Skip to main content

COLLECTOR'S GUIDE-WATCHES INDONESIA, EDISI 31-2026

Page 1


MASTER OF MATERIALS:

LIPUTAN EKSKLUSIF

POINT OF VIEW

EDISI 31-2026

THE ART OF COLLECTING

Selain sebagai penunjuk waktu, apa yang paling menarik dari jam tangan? Saya pernah terlibat dalam sebuah diskusi yang menjadi “debat panas” saat membicarakan nilai sebuah jam tangan. Ada perbedaan utama antara kolektor jam tangan sejati dengan pedagang jam tangan, yaitu terletak pada niat dan keterikatan emosional mereka terhadap jam tangan tersebut. Penggemar dan kolektor jam tangan biasanya lebih senang membicarakan jam tangan sebagai karya seni dengan segala sensasinya saat dikenakan di pergelangan tangan kita. Mereka mengoleksi jam tangan didorong oleh makna pribadi dari sebuah jam tangan, sejarah, keahlian, dan bertujuan untuk membangun koleksi pribadi yang terkurasi, sementara seorang pedagang dimotivasi oleh keuntungan, tren pasar, dan likuiditas, sering membeli dan menjual untuk memanfaatkan permintaan. Anda termasuk kelompok yang mana?

Dengan tujuan selalu berbagi berita menarik dan berguna bagi para penggemar jam tangan, kami berharap dapat mengajak Anda semua untuk bersama-sama membangun kecintaan terhadap jam tangan. Jangan lupa bahwa tahun 2026 ini menandai tonggak sejarah penting di industri jam tangan, yang ditandai dengan peringatan 50 tahun Patek Philippe Nautilus (1976), peringatan 100 tahun Tudor (1926) dan casing Rolex Oyster (1926), hingga peringatan 70 tahun Rolex Day-Date dan Milgauss. Edisi kali ini mengajak Anda untuk semakin mendalami berbagai keunggulan dari sebuah penunjuk waktu, hingga informasi di mana Anda dapat merawat jam tangan milik Anda. Bagi Anda pemilik jam tangan Patek Philippe, simak berita khusus tentang Patek Philippe Singapore Service Centre yang berkomitmen terhadap perawatan dan keahlian yang diperbarui dari generasi ke generasi (halaman 92).

Dan berbicara tentang sejarah panjang sebuah merek jam tangan, tentu Anda pernah mendengar merek jam Rado yang didirikan pada tahun 1917, dan sampul majalah kami di edisi ini menampilkan visi Rado dan kolaborasi jenama ini dengan Ji Chang-wook, simak berita lengkapnya di halaman 34. Kami juga aktif berbagi pengetahuan tentang jam tangan, dengan mengundang para penggemar dan kolektor jam tangan di acara-acara eksklusif, seperti kolaborasi kami bersama merek jam MIDO yang diwakili oleh peritel resminya di Indonesia, Watch Continent (halaman 116). Masih dari Indonesia, dengan bangga kami menampilkan profil Farwiza Farhan, seorang perempuan Aceh yang menjaga ekosistem paling unik di bumi dan peraih Rolex Awards 2026 (halaman 52). Para penggemar perhiasan juga kami manjakan dengan beragam berita menarik di dunia perhiasan, mulai dari ajang perhiasan internasional, HKTDC Twin Jewellery Shows 2026 di Hong Kong (halaman 128), hingga wawancara ekslusif kami dengan desainer perhiasan asal Rusia, Victor Moiseikin (halaman 44). Begitu banyak berita menarik lainnya yang kami sertakan di edisi cetak kali ini, namun jangan lupa kunjungi situs online: www.cgw-indonesia.com untuk berita menarik lainnya. Happy collecting!

DARI KIRI ATAS SEARAH JARUM JAM

Saat diundang ke Patek Philippe Singapore Service Centre; Bersama Victor Moiseikin dan team di Hong Kong; Bersama Steven Cheng dan Billy Budiman; Saat membuka acara horologi di butik MIDO; Bersama Jade Huỳnh dan Wanida Siripaopradist; Bersama Ricky Utomo, Farwiza Farhan, tim redaksi, Syifa dari The Palace Jeweller, dan MUA Anwar Kho

THE RÉCITAL 12

COLLECTOR’S

WATCHES

INDONESIA

EDISI 31-2026

PUBLISHER & CHIEF EDITOR: Lulu Fuad

FEATURES EDITOR: Billy Saputra

EDITOR: David Tang

ART DIRECTOR: Taufik Nurman

SENIOR WEB DESIGNER: Fatorahman Handayani

SOCIALITE PHOTOGRAPHER: Setiyo Supratcoyo

PT. ZAMRUD

KHATULISTIWA MEDIA

CHAIRMAN: Ir. Nabiel Fuad. A. MSc (nabiel@zamrud-media.com)

MANAGING DIRECTOR: Lulu Fuad (lulu@zamrud-media.com)

DIRECTOR OF FINANCE: M. Ramzy (ramzy@zamrud-media.com)

EXECUTIVE ASSISTANT: Deny Pratama (secretary@zamrud-media.com)

OFFICE STAFF : Ahmad Firdaus (firdaus@zamrud-media.com)

CONTRIBUTORS

JAKARTA: Ardhana Utama, Fiqih, Rendy Kairupan, Yessar Rosendar, Yohanna Yuni / DUBAI: Faizal. A SINGAPORE: Dr. Bernard Cheong / SWITZERLAND: Maria Ronnie Bessire

PT. ZAMRUD KHATULISTIWA MEDIA

The City Tower Level 12-1N, Jl. MH. Thamrin No.81, Jakarta 10310, INDONESIA Phone: +62 21 344 0999 Website: www.cgw-indonesia.com

Switzerland Sales Representative: sales@zamrud-media.com

SUBSCRIPTIONS/GENERAL INQUIRIES: info@zamrud-media.com

BANK ACCOUNT

PT. Zamrud Khatulistiwa Media

BCA - KCU TCT (The City Tower) A/C 31930 74797

COLLECTOR’S GUIDE – WATCHES, INDONESIA is published by PT. Zamrud Khatulistiwa Media. All rights reserved. No part of this publication may be reproduced without the written permission of PT. Zamrud Khatulistiwa Media. Opinions expressed in CGW Indonesia are solely those of the writers and not necessarily endorsed by the Publisher and its editors. PT. Zamrud Khatulistiwa Media accepts no responsibility for unsolicited manuscripts, transparencies or other material. For further inquiries, contact: info@zamrud-media.com

PRINTING: PT. Harapan Prima

COVER PAGE

RADO, MASTER OF MATERIALS: ENGINEERING THE IMPOSSIBLE

26 Time To Beat

Pilihan jam eksklusif, mahakarya seni yang mengagumkan

34 Cover Story: A Timeless Evolution

Visi Rado dan kolaborasi dengan Ji Chang-wook

60 LVMH Watch Week 2026

Pilihan terbaik dari ajang LVMH Watch Week

70 Reframing Time

Rekayasa mesin jam kontemporer Audemars Piguet

72 Racing Against Time

Dari era Daytona Beach hingga Rolex 24 At DAYTONA

78 Reversing the Speedy

OMEGA Speedmaster Moonwatch terbaru

80 Heavenly Masterpiece

Mahakarya elegan Credor Goldfeather

82 The Italian Legacy

Panerai menelusuri tempat yang membentuk legendanya

84 Back in the Fast Lane

Breitling dan Formula 1® bersama Aston Martin Aramco

86 Two Games, One Timekeeper

OMEGA merayakan Olympic dan Paralympic Winter Games

90 Time Well Spent

Urban Jürgensen dan Rashida Jones

92 Keeping The Time

Patek Philippe Singapore Service Centre terbaru

96 It’s Cigar Time

Inovasi horologi Swiss HYT dan presisi teknologi Hulecos

98 Tools Of Time

Panerai dan desain yang berorientasi pada fungsi

100 Their Own Beat

Perjalanan lima puluh tahun Raymond Weil

102 Golden Vision

Seiko merayakan ulang tahun merek yang ke-145

104 The Time For Risk-Takers

Jam tangan independen yang menawarkan tren baru

112 Irresistible Icons

Kemewahan King Seiko VANAC dan ketangguhan Prospex

116 A Night of Multifort Moments

Kolaborasi MIDO dan Collector’s Guide Watches Indonesia

120 Be Bold

Seiko HUF dan legenda Time Sonar

Interviews

40 With An Open Heart

CEO Rado, Adrian Bosshard dan karya ikonis Rado

42 Playful Time

Rémi Maillat dan Krayon Pac-Man yang unik

44 Russian Jewels

Victor Moiseikin dan perwujudan esensi seni Rusia

46 Inspired by the Impossible

Kesuksesan merek jam tangan independen, Jacob & Co

48 The Forest Knew Them First

Lima perempuan peraih Rolex Awards 2026

52 Growing in Silence

Wawancara eksklusif dengan Farwiza Farhan

56 Time and Rhythm, a Perfect Synchrony

Inovasi mekanis Hublot dan ekspresi kreatif Jung Kook

58 Light Years

Ryan Gosling dan TAG Heuer

Time for Fashion

122 The Art of Everything

Koleksi Bvlgari Eclettica High Jewelry paling ambisius

126 The Cut That Matters

Potongan berlian Jacob & Co. persembahan Jacob Arabo

128 HKTDC TWIN JEWELLERY SHOWS 2026

Ajang pameran perhiasan satu atap terbesar di dunia

132 Haute Horlogerie & Legendary Jacket

Jam tangan Hermès, terinspirasi oleh syal sutra

134 It’s Time To Play

Kolaborasi terbaru Novak Djokovic dan Hublot

136 Above the Line

Kolaborasi Speake Marin dengan Adrien Saddier

138 The Quiet Return

Dennison kembali hadir melestarikan kisahnya

140 The Nature of Time

Grand Seiko, seniman Jepang dan Milan Design Week

142 A Shooting Star

Duta Merek OMEGA, Park Bo-gum

Time to Travel

144 A Quiet Bordeaux Luxury

COMO Cordeillan-Bages dan pembaruan yang unik

146 A Heritage Refined

Keraton at The Plaza hadir di jantung kota Jakarta

THE LADY CEO

TAG Heuer memiliki CEO baru. Direktur Pelaksana Grup LVMH dan CEO LVMH Watches & Jewelry, Stéphane Bianchi, baru saja mengumumkan penunjukan Béatrice Goasglas sebagai CEO TAG Heuer, mulai 1 Mei 2026. Setelah bergabung dengan TAG Heuer pada tahun 2018 sebagai VP Digital & Client Experience, Béatrice Goasglas kemudian diangkat sebagai Direktur Pelaksana, TAG Heuer Asia Pasifik, dan kemudian menjabat sebagai Presiden TAG Heuer Amerika. Dalam peran barunya, ia akan terus mendorong strategi peningkatan dan inovasi Maison, yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Dengan memanfaatkan pengetahuannya yang mendalam tentang Maison, warisannya, dan tim-timnya, ia juga akan mampu memanfaatkan koleksi ikonik merek tersebut, serta kemitraan strategisnya dengan Formula 1. Selamat kepada Béatrice Goasglas! www.tagheuer.com

GPHG PRESIDENT OF JURY

Program penghargaan tahunan paling bergengsi di industri pembuatan jam tangan, sering disebut sebagai “Oscar-nya Pembuatan Jam Tangan” yang bernaung di bawah Yayasan Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG), mengumumkan penunjukan Wei Koh sebagai Ketua Juri GPHG untuk edisi 2026. Pendiri Revolution dan The Rake dari Asia ini mengemban salah satu peran paling berpengaruh dalam dunia pembuatan jam tangan menjelang penghargaan yang akan diadakan November mendatang di Jenewa. Sebagai penerbit, pengusaha, jurnalis, dan pembuat film, Wei Koh adalah tokoh kunci di kancah pembuatan jam tangan internasional, dan ia diakui di seluruh dunia atas keahlian teknisnya, pengetahuan ensiklopedis tentang sejarah merek, serta visi global dan strategisnya tentang industri ini. “Pembuatan jam tangan telah memberi saya segalanya. Pembuatan jam tangan adalah pusat perhatian unik di mana teknik bertemu dengan keahlian dan sains bertemu dengan seni. Bagi saya, GPHG merayakan yang terbaik dari dunia kita yang benar-benar unik. Mengatakan bahwa penunjukan sebagai Presiden Juri GPHG sangat mengharukan dan merupakan salah satu kehormatan terbesar dalam hidup saya akan menjadi pernyataan yang sangat tidak memadai,” ungkapnya. Selamat kepada Wei Koh! www.gphg.org

THE GRAND MOMENTS

Grand Seiko memulai kemitraan global dengan pemain Major League Baseball, Shohei Ohtani, melalui Proyek Grand Moments mulai 1 April 2026. Proyek ini mencerminkan filosofi bersama yang berlandaskan pada rasa hormat yang mendalam terhadap nilai waktu dan komitmen untuk mendekati setiap momen dengan tulus. Baik Grand Seiko maupun Shohei Ohtani memiliki keyakinan bahwa upaya yang berkelanjutan pada akhirnya membentuk masa depan. Dipandu oleh visi ini, mereka mendekati waktu dengan penuh perhatian, menyempurnakannya melalui pengejaran yang disiplin dan konsisten terhadap keahlian masing-masing. Shohei Ohtani berujar, “Meneruskan sebagian dari warisan Grand Seiko, yang dibentuk melalui dedikasi selama beberapa dekade, adalah sesuatu yang sangat saya hargai. Merasakan warisan itu saat saya mengenakan jam tangan ini memberi saya kegembiraan yang nyata, dan saya berharap kita akan melanjutkan perjalanan ini bersama.” Merenungkan gagasan tentang menyempurnakan waktu, ia menambahkan, “Meningkatkan kualitas setiap momen itu penting. Pada saat yang sama, pengejaran keunggulan yang berkelanjutan sama pentingnya. Keduanya benar-benar berarti.” www.grand-seiko.com

THE ADVENTUROUS SPIRIT

Merek jam tangan Bell & Ross menjadi mitra penunjuk waktu resmi tim Defender Rally untuk Kejuaraan Reli-Raid Dunia (W2RC) 2026, dan sebagai bagian dari kemitraan ini, Bell & Ross akan melengkapi tim Defender Rally dengan BR-X3 Black Titanium. Kolaborasi ini menggabungkan horologi Bell & Ross yang terinspirasi dari kokpit pesawat dengan semangat tangguh dan penuh petualangan dari Defender Rally. Berpusat pada jam tangan BR-X3 Black Titanium, yang dipilih karena kekokohan, presisi, dan desainnya, hasilnya mencerminkan estetika teknis dan bersudut dari kendaraan reli Defender D7X-R. Model BR-X3 Black Titanium menampilkan casing titanium kelas 2, mesin jam bersertifikasi COSC, dan struktur 41mm dengan cadangan daya 70 jam. Sinergi pada desainnya, baik jam tangan maupun kendaraan Defender menekankan desain “lingkaran di dalam persegi”, keterbacaan kontras tinggi, dan utilitas maksimal dalam kondisi ekstrem. Para pengemudi yang berkompetisi di Defender Dakar D7X-R dapat mengandalkan keahlian pembuatan jam tangan Bell & Ross untuk menghadapi tahapan paling menantang di gurun Saudi. www.bellross.com

THE ART OF SKELETONIZATION

Merek pembuat jam independen asal Prancis, B.R.M Chronographes didorong oleh komitmen dan semangat akan mekanika presisi dari pendirinya, Bernard Richards, tahun ini hadir dengan V6 Moon Master, yang kembali menegaskan visinya tentang pembuatan jam tangan: berani, mekanis, dan sangat ekspresif. Menggabungkan keahlian pembuatan jam tangan, estetika kontemporer, dan warisan olahraga motor, kreasi ini mewujudkan keseimbangan halus yang mendefinisikan setiap jam tangan dari pabrikan tersebut. V6 Moon Master menampilkan mesin otomatisnya dengan escapement yang terlihat, sepenuhnya berstruktur skeleton. Roda, rubi, dan escapement terungkap di bawah kristal safir, menunjukkan presisi mekanisme di dalam arsitektur terbuka. V6 Moon Master menonjol karena perpaduan materialnya yang berani, ciri khas DNA B.R.M Chronographes. Casing perunggu berdiameter 42mm yang dipoles, memberikan jam tangan karakter yang unik. Seiring waktu, perunggu mengembangkan patina alami, menjadikan setiap bagian benarbenar unik. Bezel dilapisi dengan keramik biru, memberikan kontras dan modernitas sekaligus memastikan ketahanan gores. V6 Moon Master tersedia dalam dua versi: V6 Moon Master Nacre dalam perunggu poles dengan lapisan keramik biru, dan V6 Moon Master Graphite hadir dalam baja tahan karat dengan dial skeleton hitam, menawarkan dua ekspresi berbeda dari karakter yang sama. www.brm-chronographes.com

COLOR ME BOLD

U-65 AUTOMATIC MENAFSIRKAN KEMBALI

PUISI HIPER-LENGKUNG DENGAN KEKUATAN

ESTETIKA YANG SAMA TETAPI DENGAN JIWA

YANG DIPERBARUI, YAITU MESIN KALIBER

OTOMATIS SKELETON

Menulis ulang aturan bentuk dengan desain hiperlengkungnya, salah satu ciri khas visi ergonomis Italo Fontana, merek jam tangan asal Italia, U-BOAT meluncurkan lini U-65 Automatic terbarunya, dengan dial industri, kaca ultra-cembung, dan evolusi yang ditenagai oleh mesin otomatis. Di alam semesta di mana segala sesuatu cenderung simetris, merek jam tangan ini terus melawan arus untuk mencari kurva yang sempurna. U-65 Automatic menafsirkan kembali puisi hiper-lengkung dengan kekuatan estetika yang sama tetapi dengan jiwa yang diperbarui, yaitu mesin kaliber otomatis skeleton, Miyota 8N24 Skeleton, terlihat sempurna di bawah kaca mineral ultra-cembung pada dial yang merangkul karakter industri sambil mempertahankan tiga dimensi visual penuh. Tidak lagi perendaman minyak dalam casing 44 mm, tetapi energi mekanik murni, jantung berdetak yang mengubah cahaya, materi, dan waktu menjadi gerakan tanpa akhir.

Tersedia dalam baja tahan karat 316L dengan lapisan satin atau baja berlapis PVD hitam, terdapat pilihan dalam tiga nuansa warna—hijau, putih, dan turquoise—menjadi benang merah jam tangan ini, yang juga tercermin pada rotor yang terlihat di bagian belakang casing dan pada tali silikon. Jam tangan ini mempertahankan lug bergerak yang dipatenkan yang memastikan kesesuaian sempurna pada setiap ukuran pergelangan tangan. Perhatian terhadap detail mencapai puncaknya pada tombol jam dengan sisipan kaca, menggemakan warna Super-LumiNova yang digunakan untuk indeks dan jarum jam, memastikan estetika yang koheren dan bercahaya, bahkan dalam gelap. Sebuah jam tangan yang tidak menyembunyikan apa pun tetapi mengungkapkan segalanya, yaitu keindahan mekanis dalam bentuknya yang paling murni. Dengan generasi baru ini, U-BOAT memperbarui tantangannya terhadap konvensi. Kali ini, bukan eksperimen fluida tetapi sebuah manifesto energi kinetik dan kebebasan kreatif. www.uboatwatch.com

TRUE BLUE

Greubel Forsey mempersembahkan Balancier 3 yang dirancang berdasarkan kejelasan struktural. Arsitekturnya ditentukan oleh tiga jembatan utama – jembatan barel, jembatan keseimbangan, dan jembatan tengah besar yang menopang tampilan jam dan menit serta memanjang ke arah cakram detik kecil. Bersamasama, mereka menciptakan komposisi di mana setiap fungsi mekanis tetap terlihat jelas sambil berkontribusi pada keseluruhan arsitektur yang koheren. Tahun ini diluncurkan edisi baru Balancier 3, terbatas hanya 22 buah, melanjutkan evolusi mesin jam yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2023. Ditempatkan dalam casing titanium Convexe berukuran 41,50mm di bagian samping casing, edisi ini memperkenalkan sentuhan akhir yang belum pernah dilakukan sebelumnya di Atelier, yaitu jembatan titanium yang dipoles dengan tangan menggunakan sikat baja di seluruh permukaan lengkungnya. Kontras yang ditingkatkan dan berbagai nuansa biru semakin menekankan kemurnian mesin jam, menawarkan interpretasi baru dari Balancier 3 sambil mempertahankan identitas mekanisnya. Menampilkan casing yang mengikuti garis alami pergelangan tangan, bezel geometri variabel dan kristal safir melengkung memperkuat kesinambungan antara bentuk eksterior dan arsitektur pergerakan. Di jantung jam tangan ini terletak roda keseimbangan inersia variabel buatan Greubel Forsey, berdiameter 12,60mm dan dilengkapi dengan enam sekrup emas. Mesinnya terdiri dari 282 komponen dan ditenagai oleh dua barel seri yang berputar cepat yang memberikan cadangan daya kronometrik 72 jam, menggabungkan kepadatan teknis dengan keterbukaan dan kedalaman visual. Tata letak fungsional tetap setia pada konsep aslinya: jam dan menit ditampilkan pada jembatan tengah yang menggantung, cakram detik kecil yang berputar dengan indikator tetap, dan indikasi cadangan daya yang terlihat di sisi mesin jam. www.greubelforsey.com

PLAYFUL TIME

Merek jam tangan mewah asal Swiss, Franck Muller meluncurkan koleksi Vanguard Smurfette, hasil kolaborasi dengan The Smurfs™, di butiknya di Brussels, tempat kelahiran Peyo. Vanguard Smurfette edisi terbatas menawarkan tiga model, terbatas hanya 100 buah dan dibuat di Swiss. Jam tangan Vanguard Smurfette berwarna biru memancarkan kepercayaan diri dengan dial biru dan merah muda yang cerah dipadukan dengan tali jam yang senada, sebagai penghormatan kepada warna khas Smurfette. Edisi putih memesona dengan dial angka merah muda yang dilukis tangan dan tali jam merah muda yang lembut, sementara versi bunga merah muda memikat dengan motif bunga yang mengelilingi Smurfette, membangkitkan feminitas dan kegembiraan hidup. Sepenuhnya dibuat di Swiss, koleksi ini dibuat di Les Bois dan dirancang di Genthod, tempat kelahiran Franck Muller. Vanguard Smurfette menggabungkan presisi dan fantasi, mencerminkan dedikasi Franck Muller terhadap keunggulan dan mengubah waktu menjadi seni. Terbatas hanya 100 buah di seluruh dunia, setiap kreasi disajikan dalam kotak presentasi bertema Smurf yang dibuat khusus, sebuah portal ajaib antara dunia, menggemakan film mendatang The Smurfs™ 2025, yang menampilkan Rihanna sebagai pengisi suara Smurfette. Perayaan Franck Muller di Brussels ini untuk menghormati warisan Peyo dan dihadiri oleh putri Peyo, Véronique Culliford, dan CEO Nicholas Rudaz. www.franckmuller-asiapacific.com

TIME FOR LUXURY

All About Luxury Watches Collector’s Corner Interviews

@Louis Vuitton Camionnette

COLLECTOR’S CORNER

TIME TO BEAT

Kolektor jam tangan mewah selalu tertarik pada model-model penunjuk waktu yang unik, mengagumkan, canggih dan bisa jadi memiliki nilai karya seni yang tinggi. Berikut ini kami hadirkan beberapa penunjuk waktu favorit Collector’s Guide-WATCHES Indonesia yang membuktikan bahwa penunjuk waktu juga bisa menjadi karya seni yang mengagumkan.

BELL & ROSS

Pabrikan asal Prancis-Swiss ini membuktikan bahwa jam tangan mewah tingkat tinggi tidak selalu harus didefinisikan oleh kerumitan komplikasi semata. Kreasi terbaru mereka, Bell & Ross BR-X3 Micro-Rotor, membawa instrumen presisi bersinggungan langsung dengan bahasa desain arsitektural.Sejak tahun 2005, siluet ikonik circle within a square atau “lingkaran di dalam kotak” telah menjadi DNA visual Bell & Ross. Namun, pada BR-X3 Micro-Rotor, steel case bertipe satin dengan ukuran 40mm ini melampaui sekadar identitas visual untuk menjadi struktur penopang utamanya. Melalui konstruksi radikal yang sangat cerdas, bagian tengah case berbentuk kotak ini berfungsi sebagai struktur pendukung untuk bagian bridge dari mesin jam, menjadikan casenya dan mesin jam menyatu menjadi satu kesatuan. Desain mesin semi-skeletonized yang membentuk jaring logam (grid) mengambil

inspirasi dari kejeniusan pelukis abstrak Piet Mondrian dan arsitek modernis Charlotte Perriand. Hasilnya adalah sebuah arsitektur minimalis yang sepenuhnya transparan, mempertemukan instrumen fungsional dengan objek seni murni. Ditenagai mesin otomatis BR-CAL.390 in-house, dan alih-alih menggunakan rotor konvensional yang menutupi mesin, jam ini mengintegrasikan micro-rotor langsung ke dalam ketebalan kaliber, membuatnya terlihat ramping di pergelangan tangan, dengan ketebalan hanya 9mm. Untuk membaca waktu, hanya jarum jam dan menit yang berlapis pendaran cahaya, tanpa jarum detik. Sebagai gantinya, pergerakan detik disuguhkan lewat balance wheel yang berdetak. Jam ini diproduksi eksklusif hanya 99 unit di seluruh dunia. Harga: EUR 89.000 (sekitar IDR 1,7 milyar). www.bellross.com

BVLGARI

Jam tangan Bvlgari Maglia Milanese Monete Secret Watch merangkum identitas ganda jenama yang satu ini sebagai pengrajin perhiasan asal Roma dan pembuat jam tangan Swiss ke dalam sebuah karya yang revolusioner. Sekilas, jam tangan ini tampak seperti perhiasan. Dibuat sepenuhnya dari rose gold, ciri khasnya adalah tali jam jaring Milanese yang lentur, teknik kerajinan yang dikembangkan pada masa Renaisans dan diwujudkan dengan kehalusan yang luar biasa. Tersemat dalam tali jam jaring Milanese ini adalah gaya khas Monete dari Bvlgari, dengan koin Romawi kuno asli dari tahun 198 hingga 217 Masehi yang menggambarkan Kaisar Caracalla. Di bawah koin tersebut terdapat dial jam rahasia, yang hanya terlihat saat diangkat, memperkuat gagasan bahwa waktu adalah sesuatu yang bersifat pribadi, bukan sekadar penunjuk waktu.

Di balik tampilan yang bersejarah dan dekoratif ini, tersembunyi mesin Piccolissimo BVP100, mesin jam mekanis bulat terkecil di dunia. Dengan diameter hanya 13,50mm, ketebalan 2,50mm, dan berat 1,9 gram, mesin ini terdiri dari 102 komponen dan beroperasi pada 21.600 getaran per jam dengan cadangan daya 30 jam. Dirancang dan diproduksi sepenuhnya oleh Bvlgari di Le Sentier, Piccolissimo mencerminkan komitmen berkelanjutan merek ini terhadap ultra-miniaturization. Piccolissimo hadir dengan mekanisme pemutar dan caseback transparan, yang memungkinkan pemandangan langka ke dalam mekanisme yang menggerakkan jam tangan ini. Meskipun berakar pada garis keturunan Monete dari Bvlgari, jam tangan ini sulit dikategorikan secara sederhana. Proporsi, konstruksi yang kokoh, dan penampilannya yang sederhana membuatnya cocok sebagai jam tangan unisex. Harga: EUR 157,000 (sekitar IDR 3 milyar). www.bulgari.com

CHRONOSWISS

Chronoswiss berhasil meleburkan romansa sejarah ke dalam rancang bangun yang mutakhir melalui peluncuran Delphis Art Deco, sebuah reinterpretasi berani dari salah satu komplikasi paling ikonisnya. Terinspirasi dari denyut nadi era 1920-an yang kerap dijuluki Roaring Twenties, mahakarya ini merupakan penghormatan terhadap kebebasan artistik, kejernihan arsitektural, serta pesona kemajuan modern di era tersebut. Gerakan Art Deco memperkenalkan estetika baru yang bertumpu pada geometri, simetri, dan kontras yang disempurnakan—nilainilai yang kini dihidupkan kembali secara apik oleh Chronoswiss. Delphis telah mengukuhkan statusnya sebagai koleksi ikonik sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996. Pada edisi terbaru ini, dial utamanya memantulkan pesona arsitektur berlapis nikel dengan tekstur tiga dimensi hasil laser yang memanipulasi bayangan serta cahaya secara brilian.

Susunan tampilan Delphis yang khas tampil begitu memukau: jendela jumping hour digital bersemayam di posisi pukul 12, sementara jarum penunjuk menit sentral bergaya retrograde menyapu mulus di atas lengkungan skala sebelum melompat kembali ke titik awal secara presisi. Di area bawah dial, jarum

penunjuk detik bergaya analog terus berputar tanpa henti. Satu detail yang memanjakan mata adalah bagian sub-dial detik tersebut, yang memancarkan warna biru di atas pola dasar handguilloché. Pola rumit ini diukir langsung menggunakan mesin ukir berusia ratusan tahun di Atelier Lucerne. Sentuhan cincin menit berlapis emas turut memberikan kontras yang hangat terhadap rona abu-abu tampilan jam, yang kemudian dipertegas oleh kehadiran jarum penunjuk bergaya “Viking” berbahan aluminium dengan pelapisan PVD biru. Aura modern juga terasa saat membedah arsitektur case jam, dengan dimensi 42 mm yang dipahat dari material “Titanium Grade 5” dengan penyelesaian akhir rona abu-abu matte yang ringan. Bagian case yang kedap air ini dihiasi tombol pemutar jam berbentuk bawang (onion crown) serta cincin dekoratif bergalur di bagian sisinya. Jam ini ditenagai oleh mesin otomatis Manufacture Caliber C.6004 yang dikembangkan secara kolaboratif bersama La Joux-Perret, menawarkan cadangan daya 55 jam. Diproduksi eksklusif hanya sejumlah 150 buah di seluruh dunia, jam ini menjelma menjadi kreasi kontemporer yang sejatinya patut diburu para kolektor masa kini. Harga: CHF 14.500 (sekitar IDR 308 juta). www.chronoswiss.com

DANIEL ROTH

Filosofi keanggunan bersahaja yang mengedepankan proporsi fundamental terwujud secara absolut pada mahakarya terbaru Daniel Roth, Extra Plat Rose Gold Skeleton. Diciptakan dengan semangat La Montre Objet d’Art, kreasi ini mempertahankan proporsi arsitektur double-ellipse klasiknya yang ikonis, namun kini menyingkap pesona di dalamnya melalui interpretasi openworked yang terbuka. Meskipun pada awal tahun 1990-an Monsieur Roth sendiri pernah memproduksi jam tangan bertipe skeleton dalam jumlah yang amat terbatas sebagai unjuk kemahiran teknis, kreasi terbaru ini adalah langkah perdana bagi kebangkitan jenama tersebut dalam membuka tabir lini Extra Plat di era modern. Di balik case rose gold 5N berukuran 38,6 x 35,5mm dengan ketebalan yang hanya 6,9mm, berdetak mesin kaliber eksklusif DR002SR. Mesin jam berpemutar manual ini dirancang dan dirakit sepenuhnya di fasilitas manufaktur La Fabrique du Temps Louis Vuitton. Sebuah keputusan teknis yang patut dipuji adalah pembuatan bridge dan pelat dasar dari emas murni solid 18k 5N.

Material ini menyajikan kontras yang memikat terhadap komponen steel bersolek black-polished, sekaligus memberikan medium yang sempurna untuk sentuhan penyelesaian akhir tradisional.

Praktik skeletonisation menuntut seni reduksi tingkat tertinggi. Jejak keterampilan artisan yang paling memukau terlihat pada pembentukan berbagai sudut internal yang tajam; sebuah proses yang murni dibentuk serta dipoles menggunakan ketangkasan tangan manusia, mengingat sentuhan ini mustahil dicapai oleh mesin. Walau tampil transparan, kaliber DR002SR sama sekali tidak mengorbankan performanya; mesin ini tetap berdetak andal pada frekuensi 4 Hz dan menyimpan cadangan daya substansial hingga 65 jam. Dilengkapi dengan tali kulit, jam tangan ini bertransformasi menjadi sebuah galeri yang merayakan mahakarya kerajinan tradisional dengan menunjukkan elegansi dari sifat transparan. Harga belum termasuk pajak: CHF 85.000 (sekitar IDR 1,8 milyar). www.danielroth.com

DE BETHUNE

De Bethune dan Louis Vuitton secara resmi menyatukan keahlian mereka untuk menghadirkan babak ketiga dalam perjalanan Louis Vuitton di ranah pembuatan jam tangan independen. Berkolaborasi erat dengan Denis Flageollet, pembuat jam tangan jenius sekaligus salah satu pendiri De Bethune, mahakarya ini merupakan interpretasi modern dari sistem Sympathique abad ke-18 serta interpretasi unik dari model ikonis DB25 GMT Starry Varius. Hadir dalam dua versi, yaitu jam tangan LVDB-03 GMT Louis Varius WATI11, dan jam meja yang sangat unik dan mewah, LVDB-03 Sympathique Louis Varius Q1TA10. Daya tarik utama jam tangan LVDB-03 GMT Louis Varius langsung terpancar dari siluet case Tambour Taiko khas Louis Vuitton yang berdiameter

45mm. Bagian case berbahan titanium tangguh ini dipoles dan dibirukan secara presisi menggunakan proses oksidasi termal eksklusif milik De Bethune, menghasilkan rona biru yang hidup dan dinamis. Tampilan menawan ini dikontraskan secara brilian oleh lug platinum yang dipoles secara manual, memberikan kedalaman arsitektural yang memukau. Di sekeliling bezel, terdapat dua belas huruf Louis Vuitton yang di-sandblast dan juga dipoles secara individual. Memandang dial jamnya layaknya menatap magisnya alam semesta. Terdapat motif Bima Sakti dengan susunan konstelasi bintang yang membentuk huruf “LV” sebagai tanda kolaborasi ini. Permukaan tata surya ini diciptakan melalui proses artisanal yang disematkan satu per satu menggunakan tangan ke dalam lubang mikro pada titanium biru. Mengelilingi dial jam yang memukau tersebut, terdapat indikator siang-malam berbentuk sphere—terbuat

dari emas 5N untuk penanda siang dan warna kebiruan untuk penanda malam—yang berputar penuh setiap 24 jam.

Di balik mahakarya visual ini, berdetak mesin kaliber manual DB2507LV buatan De Bethune yang menawarkan cadangan daya selama lima hari. Mesin mekanis ini dirancang khusus untuk para penjelajah, menampilkan komplikasi zona waktu kedua (GMT), indikator siang/malam, dan penunjuk jumping date Yang paling revolusioner, jam tangan ini menonjolkan fungsi Sympathique, memungkinkannya untuk diputar dan diatur ulang secara otomatis manakala disematkan ke dalam jam meja (master clock) pendampingnya. Untuk menyempurnakan kemewahannya, jam tangan ini ditawarkan dengan dua pilihan tali: tali kain berwarna biru dan tali kulit buaya cognac yang ekstra

lembut, di mana keduanya diamankan oleh gesper titanium biru. Seluruh mahakarya ini dilindungi dengan apik di dalam koper High Watchmaking berbahan titanium yang dirakit khusus di atelier Asnières Louis Vuitton. LVDB-03 GMT Louis Varius tidak lagi menjadi alat penunjuk waktu; ia adalah sebuah pernyataan abadi tentang inovasi horologi, kebebasan imajinasi, dan perayaan tertinggi akan seni perjalanan.

Harga belum termasuk pajak: Jam tangan LVDB-03 Louis Varius Ref. WATI11: EUR 375.000 (sekitar IDR 7,3 milyar), dalam edisi terbatas 10 buah. Jam dinding LVDB-03 Symphatique Louis Varius Ref. Q1TA10 dengan jam tangan WATI11 dijual seharga EUR 4.000.000 (sekitar IDR 78 milyar), edisi terbatas 2 buah, jam tangan plus jam dinding. www.debethune.ch

LOUIS VUITTON

Dalam dunia horologi, kita sering kali terpukau oleh kerumitan mekanis yang dikemas dalam ruang sempit, yang disematkan di pergelangan tangan si pengguna. Namun, sesekali muncul kreasi yang tidak hanya mengandalkan presisi teknis semata, tetapi juga merayakan memori dan imajinasi yang liar. Tahun ini, La Fabrique du Temps Louis Vuitton kembali berhasil mencuri perhatian dunia lewat peluncuran kreasi horologi terbaru mereka yang unik: Louis Vuitton Camionnette. Karya ini bukanlah jam tangan biasa, melainkan sebuah jam meja (table clock) yang secara puitis menghidupkan kembali pesona truk pengiriman legendaris Louis Vuitton dari awal abad ke-20. Kendaraan bersejarah yang dulunya

mengangkut koper-koper ikonik dari bengkel kerja di Asnières kepada para klien setia ini, kini diubah menjadi sebuah mahakarya horologi yang memukau.

Dibuat dari struktur aluminium yang ringan namun sangat tangguh, truk mini ini tampil mencolok dengan warna saffron dan sibylline blue yang khas. Setiap detail diukir dengan cermat, mulai dari bunga Monogram di kap mobil, kisi-kisi radiator perak yang memukau, hingga ban karet berlogo LV. Jantung mesinnya yang menakjubkan sengaja diletakkan di dalam kabin pengemudi; sebuah roda keseimbangan (balance wheel) yang berdetak konstan seolah memberikan nyawa pada kendaraan ini. Untuk membaca waktu, terdapat dua silinder berputar pada bagian kap depan yang secara inovatif menampilkan jam dan menit. Mesin penggerak

manual L’Epée 1839 MV.7417/101 yang dibuat secara kolaboratif ini terdiri dari 218 komponen dan memiliki cadangan daya yang mengesankan selama 8 hari. Kejutan paling puitis dari jam meja ini ada di bagian kompartemen belakang. Sebuah miniatur koper Monogram dengan sempurna menyembunyikan kunci baja khusus yang berfungsi untuk mengatur waktu dan memutar mesin jam. Gerakan memutar kunci ini adalah sebuah penghormatan manis yang membangkitkan nostalgia pada engkol menggunakan tangan mobil klasik zaman dahulu.

Louis Vuitton juga menghadirkan versi yang sangat eksklusif dan diproduksi terbatas hanya 15 unit di seluruh dunia. Edisi sangat mewah ini dibalut logam emas yang berhiaskan motif

Damier guilloché buatan tangan, ratusan berlian snow-set di bagian radiator, serta puluhan batu safir merah dan oranye yang memancarkan cahaya di lampu belakangnya. Uniknya, Louis Vuitton Camionnette bukan hanya menjadi sekadar instrumen penunjuk waktu; ia adalah sebuah karya seni yang sarat akan emosi. Jam ini sukses merayakan warisan Art of Travel yang mendalam dari merek ini, sembari mengajak kita bernostalgia dalam kemewahan yang tentunya tak lekang oleh waktu. Harga edisi standar berkisar antara CHF 57.500 - CHF 68.500 (sekitar IDR 1,2 milyar - IDR 1,43 milyar). Versi yang bertatahkan berlian yang sangat eksklusif dengan harga berdasarkan permintaan, yang dilaporkan lebih dari USD 760.000, atau IDR 11,9 miliar. www.louisvuitton.com

Penulis: Ardhana Utama

BRAND INI MEMPERKENALKAN HIGH-TECH

CERAMIC, DAN INOVASI INI BUKAN HANYA

MENJADI KEUNGGULAN TEKNIS, NAMUN

TURUT MENJADI ELEMEN ESTETIKA YANG

MENGUKUHKAN IDENTITAS RADO SEBAGAI

MASTER OF MATERIALS

A TIMELESS EVOLUTION

Menjejaki kiprah Rado dalam mewujudkan visi masa depannya, serta kolaborasi apik merek ini dengan Ji Chang-wook yang melahirkan lini

True Square Open Heart

Nama Rado telah lama berdiri sebagai simbol inovasi dan estetika yang tak lekang waktu dalam lanskap industri jam tangan di dunia. Brand yang didirikan di Swiss, negara yang menjadi episentrum horologi dunia ini berjalan dengan filosofi desain yang tak sekadar mengikuti tradisi, tetapi juga mendefinisikan ulang batasan material dan desain. Di awal kemunculannya pada pertengahan abad ke-20, Rado dikenal sebagai pionir dalam penggunaan material mutakhir. Brand ini memperkenalkan high-tech ceramic, yaitu sebuah material ringan, tahan gores, dan mempunyai sensasi halus yang khas di kulit. Inovasi ini bukan hanya menjadi keunggulan teknis, namun turut menjadi elemen estetika yang mengukuhkan identitas Rado sebagai Master of Materials. Saat ini jam tangan merek

Rado dianggap lebih dari sekadar instrumen penunjuk waktu, sebab memilikinya turut berarti sebuah pernyataan gaya. Desain jam tangannya minimalis namun tegas, yang mencerminkan keseimbangan antara fungsi dan keindahan.

HALAMAN SAMPING

Aktor Korea Selatan dan Duta global Rado, Ji Chang-wook tampil stylish dengan mengenakan Rado Anatom Skeleton terbaru

HALAMAN INI

Aktor mulit-talenta ini memadupadankan setelan kemeja putih dan jas warna off-white dengan jam tangan Rado Anatom Skeleton

New Vision: Rado Anatom Skeleton

Semakin percaya diri dengan keunggulan produksinya, di tahun 2026 ini Rado melansir jam tangan Rado Anatom Skeleton yang keindahannya lebih dari sekadar estetika permukaan. Jam ini menggunakan desain kerangka yang memamerkan kerumitan komponen di dalamnya, termasuk mekanismenya yang dijalankan oleh motor calibre 808 yang mempunyai cadangan daya sekitar 80 jam. Ketahanan operasional juga ditunjang oleh hairspring Nivachron yang antimagnetis demi meningkatkan akurasi.

Desain ergonomis khas seri Anatom mengikuti lekuk pergelangan tangan dan dibangun dari material high-tech plasma ceramic yang kokoh dan tahan gores. Bahan ini diperoleh melalui pemanasan reaktor plasma hingga 20.000°C sehingga

memperoleh hasil akhir kilau metalik. Dimensi teknisnya mencakup lebar casing sekitar 32.5 mm, panjang lug-to-lug 46.3 mm, dan ketebalan sekitar 11.5 mm. Bobotnya terbilang ringan sekitar 87.6 gram. Pada bagian dial, Anda dapat menyaksikan indeks berlapis Super-LumiNova serta jarum berwarna emas yang mewah. Keindahan dial dibungkus oleh kristal safir cembung yang dibuat melalui proses kompleks untuk memastikan kualitas optik yang baik. Eksekusi jam Anatom Skeleton merupakan upaya terbaru Rado dalam Art of Skeletonisation.

Spirit Kolaborasi Rado

Sejak memasuki era globalisasi budaya, Rado mengambil langkah strategis dengan menggandeng figur publik yang mampu

SAAT JI CHANG-WOOK BERKUNJUNG KE KANTOR PUSAT RADO PADA MARET 2024, IA MEMPELAJARI SELUK BELUK KERAMIK BERTEKNOLOGI TINGGI DAN MEMUNCULKAN GAGASAN UNTUK MEMBUAT VERSI KHUSUS DARI MODEL TRUE SQUARE OPEN HEART

mewakilkan nilai-nilai brand secara autentik. Pilihan tersebut jatuh kepada Ji Chang-wook, seorang aktor Korea Selatan yang dikenal luas berkat talenta seni peran yang mumpuni. Di samping profesinya, pria ini turut dikenal memiliki citra yang sophisticated namun tetap hangat dan approachable. Kombinasi dua unsur tersebut menjadikannya selaras dengan DNA brand Rado. “Sejak menjadi duta merek global Rado pada tahun 2023, Ji Chang-wook telah menjadi sosok ideal dan inspiratif bagi kami. Kini menjadi megabintang di hampir seluruh dunia, ia sangat terbuka, ramah, dan bersahaja dalam perannya tersebut, sehingga ia telah menjadi bagian dari keluarga Rado, dalam evolusi yang paling alami dan mengalir,” ucap CEO Rado Adrian Bosshard.

Saat Ji Chang-wook berkunjung ke Kantor Pusat Rado pada Maret 2024, ia mempelajari seluk beluk keramik berteknologi

tinggi dan memunculkan gagasan untuk membuat versi khusus dari model True Square Open Heart. Ji Chang-wook berpendapat, “Jam tangan Rado sangat serbaguna sehingga cocok dengan segala hal - mulai dari pakaian olahraga dan tampilan kasual hingga setelan formal. Saya terutama senang mengenakan True Square, yang sering saya padukan dengan pakaian kasual.”

HALAMAN SAMPING

Tampilan jam Anatom Skeleton merupakan upaya terbaru Rado dalam Art of Skeletonisation, dan desain ergonomis yang mengikuti lekuk pergelangan tangan dan dibangun dari material high-tech plasma ceramic yang kokoh dan tahan gores

HALAMAN INI

Jam tangan True Square Open Heart x Ji Chang-wook Edisi Terbatas ini adalah hasil dari kolaborasi pertama antara Ji Chang-wook dan merek jam tangan Rado, dan ia memilih dua belas batu rubi terang untuk menandai jam, dengan Super-LumiNova® merah yang serasi

BAGI SAYA, JAM TANGAN BUKAN HANYA

AKSESORI; IA MEMBAWA ESENSI WAKTU, YANG

MEMBUATNYA BENAR-BENAR BERMAKNA. BEKERJA SAMA DENGAN RADO UNTUK

MENCIPTAKAN SEBUAH JAM TANGAN MERUPAKAN

PENGALAMAN YANG TAK TERLUPAKAN

ONE-ON-ONE WITH JI

CHANG-WOOK

Apa persepsi Anda tentang pembuatan jam tangan dan jam tangan secara umum?

Bagi saya, jam tangan bukan hanya aksesori; ia membawa esensi waktu, yang membuatnya benar-benar bermakna. Bekerja sama dengan Rado untuk menciptakan sebuah jam tangan merupakan pengalaman yang segar dan tak terlupakan, dan menjadi proyek yang sangat istimewa dalam hidup saya.

Apa yang paling ingin Anda bagikan kepada penggemar melalui peran Anda sebagai duta merek global Rado?

Sebagai seseorang yang hidup di era ini bersama para penggemar saya, saya sangat berterima kasih atas dukungan dan apresiasi mereka terhadap kolaborasi saya dengan Rado. Sekadar berbagi waktu yang sama dengan mereka membuat saya sangat bahagia.

Bisakah Anda berbagi pengalaman berkesan dengan Rado?

Saya sangat menikmati kunjungan saya ke Swiss tahun lalu. Sungguh menakjubkan tidak hanya berada di sana, tetapi juga melihat langsung proses pembuatan jam tangan di pabrik Rado.

Saran atau pesan apa yang akan Anda berikan kepada penggemar Anda?

Terima kasih selalu atas dukungan Anda terhadap kolaborasi saya dengan Rado. Saya akan selalu mendukung perjalanan dan waktu Anda.

Bagaimana Anda menggambarkan pengalaman menciptakan jam tangan Anda sendiri? Apa artinya ini bagi Anda, sebagai seorang pencinta jam tangan sejati?

Itu adalah pengalaman yang sangat menyegarkan. Di manufaktur Rado, saya belajar banyak tentang jam tangan dan melihat prosesnya memberi saya keterikatan yang nyata terhadapnya. Keberadaan batu kelahiran saya, rubi, membuatnya semakin bermakna.

HALAMAN SAMPING DARI ATAS

Ia mengenakan Rado Captain Cook dengan lapisan PVD rose-gold hangat di atas baja tahan karat pada bezel dan tombol jam; Seri Anatom dari Rado yang ia kenakan hadir dalam warna cerah dan ceria, termasuk hijau terang; Berani berekspresi, ia terlihat mengenakan Rado dari lini DiaStar yang unik, dan penuh karakter

HALAMAN INI

Tampil sporty, Ji Chang-wook memilih mengenakan Rado Captain Cook dalam casing baja tahan karat berukuran 39mm, dengan dial biru laut; Ia juga tampil mengenakan Rado Captain Cook High-Tech Ceramic Chronograph yang tangguh, dengan casing monoblok 43mm dibuat dari keramik berteknologi tinggi plasma

WITH AN OPEN HEART

Bagaimana pertemuan kedua pihak melahirkan karya ikonis bernama Rado True Square Open Heart x Ji Chang-wook Limited Edition

Kampanye terbaru dari merek jam tangan global ternama Rado dicapai dari hasil berkomunikasi dengan klien mereka melalui citra yang menggugah dan emosi yang spontan. Dalam pesan yang disampaikan oleh CEO Rado, Adrian Bosshard tentang kolaborasi Rado dengan sang megabintang Ji Chang-wook, ia mengaku, “Kampanye kami dirancang dengan cermat untuk mencerminkan inovasi terbaik kami dalam hal material, peluncuran desain jam tangan baru yang menakjubkan

secara terus-menerus, dan teknik produksi mutakhir terbaru. Semua itu secara alami bertumpu pada elemen manusia yang krusial yang disediakan oleh para duta kami. Sejak menjadi duta merek global Rado pada tahun 2023, Ji Chang-wook telah menjadi sosok ideal dan inspiratif bagi kami. Megabintang di hampir seluruh dunia, ia sangat terbuka, ramah, dan bersahaja dalam peran tersebut, sehingga ia telah menjadi bagian dari keluarga Rado, dalam evolusi yang paling alami dan mengalir.”

Adrian Bosshard CEO Rado

JI CHANG-WOOK MEMBERI TAHU KAMI

BAHWA RUBI JUGA MERUPAKAN BATU

KELAHIRANNYA, JADI KAMI SEMUA

BERPIKIR AKAN MENYENANGKAN UNTUK

MENAMBAHKAN DUA BELAS RUBI

MERAH TERANG

Kolaborasi ini melahirkan Rado True Square Open Heart x Ji Chang-wook Limited Edition yang mengusung bentuk persegi yang menjadi ciri khas lini True Square, namun dengan sentuhan artistik yang memungkinkan pemakainya untuk melihat langsung ke dalam mekanisme internal jam yang biasanya tersembunyi. Berbagai detail disertakan demi membangun edisi khusus kolaborasi bersama Ji Chang-wook. “Pertama, kami menemukan bahwa dalam budaya Korea, warna merah dikenal membawa keberuntungan dan perlindungan. Kemudian, secara khusus dan lebih pribadi, Ji Chang-wook memberi tahu kami bahwa rubi juga merupakan batu kelahirannya, jadi kami semua berpikir akan menyenangkan untuk menambahkan dua belas rubi merah terang pada jam tangan untuk menandai angka. Rubi-rubi tersebut merupakan pelengkap visual yang indah untuk desain Open Heart,” jelas Adrian Bosshard.

Material utama jam tangan (case, tombol pemutar jam, hingga gelang jam) menggunakan keramik berteknologi tinggi yang memberikan kilau halus sekaligus ketahanan luar biasa terhadap goresan. Jam tangan berdimensi 38 x 44.2 x 9.7 mm ini menggunakan mesin otomatis berkualitas tinggi calibre R734 yang menawarkan cadangan daya sekitar 80 jam. Kristal safir di bagian depan dan belakang memberikan perlindungan optimal sekaligus memungkinkan pemiliknya untuk menikmati keindahan mesin dari berbagai sudut. Dalam sesi kolaborasi ini, jam tangan True

Square tidak hanya mencerminkan eksklusivitas, namun juga berkaitan dengan relevansi dan koneksi emosional. “Saya memilih True Square karena ini adalah jam tangan yang paling nyaman dan paling saya sukai. Karena ini adalah model yang sering saya pakai dalam kehidupan nyata, saya pikir akan sangat bagus untuk membuat jam tangan saya sendiri dengan model ini,” ungkap sang aktor. Jam tangan ini mencerminkan sosoknya sendiri, cerah dan bersinar, sangat harmonis dan dengan sedikit misteri, seperti yang pasti disetujui oleh basis penggemarnya yang besar.

HALAMAN SAMPING

Rado True Square Open Heart x Ji Chang-wook Limited Edition; Rado CEO, Adrian Bosshard

HALAMAN INI

Saat Ji Chang-wook berkunjung ke Kantor Pusat Rado yang didampingi oleh

Adrian Bosshard dan pakar pembuat jam, yang menujukkan seluk beluk bahan keramik berteknologi tinggi di jam tangan Rado

PLAYFUL TIME

Krayon Pac-Man memadukan kemewahan horologi berbalut platinum dengan nostalgia arkade dari tahun 80-an

Krayon, produsen jam tangan independen asal Neuchâtel, Swiss, baru saja memikat dunia horologi dengan karya terbarunya. Siap memulai debutnya di ajang Time To Watches yang akan diselenggarakan di Jenewa pada April 2026, seri Krayon Pac-Man hadir sebagai koleksi sangat terbatas yang hanya tersedia 15 unit di seluruh dunia. Dengan memadukan kemewahan material platinum dan salah satu ikon budaya pop paling universal tahun 1980-an, Krayon membuktikan bahwa mekanisme paling rumit sekalipun mampu tampil jenaka dan memancing senyum bagi siapa pun yang mengenakannya. Lahir dari visi pasangan kreatif Rémi Maillat (pembuat jam tangan, insinyur, dan pendiri Krayon) dan Fei Hou, proyek ini merupakan jembatan antara dua masa kecil yang berbeda namun disatukan oleh emosi yang sama. Fei, yang tumbuh di Beijing, mengenang Pac-Man sebagai sebuah permainan seru di komputer rumahnya, sementara Rémi, yang tumbuh di Swiss, merasakannya melalui keriuhan aula arkade. Perbedaan latar belakang ini justru

Penulis: Yessar Rosendar

melahirkan sinergi intelektual yang luar biasa. Dengan cangkang berdiameter 39 mm yang terbuat dari Platinum PT950, salah satu logam paling prestisius dalam pembuatan jam tangan, Krayon menghadirkan sebuah panggung bagi karakter kuning kecil yang legendaris tersebut untuk melintasi dimensi waktu.

Di balik kejenakaan visualnya, jam tangan ini ditenagai oleh Kaliber C030 yang sangat kompleks, terdiri dari 432 komponen dengan cadangan daya hingga 72 jam. Inti dari mesin ini adalah komplikasi “Anywhere” yang dipatenkan, sebuah pencapaian teknis yang memungkinkan pemakainya menentukan lokasi geografis spesifik untuk menampilkan waktu matahari terbit dan terbenam secara akurat. Dalam edisi Pac-Man ini, mekanisme tersebut diadaptasi secara brilian, di mana karakter Pac-Man bertindak sebagai indikator siang dan malam pada piringan 24 jam. Titik-titik (dots), buah-buahan, dan para hantu muncul sesuai dengan siklus cahaya di lokasi yang dipilih. Ketika Pac-Man mencapai “cookie” besar yang melambangkan matahari terbenam, mode malam pun dimulai. Pada saat tengah malam, geng hantu—Blinky, Pinky, Inky, dan Clyde—akan berubah warna menjadi biru, persis seperti dinamika dalam permainan (game) aslinya, sebelum kembali ke warna asal mereka saat fajar menyingsing.

Estetika jam tangan ini sangat setia pada versi asli gim tahun 1980. Di atas dial oniks hitam yang dipoles hingga mencapai kedalaman warna seperti malam hari, labirin Pac-Man dicetak secara halus menggunakan teknik pad printing transparan. Labirin ini hanya akan menampakkan dirinya ketika cahaya jatuh pada sudut tertentu, menciptakan interaksi yang intim antara jam tangan dan pemiliknya. Detail kecil lainnya seperti tipografi pikselasi pada tulisan “MIDDAY”, “MIDNIGHT”, serta logo Krayon yang dibuat dalam bentuk kartouche piksel, menambah koherensi desain yang menarik. Setiap unit dari 15 jam tangan ini memiliki

keunikan tersendiri, seperti contohnya posisi hantu dan jenis buah seperti ceri atau stroberi bervariasi antara satu jam dengan yang lainnya, memberikan sentuhan personalisasi tingkat tinggi bagi para kolektor.

Rémi Maillat menegaskan: “Kami sangat berkomitmen untuk membuat jam tangan yang dirancang agar tahan lama dan melampaui tren mode. Ini adalah benda-benda luar biasa, dibuat untuk menemani seumur hidup. Sebuah benda pribadi, sangat unik, terhubung dengan tempat yang kami rasakan memiliki ikatan khusus — sebuah titik geografis di dunia, tetapi yang terpenting adalah cahaya, matahari, yang membentuk ritme kehidupan dan membangkitkan referensi intim serta kenangan berharga.”

Kehadiran Krayon Pac-Man seolah menegaskan bahwa inovasi jam tangan tak lagi sekadar soal kerumitan mesin, melainkan visi dalam memaknai waktu itu sendiri. Terinspirasi dari pandangan Fei Hou, gim Pac-Man adalah bukti nyata bagaimana keterbatasan pada waktu itu justru melahirkan karya seni yang melampaui zaman. Perpaduan antara presisi horologi dan warisan budaya pop, namun dengan kemasan dan konsep yang menarik inilah yang menjadikannya jam ini layak menjadi objek buruan yang sangat istimewa bagi para kolektor kelas atas.

PADA SAAT TENGAH MALAM, GENG HANTU— BLINKY, PINKY, INKY, DAN CLYDE—AKAN BERUBAH WARNA MENJADI BIRU, PERSIS SEPERTI DINAMIKA DALAM GIM ASLINYA

HALAMAN SAMPING
Keunikan jam tangan Krayon Pac-Man terlihat mulai dari dial oniks hitam yang dipoles hingga mencapai kedalaman warna seperti malam hari, labirin Pac-Man dicetak menggunakan teknik pad printing transparan, hingga keunggulan mesin jam Kaliber C030 yang sangat kompleks
HALAMAN INI DARI KIRI
Pendiri merek jam tangan Krayon, Rémi Maillat; Estetika jam tangan ini sangat setia pada versi asli gim tahun 1980, lengkap dengan detil uniknya
Rémi Maillat
Pembuat jam tangan, insinyur, dan pendiri Krayon

BRAND TALK

RUSSIAN JEWELS

Dari Minara yang terinspirasi oleh keindahan lampion Ramadan yang memesona, hingga Waltz of Flowers yang terinspirasi oleh keindahan bunga sakura, inilah perwujudan esensi seni Rusia yang dibawa

Victor Moiseikin

Mengunjungi pameran perhiasan internasional di Hong Kong yang diselenggarakan oleh HKTDC tahun ini membawa berbagai kesan khusus, termasuk saat menemui langsung para desainer perhiasan dari berbagai negara, termasuk Rusia. Kami berkesempatan berbincang singkat dengan seorang seniman, perhiasan, desainer, penyair, dan pendiri Rumah Perhiasan MOISEIKIN, yaitu Viktor Moiseikin, yang telah memiliki 20 paten dan telah menerima banyak penghargaan desain internasional dan penghargaan kehormatan atas namanya.

Dengan senyum ramah, ia menunjukkan berbagai desain terbarunya termasuk memberi penjelasan bahwa ia mendirikan MOISEIKIN sebagai merek perhiasan dan gaya hidup bergengsi dengan sejarah lebih dari 30 tahun, yang berbasis di Hong Kong, namun mewujudkan esensi Seni Rusia. Melalui keahlian kelas dunia dan teknologi canggih, ia berhasil mencapai kualitas tanpa cela dan desain mutakhir. Setiap koleksi perhiasannya menceritakan kisah yang menyentuh hati dan menampilkan elemen rahasia yang mengejutkan yang terinspirasi oleh alam dan

Victor Moiseikin

Pendiri dan desainer MOISEIKIN House

KREATIVITAS YANG TERINSPIRASI OLEH

KEKAYAAN BUDAYA DAN SENI RUSIA, SUMBER

DAYA YANG KAYA, DAN WARISAN ARTISTIKNYA

MEMAINKAN PERAN PENTING DALAM

MENCIPTAKAN PERHIASAN DAN MAHAKARYA

ARTISTIK KAMI

berbagai budaya. “Desain kami secara teknis berbeda, dibuat untuk melampaui harapan pelanggan dan membangkitkan kegembiraan dan kekaguman yang abadi. Kreativitas yang terinspirasi oleh kekayaan budaya dan seni Rusia, sumber daya yang kaya, dan warisan artistiknya memainkan peran penting dalam menciptakan perhiasan dan mahakarya artistik kami. Kami melibatkan puluhan seniman dan spesialis seperti desainer, desainer grafis, pematung, pemotong batu, tukang emas, pengrajin, ahli jam tangan, ahli gemologi, insinyur, dan spesialis lainnya dalam perjalanan seni kami. Bersama-sama, kita mengejar kesempurnaan yang menarik perhatian orang dan menyentuh hati mereka,” ungkapnya yang juga dijelaskan dalam rilis terbarunya.

Dari sekian banyak koleksi yang dipamerkan, terlihat koleksi “Music of Colours” yang menampilkan “Waltzing Brilliance”, yaitu teknik penataan batu permata yang dipatenkan, yang menghadirkan batu permata berkualitas tinggi yang dirancang dengan berbagai cara untuk mencerminkan berbagai emosi dan suara. Batu permata yang menari dengan desain inovatif dan asimetris menyebarkan getaran positif, penuh cinta dan kasih sayang, menyentuh hati mereka yang melihatnya, dan membawa kegembiraan bagi semua orang di sekitar pemakainya. Perpaduan batu permata berwarna dengan gerakan “Waltzing Brilliance” dan efek berkilaunya membawanya ke dimensi lain, memungkinkan pemakainya merasa lebih dari sekadar mengikuti tren mode, tetapi menjadi bagian dari melodi yang indah.

Tidak hanya itu, ia menunjukkan cincin “Ball of Colours” yang terinspirasi oleh romansa masa lalu dan keanggunan

gaun malam, menghadirkan sebentuk gaun malam yang memukau, menghidupkannya dengan teknologi paten di mana batu permata berharga menari dan berkilau dalam bingkainya. Dengan permata utama yang cerah di jantungnya, dikelilingi oleh gradien harmonis berlian, safir merah muda, dan rubi seakan mengingatkan pada lapisan gaun malam yang mempesona. Ia menjelaskan lebih lanjut, “Cincin ini menangkap kesempurnaan keahlian dan rasa seni kami. Garis-garis halus dan warna-warna cerah dengan tarian Waltzing Brilliance membawanya ke dimensi lain, yaitu sebuah perjalanan keanggunan dan keindahan abadi, bersinar lebih terang di atas panggung.”

Terdapat juga “Sakura Mai” dari lini Tsvetodelika yang terinspirasi oleh keindahan bunga sakura, koleksi perhiasannya hasil kolaborasi dengan Pearl’Amour, menghadirkan kombinasi berkilauan safir merah muda dan mutiara Akoya dalam bingkai kelopak bunga, merayakan kegembiraan musim semi. Menampilkan teknologi paten “Waltzing Brilliance”, safir merah muda yang bersinar menari dan berputar di dalam bingkainya. Ia juga menciptakan koleksi “Minara”, yang terinspirasi oleh keindahan lampion Ramadan yang memesona, menghadirkan seperangkat perhiasan yang memadukan budaya Arab dengan jiwa Rusia. Koleksi ini merupakan hasil kolaborasi dengan MISK, merek asal Dubai yang didirikan oleh Maher Khansaheb, yang menciptakan perhiasan mewah yang menawarkan perspektif baru tentang Seni Perhiasan Tradisional Emirat. Setiap perhiasan bersinar dengan warna-warna cerah, melambangkan Cahaya Jiwa yang menginspirasi dan menerangi hati dengan kelembutan dan kehangatannya. Dibuat dengan teliti dengan pola yang rumit dan unik, desainnya menangkap esensi lampion Ramadan. Batu permata yang cerah di dalamnya berkilau dengan berbagai nuansa yang memikat, menciptakan interaksi cahaya yang harmonis yang merayakan keindahan budaya Arab. Menyerupai kontur kubah yang anggun, potongan unik batu permata menangkap dan memantulkan cahaya, memancarkan cahaya yang meningkatkan setiap momen.

Dan bagi para kolektor dan penggemar karya seni, ia banyak menciptakan berbagai karya seni dan Objet d’art seperti MONEYSTONE, yaitu koleksi harta karun unik dan suvenir keberuntungan yang terbuat dari batu alam yang ditambang di Pegunungan Ural, yang dikenal sebagai Gunung Batu Uang. Dilengkapi dengan magnet yang memperkuat kekuatan bawaan batu, koleksi ini dipercaya dapat menarik kekayaan, kekuasaan, dan keberuntungan serta memperkuat hubungan. Keajaiban seperti kerikil ini dianggap sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran, cocok untuk hadiah dan koleksi. Ia menggabungkan batu Ural dengan simbol Tahun Baru menurut Kalender Timur, yang tahun ini adalah tahun Kuda, yang melambangkan kekuatan, kemuliaan, dan keberuntungan.

HALAMAN SAMPING

Berbagai perhiasan karya Victor Moiseikin yang menampilkan teknik unik “Waltzing Brilliance”, yaitu teknik penataan batu permata yang dipatenkan; Salah satu Objet d’art yang menggabungkan batu Ural dengan simbol Tahun

Baru Kuda

HALAMAN INI

Victor Moiseikin, Pendiri dan desainer MOISEIKIN House

POINT OF VIEW

INSPIRED BY THE IMPOSSIBLE

Sesuai

dengan mottonya,

“Terinspirasi oleh Hal yang Mustahil,” Jacob & Co mendefinisikan ulang apa yang dapat dicapai oleh pembuatan jam tangan mewah independen

Merek jam tangan mewah independen Swiss, Jacob & Co. telah dinobatkan sebagai merek jam tangan Swiss dengan pertumbuhan tercepat pada tahun 2025, menurut laporan Swiss Watcher tahunan kesembilan yang diterbitkan oleh Morgan Stanley bekerja sama dengan LuxeConsult. Merek ini mencatat pendapatan pembuatan jam tangan sebesar USD 180 juta, mewakili pertumbuhan +14% dari tahun ke tahun, tingkat pertumbuhan tertinggi di industri ini. Beberapa pencapaian penting tahun ini antara lain, perluasan

lini jam tangan dengan komplikasi ultra-tinggi, termasuk Bugatti Tourbillon, Astronomia Four-Axis Tourbillon, dan God of Time. Keberhasilan berkelanjutan dari kreasi bertatahkan permata penuh, termasuk permintaan rekor untuk koleksi Caviar, hingga rekor penjualan Billionaire Timeless Treasure, jam tangan bertatahkan berlian kuning penuh 217 karat. Ekspansi ritel juga meningkat pesat, dengan pembukaan 38 toko baru secara global, termasuk lima butik mono-merek, yang semakin memperkuat jejak internasional merek tersebut.

Jacob & Co. sekarang berada di peringkat #27 secara global di antara merek jam tangan Swiss berdasarkan omset, memasuki tahun peringatan ke-40 dengan momentum yang luar biasa. Pada tahun yang ditandai dengan kontraksi industri dan peningkatan polarisasi pasar, Jacob & Co. memberikan kinerja terkuat di antara 50 merek teratas baik dalam pendapatan maupun unit yang terjual. Penjualan unit meningkat menjadi 3.975 jam tangan, mencerminkan pertumbuhan +24%, juga peningkatan terkuat di antara 50 merek teratas. Penc apaian ini sangat signifikan mengingat latar belakang pasar yang lebih luas. Pada tahun 2025, ekspor jam tangan Swiss mengalami penurunan nilai dan volume industri secara keseluruhan jatuh ke titik terendah dalam beberapa dekade. Hanya sejumlah kecil merek dalam 50 besar yang mencatatkan pertumbuhan positif, sehingga kinerja Jacob & Co. menonjol secara signifikan. Pada tahun 2025, Jacob & Co. meluncurkan lebih dari 30 jam tangan baru, termasuk dua koleksi yang sepenuhnya baru, memperkuat posisinya di garis depan pembuatan jam tangan mewah kontemporer.

Model kemitraan jangka panjang Jacob & Co. terus membedakan merek ini. Pada tahun 2025, perusahaan ini menjalin kolaborasi penting dengan ikon K-pop G-Dragon, bintang film India Salman Khan, hingga petenis ATP peringkat 4 dunia Alexander Zverev, wajah dari koleksi Epic X, sementara para duta global merek termasuk Tom Brady dan Bad Bunny semakin memperkuat kehadiran merek ini di bidang olahraga dan hiburan. Kemitraan ini melanjutkan strategi yang telah berjalan hampir tiga dekade untuk menjalin kerja sama dengan para pemimpin budaya yang mewujudkan ambisi, keunggulan, dan kreativitas yang mendobrak batasan.

MEREK INI MENCATAT PENDAPATAN

PEMBUATAN JAM TANGAN SEBESAR USD 180 JUTA, MEWAKILI PERTUMBUHAN +14% DARI

TAHUN KE TAHUN, TINGKAT PERTUMBUHAN

TERTINGGI DI INDUSTRI INI

Benjamin Arabov, CEO Jacob & Co. berujar, “Sejak 2021, kami telah menerapkan transformasi strategis yang jelas yang berfokus pada diversifikasi produk, perluasan arsitektur harga, dan model distribusi global yang dimodernisasi. Kami memperkenalkan koleksi baru di titik masuk yang lebih mudah diakses sambil terus memperkuat penawaran jam tangan ultra-komplikasi tinggi kami. Hasilnya adalah pertumbuhan volume yang dipercepat tanpa mengorbankan nilai merek.”Jacob Arabo, Ketua dan Pendiri merek Jacob & Co. menambahkan, “Saya selalu percaya bahwa kreativitas adalah jawaban atas ketidakpastian. Jika masa-masa sulit, kami akan berlipat ganda. Lebih banyak inovasi. Lebih banyak kemitraan. Lebih banyak komplikasi tinggi. Filosofi itulah yang mendefinisikan Jacob & Co.”

HALAMAN SAMPING DARI KIRI

God of Time dari Jacob & Co. dianggap sebagai tourbillon tercepat yang pernah ada; Jacob & Co. Astronomia Four-Axis Tourbillon adalah tourbillon empat sumbu pertama dengan remontoir tercepat di dunia; Jacob & Co. Bugatti Tourbillon dari rose gold 18K yang dirancang untuk meniru desain dan mekanisme mobil sport super Bugatti

HALAMAN INI DARI KIRI ATAS

Kolaborasi Pendiri Jacob & Co., Jacob Arabo dengan penyanyi asal Korea, G-Dragon melahirkan Jacob & Co. Korea Astronomia Party senilai 1 juta dolar AS; CEO Jacob & Co, Benjamin Arabov; Aktor Salman Khan mengenakan jam tangan Jacob & Co. “The World Is Yours” Dual Time Zone Salman Khan Edition; Jacob & Co. Billionaire Timeless Treasure senilai sekitar 20 juta dolar AS

POINT OF VIEW

THE FOREST KNEW THEM FIRST

Rolex Awards 2026 memilih lima perempuan yang bekerja di garis

terdepan konservasi, salah satunya perempuan Aceh yang menjaga ekosistem paling unik di bumi

Leuser adalah salah satu di antara semua ekosistem hutan yang tersisa di Asia Tenggara, yang menyimpan sesuatu yang tidak ditemukan di tempat lain mana pun. Gajah, harimau, orangutan, dan badak hidup berdampingan dalam satu hamparan yang sama, bukan dalam zona yang dipisahkan, tapi dalam ekosistem yang masih berfungsi penuh. Keberadaan keempatnya secara bersamaan bukan kebetulan ekologis, melainkan hasil dari hutan yang masih cukup luas dan

utuh untuk menopang semua aspek kehidupannya sekaligus. Membentang sekitar 2,6 juta hektare di Aceh dan Sumatera Utara, Leuser memenuhi syarat-syarat itu, tapi dengan batas yang terus menyempit. Deforestasi menggerusnya perlahan, dalam skala yang tidak selalu tampak dramatis dari luar tapi terasa langsung oleh mereka yang tinggal di dalamnya. Di sinilah Farwiza Farhan memilih berjuang, dan perjuangan itu kini mendapat pengakuan dari panggung yang jauh lebih luas.

Penulis: Billy Saputra

Menandai peringatan ke-50 tahun Penghargaan Rolex yang bergengsi, pada Februari 2026 lalu, Rolex mengumumkan lima pemenang baru Penghargaan Rolex 2026. Farwiza adalah salah satunya, satu-satunya dari Asia Tenggara dalam daftar yang juga mencakup empat perempuan lain dari Nigeria, Peru, China, dan Amerika Serikat. Rachel Ikemeh, konservasionis yang menyelamatkan monyet colobus merah Niger Delta dari ambang kepunahan. Rosa Vásquez Espinoza, ahli biologi kimia yang membuktikan hubungan antara deforestasi Amazon dan penurunan populasi lebah tanpa sengat. Binbin Li, ilmuwan lingkungan yang melindungi habitat panda liar di China. Dan Pardis Sabeti, ahli genetika medis di garis terdepan penanggulangan wabah virus di Afrika Barat. Lima nama, lima medan berbeda, satu arah yang sama. Yang menyatukan kelima sosok itu bukan bidang keilmuan atau geografi, melainkan cara mereka memilih bekerja. Ikemeh membangun hub pelatihan dan program edukasi keliling untuk mereplikasi keberhasilannya di komunitas-komunitas Niger Delta. Espinoza memperluas koridor habitat lebah tanpa sengat yang dikelola masyarakat adat di Amazon Peru. Li merancang pendekatan peternakan berkelanjutan yang menguntungkan ekonomi lokal sekaligus melindungi ruang hidup panda. Sabeti mengembangkan alat diagnostik portabel yang bisa mendeteksi wabah virus sebelum menyebar ke populasi besar. Dan Farwiza terus bekerja dari dalam memperluas program yang menempatkan perempuan dan komunitas akar rumput sebagai pemantau dan penjaga ekosistem mereka sendiri.

SOSOK FARWIZA FARHAN ADALAH CONTOH

DARI APA YANG TERJADI KETIKA KECINTAAN

ITU DITERJEMAHKAN MENJADI DEDIKASI

KERJA YANG KONSISTEN, BERTAHUN-TAHUN, DARI TINGKAT YANG PALING MENDASAR

Penghargaan Rolex bukan pendatang baru di dunia filantropi lingkungan. Sejak didirikan pada 1976 untuk menandai ulang tahun ke-50 jam tangan tahan air pertama Rolex, program ini telah mendukung 165 individu dari lebih dari 67 negara. Rekam jejaknya terukur: lebih dari 50 juta pohon ditanam, 137 spesies terancam punah dilindungi, dan 32 ekosistem besar dipertahankan. Tapi yang membedakan program ini dari penghargaan lingkungan lainnya adalah sifat dukungannya. Rolex tidak berhenti pada seremoni dan pemberian trofi. Ia mendampingi para laureates jauh setelah penghargaan diterima, memberikan akses ke jaringan ahli global dan dukungan jangka panjang yang memungkinkan kerja di lapangan terus berkembang.

HALAMAN SAMPING DARI KIRI

Rosa Vásquez Espinoza dari Peru, Farwiza Farhan dari Indonesia, Binbin Li dari China, Rachel Ikemeh dari Nigeria, dan Pardis Sabeti dari Afrika Barat

HALAMAN INI DARI KIRI ATAS

Ekosistem Leuser di Sumatra; Rachel Ikemeh, menggerakkan konservasi berbasis komunitas di Nigeria

POINT OF VIEW

DALAM LANSKAP KONSERVASI GLOBAL

YANG KERAP DIDOMINASI OLEH

PENDEKATAN ATAS KE BAWAH, APA YANG

DILAKUKAN KELIMA LAUREATES INI

MENAWARKAN SESUATU YANG BERBEDA

Dalam lanskap konservasi global yang kerap didominasi oleh pendekatan atas ke bawah, apa yang dilakukan kelima laureates ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Mereka tidak datang membawa solusi dari luar lalu pergi ketika proyek selesai. Mereka membangun kapasitas dari dalam, merangkul komunitas lokal menjadi pelaku utama, memantik tindakan kolektif untuk perubahan. Pendekatan itu relevan di mana pun hutan dan ekosistem terancam, tapi terasa sangat dekat di Indonesia, di mana tekanan pembangunan terhadap kawasan hutan terus berlangsung dan suara komunitas lokal masih terlalu sering kalah langkah dari kepentingan yang lebih besar. Apa yang terjadi di Leuser bukan pengecualian, justru sebuah cerminan.

Sosok Farwiza Farhan adalah contoh dari apa yang terjadi ketika kecintaan itu diterjemahkan menjadi dedikasi kerja yang konsisten, bertahun-tahun, dari tingkat yang paling mendasar. Penghargaan Rolex bukan titik puncak dari perjalanan itu, melainkan konfirmasi bahwa komitmen yang ia pilih jauh sebelum ada yang memperhatikan adalah tanggung jawab yang sesungguhnya. Bagi pembaca di Indonesia, kisahnya bukan hanya tentang hutan di Sumatera. Ia adalah pengingat bahwa di tengah tekanan yang terasa terlalu besar untuk dilawan, masih ada ruang untuk cara kerja yang akarnya menancap dalam, yang percaya pada komunitas, dan yang tahu persis apa yang akan hilang jika tidak ada yang memilih untuk hadir.

HALAMAN INI DARI KIRI SEARAH JARUM JAM

Habitat panda liar di China; Binbin Li, melindungi panda liar; Rosa Vásquez Espinoza, menyelamatkan lebah untuk melindungi Amazon; Pardis Sabeti, mencegah epidemi; Habitat lebah tanpa sengat yang dikelola masyarakat adat di Amazon Peru

POINT OF VIEW

GROWING IN SILENCE

Apa yang membuat seseorang tetap berjalan, bertahun-tahun, di tempat yang hasilnya tidak selalu mendapat sorotan?

Farwiza Farhan punya jawabannya

Busana: IKAT Indonesia by Didiet Maulana

Perhiasan: Nusantara dari

The Palace Jeweler, kolaborasi

dengan Samuel Wattimena

Makeup Artist: Anwar Kho

Penulis: Billy Saputra

Fotografer: Rendy Kairupan

Lokasi: Hotel Indonesia Kempinski Jakarta

IA TERPILIH SEBAGAI SALAH SATU DARI

LIMA 2026 ROLEX AWARDS LAUREATES, PUN SEBAGAI SATU-SATUNYA WAKIL

DARI ASIA TENGGARA DALAM PROGRAM

PENGHARGAAN BERGENGSI ITU

Kalau membayangkan sosok seorang konservasionis hutan, Hotel Indonesia Kempinski Jakarta mungkin bukan tempat pertama yang terlintas. Namun sore itu, Farwiza Farhan justru duduk di sana, di tengah lobi dengan langit-langit tinggi dan lantai marmer yang telah menjadi bagian dari ingatan kolektif Jakarta sejak tahun 1962 tersebut. Ia mengenakan busana IKAT Indonesia rancangan Didiet Maulana, dengan perhiasan The Palace Jeweler dari Koleksi Nusantara, kolaborasi dengan Samuel Wattimena, yang menghiasi busana, pergelangan tangan hingga jemari dan telinganya. Kontrasnya terasa jelas: sosok yang seharihari bekerja di koridor ekosistem Leuser, dalam bentangan hutan hujan tropis terakhir di Sumatra yang masih menjadi rumah bagi orangutan, harimau, gajah, dan badak, kini hadir di salah satu ruang paling ikonis ibu kota. Tetapi pertemuan dua dunia ini tidak terasa janggal. Justru di situlah letak kekuatannya, keduanya dapat dihuni oleh orang yang sama, tanpa perlu saling meniadakan.

Nama Farwiza Farhan atau yang akrab disapa Wiza mungkin sudah tidak asing bagi pembaca setia WATCHES Indonesia. Awal tahun ini, ia terpilih sebagai salah satu dari jajaran lima 2026 Rolex Awards Laureates, pun sebagai satu-satunya wakil dari Asia Tenggara dalam program penghargaan bergengsi yang tahun ini telah memasuki usia ke-50. Namun pertemuan sore itu tidak berangkat dari bahasan penghargaan. Kami tidak datang untuk membicarakan kondisi terkini ekosistem Leuser, atau merinci program-program yang sedang berjalan di lapangan. Percakapan kami perlahan bergeser ke hal-hal yang membentuk kesehariannya: tentang rutinitas yang ia jaga, tentang apa yang membuatnya terus berjalan ketika jejak langkahnya tidak ada yang melihat, dan tentang bagaimana seseorang memilih untuk mendedikasikan hidupnya pada sesuatu yang hasilnya tidak selalu bisa diukur dalam rentang waktu yang sepintas.

HALAMAN SAMPING

Aktivis kelahiran Banda Aceh pada 1 Mei 1986, Farwiza Farhan adalah putri sulung dari pasangan politikus-teknokrat Dr. Ahmad Farhan Hamid dan Ir. Ferry Soraya, M.Si. Ia terlihat anggun dalam balutan blazer tenun custommade dari IKAT Indonesia rancangan Didiet Maulana, dan perhiasan Koleksi Nusantara dari The Palace Jeweler, kolaborasi dengan Samuel Wattimena

HALAMAN INI

Suasana pemotretan di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta terasa menyenangkan, karena sosok sang konservasionis hutan ini sangat ramah meski namanya masuk ke dalam jajaran “sosok perempuan berpengaruh di dunia” versi majalah TIME kategori leaders, dan telah menerima berbagai penghargaan tingkat dunia

POINT OF VIEW

“SAYA BELAJAR SESUATU YANG SANGAT

MENDASAR,” UNGKAPNYA. “MANUSIA

SEBENARNYA KECIL DAN RAPUH.” DI SATU

TITIK DALAM PERJALANANNYA, IA MENYADARI

BAHWA IA BUKAN “PELINDUNG” HUTAN

Ketika ditanya soal kegiatan paginya, Farwiza tidak langsung menjawab dengan rutinitas. Ia justru bercerita tentang fasefase dalam hidupnya. Ada masa ketika ia berlatih maraton dan memaksakan diri bangun sebelum matahari terbit, menempuh puluhan kilometer bahkan sebelum sarapan. Namun belakangan, sesuatu beralih. “Saya justru lebih banyak belajar untuk mendengarkan tubuh,” katanya, “memprioritaskan istirahat, dan bangun ketika tubuh benar-benar siap.” Yang ia jaga sekarang bukan lagi jamnya, melainkan kualitas kehadirannya. Meditasi singkat, journaling lima menit, memberi ruang untuk diri sendiri sebelum memberi energi kepada orang lain. “Hal-hal sederhana ini,” ujarnya, “yang membantu saya tetap utuh, terutama saat hari menjadi panjang dan penuh tuntutan.” Ada satu hal yang Farwiza katakan sore itu yang terasa seperti pemahaman yang tidak datang dengan cepat. Tentang hubungannya dengan alam, bukan dari perspektif sebagai konservasionis, tetapi sebagai manusia. “Saya belajar sesuatu yang sangat mendasar,” ungkapnya. “Manusia sebenarnya kecil dan rapuh.” Di satu titik dalam perjalanannya, ia menyadari bahwa ia bukan “pelindung” hutan. Rimba tidak membutuhkannya untuk tetap ada, justru sebaliknya. Kesadaran itu perlahan menggeser cara pandangnya, dari melihat alam sebagai sesuatu yang harus diselamatkan, menjadi sesuatu yang sudah utuh, yang lebih sering justru kita ganggu. “Sejak itu,” ujarnya pelan, “hubungan saya dengan alam menjadi lebih personal, lebih tentang rasa hormat, bukan hanya tanggung jawab.”

Lalu kami menyinggung soal waktu dan komitmen. Bertahuntahun bekerja sebelum dunia luar mulai memperhatikan, apa yang membuatnya tetap hadir? Farwiza diam sejenak sebelum menjawab. “Ketika dunia luar belum memperhatikan, itu tidak berarti pekerjaan yang kita lakukan tidak bermakna,” katanya. Ia mengingatkan bahwa kerja konservasi di Leuser telah dimulai oleh para tetua adat bahkan sebelum Indonesia merdeka, dan bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari perjalanan yang jauh lebih panjang dari hidupnya sendiri. Dampaknya tetap nyata, hanya bentuknya yang berbeda: hutan yang masih bertahan, komunitas yang semakin berani bersuara, dan cara pandang yang perlahan berubah. “Hal-hal ini mungkin tidak selalu terlihat besar,” ujarnya, “tetapi cukup untuk memberi alasan untuk terus melangkah.”

Kami bertanya satu hal lagi sebelum sore itu berakhir. Kalau bukan soal pekerjaan atau pencapaian, apa hal sederhana yang membuat hidupnya terasa berjalan dengan baik? Ia tersenyum sebelum menjawab, seperti pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang sudah lama ia pikirkan. “Hidup yang baik buat saya adalah ketika ada rasa tenang di dalam diri,” katanya. “Bukan karena semuanya sempurna, tapi karena saya merasa selaras dengan apa yang saya lakukan.” Hal-hal kecil yang ia sebut bukan trofi atau pengakuan. Makan bersama tim di lapangan. Mendengar cerita dari masyarakat. Melihat orang-orang di sekitarnya punya ruang untuk menentukan masa depan mereka sendiri. “Itu,” katanya, “yang memberi rasa bahwa hidup berjalan dengan baik.”

Percakapan itu berakhir seperti cara ia menjawab pertanyaanpertanyaan kami, tanpa tergesa. Di sudut ruangan, dengan jendela besar menghadap langsung ke Bundaran HI, Jakarta, bersama lampu-lampunya yang mulai berpijar satu per satu di bawah sana. Farwiza menatap sebentar ke luar sebelum membagikan jawaban terakhirnya kepada kami, tentang visinya ke depan. “Masa depan konservasi tidak bisa dipisahkan dari masa depan komunitas yang hidup di dalamnya,” katanya. “Mereka bukan hanya bagian dari solusi. Mereka adalah penjaga utama.” Lalu ia menambahkan sesuatu yang terasa seperti prinsip hidupnya sendiri: “Dari alam, juga saya belajar bahwa jeda itu bukan kemunduran. Tapi bagian dari proses bertumbuh,” ujarnya penuh semangat.

HALAMAN SAMPING

Wanita yang akrab disapa Wiza ini dengan ramah menjawab semua pertanyaan kami dan berbagi pengalamannya yang sangat menantang sebagai seorang konservasionis hutan

HALAMAN INI DARI ATAS SEARAH JARUM JAM

Wiza mengenakan jaket trench bermotif dengan jubah yang dapat dilepas, dari tenun IKAT Indonesia rancangan Didiet Maulana, dipadukan dengan kemeja dan celana panjang hitam koleksi pribadi; Perhiasan Koleksi

Nusantara dari The Palace Jeweler, kolaborasi dengan Samuel Wattimena; Director of Marketing Communications Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Ricky Utomo berfoto bersama Wiza, tim redaksi, Syifa dari The Palace Jeweller, dan MUA Anwar Kho

TIME AND RHYTHM,

A PERFECT SYNCHRONY

Pertemuan antara presisi horologi dan ritme global, inovasi mekanis Hublot selaras dengan ekspresi kreatif Jung Kook

Dalam dunia kemewahan, ada kolaborasi yang terasa strategis dan ada yang terasa takdir. Ketika Hublot mengumumkan Jung Kook sebagai Global Ambassador terbarunya, pertemuan ini menyatukan dua nama besar sekaligus mempertemukan dua filosofi tentang waktu, presisi, dan keberanian untuk berbeda. Sejak 1980, Hublot telah membangun reputasi sebagai merek yang berani menggugat kelaziman. Ketika dunia jam tangan mewah masih berpegang pada tradisi konservatif, Hublot justru memasangkan case emas dengan strap karet, menjungkirbalikkan kelaziman horologi. Dari bezel berbentuk jendela kapal dengan sekrup terekspos itu lahirlah Art of Fusion, filosofi yang menyatukan material, teknik, dan perspektif yang sebelumnya tak pernah dipertemukan.

Dua dekade setelah revolusi Big Bang pada 2005, semangat itu menemukan bentuk perwujudan baru melalui Big Bang Original Unico yang diluncurkan pada 2026. Jam ini bukan sekadar “penyegaran” ikon, tetapi juga refleksi atas perjalanan panjang— arsitektur case berlapis yang tetap tegas, desain industrial yang semakin matang, serta pendekatan mekanis yang kian presisi. Di balik dial terbuka yang memperlihatkan anatomi mekanisnya, terdapat Unico, mesin penggerak in-house pertama Hublot yang sepenuhnya dirancang dan diproduksi sendiri sejak 2010. Sebuah flyback chronograph terintegrasi dengan presisi hingga 1/8 detik, memungkinkan reset dan mulai ulang seketika hanya dengan satu tekanan. Column wheel yang berada di sisi depan sengaja ditampakkan, menjadikan mekanika sebagai bagian dari estetika. Escapement silikon memastikan stabilitas dan ketahanan terhadap magnetisme, sementara cadangan daya 72 jam dan akurasi -2/+4 detik per hari menegaskan komitmen terhadap performa.

Lima inovasi yang dipatenkan—mulai dari dual oscillating clutch hingga sistem “zero friction” pada ratchet wheel—menunjukkan

“ITU ADALAH MOMEN KETIKA WAKTU DAN

MUSIK TERASA SALING TERHUBUNG. KINI, BERKOLABORASI DENGAN HUBLOT TERASA

SEPERTI MOMEN ITU KEMBALI KE TITIK

AWALNYA.” JUNG KOOK

bahwa Art of Fusion tidak berhenti pada material, tetapi hingga ke inti mekanisnya. Semua diuji melalui protokol Chronofiable®, simulasi percepatan usia yang memastikan keandalan jangka panjang. Kolaborasi ini juga memiliki resonansi personal bagi Jung Kook. Ia mengenang momen saat membawakan Dreamers di Piala Dunia FIFA 2022, ketika Hublot menjadi Official Timekeeper kompetisi tersebut. “Itu adalah momen ketika waktu dan musik terasa saling terhubung,” ujarnya. “Kini, berkolaborasi dengan Hublot terasa seperti momen itu kembali ke titik awalnya.” Sebagai bagian dari BTS, Jung Kook seakan tumbuh dalam percepatan global—karier yang melesat setelah menemukan momentum, ekspektasi yang tinggi, dan waktu yang kerap terasa berjalan lebih cepat dari kebanyakan orang. Dalam lagu solonya, My Time, ia merefleksikan pengalaman tersebut. Tentang tumbuh terlalu cepat, tentang mengejar ritme hidupnya sendiri. Lagu itu bukan sekadar narasi personal, melainkan mediasi tentang waktu sebagai pengalaman subjektif.

HALAMAN SAMPING

Jung Kook mengenakan jam tangan Hublot Big Bang Original Unico King

Gold Ceramic; Detil jam tangan mewah ini menampilkan dial terbuka yang memperlihatkan anatomi mekanisnya, Unico, mesin penggerak in-house pertama Hublot

HALAMAN INI

Dua tampilan Jung Kook dalam kampanye terbaru Hublot, ia mengenakan Hublot Big Bang Original Unico Black Magic dengan casing keramik hitam dan diapit oleh referensi titanium dan keramik hitam

LIGHT YEARS

Project Hail Mary telah membawa Ryan Gosling ke ujung galaksi, dan TAG Heuer ikut dalam perjalanan itu

Ryland Grace menemukan dirinya terbangun di sebuah pesawat ruang angkasa tanpa ingatan tentang siapa dirinya atau bagaimana ia bisa berada di sana. Identitasnya hilang, begitu pula konteks yang seharusnya menjelaskan situasinya. Yang perlahan muncul justru satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan: bumi sedang berada di ambang kehancuran, dan ia mungkin satusatunya harapan terakhir untuk mengubah nasibnya. Project Hail Mary (2026), merupakan film adaptasi novel karya Andy Weir yang dirilis 20 Maret 2026 oleh Amazon MGM Studios, menghadirkan Ryan Gosling dalam peran tersebut di bawah arahan sutradara Phil Lord dan Christopher Miller. Di tengah keheningan luar angkasa yang nyaris tanpa petunjuk, di antara instrumen dan perhitungan yang menopang misi ini, ada satu objek yang tetap hadir sebagai penanda waktu.

Penulis: Billy Saputra

Benda yang bertahan di pergelangan Ryan Gosling itu adalah

TAG Heuer Connected Calibre E5, dengan case titanium dan temali merah yang tampil kontras di tengah kegelapan kabin pesawat ruang angkasa tersebut. Dalam film ini, jam tangan tersebut terus hadir di berbagai momen krusial, di antaranya adalah saat Grace menganalisis data, melakukan percobaan, dan mengambil keputusan sendirian, jauh dari bumi dan dari siapa pun yang mengenalnya. Kehadirannya tidak ditonjolkan secara berlebihan, namun cukup konsisten untuk terasa sebagai bagian dari ritme kerja karakter tersebut. Ketika waktu menjadi sumber daya yang perlahan terus menipis, keberadaan sesuatu yang mengukurnya dengan presisi menjadi semakin relevan dalam konteks yang harus ia dihadapi. TAG Heuer Connected Calibre E5 hadir dalam case berbahan titanium yang ringan namun tetap terlihat begitu kokoh di pergelangan tangan, lalu dipadupadankan dengan temali merah yang memberikan kontras visual yang jelas bahkan dalam kondisi pencahayaan terbatas. Layar hitamnya menampilkan informasi dengan tingkat keterbacaan tinggi, menjaga setiap data tetap mudah dipahami tanpa memerlukan interpretasi tambahan. Pendekatan ini menempatkannya lebih dekat pada instrumen presisi bukan semata perangkat yang dikenakan sebagai gimmick. Di pergelangan Grace, fungsinya berjalan secara langsung dan tanpa distraksi: mencatat, mengukur, dan mengikuti setiap perkembangan situasi. Di luar jabatannya sebagai pemain pendukung di layar lebar, pendekatan yang sama dari jam tangan pintar ini rasanya tetap terasa relevan saat digunakan dalam situasi yang tepat oleh siapa pun.

BENDA YANG BERTAHAN DI PERGELANGAN

RYAN GOSLING ITU ADALAH TAG HEUER

CONNECTED CALIBRE E5, DENGAN CASE

TITANIUM DAN TEMALI MERAH YANG

TAMPIL KONTRAS

Selain itu, ada alasan mengapa jam tangan yang dikenakan dalam misi ini tidak mengarah pada kompleksitas mekanis. Grace adalah seorang guru sains, seseorang yang bergulat dengan data, presisi, dan kebutuhan untuk merespons dengan cepat dalam situasi yang terus berubah. Pilihan pada TAG Heuer Connected Calibre E5 terasa selaras dengan pendekatan tersebut. Dalam konteks Project Hail Mary, jam tangan ini tidak hanya hadir sebagai objek yang dikenakan, tetapi sebagai bagian dari cara karakter itu dibangun dan dipahami. Bagi penonton yang memperhatikannya, kehadirannya mungkin tidak terasa dominan, namun cukup untuk memberi gambaran tentang bagaimana peran penunjuk waktu dapat dikenakan dalam situasi penuh penentuan yang dapat memberikan impresi.

HALAMAN SAMPING

Dalam film Project Hail Mary (2026), Ryan Gosling terlihat mengenakan jam tangan TAG Heuer Connected Calibre E5 terbaru

HALAMAN INI

Jam tangan TAG Heuer Connected Calibre E5 yang dikenakan sang aktor hadir dengan case titanium dan tali jam karet merah, dan layar hitamnya menampilkan informasi dengan tingkat keterbacaan tinggi

LVMH WATCH WEEK 2026

Ajang LVMH Watch Week yang digelar pada awal tahun 2026

menampilkan beberapa jam tangan model terbaru yang kerap kali menjadi acuan dari segi desain dan strategi selama satu tahun penuh dari merek-merek dalam grup LVMH: Louis Vuitton, TAG Heuer, Bvlgari, Hublot, Zenith, Daniel Roth, Gérald Genta, dan Tiffany & Co. Berikut

beberapa jam tangan favorit Collector’s Guide WATCHES Indonesia yang kami lihat di ajang LVMH Watch Week tahun ini.

BVLGARI TUBOGAS MANCHETTE

Tahun ini Bvlgari merangkum identitas ganda sang Maison— sebagai pengrajin emas asal Italia dan pembuat jam tangan asal Swiss—ke dalam satu mahakarya yang secara senyap mendobrak batasan. Bvlgari Tubogas Manchette tampil menonjol bukan karena ukurannya yang masif atau kerumitan komplikasi, melainkan melalui presisi, desain yang terkesan restrained namun tetap elegan, dan ambisi dari sisi mekanisnya. Sekilas, model terbaru ini adalah reinterpretasi yang memukau dari model arsip mereka pada tahun 1974 yang menangkap geometri berani dan kemewahan yang berjiwa bebas dari era tersebut. Gelang berbahan emas kuning dengan lilitan tunggal melingkari pergelangan tangan seperti pita yang mengeluarkan cahaya. Melalui arsitektur lenturnya yang dicapai melalui konstruksi baru secara teliti, setiap bagian cincin dibentuk dan juga dipoles sebelum dipasang pada bilah titanium, sehingga mempertahankan fleksibilitas ikoniknya sekaligus memungkinkan aliran kilauan yang mulus.

Menariknya, hampir 12 karat berlian berkilauan di sepanjang bagian yang membentuk latar belakang yang memukau untuk palet warna-warni dari batuan citrine, rubellite, peridot, amethyst, topaz, dan spessartite. Bagian dial jam berbentuk persegi sepenuhnya bertabur berlian. Pada bagian dalam, Lady Solotempo BVS 100 menunjukkan waktu yang sangat akurat – kalibernya hanya berbobot lima gram tetapi memberikan cadangan daya yang sangat mengesankan selama 50 jam – cukup tahan lama untuk akhir pekan, dan tentu saja lebih dari cukup untuk acara bergengsi apa pun yang membutuhkan perhiasan yang layak disebut sebagai sebuah statement nan stylish. Dengan Tubogas Manchette, Bvlgari sekali lagi membuktikan bahwa jam tangan ini berfungsi sebagai ekspresi dan presisi dari arah visi Bvlgari saat ini. Model ini bukanlah tentang memperlihatkan sebuah pernyataan gaya yang mencolok atau kemewahan yang lantang, melainkan tentang penguasaan mutlak di skala terkecil—di mana emas, sejarah, dan mekanika melebur dalam sebuah kebanggaan yang mengapresiasi integritas desain dan kecerdasan mekanis.

HUBLOT CLASSIC FUSION

Hublot menutup akhir tahun 2025 dengan menunjukkan sisi inovatif mereka dengan peluncuran model MP-17 Meca-10 Arsham Splash yang visioner di Singapura. Menariknya, mereka memulai tahun 2026 dengan sebuah langkah paling berani yang dapat dilakukan sebuah merek, memulainya dengan berbisik daripada berteriak. Hal ini dilakukan oleh Hublot yang memegang teguh filosofi “Art of Fusion” mereka dengan menghadirkan tiga model Hublot Classic Fusion baru di awal tahun ini, yang hadir dalam warna hijau sage yang mencolok. Berbeda dari estetika mereka yang terkenal nyentrik, merek yang berbasis di Nyon ini kini menyalurkan semangat pembaharuan musim semi dan jantung pegunungan Alpen. Hasilnya adalah tiga jam tangan titanium ringan yang dengan mudah menjembatani antara mode kelas atas dan pembuatan jam tangan mewah asal Swiss.

Yang menjadi penyempurna dari jam tangan ini adalah bagian dial jam berwarna hijau sage dengan sentuhan akhir finishing sunray, yang berpadu sempurna dengan tali jam karet khusus yang dilengkapi sisipan kain. Dalam sentuhan halus yang diapresiasi oleh para penggemar jam tangan, benang 3D pada tali jam ini ditenun pada sudut 45 derajat, menghasilkan efek asimetris yang

mengingatkan pada jaring Milanese klasik. Koleksi ini terbagi menjadi tiga kepribadian yang berbeda. Bagi para pencinta jam tangan klasik, versi 42mm ini merupakan sebuah mahakarya minimalisme, hanya menawarkan tiga jarum jam di bagian tengah dan jendela tanggal di posisi pukul 3. Versi unisex ini ditenagai oleh mesin otomatis yang memiliki cadangan daya hingga 48 jam. Mereka yang mencari sentuhan yang lebih sporty akan tertarik pada model 45mm, yang juga jam dengan chronograph pertama Hublot dengan dial hijau sage, yang dipertegas dengan indah oleh bagian subdial berwarna perak dengan finishing spiral yang melingkar. Terakhir, versi quartz 33mm berfokus pada kemewahan, membingkai dial berwarna pastel lembut ini dengan bezel yang bertatahkan 36 berlian seberat 0,8 karat.

CEO Hublot, Julien Tornare, mengemukakan bahwa warna baru ini membawa sebuah nilai tambah pada lini koleksi ini dengan berfokus pada “kehalusan, minimalisme, dan hal-hal yang bersifat penting.” Bagi sebuah merek yang awalnya merevolusi dunia jam tangan mewah dengan memadukan case emas dengan tali jam karet, warna segar dan elegan ini membuktikan bahwa mereka mampu menguasai keanggunan yang tenang dengan sama mahirnya dengan inovasi yang berani.

TAG HEUER CARRERA CHRONOGRAPH SEAFARER

TAG Heuer memperkenalkan desain baru dalam TAG Heuer

Carrera Chronograph Seafarer, sebuah penghormatan modern untuk jam tangan unik yang dicintai oleh penggemar Heuer vintage sejak pertengahan abad ke-20. Tampilan dial jam pada versi yang baru dari Seafarer ini terkesan lebih khas, dengan mengadopsi skema warna yang merujuk kembali ke asal model ini, model Solunar yang diluncurkan pada tahun 1949, serta evolusinya yang kemudian menjadi three- register chronograph Kreasi modern ini dimulai dengan dasar warna sampanye, yang kehangatannya sedikit diredam berkat tekstur opaline

Warna biru kehijauan muda dan kuning menjadi aksen warna utama pada bagian dial, yang terlihat pada penunjuk tide indicator dan bagian subdial penanda chronograph minutes yang dilapisi lacquer. Pada indikator menit, kontras antara segmen warna biru kehijauan dan lekukan di sekitar dial memberikan tampilan yang menarik, terlebih dengan hadirnya sedikit kilau pada bagian dial. Sebaliknya, pada bagian belakang terlihat

mesin jam Calibre TH20-04 otomatis yang menawarkan cadangan daya hingga 80 jam.

Secara historis, jam tangan tipe Seafarer, bersama dengan Solunar dan Mareograph, sudah ada sebelum nama Carrera hadir dan berpindah-pindah antar lini model lain dengan case yang juga berbeda. Jam tangan ini pun didefinisikan berdasarkan fungsinya, bukan lini koleksinya. Dilihat dari sudut pandang ini, Seafarer modern ini seakan menggarisbawahi betapa besar porsi dan bobot nama Carrera saat ini. Keputusan TAG Heuer untuk memimpin LVMH Watch Week 2026 dengan presentasi yang seluruhnya menampilkan jam tangan Carrera jelas merupakan langkah strategis. Ini bukan berarti merek tersebut mengklaim Carrera sebagai satu-satunya lini andalan maupun cerita mereka untuk tahun ini. Sebaliknya, ini adalah pilihan untuk membuka musim dengan koleksi yang paling selaras dengan visibilitasnya saat ini, yaitu Formula 1, dan dengan nilai-nilai yang ingin ditekankan oleh TAG Heuer: ketepatan waktu, keterbacaan, dan kredibilitas mekanis mereka.

LOUIS VUITTON ESCALE COLLECTION

Koleksi Escale dari Louis Vuitton telah lama menjadi surat cinta yang mendalam bagi seni melakukan perjalanan atau the Art of Travel. Berasal dari bahasa Prancis yang berarti persinggahan, Escale mewujudkan romansa dari penjelajahan global. Pada ajang LVMH Watch Week 2026, Maison ini mengambil langkah tegas dan ambisius, mendorong lini model ini ke puncak dari pembuatan jam tangan kelas atas dengan memperkenalkan empat mesin jam baru yang menjembatani tujuan mekanis dengan desain avant-garde secara brilian. Escale Worldtime berfungsi sebagai jangkar fondasi bagi rilisan Louis Vuitton di tahun 2026, bukan sekadar penerbitan ulang, melainkan sebuah eskalasi mendalam dari sang model klasik yang ikonis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah model ini, Escale Worldtime hadir dalam case platinum yang prestisius, menandakan peningkatan statusnya di ranah high watchmaking

Pada bagian dalam berdetak mesin jam in-house yang benarbenar baru dan diselesaikan secara teliti, hasil pengembangan para pakar di La Fabrique du Temps. Jam tangan ini mempertahankan bahasa visual multi-lapis yang sangat dipuja para kolektor, menampilkan 24 zona waktu global yang dapat dibaca dengan sangat mudah. Bagian dial menjadi kanvas kesempurnaan pengerjaan tangan dengan setiap cincin penunjuk kota dieksekusi dengan presisi. Jika Escale Worldtime versi standar adalah sebuah bentuk keanggunan yang fungsional, Escale Worldtime Tourbillon adalah teater horologi murni yang tak tertandingi. Louis Vuitton mengambil konsep inti dari navigasi 24 zona waktu dan menyuntikkannya dengan salah satu komplikasi jam tangan yang paling dihormati dan menantang gravitasi. Integrasi tourbillon ke dalam arsitektur worldtime yang kompleks adalah pencapaian

teknis yang mengagumkan. Bagian untuk menggemakan kode desain khas merek ini—berputar secara megah, memberikan titik fokus yang menghipnotis di tengah deretan cincin kota-kota global yang penuh warna.

Bagi para penjelajah dunia yang lebih menyukai pendekatan minimalis yang bersahaja, model Escale Twin Zone menyederhanakan komplikasi worldtime ke dalam bentuk yang paling esensial dan praktis: melacak dua zona waktu secara bersamaan dengan intuisi pandangan sekilas. Disematkan dalam case rose gold 18 karat berukuran 40mm dengan proporsi indah serta ketebalan elegan hanya 12,3mm, model ini adalah mahakarya dalam kemewahan yang halus atau subtle. Bagian dial dengan ukiran hand-guilloché hadir memukau, jarum jam dari rose gold 18K solid juga menawarkan keterbacaan yang mudah. Dipadukan dengan tali jam calf leather berwarna krem yang lentur, Escale

Twin Zone mewujudkan keanggunan yang tenang dan penuh

Model terakhir yang menjadi primadona dalam ajang ini adalah Escale Minute Repeater yang mengagumkan. Louis Vuitton melampaui dimensi visual dari sebuah perjalanan, menghidupkan konsep waktu melalui suara. Komplikasi Minute Repeater tetap menjadi komplikasi yang paling rumit dan paling dihormati secara historis dalam ranah haute horlogerie, dipadukan dengan arsitektur Escale. Para ahli pembuat jam di La Fabrique du Temps telah merekayasa mekanisme dentingan yang menerjemahkan jam, seperempat jam, dan menit ke dalam simfoni melodi yang sejernih kristal. Bagian case-nya yang dirancang dengan cermat dan dilubangi untuk mengoptimalkan resonansi akustik, memastikan bahwa dentingannya tidak hanya nyaring, tetapi juga kaya akan kualitas nada yang hangat.

ZENITH DEFY REVIVAL A3643

Tahun ini Zenith kembali menyelami kedalaman arsip historisnya dengan memperkenalkan Defy Revival A3643, sebuah kreasi yang setia pada salah satu referensi awal dari lini model Defy dari tahun 1969. Mengikuti jejak kesuksesan Defy Revival A3642 yang diluncurkan pada tahun 2022, serta evolusi A3691 dan A3690 yang dengan berani bermain warna, model A3643 terbaru ini justru kembali ke akar klasiknya. Model terbaru ini tampil memukau dengan dial bernuansa perak yang elegan, berpadu apik dengan case segi delapan (oktagonal) ikoniknya serta bagian bezel dengan 14 sisi yang tegas. Dibalut case stainless steel berukuran 37mm—yang direkonstruksi ulang menggunakan cetak biru produksi aslinya—jam tangan ini mempertahankan sudut-sudut tajam, permainan tekstur, serta proporsi padat khas estetika 1969. Ketahanan air hingga kedalaman 300 meter menjadi bukti nyata ketangguhan konsep Defy yang melegenda. Kehadiran tombol jam screw-down dan case berfaset menyajikan perpaduan harmonis antara akurasi dengan estetika vintage dan keandalan modern.

Bagian dial bertekstur silver sunray diciptakan kembali melalui pemindaian 3D dari jam tangan vintage-nya. Indeks penunjuk jam diaplikasikan dengan struktur dua tingkat yang rumit. Jarum jam yang memiliki faset dan tampilan luminous menjamin keterbacaan yang optimal, sementara jarum detik berujung oranye menyuntikkan aksen visual yang dinamis. Sesuai dengan model historisnya, jendela tanggal diletakkan secara presisi di antara pukul 4 dan 5. Model A3643 ini ditenagai oleh mesin otomatis kaliber Elite 670. Dikembangkan secara in-house, mesin ultra-tipis ini menawarkan cadangan daya hingga 50 jam. Berbeda dari versi 1969 yang menggunakan penutup belakang baja solid, keindahan mekanis ini kini dapat dinikmati melalui caseback transparan. Sentuhan akhir mesin dipermanis dengan dekorasi “Côtes de Genève” dan rotor berbentuk bintang yang menjadi lambang ikonik Zenith. Sebagai sentuhan akhir guna melengkapi nuansa retronya, jam tangan ini menggunakan gelang bergaya ladder atau tangga, sebuah kreasi dari desain orisinal buatan maestro Gay Frères pada 1969. Zenith Defy Revival A3643 adalah bukti teranyar bahwa Zenith terus menghormati warisan masa lalunya dengan keterampilan modern dan dedikasinya terhadap orisinalitas.

REFRAMING TIME

Bagaimana Neo Frame Jumping Hour menafsir ulang komplikasi historis melalui desain Streamline Moderne dan rekayasa mesin jam kontemporer Audemars Piguet

Komplikasi jumping hour menggantikan jarum jam dengan angka yang melompat tepat setiap 60 menit. Mekanisme ini sudah muncul sekitar tahun 1650 untuk jam meja, jauh sebelum jam tangan dikenal, lalu pada abad ke-18 diadaptasi untuk jam saku. Audemars Piguet mulai menggunakannya pada 1924, dan dalam hampir tiga dekade berikutnya manufaktur asal Le Brassus tersebut memproduksi 347 jam tangan dengan komplikasi ini. Bentuk case-nya pun beragam, dari persegi dan persegi panjang hingga cushion, bahkan ada yang menampilkan tiga apertur sekaligus. Di antara semuanya, model 1271 yang dipasarkan pada 1929 dan 1930 menjadi yang paling ikonis. Hanya 14 unit dibuat dalam empat varian material, dan hampir semuanya terjual sebelum Wall Street Crash pada Oktober 1929.

Penulis: Billy Saputra

INSPIRASINYA TERLIHAT JELAS DARI

SILUETNYA: CASE PERSEGI PANJANG DARI

EMAS MERAH MUDA 18 KARAT BERUKURAN

24,6 × 34 MM, DENGAN DELAPAN GADROON

VERTIKAL DI SETIAP SISI YANG MERUNCING

MENUJU UJUNG LUG

Pre-model 1271 yang selamat dari era tersebut kini tersimpan di Audemars Piguet Musée Atelier. Versi platinanya, yang dahulu dimiliki putra seorang pembuat sepatu Broadway ternama, menjadi titik tolak bagi Neo Frame Jumping Hour. Inspirasinya terlihat jelas dari siluetnya: case persegi panjang dari emas merah muda 18 karat berukuran 24,6 × 34 mm, dengan delapan gadroon vertikal di setiap sisi yang meruncing menuju ujung lug, menggemakan garis aerodinamis Streamline Moderne pada era 1930-an. Perubahan paling mencolok justru hadir pada pelat jam. Pre-model 1271 menggunakan pelat logam, karena kaca pada masa itu masih terlalu rapuh untuk dibiarkan terbuka. Pada Neo Frame Jumping Hour, pelat jam diganti dengan safir hitam berlapis PVD yang dengan sengaja dijadikan pusat dari seluruh komposisi visual jam tangan ini.

Memilih safir sebagai pelat jam bukan keputusan estetika semata. Pre-model 1271 tidak memiliki bingkai logam pada posisi pukul 12 dan 6, sehingga safir pada Neo Frame Jumping

Hour dibiarkan terbuka di kedua ujungnya. Untuk memastikan ketahanan air hingga 20 meter, AP mengembangkan teknik khusus: pelat jam direkatkan langsung ke kristal safir, lalu seluruh konstruksi tersebut disekrup ke dalam case. Di balik pelat jam, Calibre 7122 bekerja sebagai mesin jam selfwinding pertama Audemars Piguet dengan komplikasi jumping hour. Berbasis Calibre 7121 yang menggerakkan Royal Oak “Jumbo”, kaliber ini dikembangkan sepenuhnya secara in-house, dengan cadangan daya 52 jam, terdiri dari 293 komponen dan 43 jewel, serta berdetak pada frekuensi 4 Hz.

Secara signifikan, yang membuat Calibre 7122 berbeda dari pendahulunya bukan hanya sistem penggeraknya. Seluruh 347 jam tangan jumping hour Audemars Piguet yang diproduksi antara 1924 hingga 1951 ditenagai mesin jam manual, tidak satu pun menggunakan sistem selfwinding. Artinya, selama lebih dari tujuh dekade pertanyaan itu tetap terbuka: apakah komplikasi jumping hour dapat bekerja andal dalam satu sistem dengan selfwinding Audemars Piguet akhirnya menjawabnya melalui sistem peredam kejutan dengan hak paten yang mencegah jam melompat prematur saat terjadi benturan, dengan piringan jam dari titanium dan piringan menit dari aluminium. Neo Frame Jumping Hour menjadi bukti bahwa beberapa pertanyaan memang membutuhkan waktu yang tepat untuk dijawab.

HALAMAN SAMPING

Audemars Piguet Neo Frame Jumping Hour terbaru ini terinspirasi dari model 1271 yang paling ikonis dengan bentuk siluet case persegi panjang

HALAMAN INI

Jam tangan eksklusif ini menampilkan mesin jam yang terlihat di balik case transparan, yaitu Calibre 7122 bekerja sebagai mesin jam selfwinding pertama Audemars Piguet dengan komplikasi jumping hour

RACING AGAINST TIME

Menyaksikan pergerakan Rolex dalam balap ketahanan 24 jam membentuk makna presisi, konsistensi, dan kemenangan sejak era Daytona Beach hingga Rolex 24 At DAYTONA

Dalam dunia balap, kemenangan tidak selalu lahir dari satu momen dramatis yang mudah dikenang. Sering kali, ia terbentuk lewat rangkaian keputusan kecil yang diambil berulang kali, ketika fokus terus diuji dan ritme harus dijaga tanpa cela. Daytona menjadi menarik karena menempatkan pebalap dalam situasi ekstrem itu selama 24 jam penuh, memaksa kecepatan berbagi peran dengan ketahanan dan konsistensi. Di lintasan ini, balap tidak lagi sekadar soal seberapa cepat sebuah mobil melaju, melainkan seberapa lama manusia dan mesin mampu bertahan di bawah tekanan yang terus menumpuk. Waktu pun berubah peran, dari alat ukur menjadi lawan yang harus dibaca, dikelola, dan dilawan hingga garis akhir. Untuk memahami bobot makna Daytona, kita perlu menelusuri kembali asal mula obsesi terhadap kecepatan itu sendiri.

Penulis: Billy Saputra

Jauh sebelum Daytona dikenal sebagai sirkuit, pantai berpasir putih di pesisir Florida telah menjadi arena pembuktian bagi mereka yang terobsesi melampaui batas kecepatan. Pada awal abad ke-20, Daytona Beach berfungsi sebagai pusat uji coba terbuka, tempat mesin, keberanian, dan presisi diuji tanpa kompromi. Di sanalah Sir Malcolm Campbell menorehkan rekor dunia dengan

SIR MALCOLM CAMPBELL MENOREHKAN

REKOR DUNIA DENGAN BLUE BIRD YANG

BERKEKUATAN 350 TENAGA KUDA PADA 1933, SAMBIL MENGENAKAN ROLEX OYSTER

DI PERGELANGAN TANGANNYA

Blue Bird yang berkekuatan 350 tenaga kuda pada 1933, sambil mengenakan Rolex Oyster di pergelangan tangannya. Usai mencatat 272 mph, ia mengirim telegram ikonis: “Jam tangan Rolex dikenakan selama upaya pemecahan rekor dan tetap bekerja dengan sangat baik, meski menerima perlakuan keras.” Sejak momen itu, Daytona dimaknai bukan sekadar tentang cepat, melainkan tentang ketahanan di kondisi paling ekstrem sekalipun.

Dari pengalaman ekstrem di Daytona Beach, kebutuhan akan jam tangan yang benar-benar andal menjadi semakin nyata. Rolex Oyster, yang diperkenalkan pertama kali pada 1926 sebagai jam tangan tahan air pertama di dunia, lahir bukan sebagai simbol prestise, melainkan sebagai respons terhadap kondisi yang menuntut ketahanan mutlak. Debu, getaran, tekanan, dan kecepatan tinggi menjadi realitas yang tak terpisahkan dari upaya pemecahan rekor, menuntut alat ukur waktu yang mampu

HALAMAN SAMPING DARI ATAS

Suasana saat mobil-mobil melintasi garis finish di ajang Rolex 24 At DAYTONA; Sebuah mobil melaju kencang di lintasan lurus belakang di Daytona International Speedway®

HALAMAN INI DARI ATAS SEARAH JARUM JAM

Aksi balap roda ke roda di tikungan; Sir Malcolm Campbell; Pendiri dan Visioner Rolex, Hans Wilsdorf; Sir Malcolm Campbell dalam balapan Blue Bird di pantai Daytona pada tahun 1935

COLLECTOR’S CORNER

PERUBAHAN INI MELAHIRKAN KEBUTUHAN BARU DI LINTASAN, TERMASUK ALAT UKUR WAKTU YANG DIRANCANG KHUSUS UNTUK RITME BALAP MODERN, YAITU ROLEX OYSTER PERPETUAL COSMOGRAPH DAYTONA

bertahan tanpa kompromi. Ketika sebuah jam tangan dapat melewati ujian tersebut dan tetap bekerja presisi, keandalannya terbukti secara nyata, bukan melalui klaim. Di titik ini, pencatatan waktu menjadi bagian dari proses balap itu sendiri, sejajar dengan mesin dan keberanian pebalap.

Peralihan dari pasir ke aspal menandai babak baru bagi Daytona. Ketika Daytona International Speedway dibuka pada 1959, balap memasuki era yang lebih terstruktur, lebih cepat, dan semakin menuntut presisi. Perubahan ini melahirkan kebutuhan baru di

lintasan, termasuk alat ukur waktu yang dirancang khusus untuk ritme balap modern. Rolex Oyster Perpetual Cosmograph Daytona kemudian diperkenalkan sebagai kronograf yang menjawab kebutuhan tersebut, seiring hubungan Rolex dan ajang ini semakin menguat hingga penunjukan sebagai sponsor titel pada 1992. Seperti dalam sejarahnya, bagi para pebalap yang berhasil menuntaskan 24 jam tanpa henti di ajang legendaris ini, sebuah hadiah menanti: Cosmograph Daytona dengan ukiran khusus. Sejak titik itu, Daytona menjelma ritual tahunan yang menguji ketahanan fisik dan mental manusia secara kolektif.

Di titik inilah esensi balap 24 jam benar-benar terasa. Daytona bukan hanya menguji mesin, tetapi menguras fisik, fokus, dan ketahanan mental setiap individu di dalam tim. Pergantian pebalap, ritme pit stop, dan malam panjang yang memaksa tubuh bekerja melawan naluri alami menjadi bagian dari ujian yang berulang. Kesalahan kecil dapat berakibat fatal, sementara keputusan yang tepat sering dibutuhkan kendati pebalap tengah dalam kondisi lelah dan tekanan tinggi. Balapan berubah menjadi kerja kolektif yang menuntut disiplin, kepercayaan, dan konsistensi selama berjam-jam tanpa jeda. Ketika pagi kembali menyapa lintasan, ketahanan manusia kerap menjadi faktor pembeda, membuka jalan menuju momen-momen penentuan yang kerap terjadi di putaran-putaran pamungkas terakhir.

Balapan edisi ke-64 di tahun 2026 menjadi cerminan nyata bagaimana filosofi ketahanan diuji di level tertinggi di Daytona International Speedway. Kabut tebal yang menyelimuti lintasan dari senja hingga fajar memaksa tim membaca situasi dengan presisi ekstrem, sementara strategi di bawah bendera kuning

HALAMAN SAMPING DARI ATAS

Trofi Rolex 24 di Daytona tahun 2026 dan jam tangan

Rolex Oyster Perpetual Cosmograph Daytona yang diukir, diberikan kepada para pemenang balapan; Helm dari seluruh 228 pembalap Rolex 24 di Daytona tahun 2026; Suasana malam di jalur balap

HALAMAN INI DARI ATAS SEARAH JARUM JAM

Para kru pit berjuang melawan kondisi sulit saat kabut menyelimuti area tersebut selama balapan; Para Rolex Testimonee, Jenson Button, Hurley Haywood, Tom Kristensen, dan Scott Pruett; Mobil-mobil beraksi saat matahari terbenam di Daytona International Speedway®

COLLECTOR’S CORNER

kerap mengubah arah balapan secara drastis. Dalam konteks inilah waktu kembali berperan sebagai faktor penentu, bukan sekadar angka di papan hasil. Rolex Testimonee, Scott Pruett, yang juga merupakan salah satu pebalap terbaik dalam sejarah Rolex 24 at DAYTONA merangkum tekanan tersebut, “Rolex 24 adalah ajang ikonik, dan banyaknya pit stop, pergantian pembalap, serta kondisi cuaca yang menantang merupakan ujian sejati bagi manusia dan mesin melawan waktu. Anda merasakan setiap momen waktu selama balapan; perbedaan antara menang dan kalah seringkali hanya beberapa detik, dengan persaingan ketat hingga bendera finis dikibarkan. Dan pada akhirnya, semuanya tentang jam tangan Rolex. Ini adalah hadiah fantastis setelah 24 jam yang sangat melelahkan,” jelasnya. Selisih akhir 1,569 detik menegaskan bahwa di Daytona, ketepatan keputusan tetap menjadi mata uang paling berharga.

Di luar statusnya sebagai ajang ikonis, Daytona juga berfungsi sebagai penanda dimulainya kalender balap ketahanan dunia. Selain itu, sejak Rolex resmi menjadi titel sponsor pada 1992, Rolex 24 At DAYTONA turut menjadi bagian penting dari Triple Crown of Endurance Racing. Dari Daytona International Speedway, musim balap berlanjut melalui IMSA, sebelum bergeser ke Eropa lewat FIA World Endurance Championship dan berpuncak di 24 Hours of Le Mans. Pada 2026, Rolex menandai satu dekade keterlibatannya sebagai Official Timepiece WEC, sekaligus 25 tahun kemitraan dengan Le Mans yang dimulai pada 2001. Rangkaian ini menegaskan Daytona sebagai titik awal yang menetapkan ritme dan standar bagi balap ketahanan global.

Pada akhirnya, Daytona tidak hanya berbicara tentang siapa yang tiba lebih dulu di garis finis. Ia merangkum perjalanan

BALAPAN EDISI KE-64 DI TAHUN

2026 MENJADI CERMINAN NYATA

BAGAIMANA FILOSOFI KETAHANAN

DIUJI DI LEVEL TERTINGGI DI

DAYTONA INTERNATIONAL SPEEDWAY

panjang tentang bagaimana waktu dipahami, diuji, dan dihormati dalam konteks ekstrem. Selama hampir satu abad, lintasan ini menjadi saksi hubungan antara manusia, mesin, dan ketepatan, di mana konsistensi sering kali lebih menentukan daripada kecepatan sesaat. Rolex Oyster Perpetual Cosmograph Daytona pun berdiri sebagai simbol dari proses tersebut, bukan sekadar hadiah kemenangan, tetapi penanda perjalanan yang ditempuh dengan disiplin dan ketahanan. Di Daytona, waktu tidak hanya dimenangkan, melainkan diwariskan, menjadi bagian dari memori kolektif balap ketahanan lintas generasi.

HALAMAN SAMPING DARI ATAS

Para pemenang umum Rolex 24 At DAYTONA 2026, yaitu Felipe Nasr, Julien

Andlauer, dan Laurin Heinrich; Mobil-mobil berlomba saat mendekati garis

tapal kuda internasional; Jam Rolex ikonik yang terlihat di atas pintu gerbang berfungsi sebagai penghitung waktu mundur untuk memulai balapan

HALAMAN INI DARI ATAS

Trofi Rolex 24 di Daytona 2026 dan Rolex Oyster Perpetual Cosmograph Daytona yang diukir diberikan kepada para pemenang balapan; Pemandangan panorama Sirkuit Daytona International Speedway; Rolex Testimonee Jamie Chadwick

REVERSING THE SPEEDY

Hampir satu dekade reverse panda hanya hadir sebagai edisi terbatas. Kini OMEGA memutuskan sebaliknya

Speedmaster Moonwatch Professional adalah jam tangan yang identitasnya telah lama terbentuk, termasuk pada pelat jam hitam dengan susunan subdial yang khas. Pada 2017, OMEGA pernah memperkenalkan variasi berbeda melalui edisi terbatas Speedy Tuesday. Responsnya langsung terasa, seluruh unit terjual habis dalam hitungan jam. Konfigurasi tersebut, yang sering disebut sebagai reverse panda berkat permainan warna hitam pada pelat jam dan putih pada subdialnya, tidak kembali ke Moonwatch dalam bentuk permanen hingga OMEGA membuka 2026 dengan dua Speedmaster Moonwatch Professional “Black and White”. Kali ini, pendekatan tersebut hadir sebagai bagian dari koleksi reguler, tersedia dalam baja nirkarat dan Moonshine Gold tanpa batasan produksi.

Perubahan ini tidak berhenti pada kesan pertama. Pelat jam baru dibangun dengan sistem double plate yang menjadi ciri khas Moonwatch, dengan pelat atas berwarna hitam berkilap yang dilapisi varnish dan lak untuk menghasilkan kilau yang dalam, serta dilengkapi bingkai subdial berlapis rhodium. Di bawahnya,

Penulis:
Billy
Saputra

MESIN JAM INI MERUPAKAN EVOLUSI PALING MUTAKHIR DARI CALIBRE 321, KALIBER YANG MENEMANI ASTRONAUT NASA DALAM MISI APOLLO DAN MENJADI SATU-SATUNYA JAM TANGAN YANG LOLOS UJI KELAYAKAN UNTUK PENERBANGAN LUAR ANGKASA

subdial berlatar putih hadir dengan konstruksi dan finis yang serupa. Perbedaan ini kemudian ditegaskan melalui detail yang lebih halus, di mana jejak menit pada pelat utama dicetak putih, sementara pada subdial dicetak hitam, menjaga kontras tetap jelas meskipun konfigurasi dibalik. Pendekatan yang sama berlanjut pada bezel keramik hitam dengan skala tachymeter putih enamel, sehingga keseluruhan komposisi tetap terasa menyatu saat dilihat secara utuh. Keduanya hadir dalam diameter 42 mm, namun dengan karakter yang berbeda. Versi baja nirkarat tampil dengan jarum dan indeks berlapis rhodium, dilengkapi Super-LumiNova putih yang menjaga kontras hitam-putih tetap terbaca di berbagai kondisi cahaya. Versi lainnya menggunakan Moonshine Gold 18 karat, paduan emas kuning eksklusif OMEGA yang dirancang untuk mempertahankan warnanya lebih lama dibandingkan emas kuning konvensional. Kehadirannya sudah lebih dulu terbaca publik ketika aktor Colman Domingo mengenakan Moonshine Goldnya di Met Gala 2025. Pada versi ini, jarum jam dan menit, jarum subdial, serta indeks seluruhnya menggunakan Moonshine Gold dengan Super-LumiNova putih, sementara jarum kronograf sentral diberi lapisan PVD Moonshine Gold. Dengan pelat jam yang sama, keduanya menghadirkan nuansa yang berbeda: satu terasa lebih dingin dan presisi, yang lain lebih hangat dan berlapis.

Di balik kedua tampilan tersebut, Calibre 3861 menjadi jantungnya dengan kepasitas penyimpanan daya hingga 50 jam. Mesin jam ini merupakan evolusi paling mutakhir dari Calibre 321, kaliber yang menemani astronaut NASA dalam misi Apollo dan menjadi satu-satunya jam tangan yang lolos uji kelayakan untuk penerbangan luar angkasa berawak. Enam dekade kemudian, pewarisnya hadir dengan kualitas mekanis bersertifikasi Master Chronometer, standar tertinggi dalam industri jam tangan Swiss yang menjamin presisi, performa, serta ketahanan terhadap medan magnet hingga 15.000 gauss. OMEGA lalu melengkapinya dengan garansi lima tahun. Reverse panda kini menjadi bagian dari katalog reguler Moonwatch Professional. Bagi yang melewatkan 2017, kesempatan itu kini kembali, tanpa tenggat waktu.

HALAMAN SAMPING DARI ATAS

Dua model terbaru dari jam tangan OMEGA Speedmaster Moonwatch Professional “Black and White”; Mesin jam Calibre 3861 menjadi dengan kepasitas penyimpanan daya hingga 50 jam

HALAMAN INI

Tampilan mesin jam Calibre 3861 terlihat dari case back transparan; Jam tangan OMEGA Speedmaster Moonwatch Professional dalam versi Moonshine Gold 18 karat

HEAVENLY MASTERPIECE

Ukiran halus dan tourbillon ultra-tipis menyatu dalam mahakarya elegan Credor Goldfeather

Credor, merek haute horology dari Seiko, kembali menggoda para kolektor jam tangan kelas atas lewat peluncuran

Credor Goldfeather Tourbillon Engraved Limited Edition (GBCF997). Jam tangan ini tidak hanya menampilkan keindahan sebuah desain, tetapi juga merayakan tiga dekade keahlian ukiran yang menjadi ciri khas dari merek yang sangat spesial ini. Sejak didirikan pada 1974, Credor dikenal sebagai simbol keindahan dan keahlian pembuatan jam tangan tingkat tinggi. Nama “Credor” sendiri berasal dari bahasa Prancis crête d’or yang berarti “puncak emas”, mencerminkan ambisi merek ini untuk mencapai standar tertinggi dalam seni pembuatan jam.

Credor memiliki perjalanan panjang sejak 1960 dengan peluncuran Goldfeather yang kemudian diperbarui pada 2023 sebagai jam dress ultra-tipis yang sangat elegan. Merek ini resmi diperkenalkan pada 1974, menegaskan fokus pada keindahan dan material mewah. Inovasi berlanjut dengan desain Locomotive oleh Gérald Genta (1979), mesin ultra-tipis Caliber 6870 (1993), serta jam skeleton dengan ukiran artistik (1996). Credor juga menghadirkan Spring Drive Sonnerie (2006) dengan suara lonceng khas Jepang, diikuti Eichi I (2008) dan Eichi II (2014) yang menonjolkan kesederhanaan dan keahlian tangan, hingga edisi khusus 50 tahun pada 2024. Goldfeather Tourbillon Engraved sebagai model terbaru menjadi tonggak penting karena menandai tiga dekade sejak teknik ukir khas Credor pertama kali digunakan pada mesin ultra-tipis Caliber 68. Teknik ini menggabungkan pengaruh ukiran Barat dengan kekuatan visual ukiran tradisional Jepang. Para pengrajin menyesuaikan alat mereka secara personal agar sesuai dengan tangan dan gaya kerja masing-masing, memungkinkan kontrol presisi tinggi tanpa merusak komponen mesin yang sangat tipis—beberapa hanya setebal 0,25 mm atau hampir seperti sehelai rambut manusia. Keunggulan artistik terlihat jelas pada bagian dial dengan permukaan yang dihiasi ukiran halus menyerupai tekstur satin yang memancar dari pusat, menciptakan efek cahaya lembut seperti bulu.

Penulis: Yessar Rosendar

ANGKA

ROMAWI DIUKIR DENGAN GARIS ULTRA-HALUS

YANG TETAP TEGAS NAMUN SELARAS DENGAN POLA

RADIAL, SEMENTARA JALUR MENIT MENGGUNAKAN

TEKNIK NANAKO, YAITU POLA TITIK-TITIK KECIL KHAS

JEPANG YANG MEMBERIKAN KILAU HALUS

Proses ini membutuhkan ketelitian luar biasa, terutama karena dial terdiri dari dua lapisan yang harus menyatu secara sempurna. Angka Romawi diukir dengan garis ultra-halus yang tetap tegas namun selaras dengan pola radial, sementara jalur menit menggunakan teknik nanako, yaitu pola titik-titik kecil khas Jepang yang memberikan kilau halus. Dari sisi belakang, keindahan mekanisme tourbillon semakin menonjol melalui pola garis linear yang memancar dari pusat. Setiap garis diukir melalui beberapa tahap dengan konsistensi sudut dan kedalaman yang sangat presisi. Selain itu, detail tambahan seperti pola arashi—titiktitik yang diukir satu per satu—memberikan dimensi tekstur dan dinamika visual yang unik.

Jam ini ditenagai oleh Caliber 6850, mesin manual dengan diameter 25,6 mm dan ketebalan hanya 3,98 mm. Meski sangat tipis, mesin ini mampu memberikan cadangan daya hingga 60 jam yang memberikan kenyamanan dan fleksibilitas bagi penggunanya. Proses perakitan dan penyesuaian komponennya seperti hairspring memerlukan tingkat presisi hingga seperseperseratus milimeter, menunjukkan tingkat keahlian tinggi dari para pengrajin yang membuatnya. Casing jam ini dibuat dari bahan Platinum 950 dengan ketebalan total hanya 8,6 mm, tetap mempertahankan

siluet ramping khas Goldfeather. Material ini dikenal sulit dipoles, namun berhasil disempurnakan secara manual untuk menghasilkan permukaan halus dan nyaman di pergelangan tangan. Tali jam menggunakan kulit buaya yang bersumber dari penyamakan bersertifikat Leather Working Group, menegaskan komitmen terhadap keberlanjutan.

Goldfeather Tourbillon Engraved akan tersedia mulai Agustus 2026 dalam jumlah terbatas, hanya 25 unit di seluruh dunia. Jam ini layak untuk menjadi buruan para kolektor, karena bukan sekadar hanya menjadi penunjuk waktu, melainkan karya seni yang mencerminkan filosofi Credor, yaitu kreativitas artisan tingkat tinggi.

HALAMAN SAMPING

Credor Goldfeather Tourbillon Engraved Limited Edition yang tampil sangat elegan, dilengkapi mesin jam tourbillon dalam siluet Goldfeather yang ramping

HALAMAN INI

Untuk menghasilkan ukiran lurus yang sangat halus, para pengrajin berulang kali mengarahkan pahat di sepanjang garis yang sama persis, memajukan potongan sedikit demi sedikit

THE ITALIAN LEGACY

Lewat Radiomir Viaggio nel Tempo Experience Set, Panerai mengajak

Anda menelusuri langsung tempat-tempat yang membentuk legendanya

Ada yang berbeda dari cara Panerai memperkenalkan dua jam tangan terbarunya. Kali ini, mereka tidak sekadar meluncurkan sebuah referensi baru ke pasar, melainkan menawarkan sesuatu yang jauh lebih personal: sebuah perjalanan. Radiomir Viaggio nel Tempo Experience Set, yang terdiri dari PAM01729 dan PAM01730, dirancang bukan hanya untuk dipakai di pergelangan tangan, tetapi untuk menjadi kunci masuk ke sebuah pengalaman imersif di Italia. Hanya 30 set yang akan diproduksi di seluruh dunia, dan setiap pasangnya membawa serta

undangan eksklusif untuk menelusuri langsung tempat-tempat yang membentuk legenda Panerai selama lebih dari satu abad. Tahun 2026 sangat berarti bagi Panerai. Tepat seratus tahun lalu, butik ikonis mereka di Piazza San Giovanni, Florence, pertama kali membuka pintunya. Maka tidak mengherankan jika perjalanan yang dijadwalkan berlangsung pada 15 hingga 18 September 2026 ini dirancang dengan penuh kesungguhan: dimulai dari Florence, menelusuri jejak para frogmen Italia di muara Sungai Serchio, hingga berakhir di pangkalan COMSUBIN di Porto Venere dengan tur kapal pesiar menyusuri pesisir Liguria.

Apa yang membuat sebuah jam tangan semakin menarik seiring berjalannya waktu? PAM01729 menjawab pertanyaan itu dengan cara yang paling jujur: perubahan. Jam tangan ini menjadi yang pertama dalam sejarah Panerai yang memadukan pelat jam California dengan casing perunggu berdiameter 47mm, dua elemen ikonis yang selama ini belum pernah hadir bersamaan. Pelat California, dengan konfigurasi numeralnya yang khas, separuh Romawi dan separuh Arab, lahir dari kebutuhan praktis para penyelam untuk membaca orientasi pelat jam dalam kegelapan. Sementara perunggunya sendiri akan terus berevolusi, mengembangkan patina unik sesuai dengan kehidupan sang pemilik. Setiap goresan dan perubahan warna adalah kenangan yang tersimpan di permukaan jam tangan yang ditenagai oleh mesin jam P.3000, dengan tiga hari penyimpanan daya.

Penulis: Billy Saputra

PERJALANAN YANG DIJADWALKAN

BERLANGSUNG PADA 15 HINGGA 18

SEPTEMBER 2026 INI DIRANCANG DENGAN

PENUH KESUNGGUHAN: DIMULAI DARI

FLORENCE, MENELUSURI JEJAK PARA

FROGMEN ITALIA

Jika PAM01729 bercerita lewat permukaan yang berubah, PAM01730 justru menyimpan ceritanya jauh di dalam. Casing jamnya terbuat dari Platinumtech, material eksklusif Panerai yang mengandung 95% platinum murni dengan tingkat kekerasan 85% lebih tinggi dari platinum standar berkat proses perlakuan khusus. Bobotnya pun 33% lebih berat dari emas 18 karat, memberikan sensasi tersendiri di pergelangan tangan. Di balik pelat jam circular-brushed berwarna hitam yang dibuat dengan teknik rotational brushing secara manual, tersimpan mesin jam P.3001/10 dengan skeletonized bridges berfinis perlage yang memperlihatkan arsitektur mekanisnya secara utuh. Bahkan tulisan “Radiomir Panerai” di pelat jamnya pun sengaja diukir dengan teknik tone-ontone, hampir tak terlihat, seolah menjaga tradisi kerahasiaan jam tangan militer Italia dari masa lampau. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Panerai mendefinisikan kemewahan kali ini. Kali ini tidak berkutat pada material langka atau kaliber yang dikerjakan dengan presisi tinggi, meskipun keduanya hadir di sini dengan sangat meyakinkan. Ini tentang sebuah undangan untuk hadir

secara langsung di tempat-tempat yang membentuk DNA sebuah manufaktur, mengenakan di pergelangan tangan dua jam tangan yang dirancang khusus untuk momen tersebut. Dengan hanya 30 set yang tersedia di seluruh dunia dan ketersediaan mulai Juni 2026, pertanyaannya bukan lagi soal apakah ini layak dimiliki. Pertanyaannya adalah: jika waktu bisa dijelajahi, sudahkah Anda memesan tempat?

HALAMAN SAMPING DARI ATAS

Panerai Radiomir Viaggio nel Tempo Experience Set, yang terdiri dari PAM01729 dan PAM01730; Foto para frogmen (manusia katak) Italia di muara Sungai Serchio

HALAMAN INI DARI KIRI ATAS

Panerai PAM01729 yang memadukan pelat jam California dengan casing perunggu berdiameter 47mm, dan ditenagai mesin jam P.3000; Model mengenakan Panerai PAM01730 dengan casing Platinumtech dan dilengkapi mesin jam P.3001/10 dengan skeletonized bridges berfinis perlage

BACK IN THE FAST LANE

Breitling resmi kembali ke Formula 1® bersama Aston Martin Aramco melalui kemitraan global multi-tahun yang memadukan presisi kronograf dengan ambisi kejuaraan dunia

Penggemar balap Formula 1® dan jam tangan kini punya alasan baru untuk bersemangat di musim 2026 ini. Breitling resmi bergabung dengan Aston Martin Aramco Formula One™ Team sebagai Mitra Jam Tangan Resmi dalam kemitraan global multi-tahun yang diumumkan pada 5 Februari 2026 lalu. Kolaborasi ini menjadi pertemuan antara dua filosofi yang sama: presisi sempurna bertemu dengan kecepatan maksimum. Georges Kern, CEO Breitling, merangkumnya secara tepat sasaran, “Aston Martin membangun mobil yang sama pentingnya antara kehadiran dan performa, kami berbagi warisan desain ikonis yang sama.” Kembalinya Breitling ke area paddock F1® setelah sekian lama menandai babak baru dalam sejarah panjang kedua jenama legendaris ini.

Hubungan antara Breitling dan Aston Martin sebenarnya telah terjalin jauh sebelum kemitraan resmi ini terwujud. Tahun 1907, Leon Breitling menciptakan Vitesse, komplikasi kronograf

Penulis:
Billy Saputra

pertama yang mampu mengukur kecepatan hingga 250 mil per jam dengan akurasi tinggi, bahkan digunakan polisi Swiss untuk mengeluarkan tilang pertama mereka. Di periode yang sama, Lionel Martin dan Robert Bamford sedang menguji mobil rakitan mereka di tanjakan Aston Hill, sebuah kemenangan yang akhirnya mengabadikan nama Aston Martin. Era 1950-an dan 1960-an menjadi titik temu paling ikonis: pebalap legendaris Graham Hill dan Jim Clark mengenakan Breitling Navitimer dari kokpit pesawat ke sirkuit F1®. Puncaknya terjadi ketika jam tangan Breitling dan mobil Aston Martin DB5 sama-sama muncul dalam film seri James Bond, Thunderball (1965), dan menjadi simbol gaya hidup yang menggabungkan kecepatan dengan kecanggihan.

Navitimer B01 Chronograph 43 Aston Martin Aramco Formula One™ Team menjadi wujud nyata pertama dari kemitraan ini. Jumlah produksi terbatas 1.959 buah dipilih untuk menghormati tahun ketika Aston Martin pertama kali terjun ke Formula 1®, memberikan nilai historis pada setiap unit yang diproduksi. Jam tangan ini menampilkan warna Aston Martin Racing Green dengan aksen hijau lime dari livery tim Aston Martin Aramco, casing titanium yang merupakan material pertama kali digunakan pada lini Navitimer, dan pelat jam carbon fiber yang terinspirasi dari material kokpit mobil F1®. Detail seperti tali kulit bertekstur yang menyerupai racing harness dan peningkatan luminesensi untuk visibilitas optimal menunjukkan perhatian terhadap aspek fungsional. Di balik caseback transparan, terlihat Breitling Manufacture Caliber 01 yang mampu menyimpan daya hingga 70 jam, bersertifikat COSC dengan rotor tungsten hitam yang serentak menampilkan logo tim dan ukiran “Instruments for Drivers.”

“ASTON

MARTIN MEMBANGUN MOBIL YANG

SAMA PENTINGNYA ANTARA KEHADIRAN DAN

PERFORMA, KAMI BERBAGI WARISAN DESAIN

IKONIS YANG SAMA.” ~ GEORGES KERN, CEO BREITLING

Lawrence Stroll, Executive Chairman Aston Martin dan tim Formula One™-nya, menegaskan bahwa pemilihan mitra tidak dilakukan secara sembarangan. “Pengejaran Kejuaraan Dunia menuntut mitra yang sesuai ambisi kami, hari ini kami bangga menyambut Breitling ke tim,” ujarnya dalam konferensi pers. Kemitraan ini dibangun atas fondasi nilai bersama: presisi, craftsmanship, dan keunggulan engineering yang menjadi identitas keduanya. Adrian Hallmark, CEO Aston Martin, menambahkan perspektif historis, “Aston Martin dan Breitling bersilangan jalan pada momen kunci dalam desain dan budaya.” Pernyataan para pemimpin ini menggarisbawahi bahwa kolaborasi ini tidak mengedepankan aspek komersial, melainkan koalisi antara dua institusi yang saling memahami obsesi untuk mengejar kesempurnaan dan kecepatan.

Kehadiran visual kemitraan ini telah resmi tampil dimulai sejak 9 Februari lalu ketika AMR26 diperkenalkan dengan logo Breitling terlihat jelas di bodi mobil dan seragam tim. Debut resmi di sirkuit tinggal menghitung hari untuk Australian Grand Prix Melbourne pada 6-8 Maret 2026 akan menjadi momen bersejarah kembalinya Breitling ke arena Formula 1®. Sepanjang musim Grand Prix mendatang, kolaborasi ini akan terlihat tidak hanya dari branding tetapi juga dari nilai-nilai bersama yang mereka usung di setiap balapan. Penggemar kedua jenama dapat mengantisipasi peluncuran produk eksklusif lainnya sepanjang kemitraan multitahun yang telah direncanakan. Dari mengukur kecepatan hingga menguasainya, dari instrumen aviasi hingga teknologi motorsport, Breitling dan Aston Martin kini menulis babak baru yang menggabungkan warisan masa lalu dengan ambisi masa depan.

HALAMAN SAMPING DARI ATAS

Breitling bergabung dengan Aston Martin dan Tim Formula One™ Aston

Martin Aramco sebagai mitra jam tangan resmi mereka; Breitling Navitimer

B01 Chronograph 43 Aston Martin Aramco Formula One™ Team terbaru

HALAMAN INI DARI KIRI

Jam tangan ini diproduksi terbatas 1.959 buah dan ditenagai mesin jam

Breitling Manufacture Caliber 01;Lawrence Stroll, Executive Chairman Aston

Martin bersama Georges Kern, CEO Breitling

TWO GAMES, ONE TIMEKEEPER

Milano Cortina 2026 menjadi saksi momen langka ketika Olympic dan Paralympic Winter Games hadir di satu kota, dan OMEGA merayakan momen langka tersebut dengan dua jam tangan terbaru

Sebagai pencatat waktu resmi di berbagai ajang olahraga dunia, tahun 2026 membawa makna istimewa bagi OMEGA. Untuk pertama kalinya, Milano Cortina menjadi tuan rumah dua ajang olahraga musim dingin terbesar secara berurutan: Olympic Winter Games pada Februari 2026, dan Paralympic Winter Games pada Maret 2026. OMEGA hadir di keduanya sebagai Official Timekeeper. Untuk menandai momen bersejarah ini, OMEGA meluncurkan dua Seamaster Diver 300M edisi khusus, masingmasing didedikasikan untuk satu ajang. Kedua jam tangan ini membawa semangat inspirasi visual dari emblem Milano Cortina 2026, dirancang tidak hanya sebagai alat penunjuk waktu, tetapi juga sebagai simbol dari satu musim olahraga yang berlangsung dengan intensitas dan kontinuitas yang jarang terjadi.

Seamaster Diver 300M Milano Cortina 2026 Olympic Edition

Jam tangan pertama diperkenalkan pada 20 Januari 2026, sekitar dua minggu sebelum pembukaan Olympic Winter Games. Seamaster Diver 300M Olympic Edition berdiameter 43,5 mm ini menggabungkan pertemuan langka antara dua material dalam satu

Penulis:
Billy Saputra

PENDEKATAN VISUAL INI BERLANJUT PADA

PELAT JAM KERAMIK PUTIH YANG DILAPISI

EFEK BEKUAN ES HASIL UKIRAN LASER, MEMBENTUK POLA JEJAK JARI YANG

TERINSPIRASI DARI ANGKA “26” PADA EMBLEM

MILANO CORTINA 2026

jam tangan selam: keramik putih dan titanium tingkat 5. Keramik putih digunakan pada bezel, dengan skala selam yang diukir laser dalam relief positif, sementara case titanium menampilkan kontras antara permukaan efek halus dan efek sapuan. Pendekatan visual ini berlanjut pada pelat jam keramik putih yang dilapisi efek bekuan es hasil ukiran laser, membentuk pola jejak jari yang terinspirasi dari angka “26” pada emblem Milano Cortina 2026.

Jarum dan indeks berlapis rhodium dilengkapi Super-LumiNova putih, sementara jarum detik sentral tampil dengan gradasi biru yang diambil dari warna logo kompetisi. Di balik pelat jam putihnya, Calibre 8806 bekerja sebagai mesin jam Co-Axial Master Chronometer dengan penyimpanan daya 55 jam. Sertifikasi ini menegaskan presisi, performa, serta ketahanan terhadap medan magnet hingga tingkat tinggi. Jam tangan ini dikenakan pada temali karet putih terintegrasi dengan gesper titanium tingkat 5, material serupa yang juga digunakan pada penutup caseback Di bagian belakang inilah OMEGA menyematkan detail yang paling personal, berupa emblem Milano Cortina 2026 yang dicap permanen pada permukaan titanium, mengaitkan jam tangan ini langsung dengan XXV Olympic Winter Games. Setiap unit juga hadir dalam kotak presentasi khusus Milano Cortina 2026, menempatkannya bukan hanya sebagai penunjuk waktu, tetapi juga sebagai penanda dari satu momen bersejarah.

HALAMAN SAMPING DARI ATAS

OMEGA Seamaster Diver 300M Milano Cortina 2026 Olympic Edition yang berdiameter 43,5 mm dan menggabungkan dua material dalam satu jam tangan selam, yaitu keramik putih dan titanium tingkat 5; Terukir emblem Milano Cortina 2026 yang dicap permanen pada permukaan titanium di bagian caseback

HALAMAN INI

Detil pada koleksi OMEGA Seamaster Diver 300M Milano Cortina 2026 Olympic Edition terlihat mulai dari pelat jam keramik putih yang dilapisi efek bekuan es hasil ukiran laser, jarum dan indeks berlapis rhodium dilengkapi Super-LumiNova putih, jarum detik sentral dengan gradasi biru, dan tali jam dari karet warna putih

COLLECTOR’S CORNER

DI BALIK DUA EDISI SEAMASTER DIVER 300M

INI, SEKITAR 150 TIMEKEEPER DAN TEKNISI

OMEGA BEKERJA DENGAN DUKUNGAN LEBIH

DARI 50 TON PERALATAN

Seamaster Diver 300M Milano Cortina 2026 Paralympic Edition Paralympic Edition hadir dengan fondasi yang sama, namun membawa penekanan yang berbeda. Konstruksinya tetap identik, dengan kombinasi keramik putih dan titanium tingkat 5 dalam diameter 43,5 mm, serta pelat jam keramik putih dengan pola bekuan es yang terinspirasi dari angka “26”. Perbedaan utamanya terletak pada satu detail yang langsung terlihat. Jarum detik sentral tidak lagi bergradasi biru, melainkan merah, biru, dan hijau, tiga warna yang merujuk pada logo Paralympic Milano

Cortina 2026. Pada bagian belakang, penutup caseback berbahan titanium mencatat momen yang berbeda, XIV Paralympic Winter Games. Dengan demikian, keduanya tidak hanya hadir sebagai variasi visual, tetapi sebagai dua interpretasi yang berdiri dalam konteksnya masing-masing.

Paralympic Winter Games Milano Cortina 2026 berlangsung dari 6 hingga 15 Maret, sekaligus menandai 50 tahun penyelenggaraannya. OMEGA hadir sebagai pencatat waktu resmi, sekaligus bagian dari sistem yang memastikan setiap kompetisi berjalan setara bagi seluruh atlet. Sekitar 600 atlet dari berbagai klasifikasi disabilitas bertanding di 79 nomor lomba, dan OMEGA menerjemahkan perbedaan tersebut melalui teknologi Factored Timing, sebuah sistem yang menyesuaikan penghitungan waktu agar setiap atlet dapat bersaing dalam kondisi yang seimbang. Peran ini memperluas makna pencatatan waktu itu sendiri. Seamaster Diver 300M Milano Cortina 2026 Paralympic Edition kemudian menjadi representasi dari pendekatan tersebut dalam bentuk yang dapat dikenakan.

Milano Cortina 2026 menghadirkan Olympic dan Paralympic Winter Games dalam satu rangkaian, dengan OMEGA hadir di keduanya dalam peran yang telah diembannya sejak 1932. Di balik dua edisi Seamaster Diver 300M ini, sekitar 150 timekeeper dan teknisi OMEGA bekerja dengan dukungan lebih dari 50

ton peralatan. Setiap momen kompetisi dicatat menggunakan Scan’O’Vision ULTIMATE yang mampu menangkap hingga 40.000 gambar digital per detik, serta Quantum Timer dengan akurasi hingga sepersejuta detik. Dalam konteks ini, kehadiran dua jam tangan untuk dua ajang yang berbeda terasa sebagai perpanjangan dari pendekatan yang sama, bahwa setiap hasil, di setiap titik kompetisi, diukur dengan tingkat presisi yang setara.

HALAMAN SAMPING DARI ATAS

OMEGA Seamaster Diver 300M Milano Cortina 2026 Paralympic Edition dengan jarum detik sentral merah, biru, dan hijau, tiga warna yang merujuk pada logo Paralympic Milano Cortina 2026; Terukir emblem Milano Cortina 2026 yang mewakili XIV Paralympic Winter Games pada permukaan titanium grade 5 di bagian caseback

HALAMAN INI DARI KIRI ATAS SEARAH JARUM JAM

Théo Gmür, atlet ski Paralimpiade asal Swiss yang dikenal sebagai “Para alpine skiing”; Oksana Masters dari AS, atlet legendaris dan spesialis di kategori Para biathlon dan Para ski lintas alam; Para Biathlon Audio Target buatan OMEGA yang memiliki panduan sinyal audio khusus untuk menembak; Sel fotolistrik untuk memproyeksikan berkas cahaya melintasi titik-titik waktu perantara hingga melintasi garis finis; Teknologi Snowgate dari OMEGA yang memberikan presisi di awal cabang olahraga ski alpine Paralimpik

TIME WELL SPENT

Urban Jürgensen dan Rashida Jones membaca waktu lewat rasa ingin tahu dan kreativitas tanpa batas

Urban Jürgensen memperkenalkan seri fotografi bulanan bertajuk “Time Well Spent,” yang mengeksplorasi bagaimana individu kreatif dari berbagai bidang menghabiskan waktu di luar profesi utama mereka. Untuk edisi bulan Maret 2026, menghadirkan Rashida Jones, aktris, penulis, sutradara, dan produser asal Amerika Serikat. Inisiatif ini hadir seiring dengan babak baru Urban Jürgensen, sebuah maison jam tangan asal Denmark yang didirikan pada 1773 dan kini dipimpin oleh CEO Alex Rosenfield. Arahan kreatif terbarunya turut melibatkan pembuat jam tangan Kari Voutilainen, yang berperan sebagai Board Member dan Senior Strategic Advisor. Melalui “Time Well Spent,” Urban Jürgensen pun turut memperlihatkan bahwa jam tangan tidak hanya berfungsi sebagai alat penunjuk waktu, tetapi juga sebagai bagian dari bagaimana seseorang menjalani dan memberi makna pada waktunya.

Penulis: Billy
Saputra

Rashida Jones membangun kariernya melalui peran-peran di serial televisi seperti Parks and Recreation (2009), The Office (2005), Silo (2023), dan Black Mirror (2011). Namun perjalanannya tidak berhenti di depan kamera. Ia juga menulis, memproduseri, dan menyutradarai berbagai proyek di ranah film, televisi, dan dokumenter. Rashida menyebut dirinya seorang “generalist,” seseorang yang menemukan kebebasan dalam mencoba, bukan dalam menguasai. Sepanjang kariernya, ia secara lihai mampu bertukar genre komedi dan drama, antara memerankan dan mengarang, antara struktur dan spontanitas. Perpindahan ini terasa sebagai bagian dari proses yang ia jalani dengan kesadaran penuh. Di balik daftar kredit yang panjang, cara ia mengisi waktu mencerminkan rasa ingin tahu yang terus berkembang. Di luar layar, pendekatan yang sama tetap ia jalani. Baginya, waktu terasa paling bernilai ketika digunakan untuk mempelajari hal-hal baru, bukan untuk menjadi ahli, tetapi untuk membuka perspektif yang lebih luas. Keterampilan baru, disiplin baru, bahkan rasa tidak nyaman menjadi bagian dari ritme tersebut. Ia tertarik pada orang-orang yang menurutnya lebih memahami kehidupan, karena dari mereka ia menemukan hal-hal yang tidak bisa didapat dari pekerjaannya sendiri. Namun dorongan untuk berkembang tidak membuatnya menjauh dari hal-hal yang sudah akrab. Menari, berkebun, menjamu tamu, mendengarkan musik, dan menjadi orang tua tetap menjadi sumber kegembiraan seharihari. Dalam keseharian itulah, cara ia mengisi waktu terasa utuh dan terus bergerak.

Cara Rashida memaknai waktu terasa dekat dengan pandangan yang telah lama menjadi bagian dari Urban Jürgensen. Sejak didirikan lebih dari 250 tahun lalu, maison ini tumbuh bersama berbagai figur, dari raja dan pelaut hingga industrialis dan seniman, masing-masing dengan cara mereka sendiri dalam menjalani waktu. Dalam perjalanan tersebut, waktu tidak hanya diukur, tetapi juga diisi dengan hal-hal yang memberi arah dan makna.

RASHIDA JONES DAN URBAN JÜRGENSEN

MEMILIKI PENDEKATAN YANG SERUPA

DALAM MELIHAT WAKTU. BAGI RASHIDA, WAKTU DIISI DENGAN RASA INGIN TAHU

YANG TERUS DIPUPUK

Pendekatan inilah yang kemudian menjadi dasar dari seri “Time Well Spent.” Urban Jürgensen tidak sekadar menampilkan sosok yang dikenal memiliki dimensi, tetapi melihat bagaimana mereka menghabiskan waktu di luar peran utamanya. Seorang pelukis di kebunnya, seorang kimiawan di atas perahu layar, seorang arsitek bermain tangkap bola dengan anak-anaknya. Rashida Jones dan Urban Jürgensen memiliki pendekatan yang serupa dalam melihat waktu. Bagi Rashida, waktu diisi dengan rasa ingin tahu yang terus dipupuk, sementara bagi Urban Jürgensen, hadir melalui proses pembuatan jam tangan yang dijalani dengan perhatian penuh. Pendekatan ini tercermin dalam UJ-2, jam tangan time-only berdiameter 39 mm dengan case emas merah muda 18 karat. Memesona lewat pelat jam biru dari perak solid yang menampilkan teknik guilloché Grain d’orge pada bidang utama, dan Clous de Paris pada subdial detik kecil di posisi pukul 5, dilengkapi indikator cadangan daya fraksional di bawah angka “0.” Di baliknya, kaliber manual-winding UJ-2 bergerak menggunakan double wheel natural escapement yang disempurnakan oleh Kari Voutilainen. Tanpa kompleksitas berlebih, jam tangan ini memperlihatkan bagaimana perhatian terhadap detail dapat membentuk karakter yang terasa utuh.

HALAMAN SAMPING

Dua foto dari seri fotografi bertajuk “Time Well Spent,” yang menghadirkan Rashida Jones, aktris, penulis, sutradara, dan produser asal Amerika Serikat

HALAMAN INI

Jam tangan mewah Urban Jürgensen UJ-2 “Three-Hand Watch With Double Wheel Natural Escapement” terlihat dikenakan oleh Rashida Jones pada seri fotorgrafi yang apik

KEEPING THE TIME

Patek Philippe Singapore Service Centre memajukan keunggulan horologi dengan komitmen terhadap perawatan dan keahlian yang diperbarui dari generasi ke generasi

Mengusung filosofi abadi Patek Philippe, bahwa sebuah jam tangan bukan sekadar barang mewah, melainkan warisan lintas generasi, Patek Philippe Singapore Service Centre berdiri sebagai manifestasi nyata dari filosofi tersebut. Di tengah gemerlap wilayah Orchard Road, salah satu kawasan paling prestisius di Singapura, Patek Philippe Singapore Service Centre menghadirkan sebuah ruang yang jauh dari hiruk-pikuk retail mewah. Berlokasi di Wheelock Place, Pusat Layanan Patek Philippe yang telah diperbarui ini menunjukkan makna sebenarnya dari perawatan purna jual yang teliti. Dari para pembuat jam yang terlatih di Jenewa hingga ruang tunggu klien yang mewah, setiap detailnya menggarisbawahi komitmen merek terhadap keahlian di luar titik pembelian. Produsen jam asal Jenewa ini melakukan hal ini untuk memenuhi janjinya dalam memperbaiki dan memelihara “seluruh jam tangan yang pernah dibuat oleh Patek Philippe sejak produksi dimulai pada tahun 1839”.

Pembukaan kembali Patek Philippe Singapore Service Centre ini semakin memperkuat kemampuan purna jual dan pemeliharaan serta restorasi jam tangannya untuk klien dan kolektor di seluruh wilayah Asia Tenggara. Setiap kolektor dan pemilik jam tangan pasti telah mengetahui bahwa jam tangan Patek Philippe memiliki mekanisme yang kompleks, terdiri dari setidaknya 150 komponen, sehingga diperlukan servis rutin untuk memastikan jam tangan tetap berfungsi dengan baik dan menjaga nilainya untuk generasi mendatang. Patek Philippe Singapore Service Centre hadir bukan sebagai butik mewah, melainkan sebagai ruang sakral bagi seni horologi. Di sinilah waktu tidak sekadar diukur, tetapi dirawat, dengan presisi yang nyaris tak terlihat oleh mata awam. Berbeda dari butik yang menampilkan koleksi terbaru, pusat layanan ini justru berfokus pada masa lalu dan masa depan, merawat jam

BERBEDA DARI BUTIK YANG MENAMPILKAN

KOLEKSI TERBARU, PUSAT LAYANAN INI

JUSTRU BERFOKUS PADA MASA LALU DAN

MASA DEPAN, MERAWAT JAM TANGAN YANG

TELAH MENEMANI PEMILIKNYA SELAMA

PULUHAN TAHUN

tangan yang telah menemani pemiliknya selama puluhan tahun, sekaligus memastikan jam tersebut tetap berdetak untuk generasi berikutnya. Di sinilah makna kepemilikan berubah menjadi penjagaan. Setelah renovasi besar yang rampung pada 2026, ruang ini kini memadukan desain kontemporer dengan fungsi teknis tingkat tinggi.

Kami diundang ke Singapura untuk menyaksikan langsung segala fasilitas dan proses pengerjaan yang terdapat di Pusat

Layanan Patek Philippe, di mana setiap jam tangan yang masuk ke pusat ini akan menjalani proses yang sangat sistematis. Sebagai Manufaktur Jenewa tertua dan satu-satunya yang independen dan

HALAMAN SAMPING

Patek Philippe Grand Complications Desk Clock, jam meja (table clock) mewah dengan komplikasi mesin jam paling rumit; Patek Philippe Calatrava Pilot Travel Time

HALAMAN INI

Area depan Patek Philippe Singapore Service Centre dirancang sebagai lounge privat yang elegan, memungkinkan interaksi personal antara klien dan konsultan; Pusat layanan ini buka dari hari Senin hingga Jumat, pukul 10:00 hingga 17:00

dimiliki keluarga, Patek Philippe menganggap layanan sebagai pilar inti identitasnya. Berbeda dari gerai ritel pada umumnya, pusat layanan ini mengedepankan fungsi ketimbang pameran. Setelah renovasi besar pada awal 2026, ruang seluas lebih dari 828 meter persegi ini dirancang dengan dua dunia yang saling melengkapi, mulai dari area depan yang dirancang sebagai lounge privat yang elegan, memungkinkan interaksi personal antara klien dan konsultan, hingga area belakang yang steril dan teknis, di balik dinding kaca dan akses terbatas, terdapat workshop canggih tempat para watchmaker bekerja dalam lingkungan yang nyaris steril. Di balik pintu-pintu yang tertutup rapat itu, setiap jam tangan dibongkar, dianalisis, dan dirakit kembali melalui proses yang hampir ritualistik. Dari diagnosis awal hingga kontrol kualitas akhir, setiap tahap mencerminkan filosofi Patek Philippe, bahwa kepemilikan bukanlah akhir dari perjalanan sebuah jam, melainkan awal dari tanggung jawab lintas generasi.

Dimulai dari diagnosis menyeluruh, komponen-komponen mikro dibongkar dengan hati-hati, diperiksa di bawah mikroskop, lalu dibersihkan, diperbaiki, atau diganti jika diperlukan. Tahap berikutnya melibatkan perakitan ulang, pelumasan presisi, hingga pengujian performa untuk memastikan akurasi sesuai standar manufaktur. Namun, yang membuat pusat ini istimewa bukan hanya teknologinya, melainkan manusianya. Tim yang terdiri dari puluhan spesialis menjalani pelatihan intensif untuk menguasai berbagai tingkat kompleksitas mekanisme, dari model sederhana hingga model yang sangat rumit, seperti grand complications. Dalam lanskap industri jam mewah yang kerap didorong oleh eksklusivitas dan tren, kehadiran pusat layanan ini menghadirkan perspektif yang berbeda. Ia menegaskan bahwa nilai sejati sebuah jam tidak hanya terletak pada desain atau kelangkaannya, tetapi pada kemampuan untuk bertahan, dan terus dirawat seiring waktu.

DIMULAI DARI DIAGNOSIS MENYELURUH, KOMPONEN-KOMPONEN MIKRO DIBONGKAR

DENGAN HATI-HATI, DIPERIKSA DI BAWAH

MIKROSKOP, LALU DIBERSIHKAN, DIPERBAIKI, ATAU DIGANTI JIKA DIPERLUKAN

Lebih dari sekadar tempat servis, pusat ini juga berfungsi sebagai institusi pelatihan, tempat para pengrajin diasah untuk menangani segala hal, dari mekanisme sederhana hingga komplikasi paling rumit. Workshop yang ditingkatkan dengan tata letak yang diperbarui, mempertahankan empat stasiun inti: Perawatan Esensial, Intervensi Mesin, Intervensi Casing, hingga Kontrol Akhir, memastikan setiap tahap servis dilakukan dengan presisi dan hati-hati. Pemanfaatan ruang juga telah dioptimalkan untuk mengintegrasikan peralatan baru, meningkatkan ergonomi, dan lebih mendukung efisiensi alur kerja para pengrajinnya. Pusat Layanan ini merupakan rumah bagi tim Layanan Pelanggan yang beranggotakan 33 orang, terdiri dari 16 pembuat jam yang masingmasing berkontribusi pada perawatan tanpa cela untuk setiap jam tangan yang dipercayakan kepada mereka.

Deepa Chatrath, Direktur Pelaksana, Patek Philippe Asia

Tenggara menjelaskan lebih lanjut, “Sebagai Manufaktur milik keluarga, kami memiliki hak istimewa untuk mendampingi klien kami sepanjang perjalanan seumur hidup mereka dengan Patek Philippe. Pembukaan kembali Pusat Layanan Singapura kami memperbarui janji tersebut, untuk merawat setiap jam tangan, dan setiap kisah yang terkandung di dalamnya, dengan dedikasi

dan keahlian yang sama yang mendefinisikan keahlian kami.” Patek Philippe menjalin hubungan dengan kliennya didasarkan pada janji yang abadi: untuk merawat setiap jam tangan yang pernah dibuatnya, untuk melayani, memperbaiki, dan merestorasi setiap jam tangan Patek Philippe tanpa memandang usianya, baik dilakukan secara lokal atau dipercayakan kepada bengkel khusus di Jenewa. Janji abadi ini tetap menjadi landasan filosofi Manufaktur, memastikan setiap jam tangan mempertahankan ketepatan, keindahan, dan resonansi emosionalnya untuk generasi mendatang. Pada akhirnya, yang ditawarkan di sini bukan sekadar layanan purna jual, melainkan sebuah filosofi. Di tengah industri yang kerap dipenuhi tren dan eksklusivitas semu, pusat layanan ini mengingatkan bahwa kemewahan sejati terletak pada keberlanjutan, ketelitian, dan komitmen jangka panjang. Pusat layanan ini buka dari hari Senin hingga Jumat, pukul 10:00 hingga 17:00 (tutup pada hari libur nasional).

Patek Philippe Singapore Customer Service Centre 501 Orchard Rd, #16-01/02 Wheelock Place

Singapura 238880

Tel.: +65 6801 2100

HALAMAN SAMPING

Area bagian dalam di Patek Philippe Singapore Service Centre yang steril dan teknis, di balik dinding kaca dan akses terbatas, terlihat workshop canggih dalam lingkungan yang nyaris steril; Salah satu bagian dari mesin jam meja Patek Philippe PP 280.1A

HALAMAN INI

Patek Philippe Singapore Service Centre memiliki workshop tempat para watchmaker bekerja yang ditingkatkan dengan tata letak yang diperbarui, mempertahankan empat stasiun inti: Perawatan Esensial, Intervensi Mesin, Intervensi Casing, hingga Kontrol Akhir

IT’S CIGAR TIME

Ini adalah kolaborasi yang belum pernah terjadi sebelumnya antara dua dunia keunggulan: inovasi horologi Swiss dari HYT dan presisi teknologi Hulecos

INOVASI TEKNOLOGI INI

MEMBERDAYAKAN PARA PENGGEMAR

UNTUK MENGANALISIS SETIAP CERUTU

SECARA INDIVIDUAL, MENENTUKAN

DENGAN TEPAT APAKAH CERUTU

TERSEBUT TELAH MENCAPAI TINGKAT

KELEMBAPAN IDEAL UNTUK DIHISAP

Memiliki visi yang sama: mendorong batas-batas inovasi untuk menciptakan pengalaman luar biasa, HYT Watches dan Hulecos berkolaborasi untuk menciptakan jam tangan S1 5N Gold Titanium Cigare yang luar biasa, di mana pembuatan jam tangan hidromekanik bertemu dengan gaya hidup mewah para penggemar cerutu. HYT S1 5N Gold Titanium Cigare yang eksklusif ini, diproduksi terbatas hanya 8 buah, dikemas dalam sebuah kotak presentasi khusus keahlian hidromekanik

HYT dan perangkat Hulecos H1, demi menawarkan kepada para penikmat pengalaman lengkap yang didedikasikan untuk seni hidup yang mewah. Kotak jam ini memiliki dua kompartemen

dengan dimensi sempurna: yang pertama menampung jam tangan HYT dalam segala kemegahannya, sementara yang kedua menyimpan perangkat Hulecos H1, instrumen presisi yang merevolusi cara para penggemar menyimpan dan menikmati cerutu mereka. Presentasi ganda ini melambangkan filosofi umum kedua perusahaan: keunggulan tidak terbatas pada satu objek saja, tetapi meluas ke seluruh pengalaman. Perangkat Hulecos H1 dibuat di Swiss, dan merupakan kemajuan besar di bidang pengawetan cerutu. Tidak seperti higrometer tradisional yang hanya mengukur kelembapan relatif udara, sebuah pembacaan yang bervariasi dengan suhu, H1 menghitung Kandungan Kelembapan Cerutu Hulecos (HMC²) yang sebenarnya dari setiap cerutu, mengungkapkan tingkat kelembapan sebenarnya dan kesiapannya untuk pencicipan optimal.

HYT merevolusi tampilan waktu melalui teknologi fluida yang dipatenkan, sementara Hulecos merevolusi kenikmatan cerutu dengan teknologi pengukuran HMC² (Hulecos Moisture Cigar Content), sebuah pendekatan ilmiah yang menghitung tingkat kelembapan sebenarnya dari cerutu, memastikan setiap cerutu dihisap pada titik optimalnya. Kolaborasi alami ini merayakan aliansi keahlian pembuatan jam tangan Swiss dan budaya cerutu yang halus, dua dunia di mana kesabaran, ketelitian, dan gairah bertemu. S1 5N Gold Titanium Cigare mewujudkan filosofi ini dalam sebuah jam tangan yang melampaui fungsi utamanya untuk menjadi aksesori utama bagi penggemar yang tercerahkan. Ditandai dengan palet warnanya yang membangkitkan dunia cerutu yang mulia, casing titanium berlapis emas 5N dan DLC hitam menciptakan fondasi yang mewah, sementara dial jamnya memperlihatkan kuningan berlapis cokelat dan rhodium yang secara halus mengingatkan pada tekstur dan nuansa daun tembakau yang dibuat dengan sangat baik. Aplikasi berlapis emas 5N menghadirkan sentuhan kehangatan keemasan yang berdialog secara harmonis dengan casing, menciptakan permainan kontras yang halus antara nada hangat emas dan nuansa cokelat yang bersahaja. Cairan merah yang mengalir melalui tabung

kapiler borosilikat menambahkan sentuhan gairah dan energi, mengingatkan pada bara api yang menyala sempurna dari cerutu, titik fokus hipnotis yang menangkap esensi perjalanan waktu.

Di jantung S1 5N Gold Titanium Cigare berdetak kaliber 501CM yang luar biasa, sebuah mahakarya 352 komponen yang mewakili lebih dari satu dekade inovasi hidromekanik. Mesin jam buatan pabrik ini memberikan cadangan daya yang kuat selama 72 jam sambil mempertahankan frekuensi yang tepat sebesar 28.800 getaran per jam. Pergerakan cairan HYT didasarkan pada mekanisme yang puitis dan sangat inovatif. Perjalanan waktu ditampilkan di dalam kapiler kaca borosilikat dengan diameter internal hanya 0,8 milimeter. Dua cairan yang tidak bercampur, satu berwarna merah dan yang lainnya transparan, bersirkulasi di dalamnya. Batas antara keduanya, yang disebut meniskus, berfungsi sebagai jarum jam. Tarian fluida ini digerakkan oleh gerakan mekanis: gaya yang diberikan oleh sensor mengaktifkan salah satu dari dua bellow, yang terletak di posisi pukul 6. Selain tampilan jam fluida retrograde, S1 5N Gold Titanium Cigare memiliki jarum menit tengah, indikator cadangan daya, dan jarum detik kecil – semuanya dilapisi emas 5N dan ditingkatkan dengan Super-LumiNova® putih untuk keterbacaan optimal. Jam tangan ini menawarkan kenyamanan luar biasa berkat proporsinya yang dirancang dengan cermat, yaitu 45,30 × 17,20 mm. Casing titanium berlapis emas 5N dan DLC menggabungkan kemewahan dan keringanan, menciptakan keseimbangan sempurna antara kehadiran di pergelangan tangan dan kenyamanan pemakaian sehari-hari.

H1 dilengkapi dengan jarum halus yang dirancang khusus untuk menganalisis inti cerutu, menawarkan rekomendasi yang dipersonalisasi untuk mengoptimalkan pencicipan. Dengan menyertakan perangkat H1 dalam casing S1 5N Gold Titanium Cigare, HYT dan Hulecos menciptakan sinergi yang unik: jam tangan mengukur waktu dengan presisi hidromekanik revolusioner, sementara H1 memastikan bahwa setiap cerutu yang Anda pilih telah mencapai tingkat kelembapan optimal untuk pengalaman merokok yang sempurna. Inovasi teknologi ini memberdayakan para penggemar untuk menganalisis setiap cerutu secara individual, menentukan dengan tepat apakah cerutu tersebut telah mencapai tingkat kelembapan ideal untuk dihisap. H1 juga dapat memantau kondisi humidor Anda, menunjukkan kelembapan relatif optimal yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat HMC² yang Anda inginkan pada suhu tertentu. Jam tangan mewah yang ditawarkan senilai CHF 78.000 sebelum pajak (sekitar IDR 1,7 milyar, sebelum pajak), ini tidak hanya menawarkan jam tangan yang luar biasa, tetapi juga seni hidup sejati bagi pemiliknya, di mana setiap momen diukur dengan presisi hidromekanik dan setiap cerutu disimpan dalam kondisi optimal.

HALAMAN SAMPING

Tampilan eksklusif jam tangan HYT S1 5N Gold Titanium Cigare dengan ukuran 45,30 × 17,20 mm, terlihat pas di pergelangan tangan, menampilkan dial jam kuningan berlapis cokelat dan rhodium yang mengingatkan pada tekstur dan nuansa daun tembakau

HALAMAN INI

Jam tangan dikemas dalam sebuah kotak presentasi khusus keahlian hidromekanik HYT dan perangkat Hulecos H1; Mesin kaliber 501-CM pada jam ini adalah mahakarya 352 komponen yang mewakili lebih dari satu dekade inovasi hidromekanik

TOOLS OF TIME

Panerai memperkenalkan dua model baru yang mengakar pada warisan sejarah dan relevansi abadi dari desain yang berorientasi pada fungsi

Panerai kerap kali menggabungkan ketelitian militer yang diseimbangkan dengan desain khas Italia, serta fungsionalitas yang disempurnakan oleh keahlian kontemporer. Jam tangan terbaru mereka, Submersible Marina Militare PAM01697 dan Luminor GMT Power Reserve Ceramica PAM01574 menggambarkan dualitas ini dengan jelas dan percaya diri. Sebagai contoh, Luminor GMT Power Reserve Ceramica PAM01574 diluncurkan saat Panerai mengemban tugasnya sebagai “Official Timekeeper” dari pameran desain bergengsi, Salone del Mobile di Milan, Italia. Ajang Milan Design Week yang merayakan keindahan fungsional dan kreativitas yang berpandangan ke masa depan, nilai-nilai yang telah lama tertanam kuat dalam DNA dari Panerai, menjadi panggung peluncuran yang tepat.

Pada pandangan pertama, jam tangan ini menyiratkan desain khas Panerai. Bagian case Luminor berukuran 44mm, lengkap dengan crown-protecting device yang khas, menegaskan kehadiran yang kuat di pergelangan tangan. Material yang digunakan menceritakan kisah yang lebih kontemporer, terbuat dari ceramic hitam berbasis zirconium oxide, bagian case menyeimbangkan estetika stealth atau tersembunyi dengan keunggulan teknis yang nyata: mulai dari daya tahan tinggi terhadap goresan, korosi, dan suhu ekstrem, dikombinasikan dengan bobot yang ringan di pergelangan tangan. Bagian dial menghadirkan kehangatan dan kedalaman dengan konstruksi sandwich berwarna biru dengan sentuhan sun-brushed, yang menciptakan kontras yang apik terhadap ceramic, namun tetap mempertahankan keterbacaan

KETERBACAAN, SEBUAH PRINSIP YANG

TIDAK TERNEGOSIASIKAN BAGI PANERAI, JUGA DITINGKATKAN MELALUI INDEKS YANG

DIPERLEBAR DAN PERMUKAAN

SUPER-LUMINOVA YANG DIPERLUAS

yang jelas dan fungsional. Indikator cadangan daya yang ditempatkan pada pukul lima, ditandai dengan kata Italia “ORE,” memberikan sentuhan praktis sekaligus berkarakter. Jarum GMT khusus dan juga date window semakin menyoroti kesesuaian jam tangan ini untuk gaya hidup modern dan dinamis.

PAM01574 ditenagai oleh mesin jam calibre P.9012 yang dibuat in-house, dengan cadangan daya selama tiga hari, dan dilengkapi fitur hacking seconds untuk proses penyesuaian waktu yang akurat, dan penyesuaian jam yang cepat baik saat melintasi zona waktu maupun saat menjalani rutinitas harian. Hadir dengan dua pilihan tali jam kulit berwarna biru dan opsi tali jam karet yang dapat diganti, Luminor GMT Power Reserve Ceramica PAM01574 menunjukkan keserbagunaan tanpa mengorbankan identitasnya sebagai jam tangan yang berbicara dengan fasih tentang dunia desain fungsional yang selaras dengan energi kreatif Milan.

Sementara itu, koleksi Panerai Submersible Marina Militare PAM01697 terinspirasi dari “Aviazione Navale,” cabang penerbangan dari Angkatan Laut Italia, yang misinya menuntut keandalan absolut di lingkungan yang paling berat sekalipun. Semangat itu langsung terlihat pada case 44mm dari stainless steel 316LVM, sebuah material yang dipilih karena ketahanan dan sifat resistensinya terhadap korosi. Bagian unidirectional rotating bezel dalam jam ini yang dipasangi ceramic berwarna hijau matte menegaskan kredensialnya sebagai jam diving profesional. Sentuhan kromatik hijau ini juga memberinya ciri khas halus yang membedakannya dari model Submersible Panerai lain yang lebih konvensional. Bagian dial yang dibalut permukaan matte bertekstur

berwarna hijau dengan gradien hitam juga menggemakan warna-warna perlengkapan penerbangan dan helm angkatan laut. Keterbacaan, sebuah prinsip yang tidak ternegosiasikan bagi Panerai, juga ditingkatkan melalui indeks yang diperlebar dan permukaan Super-LumiNova yang diperluas dan berpendar dalam warna abu-abu yang mengingatkan pada instrumentasi militer. Pada posisi pukul enam, tanda Marina Militare berfungsi sebagai pernyataan asal-usul yang tegas, dengan bagian small seconds counter yang didesain menyerupai tampilan radar menambahkan lapisan visual yang berakar pada isyarat penerbangan. Ditenagai mesin otomatis P.900 dengan cadangan daya tiga hari, mesin ini menggarisbawahi fokus Panerai pada keandalan. Tahan air hingga 300 meter dan diuji melampaui batas yang ditentukan, PAM01697 adalah instrumen profesional sejati seperti inspirasinya.

Dengan kombinasi tali kanvas berwarna hijau dan pilihan tambahan tali jam karet berwarna hitam, jam tangan Submersible Marina Militare PAM01697 hadir sebagai ekspresi paling murni dari warisan sejarah jam tangan diving modern mereka, yang menggabungkan sejarah otentik tentang masa lalu Panerai, namun tetap berakar kuat di masa kini. Setiap pilihan desain jam Panerai memiliki tujuan, dan setiap detail memperkuat kegunaan. Kedua koleksi ini memiliki kesamaan, baik dari segi keterbacaan, ketahanan, dan pendekatan tanpa kompromi terhadap fungsionalitas, mengingatkan kita bahwa kemewahan sejati dalam pembuatan jam tangan bukanlah hal berlebihan, melainkan sebuah kepercayaan diri. Kepercayaan diri pada warisan sejarah dan relevansi abadi dari desain yang berorientasi pada fungsi.

HALAMAN SAMPING

Jam tangan Panerai Submersible Marina Militare PAM01697; Jam tangan tersebut menjadi salah satu jam tangan andalan yang dikenakan oleh anggota militer Italia

HALAMAN INI

Tampilan jam tangan Panerai Luminor GMT Power Reserve Ceramica PAM01574 berukuran 44mm yang tangguhm dan ditenagai oleh mesin jam calibre P.9012 buatan in-house; Lapisan Super-LumiNova menghiasi jarum jam hingga indeks jam; Model mengenakan Panerai Luminor GMT Power Reserve Ceramica PAM01574

THEIR OWN BEAT

Di industri yang semakin dikuasai konglomerat, Raymond Weil memilih untuk tetap menjadi dirinya sendiri

Pada 1976, Raymond Weil dan istrinya Éliane membawa koper berisi jam tangan ke Basel Fair. Tidak ada kantor megah, tidak ada nama yang dikenal, hanya sebuah meja lipat dan keyakinan bahwa jam tangan Swiss yang dirancang dengan baik tidak harus datang dengan harga yang mengintimidasi. Saat itu, Raymond Weil berusia lima puluh tahun dan baru memulai usahanya sendiri setelah lebih dari dua dekade bekerja di industri jam tangan. Ia tidak datang dengan modal besar, tetapi dengan pengalaman, selera yang terasah, serta cara memahami orangorang yang ia temui dalam setiap perjalanannya. Lima puluh tahun kemudian, perusahaan yang sama masih dijalankan oleh cucunya, tetap di kota yang sama, Jenewa.

Yang membuat perjalanan lima puluh tahun ini tidak biasa bukan hanya ketahanannya, melainkan konsistensinya. Raymond Weil meletakkan tiga pilar yang tidak pernah bergeser, yaitu desain yang berani, kualitas yang tanpa kompromi, dan harga yang membuat jam tangan Swiss bisa dijangkau lebih banyak orang. Ketika ia mengundang menantunya, Olivier Bernheim, bergabung pada 1982, tongkat estafet itu tidak hanya berpindah tangan, tetapi

ia berpindah dengan seluruh nilai yang menyertainya. Begitu pula ketika Elie Bernheim, cucu sang pendiri dan seorang pemain cello, mengambil alih kepemimpinan pada 2014. Tiga generasi, tiga karakter yang berbeda, namun satu partitur yang sama. Dan di antara semuanya, musik selalu hadir bukan sebagai tema pemasaran, melainkan sebagai cara keluarga ini memahami dunia.

Independensi merek tidak pernah berhenti sebagai identitas di atas kertas, melainkan terlihat dari cara mereka mengambil keputusan. Pada 1999, di saat pendekatan seperti ini belum umum, Olivier Bernheim membentuk departemen teknis in-house dan menjadi salah satu yang pertama di Swiss memanfaatkan teknologi 3D printing untuk pengembangan prototipe. Langkah itu berlanjut pada 2017 dengan lahirnya RW1212, kaliber pertama yang sepenuhnya dirancang dan dikembangkan oleh Raymond Weil sendiri. Kebebasan yang sama juga membuka ruang untuk kolaborasi yang terasa tidak dipaksakan, dari The Beatles hingga David Bowie, dari Jimi Hendrix hingga JeanMichel Basquiat. Tanpa keterikatan pada konglomerat besar, arah yang diambil tidak selalu mengikuti arus, namun tetap konsisten dengan apa yang mereka yakini sejak awal.

Penulis: Billy Saputra

RAYMOND WEIL MELETAKKAN TIGA PILAR YANG TIDAK PERNAH

BERGESER, YAITU DESAIN YANG BERANI, KUALITAS YANG TANPA

KOMPROMI, DAN HARGA YANG MEMBUAT JAM TANGAN SWISS BISA

DIJANGKAU LEBIH BANYAK ORANG

Kemudian hadir millesime. Dikembangkan dalam periode pandemi, Raymond Weil menggunakan waktu tersebut untuk kembali mempertanyakan arah dan identitasnya sebagai sebuah jenama. Hasilnya diperkenalkan pada 2023 dalam bentuk jam tangan bergaya neo-vintage yang segera menarik perhatian. Grand Prix d’Horlogerie de Genève menganugerahinya penghargaan kategori Challenge untuk jam tangan di bawah CHF 2.000 (setara IDR 42,5 juta), menandai pengakuan dari komunitas jam tangan yang lebih luas. Dalam waktu yang relatif singkat, kehadirannya membuka pasar baru di Jepang dan Prancis, sekaligus menarik perhatian kolektor yang sebelumnya belum akrab dengan jenama ini. Pada 2024, Raymond Weil untuk pertama kalinya tampil di Watches and Wonders Geneva, sebuah langkah yang menempatkannya dalam percakapan yang lebih besar di industri jam tangan. Lima puluh tahun memberi kesempatan untuk melihat apa yang berubah, dan apa yang sengaja tidak diubah. Bagi Raymond Weil, yang terlihat bukan hanya kemampuannya menghadirkan jam tangan Swiss dengan kualitas yang terjaga pada harga yang terjangkau, tetapi juga bagaimana sebuah bisnis

keluarga bisa terus berjalan tanpa harus mengikuti setiap arah yang berubah. Mereka tidak pernah dijual, tidak selalu bergerak mengikuti tren, dan sejak awal memilih cara sendiri dalam mengukur keberhasilan. Di satu sisi, pilihan ini membuat mereka bergerak lebih pelan dibanding banyak nama lain di industri. Di sisi lain, justru di situlah konsistensi itu terbentuk. Elie Bernheim, cucu sang pendiri, menyimpan harapan sederhana bahwa suatu hari nanti generasi keempat akan melanjutkan perjalanan yang dimulai dari sebuah meja lipat di Basel Fair pada 1976.

HALAMAN SAMPING DARI KIRI

Tiga generasi pendiri dan penerus kesuksesan merek jam tangan Raymond Weil, dari kiri: Olivier Bernheim, CEO Elie Bernheim, dan Raymond Weil; Jam tangan Raymond Weil Freelancer Skeleton warna hitam dengan mesin

Calibre RW1212, berdiameter 42 mm

HALAMAN INI

Beberapa koleksi utama jam tangan Raymond Weil sepanjang masa, yang modelnya masih digemari hingga kini,selain Freelancer, terdapat model Deauville bermesin quartz yang terinspirasi gaya vintage; Raymond Weil

Othello, dan model-model khusus yang bergaya vintage lainnya

COLLECTOR’S CORNER

GOLDEN VISION

Seiko merayakan ulang tahun ke-145 dengan menuangkan semangat

Kintaro Hattori dalam empat mahakarya terbaru

Merek jam premium asal negeri matahari terbit, Seiko mengumumkan peluncuran koleksi edisi terbatas untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-145. Lebih dari sekadar penunjuk waktu, koleksi ini adalah penghormatan bagi semangat visioner sang pendiri, Kintaro Hattori, yang memulai perjalanannya dari sebuah toko kecil di distrik Ginza pada tahun 1881. Melalui empat lini ikoniknya—King Seiko, Prospex, Presage, dan Astron—Seiko menghadirkan aksen emas yang melambangkan kemewahan, kegembiraan, dan keindahan kerajinan tangan Jepang. Untuk koleksi pertama, King Seiko KS1969 hadir bagi pecinta estetika klasik dengan dial yang menarik, terinspirasi dari pola ukiran rumit yang sering dipesan Kintaro untuk jam tangan produksinya di masa lalu. Gradasi abu-abu yang semakin gelap ke arah tepi menonjolkan detail jarum dan indeks berwarna emas yang berkilau. Jam ini ditenagai oleh Caliber 6L35 yang ramping, memungkinkan desain casing tetap tipis sehingga sangat nyaman di pergelangan tangan.

Bagi penggemar yang tergila-gila akan model Speedtimer, lini terbaru Prospex ini terinspirasi dari Speedtimer asli tahun 1969. Model kronograf mekanis terbaru ini menjadi lebih eksklusif karena memadukan dial putih bersih dengan aksen emas yang kontras, sebuah kombinasi warna dial yang tidak biasa bagi sebuah Speedtimer. Di dalamnya, tersemat Caliber 8R48 yang dirakit tangan oleh pengrajin paling terampil Seiko. Penggunaan teknologi MEMS pada komponennya juga membuat jam ini tidak hanya akurat, tetapi juga memiliki daya tahan tinggi. Jika Anda mencari jam tangan yang memancarkan pesona dan kemewahan, Presage adalah jawabannya. Mengambil inspirasi dari Timekeeper—jam saku pertama buatan pabrik Seikosha pada tahun 1895—model ini menampilkan dial enamel putih yang halus dengan angka Romawi ramping. Keunikan Presage ini terletak pada onion crown dan kaca berbentuk boks yang memberikan kedalaman visual yang menarik untuk dilihat. Selain itu, Seiko menunjukkan komitmennya pada keberlanjutan melalui penggunaan tali kulit dari penyamakan yang

Penulis: Yessar Rosendar

MENGAMBIL INSPIRASI DARI TIMEKEEPER—

JAM SAKU PERTAMA BUATAN PABRIK SEIKOSHA

PADA TAHUN 1895—MODEL INI MENAMPILKAN

DIAL ENAMEL PUTIH YANG HALUS DENGAN

ANGKA ROMAWI RAMPING

bersertifikat Leather Working Group. Ditenagai Caliber 6R51, jam ini menawarkan cadangan daya hingga 72 jam, yang membuat jam ini siap menemani akhir pekan Anda tanpa perlu diputar ulang.

Sebagai penutup koleksi ini, Astron GPS Solar Dual-Time Chronograph mewakili canggihnya teknologi Seiko. Dengan balutan titanium berlapis hitam dan aksen emas pada seluruh bagian— termasuk bezel keramik safir—jam ini tampak sangat futuristik. Ditenagai Caliber 5X83, Astron secara otomatis terhubung ke jaringan GPS hingga dua kali sehari untuk menyesuaikan waktu dengan presisi di mana pun Anda berada di dunia. Detail halus seperti penanda emas pada skala UTC merupakan penghormatan cerdas bagi ulang tahun ke-145 ini. Setiap unit dari keempat model

ini memiliki nomor seri unik yang terukir di bagian belakang casing, menandai statusnya sebagai edisi terbatas. Koleksi ini dijadwalkan tersedia mulai Februari 2026 di butik Seiko dan peritel terpilih di seluruh dunia.

HALAMAN SAMPING

Empat model edisi terbatas, dari kiri: King Seiko KS1969, Seiko Prospex

Speedtimer Mechanical Chronograph, Seiko Astron GPS Solar Dual-Time Chronograph, dan Seiko Presage Classic Series “Craftsmanship” Enamel Dial

HALAMAN INI

Timekeeper, jam saku pertama buatan pabrik Seikosha pada tahun 1895; Seiko Presage Classic Series “Craftsmanship” Enamel Dial yang elegan dan sangat unik

THE TIME FOR RISK-TAKERS

Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap industri jam tangan independen telah melonjak pesat. Karena banyak merek besar kesulitan menghadirkan inovasi dan keunikan yang sesungguhnya, para penggemar jam tangan pun beralih ke dunia produksi skala kecil dan buatan tangan untuk benar-benar membedakan koleksi mereka dari yang lain. Namun, wilayah ini tetap merupakan dunia yang sangat niche. Seiring maraknya pameran-pameran khusus untuk merek independen bermunculan di seluruh dunia, ada beberapa merek yang menarik perhatian kami di Collector’s Guide WATCHES Indonesia. Bagaimana dengan Anda?

AWAKE Sơn Mài – Frosted Leaf

Seni kerajinan pernis Vietnam yang sudah berusia berabadabad diangkat oleh merek jam tangan independen Awake, demi melanjutkan misinya untuk menyoroti kerajinan langka dan luar biasa dari seluruh dunia melalui prisma pembuatan jam tangan kontemporer. Dengan koleksi Sơn Mài Frosted Leaf, merek ini membawa eksplorasinya terhadap seni pernis Vietnam Sơn Mài selangkah lebih maju, menggabungkan keahlian turun-temurun dengan material modern, presisi mekanis, dan desain yang berkelas, dengan harga yang tak tertandingi di pasar saat ini. Jam tangan Sơn Mài Frosted Leaf adalah sebuah ekspresi puitis dan sensual, yang terinspirasi oleh warna-warna Bumi seperti yang terlihat dari luar angkasa. Tiga interpretasi—dalam warna biru, hijau, dan cokelat—memberikan penghormatan kepada lautan, hutan, dan tanah subur. Setiap pelat jam tangan dalam, bercahaya, dan bertekstur, dirancang sebagai karya seni sejati. Melalui teknik baru eksklusif yang memadukan pernis tradisional dengan penyepuhan daun perak, Awake merangkul para ahli pernis Vietnam untuk menciptakan kembali tampilan jam tangan kontemporer, sebuah dialog antara seni, alam, dan inovasi.

Jam tangan yang menampilkan pelat jam berbahan pernis tradisional Vietnam ini memang sangat diminati, dan koleksi edisi terbatas terbaru Frosted Leaf ini terdiri dari tiga model, semuanya memiliki pelat jam yang terinspirasi dari pemandangan permukaan Bumi dari luar angkasa. Jarum jam dan penanda jam terdiri dari dasar Luminova BGW9 yang ramping namun kokoh, dilapisi dengan sisipan baja yang dipoles dan difaset, masing-masing dipoles hingga menghasilkan ujung yang sangat tajam. Manufaktur Swiss La Joux-Perret (La Chaux-de-Fonds) menciptakan kaliber otomatis La Joux-Perret G101 yang berputar searah jarum jam. Dikelilingi oleh cincin “Clous de Paris” bertekstur, kaliber ini terkenal karena kekokohan dan kinerjanya (cadangan daya 68 jam) dan memiliki rotor tungsten yang dirancang khusus untuk Awake, dengan kontras permukaan relief dan lekukan yang elegan, ditingkatkan oleh teknik finishing yang halus. Dial unik yang dirancang dengan tangan sebagai karya seni tersendiri, Diameter jam 39 mm dengan casing dan gesper baja tahan karat 316L daur ulang, dengan tali dari Delugs yang terbuat dari tali kulit Nubuck abu-abu muda berukuran 20x16mm yang khusus dibuat dengan tangan. Jam tangan unik ini ditawarkan dengan harga EUR 2.150 (sekitar IDR 42,1 juta), belum termasuk pajak.

HORIZON WATCHES SPECTRUM

Di tengah tren industri jam tangan modern yang kerap bereksperimen dengan desain asimetris, Horizon Watches mengambil langkah berani dengan kembali ke akar estetika dan proporsi klasik. Lewat koleksi terbarunya yang diberi nama Spectrum, jenama ini menawarkan sebuah kembalinya proporsi fundamental sekaligus lompatan bahasa desain yang menawan. Model ini seakan menunjukkan sisi dari Spectrum yang menjadi bukan hanya sekadar penunjuk waktu, melainkan sebuah pernyataan bahwa harmoni visual tidak pernah kehilangan daya tariknya. Selintas, tampilannya terlihat membumi dengan wujud bundar klasik dan stainless steel case 316L berukuran 38mm yang sangat proporsional. Namun, keistimewaannya justru terletak pada detail arsitektural yang digarap dengan penuh determinasi. Case ini merupakan wujud evolusi ‘Fase 2’ dari Horizon yang mengedepankan konstruksi multi-bagian dengan garis geometri yang tegas. Bagian lug bersudut memberikan siluet yang tangguh, sementara variasi penyelesaian akhir pada permukaan logamnya— mulai dari sandblasted, melingkar, hingga vertikal—menciptakan ritme visual yang dinamis dan berkarakter. Seluruh detail ini disempurnakan dengan kehadiran sapphire crystal “top-hat” bergaya kotak dengan lapisan anti-reflektif, yang memberikan kedalaman ekstra pada area dial jam.

Daya tarik utama koleksi Spectrum tentu saja berada pada bagian dial jamnya yang dirancang dengan arsitektur berlapis. Lapisan teratasnya terbuat dari baja yang dipotong menggunakan

mesin CNC, menampilkan alur-alur dalam yang menyingkap struktur di bawahnya. Tepat di bawahnya, terdapat lapisan tengah yang dijuluki “pizza” oleh sang kreator, yang terbagi ke dalam empat kuadran dengan warna berbeda untuk membangkitkan resonansi emosional. Desain ini kemudian dibingkai oleh sapphire crystal yang mampu menangkap cahaya dari berbagai sudut, menghasilkan efek kilau tak terduga dan menjadikan dial ini layaknya sebuah karya seni. Di balik eksteriornya yang memukau, Spectrum ditenagai oleh mesin mekanis otomatis Miyota 9015 dari Jepang yang berdetak pada frekuensi 4Hz dan memiliki cadangan daya 42 jam. Horizon tidak berhenti pada mesin standar; mereka melangkah lebih jauh dengan merancang ulang rotor menjadi bentuk bundar penuh berbahan tungsten. Desain rotor ini selaras dengan tata letak dial yang simetris, menciptakan harmoni yang langka antara estetika eksterior dan ruang mesin. Untuk menunjang kenyamanan, jam tangan ini dipadukan dengan pilihan tali karet FKM dan rantai baja terintegrasi yang seluruhnya didesain khusus tanpa kompromi menggunakan komponen off-the-shelf

Pada bagian caseback, Horizon menyematkan sebuah kutipan puitis dari Stephen Hawking: “The past, like future, is indefinite and exists only as a spectrum of possibilities” (masa lalu, seperti masa depan, tidak terbatas dan hanya ada sebagai berbagai spektrum kemungkinan). Kutipan ini menjadi pemanis dari Horizon Spectrum yang membuktikan bahwa dedikasi pada simetri mampu melahirkan mahakarya yang bertahan melampaui tren zaman.

Horizon Watches www.horizon-watches.com
The Message Behind Spectrum

COLLECTOR’S CORNER

CANUCK TIMEPIECES THE WORMHOLE

Ketika sebuah merek jam tangan tidak hanya menjual instrumen mekanis, tetapi juga dikombinasikan dengan sebuah narasi nan epik, kerap kali membuat banyak pihak terpukau. Hal ini yang ditawarkan oleh Canuck Timepieces. Apa yang terjadi ketika Anda tersedot ke dalam sebuah black hole? Jawabannya: Anda akan memasuki The Wormhole. Jam tangan bertipe “Space Diver” ini adalah babak kedua yang sangat dinantikan dari kolaborasi “Cosmic” antara AndoAndoAndo dan Canuck Timepieces. Melanjutkan kisah yang diperkenalkan lewat edisi The Blackhole, koleksi ini mendorong konsep eksplorasi horologi semakin jauh ke dalam alam semesta yang tak dikenal. Premisnya sederhana namun menggugah: pesawat ruang angkasa kita telah tersedot ke dalam The Blackhole, dan kini tengah memasuki The Wormhole.

Bagian dial jam menggunakan material “Musou Black” yang terkenal, menciptakan nuansa ruang angkasa yang gelap, tanpa akhir, dan sangat imersif. Di bagian pusat dial, terdapat sebuah pusaran berputar yang seolah menghipnotis dan menarik pandangan mata Anda ke dalam. Jika Anda memperhatikannya dengan cukup saksama, Anda akan disuguhi detail yang memukau: siluet pesawat ruang angkasa kita yang tengah terjebak di dalam pusaran tersebut. Untuk menyempurnakan visual ini, Canuck

Timepieces menyematkan jarum jam “Vortex” khusus yang secara brilian memperkuat kesan pergerakan, rotasi, dan distorsi di pergelangan tangan. Melingkari dial yang menghipnotis ini adalah bezel stainless steel yang dilengkapi pendaran lume BGW9 yang terang. Bagian bezel ini diukir dengan angka 3, 6, dan 9 menggunakan bahasa antargalaksi misterius yang seakan diambil langsung dari sebuah galaksi nun jauh di sana. Di luar estetika fiksi ilmiahnya, jam tangan ini sangat mengedepankan kenyamanan. Dengan case berukuran 40mm ini berhasil mencapai keseimbangan yang cermat antara kehadiran visual yang mendominasi dan kenyamanan pemakaian sehari-hari. Didukung oleh jarak antar lug yang cukup ringkas, 41mm, The Wormhole memberikan kenyamanan optimal saat dikenakan. The Wormhole ditenagai oleh kaliber otomatis NH38A yang dipilih karena ketangguhan dan kesederhanaannya di segala kondisi. Menambah kesan taktis dan sporty, jam tangan ini dipasangkan dengan tali berbahan sailcloth hitam yang memberikan aura utilitas tinggi—seolah siap untuk menjalankan misi antariksa—yang diakhiri dengan bagian gesper tali jam berlogo resmi sebagai tanda pamungkas dari kolaborasi. The Wormhole diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas. Hanya akan ada 25 unit untuk varian silver case, dan sangat langka di angka 5 unit saja untuk varian black case

ISOTOPE WATCHES ALTMANN × ISOTOPE OSAKA

CLOISONNÉ ENAMEL

Dalam dunia horologi, berbagai jenama jam tangan mengambil inspirasi dari dunia aviasi, otomotif, atau sejarah maritim. Namun, Isotope Watches berani tampil beda dengan menghadirkan Altmann × Isotope Osaka Cloisonné Enamel. Kolaborasi yang sangat terbatas ini mengubah elemen desain urban yang tak terduga, yakni penutup lubang got atau manhole cover yang berasal dari Jepang, menjadi sebuah mahakarya seni pembuat jam. Kisah di balik jam tangan ini bermula dari ketertarikan pendiri Isotope, José Miranda, terhadap keindahan penutup lubang got di Jepang yang memukau. Ide untuk menerjemahkan desain ini ke dalam ranah pembuatan jam tangan akhirnya terwujud setelah Miranda menemukan buku “Manhole Covers of the World” karya desainer dan ilustrator Björn Altmann. Pertemuan dua visi ini melahirkan seri jam tangan dalam jumlah yang sangat kecil, di mana dokumentasi Altmann mengenai desain penutup lubang got berpadu sempurna dengan keahlian Isotope dalam menciptakan dial jam yang tidak konvensional.

Bintang utama dari mahakarya ini adalah bagian dial yang secara harfiah mengambil basis desain dari penutup lubang got pemerintah kota Osaka, Jepang. Wajah jam ini menampilkan Kastil Osaka di bagian tengah, yang dikelilingi oleh motif aliran air dan bunga sakura yang sedang mekar. Motif tersebut memiliki makna mendalam, melambangkan hubungan historis kota Osaka dengan air serta pembaruan musim yang terus berputar. Menariknya, terdapat karakter huruf Jepang 大阪市 (Ōsaka-

shi) yang dipertahankan pada desain aslinya, menegaskan statusnya sebagai desain infrastruktur publik resmi dan bukan sekadar reinterpretasi dekoratif. Untuk mewujudkan desain rumit ini ke dalam medium yang mungil, Isotope menggunakan teknik grand feu cloisonné enamel tradisional yang seluruhnya dikerjakan dengan tangan. Setiap dial dibangun di atas dasar solid sterling silver. Kawat-kawat perak yang sangat halus dibentuk dan diposisikan secara manual untuk membangun struktur desainnya, sebelum serbuk vitreous enamel diaplikasikan secara hati-hati pada ruang di antara kawat-kawat tersebut. Setelah itu, pelat dibakar di dalam tungku dengan suhu sekitar 850°C agar lapisan enamel meleleh dan menyatu secara permanen dengan dasar peraknya. Proses pengisian dan pembakaran ini bahkan harus diulang sekitar sepuluh kali demi mencapai ketebalan dan kedalaman visual yang sempurna. Secara teknis dan arsitektur, jam tangan elegan ini menggunakan basis platform Isotope Mercury. Bagian case-nya terbuat dari material tangguh stainless steel 316L berdiameter proporsional 38mm, dan memiliki ketebalan 10mm. Jam tangan ini dibekali sapphire crystal cembung anti-reflektif dan kedap air hingga 100mm, dan ditenagai mesin mekanis Calibre I-7 berpemutar manual, modifikasi dari ETA Peseux 7001 buatan Swiss, yang beroperasi pada frekuensi 21.600 vph dengan cadangan daya handal selama 42 jam. Jam ini diproduksi sangat terbatas, yakni hanya lima buah di seluruh dunia, dan setiap jam tangan disertai dengan buku “Manhole Covers of the World” yang telah ditandatangani Björn Altmann.

COLLECTOR’S CORNER

MING POLYMESH

Ming bukanlah nama yang asing dalam urusan mendobrak batasan manufaktur di dunia horologi. Jenama independen ini terasa layaknya sebuah laboratorium eksklusif, di mana produkproduk yang sampai ke tangan konsumen adalah hasil eksperimen mutakhir mereka. Kali ini, Ming kembali menghadirkan sesuatu yang benar-benar eksentrik—inovasi yang diklaim sebagai yang pertama di dunia: gabungan kombinasi antara gelang dan tali jam titanium yang dicetak secara 3D. Diberi nama “Polymesh,” mahakarya ini sukses membuat takjub banyak pihak. Karya ini tersusun dari 1.693 komponen dan tautan individu dari titanium grade 5 yang saling mengunci dengan luwes tanpa menggunakan satu pun pin atau sekrup. Bahkan, bagian buckle “tang” mereka juga dicetak 3D dan terartikulasi secara otomatis dari mesin cetak tanpa memerlukan perakitan tambahan, terkecuali bagian quickrelease spring bars pada ujung tali. Dirancang untuk memeluk case Ming dengan lug berukuran 20mm, Polymesh adalah cerminan nyata dari ambisi Ming yang terus meroket. Ming juga bersikap sangat transparan mengenai pihak-pihak di balik layar yang mewujudkan visi ini. Mereka menggandeng para ahli manufaktur seperti Sisma S.p.A di Italia dan ProMotion SA di Swiss. Perlu diingat, mengolah titanium grade 5 dengan mesin konvensional saja sudah menjadi mimpi buruk bagi banyak teknisi jam tangan,

apalagi mencetaknya secara 3D menggunakan bahan dasar serbuk titanium. Tantangannya sungguh ekstrem. Ming mengungkapkan bahwa serbuk titanium yang digunakan untuk pencetakan 3D ini sangat mudah meledak, sehingga seluruh proses manufaktur harus dilakukan di dalam lingkungan inert gas environment yang aman.

Proses pembuatannya pun melibatkan ratusan lapisan sintering atau peleburan serbuk logam. Setelah bentuknya tercipta, tahap finishing tingkat tinggi mutlak diperlukan untuk menghapus garis-garis lapisan cetakan dan ketidaksempurnaan pada permukaannya. Tujuannya? Agar setiap tautan mikro tersebut dapat bergerak dan berartikulasi dengan mulus. Hasil akhirnya pun tidak main-main: jarak toleransi antar komponen individu ini mencapai tingkat presisi setipis 70 mikron.

Semuanya mengalir dengan sempurna, menciptakan efek drape atau jatuhan yang menempel di pergelangan tangan layaknya selembar kain yang terbuat dari logam. Jika Anda menjadi salah satu yang ingin merasakan langsung perpaduan antara seni dan ilmiah ini, tali jam Ming Polymesh ditawarkan dengan harga CHF 1.500 (sekitar IDR 31,8 juta). Meski saat ini hanya ditawarkan dalam ukuran 20mm, Ming tengah menyiapkan opsi ukuran 22mm untuk masa mendatang.

RESSENCE TYPE 7

Kehadiran Ressence TYPE 7 pantas untuk menyandang kata revolusioner dalam lini model yang satu ini. Dirancang sebagai tool watch paling mutakhir dari jenama ini hingga saat ini, TYPE 7 meleburkan ketangguhan sejati dengan keanggunan dan penyempurnaan modern bagi para penjelajah masa kini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, Ressence membekali mahakaryanya dengan gelang jam titanium Grade 5 yang terintegrasi penuh. Dilengkapi bagian deployant clasp yang sangat ergonomis dan memiliki lima posisi penyesuaian, jam tangan ini memastikan kenyamanan di pergelangan tangan si penggunanya. Dibalut dalam case titanium berukuran 41mm yang luar biasa tangguh, model ini hadir dalam dua varian yang memesona: edisi Night Blue yang misterius dengan bezel keramik, dan edisi terbatas XV Aquamarine yang cerah dengan bezel aluminium. Khusus untuk varian XV Aquamarine, jam ini hanya diproduksi sebanyak 80 buah di dunia untuk merayakan hari jadi Ressence yang ke-15 di kancah horologi independen.

Daya tarik utama Ressence terletak pada keajaiban visualnya, dan TYPE 7 membawa hal ini ke tingkat berikutnya melalui desain dial yang diisi dengan 2,95ml minyak pada ruang atasnya. Karena minyak dan kaca merespons pembiasan secara identik,

hal ini menciptakan ilusi optik memukau di mana indikator waktu seolah-olah diproyeksikan langsung ke permukaan tanpa adanya distorsi sama sekali. Untuk menjaga performa mekanis ketika suhu berubah ekstrem antara -5°C hingga +55°C, jam ini dilengkapi sistem bellows yang mengompensasi perubahan volume minyak secara otomatis, lengkap dengan indikator suhu berbasis kode warna yang sangat intuitif. TYPE 7 memperkenalkan fitur komplikasi penunjuk waktu GMT, yang merupakan debut pertama bagi Ressence. Mesin jamnya ditenagai oleh ROCS 7 yang dipatenkan. Tanpa menggunakan jarum konvensional, pergerakan ini mengandalkan serangkaian mikro-magnet layaknya jembatan tak kasat mata untuk mentransfer informasi melintasi membran titanium Grade 5. Tanpa adanya bagian tombol pemutar jam. pengguna dapat mengatur waktu menggunakan sistem Ressence Compression Lock System (RCLS) pada caseback yang juga menjamin ketahanan air hingga kedalaman 5 ATM atau 50m. vDilengkapi dengan Super-LumiNova Grade A biru untuk keterbacaan optimal di malam hari, TYPE 7 mewujudkan filosofi “Simplication” dari sang pendiri, Benoît Mintiens, dengan cara menanggalkan elemen yang dianggap tidak berguna demi menonjolkan esensi waktu.

IRRESISTIBLE ICONS

Tahun ini Seiko menghadirkan kemewahan King Seiko VANAC berbalut titanium dan ketangguhan Prospex edisi Arktik

Bagi para pencinta horologi, nama King Seiko selalu memiliki tempat khusus karena desainnya yang berani dan mencolok. Kali ini, Seiko membawa penggemarnya bernostalgia ke era 1970-an dengan memperkenalkan tiga kreasi titanium terbaru dalam seri King Seiko VANAC yang elegan, sebuah koleksi yang dikenal karena keberaniannya bermain dengan warna-warna cerah dan desain multifaset yang inovatif. Pada versi terbarunya ini, Seiko mempertahankan karakter casing yang tajam dan dinamis, lengkap dengan konstruksi tanpa bezel yang memberikan profil ramping namun tetap terlihat kokoh di pergelangan tangan. Penggunaan material titanium menjadi bintang utama. Dengan bobot yang 40% lebih ringan dibandingkan baja tahan karat biasa, jam tangan berdiameter 41mm ini menawarkan kenyamanan lebih bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi. Secara visual, rona gelap alami titanium memberikan kontras yang lebih dalam antara permukaan yang dipoles mengilap dan tekstur brushed, menciptakan kesan sporty yang mewah. Meski titanium sulit dipoles, Seiko sukses memadukan teknik brushed dan mirror finish yang cantik sekaligus tangguh pada jam ini.

Wajah dari koleksi ini didesain untuk mencerminkan denyut nadi kota Tokyo. Desain dial barunya menggabungkan garisgaris horizontal dan radial yang terinspirasi dari pemandangan

Penulis:
Yessar Rosendar

RONA GELAP ALAMI TITANIUM MEMBERIKAN

KONTRAS YANG LEBIH DALAM ANTARA

PERMUKAAN YANG DIPOLES MENGILAP DAN

TEKSTUR BRUSHED, MENCIPTAKAN KESAN

SPORTY YANG MEWAH

cakrawala serta sensasi berkendara di jalan tol metropolitan. Mungkin jam ini cocok bagi para petrolhead yang ingin berkendara dengan jam yang selaras dengan GR Supra atau Honda Civic Type R yang mereka kendarai. Tersedia tiga pilihan warna yang masing-masing membawa cerita berbeda yaitu warna ungu (HKF001) yang mewakili ketenangan cakrawala saat fajar menyingsing, abu-abu (HKF002) yang mencerminkan keindahan modern dari infrastruktur jalan tol perkotaan, serta hitam (HKF003) yang menangkap energi dan kecepatan saat melintasi Tokyo di malam hari.

Di balik estetika artistiknya, tersemat mesin jam terbaru dari

Seiko yaitu Caliber 8L45 yang presisi dengan akurasi +10 hingga -5 detik per hari. Cadangan daya 72 jamnya menjamin jam tetap berdetak dari Jumat malam hingga Senin pagi, sementara keindahan motif gelombang pada bridge-nya dapat diintip melalui casing belakang yang transparan. Koleksi King Seiko VANAC

Titanium ini akan tersedia mulai Juli 2026 di butik resmi dan peritel terpilih di seluruh dunia.

HALAMAN SAMPING

Tiga kreasi titanium terbaru dalam seri King Seiko VANAC yang elegan; Beban osilasi dan jembatan-jembatannya dihiasi dengan pola gelombang yang rumit, terlihat melalui bagian belakang casing jam

HALAMAN INI DARI KIRI

Pilihan dial jam King Seiko VANAC, yaitu hitam, abu-abu dan ungu; Desain VANAC orisinal dari tahun 1970-an

COLLECTOR’S CORNER

JAMSTEC (HBF002) MENAMPILKAN DIAL DENGAN POLA TEKSTUR UNIK, WARNA PUTIH KEPERAKAN PADA DIAL JAMNYA MEMBANGKITKAN CITRA BONGKAHAN ES DAN

SALJU DI SAMUDERA ARKTIK

Sementara itu, bagi para penyuka jam dengan jiwa petualang dan kolektor jam tangan penyelam, Seiko kembali menegaskan warisannya dalam eksplorasi bawah laut dengan memperkenalkan dua kreasi terbaru yang terinspirasi dari kemitraan panjangnya dengan JAMSTEC (Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology), yaitu Badan Sains dan Teknologi Kelautan-Bumi Jepang. Koleksi ini adalah sebuah penghormatan terhadap dedikasi manusia dalam mengungkap misteri samudera yang paling dalam dan ekstrem. Kisah ini dimulai pada tahun 1980-an, ketika dua jam tangan penyelam profesional Seiko diuji coba di atas Shinkai 2000, kapal selam riset berawak milik JAMSTEC, dan berhasil bertahan di kedalaman 600 meter. Kini, semangat eksplorasi tersebut dituangkan kembali dalam desain modern yang mengambil inspirasi dari kapal riset pemecah es pertama di Jepang, Mirai II.

Koleksi terbaru ini hadir dalam dua versi yang menarik. Salah satunya adalah varian edisi terbatas JAMSTEC (HBF002) yang menampilkan dial dengan pola tekstur unik. Warna putih keperakan pada dial jamnya membangkitkan citra bongkahan es dan salju di Samudera Arktik, sementara aksen biru pada jarum detik dan teks “Marinemaster” melambangkan air laut yang dingin

dan jernih. Dibuat dari baja tahan karat dengan lapisan super-hard coating, jam tangan ini memiliki diameter 42.6mm yang gagah namun tetap nyaman berkat profilnya yang ergonomis. Bagian bezel-nya dilengkapi dengan sisipan keramik yang tahan gores, memastikan ketahanan maksimal saat digunakan dalam kondisi ekstrem sekalipun.

Sebagai jam tangan penyelam sejati, koleksi ini memiliki ketahanan air hingga 300 meter. Di dalamnya juga berdetak jantung mekanis Caliber 8L45 terbaru. Indeks dan jarum jamnya juga dilapisi dengan Lumibrite yang sangat terang, menjamin keterbacaan yang baik bahkan di kegelapan total bawah laut.

Seiko Prospex Marinemaster 1968 Heritage Diver’s Watch ini akan tersedia mulai Juli 2026. Untuk varian edisi terbatas JAMSTEC (HBF002), Seiko hanya memproduksi sebanyak 1.000 unit di seluruh dunia.

HALAMAN INI

Seiko edisi terbatas JAMSTEC (HBF002) memiliki dial dengan pola tekstur unik, berdiameter 42.6mm dan pada bagian belakang jam bertuliskan “JAMSTEC LIMITED EDITION” dan nomor individual dari 1.000

AN AUTHENTIC BALINESE SANCTUARY BY THE SEA

Set on the shores of Seminyak, The Oberoi Beach Resort, Bali is a sanctuary shaped by heritage and harmony. Across expansive tropical gardens and prime beachfront setting, the spirit of Bali is expressed through timeless charm, and the warmth of genuine, attentive service. An experience that is serene, refined, and unmistakably authentic.

A NIGHT OF MULTIFORT MOMENTS

MIDO yang diwakili oleh peritel resminya di Indonesia, Watch Continent menghadirkan ajang khusus bersama dengan

Collector’s Guide-WATCHES Indonesia dan penggemar jam

Butik MIDO yang berada di jantung kota Jakarta baru saja bertransformasi menjadi panggung untuk perayaan acara horologi yang bersahabat. Peringatan tersebut berlangsung di penghujung Februari silam, saat jenama arloji asal Swiss tersebut berkolaborasi bersama Collector’s Guide-WATCHES Indonesia dalam rangka menghadirkan preview istimewa koleksi terbaru yang sudah tersedia. Event tersebut mengundang sejumlah tamu VIP yang terpilih, sehingga membuat suasana terasa personal, hangat, dan sarat apresiasi terhadap benda perwujudan seni mekanika yang presisi.

Dimulai dari pintu masuk tempat tamu menginjakkan kaki, butik MIDO yang terletak di Grand Indonesia West Mall, Level UG. 16 ini telah menyiapkan displai khusus demi menyambut tamu dengan tema terkini mulai dari fasad yang menampilkan MIDO Multifort 8 One Crown yang senada dengan tampilan televisi di sampingnya. Di atas meja etalase kaca ditampilkan lansiran jam tangan terkini, yang mencakup berbagai seri Multifort beserta seri Commander. Produk yang dipamerkan ini menjadi pusat percakapan antar kolektor dan para pencinta jam yang antusias

Penulis:
Ardhana
Utama

DI MALAM ISTIMEWA TERSEBUT SETIDAKNYA

TERDAPAT LIMA KOLEKSI UTAMA MIDO YANG

MENCURI PERHATIAN COLLECTOR’S GUIDE

WATCHES BESERTA PARA HADIRIN, ANTARA

LAIN OCEAN STAR, MULTIFORT, COMMANDER, BARONCELLI, DAN BELLUNA

untuk menyaksikannya secara lebih dekat. Beberapa dari mereka bergantian untuk mencoba jam tangan tersebut pada pergelangan tangan sambil berdiskusi mengenai keindahannya.

Multifort 8 One Crown

Sebagai produk yang tampil lebih clean dan minimalis dibanding pendahulunya, jam tangan versi satu tombol pemutar jam (crown) ini tetap membawa keunggulan yang sudah dihadirkan pada lini Multifort sejak awal. Lini ini dikenal sebagai jam tangan otomatis yang tangguh, tahan air, antimagnet, dan tahan guncangan. Kini mereka membawa DNA tersebut ke dalam desain modern dengan pendekatan yang lebih simpel dan elegan.

Multifort adalah koleksi legendaris dari MIDO yang sudah hadir sejak 1934. Kini, Multifort 8 One Crown mempunyai ciri khas utama

bezel berbentuk oktagonal yang terinspirasi dari angka delapan. Bentuk ini memberi kesan sporty dan tegas. Sesuai penamaannya, jam ini juga berbeda dari versi Two Crowns sebab jam ini hanya memiliki satu crown di posisi jam 3 yang membuat tampilannya lebih bersih, simetris, dan cocok digunakan dalam berbagai suasana. Bagian dial jam ini menampilkan pola horizontal cetak timbul yang memberikan efek tekstur dinamis saat terkena cahaya.

HALAMAN SAMPING

Tampilan maskulin pada jam tangan MIDO Multifort 8 One Crown yang mempunyai ciri khas utama bezel berbentuk oktagonal yang terinspirasi dari angka delapan

HALAMAN INI

Suasana malam perayaan acara horologi yang bersahabat di butik eksklusif MIDO di Grand Indonesia, yang dipandu Chief Editor majalah WATCHES Indonesia, Lulu Fuad, didampingi team MIDO Indonesia, dan dihadiri para penggemar jam tangan, termasuk James Gwee, seorang pebisnis, motivator, dan penulis terkenal yang berbasis di Indonesia, hingga Tom Tjokro Utomo, seorang moderator dan pembawa acara di beberapa stasiun TV dan pelatih pidato publik. Ia berfoto bersama Rudi dan Steven Cheng (CEO PT Benua Jam Internusa selaku pemilik Watch Continent)

MULTIFORT ADALAH KOLEKSI

LEGENDARIS DARI MIDO YANG SUDAH

HADIR SEJAK 1934. KINI, MULTIFORT

8 ONE CROWN MEMPUNYAI CIRI

KHAS UTAMA BEZEL BERBENTUK

OKTAGONAL YANG TERINSPIRASI DARI

ANGKA DELAPAN

Bagian indeks dan jarumnya dilapisi dengan Super-LumiNova yang membuatnya tetap mudah terbaca saat kondisi minim cahaya. Di bagian gelangnya menggunakan desain integrated bracelet berbahan stainless steel yang menyatu dengan case, menambah kesan modern dan mengikuti tren desain jam sporty masa kini.

MIDO Multifort 8 One Crown ditenagai dengan mesin otomatis Caliber 80 yang mempunyai cadangan daya hingga 80 jam, artinya jam tetap berjalan selama tiga hari lebih meski tidak digunakan. Motor ini dikenal stabil dan presisi untuk penggunaan harian. Bagian depannya menggunakan kristal safir dengan lapisan antireflektif yang membuatnya tahan terhadap goresan. Diameter casing-nya sekitar 40mm dengan ketebalan yang proporsional sehingga nyaman di pergelangan tangan. Jam ini mempunyai ketahanan air mencapai 100 meter sehingga aman untuk aktivitas sehari-hari maupun renang ringan. MIDO bangga dengan perpaduan desain unik, kualitas Swiss Made, serta movement unggul pada Multifort 8 One Crown yang menjadikanya sebuah produk komplit untuk digunakan. Produk ini unggul dari sisi fungsi, tampilan minimalis, dan karakter sporty yang menjadi elemen penyusun kelengkapan arloji modern dan tangguh, sebuah kombinasi gaya dan performa dalam satu paket elegan.

Intimate Evening

Di malam istimewa tersebut setidaknya terdapat lima koleksi utama MIDO yang mencuri perhatian Collector’s Guide Watches beserta para hadirin, antara lain Ocean Star, Multifort, Commander, Baroncelli, dan Belluna. Interaksi antara tamu, staf toko, dan watchmaker menjadi momen berharga sepanjang malam.

Para tamu berbincang mengenai finishing, mesin jam, material, hingga inspirasi desain. Format acara yang intim di butik MIDO Grand Indonesia memungkinkan tiap undangan memperoleh pengalaman personal, dari mencoba langsung koleksi terbaru, merasakan beratnya di pergelangan tangan, serta melihat detail teknis yang biasanya mudah luput dari pandangan sekilas atau gambar pada layar.

Di bagian puncak acara, MIDO yang diwakili oleh peritel resminya di Indonesia, Watch Continent menghadirkan presentasi singkat yang dipandu oleh perwakilan brand dan Chief Editor Collector’s Guide-WATCHES Indonesia dalam rangka menyelami lebih jauh tema acara malam itu. Keramaian pun bertambah saat watchmaker senior MIDO memamerkan berbagai komponen jam tangan ke hadapan para tamu. Berbagai pesan dan kesan mewarnai produk jam tangan MIDO sembari acara berlangsung. Jam tangan Multifort 8 One Crown misalnya, menjadi simbol kesederhanaan fungsional yang berpadu dengan kerumitan mesin otomatis di dalamnya. Kemudian Multifort TV Big Date S01E02 yang mengusung desain retro dan mengembalikan memori masa lampau, mendapatkan perhatian khusus saat berlangsungnya acara. Ada juga jam tangan Multifort TV Chronograph yang berkesan tangguh dan misterius berkat material stainless steel yang berlapis PVD hitam. Hal tersebut cukup berbeda dengan jam tangan seri Commander yang simpel, utilitarian, dan versatile, sehingga menghadirkan pesona yang berbeda.

Keramaian event MIDO turut diramaikan oleh pembawa acara dan media strategist Tommy Tjokro, motivator James Gwee, serta Presiden Direktur dan CEO Watch Continent, Steven Cheng yang berbaur dalam kemeriahan acara. Beberapa tamu dan penggemar jam tangan yang hadir turut memperoleh keberuntungan berkat adanya doorprize yang didukung oleh The Oberoi Beach Resort Bali dan Hotel Tentrem Jakarta. Di tengah gemerlapnya pusat kota, butik MIDO di Grand Indonesia menjadi ruang untuk memamerkan produk hasil karya seni mekanika yang memicu percakapan komunitas tentang waktu dan kepresisian. Di dalam dunia yang kian bergerak cepat ini, rupanya apresiasi terhadap detail dan craftsmanship tetap memiliki tempat istimewa.

HALAMAN SAMPING

Tom Tjokro terlihat mengenakan MIDO Multifort 8 One Crown dalam dial jam warna biru laut; Butik eksklusif MIDO di Grand Indonesia West Mall Lantai UG, Jakarta; Tampilan jam tangan MIDO Multifort 8 One Crown

HALAMAN INI DARI ATAS (KI-KA)

Theo Tjayadi, Whitney Budiman, Irni Palar dan Billy Budiman; Para tamu VIP yang beruntung mendapatkan doorprize menginap di hotel berbintang, seperti Rachel Kurniawan, Devi Sari hingga Billy Budiman; Pengacara Alfons Raditya Pohan dan istri; Lilly Septianie dan James Gwee; Djoni Heng dan Irda Zurlehaini; Cipry Tjan, Pendiri Jewels Of Eden; Oki Surya dan Vhia Laviana; Daniel Dobrev dari Kedutaan Besar Bulgaria; Dari kiri: Ardhana Utama, Jay Davies, Rudi, Steven Cheng dan Lulu Fuad; Team MIDO Indonesia membuka acara malam itu; Devi Sari

TBE BOLD

Seiko dan HUF menghidupkan kembali legenda Time Sonar dalam balutan hijau neon yang eksklusif

JAM TANGAN EDISI TERBATAS INI

MEMADUKAN WARISAN HOROLOGI JEPANG

DENGAN SEMANGAT SAN FRANCISCO MELALUI

DESAIN YANG MENGAMBIL INSPIRASI DARI

ARSIP IKONIK SEIKO TAHUN 1970-AN

Kemitraan antara Seiko dan HUF telah terjalin lama sejak tahun 2022 dan telah menghasilkan beberapa model ikonik dengan dial berwarna hitam, emas, dan perak, sehingga kehadiran model SRPM09 ini menjadi tambahan koleksi yang sangat menarik. Jam tangan edisi terbatas ini memadukan warisan horologi Jepang dengan semangat San Francisco melalui desain yang mengambil inspirasi dari arsip ikonik Seiko tahun 1970-an yang dikenal dengan julukan Time Sonar. Berbeda dengan model aslinya, edisi khusus ini hadir dengan dial semi-transparan yang diberi nama HUF

Green yang melambangkan filosofi desain HUF dan memberikan kesan eksklusif karena skema warna tersebut tidak pernah ada pada model Seiko vintage manapun sebelumnya. Logo HUF pun terpampang dengan presisi di posisi jam 6 pada dial untuk mempertegas identitas kolaboratifnya.

ahun ini para penggemar jam tangan kembali digoda dengan sebuah kolaborasi yang mempertemukan ketelitian teknik Jepang dengan liarnya budaya jalanan Amerika Serikat melalui peluncuran Seiko 5 Sports SRPM09. Seiko memperkenalkan hasil kerja sama terbaru dengan label gaya hidup HUF yang menarik perhatian para kolektor berkat dial berwarna hijau neon yang mencolok. Kolaborasi ini bukan sekadar alat penunjuk waktu, melainkan sebuah pernyataan gaya yang berakar kuat pada budaya skateboarding dan estetika jalanan yang diusung oleh HUF. Didirikan pada tahun 2002 oleh pemain skateboard profesional Keith Hufnagel, HUF berevolusi dari sebuah toko kurasi menjadi label ternama yang dikenal karena desain berani dan visi inovatif sang pendiri dalam dunia street culture

Seiko SRPM09 ditenagai oleh mesin otomatis Caliber 4R36 yang andal dengan fitur putaran manual, cadangan daya 41 jam, serta 24 jewels. Jam tangan ini dilengkapi dengan fungsi penghenti jarum detik atau hacking system serta tampilan hari dan tanggal untuk mendukung fungsionalitas harian yang maksimal. Jam berbahan stainless steel dengan diameter 39.4mm ini memiliki ketebalan 11.6mm, dan jarak antar lug sebesar 48.1mm, dibalut kaca berbahan Hardlex yang tangguh, sementara bagian jarum dan indeksnya dilapisi LumiBrite. Gelang jam menggunakan sistem three-fold clasp yang dilengkapi dengan pengunci aman dan tombol pelepas, serta memiliki lebar antar lug sebesar 20mm. Ketangguhannya didukung oleh fitur kedap air hingga 100 meter serta ketahanan magnet sebesar 4,800 A/m. Bagian belakang casing transparan menampilkan warna “HUF Green” senada dengan dial serta dihiasi grafis yang terinspirasi dari kota San Francisco. Eksklusivitas jam ini dipertegas dengan adanya grafir tulisan “LIMITED EDITION” dan nomor seri individu pada bagian belakang casing sebagai bukti kepemilikan bagi para kolektor sejati. Untuk meningkatkan eksklusivitas, boks jam stainless steel dilengkapi dengan kain mikrofiber berdesain khusus. Koleksi ini dijadwalkan mulai tersedia di pasaran pada bulan Maret tahun ini dengan jumlah hanya 7.000 unit di seluruh dunia.

Model mengenakan kalung BVLGARI Eclettica. Foto: @ Eva Wang

JEWELLERY TIME

THE ART OF EVERYTHING

Ketika patung, lukisan, dan arsitektur diterjemahkan menjadi satu bahasa perhiasan, Bvlgari Eclettica menghadirkan koleksi High Jewelry paling ambisius yang pernah mereka ciptakan

Penulis: Billy Saputra

BVLGARI MEMPERKENALKAN LEBIH DARI 150

MAHAKARYA HIGH JEWELRY, TERMASUK 15 KREASI

TRANSFORMABLE, JUMLAH TERTINGGI YANG

PERNAH MEREKA TAMPILKAN, SERTA LEBIH DARI 50

KARYA BERNILAI JUTAAN DOLAR

Sejarah Roma saat tahun 1884 adalah kota yang sedang berubah dengan cepat. Di satu sisi, pembangunan bergerak maju; di sisi lain, sejarah tetap hadir dalam setiap sudut yang tidak pernah benar-benar hilang. Di tengah perubahan itu, Sotirio Bulgari, seorang perajin perak asal Yunani, membuka tokonya di Via Sistina. Seorang pendatang dan sebuah kota yang sama-sama beradaptasi bertemu di satu titik, dan dari sanalah kiprah Bvlgari bermula. Seratus empat puluh satu tahun kemudian, Roma masih bergerak dengan cara yang sama, dan Bvlgari tetap tidak terikat pada satu gaya. Eclettica hadir dalam skala yang sulit diabaikan. Bvlgari memperkenalkan lebih dari 150 mahakarya High Jewelry, termasuk 15 kreasi transformable, jumlah tertinggi yang pernah mereka tampilkan, serta lebih dari 50 karya bernilai jutaan dolar. Di puncaknya, sembilan kreasi eksklusif bernama Capolavori, kata Italia untuk mahakarya, menjadi titik fokus dari keseluruhan koleksi ini. Skala tersebut tidak muncul tanpa arah. JeanChristophe Babin, CEO Bvlgari Group, menjelaskan bahwa, “kreasi Capolavori, bersama jumlah karya bernilai tinggi dan kreasi transformable yang luar biasa, menunjukkan seberapa jauh kami mendorong kreativitas, teknik, dan imajinasi untuk memperluas batas High Jewelry dan High-End Watchmaking.” Dalam konteks ini, Eclettica terasa lebih sebagai pernyataan sikap, dibandingkan momen peluncuran koleksi semata.

Di balik skala tersebut, ada satu konsep yang membentuk arah Eclettica: artsmanship. Istilah ini digunakan Bvlgari untuk menggambarkan pertemuan antara intuisi artistik dan penguasaan teknis yang berjalan bersamaan dalam setiap kreasi. Dalam koleksi ini, tiga pendekatan seni menjadi ruang eksplorasi utama: patung yang bermain dengan volume dan bayangan, lukisan yang menerjemahkan batu permata sebagai sapuan warna, serta arsitektur yang membangun ritme dan proporsi. Dari Seres Scarf misalnya, kalung dengan lebih dari 1.180 komponen yang mengalir

HALAMAN SAMPING

Kalung Bvlgari Eclecttica Emerald Strata High Jewellery, bertatahkan lima zamrud berbentuk kerucut dari Zambia total 26,05 karat, dan desainnya terinspirasi oleh vertikalitas arsitektur dan penjahitan seperti dasi

HALAMAN INI

Kalung Bvlgari Eclettica yang bertatahkan safir Padparadscha merah mudaoranye 26,65 karat dari Sri Lanka, zamrud, onyx, dan potongan berlian yang disusun dalam kontras geometris yang sempurna; Kalung Bvlgari Eclettica Serpenti Illusio menampilkan safir 14,01 karat; Model mengenakan gelang Bvlgari Eclettica Serpenti Infinia, bertatahkan berlian 7,49 karat, dihiasi berlian potongan brilian dan baguette yang membentuk sisik yang diukir secara individual

JEWELLERY TIME

menyerupai kain, hingga Serpenti Infinia yang membutuhkan 1.385 jam hanya untuk pemotongan berliannya, artsmanship terlihat sebagai pendekatan yang dijalankan secara konsisten. Di antara sembilan Capolavori yang menjadi puncak koleksi ini, beberapa kreasi langsung menarik perhatian melalui karakter yang berbeda. Secret Garden diciptakan di sekitar satu batu utama, padparadscha safir 26,65 karat dari Sri Lanka dengan rona merah muda-oranye yang langka, menjadi batu yang telah lama dicari oleh Lucia Silvestri. Serpenti Imperial Heart menghadirkan berlian Golconda berbobot 30,75 karat dengan kualitas D-IF, tingkat kemurnian

SECRET GARDEN DICIPTAKAN DI SEKITAR SATU

BATU UTAMA, PADPARADSCHA SAFIR 26,65

KARAT DARI SRI LANKA DENGAN RONA MERAH

MUDA-ORANYE LANGKA, MENJADI BATU YANG

TELAH LAMA DICARI OLEH LUCIA SILVESTRI

tertinggi dalam klasifikasinya, yang sebelumnya berasal dari koleksi seorang Maharaja sebelum akhirnya berada di tangan Bvlgari. Sementara itu, Eclectic Embrace mengambil inspirasi dari mosaik Kastil Sammezzano di dekat kota cantik Florence, tampil dengan komposisi geometris yang berani namun tetap bergerak lembut berkat 180 elemen modular yang dikembangkan selama lebih dari 1.000 jam pengerjaan.

Kilaunya masih berlanjut, flakon parfum Architettura, Scultura, dan Pittura yang dikerjakan oleh pengrajin Murano dengan teknik tiup mulut kuno bernama Sbruffo, sebelum kemudian diselesaikan penyusunannya di atelier High Jewelry Bvlgari di Roma dengan pilihan emas kuning, berlian, dan batu permata. Dari objek sekecil itu, pendekatan Eclettica mulai terbaca. Ia tidak berhenti pada perhiasan, bahkan sampai meluas ke tiga jam tangan High-End dengan mesin jam manufacture Piccolissimo, serta sepuluh tas High Jewelry dari kulit buaya dengan penutup perhiasan yang dapat dilepas dan dikenakan sebagai kalung atau bros. Fabrizio Buonamassa Stigliani menjabarkan arahan ini dengan mengatakan, “Eclettica memberi ruang untuk memadukan berbagai gaya melalui keahlian pembuatan jam tangan dan warisan perhiasan yang menjadi identitas Maison”. Dalam bentuknya yang paling luas, Eclettica terasa seperti sebuah sistem yang menghubungkan berbagai disiplin dalam satu bahasa yang sama.

HALAMAN SAMPING

Beragam koleksi mewah dari lini perhiasan Bvlgari Eclettica yang menghadirkan koleksi High Jewelry paling ambisius tahun ini, seperti gelang perhiasan mewah Eclettica Serpenti Spira, bertatahkan berlian potongan buah pir Fancy Vivid Yellow 5,08 karat

HALAMAN INI DARI KIRI

Anne Hathaway dan Priyanka Chopra Jonas tampil menawan dengan mengenakan satu set perhiasan mewah High Jewelry Bvlgari Eclettica; Model mengenakan kalung perhiasan High Jewelry Bvlgari Eclettica yang terinspirasi oleh keindahan kota Roma, Italia

JEWELLERY TIME

THE CUT THAT MATTERS

Mengungkap keindahan invensi potongan berlian dari

Jacob &

Co. sebagai wujud perayaan hari jadinya yang keempat puluh

Tidak banyak maison perhiasan yang merayakan hari jadi dengan sebuah penemuan. Pada tahun keempat puluhnya, Jacob & Co. memilih melakukan hal tersebut. Bukan koleksi retrospektif atau reissue dari arsip, melainkan sesuatu yang benar-benar baru: Angel Cut, potongan berlian berpaten yang dikonsepsi, dikembangkan, dan disempurnakan sepenuhnya secara mandiri selama dua tahun. Ini menjadi potongan berlian pertama yang dimiliki Jacob & Co. secara eksklusif, sebuah invensi gemologi yang lahir dari keyakinan bahwa cara berlian berinteraksi dengan cahaya masih dapat dirancang ulang, bukan sekadar ditangkap, tetapi diarahkan.

Pemilihan nama Angel Cut terisnpirasi oleh Angela, istri pendiri Jacob Arabo, sementara jumlah fasetnya, 37, mencerminkan tepat 37 tahun pernikahan mereka. Setiap faset dirancang dengan presisi, bukan semata ditambahkan demi kuantitas, melainkan diposisikan untuk menangkap dan mengembalikan cahaya dengan cara yang spesifik. “Butuh waktu dua tahun penuh untuk menyempurnakan Angel Cut,” ungkap Jacob Arabo, Pendiri dan Ketua Jacob & Co. “Kami tidak tertarik menciptakan variasi lain dari tema yang sudah ada. Itu harus menjadi penemuan sejati— sesuatu yang lebih serbaguna, lebih bercahaya, dan lebih halus. Fakta bahwa potongan ini memiliki 37 faset, bertepatan dengan 37 tahun pernikahan dengan istri saya Angela, memberikan makna yang lebih dalam bagi saya secara pribadi. Untuk ulang tahun pernikahan kami yang ke-40, kami ingin memperkenalkan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi juga sesuatu yang berjiwa.”

Penulis: Billy Saputra

Tantangan yang dipecahkan Angel Cut telah lama hadir dalam dunia gemologi. Potongan persegi panjang tradisional cenderung mempertahankan bobot batu kasar, namun sering mengorbankan kecemerlangan, sementara potongan bulat menghasilkan pantulan cahaya yang kuat dengan konsekuensi hilangnya material yang signifikan. Angel Cut dirancang untuk berdiri di antara keduanya. Inti dari pendekatannya terletak pada lozenge-shaped table yang ditempatkan dalam kerangka persegi panjang bertingkat dengan sudut terpotong. Geometri ini mengubah cara cahaya bergerak di dalam batu, bukan lagi linear atau statis, tetapi diarahkan dan dikembalikan dengan kendali yang lebih presisi, seolah cahaya tersebut mengikuti jalur yang telah ditentukan. Hasilnya adalah berlian yang bercahaya tanpa terasa agresif, tajam tanpa kehilangan kedalaman, dan tetap hidup bahkan dalam struktur jam tangan yang paling kompleks.

Ekspresi pertama Angel Cut tidak hadir dalam bentuk cincin atau kalung, melainkan dalam sebuah jam tangan. Billionaire Double Tourbillon Angel Cut menjadi karya pertama yang disematkan potongan berlian ini. Jam tangan mewah yang diproduksi dalam edisi terbatas 18 buah ini mengusung case emas putih 18 karat berukuran 54 × 41 mm yang dihiasi 98 berlian Angel Cut dengan total bobot 51,13 karat, proporsi yang lebih lazim ditemukan pada berlian pameran daripada pada jam tangan. Pelat jam melanjutkan arsitektur cahaya tersebut melalui 88 berlian Angel Cut tambahan, dipadukan dengan 80 berlian baguette yang membingkai dua apertur tourbillon secara simetris, menciptakan permukaan yang terus berubah saat menangkap cahaya dari setiap sudut. Secara keseluruhan, jam tangan ini menyematkan 298 berlian putih dengan total sekitar 79 karat.

EKSPRESI PERTAMA ANGEL CUT TIDAK

HADIR DALAM BENTUK CINCIN ATAU

KALUNG, MELAINKAN DALAM SEBUAH

JAM TANGAN, YAITU BILLIONAIRE DOUBLE

TOURBILLON ANGEL CUT

Di balik permukaan yang sepenuhnya diselimuti berlian, caliber JCAM50 bekerja dengan logikanya sendiri. Mesin jam handwound ini terdiri dari 460 komponen dengan cadangan daya 72 jam, serta berdetak pada frekuensi 3 Hz. Karakternya ditentukan oleh dua flying tourbillon yang ditempatkan pada posisi pukul 12 dan 6, menciptakan simetri mekanis yang secara sadar berdialog dengan simetri optis pada pelat jam. Ini bukan sekadar keputusan tata letak. Dua tourbillon di dua kutub berlawanan menghadirkan keseimbangan visual yang sepenuhnya terasa ketika dipahami bahwa setiap elemen dalam jam tangan ini, baik cahaya maupun gerak, dirancang untuk saling merespons. Melalui caseback safir, arsitektur mesin jam yang terskeletonisasi terbaca sebagai lapisan kedalaman kedua, menghadirkan dimensi yang tidak langsung terlihat dari permukaan depannya. Dengan Angel Cut, yang berubah bukan hanya cara Jacob & Co. menyematkan berlian, melainkan posisi mereka di dalam industri itu sendiri. Selama empat dekade, mereka dikenal sebagai pengguna potongan berlian terbaik yang tersedia.

HALAMAN SAMPING DARI KIRI

Jam tangan Jacob & Co. Billionaire Double Tourbillon Angel Cut; Jacob Arabo, Pendiri merek Jacob & Co. menunjukkan berlian Angel Cut dengan jumlah faset 37

HALAMAN INI

Jam tangan Jacob & Co. Billionaire Double Tourbillon Angel Cut yang ditenagai mesin caliber JCAM50 ini mengusung case dari emas putih 18 karat berukuran 54 × 41 mm, yang dihiasi 98 berlian Angel Cut dengan bobot 51,13 karat, dan terdapat 298 berlian putih dengan total sekitar 79 karat yang menghiasi permukaan jam mewah ini

HKTDC

TWIN JEWELLERY SHOWS 2026

Ajang pameran perhiasan satu atap terbesar di dunia yang sukses menarik hingga 80.000 pembeli, dengan pertumbuhan pembeli dari ASEAN, Korea, dan sekitarnya

Hong Kong International Jewellery Show ke-42 dan Hong Kong International Diamond, Gem & Pearl Show ke-12 yang digelar pada bulan Maret 2026, berhasil meraih sukses gemilang, dan semakin menegaskan posisi Hong Kong sebagai pusat gravitasi industri perhiasan dunia, dengan menghadirkan bahan mentah, mahakarya pengerjaan, hingga desain mutakhir dalam satu platform terpadu. Dalam industri yang identik dengan kilau, presisi, dan warisan budaya, hanya sedikit ajang yang mampu merangkum keseluruhan ekosistem perhiasan global seperti HKTDC Twin Jewellery Shows, yang sukses memanfaatkan peran Hong Kong sebagai penghubung super dan penambah nilai super untuk membantu peserta pameran memperluas peluang bisnis global.

Mengusung konsep “Dua Pameran, Dua Tempat” (two shows, two venues), kedua pameran ini sukses bersama-sama menarik hingga 80.000 pembeli dari 150 negara dan wilayah, dan menawarkan perjalanan menyeluruh dalam rantai nilai industri. Di AsiaWorld-Expo, Diamond, Gem & Pearl Show menampilkan keindahan dasar perhiasan, mulai dari berlian lepas, batu permata berwarna, dan mutiara berkualitas tinggi dari berbagai penjuru dunia. Sementara, Hong Kong Convention and Exhibition Centre menjadi tuan rumah International Jewellery Show, tempat di mana material tersebut bertransformasi menjadi karya jadi, mulai dari perhiasan mewah hingga koleksi desainer kontemporer.

Kekuatan utama Twin Shows bukan hanya pada skalanya, tetapi pada sinerginya. Para pembeli dapat mencari bahan, mengevaluasi

DALAM INDUSTRI YANG IDENTIK DENGAN

KILAU, PRESISI, DAN WARISAN BUDAYA, HANYA SEDIKIT AJANG YANG MAMPU

MERANGKUM KESELURUHAN EKOSISTEM

PERHIASAN GLOBAL SEPERTI HKTDC TWIN

JEWELLERY SHOWS

kualitas, menjalin kesepakatan, lalu langsung menyaksikan bagaimana bahan tersebut diwujudkan menjadi karya seni yang dapat dikenakan. Struktur ini mencerminkan kebutuhan industri modern: efisiensi, transparansi, dan integrasi.

Edisi tahun ini mengusung tema “Fusion of Dazzling Beauty,” yang merepresentasikan lanskap perhiasan masa kini. Tradisi dan teknologi tidak lagi berjalan berseberangan, melainkan saling melengkapi. Teknik pengerjaan klasik berpadu dengan inovasi digital, sementara merek-merek legendaris berbagi ruang dengan desainer baru yang mendefinisikan ulang estetika generasi berikutnya. Zona khusus seperti Hall of Extraordinary dan Designer Jewellery Galleria menjadi panggung bagi pertemuan antara warisan dan eksperimen kreatif. Tak kalah penting, terdapat penekanan pada pasar Asia, khususnya kebangkitan kembali

HALAMAN SAMPING

Anthony Lam, Ketua Federasi Industri Hong Kong (baris depan, tengah); Bernard Chan, Wakil Sekretaris Perdagangan dan Pembangunan Ekonomi (baris depan, kelima dari kanan); Sophia Chong, Direktur Eksekutif HKTDC (baris depan, kelima dari kiri); Kent Wong, Ketua Komite Penyelenggara Pameran HKTDC (baris depan, keempat dari kanan); Winston Chow, Ketua Komite Penasihat Perhiasan HKTDC (baris depan, keempat dari kiri), dan tamu kehormatan lainnya menghadiri resepsi sekaligus kesempatan berjejaring

HALAMAN INI DARI ATAS

Pameran ini dihadiri oleh lebih dari 80,000 pengunjung, dan 4.000 peserta pameran dari lebih dari 40 negara dan wilayah; Tas tangan dari mutiara yang mewah, karya Royal Pearl HK; Douyin dari Tiongkok Daratan berpartisipasi dalam pameran ini untuk pertama kalinya; Peragaan busana perhiasan menyoroti desain-desain kreatif terbaru, membina koneksi di seluruh industri

perhiasan emas. Kehadiran zona khusus emas mencerminkan perubahan preferensi konsumen sekaligus relevansi budaya emas yang tetap kuat di kawasan ini. Lebih dari sekadar pameran, Twin Shows juga menjadi ruang dialog. Seminar dan forum membahas isu-isu krusial seperti keberlanjutan, transparansi rantai pasok, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam desain dan ritel. Diskusi tidak lagi berhenti pada estetika, tetapi meluas ke cara perhiasan diproduksi, dipasarkan, dan dimaknai.

Pidato Anggaran terbaru pemerintah menyoroti rencana untuk memperkuat status Hong Kong sebagai pasar perdagangan emas internasional yang diharapkan akan membawa momentum baru bagi permintaan emas di pasar perhiasan. Menambah kegembiraan,

World Gold Council memimpin 10 peserta pameran dari Tiongkok

Daratan untuk pertama kalinya meluncurkan Hard Pure Gold Pavilion di pameran tahun ini, yang terbukti menjadi salah satu sorotan utama pameran. CEO Regional Roland Wang menjelaskan: “Pameran Perhiasan Internasional Hong Kong telah berperan penting dalam membantu produsen emas Tiongkok terhubung dengan pembeli internasional dan memperluas jangkauan pasar mereka. Kami telah menerima sejumlah besar pesanan hanya dalam tiga hari pertama. Fokus kami saat ini adalah mengembangkan pasar di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan India, di mana minat terhadap produk emas murni keras terus meningkat. Perhiasan emas murni keras yang lebih terjangkau dan ringan terbukti sangat menarik bagi konsumen kelas menengah yang lebih muda.”

EDISI TAHUN INI MENGUSUNG TEMA “FUSION OF DAZZLING BEAUTY,” YANG MEREPRESENTASIKAN LANSKAP PERHIASAN MASA KINI. TRADISI DAN TEKNOLOGI TIDAK LAGI BERJALAN BERSEBERANGAN, MELAINKAN SALING MELENGKAPI

Pasar perhiasan terpadu dunia ini sangat dihargai oleh para profesional industri di seluruh dunia, dengan para pembeli menunjukkan niat pembelian yang kuat. Penjualan di pameran tahun ini melebihi ekspektasi bagi banyak peserta pameran. Youngeun Kim, pendiri Soyou, peserta pameran Korea, mengaku: “Melalui platform perdagangan perhiasan terbesar di dunia, kami telah berhasil terhubung dengan calon pembeli dari Tiongkok Daratan, Afrika, dan Inggris, dan memperkirakan penjualan kami akan tumbuh sebesar 30% dibandingkan tahun lalu.” Pameran ini juga menyelenggarakan tiga kompetisi desain: Kompetisi Desain Perhiasan Hong Kong ke-27, Kompetisi Desain Perhiasan Chuk Kam Mode Internasional Hong Kong, dan Kompetisi Desain Perhiasan Fei Cui Internasional perdana. Upacara penghargaan diadakan di lokasi, dengan karya-karya pemenang dipajang di seluruh tempat, menawarkan pembeli kesempatan pertama untuk melihat karya kreatif terbaru. bekerja sambil mendorong hubungan yang lebih erat antara desainer dan produsen perhiasan. Pada akhirnya, HKTDC Twin Jewellery Shows bukan sekadar ajang

perdagangan, melainkan cerminan arah industri. Di sinilah tren tidak hanya ditampilkan, tetapi juga dibentuk. Saat pintu dibuka pada Maret 2026, satu hal menjadi jelas: masa depan perhiasan sedang dipresentasikan dan didefinisikan di sini.

HALAMAN SAMPING

Model mengenakan satu set perhiasan mewah dari ARAYIAN Fine Jewellery; Berbagai batu permata mewah dari ARAYIAN Fine Jewellery; Gelang Black Zebra Bangle dari desainer Hong Kong, Austy Lee yang unik; Jam tangan berlian dari PRESENT Watch & Jewelry yang terinspirasi dari mahakarya Dinasti Song Utara “Ode untuk Teratai”

HALAMAN INI DARI KIRI ATAS

Lebih dari 4.000 peserta pameran meramaikan pameran tahun ini; Para model mengenakan perhiasan mewah dalam konferensi pers yang diselenggarakan oleh HKTDC; Artis Hera Chan mengenakan satu set perhiasan giok alami Myanmar dari On Tung Company; Jenny Koo (baris depan, ketiga dari kiri) berfoto bersama anggota panitia penyelenggara HKTDC Hong Kong International Jewellery Show dan Hong Kong International Diamond, Gem and Pearl Show, serta didampingi oleh tamu selebriti; Berbagai batu permata mewah dan mutiara dipamerkan di ajang ini

HAUTE HORLOGERIE & LEGENDARY JACKET

Dengan repertoar barang mewah yang begitu kaya, desain Hermès selalu unik, seperti dial buatan tangan yang indah yang terinspirasi oleh syal sutra berwarna-warni

Koleksi Hermès Slim d’Hermès Neo Brandebourgs dari lini Slim d’Hermès terbaru ini tampil elegan dan minimalis, dan untuk pertama kalinya dilengkapi dengan regulator tourbillon, dan dial buatan tangan yang rumit yang menggambarkan jaket berkuda futuristik yang terinspirasi oleh perlengkapan militer abad ke-19 karya Caty Latham pada tahun 1972 untuk syal Hermès. Diinterpretasikan ulang oleh desainer Jepang Daiske Nomura, jam tangan terbaru ini memberikan sentuhan futuristik pada jaket militer, diukir dengan tangan dan dihiasi dengan lukisan miniatur. Syal sutra Brandebourgs asli karya Caty Latham sendiri terinspirasi oleh sebuah buku tentang

seragam abad ke-19 milik Émile Hermès, dan menggambarkan jaket militer yang berornamen dengan jalinan dan hiasan mewah (brandebourg merujuk pada jalinan ornamen dan kancing kodok yang digunakan dalam pakaian militer bersejarah). Koleksi ini mengusung interpretasi berani yang diimpikan oleh desainer dan ilustrator Jepang Daiske Nomura, yang membayangkan jaket tersebut sebagai “perisai penunggang kuda masa depan”.

Kedua versi jam tangan ini mengusung casing platinum murni dan minimalis yang menjadi ciri khas Slim d’Hermès dengan diameter 39,5mm dan profil ramping. Pada dial di posisi pukul 7,

MENGUSUNG INTERPRETASI BERANI YANG DIIMPIKAN OLEH

DESAINER DAN ILUSTRATOR JEPANG DAISKE NOMURA, YANG

MEMBAYANGKAN JAKET TERSEBUT SEBAGAI “PERISAI PENUNGGANG

KUDA MASA DEPAN”

terletak sangkar yang melindungi tourbillon dan menampilkan dua huruf “H” yang saling terkait yang muncul di lift toko Hermès di 24 Faubourg Saint-Honoré di Paris. Fitur-fitur jaket yang sangat detail diukir dan dilukis dengan tangan. Menggunakan pahat, pengukir melubangi area dial dasar untuk menciptakan kontur dan relief baju zirah berkuda. Dengan menggunakan teknik lukisan miniatur, warna-warna yang berbeda menghidupkan ornamen tersebut. Kedua versi memiliki latar belakang gelap bertekstur dan dasar bertekstur krem untuk jaketnya. Namun, salah satunya menampilkan palet warna yang lebih cerah dengan nuansa hijau neon dan biru, sementara yang kedua memiliki kombinasi warna yang sedikit lebih kalem, yaitu cokelat, biru muda, dan kuning tua. Jam tangan indah ini ditenagai oleh mesin otomatis

mikro-rotor H1950T yang tipis, yang dikembangkan oleh Vaucher

Manufacture di Fleurier dan dilengkapi dengan regulator tourbillon yang berdetak pada frekuensi 3Hz. Dengan cadangan daya 48 jam, tampilan dari bagian belakang casing kristal safir memperlihatkan mikro-rotor dan jembatan yang dihiasi dengan logo “H” khas Hermès. Diproduksi terbatas, masing-masing hanya 24 buah dan dipasangkan dengan tali kulit buaya di dalam kotak platinum mewah, jam ini ditawarkan dengan harga senilai EUR 130,000 (sekitar IDR 2,5 milyar).

HALAMAN SAMPING

Jam tangan Slim dHermes Neo Brandebourgs. Foto: @Anita Schlaefli

HALAMAN INI

Versi palet warna yang lebih cerah dengan nuansa hijau neon dan biru; Detil pada dial buatan tangan yang rumit yang menggambarkan jaket berkuda futuristik yang terinspirasi oleh perlengkapan militer abad ke-19 karya

Caty Latham. Foto: @David Marchon

IT’S TIME TO PLAY

Novak Djokovic terus mencetak kemenangannya, Hublot pun tidak berhenti mencatatnya

Penulis: Billy Saputra

UNTUK MENCAPAI VOLUME YANG

DIBUTUHKAN, DIGUNAKAN 12 POLO BIRU, 4

ORANYE, DAN 2 HIJAU, SERTA 12 RAKET UNTUK

KESELURUHAN SERI. HASILNYA ADALAH

MATERIAL BERTEKSTUR MARMER YANG TERASA

RINGAN NAMUN TETAP SOLID

Angka 101 memiliki makna tersendiri dalam dunia tenis profesional. Bilangan tersebut menandai sesuatu yang belum pernah diraih oleh siapa pun sebelumnya. Novak Djokovic meraih kemenangan turnamen profesional ke-101 pada November tahun lalu, melengkapi perjalanan karier yang telah mencakup 24 gelar Grand Slam, medali emas Olimpiade Paris 2024, serta 428 minggu sebagai petenis nomor satu dunia, dan menjadikannya rekor terpanjang dalam sejarah. Ia juga menutup musim sebagai peringkat pertama dunia sebanyak delapan kali, pencapaian lain yang hingga kini belum terlampaui. Hublot, yang telah mendampingi perjalanan Novak selama bertahuntahun, merespons momen ini bukan hanya lewat satu jam tangan perayaan, melainkan sebuah trilogi: Big Bang Tourbillon Novak Djokovic GOAT Edition.

Tiga jam tangan hadir dalam warna yang merujuk pada tiga permukaan lapangan tenis, dengan jumlah produksi yang mengikuti jumlah kemenangan Novak di masing-masing permukaan. Biru untuk hard court sebanyak 72 unit, oranye untuk clay dengan 21 unit, dan hijau untuk rumput dengan hanya 8 unit, menjadikannya yang paling langka di antara ketiganya. Totalnya 101 jam tangan, satu untuk setiap kemenangan.

Cara Hublot membangun case berdiameter 44 mm ini berangkat dari pendekatan yang tidak konvensional. Material utamanya adalah komposit eksklusif yang dikembangkan sendiri, dibuat dari polo Lacoste dan raket Head yang benarbenar digunakan. Untuk mencapai volume yang dibutuhkan, digunakan 12 polo biru, 4 oranye, dan 2 hijau, serta 12 raket untuk keseluruhan seri. Bagian tengah case menggunakan material Titaplast, sebuah polimer berperforma tinggi dengan karakter mekanis yang mendekati titanium namun dengan bobot yang lebih ringan. Detail yang paling tidak terduga hadir pada enam sekrup lingkaran bezel yang dibentuk menyerupai bola tenis, hingga mendorong Hublot merancang obeng khusus berbentuk S yang belum pernah digunakan sebelumnya. Di balik safir kristal yang melapisi permukaannya, mesin jam kaliber MHUB6035 Automatic Tourbillon menampilkan pendekatan yang sama tidak lazimnya. Komponen mainplate yang biasanya berbentuk lempeng solid digantikan oleh struktur kisi tiga dimensi yang menyerupai senar raket tenis. Setiap “senar” hanya setebal 0,55 mm, dan meskipun tampak seperti rangkaian benang yang dianyam satu per satu, seluruhnya terbentuk dari satu kepingan tunggal melalui proses pengukiran laser berpresisi tinggi, kemudian dilapisi PVD hitam setebal beberapa mikron, dengan logo pribadi Novak “ND1” dicetak putih di atasnya. Barrel yang menyimpan cadangan daya 72 jam dirancang menyerupai bola tenis, sementara tourbillon cage aluminium diselaraskan warnanya dengan case

Pada area caseback-nya, terdapat ukiran “Greatest of All Time” yang difinishing dengan lak putih, berdampingan dengan nomor edisi masing-masing unit. Novak sendiri merespons pencapaian ini dengan nada yang lebih reflektif: “Sebagai seorang anak, aku bermimpi memenangkan Grand Slam. Aku tidak pernah membayangkan memenangkan 24 Grand Slam dan lebih dari 100 turnamen profesional. Mencapai rekor melampaui mimpimimpiku hanya mungkin dengan dukungan keluarga, tim, dan penggemar saya.” Ia kemudian menambahkan, “Siapa tahu, mungkin akan ada lebih banyak jam tangan yang ditambahkan ke koleksi ini,” sebuah kemungkinan yang, seperti trilogi ini sendiri, tetap terbuka.

HALAMAN SAMPING

Novak Djokovic mengenakan HUBLOT Big Bang Tourbillon Novak Djokovic GOAT Edition

HALAMAN INI

Detail tampilan jam tangan HUBLOT Big Bang Tourbillon Novak Djokovic GOAT Edition, dengan bagian tengah case menggunakan material Titaplast, polimer berperforma tinggi dan tangguh

FASHION FORWARD

ABOVE THE LINE

Adrien Saddier, Speake Marin dan koleksi terbaru yang terinspirasi dari batas tak kasat mata antara bumi dan antariksa

Adrien Saddier kini tampil di lapangan-lapangan paling bergengsi dunia dengan jam tangan Speake Marin di pergelangan tangannya. Pegolf Prancis berusia 33 tahun ini telah menghabiskan lebih dari satu dekade di DP World Tour sebelum musim 2025 menjadi titik balik penting dalam perjalanan kariernya, dengan satu gelar dan lima finis di sepuluh besar yang membawanya menembus PGA Tour. Momentum itu berlanjut di awal 2026 melalui penampilan yang konsisten di

Hawaii dan California. Pada Februari 2026, Speake Marin resmi menunjuknya sebagai duta jenama, sebuah langkah yang sejalan dengan karakter manufaktur independen asal Jenewa tersebut, yang dikenal menggabungkan keahlian Swiss dengan pendekatan estetika Inggris. Hubungan antara keduanya tidak dibangun dari citra semata, melainkan dari cara kerja yang serupa. Golf menuntut kontrol gerakan yang presisi dalam hitungan detik, sementara pembuatan jam tangan mengandalkan ketelitian yang sama dalam

Penulis: Billy
Saputra

SADDIER BERUJAR, “MENGENAKAN RIPPLES

SKELETON ATAU DUAL TIME PINK DI LAPANGAN

ADALAH CARA MERAYAKAN WAKTU DENGAN

KEISTIMEWAAN YANG SESUNGGUHNYA”

skala yang jauh lebih kecil. Kesamaan ini menjadi dasar kemitraan tersebut. Saddier berujar, “Mengenakan Ripples Skeleton atau Dual Time Pink di lapangan adalah cara merayakan waktu dengan keistimewaan yang sesungguhnya.”

Ripples Kármán Line, koleksi terbaru Speake Marin yang baru saja diperkenalkan di Watches and Wonders tahun ini mengambil inspirasi dari Garis Kármán, batas tak kasat mata antara atmosfer bumi dan luar angkasa yang berada sekitar 100 kilometer di atas permukaan laut. Alih-alih menerjemahkannya secara harfiah, Speake Marin menangkap momen peralihannya ketika langit biru mulai memudar menuju gelap, dan sensasi gravitasi perlahan berubah. Ide ini diterjemahkan ke dalam desain yang terasa ringan namun tetap terstruktur. Case berdiameter 40,30 mm dari baja 904L dengan ketebalan hanya 6,30 mm dirancang untuk meluncur di bawah manset, dengan profil tipis yang tidak mengorbankan kehadiran visualnya. Yang paling menarik perhatian adalah pelat jam safirnya, sebuah solusi teknis yang kompleks dan untuk pertama kalinya hadir dalam koleksi Ripples. Basis safir ini menampilkan motif Côtes de Genève dan efek pancaran sinar matahari yang dipadukan dengan reaksi metalasi biru, sementara lapisan galvanis berlapis rhodium menegaskan cincin di sekitar subdial detik kecil pada posisi pukul 1:30. Jarum jam berbentuk hati, sebuah penghormatan pada akar Inggris Speake Marin yang terinspirasi dari Big Ben, melengkapi komposisi dengan sentuhan yang lebih personal. Hasilnya adalah pelat jam yang terasa ringan dan terbuka, dengan kedalaman visual yang mengingatkan pada langit yang perlahan berubah menuju kegelapan.

Di balik tampilannya, kaliber SMA06 bekerja sebagai mesin jam ultra-tipis yang dikembangkan sepenuhnya secara mandiri di atelier Le Cercle des Horlogers, La Chaux-de-Fonds. Dengan ketebalan hanya 2,5 mm dan frekuensi 5 Hz atau 36.000 vph,

pergerakannya terasa lebih stabil dengan sapuan jarum detik yang halus. Rotor mikro tungsten yang terintegrasi dihias dengan pengukiran laser eksklusif, memadukan teknik finis rhodium dan pelapisan permukaan dengan PVD biru yang secara visual menyambung dengan pelat jam di atasnya. Cadangan daya minimum 52 jam melengkapi profil ini. Ripples Kármán Line dijadwalkan tersedia mulai Mei 2026, dengan harga CHF 33.900 (sekitar IDR 722 juta) sebelum pajak.

HALAMAN SAMPING

Duta Merek Speake Marin, pegolf Prancis Adrien Saddier

HALAMAN INI

Adrien Saddier; Ripples Kármán Line, koleksi terbaru Speake Marin yang mengambil inspirasi dari Garis Kármán, ditenagai mesin jam kaliber SMA06

FASHION FORWARD

THE QUIET RETURN

Lewat dua perilisan jam tangan terbaru, Dennison kembali hadir melestarikan kisahnya sebagai salah satu jenama paling berpengaruh

di dunia jam tangan

DDennison x Collectability

ennison bukan nama yang sering muncul di pelat jam, namun perannya dalam sejarah jam tangan tidak bisa diabaikan. Didirikan pada 1874, perusahaan AngloAmerika ini selama hampir satu abad memproduksi case untuk sejumlah nama besar seperti Rolex, Omega, dan Jaeger-LeCoultre, bekerja dari balik layar sebelum akhirnya menghilang dari peredaran. Kembalinya Dennison Watch Company belakangan ini tidak berangkat dari nostalgia semata. Dengan Emmanuel Gueit, desainer Swiss di balik Royal Oak Offshore dan Rolex 1908, sebagai kekuatan kreatifnya, arah baru mulai terbentuk. Dua perilisan jam tangan terbaru mereka memperlihatkan pendekatan tersebut dari dua sisi, satu mengeksplorasi cara cahaya bermain di atas permukaan, sementara yang lain berangkat dari ketertarikan pada bahasa desain lawas.

John Reardon adalah salah satu figur yang memiliki pengaruh besar dalam dunia kolektor Patek Philippe. Sebagai mantan International Head of Watches di Christie’s dan pendiri Collectability, pandangannya sering menjadi rujukan bagi banyak kolektor. Sebelum terlibat dengan Dennison, ia tidak pernah mengaitkan namanya dengan proyek jam tangan lain. Pertemuan dengan Stéphane Cheikh, Director Dennison, terjadi saat Geneva Auctions Week, di mana keduanya berbagi ketertarikan pada desain case yang berani dan pelat jam yang memiliki karakter visual kuat. Reardon bahkan membeli jam tangan A.L.D. untuk dirinya sendiri dan untuk setiap anaknya sebelum kolaborasi ini terwujud. Ia menggambarkan hasilnya sebagai, “Kolaborasi ini memecah kebiasaan, menawarkan desain dan harga yang menjadikan jam tangan sempurna bukan sebuah aspirasi masa depan, melainkan kenyataan saat ini.”

SAAT JAM TANGAN BERGERAK, WARNA YANG MUNCUL IKUT BERGESER, TERASA

LEBIH DALAM DI SATU MOMEN DAN LEBIH RINGAN DI MOMEN BERIKUTNYA, TANPA PERNAH BENAR-BENAR MENINGGALKAN SATU SPEKTRUM YANG SAMA

Dari pertemuan tersebut lahirlah jam tangan edisi terbatas yang terinspirasi langsung dari salah satu model favorit Reardon dalam koleksi pribadinya. Dennison x Collectability menghadirkan pelat jam berefek pancaran sinar matahari dua nada dengan bahasa desain yang merujuk pada era 1960-an dan 1970-an, tetap berada dalam kerangka estetika koleksi A.L.D. rancangan Emmanuel Gueit. Case cushion berukuran 37 x 33,65 mm dengan ketebalan 6,05 mm tersedia dalam baja nirkarat dan lapisan PVD emas, dipadukan dengan temali kulit bespoke selebar 20 mm. Stéphane Cheikh merangkum kolaborasi ini sebagai, “Kami sangat senang kolaborasi pertama Dennison adalah dengan Collectability, para pakar dunia jam tangan yang tidak hanya memahami warisan kaya kami, tetapi juga merangkul semangat baru jenama ini.”.

Dennison Ald Dual Time “Shades” Dial ALD Dual Time “Shades” Dial adalah jam tangan yang berubah dalam cara yang subtil. Pelat jamnya dibangun dari kombinasi sentuhan akhir berefek sapuan vertikal dan horizontal yang memantulkan serta menyerap cahaya secara berbeda di setiap sudut. Saat jam tangan bergerak, warna yang muncul ikut bergeser, terasa lebih dalam di satu momen dan lebih ringan di momen berikutnya, tanpa pernah benar-benar meninggalkan satu spektrum yang sama. Pendekatan ini bukan sekadar gradasi atau efek memudar. Emmanuel Gueit menggambarkannya sebagai interaksi terkontrol antara finis dan cahaya. Koleksi “Shades” hadir

dalam tiga warna, hijau dengan nuansa yang bergerak antara kedalaman dan highlight terang, biru yang berubah dari rona pekat ke lebih lembut, serta cokelat hangat yang memperlihatkan lapisan warna dari perunggu hingga tembakau.

Perilisan ini juga membawa dua pembaruan penting. Untuk pertama kalinya, Dennison menyematkan indeks pada pelat jam, memadukan angka Romawi dengan bentuk yang terinspirasi Art Deco, menciptakan pertemuan antara kode klasik dan bahasa desain modernis awal. Di saat yang sama, diperkenalkan Pebble Link Bracelet dalam baja nirkarat, dengan setiap link yang mengambil bentuk organik batu kali yang dipoles, menghasilkan jatuh yang natural di pergelangan tangan serta gesper tersembunyi yang menjaga garis tetap utuh. Case berukuran 37 x 35,6 mm dengan ketebalan 6,1 mm mengakomodasi komplikasi dua zona waktu yang tetap menjadi inti jam tangan ini.

HALAMAN SAMPING

Koleksi Dennison x Collectability yang sederhana dan elegan, dalam versi perak dan emas; Ketiga jenius dibalik merek Dennison Watch Company, dari kiri: Emmanuel Gueit, John Reardon dan Stephane Cheikh

HALAMAN INI

Dennison Ald Dual Time “Shades” Dial hadir dalam tiga warna, hijau, biru, serta cokelat hangat

THE NATURE OF TIME

Ketika pelat jam tangan mewah menjadi inspirasi bagi tiga seniman Jepang di distrik Brera, Milan, Italia

Grand Seiko menghadirkan pameran bertajuk “The Nature of Time” dalam rangka Milan Design Week 2026, berlangsung dari 21 hingga 26 April di Galleria d’Arte Moderna “Il Castello” di Via Brera 16. Lokasi ini berada di jantung distrik Brera, kawasan seni dan desain yang setiap tahunnya menjadi pusat aktivitas Fuorisalone. Sejak 2023, Grand Seiko juga memegang peran sebagai Official Timekeeper untuk Milan Design Week dan Brera Design Week. Untuk edisi tahun ini, produser Toshiki Kiriyama dari TRUNK LTD. mengkurasi kolaborasi dengan tiga kreator Jepang, desainer interior Atsushi Shindo, seniman washi Takakuni Kawahara, serta sineas dan CG Director Shingo Abe. Desain spasial pameran ditangani oleh Hikaru Mori. Nama pameran ini berangkat dari cara Grand Seiko memahami kata “nature,” yang tidak hanya sebagai alam, tetapi juga sebagai esensi dari waktu itu sendiri. Dalam tradisi Jepang, hubungan antara waktu dan lingkungan telah lama dipandang sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan, sebuah pendekatan yang kemudian diterjemahkan Grand Seiko ke dalam proses pembuatan jam tangan, mulai dari motif pelat jam hingga teknik penyelesaian yang merujuk pada fenomena alam. Pendekatan ini kemudian diperluas oleh tiga seniman yang terlibat dalam

Penulis: Billy Saputra

IA MENGAMBIL INSPIRASI DARI MOTIF

PELAT JAM GRAND SEIKO YANG SUDAH

DIKENAL, SEPERTI CHERRY BLOSSOMS, SNOWFLAKE, ICE FOREST, LAKE SUWA, DAN WHITE BIRCH. MELALUI SERAT

KERTAS YANG DIOLAH DENGAN PRESISI

pameran. Atsushi Shindo mengeksplorasi ruang melalui konsep “Cultivating Atmospheres,” Takakuni Kawahara membawa praktik washi tradisional dari Toyama ke dalam medium kontemporer, sementara Shingo Abe mengembangkan narasi visual melalui komputer grafis dan film.

Instalasi pertama, “PULSE OF TIME,” merupakan karya Atsushi Shindo yang mengambil titik berangkat dari dunia kecil di dalam pelat jam. Cahaya yang biasanya terbiaskan di permukaan pelat diperbesar menjadi pengalaman ruang berskala penuh. Ratusan denyut cahaya bergerak, meredup, lalu muncul kembali secara perlahan, membentuk irama visual yang menyerupai pergantian musim dan siklus hari. Instalasi kedua, “aurora,” diciptakan oleh Takakuni Kawahara menggunakan kertas washi yang dibuat dengan gradasi halus dan variasi ketebalan serat. Teknik ini menghasilkan permukaan yang merespons cahaya secara berbeda di setiap sudut, sehingga lembaran washi tampak hidup dan berubah layaknya perluasan aurora yang tenang. Kedua karya ini menerjemahkan waktu menjadi sesuatu yang bisa dirasakan secara fisik oleh pengunjung.

Kawahara memperluas pendekatannya melalui karya kedua berjudul “Utsuroi,” sebuah seri yang menggunakan washi untuk menerjemahkan perubahan-perubahan halus di alam. Ia mengambil inspirasi dari motif pelat jam Grand Seiko yang sudah dikenal, seperti Cherry Blossoms, Snowflake, Ice Forest, Lake Suwa, dan White Birch. Melalui serat kertas yang diolah dengan presisi, ia menghadirkan keseimbangan antara permukaan yang tenang dan gerak yang hampir tak terlihat, sehingga momen yang berlangsung

singkat dapat tertangkap sebagai lapisan-lapisan kesan waktu.

Di sisi lain, Shingo Abe menyajikan film berjudul “story,” yang memvisualisasikan kelopak bunga yang jatuh, salju yang perlahan menumpuk, angin yang bergerak, dan bayangan yang berubah di antara pepohonan. Abe memulai dari tekstur pelat jam sebagai titik awal, lalu mengembangkannya menjadi lanskap visual baru, medium di mana cahaya dan bayangan saling berinteraksi.

Pameran ini juga menampilkan dua model signature Grand Seiko yang menjadi referensi visual bagi para seniman. Evolution 9 Collection Hi-Beat 36000 SLGH005 hadir dengan pelat jam yang terinspirasi dari hutan birch putih di sekitar Grand Seiko Studio Shizukuishi, tempat jam tangan mekanis mereka dirakit. Di sisi lain, Evolution 9 Collection Spring Drive U.F.A. SLGB003 mereproduksi tekstur hutan es di Dataran Tinggi Kirigamine, dekat Shinshu Watch Studio, yang menjadi pusat produksi komponen Spring Drive. Kehadiran kedua jam tangan ini memperjelas hubungan antara karya seni yang dipajang dan objek penunjuk waktu yang menjadi pangkal permulaan.

HALAMAN SAMPING DARI ATAS

Pameran yang diprakarsai Grand Seiko bertajuk “The Nature of Time”; Empat instalasi terbaru, dari kiri: PULSE OF TIME; Aurora; “story” dan Utsuroi; Dua model ikonik Grand Seiko yang menjadi referensi visual bagi para seniman, yaitu Evolution 9 Collection Hi-Beat 36000 SLGH005 dan Evolution 9 Collection Spring Drive U.F.A. SLGB003

HALAMAN INI DARI ATAS

Karay-karya sebelumnya, seperti EVER ORIGIN, LIMINAL, dan SOME ECHOES; Para seniman, dari kiri: Atsushi Shindo, Takakuni Kawahara dan Shingo Abe

A SHOOTING STAR

Aktor Korea pemenang beragam penghargaan, Park Bo-gum, kini menjadi Duta Merek OMEGA

Sejak debutnya dalam film Blind tahun 2011, aktor Korea Park Bo-gum telah menunjukkan karya yang mengesankan, termasuk drama seperti Reply 1988 (2015) dan Love in the Moonlight (2016), yang mendapatkan pujian kritis baik di Korea maupun internasional. Ia juga menunjukkan kemampuan aktingnya yang bernuansa dan daya tarik bintangnya dalam serial Netflix, When Life Gives You Tangerines (2025), dan memperluas jangkauannya dengan peran yang menuntut fisik sebagai mantan juara tinju nasional dalam drama Good Boy (2025).

Sejak ditunjuk menjadi Duta OMEGA, Park akan mewakili merek tersebut bersama aktor-aktor terkenal dunia termasuk George Clooney, Nicole Kidman, Eddie Redmayne, Naomi Harris,

Daniel Craig, dan Hyun Bin. Duta OMEGA dikenal karena bakat luar biasa dan kehadiran yang khas, yang secara sempurna mencerminkan nilai-nilai merek tersebut. Saat ini, Park memilih Seamaster Planet Ocean berbahan stainless steel dengan dial biru yang mencolok (Ref. 217.30.42.21.01.002), sebuah jam tangan yang mencerminkan semangat dinamis dan apresiasinya terhadap keahlian pembuatan yang presisi.

HALAMAN INI

Park Bo-gum mengenakan OMEGA Seamaster Planet Ocean berbahan

stainless steel dengan dial biru yang elegan

TIME TO TRAVEL

All About Luxury Travels Parties Around The Globe

@Louis Vuitton Escale Worldtime

A QUIET BORDEAUX LUXURY

Di salah satu kawasan wine paling bergengsi di dunia, COMO Cordeillan-Bages kembali hadir dengan pembaruan yang membumi

Di kawasan Médoc, Bordeaux, kehidupan berjalan dalam ritme yang lebih pelan. Hamparan kebun anggur membingkai lanskap sejauh mata memandang, sementara château-château tua berdiri sebagai pengingat akan tradisi panjang yang membentuk reputasi wilayah ini. Di tengah lingkungan seperti itu, COMO Cordeillan-Bages kembali dibuka—membawa pendekatan yang segar tanpa menghilangkan karakter aslinya. Properti ini bukan nama baru. Selama puluhan tahun, CordeillanBages dikenal sebagai salah satu pelopor hotel berbasis wine tourism di kawasan tersebut. Kini, di bawah naungan COMO Hotels and Resorts, tempat ini mengalami transformasi. Sentuhan barunya tidak berusaha menghapus sejarah, melainkan merapikannya agar relevan dengan cara orang bepergian saat ini, yakni lebih personal, lebih tenang, dan lebih terhubung dengan lingkungan sekitar.

Lokasinya di Pauillac menempatkan hotel ini di pusat salah satu kawasan wine paling bergengsi di dunia. Kedekatannya dengan Château Lynch-Bages—yang dikelola oleh keluarga Cazes—menjadi salah satu keunggulan utama. Kolaborasi ini membuka akses yang jarang tersedia bagi tamu, mulai dari kunjungan ke kebun anggur hingga pengalaman mencicipi wine yang lebih mendalam. Bagi yang memang datang ke Bordeaux untuk memahami wine dan bukan sekadar menikmatinya saja, hal seperti ini menjadi nilai tambah yang signifikan. Namun pengalaman menginap di sini tidak hanya berfokus pada wine. Skala hotelnya, hanya 28 kamar dan suite, menciptakan suasana yang intim. Tidak ada keramaian berlebih, tidak ada kesan asing seperti di hotel besar. Setiap ruang terasa dipikirkan dengan cermat, tanpa harus tampil mencolok. Dua COMO Suite menjadi pilihan utama bagi tamu yang menginginkan ruang lebih luas, tetapi bahkan kamar standar pun sudah cukup untuk menghadirkan rasa nyaman yang membuat betah.

Desain interiornya ditangani oleh Paola Navone, yang dikenal dengan pendekatan sederhana namun berkarakter. Di sini, ia mempertahankan elemen-elemen historis—termasuk menara kecil dari abad ke-17—dan memadukannya dengan sentuhan kontemporer yang ringan. Hasilnya bukan ruang yang terasa “baru”, melainkan ruang yang terasa lebih jernih. Material alami, warnawarna netral, dan pencahayaan yang lembut mendukung suasana yang tenang secara visual. Fasilitas yang ditawarkan juga cukup lengkap tanpa terasa berlebihan. Ada restoran gastronomi yang menonjolkan bahan lokal, kolam renang luar ruangan sepanjang 25 meter, serta area wellness dengan gym dan sauna. Namun seperti banyak hal lain di sini, fasilitas tersebut hadir sebagai pelengkap, bukan pusat perhatian. Yang lebih menonjol justru lingkungan di sekitarnya.

SEBAGAI BAGIAN DARI EKSPANSI COMO

HOTELS AND RESORTS DI PRANCIS, KEHADIRAN COMO CORDEILLAN-BAGES

MELENGKAPI PORTOFOLIO MEREKA YANG

SEBELUMNYA SUDAH MENCAKUP BURGUNDY

DAN SAINT-TROPEZ

Dari hotel, desa Bages bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar enam menit. Desa kecil ini telah direstorasi dengan baik dan kini diisi oleh butik-butik artisan, bistro, serta toko wine Suasananya hidup dan tetap alami. Ini sebuah destinasi wisata dengan komunitas yang memang berkembang dari akar lokalnya. Lebih jauh lagi, Médoc menawarkan banyak kemungkinan untuk dijelajahi. Route des Châteaux, yang terkenal di kalangan pencinta wine, membentang tidak jauh dari hotel dan menghubungkan sejumlah winery ikonis. Sementara itu, bagi yang ingin keluar dari jalur wine, kawasan ini juga memiliki hutan pinus yang luas dan garis pantai Atlantik yang jaraknya hanya sekitar 30 kilometer. Semua ini membuat perjalanan terasa lebih seimbang. Pengunjung tidak hanya dapat mencicipi, tetapi juga menikmati pemandangan dan merasakan suasananya.

Sebagai bagian dari ekspansi COMO Hotels and Resorts di Prancis, kehadiran COMO Cordeillan-Bages melengkapi portofolio mereka yang sebelumnya sudah mencakup Burgundy dan Saint-Tropez. Akan tetapi menariknya, meski bagian dari sebuah jaringan global, properti ini tetap memiliki identitas lokal yang kuat. Daya tarik tempat ini memang terletak pada keseimbangan yang berhasil dijaga. Cukup mewah tanpa terasa berjarak, cukup eksklusif tanpa menjadi kaku. Bagi sebagian orang, mungkin ini bukan destinasi yang menawarkan sensasi instan. Tetapi justru di situlah menariknya, pengalaman yang datang perlahan dan lebih personal, yang bertahan lebih lama setelah perjalanan selesai.

COMO Cordeillan-Bages

Rte des Châteaux, 33250

Pauillac, Prancis

Tel: +33 5 56 59 24 24

A HERITAGE REFINED

Sebuah ikon mewah dalam peta perhotelan mewah internasional telah kembali hadir di jantung kota Jakarta

Keraton at The Plaza resmi dibuka kembali sebagai bagian dari The Unbound Collection by Hyatt, sebuah portofolio global yang hanya menaungi properti-properti dengan karakter unik dan daya tarik istimewa. Kehadirannya menjadi tonggak penting bukan semata-mata karena Keraton at The Plaza merupakan properti pertama koleksi ini di Asia Tenggara, tetapi juga karena interpretasinya terhadap kemegahan budaya Indonesia yang disajikan dengan sentuhan kontemporer berkelas dunia.

NAMA “KERATON”, YANG BERARTI ISTANA, TIDAK DIPILIH SECARA KEBETULAN.

BEGITU MEMASUKI LOBI, IDENTITAS ITU

SEKETIKA TERASA LEWAT PERPADUAN

ARSITEKTUR MODERN DENGAN NUANSA

KEBANGSAWANAN JAWA

Nama “Keraton”, yang berarti istana, tidak dipilih secara kebetulan. Begitu memasuki lobi, identitas itu seketika terasa lewat perpaduan arsitektur modern dengan nuansa kebangsawanan Jawa. Firma desain ternama Hadiprana menata interior hotel dengan penuh presisi, menampilkan detail yang kaya makna seperti motif batik kawung—pola klasik yang merepresentasikan keabadian dan kebijaksanaan—yang dihadirkan secara elegan pada panel dinding dan elemen dekoratif. Dengan 137 kamar dan suite berukuran mulai dari 64 meter persegi, langit-langit setinggi 3,86 meter, serta jendela menjulang dari lantai hingga ke langit-langit, hotel ini memberikan kesan lapang, mewah, sekaligus intim.

“Keraton at The Plaza adalah bentuk penghormatan terhadap warisan kerajaan Indonesia yang kami hadirkan kembali untuk

tamu global,” tutur General Manager Keraton at The Plaza Parveen Kumar. Hotel ini bukan hanya menawarkan kenyamanan, melainkan sebuah pengalaman penuh makna di mana desain, layanan, dan budaya berpadu dalam harmoni. Filosofi tersebut terwujud nyata melalui dua ruang makan eksklusif, yakni The Lounge dan The Club. The Lounge, yang berlokasi di samping lobi, dirancang sebagai ruang tamu elegan bagi mereka yang menginginkan atmosfer santai namun elegan dan eksklusif. Dengan pilihan pastry gourmet, teh artisan, dan kopi premium, suasananya ideal untuk pertemuan personal maupun waktu santai yang berkesan. Sementara itu, The Club di lantai tujuh menyajikan pengalaman bersantap mulai dari sarapan, makan siang, teh sore, hingga makan malam, yang kesemuanya dikurasi secara musiman. Suasananya diperkuat dengan koleksi seni Indonesia yang berganti secara berkala, serta pengalaman eksklusif seperti chef’s table

Bagi tamu yang mencari pengalaman bersantap lebih interaktif, Keraton at The Plaza juga menghadirkan Teppan Dining Experience yang tersedia setiap Jumat dan Sabtu malam serta Minggu siang. Keraton at The Plaza menawarkan lebih dari sekadar akomodasi. Hotel ini mempersembahkan program khas bertajuk Daily Keraton Experience. Rangkaian kegiatan ini menghadirkan interpretasi kontemporer dari tradisi Jawa, mulai dari tur seni, pertunjukan gamelan dan tari klasik, hingga kelas kopi Nusantara. Setiap program dirancang agar para tamu dapat merasa terhubung dengan budaya lokal, sebuah nilai tambah yang jarang ditawarkan oleh hotel mewah di kawasan metropolitan. Keunggulan Keraton at The Plaza juga terletak pada lokasinya. Berada dalam kompleks Plaza Indonesia, hotel ini menempatkan tamu di pusat gaya hidup

Jakarta—dikelilingi oleh butik-butik internasional, destinasi kuliner premium, serta akses langsung menuju Club Olympus. Fasilitas kebugaran ini mencakup kolam renang air garam, lapangan tenis, hingga ruang hijau yang memberikan nuansa resor di tengah kota. Dengan akses eksklusif tersebut, hotel ini berhasil memadukan kenyamanan urban dengan kemewahan rekreasi yang menyeluruh.

Sebagai bagian dari The Unbound Collection by Hyatt, hotel ini membawa identitas yang lebih dari sekadar properti kemewahan. Koleksi ini dikenal sebagai kurasi destinasi dengan kisah otentik— baik berupa keajaiban arsitektur modern, tempat bersejarah, maupun retret eksklusif yang dirancang untuk meninggalkan kesan mendalam. Keraton at The Plaza layak dijajarkan dengan propertiproperti ikonis tersebut, menghadirkan narasi yang berakar pada budaya Indonesia, namun dituturkan dengan bahasa universal tentang keanggunan dan eksklusivitas. Di jantung ibu kota, sebuah istana modern resmi berdiri. Keraton at The Plaza bukan hanya sebuah hotel, melainkan landmark baru bagi Jakarta, tempat di mana tamu global dapat menemukan kemewahan yang otentik, layanan yang personal, serta pengalaman budaya yang tak ternilai. Setiap detail, setiap ruang, dan setiap momen di dalamnya menjadi bagian dari sebuah kisah besar tentang konsep elegan yang abadi.

Keraton at The Plaza

The Unbound Collection by Hyatt Jl. MH Thamrin Kav. 15, Menteng, Jakarta, 10350 Tel: (021) 51011234

ALBA, ARKIV & ARTS

Jam tangan edisi terbatas yang terinspirasi oleh alam Indonesiam etos desain Jepang yang halus, keajaiban perspektif kanak-kanak dan martabat presisi

Pada pertengahan Februari lalu, para kolektor jam dan penggemar seni di tanah air diberi kejutan manis dengan hadirnya kolaborasi antara seniman kontemporer Indonesia Arkiv Vilmansa, dengan merek jam tangan Alba. Melalui peritel resminya di Indonesia, PT Asia Jaya Indah, Alba meluncurkan Arkiv Vilmansa × Alba Indonesia “Sea Of Colour” Mechanical AU4079X1 Limited Edition dengan keunikan pada dial jamnya yang menampilkan karakter Domma yang lahir dari imajinasi sang seniman, Arkiv. Dial jam menjadi kanvas bagi Arkiv, di mana brushed steel dan konstruksi jam khas Alba membingkai palet warna yang hidup serta bentuk organik karya Arkiv, yang terinspirasi dari terumbu karang, autan senja, dan cahaya tropis. Kehadiran jam

tangan ini merupakan dialog bermakna antara seni dan horologi, mitologi personal, inspirasi dari laut Indonesia, dan presisi horologi Jepang. Kevin Lie, Direktur PT Asia Jaya Indah, menyambut dengan antusias, “Kami sangat senang dapat berkolaborasi dengan Arkiv, seorang seniman muda terkemuka yang karyanya merepresentasikan kekuatan dan relevansi kreativitas kontemporer Indonesia. Kemitraan ini memungkinkan Alba menjangkau generasi baru pecinta jam tangan, sekaligus mengajak para pemakai jam setia untuk melihat timepiece melalui lensa artistik yang baru. Kami berharap kolaborasi ini dapat membangkitkan kembali ketertarikan terhadap budaya jam tangan, baik sebagai sebuah kerajinan maupun bentuk ekspresi personal.”

MATCH MADE IN WATCH HEAVEN

Hublot mengumumkan Jung Kook, artis dan anggota grup pop BTS, sebagai Duta Merek Global barunya

Pada tanggal 12 Februari lalu, merek jam tangan asal Swiss, Hublot menggelar acara besar di Seoul untuk mengumumkan Duta Merek Global terbaru, yaitu Jung Kook. Pengumuman ini dirayakan dalam acara spektakuler di Seoul, yang dihadiri sekitar 300 tamu terhormat, talenta luar biasa hingga para tokoh mode. Acara ini menandai perpaduan signifikan dari dua dunia yang secara konsisten mendefinisikan orisinalitas: Hublot, pembuat jam tangan mewah yang telah membentuk kembali horologi modern dengan inovasi-inovasi terobosannya, dan Jung Kook, seorang artis yang telah secara mendalam membentuk kembali suara dan ritme sebuah generasi. Kolaborasi

ini bukan sekadar kebetulan, tetapi merupakan konvergensi yang kuat dari nilai-nilai bersama dan komitmen untuk mendorong batasan. Baik Jung Kook maupun Hublot mengacu pada asal-usul fundamental mereka, membawa serta DNA yang tak salah lagi yang membedakan mereka dan menjadikan mereka sebagai inovator sejati di bidang masing-masing. Tempat acara yang ditata dengan cermat, koleksi ikonik Big Bang Original Unico yang dipamerkan, dan papan reklame yang mengesankan, menunjukkan bahwa perayaan ini merupakan bukti awal dari kemitraan luar biasa ini, menyoroti filosofi bersama tentang disrupsi dan kreativitas yang mendefinisikan Hublot dan Jung Kook.

WINTER OLYMPIC OPENING GALA

Dua duta merek OMEGA, George Clooney dan Park Bogum memeriahkan acara Gala Pembukaan yang megah di OMEGA House Milano

Pada hari pertama Olimpiade Musim Dingin di awal Februari 2026 lalu, OMEGA, yang merupakan Pencatat Waktu Resmi (Official Timekeeper) dari ajang olahraga kelas dunia itu menyelenggarakan ajang Gala Pembukaan di markas eksklusifnya untuk Milano Cortina 2026. Turut hadir dalam perayaan perdana di OMEGA House adalah duta merek George Clooney dan Park Bogum, yang bergabung dengan para tamu pertama yang disambut di dalam gedung. Terletak di Ristorante Cracco, yang berada di dalam Galleria Vittorio Emanuele II yang ikonik, OMEGA House Milano menyoroti peran OMEGA sebagai Pencatat Waktu Resmi Olimpiade dan Paralimpiade Musim Dingin. Aktor Amerika George Clooney telah menjadi duta OMEGA sejak tahun 2007, namun hubungan pribadinya dengan

merek tersebut sudah terjalin sejak masa kecilnya, ketika ia pertama kali melihat jam tangan Speedmaster di pergelangan tangan para astronot NASA. Sementara sang aktor Korea Park Bogum dikagumi karena pesonanya yang khas dan kehadirannya yang luar biasa di layar kaca. Spektrum aktingnya yang luas dan dedikasinya yang mendalam terhadap profesinya sangat selaras dengan nilai-nilai yang telah lama dijunjung OMEGA melalui pembuatan jam tangannya, termasuk presisi, keunggulan, dan kualitas yang tahan lama. Para tamu undangan terkenal lainnya pada malam itu termasuk atlet Amerika Allyson Felix, aktor Italia Saul Nanni, dan aktris Amerika Marisa Tomei, model Ashley Graham, aktris China Guan Xiaotong, aktris Inggris Marisa Abela, hingga aktor dan model Italia, Luca Argentero.

A TOUCH OF ITALIAN LUXURY

Rayakan keunggulan budaya Italia bersama Murano karya Alex Signoretti, jam tangan mewah dari Panerai, dan karya ikonik dari Fendi

Pada tanggal 21 Februari lalu, artisan ulung yang dikenal dengan kreasi kaca Murano, generasi ketiga dari keluarga B..F. Signoretti, Alex Signoretti hadir di Jakarta atas undangan Destination Tour. Kolaborasi litas merek yang diprakarsai oleh Destination Tour dan Alex Signoretti, dengan arahan kreatif dan pelaksanaan oleh The Time Place Magazine yang bertajuk “Viaggio d’Italia” (Journey to Italy) mengajak para tamu VIP yang hadir malam itu untuk menyaksikan langsung serta merayakan keunggulan kerajinan tangan dan keindahan abadi kaca Murano. Ajang ekslusif yang diadakan di CÁRNE Ristorante ini dihadiri oleh 28 tamu terpilih yang diajak

“mengembara” ke dalam suasana taman Italia yang imersif yang terinspirasi oleh tricolore (bendera Italia). Selain menyaksikan beberapa kreasi indah Murano karya Alex Signoretti dan berbincang langsung dengan sang artisan dan keluarganya yang sangat ramah, para tamu juga diajak menyaksikan perjalanan eksklusif ke tempat-tempat indah di Italia yang dikurasi apik oleh Destination Tour, pimpinan Yento Chen, yang telah bersertifikasi sebagai Desainer Grand Serandipians ke-1 tahun 2026. Selama sesi ramah tamah dan makan malam yang eksklusif, para tamu juga menyaksikan produk-produk mewah buatan Italia, yaitu jam tangan Panerai, dan karya ikonik dari FENDI.

FROM LONDON TO CANTON

Dalam kurun waktu dua puluh tahun, Pembuat jam Edouard Bovet yang visioner dan saudara-saudaranya Alphonse dan Frédéric meninggalkan desa asal mereka di Fleurier menuju London, yang pada saat itu merupakan pusat perdagangan utama untuk pembuatan jam Eropa. Pada tahun 1814 mereka membangun kesuksesan Maison mereka, yang dibangun di atas perdagangan yang berkembang pesat dengan Tiongkok. Di tahun 1818, pada usia 21 tahun, Edouard Bovet berangkat ke Tiongkok sebagai perwakilan seorang pedagang Inggris, dengan menaiki kapal Orwell, milik Perusahaan Hindia Timur, dan tiba di Canton, titik masuk wajib untuk barang dagangan yang datang dari Eropa. Ia menjual empat jam saku seharga 10.000 franc Swiss, yang setara dengan satu juta franc saat ini. Menyadari potensi luar biasa dari pasar Tiongkok, Edouard mendirikan Maison BOVET pada tahun 1822, bersama saudara-saudaranya Frédéric dan Alphonse, Gustave dan Charles. Bisnis mereka meluas dari Fleurier, tempat jam saku dibuat, hingga London, pusat perdagangan, dan Canton, tempat jam tangan Bovet dijual.

Dan untuk waktu yang lama, orang Cina menyukai jam dekoratif dan hiasan dalam berbagai bentuk. Ketertarikan

mereka berkembang dengan munculnya jam saku. Dengan “jam tangan Cina” mereka, saudara-saudara Bovet mendirikan bentuk pembuatan jam yang membawa seni horologi ke tingkat yang baru. Mesin jamnya dihias lebih mewah dan casing jamnya terbuat dari emas atau berlapis emas. Bezel dan terkadang busurnya sering dihiasi dengan mutiara setengah lingkaran. Penutupnya dihias dengan lukisan miniatur atau motif enamel. Fitur lain dari “jam tangan Cina” ini adalah dijual berpasangan dan motif enamel pada kedua jam tangan tersebut identik tetapi dalam gambar cermin. Mesin jam tersebut diukir dengan motif tradisional Tiongkok seperti volute dan pola Fleurisanne, sementara yang lain dipoles mengilap atau dihiasi dengan ukiran bunga dari emas. Bovet juga mengadopsi tiga simbol Tiongkok – bunga teratai, pembakar dupa, dan vas – sebagai ciri khas jam tangannya. Yang paling simbolis adalah bunga teratai yang distilisasi, yang saat ini menghiasi mesin jam Maison BOVET. Di tengah setiap simbol ini, nama Bovet, yang ditranskripsikan sebagai “Bo Wei”, diukir dalam aksara Tiongkok. Setelah Maison memperoleh reputasi yang solid, nama “Bo Wei” menjadi sinonim untuk “jam tangan” dalam bahasa sehari-hari dan bahkan menjadi mata uang untuk perdagangan di Kekaisaran. www.bovet.com.

WATCHES

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook