Bali Post 20 April Aprrriiill 2014 Ap Apr 20 2 014 4 33 | 144 - 20 33
KPK Minta Kaji Ulang Program Raskin Raskin Banyak Kutu, Jadi Pakan Babi
RP R P 20.000 20 00 000 000 00
DAFTAR ISI KILAS BERITA ’’Melasti’’, Umat Hindu Padati Pantai 6 LAPORAN UTAMA KPK Minta
Kaji Ulang Program Raskin 8
Raskin Banyak Kutu, Jadi Pakan Babi 10 POLITIK Mengurai ’’Kejahatan’’
Klasik Masa Kampanye 12
EKONOMI Menata Kebijakan
Industri Manufaktur 14 OPINI Menjatuhkan Pilihan atas Caleg 16 JAJAK PENDAPAT Sulitnya Memutus Rantai Pasar Narkoba 17 PENDIDIKAN Pemda Diminta Subsidi Biaya Penelitian Guru 18 Pentingnya Yoga bagi Dunia Pendidikan 19 ADVERTORIAL Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, M.S. Sertifikasi Guru Agama Hindu Tuntas Tahun 2014 20
KRIMINAL Bakal Diservis, Seperangkat Gong Raib 32 Bawa SS ke Rutan Bangli,
Dua Kurir Diciduk34 lINGKUNGAN Das Pakerisan
Kualitas Air Menurun 36
PARIWISATA Pariwisata Bali Minim Anggaran Promosi 38 EVENT Hipnotis Penggemar 40 SENI Penari Topeng Sidakarya
Tak ”Mawinten”, Bisa Sakit 42
PROFIL Deasy Swandarini
Cinta Kasih kepada Alam 43
TRADISI ”Ngusaba Tipat”
Ungkapan Rasa Syukur Para Petani 44
PROPERTI Genteng Gelap untuk Rumah Minimalis 46 MANCANEGARA Mantan Pacar Menjadi Menteri 48 HIBURAN Mayadenawa ’’Punggel’’ Akhiri Tofest 2014 50
DAERAH Pedagang Tolak Pasar Negara Dibongkar 22 KESEHATAN DBD Merajalela Satu Orang
Bisa Terinfeksi Empat Kali 24
LENSA PEMILU LEGISLATIF 26 OLAHRAGA Menyingkap Sejarah Kelam 28 I Gede Subagiasa Kendala Peralatan 30 14 - 20 April 2014
3
DARI PEMBACA
DPR dan DPRD Harus �Bersih� K
etidakpercayaan rakyat terhadap para anggota DPR dan DPRD (tentu termasuk para caleg) begitu parahnya adalah hal yang sangat masuk akal. Semua itu karena tingkah polah para anggota DPR dan DPRD itu sendiri selama ini. Ketika mereka kampanye dulu digembar-gemborkan semuanya demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Namun setelah mereka berhasil duduk sebagai anggota DPR dan DPRD, apa yang terjadi? Ternyata jauh lebih banyak memperjuangkan kepentingan pribadi/bisnis dan partainya. Rakyat cuma kebagian kalau masih ada sisa (uang, waktu, tenaga dan pikiran). Mengingat salah satu fungsi DPR dan DPRD adalah mengawasi eksekutif (Pemerintah Pusat/Daerah) dan yudikatif dan tidak bisa sebaliknya, maka adalah syarat mutlak para anggota legislatif itu bersih paling dulu. Bilamana DPR dan DPRD ini terdiri dari insan-insan Indonesia yang bermoral baik, pintar, jujur, berani, dan tegas, maka untuk membersihkan eksekutif dan legislatif akan jauh lebih mudah. Selanjutnya kemiskinan, kebodohan dan kesengsaraan rakyat akan segera lenyap dari muka bumi Indonesia. I Gd. Dharmayuda Jl. Bunut Putih 25, Denpasar
Air PDAM Macet A
khir-akhir ini saya sering pulang ke desa baik dalam rangka persembahyangan maupun upacara lainnya namun hambatannya adalah air. Biasanya kalau normal air di Desa Ringdikit bisa mengalir dari pukul 01.00 sampai dengan 05.00 sehingga persiapan bak di kamar mandi bisa penuh dan dapat dipergunakan dalam sehari. Namun dua hari sebelum dan dua hari sesudah hari raya Nyepi air PDAM sama sekali tidak mengalir sehingga masyarakat ada yang mandi di sungai yang otomatis juga mengganggu khidmatnya masyarakat menjalankan tapa berata panyepian. Melalui surat ini saya dan teman-teman lain ingin mengetahui apa penyebabnya terjadi hal di atas. Mohon petugas terkait bisa menjelaskan dan kapan kira-kira airnya bisa mengalir seperti biasa. Ketut Seneng Ariyasa Jl. Nusa Kambangan No. 180 Denpasar
Habis Bayar Air Menghilang M
ohon kepada yang terhormat Bapak Bupati dan para anggota Dewan di Kabupaten Karangasem, jangan hanya sibuk mencari dukungan demi tercapainya kepentingan pribadi. Tetapi tolong juga perhatikan kondisi masyarakat Sangkan Gunung yang tengah mengalami krisis air bersih. Air PDAM mengalir hanya pada hari-hari menjelang tanggal pembayaran saja, habis bayar air menghilang. Bagaimana ini? I Ketut Sudiarta Desa Sangkan Gunung, Sidemen, Karangasem
4
Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Suana, Sueca, Yudi Winanto, Subrata, Budi Wiriyanto, Diah Dewi. Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Yudi Karnaedi, Wira Sanjiwani, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Rindra, Agustoni, Widana, Ngurah Kertanegara, Manik Astajaya, Komang Suryawan. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Dewa Kusuma, Mudiarta, Gianyar: Agung Dharmada, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan NTB Agus Talino, Syamsudin Karim, Izzul Khairi, Raka Akriyani Surabaya Bambang Wiliarto Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP
14 - 20 April 2014
4
5
KILAS BERITA
’’Melasti’’, Umat Hindu Padati Pantai
R
angkaian pelaksanaan Tawur Kasanga dan hari raya Nyepi tahun baru Çaka 1936 diawali dengan upacara melasti. Kegiatan melasti ini dilakukan oleh masing-masing desa pakraman sebagai simbol penyucian alam semesta (buana agung) dan diri sendiri (buana alit) yang bertempat di laut dan juga sumber air lainnya. Seperti yang terlihat di sejumlah pantai di Denpasar. Beberapa titik pantai di Denpasar, Jumat (28/3), sejak subuh telah dipadati umat Hindu untuk melaksanakan upacara melasti. Konsentrasi umat Hindu yang terbanyak terlihat di Pantai Padanggalak, Kesiman. Beberapa pratima dari masing-masing Pura Khayangan tiga di desa pakraman di Denpasar mulai memasuki pantai sejak subuh. Tampak Desa Pakraman Peraupan, Desa Pakraman Angantaka, Br. Kehen, Kesiman, serta banjar-banjar adat lainnya telah memadati Pantai Padanggalak sejak pagi. Sementara itu, Desa Pakraman Panjer yang melakukan melasti di Pantai Sanur telah tiba sekitar pukul 06.00 wita. Demikian pula di Pantai Mertasari yang merupakan ujung selatan pantai di Sanur ini juga dipadati umat Hindu yang melasti. Asmara
MBP/ara
Proyek Instalasi Penahan Abrasi Tanpa Izin
MBP/eka
“Mbed-mbedan” di Semate KRAMA wanita Desa Adat Semate saling menarik tali dalam tradisi mbed-mbedan di depan Pura Desa dan Puseh Desa Adat Semate, Mangupura, Selasa (1/4). Tradisi ini digelar bertepatan dengan perayaan Ngembak Geni. Eka Adiyasa
6
PEMKAB Klungkung menghentikan proyek instalasi penahan abrasi pantai di Pantai Lepang, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Pasalnya, proyek itu tak berizin. Pemkab meminta investor mengikuti prosedur di kabupaten, agar tidak mengundang masalah. Sebab, kalau hanya persetujuan dengan masyarakat di desa setempat itu belum cukup, tanpa izin dari Pemkab Klungkung. Hal itu disampaikan Bupati Klungkung Nyoman Suwirta, Kamis (27/3). Pihaknya mengaku sempat meninjau langsung proyek itu, atas berbagai laporan masyarakat kepadanya. Ternyata, proyek itu sama sekali belum mengatongi izin. Namun, sejumlah alat berat sejak sebulan lalu sudah beraktivitas di garis pantai setempat. “Saat saya ke sana, saya minta proyek itu dihentikan dulu. Silakan urus dulu izinnya. Sekarang, tidak bisa
main nyelonong saja bikin proyeknya,” katanya. Menurutnya, proyek yang berdampak luas terhadap lingkungan harus melewati kajian yang matang. Termasuk, bagaimana kajian UKL dan UPL-nya. Apalagi, informasi yang dia terima, pembangunan instalasi penahan abrasi itu hanya dibangun sepanjang 150 meter. Artinya, investor itu berupaya mengamankan proyek kondotel dan vilatel di lokasi itu saja. Praktis kawasan itu saja dilindungi dari ancaman abrasi. Dirut PT Dwa Investama Handoko P. Anggraito, mitra kerja dari PT Wika Realty, mengatakan penerapan penahan abrasi dengan cara ini sudah diterapkan di Riau dan Ancol. Hasilnya, cukup bagus dan ramah lingkungan. Penahan abrasi dengan cara ini diklaim dapat bertahan puluhan tahun. Bagiarta
14 - 20 April 2014
MBP/gie
6
Dewan Minta PT GEB Hentikan Proyek PLTU Celukan Bawang SEJUMLAH masalah masih menghambat jalannya megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak. Pihak kontraktor menggali bibir pantai di lokasi inti proyek untuk pemasangan pipa di bawah laut. Sayangnya, material pengerukan ini dibuang ke tengah laut. Selain itu, salah satu bangunan di lokasi inti juga belum berizin dan melanggar aturan sempadan pantai. Informasi yang dikumpulkan menyebutkan pihak kontraktor Cina Hudian Engineering Corporation (CHEC) sejak sebulan terakhir ini melakukan penggalian dari bibir pantai hingga ke tengah laut sepanjang 600 meter. Rencananya, setelah penggalian itu akan ditanam pipa raksasa. Material hasil galian itu justru dibuang ke tengah laut. Kontan saja, aktivitas penggalian tersebut tercium oleh aparat penegak hukum dan juga kalangan DPRD Buleleng. Bahkan, DPRD Buleleng bersama
aparat Polres Buleleng sempat turun ke lokasi dan menemukan aktivitas penggalian dan materialnya dibuang ke tengah laut. Ketua Dewan Dewa Nyoman Sukrawan, mengatakan, PT GEB telah melakukan pelanggaran dalam proses pembangunan PLTU Celukan Bawang. Atas pelanggaran itu, dewan memerintahkan eksekutif untuk menghentikan penggalian laut dan pembangunan gedung tanpa izin dan melanggar sempadan pantai tersebut. Keputusan untuk penghentian sementara pengerjaan di PLTU hingga PT GEB bersama kontraktornya melengkapi perizinan yang diperlukan. Perwakilan PT GEB saat menanggapi tudingan dewan tersebut mengaku sudah sempat memperingatkan kontraktor CHEC untuk menghentikan pembangunannya karena izin belum terbit. Hanya peringatan itu justru tidak diindahkan oleh CHEC dan tetap melakukan pengerjaan. Mudiarta
MBP/mud
MBP/gie
“Lukat Gni” Awali Nyepi di Paksebali ADA banyak cara digunakan warga untuk menyambut hari raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1936. Selain pengarakan ogoh-ogoh, warga Puri Satria Kawan, Desa Paksebali Kecamatan Dawan, Klungkung, menggelar tradisi Lukat Gni atau populer dengan nama perang api, Minggu (30/3). Tujuannya sama, untuk menetralisasi unsur negatif, sebelum warga melaksanakan catur brata panyepian. Tradisi ini dipusatkan di catus pata Desa Paksebali. Lukat Gni adalah sebuah prosesi “peperangan” dengan sarana api dari daun kelapa kering. Daun kelapa tersebut selanjutnya diikat dan dibakar kemudian dihantamkan oleh masing-masing warga kepada lawannya. Meski terkena percikan api, namun tidak menimbulkan luka yang serius dan dendam di antara peserta. Pelaksanaannya melibatkan warga setempat terutama generasi muda. Untuk tahun ini setidaknya 20 pasang pemuda dari STT Sabha Mandala ikut ambil bagian dalam perang api tersebut. Pemangku Merajan Agung Puri Satria Kawan A.A. Gde Oka Mangku mengatakan, Lukat Gni merupakan tradisi turun-temurun yang ada di wilayahnya. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam beserta isinya serta diharapkan mampu menetralisasi kekuatan-kekuatan negatif yang dapat mengganggu pelaksanaan catur brata panyepian. Bagiarta 14 - 20 April 2014
7
7
LAPORAN UTAMA
KPK Minta Kaji Ulang Program Raskin
K
PK mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang program subsidi beras bagi masyarakat berpenghasilan rendah karena banyak terjadi penyimpangan sehingga tidak tepat sasaran. “Kami menemukan persoalan-persoalan seperti desain program raskin yang tidak komprehensif dan efektif,” kata Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas, Kamis. Menurut dia, temuan KPK di lapangan menemukan program subsidi untuk masyarakat miskin tersebut tidak memenuhi unsur-unsur penanda keefektifan program berupa 6T yaitu tepat sasaran, tepat jumlah, tepat mutu, tepat waktu, tepat harga, dan tepat administrasi. Beberapa permasalahan itu, kata Busyro, disebabkan tidak adanya pelibatan pemerintah daerah dalam penyusunan daftar rumah tangga sasaran-penerima manfaat (RTS-PM). Akibatnya data masyarakat miskin menjadi kurang akurat sehingga memicu adanya rakyat miskin yang tidak menerima raskin. “Ada kasus seperti pejabat di Jawa Timur yang menerapkan kebijakan ‘bagito’ atau ‘bagi roto’ (bagi rata) sampai pada yang seharusnya menerima 15 kilogram raskin menjadi hanya dapat 5 kg-10 kg,” katanya. Atau permasalahan lain terkait raskin yang dijual di atas harga yang seharusnya Rp 1.600 per kg. Meski begitu, harga itu terkadang lebih tinggi karena faktor biaya distribusi beras yang tidak ditanggung. Dengan kata lain tidak adanya biaya transportasi dari titik distribusi ke titik bagi sehingga petugas membebankan biaya distribusi ke biaya tebus beras. “Kajian subsidi beras raskin oleh KPK ini merupakan bagian dari pencegahan tindak pidana korupsi. Tujuannya sederhana untuk persoalan-persoalan hilir dan hulu. Sekaligus hasil kajian dapat menjadi bahan untuk perbaikan dan segera ditindaklanjuti,” kata dia. Di Bali realisasi penyaluran beras untuk masyarakat miskin (raskin) yang berada di delapan kabupaten dan satu kota di daerah Bali sudah mencapai lebih dari 30.433 ton atau 89,4 persen hingga 19 November 2013. “Masyarakat yang berhak menerima jatah raskin antusias, walaupun harus membayar saat menerima beras dalam jumlah yang sudah ditentukan,” kata Kepala Perum Bulog Divisi
8
Regional Bali Gede Rempiana. Jumlah beras untuk masyarakat tersebut termasuk jatah tambahan tiga bulan hingga bulan ke-15 selama tahun 2013 sebagai upaya meringankan rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTS-PM) akibat adanya kenaikan harga BBM bersubsidi. Penerima beras raskin di Bali, saat ini tercatat 151.924 KK Rumah Tangga Sasaran (RTS), tersebar di 715 desa yang berada di 56 kecamatan mendapat alokasi beras 34.007 ton dan diharapkan akhir tahun sudah terealisasi seluruhnya. Gede Rempiana mengatakan, jumlah beras yang sudah dibagikan kepada mereka yang berhak hingga pertengahan November 2013 mencapai 30.433 ton atau 89,4 persen atau lagi 3.574 ton dan diharapkan sudah terealisasi seluruhnya sebelum pergantian tahun. Dari jumlah raskin yang direalisasikan di Bali selama periode 2013 hingga pertengahan November, masyarakat Kabupaten Buleleng menerima paling banyak yakni sebanyak 9.457 ton menyusul Kabupaten Tabanan 4.300 ton. Gianyar yang terkenal sebagai gudang seniman di Bali penerima jatah raskin yang terbanyak ketiga yakni 3.781 ton, kemudian masyarakat di daerah Karangasem menerima 3.658 ton, dan Denpasar paling sedikit hanya 735 ton. Badung sebagai kabupaten terkaya di daerah ini berkat penerimaannya yang besar dari sektor pariwisata, masih memiliki kantong-kntong kemiskinan dengan 10.536 RTM menerima beras murah sebanyak 1.846 ton hingga 19 November 2013. Masyarakat penerima beras murah tersebut cukup bergairah untuk membelinya sehingga pensuplaiannya sebagian besar ke daerah pedesaan di Bali, juga relatif lancar baik termasuk pembayarannya dari masyarakat. Kelompok masyarakat penerima beras murah harus membayar sesuai waktu yang ditetapkan, dan jika terlambat beras tidak dikirimkan oleh sebab itu pembayaran beras untuk masyarakat kurang beruntung itu sangat lancar. Pagu alokasi penyaluran raskin di wilayah Provinsi Bali pada 2013 sebesar 27.346.320 kg atau turun sekitar 14 persen dari pagu 2012.
MBP/dok
Busyro Muqoddas
Berdasarkan data hasil PPLS 2011, Bulog telah menerima pagu alokasi penyaluran raskin di Bali pada tahun 2013 mencapai 27.346.320 kg untuk 151.924 rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTS-PM). ‘’Alokasinya turun sekitar 14 hingga 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya seiring turunnya jumlah penerima manfaat di tahun 2013,’’ tuturnya. Dia mengatakan, jumlah rumah tangga sasaran (RTS) penerima manfaat (PM) raskin tahun 2013 di Provinsi Bali mencapai 151.924 RTS-PM atau turun dibandingkan tahun 2012 sebanyak 180.862 RTS-PM. “Dengan alokasi setiap RTS-PM akan mendapatkan raskin sebanyak 15 kg/bulan selama 12 bulan, dengan harga beras Rp 1.600/kg di setiap titik distribusi,’’ terangnya. Parwata
14 - 20 April 2014
8
Buleleng 42.075 KK
Jembrana 10.953 KK Bangli 10.529 KK Karangasem 24.063 KK
Jumlah KK Penerima Raskin 2013
Tabanan 19.114 KK
Gianyar 21.279 KK
Badung 10.979 KK
Klungkung 9.431 KK
Denpasar 3.501 KK
Persentase Penduduk Miskin di Provinsi Bali
Menurut Klasifikasi Daerah Tahun 2003-2013 7,34%
6,85%
6,72%
7,08%
6,63%
KOTA + DESA 6,17% 5,13%
2003
2004
2005
2006
2007
2008
4,88%
2009
2010
4,20% 4,18%
2011
3,95%
2012
2013
Jumlah Penduduk Miskin di Provinsi Bali
Menurut Klasifikasi Daerah Tahun 2003-2013 (dalam ribu jiwa)
KOTA 99,7
87,0
105,9
127,4 119,8 115,1
92,1 83,6
92,9
91,4 96,4
KOTA + DESA 246,1 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 146,4 144,9
DESA 122,5 116,0 109,3 100,6 89,7
91,3
73,3 77,4
243,5
229,1
215,7 181,7 174,9 166,2 168,8 162,5
66,2
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 sumber : BPS Provinsi Bali (berdasarkan hasil Survei Ekonomi Nasional - Maret)
231,9 228,4
2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 grafik/ilustrasi : adi sudianggara/BaliPost
9
LAPORAN UTAMA
Raskin
Banyak Kutu, Jadi Pakan Babi
P
emerintah tidak pernah berhenti memberikan perhatian untuk memakmurkan rakyatnya. Optimalisasi dan efisiensi programprogram yang melindungi rakyat bawah terus digalakkan. Hal tersebut sebagai bentuk kewajiban yang harus dilaksanakan pemerintah sebagaimana yang terlihat dalam program beras untuk rakyat miskin atau yang lebih dikenal dengan raskin. Raskin merupakan program pemerintah untuk memerankan fungsi sejati negara terhadap keamanan pangan rakyatnya. Program ini berupaya memenuhi ketersediaan pangan rakyat sehingga tidak ada lagi rakyat yang kelaparan akibat kurangnya akses pangan. Tindakan semacam ini menjadi penting di tengah usaha pemerintahan dalam menekan angka kemiskinan yang sudah tercipta pada pemerintahan sebelumnya. Namun, niat baik yang diwujudkan dalam program raskin tersebut, tak berbuah manis ketika terimplementasi di lapangan. Banyak penyimpangan. Bahkan KPK melalui Wakil Ketuanya KPK Busyro Muqoddas menilai didistribusi raskin banyak penyimpangan. Tak hanya distribusi tak tepat sasaran, kualitasnya juga tak memadai. Seperti yang terjadi di Buleleng dan Bangli. Warga kurang mampu di Kabupaten Buleleng mengeluh setelah menerima beras dengan kualitas jelek. Raskin tersebut terpaksa tidak dimasak oleh warga. Raskin berwarna kuning tua dan bercampur kutu serta bau apek. Informasi dikumpulkan di lapangan pekan lalu menyebutkan, warga mengetahui raskin tidak layak dimasak itu ketika ada pembagian raskin di kantor perbekel. Ketika akan dimasak, raskin kualitasnya jelek dan tidak layak dimasak. Butiran beras tampak kecil, dan masih bercampur dedak. Tak hanya itu, raskin yang diterima warga warnanya kuning tua dan ada kutunya. Akibatnya, warga terpaksa tidak mengonsumsi raskin tersebut dan jatah raskin yang mereka terima dijadikan pakan ayam dan itik yang mereka pelihara. I Made Budiasa (27), warga Dusun
10
Mandul, Desa Panji, Kecamatan Sukasada menuturkan, raskin baru diterima dua hari lalu setelah ada pembagian dari klian dusun (kadus). Dia menerima delapan kilogram. Ketika raskin tersebut akan dimasak, Budiasa melihat raskin bercampur dedak dan warnanya kuning. Bahkan, raskin tersebut mengeluarkan bau apek, sehingga dia tidak berani memasak karena khawatir nasinya tidak layak konsumsi. Agar tidak rugi, raskin tersebut kemudian dijadikan pakan ternak ayam peliharaannya. “Saya kira raskinnya bagus seperti yang saya terima sebelumnya. Daripada dipaksakan dimasak tapi nasinya tidak enak dimakan, saya pakai pakan ternak saja,” ujarnya. Tidak hanya di Desa Panji, kualitas raskin yang tidak layak konsumsi juga ditemukan di Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar. Warga kurang mampu yang menerima raskin mengeluh dan terpaksa tidak memasak raskin yang mereka terima. Seorang warga I Gede Sujana menuturkan, raskin yang diterima warnanya kusam dan bercampur kutu. Dia sudah berusaha untuk membersihkan, namun karena banyaknya kotoran sehingga raskin tidak jadi dimasak dan dirinya memilih membeli beras di kios yang kualitasnya lebih bagus dibandingkan raskin. “Daripada anakanak kami sakit setelah mengonsumsi raskin seperti ini lebih baik saya beli beras yang lebih bagus saja,” katanya. Perbekel Tigawasa, Kecamatan Banjar I Putu Murtika ketika dimintai konfirmasi membenarkan dirinya menerima pengaduan dari warga terkait kualitas raskin yang tidak layak konsumsi. Murtika mengatakan, laporan yang diterimanya itu datang dari beberapa warga kurang mampu yang tercatat sebagai penerima raskin. Dia sedang menelusuri warga lainnya untuk memastikan kualitas raskin yang diterima warga. Laporan ini akan ditindaklanjuti kepada tim raskin di kabupaten. “Kalau dari laporan yang masuk kualitas berasnya ada yang bagus ada yang jelek. Kami masih menelusuri dan setelah ini akan kita laporkan ke kabupaten agar keluhan warga kami bisa ditangani,”
katanya. Beras bantuan untuk rakyat miskin (raskin) yang dibagikan pemerintah melalui Bulog untuk warga Desa Undisan, Tembuku, Bangli juga kualitasnya tak jauh berbeda. Beras yang dibagikan kepada 143 KK di tujuh banjar itu berwarna kekuningan dan bercampur dedak. Diduga, beras tersebut merupakan stok lama. Oleh sebagian besar warga penerima raskin, beras tersebut banyak dijadikan makanan ternak. Berdasarkan informasi yang dihimpun pekan lalu, raskin dengan kondisi serupa hampir diterima dalam setiap kali pembagian. Meski kebanyakan warga menjadikannya makanan babi dan ayam, namun bagi warga yang benarbenar miskin, ada yang terpaksa masih mengonsumsinya. Hanya, untuk bisa dikonsumsi beras yang bercampur dedak itu harus dicampur dengan beras bagus. Selain banyak dijadikan makanan ternak, warga penerima raskin ada juga yang menjadikannya sebagai pangkonan untuk sarana upacara di pura desa. Kondisi tersebut diakui Perbekel Desa Undisan, Ketut Suardika, yang didampingi Kadus Lokasari, Made Sudiarta. Pihaknya tidak menampik bahwa kualitas beras yang diterima warganya tersebut memang kurang layak untuk dikonsumsi. “Tahun lalu, kondisi beras yang dikirim Bulog bagus, tetapi sejak beberapa bulan ini kualitasnya sangat jelek. Di samping warnanya kekuningan, beras juga bercampur dedak,” ungkapnya. Dijelaskannya, raskin yang dijatah 15 kilogram dalam setiap bulannya untuk masing-masing warga miskin tersebut diberikan dengan harga Rp 1.600 per kilogram. Sementara jumlah rumah tangga miskin (RTM) penerima raskin yang ada di desanya ada 143 KK yang tersebar di tujuh banjar. Pihaknya berharap ke depan, pemerintah bisa memberikan beras dengan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya. Sehingga raskin yang diterima warga kurang mampu benar-benar bisa dikonsumsi. Swasrina/Mudiarta
14 - 20 April 2014
10
KK miskin di Karangasem.
MBP/dok
14 - 20 April 2014
11
POLITIK
Mengurai ’’Kejahatan’’ Klasik Masa Kampanye
M
asa kampanye belum benarbenar bebas dari pelanggaran dan mobilisasi PNS. Kejahatan klasik masa kampanye mulai dari pembakaran baliho, mobilisasi Pegawai Negeri Sipil hingga tidak netralnya aparat pemerintahan masih terjadi di manamana. Bahkan, sepanjang masa kampanye, berbagai bentuk pelanggaran ditemukan Panwaslu. Sejumlah oknum PNS dan perbekel berulang kali dipergoki Panwaslu menghadiri kampanye caleg dan partai tertentu. Bahkan, ditemukan ada yang mengarahkan dukungan masyarakat ke caleg dan parpol tertentu. Ketua Panwaslu Klungkung Komang Artawan, bahkan mengakui adanya sejumlah pelanggaran itu. Soal pembakaran baliho, bahkan sudah ditindaklanjuti dan mendapat vonis Pengadilan Negeri Semara-
12
pura. Kedua terdakwa, Kadek Wirawan dan Made Ariawan, warga asal Pagutan, Kecamatan Banjarangkan, divonis denda satu juta rupiah dan masa percobaan selama delapan bulan. Keduanya terpaksa berurusan dengan pihak berwajib, setelah sebelumnya dengan sengaja membakar salah satu baliho milik caleg PDI-P Dapil Banjarangkan Ngakan Nyoman Muliawan. Selain itu, sepanjang masa kampanye ini, Panwaslu juga menemukan unsur pelanggaran, seperti saat kampanye caleg mengundang seluruh perbekel di Klungkung. Panwaslu pun langsung melakukan tindakan pencegahan, dan meminta para perbekel meninggalkan lokasi kampanye. Meski sudah “diusir”, namun faktanya sejumlah perbekel masih membandel. Dalam UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD, Pasal
86 ayat (2), sudah tegas menjelaskan, pelaksana kampanye dalam kegiatan kampanye pemilu, dilarang mengikutsertakan ketua, wakil ketua, ketua muda, hakim agung pada Mahkamah Agung, dan hakim pada semua badan peradilan di bawah Mahkamah Agung, serta hakim konstitusi pada Mahkamah Konstitusi. Selain itu, ketua, wakil ketua, dan anggota Badan Pemeriksa Keuangan, Gubernur, Deputi Gubernur Senior, dan Deputi Gubernur Bank Indonesia, kemudian direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, juga dilarang. Berikutnya, Pegawai Negeri Sipil (PNS), anggota Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, kepala desa atau perbekel dan perangkat desa, juga dilarang.
14 - 20 April 2014
12
Namun, kenyataannya banyak kegiatan yang tidak mengindahkan aturan ini. Selain oleh perbekel, juga jajaran PNS. Bahkan, organisasi PNS, non-PNS seperti PGRI Klungkung, justru mengundang caleg dari partai tertentu dalam kegiatan rapat urusan peningkatan kompetensi guru. Meski sempat dipelototi Panwaslu, namun temuan pelanggarannya tidak dapat diteruskan penanganannya karena minim bukti-bukti. Di kabupaten lainnya, Tabanan dan Gianyar kasusnya sama saja. Pelanggaran klasik masa kampanye ini masih terjadi. Di Tabanan, selama masa kampanye pemilihan legislatif (pileg) setidaknya lebih dari 4.000 pelanggaran ditemukan panitia pengawas pemilu (Panwaslu) setempat. Ketua Panwaslu Tabanan Made Rumada mengatakan, pelanggaran-pelanggaran itu meliputi alat peraga kampanye dipasang di pohon dengan cara dipaku, serta dipasang melanggar zona yang ditentukan. “Hasil pengawasan yang paling banyak melanggar adalah kampanye melalui alat peraga kampanye, dan kebanyakan caleg-caleg yang melanggar. Karena peraturan KPU 15/2013 sudah diatur berbeda dengan pemilu sebelumnya,
tidak boleh memasang baliho sembarangan harus ditentukan. Ini yang paling banyak dilanggar,� jelasnya. Selain melanggar zonasi, pelanggaran lainnya yakni terkadang baliho dipasang di ranah publik, seharusnya hanya diperbolehkan dipasang di ranah pribadi. Tidak hanya pelanggaran berupa alat peraga kampanye, pelanggaran juga dilakukan oleh sejumlah caleg yang mencuri start di media. “Kami juga menemukan sejumlah caleg mencuri start di media cetak maupun elektronik, entah mereka pura-pura tidak tahu atau memang benar tidak tahu jadwal kampanye. Tetapi tetap kami tegur dan mereka sadar,� ujarnya. Sementara di Gianyar pelaksanaan kampanye pemilu legislatif nihil pelanggaran yang bersifat pidana. Panwaslu Kabupaten Gianyar hingga kini belum menerima pengaduan masyarakat atau temuan di lapangan terhadap pelanggaran yang bersifat pidana. Namun, prihal pelanggaran yang bersifat administrasi yang dilakukan oleh peserta pemilu legislatif, terinventarisasi sebanyak 719. Ketua Panwaslu Kabupaten Gianyar Wayan Hartawan mengatakan, 719 pelanggaran yang bersifat administrasi yang ada
selama ini kebanyakan dalam pemasangan APK (alat peraga kampanye). Semua temuan pelanggaran itu telah direkomendasikan ke KPU, meski masih ada beberapa pelanggaran yang belum ditindaklanjuti. Pelanggaran yang terjadi akibat pemasangan APK yang dilakukan di luar zona pemasangan yang ditetapkan oleh KPU, fasilitas umum, dan merusak pohon. Sementara berkaitan dengan pelanggaran yang bersifat pidana, memang ada beberapa informasi berkenaan dengan hal itu. Terutama dalam kegiatan pemberian bansos. “Hal ini yang sedang kami telusuri. Sepanjang tidak ada ajakan memilih sebagaimana diatur dalam Pasal 89 UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Larangan Kampanye, tentunya tidak bisa dikenakan UU Pemilu. Dalam melakukan pengawasan terhadap tahapan pemilu legislatif, Panwaslu Kabupaten Gianyar melibatkan tim pengawas kecamatan dan 170 PPL (Pengawas Pemilu Lapangan). Mereka ini nantinya akan mengawasi pelaksanaan pemilu di 1.061 TPS yang tersebar di Kabupaten Gianyar. Dharmada/Puspadewi/Bagiartha
13
EKONOMI
Suasana salah satu terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Menteri Perdagangan menyatakan struktur ekspor semakin sehat dengan kontribusi ekspor produk manufaktur yang mendominasi ekspor nonmigas.
Menata Kebijakan Industri Manufaktur
M
elorotnya ekspor nasional membuat pemerintah melirik industri manufaktur. Pemerintah menyatakan akan mempermudah industri manufaktur dalam melakukan perdagangan ke luar negeri untuk meningkatkan ekspor nasional. “Pada intinya pemerintah ingin menjabarkan permintaan para pengusaha, demi meningkatkan ekspor,” kata Menteri Perindustrian MS Hidayat. Menurutnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia meminta agar ada pembatasan impor terhadap barang-barang yang tidak diperlukan, serta melakukan penertiban jalur distribusi. Menyikapi langkah ini, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Harry Azhar Azis mendesak pemerintah menambah anggaran sebagai langkah nyata dalam
14
14 - 20 April 2014
upaya membenahi sektor infrastruktur nasional. Langkah ini secara tak langsung akan mendorong tumbuhnya industri manufaktur. “Meski sudah berkali-kali mengakui infrastruktur sebagai masalah serius, namun anggaran yang dialokasikan tidak sesuai kebutuhan,” kata Harry. Menurutnya, pengalokasian anggaran untuk infrastruktur yang tidak sesuai kebutuhan dapat membuat berbagai pihak mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam membenahi infrastruktur. Ia menegaskan, infrastruktur dinilai merupakan kebutuhan mendasar saat ini dan sangat penting bagi keberlangsungan ekonomi Indonesia ke depan. Bila tidak segera dibenahi, ujar dia, maka permasalahan infrastruktur bukan hanya mempersulit masyarakat tetapi
juga akan merugikan para pelaku usaha termasuk di sektor manufaktur. DPR dan pemerintah telah menyetujui Rancangan Undang-undang (RUU) APBN 2014 menjadi UU pada 25 Oktober 2013. Dalam APBN 2014 tersebut ditetapkan, belanja negara mencapai Rp 1 842,49 triliun. Jumlah tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp 1.249,94 triliun dan transfer ke daerah Rp 592,55 triliun. “Ironisnya, khusus belanja pusat, masih didominasi subsidi untuk energi yang mencapai Rp 282,10 triliun. Selain itu, juga biaya gaji pegawai, pembayaran utang, beban bunga, serta belanja barang. Sedangkan anggaran infrastruktur 2014 dialokasikan Rp 188,7 triliun, naik sedikit saja dari tahun ini Rp 184,3 triliun. Hardianto
Optimalisasi Investasi Industri Atasi Pengangguran BERBAGAI terobosan harus dilakukan pemerintah untuk menekan angka pengangguran. Selain mendukung lahirnya wirausahawan muda, kini pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus meningkatkan investasi industri dalam negeri. Langkah ini diharapkan bisa menyerap angkata kerja yang belum terserap dalam pasar kerja. “Kemenperin menetapkan sasaran utama pembangunan industri antara lain pertumbuhan pengolahan nonmigas sebanyak 6,5 persen, penyerapan tenaga kerja sektor industri sebanyak 400 ribu orang, meningkatnya ekspor sektor industri hingga mencapai 125 miliar dolar Amerika Serikat (AS), serta investasi Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 12 miliar dolar AS, dan investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp 42 triliun,” kata Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun. Oleh sebab itu, Kemenperin melakukan percepatan pertumbuhan industri melalui “Akselerasi Industrialisasi 2012-2014” untuk mendorong pertumbuhan sektor indsutri sebagai katalis utama meningkatkan pertumbuhan
ekonomi nasional. Akselerasi dilakukan melalui lima strategi utama yakni hilirisasi sumber daya alam sebagai bahan mentah menjadi produk yang bernilai tambah di dalam negeri, mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing industri dalam negeri, mendorong partisipasi dunia usaha dalam pembangunan infrastruktur, percepatan proses pengambilan keputusan untuk menyelesaikan hambatan birokrasi dan meningkatkan integrasi pasar domestik. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2013 mencapai 118,2 juta orang, berkurang tiga juta orang dari jumlah angkatan kerja pada Februari 2013. Namun, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Agustus 2013 mencapai 6,25 persen atau meningkat dari Februari 2013 yang tercatat 5,92 persen dan Agustus 2012 sebesar 6,14 persen. Kepala BPS Suryamin menjelaskan, selama setahun terakhir sektor yang mengalami penurunan jumlah pekerja antara lain sektor pertanian (2,08 persen), konstruksi (7,51 persen)
dan industri (3,19 persen). “Jumlah tersebut dibandingkan Agustus tahun lalu bertambah 140 ribu orang,” kata Suryamin. Sementara sektor jasa kemasyarakatan jumlah pekerjanya meningkat 6,49 persen atau 1,1 juta orang, sektor perdagangan 2,5 persen atau 580 ribu orang dan sektor keuangan 9,4 persen atau 250 ribu orang. “Secara keseluruhan, ketiga sektor ini secara berurutan masih menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja di Indonesia,” ujar Suryamin. Dijelaskannya, dari seluruh angkatan kerja tersebut, jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 110,8 juta orang, berkurang 3,2 juta orang dari jumlah angkatan kerja yang bekerja pada Februari 2013. Pada Agustus 2013, penduduk bekerja pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah masih mendominasi, yaitu 52 juta orang atau 46,95 persen, pada jenjang pendidikan diploma 2,9 juta orang atau 2,64 persen dan pendidikan universitas 7,6 juta orang atau 6,83 persen. Hardianto
OPINI
Menjatuhkan Pilihan atas Caleg
D
i masa yang demikian gonjang-ganjing setelah melewati masa reformasi politik setelah runtuhnya otoritas yang dilabeli Orde Baru kita dihadapkan kepada kenyataan penuh janji untuk menata ulang tatanan bernegara dan berkebangsaan di Republik tercinta ini. Janjijanji perbaikan yang ditabur dalam pesta demokrasi lima tahunan yang luas dikenali sebagai pemilu atau pemilihan umum untuk wakil-wakil legislatif. Wakil-wakil ini yang diharap akan mewakili konstituen atau kepentingan warga daerah pemilih para caleg. Karena demikian banyak anggota caleg yang bersaing di antara mereka sendiri untuk menduduki jabatan wakil tentulah mereka harus menawarkan kiat-kiat yang jitu lewat janji untuk perbaikan dalam segala jenis bentuk kehihupan anggota masyarakat. Tidaklah terlalu mengherankan bila untuk menarik simpati calon pemilih caleg ini menabur janji-janji yang menyangkut perbaikan atau kemajuan perikehidupan warga dan perikehidupan penataan berwarga dalam suatu paguyuban (Apakah itu yang disebut desa, kabupaten, kota, provinsi, atau republik). Berdasar penilaian permukaan (face value) lewat pemakaian retorika atau ungkapan bahasa yang mengena tampaknya janji-janji yang ditebar para caleg akan dipenuhi bila mereka terpilih dan bisa menduduki jabatan sebagai wakil di badan legislatif sebagai legislator. Secara umum bisa dibuat dua kategori kelompok di sini: kelompok pemilih dan kelompok yang dipilih. Pemilih sudah pastilah akan dibujuk sedemikian rupa oleh para caleg (yang akan dipilih) agar menjatuhkan pilihan pada diri mereka sebagai wakil di badan legislasi atau perundangan. Bujukan ini harus diwaspadai agar pemilih tidak kecele nantinya atas performa pilihannya bila telah benarbenar berfungsi. Sebelum menjatuhkan pilihan waktu pencoblosan pada hari
16
14 - 20 April 2014
H sekarang masih ada waktu untuk bertimbang-timbang atas antara lain ihwal berikut ini. Apakah pilihan yang akan dijatuhkan pada wakilnya telah mumpuni dalam menimbang-nimbang peraturan yang telah ada. Apakah sebuah peraturan sudah memadai untuk masa 5 - 10 tahun menadatang. Ambil saja masalah seperti pembuatan senderan sungai yang dilakukan di banyak bantaran sungai (terutama loloan atau muara) yang sering menjadi sumber masalah bagi lingkungan ďŹ sik pawongan. Apakah mereka paham benar akan konsep DAS (daerah aliran sungai) yang bila tidak dikelola dengan teliti dan bijak akan menimbulkan dampak tidak kecil? Pemahaman perihwalan seperti ini harus diyakini benar oleh para pemilih atas caleg yang diyakini benar akan sesuai dengan aspirasinya. Dampak masa depannya (benar atau salah atas sebuah pengaturan atau legislasi agar tidak diserahkan kepada lembaga peradilan untuk memutuskannya.)
Senyampang dengan ihwal ini adalah masalah lingkungan yang lain. Pada awal-awal sebuah fenomena P alam, seperti gunung meletus, di mana bebatuan berupa pasir, kerikil m dan bongkahan batu besar-besar yang terlontar, sering dianggap sebagai t laknat karena memang material ini l menghancurkan apa saja. Namun m sesuai perjalan waktu, selah masa 3-4 dasawarsa material yang menumpuk jutaan ton jumlahnya dianggap sej bagai rahmat, sebagai sumber PAD b (Pendapatan Asli Daerah). Bisa diperiksa banyak kawasan di Bali bagian tengah dan timur bagaimana b lingkungan yang dieksploitasi demi l PAD ini telah rusak berat. PertanP yaannya sekarang adalah, apakah y para p caleg yang akan kita pilih nanti akan mampu menyuarakan tuntutan atas perlindungan lingkungan ini untuk dituangkan dalam bentuk legu islasi yang akan ‘disungkemi’ oleh i pelaksana dan pengawas legislasi dan p para p pemodal? Masalah lingkungan seperti ini tampaknya sepele tetapi sejatinya t tidaklah demikian. Dampaknya bagi lingkungan dan manusia di lingkungan kawasan tersebut akan sangat besar di masa 10 -30 tahun ke depan. Memang apa yang diketengahkan di sini adalah acak (sporadis) dan tidak didukung data angka (statistik). Sudah tentu para caleg harus memiliki data akurat mengenai ihwal ini. Pertanyaan berikut bagi pemilih adalah, apakah para caleg yang akan dipilih sudah berpikir ke arah ini atau memang sudah memiliki gambaran pengaturan atas lingkungan seperti di atas telah ada dalam benak mereka? Syukurlah bila mereka memiliki pemikiran pengaturan untuk masalah-masalah seperti ini. Tetapi, bila tidak, pemilih harus siap gigit jari dan menunggu hingga 5 tahun lagi agar bisa menemukan wakil yang pas sesuai aspirasinya. Penulis, Guru Besar Linguistik Fakultas Sastra dan Budaya Unud
J A J A K P E N DA PAT
Sulitnya Memutus Rantai Pasar Narkoba
B
ali sebagai destinasi pariwisata menjadi surga bagi pelaku kejahatan dalam pemasaran narkoba. Ribuan kasus narkoba telah terungkap, namun pasar gelap narkoba di Bali tetap marak. Bahkan, kasus penyelundupan narkoba barang buktinya makin besar. Peredaran narkoba di Bali pun makin mengkhawatirkan. Kinerja aparat dan petugas Badan Narkoba Nasional (BBN) dalam menangkap para bandar dan pengedar narkoba masih mengecewakan. Bahkan, mereka mengaku kesulitan memutus rantai pasar narkoba. Pelaku kejahatan makin lihai. Ada kesan, perdagangan narkoba justru mendapat ‘’perlindungan’’ dari pihak-pihak yang menikmati keuntungan dari transaksi barang haram ini di Bali. Buktinya, Lembaga Pemasyarakatan yang mestinya steril dari peredaran narkoba malah menjadi tempat nyaman bagi para bandar mengendalikan anak buahnya. Menyikapi peredaran narkoba di Bali, Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat di seluruh Bali. Jajak dilakukan dengan mengajukan kuisioner dan wawancara via telepon. Berdasarkan tabulasi atas jawaban responden, dominan responden meyakini peredaran narkoba di Bali belum ditindak secara tegas. Bahkan, banyak kalangan menilai masih ada pihak yang bermain dalam pemasaran narkoba di Bali. Berikut rangkuman selengkapanya. Terkait dengan kinerja aparat dalam menindak peredaran narkoba, terdapat 50 persen responden yang menilai bahwa pemberantasan narkoba di Bali belum berjalan efektif. Polisi dinilai gagal mengungkap jaringan peredaran narkoba di Bali. Keberadaan BBN juga tak membuat peredaran narkoba ini tiarap. Selama ini yang ditangkap baru sekelas pengedar dan pemakai saja. Selebihnya terdapat 31 persen responden lainnya menilai penindakan terhadap peredaran narkoba di Bali sudah digulirkan secara efektif. Kesan penindakan tidak efektif karena luasnya wilayah edar dan terus bergantinya strategi pemasaran narkoba. Hal inilah yang membuat polisi dan petugas BBN sering kecolongan. Sedangkan 19 persen responden lainnya tak memberikan respons atas pertanyaan, apakah pemberantasan narkoba di Bali sudah dilakukan secara serius dan efektif? Di lain pihak, 54 persen responden justru menilai penindakan terhadap peredaran narkoba sarat permainan. Buktinya banyak napi di Bali justru menjadi pengendali peredaran narkoba. Bahkan, ada oknum polisi malah terlibat kasus narkoba. Lembaga Pemasyarakatan yang sering dikaitkan dengan peredaran narkoba juga harus diawasi secara ketat. Indikasi permainan juga terlihat dari gagalnya polisi membekuk bandar narkoba di Bali. Sementara itu, 43 persen responden menilai penindakan terhadap peredaran narkoba sudah efektif dan bebas permainan. Kalaupun ada penghuni LP yang menjadi bandar atau pengedar
narkoba, itu sifatnya kasuistis. Sedangkan, belum terungkapnya bandar narkoba akibat pelaku yang dibekuk tak mau membongkar jaringannya. Selebihnya, 3 persen responden lainnya tak merespons pertanyaan terkait dengan dugaan ada permainan dalam penanganan narkoba di Bali. Menyikapi masih maraknya peredaran narkoba di Bali, responden berharap polisi bertindak lebih tegas. Perbanyak penyuluhan serta BBN harus lebih proaktif. Petugas LP juga diminta mengawasi tahanan, bukan malah pura-pura tak tahu jika ada napi yang bertindak sebagai pengendali peredaran narkoba. Dira Arsana
14 - 20 April 2014
17
PENDIDIKAN
Pemda Diminta Subsidi Biaya Penelitian Guru
K Wenten Aryasuda
Kariyasa Adnyana
18
14 - 20 April 2014
etua PGRI Bali Dr. I Gede Wenten Aryasuda, M.Pd. meminta Pemprov Bali dan pemkab/ pemkot se-Bali mengalokasikan anggaran khusus untuk mensubsidi biaya penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan para guru. Pasalnya, mayoritas guru kita memang kurang memberikan perhatian kepada aktivitas penelitian. Di samping budaya meneliti yang rendah, acap kali masalah pendanaan jadi kendala utama. “Kegiatan penelitian memerlukan biaya relatif besar yang meliputi pengadaan instrumen penelitian, literatur, pengolahan data maupun pembiayaan terkait lainnya. Menyikapi kendala biaya itu, saya berharap pemerintah daerah secara rutin mengalokasikan anggaran untuk mensubsidi kegiatan penelitian guru,” kata Wenten Aryasuda kepada Bali Post, Kamis (4/4) lalu. Apabila pemerintah daerah tidak bisa mensubsidi biaya penelitian guru-guru itu secara penuh, kata dia, paling tidak ada semacam dana motivasi sehingga beban yang dipikul guru berkurang. Ditegaskan, tambahan biaya penelitian itu juga bisa diusahakan pihak sekolah melalui dana komite yang dipungut dari orangtua siswa. “Jika tidak ada komitmen seperti itu, saya khawatir permasalahan banyaknya guru yang rontok dalam uji sertifikasi karena tidak memiliki nilai pada bidang penelitian (karya pengembangan profesi - red) akan terus berulang setiap tahun,” ujarnya. Aryasuda yang juga Kepala SMP PGRI 2 Denpasar ini menegaskan, PTK merupakan salah satu kunci kesuksesan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya. Melalui PTK
itu, para guru bisa mengevaluasi sekaligus melihat perkembangan anak didik terutama di bidang daya serap materi pelajaran yang diajarkan. Dengan melakukan PTK secara rutin, mereka juga akan tergerak mengeksplorasi diri guna menemukan metodemetode pembelajaran yang lebih praktis dan lebih mudah dipahami oleh anak didik sekaligus mampu meningkatkan prestasi akademik anak didiknya. “Jadi, PTK itu sangat berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan secara umum. Mengingat block grant PTK itu tidak lagi dialokasikan oleh pemerintah pusat melalui DIPA LPMP, saya berharap pemerintah daerah mengalokasikan anggaran sejenis pada APBD,” katanya penuh harap. Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Bali Ketut Kariyasa Adnyana, S.P. merespons positif saran dari pengurus PGRI Bali tersebut. Wakil rakyat dari Buleleng itu menegaskan, wacana pentingnya mengalokasikan anggaran untuk mensubsidi biaya penelitian para guru itu akan dikoordinasikan lebih lanjut kepada pihak eksekutif. “Secara pribadi, saya sangat mendukung ide itu. Namun, semuanya perlu dikaji secara matang apakah anggaran yang tersedia memungkinkan untuk merealisasikan hal itu,” katanya diplomatis. Sumatika
Pentingnya Yoga bagi Dunia Pendidikan
S
elain dikenal sebagai tokoh panutan dalam disiplin, spiritual dan kinerja, Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E., M.Si., juga mahir dalam yoga. Bertepatan dengan HUT ke-35 SMPN 3 Denpasar, Jumat (21/3) lalu Wali Kota bersama Nyonya Selly Dharmawijaya Mantra mengikuti yoga massal siswa dan guru SMPN 3 Denpasar. Kegemaran baru Wali Kota Denpasar ini kini diimplementasikan oleh sejumlah sekolah dengan mendidik siswa dan guru dengan yoga serta didirikanya yoga centre. Tampak Wali Kota didampingi Kepala SMPN 3 Denpasar I Wayan Murdhana, S.Pd., M.Psi., dengan luwesnya mengikuti berbagai macam gerak yoga mulai dari yoga asana, cakrasana (kayang) dan yoga berpasangan. Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra menegaskan yoga sangat penting bagi dunia pendidikan. Dengan yoga kita bisa menyehatkan fisik, psikis dan mental. Sekaligus sangat baik untuk kebugaran. Apalagi sebagai pelaku pendidikan siswa, guru, karyawan dan kasek harus tampil prima setiap hari, Dikatakannya di sejumlah sekolah kini sudah memiliki yoga centre. Dia berharap semua sekolah menjadikan yoga ini materi latihan wajib minimal sebulan sekali. Sama dengan Pramuka untuk menanamkan pendidikan karakter di kalangan siswa. Usai yoga bersama Wali Kota langsung meresmikan yoga centre SMPN 3 Denpasar. Wali Kota juga mengacungkan jempol kepada SMPN 3 Denpasar yang mendeklarasikan diri sebagai sekolah bebas sampah plastik. Edukasi hidup bersih ini, kata dia, pas dimulai dari peserta didik dan diikuti oleh masyarakat luas. Makanya Wali Kota akan menekankan desa untuk menindak pelanggar yang membuang sampah di sungai melalui sidang tipiring. Kepala SMPN 3 Denpasar I Wayan Murdhana mengungkapkan yoga massal diikuti tiga ribu warga sekolah. Se-
Wali Kota I.B. Rai Dharmawijaya Mantra bersama Kasek Wayan Murdhana saat mengikuti yoga massal bersama warga SMPN 3 Denpasar.
lain untuk kesehatan, yoga bagi warga sekolahnya dipakai untuk menanamkan pendidikan karakter. Penguatan pendidikan karakter ini juga dibarengi dengan penguatan akademis dan non-akademis di sekolah. Dengan demikian jadilah SMPN 3 Denpasar sekolah yang lengkap. Dia juga menekankan kepada warga sekolah untuk menjadikan ‘’Denpasar kotaku, sekolahku adalah rumahku’’. Ini berarti semua warga sekolah menyadari jika sekolah sudah dianggap rumah sendiri diperlukan upaya bersama menjadikan sekolah, rumah dan Denpasar yang bersih. Yoga massal kemarin juga diikuti sejumlah alumni yang dikoordinir oleh dr. Laksmi Duarsa, Sp.K. Mereka juga melakukan reuni akbar yang diisi dengan acara kekeluargaan. Di puncak HUT Ketua Komite SMPN 3 Denpasar Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.H., M.Pd., menyerahkan piala dan penghargaan kepada pemenang lomba olimpiade mata pelajaran antarsiswa SD se-Bali. Juara I, II dan III olimpiade Matematika diraih Putu Sarita (Cipta
Darma), Sumerta Yoga (Saraswati 6), Krisna Putra (Cipta Darma). Olimpiade IPA juara I, II dan III diraih Wira Wisnanta (Jambe Agung), Widia Putra (Saraswati 6), dan Wulandari (SD 2 Padangsambian). Olimpiade Inggris diraih Angga Yuda (BPS), Alisa dan Ayu Finansya dari Cipta Darma. Sedangkan juara Story Telling diraih Capianasis (Santo Yoseph), Bella (BPS) dan Rahayu dari SDK Harapan. IGB Arthanegara mendukung semua program sekolah. Ini artinya SMPN 3 Denpasar tak hanya membentuk siswa yang sehat jasmani, juga rohani dan mental. Mereka menjadi SDM Bali yang disiplin, beretika dan berkarakter. Termasuk menjadikan SMPN 3 Denpasar sebagai pusat pelajaran yoga di Denpasar. Untuk itu dia berterima kasih kepada para alumni Spentri yang aktif memberi sumbangan pemikiran dan materi untuk kemajuan sekolah. Sueca Wiyata
M andala 14 - 20 April 2014
19
ADVERTORIAL
Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, M.S.
Sertifikasi Guru Agama Hindu Tuntas Tahun 2014 “Kami optimistis sertifikasi guru agama Hindu di lingkup Ditjen Bimas Hindu, sesuai target pemerintah, tuntas pada 2014. Mengingat tahun 2014 ini tinggal 1.089 guru yang belum disertifikasi,” ujar Yudha Triguna. OPTIMISME tersebut terungkap ketika reporter Majalah Bali Post berkunjung ke ruang kerja Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S. Lebih lanjut Prof. Yudha Triguna mengatakan, saat ini guru agama Hindu yang sudah disertifikasi mencapai 7.279 orang. Kami juga terus berusaha meningkatkan kualitas dan kompetensi mereka sehingga kenaikan kesejahteraan bisa berkorelasi positif dengan peningkatan kualitas pendidikan. Selain itu, program sertifikasi dosen baik dosen perguruan tinggi negeri atau swasta di lingkungan Kementerian Agama juga dilakukan. “Kami berupaya meningkatkan kualifikasi pendidikan guru dan dosen. Misalnya, syarat untuk menjadi seorang dosen itu harus lulus S-2. Karena itu, dosen S-1 diberi kesempatan untuk kuliah ke jenjang S-2. Begitu pun dosen S-2 yang mau kuliah ke S-3 dibiayai juga oleh negara,” papar suami Dra. A.A. Inten Mayuni, M.Hum. ini. Ketika disinggung mengenai beasiswa S-2 dan S-3 ke luar negeri, Yudha Triguna mengatakan bahwa program ini sudah berjalan sejak tahun 2011. “Saya ingin belajar dari umat Islam Indonesia yang sejak 40 atau 30 tahun lalu sudah menyekolahkan dosen-dosennya ke luar negeri. Sedangkan Hindu baru melaksanakan pendidikan di luar negeri baru dua tahun lalu,” kata dia. Kami mengirim lulusan SMA ke India untuk belajar Ayur Vedic dan Post Doctoral Sandwich Program ke KITLV Leiden. Ditjen Bimas Hindu juga memberikan pengalaman dengan cara memberikan short
20
14 - 20 April 2014
course keluar negeri. Tahun ini, program short course masih sama seperti tahun sebelumnya, yaitu ke India dan Belanda. Short course diperuntukkan bagi dua kelompok penting, yaitu bagi mereka yang sedang menulis disertasi (untuk memperkaya disertasi) dan yang sudah S-3 untuk menulis buku/menghasilkan buku. Biaya ditanggung oleh Ditjen Bimas Hindu meliputi seluruh biaya hidup mereka selama mengikuti short course. “Sejauh ini yang sudah ke India 27 orang, ke Belanda 27 orang. Mereka sudah menikmati fasilitas tersebut dengan biaya rata-rata Rp 107 juta per orang. Tahun ini diprogramkan short course untuk 12 orang lagi,” ujar ayah tiga anak ini. “Kami berharap kita bisa memiliki sekolah-sekolah bernuansa Hindu dari SD sampai SMA. Hal ini belum tercapai karena berkaitan dengan instansi lainnya seperti Sekretariat Jenderal, Kementerian Agama, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara, dan Kementerian Keuangan.” Memiliki sekolah berlandaskan agama Hindu juga menjadi sebuah harapan yang ingin diwujudkan Direktorat Jenderal Bimas Hindu. “Kami berharap kita bisa memiliki sekolah-sekolah bernuansa Hindu dari SD sampai SMA. Hal ini belum tercapai karena berkaitan dengan instansi lainnya seperti Sekretariat Jenderal, Kementerian Agama, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara, dan Kementerian Keuangan,” ujar Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, M.S Sembari berproses mencapai hal tersebut, beberapa hal berhasil dijalankan oleh Dirjen Bimas Hindu ketujuh ini. “Tahun ini, anggaran di Ditjen Bimas Hindu meningkat jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Tahun ini, total anggaran Ditjen Bimas Hindu mencapai Rp 135 miliar. Anggaran tersebut dialokasikan untuk pendidikan Rp 75 miliar, urusan Rp 54,5 miliar, dan dukungan manajemen Rp 4,7 miliar. Pencapaian program kerja Ditjen Bimas Hindu yang lain pada tahun ini, yaitu pembangunan sarana dan prasarana perguruan tinggi negeri maupun swasta yang sudah lebih baik. Di samping itu, sejak lima tahun terakhir, dosen yang berpendidikan S-3 di lingkungan Ditjen Bimas Hindu kini mencapai 50 orang. Perlu diketahui bahwa Hindu mempunyai 3 perguruan tinggi negeri yaitu Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Gde Pudja Mataram dan Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Tampung Penyang Palangka Raya. Selain itu Hindu juga mempunyai beberapa perguruan tinggi agama Hindu swasta yang berada di Jakarta, Lampung, Palu, Bolaang Mongondow, Manado, Malang dan tentunya di Bali. Lebih lanjut Prof. Yudha Triguna menjelaskan bahwa Ditjen Bimas Hindu juga memiliki program bantuan sosial (bansos). Program bansos itu dilaksanakan dalam bentuk bantuan pura dan renovasi pura; bantuan untuk pengadaan alat-alat kesenian gamelan Jawa dan Bali (yang berhubungan dengan ritual agama Hindu di masing-masing pura); bantuan bukubuku keagamaan (bacaan keagamaan); peningkatan mutu dan kualitas pinandhita serta sarati banten serta orientasi kerukunan internal umat beragama dengan mengundang para tokoh. Apa saja kriteria masyarakat penerima bantuan sosial dari Ditjen Bimas Hindu? Pertama, harus ada proposal yang memperlihatkan kenyataan secara riil. Kedua, ada surat rekomendasi dari kepala kantor agama setempat yang dapat digunakan sebagai data klarifikasi pura itu ada dan menerangkan bahwa pura itu dapat dibantu.
Ketiga, memiliki rekening atas nama lembaga tersebut, bukan rekening pribadi agar nantinya tidak disalahgunakan. “Semua Pura di seluruh Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh bantuan sosial tersebut yang penting sesuai dengan kriteria yang telah kami tetapkan di Juklak dan Juknis kita. Pada awal saya masuk, yang banyak menerima itu di luar Bali 60%, sedangkan Bali hanya 40%. Sekarang, Bali 70% sedangkan di luar Bali 30%. Bantuan terbesar diberikan adalah untuk bantuan pura dan pendidikan,” papar Yudha Triguna. Menurut Yudha Triguna, yang paling diperlukan di Bali saat ini adalah buku keagamaan. “Kebanyakan orang Bali mengikuti tradisi yang sudah ada dan mereka kurang membaca. Saya melihat, di Bali itu banyak praktik, membaca kurang. Di luar Bali, kurang praktik, banyak membaca. Seharusnya seimbang,” katanya.
Perlu Dukungan Masyarakat Secara garis besar visi Ditjen Bimas Hindu Kementerioan Agama RI adalah terwujudnya masyarakat Hindu yang taat beragama, maju, sejahtera, dan cerdas serta saling menghormati sesama umat dan antarberagama di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Misinya, meningkatkan kualitas bimbingan, pemahaman dan pengalaman agama Hindu, meningkatkan pelayanan kehidupan beragama Hindu, meningkatkan kualitas pendidikan agama Hindu, memberdayakan lembaga sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan Hindu, memperkokoh kerukunan umat beragama Hindu, mengembangkan seni dan budaya serta keselarasan pemahaman keagamaan Hindu, serta mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang bersih dan berwibawa. Dengan visi dan misi tersebut, Ditjen
Bimas Hindu memiliki fungsi perumusan kebijakan di bidang bimbingan masyarakat Hindu, pelaksanaan kebijakan di bidang bimbingan masyarakat Hindu, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang bimbingan masyarakat Hindu, pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang bimbingan masyarakat Hindu, dan pelaksanaan admininstrasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu. Sedangkan tugas-tugasnya adalah melaksanakan proses bimbingan dan penyuluhan terhadap umat-umat Hindu di Indonesia, tata kelola manajemen, meningkatkan mutu dan kualitas kerukunan antarumat beragama, teristimewa kerukunan internal umat Hindu di Indonesia. “Ditjen Bimas Hindu tidak akan mampu melaksanakan tugasnya dengan optimal jika tidak didukung oleh seluruh elemen umat Hindu yang ada,” katanya. 14 - 20 April 2014
21
DAERAH
Pedagang Tolak Pasar Negara Dibongkar
U
paya revitalisasi Pasar Umum Negara nampaknya tidak semudah yang diperkirakan. Dari penolakan pedagang yang tidak menginginkan pasar dibongkar hingga relokasi ke Peken Ijo Gading (pasar tradisional modern). Benarkah pasar dengan bangunan tua ini sudah tak layak digunakan? Beberapa pedagang pasar mengaku sudah terbiasa dengan kondisi pasar tradisional yang kumuh, becek dan pembeli yang berhimpitan. Sinatra, pedagang sekaligus penasihat paguyuban pedagang, mengatakan sejak awal pembangunan patron Peken Ijo Gading dirinya sudah merasa keberatan. Mau dijadikan apa tempat itu apabila nanti tidak ada yang menggunakan. Sementara saat ini pedagang diminta untuk pindah ke sana sementara Pasar Negara dibongkar. Ia menilai, di mana-mana pasar tradisional identik dengan kesemrawutan. Itu karena tidak becusnya pengelola pasar. “Sebenarnya, tata ruang pasar ini sudah benar. Tetapi semakin tahun semakin bertambah pedagang dan aturan itu dilanggar, jadilah seperti ini, semrawut,� terangnya. Sinatra yakin, kalaupun pasar diperbaiki atau dibangun, tetap akan semrawut karena pengelolaan yang tidak bagus. Ia mencontohkan Pasar Umum Negara sekarang ini yang sebelumnya teratur dalam beberapa blok, kini semrawut karena oknum-oknum yang membolehkan pedagang masuk dan menempati lokasi tidak sesuai tata ruang. Jalan blok pasar untuk pembeli yang seharusnya steril, dipenuhi dagangan. Bahkan untuk lapak pedagang. Padahal itu merupakan hak para pembeli agar bisa berjalan. “Kalau benar-benar mau menegakkan aturan,
22
14 - 20 April 2014
saya rasa pasar sedekil apa pun nyaman, karena memang di mana-mana beginilah pasar tradisional,� tambah Sinatra. Pemerintah harus memperhatikan nasib para pedagang apabila mereka direlokasi. Sebab, sumber pencaharian utama mereka dari sana. Pemerintah juga harus berpikir panjang, bukan hanya membangun dengan dana miliaran. Tetapi juga harus diperhatikan fungsi bangunan tersebut. Mau dijadikan apa Peken Ijo Gading apabila pedagang pindah lagi ke pasar umum yang baru? Banyaknya pedagang yang tidak hadir dalam setiap sosialisasi merupakan bukti bahwa banyak pedagang yang tidak setuju relokasi itu. Pedagang lain, MT mengatakan selain pedagang resah dipindahkan, mereka juga meragukan barang-barang mereka tertampung di kios yang disediakan. Praktik jual beli kios pun sampai sekarang masih berlangsung. Jual beli dilakukan pemilik lama dan baru disaksikan pengelola pasar. Nilainya pun tak sedikit. Hal itu juga menjadi pemicu pedagang enggan pindah. Pedagang yang kini memiliki beberapa kios untuk gudang barang dagangan ketarketir. Pasalnya muncul informasi bahwa setelah direlokasi, pedagang hanya berhak memperoleh satu kios. Sementara mereka telah keluar duit untuk transaksi jual-beli kios. Di sisi lain, pemerintah telah menganggarkan dana hingga miliaran rupiah untuk revitalisasi Pasar Umum Negara dan semestinya sudah mulai dikerjakan tahun ini. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) mengaku akan menempuh berbagai cara untuk sosialisasi dan pedagang mau dipindah sementara ke Peken Ijo Gading. Kepala Disperindagkop Ni Made Ayu Ardini mengatakan, pihaknya juga telah
menyiapkan bedeng untuk menampung pedagang yang tidak kebagian kios, mengingat jumlah pedagang lebih banyak dibanding jumlah kios. Peken Ijo Gading menurutnya akan aktif setelah para pedagang kembali ke Pasar Umun Negara. Menurutnya, perbaikan pasar itu direncanakan bisa selesai satu tahun. Pasar dirasa perlu diperbaiki karena kondisinya yang banyak rusak dan tak terawat. Pembangunan itu perlu supaya pasar terlihat bersih dan nyaman. Apalagi pasar dikepung pasar-pasar modern yang memberikan kemudahan bagi pembeli. Sebelumnya beberapa pasar di Jembrana juga telah diperbaiki seperti di Gilimanuk, Yehembang dan Pekutatan. Di Pasar Yehembang, para pedagang juga sempat relokasi di tempat yang jauh dari jalan Denpasar-Gilimanuk. Tetapi, masyarakat dan para pembeli tetap mencari barang ke pasar tersebut. Surya Dharma
Pasar Dikepung Toko Modern BERBEDA dengan pasar-pasar tradisional serupa di Jembrana, Pasar Umum Negara bersaing dengan toko modern yang jaraknya cukup dekat. Saat inipun, pedagang sudah cukup tersaingi oleh toko-toko modern itu. Apalagi, tokotoko tersebut berjaringan dan menjamur di sekitar permukiman warga. Persaingan tidak sehat pun timbul dan merugikan pedagang pasar yang bermodal cekak. “Mereka berani menurunkan harga, apa boleh toko jual grosiran,” tandas salah seorang pedagang. Belum lagi jam buka yang lebih lama dibandingkan pasar serta pelayanan mengantar barang. Pedagang kelontong di pasar umum paling merasakan dampak persaingan itu. Omset mereka turun
lantaran pelanggan memilih ke toko modern tersebut. Perda yang mengatur toko modern, pasar tradisional hanya macan kertas. Sorotan itu dilontarkan LSM Forda Jembrana, Ketut Sujana alias Cong. Ia mencontohkan kebijakan penertiban parkir di pertokoan depan Pasar Umum Negara merupakan kebijakan banci. Sebab tidak dilaksanakan penuh. Hanya siang hari, sementara malam hari diperbolehkan satu lajur. “Kalau memang tidak boleh, ya tidak boleh total, bukan siang tidak, malam boleh,” ujarnya. Hal itu juga hanya akan menguntungkan pihak-pihak tertentu saja dan bukan pedagang kecil. Dengan perda yang dibuat tahun 2010 itu, pemerintah sebenarnya bisa leluasa mengembang-
kan pasar-pasar tradisional. Tetapi faktanya pelaksanaannya tidak dilakukan. “Adanya perda itu, sebenarnya memberi peluang bagi pemerintah mengembangkan pasar tradisional hingga ke desadesa, tetapi nampaknya hanya macan kertas,” kritiknya. Toko-toko modern berjaringan bisa dibatasi tidak sampai ke desa. Tetapi pengawasan terhadap toko semacam ini juga masih lemah. Beberapa toko modern seperti Indomaret di Lelateng lokasinya sangat dekat dengan Peken Ijo Gading yang baru dibangun oleh Pemkab. Surya Dharma 14 - 20 April 2014
23
K E S E H ATA N
DBD Merajalela
Satu Orang Bisa Terinfeksi Empat Kali
B
erada di wilayah tropis seperti di nusantara ini sesungguhnya sangat baik. Pasalnya, sepanjang tahun, --- yang hanya ada dua musim saja --- relatif bisa melakukan aktivitas cukup berarti di bandingkan tinggal di daerah dingin yang memiliki suhu ekstrem empat musim. Namun, buruknya tinggal di wilayah tropis kelembaban sangat tinggi, selain itu curah hujan dan panas relatif tinggi juga. Kondisi ini membuat warga yang hidup di Bali khususnya menjadi rentan terkena penyakit infeksi baik bakteri maupun virus. Salah satu penyakit virus endemis atau ada sepanjang musim di Bali adalah Demam Berdarah Denque (DBD). Penyakit DBD ini sesungguhnya merupakan penyakit oleh virus yang disebarkan nyamuk Aedes Aigypti dan AedesAlboticus. Hal yang paling membahayakan terjangkit penyakit ini sampai pada taraf syok atau terjadi pendarahan. Pada fase ini, jika tidak cepat ditangani, potensinya sangat besar menyebabkan kematian si pasien. Dokter Spesialis Anak RS Wangaya dr. Wayan Retayasa, Sp.A (K) memaparkan virus DBD ada empat jenis dari tipe satu hingga tipe empat. Karena itu satu orang bisa mengalami sakit DBD sebanyak empat kali. Jika pertamakali terinfeksi DBD, seseorang hanya menderita demam denque tanpa adanya perdarahan. Namun, jika terinfeksi kembali meningkat mencapai tipe virus berbeda. Selanjutnya dapat terinfeksi dua virus sekaligus. Pada saat ini terjadi deman dengan pendarahan. Biasanya jika sudah terserang virus, maka tubuh membentuk kekebalan. Saat pasien sembuh dari DBD kata Retayasa, ia sudah memiliki kekebalan terhadap virus DBD. Tetapi hanya pada tipe yang telah menyerangnya. “Jika diserang tipe nyamuk berbeda, maka bisa terinfeksi lagi. Maksimal seseorang terkena DBD hingga empat kali,” paparnya. Dari empat jenis virus DBD, yang
24
14 - 20 April 2014
paling memiliki sifat virulen atau ganas adalah tipe dua dan tipe tiga. Terjadinya pendarahan syok pada pasien DBD hemat Retayasa selain memunculkan sifat virulen alias ganas juga tergantung frekuensi jumlah terjangkitnya, usia pasien, kondisi fisiknya apakah obesitas atau tidak serta adanya latar belakang penyakit kronis lain seperti asma dan diabetes. “Bila DBD ini terjangkit pada anak bayi dan balita, berpotensi besar terjadi pendarahan dan syok. Demikian juga pada orang bertubuh gemuk,” jelasnya. Orang yang bertubuh gemuk rentan mengalami pendarahan. Alasannya, kadar air pada orang bertubuh gemuk relatif besar sehingga saat terjadi dehidrasi memicu terjadi pendarahan dan syok. Ini memang tidak terlalu jelas terdeteksi, tampak seperti pasien demam biasa saja. Karenanya sangat penting menjalani pemeriksaan darah untuk memantau potensi terjadinya pendarahan. Kejadian pendarahan, kata Retayasa, hingga kondisi syok merupakan fase paling ditakutkan dari penyakit DBD ini. Pada fase ini biasanya memasuki hari ketiga hingga kelima, di mana gejalanya terus mengalami penurunan suhu badan menjadi normal setelah sebelumnya menderita panas tinggi. Gejala DBD demam dan panas ini kurvanya diistilahkan seperti punggung unta. Proses panasnya tinggi selama tiga hari pertama dan tiba-tiba turun pada hari ketiga hingga kelima. Selanjutnya naik lagi sampai hari ketujuh. “Ketika suhu badan turun, mayoritas orang mengira pasien sembuh. Sering pasien itu dibiarkan dan kurang mendapat perhatian. Padahal suhu badan turun itu disebabkan fase pendarahan sedang terjadi. Pendarahan ini bukan saja berpotensi mengakibatkan syok malah kematian,” ujar Retayasa. dr. Wayan Retayasa, Sp.A (K)
Untuk itu, jika ada sanak keluarga yang panas selama tiga hari dan tidak turun meski sudah diobati, ada baiknya menjalani cek darah. Upaya ini penting untuk memastikan terinfeksi virus DBD atau tidak. “Tandanya adalah jumlah trombosit yang menurun,” imbuh Retayasa. Pada dasarnya DBD bisa sembuh sendiri. Jika pertahanan tubuh baik, maka serangan virus ini akan dilawan oleh tubuh secara otomatis oleh antibodi. Pengobatan DBD biasanya hanya mengobati pada gejala yang timbul saja. Karena itu, untuk sembuh dari penyakit ini, seseorang harus makan makanan bergizi. Di samping itu banyak minum dan cukup istirahat, sehingga tubuh itu kuat dan bisa melawan virus. Wira Sanjiwani
Nyamuk, Vektor Penyebar DBD
Cegah dengan Lingkungan Tetap Bersih PENYAKIT DBD identik dan erat sekali hubungannya dengan nyamuk. Serangga inilah merupakan vektor penyebar virus DBD ini. Ketika menggigit, air liur nyamuk itu masuk ke dalam tubuh yang berisi virus BDB. Akibatnya, orang yang tergigit cepat atau lambat terjangkit BDB. Tidak semua nyamuk memang menularkan DBD. Hanya tipe Aedes aigypti dan Aedes alboticus saja. dr. Wayan Retayasa, Sp.A.(K) memaparkan nyamuk vektor DBD ini sangat suka hidup di air tergenang dan tidak bersih. Untuk mencegahnya, lingkungan rumah, sekolah, kantor dan instansi lainnya harus dijaga kebersihan. Kebersihan lingkungan memegang peran sentral menghindarkan seseorang dari serangan virus nyamuk itu. Pemberantasan sarang nyamuk berupa penerapan 3 M (Menguras dan Menutup penampungan air dan Mengubur sampah yang berfungsi menampung air hujan), kata Retayasa sangat penting dilakukan untuk membunuh jentik nyamuk vektor DBD ini. “Jangan juga menggantung baju setelah baju selesai dipakai. Nyamuk sangat suka hinggap di sana. Lebih baik baju yang telah dipakai langsung dicuci saja,” saran Retayasa. Nyamuk vektor penular DBD sanggup terbang sejauh 100 meter. Jika ada kasus DBD dalam satu wilayah, patut diwaspadai vektor penularan itu dari lingkungan sekitar. Solusinya frekuensi dan intensitas pemberantasan sarang nyamuk serta fogging perlu ditingkatkan. Upaya ini untuk membunuh jentik serta nyamuk dewasa. Selain DBD, nyamuk Aedes terutama jenis alboticus, juga bisa menyebabkan penyakit chikunguya. Vektornya sama nyamuk, tetapi virusnya berbeda. Sesungguhnya, gejala chikunguya hampir sama dengan DBD. Hanya chikunguya tidak menimbulkan pendarahan. Ciri khas chikunguya, demam disertai nyeri sendi luar biasa. Meski gejalanya tampak lebih parah dari DBD, chikunguya tidak sampai pada taraf syok dan juga pendarahan yang berpotensi menimbulkan kematian. Penyakit ini juga bisa sembuh sendiri melalui ‘’perlawanan’’ karena memiliki sistem daya tahan tubuh yang baik. Wira Sanjiwani 14 - 20 April 2014
25
LENSA
PEMILU LEGISLATIF Indonesia menggelar pemilu legislatif pada Rabu (9/4) lalu, secara serentak. Suasana pemilihan wakil rakyat ini tampak berbeda di Bali. Para pemilih maupun panitia pemilihan kompak menggunakan pakaian adat madya.
MBP/Eka Adhiyasa
OLAHRAGA
Menyingkap Sejarah Kelam
A
da dua peristiwa besar yang menyertai perjalanan sejarah klub Liga Inggris Liverpool : tragedi Heysel dan Hillboroughs. Kedua tragedi menjadi peristiwa terkelam bagi klub tersebut namun berdampak positif di kemudian hari bagi industri sepak bola di Inggris dan juga dunia. 29 Mei 1985. Liverpool bertemu Juventus di babak final Liga Champions. Partai puncak kompetisi paling prestius di Benua Eropa itu digelar di Stadion Heysel, Brussels, Belgia. Sesaat sebelum pertandingan dimulai pendukung the Reds menjebol pagar pembatas dan memasuki arena netral di stadion tersebut. Pendukung Juventus yang berada di tempat itu lari ketakutan. Mereka mengarah tempat lain yang dibatasi tembok beton. Desak-desakan itu membuat penonton di dekat tembok tergencet dan merubuh tembok pembatas. 39 orang yang sebagian besar pendukung Juventus tewas dan ratusan mengalami cedera akibat insiden itu. The Reds yang pada pertandingan itu akhirnya kalah 0-1, dijatuhi hukuman tak
boleh berlaga di kompetisi Eropa selama lima tahun. Sedangkan 14 pendukung Liverpool dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman bervariasi antara 3 tahun. Asosiasi sepak bola Eropa (UEFA) menyebut tragedi itu sebagai sejarah paling kelam dalam sejarah kompetisi Eropa. Setahun sebelum UEFA mencabut hukuman atas Liverpool itu, tragedi lain melanda. Semifinal Piala FA antara Liverpool melawan Nottingham Forest digelar di Stadion Hillsborough, kandang klub Sheffield Wednesday. Pertandingan pada 15 April 1989, berubah menjadi bencana sesaat sebelum peluit awal pertandingan dibunyikan wasit. Ribuan orang yang ingin memasuki stadion, memicu tergencetnya penonton yang sudah berada di dalam. Akibatnya 96 orang pendukung Liverpool tewas dan lebih dari 700 lainnya mengalami luka-luka. Bila pada tragedi Heysel, fans perusuh (hooligan) Liverpool dipersalahkan karena memicu kerusuhan di dalam stadion. Namun pada kasus Hillsborough, sejumlah keluarga korban tidak mau kerabatnya
MBP/rtr
Monumen Hillsborough di pusat Kota Liverpool.
28
14 - 20 April 2014
dijadikan tersangka pada peristiwa itu. Mereka melakukan perlawanan dengan meminta penyelidikan ulang untuk mengetahui kebenaran di balik tragedi itu. Pengadilan Tinggi Inggris pada Desember 2012 membatalkan keputusan 21 tahun lalu yang menyebutkan kematian 96 orang itu akibat kecelakaan dan mengampuni para fans yang dianggap bertanggung jawab atas peristiwa itu. Keputusan tersebut didasarkan temuan baru oleh tim peneliti independen. Sidang dengar pendapat pun dibuka pada awal April ini atau dua pekan jelang peringatan 25 tahun tragedi itu. Isu yang mengemuka adalah pengaman stadion, rencana darurat, manajemen penonton dan tindakan bila menghadapi situasi bahaya. Kelompok yang menamakan diri Justice for the 96 menilai peristiwa ini melegakan bagi mereka. Sidang dengar pendapat itu menjadi jawaban atas perjuangan tak kenal lelah mereka yang menolak untuk menerima bahwa kematian sahabat dan kerabat mereka itu sebagai kecelakaan. Sebagai gantinya, tuduhan dialamatkan pada pihak kepolisian yang dianggap menutup-nutupi peristiwa itu. “Saya benar-benar, gugup. Ini perjuangan yang luar biasa panjang dan sekarang menjadi babak baru. Semoga kebenaran bisa terungkap,” jelas Charlotte Hennessy yang kehilangan bapaknya James, kala dirinya berusia 5 tahun. Penyelidikan terbaru digelar di pengadilan Warrington, Inggris Utara dan diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan. Belum ada tuduhan diajukan mengingat sidang akan memeriksa begitu banyak tumpukan hasil temuan terbaru. Hakim John Goldring sebelum memulai sidangnya membacakan satu demi satu nama 96 korban tragedi Hillsborough. Diperlukan waktu 6 menit untuk menyelesaikan sesi itu yang dinlai sebagai penghormatan terhadap korban dan juga pihak yang ditinggalkan. Dalam pernyataannya di depan panel juri yang beranggotakan 11 orang, Goldring menyatakan penyelidikan terbaru tidak dimaksudkan untuk memperlihatkan keputusan sebelumnya itu benar atau salah.
Namun juri diminta mempertimbangkan apakan ada peluang atau tidak dalam mencegah terjadinya kematian atau menyelamatkan nyawa mereka dalam tragedi itu. Ini dikarenakan dalam temuan tim penyelidik independen itu bahwa 41 orang dari 96 korban seharusnya memiliki peluang selamat jika mendapat tindakan perawatan atau penyelamatan lebih cepat. Juri juga diperlihatkan gambar-gambar di seputar stadion termasuk di ujung areal Leppings Lane, stadion Hillsborough tempat insiden itu terjadi. Saat kejadian polisi pengawas areal itu Roger Marshall bertanya pada David Duckenfield yang memimpin operasi pengamanan pertandingan. Dia bertanya tiga kali apakah gerbang perlu dibuka agar penonton bisa memasuki areal itu untuk mengurangi desak-desakan di lorong menuju dalam stadion. Marshall mengingatkan bahwa akan ada korban jika gerbang tidak dibuka. Duckenfield akhirnya memutuskan membuka gerbang itu. “Jika kemungkinan ada kecelakaan serius atau kematian saya tidak punya pilihan selain membuka pintu gerbang.
Buka pintu gerbang,” kata Goldring pada juri mengutip pernyataan Duckenfield. Dalam waktu hanya lima menit 2.000 penonton menjejali lorong dan memasuki Lepping Lane di mana telah ada pendukung Liverpool. Mereka bergerak seperti kereta api di mana yang berada di depan tak memiliki opsi selain maju. Sedangkan yang MBP/ap berada di dalam stadion Tragedi Hillsborough yang menewaskan 96 orang dan melukai ratusan pendukung Liverpool pada 15 April 1989 di terjebak di areal itu dan stadion milik klub Sheffield Wednesday. Insiden itu terjadi tak bisa keluar karena sesaat sebelum pertandingan semifinal Piala FA antara adanya pagar di sekelilLiverpool melawan Nottingham Forest. ing lapangan. Goldring mengingatkan agar juri bijak katanya seperti dikutip Reuters. dalam memandang kasus tersebut. Tragedi Hillsborough juga menjadi “Hati-hati jangan menerapkan standar penyelidikan pihak lain. Pemerintah pengamanan acara 2014 pada peristiwa Inggris pada 2012 membentuk tim baru yang terjadi pada 1989. Ini mempertim- penyelidik di kepolisian yang khusus bangkan situasi yang dihadapi para petu- menangani kasus itu. Komisi Independen gas keamanan pada sore 15 April 1989,” tentang pengaduan Polisi juga akan mencari dugaan-dugaan yang muncul setelah tragedi itu dan memeriksa ulang dugaan seputar perubahan hingga pernyataan dan tindakan dari pejabat kepolisian . Tragedi yang mengguncang dunia itu kemudian memicu era baru sistem keamanan stadion di seluruh Inggris Raya. Tribun berdiri dan pagar kawat di sekeliling lapangan dihilangkan diganti tempat duduk dan petugas keamanan dengan skill yang terus ditingkatkan. Untuk memperingati tragedi itu, pada 15 April mendatang akan digelar hening cipta sebelum pertandingan Arsenal melawan West Ham United di Stadion Emirates. Pertandingan yang seharusnya dimulai 18.45 waktu setempat mundur 7 menit untuyk memperingati peristiwa terkelam dalam sejarah sepak bola Inggris. MBP/rtr
Anggota tim pengacara yang membawa berkas penyelidikan terbaru kasus tragedi Hillsborough di pengadilan Warrington, Inggris Utara.
Yudi Winanto
14 - 20 April 2014
29
OLAHRAGA
I Gede Subagiasa
Kendala Peralatan
P
restasi olahraga selancar angin Indonesia tengah menurun. Itu terbukti pada SEA Games terakhir yang berlangsung di Myanmar, Desember 2013 lalu, kontingen Merah Putih gagal meraih perunggu sekali pun. Padahal, di ajang multicabang Asia Tenggara sebelumnya, atlet selancar angin selalu menyumbangkan medali. I Gede Subagiasa, salah satu peselancar Indonesia asal Bali, menilai kegagalan merebut medali pada SEA Games di Myanmar tidak lepas dari faktor teknis dan nonteknis saat bertanding di laut, seperti angin yang kurang mendukung dan kendala peralatan. ‘’Kemampuan atlet Indonesia cukup bagus, namun kalah peralatan,’’ paparnya di Denpasar pekan lalu. Melihat prestasi selancar angin nasional sekarang, pria asal Bangli ini mengharapkan pengurus Porlasi di pusat dan daerah terus melakukan pembinaan usia dini secara berkesinambungan. Di samping itu, pemerintah dan KONI mesti memfasilitasi dengan sarana dan prasarana memadai, agar prestasi atlet makin berkembang dan meningkat. Tanpa itu, akan sulit bersaing dengan negara negara lain yang memiliki fasilitas lengkap dan atlet dengan jam terbang internasional. Subagiasa sendiri tidak turun pada SEA Games 2011 di Indonesia dan 2013 di Myarmar. Ia tidak berlaga di kandang sendiri karena kelas andalannya tidak dipertandingkan. Atlet kelahiran 30 Juni 1979 ini kembali absen di Myanmar akibat kalah bersaing dengan seniornya I Gusti Oka Sulaksana. Dengan demikian dirinya harus mengubur impian menyumbangkan medali bagi kontingen Indonesia. Memulai karier di cabang selancar angin sejak 1997, kejuaraan pertama yang diikutinya adalah Pra-PON dengan prestasi menempati peringkat kelima. Pada Kejurnas 2001 di Jember meningkat lewat raihan perunggu. Selanjutnya mendulang perak pada Bali Terbuka 2002, menyabet emas di Sanur Terbuka pada tahun yang sama, mendapat perunggu dari Kejurnas Lampung dan kembali menyabet emas
30
14 - 20 April 2014
pada Tanjung Lesung Terbuka 2003. Pada Pra-PON 2003, Subagiasa hanya mendulang perunggu, merebut emas di kejuaraan Jakarta Terbuka dan kebagian perak pada Bali Terbuka 2004. Setelah itu, enam emas dibawanya dari PON 2004 di Palembang, Bali Terbuka 2005, Kejurnas 2005 di Makassar, Jakarta Terbuka, Kejurnas 2006 di Jakarta dan Kejurnas 2007 di Surabaya. Satu emas dan satu perunggu dihasilkannya dari Pra-PON 2007 di Jakarta, perak di Bali Terbuka. Medali emas kembali dalam genggamannya di Surabaya pada 2008, PON 2008 di Kaltim (2) dan Indonesia Regata.
Nama Tempat/Tgl Lahir Status Pekerjaan
Sementara pada kejuaraan di luar negeri, atlet yang akrab dipanggil Bangli ini, menempati peringkat keenam saat mengikuti World Champions Pattaya 2002, juara ketiga Asian Championship Mumbai, ranking kelima di Singapura Terbuka, peringkat ke-23 dalam Asian Championship di Jepang, perak di Korea Terbuka 2006, posisi ke-20 pada Mistral World Ship Cina 2006, peringkat keempat di Hongkong Terbuka, tempat kelima dalam Asian Games 2006 di Qatar dan mengantongi perak pada SEA Games 2007 di Thailand. Putu Eka Parananda
: I Gede Subagiasa : Bangli, 30 Juni 1979 : Menikah : PNS Disdikpora Provinsi Bali
KRIMINAL
Bakal Diservis, Seperangkat Gong Raib
P
encuri yang menggasak seperangkat gong di Jaba Tengah Pura Puseh, Banjar Kelempung, Desa Jehem, Tembuku, Bangli ini, memang jago. Dia mampu memboyong sebuah kempur peturun yang usianya puluhan tahun, dua ponggang, 10 terompong, 12 reong dan lima reong baleganjur. Seperangkat gong itu total nilainya Rp 30 juta. Raibnya sebagian gambelan milik banjar yang disakralkan itu baru diketahui saat malam Pangerupukan, Minggu (30/3) lalu.
ogoh-ogoh. Lanjutnya, sebagian perangkat gambelan diketahui hilang pada malam Pangerupukan. ‘’Saat nogtogang akan mengiringi ogoh-ogoh sekitar pukul 19.00 sebagian gambelan diketahui hilang. Yang hilang itu juga bagian tertentu yang usianya cukup tua,’’ imbuhnya. Pertama kali raibnya sejumlah gambelan yang ditempatkan di Jaba Tengah Pura Puseh diketahui Bendesa Ida Bagus Putu Suardana. Ketika hendak dipergunakan, reong dan sejumlah terompong tidak ada di tempat-
MBP/puspajingga
Di Bale Banjar Gria Kelempung, Desa Jehem, Tembuku, Bangli inilah, seperangkat gong raib saat hendak digunakan pada Pangerupukan, Minggu (30/3) lalu.
Seperangkat gong itu rencananya digunakan mengiringi ogoh-ogoh yang diarak saat malam pergantian Tahun Baru Çaka 1936. Menurut informasi, kasus kehilangan seperangkat gambelan itu baru dilaporkan ke Polsek Tembuku, Selasa (1/4) lalu. Polisi Kemudian mendatangi TKP dan memeriksa sejumlah saksi. Menurut klian gong Ida Bagus Merta dan Ida Bagus Putu Adnyana, gong itu dipergunakan terakhir pada Kamis (20/3) lalu di Pura Dadia setempat. Seusai dipergunakan, gong kembali disimpan di balai banjar yang berada di areal Jaba Tengah Pura Puseh. ‘’Saat disimpan seusai dipergunakan, jumlah gong komplit, tidak ada yang kurang,’’ kata Ida Bagus Merta, yang diamini Ida Bagus Adnyana. Setelah itu gong tidak pernah dicek kembali. Demikian juga pintu penyimpanan gong tidak dikunci karena ada prosesi pembuatan
32
14 - 20 April 2014
nya. Sempat ditanyakan kepada warga, tapi tidak ada yang mengetahuinya. ‘’Gong yang hilang adalah yang umurnya sangat tua. Kemungkinan pencurinya orang yang mengetahui banyak soal gong. Jika orang yang tidak tahu pasti soal gong, kemungkinan semua akan diambil karena tempatnya di luar. Sedangkan kempur ditempatkan di dalam dan tidak semua orang mengetahuinya,’’ papar Ida Bagus Merta. Sebelum hilang, sekitar 35 hari lalu gong di Banjar Kelempung diservis tukang gong dari Desa Tihingan. Kebetulan saat menservis, orang itu sendirian di bale banjar. Tukang servis itu memang sempat mempertanyakan kempul di dalam kamar dan bisa dilebur untuk memperbaiki reong dan terompong yang rusak. Lantaran belum memiliki dana, warga menangguhkannya. Kempur itu diikat dengan kain kasa. Setelah diketahui ada kemalingan, saat
diperiksa ternyata kain kasa dilepas dengan korek api. ‘’Yang hilang semua bagian gong kuno. Sedangkan yang baru semua utuh,’’ jelas Merta. Kejadian untuk pertama kalinya itu membuat warga benar-benar geram. Mereka berharap, polisi secepatnya mengungkap pencurinya. Mengingat aksi pencurian itu dilakukan di tempat suci, maka warga akan menggelar upacara maguru piduka, termasuk minta petunjuk orang pintar. Kapolsek Tembuku AKP Made Sudiarsa membenarkan ada laporan pencurian sebagian perangkat gong milik Banjar Kelempung. Kapolsek tidak bisa memastikan kapan pencurian itu dilakukan. Tapi, menurut keterangan saksi, gong terakhir kali digunakan pada 20 Maret lalu. Untuk melacak pencuri, pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi seperti klian gong, Bendesa Ida Bagus Putu Suardana dan Kaling Ida Bagus Darmayasa. ‘’Kami belum mencurigai ada orang sebagai pelakunya, terlebih tempat gong memang tidak terkunci,’’ tegasnya. Kasatreskrim AKP Nyoman Sukanada menambahkan, masih melakukan pengecekan apakah gong itu benar-benar hilang atau diperbaiki, karena sekitar 10 hari sebelum Nyepi, ada kesepakatan gong diperbaiki. Polisi juga menyelidiki sentra-sentra kerajinan gong untuk mencari barang-barang yang hilang. Di tengah polisi sibuk melakukan penelusuran, warga Banjar Gria Kelempung, juga menempuh upaya dengan minta petunjuk orang pintar. Warga juga menggelar upacara guru piduka. Berdasarkan kepercayaan setempat, gong itu sangat disucikan dan tak bisa ditempatkan di tempat carob (kotor). Klian gong Ida Bagus Merta, menambahkan, kasus pencurian ini merupakan yang pertama kalinya, padahal gong itu disimpan di bale banjar berpuluh tahun tanpa pakemitan. Dia mengakui, seperangkat gong yang hilang itu memang kuno karena dibuat sekitar tahun 1972 silam. Puspajingga
MBP/wiadnyana
Petugas Polres Badung menunjukkan kondisi mobil yang dikemudikan I Dewa Made Prabawa Putra setelah tabrakan dengan motor korban di Jalan Raya Kapal, Mengwi.
Pulang Kampung, Ibu dan Dua Anaknya Tewas Tabrakan INGIN cepat-cepat sampai di kampung halamannya, I Wayan Wati (40), dan kedua anaknya, I Made Adi Wiguna (5) dan Ni Luh Sriati (13), malah menemui ajal. Wati yang saat itu mengendarai Yamaha Mio nopol DK 2779 HG dengan menggandeng kedua anaknya tabrakan dengan mobil Suzuki Jimny nopol DK 587 EU di Jalan Raya Kapal, Mengwi, Badung, Rabu (2/4) lalu. Sebelum kejadian, I Wayan Wati (40), dengan membonceng kedua anaknya, I Made Adi Wiguna dan Ni Luh Sriati, melaju dari arah selatan Jl. Raya Kapal, Mengwi. Dia hendak menuju kampungnya, Banjar Pujung, Luwus, Baturiti, Tabanan. Wati memacu motornya cukup kencang. Sedangkan dari utara melajulah mobil Suzuki Jimny hitam yang disopiri I Dewa Made Prabawa Putra (36), asal Banjar Baturiti Kelod, Baturiti, Tabanan. Setibanya di depan Pura Dalem Borneo, atau
sebelah selatan Pasar Senggol Banjar Peken Baleran, Kapal, Mengwi, Wati hendak mendahului mobil. Tapi motornya melewati garis putih pembatas jalan. Akibatnya tabrakan tak terhindarkan. Saking kerasnya benturan, pengandara motor dan kedua anaknya terpental, lalu motornya terseret mobil Jimny hingga 7 meter. Akibatnya, Wati yang sehari-hari bekerja di laundry itu mengalami luka parah di kepala kiri dan kedua telinganya ke luar darah segar. Sedangkan anaknya, I Made Adi Wiguna, mengalami leher patah, dan putri pertama korban yang masih duduk di bangku SMP, Ni Luh Sriati, mengalami patah tulang rusuk, kepala belakang benjol, paha kiri patah, dan luka-luka lainnya. “Mereka dilarikan ke RSUD Badung dan akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan,” ujar Kasat Lantas Polres Badung AKP I Wayan Sudita.
Menurutnya, Wati dan kedua anaknya saat itu pulang ke kampung halamannya di Desa Pujung, Luwus. Dia dan suaminya selama ini kos di Kerobokan, Kuta Utara. Sedangkan, pengemudi mobil Jimny, Prabawa, bersama istrinya, Desak Made Widyawati (31), dan seorang anaknya, hendak sembahyang ke Denpasar. Kecelakaan itu mengakibatkan bagian depan kanan mobil penyok. Sementara sepeda motor ringsek di bagian depan. “Penyebab kecelakaan, pengendara motor diduga kurang hati-hati saat mendahuli kendaraan lain,” tandas Kasat Lantas. Wiadnyana
14 - 20 April 2014
33
KRIMINAL
Bawa SS ke Rutan Bangli, PETUGAS jaga rumah tahanan negara (rutan) harus benar-benar jeli memeriksa barang yang dibawa pembezuk. Kalau tak demikian, maka benda-benda haram bisa ada di tangan tahanan atau napi. Seperti di Rutan Bangli, dua pembesuk akhirnya diciduk polisi lantaran kedapatan membawa dua paket sabu-sabu (SS) pesanan seorang napi di dalam rutan setempat. Penangkapan kurir itu dilakukan Sabtu (30/3) lalu sekitar pukul 11.30. Keduanya, Wahyu Prasetyo (22) dan Maskur Ali Yusuf (21), asal Magetan, Jatim, menyaru sebegai pembesuk salah seorang napi narkoba dengan membawa sejumlah makanan. Paket SS tersebut mereka masukkan ke dalam bungkus mie untuk mengelabui petugas jaga. Tapi petugas yang tidak mau kecolongan, memeriksa secara cermat semua bawaan kurir tersebut, termasuk mie yang mereka bawa. Saat pemeriksaan berlang-
sung, petugas akhirnya curiga melihat gerak-gerik keduanya. Terlebih salah satu bungkus mie yang mereka bawa kempes. Begitu bungkus mie itu dibuka, petugas jaga menemukan plastik berisi serbuk putih berupa SS. Tersangka Wahyu Prasetyo dan Maskur Ali Yusuf lantas diserahkan ke Satnarkoba Polres Bangli. Dari hasil pemeriksaan, mereka mengaku bahwa SS tersebut dipesan salah satu napi yang ditahan di Rutan Bangli. SS tersebut dipesan melalui HP seluler. Sama dengan pengakuan kurir SS lainnya, kedua pelaku berdalih tidak mengetahui isi mie di dalamnya. Mereka hanya mengaku, bertugas membawakan pesanan napi yang disebutsebut berinisial AN tersebut.
Menurut petugas jaga Rutan Bangli, Komang Sukayasa, sebelum digiring ke Polres Bangli, benda yang diduga SS tersebut sempat diperiksa kembali oleh petugas Satresnarkoba. “Polisi membawa keduanya ke polres untuk pemeriksaan lebih lanjut,� tegasnya. Di tempat terpisah, Kasatnarkoba Polres Bangli AKP Agung Buwono tidak menampik informasi tersebut. Pihaknya masih melakukan pendalaman dari mana asal SS tersebut. Sedangkan tersangka Wahyu Prasetyo dan Maskur Ali Yusuf di hadapan polisi ngotot mengatakan bahwa titipan itu diambil di bawah pohon di seputar Suwung, Sanur, Denpasar. Tersangka Wahyu Prasetyo mengaku bahwa sebelum ditangkap bersama temannya, dia dihubungi via (HP) oleh terpidana narkoba 12 tahun penjara, Adriansyah.
MBP/puspajingga
Tersangka Wahyu Prasetyo dan Maskur Ali Yusuf (keduanya duduk di lantai), saat diinterogasi polisi lantaran tepergok membawa SS ke Rutan Bangli.
34
14 - 20 April 2014
Dua Kurir Diciduk Ketika itu, terpidana yang kedapatan membawa 15 paket SS sehingga dibekuk anggota Polresta Denpasar tahun 2012 itu meminta Wahyu membawakan bekal untuk hari raya Nyepi. Setelah disanggupi, ketika menuju Bangli, dia kembali diminta mengambil titipan mie dari temannya. Dengan alasan terburu-buru, titipan mie itu lantas ditaruh di bawah pohon di dekat traffic light di kawasan Sanur. Tanpa curiga, titipan itu segera dibawa Wahyu dan Maskur ke Rutan Bangli. ‘’Saat mencari Rutan Bangli, dia sempat nyasar ke tempat penjagaan
polisi. Petugas jaga lalu menunjukkan jalan ke rutan,’’ papar AKP Agung Buwono. Meski tersangka Wahyu ngotot tidak mengetahui di dalam mie berisi paket SS, namun polisi tidak serta-merta percaya. Polisi juga mengecek HP yang dipergunakan tersangka dan pemesannya di Rutan Bangli, tapi semua pesan di dalamnya terhapus. ‘’HP-nya sudah disita dan sekarang masih dipelajari petugas,’’ imbuh AKP Agung Buwono. Pihaknya juga mengapresiasi kejelian petugas jaga di Rutan Bangli, karena setelah menemukan
kecurigaan, mereka segera berkoordinasi dengan polisi sehingga kedua kurir SS itu berhasil ditangkap. Sedangkan untuk menyelesaikan dugaan keterlibatan salah seorang narapidana (napi), polisi berkoordinasi dengan Kepala Rutan Bangli. Puspajingga
PT Hardys Retailindo Terima Kucuran Kredit Rp 40 Miliar dari BDS “Grup Hardys/GH Holdings melalui salah satu core business-nya HardysRetail (PT Hardys Retailindo) kembali mendapat kucuran dana kredit sebesar Rp 40 miliar dari Bank Danamon Syariah (BDS)”. DITEMUI setelah akad penandatanganan Offering Letter (OL) kredit pada Rabu (26/3) di VIP Sandat Meeting Room, Head Office GH Holdings, Jalan Tukad Pakerisan No.100X Panjer, Syahrial Bakry selaku Area Manager BDS melalui Ibu Siti Fauzijah mengatakan PT Hardys Retailindo telah membuktikan bahwa perkembangan bisnisnya hingga saat ini terus menunjukkan peningkatan yang signifikan dengan melampaui rata-rata pertumbuhan ritel nasional, hal itulah yang menjadi tolok ukur mengambil keputusan. Finance Director Grup Hardys Holdings I Made Widana, S.E. yang didampingi oleh I Made Abdi Negara, S.Sos., selaku Corporate Secretary & Business Development Director menambahkan, fasilitas pinjaman ini merupakan refinancing guna pengembangan HardysRetail untuk membuka 9 outlet di tahun 2014. Pengembangan dan pembangunan 9 outlet baru HardysRetail, imbuh Widana, selain memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan belanjanya, pembukaan outlet baru juga termasuk salah satu upaya dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan sesuai budaya perusahaan nomor 1 (satu) yakni menomorsatukan pelanggan.
I Made Abdi Negara, S.Sos., selaku Cor- dari Bank Danamon Syariah merupakan kali porate Secretary & Business Development kedua setelah tahun sebelumnya juga diberikan Director mengatakan bahwa 9 outlet baru oleh Bank Danamon. “Meskipun dulu hanya yang akan dibangun oleh HardysRetail adalah dibiayai oleh Bank Konvesional saja, saat ini lokasi-lokasi yang sampai dengan detik ini Bank Danamon Syariah pun mau membiayai belum ada outlet HardysRetail. “Kita akan Grup Hardys,” tukasnya. Dikonfirmasi terpisah, Komisaris Utama fokus di daerah yang belum ada outlet HardysGH Holdings Ketut Rukmini, SP., menyatakan Retailnya”, ujarnya. Ir. Gede Agus Hardyawan, Presiden Direk- menyambut baik penandatanganan kredit ini. tur GH Holdings yang akrab disapa Gede “Kami yakin bahwa kerja sama ini tidak berhenti Hardy menyatakan bahwa kepercayaan yang sampai di sini, tetapi akan ada keberlanjutan dari diberikan Bank Danamon Syariah (BDS) meru- kerja sama ini untuk bersama mengembangkan pakan kesempatan yang sangat baik dan tidak Grup Hardys/GH Holdings,” katanya. bisa diraih dengan mudah serta merupakan adv hasil kerja keras seluruh insan GH Holdings dari jajaran paling bawah, manajemen hingga ke pengurus perusahaan yang bahu membahu dan dengan penuh komitmen membawa panjipanji Grup Hardys ke arah yang benar (on the track). ”Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana Grup Hardys terus bisa meningkatkan kepercayaan perbankan yang tentunya harus dipenuhi oleh kesadaran dan komitmen tinggi mendukung pertumbuhan bisnis Grup Hardys,” jelasnya. Masih menurut Lulusan Fakultas Teknik Industri, InBANK - Gede Hardy bersama Legal Officer Bank Danamon stitut Teknologi Bandung Syariah Siti Fauzijah didampingi Finance Director Made Widana, S.E., dan Jajaran Direksi Bank Danamon Syariah. (ITB) tersebut, skema kredit
LINGKUNGAN
DAS Pakerisan
Kualitas Air Menurun DAS Pakerisan
D
aerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan merupakan salah satu daerah aliran sungai yang ada di Kabupaten Gianyar. DAS Pakerisan membentang sepanjang 34,5 km, dari hulu yang berada di Kabupaten Bangli, hingga ke bagian hilir di Kabupaten Gianyar. Oleh UNESCO, DAS Pakerisan telah ditetapkan menjadi warisan budaya dunia (WDB). Mengingat, sepanjang aliran sungai Pakerisan terdapat situs-situs bersejarah yang mempunyai nilai holistik yang tinggi, yang dikagumi oleh warga dunia. Namun kondisi DAS Pakerisan cukup memprihatinkan. Salah satunya kualitas air yang mengalir sepanjang DAS Pakerisan masih mencemaskan. Jika dilihat, sepanjang aliran DAS Pakerisan terdapat sumber mata air. Khusus di Kabupaten Gianyar, hulunya merupakan aliran mata air yang ada di Pura Tirta Empul, kemudian mata air di Pura Mengening, Pura Gunung Kawi, dan beberapa sumber mata air disepanjang Kecamatan Tampaksiring, hingga di Tirta Dukun, Kelurahan Bitera. Sesuai data penelitian yang dilakukan, terdapat 15 buah mata air disepanjang DAS Pakerisan. Muara dari Das Pakerisan diperbatasan antara Desa Lebih Gianyar dengan Cucukan Desa Medahan, Keca-
36
14 - 20 April 2014
matan Blahbatuh. Faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas air karena perubahan tata guna lahan/alih fungsi lahan, berkurangnya areal resapan air sehingga terjadi erosi dan rendahnya kesadaran masyarakat. Parahnya lagi, sebagai akibat dipakai lokasi pembuangan sampah, serta rendahnya disiplin penegakan hukum, komitmen, dan belum optimalnya penegakan hukum. Pencemaran terjadi dari hulu, tengah, hingga hilir. Pencemaran yang terjadi akibat potensi erosi, peternakan, pariwisata, sampah dan pertanian (pestisida). Dari tingkat pencemaran yang terjadi itu, sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Gianyar bekerja sama dengan Universitas Udayana di tahun 2013, air DAS Pakerisan masuk dalam kualitas kelas tiga. Untuk bagian hulu dan tengah, DAS Pakerisan masuk kelas tiga. Kualitas air demikian hanya cocok untuk kegiatan budi daya ikan atau keperluan minum ternak. Tak layak dikonsumsi sebagai air minum. Sedangkan dibagian hilir dari DAS Pakerisan, kualitas air DAS Pakerisan masuk dalam kelas empat yang hanya cocok untuk pertanian saja. Dengan kondisi kualitas air yang demikian menjadi peringatan keras bagi
masyarakat Gianyar. Khususnya, bagi mereka yang masih memanfaatkan air sungai untuk dikonsumsi maupun kepentingan lain. Kualitas air di DAS Pakeringan kondisinya makin memprihatinkan. Kualitas air sungai yang makin mengalami penurunan disertai belum ada aksi konkrit pemerintah bersama masyarakat mengembalikan kualitasnya. Kepala BLH (Badan Lingkungan Hidup) Kabupaten Gianyar Anak Agung Dalem Jagadhita, SH. menyatakan terhadap tingkat pencemaran saat ini baru sebatas pengukuran kualitas air sungai untuk menentukan kelas sungai. Terhadap hasil kualitas air belum ada tim yang dibentuk untuk melakukan pemantuan kawasan secara holistik. Ke depan, sedang direncanakan membentuk badan pengelolaan dan membangun otoritas dengan melakukan koordinasi lintas sektor. Kendala yang dihadapi selama ini adalah instrumen kebijakan. Dalam tataran makro untuk kebijakan pencegahan telah ada melalui program aksi pemerintah daerah. Sedangkan dalam kebijakan lokal ini masih banyak yang perlu dilakukan penguatan khususnya konservasi lintas sektoral. Agung Dharmada
Instalasi pengolahan air bersih di IPA Estuary PDAM Tirta Mangutama Kabupaten Badung
Sampah Hantui Pengolahan Air Baku ALIRAN air Tukad Badung tak lagi terbuang sia-sia ke laut. Air Tukad Badung di hilir ditampung dalam sebuah Waduk Muara di Suwung. Namun air baku tersebut tak otomatis siap digunakan untuk air bersih. Air tersebut mesti diolah dengan menggunakan teknologi canggih agar layak digunakan untuk keperluan air bersih masyarakat di Badung Selatan. Makhlum di kawasan Badung Selatan ini terpusat hotel berbintang di Bali. Di samping untuk memenuhi keperluan air bersih di sekitarnya seperti Tuban, Jimbaran, Ungasan, Pecatu sampai Bualu Nusa Dua. Liku-liku pengolahan air Tukad Badung menjadi air baku sebelum siap dialirkan melalui pipa air PDAM Badung ini memang tak mudah. Persoalan klasik yang masih tetap menghantui sampai saat ini adalah sampah. Meski ada imbauan warga agar tak membuang sampah sembarangan ke sungai yang disertai ancaman perda, tampaknya itu tetap tak mempan. Warga tetap membuang sampah sembarangan. Sampah menjadi persoalan pelik yang mencemari air Tukad Badung. Bahkan volume sampah tak hanya meningkat pascahari raya. Petugas justru kewalahan membersihkan sampah
saat musim hujan karena volumenya membludak. Masalah ini kerap membuat pihak PDAM Tirta Mangutama Kabupaten Badung keteteran. “Sampah jelas menjadi permasalahan dalam pengolahan air. Waktu banjir dulu kami bahkan sempat kewalahan karena sampah membludak. Air sangat kotor,” kata Direktur Utama PDAM Tirta Mangutama Kabupaten Badung I Made Subarga Yasa. Meski telah menggunakan teknologi canggih beserta sejumlah prosedur ketat yang harus diikuti, kualitas air baku tetap menentukan proses pengolahan. Selain proses pengolahan air baku menjadi air bersih di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Estuary oleh PDAM Tirta Mangutama Kabupaten Badung, menggunakan teknologi canggih, pihaknya menerapkan standard operating procedure (SOP) yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes). Bahkan, pada proses pengolahan air, IPA Estuary di Kuta dilengkapi dengan laboratorium khusus. Laboratorium dan SOP yang diterapkan sesuai Permenkes, bertujuan untuk memastikan kualitas air hasil pengolahan benar-benar layak didistribusikan ke masyarakat. “Tak cuma di estuary saja, semua pelayanan
kami seperti itu,” ujarnya. Dari data, IPA Estuary PDAM Tirta Mangutama Kabupaten Badung dibangun dari tahun 1996 sampai 1998. Pengolahan air ini mulai beroperasi sejak tahun 2000. Sumber air baku berasal dari waduk muara (Tukad Badung) dengan kapasitas instalasi 500 liter per detik. Fasilitas IPA Estuary di antaranya unit air baku yang terdiri atas bangunan intake dan stasiun pompa air baku. Fasilitas berikutnya berupa unit pengolahan yang terdiri dari aerasi, pulsator, flokulator dan filter. Unit air bersih terdiri atas reservoir dan stasiun pompa air bersih. Beberapa fasilitas penunjang lainnya berupa bangunan kimia dan rumah genzet. Dari data operasional yang dirilis, produksi air di IPA Estuary tahun 2008 sebanyak 8.446.189 meter kubik per tahun, tahun 2009 sebanyak 8.536.293 meter kubik per tahun, tahun 2010 sebanyak 9.762.239 meter kubik per tahun, tahun 2011 sebanyak 13.894.831 meter kubik per tahun dan tahun 2012 sebanyak 23.795.011 meter kubik per tahun. Dedy 14 - 20 April 2014
37
PARIWISATA
Pariwisata Bali Minim Anggaran Promosi
K
einginan Pemerintah Provinsi Bali meningkatkan angka kunjungan wisatawan tak linier dengan jumlah anggaran promosi yang disediakan. Pemprov Bali hanya menganggarkan Rp 1,5 miliar untuk biaya promosi pariwisata 2014. Bahkan, angka ini terus dipangkas dari tahun-tahun sebelumnya. Seperti, dana promosi pariwisata Bali 2008 sebesar Rp 5,17 miliar atau turun hingga 19 persen dibandingkan tahun 2007 yang mencapai Rp 6,38 miliar, tahun 2009 dipangkas menjadi Rp 4 miliar, dan 2010 anggaran promosi mencapai sekitar Rp 4 miliar. Minimnya dana promosi pariwisata dinilai kalangan pariwisata akan menghambat upaya menarik wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Dewata ini. Di lain sisi, Bali harus membidik wisatawan yang memiliki spending money menengah dan tinggi, karena pariwisata Bali berbasis pada budaya. Budaya adalah kehidupan dan cara hidup orang Bali yang berbasis agama dan budaya Hindu Bali. “Pasar wisatawan yang mempunyai daya beli menengah dan tinggi ada hampir di semua negara, tinggal bagaimana kita menargetkan pasar tersebut. Hanya saja kelemahan kita di Bali, dana promosi yang dianggarkan masih minim sekali,” kata pakar pariwisata Unud Drs. Ec. I Putu Anom, M.Par. Menurutnya, Bali tetap harus dipromosikan, kendati dana yang dianggarkan hanya Rp 1.5 miliar. Sebab, strategi dan cara promosi tidak harus jalan keluar negeri ramai-ramai. Promosi bisa lewat internet, media elektronik, media cetak dalam dan luar negeri. Kemenparekraf juga promosikan Indonesia, termasuk Bali sebagai daerah tujuan wisatawan
utama dan unggulan Indonesia. Event internasional di 2013, seperti Miss World, WCF, WTO, Bali Democracy Forum juga telah menjadi ajang mempromosikan Bali. “Meski anggaran promosi kecil, tetapi kita harus efisien dan tepat sasaran. yang harus diperhatikan adalah materi promosi harus benar-benar sesuai dengan realita yang ada di Bali agar tidak mengecewakan wisatawan,” tegasnya. Ketua Unsur Penentu Kebijakan BPPD Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan, dengan turunnya anggaran dana promosi pariwisata dari Pemprov Bali maka kemungkinan besar promosi pariwisata Bali tidak akan fokus. “Sebenarnya BPPD sudah menyusun program, sesuai hasil raker tahun sebelumnya. Untuk melaksanakan program promosi tersebut ada biaya yang diperlukan. Ini berasal dari private sector (swasta) yang tidak mengikat dan pemerintah,” ujarnya. Namun, apabila salah satu sumber biaya promosi BPPD dikurangi atau apalagi tidak ada tentu akan berimbas pada pelaksanaan program BPPD. BPPD Bali tidak bisa mengeksekusi programprogram tersebut secara kolektif, terstruktur, dan terorganisir. “Promosi pariwisata Bali 2014 akan sama seperti promosi pariwisata tahun-tahun sebelumnya. Promosi ini bersifat parsial dan tidak fokus,” ucapnya. Pria yang akrab disapa Cok Ace ini menambahkan, pelaku pariwisata Bali tidak p u nya power untuk menyatukan sumber dari private sector. BPPD akan sangat sulit bisa bekerja
tanpa adanya dukungan dana dari pemerintah. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat. Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Bali pada Februari 2014 mencapai 275.795. Sedangkan, wisatawan mancanegara yang paling banyak berkunjung ke Bali selama Januari-Desember 2013 adalah kebangsaan Australia menduduki peringkat pertama sebanyak 826.388 orang, disusul Cina sebanyak 387.533 orang, Jepang 208.116 orang, Malaysia sebanyak 199.232 orang dan Singapura 138.388 orang. Kunjungan wisman asal New Zealand mengalami penurunan 0,60 persen menjadi 48.749 orang dari tahun sebelumnya (2012)49.044 orang. Sementara di tahun 2013 ini kunjungan Thailand juga mengalami penurunan 3,98 persen menjadi 34.728 orang. Parwata
Tak Cukup Hanya Sebar Brosur MINIMNYA dana promosi pariwisata yang dianggarkan Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pariwisata setempat mengudang perhatian kalangan pelaku pariwisata. Pasalnya, mustahil jika ingin menggaet wisatawan berkualitas ke Bali tanpa didukung dana promosi yang memadai. Sebab, dalam promosi pariwisata tidak cukup hanya dengan selembar brosur bisa menggaet wisatawan berlibur ke Bali. “Menurunnya dana promosi pariwisata Bali sudah tentu tidak akan mungkin menggaet wisatawan berduit. Dalam teknis promosi pariwisata tidak cukup hanya dengan selembar brosur bisa menggaet wisatawan berlibur ke Bali,” ungkap Bendahara Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali Bagus Soediana. Menurutnya, kegiatan promosi di luar negeri juga bisa dilakukan dalam bentuk roadshow melalui kegiatan table top, dan party dalam satu gedung. Selain mempresentasikan alam Bali melalui DVD, dan media promosi lainnya. “Untuk promosi di luar negeri tentu diperlukan anggaran dana promosi yang memadai. Jika dana promosi hanya cukup sekedar penyebaran brosur maka wisatawan yang bisa digaet ke Bali hanya tamu kacangan,” ujar Penasehat Pawiba ini. Dia berpendapat, menggaet wisatawan berkualitas media promosi dan kegiatan promosi di negera pasar pariwisata Bali mesti dikemas dengan baik. Ini tujuannya agar wisatawan calon wisatawan bisa tertarik untuk datang ke Bali. “Seperti mengg a e t
wisatawan yang memiliki lama tinggal yang panjang di Bali, seperti wisatawan Jerman, Amerika, Eropa, dan Rusia paket wisata yang ditawarkan harus bagus,” tegasnya. Sementara Dinas Pariwisata (Diparda) Bali memproyeksi kunjungan wisman dan wisatawan nusantara (wisnus) ditahun 2014 sebanyak 3,5 juta wisman. Sedangkan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Pulau Dewata 2013 sebanyak 3.278.697 wisman. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya sebanyak 2.892.019 wisman. Parwata
Bali Post/dok
Kendati pesona pariwisata Pulau Dewata tersohor hingga ke mancanegara, namun keragaman daya tarik wisata yang ada perlu tetap dipromosikan.
MBP/Komang Suryawan
HIPNOTIS PENGGEMAR - Penyanyi legendaris Indonesia Ebiet G. Ade menghibur penggemarnya di Shankara Resto, Sanur, belum lama ini. Ebiet sukses menghipnotis para pecinta lagu-lagu miliknya tersebut. “Lagu Untuk Sebuah Nama’’ menjadi pembuka penampilan Ebiet yang masih terlihat energik. Penyanyi asal Banjarnegara, Jawa Tengah ini banyak bersenandung tentang cinta, seperti “Camelia”, “Masih Ada Waktu”, “Berjalan di Hutan Cemara”, “Cintaku Kandas di Rerumputan” dan “Elegi Esok Pagi”. Ebiet tak lupa membawakan lagu dari album terbarunya berjudul “Serenade”.
Raih sukses dengan menginformasikan kegiatan/usaha, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), peluncuran produk, dan promosi lainnya melalui rubrik Event dengan menghubungi bagian Iklan Bali Post - (0361) 225764. Penyampaian materi dilakukan dua minggu sebelum penerbitan.
40
14 - 20 April 2014
SENI
Penari Topeng Sidakarya
Tak ”Mawinten”, Bisa Sakit
T
openg Sidakarya tidak boleh ditarikan oleh orang secara sembarang. Untuk bisa memakai dan menarikan topeng Sidakarya, penari harus melalui upacara pawintenan eka jati yang dilakukan oleh sulinggih. Yakni penari melakukan upacara masakapan (nikah) dengan tapel tersebut. Kalau tidak, si penari bisa jatuh sakit saat menarikannya. Dalam pentas juga tak boleh berbicara sembarang karena sudah ada aturan bahasa apa yang dikeluarkan. Sebab, fungsi sudah dibuat secara pasti. Bagi masyarakat Hindu di Bali topeng Sidakarya dipentaskan pada hari-hari suci terkait dengan upacara adat dan agama. Topeng Sidakarya berwarna putih, bermata sipit, giginya agak maju (jongos), berwajah setengah manusia dan setengah demanik, berambut sebahu, memakai kerudung yang dirajah. Penarinya membawa bokoran berisi canang sari, dupa, beras kuning, sekar ura (bunga tabur), dan sebagainya sebagai simbol kedarmawanan. Dalam pentasnya, penari topeng
42
14 - 20 April 2014
Sidakarya menari dangkrak-dingkrik dan dilanjutkan dengan menangkap penonton yang masih anak-anak lalu diberikan uang kepeng. Itu sebagai perwujudan mengobati orang sakit serta memberikan kesejahteraan pada orang lain. Hal ini juga merupakan simbolis siklus kehidupan yaitu lahir, kecil, muda, tua, mati. Topeng Sidakarya bukan sekadar penutup wajah, tetapi memiliki kekuatan magis sehingga dipentaskan pada harihari tertentu. Dalam menari, seorang penari topeng Sidakarya harus mampu ngucarang (mengucapkan) mantramantra suci dan khusus yang tidak sembarang orang boleh melakukannya. “Ada penari yang berkata-kata acak lalu jatuh sakit. Setelah melakukan pawintenan kembali penari itu bisa pentas kembali,” katanya. Penari topeng I Ketut Pelor mengatakan, pementasan topeng Sidakarya ini memiliki makna religius untuk muput (menyelesaikan) suatu upacaraupacara besar bagi umat Hindu di Bali. “Sebagai seni ritual topeng Sidakarya bukan hanya untuk mentradisikan legenda pamuput yadnya, tetapi juga menjadi media perlawanan dalam mengatasi masalah merosotnya moral dan bisa menjadi tongak untuk menguatkan kesenian di Bali khususnya seni tari wali ini,” ucapnya. Topeng Sidakarya sebagai pamuput upacara seperti Dewa Yadnya, Bhuta Yadnya, dan Rsi Yadnya. Terkecuali upacara Manusa Yadnya tidak memakai topeng Sidakarya. “Jika tidak mementaskan topeng Sidakarya dipercaya akan mendapat halangan dalam melakukan suatu upacara. Misalnya, menyebabkan kegelisahan dalam pikiran,” ucapnya. Hal senada juga dikatakan penari topeng Ketut Wirtawan dan Gde Sudiarcana. Khusus untuk topeng Sidarkaya ada uger-uger (aturan) yang harus diikuti. Jika melawan dan salah, pasti akan mendapatkan risiko. Karena, mulai dari pembuatan topeng Sidakarya hingga mementaskannya juga melalui uger-
uger, seperti memakai kayu tertentu, membuat mencari hari baik, hingga melaspas dilakukan dengan upacara. Kisah topeng Sidakarya dimulai pada pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel, ketika beliau mengadakan upacara besar di Pura Besakih banyak pandita yang diundang untuk muput upacara ini. Ada pandita (brahmana) sakti dari Keling yang tidak diundang namun ingin terlibat muput karya. Niatnya ini karena didasarkan pada hubungan kekerabatan antara Keling di Jawa dan Gelgel di Bali. Sayangnya, karena perjalanan yang jauh dan berhari-hari, Pandita Keling sampai di Gelgel dalam keadaan kumal, bajunya compang-camping, mirip seorang pengemis. Dalam pakaian seperti itu, tak ada seorang pun kerajaan yang percaya, sehingga Pandita Keling diusir paksa dan dihina. Pandita Keling lalu pergi di sebuah tempat yang sepi di Badung Selatan yang kini bernama Desa Sidakarya. Upacara yang digelar Dalem Waturenggong tidak membawa berkah, tidak berhasil, malahan menimbulkan bencana. Semua banten menjadi busuk dan tikus-tikus pun mengerubungi banten busuk itu. Tikus semakin banyak sampai merusak tanaman petani yang membuat semua menjadi resah.Raja Waturenggong dalam samadinya tahu siapa yang mengutuk upacara besarnya itu. Beliau lantas mengutus Arya Tangkas untuk menjemput Pandita Keling yang masih tinggal di tempat sepi (suwung) yang kini menjadi Desa Sidakarya itu. Raja meminta maaf dan mempersilakan Pandita Keling untuk ikut muput upacara bahkan menjadi pamuput paling akhir sehingga karya itu menjadi sida (diberkahi). Prosesi ini bagi masyarakat kebanyakan lantas disebut pamuput Sidakarya. Agung/Budarsana LAPORAN
www.bali-travelnews.com
PROFIL
Deasy Swandarini
Cinta Kasih kepada Alam
M
enghadapi tempat kerja baru tidak hanya sekali dirasakan Deasy Swandarini. Sebelumnya, dia juga sempat memberikan totalitas dan loyalitasnya pada bidang yang sama di industri perhotelan seperti Hotel Kayu Manis, Royal Santrian dan Mulia. Dan kini, dirinya kembali mendapat kepercayaan sebagai Residence Manager di Kamandalu Resort and Spa. Di mana pun dia bertugas, dia tidak ingin hanya menyumbang buah pikiran dan memanage. Tetapi juga meningkatkan dan meneruskan program mulia salah satunya planting tree. “Di Kamandalu saya baru tiga bulan, kehadiran saya kebetulan bersamaan dengan rebranding produk resort. Saya melihat resort yang berdiri di kawasan Ubud ini banyak punya keunikan dan potensi yang sangat bagus seperti view alam, sawah dan desa. Nah, untuk menyelaraskan hal ini saya akan terus mendukung dan melanjutkan kegiatan planting tree,” ungkap perempuan kelahiran 4 November ini. Deasy menyampaikan, planting tree ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh repeater guest. Pohon yang mereka tanam akan dirawat dan dibesarkan di resort ini serta dibuatkan tempat khusus. Suatu saat, apabila mereka kembali menginap ke Kamandalu, mereka bisa melihat pohon yang telah ditanam “Ini semacam kenang-kenangan. Ketika pohon-pohon yang mereka tanam tumbuh besar dan berkembang, kita akan foto dan kirimkan via email setiap enam bulan kepada pemiliknya. Tanggapan mereka positif, senang bahkan sangat apreciate dalam melestarikan alam,” tuturnya ramah. Pohon yang mereka tanam, sebagian besar yang memiliki umur panjang seperti palem, jeruk, rambutan, manggis, durian, nangka dan juga pohon bunga seperti kenanga dan masih banyak lagi. Saking banyaknya pohon, pohon-pohon sampai direlokasi agar tetap terawat. “Kegiatan sederhana namun bermanfaat ini adalah bentuk
cinta kasih kami pada alam dan salah satu upaya untuk mewujudkan program Save Our Planet and Go Green,” terangnya. Ocha LAPORAN
www.bali-travelnews.com
TRADISI
�Ngusaba Tipat�
Ungkapan Rasa Syukur Para Petani
J
ika di Desa Adat Kapal, Mengwi, Badung, ada tradisi Aci Rah Pangangon atau lebih dikenal dengan Perang Ketupat atau Perang Tipat -- yang dilangsungkan tiap tahun di depan Pura Desa Lan Puseh Desa di Gianyar
44
14 - 20 April 2014
terdapat tradisi serupa yang dikenal dengan Ngusaba Tipat. Ngusaba Tipat itu dilangsungkan bertepatan dengan rerahinan Anggara Kasih Wuku Kulantir. Ribuan warga dari 20 subak yang ada di bawah Subak Gede Masceti, Medahan,
Kecamatan Blahbatuh, Gianyar terlibat dalam ritual tersebut. Ngusaba Tipat itu sebagai ungkapan rasa syukur para petani atas hasil panen mereka. Ritual yang dilakukan secara turun-temurun ini dilaksanakan setiap tahun di Pura Masceti.
Warga subak dengan berpakaian adat madya berbondong-bondong datang ke Pantai Masceti membawa sesajen tipat dan sebagainya yang dibungkus dengan kisa, semacam anyaman yang terbuat dari daun kelapa. Sesajen itu kemudian dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Mahakuasa sebagai rasa syukur ata anugerah-Nya. Prosesi ritual Ngusaba Tipat itu dipimpin Pemangku Gede Pura Masceti dengan prosesi awal mendak di segara. Selanjutnya dilakukan prosesi di Pura Masceti. Di sana dilangsungkan tradisi Perang Tipat yang
dilakukan oleh panitia Pura Masceti. Ketua Pangemong Pura Masceti Wayan Soma Wirawan menyampaikan, ritual ini merupakan prosesi kaul massal tahunan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat petani di Desa Pakraman Keramas, Medahan, Cucukan dan Tedung. Dikatakannya, Perang Tipat dan permainan adu telor serta kelapa itu adalah simbol pertentangan di alam ini. Karena itu, umat diajak untuk instropeksi diri bahwa sisi positif dan negatif isi alam ini justru sumber keharmonisan, asalkan dikombinasikan secara seimbang. Meski menyajikan kegiatan yang menghibur para pesertanya, lanjutnya, ritual ini sesungguhnya untuk memohon keberlangsungan kehidupan di alam semesta ke hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Seiring dengan itu, umat diharapkan senantiasa menempatkan penghormatan tinggi terhadap unsur-unsur alam. Rangkaian Ngusaba Tipat ini juga digelar ritual Aci dan Tabuh Rah. Aci Tabuh Rah ini digelar tiga hari kemudian, selama empat hari. Pada ritual Aci dan Tabuh Rah yang disebut-sebut Tajen Masceti itu, pada malam harinya juga disertai dengan berbagai hiburan. Sementara itu Pura Masceti berstatus Pura Kahyangan Jagat, kerap didatangi oleh umat dari sejebag jagat Bali. Pura Masceti yang terletak di tepian Pantai Desa Medahan-Keramas, Blahbatuh, Gianyar, kerap menjadi tempat mencari keheningan
jiwa. Pura suci yang berusia tua yang juga merupakan kisah tapak tilas Dhang Hyang Dwijendra ini ramai dikunjungi di saat hari suci umat Hindu. Setiap hari Purnama, Tilem, Siwaratri bahkan saat diselenggarakan piodalan pada Anggar Kasih, Medangsia, umat selalu memadati pura untuk melakukan persembahyangan. Kata ‘’Masceti’’ terdiri atas dua suku kata yakni Mas (sinar) dan Ceti (keluar masuk). Namun soal keberadaan Pura Masceti ini tidak satu pun orang mengetahui kapan pertama kali Pura Masceti dibangun. Meski tak ada prasasti, sebagai bukti tertulis akan keberadaan pura ini ada bukti purana yang sumbernya dari kumpulan data dari berbagai prasasti yang menyebutkan keberadaan pura tersebut. Pura Masceti yang menjadi Pura Kahyangan Jagat ini juga berstatus sebagai Pura Swagina (profesi). Sebagai Pura Swagina, Pura Masceti bertalian erat dengan fungsi pura sebagai para petani untuk memohon keselamatan lahan pertanian mereka dari segala marana (penyakit). Keberadaan Pura Masceti berdasarkan Dwijendra Tatwa adalah kisah perjalanan suci tokoh rohaniwan dari tanah Jawa. Disebutkan bahwa kisah perjalanan Danghyang Dwijendra, pada zaman Kerajaan Dalem Warturengong sekitar abad XIII. Agung Darmada
MBP/dar
Krama subak ngaturan tipat dan sesajen yang terbungkus kisa saat prosesi ritual Ngusaba Tipat. 14 - 20 April 2014
45
ER TPRRAODPI S I TI
Genteng Gelap untuk Rumah Minimalis
S
aat ini banyak pilihan genteng tersedia di pasaran. Namun dari berbagai jenis, ukuran dan bentuk maupun bahan genteng yang akan digunakan untuk atap rumah, sebaiknya mempunyai keterkaitan dengan bentuk dan desain rumah. Tiap gaya rumah harus dipadukan dengan genteng yang menutupi bagian atas bangunan tersebut. Bila arsitektur bangunan memilih gaya tradisional maupun kolonial, maka lebih cocok menggunakan genteng jenis tile keramik atau beton. Akan lebih pas lagi, bila bangunan bergaya tradisional memakai genteng yang terbuat dari bahan material tanah. Berikutnya, pilihan warna menjadi penting agar hunian menjadi lebih indah dan cantik. Sebaiknya warna genteng atau penutup atap disesuaikan dengan warna rumah itu sendiri. Seiring tren bentuk bangunan minimalis, kebanyakan warna genteng yang dipakai berwarna gelap seperti hitam dan abu-abu tua. Begitu pula tekstur genteng, ada yang model silau yang memancarkan warnanya atau tidak. Dulu sempat booming penggunaan genteng tipe glasur yang punya tekstur mengkilap. Pilihan ini mampu menghadirkan kesan mewah. Namun sayangnya, membuat pandangan menjadi silau. Belakangan banyak arsitek yang kurang menyukai tipe ini dan tidak lagi menggunakannya. Bahkan kecenderungan terkini, desain rumah modern seolah-olah ingin menghilangkan kesan bentuk genteng. Tak heran, banyak bangunan yang dibuat kotak. Kalaupun menggunakan genteng,
46
14 - 20 April 2014
bisa saja disembunyikan di balik bangunan kotak tadi. Genteng adalah salah satu jenis atap rumah yang paling banyak digunakan. Bahan bakunya saat ini beragam. Awalnya dari tanah liat, kini sudah banyak ragam dan modiďŹ kasinya. Misalnya, genteng dari keramik atau beton. Genteng keramik banyak dipakai di perumahan besar kelas menengah ke atas, dan genteng beton di kalangan menengah ke bawah. Bahan lain dari genteng adalah serat ďŹ ber, asbes, kaca, beton, dan metal atau seng aluminium. Untuk rumah berkonstruksi kayu, genteng sirap banyak digunakan. Sirap terbuat dari kayu yang sudah diawetkan hingga mampu bertahan puluhan bahkan ratusan tahun lamanya. Cuma yang jadi masalah, adalah perawatannya. Belakangan juga dikembangkan atap/ genteng dari plikarbonat. Bahan ini banyak dipilih karena lebih mampu menahan panas dan biasanya dilapisi lapisan ultraviolet. Bahannya ringan sehingga tak membutuhkan konstruksi yang rumit. Selain itu, warnanya tak cepat pudar dibandingkan dengan ba-
han fiberglass. Genteng polikarbonat mudah ditekuk sehingga pemasangannya juga mudah. Yang terbaru, dikembangkan genteng polivinil klorid yakni antara ďŹ berglass dan polikarbonat. Bahan ini lebih tahan lama dibanding ďŹ berglass, tetapi lebih murah dari polikarbonat. Seperti material bangunan lainnya, pembuatan genteng juga terus berkembang. Salah satunya, genteng yang terbuat dari bahan metal dan bentuknya berupa lembaran, menyerupai bahan seng. Genteng jenis ini biasanya ditanam di balok gording dari rangka atap (kuda-kuda) menggunakan baut. Bahkan kini juga dipasarkan gentang kaca. Genteng ini biasanya dipakai agar sinar matahari dapat masuk ke dalam ruangan secara langsung sehingga menghemat konsumsi listrik untuk penerangan. Biasanya jenis genteng ini banyak dipasang di kamar mandi dan sejenisnya. Hanya saja, genteng kaca mempunyai bentuk yang terbatas sehingga hanya kompatibel atau sesuai dengan beberapa jenis genteng tertentu saja. Selain itu, jenis genteng ini sudah dipastikan gampang pecah. Sugiarta/dari Berbagai Sumber
Estetika dan Keamanan Atap Rumah ATAP merupakan hal paling pokok dan mendasar dari sebuah tempat tinggal, utamanya tempat berteduh. Bayangkan jika tempat tinggal/berteduh tanpa atap, maka jadilah seperti syair sebuah lagu, ‘’beratap langit.’’ Dengan tidak adanya atap, maka tidak ada yang bisa melindungi kita dari panas matahari dan hujan lebat. Namun sejalan perkembangan peradaban dan desain perumahan, keberadaan atap ini selain memberikan perlindungan, juga dapat menambah nilai/keindahan eksterior rumah. Selain fungsi itu, atap pun berperan penting dalam estetika rumah. Bentuk atau desain yang tepat dan warna yang sesuai dengan rumah, membuat hunian lebih mempesona. Atap rumah pun berkembang mulai menggunakan bahan semak belukar pada zaman purba, lalu dari ilalang, daun kelapa, ijuk, bambu, kulit kayu, kayu dan sejenisnya hingga genteng dari tanah liat yang dibakar. Tak puas dengan genteng biasa, kini dikembangkan genteng dari bahan logam/metal seperti seng dan genteng metal, genteng beton, asbes, genteng kaca, genteng plastik/fiberglass, bahkan sampai genteng keramik bahkan juga aspal. Namun sebelum memilih jenis dan bahan genteng, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam pembuatan atap. Misalnya kemiringannya, bentuknya, kondisi cuaca tempat rumah dibangun dan sejenisnya. Sebab, cuaca dan suhu di suatu daerah menjadi salah satu faktor yang penting dalam pembuatan atap rumah. Sebab, bahan atap itu mungkin tidak akan bertahan lama dengan jenis cuaca pada lingkungan rumah di suatu daerah. Sebagai contoh, kita tidak dapat menggunakan seng jika di daerah tempat tinggal sering terjadi angin besar karena seng sangatlah rentang terhadap angin. Selain itu, penggunaan seng juga menambah panas ruangan. Sementara pemakaian genteng dari bahan tanah
liat yang dibakar tidak disarankan untuk daerah bersuhu lembab, karena mudah lumutan dan menyebabkan rangka atap terutama yang terbuat dari bahan kayu cepat rusak/busuk. Demikian halnya penggunaan bahan lain seperti alang-alang yang banyak dijumpai pada bangunan vila dan hotel di Bali, dari segi estetika memiliki nilai keindahan dan pesona tersendiri. Namun dari segi perawatan/pemeliharaan apalagi keamanan (bahaya kebakaran saat musim panas/kemarau), patut sangat dipertimbangkan. Selain itu, bila bentuk atap atau genteng saling bertubrukan dan kebanyakan jurai, justru akan membuat rawan bocor dan mudah rusak. Model bangunan Bali, yakni satu bangunan punya satu atap merupakan yang paling efektif dan efisien bagi kondisi Indonesia. Selain masalah cuaca dan suhu, ada beberapa bahan atap yang sangat mudah untuk dipasang, tetapi ada juga jenis atap yang sulit untuk dipasang. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk pemasangan atap juga bervariasi, tergantung pada bahan yang digunakan. Selain dari bahan, atap juga memiliki ukuran dan ketebalan yang sangat bervariasi. Tak kalah pentingnya, struktur penyangga atap rumah harus bisa bertahan lama untuk bisa menopang beban atap terutama jika bahan atap yang dipilih itu cukup berat. Namun untuk urusan satu ini kini tak perlu khawatir, karena kini tersedia dan lagi tren rangka baja ringan. Setelah proses pemasangan atap selesai, bukan berarti masalah telah selesai. Justru perawatan atap secara berkala harus mendapat perhatian, terutama saat-saat menjelang musim penghujan. Jangan sampai, ketika sudah turun hujan atap rumah malah bocor di mana-mana. Kondisi ini bisa saja terjadi akibat adanya pergerseran pada atap, pecah, ret a k
akibat tertimpa sesuatu dan hal lainnya. Apalagi kondisi masyarakat di Bali utamanya di wilayah Badung, Denpasar dan Gianyar yang memiliki tradisi lomba layang-layang. Beberapa anggota masyarakat memiliki kebiasaan “menginapkan” layang-layang-nya di udara pada malam hari. Hal ini sangat riskan dan rawan jatuh menimpa atap rumah/ bangunan. Ya, kalau layang-layang-nya kecil, tidak terlalu masalah. Tetapi ukuran layang-layang milik masyarakat Badung, Gianyar dan Denpasar apalagi yang diinapkan atau dilombakan, umumnya jumbo bisa sebesar rumah dengan rangka bambu batangan utuh. Bayangkan jika bambu batangan lumayan besar dengan ukuran cukup panjang dibalut kain jatuh menghujam atap rumah, pastilah hancur dan bocor di mana-mana. Jika atap rumah terbuat dari bahan alang-alang, ijuk, anyaman daun kelapa dan sejenisnya (umumnya di vila, rumah tradisional), maka ancaman rayap, burung yang hendak membuat sarang haruslah diwaspadai. Jangan coba-coba memelihara burung merpati apalagi dalam populasi lumayan banyak jika memilih atap rumah dari bahan-bahan tersebut. Sebab, dijamin burung-burung tersebut bakalan betah membuat sarang atau paling tidak mengorek-ngorek atap rumah hingga bolong-bolong di mana-mana. Yang paling sering terjadi juga untuk bahan atap dari alang-alang, ijuk, anyaman daun kelapa, kulit kayu, pecahan bambu adalah bahaya kebakaran terutama di musim kering. Sugiarta/Berbagai Sumber
MANCANEGARA
Mantan Pacar Menjadi Menteri
P
residen Prancis François Hollande membuat sebuah keputusan yang mengundang kontroversi. Sang presiden menunjuk mantan pacarnya, Ségolène Royal untuk menduduki posisi strategis di pemerintahan Prancis. Royal ditunjuk menjadi menteri ekologi di negeri fashion tersebut. Penunjukan ini pun berbuntut kemarahan dari rakyat Prancis karena Hollande menyerahkan posisi senior itu kepada Royal dalam pemerintahannya. Royal yang merupakan ibu dari empat anak Hollande ini tercatat sudah 22 tahun berada di lingkungan pemerintahan Prancis. Di mana saat pertama kali, dia bergabung dengan kabinet François Mitterrand. Namun, sebelum pengumuman ini diumumkan, sebuah jajak pendapat memaparkan lebih dari 70 persen dari rakyat Prancis menolak Royal untuk kembali ke dalam lingkungan kekuasaan. Royal pun mengabaikan kritikan yang
mendarat pada dirinya. Dia mengaku sangat terhormat untuk dipilih dan sangat menyadari dia akan ‘membantu kebangkitan negara’. Hollande sempat dilarang berbicara kepada Royal ketika ia tinggal bersama ibu negara, Valerie Trierweiler. Kedua wanita itu diketahui bermusuhan, namun Hollande membuka jalan bagi Royal untuk kembali ke kancah politik ketika ia meninggalkan Trierweiler setelah perselingkuhannya dengan seorang aktris cantik bernama Julie Gayet terungkap. Mengapa penunjukan Royal ditentang sedemikian keras. Selain karena dianggap tindakan KKN, Royal dinilai tak layak menduduki kursi ini. Usia Royal yang sudah 60 tahun dirasa terlalu tua untuk kebinet yang baru. Terlebih lagi tidak ada prestasi menonjol yang ditunjukkan Royal selama masa pemerintahan Hollande. Namun, sang menteri yang baru ditunjuk bertekad untuk menampilkan performa yang baik guna menyingkirkan semua tud-
ingan miring yang diarahkan padanya. “Kami memang memiliki masa lalu namun itu semua hanyalah masa lalu. Kali ini hubungan yang terjalin adalah hubungan profesional antara presiden dan pembantunta yaitu menteri guna memajukan Prancis,” ungkap Royal. Sebenarnya, Ségolène Royal memiliki karir politik yang cukup panjang. Dia adalah presiden wilayah Poitou-Charentes, anggota Dewan Nasional Perancis, dan anggota terkemuka Partai Sosialis. Pada 16 November 2006 anggota-anggota Partai Sosialis memilihnya sebagai kandidat mereka untuk pemilihan presiden pada 2007. Namun kala itu Royal kalah dari Nicolas Sarkozy. Kini Royal memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuanya sebagai menteri atau memang hanya romantisme semata, patut ditunggu sepak terjangnya beberapa tahun ke depan. Gugiek Savindra
MBP/ap
48
14 - 20 April 2014
Musharraf Lolos dari Upaya Pembunuhan MANTAN pemimpin Pakistan Pervez Musharraf, yang diadili atas tuduhan pengkhianatan, lolos dari upaya pembunuhan dengan menggunakan bom. Bom yang digunakan penyerang untuk meledakkan tubuh Musharraf meledak lebih dulu sebelum rombongan Musharraf tiba. Bom itu ditanam di rute yang bakal dilewati Musharraf dari rumah sakit, di Islamabad, tempat ibunya dirawat. Tidak ada yang terluka dalam ledakan bom itu. Hingga kini juga belum ada kelompok atau pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas insiden itu. ”Bahan peledak empat kilogram yang ditanam di dalam pipa di bawah jembatan meledak sekitar 20 menit sebelum mantan presiden menyeberanginya,” kata pejabat senior kepolisian Pakistan Liaqat Niazi. Muhammad Naeem, juru bicara polisi
Islamabad, membenarkan insiden ledakan bom itu. ”Tidak ada yang terluka dalam ledakan itu,” katanya. Menurutnya Musharraf adalah sasaran yang ditargetkan pelaku pemboman. “Rombongan Musharraf kemudian mengambil rute alternatif,” lanjut Niazi. Ledakan bom ini adalah upaya keempat untuk membunuh sang jenderal. Tiga upaya pembunuhan lain dilakukan saat Musharraf masih berkuasa. Sebelumnya, Taliban pernah mengancam akan mengirimkan pasukan pengebom bunuh diri untuk membunuh Musharraf. Banyaknya ancaman itu membuat Musharraf berkali-kali tak hadir dalam persidangan. Musharraf sempat memimpin Pakistan pada 1999-2008. Dia kembali dari pengasingan pada Maret tahun lalu untuk mengikuti pemilu. Selain itu, kembalinya Musharraf ke nega-
ranya itu karena harus menghadapi serangkaian tuduhan, termasuk tuduhan pengkhianatan. Pengadilan Pakistan mengenakan dakwaan pengkhianatan terhadap mantan pemimpin militer Pervez Musharraf. Musharraf adalah panglima militer pertama yang menghadapi dakwaan seperti itu. Musharraf dituduh secara ilegal mencabut konstitusi dan menerapkan keadaan darurat pada tahun 2007. Ia menyatakan tidak bersalah dan mengklaim dakwaan terhadapnya bermotivasi politik. Musharraf terancam menghadapi hukuman mati bila dinyatakan bersalah. Tentu ini ironis sebab sang mantan presiden berhasil menghindar dari tewas akibat pembunuhan namun terancam tewas oleh hukuman pengandilan. Gugiek Savindra
HIBURAN
Mayadenawa ’’Punggel’’ Akhiri Tofest 2014
P
erburuan Batara Indra bersama pasukannya untuk menghabisi Mayadenawa berakhir. Panah sakti Indra akhirnya membuat leher Mayadenawa punggel (putus). Penggalan kisah inilah yang akhirnya menutup Tegallalang Ogoh-ogoh Festival (Tofest) 2014. Tofest kali ini merupakan sinergi Kabupaten Gianyar dengan Desa Pakraman Tegallalang yang terdiri atas tujuh banjar adat yakni Br. Gagah, Br. Pejengaji, Br. Tegallalang, Br. Triwangsa, Br.Tegal, Br. Tengah serta Banjar Penusuan. Pagelaran drama tari Mayadenawa yang digarap secara kelosal ini pun menyedot perhatian puluhan ribu penonton. Lapangan umum Tegallalang yang menjadi pusat pementasan penuh sesak oleh manusia. Bupati Gianyar A.A. Bharata terlihat antusias menyaksikan pagelaran tersebut. Ratusan wisatawan yang disediakan tempat khusus untuk mengabadikan momen ini terlihat tak beranjak dari tempat duduknya hingga Tofest berakhir. Puluhan wartawan dalam dan luar
negeri juga tampak berbaur di keramaian yang dirangkaikan dengan perayaan Nyepi Çaka 1936 ini. Event kolosal ini juga membuktikan komitmen Pemkab Gianyar melestarikan dan menumbuhkembangkan budaya. Dengan memberi ruang kepada Desa Pakraman Tegallalang untuk menggelar festival ogohogoh secara kolosal dengan mengusung tema “Mayadenawa”, Pemkab Gianyar memberi ruang lahirnya seniman lokal berbasis banjar. Rangkaian cerita dengan lakon “Mayadenawa” ini digarap langsung oleh seniman I Nyoman Cerita, S.Sn., M.Fa. Bendesa Pakraman Tegallalang Pande Wayan Karsa didampingi Ketua Panitia Drs. I Made Dauh Wijana menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak atas suksesnya pagelaran ini. Terkait dengan lakon “Mayadenawa”, Dauh Wijana mengatakan, mengambil setting terkait dengan seorang raja yang sangat sakti, memiliki balayuda (pasukan perang) sangat banyak yang sangat setia kepada raja. Raja ini
bertahta di Istana Bedahulu bernama Sang Prabu Mayadenawa, raja para detya, raksasa, atau denawa di Balingkang, memiliki rakyat kurang lebih akutus keti sampai ke tanah luar Pulau Bali. Dalam kehidupannya Sang Prabu Mayadenawa bersifat loba, angkara murka, dursila, irsia, poraka dan nyapa kadi aku tak henti-hentinya membuat kekacauan, sebab menganggap dirinya paling hebat, paling sakti tak ada yang menyamai kesaktiannya. Setiap saat ia bersikap mengganggu masyarakat yang melakukan aci atau upacara di pura-pura untuk menghaturkan sembah bakti ke hadapan Ida Batara. Sang Prabu Mayadenawa sering juga mengganggu serta menggagalkan tapa orang-orang. Akibat dari perlakuan dan sikap Sang Raja Mayadenawa ini menyebabkan masyarakat menjadi kering rohani, keadaan masyarakat dan bumi menjadi terak alias gering, paceklik berkepanjangan, segala yang ditanam tak menghasilkan dan penyakit menyerang. Dharmada