Skip to main content

Majalah balipost edisi 52

Page 1

52 | 25 - 31 Agustus 2014

Kota Denpasar Belum Bebas Limbah Sablon

RP 20.000


DAFTAR ISI KILAS BERITA l Vandalisme Sasar Gunung Fuji 7 LAPORAN UTAMA lKota Denpasar Belum Bebas Limbah Sablon 8

DAERAH lPantai Jembrana Rawan Abrasi 22 KESEHATAN lCampak Merebak

Cegah dengan Imunisasi 24

LENSA lPanjat Pinang 26 OLAHRAGA l Judit Polgar

”Grandmaster” Termuda 28

KRIMINAL lGara-gara Masalah Sepele lTarif DSDP Ditentukan Lebar Jalan 10 FIGUR lPutu Alit Yandinata Anggota Dewan Badung Pecinta Vespa 11 POLITIK lTahun Membidik Kekuasaan Politisi 12 PERTANIAN lFestival Budaya Pertanian Badung

Ormas Rusak Rumah Warga 32

LINGKUNGAN lAir Bendungan Palasari

Terbagi Lahan Sawah Jadi Kebun 36

JAJAK PENDAPAT lMasih Punya Peluang

PARIWISATA lPerang Tarif Hotel di Bali Kian Sengit 38 EVENT lAbad 21 40 BUDAYA lUnik, Desa Wisata Nyuh Kuning 42 TRADISI lWayang “Wong” Tejakula

PENDIDIKAN lDistribusi Buku Kurikulum 2013 Ngadat

PROPERTI l Bisnis Properti Jadi Pilihan Investasi 46

Media Edukasi, Promosi dan Solusi Kebuntuan Pasar 14

OPINI lEra Baru, Berharap

Kenyamanan Transportasi 16 Garap Sektor Informal 17

Kesenian Sakral yang Tetap Lestari 44

Sekolah Diberikan CD untuk Pengganti Buku Sementara 18

MANCANEGARA lGolden Gate,

Jembatan Indah nan Unik 20

PROFIL l Putu Suada

Turut Memberdayakan Masyarakat 50 25 - 31 Agustus 2014

3


DARI PEMBACA

Masyarakat Belajar dari Pengalaman P

enolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa semakin meluas. Masyarakat tentu belajar dari pengalaman sebelumnya. Reklamasi Pulau Serangan dijadikan contoh yang paling nyata oleh mereka. Proyek tersebut tidak saja mematikan mata pencarian nelayan, tetapi dicurigai menjadi penyebab meluasnya abrasi di sepanjang pantai selatan Bali. Penyerapan tenaga kerja yang dijadikan salah satu alasan oleh pemerintah dan investor, tampaknya tidak lagi dipercaya oleh masyarakat. Fakta juga yang dilihat oleh masyarakat bahwa justru orang luar yang mendominasi, hanya sebagian kecil orang Bali bisa terserap di hotel-hotel maupun kegiatan bisnis besar lainnya. Kalau demikian halnya, sebenarnya reklamasi Teluk Benoa untuk siapa? Selain aspek sosial dan lingkungan yang menjadi alasan masyarakat menolak reklamasi, sisi niskala juga ikut dipertimbangkan. Masyarakat Bali, khususnya penyanding kawasan tersebut justru aspek niskala ini yang paling ditakuti, mengingat di kawasan tersebut bermuara 5 sungai yang disakralkan. Satu hal yang harus diwaspadai oleh orang Bali adalah jangan sampai diadu domba oleh mereka yang berniat mengeruk keuntungan di tanah Bali. Kita sesama orang Bali makerah ngajak nyama, mereka tertawa puas, jika Bali sudah rusak mereka pun pergi dengan segudang keuntungan yang dibawanya. Tinggal kita gigit jari. Komang Budaarsa Sidakarya, Denpasar

T

Tunggu Kebijakan Jokowi-JK

elah cukup lama perjuangan masyarakat Teluk Benoa dan sekitarnya menolak reklamasi Teluk Benoa. Mari kita tunggu efek kemenangan Jokowi-JK selanjutnya. Bulan Agustus ini akan dilantik semua anggota DPRD se-Bali. Kita tunggu suaranya yang dalam kampanye berjanji akan menyerap aspirasi rakyat, tentu termasuk rakyat yang menolak reklamasi. Juga rakyat di kabupaten lainnya di Bali serta bupati dan wakilnya perlu menyatakan sikap karena abrasi sepanjang pantai selatan Bali sudah sangat parah. Terakhir tentu Gubernur Bali akan menyikapi masalah Teluk Benoa jika seluruh rakyat Bali menyatakan menolak, karena Gubernur tentu tidak mendahului kehendak rakyat. Kita apresiasi pernyataan tokoh Bali yang mantan Wakil Gubernur bahwa bargaining Bali bukan menteri, tetapi berharap presiden terpilih mendengar aspirasi masyarakat Bali yang menolak reklamasi. Untuk itu agar para pejuang alam dan budaya Bali sebaiknya bersurat dan melaporkan ke Kepala Staf Kantor Transisi Jokowi-JK, penolakan reklamasi Teluk Benoa, agar nantinya memasukkan kebijakan presiden terpilih mencabut Perpres No. 51 Tahun 2014 dan menolak reklamasi Teluk Benoa, serta mengeluarkan kawasan Besakih dari KSPN. Ir. I Gusti Ngurah Oka Takmung, Klungkung

4

Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Suana, Sueca, Yudi Winanto, Subrata, Budi Wiriyanto, Diah Dewi. Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Yudi Karnaedi, Wira Sanjiwani, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Rindra, Agustoni, Widana, Ngurah Kertanegara, Manik Astajaya, Komang Suryawan. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Dewa Kusuma, Mudiarta, Gianyar: Agung Dharmada, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan NTB Agus Talino, Izzul Khairi, Raka Akriyani Surabaya Bambang Wiliarto Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP

25 - 31 Agustus 2014

4


5


KILAS BERITA

Bus Wisata Terjun ke Jurang, 44 Tewas SEBUAH bus pariwisata terjun ke jurang sedalam 10 meter di Tebet. Sebelum terjun ke jurang, bus ini menabrak sebuah mobil SUV dan pick-up. Akibat kejadian ini, sedikitnya 44 orang tewas dan 11 lainnya mengalami cedera. Sebuah media di Tiongkok, Minggu (10/8) menyebutkan, bus tersebut mengangkut 50 orang. Kecelakaan bus itu terjadi di kawasan perbukitan selatan Tibet, Kabupaten Nyemo, sekitar 90 km dari Lhasa, ibu kota Tibet. Penumpang bus nahas tersebut sebagian besar warga dari wilayah timur Tiongkok. Korban yang mengalami luka-luka telah dirawat di rumah sakit terdekat di Kota Lhasa. Kasus kecelakaan menjadi masalah serius di Tiongkok. Terlebih, selama ini kasus kecelakaan banyak dialami busbus penumpang jarak jauh. Sebelumnya, setidaknya 36 orang tewas dalam kecelakaan yang melibatkan bus setelah menabrak mobil tanker. l Agustoni/ap

MBP/ap

6

Vandalisme Sasar Gunung Fuji

Derita Petani Jeruk Kintamani DERITA petani jeruk di Kintamani Bangli. Saat ini mereka enggan memetik buah jeruk dan membiarkan menguning di pohon. Ini gara-gara harga jeruk jeblok hanya Rp 3.000/kg. Biasanya seperti musim panen, jeruk seperti saat ini petani bersuka ria mendapatkan hasil sebanding dengan jarih payahnya. Seorang petani jeruk, Wayan Mada menyampaikan keresahannya. Hal itu sangat berbeda dengan tahun lalu harga buah jeruk mencapai dua kali lipatnya. Akibat harga rendah, menyebabkan para petani enggan memetiknya dan membiarkan di pohon hingga berjatuhan. l Swasrina

MBP/dok

25 - 31 Agustus 2014

6


A

ksi vandalisme bukan saja terjadi di Indonesia. Kasus serupa juga terjadi di Jepang. Bahkan, aksi ini menyasar Gunung Fuji. Pemerintah daerah Yamanashi, Jepang akhirnya buka suara. Vandalisme yang berbahasa Indonesia itu belum diketahui siapa yang mebuat. Wakil Gubernur Prefektur Yamanashi Jepang Hiraide Wataru sangat menyayangkan adanya aksi corat-coret oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Pihaknya berharap kepada para wisatawan yang datang ke Gunung Fuji untuk tidak melakukan aksi corat-coret seperti itu. Warga Jepang menganggap Gunung Fuji sebagai tempat yang sangat dihormati. Bahkan, orang Jepang juga mengakui bahwa Gunung Fuji merupakan gunung yang suci. �Gunung Fuji bukan saja untuk mendaki, tetapi sangat keramat dan sakaral. Tempat ini juga telah menjadi warisan dunia. l Agustoni/afp MBP/dok

Pembangunan Lapas Narkoba Berlanjut PEMBANGUNAN lembaga pemasyarakatan (Lapas) narapidana narkotika di Dusun Buungan, Tiga Susut, Bangli, kembali dilanjutkan. Menyusul adanya dana anggaran untuk pembangunan tahap dua ini yang nilainya mencapai Rp 23,5 miliar. Proyek tahap II ini akan dibangun beberapa unit bangunan tambahan, sesuai dengan kontrak proyek di bawah Kementerian Hukum dan HAM dan ditargetkan rampung Desember 2014 ini. Kepala Lapas Narkoba Bali Bambang Maryanto, Selasa (12/8) mengatakan, proyek tersebut telah berlanjut sejak 20 Juli lalu. Ia menyebutkan, beberapa unit bangunan yang akan dibangun di antaranya ruang po-

liklinik, ruang registrasi, tembok keliling, pos jaga, serta pekerjaan finising di beberapa bangunan yang sebelumnya sudah dibangun pada tahap pertama lalu. Pembangunan tahap pertama ini telah dilakukan sejak 2013 lalu. l Swasrina

Pengacara Protes Dishub

MBP/wan

SEJUMLAH petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Denpasar, Rabu (13/8) kemarin melakukan penderekan terhadap kendaraan yang parkir di kawasan terlarang. Selain itu, parkir kendaraan itu juga mengganggu arus lalu lintas di Jalan PB Sudirman dan Jalan Yos Sudarso, sebelah selatan Kantor Pengadilan Negeri Denpasar. Namun, aksi penderekan tersebut menuai protes sejumlah pengacara. Pasalnya, mereka merasa telah parkir pada tempatnya karena tidak ada rambu larangan parkir di kawasan tersebut. Kontan saja, para pengacara tersebut terlibat perdebatan dengan petugas Dishub. Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional (Dalops) Dinas Perhubungan Kota Denpasar Ketut Sriawan mengatakan, penindakan ini dilakukan untuk kepentingan pengguna jalan dan mengantisipasi timbulnya kecelakaan yang dapat mengakibatkan kerugian material maupun kerugian jiwa. “Penindakan ini rutin dilaksanakan Dishub dengan melakukan patroli rutin setiap hari. Kegiatan ini untuk mengingatkan warga di Kota Denpasar dan para pengguna jalan agar lebih tertib di jalan dan tata cara berhenti yang benar,� katanya. l Wawan 25 - 31 Agustus 2014

7

7


LAPORAN UTAMA

Kota Denpasar Belum Bebas Limbah Sablon

P

encemaran lingkungan dan pemukiman kumuh, dua di antara banyak masalah yang dihadapi Kota Denpasar. Walaupun banyak upaya telah dilakukan untuk mengatasinya, namun tetap saja tidak tuntas. Bahkan ada kecenderungan semakin tak tertata. Pencemaran lingkungan terhadap sampah misalnya. Hampir seluruh sungai di Denpasar dipadati sampah. Demikian pula pencemaran limbah sablon, juga belum bisa diatasi secara tuntas. Walaupun Satpol PP telah melakukan penindakan, tetap saja pencemaran limbah sablon dikeluhkan petani. Sebab di sejumlah saluran irigasi, masih terdapat limbah sablon. Akibat banyaknya sampah di sejumlah sungai di Kota Denpasar membuat upaya normalisasi aliran sungai sulit dilakukan. Dalam sehari sampah yang terkumpul di sungai mencapai 18 truk. Jika tidak dibersihkan, sampah tersebut dapat menyumbat aliran sungai dan menimbulkan luapan air ke rumah-rumah warga. Kabid Pengairan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Denpasar I Gusti Ngurah Putra Sanjaya mengungkapkan, upaya pengerukan dan normalisasi sungai di Kota Denpasar dilakukan secara manual dengan menggunakan cangkul dan sekop. “Armada yang digunakan ada enam dam truk. Empat digunakan untuk mengangkut material pengerukan dan dua lagi untuk mengambil sampah di jaring-jaring sampah yang terpasang,” bebernya, pekan lalu. Dalam sehari petugas pengangkut sampah sungai dapat mengumpulkan sampah hingga 18 truk. Sampah tersebut paling banyak terdapat di Tukad Badung, Tukad Mati dan Tukad Rangda. Untuk

8

melakukan pengerukan dan normalisasi ada sekitar seratus personel yang terbagi dalam enam grup. Putra Sanjaya mengungkapkan, sampah yang mengotori sungai tersebut berasal dari masyarakat yang sengaja membuang sampah di sungai. Jika dibiarkan, sampah tersebut dapat menyebabkan pendangkalan dan menyumbat aliran sungai. “Petugas sudah diturunkan untuk melakukan pengerukan dan normalisasi menjelang musim hujan yang mulai terjadi September ini,” imbuhnya. Untuk mengantisipasi terjadinya banjir pihaknya juga telah membuat enam drainase baru di sejumlah titik rawan banjir. “Selain sampah, terjadinya banjir juga disebabkan semakin sedikitnya daerah resapan air hujan sehingga perlu memperluas drainase dan membuat drainase baru,” jelasnya. Tak hanya mencemari sungai, di sepanjang pantai di Padanggalak, ‘’kehadiran’’ sampah juga tak terelakkan. Sampahsampah plastik yang berserakan di pasir maupun di celah-celah batu dan kapur sama sekali tidak tertangani, sehingga mengancam kelestarian alam. Pemerhati sampah plastik Mulyuno mengatakan, di sepanjang Pantai Padanggalak hingga Pantai Sindu, Sanur, menemukan sampah-sampah plastik yang dibuang sembarangan oleh pengunjung, dibiarkan begitu saja hingga berbulanbulan. Kalaupun ada petugas yang setiap hari membersihkan pantai, sampah plastik itu hanya disapu dan ditimbun di pasir. Akibatnya, pada siang atau sore hari, sampah-sampah plastik bekas pembungkus makanan itu muncul kembali di atas pasir sehingga mengakibatkan pantai tercemar. Kondisi terparah terlihat di celah-celah bebatuan di pinggir Pantai

Padanggalak. Plastik bekas pembungkus makanan, kotak minuman dan pembungkus permen, masuk ke celah-celah batu hingga bertahun-tahun. Hal itu tampak dari warna plastik tersebut yang mulai kusam alias warnanya memudar. ‘’Kalau plastik ini dibiarkan terus-menerus, maka pantai bakal makin tercemar, karena plastik susah ditangani,’’ ujar Mulyono. Lalu bagaimana dengan limbah sablon? Sejumlah petani di Denpasar Timur menyebutkan, aliran irigasi telah tercemar limbah sablon. Kata, itu terlihat dari warna air yang mengalir ke sawah atau limbah yang menempel di dasar parit. Kasatpol PP Kota Denpasar I.B. Alit Wiradana mengaku telah berkoordinasi dengan BLH Kota Denpasar terkait keluhan masyarakat atas keberadaan usaha sablon di wilayah tersebut. Pihaknya men-

25 - 31 Agustus 2014

8


MBP/dok Tukad Badung menjadi lokasi strategis bagi perajin sablon. Kegiatan mereka dari proses pewarnaan sampai penjemuran di bantaran sungai tersebut.

gaku masih menunggu hasil pemeriksaan surat-surat izin operasional dan pengecekan lab. ‘’Petugas dari BLH Kota Denpasar dan aparat Kelurahan Kesiman sudah turun untuk melakukan pemeriksaan. Kami masih menunggu hasil dari pemeriksaan tersebut,’’ ujarnya pekan lalu. Wiradana mengaku, akhir-akhir ini menerima pengaduan adanya limbah sablon yang meresahkan masyarakat. Petugas penegak Perda tersebut akan mengambil langkah-langkah representatif jika terbukti usaha sablon yang mencemari sawah petani ini beroperasi tanpa memiliki izin. ‘’Jika memang benar usaha itu tidak memiliki izin, akan diambil langkah tegas hingga penutupan,’’ terang mantan Camat Denpasar Selatan tersebut.

Menurut Wiradana, saat ini kasus pencemaran limbah tersebut sepenuhnya menjadi wewenang BLH Kota Denpasar. Termasuk, pembinaan dan tahapan penindakan yang akan diambil terhadap pencemaran lingkungan tersebut. Satpol PP Kota Denpasar akan bergerak jika dipandang perlu untuk melakukan tindakan lebih lanjut, seperti penutupan operasional. Pihaknya mengimbau masyarakat dan aparat di desa/lurah untuk melaporkan jika terjadi gangguan di lingkungannya. Begitu juga jika ditemukan adanya pelanggaran pembangunan atau usaha yang dapat menimbulkan dampak negatif pada masyarakat. Ketua Forum Subak Kota Denpasar I Wayan Jelantik, mengaku belum menerima laporan atas kejadian tersebut. Jelantik

mengatakan, belum ada warga terkait kasus pencemaran tersebut yang melapor kepadanya. Jelantik mengatakan, timnya akan melakukan pengecekan terhadap kebenaran masalah tersebut. ‘’Saya belum tahu tentang masalah ini, tidak ada laporan kepada saya tentang masalah tersebut,’’ ungkapnya, kemarin. Hal sama disampaikan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar Ir. Gde Ambara Putra. Ia mengaku belum ada laporan terkait masalah tersebut oleh BLH. ‘’Kita belum sempat melakukan pengecekan, jadi kita belum tahu bagaimana perkembangan di sana. Laporan dari BLH juga belum ada,’’ jelasnya. l Dewa/Oka 25 - 31 Agustus 2014

9

9


LAPORAN UTAMA

Tarif DSDP Ditentukan Lebar Jalan meter. Bila digabungkan pada proyek I dan tahap II, maka layanan DSDP mencapai 32 persen dari luas wilayah Denpasar. Sementara itu, untuk menentukan besaran tarif, menggunakan ketentuan lebar jalan yang ada di depannya. Sedangkan untuk hotel, digunakan jumlah kamar yang tersedia. Pendamping UPT PAL Tjok Budiana mengungkapkan penerapan tarif DSDP ini sudah melalui kajian dan dasar hukum, Perda No. MBP/dok Dalam proses pengejaan proyek DSDP sering 2 Tahun 2011 tentang dikeluhkan lalu lintas mengalami macet. Retribusi Jasa Umum. Dalam perda tersebut diatur klasifikasi pelangwal pelaksanaan Denpasar Sewerage Devlopment Project (DSDP) gan menjadi tujuh jenis. Tarif paling kecil tahap pertama beroperasi sejak ditetapkan untuk kategori sosial (yayasan, Mei 2007 lalu. Layanan ini men- panti asuhan, serta sekolah) yang ditetapkan cakup 8.647 sambungan. Sedangkan untuk Rp 10.000 per bulan. Sedangkan untuk rumah tahap II akan bertambah lagi 7.200 sambun- tangga dibagi lagi menjadi tiga tipe, yakni A gan, sehingga total jangkauan DSDP akan untuk rumah dengan jalan di bawah tujuh mencapai 15.700 sambungan. Proyek tahap meter, tipe B untuk rumah dengan lebar jalan II ini masih sedang berjalan. Untuk wilayah antara 7 sampai 10 meter. Tipe C untuk rumah Denpasar meliputi 18 lingkungan, sedang di yang berada di jalan dengan lebar di atas 10 Sanur akan mencangkup 15 lingkungan. Se- meter. Kategori rumah tangga ini akan dipatok lain Denpasar, juga mencakup wilayah Kuta, tarif Rp 10.000 sampai Rp 25.000 per bulan. Tarif kategori hotel berbintang dan sehingga sampai saat ini baru tiga wilayah itu non-bintang akan ditetapkan Rp 100.000 saja yang ter-cover layanan DSDP. Areal yang akan terlayani dalam DSDP per kamar per bulan dan Rp 50.000 per tahai II ini mencapai 280 hektar (Denpasar) kamar per bulan. Sedangkan rumah makan dengan jumlah sambungan mencapai 3.800 disesuaikan dengan jumlah tempat duduk. unit sambungan rumah dengan jumlah pen- Untuk restoran dengan jumlah tempat duduk duduk yang ter-cover mencapai 33.000 jiwa. di atas 100 dikenakan tarif Rp 700.000 per Di kawasan Sanur akan terlayani sambungan bulan. Usaha rumah makan yang memiliki baru sejumlah 900 unit di areal seluas 160 tempat duduk maksimal 50 dikenakan tarif hektar dan jumlah penduduk yang ter-cover Rp 400.000 per bulan. Sementara pelanggan kategori komersial/nisebanyak 5.300 jiwa. Dana proyek DSDP ini berasal dari Loan, APBN, APBD pemprov aga dikategorikan kecil, sedang dan besar. Katdan kabupaten/kota DSDP tahap II ini dig- egori niaga ini ditetapkan mulai dari Rp 45.000 arap sejak Januari 2010 sampai 2014. Total sampai Rp 150.000 per bulan. ‘’Masyarakat panjang saluaran pipa mencapai 120 kilo- sudah bisa melakukan pembayaran di sejumlah

A

10

loket bank maupun LPD,’’ ujar Tjok Budiana. Dikeluhkan Pembuatan saluran limbah Denpasar Sewerage Development Project (DSDP) dikeluhkan warga karena menutup akses kendaraan di Jalan Pulau Saelus. Dampak sangat dirasakan memengaruhi perekonomian masyarakat. Warga yang berjualan di sepanjang Jalan Saelus mengaku mengalami sepi pembeli sejak proyek tersebut dikerjakan. Jalan Pulau Saelus, Sesetan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat akibat adanya pembuatan saluran limbah DSDP. Banyak kendaraan yang harus putar arah untuk mencari jalan alternatif. Penutupan jalan tersebut juga menyebabkan kemacetan pada jam-jam sibuk menjadi semakin parah, pekan lalu. Kepala Lingkungan Banjar Pembungan, Sesetan, I Made Juena mengatakan, akibat adanya proyek tersebut kendaraan roda empat yang melewati Jalan Pulau Saelus harus mencari jalan alternatif. Menurutnya, keluhan sering disampaikan pengguna jalan yang merasa kesulitan melalui jalan tersebut. “Tanpa proyek pun sudah macet apalagi ditambah adanya penutupan jalan seperti ini, tambah macet jadinya,” ucapnya. aan roda dua yang dapat melewati Jalan Pulau Saelus. Sejumlah toko tidak beroperasi di jalan tersebut. Hanya beberapa pedagang yang terlihat berjualan. Seorang pedagang lalapan, Iman mengaku pengerjaan proyek tersebut menyebabkan dagangannya sepi pembeli. “Biasanya dari pukul 17.00 sampai 23.00 selalu ramai. Sekarang sepi sekali, tidak ada pembeli,” keluhnya. Dikonfirmasi mengenai keluhan warga tersebut Asisten Pelaksanaan proyek I Gusti Agung Ari Wibawa mengatakan, pihaknya sudah berupaya untuk mempercepat pengerjaan saluran limbah tersebut. Pihaknya mengakui terdapat keluhan dari masyarakat terutama pengguna jalan yang melintasi kawasan tersebut. “Kami sudah melakukan percepatan pengerjaan paling lambat pada akhir Oktober sudah selesai,” tuturnya saat dihubungi, Rabu (13/8). l Asmara/Dewa

25 - 31 Agustus 2014

10


FIGUR

MBP/ist

Alit Yandinata berada di tengah-tengah komunitas pecinta vespa.

Putu Alit Yandinata Anggota Dewan Badung Pecinta Vespa Anggota legislatif tak boleh menjaga jarak dengan masyarakat. Prinsip itulah yang dipegang teguh anggota DPRD Badung I Putu Alit Yandinata. Dalam kesehariannya, politisi muda PDI Perjuangan ini berupaya maksimal memanfaatkan waktunya untuk melaksanakan tugasnya sebagai anggota DPRD Badung khususnya menyerap aspirasi masyarakat. Dalam melaksanakan kewajibannya itu, Alit Yandinata lebih memilih cara-cara yang sederhana dan natural. “Saya lebih suka menggunakan cara-cara yang sederhana dan natural. Seperti berupaya selalu menyisihkan waktu untuk berbaur di tengah masyarakat, mulai dari sekadar ngobrol ringan sampai misalnya berkecimpung langsung dalam berbagai kegiatan masyarakat. Kegiatan masyarakat itu tak melulu yang formal, tapi juga informal misalnya berbaur dengan komunitas tertentu,” kata tokoh masyarakat asal Banjar Batan Buah, Desa Abiansemal Dauh Yeh Cani, Kecamatan Abiansemal itu. Nah, saat ini Alit Yandinata tengah getol memberikan support terhadap komunitas pecinta vespa atau scooter di wilayahnya. Wadah bagi pecinta vespa itu dinamakan Under Fruit Scooter Club dan Damuh Alit Scooter Club Alit Yandinata berpose dengan vespa antiknya.

Independen. Alit Yandinata punya segudang alasan dirinya ikut aktif memberikan dukungan kepada komunitas tersebut. “Pertama, tentu ini menjadi wadah menyalurkan hobi positif. Sebab seperti yang kita ketahui bersama, masyarakat sekarang ini perlu hiburan positif dan sarana menjalin keakraban di tengah berbagai kepenatan akibat kesibukan sehari-hari. Dengan adanya wadah bagi hobi tertentu, masyarakat juga bisa sharing pengalaman berbagai hal. Khusus penghobi vespa ini, kami juga belajar bagaimana mencintai keindahan alam dan budaya Bali termasuk soal safety riding, melalui kegiatan touring yang dilakukan,” ujar anggota dewan yang lolos dengan 7.481 suara pada Pileg 2014 tersebut. Under Fruit Scooter Club dan Damuh Alit Scooter Club Independen belum lama ini menggelar tour of duty ke Karangasem. Tujuan utamanya adalah Taman Ujung. Touring juga diramaikan Club Vespa Extreme. Selain touring, para peserta juga singgah dan melakukan persembahyangan di Pura Goa Lawah dan juga menikmati alam di Bukit Jambul. l Dedy 25 - 31 Agustus 2014

11


POLITIK

Tahun Membidik Kekuasaan Politik

L

imit waktu kekuasaan empat bupati dan satu wali kota segera berakhir. Kursi politik yang akan ditinggalkan para politisi ini, tiga di antaranya Tabanan, Bangli dan Jembrana berpeluang kembali dibidik oleh penguasa saat ini. Sedangkan kursi Bupati Badung, tampaknya akan diperebutkan pendatang baru. Sedangkan kursi Wali Kota Denpasar, kemungkinan besar akan dibidik kembali oleh I.B. Rai Dharmawijaya Mantra yang saat ini menjabat wali kota. Pertarungan politik perebutan kursi kekuasaan ini diprediksi akan berlangsung Mei 2015. Kini, komisioner KPU di kabupaten/kota sedang melakukan persiapan untuk proses pemilihan. Namun, jauh sebelum perebutan kursi politik digulirkan, suhu politik di sejumlah kabupaten mulai panas. Sejumlah figur mulai bermunculan, baik dari parpol mau-

12

pun non-parpol. Kalangan elite parpol juga telah mulai menghitung berbagai kemungkinan serta melancarkan strategi guna menggaet calon potensial. Sejauh ini beberapa nama dijagokan untuk maju sebagai calon bupati terutama muncul dari kalangan parpol. Mereka di antaranya Ketua DPC PDI-P Badung I Nyoman Giri Prasta, anggota DPRD Bali dari PDI-P I Wayan Disel Astawa dan I Made Sudiana, politisi Partai Golkar yang wabup terpilih pengganti Ketut Sudikerta. Sementara dari kalangan non-parpol, nama yang muncul, antara lain Wayan Adi Arnawa, birokrat yang kini menjabat Kadispenda Badung) dan I G.N. Suryawijaya, Ketua PHRI Badung. Lain halnya di Badung, lain pula dengan di Kota Denpasar. Jika di Badung, kandidat mulai muncul, di Denpasar suasan relative lebih adem. Bahkan, KPU Denpasar baru sebatas melakukan persia-

pan untuk perhelatan politik pemilihan wali kota-wakil wali kota (pilwali). KPU mengalokasikan Rp 16,6 miliar untuk memilih seorang wali kota dan wakil wali kota. Versi KPU Denpasar, besaran anggaran ini diasumsikan untuk pemilihan dua kali putaran. Mengingat diprediksi jumlah pasangan calon yang akan bertarung sebanyak lima pasang kandidat. “Tidak banyak, dibandingkan dengan kabupaten lain seperti Jembrana dan Karangasem yang jumlah pemilih di DPT-nya lebih sedikit dari Denpasar menghabiskan sampai Rp 17 miliar,� kata Ketua KPU Kota Denpasar I Gede John Darmawan. Pihaknya menjelaskan, secara total diasumsikan anggaran pilwali yang akan dihabiskan mencapai Rp 20 miliar. Karenanya Rp 16,6 miliar ini pengajuan anggaran di APBD Induk 2015. Sedangkan Rp 3 miliar sisanya akan diusulkan-

25 - 31 Agustus 2014

12


pada APBD Perubahan 2015. “Biaya pilwali tahun 2010 lalu dengan sekarang jelas berbeda. Selain DPT yang berubah, ada kenaikan honor untuk semua petugas seperti KPPS, PPK, dan lainnya. Termasuk pengadaan logistik juga ada kenaikan biaya,” jelasnya. Di lain pihak, mantan ketua KPUD Kota Denpasar Ray Misno mengatakan, tahun 2015 akan menjadi musim pemilihan pejabat politik. Pilkada serentak di lima kabupaten/kota ini tetap akan diwarnai intrik politik termasuk isu mobilisasi massa, terlebih suhu pilpres masih hangat. Ia mengatakan pertarungan antara incumbent dengan pendatang baru akan membuat pilkada di sejumlah kabupaten akan tetap panas. Hal ini merupakan dampak dari bergesernya koalisi partai politik pasca-Pemilu 2014. ‘’Kekuatan politik pascaPemilu 2014 bergeser. Hal ini juga akan berdampak pada strategi kandidat merangkul massa pemilih. Koalisi harus dibangun jika ingin memenangkan pertarungan politik,’’ sarannya. Ia mengingatkan agar pemilih tetap cerdas mengelola isu politik. Tingginya biaya untuk melahirkan seorang pemimpin, hendaknya membuat pemilih menggunakan akal sehat memilih pemimpin. l Dira/Asmara/Dedy

13


PERTANIAN

Festival Budaya Pertanian Badung

Media Edukasi, Promosi dan Solusi Kebuntuan Pasar Pemkab Badung senantiasa menginisiasi berbagai kegiatan yang diorientasikan agar dapat menjadi solusi terhadap berbagai permasalahan yang ada. Prinsipprinsip penyelenggaraan pemerintahan yang efektif, efisien serta dapat memberi nilai tambah ini telah menjadi landasan dalam penyelenggaraan berbagai program dan kegiatan, termasuk kegiatan Festival Budaya Pertanian (FBP) Kabupaten Badung. Hal itu diungkapkan Kabag Humas dan Protokol Setda Badung A.A. Gede Raka Yuda. Menurut Raka Yuda, persoalan klasik para petani kita selain permodalan dan SDM adalah persoalan pemasaran terhadap produknya. Menyadari hal ini maka Bupati Badung dengan dukungan DPRD Badung mencoba mengurai persoalan yang dihadapi oleh para petani melalui berbagai upaya di antaranya melalui event FBP. Dikatakannya, hakikat dan tujuan FBP, selain sebagai media promosi, adalah juga sebagai bentuk edukasi atau penyuluhan bagi masyarakat/petani utamanya dalam mengangkat seluruh potensi komoditas yang ada, di samping komoditas yang sudah eksis sebelumnya. Raka Yuda mencontohkan, tahun 2013 lalu, pemasaran kopi yang menjadi masalah dan juga sosialisasi penggunaan pupuk organik untuk mendukung berbagai program pembangunan pertanian di Kabupaten Badung, di samping komoditas bunga gumitir dikaitkan dengan kegiatan APEC, masih perlu mendapat perhatian. Pemkab Badung kemudian mencoba memfasili-

14

25 - 31 Agustus 2014

tasinya sehingga nilai komoditas inilah yang mendongkrak nilai MoU pada FBP tahun lalu. “Tentunya berbeda masalahnya dengan tahun sekarang, dimana harga kopi Arabika gelondong merah misalnya meningkat dua kali lipat dari Rp 3.000 tahun lalu menjadi Rp 6.200 di tahun ini sehingga mekanisme pasar sudah berjalan

secara normal. Demikian juga halnya dengan pupuk organik yang diproduksi petani, saat ini sudah terserap dalam berbagai program yang ada seperti program subsidi, optimasi lahan, program SRI dan sebagainya, sehingga secara otomatis sudah laku terjual,” katanya. Kalau saja dari dua komoditas tersebut diperhitungkan pada FBP 2014, maka setidaknya ada transaksi senilai Rp 7,95 miliar yang rinciannya dari kopi gelondong merah sebesar Rp 4,96 miliar dan pupuk organik Rp 2,99 miliar. Bila nilai ini lantas dijumlah dengan transaksi saat ini, akan tercatat potensi hampir mencapai Rp 11,02 miliar. “Tetapi sekali lagi hal ini tidaklah besar maknanya dalam penyelesaian masalah aktual saat ini,” katanya. Dijelaskannya, MoU tahun 2014 ini, yang fokus pada komoditas baru seperti jambu merah dan jambu kristal yang ternyata saat ini sangat berkembang di Badung Utara, selain aneka sayuran seperti bawang merah, cabai dan sebagainya. Pemkab Badung pun berupaya memfasilitasi kebutuhan petani. Dengan demikian hakikat MoU sebenarnya adalah bersifat problem solving (memecahkan masalah), mempertimbangkan mekanisme pasar, menggali potensi komoditas baru, sehingga nilai promosi, pendampingan dan penyuluhan juga sangat menonjol. “Pemkab menghindari kesan sekadar survei pasar atau hanya mencatat transaksi di masyarakat, kemudian kita umumkan. Tujuan kami lebih luas dari itu,” tegasnya.

A.A. Gede Raka Yuda

l Dedy


EKONOMI

Menyiasati Pembatasan Solar Bersubsidi Kebijakan membatasi distribusi dan layana penjualan solar bersubsidi mengundang dilema. Bagi pelaku pariwiasata, kebijakan ini harus dicermati. Surat Edaran BPH Migas yang mengataur pembatasan mulai pukul 08.00-18.00 waktu setempat mengganggu operasional perjalanan wisata. Seperti diakui Bagus Soediana, pengusaha transportasi pariwisata di Denpasar ini. Kendati masih bisa bertahan, karena jam penjualan yang dibatasi, namun yang menjadi kendala pemberlakuan waktu penjualan BBM subsidi merupakan jamjam tur atau operasional. “Sekarang pintar-pintar mengatur strategi, agar dapat beli BBM subsidi. Tetapi, kalau mobil lagi berisi tamu rasanya kurang elok diajak antre BBM di SPBU, nanti bisa-bisa dikomplain guide atau travel agent-nya,” ujar Penasihat Persatuan Angkutan Wisata Bali (Pawiba). Menurutnya, angkutan pariwisata yang mengonsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar mencapai 5 ribu unit, sehingga kebijakan yang baru berlaku di delapan SPBU di Denpasar ini akan

berdampak pada operasional kendaraan. “Hebat pemerintahnya, halus caranya, pahit rasanya,” keluhnya. Senada dikatakan Ketua DPD Organda (Organisasi Angkutan Darat) Bali, Eddy Dharma Putra. Dirinya mengharapkan agar kebijakan pemerintah disesuaikan dahulu dengan kondisi di lapangan. Sebab, bus angkutan antarprovinsi tidak bisa hanya sekali mengisi bahan bakar. Untuk di Bali sendiri ada sekitar 139 bus angkutan antarprovinsi yang tergabung di Organda. “Karena operasional angkutan umum ada yang sampai 24 jam khususnya angkutan antarprovinsi. Dengan adanya kebijakan tersebut, berlakunya bagaimana. Nanti stagnan pergerakan angkutan,” katanya. Dia mencontohkan, jika bus dari Bali menuju suatu daerah, misalnya Yogyakarta bisa dua kali mengisi bahan bakar. “Kalau terbentur penjualan solar sudah tutup, busnya kehabisan bahan bakar tidak bisa jalan bagaimana? Masak menginap di jalan,” ucapnya. Dilain pihak, Menteri Koordina-

tor Perekonomian, Chairul Tanjung mengatakan, bahwa pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mempengaruhi harga bahan pokok, karena diperkirakan angka inflasi berada pada kondisi normal. Chairul mengatakan, pengaturan pembatasan penyaluran BBM bersubsidi di beberapa daerah seperti di Jakarta Pusat, di 24 SPBU pinggir jalan tol dan penjualan BBM bersubsidi sampai pukul 18.00 WIB justru akan mengamankan APBN Perubahan 2014, di mana target volume kuota BBM bersubsidi berkurang dari 48 juta kiloliter (kl) menjadi 46 juta kl. Menurut Chairul, dengan kebijakan tersebut, masyarakat masih mungkin membeli BBM bersubsidi di wilayah lain di Jakarta atau sebelum masuk jalan tol dan membelinya sebelum pukul 18.00 WIB, sehingga yang menjalankan kebijakan tersebut hanyalah sebagian masyarakat yang dalam kondisi terpaksa. l Parwata/Hardianto

MBP/dok

Sejumlah nelayan menata jeriken saat antre pengisian BBM jenis solar di SPBN Pelabuhan Jongor, Tegal, Jateng. 25 - 31 Agustus 2014

15


OPINI

Era Baru, Berharap Kenyamanan Transportasi

R

asa aman dan nyaman sangat dibutuhkan oleh pengguna transportasi umum. Terbayang bagaimana kenyamanan yang disuguhkan oleh transportasi umum di negara tetangga. Sebut saja Malaysia atau Singapura. Selain berhasil mengurai kemacetan mereka juga mampu memberikan pelayanan yang nyaman dan jauh lebih baik dari yang kita miliki. Tentu bukan semata-mata karena anggaran pembangunan yang mereka sediakan lebih besar dari anggaran negara kita, tetapi lebih karena dana yang dipergunakan sesuai dengan apa yang dianggarkan. Miris memang, negara kita yang lebih dulu merdeka tapi belum mampu melebihi apa yang dipunya negara tetangganya yang lebih muda. Ketika menyaksikan melalui layar kaca tentang bus yang terputus di tengah jalan raya Ibu Kota Jakarta pikiran langsung melayang ke proses pengadaannya yang bermasalah. Kini pejabat yang bertanggung jawab terhadap peremajaan bus tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka. Sangat disayangkan memang, ketika harapan semua orang tertuju pada pembaruan manajemen transportasi, justru masyarakat dihadapkan pada kenyataan pahit. Bukan sekali ini saja bus Trans Jakarta mengalami hal serupa saat beroperasi. Sebelumnnya juga pernah terjadi mogok di tengah jalan, bahkan ada bus yang tiba-tiba terbakar. Hal ini perlu menjadi pelajaran yang berharga bagi pemimpin kita. Apalagi bus tersebut diadakan untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menambah masalah. Korbannya sudah jelas masyarakat umum pengguna jalan raya. Meskipun dalam kejadian terakhir tidak memakan korban jiwa, peristiwa tersebut tentu akan menyisakan trauma bagi para penumpangnya. Kondisi bus yang disaksikan oleh

16

25 - 31 Agustus 2014

Oleh I Made Mulyawan Subawa

masyarakat luas juga bisa menumbuhkan antipati orang menggunakan transportasi umum. Jika demikian halnya harapan dan kerja keras untuk mengurangi kemacetan justru menuai keragu-raguan publik terhadap produk-produk transportasi yang lainnya. Masalah transportasi yang amburadul hanyalah salah satu catatan kecil bagi pemimpin kita, yang terselip di antara catatan-catatan kecil di daerah-daerah yang perlu mendapatkan perhatian serius. Jangan sampai ada lagi kasus pengadaan transportasi atau pengadaan lainnya yang dikorupsi. Apalagi di tengah upaya untuk memperbarui transportasi dengan tehnologi yang lebih modern, jangan sampai proyek transportasi menjadi lahan baru bagi koruptor yang ujung-ujungnya keselamatan masyarakat menjadi taruhan.

Sehebat apa pun penegak hukum, jika kesadaran dalam diri masing-masing belum diperbaiki akan sulit mewujudkan impian bangsa ini. Revolusi mental harus segera dilaksanakan, kejujuran adalah landasan bekerja bagi semua aparat pemerintah tanpa terkecuali. Sudah saatnya para pemimpin memeras keringat dan biarkan rakyat menikmati hasilnya. Biarkan geliat pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka-angka penghibur. Tapi lebih kepada kenyataan yang disuguhkan bagi mata awam mereka; harga yang terjangkau, transportasi umum yang nyaman, tersedianya tempat bagi pejalan kaki, tersedianya layanan-layanan publik yang baik, dan sebagainya. Era baru akan segera dimulai, rakyat telah memilih pemimpinnya. Rakyat telah menancapkan harapannya pada kertas pemilihan yang disebarkan oleh Komisi Pemilihan Umum ke seluruh penjuru negeri. Kini tinggal menunggu ketegaran dan jiwa kenegarawanan para petinggipetinggi partai poitik untuk menerima apa pun keputusan dari Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Semoga hadirnya pemimpin baru nanti akan membawa energi baru bagi perubahan yang lebih baik. Jangan kecewakan rakyat hanya karena ambisi berkuasa. Pemimpin baru nanti sangat diharapkan akan mampu menghilangkan niat-niat jahat yang ada dalam diri pemimpin-pemimpin level di bawahnya. Sudah saatnya gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh presiden dan wakil presiden baru Indonesia akan mampu memberikan contoh kerja bagi seluruh aparatur-aparatur negara. Sehingga ke depan Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada ketajaman Komisi Pemberantasan Korupsi. Selamat datang perbaikan. Penulis, staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Mahendradatta


J A J A K P E N DA PAT

Masih Punya Peluang Garap Sektor Informal

P

rogram transmigrasi yang digulirkan pemerintah Pusat hendaknya dikelola secara selektif oleh pemerintah kabupaten/kota di Bali. Krama Bali hendaknya diarahkan untuk menggarap sektor informal sebelum direkomendasikan sebagai peserta transmigrasi. Selain itu, pemerintah harus menggulirkn program yang bisa memberikan penguatan daya saing dan kewirausahaan bagi krama Bali. Langkah ini selain akan memperkuat sektor informal juga bisa meredam aliran penduduk pendatang masuk Bali. Demikian terungkap saat Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat terkait dengan efektivitas program transmigrasi dan mengendalikan laju pendatang masuk Bali. Jajak dilakukan di seluruh Bali dengan mengajukan kuisioner dan wawancara via telepon. Berikut rangkumannya. Terkait dengan program transmigrasi bagi krama Bali, 63 persen responden menyarankan agar pemerintah kabupaten/ kota selektif dalam mengirim krama Bali untuk ikut program transmigrasi. Krama Bali yang masih punya potensi merebut peluang kerja di sektor informal hendaknya diberikan pelatihan dan didorong menjadi pelaku usaha di sektor informal. Pemerintah harus melakukan terobosan untuk menyiapkan krama Bali siap bersaing merebut peluang kerja yang ada. Responden yakin krama Bali masih memungkinkan menjadi penyangga utama sektor pertanian yang menjadi kekuatan dan spirit budaya Bali. Selebihnya, 31 persen responden menyatakan Bali harus tetap mendukung program transmigrasi. Pemerintah kabupaten/kota harus tetap mengakomodir keinginan krama Bali yang ingin mengadu nasib di daerah trasmigrasi. Terlebih, banyak krama Bali yang sukses setelah mengikuti program ini. Namun, sepanjang krama Bali masih memiliki harapan dan peluang untuk sukses di Bali, maka pemerintah harus selektif dalam mereko-

mendasikan krama Bali ikut transmigrasi. Sedangkan 6 persen responden lainnya tak memberikan respons terhadap hal ini. Mereka mengaku jarang mengikuti pemberitaan terkait dengan program transmigrasi bagi krama Bali. Terkait dengan aliran urban ke Bali, umumnya responden mengaku khawatir hal ini akan berimbas pada daya dukung Bali. Terdapat 75 persen responden yang meyakini bahwa kahadiran pendatang yang tak terkendali akan berdampak pada perebutan ruang, peluang kerja dan perekonomian. Bahkan, banyak dari responden yang mengkhawatirkan hal ini akan berimbas pada stabilitas wilayah dan ancaman kriminalitas. Responden bahkan mengakui bahwa laju pertumbuhan penduduk Bali saat ini sudah tidak sebanding dengan penyiapan infrastruktur dan peluang kerja yang tersedia. Kondisi ini bertambah parah ketika

alam Bali banyak dijejali investasi padat modal yang rakus lahan. Hal ini membuat Bali makin sarat beban. Di lain pihak ada 22 persen responden yang mengatakan bahwa kehadiran kaum urban justru akan membuat sektor-sektor informal di Bali berdenyut. Bali bisa menikmati pertumbuhan ekonomi yang ideal akibat adanya daya dukung dari investasi dan kehadiran pekerja profesional. Responden mengatakan investasi dan urban tidak selalu menjadi beban, sepanjang dikelola dengan bijak dan sesuai aturan. Sedangkan 3 persen responden tidak memberikan tanggapan atas hal ini. Mereka mengatakan selama ini penyiapan terhadap penduduk pendatang juga tak serius. Pemerintah baru bersikap ketika ada masalah terkait kehadiran pendatang di Bali. l Dira Arsana

Menurut Anda, Apakah Pemerintah Daerah Masih perlu mendorong Krama Bali ikut Transmigrasi di tengah serbuan duktang?

63% Tidak Perlu

31% Perlu

TRANSMIGRASI 6% Tidak Tahu N: 671 grafis/tomik cahya

25 - 31 Agustus 2014

17


PENDIDIKAN

Distribusi Buku Kurikulum 2013 Ngadat

Sekolah Diberikan CD untuk Pengganti Buku Sementara

D

istribusi buku pelajaran Kurikulum 2013 di Kabupaten Buleleng masih mengalami hambatan serius. Hal ini dibuktikan dari banyaknya sekolah dari tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK di Bali Utara hingga kini belum menerima buku mata pelajaran sesuai Kurikulum 2013 secara lengkap. Paling parah terjadi pada tingkat SD yang baru menerima kiriman buku untuk mata pelajaran Agama saja. Sementara tingkat SMP di Kecamatan Gerokgak, Busungbiu, dan Kecamatan Banjar belum menerima kiriman buku. Tingkat SMA/SMK belum menerima kiriman buku untuk mata pelajaran peminatan. Menyusul ngadatnya distribusi buku kurikulum 2013 tersebut, sekolah kini diberikan CD (soft copy-red) yang berisikan materi buku mata melajaran kurikulum 2013 untuk bahan mengajar sambil menunggu kiriman buku dari percetakan. Distribusi buku pelajaran Kurikulum 2013 sebenarnya sudah dilakukan oleh pihak percetakan sebelum tahun ajaran 2014/2015 dimulai atau sekitar Juni lalu. Namun faktanya, buku mata pelajaran terbaru itu belum diterima oleh sekolah. Sementara proses belajar mengajar (PBM) tahun ajaran 2014/2015 sudah dimulai hampir tiga pekan. Pemerintah pusat sempat memberikan deadline kepada pihak percetakan agar buku pelajaran harus sudah diterima sekolah tanggal 23 Juli 2014 lalu, namun pihak sekolah belum juga meneria buku pelajaran secara lengkap. Pemerintah pusat kembali menginformasikan bahwa

18

25 - 31 Agustus 2014

batas waktu terakhir pendistribusian buku Kurikulum 2013 kedua tepatnya 4 Agustus 2014. Lagi-lagi, batas waktu tersebut dilanggar dan tetap saja sekolah belum menerima kiriman buku pelajaran dengan lengkap. Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Dra. Wayan Lugraheni didampingi Sekretaris Disdik Nyoman Suarjana mengatakan, tingkat SD belum menerima kiriman buku secara lengkap. Percetakan baru mendistribusikan buku mata pelajaran Agama untuk 481 SD. Sedangkan buku mata pelajaran yang lain belum diterima oleh seluruh SD di Bali Utara. Bukan hanya tingkat SD, kata Lugraheni, tingkat SMP juga belum menerima secara lengkap. Dari sembilan kecamatan, sekolah di Kecamatan Gerokgak, Busungbiu dan Kecamatan Banjar belum menerima kiriman buku untuk seluruh mata pelajaran. Sementara tingkat SMA/SMK mata pelajaran umum sudah diterima seluruh sekolah, namun untuk mata pelajaran peminatan belum. “Kami sudah diundang untuk rapat koordinasi dengan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) dan dijanjikan buku akan terdistribusikan hingga 4 Agustus 2014 dan kami sampai kini masih menunggu kiriman dari percetakan,� katanya. Meski kiriman buku belum lengkap, menurut Lugraheni, sebenarnya tidak akan mengganggu proses belajar mengajar (PBM) di semua tingkatan sekolah. Bagi sekolah yang belum menerima kiriman buku dengan lengkap, pihak percetakan sudah memberikan buku pengganti sementara berupa CD

materi buku mata pelajaran kurikulum 2013. Materi dalam CD bisa di-print out untuk dijadikan pegangan guru untuk menyusun rencana pelaksanaan pendidikan (RPP). Selain itu, untuk sementara pihak sekolah disarankan untuk mengisi materi pembelajaran tentang karakter anak. Dengan upaya ini, PBM tahun ajaran 2014/2015 diyakini tidak akan terhambat, tetapi telah berjalan sesuai pemberlakukan Kurikulum Terbaru 2013. �Saya kira PBM-nya tidak akan terhambat, karena sekolah sudah diberi CD yang berisi program buku Kurikulum 2013 itu dan guru-guru juga sudah dilatih, sehingga saya yakin untuk sementara menunggu kiriman buku dari percetakan guru-guru sudah bisa melakukan PBM,� tegasnya. l Mudiarta


MBP/mudiarta

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Buleleng Gusti Ngurah Agung

Dewan Pendidikan Prihatin Keterlambatan pendistribusian buku Kurikulum 2013 mengundang kerpihatinan Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Buleleng. Pasalnya, keterlambatan ini berdampak pada terganggunya proses belajar mengajar (PBM) tahun ajaran 2014/2015. Keterlambatan ini tak bisa dihindari karena proses perencanaan oleh pemerintah yang kurang baik. Ketua DP Buleleng Gusti Ngurah Agung mengatakan, tahun ajaran baru yang sudah berjalan sekitar dua pekan ini harusnya sudah berjalan dan di semua tingkatan sekolah sudah mendapatkan pegangan buku sesuai dengan Kurikulum 2013. Namun dari pemantauan di lapangan, ternyata sebagian besar sekolah di Bali Utara justru belum menerima buku Kurikulum 2013 dengan lengkap. Atas kondisi ini, Ngurah Agung mengaku khawatir jika proses PBM akan terganggu. Dia juga menilai persoalan ini terjadi karena proses perencanaan yang kurang baik. Harusnya, jika perencanaan bagus, maka pihak percetakan harusnya sebelum tahun ajaran baru dimulai sudah mendistribusikan buku-buku tersebut. Tidak hanya

perencanaan yang kurang optimal, solusi penggantian buku sementara dengan CD (soft copy-red) yang digandakan oleh sekolah sebagai solusi darurat juga dianggap terlambat. Harusnya pemberian buku pengganti ini juga lebih awal disampaikan dan bukan ketika PBM sudah dimulai baru sekolah diminta menggandakan soft copy buku kurikulum terbaru tersebut. ”Dari pantauan kami di lapangan memang sebagian besar sekolah belum menerima buku dengan lengkap. Padahal, tahun ajaran baru sudah dimulai. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan sekali karena bagaimanapun buku itu menjadi panduan baik guru dan siswa dalam PBM tahun ajaran 2014/2015 ini, dan kalau saja materinya terlambat saya kira ini merugikan anak didik kita,” tegasnya. Terkait solusi memberikan buku pengganti berupa CD, lanjut Ngurah Agung, solusi seperti itu diyakini tidak akan bisa mengatasi permasalahan yang terjadi. Hal ini karena pihak sekolah harus menge-print materi dari CD tersebut, kemudian menggandakan dengan memfotokopi sehingga tetap saja menyulitkan pihak sekolah dan siswa. Selain itu, materi yang digandakan

dari CD tersebut hanya beberapa bagian sub tema saja dari buku Kurikulum 2013 itu sehingga kondisi ini lagi-lagi menghambat PBM. “Saya kira CD sebagai buku pengganti itu tidak serta merta menyelesaikan permasalahan yang terjadi, karena tetap saja akan menganggu PBM di sekolah,” katanya mengkritisi. Menurut Ngurah Agung, pemerintah daerah tidak bisa hanya diam menunggu kiriman buku dari pihak percetakan. Namun Dinas Pendidikan (Disdik) Buleleng harus proaktif dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali dan bahkan ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk memastikan distribusi buku Kurikulum 2013 ini bisa secepatnya diterima. ”Tidak boleh diam. Tapi, dinas harus proaktif meminta kepastian distribusi buku dan jika tetap terlambat, dinas bisa saja mohon solusi terbaik agar buku Kurikulum 2013 yang menjadi panduan utama dalam PBM tahun ajaran baru ini bisa diterima oleh pihak sekolah,” ujarnya. l Mudiarta 25 - 31 Agustus 2014

19


MANCANEGARA

Golden Gate, Jembatan Indah nan Unik

S

alah satu jembatan yang paling luar biasa yang pernah dibuat adalah Golden Gate. Jembatan yang terletak di San Fransico, AS ini terbentang sepanjang 1,7 mil tau hampir 2 km dan merupakan salah satu daya tarik wisata yang cukup besar. Jembatan Golden Gate sendiri adalah hasil dari proyek raksasa yang dicanangkan oleh Franklin Delano Roosevelt untuk mengatasi pengangguran dan merangsang ekonomi Amerika pasca-Great Depression. Proyek jembatan Golden Gate memakan biaya USD 35 juta dolar dan berlangsung selama 4 tahun. Arsitek yang membangun jembatan ini, Joseph Baerman Strauss, memiliki mimpi untuk membangun jembatan melintasi teluk San Francisco dia pun memutuskan untuk membangun jembatan bersuspensi terpanjang di dunia. Akhirnya setelah 4 tahun, Golden Gate resmi dibuka pada tanggal 28 Mei 1937 pukul 12 siang oleh Presiden AS kala itu Franklin D. Roosevelt. Hingga kini banyak kendaraan yang lalu lalang baik untuk menyeberangi teluk maupun hanya untuk berwisata. Ada banyak tempat wisata menarik yang bisa

20

25 - 31 Agustus 2014

disaksikan seperti Pulau Alcatraz yang terkenal. Alcatraz merupakan penjara dengan sistim keamanan sangat tinggi namun kini sudah tidak difungsikan lagi. Meski menjadi salah satu daya tarik wisata namun Golden Gate memiliki satu reputasi lainnya yakni sebagai tempat favorit untuk bunuh diri. Sejak selesai dibangun hingga saat ini, diperkirakan 1.300 kasus bunuh diri berlangsung di jembatan ini. Angka rata-ratanya adalah 1 kasus setiap dua minggu. saking banyaknya kasus bunuh diri, sampai-sampai pihak otoritas jembatan berhenti menghitung saat angka bunuh diri mencapai 1.000 di tahun 1995. Sejak awal tahun 2005 saja, tercatat 20 kasus bunuh diri berlangsung di jembatan ini. Sebagian dari kasus bunuh diri ini terekam di kamera yang dipasang di beberapa bagian jembatan saat seorang pembuat film dokumenter Eric Steel memasang kamera di tempat ini. Bandingkan tingginya kasus bunuh diri ini dengan obyek lain, misalnya Menara Eiffel yang menjadi tempat peristiwa bunuh diri sebanyak 400 kasus, padahal menara ini selesai jauh lebih dulu daripada jembatan Golden Gate. Tidak semua kasus bunuh diri di jem-

batan Golden Gate berjalan mulus. Hingga tahun 2003 sekitar 26 orang gagal bunuh diri di jembatan Golden Gate. Penyebab utamanya adalah mereka menghantam air dengan kaki duluan. Walau begitu, hampir semua orang yang gagal dari usaha bunuh diri ini menyesali pilihan mereka menggunakan jembatan Golden Gate. Tidak heran, karena saat gagal – kebanyakan dari orang yang selamat ini mengalami multiple fracture (patah tulang di berbagai lokasi) dan cedera organ internal. Diperkirakan saat menghantam air dari ketinggian 67 meter, kecepatan jatuh mencapai 120 km/jam yang berlangsung selama 4 detik. Pada kecepatan seperti itu, permukaan air bisa sama efeknya dengan permukaan beton. Tingginya kasus bunuh diri inilah yang membuat otoritas pemerintah San Fransisco dan jembatan Golden Gate merencanakan membangun pagar pemisah setinggi 1.2 meter yang saat ini berada di sisi timur jembatan, akan ditinggikan sehingga semakin menyulitkan orang yang hendak bunuh diri. Inilah salah satu sisi kelam jembatan megah tersebut. l Gugiek Savindra


Harta “Kush” Ada di Sudan SEBUAH ekspedisi berbuah manis. Beberapa orang arkeolog menemukan sebuah pemakaman berusia 2.000 tahun ditemukan di dekat Sungai Nil di Sudan. Uniknya, beberapa makam di sana terletak di bawah tanah. Setelah diteliti lebih jauh, sejumlah harta karun, berupa artefak seperti cicin perak yang diukir dengan gambar dewa ditemukan terkubur di bawahnya. Ada juga kotak keramik yang didekorasi dengan bentuk mata besar, para ahli meyakini, sebagai perlindungan menghadapi mata iblis. Memang simbol satu mata yang besar merupakan perwujudan dari setan di banyak mitologi. Penduduk desa tak sengaja menemukan pemakaman tersebut pada 2002, saat menggali selokan di Desa Dangeil. Sejak saat itu arkeolog terus melakukan ekskavasi di sana. Pekuburan itu berasal dari masa ketika kerajaan yang disebut Kush berkembang di Sudan. Berpusat di kota kuno Meroe, yang berada dekat dengan Dangeil. Perbatasan utaranya membentang hingga Mesir yang kala itu dikuasai Romawi. Di masa itu Kush dipimpin oleh seorang ratu. Meski bangsa Kush membangun ratusan piramida, pemakaman bawah tanah itu sama sekali tak mengandung struktur atau bangunan di atasnya. “Sampai sekarang kami tak tahu ukuran persis pemakaman tersebut,” kata Mahmoud Suliman Bashir, arkeolog dari National Corporation for Antiquities and Museums (NCAM) Sudan. NCAM bekerja sama dengan British Museum untuk mengevakuasi pemakaman tersebut. “Tradisi pemakaman Kush mendeskripsikan kepercayaan yang tersebar soal kehidupan setelah mati di sana. Itu mengapa benda-benda dan makanan disertakan dengan jenazah. Barang-barang itu diyakini dibutuhkan si mendiang di kehidupan setelah mati.” Demikian dijelaskan Bashir dan koleganya dari British Museum, Julie Anderson dalam buku mereka. Tim juga menemukan sejumlah benda yang dimaksudkan menjadi bekal di akhirat. Termasuk sejumlah botol besar yang dulunya berisi bir yang dibuat dari sorgum. Sorgum adalah tanaman serupa gandum yang kini menjadi salah satu bahan pokok di Afrika. Di salah satu makam, mereka menemukan cincin perak yang diukir gambar dewa bertanduk. Para ahli memperkirakan bahwa perhiasan tersebut menggambarkan Dewa Amun, yang di masa Kerajaan Kush, seringkali digambarkan dengan kepala yang terlihat seperti seekor domba jantan. Sebuah kuil untuk memuja Amun yang berasal dari masa yang sama dengan pemakaman juga telah ditemukan di Dangeil. Juga ditemukan harta berupa kotak keramik yang berhias mata, yang oleh orang Kush dan Mesir Kuno disebut udjat. “Alat ini digunakan dalam ritual untuk melindungi diri dari ‘mata Iblis’,” kata Bashir. Di pemakaman, para arkeolog juga menemukan ‘nampan pesta’ yang menarik, yang terdiri dari 7 cawan yang ditata bersama -- di mana 6 mangkuk mengelilingi satu yang ada di tengahnya. “Ini sangat unik, kami tak pernah menemukan yang seperti ini di mana pun,” kata Bashir. Satu makam berisi busur panah dan jenazah seorang pria yang menggunakan cincin batu di jempolnya. “Cincin di jempol dikenal sebagai objek yang berkaitan dengan panahan, yang digunakan untuk menarik tali busur ke belakang.” Di Kush, panahan memiliki peran penting dalam masyarakat. Para raja dan ratunya bahkan mengenakan cincin di jempol. Dewa perang bangsa Kush, Apedemak, yang berkepala singa juga terukir di busur yang ditemukan. Benda-benda bersejarah ini bernilai sangat tinggi bukan hanya secara materi namun juga dari sisi pengetahuan bagi generasi mendatang. l Gugiek Savindra 25 - 31 Agustus 2014

21


DAERAH

Sebuah bangunan di Konservasi Penyu Perancak sering diterjang ombak. Beberapa pohon yang dulunya membatasi rumah dengan pantai kini terlihat akarnya.

Pantai Jembrana Rawan Abrasi

H

ampir seluruh pantai di Jembrana rawan abrasi dan tidak lebih dari seperempatnya yang baru tertangani. Namun, kendatipun sudah dipasang pelindung pantai, dampak gelombang tinggi justru melebar di mulut pantai yang belum disender. Seperti yang terjadi di Cupel dan Candikusuma. Di dua pantai yang dikenal dengan pelabuhan rakyat itu kini nyaris hilang. Lahan milik warga yang luas kini hanya tersisa sejengkal. Tidak ada yang mampu melawan dampak kemarahan alam ini. Beberapa rumah warga bahkan hancur akibat abrasi. Begitu pula yang terjadi di Dusun Pebuahan, Desa Banyubiru, Negara. Belasan warung lesehan dan rumah warga digempur ombak tinggi. Upaya menghadang ombak dengan senderan seadanya, tidak mampu membendung ganasnya gelombang. Warga harus mengungsi dan membongkar rumah mereka.

22

25 - 31 Agustus 2014

Kondisi ini nampaknya harus lebih menjadi perhatian para pemegang kebijakan. Warga menuding gempuran ombak ini karena dampak adanya pemecah ombak dermaga di Pengambengan. Pemasangan batu-batu hingga ke tengah laut menyebabkan arus ombak ke pinggiran pesisir Pengambengan, di antaranya Cupel, Perancak hingga Candikusuma. “Dulu tidak sampai begini, di Cupel kan terkena dampak setelah ada dermaga menjorok di Pengambengan, sama juga ini, setelah di sana disambung, dampaknya meluas,� terang salah seorang warga di Pebuahan. Sementara itu, kondisi serupa juga terjadi Perancak. Efek air laut pasang mengakibatkan sejumlah warga di Banjar Mekarsari mengungsi. Rumah mereka yang berhadapan langsung dengan air laut kini sudah hancur hanya tersisa puing bangunan. Selain itu sebuah bangunan Kelompok Konservasi penyu juga terancam hilang akibat faktor

alam itu. Sepanjang 400 meter panjang pantai di Dusun Mekarsari ini dirongrong abrasi. Bukan saja tanah warga, sebuah senderan pelindung vila milik warga Belanda juga hancur akibat terjangan gelombang. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Jembrana IGP Mertadana mengatakan hampir seluruh pesisir pantai di Jembrana dari Gilimanuk hingga Pengeragoan mengalami abrasi. Dari data yang ada di Dinas, ada 22 titik abrasi yang tersebar di setiap pantai. “Hampir semuanya terkena abrasi, semuanya ada 22 titik. Yang baru ditangani baru sedikit, di Cupel, Pengeragoan, Candikusuma dan Baluk Rening,� ujarnya. Menurutnya ini merupakan akibat faktor alam dan pemerintah juga tidak serta merta bisa langsung membangun senderan. Karena menurutnya perlu kajian dan skala prioritas. l Surya Dharma


SOSOK

Wayan Rawan Atmaja

Komit Bangun Pendidikan dan Olahraga Dalam pemilu legislative (pileg) 9 April 2014, Badung ibarat menjadi dapil (daerah pemilihan) “neraka” bagi para calon anggota legislatif (caleg) yang memperebutkan kursi wakil rakyat di DPRD Bali. Sebab, jatah kursi dapil Badung turun dari 7 kursi menjadi 6 kursi. Di sisi lain, pemilih di Badung sangat heterogen dan karakteristik pemilihnya juga susah ditebak. Terlebih caleg-caleg yang bertarung rata-rata berbekal logistik cukup kuat, kemampuan politik mumpuni dan jaringan luas. Di tengah ketat dan beratnya persaingan di Badung, caleg incumbent Wayan Rawan Atmaja SIP., S.H. masih mendapat tempat dan kepercayaan di hati masyarakat Badung dengan terpilih sebagai anggota DPRD Bali periode 2014-2019 guna mewakili dan memperjuangkan aspirasi rakyat lima tahun ke depan. “Saya sangat bersyukur kembali terpilih di tengah persaingan yang sangat ketat di Badung dan dengan jatah kursi yang tersedia hanya 6 kursi. Terima kasih masyarakat Badung atas kepercayaan ini dan saya akan all out memperjuangkan aspirasi rakyat,” kata politisi Golkar itu. Perolehan suara Rawan Atmaja dalam pileg 2014 ini juga melonjak drastis dengan total 18 ribu lebih dibandingkan pileg 2009 yang hanya 12 ribu lebih. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat Badung meningkat terhadap perjuangan dan kinerja Rawan Atmaja selama menjabat anggota DPRD Bali periode 2009-2014 dengan duduk di Komisi IV yang membidangi pendidikan, kesehatan, pariwisata, budaya, permasalahan sosial dan kesejahteraan sosial, tenaga kerja dan lainnya. Peningkatan perolehan suara ini juga menunjukkan masyarakat Badung khususnya juga telah merasakan perjuangan Rawan Atmaja selama menjadi wakil rakyat. Banyak hal yang telah diperjuangkan Rawan Atmaja selama duduk di Komisi IV. Misalnya, memperjuangkan dan mendorong pihak eksekutif (Pemprov Bali) agar pendidikan di Bali mencapai 20 persen dari total APBD. Ia juga ikut

mendorong dan mendukung berdirinya SMA Bali Mandara di Buleleng. Di bidang kesehatan ia getol memperjuangkan peningkatan pelayanan JKBM (Jaminan Kesehatan Bali Mandara), penambahan Puskesmas Rawat Inap di seluruh Bali. Di bidang ketenagakerjaan, Rawan Atmaja berjuang keras dan bersuara lantang membela kepentingan pekerja pariwisata. Misalnya, ia membela ratusan karyawan hotel Bali Hyatt Sanur yang terancam kena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) oleh pihak manajemen dengan dalih renovasi hotel. Berkat perjuangan Komisi IV akhirnya karyawan tersebut tidak jadi kena PHK sepihak. Selama menjabat wakil rakyat, Rawan Atmaja selalu menjalin komunikasi dan terjun ke masyarakat serta menyerap aspirasi rakyat lalu memperjuangkannya. “Seorang wakil rakyat harus menjadi jembatan aspirasi bagi rakyat. Ia harus menjadi lokomotif perubahan dalam pembangunan masyarakat,” kata politisi kelahiran 30 Oktober 1960 itu.. Saat kembali dipercaya duduk di Dewan, Rawan Atmaja berkomitmen melanjutkan tugas dan pekerjaanya selama di Komisi IV. Untuk itu, ia tetap berkomitmen duduk di Komisi IV dan tidak akan pindah komisi. “Saya tetap di Komisi IV. Apa yang menjadi pekerjaan tertunda di periode pertama akan saya lanjutkan di periode kedua. Saya akan maksimalkan peran saya untuk membenahi persoalan pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, permasalahan sosial dan lainnya,” kata Rawan yang juga Ketua AMPG (Angkatan Muda Partai Golkar) itu. Berbagai persoalan dan pekerjaan rumah yang coba dituntaskan Rawan bersama anggota Dewan lainnya menyangkut pendidikan, misalnya bagaimana memperbaiki SLB (Sekolah Luar Biasa) di Lumintang yang saat ini kondisinya masih sangat memprihatinkan. “SLB Lumintang perlu mendapat perhatian serius. Bangunan fisik harus kita benahi atau relokasi ke tempat yang lebih representatif. SDM

gurunya harus kita tingkatkan serta sarana prasarana lainnya,” ujarnya. Ia juga berkomitmen terus mendorong Pemprov Bali membangun lebih banyak SMA maupun SMK Bali Mandara untuk menyiapkan calon-calon pemimpin ke depan. Ia juga menaruh perhatian serius pada pengembangan olahraga di Bali. Untuk itu ia mendorong agar Pemprov Bali membangun sarana prasarana olahraga yang memadai termasuk juga agar bisa menjadi tuan rumah PON (Pekan Olahraga Nasional) di masa mendatang. “Kalau olahraga kita maju negara pasti makmur dan prestasi di bidang olahraga mampu mengangkat harkat dan martabat kita. Untuk itu, Bali mesti mampu meningkatkan prestasi di bidang olahraga,” pungkas suami dr. Ni Wayan Wilda Yanti. S.Ked. itu. l Widana

25 - 31 Agustus 2014

23


K E S E H ATA N

Campak Merebak Cegah dengan Imunisasi

K

asus campak dalam dua minggu terakhir ini merebak di empat kabupaten di Bali. Tercatat 12 kasus campak yang menginfeksi warga di Kabupaten Buleleng, Denpasar, Klungkung dan Karangasem. Padahal kasus campak dalam dekade terakhir sangat jarang muncul. Pasalnya, sudah ada program imunisasi wajib campak. Merebaknya kasus campak di Bali, bisa diartikan beberapa anak tidak menjalani imunisasi campak tersebut. Dokter spesialis anak RS Wangaya dr. Wayan Retayasa, Sp.A. (K) memaparkan, saat usia bayi berumur sembilan bulan harusnya bayi itu diberikan imunisasi campak. Agar mendapatkan kekebalan atau antibodi, dan sebaiknya tidak hanya sekali. Bayi di-booster kembali dengan imunisasi campak pada usia lima tahun supaya mendapatkan ketahanan maksimal. “Saat usia satu setengah tahun diberikan imunisasi MMR yaitu imunisasi campak, gendongan dan rubella,” jelas Retayasa. Jika booster tidak dilakukan, maka ketahanan anak terhadap campak tidak maksimal dan potensi dan konsekuensinya menjadi sangat terbuka dan besar, tertular campak jika terjadi wabah di kemudian hari. “Saat wabah akan terlihat, anak yang tidak diimunisasi atau imunisasinya bolong-bolong akan menjadi sumber penular atau rentan tertular jika terjadi wabah,” jelas Retayasa. Penyakit campak sendiri disebabkan oleh virus yang menular lewat air liur penderita. Campak ini memang rentan menyerang anak yang daya tahan tubuhnya rendah. Gejala sakit ini adalah demam tinggi selama 3-5 hari disertai bintik kemerahan di belakang telinga, mata merah, batuk dan pilek. Campak menjadi berbahaya jika menyebabkan komplikasi. Biasanya organ yang diserang adalah otak, paru-paru dan saluran pencernaan. “Komplikasinya bisa berupa radang paru-paru, radang otak dan diare,” jelas Retayasa. Jika sudah terjadi komplikasi, campak menjadi sangat berbahaya. Penyakit ini umumnya menyerang anak usia balita yang ketahanan tubuhnya rendah. Komplikasi terjadi, jika anak mengalami kekurangan gizi yang diiringi penurunan daya tahan tubuh. Penyembuhan campak sebenarnya hanya dengan memperbaiki kualitas hidup. Seperti banyak istirahat dan asupan makanan harus bergizi. Namun jika sudah terjadi komplikasi, pengobatannya menjadi lebih kompleks. “Untuk campak biasanya disertai dengan pemberian antibiotika untuk mencegah terjadinya komplikasi,” jelas Retayasa. Upaya-upaya efektif lainnya, menjaga

24

25 - 31 Agustus 2014

lingkungan tetap bersih serta menjaga daya tahan tubuh dan imunisasi teratur. Langkah-langkah ini merupakan kunci penting agar terhindar dari campak dan penyakit infeksi akibat virus lainnya. l Wira Sanjiwani


MBP/ist

Atasi dengan Pola Hidup Bersih dan Sehat Musim pancaroba merupakan ancaman munculnya penyakit infeksi menular seperti Demam Berdarah Denque (DBD) maupun diare. Pada musim yang dingin dan kering ini, anak-anak di Bali pun terancam penyakit campak. Penyakit yang timbul akibat infeksi virus ini, didapati telah menyebar di 4 kabupaten di Bali yaitu Buleleng, Denpasar, Klungkung dan Karangasem. Kepala Dinas Kesehatan Bali dr. Ketut Suarjaya memaparkan, penyakit campak ini merupakan penyakit yang disebabkan virus. Karena pemicunya adalah virus, biasanya orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah sangat rentan terinfeksi

virus ini. Gejalanya pun mirip penyakit infeksi lainnya yaitu demam tinggi. Ciri khusus orang menderita penyakit campak ini adalah timbulnya bercak-bercak merah. Penularan penyakit campak ini melalui droplet penderita. Untuk mengatasi penyebaran penyakit ini, hemat Suarjaya perlu penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat terutama budaya cuci tangan. Hal wajib, imunisasi campak itu harus diberikan kepada anakanak. Tujuannya, untuk membentuk daya tahan tubuh sehingga mereka bisa terhindar dari infeksi campak di kemudian hari.

Dalam upaya mengatasi penyakit infeksi akibat virus ini, lanjut Suarjaya hal yang harus diperhatikan menjaga daya tahan tubuh si anak tetap baik. Untuk itu disarankan agar masyarakat mengonsumsi makanan bergizi dan cukup istirahat. “Lingkungan juga sangat berperan penting mendorong terjangkitnya penyakit ini. Sebab, jika lingkungan kotor maka infeksi penyakit semakin besar,� papar Suarjaya. Selain campak, penyakit infeksi seperti diare dan DBD menjadi salah satu penyakit yang patut diwaspadai selama musim pancaroba ini. l Wira Sanjiwani 25 - 31 Agustus 2014

25


LENSA


Panjat Pinang Perayaan HUT Kemerdekaan RI identik dengan pelaksanaan lomba panjat pinang. Lomba ini selalu diikuti dengan antusias oleh warga karena beragam hadiah yang menarik. Lokasi pelaksanaan lomba ini pun beragam dan unik, seperti yang nampak pada foto. Panjat pinang digelar di salah satu sungai yang ada di Denpasar.

MBP/Eka


OLAHRAGA

Judit Polgar

”Grandmaster” Termuda “Jenius itu dibuat, bukan dilahirkan.” Lewat latihan dan disiplin keras, anak-anak yang sehat, bisa memiliki kemampuan luar biasa di berbagai bidang bila mendapatkan pendidikan yang benar sejak dini. Pandangan ekstrim itu dilontarkan Laszlo Polgar. Pria Hungaria itu menulis ide-idenya dalam buku “Bring Up Genius!” dan dibantu istrinya, Klara yang seorang guru, mengembangkan pendidikan ‘sekolah di rumah.’ Ia bahkan tidak mau membawa anaknya di sekolah resmi dan melakukan eksperimen pendidikan di rumahnya sendiri. Kendati itu berbenturan dengan kebijakan pemerintah, Laszlo memetik buah dari kegigihannya di kemudian hari. Ketiga putri menjadi pecatur top dunia. Susan dan Judit meraih gelar grandmaster sedangkan Sofia master internasional. Apa yang Laszlo lakukan itu berkaitan dengan olahraga catur yang ia tekuni. ‘Olahraga otak’ diyakini bisa mencetak insan yang jenius dan itu dibuktikan dengan keberhasilan ketiga putrinya, Susan, Sofia, dan Judit. Sofia

menjadi juara Budapest Chess Championship di usia 4 tahun. Dan yang spektakuler lagi Judit, di usia 11 tahun mampu mengalahkan bapaknya sendiri yang ahli catur dan penulis ratusan buku tentang strategi permainannya. Judit menapaki kariernya amat dini. Ia memenangkan turnamen catur nasional di usia 9 tahun. Bersama Susan dan Sofia, ketiga bersatu dan menyumbang medali emas untuk Hungaria di Olimpiade Catur di Thesalonika 1988. Empat tahun kemudian dia menjadi pemecah rekor Bobby Fischer sebagai pecatur

termuda yang berhasil meraih gelar ‘grandmaster’ di usia 15 tahun, 4 bulan. Pecapaian tertinggi Judit adalah dengan menempati peringkat ke-8 pada World Championship pada 2005 dimana dia menjadi satu-satunya perempuan yang lolos dalam turnamen itu. Judit yang lahir 23 Juli 1976, juga menjadi satu-satunya perempuan yang mencapai batas ELO rating 2.700. Di puncak kariernya Judit melewati hingga 2.735. Bahkan sejak berusia 12 tahun (pada 1988) ia telah menduduki peringkat 1 catur dunia kategori putri.

MBP/fb

Pecatur Hungaria Judit Polgar

28

25 - 31 Agustus 2014


Kariernya dilengkapi dengan keberhasilan menumbangkan sederet pecatur top dalam pertarungan klasik atau catur cepat. Mereka yang sempat dikalahkan Judit di antaranya Magnus Carlsen, Anatoly Karpov, Garry Kasparov, Boris Spassky, Vasily Smyslov, Veselin Topalov, Viswanathan Anand, Ruslan Ponomariov, Alexander Khalifman dan Rustam Kasimdzhanov. “Saya bermain hati-hati pada pertandingan itu. Grandmaster tidak suka bila mengalami kekalahan melawan anak berusia 10 tahun karena itu akan menghiasi semua halaman depan koran,” kata Edmar John Mednis, grandmaster internasional AS kelahiran Riga, Latvia. Setelah 25 tahun menduduki peringkat 1 Federasi Catur Internasional (FIDE), Judit mengumumkan pensiun dari kompetisi. Ia akan fokus pada keluarga serta yayasan yang mempromosikan catur ke seluruh dunia. Pengumuman mengejutkan itu terjadi

saat dia mengikuti Olimpiade Catur internasional di Tromso, Norwegia. Kepada koran the Times, Judit mengungkapkan tak lagi bisa mencapai tingkat konsentrasi yang diperlukan untuk mengikuti turnamen. Di sisi lain, soal gender juga mengganggu pikirannya. Keberhasilannya sebagai juara catur dipandang bukan soal dirinya perempuan namun “perkecualian.” Sehingga muncul pandangan umum bahwa pecatur-pecatur top itu terdiri dari “laki-laki, perempuan dan Judit Polgar.” Sejauh ini catur memang masih didominasi oleh kelompok laki-laki dengan memandang perempuan lebih lemah di kancah olahraga otak ini. “Saya berharap dalam 20 tahun lagi (akan muncul juara dunia lagi). Barangkali dia sekarang belum lahir,” katanya kepada Agence France-Presse yang juga mengomentari minimnya perempuan pecatur yang hebat dan mampu menembus dominasi laki-laki. Judit yang menikah dan menghasilkan dua

anak, mendirikan yayasan Judit Polgar Chess Foundation for Educational Benefits pada 2012. Lembaga ini mempromosikan catur sebagai salah satu materi pelajaran di sekolah bagi anak-anak di seluruh dunia. Seperti yang pernah diungkapkan bapaknya, Laszlo, bahwa catur adalah bentuk aktifitas intelektual. “Perempuan mampu mencapai hasil setara dengan laki-laki dalam bidang aktivitas intelektual. Jadi, kami menentang berbagai jenis diskriminasi di olahraga ini,” ujar Laszlo yang berteru dengan federasi catur Hungaria di tahun 70-an karena kebijakan pecatur putri hanya melawan putri dan putra melawan putra. Polgar bersaudara (Susan, Sofia dan Judit) membongkar birokrasi semacam itu. Mereka tidak mau mengikuti turnamen putri dan lebih suka bertarung melawan laki-laki. l Yudi Winanto

MBP/afp

Pecatur muda Hungaria Judit Polgar (kiri) bertarung menghadapi Boris Spassky (kanan) kelahiran Rusia pada turnamen di Budapest, 16 Februari 1993. 25 - 31 Agustus 2014

29


OLAHRAGA

MBP/nan

30

25 - 31 Agustus 2014


Anak Agung Putri Suarthini

Atlet Binaannya Ukir Prestasi Nasional Usia tidak menjadi halangan untuk meningkatkan dan mengembangkan prestasi atlet bulu tangkis Kota Denpasar. Meskipun sudah berumur, semangat kepelatihannya tidak pernah surut. Ia masih sangat kental dalam memberikan materi latihan di lapangan. Anak Agung Putri Suarthini adalah sosok perempuan yang tetap berkecimpung di Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Tunas Mekar, Denpasar, ini. Dia memberikan semua kemampuan yang dimilikinya kepada atlet asuhannya demi berlanjutnya prestasi dan regenerasi pemain. ”Saya melatih anak-anak Tunas Mekar di GOR Yowana Mandala, Tembau, Penatih, dan memberikan privat bulu tangkis di GOR Permata, Ubung,’’ katanya di Denpasar pekan lalu. Pemain binaannya di Tunas Mekar seluruhnya berasal dari Denpasar. Sementara yang mengikuti privat tidak hanya dari Denpasar, melainkan dari beberapa kabupaten di Bali seperti Badung dan Gianyar. Beberapa atlet polesannya sudah mengukir prestasi di tingkat nasional. Tercatat Dinda Murni menjadi juara dua nomor tunggal putri dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan mendulang peringkat ketiga ganda pada Kejuaraan Nasional di Jakarta. Pada 2012, Jimas meraih juara dua di Jakarta, Wiwid merebut posisi ketiga, dan Yuda menduduki peringkat kedua. Untuk peserta privat, hanya Bintang yang mampu menyabet gelar juara kelompok umur (KU) pada Kejurprov Bali 2013. Wanita kelahiran Denpasar, 21 April 1962 ini mengharapkan pihak sekolah mendukung siswanya dalam menjalani latihan dan mengikuti kejuaraan. Soalnya, selama ini jam latihan dan kejuaraan terkadang terbentur dengan jadwal pelajaran di sekolah. Dukungan bisa diberikan dalam bentuk dispensasi kepada pemain untuk menjalani latihan dan terjun dalam suatu kejuaraan seperti yang sering didapat Dinda dari SMP 2 Kuta Utara, Badung. Atlet yang dibinanya di PB Tunas Mekar sekitar 35 pemain putra dan putri, mulai usia dini kelahiran 2006, 2003, pemula, remaja, taruna hingga dewasa. Mereka diharapkan bisa mengikuti jejak Ni Made Dea Surya Saraswati, satu-satunya atlet Bali yang mampu menembus Sirkuit Nasional (Sirnas). ”Kami sangat mengharap-

kan muncul Dea-Dea yang baru, sehingga atlet bulu tangkis Bali makin diperhitungkan di kancah nasional dan internasional,’’ ujar Suarthini Istri A.A. Ngurah Wirayudha, S.PT., ini sempat berhenti menjadi pelatih pada 1983 lantaran ingin fokus mengasuh kedua

anaknya. Setelah putranya menginjak dewasa, dia memutuskan kembali membina pemain di Dharma Praja dan selanjutnya di Tunas Mekar mulai 2003 hingga sekarang. l Eka Parananda


KRIMINAL

Gara-gara Masalah Sepele

Ormas Rusak Rumah Warga

P

ermasalahan organisasi masyarakat (ormas) di Bali seakan-akan tak pernah henti-hentinya. Setiap saat nyaris terjadi masalah yang ditimbulkan oknum anggota ormas, sehingga membuat warga kian khawatir saja terhadap fenomena ini. Kasus penyerbuan dan perusakan rumah milik Made Suwarnawa (41), warga Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng, Minggu (11/8) lalu sekitar pukul 22.00, salah satu contohnya. Kasus ini meledak ternyata hanya garagara masalah sepele yakni kesalahpahaman Made Suwarnawa dengan tiga warga dari Kelurahan Kendran. Awalnya ketiga warga dengan nama alias Nano, Jeki, dan Kado ini, dilarang melewati jalan di depan rumah Made Suwarnawa. Ternyata, salah seorang dari mereka yang diduga anggota ormas tertentu mengontak rekannya dari wilayah lain, Gede Mahardika alias Boby (50), warga Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula. Boby bersama puluhan rekannya lalu menyerbu rumah Made Suwarnawa dengan membawa berbagai senjata tajam dan pentungan serta melakukan perusakan. Akibatnya, bagian depan rumah milik Suwarnawa rusak berat karena dilempari batu dan balok kayu. Selain itu sebuah sepeda motor bernopol DK 8930 UP dirusak. Begitu mendengar serangan ormas tersebut, warga Kelurahan Paket Agung jadi terkejut dan panik sehingga mereka membunyikan kulkul bulus (kentongan bertalu-talu). Warga pun ramai-ramai ke luar rumah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara ormas tadi, setelah melakukan perusakan, berkumpul di salah satu posko mereka di Jalan Gajah Mada, Singaraja. Tak mau terjadi gangguan keamanan, pasukan Polres Buleleng yang di-back-up anggota TNI segera berjaga-jaga di sejumlah titik untuk mengantisipasi situasi. Anggota ormas itu lalu dihadang di simpang empat Jalan Veteran, Singaraja. Selanjutnya polisi dan aparat TNI mengepung posko ormas tersebut, lalu mengamankan sejumlah anggota ormas ternama ini Bali ini ke Mapolres Buleleng. Setelah itu, polisi menggeledah

32

25 - 31 Agustus 2014

posko ormas di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Kendran, Singaraja. Di sana, polisi mengamankan 14 senjata tajam (sajam) dan 17 sepeda motor. Pascamelakukan pemeriksaan, Polres Buleleng lalu menetapkan 11 tersangka dalam kasus dugaan perusakan dan kepemilikan sajam ini. Menurut Kapolres Buleleng AKBP Benny Arjanto, SIK, didampingi Kasatreskrim AKP Ketut Adnyana, T.J., Selasa (12/8) lalu, dari 11 orang yang diamankan, lima orang di antaranya terbukti merusak rumah milik Made Suwarnawa, warga Kelurahan Paket Agung. Sedangkan enam lainnya terbukti memiliki sajam yang disimpan di posko ormas di Jalan Gajah Mada, Singaraja. Kelima orang diduga melakukan perusakan berinisial NW alias Mang Boy (24), NS alias Uuk (27), GR alias Balot (23), KS alias Culek (28), dan MAP alias Koyuk (28). Sementara enam orang yang memiliki sajam berinisial PIS alias Nano (23), GM alias Boby (32), KM alias Gentuh (30), PS alias Cuk (30), KS alias Kado (35), dan KJA alias Jeki (29). Sebagian besar di antara mereka adalah warga Kelurahan Kendran dan beberapa di antaranya warga Desa Baktiseraga. Kapolres mengungkapkan bahwa pihaknya menghormati keberadaan seluruh ormas di Buleleng, tapi jangan sekalisekali melakukan tindakan premanisme, baik itu melakukan pemerasan, membawa sajam di depan umum, mengganggu ketertiban masyarakat, maupun melakukan perusakan. “Kalau petantang-petenteng di depan umum, membawa sajam apalagi merusak, hal itu sudah premanisme. Ada undang-undang yang melarangnya, sehingga langsung kami tangkap. Tidak ada tawar-menawar,” tegas AKBP Benny Arjanto. Di bagian lain, keberadaan sekelompok orang yang diduga berafiliasi dengan kelompok ormas tententu itu mengundang keresahan warga di Kelurahan Kendran, Singaraja. Kendati bermarkas di Kelurahan Kendran, nyatanya tak banyak warga setempat yang terlibat dengan ormasi itu.

“Biar tidak salah nanti, ini bukan posko masyarakat Kendran. Ini hanya segelintir pemuda, tidak lebih dari sepuluh orang Kendran yang ikut-ikutan ormas itu. Selebihnya orang luar. Jangan disamakan masyarakat Kendran dengan segelintir pemuda,” ucap Ketut Sutayasa, warga Kendran. Munculnya kembali arogansi ormas semacam di Buleleng ini tak lepas dari lemahnya pemahaman anggotanya, terutama mereka yang berpendidikan rendah dan tidak punya pekerjaan tetap. Walau ada petingginya yang oknum pejabat di Bali, sejumlah anggota ormas justru lebih mementingkan kekuatan otot ketimbang penyelesaian masalah dengan cara damai dan kekeluargaan. Selain itu ada oknum anggota ormas yang justru lebih pede kalau dia mampu mengerahkan temantemannya untuk melakukan penyerangan atau perusakan milik orang lain. Dengan adanya kekuatan massa itu, oknum anggota ormas tadi merasa jadi raja di wilayahnya, sehingga ditakuti masyarakat. Permasalahan lain, aparat keamanan sangat lemah jika menghadapi ormas yang brutal. Sudah jelas terjadi tindak kriminal, aparat keamanan kita malah tidak tegas terhadap ormas bersangkutan dengan dalih demi stabilitas wilayah. Nah, ketika ‘’kompromi’’ terjadi, saat itulah anggota ormas merasa dirinya hebat, karena tidak mendapat sanksi yang tegas. Ujungujungnya mereka seakan-akan mampu ‘’menundukkan’’ aparat keamanan, sehingga bebas melenggang dan berpeluang melakukan hal serupa di kemudian hari. Pun ada oknum ormas yang makin berkuasa, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat kita. Jika aparat penegak hukum kita masih lemah, kebrutalan oknum ormas tentu bakal semakin menjadi-jadi. Akibatnya, masyarakat kita semakin anti dengan yang namanya ormas karena dianggap menakutkan dan berkuasa di mana-mana. l Robin


MBP/robin

Rumah milik Made Suwarnawa di Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng, yang dirusak anggota ormas ternama di Bali pada Minggu (11/8) lalu sekitar pukul 22.00.


Rampok Bos “Rent Car” Demi Baju Lebaran Anak SALAH seorang dari delapan tersangka perampok bercelurit yang beraksi di dua tempat di Abiansemal, Badung, Samsuri alias Nisam, tak bisa berjalan normal. Ini gara-gara kakinya ditembak polisi bersama rekannya, Rahmat Yuli. Ia ditembak karena bermaksud melarikan diri dari kawalan Polresta Denpasar, Jumat (8/8) lalu di kampung halaman mereka, Jember, Jatim. Di hadapan polisi dan sejumlah wartawan, tersangka Nisam dengan suara bergetar mengaku bahwa perampokan yang dilakukannya gara-gara terdesak masalah ekonomi. Terlebih menjelang hari raya Lebaran lalu, penghasilannya sebagai pencari telur semut merah (kronto) makanan

burung, tidak mencukupi untuk membelikan baju anak-anaknya. Dalam kondisi putus asa, Nisam akhirnya menerima ajakan adiknya, GI, yang diduga sebagai otak perampokan, untuk beraksi di Bali. Tanpa piker panjang, Nisam mengiyakan saja tawaran itu. Bersama Rahman Yuli dan pelaku lainnya yakni PH, MH, AD, CE, dan PK, GI menyusun rencana di Jember. Pada 7 Juli lalu mereka kemudian berangkat ke Bali dengan mengendarai mobil Daihatsu Xenia sewaan. Sesampainya di Bali, mereka mencari tempat tinggal sementara di Ubung, Denpasar Utara. Gi yang sebelumnya sudah lama tinggal di Bali, memberikan arahan kepada teman-temannya, dan menunjukkan dua lokasi yang dijadikan sasaran di Abiansemal, yakni di rumah bos rent car Nyoman Selamet Adiyasa, di Belumbungan, Br. Sangging, Sibangkaja, dan Koperasi Satya Bhakti di Br. Adat Mambal Kajanan, Abiansemal, Badung. “Kami memang mencari lokasi rumah yang sepi dan jauh dari pemukiman penduduk. Selanjutnya malam hari barulah kami beraksi. Tujuh orang masuk ke dalam rumah, seseorang lagi menunggu di mobil,” tegas Nisam. Usai beraksi di kedua lokasi itu, para rampok ini membawa barang hasil kejahatan mereka ke Jember dengan mengendarai mobil sewaan. Sebelum tiba di rumahnya, Nisam sempat membelikan beberapa potong baju dan celana baru untuk tiga anaknya yang masih kecil-kecil. “Baju itu hadiah Lebaran untuk ketiga anak saya. MBP/wiadnyana Kasat Reskrim Pores Badung AKP Wisnu Ardana memapar- Seorang laki-laki dan dua kan mengenai tertangkapnya dua rampok yang beraksi di cewek yang masih kelas Abiansemal, Badung, yang tersangka Samsuri alias Nisam satu SD,” tegas Nisam. dan Rahmat Yuli.

34

25 - 31 Agustus 2014

Sementara Kasat Reskrim Polres Badung AKP Wisnu Ardana didampingi Kanit Buser Ipda Wayan Sujana mengatakan, aksi perampokan itu memang sudah mereka rencanakan. Berbekal celurit, kapak, dan linggis, kawanan Nisam ini beraksi di rumah pengusaha rent car Nyoman Selamet Adiyasa di Blumbungan, Banjar Sangging, Desa Sibangkaja Abiansemal, pada 9 Juli lalu sekitar pukul 03.00 dini hari. Setelah menyekap penghuni rumah bersama istri, anak, dan keponakannya, kawanan ini kabur membawa hasil jarahan berupa 3 HP, perhiasan emas, laptop, berbagai STNK mobil, dan uang tunai Rp 1 juta. Jika ditotal hasil kejahatan mereka mencapai Rp 20 juta. “Yang masuk ke rumah korban tujuh orang, satu menunggu di mobil. Mereka menyekap pemilik rumah dan mengikat di kamar,” tambah AKP Wisnu. Pasca-di rumah Selamet, delapan kawanan rampok ini kembali menyatroni Koperasi Satya Bhakti di Banjar Adat Mambal Kajanan, Abiansemal, pada 11 Juli lalu sekitar pukul 01.30. Di koperasi tersebut, mereka menyekap dua satpam di pos jaga dan menjarah harta benda milik satpam tersebut. Tapi sayang, sindikat ini gagal membongkar brankas milik koperasi. Tersangka Nisam, kata AKP Wisnu, pernah masuk penjara dalam kasus perampokan dan pencurian di Jember. Di sana, kaki tersangka Nisam juga didor karena berusaha melawan dan kabur dari kawalan polisi. Ada pun arang bukti yang diamankan dari kedua tersangka yakni sabit, betel (linggis kecil), uang tunai Rp 200 ribu hasil kejahatan mereka, 1 HP, lakban, dan 3 baju anak kecil. “Barang bukti baju anak kecil ini milik tersangka Nisam. Dia membeli baju untuk anaknya dari uang hasil kejahatan mereka,” jelas Wisnu. Soal adanya senjata api yang dibawa kawanan ini saat beraksi di Koperasi Satya Bhakti, AKP Wisnu mengatakan, saat ini berada di tangan salah seorang pelaku yakni Ceng. Tetapi senjata api itu diduga mainan. l Wiadnyana


Pekerja Tempat Dugem Rampok Toko Modern KASUS perampokan di Toko Circle K di Jalan Raya Seminyak, pada Sabtu (2/8) lalu, dan di Minimart di Jl. By-pass Ngurah Rai, Kedonganan, Kuta, Minggu (3/8) lalu, sempat membuat pengelola toko modern waswas. Betapa tidak, perampok tersebut beraksi dini hari dan membawa senjata tajam (sajam) berupa pisau golok. Hal ini tentu membuat penjaga toko khawatir takut dicederai perampok, terlebih toko mereka tidak dijaga satpam atau polisi. Syukur polisi bergerak cepat. Dalam kurun waktu kurang dari seminggu pascakejadian, petugas Polsek Kuta berhasil menciduk salah seorang dari dua perampok berpisau tersebut. Dia adalah tersangka Sandi Nugraha, residivis kasus penggelapan di kampung halamannya, Bandung, beberapa tahun lalu. Pria berusia 22 tahun ini dibekuk di Bandung, Jabar, Sabtu (9/8) lalu. Sedangkan teman tersangka yang berinisial ES (34) masih dikejar polisi alias buron. Di hadapan polisi, Sandi Nugraha yang tinggal di Jalan Popies II, Kuta ini, mengaku bahwa selain beraksi di dua toko modern di Kuta itu, dia juga beraksi di tiga toko modern lainnya di Denpasar Barat (Denbar) dua TKP, dan Kuta Utara satu TKP. “Kelima toko itu buka 24 jam

dan saya beraksi dengan helm pada dini hari dengan senjata golok,” ujar Sandi, yang tubuhnya dipenuhi tato ini. Tersangka Sandi yang bekerja di salah satu tempat dugem ini juga mengaku, selalu beraksi dengan temannya, S.E., yang bekerja sebagai pedagang nasi di Benoa, Densel. Dari hasil beraksinya di lima toko itu, tersangka Sandi mengaku, mendapat bagian Rp 5 juta. Sedangkan SE lebih banyak karena dialah otaknya. “Ide merampok ini dari SE. Jadi untuk pembagian hasilnya, dia yang melakukannya, bukan saya,” tegasnya. Sandi mengaku, beraksi di lima toko modern itu selama dua hari berturut-turut yakni pada 2 Juli dan 3 Juli lalu. Setelah itu, dia lari ke Bandung. Sedangkan SE masih tinggal di kawasan Pemogan, Densel. “Aksi ini baru pertama kali saya lakukan. Itu pun karena saya perlu uang untuk hidup sehari-hari,” tegasnya. Sementara Kapolsek Kuta Kompol I Nyoman Sebudi mengatakan, penangkapan tersangka Sandi berawal dari Komang Sumiartha yang melaporkan kasus perampokan di Circle K di Jalan Seminyak, Kuta, Sabtu (2/8) lalu. Selanjutnya laporan yang sama diterima Kapolsek keesokan harinya. Yang melapor adalah karyawan Minimart di Jl. By-pass Ngurah Rai, Kedonganan, Tuban, Kuta.

“Menerima dua laporan ini, anggota kami langsung bergerak untuk melakukan penyelidikan dan olah TKP,” tambahnya. Dari hasil olah TKP, rekaman CCTV, dan keterangan beberapa saksi, polisi yang mengantongi ciri-ciri kedua rampok segera melakukan perburuan. Awalnya polisi mendatangi tempat tinggal Sandi di Jalan Popies II, Kuta, namun di sana kosong. Berdasarkan informasi, lalu diketahuilah kalau Sandi berada di Bandung, Jabar. “Lalu kami kerahkan anggota kami untuk melacaknya ke Bandung hingga akhirnya tersangka berhasil ditangkap,” tegas Kompol Sebudi. Mengenai barang bukti yang berhasil diamankan petugas Polsek Kuta, berupa satu sepeda motor Yamaha Mio merah nopol DK 7800 BG, HP Blackberry, uang tunai Rp 344 ribu, satu golok yang digunakan beraksi, dan beberapa slop rokok berbagai merek. “Saat ini tersangka masih menjalani pemeriksaan. Sedangkan pelaku lainnya yakni SE masih kami kejar. Mudah-mudahan dia cepat ditangkap,” tandas Kompol Sebudi. l Wiadnyana

Kapolsek Kuta Kompol Nyoman Sebudi memeriksa tato di tubuh tersangka perampok toko modern, Sandi Nugraha, Senin (11/8) lalu. MBP/wiadnyana

25 - 31 Agustus 2014

35


LINGKUNGAN

Air Bendungan Palasari Terbagi

Lahan Sawah Jadi Kebun

D

i era Presiden Soerhato, Bali mencatat sejarah gemilang berdirinya bendungan Palasari di Jembrana. Sebagaimana waduk Jatiluhur di Jawa Barat, bendungan terbesar di Bali ini diharapkan menjadi sebuah objek wisata di samping airnya dimanfaatkan mengairi sawah di bawahnya. Di Era Presiden Megawati Soekarnoputri, perhatian terhadap petani juga tak kalah dengan zaman Orde Baru. Bendungan Telaga Tunjung dibangun di Tabanan di era pemerintahan Bupati Ady Wiryatama. Bendungan ini juga diharapkan mampu mengairi sawah di sekitarnya. Kelebihan airnya bisa dimanfaatkan untuk keperluan air minum PDAM Tabanan. Lantas bagaimana riwayatnya kini? Seirama makin pesatnya pembangunan di kedua kabupaten tersebut tampaknya dua

lagi sejumlah bendungan di Kabupaten Jembrana kurang berfungsi sebagaimana tujuan awal dibangun diharapkan mampu memenuhi keperluan air untuk mengairi sawah. Bahkan bendungan kini sering menyusut airnya karena sumber air dan kemarau yang menyebabkan tidak ada air ditampung. Bendungan yang dibangun di era Orde Baru itu kini sudah mulai lapuk dimakan usia. Seiring jarangnya air yang terbendung, seluruh fungsi pendukung seperti untuk pariwisata juga tak jalan. Kondisi yang memprihatinkan, ketika air bendungan surut, dasar bendungan yang terlihat luas dimanfaatkan anak-anak untuk bermain sepak bola. Beberapa warga yang ditemui mengungkapkan debit air bendungan terus menyusut setelah ada pembagian sumber air yang berada di Sanghyang Gede. Sumber air itu

MBP/olo

Bendungan Palasari saat air surut sehingga di sekitar bendungan terlihat kering.

bendungan belum mampu berfungsi maksimal terutama di musim kemarau ini. Menurunnya curah hujan ditambah berkurangnya daerah resapan di hulu membuat persediaan airnya makin menipis untuk ditampung di bendungan tersebut. Debit air Bendungan Telaga Tunjung menyusut karena banyaknya alih fungsi lahan di daerah hulu. Namun, menyusutnya air bendungan Palasari murni karena musim kemarau. Yang menyedihkan

36

25 - 31 Agustus 2014

juga digunakan untuk keperluan warga di Kabupaten Buleleng yang berada di balik bukit. Sejak itulah, debit air di bendungan Palasari tidak bisa diandalkan oleh subak di bawahnya. Tak sedikit subak sawah yang kini beralih menjadi kebun bahkan ada di antaranya lahan yang terlantar. Bendungan yang diresmikan Presiden Soeharto tahun 1989 ini sejatinya juga berfungsi sebagai kawasan wisata. Sejumlah bangunan pen-

dukung dibangun di sekitar bendungan, namun kini sudah mulai hancur. Beberapa di antaranya malah menjadi rumah tua dan terkesan angker lantaran tak terawat. Sejumlah fasilitas pun sudah mulai usang dimakan usia. Dari toilet, lampu penerangan dan pagar pembatas sudah rusak. Fungsi utama untuk penyangga air bagi subak-subak sudah tidak bisa diandalkan. Begitu juga dengan wisata air, sampan kesulitan berlayar lantaran air yang dangkal. Bukan hanya itu, kondisi jalan menuju bendungan juga jauh terkesan dari bendungan. Sejumlah warga di Palarejo, Desa Ekasari mengaku sering menerima keluhan dari wisatawan maupun masyarakat lokal yang mengunjungi bendungan Palasari lantaran jalan masuk ke lokasi tidak ada papan penunjuk jalan. Dulu jalan masuk ke bendungan ini pernah dikenai retribusi. Tetapi lantaran lama kunjungan sepi, retribusi itu jarang diterapkan. Sehingga orang bebas keluar masuk tapi hanya mendapatkan pemandangan yang gersang. Di samping itu menurut warga sudah ada kebocoran di sekitar areal bendungan. Kondisi sedikit lebih baik ada dialami Bendungan Benel, di Desa Manistutu, Melaya. Sejak bendungan ini diresmikan tahun 2010 lalu, air dari bendungan ini untuk mengairi air lima subak atau seluas 1.047 hektar. Namun dengan debit air yang ada, tidak memungkinkan untuk semua subak dan harus dilakukan pembagian masa tanam. Selain air hujan, bendungan ini menampung air dari sumber mata air sungai Tukadaya dan Pegubug. Pada skala ukuran tinggi air bendungan terus turun beberapa meter dari kondisi normal. Kondisi itu terjadi saat pintu air dibuka. Subak-subak yang terairi mulai membutuhkan air saat masa kering. Selain itu juga jarangnya hujan, sehingga ketika air menyusut, bendungan menunggu pasokan dari sumber air. ‘’Fungsi utamanya menampung air dari hujan, tidak bisa mengandalkan penuh dari sumber air. Sekarang ini sumber air juga sudah terbagi untuk kebutuhan masyarakat,’’ terang Ketut Astika, warga Manistutu. l Surya Dharma


WA K I L R A KYAT

Kariyasa Adnyana

”All Out” Berjuang untuk Rakyat Politisi PDI-P asal Buleleng Ketut Kariyasa Adnyana, untuk ketiga kalinya terpilih sebagai anggota DPRD Bali. Pada periode ketiga ini, politisi yang sudah dua periode duduk di Komisi IV DPRD Bali akan semakin all out mengabdi memperjuangkan kepentingan masyarakat. “Di periode ketiga saya sebagai wakil rakyat di DPRD Bali akan makin all out berjuang membela kepentingan masyarakat Bali. Sebab, tantangan yang kita hadapi ke depan sangat berat baik di bidang ekonomi, lingkungan, sosial budaya, pendidikan dan persoalan lainnya,” kata Kariyasa Adnyana ditemui usai sidang paripurna istimewa Peringatan HUT (Hari Ulang Tahun) ke-56 Pemerintah Provinsi Bali, 14 Agustus 2014 di DPRD Bali. Politisi PDI-P ini terpilih dalam pemilu legislatif (pileg) 9 April 2014 lalu dari dapil Buleleng dengan perolehan suara terbanyak di dapilnya yakni 23 ribu lebih suara. Perolehan suara lulusan Fakultas Pertanian Unud ini dalam pileg 2014 melonjak drastis dibandingkan pileg 2009 yang hanya 14 ribu lebih suara. “Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Buleleng yang telah memilih saya untuk bersama-sama memperjuangkan kepentingan Bali. Bagaimanapun tentu kepercayaan masyarakat terhadap caleg incumbent diukur dari dapat suara naik atau tidak dalam pileg,” katanya. Baginya kepercayaan penuh masyarakat yang telah memilih dirinya disertai dengan harapan untuk all out memperjuangkan kepentingan rakyat, merupakan amanat rakyat dan beban yang mesti dipikul serta dilaksanakan. “Kepercayaan ini menjadi beban dan amanat yang harus terus-menerus saya perjuangkan. Saya akan lebih sering turun ke masyarakat, mendampingi mereka, menyerap aspirasi dan

sern terhadap permasalahan pendidikan dan peningkatan kualitas SDM generasi muda Bali. “Selama ini kami di Komisi IV sudah berusaha maksimal agar anggaran pendidikan di atas 20 persen. Namun ke depan perlu diperjuangkan anggaran pendidikan agar lebih maksimal fokus untuk pembenahan pendidikan. Sebab sekarang anggaran 20 persen itu tidak murni untuk dunia pendidikan, anggaran itu banyak digunakna untuk badan diklat dan kegiatan lainnya,” ujarnya. Kariyasa Adnyana juga mengkritisi pola pembangunan di Bali yang lebih mengedepankan mengejar pertumbuhan ekonomi dengan mengesampingkan aspek pemerataan sehingga kesenjangan antara Bali Utara dan Bali Selatan kian lebar. Permasalahan sosial, kemiskinan, pengangguran, urbanisasi, terus-menerus terjadi di Bali dan belum ada solusi yang komprehensif. “Anggota DPRD periode 2014-2019 punya pekerjaaan rumah berat menyelasaikan masalah ketimpangan pembangunan ini,” ujarnya. Ia juga meminta pemerintah bersikap dan menindak tegas hotelhotel atau bangunan lainnya yang melanggar aturan dengan tidak mengakomodir arsitektur Bali dalam bangunan tersebut. “Pemerintah harus tegas. Jangan malah ikut bermain. Kalau ada permohonan izin mendirikan bangunan lalu tidak mengakomodir arsitektur Bali sesuai aturan yang ada, jangan keluarkan izinnya,” tegasnya. Ke depan, ia berharap pembangunan di Bali tidak mengabaikan arsitektur lokal, karena hal itu bisa menghilangkan ciri khas Bali. Wisatawan ke Bali juga tertarik dengan keunikan dan kearifan lokal bangunannya sehingga jika keunikan ini hilang, dikhawatirkan lama kelamaan Bali akan ditinggal wisatawan. lWidana Ketut Kariyasa Adnyana

memperjuangkannya,” kata pria kelahiran Busungbiu, 23 September 1969 itu. Selama dua periode atau 10 tahun mengabdi di Komisi IV DPRD Bali banyak hal telah diperjuangkan Kariyasa Adnyana baik menyangkut pendidikan, kesehatan, pariwisata, budaya, permasalahan sosial dan kesejahteraan sosial, tenaga kerja dan lainnya. Ia dikenal sangat con-

25 - 31 Agustus 2014

37


PARIWISATA

Perang Tarif Hotel di Bali Kian Sengit

K

etatnya bisnis perhotelan di Bali menimbulkan perang tarif di antara operator hotel kian sengit. Bahkan, manajemen hotel tak segan-segan menurunkan tarif di bawah harga normal untuk mendorong tingkat keterisian kamar. Hal itu terutama dilakukan oleh hotel bertarif ekonomi (bujet) hingga akomodasi yang berstandar bintang. Kondisi tersebut tidak terlepas dari menjamurnya hotel-hotel baru di Bali menjadikan tingkat okupansi rata-rata tiap hotel kurang lebih 65 persen. Sehingga, perang harga pun tidak terelakkan lagi. Masing-masing hotel mengeluarkan setiap jurusnya untuk meningkatkan okupansi. Ini membuat pihak Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali gerah, karena hal ini akan semakin mencitrakan Bali sebagai pariwisata murah. Untuk itu, kalangan pengusaha hotel meminta pemerintah segera mengatur batas bawah harga kamar hotel atau bottom price guna menekan perang tarif di sektor tersebut. Pasalnya, pertumbuhan kamar hotel yang tidak terkendali telah menimbulkan persaingan tidak sehat. “Pemerintah, regulator maupun asosiasi harus mengatur bottom price kamar hotel. Sebab, di Bali ada hotel berbintang satu, dua, tiga hingga bintang lima. Jadi saat kondisi normal harganya kamar normal, tetapi saat sepi tidak ada batasan harga, sehingga terjun bebas,” Ketua PHRI Denpasar I.B. Sidartha

38

25 - 31 Agustus 2014

Putra di Denpasar. Menurutnya, saat sepi kunjungan atau low season hotel-hotel besar atau bintang lima yang notabena bukan milik pengusaha lokal menurunkan harga kamar. Upaya ini untuk menutupi biaya operasional. “Target hotel-hotel besar hanya untuk menutupi biaya operasional. Ketika bintang lima dijual Rp 500 ribu dan bintang satu dijual Rp 300-450 ribu, tentunya wisatawan akan lari ke bintang lima dengan fasilitas yang lebih, harga murah. Nah hotel bintang satu dan sejenisnya yang dimiliki orang lokal akan kalah bersaing,” ungkapnya. Dikatakan, pemerintah, regulator atau asosiasi harus mengatur dengan menentukan batas bawah. “Jadi fair untuk komsumen, karena sesuai dengan uang yang dikeluarkan, fair untuk pengusaha, sebab jangan sampai pengusaha lokal yang terbatas modal tidak bisa bersaing,” katanya. Kendati demikian, I.B. Sidartha mengaku hanya bisa menghimbau pengusaha agar tidak banting harga ketika musim sepi. “Kami sudah menghimbau, namun karena ini pasar bebas kita sulit melarang mereka mau jual berapa,” ucapnya. Ketua DPD PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) mengatakan, akan menetapkan standar terendah untuk menentukan standar tarif kamar hotel. “Sulit kalau mau membuat standardisasi harga kamar, karena masalah bisnis. Namun, kami punya perhitungan dengan menggunakan standar


Mesti Diperkuat Perda

minimal. Misalnya, hotel bintang tiga tidak boleh dijual seperti hotel melati,” ungkap Cok Ace. Menurutnya, kalangan pengelola hotel diperbolehkan menaikkan tarif hotel setinggi mungkin, namun dilarang menjual kamar hotel di bawah standar minimal yang akan ditetapkan. Langkah ini untuk menghidari terjadinya persaingan tidak sehat dikalangan pengusaha hotel. “Kalau dia (pengelola hotel–red) menaikkan setinggi-tingginya silakan, tetapi kalau menurunkan di bawah standar minimal tidak boleh. Kenapa kita buat standar minimal untuk menghidari terjadinya persaingan-persaingan. Orang yang iseng-iseng diajak bersaing kan sulit,” serunya. Diterangkang, kedatangan wisatawan ke Bali yang mengalami peningkatan 9 persen tidak sebanding dengan peningkatan jumlah kamar yang hampir mendekati 20 persen. “Memang sekarang ada peningkatan 9 persen kunjungan wisatawan ke Bali, namun dengan peningkatan jumlah kamar yang naik hampir 20 persen menyebabkan ketidak keseimbangan antara supply dengan demand,” tandasnya. Seperti diketahui jumlah kamar hotel yang mencapai 75.000 kamar telah melebihi kebutuhan dan menyebabkan tingkat hunian hotel secara rata-rata di Bali hanya mencapai 62 persen.

Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) meminta kebijakan menetapkan batas bawah harga kamar di Bali untuk menghindari perang tarif harus diperkuat dengan peraturan daerah (perda). Sehingga kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi Bali tidak hanya sekedar himbauan. “Tidak boleh hanya imbauan. Kebijakan ini mesti dilaksanakan dengan dasar hukum berupa peraturan daerah,” ungkap Ketua Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Bali Drs. Ec. I Putu Anom M.Par. Dia berpendapat, terjadinya perang tarif hotel di Bali dikarenakan pertumbuhan kamar yang berlebihan tanpa memperkirakan antara ketersediaan kamar dan permintaan. Sebab, bedasarkan teori perhitungan kamar ini mesti didasarkan kebutuhan kamar sesuai prediksi atau perkiraan kunjungan wisatawan yang berlibur ke Bali. “Kalau terlalu banyak kelebihan kamar akan terjadi perang tarif akomodasi di Bali. Ini bisa terjadi terutama saat low season. Kondisi ini berpotensi sangat merugikan hotel level bawah. Ketika hotel level atas menurunkan tarif kamar akan menekan hotel di level bawah ikut menurunkan tarif kamar,” tegasnya. Karena itu, pemerintah bersama PHRI perlu menetapkan standar tarif kamar hotel. Permasalahan saat ini, kewenangan izin akomodasi ada di kabupaten atau kota. Pemerintah provinsi juga tidak bisa berbuat banyak. Walaupun pemerintah provinsi telah mengeluarkan kebijakan moratorium akomodasi, pemda kabupaten/kota akan terus mengeluarkan izin pendirian akomodasi. Ini dengan tujuan mengejar kenaikan pendapatan asli daerah (PAD) lewat pajak hotel dan restoran. Pengeluaran izin hotel ini sampai melanggar tata ruang, sempadan pantai, sempadan jurang, dan lainnya. Pengeluaran izin akomodasi juga tidak berkoordinasi dengan PHRI sehingga PHRI sebagai komponen pariwisata tidak bisa berbuat sesuatu. Putu Anom menambahkan solusi terbaik adalah harus ada konsep One Island Management atau Manajemen Pulau Bali. Konsep tersebut diwujudkan dalam satu kesatuan dengan perizinan pariwisata dan sektor terkait ditingkat provinsi. Hal inilah yang harus bersama-sama diperjuangkan ke pusat dalam bentuk otonomi khusus termasuk Dana Bagi Hasil (DBH) pendapatan pariwisata dan sektor terkait. Selama ini semuanya memang dimasukkan ke pusat sehingga perlu perimbangan hasil pariwisata yang disektor ke pusat untuk pembangunan Bali.

l Parwata

l Parwata

MBP/dok

Pertumbuhan kamar hotel yang masif di Bali telah menimbulkan perang tarif antarpengusaha. Upaya ini dilakukan semata-mata agar biaya operasional mereka tertutupi.

25 - 31 Agustus 2014

39


MBP/ist

ABAD 21 - Sistem pembelajaran abad 21 yang memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi diberikan pada guruguru yang ada di Denpasar oleh Telkom bekerja sama dengan Intel Indonesia Corporation (Intel). Tampak Kadisdikpora Kota Denpasar Ir. Gusti Ngurah Eddy Mulya, S.E., M.Si. mendengarkan penjelasan GM Witel Bali Selatan, I Gusti Bagus Ranuh dan Business Development Manager Intel Indonesia Corporation, Ganis Samoedra Muharyono, terkait metode pembelajaran abad 21.

Raih sukses dengan menginformasikan kegiatan/usaha, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), peluncuran produk, dan promosi lainnya melalui rubrik Event dengan menghubungi bagian Iklan Bali Post - (0361) 225764. Penyampaian materi dilakukan dua minggu sebelum penerbitan.

40

25 - 31 Agustus 2014


MBP/wawan LOMBA - Serangkaian perayaan HUT RI ke-69, digelar Lomba Baca Puisi dan Karikatur yang berlangsung Minggu (10/8) lalu di Bali Pizza Shankara Resto, Jalan Danau Toba No. 7 Sanur.

MBP/Eka

SENAM - Pembukaan Lomba Senam Aerobik Semarak Merah Putih dalam rangka menyambut HUT-69 Kemerdekaan RI dan HUT-66 Bali Post di Gedung Pers Bali K. Nadha, Minggu (10/8).

25 - 31 Agustus 2014

41


BUDAYA

Unik, Desa Wisata Nyuh Kuning

A

nda ingin tinggal di desa? Datanglah ke Nyuh Kuning, salah satu desa di kawasan Ubud yang masih kental dengan kehidupan Bali yang sesungguhnya. Lokasinya sangat strategis karena berada tepat di belakang objek wisata Monkey Forest. Tepatnya berada di Desa Pakraman Nyuh Kuning, Desa Mas, Kecamatan Ubud atau sekitar 25 km dari Denpasar dan 15 km dari Kota Gianyar. Jika dibandingkan dengan desa lainnya, Nyuh Kuning merupakan sebuah perkampungan yang unggul. Lingkungannya bersih dan asri, masyarakatnya terbuka dan ramah, seni budaya lestari serta didukung dengan fasilitas kepariwisataan seperti adanya hotel dan restoran. Hotel yang ada didesain sedemikian rupa sehingga tidak merusak keunikan desa bahkan tampak membaur dengan lingkungan sekitar. Masyarakat Nyuh Kuning paham betul dalam menjaga lingkungan lestari, sehingga memiliki tim khusus yang bergerak dibidang lingkungan. Dengan dorongan tim ini masyarakat sadar akan memelihara tanaman dan selalu melakukan rebosisasi. Salah satu wujudnya adalah gerakan 5.000 jepun, di mana masyarakat menanam pohon jepun di setiap telajakan atau pekarangan rumahnya. Di samping merupakan tanaman khas Bali, bunga jepun juga bisa dipakai sebagai sarana upacara bahkan bernilai ekonomis. Bunga jepun yang kering bisa dijual dengan harga yang manis. Masyarakat bisa membeli beras dari hasil menjual jepun. “Mulanya ada gerakan 5.000 jepun. Setelah masyarakat merasakan manfaatnya, sekarang jumlahnya lebih dari itu,� kata tokoh masyarakat setempat Ir. Wayan Sugiartha. Uniknya, dalam upaya menciptakan lingkungan rindang itu mereka melakukan dengan sebuah meditasi makenyem. Artinya, setiap orang yang melakukan aktivitasnya baik menanam pohon ataupun membersihkan lingkungan dilakukan dengan makenyem (senyum). “Bahkan semua aktivitas dilakukan dengan rasa senang yakni makenyem ungkapnya penggagas desa wisata Nyuh Kuning ini serius.

42

25 - 31 Agustus 2014

Memang pohon jepun membuat desa itu menjadi rindang. Telajakannya sangat bersih dan disetiap angkul-angkul (pintu masuk) rumah terdapat sepasang patung yang dipasang di sebelah kanan dan kiri.

Uniknya, setiap patung pada setiap angkul-angkul tidak sama. Karena bentuk dan wujudnya menyerupai penghuni rumah baik dari segi wajah ataupun profesi yang dilakoninya.


Misalnya, berwujud pecalang jika penghuni rumah sebagai pengaman desa, ada berwujud macan yang menggambarkan raja itu berarti rumah kelian dan bendesa (aparat desa) demikian juga patung berwujud gajah yang berarti rumah kelian. Jalan desa juga tampak bersih karena masyarakat menyapu dilakukan secara serempak di pagi hari, sehingga lingkungan menjadi bersih dan nyaman.

Memasuki desa, aura positif yang ada begitu terasa. Maka jangan salah, kalau desa ini menjadi pusat kegiatan spiritual. Sedikitnya ada sekitar 5 tempat untuk melakukan meditasi yang cara dan bentuknya berbeda-beda, di antaranya meditasi ketawa, meditasi diam sepanjang hari dan ada meditasi makenyem dari hati ke hati. Semua jenis meditasi sangat diminati wisatawan mancanegara. Menurut Sugiartha, meditasi ma-

kenyem ini sudah terkenal hingga ke luar negeri. Bahkan, salah satu anggotanya ada tamu asing yakni dari Amerika. Selain masyarakat luar negeri, masyarakat lokal juga banyak yang terlibat dalam kegiatan spiritual ini. “Maka itu banyak wisatawan yang tinggal berlama-lama di Nyuh Kuning,” ucap Sugiartha tersenyum. Meski sudah ada akomodasi hotel, banyak juga tamu-tamu dari berbagai negara itu tinggal di rumah-rumah penduduk (home stay). Kartena mereka bisa hidup berbaur dengan masyarakat desa dan secara dekat bisa menikmati budaya Bali yang kesohor itu. Hampir 90 persen masyarakat Nyuh Kuning yang mengelola home stay. “Home stay yang ada rata-rata berisi dalam setiap harinya. Wisatawan Amerika dan Eropa yang suka tinggal di home stay,” imbuhnya. Lama wisatawan tinggal bervariasi. Ada seminggu, sebulan bahkan bertahun-tahun. Pada acara sangkep (rembuk) di banjar, jumlah wisatawan yang hadir terkadang lebih banyak dari jumlah penduduk Nyuh Kuning. “Kami sering juga menyelenggarakan sangkep untuk membahas keamanan, kelestarian lingkungan, tentang budaya dan lainnya,” ungkap mantan kelian dinas dan kelian adat ini. Jika dulu masyarakat Nyuh Kuning sebagai pematung kodok, kini mereka lebih banyak terjun kepariwisata dengan mengelola home stay, restoran, artshop bahkan hotel. Banyak juga desa yang berpenduduk 9.080 jiwa atau 276 KK itu yang mengelola transportasi bagi wisatawan. “Itu karena adanya kerja sama dengan pihak-pihak hotel, sehingga masyarakat diberikan kesempatan untuk mengajak tamu hotelnya berwisata,” pungkasnya. l Budarsana www.bali-travelnews.com

Suasana Desa Nyuh Kuning dan Ir. Wayan Sugiartha penggagas kampung wisata Nyuh Kuning sejak 2009 lalu.

25 - 31 Agustus 2014

43


TRADISI

Wayang “Wong� Tejakula

Kesenian Sakral yang Tetap Lestari

B

uleleng, salah satu daerah di Bali yang kaya dengan kesenian unik dan sifatnya sakral. Sebut saja wayang wong (wayang orang-red) yang merupakan kesenian unik dan disakralkan oleh umat Hindu di Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula. Untuk melestarikan kesenian dari ujung timur Buleleng ini, selain dipentaskan pada upacara di Pura Pemaksan di desa setempat, kesenian yang setiap pementasannya mengambil cerita dari epos Ramayana ini kini mulai sering dipentaskan dalam beberapa event

lokal maupun nasional. Gede Komang, salah satu penari yang dituakan menceritakan, kesenian wayang wong ini cikal bakalnya merupakan tarian gambuh, di mana penarinya tidak menggunakan penutup muka (tapel, red). Saat itu, tarian ini dibawakan dengan apik antara perpaduan gerak penari dan lantunan tabuh gong. Pementasan tari gambuh ini sempat ditonton dari kalangan kerajaan di Kabupaten Bangli sekitar abad ke-18. Rupanya, penonton dari kalangan raja itu diingat dengan nama Anak Agung ini tertarik dengan penampilan tarian

gambuh tersebut. Saat itu dia menyumbangkan sebuah tapel untuk penari. Rupanya pemberian tapel itu kemudian menginspirasi penari gambuh dan sejak itu tariannya dimodifikasi menjadi kesenian wayang wong. “Karena Anak Agung dari kerajaan di Bangli ini sangat suka dengan tabuh dan tari gambuh, waktu itu beliau menyumbangkan tapel. Sejak itu rupanya tapel tersebut menginspirasi untuk mengubah tarian gambuh menjadi kesenian wayang wong. Sampai sekarang tapel pemberiannya itu disakralkan bersama tapeltapel yang lain,� katanya.

MBP/dgk

Pementasan kesenian wayang wong Tejakula saat Buleleng Festival.

44

25 - 31 Agustus 2014


Sejak dikreasikan menjadi kesenian wayang wong, lanjut Gede Komang, penari dan penabuhnya pun semakin bersemangat untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian wayang wong. Tapel dari tokoh-tokoh wayang yang dimainkannya terus dilengkapi dan dipelihara. Hanya saja waktu itu pementasannya pada saat akan digelar upacara piodalan di Pura Pemaksan Desa Tejakula dan memenuhi undangan pementasan di pura-pura besar di Bali. Pura di luar Buleleng yang menjadi langganan dan harus mementaskan kesenian wayang wong adalah Pura Dangka Ratu Gede Sambangan, Pura Khayangan Dangsil, dan Pura Beji. “Itu beberapa pura yang selalu mementaskan wayang wong, ketika akan menggelar piodalan. Kami sebagai penari tidak pernah menolak karena si-

patnya pementasan untuk alam niskala, dan kami tulus ngayah untuk pentas,” tegasnya. Dalam perjalanannya, kesenian wayang wong mulai pentas di luar kepentingan di pura. Menurut Gede Komang, bagi penari dan penabuhnya pentas dalam artian bukan untuk kepentingan niskala, adalah satu kesempatan untuk melestarikan dan memperkenalkan kesenian wayang wong kepada publik. Sehingga sekitar tahun 1970-an, akhirnya dibentuk sanggar seni Wayang Wong Teja Murti Tejakula. Sanggar ini terdiri atas 30 orang penari dan ditambah 15 orang penabuh. Sejak dibentuk, sanggar ini mulai mementaskan tarian wayang wong dalam event-event lokal seperti Pesta Kesenian Bali (PKB), maupun event promosi pariwisata yang dilakukan pemerintah daerah di luar daerah.

“Ini sebagai pengembangan dan bagi saya kalau lebih sering dipentaskan, kesenian ini akan lebih banyak dikenal dan otomatis akan bisa dilestarikan,” imbuhnya. Setiap pementasannya, lanjut Gede Komang, wayang wong selalu menampilkan cerita pewayangan tersohor yakni Ramayana yang terdiri atas 18 Kanda (episode-red). Jika pentas untuk mengambil seluruh episode secara keseluruhan, maka waktunya tidak akan cukup dalam satu pentas, sehingga pementasannya terkadang mengambil satu episode saja dengan durasi 2,5 jam pentas. “Bisanya kalau pentas diambil satu episode saja, karena kalau dimainkan semua episodenya, waktunya tidak cukup. Kami pentaskan satu episode saja,” tegasnya. Bagaimana dengan ketertarikan generasi penerus untuk mempelajari tarian wayang wong, kata Gede Komang, tarian sakral ini secara otomatis sudah memiliki penerus. Hal ini dibuktikan dengan anak atau cucu dari penari dan penabuh wayang wong yang tertarik untuk meneruskan kesenian yang menjadi warisan leluhurnya. Hal ini juga dikuatkan dengan adanya kepercayaan di kalangan warga kalau seseorang mencoba tidak mau meneruskan kesenian ini, maka bisa saja hidupnya akan tidak bahagia seperti mengalami sakit. “Karena ini menjadi kesenian sakral dan sifatnya turun temurun, jadi penerus itu pasti ada dan sekarang saja sudah ada anak-anak atau cucu-cucu dan keponakan kami yang ikut menari atau menabuh,” jelasnya. l Mudiarta

Gede Komang, salah satu penari wayang wong dari Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula.

25 - 31 Agustus 2014

45


e rti TpRrAoDpI S I

Bisnis Properti Jadi Pilihan Investasi

S

ebagai destinasi pariwisata internasional, Bali saat ini telah menjadi incaran para pebisnis properti. Tak hanya pebisnis lokal dan nasional, tetapi juga internasional dengan berlakunya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Saat ini banyak sekali perseorangan atau perusahaan yang menawarkan properti seperti tanah, rumah, apartemen, kos-kosan dan sebagainya di Bali. Sebab, Bali memiliki nilai tinggi bagi kalangan pengusaha properti. Salah seorang pengusaha properti, I Nyoman Gede Astika (29) menuturkan, saat ia memulai bisnis properti, hanya dengan bermodalkan Rp 800 juta. Modal tersebut cepat kembali hanya dari menjual 1 kapling tanah. Bahkan dengan modal segitu, ia bisa mendapat keuntungan lebih. Apalagi, harga tanah setiap tahun bahkan setiap bulannya mengalami peningkatan cukup tinggi. Hal inilah yang membuat Astika sukses dengan bisnis propertinya. ‘’Ditambah Bali merupakan tujuan pariwisata, perkara menjual properti merupakan hal yang mudah,’’ ungkapnya. Lokasi tanah atau properti seeta peraturan adat di lokasi, memengaruhi minat seseorang dalam membeli properti.

Seseorang yang hendak membeli tanah biasanya akan melihat lokasi wilayahnya entah berada dekat jalan raya atau berada di kawasan elite. Berikutnya, peraturan adat yang ada di wilayah itu, akses dengan tempat-tempat lainnya, keamanan dan kenyamanan wilayah tersebut. Khusus wilayah Denpasar, lokasi tanah yang mahal berada di kawasan Renon yang nilainya mencapai miliaran rupiah per are. Sejalan tuntutan pasar, para pengembang pun juga tak sekadar menjual rumah. Mereka juga berinovasi mendirikan perumahan atau rumah dengan konsep yang sederhana atau berkonsep minimalis, karena bisa diterima semua kalangan. Dengan pengembangan seperti ini, tentunya menambah nilai sebuah properti. Harga tanah di Denpasar sendiri saat ini sudah menembus dari Rp 450 juta hingga Rp 1,5 miliar, tergantung lokasi. Dengan harga itu, seseorang yang ingin memiliki tanah tentunya harus menyiapkan dana minimal Rp 7 juta per bulannya. Tak hanya itu, properti di Bali juga kini dianggap menjadi salah satu investasi alternative. Sebab, pemilik uang tidak perlu terlalu repot mengontrol, melakukan pro-

mosi dan sejenisnya seperti halnya jika membuka usaha baru. Jika berinvestasi di tanah atau rumah (properti), cukup membeli tanah atau rumah yang diinginkan untuk selanjutnya pada jangka waktu tertentu dijual kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi. Hal ini juga dinilai lebih menguntungkan jika dibandingkan bunga bank yang ada saat ini. Kenyataan ini diakui Ida Ayu Kusuma Dewi (29) dan salah seorang dokter yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Denpasar. Mereka mengaku lebih tertarik berinvestasi di properti dibandingkan investasi bidang lain seperti menabung, karena harga properti pasti naik dengan hitungan tahun bahkan hitungan bulan. Dicontohkan, harga tanah di wilayah Klungkung yang dulunya antara Rp 45 juta hingga Rp 85 juta, dalam beberapa bulan langsung melonjak menjadi sekitar Rp 145 juta hingga Rp 150 juta. Demikian halnya di wilayah Tabanan dan lainnya, lonjakan harga tanah begitu tinggi jika dibandingkan dengan bunga bank atau keuntungan bisnis lainnya. l Cittamaya

MBP/cittamaya

46

25 - 31 Agustus 2014


Rumah Minimalis Mendominasi SAAT ini masyarakat cenderung menginginkan yang serba praktis, fungsional, ringan, hemat, dan efisien. Karenanya, desain rumah minimalis menjadi pilihan masyarakat termasuk di Bali. Bahkan, desain minimalis cenderung mendominasi tren perumahan saat ini. Maklum, tipe rumah ini boleh dikatakan minim perawatan, enak dilihat, dan terbuka terhadap penambahan yang diinginkan pemilik atau penghuninya. Melihat kecenderungan ini, rumah minimalis akan terus berkembang, termasuk di Bali. Hampir 90 persen perumahan baru mengusung bentuk minimalis. Hal ini diakui praktisi properti, Semadi Putra. Direktur PT SKI Land Development itu mengatakan, peminat rumah minimalis tergolong mayoritas di Bali. Dikatakannya, sekitar 90 persen pengembang membuat perumahan baru dengan mengambil konsep minimalis. Menurutnya, desain minimalis menjadi tren karena saat ini masyarakat cenderung menginginkan yang serba praktis,

fungsional, ringan, hemat, dan efisien. Di samping itu, desain minimalis minim perawatan, enak dilihat, dan terbuka terhadap penambahan yang diinginkan konsumen. Pengembang, sebutnya, juga kebanyakan membangun rumah dengan konsep ini karena biaya pembangunan tidak terlalu mahal. “Yang pasti, dibandingkan rumah yang penuh ornamen batu dan ukiran, rumah minimalis lebih terjangkau. Memang sekarang sedang tren, biasa kayak baju ada modenya, tetapi ada masanya juga,� ucap Semadi. Pendapat senada disampaikan pengurus DPD REI Bali Bidang Pendidikan dan Litbang, I Wayan Sukarja. Ia mengatakan, masyarakat cenderung membeli rumah minimalis karena desain properti era 2010-an ini lebih simpel dan efisien. Selain itu, rumah yang didominasi dengan unsur garis-garis lurus maupun kotak ini hemat lahan dan bisa memaksimalkan fungsi ruang. Dari sisi biaya, menurut Sukarja, juga lebih ekonomis karena bisa mengurangi

ornamen-ornamen yang biasanya memakan biaya banyak. Pengembang juga dominan memilih membangun rumah jenis ini karena berorientasi pada kebutuhan pasar. “Ada juga developer yang berminat mengambil proyek model ini. Mereka itu biasanya menampilkan desain baru sebagai pioneer di pasar,� jelasnya. l Ngurah Kertanegara

MBP/cittamaya


FIGUR

Utami Dwi Suryadi

Perempuan Bali Mesti Melek Politik Eksistensi perempuan Bali di kancah perpolitikan sejauh ini belum mampu mengimbangi eksistensi politisi laki-laki. Perempuan Bali yang terjun ke ranah politik hingga mampu eksis dan berkontribusi banyak dirasakan masih minim. Bahkan perempuan Bali yang terpilih menjadi anggota DPRD baik provinsi maupun kabupaten/kota masih bisa dihitung dengan jari. Ternyata, ada juga politisi perempuan Bali yang mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan politik merebut kursi wakil rakyat dalam pileg 9 April 2014 lalu. Salah satunya calon anggota legislative (caleg) incumbent DPRD Bali Dra. Utami Dwi Suryadi dari dapil Denpasar. Ia terpilih kembali duduk sebagai anggota DPRD Bali periode 2014-2019 dan menjadi satu-satunya caleg perempuan dari Denpasar yang lolos ke Renon. Utami yang sudah pernah menjabat anggota DPRD Bali periode 2009-2014 ini awalnya mengaku tidak terlalu tertarik dengan dunia politik. Bahkan mengaku takut terjuan ke politik. Terlebih ia tidak tahu dan tidak paham tentang politik. Namun seiring berjalannya waktu, kesadaran berpolitik itu muncul sebagai sebuah keyakinan dan jalan perjuangan untuk ikut memperjuangkan nasib kaum perempuan secara khusus dan kepentingan masyarakat Bali secara umum. “Saya berharap lebih banyak perempuan Bali yang melek politik dan mau berjuang di ranah politik khususnya memperjuangkan kepentingan kaum perempuan yang masih minim disuarakan di parlemen,� kata istri dari Drs. I Gusti Putu Ngurah Wiranatha yang merupakan salah satu PNS di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Pemprov Bali. Utami mengawali pengabdiannya sebagai wakil rakyat di DPRD Bali dengan duduk di komisi IV yakni komisi yang membidangi pendidikan, kesehatan, pariwisata, budaya, permasalahan sosial, kesejahteraan sosial dan tenaga kerja. Lingkup kerja dan bidang tugas yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan

48

25 - 31 Agustus 2014

pokok dan riil masyarakat ini membuatnya sering terjun ke masyarakat. Ia pun paham betul apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat Bali misalnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan. Utami juga aktif ikut memberikan sumbangsih dan kontribusi pemikiran dalam pembuatan sejumlah peraturan daerah (perda) yang dimotori Komisi IV. Aktif saat perancangan dan pembahasan Ranperda (Rancangan Peraturan Daerah) Inisitif Dewan khususnya Komisi IV soal Perlindungan Anak dan duduk sebagai Sekretaris Pansus (Panitia Khusus). Ia juga pernah duduk sebagai Wakil Ketua Pansus Perda Pengelolaan Sampah. Perempuan kelahiran 15 Mei 1963 ini juga getol memperjuangkan peningkatan anggaran pendidikan agar mencapai minimal 20 persen dari APBD Bali serta mendorong peningkatan premi JKBM (Jaminan Kesehatan Bali Mandara) sehingga pelayanan kepada masyarakat meningkat. Utami juga konsern memperjuangkan nasib pramuwisata (guide) lokal. Terkait ini ia mengusulkan kepada

Gubernur Bali untuk pemutihan guide yang belum tersertifikasi dan akhirnya usulan itu terakomodir serta sangat bermanfaat bagi para guide. Kini saat ia terpilih kembali sebagai anggota DPRD Bali periode 20142019, Utami kembai memantapkan dan menegaskan komitmennya lebih keras berjuang untuk kepentingan masyarakat Bali. Secara khusus, ia bersama 4 orang anggota Dewan perempuan lainnya akan lebih konsen memperjuangkan kepentingan kaum perempuan dan anak, baik menyangkut pendidikannya, kesehatannya serta perlindungan dari eksploitasi dan kekerasan. “Terima kasih kepada masyarakat Kota Denpasar yang telah mempercayakan suara dan pilihannya kepada saya. Tentu kepercayaan ini adalah amanah yang harus saya perjuangkan untuk membangun masyarakat,� tandas ibu dari tiga anak itu yakni Gusti Ayu Chintya Purnamasari S.E., Gusti Ngurah Aditya Natha dan Gusti Ayu Dinda Mayagita.

l Widana


HIBURAN

P

etualangan Terminator berlanjut. Kali ini, aktor Arnold Schwarzenegger mempublikasikan proyek terbarunya lewat media sosial. Ia mengungkapkan judul baru untuk Terminator edisi baru. Bintang asli film James Cameron 1984 itu akan kembali berperan dalam Terminator Genisys. Film ini rencananya diluncurkan 1 Juli 2015. Arnold menyebut film itu Terminator Genesis. Namun, dari posting gambar via Instagram dan Twitter mantan Gubernur California itu mengungkapkan sebuah gambar dia duduk di kursi sutradara dengan pesan, “Hasta la vista, baby, Aku ingin berterima kasih kepada pemain dan kru dari Terminator Genisis kerja

sama yang fantastis. Itu menantang, itu menyenangkan, dan itu bermanfaat”. Menurut laporan NME, dan foto yang diunggah tersebut, Arnold menulis film Terminator Genisis akan rilis pada 1 Juli 2015. “Dari sutradara kepada produser, dari tim kamera untuk katering, dari efek visual sampai rambut dan make-up - kami tidak bisa melakukannya tanpa kalian.” Ia mengaku tidak sabar untuk melihat proyek ini selesai. Bahkan, ia meyakini film ini akan memukau para penonton dan mereka akan jatuh cinta dengan Terminator. ‘’Pada 1 Juli 2015, samua akan kembali,” tutup Arnold Schwarzenegger. l Pusdat BP

Spritit Nasionalisme Karya-karya musisi Iwan Fals yang lirik-lirik lagunya dinilai penuh semangat nasionalisme dan cinta lingkungan. “Iwan Fals, musisi yang peduli dengan bangsa dan memiliki semangat terhadap pemeliharaan bumi dan nasionalisme,” kata Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko

saat menjadi pembicara Obrolan Penting Sabtu Ini (Opsi) yang diselenggarakan Ormas Orang Indonesia (Oi), di kediaman Iwan Fals, di Tapos, Depok, Jawa Barat. Menurut Moeldoko musik yang dibawakan Iwan Fals memang pernah memerahkan telinga dan kritiknya terhadap TNI

sangat tajam. Namun, ia menilai, hampir semua prajurit TNI menyukai lagu-lagu ciptaan musisi yang bernama asli Virgiawan Listanto itu. Dia mencontohkan, lagu berjudul “Kemesraan” yang selalu diputar oleh para prajurit ketika selesai menjalani kedinasan (ramah tamah). Moeldoko pun tidak segansegan menjuluki Iwan Fals sebagai empunya dunia musik Indonesia. “Saya bisa memahami dan mengikuti, menghargai lagu dan kegiatan Mas Iwan Fals sehingga saya melihat bagian dari visi dan misi yang telah dilakukan,” ujarnya. Ia menimpali, “Saya ikuti dengan baik. Lagu “Di Bawah Tiang Bendera” sungguh ini bisa merefleksikan keadaan pada tahun 1996. Inilah visi dari empu Iwan Fals di mana empu yang bisa menjangkau dan menginspirasi negeri ini.” Misi dari Iwan Fals, dikemukakannya, adalah bagaiama bisa menjawab isu-isu global, seperti perubahan iklim dengan mengajak melakukan penghijauan, termasuk mengajak TNI untuk menjaga lingkungan. l Pusdat BP 25 - 31 Agustus 2014 49


PROFIL

Putu Suada

Turut Memberdayakan Masyarakat

D

apat merangkul dan membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat adalah kebahagian tersendiri bagi setiap orang. Sama halnya dengan Putu Suada. Sosok yang dikenal sederhana ini berhasil mendirikan usaha olahraga air arum jeram (rafting) bernama Bintang Rafting Adventure. Alhasil, meskipun baru berumur empat bulan, sudah banyak wisatawan asing yang memesannya.

Saat ditanya mengapa membuka usaha rafting, Direktur Bintang Rafting Adventure itupun menceritakan alasannya dengan senyum ramah. “Menjalankan usaha rafting ini bukan untuk bersaing dengan perusahan rafting lainnya. Tetapi untuk meramaikan pasar dan memberi warna,” ujarnya. Selain itu, menurut Suada, secara otomatis dia ikut berpartisipasi membangun kearifan lokal. “Yang terpenting bagi saya adalah bagaimana perusahaan ini bisa memberikan peluang kerja untuk masyarakat di sekitarnya sehingga bisa memberikan manfaat dan kesejahteraan,” ungkap lulusan P4B jurusan pariwisata ini. Saat ini usahanya yang masih bayi ini sudah mempekerjakan sekitar 45 lebih karyawan yang berasal dari sumber daya masyarakat (SDM) lokal. Jumlah ini pun diyakini akan terus bertambah seiring berkembangnya minat wisatawan dalam olahraga rafting yang sedang hangat dan booming. “Saya komit untuk saling mensejahterakan satu sama lain dan memberi apresiasi sesuai hasil kerja karyawan masingmasing,” ujarnya optimis. Laki-laki asal Mengwi yang berpengalaman dalam bisnis rafting selama bertahun-tahun ini menyampaikan, dalam menjalankan usahanya dia tidak hanya memperhatikan karyawan. Tetapi juga para wisatawan baik asing maupun lokal. Misalnya, memberikan fasilitas dan service yang profesional, keamanan, kenyamanan dan hal-hal unik yang tidak dimiliki perusahaan rafting lainnya. Bintang Rafting Adventure, ungkap Suada, dioperasikan di Sungai Telaga Waja Karangasem yang terkenal sebagai tempat rafting terbaik di Bali. Arus sungai yang seru dan menantang dengan kondisi air yang jernih dan bersih. Menyuguhkan fanorama alam asri, segar, guide profesional yang berpengalaman. Wisatawan juga berkesempatan makan siang di Bintang Restaurant. Bahkan untuk masalah keamanan, perusahaan ini sudah memiliki lisensi resmi untuk beroperasi sehingga keselamatan sangat terjamin. Setiap usaha, imbuh Suada, memang memerlukan modal, tetapi kalau tidak ada keberanian hasilnya nihil. Bagi yang senang tantangan dan ingin menghilangkan stres. Rafting adalah pilihan yang tepat untuk rekreasi. Bisa ajak teman dan keluarga. “Saya berharap lewat rafting wisatawan asing tahu tentang alam Bali,” ungkapnya. l Ocha www.bali-travelnews.com

50

25 - 31 Agustus 2014


52 | 25 - 31 Agustus 2014

Kota Denpasar Belum Bebas Limbah Sablon

RP 20.000


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Majalah balipost edisi 52 by e-Paper KMB - Issuu