11 | 11 - 17 November 2013
RP 20.000
3
DAFTAR ISI KILAS BERITA lKebutuhan Pokok Pariwisata Bali 6 LAPORAN UTAMA lBali Terancam Dikepung Sampah 8
lKeluh Kesah Berlimpah Sampah 9 lTak Mudah ”Bermain” Sampah 10 l”Ganyang” Sampah ala Surabaya Partisipasi Warga Kekuatan Utama 11 POLITIK lJalan Frustrasi Politisi Muda 12 lPolitisi Dibiayai Pinjaman LPD 13 LINGKUNGAN lMantan Pemburu Penyu Dianggap Gila 14 OPINI l Bali ”Pulau Sampah”? 16 JAJAK PENDAPAT l Ormas Sarat Arogansi 17 PENDIDIKAN lKurikulum 2013 Siswa Wajib Les ke Guru 18 lPelajar pun Terjebak Pornografi 19 MANCANEGARA lSedot Lemak Demi Naik Pangkat 20
lTerowongan Baru Turki Terwujud Setelah 153 Tahun 21 DAERAH lPerusda di Pulukan Kebun Rakyat Jadi Kebun Investor 22 lBanyak Kejanggalan 23 KESEHATAN lYoga, Jalan Terbaik Menuju ’’Pelepasan’’ 24
4
LENSA l Tak Lagi Bebas 26
OLAHRAGA l Buatan Lokal 28 l Insan Otomotif Bali Rindukan Sirkuit 30 KRIMINAL l Ketika Danau Batur ’’Murka’’ Dua ABG Tewas Tenggelam 32 lDoyan Mabuk dan Kasar, ’’Pekak’’ Tewas di Tangan Anaknya 34 EKONOMI l Aturan Impor Katrol Harga Ponsel 36 PARIWISATA l Desa Wisata, Membenahi Ketimpangan 38 l Peluang bagi Kapitalis? 39 EVENT l Perangi Sampah Plastik 40 TRANSPORTASI l Memacu Adrenalin di Desa Mengesta 42 TRADISI l’’Makotek’’ di Munggu Mohon Keselamatan 44 l ”Makotek” Perlu Dikemas Lebih Komplit 46
GAYA HIDUP lGaya Feminin Elegan dan Glamor 48 lGaluh Bilen Memilah dan Memilih 49 HOBI lPematung JAS Tunggu Gigi MoU 50
11 - 17 November 2013
4
DARI PEMBACA
S
Menjaga Komitmen bagi Negara dan Bangsa
umpah Pemuda merupakan komitmen yang sangat penting nilainya dalam perjuangan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, tidak seharusnya kita sebagai warga negara yang baik melupakan perjuangan dan sejarah tersebut, karena perjuangan merupakan awal dari kebangkitan sebuah negara. Saat ini seakan masyarakat mulai lupa tentang makna dari sejarah negara ini. Kita sebatas memperingati dan mengingat sebuah perjuangan, itu tak sebanding dengan apa yang dilakukan para pendahulu, para pejuang untuk kemerdekaan negara ini. Mereka rela bertumpah darah untuk negara ini demi menjunjung tanah kelahiran, membebaskannya dari penjajah. Sejatinya, Sumpah Pemuda merupakan ikrar bersatu dan disatukannya bangsa ini oleh kesamaan tanah air, bangsa dan bahasa. Ini mengingatkan kembali pada jati diri kita sebagai bagian dari NKRI. Sudah selayaknya kita bersatu dan memperkuat ikatan satu sama lain agar NKRI tetap kokoh dan bertahan di tengah berbagai krisis global ini. Dalam konteks generasi muda, kebangkitan pemuda tidak hanya dibangun dari keterpurukan masa silam, akan tetapi bangkit untuk bertindak melakukan pergerakan-pergerakan yang dapat membawa negeri ini jauh ke depan dan bahkan terhindar dari keterpurukan kembali. Karena salah satu peran pemuda adalah ikut memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa. Salah satu yang terpenting adalah mengenal dan mempertahankan jati diri dan moralitas dalam membangun karakter bangsa ke depan. Kebangkitan Pemuda tentunya harus dimaknai dengan pergerakan-pergerakan nyata dalam konteks perubahan menuju kondisi lebih baik ke depannya. Sehingga, generasi muda mendapat kepercayaan dari masyarakat maupun dari pemimpin negeri ini untuk melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa. Di sisi lain, kebangkitan pemuda juga harus mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat. I Putu Eka Parananda Besakih, Karangasem
Mempertahankan Milik Leluhur dan Tidak Mau ”Murahan”
P
ada zaman dulu atau pada zaman kerajaan, para seniman dengan hasil karyanya, misalnya lukisan, patung, maupun tarian adalah sebagai pengabdian dipersembahkan atau yadnya kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) atau kepada Ida Bhatara/ Ida Batari dan juga ke hadapan raja yang berkuasa. Namun, pada zaman globalisasi saat ini seniman membutuhkan uang untuk membeli bahan dan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Zaman dulu uang tidak begitu dipentingkan tetapi yang diharapkan oleh seniman adalah kepuasan hati nurani, kepuasan batin dan loyalitas pengabdian terhadap leluhur. Sekitar tahun 1970-an pelukis maestro Ida Bagus Made Poleng berkata, ‘’Saya disenangi Bung Karno. Beliau seorang presiden senang dengan lukisan saya, pejabat sekarang banyak yang tidak senang dengan lukisan dan jika mau membeli pasti dengan harga murah. Saya tidak mau murahan.’’ Ida Bagus Made mengharapkan kepada seniman agar menghasilkan karya yang mataksu atau berkarakter. Mutu dipertahankan dan jangan terlalu berharap sering laku dan ingin cepat kaya. Lukisan, katanya, sama dengan tanah yang bisa mendatangkan uang. Janganlah cepat-cepat jual tanah dengan dalih ingin cepat kaya. Tanah milik leluhur harus tetap dipertahankan demi anak cucu kita di kemudian hari. Demikian juga dengan lukisan. Wayan Beratha Yasa Br. Langon, Kapal Mengwi, Badung
Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Sri Hartini, Suana, Sueca, Yudi Winanto Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Diah Dewi, Yudi Karnaedi, Wira Sanjiwani, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Widana. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Adnyana, Gianyar: Agung Dharmada, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Budi Wiryanto Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan NTB Agus Talino, Syamsudin Karim, Izzul Khairi, Raka Akriyani Surabaya Bambang Wiliarto Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP
11 - 17 November 2013
5
5
KILAS BERITA
Tak Impor Beras Tak akan ada impor beras selama 2013. Itu kata Menteri Pertanian Suswono. Alasannya, luas lahan panen tahun ini mencapai 13,5 juta hektar. Saat ini stok beras di Perum Bulog mencapai 2 juta ton sehingga dinilai mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Stok beras yang dimiliki Bulog saat ini mencapai 2,5 juta ton dan setelah adanya penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin) maka stok akhir tahun diperkirakan 1,87 juta ton. Stok beras hingga 21 Oktober 2013 yang mencapai 2,5 juta ton, mencukupi kebutuhan penyaluran rutin 9,3 bulan ke depan. l Hardianto
MBP/dok
Kadisdikpora Klungkung Diperiksa Tipikor Dunia pendidikan di Klungkung lagi bermuram. Setelah Kepala SMAN 1 Semarapura tersandung kasus korupsi iuran komite sekolah, giliran Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Klungkung Ni Wayan Ringin dipanggil Unit Tipikor Sat Reskrim Polres Klungkung. Istri mantan Bupati Candra itu dipanggil berkaitan dengan keresahan para guru yang mempertanyakan tunjangan profesi guru (TPG) tahun 2012 yang belum dibayarkan selama tiga bulan. Apa ada bau korupsinya juga? l Bagiarta
6
Kebutuhan Pokok Pariwisata Bali
MBP/dok
P
ariwisata Bali ternyata perlu pasokan bahan pokok berupa beras, kacang-kacangan, sayur, buah-buahan, telur dan daging mencapai Rp 10 triliun per tahun. Sayangnya, petani di daerah ini baru bisa memasok senilai Rp 2,7 triliun, sementara yang lain Rp 7,3 triliun didatangkan dari luar Bali termasuk impor. l Giriana Saputra
Pemuda Sedang Sakit? Pemuda sekarang sedang sakit! Itu kata Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bali Nyoman Gd. Antaguna terkait peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober lalu. Sakit dalam artian tidak lagi memiliki jiwa nasional-
isme yang menggebu-gebu, namun terperangkap dalam arus globalisasi. Lebih ironis lagi, pemerintah tidak melaksanakan upacara bendera untuk memperingati Sumpah Pemuda. Sakitnya lebih parah lagi! l Rindra
MBP/ade
11 - 17 November 2013
MBP/dok
6
Krisis Air PDAM Perusahaan daerah satu ini belakangan di mana-mana lagi dililit masalah. Di Badung dan Denpasar, aliran air PDAM ke pelanggan kecrat-kecrit, bahkan hanya angin yang keluar. Kini giliran PDAM Jembrana mengalami hal sama. Sejak tiga bulan air PDAM untuk ratusan keluarga di Banjar Kaleran dan Banjar Wali Desa Yehembang, Jembrana, macet. Ratusan warga terpaksa harus berjalan sejauh lima kilometer untuk mengambil air di saluran irigasi subak guna memenuhi keperluan air sehari-harinya. l Surya Dharma MBP/olo
Trek ’’Downhill’’ Terbaik Asia
MBP/bag
SEBELUMNYA bukit di Desa Pesinggahan, Klungkung ini tidak banyak yang melirik. Namun kini, wilayah Bukit Tengah di Bumi Serombotan itu menjadi perhatian para penggemar adu adrenalin. Perbukitan tandus dengan kontur tanah berbatu tersebut disulap menjadi trek balapan sepeda downhill. Sejumlah rider downhill dari berbagai negara menilai trek sepanjang 1,6 kilometer tersebut terbaik di Asia. l Bagiarta
Dana Pendamping JKBM untuk JKKB Manguwaras INI fenomena yang terjadi di Badung, dan yang menjadi korban masyarakat miskin di wilayah tersebut. Pemkab Badung menghentikan sementara program JKKB Manguwaras karena dana yang dianggarkan tahun 2013 telah habis. Akibatnya, beberapa pasien kanker dari keluarga miskin di Badung yang sebelumnya mandapat tanggungan JKKB Manguwaras jadi kelimpungan. Salah satunya, Lanang Subawa (1), balita asal Banjar Dukuh Moncos Desa Sobangan, Mengwi, Badung yang menderita tumor mandibula dan harus menjalani kemoterapi. Di pihak lain, serapan dana JKBM di Badung tahun 2013 sangat rendah, baru mencapai Rp 7 miliar dari Rp 25 miliar yang dianggarkan. Anggota DPRD Badung pun lantas mengusulkan dana pendamping JKBM dipangkas dan diarahkan untuk menambah alokasi anggaran JKKB Manguwaras.
MBP/ole
’’Short-Cut’’ di Jalur Maut Kelak-kelok disertai tanjakan atau turunan tajam, membuat jalur Denpasar-Singaraja lewat Bedugul rawan kecelakaan bahkan dijuluki ‘’jalur maut’’. Muncul usulan dibuat short-cut dengan memotong tikungan-tikungan yang berbahaya untuk dibuat lebih lurus dan lebih aman. Hanya, kecenderungan jika jalan lurus apalagi sepi, sopir jadi mengantuk atau malah ngebut. Human Error adalah penyebab terbesar kecelakaan yang terjadi. l Adnyana Ole 11 - 17 November 2013
7
l Dedy Sumarthana/Wira Sanjiwani MBP/san
7
LAPORAN UTAMA
Bali Terancam Dikepung Sampah Puluhan wisatawan membatalkan niatnya mengunjungi Pantai Kuta. Gelimpangan batang kayu serta menumpuknya sampah plastik dan dedaunan di pinggir pantai, membuat wajah Pantai Kuta kumuh. Airnya juga keruh. Sementara itu, di seberang jalan pasir meluber ke jalanan. Pemandangan ini merupakan bencana musiman di objek pariwisata paling poluler di Bali. Pantai Kuta merupakan penampungan sampah kiriman ketika musim angin kecang yang disertai hujan.
P
roblema pengelolaan sampah di pesisir Kuta, merupakan bagian kecil dari masalah pengelolaan sampah di Bali. Rendahnya budaya memilah sampah serta terbatasnya lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), membuat Bali potensial di kepung sampah. Ribuan kubik sampah yang diproduksi setiap harinya juga disinyalir sebagai efek langsung dari tingginya mobilitas kependudukan di Bali. Persoalan sampah pun diakui kini menjadi momok di tiap daerah. Badung, misalnya, meskipun telah melakukan berbagai inovasi dengan dukungan anggaran yang besar, tetap mengaku saja kewalahan. Kepala DKP Badung Putu Eka Merthawan mengungkapkan, pihaknya telah memiliki grand design untuk mewujudkan beautiful Badung yang bersih. Namun ketika harus dihadapkan dengan kawasan yang sulit
8
PETUGAS Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Denpasar sedang menaikkan sampah ke truk. Penanganan sampah membutuhkan upaya luar biasa, dengan dukungan armada dan personil yang memadai. Selain itu juga diperlukan dukungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang memenuhi standar nasional.
ditangani, 700 petugas lapangan DKP Badung dirasa masih belum cukup. Pihaknya mengaku masih memerlukan campur tangan pihak lain terutama masyarakat. Dalam penanganan sampah, DKP Badung memiliki 4 pola dalam grand design untuk wujudkan beautiful Badung yang bersih. Pola tersebut yakni mengoptimalkan pembentukan tempat pengolahan sampah terpadu, mengoptimalkan gerakan berkelanjutan anti sampah plastik, mengoptimalkan pembentukan bank sampah serta mengoptimalkan partisipasi masyarakat untuk membangun jasa pengangkutan sampah. Semua skenario yang diterapkan berbasis partisipasi masyarakat. Disinggung soal SDM di DKP Badung khususnya para petugas lapangan, Eka Merthawan menyebut Bupati Badung telah memberikan perhatian khusus. Para petugas lapangan digaji sesuai UMK. Mulai
dari gaji terendah Rp 1.410.000 hingga Rp 2.000.000. Dilema pengelolaan sampah juga dirasakan di Buleleng, Jembrana termasuk di Gianyar. Denpasar sebagai ibu kota provinsi bahkan sejak lama telah bergulat mengatasi sampah. Namun, persoalan pengelolaan sampah tak kunjung tuntas. Budaya masyarakat mengelola sampah secara mandiri tetap jauh dari harapan. Jembrana bahkan memastikan dengan volume sampah. Per harinya TPA di wilayah ini overload. Saat ini pun sampah sudah membubung tinggi hingga 10 meter. Guna mengatasi masalah ini, Kantor LHKP Pemkab Jembrana mengajukan usulan dana DAK untuk perluasan TPA tahun 2012 sebesar Rp 5 miliar untuk lahan seluas 10 hektar. Di Buleleng masalah sampah juga makin serius. Setiap hari di Buleleng produksi
11 - 17 November 2013
8
Keluh Kesah Berlimpah Sampah
sampah rata-rata mencapai 257,06 meter kubik. Namun, tingginya volume sampah ini tak diimbangi dengan dukungan armada angkut. Akibatnya sampah banyak menumpuk di pinggir jalan. Dari 21 truk sampah yang dimiliki Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Buleleng ternyata sebanyak 19 truk tidak layak jalan. Bahkan dari 19 truk tersebut, sebanyak tiga truk benar-benar tak bisa digunakan. Kepala DKP Buleleng Wayan Genep membenarkan banyaknya truk sampah di DKP yang dinyatakan tak layak jalan sesuai dengan uji kir di Dinas Perhubungan. Namun untuk sementara truk itu dipaksakan untuk dioperasikan. Selain itu, DKP juga melakukan penataan truk dan penjadwalan pengangkutan sampah dengan baik agar tak ada sampah yang tercecer. l Surya Darma/Ole/Dedy
Tidak banyak yang memperhatikan. Ketika pagi masih berembun dan suasana jalan-jalan di Kota Denpasar masih terasa lengang, langkah-langkah kaki yang kuat dan tangan-tangan ringan kelam sudah berkutat dengan alat-alat kerjanya. Merekalah para petugas kebersihan setempat. Ciri khas seragam hijau tersebut sudah berkeringat menyapu ruas-ruas jalanan di Denpasar. Barangkali sebagian besar warga Kota Denpasar masih mimpi atau asyik menyeruput kopi hangat, tetapi mereka “pasukan hijau” itu harus mengejar waktu agar pekerjaannya tuntas. Semangatnya yang terasa tetap “menyala” itulah, menjadikan jalanan di kota berwawasan budaya ini sudah kelihatan bersih ketika matahari makin beranjak tinggi dan lalu lintas sudah terasa menyesakkan. Kenyamanan berlalu lintas bisa dirasakan saat jalanan sudah bebas dari berserakan dan teronggoknya sampah-sampah di pinggir jalan. Cukupkah mereka hanya dipuji-puji sebagai petugas yang cekatan mampu membersihkan kota? Atau paling tidak, mampukah kita merasakan betapa berat beban hidup mereka? Sebuah kenyataan, selama ini mereka hanya mendapat upah dari melakukan bersihbersih sampah di jalan tersebut belum memadai. Ketika mereka 479 orang pasukan angkut sampah berani protes tahun 2012 lalu, bisa dipahami. Mereka hanya dibayar Rp 17.500 per shift dan sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Aksi protes di gudang armada DKP di Jalan Gunung Krakatau, Denpasar tersebut, tentu harus menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah. “Kami selalu dituntut bekerja maksimal. Pekerjaan kami memang terlihat sepele, tetapi coba dibayangkan kami selalu dekat dengan sampah dan kuman. Belum lagi kalau lembur dan dalam kondisi hujan. Tetapi kami hanya dibayar Rp 17.500 per shift. Coba dipikir, uang segitu bisa dapat apa?” keluh kesah seorang petugas yang diiyakan rekan-rekannya. Catatan kelam yang dialami petugas DKP yang kebanyakan tenaga honorer dan kontrak ini sangat menyedihkan. Pekerjaan mulia yang dilakukannya, justru dipandang sebelah mata para pengambil kebijakan. Hal ini bisa Armada Sampah dilihat dari kecilnya gaji yang mereka DKP Denpasar bawa pulang. Sementara harga-harga kebutuhan pokok yang mereka harus Eskavator 2 beli, semuanya selangit. Bahkan, bila Loader 1 dibandingkan dengan tenaga kontrak Amroll 18 yang ada di sejumlah SKPD lainnya Mobil service 2 di Pemkot Denpasar, nasibnya juga Truck snorklift 7 jauh beda. Dari jenis pekerjaan yang Gerobak 63 dilakukannya pun berbeda. Container 100 Sekretaris DKP Denpasar Dewa Dump truck 80 Sayoga yang dikonfirmasi mengatakan, Pick up 14 saat ini upah yang diterima petugas Moci 4 kebersihan sudah mulai ditingkatkan. Sepeda motor 23 Untuk tenaga penyapuan, per shiftAlat berat 5 nya diberikan Rp 21 ribu. Sedangkan Sepeda pancal 25 tenaga pengangkutan Rp 24 ribu per Mobil swifer 1 shift. Satu shift selama lima jam. Selain Pemusnah plastik 1 itu, petugas pasukan hijau ini juga menAlat potong multiguna 4 erima uang lembur serta yang lainnya. Sensor 39 “Mereka kini sudah dapat menerima upah paling tidak sudah setara dari TPA Suwung UMK,” jelas Dewa Sayoga. Luas TPA 36 Hektar l Asmara Putra Volume Sampah/hari 2.500 -2.700 m3 Volume Sampah Hari Raya Naik 60-100 persen Jumlah Tenaga DKP 1.452 orang Sumber DKP Denpasar
9
LAPORAN UTAMA
Tak Mudah ”Bermain” Sampah
M
engatasi permasalahan sampah, rupanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi ada anggapan, “mengatasi sampah tinggal angkut dan kumpulkan”. Rupanya anggapan tersebut berbeda dengan kenyataannya. Tangani sampai harus serius, tidak bisa main-main. Persoalannya rumit, tidak sekadar mengangkut dan mengumpulkan saja. Setelah pengangkutan dan pengumpulan sampah tersebut dibagaimanakan kalau sudah menggunung? Permasalahan yang terjadi di tempat pembuangan akhir (TPA) itulah seakan-akan lolos dari penanganan. Nah, disinilah komitmen Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini agar tak kecolongan akan hal itu. Bagi Risma, pengelolaan sampah di TPA Benowo, Pemkot Surabaya sejak awal menggandeng tim. Mengingat pemkot memang tidak memiliki pengalaman dalam pengelolaan sampah. Tim tersebut berasal dari beberapa elemen, di antaranya dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Dalam Negeri dan kalangan akademisi. Kalangan akademisi itu seperti dari Teknik Lingkungan ITS, pakar ekonomi dan hukum, juga perkumpulan sampah. Tim inilah yang mengurusi persoalan teknis. Seperti penentuan pemenang tender, juga penentuan harga pengelolaan. Sementara pemkot fokus untuk mengurusi masalah sampah. Pengalaman pernah menjadi kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya, Rimas mengakui, urusan pengelolaan sampah di TPA bukanlah pekerjaan ringan. Urusan TPA sangat vital. Bahkan, jika dibandingkan wali kota perempuan pertama di Pemkot Surabaya ini menyebut pengelolaan sampah di TPA lebih kritis ketimbang masalah transportasi. Untuk itulah, ia menyebut tidak ingin Kota Surabaya nantinya bernasib seperti Kota Bandung yang karena volume sampahnya tak
10
terbendung, kini kesulitan mengatasinya. Bagi Risma, pengelolaan sampah itu bukan urusan untung atau rugi. Dia menyebut, sulit menemukan pengelolaan sampah yang menguntungkan. Bahkan, di negara maju seperti Jepang-pun, pengelolaan sampah tidak sampai surplus (untung). Ia pun mencontohkan ketika dirinya berbincang dengan Wali Kota Kitakyushu, Jepang perihal sampah di kotanya, ketika sang walikota itu berkunjung ke Surabaya beberapa waktu lalu. Persoalan pengelolaan sampah terkait erat dengan kebersihan, kesehatan dan juga masa depan kota. Sebuah kota akan menjadi menarik untuk didatangi investor maupun tamu-tamu dari luar negeri, salah satunya karena keberhasilannya dalam mengelola sampah. Bagaimana keseharian Surabaya dalam mengelola sampah? Adalah Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya Chalid Buchari menyebutkan, dengan cara mengendalikan kenaikan volume sampah. Ada beberapa cara yang dilakukan DKP. Salah satunya dengan menggalakkan pembuatan rumah kompos di tiap kawasan. “Saat ini sudah punya 18 rumah kompos. Target kami, di akhir tahun nanti akan ada penambahan tiga rumah kompos lagi,” ujar Chalid. Selain pembuatan rumah kompos, pemkot juga fokus pada pengelolaan sampah terpadu dan memberdayakan masyarakat melalui program seperti Green and Clean yang diadakan setiap tahun dengan melibatkan warga di tiap kecamatan dan kelurahan. Partisipasi warga ini, kata dia, menjadi solusi untuk mencegah kenaikan sampah.
TUMPUKAN sampah yang tidak terurai. Keterbatasan TPA bisa menjadi ancaman serius dalam membangun tata kelola sampah. (kiri). Seorang pemulung mempersiapkan peralatan untuk mengais rejeki di antara tumpukan sampah (kanan).
LAPORAN
11 - 17 November 2013
10
”Ganyang” Sampah ala Surabaya
Partisipasi Warga Kekuatan Utama “Surabaya Bersih dan Hijau”, rupanya tidak hanya menjadi moto bagi kota berlogo Hiu dan Buaya ini. Kota terbesar kedua setelah Jakarta ini rupanya berupaya penuh mewujudkan Tagline tersebut menjadi kenyataan, sehingga kota pahlawan ini bisa menikmatinya. Seakan menjadi bukti, beberapa waktu lalu para Menteri Lingkungan negaranegara ASEAN plus tiga negara mitra ASEAN (Jepang, Korsel dan Cina) menyampaikan apresiasi positif atas upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam pengelolaan lingkungan. Apresiasi positif itu disampaikan para menteri ketika berkunjung ke beberapa lokasi di Surabaya yang warganya sukses mengelola lingkungannya. Prestasi tersebut rupanya tak datang begitu saja. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memang tak tanggung-tanggung dalam urusan menata lingkungan. Bahkan setiap tahun Pemkot Surabaya mengirim stafnya ke Kitakyushu (salah satu kota di Jepang) untuk menimba pengetahuan pengelolaan lingkungan. “Kita
kerja sama dengan Kitakyusu dalam hal pengelolaan air sungai, kawasan industri dan kawasan rumah tangga, serta transportasi yang ramah lingkungan,” kata Wali Kota Risma yang murah senyum ini. Dia pun menjelaskan keberhasilan Surabaya dalam menggerakkan warganya untuk ikut peduli pada pengelolaan lingkungan. Keikutsertaan warga berupa pembentukan rumah kompos di pemukiman warga dan juga pasar (Composting Houses Managed by Community). Lalu langkah “menganyang” sampah itu dengan pembentukan bank sampah di kelurahan dan sekolah yang dikelola masyarakat. Termasuk dalam pengolahan air limbah menjadi air yang bisa dimanfaatkan. Partisipasi warga inilah yang menjadi kekuatan utama Kota Surabaya dalam mewujudkan kota yang bersih. Awal melangkah diakui banyak tantangan. Bukan saja persoalan keterbatasan infrastruktur yang dimiliki, juga masalah serius dengan ditutupnya Tempat Pem-
buangan Akhir (TPA). “Saya lalu menggerakkan warga untuk berpartisipasi,” kata Risma. Selain meringankan biaya, kepedulian warga dalam mewujudkan kebersihan juga berpengaruh pada kesehatan. Buktinya, jumlah warga Surabaya yang terkena penyakit terus menurun karena mereka sadar kesehatan,” sambungnya. Wali Kota perempuan pertama di Kota Surabaya ini juga menjelaskan perihal penurunan volume sampah yang masuk ke TPA Benowo. Dalam display yang dipaparkan, pada 2005, jumlah volume sampah masih di angka 2000 meter kubik. Tetapi, pada 2012 lalu, jumlah volume sampah sudah menurun di angka 1.000 meter kubik. “Tamantaman kota juga lebih bagus meskipun sebenarnya tanah di Surabaya itu kurang bagus karena kawasan pantai. Tetapi, kini Surabaya sudah jadi lebih hijau dan rindang,” sambungnya.
LAPORAN 11 - 17 November 2013
11
11
POLITIK
Jalan Frustrasi Politisi Muda
D
eretan baliho memuat gambar politikus berjajar di pinggir jalan. Sebagian lagi menempel di pohon kayu dan di dinding toko. Nyaris semuanya tersenyum dan mohon doa restu. Politisi dari kalangan tua, muda dan politisi dadakan ‘’dalam baliho’’ membidik jabatan legislatif yang diperebutkan tahun 2014. Jika dicermati dari gambar wajahnya, dominan politisi yang muncul ke permukaan adalah para generasi tua. Sedangkan dari kalangan muda, jumlahnya masih terbatas. Fakta ini mencerminkan adanya stagnasi kaderisasi di partai politik. Parpol ternyata masih menjagokan politisi gaek untuk menjadi wakil rakyat. Sejumlah politisi yang terpajang di jalanan bahkan sudah ada yang berulang kali menyandang status wakil rakyat. Fakta ini menjadi ironi di tengah memburuknya citra politisi. Deretan kasus korupsi dan persekongkolan yang melibatkan politisi tua, semestinya membuat Parpol beralih menu dengan ‘’menjual’’ politisi muda. Untuk membangun bangsa dari sisi politik, kehadiran dan kontribusi politisi muda perlu diberi ruang. Setidaknya, Wakil Presiden Boediono pun berharap generasi muda sebaiknya terjun ke dunia politik. Generasi muda harus ikut serta ambil bagian untuk menentukan aturan dasar kehidupan berbangsa
12
dan bernegara. “Keikutsertaan masyarakat sebagai pemberi suara adalah salah satu bentuk turut sertanya masyarakat dalam proses politik. Saya sendiri sudah lewat, sudah bukan masanya lagi terlibat dalam politik, lebih baik kalau yang muda-muda, putraputri terbaik bangsa yang aktif dalam politik,” kata Wapres saat berbincang dengan keluarga Kedutaan Besar Republik Indonesia dan WNI yang bermukim di London, baru–baru ini. Mencermati tantangan ini, mantan Ketua KNPI Denpasar Ray Misno menilai sebagai sebuah tantangan normatif. Selama ini, bahkan sejak Orde Baru peran generasi muda sebenarnya sudah diadopsi. Saat itu, Ketua KNPI hampir pasti menjadi anggota DPRD-DPR-RI tergantung levelnya. Organisasi kepemudaan diberikan jatah kursi. Perimbangan politik dari sisi golongan zaman Orde Baru juga memadai. ‘’Sebenarnya dari sisi peluang dan kuota peluang generasi muda untuk terjun ke politik tak dibatasi. Namun, minat generasi muda terjun ke politik masih minim,’’ ujarnya. Ia mengakui, di Denpasar saat ini celeg dari kalangan generasi muda memang tinggi. Namun, jika ditelusuri banyak dari mereka bukan politikus kaderan. Sejumlah caleg muda direkrut dadakan oleh partai-partai baru. Banyak dari mereka terjebak target politik instan, tanpa proses yang wajar. ‘’Saya khawatir para politikus muda ini sebatas menghiasi parade baliho pinggir jalan. Banyak dari mereka belum punya strategi untuk menembus persaingan politik,’’ jelasnya. Jika mereka gagal terpilih, maka Pemilu 2014 akan menjadi pesta politik yang membuat generasi muda frustrasi terjun ke dunia politik. Sementara itu, Rektor Undiksha Prof.
Dr. Nyoman Sudiana mengatakan pemuda saat ini cenderung akan menjadi politisi pasif dalam menghadapi persaingan. Selain minim modal finansial, mereka juga minim pengalaman politik. Meskipun dalam baliho banyak generasi muda menjadi ‘’alternatif‘’ namun banyak dari mereka belum teruji menghadapi intrik politik. ‘’Peluang generasi muda dalam politik nasional memang sangat terbuka. Namun, saya lihat mereka cenderung pasif dan belum memiliki strategi menghadapi atau menaklukkan tantangan,’’ ujarnya. Namun, Prof. Sudiana optimis kehadiran generasi muda dalam dunia politik akan membawa pergeseran kebijakan. Sikap inspiratif pemuda patut diakomodasi dalam politik, ketika banyak politisi tua gagal menjaga citra politik beretika. ‘’Saya berharap generasi muda jangan terjebak target-target instan alam berpolitik sehingga melakukan transaksi dukungan. Generasi muda hendaknya menyelami dunia politik dan banyak belajar dari pengamalam politisi,’’ sarannya. Prof. Sudiana mengatakan potensi konflik internal dan eksternal dalam dunia politik mestinya dicermati sejak dini agar tidak frustrasi menghadapi kegagalan awal. l Dira Arsana/Adnyana Ole
11 - 17 November 2013
12
Politisi Dibiayai Pinjaman LPD
Bali Post/ole
PETUGAS Sat. Pol.PP menurunkan baliho untuk kepentingan kampanye politik. Pemasangan baliho politik belakangan ini banyak melanggar median jalan dan ketentuan UU Pemilu. Bahkan, baliho para calon legislator betrebarab di setiap sudut desa.
Made Sulastra, warga di salah satu desa di Gianyar, tersenyum sumringah. Ia dinyatakan lolos oleh salah satu partai dalam verifikasi sebagai calon anggota DPRD. Ia pun telah menyiapkan potret diri untuk baliho. Ia juga mengaku telah mendatangi LPD di desanya untuk modal awal kampanye. Cara ini banyak dilakukan politisi pemula untuk mengejar impiannya. Namun, ketika DCS diumumkan KPU, namanya tak muncul. Ia tersisih di babak awal karena tidak menyetor tanda jadi ke induk partainya. Pengalaman Made Sulastra ini ternyata menjadi awal buruk kepesertaannya dalam dunia politik. Kepada Majalah Bali Post, ia pun mengaku kapok terjun ke dunia politik. ‘’Ternyata dunia politik juga memerlukan pelicin,’’ ujarnya. Menyikapi pengakuan Made Sulastra ini, banyak pengamat menilai sebagai bentuk awamnya generasi muda menghadapi persaingan politik. Bahkan, ketika Bali Post menggelar diskusi terbatas tentang ekonomi–politik di Warung 63 Jalan Veteran, barubaru ini, pengamat dan akademisi angkat bicara. Saat itu, pengamat ekonomi yang juga pemerhati masalah sosial Viraguna Bagoes Oka mengatakan, digaetnya generasi muda dalam dunia politik dalam pemilu 2014 merupakan aura baru untuk perbaikan citra perpolitikan nasional. Masalahnya, kinerja lembaga negara dengan status wakil rakyat belakangan ini sangat terpuruk. Budaya korupsi, jalan-jalan dan konsumtif yang dipertontonkan sejumlah politisi secara tak langsung memperburuk kinerja di sektor perekonomian. ‘’Saya mendengar langsung kalau banyak calon legislatif men-
danai biaya politiknya dengan pinjaman dari LPD. Ini kan bentuk penggunaan pinjaman untuk kegiatan yang konsumtif,’’ ujarnya. Viraguna Bagoes Oka bahkan mengakui kini banyak politisi membiaya kegiatan politiknya dengan dana-dana hasil komisi, kolusi termasuk dari hasil korupsi. Itu artinya, banyak politisi membiayai aktivitas politiknya dengan dana haram, sehingga jika terpilih praktik tersebut akan berulang kembali. Di lain pihak, Prof. I.B. Raka Suardana mengatakan, dunia politik saat ini tak lagi mengedepankan kecakapan profesi, keilmuan termasuk kaderisasi. Banyak partai politik merekomendasikan calon wakil rakyat berdasarkan setoran finansial ke induk partainya. Lewat cara-cara ini, partai politik memiliki anggaran politik yang jelas. ‘’Ini adalah proses kelahiran wakil rakyat yang tak paham fungsi. Banyak anggota DPRD tak peka dan tak tahu dengan bidang tugasnya,’’ sindirnya. Untuk itu, Guru Besar Undiknas University ini berharap reformasi dalam dunia politik harus dilakukan. Pelibatan generasi muda harus diberi ruang. Visualisasi baliho mestinya dikoreksi. Kritik atas kinerja sektor politik dikuatkan hasil Survei Nasional Pol-Tracking Institute terbaru. Survei ini menyebut sebagian besar masyarakat tidak puas dengan kinerja Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Hanya 12 persen yang mengatakan kinerja DPR baik. “Survei ini menunjukkan hanya 12,64 persen masyarakat yang menjawab puas terhadap kinerja DPR periode 2009-2014. Sisanya ada 61,68 persen menyatakan tidak puas terhadap kinerja DPR. Sebanyak 25,68 persen menyatakan tidak tahu. Hal ini bisa dijelaskan dengan menelusuri riwayat tiga fungsi dewan: legislasi, penganggaran, dan pengawasan,” ujar Direktur Riset Arya Budi saat mempresentasikan temuan lembaga surveinya. Menurut Arya, rendahnya penilaian publik terhadap kinerja DPR-RI periode ini disebabkan oleh rendahnya kualitas dan kuantitas kinerja serta produk DPR di tiga fungsi utama: legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Survei ini memiliki margin error kurang lebih 2,19 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Penarikan survei ini menggunakan metode multistage random sampling. Sedangkan pengambilan data melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner. l Dira Arsana 11 - 17 November 2013
13
13
LINGKUNGAN
Mantan Pemburu Penyu Dianggap Gila
S
epanjang pantai Kabupaten Jembrana merupakan habitat alami penyu-penyu untuk bertelur. Sudah menjadi siklus tahunan penyu-penyu betina yang siap bertelur naik ke pantai untuk mencari sarang (nest) bertelur. Ironisnya selama puluhan tahun, penyu justru menjadi objek perburuan untuk dijualbelikan dan dikonsumsi. Pada tahun 70-an hingga 80-an perburuan penyu di pesisir menjadi kegemaran para nelayan. Dalam satu hari, kala itu, Wayan Tirta,si pemburu, mengaku bisa memburu 4-5 ekor penyu. Perburuan dilakukan dengan menjaring atau menombak tanpa mempedulikan ukuran dan umur penyu-penyu tersebut. Bahkan penyu-penyu yang belum genap untuk bereproduksi pun ikut diburu. Kondisi itu menimbulkan keprihatinan sejumlah aktivis lingkungan. Di pesisir Desa Perancak, Kecamatan Jembrana yang merupakan habitat penyu terbesar, sejumlah orang yang peduli atas habitat penyu pada tahun 1997 lalu membentuk kelompok pelestari penyu. Uniknya munculnya kelompok ini justru diprakarsai dari para mantan pemburu penyu yang akhirnya tobat. Oleh pendirinya, Wayan Tirta (67), kelompok itu dinamai Kurmaasih dengan pendampingan dan bantuan dari WWF. Namun beberapa tahun belakangan ini, kelompok yang memiliki belasan relawan ini melakukan secara mandiri mengandalkan bantuan donatur. Tirta sendiri sebelumnya merupakan pemburu penyu. Saat itu dia membentuk kelompok bernama Ramayana yang khusus memburu penyu. Namun sejak pertengahan 1980an, Tirta sadar dengan mulai punahnya penyu. ‘’Saya sadar bahwa itu juga makhluk Tuhan, dan ketika saya mendapatkan kesempatan untuk menebus, saya dirikan kelompok ini,’’ terang Tirta yang mengaku masih menyimpan tombak dan jaring di rumahnya. Namun kini Wayan Tirta sudah meninggalkan aksi berburu itu dan menjadi pelestari penyu. Sejak mulai berdiri, kelompok yang dibentuknya bersama sebagian besar nelayan sering dipandang sebelah mata dan dicemooh. Bahkan pernah dianggap gila, lantaran berseberangan pemikirannya dengan nelayan lain yang masih gemar berburu penyu. Mereka sadar untuk mendukung konservasi ini, perlu adanya sinergi dengan masyarakat. Apalagi kultur masyarakat pesisir Jembrana yang telah terbiasa Tahun
sarang yang ditemukan
1997 2010
4 sarang 455 sarang.
Total sarang yang telah ditemukan dari pantai Gilimanuk hingga Pengeragoan mencapai 2.500 sarang.
14
11 - 17 November 2013
memperjualbelikan telur-telur penyu. Sepanjang pantai dari Gilimanuk hingga Pekutatan, banyak ditemui sarang bertelur penyu. Para nelayan sering memperoleh telur-telur penyu dan menjualnya. Kondisi ini menjadi keprihatinan kelompok pelestari penyu, sehingga terpaksa mereka memberi reward berupa uang yang sejatinya sebagai stimulus untuk perlindungan telur-telur penyu. ‘’Kalau tidak kita beli, mereka akan jual ke orang lain sebab telur penyu juga diincar,’’ tukas Ketut Tirta. Dengan upaya itu, ternyata dari tahun ke tahun mulai membuahkan hasil. Sejak tahun 1997 sarang yang ditemukan terus mengalami peningkatan. Dari awalnya empat buah, pada tahun 2010 telah mencapai 455 sarang. Total sarang yang telah ditemukan dari pantai Gilimanuk hingga Pengeragoan mencapai 2.500 sarang. Bahkan sejak tahun 1997, kelompok ini telah melepas
115 ribu anak penyu ke habitatnya di laut. ‘’Keberadaan penyu penting dan harus kita jaga. Konservasi ini tanggung jawab kita bersama,’’ terang I Wayan Anom Astika Jaya, aktivis penyu asal Perancak. Kepedulian nelayan di pesisir Perancak membantu penyelamatan penyu juga mulai meningkat. Terbukti dengan banyaknya nelayan yang menyerahkan penyu yang telah terjaring atau ditemukan terdampar ke konservasi ini. ‘’Tidak semua tukik yang dilepas bisa bertahan hidup hingga dewasa. Dari 1.000 yang dilepas hanya sekitar 2-5 tukik yang bisa bertahan,’’ tambah Anom. Paling tidak dibutuhkan waktu hingga 20 sampai 30 tahun sampai penyu-penyu itu siap bertelur. Di perairan Jembrana terdapat tiga jenis penyu yakni lekang, belimbing dan sisik. Tetapi, yang paling sering ditemui adalah penyu jenis lekang.
Musim kawin penyu ini hanya sekali dalam setahun yakni antara April hingga September. Dibandingkan penyu yang lain, penyu lekanglah yang terpanjang. Telur-telur yang ditemukan masyarakat sekitar baik di pesisir Perancak, Yehembang hingga Pekutatan diganti dengan nilai Rp 1.200 per telur. Dalam sekali bertelur, penyu jenis lekang bisa menghasilkan 300 telur. Kelompok ini tidak memelihara penyu hingga dewasa, melainkan hanya mengumpulkan telur-telur penyu yang tersebar di pesisir pantai Jembrana. Telur ditunggu hingga menetas menjadi anak penyu (tukik). Setelah beberapa minggu, tukik-tukik itu baru kemudian dilepasliarkan di pantai Perancak. l Surya Dharma
MBP/olo
Sejumlah anak melepaskan anak penyu ke habitatnya di pantai dipelopori aktivis pelestari penyu di Perancak. Dari 1.000 anak penyu yang dilepas, hanya 2-3 ekor yang bertahan hidup hingga dewasa. 11 - 17 November 2013
15
OPINI
Bali �Pulau Sampah�?
M
endengar kata sampah membuat kita langsung berpikir mengenai barang sisa yang berkonotasi jorok, bau, mengganggu kenyamanan, tidak bisa hancur, tidak bisa didaur ulang. Mari merenungkan permasalahan sampah ini dari rumah kita sendiri, pemilahan, serta pengangkutannya dari rumah ke TPA sementara dan TPA sementara ke TPA akhir. Sampah di rumah adalah sampah domestik yang paling banyak menyumbang sampah di TPA akhir. Mari kita merenung sejenak, sudahkah kita memilah sampah kita sejak dari kamar, berupa tisu bekas, sampah dapur yang berupa plastik, sisa sayuran, kulit buah, sisa ikan, botol kaca, botol plastik dan sisa makanan yang tidak habis? Kata pemilahan sudah sangat sering kita dengar dari berbagai media tetapi begitu dihadapkan langsung dengan sampah, kita suka lupa untuk membuang sampah atau memilah sampah sesuai dengan kategorinya. Kita cenderung membuangnya menjadi satu dengan berbagai macam sampah karena berpikir bahwa sampah rumah kita hanya sedikit. Pemilahan perlu dilakukan dari rumah kita. Kita bisa memberi tahu anak-anak kita sejak dini untuk mengumpulkan semua sampah plastik dan kaca di rumah kita setiap hari dengan janji akan diberi imbalan jika mengumpulkan dengan jumlah tertentu. Kita juga memberi tahu kepada pembantu atau kita sendiri untuk memilah sisa sayuran, buah, sisa makanan untuk dijadikan makanan ternak. Untuk sisa kertas, tisu dan daun-daun kering dapat dibakar. Jangan membuang sampah sembarangan. Biasanya kita mau mobil kita bersih dari sampah dan tanpa malu-malu menjadikan jalanan sebagai tempat pembuangan sampah. Pengangkutan sampah dari rumah ke TPA perantara juga penting. Karena, kalaupun jika kita sudah melakukan pemilahan dari rumah tetapi pada waktu pengangkutan digabung menjadi satu, juga menimbulkan masalah baru dan sia-sia dilakukan pemilahan. Harus ada edukasi kepada para pengumpul sampah sehingga bisa menyukseskan program pemilahan ini. Sesampai di TPA sementara maka yang akan tersisa hanya sampah yang benar-benar dipandang tidak mempunyai nilai seperti sampah dapur, hal ini bisa disiasati dengan disiapkan
16
11 - 17 November 2013
alat chopper yang bisa menghancurkan sampah tadi baik digunakan sebagai bahan kompos atau bahan makanan ternak. Peralatan sederhana ini bisa disiapkan oleh pemerintah atau LSM. Proses ini melibatkan semua orang di rumah, pengangkut sampah dan pemerintah/LSM. Jika ketiga komponen ini bersinergi, anggota keluarga melakukan pemilahan sampah dan pengangkut sampah melakukan tugasnya dengan benar, pemerintah menyiapkan gerobak sampah yang didesain menampung sampah yang terpilah serta menyiapkan alat penghancur di TPA sementara, maka 30% sampah plastik dan kertas sudah dikumpulkan dan dibakar di rumah dan 60 % sampah sisa dapur akan bisa diselesaikan di TPA Perantara dan hanya 10 % sampah domestik yang masuk ke TPA akhir. Jadi sampah yang akan berangkat ke TPA akhir benar-benar sampah yang tidak bisa diolah atau pengolahannya Bangun Nusantara memerlukan peralatan atau teknologi yang jauh lebih canggih. Terbayang jika tiga hal tersebut tidak bersinergi adalah seperti apa yang kita lihat sekarang ini, hampir 70 persen dari total sampah domestik masuk ke TPA akhir. Sehingga sampah akan bertumpuk dan menimbulkan pencemaran lingkungan. Belum lagi jika armada pengangkut mengalami kerusakan maka akan kita lihat sampah berserakan di mana-mana, baik di jalan-jalan utama maupun jalan-jalan kecil. Sampah ini akhirnya akan menimbulkan masalah yang luar biasa dan lama-kelamaan Bali yang kita cintai ini akan ditimbun oleh sampah seperti yang kita lihat sekarang ini di TPA Suwung yang tinggi gundukannya di atas 10 meter, sama dengan bangunan berlantai tiga. Bali bukan tidak mungkin akan mendapat sebutan ‘‘Pulau Sampah’’. Jadi, pengelolaan sampah ini harus berbasiskan masyarakat, bukan hanya dalam tataran proyek. Tetapi pelibatan seluruh komponen secara berkelanjutan dimulai dari rumah kita. Maka sampah tidak akan mengubur kita suatu hari nanti. Kata kuncinya adalah berbasiskan masyarakat dan pemerintah tinggal menyiapkan sarana dan prasarananya. Edukasi terus menerus melalui media massa ataupun televisi dan tumbuhkan rasa malu membuang sampah sembarangan atau memilah sampah sejak dini dari rumah kita.
J A J A K P E N DA PAT
Ormas Sarat Arogansi
P
uluhan polisi dikerahkan untuk melokalisasi gesekan antar-ormas di jalur Mahendradatta, Denpasar Barat. Seorang pria dilaporkan disabet. Sejumlah orang luka dan sepeda motor dibakar. Tak berselang beberapa harinya, satpam hotel di kawasan Kuta dilaporkan diserang oknum anggota ormas. Walaupun para petinggi ormas saling berpelukan dan berdamai, namun kekerasan melibatkan anggota ormas tak berhenti. Gesekan terus terjadi. Radikalisme perilaku anggota ormas pun direaksi keras masyarakat Bali. Polisi diminta tegas bahkan ada yang menyarankan agar ormas radikal dibubarkan. Menyikapi hal ini, Pusat Data Bali Post pun menggelar jajak pendapat. Berdasarkan hasil tabulasi jawaban responden diketahui bahwa dominan masyarakat menyatakan kehadiran ormas meresahkan. Radikalisme perilaku anggota ormas telah menimbulkan gangguan stabilitas. Polisi dinilai terlalu lembek dalam menindak perilaku ormas yang anarkis. Persepsi ini disampaikan 45 persen responden. Selebihnya 30 persen responden menilai menjamurnya ormas di Bali bisa memberikan rasa aman sepanjang kinerjanya untuk kepentingan sosial kemasyarakatan. Sedangkan 25 persen responden lainnya tak merespons pertanyaan terkait dengan persepsi publik terkait dengan menjamurnya ormas di Bali. Namun, ketika responden disodori pertanyaan, apakah kehadiran ormas di Bali akibat belum terpenuhi rasa aman dari pihak aparat? Merespons pertanyaan ini, terdapat 48 persen responden menyatakan ya. Responden menilai ormas dijadikan kekuatan baru bagi sekelompok orang, karena merasakan aparat belum sepenuhnya mampu menjamin rasa aman di tengah masyarakat. Di lain pihak, terdapat 30 persen responden mengatakan menjamurnya ormas di Bali tak bisa dikaitkan langsung dengan rendahnya jaminan rasa aman dari kepolisian. Selebihnya 22 persen responden tak memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Ormas-ormas di Bali di antaranya Laskar Bali, Baladika, Padang Sambian Bersatu, Forum Peduli Bali, Gianyar Bersatu, Kelompok Karangasem, Pemuda Bali Besatu, Banzer, Satria Muda Majapahit, Garda Buleleng, Dongki, Kolonk, dan lainlain. Dua ormas pertama mempunyai massa terbesar di Bali. Semua ormas yang muncul diresmikan oleh para pejabat penting
daerah. Sebagai bukti, apa yang diungkapkan dari penelitian Wayan Suryawan, dosen antropologi Universitas Udayana, Dr. Shri IGN Arya Wedakarna MWS III menegaskan bahwa pengaruh premanisme dalam kedok organisasi kemasyarakatan (ormas) yang kini marak di Bali sebagai bukti dari kegagalan aparat hukum dan keamanan dalam menjaga kedaulatan dan stabilitas di tanah Bali. Premanisme yang terjadi di daerah-daerah, seperti di Bali sebenarnya muara dari aksi serupa yang terjadi di pusat (Jakarta). Dari kacamata apa pun, premanisme ini tidak bisa dimaafkan, apalagi kalau sudah sampai merenggut nyawa orang lain, mengancam orang lain atau merusak dan merampas harta benda orang lain. l Dira Arsana
N = 692
Menurut Anda, apakah maraknya ormas di Bali akibat dampak dari belum terpenuhinya secara maksimal kebutuhan keamanan masyarakat dari aparat kepolisian/keamanan? grafis/de wiryawan 11 - 17 November 2013
17
PENDIDIKAN
Guru–guru sedang fokus mengikuti Workshop Kurikulum 2013.
Kurikulum 2013
Siswa Wajib Les ke Guru
B
elum satu semester pelaksanaan Kurikulum 2013 di Kota Denpasar sudah menuai kritikan pedas. Banyak guru yang salah memaknai kurikulum ini sehingga ‘’menekan’’ siswa wajib les kepada guru bersangkutan. Hal ini ditemui pada sekolah-sekolah negeri yang gurunya sudah mendapat pelatihan Kurikulum 2013. Para guru ini terkesan tak peduli apakah siswa mengerti soal pokok bahasan baru atau tidak, yang penting mereka memberi masalah, silakan siswa belajar kreatif menemukan sendiri masalahnya. Guru pun jarang berada di ruangan kelas lagi dengan alasan membuka keran kreativitas bagi siswanya. Pola inilah yang membuat siswa yang tak mengerti di sekolah harus mengikuti les kepada guru bersangkutan. Tarifnya pun kini cukup melambung yakni Rp 150 ribu per dua jam per siswa. Bayangkan berapa penghasilan guru dalam seminggu untuk siswanya sendiri. Ketua PPLP Dasmen PGRI 3 Denpasar Drs. I Nengah Madiadnyana, M.M. meluruskan pada Kurikulum 2013 guru di sekolah sebagai contoh (panutan), bukan memberi contoh terhadap penyelesaian masalah. Biarkan siswa menemukan jawaban sendiri melalui berbagai sumber be-
18
11 - 17 November 2013
lajar, namun guru tetap memantau kegiatan siswa sampai mereka menemukan sendiri jawabannya. ‘’’Bukan sengaja membiarkan mereka tak mengerti agar les ke gurunya,’’ tegasnya. Bahkan, dia menegaskan sudah ada aturan guru les tak boleh membimbing siswa didiknya sendiri. Jika ini dibiarkan akan menimbulkan kecemburuan, terutama soal nilai bagi siswa lain yang tak les di guru bersangkutan. Hal ini dibenarkan narasumber tingkat nasional Kurikulum 2013 dari Kemendikbud Drs. I Wayan Widana, M.Pd. Dia tak menampik bahwa banyak guru salah mamaknai Kurikulum 2013. Mereka gagal mengorganisir kelas dengan asumsi semua anak sudah tahu soal materi. Padahal guru wajib berada di kelas selama siswa berkreasi menemukan sendiri jawaban materi yang diberikan. Kesempatan tidak mengerti inilah, yang dia katakan dipakai kesempatan guru mata pelajaran sulit untuk membuka les bagi siswanya. Yang berbahaya, justru di tempat les ini siswa menemukan jawaban pembahasan di kelas. ‘’Nah, ini kan tidak adil bagi siswa yang lain yang tak punya akses dan uang,’’ ujarnya. l Sueca
Pelajar pun Terjebak Pornografi Sarjana
BEBERAPA pekan terakhir, dunia pendidikan di Indonesia kembali dikejutkan oleh kasus pornografi yang melibatkan pelajar. Betapa tidak, tanpa perasaan berdosa dan malu-malu sepasang remaja yang masih berstatus sebagai pelajar di salah satu SMP di Jakarta memperagakan adegan mesum yang sangat tidak pantas dilakoni remaja seusia mereka. Ironisnya lagi, aksi asusila itu direkam dengan telepon seluler dan diunggah lewat youtube, sehingga tersebar begitu cepat dan luas di dunia maya. Kasus pelajar yang terjebak pornografi/pornoaksi ini bukanlah kasus pertama. Bahkan, kasus serupa juga pernah menggemparkan dunia pendidikan di Bali. Beberapa waktu lalu, seorang siswa sebuah SMK di Klungkung juga sempat tersandung masalah lantaran kebablasan “bermain-main” dengan kecanggihan telepon seluler. Foto bugilnya yang diduga hasil jepretan mantan pacarnya beredar luas dari HP ke HP. Bukan rasa malu saja yang harus ditanggung, remaja berwajah cantik ini pun terpaksa ke luar dari bangku sekolah alias terancam putus sekolah. Teknologi tak ubahnya ibarat pisau bermata dua. Salah menggunakannya, kecanggihan teknologi itu justru bisa menjebloskan manusia ke jurang kehancuran. Peringatan itulah yang dilontarkan pengamat pendidikan Drs. Putu Sarjana, M.Si., yang mengaku miris melihat fenomena makin banyaknya pelajar yang terjebak kasus pornografi. Dosen Universitas Hindu Indonesia ini berharap para orangtua memetik pelajaran berharga dari kasus itu, agar tidak terlalu memanjakan putra-putrinya dengan fasilitas yang berlebihan. ‘’Kalau kejadiannya sudah begini, orangtua juga yang ikutikutan menanggung malu,’’ katanya mengingatkan. Menyikapi kasus ini, tentunya pihak sekolah tidak akan tinggal diam. Pasalnya, perbuatan itu bisa dikategorikan sudah mencemarkan nama baik sekolah. Apalagi, jika nantinya terbukti jika ABG ingusan itu rela bermesum-ria tanpa ada paksaan. ‘’Terkait sanksi, tentu semua sekolah memiliki tata tertib yang wajib ditaati oleh para siswa. Jika itu dikategorikan pelanggaran berat, tentu saja sanksi yang dijatuhkan pihak sekolah akan berat
I Gusti Ngurah Sastradhi
pula. Itu wewenang sekolah untuk mengkajinya secara arif dan bijaksana,’’ paparnya. Hal senada juga dilontarkan dokter spesialis kejiwaan RS Wangaya dr. I Gusti Ngurah Sastradhi, Sp.KJ. Dikatakan, adanya remaja yang terjerumus kasus pornografi di jejaring sosial merupakan cerminan permasalahan remaja saat ini yang harus dicari akar masalahnya. Kehidupan saat ini dipenuhi dengan fasilitas dan kemudahan. Akses internet yang menyediakan semua informasi pun sangat mudah didapat. Dengan semua kemudahan dan fasilitas, tantangan remaja untuk menjalani kehidupan saat ini menjadi lebih berat dibandingkan remaja zaman dulu yang belum dilimpahi fasilitas dan kemudahan. Beratnya tantangan ini membuat sebagian remaja yang tidak siap dan belum punya jati diri serta pegangan yang baik menjadi terjerumus ke hal-hal negatif. Salah satunya kasus pornografi. ‘’Remaja yang terjerumus ke hal-hal negatif biasanya datang dari lingkungan rumah yang tidak nyaman dan kurang perhatian. Mereka kemudian mencari perhatian di luar untuk membuktikan jati dirinya,’’ ujarnya. Jika mereka bertemu dengan pergaulan yang benar, kata Sastradhi, maka remaja yang sedang mencari jati diri di luar ini bisa tumbuh ke arah yang baik. Bahayanya jika pergaulan mereka sama-sama labil dan bermasalah. Akibatnya, jati diri didapati dengan cara yang salah. ‘’Remaja yang mendapatkan kenyamanan, kasih sayang dan rasa aman di lingkungan rumah lebih mendapatkan benteng pertahanan untuk menyaring hal negatif dari luar. Mereka yang sudah aman dan nyaman di lingkungan rumahnya tentu tidak mencari hal-hal negatif di luar,’’ katanya. Tantangan lain dari remaja saat ini adalah kurangnya fasilitas untuk menyalurkan bakat mereka. Bahkan, sekolah saat ini lebih menekankan prestasi akademik dibandingkan penyaluran bakat atau kebersamaan antarsiswa. Akibatnya, hanya anak-anak tertentu yang bisa menunjukkan jati dirinya di sekolah. l Sumatika/Sanjiwani 11 - 17 November 2013
19
MANCANEGARA
Sedot Lemak Demi Naik Pangkat
S
aat ini makin banyak tentara Amerika yang menggunakan prosedur bedah untuk mengangkat kelebihan lemak di sekitar pinggang agar dapat lulus tes lemak yang dilakukan Pentagon. Prosedur pengangkatan lemak ini disebut Liposuction. Di saat panik, mereka menghubungi Dr. Adam Tattenbaum, seorang ahli bedah liposuction di Rickvilke, negara bagian Maryland. Mereka harus mengurangi lemak agar dapat lulus tes guna menentukan masa depan prajurit di militer terutama untuk promosi jabatan. Beberapa prajurit bahkan mengaku tak punya pilihan lain karena metode yang diterapkan Pentagon dalam mengukur lemak bukan hanya melihat fisik lemak tetapi juga kekuatan otot. “Mereka panik karena takut dikeluarkan dari militer atau sulit naik pangkat,� ujar Tattelbaum. Tattelbaum beberapa kali memimpin operasi sedot lemak untuk tentara. Tattelbaum menyatakan, banyak tentara yang datang kepadanya ketika jadwal tes fisik mendekat. Para pakar kebugaran dan dokter sependapat dengan Pentagon. Mereka menyerukan perbaikan standar kesehatan bagi tentara, termasuk tabel berat yang dipakai Pentagon. Tabel itu dianggap sudah kuno karena tidak mencerminkan bahwa orang Amerika bertubuh lebih besar tetapi kurang sehat. Menurut sejumlah pejabat Pentagon, hanya sedikit orang yang memiliki lemak tubuh berlebih yang dapat lulus tes kebugaran fisik. Tes kebugaran dan berbagai pemeriksaan fisik bertujuan untuk memastikan agar tentara siap terjun ke medan tempur yang berat.
20
4 - 10 November 2013
Pihak Pentagon tidak membenarkan tindakan tentara yang nekat menjalani operasi liposuction agar lulus tes lemak sekalipun operasi ini tidak dilarang. Departemen Pertahanan menggunakan apa yang disebut tape test untuk membuat perkiraan lemak tubuh dengan cara mengukur pinggang dan leher. Mereka yang gagal lulus tes harus menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk berolahraga dan mengikuti program nutrisi yang di kalangan marinir disebut dengan brigade donat. Militer AS sendiri tetap yakin akan tes fisik yang mereka adakan. Pihak militer merasa tentara yang kegemukan tidak akan bertugas secara optimal di lapangan. Namun, mereka membantah akan memecat tentara yang gagal dalam tes. “Kami ingin para tentara sukses. Kami bukan institusi yang membuang begitu saja anggota kami. Kami telah lama melatih mereka,� tutur Kepala Program Kesiapan Fisik Angkatan Laut AS, Bill Moore. Sekalipun tentara ini akhirnya lulus tes pada ujian berikutnya, kegagalan satu kali tes sudah membuat seorang tentara terhambat mendapatkan promosi kenaikan pangkat selama bertahun-tahun. Jika tiga kali gagal, seorang tentara akan dipecat. Jumlah prajurit angkatan darat Amerika yang memiliki kelebihan berat tubuh telah meningkat hingga sepuluh kali lipat dalam lima tahun terakhir dari 168 pada 2008 menjadi 1.815 orang pada 2013. Pada Korps Marinir, jumlahnya bertambah dua kali lipat dari 102 pada 2010 menjadi 186 pada 2011, namun turun menjadi 132 setahun lalu. l Gugiek Savindra
Terowongan Baru Turki Terwujud Setelah 153 Tahun
T
urki meresmikan terowongan bawah laut pertama di dunia yang menghubungkan dua benua, mewujudkan impian seorang sultan 153 tahun lalu. Namun, pembangunan terowongan ini juga mengobarkan sentimen antipemerintah di kalangan orang yang tidak suka dengan proyek-proyek raksasa semacam itu. “Nenek moyang kita mengupayakan proyek itu. Kewajiban kita untuk mewujudkannya,” kata Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan. Terowongan kereta api di bawah Selat Bosphorus itu menghubungkan sisi Eropa dan sisi Asia dari Kota Istanbul. Proyek berani itu pertama kali diangankan seorang sultan dari Imperium Ottoman, Abdoul Medjid, tahun 1860. Namun, kala itu dia tak mempunyai teknologi dan dana untuk mewujudkan gagasannya. Erdogan, yang juga mantan Wali Kota Istanbul, menghidupkan kembali rencana itu tahun 2004 sebagai satu dari sejumlah proyek konstruksi besar di kota itu. Selain terowongan bawah laut, Erdogan juga memulai pembangunan bandara ketiga di Istanbul, sebuah kanal paralel dan jembatan ketiga yang melintasi Selat Bosphorus. Semua itu dianggap sebagai proyek ”firaunis”, atau terlalu berlebihan, oleh para pengkritiknya. Ambisinya merupakan salah satu sumber kerusuhan pada sejumlah demonstrasi antipemerintah yang melanda negara itu bulan Juni lalu. Warga setempat mengeluhkan rencana Erdogan itu telah membuat warga tergusur dari rumah mereka dan menghancurkan tempat-tempat hijau di Istanbul. Walau telah dibuka secara resmi, terowongan KA itu belum akan beroperasi penuh. ”Bagian yang berfungsi sangat
terbatas. Banyak yang ditangguhkan pembangunannya,” kata Tayfun Kahraman, Ketua Kamar Perencana Perkotaan Istanbul. ”Kami heran mengapa peresmian ini terjadi begitu cepat,” imbuhnya. PM Jepang Shinzo Abe akan hadir dalam peresmian terowongan itu karena Bank of Japan merupakan pemasok dana utama yang menyumbangkan 735 juta euro pada proyek yang diperkirakan menelan biaya total 3 miliar euro itu. Pembangunan terowongan sepanjang 1,4 kilometer di bawah Selat Bosphorus itu dijadwalkan memakan waktu empat tahun. Namun, proyek itu tertunda setelah serangkaian penemuan arkeologis besar di lokasi pembangunan terowongan. Sekitar 40.000 benda bersejarah dapat digali dari situs arkeologi itu, termasuk sebuah kuburan sekitar 30 kapal dari era Byzantium. Sejumlah penemuan tak terduga itu membuat Erdogan kesal. Ia mengeluh dua tahun lalu bahwa artefakartefak itu mengganggu rencananya. ”Pertama mereka mengatakan, ada benda-benda arkeologis, lalu ada bejana tanah liat, lalu ini, lalu itu. Apakah benda itu lebih penting dari masyarakat?” ujarnya kala itu. Terowongan itu terletak lebih dari 50 meter di bawah dasar laut di kawasan dengan aktivitas kegempaan yang kuat. Selongsong terowongan dirancang tahan gempa. Transportasi merupakan masalah besar di Istanbul, yang berpenduduk lebih dari 15 juta jiwa, dan tiap hari 2 juta orang melintasi Bosphorus melalui dua jembatan yang biasanya macet. l Gugiek Savindra 11 - 17 November 2013
21
DAERAH
Perusda di Pulukan
Kebun Rakyat Jadi Kebun Investor
T
anah perkebunan seluas 1.400 hektar aset Provinsi Bali di Pekutatan kini murni dikelola investor. Namun, salah seorang warga, Ketut Suastika (46), yang sudah bertahun-tahun tinggal di sekitar perkebunan itu masih ingat pascadiserahkannya aset itu ke pihak ketiga. Saat itu, kenangnya, semua pohon kelapa yang jumlahnya puluhan ribu tersebut habis ditebangi. Pembabatan tanaman kelapa yang tengah berbuah cukup lebat dilakukan setelah aset tersebut menjadi kewenangan perusahaan yakni PT CIPL. Kebun kelapa itu akan digantikan tanaman karet yang dianggap lebih bernilai ekonomi tinggi. Namun, kini tanaman karet itu belum bisa dirasakan, apalagi hasilnya bersifat tahunan. Dan kalaupun dipanen, komoditi ini dijual keluar untuk diolah. Berbeda dengan kelapa atau kakao yang menjadi komoditi unggulan Kabupaten Jembrana yang langsung dapat dirasakan hasilnya dan bisa diserap pasar lokal. Sejak pengelolaan diserahkan ke pihak ketiga tahun 2007 lalu, praktis mengubah konsep kebun rakyat menjadi kebun investor. Seluruh tanaman yang merupakan komoditi unggulan Kabupaten Jembrana seperti kelapa dan kakao dibabat habis oleh pihak pengelola dan diubah menjadi perkebunan karet. Penanaman karet ini awalnya muncul pro-kontra di masyarakat sekitar. Sebab, hasilnya hanya dinikmati tahunan dan bukan komoditi yang bisa langsung digunakan masyarakat seperti kelapa. “Karet bukan termasuk komoditi tanaman unggulan ataupun andalan perkebunan Jembrana. Apalagi komoditi kelapa ini sudah puluhan tahun diterapkan,” ujar sejumlah warga. Di awal pengalihan ini sempat terjadi kekhawatiran para pekerja yang sebelumnya dikelola Perusda. “Dulu ada opsi pekerja pensiun dini atau melanjutkan. Namun belakangan beberapa ada yang keluar karena merasa tidak ada kelanjutan. Tetapi sebagian lagi masih melanjutkan,” ujar salah seorang warga, Ketut Suastika (46). Suastika yang sudah bertahun-tahun tinggal di sekitar perkebunan itu masih ingat pascadiserahkan ke pihak ketiga, di mana semua kayu kelapa yang dibabat menjadi kewenangan perusahaan itu. Saat ini tanaman karet tidak langsung bisa dirasakan, apalagi hasilnya bersifat tahunan. Dan komoditi ini dijual keluar untuk diolah. Berbeda dengan kelapa atau kakao yang menjadi komoditi unggulan Kabupaten Jembrana yang langsung dapat dirasakan hasilnya. Namun, menurutnya, dari segi keamanan, bisnis karet ini memang lebih menguntungkan. “Kalau dulu, ketika masih
22
11 - 17 November 2013
banyak kelapa, pencurian mudah dilakukan dan susah diawasi, sekarang karet siapa yang mau mencuri,” terangnya. Selain perkebunan karet, tanah aset milik Pemprov Bali ini juga dikontrakkan untuk menjadi kebun tanaman keras lainnya seperti sengon untuk perusahaan lain. Sebagian besar warga sekitar yang menjadi pendamping perkebunan karet tidak merasakan manfaat. Dulu saat masih dikelola Perusda dan ditanami kelapa dan kakao, setiap ada kegiatan upacara, paling tidak perkebunan bisa membantu masyarakat sekadar punia. Tetapi setelah investor masuk, belum ada upaya untuk itu. Bahkan dulu masyarakat diperbolehkan ikut menanam tanaman tumpang sari dan perkebunan itu menjadi perkebunan rakyat. Kini masyarakat tidak lagi bisa merasakannya karena pengelolaan sepenuhnya ada di PT CIPL. Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Jembrana I Ketut Wiratma mengatakan pergantian komoditi tanaman di Persil itu sebenarnya tidak terlalu berbeda jauh. Sama-sama konsep penghijauan. Hanya hasil komoditi karet itu berbeda dibandingkan kelapa yang menjadi komoditi unggulan masyarakat. “Pada prinsipnya itu kan dikelola Perusda dan lebih profit oriented. Jadi bagaimana menjadikan lahan itu bisa menghasilkan,” terangnya. Klian Subak Abian Sari Mumbul Jro Gede Astawa mengatakan memang sangat disayangkan komoditi kakao yang saat itu menjadi unggulan Jembrana ikut dibabat dan diganti menjadi karet. Pihaknya berharap ada tata ruang yang spesifik di bidang perkebunan. “RTRW bukan hanya wilayah secara luas saja, sebaiknya juga ada pemetaan di bidang perkebunan. Daerah ini ditanami kakao misalnya, daerah lain untuk kelapa. Jadi jelas dan disesuaikan apa yang cocok untuk tanah tersebut. Termasuk di Persil itu,” ujarnya. Seperti di Melaya yang menjadi sentra perkebunan kakao dan saat ini kembali bangkit. l Surya Dharma
MBP/olo
Perkebunan kelapa Persil Pulukan yang luasnya membentang dari Pulukan hingga Pangyangan kini menjadi perkebunan karet.
MBP/olo
Tanah perkebunan kelapa Persil Pulukan setelah dibabat.
Banyak Kejanggalan ADA persoalan mendasar di benak masyarakat saat ini kenapa investor begitu mudah mendapatkan tanah negara. Malah mereka dengan mudah pula memohon hak guna bangunan (HGB) kemudian diagunkan di bank. Sementara masyarakat untuk mendapatkan mesti melalui perjuangan sangat panjang, walaupun telah menempati tanah itu sejak turun-temurun. Proses inilah dipandang janggal oleh Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya. ‘’Memang banyak kejanggalan terkait dengan tukar-menukar tanah negara dengan investor. Kejanggalan itu terjadi karena ada kolusi, korupsi, nepotisme (KKN). Karena KKN-lah proses itu janggal,’’ tegas Ketua Pansus Aset DPRD Bali ini, beberapa waktu lalu. Kerja sama operasional Perusahaan Daerah Bali dengan PT Citra Indah Pralaya Lestari (CIPL) di atas tanah perkebunan Pulukan, ironisnya, tanpa melalui persetujuan Dewan. Ia menyebutkan dari luas lahan Perkebunan Pulukan sekitar 1.200 hektar yang dikerjasamakan dengan PT CIPL hanya 765 hektar, sisanya mau diapakan? Lucunya dari kerja sama yang sudah ada dengan pihak ketiga, dia menilai lebih banyak mer-
ugikan daerah. Dirut Perusda Bali waktu itu, Ir. Cok Gede Oka, membenarkan bahwa kerja sama Perusda dengan PT CIPL dalam pengelolaan kebun di Pulukan tanpa melalui rekomendasi Dewan. Namun, pijakannya Kepmendagri Nomor 50 Tahun 1999 tentang Kepengurusan Badan Usaha Milik Daerah serta Kepmendagri Nomor 43 Tahun 2000 tentang Tata Cara Kerja Sama Perusahaan Daerah dengan Pihak Ketiga. Cok Oka mengakui kini pihaknya menjadi serba salah. Di satu sisi pihaknya diminta Dewan untuk bekerja sama dengan pihak ketiga agar aset daerah yang ada tak mengalami kerugian. Namun ketika kerja sama itu lebih banyak menguntungkan daerah justru disorot lagi oleh Dewan. Direktur Perusda Bali IGN Suteja menyatakan perkebunan kelapa Pulukan sekitar 795 hektar kini telah dikerjasamakan dengan PT CIPL untuk ditanami karet. ‘’Tanamannya sudah mulai besar, tiga tahun lagi menghasilkan,’’ kata mantan Kadisperindag Bali ini. l Pusat Data 11 - 17 November 2013
23
K E S E H ATA N
Yoga, Jalan Terbaik Menuju ’’Pelepasan’’
O
mkaram bindu samyuktam Nityam dhayanti yoginah Kamadam moksadam caivam Omkaraya namo namah
‘’Aku memuja Omkara yang merupakan sumber jagat raya ini. Sumber semua keberadaan, sinar maha gemilang yang secara mikro berkedudukan di hati. Meditasi kepada Om membimbing ‘’kebebasan’’ sang shadaka alias sang yogi dari hukum kelahiran kembali dan kematian. Segala sesuatu di alam semesta ini baik yang terlihat maupun tidak terlihat muncul dari Om itu. Berada dalam Om dan kembali lagi kepada Om. Om adalah maha tinggi. Para yogi selalu meditasi pada Om dan memberikan penghormatan mendalam pada hakikat kedewataan Om sebagai sumber dari segala sinar, cinta kasih, kebenaran dan juga harmoni semesta.’’ Sloka di atas demikian indah dan sakral. Sloka itu selalu menjadi dasar berpijak alias pegangan para pencari serius sang diri sejati. Sloka itu memang menuntun jalan terbaik tidak saja kesehatan, kehidupan yang baik tetapi juga jalan ‘’pelepasan’’. Namun peruntukan yoga itu bukan untuk golongan yang strike saja. Yoga saat ini diapresiasi segala kalangan. Karena itu, banyak juga pelaku yoga menjalani dengan biasa-biasa saja alias tidak ekstrem, merealisasikan target final ‘’pelepasan’’ itu. Indikasinya, banyak kalangan umum dewasa ini senang berlatih yoga. Khususnya asana yang menjurus surya namaskar, kratuprana, sirsasana, garudasana, virasana, sumeruasana dan lain-lainnya. Salah satu petunjuk penting, berlatih yoga itu harus pelan-pelan tanpa harus banyak tekanan. Selain itu hilangkan ambisi dan kompetisi. Napas usahakan dikendalikan dengan pelan dan sangat teratur. Dengan napas yang benar, maka disiplin yoga yang dijalani itu akan menghasilkan output yang berarti. Kendati tampaknya begitu ribet. Kecintaan masyarakat kepada yoga sangat tinggi. Realitasnya, yoga ‘’mewabah’’ tidak saja di kota kota besar, kalangan artis, juga ke desa-desa. Apresiasi yoga asana demikian
24
11 - 17 November 2013
tinggi. Bisa jadi karena efek yoga yang jika dilakukan konsisten mendatangkan manfaat kesehatan yang signifikan. Dewasa ini, gerak-gerak yoga banyak dipahami secara populer. Hal itu tidak lepas mudahnya mengakses kitab kuno Sutra Patanjali itu. Kitab lawas itu adalah buah karya Rishi Patanjali. Kitab itu selalu menjadi acuan dan pegangan praktis yang baik dan benar pelaku yoga. Memang, banyak hal dapat diperoleh dari kitab yang membedah delapan disiplin yoga alias astanggayoga ini. Astanggayoga terdiri dari: 1. Yama (pengendalian unsur panca karmendria/fisik , 2. niyama (pengendalian unsur panca jnanendria, panca prana) 3. asana (gerak gerak yoga), 4. pranayama (olah pernapasan), 5. pratihara (pengendalian diri), 6. darana (kosentrasi), 7. dyana (meditasi) dan 8. samadi (tidak ada lagi dualitas alias dawn dwa, sang yogi menganggap semua ini adalah Tuhan. Semuanya Brahman. Yoga jika ditinjau secara komprehensif merupakan sumber spiritualitas. Spiritualitas pada hakikatnya adalah dasar dari semua agama yang masih dominan unsur religinya. Dengan beryoga – terus kontak dengan Tuhan – sebagaimana sloka di atas, secara teratur, intensif dan berkesinambungan otomatis para bakta, shadaka, yogi itu dikategorikan meniti jalan terbaik menuju Tuhan. Siapapun, boleh menjalani yoga ini tanpa kecuali baik dengan intensitas ringan maupun sangat serius. Jalan kuno yoga ini diyakini sangat bermanfaat. Bahkan garansinya secara bertahap dapat melepas kehidupan duniawi, yang diselubungi maya alias ilusi ini. Sedangkan buat si pencari sejati, targetnya memang melepaskan ikatan karma kelahiran dan kematian yang diyakini sifatnya berulang ini. Dengan disiplin yang ketat ini sang shadu berharap dapat mewujudkan kelepasan the law of karma --hukum sebab akibat itu -- alias mewujudkan amor ring acintya, bersatu dengan Acintya. Manunggaling kawula lan gusti – bersatu antara sang hamba dengan sang raja yang dimaksud Tuhan itu sendiri. Bagi penekun yoga hal itu sungguh sungguh akan terjadi. Bukanlah hanya utopia alias khayalan semata. l Giriana Saputra
Laku Asana Asana merupakan posisi tubuh yang didesain spesifik. Dalam yoga tubuh dikondisikan serileks mungkin. Tubuh diupayakan agar nyaman dalam waktu yang lama. Pada buku ‘’Yoga in Daily Life, Harmono for Body, Mind and Soul’’ karya Paramhans Swami Maheshwarananda disebutkan, banyak asana dipicu gerakan natural yang merefleksikan posisi dari binatang seperti kucing, macan, kelinci, ular dan lain sebagainya. Dalam gerakan marjari (kucing) yang dicontoh saat melengkungkan tubuh secara maksimal, bhujanggasana (kobra) melepas agresi dan emosi, shankasana (kelinci) untuk relaksasi. Shirshasana (headstane) dan lotus (padmasana) posisi ini merupakan asana yang tertinggi dan istimewa. Melakukan asana sangat menguntungkan bukan saja buat otot, tetapi juga sambungan sendi, sistem jantung paru, saraf, lympatit system seperti pikiran, psikis termasuk cakra-cakra yang berada di tulang belakang. Asana merupakan pelatihan psikomatis yang tidak saja menguatkan juga menyeimbangkan sistem saraf, mengharmoniskan dan menstabilkan pikiran. Efek dari pelatihan ini adalah rasa ketenangan dan kesabaran, selain membersihkan pikiran, relaksasi juga dapat memicu perasaan kedamaian dan kebebasan yang dalam. Sebetulnya, pada asana ini peran pernapasan (pranayama) sangat penting artinya. Dengan melakukan koordinasi antara gerakan dan napas melalui pelatihan yoga yang teratur, sistematis maka akan menjadikan unsur-unsur dalam tubuh semua harmonis. Napas juga sangat dalam, sirkulasi darah lancar serta metabolisme berjalan baik. l Giriana Saputra
Tentang Napas Komitmen manusia hidup salah satunya senantiasa menjaga kesehatan tubuhnya dengan baik. Caranya, tidak saja dengan mengomsumsi makanan, tetapi juga meminum air. Dan yang lebih penting dari itu adalah mengonsumsi ‘’udara’’ untuk bernapas. Napas yang dihirup, jauh lebih penting daripada makanan dan minuman. Tanpa makanan manusia bisa menjaga dirinya beberapa minggu. Tanpa air, dapat bertahan beberapa hari. Tetapi tanpa ‘’napas’’ manusia akan bisa bertahan hanya beberapa menit saja. Kehidupan ini berakhir dan mulai dari napas. Secara umum napas dapat dibedakan tiga fase. Menghirup, mengeluarkan dan menahan napas. Satu fase sebagai petunjuk, melepaskan napas sebaiknya dua kali lipat waktunya daripada penarikan napas. Menghentikan napas dilakukan pada akhir
dari pengeluaran napas secara alamiah dan awal dari terjadinya penarikan napas. Penarikan napas merupakan bagian aktif dari pernapasan itu. Penarikan termasuk gerakan aktif dan itu membuat otot respirtory – jantung dan paru – berkontraksi. Sedangkan napas keluar adalah bagian hal pasif dari pernapasan. Ini dikategorikan fase relaksasi. l Giriana Saputra
LENSA
Tak Lagi Bebas
MBP/Eka
Pemandangan seperti di foto sering kita temui saat berjalan-jalan menikmati Kuta, salah satu destinasi andalan Bali yang sudah terkenal di dunia. Para pengemis cilik beraksi di trotoar dan melakukan aksi meminta-minta massal terhadap wisatawan mancanegara yang sedang menikmati liburan. Tak cuma mengganggu, aktivitas ini juga memberikan citra buruk bagi Bali karena ada kesan melakukan pembiaran terhadap anak-anak yang seharusnya berada di sekolah untuk menuntut ilmu justru “dipekerjakan� sebagai pengemis. Namun belakangan ini, kegiatan menggepeng tak lagi marak di Kuta dan sekitarnya. Pengemis tak lagi bebas berkeliaran. Aksi “bersihbersih� dilakukan Pemerintah Kabupaten Badung dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat di wilayah Kuta. Semoga saja para pengemis cilik ini jera dan tak lagi menggepeng. Diperlukan adanya tindakan terpadu dari pemerintah dan masyarakat untuk mengentaskan penyakit sosial ini.
OLAHRAGA
Buatan Lokal
”
Dua tahun perencanaan, 40 rekan kerja seluruh Amerika, lebih dari tiga ton bulu domba serta lebih dari 5 juta kilometer benang yang dipintal dan diwarnai. Semua menghasilkan 650 seragam dan 65.000 item yang digunakan untuk mendukung tim nasional AS di Olimpiade (musim dingin Sochi 2014). ” Nasionalisme juga bisa bisa diukur dari pakaian. Perancang busana Ralph Lauren belajar dari kejadian tahun lalu saat media, politisi dan industri garmen mengecam produknya yang dianggap meminggirkan kepentingan nasional. Jelang Olimpiade musim panas 2012 di London, publik AS dikejutkan dengan laporan media bahwa seragam timnas AS diproduksi di luar negeri yakni Cina. Alangkah memalukannya, negeri adi daya dan pusat mode dunia, memerlukan negara lain untuk memasok seragam tim nasionalnya. Belajar dari kesalahan itu, tim AS dipastikan akan menggunakan produk lokal untuk Olimpiade musim dingin Sochi 2014 mendatang. Bahkan untuk upacara pembukaan dan penutupan, telah disiapkan sweater buatan tangan yang seluruh pembuatan dan pengerjaannya dilakukan di dalam negeri. Ralph Lauren Corp. memproduksi seluruh seragam atlet Olimpiade AS sejak 2008. Sebelumnya proyek itu dikerjakan oleh perusahaan Kanada, Roots. “Kami bekerja luar biasa keras, menjelajahi seluruh Amerika untuk menemukan rekan kerja terbaik dan membantu memproduksi seragam tim Olimpade. Tentu saja produk tersebut dengan kualitas terbaik karena akan digunakan untuk atlet terbaik dunia,” jelas David Lauren, wakil presiden ekskutif bidang pemasaran, marketing dan komunikasi perusahaan, seperti dikutip The Associated Press. Perusahaan tersebut bekerja sama dengan lebih dari 40 mitranya mulai dari peternakan di pedesaan di wilayah Barat hingga pabrik pemintalan di Pennsylvania serta penjahit di Distrik Garmen New York. Hasilnya, jas dan kaos lengan panjang warna biru dengan strip merah, sweater dengan motif rusa dan bendera AS yang disulam serta topi bertali. Seragam tersebut berbeda dengan yang dipakai atlet untuk berlomba. Karena seragam itu dipasok oleh produsen atau sponsor yang bekerja sama dengan atlet bersangkutan. David Lauren menambahkan, pihaknya menghadapi kendala tersendiri saat proses pemabrikan dilakukan di dalam negeri untuk seragam timnas Olimpiade 2014. Sulit untuk menemukan pabrik yang mampu menghasilkan seragam dengan kualitas dan kuantitas yang diperlukan untuk atlet Olimpiade. Terlebih lagi bila versi tersebut selanjutnya diproduksi massal dan dipasarkan ke publik. Sebagai akibatnya item-item tersebut pun diproduksi terbatas dan eksklusif untuk koleksi 2014. Namun bukan berarti keterbatasan itu tidak membuat insiden Olimpiade
28
11 - 17 November 2013
2012 terulang. Seragam timnas tersebut dipresentasikan di awal pekan ini di stasiun televisi NBC. Atlet ski Evan Lysacek yang memenangkan medali emas di Vancouver 2010, memuji seragam untuk upacara pembukaan dan penutupan tersebut. Seragam itu akan membuat atlet memiliki kebanggaan tersendiri. “Bagi atlet, seragam memiliki makna lebih dari yang anda kira. Latihan, pengorbanan, gaya hidup yang tak glamor dan cenderung kejam dan kerja keras untuk selalu bangkit. Semua menyatu, saat anda menyadari bahwa anda bagian dari tim Olimpiade,” ujarnya. “Saat anda mengenakan bagian pertama seragam tersebut, anda bisa merasakan semua itu menjadi kenyataan,” jelasnya sambil menambahkan bahwa dalam setiap pertandingan dia merasa menjadi wakil negara dan bangsa AS.
MBP/AP Photo/Ralph Lauren
Untuk memperkuat promosi itu, Ralph Lauren memajang cuplikan film pembuatan sweater tersebut. Diawali dari peternakan domba di Oregon hingga proses perajutan dengan standar tinggi hingga menghasilkan sweater yang pantas untuk mewakili timnas di event internasional. 18 bulan lalu Jeanne Carver yang tinggal di Maupin, Oregon, setengah tak percaya ketika mendapat telepon. Perusahaan yang dikelola bersama suaminya, Dan, Imperial Stock Ranch bergerak dalam peternakan domba dan produksi wool. Namun perusahaan yang didirikan pada 1871, hanya menjual bulu domba tersebut ke dalam negeri saja. “Saya kira itu hanya bunyi lonceng domba-domba itu,” kata Carver mengenang telepon pada musim panas 2012. Ternyata dering itu telepon dari Direktur Divisi Pengembangan bagian Perajutan Ralph Lauren. Robert Cramer menyatakan tengah mencari benang untuk dipakai sweater tim Olimpiade AS dan meminta kunjungan ke peternakan dom-
banya. “Secara spontan berkata ‘Anda bercanda’?” katanya. “Dua hal yang melintas di kepala saya saat itu. ”Ya, Tuhan apa yang harus saya kenakan? Dan apa menu yang akan saya sajikan untuk para perancang busana dari New York itu?” Secara pribadi, Carver menyadari inilah awal sebuah perusahaan besar dan global memberikan perhatian dan penghargaan pada petani dan peternak, pemintal benang dan penjahit domestik demi sebuah kebanggaan nasional di perhelatan internasional. Pikiran Carver itu barangkali tertuang dalam pernyataan Ralph Lauren di Made In America di situsnya bahwa “I have always been inspired by the dream of America - free spirited, natural and from the earth. That timeless heritage touched me and became the living part of all that I design.” l Yudi Winanto
11 - 17 November 2013
29
OLAHRAGA
Insan Otomotif Bali Rindukan Sirkuit
G
erombolan anak muda tancap gas di jalan raya menjadi pemandangan rutin di kabupaten/kota di Bali saat ini. Mereka melakukannya siang atau malam hari, sehingga mengganggu ketertiban berlalu lintas dan membuat tidak nyaman pengguna jalan lainnya. Meski sudah banyak menelan korban jiwa dan sering dikejar-kejar petugas, aksi ugal-ugalan di jalan atau balapan liar tidak pernah berhenti. Padahal, jika bakat, hobi, dan talenta mereka disalurkan ke jalur yang benar bisa membuahkan prestasi di cabang olahraga (cabor) balap. Namun, tidak adanya sirkuit membuat aksi anak-anak muda itu makin hari kian menjadi-jadi. ‘’Selagi tak ada sirkuit untuk berlatih balap motor, seterusnya balap liar kian ramai di jalan raya,’’ terang Ketua Umum Pengurus Provinsi Ikatan Motor Indonesia (Pengprov IMI) Bali Nyoman Seniweca. Keluhan sudah sering disuarakan para pembalap Bali selama ini menjelang mengikuti lomba. I Ketut Madiasta, yang akrab dipanggil
Apem, misalnya, mengaku tidak bisa berlatih mengingat di Bali tidak ada sirkuit khusus. Ia hanya bisa melakukan persiapan fisik ringan sebelum berlaga di Sirkuit Sentul, Bogor (Jabar) dalam Kejuaraan Yamaha Cup Race yang digelar 17 November. Sementara pembalap lainnya terpaksa berlatih di daerah lain sebelum mengikuti lomba. Di Denpasar sebelumnya, Jalan By-pass Ida Bagus Mantra biasa dipakai ajang balap motor (road-race). Selanjutnya Jalan Kargo rutin digunakan menggelar kejuaraan sejenis. Setelah itu kegiatan pindah ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Pecatu, Kuta, Badung, milik swasta. Sejak Sirkuit GWK tidak difungsikan lagi, praktis para pencinta balap tidak mempunyai tempat menyalurkan hobinya. Akibatnya, trek-trekan di jalan raya makin marak. Guna mengurangi aksi kebut-kebutan di jalan umum, Seniweca berharap diberikan kesempatan menutup jalan di seputaran Renon, Denpasar, bertepatan dengan car free day yang diadakan tiap Minggu. Kalau acara itu menutup jalan hingga pukul 10.00, IMI Bali akan
melanjutkan mulai pukul 11.00 wita untuk memutar kegiatan otomotif baik itu balap motor, drag bike, maupun slalom. Terobosan ini bertujuan memberi wadah kepada insan otomotif, agar kegemaran mereka tersalurkan selama belum ada sirkuit permanen. ‘’Selama ini baru ruas jalan di Negara dan Singaraja yang bisa dipakai balap motor,’’ tuturnya. Itu merupakan program jangka pendek yang coba dijalankan IMI Bali. Ke depannya, induk organisasi cabang olahraga (cabor) otomotif ini ingin seluruh Pengkab dan Pengkot IMI di Bali memiliki sirkuit tetap. Kalau bisa sirkuit yang multiguna, yakni bisa dipakai menggelar balap motor, motocross, slalom, drag-bike, drag-race, off-road, sprint rally, sampai untuk lokasi pameran otomotif. Khusus Jembrana dan Klungkung disebutnya mempunyai lokasi yang bisa dipakai event offroad. Sementara arena buat para adventure (petualang) bisa dibuat di Bedugul (Tabanan) dan Kintamani (Bangli) yang memiliki udara segar. Kabar membanggakan bagi pencinta otomotif di Pulau Dewata karena IMI Bali bakal diberi kepercayaan memfungsikan tanah aset pemprov di Padanggalak untuk membangun sirkuit. Sejauh ini Seniweca belum tahu lokasi persisnya. Pihaknya bersama pejabat Pemprov Bali bakal segera mengecek ke lapangan. Jika sudah diberikan lahan, IMI Bali berencana mengadakan studi banding ke daerah lain guna mempelajari model kerja sama IMI dengan pemerintah setempat berikut pola pengelolaan sirkuit yang baik. Sasaran studi banding adalah NTB, Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan. Kehadiran sirkuit di Bali diharapkan mampu menelorkan pembalap tangguh yang bisa berprestasi ke tingkat nasional dan internasional. Apalagi, penghobi otomotif di Bali tergolong tinggi. l Daniel Fajry
MBP/dok
Pencinta balap motor di Bali memerlukan sirkut permanen untuk menyalurkan hobinya, agar tidak kebut-kebutan di jalan raya.
Nyoman Seniweca
MBP/daniel
KRIMINAL
Ketika Danau Batur ’’Murka’’
Dua ABG Tewas Tenggelam
S
iapa pun tak menduga jika Danau Batur, Kintamani, yang selama ini tampak tenang dan damai tiba-tiba berubah ‘’murka’’. Tatkala krama (warga) Desa Kedisan, sibuk mengadakan piodalan di salah satu pura setempat, akhir pekan lalu, mereka dikejutkan dengan tenggelamnya dua anak baru gede (ABG) di danau indah di kaki Gunung Batur ini yakni Putu Eka Witaya (16) dan rekannya, I Gede Pariasa (16). Sebelum kejadian, keduanya yang selama ini tinggal di Denpasar, sekitar pukul 12.00 nekat naik perahu kayu ke tengah danau untuk memeriksa keramba milik orangtua mereka. Entah apa yang terjadi, sekitar 15 meter dari keramba, tiba-tiba perahu kayu yang mereka tumpangi oleng. Keduanya tercebur di tengah danau. Putu Eka Witaya berhasil meraih pinggir perahu sehingga tubuhnya tak tenggelam, sedangkan Pariasa seketika ditelan air danau. Kasatpolair Polres Bangli AKP I Made Reda mengatakan, kejadian tenggelamnya kedua ABG itu sejatinya dilihat oleh warga Kedisan I Nengah Kantun yang tak jauh dari lokasi kejadian. “Menurut saksi, salah seorang korban sempat melambaikan tangan. Saksi lalu mendatangi perahu korban, tetapi hanya menemukan Eka Witaya yang memegang pinggir perahu. Sedangkan Pariasa tidak tampak,” tegas Reda. Kantun kemudian menyelamatkan Eka Witaya. Dia segera dilarikan ke rumah sakit. Sehari setelah kejadian yakni Selasa (22/10) pukul 07.00, I Gede Pariasa akhirnya berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Tubuhnya diangkat petugas dengan pancing di kedalaman sekitar 20 meter di lokasi perahunya oleng. Setelah itu, jasad korban
MBP/puspajingga
Jenazah I Gede Pariasa dikerubuti warga dan petugas setelah ditemukan di kedalaman sekitar 20 meter di lokasi perahunya oleng.
32
11 - 17 November 2013
dikuburkan setra setempat. ”Kondisi jasad korban masih utuh walau tenggelam hampir seharian,” tandas AKP Reda. Tetapi begitu jenazah Pariasa ditemukan, kasus serupa terjadi lagi pada hari yang sama tepatnya pada Penampahan Galungan. Korbannya adalah I Nyoman Simpen (12), warga Banjar Bukit Tuntung, Songan. Kejadian ini cukup menarik, karena sehari sebelum tenggelam Simpen pamit kepada orangtuanya hendak melakukan persembahyangan di Pura Ulun Danu Batur, Songan. Tetapi sekitar pukul 10.00, Simpen mandi di danau, tak jauh dari Pura Segara. Sejatinya sejumlah warga Songan sudah melarang Simpen agar jangan mandi di tengah danau, karena di sana dikenal tenget (angker). Selain itu, saat bersamaan, berlangsung aed karya di Pura Ulun Danu Batur. Sayang seribu sayang, Simpen tetap menceburkan diri ke danau alias tak mengindahkan nasihat warga, hingga akhirnya dia tewas tenggelam. “Sekitar pukul 17.45, warga terkejut melihat sesosok jasad mengambang di tengah danau,” ungkap AKP Reda. Warga yang melihat jenazah di sebelah barat Pura Segara, Desa Songan itu, segera melapor ke Pos Satpolair Polres Bangli di Desa Kedisan. Saat itu juga polisi ke lokasi kejadian untuk mengevakuasi jasad korban. Setelah diperiksa, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban, dan jasadnya segera dibawa ke rumah duka. Pascatewas tenggelamnya dua ABG masing-masing asal Desa Kedisan dan Desa Songan, berbagai cerita mistis beredar di kalangan masyarakat Kintamani. Sebagian ada yang mengaitkan kejadian itu merupakan ‘’kemurkaan penghuni” Danau Batur, lantaran ulah manusia yang tak lagi menganggap danau sebagai tempat suci. Ada juga yang berpendapat kalau dua korban adalah tumbal yang diinginkan ‘’penghuni’’ Batur. Sementara dampak nyatanya, minat warga di sekitar Danau Batur mengonsumsi ikan mujair menurun drastis. Mereka mengaku agak jijik mengonsumsi mujair dengan alasan ada dua jenazah di dasar danau, padahal ikan mujair yang dijual di pasaran selama ini merupakan budi daya di keramba. “Banyak warga mengaku kehilangan selera makan ikan mujair dengan alasan ada mayat di Danau Batur,” ungkap seorang pedagang mujair di Pasar Kintamani, Ibu Jero. Terkait tewasnya dua ABG di Danau Batur ini, Pelinggih Dane Jero Gede Batur Alitan menyarankan agar krama setempat
MBP/puspajingga
Danau Batur, Kintamani, yang selama ini kelihatan tenang, ternyata berbahaya bagi anak-anak. Buktinya selama dua hari berturut-turut, dua ABG tewas di danau yang terletak di kaki Gunung Batur ini.
gelar upacara guru piduka di lokasi kejadian. Selain bertujuan mohon maaf jika ada kesalahan yang dilakukan warga sebelum kejadian, upacara guru piduka juga bertujuan menyucikan kembali kawasan Danau Batur seperti sedia kala. “Pengalaman kami jika ada orang meninggal di kawasan kami, maka upacara guru piduka selalu kami gelar,� tegas Pelinggih Dane. Sementara pemangku di Desa Kedisan, Kintamani, Jero Tapakan Pasek, mengatakan belum ada rencana Desa Adat Kedisan menggelar upacara di Danau Batur pascameninggalnya salah seorang warga setempat. Menurutnya, pihak keluarga korban memang telah melakukan upacara guru piduka. “Untuk desa adat, sejak dulu memang belum ada tradisi ngaturang guru piduka jika ada korban meninggal di danau,� tandasnya. Nasi sudah menjadi bubur. Yang jelas banyak hal yang dapat dipetik dari kedua kejadian ini. Pertama, kalangan orangtua, baik asal setempat maupun di luar Kintamani, hendaknya jangan membiarkan anak-anak berenang atau naik perahu tanpa didampingi
orang dewasa. Terlebih anak-anak biasanya tidak ahli berenang di air tawar, termasuk di Danau Batur yang kondisinya sulit ditebak ini. Kedua, pemerintah, khususnya Pemkab Bangli, perlu memikirkan membangun semacam pos Balawista yang mampu meng-cover seluruh danau. Apalagi Danau Batur selama ini dikenal sebagai tepat berwisata. Tak jarang wisatawan yang berkeliling danau naik perahu atau mengunjungi Desa Trunyan untuk mengetahui keunikan desa setempat. Petugas pemantau dan penanggulangan kejadian itu perlu berkeliling suatu waktu kalau ada anak-anak atau wisatawan yang berenang di danau. Jika situasi membahayakan, maka petugas dapat mengingatkan siapa saja agar tidak naik perahu atau nekat berenang di Danau Batur dalam kondisi cuaca tak menentu. www.denpostnews.com LAPORAN 11 - 17 November 2013
33
KRIMINAL
Doyan Mabuk dan Kasar, ’’Pekak’’ Tewas di Tangan Anaknya
B
inatang buas saja sangat sayang dengan anggota keluarganya, apalagi manusia. Tetapi tidak demikian halnya dengan lingkungan keluarga I Gde Dite alias Kledit (70). Pekak (kakek) asal Banjar Lebuh Purwayu, Desa Tribuana, Kecamatan Abang, Karangasem ini, malah tewas di tangan akan kandungnya, Gede Putu Ariawan alias Bonto (19). Awalnya Kledit dikira tewas gantung diri di dalam kamar tidurnya dengan luka robek di kepala belakang kanan pada Minggu (27/10) lalu. Sang kakek saat itu ditemukan istrinya, Ni Ketut Krening, sekitar pukul 09.05. Tetapi ada yang aneh pada kepala Kledit. Di sana terdapat luka menganga sekitar 5 cm dengan kedalaman 0,5 cm. Menariknya, saat ditemukan istrinya, luka tersebut masih mengeluarkan darah segar, membasahi tempat tidurnya. Keanehan tersebut tentu saja membuat aparat Polsek Abang curiga jika pria yang biasa disapa Pekak Kledit itu adalah korban pembunuhan. Benar saja, ketika polisi melakukan penyelidikan secara seksama, kecurigaan akhirnya mengarah pada salah seorang dari tujuh anak korban, yakni Gede Putu Ariawan alias Bonto. Terlebih sebelum ditemukan tewas, Pekak Kledit terlibat pertengkaran dengan salah seorang dari tiga anak laki-lakinya itu. Keributan antar aanak dan ayah itu diakui oleh istri korban, Ni Ketut Krening. Menurut dia, sang suami memang kerap memarahi Ariawan. Tak jarang sang suami mengumpat dan mengusir anaknya itu. Tetapi soal pertengkaran Minggu lalu itu Krening mengaku tak tahu pemicunya. Aparat Polsek Abang segera mengamankan Bonto. Hasil interogasi, pemuda tersebut akhirnya mengakui perbuatannya bahwa dialah yang menghabisi nyawa ayahnya. Tetapi saat kejadian, Bonto membantah sengaja membunuh sang ayah. Pemuda yang tak punya pekerjaan tetap ini mengaku bahwa saat bertengkar, dia kesal karena ayahnya kerap bertingkah kasar, baik kepada dia maupun ibunya. ‘’Bukan hanya kepada saya, tetapi semua. Ibu saya sering dikasari,’’ ucap Bonto polos. Terlebih dia sudah lama memendam dendam, karena
34
11 - 17 November 2013
selain sering bertindak kasar, sang ayah suka mabuk, serta tidak sopan terhadap setiap tamu yang datang ke rumahnya, Banjar Lebuh Purwayu, Desa Tribuana, Kecamatan Abang. Celakanya, saat sedang teler akibat miras, Pekak Kledit kerap menantang siapa pun yang bertandang ke rumahnya untuk berkelahi. Puncaknya, ketika terjadi pertengkaran hebat, Bonto yang emosi seketika melempari sang ayah dengan talenan hingga mengenai kepalanya. Terkena benda berat semacam itu, tentu saja Pekak Kledit kelenger hingga akhirnya meregang nyawa. Melihat hal itu, Bonto jadi panik. Khawatir ulahnya ketahuan membunuh sang ayah, Bonto segera menyeret tubuh ayahnya ke kamar, lalu digantung seolah-olah memang tewas bunuh diri hanya untuk menghilangkan jejak. Kapolsek Abang AKP Cok Arimbawa mengatakan, penyebab kematian korban akan dijadikan acuan untuk memasang pasal yang dijeratkan kepada tersangka Gede Putu Ariawan. Di tempat terpisah, Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah dr. Dudut Rustyadi, Sp.F. menyebutkan bahwa Pekak Kledit dijerat oleh Bonto sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Selain itu ditemukan dua luka pada tubuh almarhum. Pertama berupa luka terbuka di pelipis kanan korban akibat kekerasan benda tumpul. Luka kedua melingkar di leher yang menandakan kalau korban sempet dijerat lehernya oleh tersangka Bonto. Akibat kelakukan kasarnya hingga mengakibatkan sang ayah meninggal dunia, pemuda yang tak punya pekerjaan tetap ini terancam hukuman cukup berat. Selain itu dia pasti penyesali perbuatannya di dalam sel tahanan, karena begitu tega melempar ayahnya dengan talenan hingga tewas. www.denpostnews.com LAPORAN
MBP/suastrawan
Tersangka Gede Putu Ariawan alias Bonto (kiri) diperiksa aparat Polsek Abang, Karangasem, gara-gara berlaku kasar hingga mengakibatkan ayahnya I Gde Dite alias Kledit tewas dilempar talenan.
11 - 17 November 2013
35
EKONOMI
Aturan Impor Katrol Harga Ponsel
K
emendag resmi memperketat prosedur dan proses impor telepon seluler, komputer genggam (handheld) dan komputer tablet yang berlaku mulai 1 Januari 2013 lalu. Akibatnya, para importir yang sekaligus bertindak sebagai retailer kesulitan impor barang sesuai kebutuhan. Peraturan tersebut dinilai tidak hanya menjadikan produk baru banyak yang terlambat masuk Indonesia, tetapi juga membuat kelangkaan ketersediaan produk di pasar. Aturan baru itu membuat impor barang-barang tersebut kini hanya bisa dilakukan melalui importir terdaftar (IT) yang sudah mendapatkan persetujuan impor (PI) dari Kemendag, dan telah mengantongi tanda pendaftaran produk (TPP) impor dari Kementerian Perindustrian. Selain itu, pemegang IT telepon seluler, handheld, dan komputer tablet hanya bisa menjual barang yang diimpornya melalui distributor, dan tidak bisa langsung ke pembeli eceran (retailer). Dalam Peraturan Kementerian Perdagangan Nomor 82/MDAG/PER/12/2012, dikutip dari situs Sekretariat Kabinet, yang ditandatangani oleh Menteri Perdagangan Gita Wirjawan pada 27 Desember lalu disebutkan, perusahaan yang bermaksud mendapatkan IT telepon seluler, handheld, dan komputer tablet harus mengajukan permohonan tertulis kepada Menteri Perdagangan melalui Dirjen Perdagangan Luar Negeri, dengan melampirkan sejumlah kelengkapan. Dalam peraturan tersebut, importir hanya diperbolehkan memperdagangkan dan/atau memindahtangankan barang kepada distributor. Selain itu, pemerintah juga membatasi importir dengan mewajibkan importir harus memiliki hubungan istimewa dengan prinsipal atau pemegang merek utama. Konsekuensinya, para pengimpor telepon seluler, komputer genggam, dan komputer tablet yang selama ini sekaligus bertindak sebagai retailer harus mencari cara baru untuk mengimpor barang yang mereka butuhkan. Namun, niat ini rupanya tidak sejalan dengan kepentingan pengusaha. Dalam situs resmi suarapengusaha.com, Apindo memprotes aturan itu,
36
11 - 17 November 2013
khususnya menyangkut daerah yang diperbolehkan untuk menjadi pelabuhan impor ketiga barang tersebut. Peraturan itu membatasi pelabuhan laut yang boleh menjadi pintu masuk impor hanya ada lima kota di Indonesia, yakni Belawan di Medan, Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Emas di Semarang, Tanjung Perak di Surabaya, dan Soekarno-Hatta di Makassar. Untuk pelabuhan udara, di antaranya Polonia di Medan, Soekarno-Hatta di Tangerang, Ahmad Yani di Semarang, Juanda di Surabaya, dan Hasanuddin di Makassar. Sejauh ini, belum jelas benar dampak peraturan baru tersebut terhadap konsumen. Kalangan pelaku usaha pun tidak menyebut secara spesifik berapa tambahan biaya yang harus dikeluarkan pengusaha untuk mengimpor telepon seluler, komputer genggam, dan tablet, serta berapa persen harga yang harus ditanggung konsumen nantinya. Namun, aturan impor gadget tersebut ternyata tidak hanya menjadikan produk baru banyak yang terlambat masuk ke Indonesia, tetapi juga membuat kelangkaan ketersediaan produk di pasar. Seperti yang dikutip dari situs indotelko. com, Head of Marketing Nokia Indonesia Lukman Susetio mengatakan, regulasi baru tersebut membuat distributor menjadi terkejut dan harus menyesuaikan dengan regulasi. ‘’Regulasi baru ini juga berdampak ke prinsipal sehingga konsekuensinya selama semester pertama tahun ini membutuhkan waktu empat kali lebih panjang menghadirkan produk baru,” katanya. Selain menjadikan pasokan melambat, aturan impor juga dinilai berpotensi mendongkrak harga perangkatperangkat tersebut. Menurut Dewan Penasihat Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia, Su- h a n d a Wijaya, pembatasan pintu masuk impor dan mekanisme distribusi yang baru bisa membuat pasokan gadget berkurang. ‘’Harga pun otomatis naik,’’ katanya. Suhanda mengatakan,
aturan ini sebetulnya bisa melindungi kepentingan konsumen. Namun, di sisi lain kewajiban-kewajiban tersebut menambah beban importir dan distributor. Dia mengatakan aturan ini membuat importir makin terbatas sehingga pasokan gadget di pasaran akan berkurang. Selain itu, pengusaha juga dibebani kewajiban mendirikan service center. “Hal ini tentu saja membuat harga jual produk menjadi naik,” katanya. Akibat peraturan impor baru tersebut kalangan distributor dan ritel telepon seluler, rupanya mengalami penurunan penjualan. Sebut saja PT Erajaya, yang merupakan salah satu distributor ternama produk gadget. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, penjualan telepon seluler Erajaya hanya Rp 5,976 triliun atau turun 6,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 6,406 triliun. Ini menyebabkan laba bersih perseroan turun menjadi Rp 129,8 miliar atau turun 38,9 persen dari Rp 212,4 miliar. Salah satu faktor yang menggerus penjualan adalah aturan baru impor telepon genggam. Dengan aturan baru, proses impor menjadi lebih lama dari biasanya. Imbasnya pada
gangguan pasokan untuk penjualan. “Bagaimana kami tidak mengalami penurunan, jika distribusi melambat dua hari saja sudah beda hasilnya, apalagi sampai berminggu-minggu,” ujar Direktur Marketing Erajaya, Djatmiko Wardoyo, belum lama ini. Penurunan ini juga terlihat dari segmen telepon seluler dan tablet. Pihaknya mencatat penurunan menjadi Rp 5,267 triliun. Angka ini turun 88,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang menyentuh angka penjualan hingga Rp 5,996 triliun. Volume penjualan telepon seluler pada enam bulan pertama tahun ini turun dari 5,2 juta unit di semester I/2012 menjadi hanya 4,9 unit. Untuk segmen komputer dan peralatan elektronik, perseroan mencatat penjualan sebesar Rp 129,6 miliar. Segmen aksesoris mengalami kenaikan penjualan dari Rp 12,5 miliar di semester I/2012 menjadi Rp 89,7 miliar di semester I/2013. LAPORAN
Bisnis Bali Info Bisnis di Bali
Hardysfunzone Terima Kucuran Dana Rp 13 Miliar dari Bank Victoria Syariah “Target Buka 3 Lokasi Center Baru di Denpasar & Ungasan, Tambah Koleksi Mesin Permainan di 9 Center Existing.” Realisasi strategi Grup Hardys/GH Holdings untuk tampil menjadi pemimpin di unit bisnis masing-masing terus didorong sebagai salah satu target pencapaian kinerja tahun 2013 sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) GH Holdings (PT Grup Hardys). Hal ini disampaikan Made Widana, S.E. selaku Direktur Keuangan di sela-sela penandatanganan kerja sama pembiayaan modal dengan Bank Victoria Syariah senilai Rp 13 miliar yang digunakan untuk pengembangan bisnis HardysFunzone melalui PT Sarana Rekreasi Keluarga Indonesia (SRKI) bertempat di Head Office GH Holdings, Jalan Tukad Pakerisan 100 X, Panjer, Denpasar, pekan lalu. Menurut Widana, yang didampingi Setyanto Budi Nugroho, S.H., Direktur PT Sarana Rekreasi Keluarga Indonesia (SRKI), kerja sama pembiayaan modal dengan Bank Victoria Syariah merupakan langkah strategis GH Holdings dalam melakukan upaya pengembangan bisnis melalui core business HardysFunzone (PT Sarana Rekreasi Keluarga Indonesia) yang merupakan salah satu dari 9 core business GH Holdings yakni; HardysRetail (PT Hardys Retailindo), Hardys Property (PT Hardys Propertindo), HardysLand (PT Hardys Realtindo), HardysHotels (PT Hardys Hotel Indonesia), HardysAgro (PT Bali Agro Lestari Indah),
HardysFunzone (PT Sarana Rekreasi Keluarga Indonesia), HardysInvestment (PT Hardys Corpora), HardysTrans (PT Sarana Transportasi Indonesia Indah), dan HardysAdvertising (PT Sarana Media Advertindo). Lebih jauh, Setyanto menambahkan, selain pembukaan center baru di 3 (tiga) lokasi yakni di Denpasar dan Ungasan, HardysFunzone telah siap untuk mendatangkan kembali mesin game center gelombang ke-2 setelah sebelumnya sukses mendatangkan 112 mesin baru pada awal Juli 2013 yang diproyeksikan untuk menambah koleksi 9 (sembilan) Center HardysFunzone yang telah beroperasi di HardysMalls Basuki Rahmat Banyuwangi, HardysMalls Negara, HardysMalls Ngurah Rai Singaraja, HardysMalls Gianyar, HardysMalls Amlapura, HardysMalls Tabanan, HardysMalls Seririt, HardysMalls
Made Widana, SE., Direktur Keuangan, Setyanto Budi Nugroho, SH., Direktur HardysFunzone, berfoto bersama perwakilan Direksi Bank Victoria Syariah usai penandatanganan kerja sama di Head Office GH Holdings.
Nusa Dua, Supermarket Bintang Ubud. “Melihat pencapaian kinerja bulanan HardysFunzone, kami optimistis akan mampu mencapai target pertumbuhan bisnis tahun 2013 yakni 35 persen,” ungkap peraih gelar direktur dan perusahaan berkinerja terbaik GH Holdings tahun 2013 ini. Ir. Gede Agus Hardyawan, Presiden Direktur GH Holdings, yang didampingi Ketut Rukmini Hardy, S.P., selaku Komisaris Utama dalam keterangan persnya mengucapkan terima kasih atas terjalinnya kerja sama pembiayaan modal kerja antara Bank Victoria Syariah (BVS) dengan Grup Hardys/GH Holdings. Menurut pengusaha lulusan Fakultas Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, hal tersebut merupakan bentuk kepercayaan Bank Victoria Syariah (BVS) setelah sebelumnya GH Holdings sukses melaksanakan kerja sama dengan Bank Victoria (BV) sejak tahun 2011 melalui HardysRetail (PT HardysRetailindo). “Sebagaimana kerja sama sebelumnya dengan Bank Victoria serta melihat pertumbuhan bisnis kami yang menunjukkan tren sangat positif, kami siap mengemban kepercayaan yang diberikan oleh Bank Victoria Syariah,” tegasnya. Sutrisno Yulianto selaku Direktur Bisnis Bank Victoria Syariah didampingi Adhie Setiady (Kepala Cabang BVS Tuban) dalam sambutannya menyatakan apresiasi atas kerja sama yang terjalin dengan Grup Hardys Holdings melalui HardysFunzone (PT Sarana Rekreasi Keluarga Indonesia). “Semoga kerja sama yang dilakukan terus berlanjut dan kami bisa menjadi bagian dari pertumbuhan bisnis HardysFunzone,” ungkapnya.
PARIWISATA Pasangan wisatawan menikmati panorama, kesejukan, kenyamanan, keheningan, kedamaian, dan keunikan yang ditonjolkan dari desa wisata.
”
Desa Wisata, Membenahi Ketimpangan
Turis ramai, toh saya tetap begini”. Kata-kata pesimis ini sering keluar dari mulut masyarakat yang merasa hanya menjadi objek dari kemajuan pariwisata Bali. Wajar saja, mereka yang berjibaku mempertahankan adat dan budaya yang menjadi daya tarik wisata di Pulau Dewata justru hanya mendapat “sampah” sosial, sementara kue pariwisata Bali hanya dinikmati segelintir orang akibat distribusi yang tak merata. Karena itu, pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI akan mengembangkan desa wisata sebagai salah satu upaya mengatasi persoalan tersebut. Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf Firmansyah Rahim mengatakan, Bali mendapat jatah 45 desa untuk dikembangkan dari 978 desa wisata yang telah dikembangkan di Indonesia. Pengembangan desa wisata ini merupakan bagian perhatian pemerintah terhadap pengembangan ekonomi masyarakat khususnya di kawasan pedesaan. “Saat ini memang masih terjadi ketimpangan pembangunan pariwisata antara Bali Selatan dan Bali Utara. Untuk memeratakan pendapatan pariwisata, Kemenparekraf di antaranya mengembangkan program desa wisata,” ungkapnya. Kemenparekraf tidak khawatir dengan dampak negatif pengembangam desa
38
11 - 17 November 2013
wisata sebagai destinasi pariwisata di Bali. Sebab, program ini sebagai upaya mengembangkan kawasan yang selama ini tidak menikmati pertumbuhan pariwisata dan Bali Selatan tidak menghadapi beban pariwisata yang tidak terlalu berat. “Masuknya investasi pariwisata ke Bali Utara dan daerah lainnya diharapkan bisa menyeimbangkan pembangunan pariwisata di Bali,” ucapnya. Dikatakan, wisatawan yang berlibur ke Pulau Dewata ini tidak boleh hanya dinikmati para pengusaha besar yang berkecimpung di bisnis perhotelan. Karena itu, melalui pengembangan desa wisata, masyarakat desa diharapkan bisa merasakan dampak pengembangan pariwisata. “Contohnya dengan pengembangan desa wisata, masyarakat desa menghasilkan produk kerajinan dan produk lain yang bisa dinikmati wisatawan. Bahkan membeli produk-produk hasil produksi masyarakat setempat, sehingga masyarakat dapat merasakan keberadaan pembangunan pariwisata,” katanya. Diterangkan, pengembangan program desa wisata ini harus didukung dengan kegiatan pendampingan. Sebab, keberhasilan desa wisata sangat erat terkait tenaga pendamping. Hanya pihaknya berharap tenaga pendamping pengembangan desa wisata paham akan keberadaan desa,
MBP/ist
dan paham pariwisata. “Peran desa wisata dalam menopang pengembangan pariwisata Bali saat ini masih sangat bagus. Kami sendiri menargetkan pengembangan 2000 desa wisata di Indonesia hingga 2014 mendatang. Program ini sudah berjalan tiga tahun,” tandasnya. Anggota Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) Mangku Nyoman Kandia juga mendorong komponen pariwisata mengembangkan desa wisata. Sebab, pengembangan desa wisata akan berdampak pada masyarakat setempat karena dengan berkembangnya sektor pariwisata di pedesaan secara langsung akan mampu memberdayakan warga meningkatkan perekonomian. “Artinya dengan kunjungan wisatawan tersebut, warga setempat secara langsung menikmati dan menjadi pelaku dalam sektor itu. Misalnya, warga tersebut membuka penginapan,” sebutnya. Dengan pengembangan desa wisata seperti itu, menurut Mangku Kandia, hampir ratusan penginapan dimiliki dan dikelola oleh masyarakat setempat. “Malahan wisatawan yang ingin menikmati Desa Ubud, banyak menginap di homestay, karena selain harganya terjangkau, fasilitasnya hampir sama dengan hotel-hotel di sekitarnya,” ucapnya. Parwata
Peluang bagi Kapitalis? K
eindahan alam, khazanah seni budaya yang dimiliki oleh suatu wilayah menjadi embrio dari kelahiran pariwisata. Pengembangan potensi yang ada itu telah mengantarkan motivator yang ada di pedesaan untuk mengembangkan diri menjadi desa wisata. Pemerintah pusat maupun daerah menyambut baik dengan membentuk program pengembangan desa wisata yang disertai dengan kucuran dana. Hal ini pun menjadikan setiap desa terkesan berlomba-lomba menjadikan dirinya sebagai desa wisata. Di Kabupaten Gianyar kini telah ada sebanyak 40 desa wisata yang pengembangannya dilakukan sejak tahun 1992. Dari jumlah itu hanya 20 desa wisata yang telah memiliki SK Bupati sebagai desa wisata. Sedangkan sisanya masih dalam persiapan dengan pengembangan yang dilakukan melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Untuk pengembangan desa wisata ini, pemerintah telah menyediakan aliran dana melalui sejumlah program baik dari pusat seperti PNPM Pariwisata yang diberikan secara bertahap mulai dari tahap I Rp 80 juta, dan tahap II mencapai Rp 100 juta. Demikian pula program provinsi yang juga menyediakan anggaran sekitar Rp 100 juta untuk sepuluh desa
yang ada di Gianyar di tahun 2015. Dengan adanya program itu, kini banyak desa yang antusias ingin menjadi desa wisata untuk dapat menikmati kue pariwisata yang selama ini ada. Terlebih lagi dalam hal promosi telah ada lembaga khusus yang menjanjikan bantuan mempromosikan. Hal ini tentu menjadi menarik bagi desa-desa untuk mengembangkan dirinya menjadi desa wisata. Hanya di tengah ketertarikan itu, terkadang mereka melupakan hal kecil, di mana ke depannya dapat menjadi bumerang bagi mereka. Desa wisata yang mereka kembangkan tanpa disertai dengan regulasi yang kuat dalam menangkis serbuan investasi kapitalis, maka mengesankan desa tersebut membuat kuburan sendiri bagi masyarakatnya. Investasi kapitalis merupakan tantangan terberat dalam program pengembangan desa wisata. Rumah tradisional yang dibuat untuk menginap para wisatawan sambil menyaksikan keindahan alam pedesaan, petak sawah, kehidupan masyarakat jika tanpa ditopang kebijakan khusus melindungi desa wisata itu, nantinya akan tergerus di kemudian hari seiring datangnya pemodal besar yang hendak berinvestasi dalam usaha yang sama. Jika itu terjadi maka desa wisata
yang mereka kembangkan hanya akan menjadi jalan pembuka investasi kapitalis hingga ke pelosok desa. Berkacamata dari kondisi kawasan wisata Ubud saat ini misalnya. Di tengah dengungan Ubud sebagai pariwisata budaya, tak mampu membendung laju investasi kapitalis yang kini juga merambah dan menyaingi usaha home stay dari masyarakat setempat. Konsep city hotel pun kini mulau merambah kawasan itu. Para pemilik jasa penginapan rumah tradisional pun kini banyak yang gulung tikar seperti di Banjar Tebesaya, Peliatan, hingga beberapa di Padangtegal, seiring kehadiran investasi kapitalis. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar Anak Agung Ari Brahmanta, S.E. tidak menampik hal itu. Tantangan terberat dalam hal pengembangan desa wisata ke depan adalah masuknya investasi besar yang juga bergerak dalam jasa pariwisata yang sama. Mencegah hal itu, tentunya dibutuhkan kebijakan investasi yang bisa dilakukan di kawasan desa wisata. Melihat kondisi Gianyar dengan potensinya sangat memungkinkan dikembangkan desa wisata. Berbeda halnya dengan daerah lain seperti Kuta. Darmawan
MBP/ist
Desa Adat Penglipuran adalah daya tarik tersendiri yang tak jauh dari kesejukan Kintamani dan Istana Tampaksiring serta Tirta Empul (Kabupaten Gianyar). Desa ini terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Begitu memasuki areal desa tersebut, mata sudah pasti akan bertemu arsitektur rumah yang hampir semuanya mirip.
EVENT
MBP/BTN
Perangi Sampah Plastik R
MBP/BTN
atusan staf dan pegawai hotel di Bali melaksanakan kegiatan sosial di areal Pura Luhur Batukaru, akhir pekan lalu. Kegiatan mareresik ini membersihkan sampah sisa-sisa upacara termasuk sampah plastik, sehari setelah panyineban. Acara ini dikoordinir oleh Bali Travel News, Kelompok Media Bali Post (KMB), bekerja sama dengan industri perhotelan di Bali. Hotel-hotel yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah Alam Kulkul Boutique Resort, Aston Denpasar, Bali Niksoma Boutique Beach Resort, Bali Tropic Resort & Spa, Four Season Resort Bali at Jimbaran Bay, Furama Villas & Spa, Griya Santrian, Hard Rock Hotel, Harris Resort Kuta, Kuta Beach Club Hotel & Spa, Ramada Bintang Bali, The Sungu dan W Retreat and Spa Bali Seminyak.
MBP/BTN
MBP/BTN
MBP/BTN
MBP/Pradnya Kirana
MBP/Pradnya Kirana
MBP/Pradnya Kirana
MBP/Pradnya Kirana
MBP/Bisnis Bali
Para peserta antusias mengikuti kegiatan Bisnis Bali dengan tema “Makna Filosofi Banten� yang dilanjutkan dengan praktik yoga dengan instruktur IGAN Dian Martika.
MBP/Pradnya Kirana
ADU KREATIF - Lomba Anak kreatif Jembrana 2013 digelar majalah Pradnya Kirana, Harian DenPost, dengan Pemkab Jembrana serangkaian HUT ke-118 Kota Negara di Gedung Kesenian Bung Karno, belum lama ini. Kegiatan ini disambut antusias ratusan siswa dari tingkat usia dini, TK, dan SD. Sekitar 750 anak mengikuti lomba, baik mewarnai kategori play group, mewarnai kategori TK, kategori SD, menggambar kategori SD, serta lomba fotogenik. Kegiatan ini ditinjau Bupati Jembrana Putu Artha bersama istri yang juga Bunda Paud Ny. Ari Sugianti Artha, Sekda Jembrana Gede Gunadnya, Kadis Dikporaparbud Nengah Alit, dan jajaran SKPD lainnya. Di sela-sela penjurian, dipentaskan hiburan oleh siswa TK Kemala Bhayangkari yakni Putu Kheisa Bhrahmadi Putra yang cukup lihai memainkan jegog. Siswasiswi dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Negara dengan atraksi hula-hoop, dan menyanyi.
11 - 17 November 2013
MBP/Pradnya Kirana
41
TRANSPORTASI
Memacu Adrenalin
D
esa Mengesta tak hanya indah dipandang karena alamnya yang sejuk. Desa ini juga terkenal dengan permainan ATV yang menantang. Para petualang dari berbagai belahan dunia sudah biasa menaklukkan rute yang penuh liku dan terjal itu. Bahkan sekali berwisata di Pulau Dewata, mereka mencoba lebih dari sekali karena memang mengasyikkan. Salah satu operator di tempat ini adalah Bali By Guard. Lokasinya ada di Banjar Kedampal, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan atau sekitar 45 kilometer arah barat laut dari Kota Denpasar. Lewat ATV, wisatawan diajak menjelajahi alam pedesaan, melihat sawah bersusun, serta aktivitas budaya masyarakat setempat. Mengendarai ATV di sini, memerlukan teknik dan kecerdasan dalam menyelesaikan setiap rute. Paling tidak ada empat jenis rute yang dilalui yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Melintas di perkampungan yaitu di tengahtengah aktivitas masyarakat penduduk setempat, di areal subak yang penuh lumpur dengan sawah bersusun, tegalan dan sungai yang airnya deras. Sungguh ini cukup memacu adrenalin. Aktivitas masyarakat pedesaan menjadi teman dalam perjalanan. Karena, hampir semua masyarakat di sana ramah dan baik. Termasuk juga para penggarap sawah pertanian. Jarak tempuhnya lumayan panjang
42
11 - 17 November 2013
yaitu lebih dari 5 km. Waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam sampai 2 jam yang memiliki tiga tempat pemberhentian. Setelah setengah perjalanan, para peserta diajak bersantai ria di tengah-tengah subak dengan hamparan sawah menghijau. Ngobrol di sebuah gubuk kecil sambil minum kopi, teh atau air mineral dengan sedikit camilan menciptkan pengalaman yang sangat indah. Atau duduk bareng dengan petani di pematang sawah sambil menceritakan lahan pertaniannya. Jika pada musim-musim bercocok tanam atau panen, aktivitas ritual menjadi bumbu petualangan di alam pedesaan. Gadis-gadis Bali dengan busana adat melintas berlatar belakang Gunung Batukaru. Pada musim libur, anak-anak riang mandi di kali yang belum tercemar. Atau melakukan aktivitas nguntil (mencari capung) atau mencari belut serta blauk (binatang sebelum menjadi capung). Operational Manager I Wayan Puja Arsana mengatakan, selain menawarkan panorama yang eksotik, Bali By Guard juga menyediakan berbagai fasilitas. Mulai dari welcome drink, sepatu boat, helm, makan siang dan yang terpenting asuransi. “Setiap wisatawan yang ingin bepetualang mendapatkan fasilitas itu. Juga disiapkan guide dan post guard,� ucapnya. Anda mau mencoba?
LAPORAN
di Desa Mengesta
TRADISI
’’Makotek’’ di Munggu
Mohon Keselamatan
MBP/eka
Para peserta tampak diperciki air suci sebelum terlibat dalam tradisi Makotek.
R
atusan warga dengan berpakaian adat berkumpul membawa tongkat sepanjang 2,5 meter hingga 3 meter. Mereka beradu, saling dorong di tengah jalan dengan menggunakan tongkat yang dibawa masing-masing. Tak hanya itu, beberapa warga juga ada yang memanjat hingga ujung tongkat. Saling dorong bertambah panas seiring suara gamelan bertalu-talu dan sorakan warga yang makin histeris. Pemandangan itu merupakan tradisi Makotek yang digelar masyarakat Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tradisi ini dilangsungkan tiap enam bulan sekali pada hari raya Kuningan. Lokasinya mengambil tempat di areal depan Pura Kahyangan Tiga dan sepanjang sudut desa. Nama Makotek diambil dari suara kayu yang saling bertabrakan saat disatukan menjadi bentuk gunung yang menyudut, yakni ‘’tek... tek... tek...’’ Sebenarnya tradisi ini dulunya bernama gerebek yang artinya saling dorong.
Tongkat yang digunakan dalam tradisi ini pada bagian puncaknya dihiasi dengan dedaunan. Krama desa laki-laki dalam menjalankan tradisi ini saling merapatkan tongkat masing-masing. Mereka berupaya merebahkan tongkat lawan dengan cara saling mendorong tongkatnya. Posisi tongkat menghadap ke atas, sehingga kumpulan tongkat akan membentuk kerucut. Sesekali, sejumlah peserta naik ke puncak tongkat dan mencoba bertahan beberapa lama di atasnya. Saat itu, para krama akan tetap saling mendorong tongkat satu sama lain, hingga kerucut condong ke satu arah dan mulai berantakan. Meski ada di antara peserta yang terkena pukulan tongkat, namun tidak ada yang merasa sakit atau emosi. Keseluruhan peserta tenggelam dalam suka cita mendalam dan penuh rasa kekeluargaan saat menjalani tradisi turun-temurun tersebut. Makotek dilaksanakan dengan tujuan memohon keselamatan umat dan dipercaya dapat menjauhkan warga dari
berbagai bencana. Awalnya, Makotek menggunakan tombak yang terbuat dari besi. Seiring perkembangan zaman dan untuk menghindari peserta yang terluka, maka sejak tahun 1948, tombak besi mulai digantikan tongkat dari bahan kayu pulet. Tombak yang asli dilestarikan dan disimpan di pura. Warga desa setempat percaya dengan menyelenggarakan tradisi Makotek dapat menjauhkan segala bentuk bencana. Dulu tradisi ini pernah ditiadakan, tetapi kemudian ada bencana menimpa warga. Setelah peristiwa itu, tradisi ini dilakukan kembali. Rangkaian Makotek diawali dengan upacara Mendak Batara di Pura Dalem lalu umat mengelilingi desa. Upacara berakhir di Pura Puseh. Sebelum memulai atraksi ini peserta terlebih dahulu melakukan persembahyangan bersama di Pura Desa, dengan diperciki air suci. Dedy Sumartana
4 November - 10 November 2013
45
TTRRAADDI ISSI I
”Makotek” Perlu Dikemas Lebih Komplit
T
radisi Makotek selalu menyedot perhatian masyarakat dan wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Tiap tradisi yang menjadi bagian dari upacara agama masyarakat setempat itu digelar, ribuan penonton memadati kawasan Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung. Makotek dilaksanakan dengan tujuan memohon keselamatan umat dan dipercaya dapat menjauhkan warga dari berbagai bencana. Upacara yang juga dikenal dengan istilah ngerebek ini dilakoni warga secara turuntemurun. Saking uniknya, malah tidak jarang ada wisatawan mancanegara yang sengaja datang ke Munggu untuk menyaksikan jalannya tradisi ini. Hal ini dipandang sebagai sebuah potensi pengembangan
pariwisata kawasan setempat. Apalagi Desa Munggu merupakan salah satu desa wisata di Badung. Menurut Kabag Humas dan Protokol Setda Badung A.A. Gede Raka Yuda, Makotek menjadi salah satu atraksi pariwisata di Badung. “Itu sudah bagian dari daya tarik atraksi wisata dan telah masuk kalender event pariwisata,” ujar Raka Yuda. Potensi ini tentu tidak boleh disiasiakan dan diharapkan mampu memberikan dampak positif lebih luas lagi bagi masyarakat. Dalam berbagai kesempatan, Pemkab Badung sendiri telah berupaya mempromosikan Makotek sebagai salah satu atraksi wisata. Dari upaya promosi tersebut diharapkan tradisi Makotek bisa lebih dikenal luas. Meski demikian, Raka Yuda men-
gakui, masih banyak hal yang harus di-support lagi baik oleh pemerintah maupun pihak lainnya dalam rangka mengemas Makotek. Ke depan, perlu diupayakan agar selama Makotek berlangsung, wisatawan bisa menikmati daya tarik wisata lainnya dari Desa Munggu khususnya dan Kabupaten Badung pada umumnya. “Mungkin perlu ada atraksi lainnya, misalnya dengan memamerkan hasil kerajinan masyarakat. Jadi akan lebih komplit. Hal-hal semacam ini perlu diupayakan. Apalagi ini memang sejalan dengan komitmen Pemkab Badung untuk mensinergikan pariwisata dengan UMKM,” kata mantan Kabid Objek dan Daya Tarik Wisata Dinas Pariwisata Badung tersebut. Dedy Sumartana
MBP/eka
Peserta bersiap menggelar tradisi Makotek. Peserta Makotek beradu tongkat (kanan atas). Tongkat-tongkat peserta Makotek menyatu di ujungnya sehingga berbentuk kerucut (kanan bawah).
46
11 - 17 November 2013
MBP/eka
MBP/eka
GAYA HIDUP
Gaya Feminin
Elegan dan Glamor
D
alam perhelatan mode bertajuk The Authentic Culture of Excellence di Harris Hotel & Conventions Mall Kelapa Gading, Jakarta beberapa waktu silam, Dewi Suarjani turut hadir memamerkan hasil rancangan teranyarnya. Colorful, tema koleksinya kali ini terinspirasi dari keindahan warna-warni sarana upacara umat Hindu di Bali. Di tangan desainer senior Bali ini, pilihan warna cerah, seperti merah, fuchia, kuning dan hijau muncul sempurna serta menggairahkan. Dengan tenun ikat, Dewi Suarjani berharap turut meningkatkan penggunaan produk lokal yang dimiliki Bali. Karakter yang berbeda dari setiap helai tenunan Bali ini digarapnya dalam siluet A line dan H line yang memunculkan gaya feminin, elegan, serta glamor. Seluruh desainnya terbungkus sentuhan modern dan diaplikasikannya sifon, sutera, satin juga brokat semakin menonjolkan kesan indah dan mewah. Aksesori silver unik ukiran Bali dan sepatunya yang juga bernuansa etnik menjadikan total look desainnya lebih hidup. Selanjutnya detail unfinish menjadi aksen pamungkas seluruh koleksinya. Tabloid Tokoh/ www.tokoh.co.id Laporan
Galuh Bilen
Memilah dan Memilih
M
asalah sampah merupakan masalah yang dihadapi masyarakat. Hampir tiap manusia berkutat dengan sampah mulai dari volume kecil hingga volume besar. “Menurut saya, masalah sampah adalah masalah yang serius, sangat sulit ditangani. Tetapi itu semua bukan hal yang mustahil, karena sebagai manusia tentu bisa kita didik. Kalau saja dengan arahan yang benar, maksud saya yang harus kita bina adalah mental manusianya sendiri bagaimana membiasakan membuang sampah di tempatnya,” ujar Galuh Bilen. Perempuan bernama lengkap Ni Luh Karyawati Bilen ini menuturkan, apa pun program pemerintah dan sekeras apa pun pemerinntah berusaha bekerja tanpa ada bantuan dari masyarakat sendiri tidak akan pernah ada hasilnya. Perlu sinergi dan kerja sama semua elemen untuk menuntaskan masalah sampah. Penyanyi yang meluncurkan album perdana berjudul “I Love U Bali” pada momen Hari Valentine tahun 2011 ini menambahkan, ada halhal yang perlu diperhatikan sebelum membuang sampah. “Kita harus memilah dan memilih di mana harus membuang sampah. Misalnya, mana sampah plastik dan mana sampah organik, mana sampah yang bisa di-reuse (digunakan kembali), reduce (dikurangi), dan recycle (daur ulang),” tegas istri Murat Bilen dan ibu dari Tarkan Bilen (11), Yasemin Bilen (10) serta Tolga Bilen (8) ini. Galuh Bilen dikenal sebagai sosok perempuan periang, senang bergaul dengan siapa saja dan ia tergolong orang yang on time. Ia juga ibu muda yang tak bisa lepas dari hobinya menyanyi. Ia bukanlah penyanyi karbitan yang mendadak punya album. Kemunculannya lebih karena ia memang memiliki talenta nyanyi sejak kecil. Semasa sekolah di kota kelahirannya Bangli, ia cukup aktif mengikuti berbagai ajang menyanyi. “Saya tidak ingin berkarya sekali dan setelah itu berhenti, apalagi ini bagian dari hobi saya. Saya ingin lagu-lagu saya dikenal, didengar, dinikmati, dan dikenang, tidak hanya sekali dan berlalu. Saya akan berusaha menjaga eksistensi saya,” tandas penyanyi yang meluncurkan album kedua berjudul “Pelet Bali” pada 22 Agustus 2012. Delapan lagu digarapnya, yaitu “Narsis” dibawakan berduet dengan Agustin, “Turki Banglades”, “Tepung Ampehang Angin”, “Pancoran Apit Telaga”, “Arjuna vs Madonna”, “Mesaput Rindu” serta “Paling Bagus”. Galuh Bilen mengaku tema lagunya masih seputar cinta dengan semua dinamikanya. Aransemen musiknya juga dikemas dengan pop alternatif, sederhana, mendayu-dayu, kocak dan cukup easy listening. “Saya sangat mencintai Bali. Dengan menyanyikan lagu mabasa Bali juga menjadi peluangnya mengejar mimpi untuk memajukan keberadaan lagu pop Bali. Selama ini masih ada kesan kalau lagu Bali hanya untuk kalangan menengah ke bawah atau lagu Bali ini musiknya orang desa. Padahal, katanya, lagu Bali sudah menggelegar bersamaan dengan lagu pop Indonesia lainnya,” tegasnya. Selain menyanyi, pemilik moto berpikir positif, optimis, dan selalu narsis ini juga disibukkan dengan kegiatan mengurus keluarga dan bisnis aksesoris di kawasan Kuta Square. Tabloid Tokoh/www.tokoh.co.id Laporan
HOBI
Pematung JAS, Tunggu Gigi MoU
M
asih ingat dengan seni patung JAS (Jagapati, Angantaka dan Sedang)? Hasil kerajinan JAS berupa Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) dipilih menjadi suvenir delegasi KTT APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) yang digelar awal Oktober 2013 lalu. Dari 32 patung tersebut, 21 patung untuk kepala negara, sisanya untuk para konsul negara sahabat dan undangan lainnya. Patung tersebut memang dipesan khusus oleh pemerintah Indonesia sebagai kenang-kenangan berkonferensi di Pulau Dewata. Sejak itu, nama JAS sebagai perajin patung mencuat kembali. Demikian pula dengan keberadaan para perajin di tiga desa itu makin menggeliat yang mana sebelumnya sempat mati suri. Para perajin pun kini tampaknya lebih pede (percaya diri) dengan nama label sendiri. Padahal dulunya, banyak dari mereka yang lebih bangga kalau patung produksi mereka dikatakan made in Sukawati, made in Mas atau made in Gianyar. Hal ini pernah diungkapkan sendiri oleh Bupati Badung A.A. Gde Agung di suatu kesempatan. Dalam acara Miss World yang digelar di Nusa Dua beberapa pekan sebelumnya, patung produksi JAS juga dipamerkan. Jumlahnya memang tidak banyak, namun menampilkan berbagai jenis desain, sehingga mampu mewakili produksi para perajin. Kerajinan JAS yang khas adalah patung orang mencar (menjala ikan di laut), orang dengan guwungan (sangkar) dan orang mancing. Ketua Perajin JAS untuk Desa Angantaka I Ketut Sutapa, S.E. mengatakan, bergairahnya kembali para perajin patung
di tiga desa tersebut mulai tampak setelah Bupati Badung lewat Dinas Pariwisata Daerah (Disparda) Badung membuat gebrakan pertengahan tahun 2011. Hotel dan vila yang ada di Badung wajib memajang patung JAS di setiap kamar hotelnya. Hal itu dikuatkan dengan penandatanganan MoU antara pemerintah dan industri hotel. Menurutnya, kebijakan itu sangat membantu perajin JAS dalam hal pemasaran dan tata kelola yang sebelumnya dirasakan sangat sulit. “Patung ini merupakan produk seni, kalau tidak dipromosikan dan disalurkan jarang orang akan tahu. Sebab, ini sebagai produk sekunder yang memang beda dengan makanan, orang pasti akan mencarinya,” ucap pemilik usaha Parisuda Wood Carver ini. Pada awalnya, terang Sutapa, dirinya dan para perajin lainnya tetap merasa takut untuk membangkitkan atau mengembalikan kejayaan patung JAS ditahun 1980-an. “Setelah MoU itu berjalan, masyarakat perajin memang benar-benar ingin kembali mendulang kejayaan yang pernah dialami sebelumnya. Mereka masih bisa membuat patung, walau mereka sekarang berprofesi sebagai tukang bangunan dan buruh lainnya,” paparnya. Hal senada dikatakan I Gede Budiyoga, Ketua JAS untuk Desa Sedang. Bahkan, pemerintah Badung lewat Disparda dan Disperindag bekerja sama dengan Asperinda (Asosiasi Perajin Daerah) Kabupaten Badung mengadakan pameran tetap di lantai bawah Kantor Dinas Pariwisata Badung. Semua hasil seni kerajinan masyarakat Badung termasuk JAS dipamerkan di sana.
Namun sayang, semua harapan itu pupus karena tidak semua akomodasi menjalankan kesepakatan itu. Hotel, vila atau akomodasi lainnya seakan tak peduli, sehingga semua hasil produksi menumpuk kembali. Perajin-perajin merasa kewalahan menampung tenaga kerja yang hasil karyanya tak bisa dijual. “Kalau saja sesuai dengan MoU itu bahwa setiap kamar hotel diwajibkan untuk satu patung, produksi tak akan menumpuk,” ujarnya. MoU itu ternyata tidak punya gigi. Kalau dipasarkan di artshop atau toko suvenir harganya tidak sesuai. Baik dari mahalnya bahan dasar dan dari segi pembuatannya. Nilai seni seakan tak berharga. Walau demikian, untuk menghargai para pematungnya, Yoga ataupun Sutapa tetap memasarkan hasil karya seni patung di pasar-pasar seni di Gianyar, Badung, Denpasar dan daerah lain di Bali. JAS juga sering mengirim produksinya ke luar Bali, seperti Jakarta dan Surabaya. Bahkan hingga ke luar negeri seperti Eropa, Amerika, Australia dan di beberapa negera di Asia. “Jika ada permintaan para pematung itu bisa kembali lagi bekerja. Kalau tidak, mereka mengambil pekerjaan lain,” ungkap Sekretaris Asperinda Badung ini kalem. Kalau boleh mohon kepada pemerintah, tambah Sutapa dan Yoga, sebagai perwakilan perajin JAS pihaknya berharap MoU di bawah naungan Dekaranasda dan Disparda itu dilanjutkan kembali. Dengan demikian, perajin JAS dengan khas karya patungnya itu bisa bernapas lagi. Saat ini, pemasaran memang dibutuhkan dari perajin JAS. Dengan adanya power pemerintah, hasil kerajinan JAS bisa laku. Sementara ini, promosi hanya bisa dilakukan lewat media TV dan media cetak. “Kalau bisa, juga membuat jalur travel, sehingga tamu bisa melintas di daerah JAS. Itu harapan kami untuk menghidupkan JAS kembali. Kami bisa bekerja, tetapi kalah dalam promosi,” pungkas mereka kompak. LAPORAN
11 | 11 - 17 November 2013
RP 20.000