56 | 22 - 28 September 2014
Golongan Atas Makin Berjaya
RP 20.000
DAFTAR ISI KILAS BERITA l Gudang Hardys Ludes Terbakar 6 lGolongan Atas Makin Berjaya 8
lMP3EI Mesti Diarahkan ke Karangasem 9 lAnggaran Pertanian Minim 10 lStop, Alih Fungsi Lahan Pertanian! 11 POLITIK lMengubah Regulasi, Melawan Penguasa 12 lKembalinya Masa Karantina 13 EKSEKUTIF lGde Agung Kenalkan
Wakilnya ke Jajaran Eksekutif 14
OPINI lBBM, Politis dan Populis 16 JAJAK PENDAPAT lTekan Subsidi BBM
Publik Menentang Langkah Pragmatis 17
PENDIDIKAN lKuota PLPG Khusus untuk
Guru Bahasa Bali 18
MANCANEGARA lAlasan Bahasa Inggris
LENSA l”Melasti” di Kota Besar 26
OLAHRAGA l Arti Kehadiran 28 KRIMINAL lTertangkap, Diana Gagal
Edarkan Upal Rp 21 Juta 32
LINGKUNGAN l Pipa Dikubur, Air Belum Mengucur 36 PARIWISATA l”Guide” Liar Menjamur di Pulau Dewata 38 EVENT lHari Pelanggan Nasional 40 KULINER l”Cooking Class” di Laplapan Desa Petulu 42 TRADISI l“Majaga-jaga” di Besang Kawan
Harmoniskan Buana Alit dan Buana Agung 44
Jadi Bahasa Internasional 20
DAERAH lRakyat Merana
Sumber Air Kering, PDAM Ngadat 22
KESEHATAN lPsikosomatik
Penyakit Fisik Akibat Faktor Pikiran 24
PROPERTI lRumah Atap Limas Terkesan Lebih Elegan 46 BISNIS l Hardys Supermarket Pabean
Manjakan Pelanggan Setia 50
22 - 28 September 2014
3
DARI PEMBACA
Panutan Jujur dan Bersih
P
emerintahan Jokowi-JK lima tahun ke depan setidaknya harus mampu menekan korusi yang terjadi di mana-mana. Korupsi yang terjadi di negeri ini seperti sudah membudaya dan menjamur di mana-mana. Terjadi hampir di semua lembaga negara. Pada waktunya nanti Jokowi harus bisa mengambil sikap melalui koordinasi di semua lembaga agar peluang korpsi bisa ditekan dan dipersempit sehingga tidak memberi celah orang untuk melakukan korupsi. Dengan kepemimpinannya yang sederhana dia harus bisa menjadi panutan pemimpin yang jujur dan bersih. Kalau dihitung-hitung hasil korupsi itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan dan kesejahteraan rakyat yang masih banyak berada di bawah garis kemiskinan. Mereka yang korupsi gajinya sudah besar dan fasilitas sudah cukup memadai, toh tetap merasa kekurangan juga. Nafsu mengejar kelimpahan benda menjadi obsesi manusia modern saat ini. I Made Jara Atmaja Jl. Nusa Indah Gang II/3 Denpasar
Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Suana, Sueca, Yudi Winanto, Subrata, Budi Wiriyanto, Diah Dewi. Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Yudi Karnaedi, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Rindra, Agustoni, Widana, Ngurah Kertanegara, Komang Suryawan. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Dewa Kusuma, Mudiarta, Gianyar: Agung Dharmada, Manik Astajaya, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati, Wira Sanjiwani. Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan NTB Agus Talino, Izzul Khairi, Raka Akriyani
S
Usul untuk Jokowi-JK
aya mengajukan usulan kepada Bapak Jokowi-JK. Pertama, agar Bapak Jokowi-JK dapat mencermati pejabat-pejabat publik yang menjadi bintang iklan di media massa (televisi). Menurut amatan penulis, sekurang-kurangnya ada empat oknum pejabat yang getol “nampang� di layar kaca. Mereka ada yang mengiklankan produk camilan, obatobatan herbal sampai barang-barang pecah-belah semisal panci, sendok, teko merek tertentu, dan lain-lain. Jika peraturan larangan beriklan bagi pejabat belum tercantum sebagai sebuah regulasi, tolong segera dipikirkan pelarangan tersebut karena sangat kurang elok dipandang, kok pejabat yang duitnya sudah berlimpah masih ngompreng lagi dengan jalan beriklan. Mending kalau yang diiklankan itu adalah program-program yang menjadi tugas pokok di institusinya, masyarakat tentu akan mendapat pencerahan. Kedua, selama ini (setidak-tidaknya sepuluh tahun terakhir) di pemerintahan kita nyaris tidak terdengar kepemilikan program yang sifatnya merakyat (rakyat dengan mudah mengetahui program-program tersebut), baik di kementerian maupun di institusi-institusi penting lainnya. Romi Sudhita Jl. Srikandi, Singaraja Bagi Anda yang ingin mengirimkan artikel/opini atau pikiran pembaca silakan kirimkan ke balipost@ indo.net.id atau redaksibalipost@yahoo.com. Panjang artikel maksimal 2.500 karakter, sertakan foto, pikiran pembaca maksimal 1.000 karakter.
4
Surabaya Bambang Wiliarto Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP
22 - 28 September 2014
4
5
BALI SEPEKAN
Gedung SDN 5 Batukandik Retak BARU selesai direnovasi, sejumlah ruangan di SDN 5 Batukandik, Kecamatan Nusa Penida sudah retak-retak. Kondisi ini sangat membahayakan. Terlebih, saat berlangsung kegiatan belajar mengajar, sangat berisiko terhadap keselamatan siswa dan guru. Kondisi itu diketahui saat Bupati Klungkung Nyoman Suwirta meninjau kondisi gedung usai dipugar, Sabtu (6/9). Sayangnya, saat itu guru dan siswa sudah pulang dari sekolah. Bupati Suwirta melihat langsung satu per satu kondisi ruang belajar. Bupati kaget melihat kondisi gedung. Sebab, tiga ruang belajar yang nampak baru diperbaiki, dindingnya tampak retak. Bupati Suwirta meminta instansi terkait mengecek kondisi gedung. Jangan sampai timbul penyesalan, setelah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat kegiatan belajar mengajar. l Bagiarta
Bukit Mendee Terbakar
KEBAKARAN terjadi di hutan Bukit Mendee, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Jumat (5/9). Kondisi ini membuat masyarakat sekitar khawatir kebakaran merembet ke permukiman. Camat Tejakula Nyoman Widiartha, mengatakan, kondisi lahan terjal dan kering tersebut kerap dilalap si jago merah. Apalagi, ketika memasuki musim kemarau. Meski demikian, pihaknya tetap melakukan pengawasan dan memantau agar masyarakat tidak sampai menjadi korban kebakaran hutan. Dia menerangkan, upaya pemadaman akan tetap dilakukan, jika kondisi kebakaran mulai menjalar mendekati permukiman penduduk, meski lokasi kebakaran cukup terjal. l Dewa Kusuma
6
Gudang Hardys Ludes Terbakar
K
ebakaran hebat terjadi di gudang supermarket Hardys Panjer Jalan Tukad Pakerisan, Denpasar Selatan, Sabtu (6/9). Akibat kejadian itu, karyawan dan pengunjung supermarket panik dan berhamburan ke luar. Selain isi gudang, api juga melalap satu kendaraan roda dua DK 6885 VF. Akibat kejadian itu, kerugian ditaksir hingga Rp 5 miliar.
MBP/rah
Menurut Kapolsek Densel Kompol Nanang Prihasmoko, kejadiannya pukul 12:15 wita. Api meludeskan gudang terdiri dari 13 blok dengan luas setiap blok 6 x 20 meter. ‘’Korbannya, pemilik supermarket atas nama Ir. I Gede Agus Hardiawan, usia 42 tahun beralamat Perum By-pass Garden Jalan Danau Tempe, Sanur,’’ tambah Kapolsek. l Kertanegara
Jalur Hijau Dikaveling Investor ADANYA usulan masyarakat untuk mencabut jalur hijau di pinggir jalan Denpasar-Gilimanuk tepatnya di Banjar Jelijih, Megati, Kecamatan Selemadeg Timur yang rencananya akan digunakan untuk pengembangan kecamatan dituding hanya kedok. Pasalnya, ketika status jalur hijau di lokasi tersebut dicabut, justru lahan tersebut kini dikuasai investor. Terbukti di lokasi setempat sudah ada penataan lahan. Hal ini akhirnya menjadi sorotan DPRD Tabanan. Bahkan anggota DPRD
Tabanan dari Partai Hanura I Ketut Suwardiana tegas mengatakan, pencabutan jalur hijau yang merupakan areal persawahan tersebut sangat kontrakdiktif dengan program Pemkab Tabanan yang ingin mempertahankan predikat lumbung beras Bali. Ia pun sangat menyesalkan adanya pencabutan jalur hijau di lokasi tersebut, dan menilai telah melenceng dari ide awal yakni untuk pengembangan kecamatan. l Puspadewi
22 - 28 September 2014
6
Proyek Toilet Mubazir PEMANDANGAN yang cukup mengganggu terlihat di Lapangan Astina, Gianyar. Toilet yang sejak selesai digarap sekitar tiga tahun lalu, hingga kini belum bisa dipergunakan karena ketiadaan aliran air alias mubazir. Bahkan, bangunan yang merupakan proyek toilet itu, bagian temboknya menjadi sasaran corat-coret. Pemandangan seperti itu pun masih tampak, Minggu (7/9). Ada dua bangunan toilet di areal Lapangan Astina Gianyar, satu di sebelah barat lapangan dan satu lagi sisi timur lapangan. Bangunan yang merupakan bagian dari penataan Lapangan Astina itu belum bisa dipergunakan, salah satunya karena pada bangunan toilet itu tidak disertai dengan air mengalir. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemkab Gianyar Ida Bagus Sudewa mengatakan, bangunan toilet yang kini ada di lapangan Astina, merupa-
Belasan Hektar Tanaman Padi Rusak
MBP/dar
kan proyek PU Provinsi Bali, yang dilakukan secara bertahap. l Agung Darmada
TANAMAN padi yang berumur enam minggu di Subak Gatep, Subak Setra, Subak Dalem, dan Subak Ageng mengalami kerusakan. Tanaman di subak yang berada di Desa Budakeling, Bebandem, Karangasem tersebut mengalami daun memerah serta batang yang membusuk. Kerusakan itu terjadi akibat serangan hama tikus, wereng dan ulat. Seorang petani di Subak Setra, I Ketut Candiasa (45) mengungkapkan kejadian tersebut menjadi ketiga kalinya yang dialami petani di empat subak tersebut. Ia menjelaskan, ada tiga hama yang menyerang tanaman padi miliknya secara bersamaan, yakni hama tikus, hama wereng, dan hama ulat. “Sudah kami lakukan berbagai cara untuk mengatasi serangan hama ini sampai uang kami habis. Tapi tetap saja hama itu tidak hilang,� ungkapnya. l Dwa
Bangunan Kumuh Dibongkar Janda Tujuh Anak Tinggal di Gubuk Reyot SEJUMLAH bangunan semipermanen yang ada di bantaran atau sempadan sungai, di Renon, Jumat (5/9) ditertibkan. Beberapa bagian bangunan sudah ada yang dibongkar. Penertiban ini dipimpin Kepala Satpol PP Kota Denpasar I.B. Alit Wiradana, S.Sos., M.Si. Penertiban yang dilakukan pasukan coklat ini juga menyasar warung-warung semipermanen di kawasan civic centre itu. A l i t Wi r a d a n a mengatakan, keberadaan bangunan semipermanen ini membuat kawasan menjadi kumuh dan mengganggu kehindahan wajah Kota Denpasar. Karena itu, pihaknya secara berkelanjutan melakukan penertiban dengan melibatkan aparat desa/ lurah setempat. Untuk penertiban kali ini pihaknya masih
memberikan kesempatan pemilik untuk membongkar sendiri bangunannya seluruhnya yang berada di sepanjang sempadan sungai di Renon. Jika pemilik bangunan yang dijadikan rumah dan warung itu belum membongkar sepenuhnya, maka tim Satpol PP yang kembali membokar paksa. l Asmara Putra
MBP/ara
POTRET keluarga miskin masih ditemui di sejumlah desa di Jembrana. Salah satunya di Dusun Sombang Desa Tukadaya, Melaya. Seorang janda tujuh anak, Sayu Putu Suparmi, tinggal di sebuah gubuk beratap daun buyuk di antara kebun jati dan lahan bekas pembuatan bata merah di dusun itu. Tak banyak yang mengetahui ada warga miskin di kebun itu, lantaran posisi gubuknya masuk sekitar 700 meter dari jalan desa. Di dalam gubuk beralaskan tanah itu, cukup sesak hanya berisi dua tempat untuk tidur Sayu dan tiga anaknya. Tanpa penerangan lampu dan berdinding gedek. Kondisi warga Tukadaya ini juga mengundang keprihatinan Bupati Jembrana I Putu Artha. Bupati yang melihat sendiri kondisi di dalam gubuk dan dapur Sayu, mengaku tak menyangka masih ada warganya yang hidup seperti itu. Tanpa penerangan dan tidur di bawah atap daun buyuk. l Surya Darma 22 - 28 September 2014
7
7
LAPORAN UTAMA
Golongan Atas Makin Berjaya
W
alaupun disebut segai sektor primer, pertanian Bali kalah jauh dengan pariwisata, sektor tersier. Buktinya subak yang menjadi kebanggaan Bali dan dunia, mulai terkikis. Sementara pariwisata menjadi incaran. Data Badan Penanaman Modal dan Perizinan (BPMP) Provinsi Bali menunjukkan kecenderungan tersebut. Setidaknya 21 investor asing tercatat berinvestasi di Bali hingga triwulan III/2013 dengan total investasi mencapai 129.681.400 dolar AS. Kehadiran puluhan pemodal asing yang ingin memiliki aset di Pulau Seribu Pura ini berasal dari Singapura, Belanda, Perancis, Australia, Amerika Serikat, Spayol, Jepang, Swiss, Inggris, Korea Selatan, RRC, Bristish Virgin Island, Denmark, Taiwan, Belgia, India, Taiwan, Berazil dan gabungan negara. Mereka dominan menyasar sektor tersier terutama hotel dan restoran, yakni mencapai 50.856.800 dolar AS (data realisasi periode Januari-Juni 2013), kemudia disusul sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran mencapai 1.795.800 dolar AS. Rencana proyek puluhan investor asing itu sebagian besar menyasar kawasan Bali Selatan, yakni 42 proyek di Kabupaten Badung, Kota Denpasar 13 proyek, Gianyar enam proyek. Sedangkan, dua kabupaten yakni Jembrana dan Bangli tidak tersentuh investasi. Data BKPMD itu menggambarkan betapa, Bali Selatan menjadi incaran dan pariwisata adalah sasarannya. Oleh karenanya perlukan kebijakan Master Plan Percepatan dan pemerataan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di Teluk Benoa (Bali Selatan)? Tidakkah hal itu akan menjadikan Bali Selatan semakin krodit dan ketimpangan akan semakin lebar dengan Bali timur, utara dan barat? Ini pula yang disoroti Prof. Dr. Dewa Ngurah Suprapta, M.Sc. Ia menyatakan, kalau melihat Indeks Gini (indikator standar ketimpangan ekonomi, red) Bali sekarang sekitar 0,4, berarti ketimpangannya cukup lumayan. ‘’Ketika Indeks Gini tinggi itu artinya bahwa sebagian besar kue ekonomi itu dinikmati oleh sebagian kecil golongan atas,” ujarnya.
8
Itu artinya, pemerataan kurang bagus, jadi lebih kepada kapital, lebih kepada orang-orang yang mempunyai modal besar. Itu yang menikmati pertumbuhan besar, sementara yang menengah ke bawah menikmati pertumbuhan kecil. Jadi timpang. ‘’Nah kalau sudah begini, memang kita harus mengkaji kembali apakah MP3EI sudah tepat,” jelasnya. Suprapta menilai MP3EI sejatinya bagus secara konsep. Namun ketika diimplementasikan, pemerintah harus melihat indikator ketimpangan yang terjadi. Dengan kata lain, kebijakan ini harus dilakukan dengan hatihati. Termasuk mencari terobosan agar kue pembangunan bisa dinikmati oleh sebagian besar rakyat di bawah. “Jadi ada keadilan di sana,” tandasnya. Di sisi lain, kata Suprapta, kehadiran investor yang berbondong-bondong datang hanya akan memperlemah kemandirian bangsa ini. Sebab, hasil dari investasi akan lebih banyak mengalir ke sumber modal yang datang dari luar. Sebaliknya, kemandirian ekonomi baru akan terbangun jika ada partisipasi sebagian besar masyarakat. Hal senada juga pernah diungkapkan Pengamat Ekonomi, Prof. I Made Sukarsa. “Kebijakan itu (MP3EI, red) melihat potensi masing-masing daerah atau potensi regional. Misalnya, Bali pariwisata, NTB peternakan. Pemerintah menyediakan fasilitas yang bisa diusahakan digali potensinya. Yang menggali potensi tidak pemerintah, yang diharapkan ya… swasta, investor,” ujarnya. Keterlibatan investor sebagai eksekutor MP3EI tentu membawa dampak negatif tersendiri. Terlebih, proyek-proyek untuk mempercepat pembangunan ekonomi kerap diambil investor luar. Akibatnya, menurut Sukarsa, keuntungan dari pembangunan akan lebih banyak bocor keluar Bali. Dengan kata lain, MP3EI justru menjadi jalan mulus bagi investor untuk meraup keuntungan. Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Bali Prof. Dr. Ketut Rahyuda, MSIE menyatakan, adapun penyebab peningkatan gini rasio, karena potensi sektoral tidak mampu dioptimalkan. Penyebab utamanya adalah APBN dan APBD dominan habis
MBP/dok
Prof. Dr. Ketut Rahyuda
untuk konsumtif, rendah untuk program produktif, sehingga tidak ada multiplier effect. Capital flight juga sangat tinggi. Artinya, Bali hanya dikeruk hasilnya dan digunakan untuk lain daerah. Ini semua akibat rendahnya political will penguasa. ‘’Penggunaan dana masyarakat banyak sekali lost used, sehingga tidak akan mungkin bisa mewujudkan kesejahteraan,” ungkapnnya. Rahyuda mengaku heran, karena di tengah APBD habis untuk biaya politik dan konsumtif, para pemegang kebijakan justru tidak memiliki konsep meminimalkan kemiskinan, apalagi menjelang kenaikan harga BBM, dipastikan kemiskinan meningkat dan gini ratio semakin tinggi. l Parwata
22 - 28 September 2014
8
MP3EI Mesti Diarahkan ke Karangasem Presiden terpilih Joko Widodo menyatakan akan mengevaluasi MP3EI. Pertanyaan tersebut menanggapi permintaan Presiden Yudhoyono agar presiden terpilih melanjutkan program MP3EI yang telah terbukti merangsang pertumbuhan investasi. Namun permintaan tersebut tak serta merta diiyakan Jokowi. Ia pun berencana untyuk melakukan evaluasi terhadap program MP3EI yang salah satunya memuluskan reklamasi Teluk Benoa. Guru Besar Universitas Udayana Prof. I Made Kembar Sri Budhi, sependapat dengan Jokowi. Ia menyebutkan, ada kemungkinan Jokowi menilai pelaksanaan program tersebut belum efektif atau kurang pengawasan. Evaluasi pada sebuah program, menjadi hal mutlak guna menentukan apakah program tersebut bisa dilanjutkan atau tidak. “Mungkin Jokowi melihat program itu belum efektif. Makanya evaluasi ini penting untuk menentukan apakah ini perlu dilanjutkan atau tidak,” katanya. Secara teori MP3EI cukup ideal bagi Bali. Namun di atas kertas saja tidak akan cukup. Implementasi dari sebuah kebijakan justru menjadi penentu program tersebut bakal berhasil atau justru tidak efektif bagi suatu daerah. Inilah yang sekarang menjadi tanda tanya
besar di masyarakat. Ia juga mengungkapkan, tidak menutup kemungkinan program MP3EI tidak berhasil menciptakan pemerataan ekonomi di Bali. Hal itu bisa terjadi jika pelaksanaan program tidak sejalan dengan kajian atau perencanaan awal. Apalagi sejauh ini Kembar Sri Budhi melihat masih banyak implementasi program yang melenceng dari aturan atau kebijakan yang dibuat. Kata Kembar, strategi pengembangan ekonomi di Bali mengacu pada tiga sektor yakni pertanian, industri kerajinan dan pariwisata. Ketiga hal ini mesti dikembangkan. Pengembangan pariwisata boleh menjadi fokus pemerintah, tetapi tidak boleh mengabaikan dua sektor lainnya. Pemerintah harus mampu menciptakan keterkaitan antara ketiga sektor tersebut sehingga pemerataan ekonomi di Bali bisa benar-benar terwujud. Selain itu pemerintah harus menjamin pemerataan pembangunan dan investasi. Jangan sampai investasi hanya berjejal di bali selatan. Sementara Bulelelng dan Karangasem termasuk Jembrana masih kurang mendapat perhatian. Karenanya, MP3Ei sebaiknya diarahkan untuk mempercepat pembangunan dan pemerataan di tiga kawasan tersebut. Akademisi Ir. Made Mudhina, M.T., juga mengatakan, sektor pertanian harus mendapat perhatian. Mempertahankan sektor pertanian tidak hanya berkutat pada produksi semata. Pemerintah ke depan harus membangun dan menguatkan sistem pemasaran. “Harus ada program yang mengajarkan petani berbisnis, bukan lagi bagaimana cara bertani dan meningkatkan hasil pertanian, karena mereka sudah pitar dalam bidang itu. Adapun kendala petani sekarang adalah pemasaran hasil panen mereka,” ujarnya. Menurutnya, petani banyak yang megeluh hasil produksinya tidak terserap pasar dengan maksimal. Sebaliknya pelaku industri mengeluhkan pasokan hasil pertanian Bali yang belum memenuhi standar kualitas dan kontinuitas.
‘’Kedua kepemntingan ini harus dipadukan, sehingga tidak saling menyalahkan,’’ tegasnya. Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali Prof. Dr. Ir. I Nyoman Suparta juga mengakui, nasib para petani di Bali kini kian terpuruk. Selain masih dianggap termajinalkan, permasalahan yang dihadapi petani semakin kompleks. Ironisnya, pemerintah setempat juga terkesan cuek alias tidak mau tahu kesulitan yang dirasakan petani. Padahal, selain sektor pariwisata, pertanian juga masih tetap memegang peran strategis menjaga stabilitas dan pemerataan perekonomian Bali. “Keluhan yang dirasakan petani di Bali, baik masalah kontinuitas, kualitas, pemasaran produk dan permasalahan lainnya sudah kerap disampaikan kepada pemerintah dalam setiap kesempatan. Kami sudah mediasi itu, bahkan ngomong kepada Gubernur berkali-kali untuk membuat Perda Pertanian hingga membuat grand desain pertanian. Tetapi, hingga saat ini belum ada tindak lanjut,” ujarnya. Menurutnya, Perda Buah Lokal yang dikeluarkan Pemprov Bali tidak memproteksi keberadaan petani, melaikan hanya perlindungan buah lokal. Padahal, yang dibutuhkan petani di Bali adalah bagaimana kalangan hotel dan restoran membeli produk pertanian lokal, membuat grand desain pemasaran yang pengatur jalur pemasaran, kualitas produk yang diinginkan pasar serta kepastian harga. Dia juga menilai, minimnya hasil penelitian yang diterapkan dalam memajukan sektor pertanian di Bali menjadi salah-satu penyebab terpuruknya sektor tersebut. Padahal, Bali memiliki banyak hasil penelitian atau riset yang bisa dimanfaatkan untuk memajukan sektor itu. “Pemerintah hendaknya jangan apreori dengan teori dan hasil penelitian. Sebab, tanpa itu ibarat berjalan dengan kebutuaan. Mestinya keduanya berjalan beriringan,” katanya. l Dedy 22 - 28 September 2014
9
9
LAPORAN UTAMA
Anggaran Pertanian Minim
D
i Karangasem, anggaran sektor pertanian tahun 2014 hanya 7 persen atau Rp 15 miliar dari total APBD Rp 1,15 triliun. Bahkan dari dana Rp 15 miliar itu, anggaran belanja tak langsung pegawai sebanyak Rp 5,7 miliar yang terdiri atas gaji dan tunjangan jabatan/keluarga. Sisanya Rp 9,3 miliar merupakan biaya langsung. Namun, anggaran ini pun masih dipotong untuk honor PNS dan non-PNS, anggaran lembur, biaya administrasi, dll. di tiap proyek atau kegiatan. Kalangan DPRD Bali menilai perhatian pemerintah masih sangat kurang pada sektor pertanian khususnya terkait anggaran yang masih kecil. Anggota DPRD Bali Gusti Putu Budiarta mengatakan, perhatian pemerintah sangat dibutuhkan baik melalui regulasi maupun program di tengah kondisi sektor pertanian Bali yang menghadapi berbagai ancaman. Ancaman itu di antaranya; alih fungsi lahan, rendahnya daya saing, berkurangnya minat menggarap sektor pertanian, maupun ancaman dari luar seperti adanya perdagangan bebas yang mana produk pertanian dari luar akan membanjiri Bali dan bisa menggusur produk local. “Minimal anggaran pertanian mestinya 10 persen dari APBD sehingga ada perhatian riil pada petani. Kemudian
harus ada semacam perusahaan daerah (perusda) yang khusus bergerak di bidang pertanian, misalnya bagaimana membantu pemasaranan termasuk pengolahan hasil pertanian agar bernilai ekonomis lebih tinggi,” kata politisi PDI-P asal Denpasar itu, Rabu kemarin. Sementara itu akademisi Dr. Putu Saroyini Piartrini, M.M., Ak., mengatakan, pertanian Bali tidak hanya menghadapi masalah produksi juga pascapanen. Dia melihat salah satu kelemahan petani Bali saat ini adalah manajeman pascapanen. Banyak produk pada panen raya ditelantarkan petani, karena harganya murah. Bila dilihat dari perspektif manajemen rantai pasokan, kata dosen Unud itu, masalah tersebut disebabkan oleh kelebihan pasokan dibandingkan permintaan. Kondisi ini akan berdampak buruk terhadap produk pertanian yang tidak tahan lama, dibanding produk yang bisa disimpan. “Hal ini jelas merugikan petani karena kerja kerasnya sia-sia,” katanya, Rabu (10/9). Oleh karena itu, penting sistem pengelolaan lebih akurat, terutama terkait rantai pasokan produk semacam itu. Di samping itu, kerja sama instansi yang menangani urusan produksi dan perdagangan produk pertanian serta lembaga penyangga (buffer institution). “Apapun bentuk badan hukumnya, bekerja sama untuk melakukan mitigasi risiko petani,” ujar Saroyini.
MBP/dok
Berton-ton buah salak di Karangasem mesti terbuang karena tidak laku saat musim panen.
10
Ditegaskannya, bentuk kerja sama yang bisa dilakukan antara lain menyerap kelebihan pasokan dengan teknologi pengawetan, memperpanjang usia produk untuk dijual beberapa waktu kemudian setelah panen atau penyaluran ke produsen pengolah makanan dan minuman. Selanjutnya digunakan atau diolah. Namun, dia berharap produk pertanian tersebut dibeli dengan harga wajar. “Kami sadari proses pengelolaan rantai pasokan ini perlu diimplementasi sejak awal, bahkan sebelum masa tanam hingga pascapanen,” tegasnya. Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnu Ardhana menegaskan pihaknya terus berupaya menunjukkan keberpihakan riil terhadap sektor pertanian. Salah satunya dengan meningkatkan anggaran untuk sektor pertanian secara bertahap termasuk melahirkan sejumlah program yang mampu menjawab permasalahan pertanian di lapangan. Terkait anggaran pembangunan sub sektor tanaman pangan dan holtikutura, imbuhnya ada dana dekonsentrasi dan dana perbantuan dari Kementrian Pertanian mencapai Rp 72 miliar di tahun 2014 ini yang langsung dikucurkan ke kabupaten/ kota. Sementara anggaran pertanian dari APBD Bali tahun 2014 yang ditangan Dinas Pertanian sekitar Rp 65 miliar dimana Rp 35 miliar untuk belanja langsung, subsidi pupuk organik Rp 10 miliar, dan untuk penambahan program simantri Rp 20 miliar. “Itupun masih ada dana yang tersebar di SKPD lain yang berkaitan dengan pertanian seperti Dinas Perkebunan dan Dinas Peternakan,” katanya. Terkait permasalahan ketika panen raya harga produk pertanian seperti hortikultura dan buah-buahan ajlok bahkan sejumlah komoditi seperti tomat dibiarkan busuk di pohon. Wisnu Ardhana mengatakan sebenarnya selama ini pemprov telah membantu dalam hal pemasaran baik pengolahan pascapanen. Di sejumlah sentra produksi pertanian, digulirkan program UP3HP (Unit Pelayanan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian). Saat ini baru ada sekitar 30 UP3HP se-Bali dan ke dapan akan dikembangkan lebih banyak lagi pada sentra-sentra produksi pertanian. l Widana
22 - 28 September 2014
10
Sorot
Stop, Alih Fungsi Lahan Pertanian! Bali terancam dari sisi penyelamatan lahan-lahan pertanian produktif. Alih fungsi lahan tak terelakkan di tengah besarnya permintaan akan rumah. Tangantangan investor properti telah merambah dengan garang ke seluruh pelosok Bali. Hampir semua daerah dijamah dan lahanlahan dibebaskan untuk permukiman. Bila kondisi ini terus dibiarkan tanpa ada upaya “penyelamatan” atau mengerem laju alih fungsi lahan, maka Bali akan kehilangan taksu-nya. Pertanian bagi Bali tidak saja sebagai sumber pangan dan penyerap tenaga kerja, tetapi sumber budayanya. Sebagian besar aktivitas budaya Bali bersumber dari sektor ini. Upacara dari masaba sampai ngaben “jero ketut”, mapeed, ngaturang sarin taun, mapag
toya sampai mantenin padi di jineng dll., semuanya dari kegiatan pertanian. Bila kemudian lahan-lahan produktif itu habis jadi permukiman, pertokoan sampai jalan raya dll, akankah kita mampu menjaga “ajeg Bali”? Tidak jelas apa langkah pemerintah dalam mengerem laju alih fungsi lahan ini. Selama ini yang keluar dari mulut pejabat hanya wacana. Aksi nyatanya tidak jelas. Membebaskan membayar pajak bumi dan banguanan (PBB) pada daerah-daerah jalur hijau juga “setengah hati”. Apalagi memikirkan membebaskan jalur hijau itu secara bertahap. Walau langkah ini biayanya besar, teapi ke depannya sangat ampuh mencegah pelang nama jalur hijau tidak “jalan-jalan” lagi.
Termasuk belum memikirkan penyaluran produk pertanian secara jelas terutama saat panen raya. Terbuangnya buah salak, cabai sampai jeruk enggan dipetik petani karena harga murah, merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah. Nasib petani kita sekarang ini masih belum terangkat dan cenderung makin terpuruk. Apalagi kini investor properti makin “galak” mengambil lahan-lahan pertanian yang membuat petani makin ketakutan. Takut karena lahan-lahan yang dikelola selama ini hasil sewa atau sebagai panyakap akan hilang dan tinggallah mereka para petani di Bali meratapi nasib diri dan budayanya. l Purnata
MPB/dok
POLITIK
Mengubah Regulasi, Melawan Penguasa
MBP/ade
Pemilihan kepala daerah lewat DPRD akan menghapus masa kampanye. Ada kemungkinan masa kampanye ini akan bergeser menjadi masa lobi dan penjajagan kontrak politik dengan para legislator.
M
enjelang purnabhakti legislator Senayan melakukan manuver politik. Legislator koalisi Merah Putih merombak UU Pilkada. Sesuai draf yang dirumuskan, Pilkada dikembalikan ke DPRD. Langkah ini pun ditengarai mengeberi demokrasi. Manuver ini ditengarai sebagai bentuk perlawanan terselubung koalisi Merah Putih terhadap Jokowi. Menyikapi hal ini, sebagian politisi dan kalangan akademisi mengecam keras Revisi UU Pilkada di DPR. Mengembalikan pilkada ke DPRD sebagaimana didukung Koalisi Merah Putih (Golkar, Gerindra, PPP, PAN, PKS dan terakhir juga didukung Demokrat) dituding sebagai skenario besar perlawanan terhadap presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dari daerah. “Dengan mengembalikan pilkada ke DPRD ada indikasi, koalisi Merah Putih melakukan politik perlawanan dari daerah. Mereka ingin para kepala daerah tidak sejalan dengan Jokowi akibat beda partai,’’ ujar Dr. Ida Bagus Radendra Suastama, S.H., M.H. Berdasarkan analisis, peta perolehan kursi legislatif di DPRD di 34 provinsi seIndonesia menunjukkan gabungan jumlah
12
kursi Koalisi Merah Putih hampir di semua provinsi lebih besar ketimbang gabungan kursi koalisi PDI-P. Jika diasumsikan Koalisi Merah Putih kompak bersama untuk memilih kepala daerah di DPRD maka suara mereka akan mengungguli PDI-P dan kepala daerah terpilih adalah dari Koalisi Merah Putih. Dengan memiliki kepala daerah baik gubernur ataupun bupati/wali kota di semua provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia, akan sangat mudah bagi Koalisi Merah Putih jika ingin melawan atau memboikot segala kebijakan dan program pembangunan Jokowi dari daerah. Implikasi negatifnya, imbuhnya, jika hal tersebut terjadi maka terjadi disharmonisasi hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Radendra yang juga Ketua Yayasan STIMI Handayani Denpasar itu berharap publik agar melawan arogansi dari parpol yang ingin mengembalikan pilkada ke DPRD. Publik harus tetap bersuara menolak kedaulatan rakyat dipasung dan dipangkas. Sebelumnya, pengamat pemilu Dr. Made Wena, juga menilai upaya menghilangkan pilkada langsung merupakan kemunduran bagi demokrasi. “Pilkada langsung jelas mendapatkan legitimasi kedaulatan yang lebih tinggi dibandingkan pilkada oleh anggota DPRD,” kata Wena, yang juga mantan Ketua Panwaslu Provinsi Bali itu. Menurut Wena, pemilihan secara langsung oleh rakyat tentu saja memiliki sejumlah kelemahannya. Namun, kalau ada kelemahan tentu tidak serta merta mengubah sistemnya. Kelemahan atau kekurangan tersebut yang harus diperbaiki,” katanya. Ditambahkannya, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah lewat DPRD cenderung memasung hak demokrasi. Kata dia, pengalaman sebelumnya sampai ada anggota DPRD yang harus dikarantina. “Itu kan jelas-jelas pemasungan hak berdemokrasi,” tandas Wena. Ia berpendapat, sebaiknya pilkada tetap dilaksanakan secara langsung. Sebab, pemilihan secara langsung legitimasi rakyat lebih tinggi terhadap pemimpin yang terpilih. l Widana
Point RUU Pilkada n Pemilihan Kepala daerah tingkat Provinsi dipilih DPRD. n Wakil Kepala tingkat Provinsi daerah diusulkan oleh kepala daerah terpilih dan masa jabatannya sesuai dengan menjabat kepala daerah. n Untuk menghindari politik rivalitas, masa jabatan wakil kepala daerah harus sama dengan kepala daerah. Jika kepala daerahnya meninggal atau berhalangan tetap, otomatis jabatan wakil kepala daerah juga berhenti. Nanti ditunjuk seorang penjabat atau pelaksana tugas memimpin pemerintahan. n Bupati/Wali Kota tetap dipilih secara langsung oleh rakyat dengan penyelanggara pemilihan KPUD, sedangkan gubernur dipilih DPRD dengan panitia pemilihan bersama dengan KPUD provinsi. n Diperlukan persyaratan yang ketat untuk mendapatkan kepala daerah kapabel. Tingkat pendidikan diusulkan harus minimal sarjana dan tidak memiliki cacat moral. n RUU ini juga mengantisipasi munculnya politik dinasti dalam satu wilayah. n Peserta pilgub dari parpol atau gabungan parpol. Dalam pilgub tidak dibuka ruang untuk calon perseorangan. Untuk pemilukada kabupaten/kota bisa berasal dari parpol, gabungan parpol dan perseorangan. n Model kampanye diarahkan jadi pertemuan terbatas, dialog, penyebaran melalui media cetak dan elektronik, penyiaran melalui radio dan/atau televisi, penyebaran bahan kampanye kepada umum, pemasangan alat peraga di tempat umum dan debat terbuka calon.
22 - 28 September 2014
12
Kembalinya Masa Karantina SISTEM pemilihan kepala daerah lewat DPRD diyakini tetap sarat intrik politik. Suap, pembelotan dan transaksi dukungan politik tetap akan menjadi bagian tak terhindarkan. Bahkan, masa karantina bagi para legislator akan muncul kembali demi kepentingan ‘’satu suara’’ membela pilihan. Karantina menjadi strategi elite politik untuk menghindari pembelotan kader partai di legislatif. Era karantina ini bisa saja menjadi bagian politik, jika RUU Pilkada benarbenar memberikan ruang kepada DPRD untuk memilih pemimpin di tingkat provinsi dan kabupaten. Namun, jauh sebelum RUU ini disetujui di DPR-RI, penolakan terdengar di daerah. Setidaknya, Bupati Klungkung Nyoman Suwirta mengaku tak sependapat jika pemimpin daerah dipilih oleh DPRD. Sikap Suwirta ini cukup berani karena mengambil sikap bertolak belakang dengan partai pengusungnya, Gerindra. Dengan pilkada langsung, ia menilai rakyat juga bisa ikut andil secara langsung untuk membangun daerah. Jika dipilih DPRD, justru hak rakyat dikebiri. “Masyarakat menginginkan suatu mekanisme yang terbaik. “Dengan dipilih langsung rakyat,
kepala daerah bisa bekerja lebih serius. Tidak sekadar bertanggung jawab kepada DPRD saja,” tegas Suwirta. Ketua PAC PDI-P Kota Tabanan Wayan Wiadnyana bahkan menegaskan selaku kader partai dari PDI-P Perjuangan, ia tetap sepakat dengan DPP PDI Perjuangan yang memberikan mandat kepada rakyat untuk memilih pemimpinnya. Menurutnya kalau masalah bagus tidak bagus pilkada langsung maupun yang ditunjuk oleh Legislatif, pastinya semua punya argumentasi yang bisa dipertangungjawabkan. Tetapi PDI Perjuangan tetap mengedepankan kedaulatan penuh rakyat secara konsisten untuk mengamankan demokrasi. “Koalisi Merah Putih mungkin menganggap RUU Pilkada ini menguntungkan mereka sehingga memilih jalan itu. Namun, di PDI Perjuangan memberikan kedaulatan penuh ke tangan rakyat,’’ ujarnya. Ia berpandangan pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat lebih baik, karena bisa memunculkan pemimpin yang baik dan tentunya lebih kenal dan dekat dengan rakyatnya. “Kalau legislatif yang memilih tentu tergantung siapa figur yang dicalonkan induk partai. Calon ini tentunya kurang dikenal dan tidak mem-
bumi,” paparnya. Ia tidak menampik bahwa jika pemilihan kepala daerah lewat legislatif diterapkan, maka strategi karantina akan menjadi pilihan. Elite politik akan meminimalkan ruang bagi kadernya untuk bermanuver apalagi membelot. Namun, Korwil Tabanan-Jembrana, DPD Hanura Bali Ketut Suwardiana mengatakan anggota legislatif itu dipilih oleh rakyat dan merupakan perpanjangan tangan dari rakyat. Jadi, mereka punya mandate mewakili rakyat dalam memilih pemimpin,’’ ujarnya. Bahkan, menurutnya tidak hanya kepala daerah, harusnya pemilihan presiden pun juga ditunjuk langsung oleh anggota legislitaif. Ketua KPU Tabanan Luh Dara Yoni memaparkan dengan pemilihan lewat DPRD berarti tidak memerlukan surat suara, TPS maupun dana untuk petugasnya. “Yang jelas dana yang dikeluarkan lebih sedikit,” ujarnya. Meski demikian pihak KPU tidak bisa memastikan berapa banyak perbandingan dana antara pemilihan langsung oleh rakyat dengan pemilihan lewat DPRD. l Wira Sanjiwani/Bagiarta 22 - 28 September 2014
13
13
EKSEKUTIF
Wakil Bupati Badung I Made Sudiana bersama istri saat acara perkenalan kepada jajaran eksekutif di lingkungan Pemkab Badung
Gde Agung Kenalkan Wakilnya ke Jajaran Eksekutif Setelah dilantik pagi harinya, 9 September, di DPRD Badung, Wakil Bupati (Wabup) Badung I Made Sudiana, S.H., M.Si., bersama istri langsung diperkenalkan oleh Bupati Badung A.A. Gde Agung kepada jajaran eksekutif di lingkungan Pemkab Badung, pada siang harinya. Acara yang diadakan di Ruang Kertha Gosana, Puspem Badung tersebut dihadiri Sekda Badung Kompyang R. Swandika, Ketua TP PKK Badung Ny. Ratna Gde Agung, Ketua Dharma Wanita Persatuan Ny. Kompyang R. Swandika, WHDI, para asisten, kepala dinas, badan, kantor bagian, majelis madya, camat, lurah/ perbekel. Wabup Sudiana bersama istri langsung didaulat naik podium untuk memberikan kata sambutan. Dalam sambutannya
14
22 - 28 September 2014
Wabup Sudiana mengucapkan terima kasih kepada bupati dan seluruh jajaran pemerintahan Kabupaten Badung yang telah bekerja keras sehingga Pengganti Antar Waktu (PAW) dapat dilaksanakan dengan baik. Sudiana berharap, sesuai komitmen, visi dan misi yang telah disampaikan, dapat bersama-sama membangun kerja sama sehingga terwujudnya pelaksanaan fungsi pemerintahan, pembangunan dan sosial kemasyarakatan dengan baik. “Kami siap melaksanakan tugas mendampingi Bapak Bupati A.A. Gde Agung hingga 5 Agustus 2015 mendatang,� tegasnya. Sementara Bupati Gde Agung mengatakan, untuk pertama kalinya setelah 12 bulan 11 hari bisa bertatap muka secara lengkap dalam suasana kebersamaan
dan penuh kekeluargaan. Karena setelah melalui proses panjang dan berlarut larut akhirnya telah dilantik Wabup Badung yang akan mendampingi dan membantunya dalam menjalankan tugas hingga 5 Agustus 2015. Bupati menekankan, dalam upaya tata kelola pemerintahan yang baik, Wabup juga mempunyai tugas yang amat penting yakni memberikan atensi serta mendukung fungsi-fungsi pengawasan dan penegakan disiplin di lingkungan birokrasi. Selaku kepala daerah Bupati Gde Agung tidak ingin di masa-masa menjelang akhir masa tugasnya, justru terjadi suasana kontraproduktif apalagi sampai terbangunnya faksi-faksi di jajaran birokrasi. l Dedy
PROFIL
Dr. I Nyoman Sugawa Korry, S.E., M.M., Ak.CA
Spesialis Konseptor Perda
Perjuangan menjadi seorang anggota legislatif (DPRD) tidak hanya cukup dengan popularitas, punya banyak massa, berbekal banyak uang ataupun dekat dengan sumber kekuasaan. Namun, menjadi wakil rakyat sejatinya adalah siap mengabdi dan melayani rakyat, punya kemampuan intelektualitas mumpuni dan mampu menjadi sumber solusi bagi permasalahan pembangunan dan permasalahan masyarakat serta mampu menjalankan tiga fungsi yakni legislasi, budgeting, dan controlling. Peran sebagai wakil rakyat sejati telah dilakoni anggota DPRD Bali yang tiga periode menjabat wakil rakyat di Renon yakni Dr. I Nyoman Sugawa Korry S.E., M.M., Ak.CA. Ia mampu menjalankan dan memerankan tiga fungsi Dewan dengan baik menyangkut legislasi, budgeting, dan controlling. Sugawa Korry yang terpilih kembali sebagai anggota DPRD Bali periode 2014-2019 juga mempunyai kemampuan intelektualitas mumpuni. Terbukti ia merupakan anggota Dewan pertama yang menyandang gelar doktor setelah menamatkan pendidikan doktornya di Program Doktor Ilmu Manajemen Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang pada 2013 silam. Sementara gelar masternya ia
peroleh dari Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Jakarta pada 1996. Dengan background akademis di bidang ekonomi dan manajemen tersebut, pria kelahiran Banyuatis, 9 Juni 1957 ini juga menjadi spesialis konseptor dan inisiator lahirnya sejumlah perda (peraturan daerah) inisiatif Dewan. Selama duduk di Komisi II DPRD Bali periode 2009-2014, ia berperan aktif dan berkontribusi ikut melahirkan perda inisiatif Dewan seperti Perda Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida), Perlindungan Koperasi dan UMKM serta Perda Perlindungan Buah Lokal. Dalam ketiga perda ini mengandung semacam visi misi yang visoner menyiapkan masyarakat Bali dalam menghadapi ancaman, tantangan dan peluang implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun 2015. “Tiga perda inisiatif Dewan ini kami siapkan untuk mengantisipasi MEA. Kalau ketiga perda ini dilaksanakan, maka kita siap hadapi MEA,” ujar anggota utama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) itu yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Buleleng itu. Disinggung terkait kiprahnya selama ini di Dewan, Sugawa Korry mengaku tidak ingin sekadar menjadi pelengkap atau menyandang gelar wakil rakyat
sebatas status. “Kalau saya diberikan tugas dan kepercayaan terlebih sebagai wakil rakyat, saya tidak sekadar ingin bertugas. Tapi ingin memberi makna, ingin memberi arti. Pada periode ketiga ini pun saya ingin memberi makna dan arti terkait tugas dan fungsi di DPRD Bali,” kata pria yang kini menjabat Wakil Ketua Sementara DPRD Bali periode 2014-2019 yang juga akan menjabat Wakil Ketua DPRD Bali yang definitif. l Widana
OPINI
BBM, Politis dan Populis
K
etika jatah distribusi BBM (bahan bakar minyak) bersubsidi dikurangi, baik jumlah maupun waktu penjualan di SPBU, maka seketika dampaknya sangat besar. Antrean panjang di hampir semua SPBU, baik antrean kendaraan maupun jeriken minyak. Harga beberapa barang mulai ikut memanfaatkan situasi untuk naik harga, seperti ikan karena nelayan ragu-ragu untuk melaut. Harga-harga jenis barang yang lain pun ikut merangkak naik karena biaya angkut juga mengalami kenaikan. Protes dan keluhan bermunculan. Bahkan ada yang sampaikan dituntut dan dilaporkan ke polisi gara-gara kesal dan akhirnya mengumpat tidak ada juntrungannya. Bahkan isu ini menjadi santapan para spekulan komentator seiring dengan bertemunya Presiden SBY dan calon penggantinya, Pak Jokowi di Bali beberapa waktu yang lalu. Opsi harga dinaikkan atau tidak, oleh siapa dan kapan menjadi obrolan di berbagai kesempatan dan jadi santapan komoditas politik. Sungguh begitu dahsyatnya pengaruh BBM ini pada kehidupan masyarakat kita. Tidak salah jika isu BBM menjadi isu sangat penting dan populis yang dapat menjadikan seseorang tambah populer atau tambah tersungkur. Dalam beberapa kesempatan, baik melalui tulisan maupun paparan seminar dan diskusi, bahwa harga BBM kita ini (premium dan solar) memang masih berada di bawah harga keekonomian. Bahkan harga BBM kita paling murah di kolong langit ini. Mengapa demikian, karena harga BBM yang dipatok untuk dijual di masyarakat adalah harga BBM yang disubsidi bersamaan dengan dijualnya BBM dengan harga yang lebih mahal. Konon katanya yang lebih mahal itu adalah karena kualitasnya berbeda dari BBM bersubsidi (pertamax dan sejenisnya). Apa memang begitu adanya? Atau BBM jenis itu sebenarnya
16
22 - 28 September 2014
ini, seseorang tidak perlu harus ahli dibidang ekonomi atau keuangan. Hal ini sudah sangat nyata apa akibatnya nanti. Jika harga BBM dinaikkan sejumlah tertentu, kuota BBM mengikuti permintaan (tidak dibatasi). Dana untuk pengadaan BBM dia APBN tentu tidak bermasalah. Jikapun harga BBM yang sudah dinaikkan belum mencapai harga keekonomian, tetntu masih ada subsidi yang harus disediakan dalam APBN, namun tentu besarnya tidak seperti saat ini. APBN akan lebih sehat dan dapat mengantisipasi pembangunan sektor lainnya dengan lebih baik. Kelemahannya adalah tentu akan ada penolakan dari beberapa orang baik individu, kelompok maupun partai politik. Hal ini wajar apalagi mereka tersebut hidupnya sangat terpengaruh dari fluktuasi harga BBM. Mungkin kelompok penyelenggara angkutan umum akan bereaksi menolak karena akan berakibat naiknya biaya operasional. Tuntutannya pasti Oleh I Made Rai Ridartha, ATD, Dipl.UG, M.Eng.Sc. adanya penyesuaian tarif angkutan penumpang maupun barang. punya kualitas yang sama dengan BBM Imbasnya akan dirasakan oleh bersubsidi tetapi dijual dengan harga masyarakat bukan saja pengguna angkukeekonomian? tan umum tetapi juga masyarakat kelas Apabila harga BBM tidak dinaik- bawah yang mengandalkan transportasi kan, kuota ditambah tentunya subsidi pribadi (sepeda motor atau mobil). Bahbertambah. Dampaknya adalah, dana kan masyarakat kelas menengah ke atas APBN terserap lebih banyak untuk pun akan ikut-ikutan menolak kenaikan membayar subsidi. Akibatnya pembi- harga BBM bersubsidi. Padahal, tujuan ayaan terhadap sector lainnya menjadi diluncurkannya BBM bersubsidi bukan terganggu dan berkurang jika pendapa- untuk kalangan mereka. tan negara tidak bertambah. KeuntunLalu langkah mana yang sebaiknya gannya adalah masyarakat masih dapat dipilih? Untuk menjawab hal ini tentu membeli dengan harga yang murah, se- tidak semudah memilih antara makan hingga tidak perlu ada tambahan biaya nasi rames atau nasi soto. Bahkan para untuk pembelian BBM. Masyarakat petinggi bangsa ini harus melakukan lobitenang, pemerintah cenderung lebih lobi dan tukar menukar kemungkinan, popular. Namun jika kebijakan ini dampak dan risikonya. diambil maka hal iniu bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu akan dapat Penulis, Ketua Masyarakat Transpormeledak dahsyat. Untuk mengetahui hal tasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali
J A J A K P E N DA PAT
Tekan Subsidi BBM
Publik Menentang Langkah Pragmatis BEDA persepsi dan sikap politik mengelola BBM pada masa transisi pemerintahan pun menguat. Usulan Jokowi-JK agar BBM dinaikan pada era SBY dimentahkan para pendamping SBY. Kadernya SBY di parlemen menolak usulan Jokowi-JK bahkan sejumlah menteri juga menegaskan harga BBM tidak akan naik menjelang akhir pemerintah SBY. Di lain pihak, Jokowi-JK tetap berharap ada penyesuaian harga BBM bersubsidi untuk menyelamatkan APBN. Menyikapi polemik atas rencana kenaikan harga BBM ini, Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat di seluruh Bali. Jajak dimaksudkan untuk menjaring persepsi publik terkait harga BBM. Jajak dilakukan dengan mengajukan kuisioner dan wawancara via telepon. Berdasarkan tabulasi atas jawaban responden, ternyata 50,26 persen responden menyatakan dukungannya jika pemerintahan baru melakukan penyesuaian harga BBM. Namun, ring kenaikan harga ini jangan sampai terlalu tinggi yang pada akhirnya akan berdampak pada daya beli masyarakat. Presiden terpilih pun diharapkan mencari terobosan lain untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi, sehingga anggaran negara yang tersedot untuk BBM bersubsidi tidak terlalu tinggi. Sedangkan, 46,64 persen responden menyatakan penolakannya jika pemerintah Jokowi-JK menaikan harga BBM. Responden berharap Jokowi-JK jangan melakukan langkah pragmatis dengan membebani rakyat untuk menekan subsidi. Tingginya kebocoran dan dugaan adanya mafia dalam pengelolaan migas yang harus dijadikan solusi sebelum menaikkan harga BBM. Jokowi-JK juga disarankan melakukan pengolahan terhadap minyak mentah di dalam negeri sehingga tak perlu mengimpor BBM. Sedangkan 3,10 persen responden lainnya tidak memberikan komentar terhadap hal ini. Responden menilai, selama ini setuju maupun tidak setuju terhadap kenaikan harga BBM, pemerintah selalu menaikkan harga BBM. Terkait dengan korelasi antara kenaikan harga BBM dengan kesejahteraan rakyat, responden mengaku tidak yakin. Ada 64, 28 persen responden yang berkeyakinan bahwa kenaikan harga BBM tak akan berdampak bagi rakyat. Selama mafia pengelolaan migas menggurita dan praktik korupsi masih membudaya, kenaikan harga BBM hanya akan menguntungkan penguasa dan kroninya.
Rakyat justru akan makin tertekan dampak kenaikan harga BBM. Responden bahkan menuding, jika Jokowi –JK gagal melakukan restruktusisasi pengelolaan kementrian ESDM, maka kenaikan harga BBM hanya akan menimbulkan kesengsaraan. Sementara, 34,40 persen responden meyakini kenaikan harga BBM berdampak terhadap kesejahteraan rakyat. Selama ini, anggaran subsidi dari APBD ternyata tak efektif. Subsidi justru banyak disalahgunakan pejabat korup dan dinikmati sebagian orang kaya di negeri ini. Selama ini, konsumsi BBM bagi kalangan miskin di Indnesia jauh lebih rendah dari konsumsi BBM kelompok orang kaya. Namun, responden berkeyakinan dampak kenaikan harga BBM tetap akan tergantung pada kebijakan penguasa. Jika Jokowi menerapkan pola lama dalam pengelolaan migas maka kenaikan harga BBM hanya akan meningkatkan beban derita rakyat. Sedangkan 1,32 persen responden tak merespon pertanyaan ini. Selama ini, mereka mengaku tak merasakan ada kebijakan pemerintah yang bersentuhan langsung dengan perbaikan taraf hidup mereka. l Dira Arsana
22 - 28 September 2014
17
PENDIDIKAN
Kuota PLPG Khusus untuk Guru Bahasa Bali
T
Dr. Made Alit Mariana
ahun anggaran 2014 ini, tercatat 1.374 orang guru di Bali dari jenjang pendidikan TK, SD, SLB, SMP, SMA dan SMK dijatahkan mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) sebagai salah satu persyaratan untuk meraih status ”Tersertifikasi”. Yang berbeda dari PLPG tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya adalah adanya kuota PLPG tersendiri bagi guru Bahasa Bali. Pada PLPG sebelumnya, mereka masuk PLPG kategori guru muatan lokal (mulok). Dengan disediakannya kuota khusus bagi guru Bahasa Bali, secara otomatis memperkuat eksistensi mata pelajaran Bahasa Bali dalam kurikulum 2013 yang sebelumnya sempat ada wacana menghapus mata pelajaran bahasa daerah. Menurut Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Bali Dr. Made Alit Mariana, tersedianya kuota khusus bagi guru Bahasa Bali ini tidak terlepas dari perjuangan aktif LPMP Bali bersama pihak eksekutif (Disdikpora Bali), pihak legislatif (DPRD), eksponen guru Bahasa Bali dan elemen terkait. Mereka berjuang agar mata pelajaran Bahasa Bali diakui, tidak dihapus dan guru Bahasa Bali agar mendapat serti-
18
22 - 28 September 2014
fikasi dan kuota PLPG serta punya nomor tersendiri untuk UKG Bahasa Bali. ”Ada kerja sama harmonis antara legislatif, eksekutif dan LPMP sehingga Bahasa Bali untuk pertama kalinya ikut dalam mata pelajaran yang masuk PLPG. Ini kemenangan juga buat Bali dan menjaga eksistensi mata pelajaran Bahasa Bali. Sejauh ini, yang baru diakui Kemendikbud adalah Bahasa Bali, Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda,” kata Alit Mariana, belum lama ini. Secara umum, kata Alit Mariana, jumlah guru di Bali yang mengikuti PLPG pada tahun anggaran 2014 tercatat 1.374 orang guru. PLPG ini dilaksanakan LPMP Bali bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja dan sejumlah LPTK (Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan) di luar Bali. Secara rinci, 1.287 guru mengikuti PLPG di Undiksha Singaraja dan 87 orang guru mengikuti PLPG di luar Bali. PLPG untuk 16 mata pelajaran digelar di Undiksha yakni Akutansi, Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bimbingan Konseling, Biologi, Ekonomi, Guru Kelas PAUD/TK, Guru Kelas SD, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kimia, Matematika, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Pendidikan Kewarganegaraan, Seni Budaya. Sementara untuk 24 mata pelajaran dilaksanakan di luar Undiksha. Dari sebarannya, kata dia, peserta PLPG terbanyak dari Karangasem (228), diikuti Badung (199), Denpasar (191), Tabanan (164), Klungkung (150), Buleleng (130), Bangli (128), Gianyar (116) dan Jembrana (68). “PLPG merupakan prasyarat bagi guru yang akan tersertifikasi. Dan guru wajib lulus PLPG ini,” kata Alit Mariana. Dia menambahkan, pihaknya akan berupaya meyakinkan pemerintah pusat untuk merampungkan sertifikasi guru pada 2015 mendatang. Sebab, sesuai amanat UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pada tahun 2015 semua guru di semua jenjang satuan pendidikam harus tersertifikasi atau mengantongi ser-
tifikat tenaga kependidikan. Berdasarkan data terakhir, dari 44.987 guru dari jenjang TK hingga SMA/SMK baru sebagian yang tersertifikasi. “Untuk merealisasikan target penuntasan sertifikasi guru di tahun 2015, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bersama Dinas Pendidikan provinsi dan kabupaten kota serta LPMP bersama dengan segenap stakeholder akan mewadahi dan mencarikan jalan keluar bagi guru-guru yang belum tersertifikasi,” pungkasnya. l Widana
Rp 12 Miliar Dana TPG Belum Cair LAMBANNYA proses pencairan dana tunjangan profesi guru (TPG) bagi guru-guru yang telah lulus sertifikasi terjadi hampir di seluruh Bali. Di Kabupaten Jembrana misalnya, dana untuk kepentingan tersebut yang merupakan akumulasi dari tahun 2011 hingga 2013, hingga kini masih tersimpan di kas daerah. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai Rp 12 miliar lebih. Dana itu belum dicairkan ke masingmasing rekening guru yang berhak menerima lantaran ada persoalan. Dana belasan miliar itu merupakan dana TPG yang ditransfer dari pemerintah pusat ke rekening kas umum daerah. Namun, untuk pencairan ke rekening guru yang berhak menerima, setelah proses administrasi selesai. Sekretaris Dinas Dikporaparbud Jem-
brana I Putu Perianto mengatakan, masih tersimpannya dana itu dan belum dicairkan lantaran adanya instruksi dari pusat guna melakukan penundaan. Dana ditunda dicairkan setelah ada hasil audit dari BPKP. Audit itu terkait nilai tunjangan sertifikasi dan jumlah guru penerima. Tetapi kini audit itu menurutnya sudah rampung, tapi muncul persoalan baru yakni adanya perbedaan penghitungan antara audit dengan SK penetapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Hal itu diketahui Dinas Dikporabudpar setelah koordinasi ke Jakarta belum lama ini. Para guru yang datanya antara hasil audit BPKP dengan SK penetapan ada perbedaan pembayaran, akan dikonsultasikan lagi. �Dinas saat ini masih melakukan
penghitungan jumlah guru yang ada selisih pembayaran itu,� kata Perianto. Sementara bagi guru yang tidak ada perbedaan penghitungan itu, kata Perianto, akan segera dicairkan setelah SK Bupati Jembrana rampung. Dinas mengupayakan agar tunjangan sertifikasi guru itu akan dicairkan ke masing-masing rekening mulai pekan depan. Sebelumnya, para guru sertifikasi di Jembrana mengeluhkan pembayaran tunjangan mereka yang belum cair. Bahkan, ada yang ngadat sejak tahun 2011. Beberapa guru di antaranya bahkan sudah pensiun, namun tak kunjung bisa menerima hak mereka tersebut. l Surya Dharma
22 - 28 September 2014
19
MANCANEGARA
Alasan Bahasa Inggris Jadi Bahasa Internasional
B
ahasa Inggris telah menjadi salah satu aspek penting yang perlu dikuasai dewasa ini. Anak-anak mulai usia 5 tahun bahkan sudah diajarkan bahasa asing ini, baik oleh kedua orang tuanya maupun melalui lembaga pembelajaran. Banyak universitas baik di dalam maupun luar negeri mensyaratkan tes Bahasa Inggris agar dapat menuntut ilmu disana meskipun kadang-kadang korelasi antara tes dan jurusan yang diplih tidak ada. Mengapa Bahasa Inggris sedemikian penting? Mengapa Bahasa Inggris menjadi bahsa dunia? Untuk menjawab hal ini, kita perlu menengok ke belakang. Britania merupakan kerajaan yang aktif membentuk koloni. Terutama setelah Christopher Columbus menemukan Benua Amerika, para penjelajah Inggris pun tak ketinggalan untuk melakukan penjelajahan mencari barang-barang berharga. Untuk menjamin keberlangsungan perdagangan yang mereka lakukan, Inggris pun membentuk koloni. Koloni paling sukses yang dibuat Inggris di Amerika adalah di Jamewstown (Virginia) pada tahun 1607. Tidak hanya itu, koloni
20
22 - 28 September 2014
Inggris pun menyebar ke timur jauh seperti di India dimana mereka menemukan bahan-bahan seperti teh, garam, sutra, dan rempah-rempah. Australia pun juga tak ketinggalan menjadi koloni tempat hukuman bagi tahanan-tahanan Inggris. Koloni Inggris ini terus bertambah di banyak wilayah seperti di Asia, Afrika, dan Amerika Utara, membentang hampir di seluruh dunia. Orang-orang Inggris yang kemudian tinggal atau bertugas di daerah koloni membawa serta Bahasa Inggris bersama mereka. Para pedagang dari negara lain memandang bahwa mempelajari Bahasa Inggris sangat menguntungkan untuk mengembangkan jaringan dagang dan melakukan bisnis dengan orang Inggris. Pada abad 19 Inggris pun menjadi negara kolonial yang besar. Meskipun koloni-koloni Inggris pada akhirnya menjadi negara merdeka, tetapi banyak dari negara bekas koloni Inggris itu menjadikan Inggris sebagai bahasa resmi mereka. Pada abad ke-20, Amerika Serikat muncul sebagai negara superpower dengan kekuatan militer dan ekonomi terbesar di dunia. Oleh karena itu, Bahasa Inggris berlanjut digunakan dalam ranah edukasi,
ekonomi, politik, budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi informasi serta komunikasi. Bahasa Inggris diterima sebagai bahasa internasional utama karena penggunaannya yang luas dan karena besarnya jumlah negara-negara yang melakukan perdagangan yang menggunakan Inggris sebagai bahasa pertama. Berdasarkan perjanjian internasional, disepakati bahwa Inggris merupakan bahasa resmi untuk komunikasi penerbangan dan pelayaran. Selain itu, Inggris juga merupakan satu dari bahasa resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi internasional lainnya. Alasan lainya adalah Bahasa Inggris adalah bahasa yang cukup mudah untuk dipelajari. Mungkin bagi kita Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling mudah dipelajari namun pernahkan anda mendengar orang asing menggunakan bahasa kita?Ada banyak kata yang tidak terlafalkan dengan baik. Terlebih lagi jika Bahasa Arab yang menjadi bahasa internasional, tentu akan lebih sulit lagi. Nah, kini kita tahu mengapa kita harus belajar Bahasa Inggris. l Gugiek Savindra
Kapal Sir Franklin Ditemukan Lukisan berjudul ‘The End In Sight’ karya W Turner Smith menjadi gambaran bahwa Sir Franklin dan awak kapalnya terdampar dan kelaparan di lautan es Kutub Utara. Lalu raib entah ke mana kapal kuno itu. Namun baru-baru ini kabar mengejutkan terkait kapal itu beredar. “Satu dari dua kapal penjelajah Inggris yang lenyap di kutub utara lebih dari 160 tahun lalu telah ditemukan,” kata PM Kanada Stephen Harper. PM Stephen Harper mengatakan, ada bukti foto yang memastikan reruntuhan kapal yang hilang itu. Namun, masih belum jelas yang mana dari kedua kapal itu yang ditemukan. Sir John Franklin memimpin ekspedisi dua kapal berpenumpang 129 orang pada tahun 1845, untuk memetakan Jalur Barat Laut di kutub utara. Ekspedisi ‘Victoria Strait’ adalah sebuah tim penyelam dan arkeolog bentukan pemerintah Kanada, yang melakukan lagi pencarian dua kapal itu sejak tahun 2008. Ekspedisi ini dilakukan sebagai
upaya untuk mengukuhkan kedaulatan Kanada di Jalur Barat Laut, yang belakangan lebih mudah diakses pelayaran, karena mencairnya es kutub utara. “Penemuan kapal pertama ini, tak pelak memberikan momentum yang diperlukan untuk menemukan kapal satu lagi dan mengetahui lebih jauh apa yang terjadi pada para awak Ekspedisi Franklin,” kata PM Stephen Harper. Pencarian HMS Erebus dan HMS Terror yang berlangsung dari tahun 1848 hingga 1859, menjadi salah satu pencarian terbesar sepanjang sejarah. Pencarian itu berbuah penemuan lengkap Jalur Barat Laut, yang membentang dari Samudera Atlantik ke Samudera Pasifik melalui Arktik. Dua kapal jelajah yang lenyap itu segera menjadi salah satu misteri besar yang menyita perhatian sekian lama. Khususnya karena tak jelas apa yang sebetulnya terjadi. Para ahli percaya kedua kapal itu tersesat saat terjebak di tengah es sekitar Pulau Raja William. Lalu para awak meninggalkannya dan berjalan
kaki mencari pertolongan yang sia-sia. Laporan-laporan dari masyarakat adat Inuit saat itu, para awak kapal akhirnya menjadi kanibal karena kelaparan. Mereka makan mayat sesamanya yang sudah lebih dulu tewas, sebelum mereka sendiri meninggal. Istri Sir John Franklin memelopori upaya pencarian kapal itu. Ia meluncurkan lima kapal, menyebarkan kaleng-kaleng makanan di sekitar kutub dengan harapan ditemukan para awak yang hilang. Kemudian setelahnya, lebih dari 50 ekspedisi mengikuti pencarian itu. Namun hasilnya nihil. Tiga jasad ditemukan lebih dari seabad kemudian, pada tahun 1980an. Setelah diselidiki, mengandung unsur timah yang tinggi. Hal itu menimbulkan spekulasi tentang keracunan dari makanan kaleng. Sejauh ini, penemuan terbaru puing kapal kuno ini sedang diteliti oleh para ahli dan masih menunggu hasil penyelidikannya. l Gugiek Savindra
22 - 28 September 2014
21
DAERAH
Rakyat Merana
Sumber Air Kering, PDAM Ngadat
K
ekeringan akibat musim kemarau ternyata berdampak pada sejumlah sumber air PDAM Jembrana. Akibatnya, ratusan pelanggan tak terlayani air bersih dan terpaksa menggunaan air irigasi. Seperti yang terjadi di Banjar Kaleran, Desa Yehembang dan sekitarnya. Hampir seluruh warga yang bergantung air dari air PDAM hanya mendapatkan angin sejak sebulan terakhir. Sejumlah warga di banjar ini mengaku kecewa lantaran kondisi ini selalu terjadi setiap tahunnya. Air dari saluran PDAM itu macet total selama sebulan. Padahal warga sepenuhnya menggantungkan air bersih dari PDAM. Made Sudar, salah seorang warga mengaku sudah sering melaporkan hal ini ke petugas, namun tidak ada tanggapan. Kalaupun ditanggapi, air hanya satu hari mengalir, setelah itu kembali macet. Warga akhirnya memilih mencari air di saluran irigasi, kendatipun airnya tidak bersih dan itupun harus mencari di tempat yang cukup jauh. Warga yang berada di banjar ini mencurigai ada permasalahan di sumber air. Kalau air menyusut, mereka kurang yakin. Justru
mereka menduga ada pipa dari hulu yang sengaja diputus oleh oknum untuk kepentingan menyiram tanaman. Walaupun ada bak penampungan air, juga tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakat di banjar tersebut. Mereka harus antre mendapatkan air bersih dan sebagian tidak mendapatkan. Warga yang sebagian besar kalangan ibu rumah tangga ini kembali ke saluran irigasi yang jaraknya jauh dari banjar mereka. Sementara PDAM Amerhta Jati Jembrana menyebut bahwa kurangnya pasokan air bersih lantaran kemarau panjang ditambah dengan kondisi keuangan yang belum stabil. Tidak terpasoknya air ke pipa pelanggan juga terjadi di beberapa banjar di Yehembang dan di Penyaringan. Di Penyaringan, sekitar 700 warga juga kesulitan mendapatkan pasokan air bersih lantaran pipa induk ukuran delapan dim hancur akibat banjir. Direktur PDAM Jembrana, Ida Bagus Kerta Negara mengatakan kesulitan air bersih di Banjar Kaleran hampir terjadi setiap tahun khususnya saat musim kemarau. Pasalnya sumber air sungai sudah menurun debit airnya dan lokasi banjar berada di ketinggian,
sehingga semakin menyulitkan air naik ke pipa penduduk. Untuk memperbaiki itu, PDAM kini masih terbebani dengan operasional yang membuat perusahaan daerah ini belum mapan. Kini PDAM memakai pompa untuk menyalurkan air ke bak penampungan. Tetapi diakuinya untuk menyalurkan air juga terbatas lantaran air sungai kering dan debitnya turun hingga 60 persen. Menurut Kerta Negara, ada beberapa cara untuk mengatasi permasalahan yang terjadi setiap tahunnya itu. Pertama menambah jam operasional mesin pompa yang sebelumnya 12 jam menjadi 16 jam. Tetapi itu harus ditambah dengan biaya operasional. Kedua, menambah pipa dari bak penampungan ke Banjar Kaleran namun membutuhkan biaya lagi Rp 140 juta. Sedangkan untuk kebutuhan jangka panjang, bisa membangun bak reservoir yang lokasinya lebih tinggi di atas Banjar Kaleran. Tetapi menurutnya, tiga opsi ini tidak bisa dilakukan lantaran 80 persen operasional PDAM memakai sumur bor yang membutuhkan listrik tinggi. l Surya Dharma
Layani Dulu Masyarakat, Baru Naikkan Tarif Usulan kenaikan tarif PDAM untuk menyesuaikan biaya operasional, belum disetujui Bupati Jembrana karena dirasa masih membebani masyarakat. Kenaikan tarif itu dinilai belum tepat apalagi masih banyaknya pelayanan yang belum dirasakan pelanggan. Bupati Jembrana I Putu Artha menyadari kondisi PDAM dengan beban operasional dan penyesuaian tarif dasar listrik saat ini. Usulan kenaikan tarif itu juga sudah diterima, namun menurutnya harus dipikirkan secara matang. Bupati tidak ingin kenaikan tarif itu membebani masyarakat kecil yang juga bergantung air PDAM.
22
22 - 28 September 2014
Karenanya, ia meminta PDAM untuk melakukan pendataan detail para pelanggan berdasarkan tingkat ekonomi mereka, sebelum tarif dinaikkan. “Saya minta agar ada subsidi silang, PDAM sudah saya minta untuk mendata, tapi sampai sekarang belum saya terima,� ujar Bupati Artha. Pentingnya pendataan untuk dilakukan subsidi silang, berdasarkan pengguna kelas atas, menengah dan bawah. Bupati tidak ingin pengguna di kalangan masyarakat bawah seperti di desa-desa terbebani dengan tarif yang tinggi, sementara keran mereka hanya seminggu sekali mengalir. “Kalau disamaratakan,
kasihan warga kurang mampu memakai air PDAM, sudah tidak pernah dapat air (ngadat), keluar angin tetap bayar sama, sementara yang kaya pakai (air) berendam,� ujarnya. Perbaikan pelayanan juga mutlak dilakukan, khususnya bagi para pelanggan yang jarang mendapatkan air. Seperti di Yehembang dan beberapa tempat lainnya yang sering menuai keluhan. Bupati juga menilai perlu adanya perampingan pegawai di PDAM karena saat ini terlalu banyak pegawai dan membebani perusahaan. l Surya Dharma
Semangat Seorang Guru Raih Doktor BERAWAL dari mimpi, keyakinan, dan kemampuan, Ni Nyoman Kawiwati akhirnya dapat menuntaskan program pascasarjana S-3 di Universitas Negeri Jakarta. Wanita kelahiran Peliatan, 15 Maret 1971 ini sama sekali tak menyangka bahwa perjalanan hidup yang ditempuhnya dapat mencapai titik membahagiakan pada saat ini. Mengingat kehidupannya dahulu yang sempat menjadi buruh cat kayu (tukang pulas) demi biaya sekolah, jangankan menempuh S-3, program S-1 pun hanya sebatas mimpi bagi Kawiwati. Walau hidup dengan sangat sederhana dan mencari bekal sekolah dengan cara seadanya, wanita yang akrab dipanggil Kawi ini, menunjukkan bahwa prestasinya di sekolah tidak bisa dinomorduakan. Dari Sekolah Dasar sampai Menengah, Kawi sudah menunjukkan kemampuan otaknya di bidang akademik dan selalu berada dalam posisi tiga besar. Anak ketiga dari lima bersaudara pasangan I Nyoman Puja (alm) dan Ni Ketut Murni ini sejak kecil sudah dilatih mandiri dan kerja keras. Semua yang telah ditanamkan kedua orangtuanya ternyata bermanfaat sangat besar baginya saat ini. Kerja kerasnya selama ini, mulai dari tes CPNS, diangkat menjadi guru matematika di SMP Negeri 1 Blahbatuh, hingga akhirnya menjadi guru matematika di SMA Negeri 1 Ubud hingga sekarang, merupakan cerminan bahwa kerja keras merupakan awal langkah menuju kesuksesan. Dalam jenjang pendidikan tinggi, setelah dinyatakan lulus program magister tahun 2009 dengan predikat cum laude di Universitas Pendidikan Ganesha dengan Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, istri dari I Made Dwi Sutaryantha ini kembali memberanikan diri untuk melanjutkan studi ke jenjang Program Pascasarjana S-3 Universitas Negeri Jakarta bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Ganesha. Kemampuan ibu dua anak ini pun kembali diuji saat disertasi yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran dan Keterampilan Berpikir Kritis Terhadap Hasil Belajar Matematika dengan Mengontrol Bakat Numerik” dipertahankan dalam sidang terbuka. Dan berhasil dia lalui dengan lancar dan sukses. Kini, setelah mempertanggungjawabkan disertasi yang telah dibuatnya, Kawi pun sudah dapat menyandang gelar doktor di depan namanya. “Puji Tuhan, sekarang sudah lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Terima kasih saya sampaikan kepada semua pihak yang telah mendukung saya. Astungkara, ke depannya ilmu ini dapat bermanfaat bagi saya khususnya dan bagi orang sekitar pada umumnya,” ujar Dr. Ni Nyoman Kawiwati, S.Pd., M.Pd. dengan penuh syukur. l Alit Sumertha
Dr. Ni Nyoman Kawiwati, S.Pd., M.Pd.
Kita Hidup karena Perubahan “Kita hidup karena perubahan. Jika takut untuk berubah, artinya kita belum memulai hidup dengan sempurna,” ujar Dr. Ni Nyoman Kawiwati, S.Pd., M.Pd. ketika ditanyakan mengenai kehidupan masa lalunya hingga menjadi seperti sekarang. Juara I Lomba Guru Berprestasi Kabupaten Gianyar tahun 2009 ini juga mengungkapkan bahwa ia tidak mungkin meraih ini semua tanpa dukungan penuh dari keluarga besar. “Keluarga adalah penyemangat utama saya. Terutama anak-anak saya. Saya ingin menjadi contoh untuk kedua anak saya agar mereka bisa terinspirasi dan mampu berprestasi melebihi yang saya dapatkan saat ini,” ucapnya seraya menyebutkan kedua putrinya yang bernama Md. Putri Wiyantari Sutaryantha kini kelas XII di SMA Negeri 1 Gianyar dan Km. Putri Tristiari Sutaryantha kelas VI di SD Negeri 3 Peliatan. Kawi juga dinyatakan lulus dalam Diklat Cakep (Calon Kepala Sekolah) pada bulan Desember tahun 2013. Sungguh kebanggaan yang luar biasa baginya karena dapat mengukir prestasi dan menambah pengalaman hidupnya. “Dalam melakukan sesuatu, hasil memang penting, tapi yang lebih utama adalah proses, dan bagaimana menjadikan sesuatu itu menjadi pengalaman yang berharga dalam hidup saya, yang bahkan tak tergantikan oleh materi,” ungkapnya. l Alit Sumertha 22 - 28 September 2014
23
K E S E H ATA N
Psikosomatik
Penyakit Fisik Akibat Faktor Pikiran
D
i antara berbagai jenis dan penyebab penyakit di dunia medis, ada satu kelompok penyakit yang sesungguhnya sangat banyak dijumpai (60-70%), namun sering tidak mendapat penanganan tepat. Penyakit ini dikenal sebagai penyakit psikosomatik, yakni sekumpulan gejala dan tanda penyakit yang dirasakan pada tubuh, tetapi disebabkan oleh faktor-faktor berkaitan dengan pikiran atau mental. Pasien-pasien yang datang ke dokter spesialis penyakit dalam di berbagai rumah sakit sering mengalami keluhan-keluhan pada berbagai organ dalam, misalnya: pencernaan, jantung, paru-paru, hati dan sebagainya. Ketika dilakukan pemeriksaan laboratorium ataupun foto rontgen dan penunjang lainnya ternyata tidak ditemukan adanya kelainan yang bermakna. Setelah melalui berbagai pemeriksaan tidak menjumpai bukti adanya penyakit fisik medis yang nyata, biasanya pengobatan diberikan hanya obat-obat untuk mengatasi gejala, seperti: sakit kepala diberikan obat penghilang sakit kepala, jantung berdebar diberikan obat penenang, pusing diberikan vitamin, dan sebagainya. Kebanyakan pasien tetap merasakan keluhan-keluhan tersebut, sering berpindah-pindah dokter bahkan ke penyembuhan alternatif. Inilah alasan para pasien psikosomatik dikenal sebagai “pasien pengembara�. Gejala penyakit psikosomatik tergantung pada organ mana yang terpengaruh oleh efek endapan emosional ini. Seringkali penyakit psikosomatik berpindah-pindah dari satu organ ke organ lainnya pada tubuh. Inilah sebab kenapa pasien psikosomatik sering ditemui tercatat di beberapa dokter spesialis yang berbeda sesuai keluhan fisik yang mereka alami. 1. Keluhan pada Sistem Pencernaan Penderita psikosomatik paling banyak datang dengan keluhan penyakit lambung (maag). Paling ringan adalah karena efek
24
22 - 28 September 2014
dari asam lambung yang meningkat. Gejalanya antara lain: rasa penuh di ulu hati, mual sampai muntah, kembung, sendawa. Apabila kondisi ini berlanjut bisa menyebabkan radang sampai borok pada lambung dengan gejala yang lebih terasa, misalnya: nyeri/nek di ulu hati sebelum atau sesudah makan. Rasa nyeri ini kadang bisa tembus ke punggung. Dampak lain dari gejala maag ini menyebabkan sakit kepala dan pusing. 2. Keluhan pada Sistem Jantung dan Pembuluh Darah Pasien yang mengalami gejala pada sistem ini seringkali mengeluh jantung yang berdebar-debar disertai keringat
dingin. Gejala ini bisa muncul pada saat kaget atau pikiran mulai mengalami suatu kecemasan, bahkan bisa juga muncul tanpa dipicu oleh sebab tertentu. Sering juga terasa muncul denyutan jantung yang tidak biasa atau tidak harmonis. Ketika diperiksa dengan alat periksa jantung seringkali tidak menunjukkan adanya kelainan yang khas. Peningkatan ringan sampai sedang pada tekanan darah. Meningkatnya tekanan darah (hipertensi) ini bisa turun dengan
cepat tanpa obat ketika pasien mulai bisa menenangkan dirinya. Gejala yang muncul akibat perubahan peredaran darah, gangguan kecemasan pikiran ini di antaranya; berdebar, wajah panas memerah, keringat dingin, tensi darah meningkat, pusing atau terasa tidak seimbang, sampai muncul gejala mual dan muntah. 3. Keluhan pada Sistem Pernapasan Pasien psikosomatik bisa jadi mengalami keluhan asma (sesak napas) pada keadaan kecemasan. Ini bisa dimulai dengan munculnya gejala-gejala alergi ringan sampai berat pada berbagai bahan yang dihirup atau bebauan. Selain itu ada Sindrom Hiperventilasi (kumpulan gejala dimana frekuensi penapasan pasien meningkat). Gejala-gejalanya antara lain: Kesemutan pada tangan-tangan (terutama ujung-ujung jari) dan kaki. Sering juga terasa gatal, menggelitik di sekitar mulut, terutama di bibir atau lidah. Gangguan penglihatan dan perasaan “enteng� seperti: melayang serta kabur penglihatan. Selain itu pasien sering mengeluh tentang bingung, sakit kepala dan pusing namun bukan bersifat memutar atau bergoyang. Sesak napas yang ditandai oleh perasaan sulit bernapas sehingga pasien sering menarik napas dalam-dalam, menguap, mendengus atau napas tersengal-sengal. Pasien sering merasa seperti kekurangan udara dan ada keharusan untuk bernapas panjang, merasa sesak dan sempit di dada, meski sebenarnya tidak ada kelainan nyata pada paru-paru. Jantung berdebar biasanya muncul mengikuti gejala sesak napas tadi.
Penanganan Psikosomatik
Kadang disertai rasa nyeri menusuk atau menekan di dada kiri yang dapat menjalar ke daerah lambung atau lengan kiri. Keluhan tambahan lain adalah terasa dingin pada kaki dan tangan yang sangat mengganggu. Selalu merasa lemas, letih, mengantuk dan peka terhadap cahaya. 4. Keluhan pada Sistem Perkemihan Gangguan pada sistem ini menyebabkan penderita sering atau mudah kencing meski kandung kencingnya tidak banyak berisi urine. Selain itu gejala kelainan kelenjar prostat dapat muncul pada pria berupa perasaan tertekan dan tegang di daerah sekitar prostat. Pancaran urine lemah, sisa air seni yang menetes, sensasi sakit tak menentu di daerah penis dan lipatan paha, yang menjalar ke daerah tengah paha atas dan pelir serta gangguan fungsi seksual. 5. Keluhan pada Sistem Hormon Berbagai kelainan pada hormon tiroid seperti hipertiroid (kelebihan hormon tiroid), hipotiroid (kekurangan) atau tirotoksikosis (keracunan hormon tiroid) akan memberikan berbagai gejala. Rasa cemas, mudah marah, mudah curiga, rasa seperti leher tercekik atau terikat, rasa takut tanpa sebab yang jelas, sulit tidur, mimpi buruk dan gugup. Keluhan-keluhan ini sering diikuti gejala hiperaktivitas saraf otonom seperti keringat banyak, mulut kering, pupil lebar, kulit pucat, nadi cepat dan sebagainya. Gejala kencing manis/DM dan anoreksia nervosa/tidak mau makan dapat merupakan penyakit hormonal akibat faktor pikiran sulit diatasi jika tidak ditangani dengan tepat.
6. Keluhan pada Sistem Otak dan Saraf Keluhan sakit kepala sebelah atau migren, pusing/rasa berputar, kaku pada leher, kesemutan, nyeri kronis akibat stres emosional adalah berbagai dampak emosi pada sistem saraf. Selain itu tangan mudah gemetar/tremor, gangguan konsentrasi, rasa kelemahan otot dan sebagainya dapat merupakan gejala psikosomatik pada sistem saraf. Murung, selalu merasa dingin pada tubuh kadang dapat dijumpai pada pasien. 7. Keluhan pada Sistem Otot, Tulang, dan Sistem Kekebalan Nyeri pada persendian, rematik, kaku leher, kaku otot pinggang dan punggung, nyeri pada tulang dapat berkaitan dengan faktor psikis. Penurunan kekebalan tubuh terhadap berbagai infeksi mudah terjadi pada pasien-pasien psikosomatik. Ini karena sel-sel kekebalan tubuh mengalami berbagai perubahan. Munculnya pertumbuhan sel-sel ganas atau kanker merupakan efek berat dari penyakit psikosomatik pada sistem imunitas. Dengan memahami rumitnya/komplikasi penyakit psikosomatik, maka penanganan yang tepat sangat diperlukan. Apabila penyakit psikosomatik ini berlangsung lama, maka tidak menutup kemungkinan penyakit fisik yang awalnya tidak secara nyata ada, akan menjadi benar-benar ada dan lebih sulit lagi diatasi. Fokus penanganan pasien psikosomatik adalah penanganan pada pikiran, karena penyebabnya bersumber dari pikiran. l dr. Wayan Mustika
1. Aspek Bio-Organik. Pemeriksaan fisik secara lengkap dan teliti dapat membuktikan ada tidaknya penyakit fisik yang bermakna medis. Ini dapat mengurangi atau menghilangkan kesan bahwa pasien mengalami penyakit yang berat atau tak terobati. Mengobati kelainan fisik atau cacat bawaan dapat menghilangkan perasaan rendah diri dan stres emosional pasien. Dengan obat-obatan sesuai keluhan fisik yang dirasakan, serta untuk keluhan emosional: cemas, gelisah, gangguan tidur, depresi dan lainnya yang dialami penderita. Mengajarkan kebiasan hidup yang sehat seperti kerja, istirahat, makan, hobi dan sebagainya. 2. Aspek Psiko-Edukatif. Menciptakan hubungan dokter-pasien yang nyaman sehingga timbul suasana kepercayaan dari pasien kepada dokter atau penyembuhnya. Ventilasi, memberi kesempatan mengutarakan atau mengeluarkan emosiemosi yang lama terpendam di pikiran bawah sadar, dapat dengan cepat mengurangi gejala penyakit. Re-edukasi, menggunakan intelegensi dan rasio pasien, dapat diberikan keyakinan, pengertian dan pemahaman baru yang lebih bermanfaat mengenai sebab-sebab penyakitnya atau cara-cara menghadapi stresor dalam kehidupan ini. Agama, membantu pasien melihat persoalan-persoalan, konflikkonflik batinnya dari sudut agama atau spiritualitas agar semakin mampu berpikir positif di masa depan. 3. Aspek Sosio-Kultural. Memperbaiki kondisi sosial ekonomi dapat membantu mengatasi berbagai stres yang muncul oleh faktor ekonomi. Membantu mencari jalan keluar dari permasalahan ekonomi, memberi saran-saran, motivasi dan menjelaskan kemungkinankemungkinan yang dapat memberi nilai positif bagi pasien di masa depan. Meningkatkan kemampuan pasien menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Memperbaiki cara pandang lingkungan sosial atau keluarga sehingga dapat ikut membantu kesembuhan pasien. l dr. Wayan Mustika 22 - 28 September 2014
25
LENSA
”MELASTI” DI KOTA BESAR
Upacara “melasti” yang merupakan sebuah ritual yang digelar di pantai, danau, maupun mata air merupakan pemandangan lumrah di Bali. Ritual umat Hindu ini tetap digelar meskipun saat ini pantai-pantai di Bali, terutama di daerah Badung, seperti Kuta dan Seminyak, padat dikunjungi wisatawan. Tampak di foto, umat tetap khusyuk melaksanakan ritual melasti, sementara wisatawan pun nampak asyik berselancar.
MBP/I Komang Yorda Garmita
OLAHRAGA
Arti Kehadiran
“Anna di sini.” Pesan itu seketika menghentikan proses wawancara Serena Williams dengan wartawan dalam acara New York Fashion Week. Itu berarti Anna Wintour, editor majalah mode terkemuka dunia, menghadiri acara debutnya di dunia fashion. Kehadiran tamu istimewa itu memperlihatkan bahwa Wintour yang kerap menghadiri pertandingan tenis utamanya AS Terbuka, memberi perhatian penuh pada debut pergelaran busana Williams setelah dia menjuarai grand slam AS Terbuka. “Kehadirannya amat bermakna. Maksud saya, dia Anna Wintour, ratu mode,” ungkap Williams seperti dikutip Associated
Press. “Saya berharap dia menikmati karyakarya saya.” Hadir pula dalam pameran busana itu supermodel Beverly Johnson, aktor Boris Kodjoe dan komedian Marlon Wayans. Diantara
Brazil bergerak cepat menyusul kegagalan di Piala Dunia 2014. Reformasi di tim itu berjalan seiring dengan ditunjuknya Dunga sebagai pelatih baru menggantikan Luiz Felipe Scolari. Namun, disiplin yang diterapkan Dunga memakan korban. Bek veteran Maicon tak dicoret dari skuad yang dipersiapkan untuk menghadapi Ekuador. Dunga memutuskan mencoret dia karena
terlambat masuk hotel dari jadwal yang telah ditetapkan. Itu membuktikan dia tidak mematuhi peraturan tim setelah pertandingan melawan Kolumbia yang berakhir dengan kemenangan 1-0 di Florida. Dari pukul 8 malam yang telah ditetapkan, Maicon baru tiba di hotel pada pukul 11 malam. Maicon tidak menjelaskan alasannya namun federasi sepak bola Brazil menyebutkan karena masalah internal. Bek klub AS Roma
itu langsung memutuskan pulang ke Brazil setelah dicoret dari skuad untuk pertandingan melawan Ekuador. Belakangan Dunga menjelaskan bahwa kasus itu tidak serta merta Maicon tersingkir dari timnas Brazil. Tenaganya masih diperlukan pertandingan lainnya. Sanksi yang diterima itu, hanya untuk pelanggaran di Florida saja. “Saya menghargai Maicon dan pintu tidak langsung tertutup buat dia,” kata Dunga menjelaskan kesalahpengertian itu, seperti dikutip Reuters. Sebelumnya sejumlah pejabat sepak bola Brazil mengklaim Maicon tidak lagi bermain untuk Brazil setelah pelanggaran disiplin itu. Agen bek berusia 33 tahun itu juga menyebutkan bahwa Maicon sepertinya telah tertutup kemungkinannya masuk timnas. “Saya tidak punya hak untuk menghakimi seseorang, tapi semua orang mempunyai kesempatan kedua,” tambah Dunga yang dua kali memimpin tim Samba setelah menjadi pelatih pada Piala Dunia 2006.
MBP/rtr
l Yudi Winanto
undangan terdapat Caroline Wozniacki, sahabat karib sekaligus rival yang dikalahkan di final AS Terbuka lalu. “Luar biasa. Saya menyukai karyanya,” ujar Wozniacki yang terkesan dengan busana yang dominan kasual itu. “Dia sahabat karib saya dan suka mendukung. “ Sebagai balasannya, Williams akan mendukung aksi Wozniacki berikutnya yakni tampil di Maraton New York November mendatang. Williams kini mengoleksi 18 trofi grand slam dan namanya disejajarkan dengan legenda tenis Martina Navratilova dan Chris Evert. Koleksi juaranya hanya terpaut 2 saja dari Steffi Graf. MBP/ap
Editor Majalah Voque Anna Wintour (kiri) dan Serena Williams.
Salah Pengertian
Bek Brazil Maicon (kiri) dan Neymar
28
22 - 28 September 2014
l Yudi Winanto
Arahan Pelatih Terbaik GURU terbaik menghasilkan murid terbaik pula. Setidaknya kalimat bijak itu terbukti pada perhelatan grand slam AS Terbuka 2014. Petenis Kroasia Marin Cilic menjadi juara berkat arahan pelatihnya Goran Ivanisevic, juara Wimbledon 2001. “Hidup sepertinya berubah, benarbenar berubah, saya seperti datang dari planet lain,” kata Cilic di hadapan wartawan dalam sebuah perayaan kecil. Ia menceritakan kegembiaraan yang dirasakan saat ini tak jauh bedanya dengan yang terjadi di Kroasia. Warga Kroasia terutama kota kelahirannya Zagreb juga dalam euforia menyambut kemenangannya di New York. “Saya menerima 250 pesan di ponsel,” katanya smabil menambahkan bahwa dia belum mengecek pesan di Facebook dan Twitter. Petenis bertinggi 1,98 m itu meraih gelar juara dengan mengalahkan andalan Jepang Kei Nishikori tiga set langsung. Berkat arahan Ivanisevic, ia berhasil mengubah peruntungannya dari petenis tanpa harapan menjadi pemilik gelar juara. Sevis keras menjadi andalannya. Hal serupa juga dilakukan Ivanisevic dimasa kejayaannya. Dengan memanfaatkan tubuh yang jangkung ia bisa melepaskan servis keras yang tak bisa diantisipasi lawan. Cilic mengenang pertemuannya dengan pelatihnya pertama kali. “Pertama kali kami bertemu adalah saya menjadi ball boy untuk dia dan Thomas Muster pada satu turnamen yang dekat dengan rumah saya. Saat itu usia saya 8 atau 9 tahun,” jelas Cilic yang kelahiran Bosnia. “Kemudian saat saya berusia 14 tahun, dia (Ivanisevic) berada di Zagreb untuk menyembuhkan operasi bahu. Jadi kami bermain tenis beberapa kali.” Momen tersebut dinilai luar biasa dampaknya bagi perjalanan kariernya. Ivanisevic banyak memberi nasihat, arahan, strategi bermain hingga menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar tenis. Puncaknya terjadi pada 2010, saat berhasil mencapai babak semifinal Australia Terbuka. Namun selanjutnya, permainannya justru labil dan cend-
erung turun. Frustasi menggelayuti seiring dengan teknik permainannya yang lamban berkembang. Maka diputuskan untuk mencari pelatih baru. Ivanisevic kemudian dikontrak pada September tahun lalu. “Dia memiliki pukulan servis yang sempurna dan saya mengikutinya dengan sederhana. Diperlukan hanyta 10 menit untuk memahami teknik-teknik tersebut,” sambung Cilic mengomentari kecocokannya dengan pelatihnya itu. Bagaimana tidak, Cilic menyaksikan gaya Ivanisevic saat menjuarai Wimbledon 2001. Kala itu usianya masih 12
tahun. “Dia menjadi pahlawan bagi Kroasia. Dia gagal tiga kali dan yang keempat dia juara,” komentar Cilic pada pahlawan pujaannya yang kini menjadi pelatih itu. Ia pun tak membantah jika dia ingin menyamai pencapaian Ivanisevic. “Setiap grand slam memiliki nilai yang sama. Tapi bagi bangsa Kroasia, Wimbledon miliki makna istimewa dan barangkali bagi mereka yang pernah tampil disana,” katanya yang ingin berjaya di lapangan rumput itu. l Yudi Winanto
MBP/rtr
Petenis Kroasia Marin Cilic dengan trofi AS Terbuka. 22 - 28 September 2014
29
OLAHRAGA
Sepak Bola Bali Terkendala Lapangan
PEMBINAAN sepak bola usia dini di Bali cukup baik dan terprogram. Itu bisa dilihat dari banyaknya Sekolah Sepak Bola (SSB) yang ada utamanya di Denpasar dan Badung. SSB sangat berguna untuk menampung anak-anak yang hobi olahraga paling digemari masyarakat dunia ini. Proses pembibitan pemain muda akan makin lengkap kalau SSB ditangani pelatih yang mengetahui dasar-dasar
permainan sepak bola. Para pemain bakal lebih mudah dan cepat menyerap ilmu yang diberikan. ”Pembinaan sepak bola di Bali sudah lebih baik dari sebelumnya. Apalagi, banyak digelar kompetisi usia dini, sehingga lebih mudah memantau pemain-pemain bertalenta,” papar Johan Charles di Denpasar pekan lalu. Menurut pelatih kiper Perseden Denpasar U-17 itu, pembinaan yang bagus harus dibarengi dengan sarana dan
MBP/nan
Johan Charles
30
22 - 28 September 2014
prasarana. Lapangan untuk berlatih dan menggelar kompetisi harus memadai. Inilah yang menjadi kendala di Bali karena fasilitas yang ada tidak memenuhi standar. Ia mencontohkan Stadion Ngurah Rai, Denpasar, yang kini kondisinya jauh dari layak. Tembok yang mengitari stadion sudah rapuh dan rusak, rumputnya habis, serta lapangan keras dan berdedu. Padahal, itu merupakan stadion kebanggaan masyarakat Denpasar dan Bali yang seharusnya dirawat dan dijaga dengan baik, bukan dibiarkan terbengkalai seolah tidak ada yang mengurus. ‘’Saya miris dan kasihan melihat stadion bersejarah kondisinya seperti itu. Stadion Ngurah Rai mestinya direnovasi,” katanya. Pria kelahiran Denpasar, 20 Juli 1984 tersebut, menambahkan, jika Bali memiliki stadion bertaraf nasional, bukan tidak mungkin tim-tim sepak bola besar di Indonesia akan makin banyak menggelar pertandingan atau melakukan pelatihan. Sekarang saja tim-tim ISL silih berganti menjalani TC di Pulau Dewata, seperti Persiram Raja Ampat (Papua), Mitra Kukar (Kalimantan Timur), dan Persija Jakarta belum lama ini. Itu menandakan Bali menarik untuk dikunjungi. Apalagi kalau Pemerintah Provinsi Bali mampu mendirikan stadion berkelas internasional, klub-klub dunia akan berkunjung ke sini. Mereka tidak hanya berlaga di Jawa khususnya Jakarta, Bandung, dan Surabaya. “Saya sangat berharap ke depannya Bali benar-benar mempunyai stadion besar, tidak hanya mengumbar janji-janji belaka,’’ ujarnya. Johan Charles mengawali karier sepak bola di SSB Perseden. Dari sana ia bisa menembus tim Perseden U-14, U-18, U-19, dan U-21, membela Bali di Pra-PON 2003, PON 2004 di Palembang, Perseden senior 2004/2005, dan Persekaba Badung 2006. Johan selanjutnya memperkuat Persegi Bali FC Gianyar (2007), Semen Padang (2008), Persibo Bojonegoro (2009/2010), Persepasi Kota Bekasi (2011), PS Sumbawa Barat (2012), PPSM Sakti Magelang (2013), PS Badung (2014), dan kini menjadi pelatih kiper Perseden U-17 mengarungi Piala Suratin. l Eka Parananda
PS Badung Raih Sukses Ganda SEPTEMBER menjadi bulan spesial buat sepak bola Kabupaten Badung. Daerah tingkat II yang memiliki wilayah terpanjang di Bali ini, merajut sukses ganda pada bulan ini yang diukir tim sepak bolanya. Tim Persatuan Sepak Bola (PS) Badung mengukir prestasi di kancah nasional dan Bali. Kesebelasan Badung senior yang berlaga di babak 12 besar kompetisi Divisi I Liga Indonesia di Bantul dan Sleman (DIY), lolos ke babak enam yang dilangsungkan di tempat yang sama. Sementara Badung U-17 menjadi juara Piala Suratin Rayon Bali yang digelar di Stadion Kompyang Sujana, Denpasar. Bisa menembus babak enam besar berarti membuka peluang PS Badung promosi langsung ke Divisi Utama musim depan. Sayang, langkah mereka akhirnya terhenti setelah dikalahkan Persibat Batang (Jateng) 0-1 dan bermain seri 1-1 dengan Perserang Serang (Banten). Hasil itu menempatkan tim asuhan Nyoman Sujata dan Putu Mahardika sebagai juru kunci klasemen akhir Grup V di bawah Persibat dan Perserang. Namun, harapan PS Badung naik ke kompetisi level kedua di Tanah Air tersebut belum sirna. Gede Jeno Wilyantara dan kawan-kawan masih mempunyai kesempatan lewat jalur playoff di Piala Nusantara. Sementara itu, PS Badung U-17 keluar sebagai kampiun Piala Suratin Rayon Bali setelah menang 1-0 atas Perst Tabanan. Hebatnya, anak-anak Badung merebut gelar pada pertandingan ketiga, berkat perolehan poin sempurna 9. Dengan begitu, satu laga sisa yang harus dimainkan Tim Keris Muda tidak ada pengaruhnya lagi. PS Badung U-17 meninggalkan empat pesaingnya dalam memperebutkan satu tiket, yaitu Perseden, Bali All Stars (BAS), Perst Tabanan, dan Putra Tresna. Sebagai juara Bali, mereka selanjutnya berhak bertarung di babak berikutnya atau Zona Bali-Nusra melawan wakil NTB dan NTT. Prestasi yang diraih PS Badung
U-17 sesuai dengan target pelatihnya I Ketut Sukadana yang sejak awal mematok asuhannya menjadi wakil Bali. Karenanya, ia mensyukuri hasil ini dan berjanji menyiapkan timnya lebih maksimal lagi menyongsong fase berikutnya. Tidak mudah membina dua tim sekaligus dan sama-sama meraih sukses,
tetapi ini bisa dilakukan oleh pengurus PSSI Badung. Mereka mesti bekerja lebih keras dan mengeluarkan dana lebih banyak lagi karena tantangan yang akan dihadapi PS Badung senior dan U-17 jauh lebih berat daripada sebelumnya. l Mawa
KRIMINAL
Tertangkap, Diana Gagal Edarkan Upal Rp 21 Juta
K
etika mengambil barang titipan di perusahaan jasa pengiriman barang, Tiki, di Jalan Kapten Regug, Denpasar Timur, Senin (1/9) lalu, tersangka Diana Wahyuni merasa aman-aman saja. Padahal wanita berusia 40 tahun asal Jakarta ini hendak mengambil paket uang palsu (upal) senilai Rp 21 juta. Tapi langkah Diana terhenti dan tak jadi mengedarkan upal kiriman tersebut. Ketika itu petugas Tiki curiga
dengan barang kiriman berupa paket kemasan air mineral. Terlebih di dalam botol air mineral itu berisi upal. Petugas itu rupanya tak mau ambil risiko lebih jauh. Dia segera melapor ke polisi karena menemukan barang mencurigakan yang hendak diambil konsumennya. Setelah menerima laporan itu, petugas Sat. Reskrim Polresta Denpasar bergegas menuju Tiki. Setibanya di sana, polisi mengecek isi titipan itu. Ternyata di dalam paket itu memang
benar terdapat sejumlah upal. Polisi kemudian memutuskan menunggu siapa gerangan pemilik paket itu. Saat yang ditunggu-tunggu tiba. Saat itu, sekitar pukul 11.50, tiba-tiba muncullah seorang wanita hendak mengambil paket tersebut. Begitu barang di tangannya, polisi menciduk wanita yang bernama Diana Wahyuni itu. Polisi langsung membuka isi paket yang di luarnya tertera air mineral tersebut. Di dalam paket itu ternyata terdapat 4 gelas air mineral, tapi di dalamnya berisi upal sebanyak 21 lembar pecahan Rp 100 ribu. ‘’Di dalam paket tersebut ada 210 lembar upal pecahan Rp 100 ribu dengan total Rp 21 juta,” ujar polisi. Setelah diinterogasi, Wahyuni yang tinggal di Jalan Cibubur VIII No.21, Jakarta Timur ini mengaku bahwa dia hanya disuruh temannya untuk mengambil paketan upal tersebut. Rencananya, barang itu diedarkan di Denpasar dan sekitarnya. Kasat Reskrim Polresta Denpasar AKP Nengah Sadiarta mengatakan bahwa memang benar kurir upal bernama Diana Wahyuni itu ditangkap polisi. Yang jelas setelah penangkapan Diana, pasukan Satreskrim Polresta Denpasar memburu si pencetak upal tersebut. Tak perlu waktu lama, polisi akhirnya berhasil menciduk AH di Semarang, Minggu (7/9) lalu. Informasi yang diperoleh, dari tangan tersangka, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa printer dan ratusan lembar upal yang baru saja selesai dicetak dengan pecahan seratus ribuan. “Barang-bukti dan tersangka sudah ditahan,” kata sumber yang menolak dikorankan ini. * l Wiadnyana
MBP/wiadnyana
Petugas Polresta Denpasar menyita sejumlah cetakan dan beberapa uang palsu yang baru saja dicetak di rumah tersangka AH di Semarang.
32
22 - 28 September 2014
Bahaya Narkoba
“Bertelur di Sarang Macan” Narkoba sudah menjadi ancaman sangat mengkhawatirkan. Peredarannya makin meluas sampai ke sudutsudut kehidupan masyarakat. Termasuk pada instansi yang mesti memberantas peredarannya tak luput dari jangkauan barang terlarang ini. Ibaratnya pelaku narkoba sudah bertelur di “sarang macan” alias ruang tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (LP). Penjagaan LP atau pun rutan memang terlihat ketat. Berbagai persyaratan harus dipenuhi bila ingin membezuk tahanan atau napi. Tapi ditembus juga oleh penyelundup narkoba. Lemahnya pengawasan dan pemeriksaan saat jam besuk, membuat para penyelundup itu leluasa melakukan aksinya. LP atau rutan yang diharapkan mampu bikin tobat pengguna atau pengedar barang terlarang ini, justru cenderung bikin parah. Para penyelundup narkoba nampaknya selalu melakukan upaya untuk mampu mengedarkannya. Seperti dijelaskan Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Djoko Hariutomo, berbagai cara dicoba dan diusahakan. Nyatanya mereka sering berhasil seperti kejadian belum lama ini. Para kurir atau pengendar narkoba sering luput dari pengawasan polisi karena berkedok sebagai pembezuk tahanan. Tak ayal, paket narkoba khususnya sabu-sabu (SS) dengan mudah menembus jeruji besi tahanan dan tahanan atau napi aman mengonsumsi barang haram tersebut. Bahkan kasus ini berulang kali terjadi. Pemeriksaan manual yang dilakukan petugas saat memeriksa makanan atau barang untuk tahanan atau napi, jelas hasilnya tidak maksimal. Apalagi barang tersebut diselipkan atau dicampur dalam makanan. “Begitulah sistemnya mereka (pengedar). Tak hanya rutan Polresta, Polda juga pernah, termasuk LP Kerobokan. “Walau di tahanan, tersangka kasus narkoba tetap membutuhkan barang itu sehingga melakukan berbagai upaya untuk mendapatkannya,” tegas Kepala BNNP Bali Kombes Pol. I Gusti Ketut Budiartha, S.H., M.H.
Semakin nekatnya sindikat narkoba, Kombes Budiartha menekankan kewaspadaan perlu ditingkatkan dan rutan atau lapas jangan sampai kecolongan. “Kejadian-kejadian seperti ini bikin institusi malu. Di sarang macan (kantor polisi) kok bisa narkoba masuk,” ujarnya. Mantan Dir. Pariwisata Polda Bali ini pun mengakui bila minimnya peralatan deteksi dan CCTV, salah satu faktor masuknya narkoba masuk lapas atau rutan. Apalagi penyelundup melakukan berbagai upaya untuk bisa meloloskan barang mematikan itu bila dikonsumsi dalam jumlah banyak. “Saya berharap, pihak lapas atau rutan lebih meningkatkan kewaspadaan. Selain itu perketat pengawasan. Penjaganya harus diberitahu cara-cara periksa barang atau makan yang masuk ke dalam rutan atau lapas supaya tidak kecolongan,” tandasnya. Salah satu tahanan kasus narkoba
Polresta Denpasar berinisial BA (38) tepergok menyimpan shabu-shabu (SS) seberat 0,5 gram dan alat isap saat dilakukan penggerebakan oleh Sat. Narkoba, Sabtu (6/9) malam. Terungkapnya kasus ini setelah petugas meringkus tersangka berinisial PP (35) di depan salah satu salon di Jalan Pandawa, Legian, Kuta, Sabtu (6/9) sekitar pukul 10.50. Dari tersangka PP, diamankan barang bukti dua paket SS seberat 0,02 gram dan 0,26 gram. Atas kejadian memalukan itu, Wakapolda Bali Brigjen Pol. I Gusti Ngurah Rahardja Subyaktha lantas sidak rutan tersebut. Langkah pengamanannya, kini di Polresta yang awalnya terpasang hanya 8 CCTV saja, langsung dipasangi CCTV tambahan sebanyak 16 unit sebagai langkah antisipasi dan memperkuat pengawasan. l Kertanegara
22 - 28 September 2014
33
Dibuang di Jalan
Bayi Itu Sempat Sesak Nafas
SITI terkejut bukan main begitu melihat ada bungkusan bergerak-gerak di dekat tong sampah di pinggir Jalan Gunung Kapur Gang 2, Monang Maning, Denpasar Barat, Minggu (7/9) lalu. Wanita tersebut kemudian membuka bungkusan tersebut pelan-pelan. Mata Siti terbelalak melihat bayi yang masih merah dalam posisi tengkurap di tas kresek itu. Sungguh luar biasa, walau dibungkus tas kecil, sang bayi rupanya masih bernapas. Siti bergegas memboyong bayi itu ke sebuah klinik tak jauh dari tempat ditemukannya. Menurut H. Sulini, bidan yang menangani bayi tersebut, sang bayi awalnya dalam kondisi lemah. Dia sesak napas karena kurang mendapat oksigen di dalam tas kresek cukup kecil. ‘’Selain itu, tali pusar sang bayi belum dipotong dan
terlilit di leher,” ujar Sulini. Sebelum diberikan bantuan oksigen, bayi malang itu dibersihkan dulu. Setelah itu barulah diberikan penghangat dari lampu. “Di tubuhnya masih ada bercak darah, kemungkinan belum sempat dibersihkan oleh ibunya. Tapi, saat ditemukan, ari-arinya tidak disertakan dalam tas,” tegas Sulini. Supaya mendapat perawatan lebih bagus, bayi tak bertuan tersebut kemudian dirawat di RSUD Wangaya. Kasubag Hukum dan Humas RSUD Wangaya, Dwi Wahyuning Kristiansanti, S.Sn. Senin (8/9) lalu membenarkan hal tersebut. Bayi yang saat ditemukan berbobot 3 kg dan panjang 47 cm ini mendapat perawatan intensif sehingga kondisinya terus membaik. Dwi menambahkan, pada kaki kanan sang bayi ditemukan lebam, tepatnya di area tulang kering. Pihaknya kemudian berkoordinasi dengan Polsek Denpasar Barat serta Dinas Sosial. Baru sehari dirawat, Siti yang menemukan bayi tersebut mendatangi RSUD Wangaya dengan maksud mengadopsinya, tapi pihak RS tidak mengizinkan hal tersebut. “Kami tidak punya wewenang untuk memberikan izin adopsi. Pihak yang mempunyai wewenang itu adalah Dinas Sosial. Kami hanya merawat bayinya,” tandas Dwi. Selain Siti, beberapa calon orangtua juga menghubungi pihak RS untuk mengadopsi bayi malang tersebut. ‘’Sudah ada beberapa calon orangtua yang menghubungi kami. Selain itu, saksi yang menemukan bayi ini sempat datang ke sini dan berencana mengadopsi,” ujar spesialis anak RSUD Wangaya, dr. I Wayan Retayasa, Sp.A (K), Selasa (9/9) lalu. Mengenai urusan adopsi itu, pihak RS tetap menyerahkannya kepada Dinas Sosial. Menurut Retayasa, dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh bayi. Hanya ada lebam pada kaki kanannya. “Lebam itu bukan karena tindak kekerasan, tapi kemungkinan karena tas tempat bayi itu sempit sehingga dia susah bergerak. Selain itu bayi ini kan ditemukan di tempat sampah,” tegasnya. Disebutkannya, dilihat dari kondisinya, saat ini sang bayi sejatinya sudah bisa dibawa pulang dari RS. ‘’Tapi kami harus menunggu koordinasi dari kepolisian dan Dinas Sosial,” tegasnya. Retayasa juga berharap ibu bayi ini segera melihat kondisi bayinya atau menjemput bayinya sebelum kasus ini masuk ranah hukum karena termasuk penelantaran bayi. Tidak hanya itu, ia juga mengimbau kepada masyarakat lainnya yang hamil di luar nikah atau kehamilan yang tidak diinginkan, jangan sampai menyakiti anaknya dengan cara dibuang seperti yang dialami bayi ini. “Lebih baik minta bantuan orang lain bila tidak bisa memenuhi kebutuhan bayi. Jangan dengan cara seperti ini (membuang),” tandasnya. l Desi
MBP/desi
Bayi laki-laki yang ditemukan di dekat tong sampah di pinggir Jalan Gunung Kapur Gang 2, Monang Maning, Denpasar Barat, Minggu (7/9) lalu. Kondisinya terus membaik, sehingga banyak orang ingin mengadopsinya.
34
22 - 28 September 2014
Peluru Nyasar, Koyak Bibir dan Mata Ratmini HATI-hati dengan senapan angin jika tak ingin melukai orang lain, terlebih kalau senapan itu dipakai main-main, seperti halnya yang dilakukan Kadek Ritawan (16), warga Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng ini. Ketika sibuk menelepon dengan HP sambil memegang senapan angin pada Senin (1/9) lalu sekitar pukul 17.00, tiba-tiba dia secara tak sengaja menekan pelatuk. Ujung-ujungnya, teman satu sekolah Kadek Ritawan di SMK Kesehatan Kubutambahan, yakni Putu Sri Ratmini (16), kena peluru nyasar. Akibatnya, peluru senapan angin mengenai bibir dan bersarang di bawah mata kanan Putu Sri Ratmini. Kronologi kejadiannya berawal ketika Kadek Ritawan bersama temannya kumpul-kumpul di kamar kos milik Gede Arismawan, warga Dusun Kaja Kangin, Desa Kubutambahan. Kebetulan temannya saat itu membawa senapan angin. Sambil memegang senapan angin milik temannya tersebut, Ritawan menghubungi Putu Sri Ratmini untuk meminta file video film horor yang disimpan di HP. Tak lama kemudian, Sri Ratmini tiba di rumah kos yang dituju dan langsung menemui Kadek Ritawan. Begitu tahu Sri Ratmini datang, rekan Kadek Ritawan kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Sedangkan Kadek Ritawan masih memegang senapan angin milik rekannya. Celakanya Kadek Ritawan sama sekali tak menyangka kalau senapan angin itu berisi peluru. Entah apa yang terjadi, ia tak sengaja menekan pelatuk senapan angin itu sehingga meletus. Ternyata, moncong senapan angin itu mengarah ke muka Sri Ratmini yang berada tidak jauh dari posisi Ritawan memegang senapan angin. Tak pelak, peluru meletus dan mengenai bibir hingga peluruhnya bersarang di bawah mata kanan korban. Letusan itu membuat tetangganya terkejut, apalagi muka korban mengeluarkan darah segar. Kejadian ini segera dilaporkan kepada orangtua korban. Sementara korban dilarikan ke RSUP Sanglah, Denpasar, untuk menjalani perawatan medis. Kapolsek Kubutambahan AKP I Wayan Sueca seizing Kapolres Buleleng AKBP Benny Arjanto ketika dimintai konfirmasi Selasa (2/9) lalu mengatakan bahwa memang benar ada kejadian tersebut. Kendati keluarga korban, Putu Sri Ratmini, warga Dusun Alas Harum, Desa
Bungkulan, Kecamatan Sawan ini, tak mengadukan kasus tersebut, polisi tetap melakukan penyelidikan. Polisi memeriksa saksisaksi, termasuk melakukan rekonstruksi di rumah kos milik Gede Arismawan, warga Dusun Kaja Kangin, Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan. Polisi juga menyita senapan angin merk Shrap Tiger kaliber 4,5 mm yang menyebabkan korban tertembak. Kasus ini akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan alias damai, dengan kesepakatan, biaya perawatan Putu Sri Ratmini ditanggung keluarga Kadek Ritawan. Kapolsek Kubutambahan AKP I Made Sueca mengungkapkan, kabar perdamaian antara korban dengan pelaku itu didapat setelah polisi melakukan rekonstruksi di lokasi kejadian dan menyita senapan angina milik Kadek Aria Aditya, warga Desa Lemukih, Kecamatan Sawan. Menyusul kabar perdamaian itu, polisi menyatakan kasusnya tidak akan ditangani lebih lanjut. Meski demikian, polisi tetap menyita senapan angin yang sebelumnya ditembakkan secara tidak sengaja oleh Ritawan. Dengan penyelesaian damai itu, polisi
menyatakan tidak akan meneruskan penyelidikan lebih lanjut. Tapi polisi tetap mengimbau masyarakat yang memiliki hobi berburu dengan senapan angin, upaya tetap hati-hati alias jangan sampai lalai ketika menggunakan senapan angin. Yang paling penting, senapan angin dijauhkan dari jangkauan anak-anak untuk menghindari terjadinya kasus serupa. Yang jelas kedua kasus ‘’kecelakaan’’ ini sejatinya memberikan peringatan kepada kalangan orangtua agar tidak terlalu gampang memberikan senapan angin kepada anak-anak. Terlebih kalau senapan itu dipakai main-main. Bagaimana pun senapan angin sangat berbahaya bagi kita, karena peluru yang meletus dapat membawa bencana. Apalagi jarak tembaknya sangat dekat. Luka yang ditimbulkannya cukup fatal, hingga mengancam nyawa. l Robin
MBP/robin
Putu Sri Ratmini saat dirawat di RSUP Sanglah karena wajahnya terkena senapan angin yang dibawa teman sekolahnya, Kadek Ritawan, warga Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng. 22 - 28 September 2014
35
LINGKUNGAN
Pipa Dikubur, Air Belum Mengucur
S
etiap kali Pilkada datang, para calon pemimpin melalui propagandanya dengan bersemangat meyakinkan bahwa krisis air bersih di daerah tandus akan teratasi. Salah satu upaya monumental untuk menanggulangi masalah itu, proyek pipanisasi air bersih. Pusat menggelontorkan dana Rp 125 miliar untuk proyek pipanisasi air bersih di Karangasem. Yaitu proyek pipanisasi air Telaga Waja mulai tahun 2008. Nilainya mencapai lebih dari Rp 125 miliar. Anggarannya dari pemerintah pusat itu dikelola melalui Balai Air Bali Penida. Tak tanggung-tanggung proyek pipanisasi itu mampu mengatasi krisis air bersih di delapan kecamatan. Sayang sampai menjelang jabatan Bupati Wayan Geredeg berakhir, proyek pipanisasi ini belum bisa dinikmati warga seluruhnya. Airnya belum mengucur dari pipa. Tak salah kemudian para perbekel di Karangasem menyindir proyek itu bagai kuburan pipa. Pasalnya, selama ini banyak jaringan pipa ditanam di jalan-jalan. Namun air yang diharapkan warga mengucur dari pipa yang telah dikubur itu tak kunjung datang. Hanya keluar angin. Padahal propagandanya air itu diambilkan dari Telaga Waja yang direncanakan bisa dijual ke kapal pesiar yang berlabuh di dermaga kapal pesiar Tanah Ampo, Manggis, Karangasem. Ironisnya proyek mendatangkan kapal pesiar itu juga mangkrak. Kini tak ada kapal yang mau bersandar ke dermaga yang disebut Bupati Karangasem sebagai yang terbesar di Asia Tenggara itu. Selain proyek pipanisasi dari Telaga Waja, ada lagi proyek pipanisasi empat kecamatan. Anggarannya dari APBD Karangasem. Total anggaran yang digelontorkan Rp 27 miliar lebih dari pagu dana APBD Karangasem tahun 2009 sebesar Rp 29 miliar. Bupati Karangasem I Wayan Geredeg beberapa waktu lalu menyebut proyek pipanisasi untuk memasok air bersih di empat kecamatan. Sumber airnya ada dari sumur di tepi Danau Batur, Bangli. Airnya dialirkan ke Munti Gunung, Tianyar Barat, Kubu lalu mengalir ke wilayah kritis lainnya di Kubu. Tahun 2012, saat Bupati meninjau pengaliran air dari proyek itu, warga di Munti Gunung mengatakan, baru tiga kelompok yang menikmati air bersih dari proyek pipa itu. Padahal
36
22 - 28 September 2014
tahun 2012 itu, di Munti Gunung ada lebih dari 25 kelompok warga yang masih sangat memerlukan air bersih. Selain di Munti Gunung, ada pipanisasi dari Embukan desa Ababi. Airnya dialirkan ke kecamatan Abang dan ke kecamatan Karangasem. Di kecamatan Abang, air dialirkan ke Umanyar desa Ababi. Namun sampai kini warga setempat masih antri air di kran umum. Pasokan air tak datang tiap hari. Hanya satu atau dua kali seminggu air mengucur. Itu pun pada jam-jam tertentu. Bahkan warga di Kelakah, desa Pidpid mengatakan, seminggu hanya empat jam air mengalir. Itu pun kalau lancar. Sementara di Seraya pipanisasi air Tirtangga dan Embukan, aliran air baru dinikmati warga di pinggir jalan Seraya Barat dan Seraya. Seraya timur masih kekeringan. Bupati Geredeg mengaku warga di desa Bunutan Abang dan Seraya Timur, Karangasem memang belum banyak terjangkau pipanisasi air bersih dari proyek iu. Diharapkan tahun berikutnya, sampai ke Bunutan. Sementara pipanisasi air dari mata air Tirtagangga dialirkan ke kecamatan Manggis. Airnya baru sampai di Pesedahan Manggis. Air itu juga dinikmati warga di desa Tenganan Pageringsingan. Belum selesai proyek tersebut, juga ada proyek embung yang mencapai 15 buah. Namun warga di Karangasem masih banyak krisis air bersih. Warga di desa Antiga dan di Padangbai, mengeluh krisis air bersih. Bahkan, pasokan air PDAM juga sering macet. Kalau pun air mengalir, tetapi kecil. Musna Antara anggota DPRD Karangasem dari Penginyahan Kubu mengatakan pemasangan pipa untuk proyek pipanisasi air Telaga Waja, memang sudah banyak. Pemasangan pipa kini sudah sampai ke desa-desa. Bak besar penampung air atau reservoir juga ada di Kubu. Setidaknya dibangun di dua lokasi. Satu dibangun di barat desa Penginyahan. Di lain pihak, Wabup Karangasem Made Sukerana mengharapkan tahun 2015 proyek pipanisasi Telaga Waja itu sudah tuntas. Dengan begitu, diharapkan tahun 2016, proyek itu airnya sudah bisa mengalir. Mudah-mudahan. l Budana
MBP/bud
Terbelit Krisis Air Masyarakat daerah kritis beberapa kecamatan di Karangasem masih tetap menjerit. Mereka sejak Mei 2014 sudah kesulitan air. Krisis air bersih kembali mencuat di musim kemarau ini. Warga di Pempatan, Sebudi, Jungutan pegunungan, di Butus Desa Buana Giri, Bebandem, di desadesa Kecamatan Abang dan Kubu pegunungan, bahkan sampai Antiga Manggis masih ada yang krisis air. Kata Ketua Fraksi PDI-P DPRD Karangasem I Gede Dana, tak hanya di pegunungan yang parah krisis airnya, di tepi jalan negara Amlapura-Singaraja, juga masih banyak yang mengalami krisis air bersih. Anggota DPRD Karangasem asal banjar tandus di Penginyahan, Tianyar, Kubu, Karangasem Musna Antara tak memungkiri warganya masih tetap krisis air bersih. Karangasem memang bukan Malang yang banyak terdapat situs peninggalan Kerajaan Majapahit. Tetapi malang dalam arti sesungguhnya yang diderita warga terutama di daerah krisis air bersih. Sekalipun masyarakat sampai menjual ternak, tetapi setiap tahun tetap saja tak mampu menyelesaikan kesulitan air. Malang benar nasib warga Karangasem. Entahlah sampai kapan derita rakyat terbelit krisis air bersih ini berakhir. Hanya satu harapan mereka bagiamana pemerintah tetap membantu cubang-cubang yang bisa mengalirkan air ke rumah-rumah penduduk. Mereka tak begitu banyak mengharapkan proyek pipanisasi atau embung bisa membantu mencukupi kebutuhan mereka karena memang tak mudah mengalirkan air ke rumah-rumah penduduk di daerah kritis yang berpencar dan sulit terjangkau oleh pipa-pipa tersebut. l Budana
Pipanisasi air dari sumber mata air Tirtagangga baru dapat dinikmati warga di pinggiran jalan Seraya Barat dan Seraya, sedangkan Seraya Timur masih kekeringan.
MBP/bud
Seorang nenek renta pun turut mencari air di daerah krisis Karangasem.
22 - 28 September 2014
37
PARIWISATA
”Guide” Liar Menjamur di Pulau Dewata
K
eberadaan pramuwisata liar di Bali kian membuat Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali gerah. Pasalnya, banyaknya guide bodong yang beroperasi di lapangan berpotensi merusak citra Pulau Bali sebagai destinasi wisata dunia. “Terus terang keberadaan mereka (guide liar-red) membuat kami gerah. Sebab, tidak hanya merugikan pramuwisata yang berlisensi, namun juga bisa mencoreng nama Bali di mata dunia,” ujar Ketua HPI Bali, Sangtu Subaya. Menurutnya, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihat terkait, yakni Diparda dan Satpol PP untuk melakukan penertiban guide liar dan guide asing. “Untuk menjadi seorang guide perlu pendidikan dan pelatihan teknik pemanduan, penguasaan bahasa, penguasaan budaya sebagaimana Bali mengembangkan pariwisata budaya, pengetahuan umum dan kode etik,” terangnya. Upaya tersebut diakui Sangtu ditempuh melalui proses sertifikasi di lembaga
pendidikan tinggi yang mempunyai kompetensi pariwisata dan budaya. Kemudian diuji oleh pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata Provinsi atas nama Gubernur untuk memperoleh izin operasional. “Tim sweeping sudah sering turun. Ini bertujuan untuk menjaga ketertiban dan penegakan hukum karena tata cara kerja profesi guide yang telah diatur,” sebutnya. Diterangkan, profesi guide telah diatur dalam Perda No. 5/2008 dan Pergub No. 41/2009 dan bagi user yakni Travel Agent yang mempekerjakan mereka juga diatur dalam Perda No.1/2010 tentang Usaha Jasa Perjalanan Wisata, yang salah satu pasalnya melarang memakai guide yang tidak berlisensi. Setidaknya ada tiga guide liar yang diajukan ke persidangan di PN Denpasar. Mereka adalah Panca Hermawan (32), Yusiman (27), dan Kadek Erna Johan (31). Ketiganya dinyatakan melanggar, karena sebagai mengantar (sopir pariwisata) atau memandu tamu atau wisatawan ke objek-objek wisata tanpa melengkapi
diri dengan sertifikat sebagai pemandu wisata/ guide juga tanpa memiliki Kartu Tanda Pengenal Pramuwisata (KTPP). Sebelum diajukan ke persidangan, mereka terlebih dahulu disidik oleh PPNS untuk selanjutnya dilimpahkan ke Kejati Bali. Kemarin,jaksa yang menyidangkan perkara ini adalah Ida Ayu Ketut Sulasmi, Wira dan Dewi Agustin. Jaksa didepan majelis hakim PN Denpasar yang diketuai Hasoloan Sianturi, mengatakan ketiga terdakwa yang ditangkap secara terpisah oleh Satpol PP Provinsi Bali di objek wisata Taman Ayun dan Tirta Empul, didakwa melanggar pasal 4 ayat (1) jo pasal 14 Perda No 5 tahun 2008 tentang pramuwisata. Usai pembacaan dakwaan, para terdakwa yang tidak didampingi penasehat hukum karena mau menghadapinya sendiri, menyatakan mengerti atas surat dakwaan dan tidak mengajukan keberatan. l Parwata
Pramuwisata liar kian membanjiri setiap objek wisata di Pulau Dewata. Kendati kerap dilakukan penertiban, namun keberadaan mereka kian menjamur. Bali Post/dok
38
22 - 28 September 2014
Bali Post/dok
Para pemangku pariwisata diharapkan tidak terlena dengan masifnya pertumbuhan pariwisata Bali. Sebab, pertumbuhan pariwisata yang tidak terkontrol akan berdampak negatif terhadap Bali ke depan.
Pariwisata Bali Jangan Terlena Industri pariwisata yang berkembang Bali semakin menghadapi tantangan yang berat. Karena itu, pelaku pariwisata jangan terlena dan benarbenar mempersiapkan diri lebih baik lagi. Apalagi, dalam waktu dekat akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Praktisi pariwisata Drs. Dewa Gde Ngurah Byomantara, M.Ed., mengakui, sangat menyadari bahwa dengan ada kompetensi, sudah barang tentu persaingan akan sangat ketat. Tenaga kerja yang betul-betul profesional dan kompeten sangat dibutuhkan. “Khususnya lembaga pendidikan pariwisata mesti memberikan yang terbaik untuk negara, demi kemajuan bangsa melalui menyiapan SDM. Lulusan harus mampu bersaing di dunia kerja, terutama bidang pariwisatanya,” ujarnya. Di samping itu, kompetensi kualitas para dosen harus terus ditingkatkan. Sehingga output dihasilkan bisa menjawab tantangan dan kebutuhan industri pariwisata. “Para dosen harus didorong mengikuti atau terlibat kegiatan tingkat internasional. Tujuannya supaya mereka paham situasi dan kondisi pariwisata di
negara lain,” tegas Byomantara. Lembaga pendidikan pariwisata juga lebih intens komunikasi dan menjalin kerja sama dengan industri pariwisata. Tujuannya supaya saling memahami kebutuhan dan perkembangan pariwisata saat ini serta beberapa tahun ke depan. “Juga harus sering sharing dengan pakar pariwisata. Sehingga baik para dosen dan mahasiswanya memiliki kualifikasi bertaraf internasional,” tandasnya. Pengurus Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Bali Eka Mahadewi, M.Par., CHE., mengungkapkan, menghadapi MEA 2015, sudah sepantasnya Bali menjadi garda terdepan dalam menciptakan keterbukaan arus globalisasi. Bali sebagai tujuan wisata dunia, sesungguhnya sudah belajar banyak bagaimana menghadapi datangnya perubahan akibat adanya kunjungan masyarakat dunia. “Mengapa pariwisata harus bisa diterima di semua sektor, instansi, dan asosiasi? Karena pariwisata itu melibatkan hubungan masyarakat lokal dan pendatang (wisatawan). Keterlibatan pendatang akan menggerakkan roda
perekonomian Bali. Dengan adanya pendatang inilah, semua sektor seharusnya siap dengan segala produk dan aturan yang saling mendukung dengan negara asal dari pendatang tersebut,” tegasnya. Nilai dari hubungan ini, segala bentuk produk usaha, prosedur, aturan, kebijakan, peraturan dalam menghadapi MEA telah disiapkan agar Bali tetap menikmati pertumbuhan dan integrasi ekonomi. Dengan disiapkannya produk dengan kelengkapannya serta dengan ketentuan prosedur kebijakan yang jelas, diharapkan Bali tidak kebablasan dan terlena dalam mendatangkan wisatawan maupun dengan investasi ikutannya. Untuk itu, menurut Eka, dalam menghadapi MEA 2015, masyarakat Bali tidak perlu panik, walau pun masih perlu disiapkan sinergitas bidang pariwisata dalam memaksimalkan kualitas produk kreatif dengan keunikan lokal dan SDM yang bisa bersaing global. Selain itu, menciptakan iklim investasi yang konstruktif tanpa mengabaikan budaya dan masyarakat lokal. l Kertanegara 22 - 28 September 2014
39
HARI PELANGGAN - GM Witel Bali Selatan, I Gusti Bagus Ranuh (kiri), mengunjungi salah satu pelanggan Telkom saat Hari Pelanggan Nasional (HPN) yang dirayakan tiap 4 September. Telkom mengusung tema “Yes! We Care U More” dengan menyelenggarakan kegiatan “One Day Service Fulfillment” di Plasa Telkom, baik untuk layanan pasang baru, mutasi, gangguan dan sebagainya. Melalui tema tersebut, Telkom menekankan pentingnya layanan terbaik bagi pelanggan dan mencanangkan September sebagai bulan pelanggan. MBP/ist
MBP/ist
APRESIASI KONSUMEN - Masih dalam rangkaian Hari Pelanggan Nasional, Astra Motor memberikan apresiasi kepada konsumennya. Kali ini, konsumen yang turut dalam even kebersamaan itu adalah konsumen Loyal Astra Motor Kuta dan Astra Motor Nusa Dua. Dengan mengambil tema “Satu HATI Senyummu Berarti”, sebanyak 100 orang konsumen loyal Honda hadir dalam kegiatan tersebut.
40
22 - 28 September 2014
MBP/ist
KABAR WIRAUSAHAWAN - Selaku agen pemegang merek (APM) Suzuki, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) menggelar acara Kumpul Akbar (Kabar) Wirausahawan Pick Up No.1 di Bali pada Sabtu (6/9) lalu di Kertalangu, Denpasar. Acara yang menghadirkan pengguna mobil Carry Pick Up ini merupakan bentuk apresiasi yang diberikan Suzuki karena telah setia memilih kendaraan niaga Carry Pick Up sejak hadir di Indonesia pada 1976 lalu.
Raih sukses dengan menginformasikan kegiatan/usaha, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), peluncuran produk, dan promosi lainnya melalui rubrik Event dengan menghubungi bagian Iklan Bali Post - (0361) 225764. Penyampaian materi dilakukan dua minggu sebelum penerbitan. 22 - 28 September 2014
41
KULINER
”Cooking Class” di Laplapan Desa Petulu
M
enikmati makanan tradisional Bali, belum lengkap rasanya jika belum dapat mengungkap rahasia di balik kelezatannya. Nah, untuk menambah pengalaman terhadap masakan tradisional milik masyarakat Hindu di Bali itu ada baiknya mencoba membuatnya. Seni memasak otentik rasa Bali dengan produk lokal tentu membuat pengalaman lebih unik saat berlibur di Pulau Dewata. Tempat belajar memasak yang ramai diikuti wisatawan ada di Desa Pakraman Laplapan, Desa Petulu, Kecamatan Ubud, Gianyar. Jumlahnya terus meningkat, di antaranya Paon Bali Cooking Class, Payuk Bali Cooking Class, dan Manggang Bali Cooking Class. Semua tempat belajar memasak itu memanfaatkan bahan-bahan lokal dan dipandu oleh chef professional di bidang kuliner. Sebut saja Paon Bali. Tempat belajar memasak ini tergolong unik karena menggunakan dapur yang masih tradisional, sehingga dapat menemukan suasana dan nuansa yang berbeda selama menjalani kegiatan ini. “Wisatawan tak hanya mengolah, tetapi mengikuti proses dari awal hingga menikmati hasil olahannya,” kata Ni Luh Made Puspawati Chief sekaligus pemilik Paon Bali Cooking Class. Dalam hal ini, Paon Bali Cooking Class menyediakan dua jadwal yang disesuai dengan waktu para wisatawan. Pagi mulai jam 08.15 – 13.30 wita, sementara sore hari mulai pukul 16.15 – 21.00 wita. Para peserta yang berminat belajar memasak akan dijemput dari tempatnya menginap. Tak hanya mereka yang berada di kawasan Ubud, tetapi juga yang tinggal di luar Gianyar, seperti kawasan Nusa Dua, Kuta dan Sanur. Sebelum memasak, semua peserta diajak membeli bahan-bahan masakan dan alat memasak di pasar tradisional. Mulai dari memilih bahan-bahan yang masih fresh, proses tawar-menawar hingga membayarnya. Selain membeli sayur-sayuran dan daging, wisatawan juga dilibatkan dalam membeli berba-
42
22 - 28 September 2014
gai jenis bumbu yang dipakai. “Paon Bali ini sejenis rumah tangga yang memperkenalkan kehidupan orang Bali,” tuturnya. Para peserta juga diperkenalkan cara masyarakat Bali dalam mengadakan beras, mulai dari membajak tanah, bercocok tanam, hingga menuai lengkap dengan upacaranya. Dalam prosese ini, tidak sedikit wisatawan yang mau mencobanya. Mereka siap berkotorkotoran di lumpur bersama para petani, selanjutnya ke desa memperkenalkan rumah Bali. “Ini merupakan salah satu kegiatan favorit para wisatawan saat mereka berlibur di Bali,” ujarnya. Mengawali kegiatan memasak, para peserta dilibatkan dalam membersihkan bumbu, memotong hingga menghaluskan bumbu secara tradisional yakni dengan cara menumbuk yang menggunakan alat berupa lesung dan luhu. Kemudian menggoreng menjadi sambal atau bumbu goreng. Selanjutnya membuat soup sebagai makanan pembuka. “Setelah para peserta me-
nikmati sup olahannya sendiri, baru belajar ngelilit sate,” paparnya. Sementara sate di bakar oleh petugas, para peserta selanjutnya belajar membuat lawar, jukut urab dan gadogado. Setelah menyantap hasil olahannya, para peserta kemudian diajak membuat makanan penutup (dissert) berupa kolek. “Para peserta akan belajar bagaimana mempersiapkan menu lengkap termasuk makanan pembuka, hidangan utama dan dessert,” ungkap Puspa serius. Dalam proses belajar ini, para peserta dipandu oleh dua orang yaitu Chief Puspa dan Wayan yang memiliki pengalaman sebagai koki di beberapa hotel. Keduanya chef ini juga memiliki hobi memasak dan merupakan keturunan tukang ebat (tukang masak ala Bali). Mereka sangat ramah dan menyenangkan sehingga sangat membantu untuk membuat masakan Bali. l Budarsana
ELPIJI
Memperketat Ikat Pinggang OMELAN dua orang ibu rumah tangga pada 10 September 2014 lalu di sebuah warung kelontong menarik perhatian. Satu di antaranya emosi, satu ibu lainnya masih kelihatan tenang namun tak mau tersenyum. Baru kemarin harga elipiji saya beli di sini Rp 95 ribu/tabung, sekarang sudah Rp 120.000/tabung. “Kenken ne?” Ibu lainnya mendengus “Uh...terus kene gen ajin elpiji ne?” Keluhan atas naiknya harga elpiji tersebut mengarah pada semakin ketatnya “ikat pinggang ibu-ibu rumah tangga” mengatur pengeluarannya. Langkah itu dampak dari sebuah kebijakan kebijakan PT Pertamina (Persero). Kebijakan mulai Jumat (12/9) menaikkan harga elpiji nonsubsidi kemasan 12 kg sebesar Rp 1.500 per kg. Dalih pertamina untuk mengurangi beban kerugian perusahaan akibat tingginya harga elpiji di pasar internasional dan turunnya nilai tukar rupiah. Adalah Assistant Manager External Marketing Operation Region V Heppy Wulansari memberi penjelasan, perubahan harga tersebut menjadikan harga jual elpiji 12 kg di agen elpiji Pertamina di wilayah Bali berada di kisaran Rp 110.800 per tabung dan harga di konsumen akan bervariasi menyesuaikan dengan jarak suplai poin. Wulansari menyebut, sebelumnya harga elpiji 12 kg di agen berada pada kisaran Rp 89.400 per tabung. Untuk mengantisipasi peralihan konsumen elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg, Pertamina
juga melakukan monitoring distribusi elpiji 3 kg sampai pangkalan dengan sistem monitoring penyaluran elpiji 3 kg. “Kami juga melakukan antisipasi lonjakan harga elpiji 12 kg di tingkat pengecer dengan menetapkan harga eceran di SPBU yang menjadi outlet elpiji 12 kg. Hal ini dimaksudkan agar SPBU bisa berperan menjadi barometer harga elpiji 12 kg sebagai antisipasi jika pengecer menaikkan harga secara liar,” terangnya. Harga elpiji 12 kg saat ini juga sudah dijual di 146 SPBU tersebar di seluruh kota/kabupaten wilayah Bali. Harga di SPBU ini bisa menjadi barometer harga elpiji 12 kg di suatu wilayah. Sehingga jika harga di pasaran terlalu tinggi, masyarakat bisa membeli elpiji 12 kg di SPBU yang menyediakannya. “Sepanjang tahun 2014 periode Januari-Agustus tercatat konsumsi elpiji 12 kg di wilayah Bali mencapai 12.365 metrik ton,” sebutnya. Di sisi lain, Direktur Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Bali Putu Armaya mengakui kenaikan elpiji 12 kg merugikan komsumen di Indonesia, termasuk Bali. “Untuk menekan kerugian, Pertamina mestinya tidak membebani konsumen. Kenaikan ini akan menimbulkan disparitas harga yang tinggi antara 12 kg dengan 3 kg,” katanya. Kondisi ini, dinilai Putu Armaya, akan memicu terjadinya
migrasi besar-besaran dari pengguna elpiji 12 kg ke elpiji 3 kg. Sebab, selisih harga yang ditawarkan sangat tinggi. “Artinya hak masyarakat kelas menengah ke bawah akan dirampok oleh kelas menengah atas. Meski elpiji 3 kg naik, tetapi tetap saja terjadi perbedaan harga yang sangat jauh,” tegasnya. Kondisi tersebut, juga dikatakan Putu Armaya berpotensi memicu terjadi kecurangan dan penyelundupan. l Parwata
22 - 28 September 2014
43
TRADISI
“Majaga-jaga� di Besang Kawan
Harmoniskan Buana Alit dan Buana Agung BALI kaya tradisi. Berbagai tradisi tumbuh di masing-masing daerah. Masing-masing tradisi memiliki keunikan tersendiri. Salah satu tradisi unik di Bali adalah majaga-jaga. Tradisi tersebut sampai saat ini tetap dilestarikan krama Banjar Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Kabupaten Klungkung. Bagaimana bentuk tradisi tersebut dan apa makna yang terkandung dalam tradisi majaga-jaga? Tradisi majaga-jaga dilaksanakan krama setempat untuk membersihkan
44
22 - 28 September 2014
dan mengharmoniskan alam, baik buana alit maupun buana agung. Dalam tradisi yang ada hubungannya dengan upacara ritual ini, krama mengarak sapi yang dipakai korban suci ke keliling desa. Tradisi ini digelar setiap tahun. Sapi yang diarak ini pun tidak sembarangan sapi. Sapi tersebut disebut sapi cula-sapi jantan untuk digunakan sebagai caru. Selain diarak, sapi cula tersebut disempal menggunakan blakas ulahpati (senjata yang sudah diupacarai). Setelah diarak, darah sapi itu kemudian menjadi
rebutan warga yang mengarak. Tak hanya orangtua, wanita maupun anak-anak juga ikut melumuri wajah mereka dengan darahsapi yang diarak. Mereka meyakini darah sapi tersebut dapat mengobati segala macam penyakit. Bendesa Adat Besang Kawan Wayan Sulendra mengatakan warga melumuri wajah mereka dengan darah sapi tidak lain untuk memohon keselamatan agar terhindar dari pengaruh negatif. Seperti halnya merebaknya penyakit yang datang tidak terduga.
oleh pamangku. Di samping itu warga juga mendapatkan sapi tersebut satu bulan sebelumnya. Memang agak sulit mencari sapi cula seperti ini. Tapi sudah ada dari pemangku yang mengetahui seperti apa sapi yang digunakan sebagai kurban. Prosesi majaga-jaga diawali dengan upacara atur piuning di Catus Pata Besang Kawan. Dalam ritual atur piuning ini, sapi cula yang dipakai caru diperciki tirta dari Pura Dalem Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa dengan banten lengkap. Sebelum diperciki tirta, sapi tersebut dimandikan secara khusus. Setelah upacara atur piuning di Catus Pata, warga kemudian beramairamai mengarak sapi menuju utara jaba Pura Puseh, sepanjang 250 meter. Setelah itu, prosesi dilanjutkan menuju ke arah selatan di jaba Pura Dalem. Dari jaba Pura Dalem, kembali melewati Catus Pata, menuju timur, perbatasan Besang Kawan dengan Besang Kangin. Selanjutnya, arak-arakan prosesi menuju ke barat di Pura Prajapati. Terakhir kembali ke Catus Pata. Di masing-masing empat penjuru mata angin dan catus pata, dilakukan upacara atur piuning dan persembahyangan yang dipimpin para pemangku bersama prajuru
dan warga. Selesai diarak, sapi cula kemudian disembelih dan diolah dagingnya untuk caru sesuai dengan pangider-ider. Demikian juga dengan kulit dan kepalanya dijadikan bayang-bayang (bagian dari caru). Pengolahan daging dan jeroan sapi menjadi bahan caru dilakukan warga di areal Catus Pata, tidak boleh di tempat lain, sekalipun hujan. Sisa dari olahan untuk caru kemudian diberikan kepada warga. Sore harinya kemudian dilakukan pengastawan caru dan persembahyangan bersama seluruh warga. Terus dilanjutkan persembahyangan di Pura Prajapati. Selain itu warga dikatakan juga pantang untuk meniadakan ritual tersebut. Selain memang sudah menjadi keyakinan warga sejak turun temurun, warga khawatir jika ritual tersebut tidak dilaksanakan akan menimbulkan dampak niskala berupa grubug. Apalagi menurut Sulendra, warga Besang Kawan berasal dari Desa Tohjiwa, Karangasem. Dan tradisi ini berasal dari sana. “Dulu sempat tidak dilaksanakan ritual ini. Tapi sempat ada kabrebehan,� ujar Sulendra. l Wiadnyana
MBP/wia
Warga Br. Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung menggelar tradisi majaga-jaga.
Warga meyakini darah sapi yang dilumuri ke wajah dapat menghilangkan segala penyakit. Sedangkan tujuan dari digelarnya tradisi majaga-jaga itu untuk membersihkan alam semesta baik buana alit dan buana agung. “Intinya tradisi majaga-jaga ini untuk menjaga alam semesta. Diharapkan warga kami bisa terhindar dari gangguan dari luar seperti bencana alam maupun dari dalam hati nurani,� ujarnya. Selain itu menurut Sulendra yang didampingi petajuh, Komang Karyawan, warga Besang Kawan juga tidak sembarangan menggunakan sapi yang akan dipakai sebagai korban suci. Sapi yang digunakan sebagai korban suci harus benar-benar tanpa cacat. Bahkan untuk mengetahui sapi yang digunakan tersebut tanpa cacat juga ditentukan 22 - 28 September 2014
45
ER TpRRAODPI S I TI
Rumah Atap Limas Terkesan Lebih Elegan
P
rospek rumah minimalis dengan atap limas kini semakin digemari. Pasalnya, masyarakat kelas menengah bisa memiliki rumah mungil tapi bukan terkesan murahan. Sebab, rumah minimalis atap limas ini terkesan lebih elegan dan tidak murahan. Apalagi ada sentuhan batu alam di penampilan depan sehingga membuat terkesan mewah. “Ke depan, tipe rumah ini semakin berkembang dan peminatnya tambah banyak. Apalagi harganya Rp 500 juta ke bawah,,” kata Direktur PT Bumi Cempaka Asri (BCA) I Gede Suardita, S.E. Dulu sempat booming rumah model atap gewel atau kosol. Berhubung penampilannya murahan, pengembang beralih ke rumah model limas ini. Walau rumah tipe minimalis, tapi kesan yang divisualkan atap limas itu tidak pernah ketinggalan zaman. Selain itu, kesan elegan dan mewah sangat kental dirasakan dari desain rumah tersebut. “Tipe rumah ini me-
46
22 - 28 September 2014
mang lagi trend, apalagi sangat kental kesan Bali-nya,” ucap Suardita. Sebagian besar pengembang di Bali membangun rumah model itu. Umumnya rumah tersebut tipe 36 dan 45, dengan 3 kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Model ini terasa jauh lebih cantik dengan kombinasi batu alam. “Kombinasi batu alam itu biasanya disebut lipstik rumah minimalis juga untuk memperkuat kesan Bali-nya,” kata pengusaha asal Tabanan ini, sembari menegaskan produk rumahnya semua memakai batu alam dan atap limas. Saat ini, pengembangan properti terpavorit di wilayah Tabanan. Tiga kecamatan yang menjadi rebutan developer untuk mengembangkan rumah model ini yakni di Kecamatan Kerambitan, Kediri, dan Tabanan. Selain harga lahan masih terjangkau, juga sebagai daerah penyangga Denpasar dan Badung. “Memiliki uang Rp 500 juta bisa memilih lokasi premium di Tabanan. Jarak ke Denpasar atau Badung masih tergolong dekat,” tandas Wak-
il Ketua Bidang Pembiayaan dan Perpajakan DPD REI Bali ini. Sementara itu, owner PT SKI Land Development, Gede Semadi Putra mengungkapkan, rumah Bali identik dengan atap limas. Sedangkan batu alam, fungsinya untuk mempercantik tampak rumahnya. Saat ini, tidak sedikit interiornya memakai batu alam. Kolaborasi keartistikan arsitektur Bali dengan arsitektur modern dan tropical design, memerlukan sentuhan batu alam. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang tinggal di luar Bali, ingin memiliki rumah dengan konsep arsitektur Bali. “Contoh batu serai kan dari Karangasem, banyak juga dikirim ke Jakarta dan sekitarnya. Rumah minimalis atap limas dengan sentuhan batu alam menjadi idaman itu muncul ketika sentuhan seni bisa diterapkan dan diakui banyak orang,” tegasnya . l Kertanegara
Kunci Sukses Jadi Pengusaha
Jangan Setengah Hati JADI orang sukses menjadi dambaan setiap insan di muka bumi ini. Tapi garis tangan setiap orang beda-beda, sehingga tidak semua bisa mencapai kesuksesan di masa hidupnya. Adakalanya orang yang hidup dengan harta berlimpah membuatnya takabur dan lupa diri, serta hidup foya-foya. “Semua (kesuksesan) itu titipan, kalau nggak benar dikelola akan diambil Tuhan. Saya juga yakin para leluhur banyak membantu sehingga bisa seperti sekarang ini,” ungkap I Gde Semadi Putra, salah satu pengusaha muda sukses di Bali. Lahir di keluarga pengusaha sukses, tidak membuat pria kelahiran 30 Desember 1985 ini lupa diri. Ayah tercinta Semadi, Ketut Suwitra merupakan pengusaha ayam potong, pengapling tanah, dan percetakan sukses di Pulau Dewata. “Hidup manja dan foya-foya tidak berlaku di keluarga saya, walaupun bapak saya boleh dibilang pengusaha sukses. Bapak saya luar biasa galaknya mendidik anak,” kata lulusan salah satu universitas di Australia. Sukses bisnis potong ayam dan telor, ayah Semadi merambah ke usaha percetakan. Bisnis percetakan yang diberi nama percetakan Tohpati Grafika beralamat di Jalan Gatot Subroto Timur No. 38, Denpasar Timur. “Sekitar tahun 1995, bapak belajar kapling tanah di Kesiman, Denpasar Timur. Semua usaha dirintis bapak terus berkembang hingga sekarang,” ujar pengusaha kalem dan ramah ini. Berkat didikan dan contoh sang ayah, membuat Semadi jengah. Setelah lulus kuliah tahun 2006 di Australia, ia mulai belajar usaha. Meskipun menyandang status anak sulung, ia tidak langsung ditempatkan di sebagai pucuk pimpinan. Justru pria asal Karangasem ini, digembleng sangat keras dan harus mulai dari paling bawah. “Saya disuruh belajar di usaha percetakan, mulai dari hal-hal kecil seperti melipat brosur yang baik dan benar, cetak brosur hingga desain. Bapak saya bilang, kalau mau usaha harus belajar dari paling bawah.
Begitu juga saat belajar bisnis ayam potong. Saya belajar dari bawah, mulai belajar cara produksi, dagang yang baik, potong ayam jam 2 pagi. Saya harus ikut potong ayam,” tandas ayah dua anak ini. “Roh usaha harus dapat. Artinya, detail pekerjaan atau usaha harus tahu. Kalau itu dikuasai, saat berada di posisi atas bisa koreksi bawahan, nggak atas dasar omongan saja. Itu pola yang diajarkan oleh kakek dan bapak saya,” tambahnya. Sejak kapan menggeluti dunia properti? Sambil memperbaiki posisi kacamata minusnya, owner PT SKI Land Development ini mengungkapkan, sekitar tahun 2008, ia belajar ngapling tanah. Kebetulan waktu itu, bisnis perumahan mulai seksi di Bali. “Saya tidak mau setengah-setengah melakoninya. Saya ikut pelatihan properti plus di Cirebon, Jawa Barat selama 2 minggu. Padahal basic ilmu saya bisnis, kok malah ke developer, arsitek, kontraktor, kan nggak nyambung? Tapi kalau belajar diseriusi dan didalami, pasti bisa,” ujar Semadi sambil tersenyum. Setahun kemudian, ia mencoba terjun di dunia properti. Awalnya ia membangun kecil-kecilan di wilayah Tabanan dan
membangun 50 unit rumah. Tak disangka, usahanya itu sukses dan membuatnya semakin tertantang. “Saya beli lahan sendiri, baru bangun. Bukan dibelikan orangtua atau dimodalin orangtua. Usaha sendiri dibantu bank dalam hal pendanaan,” tegasnya. Walau saat kuliah tidak mengenyam pendidikan itu, berkat kegigihannya, ayah dua anak ini mampu menguasai ilmu arsitek, hitung sipil hingga mengkoordinir tukang dengan baik. “Hokinya orang kan beda-beda. Ada hoki di tanah, bangunan, dan teman REI percaya itu. Bisnis ibu pertiwi (tanah) itu harus dilandasi kepercayaan penuh,” kata pria yang juga aktif sebagai pengurus Hipmi dan Kadin Bali ini. Berkat keuletannya tersebut, hingga saat ini anak sulung dari empat bersaudara ini sukses menggarap proyek di 10 lokasi, di antaranya di wilayah Denpasar, Dalung, Mumbul, Ungasan, Nua Dua, dan Denpasar. Proyek terbesar yang pernah digarap yakni di wilayah Mumbul dengan lahan seluas 2,1 hektar dan membangun 90 unit rumah. Pada saat pengembang menjauh dari wilayah Kuta Selatan karena harga lahan mencekik leher, pemilik hotel Bisma Sari di Ubud, Gianyar ini, justru usahanya difokuskan ke wilayah itu. Apa kiatnya sehingga bisa jadi pengusaha muda sukses? “Pertama, pasti konsep dari orangtua yaitu roh bisnis harus dimengerti dan didalami supaya bisa mengoreksi kalau pegawai salah atau kinerjanya kurang bagus. Kedua, harus konsisten apa yang dijalani, selanjutnya terus mengasah kemampuan, dan terakhir membangun nama baik,” ujar pengurus termuda nomor dua di DPD REI Bali itu. Dari kacamata developer, kontraktor, arsitek, pengusaha hotel, furniture, hingga toko bangunan ini, pengusaha yang baik itu tugasnya bermimpi. Artinya, pengusaha hanya bertugas memikirkan mengembangkan atau membangun usaha baru dan berinovasi. “Kalau roh usahanya dikuasai, pengusaha tinggal cek ke bawahan saja. Tidak perlu mengambil banyak pekerjaan. Itu yang saya lakukan selama ini,” ucap pengusaha beralamat di Jalan Menuri, Denpasar ini. l Kertanegara
FASHION
Paloma dan Tary
Modifikasi ”Subeng” dan Bros
K
oleksi busana wanita siap pakai dengan garis desain klasik modern hadir di Bali. Dengan label “Urban Ikat”, koleksi ini dilengkapi dengan detil uniknya berupa aksesori berornamen Bali. Tema “Contemporary Culture” pun menjadi penyatuan karya perdana Paloma dan Tary, desainer muda Kota Denpasar yang dipersembahkan untuk memenuhi selera fashionista di Bali. Menggali inspirasi di seputaran mereka, dengan segala keunikan yang didukung daya pakai, kerapian, dan kenyamanan hadir dalam total look pada tiap busana endek koleksi “Urban Ikat “ ini. Semua dipersembahkan sebagai pilihan gaya berbusana untuk kalangan wanita usia 14-30an yang tampil beda. Mengenakan produk lokal tapi kemasannya modern dan eksklusif. Menurut I Gusti Ay u
48
22 - 28 September 2014
Paloma Adjani Blanco Oka dan Ida Ayu Uttari Priyadarshini yang biasa disapa Paloma dan Tary ini, awalnya mereka senang berkreasi memakai bahan endek hanya digunakan untuk diri sendiri. Ternyata desain mereka yang feminin, elegan, seksi dan modern ini banyak dilirik teman-temannya. Hingga akhirnya, mereka melakukan test market dengan menggelar koleksi karyanya di Sanur Festival beberapa waktu lalu. Meski Paloma sehari-harinya disibukkan dengan dua putri cantiknya juga bisnis properti dan Tary yang mesti menyelesaikan tugas–tugasnya di Fakultas Kedokteran Unud, hobi keduanya di dunia fashion menguatkan mereka bisa mengatur waktu terus berkreasi untuk pengembangan produk endek ini. Terlebih dengan respons dan sambutan yang luar biasa mengalir untuk “Urban Ikat” milik mereka setelah fashion show tersebut. Meski demikian, keduanya juga paham kalau membuat label yang besar itu tidaklah terjadi hanya semalam. Ada proses yang mesti mereka jalani. Karena itu, Paloma dan Tary mengaku untuk sementara waktu memilih lebih konsentrasi memasarkan semua rancangannya melalui media on line. Menariknya mereka akan meng-up date koleksi yang ditampilkan setiap enam bulan sekali. Paloma, istri dari IB Ngurah Sidhayatra Hijaya Mantra, yang menyelesaikan pendidikannya di Australia ini menuturkan endek dan aksesori bernuansa etnik khas Bali pilihan mereka ini ada-
lah bagian produk seni, yang selama ini sangat dikagumi oleh tamu-tamu mancanegara. Mereka lalu mengembangkannya sesuai dengan era kekinian, di antaranya beragam motif endek yang dikombinasikan dengan kulit dan terlihat sangat istimewa. Tary, putri dari IB Rai D. Mantra dan IA Selly D. Mantra menambahkan, persembahan koleksi yang mengangkat produk lokal ke area modern ini juga menjadi salah satu cara yang dipilih mereka untuk mengedukasi masyarakat agar lebih lagi mengapresiasi karya seni lokal atau buatan dalam negeri ini. Subeng misalnya, yang selama ini merupakan hiasan telinga bergaya klasik yang biasa dikenakan perempuan Bali saat berbusana adat. Begitu pula dengan bros berornamen Bali umumnya disematkan pada kebaya. Di tangan dua perempuan kreatif ini, subeng pun menjadi pelengkap busana kasual dan bros yang dipadukan dengan kulit hadir sebagai ikat pinggang yang cantik. Bicara subeng dan bros sebagai produk seni budaya milik masyarakat Bali, Paloma dan Tary sebagai generasi muda patut dibanggakan. Sebab mereka bukan hanya berupaya agar produk lokal yang indah ini makin banyak dikenakan tapi juga ditambah dengan sentuhan ala mereka ini bisa menjadi lebih menarik. Subeng dan bros ini, bukan saja di pakai saat ada kegiatan upacara adat semata, melainkan disuguhkan sebagai pelengkap penampilan yang modern di berbagai kesempatan. “Kami tidak mendesain, namun tetap menggunakan subeng dan bros gold plated yang sudah ada, tetap dengan motif kedaerahannya. Mungkin yang diubah ukurannya atau penempatannya serta dikombinasikan dengan material lainnya untuk memberikan sentuhan atau nuansa berbeda,” ujar Paloma yang diamini Tary. Laporan
SOSOK
Made Herry Erika Sedana
Beri Kesegaran Baru
K
ehadiran Made Herry Erika Sedana di Bali Bird Park memberikan kesegaran baru bagi team Sales & Marketing. Belum lama ini, perempuan kelahiran Singaraja, 28 Maret 1979 tersebut dipercaya menjadi Director of Sales & Marketing. Erika, begitu dia disapa, alumni Politeknik Negeri Bali itu dikenal sebagai pribadi yang tegas, energik dan disiplin. Wajar, saat kuliah dia sukses meraih nilai cum laude tertinggi dan terpilih sebagai ketua senat. Sebelum bergabung di Bali Bird Park, Erika berkarier sebagai TV news anchor Bali Vision, TVRI Bali. Dia juga lama berkecimpung di perusahaan Travel Agent dan terakhir di DHL. Bahkan, dia sering menjadi master ceremony (MC) dalam berbagai event bertaraf nasional dan internasional. Menurut Erika, menjadi bagian dari Bali Bird Park adalah pilihan menarik. Pasalnya, sebagai pecinta dunia satwa dan pariwisata, www.bali-travelnews.com
hal ini merupakan pengalaman baru yang menyenangkan. “Saya dipercaya oleh Managing Director Bali Bird Park Nicholas Blackbeard untuk menjalankan kerjaan ini. Tentunya, saya akan memprioritaskan kerja keras dan kekompakan,” jelas perempuan yang sering menjadi motivator dan pembicara dalam seminar ini. Selain itu, sambungnya, menjalin hubungan positif dengan team sangat penting. Karenanya, dia akan selalu adakan komunikasi, keterbukaan dan koordinasi yang baik untuk membangun citra dan kualitas Bali Bird Park. “We are heading to the same point. So, let us grow this company together,” ungkap pemilik senyum manis yang fasih berbahasa Inggris ini. Erika menambahkan, Bali Bird Park akan selalu menyuguhkan aktivitas menarik untuk pengunjung. Tujuannya, agar objek itu bisa menjadi sarana rekreasi, refreshing dan edukasi. l Ocha
www.bali-travelnews.com
BISNIS
Hardys Supermarket Pabean
Manjakan Pelanggan Setia
Grup Hardys Holdings melalui core business Hardys Retail resmi membuka Hardys Supermarket Pabean di Jalan Bypass Ida Bagus Mantra. Hardys Supermarket ini merupakan outlet ke-34 Hardys Retail di Bali dan merupakan pengembangan unit bisnis pertama Grup Hardys Holdings di Jalan By-pass Ida Bagus Mantra. AAG. Raka Semara Putra, S.T., selaku Direktur Asset & Business Development Hardys Retail menyatakan, keberadaan HardysSupermarket Pabean ini merupakan solusi bagi Pelanggan Setia Hardys untuk memenuhi kebutuhan harian maupun bulanan dengan jaminan produk terlengkap dan harga termurah. “Dengan akses yang sangat mudah karena terletak di jalur utama, parkir yang luas dan jaminan harga termurah sesuai keunggulan Hardys, maka Hardys Supermarket Pabean adalah pilihan belanja utama di sepanjang By-pass Ida Bagus Mantra” jelasnya. Sisi lain Ir. I Gede Agus Hardiawan, Presiden Direktur sekaligus founder GH Holdings menyatakan, pembukaan outlet ke-34 HardysRetail ini, merupakan salah satu implementasi Rencana Kerja Perusahaan Tahun 2014 dan Rencana Kerja Jangka Panjang Perusahaan melalui pengembangan bisnis organik maupun non-organik. “Melalui pengembangan bisnis yang kami lakukan, kami optimistis bisa mencapai target pertumbuhan bisnis di tahun 2014 yang telah dicanangkan perusahaan,” tegas pengusaha lulusan Fakultas Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut. Demikian juga dikemukakan Komisaris Utama Grup Hardys Holdings Ketut Rukmini Hardy, SP. Kata Rukmini, Hardys Supermarket Pabean merupakan implementasi pengembangan bisnis di tahun 2014. “Kami mohon doa restu dari masyarakat Bali, karena jika tidak halangan, menutup tahun 2014 kami akan membuka lagi 1 unit bisnis Malls di Bali yakni HardysMalls Gatsu,” pungkasnya. l Purnata
50
22 - 28 September 2014
MBP/dok
Hardys Supermarket Pabean sebelum Grand Opening yang dilakukan Sabtu (13/9) lalu.
56 | 22 - 28 September 2014
Golongan Atas Makin Berjaya
RP 20.000