12 HALAMAN
NOMOR 277 TAHUN KE 70
Online :http://www.balipost.co.id http://www.balipost.com E-mail: balipost@indo.net.id
terbit sejak 16 agustus 1948 perintis: k. nadha HARGA LANGGANAN Rp 90.000 ECERAN Rp 4.000
balipost (166 rb Like) http://facebook.com/balipost
Minggu umanis, 10 juni 2018
Pengemban Pengamal Pancasila
Amien Rais Tantang Jokowi ’’Duel’’
Grup E
dan konstitusi,” kata Amien. Hal ini diungkapkan Amien Rais dalam ‘’Tausyiah Kerakyatan 2019 Indonesia PascaJokowi’’ di Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (9/6) kemarin. Saat itu, Amien juga bicara soal Koalisi Keummatan. Amien mendapatkan pesan dari imam besar FPI Habib Rizieq Syihab untuk menyatukan kekuatan agar Koalisi Keummatan dapat mengalahkan Jokowi. “Singkat kata, memang kita perlu ada Koalisi Keummatan. Jadi, saya sudah
ketemu Habib Rizieq. Saya dan Prabowo sudah ketemu langsung di kediamannya,’’ tegasnya. Amien lalu menyinggung soal lagu ‘’#2019GantiPresiden’’ yang jadi viral. Menurutnya, lagu itu masuk ke hati sebagai refleksi atas kondisi masyarakat saat ini. Selanjutnya, Amien bicara soal faktor kemungkinan jatuhnya Jokowi. Seperti yang pernah diungkapkannya, Amien mengatakan pemimpin akan jatuh saat sudah mulai
melakukan kekeliruan hingga blunder. “Nah imam besar juga mengatakan, kita prihatin, 10 juta buka lapangan kerja, ternyata untuk tenaga kerja Cina. Kemudian tidak nambah utang, (tapi) malah utang makin tidak masuk akal. Biasanya kalau seorang pemimpin kalau mau jatuh itu bergerak dari keliru, salah, blunder, gitu seterusnya,” tutur Amien yang juga menjabat Ketua Dewan Pembina Persaudaraan Alumni 212. (kmb)
BPM/eka
BUKA PUASA - Menteri Koperasi dan UMKM, AAGN Puspayoga, tampak akrab dengan anak-anak yatim piatu Uswatun Hashanah, Denpasar saat buka puasa bersama di Sanur, Sabtu (9/6) kemarin.
@balipost_com http://instagram.com/balipostcom
TELEPON: Iklan/Redaksi/Sirkulasi (0361) 225764 ,233801Faksimile: 227418
Brazil Ingin Juara
Jakarta (Bali Post) Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais, tampaknya benci dengan kepemimpinan Presiden Jokowi. Beberapa kali, Amien Rais mengkritik Jokowi. Sabtu (9/6) kemarin, dia bahkan menantang Jokowi ‘’duel’’. Secara terbuka, Amien Rais ingin Jokowi tak lagi menjadi Presiden RI di periode mendatang. Dia mengajak Jokowi berduel secara gentle. “Saya menantang Jokowi, mari kita bertanding secara fair. Mari kita duel secara gentle. Artinya apa, kita nggak usah jihad dengan fisik, menimbulkan bloodshed, tumpah darah, itu nanti ada masanya, kalau semua mentok saya kira itu perlu. Tapi itu masih jauh, masih ada cara lain, yaitu kita turunkan dengan demokrasi
@balipostcom (5.495 Follower) http://twitter.com/balipostcom
Moskow – Brazil bisa bangkit dan meraih gelar juara dunia. Demikian diungkapkan oleh Roberto Carlos. Eks pemain Real Madrid itu senang melihat performa Timnas Brazil di bawah arahan Adenor Leonard Bacchi atau Tite jelang Piala Dunia 2018 digelar di Rusia. Mantan bek Timnas Brazil itu yakin skuad yang ada sekarang bisa membawa pulang gelar. “Kami sangat menderita di Piala Dunia 2014. Tapi Brazil menunjukkan kemajuan signifikan,” ujarnya beberapa waktu lalu.
“Sekarang, kami memiliki pelatih baru. Timnas Brasil pun kembali memperlihatkan permainan menakjubkan,” sambung Roberto Carlos. Brazil berambisi memenangkan Piala Dunia ketika menjadi tuan rumah empat tahun lalu. Tapi, seperti 1950, mereka justru mendapat pengalaman memalukan dikalahkan Uruguay pada final. Sedangkan pada 2014, mereka dihancurkan Jerman 1-7 pada semifinal. Setelah itu, Brazil kembali mengecewakan pada Copa America 2015 dan 2016. Kedatangan Tite, yang menggantikan Dunga, kemudian mengubah suasana. Brazil bermain impresif di sisa kualifikasi dan menjadi negara pertama yang meraih tiket ke Piala Dunia Rusia. “Saya kira kami punya kesempatan menjadi juara di turnamen mendatang,” tuturnya. Brazil merupakan negara tersukses di Piala Dunia. Tidak pernah absen, Selecao menjadi juara lima kali, unggul satu titel atas Jerman. Diperkuat pemain-pemain bintang seperti Neymar Jr, Philippe Coutinho, Thiago Silva, Marcelo, Willian, dan lainya, Tim Samba akan menjadi salah satu tim kuat di Piala Dunia 2018. Siapa yang bakal mendampingi Brazil ke babak 16 besar? Ini yang sulit diprediksi. Swiss, Kosta Rika, dan Serbia dinilai punya peluang yang sama. (kmb33/afp)
Menkop Puspayoga Buka Puasa Bersama Puluhan Anak Yatim Piatu Denpasar (Bali Post) Puluhan anak yatim piatu dari Panti Asuhan Uswatun Hashanah, Dusun Wanasari, Denpasar Utara mengikuti berbuka puasa yang digelar Bali Post dan Bali TV, Sabtu (9/6) kemarin, di Sanur. Kegiatan berbuka bersama ini dihadiri Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga didampingi Ny. Bintang Puspayoga. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali I Gede Indra, S.E., M.M. juga menghadiri kegiatan berbuka puasa ini. Dalam kegiatan tersebut diserahkan bingkisan kepada 50 anak panti asuhan. Puspayoga mengatakan, kegiatan berbagi ini merupakan keharusan. Di hadapan anak-anak
yatim piatu ini, Puspayoga memberikan nasihat untuk saling berbagi. “Rezeki kita sebenarnya milik Tuhan, makanya kalau dapat rezeki harus berbagi,” katanya. Ia juga mensosialisasikan Pancasila. Bahkan, Puspayoga mencoba anak-anak dari kelas I-VI SD yang yatim piatu itu satu-satu menyebut sila-sila Pancasila. ‘’Ternyata anak-anak ini hafal Pancasila,’’ ujarnya. Anak yang hafal diberikan hadiah. Ia yang mengaku sudah berkeliling Indonesia, menilai anak-anak di Bali relatif lebih mampu menghafal Pancasila dibandingkan daerah lain. Ia pun menyampaikan terima kasih pada para guru dan orangtua
yang membimbing anakanak tersebut. “Pancasila itu merupakan hal yang mempersatukan Bangsa Indonesia. Kita bisa hidup berdampingan dan harus disyukuri, serta berterima kasih pada pendahulu kita. Umat lain harus berterima kasih pada umat Muslim, karena memiliki sikap toleransi yang bisa mewujudkan adanya negara Pancasila ini,” tegasnya. Kepala Panti Asuhan, H. Sya’ban, S.Ag., mengucapkan terima kasih atas acara berbuka bersama ini. Kegiatan ini dinilainya berdampak positif terhadap anak-anak karena merupakan upaya berbagi kasih dan rezeki. (kmb18)
KRAMA BALI MenyeBUT ’’NYAMA’’ ISLAM Setiap hari raya Kuningan, perhatian umat Hindu di Bali tertuju pada piodalan di Pura Sakenan, Serangan. Yang istimewa saat piodalan Sabtu (9/6) kemarin adalah bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Sementara di sisi lain, perilaku kehidupan masyarakat Bali (baca: Hindu) dengan umat Islam, terjalin sejak lama.
BPM/mud
BURDAH - Kesenian Burdah tetap dilestarikan oleh warga Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada.
Mengusung Semangat ”Manyamabraya”
AKULTURASI seni, budaya, dan kehidupan sosial Hindu Bali dengan Islam di Buleleng muncul sejak masa Kerajaan Buleleng, ratusan tahun yang lampau. Ini terbukti, adanya satu desa yang didominasi berpenduduk Muslim. Wilayah itu adalah Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada. Kehidupan sosial kemasyarakatan antara Hindu dengan Islam “terpatri” lewat konsep manyamabraya (kekeluargaan -red). Warga yang beragama Muslim dan krama Bali serta warga di desa tetangga hidup rukun sampai sekarang. Tetua dan tokoh masyarakat Desa Pegayaman menye-
butkan, pada masa Raja Buleleng Ki Anglurah Pandji Sakti memberikan para kesatria kerajaan untuk menguasai wilayah Pegayaman yang dahulu merupakan hutan belantara dengan tanaman gatep. Kala itu, para kesatria ini datang dari Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Blambangan, Jawa Timur (Jatim) merupakan remaja dan orang dewasa yang belum menikah. Setelah lama menjadi abdi dalem kerajaan, para kesatria itu kebanyakan menikah dengan mempersunting perempuan dari Buleleng dan daerah sekitarnya. Hal. 11 Penduduk Asli
Kelurahan Serangan yang terletak di Denpasar Selatan, tidak saja terkenal karena ada Pura Sakenannya. Kemasyhuran nama Serangan tidak bisa dilepaskan dari adanya toleransi yang terjaga antara warga yang beragama Hindu dengan warga Muslim setempat. Warga Muslim yang menempati Kelurahan Serangan tergabung dalam satu lingkungan, yakni Kampung Bugis. Keberadaan kampung ini diakui secara dinas dan juga adat. Mereka diterima dengan baik oleh krama Bali mulai dari zaman kerajaan. Pengamat babad, I Wayan Turun bahkan menyebutkan saking toleransi umat Hindu dengan warga Muslim mereka menyebutnya dengan istilah Nyama Islam. Nyama artinya bersaudara kandung. Jadi, ikatan emosi mereka seperti bersaudara kandung alias tidak ada batas. Wayan Turun menambahkan hal yang sama juga dilakukan krama Bali kepada umat Islam di Klungkung, Buleleng, Jembrana, Karangasem dan sebagainya dengan sebutan nyama. Makanya budaya ngejot, meniru kearifan lokal
Bali masih melekat pada umat Islam di Bali. Kepala Lingkungan Kampung Bugis Serangan Muhadi mengakui kehidupan toleransi antara warga Muslim di Kampung Bugis dengan umat Hindu yang tersebar di lingkungan lainnya di kelurahan tersebut, cukup baik. Bahkan, hingga kini tetap terjaga dan saling menghormati. “Kami sudah hidup rukun sejak nenek moyang kami. Tidak pernah ada gejolak dalam melaksanakan kegiatan adat dan agama. Semua berjalan sangat harmonis,” ujar Muhadi yang ditemui di Kantor Lurah Serangan. Terjaganya kerukukan dan toleransi antarwarga di Serangan, tidak lepas dari keberadaan empat pilar ‘’S‘’ yang dijunjung bersama. Empat pilar ‘’S’’ tersebut yakni Serangan, sebagai sebuah tempat mereka bermasyarakat, Sakenanan dan Susunan Wadon, yang merupakan tempat suci bagi umat Hindu. Satu lagi Syuhada yang menjadi tempat suci bagi umat Muslim di kampung setempat. “Inilah yang menjadi acuan bagi kami untuk bisa tetap rukun,” katanya. Hal. 11 Puri Pemecutan
BPM/gik
SEMBAHYANG - Umat Hindu dan Muslim saat melaksanakan persembahyangan di Pura Bhur Loka.
Umat Hindu dan Muslim Sembahyang Bersama
MASUKNYA Agama Islam di Jembrana diperkirakan mulai pada tahun 1653 melalui orang-orang Bugis Islam yang transit di pesisir Jembrana. Menurut sumber-sumber lokal dan tulisan berhuruf Arab berbahasa Melayu milik Datuk Haji Sirat (almarhum) dari Kampung Cempaka Loloan Barat yang berjudul “Hikayat Islam di Jembrana tahun 1935” ke-
datangan orang-orang Islam di Jembrana Suku Bugis atau Makassar terdiri dari dua gelombang yakni tahun 16531655 saat peperangan antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Dan gelombang kedua pada tahun 1660-1661 sewaktu terjadi peperangan antara Makassar dengan VOC atau kompeni Hindia Belanda. Hal. 11 Daeng Narewa
Menoleh Masyarakat Islam Kampung Gelgel
Ada Sejak Abad Ke-14, Sempat Gunakan Nama Bali Kampung Gelgel menjadi salah desa yang menambah warna Kabupaten Klungkung. Desa yang seluruh warganya beragam Islam ini hidup harmonis dengan umat Hindu. Bak sehelai benang yang terajut menjadi kain.
KAMPUNG ini tak jauh dari pusat Kota Semarapura. Lokasinya di pinggiran, namun tetap melekat dengan kesan ramai. Begitu menginjakkan kaki, terlihat bangunan bergaya modern berdiri di sepanjang jalan yang menjadi akses langsung dari kota menuju By-pass Ida Bagus Mantra. Di tengah-tengahnya berdiri Masjid Nurul Huda. Memasuki bulan puasa, warga pun banyak datang untuk berbuka bersama. Bahkan, tradisi magibung yang banyak ditemui di Bali, masih
juga dilakukan. Maknanya pun sama. Menumbuhkan rasa kekeluargaan antarsesama. Kehadiran masyarakat di kampung seluas 8,5 hektar ini memiliki histori menarik. Ketua Takmir Masjid Nurul Huda, Haji Mahyudin, tak sungkan berbagi cerita. Bermula sekitar abad ke14, Raja Gelgel pertama, Ida Dalem Ketut Ngelesir, berkunjung ke Majapahit. Ketika pulang, diajak 40 pengawal beragama Islam. “Mereka lalu diberikan tem-
pat tinggal di sini. Sangat dekat dengan pusat kerajaan,” ucapnya. Di kampung ini, mereka hidup seperti biasa. Bahkan, penamaan warganya per nah menggunakan seperti orang Bali. Anak pertama dilengkapi Wayan atau Putu, kedua Made, ketiga Nyoman, dan keempat Ketut. Namun, menurut Haji Mahyudin hal itu ada sekitar seratus tahun lalu. “Bapak saya isi Nyoman. Setelah itu tidak ada lagi. Tetapi kalau dilihat masyarakat Bali, kan ada
juga seperti itu,” katanya didampingi Sekdes Kampung Gelgel, Slamet Hafizi. Tak diketahui apa yang menyebabkan berubah, namun tak memengaruhi kehidupan masyarakatnya. Begitu juga dengan tempat ibadah. Masjid Nurul Huda tidak semegah masjid saat ini. Hanya bertiang pohon kelapa dan beratap ilalang. Kehidupannya semakin berkembang hingga menginjak ke zaman modern ini. Hal. 11 Pindah ke Tempat Lain
BPM/sos
BUKA PUASA - Suasana buka puasa di Masjid Nurul Huda, Desa Kampung Gelgel, ikut mengundang tokoh umat Hindu.
2
Daerah
Minggu Umanis, 10 Juni 2018
Depresi Ditinggal Mati Istri, Lansia Gantung Diri Bangli (Bali Post) Diduga depresi lantaran ditinggal mati istrinya sejak setahun yang lalu, seorang pria lansia di Banjar Kendal Desa Songan, Kintamani memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Mangku Karem (70) ditemukan tewas gantung diri di sebuah pohon nangka tak jauh dari rumahnya, Sabtu (9/6) kemarin. Saksi yang pertama kali melihat kejadian itu, yakni I Gede Rastawan (14). Ketika itu, saksi yang baru bangun tidur membuka jendela rumahnya. Saksi langsung terkejut melihat sosok Mangku Karem terbujur dengan posisi leher tergantung di sebuah pohon nangka. Menyaksikan pemandangan itu, saksi pun spontan berteriak dan memberitahukan kejadian itu ke warga di sekitar rumahnya. Sejumlah warga yang
mendengar teriakan saksi, langsung mendatangi lokasi untuk mengecek kondisi korban. Kejadian itu kemudian disampaikan ke anak korban, I Wayan Putra (36), yang saat itu berada di Denpasar. Warga juga melaporkan kejadian itu ke Polsek Kintamani. Tak berapa lama, petugas kepolisian dari Polsek Kintamani yang mendapat laporan tersebut langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP. Dibantu warga, mayat korban diturunkan dan dibawa ke rumahnya. Polisi dan tim medis juga melakukan pemeriksaan terhadap tubuh korban untuk mengetahui penyebab kematian korban. Berdasarkan hasil pemeriksaan luar, tidak ditemukan adanya tandatanda kekerasan di tubuh korban. Korban dipastikan meninggal karena bunuh diri. Sebab, di bagian leher korban
ditemukan adanya luka bekas jeratan, lidah menjulur dan ciri lainnya orang bunuh diri. “Diperkirakan, korban meninggal sekitar enam jam sebelum pemeriksaan,” kata Kasubag Humas Polres Bangli AKP Sulhadi. Sementara itu, dari hasil keterangan sejumlah saksi, diketahui bahwa sebelum mengakhiri hidupnya, korban selalu sedih sejak ditinggal mati istrinya akibat sakit setahun lalu. Korban selama ini hidup sendirian di rumahnya, sementara anak satu-satunya tinggal dan bekerja di Denpasar. “Berdasarkan hasil penanganan tersebut disimpulkan bahwa korban meninggal dunia murni akibat bunuh diri dengan cara gantung diri. Mengenai motifnya, diduga korban depresi akibat tak tahan menjalani hidup sendirian setelah ditinggal istrinya meninggal dunia,” jelas Sulhadi. (kmb40)
BPM/kmb
Pemudik Lebih Banyak Pilih Menyeberang pada Malam Hari
PADAT - Arus mudik di Pelabuhan Gilimanuk mulai padat.
Negara (Bali Post) -
BPM/bit
TRADISI - Sudah tradisi pada hari raya Kuningan di Desa Bongan, Tabanan digelar tradisi masuryak.
Semarak, Tradisi ’’Masuryak’’ di Desa Bongan Tabanan (Bali Post) Tradisi masuryak pada hari raya Kuningan tetap berlangsung semarak. Tradisi yang digelar setiap hari raya Kuningan ini kembali digelar Sabtu (9/6) kemarin, di Banjar Bongan Gede, Desa Bongan, Tabanan. Prosesi masuryak dimulai sekitar pukul 09.00 wita sampai pukul 11.00 wita. Prosesi ini diawali dengan persembahyangan mulai dari rumah masing-masing warga, dilanjutkan persembahyangan di Pura Dalem Khayangan Tiga. Usai sembahyang di Pura Khayangan Tiga, persembahyangan dilangsungkan di merajan (pura keluarga). Tujuannya untuk memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, begitu juga kepada para leluhur yang diyakini berada di rumah sejak
hari raya Galungan hingga Kuningan. Masuryak kemudian dilanjutkan dengan membawa segala perlengkapan upacara seperti banten dan sesajen, termasuk banten yang disimbolkan sebagai Raja Duwata (leluhur) ke depan pintu gerbang rumah masing-masing. Selanjutnya, para pemangku atau yang dituakan melantunkan doa-doa yang ditutup dengan masuryak. Masing-masing keluarga memberikan bekal berupa uang logam maupun kertas. Uang tersebut dilemparkan ke udara kemudian disambut warga. Laki perempuan anak-anak berebut saling dorong untuk mendapatkan uang. Dari pantauan setiap hari raya Kuningan, sekitar puluhan juta rupiah uang dipersembahkan oleh warga Banjar Bongan Gede untuk tradisi masuryak. Klian Adat Banjar Bongan
Gede, I Nyoman Parwata, mengatakan tradisi masuryak merupakan tradisi turun-temurun yang ada di banjarnya. “Masuryak bertujuan mengantarkan roh leluhur kembali ke surga. Karena sebelumnya yakni pada hari raya Galungan para leluhur berada di rumah. Setelah sepuluh hari tepatnya pada hari raya Kuningan, kami antarkan leluhur kembali ke surga. Kami antar dengan sukacita bergembira dengan bersorak sambil melemparkan uang ke udara yang diperebutkan banyak orang,” tandasnya. Besarnya uang yang digunakan dalam masuryak bervariasi tergantung kemampuan ekonomi warga. Tradisi ini ada secara turuntemurun tetap dilaksanakan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan hari raya Kuningan. (kmb28)
Penuhi Kebutuhan Hotel
Beberapa Jenis Buah Harus Impor Mangupura (Bali Post) Pihak hotel bukannya tidak mau memakai produk lokal. Sejatinya, mereka ingin memakai produk lokal dan mendapatkan semua kebutuhan hotel di lokal. Karena kelebihan menggunakan produk lokal adalah mudah didapat. Hanya, selain kualitas produk lokal yang kalah saing dengan produk impor, kebutuhan hotel juga tidak semuanya tersedia di lokal. Sehingga hotel terpaksa melakukan impor. Ketua Bali Hotel Association (BHA) Ricky Putra mengatakan, secara keseluruhan hotel menggunakan 75-80 persen produk lokal. Kebutuhan buah 80-85 persen merupakan produk lokal, sayuran 85-90 persen produk lokal, seafood hampir 100 persen menggunakan produk lokal, daging sapi dan kambing 50 persen produk lokal, sisanya impor. Kebutuhan tersebut tidak hanya dipasok dari lokal Bali tetapi juga regional seperti Sumatra dan Jawa. Seafood dipa-
sok dari Bali khususnya Bali Selatan seperti Nusa Dua, Jimbaran. Sementara sayuran dipasok dari Bedugul, Petang, Karangasem, Tabanan. Namun, pasokan itu pun melalui vendor atau rekanan. Diakui produk impor seperti daging ia masih mengimpor lantaran kualitasnya lebih bagus. Seperti wagyu, beef, lamb. Sayur juga ada beberapa yang diimpor seperti brokoli dan wortel. Pemakaian produk lokal bukan tanpa alasan. Selain mudah didapat, pemakaian produk lokal juga merupakan salah satu visi misi BHA membantu petani lokal. ”Misi BHA setiap hotel, kita sarankan sebanyak-banyaknya memakai barang lokal karena barang lokal ketersediaannya bisa cepat, ketika kita ada tambahan pun datangnya bisa lebih cepat. Kalau semua kebutuhan tersedia di lokal, kita sangat senang. Kita semakin dimudahkan dan chef kita tidak bingung menunggu barang atau jika ada tambahan. Karena kesulitan impor itu
adalah lama dan tidak pasti,” ujarnya. Namun, ia menyadari, dalam perjalanannya banyak juga vendor atau rekanan lokal yang masih memiliki kendala dari sisi kualitas. “Ya ke depannya semakin banyak vendor lokal dengan produk lokal akan semakin bagus,” imbuhnya. Perlahan-lahan diakui, produk lokal kualitasnya mulai meningkat. Bahkan, dengan perbaikan kualitas itu, beberapa produk yang dulunya impor kini telah dipasok dari lokal. Seperti anggur yang dulunya 100 persen impor, kini hanya 50 persen yang impor. “Sayur juga demikian, bahkan hampir semua pengembangan yang dilakukan untuk produk lokal mengarah ke arah yang lebih bagus,” imbuhnya. Ia berharap petani yang menghasilkan produk kebutuhan hotel semakin meningkat kualitasnya dan standar kualitas juga harus diperhatikan. “Kita berharap standar kualitasnya kontinu,” imbuhnya. (kmb42)
Para pemudik lebih banyak memilih menyeberang pada malam hari. Akibatnya, antrean cukup padat pada malam hari. Sementara pada siang hari tampak sepi. Manajer Operasional PT ASDP Indonesia Ferry Pelabuhan Gilimanuk Heru Wahyono, Sabtu (9/6) kemarin, membenarkan kalau pemudik pada pagi hingga siang hari cenderung sepi. “Seperti hari Jumat kemarin, kendaraan pemudik ramai berdatangan sejak petang hingga malam hari,” jelasnya. Dikatakannya, meskipun cukup padat, menjelang pagi kendaraan yang datang Jumat (8/6) malam sudah seluruhnya bisa masuk ke kapal, sehingga saat pagi situasi di Pelabuhan Gilimanuk sepi. Menurutnya, kecenderungan pemudik melakukan perjalanan pada waktu sore atau malam terjadi setiap tahun, padahal jika berjalan pagi hingga siang hari, mereka tidak akan terjebak antrean karena situasi pelabuhan sepi. Setiap tahun, katanya, pemudik memang cenderung memilih menyeberang pada malam hari. Padahal bagi pemudik yang datang ke pelabuhan siang hari, pihaknya menyediakan tenda agar tidak kepanasan. Terkait puncak arus mudik, berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya serta data jumlah kendaraan yang masuk ke pelabuhan, pihaknya mem-
perkirakan akan terjadi pada H-4 hingga H-2. Pihaknya menduga sebagian besar pemudik belum berdatangan, karena dari data kendaraan yang masuk pelabuhan baru saja terjadi peningkatan. Dikatakan sebelum ada peningkatan beberapa hari belakangan ini, belum ada pemudik yang pulang karena jumlah kendaraan yang masuk pelabuhan stabil. Karena itu, pihaknya tetap mengantisipasi jika terjadi lonjakan drastis jumlah kendaraan yang datang. Dia mengungkapkan, dibandingkan tahun lalu, pada rentang hari yang sama menjelang hari raya Idul Fitri terjadi peningkatan jumlah kendaraan yang masuk. Untuk mengangkut kendaraan beserta pemudik yang datang, menurutnya, sampai hari ini pihaknya masih memberlakukan sistem normal bagi kapal baik dari sisi
jumlah yang dioperasikan maupun lama sandar. Hingga hari ini, waktu bongkar muat kapal masih 32 menit seperti hari biasa, tapi kalau dibutuhkan waktu bongkar muat itu bisa dipercepat. Dari informasi yang dihimpun pada Jumat (8/6) malam, antrean kendaraaan pemudik baik mobil maupun sepeda motor sempat melampaui areal parkir dalam pelabuhan. Untuk mobil, antrean sampai di parkir manuver di depan pelabuhan, sementara sepeda motor sampai di tenda jalan raya juga di depan pelabuhan namun tidak sampai penuh. Kasat Lantas Polres Jembrana AKP Yoga Widyatmoko mengatakan, meskipun terjadi peningkatan jumlah kendaraan, semuanya bisa masuk Pelabuhan Gilimanuk dengan lancar khususnya saat pagi hingga siang hari.
Pengamanan Sementara itu, untuk pengamanan arus mudik selain melibatkan aparat keamanan seperti Kepolisian dan TNI, pengamanan tradisional juga dilibatkan. Bendesa Pakraman Gilimanuk, I Ketut Galung, Sabtu (9/6) kemarin, mengatakan pihaknya diminta untuk ikut membantu mengamankan oleh ASDP. Jika saat arus mudik tahun-tahun sebelumnya, pengamanan hanya dilakukan oleh Polri, TNI serta Satpam pelabuhan, saat ini pecalang Desa Pakraman Gilimanuk juga dilibatkan. Mereka ikut membantu pengamanan di loket tiket dan di areal pelabuhan. Setiap hari, ada sepuluh pecalang yang dilibatkan untuk ikut mengamankan arus mudik. Mereka dibagi menjadi dua shift yang setiap shift masing-masing lima orang. Dalam surat permintaannya itu ASDP meminta 10 orang setiap hari yang dibagi dua shift masing-masing shift 12 jam dengan 5 orang pecalang. Mereka mulai bertugas sejak pagi kemarin, sampai arus mudik selesai. Sedangkan untuk operasional mereka ditanggung pihak ASDP. (kmb)
Pujawali Pura Sakenan Dipadati Umat Denpasar (Bali Post) Bertepatan dengan Saniscara, Kliwon, Kuningan, Sabtu (9/6) kemarin, sejak pagi umat Hindu memadati Pura Sakenan, Desa Pakraman Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan. Mengingat, bertepatan dengan Kuningan kemarin, juga merupakan pujawali di pura tersebut. Tampak hadir dalam persembahyangan, Plt. Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara didampingi Sekda AAN Rai Iswara berserta pimpinan dan staf OPD di lingkungan Pemkot Denpasar. Persembahyangan di-puput dua sulinggih, yakni Ida Pedanda Gede Putra Telaga dari Griya Telaga Sanur dan Ida Pedanda Gede Putra Bluangan dari Griya Gede Delod Pasar. Pelaksanaan puncak pujawali ini terasa sangat khusyuk diiringi dengan tarian wali, topeng, kekidungan, dan gamelan. Plt. Wali Kota Jaya Negara mengatakan, dengan selalu memohon petunjuk ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dari pelaksanaan upacara ini mampu memantapkan sradha bhakti dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Kepada para pamedek yang tangkil ke
BPM/ara
SEMBAHYANG - Suasana persembahyangan di Pura Sakenen, kemarin. Pura Sakenan, diharapkan tertib dan mematuhi aturan yang ada, selalu menjaga kebersihan lingkungan pura serta membuang sampah di tempatnya, seperti sarana persembahyangan yang telah selesai dipakai sehingga tercipta kenyamanan bersama. Panitia Karya Pujawali Pura Sakenan Ida Bagus Gede Pidada yang ditemui di sela-sela kegiatan mengatakan pujawali kali ini menggunakan pebangkit
disertakan pula pakelem alit ke segara. Lebih lanjut dikatakan seperti pujawali sebelumnya, pujawali kali ini didukung oleh pemkot Denpasar dengan segala fasilitasnya. Selain itu, pada tahun 2019 akan dilaksanakan kegiatan Eka Darsa Warsa Karya serangkaian karya di Pura Sakenan. Lurah Serangan Wayan Karma mengatakan, upacara pujawali ini secara rutin dilaksanakan bertepatan pada Saniscara Kli-
won Wuku Kuningan dan penyineban pada hari Selasa mendatang. “Kami berharap pamedek tidak berbondong-bondong tangkil pada puncak pujawali ataupun Manis Kuningan karena Ida Batara akan nyejer selama tiga hari dan pada hari Selasa (12/6) karya baru masineb sehingga masih ada kesempatan untuk tangkil dan terhindar dari suasana ramai serta berdesak-desakan, demi kenyamanan bersama,” harapnya. Terkait dengan penataan parkir maupun kenyamanan pamedek pihaknya mengaku sudah melaksanakan langkah intensif yang sudah dikoordinasikan dengan pengempon, pengemong, serta bantuan dari Pemkot Denpasar, demi kenyamanan dan keamanan pamedek yang setiap tahunnya bertambah. “Melalui bantuan dari Pemerintah Kota Denpasar serta seluruh komponen masyarakat agar selalu menjaga lingkungan areal Pura serta penataan parkir yang rapi diharapkan dapat memberi rasa nyaman dan aman dalam melaksanakan persembahyangan,” katanya. (kmb12)
Perintis : K.Nadha, Pemimpin Umum: ABG Satria Naradha Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Wirata Redaktur Pelaksana : Made Sueca, Dira Arsana Sekretaris Redaksi: Sugiartha Redaktur Eksekutif: Parwata Redaksi: Daniel Fajry, Mawa, Subrata, Diah Dewi, Giriana Saputra, Wayan Sumatika Anggota Redaksi Denpasar: Asmara Putra, Dedy Sumartana, Yudi Karnaedi, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Rindra, Agustoni, Ngurah Kertanegara, Komang Suryawan, Made Miasa, Agung Dharmada, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Maya. Bangli: IA Swasrina, Eka Prananda, Buleleng: Mudiarta. Gianyar: Manik Astajaya. Karangasem: Bagiarta, Klungkung: Sosiawan, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati,Wira Sanjiwani. Jakarta: Nikson, Hardianto, Ade Irawan. NTB: Agus Talino, Izzul Khairi, Raka Akriyani. Surabaya: Bambang Wiliarto. Banyuwangi: Budi Wiriyanto Kantor Redaksi: Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 0215357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalan Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257. Manajer Sirkulasi: Budiarta, Manajer Percetakan: Tri Iriana, Marketing/Pengaduan Pelanggan: K. Budiarta. Ombudsman: Jimmy Silalahi. Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Tarif Iklan : Iklan Mini: minimal 2 baris maksimal 10 baris, Minggu s.d. Jumat Rp 49.500,- per baris, Sabtu Rp 64.350,- per baris Iklan Umum: < 100 mmk Rp 50.000 per mmk, >100 mmk Rp 55.000 per mmk. Iklan Keluarga/Duka Cita: Rp 40.000 per mmk. Advertorial Rp 25.000 per mmk. Iklan Warna: 2 warna Rp 55.000, 4 warna Rp 75.000 per mmk. Pembayaran di muka, iklan mendesak untuk dimuat besok dapat diterima sampai pukul 18.00. Alamat Bagian Langganan/Pengaduan Langganan: Jl.Kepundung 67A Denpasar 80232 Tel: 225764, Facsimile: 227418. Harga Langganan: Rp 90.000 sebulan, Pembayaran di muka. Harga eceran Rp 4.000. Terbit 7 kali seminggu. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers: SK Menpen No. 005/SK/Menpen/ SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit: PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 040-3070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. WARTAWAN BALI POST SELALU MEMBAWA TANDA PENGENAL, DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARA SUMBER
Daerah
Minggu Umanis, 10 Juni 2018
3
Kuningan di Pura Desa Panji
Warga Menikah Keluar Desa, Gelar Upacara ”Naur Sesaon”
BPM/eka
NGEREBEG - Krama lanang Desa Adat Munggu, Mengwi, Badung menggelar tradisi ngerebeg atau makotek bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, Sabtu (9/6) kemarin.
Tradisi ”Ngerebeg” Desa Adat Munggu Merupakan Peringatan Kemenangan Perang
RATUSAN krama lanang (laki-laki) mengenakan pakaian adat sambil membawa tongkat kayu berkumpul di sekitar Pura Puseh dan Desa, di Desa Adat Munggu, Mengwi, Badung. Mereka berkumpul menunggu prosesi di pura tersebut selesai, selanjutnya akan melaksanakan tradisi ngerebeg atau yang lebih dikenal dengan makotek. “Tradisi ngerebeg adalah suatu peringatan kemenangan perang kerajaan Mengwi pada saat itu, yang sampai sekarang diwarisi atau diperingati dengan makotek atau ngerebeg”, kata Bendesa Desa Adat Munggu I Made Rai Sujana saat ditemui di Pura Puseh dan Desa, Desa Adat Munggu, Sabtu (9/6) kemarin. Jro Bendesa pun secara
sekilas menceritakan bahwa tradisi ini awalnya dari kerajaan Mengwi yang dulu beristana di Munggu, dengan rajanya Ida Cokorda Nyoman Sakti Munggu. Dalam mempertahankan wilayah kekuasaannya di wilayah Blambangan, Jawa Timur, sebelum pasukan Mengwi yang bernama pasukan Goak Selem berangkat, tepatnya pada hari Tumpek Kuningan, Raja Mengwi melakukan semedi di Pura Dalem Kahyangan Wisesa, Munggu. Kemenangan atau keberhasilan pasukan ini diperingati dengan tradisi ngerebeg. Bendesa Desa Adat Munggu ini menambahkan, bahwa awalnya ngerebeg dilakukan dengan tombak. Masa penjajahan Belanda tradisi ini sempat dilarang, karena dikira
akan mengadakan pemberontakan. Sehingga beberapa kali tradisi ini ditiadakan penyelenggaraannya, sehingga terjadilah wabah penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau gerubug. Akhirnya beberapa tokoh adat dan agama melakukan negosiasi dengan Belanda, dan diizinkanlah tradisi ngerebeg digelar kembali. Tetapi sarana yang dipakai bukan tombak, namun diganti dengan kayu pulet. Sehingga, selain sebagai peringatan kemenangan pasukan Goak Selem, tradisi ini juga diyakini warga memiliki kekuatan magis yakni sebagai penolak bala. Tradisi ini juga sebagai ajang untuk mempersatukan anak-anak muda yang ada di masing-masing banjar adat, sehingga mereka
akan terhindar dari perbuatan negatif, seperti Narkoba, kebut-kebutan dan lainnya. Tradisi ini diikuti hampir seluruh kaum pria dari 12 banjar adat yang ada di Desa Adat Munggu. Dengan membawa tongkat kayu sepanjang sekitar 3,5 meter, mereka berjalan mengelilingi wilayah desa. Saat tiba dibeberapa tempat, seperti persimpangan jalan maupun di depan pura kahyangan tiga, mereka berkumpul dan menyatukan ujung tongkat membentuk piramida. Sesekali terlihat salah seorang pemuda memanjat tumpukan tongkat tersebut, dan setelah sampai dipuncak piramida, tidak beberapa lama tumpukan tongkat kayu tersebut akan jatuh. (eka)
”Ngelawang” pada Hari Raya Kuningan
Sebagai Prosesi Pembersihan Lingkungan dari Energi Negatif SETIAP desa memiliki berbagai tradisi unik yang merupakan warisan dari lelulur mereka. Seperti yang dilakuka Krama Adat Desa Pakraman Banjar Serokadan, Susut, Bangli yang rutin menggelar Ngelawang Agung atau disebut juga Barong Ngunya setiap hari raya Kuningan. Bendesa Adat Desa Pakraman Serokadan I Dewa Gede Oka mengungkapkan, Ngelawang Agung disebut juga Barong Ngunya setiap hari raya Kuningan. Kata dia, berbeda dengan ngelawang pada umumnya, Ngelawang Agung yang digelar pada hari raya Kuningan ini menggunakan seluruh duwe desa, yakni berupa delapan buah Barong yang disakralkan. Seperti Ratu Lingsir, Ratu Gede Anom, Ratu Mas, Ratu Gede Tameng, Ratu Gede Alit. “Khususnya Ratu Lingsir, ini merupakan duwe desa yang paling tua. Usianya dipercaya telah mencapai ribuan tahun. Tradisi ini bertujuan untuk pembersihan lingkungan dari energi-energi negatif,” ucapnya. Prosesi Ngelawang Agung, kata Dewa Gede Oka digelar pada pukul 13.00 Wita hingga sore hari. Prosesi diawali dengan sebuah upacara, dilanjutkan dengan barong-barong yang disakralkan medal secara bersamaan, dan berkumpul di suatu tempat. Jelas Gede Oka, Ngelawang Agung tidak dilaksanakan dengan mengunjungi rumah per rumah milik warga, melainkan berjalan hingga ke ujung-ujung desa, sesuai dengan arah mata angin. Mulai dari ujung utara, ujung barat, ujung selatan, hingga ujung timur. Oleh warga sekitar, proses ini disebut dengan nyatur desa. “Setelah nyatur desa, delapan barong sakral berkumpul di tengah (catus pata). Biasanya dalam setiap Ngelawang Agung, seluruh masyarakat sekitar maupun luar tumpah ruah ikut menyaksikan acara ini,” ujarnya. (nan)
BPM/025
DEWI KANJENG RATU - Bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, Sabtu (9/6) kemarin umat Hindu memadati Pura Campuhan Windhu Segara Padanggalak, Kesiman. Mereka juga melakukan persembahyangan di palinggih Dewi Kanjeng Ratu Pantai Selatan yang belum lama ini dipelaspas.
BPM/nan
NGELAWANG - Tradisi Ngelawang Agung yang dilaksanakan krama adat Desa Pakraman Banjar Serokadan, Susut, Bangli.
Diduga Arus Pendek, Rumah Terbakar Negara (Bali Post) Kebakaran menimpa rumah Ketut Karya, Sabtu (9/6) kemarin di Dusun Katulampo, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Jembrana. Dari informasi saat
kejadian, saksi Ni Ketut Nastri (49) yang merupakan tetangga korban sedang berada di rumahnya yang berjarak sekitar 30 meter di sebelah Barat rumah korban.
BPM/kmb
RUMAH - Kebakaran yang menimpa rumah Ketut Karya diduga akibat arus pendek.
Nastri melihat sudah ada asap dan api yang cukup besar berada di atas rumah korban. Kemudian Ketut Nastri memberitahukannya kepada saksi I Nyoman Norden (53). Norden bergegas menuju rumah korban dan melihat api sudah menyala besar di atas rumah korban. Pada saat kejadian rumah korban dalam keadaan kosong. Norden akhirnya memberitahukan kejadian tersebut dengan cara menghubungi korban yang sedang berada di Berawantangi bersama keluarga besar untuk melaksanakan persembahyangan. Kemudian korban pulang dan melihat rumah beserta isinya sudah terbakar. Ada tiga mobil pemadam
kebakaran berusaha memadamkan api. Namun rumah korban sudah ludes terbakar. Barang-barang yang terbakar di antaranya uang tunai sekitar Rp 65 juta rupiah. Dua buah lemari baju beserta isinya, satu buah bufet, satu buah TV, satu buah kulkas, dua buah kasur spring bad, dua buah buku BPKB sepeda motor Honda Vario dan Scopy, satu lembar STNK sepeda motor Vario, satu unit sepeda motor honda Vario serta peralatan rumah tangga. Kerugian akibat kejadian itu Rp 100 juta. Kasat Reskrim Polres Jembrana AKP Yusak A Sooai seizin Kapolres Jembrana, dikonfirmasi membenarkan kejadian kebakaran tersebut. (kmb)
Singaraja (Bali Post) Selain keunikan sembahyang di kuburan (setra), hari raya Kuningan Sabtu (9/6) kemarin di Buleleng juga diisi oleh warga menggelar upacara naur sesaon. Upacara ini wajib dilaksanakan bagi setiap warga Desa Panji yang sudah menikah ke luar desa atau bahkan kawin dengan Warga Negara Asing (WNA). Upacara ini merupakan warisan turun temurun yang sudah diatur dalam dresta awig-awig Desa Pakraman Panji, Kecamatan Sukasada. Warga yang akan naur sesaon itu bertepatan dengan Tumpek Kuningan. Di mana dalam hari ini krama menggelar upacara ngebeken yang jatuh setiap Kuningan. Warga y a n g n a u r sesaon
itu baik perempuan dan lakilaki menghaturkan banten peras pejati di jeroan pura. Banten itu dihaturkan oleh pemangku yang ditugaskan melayani umat dalam persembahyangan Kuningan. Setelah menghaturkan banten, warga yang naur diwakili oleh laki-laki menghaturkan punia dan dicatat langsung oleh prajuru desa. Besarnya punia itu dahulu Rp 20.000 dan saat ini dirubah menjadi Rp 30.000. Klian Desa Pakraman Panji, Kecamatan Sukasada I Gusti Ketut Susila Darma mengatakan, upacara naur sesaon ini merupakan dresta dalam awig-awig desa pakraman. Siapapun warga yang sudah kawin keluar desa pantang untuk melanggar dresta turun temurun itu. Satu kepercayaan yang melekat disetiap warga adalah kalau belum naur sesaon bisa saja keluarga bersangkutan akan
mengalami hal-hal negatif. Dia mencontohkan, hal negatif itu seperti menderita sakit tertentu hingga kehidupan keluarga yang kurang harmonis. “Kalau bukti yang dilihat langsung belum pernah, tapi warga sendiri yang sudah mempercayai pantangan itu. Kalau berani melanggar, maka dampaknya kembali menjadi risiko di keluarga itu sendiri,” katanya. Menurut Susila, dari banten atau punia yang dibayar setiap keluarga yang menikah keluar Desa Panji tidak memberatkan setiap laki-laki. Namun di balik dresta itu, dipercaya sebagai media memohon tuntunan dan kerahayuan setiap pribadi yang sudah menikah ke luar desa bisa hidup harmonis. “Walaupun sudah naur, namun warga kami percaya setiap piodalan Tumpek Kuningan akan tetap nangkil untuk memohon kerahayuan dan keharmonisan dalam hubungan keluarga,” jelasnya. (kmb38)
BPM/mud
DESA - Warga Desa Panji Kecamatan Sukasada sejak pagi memadati Pura Desa untuk menggelar persembahyangan. Momen ini juga diisi dengan menggelar upacara naur sesaon bagi warga yang menikah keluar desa.
Singaraja dan Denpasar Alami Deflasi Denpasar (Bali Post) Sepanjang Mei 2018, di Kota Denpasar terjadi deflasi sebesar -0,03 persen dibandingkan bulan sebelumnya, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 129,45. Deflasi Mei 2018 ini merupakan yang terjadi pertama kali sepanjang lima tahun terakhir. Begitu juga Singaraja mengalami deflasi -0,33 persen dengan IHK sebesar 140,91. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho mengatakan, tahun-tahun sebelumnya pada bulan yang sama selalu terjadi inflasi. Demikian pula pada bulan Januari-April tahun 2018, Denpasar juga mengalami inflasi yang cukup tinggi. Namun jika IHK Mei 2018 dibandingkan Mei 2017 (yoy) tercatat terjadi inflasi 3,08 persen. Jika diakumulasikan IHK Januari-Mei 2018 juga terjadi inflasi sebesar 1,79 persen. Bulan Mei ini telah terjadi penurunan harga beberapa komoditas yang menjadi penyebab deflasi. Beberapa komoditas tersebut antara lain harga cabai merah, beras, cabai rawit, pepaya, jeruk, bawang merah, dan tarif angkutan udara. Penyumbang deflasi di antaranya harga bahan makanan menyumbang 0,1764 persen dan harga kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar menyumbang deflasi sebesar 0,0034 persen. Namun jika dilihat year to date (ytd), tingkat inflasi tahun kalender yang dimulai dari Januari sampai dengan Mei 2018 tercatat 1,79 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun, Mei 2018 dibandingkan dengan Mei 2017 (yoy) tercatat 3,08 persen. “Terjadinya deflasi salah satunya menunjukkan bahwa upaya pengendalian hargaharga yang dilakukan oleh pemerintah telah menunjukkan hasil yang menggembirakan,” ujarnya. Dari 82 kota IHK, tercatat 17 kota mengalami deflasi. Deflasi tertinggi tercatat di Pangkal Pinang (Kepulauan Bangka Belitung) sebesar 0,99 persen dan terendah tercatat di Pematang Siantar (Sumatera Utara) sebesar 0,01 persen. Sedangkan inflasi tertinggi tercatat di Tual (Maluku) sebesar 1,88 persen dan terendah di Purwokerto (Jawa Tengah) dan Tangerang (Banten) masingmasing sebesar 0,01 persen. Jika diurutkan dari deflasi tertinggi, maka Denpasar menempati urutan ke-15 dari 17 kota yang mengalami deflasi. Sama halnya dengan Denpasar, Singaraja juga men-
galami inflasi jika dihitung Januari-Mei yaitu sebesar 0,90 persen. Secara yoy, tingkat inflasi Singaraja juga sebesar 2,61 persen. Namun IHK Mei dibandingkan April, terjadi deflasi 0,33 persen. Deflasi ditunjukkan oleh turunnya indeks pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,74 persen dan kelompok bahan makanan sebesar 0,68 persen. Komoditas yang tercatat memberikan andil/sumbangan deflasi pada bulan Mei 2018 di Kota Singaraja antara lain, beras, pasir, batako, ikan tongkol/ambu-ambu, cabai rawit, cabai merah, tomat sayur, air kemasan dan mentimun.
Dari 82 kota IHK, tercatat 17 kota mengalami deflasi dan 65 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi tercatat di Pangkal Pinang (Kepulauan Bangka Belitung) sebesar 0,99 persen dan terendah tercatat di Pematang Siantar (Sumatera Utara) sebesar 0,01 persen. Sedangkan inflasi tertinggi tercatat di Tual (Maluku) sebesar 1,88 persen dan terendah tercatat di Purwokerto (Jawa Tengah) dan Tangerang (Banten) masingmasing sebesar 0,01 persen. Jika diurutkan dari deflasi tertinggi, maka Singaraja menempati urutan ke-7 dari 17 kota yang mengalami deflasi. Pada Mei 2018, Kota Singaraja tercatat deflasi sebesar 0,33 persen. (kmb42)
U.0000355-rpa
4
Minggu Umanis, 10 Juni 2018
PAGELARAN CINTA PUTIH
Gaya Kebaya ala Anne Avantie
Perjalanan karier Anne Avantie menapaki 29 tahun berkarya adalah sebuah perjalanan panjang bergradasi yang sudah Anne Avantie lalui. Pergulatan batin, naik turun dan jatuh bangunnya menorehkan sebuah catatan hidup yang membingkai hati. Perjalanan menuju tahun ke-30 dalam rentang waktu yang tidak bisa dibilang pendek, namun membawa pembaruan yang luar biasa dari waktu ke waktu hingga membentuk sebuah jati diri. Sebuah kesadaran membuka makna bahwa semua pencapaian ini bukan hadiah yang turun dari langit. Ada “kehendak”Nya di balik semua Anugerah yang Tuhan berikan. Langkah pijakan kaki Anne Avantie yang terus bergerak menelapak bumi telah menjadi tuntunan banyak jiwa dan karyanya seperti bayangan berderet panjang yang menguntit di belakang hingga menginspirasi banyak orang. Apa yang sudah dilakukan Anne Avantie terus bergulir baik di bidang Industri fashion, kegiatan kemanusiaan, maupun sederet karya nyata di bidang sosial yang telah menumbuhkan pribadi Anne Avantie menjadi inspirasi yang menuntun langkah bagi banyak jiwa, sehingga Anne Avantie banyak memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi perkembangan dunia Industri di Indonesia. Seiring berjalannya waktu Anne Avan-
tie bertumbuh dengan Inspirasi yang tiada habisnya hingga karyanya terus berkembang dan membawanya terbang, namun kakinya senantiasa menelapak di bumi. Anne Avantie hadir kembali di Pulau Dewata, Bali dalam rangkaian acara “Pagelaran Cinta Putih” yang rencananya akan diadakan pada tanggal 27 Juli 2018 di Rumah Luwih. “Pagelaran Cinta Putih” merupakan sebuah pagelaran yang tidak seperti biasanya karena diselenggarakan di sebuah pemandangan yang indah berlatar belakang Pantai Lebih dan dibingkai oleh kemegahan bangunan Rumah Luwih yang membanggakan bagi khasanah budaya Bali. Pagelaran yang indah dan bertabur bintang serta disusun secara eksotis dan apik karya Anne Avantie ini adalah pagelaran yang pertama setelah 13 tahun lalu Anne Avantie menggelar pagelaran
busana di Bali. Tentu 13 tahun merupakan sebuah kerinduan yang begitu mendalam yang dinanti-nantikan oleh fans pecinta karya Anne Avantie dan fans Anne Avantie Heart. “Pagelaran Cinta Putih” diadaptasi dari Pagelaran “Sekar Ayu Sriwedari” yang telah diselenggarakan pada tanggal 29 Maret 2018 yang lalu di JCC Senayan, Jakarta. Banyaknya dukungan dan doa sehingga acara “Pagelaran Cinta Putih” dapat terselenggara. Dimana acara ini dipersembahkan oleh Anne Avantie dan Rumah Luwih didukung oleh BRI dan The Palace. Persembahan karya yang sarat dengan pesan-pesan moral menjadi sebuah imajinasi karya yang telah memberikan kontribusi dalam dunia mode secara khusus dan juga dunia kreatif pada umumnya dengan menghadirkan karya-karya terbaik anak negeri, mahakarya dari Anne Avantie. (osi)
Senam Kebugaran Jasmani 2018 (4) Guna menjaga kebugaran tubuh, berlatih Senam Kebugaran Jasmani 2018 Indonesia Bersatu bisa jadi pilihan. Gerakan ke-9 pemanasan ini bertujuan untuk melatih otot lengan, otot pinggul dan otot kaki. Ikuti peragaan berikut ini bersama Tuti Irwanti dari Lala Studio. Rubrik “Bugar” ini terbuka untuk umum. Bagi Anda yang memiliki problem masalah tubuh. Kirimkan ke Redaksi Bali Post, Jl. Kepundung 67 A Denpasar (80232) atau hubungi Adolfina Grace Tangkudung, Sekolah Senam Lala Studio, Jl. Veteran 66E, Puri Satria Denpasar, telp. 08123843259. Cantumkan kupon “Bugar” di sudut kiri amplop.
Gb. 1 Kaki kanan dibuka, kedua lengan silang depan dada lalu luruskan ke samping badan membentuk 45 derajat, jari-jari rapat, kaki kiri silangkan depan kaki kanan (hit 1, 3, 5, 7) lalu untuk sisi kiri (hit 2, 4, 6, 8).
Penyakit Ginjal Kronis
1
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi dan insiden gagal ginjal yang meningkat, prognosis yang buruk dan biaya yang tinggi.
2
Gb. 3 Untuk peregangan, buka kaki kanan, tekuk lutut kanan, kaki kiri lurus badan condong ke kanan, kedua lengan tekuk depan dada (hit 1, 3) lalu tekuk lutut kiri, kaki kanan lurus badan condong ke kiri, rentangkan kedua lengan diagonal, lengan kanan di bawah lengan kiri di atas, pandangan mata ke ujung tangan kanan (hit 2). Posisi kaki sama seperti gerakan hit 2, kedua lengan direntangkan, pandangan mata ke depan (hit 4) posisi kaki sama seperti gerakan hit 1, 3 kedua lengan lurus ke atas (hit 5). Ulangi gerakan hit ke-4 (hit 6,8). Posisi kaki seperti gerakan hit 5 kedua lengan lurus ke bawah di samping badan.
4
3
Gb. 2 Kaki kanan dibuka, kedua lengan lurus depan dada, lalu kedua lengan ditarik ke pinggang, dan mengepal, sambil kaki kiri ditekuk ke belakang mengarah ke betis kaki kanan (hit 1, 3, 5, 7) lalu untuk sisi kiri (hit 2, 4, 6, 8). Ulangi gerakan tadi (Gb. 1 dan Gb. 2).
Gb. 4 Buka kaki kanan, tekuk lutut kanan, kaki kiri lurus, badan condong ke kanan, kaki kiri lurus, tangan kanan di pinggang kiri, tangan kiri lurus ke atas (hit 1-4). Badan hadap ke kanan, kedua lengan lurus depan dada, kaki kanan tekuk, kaki kiri lurus ke belakang (hit 5-8). Lanjutkan dengan kaki kanan lurus, tumit kiri diangkat, kedua lengan ditekuk depan dada setinggi bahu (hit 1, 3), lutut kanan ditekuk, kaki kiri lurus ke belakang (hit 2, 4). Badan hadap depan kedua lutut ditekuk, siku lengan kanan ditekuk depan badan, siku lengan kiri ditekuk depan dada (hit 5-8). Ulangi untuk sisi kiri.
Kupon Selamat berlatih bagi pembaca yang mendambakan kebugaran tubuh yang prima serta salam bugar dari Lala Studio.
Kisara
Berdasarkan data dari 8th Report of Indonesian Renal Registry, jumlah pasien penyakit ginjal terus meningkat dengan mayoritas PGK sebesar 89%. Hipertensi dan diabetes merupakan penyebab utama yang sering didapatkan pada pasien dengan PGK. Faktor risiko lainnya yang dapat menyebabkan PGK adalah penyakit autoimun, infeksi sistemik, infeksi saluran kemih berulang, obstruksi saluran kencing, hiperurisemia, riwayat keluarga dengan riwayat PGK, dan faktor risiko sosioekonomi seperti usia tua, merokok, konsumsi alkohol tinggi, obesitas dan riwayat penggunaan obat nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs). PGK didefinisikan sebagai kerusakan ginjal dan/atau penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) kurang dari 60ml/min/1.73m2 selama minimal 3 bulan menurut Kidney Disease Improving Global Outcomes(KDIGO) 2012. Kerusakan ginjal yang dimaksud adalah setiap kelainan patologis atau penanda kerusakan ginjal yang meliputi kelainan komposisi darah dan urine atau studi pencitraan. PGK sendiri diklasifikasikan menjadi 5 stadium berdasarkan tingkat keparahannya, Klasifikasi ini berdasarkan pada tingkatan fungsi ginjal yang dihitung dari LFG. Pada stadium awal, PGK belum menimbulkan gejala dan tanda. Kelainan secara klinis dan laboratorium baru terlihat dengan jelas pada stadium 3 dan 4. Saat LFG
sebesar 30%, keluhan seperti badan lemah, mual, nafsu makan berkurang dan penurunan berat badan mulai dirasakan pasien. Pasien mulai merasakan gejala dan tanda uremia yang nyata saat LFG kurang dari 30% dapat berupa mual, muntah, gatal, anemia, gangguan keseimbangan cairan, gangguan keseimbangan elektrolit, gangguan asam basa dan gangguan metabolisme mineral dan tulang. Pada saat LFG < 15% atau disebut stadium akhir / gagal ginjal, dapat dijumpai gejala dan tanda uremia terkomplikasi seperti asidosis metabolik, hiperkalemi, kelebihan cairan, dan gangguan kesadaran. Fungsi Penanganan PGK difokuskan pada memperlambat penurunan fungsi ginjal lebih lanjut seperti penanganan penyebab dasar dan faktor risiko progresif lainnya. Pada PGK tahap akhir dibutuhkan terapi pengganti ginjal berupa transplantasi ginjal / cangkok ginjal ataupun dialisis baik hemodialisis (cuci darah) maupun peritoneal dialisis. Upaya
lain yang dapat dilakukan untuk memperlambat penurunan fungsi ginjal adalah mengontrol tekanan darah, mengontrol kadar glukosa darah, diet dengan protein terkontrol, menghindari obat-obatan yang nefrotoksik, modifikasi gaya hidup seperti stop merokok dan alkohol serta mengurangi berat badan. Semakin awal tahap PGK atau semakin dini identifikasi faktor risiko yang paling berperan, maka akan meningkatkan keluaran dari tindakan preventif, deteksi awal dan terapi inisiasi dalam memperlambat progresivitas PGK. Oleh karena itu penting untuk melakukan deteksi dini PGK pada pasien dengan faktor risiko. Dr. Mario Suwandi
Digoda Itu Tidak Menyenangkan
“Halo Kakak Kisara! Aku Desi dan baru-baru ini aku mengalami kejadian yang biasa dianggap candaan oleh masyarakat sekitar yaitu digodain. Waktu itu aku sedang jalan kaki di gang rumahku sekitar jam 9 malam karena di sekolah ada event lomba, terus tiba-tiba ada segerombolan cowok yang isinya kurang lebih 4-5 orang, mereka manggil aku sambil siul-siul, mereka bilang, “Cantik, sendirian aja nih? Mau ditemenin gak?” Sumpah itu mengganggu banget Kak, padahal waktu itu aku pakai celana panjang dan jaket yang tertutup lho, untungnya aku langsung kabur sebelum mereka berbuat lebih, eh mereka malah ketawa-ketawa gitu. Aku panik banget, mau cerita sama orang tua tapi takut. Aku harus apa Kak? Mohon sarannya ya, terima kasih banyak.
Hello Desi dan sahabat Kisara yang lain, siul-siul atau digoda itu disebut juga catcalling. Sebelum membahas tentang catcalling lebih dalam Kakak mau berterima kasih dulu nih sama Desi karena sudah berani untuk bercerita dengan Kisara. Tetapi hal yang paling penting untuk kamu ingat adalah jangan ragu untuk terbuka dengan orang tua ya, karena beliau adalah orang yang berada di sekitar kamu dan mengetahui apa yang terbaik untuk kamu. Nah, apasih catcalling itu? Menurut Wikipedia, catcalling adalah siulan, teriakan, dan komentar mengenai hal-hal yang bersifat seksual terhadap perempuan yang lewat di jalan. Namun, ternyata tidak hanya perempuan loh yang mendapat perlakuan tidak sopan ini, melainkan ada juga beberapa pria yang mendapatkannya entah sebagai korban candaan atau memang tujuan utama pelaku catcalling. Sebagian orang masih menganggap
bahwa catcalling hanya merupakan candaan atau bahkan pujian dari orang lain. Namun hal tersebut merupakan salah besar karena itu semua justru merupakan bentuk dari pelecehan seksual yang dapat sangat mengganggu apabila tidak diminimalisir. Untuk saat ini cukup sulit jika ingin menindaklanjuti pelaku catcalling karena memang belum ada undangundang yang siap mempertanggungjawabkannya, khususnya di Indonesia. Saat ini hanya ada beberapa negara di luar Indonesia saja yang sudah memiliki undang-undang yang menyangkut catcalling. Maka dari itu saran dari Kisara yang paling mudah untuk dilakukan adalah bercerita dengan orang sekitar yang dianggap mampu untuk mendengar, melindungi, dan memberi solusi. Contoh orang yang siap untuk kalian ceritakan adalah orang tua, guru, kakak, bahkan polisi, tidak lupa Kisara juga siap mendengar keluh
kesahmu lho! Dan ingat bahwa itu semua bukanlah salahmu, pakaianmu atau salah postur tubuhmu, melainkan salah pelaku yang tidak memiliki moral dan sopan santun. Selain itu, kamu juga bisa memulai dengan hal-hal kecil untuk mengurangi catcalling di sekitar kamu, misalnya dengan menegur temanteman, saudara, atau orang-orang di sekitar kamu untuk tidak melakukan catcalling lagi. Tenang saja Desi, segala sesuatu dapat dimulai dari hal kecil dulu. Jika kamu butuh teman cerita, Kisara siap menemani kamu! Jadi, segitu saja dulu yaa! Kalau ada sahabat Kisara yang punya cerita dan unek-unek yang ingin diungkapkan, cerita aja sama Kisara lewat line@ @ oxy7685j, instagram @kisara_bali, ataupun datang langsung ke Kisara dan ikut a Lovely Lunch setiap hari minggu siang!
Refleksi
Minggu Umanis, 10 Juni 2018
Capricorn Tak perlu cemas, karena pemasukan masih lumayan lancar. Hanya kerja sama dengan pihak luar, sebaiknya benar-benar dipikir secara mendalam, jangan berlandaskan faktor perasaan saja. Di minggu ini cukup baik bila ingin melaksanakan terobosanterobosan penting, karena peruntungan masih lumayan mujur. Cinta: Mengalah sajalah, buat apa bersikap ingin menangnya sendiri hanya untuk urusan yang sepele. Aquarius Bertindaklah lebih hati-hati dan tidak grusa-grusu dalam mengambil keputusan. Karena faktor kecerobohan akan dominan sekali menghiasi langkah anda di minggu ini, begitu juga terhadap tawaran yang datang secara mendadak, sebaiknya jangan diberi keputusan dulu. Cinta: Terimalah realita yang ada dengan hati yang senang, tidak perlu cemas dengan situasi yang cukup sulit itu. Pisces Manfaatkan kesempatan baik yang sudah di pelupuk mata, pengalaman pahit di masa lalu hendaknya dijadikan cermin bukan sebagai trauma. Bekerjalah dengan semangat karena di minggu ini peruntungan anda cukup bagus dan cukup menjanjikan. Cinta: Tidak ada gunanya terlalu mendengarkan omongan orang. Aries Bintang penyakit tampak mulai mengganggu anda. Maka dari itu cobalah untuk bisa bekerja serileks mungkin, agar rencana dapat berjalan dengan lancar dan tidak terganggu dengan munculnya bintang penyakit itu. Terhadap berbagai rongrongan yang muncul dari orang lain, sebaiknya biarkan saja, tak perlu terlalu ditanggapi karena akan percuma saja. Cinta: Tampak mulai goyah karena kurang adanya pengertian dan rasa saling percaya, maka dari itu segera introspeksi diri anda. Taurus Perlu konsentrasi tinggi untuk menjawab berbagai tantangan dan permasalahan yang muncul di minggu ini. Terhadap omongan sumbang dari luar sebaiknya ditanggapi dengan hati dingin tidak perlu terlalu menuruti maksud mereka karena segalanya akan bisa hancur berantakan. Terhadap berbagai peluang yang muncul, sebaiknya dipelajari dengan hati-hati. Cinta: Hubungan yang agak merenggang ini sebaiknya bisa disikapi dengan hati yang sabar dan perasaan yang selalu mengalah. Gemini Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan orang lain, ada baiknya anda concern saja dengan urusan yang lagi dihadapi. Agar bisa tepat pada sasaran dan hasilnya bisa memuaskan hati. Begitu juga terhadap orang yang mencari kesalahan anda, sebaiknya tak perlu ditanggapi, anggap saja mereka iri dengan keberhasilan yang telah diraih selama ini. Cinta: Jangan selalu menyakiti hatinya, karena itu akan menjadi bumerang buat anda sendiri. Cancer Suasana di minggu ini cukup berat dan banyak menguras pikiran serta tenaga, maka dari itu jangan tambah stres anda dengan berbagai rencana baru yang belum waktunya untuk dikerjakan sekarang. Kerjakan yang ringan-ringan saja, tidak perlu terlalu memaksakan diri karena hasilnya akan percuma saja. Terhadap berbagai tawaran yang datang, sebaiknya jangan diterima dulu. Cinta: Agar suasana bisa kembali harmonis dan mesra maka anda harus temukan solusi yang tepat. Leo Concern saja dengan segala urusan sendiri, tak perlu terlalu memikirkan secara mendalam orang yang sengaja ingin cari-cari kesalahan, anggaplah orang itu irihati atas keberhasilan anda selama ini, yang penting tingkatkan kewaspadaan agar tidak sampai kena jerat mereka dan sebisa mungkin hindari sejauh-jauhnya. Apalagi keuangan tampak baik dan pemasukan tetap lancar dan bisa diharapkan. Cinta: Semua tergantung anda punya keputusan jika memang masih sangat mencintai sebaiknya cobalah untuk mau menerima segala kekurangannya. Virgo Tak perlu berandai-andai tanpa ada tindakan nyata dari diri anda, karena itu sama saja dengan pungguk merindukan bulan. Kesuksesan di tangan anda sendiri dan semua faktor yang ada di sekeliling itu hanyalah sebagai pendorong saja, maka dari itu bangkitkan motivasi untuk bisa meraih hasil yang lebih baik di minggu ini dan di masa yang akan datang. Cinta: Walau tampak tenang sebaiknya omongan anda tetap dijaga jangan terlalu cerewet. Libra Berhati-hatilah karena kompetitor anda mulai berani bermain curang. Jangan diladeni dengan berlaku curang pula, lakukan saja langkah-langkah preventif sehingga kredibilitas anda tetap baik di mata atasan. Peluang cukup terbuka lebar hanya dalam mengambil tindakan sebaiknya tidak perlu grusa-grusu. Cinta: Jangan pernah berhenti untuk merajut benang-benang cinta yang akan putus, walau untuk itu diperlukan pengorbanan yang tidak sedikit. Scorpio Di minggu ini cobalah untuk tetap konsisten dalam bekerja walaupun situasinya serba membingungkan, agar tidak semakin memperburuk suasana saja. Terhadap berbagai rongrongan dari rekan-rekan anda ada baiknya disikapi dengan lebih bijaksana lagi, sehingga tidak sampai mengganggu segala rencana yang lagi berjalan. Cinta: Pandaipandailah menciptakan suasana lebih ceria lagi jangan sampai membosankan. Sagitarius Jangan takut untuk bisa lebih berimprovisasi, tak usah dimasukkan hati omongan orang yang hanya akan menurunkan motivasi anda saja. Kesuksesan ada di tangan anda sendiri, apalagi peluang sudah nampak di depan mata sehingga sangatlah disayangkan jika akhirnya terbuang percuma. Cinta: Tetap ceria dan cukup hangat, sehingga hari akan terasa cepat berlalu.
Diasuh Oleh Putri Wong Kam Fu Berlaku: 10 Juni - 16 Juni 2018
5
Kematian Tidak Menunggu Siapa pun Adyaiva kuru yacchreyo ma tvam kalos’tyagadayam na hi pratiksate mrtuh krtam asya na va krtam (Mahabharata, Santi-parva 174-14)
”Hal-hal yang baik utama untuk dilakukan hendaknya dilakukan sekarang juga. Sang Waktu alias Kematian tidak menunggu apakah orang sudah menyelesaikan atau belum menyelesaikan tugas kewajibannya.” KENIKMATAN-KENIKMATAN dunia dan kenyamanan dunia pada zaman now menghalangi orang untuk mengerti, memahami dan memanfaatkan waktu dengan baik. Kala atau waktu menjadi sesuatu yang tidak berharga karena dalam perjalanan waktu dari kecil hingga berkembang membesar, menjadi muda, tua, diiringi oleh segala hal yang indah-indah, nyaman, dan menyenangkan. Tanpa disadari, semua ini menyebabkan orang lalai akan waktu, tidak mengerti kemuliaan waktu, dan juga menyebabkan orang terbawa arus deras waktu. Akhirnya setelah orang mencapai usia tua atau setelah orang mengalami kegagalan total barulah menyadari bahwa waktunya telah disia-siakan dengan percuma. Orang-orang akan menerima waktu dalam penerimaan berbeda. Ada yang menerima waktu sebagai sesuatu yang menyedihkan, mengerikan, dan lain-lain, sedangkan orang bijak akan memahami dan menerima waktu itu sebagai amerta. Waktu adalah kesempatan. Waktu adalah kemajuan. Waktu adalah masa depan cemerlang. Waktu adalah pengangkatan diri dari tutupan lumpur terdalam sampai terangkat kepada kemajuan yang mengagumkan. Ketika orang mengerti waktu sebagai amerta maka mereka tidak akan mengabaikan waktu atau kesempatan hidup manusianya, kapan pun. Orang sering pula mengabaikan tugas-tugas pekerjaannya,
Redaktur Khusus weda
WAKYA Darmayasa
umumnya terjadi di perkantoran. Terdapat kecenderungan umum para pegawai di perkantoran suka menunda tugas pekerjaan. Saat menunda tugas pekerjaan mereka menjadi senang, merasa bebas dan nyaman. Akan tetapi, satu atau dua hari kemudian, ketika mendengar telepon dari atasannya, maka badannya jadi panas dingin, keringat dingin bercucuran, menjadi stres dan kaget. Demikian, kebiasaan orangorang menunda waktu. Kesempatan untuk melakukan sesuatu yang mulia ditunda, “Oh masih kecil, nanti saja belajar agama, sembahyang atau belajar kitab suci. Nanti kalau sudah muda, barulah belajar agama.” Setelah usia muda, penundaan dengan alasan lain akan datang, “Oh biarkan dia menikmati dulu masa mudanya, karena masa muda datang hanya sekali dalam hidup. Nanti saja setelah dia bekerja dan berkeluarga barulah belajar agama.” Setelah bekeluarga, ada lagi alasan lain datang lagi, “Supaya ada anak dulu, lalu berkembang lagi, setelah ada anak cucu…, dan akhirnya setelah giginya hilang, pandangan mata menjadi kabur, berbagai jenis penyakit berdatangan dan semua orang menjauh; karena sudah tidak cantik atau ganteng, dan tidak kelihatan menarik lagi.’’ Cucu-cucunya tidak tertarik mengajaknya bermain karena mereka sudah melihat yang lebih menarik, yaitu iPad, iPhone, dan anakanaknya sudah sibuk dengan keluarga dan kesibukan lainnya. Saat itu, barulah dia menyadari bahwa dia sudah mengabaikan waktu, mengabaikan kesempatan mulia, mengabaikan hidup manusianya, mengabaikan kesempatan untuk memajukan dan membebaskan diri dari kesengsaraan dunia. Sang Kala atau waktu tidak
mengenal basa-basi. Waktu tidak mengenal belas kasihan. Waktu tidak memihak. Waktu itu mesin, harus terus berjalan, tidak bisa ditahan dan ditawar-tawar. Waktu tidak mendahului siapa pun, tidak menunggu siapa pun. Dia berjalan membawa segalanya dalam kemerosotan, dari semut hingga para dewa pun berada dalam tangkapan Sang Kala. Waktu begitu kuatnya. Tuhan sendiri mengatakan, “Kalo’smi”, Aku adalah Sang Kala atau Waktu yang tak terkalahkan. Waktu adalah Tuhan sendiri. Tuhan yang “mesin”, Tuhan yang tidak bisa ditawar-tawar. Tuhan yang tidak “mempunyai hati”. Tuhan yang tidak memberi pengampunan. Tuhan yang “kaku”. Tuhan yang meminggirkan ke-“Tuhan”-annya. Itulah Sang Kala. Di Bali waktu dikenal dengan sebutan sebagai Sang Kala Mrtyu, Sang Waktu Kematian. Setiap insan manusia yang menginginkan kebaikan bagi dirinya seharusnya menyadari semua ini, bahwa kita sedang mengikuti arusnya waktu dalam kemerosotan secara menyeluruh. Kalo’smi, Akulah Sang Waktu. Manusia selalu mengkhayal, mengakui diri sebagai sang waktu, “Akulah sang waktu, nanti kalau aku sudah besar…”, atau “Tunggu dulu, pekerjaan itu aku kerjakan besok atau dua hari lagi.” Manusia mencoba meniru Tuhan. Kalo’smi, Akulah Sang Waktu, Tuhan dan hanya Tuhanlah Sang Kala. Di sinilah orang perlu sangat berhati-hati, agar jangan sampai mendahului Tuhan. Demi menjauhkan manusia dari khayalanlah Tuhan menurunkan kitab suci Veda. Tradisi dalam peradaban Veda adalah memberikan samskara (bekal kemuliaan dan budi pekerti) sebelum bayi dilahirkan. Semasih bayi berada dalam kandungan, orang sudah diarahkan untuk mengikuti Sang Kala atau Waktu yang sebagai amerta. Terdapat samskara atau upacaraupacara penyucian, sehingga sang atma atau bayi yang ada di dalam kandungan pasti akan dibersihkan dan karma-karmanya diperhalus, sehingga begitu lahir bayi akan lebih mengarah untuk mencari
“hidup”, sebagaimana tujuan sejadi kelahiran menjadi manusia. Pendidikan dalam Hindu Dharma tidak dimulai dari usia orang sudah besar atau dari baru lahir, melainkan dari dalam kandungan orang harus menerima Sang Kala sebagai amerta. Sepanjang hidupnya dari kecil sampai tua, dia harus mengalir mengikuti perjalanan waktu sebagai amerta, bahwa Waktu tidak menunggu siapa pun, bahwa waktu hanya menabur amerta, yang jika orang menangkap, orang akan mendapatkannya. Sebaliknya, jika orang tidak menangkap, sang Waktu memang menabur amerta tetapi berjalan terus, tidak menunggu. Oleh karena itulah di dalam Sloka di atas disebutkan adyaiva, adya artinya sekarang, iva artinya juga, sekarang jugalah. Yat Sreyah, yang mana yang lebih baik, yang mana yang memuliakan hidup kita dan hidup orang lain, kuru, lakukanlah itu saat ini, sekarang juga. Waktu berjalan dan waktu menelan segala. Jika orang berjalan bersama Waktu sebagai amerta, maka orang tidak akan ditelan, tetapi dibentuk. Sebagaimana cerita-cerita Mahabharata di Jawa, Ghatotkaca itu dibentuk oleh dewa-dewa di dalam kawah Candragomukha, seluruh tubuhnya dibentuk oleh karunia para-dewa. Jika orang mengikuti arus perjalanan Sang Waktu yang tidak menunggu apa pun dan siapa pun, maka mereka akan menerima Sang Waktu sebagai amerta. Mereka akan mendapatkan kemajuan hidup, dalam hal ini waktu akan menyuapi, bukan menelan. Itulah Tuhan, Kalo’smi, Aku Sang Waktu, tidak menunggu siapa pun. Penting sekali orang mulai memperhatikan Sang Waktu. Karena sangat jelas kita semua “dimakan” oleh Sang Waktu. Dimanakah masa muda kita, dimanakah masa lincah kita, mana kecerdasan kita, mana ingatan yang tajam yang dulu kita banggakan? Sekarang semua sudah habis dimakan oleh Sang Waktu. Oleh karena itu, orang seharusnya memahami “seni spiritual” bagaimana mengikuti Sang Waktu. Kalau kita mengikuti Sang Waktu, karena Sang Waktu tidak
menunggu, maka kitalah yang harus menyesuaikan langkah dengan Sang Waktu. Kalau tidak, maka kita akan tertinggal terlalu jauh, terdepak kita. Dan orang harus melakukannya sekarang, detik ini, jangan menunggu. Karena ketika orang menunggu, maka kepalanya akan bekerja menimbang-nimbang, “Dulu saya begini, nanti saya akan begini,” dan lain-ain. Kita diajak menghayal, menimbang, menerka, menatap tetapi hanya di dalam khayalan dan penyesalan. Sehingga waktu sudah terlalu jauh. Kita jauh ketinggalan. Gate Soko na kartanya, yang sudah lewat biarkan lewat, yang akan datang, apa pun itu, biarkan akan datang nanti. Tapi yang sekarang ini, yang wartamana, kita tangkap. Karena di sekarang inilah ada kemuliaan, bukan di waktu yang dulu, bukan di waktu yang akan datang. Pada cerita-cerita Purana dan Itihasa, Sang Kala terlahirkan dalam wujud sangat mengerikan, menyeramkan dan menakutkan. Kala diberi tugas untuk memangsa mereka yang mengabaikan jalan dharma, jalan kebersihan dan kesucian. Mereka dimangsa oleh Kala, tujuannya bukan untuk memusnahkan, tetapi untuk mendisiplinkan diri agar Bhatara Kala tidak memangsanya. Kala adalah waktu, dan waktu itu adalah yang sekarang, bukan yang dulu, bukan yang akan datang. Orang yang menginginkan mendapatkan amerta dari Kala, mereka tidak akan menjadikan Kala sebagai Kalamrtyu, Waktu yang membunuh. Artinya orang tidak akan mendapat kesempatan untuk meniti jalan yang mulia. Sebaliknya mereka menjadikan waktu sebagai Sang Kala Amerta. Menabur amerta yang akan membuat hidup damai, indah dan mulia. Hanya jika orang yang menangkap waktu yang sekarang akan mendapatkan amerta kemuliaan. Kalau menunggu waktu yang akan datang, itu hanyalah khayalan. Menimbang-nimbang waktu yang dulu, itu bukan waktu melainkan rintihan dan penyesalan. Waktu adalah yang sekarang. Kalau kita menangkap, maka hidup menjadi mulia.
MIMBAR AGAMA
Redaktur Khusus
Beda Agama dan Spiritualitas
MIMBAR
HINDU I Gusti Ketut Widana SEJAUH ini, kebanyakan umat hanya berpikir tentang agama, beragama dan keagamaan yang dianut, dipeluk, dipercaya atau diyakini, entah itu dengan setengah atau sepenuh hati. Sepertinya tidak banyak umat yang telah berada pada posisi spiritual atau spiritualitas. Padahal mencermati pemahaman teolog Prancis Dr. Teilhard de Chardin (18811955), menemukan perbedaan mendasar dari apa yang disebut agama dan spiritualitas. Perbedaan dimaksud bisa dipahami sebagai bentuk perubahan, perbaikan atau peningkatan dari keberagamaan kita yang semestinya menuju spiritualitas. Apakah kita selama ini masih berada pada posisi sedang beragama atau sudah mencapai spiritualitas. Memperjelas perbedaan agama dan spiritualitas dimaksud, berikut ini paparannya. Agama bukan hanya satu, melainkan ada banyak, sedangkan spiritualitas adalah satu. Agama
adalah untuk mereka yang tidur, spiritualitas adalah untuk mereka yang sudah bangun. Agama adalah untuk mereka yang membutuhkan seseorang untuk memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan dan ingin dibimbing, spiritualitas untuk mereka yang memperhatikan suara hati mereka. Agama memiliki seperangkat aturan dogmatik, spiritualitas mengundang kita untk memikirkan segala sesuatu, dan mempertanyakan semuanya. Agama adakalanya mengancam dan menakut-nakuti, spiritualitas memberi kedamaian batin. Agama berbicara tentang dosa dan kesalahan, spiritualitas mengatakan “belajar dari kesalahan”. Agama menekan segala sesuatu dan dalam beberapa kasus itu salah, spiritualitas melampaui segala hal, membawa anda lebih dekat dengan kebenaran anda. Agama berbicara tentang Tuhan; Ini Tuhan, Itu bukan Tuhan, spiritualitas adalah segalanya, dan karenanya, itu ada di dalam Tuhan. Agama menciptakan, spiritualitas menemukan. Agama tidak mentolelir
pertanyaan apa pun, spiritualitas mempertanyakan segala hal. Agama adalah manusia, ini adalah organisasi dengan segala peraturan, spiritualitas adalah Tuhan, tanpa aturan manusia. Agama tak jarang menjadi penyebab perpecahan, spiritualitas mempersatukan. Agama mencarimu untuk percaya, spiritualitas anda harus mencarinya untuk percaya. Agama mengikuti ajaran dari kitab suci, spiritualitas mencari yang suci di semua kitab/buku. Agama memberi makan ketakutan, spiritualitas memanfaatkan keprcayaan dan iman. Agama hidup dalam pikiran, spiritualitas hidup dalam kesadaran. Agama berhubungan dengan melakukan, spiritualitas berhubungan dengan Diri. Agama memberi makan ego, spiritualitas mendorong untuk melampaui. Agama membuat kita meninggalkan dunia untuk mengikuti Tuhan, spiritualitas membuat kita hidup di dalam Tuhan, tanpa meninggalkan kita. Agama adalah sekte, spiritualitas adalah meditasi. Agama mengisi kita dengan mimpi kemuliaan di surga, spirituali-
tas membuat kita hidup dalam kemuliaan dan surga di sini dan saat ini. Agama hidup di masa lalu dan di masa depan, spiritualitas hidup di masa sekarang. Agama menciptakan keterasingan dalam ingatan kita, spiritualitas membebaskan kesadaran kita. Agama membuat kita percaya akan kehidupan kekal, spiritualitas membuat kita sadar akan kehidupan kekal. Agama menjanjikan kehidupan setelah kematian, spiritualitas adalah menemukan Tuhan di dalam batin kita selama hidup dan mati. Demikian perbedaan antara agama dan spiritualitas. Memahaminya secara mendalam, mendorong kita untuk tidak boleh berhenti pada posisi sebagai umat beragama, yang hanya merasakan pengalaman spiritual, tetapi kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman manusia. Sejatinya, spiritualitas melampaui agama yang pada kenyataannya masih berkaitan erat dengan kehidupan duniawi, sementara spiritualitras lebih berhubungan dengan realisasi kesadaran Tuhan itu sendiri. Spiritualitas mempunyai lingkup
yang lebih luas, lebih tinggi, lebih halus, lebih terkonsentrasi, lebih sempurna dan transendental ketimbang agama, sejauh agama merupakan manifestasi spiritualitas, guna menyempurnakan pencapaian pada kepribadian Tuhan, sebagaimana dinyatakan kitab Bhagawad-Gita, XII.2, dan XIV. 27: “kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda, orang yang memusatkan pikirannya pada bentuk pribadi-Ku dan selalu tekun menyembah-Ku dengan keyakinan besar yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi Aku anggap paling sempurna; Aku adalah sandaran Brahman yang tidak bersifat pribadi, yang bersifat kekal, tidak pernah mati, tidak dapat dimusnahkan, kedudukan dasar kebahagiaan yang paling tinggi”. Jadi, apakah sesungguhnya yang hendak dicapai umat beragama, tiada lain dan tidak bukan spiritualitas itu sendiri, bukan (sekadar) menjadi pemeluk, pengikut atau penganut suatu agama. Ibarat sebuah perjalanan, beragama adalah jalan pendakian menuju dan mencapai spiritualitas.
Sandyakalaning Homosapiens REALITAS akan menjadi tebaran algoritma biokimia dan elektronik tanpa batas yang jelas dan tanpa pusat-pusat individu. #homodeus #subuh. Begitu tulisan sebuah status di facebook Selasa (5/6) lalu, membuat friends yang mengomentari rada kaget. Ada yang berpendapat bahwa status itu sangat sulit dikomentari. Juga ada yang berkomentar, status tersebut hanya cocok buat orang-orang pintar, berpengetahuan fisika dan eksakta mumpuni, sedangkan penekun ilmu pengetahuan sosial menyerah. Alhasil, lebih banyak yang hanya memberi jempol atau like. ‘’Kebetulan akan menyambut hari raya Kuningan dan aku sempat mencari tahu makna perayaan itu, menyebabkan aku bersikap biasa saja. Kuningan, konon berasal dari kata kahuningan atau pemberitahuan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, terutama keluarga terdekat. Pemberitahuan yang dimaksud, menurut pendapatku, bahwa dalam hidup selalu ada hambatan, rintangan dan ancaman yang berevolusi, se-
brolan BALE BANJAR ARIDUS hingga aku dan keluargaku harus menyesuaikan sikap dan perilaku. Terpaksa aku harus mengutip teori SWOT, kalau setiap manusia memiliki kekuatan atau kemampuan dan kelemahan buat menghadapi tantangan yang ingin mengubah tatanan hidup secara fundamental yang disebut disrupsi. Nah, status di facebook itu, bagiku, adalah keresahan atas disrupsi akibat evolusi Saintek belakangan ini. Terutama di bidang teknologi informasi dan komunikasi lewat digitalisasi. Simbol lewat sesajen Kuningan yang berisi tamiang bermakna perisai
dan daun endong bermakna bekal, merupakan wanti-wanti bagi yang merayakannya. Para leluhur kita rupanya sudah menyadari bahwa disrupsi selalu muncul dalam setiap zaman, sehingga kita diwariskan simbol-simbol lewat sesajen, agar halangan, rintangan dan ancaman berubah menjadi kesempatan atau opportunity,’’ urai Rubag. ‘’Persis! Itulah sebabnya ada petuah, hidup adalah samsara atau penderitaan! Bila Galungan memunculkan mitos Mayadenawa sebagai ancaman, kini teknologi informasi dan komunikasi atau sibernetika melahirkan Manusia Tuhan alias Homodeus! Kebanyakan dari kita terburu marah dan mencak-mencak saat membaca tulisan Nietzsche yang mengatakan Tuhan telah mati, karena manusialah yang membunuh-Nya. Padahal bagiku, itu sebuah parodi buat menyindir perilaku manusia yang sering menyetarakan dirinya dengan Tuhan, lewat relasi kuasa. Mereka disebut Nietzsche sebagai Ubermench atau Superman, yang tak tahan bila tidak bisa menyaingi Sang Pencipta. Aku teringat ung-
kapan bahwa manusia merajut jaring-jaring peradabannya, namun akhirnya terjerat rajutannya sendiri. Terutama lewat sainstek di bidang informasi dan komunikasi. Untuk mengikuti libido kekuasaan diciptalah artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Chip-chip AI ini melengkapi kemampuan komputer mutakhir dan handphone berbasis android agar memenuhi hasrat membeludak konsumen di dunia maya dalam berbagai variannya. Apa pun ditulis dan dilakukan fisbuker, instagramis dan twiteris dalam interaksi dengan sesamanya akan dilayani AI, sekaligus juga mencatat dan melaporkannya pada pusat pengendalinya di benua sana. Ini tercetus lewat kegelisahan pemilik akun facebook, ‘realitas akan menjadi tebaran algoritma biokimia dan elektronik tanpa batas yang jelas.…’ Bahkan pemilu pun bisa dimenangkan bila algoritma pemograman dibuat berdasar laporan AI,’’ komentar Nyoman Gede Sudiantara. ‘’Wah, orde Homosapiens akan terancam orde Homodeus bila kecerdasan alami manusia dika-
lahkan kecerdasan buatan. AI kini menjadi andalan utama buat produksi robot. Ada informasi bahwa pada tahun 2029, kemajuan AI robot akan melampaui kecerdasan manusia dan jumlahnya pada 2048 akan melewati jumlah manusia. Hal yang menakutkan adalah kesadaran dan emosi robot akan sama dengan manusia, bahkan pada tahun 2045 akan diberikan hak kebebasan sipil sama seperti manusia. Misalnya hak meraih gelar Ph.D., memilih dalam pemilu, menikah dan memiliki tanah, hahaha lucu-lucu seram! Aku jadi ngeri karena pernah menonton filem fiksi ilmiah, ‘I Robot’, yang mengisahkan pemberontakan para robot terhadap yang menciptakannya. Ini mengerikan! Sekarang saja robot tidak cuma mengganti pekerjaan manusia yang berbahaya, namun juga diperkejakan di pertokoan dan perkantoran. Termasuk mengerjakan akuntansi, keuangan, manufaktur dan transportasi. Manusia jadi tersingkir dan sandyakalaning homosapiens, kalau kondisi itu benar terjadi!” ujar Anom Wijaya.
Bali
6
Redité Umanis, 10 Juni 2018
Rerahinan Kuningan
Panguleng Bhakti ring Ida Bhatara Mahadéwa PIDABDAB makudang-kudang parikrama magama Hindu ring Bali miwah ring makudangkudang genah ring Nusantara sané kantun kadasarin antuk dresta Bali wantah jakti macihna pisan. Duaning nénten prasida lémpas saking makudang-kudang pangrauh rerahinan sané sinalih tunggil pidabdabnyané kamargiang antuk upacara yadnya. Wénten makudang-kudang dasar sané kanggén ngwilangin pangrauh rerahinan krama Hinduné, sinalih tunggilnyané kadasarin antuk pawukon sané rauh nganem bulan apisan. Minakadi rahinan sané wawu pisan kamargiang minakadi rahinan Galungan miwah Kuningan. Rerahinan Kuningan inggih punika rerahinan tunggak pangrauh paica Ida Sang Hyang Widhi Wasa marupa Amertha wiadin Kapradnyanan. Kruna “kuningan” mawit saking kruna “kuning” sané tios saking aran sinalih tunggil warna taler kaartos dados “Amertha”. Tios punika kruna “kuningan” taler prasida kaartos dados “kauningan” sané teges ipun wantah “Kapradnyanan”. Sangkaning punika Jero Mangku I Ketut Mandia, S.Ag., M.Ag., ketua Yayasan Bali Aparigraha, Tabanan maosang, tetuek miwah tetujon parikrama rerahinan Kuningan punika kamargiang pinaka cihna suksmaning manah krama antuk sekancan paica marupa amertha wiadin
kapradnyanan majeng ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa antuk prabawan Ida pinaka Sang Hyang Mahadewa. Arahina sadurungnyané ring rahina Sukra Wagé wuku Kuningan kawastanin antuk Penampahan Kuningan pinaka rahina nabdabang tur nyiagayang sekancan pangapti sané jagi kawigunayang bénjangnyané. Sakadi sloka sané munggah ring sastra lontar Sundharigama wénten taler kapatutan indik penampahan Kuningan inucap inggih punika ; Sukra wage wara Kuningan ngaraning penampa Kuningan sawetaning enjangnia rahina mapag kala ngaran, tan wenang angelaraken Puja Nirgawe, ya Tan Hana puspa, kewala cawiakna supacaraning nggen enjangnia… sané teges ipun, ri kala penampahan Kuningan krama Hindu nénten dados ngelarang parikrama panyucian raga rumasuk para wiku nénten dados ngelarang puja wiadin Weda mantra sané prasida ngawinang susud gunan raga. “Sané ketah kapanggihin saha kamargiang krama tatkala penampahan Kuningan minakadi ngaturang sesayut penampahan. Sakéwanten upacaranipun alit, nénten ageng sakadi penampahan Galungan,” baos dané. Bénjangnyané ring rahina Saniscara Kliwon wuku Kuningan, sampun ngranjing ring rahina Kuningan. Ngeninin indik
Bencingah Jero Mangku I Ketut Mandia
Nyurud Ayu
SAMPUN ketah kauningayang, sajeroning upacara yadnya majanten kadagingin antuk ngaturang makudangkudang upakara utawi banten. Asapunika taler ri kala rahinan Kuningan. Wus banten inucap katurang, majanten taler banten inucap kasurud. Manut Jero Mangku I Ketut Mandia, S.Ag., M.Ag., tatkala rahinan Kuningan, parikrama nyurud kamargiang risampuné wusan nabdabang upacara yadnya miwah ngaturang sembah pangubakti. Beciknyané tatkala punika angga kulawarga nunas tur ngajeng akidik surudan sané kantun becik saking banten sané kasurud inucap. Parikrama punika kamargiang duaning kajantenang pinaka parikrama nyurud ayu utawi nunas paica saking Ida Bhatara taler pitara-pitari sané katurang banten inucap. “Sujatiné surudan banten sané katurang ring upacara yadnya patut katunas sakadi punika. Boya wantah sané katurang ri kala Kuningan kémanten. Nanging, sané patut kauratiang, sané kasurud wantah sané kantun becik tur dados kaajeng mangda nénten ngawinang kramané sungkan,” baos dané. Jero Mangku sané embas ring Pandak Gede, 1 Mei 1947 puniki raris maosang, sakadi sané sampun katami, pidabdab rahinan Kuningan patut wusan kamargiang sadurung jam roras tengai, duaning kajantenang ring galahé punika para déwata miwah pitara-pitari sampun mawali ka genah soang-soang. Yéning kapikayunin malih olih dané, ngunggahan upakara manut saking panuntun sastra sakadi i wawu matetujon mangda déwata miwah pitara-pitari sané kantun malinggih prasida ngaksiang pidabdab sané kamargiang olih krama saking genah Ida malinggih sadurung mawali malih ka Swargaloka. Asapunika sané kajantenang tur karasayang olih krama saking nguni yadiastun sujatiné Ida Bhatara taler pitara-pitari prasida ngaksiang jadmané saking genah maidehan. “Yadiastun asapunika kahananipun, nénten iwang yéning parikrama inucap kamargiang nglintang saking galah sané patut. Sakéwanten sané kaaptiang wantah kramané nénten marasa sebet wiadin kuciwa sangkaning sampun liwat galah,” Jero Mangku nartayang. (was)
Kruna Basa Bali
AKSARA BALI
1.
remek
1.
Ïm)k/,
2.
remrem
2.
ÏmÊm/,
3.
renget
3.
Ï\)t/,
4.
rengka
4.
Ï\Ð,
5.
repi
5.
Ïpi,
6.
rikrik
6.
rikÉik/,
7.
rimbit
7.
rimãit/,
8.
ringkes
8.
ri\Ð)s/,
9.
rirang
9.
rir*,
10.
riris
10.
riris/,
galah parikrama yadnya inucap kamargiang, Jero Mangku Mandia maosang kadabdabang ngawit saking rahina semeng kantos tengai sadurung jam 12.00. Duaning sakadi sané kajantenang taler munggah ring makudang-kudang sastra agama Hindu, ring galah inucap para déwata miwah pitara-pitari sané sampun tumurun ka mercapada saking makudang-kudang rahina saha jagi mawali malih ka swargaloka utawi genah para déwata miwah pitara-pitari soang-soang. Sangkaning punika kaaptiang tur kautsahayang mangda upacara yadnya utawi parikrama ngaturang upakara sampun puput kamargiang sadurung tengai tepet. Dané malih maosang, pinaka pamargin daging sastra Weda, rahinan Kuningan wantah rahina pinaka panuntun taler ngicenin tata-titi sané becik majeng ring jadma pamekas sané magama Hindu mangda eling ring pidabdab matetulung ring déweknyané soang-soang nuju tetujon kahuripan Moksartham Ya’ Ca iti Dharma taler Moksartham Atmanam. “Sangkaning punika upacara sané kagelar ring rahina Kuningan pinaka cihna suksmaning manah krama ring prawatek dewata miwah pitara-pitari sané sampun lédang tumurun tur ngénter jadma ring mercapada sané kauntatin ring rahina Kuningan,” baos Jero Mangku Mandia. (was)
TAMIANG – Sakadi sané sampun ketah kapanggihin, pangrauh rahina Kuningan kasinahang antuk makudang-kudang parindikan. Sinalih tunggilnyane nagingin tamiang wiadin kolem utawi endongan ring makudang-kudang genah ring wewidangan paumahan soang-soang.
Tetandingan Banten Kuningan
Madaging Nasi Kuning RAHINAN Kuningan pangrauhnyané taler nganem bulan apisan. Ngeninin indik pamarginipun, majanten kamargiang antuk ngawigunayang makudang-kudang sarana sané madué tetuek miwah kawigunan soang-soang. Minakadi sarana jejahitan miwah banten sané kaaturang tatkala Kuningan. Dasar sastranipun, mi-
nakadi sané munggah ring lontar Sundharigama, luiré; Saniscara Kliwon Wara Kuningan payoganira Bhatara Mahadewa tumuruna papareng Para Dewata muang Sang Dewa Pitara, inanggapa bhaktin manusa, amaweha waranugraha amertha kahuripan pijanapada, asuci laksana, nehen mamukti, bebanten sega selangi, tebog, saha raka dané
sangkep saha gegantungan tamiang kolem endongsara, maka pralingga. aja sira ngarcana lepasing dauh ro, apan riteles ikang dauh, prewateking dewata mantuk maring sunia taya, hana muah pengaci ning janma manusa, sesayut prayascita, penek kuning iwak pitik putih maukem-ukem. Yéning selehin daging sastra ring ajeng sinah sampun
SELANGGI – Pinaka sinalih tunggil sarana upakara, selanggi miwah tebog majanten setata kaaptiang ring pakraman. Punika mawinan, nampek rahinan Kuningan sayan akéh kapanggihin krama sané ngadol selanggi miwah tebog.
munggah indik tattwa, susila miwah upacara taler upakara sané patut katurang tatkala Kuningan. Minakadi conto ngawigunayang uparengga utawi sarana marupa tamiang, panah miwah endongan sané sujatiné wantah sarana suci sané madaging antuk tetueknyané soangsoang. Sakadi sané kabaosang Jero Mangku Ketut Mandia, tamiang niyasa Cakra utawi kasaktian saking Sang Hyang Wisnu, endongan pinaka niyasa Moksala utawi kasaktian Sang Hyang Sangkara, panah utawi sara pinaka niyasa Nagapasa utawi kasidhian saking Sang Hyang Mahadewa. “Ngeninin indik saranasarana minakadi tamiang, endongan wiadin panah majanten akéhan jagi kagenahang ring palinggih utawi kamulan antuk kagantungang. Sakéwanten arang kagenahang ring wewangunan paumahan sajabaning drestannyané patut nagingin ring balé paumahan,” baos dané. Sios ngawigunayang sarana-sarana inucap, sané taler mautama wantah wangun upakara sané katurang. Sané majanten kapanggihin pinaka cihna Kuningan marupa tébog madaging nasi kuning miwah saur, kacang, ulam calon miwah caling-calingan saking klapa magoreng miwah daun intaran kalih widang. Sios punika taler katancebang malih wayang-wayangan sané kakaryanin antuk gedang matah utawi busung limang diri antuk genah nyatur désa utawi
kiwa, tengen, arep, ungkur, miwah tengah. Nasi wantah niyasa amertha, kacang niyasa tapa, daun intaran niyasa kasukertan, caling-calingan niyasa kapradnyanan, ulam calon niyasa kawibawan raga, miwah wayang-wayangan niyasan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sios punika wénten taler sané kawastanin antuk selanggi pinaka niyasa saking kasaktian Sang Hyang Tri Purusa sané maparagayan satyam, siwam miwah sundaram pinaka Ida sané maicayang panguleng manah, kahanan suci nirmala miwah kasukerthan karahajengan. Ngeninin upakara sané katur ring kemulan rong tengah; kaaturang pejati asoroh, banten danan, selanggi kalih antuk nasi mawarna kuning miwah canang pasucian. Ring rong kiwa miwah tengen; katurang banten soda kuning, banten danan miwah selanggi soangsoang kekalih. Indik banten sané katur ring palinggih siosan minakadi soda kuning, banten danan miwah selanggi kekalih miwah upakara ayaban, banten prayascita miwah byakaonan. “Sané majanten dados cihna wantah nasi kuning, duaning kuning pinaka pralambang Ida Bhatara Mahadewa sané ring pangider bhuana malinggih ring kauh miwah mawarna kuning niyasa kasukerthan, karahajengan. Ida kasinggihang antuk ngaturang upakara masarana nasi kuning,” Jero Mangku Ketut Mandia nartayang. (was)
Dura désa
Rumah Adat Limbungan
”Destinasi Wisata Kearifan Lokal” Lombok Timur INDONESIA yukti sugih antuk sakatah kabudayaan miwah kaasrian palemahan. Makekalih punika saling mapaiketan saha manados “daya tarik” majeng wisatawan. Kabudayaan sané wénten ring Indonesia akéh pisan. Mawit saking suku, basa, ajengan, kasenian, piranti-piranti tradisional, genah-genah sejarah, kantos rumah adat sané kaduénang soang-soang pulo ring Indonesia. Maosang indik rumah adat, rumah adat rumasuk ring sinalih tunggil kearifan lokal sané kaduénang krama sané macihna pisan saha mabinayan sareng wewidangan tiosan. Minakadi sinalih tunggilnyané, Rumah Adat Limbungan ring Lombok Timur. Rumah Adat Limbungan sané magenah ring Desa Prigi, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), rumasuk desa adat pinih tua ring Lotim, sané
rumasuk ring genah pemukiman masyarakat Adat Limbungan turun tumurun. Rumah adat sané magenah ring ketinggian sawatara 750 meter saking permukaan laut miwah magenah ring lereng Gunung Rinjani puniki manados sinalih tunggil daya tarik kunjungan wisatawan ring Lotim. Dusun Adat Limbungan puniki kapah dados kalih wewidangan, luiré Limbungan Barat miwah Limbungan Timur. Parindikan sané tawah ring désa puniki wantah kahuripan krama saha kawéntenan rumah adat sané kantun kalestariang kantos mangkin. Wangunan rumah adat puniki ukurannyané matios-tiosan, nganutin kasidan kulawarga sané meneng ring wangunan inucap. Yéning kahanan perekonomian kulawarga sané nuénang becik, sinah wangunannyané agengan. Yéning kulawarga sané tu-
BPM/net
ara, sinah wangunannyané sederana, alit, acukupan genah merem saha paon, miwah genah tiosan. Dasar Rumah Adat Limbungan wantah tanah. Dindingnyané wantah bedég miwah maraab ambengan. Ring duur raab paumahan ketah madaging kalih tanduk ring sisi kiwa miwah tengen sané saling maarep-arepan. Tanduk inucap kaumpamiang pinaka anak istri sané patut éling ring kahanan saha swadarmanipun miwah satinut ring pituduh kurenan. Satios raab, sané taler tawah wantah kawéntenan jelanan sané kakaryanin saking tiing. Wéntuknyané sakadi rolling door sané patut
kasorogang ka samping. Satios punika, krama sané meneng ring rumah adat puniki akéhan sampun lingsir. Akéhan sané meneng ring rumah adat wantah krama lingsir. Kawéntenan inucap sangkaning krama sané magenah ring wewidangan rumah adat nénten kadadosang makarya wangunan permanén antuk bata, semen, asbes, utawi genteng, miwah seng. Yéning meled makarya wangunan permanen, krama inucap patut matilar saking wewidangan rumah adat saha ngwangun wangunan permanén ring dura wewidangan rumah adat. Mawinan punika arang kapanggihin para yowana utawi
krama sané ceteng meneng ring wewidangan rumah adat, sajabaning ipun sané kahanan ekonomi-nyané kirang saha nénten madué tanah genah ngwangun umah. Yadiastun makanten sederana, kawéntenan rumah adat puniki sampun sapatutnyané kadadosang destinasi wisata kearifan lokal sané patut kaupapira saha kalestariang kawéntenanyané. Santukan, ring aab jagat sané sayan modern puniki kantun wénten kearifan lokal sané kantun becik kauparira. Mawinan punika sampun sapatutnyané kaupapira mangda ajeg kantos panyatusan warsa sané jagi rauh. (kmb)
Jayanti
Redité Umanis, 10 Juni 2018
Cerakén Lengkara Punggelan geguritan puniki kanggén ngulati basa lan aksara Bali. Kapunggel saking Geguritan Cokli sané kakawi olih Djelantik Santha. Kaolah antuk : Pangremba Bali Orti
pupu;s)mrnÑn. Pupuh Semarandana 9.ebzé*eynuæomæunÐp\ái;, Bénjang yén sampun kapanggih, hnÓ¡kÓitê*m\unÑ¡k*, antuk titiang mangundukang, \)nÓsinß(gienezoel*o, ngentasin marginé nyolong, s\Ðn&mnedosétß, sangkaning manados jatma, kli;mnÓ¡kßlip)tn/, kalih mantuk malipetan, \udtitê*ennÓ)nÇ¡mæu, nguda titiang nénten cumpu, \ir&pitudu;Ïrm. ngiring pituduh rerama.
I Putu Wahyu Wirayuda
Malajah Basa Bali ring ”Era Kekinian” SAYAN tedunnyané wilangan penutur basa Bali pungkuran puniki wantah pikobet ageng sané karepin krama Bali pamekas sané meneng ring Bali. Satios pemerintah, para krama, yowana, budayawan, miwah media sané urati ring kahanan basa Bali nerus ngamargiang makudang-kudang utsaha nepasin pikobet inucap. Akéh parindikan sané sampun kamargiang. Utsaha inucap taler kamargiang sinalih tunggil yowana kreatif saking Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo Jembrana, I Putu Wahyu Wirayuda. Lanang pecak lulusan Sastra Bali Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana puniki maosang, sinalih tunggil cara sané efektif pinaka utsaha nincapang kasenengan para krama ring basa Bali patut kamargiang antuk cara nganutin panglimbak jaman, nganutin panglimbak teknologi. “Patut nganutin panglimbak teknologi sané sayan modern. Malajah basa Bali taler prasida kamargiang antuk kawéntenan teknologi sané sayan canggih,” baosnyané. Wahyu — sapunika lanang sané embas ring Yehembang, 17 Juli 1989 puniki ketah kasambat ngwewehin, sakadi mangkiné, akéh krama pamekas para yowana sané nelasang galahnyané ring media sosial minakadi Facebook, Instagram, Whatsapp, Youtube, miwah sané tiosan. Antuk kahanané punika, Wahyu pangawit makarya materi paplajahan basa Bali sané sederana saha ka-unggah ring media sosial inucap, asilnyané, akéh krama sané nyingakin saha membagikan. “Pangawit tiang wantah iseng-isengan makarya materi paplajahan basa Bali sané sederana, lantur unggah tiang ring Facebook tiangé. Asilnyané, wantah ajebos sampun akéh sané nyingakin. Unggahan tiangé viral miwah akéh sané membagikan ulang. Parindikan punika ngawi tiang sayan sumeken saha saat nincapang utsaha nglestariang basa Bali, santukan napi sané karyanin tiang kasenengin krama,” baos Wahyu makenyem. Mawit saking parindikan punika, Wahyu
sayan ketah makarya materi paplajahan basa Bali miwah ka-unggah ka media sosial minakadi Facebook. Materi paplajahan basa Bali sané kakaryanin minakadi indik basa, sastra miwah aksara Bali sané menarik inggian marupa gambar wiadin video saha ka-unggah ka akun media sosial utawi Fans Page Facebook Aliansi Peduli Bahasa Bali. Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Jembrana miwah angganing Tim IT Aliansi Peduli Bahasa Bali puniki sayan saat miwah sayan ketah makarya parindikan sakadi punika, santukan nyabran materi sané ka-unggah setata viral. Salami kalih rahina kémanten, sampun panyiuan krama sané nyingakin saha membagikan pakaryannyané. “Tiang mapangapti, napi sané karyanin tiang mawiguna majeng krama. Satios punika, mangda sayan akéh krama sané ngwedar karya-karya kreatif tiosan sajeroning utsaha palestarian basa Bali,” Wahyu ngaptiang. (uma)
I Nyoman Putra Suarjana
Basa Bali Nénten Pacang Ical NÉNTEN prasida katulak yéning kasuén-suén kahuripan krama sayan-sayan maju taler modérn, punika wantah sangkaning kawéntenan ius-ius saking dura negara sané rauh sangkaning kahanan informasi miwah komunikasi sané sayan dangan kamargiang. Yadiastun sujatiné becik nanging wénten taler kaonipun, sinalih tunggilnyané kawéntenan krama utamanipun para yowa n a sané
sayan ampah taler nilarin makudang-kudang budaya tetamian panglingsirné. Tetamian tradisional panglingsir katilarin duaning kaucap kuna, minakadi mabasa Bali sané sayan arang kawigunayang ri kala mabebaosan. Wénten sangkaning géngsi, wénten taler sané jakti nénten uning mabasa Bali duaning saking alit nénten kaajahin mabasa Bali olih rerama utawi kulawargannyané. Kahanan sakadi punika ngamedalang pikayunan yéning kasuén-suén basa Bali pacang ical. Sakéwanten, Drs. I Nyoman Putra Suarjana M.Si., sinalih tunggil tokoh basa Bali puniki nénten cumpu ring pikayunan inucap duaning dané maosang yéning kantun wénten manusa Bali sané magama Hindu taler ngranjing ring désa adat sané ngamargiang tata-titi miwah awig-awig Bali, dané ngawiaktinin yéning basa Bali punika kantun nyeneng tur ajeg. Nénten sakadi pikayunan kramané
akéh duaning désa adat wantah genah sané pacang nyengker utawi nyagra kawéntenan krama Bali. Sios punika, agama Hindu ring Bali wantah obyék sané ring sajeroning parikramanipun majanten ngawigunayang basa Bali minakadi ring parikrama upacara yadnya taler tatkala ngénter pamuspannyané. Wus punika manusa Bali sané magama Hindu-Bali taler matata-krama adat Bali punika manados obyék miwah subyék basa Bali inucap. “Tiang optimis pisan yéning basa Bali nénten pacang ical manawita kantun wénten manusa Bali sané agama Hindu-Bali taler kasengker antuk désa adat ring Bali Dwipa puniki. Manawita punapapunapi sané pinaka subyék miwah obyék basa Bali sampun ical, wawu tiang cumpu yéning kasuén-suén basa Bali punika pacang ical utawi punah,” baos dané sané polih Penghargaan Dharma Kusuma Provinsi Bali widang Seni Sastra warsa 2016. Budayawan sané embas ring Sidemen, 28 Oktober 1962 puniki malih maosang, paplajahan taler teteleb saking rerama prasida ngawinang
alit-alit utawi yowanané teleb tur éling ring budaya taler kayun mabasa Bali. Napi malih kasarengin antuk wewidangan kulawarganipun, ring pakraman taler ring sekolah sané ageng pisan ngiusang kahanan inucap. Dané nyatuayang, reramanyané dumun wantah teleb pisan mabasa miwah ngwacén aksara Bali sané pamuputné ngawinang Putra Suarjana alit ketah miragiang bebaosan basa Bali antuk sor-singgih sané becik. Mawit irika dané meled malajah mabebaosan antuk tata basa sané patut. Napi malih sangkaning bapannyané dados kelian banjar, sinah dané saking kantun alit utawi wawu matuuh tigang warsa sampun nyarengin pasangkepan. Ring galahé punika dané taler malajah ngwacén aksara Bali utamanipun tatkala macakin krama. Dadosné, saking sadurung ngranjing ring SD dané sampun waged ngwacén tur nyurat aksara Bali yadiastun durung uning ngwacén aksara latin. Indik kahanan mabasa pungkuran puniki, Pembina Sekaa Teruna Provinsi Bali puniki maosang, basa Bali
sayan arang kawigunayang. Kasinahang antuk akéhan kawéntenan alit-alit utawi yowana sané nénten mabasa Bali tatkala mapupulan sareng sawitrannyané. Akéhan sané mabasa Bali antuk “campur kode” utawi maadukan sareng basa siosan. Yéning banggiang kadi asapunika sinah nénten wénten sané uning mabasa Bali. Sios punika ring pakraman akéhan krama Bali sané sujatinné berpendidikan pacang mabasa Indonesia duaning mapikayunan yéning basa Bali antuk sor-singgih méweh pisan. “Yéning ring pikayunan tiangé, pinaka krama Bali patut pisan iraga sareng sami nglestariang basa Bali. Sinalih tunggil malarapan antuk ngawigunayang basa Bali ring kahuripan, nénten punapi yéning nénten ngawigunayang sorsinggih duaning sané mautama wantah ngawit mabasa Bali saraina. Kasuén-suén wawu katincapang antuk masorsinggih,” asapunika panyurat makudang-kudang buku budaya taler penerima Penghargaan Pemuda Pelopor Seni Budaya Tingkat Nasional tahun 1993 puniki nugesang. (was)
Ni Nyoman Sutarpini
Atur Piuning
Pujawali Pura Luhur Tanah Lot MAPAIKETAN ring pamargin upacara Pujawali ring Pura Luhur Tanah Lot, Désa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, para prawartaka karya mapaungu atur majeng ring para bhakta miwah umat Hindu sinamian. Mungguin pujawali kamargiang mawit saking Buda Wagé Langkir ring pinanggal 13 Juni 2018 nyantos ring Saniscara Paing Langkir ring pinanggal 16 Juni 2018. Malarapan antuk paungu puniki taler kaaturang indik galah toyan pasihé jagi kebek tur aad ring sajeroning pamargi pujawali, mangdané para pamedek sami prasida ngélingang tur ritatkala toyan pasihé kebek sinah pamuspan jagi kamargiang ring Palinggih Pangayatan sane magenah ring Madya Mandala. Indik galahnyané inggih punika ring raina Buda Wagé Langkir pinanggal 13 Juni 2018 toyan pasihé kebek ring galah 06.00 nyantos galah 12.00 Wita wusan punika raris aad ring galah 13.00 nyantos 19.00 Wita. Malih kebek ring galah 20.00 nyantos 24.00 Wita tur aad malih ring galah 01.00 nyantos 06.00 Wita. Ring raina Wraspati Kliwon Langkir pinanggal 14 Juni 2018 toyan pasihé kebek ring galah 07.00
7
nyantos galah 13.00 Wita wusan punika raris aad ring galah 14.00 nyantos 20.00 Wita. Malih kebek ring galah 21.00 nyantos 01.00 Wita tur aad ipun ring galah 02.00 nyantos 07.00 Wita. Bénjangnyané ring rahina Sukra Umanis Langkir toyan pasihé jagi kebek malih ring galah 08.00 nyantos galah 14.00 Wita tur raris aad ring galah 15.00 nyantos 21.00 Wita. Malih jagi kebek ring galah 22.00 nyantos 02.00 Wita tur aadnyané ring galah 03.00 nyantos galah 08.00 Wita. Ring panyineban Ida Bhatara inggih punika ring raina Saniscara Paing Langkir pinanggal 16 Juni 2018, toyan pasihé kebek ring galah 09.00 nyantos galah 15.00 Wita tur aad ring galah 16.00 nyantos 22.00 Wita. Wusan punika malih kebek ring galah 23.00 nyantos 03.00 Wita tur raris aad ring galah 04.00 nyantos 09.00 Wita. Wantah sakadi asapunika atur piuning sané prasida kaunggahang. Kaaptiang mangda kramané prasida pedek tangkil ngaturang bakti pamuspaan. Dumogi sareng sami ngamolihang karahayuan saha karya pujawali mamargi siddaning don. -0-
Ngicén Piteket Majalaran Satua NGICÉN piteket majeng anak alit prasida kamargiang majalaran ngicén anaké alit satua-satua Bali. Majalaran satua-satua sané kapiragi, anak alit inucap prasida molihang piteket indik disiplin, rasa hormat, taler papineh sané becik sajeroning ngamargiang kahuripannyané. Sinalih tunggil parikrama sané ketah kamargiang para rerama duk nguni tur kantun kamargiang kantos mangkin wantah masatua majeng pi- anaknyané sadurung pianaknyané sirep. Karasayang utawi nénten, parikrama inucap prasida nguwah karakter anaké alit manados sayan rajin, bhakti ring rerama, ajér ring sawitra taler anak tiosan, miwah karakter becik tiosan. Samian punika sangkaning anak alit ketah miragiang satua. Napi sané kapolihang saking miragiang satua pastika setata kaélingang. Anak alit pastika lewih éling ring kahanan sané nyinahang karakter becik, santukan karakter tokoh sané nénten becik ring satua sané kapiragi, kasatuayang pacang keni sengkala. Antuk punika, akéh satua-satua sané nyaritayang indik Karma Phala. Kawéntenané inucap kabaosang patut olih guru basa Bali ring SD 10 Sumerta Denpasar, Ni Nyoman Sutarpini, S.Pd., M.Pd. Dané maosang, akéh nilai-nilai pendidikan karakter sané wénten sajeroning satua, pamekasnyané satua Bali. “Satua akéh pisan madaging nilai-nilai pen-
didikan. Tetuek sané ketah kasatuayang ring satua Bali akéh ngeninin indik Karma Phala, becik kaon parilaksana manusa taler sané madaging nilai-nilai karakter,” baosnyané. Carita Karma Phala prasida kapolihang ring daging satua-satua Tantri sané rumasuk ring soroh fable. Malarapan antuk satua-satua sakadi punika, alit-alité pacang dangan tur setata éling yéning maparilaksana kaon pastika kaon sané kapuponin. Saking miragiang satua, alit-alité pacang setata mautsaha maparilaksana becik. “Saking miragiang satua, ipun nénten pacang maparilaksana kaon. Minakadi wus miragiang satua Malin Kundang, alit-alité mapineh yéning nénten dados wanén sareng rerama mangda nénten keni alpaka guru rupaka,” dané ngumpamiang. Istri sané embas duk tanggal 21 April 1965 puniki maosang, pinaka rerama patut pisan ngicén ajah-ajahan sané becik majeng pianak yéning meled madué pianak suputra. Napi malih ring panglimbak masa sakadi mangkin, rerama patut sayan urati ring pianaknyané. Dané taler mapangapti majeng para rerama mangda sayan leket ring pianak yadistun gupuh makarya. Indiké punika prasida kamargiang majalaran masatua sareng pianak-pianaknyané utawi masatua sadurung pianaknyané sirep. “Yéning sampun becik tur setata éling ngicén satua utawi masatua ring anak alit taler ngicén piteket-piteket becik, anaké alit pacang setata éling indik tetuek-tetuek sané wénten sajeroning satua. Nilai-nilai moral sajeroning satua prasida nguwah parisolah anak alit manados lewih becik tur kayun satinut ring pituduh rerama,” baos istri saking I Wayan Darwan puniki ngwewehin. (uma)
Satua
Adi Sudi Anggara
Pan Angklung Gadang (7) Kaketus saking Satua-satua Bali (VI) NÉ jani kacaritaang anaké masangkepan di balé banjaré, suba uling i tuni nuduk putra dadendan, ento suba pragat makejang. Sakéwala jani nu ngrembugang unduk utang Pan Angklung Gadangé, sawiréh jani sengkerné mungkah, lantasan ia tusing ada teka mai masangkepan. “Men, jalan suba jani kema beredin ajak banjaré ngadep umah Pan Angklung Gadangé.” Déning kéto, makejang adung parembugan krama banjaré, lantas marérod pada teka ka umah Pan Angklung Gadangé. Jero Kelian tanggu malu capatina tekén Pan Angklung Gadang. “Wawu rauh nika Jero Kelian? Durusang drikaan malinggih! Niki Jero Krama Banjar wawu rauh nika sareng sami? Krama Banjar wawu rauh nika sareng sami?” Krama banjaré makejang pada masaur, “Inggih, tiang mara teka.” Nah suba koné kéto, lantas Jero Kelian nlatarang unduk tékan krama banjaré. “Nah Bapa Pan Angklung Gadang, Bapa mutranin pipis banjar buatan siu. Sawiréh Bapa tusing mayah-mayah putra, jani suba dadi nikelina, dadi duang tali. Déning ané malu umah Bapané anggon Bapa kantah, jani umah Bapané lakar adep icang. Nyén ja pilih tunggal kramané bani meli aji duang tali, ia ngelahang umah Bapané.” Mara kéto dingeha pisedek Jero Kelian, lantas Pan Angklung Gadang bengong masebeng kangen, tur dengeh-cengeh mangenang lacurné, lantas ia ngomong, “Inggih Jero Kelian, tiang nunas patanggeh asasih kémanten. Ring sangkepané malih apisan irika tiang naur sami,” kéto pinunas Pan Angklung Gadangé. Jero Kelian lantas ngrembugang tekén kramané. Krama banjaré makejang tuara lega. Déning suba tuara kaleganin baan banjaré, Pan Angklung Gadang buin matur tekén Jero Kelian, “Inggih Jero Kelian, nawegang antosang malih ajebos kémanten, tiang jagi ngaturin ajengan Jero Kelian kalih krama banjaré sami.” Lantas masaut Jero Kelian, “To Bapa ngelah nasi tuah awaregan nagih ngingu anak abanjar, sing salah-salah icang ngidihin Bapa nasi.” Pan Angklung Gadang masebeng jengah, lantas ngaukin kurenanné, “Méméné, kema jemak pasepané énggalang!” (Masambung)
8
Minggu Umanis, 10 Juni 2018
Tanah Air Bali Bali adalah tubuh yang utuh. Suatu tanah yang telah dipasupati terkait dengan tanah lain di pulau ini. Memahaminya pun tidak bisa sepenggal-sepenggal. Dimensi ini bernubuat karena rangkaian proton dan electron yang berasal dari Sumbu Mundi Ilahi. Kemahakuasaan hadir pada korban dan persembahan, namun ketulusan tetap memegang kendali ke arah mana berkat dilarungkan. Sebab matahari bulan dan bintang yang berbagi pada bumi dalam milyaran tahun cahaya ini selalu menjadi saksi kunci gelap terang kehidupan anak manusia, sebabnya nilai politik ekonomi tak layak barter dengan asung kerta lugraha Sang Empunya Hidup. Plasenta cintanya itu secara takjub dipahami dalam nilai sebuah caru yang bernama Bali untuk orang Banten, atau banten untuk orang Bali. Coba kita renungkan, makin tua pulau ini, makin rewel pula yang dimaui anak-anaknya, kendati sang ibu pertiwi dan bapak angkasa tetap setia melayaninya. Banyak anak-anak nusantara menyoyo pada Bali, lalu mengikat perjanjian pada tiang jiwa yang berbadan dan badan yang berjiwa Pancasila. Segala sesuatu yang tak sejalan dengan petuah Putra Sang Fajar, tak akan merembes di tanah ini. Itu sebabnya Proklamator yang mendapat ilham Pancasila di tanah Ende–NTT dan berdarah Bali tersebut, telah menemui Mosalaki di danau Kelimutu dan memperoleh Koda atau sabda yang menjelma menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam tarian etnis Bajawa yang disebut Ja’i orang meminta hujan pada bapak angkasa yang membuahi ibu bumi. Pralambang rahim menjelma pada danau. Mengalirlah rahmat pada masyarakat agraris, Dewi Sri menampungnya jadi
Gayatri
bulir padi. Sahabat Air yang berperahu di sungai bertemu dengan permaisuri lautan di hulu. Kehangatan payau menjelma jadi bakau yang menahan arus reklamasi modernisasi. Di bibir pantai semangat blue ocean memberikan tanda batas-batas Zona Economy Exclusive (ZEE) berbanding lurus dengan garis Kathulistiwa yang mencengkram kuat ribuan pulau-pulau dari Timor sampai Talau. Adalah tolol jika berpikir kita bisa berdiri sendiri, karena pulau berfondasi kuat disangga oleh berbagai unsur yang menyawainya. Semuanya terkait jadi satukesatuan mineral dalam rantai karbon ring of fire Nusantara. Faktor geografis telah mengatur degup sejarah negeri. Dia bukan bermain di tingkat periphery lagi, apalagi riak-riak politik. Dia masuk kedalaman jiwa lalu bertransformasi jadi Soempah Pemoeda, Proklamasi, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45 dan Pancasila. Rangkaian pipa kapiler yang merupakan nadi penghubung satu gugusan dengan gugusan lain telah terpompa dengan satu tumpah darah Indonesia, kesegaran tak tergantikan oleh indoktrinisasi ajaran luar yang mengingkari lambang negara dengan dalil agama. Itulah yang ditakutkan para pemimpin segerombolan ormas yang menjadi pemimpin daerah. Ketakutan akan segala macam faktor X yang bisa muncul dalam status quo pemimpin Bali ke depan ini. Kenapa harus waswas jika kita benar-benar memahami esensi tanah air. Tanah dan Air. Unsur yang membentuk manusia keluar dari garba ibu kandung dan kelak membawanya pada garba ibu pertiwi. Rahmat yang tercurah bukan pada dogma institusi agama tetapi ajaran leluhur Nusantara yang dijiwai semua ajaran para nabi dan orang suci tiap agama, aliran kepercayaan, ajaran kepribaden dan manunggal rasa. Sampai di sini kita akan menghayati
Sembilan Puluh (90) Tahun Yang Membelai Napas Kita Yayasan Dharmasastra MANIKGENI JATIJAGAT Kampung Puisi - JKP - 109 Desa Pujungan Tabanan 28 Oktober 2018 bahwa kita ini dibentuk dari tanah dan air yang sama. Bukan sumpah palsu atas nama Tuhan, yang membuat kita makin beragama tetapi makin fobia dengan banyak hal. l Frans Wisnu Lamablawa
l Anggur
Merah Persibu Ngampoeng Seni untuk Fenomena 27 dalam 72…
Majapahit senantiasa menggetarkan bagi orang Indonesia. Cerita wangsa Rajasa ini merasuk hampir ke seluruh wilayah. Entah di pelosok pedalaman Muara Kaman di Kutai atau ke ujung Siak Indragiri, anda akan mendengar orang-orang membicarakan kisah heroik Raden Wijaya di tahun 1293. Dan putranya, Kalagemet atau Jayanagara, yang mati di tangan pemberontak. Yang menarik, tentu Hayam Wuruk, raja yang telah mempersatukan Nusantara tapi tidak bisa lepas dari latar gelap Perang Bubat di zamannya. Di sisi tua sejarah ini, di mana Pararaton dan Nagarakretagama menyusun puing-puing sepi, Majapahit pada mula dan akhirnya tampak amat patriarki dan kalis, juga sisa gerimis. Tapi, pada akhirnya, kau tahu, aku tahu, kita tahu, ada satu fragmen, ada satu potongan kisah perempuan yang mengubah seluruh jalan sejarah Majapahit. Dialah Gayatri. Meskipun demikian, Dara Petak-lah, sang istri boyongan raja, yang mengubah garis kekuasaan dinasti Kertarajasa. Putranya, Kalagemet, satu-satunya anak laki-laki sulung di kerajaan, yang kemudian jadi pewaris tahta di usia yang masih muda. Waktu itu dia berusia 16 tahun. Di hari kematian Kertarajasa, Majapahit begitu pekat, orang seperti menanggungkan ombak di gempa laut, dan Dara Petak berharap ia bisa ikut mati bersama suaminya, mengorbankan diri di atas unggunan api, dan tak satu pun kembali. Tapi perempuan yang dibesarkan seorang ‘’melayu’’ itu tak bisa memangkas nasib. Memang siapa pun mati, tapi nasib memilih arahnya sendiri. Setahun kemudian, setelah kesedihan yang panjang, akhirnya ajal yang ditunggu itu datang, dan penghabisan. Saya membayangkan Dara Petak seperti Madrim. Seorang yang merasa hidupnya tak layak dipertahankan, cintanya yang besar biar disepuh musim. Tak ada, tak pernah ada. Dan Gayatri bagaikan Gandari, istri Drestarata, ibu dari seratus Kurawa. Hidupnya tergolong tragis. Jika Gandari tahu betul tak ada untungnya memiliki seratus anak laki-laki jika mereka bukan yang lahir lebih dulu. Maka Gayatri, putri
dari Kertanegara, raja Singasari – kerajaan yang perjalanannya penuh cerita makar itu - menyadari betapa sialnya menjadi ratu Majapahit dan memiliki dua anak jika mereka bukan lelaki. Tapi ia hanya diam. Ketika penobatan Kalagemet sebagai raja, permaisuri paling muda ini pun tetap bungkam. Ia diliputi perasaan kecewa yang mendalam. Bahkan, setelah Kalagemet naik tahta, ia mulai mundur pelahan dari berbagai urusan kenegaraan. Ia kembali kepada kesunyian, sungai, dan hutan. Gayatri tak hendak bertualang ke dunia yang ‘’ganjil’’ menyesakkan, juga ke dalam hal-hal yang mengganggu pikiran. Tapi segala kekacauan datang begitu cepat, dan jelas tergurat. Di detik-detik berikutnya, siul melengking, anak selir yang ditentang dan tak memiliki keturunan itu meregang. Masa depan Majapahit kini berada di antara kedua anak Gayatri, Sri Gitarja dan Dyah Wiyat – yang dalam darahnya mengalir wangsa Rajasa. Gayatri yang telah pamit undur diri, dan telah jadi biksuni. Diminta datang kembali. Tapi ia tak tahu terang dari semua teka-teki. Sempat ia ingin meniru apa yang pernah dilakukan oleh Airlangga yang memutuskan membagi kerajaan jadi dua, Panjalu dan Kadiri. Tapi ‘’itu tidak akan pernah terjadi di Majapahit,’’ katanya lirih. ‘’Kerajaan bukanlah tanah warisan yang bisa dibelah bagi. Manusia boleh tenggelam dan rubuh, tapi tanah air ini harus utuh.’’ Gayatri risau; ia tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap tahta Majapahit yang tua dan berdebu itu. Tapi sejarah mencatat, sepeninggal Kalagemet, dan dengan diyakinkan oleh ucapan patihnya, Gajah Mada, ia berhasil mendaulat putrinya, Tribhuana Wijayatunggadewi, sebagai raja. Tapi, orang yang bisa membimbing Majapahit itu selintas menemukan kembali waswasnya. ‘’Kekuasaan sejak dulu meletihkan, orang saling bunuh, hanya nafsu, dan ketakutan...,’’ kata Gayatri, setelah semua kekacauan, setelah sama sekali tak ingin bersentuhan dengan dunia. l Agus Roisalam
l Spirit Ruh Bangsa, Tes Ke-Indonesiaan Raya Kita
CAKRA Yadnya EDUKASI (H) Cinta Nusantara 2018 l
JKPemerdekaan-109, Pijakan Start Ke-rasadiri-an l
Sangkan Paraning Dumadi, yang Terpanggil Sepenanggungan
Mei-Rememberance 27 in 72…, 72 in 27
Road to Homecoming 230 Years Old Denpasart!
HUBUNGI dan Aktif Mengikuti Wayan Jengki Sunarta via Facebook dua(2) Minggu sebelum KOMUNITAS ANDA di JKP-109
Redaksi Mingguan mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam rubrik “Kartun” ini. Tulis nama dan alamat lengkap dibalik gambar kartun. Kirim ke Redaksi Bali Post Jalan Kepundung 67a Denpasar.
Fotografi
‘’Suatu Hari di Warung Etnik’’ karya Andika Darmawan.
Toy Photography
‘’Sang Pelukis’’ karya Andika Darmawan.
Merangkai Cerita dari Balik Mainan
Bagong Soebardjo
I Wayan Nuriarta
SEPERTI bidang-bidang seni lainnya, seni fotografi juga terus berkembang. Selalu saja lahir inovasi-inovasi dan kreativitas-kreativas baru yang membuat dunia fotografi makin semarak dan tak pernah membosankan untuk dijelajahi. Sasaran bidik kamera seorang fotgrafer pun tidak lagi sebatas keindahan alam, keunikan budaya dan gerak aktivitas kehidupan manusia semata, namun sudah ‘’menjamah’’ beragam objek yang selama ini mungkin terabaikan. Salah satu genre yang sedang nge-tren di jagat fotografi saat ini adalah toy photography atau fotografi mainan. Sesuai namanya, fotografer yang menekuni genre ini memang memanfaatkan berbagai jenis mainan sebagai ‘’media’’ untuk membangkitkan imajinasi dan kreativitasnya. Di mata mereka, setiap mainan, entah itu action figure, boneka, superhero, mobil-mobilan dan giant mecha (robot), memiliki jiwa dan karakter. Dengan sentuhan imajinasi dan kreativitas, seorang toy photographer mampu merangkai cerita dan membangun berbagai adegan menggelitik, dramatis dan humanis dari benda-benda yang biasanya menjadi ‘’sahabat’’ anak-anak tersebut.
Mengeksplorasi Imajinasi Dalam toy photography, seorang fotografer dituntut mampu mengeksplorasi imajinasi layaknya anak-anak saat memainkan mainannya. Kemampuan berimajinasi ini memang menjadi modal utama dalam ‘’menyulap’’ karakter mainan yang terkesan plastik banget itu menjadi lebih hidup, punya jiwa dan berkarakter. Tak kalah pentingnya, harus ada cerita maupun pesan yang bisa disampaikan dari foto-foto tersebut. Sejatinya, setiap mainan memiliki background cerita sendirisendiri. Manfaatkanlah elemen itu untuk membuat tema foto. Sebagai contoh, jika anda memiliki banyak koleksi mobil-mobilan bernuansa off road, maka anda bisa men-setting mainan itu dengan background alam dengan kondisi yang ekstrem yang menggambarkan perjuangan para off roader untuk menaklukkan medan yang berat. Jika anda memiliki mainan figur tentara, kondisikan sedang latihan militer sehingga ada sebuah cerita yang bisa disampaikan kepada penikmat foto anda. Intinya, rangkailah cerita sesuai dengan koleksi mainan yang ada.
Masalah ‘’Lighting’’ Dalam fotografi, masalah lighting atau pencahayaan selalu menjadi hal yang mendasar untuk menciptakan foto-foto yang berkualitas. Namun jangan patah semangat dulu, toy photography sesungguhnya tidak menuntut peralatan fotografi termasuk lighting yang njelimet. Cukup mengandalkan sinar matahari atau lampu saja, hal itu sudah cukup untuk menghasilkan foto yang lebih alami atau natural. Dengan demikian, karakter tokoh yang dibuat bisa terlihat semakin hidup. Untuk pemotretan di luar ruangan, pencahayaan bisa dengan memaksimalkan sinar matahari. Sedangkan untuk pemotretan di dalam ruangan, pencahayaan bisa dimaksimalkan dengan menggunakan lampu rumah. Intinya, jangan biarkan imajinasi dan kreativitas dalam fotografi terpasung hanya gara-gara tidak memiliki gear atau peralatan fotografi yang mahal dan lengkap. Begitu pula dengan lensa, sebenarnya bisa menggunakan lensa jenis apa pun sesuai dengan tema yang ingin angkat. Namun untuk mendapatkan hasil foto yang lebih tajam dan detail, sangat disarankan menggunakan lensa makro jika objek mainan yang digunakan berukuran kecil. Akhirnya, selamat berkreasi dan bermain-main dengan mainan! (ian)
‘’The Journey ‘’karya Andika Darmawan.
‘’Tour of Duty’’ karya Andika Darmawan.
BALI GLOBAL CLASSIFIED ADS
Minggu Umanis, 10 Juni 2018
9
IKLAN MINI - IKLAN PELUANG EMAS
Sarana promosi, mempertahankan, memperluas pasar serta meningkatkan citra perusahaan, Paling efektif, mini biaya, maksimal hasilnya � Tarif iklan Mini/Baris
: Minggu s/d Jumat : Rp 49.500,- per baris, Sabtu : Rp 64.350,- per baris (30 character), minimum 2 baris, maksimum 10 baris (bayar dimuka), Adlibs Radio Global/Genta/Besakih Rp 50.000 (3 x siar) � Iklan Peluang Emas : Rp 795.000,- maksimum ukuran 1 kolom X 3 cm, 10 kali muat/bulan (bayar dimuka) tidak termasuk iklan lowongan/dijual/dikontrakkan rumah, tanah, ruko, mobil, dll. Tarif khusus 70 tahun Bali Post. Iklan mendesak untuk dimuat besok, diterima sampai pukul : 18.00 Wita � Materi iklan diserahkan berupa file dalam bentuk CD/Flashdisk dengan format: Coreldraw, Photoshop atau Iklan Anda di desain langsung di bagian iklan Bali Post, GRATIS! � BCA 040 - 2784847 A/n. PT Bali Post, BRI Denpasar 00170 - 1000320300 PT Bali Post
LOWONGAN Dicari PRT untuk di Batubulan Gusti. 08123806901 B.BP.001.06.18.0000366
PAUD di Kerobokan Membutuhkan Teacher dan Asst.Teacher, Pengalaman & Bhs Inggris.CV : assistme01@gmail.com B.BP.004.06.18.0000386
Bamboo Blonde Looking for Visual Merchandiser,Window Dresser,In-Store Merchandiser &Mannequin Dresser, Applicants Must Speak English & Have VM/ Retail Experience.Send Your CV to Sri@bambooblonde.com B.BP.004.06.18.0000328
DIJUAL MOBIL
DIJUAL RUMAH
BIRO JASA
Bamboo Blonde Looking for I.T Specialist Knowledge in Hardware,Software & Network Send Your CV to: Sri@bambooblonde.com
B.BP.004.06.18.0000327
Dbthkn Satpam Berpengalmn, Bisa Setir Mobil,Brsrtfkt.Kirim CV ke:Cahya Dewi Salon, Jl.Letda Tantular No.9 Renon,0818566160
B.BP.001.06.18.0000311
Dbutuhkan Sales u/Rai Fitness Hub.087860006909
Tamat SMP, SMTA ayo bekerja jadi apa saja, mau bekerja dibidang kuliner. Lamaran ke Arowana Food Street Jl.Veteran 66 Denpasar
G.02
Marketing Public Relation S1, D3, mahasiswa bekerja sambil kuliah. Lamaran ke Bag. Marcom BP, Jl.Kepundung 67A Denpasar
G.03
Dcr PRT Wnt TdrDlm,Jln.G.Salak Gj 1,5Jt Bersih, 08129229286 B.BP.154.06.18.0000382
Dcr Krywn Ltr Belakang Elektronika akan Dilatih dr Awal. Lam: UD.Sinar Mulia Jln.Kartini 112 Dps.Telp:0361-226815-236895
Dibutuhkan Junior Accounting dan Junior Operation u/Travel Agent(Pengalaman Diutamakan) CV Kirim ke: eam@indonesiaholidaysdmc.com
DIJUAL MOBIL
DIJUAL MOBIL
B.BP.001.06.18.0000367
B.BP.001.06.18.0000149
B.BP.004.06.18.0000324
Dcr Supir SIM B1/A,SMA/sdrj, u/ Distribtor.Lam Jl.Himalaya Slt No.6 Tlp.418531/08124646409 B.BP.001.06.18.0000359
Dcr Sopir & Operation Pariwisata B.Inggris.Merrys 0361238041 B.BP.001.06.18.0000335
Elite Havens,Indonesia’s Largest Villa Management Group is Looking for Villa Manager at Karangasem Area.Strong Leadership,Dynamic, Enthuasiast Innovative,Exp,Good English,Individual&TeamPlayer.CV&Photo to: hrd@elitehavens.com CC:gede.se pranjaya@elitehavens.com (Subject:Name-Applied Position-Area) B.BP.004.06.18.0000385
Dcr Urg Hskp/Butler utk Sminyk /UmalasHub.Agung082146584344 or agung@balimanagement.villas B.BP.821.06.18.0000339
Looking for SPG Applicants Must Love Fashion,Speak English,Have Retail Experience Please Call:+6281999713080 B.BP.004.06.18.0000329
Urgent Need Reservasi Staffs (Bhs.Ing&Comp)Exp.1Th T.287555 /CV:ptworldsurfaris@gmail.com B.BP.004.06.18.0000387
Urgent Staff Notaris, Laki2 S1 Hukum,Team Work,Disiplin.Kirim CV ke: hrdbali2018@gmail.com B.BP.001.06.18.0000287
Informasi pasang iklan Telepon � Denpasar : (0361) 225764 (hunting) WA. 081802411818 e-mail:iklanbp@yahoo.co.id, iklan@balipost.co.id
DIJUAL MOBIL HONDA
Jazz RS Metic’17 Silver,KM8000 DK,Hrg242JtNegoH:087861376210 B.BP.001.06.18.0000312
DIJUAL TANAH BU jual tanah 17 are di Kerta Payangan,cocok untuk villa view sawah dan jurang Hub.08123804356/081338234253
B.BP.004.06.18.0000285
DIJUAL RUMAH Rmh Minimlis 45/80.C/Krd,250Jt Lok.IB Mantra/081703280603Pmlk B.BP.001.06.18.0000353
DIJUAL TANAH Djl Tanah 2 Are di Dama Dekat Induk Hub.082147454248 B.BP.164.06.18.0000384
Djl Tanah 1,5A 10Are Buduk di Tiing Tutul, H.082147454248
B.BP.164.06.18.0000383
Djl Tnh Jl.Imam Bonjol Gg.100 Dps,Ls 6,9Are @400 nego & TP, Hub/WA Agung 0823-3586-7456 B.BP.001.06.18.0000368
Tanah Nempil,Jl.Besakih Pondok Citra Pemogan Dps, 08123871809 B.BP.001.06.18.0000214
RUPA-RUPA Djl Member NewKuta Golf Pecatu Indiv & Unreg,Hub.082144253309
B.BP.001.06.18.0000320
10
Minggu Umanis, 10 Juni 2018
Mendatar: 1. Rokok 4. Penyakit yang disebabkan oleh nyamuk 8. Organisasi buruh internasional 9. Se........ ; Seuntai (Merjan, peluru senapan mesin, petasan, dsb) 10. Permainan dengan menandai angka 11. Nama tanah genting di Thailand Selatan 12. Bunga mawar 13. Kelalaian ; Ketidak normalan 16. Alat penangkap gelombang radio, TV, dsb 19. Internet service provider 21. Tidak beridentitas 23. Penyegaran kembali badan dan pikiran ; Piknik 25. Gunung api di Sumatera Utara 26. Bersifat mematikan ; Mendatangkan maut (Inggris) 27. Organisasi Konferensi Islam 29. Memakai (Bali) 33. Amril 36. Irama 37. Banyak 38. Universal serial bus 39. Jajaran genjang 40. Lepas lelah ; Istirahat 41. Ambil dengan menarik paksa 42. Lampu kecil bertutup kaca
Seringnya Ikan Paus Terdampar di Probolinggo
BPM/ant
TERDAMPAR - Seekor ikan paus terdampar di perairan pantai Desa Jangkar, Situbondo, Jawa Timur, Jumat (2/3). Dalam beberapa tahun terakhir ini ikan paus juga sering terdampar di perairan Probolinggo, Jawa Timur. KEPALA Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo, Dedy Isfandi mengatakan dalam beberapa tahun terakhir ini ikan paus sering terdampar di perairan Probolinggo, Jawa Timur. “Berdasarkan catatan kami, sedikitnya enam peristiwa terdamparnya ikan paus berbagai jenis di Probolinggo, yang terjadi pada tahun 2010, 2015, 2016, 2017 dan 2018,”
katanya di Probolinggo, Jumat (8/6). Terdamparnya ikan paus balin di Pantai Randutatah, Kecamatan Paiton, Rabu 6 Juni lalu ternyata bukan yang pertama kali terjadi di Probolinggo, karena dalam kurun waktu delapan tahun terakhir, tercatat enam kali kejadian serupa terjadi di lokasi yang berbeda di
DAGING penyu kadang digunakan sebagai salah satu upakara atau sarana perlengkapan persembahyangan umat Hindu di Bali, menimbulkan dilema dalam upaya Pulau Dewata mendukung pelestarian satwa yang populasinya makin menyusut. “Sebagai pimpinan daerah saya sering dimintai izin untuk menggunakan daging penyu sebagai salah satu upa-
kara persembahyangan. Hal ini menjadi dilema tersendiri, karena di satu sisi penyu adalah satwa yang dilindungi, sementara di sisi lain dibutuhkan sebagai sarana ibadah,” kata Bupati Jembrana I Putu Artha saat pelepasan penyu hijau sitaan polisi setempat di pantai Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, belum lama ini. Dia meminta seluruh kom-
Probolinggo. Berdasarkan data Dinas Perikanan Probolinggo, ikan Paus Minke terdampar di Desa Penambangan, Kecamatan Pajarakan pada 7 November 2010. Ikan hiu paus atau hiu tutul terdampar di Desa Gejugan-Kecamatan Pajarakan pada 9 Desember 2010, ikan hiu paus/hiu tutul terdampar di Desa BinorKecamatan Paiton. Kemudian 32 ekor ikan paus pilot terdampar di Desa Pesisir, Kecamatan Gending dengan rincian 15 ekor mati dan 17 ekor berhasil diselamatkan pada 15 Juni 2016, paus balin terdampar di Desa Tongas Wetan-Kecamatan Tongas pada 30 Oktober 2017, dan beberapa waktu lalu Paus Balin terdampar dalam kondisi mati di Desa Randutatah, Kecamatan Paiton pada 6 Juni 2018. “Bahkan seingat saya, Paus Orca atau paus pembunuh terdampar di Probolinggo pada tahun 2005, namun saya lupa lokasi persisnya,” kata Dedy. Fenomena ini terjadi karena hewan laut raksasa itu sedang mengalami disorientasi atau sedang linglung karena paus maupun hiu paus biasanya hidup berkelompok. (ant)
Menurun: 1. Semuanya ; Segala hal 2. Memberi pertanda/perin gatan mengenai kemungki nan terjadinya malapetaka 3. Sungai di Mesopotamia bermuara di Teluk Persia 4. Ketika atma bersatu dengan sang pencipta 5. Halus benar (Tepung, adonan, dll) 6. Teman sekerja 7. Sikap duduk 14. Tetapi (Bali) 15. Goyah ; Tidak mantap berdirinya 17. Neokolonialisme Imperialisme 18. Susah hati ; Sedih sekali 20. Nama kali/sungai yang mengaliri Jawa Tengah 22. Nomor pokok anggota 24. Makan 28. Alat pengangkat ; Kerek 29. Akal budi 30. Rujukan ; Referensi 31. Kumandang ; Sipongang 32. Mengambil dengan cara tidak sah ; Curi 34. Dibalik : Meja (Inggris) 35. Warna keempat dari Catur Warna
BPM/ant
PENYU - Umat Hindu mengupacarai satu penyu yang akan menjadi hewan kurban dalam upacara “Mepepada” di Pura Besakih, Karangasem, Bali, Kamis (15/3). Upacara berkeliling Pura membawa sejumlah hewan kurban, merupakan rangkaian upacara Tawur Kesanga yaitu ritual untuk menetralisir hal-hal negatif sekaligus penyucian alam sebelum Hari Raya Nyepi.
Jawaban TTS No. 348 Mendatar: 1. Muat 3. Degung 8. Lirih 9. Jembalang 13. OAR 14. Kadek 15. HAM 16. Idola 18. TON 19. Praha 20. Dokter 23. THT 25. PICANTO 28. Oma 30. Orbita 33. Bidan
34. ONS 35. Ganas 38. TUG 39. Obrak 40. IDE 42. Arsenikum 44. Studi 45. Segera 46. Maan Menurun: 1. Mujahid 2. TOBA 3. DOL 4. Ungkapan 5. Gladiator 6. Traktat
Untuk pembaca Bali Post Mingguan (BPM), kami membuka rubrik baru “Permata Hati”. Rubrik ini mengangkat isi buah hati yang baru lahir, yang berulang tahun atau akan berulang tahun. Juga pasangan yang menikah di minggu tersebut atau yang merayakan ulang tahunpernikahan. Kirim foto menarik dan tulisan data lengkap identitas diri, orang tua serta komentar singkat.Semua data dikirim lewat email redaksibalipost@yahoo.com dengan kode Permata Hati. Bisa juga naskah dan foto dikirim ke Sekretariat Bali Post. Jl. Kepundung 67 A Denpasar, telp. (0361) 225764. (Redaksi)
ULANG TAHUN Ulang tahun ke-11 I Ketut Baskara Meguna, Sabtu (9/6) kemarin agak istimewa. Pasalnya, ultah dilakukan bertepatan dengan Hari Raya Kuningan. Acara pun diisi dengan persembahyangan dan tiup lilin. Semoga panjang umur.
Dilema Konservasi Penyu di Bali ponen Umat Hindu untuk memikirkan jenis upakara pengganti daging penyu tanpa mengurangi maknanya. “Kalau boleh jangan pakai penyu untuk upakara persembahyangan. Tapi masalah ini saya serahkan kepada pihak-pihak yang lebih paham aturan keagamaan,” katanya. Ia mengatakan, dari waktu ke waktu populasi penyu hijau semakin berkurang, karena satwa itu sulit berkembangbiak. Mengutip hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa dari 1.000 tukik yang menetas rata-rata hanya satu yang bisa bertahan hingga dewasa. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali I Ketut Catur Marbawa menyatakan, menerapkan prosedur ketat sebelum memberikan izin penggunaan penyu untuk keperluan persembahyangan.Pemberian izin penggunaan penyu sebagai upakara, dijelaskannya juga dilakukan berdasarkan konsultasi dengan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), guna mencegah potensi penggunaan alasan persembahyangan sebagai kedok untuk menyembelih satwa tersebut. “Saat ada permohonan izin dari salah satu pura untuk menggunakan daging penyu, kami koordinasi dengan PHDI
Ketentuan Menjawab
Jawaban ditulis pada kertas dan masukan ke dalam amplop serta tempelkan guntingan kupon TTS No. 350 dan cantumkan identitas lengkap serta nomor telepon/HP. Kirim ke Sekretariat Redaksi Bali Post Jl. Kepundung 67 A Denpasar 80232, paling lambat Sabtu 16 Juni 2018. Pemenang diumumkan pada Koran Bali Post Minggu 24 Juni 2018. Hadiah disediakan untuk 5 (lima) pemenang (@Rp.200.000,-) dan 1 (satu) tiket masuk Bali Zoo untuk keluarga (2 dewasa + 2 anak). Tiket langsung diambil ke Bali Zoo, Singapadu, Gianyar. Pemenang di Denpasar, Badung, Tabanan dan Gianyar agar mengambil hadiahnya langsung ke kantor Bali Post tiap hari kerja dengan memperlihatkan identitas diri. Hadiah untuk pemenang di luar daerah tersebut akan dikirim lewat pos.
untuk mengecek kebenarannya. Contoh, apakah benar di pura bersangkutan sedang melaksanakan persembahyangan yang membutuhkan penyu, serta jumlahnya berapa? Kami tidak ingin kebutuhannya hanya satu ekor tapi mengajukan izin lebih dari itu,” katanya. Dia juga mengakui penggunaan penyu sebagai upakara persembahyangan sangat dilematis. Karenanya, sampai sekarang balai konservasi baru bisa mengendalikan penggunaannya saja. Menurut dia, setiap tahun Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali menerima permohonan izin penggunaan sekitar 100 penyu untuk persembahyangan. “Itu pun ukurannya tidak harus besar. Pokoknya asal penyu tanpa melihat ukuran bisa digunakan sebagai upakara,” katanya. WWF Indonesia dalam laman resminya menyebutkan bahwa Indonesia merupakan rumah bagi enam dari tujuh spesies penyu di dunia, termasuk di antaranya penyu hijau dan penyu belimbing. Namun populasi enam spesies penyu laut itu tercantum sebagai yang rentan, terancam, atau sangat terancam menurut IUCN Red List of Threatened Species (Daftar Merah Spesies Yang Terancam Menurut IUCN). (ant)
7. Khianat 10. Momok 11. ARI 12. ASO 17. Duri 21. OPM 22. Epidermis 24. HET 26. Cangkang 27. Toya 28. Oposisi 29. Absolut 31. IPTEK 32. Argumen 36. NUS 37. SIN 41. Diam 43. EDA
Pemenang TTS No. 348 1. Ni Luh Parmini Br.Sambilaklak, Desa Kubu, Kec. Kubu, Kab. Karangasem (HP: 081999 745868) 2. Ni Made Wiratini Dusun Limo, Desa Kutampi Kaler, Kec. Nusa Penida, Kab. Klungkung (HP: 082341 810495) 3. Ni Wayan Cager Proton Jaya Abadi, Jl.Raya Buruan–Penebel, Petung, Penebel, Tabanan (HP: 081916 739321) 4. Ni Luh Wati Jl.Kenyeri, Br./Lingkungan Sima, Kelurahan Sumerta Kaja, Denpasar (HP: 085338 296096) 5. I Komang Adi Arsana Br.Sembung, Desa Tembok, Kec. Tejakula, Kab. Buleleng (HP: 081999 033896) 1 (satu) pemenang mendapatkan tiket masuk Bali Zoo. Tiket bisa langsung diambil ke Bali Zoo, Singapadu, Gianyar. Nama : Ni Putu Nanik Kristyaningsih Alamat : SMP Negeri 1 Sukawati, Gianyar (HP: 085738 283810)
INspirasi
Minggu Umanis, 10 Juni 2018
Perlunya Regenerasi Undagi ’’Sate Renteng’’
SATE RENTENG - Sate renteng dan proses pembuatannya oleh siswa SMP PGRI 2 Denpasar. SATE renteng dikenal sebagai perlengkapan upakara yang esensial di semua jenjang upacara di Bali. Di Karangasem, sate renteng dikenal dengan sebutan bebali jika lengkap dengan kepala babi, jeroan, dan bagian lainnya. Sedangkan yang lebih sederhana disebut cacah kemulan. Di Denpasar, sate renteng juga sering disebut sate gede. Alasannya karena jenis upakara ini hanya diperuntukkan untuk tingkatan yadnya madya dan utama. Seperti upacara macaru, ngotonin dan lain-lain jika di-puput oleh sulinggih. Undagi sate renteng dewasa ini hanya dilakoni oleh kalangan sepuh dan golongan tertentu saja. Makanya patut diacungi jempol di acara Gebyar Budaya Grisda (SMP PGRI 2 Denpasar) belum lama ini, sekolah ini sukses melahirkan dan melakuan regenerasi undagi sate renteng. Para siswa diajarkan dan dilatih membuat sate renteng
untuk tingkatan madya dan nista. Hal ini akan menjadi life skill alias kecakapan hidup di kemudian hari. Apalagi di Bali kini masyarakatnya lebih suka membeli sarana upakara dibandingkan membuat. Di semua pusat penjualan sarana upakara dan bebanten, baik rumah, puri atau griya juga membeli dari rekanan alias mitra bisnisnya untuk sate renteng. Untuk sate renteng ukuran kecil saja dijual seharga Rp 500.000. Sementara jika membuat diperlukan biaya Rp 250.000. Jadi, kita bisa menarik keuntungan 50 persen. Untuk membuka peluang bisnis itulah, Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Dr. Drs. Gede Wenten Aryasuda, M.Pd., melatih siswanya membuat sate renteng untuk keperluan upakara sekaligus modal keterampian membuka bisnis sebagai SDM pembuat sate rentang. Mereka dilatih oleh guru Nyoman Rudeg Mardika yang sebelumnya juga banyak belajar dari
undagi sate renteng. Ilmu ini ternyata laris di pasar kerja. Orangtua siswa juga ada yang menggeluti bidang ini yang juga ikut memberi inspirasi perlunya regenerasi undagi sate renteng. Gede Aryasuda yang juga Ketua PGRI Bali ini mengungkapkan sate renteng adalah bentuk kaarifan lokal Bali yang harus dilakoni krama Bali. Makanya dia mempersiapkan SDM muda Bali memiliki keterampilan ini agar tak disabot oleh krama dura desa. Kearifan lokal ini harus dibangun. Pada zaman Ida Dang yang Nirartha, agama bisa tumbuh dan berkembang dengan baik karena menghargai kearifan lokal. Di Bali, kearifan lokal menyatu dengan tradisi setempat. Dari agenda gebyar budaya membuat sate renteng ini, kata dia, tatwa, etika dan upakara diajarkan secara holistik. Dari segi tatwa, sate renteng adalah bentuk persembahan umat hasil bumi dan alam semesta
Masuknya Suku Bugis dari berbagai kerajaan di Sulawesi (Goa, Ternate, Sopeng, Bone, dan Wajo) yang dipimpin oleh Daeng Marewa merupakan periode pertama penyebaran Islam masuk Jembrana sekitar tahun 1653 hingga 1667. Mereka datang pada masa itu singgah sebelum melakukan perjalanan ke Bima, Nusa Tenggara Barat. Pada tahun 1669, skuadron Daeng Nachkoda keturunan sultan yang sebelumnya bersembunyi di Teluk Pangpang Blambangan yang menyamar sebagai perahu pencari ikan sebagai mata pencaharian hijrah ke Bali dan mendarat pertama kali di Air Kuning. Selanjutnya, mereka mencoba memasuki ke Kuala Sungai Perancak. Mereka berhasil mendarat dengan mempergunakan perahu perang jenis lambo dan Pinisi yang berisikan senjata api meriam-meriam serta senjata tombak, bedil, dan keris. Rombongan skuadron Pimpinan Daeng Nachkoda ini menetap di sebuah tempat yang mereka namakan Kampung Bajo (bukti jejak peninggalan sumur air tawar yang jernih saat ini masih ada dan dinamakan oleh penduduk setempat sumur
Di Karangasem Di Karangasem juga demikian. Mereka hidup rukun dan berdampingan sekalipun keyakinan mereka berbeda. Seperti yang ditunjukkan umat Muslim asal Kampung Muslim Bukit Tabuan, Desa Bukit, Karangasem. Mereka menggelar sembahyang bulan Saferan di Pura Bhur Loka. Ini dilakukan umat Muslim asal kampung tersebut setiap tahun sekali. Bulan Saferan (Safar) dan hari Raya Galungan sering jatuh pada hari yang sama. Ini pernah terjadi sekitar lima tahun lalu. Jadilah umat Muslim dan Hindu sama-sama melakukan persembahyangan
sekaligus bentuk pemujaan pada manifestasi Tuhan dengan Dewa Nawa Sanga dan senjatanya. Karena di sate renteng ini, kita mempertegas pembelajaran soal pangider-ider buwana dan kemahakekuasaan Tuhan. Justru ilmu ini diyakini akan bertahan sangat lama di memori. Selain itu, kata Gede Wenten Aryasuda, juga sarat dengan edukasi agama dan etika. Misalnya membuat langsung cakra senjata Dewa Wisnu dari bahan daging dengan lokasi di utara. Secara etika saat pembuatnya mengendalikan diri dengan cara duduk yang tak baik serta tak berkata kasar selama proses pembuatan. Sementara emosinya juga ikut terjaga. Nah, akhir dari hasil karya ini juga mendatangkan keindahan (estetika). Makanya sangat tepat membuat sate renteng juga mengandung nuansa satyam, siwam dan sundarama yakni kesetiaan, kebenaran, dan keindahan. (sue)
Atasi Masalah Sampah, Putu Aga Ciptakan ’’Simalu’’ PEMUDA 23 tahun ini tampak lugu. Rambutnya berantakan dan berkacamata tebal. Tak disangka, laki-laki bernama lengkap I Putu Aga Darma Winanda ini telah menciptakan aplikasi Simalu. Sebuah aplikasi cara asyik menabung sampah. Ditemui dalam event Kampung IT 2018 belum lama ini, ia berujar bahwa aplikasi ini diciptakan karena munculnya masalah banjir yang diakibatkan oleh tersumbatnya aliran air karena sampah. Masyarakatlah yang menurutnya berperan besar dalam menjaga lingkungan termasuk dari bencana banjir. Membuang sampah di tempatnya belum tentu menyelesaikan masalah. Lantaran sampah non-organik susah diurai sehingga muncul masalah baru yaitu TPA (tempat pembuangan akhir) Suwung yang mulai overload sampah. Untuk mengatasi masalah sampah non-organik ini, bank-bank sampah mulai bermunculan. Bank sampah ini salah satu upaya menangani masalah sampah nonorganik dengan cara mendaur ulang. Masalah kembali muncul ketika masyarakat malas memilah sampah. Menyadari akan hal itu, Aga panggilan akrabnya, membuat aplikasi Simalu, cara asyik menabung sampah. Masyarakat tidak perlu lagi direpotkan dengan membawa banyak sampah ke bank sampah. Dengan aplikasi ini masyarakat cukup membuka aplikasi dan memilih bank sampah terdekat. Masyarakat juga akan memiliki tabungan uang dengan menabung sampah. Sampah yang ditabung setiap harinya atau setiap bulan akan tercatat secara
di pura tersebut. Warga Muslim yang wanita nampak membawa sesaji berupa buah dan ketupat. Sesaji tersebutlah yang dipersembahkan di pura tersebut sebagai wujud bakti mereka kepada leluhurnya. Sementara saat bersamaan umat Hindu dari Desa Adat Seraya juga melakukan persembahyangan Galungan. Jadilah mereka menggelar persembahyangan bersama dengan cara masingmasing di pura tersebut. Menurut Mahyudin, Kepala Kampung Bukit, dulu sebelum panen warga kampung mempersembahkan hasil kebunnya berupa buah dan umbi-umbian ke Pura Bhur Loka terlebih dulu. Persembahan tersebut sebagai wujud syukur mereka kepada Tuhan dan para leluhurnya. Awalnya, umat Muslim di Kampung Bukit adalah berasal dari Lombok. Mereka mengenal sembahyang Watu Telu (tiga waktu). Awal tiba mereka dibawa Raja Karangasem seteleh berhasil menaklukkan Raja Selaparang, Lombok. Ketika pertama kali datang, mereka ditempatkan di Tukad Yeh Kali, Seraya Tengah. Namun, karena jauh harus me-nyungsung Pura Panataran mereka pun pindah ke Bukit Tabuan hingga sekarang. (sur/gik)
Di sisi lain, warga Kampung Bugis memiliki kaitan erat dan sejarah panjang dengan Puri Pemecutan Denpasar. Berdasarkan cerita para leluhur mereka di Serangan, pada zam a n d ul u, p a ra p e m ud a perantauan dari Bugis yang merantau ke Bali juga ikut serta berperang melawan penjajah bersama para prajurit Puri Pemecutan Denpasar dalam perang Puputan Badung. Terlebih, beberapa peneliti mengatakan kampung ini sudah ada sejak abad ke17 masehi, Menurut cerita, keberadaan kampung ini berawal dari kedatangan seorang bangsawan bernama Syeikh Haji Mu dan 40 anak buah kapalnya (ABK) melarikan diri dari Makassar, karena tidak sepaham dengan Belanda sebagai efek dari perjanjian Bongaya. Kini, menurut Muhadi, jumlah warga di Kampung Bugis telah mencapai 100 KK atau 300 jiwa. Mereka merupakan warga yang telah turun-temurun menjadi warga kampung setempat. (sue/ara)
digital di aplikasi tersebut. Untuk jenis sampah tertentu memiliki harga tersendiri. Misalnya satu kilogram sampah botol plastik dihargai Rp 14.000 oleh bank sampah. Tujuannya untuk mempermudah masyarakat menabung sampah. “Setiap bank sampah harganya berbedabeda. Tapi harganya ditentukan mereka (bank sampah). Kita hanya memediasi antara penabung sampah dan bank sampah saja. Selama ini, mereka mencatat secara manual. Jadi, dengan adanya aplikasi ini sudah tercatat secara digital,” ungkap warga Wangaya, Denpasar ini. Setelah meng-input data, sampah akan dijemput oleh bank sampah sehinga benar-
benar memudahkan masyarakat. Hingga saat ini telah ada 6 bank sampah yang bergabung dalam aplikasi Simalu. Di daerah Kuta ada 1 bank sampah, Denpasar (3), Gianyar (1), Buleleng (1). Proses pengembangan aplikasi ini membutuhkan waktu satu tahun. Namun dirilis di playstore Desember 2017. Saat ini, telah ada 1,8 ton sampah yang sudah terkumpul. “Ya, setidaknya kita sudah mengurangi beban sampah yang ada di TPA Suwung. Karena sampah yang masuk bank sampah akan didaur ulang,” tandas lulusan Prodi TI Universitas Udayana ini. (may)
Penduduk Asli
Puri Pemecutan
Daeng Narewa Bajo). Sumur tersebut berada di tepi Kuala Perancak sebelah barat. Pada masa ini, mereka mendapatkan izin tinggal berniaga dari Raja I Gusti Ngurah Arya Pancoran (1620-1697 M). Pada masa ini muncul kesepakatan bersama dengan konsensus Raja I Gusti Ngurah Arya Pancoran memberikan tempat tinggal sekitar Tibu Bunter dengan syarat agar hasil bumi pertanian Jembrana dijual ke luar pulau dan panglima dan nakhoda harus siap membantu keamanan kerajaan jika terjadi serangan dari pihak luar.
BPM/sue
11
Dari sejarah itu, keberadaan warga Muslim Pegayaman merupakan merupakan penduduk Muslim asli yang berkembang sejak zaman lampau sampai sekarang dan bukan pendatang luar Bali yang mengembangkan wilayah. Konsep yang sangat melekat dan mencerminkan akulturasi yang tetap lestari sekarang ini adalah pemberian nama warga yang sekarang masuk generasi ketujuh ini mengikuti konsep nama-nama warga Bali seperti Nyoman, Made, Nengah, dan Ketut. Tidak hanya itu, warga Muslim Pegayaman dalam berinteraksi tidak ada yang menggunakan bahasa Jawa seperti Muslim di daerah lain. Justru, mereka menggunakan bahasa
Bali dengan logat khas yang tidak dapat dijumpai di daerah lain sekalipun. Salah satu tokoh masyarakat Desa Pegayaman Drs. Mohammad Suharto ketika ditemui di kediamannya Sabtu (9/6) kemarin, mengatakan, warisan akulturasi budaya Muslim dan Hindu di daerahnya tetap lestari sebagai sebuah warisan bersejarah para pendahulu. Selain itu, warisan yang dikenal dengan konsep manyamabraya itu tetap dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari setiap warga Pegayaman. Saat warga Islam menggelar hari raya, warga Bali bersilaturahmi dengan warga kami. Sebaliknya, ketika ada hari raya Hindu, kami tetap menjaga toleransi. Tidak saja dalam bertoleranasi, Suharto menyebut dalam hal kesenian atau budaya di Pegayaman juga terjalin akul-
turasi yang sangat baik. Hal ini seperti membangkitkan kesenian Burdah Pegayaman. Dari perjalanan sejarah Kerajaan Buleleng, kesenian ini pun dikawinkan dengan kesenian Bali. Dengan perpaduan itu, seni Budrah menampilkan sebuah kesenian unik menyuarakan ayat-ayat suci dan pemainnya menggunakan tradisi Bali. Itu bisa dilihat dari pakaian pemain Budrah mengenakan destar (udeng -red) hingga menggunakan kain lengkap dengan lancingan yang merupakan budaya Bali. Selain kesenian, masih ada akulturasi budaya lain tumbuh subur di Pegayaman. Ini bisa dijumpai ketika perayaan Lebaran atau Maulid Nabi Muhammad SAW, warga Pegayaman melaksanakan tradisi ngejot baik sesama warga Islam maupun warga Bali. (mud)
Pindah ke Tempat Lain
“Sekarang, ada 330 KK dengan 1.125 jiwa,” jelasnya. Seiring perkembangannya juga, warga di kampung ini ada yang pindah ke tempat lain. Seperti ke Kampung Lebah, Klungkung, Kampung Kusamba Kecamatan Dawan, hingga ke Karangasem. Ter-
pisah jarak, rasa kekeluargaan masih tetap terjalin. Hidup berdampingan dengan umat Hindu sudah menjadi hal biasa. Rasa toleransi dan kekeluargaan masih terajut dengan baik. Saat ada acara, saling mengundang menjadi hal biasa. “Kami tetap mengedepankan sikap toleransi. Saat buka puasa, tokoh masyarakat diundang. Begitu juga dengan umat
Hindu, biasa mengundang kami,” tuturnya. Tak hanya itu, hubungan baik juga masih terjalin dengan tokoh Puri Klungkung. Masih terbiasa saling menghadiri acara. “Itu karena ada hubungan historis. Bahkan saat ada upacara ngaben, tokoh kami selalu diundang. Kami juga begitu, saat bulan puasa selalu mengundang,” sebutnya. (sos)
balipost (170rb Like) http://facebook.com/balipost
@balipostcom (6.000 Follower) http://twitter.com/balipostcom
@balipost_com http://instagram.com/balipostcom
Minggu UMANIS, 10 Juni 2018
PROFIL
t r o Sp
Jerman Kalahkan Arab Saudi
Leverkusen – Jerman menang 2-1 atas Arab Saudi dalam laga uji coba terakhirnya jelang Piala Dunia 2018. Seluruh gol Die Manschaft tercipta di babak pertama. Jerman tampil dominan saat menjamu Arab Saudi di Bay Arena, Sabtu (9/6 kemarin.Dalam jumlah tembakan Jerman juga masih unggul. Jerman membuka keunggulan 1-0 di menit kedelapan lewat gol Timo Werner. Berawal dari umpan Joshua Kimmich, Marco Reus meneruskannya ke Werner yang diselesaikan dengan gol. Tim besutan Joachim Loew terus berusaha menekan Arab Saudi, namun gol kedua baru bisa mereka lesakkan di menit ke-43 lewat bunuh diri Omar Hawsawi. Werner melepaskan umpan tarik dari sisi kiri, bola berusaha disambar Thomas Mueller, namun terlewat dan mengenai Hawsawi. Di babak kedua Arab Saudi bermain lebih baik. Mereka memainkan umpan-umpan pendek dengan cepat untuk masuk ke pertahanan Jerman. Upaya Arab Saudi untuk mencuri gol baru datang di menit ke-84 lewat titik penalti setelah Sami Khedira melanggar Taisir Al-Jassim. Mohammed Al-Sahlawi yang menjadi eksekutor gagal menjalankan tugasnya setelah bola mengenai kaki Marc-Andre ter Stegen, namun bola rebound berhasil disambar Taisir Al-Jassim. Hingga laga usai tak ada gol tambahan yang tercipta. Jerman berhasil menutup laga dengan kemenangan 2-1 atas Arab Saudi. (kmb33/afp)
Bertahan di Warriors KEVIN Durant mengindikasikan bertahan di Golden State Warriors. Durant berencana menandatangani kontrak baru dalam waktu dekat. Pada awal musim 2016-2017, Kevin Durant meneken kontrak berdurasi dua tahun dengan Warriors. Ada klausul di kontraknya yang membuat Durant berstatus bebas agen pada musim panas ini, dan bisa membicarakan lagi kontraknya dengan Warriors. “Saya berencana tetap bersama Warriors dan kami akan mengurusnya,” kata Durant. Kevin Durant dan Warriors masih merampungkan beberapa detail dalam kontrak baru tersebut. “Saya yakin di sini saya ingin menandatangani kontrak jangka panjang supaya bisa merasa stabil. Tapi saya menikmati setiap momennya. Jadi, saya akan berusaha tak akan melihat terlalu jauh melebihi garis,” sambung dia. Pemain peraih gelar Most Valuable Player pada 2017 dan juga MVP di final tersebut punya beberapa opsi yang dipilih pada musim panas ini. Dia bisa meneken kontrak maksimal empat tahun dengan senilai 158 juta dolar AS (Rp 220,5 miliar). Dengan demikian, dia akan menerima 30 juta dolar (Rp 41,8 miliar) untuk tahun pertama dan masing-masing 31,5 juta dolar (Rp 43,9 miliar) pada tahun-tahun berikutnya. Alternatif lainnya, Kevin Durant menandatangani kontrak dua tiga tahun, dengan opsi meninjau kesepakatan setelah dua tahun. Dia dapat menerima gaji senilai 38,2 juta dolar (Rp 53,3 miliar) pada tahun pertama dan opsi tahun berikutnya senilai 41 juta dolar (Rp 57,2 miliar). Durant juga masih punya beberapa opsi lain. Sejak bergabung ke Warriors, kontribusi Kevin Durant tak terbantahkan. Dia menjadi pilar keberhasilan Warriors saat menjuarai NBA musim lalu dan juga musim ini. Adapun penampilan terbaik Durant pada musim ini tersaji pada Gim 3 Final NBA melawan Cleveland Cavaliers. Dia mencetak 43 poin, tujuh assist, dan 13 rebound saat timnya menang 110-102. (kmb33/afp)
BPM/afp
JUARA - Pemain Golden State Warriors Stephen Curry mengangkat trofi juara NBA 2018 yang diraih setelah mengalahkan Cleveland Cavaliers.
Warriors Juara di Kandang Cavaliers
Ohio –
Golden State Warriors sukses meraih gelar juara NBA 2017-2018, usai melumat Cleveland Cavaliers di partai puncak, Sabtu (9/6) kemarin. Dalam laga final kali ini Warriors benar-benar menang telak atas Cavaliers, lantaran mereka langsung memenangkan empat pertandingan di laga final tanpa satu pun merasakan kekalahan.
Kenshi PON Turun di Kejurnas Mangupura Cup Denpasar (Bali Post) Para kenshi PON Bali, utamanya yang ditarget mendulang emas pada PON XX di Papua 2020, dijadwalkan turun pada Kejurnas antarkota dan kabupaten se-Indonesia memperebutkan Mangupura Cup 2018 di GOR Purna Krida, Kerobokan, Badung, yang digelar mulai 28 Juni sampai 1 Juli mendatang. Ketua Harian Pengprov Perkemi Bali Fredrik Billy di Denpasar, Sabtu (9/6) kemarin, menerangkan pihaknya telah melaporkan ke KONI Bali bahwa cabor kempo mematok target dua keping pada hajatan multievent empat tahunan antarprovinsi se-Indonesia di Bumi Cendrawasih pada 2020. Billy merinci dua emas kempo berharap pada kenshi di nomor andori (tarung). Mereka yang diharapkan mendulang emas adalah Si Kembar kenshi putra Naris (kelas 60 kg), serta Naris (kelas 65 kg). Selain itu, di nomor randori kenshi putri Nadya (kelas 50 kg) juga ditargetkan mampu menyabet emas. ‘’Kami mengharapkan emas bertumpu pada ketiga kenshi ini,’’ ujarnya. Diakuinya, tolok ukurnya yakni pada Kejunas Antarkota dan Kabupaten se-Indonesia mereka menyumbang emas. ‘’Kami harapkan ketiga kenshi PON Bali masih mempertahankan prestasi gemilangnya di ajang Mangupura Cup,’’ terang dia. Billy juga mendorong seluruh Pengkot dan Pengkab Perkemi se-Bali menerjunkan kenshi tebaiknya di ajang Mangupura Cup, mengingat kenshi yang turun juga berdatangan dari berbagai kabupaten dan kota se-Indonesia. ‘’Saya kira ajang ini ajang sangat tepat untuk try-out atlet Porprov Bali, (pesertanya diperkirakan mencapai 500 atlet, dari 50 kota dan kabupaten se-Indonesia),’’ sebutnya. (022)
Laga final keempat ini sebenarnya dimainkan di markas Cavaliers. Namun Warriors nyatanya tak merasakan tekanan apa pun dan malah bermain lepas. Bagaimana tidak, sejak kuarter pertama Warriors sudah unggul 34-25. Keunggulan tersebut terus menjauh pada kuarterkuarter berikutnya hingga akhirnya menang dengan skor 108-85. Dalam laga final ini, point guard Warriors Stephen Curry tampil sebagai pencetak poin terbanyak, yakni 37 poin. Sementara itu, small forward Warriors Kevin Durant, tampil sebagai bintang di laga ini lantaran mampu menyumbangkan assist terbanyak (10) dan rebound terbanyak (12). Curry mengaku tak menyangka langkahnya bisa berjalan begitu mulus untuk meraih gelar tersebut. Curry pun mengaku tak menyangka menyaksikan raihan Warriors tersebut. Sebab, di musim sebelumnya gelar juara NBA baru bisa mereka raih setelah melakoni laga kelima di partai final dengan melawan tim yang sama yakni Cavaliers.
“Saya pikir tidak ada yang bisa menebak atau memperkirakan hasilnya. Semuanya naik dan turun seperti roller coaster. Tetapi kami dapat meneruskannya,” ujar Curry. Dari kubu seberang, jagoan Cavaliers, LeBron James, hanya mampu mengoleksi 23 poin pada final kali ini. James bahkan tak terlihat senang di akhir laga lantaran timnya kalah. Hal ini lekas menimbulkan sejumlah spekulasi kalau James bakal meninggalkan Cavaliers musim depan. LeBron juga mengakui bahwa secara rata-rata para pemain Warriors lebih baik daripada Cavaliers. “Jujur saja, kalau dibandingkan tim utama mereka lebih baik daripada tim utama kami. Saya ngomong fakta saja. Mereka jauh lebih berbakat dan pandai. Sekali Anda membuat kesalahan, Anda harus membayarnya,” kata King James. Dengan habisnya masa kontrak dengan Cavaliers, LeBron James menghadapi berbagai kemungkinan. Ia bisa saja bergabung dengan finalis wilayah barat Hous-
ton Rockets bersama James Harden dan Chris Paul atau Los Angeles Lakers di bawah pimpinan Magic Johnson atau Philadelphia 76ers bersama bintang muda seperti Joel Embiid dan Ben Simmons. Secara keseluruhan, di final NBA 2017-2018 Warriors memenangkan empat laga beruntun, masing-masing dengan skor 124-114, 122103, 110-102, 108-85. Selain itu, Kevin Durant juga terpilih sebagai pemain terbaik (MVP) dalam laga final NBA 2017-2018. Kemenangan tersebut tidak hanya menandakan kalau Warriors berhak menggondol gelar juara, namun mereka juga benar-benar menghancurkan dominasi Cavaliers. Seperti diketahui, sejak musim 2014-2015 hingga 2017-2018, partai final NBA selalu dimainkan oleh Warriors dan Cavaliers. Pada 2014-2015 dan 20152016, Cavaliers tampil sebagai juara. Sedangkan pada 2016-2017 dan kini 20172018, giliran Warriors yang merasakan manisnya menjadi juara. (kmb33/afp)