51 | 18 - 24 Agustus 2014
Penduduk Pendatang Anggaran Kurang, Penertiban Kurang
WELCOME BALIBALI TO
RP 20.000
DAFTAR ISI KILAS BERITA l Gempa di Yunnan 398 Tewas, 1.800 Cedera 7 LAPORAN UTAMA lPenduduk Pendatang Anggaran Kurang, Penertiban Kurang 8
MUSEUM lMuseum Agung Bung Karno
Refleksi Sejarah dan Perjalanan sang Proklamator 26
OLAHRAGA l Keputusan yang
Membahagiakan Donovan 28
KRIMINAL lDuh, Bocah Dipaksa
Setubuhi ’’Bangkung’’ Direkam, Lalu Disebar 32
lBadung Incaran Duktang 10 FIGUR lHUT Kemerdekaan Ke-69 RI dan Kemenangan Jokowi Jembatan Emas Menuju Indonesia Lebih Baik 11 POLITIK lMencermati Dampak Politik Kaum Urban 12 PERTANIAN lFestival Budaya Pertanian Kabupaten Badung
Dibanjiri Pengunjung, Dipuji Menpan-RB 14
OPINI lMenyelaraskan Kehidupan Sosial 16 JAJAK PENDAPAT lMeragukan Efektivitas Perda Zonasi 17 PENDIDIKAN lBelasan Tahun Belajar di Gedung Rusak 18 MANCANEGARA lSejarah Kelam Jack The Ripper 20
LINGKUNGAN lAir Telaga Tunjung Surut
Lumbung Beras Terancam 36
PARIWISATA lAgrowisata, Selamatkan
Pertanian? 38
EVENT lWorkshop Anak 40 BUDAYA lSate ’’Kakul’’ Rendah Kolesterol 42 TRADISI l’’Bakti Pangeleb’’ di Desa Selulung
Melepasliarkan Anak Sapi 44
PROPERTI l Pengusaha Properti
Tergantung Buruh Luar Bali 46
DAERAH lBisnis Pariwisata Bodong
GAYA HIDUP l Ida Ayu Putu Sri Ambari
KESEHATAN lSehat, Cerdas, dan Mandiri
PROFIL l Made Subrata
Rongrong Hutan Mangrove 22 Lewat Sanggar Belajar Lentara Anak Bali 24
Sang Komandan Anak 48 Tantang Tim untuk Maju 50 18 - 24 Agustus 2014
3
DARI PEMBACA
Pencemaran Lingkungan P
erkembangan usaha laundry yang cukup pesat belakangan ini, perlu mendapat perhatian pemerintah. Terutama soal sistem pengolahan limbah yang dihasilkan dari proses pencucian dimaksud. Karena dari pengamatan selama ini, banyak usaha laundry yang memanfaatkan ruko atau kios-kios kecil, sehingga proses pembuangan limbahnya perlu ditelusuri. Bila ini dibiarkan tanpa ada pengawasan, dikhawatirkan usaha ini akan menjadi pemicu pencemaran lingkungan. Kita berharap agar segala usaha bisa berjalan dengan baik dan yang lebih penting lagi, tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Wayan Putra Denpasar Timur
Pemilik Rumah di Jalan Protokol Pelit Lampu B
eberapa ruas jalan protokol di Kota Denpasar menghadirkan suasana remang-remang dan membuat merinding bulu kuduk, sekalipun hari belum malam benar. Sebutlah misalnya di Jl. Suli, Jl. Melati, Jl. Ratna Denpasar. Jalan-jalan protokol saja remangrenang, apalagi jalan-jalan kecil. Lampu jalan memang sudah menyala, tetapi karena jaraknya yang relatif jarang, sehingga tidak cukup kuat memberi penerangan. Kondisi demikian seharusnya dapat terbantu dengan kesediaan pemilik rumah yang ada di ruas-ruas jalan tersebut, memasang lampu penerangan di tiap telajakan rumahnya. Sehingga suasana jalan protokol tidak seperti pra 80-an di mana belum dikenal lampu mercuri untuk penerangan jalan. Kalau sekarang jalanan Kota Denpasar remang-remang merindingkan bulu roma rasanya kok aneh ya. Kenapa ya, rumah-rumah di jalan protokol yang tampak luarnya cukup mentereng, pelit memberi lampu penerangan rumah bagusnya. Padahal kalau ada lampu terang di depan rumah bukan hanya rumahnya yang jreng, tetapi juga jalanan tidak terkesan menyeramkan. Tolong dong, pemilik rumah-rumah elite di jalan-jalan protokol jangan pelit memasang lampu terang di depan rumahnya. Kalau suasana jalan dan rumah terang benderang kan bisa mencegah niat-niat jahat pencuri dan perampok. Jangan kalah sama pemilik rumah-rumah sederhana di Perumnas Monang-Maning yang rela memasang lampu terang di depan tiap rumah sehingga gang-gang terang benderang di malam hari. Ni Putu Suriani Denpasar
4
Perintis K Nadha Pemimpin Umum ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Wirata Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung Jawab Alit Purnata Sekretaris Redaksi Sugiartha Redaksi Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry, Dira Arsana,Mawa, Suana, Sueca, Yudi Winanto, Subrata, Budi Wiriyanto, Diah Dewi. Anggota Redaksi Denpasar Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Yudi Karnaedi, Wira Sanjiwani, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Dedy Sumartana, Parwata, Rindra, Agustoni, Widana, Ngurah Kertanegara, Manik Astajaya, Komang Suryawan. Bangli: Ida Ayu Swasrina, Buleleng: Dewa Kusuma, Mudiarta, Gianyar: Agung Dharmada, Karangasem: Budana, Klungkung: Bagiarta, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati Jakarta Nikson, Hardianto, Ade Irawan NTB Agus Talino, Izzul Khairi, Raka Akriyani Surabaya Bambang Wiliarto Kantor Redaksi Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta, Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 0403070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Dicetak di Percetakan BP
18 - 24 Agustus 2014
4
5
KILAS BERITA
Warga Desa Landih Kesulitan Air Bersih KESULITAN air bersih ternyata tak hanya dialami warga di Kintamani. Warga di Desa Landih, Bangli pun me-ngalami hal yang sama. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga terutama yang tergolong kurang mampu selama ini hanya mengandalkan aliran dari sumber mata air yang ada. Setiap harinya, warga harus antre untuk mendapatkan satu atau dua jeriken air bersih. Kondisi tersebut diakui oleh salah seorang warga Landih, Putu Sedan, Senin (4/8). Dikatakannya, desa yang selama ini terkenal sebagai penghasil kopi tersebut memang terkendala air bersih. Untuk bisa memenuhi kebutuhan air bersih setiap harinya, beberapa warga terpaksa membelinya. Per truk yang isinya kurang lebih sekitar 3.000 liter dengan harga Rp 160 ribu. Rata-rata dalam sebulan warga menghabiskan air bersih sebanyak dua truk. l Swasrina
MBP/ina
6
Disegel, Usaha Ternak Babi Tetap Beroperasi PENYEGELAN yang dilakukan tim yustisi Kabupaten Tabanan terhadap usaha peternakan babi PT Taurus Bali Lestari akhir bulan Februari silam rupanya tak serta-merta menghentikan operasional usaha. Peternakan yang berisi sekitar 340 ekor ternak babi di Banjar Nyatnyatan Desa Gadung Sari, Selemadeg Timur, Tabanan tersebut tetap beroperasi seperti biasa, meski di depan pintu masuk ternak telah terpasang papan penyegelan. Sejumlah warga pun kembali mengeluhkan bau limbah babi yang langsung dibuang ke sungai setempat. Camat Selemadeg Timur, Gusti Putu Ngurah Darma, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa usaha ternak tersebut saat ini masih beroperasi seperti biasa. ‘’Tim yustisi kabupaten memang sudah melakukan penyegelan, namun kegiatan peternakan tetap beroperasi. Artinya, pemindahan tidak maksimal apalagi itu merupakan barang hidup,’’ jelasnya, Senin (4/8). l Puspadewi
MBP/bit
18 - 24 Agustus 2014
6
Gempa di Yunnan 398 Tewas, 1.800 Cedera
P MBP/ap
etugas penyelamat menggali rumah-rumah yang ambruk, mencari para korban gempa bumi kuat di Provinsi Yunnan, Tiongkok Selatan. Jumlah korban tewas dalam bencana ini meningkat menjadi sedikitnya 398 orang dengan lebih dari 1.800 cedera. Sekitar 12.000 rumah ambruk ketika gempa bergetar Minggu (3/8) siang di kabupaten miskin Ludian, sekitar 370 km timur laut Kunming, ibu kota Yunnan. Ma Yaoqi (18) seorang sukarelawan
mengatakan setengah bangunan ambruk di jalan pusat Kota Zhaotong yang merupakan kawasan paling buruk terkena efek gempa. Bangunan lainnya banyak mengalami retak pada tembok. Pemerintah dilaporkan telah mengerahkan 2.500 tentara di lokasi bencana. Mereka bergabung dengan 300 polisi dan para petugas pemadam kebakaran dari Kota Zhaotong. Tak hanya itu, 392 regu penyelamat dan anjing pelacak juga diturunkan. l Agustoni/ap
Pelajar SMA Tertimpa Pohon CUACA buruk di Buleleng menelan korban. Cuaca buruk juga membuat baliho dan pohon tumbang. Kali ini, pohon perindang yang tumbang di Jalan Dewi Sartika ini menimpa seorang pelajar yang saat kejadian mengedarai sepeda motor. Korban mengalami patah tulang tangan kiri dan sempat dirawat di RSUD Buleleng. Korban Ni Luh Putu Ayu Puspita Wangi (16) merupakan pelajar SMAN 4 Singaraja. Korban berasal dari Desa Cempaga, Kecamatan Banjar, Buleleng. ‘’Saya awalnya mau les privat. Di jalan saya justru tertimpa pohon tumbang,’’ ujar Ayu. Untuk penanganan patah tulangnya sudah dilakukan rontgen untuk mengecek kondisi patah tulang di
tangan kirinya. Sedangkan, dahan dan batang pohon yang tumbang yang sempat menggangu arus lalu lintas ini sudah dibersihkan oleh BPBN dan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Buleleng. l Dewa Kusuma
Ratusan Duktang Tanpa KTP Terjaring Sidak
MBP/ara
SIDAK administrasi penduduk pendatang (duktang) yang dilaksanakan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Denpasar, Selasa (5/8) di Pelabuhan Benoa berhasil menjaring 115 duktang yang tidak dilengkapi dengan kartu identitas diri, seperti KTP. Ke 115 duktang ini digiring ke Kantor Satpol PP Kota Denpasar untuk pendataan lebih lanjut. Kabid Mobilitas Kependudukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Denpasar Drs. I Made Rapog, M.Si. mengatakan, sidak pendataan administrasi penduduk pendatang ini melibatkan tim gabungan yang terdiri dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Denpasar, Satpol PP, TNI, Polri dan SKPD terkait. Dari 862 penduduk pendatang yang turun di Pelabuhan Benoa sebanyak 115 orang yang terjaring tanpa memiliki kartu identitas. Dengan rincian 61 orang tidak membawa kartu identitas, 27 orang kartu identitas yang sudah mati dan 27 orang hanya menggunakan surat jalan. l Asmara 18 - 24 Agustus 2014
7
7
LAPORAN UTAMA
Penduduk Pendatang
Anggaran Kurang, Penertiban Kurang Pertumbuhan penduduk yang tinggi di Denpasar menjadi persoalan serius yang mesti ditangani pemerintah setempat. Sesuai hasil sensus penduduk 2010, pertumbuhan penduduk di Denpasar mencapai 4 persen. Ironisnya, pertumbuhan penduduk yang tinggi ini, bukan akibat tingkat kelahiran, melainkan perpindahan penduduk dari satu daerah ke Denpasar atau urbanisasi. Dampak yang ditimbulkan dari tingginya urbanisasi ini cukup banyak, seperti kebersihan, lalu lintas, sampai pada tingkat kriminalitas. Karena itu, perlu langkah strategis dalam mengendalikan kehadiran kaum urban ke kota yang memiliki luas wilayah hanya 127,78 kilometer persegi ini.
8
P
engadilan penduduk pendatang di Denpasar terkesan masih tumpul, yang merupakan sebab dari multiaspek, terkait dengan regulasi, koordinasi, monitoring dan evaluasi, serta dampak lainnya. Kepala Desa Padangsambian Kaja Made Gede Wijaya, pekan lalu mengatakan, upaya penertiban administrasi kependudukan selama ini cukup banyak kendala. Terlebih, dalam menangani arus urban yang cukup banyak datang ke wilayah desanya tersebut. Selain masalah wilayah yang luas dengan tenaga yang minim, juga terkendala dengan ketersediaan dana. Parahnya lagi, munculnya peraturan perundang-undangan yang baru, memicu penafsiran yang beragam di masyarakat. Peraturan itu, yakni UU No. 24 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. “Inilah yang membuat kami di bawah serba kesulitan dalam mendata keberadaan pendatang,” katanya. Dikatakan, persepsi yang berkembang di bawah saat ini, bahwa penduduk yang
pindah terkesan bebas tanpa melihat aturan yang ada di wilayah bersangkutan. Padahal, peraturan yang ada di satu desa, memiliki tujuan yang strategis dalam upaya menciptakan ketertiban wilayahnya. Karena itu, pendataan penduduk sangat diperlukan. “Jangan kami dikira melakukan pendataan ini untuk mencari uang. Itu salah,” katanya. Anggota Pansus Perda Kependudukan DPRD Denpasar A.A. Susruta Ngurah Putra didampingi Hilmun Nabi menyebutkan, tidak seragamnya ketentuan dalam penertiban administrasi kependudukan di masing-masing desa, memicu terjadinya tumpah tindih upaya penertiban. Akibatnya, ada kesan “negara dalam negara”. Kondisi ini perlu segera diatasi, dan harus mengacu pada satu aturan yang ada di Pemkot Denpasar. Semua desa dinas dan desa adat, apabila ingin melakukan pengaturan soal penduduk yang memiliki KTP di luar Denpasar, namun tinggal dan menetap di Denpasar, harus sama. Kedua wakil rakyat ini menilai pendataan dan pengawasan terhadap pen-
18 - 24 Agustus 2014
8
Pemeriksaan pendatang di Denpasar
MBP/ara
duduk, baik yang asli maupun kaum urban, cukup penting dilakukan. Karena ini akan menyangkut keamanan dan pemetaan kondisi penduduk yang tinggal di satu wilayah. Namun terkadang pelaksanaannya tidak sepenuhnya untuk kepentingan yang strategis. Banyak pula penertiban penduduk pendatang yang dilakukan di beberapa tempat hanya untuk menarik iuran dengan alasan uang keamanan. “Bila ini sudah terjadi, maka harus dilakukan evaluasi terhadap pola penertiban administrasi penduduk,” ujarnya. Keluarnya UU No. 24 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan berdampak signifikan terhadap perda kependudukan di masing-masing kabupaten/kota. Tidak terkecuali di Denpasar. Buktinya, Pemkot Denpasar telah merancang ranperda kependudukan agar bisa menyesuaikan dengan ketentuan UU yang baru. Salah satu yang menjadi persoalan krusial, yakni keberadaan Kartu Identitas Penduduk Pendatang Sementara (KIPPS) atau yang lebih dikenal dengan kipem di
Denpasar. Dalam rapat kerja antara Pansus 24 DPRD Denpasar dengan Dinas Catatan Sipil, Bagian Hukum dan para camat se-Kota Denpasar, beberapa waktu lalu, dipertanyakan soal kelanjutan KIPPS ini. Terlebih, dalam mendapatkan KIPPS tersebut harus mengeluarkan biaya. Padahal, dalam UU Kependudukan yang baru ini, semua administrasi kependudukan tidak bisa lagi dikenai pungutan. “Kalau soal KIPPS ini apakah masih bisa berlaku atau harus dicabut,” ujar salah satu anggota Pansus 24, Ricky Teguh Argawa. Kabag Hukum Pemkot Denpasar I Made Toya mengatakan, penertiban administrasi penduduk yang dilakukan di masing-masing desa adat, mengacu pada kesepakatan bersama Gubernur Bali dengan Bupati/Wali Kota se-Bali Nomor 153 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Tertib Administrasi Kependudukan di Provinsi Bali. “Awal mulanya dilakukan penertiban administrasi kependudukan ini setelah munculnya kasus bom di Legian
pada 2012 lalu,” katanya. Kabid Mobilitas Penduduk Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Denpasar Drs. I Made Rapog, M.Si. mengatakan, pihaknya secara rutin melakukan sidak administrasi kependudukan, pascalebaran ini. Tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, Polri dan SKPD terkait menyasar pintu-pintu masuk Kota Denpasar. Seperti Terminal Ubung dan Pelabuhan Benoa. Setelah itu, penertiban serupa juga akan dilakukan di masing-masing desa. Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra di tempat terpisah mengatakan, penertiban administrasi kependudukan untuk mengetahui sejauh mana arus urbanisasi ini datang ke Denpasar. “Kami tidak pernah melarang kedatangan penduduk pendatang, asal dengan syarat yang jelas, memiliki keterampilan, keahlian, pendidikan dan modal. Karena proses pembangunan memerlukan syarat tersebut,” katanya. l Asmara 18 - 24 Agustus 2014
9
9
LAPORAN UTAMA
Badung Incaran Duktang
K
abupaten Badung dengan sektor pariwisata sebagai andalan, menjadi salah satu daerah utama tujuan migrasi penduduk terutama yang berasal dari luar Bali. Arus balik Lebaran biasanya jadi momen kedatangan penduduk pendatang (duktang) yang ingin mengadu nasib di Badung. “Fenomena membludaknya duktang ke Badung pascalebaran lumrah terjadi setiap tahun. Biasanya mereka banyak yang langsung menetap guna mencari kerja,� ujar Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Badung I Nyoman Soka, belum lama ini. Seperti sebelumnya, tahun ini pun wilayah konsentrasi duktang diprediksi masih berada di tiga kecamatan yakni Kuta Utara, Kuta, dan Kuta Selatan. Bahkan di Kuta, konsentrasi duktang hampir berada di semua titik wilayah. Sementara dari sisi jumlah, komposisi duktang yang baru berkisar antara 1 hingga 2 persen dari jumlah penduduk yang wajib KTP. Pemerintah tidak bisa melarang penduduk berpindah dari satu daerah ke daerah lain karena mereka adalah warga negara yang punya hak untuk itu. Namun membludaknya duktang, tentu menjadi permasalahan tersendiri dan perlu mendapat perhatian khusus. Apalagi
10
MBP/dok
Sektor pariwisata mengundang kehadiran kaum urban di wilayah Badung
tidak sedikit di antaranya yang tak memiliki skill bahkan identitas resmi. Guna mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, Pemkab Badung memiliki tim gabungan yang di antaranya terdiri dari unsur Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Satpol PP, Kesbangpolinmas, dan Bagian Hukum Setda Badung. Tim ini turun langsung ke desa/kelurahan mulai tanggal 4 Agustus melakukan pendataan administrasi kependudukan. Di samping itu tim bekerjasama dengan aparat desa untuk melaksanakan sidak secara rutin hingga melaksanakan sidang tipiring jika ada temuan. Pintu masuk Badung juga mendapat perhatian. Sidak administrasi kependudukan mulai digencarkan saat arus balik. Petugas gabungan mulai menggencarkan Sidak pada para penumpang pada 2 Agustus lalu. Saat itu belasan penumpang yang turun di Terminal Mengwi terjaring sidak lantaran tidak mengantongi identitas lengkap. “Kami bukannya anti penduduk pendatang, tapi mereka datang harus dengan prosedur yang jelas dan memiliki administrasi kependudukan yang lengkap. Selain itu ada penjamin siapa yang mengajak mereka ke sini jika beralasan kerja,� ujar Kepala Satpol PP Badung I Ketut Martha. Selain dari sisi penegakan aturan, per-
masalahan yang dihadapi oleh duktang juga tak kalah menariknya. Pengurusan KIPS yang dipersyaratkan ternyata cukup membingungkan. Pasalnya, berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 atas Perubahan UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, tidak diperkenankan menarik pungutan dalam pengurusan administrasi kependudukan. Tapi faktanya berkata lain, masing-masing duktang yang mengurus KIPS dikenakan biaya yang tidak sedikit. KIPS pun umumnya hanya berlaku 3 bulan, jadi setiap kali pada duktang itu mengurus KIPS, kembali ditarik biaya administrasi. Terkait hal ini I Nyoman Soka menyatakan, aturan hukum memang melarang adanya pungutan untuk pengurusan administrasi kependudukan, seperti dalam pengurusan KTP, KK (kartu keluarga), serta administrasi kependudukan lainnya. Soal pungutan yang dilakukan di tingkat bawah, Soka hanya menjawab diplomatis. Dia berdalih, aturan mengenai pungutan untuk duktang tersebut kemungkinan diatur dalam peraturan desa adat setempat. Pihaknya pun tidak bisa mengintervensi kebijakan adat demikian. l Dedy
18 - 24 Agustus 2014
10
FIGUR
HUT Kemerdekaan Ke-69 RI dan Kemenangan Jokowi
Jembatan Emas Menuju Indonesia Lebih Baik
MBP/ist
Cok Ratmadi
Bagi bangsa Indonesia peringatan HUT ke69 Kemerdekaan RI 17 Agustus 2014 ini terasa istimewa sebab tahun ini juga momentum bangsa Indonesia menyambut lahirnya pemimpin baru, presiden dan wakil presiden periode 2014-2019 guna menahkodai dan memimpin bangsa ini lima tahun ke depan. Peringatan HUT kemedekaan RI ini dan pemilu presiden dan wakil presiden 2014 ini merupakan momentum untuk membangun bangsa ini lebih baik. Bahkan bagi Ketua DPRD Bali AA Ngurah Oka Ratmadi, peringatan HUT Kemerdekaan ke-69 RI ini dan kemenangan pasangan Jokowi-JK dalam pilpres merupakan jembatan emas dan gerbang emas menuju Indonesia yang lebih baik. “Dua momentum besar ini, peringatan HUT Kemerdekaan RI dan terpilihnya Jokowi sebagai presiden ketujuh merupakan jembatan emas dan membawa keyakinan harapan besar bagi segenap elemen bangsa Indonesia bahwa kita bisa menjadi bangsa yang lebih hebat, lebih kuat, lebih sejahtera dan mampu sejajar dengan negara-negara besar di dunia. Kalau tahun 1945 adalah fisik sekarang di bawah kepemimpinan. Jokowi adalah revolusi mental untuk menjadi negara besar dan kuat.,” tegas Cok Ratmadi. Pemilu presiden 2014 ini terasa sangat berbeda dibanding pemilu-pemilu. Partisipasi masyarakat pemilih sangat tinggi sebab rakyat yakin akan ada perubahan ke depan. Bahkan, pilpres kali ini berlangsung relatif aman, lancar damai. Ia menilai kemenangan Jokowi-JK ini bermakna sebagai langkah baru dalam kehidupan perpolitikan bagi Indonesia dan ini menandakan semakin cerdasnya masyarakat untuk menetapkan isi hatinya dan menentukan pilihan politiknya. Kemenangan Jokowi ini merupakan simbol kemenangan rakyat yang mendambaka pemimpin yang berketeladanan,pemimpin panutan berperilaku santun, merakyat, sederhana, dan mau mendengarkan serta mau bekerja/ berbuat nyata untuk rakyatnya. “Puncak kedaulatan rakyat melalui pemilu ini ada di pilpres sekarang. Pemilu presiden 2014 ini merupakan pemilu terbaik sepanjang sejarah demokrasi di Indonesia. Kejadian yang anehaneh tidak banyak, relatif tidak ada konflik yang berarti, partisipasi masyarakat khususnya generasi muda sangat tinggi. Negara lain tidak bisa seperti demokrasi kita. Jadi demokrasi ini jangan mundur,” ujar Ketua DPD PDI-P Bali itu. Dalam memaknai dan mengisi kemerdekaan serta memaknai kemenangan Jokowi sebagai
presiden ketujuh, Cok Ratmadi berharap segenap elemen bangsa ikut berpatisipasi dalam konteks pembangunan. Khusus kepada generasi muda ia berpesan, agar jangan sampai antipati dan apatis terhadap politik. Sebab politik bukanlah kotor sebagaimana persepsi kebanyakan orang. Esesensi politik adalah jalan pengabdian dan perjungan membangun masyarakat lebih baik. “Generasi muda mesti ikut memikirkan nasib bangsa ke depan. Generasi muda ikut selamatkan demokrasi kita agar menjadi demokrasi yang sehat dan dewasa. Tanpa peran generasi muda demokrasi kurang baik seperti lawar kuangan uyah,” pungkasnya. Cok Ratmadi menambahkan, ideologi Pancasila sangat menghormati hak-hak rakyat. Melalui mekanisme demokrasi rakyat menentukan ke mana arah pembangunan Indonesia setelah merdeka melalui wakil-wakilnya di eksekutif dan legislatif. Dalam rangka memperingati HUT ke-69 Kemerdekaan RI 17 Agustus 2014 ini, Cok Ratmadi mengajak segenap elemen bangsa untuk kembali berkontemplasi, memaknai kembali spirit kemerdekaan atas perjuangan para founding fathers. “Melalui HUT Kemerdekaan ini mari kita pertajam kembali nasionalisme kita. Para pemimpin bangsa juga punya PR besar membawa bangsa ini lebih baik dan bebas dari penjajahan bentuk baru neokolonialisme, serta hormati hak rakyat melalui mekanisme demokrasi,” tegas panglingsir Puri Satria Denpasar itu. Sebagai calon DPD RI terpilih, Cok Ratmadi menegaskan komitmen berjuang menyuarakan kepentingan Bali di tingkat pusat. Komitmen terbesarnya adalah berjuang melestarikan adat budaya Bali dan juga budaya di seluruh nusantara. Sebab puncak-puncak kebudayaan daerah ini akan menjadi kebudayaan nasional dan merupakan kekuatan bangsa ini. “Kita dilahirkan berbeda-beda budaya, tapi menjadi satu. Perbedaan ini sudah terpelihara sejak dulu. Jadi mari kita hormati terus pluralisne. Indonesia besar karena pluralisme yang terjaga, bermacam-macam budaya dan etnis yang dipertahankan,” ucapnya. Menurutnya, daerah yang mampu mempertahankan kebudayaan dan kearifan lokal adalah daerah yang kaya dan bisa mejadi destinasi pariwisata dengan kekuatan budaya itu. Ke depan, Bali bisa lebih sejahtera karena pariwisata sepanjang Bali bisa mempertahankan kearifan lokal dan keunikan budayanya. l Widana 18 - 24 Agustus 2014
11
POLITIK
Mencermati Dampak Politik Kaum Urban
M
igrasi penduduk tak hanya berkorelasi dengan kepentingan ekonomi dan jasa. Secara politik, kaum urban memiliki korelasi terhadap pergeseran peta politik satu wilayah. Bahkan, dalam konteks pilkada kabupaten/kota, kaum urban kerap dikelola secara khusus. Praktik mobilasi kaum urban sangat signifikan mendongkrak peraihan suara. Di Bali, potensi terjadinya pergeseran pata politik akibat tingginya kaum urban terjadi di Denpasar, Badung, Tabanan, Gianyar, Jembrana dan Buleleng. Sedangkan bagi Kabupaten Klungkung dan Karangasem, cenderung menjadi gudang massa temporer karena tingginya kaum urban dari dua wilayah ini. Sedangkan, Kabupaten Bangli, secara politik cenderung masih bertumpu pada penduduk lokal dengan konsentrasi penduduk di Kecamatan Kintamani. Bagi Denpasar kaum urban telah lama memberikan warna tersendiri dalam kehidupan sebuah kota besar. Baik dalam hal ekonomi, pendidikan, lapangan pekerjaan, sampai politik. Terlebih, sesuai dengan sensus penduduk 2010, keberadaan kaum urban di Denpasar cukup tinggi. Bahkan, dalam peta politik di Denpasar, mengalami perubahan yang signifikan. Tiga wakil rakyat dari 45 anggota DPRD di Denpasar
12
berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kondisi ini menunjukan bahwa keberadaan kaum urban yang ada di Denpasar telah turut serta dalam mewarnai semua lini kehidupan sebuah kota. Anggota DPRD Denpasar dari PKS, Hilmun Nabi mengatakan, pihaknya tetap memiliki komitmen yang sama dengan warga Denpasar lainnya dalam menjaga kelangsungan pembangunan kota ini. Kehadirannya di kancah politik dan sampai duduk di kursi legislatif, tidak sedikitnya pun punya niat untuk berseberangan dengan kebijakan pemerintah Kota Denpasar. “Kami komit untuk mendukung upaya pemerintah Kota Denpasar dalam menjaga kelangsungan pembangunan dan mewujudkan kesejahteraan warganya,� ujar Hilmun Nabi. Sebagai negara yang menghormati pluralisme, kehadirannya di lembaga legislatif bukannya menghambat proses pembangunan yang telah dirancang oleh steakholder Denpasar. Apalagi, harus diakui, banyak sektor ekonomi kecil, seperti UMKM menjadi lahan bagi kaum urban di Denpasar. Ini menunjukan adanya partisipasi positif yang dilakukan kaum urban untuk ikut memberikan andil dalam perolehan PAD Kota Denpasar. Denpasar sebagai kota besar, mau tidak mau harus menghadapi persoalan urbanisasi yang terjadi hampir di setiap kota-
18 - 24 Agustus 2014
12
MBP/eka
Pendataan penduduk pendatang di Terminal Ubung.
besar. Kebijakan yang harus dilakukan dalam memangani persoalan ini, tetap harus dihormati, sepanjang ketentuan yang digunakan tidak bertentangan dengan aturan hukum di atasnya. Misalnya, saja, pendataan penduduk pendatang harus tetap mengacu pada aturan yang berlaku. “Dalam mewujudkan keamanan wilayah, pendataan dan pengawasan terhadap kaum pendatang wajib dilakukan dengan baik dan benar-benar untuk mengetahui keberadaan penduduk di satu wilayah itu,” jelasnya. Di lain pihak, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Badung I Nyoman Soka mengatakan kehadiran kaum urban di wilayahnya memang memberikan dampak tersendiri dalam hal ekonomi termasuk politik. Hal ini tercermin dari makin banyaknya perumahan di Badung yang dihuni penduduk pendatang. ‘’Urban memiliki korelasi langsung dengan pemetaan dukungan politik. Bahkan, kaum urban yang bermukim di perbatasan Denpasar dan Badung memiliki tingkat migrasi pemukiman yang tinggi,’’ ujarnya. l Asmara/Dedy
13
PERTANIAN
Festival Budaya Pertanian Kabupaten Badung
R
Dibanjiri Pengunjung, Dipuji Menpan-RB
ibuan masyarakat dan wisatawan baik domestik maupun mancanegara, Kamis (7/8), tumpah ruah di kawasan Jembatan Tukad Bangkung, Desa Plaga, Kecamatan Petang. Mereka tampak antusias mengunjungi Festival Budaya Pertanian (FBP) Kabupaten Badung ke-3 tahun 2014 yang dibuka secara resmi oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) yang diwakili Deputi Pelayanan Publik Mirawati Soedjono didampingi Bupati Badung A.A. Gde Agung. Pembukaan FBP secara simbolis ditandai dengan penyerahan buku inovasi pelayanan publik dari Mirawati Soedjono kepada Bupati Gde Agung serta pelepasan balon. Untuk diketahui, FBP Badung menjadi Top 99 Inovasi Pelayanan Publik dari 500 lebih inovasi pelayanan publik di Indonesia tahun 2014. Usai seremoni itu, dilanjutkan dengan parade budaya dari masingmasing kecamatan di Badung. Parade budaya berlangsung semarak. Duta masing-masing kecamatan menampilkan beragam atraksi budaya. Masyarakat menunjukkan kreativitasnya mulai dengan membuat ogohogoh, baleganjur dan tari. Beragam hasil produk pertanian masing-masing daerah juga ditampilkan dalam parade tersebut. Dalam sambutannya, Bupati Gde Agung mengatakan, FBP adalah wujud konkrit komitmen Pemkab Badung dalam melakukan inovasi dalam pengelolaan potensi ekonomi daerah. Terbangunnya sinergitas antara sektor pertanian, pariwisata dan industri kerajinan yang dikemas dalam festival ini sekaligus merupakan jawaban terhadap pandangan publik yang sering beranggapan bahwa Badung seolah-olah hanya berkutat dengan pembangunan pariwisata.
14
18 - 24 Agustus 2014
“Sesungguhnya, dalam perencanaan strategis Kabupaten Badung yang tertuang dalam lima prinsip dasar pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Badung, jelas terlihat komitmen kami yang begitu kuat terhadap pembangunan kebudayaan dan juga lingkungan hidup,� ujarnya. Sementara itu, Menpan RB dalam sambutan tertulis yang dibacakan Mirawati Soedjono menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan FBP Badung. Pasalnya, FBP bukan semata festival yang berkonotasi pesta namun justru lebih mengedepankan peran serta dan pelibatan masyarakat termasuk partisipasi swasta dan pemerintah.
Badung diharapkan bisa menyelenggarakan berbagai macam festival. FBP adalah salah satu yang mesti dipromosikan sebagai salah satu daya tarik wisata baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Selain kental dengan tema budaya, FBP juga tidak lepas dari kegiatan aktual kekinian seperti temu bisnis dalam bentuk MoU, pameran, seminar dan lokakarya, pengenalan kuliner yang diolah secara modern, membangun media dialog publik, pendidikan dan hiburan, pengembangan ekonomi kreatif, dan juga sebagai bentuk sinergitas pertanian dengan pariwisata. l Dedy
Salah satu peserta parade budaya serangkaian FBP, Kamis (7/8).
SOSOK
Putu Parwata
Perjuangan untuk Rakyat Belum Usai Drs. Putu Parwata, M.K., M.M. tokoh Badung yang sudah tak asing lagi di kancah perpolitikan di Bali. Politisi PDI Perjuangan dari Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara itu kembali mendapat kepercayaan dari masyarakat untuk mengabdi sebagai anggota DPRD Badung periode 20142019. Sebagai politisi yang sudah makan asam garam di lembaga dewan di periode sebelumnya, Putu Parwata masih memiliki asa untuk lebih banyak berkontribusi dalam pembangunan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat “Lima tahun masa pengabdian saya di DPRD Badung sudah saya lalui dengan berupaya maksimal menjalankan fungsi budgeting, legislasi dan controlling terhadap jalannya pemerintahan sesuai yang visi misi bupati baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Namun demikian, tentu masih ada beberapa program yang perlu ditingkatkan untuk kemajuan masyarakat Badung. Oleh karena itu perjuangan saya belum selesai,” ujar Parwata. Tantangan ke depan dalam perjuangan demi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat akan makin berat. Maka dari itu, Parwata mengaku bakal m e m p e rg u n a k a n s e b a i k baiknya amanah yang telah diberikan kepadanya. “Kepercayaan dari masyarakat itu modal utama yang tidak boleh digadaikan
untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Politik itu seperti air mengalir yang muaranya kesejahteraan rakyat. Itu berarti sebagai seorang yang kembali mengemban amanah sebagai wakil rakyat, saya mesti bekerja keras demi kepentingan rakyat,” tegasnya.
Sejumlah program akan diusulkannya sebagai wujud komitmen pengabdian kepada masyarakat. Sebagai langkah awal, di APBD Badung 2015 pihaknya akan mengusulkan program penuntasan buta aksara dengan wajib belajar 12 tahun. Di bidang kesehatan, pelayanan kesehatan berupa peningkatan layanan program JKKB Manguwaras. Kemudian, pihaknya juga a k a n m e n d o r o n g p e m e rataan pembangunan melalui pemberdayaan UMKM dan koperasi. Sektor pertanian, kelautan mesti tetap diberikan prioritas untuk berkembang termasuk memfasilitasi sinergitas dengan sektor pariwisata. “Yang tak boleh luput pula, mendorong sektor pariwisata terus tumbuh. Badan Promosi Pariwisata Daerah perlu disupport terus menerus untuk mewujudkan target destinasi yang berkesinambungan dan sekaligus mampu mewujudkan keseimbangan Badung Utara dan Badung Selatan. Di sisi lain, pajak hotel dan restoran secara online mesti dimaksimalkan supaya tidak ada manipulasi pajak dan target pendapatan dari pajak bisa meningkat. Saya yakin jika semua sektor digerakkan dengan tentunya didukung partisipasi masyarakat, Badung yang santhi dan jagadhita bakal segera terwujud,” kata pengusaha di bidang properti itu. l Dedy
18 - 24 Agustus 2014
15
OPINI
Menyelaraskan Kehidupan Sosial
M
asyarakat Indonesia di zaman reformasi, khususnya akhir-akhir ini, mengalami ketertekanan sosial politik sangat tinggi. Karena itulah harus ada upaya-upaya untuk memberikan semacam ‘pengobatan’ kepada masyarakat agar stabilitas mentalnya tidak terganggu. Harus juga ada pihak-pihak yang mau memberikan sumbangan pikirannya demi memberikan ketenangan kepada masyarakat. Sudah waktunya para elite budaya, orang-orang yang berpikiran pada jalur positif di luar kekuasaan memberikan sumbangan demi memperbaiki mental masyarakat. Secara teoretik, jagat seni akan mampu memberikan sumbangan paling berarti kepada masyarakat. Dalam kehidupan akademik dan kelimuan, sering tiga faktor yaitu, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dipandang sebagai wilayah yang mampu membantu meringankan kehidupan masyarakat. Dengan ilmu dan pengetahuan masyarakat akan memiliki cara pandang lebih luas dalam melihat sesuatu sehingga mampu menjalani kehidupan lebih baik. Dengan pengetahuan agama yang luas, tentu tidak harus membuat ritual jelimet atau memilih cara ekstrem menganut paham keagamaan. Pengetahuan justru harus membuat beban hidup menjadi lebih ringan. Melalui teknologi manusia mampu melindungi dirinya dari ancaman kehidupan. Rumah jelas merupakan hasil teknologi, demikian juga kendaraan atau perlengkapan rumah tangga. Seni adalah upaya meringankan beban sosial di kala sedang mengalami tekanan-tekanan kehidupan. Seni juga memperkenalkan strategi untuk menyisai kehidupan, untuk menghaluskan pikiran dan sebagainya. Orang menonton film misalnya, tidak sekadar untuk melihat aksi sang aktor tetapi bagaimana seni menyelesaikan masalah yang ditampilkan film tersebut. Mendengarkan musik favorit jelas berguna untuk mengurai dan mencairkan pikiran kusut. Ketiganya
16
18 - 24 Agustus 2014
Oleh GPB Suka Arjawa
menyatu untuk menyelaraskan kehidupan sosial. Dengan konteks demikian dan dikaitkan dengan keadaan sosial politik sekarang, maka jagat seni haruslah mampu memberikan sumbangan berarti kepada masyarakat. Dalam konteks pemerintah, baik yang ada di pusat maupun daerah, pementasan seni gratis kepada masyarakat di ruang-ruang terbuka, secara periodik setiap minggu misalnya, akan berguna memberikan keringanan tekanan mental tersebut. Ruang pameran seni, ruang seni dan tempat-tempat pariwisata sebaiknya menurunkan tarif untuk memberi kesempatan kepada rakyat mengakses lebih banyak wilayah-wilayah santai itu. Diskusi-diskusi soal makna seni juga penting dilakukan agar orang lebih banyak tahu tentang pemaknaan seni. Apabila di masa krisis dan tekanan sosial politik ini, ruang-ruang seperti yang disebutkan di atas justru meminta bayaran lebih, merupakan langkah yang
keliru. Sangatlah beruntung saat pemilu capres-cawapres yang lalu, berlangsung saat hari raya Idul Fitri (atau mungkin ini sudah direncanakan). Masyarakat yang stres dengan hasil pemilu, terutama di kota-kota besar, mampu mencairkan suasananya di kampung dengan berwisata ke tempat favorit. Dunia olahraga pun harus digalakkan. Olahraga, di samping mampu memberikan ruang kesegaran secara fisik, dan dengan demikian mengurangi ketegangan, juga merupakan ajang saling kontak sosial. Bahkan untuk mengekspresikan perasaan. Pertandingan sepak bola misalnya, akan mampu membuat orang berteriak sekaligus mengekpresikan perasaan. Ini merupakan ajang untuk mengurai tekanan psikologis. Kontak sosial antara penonton bisa menambah sahabat baru dan dengan itu akan mampu melakukan diskusi yang lebih mendalam. Ruang-ruang publik sebaiknya juga dibuka lebih besar. Kenyamanan ini terasa terusik akhirakhir ini. Kita rasakan, rasa nyaman itu kurang, misalnya setelah teroris berkalikali mengganggu kita. Pada bidang politik, persaingan di antara partai politik semakin memuncak. Itu juga yang membuat rasa nyaman kita berkurang. Kita merasakan hal itu kalau mau jujur. Kita sangat menghargai kelompok atau individu bahkan juga korporasi yang bersedia menyumbangkan kelebihan yang dimilikinya untuk menekan ketegangan dalam masyarakat. Kita menyambut hiburan seni yang dilakukan oleh grup lawak yang pergi ke desa-desa atau membuka hiburan di pasar malam. Bagi mereka yang menyukai olahraga, masih mampu menurunkan tingkat ketegangannya dengan menonton pertandingan sepak bola. Liga-liga Eropa yang demikian menarik, akan mulai diputar pertengahan Agustus ini. Apa boleh buat politisi ternyata tidak mampu memberikan rasa nyaman, terpaksa hal itu diambil alih oleh kelompok sukarelawan.
J A J A K P E N DA PAT
Meragukan Efektivitas Perda Zonasi
A
liran investasi masuk Bali diyakini telah menyuburkan kolusi. Hal ini terlihat dari terabaikanya kawasan jalur hijau dan menguatnya toleransi terhadap alih fungsi lahan. Perda Zonasi juga diyakini tak akan efektif menekan pencaplokan kawasan jalur hijau. Kuat kecenderungan, Ranperda Zonasi yang kini dibahas DPRD Bali hanya akan menjadi regulasi untuk melegalkan alih fungsi ruang hijau untuk pemukiman, hotel termasuk ruko. Menyikapi fakta ini, Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat di seluruh Bali. Jajak dilakukan dengan mengajukan kuisioner dan wawancara via telepon. Responden ditanya tentang efektivitas perda tata Ruang untuk menjaga alam Bali. Menyikapi hal ini responden mengaku tidak yakin perda ini akan efektif. Terdapat 55 persen responden menilai Ranperda Zonasi ini hanya untuk melegalisasikan kepentingan oknum dan pemilik modal. Indikasinya, sejak awal pembahasan penyusunan ranperda ini sarat masalah. Responden mencurigai pasal-pasal dalam ranperda ini juga tidak akan tegas mengatur peruntukan ruang, melainkan banyak disusupi pasal karet. Sedangkan, 39 persen responden lainnya menyakini ranperda ini akan mampu menjadi solusi mengatasi pelanggaran tata raung. Responden meyakini, eksekutif dan legislatif masih memiliki nurani untuk menyelamatkan alam Bali. Untuk itu, sebelum ditetapkan menjadi Perda, Ranperda ini harus disosialisasikan secara terbuka kepada publik. Semua komponen harus diberikan ruang untuk sumbang saran untuk optimalasai pengaturan
tata ruang dalam ranperda ini. Sedangkan, 6 persen responden lainnya tak memberikan komentar atas hal ini. Umumnya mereka mengaku belum tahu isi ranperda Zonasi yang kini dibahas di DPRD Bali. Sedangkan terkait dengan pelanggaran jalur hijau, dominan responden menilai pemerintah belum melakukan langkah nyata dalam menindak pelanggaran jalur hijau. Sebanyak 61 persen responden meyakini ada kompromi antara pemilik modal dan penguasa. Penguasa bahkan terkesan melakukan pembiaran terhadap pencaplokan kawasan jalur hijau. Di pihak lain, 30 persen responden
mengatakan pemerintah sudah melakukan langkah-langkah untuk menekan alih fungsi jalur hijau. Pemerintah telah selektif merekomendasikan izin bangunan. Masyarakat jangan hanya menyalahkan pemerintah dalam hal ini. Beralihfungsinya jalur hijau untuk pemukiman, toko dan vila juga karena kontribusi pemilik yang menjual lahannya. Kondisi inilah yang sulit diatur dan diawasi hanya berbekalkan aturan kawasan jalur hijau. Selebihnya, 9 persen responden tidak memberikan respons atas hal ini. l Dira Arsana
Yakinkah anda pembuatan raperda zonasi akan mampu meminimalkan pelanggaran jalur hijau?
55% Tidak Yakin
39% Yakin
6% Tidak Tahu N: 651 grafis/tomik cahya
18 - 24 Agustus 2014
17
PENDIDIKAN
Belasan Tahun Belajar di Gedung Rusak
P
erkembangan daerah kepulauan Nusa Penida jauh tertinggal dari belahan lain daratan Pulau Bali. Minimnya pembangunan infrastruktur telah melahirkan generasi yang tertinggal di segala bidang. Salah satunya bidang paling vital di dalam kehidupan masyarakat, yakni pendidikan. Masalah ini tercermin dari kondisi infrastruktur yang masih jauh dari kondisi layak sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar. Seperti yang dialami masyarakat di Desa Tanglad, salah satu desa di sekitar perbukitan kepulauan Nusa Penida. Di desa yang jauh dari pusat keramaian itu berdiri
Sudiana saat ditemui di sekolahnya mengatakan, rata-rata gedung di sekolahnya dibangun sejak tahun 1994. Kerusakan mulai terjadi pada tahun 1997. Sejak saat itu, perbaikan belum pernah dilakukan. Selain sebagai SMP, gedung sekolah ini selama ini juga dipergunakan sebagai SMA Negeri Satu Atap Nusa Penida di Tanglad. Hal itu sebagai salah satu jalan untuk mencegah siswa putus sekolah usai lulus SMP. Sebab, letak sekolah setingkat SMA di Nusa Penida di wilayah lain cukup jauh. Salah satu bagian gedung yang rusak, antara lain paling parah terjadi di ruang keterampilan yang berdampingan dengan ruang guru.
MBP/bagiarta.
Salah satu bagian gedung yang rusak di SMPN 5 Nusa Penida. Tampak plafonnya jebol dan ruangan yang berantakan saat didatangi Bupati Klungkung.
sejumlah gedung, tempat dilaksanakannya kegiatan belajar-mengajar sehari-hari warga Tanglad. Kompleks gedung itu adalah tempat SMPN 5 Nusa Penida. Di sekolah ini, sejumlah gedung tempat belajar mengalami kerusakan. Ternyata, infrastruktur di sekolah ini sudah belasan tahun rusak. Sayangnya, gedung SMP satu-satunya di Desa Tanglad itu belum pernah diperbaiki hingga tuntas. Kepala SMPN 5 Nusa Penida Komang
18
18 - 24 Agustus 2014
Kondisinya sangat memprihatinkan, di mana plafonnya sudah banyak yang jebol. Selain itu, bagian atapnya yang tersusun dari seng juga sudah mulai karatan dan keropos. Selain di ruang keterampilan, kondisi serupa juga terjadi di ruang kelas VII B dan X IPS, di mana plafonnya juga tampak jebol. Sudiana mengaku dalam beberapa tahun terakhir, sekolah sempat mendapat bantuan. Namun, belum mampu menutupi seluruh kerusakan di sekolah itu. “Bantuan
pernah ada, kami langsung arahkan untuk perbaikan ruang belajar dan lantainya, agar anak-anak tidak terganggu belajarnya,� ujarnya. Dia berharap kepada pemerintah daerah saat ini lebih memperhatikan kondisi sekolah di Nusa Penida. Terlebih, kondisi sekolahsekolah di sana sangat jauh berbeda dengan kondisi sekolah di Klungkung daratan yang sudah serba berkecukupan. Setidaknya, perhatian itu mulai dilakukan dengan melakukan perbaikan infrastruktur pendidikan secara bertahap agar kesenjangan antara daratan Pulau Bali dengan kepulauan Nusa Penida tidak makin jauh dan menghambat semangat tinggi masyarakat setempat untuk belajar. Saat ini sekolah ini memiliki anak didik sebanyak 181 siswa tingkat SMP dan 184 siswa tingkat SMA. Mereka kini mengharapkan agar sekolah mereka menjadi lebih layak sebagai tempat kegiatan menuntut ilmu untuk menyongsong masa depan. Bupati Klungkung Nyoman Suwirta mengakui kondisi sekolah di Nusa Penida, sebagian besar masih memprihatinkan. Kondisi di SMPN 5 Nusa Penida, hanya sekelumit kecil dari jeritan masyarakat Nusa Penida, akan kondisi infrastruktur pendidikan di Nusa Penida. Dia sempat meninjau langsung kondisi sekolah itu dan bertemu dengan kepala sekolah, guru-guru dan siswanya. Menurutnya, kondisi seperti ini akan membuat situasi belajar kurang kondusif. Untuk itu, setelah persoalan di sekolah ini diinventarisasi, pihaknya menegaskan akan mengupayakan dianggarkan pada APBD Induk 2015, untuk menghindari adanya ketimpangan yang semakin besar antara Klungkung Daratan dengan Nusa penida. Pihaknya akan berupaya meyakinkan lembaga dewan, agar bersama-sama membangun pendidikan di Nusa Penida. “Pendidikan di Nusa penida ini tidak boleh terus-terusan seperti ini. Kami berkomitmen untuk mengubah wajah pendidikan di daerah ini,� tegasnya. l Bagiarta
Undhira Bali
Cetak SDM Cerdas dan Berkarakter Universitas Dhyana Pura (Undhira) Bali, usianya masih sangat muda. Pada 7 Juli 2014 lalu genap berusia 3 tahun. Kendati berusia muda, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tingginya boleh dikatakan berjalan mantap. Salah satu buktinya, ketiga belas program studi (prodi) yang dimilikinya kini sudah terakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Bahkan, Undhira juga sedang mempersiapkan borang akreditasi institusi. Undhira Bali awalnya bernama Pusat Pendidikan dan Latihan Pariwisata (PPLP) Dhyana Pura, berdiri tahun 1987. Kemudian pada 2001 menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Dhyana Pura dan pada tanggal 7-7-2011 menjadi Undhira Bali. Kampus Undhira berlokasi di Jalan Padang Luwih, Banjar Tegaljaya, Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung. Kampus hijau yang ber-tagline “Morning of the world’’ ini memiliki 1 PPLP dan dua Fakultas yaitu Fakultas Ekonomika dan Humaniora dan Fakultas Kesehatan Sains dan Teknologi. Fakultas Ekonomika dan Humaniora memiliki Prodi Manajemen, Manajemen Pemasaran, Psikologi, Sastra Inggris, PG PAUD dan PKK. Sedangkan, Fakultas Kesehatan Sains dan Teknologi memiliki Prodi Kesehatan Masyarakat, Ilmu Gizi, Fisioterapi, Perekam dan Informasi Kesehatan, Biologi, Sistem Informasi dan Prodi Teknik Informatika. Sementara PPLP Dhyana Pura memiliki program sertifikat 1 tahun, 2 tahun dan 3 tahun. Program 1 tahun meliputi Kantor Depan (Front Office), Tata Hidangan (F&B service), Tata Graha (Housekeeping) dan Tata Boga (Kitchen). Program Sertifikat 2 tahun meliputi Tata Boga, Tata Hidangan, Food and Beverage, Public Relations and Secretary, Tours and Travel dan Akomodasi Perhotelan. Program sertifikat 3 tahun meliputi Manajemen Food and Beverage dan Manajemen Akomodasi Perhotelan. Membanggakan, PPLP Dhyana Pura telah terakreditasi dengan nilai A. Undhira Bali di bawah naungan Yayasan Dhyana Pura yang sekarang diketuai Dr. I Wayan Damayana, S.Th., M.Si. dipimpin oleh Rektor Dr. dr. Made Nyandra, Sp.KJ., M. Repro. Dibantu Wakil Rektor I IGB. Rai Utama, S.E., M.MA., M.A., dan Wakil Rektor II Made Darmayasa, S.E., M.M., Sedangkan Fakultas Ekonomi dan Humaniora dipimpin Dekan GN Joko Adinegara,
S.E.,M.A., dan Fakultas Ilmu Kesehatan Sains dan Teknologi dinakhodai Dekan dr. Bambang Hadi Kartiko, MARS. Direktur PPLP Dhyana Pura dipercayakan kepada I Gede Agus Mertayasa. Rektor Undhira Dr. Made Nyandra mengatakan, awal tahun 2014, Undhira mulai membangun kepercayaan diri dan integritas. Itu diharapkan dapat mendukung visi dan misi Undhira menuju perguruan tinggi teladan dan unggulan. Dalam bidang pengajaran, Undhira telah menunjukkan capaian yang membanggakan di usia mudanya yaitu telah berhasil meluluskan sejumlah sarjana. Demikian
tinggi seperti AFS, Lynn University, Uniba Solo, Momoyama Gakuin, Singapore Management University dan sebagainya. Guna menghasilkan lulusan SDM yang cerdas berkarakter, Undhira memantapkan pendidikan karakter yang dikenal dengan 7 karakter Undhira. Menurut Rektor Made Nyandra, pendidikan karakter sangat penting dalam pengembangan diri generasi penerus bangsa guna meningkatkan kedewasaan dan aktualisasi diri. Undhira Bali mengambil bagian dalam pembangunan karakter bangsa melalui jalur pendidikan, dengan cara mempersiapkan mahasiswa dan seluruh civitas akademika
Rektor Dr. dr. Made Nyandra, Sp.KJ., M. Repro. (tengah), bersama Wakil Rektor I IGB. Rai Utama, S.E., M.MA., M.A. (kiri), dan Wakil Rektor II Made Darmayasa, S.E., M.M.(kanan)
pula di bidang penelitian, para dosennya juga telah gencar melakukannya. Bahkan berhasil mendapatkan hibah penelitian dari Dikti. Tahun 2014 misalnya, dosen Undhira mendapatkan 18 hibah penelitian. Di bidang pengabdian pada masyarakat, Undhira memiliki sejumlah program pengabdian di antaranya “Family College” berupa pemberian pendidikan pola asuh, perkembangan anak serta peran keluarga, sehingga generasi mendatang dapat lebih berkualitas. Undhira juga memiliki program pendidikan untuk kalangan usia lanjut yang dikenal dengan Program Hello In People— Health long life and intellectual people. Program ini terbukti mampu menurunkan score depresi dan meningkatkan kualitas hidup lansia secara signifikan. Untuk menjadi perguruan tinggi teladan dan unggul, Undhira telah bekerja sama dengan berbagai lembaga dan perguruan
melalui penanaman nilai-nilai luhur karakter bangsa. Sebagai universitas baru, sejak awal Undhira mengedepankan pendidikan dan pengembangan karakter, baik dalam bidang akademik dan non-akademik melalui Tujuh Karakter Undhira yakni kepercayaan diri (self confidende), integritas (integrity), keberagaman (pluralism), kewirausahaan (intra-enterpreneurship), kepemimpinan yang melayani (servant leadership), profesionalitas (professionalism) dan mendunia (global). Untuk itu setiap Hari Rabu, Undhira mengimplementasikan pembelajaran karakter melalui “Rabuan”. Setiap Rabu, tak ada kuliah akademik, tetapi hari itu khusus untuk pendidikan karakter. Melalui hari yang dikhususkan untuk pembelajaran karakter itu, pembentukan dan pengembangan karakter tersebut diharapkan dapat meningkatkan softskill dan daya saing lulusan Undhira. l Subrata 18 - 24 Agustus 2014
19
MANCANEGARA
Sejarah Kelam Jack The Ripper
D
i akhir tahun 1800-an muncul kasus pembunuhan berantai yang menggemparkan dunia. Seorang pembunuh melakukan serangkaian kejahatanya di London. Ke semua korban adalah wanita pekerja seks komersial yang dibunuh dengan tubuh dicabik-cabik. Pembunuhan tersebut terjadi begitu ‘mulus’ dan tidak meninggalkan petunjuk sedikit pun. Inilah yang membuat polisi kesulitan menangkap si pelaku. Jangankan menangkap, mengungkapkan identitas pun tak mampu. Penduduk yang bertempat tinggal tidak jauh dati TKP mengaku tidak mendengar suara teriakan atau melihat hal-hal yang mencurigakan. Tiba-tiba saja mereka dihebohkan dengan penemuan mayat wanita dalam kondisi mengenaskan. Dari hasil otopsi, beberapa mayat ditemukan kurang dari setengah jam setelah dibunuh. Dari kejadian inilah si pembunuh mendapatkan gelarnya yakni Jack The Ripper yang artinya Jack Si Pencabik. Dalam peristiwa yang terjadi di tahun 1888 tersebut tidak terdapat pola pasti. Korban disembelih, ditikam, tubuh dibelah, dicabik-cabik, dan organ-organ dalamnya dikeluarkan. Satu-satunya petunjuk semua korban adalah wanita tuna susila. Nama Jack muncul ketika polisi
20
18 - 24 Agustus 2014
mendapatkan surat dari seseorang yang menamakan dirinya Jack The Ripper. Dia mengaku sebagai pelaku atas rentetan pembunuhan sadis itu. Awalnya, polisi tidak terlalu menggubrisnya karena mereka kerap mendapatkan surat yang mengaku-ngaku sebagai pelaku pembunuhan. Namun, di surat berikutnya, Jack berhasil menarik perhatian polisi. Dia berjanji akan mengirimkan potongan telinga salah satu korbannya sebagai bukti jika dia memang pelakunya. Selain berjanji, Jack juga membuat joke, “They say I’m a doctor.... ha... ha... ha...” Ternyata Jack menepati janji. Akan tetapi, bukan kuping yang diterima, melainkan ginjal manusia yang telah diformalin. Kiriman tersebut bertuliskan From Hell. Total ada 11 pembunuhan oleh Jack The Ripper, pembunuhan Mary Ann Nichols, Annie Chapman, Elizabeth Stride, Catherine Eddowes dan Mary Jan Kelly disebut sebagai lima kasus kunci karena sama-sama terjadi di area kecil Whitecpael di London. Pada 14 Agustus 1888, Annie Chapman ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan di Whitechapel. Kulit perut Annie dibedah dan organ-organnya dikeluarkan. Beberapa saksi mata mengaku sempat melihat Annie tengah bercengk-
erama dengan seorang laki-laki berkulit gelap, memakai topi pemburu rusa dan berjubah hitam. Akhir Agustus di tahun yang sama, Mary Ann Nichols ditemukan tewas di Whitechapel, East End. Wanita itu mengalami luka tikaman pada beberapa bagian tubuh, perutnya dibelah, dan pada rahang kiri ada sayatan menggunakan benda runcing. Pada 30 September 1888, Elizabeth Stride ditemukan tewas berlumuran darah di Dulfield Yard dengan bekas cekikan di leher. Pada hari yang sama, di tempat bebeda kira-kira 1,6 km dari lokasi penemuan mayat Elizabeth ditemukan mayat lain, yakni wanita bernama Catherine Eddowes. Wanita malang ini ditemukan dalam keadaan tewas berlumuran darah, ada bekas cekikan di lehernya. Korban berikutnya adalah Mary Jane Kelly. “Ginger”, nama panggilan M.J. Kelly, juga ditemukan dengan kondisi yang sama mengerikannya dengan korbankorban lainnya. Jasadnya ditemukan pada 9 September 1988, di kamar sewaannya yang berlokasi di Miller’s Court, off Dorset Street, Spitalfields. Hingga kini misteri Jack The Ripper belum terpecahkan. l Gugiek Savindra
Kisah Cinta yang Abadi Cinta abadi, itulah yang mungkin dapat menggambarkan kondisi pasangan ini. Menjalani hidup susah dan senang bersama. Hingga saat ajal tiba, juga masih bersama. Tangan keduanya berpegangan. Pasangan suami istri, Don dan Maxine Simpson yang menghembuskan napas terakhirnya pada hari yang sama setelah menikah selama 62 tahun. Menurut cucu perempuan pasangan itu, Melissa Sloan, pasangan Simpson asal Bakersfield, Negara Bagian California itu meninggal kira-kira hanya berbeda 4 jam. Semasa hidup mereka, Maxine (87) menderita kanker kandung kemih, sedangkan Don (90) berjuang melawan Alzheimer dan menderita patah tulang panggul dan radang paru seminggu sebe-
lum dia meninggal. Pasangan ini tinggal di Bakersfield sejak awal tahun 1950-an, walaupun keduanya bukan lahir di California. Mereka diperkenalkan oleh teman di tempat main bowling. Don melamar enam bulan kemudian dan mereka menikah tahun 1952. Setelah menikah keduanya pindah ke Jeman, di mana Don bekerja sebagai insinyur sipil untuk Angkatan Darat Amerika Serikat. Selagi berada di sana, keduanya mengadopsi dua orang putra dari suatu rumah yatim piatu Jerman. Usai kembali ke Bakersville, Don menjalankan kantor insinyur sipil sendiri, sedangkan Maxine bekerja sebagai seorang jururawat. Pada Juni 2014 lalu, pasangan yang sudah lanjut usia ini pindah ke tem-
pat cucunya, Sloan, supaya dekat dengan keluarga mereka. Don kemudian masuk rumah sakit untuk perawatan tulang panggul dan radang paru, namun Sloan memintanya kembali ke rumahnya pada 19 Juli dan menempatkan ranjangnya di sebelah ranjang Maxine. Maxine meninggal pada pukul 07.00 waktu setempat. Pada sekitar jam 10.00 pagi, Sloan melihat pernapasan kakeknya semakin sesak dan tidak lama kemudian dia meninggal dunia “Ketika jenazah nenek hendak dibawa, kakek juga sudah tidak bernyawa,� ujar Sloan. Kisah yang sangat menyentuh ini tentu dapat menjadi inspirasi pada banyak orang. l Gugiek Savindra
18 - 24 Agustus 2014
21
DAERAH
Bisnis Pariwisata Bodong Rongrong Hutan Mangrove
U
paya pelestarian hutan mangrove kini semakin mendapat tantangan berat. Selain mangrove di Teluk Benoa, ancaman serupa kini juga dihadapi mangrove di wilayah kepulauan Lembongan dan Jungut Batu, Klungkung. Pesatnya perkembangan pariwisata di tempat ini, membuat para pemodal asing dan lokal berlomba-lomba mendirikan akomodasi pariwisata tanpa izin. Hingga merongrong kelestarian hutan mangrove. Fenomena itu mulai nampak dalam beberapa bulan terakhir. Salah satunya terindikasi adanya upaya pengerukan habitat hutan mangrove, seperti yang tampak di pesisir pantai Telatak Jungut Batu sejak Juni lalu. Namun, baru menuai pro kontra
kecolongan. Sebab, pembangunannya tanpa izin alias bodong. Diyakini, hal serupa sebenarnya sudah marak sejak dulu. Namun, minim monitoring dan penanganan. Ketua BPD Desa Jungut Batu, Made Wardita saat dihubungi mengaku sempat merespons aktivitas yang mengancam kelestarian mangrove itu. Setelah berkoordinasi dengan anggota BPD Jungut Batu, mereka memanggil para pekerjanya dan pihak yang meminta mereka mengerjakan dermaga boat itu. Pihak BPD mempertanyakan, apakah pembangunannya sudah mengantongi izin dari instansi terkait. Di dalam pertemuan itu, terungkap rencana pembangunan dermaga ini untuk tempat sandar boat dari usaha Rocky Fast Cruise yang
Salah satu akomodasi pariwisata yang berdiri di atas bukit Lembongan Jungut Batu. Sejumlah pengelola pariwisata menuding banyak akomodasi pariwisata yang berdiri di atas tanah negara.
di tengah masyarakat setempat pada awal Agustus. Hal itu menyusul adanya laporan dari berbagai kalangan ke telinga Bupati Klungkung Nyoman Suwirta. Laporannya, berupa pembangunan dermaga boat yang telah mencaplok ratusan pohon mangrove dengan cara mengeruk menggunakan satu alat berat eskavator. Ironisnya, Pemkab Klungkung terus
22
18 - 24 Agustus 2014
dikelola Made Senaya dan kakaknya Made Senuya. Pengelola menuturkan pembangunan dermaga boat itu, untuk mengantisipasi adanya gelompang pasang di sekitar perairan Jungut Batu. Sehingga, ketika dermaga lain tidak bisa dimanfaatkan, dermaga itu nantinya bisa difungsikan. Namun, pihak BPD mengkhawatirkan
pembangunan dermaga bodong serupa diikuti oleh pengelola boat lainnya di Jungut Batu. Dengan demikian, mengkhawatirkan makin banyak hutan mangrove menjadi korban. Menerima banyak pengaduan, Bupati Klungkung Nyoman Suwirta sempat meninjau langsung lokasi pembangunannya. Tiba di lokasi, Bupati Suwirta melihat hutan mangrove telah dikeruk dengan alat berat eskavator. Tampak bekas kerukan itu menggunung di sekitarnya. Malah, apesnya usai mengeruk, satu alat itu tenggelam di laut, tidak jauh dari lokasi pengerukan. Bupati langsung meminta pengelola boat menghentikan aktivitas pembangunan dermaga ini. Selain karena belum berizin, mangrove di Jungut Batu adalah kawasan hutan lindung. Sedikit pun tidak boleh diutakatik. Bahkan, mangrove dan sekitarnya baru saja ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan (KKP) oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan RI. Perbekel Jungut Made Gede Suryawan menyikapi masalah ini. Dia membantah pembangunan dermaga itu telah mencaplok hutan mangrove. Perbekel menyebut pembangunan dermaga oleh Rocky Fast Cruise ini dibangun di areal lahan pribadi. “Tidak ada lahan mangrove yang jadi korban. Tempat sandar itu dibangun di sekitar loloan (muara sungai),� katanya. Menanggapi masalah ini, akhirnya Bupati Suwirta memberikan solusi, agar pelaku pariwisata melakukan pertemuan lagi dan menyepakati dimana tempat yang dinilai layak dibangun dermaga boat alternatif. Sehingga, nantinya dibangun oleh pemerintah daerah dan dapat digunakan bersama-sama. Tujuan jelas, agar tidak semua pelaku pariwisata membangun dermaga boat sendiri-sendiri di sekitar hutan mangrove. “Dengan demikian, nantinya tidak akan timbul masalah dikemudian hari. Sebab, kalau dibangun perorangan, nanti dikhawatirkan timbul masalah baru, saat pemanfaatannya justru ditentukan oleh yang mendirikan,� katanya. l Bagiarta
Hutan mangrove yang terindikasi dikeruk untuk tempat sandar boat. Tampak gundukan tanah hasil dari pengerukan dan satu alat berat tenggelam di tengah laut.
Tanah Negara pun Dicaplok
Masalah pengerukan habitat mangrove ini, memicu pengelola akomodasi pariwisata melayangkan protes kepada pemerintah daerah. Sebab, persoalan selain itu, pembangunan akomodasi oleh investor selama ini juga telah mencaplok tanah negara, baik di Jungut Batu maupun Lembongan. Masalah ini mencuat ketika Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Klungkung membuka dialog bersama seluruh pengelola akomodasi pariwisata setempat. Dalam pertemuan itu, salah satu pelaku pariwisata Nyoman Sumiana, mengeluhkan selama ini upaya pemerintah daerah nampak kontradiktif dengan aktivitas pembangunan akomodasi pariwisata di Lembongan dan Jungut Batu. “Banyak zona terlarang untuk membangun akomodasi pariwisata, justru dilanggar,” katanya. Bahkan, protes keras dengan adanya indikasi tanah negara dimanfaatkan untuk membangun akomodasi pariwisata oleh sejumlah pelaku pariwisata. Selain mengeluhkan itu, dia juga meminta solusi dari pemerintah daerah. Agar nantinya akomodasi pariwisata yang terlanjur melanggar peraturan, dapat kebijakan pemerintah untuk beroperasi lagi. Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Made Sudiarkajaya, berjanji
akan mengecek tanah negara yang serobot investor untuk membangun akomodasi pariwisata tersebut. Keberadaan akomodasi bodong alias tak berizin di sekitar Lembongan dan Jungut Batu masih cukup banyak. Sudiarkajaya mengatakan setelah dilakukan pendataan terakhir oleh Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu, tercatat dari 126 akomodasi pariwisata, 67 diantara belum mengantongi izin. Pihaknya menekankan, kepada pelaku akomodasi pariwisata yang belum mengurus izin, agar secara sadar mengurus izin ke kantornya. Sebab, ke depan pihaknya menegaskan akan berupaya terus menertibkan akomodasi pariwisata agar melakukan proses permohonan izin. “Tahun ini sudah ada lagi 12 izin sedang dalam proses. Kami dorong terus agar tetap tertib perizinan,” katanya. Selama ini, upaya penertiban usaha tanpa izin di kawasan pariwisata kepulauan Lembongan dan Jungut Batu, masih dinilai diskriminatif. Upaya penertiban, terkesan setengah hati tanpa tindak lanjut untuk benar-benar menegakkan aturan. Sehingga, masih saja ada pelaku pariwisata yang enggan mengurus izin. Anggota DPRD Klungkung asal Nusa Penida, Wayan Baru, justru mempertanyakan eksekutif,
mengapa baru mempersoalkan masalah perizinan, setelah banyak infrastruktur berdiri megah melabrak banyak aturan di wilayah Jungut Batu dan Lembongan. “Penertiban ini terkesan tebang pilih atau diskriminatif. Apalagi yang disasar hanya warga lokal, sementara milik warga asing dibiarkan,” katanya. Pihaknya sepakat mangrove harus dijaga bersama. Namun masalah perizinan pihaknya meminta agar diterapkan dengan sungguh-sungguh. Untuk menghindari usaha bodong semakin menjamur dan membahayakan kelestarian nangrove. Data di Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan, luas hutan mengrove di Klungkung mencapai sekitar 230,07 hektar. Seluruhnya berada di Lembongan dan Jungut Batu. Berkat komitmen warga setempat, sebenarnya sebelumnya hutan mangrove berkembang cukup baik. Bahkan, luas mangrove meningkat sekitar sepuluh hektar dalam beberapa tahun terakhir dari luas sebelumnya 220 hektar. Di lokasi ini dikatakan terdapat 13 jenis mangrove dan tujuh jenis tumbuhan asosiasi. Selain itu, juga dapat dijumpai lima jenis burung air dan 25 jenis burung darat di sekitar mangrove. l Bagiarta 18 - 24 Agustus 2014
23
K E S E H ATA N
Sehat, Cerdas, dan Mandiri
Lewat Sanggar Belajar Lentara Anak Bali
A
nak-anak sesungguhnya merupakan tunas-tunas muda yang akan membawa bangsa dan negeri ini lebih baik pada masa mendatang. Bung Karno, presiden pertama negeri ini meminta hanya 10 remaja terbaik dari negeri ini, sebagai agent of change dalam rangka membawa negeri ini mencapai prestasi dan prestise tinggi. Anak memang harus dipelihara dengan baik. Jangan sampai ada anak tidak terurus apalagi terlantar dan diekploitasi sebelum waktunya lantaran kendala ekonomi, orangtuanya sendiri. Komitmen, Sanggar Belajar Anak Lentara Anak Bali (SBALAB), bahwa pendidikan sebagai pembuka jalan terang bagi anak-anak itu di kemudian hari harus diberikan apa pun alasannya. Anak-anak itu wajib mengenyam pendidikan paling tidak baja tulis. Atas keprihatinan terhadap anak-anak terlantar itu, SBALAB yang memiliki home base di Pasar Badung, Denpasar, tidak saja memberikan pengobatan terhadap anak-anak yang mayoritas berasal dari Munti Gunung, Padahan Kaja dan Pedahan Kelod, Karangasem. Sanggar Belajar yang didirikan Dr. A.A. Sri Wahyuni, Ida Ayu Putu Purniadi, Dra. Luh Putu Anggreni, S.H., dan Yuniati Sunatari ini mendidik dan juga mengasuh 40 anak-anak sejak 2011 silam. Setiap hari Jumat dan Sabtu dari pukul 11.00 dan 13.00 wita anak-anak itu dirawat, jika ada yang sakit seperti pilek, kudis, batuk dan lain-lain. ‘’Awalnya kami biasakan mereka melakukan hidup bersih. Memotong kuku agar rapi dan tidak kotor. Mencuci tangan dengan sabun, gosok gigi, mengobati mereka kalau ada luka, borok dll,’’ ujar Ketua Harian Sanggar Belajar Anak, Lentara Anak Bali dr. A.A. Sri Wahyuni. Program selanjutnya, anak-anak itu diberikan baja tulis, berhitung dan juga
24
18 - 24 Agustus 2014
pelajaran hidup lainnya dengan cara lesehan di lantai IV Pasar Badung yang dikelola PD Pasar Kota Denpasar. Untuk membimbing anak itu disadari tidak gampang. Perlu usaha ekstra. Karena itu, satu anak itu dibimbing satu pendamping. ‘’Jika model pendekatannya seperti di sekolah SD konvensional maka proses transfer knowledge akan tidak nyambung. Mereka harus diperhatian secara seksama dan satu-satu. Untungnya banyak volunteer dari FK Unud Sastra Inggris dan Jepang , dan guru-guru lainnya ikut membantu,’’ ujarnya. Untuk memotivasi anak-anak itu, pihak Sanggar Belajar harus memberikan uang Rp 5 ribu sebagai pengganti waktu yang tersita dipakai membantu orangtuanya. ‘’Jika kami ajak tirta yatra dalam usaha meningkatkan semangat mendekatkan diri pada Tuhan maka uang penggantinya dua kali lipat lebih banyak,’’ tambah Sri Wahyuni. Pendidikan di Sanggar Belajar itu yang disebut Keaksaraan Fungsional, disetarakan dengan kelas IV SD, jadi mereka ingin mendapatkan ijazah SD, maka perlu mengikuti kejar paket A di SKB terlebih dahulu. Dengan anak didik yang beragam usia, pihak Sanggar Belajar ini berupaya mentransformasikan knowledge dengan maksimal dan sebaik-baiknya berdasarkan kelompok umurnya. ‘’Kurikulum yang kami desain sudah memenuhi aspek mental, kognitif dan psykomotor. Kendati demikian, kami sadari output-nya yang dihasilkan, memang jauh dibandingkan pendidikan formal pada institusi resmi. Namun apa yang dilakukan Sanggar Belajar Anak Lentara Anak Bali sudah all out dalam upaya menfasilitasi anak-anak itu menjadi lebih baik dalam segala segi,’’ tambahnya. Indikasinya, pihaknya mendapat apresiasi dari ber-
bagai lembaga dan perorangan. Banyak yang peduli dengan perkembangan anakanak itu dan juga kepada Sanggar Belajar ini. Seperti Dinas Sosial Kota Denpasar, Wali Kota I.B Rai Darmawijaya Mantra, Inti Bali serta anak-anak mahasiswa Unud. l Cittamaya
Perlu Transfer Pendidikan Komprehensif DI tengah menanjaknya grafik kesejahteraan warga terutama di Bali, masih banyak pula terdapat anak-anak yang diterlantarkan orang tuanya. Kenapa anakanak itu sampai diterlantarkan? Memang, banyak faktor penyebabnya anak-anak itu sampai terlantar. Salah satunya, lantaran faktor kemiskinan. Fenomena seperti ini tak bisa ditampik, masih saja terjadi di Bali. Atas kenyataan itu, Panti Asuhan Tat Twam Asi yang memiliki komitmen membesarkan anak-anak melakukan action nyata. Kongkretnya menerima anak-anak itu untuk dididik agar kelak taraf hidup mereka bisa lebih baik. Pengasuh Panti Asuhan Tat Twam Asi Ny. I. Gusti Ngurah Ketu, mengatakan anak-anak itu adalah tunas muda yang lagi mekar, tumbuh dan berkembang.
Anak itu merupakan generasi penerus bangsa, calon-calon menerima tongkat estafet pemimpin di negeri ini. Mereka memiliki potensi dan merupakan aset berharga, karena itu perlu mendapat perhatian serius semua pihak. Mereka perlu diberikan kasih sayang, sama dengan anak-anak lainnya. ‘’Kasihan mereka diterlantarkan. Mereka juga manusia kok. Mereka perlu perhatian, pendidikan dan lain sebagainya,’’ ujarnya Dengan komitmen itu, Yayasan Tat Twam Asi sejauh ini mendidik 44 anakanak di tempatnya. Mayoritas anak-anak itu mengalami masalah ekonomi di keluarganya. Karena itu, mereka dititip di panti asuhan ini. Di panti asuhan ini, mereka diasuh, dibiayai pendidikannya hingga anak itu
diupayakan benar-benar mandiri. Setelah anak mandiri, si anak tentunya harus mampu hidup tanpa bantuan panti asuhan itu lagi. ‘’Kami memang mengantarkan anak-anak itu bisa tumbuh fisiknya, kuat mentalnya dan memiliki tekad mandiri,’’ harapnya Dikatakan, untuk diterima di yayasannya itu memang harus melalui prosedur relative ketat. Anak yang mengalami masalah kemiskinan, anak yatim piatu sangat terbuka dimasukkan ke yayasan ini. Sudah pasti, harus disertai rekomendasi dari aparat desa tempat asal anak itu. Bukan saja anak miskin, yatim piatu, anak yang diterlantarkan akibat masalah orangtuanya seperti bercerai, anak tidak jelas asal-usulnya, berasal dari perkawinan tak sah, anak terbelit masalah keluarganya, banyak dititip dipanti asuhan ini. ‘’Salah satu syaratnya, mereka itu harus mendapat rekomendasi dari dinas sosial, serta ada surat pernyataan dari aparat desa,’’ pungkasnya . Memang tidak dengan cara sembarangan seorang anak dapat dititip di panti ini. Mereka harus mempunyai asal-usul jelas dan harus jelas pula penyebab anak itu ditelantarkan. Ini sangat penting sekali. Alasannya, pengurus panti tak ingin memberi peluang masyarakat bertindak di luar norma-norma susila dan agama. Pihak panti tidak ingin mendorong masyarakat tidak bertanggung jawab dan melakukan implementasi keliru di masyarakat dan juga di panti asuhan ini. Jika hal ini dilakukan, sudah tentu dapat memicu bertambahnya tindak dis-sosial di masyarakat. Dikatakan, karena panti asuhannya berdiri sendiri, kata Ny. Ketu dan tanpa ada kontribusi riil pemerintah, faktor dana juga menjadi perhitungan tersendiri. Karena itu, kontribusi positif juga diharapkan dalam upaya pendidikan anak–anak itu di panti asuhannya. l Cittamaya 18 - 24 Agustus 2014
25
MUSEUM
MBP/wan
MBP/wan
Museum Agung Bung Karno
Refleksi Sejarah dan Perjalanan sang Proklamator Pemikiran Bung Karno banyak ‘’terpahat’’ di sini. Bagaimana mempertahankan keutuhan bangsa ada juga di sini. Intinya, ajaran Bung Karno, kiprah dan citanya-cita ada di Mesum Agung Bung Karno.
B
erada di kawasan Civik Center, Renon Denpasar, menyebabkan museum Agung Bung Karno menjadi sangat strategis. Tak hanya letak, koleksi yang dipajang juga segaris dengan apa yang menjadi citacita Bung Karno. Museum Agung Bung Karno ini sudah diakui sebagai tempat yang memajang berbagai koleksi, buku-buku dan peninggalan yang terkait dengan putra sang fajar. ‘‘Sebagai pekerja sejarah, dan generasi republik ini sudah selayaknya mengabadikan dan memperjuangkan cita-cita pendiri
26
18 - 24 Agustus 2014
bangsa ini,’’ kata penggagas sekaligus pendiri Museum Agung Bungkarno Gus Marhaen. Museum yang terletak di Jl. Pegangsaan Timur 56, Renon, Denpasar itu, mendokumenkan berbagai alat perjuangan, berbagai benda bersejarah. Benda yang berada di museum ini kental dengan perjuangan bangsa Indonesia. Gus Marhaen mengatakan, sebagai pekerja sejarah, sudah selayaknya perjuangan Bung Karno dijadikan suatu acuan untuk menjaga negeri ini hingga menjadi bangsa yang besar, terhormat di mata internasional. Karenanya, dia mengajak generasi muda untuk meneruskan semangat Bung Karno, dengan ideologi yang diterapkan dalam memimpin bangsa ini. ‘’Sudah saatnya anak muda mengetahui arti penting sejarah berdirinya Republik ini. Di museum ini sudah lengkap tentang perjalanan hidup
Bung Karno. Sejarah bangsa Indonesia ada di sini. Museum ini milik Bali, museum ini milik masyarakat Indonesia,’’ tandasnya. Museum di bawah naungan Yayasan Kepustakaan Bung Karno (YKBK) ini memang kental dengan pribadi presiden pertama Republik Indonseia, Ir Soekarno. Dari lantai satu hingga lantai empat di atas tanah seluas empat are, semuanya berisi perjalanan hidup Soekarno, tonggak perjuangan, pemikiran-pemikirannya termasuk atribut yang dipakai Bung Karno dalam memperjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Selain buku-buku zaman dulu (terbitan 1859), terdapat juga foto-foto, pin pejabat yang terpasang di baju sang proklamator, kursi, pistol, radio, sepeda ontel, hingga tempat tidur yang digunakan Soekarno saat dia menjalani pengasingan.
MBP/wan
MBP/wan
MBP/wan
Dalam replikanya juga terdapat berbagai kata-kata Bung Karno yang dipahat di batu alam asli Yogyakarta, serta gambar kehidupan keluarga, termasuk semua anaknya ‘’terpahat’’ dalam batu. Di lantai museum itu juga terdapat berbagai benda bersejarah seperti mesin jarit yang digunakan untuk menjarit bendera sang Saka Merah Putih, replika perjalanan hidup Bung karno, seperti saat Bung Karno sekolah HBS di Surabaya tahun 1916, kuliah di ITB Bandung pada tahun 1925, Kongres Raya di Surabaya tahun 1932. Ada juga gambar yang tertulis di batu yang bertuliskan “Permunculan pertama Bung Karno setelah bebas dari penjara di Sukamiskin, Bandung,’’ Untuk menjaga keasliannya seperti kondisi pada tahun sebelum merdeka, koleksi benda bersejarah itu dipajang tanpa menggunakan rak buatan modern seperti saat
ini. Namun, disimpan berjejer di dinding museum yang terbuat dari batu bata merah. ‘’Ini untuk menunjukkan sejarah dan keasliannya,’’ katanya, sembari menunjuk kursi zaman Presiden Sukarno yang digunakan untuk menjamu menteri di era kabinetnya. Lantas, dari mana mendapatkan bendabenda asli yang melekat pada perjalanan hidup Bung Karno itu? Gus Marhaen mengatakan bahwa untuk memburu benda peninggalan Soerkarno atau yang berhubungan dengan perjalan sang proklamator itu tidak gampang. Selain memburu dengan cara sekala, yakni mencari informasi ke berbagai sumber, Gus Marhaen juga mencarinya dengan niskala. ‘’Ya, ini kita dapatkan dengan cara sekala dan niskala,’’ katanya. Apa yang dikatakan itu masuk akal memang. Pasalnya di lantai dua museum tersebut juga terdapat ruangan khusus yang digunakan untuk
menyimpan berbagai benda yang terbilang sakral. Ada keris, tongkat, serta benda asing lainnya. \ Dari banyaknya koleksi Bung karno, terlihat paling banyak adalah soal buku yang sampulnya sudah terlihat warnanya sudah mencoklat. Ejaan yang digunakan pun ejaan lama. Di sana juga terpajang koran zaman dahulu, baik terbitan lokal maupun nasional. Gus Marhaen mengatakan, koran atau pers tidak lepas dari kehidupan Bung karno. Bahkan zaman Soekarno, sertifikasi wartawan itu sudah ada. Itu juga menjadi pajangan di sebuah ruangan ber-ac yang ada di Museum Agung Bung Karno. ‘’Ini bukanlah kepentingan saat ini. Namun, bagaimana museum ini tetap ada dan diingat seribu tahun mendatang,’’ tegasnya. l Miasa 18 - 24 Agustus 2014
27
OLAHRAGA
Keputusan yang Membahagiakan Donovan
I
nggris kehilangan Steven Gerrard dan Jerman tak lagi dibela Phillip Lahm. Usai Piala Dunia 2014, satu per satu pemain-pemain berkarakter pensiun dari laga internasional dan konsentrasi di klub sebelum sepenuhnya berhenti dari kegiatan sepak bola. AS pun mengalami hal serupa saat salah satu pemain terbaiknya memutuskan untuk pensiun. Gelandang serang tim Stars and Stripes, Landon Donovan akan gantung sepatu di akhir musim kompetisi Liga AS (MLS). Pemain kelahiran Kalifornia 4 Maret 1982, menghasilkan 54 gol dalam 156
MBP/ap
Penyerang LA Galaxy Landon Donovan
28
18 - 24 Agustus 2014
kali memperkuat timas. Ia tercatat tampil di tiga Piala Dunia dan empat Piala Emas CONCACAF. Pemain bertinggi 173 sebenarnya tidak bergitu menonjol penampilannya. Namun rekan-rekan setimnya mengakui dia gesit, penuh talenta dan cerdik dalam melakukan penyelesaian akhir di depan gawang. Contohnya adalah saat ia mengelabui kiper Jerman Manuel Neuer pada laga tim All Stars melawan Bayern Munich yang berkesudahan 2-1 untuk pemain-pemain terbaik MLS itu. Sebagai penyerang yang kreatif dan kaya strategi dalam mengancam pertahanan lawan, Donovan berhasil menjadikan AS sebagai tim yang disegani di kawasan Amerika Utara, Tengah dan Karibia (CONCACAF). Selama ini Meksiko dipandang sebagai tim yang paling tangguh namun di kualifikasi Piala Dunia lalu, AS berhasil mengubah pandangan itu. Di klub, Donovan mengoleksi 5 gelar juara liga (MLS) di mana tiga di antaranya dihasilkan bersama LA Galaxy. Dua gelar lainnya bersama San Jose Earthquakes. Rekor tersebut dilengkapi dengan 138 gol yang menjadikan dia sebagai pemain tersubur dan berpengaruh dalam sejarah kompetisi MLS yang kini berumur 18 tahun. “Landon Donovan adalah salah satu sosok meyakinkan dalam sejarah sepak bola AS,� kata pelatih Galaxy, Bruce Arena kepada Reuters. “Pengaruhnya di MLS dan sepak bola di timnas akan berlanjut dan dirasakan oleh generasi mendatang,� lanjut mantan pelatih timnas AS itu. Namun tetap saja ada yang masih meragukan kehebatan Donovan. Ini bisa dipahami karena sepak bola bukan olahraga yang digemari di negeri tersebut. AS lebih menonjol kompetisi bola basket (NBA) atau sepak bola Amerika (NFL) sehingga kontribusi Donovan dkk belum terasakan di dunia olahraga negeri tersebut. Namun euforia sepak bola AS masih terasakan pasca-Piala Dunia 2014. Sehingga saat diselenggarkan turnamen Guinness
International Champions Cup yang melibatkan sejumlah klub top Eropa terjadi lonjakan drastis fans. Puncaknya adalah pada pertandingan Manchester United vs Real Madrid di Ann Arbor, Michigan yang disaksikan 109.318 penonton. Ini menjadi rekor tersendiri dan memecahkan pertandingan Olimpiade 1984 di Rose Bowl yang disaksikan 101.799 penonton. Bagi penggemar, Eropa adalah ujian sejati untuk menunjukkan kualitas seorang pesepak bola dunia. Dengan ujian berupa pertandingan yang digelar pekan demi pekan dan membentang sepanjang hampir 10 bulan menuntut kemampuan fisik dan konsentrasi tersendiri. Inilah yang tak nampak pada warisan yang ditinggalkan Donovan. Memang, dia pernah selama enam tahun tampil bersama klub Bayer Leverkusen dalam dua periode antara 1999-2005. Selama itu pula ia bermain hanya 35 kali termasuk 7 kali di Bundesliga dan menghasilkan 9 gol. Sisanya ia jalani dengan status sebagai pemain pinjaman di San Jose Earthquakes. Tampil 87 kali dan mencetak 32 gol selama empat musim. Ia kemudian di rekrut Galaxy dan dipinjamkan ke Bayern Munich pada 2009. Meski berniat berlama-lama di klub top Jerman itu, kontribusi Donovan minim dengan hanya tampil di 6 pertandingan tanpa menghasilkan gol. Akhirnya Bayern memutuskan lain dan memulangkan di ke Galaxy. Hal serupa juga terjadi pada 2010 dan 2012 saat ia dipinjamkan ke Everton. Ia memang menunjukkan niatnya untuk tampil lebih lama di kompetisi Liga Inggris. Tetapi kondisi itu menyulitkan Everton karena kontrak jangka panjang Donovan dengan Galaxy . Kegagalan Donovan di kompetisi Eropa, menjadikan dirinya sulit untuk menjadi bintang sepak bola dalam sejarah AS. Ia akan dikalahkan oleh dedikasi pemain lain seperti Clint Dempsey, Tim Howard dan Claudio Reyna yang mampu bertahan lama dan menjadi pemain yang disegani.
Penyerang LA Galaxy Landon Donovan mengangkat trofi kompetisi MLS dengan mengalahkan Houston Dynamo Carson, California, November 2011.
MBP/ap
Ujung tombak tim All Stars MLS Landon Donovan (no. 10) melepaskan tembakan yang menaklukkan kiper Bayern Munich Manuel Neuer (kiri) pada pertandingan persahabatan Providence Park, Portland, Oregon. Tim All Stars MLS menang 2-1. MBP/rtr
Di timnas ia dikenang karena keberhasilannya AS mencapai babak perempatfinal pada Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Kala itu ia berhasil menyabet gelar Best Young Player. Delapan tahun kemudian, ia mencetak gol menjelang akhir pertandingan yang membawa AS menang 1-0 atas Aljazair. AS yang dilatih Bob Bradley, melaju ke putaran kedua. Sukses itu dirayakan secara besar-besaran di dalam negeri dan gol kemenangan itu menyebar dengan cepat di jaringan online. Kesalahan utama Donovan adalah tidak cukup kuat menghadapi sistem latihan yang dikembangkan pelatih Juergen Klinsmann untuk Piala Dunia 2014. Ia
memutuskan pensiun sejenak dari timnas pada akhir 2012 dan awal 2013. Tindakan itu yang memaksa Klinsmaan secara kontroversial mencoretnya dari skuad AS yang diterjunkan di putaran final tidak Piala Dunia Brazil. Ia juga pernah mengeluhkan komitmen David Beckham ke Galaxy dalam kontrak besar dan jangka panjang. Ketegangan itu berhasil diredakan dan Donovan bersama Beckham berhasil mengantarkan Galaxy juara MLS pada 2012. Namun bagi fans Amerika, Donovan akan dikenang sebagai sosok pemain yang membawa negara itu ke tingkatan baru di sepak bola internasional. Ia juga membantu kompetisi MLS berkembang lebih luas dan
menjadi bagian dari negeri masyarakatnya yang gandrung kegiatan olahraga itu. “Inilah saat yang tepat bagi saya (untuk pensiun),” katanya di markas LA Galaxy. “Penting untuk membuat keputusan yang terbaik dalam hidup di mana itu membahagiakan untuk anda, teman dan keluarga anda serta yang paling utama untuk kebahagiaan anda sendiri.” Selanjutnya, ia tetap berkecimpung dalam sepak bola dengan mengembangkan sepak bola bagi anak-anak. Bisnis ini telah dijajaki dengan mengungkapkan rencananya membangun akademi sepak bola bersama Presiden Galaxy Chris Klein. l Yudi Winanto 18 - 24 Agustus 2014
29
OLAHRAGA
I Made Sony Kawiarda
Anggaran untuk Sepak Bola Bali pernah memiliki klub sepak bola Caprina yang bermain di kompetisi Galatama dan Gelora Dewata yang berkecimpung Liga Indonesia. Setelah Caprina bubar dan Gelora Dewata dipindahkan pemiliknya M. Mislan ke Sidoarjo, Jawa Timur, publik bola Pulau Dewata kemudian dihibur oleh kehadiran Persegi Bali FC. Namun, sejak Persegi Gianyar terdegradasi dari Liga Indonesia, tidak ada lagi klub asal Bali yang berlaga di liga tertinggi di Tanah Air sampai sekarang. Dua tim terbaik Bali saat ini, Perseden Denpasar dan Persatuan Sepak Bola (PS) Badung, tengah berjuang di babak 12 besar Divisi I. Jika kedua kesebelasan ini mampu promosi, berarti tahun depan sudah berkiprah di Divisi Utama. Jika semuanya lancar, baru pada 2016 mendatang pencinta sepak bola di Bali bisa menikmati pertandingan Indonesia Super League (ISL) di daerah sendiri. Padahal, masyarakat bola di kota dan delapan kabupaten sangat merindukan adanya tim Bali yang bermain di kompetisi level tertinggi di Indonesia. Pengamat sepak bola I Made Sony Kawiarda menjelaskan, salah satu faktor terbesar yang menghambat kemajuan sepak bola di Bali adalah tidak adanya dukungan dana dari pemerintah kabupaten, kota dan provinsi. �Semuanya tergantung pemerintah. Selama ini pemerintah terkesan takut mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk sepak bola,� katanya di Denpasar pekan lalu. Mantan pelatih Persegi Bali FC itu menambahkan, selain dana yang menjadi kendala utama, tidak adanya pejabat atau pengusaha di Bali yang benar-benar mencintai sepak bola juga ikut mempe-
30
18 - 24 Agustus 2014
ngaruhi. �Jarang ada pejabat sekarang ada yang menyukai sepak bola. Jika ada pasti bisa memperjuangkan anggaran dari APBD untuk sepak bola. Dengan begitu, saya yakin Bali mempunyai tim yang bermain di level tertinggi Liga Indonesia,� ungkap Sony. Lebih lanjut dikatakannya, pembibitan dan pembinaan atlet sepak bola di Bali sudah bagus. Terbukti banyak ada Sekolah Sepak Bola (SSB) di setiap kabupaten dan kota. Itu menunjukkan pembinaan sepak bola di Pulau Dewata tidak kalah dan bisa bersaing dengan daerah lainnya. Di Bali juga sering digelar turnamen yang sangat penting untuk perkembangan teknik, fisik, mental dan pengalaman bertanding pemain. Sony mengawali kariernya di tingkat nasional dengan mengikuti PON 1997 di Jakarta. Dia menjadi pemain termuda yang tampil pada ajang olahraga empat tahunan itu. Setahun kemudian ia sudah membela klub Arseto Solo, selanjutnya bergabung dengan Perkesa 78 yang berkiprah di kompetisi Galatama. Lewat klub inilah Sony kemudian dipanggil membela tim nasional Indonesia. Pada 1986-1991, pria kelahiran Karangasem ini melanjutkan petualangan dengan memperkuat klub penuh bintang Niac Mitra Surabaya, yang berakhir dengan menjadi asisten pelatih. Jabatan pelatih dipegangnya mulai 1993 di Persada Sidoarjo, Mitra Untag (1994-1995), Perseden (1996), dan tim Bapomi Bali (1996-1998). Ia juga menangani tim Pra-PON Bali pada 2000, dan Persegi Gianyar (2001) hingga lolos
ke Divisi I. Pada 2003, kakak mantan pemain nasional Made Pasek Wijaya ini kembali memoles Perseden, Persegi (2005), Persegi Bali FC (2007), asisten pelatih Bali Devata (2010-2013), dan
kini menjadi instruktur pelatih di Akademi Mitra Bali Devata (AMBD). l Eka Parananda
KRIMINAL
Duh, Bocah Dipaksa Setubuhi ’’Bangkung’’
Direkam, Lalu Disebar
K
asus aneh dan langka mengejutkan warga Bangli. Seorang bocah lugu kelas 2 SD di Desa Jehem, Tembuku, sebut saja Malen (7) bersetubuh dengan bangkung (induk) babi.
Kasus salah krama atau salah timpal ini terjadi di kandang babi milik I Nyoman Konten, pada 29 Juni lalu. Kejadiannya kemudian bikin heboh setelah salah satu dari ketiga teman Malen, yang disebut-sebut
memaksanya mau melakoni adegan tidak layak itu, menyebarkan videonya. Tak mau dipermalukan, ayah Malen yakni Wayan Su terpaksa melapor ke Unit PPA Polres Bangli, Senin (4/8) malam lalu.
MBP/puspajingga
Petugas sempat memasang garis polisi di kandang milik Nyoman Konten, tempat terjadinya adegan persetubuhan manusia dengan induk babi di Desa Jehem, Tembuku, Bangli.
32
18 - 24 Agustus 2014
Menurut informasi di lapangan, sebelum adegan menjijikkan itu terjadi, Malen berkumpul bersama tiga temannya yakni I Komang MS (10) pelajar kelas 5 SD I Wayan N (16) pelajar kelas 2 SMK, dan I Komang AK (13) pelajar kelas 1 SMP, di kandang babi I Nyoman Konten. Kebetulan situasi di kandang babi yang berada di belakang pekarangan rumah Konten itu lagi sepi. Malen bersama ketiga temannya berkumpul setelah bermain layang-layang. Tiba-tiba salah seorang dari keempatnya mencetuskan ide agar Malen bersetubuh dengan celeng lendris (babi putih) di kandang. Jika mau menuruti hal itu, Malen dijanjikan dibuatkan layang-layang. Entah setan apa yang merasukinya, begitu Malen beraksi, I Wayan N langsung merekamnya dengan kamera handphone (HP) miliknya. Supaya tidak ribut, Komang MS memberikan makan induk babi tersebut. Setelah adegan selesai, rekaman video itu malah disebarkan ke beberapa teman sekolah N, sehingga menjadi perbincangan hangat warga Jehem. Setelah sekian hari tersiar, kabar tak sedap itu akhirnya sampai juga di telinga orangtua Malen, Wayan Su. Saat itu juga, Wayan Su melaporkan kasus tersebut ke pihak adat dan polisi.
Orangtua Malen, ketika ditemui di rumahnya mengaku, mendengar kabar itu dari mulut ke mulut. Sedangkan dia sendiri sama sekali tidak mengetahui pasti kejadiannya, karena saat itu dia bekerja. ‘’Informasi yang saya peroleh, adegannya direkam,’’ kata Wayan Su. Sedangkan anaknya ketika ditanya, tidak memberikan jawaban yang jelas karena masih kecil dan sangat lugu. Wayan Su juga mengatakan bahwa anaknya dengan ketiga teman-temannya memang sering bermain bersama. Terlebih saat hari libur sekolah, mereka biasa bermain layang-layang. Dia mengaku sangat menyayangkan kasus yang menimpa anak pertamanya tersebut. Kasatreskrim Polres Bangli, AKP Nyoman Sukanada, seizin Kapolres AKBP Suswanto mengatakan, bahwa kasus ini ditangani Unit PPA Polres Bangli. Penyidik kepolisian sementara ini menerapkan UU Pornografi dalam kasus ini. Di tempat terpisah, Klian Banjar Adat Jehem Wayan Mudiarsa mengatakan, tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya. Dia mengaku mendapatkan laporan dari orangtua si anak, bahwa anaknya dipaksa berhubungan dengan bangkung. Mungkin karena ketakutan dan dijanjikan dibuatkan layangan, bocah
itu dikatakan manut saja. ‘’Orangtuanya keberatan dan minta kasus ini dituntaskan,’’ tegas Mudiarsa. Ketua PHDI Bangli Nyoman Sukra mengungkapkan, kejadian itu merupakan gejala alam atau preswasaning jagat, yang merupakan ciri-ciri alam ada kaletehan. “Jadi kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Mari introspeksi diri bersama,” kata Sukra. Dikatakan pula, anak yang terkena musibah itu kebetulan hanya sebagai perantara. Kalau saja tidak ada prewesaning jagat, dimungkinkan tidak akan terjadi seperti itu. Untuk itu, Sukra mengajak semua umat supaya mulat sarira (introspeksi diri) dan membuat kesembangan baru guna menetralisir alam dengan menggelar upacara pecaruan. Sesuai tradisi, anak-anak yang seperti itu harus di-lukat sehingga bersih seperti baru lahir. “Kalau dulu dilebur di laut, kalau sekarang di-lukat supaya kembali bersih,” tandas Sukra. l Puspajingga
Divonis 15 Tahun
Pengimpor SS Minta Jokowi Berantas Korupsi ADA yang unik ketika terdakwa penyelundup 1,5 kg sabusabu (SS) asal Afrika Selatan (Afsel), Stephen Hendri Lubbe (58), disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Senin (4/7) lalu. Sebelum majelis hakim yang diketuai Anak Agung Anom Wirakanta membacakan putusan, terdakwa Stephen yang didampingi kuasa hukumnya, Iswahyudi dan Mashor Efendi alias Ongky, angkat tangan. Dia minta supaya diizinkan membacakan unek-uneknya yang ditulis dalam selembar kertas. Hakim mengizinkan terdakwa membaca goresan tangannya itu kemudian diterjemahkan oleh Wayan Ana. “Kami mohon maaf kepada masyarakat Bali karena saya membawa barang terlarang ke Bali. Saya tidak tahu kalau saya membawa narkotika. Itu bukan kemauan saya. Kalau saja saya tahu, naik pesawat saja saya tidak mau. Saya minta keringanan hukuman, karena saya sakit paru-paru dan jantung,� ucap Stephen. Tetapi sayang, majelis hakim rupanya tidak mempertimbangkan goresan itu karena sebelumnya terdakwa sudah diberikan kesempatan untuk melakukan pembelaan. Dengan demikian, amar putusan yang sudah dirembukkan oleh majelis hakim ini akhirnya dibacakan. Terdakwa Stephen divonis 15 tahun penjara. Selain selembar kertas tersebut, terdakwa yang ditangkap di Bandara Ngurah Rai, Tuban ini, ternyata masih menyimpan satu tulisan tangan lagi yang diberikan ke wartawan. Isi surat tersebut pun cukup menggelitik, karena Stephen merasa menjadi korban atas konspirasi oknum-oknum atas kasus yang membelitnya. Tulisan tersebut berisi permintaan kepada presiden terpilih, Joko Widodo alias Jokowi, dengan bahasa Inggris. Jika diterjemahkan isinya, “Bapak Jokowi, saya harap saat anda mendapat kekuasaan, anda memberikan perhatian pada masalah korupsi dan menghentikannya. Banyak sekali orang di penjara, yang bahkan tidak seharusnya berada di sana. Mereka di sana karena mereka miskin, dan tidak punya uang untuk membayar orang-orang korup ini. No money no honey. Ini saya tulis sendiri dan berikan kepada koran sehingga masyarakat Indonesia, khususnya Bali, bisa melihat bahwa tidak ada keadilan di pulau ini. Mereka harus berdiri dan mengatakan, cukup. Penjara sudah terlalu krodit karena masalah ketidak-adilan yang terus terjadi. Pak Jokowi, anda harus bertindak dan stop korupsi!� Apa yang melatar belakangi tulisan yang meminta Jokowi jika berkuasa supaya menindak korupsi? Menurut terdakwa Stephen, perkara yang dia alamai penuh intrik yang bermuara pada duit/ uang. Dalam surat itu, dia juga menulis ada pihak yang sempat menjanjikan hukumannya diringankan, dengan syarat dia harus menyerahkan duit 30 ribu dolar AS. Namun Stephen tidak bisa memenuhi permintaan itu. Tak hanya dia, temannya yang mampu ada yang membayar kepada oknum tertentu senilai 120 ribu dolar AS, supaya berhasil mendapat keringanan hukuman. Tetapi apa daya, majelis hakim tetap menghukum terdakwa Stephen selama 15 tahun penjara, plus membayar denda Rp 10 miliar, subsider 1 bulan kurungan. Jika dihitung-hitung, vonis itu sejatinya lebih ringan empat tahun dibandingkan tuntutan JPU, Ketut Sujaya. Jaksa sebelumnyamenuntut terdakwa dengan hukuman 19 tahun penjara. Sebagaimana diketahui, terdakwa Stephen dibekuk pada 9 Februari 2014 sekitar pukul 01.00 di Bandara Ngurah Rai. Petugas Bea Cukai Ngurah Rai saat itu menemukan SS seberat
34
18 - 24 Agustus 2014
1.539 gram (bruto) atau 1.491 gram (neto). Terdakwa curiga bahwa orang yang menaruh barang haram itu di kopernya adalah Martin Odi asal Nigeria, yang dikenalnya di Afrika. Martin Odi menaruh sesuatu ke dalam koper pakaian terdakwa, yang kemudian mengatakan bahwa sesuatu yang ditaruh itu adalah uang senilai 30 dolar AS untuk temannya di Jakarta. Terdakwa dibelikan tiket dan jika sampai di Jakarta, maka terdakwa akan diberikan upah 500 dolar oleh teman Martin Odi yang sudah menunggu. Selain itu, Mantin Odi berjanji setelah terdakwa kembali di Afrika, kembali uang 500 dolar AS. Namun sayang, belum sampai pada tempat tujuan, Stephen keburu ditangkap aparat. l Miasa
MBP/miasa
Terdakwa Stephen Hendri Lubbe asal Afrika Selatan (kiri) menjelang disidangkan di Pengadilan Negeri Denpasar dalam kasus SS seberat 1.491 gram.
Meningkat, Jumlah Lakalantas di Tabanan
Berawal dari Pelanggaran MENINGKATNYA jumlah kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Tabanan disebabkan beberapa faktor. Apalagi peningkatan yang terjadi bukan hanya dari segi kuantitas, namun juga kualitas lakalantas dengan timbulnya fatalitas yang terjadi. Berdasarkan fakta maupun analisa dan evaluasi, menurut Kasatlantas AKP Heri Supriawan, Kamis (7/8) lalu, lakalantas yang terjadi karena sebagian besar berawal dari pelanggaran. Jenis pelanggaran yang terjadi di antaranya berupa pelanggaran marka as jalan, dan rambu, semua itu karena factor manusia. “Selain itu, lakalantas bias terjadi karena faktor kondisi fisik jalan. Misalnya tentang kemiringan. Apalagi di Tabanan banyak ruas jalan yang naik-turun dan berliku dengan tikungan tajam. Banyak factor yang berpotensi menimbulkan lakalantas,� tegasnya. Pihaknya juga berharap dengan adanya proyek pembagunan jembatan short cut di beberapa titik lokasi mulai dari Penyalin (Kerambitan) hingga di Bajera (Selemadeg), bisa segera rampung dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi jumlah lakalantas di Tabanan. Dalam kurun waktu tujuh bulan terakhir pada 2014 ini, Satlantas Polres Tabanan mendata 107 kasus lakalantas. Jumlah kasus sebanyak itu disertai jumlah korban meninggal dunia yakni 48 orang, luka berat 12 orang, dan luka ringan 123 orang. Terdata pula timbulnya jumlah kerugian material mencapai Rp 142.900.000. Bulan pertama (Januari) 2014, adalah “penyumbang� lakalantas terbanyak yakni 22 kasus. Dari sekian kejadian itu, tercatat 13 orang meninggal dunia, seorang luka berat, 20 luka ringan, dan kerugian material Rp 17.750.000. Menyusul pada Februari, terjadi 18 kasus, di mana 6 korban meninggal dunia, 2 luka berat, 25 luka ringan, dan kerugian material berkisar Rp 29.200.000. Jumlah lakalantas di Tabanan sempat turun pada bulan ketiga, Maret. Kepolisian mendata 12 kasus, di mana 4 korban meninggal dunia, nihil luka berat, 19 luka ringan, dan kerugian material berkisar Rp 15.900.000. Namun sebulan
berikutnya, April, meningkat menjadi 16 kasus. Korban meninggal dunia terdata 6 orang, luka berat 1 orang, dan luka ringan 19 orang, serta timbulnya kerugian material yang meningkat pula yaitu Rp 37.650.000. Polres Tabanan mendata bahwa terjadi naik-turun jumlah lakalantas tiap bulan. Pada Mei, lakalantas turun yakni terjadi 13 kasus, enam korban meninggal dunia, 2 luka berat, 14 luka ringan, dan kerugian material Rp 7.400.000. Pada bulan pertengahan tahun, Juni, meningkat lagi menjadi 17 kasus yang disertai 6 korban meninggal dunia, 5 luka berat, 13 luka ringan, serta kerugian material Rp 14.300.000. Pada awal semester kedua, Juli, terjadi penurunan yakni 9 kasus, di mana 7 korban meninggal dunia, 1 luka berat, 13 luka ringan, serta timbulnya kerugian material Rp 20.700.000. Sementara saat memasuki bulan Kemerdekaan RI, Agustus, data sampai dengan seminggu terakhir per 7 Agustus 2014, terdata 3 kasus lakalantas dengan tingkat fatalitas yang menonjol. Dari
tiga kasus yang terjadi, mengakibatkan 4 korban meninggal dunia, 1 luka berat, dan 2 luka ringan. Sementara kerugian material yang terdata sedikitnya Rp 5 juta. Tiga kasus lakalantas yang terjadi menimbulkan korban meninggal dunia, termasuk dua korban tewas dan satu luka berat dalam tabrakan beruntun di Lumajang, Desa Samsam, Kerambitan, Kamis (7/8) lalu. Dalam kegiatan Operasi Ketupat Agung 2014, yang berlangsung dua minggu sejak 23 Juli sampai dengan 6 Agustus, di wilayah hokum Polres Tabanan terjadi tujuh kasus lakalantas, yang mengakibatkan 6 orang meninggal dunia, 1 luka berat, dan 7 luka ringan. Kerugian material yang ditimbulkannya mencapai Rp 13 juta. l Gagah Prahadhita
MBP/gagah prahadita
Lakalantas yang terjadi di wilayah hukum Polres Tabanan menunjukkan tren peningkatan. Bukan hanya dari segi kuantitas, namun juga kualitas dengan fatalitasnya, seperti tabrakan beruntun di Lumajang, Desa Samsam, Kerambitan, Kamis (7/8) lalu, yang menyebabkan dua korban tewas. 18 - 24 Agustus 2014
35
LINGKUNGAN
G
Air Telaga Tunjung Surut
agasan mantan Bupati Tabanan Ady Wiryatama untuk mengatasi kesulitan air di sejumlah daerah di Tabanan direalisasikan di era Presiden Megawati Soekarnoputri dengan membangun bendungan Telaga Tunjung. Para petani di sekitar bendungan sedikit bernapas lega karena harapan mereka soal kesulitan air yang dirasakan di musim kemarau akan segera terealisasi dengan selesainya bendungan. Namun, realitanya sekarang jauh panggang dari api. Bendungan Telaga Tunjung kini debit airnya terus mengecil. Akibatnya pasokan air irigasi untuk mengairi persawahan di Desa Meliling, Sungsang, Gadungan dan Lambuk dan sebagian lagi untuk sawah di Desa Timpag menurun tajam. Semula para petani menuding mengecilnya debit air sungai karena sebagian air bendungan Telaga Tunjung dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih PDAM. Dari pantauan debit air bendungan yang berlokasi di Desa Timpag, Kerambitan Tabanan ini menurun tajam. Kondisi ini tak terlepas dari banyaknya alih
fungsi lahan hijau dan hutan di kawasan hulu menjadi bangunan sehingga pasokan air berkurang. ‘’Jika dikatakan debit air berkurang karena digunakan untuk PDAM sepertinya tidak karena yang saya ketahui dari rencana pengambilan air bersih untuk PDAM 120 liter perdetik baru diambil 20 liter per detik,’’ papar Perbekel Timpag Gusti Sukawahana. Dari pengamatan di lokasi, Rabu (6/8) lalu, tampak air bendungan memang terlihat turun drastis. Tanda penunjuk debit air jauh di bawah angka 200 cm. Ironisnya, sejumlah daratan bendungan mulai pecah-pecah karena kekeringan. Bebatuan yang selama ini terbenam air juga terlihat bermunculan. Kondisi ini menandakan penyurutan air bendungan yang sangat tajam. Karena kering, beberapa armada perahu wisata dan speed boat penyelamat juga ikut kandas di tepi bendungan. Perbekel Timpag, Gusti Sukawahana membenarkan, penurunan debit air bendungan ini sudah berlangsung sejak beberapa minggu. Namun, pihaknya tidak bisa memastikan berapa meter penyusutannya. ‘’Ini karena faktor alam. Akibat tidak pernah hujan, air bendungan pasti surut,’’ katanya. Surutnya air bendungan ini adalah fenomena biasa ketika musim kemarau. Sebelumnya mengecilnya debit air juga dirasakan wakil rakyat. Banyak hal yang patut petani di Selemadeg Timur. Musim kemarau yang diperjuangkan. Memperjuangkan berkepanjangan membuat petani kelimpungan. aspirasi masyarakat tidak selalu Diperkirakan 400 Hektar sawah petani di Megati mulus sesuai harapan. Ada perdekekeringan. Para petani telah delapan bulan tak batan lewat pembahasan dan dikaitbisa bercocok tanam karena tanahnya pecah-pecah kan dengan kemampuan keuangan tak ada air. daerah. Satu hal ke depannya yang Akibat lebih jauh dari menurun tajamnya debit air patut terus diperjuangkan bagaimana Telaga Tunjung dan sejumlah subak di Selemadeg trade mark Tabanan sebagai daerah Timur akan mengancam persediaan pangan terulumbung berasnya Bali tetap bisa tama beras di daerah lumbung beras. Sebagaimana dipertahankan. Di tengah derasnya diketahui ancaman pangan di kawasan itu tak hanya alih fungsi lahan, sudah seharusnya lantaran debit air yang menurun di musim kemarau, sektor pertanian mendapat perhatian sawah yang kering kerontang, juga pesatnya pemlebih. Semangat petani mengelola bangunan sehingga ratusan hektar sawah di daerah lahannya harus terus dijaga. Bila lumbung beras telah beralihfungsi. Kondisi ini jelas ditekuni dengan baik, sektor apa berakibat menurunnya persediaan pangan di daerah saja bisa memberikan kesejahterlumbung beras. aan. Apalagi peluang bisnis yang Mau tak mau pemerintah bersama masyarakat berkaitan dengan pertanian masih mesti melakukan langkah kongkret untuk kembali sangat terbuka. Langkah lebih fokus mengadakan gerakan penghijauan dan reboisasi di memperhatikan sektor ini memberi kawasan hulu agar cadangan air tanah tetap terjaga. imbas sangat luas bagi daerah. Tidak Selain itu pemetaaan tata ruang untuk kondisi saja peluang kerja tersewilayah terbangun juga mesti diperhatikan. Artinya dia, juga dari sisi budaya kawasan penyangga tetap diperhatikan kelestariantetap terjaga dan secara nya. Tak sedikit kawasan hijau di daerah hulu seperti otomatis mampu dalam Bedugul dan Baturiti berubah fungsi menjadi vila penyelamatan alam atau hotel. Belum lagi alih fungsi tanaman tahunan lingkungan Bali. seperti kopi dan tanaman penguat tanah lainnya digantikan tanaman hortikultura yang tak kuat mel Gapur nahan cadangan air tanah dan rawan longsor.
Kawal “Trade Mark” SOSOK satu ini memang terlihat menonjol di antara anggota DPRD Tabanan periode 2014-2019. Walau usia termasuk tidak muda lagi, tetapi tampak selalu tampil energik dan semangat. “Semangat itulah harus kita jaga dalam bekerja. Betapa pun berat persoalan akan terasa ringan bila dihadapi dengan hati bersih dan semangat kerja,” papar Drs. I Gusti Made Purnayasa, S.H., M.Si. usai dilantik menjadi anggota DPRD Tabanan, Selasa (5/8) lalu. Politisi 69 tahun dari Partai Demokrat kelahiran Jero Alit, Kukuh, Marga Tabanan ini, menyadari betul tidak mudah menjadi
36
18 - 24 Agustus 2014
Lumbung Beras Terancam Sementara itu Kepala Dinas PU Gusti Ngurah Anom Anthara menjelaskan penyediaan saluran irigasi di sejumlah areal persawahan di daerah lumbung beras Bali ini merupakan program terintegrasi antara bendungan satu dengan bendungan lainnya. Artinya meski bendungan Telaga Tunjung di bawah wewenang Balai Wilayah Sungai Bali Penida menurun debit airnya, namun daerah tetap mengadakan koordinasi jika ada hal-hal yang kemungkinan terjadi salah satunya kerusakan. ‘’Petugas dari Balai terus mengadakan pengamatan debit air di bendungan Telaga Tunjung,’’ ujarnya.
Bendungan Telaga Tunjung terus menyurut. Bebatuan yang selama ini terbenam air terlihat bermunculan
Didampingi Kepala Bidang Sumber Daya Air Ketut Sadra, dia menyebut Pemda Tabanan hanya berwewenang mengelola 194 daerah irigasi dengan total areal 16.749 hektar. ‘’Sedangkan pengelola PU Provinsi menaungi dua daerah irigasi dengan total areal 1.134 hektar, ini tentu berpedoman pada undang-undang yang ada khususnya tentang status daerah irigasi dan pembagian kewenangan pengelolaan,’’ ujarnya. Luas areal garapan di Kabupaten Tabanan yang dikelola pemerintah pusat seluas 9.468 hektar terdiri dari Das Yeh Ho dengan 10 daerah
irigasi dengan total luas areal yang dialiri seluas 5.559 hektar, Das Tukad Sungi dengan 9 daerah irigasi dengan total areal 2.594 hektar, Das Tukad Penet dengan 5 daerah irigasi dengan total areal 1.315 hektar are. Ketut Sadra menambahkan, setidaknya ada dua daerah irigasi yang pengelolaannya dilakukan oleh PU provinsi dengan total areal 1.134 hektar. Sementara yang dikelola Pemda Tabanan hanya 194 daerah irigasi dengan total areal 16.749 hektar. l Dewi Puspa
Bali Post/bit
18 - 24 Agustus 2014
37
PARIWISATA
Agrowisata, Selamatkan Pertanian?
J
umlah rumah tangga usaha pertanian (RTUP) di Bali kian merosot dibandingkan 10 tahun lalu. Tak itu saja, jumlah petani gurempun mendominasi penggunaan lahan pertanian di Bali saat ini. Hasil sensus pertanian 2013 menunjukkan bahwa usaha pertanian di Provinsi Bali didominasi oleh jenis usaha rumah tangga. Hal ini tercermin dari besarnya jumlah rumah tangga usaha pertanian jika dibandingkan dengan perusahaan pertanian berbadan hukum atau pelaku usaha lainnya. Panusunan Siregar Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mengungkapkan, 2013 lalu jumlah rumah tangga usaha pertanian di Bali tercatat 408.233 rumah tangga, menurun 17,09 persen atau ratarata penurunan 1,70 persen per tahun dari 2003 yang tercatat 492.394 rumah tangga. Sedangkan, jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum 2013 tercatat 96 perusahaan dan pelaku usaha lainnya 405 unit. Penurunan terbesar jumlah rumah tangga usaha pertanian di Bali terjadi di Buleleng 21.841 rumah tangga, sedangkan secara persentase, penurunan terbesar terjadi di Denpasar yang mencapai 46,56 persen dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil sensus pertanian 2013 juga menunjukkan bahwa rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan masih didominasi oleh rumah tangga petani gurem. Dari 404.507 rumah tangga pertanian pengguna lahan di Provinsi Bali, 63,58 persen (257.181 rumah tangga) merupakan rumah tangga petani gurem. Sedangkan rumah tangga petani bukan gurem tercatat 36,42 persen atau 147.326 rumah tangga. Guna mempertahankan sektor pertanian, dipandang perlu mensinergikan antarsektor pertanian dan pariwisata di Pulau Dewata yang hingga kini terus menjadi polemik. Anggota Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) Jro Mangku Nyoman Kandia mengatakan, konflik kedua sektor tersebut dapat diselesaikan dengan pengembangan agrowisata. “Agrowisata di Bali kini semakin diminati wisatawan asing maupun wisatawan
38
18 - 24 Agustus 2014
domestik. Sebab, keuntungan mengunjungi agrowisata tidak hanya dapat menikmati makanan yang sehat, namun juga memberikan ketenangan batin,” ujar Mangku Kandia. Menurutnya, keberadaan agrowisata juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani setempat. Sebab, agrowisata merupakan salah satu upaya meningkatkan pemasukan petani untuk menghasilkan produk yang berorientasi pada kebutuhan pasar supaya apa yang diproduksi petani dapat dijual dengan mudah. “Melalui agrowisata kita mengusahakan para petani dapat menikmati kontribusi pariwisata melalui produkproduknya. Selain itu juga mendidik petani untuk membuat nilai tambah misalnya petani bambu jangan menjual bambunya, jual bambu yang sudah diolah menjadi kerajinan bambu,” katanya. Dikatakan, dengan adanya agrowisata, produk petani dapat secara langsung dibeli oleh wisatawan. Selain itu masih banyak keuntungan agrowisata yang juga sebagai pariwisata berkelanjutan dan ramah lingkungan. “Agrowisata juga lebih banyak di pedesaan yang melibatkan petani setempat. Ini juga bisa menekan urbanisasi perpindahan penduduk dari desa ke kota karena ini dibangun di desa. Jadi efek ganda dari pariwisata itu jelas,” tuturnya. Dia menyebutkan, bisnis agrowisata sangat erat kaitannya dengan wisata budaya. Sehingga, bisnis ini akan berkelanjutan dan menjadi daya tarik wisatawan. “Agrowisata berkaitan dengan wisata culture, ini bisa sustainable sehingga saya mencoba untuk membuka agrowisata. Kalau sekarang membuat bisnis wisata yang bukan dari culture itu bukan daya tarik karena yang menyebabkan tamu datang adalah budaya,” jelasnya. Kendati demikian, pengembangan bisnis agrowisata, diakui Mangku Kandia harus memperhatikan beberapa hal. Seperti menentukan lokasi yang mudah dijangkau, luas dan bentuk lahan, ketersediaan air, serta sumber daya manusia yang profesional. Di samping itu juga harus
menentukan strategi pemasaran dan target market yang jelas. “Yang lebih penting, hasil dari pertanian diserap oleh pasar hotel. Selama ini, kontribusi hotel terhadap penyerapan hasil produk pertanian Bali masih kecil, jadi perlu dipacu, sehingga saling menguntungkan,” tegasnya. l Parwata
Dampak Negatif Pariwisata Pesatnya pertumbuhan pariwisata Bali berdampak negatif terhadap sektor pertanian. Sebab, pertumbuhan sektor tersebut berdampak pada peningkatan kebutuhan lahan, sehingga sektor pertanian makin terdesak, bahkan terpinggirkan. “Memang di satu pihak mendorong laju pertumbuhan ekonomi daerah Bali, tetapi bersamaan dengan arah perkembangan bisnis pariwisata itu telah berdampak pada peningkatan kebutuhan lahan, yang secara otomatis membuat basis ekonomi rakyat yang sebagian besar bermukim di sektor pertanian menjadi terdesak dan bahkan terpinggirkan,” ungkap Ketua Pusat Analisis Data Ekonomi Bisnis FEB Unud Dr. Sudjana Budhi. Menurutnya, Bali perlu mengembangkan bisnis parwisata berbasis komunitas lokal (communty-based tourism). Pendekatan strategi dengan melibatkan rakyat sebagai owner atas industri pariwisata, tentu dengan maksud dapat diselesaikanya konflik kepentingan antara masyarat
lokal di sektor pertanian dengan perkembangan bisnis pariwisata itu sendiri. Strategi pengembangan destinasi pariwisata berbasis local people as ownership telah berjalan di banyak negara, antara lain Thailand, Australia, dan di sejumlah negara Afrika. “Dengan begitu penyelesaian konflik sektoral menjadi lebih mudah dikendalikan karena masyarakat lokal ikut serta berpartisipasi pada kelembagaan bisnis pariwisata itu sendiri,” katanya. Diterangkan, menurunnya peran komunitas masyarakat lokal pada sektor pertanian dilakukan melalui proses demokratis, di mana komunitas lokal ada di dalamnya sebagai pengelola industri pariwisata itu sendiri. Jika proses negosiasi damai antara pertumbuhan pariwisata dengan perluasan kebutuhan lahan untuk pariwisata dapat menghasilkan tingkat keseimbangan kesejahteraan dalam bentuk kepemilikan usaha pada sektor in-
dustri pariwisata. “Industri pariwisata modern dan masyarakat tradisional petani di masa depan sudah dapat kita petakan menyerupai pola hubungan majikan dan buruh. Jika telah terbentuk pola hubungan semacam patronclient tersebut, maka bentuk komunikasi industri pariwisata dan ekonomi rakyat akan terpolakan tidak dalam kesetaraan, tetapi terkondisikan antara majikan dan penyakap,” jelasnya. Sementara, Ketua HKTI Prof. Dr. I Nyoman Suparta berpendapat, pelaku bisnis yang bergerak di sektor pariwisata terutama perhotelan wajib menyerap 100 persen produk pertanian lokal. Hal ini sebagai upaya mewujudkan sinergi pariwisata dengan pertanian yang selama ini sulit diwujudkan. l Parwata
MBP/dok
Agrowisata diyakini dapat mempertahankan sektor pertanian di Bali, hanya saja diperlukan perhatian serius dari kalangan pelaku pariwisata untuk menyerap produk-produk yang dihasilkan petani.
18 - 24 Agustus 2014
39
WORKSHOP ANAK - Bali TV bekerja sama dengan SMF Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana – RSUP Sanglah dan Lentera Anak Bali menggelar workshop “Keeping Children Safe� di Wantilan Gedung Pers Bali Ketut Nadha Denpasar, Minggu (3/8). Acara ini diikuti puluhan peserta dengan narasumber Penulis Cerita Anak Ir. Agung Bawantara dan Psikiater dr. A.A. Sri Wahyuni, SpKJ. Workshop ditayangkan pula dalam program Pelangi Kehidupan di Bali TV. MBP/kmb
MBP/kmb
MBP/ist
PANTAU TRAFIK - Pemantauan trafik dan pemeliharaan kinerja perangkat secara ketat selama masa puncak Ramadan dan Lebaran dilakukan sepanjang 24 jam secara terpusat melalui Telkomsel Network Operation Centre (NOC).
RUMAH LOLOH - Bali Tangi Spa membuka Rumah Loloh pada Jumat (1/8). Selain menyediakan jasa untuk relaksasi dan sehat dengan bahan-bahan herbal, tempat ini juga menyediakan beragam produk organik mulai dari beras, sayur, dan buahbuahan. Sang pemilik, Made Yuliani dan I Wayan Sukhana, menginginkan keberadaan Bali Tangi Spa dan Rumah Loloh ini menjadikan masyarakat sehat dengan mengonsumsi loloh atau jamu tradisional yang menggunakan bahan-bahan alami.
Raih sukses dengan menginformasikan kegiatan/usaha, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), peluncuran produk, dan promosi lainnya melalui rubrik Event dengan menghubungi bagian Iklan Bali Post - (0361) 225764. Penyampaian materi dilakukan dua minggu sebelum penerbitan.
40
18 - 24 Agustus 2014
PROFIL
Lala Studio
Lahir untuk Bangkitkan Senam di Bali LALA Studio, Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Instruktur Senam sudah membumi di tengah masyarakat Bali. LKP yang beralamat di Jl. Veteran 66 E, Puri Satria, Denpasar ini telah dikenal luas dan telah banyak pula mencetak instruktur senam di Pulau Dewata. Tak cukup di situ, di bawah komando Grace Tangkudung, S.pd, M.Fis., Lala Studio terus berupaya mem-
bangkitkan senam di kalangan masyarakat di daerah ini. Lala Studio merupakan satu-satunya lembaga kursus dan pelatihan instruktur senam di Bali yang memberikan ijazah pada lulusannya. Dengan metode yang terarah, Lala Studio mampu mengangkat nama Bali di bidang senam hingga ke tingkat nasional, di tengah minimnya perhatian pemerintah setempat. “Saya awalnya ingin agar Bali tidak tertinggal dengan provinsi lain di bidang senan. Meski awal kehadiran Lala Studio mendapat penolakan, karena masyarakat menganggap tanpa ijazah juga bisa menjadi instruktur senam, namun saya terus berjuang hingga diterima di masyarakat,” ujarnya. Dalam memajukan senam di Bali, wanita kelahiran Surabaya ini mengawali dengan pemberian teori kepada setiap calon instruktur dilanjutkan dengan praktik dan ujian. “Setelah lulus dari teori dan praktek, baru ijazah dikeluarkan. Saat ini kami telah meluluskan 885 instruktur senam berijazah,” katanya. Peraih penghargaan Peniti Emas Menteri
Adolfina Grace Tangkudung
Pimpin Asiafi Bali PEMILIK Lala Studio, Adolfina Grace Tangkudung kini memimpin Asosiasi Instruktur Aerobik dan Fitnes Indonesia (Asiafi) Bali masa bakti 2014-2019. Grace dilantik oleh Ketua Umum Asiafi Pusat. Keberadaan Asiafi di Bali sudah cukup lama, bahkan hampir ada di tiap provinsi. Grace Tangkudung mengatakan, Asiafi merupakan asosiasi resmi di bawah naungan Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI). Sebagai pelindung Asiafi Bali adalah AAN Oka Ratmadi. “Kami merupakan organisasi resmi di bawah FORMI yang ada di seluruh Indonesia yang tujuannya memperkuat profesionalisme,” tegasnya.
Menurutnya, setelah terbentuk Asiafi Bali mengagendakan seminar senam kebugaran dan lomba senam aerobik melibatkan instruktur cilik berusia 12 tahun. Lomba senam aerobik ini melibatkan dewan juri dari Persatuan Juri Senam se-Bali (Perjusba) dan Asiafi Pusat. “Peserta pada acara senam bersama agar mengenakan busana olahraga bernuansa merahputih,” katanya. l Parwata
Pemberdayaan Perempuan RI dan Asean Best Executive Award’98 ini banyak instruktur senam yang belum mengantongi ijazah. Hal ini akan berdampak fatal, karena tidak mengetahui teori pasti mengenai gerakan senam yang benar. “Banyak instruktur yang hanya mengetahui gerak senam, tetapi tidak mengetahui dampak positif atau negatif dari gerakan tersebut. Padahal, salah gerakan dapat membuat cedera, termasuk kode etik berpenampilan. Untuk itu, perlu adanya pendidikan khusus instruktur senam ,” tegas peraih segudang prestasi di bidang senam dan erobik ini. Melalui senam, Grace Tangkudung berharap masyarakat Bali bisa hidup sehat di tengah kesibukan atau rutinitas yang padat sehari-harinya. “Walaupun pemerintah kurang peduli terhadap keberadaan kami, namun saya sebagai swasta terus bertekad untuk membangkitkan senam di Bali dan terus berupaya meningkatkan kesehatan masyarakat melalui senam,” tandasnya. l Parwata
Dua Buku Korupsi
Ketua Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Udayana, Prof. Dr. I Ketut Rai Setiabudhi, S.H., M.S. baru-baru ini meluncurkan dua buku tentang korupsi. Buku pertama berjudul Komitmen Antikorupsi, Harapan dan Kenyataan. “Sebetulnya pemerintah siapa saja itu sudah selalu berkomitmen untuk memberantas korupsi secara tuntas, tetapi kenyataannya masih saja korupsi itu merajalela di negara kita, ini kan satu kegagalan. Harapannya besar, tapi kenyataannya masih berjalan seperti keong,” ujar Rai. Sementara buku kedua yang ia tulis berjudul Ruang Gerak Lembaga Swadaya Masyarakat dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. “Di beberapa negara yang sudah berhasil memberantas korupsi, kewenangan LSM itu sangat luas. Termasuk
misalnya setiap saat bisa menyampaikan alat bukti dalam proses di Kejaksaan, Kepolisian maupun Pengadilan, LSM itu bisa mengajukan, tapi di negara kita belum. Padahal LSM yang punya keberanian berjuang mengawal kasus-kasus korupsi bisa mempercepat pengungkapan kasus sehingga pelakunya bisa dihukum,” paparnya. l Rindra
18 - 24 Agustus 2014
41
BUDAYA
Sate ’’Kakul’’ Rendah Kolesterol
B
osan makan sate kamping atau tuna, cobalah cicipi sate kakul. Jenis kuliner dengan bahan kakul ini identik dengan masakan desa atau masakan kampung karena lebih banyak dikomsumsi oleh masyarakat tempo dulu. Kakul sering diolah menjadi pepes juga jukut (sayur) ares dan jukut roroban yang dipadu dengan papaya mentah. Kakul adalah sejenis keong (bekicot, siput) yang biasa ditemui di persawahan. Sate kakul memiliki kandungan protein tinggi dan rendah kolesterol. Rasanya kenyal-kenyal empuk. Warung-warung yang berlabel sate kakul sering dikunjungi wisatawan karena tak hanya disukai masyarakat lokal tetapi juga wisatawan domestik bahkan mancanegara. Di Kota Denpasar, Pondok Sate yang berada di Jl. Nangka Utara juga
menyajikan berbagai jenis sate yang salah satunya sate kakul. Sate yang merupakan olahan Komang Sugiantara ini sangat diminati, sehingga sering kali habis sebelum warung ditutup. Satu porsi sate dilengkapi dengan sup dan nasi putih. Meracik sate kakul tidak terlalu sulit. Pertama membersihkan kakul dari lumpur dan jenis kotoran lainnya. Kemudian direbus menggunakan air hangat sekitar 15 menit. Lalu mengeluarkan daging dari cangkangnya. Lalu membersihkan kotoran yang ada pada bagian belakangnya. Yang diambil hanya dagingnya saja. Lalu dicuci lagi sekitar 5 kali sehingga rasa lumpurnya hilang. Proses selanjutnya mencampur daging kakul dengan bumbu lalu direbus sekitar 15 menit sehingga tak terasa amis. Lalu, angkat dar tiriskan
kemudian ditusuk menjadi sate. Lalu dipanggang serta ditambah kecap. Setelah matang, sajikan dengan dua jenis bumbu yakni sambal kacang atau plecing. Untuk memberikan rasa yang khas, Komang Sugiartara menggunakan bumbu base gede (bumbu lengkap ala masyarakat Hindu di Bali). Kalau sambal kacang menggunakan bahan kacang tanah, lombok besar, kemiri, bawang putih dan gula merah. Untuk memberikan rasa enak diisi garam sesuai selera. l Budarsana
www.bali-travelnews.com
Mohon Keselamatan di ”Palinggih” Bawah Pohon Ancak
J
ika ingin berwisata ke Daya Tarik Wisata (DTW) melewati jalan Desa Adat Anggungan, Kecamatan Mengwi, mintalah izin terlebih dahulu pada makhluk penghuni jalan desa itu. Sebab, jalan desa tepatnya di depan Setra (kuburan) Anggungan itu terkenal tenget atau angker. Masyarakat di sana percaya kalau tempat itu ada penghuninya (makhluk kasat mata). Keangkeran tempat itu ditandai dengan adanya pohon ancak, pule dan bunut besar. Di bawah pohon ancak terdapat patung Dewi Durga sebagai penghuni setra. Di sebelah baratnya adalah Pura Dalem Desa Anggungan. Nah, tepat di depan patung itulah masyarakat yang setiap hari lewat menghaturkan canang, sesajen mohon keselamatan.
Menurut penuturan Pan Mus, salah satu masyarakat di desa itu, orang yang hendak mencari sesuap nasi yang melewati tempat itu, baik ke luar desa ataupun menuju ke desa tersebut pasti mohon keselamatan. Paling tidak mohon permisi dari dalam hati. Terkadang sampai berhenti menghaturkan sesajen. Paling tidak pengendara motor ataupun mobil pasti membunyikan klakson sebagai tanda permisi karena melewati wilayahnya. Orang yang melewati tempat itu juga tidak berani berbicara kasar, congkak dan sombong. “Dulu pernah semeton saking Jawi (saudara dari Jawa) yang berprofesi sebagai penjual bakso tersungkur ke areal setra. Dia melihat itu jalan yang benar,” ucapnya. Orang yang memiliki pikiran tidak baik melewati tempat itu pasti akan celaka.
Karena renjang (panjak) penghuni setra itu yang salah satunya ular akan marah. “Pernah ada nelayan yang sedang memancing lari tunggang langgang karena mendengar orang menangis di siang bolong,” ungkapnya. Namun sebaliknya, jika orang itu bermaksud baik, penghuni tempat itu akan memberikan sesuai dengan permintaan. Karena, selain untuk keselamatan sesuwunan, Dewa yang berstana di palinggih di bawah pohon ancak itu juga bermurah hati. Buktinya, banyak masyarakat yang mohon rezeki dan keturunan. l Budarsana www.bali-travelnews.com
18 - 24 Agustus 2014
43
TRADISI
MBP/ina
Seekor anak sapi dilepas ke alam bebas oleh warga Desa Selulung, Kintamani, Bangli. Hal itu dikenal dengan tradisi ngaturang bakti pangeleb. Sapi tersebut dibiarkan hidup bebas di alam setelah melalui serangkaian upacara panyucian.
’’Bakti Pangeleb’’ di Desa Selulung
Melepasliarkan Anak Sapi
K
eberadaan sapi di Desa Selulung, Kintamani, Bangli ternyata memiliki arti tersendiri bagi masyarakat setempat. Di desa yang bersebelahan dengan Desa Tajun, Buleleng ini, ditemui banyak sapi yang dibiarkan hidup liar. Sapi liar tersebut bukanlah sapi sembarangan, melainkan sapi suci yang dipercaya sebagai kendaraan Dewa Siwa. Warga yang ada di sekitarnya sangat pantang mengganggunya, apalagi sampai menyebabkan sapi itu mati. Desa Selulung tergolong desa tua. Di desa ini hidup sebuah tradisi melepasliarkan anak sapi yang disebut dengan tradisi ngaturang bakti pangeleb. Oleh warga, sapi-sapi tersebut dibiarkan hidup bebas di alam setelah melalui serangkaian upacara penyucian. Ada tiga hal yang mendasari pelaksa-
44
18 - 24 Agustus 2014
naan prosesi ini. Bagi soroh tertentu di Desa Selulung, upacara ini merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan saat seseorang dikarunia anak lelaki. Di sisi lain, upacara bakti pangeleb ini juga dilakukan sebagai bentuk warga membayar kaul atau sesangi. Perkembangan lainnya, prosesi tersebut dilakukan karena seseorang terkena sanksi niskala (denda). Meski demikian, jenis upakara maupun cara penyelenggaraan prosesi ini hampir sama. Bendesa Adat Selulung Nengah Widiana menjelaskan, dalam ritual ini warga bakal melepas anak sapi atau yang dalam bahasa Bali disebut godel. Warga yang akan melaksanakan ritual ini terlebih dahulu membuat sesaji (banten) seperti salaran, prayascita dan banten pembersihan lainnya. Banten-banten tersebut akan dihaturkan di Pura Bale
Agung dan Pura Dalem Selulung. Prosesi diawali dengan persembahyangan di depan palinggih yang ada di Pura Bale Agung. Setelah itu, para paduluan adat akan menggelar paruman atau rapat di pura. Selanjutnya paduluan Desa Selulung akan beranjak menuju Pura Dalem. Selain menghaturkan sesaji yang dipimpin oleh Jero Kubayan, di pura tersebut juga dilaksanakan upacara pembersihan terhadap anak sapi yang nantinya akan dilepas. Anak sapi yang dipakai sarana bakti pangeleb itu terlebih dahulu diperciki tirta. Layaknya manusia, anak sapi itu akan disisir, diberi bedak dan disemprot minyak wangi. Sapi yang dilepas merupakan pilihan. Sapi tersebut haruslah sapi jantan yang belum dicocok hidungnya. Sapi tersebut juga harus benar-benar tidak memiliki cacat pada tubuhnya.
MPB/ina
Bendesa Adat Selulung Nengah Widiana
ke Alam Di kalangan masyarakat, ada beberapa kepercayaan saat sapi dilepaskan. Warga meyakini apabila saat dilepas sapi tersebut berlari ke selatan maka diyakini sebagai kendaraan Dewa Siwa. Jika larinya ke barat warga meyakininya sebagai kendaraan Betara Pura Dalem Kemulan/Kauh. Sementara kalau larinya ke timur diyakini warga sebagai palinggih Betara Kangin/ Ratu Medue Karang, sedangkan jika arahnya naik atau ke atas warga meyakininya sebagai palinggih Betara Puseh Penulisan, Batur dan Gunung Agung. Hingga saat ini kepercayaan tersebut masih tetap dijalankan sebagai sebuah tradisi di Desa Selulung. l Swasrina
MBP/ina
Warga melakukan persembahyangan dan pembersihan sebelum melepas anak sapi.
Disebut ’’Wadak’’, Pantang Diganggu SAPI pangeleb yang dilepaskan setelah prosesi ngaturang bakti pangeleb akan dibiarkan hidup bebas. Anak sapi yang kemudian disebut dengan istilah duwe wadak itu dibiarkan pergi ke mana pun. Sehingga tak jarang sapi itu berkeliaran hingga ke desa-desa tetangga termasuk beberapa desa yang ada di Buleleng dan Tabanan. Bagi warga yang paham tentang keberadaan sapi itu, mereka akan senang bila kedatangan duwe wadak. Termasuk jika bisa singgah dan memakan tanaman yang ada di kebun mereka. Oleh warga, kedatangan duwe wadak dipercaya dapat memberi berkah bagi mereka. Bahkan, ada beberapa warga yang mempercayai sapi tersebut sebagai pemberi kesembuhan. Di mana air liur sapi itu dipercaya bisa menyembuhkan warga yang sakit. Karena itulah sapi liar di Desa Selulung juga dijuluki Jro Balian. Sebaliknya, jika ada warga yang berani mengganggu ataupun menyiksa sapi tersebut lebih-lebih hingga menyebabkannya mati, maka warga tersebut dipastikan akan
mendapat musibah. Seperti yang pernah terjadi selama ini. Di mana ada warga yang nekat mengandangkan sapi tersebut, lantaran kasihan dengan sapi yang belum tentu mendapat makan di alam bebas. Namun bukannya rezeki yang datang, warga tersebut malah jatuh sakit. Widiana mengatakan, biasanya warga yang bersangkutan akan menyadari dirinya terkena penyakit akibat sapi tersebut, setelah meminta petunjuk kepada orang pintar atau yang dalam bahasa Bali dikenal denga istilah nunas baos. “Dari petunjuk itu biasanya terungkap bahwa yang bersangkutan sakit karena pernah menyakiti wadak,” ungkap Bendesa Adat Selulung Nengah Widiana. Oleh karenanya, yang bersangkutan maupun keturunannya akan diminta untuk menyerahkan wadak sebagai penggantinya. Setelah berumur, sapi-sapi tersebut bisa dijual. Tetapi uangnya digunakan untuk membiayai upacara di pura setempat. Atau dipakai untuk pembangunan pura. l Swasrina
18 - 24 Agustus 2014
45
e rti TpRrAoDpI S I
Pengusaha Properti Tergantung Buruh Luar Bali
P
royek rumah dan tempat usaha makin pesat hingga pedesaan. Sementara buruh proyek didominasi dari luar Bali dan pengusaha properti di Bali sangat tergantung dengan kehadiran buruh tersebut. “Kalau Lebaran, proyek pasti gak bisa jalan karena buruhnya pulang kampung semua. Bisa seminggu atau dua minggu mereka di kampung. Jadinya gak bisa jalan,” tegas pengusaha properti I Gede Suardita, S.E., Rabu (6/8). Dia dominan pakai buruh asal Jawa karena ongkos buruh Bali terlalu mahal. Selain itu sering libur sehingga tidak efektif apalagi proyek dikejar target penyelesaian. “Kalau segi kualitas, buruh Bali tidak ada menyaingi,” tambahnya. Di samping itu, menurut own-
er PT Bumi Cempaka Asri ini, paradigma tukang Bali yaitu bila tidak sesuai ongkos hariannya, lebih baik tidak kerja. Itu harus dirubah karena hal tersebut merugikan dan memperburuk ekonomi keluarga. Sementara buruh asal Jawa, selain ongkosnya lebih murah, juga jarang libur. Paling setahun sekali saat hari raya Idul Fitri. “Sekarang saja pasang batu alam banyak digarap tukang dari luar Bali. Memang, kualitas tukang Bali lebih bagus tapi lama-kelamaan kalo tidak ada brand atau keahlian khusus akan tersaingi,” ujar Suardita. Pengusaha asal Tabanan ini menegaskan, sebagian besar pengembang dan pengusaha properti di Bali dominan memakai tukang dari luar Bali. Alasannya mereka sama yakni lebih murah dan jarang libur. Bahkan proyek besar dan hotel kini men-
jamur di Kuta, Kuta Selatan, dan Denpasar, menggunakan tukang dari Jawa dan Indonesia Timur. “Tukang kita kalah segalanya, kalah murah, kalah libur, kalah inovasi, dan kalah nekat. Kalau tidak ingin kalah saing, harus revolusi mental,” ucapnya. Sedangkan pengamat properti John Sadewa punya pandangan beda. Dia menilai saat ini tingkat pendidikan masyarakat Bali sudah meningkat sehingga kebanyakan masyarakat lokal memiliki keterampilan lokal genius yang diperole di sekitar tempat tinggalnya. Untuk bekerja jadi buruh kuli, mereka mulai enggan karena ada pilihan lebih baik. “Kalau soal upah, sebenarnya sama dan standar saja, kecuali pekerja spesialis seperti tukang ukir dan prada, upahnya bisa 2 sampai kali tukang biasa,” tambah John.
Transaksi Rumah Diprediksi Tetap Tinggi Sementara tukang luar Bali, menurutnya lebih banyak dipakai karena gampang didapat. Biasanya mereka punya koordinator masing-masing. Bila memerlukan buruh, cukup hubungi koordinatornya saja dan mereka datang sesuai permintaan. Di samping itu, tukang Jawa sia kerja dan tinggal di proyek berbulanbulan. Kalau ingin pulang, mereka giliran dan yang penting bisa kirim uang untuk keluarganya di kampung. “Kalau tukang Bali agak susah mondoknya. Selain ingin kumpul dengan keluarga, biar bisa mengikuti kegiatan sosial maupun adat-istiadat di kampung. Akibatnya mereka banyak libur karena banyak hari raya dan kegiatan adat,” ujarnya. l Kerta Negara
PEREKONOMIAN Bali masih lebih bagus dibandingkan ekonomi daerah lainnya di Indonesia. Pelaku bisnis di Bali berkeyakinan ekonomi Bali akan baik, khususnya pebisnis jasa keuangan yang terkait dengan program kredit pemilikan rumah (KPR). Menurut pengamat properti, Agung Indra, sampai sekarang bank belum merespons turunnya BI rate. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan, apabila bank menurunkan suku bunga terhadap nasabahnya. Karenanya, sampai saat ini belum ada bank menurunkan suku bunga KPR. ‘‘Kami menyadari langkah tidak merespons penurunan BI rate oleh lembaga keuangan mikro (LKM) di Bali. Banyak pertimbangan yang harus dilalui apabila mengubah suku bunga bank. Di samping itu, banyak pelaku bisnis keuangan ini berkeyakinan ekonomi di Bali akan normal. Artinya, dampaknya
ada tetapi kecil, khususnya di sektor KPR masyarakat diprediksi akan tetap melakukan transaksi,’’ kata Agung Indra, baru-baru ini. Agung Indra memberikan ilustrasi krisis keuangan di Indonesia atau dunia. Sudah beberapa kali terjadi, tetapi dampaknya bagi Bali sangatlah kecil. Pengamat keuangan Arya Diatmika juga menegaskan belum adanya respons bank menurunkan suku bunga KPR merupakan langkah kehati-hatian LKM atau bank. Kalau salah langkah, maka akan memengaruhi kinerja bank. Sepertinya kebanyakan bank di Indonesia masih menuggu sinyal-sinyal pebisnis secara umum. Kalau belum ada yang berani menurunkan suku bunga, khususnya untuk KPR, maka yakin tidak akan ada yang berani memulainya. l Suasta
GAYA HIDUP
Ida Ayu Putu Sri Ambari
Sang Komandan Anak
P
erjuangan Gianyar menuju kabupaten Layak Anak tidak terlepas dari peran Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PP dan KB) setempat di bawah komando Ida Ayu Putu Sri Ambari. Sosok keibuan ini dikenal sangat peduli anak-anak. Ia pun menguras tenaga dan pikiran untuk mendorong masyarakat dan pemerintah memenuhi seluruh hak anak, mulai dari hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi. “Mewujudkan Gianyar menuju Kabupaten Layak Anak dideklarasikan 9 Agustus 2014 lalu,” tegas Dayu Ambari.
Semua pelayanan publik yang berkaitan dengan anak mesti memberikan pelayanan yang ramah anak, sehingga anak-anak yang menerima pelayanan tersebut merasa aman, nyaman dan gembira. Kendati masih memerlukan sejumlah pembenahan namun secara umum Kabupaten Gianyar sudah layak menyadang predikat sebagai kabupaten menuju layak, karena pemenuhan terhadap hak-hak anak sudah kita lakukan di Kabupaten Gianyar. Indikasinya Gianyar memiliki sumber daya manusia (SDM) anak maupun sarana yang mendukung kegiatan anak. l Darmada
Gianyar Menuju Kabupaten Layak Anak ANAK merupakan aset paling berharga keluarga, lingkungan dan keberlangsungan masa depan bangsa. Untuk itu hak anak, mulai dari hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi menjadi kewajiban dan tanggung jawab bagi stakeholder untuk dipenuhi. Pemerintah pusat, melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencanangkan program kabupaten/ kota layak anak di seluruh Indonesia untuk mendorong terpenuhinya hak anak. Gianyar sebagai kabupaten seni dan budaya, selama ini telah memberikan ruang bagi pemenuhan hak anak dengan berbagai kebijakan dan program, adat istiadat, namun belum terintegrasi. Melalui kebijakan mewujudkan Gianyar menuju kabupaten layak anak pemenuhan hak anak mulai dari regulasi, kebijakan dan implementasi hingga aspek administrasi dapat terpenuhi. Pemerintah Kabupaten Gianyar beberapa tahun terakhir ini terus berbenah diri dalam upaya mewujudkan Gianyar menuju Kabupaten Layak Anak (KLA). Beragam inovasi dilakukan bersama masyarakat untuk memenuhi seluruh hak anak. Misalnya, anak-anak diberikan ruang untuk melakukan kreativitasnya, semua layanan publik yang berkaitan dengan anak, seperti rumah sakit, puskesmas, sekolah, swalayan, perusahan dan tempat umum lainnya mesti memberikan pelayanan yang ramah anak. Sehingga
48
18 - 24 Agustus 2014
anak-anak yang menerima pelayanan tersebut merasa aman, nyaman dan gembira. Ke depan, semua tempat pelayanan publik tersebut menyediakan ruang atau rumah untuk tempat bermain anak-anak. Seperti, Puskesmas Blahbatuh II, tempat ini sudah menerapkan puskesmas ramah anak, dengan menyediakan rumah ramah anak sejak Juli 2014. Di rumah anak ini disediakan fasilitas layanan kesehatan khusus untuk ibu dan anak, ada tempat khusus pemeriksaan anak, tersedianya taman gizi, tempat bermain, pojok ASI, pojok oralit, tempat pelayanan korban kekerasan terhadap anak, tersedianya dokter anak dan konseling bagi anak serta tersedianya ruang tumbuh. Inovasi rumah Ramah Anak ini, menurut Kepala UPT Kesmas Blahbatuh II Dr. Made Intan Ayu Rini, akan membuat masyarakat merasa mendapatkan perhatian yang baik dan mendorong masyarakat membawa anaknya mendapatkan pelayanan kesehatan. Dengan demikian diharapkan, dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan menurunkan angka kesakitan dan angka kematian bayi, Balita dan anak. Rencananya, Pemkab Gianyar juga akan membuat taman bermain anak seperti di Lapangan Astina Raya, Taman Kota Ciung Wanara, Sport Centre dan tempat rekreasi lainnya di seluruh kecamatan yang ada. “Kita akan buat taman bermain di setiap kecamatan dalam rangka memenuhi
ruang bagi anak-anak dalam mengembangkan kreativitasnya,” ujar Kepala Badan PP dan KB Kabupaten Gianyar Ida Ayu Putu Sri Ambari. Hal lainnya yakni dengan pembentukan Forum Anak Daerah (FAD) Kabupaten Gianyar. Pemkab Gianyar juga sangat terbuka dalam memberikan fasilitas kepada anak-anak untuk tumbuh kembang. Dalam program pendidikan, Pemkab Gianyar telah menggulirkan TK dan SD ramah anak dengan memperhatikan kesehatan dan pendidikan anak. Sehingga semua anak-anak bisa bersekolah dan dapat mengembangkan potensi masingmasing. “Pemerintah daerah sangat mendukung berbagai kreativitas anakanak,” ujar Sri Ambari. Gianyar menuju Kabupaten Layak Anak juga didukung dengan pengukuhan Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI). Kehadiran asosiasi ini diharapkan bisa memperhatikan hak-hak anak, dan ibu hamil untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. “Saat ini sudah ada beberapa perusahan yang masuk anggota APSAI, seperti swalayan, bank, hotel, museum dan perusahaan lainnya. Bahkan di antaranya sudah memberikan beasiswa bagi siswa miskin yang diserahkan 9 Agustus 2014. l Darmada
HIBURAN
T
’’Batman v Superman’’ Tunda Tayang
ayang perdana film “Batman v Superman: Dawn of Justice” besutan Zack Snyder dijadwal ulang dari 6 Mei 2016 menjadi 25 Maret 2016, awal pekan Paskah. Langkah ini untuk menghindari konfrontasi langsung dengan “Captain America 3”. “Batman v Superman”, yang dibintangi Ben Affleck dan Henry Cavill, dijadwalkan ulang karena Marvel Studio dan Disney telah mengumumkan Mei 2016 sebagai pekan pertama untuk filmnya. Sedangkan Warner Bros dan
DC Comics mengumumkan tanggal baru pada hari Rabu, bersamaan dengan pengumuman tanggal rilis sembilan judul film DC Comics hingga Juni 2020. Hal ini berarti dua film superhero dari Warner Bros dirilis awal 2016. Dengan demikian, Warner dan DC pada dasarnya menyatakan perang terhadap Marvel dan Disney, yang telah menjadi pemasok film superhero paling produktif. Tanggal baru yang diumumkan oleh Warner adalah 8 Agustus 2016, 23 Juni 2017, 17 November 2017, 23 Maret
2018, 27 Juli 2018, 5 April 2019, 14 Juni 2019, 3 April 2020, dan 19 Juni 2020. Sejumlah film lain kemungkinan akan mencakup beberapa judul dari “Justice League” dan sempalan “Wonder Woman”. Warner juga mengumumkan tanggal 16 November 2018 dan 20 November 2020 kemungkinan untuk film kedua dan ketiga trilogi “Fantastic Beasts” karya JK Rowling. l Pusdat BP
18 - 24 Agustus 2014 49
PROFIL
Made Subrata
Tantang Tim untuk Maju
R
esort Manager The Elysian Boutique Villa Hotel Made Subrata menjadi salah satu sosok yang dikenal ulet oleh team-nya. Setiap hari, laki-laki kelahiran 18 Agustus yang hobi olahraga dan travelling ini tidak pernah bosan memberikan motivasi kepada timnya lewat briefing. Alhasil, dia memiliki tim yang royal, komit dan penuh dedikasi untuk memajukan The Elysian. Made Subrata menyadari bahwa setiap pemimpin memiliki leadership style yang berbeda. “Bagi saya happy employe is happy guest. Setiap sore saya tidak pernah absen memberikan motivasi, mendorong dan mengevaluasi staf. Saya selalu ingin memberikan otoritas pada staf untuk membuat keputusan, bertindak, bicara kemudian merealisasikannya. Kuncinya, apa pun yang dilakukan harus positif, membangun, terarah dan selalu ada koordinasi,” jelas laki-laki yang pernah bekerja di InterContinental, Conrad dan Sheraton Kuta. Untuk membangun motivasi staf, lanjutnya, dia pun punya program training khusus tiap Kamis, masing-masing department head harus memotivasi dan me-refresh pengetahuan masing-masing tim. “Kita juga ada English Class untuk semua department yang diberikan oleh pelatih undangan. Tujuannya agar mereka mendapatkan pengetahuan plus dan kepercayaan diri,” ungkapnya. Menurutnya, memupuk potensi staf dengan memberikan training baik soft skill ataupun hard skill adalah kunci utama. “Staf di sini sangat solid dan dekat dengan tamu. Bahkan, sebagian besar staf sudah bekerja sejak vila ini beroperasi. Sehingga repeater guest yang datang ke sini sudah tahu dan kenal mereka,” tuturnya. Seiring berjalannya waktu, tantangan bekerja di bidang pariwisata makin besar. Oleh sebab itu, kualitas dan fasilitas harus dipertahankan untuk menjaga image akomodasi. “Seberapa pun mewah dan bagusnya vila atau hotel, sumber manusia yang ada di dalamnya sangatlah penting dan harus di perhatikan. Hal ini bisa dilihat di TripAdvisor, kebanyakan tamu memberikan komentar tentang staf, bukan?” imbuhnya. l Ocha www.bali-travelnews.com
50
18 - 24 Agustus 2014
51 | 18 - 24 Agustus 2014
Penduduk Pendatang Anggaran Kurang, Penertiban Kurang
WELCOME BALIBALI TO
RP 20.000