Skip to main content

Majalah balipost edisi 72

Page 1

72 | 12 - 18 Januari 2015

Modus Wayan Candra

Pertama di Indonesia

RP R P 20.000 20 00 000 000 00


DAFTAR ISI OPINI Resolusi 2015 dan Agenda Mengawal Pancasila 6 BALI SEPEKAN Mediasi Gagal, Tiga KK Terancam Digusur 7 LAPORAN UTAMA Modus Wayan Candra Pertama di Indonesia 8 Ciptakan Keadilan Sediri 9

KESEHATAN Donor Darah

Rangsang Sumsum Tulang, Produksi Sel Darah Merah Baru 24 LENSA LESTARIKAN MANGROVE 26

Jadi Bom Waktu 11

SARANA Bale Banjar Bali Global Shankara

Tempat Seniman Salurkan Kreativitas 12

PEMERINTAHAN Rumah Hijau 3R Desa Adat Mengwi

Sulap Sampah Jadi Berkah 14

POLITIK Advokat Menentang Doktrinisasi 16 Ada KPK di Dermaga Gunaksa 17 PENDIDIKAN Kembali ke Kurikulum 2006,

OLAHRAGA Atlet Berpotensi Tahun Ini 28 LINGKUNGAN Penghijauan Sia-sia

di Daerah ”Batu Bertanah” 36

PARIWISATA Ironi Pariwisata Bali

Okupansi Tak Sejalan dengan Kunjungan Wisatawan 38

Sekolah Belum Siap 18

TRADISI “Masuryak”

Bekali Leluhur ke Surga 44

MANCANEGARA Alcatraz, Penjara Penuh Misteri 20 DAERAH Bangun Pariwisata

Bangli Dapat Suntikan PHR Rp 22,8 Miliar 22

PROPERTI Rangka Atap Baja Ringan Kian Populer 46 KREATIVITAS Bromelia yang Memesona 48 PROFIL dr. Luh Supadmi, M.M.

Atur Waktu Secara Tepat 50

12 - 18 Januari 2015

3


DARI PEMBACA

Waspadai Terorisme T

erorisme akan selalu memanfaatkan momentum untuk melakukan pergerakan. Oleh karena itu, semua pihak, terutama aparat keamanan harus waspada adanya ancaman terorisme. Mengingat aksi terorisme sulit diduga, namun kalau masyarakat waspada dan siaga, maka peluang aksi terorisme dapat diminimalisir. Polisi juga kita harapkan dapat lebih meningkatkan pengawasan di tempat-tempat keramaian atau berkumpulnya masyarakat. Terutama optimalisasi pengawasan yang terkait dengan keresahan masyarakat. Seluruh lapisan masyarakat juga agar selalu waspada dan siaga, serta mencurigai setiap orang yang tidak dikenal, sehingga aksi terorisme dapat diminimalisir. Dini Kinanthi Putri Jl. Raya Lenteng Agung Gang 100, Jakarta Selatan

Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Suana, Sueca, Yudi Winanto, Subrata, Budi Wiriyanto, Diah Dewi. Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Yudi Karnaedi, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Rindra, Agustoni, Widana, Ngurah Kertanegara, Komang Suryawan. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Dewa Kusuma, Mudiarta, Gianyar: Agung Dharmada, Manik Astajaya, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati, Wira Sanjiwani. Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan

Warga Cucukan Cemaskan Masa Depan Pantai S

etelah pembangunan bendungan di pantai Lebih dan pantai Masceti, ombak laut semakin dashyat menerjang pantai Cucukan, yang letaknya tepat di antara Lebih dan Masceti hingga kini belum terlindungi oleh bendungan penahan ombak. Dalam kurun waktu enam bulan setelah pembangunan bendungan di Lebih dan Masceti, abrasi pantai dan kerusakan-kerusakan pada bangunan-bangunan sepanjang pantai Cucukan semakin sulit teratasi. Misalnya, terdapat kerusakan parah pada dinding-dinding yang membatasi pekarangan vila dengan laut. Dapat diperkirakan bahwa dalam waktu dekat kerusakan tersebut akan menimbulkan musibah tanah longsor/abrasi, jika tidak segera teratasi. Walaupun telah dikeluarkan larangan untuk bermain atau berdagang di sekitar dinding vila tersebut, setiap sore dan pada hari Minggu tetap saja terdapat sejumlah besar warga dan pengunjung pantai di daerah rawan tersebut. Mohon pihak Pemkab Gianyar atau Dinas terkait memberi perhatian lebih serius mengenai masalah ini. I Wayan Lasuardi T. Gianyar

Bagi Anda yang ingin mengirimkan artikel/opini atau pikiran pembaca silakan kirimkan ke balipost@ indo.net.id atau redaksibalipost@yahoo.com. Panjang artikel maksimal 2.500 karakter, sertakan foto, pikiran pembaca maksimal 1.000 karakter.

4

NTB Agus Talino, Izzul Khairi, Raka Akriyani Surabaya Bambang Wiliarto Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP

12 - 18 Januari 2015

4


Reklamasi Percepat Modernisasi Bali

29,75% Tidak 3,49% Tidak tahu N:716

Menurut Anda, apakah reklamasi teluk Benoa dan Perpres 51 Tahun 2014 berpotensi mengancam Bali?

66,76% Ya

PERP

51 Ta

hun

grafis/tomik cahya

RES

2014

R E K L A M A S I

Tahun 2014 menjadi perjuangan krama Bali menentang rencana reklamasi Teluk Benoa, Badung. Perjuangan pun dilakukan secara berantai bahkan ada yang sampai masuk sel polisi. Spanduk menolak reklamasi bertebaran dan aksi menentang reklamasi berulang kali digelar di lokasi. Sayangnya, penguasa dan legislator di Bali tak banyak bicara merespons perjuangan krama Bali. Menyikapi rencana Reklamasi Teluk Benoa yang dibarengi dengan terbitnya Perpres 52/2014, Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat di seluruh Bali. Jajak dilakukan dengan mengajukan kuesioner dan wawancara via telepon. Berdasarkan tabulasi atas jawaban responden, 66,76 persen krama Bali meyakini reklamasi Teluk Benoa akan mempercepat kehancuran Bali. Kehancuran tak hanya terjadi pada bentangan tanah Bali, juga akan berimbas pada budaya dan tradisi Bali. Reklamasi diyakini akan mempercepat modernisasai atas Bali. Mordenisasi akan menggerus kearifan lokal, budaya Bali akan tergilas dan krama Bali makin terpinggirkan. Reklamasi juga akan membuat daya saing krama Bali makin lemah, akibat menguatnya penguasaan terhadap basis–basis ekonomi oleh pendatang dan pemilik modal. Sedangkan 29,75 persen responden mengaku reklamasi tak akan membuat Bali kehilangan kearifan budaya. Reklamasi akan berdampak pada pertumbuhan infrastruktur di Bali yang pada gilirannya akan menggerakan pembangunan. Untuk itu, pengawasan terhadap ‘’pulau’’ hasil reklamasi ini harus tegas dan ketat. Sedangkan 3,49 persen responden tak memberikan respons atas hal ini. Responden menilai rencana reklamasi ini belum jelas detail dan konsepnya. Saat ini, pemilik modal baru sebatas mengurus izin, sehingga sulit dikomentari dampaknya bagi Bali. Dira Arsana 12 - 18 Januari 2015

5

5


OPINI

Resolusi 2015 dan Agenda Mengawal Pancasila TAHUN 2014 menjadi momentum politik bagi bangsa ini, pun bersamaan dengan peristiwa tersebut, kontestasi perpolitikan dalam negeri menjadi lebih dinamis dan hidup dimana setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi. Pertama, kembalinya politic identity publik atas partai politik yang berdasarkan data lembaga survei pada dua periode pemilu sebelumnya dikatakan mulai redup (menghilang). Kedua, kehadiran dua calon presiden yang sama-sama membawa semangat kebangsaan (Pancasila). Semangat mengusung kembali jargon-jargon Pancasila menjadi semakin kuat tatkala Joko Widodo, terpilih sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia. Konsistensinya mengusung konsep Trisakti yakni; berdaulat dalam politik, berdikari secara ekonomi, dan kepribadian yang berkebudayaan, diharapkan mampu direalisasikan dalam setiap kebijakan maupun program kerja kabinetnya. Presiden Joko Widodo beserta jajaran Kabinetnya pada saat ini dihadapkan pada pelbagai persoalan kebangsaan yang sedikit banyak bersinggungan dengan persoalan kedaulatan bangsa, mulai dari persoalan pecaplokan patok wilayah daerah perbatasan, pencurian hasil alam wilayah Indonesia, silang sengkarut mafia migas yang belum juga terselesaikan dengan maksimal, kasus korupsi-suap yang semakin menggurita dan persoalan-persoalan krusial lainnya. Pada titik inilah komitmen dan konsistensi untuk merealisasikan perspektif ‘Revolusi Bersih” menjadi harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pemerintah sudah mengawalinya dengan langkah yang tepat yakni kembali menghadirkan Pancasila sebagai landasan (dasar) dalam berpikir. Pancasila sedari awal penyusunannya memang dikonsep sebagai staatfundamentalnorm (norma dasar bernegara) maupun philosophische grondslag (dasar filosofi). Pemahaman atas kedua hal inilah yang harus terus dipegang oleh setiap lembaga negara yang memberlangsungkan proses penyelenggaraan negara demi terwujudnya cita-cita Negara, yakni mencerdaskan ke-

6

Oleh Agung SS Widodo, M.A.

hidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Dalam kurun waktu tiga bulan masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, apresiasi patut diberikan atas beberapa kebijakan yang telah dibuat demi menyelamatkan harkat dan martabat bangsa. Bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang tegas, berwibawa, dan menjunjung kepentingan negara di atas kepentingan pribadinya. Pun seturut dengan hal tersebut, jalur-jalur diplomasi tetap menjadi strategi dalam membangun komunikasi dan meraih dukungan internasional. Mengawal Pancasila Belum lama ini Lembaga Pertahanan Nasional RI (Lemhanas) telah melakukan road show ke berbagai daerah maupun Universitas guna mensosialisasikan agenda kajian strategik “Indonesia Scenario’s to 2045”. Agenda ini tidak lain menjadi salah satu master plan bagi arah permbangunan nasional bangsa Indonesia, dimana satu titik tekan yang ingin coba disampaikan ialah perlunya mengembalikan Pancasila sebagai

landasan dalam cara pandang berbangsa dan bernegara. Munculnya silang sengkarut persoalan kedaulatan yang selama ini bangsa ini alami tidak lain dikarenakan kita belum sepenuhnya konsisten dan berupaya secara maksimal untuk merealisasikan Pancasila dalam ruang-ruang yang lebih empirik di masyarakat. Pekerjaan mengawal agenda Pancasila menjadi PR yang berat bagi pemerintahan saat ini. Namun, hal tersebut menjadi satusatunya entry point yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan bangsa. Tahun 2015 diharapkan menjadi momentum bagi pemerintahan Joko Widodo untuk benar-benar membuktikan kinerjanya, yakni membawa seluruh rakyat Indonesia pada kesejahteraan dan kehidupan yang lebih cerdas. Dan semua itu niscaya akan terealisasi jika negara berkomitmen penuh atas penyelenggaraan pemerintah yang berbasis pada nilai-nilai Pancasila. Adapun untuk mensukseskan agenda kepancasila-n tersebut ada beberapa hal yang sekiranya bisa dilakukan. Pertama, membangun kesamaan visi, menjadi hal yang sangat penting dalam proses pemerintahan terkait adanya kesamaan visi utamanya para jajaran petinggi negara, dan visi di sini adalah Pancasila itu sendiri. Kedua, menjadikan Pancasila sebagai landasan dan pandangan hidup, selama ini dalam konteks kehidupan bernegara baik secara konstitusi, ekomomi, maupun politik bisa dikatakan tidak berpijak pada akar nilai-filosofis Pancasila, alhasil akan menghasilkan sengkarut kebijakan yang tidak pro kepada rakyat Ketiga, perkuat basis ideologi melalui pendidikan. Tidak bisa kita pungkiri pendidikan merupakan basic (dasar) dan sarana strategis bagi pengenalan, penanaman, dan pemahaman ideologi suatu negara, maka memperkuat dan memperbaiki pendidikan adalah garansi bagi keberlangsungan suatu negara. Penulis, peneliti sosial politik Pusat Studi Pancasila UGM

12 - 18 Januari 2015

6


BALI SEPEKAN

Mediasi Gagal, SDN 4 Pohsanten Tiga KK Terancam Digusur Nyaris Ambruk SENGKETA permohonan tanah negara (TN) di Desa Giri Mas, Kecamatan Sawan belum bisa diselesaikan dengan cara musyawarah. Upaya mediasi oleh Muspika Kecamatan Sawan, Senin (29/12), gagal menetapkan keputusan untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Sementara tim sembilan dan pihak Desa Pakraman Sangsit Dangin Yeh Kecamatan Sawan tetap pada keputusannya untuk memohon tanah seluas 3,4 hektar tersebut. Keputusan desa adat pun tetap menuntut tiga kepala keluarga (KK) yang hingga kini menempati tanah itu agar segera meninggalkan tanah tersebut. Camat Sawan Gst. Suradnyana mengatakan, mediasi muspika ini sengaja digelar

MBP/mud

dengan maksud sengketa tanah tersebut bisa diselesaikan dengan cara musyawarah. Hanya, pihak yang diundang dalam mediasi kemarin, gagal menetapkan keputusan. Mudiartha

Jalan Rusak, Tolak Ikut Lomba Desa PARAHNYA infrastruktur di Kabupaten Tabanan utamanya jalan membuat warga Banjar Jadi, Desa Banjar Anyar, Kediri menolak program pemerintah seperti lomba desa. Tersiar kabar penolakan warga tersebut didasari alasan jalan menuju banjar rusak parah dan lama tidak tersentuh perbaikan. Dari sejumlah informasi yang di-

himpun, awalnya permintaan agar desa mereka ikut dalam lomba desa terungkap dalam sebuah pertemuan yang digelar warga Banjar Jadi yang diikuti enam tempek, Minggu (28/12). Camat Kediri IGN Alit Adiatmika membenarkan adanya penolakan warga Jadi tersebut. Puspa Dewi

Tanah Labil, Pohon Bertumbangan

MBP/dar

DAMPAK hujan deras yang terus mengguyur wilayah Kabupaten Gianyar membuat kondisi tanah di sejumlah tem-

pat labil. Hal itu menyebabkan banyak pohon bertumbangan. Senin (29/12), ada tiga lokasi bencana di mana pohon tumbang di Kabupaten Gianyar. Ketiganya berada di wilayah Gianyar Utara. Di Klusa, Payanganan, pohon beringin tumbang. Pohon jaka (enau) di Pakudui, Tegallalang, dan pohon kelapa di jalan Gagah-Ceking, Desa Tegallalang juga tumbang. Akibat pohon tumbang tersebut tidak ada yang menuai kerugian material maupun jiwa. Hanya, pohon yang tumbang melintang di jalan, sehingga membuat akses lalu lintas tertutup. Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gianyar telah diturunkan melakukan evakuasi. Agung Darmada

SAAT sejumlah SMP dan SMU Negeri ramai-ramai menambah ruang kelas, ternyata masih banyak bangunan SD yang belum tersentuh perbaikan. Kondisi SD yang rusak ini dilihat langsung Komisi A DPRD Jembrana yang membidangi bidang pendidikan. Komisi A DPRD Jembrana mengaku prihatin mendapati bangunan gedung SDN 4 Pohsanten, Kecamatan Mendoyo yang rusak padahal diketahui baru empat tahun lalu diperbaiki. Sidak yang dipimpin Ketua Komisi A DPRD Jembrana Ni Made Sri Sutarmi, Senin (29/12) itu mendapati gedung sudah retak dan beberapa pintu tidak layak. Bahkan di sela-sela ruang kelas terlihat berlubang. Kendati mendapati kondisi bangunan kelas yang sudah memprihatinkan itu, ratusan siswa tetap mengikuti kegiatan belajar seperti biasanya. SDN 4 Pohsanten memiliki dua unit gedung untuk empat kelas yang bangunannya sudah retak-retak dan nyaris roboh. Surya Dharma

Rumdin Tak Ditempati TIGA rumah dinas (rumdin) Pimpinan DPRD Karangasem tidak ditempati. Alasannya, kata Sekretaris DPRD Karangasem Drs. Wayan Ardika, Senin (29/12), rumdin itu tidak layak ditempati pimpinan dewan, padahal rumah dinas itu sudah dicat. Masalah lainnya, kata Ardika, WC mampet, ada atap atau plafonnya bocor. Sementara ada juga bangunan yang dindingnya sudah retak-retak. Mantan Camat Abang itu mengakui stafnya kurang optimal mengecek kondisi rumah dinas itu sebelumnya, setelah ketiga rumah dinas itu ditinggalkan Ketua DPRD Karangasem terdahulu I Gede Dana, dan mantan Wakil Ketua Nyoman Celos serta Nyoman Karya Kartika. Padahal stafnya sudah langsung mengecet, begitu rumdin itu ditinggalkan penghuni lama. Namun, setelah dua minggu, musim hujan turun rumdin itu kembali dicek, ternyata ada atap bocor, WC mampet, tembok dinding retak. Budana 12 - 18 Januari 2015

7

7


LAPORAN UTAMA

Modus Wayan Candra

Pertama di Indonesia Informasi Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), ‘’dewa penyelamat’’ bagi Kejari Klungkung. Berkat informasi PPATK, aparat Adyaksa itu bisa masuk untuk menjerat mantan Bupati Klungkung Wayan Candra. Informasi itu berawal ada transaksi mencurigakan melalui cek dari seseorang yang masuk ke rekening Candra sebesar Rp 200 juta. Bagaimana prosesnya?

K

asus Dermaga Gunaksa jadi sorotan sejak awal dibangun tahun 2008. Bahkan, KPK sempat turun tahun 2010 setelah menerima banyak pengaduan dari masyarakat Bali atas maraknya kasus dugaan korupsi di Klungkung. Namun, penanganannya tersendat lantaran minimnya alat bukti. Kajari Klungkung Totok Bambang Sapto Dwijo, pekan lalu, mengatakan pengungkapan kasus ini tidaklah mudah. Hambatan dan tantangannya sangat berat dan kompleks. Petunjuk awal didapat dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), bahwa ada transaksi mencurigakan melalui cek dari seseorang yang masuk ke rekening mantan Bupati Candra sebesar Rp 200 juta. “Temuan ini menjadi awal kami bisa masuk lebih jauh menangani kasus ini,” terang Kajari. Pihaknya membantah penyelidikan baru dilakukan setelah Candra lengser. Hanya kebetulan momentumnya tepat, celah itu didapat setelah Candra tidak lagi sebagai bupati. Kajari mengakui, kasus ini jelas cukup berat ditangani Kejari Klungkung. Sebab, setelah ditelisik ternyata kasus tidak hanya dugaan korupsi, juga terindikasi kasus gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Kasus ini menjadi semakin rumit, dengan keterlibatan orang-orang terdekatnya. Mulai dari pejabat, mantan pejabat, keluarga termasuk anak-anaknya hingga sopir dan ajudannya sewaktu menjabat. Hal ini tidak terlepas dari bantuan KPK dan Kejati Bali yang mendukung

8

penuh Kejari Klungkung sejak awal menangani kasus ini. “Saya sempat datang ke KPK untuk ekspose. Saya sampaikan segala kesulitan dan kendala di lapangan. Sehingga, kami banyak dibantu tenaga ahli yang dibiayai langsung oleh KPK,” tegasnya. Selain itu, campur tangan KPK dalam penanganan kasus ini juga membuat Kejari Klungkung sulit diintervensi pihak manapun. Sehingga, penegakan hukum benar-benar berjalan seperti seharusnya. Totok Bambang Sapto Dwijo, mengatakan, tiga kasus yang menjerat Candra. Yakni; dugaan tindak pidana korupsi, gratifikasi dan TPPU yang diramu dalam satu berkas. Tindak pidana ini baru pertama kali terjadi di Bali. Bahkan, menurut pendapat ahli pidana Universitas Indonesia (UI) Harkristuti Harkrisnowo, kata Totok, penanganan kasus demikian baru pertama kali terjadi di Indonesia. Dugaan korupsi yang dilakukan Candra sebagai mantan bupati juga dinilai cukup besar untuk sekup kabupaten. Data hasil audit BPKP, kata Totok, dari tiga kasus tersebut, harta hasil dugaan korupsi Candra mencapai hampir Rp 60 miliar. Diantaranya dari kasus dugaan korupsi pengadaan tanah proyek Dermaga Gunaksa sebesar Rp 9 miliar lebih dan kasus TPPU sebagai satu kesatuan dari kasus gratifikasi cukup pantastis, mencapai Rp 50 miliar. Harta yang diduga ditimbun Candra melebihi target dan realisasi PAD selama sembilan tahun menjabat sebagai Bupati Klungkung. Sejak awal menjabat tahun 2003, PAD ditargetkan Rp 10,8 miliar, 2004 Rp 11,2 miliar, 2005 Rp

16,0 miliar, 2006 Rp 17,4 miliar, 2007 Rp 19,4 miliar, 2008 Rp 21,6 miliar, 2010 Rp 30,9 miliar, 2011 Rp 34,7 miliar, 2012 Rp 39,8 miliar dan 2013 target PAD 48,5 miliar. Harta yang diduga diperoleh dari TPPU, mayoritas berubah menjadi berbagai aset, baik tanah maupun bangunan. Seluruh aset yang diduga didapat dari hasil TPPU juga sudah disita penyidik. Terakhir, penyidik telah menyita dua unit apartemen Candra di Jakarta. Penyitaan Apartemen di Agung Podomoro Land itu, kata Kasi Intel Suhadi, sempat mendapat penolakan dari pihak Agung Podomoro. Sehingga proses penyitaan itu berlangsung alot dan diwarnai adu argumen. Namun, setelah pihak penyidik memperlihatkan surat persetujuan penyitaan dari Pengadilan Negeri Jakarta Barat, akhirnya pihak Agung Podomoro tidak bisa berbuat banyak. Kedua apartemen Candra senilai Rp 800 juta itu, akhirnya juga disegel oleh Subekhan, penyidik yang ditugaskan khusus. Total dari aksi penyitaan aset-aset Candra termasuk rumah pribadinya Puri Cempaka, penyidik telah berhasil menyelamatkan uang negara sebesar Rp 1,6 miliar. “Kedua apartemen di Jakarta dibeli dengan cara dicicil dan belum dibayar lunas,” jelas Suhadi. Kini, nasib mantan pengacara itu sebentar lagi akan ditentukan di Pengadilan Negeri Tipikor Denpasar. Setelah pelimpahan tahap dua, kasus Candra Januari tahun depan akan dilimpahkan ke pengadilan. Pihaknya menegaskan akan tetap all out menyelesaikan penanganan kasus ini. Ada lebih dari 100 saksi sudah disiapkan. Lima diantaranya saksi ahli dari KPK. Sementara JPU sudah disiapkan 12 orang. Bagiarta

12 - 18 Januari 2015

8


Ciptakan Keadilan Sediri Tidak maksimalnya pemberian hukuman kepada koruptor menyebabkan masyarakat kehilangan kepercayaan dengan aparat penegak hukum. Demikian pula mereka mulai tidak percaya dan tidak puas dengan penegak hukum. Ketidakpuasan ini disebabkan integritas penegak hukum belum memuaskan.

KETUA Bali Corruption Watch (BCW) Putu Wirata Dwikora menyebut masyarakat kini tengah dirundung kekecewaan melihat proses demokrasi secara keseluruhan yang dinodai praktik korupsi. Ironisnya, anggota dewan yang dulunya berjanji akan memberantas korupsi, justru ikut terjerumus di dalamnya. “Kan secara keseluruhan mereka kecewa, melihat demokrasi, DPR yang korupsi banyak, padahal dulu mereka janji akan memberantas korupsi, jadi kekecewaan tidak semata-mata karena penegak hukum itu, tapi kecewa secara keseluruhan,” jelasnya. Wirata juga mengharapkan Kejaksaan mau melibatkan partisipasi masyarakat khususnya akademisi dan LSM saat ekspose perkara. Terlebih, dulu, masyarakat memang pernah dilibatkan saat mengusut kasus pengadaan tanah di Pecatu. Namun kini, tidak lagi. Padahal, pelibatan masyarakat penting untuk menghindari adanya “pesanan” dalam satu kasus. Wirata mengakui pada tahun 2014 ini penanganan perkara korupsi di Bali lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun diskriminasi dalam penanganannya masih kental. Seperti kasus art center. Tersangkanya yang pejabat aktif tidak ditahan. Namun tersangka perkara kelas teri langsung dilakukan penahanan. Pakar Hukum Universitas Udayana Prof. Dr. IGN Wairocana, S.H., M.H., mengatakan, tidak maksimalnya pemberian hukuman kepada koruptor menyebabkan masyarakat kehilangan kepercayaan dengan aparat penegak hukum. Selain itu, tak maksimalnya pemberian hukuman kepada koruptor juga menyebabkan

masyarakat kehilangan kepercayaan dengan aparat penegak hukum. “Ketidakpuasan ini disebabkan integritas penegak hukum belum memuaskan,” katanya. Dia berpendapat, munculnya tindak kekerasan di Bali, akibat masyarakat kurang puas terhadap penegakan hukum. Aparat yang dinilai tidak adil dan terkesan pilih kasih dalam memberikan keadilan yang diharapkan memicu sifat arogan. “Dengan ketidak puasan terhadap hukum, masyarakat cenderung mencari keadilan sendiri. Seperti main hakim sendiri dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan tanpa mengindahkan aturan yang ada,” jelasnya. Dekan Fakultas Hukum Unud, Prof. Dr. IGN Wairocana, S.H., M.H. berpendapat, proses peradilan kasus korupsi memerlukan kecermatan ekstra sehingga tidak bisa diputuskan dengan cepat. Kendati, Wairocana tak memungkiri bila memang ada kemungkinan tebang pilih kasus yang dilakukan oknum penegak hukum. “Mungkin ada oknum-oknum tertentu sehingga menyebabkan persoalan korupsi ini seakan-akan lambat. Tapi pembuktian masalah korupsi memang ekstra sulit karena modus-modus operandinya canggih,” terangnya. Kasipenkum Humas Kejati Bali, Ashari Kurniawan, Selasa (30/12) menyatakan, secara umum penanganan perkara korupsi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Bahkan di tahun 2014 ini meningkat tajam. Dari data yang diterima dari Pidsus Kejati

Dengan ketidakpuasan terhadap hukum, masyarakat cenderung mencari keadilan sendiri. Seperti main hakim sendiri dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan tanpa mengindahkan aturan yang ada. Prof. Wairocana Bali, penanganan perkara dalam tiga tahun terakhir, meningkat drastis. Rinciannya, penanganan korupsi di tahun 2012 ada 12 kasus yang masuk penyidikan, dan enam perkara dalam proses lidik. Sedangkan ditahun 2013, terdapat 34 perkara dalam tahap pEnyelidikan dan 23 kasus masuk penyidikan. Dan hingga pertengahan Desember 2014, Kejati Bali mengirimkan 33 kasus dalam proses dik (kini dalam penuntutan di Pengadilan Tipikor) dan 39 kasus dalam proses penyelidikan. Data itu, belum termasuk kasus Dermaga Klungkung yang menetapkan mantan Bupati Klungkung Wayan Candra sebagai tersangka, bersama sejumlah pejabat Pemda Klungkung. Rindra/Miasa 12 - 18 Januari 2015

9

9


10


LAPORAN UTAMA

Jadi Bom Waktu

S

epanjang 2014, penanganan kasus korupsi yang melibatkan pejabat dominan jalan di tempat. Contohnya kasus pipanisasi Karangasem, CPNS Badung dan Provinsi Bali, dan Lapangan Plaga. Ketiga kasus itu menyisakan tanda tanya besar di penghujung tahun 2014. Sebagian besar kasus korupsi yang ditangani Polda Bali belum bisa dituntaskan, bahkan cenderung sebagian nyaris tak terdengar perkembangan penyidikannya. Praktisi hukum Agus Saputra, S.H. berpendapat, penanganan korupsi di Bali masih setengah hati. Di samping itu, masih lebih banyak mengejar kuantitas dari pada kualitas korupsinya. “Sehingga yang dikejar hanya kasus kecil-kecil saja. Seharusya mengejar kasus korupsi tanpa tebang pilih, terutama yang besarbesar atau berkualitas sehingga menjadi peringatan pada pejabat yang berniat korupsi untuk tidak coba-coba korupsi,” tambah Agus. Sementara praktisi hukum Rizal Akbar Maya Poetra, S.H. menytakan, kasus korupsi di Bali akan menjadi bom waktu. Untuk itu, ia berharap penegakkan hukum harus konsisten, tanpa pandang bulu. Selain itu, harus ada prosedur standar yang sama dan jelas. “Kalau sudah didapat dua alat bukti harus dilakukan penahanan terhadap tersangkanya. Saya kira masih ada diskriminasi, hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Kapolda Bali Irjen Pol. Benny Mokalu berjanji menuntaskannya tahun 2015. Berbagai kendala dilontarkan orang nomor satu di polda ini terkait nunggaknya penyelesaian kasus tersebut. “Saya sebenarnya spesialis kasus korupsi dari dulu. Merujuk UU Nomor 31 Tahun 1999 yang diperbarui UU Nomor 20 tahun 2001, sebenarnya menangani kasus korupsi gampang,” tegas Irjen Benny Mokalu, pekan lalu. Kendala yang sering dihadapi penyidik, menurutnya, yakni kesulitan menghadirkan ahli sesui petunjuk jaksa. Pasalnya orientasi kejaksaan fokus pada ahli. Padahal tugas kepolisian untuk membuat terang perkara sehingga fakta yang ditampilkan.

“Karena kesulitan menghadirkan ahli, berkasnya jadi bolak-balik terus. Ke depan, saya sudah berkoordinasi dengan Kajati dalam hal memaksimalkan tugas anggota sehingga korupsi tidak terjadi di Bali. Contohnya paling rawan korupsi infrastruktur jalan atau jembatan,” ujar mantan Kapolda Bengkulu ini. Dir. Reskrimsus Kombes Suryanbodo Asmoro mengungkapkan, untuk laporkan kasus tindak pidana korupsi (tipikor) selama 2014, Polda menangani 6 perkara dan baru selesai 3 perkara. Namun ia tidak menjelaskan lebih renci kasus tersebut. “Penyelesaian 3 kasus itu sudah memenuhi kuota karena anggaran untuk kasus korupsi dipotong. Sedangkan di jajaran Polda Bali ada 16 laporan perkara korupsi dan juga memenuhi kuota,” tegas Suryanbodo. Terkait perkembangan kasus pipanisasi Karangasem, mantan Kapolresta Denpasar ini menegaskan, awalnya ada informasi bila Bupati Karangasem I Wayan Geredeg mempengaruhi saat pelaksaaan tender. N a m u n pihaknya sampai saat ini belum bisa membuktikannya karena masih fokus kerugian materialnya. “Apabila dalam proses sidang ditemkan bukti mengarah kepada yang bersangkutan, akan ditindaklanjuti. Beberapa berkas tersangka kasus tersebut masih bolak-balik karena masih menyamakan persepsi dengan jaksa,” ujarnya. Ngurah Benny Mokalu 12 - 18 Januari 2015

11


SARANA

Bale Banjar Bali Global Shankara

Tempat Seniman Salurkan Kreativitas

B

ale Banjar Bali Global Shankara di Sanur hadir guna mewadahi kreativitas para seniman dan budayawan di Bali. Hadir dengan konsep resto, bale banjar ini diharapkan mampu menggairahkan para seniman dalam menampilkan sekaligus menciptakan karya-karyanya. Tempat ini diharapkan mampu menginspirasi dunia mewujudkan kehidupan asah, asih, asuh, wangi berdasarkan Tri Hita Karana, mengembangkan usaha kecil dan menengah di Bali. Harapan Menteri Koperasi dan UKM A.A. Ngurah Puspayoga itu terungkap saat meresmikan bale banjar tersebut, Minggu, 28 Desember 2014 lalu bersama Ketua PHRI Bali sekaligus Budayawan dan Penglingsir Puri Ubud, Cokorda Artha Ardana Sukawati dan Pimpinan Kelompok Media Bali Post yang juga Ketua Yayasan Dharma Naradha, ABG Satria Naradha. Peresmian itu ditandai dengan memainkan kekayon oleh Puspayoga, Cok Ace, dan Satria Naradha serta potong tumpeng. Ketua PHRI Bali Cok Ace mengapresiasi konsep Bale Banjar Bali Global Shankara yang dinilai berbeda dengan restoran yang ada pada umumnya di Bali. Apalagi, restoran merupakan salah satu daya tarik wisatawan datang ke Pulau Dewata. Mantan Bupati Gianyar ini mencontohkan Ubud yang dua kali memperoleh penghargaan sebagai kota terbaik di Asia. Salah satunya lantaran memiliki daya tarik kuliner melalui restoran yang ada di Ubud. “Kami harap Shankara Resto bisa menambah keberagaman restoran yang ada di Bali khususnya di Sanur dan menambah daya tarik Sanur sebagai salah satu objek wisata di Bali,” imbuhnya. Sementara Menkop dan UKM Puspayoga mengaku sering datang ke Shankara yang sejak dulu bergerak sebagai cre-

12

12- 18 Januari 2015

MBP/dok

Menteri Koperasi dan UKM A.A. Ngurah Puspayog bersama Ketua PHRI Bali Cokorda Artha Ardana Sukawati dan Pimpinan Kelompok Media Bali Post ABG Satria Naradha memainkan kekayon saat peresmian Bale Banjar Bali Global Shankara.

ative space di samping mengembangkan restoran. “Saya sering di sini, tiap hari Minggu saya dating, karena kan ada kuliner rakyat. Saya mengikuti dari awal,” ujarnya. Mantan Wakil Gubernur Bali ini berharap, Shankara dapat berfungsi untuk pelaku UKM di Bali. Utamanya untuk bisa membuat mereka menjadi seorang entrepreneur yang kreatif dan produktif. Dengan demikian, produk lokal Bali tidak kalah bersaing dalam MEA 2015. Pembukaan Bale Banjar Bali Global Shankara di Jalan Danau Toba No.7 Sanur ini juga menampilkan kreativitas seni dan budaya bertajuk “Jaga Jagat”. Di antaranya tari pendet, fashion show pakaian dari

barang bekas oleh Owaste, suguhan musik dari Planet Bamboo Musik Ubud, tari kontemporer oleh Tebo, nyanyian mantra Bunda Dian, dan penampilan wayang cilik I Made Duwung Bandanagara dari Desa Tunjuk, Tabanan. Duwung yang baru berusia 10 tahun ini membawakan wayang dengan lakon Ekalawya. Tak hanya seni dan budaya, Bale Banjar Bali Global Shankara turut menampilkan kreativitas usaha kecil dan menengah dalam bentuk kerajinan daur ulang kerja sama Koperasi Krama Bali, serta pameran lukisan dari pelukis Antonius Kho dan I Made Somadita. Rindra


Gairahkan Kreativitas Lewat “Kenyung Manis” DENPASAR punya cara tersendiri untuk menggairahkan kreativitas anak muda. Pergantian tahun selalu dijadikan momen untuk mementaskan hasil karya dan kreativitas para anak-anak muda yang penuh semangat. Pada pengujung 2014 lalu misalnya, ajang kreativitas itu diawali dengan penyerahan topeng oleh Wali Kota Denpasar kepada salah satu seniman. Sejarahnya, topeng Kenyung Manis yang memiliki raut wajah sangat bersahaja dan selalu tersenyum mekar. Adalah seniman Butu Antara yang merupakan anak kandung dari seniman topeng I Wayan Pugra (alm.) menyebutkan, konon dulu ada sosok warga yang selalu muncul di Peken Badung (Pasar Badung), ketika disapa selalu tersenyum dan sedikit pemalu. Berawal dari situlah almarhum I Wayan Pugra mendapat inspirasi untuk berupaya menuangkannya ke dalam bentuk topeng dan kini berkembang menjadi tari Topeng Kenyung Manis. Karakter inilah yang diharapkan selalu tercermin di hati masyarakat Kota

Bali Post/ara

Denpasar dalam menghadapi berbagai tantangan dan persoalan pada tahun 2015 ini dengan selalu tersenyum. Denpasar memang beda. Setelah penyerahan “topeng” dilanjutkan dengan menampilkan aneka kreativitas seni budaya. Mereka tampil dalam acara “Melepas Matahari 2014” di kawasan titik nol kilometer Kota Denpasar, Rabu 31 Desember 2014 lalu. Tampilan para pelajar pun memukau penonton yang memadati kawasan Patung Catur Muka. Sangat menarik, ribuan pelajar mulai SD, SMP, SMA/SMK begitu bersemangat memainkan berbagai atraksi seni dan budaya. Seperti marching band, tari, opera, puisi, madding, sendratari, nyanyi dan lain-lainnya dengan penuh keceriaan. Semangat anak-anak itu tidak lepas dari perhatian langsung para pejabat setempat seperti Wali Kota Denpasar I.B. Rai D. Mantra, Wawali IGN Jaya Negara, Sekkot Rai Iswara, pimpinan DPRD, Muspida yang selalu memberi semangat. Atraksi seni yang ditampilkan anak-

anak sekolah benar-benar melegakan. Ajang pembinaan seni rupanya sudah sesuai harapan guna mengarahkan anakanak muda berlaku positif. Jenis atraksi ditampilkan yang mampu memukau penonton itu di antaranya baleganjur, sendratari, opera, puisi, marching band, madding, mode busana berbahan kertas dan berbagai jenis kegiatan kreatif yang ada di masing-masing sekolah. Sekolah yang ikut berpartisipasi pada acara “Melepas Matahari 2014” tahun lalu itu seperti Perguruan Radyamuna, Yayasan Dwijendra, Santo Yosep, SMA Harapan Nusantara, Taman Rama, SMA Harapan, SMP Wisata Sanur, Cipta Dharma, Mahatma Gandhi dan Perguruan Rakyat Saraswati. Tidak itu saja, malam menjelang pergantian tahun juga dipentaskan joged bumbung, janger kolaborasi dengan lawakan dari Salju Group, Dadong Rerod, Sanggar Sunari serta teater modern dan musik akhir tahun. Asmara

Salah satu karya kerativitas anak sekolah yang tampil dalam kegiatan Melepas Matahari 2014.

12- 18 Januari 2015

13


P E M E R I N TA H A N

Rumah Hijau 3R Desa Adat Mengwi

Sulap Sampah Jadi Berkah MASALAH sampah memang menjadi masalah yang hampir tidak bisa diatasi. Namun bagi Kabupaten Badung, menangani sampah menjadi sebuah berkah tersendiri bagi masyarakat. Bagaimana tidak, dengan inovasi program Rumah Hijau 3R berbasis masyarakat dan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST), mampu menyulap sampah menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat pedesaan. “Dulu sampah itu jadi bencana, kini kita ubah sampah itu menjadi berkah,” kata Bupati Badung A.A. Gde Agung saat meresmikan Rumah Hijau 3R (Reuse, Reduce, Recyle/menggunakan kembali, mengurangi, daur ulang) Desa Adat Mengwi, Senin (29/12) yang berlokasi di sebelah Barat Setra Desa Adat Mengwi. Selain meresmikan Rumah Hijau 3R, Bupati juga menyerahkan bantuan Hibah Pembangunan TPST 3R bagi 15 Kelompok Sosial Masyarakat (KSM) dan Hibah Alat Pengolah Sampah bagi 13 KSM dengan total nilai sebesar Rp 5 miliar lebih. Labih lanjut, Bupati Gde Agung mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir terhadap sampah. “Budaya “buang sampah itu” nampaknya tidak perlu kita lakukan lagi, kini yang perlu kita budayakan yakni “ambilah sampah itu” yang sudah menjadi budaya orang-orang luar negeri,” terangnya. Bupati menambahkan, program inovatif dengan pembangunan Rumah Hijau 3R TPST ini sebagai salah satu jawaban dari wujud nyata penanganan sampah berkelanjutan di Badung. Program ini juga mengantisipasi membludaknya sampah di TPA Suwung. “Pembangunan TPST ini menjadi reposisi dalam penanganan sampah, yakni menyelesaikan penanganan sampah di sumbernya sehingga menghasilkan output yang bermanfaat bagi masyarakat. Dijelaskan, dengan program ini penanganan sampah akan dilakukan secara bertahap. Tahap awal dengan mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos, dan kedepan diharapkan dapat mengolah sampah an organik (plastik) menjadi barang yang bernilai jual tinggi bahkan mampu menghasilkan BBM. “Ke depannya kami harapkan TPST di Mengwi ini dan TPST-TPST lainnya dapat berkembang. Selain menjadi rumah hijau juga dapat dikembangkan bank sampah seperti program Gelatik (Gerakan Berkelanjutan Anti Sampah Plastik) Pemkab

Bupati Badung A.A. Gde Agung disaksikan Anggota DPRD Badung I Nyoman Satria menyerahkan bantuan kepada Kelompok Sosial Masyarakat saat meresmikan Rumah Hijau 3R di sebelah Barat Setra Desa Adat Mengwi, Senin (29/12).

14

12 - 18 Januari 2015

Kadis DKP Putu Eka Merthawan memaparkan cara kerja mesin pencacah organik kepada Bupati Badung A.A. Gde Agung dan Anggota DPRD Badung I Nyoman Satria saat meresmikan Rumah Hijau 3R di sebelah Barat Setra Desa Adat Mengwi, Senin (29/12).

Badung yang hingga saat ini telah mampu mengumpulkan hampir 200 ton sampah plastik,” tambahnya. Di bagian lainnya Bupati meminta dengan terbangunnya TPST ini agar dikelola secara khusus. Perlu adanya Tim Pengelola yang dilengkapi manajemen, tenaga pengelola, tenaga pemilah sampah, serta tenaga pengolah sampah menjadi kompos. Dengan pengelolaan secara khusus, Bupati yakin TPST berbasis masyarakat mampu berkembang dengan baik. Selain itu, DKP Badung diminta selalu melakukan pendampingan sekaligus mencarikan peluang pasar. “Untuk 2015 nanti kita akan memperluas ke desa-desa lainnya, untuk itu desa yang sudah siap agar segera mengajukan proposal. Yang pasti 3 TPST di 2015 siap dibangun ditambah bantuan 5 buah dum truk. “Inilah upaya kami di Badung menangani sampah dengan cara menangani sampah dari sumbernya,” pungkasnya. Kepada Prajuru Desa, Bupati mengajak untuk bisa menyadarkan dan mengubah pola pikir masyarakat tentang sampah, untuk itu perlu dibuatkan sebuah aturan mengenai sampah maupun limbah untuk menjaga kelestarian lingkungan. Khusus limbah hewan, Bupati juga mengimbau masyarakat pemelihara ayam, babi maupun sapi agar menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan dengan mengelola limbah kotoran hewan dengan pembuatan safety tank dan tidak membuang ke got maupun sungai. Sementara itu Kadis DPK Badung Putu Eka Merthawan menjelaskan, hibah Kabupaten Badung T.A. 2014 untuk pembangunan TPST 3R sebesar 4,4 M lebih dan alat pengolah sampah sebesar 594 juta lebih dengan total nilai hibah 5 M lebih. Peresmian Rumah Hijau 3R di Mengwi ini merupakan yang pertama kali di Badung dan pengelolaannya diserahkan secara penuh kepada Desa Adat Mengwi. “Rumah Hijau ini adalah solusi permanen untuk mengatasi permasalahan sampah di desa Mengwi terutamanya sampah hasil Pasar Tradisional Desa Adat Mengwi, Taman Ayun dan lainnya,” ungkapnya. Usai meresmikan Rumah Hijau, Bupati yang didampingi Anggota DPRD Badung I Nyoman Satria, Kabag Humas dan Protokol A.A. Gede Raka Yuda serta para Bendesa Adat penerima hibah sempat menyaksikan uji coba perdana mesin pencacah organik yang dioperasikan langsung petugas Rumah Hijau 3R Desa Adat Mengwi. Dedy


FASHION

Gaya Busana Arisan

S

esekali arisan dengan dresscode endek menarik kali ya? Seperti yang terjadi pada “Kelompok Arisan 45� ini. Mereka tampil ber-endek ria. Dari yang mengenakan endek motif tradisional hingga yang modern, termasukk tenun ikat polos yang terkesan unik. Bicara soal fashion, peserta Arisan 45 yang dikomandani Ibu IGA A Sartining Ngurah ini, tampil dengan busana, gaya dan karakternya masing-masing. Apalagi kombinasi anggotanya yang terdiri dari dua generasi, di antaranya ada yang menggantikan ibu atau ibu mertua mereka. Hal ini

bukan hanya menjadikan suasana arisan semakin hangat juga keragaman pilihan busananya. Keseruan dua generasi ini pun tergambar dari pilihan busana mereka. Dari yang simpel, elegan memakai dress sampai yang kasual sportif yang memadankan blus dengan celana panjang, semuanya trendi dan m o d i s . Yu k , k i t a intip koleksi pribadi mereka di bawah ini. Sri Ardhini

12 - 18 Januari 2015

15


POLITIK

Advokat Menentang Doktrinisasi Pansus harus memahami konteks hukum dalam UU Desa ini. Pansus jangan berpolitik dan jangan melakukan doktrinisasi untuk memilih salah satu apalagi untuk mendaftarkan desa adat. Sebab banyak masalah yang akan muncul. Lebih baik Bali tidak memilih, biarkan Bali seperti sekarang

B

ali terjebak dalam dua pilihan. Kondisi inipun dimanfaatkan politisi untuk melakukan manuver. Strategi pedagang acung pun diterapkan. Aksi penggiringan dilakukan, namun suara penolakan tetap nyaring. Suara penolakan terhadap keharusan Bali memilih desa dinas atau desa adat terkait implementasi UU Desa terus mengemuka. Para advokat yang tergabung dalam Forum Liga Advokat Bali yang mendesak Pansus UU Desa DPRD Bali jangan mengarahkan memilih salah satu. Mereka berharap Bali tidak menentukan pilihan, melainkan kondisi yang terjadi saat ini agar dibiarkan. Desa dinas dan desa adat diharapkan dapat tetap eksis dan berdampingan secara harmonis. Aspirasi ini disampaikan Forum Liga Advokat Bali kepada Ketua Pansus UU Desa DPRD Bali. Anggota Forum Liga Advokat Bali yang juga mantan anggota DPRD Bali Nyoman Supartha menegaskan, pihaknya ingin memberi masukan kepada Pansus agar melihat permasalahan UU Desa ini secara objektif, tidak ada kepentingan pribadi atau kelompok serta agar bebas dari kepentingan politik. Terlebih, tugas Pansus bukanlah menentukan atau menetapkan Bali harus memilih desa dinas atau desa adat melainkan hanya menyaring dan menggali masukan dari berbagai komponen. Kemudian hasilnya diserahkan kepada kabupaten/kota yang mempunyai

16

kewenangan untuk menetapkan apakah desa adat atau desa dinas ataupun malah menetapkan keduanya. Untuk itu, Forum Liga Advokat Bali meminta Pansus tidak melakukan doktrinisasi agar memilih desa adat. Pansus jangan seperti pedagang acung yang menawarkan ini barang jelek ini barang bagus. “Pansus harus memahami konteks hukum dalam UU Desa ini. Pansus jangan berpolitik dan jangan melakukan doktrinisasi untuk memilih salah satu apalagi untuk mendaftarkan desa adat. Sebab banyak masalah yang akan muncul. Lebih baik Bali tidak memilih dan biarkan saja seperti sekarang,” tegas Supartha yang mantan anggota Komisi I DPRD Bali itu. Dari aspek hukum, Supartha berpandangan UU Desa ini tidak mengharuskan untuk memilih antara desa dinas atau desa adat. Ia mengutip pasal 6 dalam UU Desa ini yang mana ayat satu berbunyi “Desa terdiri atas Desa dan Desa Adat”. Sementara ayat dua berbunyi “Penyebutan Desa atau Desa Adat sebagaimana dimaksud ayat (1) disesuaikan dengan penyebutan yang berlaku di daerah setempat”. Bagi Bali, kata Supartha, pasal tersebut tidak ada masalah. Sebab, makna pasal ini mengatur status desa seperti keadaan sekarang, yaitu ada desa dinas dan desa adat atau desa pakraman yang sama-sama mempunyai status hukum, tetapi berbeda kewenangan. Namun, penjelasan Pasal 6 memang memicu perdebatan dan penafsiran bahwa

Bali harus memilih salah satu. Dimana disebutkan “Ketentuan ini untuk mencegah terjadinya tumpang tindih wilayah, kewenangan, duplikasi kelembagaan antara Desa dan Desa Adat dalam satu wilayah, maka dalam satu wilayah hanya terdapat Desa atau Desa Adat. Untuk yang sudah terjadi tumpang tindih antara Desa dan Desa Adat dalam satu wilayah, maka harus dipilih salah satu jenis Desa sesuai ketentuan Undang-Undang ini. Koordinator Forum Liga Advokat Bali Gede Indria menambahkan, ketentuan Pasal 116 ayat 3 yang menentukan batas terakhir untuk menentukan pilihan tersebut adalah 15 Januari 2015 tidak mengandung konsekuensi sanksi hukum jika Bali tidak menentukan pilihan hingga batas waktu tersebut. Ketua Pansus UU Desa DPRD Bali Nyoman Parta ternyata mengabaikan aspirasi ini. Ia tetap ngotot Bali harus memilih. Saat konsultasi Pansus ke Kemengdagri juga ditegaskan agar Bali memilih salah satu jenis desa guna mencegah tumpang tindih. “Kalau tidak memilih maka akan terjadi tumpang tindih,” tandasnya. Dari hasil konsultasi itu, ia memaparkan berapapun jumlah penetapan desa dinas atau desa adat untuk pertama kali sebelum 15 Januari akan diterima dan mendapat kode desa serta tidak harus mengikuti syarat mengenai desa misalnya menyangkut jumlah penduduk dan luas wilayah. Namun, jika pendaftarannya melewati batas waktu maka akan berlaku syarat dalam UU Desa ini. Widana

12 - 18 Januari 2015

16


MBP/bagiarta

Dermaga Gunaksa yang telah menelan dana ratusan miliar rupiah hanya melahirkan belasan koruptor. Sampai saat ini tak kunjung bisa dioperasikan.

Ada KPK di Dermaga Gunaksa EPISODE korupsi di Dermaga Gunaksa, Klungkung terus bergulir. Dalam kasus ini tidak ada yang berani mengintervensi penyidik Kejari Klungkung. Pihak-pihak yang merasa punya kuasa harus berpikir berulang kali untuk melakukan bargaining atau tawar-menawar kasus. Risikonya fatal. Bisabiasa berurusan dengan Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK). Fakta ini pun terungkap menjelang akhir tahun 2014. Kajari Klungkung Totok Bambang Sapto Dwijo secara gamblang

mengungkap adanya peran KPK dalam membantu menangani kasus ini. ‘’Di balik keberhasilan Kejari Klungkung mengungkap kasus dugaan korupsi pengadaan tanah Dermaga Gunaksa, tidak terlepas dari campur tangan Komisi Pemberantasan Korupsi,’’ ujarnya. Kajari mengaku sering meminta petunjuk langsung ke kantor KPK. Bahkan, beberapa tenaga ahli diperbantukan khusus oleh KPK membantu menangani kasus Dermaga Gunaksa. Tenaga ahli KPK itu dibiayai langsung oleh KPK. “Saya sempat datang ke KPK untuk ekspose. Saya sampaikan segala kesulitan dan kendala di lapangan,” katanya. Selain itu, ia mengungkapkan campur tangan KPK dalam penanganan kasus ini juga membuat Kejari Klungkung sulit diintervensi pihak manapun, sebagaimana yang biasa terjadi dalam penanganan kasus dugaan korupsi di daerah saat ini. Campur tangan KPK, membuat pihakpihak terkait harus berpikir berulang kali untuk melakukan bargaining atau tawarmenawar kasus. Sehingga, penegakan hukum kasus ini benar-benar berjalan seperti seharusnya. Selama proses di lapangan, pihaknya juga terus dipantau oleh pihak KPK dan selalu siap membantu jika menTotok

galami kesulitan. Kuantitas dan kualitas penanganan kasus Dermaga Gunaksa dan kasus dugaan korupsi lainnya dari Klungkung tahun lalu juga berkontribusi paling besar atas keberhasilan Bali menduduki peringkat tiga nasional dalam capaian pemberantasan korupsi di Indonesia tahun lalu. Namun, dengan capaian itu Totok menegaskan penanganan kasus Dermaga Gunaksa dari institusi kejaksaan belum usai. Sebab, masih tercium bau busuk dugaan korupsi pembangunan fisiknya yang belum tuntas. Kasi Intel Suhadi menambahkan penanganan kasus Dermaga Gunaksa dan kasuskasus lainnya di Klungkung diharapkan bisa memberikan efek jera. Sebab pihaknya sangat menyadari virus korupsi khususnya di Bali, sudah terlanjur mengakar dan harus benar-benar diperangi dengan penanganan serius. Penanganan kasus Dermaga Gunaksa juga bisa menjadi contoh bagi kejaksaan dan institusi penegakan hukum lainnya di Bali, agar bermental baja. Berani mengungkap kasus-kasus besar yang melibatkan pejabat, sebagai bagian dari semangat revolusi mental penegakan hukum. “Semoga tidak ada lagi Candra yang lain. Kami tentu berharap penanganan ini menjadi titik balik semangat pemberantasan korupsi di Bali, khususnya di Klungkung,” tegasnya. Bagiarta 12 - 18 Januari 2015

17

17


PENDIDIKAN

Sejumlah sekolah harus mengganti Kurikulum 2013 yang sudah diterapkan untuk kembali ke Kurikulum 2006. MBP/dok

Kembali ke Kurikulum 2006, Sekolah Belum Siap

M

ulai semester genap tahun pelajaran 2014/2015 ini, sejumlah sekolah harus mengganti Kurikulum 2013 yang sudah diterapkan untuk kembali ke Kurikulum 2006. Perbedaan antara kedua kurikulum tersebut membuat sejumlah sekolah harus merombak materi pembelajaran termasuk jam pelajaran. Hal ini membuat banyak sekolah menjadi tidak siap untuk melaksanakan pembelajaran secara optimal pada awal semester genap tersebut. Sejumlah sekolah yang harus kembali menerapkan Kurikulum 2006 mengaku belum siap untuk menerapkan kurikulum tersebut. Pihak sekolah harus berkemas kembali untuk pembelajaran menggunakan kurikulum awal tersebut. ”Seharusnya awal semester genap ini sudah menggunakan Kurikulum 2006, tapi kami harus rapat dulu untuk berkemas dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum 2006,” ujar sejumlah kepala sekolah yang ada

18

12- 18 Januari 2015

di Karangasem. Perubahan kurikulum membuat sekolah harus merombak sistem pendidikan. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Karangasem I Gede Ariyasa mengungkapkan, hanya 15 sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013 pada semester genap ini. Sedangkan sekolah lainnya harus kembali menerapkan Kurikulum 2006. ”Sekarang hanya 15 sekolah saja yang menerapkan Kurikulum 2013 sebagai pilot project. Sebelumnya, semua sekolah yang ada di Karangasem sudah menerapkan Kurikulum 2013,” kata Ariyasa. Perbedaan tujuan, komponen dan proses pada kedua kurikulum tersebut membuat sejumlah sekolah tidak bisa langsung kembali ke Kurikulum 2006. Menurut Ariyasa, struktur sejumlah mata pelajaran mengalami perbedaan sehingga harus dipersiapkan matang sebelum diterapkan. Kendati begitu, Ariyasa menegaskan pengembalian ke Kurikulum 2006

hanya bersifat sementara. Sesuai dengan surat edaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tentang pelaksanaan Kurikulum 2013, seluruh sekolah harus kembali menerapkan Kurikulum 2013 paling lambat 2019/2020. ”Meski harus kembali ke Kurikulum 2006, sesuai dengan surat edaran seluruh sekolah harus kembali menerapkan Kurikulum 2013 paling lambat 2019/2020,” ujarnya. Di sisi lain, terkait dengan buku pegangan guru dan siswa Kurikulum 2013 edisi semester genap sudah terlanjur dibagikan ke seluruh sekolah yang ada di Karangasem. Menurut Ariyasa, buku tersebut hanya bisa digunakan pada sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013. Sedangkan sekolah yang tidak menerapkannya diharapkan dapat menyimpan buku tersebut sebagai referensi, nengingat pengembalian ke Kurikulum 2006 hanya bersifat sementara. Dedy Farendra


Hapus Budaya Korupsi, Tanamkan Budi Pekerti UPAYA pencegahan budaya korupsi dengan cara membuat kurikulum pendidikan antikorupsi dari jenjang sekolah dasar hingga tingkat menengah atas dituding tidak tepat dilakukan. Bahkan, kebijakan itu justru dikhawatirkan akan menambah banyak kurikulum yang telah ada. Bagi Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Tabanan Wayan Madra Suartana, upaya yang tepat adalah siswa sebaiknya lebih ditanamkan kepada pendidikan budi pekerti dan moral sejak dini. ”Pendidikan budi pekerti dan moral justru akan lebih bisa menanamkan sikap jujur para siswa, ketimbang harus membuat kurikulum pendidikan antikorupsi,” ujar Madra Suartana, belum lama ini. Dengan adanya kurikulum pendidikan antikorupsi, kata dia, artinya sama saja menjadikan korupsi sebagai kejahatan tunggal. Padahal, korupsi bukan satusatunya kejahatan yang ada melainkan masih ada kejahatan lainnya. Ditegaskan, fenomena yang terkadang masih kerap terlihat yakni masih ada saja orang tua

yang secara tidak langsung mengajarkan kepada anak mereka tentang praktik korupsi seperti suap atau menyogok ketika memasukkan anaknya ke sekolah favorit. ”Tak dipungkiri, terkadang masih ada saja sogok menyogok, meski tidak semuanya. Dan ini terjadi di lembaga pendidikan. Bagaimana menerapkan kurikulum pendidikan antikorupsi, jika praktik sogok menyogok masih kerap ada,” katanya mengkritisi. Terkait perlu tidaknya pendidikan antikorupsi, Madra Suartana kembali menegaskan, dirinya lebih setuju jika yang lebih ditekankan kepada para siswa adalah pendidikan budi pekerti dan moral saja yang telah menyangkut seluruh aspek kehidupan. ”Pendidikan antikorupsi tidak hanya lewat kurikulum melainkan bagaimana penyelenggara negara seperti pemerintah bisa memberi contoh pada para generasi muda saat ini yang baik untuk tidak melakukan korupsi. Kalau pemerintah saja masih doyan korupsi, pasti akan sulit menghapus budaya ini,”

tegasnya. Selama budaya korupsi masih melekat dalam penyelenggaraan negara, kata dia, secara tidak langsung akan terus menumbuhkan generasi yang korup. ”Jika memang budaya korup ini benar-benar hilang, maka penyelenggara negara atau birokrasi harus mulai menghilangkan kultur itu terlebih dahulu,” ujarnya. Hal berbeda justru disampaikan Ketua KNPI Tabanan Dewa Gede Ary Wirawan. Menurutnya, berbagai cara mencegah dan memerangi korupsi ini memang harus terus diupayakan, termasuk menggunakan institusi pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi. Untuk itu, strategi yang umumnya dipilih dengan mengintervensi secara tidak langsung proses belajarmengajar melalui penerapan kurikulum antikorupsi. Pasalnya, institusi pendidikan diyakini sebagai tempat terbaik untuk menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai antikorupsi. Dewi puspa

MBP/dok

Penanaman pendidikan budi pekerti dan moral sejak dini kepada siswa dinilai efektif untuk menghapus budaya korupsi. 12- 18 Januari 2015

19


MANCANEGARA

Alcatraz, Penjara Penuh Misteri

A

lcatraz adalah nama pulau yang menjadi lokasi oleh salah satu penjara paling terkenal di dunia. Terletak di San Francisco Bay, AS, Alcatraz adalah salah satu dari tiga pulau yang ditemukan oleh penjelajah Spanyol, Juan Manuel de Ayala, pada tahun 1775. Kata “alcatraz” berarti “pelican” dalam bahasa Spanyol. Sebelum digunakan sebagai penjara, pulau itu digunakan sebagai instalasi militer. Pada tahun 1850-an, Alcatraz mulai difungsikan sebagai penjara bagi tahanan militer. Hal ini berlanjut sampai tahun 1933 ketika pengelolaan Alcatraz diserahkan kepada Departemen Kehakiman AS. Alcatraz merupakan penjara dengan keamanan maksimum dan dirancang untuk memenjarakan penjahat paling berbahaya dan penjahat kambuhan. Berbagai film telah dibuat menggunakan Alcatraz sebagai latar belakang, meskipun kebanyakan dari penggambaran film tidak benar-benar sesuai dengan realitas sebenarnya.

Alcatraz memiliki kapasitas menampung 336 tahanan, tetapi tidak pernah benarbenar terisi penuh. Penjara ini terkenal dengan sistem keamanan maksimum dengan pelanggaran HAM yang sangat parah. Di penjara ini diberlakukan rule of silence, yaitu suatu peraturan yang melarang para napinya saling berbicara. Banyak yang mengalami gangguan jiwa akibat peraturan kejam ini. Salah satunya adalah seorang terpidana perampok bank terkenal bernama Rufe Persful yang memotong jarinya karena

20

12- 18 Januari 2015

depresi karena aturan mengerikan ini. Selain itu, penjara ini benar-benar sukses menciptakan dunianya sendiri. Hal ini terbukti dengan terputusnya kontak dengan orang luar dan pengunjung hanya diperbolehkan dua kali sebulan. Para napi beristirahat di dalam sel yang hanya seluas bentangan tangan, yang bisa menyentuh sisi kanan dan kiri dinding dengan fasilitas tempat tidur, tempat cuci tangan, dan toilet. Untuk napi yang sering membuat keonaran, akan dimasukkan ke dalam lubang blok D. Blok D terdiri dari 4 sel kecil tanpa lampu dan jendela, hanya ada sebuah lubang tempat buang hajat. Banyak tahanan yang gila, sakit bahkan mati di sana. Bos mafia yang ternama tahun 1920an, Al Capone, pernah mencoba kabur dan dimasukkan ke lubang tiga kali. Tahanan lainnya yaitu Rufus McCain dikurung di dalam lubang 14D selama tiga tahun dua

bulan karena mencoba kabur tahun 1939. Alcatraz dirancang dengan sistem keamanan tingkat tinggi dengan kemungkinan lolos sangat kecil sekali. Para napi yang mencoba kabur ada yang tertembak, tenggelam atau ditangkap kembali dan disiksa di dalam lubang. Sedikit kemungkinan para napi berhasil lolos dari Alcatraz dengan berenang, mengingat suhu air yang dingin dan arus yang kuat, bahkan perenang handal sekalipun tidak akan berhasil. Penjara Alcatraz telah ditutup untuk selamanya pada tahun 1963 karena biaya perawatan yang mahal dan polusi sampah. Kini, penjara tersebut diambil alih oleh Dinas Pertamanan Nasional dan merupakan tempat wisata angker favorit para turis. Berbagai penampakan terjadi setelah tempat ini ditutup. Dilaporkan dari mantan penjaga, mantan tahanan, pemandu wisata dan pengunjung bahwa sering terdengar suara


Gorbachev, Pemimpin Terakhir Uni Soviet

pintu intu logam yang menutup sendiri ada malam hari, suara laki-laki, pada ulan, jeritan, suara kaki berlari siulan, dii sepanjang koridor, bahkan suara musik banjo juga pernah dilaporkan terdengar rdengar dari ruang mandi, dimana Al Capone sering memainkannya saat aat menyendiri. Apakah Anda berminat erminat untuk mencoba? Gugiek Savindra

SIAPA yang tidak kenal dengan Mikhail Gorbachev? Pria ini lahir pada tanggal 2 Maret 1931 di Krai Stavropol. Dia berasal dari keluarga Ukraina-Rusia. Dia tinggal bersama keluarganya di sebuah desa kecil tempat ayahnya bekerja sebagai montir pertanian. Pada awal 14 tahun, ia mulai bekerja sebagai asisten dalam menggabungkan pekerja panen. Dia adalah seorang anak pekerja keras saat itu dan berhasil memenangkan beberapa penghargaan. Pada tahun 1950, ia belajar di Moskow State University dan lulus dengan gelar di bidang hukum. Sejak sekolah, ia aktif bergabung Bagian Komunis Uni Soviet. Dia bertemu istrinya, Raisa Maximovna Titorenko di Universitas Moskow dan keduanya menikah pada tahun 1953. Pada tahun 1962, karir politik Gorbachev dimulai. Dia terpilih untuk memegang posisi di Stavropol Partai Komunis. Dia kemudian bertanggung jawab untuk mengurus orang dalam pertanian dan industri. Setelah empat tahun menjadi Sekretaris Jenderal, ia diangkat sebagai Presiden Eksekutif Uni Soviet oleh parlemen. Akibat terlibat perang dingin melawan Amerika dan sekutu-sekutunya di blok Barat dalam perebutan pengaruh ideologi dan politik global yang berkepanjangan, Uni Soviet pun mengalami kekalahan dalam hal ekonomi serta politik di dalam dan luar negeri. Untuk mengejar ketertinggalan itu, Gorbachev mengusulkan restrukturisasi negara melalui kebijakan Perestroika dan Glasnost, pada 6 Maret 1986. Kebijakan itu memperoleh sambutan hangat dari rakyat, tetapi dikecam oleh golongan ortodoks yang menilai tindakannya terlalu ekstrim. Perestroika adalah istilah Rusia untuk reformasi politik dan ekonomi. Perestroika berarti “restrukturisasi�, merujuk pada restrukturisasi ekonomi Soviet. Perestroika sering dianggap sebagai akibat jatuhnya komunis di Uni Soviet dan Eropa Timur, dan mengakhiri Perang Dingin. Glasnost adalah keterbukaan dalam semua sem bidang di dalam institusi pemerintahan Uni Soviet, termasuk kebebasan interm formasi. Kata “glasnost� digunakan pertama kali di Rusia p pada akhir 1850, juga menunjuk pada periode sejarah p yang menggambarkan kebebasan berinformasi selama b tahun 1980-an. Cita-cita Gorbachev untuk membangun negaranya mem itu ternyata justru menjadi bumerang. Akibat adanya bumer keterbukaan, partai komunis yan yang berkasa di Soviet kehilangan kontrol terhadap media. Kalangan pers me pun kemudian leluasa menyingkap menyingk berbagai borok pemerintah, termasuk korupsi dan d penyalahgunaan wewenang lainnya. Kebebasan dan keterbukaan keterbuka itu juga membuat rakyat Uni Soviet semakin berani menyusem arakan ketidak ketidakpuasan terhadap buruknya kondisi dalam negeri. k Keadaan Keada itu semakin parah akibat akib kian maraknya pertikaian antar etnis. pert Pada Pad akhirnya, upaya restrukturisasi itu memicu stru perpecahan di Uni Soperp viet, viet dan menjadikannya bubar bub secara resmi pada tanggal 26 Desember tang 1991. 199 Gugiek Savindra 12- 18 Januari 2015

21


DAERAH

Bangun Pariwisata

Bangli Dapat Suntikan

B

angli menjadi salah satu dari enam kabupaten yang rutin menerima bantuan penyisihan pajak hotel dan restoran (PHR) dari Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Tiap tahunnya, bantuan yang diterima Bangli melalui Pemerintah Provinsi Bali tersebut nilainya bervariasi dan terus mengalami peningkatan. Untuk tahun 2015 ini, Bangli kembali menerima penyisihan PHR dengan nilai mencapai Rp 22.828.806.000. Berdasarkan data yang dimiliki bagian keuangan Setda Bangli, nilai penyisihan PHR yang diterima Bangli tiap tahunnya bervariasi. Pada tahun anggaran 2014 kemarin, bantuan penyisihan PHR dari Kabupaten Badung dan Kota Denpasar yang diterima Kabupaten Bangli nilainya mencapai Rp 20.826.151.500,00. Jumlah tersebut meningkat dari bantuan penyisihan PHR yang diterima Bangli tahun 2013 sebelumnya, yakni sebanyak Rp 19.699.210.300,00. Sedangkan untuk tahun anggaran 2015 ini, bantuan penyisihan PHR yang diterima Bangli kembali meningkat dengan nominal mencapai Rp 22.828.806.000,00. Kepala Badan Perencanaan Pemban-

22

12- 18 Januari 2015

gunan Daerah (Bappeda) Bangli Ida Bagus Giri mengatakan bantuan berupa penyisihan PHR yang diterima Kabupaten Bangli selama ini sudah digunakan pemerintah sebagaimana peruntukannya. Yakni membangun fasilitas dan infrastruktur pariwisata. Adapun infrastruktur yang dibangun dengan dana penyisihan PHR tersebut salah satunya berupa jalan menuju objek-objek wisata, seperti yang ada di Trunyan, Kehen dan di kawasan Penelokan yang kewenangannya ada di luar pemerintah provinsi. Bahkan dari sekian objek wisata yang ada, Penelokan, kata Ida Bagus Giri mendapat prioritas perbaikan dengan dana penyisihan PHR tersebut. “Pada intinya dana yang diberikan tersebut harus digunakan untuk mendukung kegiatan pariwisata. Tidak boleh digunakan untuk belanja kegiatan lainnya,� terangnya. Mantan Sekwan ini lebih lanjut menjelaskan, bantuan penyisihan PHR yang diterima dari Kabupaten Badung dan Kota Denpasar tersebut merupakan bagian dari manajemen pariwisata di Bali. Dimana banyaknya wisatawan yang datang ke kedua wilayah tersebut tidak terlepas dari

dukungan objek-objek wisata yang ada di kabupaten-kabupaten lainnya, salah satunya Bangli. Dengan dana penyisihan PHR yang diberikan Kabupaten Badung dan Kota Denpasar tersebut, enam kabupaten lainnya yakni Bangli, Klungkung, Jembrana, Buleleng, Karangasem dan Tabanan secara tidak langsung diarahkan untuk memperbaiki sarana dan prasarana pariwisata yang ada, sehingga kunjungan wisatawan ke Bali dapat terus meningkat. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan itu secara tidak langsung nantinya akan berpengaruh juga terhadap perolehan pendapatan asli daerah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Ida Bagus Giri menambahkan, mengingat bantuan tersebut selama ini diberikan melalui Pemerintah Provinsi Bali, maka pertanggungjawaban Pemkab Bangli langsung ke Pemerintah Provinsi. Bukan ke Kabupaten Badung maupun Kota Denpasar. “Mengenai pertanggungjawabannya, karena dana itu diberikan melalui Pemprov, maka kabupaten langsung ke Pemprov,� terangnya. Swasrina


PHR Rp 22,8 Miliar Pariwisata Terancam MESKI setiap tahunnya Bangli selalu mendapat bantuan penyisihan PHR hingga Rp 20 miliar lebih, namun tak serta merta membuat pariwisata Bangli bebas dari persoalan. Penelokan, Kintamani sebagai ikon pariwisata di Bangli sejak beberapa tahun terakhir terus saja mendapat sorotan dari berbagai kalangan, baik pemerhati maupun para pelaku pariwisata. Bahkan banyak yang pesimis bahwa kejayaan pariwisata Kintamani akan kembali pulih sebagaimana yang pernah dirasakan saat era 90-an. Contoh sederhana saja, saat tahun baru ini jumlah penyeberangan ke Trunyan menurun. Bahkan pelaku pariwisata setempat mengatakan kunjungan ke Trunyan terus menurun dari tahun ke tahun. Seperti disampaikan ketua penyeberangan Dermaga Kedisan, Kintamani-Trunyan, I Nengah Dester, Kamis (1/1). Ia mengungkapkan, liburan tahun baru kali ini terasa sepi. Jumlah pengunjung turun hingga 20 persen. “Tiap tahun pengunjung yang menyeberang ke Trunyan mengalami penurunan hingga 20 persen,”

jelasnya. Adapun yang menjadi salah satu penyebab memudarnya citra pariwisata Penelokan-Kintamani adalah karena tumpahnya pedagang-pedagang yang semula berjualan di areal parkir museum gunung api ke kawasan Penelokan. Selain itu adanya truk angkutan galian C di kawasan wisata Kintamani juga membawa masalah tersendiri bagi kemajuan pariwisata. Terkait Penelokan, sebenarnya persoalan yang membuat kawasan ini semrawut muncul sejak tahun 2013 silam. Meski sudah berlangsung cukup lama, namun pemerintah Kabupaten Bangli sampai saat ini masih belum bisa berbuat banyak. Bahkan janji perubahan wajah Penelokan per awal Januari seiring dengan pemberlakuan kenaikan retribusi pariwisata sebesar 200 persen seperti yang dilontarkan Bupati pun nampaknya masih jauh dari harapan. Mengingat hingga saat ini belum menunjukkan adanya tanda-tanda perubahan, Wakil Ketua DPRD Bangli Nyoman Basma pun mengaku pesimis dengan janji pemerintah tersebut. Dirinya tidak yakin janji terse-

but bisa direalisasikan pemerintah mulai Januari ini. Hal itu mengingat sampai saat ini para pedagang yang sering disebut-sebut sebagai penyebab semrawutnya Kintamani tak kunjung disediakan tempat yang layak untuk berjualan. “Kalau itu memang janji pemerintah paling tidak para pedagang sudah mulai disediakan tempat. Kalau tidak dibangunkan pasar, saya pesimis persoalan itu bisa diselesaikan,” terangnya. Sementara itu terkait dengan penyisihan PHR yang selama ini diberikan melalui Pemerintah Provinsi Bali untuk Pemkab Bangli, Basma menilai jumlah tersebut masih belum cukup untuk membantu pembangunan fasilitas dan infrastuktur pariwisata Bangli. Basma pun berharap agar bantuan penyisihan PHR dari kabupaten lainnya tersebut bisa diberi lebih dari itu. “Merupakan suatu kewajiban bagi daerahdaerah penghasil pariwisata lainnya, agar memberi penyisihan lebih untuk Bangli. Terutama yang penghasilan sektor pariwisatanya lebih,” terangnya. Swasrina 12- 18 Januari 2015

23


K E S E H ATA N

Donor Darah

Rangsang Sumsum Tulang, Produksi Sel Darah Merah Baru

B

erbahagialah, sesungguhnya seseorang yang dapat mendonorkan darahnya setiap tiga bulan sekali. Selain secara kemanusiaan merupakan action mulia dalam kaitan kepedulian kepada sesame, keuntungan secara pribadi, implikasinya sangat baik untuk kesehatan diri. Paling tidak merangsang sumsum tulang lebih baik dalam hal memproduksi sel darah merah yang baru. Bisa jadi kegiatan donor darah dipandang sebagai kegiatan sepele saja. Kebanyakan orang tidak tahu arti dan makna sumbangan darahnya yang sangat bermanfaat untuk kemanusiaan. Barangkali masih banyak orang mendonorkan darahnya dengan terpaksa atau mungkin tidak tahu manfaat besar yang diperoleh sesorang ketika mendonorkan darahnya. Donor darah merupakan proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk disimpan di bank darah. Kemudian digunakan pada transfusi darah. Dari informasi yang dihimpun di UDD PMI Bali, dijelaskan ada banyak keuntungan yang didapat dari mendonorkan darah secara periodik tiga bulan sekali. Dari aktivitas itu, dapat merangsang sumsum tulang memproduksi sel darah merah baru. Dengan demikian membuat organ pembentuk darah berfungsi lebih efektif dan sel-sel aktif. Selain itu mendapat pemeriksaan secara gratis. Pasalnya, setiap kali hendak donor sudah pasti dilakukan pemeriksaan oleh dokter. Keuntungan lainnya menurunkan risiko penyakit jantung. Alasannya jumlah zat besi dalam darah lebih stabil. Juga mendapatkan kesehatan psikologis, karena merasakan kepuasan telah membantu orang yang membutuhkan. Di samping itu mendeteksi penyakit serius, karena setiap kantong darah yang akan ditransfusikan harus melalui pemeriksaan Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) dan apabila darah pendonor tidak lolos uji, ada pemberitahun kepada donor tersebut. Dari

24

12- 18 Januari 2015

beberapa sumber lain juga disebutkan lewat donor darah ini dapat membantu menurunkan berat badan, membantu membakar kalori, meningkatkan kapasitas paru-paru dan ginjal. Selain itu membantu sirkulasi darah, memaksimalkan darah dalam paru-paru, menurunkan zat seng dalam darah, mencegah penyakit langka, menghilangkan kaku di pundak. Namun, tidak sembarang orang bisa mendonorkan darahnya kepada orang lain. Pasalnya, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi seseorang pendonor. Ia harus dalam kondisi sehat, tidak minum obat atau jamu minimal tiga hari sebelum donor. Usia juga menjadi syarat penting dalam kaitan donor darah. Usia ideal antara 17 tahun – 60 tahun. Berat badan minimal 45 kg, kadar hemoglobin minimal 12,5 gr/dl, dan tekanan darah 110/70 – 160/100 mmHg. Seorang wanita yang sedang haid, hamil, menyusui tidak diperkenankan melakukan donor darah. Pasalnya, pada masa itu seorang wanita sedang banyak membutuhkan darah. Sebelum melakukan donor, pendonor juga harus mengisi dan menandatangani informed consent serta bersedia diberitahukan hasil screening darahnya (bila reaktif), dan

jarak pengambilan darah minimal 75 hari setelah sebelumnya donor. Masalahnya, sel darah baru terbentuk kembali secara sempurna setelah 75 hari atau tiga bulan. Temperatur tubuh juga harus terjaga. Baiknya saat melakukan donor temperatur tubuh antara 36,6-37,5 derajat celcius. Sesorang juga tidak mengalami gangguan pembekuan darah (hemoďŹ lia), denyut nadi antara 50-100 kali/menit. Untuk menjaga kesehatan dan keamanan darah, calon donor tidak pernah atau sedang menderita sakit seperti alkoholik, penyakit hepatitis, diabetes militus, epilepsi, atau kelompok masyarakat risiko tinggi mendapatkan AIDS serta mengalami sakit seperti demam atau inuenza. Selain itu seseorang yang baru saja dicabut giginya kurang dari tiga hari, pernah menerima transfusi kurang dari setahun. Begitu juga untuk yang belum setahun menato, menindik, atau akupuntur. Kegiatan mendonorkan darah ini dapat dilakukan secara perorangan atau rombongan di suatu tempat yang disepakati oleh PMI. Bisa juga dilakukan di UDD PMI Provinsi Bali atau mobile unit UDD PMI, serta bus donor dari PMI. Cittamaya


Darah ke Pasien Aman, Diuji dengan Makanisme Ketat DARAH yang didapat dari pendonor darah di UDD Provinsi Bali harus melalui proses ketat sebelum diterima pasien. Darah yang didapat dari pendonor, 95% bisa terpakai. Kasubag Produksi UDD PMI Bali dr. Chandra Indriasari, menjelaskan ada beberapa tahapan memastikan keamanan dan kualitas darah itu. Prosedurnya, darah yang didapat dari pendonor dilakukan pemisahan baik sel darah merah, sel darah putih, trombosit. Selanjutnya disimpan pada suhu masingmasing. Setelah itu dilakukan uji saring di laboratorium. Uji saring ini menggunakan metode ELISA. Sistem inilah dipergunakan pemeriksaan empat macam penyakit, yaitu Hepatitis B, Hepatitis C, Spilis, HIV. Pemeriksaan dilakukan sebanyak dua kali. Pada pemeriksaan kedua dilanjutkan pemeriksaan teknik NAT (Nucleic Acid Testing). Ini dilakukan untuk lebih mengamankan darah. Dengan uji NAT, dapat dideteksi penyakit yang belum terdeteksi pada metode

ELISA. Pemeriksaan dengan teknik NAT merupakan pemeriksaan asam nukleat, “Yang diperiksa DNA, RNA virus tersebut,” ujarnya Senin (13/10) lalu. Metode NAT juga dapat mendeteksi penyakit pada window period . Artinya virus yang telah masuk ke tubuh, namun antigen/ antibodinya belum terdeteksi. Nah, dengan cara NTA ini, dapat dideteksi dengan efektif. Contohnya, HIV yang virusnya baru bisa terdeteksi setelah enam bulan hingga satu tahun setelah masuk ke dalam tubuh. Dengan pemeriksaan NAT ini, virus dalam darah sudah bisa dideteksi lima hari setelah masuknya virus tersebut ke dalam tubuh seseorang. Dari pengalaman pemeriksaan darah di UDD PMI Provinai Bali, tercatat 95% darah pendonor bisa terpakai. Sedangkan 5% nya tidak lolos uji saring. ‘’Jika tidak lolos iya darah itu harus dimusnahkan,’’ ujar dr. Chandra. Dikatakan, darah yang didapat dari pendonor itu setelah diperiksa dengan proses

grafis: wawan

ekstra ketat sebelum diterima sang pasien. Setelah uji saring pun, darah dicrossmatch, dicocokkan kembali dengan darah pasien. Alasannya, bisa saja antigen tertentu pada darah pendonor atau antigen tertentu pada darah pasien tidak cocok. Selama ini kendala yang dihadapi pada UDD PMI misalnya terjadinya penyakit-penyakit tertentu. Seperti anemia hemolitik. Dijamin, UDD PMI Bali dapat mengantisipasi dengan mengubah sistemnya seperti menggunakan sistem hangat, hingga mengurangi antigen tersebut. Dengan prosedur ekstra itu, barulah darah itu aman diberikan ke pasien. Persolannya, ketidakcocokan darah bisa membahayakan pasien. Karena itu, UDD PMI sangat ketat dalam makanisme atau proses penyaringan darah itu. “Darah yang tidak cocok, tidak mungkin dikeluarkan untuk pasien. Pasti kita carikan darah yang cocok,” pungkas dr. Candra Indriasari. Cittamaya 12- 18 Januari 2015

25


LENSA


LESTARIKAN MANGROVE Foto ini merupakan salah satu pemenang Lomba Foto HUT ke-66 Bali Post. Foto yang mengambil tema “Lestarikan Mangrove” ini berhasil meraih Juara I. MBP/I Made Adi Dharmawan


OLAHRAGA

Atlet Berpotensi Tahun Ini

T

irai kkompetisi di segala ola olahraga telah dituseiring pergantian tup se tahun. 2015 tentunya tahun akan kembali ramai sejumlah event besar di semua cabang. langganan juara masih Para langgan

akan dominan, tapi jangan lupakan ambisi para atlet muda yang merasa sudah waktunya untuk menjulangkan prestasi dan karier setinggi langit. Berikut enam atlet muda yang punya potensi besar

Mikaela Shiffrin Usianya kurang setahun lagi untuk mencapai 20, tapi Mikaela Shiffrin sudah “menghipnotis” para penggemar dan atlet ski lainnya. Mikaela mengukir rekor atlet ski termuda yang meraih medali emas di nomor slalom, pada Olimpiade Sochi, Februari lalu. Atlet asal Amerika Serikat itu juga punya modal bagus untuk menjelang 2015 di mana dia sudah mengoleksi 11 kemenangan pada FIS World Cup sebelumnya.

Eugenie “Genie” Bouchard Rising star tenis asal Kanada ini sudah mulai memoles reputasinya tahun ini dengan mencapai final grand slam pertamanya di Wimbledon. Sayang-

nya, capaian Genie tak sempurna lantaran dikalahkan Petra Kvitová. Namun hebatnya, petenis berusia 20 tahun itu sudah bisa menembus peringkat tu-

Jordan Spieth Amerika Serikat takkan pernah kehabisan talenta muda di arena golf. Tiger Woods dipastikan punya penerus, di mana Jordan Spieth mampu memukau publik golf internasional pada debutnya di Ryder Cup. Pegolf berusia 21 tahun itu mencetak 2,5 poin dari nilai empat sebagai angka tertinggi.

28

12 - 18 Januari 2015

juh dunia. Gelar WTA pertamanya juga baru direngkuh tahun ini, tepatnya di WTA Nürnberg.

menghasilkan kejutan dan tak mustahil membawa dampak perubahan di olahraga masingmasing.


Steven Smith Usia Steven Smith yang sudah menginjak 25 tahun dianggap matang untuk memimpin tim Australia pada Piala Dunia kriket 2015 mendatang. Smith sebagai

batsman di tim dipercaya menggantikan peran Michael Clarke yang cedera sebagai kapten.

Brodie Retallick IRB Player of the Year. Gelar yang setara dengan Ballon d’Or dalam sepakbola ini sukses diraih Brodie Retallick, seiring tim All Black – Selandia Baru, mencetak hattrick Rugby Championship tahun ini. Skill-nya dengan bola tak hanya efektif tapi juga memukau banyak pengamat. Atlet berusia 23 tahun itu pula yang punya peran pu ya pe a kunci u c buat buat All Black k mempertahmemper errtaahankan Dunia anka an kann trofi tro Piala Pia iala la D unnia rrugbi ru gbi di gb d IInggris. ngggr gris i.

Odell Beckham Jr. Bukan, nama di atas bukan putra dari legenda sepakbola Inggris, David Beckham. Odell Cornelious Beckham Jr. merupakan atlet NFL yang namanya mencuat dari sensasi YouTube. Meski baru bermain di 12 laga, wide receiver berusia 22 tahun itu sudah terbilang memberi dampak besar buat New York Giants, terlebih setelah berhasil menemukan “chemistry” yang tepat dengan quarterback veteran, Eli Manning. Gugiek Savindra 12 1 2 - 18 Januari 2015

29


OLAHRAGA

I Wayan Gede Bima Prasetya

Berlanjut ke Porprov Bali MAMPU meraih medali emas cabang olahraga (cabor) judo bagi kontingen Bali pada PON Remaja I/2014, Surabaya, Jawa Timur, 9-15 Desember lalu, tidak bisa dilupakan oleh I Wayan Gede Bima Prasetya. Akan tetapi prestasi itu bukan akhir dari segalanya. Hasil tersebut merupakan awal dari perjuangannya untuk menjadi yang lebih baik lagi ke depannya. Medali emas berikut yang diincarnya adalah pada Porprov Bali 2015 di Buleleng. Ia bertekad mengulang keberhasilannya di Surabaya. ”Saya ingin menyumbang emas untuk Denpasar di Porprov. Saya berharap bisa mengulang kembali kesuksesan di PON Remaja,’’ ungkap Bima di Denpasar pekan lalu. Untuk mengulang prestasi itu tidaklah mudah buat anak pertama pasangan I Ketut Agastya Suryana dan Ni Ketut Sudiarti ini. Ia harus berjuang lebih keras dan tampil lebih baik lagi karena lawannya adalah para pejudo senior. Berbeda dengan di PON Remaja di mana pesaingnya semuanya atlet berusia di bawah 17 tahun. Siswa SMPN 2 Denpasar ini menilai pejudo yang berlaga di Porprov semuanya tangguh. Namun, pesaing terberatnya bakal datang dari Kabupaten Bangli. ‘’Sebagian besar senior saya berasal dari Bangli dan semuanya ikut bertanding di Buleleng. Itu akan menjadi tantangan tersendiri bagi setelah merebut emas di PON Remaja,” tegas Bima. Selama menggeluti judo, Bima Prasetya sudah mendulang prestasi di ajang tingkat daerah dan nasional. Dia menyabet medali perak pada kejuaraan Bali Open Judo Championsip 2014 di Denpasar dan Kejurnas KU-13 di Jakarta. Medali emas disumbangkan pemuda kelahiran Denpasar, 8 Mei 2000 ini pada Pra-PON di Ciloto, Jawa Barat. MBP/nan

30

12 - 18 Januari 2015

Eka Parananda


Pemain Bola Bali Menanti ISL KEHADIRAN Bali United Pusam (BUP) memberikan angin segar bagi perkembangan sepak bola di Pulau Dewata. Bermarkasnya klub asal Samarinda, Kalimantan Timur, itu di Stadion Wayan Dipta, Gianyar, membuka peluang bertambahnya pemain lokal Bali yang akan berlaga di Indonesia Super League (ISL) 2015. Musim lalu hanya I Made Wirawan (Persib Bandung), Gede Sukadana, Kadek Wardana (Arema Cronus Malang), AA Wahyu Trisnajaya alias Nanak (Persija Jakarta, kini Sriwijaya FC), dan Ngurah Arya (Persiba Balikpapan) yang berkiprah di kompetisi tertinggi di Tanah Air. Kini, dengan datangnya BUP, bakal semakin banyak lagi pesepak bola dari kota dan kabupaten-kabupaten se-Bali yang merasakan glamornya ISL. Harapan itu menguak menyusul lolosnya delapan pemain Bali dalam seleksi tahap awal pelatih BUP Indra Sjafri di Lapangan Banteng, Seminyak, Kuta, Badung, yang berakhir Minggu (28/12) lalu. Akan tetapi mereka masih harus menantikan hasil seleksi berikutnya di Yogyakarta, 2-9 Januari 2015. Para pemain tersebut adalah I Nengah Sulendra, Agus Setiawan, Asep Triwahono, Agus Kayun Dwipayana (mantan Perseden), Adi Parwa, I Nyoman Sukarja (PS Badung), Anggo Julian (Pelita Bandung Raya), dan Ketut Mahendara (PSM Makassar). Mereka sangat berharap bisa melewati penjaringan tahap kedua. Obsesi Sulendra dan kawan-kawan sejalan dengan pencinta sepak bola di Bali yang ingin menyaksikan lebih banyak lagi pemain Bali yang merumput di ISL. �Semoga pada seleksi lanjutan di Yogyakarta, ada pemain Perseden yang bisa bergabung bersama Bali United Pusam dalam mengarungi kompetisi tertinggi di Indonesia,’’ kata mantan Bendahara Perseden Denpasar Nyoman Merta pekan lalu. Dukungan juga diberikan pengurus Persatuan Sepak Bola (PS) Badung di bawah Ketua Umum Dewa Putu Manik yang tidak melarang pemainnya mengikuti seleksi di BUP. Mereka mempersilakan kar-

ena merupakan hak setiap pemain untuk mengembangkan kariernya di klub dan kasta sepak bola lebih tinggi. Padahal, PS Badung akan berjuang di kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia mulai musim depan, sehingga juga membutuhkan pemain-pemain terbaik untuk memperkuat tim. Kesempatan pemain Bali membela BUP cukup besar, karena memang dibutuhkan

oleh pelatih Indra Sjafri. Sebagai tim yang bermarkas di Gianyar, jelas BUP memerlukan pemain lokal untuk menarik dukungan penonton. Ingat, bagaimana fanatiknya pencinta sepak bola di Pulau Seribu Pura ini terhadap klub Caprina dan Gelora Dewata dulu. Itu karena kedua tim tersebut diperkuat sejumlah pemain lokal. Mawa


A KT I V I TA S

MBP/ist MBP/ist

NGATURANG SUKSMA – Pemucuk Prawartaka Karya I Made Sukarta (kiri) bersama Ketua Penggalian Dana I Ketut Alit Anom, S.E., (kanan) mengucapkan terima kasih kepada atas dukungan dan partisipasi selama pembangunan dan Karya Agung di Pura Luhur Pucak Bukit Rangda. Ribuan umat Hindu dan pemedek dari berbagai penjuru Bali dan luar Bali ikut ngaturang ayah saat Puncak Karya Agung di Pura Kahyangan Luhur Pucak Bukit Rangda, Desa Langlanglinggah, Selemadeg Barat Tabanan. Upacara ini digelar sebagai upaya mendorong partisipasi masyarakat dan umat Hindu di Bali maupun luar Bali untuk membantu pelaksanaan pemugaran bangunan Pura yang dijadikan umat untuk memohon keselamatan dan kesembuhan berbagai penyakit ini.

MBP/ist

PENGHARGAAN - The Blanco Renaissance Museum atau yang lebih dikenal dengan Don Antonio Blanco Museum, mendapatkan penghargaan bergengsi. Antara lain Bali Best Brand and Bali International Customer Satisfaction Award (BBB-BICSA) 2014 dan Traveler’s Choice Attraction Award 2014. The Blanco Renaissance Museum adalah salah satu objek wisata bersejarah dan unik di kawasan Campuhan, Ubud, Bali. Museum ini dibangun oleh seorang pelukis legendaris keturunan Spanyol-Amerika, Don Antonio Blanco. Nampak dalam foto Mario Blanco menunjukkan penghargaan yang diterima Blanco Museum.

32

12 - 18 Januari 2015

STRATEGIS - Menutup tahun 2014, Grup Hardys Holdings telah mampu melakukan langkah-langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan bisnis melalui tranformasi baik di sektor permodalan maupun sumber daya manusia. Selain mengambil langkah penting dalam mendukung pertumbuhan bisnis di sektor properti residensial melalui HardysLand, penguatan sistem dan alur kerja mengacu pada kepatuhan pada prosedur dilakukan di Holdings Company dengan memperkuat dan meningkatkan peran Internal Auditor. Demikian dikemukakan Ir. Gede Agus Hardyawan, Presiden Direktur sekaligus founder Grup Hardys Holdings yang akrab disapa Gede Hardy didampingi Ketut Rukmini Hardy, S.P., selaku Komisaris Utama seusai memimpin rapat koordinasi direksi dan pimpinan perusahaan Grup Hardys Holding.

DIANULIR - Pemecatan Dewa Made Widyasa Nida sebagai Ketua DPD II Golkar Klungkung oleh DPD I Golkar Provinsi Bali dianulir DPP Partai Golkar hasil Munas IX Ancol Jakarta. DPP Partai Golkar memerintahkan jabatan Dewa Nida sebagai Ketua DPD II Golkar Klungkung supaya dikembalikan. DPP Golkar juga me-warning Golkar Bali supaya tidak main pecat karena itu tindakan memecah belah partai. DPP Golkar telah menyurati DPD I Golkar Bali untuk mengembalikan jabatan Dewa Nida sebagai Ketua DPD II Golkar Klungkung. Sebelumnya Surat DPD Golkar Bali Nomor B-216/Golkarda/ XXII/2014 memberhentikan Dewa Nida sebagai Ketua Golkar Klungkung melalui rapat di DPD I Golkar Bali pada Minggu (8/12) lalu.

MBP/ist


MBP/ist MBP/ist

OPEN HOUSE - Sudah menjadi tradisi setiap HUT, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unwar menggelar open house. Serangkaian HUT ke-6 FKIK Unwar menggelar open house 2015 pada Sabtu (17/1). I Gede Catur Wira Natanagara selaku Ketua Panitia Open House 2015, Minggu (29/12) mengungkapkan open house ini terbuka dan gratis bagi siswa SLTA di Bali dan masyarakat umum yang ingin berkuliah di FKIK Unwar. Open house diselenggarakan pada Sabtu, 17 Januari 2015 yang dimulai pukul 09.30 Wita hingga selesai. Saat itu juga diisi dengan berbagai acara seperti talk show, diskusi panel, tour keliling kampus.

WORKSHOP - Dalam rangka menciptakan kinerja terukur dan terarah, seluruh karyawan dan karyawati PDAM Tirta Mangutama Badung mengikuti workshop Key Perpormance Indicator (KPI) di Kantor Perwakilan BPKP Bali, Senin (29/12) lalu. Acara ini dibuka Kepala BPKP Provinsi Bali Didik Krisdyanto didampingi Ketua Dewan Pengawas PDAM Badung yang juga Sekkab Badung Kompyang R. Swandika serta Dirut PDAM Tirta Mangutama Made Subarga Yasa, S.E., M.M. Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Bali Didik Krisdyanto saat pembukaan mengatakan eksistensi KPI menjadi suatu yang harus diperhatikan dan harus dipenuhi keberadaannya.

MBP/ist

MBP/ist

PESTA RAKYAT - Setelah sukses dalam gelaran green opening POP!Hotel Hardys Singaraja Square dan aksi sosial Beach Clean Up di pantai bekas Pelabuhan Buleleng dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Banyuning, pada Rabu (31/12), Grup Hardys Holding mempersembahkan gelaran pesta rakyat kepada masyarakat Buleleng melalui event Hardys Pesta Rakyat bertempat di Panggung terbuka Pantai Eks. Pelabuhan Buleleng (Dekat POP! Hotels Hardys Singaraja Square). Acara ini merupakan Roadshow ke-3 penyelenggaraan Event Hardys Pesta Rakyat setelah di Kabupaten Jembrana dan Gianyar, sekaligus melaksanakan Pengundian Poin Hardys Club Card (HCC) Periode VIII dan perayaan semarak tahun baru 2015 bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Buleleng.

CSR - PLN Distribusi Bali selain berfokus pada peningkatan pelayanan dalam menyediakan dan menyalurkan energi listrik yang berkualitas, juga berupaya membangun kesepahaman dengan seluruh stakeholder penunjang proses bisnisnya. Hal ini bisa dilihat dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan. Menurut Humas PLN Bali, Wayan Redika, Selasa (30/12), PLN berpartisi dalam pemberdayaan masyarakat, sosial dan kebudayaan di Bali. Ia mengatakan pada 2014, PLN Bali telah menyerahkan CSR sejumlah Rp 814 juta melalui berbagai program antara lain, bedah rumah, bantuan renovasi tempat ibadah, taman bacaan masyarakat, perpustakaan desa, dan kesehatan masyarakat. Nampak dalam foto penyerahan beasiswa di Manistutu, Jembrana, oleh Manajer PLN Bali Utara, Ramaedi. 12 - 18 Januari 2015

33


A KT I V I TA S

MBP/ist

MBP/ist

SILATURAHMI - Puluhan lanjut usia (lansia-red) yang menghuni Panti Werdha Jara Mara Pati di Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar tampak sumringah. Mereka berkumpul di aula panti setempat untuk mengikuti kunjungan silaturahmi dari karyawan, karyawati PT Indonesia Power (IP) Unit PLTG Pemaron, Kecamatan Buleleng Selasa (30/12). Rombongan manajemen PT Indonesia Power dipimpin langsung Manajer PT Indonesia Power PLTG Pemaron I Nyoman Purwakanta didampingi Supervisor Senior (SPS) Umum Putu Suartha dan pengelola panti I Wayan Wijaksa. Nampak dalam foto Purwakanta bertatap muka dengan para lansia yang menghuni Panti Werdha Jara Mara Pati, Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar.

PERINGATAN - Pada 31 Desember 2009 tepatnya Rahina Kapat Wraspati Pon Wuku Uye Tahun Isaka Warsa 1931, telah turun gelar Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX bertempat di Pura Agung Besakih yang diupasaksi oleh Sulinggih Siwa Budha dari tanah Jawa yang disaksikan oleh ribuan umat Siwa Budha dari seluruh Indonesia. Terkait dengan hal itu, telah dilaksanakan rangkaian Upacara Peringatan Jumenengan Raja (Ngadeg Ratu). Nampak dalam foto Ida Bhagawan Istri Wira Kerti Tegeh Kori saat upacara memerciki Tirta Suci kepada Abhiseka Raja Majapahit Bali XIX di Kereta Kencana Kyai Dalem Basuki Amangkunegara di Istana Mancawarna Tampaksiring.

MBP/ist

PROPERTY EXPO - DPD REI Bali menggelar pameran property atau property expo 2014. Pameran yang dipusatkan di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Kuta menampilkan beragam produk perumahan dari 20 perusahaan anggota REI Bali. Sebanyak 20 pengembang dan satu perbankan ikut ambil bagian dalam property expo 2014 yang digelar DPD REI Bali. Pameran yang dipusatkan di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di daerah Kuta tersebut menurut keterangan Ketua Panitia Expo Made Sudana Yasa, menampilkan beragam produk perumahan yang sangat variatif dengan harga kompetitif. Project perumahan yang ditampilkan dalam expo tersebut tersebar hampir di seluruh kabupaten di Bali.

34

12 - 18 Januari 2015

MBP/ist

REKTOR - Pemilihan calon rektor Unwar patut ditiru. Prof. Dewa Putu Widjana dipilih sebagai calon rektor secara musyawarah mufakat, pada rapat senat, Selasa (30/12). Dia akan menggantikan Prof. I Made Sukarsa untuk masa jabatan lima tahun ke depan. Sebanyak 29 anggota senat secara musyawarah menyetujui Dekan FKIK Unwar ini menjadi Rektor Unwar. Saat itu Dewa Widjana merupakan calon tunggal. Namun sejumlah kalangan menilai karena kuatnya posisi Dewa Widjana tak ada guru besar di Unwar yang mau mencalonkan diri. Nampak dalam foto Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Prov. Bali, Dr. A.A. Gede Oka Wisnumurti bersama Prof. Made Sukarsa saat Pilrek Unwar.


MBP/ist

GCG - Sepanjang 2014, Bank Sinar terus berupaya menjaga dan memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG). Penerapan GCG yang dilakukan melibatkan semua lapisan karyawan baik di lapangan, direksi hingga kalangan komisaris. Direktur Utama Bank Sinar I Wayan Sukarta Dharmawan di Renon, Senin (29/12) mengatakan, bank terus menjaga GCG terutama di tengah pengetatan likuiditas saat ini. GCG penting dalam industri perbankan mengingat risiko dan tantangan yang dihadapi industri perbankan semakin meningkat, khususnya 2015 mendatang. Nampak dalam foto Dirut Bank Sinar I Wayan Sukarta (kanan), IA Kade Karuni (tengah) dan IGN Alit Asmara Jaya (kiri) foto bersama usai memberikan konferensi pers.

MBP/ist

TEMU ALUMNI - Keluarga besar Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) Saraswati Denpasar, Selasa (30/12) menggelar temu alumni akbar dari angkatan I (2008) hingga 2014. Temu alumni berjalan semarak karena dirangkaikan dengan literature night performance mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Inggris. Kedua agenda ini dibuka Ketua STIBA Saraswati Denpasar, I Komang Sulatra, S.S., M.Hum. Saat itu Komang Sulatra juga melantik pengurus Ikatan Alumni STIBA Saraswati (Ikaba) 2015-2019. Ketua Ikaba kini dijabat I Wayan Arya Kusuma Putra,S.S. menggantikan Hendra Kusmana, S.S. Nampak dalam foto Ketua STIBA Saraswati Komang Sulatra memberi ucapan selamat kepada Ketua Ikaba, Arya Kusuma Putra.

MBP/ist MBP/ist

PULANG KAMPUS - Inovasi terbaru dari Kampus STIKI Indonesia dalam menjaga sinergitas dengan alumni adalah menyelenggarakan event “Alumni Pulang Kampus”. Melalui ajang ini, Alumni Kampus STIKI Indonesia akan sharing pengalaman mereka sewaktu kuliah maupun di dunia kerja kepada adik tingkat mereka. Diharap event Alumni Pulang Kampus ini dapat memberikan inspirasi serta motivasi kepada mahasiswa dan memberikan bayangan bagaimana dunia kerja setelah lulus nanti. Demikian dikemukakan Ketua Ikatan Alumni STIKI Indonesia I Nyoman Widi Adnyana.

AMAZING JOURNEY - Toyota Fortuner Club of Indonesia (ID42NER) terbentuk sejak 5 Mei 2007. Memasuki usia ke-7 tahun sejak didirikan, ID42NER setiap tahunnya rutin mengadakan kegiatan touring. Tahun 2014 mengadakan touring yang bertema ‘’Amazing Journey to Paradise’’ yang dimulai dari Jakarta, Solo, Jember, Denpasar, Malang, dan Yogyakarta, diikuti kurang lebih 25 unit Toyota Fortuner yang tergabung dalam komunitas ID42NER. Nampak dalam foto Ketua ID42NER Saladin Bonaparta memberikan cenderamata kepada Regional Manager area Timur Agung Toyota Rosali Sinarta, Minggu (28/12). 12 - 18 Januari 2015

35


LINGKUNGAN

Penghijauan Sia-sia di Daerah ”Batu Bertanah”

M

enyulap wajah perbukitan Nusa Penida menjadi hijau dan memberikan dampak positif bagi masyarakat masih menjadi tantangan berat pemerintah daerah dan masyarakat. Nusa Penida dikenal sebagai wilayah “batu bertanah”. Disebut batu bertanah karena lapisan tanahnya begitu minim. Bak pepatah kerakap tumbuh di atas batu. Mati tak hendak hidup pun segan. Betapa sulitnya menumbuhkan

MBP/gik

Bupati Klungkung Nyoman Suwirta

tanaman atau tumbuhan di daerah batu bertanah ini karena minimnya lapisan tanah di daerah perbukitan kepulauan Nusa Penida ini. Tak heran saat musim kemarau, sebagian besar bukit nampak tandus dan berkapur. Berbagai upaya sudah pernah dilakukan untuk membuat perbukitan Nusa Penida menjadi hijau dan rimbun. Namun, hasilnya lingkungan perbukitan tetap terlihat gersang. Upaya penghijauan dinilai gagal. Kegagalan ini disebabkan minimnya sumber mata air. Hal ini diperparah dengan minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir. Program penghijauan di Kecamatan Nusa

36

12- 18 Januari 2015

Penida selama ini dinilai sia-sia. Sebab, sejak puluhan tahun gerakan penghijauan digalakkan, sampai saat ini hasilnya nyaris nihil. Wilayah Nusa Penida tetap menjadi perbukitan tandus, nasib bibit penghijauan yang ditanam pun tidak jelas juntrungannya. Tokoh masyarakat Nusa Penida, Nengah Setar, belum lama ini, menjelaskan penghijuan di Nusa Penida sudah dilakukan sejak era 1980-an. Namun, hasilnya perbukitan Nusa Penida dikatakan tak pernah jadi hijau. Sejak dicanangkan Nusa Penida sebagai kepulauan yang hijau, lebih dari 2 juta bibit pohon telah ditanam di Nusa Penida. “Nah, sekarang ke mana larinya pohon-pohon itu? Sudah sebanyak itu harusnya Nusa Penida sudah rimbun,” kritiknya. Artinya, ia melihat program penghijauan di Nusa Penida hanya ramai diawal. Namun, setelah bibit pohon itu ditanam, ditinggal begitu saja tanpa dirawat lagi. Tak heran begitu banyak bibit pohon ditanam, hasilnya sangat minim. Selain itu, Setar menyampaikan pemilihan bibit juga tidak cocok. Seharusnya, pembibitan dilakukan di Nusa Penida dengan pepohonan yang biasa hidup kuat di Nusa Penida. Sehingga, selain membuat hijau, nantinya bisa dimanfaatkan masyarakat setempat untuk pakan ternak. Ia mengaku selalu mengikuti setiap program penghijauan di Nusa Penida. Baik dari program dari pemerintah pusat, Pemprov Bali dan Pemkab Klungkung. Ia mencontohkan salah satu program yang gagal, adalah penghijauan dengan bibit pohon jarak. Lebih dari satu juta tanaman jarak ditanam di Nusa Penida saat itu. Namun setelah berbuah, justru tidak laku. Sehingga tanaman itu kembali dirabas oleh pemilik lahan. Selain itu, ada penghijauan dengan berbagai jenis pohon yang bisanya dipakai ukiran. Namun, jenis pohon seperti itu juga tidak bisa tumbuh. Akhirnya, setelah kemarau berkepanjangan banyak yang mati sia-sia. Sejauh ini, ada beberapa jenis pohon yang berkembang di Nusa Penida. Data perkebunan BPS Klungkung 2014 menunjukkan, dari beberapa jenis potensi perkembunan di

Klungkung, jenis pohon yang berkembang di Nusa Penida antara lain, kelapa seluas 1.119 hektar dengan jumlah produksi 299 ton per tahun. Jambu mete seluas 618 hektar dengan jumlah produksi 13 ton per tahun. Jenis perkebunan kapok berkembang di Nusa Penida seluas 8 hektar, kemiri 5,4 hektar dan kakao seluas 4,5 hektar, namun belum bisa menghasilkan. Sementara potensi perkebunan lain di tiga kecamatan lain seperti kopi, cengkeh dan panili, belum bisa berkembang di Nusa Penida yang memiliki luas 20.284 hektar ini. “Namanya saja tanam sejuta pohon, faktanya yang ditanam tak lebih dari 100 bibit pohon. Itu pun mati semua,” kata Setar. Setar meminta pemerintah daerah serius mengurus Nusa Penida. Kegiatan penghijauan tidak sesedarhana yang dipikirkan. Selain mengajak masyarakat mencintai lingkungan, juga harus mampu menumbuhkan rasa memiliki untuk merawatnya dan kemudian bisa memanfaatkannya agar memiliki nilai ekonomis sebagai penunjang kehidupan sehari-hari. Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Wayan Durma mengatakan terakhir penghijauan dilakukan dengan penanaman bibit pohon sebanyak 369.857 pohon di Desa Suana beberapa pekan lalu. Penghijauan menyasar lahan-lahan kritis dan lahan yang tidak produktif atau lahan kosong milik masyarakat. Saat itu ia meminta penghijauan tidak berhenti setelah penanaman ini saja. Namun, juga diperlukan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pohon bagi kehidupannya dan makhluk hidup lainnya. Sehingga, Ia meminta warga setempat ikut merawatnya agar ke depannya bisa berguna. Baru-baru ini, eksekutif kembali melakukan upaya penghijauan dengan penanaman pohon bunga kembang kertas wilayah perbukitan Puncak Mundi. Namun, tujuannya hanya memperindah lingkungan. Dikhawatirkan, nasib penghijauan ini juga akan sama dengan upaya penghijauan sebelumnya. Bagiarta


MBP/gik

Memasuki musim hujan, pepohonan kecil mulai tumbuh di atas bukit. Namun, pohon-pohon ini tidak bisa dimanfaatkan, karena tidak memiliki nilai ekonomi.

Menunggu Aksi Kongkret BUPATI Klungkung Nyoman Suwirta sangat menyadari kondisi wilayah kepulauan Nusa Penida. Istilah wilayah “batu bertanah�, sesuai kondisi permukaan Nusa Penida saat ini, yang mayoritas tidak subur. Namun, ia meyakini, tentu tidak semua belahan wilayah Nusa Penida tak subur. Meski sebagian besar wilayah batu bertanah, masih ada tempat-tempat subur atau tanah berbatu, yang bisa dimanfaatkan untuk menghijauan. Suwirta pekan lalu mengaku terus menggodok ide-ide sederhana bersama Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan, untuk membuat langkah riil mengubah permukaan Nusa Penida menjadi lebih baik dan bermanfaat. Salah satunya, rencana awal membuat pusat pembibitan besar di areal luas aset tanah milik pemerintah daerah. Dinas terkait sedang mendalami, pohon apa saja yang cocok ditanam di daerah Nusa Penida. Tentunya, syaratnya pohon yang tahan dengan cuaca kemarau

panjang dan memiliki nilai ekonomis tinggi bagi masyarakat. Pihaknya, belum bisa menjelaskan pohon jenis apa saja itu dan kapan gerakan penghijauan akan dilakukan di Nusa Penida. Sebagai alternatif baru ada dua pohon yang dinilai cocok, seperti cendana dan kemiri. Namun, rencana itu sedang disusun bersama. “Apapun yang terbaik untuk Nusa Penida, akan terus kami godok. Kami tentu belajar dari upaya-upaya sebelumnya, kenapa bisa gagal. Selain penghijauan, kami juga ingin masyarakat dapat diberdayakan,� tegasnya. Suwirta juga mengakui, banyak hutan lindung yang sudah gundul. Oleh karena itu, perlu gerakan serentak untuk merangkul semua kalangan peduli dan memperbaiki lingkungan. Soal penghijauan, Bupati Suwirta mengaku sudah ada beberapa pihak ketiga yang ingin bekerja sama. Namun, pihaknya masih mengkaji, agar kerja sama itu tidak bernasib sama dengan

hal serupa saat warga diajak menanam pohon jarak, yang ujung-ujungnya tidak bisa dimanfaatkan. Ada juga penawaran dari beberapa investor berupa penanaman pohon yang bisa menghasilkan minyak, seperti pohon zaitun. Zaitun (Olea europaea) adalah pohon kecil tahunan yang buah mudanya dapat dimakan mentah ataupun sesudah diawetkan sebagai penyegar. Buahnya yang tua diperas dan minyaknya bisa diekstrak menjadi minyak zaitun yang dapat dipergunakan untuk berbagai macam keperluan. Namun, Bupati Suwirta mengaku pemerintah harus pelan-pelan dan merencanakan, agar tidak seperti program penanaman pohon jarak, yang tidak bermanfaat. Pihaknya berjanji, jika konsep gerakan serentak penghijauan yang bermanfaat sudah rampung dan jelas, maka aksi secepatnya dapat dilakukan. Bagiarta 12- 18 Januari 2015

37


PARIWISATA

Ironi Pariwisata Bali

Okupansi Tak Sejalan dengan Kunjungan

D

unia pariwisata Bali memang membawa kabar gembira lantaran kunjungan wisatawan diprediksi meningkat 10 persen dibanding tahun lalu saat tutup tahun nanti. Namun, kabar gembira ini justru membawa pula kontradiksi yang cukup menyakitkan. Sebab, tingkat hunian hotel atau okupansi malah tak sejalan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan. Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Bali pada bulan November 2014 mencapai 296.876. Angka ini turun sebesar 3,38 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya. Apabila dibandingkan dengan bulan Oktober 2014 jumlah wisman turun sebesar 13,11 persen. “Kunjungan wisatawan saya yakin meningkat karena dulu 3,2 juta lebih sedikit, sekarang sudah mendekati 3,6 juta, jadi pasti diatas 10 persen. Namun demikian, apa yang terjadi dari data BPS yang kami terima minggu lalu, bahwa hotel bintang di Bali mengalami ya.. walaupun relatif datar namun sesungguhnya menurun dari 61 persen okupansi sepanjang 2013, sekarang menjadi 60 persen sepanjang

38

12 - 18 Januari 2015

2014. Nah, hotel non bintang, ini yang sangat besar penurunannya dari 33 persen menjadi 30 persen,” ungkap Ketua PHRI Bali, Cokorda Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace. Cok Ace mengaku khawatir dengan angka 30 persen yang sesungguhnya sudah dibawah Break Event Point (BEP). Pihaknya juga mempertanyakan ke mana 10 persen kelebihan kunjungan atau sekitar 400 ribu wisatawan itu berada. Mengingat, length of stay atau lama tinggal wisatawan tidak ada perubahan atau masih rata-rata 3,5 hari. “Berarti ada hotel baru atau ada akomodasi baru yang menampung kelebihan atau peningkatan wisatawan ini. Sampai disana persoalan tidak menjadi masalah, karena dimanapun mereka tinggal pajak akan tetap dibayar sesuai dengan transaksi. Tapi yang menjadi kekhawatiran kita bersama adalah manakala hotel non bintang yang notabene dimiliki oleh masyarakat kita sebagai pelakupelaku budaya Bali, kalau ini sampai mereka tidak bisa melanjutkan usahanya maka mereka akan menjadi penonton, bukan sebagai subjek pembangunan pariwisata Bali. Andaikata itu

terjadi, maka lambat laun budaya Bali akan ditinggalkan,” paparnya. Mantan Bupati Gianyar ini menambahkan, masalah ini memerlukan campur tangan pemerintah untuk memecahkannya. Kendati PHRI Bali sudah mengimbau pelaku akomodasi yang bergerak di bidang hotel non bintang, khususnya homestay yang dikelola masyarakat atau keluarga. Mereka diharapkan bisa mengumpulkan diri membuat suatu wadah atau asosiasi di bawah PHRI Bali, sehingga bisa berjuang bersama untuk mendapatkan kemudahan dari pemerintah. “Baik kemudahan dalam hal perizinan dan lain sebagainya karena sekarang peraturan menteri yang baru, semua badan usaha, semua usaha akomodasi, itu peraturannya harus berbadan hukum, berbentuk PT. Nah... kalau ini diterapkan tambah berat lagi saudara-saudara kita di bidang akomodasi yang hanya punya 5-10 kamar ini. Kita masih mohon pemerintah sekiranya bisa memberikan pembinaan, perlindungan, bagaimana caranya karena merekalah sesungguhnya yang mendukung budaya-budaya Bali ini,” tegasnya.


Wisatawan Di sisi lain, Cok Ace juga meminta para pelaku akomodasi hotel non bintang atau homestay bisa melakukan terobosan-terobosan baru. Utamanya, akomodasi yang berada di luar Badung dan Denpasar. Para pelaku usaha akomodasi diharapkan tidak menduplikasi konsep pariwisata di Bali Selatan, namun bisa menonjolkan karakteristik wilayah yang berbeda. “Apa gunanya orang jauh-jauh pergi ke misalnya Lovina, jauh-jauh ke Candidasa atau Ubud, kalau akhirnya cuma dilihat hotelnya sama-sama begitu saja. Ini perlu kecerdasan kita semua untuk melihat bagaimana kedepannya agar semua bisa merata memperoleh kue pariwisata ini,” katanya. Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali IGN Rai Suryawijaya mengatakan, rendahnya okupansi memang tidak terlepas dari pembangunan akomodasi yang tidak terkendali dan banyaknya akomodasi bodong. Seperti vila-vila bodong, podok wisata yang tidak resmi dan sarana akomodasi lainnya, di mana melebihi pertumbuhan kunjungan wisatawan. “Pertumbuhan kedatangan wisatawan ke Bali yang mencapai 10 persen jauh terlampaui oleh pertumbuhan kamar hotel yang mencapai 15 persen. Jelas saja okupansi rendah, karena pertumbuhan kamar yang melebihi tingkat kunjungan. Kondisi ini otomatis memicu perak tarif yang akan merugikan pemerintah. Sebab, pajak yang disetorkan akan kecil, karena laba yang dihasilkan juga hotel berkurang,” urainya. Disebutkan, dengan jumlah kamar yang mencapai 80 ribu lebih, kedatangan wisatawan idealnya mencapai 4 juta untuk menutupi akupansi hingga rata-rata 70 persen. Rindra Kehadiran wisatawan ke Bali tergilas pertumbuhan kamar yang kian tidak terkendali, sehingga merugikan pengusaha akomodasi.

Devisa Pariwisata Bali Lari ke Pusat BALI merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang menjadi favorit wisatawan dari mancanegara. Keindahan alam dan kekayaan budaya dari Pulau Bali serta keramahan warganya menjadikan pulau ini sangat dikenal sebagai tempat tujuan wisata. Tingginya angka kunjungan wisata ke Bali menyebabkan Bali menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar dari sektor pariwisata, mengalahkan berbagai daerah tujuan wisata lain di Indonesia. Sayangnya, devisa yang disumbangkan Bali dari sektor pariwisata sangat besar mencapai lebih dari Rp 40 triliun per tahun. Namun, penghasilan tersebut semuanya ke pemerintah pusat dan Bali tidak dapat apa-apa dari devisa pariwisata. Hal inilah yang mendorong Pemprov Bali mengusulkan revisi atas UU No. 13 Tahun 2004 tentang Perimbangan. Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Dengan demikian Bali bisa menuntut 10 persen atau kurang lebih Rp 4 triliun per tahun dari devisi pariwisata tersebut agar dikembalikan ke Bali. “Pemprov Bali sudah bersurat ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dalam rangka perubahan atau revisi atas UU No. 13 Tahun 2004 tentang Perimbangan. Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah,” kata Kepada Dinas Pendapatan (Kadispenda) Pemprov Bali Wayan Suarjana. Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah saat ini hanya memberikan pembagian atau perimbangan keuangan dari sektor sumber daya alam (seperti tambang) dengan persentase 10 persen dari pendapatannya. Sedangkan Bali yang tidak mempunyai pendapatan dari sumber daya alam seperti tambang, melainkan dari pariwisata tidak mendapatkan perimbangan dari pendapatan di sektor pariwisata ini. Untuk itulah Bali meminta persentase dari pendapatan sektor jasa pariwisata yang dalam UU tersebut belum tercantum. “Dalam UU itu hanya sektor sumber daya alam yang diberikan persentasi pembagian 10 persen dari pendapatannya. Jadi kami harapkan UU itu direvisi agar bisa juga diberikan persentase 10 persen dari pendapatan di sektor pariwisata per tahun,” tegas Suarjana seraya menambahkan Pemprov masih menunggu jawaban dari Kemendagri. Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama menegaskan perjuangan merevisi UU Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah ini jangan hanya sebatas wacana. Sebab, hal itu sudah diwacanakan sejak lama dan hingga kini tidak ada tindak lanjut secara riil. “Kami harap revisi UU Perimbangan Keuangan ini benar-benar diperjuangkan dengan serius. Jangam hanya wacana,” tegasnya. Menurutnya, Bali sangat dirugikan dengan UU Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah yang belaku saat ini. Sebab devisa Bali dari sektor pariwisata sangat besar mencapai Rp 42 triliun. Tapi dana itu semunya ke pusat dan Bali tidak dapat apa-apa. Dengan kondisi ini, ia mengajak Gubernur Bali dan wakil rakyat di DPRD Bali serta DPR RI agar serius memperjuangkan revisi UU No. 13 Tahun 2004 tentang Perimbangan. Keuangan Daerah Pemerintah Pusat dan Daerah tersebut. Dengan demikian, Bali bisa lebih banyak mendapat dana perimbangan dari sektor pariwisata yang memang sejauh ini menyumbangkan devisa sangat besar bagi negara. “Kita mestinya bisa mendapat perimbangan keuangan sesuai dengan potensi daerah yang kita miliki yakni pariwisata budaya,” tegas Adi Wiryatama yang juga Sekretaris DPD PDI-P Bali itu. Ia berharap wakil rakyat Bali di DPR RI juga mampu mengawal dan memperjuangkan usulan revisi UU tersebut. Sebab jika itu diakomodir maka Bali minimal bisa mendapat tambahan dana per tahun sebesar Rp 4 triliun lebih yang bisa digunakan untuk mempercepat pembangunan di Bali. “Anggota Dewan di provinsi dan di pusat harus bersama-sama mengawal revisi UU ini. Jangan semua jago kandang. Kita harus mampu meyakinkan pemerintah pusat untuk meloloskan revisi UU,” ini tegas mantan Bupati Tabanan dua periode itu. Ia juga mendorong agar Pemprov Bali dan wakil rakyat dari Bali di DPR RI untuk serius memperjuangkan revisi UU Pembentukan Provinsi Bali yang dirasakan tidak relevan lagi dengan kondisi dan kebutuhan Bali saat ini. Dalam UU tersebut pembentukan provinsi Bali masih digabung dengan NTT dan NTB. Widana 12 - 18 Januari 2015

39


AKTIVITAS

MBP/ist MBP/ist

BANSOS - Dana hibah dan bansos (bantuan sosial) untuk masyarakat Bali dan desa pakraman yang dianggarkan dalam APBD Induk Pemprov Bali tahun anggaran 2015 sempat terancam tidak bisa disalurkan ke masyarakat. Sebab, anggaran tersebut dikoreksi saat verifikasi APBD Bali di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Namun, berkat perjuangan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Bali yang dipimpin langsung Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama bersama pihak eksekutif, akhirnya Kemendagri berhasil diyakinkan untuk tetap meloloskan anggaran hibah bansos tersebut.

DIES NATALIS - Akademi Farmasi Saraswati Denpasar kini sudah berusia enam tahun. Puncak dies natalis ke-6 Akademi Farmasi Saraswati Denpasar jatuh pada Selasa (30/12) namun diperingati secara sederhana, Senin (29/12). Puncak dies ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Direktur Akademi Farmasi Saraswati Denpasar Drs. Made Gede Saskara Edi, M.PSi., Apt., bersama Ketua Yayasan PR Saraswati Pusat Denpasar Ir. Bagus Ketut Lodji, M.S., Ketua Badan Pembina, IGB Yudhara dan Sekretaris Drs. Dewa Sukanada. Acara diakhiri dengan pentas seni kreativitas mahasiswa dan dosen. Nampak dalam foto Direktur Akademi Farmasi Saraswati Denpasar Made Gede Saskara Edi memotong tumpeng saat Dies Natalis ke-6 Akademi Farmasi Saraswati.

MBP/ist MBP/ist

BINA LINGKUNGAN - Menutup perjalanan tahun 2014, PT Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai kembali menyalurkan dana Bina Lingkungan dalam bentuk bedah rumah, perbaikan sarana umum dan sarana ibadah. Bantuan senilai Rp 507 juta ini secara simbolis diserahkan oleh General Manager (GM) PT Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai Herry A.Y Sikado di kantor Angkasa Pura I, Selasa (30/12). Nampak dalam foto Jajaran Manajemen PT Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai bersama penerima bantuan Program Bina Lingkungan tahap kedua atau program lanjutan CSR tahun 2014.

PURI – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III (tengah) bersama Ida Cokorda Pemecutan XI (kiri) dan Ida Agung Bhagawan Hyang Anulup Pemecutan (kanan) di Griya Agung Dwara Tanjung Sari Pemecutan Denpasar. Istana Mancawarna Tampaksiring mengucapkan selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan kepada seluruh umat Siwa Buddha di seluruh Nusantara. Hal ini disampaikan Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedastera Suyasa III di sela–sela Paruman Lan Jamuan Makan Malam Puri dengan purusa dan pradana keluarga besar Puri Ageng Tegeh Kori Jembrana ring Badung belum lama ini.

Raih sukses dengan menginformasikan kegiatan/usaha, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), peluncuran produk, dan promosi lainnya melalui rubrik Event dengan menghubungi bagian Iklan Bali Post - (0361) 225764. Penyampaian materi dilakukan dua minggu sebelum penerbitan.

40

12 - 18 Januari 2015


MBP/ist

MBP/ist

BERKAH - Kado emas diraih Yayasan Kesejahteraan Korpri Prov. Bali (YKKPB) dan Unwar pada penghujung 2014. YKKPB yang bekerja sama dengan PT Tirta Investama dalam pegelolaan sampah meraih predikat golden pada Indonessian CSR Award 2014 dari Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI. Keduanya bekerja sama dalam mengolah sampah batok kelapa menjadi briket di objek wisata Tanah Lot. Makanya proyek ini disebut pemerintah mengolah sampah menjadi berkah. Nampak dalam foto Ketua YKKPB Dr. A.A. Gede Oka Wisnumurti (pakai udeng) saat menerima Indonesia CSR Award dari Plant Manager PT Tirta Investama-Mambal, Forcy Tjahyana Tjandra.

BALIWOOD – Ajang 12th Royal Bali International Film Festival 2014 digelar oleh Swadheshi Bali Foundation bersama Royal Baliwood Film Society selama 3 hari di sejumlah titik pariwisata di Bali. Puncaknya, adalah penganugerahan Saraswati Baliwood Award yang diadakan di Ball Room The Harrads Hotel & Convention Sanur kepada sejumlah nama dan artis terkenal di Jakarta yang memiliki totalitas dalam berperan di dunia film. Nampak dalam foto Kelly Tandiono, pemeran utama Film Negeri Tanpa Telinga (kanan) saat menghadiri 12th Royal BIFFest 2014 di The Harrads Sanur.

MBP/ist

MBP/ist

HUT - Seiring dengan berakhirnya tahun 2014, Nirmala Group pun mengakhirinya dengan kegiatan Hari Ulang Tahun ke12 yang diperingati komisaris, direksi dan seluruh karyawan Nirmala Group, Minggu (28/12) malam di Hotel Nirmala, Jalan Mahendradatta, Denpasar. Peringatan HUT kali ini dilakukan bersamaan dengan Ulang Tahun ke-48 Komisaris Utama Ni Nyoman Sudiasih, yang juga istri Owner Nirmala Group I Made Sujana. Perayaan HUT ke-12 Nirmala Group tahun ini memang berbeda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya, karena kali ini hanya dikhususkan bagi karyawan dan anggota keluarganya.

YADNYA – Serangkaian dengan hari jadi The Sukarno Center ke-6 tahun 2014, dengan restu dari Kanjeng Ibu Sukmawati Sukarno Putri (Abhiseka Ratu Tribhuwana Uttungga Dewi), keluarga besar Istana Mancawarna Tampaksiring sukses menyelenggarakan upacara Atma Wedana Korban Revolusi ditanah Jawa yang dipusatkan dihalaman Istana Keraton Puro Mangkunegaran Solo. Nampak dalam foto Sulinggih Ida Shri Bhagawan Nabe Wira Kerthi (Griya Tegeh Kori Buleleng) muput karya Atma Wedana bersama Gusti Pangeran Paundrakarna dan Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna di halaman Istana Keraton Mangkunegaran Solo.

12 - 18 Januari 2015

41


KALPATARU

Alas Kedaton Terima Penghargaan Kalpataru

D

aya Tarik Wisata (DTW) Alas Kedaton yang berkomitmen melestarikan lingkungan hutan beserta isinya akhirnya berbuah manis. DTW yang terletak di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan itu menerima piagam penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diterima oleh Bendesa Adat Kukuh I Gede Subawa dari Peranan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup Umi Rusianawati, Sabtu (20/12). Hadir juga anggota Badan Pengelola DTW Alas Kedaton serta Manager Operasional, I Gst. Bagus Suryawan. Bendesa Adat Kukuh Gede Subawa mengatakan, penghargaan ini diberikan karena DTW Asalas Kedaton sebagai penyelamatan lingkunan hutan. Sebelumnya, telah dilakukan verifikasi,

sehingga DTW Alas Kedaton meraih 30 besar dari ratusan peserta. “Penghargaan ini suatu kebanggaan serta kehormatan bagi masyatakat Desa Kukuh karena pemerintah telah memperhatikan keberadaan hutan Alas Kedaton, sehingga memberikan penghargaan Kalpataru,” katanya. Penghargaan itu, lanjut Subawa sebagai bentuk motivasi masyarakat Kukuh untuk mempertahankan hutan yang sudah ada, serta akan meningkatkan sesuai dengan ketentuan kreteria kalpataru. Jika memungkinkan, pihaknya juga melakukan perluasan hutan dengan memanfaatkan lahan yang tak berguna. “Penghargaan ini juga sebagai bentuk promosi terhadap DTW Alas kedaton secara lebih luas,” harapnya. Hal senada juga dikatakan I Gst. Bagus Suryawan. Menurutnya, penghargaan itu bukan merupakan tujuan, namun

lebih pada meningkatkan kesadaran untuk menjaga dan mengembangkan kawasan hutan lengkap dengan isinya. “Kami juga sudah melakukan pengelolaan terhadap sampah. Bahkan, kami sudah menyediakan tong sampah sesuai dengan jenisnya,” ucapnya kalem. I Gst. Bagus Suryawan mengatakan, semangat masyarakat Kukuh dalam menjaga lingkungannya juga mendapat apresiasi dari pihak Kementerian. Dalam waktu dekat, Kementerian akan memberikan pelatihan-pelatihan dalam menjaga lingkungnnya. “Rencananya, pihak Kementerian Lingkungan Hidup akan memberikan pelatihan dan pemibinaan kepada masyarakat Kukuh dalam usaha menjaga lingkungan utamanya mengelola sampah menjadi barang bernilai ekonomis,” paparnya. Budarsana

Bendesa Adat Kukuh I Gede Subawa menerima piagam penghargaan kalpataru dari Peranan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup Umi Rusianawati.

42

12 - 18 Januari 2015


KERAJINAN

MBP/budarsana

Gusti Putu Widia, pengrajin driftwood yang melayani pembeli luar negeri.

Sulap Sampah Menjadi “Driftwood” Unik ANTIK, cantik, dan unik. Itulah kesan pertama ketika melihat driftwood, sebuah kerajinan lokal yang memanfaatkan sampah berupa hempasan kayu pantai. Sampah berupa ranting tak berguna itu disulap menjadi barang seni bernilai tinggi. Jenisnya pun beraneka ragam, seperti berbentuk binatang, meja, kursi, almari, tempat cermin, tempat lampu dan lainnya. Jenis kerajinan yang menjadi trend di zaman ini dibuat oleh Gusti Putu Widia. Ia bersama istri juga dibantu dua orang karyawan membuat kerajinan di rumahnya yang beralamat di Jl. Kebyar Duduk, Banjar Gunung, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Meski keberadaannya jauh dari pusat kota, namun hasil kerajinannya sudah merambah ke berbagai kota dari berbagai negara di dunia sejak 2008 silam. Pada awalnya, lelaki kalahiran Badung tahun tahun 1975 yang hanya tamatan SMP ini hanya membuat bintang kuda, gajah dan jerapah. Namun,

dengan banyaknya pemesan ia kemudian terus berinovasi dengan membuat barang-barang unik lainnya. Lelaki kalem ini terus menciptakan ide-ide baru, sehingga mampu menjaga para pelanggannya. “Setiap saat, saya harus menciptakan desain-desain baru sebagai upaya menjaga pelanggan,” ungkap Gusti Putu Widia. Jika tidak baru, paling tidak ada bentuk yang lain. Misalnya, frame dan kopi table yang ukuran dan bentuknya dibuat berdasarkan pesanan. Artinya ukuran sudah dibawa pelanggan yang sudah disesuaikan dengan ruangannya. Dari sekian jenis barang unik itu, jenis lampu paling banyak dipilih wisatawan. Meja dan tempat duduk juga ramai peminat. “Saya sering mengirimnya ke Perancis, Australia, Jepang, Amereka dan Eropa,” akunya polos. Menurut ayah tiga putra itu, bahan berupa sampah kayu mendatangkan secara khusus dari Bali Barat yaitu Kabupaten Negara dan Tabanan. Masyarakat di

sana sudah tahu bahan yang bagus, karena sudah dilatih dalam memilih. “Sampah kayu itu dulunya dipakai masyarakat sebagai kayu bakar, tetapi sekarang bisa mendatangkan uang,” terangnya. Jenis sampah kayu yang digunakan tentu saja tidak sembarangan, melainkan kayu pilihan yang masih terlihat teksturnya dan masih kuat. Sampah kayu itu mula-mula dibawa ke tengah laut pada musim hujan, kemudian dihempaskan ke pinggir laut. “Jadi proses penguatan kayu itu terjadi di tengah laut. Karena kalau kayu jelek tidak akan bisa sampai ke pesisir pantai, dan kalau pun sampai pasti akan hancur digulung ombak,” ucapnya. Budarsana

www.bali-travelnews.com

12 - 18 Januari 2015

43


TRADISI

“Masuryak”

Bekali Leluhur ke Surga

B

ali sebagai destinasi wisata dunia memiliki berbagai warisan budaya leluhur yang hingga kini masih dilestarikan. Tak hanya terkenal dengan budayanya, Bali dengan julukan seribu pura ini juga memiliki berbagai tradisi unik yang masih dipegang teguh masyarakatnya. Budaya dan tradisi yang ada tersebut tentu saja memiliki ciri khas tersendiri di masing-masing daerah, desa maupun banjar. Salah satunya tradisi Masuryak, ritual turun-temurun yang digelar oleh warga Desa Bongan, Tabanan untuk merayakan hari raya Kuningan. Upacara ritual ini digelar bertepatan pada hari raya Kuningan atau 10 hari setelah hari raya Galungan yang jatuh setiap enam bulan sekali. Tradisi Masuryak ini digelar bertujuan untuk memberikan bekal berupa beras dan uang kepada leluhur yang akan kembali ke suarga loka (surga). Selama ini warga Bali percaya bahwa leluhur mereka turun pada hari raya Galungan dan kembali ke Nirwana pada hari raya Kuningan. Masuryak sendiri berasal dari kata suryak yang artinya berteriak atau bersorak. Uniknya, upacara ini dilaksanakan mulai

pukul 09.00 wita hingga 12.00 wita karena diyakini jika lewat pukul 12.00, para leluhur telah kembali ke surga. Biasanya sebelum upacara ini dimulai, warga setempat melakukan persembahyangan bersama di pura keluarga atau pura Kahyangan Tiga desa setempat. Leluhur yang telah dilepas kepergiannya dibekali banten pangadegan atau sesaji yang diletakkan di depan kori atau gerbang rumah. Sesajian terdiri atas beras, telur, pis bolong dan perlengkapan lainnya yang disiapkan sebagai bekal leluhur. Jika semuanya sudah lengkap, maka upacara Masuryak bisa dimulai. Dalam tradisi ini setiap anggota keluarga memberi bekal kepada leluhur sesuai dengan kemampuan, dari uang logam hingga uang kertas, dalam pecahan rupiah. Uang dilempar dan warga saling berebut. Tradisi Masuryak juga diyakini sebagai kemakmuran. Sementara uang yang dilempar untuk leluhur disimbolkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi. Klian Adat Banjar Bongan Gede I Ketut Nuraga mengatakan, tradisi Masuryak dengan menyebar sejumlah uang dilakukan setiap hari raya Kuningan.

Nilai uang yang disebar pun beragam, sesuai dengan kemampuan masing-masing warga. Uang dalam berbagai pecahan rupiah menjadi rebutan warga, mulai lembaran Rp 1.000 hingga Rp 100.000. Bahkan ada juga lembaran mata uang asing seperti dolar. Begitu uang dilempar, warga baik itu anak-anak, remaja bahkan orang dewasa yang sudah menunggu di halaman rumah keluarga berada langsung berebut. Tak jarang mereka saling sodok. “Tradisi ini dilakukan oleh semua anggota keluarga sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Rata-rata mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Kalau dulu pakai uang kepeng, karena susah dicari sekarang diganti uang kertas dan logam,” jelasnya. Lanjut dijelaskannya, Masuryak ini merupakan ritual untuk membekali leluhur mereka dalam perjalanan menuju surga. Sebelumnya arwah para leluhur yang mendahului mereka diyakini pulang ke rumah keluarganya yang masih hidup pada hari raya Galungan atau 10 hari sebelum hari raya Kuningan. “Kami meyakini leluhur pulang saat hari raya Galungan, maka kami mengantarnya dengan bersorak-sorai sambil melemparkan uang. Tradisi ini untuk mengantarkan roh leluhur kembali ke surga loka dengan masuryak atau bersuka cita,” imbuhnya. Ia menambahkan, tradisi Masuryak ini juga memiliki makna kemakmuran. Tradisi Masuryak selalu ditunggu warga untuk mendapatkan rezeki tambahan. Banyaknya uang yang dilempar membuat warga yang mengikuti tradisi ini panen uang. Bagi yang beruntung bisa mendapat uang sebanyak Rp 100.000, namun ada juga yang hanya mendapatkan Rp 5.000. Namun, bukan itu tujuan utama dari tradisi Masuryak. Tujuan utamanya adalah rasa bahagia dan kegembiraan yang ditimbulkan yang diyakini oleh masyarakat bahwa para leluhur pun akan kembali pulang dengan tenang dan damai lalu memberikan berkah kemakmuran. “Selama ini kita bersyukur sudah diberikan rezeki. Rezeki ini dikembalikan lagi kepada beliau,” ujarnya.

MBP/puspadewi

Puspadewi

Warga Bongan menggelar tradisi Masuryak bertepatan dengan hari raya Kuningan.

44

12 - 18 Januari 2015


Krama Gesing saat pertandingan gasing yang selalu antusias menyaksikannya.

Gasing di Gesing MBP/mud

PERMAINAN gasing nampaknya tak bisa dipisahkan dengan di Desa Gesing, Kecamatan Banjar Buleleng. Bahkan permainan ini menjadi trade mark-nya desa ini. Artinya, di Desa Gesing pasti ada gasing--sebuah permainan tradisional yang memerlukan keahlian memainkannya dan keseimbangan prima pada gasingnya. Pada pengujung tahun 2014 lalu, krama setempat larut dalam permainan ini dengan membuat lomba. Dijadwalkan setiap hari Minggu, warga ramai datang ke arena permainan menyaksikan pertandingan atau lomba gasing. Pertandingan ini merupakan tradisi turun-temurun digelar setelah musim panen kopi atau cengkeh. Pertandingan ini diikuti oleh kelompok pemuda atau pecinta gasing yang merupakan krama Desa Catur Desa Adat Dalem Tamblingan (Desa Gesing, Umajero, Gobleg, dan Desa Munduk). Acara digelar sejak tiga bulan lalu dan dijadwalkan ditutup pada April 2015 mendatang. Lantaran kelompok pemuda atau pecinta gasing cukup banyak yang mendaftar, sehingga pertandingan digelar satu kali seminggu tepatnya setiap hari Minggu mulai dari pagi, hingga sore hari. Khusus perayaan Tahun Baru 2015, pertandingan digelar Kamis (1/1) sebagai langkah awal menapaki tahun 2015. Seperti pertandingan tahun-tahun sebelumnya, panitia penyelenggara menerapkan aturan yang sudah diciptakan oleh para pendahulu mereka. Setiap pertandingan, kelompok pertama akan memukul gasing ke tanah hingga berputar kencang. Kelompok lawan kemudian diberikan kesempatan memukul gasing yang sudah diputar sebelumnya. Jika pukulan tepat, maka pemenangnya adalah kelompok kedua. Namun, apabila pukulannya meleset, pemenangnya ditentukan dengan cara adu putaran gasing. Gasing yang paling lama berputar menjadi pemenangnya. Setiap pertandingan arena di Desa Gesing ini pun selalu ramai

penonton. Tidak hanya warga di Desa Gesing, namun setiap kelompok pemain yang bertanding itu mengajak sejumlah seporter mereka. Seorang warga Desa Gesing Ketut Maman menceritakan, pertandingan gasing ini sudah menjadi kebiasaan yang diwarisi oleh pendahulunya dan hingga kini tradisi tetap dilestarikan. Selain itu, pertandingan ini juga untuk memberikan hiburan kepada warga terutama para pecinta gasing bagi krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan. “Kalau jadwal tetap itu setiap hari Minggu dan ini sudah dari tiga bulan lalu,� paparnya. Mudiarta

12 - 18 Januari 2015

45


PROPERTI

Rangka Atap Baja Ringan Kian Populer

P

emakaian kayu sebagai bahan bangunan, kini kian dikurangi. Berbagai contoh dapat kita temui, seperti penggunaan kayu sebagai bahan dasar konstruksi rumah, furniture dan mebel serta aksesoris yang membutuhkan kayu-kayu yang bagus dan baik. Mengingat, kayu yang bagus tersebut ternyata berasal dari pohon-pohonan yang juga berfungsi sebagai paru-paru dunia karena dapat mendaur ulang polusi-polusi yang dihasilkan oleh manusia. Bersyukur, beberapa teknologi baru dapat membantu mengurangi penggundulan hutan yang merupakan paru-paru dunia ini. Salah satunya, rangka atap dengan bahan dasar baja ringan. Perkembangan pada bidang ini sebenarnya sudah lama dilakukan oleh para ahli konstruksi, tetapi pada waktu sebelumnya masyarakat belum mengenal atau belum memperdalam pengetahuan akan konstruksi baja ringan yang ternyata mempunyai sifat lebih efisien daripada menggunakan bahan dasar rangka kayu sebagai penopang konstruksi atap rumah mereka. Kini, rangka atap baja ringan malah kian popular di dunia kontruksi. Namun, setiap bahan konstruksi yang digunakan pada rumah Anda pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya baik dari kekuatan, estetika bentuk atau hal lainnya. Seperti halnya dalam penggunaan rangka atap baja pada rumah. Jika kita perbandingkan dengan struktur atap konvensional, yaitu rangka atap dengan bahan

46

12 - 18 Januari 2015

dasar kayu, maka penggunaan rangka atap baja ringan akan mempunyai perbandingan yang berbeda dari segi cara pandang setiap penggunanya, mungkin bisa dikatakan tergantung akan lokasi dan biaya produksi untuk mendatangkan material tersebut. Kelemahan rangka baja ringan dibandingkan dengan konstruksi atap kayu seperti dalam hal terhadap suhu yang cenderung menyerap panas lebih banyak dibandingkan dengan kayu. Namun hal itu juga bergantung pada lokasi rumah, yaitu pada daerah iklim tropis atau bukan tropis. Jika dilihat dari keawetan maka baja ringan akan lebih tahan lama jika digunakan pada bangunan yang jauh dari hal-hal yang dapat menyebabkan kerusakan pada baja. Misalnya, bangunan di dekat laut akan sering terkena angin yang membawa bahan penyebab karat pada besi. Dalam kondisi ini akan lebih baik jika menggunakan kayu sebagai rangka struktur bangunan. Dari segi harga, kayu dan baja ringan tidak terlalu beda jauh. Namun kayu bisa jadi lebih mahal, mengingat kelangkaan kayu karena maraknya penebangan pohon tanpa diimbangi dengan upaya penanaman kembali. Pekerjaan rangka atap baja ringan dihitung dalam satuan kg atau meter, sedangkan kayu dihitung dalam satuan m3 atau meter. Karena itu, diperlukan data harga baja ringan per kg atau harga kayu per meter kubik untuk dapat menghitung r e n - cana angga-

ran biaya bangunan, khususnya pekerjaan rangka atap rumah. Dalam proses pengerjaan, diperlukan tukang bangunan yang ahli dalam baja ringan untuk memasangnya. Karena bobot rangka atap baja yang ringan, maka dibandingkan kayu beban yang harus ditanggung oleh struktur di bawahnya lebih rendah. Baja ringan bersifat tidak membesarkan api (non-combustible). Konsumen tidak perlu khawatir baja ringan dimakan rayap. Pemasangannya relatif sangat cepat dibandingkan rangka kayu. Baja ringan nyaris tidak memiliki nilai muai dan susut. Dengan catatan tadi, harus dijauhkan dari penyebab karat seperti bangunan dekat laut. Meski memiliki berbagai kelebihan, rangka baja ringan juga tak luput dari berbagai kukurangan atau kelemahan. Kerangka atap baja ringan tidak bisa diekspos seperti rangka kayu. Sistem rangkanya yang berbentuk jaring kurang menarik bila tanpa penutup plafon. Karena strukturnya yang seperti jaring ini maka bila ada salah satu bagian struktur yang salah hitung, ia akan menyeret bagian lainnya. Rangka atap baja ringan tidak seeksibel kayu yang dapat dipotong dan dibentuk berbagai proďŹ l. Dengan berbagai pertimbangan ini, sekarang bisa diputuskan mau memilih rangka atap kayu atau baja ringan. Sugiarta/ dari berbagai sumber


Kusen Aluminium Jadi Pilihan Alternatif KAWASAN hutan di Indonesia semakin menipis akibat illegal logging, padahal kebutuhan kayu untuk perumahan terus meningkat. Selain kap rumah, kayu biasa dipakai untuk kusen. Berbagai cara dilakukan untuk mengatasi masalah ini, di antaranya menggunakan kusen aluminium. Kusen aluminium merupakan salah satu alternatif bahan pengganti kayu dan saat ini semakin familiar di kalangan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya perumahan, baik pribadi maupun komplek perumahan menggunakan kusen jenis ini. Berbagai faktor pendukung yang menyebabkan kusen aluminium menjadi pilihan utama. Pasalnya bahan ini antikarat, antirayap, antiair, kuat, ringan, dan tahan cuaca. Desain dan pilihannya pun beragam. “Kusen jenis ini dipilih karena lebih ekonomis, efisien, ramah lingkungan dan dari estetika juga cantik serta keren,” ucap pengembang asal Petang, Mengwi, Badung I Wayan Sukarja. Dari segi harga, ditambahkannya, lebih murah dari kusen kayu kelas 1, seperti kamper, jati, dan bingkirai. Pengerjaannya juga cepat karena melalui sub kontraktraktor yang spesialis dan tidak membutuhkan pengecatan karena sudah tersedia beberapa jenis warna. “Aluminium tahan dan bebas karat. Walau dipasang di area terkena air, juga bagus. Paling cocok untuk bangunan model minimalis yang minin atap. Kekurangannya juga ada, model profil atau bentuk yang bisa diciptakan sangat terbatas. Di samping itu, kesannya kurang natural atau alami. Bahan bekas kusen ini harus didaur ulang melalui pabrik alias tidak ada pelapukan alami seperti kayu,” ujarnya. Meski demikian, pengembang masih ada menggunakan kayu. Kayu biasanya lebih sering dipakai untuk bangunan kelas menengah ke

atas karena memiliki kesan alami, mewah, elegan dan prestisius. Untuk kusen almunium biasanya digunakan umumnya untuk rumah kelas menengah. “Rumah kelas atas juga kadangkadang pakai pakai aluminium kualitas platinum,” jelas owner PT Global Persada Real Estate ini. Kalau kusen kayu, pengembang lagi naik daun ini menegaskan, tahap pembuatan dan perakitan lumayan lama. Ditambah tahap finishing juga melalui beberapa tahapan seperti plamir kayu atau impra, selanjutnya di finishing cat atau politer. Apalagi kalau ada kebutuhan atau tuntutan spesifikasi arsitekturnya. “Kusen aluminium juga ada ukuran bisa dipilih disesuaikan kebutuhan. Juga ada pilihan warna yang tepat untuk dikombinasikan dengan warna tembok. Bahan memang memang kurang cocok jika diaplikasikan pada bangunan tradisional dan etnik,” ucapnya. Bagaimana dengan karet kacanya? “Kuat dan elastis untuk melindungi kaca jika terjadi goncangan seperti akibat benturan ringan serta goncangan gempa bumi. Karetnya juga bisa diganti sesuai kebutuhan,” ujar Sukarja. Direktur PT Bumi Cempaka Asri (BCA), Gede Suardita, S.E. mengakui kusen jenis ini lebih tahan lama dan antirayap. Namun, untuk estetika rumah Bali, agak kurang. “Kalau ingin ikut melestarikan hutan, mending pakai kusen aluminium supaya pohon tidak ditebang untuk kusen,” tambahnya. Kusen ini, lanjut Suardita, saat ini paling banyak dipakai bangunan hotel. Sementara untuk perumahan, dominan pakai kusen kayu. “Untuk di Bali kebanyakan pakai kusen kayu karena estetika seninya masih tinggi. Apalagi vila dan bungalow mayoritas pakai kayu karena lebih natural dan menyatu dengan alam,” tegasnya. Kerta Negara 12 - 18 Januari 2015

47


KREATIVITAS

Bromelia yang Memesona

J

ika melintasi persimpangan Jalan Raya Puputan-Jalan Letda Tantular, Renon, Denpasar, Anda akan mendapati taman yang indah. Point of interest-nya berada pada beberapa tanaman pot yang disusun sedemikian rupa yang membentuk barong. Perpaduan yang klop antara go green and art. Tahukah Anda tanaman apa yang membuat taman barong itu begitu indah, terutama saat malam hari, dengan penataan lampu yang berwarna-warni? Taman itu sebagian besar memakai tanaman bromelia. Bromelia adalah spesies tanaman suku nanas-nanasan yang berasal dari Benua Amerika. Wardi, Pemilik Stan Bunga Rizky Garden, mengatakan, selain memiliki warna yang indah, tanaman ini juga kuat dan mudah beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.

48

12 - 18 Januari 2015

Ada banyak jenis bromelia, dari yang harganya murah hingga mahal. Tanaman ini pun tak perlu ekstra perawatan, karena bromelia tahan terhadap kekeringan dan juga tahan terhadap pengairan yang berlebihan yang bisa menyebabkan pembusukan akar pada tanaman jenis lain. Dengan kata lain, perawatan bromelia sangat mudah. “Namun, sebaiknya bromelia disiram empat hari sekali atau disesuaikan dengan kondisi medianya. Jika media sudah terlihat kering, siram,� ujar pria asal Malang yang sudah 18 tahun menggeluti bisnis tanaman ini. Bromelia bisa beradaptasi dalam ruangan yang minim sinar matahari. Wardi mengatakan, bromelia akan tumbuh bagus dan kuat jika ditanam langsung di tanah. Jika bromelia ditanam dalam pot dengan media sekam, seperti yang dipakai taman barong itu, menurutnya paling hanya bertahan

enam bulan. Setelah itu, tanaman harus diganti yang baru atau ditambahkan sekam yang berfungsi sebagai sumber makanan tanaman. Bromelia yang umumnya dikembangkan dengan biji atau anakan ini, pemupukannya juga tidak terlalu sulit. Cukup dilakukan tiga bulan sekali jika menggunakan pupuk slow release. Banyak masyarakat yang tertarik dengan tanaman ini, karena bromelia memiliki beraneka warna dan corak daun yang memesona. Beberapa jenis bromelia memunculkan bunga dengan bentuk yang tak kalah cantiknya dengan ukuran tanaman yang sangat bervariasi, dari yang sangat kecil hingga yang paling besar. Inten Indrawati LAPORAN


PROFIL

dr. Luh Supadmi, M.M.

Atur Waktu Secara Tepat SESIBUK-sibuknya seorang wanita yang sudah berkeluarga, pasti akan meluangkan waktu untuk mengurus rumah tangganya. Hal ini membuat wanita memiliki peran ganda, karena di satu sisi ia menjadi wanita karier dan di sisi lain, ia menjadi pendamping suami dan anak. Agar semua seimbang, perlu pengaturan waktu yang tepat. Ini merupakan kiat sederhana dr. Luh Supadmi, M.M., Kepala Puskesmas I Denpasar Barat. “Saya biasa bangun pagi untuk menyiapkan semua keperluan keluarga. Kalau ada agenda pagi di kantor, bangunnya juga lebih pagi. Setelah beres di rumah, di kantor bisa konsentrasi untuk mengurus pekerjaan kantor,” ujar istri dr. I Made Suyasa Jaya, Sp.OG(K). ini. Di Puskesmas yang berlokasi di Jalan Gunung Rinjani, Desa Tegal Kertha, Denpasar Barat ini, Supadmi memimpin 49 orang. Mayoritas merupakan tenaga medis dan para medis. Namun, bukan berarti semua pekerjaan hanya dilakukan tim medis ini. “Kalau ada kegiatan, kami bekerja sebagai satu tim. Daftar kegiatan sudah terpasang untuk memudahkan apa yang dilakukan dan siapa yang melakukan,” paparnya. Ia menambahkan sesuai dengan tugas utama Puskesmas untuk melakukan kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, pihaknya membuat agenda kerja yang terjadwal. Kini di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), promotif dan preventif mendapat perhatian maksimal. Upaya promotif dilakukan dengan melakukan penyuluhan kesehatan ke wilayah binaan Puskesmas I Denpasar Barat yang terdiri dari Desa Tegal Harum, Desa Tegal Kerta, Desa Padangsambian Kaja, Kelurahan Padangsambian, dan Kelurahan Pemecutan. “Kami mengusung konsep lebih baik mencegah daripada mengobati. Karena itulah penyuluhan yang dilakukan tim kami benar-benar harus dimaksimalkan. Kalau masyarakat sudah paham tentu angka kunjungan ke Puskesmas bisa ditekan. Kalau angka kunjungan ke Puskesmas tinggi berarti banyak warga yang sakit,” ungkap wanita asal Tejakula, Buleleng ini. Untuk kegiatan preventif, pihaknya melakukan imunisasi. Salah satunya dengan mendukung Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Ada 23 sekolah yang berada di wilayah Puskesmas I Denpasar Barat. Kegiatan ini juga sudah diagendakan agar sasaran yang dicapai jelas dan hasil yang diperoleh juga maksimal. “Kini saya sedang menyusun survey kepuasan masyarakat karena masyarakatlah yang akan menilai kinerja kami selain dari pimpinan,” ujarnya. Ibu satu putri dr. Putu Daivi Prakriti, S.Ked. dan nenek dua cucu Putu Vidya Maharani Putri Pramartha dan Made Avana Devi Putri Pramartha ini memiliki kiat agar semua pekerjaan di kantor bisa terselesaikan. Ia membagi habis semua pekerjaan dengan timnya agar semua mendapat bagian dan cepat selesai. Semua ilmu manajemen ini ia peroleh setelah menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Terbuka. Di rumah, dr. Supadmi melakukan hal yang sama. Ia mengatur waktunya untuk mengurus rumah tangga. Bermain dengan cucu merupakan hiburan baginya. “Kalau ada asisten rumah

tangga, saya memberikan arahan, apa yang harus dilakukan. Kalau tidak ada, saya kerjakan sendiri. Mengurus rumah sudah menjadi kewajiban,” ujar wanita yang hobi membaca dan jalan-jalan ini. Dalam mendidik anak, Supadmi memberikan saran. Ayah dan ibu harus “satu bahasa” dalam memberikan pendidikan. Jangan sampai “beda bahasa” karena kalau terjadi perbedaan, anak akan cenderung untuk memilih yang termudah dan membelanya. Selain itu, utamakan kualitas dalam melakukan kegiatan keluarga. Semua ini sudah dilakukan Supadmi sehingga ia bisa mendidik putri semata wayangnya. “Saya kadang dianggap otoriter oleh anak. Tetapi, sekarang dia sudah menyadari, apa yang saya terapkan itu bukan otoriter tetapi kedisiplinan. Orangtua harus menjadi panutan bagi anak,” tegasnya. Setelah semua pekerjaan rumah tangga beres, barulah ia beristirahat. Sebagai dokter, Supadmi paham tubuh dan otak memerlukan waktu untuk istirahat. Namun, sebelum tidur, ia menyiapkan dulu apa yang akan dikerjakan keesokan harinya di kantor maupun di rumah. Ngurah Budi

12 - 18 Januari 2015


AKTIVITAS

MBP/ist MBP/ist

GEBYAR PENGOBATAN - Program STUDI Kesehatan Ayurweda, Fakultas Kesehatan Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar kembali menggelar gebyar pengobatan ayurweda. Pengobatan ayurweda gratis kali ini dilangsungkan di Banjar Mekar Manis Desa Pemecutan Kaja, Denpasar, Senin (29/12). Dalam kegiatan itu Prodi Ayurweda Unhi menggunakan berbagai teknik pengobatan di antaranya akupuntur, acupressure, kompres ball dan sebagainya. Dekan Fakultas Kesehatan Ayurweda Unhi Ir. Nyoman Prastika, M.Si. didampingi Ketua Panitia Pengobatan dr. IB Wiryanata, M.Si. dan Kaprodi Ayurweda IB Putra Suta, S.Ag. mengatakan gebyar pengobatan ini rutin digelar sebagai implementasi tri dharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian pada masyarakat.

BLM - Saat simakrama menutup akhir tahun 2014 Anggota Komisi IV DPR-RI dari Fraski PDI Perjuangan, Drs. I Made Urip, M.Si., menggelontorkan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) tahun 2014 untuk tiga Kabupaten, yakni Gianyar, Bangli dan Klungkung. Bantuan diserahkan secara simbolis di Stage Sidan Gianyar, Senin (29/12) lalu. Penyerahan bantuan disaksikan Ketua DPRD Gianyar I Wayan Tagel Winarta, Ketua Komisi II DPRD Bali I Made Budastra bersama Kadis Pertanian Gianyar, Kadis Perternakan dan Perikanan Gianyar, Perwakilan Kadis P3 Bangli dan ratusan kaum tani dan nelayan penerima bantuan. Nampak dalam foto anggota Komisi IV DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. I Made Urip, M.Si., (paling kiri) menyerahkan BLM Rp 5,958 miliar untuk Kabupaten Gianyar, Bangli dan Klungkung.


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Majalah balipost edisi 72 by e-Paper KMB - Issuu