13 | 25 November - 1 Desember 2013
Demokrasi Terpasung Bansos Politik
RP 20.000
DAFTAR ISI KILAS BERITA lAset Negara Dikuasai Asing 6 LAPORAN UTAMA lApi Dalam Sekam di Sumberkelampok 8
lNasib Warga Eks Timtim juga Tak Jelas 10 lWarga pun ’’Kerauhan’’ 11 POLITIK lSindrom Bali Menebar Dilema 12 lDemokrasi Terpasung Bansos Politik 13 LINGKUNGAN lTerumbu Karang Berkurang 14 OPINI l Tanah, Berkah atau Musibah? 16 JAJAK PENDAPAT l Ngadat, Setelah Tersangka Ditetapkan 17 PENDIDIKAN lSiswa Terpaksa Belajar di Kelas Berdinding Kampil 18 lSekolah Sehat, Sudahkah Kantinnya Sehat? 19 MANCANEGARA lTopan Haiyan, Terbesar Sepanjang Sejarah 21
DAERAH lTerminal Makin Termarginalkan 22 lJadi Tempat Parkir Truk 23 KESEHATAN lKanker Abdomen Akibat Pembesaran dan Munculnya Tumor 24 lJenis Ovarium dan Testis 25
LENSA l Hijaukan Bukit Tandus 26
OLAHRAGA l Pesan dari Secarik Perangko 28 lPerguruan Silat Mengeluh 30 KRIMINAL l Gagahi Siswi SMP, ABG Dijerat UU Perlindungan Anak 32 lKelabui Petugas, Boyong 10,48 Kg Ganja ke Bali 34 EKONOMI l ’’BI Rate’’ Naik 5 Kali, Koperasi Pertahankan Bunga Kredit 36 PARIWISATA l Pariwisata Bali Turun Kelas 38 l Tumbuh Tanpa Kualitas 39 EVENT l Karimun Wagon R Mobil Super Hadir di Bali 40 KERAJINAN l Dari Guci Turun ke Hati 42 TRADISI l ’’Aci Keburan’’ 44 lUpacara Pangrebongan ’’Ngurek’’, Wujud Persembahan 46 GAYA HIDUP lAli Kharisma Tuangkan Keindahan Yunani 48 l Ocha, Kumpulkan Bahan 49 HOBI lBahasa Bali Milik Siapa? 50 25 November - 1 Desember 2013
3
3
DARI PEMBACA
B
Isu Perekrutan CPNS
upati Klungkung berang dan minta bukti tentang isu suap dalam perekrutan CPNS hingga ratusan juta rupiah. Jelas orang yang memberi suap tidak akan mau mengaku sebab dia akan ikut terlibat pula sebagai pemberi suap. Jadi Bupati Cokorda Gede Agung tidak usah terlalu berlebihan dalam menghadapi isu tersebut, sebab sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk menjadi CPNS harus menyetor fulus (uang) ratusan juta rupiah. Kalau memang berani katakan dan muat di koran bahwa Anda berani sumpah disambar petir beserta keluarga apabila Anda menerima suap dari hasil penerimaan CPNS yang sudah lalu dan yang sekarang. Itu baru namanya kesatria. Demikian pula Bupati Jembrana dan Bangli yang juga membantah bahwa penerimaan CPNS tidak mempergunakan uang (fulus). Drs. Sangut Denpasar
B
Remaja Bermotor Ugal-ugalan
apak Polisi yang berjaga di jalan raya agar menindak tegas anak-anak/ remaja yang membawa kendaraan bermotor apalagi tidak memakai helm dan tidak mempunyai SIM. Sangat membahayakan pengendara lain. Cara mereka mengendarai sepeda motor juga sangat ugal-ugalan. Mohon ditilang ya Pak. Ketut Ariwinata Jl. Trijata Denpasar
M
Tol Lengang, Kemacetan Tetap
emang benar jalan tol mestinya mampu menguraikan kemacetan sekitar jalan By-pass Ngurah Rai akibat kendaraan yang datang dari arah Sanur, demikian pula sebaliknya kendaraan yag datang dari arah Nusa Dua menuju persimpangan patung Dewa Ruci. Namun, kenyataannya tampaknya sedikit yang memanfaatkan jalan tol, baik yang datang dari arah Sanur maupun dari Nusa Dua. Sehingga jalan tol kelihatan sepi bahkan bisa dihitung jumlah kendaraan yang lewat jalan tol. Apakah karena tarifnya masih dianggap mahal atau ada kendala lainnya? Sehingga, kemacetan tetap terjadi di dua arah jalan tersebut. Saya sempat lewat jalan tol datang dari arah Sanur sudah hampir empat kali naik sepeda motor. Memang benar kendaraan yang lewat jalan tol tidak begitu banyak. Lalu lintas sangat lengang. Justru terjadi kemacetan dan antrean panjang kendaraan yang datang dari arah Sanur demikian pula dari arah Nusa Dua menuju patung Dewa Ruci. Pihak pengelola jalan tol mestinya mengevaluasi kondisi seperti sekarang ini supaya jalan tol benar-benar mampu mengurangi kemacetan di dua jalur tersebut. Sehingga arus lalu lintas menjadi lancar sesuai harapan kita bersama. I Made Jara Atmaja Jl. Nusa Indah Gang II/3 Denpasar
4
Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Sri Hartini, Suana, Sueca, Yudi Winanto Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Diah Dewi, Yudi Karnaedi, Wira Sanjiwani, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Widana. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Adnyana, Gianyar: Agung Dharmada, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Budi Wiryanto Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan NTB Agus Talino, Syamsudin Karim, Izzul Khairi, Raka Akriyani Surabaya Bambang Wiliarto Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP
25 November - 1 Desember 2013
4
5
KILAS BERITA
Aset Negara Dikuasai Asing
B
angsa kita rupanya belum bebas dari penjajahan. Buktinya, hingga saat ini sekitar 70 - 80 persen aset negara dikuasai bangsa asing. Kenyataan pahit ini dipaparkan Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Prof. Dr. Pratikno saat membawakan arahan pada seminar nasional yang diselenggarakan Keluarga Alumni UGM (Kagama) menyambut pra-Munas XII 2014 di Kendari, akhir pekan lalu.
MBP/ist
l Hardianto
SBY Buka BDF VI SATU lagi hajatan besar digelar di Bali. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuka Bali Democracy Forum (BDF) VI, pekan lalu di Nusa Dua. Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan pandangan dalam mengonsolidasikan demokrasi di negara dengan masyarakat majemuk. Di antaranya, hak konstitusional bagi semua warga negara harus dijamin. Hak-hak itu termasuk kebebasan beragama, kebebasan berekspresi, persamaan di depan hukum, nondiskriminasi, perlindungan minoritas, dan proses hukum. Sudahkan itu dijalankan di Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini? l Parwata
MBP/edy
6
Hambalang Kemahalan Rp 800 Miliar
PROYEK kemahalan sepertinya biasa terjadi di pemerintahan. Di Bali, ada proyek pengadaan sound system dan lighting Art Center yang berbuntut menyeret beberapa tersangka kasus korupsi. Di pusat, dana pembangunan proyek Hambalang yang mencapai Rp 2,5 triliun dinilai kemahalan. Sebab, menurut perhitungan Sonny Anjang-
MBP/ist
sono, konsultan pembangunan yang pernah ikut menghitung nilai proyek Hambalang, dengan Rp 1,7 triliun sudah cukup untuk membangun proyek Hambalang. Bisa jadi, yang Rp 800 miliar masuk kantong para tersangka korupsi Hambalang sehingga proyek tersebut jadi kemahalan. l Hardianto
25 November - 1 Desember 2013
6
KPK Bawa Mesin Hitung Uang
Wow, DPRD Buleleng ’’Pelesir’’ 31 Kali Setahun MBP/ist
INI wakil rakyat atau wisatawan. Bayangkan, perjalanan dinas anggota DPRD Buleleng dalam tahun anggaran 2014 dirancang 31 kali dengan jumlah anggaran yang cukup besar. Perjalanan dinas itu terdiri dari bimbingan teknis (bintek), konsultasi dan kunjungan
KAYAK pegawai bank saja, petugas Komisi Pemberantasn Komisi (KPK) membawa-bawa mesin penghitung uang. Tetapi ini kenyataan, untuk pertamakalinya tim penyidik KPK melengkapi diri dengan mesin penghitung uang. Itu dilakukan ketika menggeledah rumah Anas Urbaningrum, pekan lalu. Rupanya KPK telah menduga, di rumah itu akan ditemukan uang dalam jumlah banyak. Dan hal itu benar adanya. Sekitar sepuluh gepok uang pecahan Rp 100 ribu ditemukan KPK di rumah Anas di Jalan Teluk Langsa, Duren Sawit, Jakarta Timur. Lalu, apakah rumah Anas yang malah sudah berubah menjadi kantor bank? l Hardianto
kerja (kunker). Kontan saja, hal itu dipertanyakan dalam rapat pembahasan RAPBD tahun 2014 di ruang gabungan komisi DPRD Buleleng. Maklum, yang dipakai uang rakyat, bukan uang dari kocek mereka. l Adnyana Ole
MBP/ist
Reklamasi Picu Abrasi BEBERAPA pemilik usaha pariwisata dan pemerintah daerah di Bali membangun krib atau tetrapod untuk mengamankan pantai di wilayahnya dari abrasi. Namun, kribisasi ini hanya memindahkan gerusan air laut ke pantai di sekitarnya. Demikian halnya dengan reklamasi, akan memicu abrasi pantai di sekitarnya. l Rindra
MBP/edy
Jalan Melingkar “Telan” Rp 300 Miliar MEGAPROYEK baru kembali akan menjejali kawasan Bali Selatan khususnya Tanjung Benoa. Setelah jalan tol di atas perairan (JDP) Benoa–Bandara Ngurah Rai, kini akan lagi pembangunan jalan mel-
ingkar di sekitar kawasan Tanjung Benoa, Kuta Selatan. Bahkan, kajiannya telah rampung. Megaproyek ini diperkirakan akan menelan dana Rp 300 miliar lebih. l Dedy Sumarthana
MBP/edy
25 November - 1 Desember 2013
7
7
LAPORAN UTAMA
Api Dalam Sekam di
A
nak-anak dan ibu-ibu tak peduli panas matahari yang menyengat dan panas udara yang seakan menyembul dari panasnya aspal jalanan. Mereka duduk, tidur dan bergerombol di tengah jalan. Mereka seolah pasang badan untuk sebuah tuntutan yang menyeruak sejak puluhan tahun lalu. Pemandangan itu terlihat ketika ribuan warga Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, melakukan aksi pemblokiran Jalan Raya Singaraja-Gilimanuk, Kamis (7/11) hingga Sabtu (9/11) dinihari. Mereka menuntut diberikan sertifikat hak milik (SHM) atas tanah yang sudah mereka tempati sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Tuntutan mereka tak serta-merta terkab-
8
ulkan. Setelah aksi pemblokiran dihentikan dan sejumlah pejabat penting seperti Gubernur, Bupati Buleleng dan pihak DPRD Buleleng dan DPRD Bali rapat di Kantor Gubernur, Senin (11/11), mereka terpaksa harus bersabar kembali. Rapat di Kantor Gubernur memutuskan bahwa DPRD Bali akan membentuk pansus aset sebagai sebuah proses untuk memadamkan “api dalam sekam� di Sumberkelampok. Persoalan tanah di Desa Sumberkelampok memang bisa disebut sebagai api dalam sekam. Api itu terus merambat di bawah. Jika tak dipadamkan dengan cara yang tepat, api itu bisa menyembul ke permukaan dan berkobar lagi. “Selaku perbekel, saya sudah hampir sepuluh tahun mengawal keinginan warga, tapi saya
seperti mengawal api dalam sekam,� kata Perbekel Sumberkelampok Putu Artana ketika bertemu Bupati Agus Suradnyana di Kantor Bupati. Sejarah Desa Sumberkelampok memang bisa dikatakan unik. Awalnya daerah itu berupa hutan lebat. Lalu sejak tahun 1922 warga dari luar datang secara sporadis. Ada warga dari Madura dan Jawa diajak orang Belanda merabas hutan untuk kemudian ditanami kapuk atau tumbuhan produktif lain. Lalu, setelah Gunung Agung meletus, sejumlah warga dari Karangasem dan Klungkung, juga masuk ke daerah itu, merabas hutan dan berkebun. Selain itu, terdapat juga sejumlah warga yang awalnya menjadi panyakap atau buruh di PT Margarana dan PT Dharmajati yang
25 November - 1 Desember 2013
8
MBP/Adnyana Ole
Ribuan warga Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, melakukan aksi pemblokiran Jalan Raya Singaraja-Gilimanuk, Kamis (7/11) hingga Sabtu (9/11) dinihari. Mereka menuntut diberikan sertifikat hak milik (SHM) atas tanah yang sudah mereka tempati sejak berpuluh-puluh tahun lalu.
Sumberkelampok memiliki Hak Guna Usaha (HGU) terhadap tanah di Desa Sumberkelampok. Terakhir, masuklah warga eks transmigram Timor Timur (Timtim) ke desa itu dengan menempati tanah negara yang diberikan secara resmi oleh pemerintah. Warga yang datang dengan alasan yang berbeda-beda itu kemudian menetap di Desa Sumberkelampok. Pada zaman Orde Baru desa itu ditetapkan menjadi desa administratif. Namun sedikit sekali yang ingat, bagaimana prosesnya hingga desa itu bisa menjadi desa administratif padahal semua tanah yang ditempati warga adalah tanah negara. Namun, yang jelas sejak tahun 1970-an sudah ada riak-riak perjuangan dari warga agar bisa mendapatkan hak milik atas tanah yang mereka kelola dan
mereka tempati. Perjuangan warga secara intens dimulai 7 November 1991. Namun hingga kini perjuangan mereka tak pernah menemui titik terang. Sampai akhirnya terjadi aksi pemblokiran jalan raya. Perbekel Putu Artana mengatakan, warga sudah berjuang sesuai mekanisme, namun ia mengaku selalu dipingpong. “Saya melengkapi administrasi, dan sudah bertemu DPRD Buleleng, Bupati dan Gubernur, namun kami seperti dipingpong,� katanya. Berdasar catatan di Pemkab Buleleng, tahun 2011 jumlah penduduk di Desa Sumberkelampok sebanyak 1.965 jiwa. Tanah yang dimanfaatkan oleh warga berada di tiga banjar. Di Banjar Sumberbatok sebagai pemukiman seluas 1.604 are, pertanian
30.786 are, dan fasilitas umum 1.742 are. Lalu di Banjar Sumberkelampok terdapat pemukiman seluas 1.118 are, pertanian 7.745 are dan fasilitas umum 420 are. Di Banjar Tegalbunder terdapat pemukiman 1.292, pertanian 7.446 are dan fasilitas umum 735 are. Selain itu terdapat Banjar Pucaksari yang ditempati warga eks transmigran Timtim, di mana masing-masing keluarga menempati 50 are tanah negara. Kini untuk bisa mendapatkan hak milik atas tanah yang mereka tempati, warga Sumberkelampok harus menunggu pembentukan Pansus Aset di DPRD Bali. Akankah api dalam sekam itu padam atau justru menyembul dan berkobar? l Adnyana Ole 25 November - 1 Desember 2013
9
9
LAPORAN UTAMA
Nasib Warga Eks Timtim juga Tak Jelas
W
arga eks transmigran Timtim di Desa Sumberkelampok punya kisah sendiri. Jika warga di Banjar Sumberbatok, Banjar Sumberkelampok dan Banjar Tegalbunder menempati tanah eks HGU PT Margarana dan PT Dharmajati yang kini diakui sebagai aset Pemprov Bali, namun warga eks transmigran Timtim di Banjar Pucaksari berada di atas tanah negara yang disebut-sebut sebagai bagian dari Taman Nasional Bali Barat. Setelah Indonesia kalah jajak pendapat di Timtim, warga eks transmigran di Timtim (kini Timor Leste) pulang ke Bali tanpa membawa apa-apa. Di Bali mereka tak punya tempat tinggal sehingga tahun 2000 Pemprov Bali memberikan mereka tanah di bagian barat Desa Sumberkelampok. Masingmasing kepala keluarga (KK) diberikan tanah seluas 4 are untuk rumah dan 50 are untuk lahan garapan. Saat itu warga eks transmigran Timtim berjumlah 98 KK, namun kemudian berkembang menjadi 106 KK. Warga eks transmigran ini juga menyimpan api dalam sekam yang sewaktuwaktu bisa berkobar. Terbukti, warga eks transmigran ini juga pernah melakukan aksi penutupan jalan sekitar tahun 2002. Saat itu mereka menuntut bantuan bangunan untuk pembangunan rumah. Selain itu mereka
juga menuntut kejelasan status tanah yang mereka tempati. Peristiwa penutupan jalan itu terjadi dua hari, 23-24 September 2002. Ketika itu ruas jalan di jalur pantai utara (pantura) Bali, lumpuh total. Para eks transmingran Timtim yang bermukim di Dusun Bukit Sari Desa Sumberkelampok Kecamatan Gerokgak, Buleleng, menutup jalur tersebut. Akibat aksi itu, kendaraan harus antre sepanjang dua kilometer. Aksi penutupan jalan yang dilakukan sekitar 127 KK eks transmigran Timtim itu digelar mulai pukul 18.00 wita, sepulang mereka dari melakukan aksi demo di Denpasar. Aksi itu dilakukan karena tuntutan mereka mengenai bantuan bahan bangunan tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Pemprov Bali. Akibatnya, kemarahan mereka memuncak. Setiba di rumah, mereka langsung mengambil berbagai senjata tajam. Tanpa ada yang mengomando, mereka menebangi belasan pohon di pinggir jalan untuk blokade jalur tersebut. Tak hanya itu, mereka juga menggotong dua bale bengong untuk ditempatkan di tengah jalan. Akibatnya, tentu tidak satu pun kendaraan yang bisa lewat. Situasi di jalur pantura dini hari itu cukup genting. Camat Gerokgak (ketika itu) Ida
Bagus Susrama bersama unsur Tripika Gerokgak tidak mau diterima massa. Bahkan, Wabup bersama Kapolres yang langsung meluncur ke wilayah pantura di daerah Sumberkelampok, Gerokgak itu pun tidak mampu meredakan emosi massa. Akhirnya, sekitar pukul 20.00 wita Bupati Bagiada menyusul ke lokasi. Melalui berbagai pendekatan dan negosiasi yang alot, massa yang bersenjata pedang, golok dan sejenisnya itu akhirnya mau menerima Bupati Bagiada dan Muspida di balai pertemuan desa setempat. Emosi massa perlahan-lahan mereda setelah Bupati Bagiada berjanji akan memperjuangkan nasib mereka. Jalur itu dibuka kembali Selasa dini hari sekitar pukul 01.00 wita, setelah Bupati Putu Bagiada dipaksa membuat surat pernyataan yang isinya mau memperjuangkan nasib mereka. Bupati membuat surat yang berisi dua poin pernyataan. Pertama, Bupati berjanji akan memperjuangkan masalah bantuan bahan perumahan. Kedua, Bupati akan memperjuangkan status tanah atau kepemilikan hak untuk masyarakat eks transmigran tersebut. Surat pernyataan Bupati tertanggal 24 Setpember 2002 itu juga ditandatangani perwakilan eks transmigran Timtim I Nengah Kisid. Warga eks transmigran Timtim, Gede Suka, yang ditemui beberapa hari lalu mengatakan hingga kini status tanah yang ditempati warga belum jelas. Warga tak mengantongi dokumen apa pun termasuk sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB). Warga juga sempat menuntut sertifikat hak milik dan sempat berjuang hingga ke DPRD Buleleng, Bupati Buleleng dan Kantor Pertanahan. Namun hingga kini perjuangan warga tak mendapatkan tanggapan. “Hingga kini tanah yang kami tempati statusnya tak jelas,� katanya. l Adnyana Ole Warga eks transmigran Timtim di Desa Sumberkelampok
MBP/ole
10
25 November - 1 Desember 2013
10
Warga pun
’’Kerauhan’’
Beragam cara yang kini dilakukan masyarakat memprotes kebijakan pemerintah. Salah satunya, memblokir jalan. Rupanya ini cara ampuh untuk ‘’menekan’’ pemerintah menyikapi tuntutan rakyat. Itulah yang dilakukan warga Sumberkelampok. Selama dua hari, mereka melakukan aksi blokir jalan. Akibatnya, dua hari pula jalur Gilimanuk-Singaraja
doa bersama pada palinggih di areal Balai Banjar Dinas Sumber Batok. Palinggih itu disebut sebagai Pura Spanduk yang menjadi tonggak ketika warga memperjuangkan tanah hak milik sejak 7 November 1991. Usai doa bersama, sekitar pukul 10.00 wita pada Rabu (30/10), warga mulai melakukan aksi memblokir jalan raya yang menghubungkan Singaraja dan Gilimanuk itu.
lumpuh total. Aksi pemblokiran jalan itu merupakan buntut dari kekecewaan warga Desa Sumberklampok. Mereka memohon tanah negara yang mereka tempati sejak puluhan tahun lalu, namun hingga kini tak kunjung terkabulkan. Ratusan warga awalnya melakukan
Jalan yang ditutup dimulai dari sebelah barat Pura Jayaprana hingga perbatasan Kabupaten Buleleng dan Jembrana. Warga menutup jalan dengan batu kapur, pohon dan mendirikan tenda di tengah jalan. Akibatnya, puluhan truk tronton meng-
antre di sepanjang Jalan Raya SingarajaGilimanuk. Mobil-mobil yang datang dari arah Singaraja terjebak di sekitar Pura Jayaprana dan terpaksa memutar arah melawati Pupuan, Tabanan untuk ke Jembrana. Sementara mobil yang datang dari arah Gilimanuk juga terpaksa memutar melewati Pupuan atau Bedugul untuk menuju Singaraja. Perbekel Sumberkelampok Putu Artana mengatakan, langkah yang diambil warga merupakan buah kekecewaan karena hingga kini permohonnya tak dipenuhi. Apalagi beberapa kali ingin bertemu Gubernur Bali, juga mengalami kegagalan. Ia mengatakan, sempat bersurat ke Pemprov Bali agar warga bisa bertemu Gubernur. Warga juga sempat datang ke Pemprov, namun hanya diterima Wakil Gubenur. “Kami datang ke pemprov dengan menumpang 17 bus, tapi tidak bisa ketemu, hanya ketemu wagub, katanya mau dipelajari. Ini kan lagu lama lagi,” katanya di tengah-tengah aksi. Menilai usahanya membentur ‘’tembok tebal’’, akhirnya warga melakukan persembahyangan yang ternyata diikuti dengan aksi pemblokiran jalan. Tak hanya batu dan pohon dijadikan penghalang, mereka juga mendirikan tenda di tengah jalan. Tak hanya orangtua, anak-anak juga ikut dalam kasi tersebut. Bahkan ibu rumah tangga juga tak ketinggalan ikut meramaikan aksi yang mereka sebut menuntut hak sebagai warga negara. Di sela-sela aksi beragam peristiwa yang terjadi. Di antaranya, satunya sejumlah warga kerauhan. Bahkan seorang ibu menghunus keris dan menancapkan keris di dadanya, mirip atraksi ngurek yang biasa digelar di sejumlah pura di Bali. Pertanyaanya, adakah hal ini menggambarkan mereka sudah tak kuasa lagi untuk mendapatkan perlakuan yang adil, sehingga harus tebek raga? l Adnyana Ole 25 November - 1 Desember 2013
11
11
POLITIK
Sindrom Bali Menebar Dilema
P
ILKADA telah diputus di Makamah Konstitusi. Pemenangnya pun telah dilantik. Namun, dalil pemilih bisa memilih lebih dari satu yang dijadikan dalih oleh Akil Mochtar saat memutus Pilkada Bali berbuntut dilema. Sindrom Bali pun kini menyulut perdebatan.
Fakta bahwa ada yang bias dalam dalil putusan MK kini diperdebatkan banyak pihak. Pemilih bisa diwakilkan dalam memilih dinilai sesuatu yang absurd. Putusan ini mengabaikan dalil, satu orang satu suara. Tak hanya politisi di Jakarta yang memperdebatakan putusan MK ini. Pengamat Sosial-Politik Bali Ngurah Karyadi pun bicara. Ia mengatakan sindrom Bali atas putusan MK ini harus diurai sejak awal sebelum pesta politik 2014 digulirkan. ‘’Problem politik ini bisa dikelola untuk membangun kontrak politik berbau ekonomi. Ini sangat riskan dalam konteks demokrasi,’’ ujarnya kepada Majalah Bali Post. Ngurah Karyadi menilai, perjuangan politisi PDI-P muntuk menelisik dalil putusan MK yang saat itu dipimpin Akil Mochtar patut dicermati banyak pihak. Terlebih kini, di Bali ada kecenderungan mobilisasi pemilih bedasarkan pendekatan kelompok. Konstituen politik kini tak murni kader partai. Dukungan politik kini bisa dalam bentuk organisasi sosial yang digiring dengan pemberian Bansos. ‘’Bansos politik ini berpotensi mengaburkan kader partai dalam ruang kebebasan berpendapat,. Kesepakatan politik karena ada muatan transaksi ini yang harus dikontrol,’’ ujarnya. Tak hanya Ngurah Karyadi yang menggugat dalil MK dalam memutus Pilkada Bali, Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto juga mempertanyakannya. Putusan MK bahkan dinilai tidak konsisten. Hal itu dapat ditunjukkan dengan putusan perkara sengketa Pilgub Bali yang memenangkan pasangan Made Mangku Pastika-I Ketut Sudikerta dengan putusan perkara MK lain yang juga di wilayah Bali yaitu sengketa Pilkada Bangli pada 2010 lalu. Padahal seluruh kejadian dan argumentasi yang disampaikan secara substansi sama soal pemilih mencoblos lebih dari sekali atau mewakilkan.
12
MBP/Ade
Sidang gugatan Pilkada Bali di Makamah Konstitusi. Hakim Makamah Konstitusi tidak mempersalahkan pemilih melakukan pencoblosan lebih dari sekali. Dalil ini dipermasalahkan sejumlah kalangan.
“Apa yang membedakan kejadian Pilkada Bangli yang juga di Bali, dengan Pilgub Bali? Bukankah dengan kejadian tersebut artinya hakim MK menggunakan legalitas MK, bahwa keputusan bersifat final dan mengikat sebagai landasan untuk membuat dalil hukum, sekalipun bertentangan dengan prinsip yang paling fundamental dalam pemilu,” katanya. Di putusan sengketa Pilkada Bangli itu, ada persoalan sama di mana ada pemilih yang mencoblos lebih dari satu kali atau diwakilkan dengan dalih mewakili orang lain. Ternyata MK mengambil keputusan pungutan suara ulang di 12 TPS. Ketika Pilgub Bali, MK malah membenarkan pemilih memilih lebih dari sekali atau mewakilkan, sehingga tidak perlu ada pemungutan ulang. Untuk itu, Hasto menantang untuk menguji bersama setiap dalil hukum yang dibuat oleh MK. “Mana yang murni sebagai tugas mulia MK dan mana yang dihinakan oleh praktik transaksi kepentingan. Keputusan
MK sudah nyata-nyata membuat hukum tersendiri dan justru bertentangan dengan UUD 1945. Mengapa mereka membuat dalil hukum itu? Kepada kepentingan siapa mereka berpihak,” ujarnya. Hasto juga mempertanyakan Ketua MK Hamdan Zoelva sebagai pengganti mantan Ketua MK Akil Mochtar, atas sikapnya yang mendukung Akil Mochtar soal putusan yang membolehkan satu orang bisa mencoblos lebih dari satu kali dalam pemilihan umum atau kepala daerah. “Kami meminta penjelasan Hamdan Zoleva terkait ketentuan Undang-undang, dimana pemilih memilih lebih dari satu kali atau diwakilkan. Sebab dalam UU, disebutkan bahwa jika terbukti, maka harus dilakukan pungutan suara ulang,” kata Hasto. Menurutnya, MK justru membuat produk hukum tersendiri yang bertentangan dengan UU yang materi muatannya sudah sangat jelas. l Dira Arsana/Hardianto
25 November - 1 Desember 2013
12
Demokrasi Terpasung Bansos Politik POLITISI yang terpilih menjadi wakil rakyat sering mengingkari janji politiknya. Dengan predikat sebagai legislator, politisi tak lagi menjadi pembela rakyat tetapi lebih sering membela kepentingan eksekutif karena adanya kompromi. Ke depan dipandang perlu ada kontrak politik antara caleg dengan rakyat selaku pemilih. Pandangan ini dilontarkan mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Denpasar Ray Misno. Ia berpendapat tersumbatnya saluran aspirasi selama ini diaktualisasikan dalam bentuk konflik politik. Bentuknya bisa pemboikotan bahkan konflik fisik. Pengingkaran janji politik juga bisa mendelegitimasi kepercayaan terhadap lembaga politik. Untuk itu, ia mengingatkan agar para kandidat memiliki komitmen terukur yang bisa dijadikan acuan oleh pemilih. Lewat komitmen politik ini masyarakat diharapkan dapat mengukur komitmen calon anggota legislatif pada Pemilihan Umum 2014. Dengan cara ini, maka mobilsasi pemilih dengan politik uang bisa ditekan. Pilihan politik semestinya berdasarkan kompetensi kandidat dan agenda politik yang ditawarkan. ‘’Yang terjadi sekarang ini adalah permufakatan untuk memilih karena adanya kesepakatan kelompok. Kini, banyak organsisasi sosial kemasyarakatan yang tak berdaya membangun ruang demokrasi karena terlanjur menerima bansos politik dari kandidat,’’ ujarnya. Pemasungan ruang demokrasi dalam bingkai kelompok dan organisasi sosial kemasyarakatan ini merupakan bentuk-bentuk delegitimasi terhadap demokrasi, yang memberi ruang kebebasan berpolitik dan memilih. Namun, menurut dia kontrak politik antara calon pemilih dan caleg perlu diwujudkan, mengingat siapapun dengan latar belakang
apapun dapat mencalonkan menjadi anggota legislatif, sehingga perlu dikawal secara cermat. Ray berpandangan pada era demokrasi ini, siapapun bisa menjadi calon. Jangan sampai ruang yang terbuka ini dijadikan kesempatan untuk memperdaya pemilih. Melalui kontrak politik, menurut dia, masyarakat juga dapat mengajukan aspek pembangunan apa saja yang berani ditingkatkan ketika caleg yang bersangkutan terpilih. Dengan tolok ukur tersebut, masyarakat dapat menilai caleg mana yang paling layak dipilih. Di lain pihak, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi juga memandang perlu adanya perbaikan saluran aspirasi masyarakat secara maksimal menjelang penyelenggaraan Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD pada 9 April 2014 dan Pemilu Presiden pada 9 Juli 2014. Menteri Dalam Negeri menyebutkan menghadapi penyelenggaraan Pemilu 2014, diperlukan upaya maksimal perbaikan saluran aspirasi masyarakat yang melibatkan upaya mewujudkan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Ketertiban masyarakat merupakan salah satu upaya yang harus dioptimalkan perwujudannya. Selain itu, juga perlu dilakukan pendidikan dan pemahaman karakter bangsa, pengembangan nilai budaya daerah yang baik, peningkatan peran para tokoh masyarakat, serta mengembangkan dialog dengan pengelola media sehingga menjadi langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung terciptanya ketenteraman dan ketertiban serta stabilitas di pusat dan daerah. Mendagari menyatakan berdasarkan pantauan Kementrian Dalam Negeri yang dihimpun dari Laporan Situasi Daerah dan dipantau melalui Pusat Komunikasi dan Informasi, sepanjang periode 2010--2012 terekam 298 peristiwa konflik. Eskalasi konflik cenderung meningkat hingga akhir 2012. Pada akhir 2012, terjadi 128 peristiwa konflik, meningkat dibanding konflik 2010 sebanyak 93 peristiwa dan 77 peristiwa konflik pada tahun 2011. Peristiwa konflik tersebut didominasi oleh konflik horizontal, bentrokan antarwarga, dan bersumber dari permasalahan yang berkaitan dengan politik, ekonomi, dan budaya. ‘’Untuk itu, upaya pencegahan dini harus dikedepankan agar konflik dapat diatasi pada tahap awal dan tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih besar,’’ ujarnya. l Dira Arsana 25 November - 1 Desember 2013
13
13
LINGKUNGAN
Seorang peneliti diterjunkan ke dasar laut untuk melakukan pengamatan terumbu karang.
Terumbu Karang Berkurang
P
otensi wisata bahari di Bali memang menarik. Ada 13 lokasi penyelaman di Bali seluas sekitar 20 kilometer persegi. Di kawasan penyelaman tersebut terdapat jenis karang massive, flate, karang lunak tempat bersembunyi ikan-ikan. Merujuk Peta Lingkungan Pantai Indonesia 1993 skala 1 : 50.000, Citra Satelit Landsat Bali 7 Path 116 Row 66 liputan Mei 2002, luasan terumbu karang keseluruhan di Bali 7.592 hektar. Dewa Kadek Wira Sanjaya, Outreach Coordinator Coral Triangle Center (CTC) -- Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bekerja sama dengan Pemkab Klungkung dalam membangun Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Nusa Penida -- menyebutkan beberapa lokasi yang diamati sudah mengalami tekanan. Tekanan tersebut menyebabkan penurunan persentase penutupan terumbu karang. Di Desa Toya Pakeh pada kedalaman 10 meter ada
14
25 November - 1 Desember 2013
penurunan persentase penutupan karang sekitar 10 persen. Di Desa Ped ditemukan penurunan penutupan karang pada kedalaman 3 meter dan 10 meter. Ada kesamaan kondisi terumbu karang di Desa Ped pada tahun 2002 dan 2007 dengan Toya Pakeh sesuai data base di Dinas Perikanan dan Kelautan Klungkung. Penurunan itu karena koral yang mati (dead coral) meningkat pada kedalaman 10 meter. Aliran sedimentasi sangat tinggi sehingga banyak jenis karang tertutup pasir. Sementara di Desa Lembongan di depan Celagi Empak yang intensif dimanfaatkan untuk pariwisata, banyak pontoon di sekitar lokasi. Dari pengamatan tahun 2003 dan 2004, ada peningkatan persentase penutupan karang hidup pada kedalaman 3 meter dan 10 meter. Namun, tahun 2008 justru penurunan persentase penutupan karang hidup di sana hanya 17,67 persen pada kedalaman 10 meter. Bandingkan dengan tahun 2004 penutu-
pan karang kategori baik 74,04 persen. Kata Wira, tekanan terhadap terumbu karang ini berasal dari alam maupun aktivitas manusia. Tekanan dari alam seperti badai, perubahan suhu air laut dan penyakit lainnya. Sedangkan tekanan aktivitas manusia seperti pencemaran, perusakan langsung akibat pembuangan jangkar kapal atau jukung, karang terinjak, sampah dan sebagainya. Salah satu upaya menanggulangi penurunan persentase karang di Nusa Penida, dengan membuat media penempelan terumbu karang buatan. Media penempelan planula karang dan membuat desain terumbu karang buatan ini dilakukan masyarakat setempat didampingi ahlinya. Modelnya disesuaikan dengan kondisi lingkungan serta desain yang diminati atau tergantung nilai estetikanya. Salah satu contohnya, model dengan dimensi 1 m x 1 m dengan tinggi 66 cm. l Bagiarta
Bali Post/ole
Kelompok nelayan di Desa Kerobokan Sawan siap membawa hexadome ke laut.
MBP/wira
Menghidupkan Terumbu Karang Perairan Bali Utara menyimpan kekayaan terumbu karang yang diandalkan menjadi daya tarik wisata dasar laut. Sayang belakangan ini terumbu karang tersebut mengalami kerusakan akibat penangkapan ikan dengan bahan peledak. Catatan di Dinas Perikanan Kelautan (Diskanla) Buleleng, luas terumbu karang dari perairan ujung timur sampai ke barat Buleleng sekitar 2.200 hektar. Dari total luasan tersebut, 65 persen masuk kategori sedang. Ini diukur dari tingkat tutupan karang 50 persen. Seluas 15 persen kondisinya baik, di mana tingkat tutupan karangnya 75 persen. Sedangkan 20 persen lagi rusak, berdasarkan tutupan karang di bawah 50 persen. Berbagai upaya dilakukan memperbaiki terumbu karang di perairan Buleleng. Misalnya, membuat terumbu
karang buatan dialiri listrik agar karang alami hidup kembali. Belakangan, di perairan Desa Pemuteran Kecamatan Gerokgak, sejumlah warga melepaskan Solar Panel Energi Tenaga Surya ke tengah laut. Tujuannya mempercepat pertumbuhan terumbu karang. Awal November lalu, kelompok nelayan di Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan, dibantu sejumlah penyelam menanam hexadome (rumah ikan buatan) di laut untuk merangsang dan memperbaiki pertumbuhan terumbu karang. Kelompok nelayan itu menanam 20 hexadome ke tengah laut. Ini hexadome tunas kelapa pertama ditenggelamkan di Indonesia. Yang menarik, hexadome yang dipasang berbentuk tunas kelapa. Hexadome setinggi 1,5 meter itu digarap anggota pramuka dari Dewan Kerja Saka Bahari Buleleng. Hexadome itu berbentuk tunas
kelapa yang pertama ditenggelamkan di perairan Indonesia. Pamong Saka Bahari Kwarcab Buleleng Made Suartha mengatakan, hexadome itu dikerjakan bergotong royong oleh anggota Saka Bahari. Namun dalam penanamannya, bekerjasama dengan Kelompok Nelayan Rukun Sejati Desa Kerobokan, KJB Diver, serta Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Buleleng. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Buleleng Nyoman Sutrisna mengatakan, penanaman hexadome itu sudah dilakukan nelayan sejak 2010 untuk memperbaiki terumbu karang yang rusak akibat pengeboman ikan. ‘’Penanaman hexadome tak hanya di Kerobokan, sebelumnya dilakukan di perairan Tejakula,’’ujarnya. l Adnyane Ole
25 November - 1 Desember 2013
15
OPINI
Tanah, Berkah atau Musibah?
P
ara leluhur di masa lalu mengingatkan pertisentana (anak keturunan) mereka tentang kerukunan hidup berumah tangga, bertetangga dan bermasyarakat. Untuk membangun tatanan keluarga, tetangga dan masyarakat yang harmonis, para leluhur berpesan agar ahli waris mereka berhati-hati terhadap tiga faktor paling dominan yang setiap kata berakhir dengan dua huruf ‘ah’. Ketiganya adalah, tanah, jinah (uang) dan somah (suami/ istri). Apabila mabuk terhadap salah satu kata yang berakhir ‘ah’ itu, jalan hidup seseorang hanya menunggu waktu kehancurannya. Sesungguhnya petuah yang mirip bhisama tersebut masih tetap relevan dalam kehidupan modernisasi sekarang ini. Banyak fakta yang bisa menjadi bukti dengan terseretnya para petinggi negeri ini ke dalam arus pusaran korupsi yang mengakhiri serta menghapus catatan pengabdian, karier serta prestasi mereka. Faktor yang mendorong kehancuran hidup para pejabat birokrat itu juga dominan disebabkan oleh tiga kata yang berakhir dengan ‘ta’. Ketiganya: tahta (jabatan), harta (uang) dan wanita (perempuan) Fenomena kepemilikan atas tanah sesungguhnya bukan hanya monopoli masyarakat Bali. Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki tanah yang sangat luas dan dukungan sumber daya air yang melimpah. Tetapi akibat sebaran penduduk belum merata, sehingga tejadi ketimpangan kepemilikan yang menimbulkan benih-benih kecemburuan sosial. Aksi pemblokiran jalan umum SingarajaGilimanuk oleh warga Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng yang menuntut agar diberikan sertifikat hak milik atas tanah yang mereka tempati secara turun-temurun itu, kini menyentak perhatian masyarakat Bali, elite birokrat dan aparat keamanan. Dikhawatirkan masalah yang sudah diperjuangkan sejak tahun 1970-an itu akan memantik persoalan baru yang menodai keharmonisan
16
25 November - 1 Desember 2013
I Nyoman Rutha Ady, S.H., M.H.
hidup vertikal (antar-masyarakat) dan horizontal (hubungan warga negara dengan aparatur birokrasi). Fakta empiris menunjukkan, masih banyak krama (masyarakat) Bali yang tidak memiliki tanah dengan status hak milik sebagaimana kondisi yang dialami oleh warga Desa Sumberkelampok. Terlepas dari status hak atas tanah seluas 600 hektar di desa itu, tetapi secara de facto (kenyataan) masyarakat di sana sudah menempatinya secara estafet (berantai) dari para leluhur mereka. Sementara perjuangan untuk mendapatkan sertifikat hak milik atas tanah itu sudah dilakukan sejak hampir setengah abad. Tetapi pihak Pemprov Bali yang tercatat sebagai pemilik tanah itu hingga saat ini masih ‘menggantung’ permohonan masyarakat Desa Sumberkelampok. Sebagai pelaksana program pemerintahan, pembangunan dan sosial kemasyarakatan, sudah saatnya Pemprov Bali menentukan sikap dengan landasan norma hukum yang berkeadilan. Diperlukan langkah-langkah objektif dan
komprehensif sebagai solusi cerdas untuk meredam gejolak masyarakat setempat. Persoalan tanah, apalagi sudah berlangsung puluhan tahun, memang tidak mudah untuk menyelesaikannya. Tetapi di balik fenomena tanah yang demikian rumit, pasti terselip solusi yang bisa mengakhiri tuntutan warga masyarakat. Intinya, harus ada niat baik dari semua pihak, jujur serta bertanggung jawab dalam berkomunikasi dan tidak ditunggangi oleh kepentingan eksternal (pihak luar). Apalagi terselip kepentingan untuk menjadikan lahan tersebut sebagai komoditas bisnis yang hanya menguntungkan pihak-pihak dan oknum tertentu saja. Petuah pangelingsir (pinisepuh) dalam keluarga tentang pentingnya sikap kehati-hatian terhadap masalah tanah, perlu menjadi bahan renungan semua pihak, baik masyarakat maupun pemangku kebijakan publik. Dorongan yang meledak-ledak serta amarah dari dalam nurani dan lubuk hati setiap insan manusia harus mampu dikendalikan oleh logika, pikiran sehat dan kepala dingin. Karena setiap persoalan pasti ada penyelesaiannya bagi kemanfaatan positif semua pihak. Terpenting, solusinya harus tetap mengandung asas dan norma hukum yang berkeadilan. Sudah banyak fakta yang harus menjadi cermin dan pelajaran berharga bagi masyarakat maupun pemerintah, ketika sengketa perebutan hak atas tanah masuk ke meja lembaga peradilan. Selain memerlukan penyelesaian proses hukum yang panjang dan biaya besar, tidak jarang ujung-ujungnya tanah sebagai objek sengketa hukum berpindah kepemilikan kepada pihak ketiga. Oleh karena itu, sangat penting dan wajib hukumnya untuk memperhatikan petuah para leluhur. Tanah harus tetap menjadi berkah bagi kehidupan. Jangan sampai tanah menjadi musibah karena terdorong nafsu amarah dan serakah. Penulis, pemerhati masalah sosial, tinggal di Legian, Kuta
J A J A K P E N DA PAT
Ngadat, Setelah Tersangka Ditetapkan
K
asus CPNS Badung dan Pemprov Bali masih jalan di tempat. Berkasnya bolak-balik dari meja penyidik dan Kejaksaan. Lambatnya penanganan kasus CPNS ini pun membuat publik meragukan kinerja kepolisian dalam menangani kasus-kasus yang menjadi perhatian publik. Buktinya, ketika Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat terkait kinerja kepolisian dalam menindak dan memproses kasus CPNS, ternyata 64 persen responden tak percaya dengan kinerja kepolisian. Berlarut-larutnya proses hukum kasus CPNS di Kabupaten Badung dan Pemprov Bali mengindikasikan kinerja polisi tak profesional dalam menangani kasus CPNS. Selama ini, kata responden, polisi baru sebatas bisa menetapkan tersangka, namun gagal dalam melakukan proses lanjutan untuk sampai pada tahapan pembuktian di pengadilan. Bolak-baliknya berkas CPNS dari kejaksaan ke penyidik, mengindikasikan ada yang ditutup–tutupi dalam proses penyidikan. Selebihnya, 34 persen responden yakin polisi akan melakukan proses hukum secara profesional dan bebas intimidasi dalam menangani kasus CPNS. Sebagai pengayom masyarakat, polisi semestinya menuntaskan kasus ini, jika tak ingin dicap sebagai pengayom pelaku kejahatan. Polisi harus punya iktikad baik untuk membuka dan menuntaskan kasus ini secara cepat dan akurat. Sedangkan, 2 persen responden lainnya tak memberikan respons atas pertanyaan terkait kinerja kepolisain dalam menangani kasus CPNS. Di lain pihak, responden juga mendesak kepolisian dan kejaksaan mengusut tuntas dugaan adanya manipulasi data honorer K2 yang dinyatakan lolos verifikasi. Ditengarai, ada banyak honorer K2 yang lolos menggunakan ‘’ jasa’’ oknum kepala sekolah dan Kepala Dinas. Polisi juga diminta menuntaskan kasus CPNS di Kabupaten Badung dan Pemprov Bali agar kasusnya tidak terkesan ‘’dikelola’’ untuk melindungi kepentingan oknum tertentu.
Rekrutmem calon pegawai negeri sipil (CPNS) digelar serentak 2 November Bahkan, rekrutmen CPNS tahun ini juga ditengarai sarat permainan. Namun modus yang lebih rapi. Celah manipulasi dan transaksi juga terbuka saat pendataan honorer K2. Tahapan ini banyak direkayasa sehingga ada administrasi fiktif. Sejumlah Honorer K2 bodong yang akhirnya mundur sebelum tes digelar mengindikasikan adanya ‘’transaksi’’ dalam pengisian kuota CPNS. Terdapat 60 persen responden tidak yakin tes CPNS kali ini bebas dari kongkalikong. Selebihnya 31 persen responden yakin tes CPNS kali ini bebas dari permainan. Menurut responden, pejabat dan penguasa yang suka memperdagangkan kuota kini berada dalam posisi takut dan waswas, setelah kasus CPNS di Kabupaten Badung dan Provinsi Bali disidik kepolisian. Selebihnya, 9 persen responden tak memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Sekot Denpasar AAN Rai Iswara menepis tudingan ada permainan dalam tes CPNS kali ini. Pihaknya sejak awal berkomitmen agar tes benar-benar bersih. Pelibatan ombudsman untuk mengawasi tes membuktikan adanya itikad untuk melakukan proses secara transparan. l Dira Arsana
Sejak awal rekrutmen CPNS tahun ini dicurigai ada pemalsuan data peserta pada data best tenaga kontrak. Melihat pengalaman kasus CPNS tak pernah tuntas, yakinkah anda aparat hukum mampu membongkar pemalsuan data dalam rekrutmen CPNS kali ini? tidak tahu
’’Berlarut-larutnya proses hukum kasus CPNS di Kabupaten Badung dan Pemprov Bali mengindikasikan kinerja polisi tak profesional dalam menangani kasus CPNS. Selama ini, kata responden, polisi baru sebatas bisa menetapkan tersangka, namun gagal dalam melakukan proses lanjutan untuk sampai pada tahapan pembuktian di pengadilan. Bolak-baliknya berkas CPNS dari kejaksaan ke penyidik, mengindikasikan ada yang ditutup– tutupi dalam proses penyidikan.’’
2%
N = 620 yakin tidak yakin
34% 64%
grafis/de wiryawan
25 November - 1 Desember 2013
17
PENDIDIKAN
Di Bangli Banyak Sekolah Pakai Kelas Jauh
Siswa Terpaksa Belajar di Kelas Berdinding Kampil
U
ntuk menjadi pintar, tak harus belajar di ruang kelas mewah. Hal itulah yang mungkin diyakini sejumlah siswa SD di Kabupaten Bangli, tepatnya sekolah yang terdapat di Kecamatan Kintamani. Semangat belajar para siswanya seakan tak pernah surut, meski mereka terpaksa harus belajar di ruangan kelas seadanya.
Tak seperti ruang kelas pada umumnya, kelas berdinding kampil ini tidak dilengkapi dengan atap, plafon dan jendela. Tak ubahnya, ruang kelas para siswa di sana seperti ruang darurat tempat pemungutan suara yang dibuat saat hajatan pemilu. Namun demikian, ruang kelas yang dibangun swadaya oleh warga banjar setempat itu juga dilengkapi dengan papan tulis, kursi
Para siswa belajar di kelas berdinding kampil.
Potret memprihatinkan itu, salah satunya ditunjukkan oleh puluhan siswa kelas 1 SD yang belajar di dalam ruang kelas berdinding kampil. Kelas darurat itu dibangun di areal Balai Banjar Serongga, Desa Songan B, Kintamani. Ruang kelas tersebut disusun dengan tiang bambu dan disekat dengan jaritan karung kampil.
18
25 November - 1 Desember 2013
dan meja. Kepala SDN 6 Songan Wayan Suandara beberapa waktu lalu menjelaskan, ruang kelas berdinding kampil itu selama ini merupakan kelas jauh dari SDN 6 Songan yang berada di Banjar Dalem, Songan B. Kelas darurat atas kesepakatan warga itu dibuat lantaran kondisi seko-
lah tersebut selama ini overload alias kelebihan jumlah siswa. Tak sebanding dengan daya tampung yang ada. Jarak antara Banjar Serongga dan Banjar Dalem sendiri sekitar tiga hingga empat kilometer. Sehingga, agar warga Serongga dapat tetap menyekolahkan anak-anaknya di sekolah tanpa harus menempuh jarak yang lumayan jauh, maka dengan terpaksa pihak sekolah bersama warga membuat kelas darurat tersebut. Potret memprihatinkan lainnya ternyata juga terjadi di Banjar Kayupadi, Desa Songan B, Kintamani. Akibat overload, para siswa kelas jauh yang bersekolah di SDN 3 Songan terpaksa harus belajar bersama dengan hasil panen petani bawang. Mereka belajar di bangunan gudang bawang yang biasanya dijadikan tempat menyimpan dan menjemur bawang merah hasil panen petani. Yang mengenaskan, proses belajar mengajar di kelas jauh ini sudah terjadi hampir tiga tahun lamanya. Kendati sudah tiga tahun berjalan, namun tak kunjung ada perhatian berarti dari Pemkab Bangli. Terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bangli Nyoman Sumantra, saat dikonfirmasi mengakui bahwa di Bangli saat ini masih banyak sekolah yang mempergunakan kelas jauh. Kondisi kekurangan ruang kelas belajar (RKB) itu mayoritas terjadi di sekolah dasar. Kurangnya ruang kelas belajar itu terjadi bukan karena bangunan sekolah rusak, melainkan karena jumlah ruangan kelas yang terbatas. ‘’Sekolah rusak sudah tidak ada. Bahkan DAK di SD pernah sisa tidak terserap karena semua sekolah sudah direhab. Sebenarnya kekurangan RKB bukan karena rusak tetapi karena jumlah siswa yang melebihi daya tampung,’’ tegasnya. l Swasrina
Siswa SMK PGRI 4 Denpasar mengukir buah berlogo UKS saat lomba sekolah sehat.
Sekolah Sehat, Sudahkah Kantinnya Sehat? DI Bali rutin digelar lomba sekolah sehat yang dulu disebut lomba UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Lomba ini diikuti sekolah (SD, SMP, SMA/SMK) yang ditunjuk pemkab/pemkot setempat yang memiliki keunggulan dalam upaya kesehatan. Salah satu sisi penting yang dilupakan aspek kesehatan di sekolah yakni kondisi kantin, khususnya makanan yang dijual. Sudah sehatkah segala jenis produk makanan di sekolah? Jawabnya pasti belum. Karena kenyataannya sekolah tetap menjual produk makanan yang mengandung zat pengawet, pewarna buatan dan sebagainya. Kondisi keseharian itu bisa ditemui di sejumlah sekolah, namun ketika lomba jenis makanan itu sengaja disembunyikan. Makanya Ketua Tim Penilai Lomba Sekolah Sehat
Provinsi Bali Dewa Kariada, S.H. mengatakan, lomba sekolah sehat tak boleh hanya pada tataran teori, melainkan melaksanakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara berkesinambungan. Kadisdikpora Kota Denpasar IGN Eddy Mulya mengatakan infrastruktur sekolah sehat seperti ruang UKS dan kantin sekolah di Denpasar sangat memadai. Soal kantin sekolah, Kadiskes Kota Denpasar dr. Luh Sri Armini, M.Kes. mengatakan pihaknya sudah menyeleksi sejumlah sekolah yang berhak mendapatkan plakat higienis dan sanitasi dari Diskes. Ini membuktikan bahwa warga sekolah aman dari makanan berbahaya. l Sueca
25 November - 1 Desember 2013
19
MANCANEGARA
Penerbangan Perdana Sky Surabaya-Denpasar-Maumere-Kupang DALAM rangka memperluas jaringan khususnya di wilayah Pulau Jawa dan Bali, NTB, NTT mulai hari ini Sky Aviation base pesawat di surabaya kembali membuka rute baru yang ke-37 dengan rute: Surabaya-Denpasar-MaumereKupang PP dengan pesawat Sukhoi SSJ 100 kapasitas 87 kursi, berangkat dari surabaya menuju Denpasar pukul 06.20, Denpasar ke Maumere pukul 08.55 dan
Maumere ke Kupang pukul 11.10 harga tiket kelas ekonomi mulai dari Rp 250.000 sampai Rp 1.200.000. Penumpang akan dimanjakan dengan pesawat teknologi terkini berikut pilihan kelas
20
25 November - 1 Desember 2013
bisnis 12 kursi dan kelas ekonomi 75 kursi, jarak bangku sangat lapang, tempat bagasi atas sangat besar, pelayanan cabin crew yang handal, berdedikasi, dan profesional, dan selama penerbangan akan disajikan makanan minuman full service di kelas bisnis dan medium service di kelas ekonomi. Kehadiran Sky Aviation untuk rute baru ini tentunya akan semakin membantu masyarakat dalam menentukan pilihan penerbangan yang aman dan nyaman sekaligus menjadi penghubung perekonomian dan juga mendorong pertumbuhan pariwisata di Indonesia. Direktur Utama Sky Aviation Krisman Tarigan mengatakan, tidak kalah penting komitmen Sky Aviation dalam memberikan jaminan keselamatan penumpang ditunjukkan dengan penerapan program asuransi penerbangan Sky Protection, sebagai program asuransi kecelakaan bekerja sama dengan CIU Insurance yang melindungi penumpang sejak pembelian tiket, tanpa membebani biaya tambahan bagi penumpangnya.
“Inovasi Sky Protection menempatkan kami sebagai penerbangan pertama dan satu-satunya di Indonesia yang melindungi pemegang tiket di setiap rute penerbangan Sky Aviation dimulai sejak pembelian tiket dengan nilai tanggungan hingga mencapai 1.25 miliar.’’ Sky Aviation memiliki Air Operator Certificate (AOC) 121 dan izin niaga berjadwal (reguler) dan Niaga tidak berjadwal (carter) yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan, dengan lebih dari 70 rute domestik dan internasional, saat ini memiliki dan mengoperasikan 11 pesawat; 5 Fokker 50, 1 Fokker 100, 1 Grand Caravan, 2 Cirrus, dan 2 pesawat terbaru Jet Sukhoi SSJ 100. Pesawat telah ditempatkan di beberapa kota di Indonesia sebagai base seperti Halim Perdanakusuma (Jakarta), Pekanbaru, Pangkal Pinang, Denpasar dan Surabaya, juga memiliki jaringan penjualan lebih dari 1.000 travel agent yang membantu penjualan tiket di seluruh Indonesia. ‘‘Sky Aviation akan terus mengudara menghubungkan kota-kota di seluruh Indonesia dan belahan dunia sesuai dengan visi to fly inevery sky,’’ kata Yusuf Ardhi sebagai Komisaris Sky Aviation. (bns)
Topan Haiyan
Terbesar Sepanjang Sejarah
T
opan terbesar sepanjang sejarah menerjang Filipina. Ribuan orang dikabarkan meninggal dunia. Tacloban, ibu kota dari Provinsi Leyte, merupakan daerah terparah yang terkena dampak dari bencana ini. Kota berpenduduk lebih dari 200 ribu jiwa ini tak berdaya dan dibuat putus asa. Penduduk Tacloban kehilangan sanak saudara dan tempat tinggal. Mereka juga sangat membutuhkan air dan makanan. Di Bandara Tacloban, ribuan korban topan mencoba untuk keluar. Mereka berkemah di bandara dan berlari ke landasan udara ketika pesawat datang. Mereka meloncat, melewati pagar besi yang patah. Sementara beberapa prajurit dan polisi mencoba untuk mengendalikan mereka. Kebanyakan pengungsi tidak berhasil naik ke pesawat. “Kami butuh bantuan. Tidak ada yang datang,” kata Aristone Balute, seorang warga berusia 81 tahun. “Kami belum makan selama beberapa hari,” ujarnya sambil menahan dingin karena pakaiannya basah dari hujan, dan uraian air mata. “Kami selamat dari badai, tetapi tidak ada makanan,” Brendo Gamez, Wali Kota Kota Abon-abon, salah satu kota di Provinsi Tacloban “Di mana makanan? Di mana air?” ujarnya lagi. Dua wali kota lainnya, Wali Kota Julita Irvin Dy, Gomez dan Wali Kota Tanauan Pel Tecson pergi ke Bandara Tacloban untuk melihat sendiri bahwa bantuan yang dijanjikan oleh pemerintah pusat telah dimuat di truk militer dan akan dikirim ke kota-kota mereka. “Ini belum cukup. Kita harus meningkatkan upaya,” kata Valerie Amos, kepala Kantor Bantuan Kemanusiaan PBB. “Meskipun kami telah melakukan semua, pada saat yang sama ada lebih banyak yang kita harus mampu melakukan,” katanya. Pemerintah Filipina mengatakan mereka menghadapi masalah logistik terburuk pasca-terjadinya topan Haiyan yang berdampak pada 11 juta orang. Sekretaris Kabinet Rene Almendras mengatakan pemerintah kewalahan dengan dampak hebat topan Haiyan yang menjadi salah satu
topan paling kuat sepanjang sejarah. Jumlah korban tewas yang diumumkan secara resmi adalah lebih dari 2.300, tetapi pejabat lokal dan pekerja dari lembaga bantuan mengatakan jumlah ini bisa bertambah signifikan. Almendras mengatakan pemerintah telah bereaksi terhadap bencana ini dengan cukup baik. Namun, sejumlah warga mengungkapkan kemarahan karena lambannya upaya bantuan dari pemerintah. Wartawan
BBC Jonathan Head di Tacloban-kota berpenduduk 220 ribu yang hancur di Pulau Leyte, mengatakan pada upaya penyaluran bantuan yang lebih terorganisir telah mulai dilakukan. Topan tersebut telah mengundang simpati dari banyak pihak. Berbagai negara berlomba-lomba memberikan bantuan guna meringankan beban mereka yang terkena bencana. l Gugiek Savindra
DAERAH
Terminal Makin Termarginalkan MBP/Dharmada
K
etut Kandi, salah satu sopir angkot yang biasa nangkring di Terminal Batubulan, mengaku sangat merasakan sepinya penumpang saat ini. Pekerjaan sopir angkut yang dilakoni sejak 20 tahun ini menjadi saksi perkembangan kendaraan angkutan yang ada di Terminal Batubulan. Namun dirinya tak mengeluh kendati pekerjaan sehari-harinya makin terancam dengan kehadiran kendaraan pribadi. Diakuinya, setiap hari operasional yang dibutuhkan Rp 90 ribu dari Batubulan ke Selat, Karangasem. Untuk penumpang per harinya paling hanya memperoleh 3-4 orang. “Meski begitu tetap kami syukuri,� katanya. Sedangkan atas kondisi infrastruktur terminal, selama dirinya menjadi sopir, rehab yang pernah dilakukan sekitar dua kali sampai sekarang. Saat memasuki terminal tampak sejumlah kendaraan angkutan umum seperti bus, isuzu dan microlet tampak parkir acak, disertai dengan sopir kendaraan membersihkan kaca-kaca kendaraan mereka. Aspal berukir (pecah-pecah-red) menambah penilaian buruk keberadan
22
25 November - 1 Desember 2013
Terminal Batubulan
terminal di bumi seni itu. Begitu pula gerobak pedagang pasar senggol di beberapa sudut, menambah kesan seakan terminal tak terawat. Terminal Batubulan selama ini memang difungsikan ganda. Pagi hingga siang hari, terminal dijadikan sebagaimana fungsinya yakni prasarana transportasi yang menaikkan maupun menurunkan penumpang baik barang maupun orang. Beranjak siang hari, Terminal Batubulan dijejali oleh para pedagang pasar senggol hingga malam hari. Saat ini, Terminal Batubulan lebih ramai ketika sore dan malam hari ketimbang pada pagi hari. Keberadaan mobil angkutan masih bisa dihitung dengan jari. Kondisi ini jauh berbeda jika dibandingkan pada era tahun 1990-an, ketika kendaraan pribadi belum banyak. Terminal senantiasa ramai, menjadi pusat transportasi antara kabupaten dan angkutan ke pedesaan. Saat ini hanya ada sekitar 50 kendaraan anngkutan yang masuk ke terminal. Sementara dari pemantuan di terminal, rehab yang telah dilakukan pada tahun 2013 di antaranya permak ruang tunggu sekaligus
gedung kantor petugas terminal. Gedung yang sebelumnya terlihat usang, di tahun 2013 dilakukan rehab yang menelan dana Rp 350 juta. Sedangkan saat ini, dalam proyek yang masih berlangsung, rahab pemeliharaan terminal/pelataran, berupa parkir barat dan pelatarannya dianggarkan Rp 1,4 miliar. Saat ini Gianyar hanya memiliki satu terminal. Sebelumnya ada tiga terminal. Yakni Terminal Batubulan, Terminal Jata, dan Terminal Kebo Iwa. Seiring perkembangan pembangunan yang disertai dengan berkurangnya jumlah kendaraan yang ada, keberadaan terminal itu fungsinya diubah dan ada yang dihilangkan. Seperti Terminal Kebo Iwa. Terminal yang dibangun itu oleh pemkab saat ini diubah menjadi kawasan sport center. Hal ini untuk menghilangkan kesan mubazir keberadaan Terminal Kebo Iwa. Dengan adanya Terminal Kebo Iwa, Terminal Jata yang berlokasi di utara pasar umum Gianyar pun perlahan tidak difungsikan dan kini sudah hilang, tak jelas nasibnya. l Agung Dharmada
Jadi Tempat Parkir Truk
Nasib tiga terminal di Tabanan memprihatinkan. Sejak tiga tahun terakhir, fasilitas umum ini hanya mengandalkan siswa dan pedagang sayur sebagai penumpang. Akibatnya, pendapatan angkutan kota (angkot) dan angkutan desa (angdes) terus merosot. Karena sepi penumpang, tiga terminal itu semuanya mati suri. Saking sepinya, satu terminal justru berubah menjadi kawasan esek-esek alias prostitusi. Tiga terminal di Tabanan, masing-masing, terminal Pesiapan, Kediri dan Tuakilang. Dari ketiganya, Terminal Pesiapan masuk kategori B, sisanya terminal kelas C. Ketiga terminal itu melayani trayek kota hingga pedesaan. Merosotnya kunjungan penumpang dikeluhkan para sopir angkot. Mereka mengaku, sejak tahun 2000, minat warga menggunakan angkot terus merosot. Imbasnya, lebih dari 20 angkot ter-
paksa berhenti beroperasi. “Dahulu, ada 84 angkot, sekarang tinggal 64. Itu pun, jarang yang mau beroperasi,” kata salah satu sopir angkot di Terminal Pesiapan. Pria ini mengaku, pendapatan bersih para sopir maksimal Rp 20.000 per hari. Itu pun ketika musim masuk sekolah. Jika musim libur, penumpang ikut menghilang. Selama ini, sopir angkot hanya mengandalkan penumpang dari kalangan siswa. Sisanya, para pedagang sayuran. Meski dengan pendapatan pas-pasan, sejumlah sopir angkot masih nekat bertahan. Alasannya, mereka tak memiliki pekerjaan lain. Sementara di tengah sepinya penumpang, Terminal Pesiapan masih saja bergeliat. Salah satunya, menjadi kawasan perdagangan sayuran. Ada juga, tempat lokasi parkir kendaraan truk. Hampir setiap hari, terminal di sudut barat kota Tabanan ini tak pernah sepi dengan deretan
truk parkir. Uniknya lagi, menjelang malam, terminal ini juga bergeliat. Sebab, bisnis esek-esek masih saja berlanjut. Lokasinya, di deretan warung barat terminal. “Katanya memang ada layanan remang-remang, tapi saya tidak tahu persisnya,” kata salah satu pengunjung terminal. Kadis Perhubungan dan Infokum Tabanan, Made Agus Harta Wiguna, beberapa waktu lalu membenarkan sepinya penumpang di Terminal Pesiapan. Padahal, sejatinya, angkutan bus masih masuk dan melayani penumpang ke terminal ini. Namun, minat penumpang tetap saja sepi. “Seperti biasa, terminal tetap saja sepi. Justru, yang ramai kendaraan pedagang sayuran dan truk yang parkir,” tegasnya. Kendaraan yang masuk terminal dipungut jasa parkir untuk operasional terminal. l Budi Wiriyanto
Terminal Pesiapan, Tabanan menjadi tempat parkir truk akibat sepi penumpang angkot.
MBP/Budi Wiriyanto
25 November - 1 Desember 2013
23
K E S E H ATA N
Kanker Abdomen
Akibat Pembesaran dan Munculnya Tumor
K
anker adalah penyakit yang sudah stadium lanjut dari tumor. Jadi, kalau sudah masuk kategori kanker, seseorang yang menderita sakit seperti itu sudah termasuk berat dan berbahaya. Kanker bukan saja menyerang kalangan dewasa atau yang telah berumur saja. Usia dini alias anak-anak pun tidak terlepas dari serangan penyakit kanker ini. Jika pada orang dewasa, pemicunya sudah sangat jelas yaitu karena paparan lingkungan, gaya hidup dan pola hidup tidak sehat. Lalu bagaimana proses terjadinya penyakit ini pada anak-anak sehingga mereka sampai menderita kanker. Hingga kini belum terdeteksi apa penyebabnya secara jelas. Bagaimana sesungguhnya sumber pemicu kanker
24
25 November - 1 Desember 2013
ini pada anak-anak itu masih belum diketahui secara pasti. Tetapi, para ahli menyimpulkan jika kelainan genetik merupakan salah satu faktor terbesar anak tersebut dapat terkena kanker. Faktor genetik ini kemudian tercetus menjadi kanker ketika ada faktor lain yang merangsangya. Seperti infeksi bakteri maupun virus, paparan radiasi maupun zat kimia. Salah satu jenis kanker pada anak, meski sesungguhnya kemunculan kasusnya jarang. Patut diwaspadai yang disebut kanker perut. Ternyata kanker perut atau abdomen ini terjadi akibat pembesaran atau timbulnya tumor di beberapa organ di dalam tubuh anak tersebut. Kepala Divisi Hematologi Onkologi SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUP Sanglah dr. Ketut
Ariawati, Sp.A.(K) memaparkan ada beberapa jenis kanker abdomen yaitu kanker hati, kanker limfe, kanker ginjal, kanker neuroblastoma, dan kanker ovarium. Jenis kanker perut ini mulai sering muncul dewasa ini. Kanker itu termasuk jenis neuroblastoma. Kanker tipe ini merupakan kanker yang menyerang sistem saraf perier di bagain perut. Akibatnya, berkembang dan pembesaran kanker ini yang tidak terkontrol. Untuk kanker hati biasanya menyerang anak usia 12 tahun ke bawah. Kanker ini termasuk jarang dan disebabkan infeksi virus hepatitis B yang didapatkan anak saat di dalam kandungan ibunya yang positif hepatitis B. l Wira Sanjiwani
Jenis Ovarium dan Testis Kanker abdomen ini memang tidak pernah dipikirkan dapat diderita anak-anak. Kanker abdomen ini ada yang jenis ovarium dan testis. Penyebabnya lebih spesifik. Kanker yang menyerang bagian ovarium dan testis ini dikarenakan sel primitif pada organ reproduksi anak. Biasanya berkembang menjadi ovarium dan rahim pada anak perempuan. Sedangkan pada bagian testis untuk anak laki-laki. Kanker abdomen ini terus menjalar tak terbendung. Perkembangannya terus tumbuh dan tidak pernah berhenti, akibatnya terus menguat menjadi sel kanker. Lama-kelamaan terus membesar. ‘’Kanker abdomen jenis ovarium dan testis ini diperkirakan tidak mungkin menyerang anak-anak. Ternyata kanker jenis ini ada dan diderita anak-anak,’’ tutur Ariawati. Untuk di RSUP Sanglah sudah ada dua anak yang menderita kanker perut jenis ovarium dan testis,’’ tutur Ariawati. l Wira Sanjiwani
Stadium Lanjut Banyak varian kanker abdomen ini. Ternyata gejalanya sama yaitu terjadi pembesaran di bagian perut. Jika kanker itu masih kecil tentunya orangtua tidak menyadarinya si anak ada potensi mengidap kanker. Orangtua bisa saja menganggap hal itu biasa saja, ketika kondisi perut anak-anak terlihat buncit. Perut buncit memang biasa pada anak-anak. Tetapi, jangan terlalu menganggap remeh perut buncit. Apalagi kemudian terjadi perbesaran yang tidak wajar. Ketika pada kondisi ini, sepertinya baru orangtua mulai sadar anaknya ada kelainan. Kemudian mereka datang untuk mendapat penanganan. Apa yang dilakukan sesungguhnya sudah termasuk terlambat. Karena kankernya sudah berkembang ke stadium lanjut. Ketidakwaspadaan akan gejala kanker perut ini menjadi salah satu faktor kanker abdomen lebih banyak pada pasien anak-anak. Memang tidak jarang, mereka akhirnya baru datang pada stadium kanker yang sudah lanjut. l Wira Sanjiwani
Sering-sering Periksa Perut Anak Untuk mengetahui anak ada gejala kanker abdomen, memang bagi orangtua yang awam ada faktor kesulitan tersendiri. Namun secara manual, sebetulnya ada cara yang cukup efektif memeriksa si anak. Orangtua, utamanya si ibu harus seringsering meraba perut si anak pada saat mandi. Jika ada sesuatu yang aneh pada perut si anak, temuan itu harus follow up, paling tidak ada inisiatif orangtua melakukan pemeriksaan anaknya. Apalagi, sampai di perut si anak ditemukan benjolan. Ini patut diwaspadai dan harus cepat dicarikan solusinya, jika tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kata Ariawati, seandainya ditemukan adanya benjolan di perut yang sifatnya keras. Ada baiknya dilakukan langkah-langkah antisipasi. Si anak diperiksa tidak hanya USG tetapi juga CT-Scan. ‘’Karena pernah ada kejadian, si anak divonis terkena kanker ginjal. Padahal dokternya sudah melakukan pemeriksaan USG. Namun karena tumornya masih ada di dalam ginjal, maka tumornya itu tidak kelihatan tanpa pemeriksaan CTScan. Sehingga anak itu didiagnosa infeksi biasa saja. Akhirya, disimpulkan bahwa itu sudah kanker. Bahkan stadiumnya sudah lanjut,’’ papar Ariawati. Untuk mengupayakan cara dan langkah dini, maka perut yang membesar pada si anak itu patut diwaspadai. Salah satu gejala kanker perut, jenis kanker ginjal adalah adanya darah pada saat anak kecing. Prosentase kesembuhan atau kemungkinan hidup bagi pasien kanker jauh lebih besar, jika diketahui sejak stadium dini. ‘’Kalau dibawa pada stadium satu, tentunya potensi untuk hidup lebih besar. Namun pada stadium lanjut, maka penangannya sangat sulit,’’ ujarnya. l Wira Sanjiwani 25 November - 1 Desember 2013
25
LENSA
MBP/Eka
Hijaukan Bukit Tandus Persediaan air tanah dikhawatirkan kian menipis jika tidak ada upaya nyata berbagai pihak untuk melakukan konservasi alam khususnya di daerah hulu. Dalam rangka melindungi persedia-an air tanah, konservasi daerah hulu masih perlu digencarkan. Nampak sejumlah anggota Subak Bukian melakukan konservasi dengan jalan penghijauan beberapa lahan di Bukian, Plaga, belum lama ini. Gerakan yang melibatkan anak-anak ini merupakan contoh yang baik mengajarkan generasi muda turut serta menjaga alam dan lingkungan.
OLAHRAGA
Pesan dari Secarik Perangko
S
ungguh disayangkan, Piala Dunia 2014 nanti dunia akan kehilangan jika tidak Zlatan Ibrahimovic tentu Cristiano Ronaldo. Kedua pemain bintang itu harus saling menyisihkan di babak playoff zona Eropa setelah timnya, Swedia dan Portugal, hanya mampu menempati peringkat kedua grup. Kelas kedua pemain itu bisa dilihat saat keduanya bertemu di lapangan.
Ibra, julukan penyerang Swedia itu, mengandalkan postur tubuhnya yang jangkung untuk mendominasi permainan. Sedangkan Ronaldo dikenal dengan kecepatan dan akurasinya mengarahkan bola ke gawang lapangan. “Jadi ini pertandingan yang fantastis bagi seluruh penggemar sepak bola. Keduanya pemain kelas dunia. Maka amat menyedihkan bila salah satunya tak tampil di Piala Dunia musim panas
mendatang,� ungkap pelatih Swedia Erik Hamren. Keduanya memiliki karakter khas yang tidak dimiliki pemain-pemain lainnya. Dengan sedikit sentuhan dan gaya, Ibra atau pun Ronaldo bisa mengubah jalannya permainan dan memenangkan pertandingan untuk negaranya. Itu bisa terlihat saat keduanya tampil sepanjang kualifikasi. Di klub, peran keduanya tak jauh
Penyerang timnas Swedia Zlatan Ibrahimovic
MBP/ap
28
25 November - 1 Desember 2013
berbeda. Ibrahimovic menjadi penuntas segala serangan tim Liga Prancis Paris Saint Germain. Sedangkan Ronaldo, meski dijuluki “Commander of the Field” oleh Presiden FIFA Sepp Blatter, tetap flamboyan dengan gayanya di lapangan dalam melakukan serangan Real Madrid. Baik Ibra maupun Ronaldo juga subur mencetak gol di kompetisi domestik. Ronaldo sejauh ini telah menghasilkan 13 gol dan Ibra baru 8 gol. Keduanya juga menjadi nominator Pemain Terbaik untuk meraih trofi Ballon d’Or. Hanya saja Ibra masuk nominasi Puskas Award untuk gol spektakulernya ke gawang Inggris di pertandingan persahabatan. Ia melepaskan tendangan salto dari tengah lapangan dan membobol gawang lawannya. Ibrahimovic menegaskan bahwa pertarungan Swedia vs Portugal itu bukan semata-mata duel pribadi antara dirinya dan Ronaldo. Semua pemain lebur menjadi satu dan membela tim yang dalam hal ini mewakili negara. “Ini pertandingan Swedia vs Portugal. Jadi yang utama adalah tim,” kata Ibra yang menyebut pertandingan playoff sebagai permainan kolektif tim. Swedia amat bergantung pada kebugaran pemain dengan tinggi 1,95m tersebut. Ia menjelma menjadi sosok menakutkan di lini depan, berbeda jauh dengan pendahulunya Henrik Larsson yang bertinggi 1,77 m. Larsson dibesarkan klub lokal Hogaborg dan Helsingborg sebelum menjadi mesin gol Feyenoord, Celtic, Barcelona dan Manchester United. Sebaliknya berguru lebih dahulu di Malmo sebelum meningkatkan ilmunya Ajax Amsterdam, Juventus, Inter Milan, Barcelona dan AC Milan sebelum mendarat ke PSG. Mantan kapten timnas Swedia yang kini menjadi asisten pelatih klub Hogaborg, itu menyumbang 37 gol dalam 106 kali mengenakan seragam kuningbiru. Sebaliknya Ibra baru 94 kali tampil namun telah menghasilkan 46 gol. “Saya terus berkembang setiap waktu meski kini telah berusia 32 tahun. Saya memiliki perasaan bahwa saya terus memperbaiki diri dan belum pernah mencapai sebaik ini,” ungkap Ibra mengenai performa yang semakin meningkat terutama sepanjang kualifikasi. Swedia mencatat hasil fantastis saat menghadapi Jerman di Berlin di penyisihan Grup C. Meski tertinggal 4 gol
MBP/ap
Perangko seri Zlatan Ibrahimovic yang akan dirilis Kantor Pos Swedia pada 27 Maret 2014.
hingga menit ke-55, namun mereka mampu bangkit dan memborong 4 gol beruntun hingga menyamakan kedudukan 4-4. Itu semua diawali dari gol Ibra pada menit ke-62. “Untuk mencapai itu, seseorang harus menjalani latihan keras, bermental baja dan selalu mempunyai pemikiran bahwa saya harus terus bertambah baik. Saya belum pernah tampil sebaik ini seperti sebelumnya dan saya berharap kondisi mental semacam ini terus berlanjut.” Pekan lalu ia mencetak tiga gol yang membawa PSG menang 3-1 atas Nice. Klub ibu kota itu pun menguasai puncak klasemen dan mulai meninggalkan rival utamanya Monaco. Jika kemudian, namanya dimasukkan dalam nominasi Pemain Terbaik Eropa bersama Ronaldo, Lionel Messi (Barcelona) dan Franck Ribery (Bayern Munich), Ibra menyebutnya itu sebagai hasil kerja keras latihan, kompetisi dan lingkungan klub yang membentuknya. “Bagi saya, Ribery adalah pemain hebat sejauh ini. Dia memenangkan kompetisi musim ini dan menjadi kunci permainan (Bayern). Sedangkan Messi dilahirkan dengan talenta murni sepak bola, bukan bentukan dari latihan. Ronaldo memang fantastis. Jadi ketiganya memang pemain kelas dunia,” tambahnya. Ibra juga menolak diving (menjatuhkan diri di kotak penalti) merupakan trik yang menjadi tujuan memenangkan pertandingan dan impian pemain bersangkutan menjadi pahlawan timnya. ”Mengapa saya tidak menjatuhkan diri? Karena saya ingin bermain, menciptakan situasi sulit bagi tim lawan dan menguntungkan bagi tim saya sendiri,” katanya yang percaya Ronaldo tak suka
melakukan diving untuk memenangkan pertandingan. Kehebatan Ibra tersebut dibaca oleh Kantor Pos Swedia sebagai simbol kekuatan fisik dan kualitas mental seorang putra pasangan imigran Bosnia dan Kroasia. Maka pada 27 Maret 2014 nanti, Kantor Pos akan meluncurkan perangko bergambarkan pemain bersangkutan dan tulisan “Sverige Brev, Zlatan Ibrahimovic.” Bukan tanpa alasan, dengan hadirnya perangko bergambarkan pemain berkarakter tersebut diharapkan bisa menghidupkan kembali budaya surat menyurat, menyaingi surat elektronik (e-mail) dan pesan singkat (SMS). Meski misi itu dinilai berat, menurut Ibra, perangko kini diciptakan dengan kualitas gambar yang lebih baik dan memikat. Itu itu diyakini bagi Kantor Pos akan mengundang orang untuk kembali berkorespondensi. Dalam setahun tak kurang 60 motif didaftarkan untuk dijadikan perangko, laporan situs CNN. Sejumlah ahli perangko di Kantor Pos Swedia kemudian memilih dan memutuskan pemenangnya sebelum diproduksi dan dipasarkan pada tahun berikutnya. “Kami belajar dari pengalaman bahwa orang memilih perangko berdasarkan gambar-gambarnya,” kata Britt-Inger Hahne, director Perangko pada Kantor Pos Swedia yang ingin meletupkan semangat mendukung Ibra dan timnas Swedia melalui penerbitan perangko ini. “Jika perangko ini bisa membantu kami menjangkau kelompok baru yakni warga yang tidak pernah mengirim atau menerima surat, tentu ini suatu pencapaian yang fantastis,” katanya seperti dikutip Associated Press. Gambar Ibra akan terpampang dari lima model dalam booklet berisi 10 perangko. Tentunya ini diharapkan menjadi dorongan semangat Ibra dan timnas Swedia tampil di Piala Dunia setelah menjadi runner-up turnamen ini pada 1958 dan meraih medali emas di Olimpiade 1948 sebagai pencapaian terbaiknya. Pada Piala Dunia 2006, Larsson, Freddie Ljungberg dan Ibra dihentikan tuan rumah Jerman di babak 16 besar. Sedangkan 2010, tim berjuluk Blagult (Biru-Kuning) itu malah tak mampu mencapai putaran final di Afrika Selatan. l Yudi Winanto 25 November - 1 Desember 2013
29
OLAHRAGA
Perguruan Silat Mengeluh
M
enggeluti pencak silat sama artinya mencintai warisan adi luhung nenek moyang kita. Oleh karenanya, sangat ironis bagi insan pencinta silat dari Perguruan Pencak Silat (PPS) Kertha Wisesa, belum pernah mencicipi kucuran dana pemerintah hingga sekarang. Selama ini dana pembinaan baru diberikan kepada mereka yang sudah menjadi atlet dan sukses mengukir prestasi. Dana bantuan disalurkan melalui induk organisasi silat, Ikatan Pencak Silat Indonesia IPSI (IPSI). Sementara upaya perguruan mencetak bibit hingga menjadi atlet tidak diperhatikan sama sekali. Untuk itulah, Ketua Dewan Pendekar Pusat PPS Kertha Wisesa I Made Arka meminta pihak eksekutif dan legislatif ikut peduli terhadap perkembangan seni bela diri asli Nusantara ini, dengan mengeluarkan dana bantuan kepada perguruan dan aliran silat.
30
25 November - 1 Desember 2013
‘’Kami di perguruan susah-susah mencetak atlet dan menghabiskan dana besar, sama sekali tak diberi bantuan. Selama ini perguruan silat belum pernah mencicipi bantuan pemerintah,’’ keluhnya. Seandainya perguruan dan aliran silat mendapat bantuan rutin, Ketua I Pengprov IPSI Bali itu menjamin ada laporan pertanggungjawaban dan tanggung jawab moral perguruan dalam upaya mencetak atlet berprestasi. Perguruan silat historis di Bali tercatat PPS Kertha Wisesa, PSPS Bakti Negara, PP Suro, Kelatnas Perisai Diri, dan Tujuh Sari. Meskipun tanpa kucuran dana pemerintah, Kertha Wisesa tetap eksis, bahkan makin berkembang termasuk di Parigi, Mautong, Sulteng. Perguruan ini membuat padepokan silat di sana, melibatkan warga transmigran asal Bali. Hasilnya, pesilat yang berstatus
siswa binaan Kertha Wisesa mendominasi juara baik nomor laga maupun seni di ajang Porjar setempat. Di sisi lain, pesilat Kertha Wisesa Bali yang sulit menggapai juara di daerahnya, memilih hengkang dan mengusung kontingen lain pada PON. Setidaknya Ali Imron (kelas D) dan Iqbal (kelas F) membela Kepulauan Riau (Kepri) pada PON XVII/2008 di Kaltim dan PON XVIII/2012 di Riau. Made Arka sejatinya lahir dan besar di dunia persilatan, namun sejak kecil langganan juara atletik se-Bali. Ia merebut medali emas nomor lari 100 meter dan 200 meter, meraih medali perak lompat jauh serta menempati ranking ketiga lompat jangkit pada Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (POPSI) Bali. Arka juga pernah menjadi atlet Tri Lomba Juang, sebagai kiper bersama Jimy Hariyuda di tim sepak bola Liga Mahasiswa Bali, dan sempat menggeluti balap sepeda. l Daniel Fajry Nama
: I Made Arka
Penggilan
: De’ Hex
Jabatan
: Staf UPT Disdikpora Kuta Utara, Badung.
Lahir Istri Anak
: Denpasar, 22 Maret 1962
: Putu Sri Mastari
: Putu Satria Pratama Putra (21)
Kadek Intan Permata Sari (16)
I Made Arka
MBP/kmb
KRIMINAL
Gagahi Siswi SMP, ABG Dijerat UU Perlindungan Anak
N
ikmat membawa sengsara. Ungkapan itu agaknya pas dialamatkan buat seorang anak baru gede (ABG) yang berinisial PD (16) asal Desa Lodtunduh, Ubud, Gianyar. Dia nekat melarikan anak di bawah umur – sebut saja Sekar (12) – juga asal Ubud. Tak sampai di situ, PD ternyata ABG ini juga meniduri siswi kelas I SMP di Ubud itu di rumah temannya pada Minggu (10/11) lalu. Sebelum persetubuhan terjadi, kedua insan berlainan jenis ini kenalan lewat HP yang diberi tahu temannya, PD. Melalui nomor HP itu pula, PD segera menghubungi Sekar untuk diajak jalan-jalan. Pada Sabtu (9/11) lalu PD mencoba menghubungi HP Sekar. Rupanya siswi SMP itu memberikan reaksi. Baru diajak kenalan, Sekar ternyata mau diajak jalan-jalan di sekitar Ubud malam Minggu itu juga. Bak gayung bersambut, hati PD berbunga-bunga. Pada Sabtu malam dia menjemput Sekar dengan menaiki sepeda motor. Saat pertemuan pertama itu Sekar diajak mampir di salah satu permainan bilyar di Ubud. Setelah puas bermain, PD mengajak Sekar pulang ke rumah si gadis. Pada malam Minggu itu Sekar hanya diturunkan di depan rumahnya, tanpa diketahui siapa pun, termasuk orangtua si gadis. Rupanya ABG tersebut kecantol berat dengan kecantikan Sekar. Makanya, keesokan harinya yakni pada Minggu (10/11), PD meng-SMS Sekar untuk janjian jalan-jalan lagi di Ubud. Lagi-lagi Sekar mau-mau saja. Dia kemudian dijemput di rumahnya pukul 23.30. Entah telah direncanakan atau tidak, PD malam itu bukannya keliling naik motor, tapi mengajak Sekar ke rumah temannya juga di wilayah Ubud. Bisa ditebak, PD mengajak pacar barunya tersebut masuk kamar. Tanpa keberatan, Sekar menurut saja. Di dalam kamar temannya itu, PD merayu Sekar untuk diajak berhubungan badan. Maka saat itulah kegadisan korban direnggut PD.
32
25 November - 1 Desember 2013
”Di kamar teman saya, dia (Sekar) saya gituin (tiduri),” ujar PD. Usai melakukan hubungan layaknya suami-istri, PD mengajak Sekar ke rumahnya, dan kembali diturunkan di depan rumah Sekar. Pada hari kedua pertemuan mereka, PD mengaku menghadiahi pacar barunya itu sebuah HP Blackberry (BB). ”Tiang be med ngabe BB tiang, (saya sudah bosan membawa BB, saya) kasi saja dia,” ucap PD. Rupanya hubungan cinta terlarang remaja ingusan tersebut diketahui oleh kakak si gadis. Hal itu kemudian disampaikan kepada orangtuanya. Karenanya, saat itu juga orangtua Sekar menyita BB pemberian PD. Sedangkan PD, yang tak tahu kalau BB pemberiannya disita orangtua Sekar, kembali menghubungi Sekar pada Senin (11/11) lalu. Ternyata BBM yang dia kirim bukannya diterima Sekar, tapi orangtuanya. Ketika itu PD kembali berjanji mengajak Sekar jalan-jalan dan bertemu di depan rumahnya. Dengan hati berbunga-bunga pula, PD segera memacu sepeda motornya menuju rumah sang pacar. Tapi begitu menghentikan kendaraannya, orang yang datang bukannya si gadis idaman, tapi orangtuanya. Hati pemuda ini seketika dagdigdug. Tak banyak bertanya, orangtua Sekar lalu menginterogasi PD. Pemuda ini gelagapan, dan langsung mengaku, hendak mengajak Sekar jalan-jalan. Mendengar hal itu, orangtua Sekar seketika naik pitam. Dia lalu memukul bagian kepala PD. Tak hanya itu, sepeda motor PD diamankan di sana. Mendapat perlakuan seperti itu, PD bergegas pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. ”Saat ketemu bapaknya, saya langsung dipukul di bagian kepala, dan motor saya diambilnya. Saya akhirnya jalan kaki pulang ke rumah,” ujar PD. Sesampainya di rumah, PD ternyata tak mau berterus terang kepada keluarganya. Dia malah mengaku motornya dirampas seseorang. Keluarganya tentu saja tak terima, sehingga segera melaporkan kasusnya ke Polsek Ubud. Saat itu juga anggota Polsek Ubud turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan dan mengumpul-
kan keterangan dari saksi. Tak lama kemudian, polisi menemukan motor milik PD di rumah Sekar. Di bagian lain, orangtua Sekar yang tak terima anaknya dilarikan dan ditiduri, juga melapor ke polisi. Beberapa saat kemudian, PD diamankan polisi dan digelandang ke Polres Gianyar. Setelah memintai keterangan sejumlah saksi, aparat Polres Gianyar lalu menjerat PD dengan dua pasal yakni Pasal 81 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2012 tentang perlindungan anak, dan Pasal 287 ayat (1) KUHP tentang persetubuhan. Khusus dalam Pasal 287 ayat (1) KUHP disebutkan bahwa barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita yang bukan istrinya, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umur wanita itu belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawinkan, maka diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Atas perbuatannya itu, tersangka terancam dihukum 15 tahun penjara. Pria yang tak melanjutkan sekolah itu sekarang mendekam di balik jeruji besi Polres Gianyar untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Kasat Reskrim Polres Gianyar, AKP I Nengah Sadiarta, seizin Kapolres AKBP I Komang Sandi Arsana, menjelaskan, polisi sudah memeriksa sejumlah saksi, tersangka PD dan korban (Sekar). PD dan Sekar sudah menjalani pemeriksaan Unit PPA Polres Gianyar. Polisi juga sudah mengamankan sejumlah barang bukti dan memintakan visum korban ke RSUD Sanjiwani Gianyar. Di hadapan polisi, tersangka PD mengakui semua perbuatannya yang mengajak atau melarikan korban (anak di bawah umur) tanpa izin orangtuanya. Tersangka juga mengaku telah menggagahi korban yang baru kelas I SMP tersebut. ”Setelah kami memintai keterangan sejumlah saksi, pelaku, dan korban, akhirnya pelaku mengakui perbuatannya. Kini dia ditetapkan sebagai tersangka,” tandas Kasat Reskrim. www.denpostnews.com LAPORAN
DenPost/yuliantara
Tersangka PD, yang melarikan dan meniduri siswi kelas I SMP kini diamankan di Polres Gianyar dan terancam hukuman cukup berat. 25 November - 1 Desember 2013
33
KRIMINAL
Kelabui Petugas, Boyong 10,48 Kg Ganja ke Bali
B
andar ganja, tersangka Abdi Gultom (28), memang lihai. Berkat kelihaiannya pula dia dua kali berhasil menyelundupkan ganja dari Pekanbaru, Riau, dalam jumlah besar ke Bali. Pertama: tahun lalu (Oktober 2012), dia mampu menyelundupkan 5 kg ganja. Untuk memudahkan penjualan, dia memecah-mecah ganja seberat itu menjadi ukuran kecil yang dipaket-paket. Dari bisnis haramnya, Abdi jadi betah dan mampu hidup di Bali. Terlebih bisnis ganja yang dilakoninya mendapat sambutan hangat dari pemakainya. Selama ini Abdi memang
memasarkan barang haramnya di kawasan wisata Kuta. Lantaran jualannya cepat habis, membuat Abdi terus melanjutkan bisnisnya. Dalam waktu beberapa bulan dia kembali membeli ganja di Riau. Beratnya tak tanggung-tanggung yakni 15 kilogram. Begitu mendapatkan barang, Abdi yang asal Medan, Sumut ini, balik ke Bali dengan menumpang bus pada 30 Oktober 2013. Selama dalam perjalanan, baik saat menyeberang di Pelabuhan Merak, Banten, perjalanan darat selama di Jawa maupun penyeberangan di Pelabuhan Gilimanuk, tersangka Abdi aman-aman saja.
Dia begitu pintar membawa ganja seberat 15 kg di dalam tasnya sehingga lolos dari pemeriksaan petugas. Padahal bau isi tas tersebut sejatinya sangat menyengat, tapi tak satu pun penumpang, termasuk polisi, mengendusnya. Di sinilah hebatnya bandar ganja ini. Ketika ditanya petugas saat menyeberang di pelabuhan, Abdi hanya bilang bahwa tasnya hanya berisi pakaian. Anehnya, petugas tidak memeriksa secara mendalam isi tas Abdi, sehingga dia berhasil lolos ke Bali dengan aman. ‘’Saya tidak ada menyogok petugas. Mereka hanya menanyakan
DenPost/wiadnyana
Kapolresta Denpasar AKBP Djoko Heriutomo memperlihatkan barang bukti narkoba, termasuk ganja yang disita dari tangan tersangka Abdi Gultom (28).
34
25 November - 1 Desember 2013
barang yang saya bawa. Saya bilangnya, hanya berisi pakaian,” ucap Abdi Gultom kepada petugas Satnarkoba Polresta Denpasar, Jumat (8/11) lalu. Legalah hati Abdi. Karenanya, begitu tiba di tempat kosnya di Jalan Rangsana, Pesanggaran, Densel, dia bekerja keras membuka ganja yang dibungkus kertas dan lakban tersebut. Untuk membongkarnya memang cukup lama, karena dipres sehingga bisa masuk ke tas. Setelah ganja ukuran besar dipaparkan, saat itu juga dipecah-pecah menjadi 200-an paket kecil. Menurut sumber di kepolisian, satu paket ganja ukuran kecil dijual Rp 200 ribu. Sedangkan sistem penjualannya dengan sistem tempel. Artinya, calon pembeli cukup mengontak Abdi, selanjutnya barang ditempel di suatu tempat. Barang kemudian diambil oleh si pembeli tanpa ketemu langsung dengan penjualnya. Ini artinya, Abdi pasti sudah punya jaringan cukup luas, dengan sistem jaringan terputus pula. “Dari menjual satu bal ganja, tersangka kira-kira dapat untung Rp 2 juta,’’ ujar polisi yang tak mau disebutkan namanya di media. Sedangkan kalau dijual langsung (bal-balan), jelas sangat sulit, karena bisa keburu kentara. Kalau paket kecil, jelas lebih mudah. Selain harganya terjangkau, juga gampang dibawa ke mana saja. Keinginan Abdi mengantongi uang banyak dari hasil menjual ganja, rupanya tak bertahan lama. Dia akhirnya diciduk Satnarkoba Polresta Denpasar saat transaksi di Jalan Mataram Gang Suli I, Kuta, Selasa (5/11) lalu. Untuk menciduk bandar besar ini bukanlah perkara mudah. Kanit II Satnarkoba Polresta Denpasar Iptu Joko Hariadi bersama timnya melakukan penyelidikan cukup lama. Sebelum menciduk Abdi, polisi menangkap pengendar ganja, tersangka I Wayan Ginastra (43). Ketika itu polisi memancing tersangka Ginastra untuk transaksi. Setelah tawar-menawar, tersangka yang beralamat di Lingkungan Pengabetan, Kuta ini, sepakat transaksi di depan rumahnya di Jalan Mataram Gang Suli, Kuta. Sekitar pukul 16.00, Ginastra menunggu di tempat yang disepakati sebelumnya. Tanpa menunggu waktu lama, polisi menciduk Ginastra sebelum transaksi berlangsung. Dia segera digeledah, hingga ditemukanlah ganja seberat 6,77 gram, satu plastik klip berisi ganja seberat 0,75 gram, satu linting rokok ganja seberat 0,23 gram, dan satu bal kertas rokok, serta 9 kertas filter.
Melalui informasi dari Ginastra, Iptu Joko bersama timnya mengembangkan kasus ini. Awalnya Ginastra sempat bungkam ketika ditanya dari mana dia mendapatkan barang haram. Lama-kelamaan, Ginastra akhirnya mau buka mulut. Dia mengaku, membeli ganja dari tersangka Abdi Gultom. Tanpa kesulitan, polisi memperalat Ginastra untuk transaksi ganja dengan Abdi. Rencana tersebut berjalan mulus. Sekitar pukul 20.00 tersangka Abdi tiba di Jalan Mataram Gang Suli I, Kuta. Saat itu juga dia ditangkap, lalu digelandang ke tempat kosnya di Jalan Rangsana, Pesanggaran, Densel. Di dalam kamar Abdi yakni nomor B-3, polisi menemukan tumpukan ganja. Ketika diinterogasi, Abdi mengaku bahwa barang terlarang tersebut memang miliknya. Di hadapan polisi, tersangka Abdi mengaku bahwa ganja-ganja tersebut memang sengaja diedarkan di Kuta untuk ditawarkan kepada turis domestik maupun mancanegara. “Barang ini rencananya saya
edarkan kepada wisatawan lokal maupun asing,” ujar Abdi. Anggota jaringan Abdi yakni I Wayan Ginastra mengaku bahwa dia hanya pemakai, bukan pengedar. Tapi berdasarkan barang bukti yang dibawanya saat ditangkap berupa 22 linting ganja, polisi masih meragukannya. “Saya banyak masalah. Jadi untuk menghilangkan stres, saya memakai ganja,” ungkap Ginastra. Sementara menurut Kapolresta Denpasar, AKBP Djoko Heriutomo, kasus Abdi dan Ginastra akan terus didalami, mengingat jaringan narkoba selalu terputus. “Kasus peredaran narkoba memang cukup rapi. Jika seorang ditangkap, maka jaringannya akan terputus. Walau demikian, kami akan terus mendalami kasus ini,” tandasnya.
DenPost/ist
Tersangka Abdi Gultom bersama barang bukti saat diamankan di kantor polisi. 25 November - 1 Desember 2013
35
EKONOMI
’’BI Rate’’ Naik 5 Kali, Koperasi Pertahankan Bunga Kredit
W
alaupun BI rate telah dinaikkan 5 kali selama tahun 2013 ini, koperasi simpan pinjam (KSP) sampai saat ini masih tetap mampu bertahan tidak menaikkan bunga kredit. Pada 2013 ini, BI rate mengalami lima kali kenaikan. Intervalnya dari 5,75 persen sampai 7,50 persen mulai 12 November ini. Saat ini, KSP belum menaikkan suku
bunga akibat melonjaknya BI rate. Jika ada yang menaikkan, itu semata-mata karena suku bunga selama ini masih rendah. Pengamat sekaligus praktisi koperasi I Ketut Widartha, S.E., di Denpasar menegaskan, saat ini belum ada koperasi yang menaikkan suku bunga akibat kenaikan BI rate. Kondisi ini berbeda dengan lembaga keuangan mikro (LKM) lainnya, BI rate
sangat berdampak. Kenaikan BI rate diikuti kenaikan suku bunga. ‘’Suku bunga koperasi disepakati melalui rapat anggota. Keputusan anggota menjadi penentu naik turunnya suku bunga. Maka itu, pengurus dan pengelola koperasi tidak berhak mengubahnya,” katanya. Kondisi ini berbeda dengan perusahaan sejenis yang dapat menaikkan dan menurunkan suku bunga sewaktu-waktu.
Rendah, Tingkat Partisipasi Anggota Koperasi di Bali Sejauh ini animo masyarakat Bali khususnya penduduk dewasa untuk bergabung dalam gerakan koperasi cukup tinggi. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Bali hingga Desember tahun lalu sekitar 930 ribu atau 48 persen dari jumlah penduduk dewasa di Bali telah menjadi anggota koperasi. Hanya tingginya tingkat partisipasi tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat keaktifan anggota. Tingkat keaktifan anggota koperasi di Bali masih relatif rendah. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Bali jumlah koperasi di Bali hingga Oktober tahun ini sekitar 4.518 koperasi. Sekitar 7 persen dari total koperasi tersebut masuk koperasi tak aktif. Angka tersebut sebenarnya lebih rendah dari daerah lain di Indonesia. Ketua Dekopinda Kota Denpasar Dewa Bagus Putu Budha, S.E. beberapa waktu yang lalu menjelaskan, sejauh ini perkembangan koperasi di Bali sudah bagus. Kontribusi gera-
36
25 November - 1 Desember 2013
kan koperasi dalam menggerakkan ekonomi masyarakat terus meningkat. Hanya sejauh ini masih banyak koperasi yang belum bisa berkembang dengan baik karena faktor sumber daya manusia, permodalan dan tingkat keaktifkan anggota yang masih rendah. “Masih ada anggota yang tidak mau memanfaatkan produk-produk koperasi dengan optimal,” ungkapnya. Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali Dewa Nyoman Patra, S.H., M.H. mengatakan, Dinas Koperasi dan UKM Bali secara kontinyu terus melakukan berbagai pembinaan terutama untuk meningkatkan kualitas para pengelola koperasi melalui berbagai pelatihan. Menurutnya, koperasi akan bisa berkembang dengan optimal jika didukung oleh sumber daya manusia pengelola yang memadai, dukungan teknologi informasi serta tingkat partisipasi atau keaktifan para anggota. Jika semua faktor itu bisa berjalan dengan baik, koperasi akan bisa berkembang
dan berkontribusi maksimal untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Pengamat UMKM dan Lembaga Keuangan di Bali Drs. Ida Bagus Kade Perdana, M.M. melihat, lemahnya tingkat keaktifan anggota tidak terlepas karena faktor ketidaksiapan koperasi untuk memenuhi segala kebutuhan anggotanya. Selain itu produk-produk yang ditawarkan oleh koperasi biasanya lebih mahal dari produk-produk di lembaga lain. Ia mencontohkan bunga kredit koperasi relatif lebih mahal dari bunga kredit lembaga keuangan lain. “Kontribusi gerakan koperasi dalam menggerakkan ekonomi masyarakat sudah cukup baik. Yang perlu dibenahi adalah bagaimana koperasi-koperasi yang ada bisa efisien dan efektif dalam operasionalnya,” jelasnya. LAPORAN
Bisnis Bali Info Bisnis di Bali
Lewat rapat pemegang saham, keputusan itu diambil. Ketua Dekopinwil Bali Dr. Dewa Nyoman Badra, S.E., M.M., Ak. juga menegaskan hal sama. Koperasi tahan terhadap gempuran BI rate. Dalam satu tahun ini, BI rate sudah lima kali naik, tetapi suku bunga koperasi tetap stabil. Awal Januari, BI rate berada pada level 5,75 persen. Pada Juni, BI rate naik menjadi 6 persen. Kenaikan 25 poin ini juga belum memengaruhi kenaikan suku bunga koperasi. Pada Juli, BI rate naik menjadi 6,50 persen dan Agustus naik lagi menjadi 7 persen dan disusul bulan September naik menjadi 7,25 persen. Sampai akhirnya tanggal 12 November lalu, BI rate naik sampai level 7,50 persen. ‘’Kenaikan berkali-kali juga belum berpengaruh terhadap suku bunga koperasi. Naik atau turunnya suku bunga
koperasi harus keputusan anggota. Di samping itu, umumnya koperasi justru berupaya untuk menurunkan suku bunga,’’ tandasnya sambil menjelaskan jika suku bunga koperasi tinggi justru yang akan kena beban adalah anggota. Suku bunga terus diturunkan, sehingga tingkat kesejahteraan anggota semakin membaik. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali I Dewa Nyoman Patra, S.H., M.H. berharap gerakan sangat mempertimbangkan suku bunga. KSP tidak seharusnya memberlakukan suku bunga tinggi. Sesuai UU koperasi yang baru, KSP hanya dapat melayani anggota. Maka itu, suku bunga sangat menentukan tingkat kesejahteraan anggota. ‘’Jika anggota meminjam uang di koperasi sendiri dengan beban bayar bunga tinggi, asas koperasi agar mensejahterakan anggota tidak jalan. Kami
berharap agar suku bunga di koperasi sewajarnya. Bila perlu ada di bawah LKM atau bank umum lainnya,’’ harapnya. Sementara itu, Manager Koperasi Citra Mandiri, Sanur, I Wayan Sudarta menyebutkan, suku bunga koperasi harus di bawah level standar. Pihaknya memberikan suku bunga mulai 9 persen menurun per tahun kepada anggotanya. Suku bunga dengan besaran tersebut sangat kompetitif. Tujuannya agar dapat meringankan beban anggota. ‘’Kami memberikan suku bunga rendah kepada anggota. Perkembangan koperasi kami cukup bagus, terbukti sampai saat ini aset koperasi kami sudah di atas Rp 100 miliar,’’ papar Sudarta. LAPORAN
Bisnis Bali Info Bisnis di Bali
Bank BRI Syariah Dukung Pembiayaan GH Holdings 70 M “Gede Hardy : Kepercayaan adalah Kebanggaan yang Harus Dijaga dan Sangat Mahal”
Hotel Indonesia), HardysAgro (PT Bali Agro Lestari Indah), HardysFunzone (PT Sarana Rekreasi Keluarga Indonesia), HardysInvestment (PT Hardys Corpora), HardysTrans (PT Sarana Transportasi Indonesia Indah), dan HardysAdvertising (PT Sarana Media Advertindo),” ujarnya. Dalam penandatanganan perjanjian kerja sama tersebut, hadir Bapak Ari Purwandono selaku Direktur Bisnis UKM dan Komersial BRI Syariah didampingi oleh Ibu Mila Wijayakusumah Dept Head Commercial Banking Group dan jajarannya yang mewakili Direksi BRI Syariah.
Melalui sambutan singkatnya, Bapak Ari Purwandono menyatakan senang bisa bekerjasama dengan Grup Hardys dan berharap kedepan bisa memberikan dukungan terhadap rencana pengembangan unit-unit bisnis lainSatu lagi bank terbaik di Indonesia yang nya di bawah GH Holdings ”Semoga kermemberikan kepercayaan kepada Grup Harjasama kita terus bisa berlanjut karena kami dys/GH Holdings melalui mekanisme kerja percaya dengan kinerja dan perfomance Grup sama pembiayaan modal kerja sebesar Rp Hardys,” ungkapnya. 70 M. Kerja sama tersebut diinisiasi dalam Ir. Gede Agus Hardyawan, Presiden Direkpenandatangan perjanjian kerja sama yang tur sekaligus Founder GH Holdings yang dilaksanakan di Sandat Room Head Office didampingi oleh Ketut Rukmini Hardy, S.P., GH Holdings, Jalan Tukad Pakerisan 100 X, selaku Komisaris Utama menyatakan apresiasDenpasar – Bali pada Kamis (3/10). inya atas kerjasama yang dilaksanakan dengan Menurut Abdi, kerja sama BRI Syariah. “Kami bangga telah pembiayaan yang dilaksanakan mendapatkan kepercayaan dari dengan Bank BRI Syariah ini salah satu Perusahaan Perbankan merupakan salah satu upaya GH terbesar di Indonesia, namun bagi Holdings untuk meningkatkan kami kepercayaan adalah sebuah pembiayaan modal kerja untuk kebanggaan yang harus kita jaga terus meningkatkan pertumbuhan dan mahal harganya,” tukasnya. bisnis di tengah kondisi ekonomi Pengusaha Lulusan Fakultas nasional yang terus menunjukkan Teknik Industri Institut Teknologi trend positif. “Dalam pandanBandung (ITB) yang akrab disapa gan kami, selain ekonomi terus Gede Hardy tersebut menjelasmenunjukkan trend positif, keperkan, bahwa pada tahun 1997 cayaan dari pihak bank terhadap juga pernah mengadakan kerkinerja GH Holdings telah menjasama pembiayaan pada saat jadi modal utama yang mampu awal berdirinya Grup Hardys di meningkatkan kepercayaan diri Kota Negara. “Kami sangat opkami untuk terus bertumbuh timistis dengan perfomance yang melalui 9 core business GH ditunjukkan oleh GH Holdings Holdings yakni HardysRetail (PT saat ini, kerjasama BRIS dan GH Hardys Retailindo), Hardys PropHoldings akan terus berlanjut erty (PT Hardys Propertindo), pada kerja sama pembiayaan HardysLand (PT Hardys RealtBapak Gede Hardy bersama Direksi BRIS dan jajaran berfoto di depan yang lebih besar dimasa depan,” Lobi Head Office GH Holdings tegasnya. indo), HardysHotels (PT Hardys
PARIWISATA
Pariwisata Bali Turun Kelas
K
eindahan alam dan budaya Bali menyuguhkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Tak salah jika Pulau Dewata didatangi jutaan wisatawan setiap tahunnya. Sayang, petumbuhan yang terjadi belum dibarengi dengan kualitas, bahkan justru mengalami kemunduran alias turun kelas, dibanding pariwisata Bali di era 80-an. Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali Ngurah Wijaya mengakui, kualitas wisatawan ke Bali pada masa itu tercatat memiliki spending money atau pengeluaran wisatawan selama berlibur mencapai 300 dolar per orang dengan length of stay (lama tinggal) mencapai 14 hari.
“Sekarang wisman yang datang tinggi, mencapai 2,5 juta per tahun, namun justru spending money wisatawan rendah hanya mencapai 100 dolar per orang dengan length of stay mencapai 3 hari,” ujarnya. Kondisi itu dinilai Ngurah Wijaya terjadi seiring bergesernya konsep pariwisata Bali dari pariwisata minat khusus mengarah ke pariwisata massal. Untuk itu, pariwisata Bali harus merubahan paradigma, dari wisata massal menjadi wisata minat khusus (segmented tourism). Pengembangkan pariwisata minat khusus akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi Bali secara keseluruhan. “Pariwisata yang cocok untuk Bali bukan mass tourism (pariwisata massal),
tapi pariwisata minat khusus, karena menarik wisatawan yang bisa membelanjakan sesuatu dengan biaya yang lebih tinggi. Seperti pariwisata spiritual, budaya, golf dan lainnya. Untuk itu, kami medorong pemerintah untuk menciptakan wisata yang segmented,” katanya. Perkembangan pariwisata minat khusus juga akan berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Sebab, dengan tingkat pengeluaran yang tinggi dan lama tinggal yang panjang, otomatis tingkat konsumsi mereka juga akan meningkat. Pengamat ekonomi Bali Gde Made Sadguna juga sependapat guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Bali harus mengembangkan konsep pariwisata minat khusus yang berbasis alam, budaya dan spiritual. “Konsep ini memiliki keunikan, karena hanya akan memenuhi keinginan wisatawan yang berkunjung ke Bali secara selektif,” katanya. Pengembangan konsep itu, kata dia, dapat diwujudkan dengan memfasilitas pembentukan desa wisata, di daerah yang berpotensi sebagai daerah pariwisata. Dengan demikian, pendapatan masyarakat akan meningkat, sekaligus bisa mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi rendah dan lapangan kerja yang luas bisa terwujud. Sehingga, pertumbuhan ekonomi menjadi sustainable. Dia juga mengakui, pariwisata yang selama ini lebih banyak dinikmati oleh para pemodal besar, pemilik hotel berbintang, pemilik travel, hingga pemilik restoranrestoran besar. Sedangkan produsernya adalah masyarakat, pada umumnya masyarakat kecil hanya dapat teretesannya saja. Masyarakat hanya dapat sedikit sekali serpihan manfaat pariwisata itu. “Peran orang Bali di segala sektor sudah makin menurun. Kita cederung menjadi penonton dan termarginalkan. Namun ini bukan alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Karena itu, permasalahan yang dihadapi masyarakat Bali harus diidentifikasi guna mencarikan solusi yang tepat,” ucapnya. Parwata
MBP/dok
Kualitas kunjungan wisatawan ke Bali jauh merosot dibandingkan kondisi pariwisata di era 80-an seiring bergesernya konsep pariwisata Bali dari pariwisata minat khusus mengarah ke pariwisata massal.
Tumbuh Tanpa Kualitas
K
edatangan wisatawan ke Bali beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan signifikan. Ini tidak terlepas dari upaya pemeritah yang menargetkan pertumbuhan pariwisata Bali. Hanya, target yang ditetapkan masih terpaku pada kuantitas tanpa kualitas. Padahal, untuk mempertahankan keberlangsungan daya tarik wisata yang ada di Pulau Dewata, target pertumbuhan pariwisata Bali harus tertuju pada kualitas wisatawan. Pengamat Pariwisata Dr. I Nyoman Madiun, M.Sc. mengatakan, wisatawan ke Bali beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan, namun pedapatan yang dihasilkan dari satu wisatawan, seperti spending money, lama tinggal masih jauh dibandingkan beberapa negara pesaing. Kedatangan wisman dengan kualitas rendah ini tingkat kepeduliannya terhadap lingkungan
jauh lebih rendah dibandingkan turis yang berkualitas. “Pemerintah harus tertuju pada kualitas turis yang spending-nya tinggi dengan masa tinggal lama, karena mereka kepeduliannya terhadap lingkungan cenderung lebih tinggi,” tegasnya. Kendati demikian, Nyoman Madiun mengakui Bali sebagai destinasi internasional tidak bisa menutup diri dari serbuan wisatawan. “Untuk menjaring wisatawan yang berkualitas tentunya kualitas SDM pariwisata, destinasi, dan harga kamar harus ditingkatkan. Dengan begitu kualitas wisatawan akan mengikuti,” ucapnya. Member of World Committee on Tourism Ethnic I Gede Ardika sebelumnya juga menyatakan, meningkatnya jumlah wisatawan ke Bali tidak selalu berdampak positif pada sektor tersebut. Justru, limpahan wisatawan jika melebihi daya tampung Bali (carrying capacity)
berpotensi merusak lingkungan hidup. “Target pengembangan pariwisata saat ini bukan lagi tertuju pada kuantitas atau jumlah kunjungan, melainkan kualitas pengunjung. Sebab, kuantitas tanpa kualitas justru akan merugikan, karena kepeduliannya terhadap lingkungan cenderung rendah,” tegasnya. Ardika sepakat, kemajuan pariwisata tertuju pada kualitas turis, bukan pada kuantitas yang cederung akan menbawa dampak negatif. Mengurangi beban pariwisata Bali yang kian hari makin berat dengan menawarkan paket Bali and Beyond atau menawarkan destinasi yang dekat dengan Bali atau sebagai alternatif setelah berkunjung ke Bali. “Jadi dengan adanya konsep Bali dan sekitarnya, beban yang harus dipikul setiap destinasi pariwisata di Indonesia bisa merata,” tandasnya. Parwata 25 November - 1 Desember 2013
39
EVENT
Karimun Wagon R
Mobil Super Hadir di Bali
S
etelah sebelumnya memperkenalkan Suzuki Karimun Wagon R di Indonesia International Motor Show (IIMS) pada 19 September lalu, Suzuki Indomobil Sales (SIS) resmi meluncurkan Wagon R. Mobil dengan moto “Super� (Spacious, Useful, Practical, Efficient, Reasonable) ini hadir di Bali bersamaan dengan 47 kota lainnya pekan lalu.
MBP/ist
Diah Dewi
MBP/ist
40
MBP/ist
18 - 24 November 2013
MBP/ist
MBP/eka
�Gala Dinner� Peserta BMF
MBP/eka
MBP/eka
MBP/eka
MBP/eka
MBP/eka
MBP/eka
Saat perhelatan Bali Media Forum (BMF) digelar awal November lalu, Kelompok Media Bali Post mendapat kehormatan untuk mengadakan jamuan makan malam (gala dinner) bagi peserta. Gala dinner dilangsungkan di Gedung Pers Bali K. Nadha dengan dihadiri Ketua Dewan Pers Prof. Bagir Manan dan para peserta BMF. Kedatangan para jurnalis dari berbagai negara ini disambut hangat Pemimpin Kelompok Media Bali Post ABG Satria Naradha. Acara yang digelar selama 3 jam ini berlangsung penuh kekeluargaan dengan diiringi tarian Bali dan musik. Diah Dewi
18 - 24 November 2013
MBP/eka
41
MBP/eka
KERAJINAN
Dari Guci Turun ke Hati D
i balik maraknya perkembangan bisnis hotel dan restoran di Bali, ternyata bisnis guci juga mulai dilirik wisatawan asing. Bahkan, guci yang biasanya hanya berfungsi sebagai tempat air minum, penyimpanan beras dan sarana upacara, tetapi oleh wisatawan asing malah menjadi ornamen menarik untuk dekorasi misalnya pot bunga, vas bunga atau hanya diletakkan di rumah dan halaman. Yang jelas, guci kini tengah memikat hati. Bak secara fungsional maupun fungsinya sebagai salah sati penunjang estetika. Pengusaha showroom guci Duuran Gemilang I Wayan Wirthawan mulai tertarik mengembangkan bisnis guci di Bali. Menurutnya, bisnis yang dia rintis bersama keluarga pada tahun 2004 ini tergolong langka karena masih bisa dihitung dengan jari. “Tahun pertama, kami hanya menjual guci yang siap pakai, waktu itu pembelinya masih berkisar masyarakat lokal. Lalu,
42
25 November - 1 Desember 2013
seiring berjalanannya waktu kami mulai produksi sendiri dan lakukan promosi tidak hanya lokal tetapi juga mancanegara,” tuturnya ramah. Showroom pertama, kata Wirthawan, berlokasi di Jl. Raya Kerobokan, Kuta. Alhasil, bisnis yang dia rintis mulai nol ini berkembang dan mulai dilirik wisatawan asing. Sejak itu, dia membuka cabang bisnis di daerah Lukluk. “Sejak ada wisatawan asing jadi kami produksi lebih banyak sehingga perlu tempat produksi lebih banyak. Saat ini, peminat guci 80 persen adalah wisatawan Prancis,” ungkap pebisnis asal Singaraja ini. Selain wisatawan Prancis, sambung Wirthawan, guci kami juga banyak diorder oleh wisatawan Australia. Bahkan akhirakhir ini, wisatawan India juga mulai tertarik. “Di Bali, guci kami biasanya diorder hotel, vila, restoran, kantor dan kalangan ekspatriat. Jadi selain menggunakan sistem ekspor, biasanya
wisatawan datang langsung ke showroom kami,” terangnya. Guci milik Wirthawan memang unik, mulai dari sistem pengolahan bahan sampai pengecatan, dikerjakan dengan sistem manual. Meski demikian guci yang dihasilan tidak kalah bagus, bahkan kualitasnya lebih bagus dan hasilnya lebih apik. “Proses pembuatan guci di sini hampir sama tahapnya seperti membuat genteng. Hanya dibuat langsung dari tangan-tangan terampil dan alat-alat handicraft dari kayu,” jelasnya. Tahap pertama, kata Wirthawan, adalah pelumatan tanah liat. “Tanah liat dilumatkan dengan air secukupnya, lalu olahan tersebut dicampur dengan pasir putih khusus untuk guci. Kemudian dibentuk sesuai order, selanjutnya dijemur hingga kering lalu dibakar kira-kira 5 jam. Terakhir, adalah proses pewarnaan seperti kuning, hitam, cokelat, biru
dan hijau atau sesuai selera,” jelasnya. Saat ini, dengan tenaga kerja 12 orang, Duuran Gemilang bisa menghasilkan guci hingga ratusan produk setiap bulan dengan ukuran yang bervariasi dan jenis motif sekitar 50 lebih seperti motif bunga, daun, binatang dan masih banyak lagi. Produk yang paling disukai adalah produk guci klasik dengan ukuran jumbo. “Baru-baru ini, kami terus berinovasi mengembangkan motif baru dan berharap bisa membuka cabang baru,” imbuhnya.
LAPORAN 18 - 24 November 2013
43
TRADISI
’’Aci Keburan’’
S
uasana gembira tampak di wajah para pamedek yang sedang menyaksikan ayam jago yang sedang bertarung. Pamedek berdiri membentuk lingkaran, setelah dua ekor ayam beradu, hingga salah satunya mati terluka, terkena sabetan taji lawan. Kendati suasana masih agak gelap, ketika waktu menunjukkan pukul 05.00 wita, “nyanyian” para pamedek yang melaksanakan Aci Keburan sudah terdengar nyaring di Pura Hyang Api, Desa Pakraman Klusu Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar. Memang, bertepatan dengan Tumpek Kuningan, di Pura Hyang Api dilaksanakan ritual Aci Keburan serangkaian piodalan di pura tersebut. Sejak pagi hingga pukul 10.00 wita, pamedek dengan ratusan ayam jago tampak memenuhi areal jaba tengah pura. Bahkan, sampai meluber ke jaba sisi pura, karena saking banyaknya yang mengikuti aci itu. Aci Keburan atau tajen duwe merupakan tradisi yang turun-temurun di-
laksanakan di Pura Hyang Api, setiap piodalan yang jatuh pada hari raya Kuningan. Dalam pelaksanaannya, Aci Keburan di Pura Hyang Api hampir sama dengan tejen atau adu ayam lainnya yang dilakukan para bebotoh. Dalam pelaksanaan kekinian, tradisi ini juga diisi taruhan uang rupiah, berbeda halnya dengan masa lalu yang menggunakan uang kepeng. Menariknya, pelaksanaan tradisi ini dinilai sebagai sebuah aci (korban suci). Ini pun seakan membius aparat tidak berani mengganggu pelaksanaan tradisi Aci Keburan yang diselenggarakan setiap enam bulan di Pura Hyang Api. Uniknya, dalam tradisi ini tak ada arena khusus yang dibuat untuk mengadu ayam. Arenanya bebas dan ada banyak titik pagelaran. Ayam aduan yang telah dipasangi taji dilepas begitu saja di tengah-tengah para pamedek yang menyaksikan. Ketika adu ayam berlangsung, para pamedek langsung membuat lingkaran, memberikan ruang kepada ayam-ayam yang sedang beradu kekua-
tan. Hal yang sama terjadi di sebelahnya. Adu ayam yang berlangsung, tak ada sekat sepanjang antara pemilik ayam sepakat mengadu aduannya. Ayamnya langsung dipasangi taji dan diadu hingga ada yang menang dan kalah. Setiap pergelaran tradisi ini, ada saja pamedek yang terluka kena sayatan taji ayam. Bahkan, jumlahnya bisa mencapai belasan orang. Hal ini diakui oleh pemilik klinik kesehatan dr. IGAA Yulianti, yang letaknya tak jauh dari Pura Hyang Api. “Ada saja pamedek yang terluka karena terkena taji ayam, berobat ke sini,” katanya. Tradisi Aci Keburan dilaksanakan selama sebulan (35 hari). Secara penuh, Aci Keburan digelar berturut–turut selama lima hari, yang dimulai sejak Tumpek Kuningan. Setelah lima hari berturut-turut itu, pelaksanaan Aci Keburan digelar setiap kliwon hingga sebulan, hingga berakhirnya Ida Batara Pura Hyang Api ngadeg. Agung Dharmada
MBP/dar
Setiap piodalan di Pura Hyang Api, selalu digelar Aci Keburan.
’’Pengujian’’ Ratu Sakti
A
ci Keburan di Pura Hyang Api, Desa Pakraman Klusu, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, dilakukan secara turun–temurun. Kendati tak ada acuan berupa prasasti atau purana, namun dari cerita yang berkembang di tempat itu, pelaksanaan tradisi itu tak terlepas dari awal keberadaan Pura Hyang Api yang dulu di sekitarnya masih hutan pengembalaan ternak. Diceritakan, pemuda dan tetua terdahulu pada saat istirahat mengembalakan ternaknya, mereka bermain tajen-tajenan, menggunakan daun jarak sebagai ayam dan duri salak sebagai tajinya. Saat itu, salah satu dari pengembala terluka terkena duri salak. Lukanya sampai membusuk dan tak kunjung sembuh. Bersamaan kejadian itu ternak mereka juga mengalami
sakit. Para panglingsir dan pemangku akhirnya menyelenggarakan upacara guru piduka di Pura Hyang Api. Dari pawesik waktu itu, disarankan agar mengadakan tajen duwe (Aci Keburan), untuk keselamatan masyarakat dan hewan peliharaannya. “Tradisi ini kemudian berlanjut hingga pada saat ini dan tak ada yang berani untuk tidak menyelenggarakannya,” kata Bendesa Pakraman Klusa I Wayan Suda. Secara kasat mata, arena bebas tanpa sekat menjadikan pamedek yang ikut menyaksikan tradisi Aci Keburan sangat rawan terkena sayatan taji ayam aduan. Kenyataannya, memang setiap pelaksanaan tradisi Aci Keburan ada saja pamedek yang terluka. Akan tetapi, dari keyakinan masyarakat setempat, luka yang diakibatkan oleh sayatan taji ayam itu merupakan salah satu bentuk
‘’pengujian’’ dari Ratu Sakti Hyang Api yang berstana di Pura Hyang Api. “Tradisi ini merupakan proses pengujian akan ketulusan hati dan pikiran dari umat yang ikut dalam ritual. Mungkin karena ada halangan (leteh), berbuat curang, berkata kasar tidak sesuai dengan agama, sehingga Ratu Sakti Hyang Api memberikan peringatan kepada mereka saat pelaksanaan Aci Keburan,” ungkap I Wayan Suda. Menurut Suda, bukan saja yang ada di arena (jaba tengah), bahkan mereka yang ada di luar arena juga bisa terkena sayatan taji. Di sini diuji keyakinan umat, pamedek yang akan melaksanakan Aci Keburan, ada yang berbuat tidak baik, sehingga sampai terkena taji ayam aduan. Agung Dharmada
TTRRAADDI ISSI I
Upacara Pangrebongan
’’Ngurek’’, Wujud Persembahan
P
rosesi Pangrebongan di Pura Petilan, Kesiman, selalu dipenuhi masyarakat. Saat itu, pamedek mengiringi Ida Sesuhunan melakukan prasawia atau berputar mengelilingi wantilan pura berlawanan arah jarum jam selama tiga kali, puluhan pamedek terlihat mengalami kerauhan sambil menikam dirinya sendiri dengan sebilah keris, dan beberapa lainnya menari tak sadarkan diri. Aksi menikam diri dengan keris disebut dengan istilah ngurek. Warga sangat meyakini adanya kekuatan magis dalam aksi tersebut sehingga tak satu pun pamedek mengalami
luka. Tradisi yang berlangsung setiap Redite Pon Wuku Medangsia tersebut sangat disakralkan warga Kesiman. Sebelumnya, sejak pagi telah melakukan ritual serta persembahyangan di pura tersebut. Usai aksi tersebut, pamedek dan Ida Sesuhunan kembali masuk ke Jeroan Pura. Tidak lama kemudian, prosesi kembali dilanjutkan dengan iringiringan tarian pepatih poleng yang dilaksanakan oleh seluruh pemangku di wilayah Kesiman. Sama seperti sebelumnya, iring-iringan melakukan prasawia dengan mengelilingi wantilan sebanyak tiga kali. Sejumlah pemangku terihat ada yang
kerauhan tak sadarkan diri sambil menari. Uniknya beberapa pemangku terlihat mengenakan busana ala patih kerajaan. Ritual tersebut adalah sebagai upaya memenuhi keinginan duwe Dalem yang berupa ular untuk bisa medal di setiap berlangsungnya upacara Pangrebongan. Sementara usai upacara Pangrebongan berakhir, di dalam areal wantilan pura dilaksanakan pertunjukan beberapa sekaa baleganjur dan tarian oleh para pemuda pemudi dari beberapa banjar di wilayah Desa Kesiman. Swasrina
MBP/dok
Aksi menikam diri dengan keris disebut dengan istilah ngurek. Warga sangat meyakini adanya kekuatan magis dalam aksi tersebut sehingga tak satu pun pamedek mengalami luka.
MBP/dok
GAYA HIDUP
Ali Kharisma
Tuangkan Keindahan Yunani
A
li Kharisma, salah seorang desainer papan atas Bali, kali ini hadir dengan rancangannya yang terinspirasi dari kehidupan wanita modern. Ia memvisualisasikan karyanya dari mitologi Yunani kuno. Betapa ketika masanya wanita tampil elegan dan anggun namun dapat menjadi kuat dan licik. Koleksinya berhasil mengeksplorasi pengaruh estetika pada periode waktu
tertentu hingga kini. Pilihan materialnya pun mampu menyeimbangkan semuanya. Anggota APPMI Bali ini, juga menghadirkan kulit secara dramatis modern demi sebuah kekuatan. Selanjutnya, dikombinasikan dengan kain tule dan sifon yang ringan menjuntai mewakili keanggunan dan feminisme. Akhirnya, perpaduan tampilan menjadi unik melalui kehangatan tata rias wajah serta rambut. Pilihan warna di antaranya
hitam, abu dan putih juga semakin mendukung elegansi dan perpaduan dua kekutan lama dan baru. Begitu pula dengan sepatu serta pilihan beberapa clucth bag semakin menguatkan total look-nya. Semua elemen tersebut bersatu untuk menyajikan karya persembahan untuk wanita masa kini. Laporan
Ocha
Kumpulkan Bahan
B
agi penggemar lagu Bali pasti pernah mendengar lagu “Taksu”. Lagu ini dinyanyikan Ocha dengan penuh penghayatan. Penyanyi bernama lengkap A.A. Oka Diartini, S.E. ini mengawali kiprahnya sejak SMP bahkan sempat masuk Grand Champion Asia bagus. Kini Ocha lebih banyak menyanyi untuk acara off air. Di sela-sela kesibukan sebagai ibu rumah tangga yang mengurus dua buah hatinya, Risvanaya dan Tisyanaya, ia juga menjadi MC dan tampil di beberapa acara pernikahan. Belum lama ini Ocha tampil bersama Vina Panduwinata dalam sebuah acara gathering. Ketika ditanya rencana untuk membuat album, istri I Putu Gede Adi Setiawan ini mengatakan niatnya ada. “Rencana sudah ada tetapi masih mengumpulkan bahan. Mungkin single dulu sebelum album,” ujar penyanyi yang sudah menghasilkan album self title ini. Sebagai penyanyi, Ocha juga mengamati perkembangan musik khususnya musik Bali. “Lagu pop Bali sekarang makin bervariasi dan musiknya juga makin enak didengar,” tandas penyanyi yang lagu “Taksu”-nya mendapat penghargaan sebagai lagu harmoni dari Dewan Gema Perdamaian. Di sela-sela kesibukan menjalankan aktivitas keartisannya, ia selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama keluarga. “Biasanya ia bersama suami dan anak-anak memilih weekend untuk makan bersama,” tegas Ocha sembari mengatakan trik menjaga suaranya sangat sederhana, cukup istirahat saja. Bagi Ocha dunia seni sudah mendarah daging dalam dirinya. Ia piawai menari dan menyanyi. Menyanyi adalah passion-nya dan dipilih menjadi jalur berkarier. Ia mengaku makin yakin sejak tiga tahun belakangan ini. Semua sesuai kata hatinya. Pengagum Trie Utami, Ruth Sahanaya, dan Reza ini makin fokus menyanyi dan tidak mendua sebagai pegawai kantoran lagi. Ocha mengaku banyak pengalaman setelah memutuskan menjadi penyanyi termasuk ketika bergabung bersama tim Nyanyian Dharma (ND). “Saya merasa nyaman dan bisa banyak belajar tentang berkesenian sekaligus kehidupan. Dulu saya nge-fans Gigi karena ada Dewa Budjana ternyata bertemu saat rekaman hingga menjadi satu tim di ND,” tandas pelantun lagu “Moksa” ini. Laporan
BUDAYA
Bahasa Bali Milik Siapa?
S
ebenarnya, fenomena ini tidak hanya dialami bahasa Bali. Bahasa Jawa, Sunda, Sasak serta bahasa daerah lainnya pun mengalami hal yang sama. Anak-anak, remaja dan bahkan sampai kalangan mapan, cenderung menggunakan bahasa nasional. Bahasa loe gue yang alay dan bahkan bahasa asing sebagai bahasa pergaulan atau lingua franca. Bahasa serta aksara Bali kini hanya eksis di tingkat sekolah. Dalam pergaulan pun, dan dalam stratanya, bahasa ini seringkali dijadikan momok. Jadi...? Bahasa, aksara dan sastra Bali kini sedang galau. Generasi muda tidak terbiasa berbahasa daerah dengan baik, bahkan cenderung menggantinya dengan bahasa lain. Bahasa Bali seolah menjadi bahasa ‘’asing’’ di daerahnya sendiri. Apalagi Bali banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai negara, orang Bali seakan jorjoran menggunakan bahasa asing. Fenomena itulah yang mendorong digelarnya Festival Internasional Bahasa Bali di Museum Gunarsa Klungkung, beberapa waktu lalu. Sebagai pesertanya tokoh-tokoh dari berbagai belahan dunia seperti dari Amerika, Australia, Belanda, India, dan Indonesia Bali sebagai tuan rumah. “Ajang ini untuk bertukar pengalaman informasi tentang bahasa daerah juga bahasa suku-suku yang tersebar diberbagai belahan dunia yang telah membentuk karakter seni budaya unik itu,” kata DR. HC. Nyoman Gunarsa selaku penggagas event ini.
Menurutnya, generasi muda Bali secara pelan dan pasti mulai tidak tertarik dengan bahasa Bali sebagai bahasa ibu dan pergaulan. Terlebih dengan meningkatnya pengaruh global dalam kepariwisataan membuat bahasa Bali bergeser perannya. “Itu harus ditangkal karena bisa menghancurkan peradaban orang Bali yang telah tersohor di seluruh dunia,” tambahnya. Selain itu, adanya benturan berbagai kepentingan yang belum mencapai titik harmonis dalam menerapkan sistem demokrasi antara pemerintah kabupaten dengan provinsi. Hal itu menjadikan semua program tidak sinkron sehingga materi pokok bahasa daerah Bali yang berupa masukan-masukan dari berbagai kabupaten dan dirumuskan di tingkat provinsi menjadi telantar dan belum terdaftar di pemerintah pusat Jakarta. “Munculah isu miring bahasa Bali terpinggirkan,” ucapnya. Padahal, kata Gunarsa, bahasa dan aksara Bali sangat disucikan karena setiap enam bulan selalu diperingati oleh masyarakat Bali lewat hari raya Saraswati. Pada hari suci yang jatuh pada Sabtu Umanis, Watugunung semua kitab suci, prasasti dan buku-buku ilmu pengetahuan diupacarai. Dewi Saraswati juga dijadikan logo resmi oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pecinta budaya Bali Nengah Medera mengatakan, Bali memiliki bahasa daerah dengan sistem aksara dan khazanah sastra yang kaya akan nilai-nilai kearipan lokalnya. Dalam konteks kebudayaan
dan agama Hindu di Bali, bahasa aksara dan sastra Bali merupakan sumber inspirasi dan taksu Bali. Kebudayaan Bali dianalogikakan sebuah pohon. Sementara bahasa, aksara, sastra Bali dan sastra Kawi itu adalah akarnya. Batang pohon penguatannya adalah desa adat (pakraman), sedangkan napas hidup pohon itu adalah agama Hindu. “Dari pohon dengan cabang dan rantingnya inilah yang menghasilkan bunga dan buah berupa seni tari, karawitan, lukis, kerajinan dan seni lainnya,” jelas Medera yang kebetulan sebagai wakil ketua panitia festival tersebut. Ironisnya, lanjut Medera, dalam gebyar pariwisata yang gemerlapan dewasa ini, orang hanya berlomba menjual bunga dan buah tanpa ada yang peduli pada akar dan pohonnya. “Yang lebih memprihatinkan lagi kalangan orang Bali sendiri sudah tidak berbahasa Bali di lingkungan rumah tangganya,” ucap Medera penuh heran. Wakil Menteri Bidang Kebudayaan Prof. Windu Nuriati yang mengatakan, bahasa merupakan aksesori kebudayaan yang paling tua. Karenanya, perlu pelestarian yang harus dimulai dari bahasa. “Bahasa Bali tak hanya kaya akan kesusastraan, namun juga mengungkap kekayaan visual sekaligus merupakan totalitas kombinasi absolut dari seni bahasa, aksara dan seni rupa,” ucapnya. Bali sering disebut sebagai kantong budaya yang sejati-jatinya. Dari sinilah penguatan dan perkembangan kebudayaan terus dilakukan. Pemupukan dan penyuburan mulai dari akar sehingga mampu membuat pohon itu tumbuh subur selamanya. “Di sini kita melakukan pemupukan itu,” ungkap Prof. Windu. Namun pada faktanya, bahasa Bali memang saat ini mungkin sudah dianggap tidak trend lagi di kalangan generasi muda sehingga mulai jarang digunakan. Namun ada juga bahasa Bali yang campur-campur, keluar dari pakemnya dan seringkali kedengarannya aneh di telinga kita yang ‘’tua tua’’. Tetapi itulah, bahasa selalu sangat terbuka menerima perubahan-perubahan seiring kemajuan zaman. LAPORAN
13 | 25 November - 1 Desember 2013
Demokrasi Terpasung Bansos Politik
RP 20.000