74 | 26 Januari - 1 Februari 2015
PDI-P Perlu Berbenah
RP R P 20.000 20 00 000 000 00
DAFTAR ISI OPINI Merevolusi Sistem Kaderisasi Politik 6 BALI SEPEKAN “Pangempon” Pura Dalem Selaungan Diancam 7 LAPORAN UTAMA Terdepan Jaga Bali PDI-P Harus Tolak Reklamasi 8
PDI-P Perlu Berbenah 10 Harapan ’’Wong Cilik’’ pada PDI-P 11 PEMERINTAHAN Badung Jaga Keharmonisan
LENSA Simbol Koruptor 26
OLAHRAGA 16 Jam Berenang di Laut Lepas 28 LINGKUNGAN Cuaca Buruk
Petani Garam Terpuruk 36
Desa Dinas dan Desa Adat 14
POLITIK Menjaga Bali adalah ’’Swadharma’’ 16 “Krama Bendega” Terabaikan 17 PENDIDIKAN PAUD Rintisan Dimatangkan,
Banjar Mesti Siap Jadi Pengelola 18
MANCANEGARA Misteri Mayat di Sungai Gangga 20 PARIWISATA Menghalau Serbuan Naker Asing ke Bali 38 TRADISI “Kendang Mabarung”
Bentuk ’’Perlawanan’’ terhadap Pakem yang Ada 44 PROPERTI Aturan Ketinggian Bangunan Direvisi? 46 SENI ”Okokan” dan ”Tektekan”, DAERAH Retribusi Naik,
Kunjungan Anjlok 22
KESEHATAN Pemberian Vaksin
Kesenian Khas Tabanan 48
PROFIL I Gusti Ayu Kade Oka Dewi Pertiwi
Tetap Semangat 50
Cegah Kanker Serviks 24 26 Januari - 1 Februari 2015
3
DARI PEMBACA
Bali Perlu Kolam Renang Berskala Internasional P
ada 27-30 Desember 2014 lalu diselenggarakan Kejuaraan Renang Antar-Perkumpulan Seluruh Indonesia (KRAPSI) di Yogyakarta. Peserta yang berjumlah 1.187 ditambah dengan ofďŹ cial ditambah lagi dengan orangtua atau saudara dari peserta maka keseluruhan jumlah pengunjung kota Yogyakarta dari lomba renang ini bisa mencapai 2.000 orang. Pada umumnya mereka sudah tiba di Yogyakarta pada 25 Desember dan sebagian besar baru balik ke kota asalnya pada 1 Januari 2015. Dalam satu minggu saja di akhir tahun kota Yogyakarta menambah penghasilannya dari sektor hotel, restoran, transportasi dan tempat wisata lumayan besar. Saya ingin mengingatkan kabupaten yang ada di Bali untuk membuat kolam renang berskala internasional karena Bali tidak memiliki itu. Padahal beberapa atlet yang berasal dari Bali seperti Gede Siman Sudartawa sudah mengharumkan nama Indonesia di kalangan renang tingkat internasional, dan saya yakin ke depannya akan bertambah lagi, mengingat Klub Bali Pari asal Badung menyabet peringkat ke-4 pada KRAPSI XXXVI tersebut. Para perenang muda Bali Pari masih dapat ditingkatkan lagi prestasinya sehingga nantinya dapat mengikuti jejak Gede Siman Sudartawa yang dulunya belajar renang di Klub Elang Laut Denpasar. Para orangtua atlet luar Bali sering menanyakan, kapan olahraga ini bisa diselenggarakan di Bali. Mereka dengan pasti bilang bahwa akan mengajak keluarga lebih banyak jika diselenggarakan di Bali karena sambil berlibur. Oleh karena itu sudah saatnya salah satu kabupaten di Bali mulai memikirkan untuk membangun kolam renang berskala internasional jika ingin lebih memajukan kepariwisataan daerahnya. Kolam renang bukan saja dapat dijadikan arena lomba renang, namun ada kejuaraan polo air, loncat indah dan renang indah yang sama sekali kita belum memiliki atlet cabang olahraga tersebut karena memang belum ada kolam renang yang mumpuni sebagai tempat latihannya. Bagus Priyono Susilo (Agus Sangging) Br. Kebon Blahbatuh, Gianyar
Bagi Anda yang ingin mengirimkan artikel/opini atau pikiran pembaca silakan kirimkan ke balipost@ indo.net.id atau redaksibalipost@yahoo.com. Panjang artikel maksimal 2.500 karakter, sertakan foto, pikiran pembaca maksimal 1.000 karakter.
4
Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Suana, Sueca, Yudi Winanto, Subrata, Budi Wiriyanto, Diah Dewi. Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Yudi Karnaedi, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Rindra, Agustoni, Widana, Ngurah Kertanegara, Komang Suryawan. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Dewa Kusuma, Mudiarta, Gianyar: Agung Dharmada, Manik Astajaya, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati, Wira Sanjiwani. Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan NTB Agus Talino, Izzul Khairi, Raka Akriyani Surabaya Bambang Wiliarto Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP
26 Januari - 1 Februari 2015
4
Diputuskan Dewan Guru Setujukah anda, kelulusan siswa ditentukan Dewan Guru?
5,48% Tidak tahu 23,12% Tidak setuju
N:584
71,40% Setuju
grafis/tomik cahya
PERAN Guru dalam menentukan nasib siswa sempat terpinggirkan. Selama beberapa tahun, hasil Ujian Nasional (UN) menjadi penentu nasib siswa. Kini, hasil UN kini tak lagi menjadi momok siswa. Mulai tahun ini, UN hanya akan menjadi indikator pemetaan mutu pendidikan. Rencana pemerintah memberikan hak kepada dewan guru menentukan nasib siswanya disambut positif banyak pihak. Bahkan, ketika Pusat Data Bali Post mengelar jajak pendapat terkait hal ini di seluruh Bali, terdapat 71,40 persen responden menyatakan setuju jika kelulusan siswa ditentukan dewan guru. Selama ini, UN pun diyakini bukan solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ketika UN dijadikan sebagai penentu kelulusan, banyak sekolah melakukan rekayasa dan adu strategi. Bahkan, banyak guru terpaksa masuk lebih awal untuk menyiapkan ‘’strategi sukses’’ bagi siswanya. Dengan penentuan kelulusan oleh dewan guru, maka keputusannya akan lebih objektif mengingat akan memadukan indikator kemampuan aka-
demik dan prilaku siswa selama proses pembelajaran. Sedangkan 23,12 persen responden mengatakan tidak setuju jika kelulusan hanya ditentukan dewan guru. Jika ini diterapkan maka subjektivitas akan menguat. Mestinya UN tetap menjadi rujukan namun tetap harus diimbangi dengan nilai pembanding termasuk prilaku siswa. UN harus tetap dijadikan tolok ukur meningkatkan standar mutu pendidikan nasional. UN harus tetap menjadi indikator penentu kelulusan, bukan hanya sebagai alat pemetaan kualitas pendidikan. Sedangkan 5,48 persen responden mengaku tidak tahu secara pasti kebijakan pendidikan nasional saat ini. Responden mengatakan dengan ditoleransinya sekolah memilih kurikulum pembelajaran, pemerintah dinilai tidak punya sikap. Mestinya untuk meningkatkan mutu pendidikan, kurikulum harus sama di seluruh Indonesia. Jika pilihan kurikulumnya berbeda, sistem penentuan kelulusannya juga tak bisa disamakan. Dira Arsana 26 Januari - 1 Februari 2015
5
5
OPINI
Merevolusi Sistem Kaderisasi Politik
F
rasa politik paling terkenal di abad ke-20 mungkin adalah yang disampaikan oleh John Fitzgerald Kennedy di Indianapolis pada April 1959, “When written in Chinese the word crisis is composed of two characters. One represents danger, and the other represents opportunity”. Krisis datang bukan hanya membawa bahaya tapi juga peluang, ujarnya memotivasi saat itu. Sayang JFK tidak merinci bagaimana caranya mentransformasi krisis itu menjadi sebuah harapan perbaikan. Namun ada satu contoh kasus. Krisis yang membawa revolusi pembaharuan sudah lama terjadi di Singapura dan terbukti mendorong kemajuan negara dengan cepat. People’s Action Party (PAP),partai tertua Singapura, pada awal 1970an mengalami friksi yang keras antara golongan pembaharunya antara lain dipimpin oleh Perdana Menteri Lee Kuan Yew, Goh Keng Swee, S. Rajaratnam, Lim Kim San, dan Hon Sui Sen dengan petinggi partai paling senior saat itu Toh Chin Chye yang disokong banyak menteri kabinet dan anggota parlemen seperti Lee Koon Choy, Fong Sip Chee, Chan Chee Seng, dan Chor Yock Eng. PM Lee berpendapat posisi-posisi elit dalam struktur pemerintahan Singapura harus diisi oleh orang-orang luar partai, berusia 35-40an tahun, bersinar di bidangnya, dan baru akan diberikan status keanggotaan resmi PAP saat telah menduduki kursi jabatan. Tapi Toh tidak sepakat dengan mengatakan para elit politik tidak boleh “diterjunkan dengan parasut” seperti argumen Lee tapi haruslah anggota partai yang datang dari bawah dan telah lama berkecimpung di PAP. Walaupun pada akhirnya dengan kekuasaannya sebagai perdana menteri Lee berhasil menjalankan idenya, pada pemilu selanjutnya terbukti suara PAP jeblok sampai hampir tersusul oleh perolehan The Workers’ Party (WP). Penyebabnya simpel, masyarakat tidak mengenal calon-calon dari PAP yang muda dan berprestasi tapi kalah
6
Oleh Pandu Rachmatika
populer dengan calon WP yang sudah lebih lama berkiprah. Lee yang terpojok karena revolusinya dianggap blunder, bersikeras dan mengatakan “mulai pemilu mendatang calon dari PAP akan dipilih sesaat setelah pemilu yang sedang berlangsung usai, sehingga mereka punya waktu lebih panjang untuk mengenalkan dirinya!”. Terbukti hingga sekarang jajaran elite Singapura mayoritas diisi orang-orang “berkelas” dan menopang performa negaranya ditingkat global. Energetic Cadre System 40 tahun kemudian dalam bukunya From Third World to First: The Singapore Story, Lee mengutarakan apapun bentuk negara dan sistem pemerintahannya partai politik harus memiliki mekanisme energetic cadre system. Tanpa ini partai akan terus dibayangi krisis kepemimpinan dan krisis dukungan rakyat yang selanjutnya akan berimbas buruk pada performa pemerintahan negara. Dengan kata lain kemampuan terbang sebuah partai dalam cuaca politik yang dinamis sesungguhnya banyak bertumpu pada satu mesin utama tersebut.
Energetic cadre system sesungguhnya adalah “pengkastaan” dalam tubuh PAP. Ada dua jenis keanggotaan, cadre membership dan ordinary membership. Cadre membership adalah profesional muda berprestasi yang datang dari luar dan diproyeksikan untuk menduduki posisi-posisi kunci pemerintahan. Sedangkan ordinary membership adalah pengurus partai yang justru dibatasi aksesnya ke kursi kekuasaan tersebut. Mauzy dan Milne (2002) menulis tiap tahun ada sekitar 100 calon kader untuk kemudian dipilih sekitar 20 orang untuk “dipoles dan diorbitkan”. Namun, mantan Menteri Dalam Negeri Wong Kan Seng membocorkan sesungguhnya ada sekitar 1.000 lebih calon yang disaring tiap tahun. Para calon ini lantas diundang ke “perjamuan teh” bersama para menteri kabinet untuk diteliti caranya bersosialisasi dan berdiskusi isu-isu penting. Proses ini bisa berlangsung sebanyak lima kali sebelum yang tersisa akhirnya diundang wawancara dengan PM Lee. Tidak selesai sampai di situ, babak terakhirnya adalah psikotes yang kabarnya didesain khusus oleh perusahaan migas Shell untuk menilai “helicopter ability” para calon kader (Lee, 2000). Mauzy dan Milne mendeskripsikannya sebagai skill untuk melihat secara makro namun jeli mengidentifikasi detil kritis suatu persoalan. Konon kemampuan inilah yang menjadi penentu utama lolos tidaknya menjadi kader PAP. Selain energetic cadre system sebenarnya ada tiga karakter dasar lainnya yang ditulis Lee untuk melindungi partai dari kemelut krisis yaitu cohesive decision-making process, settlement of intra-party conflicts dan anti-corruption measurements. Namun berkaca dari krisis yang lalu, dari tahun baru ini semuanya sudah selayaknya mulai aktif merevolusi sistem kaderisasi politik bangsa yang terbukti masih gagal. Penulis, peneliti politik di Sogang University, Korea Selatan, tinggal di Seoul
26 Januari - 1 Februari 2015
6
BALI SEPEKAN
“Pangempon” Pura Dalem Selaungan Diancam AKTIVITAS galian C di sekitar areal Pura Dalem Suci Selaungan, Banjar Dalem, Desa Songan A, Kintamani membuat pihak pangempon pura resah. Pasalnya, selain keselamatan pura terancam bahaya longsor, para penggali di kawasan itu juga mengancam pihak pangempon pura. Mereka diancam dengan bambu ketika hendak melakukan pengukuran jarak tepi areal pura dengan lokasi galian C beberapa waktu lalu. Sebagaimana yang disampaikan salah seorang pangempon Pura Dalem Suci Selaungan Wayan Gede Parwata, saat ditemui di Polres Bangli, Senin (12/1) kemarin. Dikatakan, saat pihak pangempon, yakni Nyoman Pariarta dan Wayan Gede Arisupadma melakuan pengukuran di
MBP/ina
lokasi dengan menggunakan tali dan patok, tiba-tiba oknum warga yang diketahui merupakan salah seorang pemilik galian mendatangi keduanya dan mengancam dengan bambu. Kedua pangempon pura itu pun lari menyelamatkan diri. Atas ancaman tersebut, pihak pangempon akhirnya memilih untuk menempuh jalur hukum dengan melapor ke Polres Bangli. Swasrina
Hujan Empat Jam
Jalan Civic Center Tergenang KENDATI telah ditata, kawasan Civic Center belum bebas dari banjir. Dua hari terakhir, selama beberapa jam jalan masuk sebelah timur kawasan pemerintahan itu tergenang air. Genangan air setinggi lutut orang dewasa itu akibat hujan yang mengguyur selama empat jam. Diduga saluran pembuangan juga tersumbat sehingga air menggenangi jalan di Barat Pura Jagatnata itu. Beberapa warga yang kebetulan hendak melintas mengendarai sepeda motor, Minggu (12/1), urung melintasi jalan karena khawatir mesin ikut terendam. Jalan menuju
gedung DPRD Jembrana itu digenangi air selama beberapa jam. Selain jalan masuk di sisi timur, jalan di sisi barat menuju Pengadilan Negeri dan Kantor Pertanahan Kementerian Agraria juga tergenangi air. Selain di jalan, air juga menggenang di Taman Pecangakan, yang memang posisinya lebih rendah. Bahkan sejumlah tanaman ikut terendam, taman menjadi genangan air. Curah hujan yang cukup tinggi dan berlangsung lama mengakibatkan air di kolam yang mengelilini Gedung Kesenian Bung Karno juga penuh. Suryadharma
Dua Benda Purbakala Ditemukan di Tampaksiring BERLOKASI di lahan milik I Wayan Wirta di Banjar Sareseda, Tampaksiring, Gianyar, Jumat (9/1), ditemukan dua buah patung dari batu paras (batu cadas-red) yang diduga benda purbakala. Kini instansi terkait masih melakukan penyelidikan terhadap penemuan patung dengan bentuk ukiran kepala gajah ini. Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan penemuan benda ini bermula dari tanah tebing milik I Wayan Wirta yang diratakan dengan alat berat escavator. Pada saat proses pengerukan yang dilakukan petugas, Suparman, tiba-tiba alat berat terbentur batu keras
yang mengganggu pergerakan mesin. Dengan bantuan masyarakat, dua benda berbentuk kepala gajah ini kemudian dikeluarkan. Kepala Dinas Kebudayaan I Gusti Ngurah Wijana yang diminta konfirmasinya mengatakan, pihaknya bersama Asisten I Sekda Kabupaten Gianyar, Cok Rai Widiarsa sudah melakukan pengecekan ke Banjar Sareseda, Tampaksiring pada, Sabtu (10/1) sore. Dugaan sementara benda ini merupakan pancuran di tempat permandian raja pada zaman dulu. Agung Dharmada
Pengoperasian Trans Serasi Tersendat MESKI diizinkan melakukan tender lebih awal dari pelaksanaan tahun anggaran, ternyata program terobosan angkutan umum bagi siswa ke sekolah Trans Serasi tidak serta merta bisa dituntaskan dengan cepat. Sejumlah warga pun mempertanyakan kelanjutan program tersebut. Pasalnya, proses tender membutuhkan waktu cukup lama. Belum lagi dipotong masa liburan. Akibatnya program moda transportasi yang digagas untuk mengurangi angka laka lantas yang melibatkan pelajar ini tersendat. Kepala Dinas Perhubungan dan Infokom (Dishub) Kabupaten Tabanan I Made Agus Arta Wiguna saat dikonfirmasi mengakui program trans serasi tersebut masih dalam proses tender. “Kita masih dalam proses tender,” katanya. Puspadewi
Gedung SDN 7 Datah Retak dan Bocor SATU unit gedung dengan empat lokal (ruang belajar) di SDN 7 Datah, Kecamatan Abang, Karangasem, kondisinya memprihatinkan. Tembok sekolah sudah banyak yang retak, atap genting banyak pecah sehingga gedung bocor. Saat mendung dan hujan lebat, siswa terpaksa dipulangkan lebih awal, karena guru khawatir gedung tersebut ambruk. Hal itu disampaikan guru setempat, Komang Anantayasa, S.Pd., dan lima rekannya serta Kepala SD I Wayan Putra, S.Pd., Senin (12/1) di SD di wilayah Ati itu. Putra mengatakan, pihaknya sudah pernah menghadap kepada Wakil Bupati Karangasem Made Sukerana. Selain itu juga sudah rutin menyampaikan laporan soal kondisi sekolah itu. Selain gedung sudah tua, areal sekolah tiap hujan lebat diterjang banjir. Budana Siswa belajar di gedung tua dengan tembok retak dan atap bocor. Guru khawatir SDN 7 Datah ambruk saat musim hujan. Budana 26 Januari - 1 Februari 2015
7
7
LAPORAN UTAMA
Terdepan Jaga Bali
PDI-P Harus Tolak Reklamasi Kepercayaan yang diberikan masyarakat Bali kepada PDI Perjuangan harus mampu dijawab dengan komitmen para kadernya untuk menjaga dan menyelamatkan Bali. Bukan malah ikut menjual Bali. Kader PDI-P baik di legislatif dan eksekutif juga jangan seperti kacang lupa kulitnya. Dalam kaitan KSPN Besakih dan reklamasi Teluk Benoa, semestinya PDI-P terdepan mengawal aspirasi tersebut. Bukan sebaliknya memberi peluang kepada investor untuk mengeruk Bali. Apalagi Megawati dalam sambutannya pada HUT PDI-P menyatakan; Berjuanglah untuk rakyat, dengan segenap jiwamu, dengan segenap cintamu. Maka rakyat pun akan mencintaimu. Rakyat akan menjagamu. Berikanlah dirimu untuk negeri ini. Dedikasikanlah hidupmu untuk tanah air yang begitu mencintaimu.”
Akademisi, pengamat politik yang juga Direktur LSM Bali Sruti Dr. Luh Riniti Rahayu menilai selama ini belum terlihat banyak kader PDI-P yang mampu menyuarakan aspirasi masyarakat yang diwakilinya. Hubungan dengan konstituennya kebanyakan hanyalah sesaat saja, yaitu pada saat kampanye. Begitu mereka duduk di legislatif maupun eksekutif, hubungan dengan rakyat se-
8
olah-olah putus. “Mereka berjuang hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Ini terbukti dengan kurangnya keberanian bersuara lantang dalam memperjuangkan aspirasi rakyat, belum jelas terlihat membela wong cilik. Mereka lebih memilih di zona aman daripada berjuang membela Bali yang penuh risiko politik,” kata Riniti, pekan lalu. Kata dia, andai saja para kader PDI-P baik di legislatif maupun eksekutif bisa memberi contoh dengan perilaku jujur dan bersih, kerja keras membela wong cilik, berani nindihin Bali, maka masyarakat Bali tidak akan pernah B melupakannya. melupakannya Karena itu diperlukan komitmen politik yang tinggi untuk po mewujudkan pertahanan Bali dari berp bagai serangan kapitalisme. Pengamat politik Dr. Ida Bagus Radendra Suastama mengatakan kader Sua PDI-P harus tetap mampu mempertahte ankan dan secara seca konsisten mengimplementasikan ideologi, roh, dan spirit paride tai. Radendra yang juga Ketua Yayasan STIMI Handayani Denpasar itu. Handa Lebih lanjut lanju dikatakannya, ada baiknya sejak saat ini PDI-P melakukan pembenahan dan pembersihan pembe ke dalam, menuju peningkatan d kualitas kader partai. Partai ku harus berani memberhentiha kan k atau memberi sanksi kader-kader yang dapat merusak nama partai.
Suara Kader Sementara itu akademisi bidang politik dan sosial I Gede Wirata, S.Sos., S.H., M.MAP, menyatakan, kader PDI-P dituntut lebih peduli dengan wong cilik dan harus berjuang menjaga Bali. Contoh konkretnya, ketika harga BBM di Bali paling mahal di Indonesia, mana suara kader yang berteriak lantang? ‘’Walaupun sekarang akan direvisi tapi sangat terlambat, itupun karena masyarakat duluan berteriak bukan kader PDI-P,” ujar Wirata. Di samping itu, bila dikaitkan dengan kondisi Bali sekarang, kader PDI harus bersikap tegas untuk menolak reklamasi dan KSPN Besakih. “Ini salah satu yang harus mereka perjuangkan.
26 Januari - 1 Februari 2015
8
MB/dok Massa PDI Perjuangan saat kongres pertamanya di Sanur 1998.
PR besar yang harus diperjuangkan yaitu tolak reklamasi dan KSPN. Selain itu, juga memperjuangkan hak-hak rakyat lainnya. Kader partai seharusnya jemput bola bukan hanya menunggu saja,” tandasnya. Pelaku pariwisata Jro Mangku Kandia juga menyatakan hal senada. Ia berharap kader partai penguasa itu memperjuangkan hak rakyat Bali. Banyak hak rakyat dikebiri, budaya diekspolitasi, hektaran lahan ingin dikuasai investor. ‘’Sebelum menjadi Presiden, Jokowi kan sudah janji meninjau ulang reklamasi Teluk Benoa ketika berbicara di Padanggalak. Janji itu mesti
ditagih sekarang oleh masyarakat Bali yang telah memenangkannya menjadi Presiden,” ujar Mangku Kadia yang pengusaha biro perjalanan wisata. Dia juga berharap, para wakil rakyat di pusat yang notabena putra Bali turut memberdayakan masyarakat lokal ketimbang menghadirkan investor. Padahal, rakyat Bali mampu mengarap sektor-sektor atau peluang ekonomi yang ada. “Berdayakanlah pengusahapegusaha lokal, pengusaha Bali. Jangan kami dijadikan objek, ikutkanlah kami orang Bali sebagai subjek,” ungkapnya. Sebagai pemuka agama, dia juga me-
minta kader PDI-P di pusat melakukan kajian ulang soal Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Besakih. Sebab, rencana penataan itu dibayangi unsur politik yang akan menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. “KSPN harus ditinjau ulang,” tegas Anggota Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) seraya menambahkan, masyarakat Bali sudah bosan termakan janji-janji politik, sudah seharus mereka yang terpilih, baik di daerah maupun pusat menepati janjinya untuk menjaga alam dan budaya Bali. Widana/Ngurah 26 Januari - 1 Februari 2015
9
9
LAPORAN UTAMA
PDI-P Perlu Berbenah “Berjuanglah untuk rakyat, dengan segenap jiwamu, dengan segenap cintamu. Maka rakyat pun akan mencintaimu. Rakyat akan menjagamu. Berikanlah dirimu untuk negeri ini. Dedikasikanlah hidupmu untuk tanah air yang begitu mencintaimu.” Demikian isi pidato Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati pada HUT PDI-P, Sabtu lalu. Lalu bagaimana kader PDI-P Bali menterjemahkan arahan tersebut.
B
ali telah besar di Bali dan dibesarkan masyarakat Bali. Karenanya pemimpin yang lahir dari PDI-P harus serius melindungi Bali. Kesempatan berkuasa dengan kepercayaan rakyat Bali mesti dijalankan dengan sebaik-baiknya. Anak Agung Wiramantara, kader PDI-P yang juga anggota DPRD Gianyar, mengatakan, dalam usianya yang makin dewasa, PDI-P saat ini memang perlu berbenah. Aspirasi rakyat Bali harus mendapat perhatian dan diperjuangkan oleh kader baik yang ada di pusat maupun di daerah. Seperti rencana reklamasi. Apa maksud dan tujuannya, serta konsepnya seperti apa. “Bali harus memiliki regulasi tegas dalam melindungi lingkungan, g , budaya y
dan adatnya,” tegasnya. Sementara itu Ketua DPC PDI Perjuangan Jembrana I Made Kembang Hartawan menginstruksikan kepada setiap kader yang memegang pemerintahan untuk membela kepentingan wong cilik dengan program prorakyat. Misalnya, program bedah rumah untuk mengentaskan kemiskinan, bidang pertanian dengan memberdayakan kelompok-kelompok petani dan peternak termasuk nelayan. Ia yang Wakil Bupati Jembrana ini mengatakan, dalam konteks menjaga Bali, komitmen menjaga alam Bali harus dipupuk terus. “Kalau investor itu tidak mengesampingkan lingkungan dan investasi itu mampu menyejahterakan masyarakat, saya rasa tidak masalah. Tetapi p kalau merusak alam,, jelas harus kita tolak,” tegasnya. Anggota Fraksi PDI-P DPRD Badung I Made Sugita, mengungkapkan, pembangunan yang kebablasan yang mengikis taksu Bali tak terlepas dari kebijakan pemerintah. Aturan tentang tata ruang kerap diabaikan. Demikian pula tatanan adat dan budaya masyarakat seringkali tidak menjadi pertimbangan. Ironisnya, pemerintah seakan melakukan pembiaran terhadap kerusakan Bali. Keajegan Bali menjadi hal mutlak untuk diperjuangkan. Namun, Sugita juga mengungkap, ancaman terhadap eksistensi adat, budaya dan ling-
kungan Bali sangat sulit dihindarkan terutama sebagai ekses pesatnya perkembangan sektor pariwisata. Salah satu ancaman yang masih hangathangatnya yakni rencana reklamasi Teluk Benoa. Reklamasi Teluk Benoa, jangan sampai terjadi. Sebab hal itu jelas bertentangan dengan konsep Tri Hita Karana. “Pembangunan yang tak sesuai konsep Tri Hita Karana akan mengikis taksu Bali. Semua elemen masyarakat di Bali seyogyanya memahami hal tersebut dan ikut berjuang mempertahankan taksu Bali,” ujar Bendesa Adat Kelan ini. Sementara itu, anggota Fraksi PDI-P DPRD Badung Putu Alit Yandinata mengatakan, dalam berbagai kesempatan PDI-P selalu berupaya menunp jukkan keberpihakan kepada rakyat. Pengejawantahannya terutama dalam Pengej penyus penyusunan baik peraturan maupun kebijak pemerintah yang harus berkebijakan dasarka kepentingan rakyat karena sedasarkan jatinya roh PDI-P adalah wong cilik. “Co “Contoh, dalam penyusunan RenTata Ruang (RDTR) dan cana Detail D perda zzonasi, patokan kami tetap agar bagaimana sebuah aturan yang dibuat bagaim memperhatikan kepentingan rakyat mempe dan investasi lingkungan di masa depan,” kata Wakil Sekretaris d DPC PDI-P Badung ini. D Alit Yandinata mengatakan, yang dibutuhkan saat ini adalah ya komitmen untuk mempertahankan kom eksistensi budaya dan lingkungan eksi Bali. Maka dari itu dia mengajak B seluruh kader PDI-P untuk memse perjuangkan hal tersebut. p Dedy
10
26 Januari - 1 Februari 2015
10
Harapan ’’Wong Cilik’’ pada PDI-P DAHI Ketut Diarti dipenuhi keringat. Maklum di depannya sebuah tungku menyala yang di atasnya berisi wajan penuh minyak. Dengan cekatan tangan Diarti memindahkan cetakan besi dari wajan ke adonan tepung cair, lalu memasukkannya kembali ke dalam wajan. Seketika adonan yang menempel di cetakan besi berubah menjadi kue matahari yang renyah. Begitulah keseharian Diarti, si penjual kue matahari di dalam dapurnya yang sudah reyot. Beruntung, dia tak harus tidur di dapur itu karena Pemerintah Kota Denpasar membantunya membangun dua buah kamar layak huni dari program bedah rumah. Penghasilannya boleh dibilang tak tentu karena kue matahari umumnya laris saat hari raya seperti Galungan dan Kuningan saja. Otomatis, Diarti harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Ya… kalau bisa harga sembako murah, biar tidak susah. Bali pokoknya aman,” pintanya. Diarti mungkin tidak memahami konstelasi politik. Namun ibu satu anak ini tahu kalau PDI Perjuangan adalah partai pemenang dalam pemilu tahun lalu. Ia pun berharap partai wong cilik ini bekerja sungguh-sungguh untuk petani. Bermodalkan dari menonton televisi, Diarti mencontohkan di Tabanan, sawah atau tanah sudah banyak berubah menjadi rumah. Diarti pun khawatir ketersediaan beras dari Tabanan akan terganggu bahkan berkurang produksinya. Padahal, harga beras dari Tabanan relatif lebih murah dibanding harga beras yang didatangkan dari luar Bali. Suara yang sama datang dari wong cilik di Jembrana. PDI-P sebagai partai wong cilik harus membela kepentingan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan kecil. Seperti para sopir yang menggantungkan hidup dari jalan. Komang Santika (45), asal Candikusuma, Melaya meminta agar pemerintah yang diduduki kader-kader PDI-P, memberikan keringanan kebutuhan hidup bagi mereka. “Jalankan aturan dengan tegas dan laksanakan dengan benar, jangan-jangan di belakang ada macam-macam. Masyarakat sekarang ini sudah pintar, partai yang tidak membela mereka, pasti ditinggalkan. Keluhan serupa diungkapkan Wayan Sumiati. Pedagang buah di Pasar Karangsokong, Karangasem ini, mengaku saat ini sangat kesulitan untuk mengembangkan usaha kecil yang ia tekuni belasan tahun tersebut. Modal adalah salah satu kendalanya. “Saya
berharap agar PDI Perjuangan memiliki calon rakat pemimpin yang memperhatikan masyarakat kecil. Utamanya para pedagang usaha kecil. Paling tidak kemudahan dalam mencari modal dan kalau bisa pelatihan untuk pengembangan ngan usaha,” ungkapnya. Hal senada juga disampaikan pekerja kerja bangunan yang ada di Kelurahan Subagan, agan, Karangasem, Nyoman Jondra. Ia meminta minta agar PDI Perjuangan sebagai partai yang menguasai pemerintahan saat ini untuk lebih bijak mengambil keputusan yang mempengaruhi aruhi taraf hidup orang banyak. Jangan sampai kesalahan dalam mengambil ambil keputusan untuk menaikan harga BBM tersebut sebut terulang kembali. Pasalnya, harga kebutuhan uhan pokok yang sudah terlanjur naik pascakenaikan aikan harga BBM, tidak kunjung turun setelah harga BBM dinyatakan turun. “Seperti sekarang arang ini, BBM turun tapi kebutuhan pokok tetap mahal. Jangan sampai ini terjadi lagi karena arena yang akan menanggung bebannya masyarakat rakat kecil yang mempunyai uang pas-pasan untuk hidup,” bebernya. Sebelumnya Ketua Umum Partai Demokrasi okrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekaoekaa rnoputri menitikkan air mata ketika ulang tahun PDI-P. Saat menyampaikan pidatonya, Mega ternyata tak kuasa menahan rasa haru. Mega berpidato di atas podium dalam acara HUT T ke42 PDI-P, di kantor DPP PDI-P, Lenteng Agung, gung, Jakarta Selatan, pekan lalu. Dia mengambil tema pidato tentang tantangan partai dan pentingnya menjaga konsistensi. Di bagian akhir pidatonya Mega ingin memberikan pesan-pesan sebagai penutup kepada para kader partai yang berproses menjadi pemimpin. “Hidupkanlah hatimu, nyalakanlah semangatmu, bagaikan obor yang tidak pernah padam oleh guyuran hujan. Nyalakanlah api perjuanganmu, bagaikan panas bumi yang tidak akan pernah padam,” kata Mega. Awalnya suara putri bapak proklamator itu masih terdengar lantang. Namun di bagian berikutnya, suaranya mulai tersendat dan terdengar bergetar. “Berjuanglah untuk rakyat, dengan segenap jiwamu, dengan segenap cintamu. Maka rakyat pun akan mencintaimu. Rakyat akan menjagamu. Berikanlah dirimu untuk negeri ini. Dedikasikanlah hidupmu untuk tanah air yang begitu mencintaimu,” kata Mega dengan suara serak. Rindra/Hardianto
Hidupkanlah hatimu, nyalakanlah semangatmu, bagaikan obor yang tidak pernah padam oleh guyuran hujan. Nyalakanlah api perjuanganmu, bagaikan panas bumi yang tidak akan pernah padam. Berjuanglah untuk rakyat, dengan segenap jiwamu, dengan segenap cintamu. Maka rakyat pun akan mencintaimu. Rakyat akan menjagamu. Berikanlah dirimu untuk negeri ini. Dedikasikanlah hidupmu untuk tanah air yang begitu mencintaimu. Pidato Mega pada HUT ke-42 PDI-P 26 Januari - 1 Februari 2015
11
A KT I V I TA S
MBP/ist
RDP - Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD)-RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III mengadakan rapat dengar pendapat (RDP) dengan Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali dan Tim Inventaris Benda Cagar Budaya yang dibentuk dengan SK Gubernur Bali No.1675/03-H/HK/2014 Tahun 2014 tentang Pembentukan dan Susunan Keanggotaan Tim Ahli Cagar Budaya Bali. Nampak dalam foto Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (anggota DPD/MPR RI), Kadisbud Provinsi Bali Ketut Swastika, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya/Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Drs. I Nyoman Wardi, M.Si. dalam RDP di Ruang Rapat Disbud Bali.
MBP/ist
POMPA SEMANGAT - Gerakan Nelayan Tani Indonesia (Ganti) terus berupaya memompa semangat para petani dan nelayan agar mampu berproduksi secara maksimal. Dengan demikian kesejahteraan mereka akan meningkat. Meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan merupakan salah satu visi dan misi yang diemban Ganti, yang merupakan organisasi sayap PDI Perjuangan. Di Bali, anggota Dewan Pembina Ganti Bali Ir. Putu Gde Rasjmawan bersama jajaran pengurus Ganti Bali telah berupaya mendorong petani meningkatkan potensi pertanian, dengan membudidayakan sejumlah komoditi.
MBP/ist
PELATIHAN - Sebagai wujud kepedulian terhadap tenaga kerja pariwisata dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah di depan mata, DPD Himpunan Lembaga Pelatihan Seluruh Indonesia (Hillsi) dan Asosiasi Instruktur Seluruh Indonesia (AISI) Bali, menggelar pelatihan national trainer angkatan I di Asia dan Indonesia, dilaksanakan di Kampus Mediterranean, Denpasar Timur. Kegiatan mengambil tema “Training of National Trainers in Using ASEAN Tourism Competencies Toolbox Resourcies� dan dibuka Kadisnaker Provinsi Bali diwakili Kabid Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja A.A. Ngurah Bagawinata.
12
26 Januari - 1 Februari 2015
MBP/ist
JUARA - Prestasi Stikom Bali pada karya kreatif semakin terbukti. Setelah dinobatkan sebagai juara I dalam ajang Cipta Karya Kreatif atau yang biasa dikenal dengan Denpasar Creative yang diadakan oleh Pemerintah Kota Denpasar, Stikom Bali meraih juara II dalam lomba sayembara logo yang diadakan Bank BPD Bali. Desain logo yang meraih juara pada ajang ini adalah karya dari mahasiswa Stikom Bali yaitu Pande Bagus Madu Kumara Nata. Nampak dalam foto Ketua Stikom Bali Dr. Dadang Hermawan bersama Pande Bagus Madu Kumara Nata, peraih juara II lomba sayembara logo PT Bank BPD Bali.
MBP/ist MBP/ist
RDTR - Ranperda Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Badung merupakan salah satu ranperda yang sangat strategis dalam pembangunan di Badung. Oleh karena itu, dalam tiap rapat kerja, Pansus RDTR berupaya sedetail mungkin melakukan pembahasan. Seperti pada kerja dengan eksekutif yang digelar, Kamis (15/1) di ruang pertemuan lantai dua DPRD Badung. Pada rapat yang membahas wilayah Badung Selatan itu, pimpinan dan anggota pansus tampak serius melakukan pembahasan, mulai dari hal yang bersifat substansi aturan maupun dalam hal redaksional.
TERANCAM - Dalam setiap reses masa Persidangan Pertama (14 Desember 2014-15 Januari 2015) di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, (Sarbagita), anggota DPR-RI Nyoman Dhamantra mengingatkan bahwa Bali tinggal menunggu waktu kehancuran, sebab daya dukung alamnya mulai terancam. Daya dukung alam Bali tak seimbang lagi dengan jumlah penduduknya. Begitupun kerusakan infrastruktur seperti jalan, jembatan, air, dan pasar, yang tentu diikuti tingginya alih fungsi lahan. Nampak, dalam foto anggota DPR-RI Nyoman Dhamantra (No.2 dari kiri) sempat mengunjungi salah satu pasar yang sudah direvitalisasi, belum lama ini.
MBP/ist MBP/ist
NAIK KELAS - Kelembagaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tabanan naik kelas dari Kantor menjadi Badan. Kerenanya beban dan tanggung jawab ke depan tentunya makin berat. Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Satpol PP Kabupaten Tabanan I Wayan Sarba saat memimpin apel siaga dalam rangka sosialisasi tahun 2015 di Lapangan Alit Saputra, Kamis (15/1). Nampak dalam foto Kepala Badan Satpol PP Tabanan Wayan Sarba saat memimpin apel siaga dalam rangka sosialisasi tahun 2015 di Lapangan Alit Saputra.
SEMINAR - Program Studi Sastra Inggris Universitas Dhyana Pura (Undhira) Bali, Kamis (15/1) kemarin, menggelar seminar internal tentang Bentuk, Fungsi dan Makna Bahasa Inggris (Form, Function and Meaning of English Language). Seminar ini bertujuan untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam mempresentasikan suatu makalah, dan mempublikasikan ide setelah mengikuti perkuliahan untuk mata kuliah Speaking, Speech dan Public Speaking. Hadir dalam seminar ini Kaprodi Sastra Inggris Undhira Dra. Ni Nyoman Tri Sukarsih, M.Hum. sebagai pembicara, dengan membawakan materi yang berjudul “Menerjemahkan Terminologi yang Bermuatan Budaya�. 26 Januari - 1 Februari 2015
13
P E M E R I N TA H A N
Badung Jaga Keharmonisan Desa Dinas dan Desa Adat KEPUTUSAN Bupati Badung Anak Agung Gde Agung untuk tetap menjaga keharmonisan yang telah terbangun selama ini antara desa adat dan desa dinas mendapat dukungan penuh segenap Majelis Alit Desa Pakraman (MADP) dan Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) Kabupaten Badung. Dukungan itu terungkap dalam rapat yang dihadiri seluruh MADP dan MMMD, belum lama ini. Di antaranya hadir pada acara tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan Badung Ida Bagus Anom Bhasma, Kepala BPMD dan Pemdes Putu Sridana, Staf Ahli Bidang Hukum Pemkab Badung Nyoman Predangga, Kepala Kesbangpolinmas Nyoman Suendi. Pada rapat tersebut, seluruh MADP sepakat dan komit untuk mendukung hasil workshop menyikapi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Hasil workshop, yakni tetap menjaga dan mempertahankan kondisi yang sudah terbangun harmonis seperti saat ini. Kepala BPMD dan Pemdes Kabupaten Badung Putu Sridana mengatakan, bila mengacu penjelasan pasal 6 pada UU tentang Desa, di Badung sendiri telah terjadi keharmonisan antara desa adat dan dinas. Tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dan duplikasi kelembagaan, maka eksistensi desa adat dan desa dinas tetap dipertahankan seperti yang telah ada sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Selain itu, guna memperkuat eksistensi desa adat baik, menjaga aset milik desa adat dan ketatalaksanaan yang ada di desa adat, bupati memerintahkan untuk segera membuat ranperda yang intinya memperkuat eksistensi desa adat. Sridana juga menjelaskan bahwa Pemkab Badung sangat konsisten dan komit agar eksistensi desa adat sebagai benteng seni dan budaya serta sasana Bali ini tetap terjaga kelestariannya. Dalam upaya mempercepat pembentukan perda tersebut, Bupati Badung telah mengintruksikan pihaknya bersama Dinas Kebudayaan serta instansi terkait untuk segera membentuk tim perumus rerda yang bertujuan memperkuat eksistensi desa adat di Kabupaten Badung. Dedy
Kepala BPMD dan Pemdes Kabupaten Badung Putu Sridana
14
26 Januari - 1 Februari 2015
AKTIVITAS
MBP/ist
MBP/ist
BANTUAN - Direktur Utama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development (ITDC) Ida Bagus Wirajaya bertempat di lahan pertanian Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Selasa (6/1) secara langsung menyerahkan bantuan bibit pisang hijau Taiwan kepada tiga kelompok tani ternak. Ketiga kelompok tani ternak yang menerima bantuan tersebut yakni Kelompok Tani Ternak Loka Sesana, Darma Sejati dan Unggul Mulya yang disaksikan oleh Perberkel Desa Pemuteran, I Gede Mudita. Nampak dalam foto Dirut ITDC (paling kiri) saat menyerahkan bantuan bibit pisang hijau Taiwan kepada tiga kelompok tani ternak di Desa Pemuteran.
DESA - Perlawanan dilakukan oleh sejumlah desa adat dan majelis desa adat di sejumlah kabupaten dan kota di Bali yang dianggap masih plin plan dalam menentukan pilihan. Dan diperkirakan kedepan pasca 15 Januari 2015 akan muncul gerakan moral dari adat untuk Bali Berdaulat. Demikian diungkap Senator RI, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III saat kunker reses di Kabupaten Tabanan. Nampak dalam foto Senator RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III bersama I Made Purna (Jero Bendesa Adat Blimbing) bersama krama di Pura Mekori Pupuan Tabanan.
MBP/ist
MBP/ist
MUSCAB - Gabungan Pengusaha Konstruksi Indonesia (Gapeksindo) Kota Denpasar menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) III di Hotel Inna Bali, Selasa (13/1). Muscab dibuka Asisten 2 mewakili Walikota Denpasar, mengambil tema “Kita Tingkatkan Kinerja Jasa Konstruksi dan Profesionalisme Anggota Gapeksindo Denpasar Menyongsong MEA 2015�. Selain anggota Gapeksindo Denpasar, Muscab juga dihadiri Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Bali dan asosiasi profesi lainnya. Pembukaan Muscab III DPC Gapeksindo Kota Denpasar ditandai dengan pemukulan gong yang dilakukan Asisten 2 mewakili Wali Kota Denpasar.
SEMARAK - Ode.nant Textile kembali menggelar Semarak Ode. nant Textile 2015 di Hotel Nikki, Denpasar, Minggu (11/1). Acara ini dihadiri hampir 600 member dan koordinator, khususnya di Denpasar dan Tabanan. Semarak Ode.nant Textile 2015 digelar untuk memberi penghargaan kepada 33 member prioritas serta melantik 28 koordinator gold, silver, dan bronze. Sejak berdiri 22 Agustus 2013 lalu, Ode.nant Textile memiliki produk unggulan batik dan endek super asli tenunan Bali yang tidak mudah luntur meski dicuci di mesin cuci. Ode.nant juga menyediakan produk pendamping atau tambahan seperti bordir, brokat, tas, dompet, dan sandal kulit, serta produk kerja sama. 26 Januari - 1 Februari 2015
15
POLITIK
Menjaga Bali adalah ’’Swadharma’’
P
ertiwi Bali perlu disucikan dan dijaga. Bali jangan sampai dikorbankan untuk kepentingan kelompok dan ambisi perorangan. Swadharma menjaga Bali haruslah menjadi spirit bersama. Bali dalam sepuluh terakhir ini makin sarat beban. Aliran investasi dan makin padatnya penduduk membuat alam Bali terus terdesak. Sawah yang dulunya menjadi penyangga budaya Bali tergusur oleh ambisi pengembang mendapatkan keuntungan. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dulunya asri kini tak berdaya menghadapi investasi. DAS dijamah dan dibanguni vila dan hotel. Bahkan, kawasan suci Bali juga terancam, ketika radius kesucian pura terabaikan oleh keinginan untuk menjadikan Besakih menjadi kawasan otorita. Bali memang sarat tantangan. Menyadari hal ini, krama Bali haruslah membangun kesadaran dan menjadikan swadharma sebagai spirit menjaga Bali. Keprihatian terhadap nasib Bali belakangan ini, tak hanya disuarakan krama Bali. Walhi Nasional juga mengaku prihatin dengan Bali. Direktur Eksekutif Abetnego Tarigan Walhi mengatakan perjuangan krama Bali menjaga alamnya patut diapresiasi.
16
Krama Bali tak pernah menyerah terhadap serbuan investasi rakus. Bali harus dikawal oleh semau pihak termasuk penguasa. ‘’Walhi turut mendorong penyelamatan lingkungan Bali menjadi isu nasional,’’ ujarnya Abetnego Tarigan.Bahkan, IGK Manila salah satu tokoh Bali mengatakan pengelolaan pariwisata dan lingkungan Bali, angat berkaitan. Berdasarkan pengalamannya ke luar negeri, dia melihat bahwa pulau-pulau luar masih banyak lebih indah dan lebih bersih dari Bali. Barcelona, Hawai, Turki bahkan Langgawi, akan meniru Bali. “Ini jauh lebih indah dan pasirnya lebih putih,” katanya. Menurutnya pariwisata Bali tidak hanya tergantung pada keindahan alamnya. Namun Bali dicintai karena adat, agama dan budayanya. Karena itu, antara adat, budaya dan lingkungan mesti menyatu. “Ini mesti dijaga dengan baik. Tidak boleh ada pejabat atau tangan-tangan lain yang merusak alam dan budaya Bali. Kembalikkan Baliku,” ajak IGK Manila. Ia pun mengajak krama Bali jangan berhenti berjuang. Jadikan spirit dharma sebagai modal dan kekuatan mengatasi keserakahan. Di lain pihak, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengungkapkan perjuangan menjaga alam Bali selama ini terus bergaung
karena kuatnya dukungan media. Anugerah Pers K. Nadha Nugraha, menurutya telah mengingatkan krama Bali untuk tetap menjaga alamnya. “Penghargaan Anugerah K. Nadha Nugraha ini merupakan cermin atau refleksi terhadap tokoh-tokoh Bali yang konsen terhadap lingkungan, budaya dan pariwisata Bali. Kelompok Media Bali Post telah cukup banyak mengangkat nilai-nilai monumental bagi Bali. Ini adalah langkah nyata menjabarkan swadharma menjaga Bali,’’ ujarnya. Dira/Ngurah/Rindra Bali memang sarat tantangan. Menyadari hal ini, krama Bali haruslah membangun kesadaran dan menjadikan swadharma sebagai spirit menjaga Bali
26 Januari - 1 Februari 2015
16
MBP/edi
Ruang krama bendega (nelayan) Bali makin terjepit pembangunan hotel dan infrastruktur. Kepedulian terhadap krama bendega Bali juga rendah.
“Krama Bendega” Terabaikan GELOMBANG ganas laut Kusamba menambah derita puluhan nelayan setempat. Perahu nelayan terpaksa ditambatkan berjejer di tepi pantai. Nelayan pun beralih profesi menjadi tukang bangunan, buruh angkut dan terpaksa menganggur menunggu gelombang reda. Kehidupan krama bendega di pesisir pantai ini terlupakan di tengah riuhnya pembahasan UU Desa. Fakta ini menujukkan bahwa selama ini perhatian terhadap nelayan masih sangat rendah. Regulasi yang membentengi nelayan juga minim. Nelayan semakin terpuruk di tengah hasil tangkapan yang kian tak menentu. Menyikapi hal ini, Himpunan Nelayan Nasional Indonesia (HNSI) Bali mendesak agar warga yang berprofesi sebagai nelayan atau krama bendega statusnya disamakan dengan krama subak. ‘’Krama bendega jangan dianggap sebagai pelengkap kehidupan. Mereka dengan komunitasnya perlu perhatian dan perlindungan hukum,’’ ujar Ketua DPC HNSI Klungkung Wayan Sugati.
Ia memandang perlu agar Bali membuat perda tentang penyamaan status krama bendega dengan krama subak. Dengan cara ini krama bendega bisa mendapatkan hak-hak yang sama dengan krama subak di Bali. Seperti berbagai bentuk bantuan dari pemerintah daerah kepada subak. Tokoh masyarakat asal Desa Kusamba ini mengatakan dengan pengakuan status krama bendega, nantinya krama bendega diharapkan mendapat perlakuan sama dengan subak. Sehingga, ke depan keberadaan mereka bisa diperhatikan. Di kabupaten lainnya nasib krama bendega juga nyaris sama. Nelayan Tabanan yang tersebar dari pantai Nyanyi hingga Selabih juga mengaku belum mendapat perhatian maksimal dari pemerintah. Di wilayah ini ada 11 desa pesisir yakni Beraban Tanah Lot, Pangkung Tibah, Sudimara, Kelating, Tibubiu, BerabanSeltim, Tegal Mengkeb, Berembeng, Antap, Lalanglinggah dan Selabih. Seluruhnya berada di enam kecamatan, di antaranya Kediri, Tabanan, Kerambitan,
Seltim, Selemadeg, Selbar. Di awal tahun tahun 2006 lalu, jumlahnya hanya 14 kelompok nelayan. Angka ini meningkat menjadi 39 kelompok setelah lomba mancing di laut tahun 2007 lalu, Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tabanan, Ketut Arsana Yasa mengatakan sampai sata ini perhatian Pemprov Bali terhadap krama bendega masih minim. Padahal, nelayan menyumbangkan devisa dan mendukung perputaran ekonomi. ‘’Nelayan perlu bantuan operasional untuk melaut. Ketika cuaca buruk, sering kali nelayan merugi karena kehilangan alat tangkap,’’ ujarnya. Sementara itu, kehidupan nelayan di Badung tak terlepas dari sejumlah permasalahan klasik, seperti kesulitan biaya operasional dan persaingan tidak sehat dengan pengusaha besar. Pemerintah diminta mencari solusi terhadap berbagai permasalahan yang membelit nelayan khususnya nelayan tradisional agar kehidupan ekonomi nelayan bisa lebih terjamin. Bagiarta/Pupsadewi 26 Januari - 1 Februari 2015
17
17
PENDIDIKAN
PAUD Rintisan Dimatangkan, Banjar Mesti Siap Jadi Pengelola
MBP/dok
Perangkat desa dan banjar diharapkan menyiapkan diri dengan intensif sehingga mampu mengelola PAUD rintisan dengan optimal.
RENCANA pembangunan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) rintisan di sejumlah balai banjar pada tahun 2015 mulai digodok dan dimatangkan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali. Rencananya, PAUD rintisan balai banjar ini dikelola banjar setempat sehingga diharapkan kesiapan perangkat desa dan perangkat banjar untuk menjalankan program ini agar tidak menjadi program mubazir. ”Kami harapkan kesiapan para perangkat desa dan banjar ikut mengawal dan mengelola PAUD rintisan di balai banjar pada desa penerima Gerbang Sadu ini. Desa pakraman juga mesti ikut memikirkan pendidikan di wilayahnya,” kata Kepala Disdikpora Bali Tjok Istri Agung (TIA) Kusuma Wardhani, belum lama ini. Menurut Kusuma Wardhani, Disdikpora akan berkoordinasi dengan perbekel atau kepala desa dan klian banjar di masing-masing desa untuk ikut mematangkan persiapan program ini. Mereka akan diberikan sosialisasi mengenai manajemen dan pengawalan program PAUD rintisan ini agar dapat berjalan optimal di masyarakat. ”Sebanyak 50 perbekel atau kepala desa di Bali akan dipanggil untuk mendetailkan persiapan PAUD rintisan. Kami sosialisasikan program ini supaya mereka paham,” tegasnya. Saat ini, Disdikpora Bali tengah melakukan identifikasi terhadap desa-desa penerima Gerbang Sadu ini guna menentukan di banjar mana akan didirikan PAUD rintisan dan menyangkut potensi penerimaan siswanya serta aspek manajerialnya. ”Kami berikan tugas pada 22 pamong belajar di UPT Balai Pengembangan Kegiatan Belajar
18
26 Januari - 1 Februari 2015
(BPKB) untuk melakukan pendampingan pembentukan PAUD Rintisan di 50 desa. Pamong ini akan membuat data identifikasi 50 desa penerima, jumlah anak-anak ang digarap untuk PAUD, ketepatan tempat dan lainnya,” kata TIA Kusuma Wardhani didampingi Kepala UPT BPKB Wayan Sudardana. Nantinya, PAUD rintisan di balai banjar ini akan dikelola oleh dua orang yang ditunjuk banjar dan desa setempat. Dua orang pengelola ynag sekaligus bertindak sebagai guru pengajar ini akan digaji Rp 500 ribu per bulan. Lalu dananya akan diambilkan dari dana bantuan kepada desa pakraman yang mana 20 persennya memang difungsikan untuk bidang pendidikan. Dalam APBD 2015, untuk masing-masing lembaga PAUD rintisan ini dirancang anggarannya Rp 45 juta melalui dana hibah dengan total hampir Rp 8 miliar. Di sisi lain juga disiapkan bantuan peningkatan sarana dan prasarana bagi PAUD yang sudah berdiri dengan total dana Rp 6 miliar lebih. ”Kami berharap makin banyak anak-anak di Bali usia 3-6 tahun bisa menikmati pendidikan dengan baik dari PAUD. Kami giring mereka masuk ke PAUD karena disanalah tumbuh kembang otak anak bisa maksimal. Kalau di PAUD mereka bagus, ke depan kita lebih menggali potensi anak itu lebih baik,” tegasnya. Sebelumnya, sejumlah anggota DPRD Bali sempat meragukan kesiapan pihak desa pakraman ini untuk mengelola bidang pendidikan khususnya PAUD. Dikhawatirkan jika tidak dikelola dengan baik PAUD rintisan ini bisa seumur jagung dan mati pelan-pelan. ”Kami rasa program PAUD rintisan di balai banjar ini programnya bagus. Tapi, kami rasa pihak desa pakraman belum semua siap dan belum mampu mengelola PAUD ini sehingga jangan sampai ini hanya seumur jagung,” kata anggota Komisi IV DPRD Bali yang membidangi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial Bagus Suwitra Wirawan, S.H., MBL. Politisi Gerindra asal Badung ini menilai sejauh ini belum ada keahlian dan pengalaman manajemen pendidikan dari desa pakraman untuk mengelola PAUD. Sehingga dikhawatikan manajemen pengelolaan PAUD rintisan menjadi amburadul dan tidak jelas. Ujung-ujungnya program PAUD rintisan ini bisa menjadi mandeg dan mubazir. ”Lama-lama PAUD ini bisa hilang dan program ini menjadi seumur jagung,” tegasnya. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, pemerintah mesti terlebih dahulu mempersiapkan dan mematangkan kesiapan pihak desa pakraman mengelola PAUD ini. Harus ada petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan yang jelas dan pihak desa pakraman harus dilatih untuk mengelola PAUD. Kesiapan SDM para pengelola juga harus diperhatikan dan secara intensif diberi pelatihan serta pendampingan. ”Pihak desa pakraman harus diberi dulu pembekalan dan pelatihan sehingga mereka punya kemampuan mengeloa PAUD dan manajemen PAUD bisa berjalan baik sehingga berumur panjang, tidak hanya seumur jagung,” ujarnya. Widana
UN Tak Jadi Penentu Kelulusan
Disdikpora Belum Terima Juknis INFORMASI lewat media massa bahwa ujian nasional (UN) tahun ini tidak menjadi penentu kelulusan siswa, tapi difungsikan sebagai pemetaan kualitas pendidikan sudah santer terdengar. Namun, bagaimana kriteria penentuan kelulusan siswa dan nilai apa saja yang dijadikan penentuan kelulusan siswa oleh dewan guru, hingga kini belum diketahui. Pasalnya, petunjuk teknis (juknis) belum turun dari pusat. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Karangasem Drs. Gede Ariyasa, M.Pd. mengatakan hal itu, belum lama ini. Menurut Ariyasa, pihaknya belum menerima juknis tersebut dari pusat dan sampai saat ini masih menunggu. Dia berharap juknis tersebut segera turun sehingga tidak membuat pihaknya kebingungan dan lebih optimal dalam mempersiapkan siswa. Apalagi, saat ini merupakan masa transisi apakah menggunakan Kurikulum 2006 ataukah Kurikulum 2013 yang sudah sempat persiapan setahun dengan 15 sekolah di Karangasem sebagai pilot
project (proyek percontohan-red). ”Kami berharap juknis terkait UN 2015 ini segera turun dari pusat,’’ katanya penuh harap. Kendati sudah ada informasi dari pusat bahwa nilai UN kali ini tak menjadi penentu kelulusan siswa, Ariyasa meminta siswa-siswa yang bakal mengikuti UN tidak mengendorkan semangat belajar. Belajar sesungguhnya bukan sekadar untuk menghadapi kenaikan kelas atau UN, tapi sesungguhnya mendapatkan ilmu dan keterampilan yang seluas-luasnya untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. Ariyasa tidak menampik, dunia pendidikan di Karangasem masih ditelikung sejumlah permasalahan. Salah satunya, masih ada kekurangan guru pada sejumlah bidang studi, namun di lain pihak ada kelebihan guru pada sejumlah bidang studi. Dikatakan, kekurangan guru itu sudah disampaikan kepada Komisi IV DPRD Karangasem saat melakukan kunjungan kerja beberapa waktu lalu di Kantor Disdikpora Karangasem.
Ketua Komisi IV DPRD Karangasem Wayan Sudira mengatakan, dari laporan Kadisdikpora Karangasem, masih ada kekurangan guru sebanyak 302 orang dari berbagai bidang studi. Di lain pihak guru agama Hindu kelebihan 70 orang, dari sebelumnya kelebihan sekitar 400 orang. Guru agama yang berlebih dulu itu, sudah ada yang menggantikan posisi seniornya yang pensiun, sehingga kelebihan tinggal 70 orang. Soal rencana pengangkatan guru kontrak guna mengisi kekurangan guru itu, kata dia, menunggu hasil konsultasi ke Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB). Pasalnya, sebelumnya ada keputusan yang tidak memperbolehkan menerima pegawai kontrak baru, selain instansi pemerintah penghasil. ”Kabupaten Bangli kabarnya sudah menerima guru kontrak guna mengisi kekurangan guru. Kami perlu studi banding ke sana,” kata Sudira. Budana 26 Januari - 1 Februari 2015
19
MANCANEGARA
Misteri Mayat di Sungai Gangga ebuah kejadian mengejutkan terjadi di India. 104 Jasad ditemukan di sungai Gangga. Aroma menyengat dan tak sedap pun muncul dari aliran air sepanjang 2.500 km yang membentang dari Himalaya ke Teluk Benggala, akibat pembusukan dari jenazah tersebut. “Jasad yang muncul di sungai antara Kabupaten Kanpur dan Unnao di utara negara bagian Uttar Pradesh itu juga didekati anjing, burung gagak dan burung bangkai,” ucap seorang pejabat setempat. Pejabat Distrik Unnao, Suraj Prasad mengatakan bahwa pihak berwenang sedang menyelidiki bagaimana jasad-jasad itu bisa berada di sana. Penduduk desa pertama kali melihat mayat pekan lalu, ketika tubuh-tubuh tak benyawa itu terjebak di tepi sungai dengan anjing dan burung bangkai mengitari daerah itu. “Sepertinya berada di dalam air untuk waktu yang lama,” kata perwira
S
20
26 Januari - 1 Februari 2015
polisi Ram Chander Sahu. 104 Mayat itu ditemukan mengambang di dekat Desa Pariyar di negara terpadat di Uttar Pradesh. “Kondisi jasad itu sudah membusuk untuk diotopsi atau identifikasi,” ujar Hakim Distrik Saumya Agarwal. Kini pihak terkait tengah melakukan tes DNA, untuk menentukan dari mana kemungkinan asal jasad-jasad yang masih misterius hingga kini. “Setelah kami menyelesaikan semua formalitas hukum, jenazah-jenazah ini akan dimakamkan untuk menghindari penyebaran penyakit,” imbuhnya. Melarung jasad di sungai adalah hal ilegal di India. Namun kemiskinan di negara itu kerap mendorong orang untuk melakukan penguburan di air untuk menghindari biaya kremasi yang minimal sekitar US$ 40 atau sekitar Rp 504 ribu. Perdana Menteri Narendra Modi telah berjanji untuk membersihkan sungai yang telah tercemar itu. Sementara aktivis lingkungan telah menuntut diakhirinya
penguburan di air di sungai Gangga. Sungai Gangga dianggap sangat suci bagi umat Hindu. Mereka percaya memasuki sungai ini bisa membersihkan mereka dari dosa dan terbebas dari siklus kelahiran kembali. Tepi Sungai Gangga merupakan salah satu daerah paling padat penduduknya di India. Mereka menggantungkan hidupnya dari sungai tersebut khususnya untuk keperluan sehari-hari. Air Sungai Gangga berasal dari gletser yang disebut Gangotri. Gangotri merupakan gletser di Himalaya yang terletak sekitar 14.000 meter di atas permukaan laut. Rute aliran utama sungai Gangga melalui India, dengan bagian yang lebih kecil mengalir melalui Bangladesh sebelum bermuara di Teluk Benggala. Sungai ini memiliki panjang sekitar 2.506 kilometer dan merupakan sungai terpanjang di dunia. Gugiek Savindra
Larangan Membuat Boneka Salju PEMERINTAH Arab Saudi mengeluarkan larangan membuat boneka atau manusia salju. Pasalnya seorang ulama senior mengklaim bahwa manusia salju sebagai wujud dari ‘lustiness’ atau gambaran bagi orang yang penuh nafsu. Pernyataan seorang ulama terkemuka di Arab Saudi, Sheikh Mohammed telah menimbulkan kontroversi lantaran mengeluarkan fatwa mengenai larangan pembuatan manusia salju. Apabila ada yang membuatnya, kata Mohammed, maka mereka dianggap sebagai anti-Islam. “Membuat patung dari salju tidak dibolehkan, meskipun hanya untuk bermain,” ujar Sheikh Mohammed. Cendekiawan Muslim, Sheikh Munajjid berpendapat bahwa memmbangun manusia salju sama artinya seperti membuat benda da hidup. “Tuhan telah memberikan kebebasan bagi semua ua orang untuk membuat apa pun yang tidak memiliki jiwa, wa, termasuk pohon, kapal, buah-buahan, bangunan dan sebagainya,” ujar Munajjid seperti tertulis dalam peraturan an pemerintah Arab Saudi. Kebijakan ini menuai pro dan kontra dari para pengguna na internet. Seperti yang ditulis oleh salah seorang pengguna na Twitter, “Mereka takut keimanan mereka terganggu akan an hal tersebut. Itu pemikiran yang salah.” Pengguna Twitter er lainnya mendukung kebijakan tersebut dengan menuliskann pendapatnya, “Semoga Tuhan melindungi para ulama, karrena mereka dapat memikirkan hal-hal yang bahkan Setann pun tidak memikirkannya.” Perbatasan Arab Saudi dengan Yordania diselimutii salju selama tiga tahun terakhir saat musim dingin dan dii beberapa negara, selain untuk bermain ski, turunnya salju kerap dimanfaatkan untuk membuat boneka salju. Dari sejarah, belum ditemukan secara pasti awal kemunculan boneka salju. Bob Eckstein, penulis The History of The Snowman menduga boneka salju pertama kali dibuat sekitar abad pertengahan. Tapi, bisa juga boneka salju ini ditemukan jauh melebihi prediksi Bob Eckstein. Dokumen pertama yang memuat gambaran boneka salju lju ini berasal pada tahun 1380, dari buku yang memiliki judul Book of Hours. Buku tersebut ditemukan di Koninklijke Bibliotheek, Den Haag, Belanda. Kreasi boneka salju ini muncul diperkirakan karena manusia berusaha menciptakan gambaran diri dalam berbagai macam bentuk dengan bahan dari beragam material, termasuk salju, sebagai salah satu karya seni. Di zaman Victorian, bentuk boneka salju telah terkenal dalam bentuk lukisan, kartu ucapan, dan iklan. Lagu yang berjudul Frosty The Snowman pada tahun 1950 yang direkam oleh Gene Autry, membuat boneka salju semakin dikenal dengan nama Frosty. Boneka salju paling besar yang pernah dibuat di dunia ini adalah di buat di Bethel, Maine di tahun 2008. Boneka salju ini mempunyai tinggi 32,7 meter. Kita di Indonesia tentu tidak akan punya kesempatan untuk membuat boneka salju dari salju yang jatuh di negeri kita ini. Tapi jika iya, apakah akan dilarang juga? Gugiek Savindra 26 Januari - 1 Februari 2015
21
DAERAH
Retribusi Naik, Kunjungan Anjlok
Pintu gerbang masuk ke objek wisata Penelokan Kintamani tempat pemungutan restribusi. Sejak retribusi dinaikkan 200 persen per Januari ini, menurut pengusaha setempat jumlah kujungan ke objek wisata ini turun.
ebijakan Pemkab Bangli menaikkan tarif retribusi kunjungan wisata ke Kintamani per 1 Januari 2015 ternyata berdampak pada menurunnya jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata yang menawarkan keindahan gunung dan Danau Baturnya ini. Kondisi ini diperparah lagi dengan munculnya kebijakan pemerintah pusat tentang tiket murah yang mana akan berdampak pada minat warga untuk berwisata. “Saat ini kondisi kami memang benarbenar terpuruk,” ungkap I Wayan Winurjaya salah seorang pengusaha hotel dan restoran di Penelokan belum lama ini. Menurut Winurjaya, kondisi ini diprediksi akan makin parah dalam beberapa minggu ke depan menyusul makin banyaknya biro perjalanan wisata atau penyedia jasa
K
22
26 Januari - 1 Februari 2015
wisata yang membatalkan kunjungan ke Kintamani. “Banyak di antara mereka yang mempertanyakan kenaikan tarif restribusi dari Rp 10 ribu menjadi Rp 30 ribu per orang. Mereka menilai terlalu tinggi kenaikannya,” tegas Winurjaya. Diungkapkan, meski Pemkab Bangli belum menyampaikan besarnya penurunan jumlah kunjungan sejak awal tahun ini, namun khusus di usaha miliknya penurunan terjadi sangat tajam. “Sebelum kebijakan ini diambil, per hari jumlah wisatawan yang makan siang di tempat kami rata-rata 150 hingga 200 orang, namun kini hanya mencapai 30 orang per hari,” ungkap Winurjaya. Sesungguhnya protes tersebut bisa diminimalisir jika Pemkab Bangli membarengi kebijakan tersebut dengan melakukan perbaikan sarana prasarana
dan sumber daya manusia di kawasan ini. “Jalan rusak, kondisi Penelokan yang makin semrawut serta makin kurangnya perhatian pemerintah terhadap sumber daya manusia pariwisata di kawasan ini tidak seimbang dengan kebijakan menaikkan tarif,” tegas Winurjaya yang juga mantan ketua BPC PHRI Bangli ini. Winurjaya dan juga pengusaha lainnya di Kintamani berharap Pemkab Bangli cukup bijak dalam menangani permasalahan ini. Sebab jika kondisi seperti sekarang ini berlangsung lama, maka bukan saja pengusaha yang rugi, namun juga Pemkab Bangli akan terkena imbasnya. “Saya berharap Pemkab Bangli bisa melakukan tindakan nyata untuk mengatasi kejadian ini,” harap Winurjaya. Jelantik
Pariwisata Bangli
Tarif Naik 200 Persen, Target Kunjungan 700 Ribu
PEMERINTAH Kabupaten Bangli per awal tahun 2015 kembali mengeluarkan kebijakan baru terkait tarif retribusi pariwisata di Kintamani. Dimana harga tiket masuk yang sebelumnya dijual Rp 10 ribu untuk wisatawan asing, kini dinaikkan menjadi Rp 30 ribu. Meski mengundang sejumlah reaksi dari kalangan pelaku pariwisata namun Pemkab Bangli melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata optimis target 700 ribu kunjungan wisatawan per tahun akan bisa tercapai. Sebagaimana yang disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Bangli I Wayan Adnyana, beberapa waktu lalu. Dikatakannya target kunjungan wisatawan untuk tahun 2015 ini hampir sama dengan tahun sebelumnya. Meski pihaknya menaikkan retribusi sebesar 200 persen namun dirinya meyakini hal tersebut tidak akan membawa dampak terhadap menurunnya jumlah wisatawan ke Kintamani. Menurut Adnyana, wisatawan yang berkunjung ke Bali selama ini lebih banyak menyukai wisata alam, hal itu tentu sesuai dengan Kabupaten Bangli yang sebagian besar objek wisatanya adalah wisata alam. Dengan hal itu, pengunjung
akan tetap datang ke Kabupaten Bangli, tanpa melihat kenaikan tarif retribusi itu. “Wisata alam ini yang kami maksimalkan untuk mencapai target itu,� jelasnya.
Hingga saat ini, objek wisata yang ditawarkan Kabupaten Bangli di antaranya objek wisata Kintamani, Desa Wisata Penglipuran dan Pura Kehen. Di antara objek wisata itu, Kintamani diakuinya menjadi tujuan wisata yang paling tinggi peminatnya. Pengunjung Kintamani selama ini didominasi oleh wisatawan yang menyukai suasana alam yang berasal dari Spanyol, Jerman, Belanda, dan juga Tiongkok. Meski Adnyana mengakui Kintamani menjadi tujuan wisata yang paling tinggi, namun kenaikan tarif sebesar 200 persen yang sudah mulai diwacanakan sejak pertengahan tahun 2014 lalu itu, ternyata tidak pernah dibarengi dengan upaya perbaikan pelayanan wisatawan termasuk fasilitas pendukung. Wisatawan yang berkunjung ke Kintamani hingga pertengahan Januari ini masih saja disuguhkan dengan pemandangan semrawutnya wajah Penelokan. Swasrina
26 Januari - 1 Februari 2015
23
K E S E H ATA N
Pemberian Vaksin Cegah Kanker Serviks
S
elain kanker payudara, wanita sangat rentan terserang kanker serviks. Kanker serviks ini biasanya menyerang wanita pada rentang usia produktif antara 35-50 tahun. Realitasnya, kanker serviks ini memang sangat sulit dihindari para wanita. Kanker ini relative fatal dan
berpeluang menjati mesin pembunuh. Walau kanker serviks, ini sangat membahayakan bagi kaum hawa, virus sebagai katalisator penyebab kanker serviks itu bisa dijinakkan secara dini. Caranya dengan memberikan vaksin. “Penyakit tersebut dapat dicegah dengan pemberian vaksin antiviral se-
jak dini. Langkah ini dilakukan untuk pencegahan primer,” ujar Ketua Divisi Onkologi, Bagian SMF Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Prof. Dr. dr. Ketut Suwiyoga, Sp.OG (K), beberapa waktu lalu. Pencegahan sejak dini dinilai efektif untuk mengeliminir sebaran kanker serviks selama kurun waktu 10 tahun ke depan. Upaya pencegahan tersebut katanya sudah disosialisasikan melalui program-program penyuluhan tentang pengetahuan seks, kepada masyarakat di usia remaja dan produktif. Pencegahan dengan metode lain juga bisa dilakukan, yakni dengan mengupayakan Pap Smear dan IVA. ‘’Langkah-langkah ini sudah menjadi program pemerintah kabupaten/ kota bersama Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan FK Unud,’’ tambahnya. Sejauh ini rata-rata sebanyak 150160 wanita per tahun terserang penyakit kanker serviks di Bali. Dari 150 penderita kanker serviks tersebut, sebanyak 120 wanita per tahun berada pada stadium invasi alias sudah menjadi kanker. Sedangkan sisanya baru mengalami gejala tahap awal. Pada tahap ini peluang sembuh sangat besar. Jalur sistematis yang dikondisikan dalam kaitan pencegahan kanker servik ini, menurut Suwiyoga, dimulai pada remaja sekolah dan umum. “Edukasi seks sangat penting diberikan sejak usia dini,’’ ujarnya memberi solusi. Saat ini dalam program penyuluhan dan sosialisasi yang dilakukan, sudah menyasar siswa SMP. Ini diupayakan agar tahap pencegahannya lebih mudah. Dari atensi dan kepedulian pemerintah, di wilayah Denpasar maupun Badung, ini gratis. Semua biaya vaksinasi yang diberikan kepada remaja sekolah itu dibiayai pemerintah. Sedangkan, vaksinasi secara umum, karena hal itu merupakan kesadaran warga, memang dibayar sendiri Cittamaya
24
26 Januari - 1 Februari 2015
grafis : wawan
Penyakit Infeksi dan Non-infeksi
Tantangan Kesehatan Bali ke Depan PERUBAHAN dan dinamika kesehatan baik lingkup daerah, nasional dan global berlangsung sangat cepat. Perubahan dinamis itu berimplikasi pada jenis penyakit tertentu. Dari data yang ada, penyakit infeksi dan non-infeksi menjadi tantangan kesehatan Provinsi Bali ke depannya. Hal ini penting diwaspadai mengingat dampak dari penyakit tersebut, merupakan akibat dari perubahan kesehatan yang dinamis dan gaungnya cenderung menglobal. Untuk di Bali saat ini yang menjadi sorotan Dinas Kesehatan Bali, adalah terkait kasus gigitan anjing rabies. Fakta ini menunjukkan, ternyata di Bali belum bebas dari rabies. Dari kenyataan itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Dr. Ketut Suarjaya mengatakan, pihaknya cukup prihatin dengan kondisi tersebut. Namun, jajarannya bukan berpangku tangan. Dengan berbagai usaha dan upaya, pihaknya terus bekerja sama dengan berbagai instansi terkait dalam hal penanganan rabies itu.
Usaha itu meski melibatkan banyak pihak. Solusi terbaik, adanya kontribusi dan kesadaran masyarakat secara holistik. Dia sangat mengharap agar masyarakat turut berperan aktif dalam menekan kasus gigitan anjing rabies di Bali saat ini. “Ya, inilah PR bersama kita saat ini,” ujarnya. Tingginya kasus gigitan ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat dalam melakukan penanganan pertama. Bahkan, masih ada yang enggan berobat setelah tergigit anjing rabies. Jadi diharapkan agar cepat melakukan pengobatan ke puskesmas-puskesmas terdekat. Untuk mengantisipasi hal itu, masyarakat diminta meningkatkan prinsip hidup sehat yang harusnya menjadi dasar acuan keseharian warga. Hal ini merupakan langkah utama dalam menekan kedua kategori penyakit utamanya infeksi dan non-infeksi. “Kalau yang noninfeksi itu jenis penyakit seperti jantung, stroke dan hipertensi. Sementara, infeksi seperti malaria dan penyakit yang serupa lainnya,” terangnya.
Meski saat ini Provinsi Bali menduduki peringkat satu pelayanan terhadap kesehatan. Hal itu belum jaminan beberapa penyakit dapat ditekan, seperti halnya malaria. Namun, pihaknya tetap melakukan upaya preventif dalam membenahi hal tersebut. “Meski malaria sudah dieleminasi, bukan berarti kita lepas tangan begitu saja. Kami tetap melakukan berbagai langkah dan upaya riil dalam mengatasi kemunculan penyakit itu,” ungkapnya. Karena alasan itulah, Dinas Kesehatan Provinsi Bali mengimbau kepada masyarakat agar memperhatikan kesehatannya utamnya yang akan dihadapi tahun ini. “Mengingat kita sudah berada di tahun 2015. Saya berharap adanya kesadaran masyarakat bersama-sama menekan masalah kesehatan yang terjadi ke depannya di Bali,” pinta dr. Ketut Suarjaya saat ditemui usai mengikuti kegiatan teleconference dengan Kemenkes di RSUP Sanglah belum lama ini. Cittamaya 26 Januari - 1 Februari 2015
25
LENSA
SIMBOL KORUPTOR Pemberantasan korupsi marak dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apresiasi ter-hadap aksi pemberantasan korupsi ini pun dituangkan masyarakat Bali lewat karya ogoh-ogoh. Nampak dua orang remaja sedang melewati ogoh-ogoh yang menggambarkan seekor tikus putih --simbol koruptor, yang sedang diinjak.
MBP/Anak Agung Gede Indra Putra
OLAHRAGA
M
itu,”” antan pemain sepak bola Amerika (NFL) Rob Kon Kon- berenang lagi. lagi “Mungkinkah saya bisa berenang sejauh itu rad akan selalu mengenang perjuangannya bertahan tanya Konrad pada diri sendiri dalam konferensi pers itu. “Saya berenang lagi. Ingatan saya pada kedua anak saya, satu hidup dengan berenang selama 16 jam di Pantai Florida. Insiden yang nyaris merenggut nyawanya berusia 10 tahun dan satu lagi 8 tahun.” Pikirannya mulai kacau saat tubuhnya mulai dilanda keleitu bermula dari hobinya memancing di laut lepas. Ia menyukai olahraga itu sejak kecil di North Shore, Bos- lahan. Namun cahaya itu semakin dekat dan jelas. Suara geton. Ia juga sadar risiko bila terjadi kecelakaan di lokasi yang mercik air pun berubah ketika disadari dirinya telah terkapar di pantai. jaraknya 14 km dari daratan. “Persoalannya saya sudah tak kuat lagi menggerakkan kaki. Mantan fullback di klub Miami Dolphins dari 1999 hingga 2004, pamit pada istrinya Tammy hendak pergi memperbaiki Badan saya gemetaran dan perlu beberapa waktu untuk mengperahu serta langsung pergi memancing. Saat itu Rabu, tengah hangatkan diri sebelum saya bisa berjalan lagi,” katanya. Ia merangkak di sepanjang pantai hingga menemukan sebuah rumah hari. Hari baik sekaligus buruk terjadi dalam hitungan detik. Um- dan mengetuk pintunya. Saat itu hari telah menjelang pagi. Perlu waktu untuk memanggil ambulans dan membawanya pannya disantap ikan yang cukup besar. Saat hendak mengulur ke rumah sakit. Ia menderita hipotermia dan dehidrasi hingga tali, sebuah ombak besar menghantam perahunya. perlu rawat inap beIa tak sempat berberapa hari. pegangan dan terjebur Regu penjaga pantai di laut. Ironi, pada saat memberi tahu bahwa bersamaan perahunya perahunya ditemukan dalam kondisi ‘on’ dan di Grand Bahama Is‘auto pilot.’ Dengan land tepatnya di Deadperlahan perahu itu man’s Reef, ironi nama meninggalkan dirinya dengan nasibnya. terapung-apung. MeBeberapa hari kemulengkapi kondisi sial dian Konrad menceriitu, ia tak sempat mentakan petualangannya genakan jaket pengaitu di depan media denman ataupun pelamgan kaki yang masih pung. “Saya sadar saya gemetaran, jalan semmenghadapi masalah poyongan dan Tammy besar,” ujar Konrad mendampinginya densaat diwawancarai Asgan tangis keharuan. sociated Press. “Jadi, menyenangPertarungan hidup kan ada di sini,” kata mati pun dimulai. Ia pria berusia 38 tahun harus berenang sejauh MBP/net itu di depan wartawan. 43 km menuju Palm Mantan pemain sepak bola Amerika (NFL) Miami Dolphins Rob Konrad. “Seharusnya saya tidak Beach. Renang maraada disini.” Tammy ton itu harus segera dilakukan karena badannya akan kedinginan atau terancam menambahkan, “Ini sebuah keajaiban dia bisa kembali pukram meski suhu air sekitar 20 derajat Celcius di satu dua jam lang.” Setelah namanya muncul di media, pujian pun mengalir papertama. Ia membuka bajunya dan memulai kayuhan tangan dengan danya, salah satunya dari perenang jarak jauh Diana Nyad. “Ini tak terburu-buru. Bila bosan dengan dengan gaya bebas, ia cerita luar biasa. Bertarung mempertahankan hidup sendirian tak segan-segan berubah dengan gaya dada atau punggung. dan tanpa bantuan siapa pun menyelamatkan diri sendiri, saya Sekelompok ikan hiu mendekati dan mengelilingnya sebelum menganggumi dia,” katanya. Sebagai seorang atlet yang bukan perenang, Konrad diunmeninggalkanya. “Saat malam, saya melihat cahaya berkilauan tungkan dengan profesinya sebagai pemain sepak bola memberi di permukaan laut. Saya kira itu ubur-ubur,” paparnya. Harapannya akan datang pertolongan, menghasilkan tanda- pengalaman-pengalam penting dalam menghadapi situasi sulit tanda. Sebuah perahu penangkap ikan lewat namun tak mengin- dan memerlukan keputusan cepat.”Ini bukan cerita tentang redahkan. Demikian dengan helikopter penyelamat yang mencari nang tapi bagaimana mempertahankan hidup,” jelas Nyad yang dikenal dengan aksinya berenang dari Kuba menuju Florida. dirinya, pun selanjutnya meninggalkan lokasi. Saat kelelahan mulai merayap, ia melihat kilatan cahaya di seberang. Itu pasti garis pantai, mungkin lima hingga enam jam Yudi Winanto
28
26 Januari - 1 Februari 2015
Kembali Setelah Sembilan Tahun ATLET pemecah rekor dunia Paula Redcliffe mempunyai kerinduan untuk tampil lagi di lomba lari London Marathon April mendatang. Ini akan menjadi penampilan terakhirnya setelah sembilan tahun absen di lomba itu. Atlet putri Inggris berusia 41 tahun terakhir kali tampil di nomor lari yang menguji ketahanan ďŹ sik dan mental itu di Berlin September 2011. Juara tiga kali London Marathon itu mencetak rekor dunia pada 2003 dengan waktu 2 jam 15 menit 25 detik saat tampil di event ini. Namun, Redcliffe bukan satu-satunya unggulan di lomba ini. Sederet atlet top akan ambil bagian pda lomba yang
digelar pada 26 April itu. Dan Redcliffe akan mengumumkan umkan niatnya berlomba pada da 30 Januari mendatang, laporan oran Agence France-Presse. Juara bertahan Edna na Kiplagat yang tercatatt dua kali menjadi juara dunia juga ambil bagian. Pelari Kenya Florence Kiplagat yang menjadi runner-up -up tahun lalu, juga ikut selain Priscah Jeptoo dan Mary Keitany. Yudi Winanto
Menaklukkan Rute Tersulit DUA atlet panjat tebing AS memecahkan rekor menaklukan tebing granit setinggi 900m di Taman Nasional Yosemite, mendaki tebing El CapiCalifornia dalam waktu 19 hari. Mereka M apapun kecuali jari dan tan, Dawn Wall tanpa menggunakan piranti p kaki mereka sendiri Jorgeson memulai aksinya pada 27 Tommy Caldwell dan Kevin Jorges tahun dan Jorgenson (30) hanya Desember lalu. Caldwell yang berusia 36 ta bila terjatuh. Mereka menggunakan tali dan harnes sebagai pengaman pe diikuti dua juru foto yang merekam aksi pemanjatan itu. dengan besar tiga kali Tebing ini menjulang di Taman Yosemite, Yos bangunan tertinggi Menara Eiffel, Paris dan lebih tinggi dibandingkan dib di dunia Burj Khalifa in Dubai. “Ini bukan proses penaklukan. Ini adalah proses mewujudkan mimpi,� kata Caldwell merujuk pada rute yang diklaim sebagai pemanjatan tersulit di dunia, laporan lapor Agence France-Presse. Caldwell asal Estes Park, Colorado, dan d Jorgeson dari Santa Rosa, untuk menyiapkan California. Keduanya telah berlatih bertahun-tahun berta pencapaian ini. rute menuju puncak dan Di dinding granit itu terdapat seratusan sera Warren Harding dan kebanyakan dari mereka sukses termasuk t pertama pada 1970. Namun Dean Caldwell yang menjadi pemanjat pema keduanya menggunakan tali dan paku pasak dalam pemanjatan selama 27 hari. Hingga kini belum ada pemanjatan yang sukses dan dilakukan secara simultan. Yudi Winanto Tommy Caldwell (kiri) dan Kevin Jorgeson berdiri di depan dinding granit Dawn Wall, El Capitan di Taman Nasional Yosemite Valley California. 26 Januari - 1 Februari 2015
29
OLAHRAGA
Sosialisasi Boling Lewat Sekolah TIDAK semua cabang olahraga digemari oleh masyarakat. Salah satunya boling. Olahraga yang dimainkan di lintasan ini sedikit peminatnya di
Indonesia termasuk di Bali. Dampaknya, Persatuan Boling Indonesia (PBI) Bali hanya mempunyai segelintir atlet untuk dibina dan diterjunkan mengi-
kuti event-event tingkat nasional. Melihat situasi ini, pengurus PBI Bali berencana melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan masyarakat umum di seluruh kota dan kabupaten guna memancing minat pelajar dan warga agar mau menggeluti boling. ‘’Lewat program ini diharapkan semakin banyak muncul atlet potensial untuk dibina dan selanjutnya diturunkan membela Bali dalam kejuaraan nasional,’’ kata Sekretaris Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) PBI Bali Riani Kartawirya di Denpasar pekan lalu. Menurut wanita asal Bandung (Jawa Barat) ini, banyak remaja dan warga Bali yang memiliki potensi menjadi atlet boling. Hanya, mereka cenderung menggunakan boling untuk ajang rekreasi, bukan buat mengejar prestasi seperti pada olahraga lainnya. Padahal, apabila dibina intensif dan berkesinambungan, mereka berpeluang besar menjadi peboling andalan. Melalui sosialisasi secara terusmenerus, pelajar dan masyarakat bakal ingin mengenal dan mencoba olahraga memainkan boling. Apalagi kalau dilihat dari kemampuan ekonomi, banyak penduduk Bali yang berada di atas rata-rata. ‘’Sekarang kembali kepada mereka, jika sudah muncul keinginan untuk mencoba, pasti bisa. Begitu juga sebaliknya, kalau sama sekali tidak ada kemauan, bakal sulit meraih prestasi,’’ ujar Riani. Dikatakannya, tidak mudah menjadi atlet boling jika tidak diimbangi dengan niat yang besar. Dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang besar dalam latihan serta tidak pernah berhenti mencoba. Terlebih jika ingin berlaga di tingkat nasional, saingan dan tekanan semakin banyak. Saat ini atlet boling putri Bali Elbanya Prahardinda sedang mengikuti program pembinaan Primatama yang digelar Pengurus Besar (PB) PBI di Bandung, Jawa Barat. Ini sebagai persiapan dirinya mengikuti event-event nasional termasuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jabar.
MBP/nan
Eka Parananda
Elbanya Prahardinda, atlet boling Bali.
30
26 Januari - 1 Februari 2015
Berapa Pemain Bali di BUP? YANG namanya seleksi pasti sulit. Apalagi kalau levelnya sudah tingkat nasional. Ini dirasakan pemain sepak bola Bali yang mengikuti seleksi klub Bali United Pusam (BUP) di Lapangan Banteng, Seminyak, Kuta, Badung, sejak awal Januari lalu. Puluhan pesepak bola dari seluruh Bali ambil bagian dalam penjaringan pemain tersebut, namun tidak semuanya dinaungi keberuntungan. Pada seleksi tahap pertama lolos sembilan nama. Dalam seleksi berikutnya, empat terpental, yaitu Asep Tri Wahono, Anggo Julian, Agus Kayun Dwipayana, dan Agus Setiawan. Sementara lima pemain lainnya, Junius Felicianus R. Bate, Ketut Mahendra, Nengah Sulendra, Komang Adi Parwa, dan Komang Sukarja, mampu bertahan. Dari lima nama terakhir, Sukarja yang paling awal dikontrak oleh manajemen BUP, tepatnya Senin (12/1). Dua hari kemudian menyusul Junius, dan Kamis (15/1) giliran Sulendra yang resmi menjadi pemain BUP setelah melalui negosiasi cukup panjang. Dengan demikian, tinggal Mahendra dan Adi Parwa yang belum mendapat kepastian kontrak. Pelatih BUP Indra Sjafri mengaku membutuhkan 25-26 pemain termasuk legiun asing untuk mengarungi kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2015. Apakah di antara jumlah tersebut termasuk Mahendra dan Adi Parwa? Menarik ditunggu skuad ďŹ nal BUP nantinya. Jika Mahendra dan Adi Parwa lolos seleksi, berarti lima pemain putra Bali yang akan memperkuat BUP. Sebaliknya, kalau Mahendra dan Adi Parwa terdepak, daerah ini cuma mempunyai Sukarja, Junius, dan Sulendra di klub yang sebelumnya bermarkas di Samarinda, Kalimantan Timur, itu. Tiga pemain lokal terbilang minim mengingat BUP berkandang di Bali tepatnya di Stadion Wayan Dipta, Gianyar. Namun,
itulah keputusan yang diambil oleh Indra Sjafri. Masyarakat sepak bola di Pulau Dewata harus menghormati hasil seleksi yang dilakukan tim pelatih BUP. Mantan pelatih Timnas Indonesia U-19 ini tentu memiliki pertimbangan matang dalam
menentukan skuadnya yang ditargetkan bertahan di ISL musim depan. Kebutuhan tim menjadi kriteria utama, mengingat asuhannya akan berlaga di kompetisi level tertinggi di Tanah Air. Mawa
A KT I V I TA S
MBP/ist
MBP/ist
POTENSI - Potensi pertanian di Kabupaten Tabanan tidak hanya berdampak pada industri pariwisata dan ekonomi masyarakat, melainkan bisa menjadi poros edukasi pertanian di Bali, bahkan di tingkat internasional. Bila perlu di Tabanan bisa dibangun kampus yang berorientasi pada culture & agriculture guna menunjang pengembangan dan pelestarian budaya pertanian. Gagasan ini disampaikan oleh Ketua Sabha Yowana Pratisentana Ida Bhatara Sira Arya Kenceng, A.A Ngurah Panji Astika.
TPST - Sebagai daerah tujuan wisata, langkah Kades Pecatu I Made Karyana Yadnya, S.E. yang dilantik pada 28 Desember 2013, sudah mampu mewujudkan programprogram yang mendasar seperti pembangunan dua Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) dan salah satunya menjadi rumah hijau Bungan Jepun. Selain membangun dua TPST, Kades Pecatu mengadakan kerja sama dengan melibatkan swasta dan komponen pariwisata setempat untuk mengolah limbah cair menjadi air bersih. Nampak dalam foto Camat Kuta Selatan I Wayan Wirya didampingi Kades Pecatu I Made Karyana Yadnya dan Ketua Tp. Pkk Pecatu Ny. Fatmawati Karyana disaat meninjau Rumah Hijau Bungan Jepun Desa Pecatu.
MBP/Wan
KOLEKSI BARU - Felice Jewellery menepati janji dengan menambah koleksi terbaru perhiasan emas dan berlian dalam pameran di ruang Bedugul, Sanur Paradise Plaza Hotel. Sales Felice Jewellery, Lukluk, mengatakan, pihaknya tidak hanya menambah koleksi terbaru, tapi juga menyediakan promo yang sayang untuk dilewatkan. Lukluk menambahkan, promo yang ditawarkan antara lain berlian on price mulai Rp 299 ribu, promo mens ring Rp 7,999 juta, cincin black diamond solitaire Rp 9,999 juta, promo satu set perhiasan, promo cincin emas bertabur berlian berbentuk marquise untuk wanita Rp 7,999 juta, promo cincin batu-batu berharga mulai Rp 15 juta, dan promo satu carat berlian Rp 35 juta.
32
26 Januari - 1 Februari 2015
MBP/Wan
PAMERAN - Felice Jewellery masih menghadirkan koleksi terbaru perhiasan emas dan berlian serta batu-batu berharga dalam pameran di Ruang Bedugul, Sanur Paradise Plaza Hotel. Sales Felice Jewellery, Lukluk, mengatakan berlianberlian Felice semuanya dipadupadankan dengan emas putih sehingga membentuk perhiasan yang indah sekaligus berkelas. Felice mendatangkan bahan baku berlian dari Afrika untuk menghasilkan perhiasan berkualitas. Clarity atau tingkat kejernihan berlian yang diambil dari Afrika Selatan sudah mencapai tingkat Very-very Slight (VVS1), yaitu inclusion atau berlian yang cacat di dalam sangat halus hingga sangat sulit terlihat.
MBP/ist MBP/ist
JALAN SANTAI - Perayaan HUT ke-46 Perkumpulan Pendidikan Nasional (Perdiknas) Denpasar juga diisi kegiatan jalan santai, Minggu (11/1). Jalan santai diikuti seluruh civitas akademika di bawah naungan Perdiknas, yakni SMP Nasional, SMA Nasional, SMK Teknologi Nasional, dan Undiknas University. Para peserta jalan santai dilepas langsung Kadisdikpora Kota Denpasar, IGN Eddy Mulya bersama Pendiri Utama Perdiknas, Drs. Ketut Sambreg, MM dan Ketua Perdiknas Dr. AAA. Ngr. Tini Rusmini Gorda, SH, MH, MM. Tini mengatakan hari kelahiran sejatinya merupakan hal biasa. Tapi ketika dirayakan berbeda, apalagi Perdiknas sebagai lembaga pendidikan mengusung tema “Character Building”, akhirnya membentuk satu makna yang berbeda.
RAPAT KERJA - Bank Sinar Harapan Bali atau yang lebih dikenal dengan Bank Sinar ‘Jreeeng...’ menggelar rapat kerja tahun 2015 di Denpasar, Sabtu 10 Januari 2015 yang dihadiri oleh jajaran Direksi Bank Sinar, pejabat eksekutif, kepala cabang dan kepala unit terkait lainnya. Rapat kerja tersebut diisi dengan arahan langsung dari Direktur Utama Bank Sinar I Wayan Sukarta Dharmawan, pemaparan pencapaian dan review kinerja bank wide di tahun 2014, target bisnis tahun 2015 serta langkah-langkah strategis untuk mencapai target tersebut. Hingga Desember 2014 Bank Sinar berhasil mencatat laba sebesar Rp 20,45 miliar atau tumbuh 28,93% (YoY) dengan total aset sebesar Rp 1,76 triliun atau meningkat 60,90 % (YoY).
MBP/ist
TERAKHIR - 2015 adalah tahun terakhir jabatan Bupati Badung A.A. Gde Agung. Namun, mendekati akhir masa jabatan periode keduanya, kinerja Gde Agung bukannya melorot melainkan justru tambah greget. Salah satu buktinya yakni Bupati Gde Agung makin semangat hadir di tengah-tengah pegawai. Tujuannya tak lain adalah untuk mendorong dan mengajak jajaran birokrat di Pemkab Badung lebih disiplin dan mendedikasikan diri bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Badung. Hal itu diungkapkan Kabag Humas dan Protokol Setda Badung A.A. Gede Raka Yuda, Jumat (9/1) di Puspem Badung.
MBP/ist
KHIDMAT - Hari ulang tahun (HUT) Maharishi Mahesyogi dilaksanakan secara khidmat di SMK Kesehatan Maharishi di Jl. Raya Wanayu, Bedulu, Blahbatuh, Senin (12/1). Puncak HUT ditandai dengan pemotongan kue dan tumpeng oleh Kepala SMK Kesehatan Maharishi, Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Ir. Anak Agung Gede Sugianthara, M.S., diserahkan keada pengurus komite dan siswa yang berulangtahun pada tanggal yang sama. HUT diawali dengan puja bersama dan meditasi trancendental yang disebarkan Maharishi Mahesyogi. Nampak dalam foto Kepala SMK Kesehatan Maharishi, Anak Agung Gede Sugianthara didampingi siswa dan komite menyalakan lilin HUT Maharishi Mahesyogi.
26 Januari - 1 Februari 2015
33
A KT I V I TA S
MBP/ist
MBP/ist
DIPERLUAS - Ruang untuk pengembangan sektor pariwisata di Badung Utara (Kecamatan Mengwi, Petang dan Abiansemal) akan diperluas. Namun dengan catatan, pengembangan tetap mengacu pada konsep ideal Badung Utara sebagai daerah konservasi, penyangga dan pengembangan pertanian. Hal itu terungkap pada rapat Pansus Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Badung yang digelar di Kantor DPRD Badung, Senin (12/1). Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Badung Wayan Suambara mengatakan, perluasan ruang untuk pengembangan desa wisata itu adalah hal positif sepanjang tetap mengacu konsep pariwisata alam dan berbasis masyarakat atau dari, oleh dan untuk masyarakat setempat.
PIODALAN - Merajan Agung Sukahet Klungkung kembali melaksanakan karya piodalan agung. tawur balik sumpah dan banten nyatur. Karya ini dilaksanakan lima tahun sekali, setelah digelar karya agung Mamungkah Tawur Balik Sumpah, Panyejeg Jagat, Nubung Padagingan, Ngenteg Linggih lan Padudusan Agung, tepat lima tahun lalu. Sebagai rangkaian dari karya ini, ribuan warih Dalem Segening trah Ida I Dewa Sumretha ngiringang Ida Batara Merajan Agung Sukahet melasti ke Segara Klotok, Senin (5/1). Nampak dalam foto Ida I Dewa Panglingsir Agung Putra Sukahet (paling depan) memimpin prosesi melasti hingga tiba di Segara Klotok bersama ribuan warih Dalem Segening trah Ida I Dewa Sumretha.
MBP/ist
REVEGETASI - Kegiatan revegetasi yang dilaksanakan Universitas Udayana bekerjasama dengan Universitas Yamaguchi Jepang, JICA (Japan International Coorperation Agency) serta Takino Filter Inc, Minggu (11/1) di kawasan kaldera Batur Kintamani tepatnya di kawasan hutan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang. Rektor Universitas Udayana Prof. Dr. Ketut Suastika saat ditemui disela-sela kegiatan menjelaskan, tujuan dilakukannya revegetasi ini adalah untuk menghutankan kembali lahanlahan yang selama ini gersang. Melalui teknologi yang telah berhasil diujicobakan di Jepang, ini diharapkan revegetasi ini nantinya dapat mencegah erosi dan menahan kelembaban di kawasan Kaldera Batur.
34
26 Januari - 1 Februari 2015
MBP/ist
PERINGATAN - Puncak peringatan HUT ke-7 Rumah Sakit (RS) Balimed berlangsung meriah, Minggu (11/1). Peringatan HUT yang sejatinya jatuh pada 8 Januari lalu ini diawali kegiatan jalan santai yang melibatkan owner, komisaris, direksi dan seluruh karyawan. RS Balimed juga menggelar bazzar makanan, minuman, dan beraneka souvenir serta acara hiburan. Puncak peringatan HUT ke-7 ini selanjutnya ditandai pelepasan balon. Direktur RS Balimed Denpasar, Dr. Wayan Yupiterika Satrigraha, MS mengaku bangga melihat rumah sakit yang dipimpinnya ini eksis dikenal masyarakat hingga memasuki tahun ketujuh. Terlebih, RS Balimed telah meraih sejumlah penghargaan.
MBP/ist
HUT - Suasana serangkaian lomba HUT ke-62 Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar, Sabtu (10/1) berlangsung sumringah. Pasalnya, orang nomor satu di Kota Denpasar, Wali Kota Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra hadir di acara tersebut sekaligus membuka lomba tari modern dance antarsiswa se-Bali. Walikota disambut Ketua Yayasan Dwijendra Pusat Denpasar, M.S. Chandra Jaya, bersama Ketua Pembina Dr. Karlota dan Ketua Pengawas, Made Karmajaya, Sekretaris Wayan Abdi Negara dan Rektor Undwi yang juga Ketua Panitia, Dr. Putu Dyatmikawati, S.H., M.Hum. Saat itu Walikota yang didampingi Kadisdikpora IGN Eddy Mulya dan Kadisbud memberikan kuliah umum “Denpasar Kota Kreatif dan Berwawasan Budaya” serta menandatangani MoU dengan Undwi.
MBP/ist
SERAH TERIMA - Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (Stispol) Wira Bhakti Denpasar gelar serah terima kepengurusan BEM yang lama ke yang baru, serta pelantikan BEM yang baru pada Jumat (9/1). Kepengurusan BEM yang baru nantinya akan dipimpin oleh I Putu Yudi Pratama. Pada acara ini juga didatangkan narasumber Gede Pasek Suardika untuk memberikan materi yang mengambil tema “Penerapan Kepemimpinan Berbasis Nasionalisme”. Ketua Stispol I Nengah Merta, S.Sos, M.Si memberikan selamat kepada Ketua BEM yang baru.
MBP/ist
TINDAK LANJUT - Senator Indonesia Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III bertindak cepat terkait adanya laporan dan aspirasi dari masyarakat Bali terkait adanya pelecehan simbol Hindu yakni pelarangan pemakaian gelang Tri Datu yang dikenakan karyawan Hindu yang dilakukan oleh pejabat hotel pendatang dari luar Bali. Isu publik yang ramai dibicarakan oleh umat di media sosial ini langsung ditindaklanjuti oleh Senator Wedakarna yang juga Komite III DPD/MPR RI yang membidangi tentang agama dan tenaga kerja. Wedakarna juga mengusulkan agar di 5.000 kamar di hotel–hotel Nusa Dua diisi Kitab Suci Bhagawad Gita untuk melengkapi Al-Quran dan Injil yang juga sudah diletakkan di kamar-kamar hotel.
MBP/ist
KEHARMONISAN - Keputusan Bupati Badung Anak Agung Gde Agung untuk tetap menjaga keharmonisan yang telah terbangun selama ini antara desa adat dan desa dinas mendapat dukungan penuh segenap Majelis Alit dan Majelis Madya Desa Adat yang ada di Kabupaten Badung. Kepala BPMD-PD Kabupaten Badung Putu Sridana mengatakan bahwa guna memperkuat eksistensi desa adat baik berkaitan dengan kelembagaan, serta menjaga aset aset Milik Desa Adat dan ketatalaksanaan yang ada di desa adat, sesuai dengan permintaaan majelis alit, akan segera membuat Perda yang intinya memperkuat eksistensi desa adat.
26 Januari - 1 Februari 2015
35
LINGKUNGAN
Cuaca Buruk
Petani Garam Terpuruk
L
angit yang terus mendung akhirakhir ini membawa angin kelabu bagi petani garam. Tak satu pun petani garam yang bekerja untuk menghasilkan kristal putih tersebut. Lahan pembuatan garam sepi. Cuaca buruk saat ini membuat petani garam tak berdaya. Pasalnya, proses pembuatan garam secara tradisional hanya bisa dilakukan jika udara cerah. Artinya proses pembuatan garam ini sangat tergantung dari teriknya sinar matahari. Jika hujan terus menerus tentu saja para petani gagal berproduksi. Akibat lama tidak memproduksi garam, lahan pun tergenang air hujan dan ditumbuhi rerumputan. Para petani garam di Banjar Amed Desa Purwekerti, Kecamatan Abang, Karangasem meradang. Sejumlah petani terpaksa harus beralih profesi karena proses pembuatan garam tidak bisa dilakukan akibat hujan yang terus mengguyur. Seperti tahun-tahun sebelumnya,
36
Bali Post/dwa
Bekerja sebagai buruh pencari rumput Made Sari hanya diberikan upah sebesar Rp 20.000. Selain mencari rumput, ia juga harus membawa rumput tersebut sebagai pakan sapi. Sedangkan suaminya membantu perekonomian keluarga dengan menjadi nelayan. Namun, para nelayan di Amed juga tidak bisa berlayar jauh mengingat cuaca yang tidak mendukung. ‘’Paling berlayar di pesisir pantai saja. Kondisi cuaca belum baik,’’ keluhnya. Di sisi lain kondisi petani garam saat ini memang sangat terpuruk. Jumlah produksi terbatas ditambah proses pembuatan garam yang lama, menyebabkan penghasilan petani garam masih jauh dari layak. Made Sari mengaku untuk satu kilo garam ia jual dengan harga Rp 3.000. Saat cuaca bagus ia dapat menghasilkan 20 kilogram garam yang diproses selama empat hari. ‘’Penghasilan petani garam tak seberapa, sekilo hanya 3 ribu. Itupun kita menunggu selama 4 hari,’’ tuturnya. Pihaknya mengaku saat ada wisatawan yang mengunjungi tempat produksi garamnya tersebut penghasilan yang ia dapatkan bisa lebih baik. Ia mengaku bisa menjual garam hingga Rp 50 ribu perkilogram. ‘’Kalau ada tamu yang langsung melihat-lihat tempat kami membuat garam, biasanya kita bisa jual kepada tamu Rp 50 ribu per kilonya. Kadang ada yang membeli 10 sampai 20 kilo, tapi pasti kita bagi dengan kelompok,’’ imbuhnya. Kelompok petani garam di Amed ini terkenal di luar negeri. Jika potensi penggaraman di Amed ini dikembangkan maksimal, garam dari Amed ini bisa diekspor secara besar-besaran. Buktinya tidak sedikit hasil dari kelompok petani garam diekspor hingga ke luar negeri. Diantaranya ke Perancis dan Jepang untuk perasa makan atau spa. Walupun dikirim hingga ke luar Negeri sayangnya hingga saat ini peran pemerintah untuk mengembangkan potensi petani garam belum ada sama sekali. ‘’Kelompok tani garam tak pernah mendapatkan bantuan dari pemrintah,’’keluhnya.
Hujan yang terus-menerus akhir-akhir ini mengakibatkan lahan pembuatan garam ditinggalkan para petani.
Farendra
26 Januari - 1 Februari 2015
petani garam baru bisa mulai berproduksi setelah musim hujan usai sekitar Juli dan Agustus. Seorang Petani di Banjar Amed, Ni Made Sari mengaku terpaksa beralih profesi sebagai buruh pencari rumput untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini dilakukan karena pembuatan garam yang dilakukan secara tradisional yang ditekuni belasan tahun tersebut sangat tergantung sinar matahari. Akibat minimnya sinar matahari dan seringnya hujan, Made Sari tidak bisa membuat garam kembali. Kendala sinar matahari tersebut menyebabkan petani garam di Banjar Amed harus berhenti menekuni pekerjaannya hingga musim hujan usai. ‘’Petani sekarang tidak bisa membuat garam terpaksa istirahat, hingga cuaca kembali membaik. Biasanya bulan Agustus mulai musim panas,’’ terang Made Sari. Mulai saat itu para petani garam baru kembali ke ‘’ladang’’.
Petani Garam Kusamba Lesu KEHIDUPAN petani garam belakangan kian sulit berkembang. Tiap tahun jumlah mereka terus menyusut. Usaha yang menjadi denyut nadi masyarakat pesisir Bali itu kian terpuruk di tengah minimnya perhatian pemerintah. Padahal, saat ini pemerintah pusat sedang serius menggarap sektor maritim, untuk memaksimalkan potensi kelautan. Dulunya usaha petani garam cukup berkembang. Seperti dilakoni masyarakat pesisir Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung. Salah satunya sentra produksi garam yang masih bertahan di pesisir Pantai Dusun Karangdadi. Namun karena hujan, aktivitas para petani garam sepi. Salah satu petani garam Ketut Kaping mengakui permintaan lesu. Di tempat usahanya, nampak berdiri satu gubuk reot tempatnya mengolah air laut menjadi garam dan satu gudang tempatnya menyimpan hasil garam. Kaping mengatakan, terpuruknya usaha para petani garam tampak dari makin minimnya warga pesisir melakoni usaha ini lagi. Dulu jumlahnya ratusan, hingga terbagi dalam beberapa kelompok tani. Namun, saat ini hanya tersisa sekitar 15 KK. Warga lebih memilih merantau
Petani Garam di Kusamba.
keluar kota. Mereka yang masih bertahan pun kini terus mengeluhkan kondisi saat ini. Desakan produksi garam dari Jawa, membuat produksi garam asli warga Kusamba terdesak. Sebab, garam dari Jawa bisa dijual dengan Rp 7.000 per 2,5 kilogram. Sementara produksi garam petani setempat, dijual Rp 7.000 hanya untuk 1 kilogram. Pemerintah daerah pernah menjanjikan bantuan untuk pengepakan hasil produksi garam para nelayan. Namun janji itu tidak ada tindak lanjutnya. Sementara Kelompok petani garam di Pesinggahan yang dahulunya beranggotakan 20 orang kepala keluarga (KK) di pesisir Pantai Blatung, saat ini hanya tersisa dua KK. Profesi petani garam dipandang tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup berkeluarga. Para petani beralih profesi dan berusaha untuk mencari pekerjaan lain. Nyoman Warta (60), petani garam di pesisir Pantai Blatung, Desa Pesinggahan, mengaku menekuni pekerjaan ini sejak kecil. Saat musim kemarau, setiap harinya Nyoman Warta harus mengangkut air laut dengan menggunakan alat sejenis ember untuk membuat garam. Proses
pembuatan garam secara tradisional ini menarik perhatian para wisatawan asing. Apalagi lokasi penggaramannya terletak di pinggir jalan. Situasi tersebut bagi Nyoman Warta adalah sebuah berkah di tengah-tengah rendahnya penghasilan per harinya. Para wisatawan tersebut akan melihat proses pembuatan garam, dan apabila beruntung para wisatawan tersebut juga akan membeli beberapa kantong garam sebagai kenang-kenangan. Soal harga garam? Nyoman Warta tidak mematoknya. Untuk sekantong garam, Warta menawarkan harga bervariasi. Apabila dijual kepada wisatawan, harga sekantong garam seperempat kilogram akan dihargai Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. Sedangkan jika dijual ke pasar tradisional, garam 3 kilogram hanya laku Rp 20.000. Nyoman Warta berharap Agustus ini jumlah kunjungan wisatawan akan meningkat. Umumnya wisatawan Jepang, Prancis, dan Belgia senang melihat proses pembuatan garam secara tradisional. Namun tak sedikit para wisatawan merasa kecewa karena mereka tidak dapat menyaksikan pembuatan garam karena cuaca mendung. Bagiarta
Bali Post/dok
26 Januari - 1 Februari 2015
37
PARIWISATA
Menghalau Serbuan Naker Asing ke Bali ari sepuluh anggota ASEAN, Indonesia termasuk Bali menjadi sasaran utama tenaga kerja (naker) asing saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Apalagi, secara umum Indonesia belum siap menghadapi MEA, karena minimnya naker lokal mengantongi sertifikasi uji kompetensi. Ancaman serbuan naker asing ini dapat dihalau dengan sertifikasi kompetensi. Sebabnya, dalam peraturan pemerintah RI No. 52 Tahun 2012 menyebutkan, pengusaha pariwisata wajib menggunakan tenaga kerja yang telah mengantongi sertifikat kompetensi baik tenaga kerja
D
asing maupun tenaga kerja pariwisata lokal. Kendati, dilihat dari waktu sangat mepet sekali, namun masih bisa dikejar asalkan pemerintah memiliki komitmen untuk mewujudkan hal itu. Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, IB Ngurah Wijaya merupakan tantangan berat bagi para pelaku pariwisata lokal. Untuk itu, pekerja pariwisata termasuk pramuwisata Bali diminta bersikap profesional, dan meningkatkan skill untuk menghadapi persaingan di 2015. Sebab, dalam era globalisasi pemerintah tidak bisa menutup tenaga kerja asing untuk bekerja di Bali.
“Ketatnya persaingan kerja, pelaku pariwisata mesti meningkatkan kemampuannya, termasuk di bidang pramuwisata. Ketika mereka sudah ahli di bidangnya, naker asing akan kesulitan untuk mengambil peran pekerja lokal di Bali,� ujarnya. Dikatakan, peningkatan skill pekerja pariwisata itu juga bertujuan meningkat mutu pariwisata Bali. Seperti, kualitas pelayanan pramuwisata bisa ditingkatkan, sehingga destinasi Bali mampu bersaing destinasi di negara lain. Kelebihan pramuwisata di Indonesia memahami kebudayaan di masing-masing kawasan pariwisata di
MBP/
Pekerja pariwiata Bali harap-harap cemas menanti diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Sebab, kebijakan ini menjadi tantangan bagi mereka ketika belum mengantongi sertiďŹ kasi.
38
26 Januari - 1 Februari 2015
Indonesia. “Contohnya pramuwisata di Bali memahami terkait keberadaan kebudayaan disini, sehingga mampu memberikan penjelasan kepada wisatawan yang berlibur di Bali. Pemahaman kebudayaan Bali merupakan nilai plus dari pramuwisata di Bali dibandingkan guide asing,” sebutnya. Guru Besar Unud, Prof. Dr. Ketut Rahyuda, MSIE., berpendapat pemeritah harus meningkatkan sektor riil. Bali yang mengandalkan sektor jasa memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetisi tinggi, disamping harus mau bekerja keras. “Mereka yang memiliki kemapuan biasa saja akan tersisihkan dalam mencari lapangan pekerjaan. Apalagi, kompetensi SDM Bali saat ini dari segala sektor masih sangat rendah, sehingga kalah bersaing dengan mereka yang datang dari luar,” ujarnya. Karena itu, kata dia pajak yang dipungut pemerintah besar-besar sudah selayaknya digunakan untuk meningkatkan daya saing SDM. “Pemerintah harus menggenjot sektor riil, termasuk mem-backup sektor pertanian. Dengan begitu, tingginya tingkat penganguran dapat teratasi,” ucapnya.
Sekretaris Komisi Otoritas Sertifikasi Usaha Pariwisata Kementerian Pariwisata I Gusti Putu Laksaguna memprediksi, para naker pariwisata luar negeri diprediksi masuk ke Indonesia, terutama Bali. Seperti 500 ribu naker asal Filipina, mereka sudah mengantongi sertikat kompetensi kualifikasi ASEAN dan siap bersaing. “Kita tidak bisa melarang mereka masuk ke Indonesia, juga ke Bali. Tenaga kerja kita pun seharusnya seperti itu. Jangan sampai kita jadi penonton di negeri sendiri,” tegasnya. Salah satu cara menangkal mereka, Laksaguna mengatakan, yaitu menyiapkan naker lokal sesuai standar ASEAN. Sehingga saat mereka ingin masuk, pemerintah bisa menolak dengan alasan sudah punya naker berstandar ASEAN. “Tapi harus punya bukti yaitu sertifikat kompetensi ASEAN. Itu sudah diatur Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan. Salah satu pasalnya menyatakan seluruh naker pariwisata harus punya sertifikat kompetensi,” ujarnya. “Ini yang jadi masalah ke depannya dan naker dari luar mudah masuk ke tempat kita. Tidak bisa diatur dalam aturan kepegawaian atau ketena-
gakerjaan. Kalau dipaksakan nanti malah kontraproduktif dan dianggap menghalang-halangi serta melanggar kesepakatan,” kata Laksaguna. Sementara, Ketua DPD Asosiasi Instruktur Seluruh Indonesia (AISI) Bali, Siska Suzana Darmawan mengatakan, 80 persen lembaga pelatihan di Bali adalah di bidang pariwisata. Sayangnya tidak semua tahu tentang kondisi ini, karena kurangnya informasi dan kemauan mereka sendiri sangat rendah. Filipina saja, 500 ribu nakernya mengantongi sertifikat kompetensi. Bisa dibayangkan jika mereka datang ke Bali dan pemerintah tidak bisa menolak. “Indonesia (naker-red) sebagian besar belum mengantongi sertifikat kompetensi standar ASEAN,” ucapnya. Bila Indonesia belum menyiapkan infrastruktur ini, maka akan terjadi persaingan tidak sehat. Siapapun yang membawa sertifikat kompetensi, dialah yang layak direkrut. “Sekarang mengacu standar ASEAN. Kita benahi diri sendiri, cepat benahi infrastruktur sehingga siap menyongsong MEA 2015,” pungkasnya. Parwata
“SIM” Menuju Persaingan Bebas MASALAH yang utama SDM di Bali adalah sedikitnya yang memiliki sertifikasi. Hingga 2014 saja, hanya sekitar 20 persen atau sekitar 30-40 ribu yang tersertifikasi. Padahal, dalam Permen 53 mengharuskan 50 persen tenaga kerja tersertifikasi. Kalau tidak, akan berimplikasi pada izin usaha. Jika mengalami kondisi tersebut, niscaya perusahaan akan memberhentikan karyawannya yang tidak memiliki sertifikat dan akan mengganti tenaga yang memiliki sertifikat termasuk yang datang dari luar negeri. Sekretaris Jendral Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Perry Markus mengatakan, kompetensi kerja adalah spesifikasi dari sikap pengetahuan dan keterampilan atau keahlian serta penerapannya secara efektif dalam pekerjaan sesuai dengan standard kerja yang dipersyaratkan. “Saya tidak meragukan kemampuan masyarakat Bali di sektor pariwisata. Hanya saja, kemampuan yang dimiliki tidak cukup untuk menghadapi pesaing dalam pasar bebas. Diperluakan pengakuan tertulis yang dapat dipertanggungjawabkan. Sama halnya
Perry Markus
jika kita mengendari kendaraan, walau kita bisa tapi tanpa mengantongi SIM masih dianggap belum mampu,” ungkapnya. Pasar kerja nasional dan internasional menuntut tersedianya tenaga kerja yang kompeten di setiap bidang, banyak industri dan organisasi mempersyaratkan agar tenaga-kerjanya memiliki sertifikasi kompetensi yang kredibel. Di berbagai negara,
pemerintahnya ada juga yang menghendaki bahwa tenaga kerja yang ingin bekerja harus memiliki sertifikasi kompetensi yang diterbitkan oleh lembaga otoritas yang diakui sah. “Minimnya tenaga kerja pariwisata yang mengantongi sertifikat kompetensi tidak terlepas dari keterbatasan dana. Dana yang dibutuhkan untuk sertifikasi rata-rata Rp350 ribu hingga Rp 750 ribu per satu mata uji. Sedangkan, mata uji yang harus diikuti 25 hingga 60 mata uji, tergantung dari profesi mereka. Jadi karena terbentur biaya, banyak SDM pariwisata yang belum tersertifikasi,” urainya. Sertifikasi kompetensi adalah proses pemberian sertifikasi kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu pada standar kompetensi kerja, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Dengan memiliki sertifikasi kompetensi ahli K3 maka seseorang akan mendapatkan bukti pengakuan tertulis atas kompetensi yang dikuasainya. Parwata 26 Januari - 1 Februari 2015
39
AKTIVITAS
MBP/ist
PERTEMUAN - Krama Desa Sesetan menggagas pertemuan kecil yang melibatkan beberapa tokoh masyarakat untuk penyamaan persepsi tentang UU Desa tersebut. Ternyata dari pertemuan tersebut disepakati untuk melakukan Paruman Desa Adat/Pakraman Sesetan yang surat undangannya dilakukan oleh Bandesa Pakraman Sesetan Ir. Wayan Meganada, M.S. Ars. Paruman Desa Adat/Pakraman Sesetan dilaksanakan pada Kamis (8/1) di wantilan Pura Desa/Puseh Sesetan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat melalui perwakilan. Nampak, dalam foto perwakilan warga Sesetan ke kantor wali kota membawa aspirasi pilih desa adat.
SIGAP - Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana secara sigap dan cepat merangkul komponen Majelis Madya Desa Pakraman Buleleng, serta Forkomdeslu Kabupaten Buleleng, di dalam pembahasan dan penentuan sikap terhadap UU Desa. Buleleng secara resmi mendaftarkan desa adat, dengan pertimbangan kondisi tetap seperti sekarang, pilihan tersebut diambil atas perdebatan panjang, dan kesepahaman bersama dari seluruh masyarakat. Nampak dalam foto Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana (tengah) didampingi Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna Drs. I Gusti Ngurah Agung, Plt. Ketua Majelis Madya Desa Pakraman (MUDP) Kabupaten Buleleng dan Ketua Forkomdeslu Kabupaten Buleleng Made Suteja belum lama ini.
MBP/ist
MBP/ist
MBP/ist
ADAT - Senator Indonesia Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III menyatakan bahwa masyarakat adat di Bali tidak perlu khawatir dengan dualisme pilihan desa di Bali sesuai dengan UU No.6/2014 tentang Desa. Hal ini merupakan proses demokrasi yang harus dijalankan untuk mendewasakan orang– orang Bali, mengingat dialog, perdebatan dan juga pro kontra yang terjadi beberapa bulan ini akhirnya bisa memetakan mana sesungguhnya pemimpin yang pro adat dan tidak. Demikian diungkapkan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dr. Wedakarna saat menjalankan masa reses di Kabupaten Badung.
PELANTIKAN - Suasana pelantikan kepengurusan baru periode 2015-2020, Pratisantana Sira Arya Kanuruhan (PSAK) Kabupaten Gianyar menyelenggarakan lokasabha, di Banjar Belang, Desa Singapadu Kaler, Minggu (11/1). Acara ini diselenggarakan sebagai persiapan karya agung di Pura Pedarman Arya Kenuruhan, yang rencananya diselenggarakan pada Sasih Kapat, Buda Kliwon, Matal 23 September 2015. Lokasaba ini diikuti ratusan Pratisantana Sira Arya Kanuruhan Kabupaten Gianyar. Selanjutnya pengurus baru ini dikukuhkan oleh Ketua I PSAK Prof. Dr. Ir. Nyoman Suparta, M.M. sebagai perwakilan dari Ketua Umum PSAK I Wayan Geredeg yang Bupati Karangasem.
Raih sukses dengan menginformasikan kegiatan/usaha, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), peluncuran produk, dan promosi lainnya melalui rubrik Event dengan menghubungi bagian Iklan Bali Post - (0361) 225764. Penyampaian materi dilakukan dua minggu sebelum penerbitan.
40
26 Januari - 1 Februari 2015
MBP/ist
MBP/Wan
PENUHI JANJI - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI yakni Senator Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III memenuhi janjinya setelah berhasil duduk di kursi parlemen pusat, yakni dengan terus mendukung gerakan rakyat Bali untuk menolak reklamasi Tanjung Benoa. Dukungan ini disampaikan langsung kepada Jero Bendesa Tanjung Benoa saat Senator RI Dr. Wedakarna mengadakan kunjungan kerja ke Tanjung Benoa yang diterima oleh sejumlah tokoh adat, warga dan pemuda Tanjung Benoa antireklamasi. Nampak dalam foto Arya Wedakarna MWS III saat bertemu dengan I Made Wijaya, S.E. (Jero Bendesa Adat Tanjung Benoa) dan para aktivis tolak reklamasi.
PAMERAN - Felice Jewellery masih melanjutkan pameran emas dan berlian serta batu-batu berharga di ruang Bedugul, Sanur Paradise Plaza Hotel, Senin (12/1). Dalam pameran, salah satunya menampilkan cincin black diamond atau berlian hitam yang dipadukan emas putih sebagai produk unggulan. Warna hitam pada berlian ini tidak hanya memberi kesan misterius, tapi juga identik dengan kesan mewah dan elegan. Sales Felice Jewellery, Lukluk menjelaskan bahan baku berlian dari Afrika ini terbukti menghasilkan perhiasan berkelas sekaligus berkualitas.’
MBP/ist
MBP/ist
PEMERIKSAAN - Hasil Pemeriksaan Kinerja Atas Penyediaan Air Bersih pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mangutama Kabupaten Badung, secara umum sudah berjalan dengan baik. Namun demikian mengingat keberhasilan dalam peningkatan pelayanan penyediaan air bersih menjadi tujuan pembangunan mileniun atau Millenium Development Goals (MDG’s) diharapkan terus dilakukan upaya peningkatan kinerja serta tata kelola pelayanan air bersih di Kabupaten Badung. Nampak dalam foto Bupati Badung, A.A. Gde Agung menyerahkan Hasil Pemeriksaan Kinerja Atas Penyediaan Air Bersih kepada Kepala Badan Pemeriksa Keuangan RI Perwakilan Bali, Arman Syifa di Kantor BPK RI Perwakilan Provinsi Bali, Selasa (13/1).
TEMUI PERBEKEL - Made Sujana yang merupakan bakal calon Bupati Badung 2015-2020 berkesempatan hadir di tengah–tengah para pucuk pimpinan desa yang ada di Kecamatan Mengwi. Kesempatan ini sekaligus sebagai bentuk perkenalan guna menjalin kerja sama dalam upaya membangun Kabupaten Badung secara bersama–sama, Minggu (11/1). Kegiatan yang berlangsung di Warung Lumbung, Penarungan, Kecamatan Mengwi ini dimediasi oleh Sekretaris PAC PDI Perjuangan, Kecamatan Mengwi, AKBP (Purn) Made Sudja, serta didampingi Nyoman Tekat dan Ketut Sudiarsa yang juga sebagai mantan Wakil Ketua PAC PDI Perjuangan Kuta Selatan. 26 Januari - 1 Februari 2015
41
AKTIVITAS
MBP/ist
DRAMA - Drama tari penyalonarangan dengan judul “Naktining Hyang Durga Chandra Bhairawi sebagai Tonggak Lahirnya Ksatria Sukahet” dipadati penonton. Pertunjukan diawali dengan pementasan tari Bapang Barong dan Jauk Manis, dipadati oleh ratusan penonton serta dihadiri oleh: Paduka Ida Dalem Smara Putra, Bupati dan Wakil Bupati Klungkung masing–masing beserta istri, Kapolres Klungkung, Panglingsir Puri lan Grya seputar Kabupaten Klungkung. Pertunjukan mulai pukul 21.00 wita dan berakhir pukul 03.30 dini hari.
MBP/ist
PACARUAN - Di usianya yang ke-94, RSUD Wangaya Kota Denpasar menggelar pacaruan lebur sangsa madasar walik sumpah. Tingkat pacuruan ini dilaksanakan karena sudah tiga puluh tahun, RSUD Wangaya belum pernah melaksanakan pacaruan agung. Di samping itu, pacaruan ini juga sebagai upaya untuk memutus tali kesengsaraan bagi mereka yang sudah meninggal dengan keluarga (sentana) serta menetralisir aura negatif menjadi aura positif di RSUD Wangaya. I Made Maja Winaya selaku Ketua Suka Duka RSUD Wangaya Kota Denpasar mengatakan tingkatan pacaruan ini berdasarkan tuntunan dari Ida Bagus Sudarsana dan Ida Pedanda Gede Kekeran Pemaron, dari Griya Mandara Munggu - Badung yang sekaligus sebagai pemuput dalam pacaruan ini.
MBP/ist
MBP/ist
ISU STRATEGIS - Koordinator Kopertis Wilayah VIII Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, S.E., M.Si., Jumat (9/1) memaparkan isu-isu strategis Dikti di Universitas Warmadewa (Unwar). Sosialisasi diawali dengan penyerahan sarana dan prasarana dari Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Prov. Bali (YKKPB) Dr. Drs. A.A. Gede Oka Wisnumurti, M.Si. kepada Rektor Unwar, Prof. I Made Sukarsa, S.E., M.S., setelah itu diserahkan kepada Dekan FKIK, FE, Faksas dan FP disaksikan Koordinator Kopertis VIII. Nampak dalam foto Koordinator Kopertis VIII Prof. I Nengah Dasi Astawa saat menerima cenderamata dari Ketua YKKPB Dr. Drs. A.A. Gede Oka Wisnumurti, M.Si.dan Rektor Unwar Prof. I Made Sukarsa.
HUT - Masih serangkaian HUT ke-6 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unwar menggelar Warmadewa Continuing Medical Education (WCME) 2015. Seminar medical digelar, Sabtu, 17 Januari diisi dengan seminar nasional dengan tema “Update in Internal Medicine: From Bench to Bedside”. Ketua Panitia Seminar Medical dr. DAP Sri Masyeni, Sp.PD-KPTI, Selasa (13/1) menjelaskan seminar ini sangat penting bagi dunia medis untuk meng-update Ilmu penyakit dalam baik secara teori maupun kemajuan teknologi. Nampak dalam foto Dekan FKIK Unwar Prof. Widjana (duduk) bersama WD III Made Sarmadi tampak akrab dengan mahasiswa panitia HUT.
42
26 Januari - 1 Februari 2015
MBP/ist
FINAL INTERVIEW - Harmoni International College bekerja sama dengan PT. Bali Marino Raya menyelenggarakan ďŹ nal interview kepada 40 orang peserta, Jumat (9/1). Spa therapist yang berjumlah 40 orang tersebut nantinya akan diseleksi kembali untuk dikirim ke Turki. Interview dilakukan pengelola spa dari Turki, Serkam Summer. Selain untuk mengenal lebih jauh calon spa therapist pada interview itu, Serkam juga ingin melihat skill para calon terapis. Nantinya para spa therapist akan dipilih berdasarkan kemampuan dan skillnya. Dipilih sekitar 25 orang. Nampak dalam foto, peserta interview bersama Serkam Summer. MBP/ist
JANGGAL - Kejanggalan keluarnya HPL (Hak Pengelolaan Lahan) Nomor 1 Tahun 1976 di Batu Ampar, Penjarakan, Gerokgak, Buleleng dipegang Pemkab Buleleng yang selanjutnya diberikan kepada perusahaan PT Prapat Agung Permai dengan sertiďŹ kat HGB Nomor 2 Tahun 1991 mulai terkuak. HPL itu disinyalir dipalsukan. Warga Batu Ampar berharap permohonan pembatalan HPL Pemkab Buleleng yang diajukan 16 petani Batu Ampar atas nama Wayan Bakti dkk ke Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN (Badan Pertanahan Nasional) Pusat cq. Kanwil BPN Bali yang dikirim tanggal 24 November 2014 dapat ditindaklanjuti.
MBP/ist
MBP/ist
PERAYAAN - Keluarga besar SMAN 5 Denpasar (Smanela) Denpasar merayakan HUT ke-41, Sabtu (10/10) malam. HUT diisi dengan potong tumpeng dan penampilan aneka kreativitas seni siswa serta grup band Sound of Mirror. Yang menarik semua aktivitas HUT dipusatkan di sekolah, bukan di hotel. Hal itu sesuai imbauan Kepala SMAN 5 Denpasar, Drs. Nyoman Winata, M.Hum. Pada HUT ke-41 ini diisi dengan penyerahan beasiswa kepada siswa SD di lingkungan Sidakarya dan anjangsana ke guru dan mantan guru yang sedang sakit. Nampak dalam foto Kadisdikpora IGN Eddy Mulya memberi ucapan selamat kepada Kasek Nyoman Winata pada puncak HUT ke-41 SMAN 5 Denpasar.
E-LEARNING - Mengawali tahun 2015, IKIP PGRI Bali memantapkan program e-learning. Program ini ditandai dengan launching WiFi IKIP PGRI Bali yang dilakukan Koordinator Kopertis VIII, Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si., didampingi Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum., Rabu (14/1) di Auditorium Redha Gunawan. Nampak dalam foto Koordinator Kopertis VIII, Prof. Nengah Dasi Astawa didampingi Rektor IKIP PGRI Dr. I Made Suarta dan IGB Arthanegara saat me-launching WiFi IKIP PGRI Bali. 26 Januari - 1 Februari 2015
43
TRADISI
“Kendang Mabarung”
Bentuk ’’Perlawanan’’ terhadap Pakem yang Ada
MBP/olo
mabarung sejatinya hendak menyerupai gambelan yang terdiri atas instrumen kendang, gangsa dan reong. Hanya saja, ukuran kendang sangat besar dan menghasilkan suara yang besar pula. Di sinilah letak perlawanan itu, suara yang keras hingga tak menghasilkan nada yang khas. Kendang mabarung sering dipentaskan untuk kegiatan masyarakat yang berkesan untuk kesenangan. Terutama di saat kegiatan yang berkaitan dengan manusia yadnya. Beberapa desa, memiliki sekaa kendang mabarung ini. Seperti di Desa Dangin Tukadaya, Kecamatan Jembrana. Baik kendang maupun sekaa masih eksis dan menggelar pentas pada saat tertentu. Menurut para tetua di desa ini, kendang mabarung masuk ke Dangin Tukadaya sejak lama. Namun dengan ukuran yang besar, salah satu kesulitan adalah ketika pentas keluar desa. Sekaa perlu upaya ekstra mengangkut alat musik itu agar bisa dimainkan di luar desa. Dalam satu sekaa terdapat sekitar 20 hingga 25 anggota. Dari jumlah itu, enam di antaranya sebagai pemukul kendang dengan panjang dua meter lebih dan diameter hingga 1,5 meter. Enam orang ini bergilir memukul karena dengan besarnya ukuran kendang memerlukan banyak tenaga. Terlebih ketika kendang dalam posisi mabarung atau beradu dengan sesama sekaa kendang yang pentas. Saling beradu suara. Kondisi kendang yang besar, praktis juga membutuhkan perawatan yang tidak sembarangan. Perbaikan alat sering dilakukan setelah pentas. Seiring berjalannya waktu, kesenian ini jarang dipentaskan untuk komersial. Saat ini kesenian ini hanya digelar saat momen tertentu seperti saat upacara pengabenan atau pernikahan. Terkadang untuk menjaga kendang raksasa agar awet, pementasannya diubah dengan hanya memakai gangsa dan reong. Tabuhnya pun disesuaikan dengan perkembangan kesenian tabuh saat ini.
Dua orang penabuh saat memukul kendang dalam atraksi kendang mabarung. Untuk bisa menghasilkan suara kendang yang keras, diperlukan tenaga yang kuat.
Surya Dharma
elain Jegog dan Leko, Jembrana memiliki “atraksi” yang berevolusi menjadi kesenian khas, yakni kendang mabarung. Sesuai namanya, kesenian ini menggunakan alat musik kendang. Namun, kendang yang digunakan dalam atraksi ini berukuran besar, melebihi ukuran tubuh yang memainkan. Seperti alat musik khas lainnya di Jembrana, terbentuknya kesenian kendang mabarung ini didasari rasa “perlawanan” masyarakat Jembrana terhadap pakem kesenian di wilayah Timur Bali, tempat asal mereka sebelumnya. Budayawan asal Jembrana, IB Dharma Santika Putra atau yang dikenal dengan sebutan DS Putra, mengatakan secara historis, asal mula munculnya kendang mabarung ini dari wilayah pinggir hutan rimba Sombang, Tukadaya, Melaya. Alat musik ini dibuat oleh warga saat itu sebagai bentuk perlawanan atas kesenian pakem di tempat asal mereka. Bahan yang dibuat pun melabrak kesenian gambelan umumnya di Bali. Warga memanfaatkan bahan yang ada saat itu di Jembrana adalah kayu dan bambu.
S
44
26 Januari - 1 Februari 2015
“Ini lebih tepatnya atraksi, alat musik yang dibuat dari bahan yang ada, menghasilkan bunyi yang ‘minor’ dan melabrak pakem kesenian Bali Timur,” ujar DS Putra. Mereka merupakan buangan dari kerajaan dan kala itu tidak diperbolehkan memainkan kesenian asal tempat mereka. Selain bahan (logam) yang sulit diperoleh, masyarakat saat itu merasa jengah dan berkreasi dengan bahan-bahan yang ada. Sebelum dipadati rumah seperti saat ini, hampir sebagian besar wilayah desa di Jembrana masih berupa hutan rimba. Sehingga masih dapat ditemui pohon-pohon besar yang bisa menjadi bahan pembuatan kendang berukuran besar itu. Kini, sangat sulit mendapatkan bahan kayu itu lagi di hutan, sehingga beberapa sekaa yang masih bertahan mencari bahan hingga ke Pulau Borneo. Dibanding alat musik tradisional sejenis, kendang mabarung lebih miskin variasi. Kesenian ini juga merupakan salah satu kesenian tua. Tidak semua desa di Jembrana memiliki sekaa kendang mabarung. Hampir menyerupai Jegog, kendang
Sanghyang Jaran
Bangkit Demi Harmonisasi Wilayah TARI sakral Sanghyang Jaran hampir dilupakan. Ini lantaran lama tidak ditampilkan sampai satu generasi sekitar 26 tahun. Kini tradisi itu dibangkitkan kembali guna melestarikan budaya. Apalagi tradisi tari ini sudah menjadi penuntun umat secara niskala guna menjaga keharmonisan wilayah dan kesejahteraan bagi warga setempat. Atas kesadaran dan panggilan niskala, warga Desa Pakraman Kutampi akhirnya kembali melaksanakan tradisi tarian sanghyang jaran yang digelar Kamis, 15 Januari 2015 lalu. Pementasannya dilakukan disela-sela ritual ngadegang yang berlangsung setahun sekali. Munculnya tradisi ini kembali, setelah adanya desakan dari tokoh masyarakat setempat, untuk melaksanakannya lagi setelah gending sanghyang jaran ditemukan dan dicocokkan. Adalah Bendesa Desa Pakraman Kutampi I Made Martawan melihat, keputusan diselenggarakannya kembali tradisi tarian sanghyang jaran ini, menyusul banyaknya terjadi peristiwa-peristiwa aneh di sekitar desa. Sayangnya, tidak bisa dijelaskan hal-hal aneh tersebut. Dalam aktraksi tari sakral ini, dua pria sebelumnya bersembahyang yang diawali dengan ritual nusdus. Selang beberapa menit, dua pria dalam keadaan tidak sadarkan diri alias kerusurapan roh jaran atau kuda. Warga sekitar pun mulai menjauh, lantaran dua pria yang kerusupan spontan menendang bara api batok kelapa di tengah arena. Bahkan, bara api itu dinjak-injak dengan kaki telanjang dua pria tersebut. Namun, ajaibnya mereka tidak terluka sama sekali. Rangkaian terakhir ritual sakral ini, dua penari mengitari wilayah
sampai perbatasan wilayah timur dan barat. Setelah kembali, proses selanjutnya penutupan mengembalikan kesadaran kedua penari dan melepas roh yang merasuki penari, agar kembali ke asalnya. Kedua penari baru sadar ketika dipercikan air suci atau tirta. Bagiarta
MBP/gie
Tari sanghyang jaran di Desa Kutampi Nusa Penida.
A KT I V I TA S
MBP/ist
MBP/ist
PRO KONTRA - Pakar Hukum Tata Negara Unud yang kini juga anggota Mahkamah Konstitusi (MK) Dewa Gede Palguna mengaku kecewa terkait polemik dengan UU Desa yang kini banyak pendapat pro kontra menghiasi sejumlah media massa di Bali. Saat dikonďŹ rmasi, Rabu (14/1), Palguna menyatakan sikap kekecewaannya karena polemik dan tarik ulur terkait pendaftaran antara Desa Adat dan Desa Dinas sesuai amanat Undang-undang No.6 Tahun 2014 tentang Desa, kental nuansa dan kepentingan politis dari wacana UU Desa di Bali. Hakim Mahkamah Konstitusi ini mengkritisi jika pendaftaran desa adat dilakukan, maka akan merampas otonomi desa adat.
SEPAKAT - Terkait dengan aspirasi yang berkembang dimasyarakat dengan terbitnya UU Desa no. 6 Tahun 2014 tentang Desa, jajaran Pemerintah Kota Denpasar bersama DPRD Kota Denpasar telah mengambil keputusan dalam Rapat Kerja yang dilaksanakan pada Rabu (14/1) di Kantor DPRD setempat. DPRD dan Pemkot Denpasar sepakat bahwa Pemerintah Kota Denpasar menetapkan Desa yang sudah berjalan seperti saat ini sebagai Desa, sambil menunggu regulasi-regulasi lebih lanjut dan kesiapan Desa Adat untuk ditetapkan sebagai desa dalam perspektif UU Desa. 26 Januari - 1 Februari 2015
45
PROPERTI
Aturan Ketinggian Bangunan Direvisi? erkembangan akomodasi pariwisata di Bali Selatan kian terbendung. Sejalan dengan itu, pertumbuhan penduduk di wilayah ini pun melonjak signifikan. Sementara ketersediaan lahan (untuk pemukiman)kian terbatas bahkan langka karena tanah-tanah di sini sudah dikuasasi investor. Ketakutan Bali (khususnya Bali Selatan) akan jadi Betawi kedua, di mana masyarakatnya terpinggirkan, sepertinya segera akan terwujud. Sebab, masyarakat lokal terutama di Denpasar dan Badung kini tidak lagi mampu membeli properti di tanah kelahiranya akibat harga yang melambung tinggi. Menurut Wakil Ketua DPRD Badung I Ketut Suiasa asal Desa Pecatu, Jimbaran, dari sekitar 2.200 hektar luas Desa Pecatu, 1.200 hektar adalah kawasan lindung atau limitasi, sekitar 500 hektar telah dikuasasi investor. Sisanya hanya sekitar 500 hektar adalah pemukiman dan lahan milik warga lokal. Masyarakat kesulitan dalam memanfaatkan lahannya. Kenyataan tingginya permintaan properti di kawasan Sarbagita, seperti Gianyar, Ta-
P
banan, Badung Utara, diakui Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undiknas University Prof. Dr. I.B. Raka Suardana, S.E., M.M. Menurutnya, demand akan perumahan semakin meningkat akibat populasi yang bertambah. “Cuma, akibat pendapatan masyarakat yang membutuhkan perumahan masih pas-pasan, sebagian besar hanya mampu membeli di daerah pinggiran (penyangga), seperti Gianyar, Tabanan, dan Badung Utara. Perumahan primer di kawasan itu masih bisa dimiliki dengan harga antara Rp 750 sampai 1 miliar, tentu dengan skema KPR ataupun yang lainnya,” ungkapnya. Secara hukum ekonomi, bila permintaan (demand) meningkat maka harga pasti akan naik. Kondisi ini kini terjadi pada harga tanah dan perumahan di Denpasar. Permintaan meningkat, bukan saja akibat investasi dan bisnis, juga ada gejala dipakai spekulasi serta penampungan money laundring. Bagi masyarakat lokal yang dulunya memiliki tanah, jelas mau tidak mau menjual tanahnya karena harganya selangit. Lalu, uang hasil penjualan ditaruh di bank atau LPD serta ada
yang membeli lahan di luar kota Denpasar. “Nah, lama-kelamaan persis seperti Betawi, yakni masyarakat atau penduduk asli bergeser ke pinggir,” tegasnya. Kondisi itu, dikatakan Raka Suardana, akan berdampak pada harga tanah di kawasan penyangga semakin tumbuh dan pada akhirnya nanti juga akan semakin tak terjangkau. Apa yang disampaikan Raka Suardana seperti gayung bersambut. Anggota Panitia Khusus (Pansus) Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) DPRD Badung I Nyoman Dirga Yusa mengajukan usulan agar aturan mengenai batas ketinggian bangunan direvisi. Alasannya, pertumbuhan penduduk di Kuta Selatan cukup tinggi yakni sekitar 4,7 persen per tahun. Sementara, ketersediaan lahan terus menyempit. Ia berpendapat salah satu langkah mengantisipasi keterbatasan lahan ini adalah dengan pembangunan vertikal. Itu berarti, aturan batas ketinggian bangunan 15 meter perlu dipertimbangkan kembali untuk direvisi. Dedy/Parwata
grafis : wawan
Harga Material Melambung, Pengembang Bingung KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) telah mengatrol harga-harga material bangunan semakin meroket. Dampak kondisi ini, ongkos produksi rumah pun ikut melonjak dan membuat pengembang semakin pusing. Belum lagi, harga tanah di Bali semakin mahal. “Apalagi orang Bali sekarang ini memilih opsi menyewakan tanah dari 5 tahun sampai 50 tahun, daripada dijual. Kondisi ini semakin menyulitkan pengembang. Karena lahan semakin terbatas dan harga terus merangkak naik, walaupun ekonomi masih dalam tekanan sampai awal tahun ini,” ujar pengamat properti John Sadewa. Dampaknya, menurut John, pengembang sulit mendapatkan lahan dengan harga yang murah sehingga setelah diproses kapling, harga per meter persegi tanah kapling siap bangun jadi mahal. Harga jadi lebih tinggi lagi, setelah ditambah biaya bangunan hingga melewati batas daya beli masyarakat menengah ke bawah. Sedangkan konsumen yang banyak di kalangan menengah ke bawah. Hingga saat ini, harga material bangunan yang semakin mahal seiring naiknya BBM, terus mahal. Material paling mahal, dari kaca mata John yaitu besi dan kayu kelas 1, dari semua item yang biasa dipakai
membangun rumah oleh pengembang. “Kalau keramik dan genteng harganya bervariasi sesuai jenis dan tipe yang dipilih,” ujarnya. Harga besi menjadi mahal karena murni hasil pabrikan yang sudah tentu dengan biaya mahal untuk proses produksi. Sedangkan kayu, khususnya kayu kelas 1 hanya dihasilkan dari luar Bali yang sangat dipengaruhi oleh biaya transportasi. Di samping kebanyakan hasil olahan kayu diekspor ke luar negeri. Oleh karena itu harga kayu dalam negeri akhirnya bersaing dengan harga pasar ekspor. Apalagi untuk bahan bangunan besi tidak ada alternatif pengganti dan besi sangat penting sebagai tulangan beton. “Kalau kayu ada alternatif seperti aluminium, khususnya untuk kusen dan baja ringan pada penggunaan atap serta rangka plafon bangunan,” kata pengamat asal Petang, Badung ini. John mengungkapkan, mahalnya harga material ini membuat pengembang jadi puyeng. Supaya bisa menghasilkan produk rumah dengan kualitas baik dengan harga yang murah. Dengan biaya pengadaan tanah dan unit bangunan di atasnya sudah mahal sehingga harga jual unit juga jadi mahal. Belum lagi harus ditambahkan profit yang menjadi kestabilan bisnis developer kar-
ena ada biaya overhead mesti ditanggung pihak pengembang. “Meski begitu, bisnis properti tetap menggiurkan tapi hanya bisa dijalankan oleh kalangan tertentu, terutama yang bermodal dan berpengalaman di bidang ini. Walaupun ada perseorangan yang menjalankan, itu hanya skup dan skalanya kecil,” tegas John. Walau saat ini kondisi ekonomi masih katagori kurang baik ditambah daya beli masyarakat yang belum pulih seperti th 2012 dan 2013, tapi bisnis properti masih tetap menjanjikan karena harganya yang tidak bisa dibendung. Harga tetap naik 5-10 persen dari akhir 2014 ke awal tahun 2015 dan diprediksi kenaikan akan mencapai 25 persen sampai akhir 2015. Hal senada juga disampaikan pebisnis properti Made Suardana. Ia menilai mahalnya harga material tersebut merupakan imbas kenaikan harga BBM. “Benar, mahal sekali harga besi terutama kayu. Gara-gara BBM naik, semua material naik rata-rata di atas 10 persen. Pebisis properti masih berlakukan harga lama karena kalau dinaikan maka tidak ada yang beli. Sangat besar harga material mempengaruhi perkembangan dunia properti,” tambahnya. Kerta Negara
SENI
”Okokan” dan ”Tektekan”, Kesenian Khas Tabanan abupaten Tabanan yang dikenal sebagai lumbung berasnya Bali memiliki kesenian unik yang sangat dekat dengan kegiatan para petani. Kesenian itu adalah Tektekan dan Okokan yang memiliki suara khas. Bentuknya sangat sederhana dan menggunakan bahan dari kayu dan bambu. Kesenian itu masih lestari hingga kini, bahkan menjadi sajian rutin kepada wisatawan domestik dan mancanegara. Okokan adalah kalung keroncongan sapi dalam bentuk yang besar. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu yang dilubangi dan hampir menyerupai kentongan. Di dalamnya diisi pemukul yang disebut palit. Dalam penyajiannya dilengkapi dengan teng-teng alat musik dari bekas cangkul petani, dan kulkul alat yang dipakai untuk menghalau burung. Dan kalau diayun-ayunkan, okokan akan mengeluarkan irama yang khas. Penabuh yang memainkan alat musik tradisional itu adalah para petani. Meski demikian, kesenian okokan sering ditampilkan dalam pawai Pesta Kesenian Bali (PKB), festival-festival di kawasan wisata Nusa Dua, Sanur, Bedugul dan daerah lainnya di Bali. Di Tabanan, kesenian okokan
K
48
26 Januari - 1 Februari 2015
terkenal dari Desa Baturiti Kerambitan dan Desa Mayungan, Bedugul. Kesenian okokan lahir berawal dari tradisi agraris secara turun-temurun. Karenanya alat musik ini sudah merupakan bagian dari kehidupan petani tradisional di desa itu. Untuk mengisi waktu saat menunggu musim panen, para tetua terdahulu membuat alat musik okokan dalam ukuran yang cukup besar. Okokan juga dimainkan untuk mengusir wabah, sesuai kepercayaan bahwa wabah yang menyerang itu disebabkan oleh makhluk halus bersamaan dengan ritual ngerebeg. Jumlah instrumen dari barungan okokan, yaitu ada 30 buah, 1 kendang dan 1 kajar. Personel dari barungan okokan tergantung dari barungan instrumen itu sendiri. Repertoar lagu yang sering dimainkan seperti gamelan baleganjur. Gamelan okokan juga dilengkapi alat-alat musik Bali lainnya untuk menambah indah dan uniknya suara okokan, antara lain gong, kendang, tawa-tawa, dan lain-lainya. Sementara itu kesenian tektekan lahir berawal spontanitas, dan bertujuan untuk mengusir wabah. Musik ini menggunakan bahan bambu yang dimainkan oleh petani sekitar 30-40 orang. Ditinjau dari etimologi kata tektekan berasal dari kata ”tek”, dijadikan kata mejemuk menjadi
tektek, ditambah dengan akhiran -an menjadi tektekan. Kesenian ini muncul ketika warga Desa Kerambitan mengalami grubug (wabah epedemi). Jika ada seseorang disembunyikan oleh gamang atau samar (roh halus) maka digelar nektek yaitu dengan memukul apa saja yang bisa menimbulkan bunyi. Tujuannya untuk mengusir wabah yang terjadi di masyarakat, sekaligus untuk membangkitkan rasa jengah. Belakangan kemudian menggunakan bahan dari bambu yang disebut dengan kulkul. Kulkul itu dipukul sehingga keluar suara tek, tek, tek,… Kegiatan nektek dilakukan pada waktu sandikala (peralihan waktu dari sore ke malam). Penampilan ini sebagai ucapan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena wabah penyakit telah berlalu. Tetabuhan itu akhirnya menjadi sebuah bentuk pertunjukan dan mulai 1965 tektekan menggunakan cerita Calonarang yang disesuaikan dengan sifat awal terciptanya Tektekan itu, yakni sebagai pengusiran roh jahat. Budarsana www.bali-travelnews.com
BUDAYA
“Tumpek Krulut”, Kasih Sayang untuk Gamelan MASYARAKAT Hindu di Bali akan merayakan hari raya suci yang dikenal dengan Tumpek Krulut pada Sabtu 31 Januari 2015. Hari suci itu merupakan perwujudan kasih sayang terhadap alat-alat seni gamelan di Bali. Istilah Tumpek Krulut berasal dari nama wuku berdasarkan kalender Bali yaitu krulut atau lulut yang artinya jalinan. Wakil Dekan sekaligus Dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr. I Made Surada, M.A. mengatakan, Tumpek Krulut merupakan hari suci untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara. Beliau adalah dewa seni yang identik dengan bunyi-bunyi suci, alat musik yang menimbulkan rasa indah. “Tumpek Krulut sebagai momentum untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepadaNya,” kata Surada. Tumpek Krulut, jelas Surada dimaknai sebagai hari kasih sayang. Sebab, kata lulut sendiri bermakna sayang, cinta dan welas asih. Tumpek Krulut dilaksanakan setiap 210 hari Saniscara Kliwon. “Moment ini adalah salah satu implementasi Tri Hita Karana yang melibatkan yadnya atau korban suci. Korban suci adalah bagian dari cinta yang tulus,” jelasnya. Hari kasih sayang ala Bali ini sudah ada sejak zaman dulu. Hanya saja, banyak orang yang belum memahami kalau itu merupakan hari kasih sayang. Biasanya, perangkat seni yang diupacarai adalah alat-alat musik tradisional seperti gong, gender, angklung, suling, gambang, bajra, selonding dan saron. Dengan adanya perkembangan zaman, jelas seniman arja asal Keramas ini, alat musik yang diupacarai bervariasi. Gitar, drum, piano, pianika, terompet dan alat musik lainnya juga
diupacarai. “Perkembangan itu tidak mempengaruhi makna. Justru menambah warna karena keduanya bisa saling mengisi dan berkembang secara berdampingan dalam bentuk kesenian kolaborasi,” ucapnya. Dalam perayaan Tumpek Krulut itu bukan menyembah perangkat kesenian atau alat musik. Namun, mendoakannya agar bermanfaat dalam kehidupan, baik untuk pemilik juga penikmatnya. “Seorang pragina (seniman) akan memohon energi pada hari itu,” ungkapnya. Surada memaparkan, rangkaian upacara Tumpek Krulut sangat sederhana berdasarkan desa, kala dan patra. Diawali dengan membersihkan diri sendiri disebut dengan suci laksana, lalu mengatur alat-alat gamelannya. Kemudian menghilangkan leteh dengan memercikan tirta prayascita. Sesajen biasanya berupa banten otonan berisi tumpeng. Kalau banten besar biasanya menggunakan bebangkit dan harus dipimpin oleh pendeta. Biasa juga banten peras, pengambean, ajuman dan tipat gong dan dipimpin pemangku. “Dalam perayaannya, masyarakat tidak diperkenankan membunyikan alat musik secara sembarangan. Apalagi yang sakral. Harus dimainkan dengan nada-nada yang indah agar menimbulkan rasa langu atau senang. Ocha www.bali-travelnews.com
26 Januari - 1 Februari 2015
49
PROFIL
I Gusti Ayu Kade Oka Dewi Pertiwi
Tetap Semangat HAMIL bukanlah halangan bagi I Gusti Ayu Kade Oka Dewi Pertiwi untuk tetap semangat menjalankan tanggung jawab sebagai Lurah Sempidi. Bagi wanita asal Tabanan ini, prinsipnya adalah selalu menikmati aktivitasnya dengan penuh keceriaan, dalam kondisi apapun. “Waktu belum hamil besar saya tetap menjalankan tugas seperti biasa dan tak pernah mewakilkan dalam berbagai acara. Tapi sejak kandungan sudah mulai memasuki usia 8 bulan, dokter menyarankan agar saya menjaga kondisi. Di samping karena usia saya yang sudah hampir kepala empat dan juga ini kehamilan yang keempat,” tutur alumnus Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri (STPDN) ini. Berkisah tentang perjalanan kariernya sebagai lurah, Oka Dewi sebelumnya, tak bercita-cita untuk menjadi lurah. Ia hanya tahu, memilih sekolah di STPDN, setelah tamat mendapatkan kerja. Hanya itu. Kariernya terbilang mulus melangkah menuju kursi lurah, tak banyak hambatan untuk itu. Setamat STPDN, ia langsung ditempatkan sebagai staf di kantor camat Mengwi. Sekitar lima tahun berkarier, ia dimutasi ke kepegawaian menduduki subag mutasi. Di sana, kariernya hanya enam bulan. Kemudian dia mendapatkan promosi menjadi Kasi Kesra di Kelurahan Kapal. Setelah bertugas enam bulan, ia diangkat menjadi Sekretaris Lurah di Kelurahan Kuta selama lima tahun. Di sanalah ia banyak belajar bagaimana dan apa yang harus dilakukan sebagai lurah. Tanggal 12 Agustus 2011, jabatan prestisius dipercayakan kepadanya sebagai Lurah Sempidi. Kiatnya, sebagai pendatang, melakukan banyak penyesuaian yakni mengenal wilayah di mana ia ditempatkan. Setelah itu, ia melaku-
50
26 Januari - 1 Februari 2015
kan pendekatan dengan para tokoh masyarakat. Ia langsung turun ke lapangan sekaligus sebagai bentuk perkenalan dirinya kepada masyarakat. “Intinya, saya memohon bantuan agar tugas sebagai lurah dapat berjalan dengan baik. Saya berusaha mengetahui, apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan sesuai adat dan kondisi wilayah setempat,” tutur mantan atlet judo Bali, tentang kiat sebagai langkah awal menjadi lurah. Tiga tahun bertugas di Sempidi, ia merasakan tak ada hal yang terlalu mengganggu konsetrasinya dalam bertugas. Semua dapat berjalan dengan baik. Karena baginya, selalu berkoordinasi tetap menjadi acuannya dalam memimpin. Kelurahan Sempidi membawahi 10 kedinasan, 12 banjar adat, dan dua bendesa adat. Di kantornya sendiri, stafnya memang lebih banyak perempuan. Namun, bukan berarti tugasnya menjadi lebih mudah. Baginya, staf laki-laki dan perempuan adalah sama. Ia sesuaikan dengan potensi orangnya masing-masing. Jadi tidak tergantung apakah itu laki-laki atau perempuan. “Saya maksimalkan potensi yang dalam diri mereka. Jadi saya harus mengenal mereka dengan baik, termasuk potensi dari mereka masing-masing,” ucapnya. Sejak hamil besar, ia memang merasakan ada sedikit ganjalan dalam bertugas. Untuk tugas malam, ia meminta stafnya untuk mewakilkan. Namun, ia tetap memantau lewat ponselnya. Ia tetap fokus menyeimbangkan tugasnya, walaupun tak berada di tempat. Beberapa prestasi yang sudah diraih Kelurahan Sempidi, di antaranya, juara II baleganjur dalam HUT Mangupura tahun 2014, Juara I Hansip tahun 2011, Juara I memasak cap cay dan membuat cane yang diwakili PKK Kelurahan Sempidi. Wirati LAPORAN