Skip to main content

Edisi 28 Agustus 2016 | Balipost.com

Page 1

20 HALAMAN NOMOR 11 TAHUN KE 69 Online :http://www.balipost.co.id http://www.balipost.com E-mail: balipost@indo.net.id

TERBIT SEJAK 16 AGUSTUS 1948 PERINTIS: K. NADHA HARGA LANGGANAN Rp 90.000 ECERAN Rp 4.000

balipost (148 rb Like) http://facebook.com/balipost

MINGGU KLIWON, 28 AGUST AGUSTUS TUS 2016 2016 01 01 16 6

@balipostcom (4.295 Follower) http://twitter.com/balipostcom

@balipostcom http://instagram.com/balipostcom

TELEPON: Iklan/Redaksi/Sirkulasi (0361) 225764 Faksimile: 227418

Pengemban P eng een ngeem ng mb m baan n Pengamal Pancasila Pancas

JAUHKAN KK MISKIN

DARI

ROKOK

Jakarta (Bali Post) Wacana kenaikan tarif rokok menjadi Rp 50 ribu terus berkembang. Rokok telah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat. Data BPS menyebutkan 70 persen perokok berasal dari rumah tangga (KK) miskin. Hal itu diungkapkan Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (27/8) kemarin. Dia mengungkapkan yang menyebabkan kemiskinan di rumah tangga miskin adalah fluktuasi harga beras dan kedua konsumsi rokok. Karena dari data BPS menunjukkan salah satunya alokasi budgeting rumah tangga miskin adalah untuk rokok, tegasnya. Fakta yang dibeberkan Tulus berdasarkan data konkret yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Tulus mengatakan saat ini keinginan untuk merokok berbanding lurus dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan primer seperti sandang pangan. “Jadi, bagaimana dia bisa mengalokasikan untuk lauk-pauk apabila dikonsumsi untuk rokok? Jadi, seandainya pemerintah dan DPR ingin concern, jauhkan rumah tangga miskin dari konsumsi rokok salah satunya,” jelasnya. Walau kenaikan harga rokok masih sebatas wacana, namun Tulus mengisyaratkan agar kebijakan tersebut dilakukan dengan tujuan memberikan edukasi kepada masyarakat, tak hanya dari segi kesehatan namun juga di segi ekonomi dan sosial. Hal. 16 Konsumsi Rokok

Komentar Remaja Perokok Pemula Bali Capai 27 Persen Bahaya Asap Rokok Tak Mempan dengan Peraturan Sebagai seorang tenaga kesehatan, saya sangat setuju akan kenaikan bea cukai rokok. Karena, keinginan pemerintah menaikkan harga rokok juga berdasarkan pertimbangkan dari segi kesehatan, sehingga jika harga rokok melambung tinggi nantinya bisa membuat masyarakat berpikir lagi untuk membeli rokok. Secara perlahan membuat masyarakat mengurangi sedikit demi sedikit mengonsumsi rokok. Di samping itu, rokok sangat tidak baik untuk tubuh si perokok itu sendiri, bahkan bagi lingkungan sekitar keluarga atau teman yang ada di sekitarnya yang juga ikut menghirup asap rokok sebagai perokok pasif. Putu Lina Lentari, Amd.Keb.

Banyak pihak menyebut orang Bali paling cepat konsumtif. Apa saja dipasarkan selalu laris dibeli. Ini juga tak lepas dari kemampuan daya belinya. Makanya industri rokok kini menyasar perokok pemula baik dari anak-anak, remaja, dan wanita.

KESADARAN masyarakat untuk tidak merokok perlu ditumbuhkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap rokok. Mengingat, telah ada banyak riset yang menyebutkan bahaya rokok. Salah satunya risiko untuk terkena kanker paru-paru. Ketergantungan masyarakat terhadap rokok juga tidak lepas dari terjangkaunya harga rokok saat ini. Pemprov Bali sudah memiliki perda rokok, namun masih banyak pecandu rokok. Terhadap hal itu, Ketua Komisi IV, Nyoman Parta, mengatakan, perokok merupakan tipe orang yang militan dan loyal pada merek rokok yang mereka pilih. “Mereka sudah berada dalam posisi kecanduan. Jadi, tidak bisa saudarasaudara kita perokok ini kita berikan peraturan. Dikasih gambar-gambar rokok yang mengerikan tidak bisa, tidak mempan, jadi itu bukan jawaban. Jawabannya adalah perbanyak sosialisasi tentang bahaya rokok,” imbuhnya. Hal. 16 Ruang Konsultasi

HASIL studi menyebutkan, 22-27 persen, remaja usia 15-27 tahun di Bali adalah merokok. Ini angka yang mengkhawatirkan. Angka peningkatan perokok remaja usia 13-15 tahun mengalami kenaikan yang signifikan dari tahun 2007 ke tahun 2013 yaitu 36,3 persen atau dengan kata lain satu di antara lima anak SMP, merokok. Jumlah perokok pemula Indonesia terus meningkat dan perokok pemula merupakan target industri rokok. Sementara di Bali, persentase remaja yang merokok 22-27 persen. Kini, industri rokok tidak memiliki target lagi untuk perokok lama, mengingat telah adiksi terhadap rokok sehingga susah untuk berhenti. Hal. 16 Belum Final

Selamatkan Generasi Indonesia

Sepertiga Penghasilan Sehari untuk Rokok

Saya sangat setuju dengan wacana pemerintah yang akan meningkatkan harga rokok. Di samping akan dapat meningkatkan pula cukai atau pendapatan negara seperti yang dikatakan oleh bapak Wakil Presiden. Hal ini pun sangat berdampak positif bagi kelangsungan peningkatan kesehatan di Indonesia. Dengan peningkatan harga ini akan mengurangi konsumen, khususnya usia muda dan bahkan mungkin dapat mengurangi pecandu untuk mengonsumsi rokok. Seperti yang telah diketahui, rokok telah banyak menjadi penyebab kematian di usia muda di Indonesia. Sehingga, dengan meningkatnya harga rokok dapat pula menyelamatkan generasi muda Indonesia. Ni Putu Ninikki Faradila Puteri

Untuk Infrastruktur Sangat setuju sekali, karena bahaya akan rokok itu sendiri sangatlah menyeramkan baik untuk si perokok aktif maupun pasif. Sehingga dengan naiknya harga rokok akan bisa menekan sedikit tidaknya jumlah perokok aktif itu sendiri. Asalkan jumlah dana atau uang dari hasil kenaikan rokok itu sendiri dialokasikan untuk hal yang positif khususnya untuk menunjang infrastruktur di masyarakat yang mungkin masih sangat banyak kekurangannya. Eka Anggi Lestari (win)

BPM/ dok

KTR - Kawasan tanpa rokok (KTR) diterapkan di mana-mana namun tak membuat perokok kapok.

ROKOK identik dengan pria, karena sebagian besar konsumennya memang kebanyakan dari kaum adam meski tidak menutup kemungkinan kaum hawa pun menjadi salah satunya. Kini, pemerintah berencana menaikkan cukai rokok sehingga harganya menjadi Rp 50.000. Wacana itu direspons Koordinator Kopertis VIII, Prof. Dr. I Nengah Dasi Astawa, M.Si., bahwa wacana itu bukan saja mengurangi jumlah para perokok namun juga menyehatkan masyarakat. Dia pun sering berdialog dengan para buruh dan karyawan ternyata sepertiga penghasilannya sehari dibakar untuk rokok. Mereka digaji Rp 80.000 100.000, sehari, Rp 30 ribu dipakai untuk membeli rokok. ’’Nah, kalau sekarang harganya dinaikkan, mereka yang di masyarakat kelas bawah ini bisa berpikir seribu kali membeli rokok. Bisa jadi setengah lebih gaji seharinya untuk rokok,’’ tegasnya,. Dasi Astawa mengharapkan orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan (educated) harus menjadi pelopor dan panutan sebagai generasi tanpa rokok. Bukan saja di sekolah dan kampus, juga di masyarakat sehingga siswa, mahasiswa, guru, dosen, dan karyawan bidang pendidikan menjadi contoh di masyarakat. Hal. 16 Asap Rokok

Harga Rokok Dinaikkan

Tak Pengaruhi Pecandu Berhenti Merokok Kendati merokok sangat berbahaya dan merugikan kesehatan, namun rokok tetap menjadi barang yang digemari oleh sejumlah masyarakat terutama kaum pria. Seseorang yang sudah kecanduan rokok biasanya bisa menghabiskan rokok hingga lebih dari satu bungkus per hari. Jika sehari saja tidak merokok, para perokok biasanya mengaku akan merasakan hal yang aneh pada mulut mereka.

SEPERTI yang dituturkan salah seorang perokok di Bangli, Sangiarta. Dia mengaku sudah mulai mengenal rokok sejak lebih dari dua puluh tahun. Berawal dari coba-coba, dirinya lantas menjadi ketagihan merokok sampai sekarang. Dia mengatakan sejak mengenal rokok, berbagai merek rokok sudah pernah ia coba. Dari harga yang termurah hingga termahal.

“Rasanya beda-beda,” terangnya. Dalam sehari, Sangiarta mengaku bisa menghabiskan hingga dua bungkus rokok. Itu jika dirinya bekerja full time. Namun jika bekerja dalam waktu normal biasanya menghabiskan satu setengah bungkus. “Kadang-kadang kan saya kerja di jalan begadang, jadi perlu rokok,” terangnya. Hal. 16 Sesuatu yang Kurang

Dasi Astawa

10 Negara Perokok TERBESAR DI DUNIA Tiongkok India Indonesia Rusia AS Jepang Brazil Bangladesh Jerman Turki

= 390 juta perokok atau 29% per penduduk = 144 juta perokok atau 12,5% per penduduk = 65 juta perokok atau 28% per penduduk = 61 juta perokok atau 43% per penduduk = 58 juta perokok = 49 juta perokok atau 38% per penduduk = 24 juta perokok atau 12,5% per penduduk = 23,3 juta perokok = 22,3 juta perokok atau 27% = 21,5 juta perokok atau 30,5%

Ketua KONI Kabut Asap Hutan Riau Capai Malaysia Samarinda Tersangka Jakarta (Bali Post) Kejaksaan Agung menetapkan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Samarinda, Kalimantan Timur, Aidil Fitri, sebagai tersangka dugaan korupsi dana hibah Pekan Olahraga Provinsi Samarinda 2014. “Penyidik menetapkan tiga tersangka dalam kasus itu,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejakgung, Muhammad Rum di Jakarta, Sabtu (27/8) kemarin. Dua tersangka lainnya yakni Nur Saim selaku Bendahara

KONI Samarinda dan Makmun A. Nuhung sebagai PNS Pemerintahan Kota (Pemkot) Samarinda. Dalam keterangan Kejakgung, Aidil Fitri disebutkan hanya sebagai wiraswasta. Kendati demikian, Kejakgung belum memastikan waktu pemeriksaan terhadap ketiga orang saksi yang sudah ditetapkan sebagai tersangka tersebut. “Tentunya nanti akan diperiksa tiga orang itu dalam status sebagai tersangka,” katanya. Hal. 16 Jemput Bola

BPM/rtr

MASKER - Warga Singapura sejak Jumat lalu sudah memakai masker akibat kabut asap di Riau. Kini, kabut asap akibat pembakaran hutan di Riau mencapai Malaysia.

Riau (Bali Post) Kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan di wilayah Riau menyebar hingga ke negeri tetangga Malaysia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih terus berupaya memadamkan kebakaran yang terjadi di wilayah Riau. Kepala Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan bahwa sebaran asap hingga ke Malaysia terjadi Sabtu kemarin disebabkan embusan angin. “Sebaran asap dari Riau sampai ke Malaysia,’’ tegasnya Sabtu (27/8) kemarin. Dia menjelaskan, asap tebal berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, Riau. Asap tersebut terbawa angin ke arah timur. Sementara asap tipis juga masih menutupi wilayah di Kecamatan Pinggir

Kabupaten Rohil, Riau. Pembakaran lahan di wilayah tersebut sengaja dilakukan untuk diolah menjadi kebun. Akibatnya, dia mengaku bahwa pembakaran hutan dan lahan oleh petani sulit dicegah. Apalagi, Sutopo menambahkan, petani tidak bisa menghentikan kebiasaan mereka untuk membakar rumput di wilayah permukiman. “Petani pun masih terus membakar rumput/alang-alang di permukiman, tambahlah asapnya,” kata dia. Sementara itu, jurkam Greenpeace Indonesia, Yuyun Indradi, menilai bahwa polisi tidak memiliki alasan jelas dan kuat dalam menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) untuk 15 perusahaan yang sempat menjadi tersangka pembakaran hutan dan lahan. Hal. 16 Mencari Pembenaran


DAERAH

2

Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

Potret Petugas Kebersihan Kota Denpasar

FIGUR

Kerja Tak Pandang Situasi, Kesejahteraan Belum Sesuai Hati

Pekerjaan Mulia MELIHAT seragam yang digunakan, sosok yang satu ini sudah pasti petugas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Denpasar. Mengenakan baju kaus hijau, lengkap dengan peralatan penyapuan, Ni Ketut Kasih, dengan tekun melaksanakan tugasnya setiap pagi. Di sepanjang jalan yang menjadi tanggung jawabnya, istri dari Nyoman Suantara ini, telah bertahun-tahun menjalani tugasnya sebagai tukang sapu. Baginya ini merupakan pekerjaan mulia. “Kami sudah menjadi tukang sapu sejak puluhan tahun,” ujarnya saat mengikuti kegiatan bakti sosial di Bali Post, Sabtu (27/8) kemarin. Dikatakan, dirinya selalu bertekad untuk melaksanakan tugas dengan sebaiknya. Apa yang menjadi kewajibannya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Terik panas matahari tidak menghalangi semangatnya mewujudkan jalanan yang bersih dan indah. Di tengah kesibukannya menjalankan tugastugas rutin, tidak jarang ia harus menghadapi masa yang sangat berat. Namun, apa pun adanya, ia tetap menjalankan tugasnya dengan ikhlas. “Dan ketika kami mendapat rezeki seperti paket sembako, kami sangat berterima kasih,” ujar Kasih, kemarin. (ara)

Penggeledahan Rutan

Petugas Amankan Sajam dan Ponsel Bangli (Bali Post) Rumah Tahanan (Rutan) Bangli digeledah jajaran Polres Bangli Jumat (26/8) malam. Operasi yang juga didukung Kodim 1626/Bangli itu berhasil mengamankan senjata tajam dan ponsel milik warga binaan. Sementara untuk narkotika nihil. Berdasarkan pantauan, operasi yang berlangsung pukul 21.30 wita ini melibatkan 107 personel dari kepolisian dan TNI dan beberapa anggota dilengkapi dengan senjata. Dengan sigap petugas langsung memasuki blok C dan D yang merupakan tempat warga binaan yang tersandung kasus narkoba. Selain pakaian yang dikenakan, isi kamar juga digeledah. Lingkungan sekitarnya juga turut disisir. Kapolres Bangli AKBP Danang Beny Kusprihandono mengungkapkan target utama dalam operasi ini yakni narkotika yang kini menjadi persoalan sangat serius. Peredarannya pun masih berpotensi terjadi di dalam rutan. “Rutan berpotensi ada barang haram itu, jadi kami lakukan operasi,” katanya didampingi sejumlah perwira. Berdasarkan hasil penggeledahan yang berlangsung dua jam, petugas tidak menemukan narkotika. Barang yang berhasil diamankan hanya berupa senjata tajam, ponsel, tembakau rokok, korek api, kabel listrik, dan senjata mainan yang terbuat dari kertas. “Barang yang ada dalam ruangan itu ilegal. Jadinya kami amankan,” tegas Kapolres seraya menyampaikan kegiatan ini akan terus berlanjut.(kmb45)

Rayakan HUT Ke-71 RI

ACE Bersih Indonesia Serentak di 30 Kota SEBAGAI bentuk kepedulian ACE terhadap lingkungan, maka digelar gerakan ACE Bersih Indonesia secara serentak di 30 kota di Indonesia. Setelah sebelumnya sukses melakukan aksi membersihkan 27 landmark atau simbol kota di 24 kota di Indonesia pada tahun 2014, maka tahun ini dalam rangka memperingati HUT ke-71 RI diselenggarakan ACE Bersih Indonesia yang merupakan aksi peduli lingkungan dengan mengumpulkan sampah an-organik, khususnya plastik, yang dilakukan oleh karyawan ACE. Kemudian hasil pengumpulan sampah plastik tersebut akan diteruskan ke bank sampah di masing-masing kota untuk dikelola lebih lanjut. Kegiatan ini dilaksanakan serentak pada tanggal 28 Agustus 2016 di 30 area publik yang memiliki nilai historis yang tersebar di 30 kota di Indonesia.Untuk wilayah Bali diikuti oleh seluruh personel dari 8 store ACE Hardware yang tersebar di wilayah Bali (Denpasar, Badung, dan Gianyar), ACE Central Parkir Kuta, ACE Mall Bali Galeria, ACE Sunset Point, ACE Nusa Dua, ACE Batu Bulan, ACE Teuuku Umar, ACE Gatot Subroto, ACE Gatsu Barat. Nana Puspa Dewi selaku Corporate Marketing Director Kawan Lama Group menyatakan, “Selain gerakan ACE Bersih Indonesia, ACE juga turut mendukung program pemerintah untuk mengurangi sampah plastik melalui penerapan plastik berbayar, penggunaan plastik ramah lingkungan (biodegradable) di semua toko serta mengadakan program khusus untuk tas belanja lipat (foldable) yang dapat digunakan ulang (reusable) setiap berbelanja di ACE. Semua kegiatan ini adalah wujud tanggung jawab sosial kami dalam bidang lingkungan hidup yang merupakan salah satu pilar dalam Kawan Lama Foundation.” (r)

GEMBONG - Gembong illegal logging diamankan di Polres Jembrana.

BPM/kmb

DPO Gembong ’’Illegal Logging’’ Berhasil Ditangkap Negara (Bali Post) Jajaran Buser Polres Jembrana akhirnya berhasil menangkap buronan gembong illegal logging H. Moh Toyibi (44) dari Banjar Air Anakan Desa Banyubiru, Negara.Di Jembrana, Moh Toyibi selama ini dikenal sebagai pelaku illegal logging yang dulu terkesan mendapat lampu hijau sehingga leluasa menjalankan aksinya mengerahkan anak buah ke hutan untuk menebang kayu. Hingga akhirnya, kasus Toyibi mulai terungkap sejak 2007 lalu. Kini, Toyibi ditangkap untuk kasus yang ketiga kalinya. Kasat Reskrim Polres Jembrana AKP Gusti Made Sudarma Putra seizin Kapolres Jembrana Sabtu (27/8) kemarin, mengatakan tersangka ditangkap di rumah saudaranya di Srono Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (25/8) pagi. Penangkapan tersangka karena dia menjadi buronan sejak kasus illegal logging 10 Januari lalu. Pada Januari lalu dilakukan penangkapan penjualan kayu mahoni yang sebelumnya diperoleh dengan cara menebang di kawasan Hutan Sa-

rikuning Desa Tukadaya, Melaya. Sedangkan tersangka Toyibi yang melakukan pembelian kayu tersebut berhasil melarikan diri namun kendaraan dan kayu ditinggalkan di TKP. Sejak kejadian itu, jajaran anggota Polres Jembrana melakukan pencarian hingga petugas kepolisian menemukan tumpukan kayu sonokeling di tanah milik JAR. Kayu tersebut milik Toyibi namun tidak diketahui dari mana dia memperoleh kayu tersebut selanjutnya anggota Polres kembali melakukan pencarian hingga akhirnya berhasil ditangkap di Banyuwangi.

Barang bukti yang diamankan yaitu 230 gelondong kayu jenis Sonokeling panjang 1 meter dengan diameter 10-20 cm (9,9081 m3). Dari keterangan Toyibi membenarkan kayu tersebut miliknya yang dibeli dari Jawa, Tulung Agung namun tidak dilengkapi dokumen. Kayu tersebut ditimbun di area kebun bertujuan setelah terkumpul selanjutnya akan dikirim ke Denpasar untuk bahan lantai kayu. Dia juga mengakui kalau truk berikut muatan kayu yang telah diamanakan oleh Polsek Malaya adalah miliknya yang diperoleh secara ilegal. Sudarma Putra mengatakan kini tersangka diamankan di Polres Jembrana dan dijerat pasal 83 ayat (1) huruf b Yo pasal 12 huruf e dan atau pasal 82 ayat (1) huruf b Yo pasal 12 huruf b UURI No. 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Perusakan Hutan dengan ancaman minimal 1 tahun dan maksimal 5 tahun penjara. (kmb/olo)

Jembrana Festival Tampilkan Festival Jegog SATU lagi kesenian khas Jembrana yaitu Gamelan Jegog ditampilkan dalam Jembrana Festival 2016 memperingati HUT ke-121 Kota Negara. Seni musik bambu yang sudah begitu mendarah daging di masyarakat Jembrana tampil memukau di hadapan ribuan penggemarnya yang memadati areal Gedung Kesenian Bung Karno (GKBK) Jembrana Jumat (26/8) malam. Penonton yang datang dari berbagai desa di lima kecamatan itu mengitari arena pementasan festival jegog yang dimulai pukul 20.00 wita. Sebanyak 5 Sekaa Jegog duta dari 5 kecamatan se-Jembrana tampil satu per satu dengan tabuh dan tarian. Kelima Sekaa Jegog tersebut adalah Sekaa Jegog Buana Sari duta Kecamatan Jembrana, Sekaa Jegog Mekar Sari duta Kecamatan Negara, Sekaa Jegog Ananta Swara duta Kecamatan Pekutatan, Sekaa Jegog Sekar Taji duta Kecamatan Mendoyo dan Sekaa Jegog Buana Sari duta Kecamatan Melaya. Kelima sekaa ini secara bergiliran menampilkan tabuh truntungan, tari kreasi, tabuh kreasi, tari jejogedan alias ibing-ibingan dan sebagai pemungkasnya kelima jegog harus beradu kekuatan dan kekerasan suara secara bersamaan. Menariknya setiap tari kreasi ada yang memimpin yang disebut dengan ‘Dag’, dengan pakaian dan make up khusus sehingga kelihatan lucu. Dari lima Sekaa Jegog yang tampil, duta Kecamatan Pekutatan melengkapi tarian kreasinya dengan adegan pencak silat yang cukup atraktif. Fetival Jegog tahun ini, sangat jelas terlihat bahwa kesenian jegog yang merupakan ciri khas Jembrana ini mengalami perkembangan yang terus maju. Bahkan penggemarnya pun makin bertambah. Ola-

YOGA – Yoga massal yang digelar serangkaian Jembrana Festival Sabtu (27/8) kemarin.

dari seluruh masyarakat. Kebiasaan membuang sampah secara sembarangan dan tak sesuai aturan masih sering terjadi. “Kadang lingkungan sudah bersih, kembali dijejali sampah. Masyarakat masih tidak sadar untuk menjaga lingkungan,” ujar Koordinator Penyapuan DKP Kota Denpasar, Gusti Ngurah Muliawan, Sabtu (27/8) kemarin. Puluhan tahun bertugas, masyarakat yang tak sadar akan kebersihan masih sering ditemui. Tak jarang pula petugas dilimpahkan kesalahan, yang sesungguhnya milik sejumlah masyarakat. “Padahal, masyarakat yang membuang sampah tak sesuai aturan. Nantinya kami yang dibilang tak mengangkut. Sering seperti itu,” katanya. Keluhan yang dihadapi tak hanya itu. Muliawan menilai besaran nafkah juga belum tepat. Pengabdian sejumlah pertugas selama bertahun-tahun hanya dibayar Rp 1.850.000. Angka yang tak setimpal dengan beratnya pekerjaan. “Kalau boleh jujur, petugas yang di bawah, kesejahteraan biar ditingkatkan. Petugas bekerja kepanasan dan kehujanan,” tuturnya. Koordinator Pasukan DKP I Wayan Suartana menuturkan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya dalam pembuangan sampah, sejatinya Tim Yustisi sudah sering melakukan razia dan langsung memberikan tindakan. Akan tetapi, itu belum sepenuhnya memberikan efek jera. Ia pun mengakui tingkat kesejahteraan petugas belum sesuai dengan harapan. “Masalah kebersihan bukan tanggung jawab kami saja. Tapi masyarakat juga harus seperti itu,” tegasnya. Pernyataan itu juga diilhami Koordinator Pengangkutan DKP Kota Denpasar Si Putu Sudarma. (sos)

han arransemen dan kreativitas tarian yang ditampilkan oleh kelima sekaa sebagian besar terinspirasi dari kondisi alam di wilayahnya. Kecintaan masyarakat Jembrana dengan kesenian Jegog semakin menambah semangat pelaku seni jegog untuk terus berkarya. Maka sangat relevan jika Jembrana disebut juga dengan Tanah Jegog. Selain ditonton oleh masyarakat Jembrana, sejumlah wisatawan asing asal Inggris juga terlihat sangat menikmati seluruh tampilan sekaa Jegog, bahkan mereka memberikan tepuk tangannya kepada setiap penampilan. (ad1096) BPM/sos

DKP - Gusti Ngurah Muliawan (tengah) bersama I Wayan Suartana (kanan) dan Si Putu Sudarma saat ditemui di sela-sela menghadiri acara yang diselenggarakan PT Bali Post, Sabtu (27/8) kemarin.

Pengumpulan KTP

Perbekel Diadukan Melakukan Intimidasi JEGOG – Kesenian khas Jembrana, Jegog, dikolaborasi dengan tarian ditampilkan dalam Jembrana Festival di Gedung Kesenian Bung Karno, Jumat (26/8) malam.

Yoga Lengkapi Jembrana Festival YAYASAN Markandeya Yoga Indonesia kembali berpartisipasi dalam peringatan Ulang Tahun ke-121 Kota Negara yang dikemas dengan Jembrana Festival. Tahun 2015 lalu, Yayasan yang dipimpin oleh IGAN Dian Martika juga memberikan pelatihan yoga singkat kepada masyarakat Jembrana. Sabtu (27/8) pagi kemarin, Dian Martika yang hadir bersama Guru Made Sumantra memberikan pelatihan olahraga yang sarat dengan nilai spiritual dan kebugaran jiwa kepada masyarakat Jembrana di Gedung Kesenian Bung Karno (GKBK) Jembrana. Selain diikuti oleh masyarakat umum, senam yoga ini juga diikuti oleh kalangan pendidik dan Aparatur Sipil Negara di Kabupaten Jembrana. Peserta senam yoga memenuhi aula GKBK Jembrana sayap barat dengan perlengkapan matras yang dibawanya masing-masing.

MENGINJAK pagi hari, Petugas Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Denpasar tampak sibuk beraktivitas di jalan protokol. Sepintas, pekerjaan yang dilakukan itu terlihat sangat mudah dan tak menguras banyak keringat. Namun, setelah dilidik lebih jauh ternyata tidak demikian. Bagaimanakah sesungguhnya? Saat matahari menunjukkan sinar kemerahan di ufuk timur, jalanan di Kota Denpasar mulai menunjukkan suasana keramaian. Lalu lalang kendaraan terlihat silih berganti. Beberapa ada yang melaju cepat, seakan-akan tak ingin terjebak dalam kemacetan yang tak berselang lama akan menghantui. Di balik suasana itu, Petugas Kebersihan Kota Denpasar sibuk membersihkan jalan protokol. Mengenakan pakaian hijau lengkap dengan topi, tangannya tampak lemah gemulai menghayunkan seikat sapu lidi yang selalu menjadi senjata andalannya. Secara perlahan, sampah yang berserakan, mulai dari dedaunan hingga plastik dikumpulkan dan diangkut dengan serok. Kemudian ditempatkan pada tong sampah yang ditarik ke sana ke mari. Kesibukannya itu, membuatnya seakan-akan tak peduli dengan suasana kota yang semakin ramai. Pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan utama itu tak hanya dilakukan pagi hari saja. Namun hingga kembali menjelang malam. Tak peduli hujan dan panasnya terik matahari yang terasa memanggang tubuh. Berbekal kecintaan pada lingkungan, kondisi itu tak membuatnya kehilangan semangat. Akan tetapi, dalam kisahnya ada hal ironis yang menghantui. Pekerjaan mulia yang didedikasikan untuk bumi pertiwi itu belum mendapat dukungan penuh

Menurut Guru Made Sumantra, yoga sejatinya merupakan penyatuan cipta, rasa, dan karsa yang melibatkan seni olah tubuh, pikiran dan jiwa. Namun sekarang berkembang menjadi kegiatan olahraga. Olah pikiran dikenal sebagai meditasi dan olah jiwa mengarah pada kegiatan budaya dan spiritualitas. Hal inilah yang kemudian Yoga tersamarkan dan salah persepsi seolah kegiatannya ada di agama tertentu. “Yoga adalah tuntunan kehidupan yang bersifat universal,“ sebut Made Sumantra. Sementara itu, IGAN Dian Martika menyebutkan, masyarakat tidak perlu takut dan khawatir untuk melakukan yoga. Sebab dijelaskan Dian Martika, yoga bukanlah ilmu mistik untuk membuat orang menjadi sakit. Yoga adalah ilmu yang realistis yang mampu bersinergi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi terkait dengan masalah materi, energi, frekuensi, dan vibrasi. Martika berkeyakinan dengan melakukan yoga secara teratur, racun-racun dalam tubuh bisa dikuras, sehingga energi yang dimiliki manusia menjadi seimbang dan harmonis. Sejumlah gerakan olah napas, perut, jiwa, dan pikiran diberikan dalam latihan yoga tersebut. Sejumlah peserta tampak tidak mampu mengikuti gerakan yang dicontohkan dengan sempurna. Meski begitu baik Dian Martika maupun Made Sumantra tidak mempersoalkan hal itu, karena mungkin peserta tersebut baru pertama kali mengikuti. Ratna salah seorang peserta Yoga menyebutkan, beberapa jam mengikuti yoga, badan terasa ringan, pikiran juga lebih tenang. Hanya, Ratna mengakui, tidak semua gerakan bisa diikutinya. Ia berharap latihan Yoga dapat dilakukan seminggu sekali di GKBK Jembrana. (ad1097)

Singaraja (Bali Post) – Perbekel Desa Celukan Bawang Kecamatan Gerokgak M. Anzari Sabtu (27/8) kemarin, memberikan keterangan kepada komisioner Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Kabupaten Buleleng. Dia dimintai keterangannya setelah dituduh melakukan intimidasi terkait pengumpulan KTP warga untuk mendukung pasangan calon perseorangan yang akan berlaga pada pilkada mendatang. Dari keterangannya itu, Perbekel Anzari membantah melakukan intimidasi. Dia mengaku hanya memastikan pengumpulan KTP warganya oleh oknum tertentu yang menjanjikan mendapat bantuan paket sembako. Usai memberikan keterangannya, Perbekel Anzari menjelaskan, Rabu (24/8) lalu, pihaknya mendapat informasi bahwa di desanya dilakukan verifikasi faktual (virtual -red) dukungan calon perseorangan. Dari data dukungan itu, di Banjar Dinas Brongbong ada 540 warga yang masuk dalam daftar dukungan calon perseorangan. KTP warga itu dikumpulkan oleh aparat desa setempat. Penyerahan KTP itu digunakan untuk untuk mengambil jatah bantuan paket sembako dari manajemen Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang. Pengumpulan KTP itu atas suruhan seorang satpam di PLTU. Dia kemudian memastikan informasi itu ke manajemen PLTU. Dari penelusuran itu, Perbekel Anzari mendapat penjelasan dari pihak manajemen PLTU menyebutkan bahwa karyawan dilarang berpolitik. Jangankan terlibat politik, karyawan yang menggunakan pakaian yang berisi atribut partai politik (parpol) dilarang keras. “Tidak ada mengintimidasi. Saya ke sana (PLTU -red) karena masyarakat saya resah setelah KTP-nya diminta untuk mengambil sembako. Di PLTU, saya juga mendapat penjelasan kalau karyawan dilarang berpolitik, cuma itu yang kami lakukan,” katanya. Ketua Panwaslih Ketut Ariyani bersama komisioner lainnya telah melakukan rapat pleno atas pengaduan pengumpulan KTP dukungan calon perseorangan di Desa Celukan Bawang. Komisioner memutuskan pengaduan itu masuk kategori pelanggaran administrasi. Sementara indikasi pelanggaran tindak pidana yang berkaitan pilkada unsurnya tidak terpenuhi. Keputusan ini diambil, setelah komisioner mengklarifikasi pihak yang mengadukan, pihak yang diadukan, dan keterangan dari saksi-saksi. “Panwaslih memtuskan bahwa pengaduan itu masuk pelanggaran administrasi. Tindak lanjut pengaduan ini sudah selesai berproses,” jelas Ariyani. (kmb38)

z Perintis : K.Nadha, z Pemimpin Umum: ABG Satria Naradha zPemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Wirata zRedaktur Pelaksana : Made Sueca, Dira Arsana zSekretaris Redaksi: Sugiartha zRedaktur Eksekutif: Parwata zRedaksi: Daniel Fajry, Mawa, Yudi Winanto, Subrata, Diah Dewi, Giriana Saputra zAnggota Redaksi Denpasar: Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Sumatika, Asmara Putra, Dedy Sumartana, Yudi Karnaedi, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Parwata, Rindra, Agustoni, Ngurah Kertanegara, Komang Suryawan, Made Miasa, Agung Dharmada. Bangli: IA Swasrina, Sosiawan, Buleleng: Dewa Kusuma, Mudiarta. Gianyar: Manik Astajaya, . Karangasem: Budana, Bagiarta, Klungkung: Dewa Dedy Farendra, Negara: IB Surya Dharma, Tabanan: Dewi Puspawati,Wira Sanjiwani. Jakarta: Nikson, Hardianto, Ade Irawan. NTB: Agus Talino, Izzul Khairi, Raka Akriyani. Surabaya: Bambang Wiliarto. Banyuwangi: Budi Wiriyanto zKantor Redaksi: Jalan Kepundung 67 A Denpasar 80232. Telepon (0361)225764, Facsimile: 227418, Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi: Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat. NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543, Facsimile: (0370) 628257. Manajer Sirkulasi: Budiarta, Manajer Percetakan: Tri Iriana, Marketing/Pengaduan Pelanggan: K. Budiarta, zAlamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A, Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00, Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Tarif Iklan : Iklan Mini: minimal 2 baris maksimal 10 baris, Minggu s.d. Jumat Rp 49.500,- per baris, Sabtu Rp 64.350,- per baris Iklan Umum: < 100 mmk Rp 50.000 per mmk, >100 mmk Rp 55.000 per mmk. Iklan Keluarga/Duka Cita: Rp 40.000 per mmk. Advertorial Rp 25.000 per mmk. Iklan Warna: 2 warna Rp 55.000, 4 warna Rp 75.000 per mmk. Pembayaran di muka, iklan mendesak untuk dimuat besok dapat diterima sampai pukul 18.00. Alamat Bagian Langganan/Pengaduan Langganan: Jl.Kepundung 67A Denpasar 80232 Tel: 225764, Facsimile: 227418. Harga Langganan: Rp 90.000 sebulan, Pembayaran di muka. Harga eceran Rp 4.000. Terbit 7 kali seminggu. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers: SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP, Penerbit: PT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 040-3070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an Pt.Bali Post. Sumbangan untuk orang sakit Rek. BPD Capem Kamboja, Denpasar No. 037.02.02.00016-8 A/n Simpati Anda,BCA Cabang Denpasar No.040.3555000 A/n Simpati Anda, Dana Punia Pura Rek.BPD Capem Kamboja, Denpasar No. 037.02.02.00017-1 A/n Dana Punia Pura, BCA Cabang Denpasar No. 040.3966000 A/n Dana Punia Pura, BCA Cabang Denpasar No. 040.3277000 A/n Dompet Beasiswa, BCA Cabang Denpasar No. 040.3688000 A/n Dompet Lingkungan. WARTAWAN BALI POST SELALU MEMBAWA TANDA PENGENAL, DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARA SUMBER


Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

SEREMONIAL

3

Ingatkan Bahaya PJK dan Stroke

Prodia Gelar Talkshow ’’Berdenyut Sampai Usia Lanjut”

PELEPASAN BURUNG - Pelepasan burung menandai dibukanya pameran daur ulang dan kampanye gerakan kebersihan lingkungan “Denpasar Kotaku Rumahku Bebas Sampah” di areal parkir Taman Kota Lumintang, Denpasar, Sabtu (27/8).

DKP Denpasar Gelar Pameran Daur Ulang

Kampanyekan Gerakan Kebersihan Lingkungan DKP Kota Denpasar menggelar pameran daur ulang di areal parkir Taman Kota Lumintang, Denpasar, Sabtu (27/8). Kegiatan ini juga dibarengi dengan kampanye gerakan kebersihan lingkungan “Denpasar Kotaku Rumahku Bebas Sampah”, melibatkan siswa dari tingkat SD hingga SMA. Para siswa diajak untuk mengumpulkan lalu memilah sampah organik dan non organik. Sampah non organik yang didapat siswa kemudian ditimbang dan dibayar seperti ketika menabung di bank sampah. “Jadi di sini ada kegiatan yang terintegritas dari pengelola bank sampah serta seluruh komponen masyarakat yang tentunya bergerak di bidang lingkungan hidup. Selanjutnya juga ada pameran daur ulangnya bagaimana kita memproses daur ulang yang tadinya sampah, ada nilai gunanya,” ujar Sekretaris DKP Kota Denpasar, Dewa Sayoga. Menurut Sayoga, pameran daur ulang diikuti sejumlah bank sampah yang ada di Denpasar. Sampai saat ini, total sudah ada 63 unit bank sampah di seluruh kecamatan. Pemerintah kota rutin melakukan pembinaan berupa pendidikan dan latihan, serta memberikan reward bagi bank sampah yang berhasil melalui dukungan pendanaan. “Kami mengajak masyarakat itu untuk cerdas dalam mengatasi masalah lingkungan,” tandasnya. Kepala DKP Kota Denpasar, I Ketut Wisada mengatakan kampanye atau sosialisasi gerakan kebersihan lingkungan tidak boleh putus dilakukan. Kegiatan ini dilakukan secara sustainable agar masyarakat tidak lupa dengan masalah lingkungan, khususnya sampah. Concern kampanye terkait sampah salah satunya melalui pengenalan aplikasi mobile, gringgo.

“Di gringgo ada komputer statistik, jadi statistik yang memuat data persampahan yang ada di Kota Denpasar. Aplikasi ini untuk memudahkan masyarakat membuang sampah kemana mestinya yang dekat dari posisinya,” ujarnya. Wisada menambahkan, adanya aplikasi gringgo yang bisa diakses dengan mudah melalui smartphone, sejalan dengan Kota Denpasar menuju smart city. Sekkot Denpasar A.A. Ngurah Rai Iswara mengatakan masalah kebersihan kini menjadi kebutuhan primer dan mutlak bagi masyarakat. Oleh karena itu, penanganannya harus dilaksanakan secara bersama. Eksekutif dan legislatif di Denpasar selalu memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk turut melakukan inovasi, dan menyumbang pemecahan masalah dalam penanganan kebersihan. “Inovasi walaupun tidak serta merta bisa memecahkan masalah kebersihan, tetapi setidak-tidaknya kita akan bisa mengarah ke penanganan kebersihan yang baik,” ujarnya. Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede mengapresiasi setiap langkah Pemkot Denpasar menuju kota yang bersih. Dengan demikian, sudah sepatutnyalah ibu kota provinsi ini mendapatkan adipura. “Harapan kami sekaligus menghimbau kepada seluruh komponen masyarakat di Kota Denpasar untuk memahami dan sadar menjaga kebersihan di masing-masing lingkungan, sehingga tercapailah apa keinginan dari walikota menciptakan kota Denpasar ini yang bersih,” ujarnya. Ngurah Gede sepakat, kebersihan merupakan ujung tombak dari kesehatan seluruh masyarakat. Kalau seluruh masyarakat sehat, otomatis cara berfikir juga akan bagus untuk mewujudkan Denpasar sebagai kota cerdas. (ad1095)

PENYAKIT Jantung Koroner (PJK) dan stroke menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia, begitu juga di Indonesia. Dengan demikian, masyarakat diminta para medis untuk segera melakukan pencegahan terjadinya penyakit mematikan tersebut. Hal inilah salah satu yang dikampanyekan oleh Prodia. Pada Sabtu (27/8) kemarin, seminar atau talkshow wellness PJK dan Stroke dengan topik “Berdenyut Sampai Usia Lanjut”, diselenggarakan di Sanur Paradise Plaza, Sanur. Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini adalah dr. Kadek Susila Surya Darma, M. Biomed, Sp. JP FIHA. (pakar jantung), dr. IGA Swarniningsig, Sp. S., (Stroke dan pencegahannya), pemeriksaan laboratorium dalam upaya pencegahan PJK dan stroke oleh Agnes Hartati, M. Kes. Talkshow yang dihadiri ratusan orang tersebut, cukup membuat para pembicara puas karena peserta begitu antusias untuk menjaga kesehatannya. Terungkap dalam seminar kemarin, lifestyle, baik pola makan sehat, pola aktivitas sehat, serta pengelolaan stress merupakan hal yang penting dan perlu diperhatikan untuk tindakan pencegahan PJK, stroke yang sekarang ini banyak melanda usia produktif. Menurut definisi kardiovaskular dari World Health Organizition (WHO), penyakit kardiovaskular adalah penyakit yang disebabkan gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah. Ada banyak macam penyakit kardiovaskuler, tetapi yang paling umum dan terkenal adalah PJK dan stroke. Penyakit ini banyak menyerang penduduk Indonesia. Ini terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan di dinding pembuluh darah koroner yang mencegah darah mengalir ke jantung atau otak. Penyebab penyakit ini adalah endapan lemak dan kolesterol

pada dinding pembuluh darah yang menyuplai hati atau otak. PJK sering kali disebut sebagai silent killer. Hal ini bisa terjadi karena adanya perubahan gaya hidup, terutama pada orang muda perkantoran modern. Kemajuan di bidang pariwisata, komunikasi, informasi, dan cara berfikir justru menjadi pedang bermata dua. Ketika era globalisasi menyebabkan informasi semakin mudah diperoleh, negara berkembang dapat segera meniru kebiasaan negara barat yang dianggap cermin pola hidup modern. Sejumlah perilaku seperti mengkonsumsi makanan siap saji (fast food), makanan berkadar lemak jenuh tinggi, kebiasaan merokok, minuman beralkohol, kerja berlebihan, kurang berolahraga, dan stress, telah menjadi gaya hidup manusia terutama diperkotaan. Padahal perilaku tersebut merupakan faktor-faktor penyebab penyakit kardiovaskuler. Upaya pencegah dan menghindari penyakit kardiovasluler dimulai dengan memperbaiki gaya hidup dan mengendalikan faktor risiko sehingga mengurangi peluang terkena penyakit tersebut. Untuk pencegahan penyakit kardiovaskuler hindari obesitas dan kolesterol tinggi. Pengobatan dapat dilakukan pada hampir semua bentuk penyakit kardiovaskuler termasuk hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes melitus, namun semua itu berpeluang kepada individu untuk menjalankan pola hidup sehat. Pendeteksian dini dengan melakukan pemeriksaan laboratorium merupakan langkah terbaik yang dapat dilakukan untuk mencegah terkena penyakit kardiovasluler. Sementara Antonius Erbano, Branch Manager Prodia Denpasar, mengatakan dengan seminar nasional ini angka kematin akibat PJK dan stroke dapat berkurang. (ad1078)

TALKSHOW - Para pembicara dalam seminar atau talkshow wellness PJK dan Stroke “Berdenyut Sampai Usai Lanjut” di Paradize Plaza Sanur, Sabtu (27/8) kemarin.

WISUDA - Suasana wisuda ke-118 Universitas Udayana, Sabtu (27/8) di Auditorium Widya Sabha.

Unud Gelar Wisuda Ke-118

Ubah Pola Pikir Lulusan Menjadi Pencipta Pekerjaan UNIVERSITAS Udayana (Unud) menggelar Wisuda ke-118 di Auditorium Widya Sabha Kampus Bukit Jimbaran, Sabtu (27/8). Wisuda diikuti 1.184 wisudawan yang terdiri dari 105 orang D-3, 7 orang D-4, 725 orang S-1, 76 orang profesi Ners, 18 orang profesi Akuntansi, 41 orang profesi Dokter Hewan, 38 orang profesi Dokter, 32 orang Dokter Spesialis-1, 129 orang Megister dan 13 orang Doktor. Sampai saat ini, Unud telah meluluskan total 77.146 wisudawan. Rektor Unud Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp. PD-KEMD., mengatakan para lulusan perguruan tinggi masih banyak yang berfikir bahwa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan sasaran pertama. Jika tidak menjadi PNS, mereka ada yang tidak mau bekerja dan lebih baik menjadi pengangguran. Padahal kemampuan pemerintah untuk menambah jumlah PNS terus berkurang. Bahkan sejak tahun lalu tidak ada lagi pengangkatan PNS baru. “Oleh karena itu, pola pikir para lulusan harus diubah dari pencari pekerjaan menjadi pencipta pekerjaan,” ujarnya. Menurut Suastika, tantangan lulusan zaman sekarang jauh lebih besar dibandingkan dulu. Mereka tidak hanya bersaing di tingkat lokal dan nasional, tapi juga internasional. Apalagi dengan dibukanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Indeks prestasi akademik yang memuaskan saja tidak cukup tanpa peningkatan soft skill. “Rata-rata Indeks Prestasi atau IP memang ada kecenderungan naik, tetapi IP tidak ada artinya kalau kita sudah terjun ke dunia yang riil. IP menjadi bagian yang kesekian kalau dia mau sukses,” jelasnya. Suastika menambahkan, menjadi wirausahawan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan daya saing

dan kualitas. Dengan sumber daya alam dan manusia yang begitu besar, banyak peluang wirausaha yang bisa diciptakan. Asal mau bekerja keras dan mempunyai komitmen di bidangnya masing-masing. Sejalan dengan itu, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM juga berusaha meningkatkan jumlah pengusaha di Indonesia melalui Gerakan Kewirausahaan Nasional. “Universitas Udayana sendiri melalui program pengembangan karier dan inkubator bisnis misalnya, telah berusaha untuk berkontribusi di dalam pengembangan jumlah wirausahawan muda yang nantinya ikut serta membangun bangsa melalui wirausaha,” imbuhnya. Suastika berharap para lulusan Unud mampu beradaptasi sekaligus memberikan sumbangsih di dalam kompetisi antar negara yang sekarang tanpa batas. Di masa mendatang pihaknya juga berkomitmen untuk mengembangkan lebih banyak wirausaha muda. Mengingat Presiden Joko Widodo telah menekankan, bahwa peran wirausahawan dalam sektor bisnis akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan perekonomian nasional. Suastika pun mengajak seluruh civitas akademik saling bahu membahu dengan niat tulus dan jiwa pengabdian yang tinggi untuk meningkatkan kualitas Unud. Khususnya sebagai salah satu perguruan tinggi yang bertanggung jawab dalam mencetak para lulusan yang mampu bersaing di dunia kerja, baik lokal, nasional, maupun internasional. “Daya saing tinggi tercipta dari karakter yang kuat, kemampuan yang tinggi, menghormati dan menghargai orang lain, bukan tercipta dari kehebatan untuk menjatuhkan orang lain,” pungkasnya. (ad1077)


4

Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

BPM/dwi

PENDEKATAN - Seni memang menjadi sarana yang cukup efektif untuk mengurai masalah-masalah psikologis dalam diri seseorang, tidak hanya melukis, tetapi menulis, menyanyi, menari, ataupun kesenian lainnya. Permasalahan kekerasan dalam rumah tangga tidak melulu dapat dilihat melalui statistik di berbagai lembaga terkait, melainkan perlu dilakukan pendekatan-pendekatan khusus.

Mengurai Benang Kusut KDRT PERSOALAN kekerasan dalam rumah tangga tidak selamanya dapat dilihat grafiknya melalui statistik yang dikeluarkan oleh pemerintah, Komnasham, Komnas Perlindungan Anak dan Perempuan, ataupun lembaga lainnya. Permasalahan kekerasan dalam rumah tangga pada kenyataannya kerap menjadi api dalam sekam yang tidak muncul ke permukaan. Hal tersebut seringkali terjadi lantaran posisi perempuan yang termarginalkan, terutama di kalangan masyarakat patriarkis. Sehingga membuatnya tidak punya keberanian untuk mengungkapkan kekerasan yang dialaminya ke hadapan publik. Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya dilihat pada aspek kekerasan fisik yang menimbulkan dampak yang secara kasat mata dapat terlihat. Namun, potensi kekerasan itu juga bisa dilihat melalui kekerasan psikis yang dialami oleh perempuan di dalam lingkup terkecil keluarganya. Kekerasan psikis tersebut dapat berupa intimidasi verbal melalui ucapan ataupun yang lainnya, yang pada akhirnya menimbulkan dampak tertekan secara psikologis pada diri perempuan tersebut. Meski tidak memberi efek luka ataupun kesakitan fisik yang terlihat secara kasat mata, namun praktikpraktik semacam itu pada akhirnya juga akan memicu konflik yang lebih serius. Ketika membayangkan kekerasan dalam rumah tangga, yang terlintas dalam benak kita seringkali hanyalah oposisi biner antara laki-laki dan perempuan. Dengan selalu muncul anggapan bahwa kaum laki-lakilah yang menjadi pelakunya, sedangkan perempuan senantiasa bertahan sebagai korban. Padahal tidak melulu begitu, yang terjadi bisa sebaliknya, atau justru potensi ketegangan itu tidak hanya terjadi di lingkup suami-istri saja, tetapi mencakup keluarga yang lebih luas dengan melibatkan anggota keluarga lainnya (mertua, ipar, saudara). Oleh karena itulah, ketika melihat permasalahan semacam ini, harus secara jernih mengamati posisi korban (terutama perempuan) dalam lingkup keluarganya tersebut. Kekerasan Secara umum jika terjadi kekerasan antara laki-laki dan perempuan, faktor paling mudah untuk dilihat adalah lantaran laki-laki memiliki kekuatan fisik yang lebih besar dibanding perempuan. Namun pada kasus lain, faktor penyebabnya bisa lebih

kompleks, karena bisa saja konfliknya tidak hanya terjadi antara laki-laki dan perempuan saja, tetapi antara perempuan dengan sesama perempuan. Jika terjadi demikian, tidak ada perbedaan kekuatan fisik di antara keduanya, namun posisi dalam struktur keluargalah yang seringkali menjadi faktor utama yang memicu seorang perempuan dalam posisi lebih tinggi menindas yang ada di bawahnya. Seperti hubungan antara mertua dengan menantu. Hal ini didukung dengan sistem patriarkis yang berlangsung dalam sistem perkawinan di Bali, dimana perempuanlah yang harus masuk ke dalam keluarga laki-laki. Sehingga secara otomatis menempatkannya pada posisi terasing (stranger) dan rentan menjadi sasaran penindasan baik secara verbal ataupun fisik. Belum lagi disebabkan adanya faktorfaktor pemicu lainnya seperti permasalahan ekonomi. Tanpa kemandirian ekonomi, seorang perempuan akan sangat riskan menjadi sasaran kekerasan lantaran adanya anggapan bahwa pihak laki-laki dan keluarganyalah yang menghidupi si perempuan. Dengan kemandirian ekonomi, membuat perempuan tidak harus merasa terikat secara penghidupan pada keluarga dari pihak suaminya. Kalaupun terjadi hal yang terburuk, perceraian misalnya, ia siap untuk hidup mandiri dan menghidupi dirinya sendiri. Kintamani Perempuan-perempuan di Banjar Taksu, Desa Kedisan, Kintamani menjadi salah satu kawasan yang mengalami kerentanan terhadap masalah kekerasan dalam rumah tangga. Sejauh ini memang belum ada satupun kasus yang mencuat ke publik dan diproses secara hukum, namun potensipotensi kekerasan itu tetap dapat dirasakan

terutama karena sistem patriarkis yang masih melekat dan lemahnya perkembangan ekonomi di kalangan keluarga di sana. Hal itu diungkapkan oleh Ketut Madani Tirtasari, direktur Bali Women Crisis Center yang bermukim di lokasi tersebut. Berdasarkan pengamatannya, pernah terjadi beberapa kali kasus kekerasan dalam rumah tangga yang kemudian segera dapat diredam, dan diselesaikan dalam lingkup keluarga. Namun, meski dianggap selesai, tidak mengurangi perasaan tertekan dan rasa terintimidasi pada pihak perempuan sebagai korbannya. Menurutnya, ada beberapa faktor yang memungkinkan menjadi penyebabnya, di antaranya ialah lemahnya kemampuan ekonomi para keluarga di lokasi tersebut. Sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani sayuran dan buah, dengan hasil yang tidak menetu setiap bulannya. Belum lagi berhadapan dengan resiko gagal panen. Padahal sebagai desa yang dekat dengan objek wisata danau batur kintamani tersebut, warganya memiliki peluang untuk mengembangkan perekonomiannya dengan masuk ke sektor wisata tersebut. Sebagaimana dilakukan oleh beberapa warga yang menjadi pedagang cenderamata di kawasan penelokan danau Batur. Namun sayangnya, pekerjaan sampingan mereka tersebut belum membuahkan hasil yang mencukupi. Lantaran modal yang dikeluarkan terlalu besar, mereka musti membeli cenderamata yang akan mereka jual tersebut di pasar Sukawati yang harga pokoknya saja sudah tinggi, dan jarak tempuh yang juga jauh. Terobosan Situasi tersebut kemudian menggugah Bali Women Crisis Center untuk memberi terobosan yang lebih efektif dalam

mengembangkan perekonomian kelompok perempuan di Banjar Taksu, Desa Kedisan tersebut. Yaitu dengan menawarkan mekanisme produksi mandiri untuk komoditaskomoditas yang bisa diperjualbelikan di kawasan wisata tersebut. Dengan demikian, warga tidak harus membeli dengan harga yang tinggi barang yang akan dijualnya kembali. Melalui proses fasilitasi yang dilakukan oleh Search for Common Ground, Bali Women Crisis Center yang berkolaborasi dengan seniman Citra Sasmita lantas mulai untuk menggerakkan program yang bernama Bhatari Art Project. Setelah melakukan observasi kurang lebih selama dua bulan, program ini melihat adanya peluang untuk mengembangkan perekonomian kelompok perempuan Banjar Taksu ini di sektor pariwisata, yaitu dengan menciptakan inovasi produk yang mengangkat ikon-ikon wisata di kawasan tersebut seperti Danau Batur, jeruk Kintamani, dan maskot Desa Kedisan. Dengan tujuan untuk menghasilkan produk yang otentik dan unik, dibandingkan dengan produk-produk yang dijual secara masif di berbagai lokasi wisata lainnya. Dan sebagai langkah awalnya, Bhatari art project menggelar sebuah pelatihan produksi tersebut dengan program melukis bersama kelompok perempuan Banjar Taksu. Program Program ini tidak hanya melihat proses pelatihan ini sebagai landasan awal bagi pengembangan aspek ekonomi semata, melainkan juga psikologis. Sebagaimana diungkapkan di awal tulisan ini, bahwa perempuan-perempuan di Banjar Taksu mengalami potensi kekerasan dalam sistem masyarakat yang patriarkis tersebut. Se-

hingga melalui pelatihan melukis tersebut dapat sekaligus menjadi medium terapi untuk melepaskan diri dari perasaan tertekan. Dengan melukis, mereka memiliki kebebasan untuk mengungkapkan masalah dan mengurai ketegangannya dengan memilih warna secara acak. Selama ini, seni memang menjadi sarana yang cukup efektif untuk mengurai masalah-masalah psikologis dalam diri seseorang, barangkali tidak hanya melukis, tetapi menulis, menyanyi, menari, ataupun kesenian lainnya. Dengan mengombinasikannya dengan kegiatan kesenian inilah, mudah-mudahan dapat tercapai tujuan dari program ini. Yakni mengurai benang kusut masalah kekerasan dalam rumah tangga, dengan berbagai faktor pemicunya melalui program pengembangan potensi ekonomi yang sekaligus memberi kebebasan individu perempuan untuk berekspresi. Program ini masih sebatas pada fasilitasi dan observasi terhadap potensi-potensi konflik yang mungkin terjadi, sementara untuk pengembangan dan keberlanjutannya tentu masih membutuhkan perhatian banyak pihak, terutama pemerintah setempat. Program ini bisa menjadi salah satu basis metode untuk mengurai konflik serupa yang terjadi di daerah lain, dengan melihat potensi-potensi apa saja yang terdapat di lokasi tersebut. Karena permasalahan kekerasan dalam rumah tangga tidak melulu dapat dilihat melalui statistik di berbagai lembaga terkait, melainkan perlu dilakukan pendekatan-pendekatan khusus untuk melihat kasus yang mungkin tidak terlihat di permukaan. Jangan menunggu korban melapor, pencegahan adalah yang terbaik untuk dilakukan saat ini. zDwi S. Wibowo

Pentingnya Pemeriksaan Rontgen

Antara Manfaat dan Risiko PEMERIKSAAN rontgen sudah tidak asing lagi bagi masyarakat awam. Pemeriksaan rontgen adalah tindakan menggunakan radiasi untuk mengambil gambar bagian dalam dari tubuh seseorang. Prosedur ini sering dilakukan dalam membantu menegakkan diagnose penyakit yang diderita oleh pasien. Namun, pada sebagian masyarakat terkadang masih ditakutkan dengan bahaya dari radiasi sinar rontgen itu sendiri. Berikut akan kita ulas mengenai manfaat dari pemeriksaan rontgen dan seberapa berbahayakah pemeriksaan tersebut. Dalam ilmu kedokteran, rontgen dapat digunakan untuk melihat kondisi tulang, gigi serta organ tubuh yang lain tanpa melakukan pembedahan langsung pada tubuh pasien. Utamanya, digunakan untuk mendiagnosa masalah kesehatan dan yang lainnya untuk pemantauan kondisi kesehatan pesien. Terdapat berbagai jenis rontgen, masing-masing dengan kegunaan yang spesifik, seperti rontgen dada, tulang belakang, anggota gerak, kepala, dan rontgen perut. Rontgen dada misalnya, pasien dengan keluhan batuk yang lama, bisa saja dari pemeriksaan fisik pasien tidak ditemukan kelainan, maka untuk memastikannya, dokter akan meminta

pemeriksaan rontgen. Dengan demikian, dapat diketahui gambaran paru-paru pasien apakah ada proses infeksi yang spesifik atau proses penyakit lain, yang tidak terlihat hanya dengan pemeriksaan fisik dari luar. Pada kasus patah tulang, pemeriksaan rontgen adalah wajib untuk melihat lokasi dan tipe patah tulang yang terjadi, karena akan sangat menentukan jenis tindakan dan alat yang akan dipakai oleh dokter bedah tulang. Perlu diingat, sinar X yang digunakan untuk foto rontgen merupakan sinar yang dapat menyebarkan radiasi. Dalam jangka panjang, paparan radiasi ini bisa memicu munculnya kanker. Namun, tentu saja ambang dosis yang dibutuhkan untuk memicu kanker tidaklah sedikit. Sejauh ini radiologi yang digunakan untuk pasien masih dalam batas aman. Seiring dengan kemajuan teknologi, posisi “penembakan” pun sudah dibuat sedemikian rupa sehingga baik pasien maupun dokter/pekerja radiologi yang melakukan tugasnya seminimal mungkin terpapar radiasi. Demikian juga dengan waktu yang diperlukan selama proses “penembakan” dibuat semakin singkat.

risikonya jika dilakukan dengan benar. Itulah mengapa, bila dianggap perlu, bayi yang baru lahir pun bisa menjalani tindakan ini untuk menegakkan diagnosis ada tidaknya kelainan dalam tubuhnya. Tindakan ini dilakukan semata-mata untuk memudahkan penatalaksanaan selanjutnya. Jadi, batasannya bukan pada berapa kali dalam setahun atau berapa banyak dalam kurun waktu tertentu anak boleh dirontgen, melainkan seberapa penting dan mendesak tindakan tersebut harus dilakukan. Itulah mengapa pada kondisi tertentu dimana diagnosis hanya bisa ditegakkan berdasarkan hasil rontgen, meskipun harus diulang dalam jangka waktu relatif berdekatan, dokter akan tetap merekomendasikannya untuk kepentingan anak. Pemeriksaan rontgen hanya dilakukan ketika manfaat lebih besar daripada risiko yang ditimbulkan. Dokterlah yang akan memutuskan dengan berbagai pertimbangan, apakah foto rontgen harus dilakukan atau tidak, terkait diagnosa maupun perkembangan penyakit. Maka dari itu janganlah takut jika Anda atau keluarga diminta untuk melakukan pemeriksaan rontgen oleh dokter.

Manfaat Meski demikian, manfaat yang didapat dari teknologi ini lebih banyak ketimbang

zdr. Gede Arya Wibawa Ugu Marta, S.Ked.

BPM/ist

MANFAAT - Pemeriksaan rontgen hanya dilakukan ketika manfaat lebih besar daripada risiko yang ditimbulkan. Dokterlah yang akan memutuskan dengan berbagai pertimbangan, apakah foto rontgen harus dilakukan atau tidak, terkait diagnosa maupun perkembangan penyakit.

Sejahtera SEJAHTERA? Pernahkah Anda semua berpikir? Apakah yang sesungguhnya diinginkan oleh rakyat Indonesia di usianya yang ke-71 ini? Apakah impian mereka? Karena nasib mereka hanya diingat ketika Pilkada. Rakyat kecil baru “disentuh” ketika para calon pemimpin ingin meraih kekuasaan. Para “penguasa” ini pun turun bak sinterklas— membagi-bagikan hadiah dengan senyum sumringah. Tatapan mata penuh harap, terlihat tulus dan siap melindungi kapan pun jika diperlukan. Berjabat tangan dengan erat, penuh kasih dengan tatapan seorang ayah-ibu yang bangga dengan kondisi anak-anaknya. Tulus dan menyakinkan. Harapan penuh seolah di tangan para peserta Pilkada inilah jalan “sejahtera” akan terbuka lebar.

belum bisa dipenuhi mandiri. Hal serupa disampaikan Presiden Joko Widodo saat pidato kenegaraan memperingati ulang tahun ke-71 Kemerdekaan RI di hadapan anggota DPR dan DPD, “Indonesia belum mampu memutus rantai kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, dan kesenjangan sosial.” Kata-kata Apakah kita sudah sejahtera? Rasanya memang banyak hal yang harus kita perbaiki untuk “merasa sejahtera”. Para motivator terus memberikan solusi dengan mimpi-mimpi dan kata-kata bijak. Apakah itu sudah bisa menolong kita untuk “merasa sejahtera”? Bangsa ini sejak reformasi menggelinding, sudah terlalu banyak mendengar dan “tenggelam” di lautan wacana dan kata-kata yang makin hari makin bertambah. Bertumpuk. Bahkan sudah seperti lautan sampah yang menimbulkan bau yang tidak sedap. Bau yang mengganggu. Bau yang membuat kita merasa tidak nyaman. Bau yang membuat rakyat kecil-- model kita merasa sebagai manusia bodoh. Terus menerus dibuai impian, harapan. Faktanya semua palsu. Kita belum menemukan imunisasi untuk menangkal “penyakit korupsi” Tetapi tidak ada salahnya untuk memiliki mimpi untuk mencapai “sejahtera”. Bukankah hidup harus tetap dipelihara. Dan, harapan harus terus digantungkan tinggi-tinggi. z Oka Rusmini

Harapan Mengingat kata sejahtera, hidup itu terasa indah dan terasa begitu memberi harapan yang sesungguhnya bagi siapa pun yang ingin meningkatkan standar hidup sebagai manusia di Indonesia. Menarik dicatat dan disimpan di otak pernyataan dari Ricard Robison, Guru Besar Emeritus Asia Research Centre, Murdoch University, Australia. Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah serta sumber daya manusia (SDM) yang bisa jadi potensi basis konsumsi untuk memperlebar ekonomi domestik. Hal-hal itu merupkaan “bahan-bahan” menuju negara sejahtera. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, pasca-71 tahun merdeka, Indonesia belum terbebas dari sejumlah soal kebutuhan dasar. Kebutuhan pokok rakyat yang baru bisa teratasi adalah sektor sandang. Sementara kebutuhan pangan dan papan BPM/yuwid


5

Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

Film

Memahami Problematika Dunia Wartawan Film Sutradara Pemain

Produksi Release

: Manhattan Night : Brian DeCubellis : Adrien Brody, Yvonne Strahovski, Jennifer Beals, Steven Berkoff. : DeCubellis Film : 20 Mei 2016

FILM ini cukup menarik, bercerita tentang kondisi psikologis wartawan cetak di tengah gempuran medsos. Di era digital ini, orang bebas memposting apa saja. Dan, dengan tempo mudah-cepat sudah tampil ke publik. Lalu apa sesungguhnya peran wartawan cetak? Adrien Brody bermain sebagai wartawan media cetak bidangnya investigasi dan belakangan memilih sebagai penulis kolom. Pergolakan batinnya menarik untuk disimak. “Aku menjual kekacauan, skandal, pembunuhan, dan azab.... Aku menjual bayi yang baru lahir dan mati... Aku menjual koran. Aku selalu berjalan. Di mana hal buruk baru saja terjadi. Tiba setelah bahaya telah berlalu. Menonton dari jarak yang aman mencari sudut... Aku selalu mencari untuk sebuah cerita yang bagus... Aku menulis artikel untuk surat kabar harian. Dengan kata lain, aku spesies yang terancam punah. Dulu aku berpikir ceritaku bisa membuat perbedaan. Sekarang aku hanya berharap itu cukup untuk memberi makan keluargaku. Hari ini, delapan juta anak memiliki iPhone. Dan memposting video mereka di You Tube. Seperti mereka benar-benar melaporkan dan mengomentari sesuatu...” Layak ditonton untuk teman bersantai. (osi)

Pelecehan Seksual pada Perempuan Film: Confirmation Sutradara : Rick Famuyiwa Pemain : Kerry Washington,Wendell Pierce,Jeffrey Wright, Eric Stonestreet,Bill Irwin Zoe Lister-Jones, dan Bill Irwin Produksi : HBP Film Release :16 April 2016 FILM satu ini layak juga menemani liburan Anda, di Indonesia kasus kekerasaan seksual masih cukup tinggi. Cerita film ini adalah kisah nyata tentang Anita F. Hill, seorang intelektual terpandang, pakar hukum dari Universitas Oklahoma, Amerika. Yang mendapatkan pelecehan seksual oleh Hakim Clarence Thomas. Tuduhan Hill terhadap Thomas mengundang kontrovesi baik di kalangan masyarakat maupun di kalangan senator. Bagi kaum wanita yang tidak bekerja di luar rumah, mereka lebih percaya kepada Thomas karena ia pria kulit hitam yang berhasil di pekerjaan yang biasanya dilakukan pria kulit putih. Sementara itu, kaum wanita yang bekerja di luar rumah lebih mempercayai Hill karena menurut mereka pelecehan seksual memang terjadi di lingkungan kerja mereka. Senator Partai Republik yang sangat mendukung Thomas menginginkan agar pengukuhan Thomas segera dilaksanakan. Sedangkan Partai Demokrat menginginkan agar tuduhan terhadap Thomas dibuktikan dahulu kebenarannya. Hill akhirnya dikalahkan Thomas. Karena sulit membuktikan kasus pelecehan seksual. Peristiwa ini terjadi tahun 1991. Menarik menyimak perasaan Hill lewat dialog yang tajam, “jika kunasihati seseorang yang menjadi korban rayuan yang tidak diinginkan... Kupikir aku tidak akan menyarankan memperkarakannya. Menurut pengalamanku, dalam kasus seperti ini, jika seseorang memperkarakannya korban cenderung dianggap penjahat,” papar Hill. (osi)

Bus Kota

CERPEN

Oleh Kim Al Ghazali HARI RABU. Dan ini merupakan perjalanan terjauh bagi Nur, perjalanan ke arah utara dengan bus antar kota yang sudah cukup tua. Melintasi jauh kota-kota yang sebelumnya hanya ia ketahui di peta di sekolahnya. Menyaksikan gedung-gedung megah pencakar langit, pasar, mall, jembatan kokoh, lalu lalang berbagai macam kendaraan dan macam-macam lainnya yang ia jumpai sepanjang perjalanan. Sudah sekitar delapan jam ia duduk di kursi bus bagian tengah di sisi jendela. Sedikit mengantuk tapi matanya selalu ia tahan agar tidak terpejam. Sungguh, perjalanan yang begitu penting dan berharga bagi dirinya untuk dilewatkan begitu saja. Rasa penasaran untuk mengetahui kota-kota yang akan dilintasinya mengalahkan hasrat untuk istirahat. Sesekali matanya dibuka lebar-lebar sambil mendekatkan mukanya ke kaca jendela. Tulisan di papan iklan, spanduk, papan nama sebuah warung, atau papan peringantan di pinggir jalan, semua tidak luput dari cengkraman matanya untuk dibaca. Hatinya begitu girang. Sebuah kebanggaan dan pencapaian baginya mengetahui kotakota yang jauh meski sekedar melintasi dan menengok dari dalam bus. Sesuatu yang tidak mungkin dialami kawan-kawannya di kampung. Siti, Yuyun, dan Neneng pasti akan senang mendengar cerita-ceritaku, andaikan aku ada kesempatan berjumpa dengan mereka kembali. Begitu batinnya. Tentang jalan layang, foto artis ibu kota yang terpampang besar-besar di perempatan, pantai, dan para pengamen yang keluar masuk bus membawa lagu-lagu yang cukup membuat perut kram. Semuanya, sedetail-detailnya. Ini sebuah impian baginya, bepergian jauh, menyaksikan dunia luar yang megah dan gemerlap yang selama ini hanya bisa ia saksikan di televisi Pak Mar di kampungnya, satu-satunya pesawat televisi di kampung yang dilindungi bukitbukit itu. Hari mulai malam. Lampu sepanjang jalan pun menyala. Kota-kota yang letaknya lebih tinggi di kejauhan seperti jutaan kunang-kunang yang sedang musyawarah. Takjub. Mata teduh yang hanya menyaksikan kepekatan malam kampung itu kini menyaksikan berbagai hal “dahsyat”. Sesuatu yang baru. Kerlap-kerlip lampu, air mancur, patungpatung raksasa di perempatan jalan dan pohon-pohon cahaya. Ia benar-benar tak dapat menyembunyikan kegembiraannya melalui wajahnya yang tetap ceria meski kulit wajahnya kini berminyak karena seharian tidak bersentuhan dengan air untuk cuci muka. Ia benar-benar ceria di antara wajah-wajah kusut dan kelelahan di dalam bus itu. Ketika menyaksikan sebuah pesawat terbang sangat rendah—bus melewati sebuah jalan dekat landasan pesawat— ia ingin berteriak kencang, namun hasrat itu ia tahan, ia berada di tengah orang-orang. Ia tahu, jika hal itu dilakukan, maka orang-orang akan melongo dan tak segan mencibirnya. Betapa baginya, kemewahan kota-kota metropolitan benar-benar baru baginya. Dulu, saat listrik belum masuk ke kampungnya, hanyalah kunang-kunang yang biasa ia saksikan sebagai benda ajaib—karena tubuhnya bercahaya— selain benda-benda langit malam tentunya. “Ada mahluk sorga!” begitu serunya kepada teman-temannya sepulang ngaji selepas isya’. Maklum, desanya terpencil dan akses ke luar sangat sulit, hanya orang tertentu saja yang bisa pergi ke kota kecamatan untuk berbelanja atau

pun untuk kepentingan lainnya. Itu pun sangat jarang, mungkin sebulan atau sebulan setengah sekali, itulah yang membuat tempatnya sulit terjangkau teknologi. Ketika malam tiba, yang ia lakukan adalah ikut berbaur dengan para tetangganya, orang-orang dewasa, yang biasa berkumpul di depan rumahnya, duduk di ranjang panjang buatan kakeknya di bawah pohon mangga yang rimbun. Menikmati singkong rebus sambil mendengarkan orang-orang dewasa itu ngobrol, mulai dari tema ringan sampai hal-hal yang menyangkut agama, ataupun cerita-cerita mistis dan horor. Itulah sebabnya ia menjadi lebih cepat dewasa cara berfikirnya ketimbang teman-temannya yang lain. “Di sini tak ada kunang-kunang. Tapi aku suka lampu yang memenuhi pepohonan itu.” bisiknya pada diri sendiri ketika melihat pohonan berhias lampu. Bus melaju dengan kecepatan sedang. Bebepara kali bus itu berpapasan dengan ambulans yang menyalakan sirine, yang oleh telinganya selalu ditelan sebagai suara kodok musim penghujan di rawa-rawa dekat rumahnya, suara kodok yang selalu membuat ceria hatinya itu, suara kodok yang membuat ia dan teman-temannya merasa sangat terhibur. Dan bus terus melaju. Setelah menyalip sebuah iring-iringan panjang, bus kini menapaki jalan lurus yang kiri kanannya rimbun pepohonan dengan batang-batang besar dan kokoh, pohon-pohon tua, mungkin ditanam saat masih penjajahan Belanda. Tak ada papan iklan, lampu-lampu yang mengerubungi pepohonan atau rumahrumah megah. Hanya lampu penerang

jalan yang berjarak agak berjauhan satu sama lain. Matanya tetap berbinar, dilihatnya penumpang yang duduk di belakangnya, dengan mulut menganga dan mata terpejam, kepala menyamping, sudah tidak bisa dipastikan lagi telah mengalami beberapa episode mimpi. Hampir setengah perjalanan ia tertidur, gumamnya. Jalan lurus dan sepi yang seolah tak berujung itu pelan-pelan membuat ia mulai dilanda bosan. Hanya deru mesin yang semakin hingar seperti suara banjir di sungai dekat rumahnya dulu. Ia menoleh ke lelaki yang duduk di sampingnya sambil melemparkan senyum kecil, tanpa sepatah kata lalu ia kembali seperti semula; mendekatkan wajahnya pada kaca jendela. *** Bulan ngambang di angkasa, terbang pelan tapi selalu mengikuti laju bus. Kini ia mulai merasa lelah, atau tepatnya lelah yang sedari tadi baru disadari. Lalu dipandanginya bulan yang mengikuti perjalanan bus itu. Betapa, ia sudah lupa kapan terakhir kalinya menatap bulan berlama-lama. Sudah terlalu banyak kegiatan-kegiatan kecil masa remajanya di kampung yang ia tinggalkan—yang tak jarang dirindukan—semenjak ia meninggalkan kampung halamannya. Jika boleh mengajukan permintaan pada waktu tentu ia meminta menjadi anakanak selamanya. Menjadi anak-anak, batinnya, menjadi manusia yang tak terjangkau segala bentuk ego maupun kecemasan-kecemasan seperti yang dialami orang dewasa, seperti yang dialami dirinya. Kemudian ia mengenang kembali segala kejadian di masa lalunya,

tentang sungai tempat ia menghabiskan waktu di sore hari. Tentang bukit-bukit tempat mencari sarang burung bersama kakak lelakinya atau tentang surau tempat ia mengaji kepada Bu Nyai Musda. Mahluk nostalgis, begitulah sebutan yang tepat buatnya, sebagai perempuan yang sulit beranjak dari masa lalunya. Kepergiannya kali ini memang terbilang nekat bagi perempuan seperti Nur. Meninggalkan rumah tangganya di desa dekat kota kecamatan dan memilih bersama lelaki yang kini duduk di sampingnya. Lelaki yang ia harapkan sebagai masa depannya, yang akan memberikan pelukan-pelukan hangat di saat senang maupun cemas. Lelaki yang akan membawanya ke tempat-tempat yang belum pernah ia jangkau. Lelaki yang akan memberinya kebebasan bukan mengurungnya dan menyiksanya. Lelaki bukan Rahmat! Suaminya yang kejam itu. Perjalanan masih berlanjut, bus terus berjalan seperti semula. Setelah melintasi jemabatan panjang, kini ia mulai melihat rumah-rumah di kana-kiri jalan. Mungkin sesegara akan sampai ke tempat yang dituju. Tempat yang dijanjikan lelaki di sampingnya itu. Bus memasuki sebuah kota kecil, semacam kota kecamatan. Terlihat rumah-rumah tertata rapi, ada sekolahan, lapangan, taman-taman kecil berjejer sepanjang pinggir jalan. Juga, terlihat sebuah masjid dan gereja berdampingan. Kota kecil yang teduh dan nyaman. Tapi suasana sepi, begitu sepi. Aspal basah, dedaunan juga basah, gentenggenteng basah. Rupanya di sini baru usai hujan. Bus kini melaju lebih pelan dari sebelumnya, lamat-lamat di kejauhan terlihat halte pemberhentian. Sesampainya di dekat halte bus berhenti, dan beberapa orang yang duduk di depannya berdiri, berjalan menuju pintu depan, kemudian keluar. Bus kini melaju lagi, beberapa kursi sudah kosong. Jika tidak salah, sudah empat kali bus berhenti menurunkan penumpang. Tiba-tiba ada sesuatu yang dirasakan oleh hatinya, suatu desiran angin yang membawa kecemasan. Dibayangkannya perjalanan dalam bus itu sebagai kehidupan. Mungkin rute perjalanan dengan bus ibarat sebuah takdir, kita tak memiliki kuasa menentukan sendiri selain menyerahkannya kepada pengemudi. Satu persatu di antara kita terhempas dari perjalanan; kematian, sebagai final dari perjalanan itu sendiri.... Ah, sanggah hatinya dengan cepat sambil menghembuskan nafas untuk membuang cemas. Bukankah perjalanan harus menyenangkan, bukan mesti mendatangkan cemas begini? Ucapnya lagi, untuk melawan cemas yang datang tiba-tiba itu. Mestinya memang begitu, perjalanan harus menyenangkan. Dilihatnya lelaki yang duduk di sampingnya itu, matanya terpejam, tidak disadari olehnya bahwa ia tertidur semenjak tadi. Tangan kanan lelaki itu berada di atas pahanya dan ia membiarkannya. Sejak awal perjalanan suasana antara ia dan lelaki itu memang agak membeku, semacam sungkan atau menjaga imej masing-masing. Begitulah, kebersamaan mereka belum begitu lama. Dilihatnya lagi wajah lelaki itu, wajah tampan dan berkharisma, yang membuat ia terkagum-kagum selama ini. Ia terus melihatnya lebih teliti, bibirnya, hidung mancungnya, alisnya yang lebat dan semuanya. Dipandanginya lebih, lama, sangat lama, sampai nafas terakhir.

Redaksi Mingguan mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam rubrik “Kartun” ini. Tulis nama dan alamat lengkap dibalik gambar kartun. Kirim ke Redaksi Bali Post Jalan Kepundung 67a Denpasar.

Dewa Komang Mahadewa Windhu Segara

Darsono

Nuriarta

Satya Dewi


DIMENSI

6 RAMALAN

BINTANG

Capricorn Peruntungan: Jangan cemas meskipun kesulitan masih menerpa perbintangan Anda. Pertolongan yang Anda tunggu-tunggu masih bisa diharapkan kedatangannya. Untuk itu jangan pernah berhenti untuk terus beraktivitas dengan penuh semangat dan kewaspadaan yang tinggi. Karier: Pandai-pandailah mengambil hati atasan, mumpung hatinya saat ini masih lega dan happy. Kesehatan: Apa yang Anda khawatirkan bisa kejadian di minggu ini. Untuk itu selagi badan sehat sebaiknya dijaga dengan benar kondisi badan Anda tersebut. Keuangan: Jangan memberi pinjaman karena keuangan Anda masih belum begitu kuat untuk melakukan hal tersebut. Asmara: Bakat dan kepintaranmu seolah-olah diuji, maka dari itu harus tetap ditunjukan. Aquarius Peruntungan: Suasana nampak lebih kondusif dan cukup banyak order yang menguntungkan, tetapi semua itu kembali kepada bagaimana upaya Anda untuk bisa mengolahnya secara baik dan benar. Karier: Ajakan kerjasama yang dilontarkan oleh teman baru sebaiknya dipelajari dulu. Jangan terpancang pada profil seseorang. Akan tetapi, lebih mengedepankan bagaimana cara etos kerjanya dan rencananya. Kesehatan: Jangan cepat panik bila badan terasa ada keanehan, semisal pegal-pegal ataupun kepala pusing. Beristirahatlah secukupnya dan lakukan terapi pemijatan agar badan bisa kembali segar. Keuangan: Pandai-pandailah mengatur pengeluaran, maka tidak sulit untuk meraih impian Anda selama ini. Asmara: Tidak ada gunanya berpikiran yang bukan-bukan mengenai pasangan Anda, itu akan terasa sangat menyakitkan. Pisces Peruntungan: Suasananya cukup bersahabat akan tetapi di balik cerahnya suasana itu tersirat awan hitam yang tampak mulai mengganggu cerahnya di minggu ini, sehingga Anda harus lebih waspada. Terutama terhadap berbagai omongan yang memerahkan telinga itu sebaiknya bisa disikapi dengan lebih hati-hati dan tidak terburu nafsu untuk menanggapinya. Karier: Hadapilah segalanya dengan penuh kesabaran dan kewaspadaan harus tetap terjaga jangan sampai lengah barang sedetikpun. Kesehatan: Pekerjaan tampak menumpuk dan itu cukup menguras banyak pikiran dan tenaga, untuk itu makanlah yang teratur dan jangan lupa untuk memanfaatkan waktu istirahat yang ada. Keuangan: Tak baik mengobral dana yang ada untuk belanja barang yang kurang begitu penting kalau sekedar hanya untuk menghilangkan pusing. Asmara: Jangan bicara kasar, agar suasananya bisa tetap terjaga dan tidak sampai timbul pertengkaran. Aries Peruntungan: Di minggu ini kemujuran masih menjauhi diri Anda, sehingga sekalipun Anda berada di pihak yang benar sebaiknya jangan terlalu ngotot ingin menangnya sendiri. Karier: Cobalah untuk lebih teliti dan jeli serta tidak menganggap enteng suatu persoalan. Kesehatan: Ada kemajuan yang mengembirakan, walau begitu pantangan yang dianjurkan dokter terus dijalankan agar tak ada masalah lagi dengan kesehatan Anda. Keuangan: Hanya dengan menabunglah maka pengeluaran akan dapat diredam. Asmara: Perkenalan Anda dengan seseorang secara tak sengaja, jangan sampai membuat goyah asmara Anda pada si dia. Taurus Peruntungan: Cobalah lebih proaktif dan berani mengambil keputusan tegas. Jangan biarkan kebimbangan menghancurkan segala kesempatan yang sudah di depan mata itu. Karena di saat ini harus berani maju ke depan dengan perasaan mantap dan gerak cepat. Karier: Keberuntungan belum tentu lewat untuk kedua kalinya. Untuk itu jangan sia-siakan kesempatan yang ada ini. Kesehatan: Olahraga yang terlalu berat untuk saat ini dihindari dulu, karena bisa menimbulkan lelah dan capek yang tentu saja akan berdampak kurang bagus pada kondisi badan Anda. Keuangan: Jangan terlalu nekat dan leluasa menggunakan uang karena bisa menimbulkan kesulitan di kemudian minggu. Asmara: Meskipun hubungan perasmaraan kurang begitu mesra, tetapi suasana sudah lebih tenang dan jauh dari cekcok mulut. Gemini Peruntungan: Beraktivitas harus lebih giat lagi dan jangan pendam ambisi Anda untuk bisa meraih hasil yang lebih baik daripada mingguminggu kemarin. Mengenai segala rencana Anda untuk melakukan ekspansi, tidak akan mengalami masalah, laksanakan saja dengan penuh keyakinan hati. Karier: Semakin mantap saja posisi Karier Anda saat ini, walau begitu jangan sampai lupadiri dengan mengabaikan saran yang datang dari rekan-rekan Anda. Kesehatan: Angin malam kurang baik bagi tubuh Anda, sebab bagaimanapun juga bisa membikin kondisi semakin menurun. Keuangan: Sudah mulai tertata dengan baik, untuk itu jangan berulah lagi. Asmara: Jangan asal percaya dengan omongan teman, supaya kesalahpahaman tidak mengacaukan hubungan Anda berdua. Cancer Peruntungan: Jangan terpancang pada suatu rencana saja, ada baiknya Anda mulai melirik bisnis lain yang lebih menguntungkan dan sesuai selera pasar saat ini, sehingga selalu ada saja order yang bisa mendatangkan hasil yang besar. Karier: Tak perlu takut untuk bergerak lebih berani terutama dalam membikin keputusan ada baiknya didasari dengan penuh keyakinan dan perasaan optimis. Kesehatan: Kondisi badan sedikit menurun, cepat atasi agar tidak sampai parah. Karena bagaimana semuanya bisa berjalan lancar kalau Anda sakit-sakitan. Keuangan: Jangan banyak pikir jika ada yang berniat ingin memberi Anda pinjaman. Asmara: Cobalah hormati hak-haknya dengan tidak terlalu memaksakan kehendak kepadanya. Leo Peruntungan: Segalanya berjalan cukup lancar dan memuaskan. Begitu juga dengan suasana hati terasa lebih happy dan tidak ada ganjalan yang mengganggu kinerja Anda. Tak perlu cemas menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang akan dilakukan rival Anda. Karier: Manfaatkan situasi yang baik ini dengan lebih aktif dalam menyusun dan melaksanakan segala rencana yang sudah ada, sehingga kesempatan baik ini tidak sampai terbuang sia-sia. Kesehatan: Pikiran pusing belum tentu suatu penyakit karena bisa saja hanya akibat suatu kejenuhan. Untuk itu perlu sekali merencakan reffreshing kesuatu daerah agar pikiran bisa segar kembali. Keuangan: Tidak ada yang membebani pikiran karena segala rencana dan bisnis masih berjalan lancar dan cukup menghasilkan. Asmara: Jangan monoton itu-itu saja cobalah lakukan pendekatan yang lebih atraktif lagi agar suasana setiap bertemu dengannya selalu menimbulkan kesan yang indah. Virgo Peruntungan: Tawaran bantuan dari orang lain cobalah dipelajari dulu dengan sebaik mungkin. Jangan terburu-buru mengambil keputusan karena jika sudah berjalan maka sulit untuk menghentikannya. Karier: Jangan terlalu percaya ucapan orang, cobalah lebih yakin dengan suara hati daripada mendengarkan segala omongannya. Kesehatan: Jika kondisi badan tidak dijaga maka akan mudah jatuh sakit, untuk itu waspadalah jangan sampai Anda mengabaikannya. Keuangan: Berhematlah dan redam segala keinginan yang macam-macam itu. Asmara: Teruslah berupaya mencari simpatinya dengan selalu bersikap manis dan menyenangkan. Libra Peruntungan: Optimislah bahwa di minggu ini bisa meraih hasil yang lebih baik dan memuaskan dibanding minggu kemarin, apalagi peruntungan Anda masih cukup mujur. Karier: Tak perlu menanggapi omongan orang yang hanya akan bikin sakit hati saja. Cobalah Anda lebih enjoy dengan segala kemampuan yang ada dalam diri sendiri. Kesehatan: Kondisi badan harus dijaga betul-betul agar tidak sampai kena penyakit. Untuk itu perlu berlaku disiplin dan sebisa-bisanya meluangkan waktu untuk istirahat jika waktunya memang ada. Keuangan: Bisnis tetap mendatangkan income sekalipun pengeluaran tampak tinggi di minggu ini. Asmara: Serasa lebih tenang dan membahagiakan, dan hampir tidak ada cekcok mulut yang menjengkelkan. Scorpio Peruntungan: Jangan menuruti ambisi yang tampak mengggebu-gebu, karena walaupun dipaksakan hasilnya hanya akan percuma saja karena ibarat orang mau berlayar suasana laut lagi. Karier: Jangan mengambil tindakan yang hanya dilandasi oleh faktor emosi saja. Kesehatan: Makan di luar rumah sebaiknya dikurangi. Sebab, selain kesehatan kurang terjamin karena kebersihan makanan tersebut, juga merupakan pemborosan. Keuangan: Bisnis Anda tampak menunjukkan peningkatan, sehingga income menjadi terus bertambah. Asmara: Walau jauh di mata namun dekat di hati. Untuk itu komunikasi harus tetap dijaga walau dalam situasi bagaimanapun juga. Sagitarius Peruntungan: Berusahalah untuk lebih bisa tanggap dengan segala peluang yang tampak di sekitar Anda. Jangan biarkan satupun lolos dari genggaman Anda dengan catatan Anda harus terus proaktif dalam melakukan observasi dan terobosan-terobosan penting. Karier: Jangan takut menentang bahaya karena kemujuran tampak lebih mendukung dan menjanjikan. Kesehatan: Jika sudah bersin-bersin itu pertAnda kalau Anda akan kena flu. Untuk itu segera lakukan tindakan preventif agar flu bisa segera dihilangkan. Keuangan: Income yang masuk usahakan pengalokasiannya setepat mungkin janDiasuh Oleh gan sampai segalanya kacau hanya karena kurang Putri Wong Kam Fu hati-hati dalam membelanjakannya. Asmara: Berlaku Jangan asal percaya dengan omongan orang, agar 28 Agustus 3 September 2016 penyesalan tidak timbul dikemudian minggu.

Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

WEDA WAKYA

Pemujaan yang Digerogoti Ribuan Keinginan Tamilata prathamam yajñasadham visa arirahutamrñjasanam Urjah putram bharatam srpradanum deva agnim dhayaran-dravinodam

Redaktur Khusus WEDA

WAKYA

(Rg Veda 1.7.3.3)

Darmayasa “Wahai manusia, mari kita agung-agungkan Hyang Paramatma, yang merupakan Penyebab dari segala pekerjaan dan dari segala-galanya, yang memunculkan seluruh alam semesta dan segala pengetahuan serta merupakan Ayah dari semuanya, Beliaulah yang mengaruniai makanan dan minuman kepada kita semua. Janganlah meninggalkan Beliau untuk kemudian mengagungkan yang lain.” Mantra dari Rg Veda ini sangat jelas mengarahkan perhatian pemujaan hanya pada-Nya, hanya satu kepada-Nya, kepada Hyang Parama Kawi. Pemujaan dan pengagungan terhadap kekuatan di luar kemampuan manusia hendaknya diarahkan satu, hanya kepada Yang Tunggal dan tidak kepada yang lain selain Yang Tunggal. Ia merupakan kewajiban dan keharusan untuk dilakukan oleh insan-Nya. Tentu saja ketika insan tersebut mengakui dirinya ada yang menciptakan dan menjaga serta mengasihi setiap saat tanpa alasan apa pun, maka merupakan kewajiban baginya untuk mengagungkan Yang Tunggal, Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Akan tetapi, manusia mempunyai ribuan-ribuan dan jutaanjutaan keinginan. Manusia menginginkan ini dan itu yang tidak terbatas. Dari satu keinginan bermunculan ribuan jenis keinginan lain lagi: keinginan di atas keinginan. Satu keinginan melahirkan ribuan keinginan, tanpa batas, tanpa putus. Mengalir terus tanpa henti. Ada yang berupa riak-gelombang kecil memukau dan mengasyikkan, ada pula gelombang “tsunami” maha besar menakutkan dan menghanyutkan serta kemudian menghancurkan semua dan segala-galanya. Keinginan-keinginan yang banyak tidak terbatas tersebutlah yang pada akhirnya melahirkan pengingkaran pemujaan kepada Yang Tunggal, Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Orang-orang mulai mencari-cari “kekuatan-kekuatan” kecil yang memberikan tawaran penyelesaian masalah-masalah serta pemenuhan keinginan-keinginan

dalam waktu yang singkat “instant”. Mereka bersedia meninggalkan Dia Yang Tunggal, yang jelas-jelas sudah memberikan karunia-Nya yang tanpa alasan dan tanpa henti. Orang-orang mulai menikmati sentuhan-sentuhan “janji” kesenangan serta kenikmatan duniawi yang memukau, menyebabkan mereka “gelap mata” pada “agen-agen” kenikmatan kecil tersebut. Tujuan orang-orang bijaksana sudah pasti, hanya pada yang Satu. Kitab-kitab suci pun, para Maharesi pun, dan bahkan Tuhan Yang Maha Esa sendiri berulang kali menegaskan di dalam kitab-kitab suci bahwa Pengagungan itu Satu pada Yang Satu (Asthitah arodhum pravrttah sah jñani hi yasmat ‘aham eva bhagavan vasudevah na anyo’smi’ ityevam yuktatma samahitacittah san mameva param brahma gantavyam anuttamam gatim gantum pravrtta ityarthah). Shankaracharya dalam komentarnya terhadap Bhagavadgita 7.18 mengatakan: “Aku sesungguhnya Vasudeva Sendiri, Tuhan Sendiri, dan tidak ada yang lain.” Shankaracharya menegaskan bahwa manusia dengan pengetahuan spiritual puncak, sudah diatur di dalam jalan menuju kepada-Nya, ia lelap di dalam jalan pendakian menuju ke, menuju pada, hanya kepadaKu, Aku saja, kepada Brahman Tertinggi.” Penyembahan kepada Yang Tunggal memerlukan pengontrolan diri terhadap ribuan dan jutaan keinginan-keinginan yang tiada sebab dan tiada batas. Ketika orang mulai bisa mengontrol keingian-keinginan duniawinya, maka perlahanlahan mereka akan meningkatkan kesadarannya. Akibat meningkatnya kesadaran, maka mereka juga akan meningkatkan persembahyangan, pengagungan, dan praktikpraktik spiritualnya mengarah kepada tingkat satvika-guna, yaitu tingkat praktik spiritual yang berada di dalam naungan sifat kebaikan, kemuliaan, cinta kasih, dan terjauhkan dari praktik-praktik pemujaan

lelap pada yang selain Tuhan Yang Maha Tunggal. Bhagavad-gita 9.25 menyebutkan: “yanti deva-vrata devan, pitrn yanti pitr-vratah, bhutani yanti bhutejya, yanti madyajino’pi mam”- Mereka yang menyembah para Dewa, akan sampai pada para Dewa. Mereka yang menyembah leluhur, akan sampai pada leluhur. Mereka yang memuja roh-roh halus, akan sampai pada roh-roh tingkat rendahan. Dan, mereka yang memuja-Ku, pasti akan sampai kepada-Ku. Mereka yang berhasil mempertahankan pengagungan kepada Yang Tunggal hanyalah mereka yang sudah meningkatkan kesadarannya pada kesadaran tingkat satvika-guna. Mereka yang kesadarannya masih tetap berada pada tingkat kesadaran rajasika-guna (sifat kenafsuan, keinginan), dan tamasa-guna (kemalasan, kebodohan, kegelapan), maka mereka akan sangat mudah melorot turun menyembah “agen-agen” kenikmatan kecil yang menjanjikan segala jenis kenikmatan duniawi. Mereka lalu melupakan dan mengabaikan pengagungan kepada yang nadvitiyo’sti kascit, kepada yang Satu Tiada Dua. Mantra Rg Veda dan Sloka Bhagavadgita di atas tidak dapat diartikan menganjurkan orang agar menghentikan pemujaan kepada para Dewa, leluhur, dan lain-lain. Pemahamannya sama sekali tidak seperti itu. Pemujaan dan pengagungan kepada yang Satu dan Maha Pengasih sebagai yang satu-satunya yang Tunggal dengan penuh sraddha bhakti yang tulus ikhlas, akan dapat memenuhi ribuan dan jutaan keinginankeinginan. Tentu saja semua itu sesuai dengan karma dan tingkat penyerahan diri kepada-Nya. Sedangkan pemujaan kepada yang lain selain Tuhan Yang Maha Tunggal, akan memenuhi beberapa jenis keinginan-keinginan duniawi saja. Pemenuhan keinginan-keinginan duniawi tersebut sering dan selalu diikuti oleh ketidakpuasan serta munculnya berbagai keinginan lain lagi, yang bersifat sementara. Umat kebanyakan pada umumnya belum bisa mengagungkan Yang Tunggal dengan kemantapan batin yang ajeg serta tulus ikhlas. Keinginan-keinginan duniawi menggoyahkan sraddha bhakti pada Yang Tunggal seperti yang dicapai oleh orang-orang yang

tingkat kesadarannya sudah tinggi. Umat kebanyakan memang tetap mengadakan pemujaan dan pengagungan kepada yang lain, tidak untuk berhenti pada pemujaan tersebut melainkan untuk meningkatkan level pemujaannya menuju kepada Yang Satu, Yang Tertinggi. Bagi mereka yang menyembah selain Yang Satu, dapat tetap melakukannya namun dengan memperbaiki kesadarannya bahwa mereka melakukan pemujaan kepada “yang lain” tersebut tidak sebagai pemujaan terhadap Yang Tertinggi Yang Tunggal, melainkan sebagai langkah perlahan meningkatkan kesadarannya dari tingkat raja dan tama-guna (kenafsuan dan kegelapan) kepada tingkat satvaguna (kebaikan), dan itu pun akhirnya perlahan meningkat lagi menuju tingkat kesadaran maha mulia suddha-visuddha-satvaguna, dimana ia menyembah para Dewa, leluhur dan lain-lain di dalam Yang Tunggal. Sedangkan ketika kesadarannya belum mencapai tingkat tersebut, mereka menyembah Tuhan Yang Maha Tunggal di dalam para Dewa, di dalam leluhur dan lain-lain. Bhagavad-gita 7.21 menyebutkan: “yo yo yam yam.... tam eva vidadhamy aham” - Pada Dewa mana pun dan dalam wujud apa pun mereka ingin melakukan pemujaan dengan penuh keyakinan, maka Aku pasti memantapkan kepercayaannya kepada para Dewa (yang mereka sembah). Pada sloka 22 disebutkan: “sa taya sraddhaya... mayaiva vihitan hi tan” - Orang yang sudah dimantapkan keyakinannya (kepada para Dewa tersebut oleh-Ku), maka ia melakukan pemujaan sesuai dengan keinginannya, dan keinginan-keinginannya itu menjadi terpenuhi. Namun sesungguhnya Akulah yang mengabulkan keinginankeinginannya itu. Umat manusia tetap boleh memuja para Dewa dan leluhur sesuai dengan keyakinan mereka. Tuhan sendiri akan memantapkan keyakinan tersebut karena sejatinya segala pemenuhan keinginan manusia berasal dari Sang Hyang Parama Kawi. Sebutan Dewa sendiri berasal dari akar kata Sanskerta “dev” yang berarti sinar suci. Dewa adalah sinar suci Brahman. Dengan cara demikian, perlahan-lahan kesadaran orang akan ditingkatkan oleh praktik spiritualnya menuju pada tingkat kesadaran maha hening, dimana tidak ada lagi pertengkaran teori dan pengalaman, bebas dari penggerogotan ribuan-ribuan keinginan duniawi.

MIMBAR AGAMA

Bebas dengan Ikatan Redaktur Khusus MIMBAR

HINDU I Gusti Ketut Widana SEORANG filosof Perancis, Jean Jacques Rousseau menyatakan menurut kodratnya manusia itu sejak lahir adalah sama dan merdeka. Sedangkan ahli pikir Inggris, John Locke menegaskan manusia sejak lahir memiliki hak-hak pokok yang tak dapat dikurangi daripadanya. Hak itu adalah hak asasi yang meliputi hak hidup, hak milik dan hak kemerdekaan diri. Merdeka atau kemerdekaan adalah manifestasi absolut bagi sebuah pengakuan atas kebebasan setiap insan manusia yang bersumber langsung dari Tuhan. Secara asasi memang benar adanya, setiap manusia memiliki kemerdekaan atau kebebasan. Sebuah kebebasan yang membebaskan manusia dan juga bangsa dari segala bentuk penjajahan dengan berbagai bentuknya, baik secara fisik, psikologis, sosiologis, ekonomis ataupun politis. Akan tetapi, manusia tetaplah sosok insani yang terikat dengan suara hati nurani, lebih-lebih ketika berposisi sebagai makhluk Hyang Widhi yang bersosialisasi di tengah kehidupan ini sudah pasti diikat aneka norma dengan tuntunan nilainya. Tujuannya agar kekebasan manusia tidak berkembang menjadi kebablasan, bebas tanpa batas dan lepas dari tanggung jawab. Tidak salah jika sosiolog Durkheim mengatakan bahwa sebenarnya manusia itu adalah “makhluk malang”, terlalu banyak diikat dengan ikatan yang membuatnya terikat di sana-sini. Mulai dari terikat dengan kewajiban, patuh pada ikatan sosial (keluarga-masyarakat), dan tunduk pada bermacam aturan norma (kebiasaan, kesopanan, adat, hukum dan agama). Apakah berbagai bentuk ikatan tersebut dapat dikatago-

rikan sebagai bentuk penjajahan atas kebebasan manusia? Jawabannya, “tidak”. Kesemua bentuk ikatan itu justru untuk membebaskan manusia dari segala kemungkinan terjerumus pada kebebasan tanpa batas. Inilah yang disebut “bebas dengan ikatan”, bahwa manusia itu boleh saja menikmati hak kebebasannya, bahkan terus memperjuangkannya jika belum mendapatkan. Tetapi tetap dengan kewajiban mematuhi segala perangkat norma ataupun nilai yang mengikatnya. Betapapun manusia adalah makhluk mulia ciptaan Tuhan sekaligus sempurna dibanding makhluk lainnya. Setiap manusia yang ditakdirkan lahir, sejak awal memang telah dibekali kebebasan. Tetapi ketika manusia menyadari diri sebagai makhluk sosialistis religius, maka ia wajib patuh dan tunduk pada segala macam ikatan. Persoalannya, ketika manusia merasa memiliki hak bebas-merdeka, acapkali bermuara pada sikap dan perilaku berkebebasan tanpa batas, berusaha (bahkan dengan segala cara) melepaskan diri dari segala aturan yang mengikatnya. Lahirlah tindakan atau perbuatan yang serba bebas di segala lini kehidupan, yang intinya berakar dari keinginan bebas menikmati kehidupan duniawi berbasis materi dan hedoni. Kitab Bhagawadgita, XVI. 12 telah mengisyaratkan: “Dibelenggu oleh beratus-ratus ikatan harapan, menyerahkan diri kepada nafsu dan kemarahan yang mereka miliki, mereka berusaha mengumpulkan kekayaan demi kepuasan birahi (duniawi) dengan jalan tidak dihalalkan”. Ibarat seekor lebah yang sedang menikamti madu, pada awalnya hanya satu kaki depannya menjadi pijakan, begitu dirasakan bertambah nikmat, satu demi satu kaki-kakinya menjejaki madu hingga akhirnya semua bagian tubuhnya melekat berlumuran madu, tanpa bisa melepaskan diri sampai akhirnya sang lebah harus mati dalam kenikmatan. Analogi lebah ini mengingatkan umat bahwa setiap kebebasan yang dibiarkan terlepas tanpa

ikatan, sangat berisiko menjerumuskan. Oleh karena itu, sebagaimana padanan kata agama dalam bahasa Inggris yang disebut “religion” mengandung arti setiap umat wajib “mengikatkan” diri kembali pada ikatan-ikatan yang tidak hanya menuntun tetapi sekaligus menyelamatkan. Cara sederhananya adalah dengan mengejawantahkan kehidupan agamais menjadi lebih humanis, atau menerjemahkan ibadah beragama yang ritual sentris, menjadi lebih sosialistis, sehingga tercipta kehidupan yang selalu mensejahtera-bahagiakan. Tidak saja dalam rangka mewujudkan hubungan bhakti kehadapan Hyang Widhi, tetapi

lebih penting lagi dalam kaitan membangun hubungan sinergis dengan sesama manusia, dan merawat hubungan harmonis dengan alam lingkungan, yang tanpa disadari telah dengan bebas memberi kebebasan memanfaatkan sumber daya hayatinya. Pendek kata, kebebasan yang dianugrahkan Tuhan untuk manusia, sepatutnya melahirkan kebebasan yang bertanggung jawab, sekalaniskala hingga akhirnya mencapai obsesi kebebasan hakiki dan tertinggi. Bebas-lepas dari segala macam ikatan duniawimateri dan memuncak pada “kalepasan”, terbebasnya “sang diri” dari ikatan lahir-hidupmati, kembali manunggalbersatu pada Sang Pencipta.

PERMATA HATI Untuk pembaca Bali Post Mingguan (BPM), kami membuka rubrik baru ‘’Permata Hati”. Rubrik ini mengangkat si buah hati yang baru lahir, yang berulang tahun atau akan berulang tahun. Juga pasangan yang menikah di minggu tersebut atau yang merayakan ulang tahun pernikahan. Kirim foto menarik dan tulis data lengkap identitas diri, orang tua serta komentar singkat. Semua data dikirim lewat email redaksibalipost@yahoo.com dengan kode Permata Hati. Bisa juga naskah dan foto dikirim ke Sekretariat Redaksi Bali Post. Jl. Kepundung 67 A Denpasar telp. (0361) 225764. (Redaksi)

Putu Nia Permana Sari, Gede Roy Wiradika dan Kadek Virna Astari melaksanakan upacara potong gigi pada hari Selasa (16/8) lalu. Upacara dihadiri sanak keluarga, kerabat dan teman-teman di Jalan Gunung Krakatau No. II b Denpasar.


Redité Kliwon, 28 Agustus 2016

Bali L E M B A R

Bencingah

7

B A S A

B A L I

Tata-titi Pananggal Bali

Dasar Ngamanggehang Rerainan Agama Hindu Ketut Bangbang Sparsadnyana

Kataminin Saking Alit SAKADI baos anaké lingsir, sekancan parikrama kahuripan sané kamargiang wantah sangkaning karma wasana ring kahuripan sané dumunan. Dadosné sapunapi ja kawéntenanipun patut kamargiang tur kalaksanayang antuk manah lascarya. Yéning katelisik malih ring kahanan utawi indik ngamargiang pakaryan, sios saking karma wasana sinah wénten makekalih parindikan sané ngawinang pakaryan punika kamargiang olih kramané. Inggih punika sangkaning pariseleh kramané soangsoang taler sangkaning kapatutan utawi tetamian panglingsir sané patut kalaksanayang tur nénten prasida katulak. Asapunika sakadi sané kabaosang Ketut Bangbang Sparsadnyana. Dané sané embas ring Celuk, 10 Agustus 1967 puniki maosang ngamargiang tetamian pinaka panyusunan kalénder Bali saking ajinnyané, Guru Bangbang Gde Wisma wawu saking makudang-kudang bulan sané wawu lintang duaning ajinnyané sampun lingsir tur ketah sungkan. Yadiastun durung sué, tata-titi taler wilangan dasar utamannyané indik wilangan parikrama Purnama-Tilem sampun kaajahang tur kataminin saking alm. pekak dané saking dané kantun alit inggih punika saking wawu matuuh pitung warsa. Malih kabaosang yadiastun sampun kasukserahang, nanging ajin dané sampun polih nyusun kalénder Bali nyantos ring warsa 2100 rumasuk indik kaketékan parikrama Purnama-Tilem ipun. Punika mawinan kantos mangkin dané wantah nuut punika taler sarahina nuréksayang sinambi nagingin kakirangan-kakirangan ipun. “Yadiastun sampun kapaurukang saking kantun alit olih alm. pekak nanging tiang tetep nganggén buku utawi nyingakin cakepan napkala nagingin déwasa-déwasa ipun. Punika mangda jaktijakti nénten wénten kapanggih kaiwangan sané prasida ngawinang rusak kaketekan déwasa ring sajeroning warsa inucap,” baos cucu saking alm. Wayan Bangbang Gede Geriya puniki makenyem. Dané sané taler dados Guide Freelance puniki malih maosang, pakaryan nyusun kalénder punika wantah pakaryan sané patut kamargiang sangkaning nganutin mood utawi nénten dados kadropon. Yéning sampun becik moodnyané, apisanan prasida muputang nyusun kalénder kantos 15 warsa, sakéwanten yéning nénten becik sinah prasida mapangkedan kantos 6. Dané malih maosang, sujatiné nénten wénten sané méweh. Ri kala ngamargiang pakaryan puniki sajabaning patut alon-alon taler urati pisan, utamanipun tatkala nyelehin miwah nyingakin dewasa, sasih, taler nampih sasih tatkala kapanggih pangeremin bintang. Katakénin indik cecihnan saking soangsoang kalénder Baliné, sujatiné makasami nénten mabinayan, ngawigunayang dasar sastra sané pateh. Sakéwanten wénten cihnannyané soang-soang, minakadi mabinayan indik akéh Kala becik miwah Kala kaon sané kasinahang duaning soroh antuk soang-soang kaketekan akéhnyane kirang langkung satak. Yéning kalénder Bali sané katamin dané madué cecihnan akéhan nyinahang utawi nagingin indik daging sastra Wariga Gemet minakadi ngeninin indik patemon dina taler becik-kaonnyané. “Tiang sujatiné meled pisan nagingin malih daging sastra agama ring ungkur kalénder. Mangdané sayan jangkep tur prasida nincapang pabuatipun ring krama Hindu-Bali,” aptin dané sané meneng ring Br. Cemenggaon, Celuk, Sukawati, Gianyar. (wan)

(42)

RING kahuripan krama Bali wénten makudang-kudang piranti taler parindikan sané prasida manados cihna yéning sang sané madué paumahan inucap wantah krama HinduBali. Minakadi kawéntenan pelangkiran taler palinggih miwah kawéntenan soroh banten utawi canang sané sampun katur utawi sané durung wusan kakaryanin. Satios punika, wénten taler piranti utawi parindikan sané ketah nénten kacingakin sakéwanten krama Bali setata ngutsahayang mangda prasida nuénang piranti inucap. Sinalih tunggil piranti punika wantah kalénder Bali. Sampun prasida kapastikayang yéning kawéntenan kalénder Bali majanten kapanggih ring soang-soang paumahan krama Bali, yadiastun kawéntenanipun kasandingang sareng kalénder siosan utawi kalénder nasional. Indiké punika satmaka nugesang yéning kawigunan kalénder Bali mabuat pisan ring kahuripan krama Baliné. Sakadi sané kabaosang Ketut Bangbang Sparsadnyana, panyusun kalénder Bali sané namiang pakaryan inucap saking bapaknyané. Dané maosang, kalénder Bali wantah kalénder sané nénten nyinahang indik pananggalan taler hari nasional kémanten, nanging taler nganinin parikrama Candra manados Purnama miwah Tilem, indik rerainan minakadi Buda Kliwon, Tumpek, Buda Cemeng, Anggara Kasih kantos maosang indik wuku. “Sakancan parindikané I wau

wantah parindikan sané mabuat pisan saking kalénder Bali. Wuku miwah rerainan minakadi Kajeng Kliwon taler Purnama pinaka rerainan sané ketah kanggén dasar olih krama Bali ngamargiang patoyan utawi piodalan miwah ngamargiang upacara yadnya sané siosan,” baos Ketut Bangbang. Kabaosang malih, ring kalénder Bali taler kadagingin antuk Ingkel utawi tata-titi utawi tetangar indik pakaryan utawi parikrama sané nénten dados kamargiang ring soangsoang minggu utawi awukuné. Minakadi yéning wénten awuku sané madaging antuk Ingkel Wong sinah awukuné punika kirang becik kanggén ngamargiang upacara Manusa Yadnya. Yéning kasurat antuk Sato sinah awukuné punika kirang becik kanggén ngawitin ngupapira beburon mabatis pat minakadi banténg miwah bawi. Yéning kasurat Mina sinah kirang becik ngawit ngupapira sekancan soroh ulam. Yéning Manuk kirang becik kanggén ngawitin ngupapira soroh unggas utawi buron mabatis kalih. Yéning Ingkel Taru, kirang becik kanggén ngawitin nandur taru-taruan asapunika taler ngebah taru. Yéning Buku, awuku utawi aminggu kirang becik kanggén ngawit nandur miwah ngebah taru sané mabuku-buku minakadi tiing miwah tebu. Katakénin indik sastra utawi cakepan sané kanggén dasar makarya kalénder Bali, dané maosang makasami panyusun kalénder akéhan ngawigu-

nayang daging sastra minakadi Sundari Gama, Sundari Bungkah, Sundari Ning miwah Sarining Sundari Terus tatkala jagi ngarereh indik padéwasan. Wénten taler Wariga Krimping sané dagingipun nganinin indik ngebah taler ngrereh tarutaruan. Wénten malih sané ngawigunayang Wariga Gemet

miwah sané siosan. “Sios rerainan miwah padewasan, ring makéh kalénder Bali taler kadagingin antuk palelintangan, carcan parisolah jadma manut saking dina embas sané kadasarin antuk patemon Saptawara miwah Pancawara, minakadi Buda Pon, Saniscara Umanis mi-

wah sané siosan. Yadiastun pinaka “ramalan” nanging sané ketah panggihin tiang napi sané munggah ring palelintangan prasida nyantos kirang langkung 75 % patut tatkala kaadungang sareng parisolah jadmané,” asapunika Ketut Bangbang Sparsadnyana nartayang.(wan)

BPM/wan

BALI – Ring sajeroning kalénder Bali, majanten kadartayang indik padéwasan, rerainan taler indik Purnama-Tilem. Punika mawinan kawéntenan kalénder inucap majanten jagi kapanggih ring sajeroning paumahan krama Hindu-Bali

Nampih Sasih

Kapanggih Rauh Pangeremin Bintang

PALELINTANGAN – Sios saking nartayang indik pananggalan miwah rerainan, ring kalender Bali taler ketah kapanggih palelintangan, carcan parisolah jadma nganutin saking dina embasnyané inggih punika patemon Pancawara kalawan Saptawara.

roning warsa, kahanan sasih majanten mabinayan sané taler ngawinang wilangan pangrauh Purnama miwah Tilem mabinayan saking sané sampun ketah kauningin krama. Punika ketah kapanggih ring sajeroning pananggalan taler kahuripan krama Bali. Indiké punika kabaosang olih Ketut Bangbang Sparsadnyana sangkaning kawéntenan nampih sasih utawi sasih sané kawilangin ping kalih ring sajeroning araina sané kasinahang antuk kawéntenan angka alit sané nyinahang pananggalan sasih kekalih ring beten angka ageng sané nyinahang pananggalan dinannyané. Yéning nénten wénten nampih sasih sakadi punika sinah kawéntenan pananggalan sasih ring soang-soang pananggalan dina punika jagi kapanggih asiki kémanten. Nampih sasih punika medal wantah raina Anggara ring wuku-wuku sané ngranjing ring Pangeremin Bintang. Carcannyané inggih punika wuku Eka Sungsang, Dwi Tambir, Tri Klawu, Catur Wariga, Panca Pahang, Sad Bala, Sapta Kulantir, Asta Langkir, Nawa Uye miwah Dasa Sinta. “Medalnyané nénten nganutin saking wilangan wuku biasa, nanging nganutin saking

wilangan Pangeremin Bintang, kakawitin saking Sungsang pinaka Eka utawi wuku kapertama saking Pangeremin Bintang tur kalanturang antuk Tambir pinaka wuku kaping kalih utawi Dwi. Asapunika salanturnyané kantos wuku Sinta pinaka Dasa utawi panguntat saking Pangeremin Bintang. Wus punika malih kajumunin saking Eka Sungsang,” asapunika Ketut Bangbang maosang. Malih kabaosang, sangkaning nampih sasih wewilangan Purnama ngrereh Tilem utawi Tilem ngrereh Purnama prasida magentos dados patbelas raina kalénder, sakéwanten yéning tan pawéntenan nampih sasih inucap sinah wilanganipun limolas raina kalénder sakadi sané ketah kauningin. Purnama punika rauh ring panengah sasih, Tilem rauh ring panguntat sasih sané ngawinang kawastanin panyilur sasih. Araina wus Purnama jagi ngrereh Tilem kawastanin Panglong apisan sané ring makéh kalénder Bali jagi kasurat antuk P.1 kasarengin antuk sasihipun kantos ring P.14 tur bénjangnyané sampun dados Tilem. Araina wus Tilem jagi ngrereh Purnama kawastanin Pananggal apisan sané ring makéh kalénder Bali kasurat antuk Tg. 1 kantos

Tg. 14 tur benjangnyané sampun ngranjing Purnama. Nampih sasih taler ngiusang wilangan sasih nyabran tigang warsa apisan. Yéning ring warsa kapertama miwah kaping kalih soang-soang sasih inucap akéhnyané tigang dasa dina kalénder utawi sanga likur dina kalénder napkala rauh Pangeremin Bintang. Risampunné ngranjing ring warsa katiga sinah sasih Desta (Jiyeshta) utawi sasih Sadha jagi medal ping kalih maduluran tur akéhipun dados nem dasa dina kalénder manawita rauh utawi kapanggih dina Pangeremin Bintang. Sakadi ring warsa 2016 puniki, sasih Jiyeshta rauh ping kalih maduluran kantos akéhipun nem dasa dina inggih punika saking ngawit bulan April kantos Juni sané ngawinang Purnama-Tilem tatkala punika rauh ping kalih ring sasih inucap. “Yadiastun awarsané medal sasih ping roras, nanging tigang warsané rauh tigang dasa pitu sasih, nénten tigang dasa nem. Duaning punika jagi kasarengin malih asiki antuk sasih Malamasa utawi sasih kaping tiga welas inggih punika sasih sané medalipun ping kalih. Sasih inucap wantah sasih Desta (Jiyeshta) utawi Sadha,” dané nlatarang.(wan)

“NÉNTEN wénten napi Bu, Gég Citra mula baud seneng ngawé anak bingung. Titiang taler itunian kagiat kadén yakti raganné beling. Mawinan matakén sira ané iseng nandurin? Malah pasautné kocap bibit titiangé sané katanem daweg opname ring Amlapura sampun tumbuh tan sida nambengin.Wau titiang ngerti punika donor darahé,” aturé Ngurah Jelada. “Oooh kéto. Aji ajak Ibun Ceningé masi tusing ngerti. Dumadak tanemané idup nganti mabunga mabuah apang nyidaang ajak makejang iraga ngalapin,” baosné Gusti Gedé Karang. “Araah... nééh, ten dadi makejang bingung Beli Ngurah. Sangkala énggalin menék rerehang tiang buah poh ajak nyambuér putihé,” Ayu Citra ngaturin rakanné menék pohé. “Kénten sampun okan Mboké biu lan jajané satuh, guyu lan sajané patuh,” baosné Gusti Biang Sisu malih malinggih di balé daja. Sareng tiga okané mangkin iju ngalap poh sareng nyambuér. Sedeng becika wénten woh pohé sané

raganné Luh Adé?” Budiana nesekang matakén. “Suba malunan muspa Dé. Raganné ngamaluin mantuk sawiréh ada sametonné uli Selat lakar singgah ka jeronné. Raga masih jani malunan pamit, ené Beliné ada perlu lakar ka Denpasar,” pasaurné Luh Suwarni. “Enu ada galah mani ngorta pang liu jumah.” “Ooh, yén sametonné uli Selat pasti Gusti Ayu Citra ané taén opname di Rumah Sakit Amlapura tongosina tekén Ngurah Jelada. Raganné langsing lanjar, manis, pipinné sujénan. Kalian pasti naksir kan? Nanging ati-ati ada palang pintunné Gusti Ngurah Jelada Pringadhi,” raosné Madé Budiana lan Madé Sudiari makenyem nolih Luh Adé Suwarni. “Sajan Dé Budi sametonné Ngurah Jelada mula jegég-jegég. Tingalin ja Gusti Ayu Swandéwi, rainné Ayu Jeladi, kéto masih Ngurah Jelada kadén bagus, kalem, dueg, lan soméh kanti liu daané kasemsem buduh paling,” Ketut Sulasih macempléng kenyem kecut nyautin saha nyledétin Madé

Sudiari sareng Luh Suwarni sané negak saling orinin. “Lamun kéto jalan pada mapamit malu, pamedeké sayan ramé,” baosné Lanang Geria. Samian timpalné mangkin medal tedun kauh ngrereh mobil lan motorné soang-soang. Luh Suwarni mrasa omonganné Budiana setata ngoda manesin, mangda ipun cemburu, sakit ati. Suryané ngentér nyunarin Pura Besakihé sané kanten mataksu mawibawa mahias pénjor, lelonték, pajeng warna-warni, maider-ider sarwa mulé ngrényéb pakenyahnyah. Asep dupa lan pasepan menyan, astanggi, majagau ngesyurang ambu wangi nglikub wewidangan purané. Iwang ké yéning ring genahé sané suci puniki taler metu seminsemin pitresnané pingit lan suci nirmala, pantaraning truna-truniné sané sami ngagem payasan sarwa adhi? Puja-puji katur ring Hyang Maha Kasih sané micayang kasih kumasih, tentrem lan shanti.

Maosang aminggu jaga ulangan umum kenaikan kelas, Ngurah Jelada sibuk ring kamar mabresih, nyapu, lan ngepél. Ring magic jaré ajengané sampun rateng, kantun ngarya toya anget jaga anggén nyeduh susu. Darang ajenganné taler sampun puput, taluh mata sapi, jangan kangkung matumis, sambel goréng témpé, lan abon ayam a stoplés kiriman ibunné. Ring pintuné wénten anak ngetok sakadi ritme SOS, toktoktok ping tiga. Raganné sampun apal ring kodané punika, nanging..... masak Arniek teka? Kayunné tan percaya yéning tan kapireng wénten suara nganjali “OM Swastyastu” wau raris raganné ngelisang nyagjagin. “OM Swastyastu,” Ngurah Jelada ngumbah tanganné ngampakang pintuné. “Oooh Arniek, pidan teka? Dadi tan pakabar jag nyelonong rasa cara ngipi,” sapané Ngurah Jelada saha nyalamin tamiunné. Dasdasan magelut yén ten wénten timpalné Arniek nyarengin.

SAKADI sané sampun kauningin, kalénder Bali wantah tata-titi wewilangan pananggalan sané taler kadagingin antuk gatra indik rerainan suci Hindu miwah wewilangan parikrama

“bulan penuh” miwah “bulan mati” sané ketah kasengguh Purnama-Tilem. Wewilangan Candra utawi bulan majanten jagi nganutin kahanan utawi kawéntenan sasih. Ring saje-

BPM/wan

mengkel wayah polih limang siki. Ayu Jeladi ngelisang nguyegang tasik sera tabia gendis. Pamuputné sami durus ngrujak. Lintang tengai tepet Gusti Gedé Karang sakulawarga mapamit saking Jero Pringalot. Gusti Ayu Citra Andini busan-busan tolah-tolih. Marawatrawat Gusti Ngurah Jelada makenyem manis. Kawéntenan jeroné, rasan ajeng-ajengané, tetamanan lan karang kitri sami neduhin. Kadi rasa wau akijapan montoré sagét rauh ring jeronné. Mawinan marma kayunné tedun. “Ooh Beli Ngurah Jelada yukti ké rah Beli Ngurahé tumbuh dados panyambung tresnané?” Sios malih ring Besakih. Para pamedeké sayan tengai sayan sesek supenuh tangkil. Lanang Geria, Ayu Swandéwi, Luh Suwarni, Putu Galang lan Ketut Sulasih ngantos ring balé gongé. Sagét rauh Madé Budiana majatéran sareng Madé Sudiari paling paliatné. “Kija Ngurah Jelada tumbén ngadat? Biasanné yén muspa raganné paling simalu sawiréh Padharmanné paling paeka. Kija

~**@&@**~

(Masambung)


Upacara

8 Bebantenan Suksman Banten Kumara

Niyasa Tattwa Agama Hindu Nuntun Jatma Saking Alit SAKANTUN tali puser sang raré wénten utawi durung lepas, manut pamargin agama Hindu ring Bali sané sampun kasungkemin, tali puser punika sané ngraksa sang raré. Punika mawinan sang reraman makarya genah nglinggihang Bhatara Kumara. Sané sampun kaloktah, reraman sang raré inucap pacang makarya pelangkiran utawi dulang kagenahang ring luwan uatwi ring duur sang raré sirep. Ring pelangkirané punika waluya niyasa stana Ida Bhatara Kumara. Sang Hyang Kumara punika tan ja siosan pinaka prabhawan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sané nyinarin sang raré. Cutetné Bhatara Kumara punika pinaka déwan anak raré. Ring pelangkiran stana Bhatara Kumara punika kaunggahang banten kumara minakadi baas, jinah bolong satakan, taluh manuk utawi daksina, banten ajuman putih kuning, taluh dadar, waluya rakan banten kanggén kekiping pisang emas, nyanyah geti-geti, gula barak, canang lenga wangi burat wangi madaging miik-miikan, kadagingin taler batu bulitan cenik, buah salak, keséla bun, keladi, miwah kunyit. Manut Lontar Yadnya Prakerti, banten punika waluya niyasa i manusa sané mayadnya, niyasa kawisésan Ida Bhatara miwah niyasa Bhuwana Agung. Minakadi banten ajuman putih kuning. Banten puniki waluya niyasa pangapti miwah utsaha mangda urip sang raré riwekasnyané prasida ngruruh urip patut miwah jujur ngardi kalanduhan artha brana. Minakadi saput poléng, putih selem. Putih punika waluya niyasa kasucian, kapatutan, miwah kejujuran. Selem punika niyasa kalanduhan, antuk prabhawa Bhatara Wisnu. Dadosné kasuican punika kanggén nangun kalanduhan utawi kasukertan. Ring banten kumara taler madaging taluh manuk, taluh siap muani utawi daksina. Punika niyasa Bhuwana Agung. Rakan banten kumarané nganggén kekiping biu emas. Rakan banten punika waluya widyadara-widyadari sané masuksma mangda sang raré saking alit sampun midabdabin kahuripannyané antuk ngruruh kabisan utawi jnyana. Jnyana sané karuruh kanggén nangun urip landuh sané kaniyasayang antuk kekiping. Madué tutur anggén nabdabin urip ngruruh nyama braya miwah nabdabin urip kadyatmikan kaniyasayang antuk pisang emas. Yéning cutetang, saking alit sang raré mangda sampun nabdabang urip ngruruh kauningan utawi pangweruh. Manut Sarasamuscaya 236 kasengguh metu sangking Sang Hyang Weda kalih Widya inggih punika Adyatmika Widya miwah Lokaika Widya. Adyatmika Widya punika waluya panuntun ngruruh urip trepti sekala miwah trepti niskala. Unteng banten kumara punika waluya niyasa tattwa agama Hindu sané jaga kanggén nuntun sang raré saking alit kantos kawekas setata mapidabdab antuk tutur sraddha bhakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa miwah nabdabin kahuripan antuk Adyatmika Widya miwah Lokaika Widya mangda urip rahayu sekala niskala.

(Ida Rsi Bhagawan Smerthi Kusuma Wijaya Sebali)

Redité Kliwon, 28 Agustus 2016

Sunari, Pinaka Cihna Kamargiang Karya Agung SAJERONING upacara sané kalaksanayang olih Umat Hindu ring Bali taler kamiletin olih panganggén sakatah sarana sané nyokong sinunggil karya utawi upacara. Akéh sarana sané kanggén, rumasuk wénten sarana sané maguna pinaka simbol utawi ciri yéning ring sinunggil genah sedek kalaksanayang upacara. Saking sakatah sarana sané kanggén, sunari rumasuk sinunggilnyané. Minab atenga langkungan krama kantun matakén-takén utawi wantah nyingak sawates wénten sunari ring wewidangan upacara kalaksanayang, nanging akéh sané during tatas nguratiang. Sunari, manut Gusti Lanang Rai sané taler penanggungjawab Pura Agung Jagatnatha, wantah bambu pamekas tiing gading sané kabolongin becik, gumanti pacing prasida ngamedalang suara ri kala kaupin angin. Dané ngwewehin, genah masang sunari punika kapilihin genah sané tegeh utawi sering kapasang ring taru-taru tegeh ring wewidangan pura. “Tetujonnyané mangda prasida ngamedalang suara sané becik. Samian sunari sané kapasang kapatutang ngamedalang suara. Sunari pinaka cihna utawi simbol kearifan palemahan sareng manusa,” baosnyané wawu puniki Nglantur dané maosang, Sunari wantah kawigunayang ri kala Umat Hindu Bali ngamargiang upacara agung, minakadi ngenteg linggih, padudusan agung, ngroras miwah sané tiosan. Sakadi ring Pura Jagatnatha ri kala kamargiang upacara agung kapasang sunari ngempat utawi nyatur, kapasang ring bucu-bucu. “Sunari kapasang nyatur, ring bucu kaja kangin, kaja kauh, kelod kangin, miwah kelod kauh,” baosnyané. Siosan punika, manut sinunggil mangku dadia Jro Mangku Pudja, sunari kakaryanin olih krama sané madué ketrampilan sané uning indik seluk beluk sunari gumanti sunari sané kakaryanin prasida ngamedalang suara. Biasannyané sunari kakaryanin nganggén tiing. Sunari punika kakaryanin tegeh-tegeh sakadi pénjor, tur ring muncuknyané kadagingin benda sané prasida kaupin olih angin. Siosan punika taler madaging duk sané kawentuk marupa bojog. Ri kala sunari kapasang kabaos nanceb sunari. Antuk wéntennyané suara sunari, manut Jro Mangku kaaptiang karya agung sané kamargiang prasida mamargi antar. Siosan punika dané ngwewehin, antuk kawéntenan simbol sunari jangkep antuk suaran sunari taler pinaka ciri majeng krama yéning ring sinunggil pura wénten kamargiang karya agung. “Sunari taler nyiriang pamargin karya agung,” baos Jro Mangku negesang. (yan)

BPM/yan

SUNARI-Kawéntenan sunari sajeroning karya agung sané kamargiang olih krama banget kabuatang. Sajabaning pinaka simbol, sunari taler maguna pinaka ciri.

Padharman, Nemuang Krama Sareng Lelintihannyané KRAMA Bali sujatiné madué tatacara ngiket panyamabrayannyané. Indiké punika kategesang olih Pura Dadia lan Pura Padharman. Akéh kramané sesampun makudangkudang keturunan lepas nénten uning ring dija witnyané sira lelintihannyané. Akéh taler krama sané kapanesan, duaning tan uning Pura Kawitannyané. Duaning kapanesan, akéh krama matakén sareng anak sané wikan. Akéh sampun sané asapunika kawéntenannyané. Pamekas ring Bali lelintihan pateh sareng klan (ring Jepang). Nanging klan, ring Bali kacihnayang antuk Pura Kawitan, sané tetujonnyané nemuang krama sané akilitan. “Kawéntenan pura sujatiné manut sareng fungsi-nyané, dasarnyané yakti pura pinaka genah nyumbah Ida Hyang Widhi Wasa. Nanging ring hakékat-nyané sujatiné kagunan pura wénten makudangkudang. Wénten pura kanggén nyumbah Ida Hyang Widhi manten, taler wénten pura genah nyumbah pitara (roh suci leluhur),” sapunika kabaosang olih pamangku Pura Dadia Kawi, Jro Mangku Puja ring Désa Bakabiya, Karangasem. Dané sané wantah pangling-

sir ring pura dadianipun nyihnayang, Pura Dadia/Kawitan ngicén iraga selah matemu saling uningin sareng kelompok tunggal wit iraga, sesampun kabanda antuk pakaryan ring pasarainan. Katah nilai sosial sané kantun mautsaha kakukuhang ring Pura Dadia, umpaminipun budaya ngayah inggian punika lanang yadian istri ri kala pacang odalan. Budaya gotong royong ri kala pacang ngwangun wangunan. Dané Jro Mangku malih negesang, Pura Kawitan pinaka genah krama mapupul saking asiki lelintihan leluhur, wit (asal) sering kabaos Tunggal Dadia, punika awinan pura puniki taler kabaos Pura Kawitan. Yadiastun kaangkenin genah ngastawa pitara, nanging ring Pura Dadia taler kaastawa Ida Hyang Widhi Wasa. Pura Dadia kaemong olih sakatah kepala kulawarga sané kaiket antuk darah keturunan utawi mawit saking treh sané pateh. Sujatiné akéh paplajahan sané prasida kaambil saking lelintihan puniki. “Sujatiné iraga kaajahin nénten ngutamayang materi, nanging mangda lascarya ngayah. Saking Pura Dadia iraga kaajahin, kapaksa éling ring manyama dadia yadiastun meneng doh, tunggal

dadia kawitan sané nyikiang/ ngiket,” baosnyané. Dané taler ngwewehin, ring asiki Pura Dadia saking wilangan anggotannyané mangkin sampun limbak pisan, saking bobot wangunan mangkin sampun kabaos becik. Punika artiné tingkat kahuripan krama Bali sampun becik. Spirit sosial puniki sané patut kalimbakang sajeroning kahuripan ring pakraman, katerapang ring samian widang gumanti napi sané kaaptiang labda karya. Yéning ring kawitan iraga sampun ingkup bulangkep medal ka pakraman iraga nénten pacang kuciwa. Saking spirit sosial pinih alit, nuju spirit sosial sané limbak, ngicén sokongan majeng désa, wewidangan mangda sayan becik. Yadiastun ring Pura Kawitan ketah kalaksanayang odalan wantah pinih gelis nganem bulan apisan, indiké inucap kategesin sampun becik kanggén utsaha nyikiang pamineh. “Kakawitin saking Pura Kawitan pinih alit. Ketah treh kawitan punika madué padharman, sané kapuserang ring Pura Agung Besakih. irika iraga pacang matemu, prasida uning sira kilitan iraga saking sajebag Bali,” sapunika ucapnyané ngwewehin. (uma)

Satua

Olih : Madé Taro

I Cecek Cenik RISEDEK dina anu I Kijang ngadaang paruman di balé banjar tengahing alasé. Dugas parumé ento, ané kaparumang tuah indik gotong royong. Sedek I Kijang iteh macak timpal-timpalé ané teka parum, nadak sara tendasné I Kijang cepolin tain cecek. Marasa ada ané ngulungin, I Kijang matolihan marep menék, tingalina ada cecek cenik ané nlepék majaln di langit-langit balé banjaré. “Ih cangkah cumangkah Cai Cecek!” keto I Kijang ngelur. “Uli pidan Cai bani negak di duur Icange? Waké kelian banjar, tawang Cai? Konden taén ada beburon ané cenik lan nista buka Cai bani negak di duur Wakéné!” Ditu lantas I Cecek Cenik ngejer kabuyutan. Ia marasa tekén awakné pelih. “Ampurayang Kijang, Icang tusing nyelapang kadi buka kéto. Cek, cek, cek...!” kéto ia masuara sambilanga mengkeb di bucun balé banjaré. I Kijang mapi-mapi tusing ningeh munyiné I Cecek ngidih pelih. I Cecek enu masih ngejer marasa takut. I Kijang buin memedih, apabuin ia marasa gaénanga jelék tekén I Cecek di aep anaké ramé. “Awak cenik mapi-mapi gedé!” Kéto I Kijang nengkik. “Cai dot mati prajani sangkala Cai wanén sajan meju di tendas Wakéné? Pesuang makejang sorohan Caine, rebut Waké yén Cai mula bani!” Ningeh munyiné I Kijang buka kéto, I Cecek Cenik marasa pedih. Ia nengok matanné nelik barak sambilanga mamunyi, “Ih Cai Kijang! Cek, cek, cek...! Mula saja Icang nyelapang meju di tendas Cainé, Icang dot ngentenin Cai. Nyén ngamaang Cai nganggon balé banjaré ené? Sing tawang Cai balé banjaré ené tuah umah Icangé?” “Ha, ha, ha....!” Kéto I Kijang kedék ngwalék. “Ih Iba da galakgalak di guungan, da mamunyi uli ditu dogén. Yén sajan Cai wanén, mai tuun! Apa dotang Cai uling Waké? Masiat? Mabecat-becatan malaib? Apa jekjek Icang tenas Cainé kanti pédél?” “Icang nawang awak Cai gedénan tur sitengan,” kéto I Cecek Cenik masaut. “Cai pasti menang. Sakewala diastun awak Icangé cenikan, yén suba ngajiang raga, kaisinin munyin Cainé ento jani!” “Ha, ha, ha..! artiné Cai demen kal lek diep anaké liu? Yih lan, pang sing Cai mati lan jani iraga macentok malaib. Uli tiang balé banjaré ené kanti di punyan kayu ané gedé ento,” kéto I Kijang mamunyi sambilanga matujuhan ka punyan kayu ané paek uli balé banjaré. (Masambung)

Rédaksi nerima reriptan marupa artikel (paling akéh 3500 huruf), satua ringkes (paling akéh 6000 huruf), puisi, geguritan miwah sané siosan. Reriptan mangda kakirim ring alamat: Bali Post Jalan Kepundung 67 A Dénpasar. Taler dados ring email: bali_orti@balipost.co.id.


MINGGU KLIWON, 28 AGUSTUS 2016

9

Mou Tutup Peluaangg Peluang Schweinsteiger Schw Schwein wei we wei einstei inste steii HAL 10

Cedera Pergelangan Tangan Hantui Djokovic New York – Misi mempertahankan titel juara di AS Terbuka 2016 diragukan. Pasalnya, Djokovic mengakui pergelangan tangan kirinya belum sepenuhnya pulih. Cedera itu pula yang memaksa petenis nomor satu dunia ini melewatkan turnamen Cincinnati Terbuka, pekan lalu. Selain masalah fisik, kondisi psikis Djokovic juga dispekulasikan. Djokovic baru saja menderita beberapa kekalahan terburuk dalam kariernya. Dimulai saat tersingkir di babak ketiga Wimbledon oleh Sam Querrey, lalu terdepan di babak pertama Olimpiade Rio de Janiero. “Pergelangan tangannya tidak dalam kondisi ideal dalam empat setengah pekan terakhir,” ujar petenis Serbia itu, Sabtu (27/8) kemarin. “Tapi aku melakukan segala yang kubisa dengan tim medis untuk memastikan bahwa aku mendekati 100 persen selama turnamen ini. Setidaknya di awal,” imbuhnya “Itu terjadi di Rio, beberapa hari sebelum turnamen dimulai. Sebelumnya aku tidak pernah mendapatkan cedera seperti ini. Aku melawan Juan Martin Del Potro, yang sayangnya absen panjang dari tur dengan cedera itu juga. Setelah menjalani perawatan tertentu aku merasa lebih baik. Aku cuma berharap pada hari Senin nanti, ketika turnamen sudah dimulai aku bisa mendekati kemampuan maksimal dalam mengeksekusi pukulan backhand.” Djokovic lantas mengungkapkan, masalah yang ikut memengaruhi dirinya dalam kekalahan di babak awal Wimbledon lalu. Menurut spekulasi, pernikahan Djokovic dengan Jelena Ristic ketika itu sedang bermasalah. “Sulit untuk mengingatnya dan membicarakan hal itu,” sambung peraih 12 titel Grand Slam ini. “Bukan soal fisik. Bukan cedera. Itu adalah hal-hal lain yang pribadi. Tapi tidak ada hubungan dengan cedera pergelangan tangan yang kudapatkan di Rio,” imbuh Djokovic. Djokovic diunggulkan di tempat teratas pada AS Terbuka yang dimulai, Senin (29/8) nanti. Di partai pertama Djokovic akan menghadapi petenis Polandia berperingkat 120 dunia, Jerzy Janowics. (kmb33/ap)

Novak Djokovic

BPM/rtr

INCAR KEMENANGAN BESAR LAGI Barcelona –

Laga pekan kedua yang akan dija dijalani Barcelona di La Liga musim ini akan menjadi sesuatu yang istimewa untuk unt Lionel Messi. Pasalnya, laga yang akan digelar hari, Senin (29/8) dini hari nanti n akan menandai penampilan Messi di liga yang ke-350. Jika Barca rekan yang baik bagi Messi, mestinya harus memberikan hadiah pada pemain bintangnya tersebut. Tentu saja, hadiah terindah untuk pemain adalah kemenangan. Jika melihat sejarah pertemuan antara dua kubu, Barca bisa mewujudkan kemenangan yang diharapkan, bahkan kemenangan indah. Terbukti dalam lima pertemuan terakhir, tim Catalan tak pernah kalah dari Athletic Bilbao. Rata-rata gol yang tercipta pun tak sedikit jika pertemuan ini terjadi di La Liga; tercatat dalam enam pertemuan terakhir, rata-rata Barca bisa mencetak lima gol ke gawang Bilbao. Meskipun ini masih tahap awal musim, namun Barca sudah menunjukkan bahwa mesin mereka sudah panas. Menghadapi Real Betis di pertemuan perdana, pasukan Luis Enrique menang besar dengan skor 6-2. Mungkin saja kemenangan besar seperti itu akan kembali terulang pada pekan ini. “Meski menang besar di partai sebelumnya, tapi kami tetap harus berkonsentrasi. Kami tidak bole terpeleset di awal musim jika ingin jadi

lag juara lagi,” ujar Enrique, (27/ kemarin. Sabtu (27/8) Bertan Bertandang ke markas Bilbao di San Mames akan sedik yang berbeda ada sedikit sku Barca. Claudio dalam skuat yan biasanya berdiri Bravo yang di bawah mistar gawang Barca, tak akan ada lagi di karen telah pindah ke sana karena Mancheste City. Meskipun Manchester men telah mendatangkan Jasper Cillessen, tapi penjaga gawang yang musim-musim lalu digunakan untuk menjalani Cham Liga Champions dan Copa del Andr Ter Stegen, sepRey, Andre ak menjadi pilihan ertinya akan un utama untuk pertandingan nanti. pen Tiga penyerang Barca yang biasanya dihuni trio MSN m juga akan mengalami perubaNeym dipastikan tak han. Neymar ada dalam skuat karena mamenjal sih menjalani liburan setelah bertarung bersama Brasil di Olimpiade 2016. Arda Turan tam yang tampil bagus di awal in diprediksi akan musim ini tu kembali turun menggantikan peran pem pemain Brasil tersebut. Sement Sementara itu, bagi tuan pe rumah pertemuan ini akan t menjadi tantangan berat. Pada laga perdana, mereka kal sudah kalah lawan Sporting Gijon. Jika klub berjuluk The Lions ini iingin kembali menjadi lima besar di klasemen m seperti musim lalu, maka di mereka dituntut untuk kembali ke jalu jalur kemenangan.

Namun menjaga gawang dari serangan Barca bukan urusan mudah bagi kubu Ernesto Valverde. Dari 37 pertemuan, Bilbao hanya sekali mencatatkan clean sheet. Oleh sebab itu, jika ingin mendapat poin maka lini pertahanan harus menjadi fokus Bilbao ketika menghadapi juara bertahan La Liga ini. Membendung filosofi bermain Barcelona bukan tugas yang mudah, namun Bilbao punya secercah harapan untuk melakukannya. Bermodalkan formasi 4-2-3-1, Valverde berpotensi menempatkan sisi sayap yang memiliki kecepatan, seperti Inaki Wiliams dan Iker Muniain. Mereka akan berfungsi sebagai motor serangan balik Bilbao, dalam memanfaatkan ruang terbuka Barcelona yang bermain ofensif. Sementara dua pivot atau gelandang jangkar Bilbao bisa berfungsi lebih bertahan dalam menghadapi gempuran pemain Barcelona. Mereka akan melapis lini belakang Bilbao, sekaligus mengimbangi lini tengah Barcelona. “Kami tidak ingin kalah sebelum bertanding. Melawan Barcelona memang berat dan menguras tenaga, tapi kami akan tetap berusaha,” terang Valverde. Patut ditunggu bagaimana strateginya nanti dalam menghadapi raksasa Spanyol tersebut. (kmb33/ap/rtr)


OLAHRAGA

10

Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

Saltum, Griezmann Di-”bully” Monaco – Gala penghargaan pemain terbaik Eropa sudah diselenggarakan, Jumat(26/8) kemarin. Nama pemenangnya pun sudah bukan rahasia lagi, di mana bintang Real Madrid dan tim nasional Portugal, Cristiano Ronaldo yang mengungguli dua nominasi lainnya, Gareth Bale dan Antoine Griezmann. Tapi sayangnya sorotan publik, terlebih netizen bukan tertuju pada Ronaldo, melainkan Griezmann. Bomber Atlético Madrid dan tim nasional Prancis itu jadi pusat perhatian. Bukan pula karena prestasinya tapi karena penampilannya. Datang ke acara resmi seperti gala penghargaan pemain terbaik Eropa, Griezmann justru dianggap saltum alias salah kostum. Di antara kesalahannya dalam berbusana, sepasang sepatu yang dipakainya jadi objek paling banyak di-bully netizen. Betapa tidak. Saat Bale maupun Ronaldo tampil rapi dengan setelan jas, celana bahan serta sepatu resmi,

Griezmann justru tampil mpil elana dengan jas tanpa dasi, celana yang panjangnya tak sampai mpai mata kaki, tanpa kaus kaki, serta sepatu trainers. Berikut beberapa celotehan ehan netizen yang mem-bully gaya berpakaian Griezmann n tersebut, sebagaimana dirangkum berbagai sumber: “Hey, Antoine Griezmann. Anda pemain hebat, tapi mari kita bicarakan sepatu sialan itu,” kicau akun @pad-dypower. “Semuanya berjalan menyrnya enangkan sampai akhirnya ngan Griezmann muncul dengan tano setelah khusus Brantano nsy5#CL,” ketus akun @burnsy5shoes. n bisa “Jika saja penampilan nuh. membuat Anda terbunuh. mann Para pemilih Griezmann berubah pikiran di menit nya),” akhir karena...(sepatunya),” c. cuit akun @UltraSuristic. “Apakah Griezmann lupa dan meninggalkan sepatu resmi yang pantas di rumahnya?,” tulis akun @RobDanTweets. (kimb33/rtr)

BPM/rtr

BERTAHAN - Gelandang Bastian Schweinsteiger memilih bertahan di Manchester United meskipun peluangnya untuk bermain sangat kecil.

Mou Tutup Peluang Schweinsteiger Manchester –

Arsitek Manchester United Jose Mourinho, menegaskan kalau hampir pasti tak ada peluang lagi bagi gelandang senior Bastian Schweinsteiger untuk bisa merumput bersama tim utama Setan Merah musim ini. Musim lalu Schweinsteiger masih menjadi salah satu pemain andalan Manchester United di lini tengah. Namun, saat itu MU masih ditangani oleh Louis Van Gaal.

BPM/rtr

UNIK - Sepatu Antoine Griezmann yang dinilai aneh oleh para netizen.

Kini nasib kapten Timnas Jerman itu berubah drastis sejak hadirnya Mourinho. Ia dipinggirkan oleh The Special One. Manajer asal Portugal tersebut pun telah mengakui kalau Schweini tak masuk dalam rencananya untuk musim ini dan ia pasti tak akan bisa mendapat kesempatan main jika terus bertahan di Old Trafford. Mou menegaskan, kalau sulit bagi Schweini untuk bisa mendapat kesempatan main karena di lini tengah sudah ada banyak pemain yang lebih bisa diandalkan. “Saya pikir itu sangat sulit terjadi. Saya tidak mengatakan itu tidak mungkin. Saya mengatakan itu sangat sulit. Ya, sangat-sangat sulit,” tegas Mou, Sabtu (27/8) kemarin. “Kami sudah membuat keputusan tentang Paul Pogba, Ander Herrera, Morgan Schneiderlin, Marouane Fellaini dan Michael Carrick. Kami memiliki lima pemain untuk dua posisi. Sungguh sulit untuk meng-

harapkan adanya sebuah kesempatan bermain untuk Bastian,” imbuhnya. Mou pun angkat bicara soal sikap Schweini belum lama ini. Mantan punggawa Bayern Munich tersebut baru-baru ini menyatakan via Twitter-nya kalau dirinya akan bertahan di Manchester United. Schweini menyatakan kalau Manchester United adalah klub yang akan jadi klub terakhirnya di Eropa. “Saya tidak bisa menjawab untuknya. Ini kariernya. Dia punya kontrak bersama Manchester United dan punya hak untuk membuat keputusan untuk bertahan tersebut. Ini bukan masalah bagi kami. Sepak bola adalah selalu soal memutuskan sesuatu. Saya melakukan itu di sepanjang karier saya. Tidak hanya saya, tapi semua melakukannya,” ujar Mou. “Beberapa pemain bereaksi dengan cara berbeda dan punya berbagai macam keputusan yang lain. Bastian tidak banyak

bicara. Dia memberikan statement-nya, di mana dia berhak melakukannya. Dia memilih melakukannya dengan cara bijak. Tidak ada masalah sama sekali dengan hal itu,” tutup manajer Benfica, Porto, Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid itu. Di Persimpangan Setelah didepak dari tim utama, pemain asal Jerman tersebut kini dibandrol dengan sangat murah. Setan Merah hanya menjualnya dengan harga 2 juta pound sterling atau sekitar Rp 34,9 miliar. Padahal Schweinsteiger adalah pemain yang membawa Jerman meraih gelar juara dunia pada 2014. Tak hanya itu, sebelum pindah ke Manchester United Schweinsteiger adalah salah satu pemain kunci Bayern Muenchen. Sehingga bandrol yang kelewat murah tersebut adalah penghinaan luar biasa. “Apa yang dialami Schweinsteiger sungguh sangat

pahit dan menyedihkan,” kata penjaga gawang Bayern Muenchen Manuel Neuer. Neuer pernah bermain bersama Schweinsteiger di Bayern Muenchen dan tim nasional Jerman. Karena itu ia tahu persis kualitas rekannya itu. “Dia salah satu gelandang terbaik yang pernah saya kenal,” katanya. Namun penilaian Manchester United berbeda, apalagi sejak mereka merekrut Jose Mourinho sebagai pelatih pada musim panas ini. Sejak itu Schweinsteiger tak mendapatkan tempat. Ia terbuang dan dikucilkan. Mereka misalnya, menurunkan level Schweinsteiger dengan menyuruhnya berlatih bersama tim cadangan atau Manchester United U-21. Strategi ini digunakan Manchester United untuk memaksa Schweinsteiger hengkang. Selain itu, gaji Schweinsteiger juga dianggap membebani finansial klub. Manchester United harus menggaji Schweinsteiger sebesar 190 ribu pound sterling per pekan atau sekitar 10 juta pound sterling per tahun hingga 2018. Artinya, sampai kontrak Schweinsteiger berakhir,

Manchester United harus merogoh kocek 20 juta pound sterling lagi. Jumlah ini tentu saja memberatkan. Apalagi performa Schweinsteiger juga tidak terlalu baik. Karena itulah Manchester United kemudian membanting harga. Namun, meskipun sudah dibandrol sangat murah, belum ada satu pun klub yang menawar Schweinsteiger. Schweinsteiger sendiri sudah mengambil sikap. Ia mau saja hengkang asal bukan ke tim Eropa. Melalui akun twitter-nya, pemain berusia 32 tahun ini menulis, “MU adalah klub terakhir saya di Eropa.” Artinya, kalau pun pindah ia hanya mungkin hengkang ke Major League Soccer (MLS) di Amerika Serikat atau ke Liga Super Cina (CSL). Persoalannya, bursa transfer MLS sudah tutup pada 3 Agustus lalu. Sementara bursa transfer CSL sudah ditutup 15 Juli. Pada saat yang sama bursa transfer pemain Eropa pada musim panas ini sudah akan berakhir pada 1 September. Sehingga peluang Manchester United untuk menjual Schweinsteiger menjadi sangat kecil. Bagaimanakah nasibnya musim ini? (kmb33/rtr/ap)

Bayern Hajar Bremen

BPM/rtr

GOL - Striker Robert Lewandowski merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Werder Bremen, Sabtu (27/8) kemarin.

Munich – Bayern Munich membuka musim dengan amat meyakinkan. Tak tanggung-tanggung, enam gol digelontor ke gawang Werder Bremen untuk memetik kemenangan 6-0. Menjamu Bremen di Allianz Arena, Sabtu (27/8) dinihari kemarin pada laga pembuka Bundesliga 2016/2017, Bayern tampil tanpa memberi ampun. Mereka amat dominan dengan penguasaan bola mencapai 71 persen, melepaskan 27 tembakan dengan 14 diantaranya menemui sasaran. Sedang Bremen cuma punya empat upaya dengan separuhnya yang mengarah ke gawang. Hanya butuh sembilan menit bagi Bayern untuk membuka skor. Sepakan voli Xabi Alonso dari luar kotak

penalti, menyambut bola sapuan dari pertahanan Bremen melesak ke pojok kanan atas gawang. Empat menit berselang, anak asuh Carlo Ancelotti menggandakan skor. Menerima umpan terobosan dari Frank Ribery di kiri, Robert Lewandowski lantas menggiring bola mendekati gawang. Dari sudut sempit dia menaklukkan kiper Bremen Felix Wiedwald. Bayern kembali melakukan start bagus di babak kedua dengan langsung mencetak gol ketiga semenit setelah sepak mula. Lewandowski kembali mencatatkan namanya di papan skor, kali ini usai membelokkan umpan silang Thomas Mueller dari sisi kanan. Di menit ke-66 Bayern menambah gol. Philipp Lahm merangsek di sisi kanan,

melakukan umpan satu-dua dengan Mueller, lalu melepaskan sepakan keras dari jarak dekat untuk menjebol gawang Wiedwald. Selisihnya kian melebar di menit ke-73. Mueller lagilagi mengkreasi gol. Kali ini umpan silang mendatarnya dari kanan disambut tendangan keras Ribery dari tengan kotak penalti. Hari kian buruk untuk Bremen saat di menit ke76 Maximilian Eggestein melakukan pelanggaran terhadap Rafinha di kotak penalti. Wasit pun menghadiahkan tendangan 12 pas yang dituntaskan dengan sempurna oleh Lewandowski, sekaligus menjadi gol ketiganya di laga ini. Tak ada lagi gol tercipta di sisa waktu. Bayern pun mengawali musim baru dengan cemerlang. (kmb33/rtr)

Pellegrini Melatih di Tiongkok Hebei – Manuel Pellegrini akhirnya melatih lagi. Pria kebangsaan Chile itu telah menerima tawaran untuk menangani klub Liga Tiongkok, Hebei China Fortune. Hebei mengumumkan bahwa Pellegrini telah ditunjuk untuk menggantikan Li Tie pada Sabtu (27/8) kemarin. Pria berusia 62 tahun itu bergabung dengan pelatihpelatih top lain yang lebih dulu berkarier di Negeri Tirai Bambu. Mereka adalah Sven-Goran Eriksson dan Luis Felipe Scolari. Meski diperkuat oleh Ezequiel Lavezzi, Gervinho, dan Gael Kakuta, Hebei sedang mengalami periode yang tak menyenangkan. Klub berjuluk ‘Samba Kings’ ini berada di posisi kelima Liga Super Tiongkok

dengan kompetisi tinggal menyisakan tujuh pertandingan. Sejak berpisah jalan dengan Manchester City pada Juni lalu, pertanyaan seputar masa depan Pellegrini terus muncul. Si pelatih beberapa kali menegaskan dirinya cuma akan menerima tawaran menarik sebelum bergabung Hebei. Selama kariernya di Eropa, Pellegrini sekali meraih trofi liga saat membawa City menjuarai Premier League 20132014 dan dua kali menyabet trofi Piala Liga Inggris 2013-14 dan 2015-2016. Pellegrini akan memulai debutnya dengan memimpin Hebei saat menghadapi juara bertahan sekaligus pemuncak klasemen Guangzhou Evergrande pada 10 September mendatang. (kmb33/ap)

BPM/ap

Manuel Pellegrini


Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

11

GELANGGANG

Mitra Devata Gulung Mars Solo Denpasar (Bali Post)Kesebelasan Legend Mitra Devata yang diperkuat mantan pesepak bola pro di Bali sukses menekuk lawannya Mars Solo dengan skor 4-0, dalam latih-tanding di Stadion Sriwdari Solo, Sabtu (27/8) kemarin. Keempat gol yang bersarang ke gawang Mars Solo. Hasil bidikan Komang Mariawan (dua gol) di menit ke-14 dan 21, kemudian Ida Bagus Nyoman Mahayasa di menit ke-70, serta Rocky Putiray menit ke-86. Sampai wasit Ebu meniup peluit panjang, skor akhir Legend Mitra Devata unggul 4-0. Koordinator Purwanto Iman Santoso yang dikontak menyatakan Mars Solo diperkuat sederet pemain berkualitas, seperti Ed Subagio (mantan Persela Lamongan), Mulad (mantan PSSI U16), Agus Supriyanto (mantan Persegi Gianyar), Rompi (mantan PKT Bontang), Selamet (mantan Deltras Sidoarjo). ‘’Skuad Mars Solo rata-rata berusia 35 tahun,’’ jelas Purwanto. Legend Mitra Devata diperkuat Eduard Tjong (pelatih PSSI junior dan mantan pelatih Perseden Denpasar), serta Rocky Putiray. Purwanto mengakui kemenangan Legend Mitar Devata berkat stamina yang mumpuni. (022)

Bali Ikuti Tujuh Cabor Ekshibisi di PON Denpasar (Bali Post)KONI Bali telah memutuskan untuk mengikuti cabor yang dipertandingkan secara ekshibisi dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Bandung, Jawa Barat, September 2016. Di mana Bali hanya mengikuti tujuh cabor dari 12 cabor yang dipertandingkan di hajatan multievent empat tahun antar provinsi tersebut. Hal itu diungkapkan Bidang Prestasi (Binpres) KONI Bali Nyoman Yamadhiputra di Denpasar, Sabtu (27/8) kemarin. “Tujuh cabor itu, yakni petanque, kabaddi, barong, muaythai, woodball, gateball, dan rugby,” ungkap Yamadhiputra. Yamadhiputra mengatakan cabor ekshibisi yang diikuti Bali memang tidak ikut TC Sentralisasi bersama atlet PON Bali yang dipusatkan di Hotel Batukaru. Pasalnya, mereka menjalani TC di tempat berbeda sesuai dengan tempat yang mereka pilih. ‘’Masing-masing cabor yang telah menentukan diri mereka sendiri, di mana tempat yang pas bagi mereka untuk menjalani TC sentralisasi,” jelasnya. Disinggung apakah dana keberangkatan mereka ke PON Jabar sepenuhnya akan ditanggung pihak KONI Bali, mantan pesilat juara dunia itu menekankan, jika keberangkatan cabor ini menggunakan dana sendiri dari pengprov mereka masing-masing. Lebih lanjut dikatakannya, untuk para atlet petanque sendiri yang bakal dikirim ke PON, sampai saat ini Pengprov Petanque Bali masih mencari atlet terbaik lewat kejuaraan Liga Shooting dan Sirkuit Petanque yang sudah memasuki babak final, Minggu (28/8) ini di Stadion Debes, Tabanan. “Dai hasil event tersebut kami bisa putuskan siapa saja atlet yang nantinya bakal memperkut tim petanque Bali di PON Jabar,” jelas Yamadhiputra. (kmb41)

BPM/022

GAGAL - Pesepak bola PS Gianyar Suwimbawa melakukan eksekusi, namun tembakannya bola datar mampu diblok kiper Tunas Muda Ubud Made Putryana.

Bermain Imbang, PS Gianyar Tersingkir

Gianyar (Bali Post)-

Tim PS Gianyar harus tersingkir dari Liga Nusantara (Linus) Rayon Bali, usai bermain imbang 1-1 (0-1) melawan Tunas Muda Ubud pada Grup A, di Stadion Kapten Wayan Dipta Gianyar, Sabtu (27/8) kemarin. Tunas Muda unggul lebih dulu lewat sontekan Laureksand di menit ke-16. Berawal dari kemelut di depan gawang, Laureksand mampu melesat sendirian, kemudian mencocorkan bola ke gawang dan tak mampu dihalau kiper PS Gianyar Ricky Apri Astadi. Di babak kedua PS Gianyar mampu menyamakan kedudukan 1-1 lewat gocekan Suastika di menit ke-60. Diawali serangan balik cepat, Suastika mampu mengecoh pemain belakang Tunas Muda, kemudian melakukan tembakan ke gawang yang tak mampu diselamatkan kiper Tunas Muda

Ubud Made Putrayana. PS Gianyar berpeluang unggul, ketika pada babak tambahan waktu menit ke-92 mendapat penalti. Penalti diberikan wasit H. Sutopo (Denpasar), ketika pemain PS Gianyar dijatuhkan pemain belakang Tunas Muda di areal terlarang. Keputusan Sutopo memberi pebnalti sempat diprotes pemain Tunas Muda. Sayangnya tembakan algojo Suwimbawa mampu diblok kiper Putrayana. ‘’Tim kami sedang apes dan sial,’’ tutur pelatih PS Gianyar Wayan Suarya. Sedangkan Asisten Pelatih Tunas Muda Wayan Kartadnya mengakui asu-

hannya tampil di bawah form, sebab merasa sudah lolos ke semifinal. Perst Lolos Kesebelasan Perst Tabanan akhirnya menduduki posisi runner-up Grup B, dalam Liga Nusantara Rayon Bali usai unggul 1-0 (0-0) atas lawannya tim Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja di Stadion Debes, Tabanan, Jumat (26/8) lalu. Atas hasil ini Perst Tabanan mendampingi Perseden Denpasar melenggang ke babak semifinal. Dalam laga yang dipimpin wasti Ali Bacho, sejak kick-off kedua

Atlet Renang Denpasar Nusa Sucipta Meninggal

BPM/ist

FOTO BERSAMA - Director Sport and Culture BHA Laetitia Delvart Sugandi berpose bersama pemain futsal.

Tim Futsal Sheraton Juara

Denpasar (Bali Post)Tim futsal Hotel Sheraton keluar sebagai juara dalam turnamen yang dihelat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Bali Hotels Association (BHA), serta Bali Travel News (BTN), di Sanur Futsal yang berakhir, Sabtu (27/8) kemarin. Sedangkan juara II direbut W Bali Retreat dan juara III Oberoi yang merupakan tim juara tahun lalu. Turnamen yang digelar sejak, Kamis (25/8) lalu, secara resmi ditutup Director Sport and Culture BHA Laetitia Delvart Sugandi. General Affair and Event Manager BHA Andy menyatakan, hajatan yang dirangkaikan dengan Sanur Village Festival (SVF) 2016 ini banyak terjadi kejutan, bahkan juara tahun lalu Oberoi gagal mempertahankan gelar dan posisinya melorot menjadi juara III. Andy berharap prestasi karyawan hotel di Lingkungan Sanur lebih getol berlatih lagi di bidang futsal. Pasalnya, pada babak delapan final tanpa duta dari Sanur. ‘’Padahal di cabor tenis klub dari Sanur melenggang sampai ke babak final,’’ kata Andy. Ia mengapresiasi peran serta Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) yang ikut berpartisipasi hingga kejuaraan futsal antarkaryawan hotel ini lebih bergengsi dan professional. Misalnya tersedianya mobil ambulance, serta tenaga pengamanan. Diakuinya cabor futsal termasuk prestise, sebab melibatkan 42 tim, bahkan tercatat 10 tim terpaksa ditolak. ‘’Event serupa tahun depan kami bertekad menampung seluruh kontestan dengan jadwal pertandingan tiap Sabtu dan Minggu,’’ jelas Andy. (022)

Denpasar (Bali Post)Kabar duka menyelimuti insan olahraga renang Kota Denpasar. Pasalnya, salah seorang atlet renang Denpasar Made Nusa Sucipta berpulang ke hadapan Ida Hyang Widhi Wasa, setelah mengalami kecelakaan tunggal di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta pada Sabtu (27/8) kemarin. Berita duka ini langsung mendapat tanggapan dari Pemkot Denpasar melalui Sekda Kota Denpasar A.A N. Rai Iswara mewakili Wali Kota Denpasar I.B Rai Dharmawijaya Mantra dan Wakil Wali Kota I GN Jaya Negara, kemarin menyampaikan rasa duka dan turut berduka cita ke kediaman Made Nusa Sucipta di Jalan Patimura Denpasar. Sampai di rumah duka, A.A.N. Rai Iswara bersama

Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede disambut pihak orangtua dari Made Nusa Sucipta, yakni Made Sutikna dan Ibunda Putu Usha Parwati, beserta keluarga almarhum. “Kami telah kehilangan sosok atlet renang dengan segudang prestasi dalam mengharumkan nama Kota Denpasar, baik dalam ajang perlombaan olahraga daerah maupun Nasional,” ungkap Sekda Kota Denpasar. Sementara ayah kandung almarhum Made Sutikna mengatakan Made Nusa Sucipta sebagai atlet renang Kota Denpasar, terakhir mempersembahkan dua medali emas untuk Kota Denpasar dalam ajang kompetisi Renang di Jembrana. Di samping sebagai atlet saat ini, Nusa Sucipta sedang mengikuti proses belajar men-

gajar di Fakultas Fisioterapi, Universitas Esa Unggul, di Jakarta Barat. “Kepergian almarhum secara mendadak membuat kami sekeluarga kaget dan sangat kehilangan,” ucapnya sembari menyatakan anaknya (Sucipta alm) juga sebagai pelatih renang Parisakti Club yang saat itu sedang mengikuti event Gubernur Cup dikawasan Kuningan, Jakarta. “Sepulang dari mengantar para atlet Parisakti Club, Made Nusa mengalami kecelakaan tunggal,” katanya. Dikatakan, saat ini jenazah disemayamkan di rumah duka Oasis Jl. Raya Tangerang, Jakarta Barat. Prosesi krematorium jenazah akan dilakukan di Jakarta, Senin (29/8) besok, serta dilanjutkan proses nganyut di kawasan Ancol, Jakarta Utara. (kmb41)

Klasemen Akhir Grup A 1. Tunas Muda 2. Pro Kundalini 3. PS Gianyar 4. BAS 5. Putra Pegok

4 4 4 4 4

3 2 1 1 0

1 1 3 1 0

0 1 0 2 4

10-2 8-6 10-6 2-4 5-17

10 7 6 4 0

4 4 4 3 3

4 3 1 1 0

0 0 0 0 0

0 1 3 2 3

23-0 5-5 6-9 2-7 0-14

12 9 3 3 0

Klasemen Grup B 1. Perseden 2. Perst 3. Undiksha 4. P. Tresna 5. P. Pemenang Jadwal Minggu (28/8) Putra Tresna vs Putra Pemenang (Stadion Dipta) tim melancarkan serangan. Namun gol baru tercipta melalui gocekan Krisna Putra lima menit menjelang bubaran. Berawal dari serangan balik (counter attack) cepat, Krisna Putra mampu

melesat membawa bola sendirian hingga berhadapan dengan kiper Undiksha Ryan Dharma. Selanjutnya dia mencocorkan bola ke gawang dan tak mampu diselamatkan kiper Ryan. (022)

Indra Sjafri Yakin Putaran II Lebih Solid Mangupura (Bali Post)Pelatih kepala Bali United (BU) yakin timnya lebih solid saat melakoni putaran II dibandingkan saat putaran pertama lalu. Keyakinan itu muncul, mengingat telah kembalinya beberapa pemain inti yang selama ini dibekap cedera. “Kami yakin pada putaran II nanti jauh lebih solid dari putaran I. Bukan bermaksud mencari kambing hitam, kenyataannya di putaran I kami mengalami beberapa pemain cedera. Kondisi itu sangat berpengaruh terhadap performa tim,’’ ungkap Indra Sjafri, Sabtu (27/8) kemarin. Mantan pelatih Timnas U-19 itu, mengatakan, bahkan untuk menambah kekuatan tim menghadapi putaran II pihaknya telah merekrut empat pemain, yakni dua asing terdiri atas Daniel

Heffernan dan Zoran Knezevic, serta dua pemain lokal Indonesia Abdul Rahman Sulaiman, mantan pemain Persib dan Leo Guntara mantan pemain Semen Padang. ‘’Masuknya empat pemain anyar mengingat sebelumnya dua pemain keluar, yakni Kiko Insa, Lucas Patinho. Empat pemain direkrut sudah sesuai dengan kebutuhan tim,’’ jelasnya. Lebih lanjut dikatakannya, dalam menghadapi putaran II masih banyak yang perlu dievaluasi. Pasalnya, selama putaran I terlihat masih banyak kekurangan yang terlihat. ‘’Sudah pasti banyak evaluasi, serta harus kami benahi berdasarkan performa tim di putaran I. Sehingga di putaran II tim lebih siap lagi untuk bersaing menghadapi tim-tim lainnya,’’ jelas Indra Sjafri. (kmb41)


12

Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016


Sastra

Redité Kliwon, 28 Agustus 2016

13

I Kaki Dengkil

Atmaning Usada MAMARGI klincak-klincak ngiterin rurung ring jaba, punika pakaryan I Kaki Dengkil nyabran soré, das nyabran raina. Wargi Tepisiringé sampun biasa manggihin solahipuné asapunika. Wénten sané sipok nganikaang Ipun nénten nué karya, irgamayang sakadi babwang buntutin, jeg malingser ngraina tan patujon. Siosan punika, naler wénten sané seneng manggihin, pitananga Ipun jemet nyaga awak mangda seger setata. Nénten uningina manahipuné sané sujati matingkah asapunika. Sapunapi sayuwakti mamanah maolahraga mangda seger oger setata? Sapunapi sujatiné Ipun nylimurang manah inguh? Minab sayuwakti asapunika, sesampuné kenyel mamargi, I Kaki Dengkil negak ring balé kubonné magalar tiing bubukan. Nénten ké cacirén jatmané sané mamanah sujatiné kenjekan inguh? Nginguhang sapuniki, nginguhang sapunika. Inguhé ngawinang urip, uripé ngawinang inguh. “Ah... sing kéto... ento pamineh jaba adané! Dija alih sastrané, manah inguh ngranaang urip! Amuter tutur pinahayu, lango kapangguh. Ento mara beneh! Apang cara Ida Sang Kawiswara, sawai-wai amuter tutur pinahayu. Patutné ento tuutang, sai-sai nuturang kadharman. Tusing saja sai-sai inguh makeneh! Amuter tutur pinahayu malu dé....” Asapunika I Kaki Dengkil sakadi nuturin déwékné padéwékan. Wenginé puniki, I Kaki Dengkil yukti-yukti déwékné inguh. Napi sané inguhanga, Ipun padéwékan nénten uning. Makwéh pisan sujatiné manahanga wantah laca-laca. Sapunapiang nénten mamanah? Sakadi wargi Tepisiringé sané siosan, sapunapianga nénten mamanah wantah ngraina ngitungang isin basang kamanten kantun buut? Napi sané ajeng malih jebos, napi sané tunas bénjang durung janten? Napi malih ngamanahang upakarané sané empet? Upakara nitya karma sané gelarang ngraina, tur Naimitika Karma manut uger-ugernyané. Ngudiang kantos upakarané inguhanga antuk I Kaki Dengkil? Sakadi wargi Tepisiringé sané siosan, mangkin makasami maarga. Makasami kaargain antuk jinah. Busung numbas, sekar numbas, semat numbas, makasami numbas. Kasuén-suén banten kantos canang ngraina numbas. Wantah punggelang, maupakara ring gumi kaliné kaargain antuk jinah! “Lén pesan guminé jani, tusing cara ipidan! Buka sinonggané, sing ngelah pipis, sing nyidaang ngudiang, liu ngelah pipis, apa dogén nyidaang. Ipidané ngelah ri kala ngelah gaé, patulungé ketog sémprong matulung ngaé piranti banten anggon maupakara. Lénan kén to... makejang teka majenukan maaba-abaan. Ada ngaba ron tur busung, kopi tur gula, baas tur bawang, kesuna tur bebungkilan. Kudiang tusing ingan rasané magegaénan? Makejang gaénin bareng-bareng, makejang banin barengbareng!” Asapunika I Kaki Dengkil éling ring kawéntenané rihin sané nyihnayang Jagat Tepisiringé kanten gemah ripah. Kanten dayuh sutrepti Jagat Tepisiringé. Kenjekan ngalaca-laca asapunika, piragina suara duuh-duuh lamat-lamat ring kadohan. Sapusira sané nuuh wenginé puniki? Sapusira sané sengkaon? Wantah rihiné, nénten kantos asapuniki. Nénten wénten kantos duuh-duuh sengkaon, napi malih kantos tulung-tulung ngedih tulungin wantah sengkaon. Sayan sué sayan nganampekang suarané punika. Kasuén-suén pamuputné, Bagus Gedé sané piragina masuara nuuh. “Aduh... kayang jani nu marasa kolongané ségségina besi tekén dokteré. Kayang jani nu rasané kebus baang awaké kabinawa. Gelem apa kadén ané niben ené. Béh... dong dokteré ento cara Atmaning Usada? Atma ané ngawag nibakang usada ngawinang déwéké sangsara? Kanti jani suba maawak atma kabinawa rasan sakité baana tekén dokteré! Kaki orahin to dokter! Kaki orahin to dokteré, lakar dadi Atmaning Usada buin pidan yén suba mulih ka alas wayah.” Asapunika Bagus Gedé nganika wenginé puniki. I Kaki Dengkil makleteg bayuné santukan Bagus Gedé marasa sungkan naler ring kadituan. Naler Ipun maselselan malah ja ngwilangin déwékné tur wargi Tepisiringé sané sayan sué sayan sayah ungkuran puniki. Waluya sampun Amoring Acintya sakadi katah mangkin baosanga wantah wénten sané ngaonin. Kocap Bagus Gedé akéh pisan manggihin Atmaning Usada. Nénten kamanten balian sané mawasta Atmaning Usada, dokteré naler. Napi malih katah kocap dokteré mangkin akéhan sané nglebih-lebihang nambain mangda makéh polih jinah. Patutné nénten maoperasi, operasina anaké. Kocap sambilanga ngaksinin Sang Atmaning Usada sané mabusana jangkep masaput poléng, naler panggihina mabusana jas putih. Luh-muani Atmaning Usadané siksana antuk I Butha Ode-Ode ring jambangané. Bagus Gedé naanang sengkaon dawegé tambanina antuk dokteré sané jagi dados Atmaning Usada. (Jelantik)

Legu I Putu Supartika ULI nu cerik I Sudarma suba dot dadi legu. Krana tuah dadi legu ané nyidaang ngaénang ia bébas sakita-kitané. Ia nyidaangg mencegan dija dogén kenehné. Nyak di punyan kayuné, di don kayuné, di kulit beburoné, di kulit manusané, di kulit méménné, lan dija ja kenehné. Ia masih bébas makeber kija ja kenehné. Sing perlu nongos di jumah. Sing perlu uyutina tekén reramanné yén ia pelih, krana ia dadi legu ané bébas, boya ja manusa ané kategul swadarma ané

kéweh. Dadi legu tuah ipiané ané paling gedéna. Yén dadi legu, ia masih nyidaang ngwales sakit ati tekén anak ané nyakitin ia. Sinah ia lakar nyegut anaké ané nyakitin ia. Nyerot getihné kanti telah. Apang kanti mati kuangan getih. Sambil nyerot getihné, sambilang nuladang grubug. Nuladang sakit Malaria utawi Demam Berdarah. “Mé, tiang dot dadi legu,” kéto I Sudarma maan ngorahang tekén méménné.

“Dadi legu?” “Aé Mé, dadi legu.” “Buduh Cai.” “Adi tiang orahang Mémé buduh?” “Suba melah numadi dadi manusa to nguda buin nagih dadi legu?” “Pokokné tiang dot dadi legu.” “Buduh! Malajah malu selegang apang dueg. Da ané soléh-soléh urusanga.” I Sudarma ngambul. Masadu tekén pekakné krana orahanga buduh tekén méménné. Pekakné uyut. “Panak waras kakéné oranga buduh, kénkén kenehné to.” I Sudarma ajak pekakné lantas ka umahné ngalih méménné. Teked di jumahné, méménné batbata tekén pekakné. “Kénkén Nyai né, panak waras orahang buduh!” “Mula saja ia suba buduh.” “Nyai mirib ané suba buduh.” “Yén sing buduh, to nguda nagih dadi legu. Sing buduh to adané?” “Seken Cai dot dadi legu?” pekakné mabalik matakon tekén I Sudarma. I Sudarma manggutan. “Bah, seken suba Cai buduh nénénan!” Pekakné ngorahang I Sudarma buduh, méménné masih ngorahang I Sudarma buduh. Buin ia ngambul. Jani ia masadu tekén bapanné. “Pa tiang orahanga buduh tekén I Mémé jak I Pekak.” “Buduh? Nguda cai orahanga buduh?” “Ulian tiang dot dadi legu, tiang orahanga buduh Pa.” “Dadi legu? Cai suba dadi manusa buin nagih dadi legu. Saja cara nak buduh Cai.” I Sudarma ngeling. Reramanné ngorahang ia buduh. Kéto masih pekakné. Di sekolahan ia masadu ajak gurunné, krana ia orahanga buduh. Ia ngorahang unduk-unduk ané ngranaang ia orahanga buduh. Mara ningeh unduké ento, gurunné masih ngorahang ia cara nak buduh. Timpalné di sekolahan masih ngorahang ia buduh. I Sudarma sing nyak masuk. Krana makejang timpalné ngorahang ia buduh. Ia sing ngelah timpal. Sabilang macapatan ngajak timpalné, makejang timpalné ngragragin déwékné. “Sudarma buduh.” “Sudarma buduh.” Ia suud masekolah. Wai-waian ia tuah ngoyong di jumahné. Dikénkéné pules-pulesan di bataran umahné. Dikénkéné ngambar legu di tembokné. Dikénkéné ia ngipi dadi legu, lan bangun semengan tur nganggon kamben ané tegulanga di baongné apang nyak cara kampid tur malaib di natahné sambil mamunyi cara munyin legu. Kéto masih yén ada legu ané nyegut awakné, ia sing ngerunguang. Depina dogén. Nyén nawang koné ia nyidaang dadi legu ulian cegut legu. Yén sing di jumahné, ia lakar ngelindeng ka tegalé utawi ka tukadé

Saking Langit Bali

Aswamédha Parwa

Pangawit Kahuripan

Magalung

Olih : I K. Satria, S.Ag BRAHMANANÉ sané sampun nlatarang parindikané punika raris digelis mawali ngawitin saha misekenang pisan majeng ring Ida Istri. “Uduh Adi Sang Brahmana I Déwa, sakadi pitakén I Déwané punika, sané mangkin pacang tlatarang Beli parindikan sané muputang yadnyané punika. Sang Maha Suci mautama sampun ngicénin indik kasuksman sané prasida ngawinang kahuripané paripurna, inggih punika Prana, Apana, Udana, Samana, miwah Wyana.” Mirengan sakadi asapunika bebaosan Ida Brahmana Lanang, raris Ida Brahmana Istri nyelag pangandikan Ida Brahmana Lanang. Kadi asapuniki pangandikan Ida Brahmana Istri; “Pidaging nawegang titiang Sang Brahmana sané luih, titiang ketah mirengang indik wénten pepitu sané kabaosang pamuput sajeroning yadnya. Durusang tlaratang indiké punika. Napiké prasida mapaiketan?” Mirengan sakadi asapunika raris Ida Brahmana Lanang nyawisin. “Durusang pirengang sané mangkin Adi Sang Brahmana I Déwa. Becikang pisan mitetesin indiké puniki! Ring jagaté, kapertama kambil sarining jagaté olih Pranané punika. Punika sané kapertama nyusup ring Apana nuju kawéntenan Wyanané saha maurip irika. Sesampuné Pranané punika wénten ring Wyana raris nuju Udana. Iriki ring Udana sami raris mauwah dados Samana. Kawéntenané punika sané sampun naenin molihang kerthi prasida matemu sareng Hyang Maha Agung tur meled mapitaken nakénang indik sané pinih mautama ring sajeroning kahuripané punika.” Ida Brahmana malih nglantur nlatarang. “Sami sané sampun manunggal punika sané ngawinang prasida wénten kahuripané punika. Punika mawinan pacang prasida makarma!” Pranané raris matur: “Yéning titiang padem, punika raris sami pacang padem taler ring jagaté. Yéning titiang sampun nénten mamargi, sami taler pacang nénten memargi ring jagaté. Punika mawinan titiang sapatutnyané sané pinih utama. Sané mangkin panggihin titiang sané pacang padem, taler titiang pacang prasida nguripang padéwékan.” Samané miwah Udana taler ngamargiang sakadi asapunika tur matur sareng Pranané: “Uduh Prana, indik pasametonané punika nénten pacang prasida mintulin titiang. Punika sané ngawinang kulawarga punika nénten mautama pisan ring kawéntenan titiang! Wantah Apanané kémanten sané pacang kaliput olih pasametonané punika!” Prana raris malih ngandika, “Yéning titiang padem, sami pacang nénten prasida ngamargiang sakadi sané patut. Sami parilaksanan titiangé pacang ngasorang makasami sané wénten. Punika ngawinang titiang sané pinih utama ring kahuripané puniki. Uduh sameton sareng sami, sané mangkin durusang panggihin!” Apana raris muputang karyannyané. Wyana miwah Udana raris matur: “Uduh sameton titiang Apana, sujatiné Apana durung mautama pisan ring jagaté, wantah Prana sané prasida kawesa olih pasametonané

ngalih-ngalihin legu. Ia masih mamunyi ngajak legu. Taén ada anak nepukin ia di jalané ngrenggeng padidiana. “Nyén ajak Cai mamunyi Sudarma?” “Legu.” “Legu? Buduh Cai mamunyi ajak legu.” “Cang sing buduh, Beli ané buduh.” Anaké ento laut ngaduang solahné I Sudarma tekén reramanné. Reramanné nguyutin I Sudarma. Buin dingeha munyin reramanné ané ngorahang ia “buduh.” Ia gedeg. Ia majanji buin mani puan ia lakar dadi legu. Buin pidan ja. Mirib di kayangé ia gedé. Yén ia dadi legu, ditu lantas ia majanji lakar nyegut anaké ané ngorahang ia buduh. Lakar sedota makejang getihné apang kanti telah. Nyén ja, ia sing rungu. *** I Sudarma nelahang idupné baan ngitungang legu sabilang wai. Jani ia suba gedé. Mirib suba duang dasa tiban umurné. Sakéwala kenehné nu tetep cara dugasé cerik. Ia nu dot dadi legu. Reramanné tusing nyidaang ngurus I Sudarma. I Sudarma jeg mamengkung dogén gegaéné. Di margané makejang anaké ngorahang I Sudarma buduh. Kenehné sayan gedeg. Gedeg gati. Sujatina ia ngasanin déwékné waras. Tusing ja buduh. Ia ngorahang anaké ané ngorahang déwékné buduh sujatiné ané buduh. Boya ja déwékné ané buduh. Yadiastun ia suba gedé, nanging ia masih nu demen ngambar legu di temboké. Sabilang wai. Sing ja di temboké dogén ia ngambar legu. Apa ja ané tepukina tur dadi gambarin, jeg pasti gambarina. Dikénkéné ia ngambar legu di kertasé. Di kacan mobil pisagané ané daki. Di tanahé lan di tongos lénan. Ri kala Purnama, désané ngadaang upacara di Pura Dalem. Ramé-ramé krama désané maturan kemu. Kéto masih I Sudarma milu maturan kemu. Maudeng putih, mabaju putih, masaput putih cara pamangku I Sudarma maturan ka Pura Dalem. Neked di Pura Dalem I Sudarma tusing ja macelup ka tengah purané. Ia tuah ngambar di témbok purané. Ngambar legu. Begeh gati ia ngambar. Kanti bek tembok panyengker purané gambarina legu. Pamedeké makejang ningalin tingkahné. Héran tekéning solahné I Sudarma. Sabilang ningalin unduké ento, pamedeké nakonin I Sudarma “Apa magaé ditu? Mai mabakti ka pura, da dakianga témbok purané.” “Mangkin dumun, tiang kari ngambar legu.” Ningeh pasautné I Sudarma, pamedeké kedék. “Mula saja né jelema buduh. Awak ngambar buyung orahanga ngambar Legu,” pamedeké pakrimik.

punika.” Apana raris digelis nimbal nguningin kasekelan saking Prana miwah Apana. Wyanané raris ngandika: “Sujatiné titiang sané pinih utama iriki, pamekas ring sarirané. Pirengang sané mangkin atur titiangé sané ngawinang titiang mautama. Yéning titiang padem, sinah sami sané wénten ring angga sarirané pacang padem taler. Punika taler yéning titiang malaksana sinah sami punika pacang malaksana ngamargiang swadharma. Tonton sané mangkin titiang pacang padem!” Wyanané raris muputang karyannyané. Sesampuné atampilan, raris mawali matangi. Prana, Apana, Udana sami digelis sinarengan matur: “Nawegang Wyana, sujatiné durung mautama yéning sakadi asapunika kawéntenannyané duaning wantah Samana sané prasida kawesa olih pasametonané!” Wyana miwah Samana raris malih matur: “Uduh sameton titiang sareng sami, sujatiné titiang sané pinih utama, sané mangkin panggihin titiang, sinah sami pacang kasor tur nénten prasida makarya. Turmaning yéning titiang sampun meneng sinah sami taler pacang meneng!” Samanané raris muputang karyannyané saha mawali matangi. Pramangkin Ida matur saha magebras banggi ring pikayunan: “Hahhaha… uduh sameton titiang sareng sami, sujatiné asapunika dahat kasor ring sariran titiangé, tonton mangkin. Yéning titiang ngadeg, sami pacang ngadeg taler. Sapunika taler yéning titiang mamargi, sinah sami taler pacang matangi malih.” Sesampuné punika mamargi raris matur sametonnyané sané tiosan; “Wantah Wyana sané kaliputin olih pasametonan!” Kadi asapunika aturnyané pramangkinan. Nyaksiang makalima kawéntenan pasametonané punika raris Hyang Maha Agung Ica saha ngandika majeng ring makasami punika: “Uduh Cening, sujatiné wyakti I Déwa sami dahat mautama ring kahuripané, sami sampun ngagem kawisésan sajeroning nguripang sarirané pamekas jagaté. Soang-soang saking I Déwa wantah prasida ngawesa raga sariran I Déwané, sané tiosan wantah prasida ngutamayang kawisésan I Déwané ring angga sariran I Déwané kémanten! Makasami sujatiné madué kawisésan soang-soang!” Kadi asapunika bebaosan Ida Hyang Maha Agung. Irika raris makalima mawali ngelarang swadharma soang-soang saha ngamel swadharmannyané manut sakadi sané sampun kacumawisang. Risampuné wusan nlatarang parindikan sakadi asapunika, raris Ida Brahmana Lanang ngandika: “Sariran Beliné puniki wantah asiki. Sané asiki punika prasida mauwah dados makudang-kudang kahuripan. Asapunika taler ida dané sameton makamiwah Adi ané sayangan Beli. Beli wantah asiki sujatinnyané, punika mawinan patut pisan miara kahuripan saha uning ring indiké punika. Sesampuné uning sinah prasida pacang nemuang kasujatiané. Sané mangkin kadi asapunika Beli nlatarang kapining I Déwa.” (Puput)

Ngalih luung koné sing dadi malalung Baan luungé tuah bakat di suung Tur lalungé ngranang kenehé buung Mawinan magalung da mabekel balung Ngenehang pikolih nyagerang wat kukung Mabanten, macanang raka, mabayu sriung Tuah i mémé ané sing taén kresep magalung Sabilang nembulan sebet kilangang I Bangkung Setata kalah tekén parisolah pianak bengkung Magalung, makalung, mabungkung mangmung (Nilarwati)

Nyujuh Suung Uling anrawang-anrwung Saking karang suung Malalung Makungkung Ring Bhuwana Agung Ngiring nyujuh Sang Hyang Suung Mangda tan makungkung Ngiring sembah lan lampah tan puyung Diastun ngawit lan puput saking suung (I Ketut Sandiyasa)


Kruna

14

I Putu Gede Arya Arnawan

Cerakén Lengkara Punggelan geguritan puniki kaanggén ngulati basa lan aksara Bali. Kapunggel saking Geguritan Cokli sané kakawi olih Djelantik Santha. Kaolah antuk : Pangremba Bali Orti

msСmmã*, Mas Kumambang 4.ndkuær, Nadaksara, s)d%nmÓminÐrsßin/,

sedeng namtamin karasmin, ewnÓ)nÀ¡lgd*, Wénten ula gadang, r&truenm\ulnÓ&, ring taruné mangulanting, etel(mkÉms)mr. télér makrama semara. 5.kgêtæisn/,

Tangiang ”Spirit” Kemerdekaan ANTENG ring makudang-kudang parikrama sosial kemasyarakat, ngawinang I Putu Gede Arya Arnawan sayan éling ngajiang galah. Tu De –sapunika dané sering kasambat ngrasayang pasarahinan digelis pisan nglintang. Paserahinannyané pinaka pegawai honorer ring Dinas Pekerjaan Umum Kota Dénpasar, pinaka selah akéh malajah tur molihang akéh pengalaman saking para seniornyané. Manut lanang sané embas ring Dénpasar, 4 Juli 1991, sesampun sareng ring Dinas Pekerjaan Umum Kota Dénpasar, dané éling yéning malajah punika nénten wantah ring sekolah miwah kuliah kémanten, nanging taler prasida ring dija ugi. Sadurungnyané alumnus SMKN 1 Dénpasar Jurusan K o n struksi B a n gunan miwah Fakult a s Teknik Jurusan Teknik Sipil Unud puniki

Kagiat pisan, s*dê;rrisßn\is/, Sang Diah raris manangis, nunsÓ)tulu\n/, nunas tetulungan, \ur;sib)tnÐkilit/, Ngurah Sibetan kakilit, titê*j)ri;r&hiwêl. Titiang jerih ring I Wiala. 6.hudu;sy*, Uduh sayang, tnñnÑ*hdimn\is/, tan nyandang Adi manangis, hulenpunik, ulané punika, stßkskdiw\uæit/, Satmaka sakadi wangsit,

marasa sampun cukup antuk bekel pendidikannyané. Nanging nyabran galah, tuntutan miwah piambeng ring bidang pakaryan, nyuukang dané setata malajah. “Titiang angayubagia kacunduk sareng sawitra sané setata nyokong. Ngawit pimpinan, sawitra ring kantor miwah kulawarga,’’ baosnyané. Wénten piteket saking sané ngawi dané semangat. Yéning para pejuang kemerdekaan, rela ngetohang jiwa miwah raga mangda molihang kemerdekaan, samian nénten puput kantos irika. Generasi salanturnyané taler patut setata berjuang. Sinunggil tetujonnyané ngawi merdeka déwéknyané padidi. Nyabran warsa, soang-soang yowana pacang ngarepin penjajahan sané matiosan. Duk masa penjajahan, generasi ri kala punika berjuang ngarepin penjajah. Sesampun kemerdekaan kapolihang, generasi salanturnyané ngarepin pikobet nagingin kemerdekaan. Galah sané rumasuk sampun lami sesampun Indonesia kasengguh merdeka, makanten nénten becik kapikenohin. Penjajahan sajeroning bentuk lianan ngawit makanten. Sinunggilnyané teknologi komunikasi, sané tambis-tambis nyajah samian yusa. Utamannyané angganing yowana. “Piteket sané munggah, spirit kemerdekaan punika patut setata katumbuhang sajeroning jiwa bangsa Indonesia. Utamannyané ring angganing yowana negeri puniki. Yéning nénten, yowanané pacang mawali kajahjah. Sakéwanten marupa penjajahan lianan,’’ baos Tu De. Sujatinnyané akéh pamargi sané prasida kalaksanayang para yowana, manut sareng bakat, minat, kapasitas miwah selah sané wénten. Lanang sané seneng olah raga bulutangkis miwah futsal puniki, anteng nyarengin sekaa teruna. Dané taler kapilih dados ketua Sekaa Teruna Dharmaning Yowana, Banjar Wangaya Kaja, Dénpasar Utara. Akéh parikrama becik sané prasida kasantarayang, sané molihang préstasi. Sinunggilnyané pinaka juara lomba Keadarkum pantara sekaa teruna sewewengkon Kota Dénpasar. Nénten wantah jaya ring Kota Dénpasar, sekaa teruna sané kaloktah aktif sajeroning bingkai kebersamaan puniki, taler molihang préstasi terbaik ring lomba sané pateh tingkat Provinsi Bali. “Titiang nénten pacang

Isin Gumi

g)lis±\áil*gÊhsÕ. Gelis nunggilang grehasta.

”Demi Keséhatan”, DPRD Nyokong Nincapnyané Pangargan Roko RERINCIKAN indik panincapan pangargan roko kantos séket tali rupiah abungkus ngamolihang sokongan saking makudang-kudang angganing. Sinalih tunggilnyané, sokongan rauh saking anggota komisi II DPRD Badung, Nyoman Mesir. Sakadi sané kabaosang, dané nyokong pisan rerincikan panincapan argan roko kantos séket tali rupiah abungkus. Antuk panincapan arga sané doh nikel punika, kaaptiang majeng krama sané seneng ngroko mangda mararian. Mangda mikayunin sadu-

rung numbas roko. Tiosan punika, yéning pikayunan punika durus kamargiang majanten pacang ngirangin konsumsi roko inggian ring kalangan anak lingsir kantos yowana pameksnyané ring Bali. Parindikan punika kabligbagang ring sajeroning acara Isin Gumi Radio Singaraja FM 92,0 Mhz raina Wrehaspati, 25 Agustus 2016 lintang. Putu Kastawa, Anturan Manut tiang, antuk panincapan argan sané ageng punika pacang maius ma-

jeng keséhatan krama sané seneng ngroko miwah krama sané nénten ngroko. Minab, sangkaning panincapan arga roko puniki taler ngawinang nincapnyané pendapatan negara santukan pajak roko taler nincap. Gung De, Jl.Ngurah Rai Singaraja Iriki pastika wénten sané marasa aget miwah sané rumasa pocol. Tetujon pamerintah sampun janten pisan, inggih punika matetujon mangda kramané waras, seger oger. Napi malih sampun mabukti, makéh krama

Kruna BASA BALI

AKSARA BALI

1.

aji

1. hji,

1. ayah

2.

biang

2.

bê*,

2. ibu

3.

niang

3.

nê*,

3. nenek

4.

kakiang

4.

kkê*,

4. kakek

5.

raka

5.

rk,

5. kakak

6.

ari

6.

hri,

6. adik

7.

bibi

7.

bibi,

7. bibi

8.

paman

8.

pmn/,

8. paman

9.

sameton

9.

sm)eton/,

9. saudara

10. putu

Redité Kliwon, 28 Agustus 2016

10. putu,

BAHASA INDONÉSIA

10. cucu

sané sungkan sangkaning ius roko, sangkaning seneng ngroko. Nika mawinan tiang cumpu pisan ring wecana nincapnyané pangargan roko kantos séket tali rupiah. Tanaya, Kampung Tinggi Antuk pangargan roko sané maal puniki janten sampun wantah sané madué jinah akéh kémanten sané prasida numbas. Tiosan punika, majanten pacang ngirangin wilangan alit-alit sané seneng malanjaran santukan nénten madué jinah anggén numbas roko. Yéning saking alit sampun seneng ngroko, majanten pacang ngawi kaon kahanan keséhatan. Gung Surya, Lovina Sané jejehin tiang, rerincikan inucap pacang ngwetuang pikobet anyar inggian ngawi pocol petani temako miwah petani cengkéh. Sangkaning argan rokoné maal sinah majanten pabrik pacang ngirangin numbas asil pertanian marupa temako miwah cengkéh. Yéning indik tetujon pemerintah, tiang sampun uning wantah becik majeng keséhatan krama. Putri, Jl.Kutilang Singaraja Tiosan ring tetujonnyané becik, wénten taler sané karugiang inggian sané maadolan lanjaran ring warung. Patut kapikayunin dumun rerincikan punika santukan akéh krama sané ngantungang uripnyané mawit saking madolan lanjaran inucap. Sinah akéh sané karugiang. (ama)

mrasidayang tan pasokongan anggota sekaa teruna, tokoh-tokoh ring banjar miwah instansi sané mapaiketan,’’ baosnyané. Tu De sané mangkin sedek muputang pendidikan pasca sarjananyané ring Magister Teknik Sipil Jurusan Manajemen Proyek Konstruksi Unud, meled ngedum pengalaman sareng yowana Bali. Madué prinsip dados orang penting, nanging becikan dados nak becik, ngawinang dané nénten puput malajah. Dané taler mautsaha ngrereh selah malajah. Rumasuk aktivitasnyané ring sekaa teruna, sané ngawinang tetep malajah. Tu De nénten madué ekspektasi akéh, sajabaning meled

nagingin paserahinannyané antuk paindikan sané mapikenoh. Pinih nénten wénten pikenohnyané majeng déwék miwah anak siosan. Setata marasa angayubagia majeng napi sané sampun kaicén Ida Sang Hyang Widhi Wasa tur setata mautsaha numbuhang semangat kemerdekaan, ngawinang Tu De setata meled ngambil paindikan anyar. “Spirit kemerdekaan punika patut setata wénten ring jiwa generasi Indonesia. Napimalih ri kala peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan, patut sayan katangiang, ngarepin tantangan miwah sesaih,’’ dané ngwewehin. (ast/yan)

Gusti Ketut Sri Susanti

Bangga Nelebin Widang Seni Tari YUKTI sakadi bebaosané, buah ten doh ulung saking punyannyané. Bebaosan inucap nyihnayang pisan kawéntenan Gusti Ketut Sri Susanti sané nelebin widang seni tari sakadi ibunnyané. Nyaksiang dané masolah antuk makudang-kudang soroh igelan, pastika sané ngaton pacang mikayunin kawéntenan maestro tari Ni Ketut Arini. Majanten pisan kliabnyané pateh, anak istri sané embas ring Dénpasar 29 April 1970 puniki kasujatiannyané wantah putri kaping pat maestro tari Ni Ketut Arini. ang nénten nguningayang “Yadiastun tiang nak Bu Arini, akéhan sané yéning tiang pianak in,” baosnyané sinambi sampun nguningin,” makenyem. wus nyolahang Tari Kacunduk sawus ing peméntasan seni Baris Kekupu ring budaya drama musikal, Desa Peguyawu puniki, anak istri angan Kangin wawu sané aktif punikii maosang yéning seni mesik ring anggannyané. tari sampun mamesik n ring garba, Gusti Ketut Minab duk kantun pun masikian sareng seni Sri Susanti sampun sampuné embas, duk alit, tari. Rumasuk risampuné ampun marabian, dané dayowana, kantos sampun ajahin alit-alité ngigel ring dos guru tari, ngajahin rini duén ibunnyané. Satios Sanggar Tari Warini er madué Sanggar Tari ring punika, dané taler eng ring wewidangan Jalan genahnyané meneng pasar. Kawantu olih putrinCekomaria, Dénpasar. éh dané madué murid sané nyané, Nana, akéh gigel. kayun malajah ngigel. Manut istri Aries Nurcholis ané sampun puniki, seni sané en pacang katelebin nénten b nénten katilarin. Minab wénten sané prasida nnyané nungkasin kayunnyané ni tari nglimbakang seni eket sané sampun leket ané. ring anggandané. ik Katakénin indik akéhnyané polih sangu ngajahin ngigel, Bu Sri— sakadi punika dané ketah kasambat wantah manmakenyem kényané ten. Kenyemn, yéning menyinahang pisan, nang pisan dados led sugih, sampunang uk seni tari. Manut dané, seniman, rumasuk nelebin widang seni tari nénten prasida ané sugih. ngawinang anggané ang seni punika sujatiné “Nelebin widang ngayah, nanging wénten rasa bangga sané ng prasida nyinahang sané metu ri kala titiang pinih becik. Napi malih prasida ngajahin alitaos dané. alité seni tari,” baos dané pinaka guru ring TK Paserahinandané énten ngirangin kaibukanCipta Dharma nénten ang tari. Pikayunan sané nyané ring widang ing dija wénten utsaha paspageh kagamel, ring lnyané, setata kamargiang. tika wénten hasilnyané, dik Tari Baris Kekupu, Sri Katakénin indik yang yéning tarian inucap Susanti nyatuayang rian klasik. Tarian inucap rumasuk ring tarian

minab pateh sakadi Tari Kupu-Kupu Tarum, nanging busana sané kawigunayang sakadi Tari Baris. Wénten gerakan sané keras sakadi Tari Baris, wénten gerakan sané lemuh sakadi kupu-kupu. “Alit-alité mangkin patut kaajahin tarian klasik, mangda sayan seneng tur meled malajahin. Nénten nilarin tari klasik tur nguberin tari kreasi kémanten,” baos pecak Mahasiswa Jurusan Tari ISI Denpasar puniki sumeken. Dané taler setata nguduhang alit-alit ring sanggarnyané mangda kayun nelebin samian soroh tarian, ing- gian tari klasik miwah Yadiastun seneng tari kréasi. seni tari, Sri Suring widang santi nénten naen maksa pianak-pianaknyané dados pragina. Yadiastun asapunika wénten taler pianaknyané sané pateh sakadi anggané, seneng ring widang seni tari. (ast/uma)

Gegéndong ring Panglimbak Jagaté Mangkin YÉNING maosang indik gegéndong utawi sané mangkin kabaos pengemis, utawi anak ngidih-ngidih, ring jamané mangkin sayan ngakéhang pasliwer ring marginé, ring pasar, utawi genah tiosan utamannyané ring wewidangan kota sané wénten ring Bali. Sira sujati gegéndong punika? Napi mawinan gegéndong punika akéh kawéntenané?. Yéning jagi nyelehin kawéntenan gegéndong nénten lémpas saking méwehnyané ngrereh pakaryan, minab niki sané mawinan gegéndong ngambil pakaryan sané instan mangda prasida nagingin pabuatnyané sarainataler pabuat kulawargannyané. Sané dumun, gegéndong punika akidik. Ipun wantah jatma sané sampun lingsir sané nénten malih prasida ceteng makarya. Kahanan punika sané ngawinang ipun ngidih-ngidih ajengan utawi beras ring para jatma sané karauhin ka umah-umahnyané. Irika ipun taler ngicénin napi sané kabakta, napiké lémat utawi piranti tiosan. Ri kala ipun kaicén beras sareng jatma sané madalem nyingakin, irika lantas kawales olih anak ngidih-ngidih punika antuk ngicénin bawang, basé utawi napi ja sané kabakta. Sapunika yéning maosang indik kawéntenan gegéndong sané dumun, ipun madué rasa suksma majeng ring sang sané ngicénin beras utawi sané tiosan.

Lianan punika, panglimbak gegéndong sané dumun wantah ring désa kémanten, nénten kantos ka kota. Kawéntenan gegéndong napi malih sané dumun ring jatma Bali madué rasa kimud tur elek ring manah yéning ipun kabaos gegéndong. Punika mawinan jatma pastika pacang makarya mangda madué jinah jagi kanggén nagingin pabuatnyané. Nanging sané mangkin matiosan pisan, panglimbak gegéndong sampun sayan ngakéhang. Parindikan punika prasida kacingakin ring kota-kota sané wénten ring Bali, gegéndong sampun ngakéhang. Akéh taler modus sané kanggén minakadi ngajak anak alit ri kala nglaksanayang pakaryan gegéndong punika. Lianan punika, gegéndong punika akéhan sané kari bajang-bajang sané kari ceteng yéning ngambil pakaryan sané lianan. Nanging ipun wantah milih dados gegéndong mangda gelisan ngamolihang jinah. Para karma sané mangkin akedik sané ngicénin jinah

majeng ring gegéndong sané kantun mrasidayang ngrereh pakaryan sané lianan sareng gegéndong. Alit-alité taler akéh sané dados gegéndong. Ipun kaajahin ngidih-ngidih sareng reramannyané sané sampun dumunan dados gegéndong. Pianaknyané kaajahin natak majeng anak sané katepukin ring margi, pastika irika anak sané nyingakin pacang marasa pedalem, raris kaicén jinah. Wit saking irika raris kawéntenan gegéndong nyabran warsa sayan ngakéhang. Puniki pinaka pikobet sané patut karerehang solusi, minakadi ngicén penyuluhan majeng ring jatma sané dados gegéndong punika mangda prasida minehin yéning pakaryan dados gegéndong nénten patut kalaksanayang napi malih ipun kantun ceteng yéning ngambil pakaryan sané lianan. Irika prasida kanggén solusi mangda kawéntenan gegéndong nénten ngakéhang ring aab jagaté sakadi mangkin. I Putu Dirga-Selat

Redaksi nerima reriptan profil mabasa Bali miwah Indonésia (pinih akéh 3000 huruf) jangkép sareng foto profil. Profil mangda kakirim ring alamat : Bali Post Jalan Kepundung 67 A Dénpasar. Taler dados ring email : bali.orti@yahoo.com


15

Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

Visi Bali dalam Puisi Afrika

Sang Manusa Jati Sakti z Membuka Pintu Depan Ilmu Bali (4)

BAGAIMANA kita mengetahui seorang pejalan, pendaki kesadaran spiritual, telah sampai di puncak gunung Kesadaran akan Ayah-Ibu Tunggal? DIA yang sudah tamat, sampai di puncak gunung langsung, secara mendasar akan ditandai dengan lenyapnya ego diri. Senantiasa siap menerima segala tiba, tiada lagi menyalahkan. Tak lagi mengklaim diri punya, karena segala klaim milik telah lebur ke dalam sang Maha Pemilik, Maha Punya Sejati—Dia-lah sang AyahIbu Tunggal, Asal segenap Yang Ada dan Keber-ADA-an. JIKA MASIH MENYALAHKAN, apalagi penuh amarah, itu berarti sang pendaki gunung Kesadaran belum sampai di puncak sesungguh-sungguhnya Puncak. Boleh jadi baru melangkah beberapa tindak saja di kaki gunung. Pencapaian puncak itu justru diwujudnyatakan dalam kepekaan empati terhadap kemanusiaan dan kealaman—teks susastra Bali menyebut bakti kepada Widhi, asih kepada sesama, dan rungu kepada makhluk, unsur, dan pihak lain. PUNCAK PENCAPAIAN spiritualitas, bagi tetua Bali, karena itu, justru bukan

semata dan benhenti hanya dalam dimensi mistis. Dia mendapatkan pemaknaannya terdalam, teragung, dan terindah justru dalam pengabdian kemanusiaan dan kealaman. Dengan begitu berarti dia tak merusak, melainkan telah ikut menjaga, merawat, dan memelihara kelangsungan hidup, kehidupan, dan penghidupan bersama. SEBAGAI PENGABDI, abdi kehidupan lewat kemanusiaan dan kealaman, dia boleh jadi tak terkenal, tak muncul dengan popularitas berbungkus teknik-teknik jitu bisnis pencitraan public relations. Dia boleh jadi “orang kecil”, seseorang yang hidup sederhana, tanpa keluh, karena berkarma semata-mata atas dorongan berkarma. TUJUAN TUNGGALNYA hanyalah semata-mata sang Ayah-Ibu Tunggal. Tanpa tujuan lain lagi, karena manakala sang pendaki sudah sampai di puncak, tujuan yang semula dipegang teguh kukuh— untuk sampai di puncak—niscaya otomatis sirna. Dia yang demikian itulah dalam visi kerohanian Bali dinamakan manusa jati, atau manusa sakti. Dia-lah sang Manusa Jati Sakti. zdeprabas

Kesederhanaan, Kerinduan, Keikhlasan Kerendahhatian Melatari Segala Datang... zPesta Puisi Doa Bulan untuk Pungguk... ACARA peluncuran dan bedah buku kumpulan puisi ‘’Doa Bulan untuk Pungguk’’ karya Nuryana Asmaudi SA, di Bentara Budaya Bali, Kamis malam (25/8), menampilkan I Ketut Syahruwardi Abbas sebagai pembahas. Selain diisi dengan dialog bedah buku, pesta puisi ‘’Doa Bulan untuk Pungguk’’ dimeriahkan dengan pentas musikalisasi puisi dari Kelompok Sekali Pentas (Heri Windi Anggara dkk), pembacaan puisi oleh Risma Putri, Wayan Jengki Sunarta, dan Frans Djatmiko Wisnu Murti, serta pemutaran film pendek ‘’Doa Bulan untuk Pungguk’’ karya Dadi Reza Pujiadi, yang terinspirasi dari buku kumpulan tersebut. Sejumlah penyair, pelukis dan seniman lain memberikan testimoni. Banyak pula kalangan muda, mahasiswa dan pelajar pecinta sastra serta aktivis teater sekolah dan kampus, hadir memeriahkan peluncuran buku kumpulan puisi tunggal pertama Nuryana Asmaudi SA itu.

zDALAM DOA BULAN UNTUK PUNGGUK... TENTU BUKAN PERKARA yang sederhana jika pada 15 September 1996, seorang Nuryana Asmaudi SA memutuskan untuk menggelandang di Bali demi menekuni sufisme dan jurnalistik. Sebuah pilihan yang naif bagi masyarakat kita yang menganggap terobosan ini dapat dilakukan sembari menggarap lahan pertanian, mengembangkan ukiran kau dan berprofesi ganda sebagai guru agama di Kauman, Jepara - Jateng. Apa sih yang dicari Nur? Skeptisme itu seolah terjawab pada peluncuran Anthologi Puisinya, ‘’Doa Bulan untuk Pungguk,’’ Kamis, 25 Agustus 2016 di Panggung Luar Bentara Budaya - Bali. Tampil Sederhana Athologi yang menyuguhkan 137 puisi Nuryana oleh Ketut Syahruwardi Abbas selaku pembedah karya, menyatakan bahwa setiap pemikiran Nuryana dalam puisinya, mengajak pembaca memasuki ruang-ruang yang tidak biasa, meskipun objek penulisannya adalah hal-hal sederhana, seperti ‘’Belajar Hidup (1)’’ halaman 36. Bagiamana ia bercerita tentang tokek di balik lukisan yang numpang tinggal dan merasakan seperti hidup di istana. Tetapi bagi Abbas

itulah gaya Nur menceritakan tentang keprihatinan hatinya, kegagalan cintanya dan masa-masa laparnya yang selalu diayun imaji lewat sebuah kalimat,’’... pada hewan tahan lapar itu ia belajar menempa diri seperti Daud yang rajin puasa....’’ BERLATAR belakang ketekunan seorang redaktur yang pernah sekantor dengan Abbas, Nur sering mencatat peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya dengan sangat sederhana melalui sajak yang patut direnungkan. ‘’Ini terlihat seperti dongeng tapi disajikan dengan bahasa sajak yang menawan dan sederhana, seperti pada hal. 153 ‘’Doa bulan untuk Pungguk,’’ yang menjadi master piece dari 270 sajak yang diseleksi ke dalam Anthology. Demikian juga Tatang Bsp (Kurator dan Pelukis) yang mengenal Nur sejak tahun 2000, saat Nur intens berdiskusi di tempat Aan S. Kawisar seorang penair dan pelukis. Bagi Tatang, dengan kesederhanaan Nur bukanlah jenis orang yang diskursif. Saat berbicara tentang kompleksistas senirupa dengan sistem pasar yang menjadikan perupa objek, dengan entengnya ia mengatakan, ‘’Sudahlah kembali ke diri seniman sendiri..’’ Ini mirip dengan peristiwa tokek

Tak Ada Dialektika, Saking Rahasianya zTransformasi Mamitra di Bali…

MESKI sama-sama bermakna rekan, istilah mitra di Indonesia, tak sama dengan mitra di Bali. Jika Indonesia mitra sebagai rekan, kolega yang umumnya berhubungan dengan pekerjaan, di Bali mitra cenderung diartikulasikan sebagai rekan dengan hubungan yang lebih intim. Selingkuh. Mamitra berarti selingkuh. Sebuah fenomena yang saat ini menjadi sebab hubungan kawin-cerai, putus-cari baru, di antara suami istri dan pasangan kekasih. Hal ini semakin menarik jika dibenturkan pada pembicaraan seputar proses transformasi mamitra orang Bali zaman dulu dengan sekarang. Bagaimanakah mereka mendefinisikan cinta dan bercinta? Adakah dialektika yang terjadi antara pasangan, yang lelaki dan perempuan, serta yang menyelingkuhi dan diselingkuhi? COBALAH kita singgah sebentar dalam obrolan warung di desa-desa, khususnya para orang tua yang mengenang masa lalunya, maka akan dapat disimak satu, dua kisah bertema tentang mamitra. Dengan ringan mereka bercerita memergoki Pan A dan Men B yang tengah bercumbu di Bale Daja, kala suami Men B keluar nonton Calonarang. Ada pula kisah tentang Pan C dengn Men D yang asyik ‘mendem padagingan’ di antara kerumunan warga desa yang tengah menonton wayang. Di sini, dapat dilihat ruang-ruang umum memiliki peranan penting sebagi media yang dimanfaatkan untuk mamitra. Dasarnya pun bukanlah suka sama suka, cinta sama cinta, melainkan berdasarkan pada dot gen ajak ye. Dengan dua, tiga kali lirikan mata, smebari mencolek sedikit pantat sang calon sebagai penanda persetujuan, maka terjadilah! INI BERLAINAN dengan mamitra saat ini yang cenderung lebih intropert. Jarang diketahui orang, dilakukan di tempattempat privasi seperti hotel, penginapan, vila, dan sebagainya. Hampir-hampir tak

ada dialketika yang terjadi karena saking rahasianya. Namun, jika saatnya ketahuan, jadi meluber ke mana-mana dengan berbagai alasan pembenaran. Mulai dari hubungan yang tidak harmonis lagi, meteri, sampai ketidakpuasan terhadap padangan masing-masing. Semua punya pembenarannya sendiri yang akhirnya berujung pada perceraian. JIKA BOLEH MEMILIH, ingin rasanya hidup di zaman dulu, saat orang Bali tak terlalu mempermasalahkan mitra sebagai sebab perceraian. Sebab saat itu, cinta dan bercinta memiliki batasan yang sangat jelas. Ini ditandai dengan tetap terjaganya keharmonisan hubungan sebuah keluarga meski dilanda perselingkuhan. Cinta hanyalah untuk keluarga. Bercinta adalah naluri ilmiah yang mesti dipisahkan dari perasaan cinta. Itu sebabnya banyaknya terjadi pasanga yang saling “berselingkuh” dalam suatu daerah tertentu kala itu. Jikapun tetangga-tetangga tahu, itu hanya akan menjadi omongan abulan pitung dina. Setelah itu, kehidupan pun berjalan seperti biasanya. Ini berlainan dengan zaman sekarang yang begitu sulit memberi batas mana cinta dan mana bercinta. Mana hati, mana naluri. Begitu banyak orang saat ini menafikan mamitra yang telah membudaya sebagai rahasia umum. Di saat yang bersamaan mamitra tetap tumbuh sebagai panggilan naluri yang ilmiah. Dalam hal ini, perceraian menjadi satu-satunya usaha yang dikultuskan sebagai jalan terbaik menyelesaikan cinta. BETAPA cinta begitu rapuh saat ini. Mungkin karena hati saat ini tak lebih berharga dari persoalan syahwat. Melihat fenomena ini, siri jadi teringat sepenggal sajak Umbu yang berjudul “Melodia”. Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan. zI Wayan Sumahardika

zMembuka Pintu Depan Ilmu Bali (5) SENDIRIANKAH Bali bervisi kehidupan eko-sosio-spiritual demikian? Besar kemungkinan tidak. Meskipun visi ini juga mendasari peradaban Nusantara umumnya, toh tak bisa serta-merta dikatakan ini murni milik Nusantara semata. Penelitian mendalam Prof Dr Jacob K Olupona, ahli sejarah agama-agama di Universitas California, Davis, memberi kita wawasan lain—yang lebih luas. Dalam karya tulisnya, “African Religions and the Global Issues of Population, Consumption, and Ecology” yang termuat dalam buku Vision of a New Eart yang disunting Harold Coward dan Daniel C Magurie (2000), ahli yang banyak meneliti “keberagamaan” suku-suku tua di Afrika ini memastikan: nun jauh-jauh abad sebelum agama-agama Semitik masuk ke Afrika, sesungguhnya orang-orang Afrika sudah “beragama” dan beradab. ORANG BALI boleh jadi tak akan nyana visi filosofis dan tradisi ritual yang hingga kini dilakonkan di Bali itu praktis serupa dengan “agama-agama” asli manusia Afrika. Kearifan “agama-agama asli” Afrika itu diduga kuat sudah dibangun sejak masa Homo Sapiens, nun 40 ribu tahun sebelum Masehi. Kawitan atau leluhur semua manusia modern se-Bumi—tak terkecuali Bali—inilah diduga kuat memulai peradaban lewat alat-alat yang canggih rumit, menggunakan kekuatan api, bercocok tanam untuk dipanen, hingga membangun lembaga desa, berbahasa, tak terkecuali berkesenian. PEMANDU KITA menyelami keindahan “puisi Hidup” manusia Afrika lewat agamaagama asli mereka, Prof. Olupona, menunjukkan mitos penciptaan Alam Semesta dan ras manusia pertama di Bumi ini mirip dengan mitos penciptaan yang tersurat dalam lontarlontar Bali, semisal Purwaka Bhumi Kamulan dan beberapa lontar Kanda Mpat: Bahwa Alam Semesta dan Bumi seisinya tercipta dari energi yang Tunggal—dinamakan Ase—sejak awal tidak sempurna, damai. KARENA BERASAL MULA dari energi Tunggal Ase, maka semua isi Bumi dipahami sebagai “saudara kandung”. Sejumlah syairsyair purba Afrika begitu mengagungkan kewajiban manusia supaya saling merawat, memelihara makhluk lain di Bumi. Aneka pantangan mengusik tetumbuhan dan binatang tertentu pun diciptakan. zdeprabas di balik lukisan yang dijadikan sajak Belajar Hidup (1). Menurut Tatang, yang akrab menyapa Nur, ‘’Mbah.’’ Peristiwa ini sungguhsungguh terjadi. Sebuah lukisan milik Made Gunawan yang diberikan sebagai hadiah itu tidak pernah dipindahkan supaya tokek bisa beristana di sana. DALAM sebutan ini ‘’Mbah’’ oleh Tatang, sedang mempersoalkan manusia bukan sistem. Dia mengajak seluruh instrumen tubuh kita untuk masuk dalam pengalamanpengalaman keseharian, tanpa berargumentasi macam-macam. Refleksi yang tidak berbelit ini makin meyakinkan rasa hormat Tatang pada penyair seperti Nur, atas apa yang pernah disampaikan Kurator Nasional Jim Supangkat bahwa semua kesenian harus mengandung rasa Puisi. Lain lagi, Nyoman Wirata seorang penyair dari tahun 80an memandang Nur yang tinggal di Studio Snerayuza, milik Pelukis Made Budiana sebagai guru agama yang patut diteladani. Menurut Wirata, menerbitkan buku bagi seorang penyair adalah sebuah kemewahan, hal itu bukan karena ia telah menulis puisi sejak tahun 80an tetapi tidak memiliki arsip yang rapi seperti Nur. Akan tetapi idiom-idiom yang digelar di panggung anthologi tersebut menjadi tanya yang tak terjawab. Sajak ‘’Keloni aku Tuhan’’ hal. 3, menyiratkan bahwa Nur sedang berbicara dengan Tuhan. Tetapi serentak dengan itu muncul pertanyaan Wirata, siapa sesungguhnya aku ini? Tentu ini menjadi persoalan yang justru tidak sederhana. Dengan itu ia malah takut tergelincir menginterpretasikannya. Jangan-jangan di balik imaji itu, Nur mengalami katarsis dalam ungkapan yang cenderung melankolis. Rumitnya Kesederhanaan Kecurigaan ini mengantarkan kita pada anggapan kalau kerumitan hidup yang dibuat Nur itu berusaha dibuat sesederhana mungkin karena ketidakmampuannya memecahkan persoalan di luar kapasitasnya meskipun ia tidak lari tanggung jawab. Warih Wisatsana sohib Nur sekaligus kurator Bentara Budaya Bali berpendapat, ‘’Kalau seorang penyair membuat antologi di atas 10 bahkan 30 tahun itu bukan soal keindahan lagi, tetapi mengantarkan kita akan upaya yang serius menemukan diri dalam satu ragam kepribadian. Jika ‘’Bulan Berdoa untuk Pungguk’’ menjadi satu tamsil penemuan, maka di lain kesempatan penyair yang menyadari kefanaannya itu akan menyiratkan arti dan bunyi dalam satu surat yang berbanding lurus dengan pergulatan dirinya. Karena sesungguhnya Nuryana itu rumit, tetapi ia nampak hadir di depan kita dengan kesederhanaan. maka ke depanya Nur harus berani menyatakan kerumitannya karena itu menjadi bagian yang berharga dari proses karyanya.’’ Agaknya memang Nur wajib mempertimbangkan, aspek sosial psikologis medan keseniannya. Seperti yang diceritakan Tan Lioe le, yang mengenal Nur, ketika samasama menjadi pemenang lomba penulisan puisi Sanggar Minum Kopi tahun 1990, dengan puisi ‘’Pesan Gimin Kepada Iyem,’’ halaman 4. Tahun 1996 ketika Sanggar Minum Kopi (SMK) moksa, ia mengontak Yokik, sebutan untuk Tan Lioe Ie. ‘’Yokik ada kerjaan di Bali?’’ katanya. Karena Yokik berpikir bahwa ia tamatan Aqidah dan Filsafat IAIN Walisongo Kudus, dicarikanlah pekerjaan yang tak jauh dari jurusannya. Melalui jaringan adiknya, Yokik mendapatkan informasi bahwa ada pekerjaan sebagai guru hubungan guru-murid layaknya kaum sufi yaitu total surrender, Murid wajib tunduk pada guru. Sementara pengusaha itu merasa bahwa anaknya harus tetap berada di bawah pengawasannya. Akhirnya Nur malah bertengkar dengan si pengusaha tersebut dan bubarlah rencananya semula. Ikhlas Nur cukup lama ‘’nyantrik’’ dengan

Dirusak Paham Hak Milik z Membuka Pintu Depan Ilmu Bali (6-Habis)

SEBAGAIMANA orang Bali sebelum diakui oleh Kementerian Agama RI tahun 1958 beragama Hindu, suku-suku asli Afrika pun tak punya “kitab suci” seperti dipaksakan dipahami oleh agama-agama ras Semit. Namun mereka tetap memahami Alam ini berlapis tiga, layaknya triloka atau tribuwana: alam atas, tengah, dan bawah. Sebelum melakukan sesuatu kegiatan yang bersentuhan terhadap Bumi, agama-agama asli Afrika pun mewajibkan orang-orang meminta izin dengan ritus dan sarana tertentu. MANAKALA tetua Bali memahami hidup manusia sebagai keberuntungan yang mesti dimaknai sebaik-baiknya, memandang alam ini hidup (bawa maurip), suku-suku asli Afrika pun mengapresiasi hidup adalah keajaiban yang penuh diliputi energi ese Yang Tunggal. Bahwa Bumi ini sejatinyalah pribadi yang hidup, sedangkan tanah tak ubahnya kepala orang. MENGOLAH TANAH itu layaknya menyisir rambut orang. Jelas, Anda harus melakukan dengan penuh lembut, berlimpah kasih sayang, dengan cara-cara yang tidak akan melukai kepala orang itu. Mereka tak mengenal konsep “hak kepemilikan pribadi” layaknya peradaban Yunani—yang banyak diadopsi ke dalam produk hukum bangsabangsa modern di dunia, yang jelas sangat tidak ramah bagi lingkungan alam, karena si pemilik pribadi boleh saja menggunakan barang miliknya sesuka hatinya tanpa menyadari kita hidup di planet Bumi Tunggal.

BAGI MANUSIA Afrika purba: tanah ini titipan suci leluhur. Mengolah tanah penuh hormat berarti juga menghormati leluhur. Penghormatan itu kerap dilakukan dengan upacara pascapanen sekaligus untuk mensucikan Bumi. SAYANG, kolonial Barat lantas memorandakan banyak kearifan tua agamaagama asli Afrika itu. Paham hak milik dipaksakan. Agama-agama baru diajarkan. Orang-orang Afrika asli terusir dari tanah leluhur mereka. Ketinggian peradaban berwujud keramahan dan kelembutan perlakukan terhadap Alam Semesta dan Ibu Bumi pun poranda. Afrika pun menjadi seperti tercitrakan umum, kini: kerontang dan terbetot kemiskinan. “KALIAN, para kolonial Barat, menyuruh kami berlari, berlomba memasuki pasar bebas, namun kalian terlebih dahulu mematahkan kaki kami,” kritik tajam pemimpin kharismatik Afrika Selatan, Nelson Mandela. TIDAKKAH BAYANGAN serupa Afrika itu bakal mendera Bali pula, ke depan? Di tengah arus hak milik individual yang dibawa kolonial Barat (Belanda), disambung kampanye gencar globalisasi, modernisasi, dan industrialisasi, dan kapitalisme hitam, adakah saripati spirit Kanda Mpat yang menuntun manusia memperlakukan Alam beserta segenap isinya sebagai saudara kandung itu, menemukan wujud nyata keampuhannya dalam kehidupan mutakhir kini? zdeprabas

Ustadz Umbu Landu Paranggi di In tensBeh (Inspirasi Tendangan Sudut Bedahulu), Jl. Bedahulu XV no. 28. Hal yang menguatkan Nur saat merasa peluncuran buku ini telat adalah nasihat Umbu Landu saat ia datang ke Bali dan merasa kecewa karena SMK sudah Moksa,’’ Bukan terlambat tetapi jalannya memang begitu, jadi harus diterima dengan ikhlas.’’ Keikhlasan ini yang diyakini GM Sukawidnaa (penyair angkatan 80 an dan Wakasek SMP I Denpasar), bahwa hanya ada 2 puisi naratif yang benar-benar enak dibaca dalam kumpulan puisi SMK salah satunya ‘’Pesan Gimin Kepada Iyem’’ Sebuah puisi yang bertutur sederhana tetapi menimbang makna jauhbdan sebagian besar penyair yang sering berakrobatik dengan kata-kata. NURYANA ASMAUDI SA banyak belajar ari keikhlasan dan Frans Nadjira sastrawan dan pulukis senir. Saat Nur silaturahmi pada beliau di ruamh anaknya. Frans menyampaikan bahwa ur itu bisa diibaratkan seorang yang mengendarai kendaraan. Ia berjalan lambat dan hati-hati. Ia berbeda dengan sastrawan yang berjalan serampangan dan ‘’ngebut’’. Saat keduanya ditanya apa ang telah dilihat sepanjang perjalanan tadi, maka Nur mampu mengulas apa-apa saja yang telah dilewati, sementara yang ‘’ngebut’’ tak akan mampu menerangkannya seara detail. Frans melihat sisi ketekuanan dan ke-

sabaran Nur menjadi landasan pencarian yang layak diapresiasi dalam dunia sastra sebab ia tidak terjebak pada karya ‘’kejar tayang.’’ dengan mencetak banyak anthologi tetapi tidak memiliki ‘’kedalaman.’’ Hanya saja beberapa idiom yang muncul dalam pusi Nur, memerlukan referensi khusus bagi pembacanya. Pendapat Frans ini tak dapat dipungkiri jika kita menengok halaman 152 pada puisi, ‘’Kepada Lisa.’’ Di baris ke-3 bait pertama terdapat kata ‘’mihrab perasaan’’ atau kata ‘’dawan dzikir,’’ di halaman 17 dengan judul ‘’Kasidah Laut.’’ akan tetapi ikhlas berusaha dan kerendahatian adalah modal besar bagi Nur untuk maju terus. ‘’Saya akui, memang pada awalnya saya bodoh dan tidak berbakat menulis puisi. Cukup berbeda dengan Wayan Jengki Sunarta yang telah membantu saya menjadi moderator pada malam in, dan mendalami puisi melalui ‘’Sanggar Minum Kopi’’. Tetapi saya percaya ketika seseorang itu memiliki kerinduan dan ketekunan untuk mengolah dirinya makan ia akan sampai pada apa yang dicarinya,’’ ungkap petani Snerayuza ini. Inilah yang menjadi latar belakang lahirnya anthologi ‘’Doa Bulan untuk Pungguk.’’ Esensinya, bukan sederhana itu Nur menimbang nilai hidup, tetapi cara nur membedah an menghantarkan bilah bilah hikmat yang nikmat untuk dicerna oleh pembacanya. Itulah puisi baginya. zFrans Wisnu Murti

Menuju Jantung Kung Klungkung, 88 Tahun Sumpah Pemuda zDari Titik Nol Kilometer Denpasar....

APRESIASI - BPM masih membuka kesempatan untuk menyiarkan puisi puisi PALING maksimal Klungkung DALAM Puisi diluar yang Anda ikutan dalam kesempatan itu. Masih ada tujuh (7) minggu, jadi 7 (tujuh) Edisi yang MENANTANG kreativitas Anda, sebelum kita benar-benar wenten - play di Semarapura 28 Oktober 2016 BULAN BAHASA di jantung Kabupaten Termungil di Bali..

zMoch Satrio Welang DI PEKARANGAN KERTHA GOSA Ayah pernah merangkulku dalam perjalanan kota Berdagang akik Menggelar tikar Dari pasar ke pasar Hingga pelataran ke pelataran Aku tumbuh di antara Batu pirus dan bangsing Di kota yang nyenyak ini Ada sebuah pavilium raja Ada garis wajah wayang kemasan Ada perang-perang babad Juga keris-keris Ingatanku menangisi Sejarah paling panjang Yang diselipkan pada ulik ukir kayu Dinding lapuk ini O, bunga padma di taman kecil Patung kayu penari cantik Kakek bungkuk bertopi capil Betapa aku terjaga Dalam percakapan tawar menawar Di gemeletak batu ekik Di pelataran Kertha Gosa Pernah kutitipkan jejak Tapak dara Kuhangatkan mimpi dan belai ayah Sepanca warna kalimaya

zAchmad Obe Marzuki Di Bayang Sungai Kota.... MENAPAKI LANGKAH pagi di bawah langit berawan. Diam-diam sayup angin menggser mendung. Sementara mentari memaksa jarum-jarum cahyanya memancar jatuh membentuk bayang-bayang di air sungai yang pekat hitam dan aroma tak sedap menyengat di hidung. Sungai kota ini dulu pernah kujudikan tempat bermain, berenang bersama teman-teman sepulang dari sekolah untuk melepas senja yang jauh di anwara kaca-kaca gedung. Kini tampak asing menatap perjalanan waktu yang membawa napas sungai ini harus menjadi keruh oleh sesaknya tumpukan sampah, oleh orang-orang yang tak memiliki kesadaran atas akibar selalu membuang sampah ke tubuh sungai. SEKARANG TAK KULIHAT lagi kemana anak-anak itu harus menceburkan

zMade Edy Arudi I Gde Dharna Telah kau buktikan cinta juga setiamu Dengan kalimat-kalimat puisi Yang tak pernah terbaring mati Atau tergerus gelisah ombak pesisir utara kota ini Musimmu berlalu dan datang kembali Kawin dan menyilang Melahirkan Yuda mandala Tama hingga Tembang Merah Putih yang kubaca sebagai danau, embun yang melintang di atas terik kotamu Tapi kisah sudah ditakdirkan Di setiap lekuk tulisan jidat Melengkung dan securam bukit Gondol Kadang juga semanis anggur di Banjar Ia datang tergesa menjemput Hingga senja melukis kerutan cahayanya di dahimu Membawamu pergi-berlari bersama sunia malam Dengan perahu bercadik Sarat kenangan Hari ini kubaca lagi puisi Mengecap jejakmu Di cabik pasir Lovina. dirinya. Sungai sudah keruh tanpa napas air. Mandi di sungai tak lagi menjadi tradisi anak-anak tapi semua disulap dalam mimpi gajed. Ah, seperti apa zaman memutar perubahan ketika melihat kesedihan terpancar pada seorang sahabat yang begitu banyak menanam kenang. Di tepi sungai kota ini ada hari-hari masa kecil dulu yang kucatat sebagai jejak yang tak luput dari peradaban manusia. DI SUNGAI KOTA INI sebenarnya siapa paling angkuh dan duli? Apakah pembangunan membentuk perubahan manusia yang datang ke kota ini hanya untuk merusak sungai kotaku menjadi tampak tak indah lagi. Banyak orang sudah tak perduli. Mereka hidup berlomba hanya demi perut semata. Membuang sampah ketubuh sungai tanpa kesadaran akibatnya. Oh, sungguh pekak menyaksikan kotaku. Apa yang harus kusampaikan pada anak, cucuku nanti? Zaman bagai jarum-jarum perbahan yang menusuk keakuan manusia yang membawa mereka kecermin retak. Hingga suatu saat aku meyakini mereka akan mengenadah ke langit, meminta kehidupan sesungguhnya.

FOTO foto Hari Puisi dan Doa Bulan Pungguk menyusul mengikuti Puncak Acara di Klungkungt


NASIONAL

16

Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

Krishna: Satyaki Ditakdirkan Penyebab Kematian Bhurisrava

Disusun: Kisari Mohan Ganguli Diterjemahkan: I Ketut Arinta (Edisi Tiga Ratus Dua Puluh Sembilan) Rishi Vyasa : (Bharata) setara dengan Veda. Ini adalah suci dan agung. Bharata menganugerahkan kemasyhuran dan kesejahteraan. Karena itu, seseorang harus mempelajari dan mendengarkan dengan perhatian penuh.

KEMUDIAN Arjuna berkata, ‘’Oh saudara tertua Sala, keadaan ini setara dengan apa yang aku tanggung kepada Prabu Yudhishthira yang adil, atau Bhima yang utama dari semua orang perkasa. Nakula atau Sahadeva yang cintanya aku rasakan kepadamu. Diperintah oleh aku sebagaimana Krishna yang terkenal itu. Sekarang, berangkatlah engkau ke daerah orang-orang saleh, di mana Sivi putra Usinara itu berada.’’ Vasudeva juga berkata, ‘’Engkau yang rajin melaksanakan upacara-upacara api suci Agnihotra. Pergilah engkau saat ini, tanpa ditunda, ke daerahdaerah suci milikku, yang terus-menerus berkobar dengan kemegahannya. Tempat suci itu diinginkan yang utama dari dewa-dewa, dengan Brahma di depan mereka. Tempat suci itu menjadi setara dengan diriku sendiri. Sekarang, jadilah engkau penunggang diterbangkan di punggung burung Garuda.’’ Sanjaya melanjutkan, Satyaki yang dibebaskan dari

putra Somadatta itu. Kemudian cucu Sini itu cepat terbangun. Dia menarik pedangnya sekejap kemudian memotong kepala Bhurisrava yang berbudi luhur itu. Sungguh, Satyaki ingin membantai Bhurisrava yang tanpa dosa, saudara tertua Sala itu. Pemberi banyak hadiah upacara kurban itu berada di sana dengan indria-indrianya yang ditarik dari pertempuran. Dia telah hampir dibantai putra ketiga Pandu itu kini sedang duduk dengan lengannya yang terpotong menyerupai seekor gajah tanpa belalai. Semua prajurit mencemooh keras keinginannya itu. Tetapi Satyaki yang kehilangan akal sehat sudah dilarang Krishna, Partha yang berbudi luhur, Bhima, dan kedua pelindung dua roda kereta dari keretanya Arjuna, Yudhamanyu, Uttamauja, Aswatthaman, Kripa, Karna, dan Vrishasena, dan penguasa Sindhu, para serdadu itu mengutarakan teriakan celaannya. Kemudian Satyaki mempersiapkan Bhurisrava agar mematuhi

sumpahnya. Sungguh, Satyaki dengan pedangnya memenggal kepala prajurit Kuru yang telah kehilangan lengannya oleh Partha, saat dia sedang duduk dalam posisi Praya. Laku Praya adalah meditasi untuk membebaskan jiwa dari tubuhnya. Para prajurit tidak memuji perbuatan Satyaki, membantai penerus keluarga Kuru itu, yang sebelumnya hampir dibantai Partha. Para siddha, para charana, manusia yang hadir di sana, sebagaimana dewa-dewa, setelah menyaksikan Bhurisrava, seperti Dewa Indra dibantai dalam posisi duduk, ketika melaksanakan sumpah Praya itu, mulai menyambutnya. Para dewa sangat kagum atas perbuatan Bhurisrava itu yang diselesaikan dengan baik olehnya. Para serdadu paduka berdebat soal kejadian itu. ‘Pahlawan Vrishni itu tidak bersalah. Itu yang telah sebelumnya ditahbiskan, apa yang telah terjadi saat ini. Karena itu, kita seharusnya tidak memberikan jalan kepada

kemarahan. Marah menyebabkan kesengsaraan manusia. Peristiwa ini sesungguhnya telah ditahbiskan, Bhurisrava itu akan dibantai pahlawan Vrishni Satyaki itu. Tidak ada gunanya menilai apa pelanggarannya atau sebaliknya. Sang Pencipta telah menahbiskan Satyaki adalah penyebab kematian Bhurisrava, dalam pertempuran itu.’ Satyaki berkata, ‘’Kalian para Kaurava yang penuh dosa. Kalian memakai pakaian luar dari kesalehan. Kalian mengatakan kepadaku, dalam katakata kebajikan. Bhurisrava itu

seharusnya tidak dibantai. Ke mana kesalehan milikmu itu pergi ketika kalian membantai dalam pertempuran anak kecil Abhimanyu, putra Subhadra itu. Bahkan ketika dia kehilangan senjata-senjata. Aku telah bersumpah dengan sebuah kesombongan yang pantas. Dan pasti Bhurisrava akan melemparkan aku dalam keadaan hidup-hidup dalam pertempuran, memukul aku dengan kakinya dalam kemarahan. Namun, dia akan aku bantai walaupun musuhku itu memakai sumpah pertapa sekalipun.’’ (bersambung)

Sloka 9.16 Aham kratur aham yajnah Svadhaham aham ausadham Mantro ‘ham aham evajyam Aham agnir aham hutam. Akulah pemujaan, akulah pengorbanan, Akulah yang dikorbankan untuk para leluhur, Akulah tumbuh-tumbuhan yang menyembuhkan penyakit, Akulah mantra, akulah minyak untuk pelita di kuil, Akulah api dan Akulah sesajen yang diupacarai homa dalam havan.

Asap Rokok Dari hal.1

BPM/ant

Jemput Bola Dari hal.1 Tim Satuan Tugas Penanganan dan Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Korupsi (P3TPK) Kejakgung pada akhir April 2016, jemput bola memeriksa sejumlah saksi kasus itu di Kejari Samarinda. Di antara yang diperiksa tersebut,

Ketua KONI Samarinda Aidil Fitri diperiksa soal dana hibah senilai Rp 64 miliar pada 2014 untuk kegiatan Pekan Olahraga Provinsi Kaltim. Selain itu, sejumlah pejabat pada Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dan Pemerintahan Kota (Pemkot) Samarinda, turut diperiksa untuk mengungkap dugaan korupsi tersebut. (ant)

Mencari Pembenaran Dari hal.1 Menurut Yuyun, polisi terkesan hanya mencoba mencari pembenaran melalui alasan tanpa disertai dengan data pengelolaan lahan konsesi oleh 15 perusahaan tersebut. “Kami menilai alasan Polri terkait SP3 tidak tepat karena tidak disertai dengam data pendukung,” ujar Yuyun Sabtu kemarin. Berdasarkan data Greenpeace, saat ini sudah ada 450 orang yang

ditangkap terkait kasus pembakaran hutan. Sebagian besar pelaku merupakan masyarakat lokal yang ingin membuka lahan perkebunan kelapa sawit yang tergiur ajakan pihak perusahaan pengelola kelapa sawit. “Kalau masyarakat ini kan urusannya soal perut. Mereka (perusahaan) mengimingi masyarakat untuk buka kebun. Bisa juga pelaku hanya orang bayaran yang disuruh oleh pihak perusahaan,” kata dia. (kmb)

Konsumsi Rokok Dari hal.1 “Konsumsi rokok bukan semata karena aspek kesehatan tapi juga sosial ekonomi sangat tragis, karena rumah tangga miskin justru alokasinya ke rokok dan ketika sakit mereka ingin disubsidi dengan BPJS,” katanya. Tak Hancurkan Industri Lokal Di diskusi tersebut Tulus Abadi mengatakan, kenaikan cukai tak memengaruhi geliat industri rokok lokal dan produksi tembakau di Indonesia. Buktinya dalam sepuluh tahun terakhir cukai rokok naik terus tapi tidak menghancurkan industri rokok lokal, buktinya produksi rokok tetap bertambah dan tahun ini bahkan mencapai 399 miliar batang per tahun, tambahnya. Menurut Tulus, kehancuran industri rokok lokal justru disebabkan dominasi tembakau impor dalam mata rantai produksi rokok yang mencapai 60 persen. “Sehingga bukan tingginya cukai rokok yang membuat produksi tembakau dan rokok lokal melemah, tetapi

justru masifnya tembakau impor yang masuk ke Indonesia,” papar Tulus. Tulus mengatakan, kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi tetap diperlukan untuk mengontrol peredaran rokok di Indonesia. Terutama untuk meminimalisasi munculnya perokok baru yang kebanyakan berusia di bawah 18 tahun. Tulus menambahkan kalau mau industri lokalnya tetap kuat ya bukan cukainya yang dilindungi tetapi tembakau lokalnya yang harus dilindungi dari serbuan tembakau impor. Pemerintah sudah menargetkan pendapatan cukai dalam RAPBN 2017 sebesar Rp 157,16 triliun atau naik 6,12 persen dari target APBN Perubahan 2016 sebesar Rp 148,09 triliun. Khusus untuk cukai hasil tembakau, ditargetkan Rp 149,88 triliun atau naik 5,78 persen dari target APBNP 2016 sebesar Rp 141,7 triliun. Sementara itu, Kepala SubDirektorat Tarif Cukai Bea dan Cukai Sunaryo menyatakan hingga saat ini pemerintah belum menentukan besaran tarif cukai rokok terbaru. (kmb)

TERBAKAR - Pembakaran hutan di Riau kini berimbas ke negara tetangga Malaysia. Tampak warga sedang memadamkan api sisa pembakaran.

Sesuatu yang Kurang Dari hal.1 Dia mengaku jika sehari saja tidak merokok, maka dirinya akan merasakan ada sesuatu yang kurang. Bibirnya akan terasa dingin dan tak mengenakkan. Bahkan saat sedang sakit sekalipun, dirinya tetap bisa mengisap rokok. “Saya tahu rokok merugikan kesehatan, tapi mau gimana lagi. agak sulit untuk berhenti,” ujarnya. Tak jauh berbeda dengan Sangiarta, perokok lainnya Wayan Armada mengatakan, bahwa dirinya kecanduan rokok berawal dari ikut-ikutan teman. Dalam sehari dia selama ini menghabiskan rokok hingga satu

bungkus. Sejatinya, dia sangat berkeinginan untuk berhenti merokok, namun sulit karena sudah telanjur kecanduan. Sementara itu disinggung mengenai adanya wacana kenaikan harga rokok, baik Sangiarta maupun Armada mengaku setuju-setuju saja. Hanya, bagi mereka kenaikan harga rokok tetap akan sulit membuat mereka berhenti merokok. Paling tidak jumlah rokok yang dikonsumsi per harinya akan dikurangi jika nantinya harganya benar-benar naik. “Kalau memang harus naik (harganya) ya naik. Kalau pecandu rokok kayaknya sulit berhenti ngerokok. Palingan cuma mengurangi aja,” kata Armada. (ina)

Belum Final Dari hal.1 “Oleh karena itu, kami lebih ke arah mencegah peningkatan perokok pemula,” papar Koordinator Bali Tobacco Control Initiative (BTCI) prodi KM Unud, Made Kerta Duana, MPH. belum lama ini. Rencana kenaikan harga rokok memang belum final, namun ia menilai, dengan kenaikan harga, setidaknya mencegah munculnya perokok pemula. “Manfaat positif dari kenaikan harga rokok yaitu dapat mencegah perokok pemula pada anak dan remaja serta pada masyarakat miskin,” ujarnya. Harga rokok di banyak negara cukup tinggi kisaran di atas Rp 50.000, bahkan harga rokok di Singapura, Thailand, Australia, dll. di atas Rp 100.000. Namun berdasarkan data, peningkatan harga

rokok tidak serta merta menurunkan konsumsi seperti di Thailand, jumlah perokok cenderung tetap karena sifat rokok menimbulkan adiksi/ketergantungan sehingga susah untuk berhenti. “Namun efektif untuk mencegah perokok dini, artinya tidak berdampak signifikan pada industri atau petani tembakau,” jelasnya. Adanya kekhawatiran dengan naiknya harga rokok linting/konvensional akan membuat masyarakat beralih ke rokok elektrik, menurut Duana tidak akan berdampak signifikan. “Saya rasa segmennya beda. Anak muda merasa vape/rokok elektrik lebih modern dan merasa tampil beda, namun yang sudah adiksi berat agak sulit terpenuhi dengan vape karena agak ribet dalam mengonsumsi ditambah dengan mencharge dan mengisi manual,” tandasnya. (may)

Minggu, 28 Agustus 2016 05.52 Mars Indonesia Raya 05.54 Mars Bali Jagadhita 05.56 Lagu Ngastitiang Bali 06.00 Puja Trisandya 06.05 Dharma Wacana 06.35 Seputar Bali Akhir Pekan 07.35 Sehat Bugar 08.05 Klip anak 08.35 I Got It 08.45 Bali Channel Tourist TV 09.05 Taman Sari TK Widya Berata - Mengwi 09.30 Belajar Menggambar 10.05 Education on Bali TV 10.30 Lila Cita Gong Kebyar

Tabanan Vs Karangasem (3) 11.30 Dunia Otomotif 12.00 Dharma Wacana 12.30 Traventure 12.45 Bali Channel Tourist TV 13.00 Wirasa 13.30 Lejel Home Shopping 14.30 Siaran langsung Festival Jembrana 15.30 Education on Bali TV 16.05 Dialog Interaktif Harmoni Bali 17.05 Nangun Yadnya 17.30 Gita Shanti SS Puri Pedom Sari Batubulan (2)

18.00 Puja Trisandya 18.05 Seputar Bali 19.00 Banjar Bali Quis (BBQ) 19.30 Kris (Kriminal Sepekan) 20.00 Samatra Artis Bali 21.00 Folksong 21.30 Berita dan Bincang Terkini 21.35 Ajeg Bali 22.00 Berita dan Bincang Terkini 22.05 Lila Cita Prembon Kolaborasi Balingkang (4) 23.05 Lila Cita Calonarang Kautus Rarung, Tabanan (2) 24.00 Lejel Home Shopping

Selain merokok sangat konsumtif, juga membahayakan kesehatan. Untuk itu sudah saatnya penerimaan calon siswa baru dan mahasiswa baru juga mensyaratkan generasi tanpa rokok. Sementara itu, bagi kaum hawa yang sebagian besar tidak merokok mengaku merasa tidak nyaman akan asap rokok. Selain baunya yang menyengat, asap rokok juga menyebabkan sesak dan pusing. Menurut Winda Arigita (25), warga Tabanan mengaku jika ada yang merokok di sampingnya, ia memilih untuk menghindar. “Asap rokok membuat saya sesak napas,” ujarnya. Tidak jarang ia pernah merasa sedikit kesal jika ada yang mengepulkan asap rokok di dekatnya. Ia menambahkan merokok adalah pilihan namun ia berharap agar perokok juga melihat lingkungan sekitarnya. “Janganlah merokok di dekat anak kecil atau ibu hamil. Merokok pada tempat yang disediakan,” ujarnya. Mengenai adanya wacana cukai rokok yang dinaikkan sehingga berimbas pada harga rokok menjadi mahal ditanggapi positif oleh Winda. Menurutnya, kenaikan harga rokok ini bisa menjadi pertimbangan bagi para perokok untuk berhenti atau tetap merokok. “Sekarang kan harga rokok masih terjangkau. Tapi kalau harganya mahal para perokok bisa mempertimbangkan uang dihabiskan untuk rokok atau keperluan lain,” tuturnya. Hal yang sama dituturkan Ella Nurhayati (30). Ibu rumah tangga ini mengaku selain tidak suka dengan asap rokok, juga tidak suka dengan abunya. Berdasarkan pengalaman memiliki suami perokok, lanjutnya, abu rokok saat suaminya merokok mengotori lantai. Sehingga selain kamar berbau rokok, lantai juga jadi kotor. Ia mengaku setuju saja jika harga rokok naik. Karena berharap suaminya bisa berhenti rokok. “Tapi takut juga kalau dia tetap merokok. Sementara harganya mahal. Padahal uang beli rokok mending ditabung atau dibelikan hal lain,” ujarnya. (sue/san)

Ruang Konsultasi Dari hal.1 Parta menambahkan, pemerintah bisa menyediakan lebih banyak ruang konsultasi untuk berhenti merokok. Selain itu, menyiapkan pula obat-obat herbal sebagai pengganti rokok. Biaya sosialisasi dan penyediaan obat herbal bisa diambil dari pendapatan pajak rokok dari bea cukai. Tahun 2016, Bali dialokasikan Rp 58.620.011.100 atau 30% dari pagu se-Bali Rp 195.400.037.000. Nominal ini meningkat dari tahun 2015 yakni Rp 58.226.803.353 atau 30% dari realisasi se-Bali Rp 194.089.344.510. “Sayangnya di Bali, oleh pemprov maupun pemerintah kabupaten/kota se-Bali dana itu tidak dimanfaatkan untuk kepentingan sosialisasi. Tidak dipakai untuk menyiapkan konsultan-konsultan berhenti merokok, dan tidak dipakai untuk menyiapkan bahan– bahan pengganti rokok. Malah dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan lain,” tandasnya. (rin)

ALUMINIUM

DIJUAL MOBIL

RUPA-RUPA DIJUAL MOBIL


BALI GLOBAL CLASSIFIED ADS

Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

17

IKLAN MINI - IKLAN PELUANG EMAS

Sarana promosi, mempertahankan, memperluas pasar serta meningkatkan citra perusahaan, Paling efektif, mini biaya, maksimal hasilnya Informasi pasang iklan Telepon : Minggu s/d Jumat : Rp 49.500,- per baris, Sabtu : Rp 64.350,- per baris (30 character), minimum 2 baris, maksimum 10 baris (bayar dimuka), Adlibs Radio Global/Genta/Besakih Rp 50.000 (3 x siar) : (021) 5357602 - Fax : (021) 5357605 - Iklan Still Store di Bali TV : Rp 200.000,- (10 x tayang) z Jakarta : Rp 795.000,- maksimum ukuran 1 kolom X 3 cm, 10 kali muat/bulan (bayar dimuka) - Runing Teks Bali TV : Rp 50.000,- (5 x tayang) z Mataram : (0370) 639543 tidak termasuk iklan lowongan/dijual/dikontrakkan rumah, tanah, ruko, mobil, dll. Tarif khusus - Denpost Paket : Rp 165.000,- (10 x muat) z Denpasar : (0361) 225764 (hunting) e-mail:iklan@balipost.co.id 69 tahun Bali Post. Iklan mendesak untuk dimuat besok, diterima sampai pukul : 18.00 Wita - Bisnis Bali Paket : Rp 82.500,- (10 x muat) z Surabaya : (031) 5633456 z Materi iklan diserahkan berupa file dalam bentuk CD/Flashdisk dengan format: Coreldraw, Photoshop atau VISA z B6>A E:B768676A>EDHI <B6>A 8DB z '6N6C6C +:C<69J6C #+ +>C 8 : z >H8DJCI 0E ID +:B76N6G6C 9<C &6GIJ &G:9>I )$ Iklan Anda di desain langsung di bagian iklan Bali Post, GRATIS! z Tarif iklan Mini/Baris z Iklan Peluang Emas

50.=5 +-/ %J?JG />9JG 6A6B "6?> # $

50.=5 +-/ &/+ %6L6 />9JG 6A6B # $

50.=5 +:C?6<6 /D@D (>C> B6G@:I /9G 6A6B # $

@?@4 .:<:G6 .I6;; DD@ J #DI:A &>G>B 1 @: H6A:H @J7J6C N6G=DI:A 8DB / $

50.=5 G6;I:G GH>I:@ %JC>DG #J7 $

/?47: .DE>G .$( (6G@:I>C< '6B6G6C @: $

0= #- 0I@ 8=D :68= AJ7 6C<<J .:C9 H6A>B H6A>B@=D 8DB $

?4 .DE>G +G>769> 6>@ 7>H6 (6I>8 L '<H '6B N +6HH &JI6 #E $

0= .<G .I6;; (G@IC< ,J6A>;> @6H> !:B6A: (6A: GECBEAC (:C6G>@ C:G<>@ (BA>@> &B6BEJ6C &DBJC>@6H> N< 6>@ 7H &G?6 /:6B .9G?I (BECN6> +C<I6=J6C N< 'J6H .$( .I6;; 9B>C ,J6A> ;>@6H> !:B6A: (C<J6H6> (H *;;>8:

1 @: %A + NJ3$$$ )D &6B EJH 6A>C9D +6G69>HD %A &:GI6 +JG61$$$ )D EH $

0= HI6;; "J96C< .6A:H &6H>G

.:8JG>IN &/ 1 +/ 6A> /:<:=: <JC< +DAD / $

&3= /@< !>C>H=>C< &6NJ +:C<6 A6B6C (6M /= #J7 $

0= .+" J JI>@ .:B>CN6@ "DD9 C<A>H= "6?> DCJH $

?8 >C .:B>CN6@ >H 'DD@>C< ;DG ,J6A>;>:9 88DB:G8: B>C ME 4:6GH "DD9 C<A>H= !6B> A>6G ID 1#+ .NHI:B $CI:GC:I .NHI:B .:C9 DBEA EEAN ID =G9H:B>CN6@ N6=DD 8D >9 $

57@ -:HI )::9 #DHI -JCC:G HI 26>I:G BJHI <DD9 C<A>H=

.:C9 1 +=DID<G6E= ID >C;D 7>@J76A> 8DB $

?4 .:G67JI6C "?> %I >H6 DB EIG '6C<HJC< &G? $

?4 .<G "G +6J9 9> -:CDC .(. @: $

?4 /:C6<6 &:7:GH>=6C JCIJ@ &6CIDG 9> ':<>6C $

= &GN6L6C '6@> .G67JI6C &6C IDG6C &:9DC<6C6C

0= (6G@:I>C< +G>6 J +GDE:GIN "6?> DCJH (C6G>@ $

/?47: .<G /C< 9B>C 26C>I6 B6M I= B>C .(0 &GB 'BGC @: %A :96=JAJ $$$ EH $

/?47: 0G<:CI .+" DJCI:G 9> 6G:;DJG &BC@I; (CG>@ %J?JG C<<G>H .>BEA: JI@ "6?> DCJH $C;D #J7 $

0= HHI :H6>C "G6;>H +:C<6A6 B6C 9> $AJHIG6IDG +=DIDH=DE

DG:A $C9:H><C JI@ "6GB:CI >C;D?D75<6GB:C N6=DD 8D >9 #E $

0= 6@:GH 7:GE:C<6A6B6C 0I@ +GD9J@H> !G:C8= 6@:GN 9> EH .:<:G6 #J7 $

0= &6GN6L6C :H><C "G6E=>8 N< :GE:C<6A6B6C #J7 $

0= +:C<6L6H +GDN:@ H $C<<G>H 69=N6G6 <B6>A 8DB /

$

0= /@< &:7JC /C< 2CI H:G67JIC #J7

$

$

0= .+" JI@ DJI>FJ: 9> C:<6G6 0= /BI6C D<6 0I@ /@D 2>A EH (6A9>K:H 0BJG I= '6C86G /AE $

=H $C<<G>H B6>A 1 @: G:NNN5 0= 26C>I6 /@ (6H6@ JCI 26GJC< N6=DD 8DB DCI68 J &:IJI (6@6C '<H &:G?6 # $

$

0= .:<:G6 9B>C (:@6C>@ (DIDG 0= .+" (6M I= B:C6G>@ AJL:H @DCIG6@ %@ +6C?6C< HJG6I 7L @: #J7 +/ 6CDA> %A JAJ= $C96= EH $

$

0= .<G &GN '@ B6M /= 9B +GD 0= HDE>G #:AE:G '@ HGI 7L 9@H> H :H><C "G6;>H @GB '6B +/ 6CDA> %A JAJ= $C96= EH %A E>I /:A6<6 )D +:<JN6 C<6C EH 0I6G6 $

0= .<G (:@6C>@ "6?> '6N6@ #J7 /0B6G GI )D $

0= .<G /@< &6NJ (:J7:A !>C>H =>C< 'D@ %>B76G6C # $

0= &GN +G>6 2CI6 H />96@ EI 0= .DE>G .$( !6H "6?> (@C +:A6I>=6C 'BG 07J9 2:AAC:H .E6 06C<(@C /BEI/C<<A $

0= (6C6<:G .ID8@ DCIGDA &GB 1 '6B +/ 6A> /:<:=: <JC< +DAD /:AE

$

0= /=:G6E>H 2CI "6?> %I ':7>= .:B>CN6@ $

0= /=:G6E>HI JCIJ@ .E6 9>)JH6 $

J6 +:C<6A6B6C I9@ >JI6B6@6C /?47 "JGJ $C<<G>H "JGJ &DB 0= .:8JG>IN #& 9B>C L 1 @: &IG .>6<6 %A +:C9>9>@6C )D (6M /=C #J7 %A

EJI:G J (C<6?G &GHJH 9> B:9 &G< H:B "?.<I (BJ6H@C EH / #+ /6B6C .6G> )D /BC (JB7JA $

$

$

0= /=:G6E>HI N< :GE:C<6A6B6C "? 0(- #J7

$

0= +DDAB6C "6G9:C:G "? +%. .:GK>8: #J7

$

$

0= D@I:G 0BJB EDI:@:G .I6; @CI>C< (G@IC< -.0 "G6=6 H>= %AC NE6HH )<G= -6> )D 3 &JI6 $

0= !* #& 26@:G +JG> H>= #DI:A %A +6CI6> &JI6 )D $

5/@?@47.: .6A:H (6@6G>OD +/ @6H=6 2>G6 $CI:GC6I>DC6A %A 46C> 0I6G6 )D EH 0+ E@ ->O6A #+ $

5/?4 .JE>G '@ I=C (6CJ6A (6I>8 +=B 2>A EH $

5/@?@47.: 9B>C>HIG6H> @JC I6CH> (:C<:GI> $C<<G>H 1 B6>A @: HJE>BEDGI N6=DD 8D >9 $

5/?47.: *G< .DE>G .6A:H DJCI:G .EK 96C :7:G6E6 (6G @:I>C< M:@JI>; L '6B6G6C @: +/ DAJB7JH %A &H6IG>6C )D :E6C &CIG +- ">6CN6G

5/@?@47.: +:C<:BJ9> (>C .(

50.=5 @6GN6L6I> A6JC9GN 9> 50= E:C?6=>I 6< "J96C< JI@ .$( (6M /=C B:C<:I6=J> :CE6H6G 7>H6 CN:IG>@6 <6?> "6GB:CI #J7 $

L>A :CE6H6G &JG>G (DIDG (>C ED@D@ J6C< B6@6C J6C< 7:CH>C <: '6<> &G?6 &JA>6= "G6I>H > .( .>B (6M /=C B:C<:I6=J> #J7 .:<:G6 %:GB6C .<I (9= (>C /=C EI $

L>A :CE6H6G &>G>B '6B6G6C @: 06C< %I "?> .66I +JAC< /:G7IH 50.=5 .DE>G +G>769> -/ +G>6

$

+/ @6 .6G> 'DG:C6 %A N+6HH .:BJ6 H6 $@JI 7>H6 (6I>8 #6;6A 6A> &>G>B 5/?47: .<G &GNLC JI@ #DI:A 9> )<JG6= -6> )D .6CJG :CE6 $

1 @: =G9 9:L6I6IG6CHEDGI 8DB 7>96C< -DDB7DN C<>C::G>C< H6G 6I6J B6>A G:8GJ>IB: =6 B:A>E6I &GIH 9EI %I (<< $

.I6; '6JC9GN #J7 CI :HA :MEG:HH 8DB #J7 50= .I6;; 9B>C DD@::E:G H $

$

$

(4* A:6C>C< .:GK>8: JCI 46N6 5/?47: .DE>G .$( /J@6C< 50.=5 @JCI6C HHI :H><C:G H6C 'D@ 6AJC< #7 $' +<>'>C@ I= 88I (>C .>C<A:

&:7JC .6IE6B /:AE 7:GE:C<6A6B6C &>G>B 'BGC @: (6M /= .DE>G .I6; *EGHCA $

B6>A @DB6C< 76A>@>9H DG< ?D=C :A:8IGD=:AALDGA9 8DB %A

&GB %A " .DEJI6C $ 5/@? & 9B (>C . .6A:H (>C $

.>JA6C )D +:C6I>= 6C<>C $

.( 7GEC<AB6C #J7 50= .I6;; 2CI -:H:GK6H> C<

$1=> A6I &:H:=6I6C B:B7I=@6C +JG> :CE6H6G />BJG B6>A 9:CE6H6G ;J7DGJ 8D >9 +6G>L>H6I6 @:G?6 /:6B -6?>C

$

H:<:G6 .6A:H #J7 $

.(. EH 50.=5 G>K:G :G:@ 6:G6= $

5/@?@47.: &6GN JI@ +:C?J6A6C $

&3= &GNLC > (>C .( /= :CE6H6G #J7JC<>C E /G>H .N6G6I 'JAJH .( +JCN6 .$( 50= 26>I:G JI@ -:HIDG6C (6J &:G?6 9>A6E6C<6C '6B ?J@6C '6BGC #J7 "? %I &D@D N6B >H8DK:GN .=DE $

E>C< (6AA #7 .6C9N $

G6C 9>76L6 @: +/ "JCJC< .A6B6I $

50.=5 &6GN6L6I> &DE:G6H> '41 "G>N6 1>AA6H .E6 JCJI6C %AC &JHJB6 6C<H6 )D 3 &?.2 C<>C::G JI@ 1>AA6 9@I JIJ= M8 =:; .E6 .EK HHI $

#J7 +JG6 0AJL6IJ +G>6 /=C +< $

(<G 1 >C;D I=:<G>N6 8DB 5/@?@47.: .:<:G6 88DJCI>C< ABC /=C (:C<:GI> (6>CI:C6C8: $

50.=5 +-/ />C<<6A 6A6B #J7 $

5>?=5/@?;= J>A9>C< (6I:G>6A 0BJB .:GK>8: A:@IDC>@ &G:6I>;

#J7 .@>AA 9AB +:GIJ@6C<6C B?9 5/@?@47.: .DE>G +6G>L>H6I6 I= *( .+1 .6A:H .6A:H J9>IDG $

)>A6> /6B76= &>G>B 1 @: *E:G6IDG /G6CHEDGI 9> 6C96G6 &>G>B '6B6G6C 7>I =G9 <6 <B6>A 50.=5 ,. 9B>C>HIG6H> 96C =G95K>AA6 N6=DD 8D >9 )<JG6= -6> 6A> '6@> B>C .(0

8DB %A "6IHJ 6G6I .DE>G #J7 $

$

#J7 $

$

50.=5 /J@6C< B6H6@ +:C<6A6B6C ;@>1711<5:3 (6C6<:G ;DG 1>AA6 '@=?81-:HI &JI6 'DD@>C<!DG 26> IG:HH DD@ #:AE:G ):MI ID +JG6 0AJL6IJ C<A>H=

50.=5 -:8:EI>DC>HI JCI #DI:A (6H6@ =>C:H: 2:HI:GC $C9D $

ME:G>:C8: >C "DD9 -:EJI6I>DC #J7 #J7 *= (>C6 07J9 &JI6 6AJC< -:CDC $

1>AA6 ':69:GH=>E .@>AA

$

.:B>CN6@ 26>I:G HH DD@ 6G 50.=5 /J@6C< (6H6@ 26>I:G >8>EA>C: .:C9 1 ID 50.=5 26>I:G H :GE:C<6A6B6C =G9B>C6<GDJE <B6>A 8DB 26>IG:HH #J7 =G95K>AA6 N6=DD 8D >9 6A8DCN -:HI &JI6 $

$

$

$

MOBIL - MOTOR PROPERTY RUPA-RUPA Bali Post !*

!* / .AKG & + (DND3$ +:9JC<6C EH # %I )< $

#"

.CC -. / +JI>= 1- /:G6L6I & $

@.8 - 1 /= *G>H>C>A .>AK:G #J7 $

" && "

"5>>.: %J@: -3 /<C +JI>= (H= 6I HA> +G79 $

&(-(

@?@=. +0 #>I6B H 6A> %D@ &JA>I %I # $

68 (D7>A +1 .>AK:G .BHI 6GJ .>6E +6@6> # $

+ #A1= #>I6B (6CJ6A H 6A> .BHI 6GJ %I)< $

=?53. "3 /= /<C .>AK:G HA> 6A> #J7 $

.?.:. "3 #IB (:I6A>@ +. 1 J9>D/1 %I)< // $

BIRO JASA

BIRO JASA

BIRO JASA

BIRO JASA

$) A>C 16C +. /= %I &>?6C< "G6C9 MIG6 /= %I +>86CID +JI>= / %I %A +

6I6CI6 GI .BE6C< / 0B6G $

$

, +G:B>JB 6G %& .EDGI +>CIJ #>I6B -- KDFJ: +>CIJ +JI>= 1:AA;>G: 1 #>I6B #6GG>:G ' +G:B #>I6B #J7 $

'#,#'

3B. /- .>AK:G &( G7 NA6 +JI>= // &G9

% !#'#% D 26 :A> )(6M .8DEN :6I H<A B:G@ $

( !#'#% * &

@.8 (DIDG &'3 8 /6=JC #J7 .<G $

( %(! 56@.8 -JB6= /NE: /NE: #J7 $

56@.8 :E6I 0B6 .:C> DJI>FJ: #DI:A '/ ( 96 &DA6B -:C6C< &:H>B6C :CE6H6G #J7 9G> . ::;A. " +JI>= HA> 6A> /6CE6 +:G6CI6G6 1- .<I <H &G9I $

$

$

$

56@.8 K6CO6 .>AK:G +G> 769> -E %I C:<D $

%@>4 /- .>AK:G (6CJ6A & 0 $

BIRO JASA

& * " %(! 57;:? -B= -/ &/ &( %A "

(6H +9< .6B7>6C #

$

$

68 -B= 'I +GJB 6AJC< +:GB6> %I #J7

57;:? -B= .6CJG &/ &( -/ EG "GH #

$

;=?@:1= " 'JM #>I6B / *G>H/DI6A %I)<

( $CDK6 " .>AK:G (AH *G>H /I6A . +6@: )<

68 -B= 6GJ '/ G: &/ &B EG 'D@ +:BD<6C :CH:A HIGI:<>H K>:LH6L6= %I)<

$

56@.8 -B= 'H B " .DEJI6C /BC2>G60B69J> $

56@.8 -JB6= '6CI6> /6C6= B 'D@6H> :G6C96 (JB7JA )JH6 J6 &/ &( +') + ( #J7 $

BIRO JASA

$

@.8 -B= /C= G: 'I %A "D6 "DC< H:7:A6= @6BEJH 096N6C6

%94 (CBAH G %A + :A>IJC< +GB 676@6C .6G> #J7 $

$

& * " %( # %@7; A>I !6H 'C<@6E %A @6H>6 31 )D #J7

#A1= &G9 -B= G: +:C6BE6G6C H // (D7>A #J7 $

%94 &DHI &6B6G ;JAA 0I6G6 +DAI:@ %>B76G6C

$

$

%94 'D@ +GB ):D .6C96C .6G> )D 6C?6G CN6G &:9>G> /676C6C !6H &/ &( "6G6H: #G< %I #J7 $

%94 'I &/ .>6E #JC> /C= G: 'D@ "2& %I ):I

% " & !

8 -JB6= / "6A>G6C &G H:B 7A@< & H6BH6I 0 $

& " %

8 -B= %A /6B7DG6 $ / '>A><JC9> +:GB6> #

( ' " 8 /C= %AC "6IHJ G: #J7 $

@.8 /6C6= +:C6BE6G6C %A (6I6=6G> #J7 $

':4 &KA > (:C<L> %I %I H &G:9>I

68 /C= :96=JAJ %A BI ?A /C= &6K %A .>JA6C G J6?> #J7 #6G<6 +GDBD $

@.8 G: >H6 B7>A G: %A -6N6 &:I:L:A $

':4 %I J9J@ 7>6C76H: %A B $

%A 0I6B6 -6C<9J .:G>G>I 8@ .+ 0 %I $

.=1 .#( %LI .6G> / +6C8>C< :CE6H6G .:A $

%A +>9696 07JC< %I )< .6BE>C< #DI:A # $

( /C= +>C<<>G %AC 0I6B6 .6C<<JA6C %I # $

68 /6C6= G: %A +JG6 :B6@ $ EH $

68 /C= &7C G: 'D@ :H6 26C6<>G> &:8 .:A:B69:< /67 #G< -E ?I G: #J7 J G?JC $

@.8 /C= G: +:GJB +:HDC6 096N6C6 "D6 "DC< $

.A 6G: .69>C< 6C<<J 676@6C $

'.:.4 G: %I @:I 2G

(>C6 )6C<@6 0 $

':4 G: " >?6 (:C<JCIJG .6H>= I7JA6C $

':4 +6C96C .6G> &:7D $L6 .AIC %I ):I $

':4 9>.>C<6H6G> +<G %AC G: #J7 $

' " "

9 ? /6C6= .>6E <C @I -. 2+GH6CI> "J7J< $

& * " '# # ';7; 0C>I 'I '/ M &BG (C9 +G@>G 'J6H %A / 0B6G .7A= GI ":G:?6 6:I=6C> $

( %( # %@7; %A .JB6I:G6 ( EG6>H6A ( $

* " 1.381 :I>C6 26GC6 0BJG JA6C )JH6 J6 #J7 $

" " 83 +& )D & !* G .:B6C6 &:A (6B76A 69JC< $

68 /C= 'H 'D@ 0C<6H6C "< ':4 . %:EJC "6IHJ/>BJG .IGI<>H 83 J@J &$- & 0 )D@6 (#4 $

':4 -JB6= AB +>C>H %I 696HN6 %A B #G< ( "AD76A 7H AB &DI6 '/ .' % C 4JHB6C #69> %94 (>C>BAH 'I (6=:C9G696II6 $

%& ' '(% ):<D 9> 6IJN6C< B7>A ?I # $

&/ &( # ( # !1:1=59. "7G :H><C -JB6= -J@D $

$

':4 .:3@:.: G: 9>+:C6I>= $

$ ( " &" & 1>AA6 "J96C< %6H6 &DCHIGJ@H> =1 H B7>A +:C6BE6G6C 8 /C= B G %A $C9@ " <JC< G: 9> :9J<JA &DH 6C 9> ' %I &6K &7D>L6 .=. BJ96= 7>HC>H DC:8D>C &JI6 #J7

" &D?:@ %AC B 0IG 6C<<J " .6A6@ #J7 #DB: :H><C " .6CI:C #J7 =6CN6 9> LLL DC:8D>C>C6 >9 $

$

SERVICE

$

SERVICE

$

$

SERVICE

$

SERVICE

$

SALON

$

AC


18

REKREASI

Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

TTS Bali Post

Pertanyaan

Menurun 1. Miskin (Inggris) 2. Salah satu panca indra 3. Kemana semua sungai mengalir 4. Molek atau cantik 5. Dibalik : beri penderitaan, sakiti 6. Telinga hidung tenggorokan 7. Anember atau pemborong 10. Nilai Ebtanas murni 12. Jemput dan sambut dengan meriah 14. Alat penerima gelombang tv atau radio 16. Nomor Pokok Wajib Pajak 17. Tidak terhingga 18. Sejenis pisau belati bermata Saturda 19. Logat 22. Dibalik : deretan rumah-rumah tak terpisah 25. Pegawai Negeri Sipil 27. Sistem kepercayaan atau ibadat 29. Mari 31. Saya 32. Sisa nasi yang sudah kering 34. salah satu makanan pokok 35. lebar atau berlubang besar (Bali) 37. Light Emitting Diobe

1

2

3

4

5

6

7

8 9 11

13 15

16

17

18

14

19

20

21

23

22

24 26

30

31

25

27

28

29

32 33

36

10

12

34

35

37 38

39

SPT2016

MENDATAR 1. Tonggak atau palang penghalang ujung gang 5. Rumah Obat 8. Disebut juga atau sama dengan 9. Tempat menjual makanan dan minuman di sekolah 11. Pencatatan atau pendaftaran 13. Selendang yang sempit dan panjang 15. Hirau (Bali) 18. Bara (Bali) 20. Binatang kas Negeri Cina 21. Tiruan suara ayam 23. Lagu dari jalinan lagu-lagu yang sudah ada 24. Dibalik: Bilah-bilah bambu bertali untuk membungkus jenasah (bali) 26. Yang harus dijauhi para pejabat (Singkatan) 28. Damar wangi keras seperti batu berasal dari dasar laut 30. Nama penyanyi rap wanita Indonesia 33. Lemak Darah 36. Talas 38. Tiruan bunyi sesuatu yang berdengung 39. Lemak 40. Pemberitahuan kepada umum secara lisan

40

KUPON TTS No.261 Ketentuan Menjawab Jawaban di tulis pada kertas dan masukan ke dalam amplop serta tempelkan guntingan kupon TTS No. 261 dan cantumkan identitas lengkap serta no telepon/Hp. Kirim ke Redaksi Bali Post Jl. Kepundung 67 A Denpasar 80232, paling lambat Sabtu 3 September 2016. Pemenang diumumkan pada Bali Post Minggu 11 September 2016. Hadiah disediakan untuk 5 (lima) pemenang @200.000, dan 1 (satu) tiket masuk Bali Zoo untuk keluarga ( 2 dewasa + 2 anak ). Tiket langsung diambil ke Bali Zoo, Singapadu, Gianyar. Pemenang di Denpasar, Badung, Tabanan dan Gianyar agar mengambil hadiahnya langsung ke kantor Bali Post tiap hari kerja dengan memperlihatkan identitas diri. Hadiah untuk pemenang di luar daerah tersebut akan dikirim lewat pos.

Jawaban TTS No. 259 MENDATAR 1. dan 6. Indonesia Raya 9. Liat 10. RI 11. Lemarak (Karamel) 12. Guli 13. Anulir 16. MCK 18., 22. Dan 32. Garuda Panca Sila 19. NB 20. Erar (Rare) 21. NS 25. Ala 26. Anoa 28. Asam 30. Nur 33. Skip 34. HT

35. 36. 37. 40. 42. 43. 45. 46. 47. 49. 50. 51. 52.

Eben SAA LGBT Aes (Sea) Trauma Kosakata Nadi Ara Oleg Kelu Drinking Aba Trakea

MENURUN 1. Iklim 2. Demokrasi 3. Niragram (Margarin) 4. dan 34. Sukarno Hatta 5. Aloud

6. 7. 8. 14. 15. 17. 23. 24. 27. 29. 31. 32. 38. 39. 40.

Ragi Aturan Ariana Nusantara Lap Celaka AK Cling Taat Apnea Republik Selangka Badung Skema Asaka (Akasa) 41. Skala 44. Aru 47. Ora 48. Ene 50. Dr

Pemenang TTS No. 259 1. A. Raka PWRI Cab. Klungkung Jl. Kenanga no 10 telp. 24541 2. I Made Rudita Link. Balun, Kel. Padangsambian Denpasar 3. Ni Wayan Sudarti Jl. Srikandi Gg. Salak Singaraja 081 936 525 925 4. I Kadek Awan Jl. Gatot Subroto No. 7 Amlapura 5. Ni Putu Manik Sekar Partiwi Br. Buluh, Desa Guwang, Sukawati 083 119 616 1 (satu) pemenang mendapatkan tiket masuk Bali Zoo. Tiket langsung diambil ke Bali Zoo, Singapadu, Gianyar Nama : Widyantari Alamat : Jl. Cokroaminoto Gg. Angsoka III No. 26 Denpasar

Pantai Pekutatan Jadi Magnet Wisatawan Asing BPM/ist

MAGNET - Kondisi Pantai Pekutatan terlihat masih asri dan menjadi magnet wisatawan asing.

SELAIN Medewi dan Baluk Rening, Kabupaten Jembrana memiliki Pantai Pekutatan. Pantai di sisi timur Jembrana ini memiliki garis yang panjang dan hamparan pasir yang luas. Pantai yang juga menjadi tempat bersandar pasukan pahlawan nasional, I Gusti Ngurah Rai ini masih belum terjamah wisata massal. Namun, pesona pantai ini jusru menjadi magnet para wisatawan luar negeri yang ingin menikmati suasana pantai yang sepi dan asli. Di sepanjang pantai yang berada di Desa Pekutatan ini juga masih banyak tumbuh pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi. Wajah ini mengingatkan kawasan Pantai Kuta jauh sebelum berkembang pesat seperti saat ini. Pemandangan itu menjadi daya tarik wisatawan selain hamparan pantai yang

luas. Lokasi pantai ini juga berada satu jalur dengan sejumlah obyek wisata menarik lainnya di Kecamatan Pekutatan. Seperti Pantai Medewi dengan surfing, wisata Bunut Bolong hingga air terjun Juwuk Manis. Selain menikmati suasana desa yang masih asri, para wisatawan juga bisa menyusuri suasana perkebunan karet. Perairan Pekutatan ini juga memiliki sport-sport jogging menantang bagi para penghobi mancing. Pekutatan diplot menjadi kawasan wisata di Kabupaten Jembrana selain Gilimanuk. Di sini juga terus berkembang sarana prasarana penunjang wisata, seperti hotel dan restoran. Pemerintah Daerah juga mulai menata sejumlah sarana penunjang wisata, seperti warung kuliner ikan bakar di pinggir Pantai Pekutatan dan

penataan jalan menuju pantai. Kepala Desa Pekutatan, I Gede Silagunada mengatakan pantai di wilayahnya ini menjadi salah satu destinasi wisata, khususnya wisatawan mancanegara yang menginginkan suasana privat.

Secara bertahap berkembang menjadi lokasi wisata. Kendati jauh dari pusat kota, namun harga tanah di Pekutatan menjulang tinggi hampir sama di kota lantaran menjadi daerah wisata ini. (olo)


19

Minggu Kliwon, 28 Agustus 2016

BPM/wan

SEMBAKO - Puluhan petugas DKP menerima bingkisan serangkaian HUT ke-68 Bali Post dan HUT ke-71 Kemerdekaan RI, Sabtu (27/8) kemarin.

Bakti Sosial YKK Bali Post

Serahkan Sembako untuk Petugas DKP SERANGKAIAN HUT ke-68 Bali Post dan HUT ke-71 Proklamasi Kemerdekaan RI, Sabtu (27/8) kemarin, digelar bakti sosial kesehatan. Kegiatan ini berupa pemeriksaan kesehatan, donor darah, serta penyerahan bingkisan tali kasih berupa paket sembako. Penyerahan paket sembako tersebut diberikan kepada petugas penyapuan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Denpasar. Sedikitnya, 68 orang petugas DKP yang setiap harinya bertugas membersihkan jalan-jalan di

sekitar lingkungan Jl. Kepundung, Jl. Belimbing, dan Melati pada bakti sosial kali ini diberikan bingkisan berupa paket sembako. “Kami berterima kasih atas kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kami. Bantuan ini bisa meringankan beban kami, apalagi menjelang hari raya Galungan yang sudah dekat,” ujar salah seorang petugas penyapuan DKP, Nyoman Suantara. Pria yang sehari-hari bertugas di Jalan Hayam Wuruk ini sangat mengapresiasi kegiatan bakti sosial

ini. Pihaknya berharap agar kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara berkelanjutan. “Sebagai tukang sapu, saya merasa sangat senang atas perhatian Bali Post yang telah membantu kami,” jelasnya. Ketua Panitia Bakti Sosial Bali Post, I Made Sueca, mengungkapkan, apa yang dilakukan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap petugas yang sehari-harinya menciptakan kebersihan lingkungan. Peran serta para petugas DKP ini sangat besar bagi masyarakat

Kota Denpasar. “Karena itu, tidak salah bila pada hari-hari tertentu kita bisa memberikan bingkisan berupa tali kasih kepada mereka,” katanya. Sueca mengatakan, selain memberikan bingkisan kepada petugas DKP, bakti sosial kemarin juga diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan anggota keluarga karyawan Bali Post. Kegiatan ini bekerja sama dengan Koperasi Krama Bali (KKB) serta Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bali Post. (ara)

Minum Teh, Rahasia Umur Panjang Orang Jepang

BPM/wan

KESEHATAN - Sejumlah tenaga medis dan paramedis dari RS Surya Husada, Prima Medika, dan RS Manuaba ikut melayani bakti kesehatan. Sementara PMI Bali menggelar donor darah.

SEPASANG suamiistri pemilik kebun teh di Jepang, Kitagawa Seicha, Sabtu (27/8) kemarin, mengunjungi Bali Post dan ikut dalam kegiatan baksos YKK Bali Post. Ia mengungkapkan, orang Jepang memiliki tradisi minum teh hijau. Namun, bukan teh dengan gula atau pemanis lain. “Di Jepang, orang minum teh pagi, siang, sore, atau malam,” kata Kitagawa Seicha (77). Ia sendiri adalah pemilik perkebunan teh dengan luas 8.000 meter persegi. Selain memiliki kebun teh, ia juga mengolah daun teh tersebut menjadi teh siap pakai dan yang sudah dikemas. Teh dipercaya memperpanjang usia seseorang. Namun, tampaknya itu terbukti dari usia orang Jepang yang bisa hidup hingga usia 100 tahun. Orang tuanya pun masih hidup padahal usianya sudah 99 tahun. (may)

Cek Kesehatan Rutin Cegah Penyakit Degeneratif

BPM/may

Kitagawa Seicha dan istri

Dari Tips Cantik Hingga Tata Rias

BPM/wan

TATA RIAS - Salon Agung memberikan soal tata rias.

BAKTI sosial kesehatan serangkaian HUT ke-68 Bali Post dan HUT ke-71 Kemerdekaan RI, Sabtu (27/8) kemarin, juga mendatangkan narasumber dari dokter kulit dan kelamin, dr. Laksmi Duarsa dan pemilik Salon Agung, Dr. A.A. Ayu Ketut Agung. Dokter Laksmi membahas tentang perawatan kulit berjerawat dan perawatan kulit pada umumnya. Ia mengatakan, pada kulit yang berjerawat sangat wajib untuk rutin membersihkan wajah. Membersihkan wajah disarankan pada pagi hari saat bangun pagi dan malam hari setelah beraktivitas dan sebelum tidur. “Kalau ada dana, membersihkan wajah dengan krim-krim, namun kalau tidak, bisa dengan sabun yang sesuai,” ujarnya. Selain membersihkan, jerawat juga perlu diobati. Wajah dengan tipe komedogenik, tidak dianjutkan untuk terlalu banyak menggunakan pelembab. Bagi orang yang menggunakan make up agar memakai saat sudah di tempat kerja atau tempat tujuan. Karena, saat dalam perjalanan, wajah yang telah tertutup make up kemudian terkena debu saat di jalan, maka akan membuat pori-pori tertutup dan muncul jerawat.

Lanjutnya, jerawat bisa muncul pada semua orang mulai dari usia tujuh tahun hingga usia dewasa. Hal itu karena ada pengaruh gen, hormon, kosmetik, atau bakat. “Tapi paling banyak, jerawat muncul pada masa pubertas. Maka dari itu, jerawat dikatakan suatu penyakit atau fisiologis,” tandasnya. Setelah pemaparan dari dr. Laksmi tentang tips perawatan kulit, dilanjutkan dengan pelatihan tata rias dan sanggul Bali oleh A.A. Ayu Ketut Agung, pemilik Salon Agung. Ia menyampaikan tentang cara menyanggul rambut hanya dengan hitungan menit tanpa berlama-lama menghabiskan waktu untuk bertata rias. Selain sanggul Bali, ia juga memeragakan cara membuat sanggul keong ala pramugari. Cara merias wajah pun dipraktikkan dengan gamblang serta tips-tips menata rias dengan benar. (may)

BPM/wan

dr. Laksmi Duarsa

RATUSAN petugas DKP, warga Banjar Kaliungu Kaja dan Banjar Kalanganyar serta karyawan Kelompok Media Bali Post (KMB) mengikuti bakti sosial (baksos) berupa pemeriksaan kesehatan gratis, Sabtu (27/8) kemarin. Aksi sosial ini menggandeng beberapa pihak seperti RS Prima Medika, RS Surya Husadha, RSU Manuaba, dan RSAD. Pemeriksaan kesehatan berupa cek tekanan darah, cek gula darah, cek kesehatan mata, konsultasi serta pengobatan. Tak hanya itu, dalam rangka mengasah rasa kemanusiaan, krama Bali bersama Yayasan Kesejahteraan Karyawan (YKK) Bali Post juga mengadakan donor darah bekerja sama dengan Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Provinsi Bali. Putu Suarpini, Humas RSU Manuaba, mengatakan pihaknya senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dan berharap kegiatan serupad dapat berlanjut. Dokter Widya Sari, dokter RS Prima Medika juga mengatakan hal yang sama, apalagi juga mengajak warga sekitar untuk mendapatkan pemeriksaan gratis. Menurutnya, pemeriksaan kesehatan itu penting karena penya-

kit yang belum menunjukkan gejala padahal penyakit sudah mulai ada dalam tubuh kita. “Seperti orang yang gula darah dan kolesterolnya tinggi, itu kan tidak ada gejalanya,” ujarnya. Dengan pemeriksaan kesehatan, dapat mengetahui secara lebih dini kemungkinan penyakit degeneratif. Kapten Dadi Prayitno dari RSAD mengatakan, cek kesehatan harus dilakukan secara rutin minimal 3-6 bulan sekali (rikes berkala) agar dapat cepat mengetahui kondisi tubuh. Apalagi dengan situasi makanan yang dimakan saat ini, tentu akan berdampak pada kesehatan. Ia mengatakan, kondisi makanan saat ini berbeda dengan dulu. “Kalau sekarang makanan kan sudah ada yang diberi pengawet, produk pertanian juga telah memakai bahan-bahan kimia sehingga bisa berdampak pada kesehatan,” ujarnya. Ei Zui Kono, wisatawan Jepang yang juga hadir ikut memeriksakan kesehatan mengungkapkan di Jepang, alat untuk cek tekanan darah tersedia di rumah warga. Artinya, mereka sangat memerhatikan kesehatan dengan cara rutin cek kesehatan. (may)


balipost (148rb Like) http://facebook.com/balipost

MINGGU KLIWON, 28 AGUSTUS 2016

Tragedi brrolan brolan BALE BANJAR AR AR ARIDUS MANUSIA memang benar makhluk paling misterius dan tercanggih di muka bumi. Bukan sekadar lempengan daging terendam darah, juga bukan seberkas roh tak terlihat, melainkan gabungan tubuh dan jiwa yang sangat mekanis dan harmonis. Meski Plato menyebut tubuh sebagai penjara jiwa, namun berkat kandungan jiwa adalah nafsu, akal dan thymos atau hasrat, manusia jadi makhluk tersempurna di antara makhluk-makhluk lain. Karena kesempurnaannya, berbagai sebutan dilekatkan pada manusia, seperti homo sapiens, homo faber, homo ludens, homo rasionale, homo symbolicum, homo loquax dan homo mensura. “Sebagai homo loquax atau satu-satunya makhluk yang bisa berbicara berkat alat ucap paling sempurna, membuat manusia jadi makhluk penilai atau homo mensura. Karena terus berpikir sebagai homo sapiens, dia merasa berhak menilai apa saja di sekitarnya, didorong oleh

nafsu, akal dan hasrat yang jadi muatan jiwanya. Itu disebabkan homo mensura diterjemahkan dengan manusia adalah ukuran segalanya. Ini membuat manusia menganggap diri pusat dari isi dunia dengan kredo antroposentrisme, lalu meminggirkan alam tempatnya hidup, juga kehidupan lain di luar manusia. Terlebih-lebih saat modernisasi melahirkan sains dan teknologi, sepak terjang manusia semakin menjadijadi karena Francis Bacon menfatwakan, alam beserta isinya harus disiksa agar membuka tabir rahasianya demi kemaslahatan manusia. Mereka lupa kalau alam beserta isinya punya roh yang mampu bereaksi atau balas dendam bila diperlakukan di luar batas kemampuannya untuk disiksa. Manusia juga lupa kalau di samping nafsu, akal, dan hasrat, mereka juga punya perasaan yang selain untuk bergembira dan tertawa, pun bisa sedih dan menangis. Katastrofi atau bencana akbar dan tragedi yang sering menghampiri manusia tanpa memberi tahu lebih dahulu, bahkan sulit diramalkan, membuat manusia meraung-raung menangis dan minta ampun. Ternyata, tidak semua rahasia alam bisa dikuak dan diselusuri kehebatan sains dan teknologi,“ papar Rubag. “Benar, Amerika Serikat dan Eropa yang menjadi ukuran tertinggi sains dan teknologi, sering kelihatan tidak berdaya menghadapi taifun, gempa dan kebakaran hutan, sehingga harus kerja keras merapikan sisa-sisa terjangan katastrofi berupa puing-puing bangunan,

@balipostcom (4.295 Follower) http://twitter.com/balipostcom

iklan@balipost.co.id redaksi@balipost.com bahkan mayat berserakan. Bom raksasa berawak alias dua pesawat komersial yang meratakan dengan tanah Menara Kembar WTC New York tahun 2001 yang dikenal dengan sebutan Tragedy 9/11, juga lolos dari radar serta kecanggihan intelijen CIA untuk mencegahnya. Guna menutupi rasa malu, tragedi berdarah yang merenggut banyak nyawa tersebut sering dikaitkan dengan teori konspirasi. Ya, berbagai bencana dan tragedi yang mengisi kisah manusia, seharusnya mampu menyadarkan homo sapiens agar tidak terlalu arogan. Paradigma antroposentrisme seyogianya disejajarkan dengan akosentrisme dan biosentrisme. Kita di Bali punya konsep Tri Hita Karana, di mana manusia Bali harus menyelaraskan hubungan dengan sesama manusia, dengan alam dan Tuhan Yang Mahaesa. Meski ada segelintir orang Bali yang karena merasa diri sangat ilmiah akibat terbius positivisme murni tidak percaya itu, namun sebagian besar masih meyakini Tri Hita Karana sebagai tuntunan hidup bermasyarakat dan beragama,“ ujar Kadek Wahyudita. ‘’Ya, thymos atau thymia sebagai komponen jiwa yang ditesiskan Plato, memiliki dua kutub ekstrem mirip ajaran rwa bhineda di Bali. Bila hasrat bernilai luhur, mulia dan konstruktif dia disebut isothymia, namun ketika bergerak di kutub lain dan bernilai destruktif disebut megalothymia. Yang kusebut terakhir membuat manusia jadi arogan dan merasa paling benar dan paling hebat.

Bekerja sama dengan nafsu dan akal, pengidap megalothymia mengumpulkan segala hal demi kemuliaan, gengsi, kekuasaan dan kekayaan, karena hasrat jadi tuan dari budak-budak yang dikuasainya. Inilah yang disebut Ubermensch alias Superman oleh Nietzsche dalam aforisme will to power atau hasrat untuk berkuasa. Bila ada resistensi dari orangorang yang menolak untuk dikuasai lahirlah konflik yang berubah jadi bentrokan fisik bahkan perang. Maka lahirlah tragedi yang tak terelakkan. Di era globalisasi, tragedi kerap hadir akibat menyeruaknya konsep pasar ke segala lini kehidupan seperti ekonomi, politik, hukum, budaya dan sosial, dipicu oleh aturan-aturan yang juga disusun berdasar mekanisme pasar, yang jauh dari rasa keadilan. Berbagai konflik di Tanah Air belakangan ini, sering disebabkan segelintir orang yang merasa diri sebagai ubermensch, yang meniadakan hak orang lain sekehendak hatinya seturut posisinya sebagai homo mensura. Konflik dan tragedi akan terus berlanjut bila tumbuh kesadaran bahwa semua manusia dilahirkan sama, kendati karena faktor nasib berkat anugerah Tuhan, status sosial dan eknominya jadi berbeda,” komentar Bakti Wiyasa. “Agaknya tragedi dan katastrofi bukan barang baru di dunia, bahkan tata surya lahir, menurut Hawking, akibat big bang atau dentuman akbar terjadi. Karena katastrofi terjadi berulangulang mendorong lahirnya peradaban, sedangkan tra-

@balipostcom http://instagram.com/balipostcom

TELEPON: Iklan/Redaksi/Sirkulasi (0361) 225764 Facsimile: 227418 gedi melahirkan kesadaran manusia akan hakikatnya. Ali Syariati, sosiolog revolusioner kelahiran Iran pernah memaparkan bahwa tragedi awal manusia terjadi saat anak-anak Adam, yakni Habil dan Qabil hendak menikah. Untuk menentukan calon istri ideal mereka, keduanya disuruh mempersembahkan sesuatu pada Tuhan dan yang persembahannya dipilih Tuhan, itulah yang berhak memilih salah seorang dari dua wanita yang wajahnya lebih elok daripada yang lain. Ternyata Habil lebih beruntung karena kambing sehat persembahannya dipilih, sedangkan gandum yang dipersembahkan Qabil tidak disentuh Tuhan. Meski kelihatan menerima kekalahan, namun rasa marah, dendam, iri dan dengki bersarang di hati Qabil. Suatu hari saat berdua di ladang, Qabil membunuh saudaranya dan itulah tragedi pertama dalam kisah manusia terjadi. Kemarahan, dendam, iri hati, dan dengki selalu menjadi pemicu meletusnya konflik dan perang dalam spesies manusia. Padahal mereka dilengkapi alat ucap sempurna sebagai The Speaking Animal, namun musyawarah sering diabaikan karena lebih memilih perang untuk menyelesaikan masalah,” tambah Pacet Sudiarsa. “Kuimbuhkan keteranganmu ikhwal tragedi sebagai pemicu kesadaran manusia sebagai makhluk tersempurna ciptaan Tuhan. Saat tertimpa nasib buruk akibat tragedi atau menjadi penyebab terjadinya tragedi, manusia seharusnya sadar akan keberadaannya di dunia ini. Ma-

nusia tidak sendiri dan tidak seharusnya berbuat sesuka hati, sebab banyak manusia lain di sekitarnya yang bisa menjadi cermin buat dirinya. Paradigma antroposentris yang menganggap diri paling hebat dalam menilai dan menganggap orang lain lebih rendah dan tidak berguna daripada diri sendiri perlu diistirahatkan atau disimpan di museum barang-barang kuno. Hedonisme, narsisme, dan selfis tidak akan ada artinya kendati memiliki harta bergudang-gudang, bila tragedi menghampiri kita. Ironisnya, kemewahan dan kemuliaan menyebabkan manusia mengisolasi diri, sehingga tercipta ungkapan ‘kesepian dalam keramaian ‘, namun

bila musibah berat menimpa, manusia tidak bisa minta nasihat atau sumbang saran dari harta benda di sampingnya. Dia perlu kawan untuk ikut memecahkan segala masalah yang sulit dipecahkan sendiri. Pun saat tidak tertimpa kemalangan, manusia memerlukan orang lain sebagai cermin untuk melihat dirinya. Sebab ada ujaran klasik yang mendiktumkan, aku menjadi aku berkat kamu! Perlu dipahami, tragedi tak ubahnya benda arisan yang diterima secara bergelirin dan tidak bisa ditolak atau direbut, karena tragedi merupakan kenyataan yang tak terelakkan,” ujar Adi Saputra. (aridus)


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook