Empul, air mengalir sampai balai timbangan di sawah Pulagan. Jaraknya kira-kira 2,5 km. Dari balai timbangan, air di pecah lagi menjadi tiga saluran. Yang ke arah kanan 1 km, arah kiri 3 km dan ada juga saluran kecil dengan panjang 500 meter. Nanti saluran air ini akan di bagi lagi untuk mengairi sawah masing-masing petani,” terangnya. Subak Pulagan ini, jelasnya, memiliki sebuah pura yang di sebut Pura Pulagan atau Ulun Sui. Pura ini memiliki arca seperti lingga yoni. “Apabila ada upacara agama di pura sekitar desa dan membutuhkan beras atau tirta Pulagan, mereka akan nunas dan matur piuning di sini,” ungkapnya. Astika menyampaikan, Pura Pulagan memiliki kaitan erat dengan Dewi Sri, di mana beliau merupakan simbol dari kemakmuran, kesuburan dan kesejahteraan. “Ada beberapa upacara yang diadakan di tempat suci ini yakni Mamungkah, Manca
50
13 - 19 Januari 2014
Tirta, Pakeling dan Piodalan yang jatuh pada Sukra Umanis Klawu. Saat itu, ada pementasan seni tari, wayang dan topeng,” tuturnya. Selain Pura Pulagan, tambahnya, ada juga pura lain seperti Pura Dalem Tambud, Pelinggih Balai Timbang. “Di Desa Tampak Siring juga memiliki beberapa pura yang sekaligus menjadi objek wisata seperti Tirta Empul, Mengening dan Gunung Kawi. Keberadaan objek itu memberikan imbas terhadap keberadaan sawah Pulagan,” terangnya Mereka yang traveling ke objek-objek tersebut, kata Astika, biasanya guide akan melanjutkannya dengan trecking dan cycling di sekitar sawah Pulagan. Di sawah ini terdapat jalan setapak dari semen. Sehingga sering ada tourist trecking dan cycling dengan view persahawan. Mereka bisa melihat kegiatan petani yang mengolah sawah dengan sistem tradisional. “Rutenya ada yang 3 km dan 4 km. Tergantung jalur apa yang dipilih. Selain trecking, di kawasan itu juga ada olahraga tebing. Lokasinya di sepanjang sungai Pulagan dengan rute sekitar 2 km. Olahraga air
ini dikelola secara individu,” tuturnya. Selain pertanian, masyarakat Tampak Siring juga bekerja sebagai pegawai swasta, guru dan buruh. “Kawasan ini bagian dari Gianyar yang dikenal dengan kota seni. Sehingga, banyak pula masyarakat yang terjun menjadi seniman ukir, lukis, tari dan musik,” katanya. Astika menambahkan, dengan diakuinya subak Pulagan sebagai WBD mudah-mudahan ada komitmen pemerintah agar lebih memerhatikan masyarakat di sini. Supaya tidak sampai menjual sawah kepada investor. Sebab, subak tetangga, beberapa petaknya sudah dijual dan menjadi bungalo. Sehingga mengurangi nilai budaya dari warisan itu. Sekarang, di subak Pulagan khususnya, masih dalam proses pembangunan balai subak yang berfungsi sebagai tempat paruman. Sementara fasilitas seperti jalan dan toilet sudah ada. Ocha LAPORAN