a ur Tah
rekl
amas
i
25 | 17 - 23 Februari 2014
R 20.000 RP 20 20 0 000 00 00 00
DAFTAR ISI KILAS BERITA CRV Tabrak Lima Kendaraan Dua Tewas, Empat Luka-luka 6 LAPORAN UTAMA Moratorium Morat-marit 8 SEJARAH Saat Raja Airlangga Lihat Penanggungan 10
POLITIK Pilkada Serentak,
Mengaburkan Kearifan Lokal 12 LINGKUNGAN Cuaca Buruk Pelabuhan Rakyat Lumpuh 14
LENSA Panen Rumput Laut 26
OLAHRAGA Tim Baru dan Tekanan Bertambah 28 KRIMINAL Teganya Sopir Truk Perkosa Siswi SMP 32 Diculik di Gianyar, Dibuang di Denpasar 33 Ledakan Tabung Elpiji Pembawa Bencana 34 PARIWISATA Batu Ampar Mulai Memikat Wisatawan 36 EVENT KUNJUNGI BALI POST 40 WISATA Candi Tebing Tegallinggah 42 TRADISI ’’Bayuh Otonan’’ 44 PROPERTI Ruang Makan ’’Outdoor’’
Menyatu dengan Alam 46
OPINI Bencana Alam di Tengah Perebutan
Kekuasaan 16
Mendekorasi Ruang Makan Minimalis 47 BUDAYA Pura Desa sebagai Daya Tarik Wisata 48
JAJAK PENDAPAT Investasi Salah Kelola
Mengantar Bali Undang Bencana 17
PENDIDIKAN Siswa Peduli Bencana Alam 18 MANCANEGARA Banjir Bandang Landa Bolivia 20 Anak-anak Jadi Korban Perang Suriah 21 DAERAH Tukad Jinah Dikepung
Proyek Perumahan 22
KESEHATAN Gangguan Psikosomatis Dapat Picu
Maag dan Sakit Kepala 24
Ni Wayan Kerti Utamakan ”Tetuek” 50 17 - 23 Februari 2014
3
DARI PEMBACA
Bali Milik Investor?
A
neh bin ajaib seorang pemimpin di Bali bilang investor yang punya duit maunya reklamasi Benoa. Kok enak sekali ngomong, emang Pulau Bali punya nenek moyangnya sendiri? Yang punya Pulau Bali masyarakat Bali. Minimal apa yang dilakukan seorang pemimpin, rakyat dikasih tahu. Sekarang rakyat bertanya, emang Pulau Bali punya investor ya? Kalau memang sudah ditolak, kok masih bengkung Pak? Kalau investor segala-galanya sekarang rakyat Bali yang menolak. Eka S. Denpasar
Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata
Pertahankan Warisan Leluhur
M
arilah kita merenung sejenak bahwa Pulau Bali menjadi terkenal sesungguhnya karena para leluhur kita. Mewarisi Bali dengan seni budaya, adat istiadat yang adiluhung, pantai yang begitu luas serta gunung tinggi megah berdiri dengan tegaknya sebagai cerminan Bali wajar disebut pulau surga. Ini mestinya tetap dipertahankan, jangan diutak-atik lagi. Bukankah wisatawan untuk Bali, bukan Bali untuk wisatawan. Untuk itu, mesti dipertahankan aturan yang jelas sejauh mana boleh membangun akomodasi pariwisata. Jangan karena investor mau seenaknya saja mengatasi masyarakat Bali. Mesti ada batas atau zona-zona pembangunan pariwisata. Jika Bali terus digerogoti investor, Bali mau dijadikan apa di masa depan? Dengan sendirinya Bali akan kehilangan taksu-nya karena gencarnya pembangunan pariwisata yang tidak terkontrol. Rencana reklamasi Teluk Benoa mesti distop saja sehingga Bali dengan masyarakatnya menjadi tenang, nyaman menuju shantih dan jagatdhita. I Made Jara Atmaja Jl. Nusa Indah, Gang II/3 Denpasar
Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Sri Hartini, Suana, Sueca, Yudi Winanto Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Diah Dewi, Yudi Karnaedi, Wira Sanjiwani, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Widana. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Adnyana, Gianyar: Agung Dharmada, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Budi Wiryanto Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan NTB Agus Talino, Syamsudin Karim, Izzul Khairi, Raka Akriyani Surabaya Bambang Wiliarto
Tak Setuju Reklamasi Teluk Benoa dan KSPN Besakih
S
aya tidak setuju dengan reklamasi Teluk Benoa, dengan alasan: 1. Bali yang kecil akan diserbu pendatang luar Bali, 2. Orang Hindu Bali akan terdesak/terpinggirkan di rumah sendiri, 3. Air bersih akan sulit, 4. Bali jadi pulau sampah, 5. Daya listrik akan kurang, hingga Bedugul akan dibor (panas bumi). Tambah hancur. Anak-cucu saya nanti akan menerima akibat dari pemimpin Bali yang semau gue. Saya juga tidak setuju KSPN Besakih. Biarpun mau dibangun semacam asrama untuk pamedek, tetapi nanti kalau berkembang, dibangun hotel untuk orang asing, berduyun-duyun orang luar Bali ke Besakih. Pura Besakih akan tercemar. Kita orang/umat Hindu akan dijajah orang luar Bali. Juga saya tidak setuju Tahura (Taman Hutan Raya) atau hutan bakau dikontrakkan. Sebaiknya APBD Bali disiapkan untuk memelihara Tahura agar bersih, subur dan aman. I Made Liang Br. Abasan, Dusun Tegal Buah Desa/Kel. Padangsambian Kelod, Denpasar Barat
4
Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP
17 - 23 Februari 2014
4
5
KILAS BERITA
Di Tanah Lot
Wisatawan Cina Tewas Tergulung Ombak CRV Tabrak Lima Kendaraan
MBP/ant
Dua Tewas, Empat Luka-luka
K
ecelakaan beruntun, Rabu (5/2), terjadi di jalan raya Denpasar-Gilimanuk tepatnya di Lukluk, Badung. Dua orang tewas dalam kejadian tersebut. Sementara korban luka-luka empat orang, satu orang di antaranya adalah bayi berumur 14 bulan. Kecelakaan berawal dari mobil New CRV melaju dengan kecepatan tinggi yang dikemudikan RNW (15), siswi kelas II SMP di Tegal Jaya, Dalung. RNW didampingi sopirnya itu melaju dari arah utara. Tiba di lokasi, tepatnya di Banjar Badung, pelaku menyalip dua sepeda motor hingga mengambil lajur kanan. Pada saat bersamaan, dari arah berlawanan melaju tiga sepeda motor. Satu di antaranya suami-istri dan anaknya yang baru berumur 14 bulan. Tabrakan pun tak terhindarkan. Lima orang pengendara langsung terkapar di tengah jalan. Belum berhenti di situ, mobil mewah berwarna hitam ini kemudian oleng ke timur lanjut menghantam bagian depan mobil angkutan umum yang masih membawa dua penumpang. ‘’Mobil saya mengenai pintu samping kanan mobil mewah tersebut,’’ kata Dirga, sopir angkot tersebut. Kasat Lantas Polres Badung AKP I Wayan Sudita mengatakan, kecelakaan berawal saat mobil yang dikendari RNW meluncur dari arah utara menuju sekolahnya di wilayah Tegal Jaya, Dalung. Sementara sopir pribadinya yakni Hapit (35) duduk di jok samping. ‘’Diduga RNW memaksa mengendarai mobil, padahal di mobil itu ada sopir. Namun
6
kemungkinan takut dengan anak bos, sopir itu pun nurut saja,’’ katanya. Ketika sampai di depan Sekretariat Griya Taman Gede Lukluk, kata Sudita, mobil tersebut menghantam tiga motor yaitu Honda Vario DK 8574 FQ yang dikendarai I Wayan Epan Saputra (22) asal Banjar Perang Alas, Lukluk. Saat bersamaan juga menghatam Suzuki Shogun DK 5974 CZ yang dikendarai Manab (46). Manab membonceng istrinya Nur Lila M (40), dengan menggendong anaknya yang berumur satu tahun dua bulan bernama Nasilatul Mofiroh asal Desa Gucialit, Lumajang, Jawa Timur. Selanjutnya, mobil tersebut menyerempet bagian depan mobil angkutan umum Chevrolet DK 1624 QQ yang dikendarai I Wayan Dirga (46) asal Banjar Keranjung, Sembung, Mengwi dan motor Yamaha Jupiter MX DK 6450 IG yang dikendarai I Putu Yoga Muliartha (18) yang membonceng adiknya Ni Made Merta Dewi (14), warga BTN Merta Anyar, Lukluk. Atas kecelakaan itu, pengendara motor Honda Vario yang berprofesi sebagai satpam I Wayan Epam Saputra (22) tewas di tempat karena mengalami pecah kepala belakang. ‘’Ada satu orang meninggal di tempat, sementara korban lainnya mengalami luka parah dan dilarikan ke RSUD Badung. Termasuk seorang bayi yang mengalami cedera di kening,’’ jelasnya. Sementara korban lainnya yang meninggal adalah Manab. Sedangkan istrinya Laila, dan anak mereka Najila hanya mengalami lukaluka dan sudah diperbolehkan pulang. Manik
HENDAK mengabadikan momen indah di objek wisata Tanah Lot, Kediri, Tabanan, Selasa (4/2), wisatawan asal Cina tewas digulung ombak. Korban sempat terseret ombak hingga tercebur ke laut. Baru 30 menit kemudian tim SAR Gabungan menemukan dalam keadaan kritis. Menurut Humas Tanah Lot, Putu Erawan, saat kejadian pukul 10.50 wita, kondisi gelombang waktu itu cukup tinggi yakni sekitar 3 meter. Korban Tan Jia Tong (11) hendak berfoto di tepi pantai ditemani ayahnya (Tan Yi) dan ibunya (Tang Bo), tepatnya di barat Pura Penyawangan. Meski sempat diingatkan, namun korban tetap tak menggubris. ‘’Saat itu, korban berdiri di atas batu karang di sebelah barat Pura Penyawangan, dekat enjung galuh,’’ katanya. Korban yang baru berusia 11 tahun itu berdiri di atas batu karang. Namun tanpa disadari ombak besar dari belakang menerjang dan langsung menggulung tubuh korban hingga tecebur ke laut. Bahkan ayah korban juga sempat terseret namun berhasil diselamatkan. ‘’Diperkirakan ombak setinggi sekitar tiga meter tersebut langsung menyeret korban ke tengah laut. Korban tampaknya tidak bisa berenang langsung menghilang digulung ombak,’’ jelasnya. Dewi Puspa
17 - 23 Februari 2014
MBP/bit
6
Sepeda Motor Terbakar di SPBU Panjer WARGA di sekitar Jalan Tukad Pakerisan, Panjer, Denpasar Selatan (Densel), Rabu (5/2), digegerkan dengan peristiwa kebakaran. SPBU milik Ida Bagus Keniten (50), nyaris ludes terbakar. Akibatnya, dua orang karyawan SPBU I Nyoman Sudita alias Ateng (37) dan pelanggan, Wayan Budiantara (36) mengalami luka bakar. Mereka langsung dilarikan ke RS Sanglah untuk mendapatkan perawatan. Informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, kebakaran itu terjadi sekitar pukul 09.00 wita. Berawal ketika korban Budiantara membeli bensin di SPBU tersebut. Dengan mengendarai motor Honda Vario DK 2840 CK, ia mematikan mesin motor, sementara yang mengisi bensin yakni Ateng (karyawan SPBU-red). Pengisian
bensin dilakukan sudah sesuai prosedur. ‘’Mesin motor sudah dimatikan,’’ kata salah satu warga di TKP. Saat tangki motor diisi, sempat ada tumpahan karena kepenuhan. Budiantara tak curiga sedikit pun kalau motornya akan terbakar. Setelah kunci kontak dinyalakan, tiba-tiba terlihat ada percikan api di motor tersebut. Dengan cepat api membumbung tinggi dan menyambar kedua korban. Karyawan SPBU lainnya juga langsung mengambil alat pemadam api ringan yang tersedia. Dalam sekejap, api pun berhasil dipadamkan. Namun, dua korban tersebut mengalami luka bakar cukup serius. Mereka kemudian dilarikan ke RS Sanglah untuk mendapatkan perawatan medis. Pramana Wijaya
MBP/eka
Serangan di Aleppo 85 Nyawa Melayang
MBP/afp
JUMLAH korban tewas akibat serangan udara oleh rezim pemerintah di Aleppo naik menjadi 85 orang, seperti dijelaskan oleh kelompok monitoring. Setelah 10 hari pembicaraan damai yang tak meyakinkan, konflik di bawah kembali meruncing. Pertempuran terbaru terjadi saat sebuah bom mobil bunuh diri menggelegar di markas kuat Hizbullah di lintas perbatasan Lebanon, menyebabkan empat orang tewas, Sabtu (1/2). Keadaan tersebut menimbulkan banyak kekhawatiran mengenai semakin meluasnya konflik regional. Beberapa helikopter menghujani kawasan Aleppo pada Sabtu lalu, dengan
rentetan bahan peledak, sebuah taktik kontroversial yang banyak mendapat kutukan oleh kelompok HAM sebagai indiskriminasi. “Sedikitnya 85 orang tewas, termasuk 65 warga sipil, yang 10 di antaranya adalah anak-anak,” jelas Badan Pengamat HAM Suriah, Minggu (2/2). Beberapa serangan menargetkan kota, dengan 34 orang tewas di kawasan Tareq al-Bab. Aleppo telah dipisahkan antara rezim pemerintah dengan wilayahwilayah yang dikuasai pemberontak, sejak pejuang oposisi melancarkan serangan besar di kota ini pada 2012 lalu. Agustoni/ap
Sinabung Memakan Korban ERUPSI Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara akhirnya mamakan korban. Sedikitnya 15 orang tewas akibat awan panas Gunung Sinabung, Sabtu (1/2). Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, korban meninggal dunia di antaranya Surya Sembiring (24), warga Kabanjahe, yang sebelumnya terkena luka bakar awan panas bersama dua korban lainnya yakni Sehat Sembiring (40) dan Donny Sembiring (70). Dia mengatakan, Surya meninggal pukul 08.00 WIB di Rumah Sakit Earina Etaham dan diketahui anak dari Sehat Sembiring. ‘’Data sementara 15 orang meninggal dunia akibat
erupsi Gunung Sinabung,’’ kata Sutopo. Sutopo menjelaskan, Surya Sembiring (24), Sehat Sembiring (40) dan Dony Sembiring (70) pergi berziarah ke Desa Sukamekar, namun Gunung Sinabung kembali mengeluarkan awan panas yang bersuhu 700 derajat Celcius. Sebelumnya, tercatat 14 korban tewas akibat awan panas Gunung Sinabung. Saat ini pengungsi 16 desa sudah boleh dipulangkan yang jaraknya berada di radius lebih dari lima kilometer. Sementara sebanyak 16 desa/dusun lainnya masih ditetapkan sebagai zona merah. Artinya, warga di desa tersebut belum boleh pulang. Antara
10 - 16 Februari 2014
7
MBP/ant
7
LAPORAN UTAMA
Moratorium Morat-marit
G
ubernur Bali Made Mangku Pastika kembali mewacakan moratorium akomodasi pariwisata di Bali Selatan. Ia berencana mempertegas kembali imbauan untuk penghentian sementara pembangunan akomodasi di Badung, Denpasar dan Gianyar. “Sekarang saya sudah rancang surat lagi penegasan moratorium. Segera saya layangkan suratnya. Saya sudah perintahkan bikin tapi belum saya teken,” kata Pastika ditemui usai sidang paripurna di DPRD Bali, dua pekan lalu. “Mengapa ngurug laut, kalau tanah di Bali masih luas?’’ Itu jawaban Menteri ESDM Jro Wacik ketika ditanya pendapatnya tentang rencana reklamasi Teluk Benoa. Kata dia, reklamasi biasanya dilakukan negara-negara kecil yang tidak punya banyak tanah, seperti Singapura. Sebab jika tidak reklamasi tidak bisa survive. Kalau kita negara besar, jadi kalau saya berpikir ngapain reklamasi, sepertinya Bali kekurangan tanah saja,” ungkapnya. Menurutnya, Pulau Dewata memiliki lahan luas yang bisa digarap selain di Bali Selatan. Misalnya, kawasan Kabupaten Buleleng, Karangasem dan Jembrana. ‘’Buleleng masih luas, Karangsem masih luas. Ngapain ngurug-ngurug laut. Kalau Teluk Benoa terjadi pendangkalan harus dikeruk, diperdalam. Itu logis. Kalau kekurangan tanah Buleleng dibangun. Makanya airport saya suruh bangun segera di situ. Saya tidak punya tanah di Buleleng, usulan ini murni untuk masyarakat dan kemajuan Bali,” tegasnya. Lalu apakah moratorium yang akan dikeluarkan akan efektif untuk mengerem laju pembangunan pariwisata di Bali Selatan? Banyak yang ragu. Alasannya, moratorium yang dikeluarkan sebelumnya tak
8
pernah dijalankan termasuk oleh Gubernur sendiri. Hal ini mengacu pada keluarnya izin Gubernur terkait pemanfaatan Tahura Ngurah Rai. Di mana pada proyek yang dikelola PT Tirta Rahmat Bahari, rencananya akan dibangun sejumlah fasilitas pariwisata, termasuk akomodasi. Demikian pula terbitnya SK 2138 (sudah dicabut) yang memberi celah kepada investor untuk melakukan membangun sarana akomodasi dengan mereklamasi Teluk Benoa juga dituding sebagai pengingkaran kebijakan moratorium. Bahkan SK 1727 sebagai pengganti SK 2138 juga dinilai banyak pihak sama substansinya dengan SK sebelumnya. Sehingga muncul pertanyaan, siapa yang seharusnya yang pertama menaati moratorium sehingga tidak muncul plesetan ‘’moratorium morat-marit’’. Anggota DPRD Bali Made Supartha meminta Gubernur memberi contoh dulu atas komitmen moratorium itu sebelum mengimbau bupati/wali kota. Sebab, hingga kini Gubernur Pastika belum mencabut SK 1727 yang merupakan pintu masuk pembangunan akomodasi pariwisata melalui rencana reklamasi Teluk Benoa. “Gubernur harus memberi contoh dulu, jangan hanya wacana atau bersilat lidah,” kata Supartha. Sebab, imbuh Supartha, Gubernur sendiri mengingkari aturan moratorium yang ia keluarkan sendiri dengan sempat menerbitkan izin reklamasi melalui SK 2138 kepada PT TWBI yang mana di dalam kawasan itu akan dibangun kawasan wisata terpadu dan akomodasi pariwisata. Walau akhirnya SK itu dicabut dan diganti dengan SK baru yakni SK 1727 yang memberi izin kajian kepada PT TWBI selama dua tahun. SK 1727 itu dinilai substansinya masih sama dan
menjadi pintu masuk pembangunan akomodasi pariwisata di kawasan Teluk Benoa. Dikatakan, kalau Gubernur komitmen dan konsiten moratorium itu untuk kepentingan keseimbangan pembangunan pariwisata supaya juga tersebar di Bali Barat, Timur, dan Utara, seharusnya Gubernur tidak memberi ruang untuk membangun kawasan wisata terpadu di Teluk Benoa. Praktisi hukum Rizal Akbar Maya Poetra juga berpendapat sama. Jika Gubernur Bali Made Mangku Pastika konsisten melaksanakan moratorium akomodasi di Bali Selatan, otomatis rencana reklamasi Teluk Benoa tidak bisa dilaksanakan. “Gubernur harus konsisten dengan kebijakannya itu. Selain itu, harus disesuaikan dengan peraturan yang sudah ada,” katanya. Ia berharap kebijakan itu benarbenar sesuai fakta di lapangan dan jangan ada rencana di balik itu. “Apalagi hanya untuk pencitraan. Kebijakan yang dibuat harus berpihak kepada rakyat,” ujarnya. Pengamat Tata Ruang I Nyoman Gelebet mengharapkan pejabat di Bali harus satya wacana. Sebab, selama ini kebijakan moratorium yang sudah dikeluarkan tidak pernah ditaati. Akibatnya, keinginan untuk menghentikan sementara pembangunan akomodasi pariwisata tidak pernah terwujud. Lantaran sampai saat ini pemerintah masih mengeluarkan izin untuk itu. Rencana reklamasi Teluk Benoa, salah satu contohnya. “Tidak satya wacana itu. Mengeluarkan moratorium, tetapi reklamasi tak mau ditutup. Kalau dulu, pemimpin masih mau mendengar walaupun tidak semuanya,” ujar mantan akademisi Unud itu. Pria asal Badung Selatan ini juga menuding para pelaku pariwisata di Bali Selatan sudah tidak bisa diatur
17 - 23 Februari 2014
8
Mengagetkan lagi. Akibatnya, pembangunan pariwisata menjadi tidak terkendali bahkan melabrak tata ruang. Gelebet mengamati ada ratusan bangunan yang melanggar serta tidak berizin atau tidak mengantongi IMB. Senada dengan Gelebet, Ketua Dewan Daerah Walhi Bali Wayan “Gendo” Suardana juga menyatakan pembangunan pariwisata kerap tidak mengindahkan kawasan yang sudah ditetapkan, termasuk daya dukung Bali. Moratorium adalah jalan terbaik untuk mengerem laju perkembangan akomodasi di Bali Selatan. Moratorium akan menjadi titik tolak untuk mengembalikan posisi industri pariwisata di Bali. “Dengan menyetop dulu (moratorium - red) lalu melakukan kajian, ini kan mengukur daya tampung lingkungan Bali, tetapi selama ini itu tidak dilakukan,” kecamnya. Anggota DPRD Badung I Made Dharma menilai penegasan moratorium hanya sebatas wacana. Selain imbauan moratorium sebelumnya yang terkesan sekadar macan kertas, pengalihan investasi ke Bali Utara juga dinilai masih belum dimungkinkan lantaran belum memadainya infrastruktur. “Saya sebenarnya setuju dan mendukung langkah moratorium pembangunan akomodasi pariwisata di Bali Selatan. Tetapi apa itu bisa diwujudkan? Seharusnya benahi dulu infrastruktur di Bali secara keseluruhan, baru ngomongin moratorium. Kalau seperti ini kan bakal jadi wacana dan pencitraan saja,” ujarnya. Dikatakannya, wacana pemerataan pembangunan di Bali sudah sejak lama dilontarkan. Akan tetapi strategi mengangkat Bali Utara justru terkesan adem ayem. Pemerintah belum serius mengambil kebijakan, baik terkait administrasi maupun implementasi di lapangan.
Dia mencontohkan, pembangunan lapangan terbang yang sampai saat ini tidak jelas dan malah jadi pro-kontra di masyarakat. Infrastruktur penghubung Bali Selatan dan Bali Utara sampai saat ini masih belum memadai. Kemacetan kerap terjadi karena ruas dan daya tampung jalan terbatas. “Bagaimana mau mengajak investor menanam modal di Bali Utara kalau investornya sudah uring-uringan terkena macet di jalan? Gara-gara hal seperti ini, investor malah enggan dan ujung-ujungnya mengincar Bali Selatan lagi,” kata politisi dari Jimbaran ini. Lebih lanjut Dharma menyatakan, tak digubrisnya imbauan moratorium yang telah dikeluarkan Gubernur tahun 2011 lalu, juga sebagai imbas komunikasi yang belum sinkron antara Gubernur dengan bupati/wali kota terkait. Semestinya Gubernur, bupati dan wali kota duduk bersama membahas masalah tersebut. Tentu saja mereka harus didampingi tim pengkaji yang benar-benar independen. Pusat Data
GUBERNUR Bali Mangku Pastika berencana mempertegas kembali imbauan untuk moratorium pembangunan akomodasi pariwisata hotel di kawasan Bali Selatan. “Sekarang saya sudah rancang surat lagi penegasan moratorium. Segera saya layangkan suratnya. Saya sudah perintahkan bikin tapi belum saya teken,” kata Pastika ditemui usai sidang paripurna di DPRD Bali, dua pekan lalu. Pastika mengatakan, penegasan moratorium pembangunan hotel kepada bupati/wali kota itu bukan bentuk perintah melainkan harapan mengingat kondisi Bali Selatan sudah krodit dan daya dukungnya terlampaui. “Kami berharap, bukan memerintahkan, karena saya tidak bisa memerintahkan. Itu melampaui batas kewenangan. Jadi saya berharap karena sudah begini keadaannya, sudah over supply sehingga hotel perang tarif, kualitasnya makin jelek karena perang tarif dan makin murah. Ini jelek buat Bali secara keseluruhan,” ujarnya. Ditambahkan, selaku Gubernur ia sejak dulu berharap pembangunan akomodasi pariwisata di wilayah Bali Selatan distop. “Alihkan ke Bali Utara kalau orang mau investasi, ke timur, ke barat supaya ada pemerataan. Cuma ini Pak Bupati selalu mengeluarkan IMB baru terus. Jadi susah kita,” ucapnya. Keputusan moratorium pembangunan akomodasi pariwisata di Bali Selatan bergulir sejak 2011 lalu dan tertuang dalam Surat Gubernur Bali No. 570/1665/ BPM tentang Penghentian Sementara Pendaftaran Penanaman Modal untuk Bidang Usaha Jasa Akomodasi Pariwisata. Moratorium berlaku sejak 5 Januari 2011 hingga adanya kajian detail terhadap kelayakan kebutuhan bidang usaha jasa akomodasi. Terhadap rencana mengeluarkan surat untuk mempertegas lagi moratorium fasilitas akomodasi di Bali Selatan, cukup mengagetkan. Pasalnya, enam bulan lalu tepatnya pada 7 Agustus 2013 (BP 8/8), Gubernur Bali itu mengatakan tidak bisa memaksakan agar investor mengalihkan investasi ke ke tempat lain. ‘’Karena mereka yang punya duit maunya di situ. Hendaknya diingat, dengan adanya investasi, perekonomian Bali akan tumbuh dan pasti ada perubahan,’’ ucapnya kala itu. Ia mengemukakan, langkah memberikan izin reklamasi (kini sudah dicabut) tidak terlepas dari upaya memikirkan lapangan kerja generasi muda Bali untuk beberapa tahun ke depan dan itu harus dipikirkan mulai dari sekarang. Belum lagi lima tahun lagi wisatawan asing yang datang ke Bali bisa menjadi 10 juta dan itu membutuhkan tambahan sarana akomodasi wisata. ‘’Saya juga sangat setuju ada pemerataan pariwisata, tetapi apakah infrastruktur di luar Bali Selatan sudah bisa memenuhi keinginan investor dan adakah hal baru yang menjadi daya tarik wisatawan di sana?’’ tanyanya. Widana 17 - 23 Februari 2014
9
9
SEJARAH
Saat Raja Airlangga Lihat Penanggungan
K
ala itu, abad ke-11 Masehi, Raja Airlangga dari Bali bersama pengikutnya menyusuri Selat Madura untuk mencapai muara Sungai Porong atau Sungai Brantas. Sebelum menapakkan kakinya di bumi Jawa Timur (Jatim), dari kejauhan rombongan itu selalu mengamati puncak gunung yang terletak di selatan Sungai Porong. Airlangga sejak menyaksikan puncak gunung itu, sudah tertarik untuk mencapainya. Sesampainya di daratan, dia berjalan kaki bersama pengikutnya menuju arah selatan sambil menerabas hutan lebat di sekitarnya. Akhirnya rombongan itu sampai juga di kaki gunung, yang kemudian dinamai Penanggungan. Di lereng utara gunung itu terdapat dua bukit yang dinamai Gunung Gajah Mungkur dan Gunung Bekel. Di latar belakangnya nampak dua puncak gunung berapi yang tinggi menjulang di antara awan yang berarak, yakni Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang selalu mengeluarkan asap. Namun, seolah ada kekuatan Penanggungan yang menarik perasaan Airlangga. Wujud gunung itu tidak beda dengan wujud Gunung Semeru dengan puncaknya yang dinamai Mahameru. Puncak yang disucikan oleh umat Hindu, karena dalam agama Hindu, di sanalah tempat para dewa bersemayam. Orang-orang dalam rombongan itu sudah mendengar mitos orang Jawa mengenai gunung-gunung di Jatim, yakni ketika para dewa membawa gunung-gunung dari nirwana ke bumi untuk ‘menaruh’ gunung guna menghentikan tanah Jawa yang bergerak terus, maka salah satu gunung yang menjadi stana para dewa, lepas dari genggaman dan terjatuh. Jadilah Gunung Semeru dengan puncaknya yang dinamai Mahameru, sementara sebagian puncaknya melesat jatuh dekat Kota Surabaya, yang kemudian disebut
10
Gunung Penanggungan, “gunumg kecil” setinggi cuma 6.150 meter! Sedangkan Semeru menjadi gunung tertinggi di Pulau Jawa. Penanggungan sebagai miniatur Semeru, berada di sisi paling utara dari tiga gunung berapi besar, yakni Arjuno, Welirang dan Anjasmoro, dan paling kecil dibanding gunung lainnya, akan tetapi paling dikeramatkan. Di utara gunung itu, terhampar luas dataran rendah terhampar luas yang kini menjadi daerah Kabupaten Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, hingga Surabaya dan laut Selat Madura. Zaman kuno, Penanggungan juga gunung berapi, namun sudah berabad lewat tidak lagi. Jadilah tempat keramat, karena ketika Airlangga bermukim di situ, banyak peninggalan purba berupa patung dan candi-candi untuk pemujaan yang ditempatkan hampir mengelilingi seluruh lereng Penanggungan. Tidak kurang dari 81 peninggalan purba era Airlangga saja di seputar gunung itu. Termasuk dua candi sumber air yang terkenal hingga kini, yakni Candi Jolotunda di lereng barat dan Candi Belahan di lereng timurnya. Dua-duanya hingga kini masih sering digunakan untuk bersemedi dan mandi pada waktu-waktu tertentu. Begitu pula hingga kini, masih banyak penduduk asli yang tinggal di pedesaan sekeling gunung itu mempercayai hal-hal misterius dari apa yang terdapat pada tubuh gunung itu sebagai peninggalan budaya era Raja Airlangga, raja perintis berdirinya kerajaankerajaan di Jatim. Maupun budaya beratus tahun kemudian, yang diteruskan dalam era Majapahit. Kerajaan besar pertama yang menguasai Nusantara. Maklum, karena lokasi gunung itu masuk kawasan terdekat Keraton Kerajaan Majapahit. Malahan diperkirakan, sesudah mendirikan kerajaan-kerajaan dan sepanjang hulu Sungai Brantas di kawasan Malang hingga ke bagian tengah Jatim, yakni
Blitar dan Kediri, di mana kelak keturunannya mendirikan kerajaan-kerajaan Jenggala, Dhaha hingga Majapahit. Ketika Airlangga meninggal, abu jasadnya dimakamkan di Candi Belahan. Patung Raja Airlangga yang disetarakan sebagai Dewa Wishnu yang duduk di atas Garuda, diapit oleh patung Dewi Sri dan Dewi Laksmi yang dua-duanya mengucurkan air dari sumbernya yang berasal dari dataran tinggi di belakangnya sebagai petilasannya. Mudah Mencapainya Coba lakukan perjalanan dari Surabaya ke Malang atau sebaliknya. Bila sesudah melalui lokasi semburan “lumpur lapindo” dan menyeberangi Sungai Porong di Kecamatan Gempol, ke arah Malang tengoklah arah barat. Di kejauhan nampak jelas wujud Gunung Penanggungan yang memanjang dari selatan ke utara. Karena wujudnya dari kejauhan seorang perempuan yang sedang tiduran dan nampak mulai dada hingga rambut terurai arah utara, sejak zaman sebelum Perang Dunia II sudah disebut oleh orang-orang Belanda sebagai Slaapende Meid (Gadis yang Tiduran) atau seperti The Sleeping Beauty. Karena imajinasi yang memandangnya bisa mengarah pada bentuk kepala, hidung, mulut menengadah dengan rambut terurai serta bentuk payudaranya. Menurut Nigel Bullough (Discovering East Java, 1990), menyaksikan gunung itu akan jelas dan indah pada pagi-pagi sekali ataupun matahari menjelang tenggelam. Lokasi gunung itu di sebelah barat jalan raya Surabaya-Malang. Sesampainya di perempatan jalan di Kecamatan Pandaan, membelok arah barat menuju Kecamatan Prigen dan kawasan Tretes. Kedua tempat itu masuk dalam kawasan Kabupaten Pasuruan. Apabila tidak membelok ke Tretes, di pertigaan Prigen bisa lurus melalui jalan menanjak tajam,
17 - 23 Februari 2014
10
ke arah Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Lokasi itu dulu kala masuk lingkup dekat Keraton Majapahit (kini masuk Kecamatan Trowulan), yang berada di utara gunung itu. Bila nama Tretes, sebagai lokasi peristirahatan sejak zaman Hindia Belanda dengan puluhan hotel terletak di kaki Gunung Welirang itu sudah kondang, sedangkan Desa Trawas berada di kaki barat Gunung Penanggungan. Apabila dalam era Kerajaan Airlangga, Penanggungan sudah dianggap sebagai area bersemayam dan tempat suci, demikian pula kini. kawasan Trawas menjadi area peristirahatan dengan ratusan bungalo, tempat retreat dan beberapa tempat untuk semedi. Tempat itu juga dipenuhi beberapa patung dan situs alam peninggalan Airlangga maupun Majapahit, antara lain patung besar setinggi 6 meter yang disebut Reco Lanang (Patung Lelaki), yang mungkin menggambarkan Buddha Gautama, namun belum selesai, maupun ‘patung baru’ “Buddha Tidur� (the Sleeping Buddha) dan macam-macam lagi, yang kesemuanya mudah dicapai. Sebab, sampai kini jalan-jalan pedesaan rata-rata sudah beraspal. Melalui jalan utamanya yang naik turun dan berkelok-kelok, anda akan bisa mencapai kota, Kecamatan Mojosari dan ibu kota Kabupaten Mojokerto. Sayang, di lereng sebelah utara yang masuk Kabupaten Mojokerto, selain ditempati untuk Kawasan Industri (Industrial Estates) Ngoro dan sejak bertahun-tahun membongkar tanahnya yang mengandung sirtu (pasirbatu) terbaik untuk penimbunan tanah pembangunan perumahan, pabrik dan macam-macam, seolah memindahkan Gunung Penanggungan untuk didirikan di perkotaan!. Umumnya, untuk berpetualang menaiki dan menyaksikan candi-candi itu, sebaiknya dari arah Candi Jolotundo di kawasan Trawas. Harus seizin petugas Kehutanan (di bawah Perum Perhutani Unit II Jatim), dan sebisa mungkin meminta penunjuk jalan. Di bagian atas gunung itu, hutan masih lebat dan di beberapa tempat terdapat hamparan ilalang. Masih cukup banyak berbagai binatang liar di sana, termasuk harimau kumbang (tutul) maupun hitam. Sebab siapa tahu, mereka ada yang sedang tidak enak hati! Sudah seharusnya, baik demi
pelestarian budaya bangsa maupun menghormati umat Buddha, kawasan Gunung Penanggungan dan sekitarnya dijadikan kawasan pelestarian budaya dan alam. Di bumi kawasan itu sangat banyak peninggalan purbakala dan mengungkap likuliku kehidupan masa purba bagi manusia modern sekarang. Amak Syariffudin
POLITIK
Pilkada Serentak, Mengaburkan Kearifan Lokal
M
embahas UU Politik tampaknya menjadi selera politisi dan birokrat negeri ini. Memasuki usia ke-69, ternyata Indonesia tak kunjung punya UU politik yang kompregensif. UU politik selalu digodok dan direvisi. Hasilnya, perilaku berpolitik warga negara khususya politisi justru makin jauh dari kedamaian. Politik yang diindentikkan sebagai seni mengelola kekuasaan justru sarat konflik dan musibah. Konflik politik bahkan menghancurkan peradaban, kearifan lokal dan memicu pertentangan di tengah masyarakat. Kini, setelah perdebatan tentang pemilu seretak tahun 2019, politisi dan birokrat kita melempar wacana pilkada serentak 2020. Pemilihan kepala derah -- yang belakangan lebih banyak mengantarkan gubernur dan bupati masuk bui dengan status koruptor -- akan digelar serentak. Alasanya untuk membuat biaya politik lebih murah dan menekan konflik. Wacana pilkada serentak 2020 ini
pun menghangat menjelang Pemilu legislatif 9 April mendatang. Rancangan Undang-undang (RUU) Pilkada paling lambat sudah dapat dibawa dan disahkan dalam rapat paripurna DPR pada bulan Maret mendatang atau pada masa sidang DPR saat ini. “Undang-undang ini harus dikeroyok agar selesai sebelum pemilu. oleh karena itu, target kami di Komisi II paling lambat bulan Maret nanti, Rancangan Undang-undang ini sudah harus disahkan,” kata Ketua Komisi II DPR Agun Gunandjar Sudarsa. Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri, Djohermasyah Djohan mengakui pilkada yang disepakati diselenggarakan serentak sejalan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang telah memutuskan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dilaksanakan serentak pada 2019. Dengan begitu lanjut Djohermansjah, maka pemilu akan makin efektif, efisien, murah dan rakyat cukup sekali datang ke TPS (tempat pemungutan suara). Pilkada serentak dilakukan secara bertahap yaitu tahap pertama 2015 (ada 230 kepala
daerah), dan tahap kedua di tahun 2018 (ada 285 kepala daerah), sisanya ada 51 daerah yang dilaksanakan di tahun 2019 karena pelaksanaan pilkada yang harusnya di tahun 2014 dipercepat menjadi 2013. “Sehingga pilkada secara menyeluruh baru bisa jatuh pada 2020, baik gubernur, bupati, dan wali kota yang jumlahnya total mencapai 539 daerah, dan jumlah ini belum termasuk daerah otonom baru yang belum disahkan karena masih dalam pembahasa,” katanya. Soal sistem paket dalam pencalonan, pemerintah masih berbeda pandangan dengan DPR. “Pemerintah mengusulkan cukup kepala daerah yang dipilih, sedangkan wakil kepala daerah dipilih oleh kepala daerah terpilih, dan DPRD bisa menyiapkan 2 wakilnya; satu dari PNS dan satu orang non-PNS,” ungkapnya. Menghancurkan Kearifan Menyikapi hal ini, politisi di Bali menilai pilkada serentak 2020 sulit dilaksanakan. Pilkada serentak akan menghadapi berbagai hambatan apalagi
MPB/dok
Pilkada yang diharapkan melahirkan pemimpin yang bijak justru diwarnai kerusuhan dan lahirnya pemimpin korup. Kini banyak gubernur dan bupati menyandang gelar koruptor karena menggerogoti uang negara.
12
17 - 23 Februari 2014
12
jika tidak dipersiapkan dengan matang. Terlebih saat ini masih juga ada perdebatan mengenai sistem pilkada serentak tersebut apakah dipilih langsung oleh rakyat ataupun pemilihannya melalui wakil rakyat di DPRD. “Semangat pilkada serentak bagus. Masyarakat diajak efisien dalam waktu dan negara bisa efisien dalam biaya atau anggaran. Tetapi memang ini harus dipersiapkan dengan matang. Sayang kebiasaan kita kerap tidak mempersiapkan sesuatu sejak dini sehingga ada kesan kebut-kebutan,” kata politisi Partai Golkar yang juga anggota DPR-RI Gede Sumarjaya Linggih. Politisi yang akrab disapa Demer itu mengatakan masih cukup waktu untuk pemerintah mempersiapkan pilkada serentak 2020 termasuk soal aturan hukumnya melalui RUU Pilkada Serentak. Selain itu, semakin pesatnya perkembangan teknologi dan semakin cerdasnya masyarakat menyikapi pemilu diyakini sebagai faktor pendukung suksesnya pilkada serentak 2020. “Kalau dipersiapkan den-
gan baik, maka tidak ada permasalahan. Tetapi kalau tidak, bisa kacau. Kalaupun ada hambatan, mari pelajari dan carikan solusinya,” kata Demer. Ia mengakui titik krusialnya terletak dalam sistem pemilihannya. “Memang ada perdebatan apakah dipilih langsung oleh masyarakat atau DPRD. Ada yang beranggapan negara ini menganut asas permusyawaratan perwakilan sebagaimana bunyi sila keempat Pancasila sehingga diharapkan kepala daerah dipilih melalui perwakilan rakyat di DPRD. Ada juga yang beranggapan ruang demokrasi harus dibuka seluas-luasnya kepada masyarakat sehingga harus melalui pemilihan langsung. Tentu ini akan jadi perdebatan yang sulit,” katanya. Demer mengakui sistem pemilukada langsung selama ini masih mengandung sejumlah kelemahan, misalnya saja kepala daerah yang dihasilkan tidak semuanya berkualitas, bahkan sebagian besar kepala daerah tersandung kasus korupsi. Nuansa transaksional dan klien patron (apa kata tokoh terdekat) juga mewarnai pemilukada langsung selama ini. Kendati memang celah
transaksional jika pemilukada lewat DPRD masih terbuka lebar. “Celah transaksional jika pemilukada lewat DPRD memang terbuka lebar, tetapi tidak meluas. Kelemahan itulah yang harus diatasi dan dicarikan solusi. Sistem sekarang juga banyak kelemahan. Dari 520 lebih kepala daerah, ada 311 yang tersandung kasus korupsi. Persoalan ini perlu dijawab,” tandasnya. Namun, pandangan fesimis datang dari peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, ia menolak rencana DPR dan pemerintah tersebut. “Kalau saya, biarlah pemilu nasional itu berlangsung di tingkat Pemilu Presiden dan Pemilu DPR. Pemilu kepala daerah tetap saja ada sebagai pemilu lokal yang sesuai dengan kearifan lokalnya,” imbaunya. Dia berpandangan, RUU Pilkada yang dibahas DPR dan pemerintah hanya memaksa daerah untuk selalu berorientasi ke pusat, dengan kecenderungan mengaburkan kearifan demokrasi lokal. Widana/Wandy
13
LINGKUNGAN
Cuaca Buruk
Pelabuhan Rakyat Lumpuh
C
uaca buruk sebulan terakhir, berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat. Salah satunya kehidupan pelabuhan rakyat di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung. Sampan yang biasanya sibuk mengangkut penumpang dan barang-barang, terpaksa diparkir nelayan akibat cuaca buruk. Alhasil, semua merugi. Mulai dari pemilik sampan penumpang, pemilik barang, hingga para buruh angkut. Perekonomian di pelabuhan rakyat lumpuh akibat cuaca buruk. Tiga penyeberangan tradisional di Desa Kusamba, di antaranya
Bali Post/kmb31
14
17 - 23 Februari 2014
di Pelabuhan Banjar Tri Buana, Banjar Bias dan Kampung Kusamba, sejak pagi hingga siang, biasanya disibukkan hiruk pikuk penumpang, barang dan buruh. Namun, angin yang bertiup kencang dan tingginya gelombang, memaksa sampan tidak bisa melakukan penyeberangan. Sejumlah sampan terpaksa parkir di pinggir pantai, karena takut melakukan penyeberangan. Bahkan, ketinggian gelombang di tengah laut disebut-sebut warga setempat mencapai lebih dari tiga meter. Warga di pelabuhan tradisional Banjar Bias, Kusamba, Nengah Merta menga-
takan, gelombang di garis pantai cukup ganas. Angin bertiup sangat kencang di pesisir pantai dan daratan. “Sejak pagi sampan masih parkir, karena sejak tiga hari sudah tidak bisa berangkat sesuai jadwal,� katanya. Nelayan juga belum berani melaut. Banyak jukung nelayan parkir di pesisir pantai. Warga setempat tahu betul, jika suasana perairan menuju Nusa Penida seperti ini, jangan sekali-sekali nekat melakukan penyeberangan. Sebab, jika masih nekat, sampan bisa tenggelam digulung gelombang.
Seperti dialami sampan Walet Sari akhir Januari lalu. Sampan milik Koperasi Walet Sari itu nyaris tenggelam di tengah laut, setelah diterjang gelombang tinggi, hingga menyebabkan mesinnya mati. Sampan tersebut nyaris terguling dan terseret arus, sebelum akhirnya bisa lego jangkar di Pelabuhan Padangbai, Karangasem. Saat itu, sampan diketahui mengangkut sejumlah bahan bangunan, seperti satu truk pasir, 150 semen dan dan 100 asbes, dengan beban berat sekitar 17 ton. Awalnya, sampan ini hendak menuju Pelabuhan Lembongan. Namun, setelah tiba di tengah laut, tiba-tiba cuaca buruk. Gelombang cukup tinggi sekitar empat sampai lima meter disertai angin kencang. Nakhoda sampan Wayan Kentan dan ABK Wayan Porman sempat kebingungan. ‘’Kapal sempat terombang-ambing di tengah laut selama hampir satu jam dan terus terseret arus ke arah timur,’’ kata Kentan. Untungnya, bantuan segera datang. Pol Air dari Polres Klungkung dan sejumlah petugas dari Polsek Nusa Penida segera memberikan bantuan, sehingga sampan bisa lego jangkar di Pelabuhan Padangbai.
Syahbandar, Pelabuhan Tradisional Kusamba, Gusti Sudiardana mengatakan, cuaca di sekitar laut memang masih buruk. Dia juga sudah sering memperingatkan para bendega (nakhoda), untuk sementara tidak melakukan penyeberangan. Namun mereka kerap membandel. ‘’Bendega sering melabrak ketentuan. Sudah sering diingatkan, tetapi tetap saja mengangkut barang dan melakukan penyeberangan,’’ katanya. Kapolsek Nusa Penida, Kompol Nyoman Suarsika juga mengatakan, cuaca di daratan Nusa Penida belakangan kian buruk. Begitu juga di perairan dari dan ke Nusa Penida. Sehingga, pihaknya tetap mengimbau kepada nahkoda dan masyarakat, agar menpertimbangkan faktor cuaca
sebelum melakukan penyeberangan. Akhirnya, penyeberangan hanya berani dilakukan untuk jenis barang tertentu, seperti makanan ringan dan palen-palen. Itu pun jika situasi sudah memungkinkan. “Pengiriman barang bahan bangunan sekarang banyak beralih ke kapal roro,” kata buruh setempat. Hal serupa juga disampaikan petugas Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Klungkung di Pelabuhan Tradisional Kusamba, Made Sedana Yoga. Akibat cuaca buruk, penyeberangan dilakukan tergantung situasi. Soalnya, awal tahun hingga Februari, angin bertiup cukup kencang disertai gelombang tinggi. Selain itu, jalur penyeberangan juga berkabut. Sehingga, Pulau Nusa Penida tidak terlihat dari Pelabuhan Tradisional Kusamba. Bagiarta
Sampan parkir di pinggir pantai saat cuaca buruk. 17 - 23 Februari 2014
15
OPINI
Bencana Alam di Tengah Perebutan Kekuasaan
B
encana alam yang terjadi hampir di setiap tahun dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa membuat sebagian mayarakat beranggapan bahwa Tuhan marah terhadap keserakahan manusia. Bencana tanah longsor, banjir, dan cuaca ekstrem yang terjadi di Indonesia dan beberapa negara lain seperti, Amerika Serikat dan Australia menjadikan manusia sebagai korban yang paling merasakan dampak adanya bencana alam. Disadari atau tidak, bencana alam yang terjadi merupakan akibat kesalahan manusia (human error), di mana manusia kurang peduli terhadap kelestarian alam dan lingkungan sekitarnya. Kuatnya terjangan bencana alam tak kunjung membuat manusia sebagai pengelola bumi sadar. Kecenderungan yang terjadi, keserakahan makin menggurita seiring kuatnya ambisi untuk berkuasa dan dihormati. Buktinya, di tengah jeritan korban bencana, hiruk pikuk perebutan kekuasaan malah menguat. Pejabat daerah dan pusat baru tanggap bencana setelah dikritik dan jeritan korban bencana menguat. Fakta ini mengindikasikan bahwa kepekaan pemerintah nasional dan daerah dalam mengelola dan mengatasi bencana sangat lamban. Perlu disadari bahwa alam menyimpan kekuatan terbesar sejagat raya karena merupakan macro cosmos yang menjadikan alam sebagai tumpuan bagi perkembangan makhluk hidup lainnya. Dapat dianalogikan, ketika manusia tanpa tanah untuk berpijak, tanpa tumbuhan sebagai sumber oksigen, tanpa air dan tanpa kekayaan hewani, maka manusia tidak akan mampu bertahan hidup. Begitu juga dengan makhluk hidup lainnya yang memiliki simbiosis mutualistik yang baik sehingga alam menjadi seimbang. Apabila alam dikelola dengan baik, maka akan menjadi berkah bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Untuk itu, manusia sebagai makhluk yang dibekali akal pikiran oleh Tuhan, seyogianya
16
17 - 23 Februari 2014
I Kadek Ksama Putra, S.Pd., M.H.
mampu memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan alam, bukan justru menjadikan alam sebagai objek eksploitasi semata. Bencana tsunami yang pernah melanda Aceh, tanah longsor yang terjadi di berbagai daerah, dan banjir yang selalu melanda Jakarta dan beberapa daerah lainnya, merupakan dampak buruk ketika alam diperlakukan semena-mena. MemodiďŹ kasi cuaca untuk mengurangi curah hujan seperti yang dilakukan pemerintah DKI Jakarta bukanlah jawaban atas bencana banjir yang terjadi. Memang untuk kepentingan jangka pendek, upaya tersebut dapat diapresiasi sebagai terobosan yang cukup berhasil. Namun upaya tersebut akan menjadi bumerang di kemudian hari karena telah merusak siklus alam yang begitu natural. Lemahnya pengawasan pemerintah terhadap pemukiman masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana patut menjadi concern pemerintah dalam rangka mencegah adanya korban jiwa akibat tanah longsor, banjir maupun tsunami.
Selain faktor kebersihan, tingginya permukaan jalan akibat beberapa proyek pemerintah juga dapat mendisfungsikan kanal-kanal saluran air. Air hujan yang seharusnya mengalir melalui kanal saluran air tergenang di atas permukaan jalan dan membanjiri permukiman penduduk. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah tingginya jumlah alih fungsi lahan. Pemerintah dalam hal ini tidak memiliki grand design yang jelas dalam melakukan konservasi terhadap lahan pertanian dan hutan. Derasnya alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan dan pertokoan, serta alih fungsi hutan menjadi perkebunan otomatis mengerdilkan fungsi tanah sebagai penyerap air hujan. Untuk itu masyarakat dan pemerintah harus introspektif dalam melihat bencana alam sebagai sesuatu yang urgen. Di satu sisi, manusia sebagai agent of change (pembawa perubahan) dalam mencegah terjadinya bencana alam harus memulai perubahan dari dalam diri sendiri. Halhal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pepohonan, menjaga kebersihan sungai dan selokan, merupakan perilaku sederhana yang berdampak besar terhadap pencegahan bencana. Di sisi lain, pemerintah wajib merancang desain yang jelas terkait upaya preventif seperti pembangunan dan normalisasi waduk sebagai resapan air, di samping adanya sanksi yang tegas bagi masyarakat yang mengabaikan kelestarian dan kebersihan lingkungan. Dengan kata lain, manusia jangan pernah ‘bermain-main’ dengan alam, sebab manusia selain sebagai penyebab bencana, juga sebagai korban keganasan alam. Oleh karena itu, cintailah alam dan lingkungan karena Tuhan akan selalu mengawasi dan mengingatkan kita melalui bencana yang lebih besar. Penulis, pengajar Ilmu Sosial dan Pendidikan Kewarganegaraan di salah satu SMA di Tabanan
J A J A K P E N DA PAT
Investasi Salah Kelola
Mengantar Bali Undang Bencana
B
ali tak bisa menghindar dari ancaman bencana. Pertahanan alam Bali sebagai pulau kecil sangat rapuh. Bentangan garis pantainya terus-menerus digerus abrasi. Kawasan hulu yang semestinya dijaga sebagai kawasan penyangga air malah dieksploitasi untuk investasi. Pendekatan pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, membuat alam Bali tak lagi bersahabat dengan manusianya. Penduduk Bali juga harus bersiap menghadapi anomali musim sebagai akibat salah kelola atas bumi Bali. Bahkan, pascareklamasi di pesisir Pulau Serangan, warga pesisir di kawasan
Pantai Lebih, Gianyar waswas. Tempat berjualan mereka lenyap disapu gelombang. Abrasi Pantai Lebih terus mengganas. Namun, fakta ini tak membuat orang Bali sadar untuk segera mengelola Bali dengan arif dan bijaksana. Pandangan ini terungkap ketika Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat terkait dengan potensi bencana sebagai dampak dari kesalahan pengelolaan investasi. Responden mengatakan ancaman bencana yang terus menguat semestinya membuat semua pihak segera melakukan reorientasi kebijakan dan strategi dalam mengelola Bali. Bali jangan dijadikan objek kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan. Pejabat di Bali juga diharapkan bersikap bijak dan tegas, termasuk berani menentang investasi yang berpotensi mengantarkan Bali mengundang bencana. Menyinggung tentang potensi terjadinya bencana di Bali, 69 persen responden menilai merupakan dampak tidak dipatuhinya Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Bali. Investasi yang kebablasan di Bali kerap membuat daerah resapan air dijamah pemukiman dan pembangunan fasilitas pariwisata. Pemerintah daerah tidak tegas menindak pelanggaran RTRWP. Buktinya, pelanggaran atas sempadan pantai, sungai dan kawasan hulu malah ditoleransi dengan menyiasati aturan. Selebihnya, 28 persen responden menilai perkembangan investasi di Bali sudah mematuhi ketentuan-ketentuan pengelolaan wilayah. Namun, kontrol dan pengawasan atas penyimpangan pengelolaan izin-izin tak jelas.
Sering kali, investor menyiasati izin yang dikantonginya untuk menutupi pelanggaran. Dalam konteks ini, kata responden, pemerintah Bali harus membangun budaya tanggap darurat bencana ketika gagal mengendalikan investasi. Sedangkan, 3 persen responden tidak memberikan komentar atas pertanyaan ini. Ironisnya, ketiak bencananya terjadi, pemerintah dinilai lamban bertindak. Kinerja pemerintah dan aparaturnya dalam mengatasi bencana dinilai buruk. Pemerintah pusat dan daerah dituding masih mengelola dan mengatasi bencana dengan pendekatan politik. Tarik uluran pengalokasian anggaran bencana pun kerap kali diwarnai kepentingan politis bukan atas dasar kemenusiaan. Bahkan anggaran bencana jauh lebih kecil dari alokasi anggaran bansos. Tercatat 65 persen responden menilai kinerja pemerintah baik pusat maupun daerah dalam mengatasi bencana masuk kategori buruk, koordinasinya lemah dan fasilitas tanggap daruratnya juga terbatas, logistik untuk membantu korban bencana juga kedodoran. Pemerintah belum memiliki mitigasi yang jelas dan terpolakan untuk mengatasi bencana. Selebihnya, 31 persen responden mengakui pemerintah daerah dan kabupaten di Bali termasuk nasional sudah memiliki program mengatasi bencana. Buktinya ada Badan Penanggulangan Bencana yang dibentuk. Ini merupakan bukti ada kepekaan. Sayangnya, kinerja Badan Penanggulangan Bencana masih lambat. Sedangkan, 4 persen lainnya mengaku tak bisa menilai kinerja pemerintah dalam mengatasi bencana. Menurut responden, sering kali badan penanggulangan bencana bekerja secara manual, tanpa persiapan yang matang. Akibatnya pertolongan yang diberikan tidak efektif. Dira Arsana 17 - 23 Februari 2014
17
PENDIDIKAN
Siswa Peduli Bencana Alam
Siswa SMPN 4 Kubutambahan saat meninjau lokasi banjir bandang.
T
ak dipungkiri tiap ada bencana alam di Bali, kalangan siswa yang bergerak terlebih dahulu. Baru diikuti oleh komponen masyarakat termasuk pemerintah. Ini bisa dilihat belum lama ini, Kabupaten Buleleng diselimuti duka akibat bencana longsor dan banjir bandang di sejumlah desa di Buleleng. Kejadian ini sontak membuat wajah Buleleng sedikit cemberut karena alam menjadi rusak dan terdapat empat orang korban jiwa dari bencana tersebut. Daerah yang menjadi sasaran bencana, Jumat (24/1) , adalah Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Dusun Manuksesa, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, dan Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt. Namun, di balik duka yang menyelimuti Buleleng, sejumlah siswa-siswa menunjukkan peduli sosial mereka dalam memberikan bantuan kepada para korban bencana alam. Musibah banjir bandang dan longsor di Desa Pakisan, Kecamatan Sawan, mendapat dukungan moral untuk bang-
18
17 - 23 Februari 2014
kit dan bantuan dari siswa-siswi SMPN 4 Kubutambahan. Ratusan siswa-siswi menengok situasi terkini di sekitar lokasi kejadian banjir bandang dan memberikan bantuan seadanya diserahkan kepada I Nyoman Sudipa selaku Bendahara Kelompok Masyarakat Buluhgading. Menurut I Nyoman Lepita (52) guru IPS di SMPN 4 Kubutambahan, aksi peduli sosial ini sengaja dia mengajak semua siswanya untuk melihat ‘’kemarahan alam’’ kepada umat manusia jika tak lagi mengindahkan keseimbangan alam. Kedua, sebagai medua edukasi agar sejak dini siswa terasah kepedulian sosialnya terhada umat manusia yang terkena bencana. Termasuk membantu korban banjir bandang dan longsor. Dia ingin memberikan pelajaran langsung, agar siswa-siswi menjaga alam beserta lingkungannya. Dengan menjaga alam maka bencana semacam ini mampu dihindari dan tidak terjadi kembali dikemudian hari. “Kami menyumbang swadaya dari kumpulan dana siswa-siswi. Siswa-siswi SMPN 4 Kubutambahan, Desa Pakisan, ingin membantu
meringankan warga terkena musibah dan sebagai bentuk solidaritas,” ucapnya. Sementara itu pascabencana banjir bandang dan longsor di Dusun Manuksesa, Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Pemerintah Kabupaten Buleleng di bawah pimpinan Bupati Putu Agus Suradnyana dan Wakil Bupati Nyoman Sutjidra telah turun tangan dan mengadakan perbaikan secara bertahap. Melalui pembersihan batu-batuan berukuran besar dengan menggunakan alat berat seperti ekskavator, truk, dan alat pemotong kayu sensors. Kegiatan pembersihan segala material alam itu dibantu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kabupaten Buleleng, SKPD dilingkungan Pemkab Buleleng, dan masyarakat. “Bencana longsor dan banjir bandang ini menjadi tanggung jawab bersama. Kita mesti bangkit dan tidak boleh menyerah. Kami akan lakukan pembersihan material pascabanjir bandang dan longsor dengan cepat,” ujar Bupati Suradnyana. Dewa Kusuma/Sueca
Anak di Bawah Umur Kendarai Ranmor
Kasih Sayang yang Salah Tempat BEBERAPA hari terakhir, media massa di Bali begitu gencar memberitakan kecelakaan maut yang melibatkan seorang siswi SMP di jalan raya Denpasar-Gilimanuk tepatnya di Lukluk Badung. Betapa tidak, kecelakaan maut itu telah merenggut dua korban tewas (satu orang meninggal dalam perawatan di rumah sakit) dan empat orang lainnya menderita luka yang cukup parah. Yang
I Wayan Dhania
membuat masyarakat Indonesia tersentak dan mengelus dada, RNW (15) yang saat kejadian itu disebut-sebut mengendarai mobil mewah sebenarnya dari segi usia belum berhak mengendarai kendaraan bermotor lantaran masih berstatus anak di bawah umur. Tragedi serupa juga sempat terjadi dua tahun silam. Dalam kecelakaan maut yang terjadi di Jalan Cok Agung Tresna, Renon, Denpasar, Jumat 28 Oktober 2011 dini hari pukul 01.00, dua pelajar SMPN 1 Denpasar Komang Augi Surya Nugraha dan Putu Budi Artawan Jaya alias Kevin harus meregang nyawa. Tentunya, hal ini membuat hati miris. Mengapa anak-anak di bawah umur yang kondisi emosionalnya masih sangat labil terkesan begitu leluasa mengendarai kendaraan
bermotor di jalan umum yang tentunya sangat potensial mengancam keselamatan jiwanya sendiri maupun para pemakai jalan lainnya? Wakil Ketua PGRI Provinsi Bali yang juga Kepala SMPN 4 Denpasar Drs. I Wayan Dhania, M.Pd. mengaku miris membaca berita tersebut. Ditegaskan, PGRI sejatinya tidak pernah mentoleransi siswa SD dan SMP mengendarai kendaraan bermotor karena dari segi umur mereka nyata-nyata tidak memenuhi persyaratan untuk mengantongi Surat Izin Mengemudi (SIM). “Saya yakin, tidak ada satu pun SD dan SMP di Bali yang mengizinkan siswa-siswanya ke sekolah mengendarai kendaraan bermotor. Tanpa bermaksud menimpakan kesalahan sepenuhnya kepada orangtua, fenomena banyaknya siswa di bawah umur mengendarai kendaraan motor ini juga tidak lepas dari peran sentral orangtua. Karena terlalu sayangnya kepada anak, orangtua cenderung meluluskan permintaan anak-anaknya dan memberikan berbagai fasilitas yang kurang dipikirkan secara matang dampak negatifnya kepada anak-anaknya. Sebagi contoh, anak yang menangis kalau tidak dibelikan motor dan mogok sekolah, terpaksa dibelikan motor. Ini, bentuk kasih sayang orangtua yang salah tempat,” kata Dhania kepada Bali Post, Kamis (6/2). Selaku kepala sekolah, kata Dhania, pihaknya sudah berupaya menegakkan tata tertib sekolah secara tegas terhadap anak-anak yang ketahuan mengendarai kendaraan bermotor. Dikatakannya, pihaknya sudah berulang kali mengempeskan ban motor siswa dan menahan motor di sekolah termasuk memanggil orangtua siswa agar tidak lagi memberikan kesempatan kepada anaknya untuk menggunakan sepeda motor. Namun upaya itu tidak memberikan solusi, karena para orangtua mengaku sibuk bekerja hingga malam dan sebagainya. Dibandingkan anak-anaknya tidak sekolah karena tidak ada yang mengantar-jemput, mereka berdalih lebih baik anak-anaknya melanggar tata tertib sekolah meskipun mengendarai sepeda motor bagi anak di bawah umur itu
penuh resiko yang penting bisa sekolah. “Ini pendapat orangtua. Akhirnya, kami terpaksa tutup mata dan pura-pura tidak melihat mereka memakai sepeda motor ke sekolah,” katanya pasrah. Hal senada juga dilontarkan oleh Kepala SMPN 1 Denpasar Drs. A.A. Gede Agung Rimbya Temaja, M.Ag. yang dua tahun lalu sempat kehilangan dua orang siswa yang mengalami kecelakaan maut di Renon. Dia berharap, aparat kepolisian membantu pihak sekolah agar bisa menegakkan tata tertib sekolah. Pasalnya, saat ini siswa-siswa SMP terkesan begitu leluasa melenggang di jalan raya dengan sepeda motor bahkan naik sepeda motor dengan boncengan tiga tanpa memakai helm tanpa ada teguran atau pembinaan dari petugas lalu lintas. Ironisnya lagi, mereka sering menyerobot lampu merah,. “Pada setiap tahun ajaran baru misalnya, kami berharap pihak kepolisian turun ke sekolah untuk memberikan pembinaan. Kami juga berharap para orangtua punya kesadaran untuk tidak memberikan fasilitas yang belum jadi haknya kepada anak-anak mereka,” tegasnya. Sumatika
A.A. Gede Agung Rimbya Temaja 17 - 23 Februari 2014
19
MANCANEGARA
Banjir Bandang Landa Bolivia
B
anjir tidak hanya melanda beberapa wilayah di Indonesia namun juga di Bolivia. Banjir bandang yang terjadi di negara tersebut telah banyak memakan korban. Pemerintah Bolivia pun akhirnya memutuskan untuk mengumumkan keadaan darurat nasional untuk menghadapi banjir, yang telah menewaskan setidaknya 51 orang dan 47.000 orang terpaksa mengungsi. Wakil Presiden Bolivia Alvaro Garcia Linera mengatakan, tingkat darurat membuat pemerintah telah menyiapkan 1 juta USD bagi mereka yang terkena dampak banjir. Banjir dan tanah longsor juga telah menyebabkan kekacauan di beberapa bagian provinsi utara dan timur negara itu, termasuk La Paz, Beni, Cochabamba dan Santa Cruz.
20
17 - 23 Februari 2014
Pihak berwenang mengatakan air di hampir selusin sungai telah meluap ke wilayah-wilayah Chapare pekan ini. Militer dan pasukan angkatan laut telah dikerahkan ke lokasi untuk membantu operasi penyelamatan. Kepala Pertahanan Sipil Oscar Cabrera mengatakan, banjir akibat guyuran hujan deras yang tak kunjung surut itu, juga mengakibatkan terjadinya tanah longsor yang menewaskan 10 orang di Kota Rurrenabaque. Sebelumnya di bagian Chapare, 5 orang tewas terseret arus banjir. Kondisi itu juga membuat sekitar 1.400 hektar lahan pertanian gagal panen, akibatnya stok pangan di negara tersebut semakin menipis. Hal ini juga berpengaruh pada kondisi pengungsi. Tidak meratanya penyebaran bantuan membuat beberapa tempat pengungsian kekurangan pasokan
makanan. Beberapa di antaranya bahkan bertahan hidup dengan berburu bintang yang bisa dimakan seperti kelinci. Dengan keadaan yang sangat memprihatinkan tersebut, sangatlah sulit bagi para pengungsi untuk bertahan di tengah bencana. Tahun lalu, Presiden Evo Morales berjanji mengajukan tuntutan hukum jika negara-negara kaya tidak bersedia membayar kerusakan lingkungan yang terjadi di negara berkembang. Untuk membantu korban banjir tahun ini, Amerika Serikat (AS) menjanjikan bantuan senilai USD 150 ribu. Negeranegara tetangga Bolivia juga telah menyatakan akan membantu untuk meringankan beban para korban. Gugiek Savindra
Anak-anak Jadi Korban Perang Suriah SEKRETARIS Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Ban Ki Moon memperingatkan dampak konflik Suriah terhadap anak-anak di negeri tersebut. Serangan terhadap sebuah masjid yang dipenuhi anak-anak di Aleppo menjadi perhatian lebih. Dalam laporan yang diserahkan kepada Dewan Keamanan PBB (DK PBB), Ban mengatakan, pasukan pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad telah membunuh ribuan anak-anak. Mereka juga ditangkap dan disiksa serta tidak boleh mengenyam pendidikan. Ban mendesak agar anak-anak Suriah diberikan bantuan. Mereka dinilai amat menderita karena menyaksikan anggota keluarga mereka terluka atau bahkan terbunuh. “Kedua belah pihak yang bertikai harus
menghentikan kekerasan yang dialami oleh anak-anak dan melindungi hak mereka,” ujar Ban. Pelanggaran yang dialami oleh anak-anak berlangsung amat beragam. Salah satu yang menjadi perhatian adalah serangan udara yang diarahkan ke sebuah masjid yang di dalamnya terhadap anakanak. Serangan pada pekan lalu di Aleppo tersebut, menewaskan lima orang anak. Bahkan, Kasus pemerkosaan dilaporkan dialami oleh anak-anak pengungsi perang Suriah dan dilaporkan tindakan penyiksaan turut terjadi di lokasi penampungan. “Anak-anak terus disiksa dan mengalami pelecehan seksual oleh pasukan pemerintah Presiden Bashar AlAssad,” pernyataan Perserikatan Bangsabangsa (PBB)
Selain mengecam pasukan pemerintah, PBB juga menganggap pihak oposisi yang telah bersalah melakukan perekrutan terhadap anak-anak untuk dijadikan pasukan. “Banyak dari anak-anak yang merasa sudah menjadi tugas mereka untuk bergabung dengan pihak oposisi,” imbuh Ban. “Kekhawatiran kami tertuju pada rekrutmen atau percobaan perekrutan terhadap anak-anak, yang berada di dalam lokasi penampungan di negara tetangga,” lanjutnya. Sejak konflik pecah di Suriah pada 2011 silam, PBB memperkirakan sekira 100 ribu jiwa tewas. Sementara sembilan juta warga dilaporkan kehilangan tempat tinggalnya. Gugiek Savindra 17 - 23 Februari 2014
21
DAERAH
Tukad Jinah Dikepung K elestarian sungai di Bali nampaknya semakin terancam. Salah satunya ancaman itu datang dari perkembangan properti kawasan perumahan. Para pengembang kini mulai menyerbu kawasan yang masih tersisa hingga pinggiran sungai. Seperti yang tampak di sekitar Tukad Jinah, kini keberadaannya dikepung proyek perumahan, baik dari sisi barat maupun sisi timur sungai. Di lihat dari jembatan di atas Tukad Jinah, perbatasan antara Desa Satra dan Desa Takmung, sepanjang alur tukad, proyek properti perumahan sudah mulai menjamur. Dari utara jembatan, sejumlah rumah sudah dibangun pengembang. Letaknya, persis di pinggir sungai. Sementara di selatan tukad, nampak pinggiran tukad disender sepanjang sekitar seratus meter. Parahnya, senderannya telah mencaplok sempadan sungai. Sehingga, membuat sungai kini semakin sempit. Para pengembang ini tergolong nekat. Padahal saat hujan, air sungai kerap meluap. Jika sungai dipersempit, justru akan membahayakan warga sekitar. Bahkan, bisa membuat Subak Takmung di hilir sungai terancam abrasi. Kontan saja,
serbuan proyek properti membuat pihak Desa Takmung keberatan. Selain pembangunannya tanpa koordinasi dengan pihak desa, juga belum mengantongi izin dari pemerintah daerah. Padahal pihak desa sejak dulu sangat menjaga kelestarian Tukad Jinah, untuk mencegah adanya berbagai bencana alam. Namun, investor nampaknya lebih lihai, di mana pembangunannya dilakukan saat masa transisi kepemimpinan di Desa Takmung. Perbekel Takmung Nyoman Mudita, sudah menyatakan keberatan dengan kerusakan yang ditimbulkan di sekitar sungai. Menurutnya, sungai harus dijaga kelestariannya. “Jangan sampai alur sungai semakin sempit. Ini harus segera dicegah,� tegasnya. Mantan Bendesa Lepang ini kian naik darah, ketika mendengar dasar sungai juga dikeruk. Benar saja, investor tidak hanya mengincar sisi barat Tukad Jinah, namun, eksploitasi juga dilakukan dari sisi timur. Pembangunan properti perumahan dari sisi timur, baru sebatas membuka dan meratakan lahan. Namun, ketika hendak membangun senderan, tampak satu alat berat eskavator mengeruk batu-batu besar di dasar
Dikibuli Bawahan SELAIN berkoordinasi dengan pihak Balai Wilayah Sungai Balai Penida dan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Klungkung, Wabup Kasta juga memanggil Perbekel Takmung dan Perbekel Satra. Sebab, proyek perumahan dan tanggung jawab melindungi sungai Jinah, masuk wilayah dua desa ini. Wabup juga menyayangkan, perbekel tidak segera melaporkan pengerjaan proyek perumahan tanpa izin ini kepada Tim Yustisi, hingga terjadi pengerukan dasar Tukad Jinah. Sebelumnya, proyek perumahan dan pengerukan di kedua wilayah ini dikeluhkan warga sekitar. Pembangunan senderan, dinilai mencaplok sempadan sungai, sehingga membuat
22
17 - 23 Februari 2014
alur sungai menjadi semakin sempit. Setelah ditelusuri, Perbekel Desa Satra, Ni Made Ratnadi, mengaku kurang tahu soal proyek properti perumahan oleh pengembang Dewa Made Sanjaya itu di desanya. Ratnadi mengaku sempat memanggil pihak pengembang dua kali. Namun tak pernah digubris. Dia juga sempat berkoordinasi dengan Kadus Kawan, Dewa Sujana dan diklaim sudah ada izin. Bahkan dijelaskan kepadanya Perbekel Takmung tidak keberatan. Ternyata, Ratnadi dikibuli bawahannya sendiri. Proyek perumahan itu belum mengantongi izin apapun dari pemerintah daerah. Bagiarta
sungai, dari sisi barat dan dipindahkan ke sisi timur. Kuat dugaan, batu-batu besar itu akan digunakan sebagai pondasi senderan. Sebab, dari sisi utara sampai selatan, tampak batu besar itu sudah disusun seperti pondasi senderan. Dugaan itu semakin diperkuat dengan tumpukan tanah di atasnya. Serbuan pengembang properti dengan mengeruk dasar sungai ini, kontan saja membuat Pemkab Klungkung berang. Tim Yustisi Pemkab Klungkung langsung turun melihat sendiri alat berat itu mengeruk dasar sungai.
Proyek Perumahan Ketua Tim Yustisi I Made Kasta, nampak geram, sembari meminta alat berat itu berhenti beroperasi. “Hentikan pengerukannya, matikan mesinnya. Ini sudah kegiatan pertambangan,� teriak Wabup dengan nada tinggi. Tidak puas dari seberang sungai, Wabup yang telanjur naik darah langsung mendekati para buruh. Sebab, teriakannya sempat tak digubris para buruh. Rupanya, baik pengerukan maupun pembangunan perumahan itu, tidak mengantongi izin dari pemerintah daerah. Para buruh setempat, mengaku pihak pengembang sudah mengantongi izin dari
bendesa. Wabup justru mempertanyakan legalitas dari izin dari bendesa itu. Sebab, bendesa tidak berhak mengeluarkan izin untuk proyek besar semacam itu. Wabup langsung meminta pemilik lahan sekaligus pengembang, Dewa Made Sanjaya, menghentikan sementara kegiatannya di lahan itu, sebelum memperoleh izin dari Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu. Begitu juga alat berat di alur sungai diminta menghentikan segala aktivitasnya dan mengambalikan batu-batu ke dasar sungai, untuk menjaga stabilitas alur sungai. Setelah melabrak investor lokal ini, Wabup menegaskan akan meminta salinan
sertiďŹ kat tanahnya dan memanggil secara khusus pihak pengembang. Jangan sampai proyek perumahan ini mencaplok sempadan sungai dan tanah negara lainnya. Wabup juga akan segera berkoordinasi dengan pihak Balai Wilayah Sungai Balai Penida dan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Klungkung, untuk mempertegas aturan pembangunan kawasan perumahan di sekitar alur sungai. Jika sungai disender dan membuat sungai menjadi semakin sempit, hal ini sangat membahayakan lingkungan sekitar. Bagiarta
K E S E H ATA N
Gangguan Psikosomatis Dapat Picu Maag dan Sakit Kepala
K
eluhan sakit kepala, pinggang, sakit perut (maag) sering diderita setiap orang. Berbagai obat sudah diberikan, sebagai solusi untuk mendapatkan kesembuhan dengan cepat, tetapi toh sakit yang diderita tidak kunjung sembuh. Sebagai pertolongan awal obat-obat umum mungkin cukup membantu. Tetapi seandainya keluhan tetap tidak hilang, walau sudah minum obat terbaru dan mutakhir, termasuk mencari dokter spesialis, maka patut dipertanyakan secara bijaksana. Tidakkah gangguan fisik itu diakibatkan psikomatis?
24
17 - 23 Februari 2014
Dokter Spesiaslis Kejiwaan RSU Kasih Ibu Kedonganan dr. Pande Sura Oka, Sp. KJ. mengatakan hal itu. Menurutnya, keluhan sakit kepala dan maag yang sering muncul kembali meski sudah minum obat bisa berhubungan sangat erat dengan faktor psikologis (mental). Beberapa keluhan fisik sering berkaitan dengan faktor psikologis sebagai bagian penting mengkonstruksi gangguan tersebut. Istilah umum mendeskripsikan masalah ini adalah gangguan psikosomatis. Beberapa keluhan fisik memang sering terjadi dan berhubungan dengan gangguan psikosomatis. Ganggung fisik yang terjadi antara lain sakit kepala, kaku leher, sakit pinggang, gangguan lambung, keluhan nyeri dan beberapa keluhan fisik lain. Keluhan ini biasanya membandel, meskipun telah diobati dan dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh dokter ahli, tetap saja tidak ditemukan adanya kelainan yang bermakna. Jika sudah demikian, perlu dipikirkan kemungkinan faktor psikologis yang berhubungan dengan keluhan yang terjadi. Faktor psikologis yang dimaksud bisa disebabkan faktor stres yang sedang membelit individu tersebut. Berbicara tentang stres, kata Sura Oka rasanya semua sudah akrab dengan kata tersebut. Masyarakat familiar mengatakan seseorang atau dirinya stres ketika pikirannya merasa sumpek dan terbebani oleh masalah dalam kehidupan sehari-hari. Bisa karena pekerjaan, hubungan dengan anak, istri dan lain-lain. Agar dapat keluar secara elegan dari masalah yang
menyebabkan stres ini, tentu harus dicari jalan keluar baik lewat bantuan keluarga maupun teman. Setelah masalah teratasi, biasanya pikiran akan menjadi plong dan kondisi tubuh kembali normal, energik dan penuh fitalitas. Ketika mengalami stres, tubuh akan bereaksi dengan mengeluarkan hormon pada otak. Salah satu hormon tersebut adalah kortisol (hormon steroid). Hormon yang dikeluarkan berasal dari kalenjar di ginjal. Pengeluaran ini bertujuan mempersiapkan tubuh memberikan asupan energi dan peningkatan kewaspadaan, dalam kaitan mengupayakan respons menyerang atau menghindar. Apabila tubuh belum melakukan pengelolaan atau adaptasi terhadap keadaan ini, maka stres menjadi berkepanjangan. Ketidakseimbangan hormon ini berlangsung lama. Inbalance pada hormon ini mengakibatkan efek merugikan pada berbagai organ tubuh. Contoh terjadi pada lambung, kepala atau pinggang. Pada lambung biasanya terjadi tukak (ulcus) dulu. Penyakit ini diyakini terjadi akibat stres. Belakangan diketahui adanya kuman Helicobacter pylori sebagai penyebab ulkus pada lambung. Namun lanjut Sura Oka pada penelitian terakhir didapatkan dari lima enderita ulcus, hanya seorang diintervensi kuman Helicobacter pylori. Pada orang normal, kuman Helicobacter pylori ini memang ada di saluran pencernaan bagian atas. Namun kuman ini tidak menimbulkan penyakit. Tetapi pada keadaan stres berkepanjangan, sistem pertahanan tubuh akan menurun, akibatnya memudahkan terjadinya penyakit. Karena itu, untuk mengatasi sakit fisik berulang ini, perlu dilakukan pendekatan dan pengelolaan stres dengan baik, sehingga penyakit psikosomatis ini bisa diobati secara total. Wira Sanjiwani
Jangan Biarkan Stres Terlalu Lama PENGIDENTIFIKASIAN stres setiap individu berbeda-beda. Hal itu tergantung pada kondisi keseluruhan individu tersebut. Dr. Pande Sura Oka, Sp. KJ., memberikan langkah-langkah riil sebagai solusinya. Pertama biasanya diidentifikasi dulu factor- faktor apa saja yang penyebabkan terjadinya stres itu. “Mengetahui faktor penyebab stres itu sangat penting. Biasanya faktor ini relatif tersembunyi dan cenderung tidak diantisipasi. Tetapi justru faktor ini bisa menjadi sangat menentukan dan kunci penemuan sakit itu. Karena itu, mengidentifikasi faktor penyakit itu sangat penting, karena dapat memudah-
kan mendapatkan solusi terkait keluhan apa yang diderita pasien itu,’’ ujar Sura Oka. Setelah faktor stres diketahui, maka tentu dilakukan resolusi terhadap konflik yang terjadi. Dukungan dari orang sekitar penderita cukup membantu untuk memberi penguatan terhadap mekanisme adaptasi penderita. Pendekatan dengan terapi kognitif dan prilaku terkadang diperlukan untuk memperbaiki mekanisme adaptasi pada penderita. Bila penanganan dilakukan sejak awal dan teratur maka keluhan biasanya berangsur membaik. Lanjut Sura Oka, pada keadaan lain
mungkin keluhan psikomatis ini disertai keluhan fisik lain seperti gangguan tidur, semangat kerja yang menurun, kegembiraan hilang, cepat lelah, pesimis atau rasa khawatir meningkat. Bila keadaan itu dirasakan, maka perlu dipikirkan kemungkinan terjadinya kelelahan mental (depresi) pada individu tersebut. Jangan biarkan stres sampai lama, sehingga kemungkinan sakit lebih berat, depresi tidak sampai muncul. “Jika ditangani lebih dini, telaten, pasien yang mengalami depresi ini bisa sebuh seperti keadaan normal,” ujar Sura Oka. Wira Sanjiwani 17 - 23 Februari 2014
25
LENSA
PANEN RUMPUT LAUT Panen rumput laut tidak membuat petani gembira. Sebab, cuaca buruk yang terjadi belakangan, membuat petani rumput diliputi rasa khawatir. Rumput laut garapan masing-masing petani mulai terserang penyakit yang disebut “ice-ice�. Penyakit rumput laut ini, membuat rumput laut seketika membusuk dan mengakibatkan produksi rumput laut Nusa Penida anjlok hingga lebih dari 20 persen.
MBP/Eka
OLAHRAGA
Tim Baru dan Tekanan Bertambah
T
im juara dunia Formula 1 Red Bull mengakhiri sesi uji coba pra musim di sirkuit Jerez dengan mengerikan. Juara dunia Sebastian Vettel dan rekan setimnya
Daniel Ricciardo hanya menjalani 21 putaran dalam tiga hari sebelum memutuskan mundur lebih dini dari uji coba di Spanyol Selatan itu. Ini baru kendala teknis pada mobil
MBP/ap
Pembalap Red Bull Daniel Ricciardo dari Australia.
28
17 - 23 Februari 2014
baru RB10 dengan mesin Renault. Tim principal Christian Horner menegaskan persoalan tersebut harus tuntas pada uji coba kedua dan ketiga di Bahrain sebelum mengikuti seri pembuka balapan musim ini di Australia 16 Maret mendatang. Ricciardo yang menjalani musim pertamanya di Red Bull setelah meninggalkan Toro Rosso, sempat mencatat waktu tercepat di sesi pagi hari. Namun catatan waktu kemudian terpaut 16 detik lebih lambat dibandingkan Felipe Massa dari Williams. Bila Massa sempat mengitari sirkuit 133 kali dengan mobil FW36 bermesinkan Mercedes, Ricciardo hanya 10 kali sebelum mobilnya mengalami kendala teknis. “Persoalan semacam ini rumit dan tak bisa diselesaikan dalam waktu 24 jam saja,� kata pembalap Australia yang sebelumnya menjadi pembalap pengganti di Red Bull ini sebelum membela Toro Rosso pada 2012. Dan kendala teknis itu menjadi prioritas utama Renault dalam memperbaiki kinerja mesinnya yang juga dipasok ke tim Caterham dan Toro Rosso. Namun bagi Ricciardo permasalahan itu akan menambah daftar tantangan yang harus dihadapi di tim barunya ini. Pembalap kelahiran Perth, Australia 1 Juli 1989 menjadi pendamping Vettel untuk menggantikan Mark Webber yang mundur akhir musim lalu. Di matanya Vettel tak ubahnya seperti legenda F1 Michael Schumacher yang menjadi satusatunya pembalap yang menjuarai F1 lima kali berturut-turut. Pada musim sebelumnya Vettel dan Weber dikenal karena tak pernah akur di trek. Keduanya terlibat dalam sejumlah insiden termasuk saling susul demi merebut gelar juara seri. Bahkan, kalau perlu team order pun bisa dilanggar demi menunjukkan “kehebatannya.� Ricciardo merasa sebagai murid di depan Vettel yang lebih tua dua tahun. Kondisi tersebut sangat berbeda bila dibandingkan dengan Webber yang secara pengalaman di lintasan jauh lebih banyak dibandingkan Vettel.
MBP/rtr
Pembalap Formula 1 Red Bull Daniel Ricciardo menjalani sesi uji coba pra musim di sirkuit Jerez, Spanyol.
“Saya melakukan pendekatan dengan penuh antusias dan suka cita. Ini sebuah peluang yang luar biasa besar dan istimewa bisa bekerja sama dengan juara dunia empat kali Sebastian (Vettel),“ jelas Ricciardo, juara Formula 3 Inggris (2009) dan Formula Renault (2008). Mundurnya Webber menjadikan Ricciardo sebagai satu-satungan pembalap dari Negeri Kanguru itu di F1. Itu berarti dukungan publik di Melbourne pada balapan seri pembuka Maret nanti sepenuhnya ada pada dirinya. Di pundaknya harapan kemenangan dari mereka tertumpu terutama pada debutnya di tim juara dunia dan mobil baru RB10. “Menjadi satu-satunya pembalap Australia membuat saya menjadi sorotan. Orang menyebutnya sebagai tekanan namun bagi saya itu menyenangkan. Adrenalin akan terpacu dan menyaksikan bendera Australia berkibaran di pinggir trek akan menjadi momen yang amat berharga.” Tetapi tetap saja Ricciardo tidak menginginkan mendongkel kekuasaan
Vettel sebagai juara. Satu hal yang diinginkan adalah bisa satu tingkat lebih baik di podium pada suatu waktu musim ini. “Saya mendapat jaminan akan diperlakukan setera dengan dia. Saya berharap, dalam waktu yang tak terlalu lama, saya ingin tim tahu bahwa saya memang mampu mendapatkan hasil terbaik,” jelas Ricciardo. Memang belum ada ekspektasi di mana akan finis di urutan terdepan pada musim ini. Tetapi harapan untuk meraih kemenangan tetap menjadi prioritas utamanya. “Berdiri di podium puncak akan menjadi pengalaman luar biasa,” lanjutnya. Untuk mencapai fase itu, diperlukan kesabaran sebagai murid dalam berguru pada Vettel. Selain itu adalah menjaga konsistensi tetap berada di samping rekan setimnya saat start. Ini bukan hanya demi menjaga misi tim namun juga untuk memperbaiki peringkatnya yang musim lalu berada di posisi ke-14 bersama Toro Rosso. Vetel sendiri yakin bahwa masa peng-
godokan selama dua tahun di Toro Rosso akan memudahkan Ricciardo menjalani masa transisi. “Memberi nasehat itu tidak gampang karena dia sudah dewasa. Dia telah menjalani balapan F1 dalam beberapa tahun,” kata Vettel. Ricciardo hanya menghadapi pengalaman baru dan diyakini tidak akan mendapat banyak kesulitan. Ini dikarekana dia telah mengenal tim, staf dan menjalani sesi simulator. “Dia hanya perlu waktu, semua orang senang menyaksikan Red Bull bisa merekrut dia,” lanjut Vettel. “Saya yakin dia akan menemukan jalannya dengan cepat. Dia mempunyai talenta dan telah mendapatkan kesempatan. Jadi saya yakin dia juga akan memberikan tantangan pada saya juga,” ungkap Vettel yang sebelumnya membela BMW Sauber dan Toro Rosso sebelum menjadi pembalap utama Re Bull. Yudi Winanto
17 - 23 Februari 2014
29
OLAHRAGA
Tomoko Suzuki
Tersandung Peralatan Panah
T
omoko Suzuki merupakan satu-satunya atlet panahan Bali yang dinyatakan lolos ke Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan, September-Oktober mendatang. Akan tetapi, ia tidak bisa mengikuti pemusatan latihan nasional (pelatnas) karena tersandung peralatan panahnya yang rusak. ”Kalau saya paksa gunakan, alatnya bisa patah. Jadi, percuma saja mengikuti pelatnas karena tanpa meng-
gunakan alat yang bagus akan sulit berlatih maksimal,” ungkapnya di Denpasar pekan lalu. Selama ini dirinya tidak pernah mendapat bantuan peralatan dari KONI Bali untuk digunakan berlatih dan bertanding. Alat yang digunakannya mengikuti berbagai kejuaraan hingga menjadi atlet berprestasi semuanya dibeli menggunakan uang pribadi. Itu menyulitkannya karena satu peralatan panah lengkap harganya bisa mencapai Rp 45 juta. Tomoko lewat Pengurus Provinsi Persatuan Panahan Indonesia (Pengprov Perpani) Bali sudah mengajukan proposal agar bisa mendapat bantuan peralatan. Namun, proposal yang dikirim pada 2013 entah dibawa ke mana oleh pengurus KONI Bali lalu. ”Saya mendapat informasi kalau proposal yang diajukan Perpani Bali itu hilang. Saya tidak tahu yang sebenarnya apakah benar hilang atau tidak. Tetapi yang benar sampai sekarang belum ada kepastian dari KONI Bali terkait proposal tersebut,” terangnya. Dia berharap pengurus baru KONI Bali periode 2013-2017 lebih memperhatikan nasib para atlet yang sudah memberikan semua kemampuannya untuk mengangkat nama daerah di kancah nasional dan internasional. Termasuk sarana dan prasarana berlatih yang selama ini hampir dikeluhkan oleh seluruh cabang olahraga (cabor) di Bali karena sudah tidak layak Nama Lahir Anak
digunakan. Padahal, fasilitas olahraga yang memadai akan mampu menambah motivasi atlet untuk menjalani latihan dan pertandingan, selain sistem pembinaan yang makin baik dan terprogram dari sebelumnya. Wanita kelahiran Tokyo, Jepang, ini cinta panahan karena menilai bisa dijalani hingga usia senja. Itu sebabnya semua anaknya mengikuti jejak sang ibu. ‘’Cabang ini tidak hanya bisa digeluti anak-anak, remaja dan orangtua. Mereka yang memiliki kekurangan pun bisa melakukan olahraga ini,’’ kilah Tomoko yang menekuni panahan dari iseng-iseng kemudian kecanduan dan akhirnya memutuskan mendalaminya. Ia menggeluti panahan sejak 2009 lalu. Kejuaraan pertama yang diikutinya adalah kejurnas di Jakarta pada 2010 dengan prestasi menempati peringkat keenam. Setahun kemudian turun pada Pra-PON meraih medali perak. Pada PON 2012 di Riau tampil di nomor perorangan dan beregu, ia menyumbang dua perunggu bagi Pulau Dewata. Tomoko sempat menjalani latihan fisik dan mental di Lapangan Kopassus, Bandung (Jabar) dan Situlembang selama dua pekan, sebagai persyaratan masuk tim SEA Games 2013 di Myanmar. Apesnya, saat melakoni seleksi terakhir dirinya terdegradasi sehingga tidak bisa berlaga di hajatan multievent dua tahunan se-Asia Tenggara tersebut. ”Saya sedikit kecewa, tetapi tetap terima semua itu dengan besar hati karena setidaknya saya sudah mempunyai pengalaman untuk dijadikan bekal guna lebih meningkatkan prestasi ke depannya,’’ paparnya. Putu Eka Parananda
: Tomoko Suzuki : Tokyo, 21 April 1966 : 1. Aika Suzuki Hariyanto (24) 2. Malina Suzuki Hariyanto (20) 3. Hammad Suzuki Hariyanto (11)
KRIMINAL
Teganya Sopir Truk Perkosa Siswi SMP
S
epulang dari les di Susut, Bangli, seorang siswi SMP sebut saja Sekar (14), bukannya langsung menuju rumahnya di Kintamani, Bangli, Sabtu (1/2) lalu pukul 13.00. Dalam perjalanan pulang bersama temannya, Putu No, Sekar justru punya rencana lain. Begitu turun dari sepeda motor temannya, cewek ABG ini segera naik ke truk yang dibawa I Wayan Tiles (26), dan Ardanata alias De Pek (18), keduanya warga Banjar Tabu, Desa Songan. Sekar agaknya sudah janjian dengan salah seorang pria tersebut. Sedangkan Putu No yang melihat temannya naik truk, hanya bisa melongo alias tak bisa berbuat apa-apa. Kedua sopir truk galian C ini, dengan wajah berbunga-bunga mengajak Sekar hendak ke suatu tempat. Tapi setibanya di pertigaan Desa Kedisan, Kintamani, tersangka Tiles dan Ardanata berhenti untuk membeli minuman keras (miras) jenis bir. Tanpa susah-payah, kedua sopir truk ini mengajak Sekar ke Penginapan Semadi, dengan alasan menghabiskan bir yang baru saja mereka beli. Setibanya di penginapan, mereka segera masuk kamar yang disewa kedua tersangka. Sampai di situ memang tidak terjadi hal-hal aneh. Selang beberapa jam kemudian, bir yang dibeli kedua tersangka habis. Keduanya ternyata belum puas menikmati minuman memabukkan itu. Tersangka Tiles kemudian ke luar penginapan untuk kembali membeli bir. ‘’Saat ditinggal itulah tersangka De Pek merayu korban sehingga terjadi persetubuhan berulang-ulang,’’ kata Kasubag Humas Polres Bangli AKP Ida Bagus Sahambara seizin Kapolres AKBP Suswanto. Celakanya, tersangka Tiles yang baru saja datang dari membeli bir, rupanya minta jatah, tapi segera ditolak Sekar. Hal itu rupanya membuat Tiles naik pitam. Dia lalu menampar muka siswi SMP bau kencur ini. Tersangka segera menindih paksa tubuh Sekar. Tangan cewek ABG ini juga dilipat ke belakang sehingga tak dapat berkutik. ‘’Saya memang memaksa melakukannya, bahkan sempat
menamparnya dua kali sehingga dia pasrah,’’ ujar tersangka Tiles di hadapan polisi. Setelah puas, Tiles mengajak korban ke Banjar Tabu, Songan, untuk menurunkan tersangka De Pek di rumahnya. Selanjutnya Tiles membawa Sekar ke lokasi galian C di Banjar Tabu, Songan. Mereka melanjutkan aksi ‘’kuda lumping’’ di dalam gubuk. Dengan demikian, pria dua anak ini dua kali menggagahi Sekar tanpa merasa berdosa. Sedangkan tersangka De Pek, malam itu MBP/Puspajingga mengaku empat kali menyKorban Sekar seusai divisum. etubuhi korban. Keesokan harinya, Tiles menurunkan korban di pos kehutanan di wilayah Pura Jati, Kintamani. Korban yang dipaksa berhubungan badan hingga empat kali itu akhirnya mengadu kepada orangtuanya sehingga berujung di polisi. Menurut sumber di Polres Bangli, setelah mendapat laporan kasus persetubuhan, tersangka De Pek dan Tiles akhirnya diciduk aparat Buser Polres Bangli yang dipimpin KBO Iptu Dewa Oka. ‘’Kedua tersangka ditangkap di galian C tempatnya mengambil pasir di Dusun Tabu, Kintamani, sekitar pukul 08.00. Saat ditangkap, mereka sama sekali tidak melakukan perlawanan. Mereka mengakui perbuatannya sehingga kami amankan,’’ tegas sumber itu. Kasatreskrim Polres Bangli AKP Gusti Made Sudarma Putra, menambahkan bahwa korban sudah divisum untuk melengkapi pemberkasan kasusnya. Saat diperiksa di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Bangli, Selasa (4/2) lalu, tersangka Nyoman Tiles mengakui, sempat melakukan kekerasan dan memaksa korban bersetubuh. Sedangkan persetubuhan antara korban dengan De Pek diduga karena sama-sama suka. Meski demikian kedua tersangka yang warga Banjar Tabu, Desa Songan, Kintamani ini, tetap dijerat Pasal 81 UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Gara-gara menggagahi anak di bawah umur itu, tersangka Tiles tak dapat lagi menghidupi kedua anak dan istrinya. Dia harus merasakan pengapnya sel, dan tak bisa hidup tenang memikirkan masa depan keluarganya.
MBP/Puspajingga
Tersangka Ardanata alias De Pek dan I Wayan Tiles ketika diamankan di Polres Bangli gara-gara meniduri seorang siswi SMP, sebut saja Sekar, di sebuah penginapan dan lahan galian C di Kintamani.
32
17 - 23 Februari 2014
Diculik di Gianyar, Dibuang di Denpasar
W
arga Banjar Dauh Uma, Kelurahan Bitera, Gianyar, Senin (3/2) malam lalu digegerkan kasus penculikan seorang siswa kelas 4 SD 3 Bitera, Putu Arisita (10), oleh pria tidak dikenal. Penculikan terjadi bertepatan dengan hari ulang tahun (HUT) ke-10 anak pasangan Made Arsana (37) dan Putu Yasmini (35), yang tinggal di Banjar Dauh Uma, Kelurahan Bitera, Gianyar. Beruntung, nasib baik masih berpihak pada keluarga asal Banjar Kebon, Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini. Bocah perempuan itu akhirnya berhasil pulang dengan selamat ke pelukan orangtuanya. Orangtua Putu Arisita, Made Arsana, Selasa (4/2) lalu mengatakan bahwa sebelum diculik pria tidak dikenal dengan bermobil, pada Senin (3/2) sore lalu pukul 18.15, Arisita disuruh sang ibu mengambil canang di pedagang langanannya yang
berjarak sekitar 100 meter sebelah barat rumahnya. Awalnya, ibu Arisita minta 50 buah canang, namun pedagang hanya memberinya 40 canang, sehingga ada kekurangan canang 10 lagi. Tapi saat hendak mencari canang yang kedua, Arisita tidak kembali ke rumahnya. Mendapati hal itu, sang ayah, Made Arsana, jadi khawatir sehingga bergegas mencari anaknya ke dagang canang, namun tidak ada di sana. Kontan Arsana dan istrinya panik. Saat itu juga keluarga Arisita, yang dibantu puluhan warga Banjar Dauh Uma serta polisi mencari-cari siswi kelas 4 SD tersebut di sekitar banjar hingga ke alur Sungai Dauh Uma. Awalnya Arisita diduga disembunyikan orang halus: wong samar, memedi, atau sejenisnya. Warga kemudian berjuang keras mencari anak ini dengan menggunakan gong. Bahkan keluarga Arisita sempat minta bantuan orang pintar atau
paranormal. Berdasarkan petunjuk orang pintar itu, Arisita dikatakan masih ada di sekitar rumahnya. Pencarian bocah ini juga melibatkan Tim Buser, Tim Reaksi Cepat Gianyar, dan pecalang. Tiba-tiba sekitar pukul 22.07, Arsana menerima telepon dari Polsek Denpasar Timur (Dentim) bahwa ditemukan bocah perempuan di Denpasar. Mendapat informasi seperti itu, Arsana segera mengecek kabar tersebut ke Denpasar. Dengan suka cita, Arsana akhirnya menemukan anaknya yang diamankan aparat Polsek Dentim. Malam itu juga sekitar pukul 23.00, Arisita dibawa pulang ke rumahnya di Banjar Dauh Uma, Bitera, Gianyar. Kepada ayahnya, Arisita mengaku, sama sekali tidak mengenal laki-laki yang menculik dirinya. Penculik itu, katanya, bermobil jenis Toyota Kijang. Awalnya, sebelum kejadian, penculik menanyakan alamat SMPN 2 Gianyar di Banjar Dauh Uma, Bitera, kepada Arisita. Dengan polos, bocah perempuan itu menunjukkan alamat yang ditanya si penculik. Celakanya, Arisita mau saja naik mobil yang dibawa pria misterius itu hingga dilarikan ke Denpasar. Penculik kemudian menelantarkan Arisita di sebuah minimarket di Dentim. Sang bocah lalu minta bantuan kepada pengunjung minimarket untuk dihubungkan melalui telepon kepada orangtuanya di Gianyar. Kapolsek Gianyar Kompol AA Gde Oka Kalam seizin Kapolres AKBP I Komang Sandi Arsana, SIK, mengatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan kasus penculikan tersebut. Polisi kemudian memintai keterangan sejumlah saksi, termasuk mengejar di penculik. Belum diketahui motif dan tujuan penculik membawa kabur bocah tersebut, sebab identitasnya belum berhasil dihendus polisi.
MBP/Yuliantara
Putu Yasmini bersama sang anak, Putu Arisita (korban penculikan), dan Made Arsana, akhirnya berbahagia kembali di rumahnya di Banjar Dauh Uma, Kelurahan Bitera, Gianyar, pascadiculik pria tak dikenal. 17 - 23 Februari 2014
33
KRIMINAL
Ledakan Tabung Elpiji Pembawa Bencana
K
etenangan warga Jalan Gunung Rinjani, Kelurahan Paket Agung, Singaraja, Jumat (31/1) sore, tiba-tiba pecah. Ketika itu terjadi ledakan hebat di sebuah gudang penyimpanan elpiji milik Made Yuliartana. Belum diketahui secara pasti apa gerangan penyebab meledaknya gudang gas tersebut, apakah ada kegiatan mengoplos atau hal lain? Yang jelas lima karyawan yang kebetulan bersantai di depan gudang jadi korban. Mereka mengalami luka bakar serius. Kelimanya yakni Gede Budarma (40), warga Desa Busungbiu, Kecamatan Busungbiu; Komang Eliana (30), warga Desa Kalisada, Kecamatan Seririt; Budi Ariawan (30), warga Banyuning, Singaraja; Gede Sumerta (32), warga Desa Kaliasem, Kecamatan Buleleng; dan Kadek Gunarsa (30), warga Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng. ‘’Penyebabnya masih simpangsiur. Mungkin ada yang membuang puntung rokok,’’ ucap seorang warga. Dilihat dari lokasinya, gudang gas ini memang berlokasi agak jauh dari pemukiman penduduk. Karenanya, begitu mendengar ledakan hebat, warga berhamburan ke luar rumah menuju sumber ledakan. Sedangkan
kelima karyawan yang menjadi korban segera dilarikan ke RSUD Buleleng. Mengingat kondisinya sangat parah, mereka kemudian dirujuk ke RSUP Sanglah di Denpasar. ‘’Penyebabnya masih kami selidiki,’’ ucap Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Agung Purnama. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Lab. Forensik Polda Bali untuk memastikan penyebab meledaknya gudang elpiji tersebut. Pemilik gudang Made Yuliartana, lalu diperiksa polisi. Dia menyatakan siap bertanggungjawab atas peristiwa terbakarnya lima karyawannya. Sedangkan berdasarkan penelusuran di lokasi gudang gas yang meledak itu, tidak ditemukan aktivitas apa-apa. Warga setempat yang kebetulan mencari pakan ternak mengatakan, gudang itu merupakan satu-satunya bangunan yang berdiri di lokasi kaplingan tersebut. ‘’Sejak kaplingan ini dibuka, baru gudang ini saja yang ada. Yang lainnya masih dipagari dan ditumbuhi semak belukar,’’ ucap warga tadi. Ia pun sempat mendengar bahwa tahun 2012 lalu, gudang gas itu digerebek polisi. ‘’Nah sejak saat itu memang agak jarang ada truk yang ngangkut gas,’’ imbuhnya. Hasil pantauannya, hanya sesekali saja ada truk
MBP/Robin
Polisi melakukan penyelidikan di bekas gudang elpiji di Jalan Gunung Rinjani, Kelurahan Paket Agung, Singaraja, yang meledak pada Jumat (31/1) sore.
34
17 - 23 Februari 2014
yang membawa gas. Namun apakah berisi atau tidak, warga tadi kurang memperhatikannya. ‘’Biasanya karyawan gudang nongkrong di bale bengong di depan. Mereka sering menyapa dan ramah. Tetapi saya nggak tahu namanya,’’ imbuhnya. Warga tadi kurang memperhatikan aktivitas di dalam gudang karena temboknya tinggi dan pintunya selalu tertutup. Hal itu juga menjadi teka-teki apakah gudang itu dipakai untuk mengoplos gas atau sekadar memperbaiki tabung gas yang rusak agar bisa dipergunakan kembali. Lurah Paket Agung, Putu Sumendra, saat dimintai dikonfirmasi mengatakan sejauh ini belum ada yang mengurus izin terkait gudang gas yang ada di wilayahnya. ‘’Yang saya tahu, tahun 2012 lalu gudang itu digerebek polisi. Tetapi saat itu saya belum menjabat. Nah sejak saya menjabat, belum ada yang mengurus izin untuk itu,’’ tegasnya. Saat berita ini ditulis pada Kamis (6/2) lalu, tiga korban ledakan tabung elpiji, yang sebelumnya dirawat intensif di RSUP, Denpasar, akhirnya meninggal dunia. Ketiganya yakni Gede Sumerta, Kadek Gunarsa, dan Gede Budarma. Menurut Kasubag Humas RSUP Sanglah, dr. Kadek Nariyantha, Gede Sumerta meninggal dunia, Senin (3/2) lalu, sekitar pukul 05.00, dan Kadek Gunarsa menghembuskan napas terakhir pukul 20.45. Sedangkan, Gede Budarma meninggal dunia Selasa (4/2) lalu sekitar pukul 05.30. “Korban mengalami gagal napas atau trauma inhalasi yang menyebabkan terhambatnya saluran napas dan trauma luka bakar di leher,” tegas dr. Kadek Nariyantha. Dua korban lainnya yakni Komang Eliana (30) dan Mudi Ariawan (30) tengah dirawat intensif di ruang Burn Unit RSUP Sanglah. Nariyantha mengungkapkan, kondisi kedua korban masih dalam tahap observasi dan dalam penanganan sesuai protap RSUP Sanglah. Dia belum dapat menyebutkan kondisi korban stabil atau tidak karena masih dalam tahap penanganan. Luka yang diderita kedua korban mencapai 70-80 persen. Rata-rata termasuk grade II dan grade III.
MBP/Robin
Para korban ledakan saat dirawat di RSUD Buleleng sebelum dirujuk ke RSUP Sanglah, Denpasar, untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
“Kemungkinan untuk sembuh tergantung dari kuat-tidaknya daya tahan tubuh pasien,” tegasnya. Di tempat terpisah, Dinas Koperasi, Perdagangan, dan Perindustrian (Diskopdagprin) Buleleng menyatakan bahwa gudang elpiji di Lingkungan Banjar Paketan, Kelurahan Paket Agung, Singaraja ini, terbukti ilegal alias tak berizin. Hal itu terungkap setelah Diskopdagprin Buleleng melakukan inspeksi mendadak (sidak) dengan menyasar seluruh agen dan pangkalan elpiji di Buleleng. Hasilnya, dari sidak itu ditemukan 10 agen resmi yang membawahi
796 pangkalan gas elpiji di seluruh Buleleng. Dari data itu, ternyata gudang elpiji di Kelurahan Paket Agung itu tidak tecantum dan tidak ada agen yang bekerja sama dengan gudang tersebut untuk memasok elpiji. ‘’Kami sudah cek, dan ternyata gudang di Paket Agung itu tidak terdaftar,’’ ujar Kepala Dinas Koperasi Perdagangan, dan Perindustrian Buleleng, Ni Made Arnika. Kasatreskrim Polres Buleleng, AKP I Ketut Adnyana, T.J. menyebutkan bahwa polisi telah memeriksa 7 saksi, termasuk pemilik gudang, Made Yuliartana alias Dek Ama, warga Desa Busungbiu, Kecamatan
Busungbiu. Selain pemilik gudang, polisi juga memintai keterangan tukang las yang saat itu beraktivitas di dalam gudang. ‘’Nanti setelah gelar kasus barulah kita ketahui hasilnya,’’ imbuhnya. Apakah ada aktivitas pengoplosan di gudang itu? Kasatreskrim belum berani memastikannya lantaran saksi kunci yang ada di dalam gudang belum bisa dimintai keterangan.
PARIWISATA
Batu Ampar Mulai Memikat Wisatawan
P
erkembangan pariwisata di Buleleng memang tidak seramai pariwisata di Bali Selatan. Meski perkembangan lambat, namun sejumlah potensi kawasan wisata yang lama terpendam kini dikelola dan perkembanganya mulai menggeliat. Upaya itu kini mampu memikat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara yang terus meningkat. Kawasan wisata baru yang terpendam cukup lama itu adalah Batu Ampar. Kawasan ini terletak di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak. Berbatasan dengan kawasan wisata yang sudah terkenal seperti Taman Nasional Bali Barat, Pulau Menjangan, dan Pemuteran. Batu Ampar kini dikenal sebagai kawasan pariwisata terlengkap di Bali. Kawasan ini memiliki berbagai daya tarik wisata mulai dari pemandangan bawah laut hingga kawasan tracking ke puncak bukit yang penuh dengan aura spiritual dengan suasana yang tenang. Di bawah laut terdapat terumbu karang dan populasi ikan hias berbagai jenis. Sekretaris Desa (Sekdes) Pejarakan, Kecamatan Gerokgak I Gede Kordin Yudiasa ketika ditemui belum lama ini menjelaskan, kawasan wisata Batu Ampar dan sekitarnya merupakan daerah pesisir pantai dan di tengah-tengah menjulang perbukitan. Keunggulannya menonjolkan suasana yang damai dan mulai tertata dengan asri. Di antara laut berombak tenang dan bukit terdapat sejumlah desa yang dihuni sebagian besar masyarakat petani dan nelayan. Menurut Kordin, sebelum dirintis menjadi kawasan wisata yang eksklusif, daerah ini termasuk dataran pantai yang gersang, kumuh dan mirip wilayah yang
36
17 - 23 Februari 2014
tidak beraturan. Meski terkesan kering dan gersang, pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an, sejumlah tokoh mencoba mengelola potensi wisata itu. Salah satunya, mantan Bupati Buleleng Ginantra. Saat itu, Batu Ampar diperkenalkan sebagai kawasan pariwisata. Sejumlah pelaku pariwisata, seperti Anak Agung Prana dan kawan-kawan mulai turun tangan dengan menanamkan investasinya di Batu Ampar. Sejak itu, kawasan Batu Ampar menjadi kawasan wisata yang memiliki karakter yang unik dan tidak dimiliki oleh kawasan wisata di daerah lain. “Selain kawasan eksklusif, di wilayah Batu Ampar dan sekitarnya juga terdapat berbagai objek wisata pura bersejarah yang kerap dikunjungi masyarakat umum, seperti Pura Pulaki, makam Jayaprana Layonsari serta pura lain yang tersebar di atas bukit hingga pura di Pulau Menjangan,� katanya. Kordin menambahkan, setiap ada wisatawan yang memilih paket turnya seperti diving, dan snorkeling wisatawan akan diantar oleh guide lokal dengan jarak tempuh sekitar enam kilometer dengan perahu bermesin. Satu unit perahu mampu maksimal mengangkut wisatawan 16 orang dengan tarif Rp 330.000. Sedangkan paket wisata alam perbukitannya para wisatawan bisa memilih jalur tracking yang sudah ditentukan desa setempat dan bisa juga melakukan konservasi satwa langka yaitu burung Jalak Putih bersama pemandu yang sudah disediakan. “Menggeliatnya pengelolana wisata di daerah kami ini tidak lepas dari keterlibatan para tokoh, masyarakat dan pelaku wisata yang mau berinvestasi menawarkan jasa sesuai keahliannya. Perjanjian yang telah disepakati desa
dengan para investor yang menanamkan modal di kawasan Batu Ampar adalah 60 persen melibatkan warga lokal dan 40 persen warga luar,� imbuhnya. Ditanya terkait tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Batu Ampar, lanjut Kordin dari jumlah tiket yang terjual wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kawasan ini mencapai 20 hingga 100 orang orang per hari.
MBP/mudiarta
Kawasan wisata Batu Ampar belakangan ini terus menggeliat. Pihak desa dan pemerintah daerah bersama pelaku pariwisata semakin serius mempromosikan kawasan wisata ini.
Kunjungan yang lumayan ramai ini bisa dicapai meski hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, hotel dan tentunya juga dari pemerintah. Salah satu wisatawan Anthony Catalain usai melakukan snorkeling mengatakan, kawasan wisata Batu Ampar diketahuinya melalui situs internet. Setelah berkunjung pertamakali ke Buleleng dia kagum dengan kawasan
Batu Ampar yang menyajikan panorama alam bawah laut dengan karang laut yang masih perawan dan taman terumbu karang yang terjaga dengan baik. Taman karang di sini tidak kalah indahnya dengan taman laut di daerah lain. “Suasana di sini sangat nyaman dan tenang, bahkan masyarakatnya pun sangat ramah,� ujarnya. Anthony menambahkan kunjungan ke
Buleleng ini merupakan pengalamannya pertama kali dan sangat mengesankan. Selama satu minggu berlibur di Buleleng dirinya hanya mengunjungi wisata Pantai Lovina dan Batu Ampar. Dia juga melihat panorama alam wilayah Batu Ampar di ketinggian melalui jalur tracking. Mudiarta 17 - 23 Februari 2014
37
38
Penghargaan LAKIP 2013 Badung Jajaran Bintang Kelas Indonesia PENGHARGAAN dengan nilai B atas adalah alat ukur untuk mengetahui ke- diibaratkan seperti halnya rapor bagi siswa Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi mampuan organisasi atau dalam hal ini yang mampu menggambarkan tingkat kePemerintahan (LAKIP) tahun 2013 adalah SKPD dalam pencapaian visi, misi serta mampuan seorang siswa dalam menyerap pencapaian bergengsi bagi kabupaten/kota tujuan organisasi, sekaligus sebagai wujud pelajaran serta menilai prestasi belajarnya, di Indonesia. Pasalnya, hanya 3 kabupaten pertanggungjawaban kepada masyarakat. untuk menentukan apakah layak untuk dan 1 kota di Indonesia yang berhasil LAKIP bagi instansi pemerintah dapat naik kelas atau tidak naik kelas. Dedy meraih penghargaan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan dan RB). Kabupaten Badung adalah salah satunya. Selain Badung, kabupaten/kota di Indonesia yang mampu meraih penghargaaan dengan nilai B yakni Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Sleman dan Kota Manado. Penyerahan penghargaan hasil evaluasi Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Kabupaten/Kota se-Indonesia Tahun 2013 yang dihadiri oleh Inspektur Jendral Kemendagri, Deputi KPK, BPK-RI, Bappenas serta segenap bupati/wali kota se-Indonesia, diserahkan langsung oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar, di Balai Kartini, Jakarta, 29 Januari lalu. Bupati Badung A.A. Gde Agung mengatakan, LAKIP merupakan instrumen penting dalam upaya mewujudkan percepatan reformasi birokrasi yang tercermin dari pelayanan publik yang semakin baik. Penghargaan LAKIP merupakan buah kerja keras bersama, terutama komitmen serta kepatuhan pimpinan beserta segenap staf untuk dapat bekerja dengan berorientasi pada hasil. Keberhasilan meraih penghargaan ini patut disyukuri mengingat untuk meraih nilai B memang tidak mudah. Sebab, dari 451 kabupaten/kota seluruh Indonesia yang mampu meraih penghargaan dengan nilai B di tahun 2013 hanya 3 kabupaten dan 1 kota. Penghargaan LAKIP dengan nilai B membuat Kabupaten Badung menjadi satu-satunya kabupaten di Bali yang mampu menyandingkan penghargaan bergengsi dalam hal tata kelola pemerintahan yakni WTP dan LAKIP. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar meSekda Badung Kompyang R. Swandika nyerahkan penghargaan Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja kepada Bupati Badung A.A. menjelaskan, pada dasarnya LAKIP Gde Agung. 17 - 23 Februari 2014
39
39
EVENT KUNJUNGI BALI POST - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik melakukan kunjungan ke Kantor Redaksi Bali Post belum lama ini. Wacik memaparkan kegiatannya serta melakukan tanya jawab seputar persoalan yang dihadapi Bali dewasa ini, termasuk soal reklamasi Teluk Benoa dan moratorium akomodasi wisata. Dalam kesempatan itu, Pimpinan Bali Post Satria Naradha menyerahkan potret Jero Wacik sebagai kenangkenangan dan menerima beberapa buku tentang kinerja dan sepak terjang Jero Wacik selama menjadi menteri. MBP/Edi
MBP/ist
MBP/Edi
BUMN MARKETEERS - Telkom kembali menjadi tuan rumah dalam forum BUMN Marketeers Club ke-13 Denpasar yang berlangsung di Kantor Telkom Bali Selatan belum lama ini. Dalam forum BUMN Marketeers Club yang bertemakan “Great Spirit, Grand Strategy�, Telkom melakukan penandatanganan sinergi BUMN dengan PT PLN Distribusi Bali dan PT Bank Tabungan Negara (BTN).
SAFETY RIDING - Honda sebagai pelopor Safety Riding di Indonesia selain menjual motor juga sangat peduli terhadap keselamatan pengendaranya. Selain memberikan edukasi safety riding, training skill dan sebagainya, Astra Motor Main Dealer Bali (AMMDB) juga memilih salah satu sekolah, yakni SMK PGRI 2 Mengwi, untuk dijadikan Sekolah Binaan Safety Riding.
40
17 - 23 Februari 2014
40
MEDIA TOURING - New GT125 Eagle Eye diuji coba melakukan kegiatan touring yang melintasi area Jawa Timur dan Bali. Bali belum lama ini menjadi lokasi persinggahan sang Raja Matik Yamaha ini dalam ‘‘Fly The Eagle Media Touring’’.
MBP/ist
EKSPOR KE FILIPINA - PT Astra Daihatsu Motor (ADM) selaku produsen Low Cost Green Car (LCGC) Astra Daihatsu Ayla (Ayla) dan Astra Toyota Agya (Agya) memulai langkah bersejarah dengan pencapaian baru yakni melakukan ekspor model LCGC berbasis Agya ke Filipina. (Ki-Ka) Managing Officer Toyota Motor Corporation Hiroyuki Fukui, Executive Vice President Daihatsu Motor Company Limited Tatsuya Kaneko, Ambassador of Japan to Indonesia Yoshinori Katori, Menteri Perindustrian Mohamad S. Hidayat, Presdir PT Astra Daihatsu Motor Sudirman MR, Presdir Toyota Astra Motor Johnny Darmawan berfoto bersama sebelum pelepasan eskpor perdana Low Cost Green Car (LCGC) Astra Daihatsu Ayla (Ayla) dan Astra Toyota Agya (Agya) ke Filipina di pabrik perakitan kendaraan Daihatsu, Karawang Assembly Plant, Karawang Timur, Senin (3/2). MBP/Nikson
Raih sukses dengan menginformasikan kegiatan/usaha, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), peluncuran produk, dan promosi lainnya melalui rubrik Event dengan menghubungi bagian Iklan Bali Post - (0361) 225764. Penyampaian materi dilakukan dua minggu sebelum penerbitan.
17 - 23 Februari 2014
41
41
WISATA
Candi Tebing Tegallinggah
K
unjungan wisatawan asing ke cagar budaya Candi Tebing Tegallinggah masih minim. Cagar budaya yang menjadi salah satu objek wisata dan dibuka, tidak seramai objek bersejerah lainnya. Seperti Goa Garba, Goa Gajah dan Gunung Kawi. Objek ini terletak di Dusun Tegallinggah, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Situs purba ini juga berdekatan dengan Sungai Pakerisan yang telah dinobatkan menjadi warisan budaya dunia dari UNESCO. Untuk sampai di lokasi, pengunjung menghabiskan waktu kira-kira 40 menit dari ibu kota Denpasar menggunakan kendaraan bermotor. Bendesa Adat Tegallinggah I Wayan Biata mengatakan, kunjungan wisatawan terutama asing memang masih sepi saat ini. “Memasuki objek ini, masih gratis. Sebab, belum ramai yang datang. Hitung-hitung promosi dulu supaya banyak yang tahu. Setelah itu, biarkan pengunjung yang telah datang menyampaikannya dari mulut ke mulut,” tuturnya. Karena masih gratis, lanjutnya, sehingga belum ada kontribusi dari wisatawan. Mereka yang datang
42
17 - 23 Februari 2014
saat ini kebanyakan orang-orang yang berkepentingan seperti mahasiswa, arkeolog dan peneliti. “Kalau yang sengaja jalan-jalan dan berwisata belum banyak, kunjungan pun bisa dihitung dengan jari,” katanya. Mengingat objek ini memiliki potensi pariwisata, imbuhnya, sekarang sudah mulai proses perbaikan. “Objek ini sudah dikelola oleh pihak Museum Purbakala Bedulu, Gianyar di bawah pengawasan Desa Adat Tegallinggah. Untuk kebersihan sudah ada yang mengurus dari warga desa di sini,” jelasnya. Sementara untuk akses, katanya, masih dalam proses. Pemerintah Kabupaten Gianyar saat ini sudah membantu perbaikan untuk akses menuju ke sana, di mana jalan desa yang dulunya rusak sekarang tengah diperbaiki. Dan sekarang baru perataan dengan batu kapur. Di sana juga sudah ada fasilitas seperti anak tangga dari semen, plang petunjuk yang berisi nama candi dan juga tong sampah. Parkir saat ini belum ada sehingga pengunjung bisa meletakkan kendaraanya di parkir milik Griya di dusun tersebut. Dari parkir ini, pengunjung melakukan perjalanan dengan melewati tambak udang dan ikan yang dihiasi bunga teratai. Sepanjang perjalanan pengunjung akan senantiasa mendengar gemersik air yang datang dari aliran sumber-sumber air. Selanjutnya, pengunjung akan melewati puluhan anak tangga dengan pemandangan perkebunan milik warga sekitar. Gemercik air di sepanjang tangga itu, membuat hawa sangat sejuk. Pohon-pohon besar dan akar yang bergelantungan membuat panorama seperti hutan asri. Keunikan situs purbakala ini terlihat pada pahatan candinya yang menyatu dengan dinding tebing. Pada dinding itu terdapat dua buah candi yang sangat kuno. Masing-masing candi ini memiliki tiga buah lingga yang melambangkan Dewa Tri Murti yakni Brahma, Wisnu dan Dewa Siwa. Masih dalam satu tebing, tepatnya bagian kanan candi terdapat 4 buah cengkokan dan sebelah kiri ada 3 buah cengkokan. Tidak jauh dari candi, juga terdapat 8 buah cengkokan ukuran besar. Sementara tambahannya masih ada 3 cengkokan lagi yang dipisahkan oleh Sungai Pakerisan.
Sekitar candi itu terdapat beberapa runtuhan candi yang telah rusak akibat benda. Satu buah gua dan tempat menghaturkan canangsari. Terdapat pula beberapa pancoran air yang digunakan untuk upacara keagamaan dan melukat. Di sana pengunjung bisa membasuh wajah untuk sekedar merasakan kesegaran air yang jatuh di sela-sela tebing. Dia menyampaikan, berdasarkan keterangan dari museum purbakala, candi ini ditemukan oleh seorang peneliti asal Belanda bernama Krijsman. Saat itu, dia melakukan penggalian situs bersejarah. Salah satu yang dia temukan adalah objek ini. Rencananya, ungkap Biata, akses jalan menuju objek ini akan di hotmik oleh pemerintah Gianyar. “Untuk meningkatkan kunjungan tentu perlu bantuan seperti promosi objek lewat media, pemerintah termasuk masyarakat lokal. Ditambah lagi dengan fasilitas seperti jalan yang bagus. “Saya berharap, promosi segera dilakukan oleh semua pihak seperti masyarakat, pemerintah bahkan tamu-tamu lokal yang pernah ke sini agar ikut mempromosikan. Sehingga apabila ada kontribusi dari wisatawan, tentu objek ini bisa berkembang bahkan pemeliharaannya bisa lebih bagus,� harapnya. Ocha
43
TRADISI
’’Bayuh Otonan’’ A nak-anak yang lahir pada Wuku Wayang, dalam kepercayaan Hindu di Bali, mestilah di-ruwat dengan pementasan Wayang Sapu Leger lengkap dengan upakara-nya. Kenapa? Menurut Ida Pedanda Bang Buruan Manuaba, mitologi efek buruk Wuku Wayang berawal dari mani Dewa Siwa yang bermanifestasi menjadi Batara Kala kemudian tumbuh menjadi raksasa yang beringas, memakan segala yang ada. Karena sifatnya itu, Dewa Siwa kemudian memberi berkah hanya boleh memakan anak yang lahir pada
Wuku Wayang. Namun tanpa diduga adik dari Batara Kala yakni Dewa Kumara lahir pada hari Wuku Wayang. Batara Kala pun langsung mengejar adiknya untuk dimakan. Lama mengejar Dewa Kumara, Batara Kala pun kelelahan dan menemukan sesajen yang dihaturkan Sang Amangku Dalang yang sedang mementaskan wayang. Karena haus dan lapar, sesajen itu dilahapnya habis tanpa sisa. Akhirnya terjadilah dialog antara Sang Amangku Dalang dengan Batara Kala, yang meminta agar segala sesajen yang dimakan dimuntahkan kembali. Batara Kala tidak bisa
memenuhi permintaan Sang Dalang tersebut. Sebagai gantinya, Batara Kala berjanji tidak akan memangsa orang yang lahir pada hari Wuku Wayang, utamanya Tumpek Wayang, jika sudah menghaturkan sesajen pagelaran Wayang Sapu Leger. “Dalam kekawin dijelaskan, siapa pun yang lahir pada Wuku Wayang dari Redite (Minggu) hingga Saniscara Kliwon Wayang, apabila sudah melaksanakan pamarisudha pagelaran Wayang Sapu Leger maka dia bebas dari kejaran atau gangguan Batara Kala,” katanya saat ditemui di Griya Bang Swarga Manuaba, Muding, Kerobokan.
44
Karena itu, kata Ida Pedanda, seyogyanya anak yang lahir pada Wuku Wayang di-ruwat, supaya berubah dari jatma sukerta menjadi jatma parisuda atau anak suputra. Harapan yang paling besar, apabila kelak dilahirkan kembali ke dunia, supaya tidak lagi pada Wuku Wayang. “Karena anak yang lahir pada Wuku Wayang itu mempunyai sifat-sifat yang kurang positif. Perbintangan seperti ini juga dipercaya di berbagai negara dan diyakini anak yang lahir pada hari tertentu membawa suatu bawaan,” tambahanya. Di era global seperti sekarang, kata Ida Pedanda, ritual bayuh otonan untuk anak yang lahir pada Tumpek Wayang masih tetap dilakukan, karena masih banyak orangtua yang mendapat keluhan bahwa anaknya sakit-sakitan, hingga terjadi kenakalan remaja. “Selain karena Tumpek Wayang, ada puluhan alasan orangtua
MBP/ist
Pementasan Wayang Sapu Leger
melakukan bayuh otonan bagi anaknya dan hingga kini memang masih relevan menuju ke arah positif,” ujarnya. Hal senada disampaikan Ida Mpu Siwa Budha Adhyaksa Dharmita yang mengatakan bahwa anak yang belum melaksanakan ritual bayuh otonan, memiliki tingkah laku yang cenderung diselimuti sifat rajas dan tamas. Di luar logika, anak yang lahir pada Wuku Wayang sering mengalami sakit yang tidak mampu ditangani secara medis, tetapi setelah dilaksanakan upacara bayuh sapu leger, kondisi kesehatan mereka bisa membaik. “Kelahiran pada Wuku Wayang ada dampaknya secara emperik, itu dapat dilihat dari tingkah lakunya, kelakuannya aneh-aneh atau bisa sakit-sakitan yang tidak ada obatnya secara medis,” katanya. Ida Mpu mengatakan, banten bayuh
oton Wuku Wayang memiliki keistimewaan dari wuku yang lain. selain itu bayuh oton memiliki berbagai jenis seperti banten sapuh leger, tadah kala, panebas baya, lara malaradan, bayakaonan, durmangala, prayascita, bayuan, lis bale gading, soroh bakulan, sega nasi wong-wongan manca warna, banten penyacah mapakeling ayaban paling kanistha suci saji, madya mapregembal, utama mabangkit madewa-dewi. Dikatakannya, anak yang lahir pada Wuku Wayang disebut sebagai anak kala mangsa. “Dalam mitologi Kala Purana disebutkan anak kelahiran Wuku Wayang dimangsa oleh Batara Kala. Untuk menetralisir agar tidak dihegemoni oleh Kala maka perlu dilakukan pangruwatan khusus yang disebut bayuh sapuh leger. Manik Astajaya
MBP/nik
Ida Pedanda Bang Buruan Manuaba
45
ER TPRRAODPI S I TI
Ruang Makan ’’Outdoor’’
Menyatu dengan Alam
S
etelah membahas masalah dapur yang diidentikkan dengan aktivitas masak-memasak, ada satu ruangan yang selalu berada di dekatnya. Dialah ruang makan yang biasanya merupakan tempat berkumpul keluarga di dalam rumah. Karenanya, ruang makan dan dapur ini biasanya terletak di dekat ruang keluarga atau ruang tengah dan kerap kali dihubungkan dengan taman. Menciptakan ruang makan dan dapur dengan konsep open space (tanpa sekat) memang sudah sangat familiar. Namun bagaimana jika kita mengusungnya dengan konsep outdoor? Posisi ruang makan yang terletak di luar dan menyatu dengan taman pastilah membuat suasana alami dan natural lebih mudah
didapat. Ruang makan outdoor bertujuan agar kita dan keluarga dekat dengan alam. Tanaman menjadi unsur alam yang sangat penting dalam hal ini. Sebab, ini akan semakin mempercantik ruang makan dengan suasana hijau dan warna-warni bunga. Komposisi ini sangat penting agar suasana hijau bisa menambah mood saat makan, baik sendirian ataupun bersama-sama keluarga. Agar lebih dekat lagi dengan suasana alam, lantai ruang makan bisa menggunakan kayu atau membangun gazebo, pavilium atau payung. Untuk menambah keasrian, bisa dengan aneka tanaman hias atau kolam kecil dengan aksen batu bata pada dinding sehingga suasana makan semakin natural.
Kita dapat memilih furnitur ruang makan yang memang dapat menguatkan karakteristik ini. Misalnya pemilihan ornamen kayu, bambu dan rotan. Hal lainnya yang perlu mendapat perhatian, penyelarasan warna dan furnitur pada kabinet akan memberikan kesan simple dan rapi sehingga terlihat kontras dengan ruang makan yang berbatasan langsung dengan dapur. Sementara untuk dekorasi tambahannya, dapat dilakukan dengan menempatkan pot-pot bunga di sepanjang ruang atau waterwall pada dinding ruang. Selain memberikan nuansa hijau dan air yang teduh, kita juga bisa lebih mudah dalam mengkreasikannya dengan ornamen alam lainnya. Selain ramah lingkungan dan murah, konsep ruang makan outdoor dapat memberikan nuansa baru pada rumah dan aktivitas keluarga. Ruang makan outdoor juga bisa membuat kita tampil lebih dekat dengan alam. Ruang makan outdoor yang baik tentunya harus berinteraksi dengan alam secara baik. Interaksi ini mendukung kenyamanan ruangan dan menciptakan suasana baik saat berada di ruangan tersebut. Kenyamanan menjadi syarat utama saat merancang ruang makan outdoor. Biasanya ini berhubungan dengan fungsi ruang ma kan yang dilengkapi dengan dapur sehingga kita tidak perlu kerepotan saat akan menyiapkan makanan. Seperti halnya dapur, pencahayaan akan menambah suasana menjadi romantis dan hangat. Jika kerepotan memainkan cahaya dari lampu, kita bisa memanfaatkan tekstur dinding atau warna cat tembok untuk membuat karakter cahaya yang diinginkan agar semakin kuat. Pusat Data
46
17 - 23 Februari 2014
46
Mendekorasi Ruang Makan Minimalis GAYA minimalis kini memang lagi populer-populernya terutama berkaitan dengan pembangunan rumah. Mulai dari bentuk rumah sampai berbagai ruangan pun kini dirambah model minimalis. Demikian halnya dengan dapur dan ruang makan. Masalah warna merupakan hal yang dominan memengaruhi selera makan. Karenanya, untuk menciptakan ruang makan minimalis, haruslah tetap berpegang pada warna natural seperti putih dan hindari warna-warna cerah. Hal yang sama berlaku untuk warna furnitur. Cobalah gunakan satu warna saja. Dalam mendekorasi ruang makan minimalis, temukanlah perabot yang tepat untuk diletakkan di ruang makan. Usahakan untuk menghindari perabotan makan dalam set-setan. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah
menemukan meja yang tepat sebagai pusat meja makan. Pilih ukuran meja yang sesuai dengan kebutuhan keluarga. Setelah meja diatur, pilihlah kursi sederhana yang cocok dengan meja makan tadi. Furnitur seperti meja dan kursi yang telah dipilih sebelumnya haruslah berada dalam kesatuan satu sama lain. Oleh karena itu, jika semua furnitur telah selaras satu sama lainnya dalam gaya minimalis yang telah disesuaikan dengan anggota keluarga dan mejanya, jangan tambahkan dengan furnitur lainnya seperti kursi tambahan, karena akan merusak dekorasinya. Hal berikutnya yang perlu dilakukan adalah memilih aksesoris atau hiasan yang tepat untuk diletakkan di ruang makan. Ketika kita membuat dekorasi ruang makan minimalis sendiri, perlu juga untuk menemukan dekorasi yang sesuai
untuk ruang makan. Karena gagasannya adalah minimalis, coba mendekorasinya hanya pada bagian pusat ruang makan saja. Lebih baik menggunakan dekorasi yang membuat ruangan tampak hidup. Biasanya orang akan menggunakan tanaman hidup ataupun hias. Untuk membuat ruang makan tampak segar, gunakan bunga segar dan memasukkannya ke dalam vas dan letakkan di atas meja makan. Dengan melakukan hal-hal sederhana seperti ini, kita telah memiliki ruang makan minimalis yang cantik yang sesuai dengan kepribadian kita. Seperti halnya pada gaya minimalis lainnya, kita akan mendapatkan keuntungan dari kemudahan perawatannya dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk membersihkannya. Pusat Data 17 - 23 Februari 2014
47
47
BUDAYA
Pura Desa sebagai Daya Tarik Wisata
P
ura Desa dan Puseh dengan keunikannya, tak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Batuan, tetapi juga menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Sejak dibukanya jalur wisata dari Denpasar–Gianyar lewat Celuk (1980an), Desa Batuan mulai dikenal. Banyak guide dan travel agent yang mengajak tamunya melihat keunikan pura tersebut. “Awalnya para wisatawan itu bebas
masuk ke pura. Namun, untuk menjaga kesakralan pura, maka para tamu diberikan kain dan selendang dengan kompensasi menyumbang secara sukarela,� ucap Jero Bendesa Batuan, I Wayan Bendi. Memang, dalam sehari-harinya Pura Desa dan Puseh Desa Adat Batuan selalu ramai dikunjungi wisatawan. Mulai pagi hingga malam masyarakat asing selalu terpesona melihat keunikan serta merasakan magisnya aura pura tersebut.
Ada yang datang secara pribadi, ada juga yang melalui travel agent dengan mobil kecil dan besar. Menurutnya, aktivitas budaya yang tergolong unik menjadi daya tarik. Pura Desa dengan ukiran palinggih yang khas juga menjadi daya tarik. Peninggalan purbakala dengan berbagai bentuk membuat aura magis. Tradisi gocekan (sabung ayam) dan penampilan tari rejang juga menjadi atraksi budaya menarik.
48
Tradisi gocekan dan pentas tari rejang itu tidak digelar berkaitan dengan puncak piodalan. Melainkan setiap tahun, sekitar 4 bulan menjelang hari raya Nyepi. Tradisi unik ini digelar mulai sasih kalima (perhitungan waktu menurut agama Hindu di Bali) hingga sasih kasanga. “Gocekan dilakukan di areal pura sedangkan tari rejang dipentaskan di wantilan pura,� ucapnya. Wisatawan yang hadir tidak dikenakan tiket melainkan dana punia, sumbangan secara sukarela. Sumbangan itu kemudian dimasukan menjadi dana desa untuk memperbaiki pura serta biaya upakara dan upacara di pura tersebut. Jika ada yang lebih baru dipakai untuk biaya perbaikan pura lain di wilayah desa tersebut. “Adanya dana ini sangat meringankan beban masyarakat Batuan sebanyak 110 KK, sehingga tidak kena iuran apa-apa lagi. Mereka cukup ngayah saja,� tambahnya. LAPORAN www.bali-travelnews.com
49
BUDAYA
Ni Wayan Kerti Utamakan ”Tetuek”
J
oged bumbung? Mendengar seni pergaulan di Bali itu, Ni Wayan Kerti (90) langsung tersenyum. Maklum, kesenian sederhana yang dalam pentasnya selalu melibatkan penonton untuk ikut menari itu mampu memberi pengalaman unik baginya. Tetekes, egolan serta encah cerengu yang disajikan di setiap pentasnya mampu mengundang penonton lebih banyak. Maka tak heran, nama Kerti dan joged bumbung seakan menyatu. Pada tahun 60-an, ketenaran Ni Wayan Kerti sebagai penari joged bumbung Desa Sedang bergema seantero jagat Bali. Ia melakukan pentas hampir setiap malam, bahkan tak jarang pentas dua kali dalam semalam. “Saat itu, saya selalu sibuk pentas karena tak elok menolak penanggap,” katanya ketika ditemui di rumahnya y di Banjar j Susuk,, Desa Sedang, g, Kecamatan Abiansemal, Badung. Meski sudah uzur, namun gurat kecantikan wanita satu putra ini masih tampak jelas. Jiwa kesenimanannya pun terasa kental tercermin dalam aktivitasnya. Semangat melestarikan dan mencetak generasi masih terpancar dalam bola matanya. “Menjaga rumah aktivitas saya sehari-hari kini. Saya tak bisa menari ataupun melatih joged seperti dulu,” ucap penerima penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Badung ini tersenyum ramah. Kerti mengatakan, ketika zaman penjajahan dan Gestok (G-30-S/PKI) dirinya sudah menjadi penari joged terkenal. Selain menghibur masyarakat, ia juga sering pentas menghibur turis asing atau hanya berfoto lengkap dengan pakaian joged. Ia sempat diajak pentas ke luar daerah naik kapal terbang. Sayangnya, ia lupa tempatnya. Menurut Kerti, menjadi penari joged itu sengsara membawa nikmat. Karena awalnya
Sukses menjadi penari joged, Kerti kemudian didapuk menjadi pelatih. Ia melatih hingga keluar desa sampai menginap berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Ia melatih di daerah Klungkung, Badung, Denpasar dan Tabanan. Ia melatih bukan berorientasi pada uang. Namun, lebih mementingkan nyama braya, sehingga kalau ketemu ia berharap ada yang menyapanya. Lalu dengan fenomena joged bumbung kini, istri I Wayan Daweg alm. ini hanya diam. Ia mengatakan, perkembangan joged kini luar biasa. Penari joged keluar dari rangki, sudah bergoyang bukan ngegol. Penari joged kini seakan tak mementingkan pakem tari Bali. Gerakannya erotis yang memberi kesan tidak baik. “Ya, bagaimanapun juga laki-laki senang, sehingga penari joged seperti ini laris,” ungkapnya. g dulu yyang g betul-betul berfungsi g sebagai g tari Beda dengan pergaulan yang lebih banyak menghibur. Etika dan kreativitas menari Bali betul-betul muncul. Bahkan, antara joged dan pengibing saling adu kepiawaian menari. Jika ngegol lebih pada menggerakan pantat ke samping kanan dan kiri bukan maju mundur. “Keluar rangki, biasanya melakukan gerakan yang mengutak sehingga hidup. Bukan goyangmakan tetuek, goyang pantat terus,” pungkasnya. LAPORAN www.bali-travelnews.com
dipaksa oleh penghulu desa. Remaja dulu, ia harus bekerja membantu orang tua mencari nafkah. Ia sebagai buruh tukang petik buah kopi di daerah Seririt Buleleng. Belum ada sebulan, ia kemudian dijemput oleh penghulu desa sebagai penari janger dan joged. Selain memiliki wajah yang manis, Kerti juga lahir dari keluarga seniman dimana ibunya sebagai penari gandrung dan ayahnya penabuh klasik, sehingga tak susah melatihnya. Dan benar, setelah melakukan latihan selama dua hari, Kerti langsung pentas. Sambutan penonton sangat meriah, walau ia meninggalkan satu paileh. “Semenjak itu, kami selalu sibuk pentas dan Desa Sedang terkenal karena kesenian jogednya yang memang laris,” kenangnya. Ni Wayan Kerti, penari joged bumbung Desa Sedang yang terkenal pada tahun 60-an.
50
17 - 23 Februari 2014
50