



3 DAYS POWER RESERVE AUTOMATIC CALIBRE

CROWN PROTECTING DEVICE PATENTED IN 1956
50 BAR
500 M WATER RESISTANCE























![]()




3 DAYS POWER RESERVE AUTOMATIC CALIBRE

CROWN PROTECTING DEVICE PATENTED IN 1956
50 BAR
500 M WATER RESISTANCE























Sejak majalah yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia ini dicetak pertama kali di tahun 2014, kami dengan konsisten telah menerbitkan beragam artikel yang membahas dunia pembuatan jam tangan dan perhiasan, dan mengajak para pembaca untuk menikmati berbagai info yang berguna dan menarik dari dunia jam hingga perhiasan. Kami pun menampilkan beragam berita yang dapat diakses dengan mudah dan cepat secara online, digital dan melalui platform sosial media kami, sembari mengajak para kolektor, penggemar, dan kolektor pemula untuk bersama-sama menghargai dan mengetahui lebih mendalam segala seluk-beluk tentang jam dan perhiasan.
Sepanjang perjalanan selama bertahun-tahun mengelola media cetak dan berburu berita-berita terkini dan menarik di industri ini, saya tidak pernah merasakan momen yang membosankan, there’s never a dull moment! Karena banyak yang mengaku jika dunia pembuatan jam tangan dan perhiasan ini adalah sumber emosi dan inovasi yang terus berubah. Mulai dari penggunaan bahan berteknologi tinggi, teknologi terbaru, hingga dampak bergejolaknya ekonomi global yang tentu memengaruhi bisnis ini. Kami mengalami masa-masa dimana tren jam tangan dan perhiasan ditentukan di ajang BaselWorld, yang kemudian perlahan mulai ditinggalkan merek-merek ternama hingga akhirnya ditutup. Kami pun mengalami perjuangan mempertahankan media cetak ditengah menurunnya animo masyarakat terhadap media cetak, hingga lesunya industri produk mewah sejak pandemi Covid melanda.

Namun waktu akan menjawab semua keraguan itu, tahun berganti tahun, saya sangat bersyukur karena majalah edisi cetak ini masih mendapatkan sambutan hangat di kalangan penggemar jam dan perhiasan di Indonesia. Ini semua memberi semangat bagi tim redaksi kami untuk terus berusaha menghadirkan berita-berita yang berguna secara akurat, cepat dan tidak membosankan. Untuk menyambut pergantian tahun menuju 2026, kami persembahkan beragam berita dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Dubai Watch Week, ajang penghargaan tertinggi di dunia horologi dan “Oscar” di dunia jam yaitu Grand Prix d’Horlogerie de Genève 2025 dari Jenewa, ajang balap Formula 1 dan pameran jam mikro Spring Sprang Sprung di Singapura, hingga ajang balap MotoGP di Mandalika. Kita semua memiliki kecintaan yang sama terhadap dunia jam tangan dan perhiasan, dan majalah ini tidak akan ada di tangan kalian sekarang jika bukan karena kerja keras, tekad, dan dukungan berkelanjutan dari tim redaksi kami selama bertahuntahun. Terima kasih telah mencintai majalah ini sama seperti kami mencintainya, selamat menyambut tahun baru, dengan semangat baru, dan mungkin, koleksi baru? Happy reading!
DARI KIRI ATAS SEARAH JARUM JAM
Di depan Musée d’Art et d’Histoire, Jenewa; Bersama CEO Breitling, Georges Kern; Bersama CEO Ahmed Seddiqi & Sons, Mohammed Abdulmagied Seddiqi; Bersama Patrick Getreide; Bersama Kevin O’Leary; Di acara GPHG Awards 2025; Foto diri hasil generate AI; Bersama Danar Widanarto (Chronondo); Bersama Andrew Rosenfield (Pemilik Urban Jürgensen), dan Peter Chong (Deployant); Bersama President Chopard, Caroline Scheufele; Bersama Wanida. S (QP Thai) dan pemilik BOVET, Pascal Raffy; Bersama Jean-Claude Biver
Publisher & Chief Editor
Lulu Fuad

H e r m è s , d r a w i n g o n y o u r m i n d
INDONESIA
EDISI 30-2025/2026
PUBLISHER & CHIEF EDITOR: Lulu Fuad
FEATURES EDITOR: Billy Saputra
EDITOR: David Tang
ART DIRECTOR: Taufik Nurman
SENIOR WEB DESIGNER: Fatorahman Handayani
SOCIALITE PHOTOGRAPHER: Setiyo Supratcoyo
PT. ZAMRUD
CHAIRMAN: Ir. Nabiel Fuad. A. MSc (nabiel@zamrud-media.com)
MANAGING DIRECTOR: Lulu Fuad (lulu@zamrud-media.com)
DIRECTOR OF FINANCE: M. Ramzy (ramzy@zamrud-media.com)
EXECUTIVE ASSISTANT: Deny Pratama (secretary@zamrud-media.com)
OFFICE STAFF : Ahmad Firdaus (firdaus@zamrud-media.com)
JAKARTA: Ardhana Utama, Fiqih, Rendy Kairupan, Yessar Rosendar, Yohanna Yuni / DUBAI: Faizal. A SINGAPORE: Dr. Bernard Cheong / SWITZERLAND: Maria Ronnie Bessire
PT. ZAMRUD KHATULISTIWA
The City Tower Level 12-1N, Jl. MH. Thamrin No.81, Jakarta 10310, INDONESIA Phone: +62 21 344 0999 Website: www.cgw-indonesia.com
Switzerland Sales Representative: Maria Ronnie Bessire (Ms.) E-mail: sales@zamrud-media.com
SUBSCRIPTIONS/GENERAL INQUIRIES: info@zamrud-media.com
PT. Zamrud Khatulistiwa Media BCA - KCU TCT (The City Tower) A/C 31930 74797
COLLECTOR’S GUIDE – WATCHES, INDONESIA is published by PT. Zamrud Khatulistiwa Media. All rights reserved. No part of this publication may be reproduced without the written permission of PT. Zamrud Khatulistiwa Media. Opinions expressed in CGW Indonesia are solely those of the writers and not necessarily endorsed by the Publisher and its editors. PT. Zamrud Khatulistiwa Media accepts no responsibility for unsolicited manuscripts, transparencies or other material. For further inquiries, contact: info@zamrud-media.com
PRINTING: PT. Harapan Prima








28 Time To Beat
Pilihan jam eksklusif edisi Year of the Horse
36 Cover Story: From Depths to Perpetuity
Panerai, dari instrumen militer hingga haute horlogerie
64 Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG) 2025
Penghargaan tertinggi di dunia horologi dan “Oscar” di dunia jam
77 The Oscars of Watchmaking
Raymond Loretan, Yayasan GPHG dan Tur Dunia 2025
78 Charting the Pilot Line
Jejak panjang Patek Philippe dan tradisi pilot watch
84 Theatre of Time
Roger Dubuis Excalibur Spider Flyback Chronograph
86 Two Ways to Time
Rahasia Rolex Perpetual 1908 hingga Oyster Perpetual
92 Tambour Reborn
Louis Vuitton menghadirkan Tambour Taiko Spin Time
94 Crafted To Allure
Presisi tinggi Grand Seiko, inovasi teknis, dan alam Jepang
98 A Deeper Descent
Evolusi jam tangan selam OMEGA Planet Ocean
102 A Rhythm of Its Own
Hermès H08, presisi teknis dan pengalaman waktu
104 The Dynamic Duo
Dua koleksi terbaru persembahan Bell & Ross
106 Dress Code, Rewritten
Kolaborasi Raymond Weil dan seconde/seconde/
108 TAG Heuer Formula 1 Grand Prix Singapore
Kecepatan, kemegahan dan perayaan olahraga otomotif
112 Dubai Watch Week 2025
Acara horologi terbesar di kawasan Timur Tengah
114 An Homage to the World of MotoGP
Tissot dan dunia balap motor MotoGP 2025
118 Welcome To A New Episode
Inovasi teknis dan pesona desain koleksi terbaru MIDO
121 Franck Muller’s Arrival
Peresmian titik penjualan baru di Plaza Indonesia
122 Spring Sprang Sprung 2025
Pameran internasional jam tangan merek-merek mikro
124 Striking Touch
Kolaborasi apik Seiko dengan George Bamford

CAPTAIN COOK HIGH-TECH
& CENTRIX DIAMONDS
Rado Store, Plaza Indonesia, Jakarta , Level 2, No.E020 – E020A, Indonesia , Tel :+62 21 22395605 Rado Store, Tunjungan Plaza 3, Surabaya, Lantai 1, Unit 89, Indonesia , Tel : +62 31 99246973






42 The New Era
TAG Heuer, Formula 1, dan peran Antoine Pin
44 Breitling Breakthrough
Breitling, House of Brands dan Georges Kern
46 The Art of Invention
Greubel Forsey dan Michel Nydegger
48 Double Technical Prowess
Angelus, Arnold & Son dan Pascal Béchu
50 Safeguarding Living Waters of Africa
Dukungan Rolex Perpetual Planet Initiative
54 Frozen in Motion
Kolaborasi terbaru Hublot dan Daniel Arsham
56 Man Of The Hour
Serial TV terbaru dari dunia horologi
60 Sustainable at Heart
Circular S “Eclipse” dan peran Leonardo DiCaprio
62 The Man Behind The OAK Collection
Koleksi OAK milik kolektor ulung, Patrick Getreide
126 Designed to Win
Duta merek TAG Heuer, Jung-hoo Lee
127 Timothée Chalamet Season
Aktor Timothée Chalamet dan Urban Jürgensen
128 Open Heart Conversation
Dialog antara Rado dan Ji Chang-wook
130 The Queen Returns
Interpretasi baru pada Breguet Reine de Naples
132 A Bold Curve in Time
Gondolo Serata dan desain artistik Patek Philippe
134 Anatomy of Wonder
Hermès menghadirkan Slim d’Hermès Hippocampe
136 All That Glitters
Perayaan 12th Anniversary Adelle Jewellery
138 Fusion of Dazzling Beauty
HKTDC dan pameran perhiasan megah di Hong Kong
140 The Clifftop Sanctuary
Definisi kemewahan di Alila Villas Uluwatu, Bali
142 Soulful Stay, the Peranakan Style
Keindahan kamar suite di House of Tugu, Old Town Jakarta
144 Luxury Travel Beyond Expectations
Pilihan slow travel terkurasi dari Four Seasons, Orient Express






















































Demi merayakan tradisi pembuatan jam tangannya, Patek Philippe menawarkan pengalaman mendalam ke dalam dunia dan sejarahnya di jantung kota Milan, Italia, dalam ajang pameran “Watch Art” Grand Exhibition yang megah. Untuk pameran terbesar ketujuhnya di dunia yang dimulai dari tanggal 2 hingga 18 Oktober 2026 ini, Patek Philippe memilih lokasi seluas lebih dari 2.500 meter persegi di gedung bersejarah CityOval (dulu bernama Palazzo delle Scintille), di Piazza Sei Febbraio, Milan Italia, dan terbuka untuk umum, dengan tiket masuk gratis untuk mendorong pengenalan yang lebih dekat dengan kreasi, warisan, filosofi, dan luasnya keahliannya

Sejak empat belas tahun yang lalu hingga sekarang, Patek Philippe telah menyelenggarakan enam edisi dengan konsep baru Pameran Besar yang terbuka untuk umum, dan berhasil menarik minat sekitar 165.000 pengunjung. Setelah Dubai pada tahun 2012, Munich pada tahun 2013, London pada tahun 2015, New York pada tahun 2017, Singapura pada tahun 2019, dan Tokyo pada tahun 2023, Patek Philippe telah memilih Milan untuk Pameran Akbar ketujuhnya. Pada pameran ini, akan dihadirkan sekitar 500 jam tangan dan objek yang menggambarkan kekayaan berbagai jenis keahlian. Secara khusus, pengunjung dapat mengagumi seluruh koleksi manufaktur terkini, dengan pilihan lini dan model jam tangan yang mewah untuk pria dan wanita, yang mencakup setiap segmen pembuatan jam tangan mulai dari ikon gaya hingga mekanisme yang paling kompleks secara teknis. Koleksi khusus ini termasuk jam meja kubah, jam saku, dan jam tangan dengan lukisan miniatur pada enamel, enamel cloisonné, ukiran tangan, marquetry kayu mikro, karya guilloché yang dikerjakan dengan tangan, dan pemasangan permata, bersama dengan demonstrasi oleh para pengrajin di depan mata pengunjung.
Pameran ini juga akan menampilkan pilihan jam tangan milik Museum Patek Philippe di Jenewa dan secara khusus diizinkan untuk dibawa ke acara Milan. Jam tangan dari “Koleksi Antik” (abad keenam belas hingga awal abad kesembilan belas) akan mencakup beberapa jam tangan tertua di dunia dan banyak mahakarya teknis dan estetika yang menggambarkan seluruh sejarah horologi.
Koleksi dari “Patek Philippe Collection”, yang menelusuri warisan kaya pabrikan tersebut. Satu ruangan akan menampilkan koleksi besar mesin jam yang dirancang dan dibuat sepenuhnya oleh Patek Philippe, dengan area baru yang dikhususkan untuk langkahlangkah yang terlibat dalam memproduksi komponen dan area lain yang didedikasikan untuk penelitian dan pengembangan. Sebuah tempat besar akan disediakan untuk jam tangan rumit, salah satu benteng manufaktur dan sebuah ruang berjudul “Master of Sound” yang memamerkan jam tangan yang menakjubkan, termasuk yang paling kompleks dari semuanya, Patek Philippe Grandmaster Chime dengan 20 komplikasi, dan Sky Moon Tourbillon. Pengunjung juga akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan para ahli pembuat jam Patek Philippe, yang akan melakukan demonstrasi pada berbagai mesin jam.
Reservasi disarankan saat platform pemesanan dibuka pada 14 April 2026. Informasi lebih lanjut, kunjungi situs: patek.com/watchart2026

















Richard Mille menyoroti dunia femininnya, merayakan kekuatan, karakter, dan semangat mereka yang memiliki semangat berani yang sama, yang diwujudkan dalam koleksi jam tangan wanita RM 037 yang kontemporer, teknis, dan abadi. Koleksi ini mewujudkan esensi etos Richard Mille, yang mewakili kehidupan sehari-hari hingga momen paling elegan, menemani wanita dengan presisi, meningkatkan setiap siluet. Dengan case emas merah 18K, RM 037 yang berukuran 34.40 x 52.63mm ini mengontraskan keindahan berlian pavé snow-set pada dial yang menampilkan desain kerangka dengan sisipan batu mulia seperti jasper merah, onyx, atau mutiara. Jam tangan ini mengusung mesin jam kontemporer dari kaliber otomatis CRMA1 dengan cadangan daya sekitar 50 jam. www.richardmille.com




Credor mengumumkan partisipasi pertamanya di ajang Watches and Wonders Geneva, yang menandai tonggak penting bagi Credor, karena akan mempresentasikan karya unggulannya di tahun 2026 di salah satu panggung horologi paling bergengsi di dunia. Sejak didirikan pada tahun 1974, merek jam asal Jepang ini telah mewujudkan keahlian yang canggih dan keanggunan yang halus. Berasal dari bahasa Prancis crête d’or, yang berarti “puncak emas,” nama Credor telah lama mewakili tingkatan tertinggi seni pembuatan jam tangan. Sepanjang sejarahnya, Credor telah memperkenalkan berbagai jam tangan ikonik, termasuk Eichi II, Goldfeather, dan Locomotive. Setiap kreasi menjadi bukti dari kata-kata yang membimbing pembuatan jam tangan Credor: “Kreativitas Para Pengrajin.” Shinji Hattori, Ketua, CEO, dan CCO dari Seiko Watch Corporation, berujar: “Memamerkan Credor di panggung global di Watches and Wonders Geneva telah menjadi aspirasi lama saya. Saya yakin para pengunjung akan mengenali dan menghargai pesona Credor, yang, hingga saat ini, tetap menjadi permata tersembunyi yang hanya dikenal oleh segelintir orang di luar Jepang.” www.credor.com
Versi terbaru dari koleksi Slim d’Hermès Quantième Perpétuel yang didesain oleh Philippe Delhotal kini hadir dalam versi rose gold, perwujudan minimalisme yang halus dipadukan dengan keahlian pembuatan jam tangan tingkat tinggi. Dibuat di ruang kerja internal Hermès di Le Noirmont, Swiss, jam tangan ini memiliki kalender abadi yang secara otomatis menyesuaikan panjang bulan dan tahun kabisat, didukung oleh mesin Hermès H1950 ultratipis, yang terlihat melalui penutup belakang safir dengan sentuhan akhir tangan yang halus. Dial cokelat galvanik dengan angka-angka yang dirancang oleh Philippe Apeloig, jarum penunjuk berbentuk batang berlapis emas, dan empat penghitung menampilkan fungsi kalender, GMT, dan fase bulan, diperindah dengan sentuhan akhir sandblasted, snailed, dan sunburst. Hadir dengan casing rose gold ramping berukuran 39,5mm dan dilengkapi dengan tali kulit buaya Havana, jam tangan ini mencerminkan ketelitian, keanggunan, dan keahlian Hermès. www.hermes.com






PLAZA SENAYAN • MALL KELAPA GADING 3 • GRAND INDONESIA • PONDOK INDAH MALL 2 KOTA KASABLANKA • 23 PASKAL BANDUNG • CIPUTRA WORLD SURABAYA






Jam tangan Seiko 5 Sports x Pink Panther SRPM07 Limited Edition hasil kolaborasi dengan Pink Panther diperkenalkan ke dalam koleksi Seiko 5 Sports. Berdasarkan seri SKX, kreasi ini menangkap kisah Pink Panther di seluruh desainnya, dengan dial, bezel, dan jarum detik yang diberi aksen warna khas, dan dial menampilkan jejak kaki ikonik. Kisah Pink Panther yang dengan nakal mengecat ulang rumah Little Man dengan warna merah muda tercermin di seluruh desain. Tali nilon yang dapat diganti-ganti dengan motif jejak kaki Pink Panther juga disertakan. Ujungnya dicetak dengan frasa “WET PAINT.” Bagian belakang casing menampilkan salah satu adegan, dengan Pink Panther bersembunyi di balik dinding berwarna merah muda. Di sekeliling tepinya, terukir kata-kata “Limited Edition” dan nomor seri individual. Jam yang terbuat dari stainless steel berdiameter 38mm ini mengusung mesin caliber 4R36 dan dilengkapi kotak yang terinspirasi dari rumah Little Man yang dicat merah muda oleh Pink Panther. www.seikowatches.com
Menyambut Tahun Kuda Api yang dirayakan tahun 2026 nanti, seniman Yu Wenjie, mantan seniman residensi Swatch Art Peace Hotel, menciptakan RIDING THE CLOUDS, jam tangan unik yang berakar pada seni dan budaya Tiongkok. Memadukan elemen Api yang diasosiasikan dengan semangat yang membara dengan simbol keberuntungan Kuda, dial jam dan casing transparan matte menampilkan dua kuda (putih dan hitam, perlambang Yin dan Yang) dengan latar belakang kobaran api dan awan yang melayang dalam cetakan multiwarna. Jarum jam dan menit berwarna emas yang bersinar dalam gelap dan jarum detik berwarna emas menunjukkan waktu. Tali jam multiwarna juga dihiasi dengan desain kobaran api dan awan dalam cetakan multiwarna, dan pengait serta gesper transparan matte melengkapi jam tangan ini. Dengan sayap dan surai yang terbuat dari api, kuda-kuda itu berlari kencang di tengah latar belakang nyala api yang lebih kecil, simbol kegigihan dan tekad, serta menembus awan yang melambangkan berkah keberuntungan dan kemakmuran. Jam berdiameter 41mm dari Polymer ini sudah tersedia di toko-toko Swatch di seluruh dunia dan di www.swatch.com mulai 5 Desember 2025.




Power Design Project menandai cara Seiko berdialog ulang dengan arsip Tissé 1984, sebuah inisiatif internal yang dirancang sebagai ruang eksplorasi bebas bagi para desainer in-house Seiko. Desain ulang Tissé 1984 yang didesain Yuya Suganuma ini terlihat seperti aksesori yang menyatu dengan gaya personal pemakainya, berkat mesin jam quartz ultra-kecil, salah satu terobosan teknologi penting Seiko dan memungkinkan proporsi casing jauh lebih ringkas. Dari sini lahir konsep loose fit, cara mengenakan jam tangan yang lebih longgar dan tidak mendominasi pergelangan. Terdiri dari tiga model edisi terbatas dengan referensi SSEH021, SSEH023, dan SSEH024, ketiganya ditawarkan dalam variasi warna perak, hitam, dan emas, dengan diameter casing 20,2mm dan ketebalan 6,7mm. Jam tangan ini ditenagai mesin quartz Caliber 4N30 dan diproduksi terbatas sebanyak 500 unit untuk setiap model. www.seikowatches.com

TIME FOR LUXURY
All About Luxury Watches Collector’s Corner
Interviews
COLLECTOR’S CORNER
Memasuki Tahun Baru Imlek, berbagai merek terkemuka di industri jam tangan kembali memanfaatkan “energi yang membangkitkan semangat” dari zodiak China. Tahun Kuda yang akan dimulai pada 17 Februari 2026, menjadi kanvas yang kaya bagi merek-merek ini untuk mengeksplorasi tema “kekuatan, energi, dan kebebasan.” Simak beberapa jam tangan favorit Collector’s Guide-WATCHES Indonesia yang membuktikan bahwa meskipun terlahir dari inspirasi simbolisme zodiak kuno, eksekusinya tetap berada di garis depan industri jam tangan Swiss.

Merek jam Arnold & Son menyeimbangkan antara keahlian artistik dan presisi mekanis mereka untuk Tahun Baru Imlek tahun ini dengan merilis jam tangan zodiak China ke-enam mereka secara berturut-turut. Hasilnya adalah model terbaru Perpetual Moon 41.5 Red Gold Year of the Horse yang menangkap semangat “misterius, liar, dan memukau” dari Kuda Api. Dibuat terbatas
dan sangat eksklusif sebanyak delapan buah, jam tangan ini tentunya lebih dari sekadar penunjuk waktu semata; ia adalah sebuah karya seni yang mempesona. Bagian dial jam ini bagaikan panggung malam, dengan latar belakang kaca aventurine hitam yang berkilauan seperti “langit yang luas dan megah.” Di bagian tengah panggung berbintang ini terdapat hiasan kuda yang melompat, yang diukir dengan tangan dari red gold 18K, dengan otot-ototnya yang bergelombang penuh energi saat berdiri di atas relief pegunungan. Menariknya, yang benar-benar membedakan

dial ini adalah interpretasinya terhadap unsur “Api.” Para pengrajin di Arnold & Son melukis secara manual jejak debu emas pada bagian jejak kuda, menggambarkan percikan api yang menyala saat hewan itu melaju ke depan. Saat cahaya meredup, jam tangan ini mengungkapkan kepribadian keduanya. Sentuhan merah dan kuning dari Super-LumiNova pada lanskap dan “kobaran api” bersinar dengan intensitas tinggi, sementara bulan mutiara besar dan rasi bintang Cassiopeia serta Ursa Major menerangi setengah bagian atas dial
Di balik permukaan yang ekspresif dalam balutan case berdiameter 41,5mm ini tersembunyi mesin jam manual-winding A&S1512, sebuah mekanisme yang terkenal karena presisi


astronominya yang luar biasa. Komplikasi moonphase pada jam ini begitu akurat sehingga, ketika diputar secara penuh, akan membutuhkan 122 tahun untuk menyimpang satu hari dari siklus bulan yang sebenarnya. Bagian detail yang menarik selanjutnya bagi kolektor adalah tampilan moonphase sekunder di bagian belakang, yang memungkinkan pengaturan “Lunar Age” dengan cepat dan akurat. Dilengkapi cadangan daya hingga 90 jam yang disediakan oleh penggunaan dua barel, mesin jam ini berdetak dengan stabil pada frekuensi 3Hz. Diakhiri dengan finishingnya yang memikat, dengan bagian bridges yang dipotong miring dan motif Côtes de Genève yang berkilau, jam tangan ini merupakan sebuah pernyataan yang kuat tentang “keunggulan, simbolisme, dan energi vital.” Harga CHF 62.600 (sekitar IDR 1,36 milyar).


Banyak merek jam tangan yang memilih untuk menangkap semangat Kuda Api dalam ukiran statis atau dial yang dihiasi lukisan. Namun, Baume & Mercier memutuskan bahwa penghormatan kepada Kuda harus melakukan apa yang paling dikuasai oleh hewan tersebut: bergerak. Selain itu, dalam lingkaran besar Zodiak China, Kuda melambangkan ledakan energi yang tak terkendali sebagai sebuah makhluk yang penuh aksi, kebebasan, dan juga vitalitas, menjadi sebuah pedoman tersendiri bagi mereka. Baume & Mercier merilis Clifton 10839, edisi terbatas 100 buah yang menyembunyikan rahasia kinetik yang menawan di balik tampilan eksteriornya yang elegan. Jam tangan stainless steel berdiameter 40mm ini menghadirkan kesederhanaan klasik, dengan dial bergradasi abu-abu gelap yang dilapisi lacquer dan memancarkan kedalaman yang memukau. Namun, pada bagian yang diperbesar di posisi pukul 6, kita akan menemukan jantung berdetak dari jam tangan ini. Sebagai penghormatan terhadap preferensi “Middle Kingdom” atau nama untuk China di masa lampau, terhadap angka genap, Baume & Mercier mengganti tanggal genap dengan siluet kuda. Uniknya, setiap siluet kuda digambarkan dalam fase gerak yang berbeda. Dengan memutar cakram untuk tanggal dengan cepat, akan terjadi efek “zoetrope” atau sebuah ilusi seekor kuda jantan yang berlari tanpa henti melintasi waktu.

Bahasa desain yang mengelilingi animasi ini juga sama halusnya. Bagian dial dihiasi dengan indeks berlekuk serta jarum jam yang berbentuk alpha, dalam nuansa emas yang memberikan kontras hangat dan mewah terhadap latar belakang hitam abu-abu. Tali jam tangan dari kulit buaya hitam dengan jahitan abu-abu memperlihatkan lapisan dalam berwarna merah mencolok, seakan mewakili kebahagiaan dan kesuksesan. Mesin jam tangan ini ditenagai oleh Baumatic BM13-1975A, dengan sertifikasi COSC yang menawarkan ketahanan luar biasa terhadap medan magnet hingga 1.500 Gauss. Yang paling menonjol, jam ini memiliki cadangan daya lima hari (120 jam), memastikan jam ini tetap beroperasi bahkan jika anda meninggalkannya di atas meja selama akhir pekan. Pada penutup case belakang terukir siluet kuda jantan warna emas yang seolah-olah menembus kaca. Baume & Mercier berhasil menggabungkan ketelitian teknis dengan perayaan sebuah budaya. Harga: CHF 3.450 (sekitar IDR 75 juta).


Kali ini Breitling menafsirkan semangat “Tahun Kuda” melalui lensa budaya balap mobil bertenaga tinggi era 1960-an. Hasilnya adalah Top Time B01 Shadow Rider, edisi terbatas 288 buah yang terasa lebih seperti undangan untuk berkendara cepat daripada sebuah benda seremonial. Koleksi Top Time, yang awalnya dirancang oleh Willy Breitling pada tahun 1960-an, selalu tentang melanggar konvensi dan menangkap energi “bebas” dari era tersebut. Rilisan terbaru ini mengusung DNA pemberontak yang sama namun dipadukan dengan simbolisme Tahun Baru Imlek. Kuda, lambang kebebasan, kecepatan, dan ketepatan, menemukan tempat yang tepat dalam sebuah chronograph yang dirancang
untuk mereka yang menghargai dan menjalani kehidupan di jalur cepat. Secara visual, jam tangan ini sangat menawan dengan case berbentuk bantal berukuran 38mm. Bagian dial jam tangan ini juga menjadi sorotan utama, dengan motif khas “Zorro” atau “dashboard” berlatar belakang hitam dan bagian subdial berbentuk “squircle” (tidak sepenuhnya persegi, tidak sepenuhnya bulat) berwarna putih. Breitling mengintegrasikan tema Tahun Kuda dengan kehalusan yang mengejutkan. Alih-alih menampilkan hewan yang mencolok di bagian dial, bagian subdial detik pada posisi pukul 9 menampilkan siluet dinamis seorang “pengendara bayangan.” Selain itu, bagian skala tachymeter menampilkan tulisan “YEAR OF THE HORSE” antara pukul 12 dan 2, detail yang hanya terlihat saat diperhatikan lebih dekat. Aksen merah pada jarum detik dan bagian 30-minute counter menambahkan sentuhan gairah pada tata letak monokromatiknya.
Di balik case jam berdetak mesin Caliber 01, yang bersertifikat COSC dengan cadangan daya hingga 70 jam, yang memastikan bahwa jam tangan ini tidak hanya stylish tetapi juga secara mekanis sangat andal. Pada bagian caseback diukir dengan siluet “Shadow Rider” dan tulisan “ONE OF 288” yang menandakan eksklusivitasnya. Dilengkapi dengan tali jam tangan kulit berwarna beige yang terinspirasi dari sarung tangan mengemudi vintage, Breitling Top Time B01 Shadow Rider merupakan sebuah paket yang harmonis. Jam tangan ini berhasil menggabungkan gaya modernretro yang khas Breitling dengan simbolisme dinamis zodiak, menciptakan sebuah jam tangan yang siap menaklukkan horizon baru. Harga: USD 7.700 (sekitar IDR 128,6 juta).



tidak sederhana. Bagian dial ini merupakan karya seni yang luar biasa. Garis-garis latar belakang dibuat dengan teknik marquetry menggunakan rambut kuda, di mana serat-serat rambut kuda yang berwarna berbeda dipilih, dipotong, dan ditempelkan satu per satu pada bagian dasar untuk meniru pola anyaman selimut Hermès yang terkenal. Di atas latar belakang yang bertekstur ini terdapat sebentuk kuda, sebuah applique bergerak yang diukir oleh seorang ahli ukir dengan menciptakan sebuah kedalaman dan volume. Seorang pelukis miniatur kemudian mengaplikasikan lapisan demi lapisan pigmen, lalu membakarnya dalam tungku untuk mencapai warna cokelat yang sempurna dan realistis pada bulu hewan tersebut.
Memamerkan keanggunan dan ketepatan, Hermès mencuri perhatian banyak pihak dengan memandang waktu sebagai arena bermain. Rumah mode Paris ini menunjukkan sisi “playful” mereka dalam kreasi Métiers d’Art terbarunya: Arceau Rocabar de rire. Dibuat berdasarkan desain syal sutra yang unik karya Dimitri Rybaltchenko, jam tangan ini adalah contoh sempurna dari perpaduan emosi yang kontras. Bagian case dari emas putih menampilkan desain klasik Arceau yang dirancang oleh Henri d’Origny pada tahun 1978, dengan lug berbentuk stirrup asimetris dan profil yang elegan berukuran 41mm. Namun, di dalamnya terdapat sebuah adegan komedi murni: seekor kuda yang terbungkus rapat dalam selimut wol bergaris “Rocabar,” yang menjulurkan lidahnya kepada siapapun yang melihat jam ini dengan jelas. Hebatnya, pelaksanaan lelucon ini sama sekali
Keajaibannya terletak pada animasi yang bersifat “ondemand impulse.” Sebuah tuas yang terletak pada posisi pukul 9 yang jika ditekan bisa mengaktifkan mekanisme pegas yang menghidupkan adegan komedi tersebut. Dengan sekali tekan, kuda itu memamerkan profilnya dan dengan nakal menjulurkan lidahnya—sebuah trik mekanis yang mengubah jam tangan dari objek statis menjadi momen kebahagiaan. Jam ini ditenagai mesin jam otomatis Manufacture Hermès H1837, dengan ciri khas huruf “H” pada bagian bridges di belakang dan bandul oscillating weight. Dipadukan dengan tali kulit “Bleu Abysse,” jam tangan ini memancarkan keanggunan tersendiri, ditambah dengan momen spesial saat si pemakai jam tangan memutuskan untuk membiarkan kuda ini melakukan aksinya. Diproduksi terbatas sebanyak 12 buah, Hermès Arceau Rocabar de rire seakan mengingatkan kita bahwa meskipun pembuatan jam tangan adalah sebuah bisnis yang serius, tetap dibutuhkan satu waktu bagi si pemakai jam maupun yang melihatnya, untuk sesekali bersenang-senang. Harga: CHF 159.000 (sekitar IDR 3,45 milyar).

Hublot Spirit of Big Bang Year of the Horse yang diluncurkan di LVMH Watch Week 2026 ini adalah edisi terbatas 88 buah yang menampilkan casing karbon 42mm dengan aksen emas 3N yang membentuk motif kuda. Hublot mendorong batas inovasi materialnya dalam koleksi Spirit of Big Bang Frosted Carbon yang terbuat dari serat karbon unik, menggunakan teknik di mana serat karbon dibuat agar memiliki tampilan buram dan berkilauan, yang dipahat, dilapis, dan diselesaikan sepenuhnya dengan tangan untuk membentuk pelat jam marquetry. Sebuah pernyataan teknis yang menggabungkan inovasi Hublot, presisi, teknik, dan kekuatan budaya dari semangat Naga-Kuda. Pelat jam menggabungkan teknik marquetry karbon dengan aplikasi kuningan berlapis emas 3N dan setiap fragmen karbon dipotong,


disejajarkan, dan dirakit dengan tangan, menunjukkan kendali penuh atas salah satu material paling menuntut dalam pembuatan jam tangan modern. Garis-garis emas 3 dimensi, yang terinspirasi oleh sulaman jubah upacara Tiongkok kuno, memberikan kesan kuat pada kuda tersebut. Casing berbentuk tonneau berukuran 42mm dibuat dari karbon hitam matte, dengan dasar pernis hitam yang memperkuat kontras dan kedalaman, sementara penutup belakang safir berwarna gelap dan tali kulit sapi-karet hitam memperkuat identitas jam tangan yang tegas. Jam tangan eksklusif ini didukung oleh mesin otomatis HUB1710 dengan cadangan daya 50 jam, yang menggabungkan inovasi material berteknologi tinggi dengan simbolisme zodiak Tiongkok tradisional. Harga USD 39.800 (sekitar IDR 668 juta) belum termasuk PPN.

Melanjutkan tradisi yang dimulai sejak lama, IWC Schaffhausen memperkenalkan jam tangan Portugieser Automatic 42 Year of the Horse. Diproduksi hanya 500 buah, peluncuran ini bukan sekadar penghormatan terhadap kalender, melainkan sebuah contoh sempurna tentang bagaimana menggabungkan penghormatan budaya dengan desain Swiss yang khas. Ketika melihat model ini untuk pertama kalinya, jam tangan ini jelas merupakan Portugieser, mempertahankan DNA yang seimbang dan mudah dibaca yang berasal dari model asli Ref. 5000 tahun 2000, dengan penunjuk detik kecil di arah jam 9 dan penunjuk cadangan daya di arah jam 3. Namun, daya tarik utama di sini adalah tentu saja bagian dial-nya. IWC Schaffhausen memilih warna burgundy, warna yang erat kaitannya dengan perayaan Tahun Baru Imlek sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran. Latar belakang yang cerah ini dipadukan dengan jarum jam emas dan angka Romawi yang semuanya terpasang dalam case berukuran 42,4mm yang kokoh namun elegan. Konstruksi case-nya ramping, memamerkan keanggunan arsitektural modern.

Meski bagian dial memberikan sentuhan halus yang mengacu pada momen tersebut, penghormatan sejati terhadap hewan zodiak ini terdapat di bagian belakang. Ketika memutar jam
Sorotan utamanya pada bagian rotor berlapis emas yang dirancang secara rumit berbentuk kuda yang berlari kencang. Mesin jam ini menggunakan sistem pengisian daya Pellaton legendaris dari IWC Schaffhausen, yang menghasilkan cadangan daya yang mengesankan selama tujuh hari (168 jam) melalui dua barel, memastikan jam tetap berfungsi dengan baik untuk gaya hidup aktif yang sering dikaitkan dengan mereka yang lahir di bawah zodiak ini. Terdapat dua opsi tali jam tangan yang terbuat dari kulit buaya—satu berwarna hitam dan satu lagi burgundy—membiarkan pemakainya berganti antara gaya klasik formal dan juga sentuhan penuh perayaan. Sentuhan akhir yang penuh pertimbangan ini menjadi pelengkap manis bagi model terbaru IWC Schaffhausen. Harga: USD 15.500 (sekitar IDR 259 juta).


Merayakan konvergensi astrologi yang hanya terjadi setiap 60 tahun sekali, ketika elemen api bergabung dengan kuda dalam kalender Tiongkok, menandai periode energi yang intens dan tegas, Les Ateliers Louis Moinet menciptakan Tourbillon Puzzle Fire Horse yang memamerkan keahlian tingkat tinggi yang menunjukkan mengapa pabrikan independen ini telah menjadi identik dengan jam tangan pelat puzzle buatan tangan. Sebagai sebuah karya seni métiers d’art yang menakjubkan, jam tangan ini menampilkan Kuda Api yang sangat hidup yang diinterpretasikan menggunakan lukisan mikro dengan tangan pada teka-teki jigsaw 81 keping yang dirakit dengan cermat. Surai kuda, yang digambar sebagai nyala api yang mengalir dan bergaya, menyelimuti siluet kuda dan memperpanjang kesan gerakan. Bentuk bergelombang yang bergantian antara tajam dan buram, kontras dengan garis-garis jelas hewan tersebut dengan energi di sekitarnya. Berkat para pelukis mikro ahli, Kuda Api dari astrologi Tiongkok menjadi hidup dengan vitalitas pada pelat jam puzzle

Konstruksi kompleks ini terdiri dari 81 bagian yang saling terkait dengan cermat yang disusun di empat tingkat. Untuk memastikan harmoni, pengrajin harus membongkar puzzle sepenuhnya, mengecat tepi setiap elemen, lalu menyusunnya kembali. Proses yang sabar ini menghidupkan makhluk legendaris tersebut, sepotong demi sepotong. Jam tangan berdiameter 40,7mm ini terbuat dari rose gold 18K 5N, dipoles dan disikat satin, casing dalam dari titanium kelas 5, dan kedap air hinggal 30 meter. Ditenagai mesin jam flying tourbillon berpemutar manual dengan laras ganda dan cadangan daya 96 jam. Tourbillon Puzzle Fire Horse kembali menunjukkan bagaimana Les Ateliers Louis Moinet mampu membawa seni pembuatan jam tangan ke tingkat ekspresi yang baru. Harga CHF 140.000 (sekitar IDR 3 milyar).

Panerai, Luminor Perpetual Calendar GMT Platinumtech™, dan perjalanan dari instrumen militer menuju ekspresi haute horlogerie yang sempurna

SELAMA BEBERAPA DEKADE, PANERAI MENJALANKAN PERANNYA SEBAGAI
PEMASOK RAHASIA BAGI ANGKATAN
LAUT ITALIA
Hanya dengan melihatnya dari jarak tertentu, berkat bentuk case yang khas, wujud jam tangan Panerai dapat dengan mudah dikenali. Namun identitas visual tersebut bukanlah titik awal cerita, melainkan hasil dari perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelumnya. Didirikan di Florence pada tahun 1860 oleh Giovanni Panerai sebagai ruang kerja, toko, dan sekolah pembuat jam, jejak langkah Panerai awalnya bergerak di ranah instrumen presisi untuk kebutuhan profesional. Peran ini berkembang ketika merek ini dipercaya sebagai pemasok rahasia untuk Italian Navy dan unit penyelamnya, merancang jam tangan dan instrumen yang harus memenuhi kebutuhan operasional di lingkungan maritim dan kondisi minim cahaya. Dari tuntutan inilah pendekatan Panerai terbentuk, dengan keterbacaan, ketahanan, dan keandalan sebagai prioritas utama, sementara desain berkembang sebagai hasil logis dari fungsi yang harus dijalankan.
Selama beberapa dekade, Panerai menjalankan perannya sebagai pemasok rahasia bagi Angkatan Laut Italia, merancang dan memproduksi instrumen presisi serta jam tangan profesional yang digunakan langsung dalam operasi militer. Salah satu tonggak penting terjadi pada 1935, ketika Panerai mengembangkan prototipe jam selam Ref. 2533 dengan pelat jam Radiomir yang dioptimalkan untuk keterbacaan di





kedalaman laut. Pada periode ini, jam tangan Panerai dibuat menggunakan konstruksi casing yang kelak dikenal sebagai Radiomir maupun Luminor, meski belum diposisikan sebagai koleksi bernama seperti saat ini. Luminesensi tinggi, ketahanan air, konstruksi kokoh, dan cadangan daya panjang dikembangkan murni untuk memenuhi spesifikasi angkatan laut. Seluruh pendekatan ini berlanjut hingga 1993, saat Panerai pertama kali memperkenalkan jam tangannya kepada publik.
HALAMAN SAMPING
Panerai Luminor Perpetual Calendar GMT Platinumtech™ PAM01575 terbaru
HALAMAN INI DARI ATAS, KIRI KE KANAN
Butik Panerai kedua di Via Cavour, Florence di tahun 1890; Seorang penyelam Angkatan Laut Kerajaan Italia mengenakan kompas pergelangan tangan dari Panerai di pakaian selamnya; Jam tangan Panerai dengan case Luminor pertama yang diproduksi tahun 1960-an pertama tahun 1960-an; Panerai The Egyptian GPF-2/56 di tahun 1956 (foto ®Luciano Cipullo); Panerai PAM00087 Luminor Submersible Mille Metri GPF 2/56 tahun 1956; Tiga pengukur kedalaman, diproduksi G. Panerai e Figli / Officine Panerai SRL antara tahun 1950-an dan 1980-an

PENDALAMAN PADA PAM01575
MEMPERLIHATKAN BAGAIMANA PANERAI MENERJEMAHKAN KEMEWAHAN MELALUI PENDEKATAN TEKNIS YANG PRESISI
Seiring waktu, pendekatan teknis yang lahir dari kebutuhan angkatan laut berkembang menjadi kerangka yang lebih luas dalam perjalanan Panerai. Identitas jenama ini dibangun melalui tiga ranah yang saling terkait, kebutuhan militer sebagai fondasi teknis, semangat eksplorasi, serta keterikatan pada Italia sebagai asal inspirasinya. Kerangka ini tercermin melalui Panerai Experience Program yang diwujudkan lewat Luminor Goldtech™ Perpetual Calendar PAM01269, jam tangan pertama Panerai dengan komplikasi kalender abadi. Para pemiliknya diundang ke Florence pada Oktober 2022 untuk mengikuti pengalaman eksklusif, termasuk penerbangan dengan balon udara panas di atas kawasan Chianti serta sesi mencicipi anggur di kebun anggur terkemuka Italia. Model ini sekaligus memperkenalkan mesin jam yang kemudian menjadi fondasi teknis bagi generasi berikutnya.
Kemudian hadir Luminor Perpetual Calendar GMT Platinumtech™ PAM01575 yang diperkenalkan sebagai salah satu puncak ekspresi Panerai melalui ajang Watches and Wonders 2025. Jam tangan ini diposisikan sebagai salah satu karya paling bernilai yang pernah dibuat oleh Panerai, bukan hanya karena tingkat komplikasinya, tetapi juga karena perannya sebagai penanda kedewasaan koleksi Luminor.
Pendalaman pada PAM01575 memperlihatkan bagaimana Panerai menerjemahkan kemewahan melalui pendekatan teknis
yang presisi. Case berdiameter 44 mm dibuat dari Platinumtech™, paduan platinum dengan kemurnian 95 persen yang diperlakukan secara khusus sehingga memiliki tingkat kekerasan sekitar 40 persen lebih tinggi dibanding platinum konvensional, sekaligus bobot yang lebih berat dibanding emas 18 karat. Pelat jam safir berwarna biru transparan menampilkan cakram hari dan tanggal tanpa mengorbankan keterbacaan, didukung indeks serta jarum berlapis Super-LumiNova® X2 yang menghasilkan pancaran cahaya hijau lebih intens. Seluruh informasi ditata secara seimbang di kedua sisi mesin jam, termasuk fungsi GMT, untuk menjaga kejernihan visual khas Panerai. Penunjuk GMT 12 jam dipadukan dengan subdial 24 jam serta indikator siang dan malam, menghasilkan tampilan yang tetap tegas dan mudah dibaca, dengan tingkat penyelesaian yang dipikirkan secara matang.


Di balik tampilannya, mesin jam P.4100 menjadi inti dari PAM01575 dan mencerminkan pendekatan engineering Panerai yang berorientasi pada pemakaian jangka panjang. Mesin jam otomatis ini dikembangkan selama lebih dari sepuluh tahun, berdiameter 15½ lignes dengan ketebalan 7 mm, serta menggunakan mikro-rotor emas yang diposisikan tidak di tengah. Dua barrel menyuplai cadangan daya selama tiga hari, sementara frekuensi 28.800 getaran per jam menjaga presisi waktu. Mekanisme kalender abadi mampu menghitung tanggal hingga tahun 2399 dan seluruh pengaturannya dapat dilakukan langsung melalui tombol pengaturan. Sistem perlindungan tanggal yang dipatenkan menjaga stabilitas saat terkena guncangan, sementara ketahanan air hingga 50 meter menegaskan keandalan jam tangan ini untuk pemakaian harian.







HALAMAN SAMPING
Panerai Luminor Perpetual Calendar GMT Platinumtech™ PAM01575 mengusung diameter
44 mm dari bahan Platinumtech™, ditenagai mesin jam P.4100 yang terlihat sebagian dari
balik case jam transparan, dengan indeks serta jarum berlapis Super-LumiNova® X2, dan dilengkapi kotak jam eksklusif
HALAMAN INI DARI KIRI ATAS, KIRI KE KANAN
Panerai Radiomir Annual Calendar PAM01432
dengan dial Burgundy dan indeks serta jarum berlapis Super-LumiNova®; Panerai Submersible
Tourbillon GMT Luna Rossa Experience Edition dengan casing transparan berbahan titanium DLC; Dua tampilan Panerai Radiomir 8 Giorni
Eilean Experience Edition PAM01643 berdiameter
45mm dari baja Brunito dan bezel perunggu dan dial sandwich gradien krem bertekstur





PANERAI MENEMUKAN
REPRESENTASI YANG JELAS
MELALUI MIKE HORN, DUTA JENAMA
YANG DIKENAL LEWAT EKSPLORASI
DI LINGKUNGAN EKSTREM
Menoleh ke sisi adventure, Panerai menemukan representasi yang jelas melalui Mike Horn, duta jenama yang dikenal lewat eksplorasi di lingkungan ekstrem. Keterlibatannya diwujudkan melalui pengalaman nyata yang dirancang Panerai, termasuk ekspedisi ke wilayah Arktik di Svalbard pada 2023, di mana perjalanan dengan kereta luncur dan pendakian di lanskap es ditemani Submersible Mike Horn Edition PAM00985. Narasi ini berlanjut pada 2025 di Bhutan, ketika para peserta menguji ketahanan fisik dan mental di medan terpencil dengan Submersible GMT Titanio Mike Horn Experience Edition PAM01670 di pergelangan tangan. Dalam konteks ini, jam tangan Panerai diposisikan sebagai alat pendamping yang diuji langsung di kondisi ekstrem, melampaui perannya sebagai objek koleksi.


HALAMAN SAMPING
Duta Panerai, Mike Horn saat berada di Bhutan, menguji ketahanan fisik
dan mental di medan terpencil dengan Submersible GMT Titanio Mike Horn
Experience Edition PAM01670
HALAMAN INI
Friend of the Brand Panerai, Jeremy Jauncey, yang dikenal di dunia
perjalanan dan advokasi keberlanjutan, memilih Submersible Chrono Marina
Militare Experience Edition PAM01699 yang tangguh


Sementara itu, arah Panerai yang lebih kontemporer tercermin melalui Jeremy Jauncey, sosok yang dikenal di dunia perjalanan dan eksplorasi global. Kolaborasi ini mencerminkan shared passion terhadap penemuan tempat baru, pengalaman lintas budaya, dan cara perjalanan membentuk perspektif modern. Sebagai pendiri dan CEO Beautiful Destinations, agensi kreatif perjalanan yang diakui Fast Company sebagai salah satu perusahaan paling inovatif di dunia, Jauncey menjangkau audiens global dengan puluhan juta pengikut. Pengalamannya membangun narasi visual tentang destinasi dan petualangan menempatkannya sebagai figur yang selaras dengan semangat eksploratif Panerai. “Saya telah mencintai Panerai sejak lama, dan merupakan sebuah kehormatan besar bagi saya untuk bergabung dengan keluarga Panerai,” ujarnya. Melalui pendekatan ini, Panerai menunjukkan bagaimana warisan teknisnya terus relevan dalam konteks perjalanan dan eksplorasi masa kini.



Kembalinya merek TAG Heuer sebagai Pencatat Waktu Resmi Formula 1 pada tahun 2025, dan peran Antoine Pin untuk mengarahkan merek ini ke era baru
Formula 1 Singapore Grand Prix yang terkenal sebagai balapan pertama yang diadakan di malam hari dalam sejarah F1 sejak 2008, adalah salah satu acara paling bergengsi dan ditunggu dalam kalender F1. Tahun ini, TAG Heuer mengundang kami dari Collector’s Guide-WATCHES Indonesia untuk mengunjungi Paddock Club Formula 1 Grand Prix di Sirkuit Jalan Raya Marina Bay, Singapura, pada 3 Oktober lalu. Selain menghadiri dan meliput acara ajang balap mobil bergengsi ini, kami pun diberi kesempatan untuk mewawancara salah seorang yang berperan penting dalam kembalinya merek TAG Heuer sebagai Pencatat Waktu Resmi Formula 1 pada tahun 2025, yaitu Antoine Pin, CEO TAG Heuer yang namanya sudah tidak asing lagi di industri jam tangan mewah Swiss. Ia kembali ke merek tempat ia memulai kariernya tiga dekade lalu, yang menandai masa jabatan ketiganya di merek tersebut, dan diakuinya sebagai dan sebuah kepulangan yang sangat personal. Berikut rangkuman perbincangan kami dengan sang veteran di LVMH yang memulai perjalanan pembuatan jam tangannya di TAG Heuer pada tahun 1994 ini.

Bagaimana kolaborasi TAG Heuer dengan Formula 1 memengaruhi pengembangan dan desain jam tangan ke depan? Adakah rencana mendatang yang dapat dibagikan kepada publik?
TAG Heuer baru saja memperpanjang kerja sama dengan Red Bull untuk enam tahun ke depan, setelah lima tahun kemitraan sebelumnya. Perlu diingat, TAG Heuer tidak pernah benar-benar meninggalkan Formula 1—hubungan ini telah terjalin selama sekitar 60 tahun. Bahkan kami memiliki koleksi bernama Formula 1, yang menunjukkan betapa dekatnya merek ini dengan dunia balap sejak dulu. Formula 1 adalah sumber inspirasi yang sangat kuat bagi TAG Heuer. Meski hubungan ini tetap konsisten, ada hal-hal baru yang ingin kami lakukan bersama para mitra kami, proyek yang belum pernah ada sebelumnya. Saya yakin dalam beberapa tahun ke depan, mungkin dalam dua hingga dua setengah tahun ke depan, kami akan menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru yang lahir langsung dari dunia Formula 1. Semua itu sudah masuk dalam rencana. Intinya, kami sedang mengerjakan proyek-proyek produk yang hanya mungkin dilakukan berkat kemitraan ini. Namun untuk saat ini, detailnya masih belum bisa diungkap.
Anda pernah bekerja sama dengan TAG Heuer sebelumnya dan kini kembali lagi. Apa momen paling berkesan bagi Anda? Apakah ada sesuatu yang terasa berbeda?
Hal pertama yang langsung terlintas di pikiran saya adalah betapa menyenangkannya bekerja dengan tim TAG Heuer. Dari Basel Fair hingga berbagai seminar, saya selalu bertemu orangorang yang luar biasa, penuh energi, humor, dan benar-benar menikmati hidup. Bekerja bersama mereka tidak pernah terasa membosankan—selalu inspiratif. Semua itu juga menjadi sumber inspirasi bagi saya. Semangat yang sangat membekas di ingatan. TAG Heuer bukan hanya tentang produk, tetapi juga tentang membawa kegembiraan dan antusiasme, pertama-tama kepada tim internal, lalu kepada para klien. Saya juga punya banyak kenangan seru dengan para agen dan distributor yang penuh semangat dan suka merayakan momen bersama. Bagi saya, TAG Heuer selalu terasa seperti sebuah perayaan—merek yang bahagia dan penuh kehidupan. Yang terpenting, semangat itu tetap sama hingga sekarang, dan tugas saya adalah memastikan semangat tersebut terus hidup.
Bisakah Anda menjelaskan tentang kampanye TAG Heuer 2025 “Designed to Win” serta peran merek ini sebagai Official Timekeeper Formula 1? Kampanye “Designed to Win” mencerminkan kekuatan batin yang dimiliki setiap orang saat menghadapi tekanan. Kampanye ini menekankan bahwa di dalam diri kita terdapat potensi besar yang bisa dipicu untuk meraih pencapaian luar biasa. Kita sering mendengar kisah orang-orang yang melampaui batas kemampuan normal—seperti seorang ibu yang mampu mengangkat mobil dalam situasi darurat, atau pelari maraton yang berhasil menembus batas kelelahan di kilometer ke-30. Filosofi ini tidak hanya berlaku di dunia olahraga. Ia relevan dalam bisnis, kuliner, seni, maupun kehidupan sehari-hari. Formula 1 menjadi representasi sempurna dari semangat tersebut, di mana presisi, ketahanan mental, dan tekad menjadi kunci. Bagi TAG Heuer, kesuksesan adalah permainan pikiran. Kampanye ini melanjutkan keyakinan

Antoine Pin CEO TAG Heuer
TAG HEUER BUKAN HANYA TENTANG
PRODUK, TETAPI JUGA TENTANG
MEMBAWA KEGEMBIRAAN DAN
ANTUSIASME, PERTAMA-TAMA KEPADA TIM INTERNAL, LALU KEPADA PARA KLIEN
lama merek tentang inner strength: setiap orang memiliki potensi tersembunyi yang menunggu untuk diungkap. Jam tangan TAG Heuer menjadi simbol pengingat akan kekuatan itu.
Majalah kami ditujukan untuk kolektor jam tangan di Indonesia. Menurut Anda, elemen apa dari TAG Heuer yang paling menarik bagi kolektor Indonesia, baik yang muda hingga kolektor senior?
Jawabannya sederhana: tidak ada merek lain yang menguasai dunia pencatatan waktu seperti TAG Heuer. Sejak awal berdiri, DNA TAG Heuer berakar pada presisi dan chronograph. Sejarah kami dimulai dari paten tahun 1860 yang meningkatkan akurasi pengukuran waktu, dan sejak itu kami terus menghadirkan inovasi—mulai dari Mikrograph hingga Microtimer—yang mendorong batas presisi. Selama sekitar 20 tahun, dari 1958 hingga 1978, TAG Heuer bahkan hanya memproduksi chronograph, bukan jam tangan biasa. Hubungan erat dengan dunia balap dan motorsport, termasuk Ferrari, semakin menegaskan posisi tersebut. Bagi kolektor, membeli TAG Heuer berarti memiliki master of chronograph. Sama seperti Breguet dikenal dengan tourbillon dan Patek Philippe dengan komplikasinya, TAG Heuer dikenal karena chronograph-nya. Chronograph TAG Heuer selalu menjadi inti dalam koleksi, bahkan di koleksi multibrand. Ikon seperti Carrera sejak 1963 menunjukkan keterkaitan erat dengan dunia balap dan motorsport, menjadikan presisi waktu dan semangat balap terasa nyata dalam setiap jam tangan. Itulah esensi yang membuat TAG Heuer menarik bagi para kolektor.
HALAMAN SAMPING DARI ATAS
TAG Heuer Carrera Chronograph Tourbillon Extreme Sport I F1® 75th
Anniversary Limited Edition berperforma tinggi untuk merayakan 75 tahun
balap Formula 1® ini diproduksi terbatas, hanya 75 buah; Jam pit lane TAG Heuer, lambang kemitraan TAG Heuer dengan Formula 1 pada acara Grand Prix Singapura 2025
HALAMAN INI
Antoine Pin, yang pada saat wawancara berlangsung di Singapura, masih menjabat sebagai CEO TAG Heuer

Evolusi ambisius merek menjadi “House of Brands”, membangkitkan kembali merek-merek jam ternama dari masa vakum dengan visi multi-merek yang berani
Pada tanggal November 19 lalu, ada sebuah pengumuman mengejutkan yang disampaikan oleh CEO Breitling, Georges Kern yang hadir menjadi pembicara di acara Creative Hub di salah satu forum paling berpengaruh di dunia horologi, yaitu Dubai Watch Week, dalam presentasinya yang berjudul: Menaklukkan cakrawala baru dalam pembuatan jam tangan Swiss. Ia mengumumkan bahwa merek Breitling telah berkembang pesat dan kini berevolusi menjadi “House of Brands”, sebuah portofolio pilihan yang menyatukan tiga merek jam tangan, yaitu Breitling, Universal Genève, dan Gallet, masing-masing dengan warisan, identitas, dan peran tersendiri dalam industri ini. Dan tampilan perdana ketiga merek tersebut dipamerkan di dalam paviliun khusus dua lantai seluas 400 meter persegi di Dubai Watch Week, di mana para pelanggan terpilih, peritel, dan media dapat merasakan pratinjau House of Brands yang diwujudkan. “Ambisi kami adalah menciptakan sesuatu yang eksklusif, sesuai pesanan, dan cerda. Ini adalah strategi jangka panjang yang bertujuan untuk mengembangkan portofolio merek-merek yang luar biasa dan unik,” jelasnya.
House of Brands menyatukan tiga rumah jam tangan legendaris tersebut di bawah satu strategi visioner. Dua nama bersejarah yang bergabung dengan Breitling, yaitu Universal Genève dan Gallet secara singkat ia presentasikan di acara tersebut, sebelum peluncuran ulang mereka pada tahun 2026 nanti. Langkah ini memungkinkan perusahaan untuk melayani segmen pasar jam tangan yang berbeda, melestarikan dan menghidupkan kembali warisan pembuatan jam tangan yang penting, dan terus mendorong industri ke depan sambil tetap setia pada warisan inovasinya. Dalam presentasinya, Kern menegaskan, “Ambisi kami adalah membangun sesuatu yang terkurasi, disesuaikan, dan lincah. Ini adalah strategi jangka panjang untuk mengembangkan portofolio dengan merekmerek pilihan, luar biasa, dan berbeda. Dengan menyatukan merek-merek ini, kami menawarkan keragaman yang lebih besar di berbagai titik harga dan gaya hidup, memenuhi minat dan aspirasi pelanggan yang terus berkembang. Ini mencerminkan bagaimana kolektor dan konsumen saat ini menikmati pembuatan jam tangan.”

Georges Kern
CEO Breitling
Dengan memilih Universal Genève dan Gallet, ia membangkitkan kembali rumah mode bersejarah yang terkenal dan produsen kronograf terkemuka yang sempat vakum setelah era kuarsa yang penuh tantangan pada tahun 1970-an dan 80-an. Kini mereka kembali dengan gemilang, menegaskan kembali signifikansi dan nilai unik yang mereka bawa ke House of Brands. Kern menyampaikan, “Dengan Universal Genève dan Gallet, kami melestarikan dan merevitalisasi warisan pembuatan jam tangan yang penting dan dengan demikian kami terus mendorong industri maju sambil tetap setia pada warisan inovasi mereka. Strategi kami adalah menawarkan berbagai titik masuk ke dunia kemewahan, setiap merek menceritakan kisah yang berbeda, tetapi semuanya memiliki benang merah yang sama yaitu keahlian otentik dan relevansi modern.” Pengungkapan yang paling menarik berkaitan dengan strategi multi-merek Breitling adalah bahwa di tahun 2026 nanti akan diluncurkan Gallet, yang diposisikan dengan harga antara CHF 3,000 and 5,000 (sekitar IDR 63–108 juta), untuk mengisi segmen mewah kelas menengah yang telah ditinggalkan Breitling. Dengan mesin Sellita dan narasi “wanderlust” yang berpusat pada eksplorasi dan safari, Gallet akan dijual di butik Breitling sebagai merek saudara. Untuk Universal Genève yang terkesan misterius, diposisikan pada titik harga di atas Breitling di segmen ultra-mewah, dan akan beroperasi sebagai merek yang berbeda. Sebagai merek paling eksklusif di dalam House of Brands, merek ini membayangkan kembali pembuatan jam tangan dengan pendekatan kreatif dan artistik, berkolaborasi dengan para ahli pengrajin. Sementara merek Breitling yang


BREITLING TELAH MENGALAMI BANYAK PERUBAHAN SELAMA 7 TAHUN TERAKHIR. INI TIDAK HANYA TENTANG JAM TANGAN PILOT, TIDAK HANYA TENTANG UDARA (NAVITIMER), LAUT (SUPEROCEAN) DAN DARAT (CHRONOMAT)
memiliki sejarah selama 140 tahun, dan menjadi salah satu dari sedikit produsen independen yang memproduksi mesin jam sendiri, berada di pusat House of Brands, menyeimbangkan lebih dari 140 tahun pengalaman dengan kemewahan kontemporer. Merek ini menargetkan audiens inti dengan harga antara CHF 6,000 dan 16,000 (sekitar IDR 130–348 juta), dengan beberapa lini yang lebih terjangkau (SuperOcean, Top Time) dan lainnya yang jauh lebih mahal (jam tangan dengan komplikasi, model emas). Sebagai salah satu dari sedikit pembuat jam tangan independen yang memproduksi mesin jamnya sendiri, karakter modernretro-nya menjembatani energi Gallet dan kualitas luar biasa dari Universal Genève.
Saat kami berbincang singkat ditengah-tengah kesibukannya di ajang Dubai Watch Week, ia menyampaikan pesan khusus bagi para pecinta jam tangan di Indonesia, “Kunjungi butik kami, karena Breitling telah mengalami banyak perubahan selama 7 tahun terakhir. Ini tidak hanya tentang jam tangan Pilot, tidak hanya tentang udara (Navitimer), laut (SuperOcean) dan darat (Chronomat), melainkan tentang koleksi jam tangan mewah dengan banyak produk indah dan berkelas yang perlu Anda temukan. Kami telah banyak berubah dalam 7 tahun, silakan kunjungi kami. Kami juga akan memperkenalkan dua merek jam lainnya di tahun 2026 nanti, yaitu Universal Genève dan Gallet yang akan memberi lebih banyak lagi pilihan bagi para kolektor dan penggemar jam.”
HALAMAN SAMPING
House of Brands diperkenalkan melalui sebuah paviliun khusus dua lantai seluas 400 meter persegi di Dubai Watch Week
HALAMAN INI DARI KIRI
CEO Breitling, Georges Kern; Georges Kern di Dubai Watch Week; Koleksi Breitling Gold Capsule terbaru yang terdiri dari 5 model andalan, dari kiri:
3 koleksi Navitimer dan 2 koleksi Premier
Greubel Forsey tetap sepenuhnya independen di bawah kepemimpinan
Michel Nydegger, dan bagaimana Maison mendekati inovasi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip pendiriannya



Dubai Watch Week memberi kesempatan bagi kami untuk mengenal lebih banyak merek-merek jam tangan mewah dan independen, termasuk Greubel Forsey, sebuah perusahaan pembuat jam tangan Swiss yang mengkhususkan diri dalam pembuatan jam tangan mewah dan rumit. Atelier yang diluncurkan pada tahun 2004 oleh Robert Greubel dan Stephen Forsey dan berbasis di La Chaux-de-Fonds, Swiss ini sukses memadukan teknologi tinggi dengan kerajinan tradisional. Maison ini mempekerjakan sekitar 130 pekerja di bengkelnya di La Chaux-de-Fonds, tempat mereka memproduksi jam tangan dengan finishing ultra-mewah dan komplikasi haute horology
Merek yang dikenal karena memproduksi jam tangan dengan beberapa tourbillon dan roda keseimbangan miring dengan tujuan meningkatkan ketepatan waktu ini tetap sepenuhnya independen. Di bawah kepemimpinan CEO-nya, Michel Nydegger, Greubel Forsey menjadi merek jam yang terus berkembang dan sempat menarik perhatian publik ketika Mark Zuckerberg terlihat mengenakan jam tangan Greubel Forsey, Hand Made 1, yang dijual dengan harga lebih dari USD 900.000. Greubel Forsey semakin terkenal pada tahun 2000-an dan 2010-an, karena komplikasi inovatif yang melampaui batas, seperti double tourbillon yang diluncurkan pada tahun 2004, serta perhatiannya terhadap detail

Michel Nydegger
CEO Greubel Forsey
dan finishing. Bahkan Maison ini berhasil memenangkan total tujuh penghargaan Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG), dengan yang terbaru pada tahun 2025 untuk model Nano Foudroyante, yang memenangkan kategori Mechanical Exception Watch Prize (Pengecualian Mekanis). Diproduksi hanya 22 buah, dikemas dalam balutan white gold, model Nano Foudroyante menandai bab kesepuluh dalam pencarian Greubel Forsey yang tak henti-hentinya akan inovasi fundamental dalam dunia horologi. Michel Nydegger mengungkapkan bahwa Nano Foudroyante bukan sekadar edisi terbatas biasa. Ia mengukuhkan penelitian jangka panjang Greubel Forsey dalam distribusi energi dan melegitimasi nanomekanis sebagai fondasi masa depan dalam pembuatan jam tangan, yang menjadikan Nano Foudroyante sebagai salah satu pencapaian di dunia horologi paling signifikan dalam satu dekade terakhir.
Saat ditanya apa saja tantangan dalam menjalankan merek independen di tingkat tertinggi pembuatan jam tangan, dan bagaimana arah manufaktur di bawah kepemimpinannya, Michel menjelaskan pentingnya penyelesaian akhir secara manual, dan bagaimana Greubel Forsey mendekati inovasi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip pendiriannya. Atelier ini membutuhkan keseimbangan antara mempertahankan keahlian tradisional dan merangkul kemungkinan teknis baru. “Saya rasa saya tidak memiliki gaya manajemen dalam pengertian tradisional, karena Greubel Forsey lebih merupakan kelompok seniman yang berkumpul untuk menciptakan sesuatu yang bermakna. Peran saya sebenarnya adalah membantu mengeluarkan yang terbaik
MAISON INI BERHASIL MEMENANGKAN
TOTAL TUJUH PENGHARGAAN GRAND
PRIX D’HORLOGERIE DE GENÈVE, DENGAN
YANG TERBARU PADA TAHUN 2025 UNTUK
MODEL NANO FOUDROYANTE
dari setiap orang. Itu berarti menerapkan struktur dan metodologi tertentu agar orang-orang dapat fokus sepenuhnya pada pekerjaan mereka.” Dengan karyawan berjumlah sekitar 130 orang, ia merasa sangat beruntung dapat bekerja dengan individu-individu yang berbakat dan berpengalaman.
Ada pesan bagi para kolektor jam, termasuk di Indonesia? Ia menekankan bahwa ia berencana ingin berkunjung lagi ke Indonesia dan bertemu dengan para penggemar jam tangan di tanah air dalam waktu dekat dan mendengarkan apa yang diinginkan para kolektor jam. Dan saat kami tengah berbincang, salah seorang tamu VIP asal Dubai menghampirinya dan menanyakan jika ia bisa membuat personalisasi pada bezel jamnya dengan lapisan batu permata safir biru. Ia tersenyum dan menjawab dengan ramah, bahwa ia bersedia berdiskusi untuk mencari titik temu dan kemungkinan untuk memenuhi permintaan konsumen tersebut.




Berbincang tentang koleksi edisi terbatas bagi para kolektor jam, warisan merek dan inovasi mereka yang terus berlanjut

Pascal Béchu
Managing Director Angelus dan Arnold & Son
Dari ajang Dubai Watch Week 2025, kami berkesempatan berbincang dengan Pascal Béchu, Managing Director merek jam Angelus dan Arnold & Son dan memintanya untuk mempresentasikan identitas kedua merek tersebut serta inovasi mereka untuk tahun ini. ia juga berbagi kabar gembira bagi para pecinta jam tangan di Indonesia. Béchu membuka percakapan dengan menunjukkan jam tangan Angelus yang baru saja meraih penghargaan Chronograph Watch Prize di ajang GPHG 2025 untuk koleksi Angelus Chronographe Télémètre Yellow Gold. Ia mengaku bahwa dalam era saat ini ketika begitu banyak chronograph yang

condong pada ukurannya yang besar, Angelus justru menghadirkan sesuatu yang lebih dalam: sebuah jam tangan yang dieksekusi dengan ketelitian, berakar pada sejarah, dan ditujukan bagi kolektor sejati.
Kemudian untuk merek jam Arnold & Son yang didirikan oleh John Arnold (1736–1799), pembuat jam asal Inggris dan telah memiliki sejarah panjang selama 262 tahun, ia menunjukkan koleksi terbaru Constant Force Tourbillon 11 Platinum Edition yang sangat luar biasa dan mencerminkan komitmen merek terhadap
BERKAT PERHITUNGAN YANG CERMAT INI, DIBUTUHKAN 122 TAHUN AGAR MUNCUL
PERBEDAAN SATU HARI ANTARA TAMPILAN
DAN SIKLUS BULAN SEBENARNYA, JIKA
JAM TANGAN TERSEBUT SELALU TERISI
PENUH DAYANYA
stabilitas kronometrik dan keahlian tinggi, “Jam tangan Constant Force Tourbillon 11 Platinum Edition yang hanya diproduksi 11 buah dari platinum ini terinspirasi oleh mesin jam saku yang dibuat oleh John Arnold pada tahun 1700-an. Arnold awalnya menghadiahkan mesin jam tersebut kepada temannya, AbrahamLouis Breguet, dan setelah kematian Arnold, Breguet memasukkan tourbillon pertamanya ke dalamnya. Jam tangan itu berada di British Museum. Di bagian belakang Constant Force ini, kami telah mereplikasi desain kaliber asli tersebut.” Jam tangan yang luar biasa ini memang diperuntukkan bagi orang-orang yang menyukai keahlian, barang-barang eksklusif, dan relevansi serta referensi historis karena merujuk pada dua pembuat jam tangan terhebat sepanjang masa.
Saat ditanya tentang kesannya mengikuti pameran Dubai Watch Week, ia mengaku bahwa itu adalah pameran luar biasa yang dibangun oleh keluarga Seddiqi. “Pameran seperti ini sungguh luar biasa dan mengesankan, tujuan utamanya adalah untuk memberikan edukasi tentang pembuatan jam tangan kepada para kolektor di wilayah tersebut. Kesuksesan pameran ini sekarang memiliki jangkauan internasional dan sangat penting bagi kami untuk mendapatkan kesempatan untuk terhubung dengan para kolektor dari seluruh dunia dan berbagi dengan mereka koleksi yang sebelumnya hanya mereka lihat di foto. Jadi, kami datang dengan semua koleksi eksklusif dan edisi terbatas kami,” jelasnya lebih lanjut. Untuk ajang ini mereka menciptakan Arnold & Son Nebula 40 Steel, Edisi Ulang Tahun ke-75 Ahmed Seddiqi, sebuah jam tangan skeleton yang luar biasa, edisi khusus yang diproduksi terbatas hanya 10 buah dan diberi judul Nebula 40 Steel, yang kaliber skeletonnya mengesankan karena tata letaknya yang harmonis dan gayanya yang khas. Dengan casing baja 40mm, sentuhan akhir yang luar biasa pada mesin jam, dan banyaknya detail teknis yang unik, desain ini sangat elegan dan bertenaga. Nebula menonjol dari semua jam tangan skeleton lainnya.
Ia juga menunjukkan Arnold & Son Luna Magna Steel, Edisi Turquoise, yang memadukan tampilan bulan dan turquoise, jam tangan edisi terbatas hanya 18 buah. Dial dan bulan yang berbentuk bundar menangkap cahaya, yang mengungkapkan pantulan turquoise yang berubah-ubah dan kilau opal yang tembus pandang. Pertemuan ini memicu alkimia visual, di mana biru jernih berdialog dengan putih bersih, menghasilkan balet mekanis dengan presisi langka, menjadikannya penunjuk waktu sekaligus mahakarya surgawi. Di jantung jam tangan ini berdetak kaliber A&S1021, sebuah mesin pengguliran manual yang sepenuhnya dirancang, dikerjakan, dirakit, dan disetel di pabrik Arnold & Son. Dibangun sebagai pengaturan mekanis di sekitar bulan, ia menggunakan arsitektur yang dirancang untuk menampilkan benda langit sambil menawarkan cadangan daya 90 jam. Di bagian belakang casing, tampilan fase bulan sekunder, dengan

keterbacaan yang luar biasa, memungkinkan penyesuaian dengan presisi astronomis. Dari rilis yang dibagikan ke media diperjelas kecanggihan mesinnya tidak hanya terletak pada estetikanya, tetapi juga pada akurasinya. Kaliber ini dengan setia menghormati durasi satu siklus bulan, yaitu 29 hari, 12 jam, 44 menit, dan 2,8 detik. Berkat perhitungan yang cermat ini, dibutuhkan 122 tahun agar muncul perbedaan satu hari antara tampilan dan siklus bulan sebenarnya, jika jam tangan tersebut selalu terisi penuh dayanya. Prestasi ini menunjukkan keahlian dan penguasaan mutlak Arnold & Son, pewaris semangat visioner John Arnold. Sungguh mengagumkan, dan diakhir percakapan kami, Béchu juga berbagi kabar gembira bagi para pecinta jam tangan di Indonesia, namun masih off the record, stay tuned



Bagaimana ekspedisi Great Spine of Africa membuka pemahaman baru tentang sumber air, lanskap gambut, dan masa depan konservasi di seluruh benua

Apa sebenarnya yang dicari Steve Boyes ketika ia menelusuri sungai-sungai berkelok di Afrika selama bertahun-tahun? Dan mengapa ekspedisi ini penting untuk dilaksanakan?
Melalui proyek Great Spine of Africa, yang didukung
Rolex Perpetual Planet Initiative, Boyes mencoba menjawab pertanyaan mendasar tentang dari mana kehidupan sebuah benua dimulai. Penelitian terbarunya menemukan bahwa sumber Sungai Zambezi berada di dataran tinggi Angola, sebuah wilayah yang selama ini hampir tidak tersentuh dokumentasi ilmiah. Temuan tersebut kini ia ajukan ke Konvensi Ramsar 2025 untuk mendorong perlindungan lanskap Lisima Lya Mwono. Relevansinya pun jelas karena memahami sumber air berarti memahami masa depan ekologis jutaan orang.

MELALUI PROYEK GREAT SPINE OF AFRICA, YANG
DIDUKUNG ROLEX PERPETUAL PLANET INITIATIVE, BOYES MENCOBA MENJAWAB PERTANYAAN
MENDASAR TENTANG DARI MANA KEHIDUPAN
SEBUAH BENUA DIMULAI
Presentasi Steve Boyes di Ramsar Convention menyoroti peran penting Angolan Highlands sebagai “water tower” bagi Afrika bagian selatan. Melalui kombinasi data lapangan dan citra satelit resolusi tinggi, timnya menemukan bahwa sumber Sungai Zambezi berasal dari wilayah yang selama ini terabaikan, padahal kawasan tersebut memengaruhi stabilitas sungai-sungai besar lain di benua itu. Temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan mulai membentuk arah kebijakan konservasi lintas negara. Dengan memahami dari mana air bermula, para peneliti dan pemerintah kini memiliki landasan ilmiah yang kuat untuk menjaga ekosistem penting bagi kehidupan jutaan orang. Penemuan ini menunjukkan bahwa kondisi sebuah benua dapat ditelusuri kembali ke sumber airnya. Salah satu hal yang membuat ekspedisi Great Spine of Africa menarik untuk diperhatikan adalah cara penelitian ini membuka ruang kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan masyarakat yang hidup di sepanjang sungai. Untuk pertama kalinya dalam enam dekade, para raja dan kepala suku berkumpul untuk mendengarkan dan meninjau temuan Steve Boyes, sebuah bentuk dukungan yang memberi bobot besar pada upaya konservasi ini. Menanggapi momen tersebut, Boyes menegaskan pentingnya kebersamaan dengan mengatakan, “Ini sangat berarti bagi saya. Sungai menyatukan masyarakat lintas batas. Mereka adalah penjaga sungai. Mereka bangga dengan airnya. Lima negara sudah sepakat untuk bekerja sama dengan mereka dalam memantau ekosistem.” Perpaduan antara tradisi dan sains inilah yang membuat proyek ini semakin relevan dan layak diikuti perkembangan selanjutnya.


Dalam penelitiannya, Steve Boyes menggambarkan lanskap Lisima Lya Mwono sebagai sesuatu yang sama sekali tidak terduga. Ia menjelaskan, “Lanskap lisima lya mwono (sumber kehidupan) adalah sistem danau sumber dan lahan gambut yang sebelumnya tidak terdokumentasi – penemuan lahan gambut terbesar kedua di Afrika tropis. Saya merasa heran bahwa hal ini tidak diakui secara global” Temuan gambut tropis seluas itu memiliki implikasi besar bagi perubahan iklim karena mampu menyimpan karbon dalam jumlah signifikan. Gambut juga menjaga aliran air tetap stabil dan bersih, menjadikannya elemen penting bagi Zambezi, Okavango, hingga Congo. Penemuan ekologis seperti ini jarang terjadi dan membuka peluang riset yang dapat mengubah pemahaman kita tentang bentang alam Afrika. Di balik pencapaian ilmiah yang dicapai ekspedisi ini, terdapat ketangguhan manusia yang
HALAMAN SAMPING DARI ATAS
Pemandangan udara dari aliran sungai Kwando yang berkelok-kelok di Cekungan Sungai Kwando di Botswana, yang mengalir ke Sungai Zambezi; Pakar konservasi dan pendiri rangkaian ekspedisi Great Spine of Africa, Steve Boyes, difoto saat matahari terbenam di Linyanti, Botswana. Foto-foto: ©The Wilderness Project/James Kydd
HALAMAN INI DARI KIRI ATAS
Steve Boyes sedang berdiri di tepi Sungai Zambezi dekat Air Terjun Victoria, Zimbabwe; Tim ekspedisi seri Great Spine of Africa, yang difoto dari atas, sedang menyusuri Sungai Linyanti di Botswana; Raja Chivueca (tengah) dari wilayah Luchazi di Angola, difoto bersama penjelajah Steve Boyes dan rekan ekspedisinya Kerllen Costa


membuat perjalanan Steve Boyes semakin menarik untuk dipahami. Ia Menghabiskan sembilan bulan dalam setahun jauh dari rumah, mengayuh perahu delapan jam sehari, Boyes menghadapi tantangan yang tidak terduga, mulai dari terbalik karena kuda nil dan diserang oleh gajah, hingga menghabiskan enam hari di rumah sakit karena malaria. Pengalaman keras ini justru menegaskan urgensi dari misi yang ia emban. Boyes mencatat hal itu dengan mengatakan, “Saat ini hanya 14 persen wilayah Afrika yang dilindungi. Setiap kali saya pergi ke sumber sungai, ada masyarakat yang hidup secara tradisional dan sudah menjaganya. Mereka hanya perlu diakui seperti itu” Konservasi pun menjadi upaya bersama yang bertumpu pada komunitas, sains, dan dukungan global.
Ekspedisi Great Spine of Africa kini memasuki fase dengan tujuan yang jauh lebih besar, yaitu melindungi 1,2 juta kilometer persegi ekosistem air Afrika pada 2035. Setelah Zambezi, penelitian akan meluas ke sistem Congo dan Nil sehingga menjadikannya salah satu upaya pemetaan ekologis terbesar di dunia. Rolex, melalui Perpetual Planet Initiative, mendukung para ilmuwan, eksplorator, dan komunitas lokal dalam membangun dasar ilmiah bagi masa depan yang lebih berkelanjutan. Mengikuti perjalanan ini berarti memahami bagaimana sumber air memengaruhi masyarakat, ekonomi, dan stabilitas lingkungan di benua Afrika. Kisah ini masih terus berkembang, dan setiap temuan baru memperjelas pentingnya melindungi sistem air yang menjadi tulang punggung suatu wilayah kehidupan.


“SAAT INI HANYA 14 PERSEN WILAYAH AFRIKA
YANG DILINDUNGI. SETIAP KALI SAYA PERGI
KE SUMBER SUNGAI, ADA MASYARAKAT YANG
HIDUP SECARA TRADISIONAL DAN SUDAH
MENJAGANYA. MEREKA HANYA PERLU DIAKUI
SEPERTI ITU” ~ STEVE BOYES
HALAMAN SAMPING DARI ATAS
Sungai Kwando yang berkelok-kelok, difoto dari atas; Seekor gajah jantan yang gagah perkasa muncul dari tepian Sungai Linyanti, Botswana

HALAMAN INI DARI KIRI ATAS
Air terjun Victoria Falls yang megah di Zimbabwe mengalir deras. Karya perintis The Wilderness Project telah menunjukkan bahwa lebih dari 70% air yang jatuh di Victoria Falls berasal dari Angola, temuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah pada tahun 2025; Pakar konservasi Steve Boyes tampak sedang melakukan survei perairan Sungai Kwando di Botswana; Steve Boyes dan timnya sedang makan malam di sekitar api unggun, diterangi oleh bintang jatuh yang melintas di atas kepala di Linyanti, Botswana
Kolaborasi terbaru Hublot dan Daniel Arsham ini menyingkap dimensi waktu yang mengalir di antara seni kontemporer dan teknik horologi mutakhir


Sejak pertama kali berkolaborasi pada tahun 2023 lewat MP-16 Arsham Droplet, Hublot dan Daniel Arsham telah membangun dialog kreatif yang memadukan horologi dengan seni kontemporer. Dalam proyek terbarunya, MP-17 Meca-10 Arsham Splash Titanium Sapphire, waktu seolah berhenti berjalan dalam garis lurus. Arsham kembali mengeksplorasi gagasan tentang runtuhnya batas antara masa lalu dan masa depan, menjadikan setiap detik terasa cair dan tak terikat. Terinspirasi dari bentuk dan gerak air, karya ini mewujudkan kelenturan dan dinamika dalam konstruksi yang menyerupai cipratan yang membeku di udara. Jam tangan ini bukan hanya hasil rancangan estetis, tetapi juga sebuah percakapan antara keabadian dan kefanaan, antara transparansi dan ketegangan yang dirangkai dengan presisi dan imajinasi oleh dua dunia berbeda tapi mampu saling melengkapi.

Kolaborasi ini memadukan filosofi Art of Fusion milik Hublot dengan pendekatan “arkeologi fiksional” khas Daniel Arsham, di mana benda-benda masa kini dibayangkan sebagai artefak dari masa depan. Setiap lekukan pada case berdiameter 42mm menampilkan bahasa desain yang mengalir dan transformasional. Material seperti kristal safir, titanium, dan karet berpadu membentuk siluet yang ringan sekaligus futuristik. Pada pelat jam, bukaan berbentuk cipratan air menjadi evolusi langsung dari motif tetesan pada MP-16, seolah menangkap momen gerak yang membeku dalam waktu. Di titik pertemuan antara inovasi material dan eksplorasi konsep waktu inilah, Hublot dan Arsham berhasil menciptakan karya yang melampaui fungsi dan menembus batas persepsi. Transparansi pada MP-17 Meca-10 Arsham Splash tidak hanya menjadi keputusan estetis, melainkan pernyataan tentang keterbukaan dan kejujuran mekanis. Permukaan safir buram dan

TERINSPIRASI DARI BENTUK DAN
GERAK AIR, KARYA INI MEWUJUDKAN
KELENTURAN DAN DINAMIKA DALAM
KONSTRUKSI YANG MENYERUPAI
CIPRATAN YANG MEMBEKU DI UDARA
bahan titanium berfinis microblasted memperlihatkan mesin jam manual HUB1205 buatan mandiri, lengkap dengan struktur skelet yang menampilkan indikator cadangan daya secara terbuka. Aksen hijau khas Arsham memberi napas pada keseluruhan desain, menerangi angka, penanda waktu, serta jarum jam dan menit dengan kilau lembut yang vibran. Paduan kontras antara material buram dan kilau safir menciptakan irama visual yang mengingatkan pada aliran air ketika terpapar oleh cahaya. Di setiap pantulan dan bayangan, transparansi berpadu dengan temali karet hitam bertekstur Charmille yang dihiasi monogram Arsham, yang diamankan dengan pengaman bermekanisme deployant dari bahan titanium.
Bagi Julien Tornare, CEO Hublot, karya ini melanjutkan semangat jenama dalam mendorong batas inovasi melalui kolaborasi lintas disiplin. Ia menuturkan bahwa MP-17 Meca-10 Arsham Splash Titanium Sapphire merupakan “undangan untuk melihat waktu dari sudut pandang yang baru,” di mana presisi teknis bertemu ekspresi artistik. Sementara itu, Arsham menerangkan bahwa rancangan ini adalah eksplorasi tentang gerak yang tertahan, “struktur transparan yang menangkap kejernihan dan dinamika air.” Pertemuan pandangan ini memperlihatkan bagaimana Art of Fusion tidak hanya berbicara tentang pencampuran material, tetapi juga cara berpikir yang menggabungkan dua dunia dengan bahasa yang sama. Di sinilah seni dan rekayasa bertemu dalam

harmoni yang menciptakan makna baru tentang waktu dan bentuk. Dibatasi hanya 99 unit di seluruh dunia, MP-17 Meca-10 Arsham Splash Titanium Sapphire meleburkan pemahaman awam mengenai fungsi tradisional sebuah jam tangan. Ditenagai mesin HUB1205 buatan Hublot, jam tangan ini memiliki cadangan daya menakjubkan hingga 240 jam, yang setara dengan 10 hari penuh tanpa perlu diatur ulang. Pencapaian ini dimungkinkan oleh rancangan mekanisme twin-barrel yang saling terhubung, memastikan aliran energi tetap stabil dari awal hingga akhir. Dengan ketahanan air 50 meter dan keseimbangan struktural yang presisi, ia tampil sebagai objek imajinasi sekaligus karya kontemplatif tentang bentuk dan waktu. Melalui kolaborasi ini, Hublot dan Daniel Arsham tidak hanya menciptakan jam tangan, tetapi menghadirkan peristiwa artistik yang menangkap aliran dunia seni dan horologi dalam satu wujud abadi.
HALAMAN SAMPING
Hublot MP-17 Meca-10 Arsham Splash Titanium Sapphire dalam bahan titanium berfinis microblasted dan ditenagai oleh mesin jam manual HUB1205
HALAMAN INI
Daniel Arsham; CEO Hublot, Julien Tornare, Daniel Arsham dan Managing Director The Hour Glass, Michael Tay di acara peluncuran Hublot MP-17 di Singapura

Serial TV terbaru ini adalah serial horologi yang merangkai perjalanan, budaya, dan individu di balik karya jam tangan istimewa

KEHADIRANNYA SELARAS DENGAN MENINGKATNYA MINAT GLOBAL TERHADAP JAM TANGAN MEKANIS SEBAGAI SIMBOL BUDAYA, EKSPRESI, DAN KARYA SENI
Bagaimana jika sebuah tayangan horologi bukan hanya mengulas jam tangan, tetapi juga membuka pintu menuju sebuah dunia, individu, dan kisah yang membentuknya? Man of the Hour (2025), serial terbaru yang tayang di Discovery Channel, hadir sebagai undangan untuk menjelajahi pembuatan jam tangan melalui perspektif yang lebih personal dan penuh kehangatan.
Program ini membawa penonton melintasi berbagai kota mulai dari Los Angeles, Jenewa, Paris, dan Singapura, serta lintas budaya untuk menemukan nilai, proses kreatif, dan narasi di balik karya waktu kelas dunia. Alih-alih sekadar menampilkan hasil akhir, serial ini mengajak kita mengupas pemikiran, cerita perjalanan, serta filosofi yang melatarbelakanginya. Kehadirannya pun selaras dengan meningkatnya minat global terhadap jam tangan mekanis sebagai simbol budaya, ekspresi, dan karya seni, menjadikan serial delapan episode terasa relevan bagi penikmat horologi masa kini.


Di balik layar dan di depan kamera, kehadiran Wei Koh menjadi benang merah yang menyatukan seluruh perjalanan episode serial TV ini. Sebagai pembawa acara sekaligus produser eksekutif, pendiri majalah jam tangan Revolution ini membawa bukan hanya kredibilitas, tetapi juga hubungan personal yang telah ia bangun selama bertahun-tahun dengan para pelaku horologi dunia.
HALAMAN SAMPING
Poster film Man of the Hour (2025), serial terbaru yang tayang di Discovery Channel
HALAMAN INI DARI KIRI
Episode 1, Wei Koh bersama pendiri F.P. Journe, yaitu François-Paul Journe yang disebut sebagai “legenda hidup” atau “Godfather dalam pembuatan jam tangan independen”; Pesta kejutan untuk Journe; Episode 2, Wei bersama Co-President Chopard, Karl Friedrich Scheufele


Dalam serial ini, ia tidak tampil sebagai pewawancara yang menjaga jarak, melainkan sebagai sosok yang memahami dinamika hidup, mimpi, dan jatuh bangun para pembuat jam tangan tersebut. Karena itulah percakapan yang muncul terasa natural, jujur, dan hangat, membuat penonton seolah ikut duduk di meja yang sama. Sentuhan personal ini memberikan nuansa berbeda dari tayangan horologi kebanyakan yang cenderung formal atau instruktif, menjadikan Man of the Hour (2025) terasa lebih mudah diresapi.
Di tengah seluruh keindahan mekanis yang ditampilkan, inti dari serial ini sesungguhnya adalah individu di balik jam tangan itu sendiri. Setiap episode menyingkap nilai keluarga, tradisi, dan ketekunan yang menjadi fondasi para pembuat jam independen dalam membangun karya dan reputasi mereka. Penonton diajak melihat bagaimana sebuah warisan dijaga, disempurnakan, bahkan diuji agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.


Seperti yang diungkapkan Karen Seah, Produser Eksekutif di Refinery Media, “kisah tentang nilai warisan yang diteruskan, menerapkan seni yang bertahan menghadapi tantangan, dan inovasi yang lahir dari ketangguhan,” ungkapnya mengenai daya tarik serial ini. Dari sini, dunia jam tangan tampil sebagai lanskap emosional dan kultural, bukan semata industri mewah atau ajang prestise, menjadikannya menyentuh audiens jauh di luar komunitas kolektor.





BAGI WEI KOH, “INI BUKAN SEKADAR DOKUMENTER TENTANG HOROLOGI, MELAINKAN TENTANG BERBAGI KEHIDUPAN, TAWA, PERJUANGAN, DAN KEMENANGAN ORANG-ORANG YANG SAYA SAYANGI”
Episode demi episode dalam musim perdananya membuka pintu ke ragam filosofi dan pendekatan kreatif yang membentuk wajah horologi masa kini. Penonton diajak menyusuri warisan François-Paul Journe sebagai sosok visioner independen, lalu bergeser ke Chopard untuk melihat bagaimana keluarga Scheufele menjaga nilai dan inovasi lintas generasi. Ketika De Bethune tampil, seri ini memperlihatkan bagaimana sains, seni, dan alam berpadu menjadi bahasa desain unik yang memikat.
Ada pula kisah kebangkitan Urban Jürgensen, perjalanan inspiratif Rexhep Rexhepi, hingga semangat pembaruan Louis Vuitton bersama Jean Arnault dan para maestro di balik mesin jamnya. Keragaman sudut pandang ini membuat serial TV terasa seperti perjalanan kuratorial yang memperkaya, karena setiap episode menghadirkan refleksi berbeda tentang apa arti kreativitas, warisan, dan relevansi dalam horologi masa kini.
Di tengah berkembangnya minat global terhadap jam tangan sebagai ekspresi budaya, investasi, dan karya seni, serial ini diramu sebagai pengingat bahwa esensi horologi selalu kembali pada tiap individu dan kisah yang mereka bawa. Baik kolektor berpengalaman maupun penonton yang baru mulai memahami jam tangan mekanis dapat menemukan sudut pandang yang memperkaya apresiasi mereka.
Sentuhan personal yang mengalir di sepanjang seri ini bukan terjadi tanpa alasan, karena bagi Wei Koh, “ini bukan sekadar dokumenter tentang horologi, melainkan tentang berbagi kehidupan, tawa, perjuangan, dan kemenangan orang-orang yang saya sayangi.” Dengan pandangan tersebut, seri ini mampu menjangkau lapisan emosi yang jarang tersentuh dalam tayangan horologi. Pada akhirnya, Man of the Hour (2025) bukan hanya tontonan untuk memahami jam tangan, tetapi kesempatan untuk merayakan setiap individu, hubungan, dan makna waktu yang menyatukan mereka. Untuk informasi lebih lanjut mengenai serial ini dapat ditemukan langsung melalui tautan https://manofthehour.tv.
HALAMAN SAMPING DARI KIRI SEARAH JARUM JAM
Wei Koh; Wei bersama Alex Rosenfield, CEO Urban Jürgensen; Wei bersama Wes Lang, seniman yang berbasis di LA yang mengenakan Urban Jürgensen; Wei bersama Rexhep Rexhepi; Wei bersama Denis Flageollet, pendiri merek De Bethune
HALAMAN INI DARI KIRI SEARAH JARUM JAM
Wei bersama CEO Greubel Forsey, Michael Nydegger; Director of Watches di Louis Vuitton, Jean Arnault; Wei bersama Pendiri MB&F, Maximilian Büsser, saat berada di M.A.D house

ID Genève mendefinisikan ulang arti kemewahan untuk abad ke-21 lewat koleksi unggulan yang baru saja rilis, Circular S “Eclipse”
Ada sebuah niche dalam dunia horologi mewah yang mengedepankan inovasi dalam rupa yang berbeda dari biasanya. Gagasan utamanya bukan terletak pada rumitnya inovasi komplikasi, bukan juga pada kilau emas dan batuan mulia, namun pada sebuah revolusi sirkuler dalam proses pembuatan jam tangan. Konsep ini dibawa oleh ID Genève, sebuah merek jam tangan asal Swiss yang mendefinisikan ulang arti kemewahan untuk abad ke-21. Lewat koleksi unggulan yang baru saja rilis, Circular S “Eclipse”, ID Genève menegaskan sebuah pesan penting bahwa sustainability bukan sekadar tren, namun alternatif masa depan jam tangan mewah. Jalan ID Genève ini turut mendapat dukungan tokoh publik, Leonardo DiCaprio, aktor pemenang Oscar sekaligus advokat lingkungan dan investor di ID Genève. “Sebagai investor ID Genève, saya bangga melihat perusahaan ini mempelopori solusi-solusi baru. Memanfaatkan kekuatan matahari untuk membuat material adalah contoh nyata bagaimana inovasi dapat mempercepat aksi iklim,” ungkapnya.
Keunikan koleksi Circular S lahir dari gagasan yang radikal, yaitu menciptakan material jam tangan dari baja tahan karat yang sepenuhnya didaur ulang dan dilebur menggunakan energi matahari terfokus. Ini merupakan teknologi yang sebelumnya tak pernah digunakan dalam pembuatan jam tangan Swiss. Baja dipanaskan menggunakan sinar matahari yang terpusat pada suhu lebih dari 1.500 °C tanpa menggunakan bahan bakar fosil, menghasilkan jejak karbon 165 kali lebih kecil dibandingkan proses peleburan baja konvensional. Baja yang diproses dengan teknologi tungku solar ini merupakan perwujudan bahwa desain, material, dan produksi sebenarnya bisa bersinergi tanpa merusak lingkungan. Jam tangan Circular S “Eclipse” diluncurkan bersamaan dengan pembukaan tungku tenaga surya pertama di Swiss oleh Panatere. Pentingnya tenaga surya dalam proses pembuatan jam tangan ini turut disimbolkan dalam huruf S dalam nama Circular S yang berarti Solar.

“SEBAGAI INVESTOR ID GENÈVE,
BANGGA MELIHAT PERUSAHAAN INI
MEMPELOPORI SOLUSI-SOLUSI BARU.
MEMANFAATKAN KEKUATAN MATAHARI
UNTUK MEMBUAT MATERIAL ADALAH
CONTOH NYATA BAGAIMANA INOVASI DAPAT
MEMPERCEPAT AKSI IKLIM.”
~ LEONARDO DICAPRIO
Nama Eclipse pada seri jam tangan ini diwujudkan pada tampilan visualnya. Layaknya gerhana yang memadukan gelap dan terang, bagian dial-nya merefleksikan fase transisi. Penggambaran “Eclipse” dimulai dari dial berwarna hitam yang menggunakan teknik guilloché laser, diikuti dengan cincin emas yang memukau, hingga indeks berlapis Super-LumiNova daur ulang, yang dirancang untuk menghadirkan kesan gerhana yang elegan di pergelangan tangan. Case jam tangan Circular S “Eclipse” berdiameter 41 mm dengan ketebalan 9.65 mm, yang memadukan sentuhan polesan satin pada bezel, dan opsi finishing tepi yang halus atau beralur. Pada bagian depan dan belakang jam menggunakan kristal safir, sejumlah 70% berasal dari material daur ulang yang memperkuat komitmen keberlanjutan ID Genève tanpa mengorbankan kejernihan visual dial dan daya tahannya. Prinsip ramah lingkungan dilanjutkan hingga ke dalam motor inti penggeraknya, sebab di dalam jam tangan terdapat mesin mekanis


yang “dihidupkan” kembali, berupa ETA 2824 yang diremajakan dari stok tak terjual. Mesin tersebut diservis dan disesuaikan ulang untuk menjaga keandalan serta kepresisian yang mampu menjadi standar produk buatan Swiss. Mesin automatic ini berdetak pada frekuensi 28.000 getaran per jam (4Hz) dengan cadangan daya sekitar 38 jam. Movement ini mempunyai fungsi yang mencakup jam, menit, detik, serta tanggal yang terletak pada pukul 3, sesuai bagi mereka yang menghargai estetika minimalis dan fungsional. Di samping itu, jam tangan ini mempunyai ketahanan air hingga 50 meter memberikan keseimbangan ideal untuk kegunaan praktis sehari-hari.
Untuk melengkapi konsep sustainable, Circular S “Eclipse” turut dilengkapi dengan tali jam berbasis bio yang dibuat dari residu anggur pasca proses pembuatannya yang telah melewati proses daur naik oleh NISIAR, serta pilihan tali jam karet alami tanpa plastik dari MIRUM. Gesper jam tangan juga menggunakan baja solar yang diproses dengan cara yang sama, menunjukkan komitmen menyeluruh terhadap konsep zero waste yang diusung ID Genève. Packaging jam pun tidak luput dari filosofi ini, menggunakan dukungan miselium yang dapat terurai secara alami serta material lain yang ramah lingkungan, menjadikan seluruh pengalaman pemakaian jam ini bebas dari limbah berbahaya.
ID Genève Circular S “Eclipse” diproduksi dengan jumlah 15 unit di seluruh dunia, menjadikannya objek koleksi yang berbicara tentang masa alternatif masa depan industri jam tangan.
HALAMAN SAMPING
Tungku tenaga surya pertama di Swiss milik ID Genève yang menghasilkan material jam tangan dari baja tahan karat yang sepenuhnya didaur ulang dan dilebur menggunakan energi matahari terfokus
HALAMAN INI DARI KIRI
Leonardo DiCaprio dan Nicolas Freudiger; Jam tangan Circular S “Eclipse” dengan dial hitam yang menggunakan teknik guilloché laser, dan cincin emas yang dirancang untuk menghadirkan kesan gerhana
OF VIEW
Koleksi OAK adalah puncak dari 40 tahun kurasi yang telaten dan penuh gairah, dari sang kolektor ulung Patrick Getreide, yang menghargai warisan haute horlogerie kelas dunia

Pernahkah Anda membayangkan ada seseorang pecinta jam dan kolektor ulung yang begitu mencintai dunia horologi hingga rela menghabiskan waktu selama puluhan tahun untuk mencari, membeli dan mengoleksi jam-jam tangan paling langka di dunia, utamanya dari Patek Philippe yang sangat eksklusif dalam koleksi “One of A Kind” (OAK)? Orang itu bernama Patrick Getreide, yang telah menghabiskan empat dekade terakhir untuk mengumpulkan koleksi lebih dari 480 jam tangan, baik jam saku maupun jam tangan pergelangan tangan, dengan nilai ratusan juta dolar.
Collector’s Guide-WATCHES Indonesia sangat beruntung saat diundang untuk melihat ratusan koleksi berharga yang dijaga ketat di tempat yang dirahasiakan ini, dan bertemu langsung dengan
Patrick Getreide, saat kunjungan kami ke Jenewa baru-baru ini. Bagi para kolektor dan penggemar jam, dapat memasuki ruangan
besar yang berisi ratusan koleksi paling ikonik dan dijaga ketat serta bertemu langsung dengan sang pemilik koleksi bernilai ratusan juta dolar itu adalah sesuatu hal yang istimewa. Kami berbincang-bincang dengan Patrick untuk menyelami pendekatan uniknya dalam mengoleksi jam tangan, ikatan emosional dengan jam tangan, dan evolusi hobi ini dari kegiatan individual menjadi kegiatan sosial ini. Patrick dengan ramah menyambut kami dan berbagi wawasannya mengenai pentingnya memamerkan koleksi dan kebutuhan akan lebih banyak museum jam tangan yang merayakan keindahan jam tangan seperti yang ia miliki. Kami pun diajak berkeliling untuk melihat sendiri seluruh koleksinya, sembari menyimak pengetahuannya di dunia jam tangan mewah, hingga seluk-beluk mengoleksi jam tangan. Ia juga menjawab pertanyaan kami seputar bagaimana mengetahui keaslian seluruh koleksi jam tangannya, bagaimana strategi dan pengalaman emosionalnya dengan lelang. Koleksinya memang tidak main-main, dan didefinisikan oleh kelangkaan yang ekstrem, dengan fokus pada contoh “terbaik di kelasnya”, termasuk berbagai koleksi unik, atau pesanan khusus, dan tidak pernah ada koleksi jam tangan seperti The OAK Collection miliknya, bahkan boleh dibilang tidak tidak akan pernah ada lagi, karena semesta karya yang layak dimasukkan, menurut definisinya, semakin kecil.
Mungkin sebagian orang akan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang membuang-buang uang dan gila. Namun Patrick tidak perduli, ketertarikannya sejak kecil pada jam tangan mekanik, kemudian berkembang menjadi obsesi membeli ketika ia mulai mendapatkan uang yang dibutuhkan untuk mewujudkan impiannya memiliki jam tangan yang dikenakan di pergelangan tangannya. Cartier Tank adalah jam tangan pertama yang dibeli Patrick dan di sinilah semuanya bermula. Selama empat puluh tahun dengan kurasi yang cermat, The OAK Collection telah menyatukan barang koleksi paling berharga, mulai dari koleksi komprehensif, tematik, hingga lintas sektoral yang terdiri secara eksklusif dari jam tangan dalam kondisi prima, lengkap dengan kotak dan dokumen, diservis secara teratur, dan berfungsi sempurna. Terbagi dalam tiga kriteria yang membutuhkan kesabaran memandu setiap akuisisi yang teliti di antara hampir 600 jam tangannya: kelangkaan, kualitas, dan asal-usul. Koleksi ini hanya terdiri dari karya-karya “terbaik dari yang terbaik” dan yang paling







PATRICK MEMILIKI TIM KHUSUS, YANG
TERDIRI DARI BELASAN PRIA DAN WANITA
YANG MENGAWASI AKUISISI, PENJUALAN, DOKUMENTASI, SERVIS, DAN BANYAK LAGI
didambakan di dunia, bahkan banyak di antaranya memecahkan rekor lelang (lebih dari empat puluh hingga saat ini). Koleksi OAK juga tetap menjadi satu-satunya koleksi yang pernah dipamerkan di museum desain internasional, dan satu-satunya koleksi yang memiliki beberapa lini Patek Philippe terlengkap, yang hanya bisa dilakahkan oleh koleksi dari Museum Patek Philippe sendiri. Ini semua dicapai berkat pendekatan kewirausahaan, karena koleksi OAK dikelola seperti sebuah perusahaan yang hidup, bahkan Patrick memiliki tim khusus, yang terdiri dari belasan pria dan wanita yang mengawasi akuisisi, penjualan, dokumentasi, servis, dan banyak lagi. Dan setiap referensi baru yang masuk ke Koleksi OAK harus melalui serangkaian uji presisi yang ketat. Baik dari tahun 1920-an maupun 2020-an, setiap jam tangan harus memenuhi spesifikasi yang sama: deviasi maksimum ± 1 menit per 24 jam operasi terus menerus.
Tim Koleksi OAK mengorganisir akuisisi ke dalam keluarga yang kohesif. Hanya kelas-kelas tertentu yang diwakili, termasuk ranah yang jauh lebih khusus dan langka dari “Graves dan keturunannya”, yaitu jam tangan unik yang dibuat khusus atas pesanan Henry Graves Jr., bankir Amerika yang terkenal menugaskan Patek Philippe untuk menciptakan “superkomplikasi” yang tetap menjadi salah satu jam tangan paling dicari sepanjang masa. Koleksi OAK memiliki tujuh di antaranya, lebih banyak daripada koleksi lainnya di seluruh dunia. Koleksi OAK secara teratur menambahkan jam tangan baru,








terutama yang memiliki peran penting dalam setiap koleksi horologi tingkat tinggi, seperti jam tangan Graves, Rolex Daytona, kronograf Patek Philippe QP, edisi ulang tahun terbatas, seperti H730 (untuk Nautilus), H166 (untuk Graves), H464 (untuk Calatrava). Koleksi OAK juga mencerminkan gejolak politik (Dekrit Nantes), guncangan pasar (krisis kuarsa), dan perhatian budaya, yang terlihat melalui berbagai adegan yang digambarkan pada banyak sekali pelat jamnya. Ini termasuk pemeriksaan mikroskopis komponen.
Koleksi OAK adalah koleksi jam tangan yang terdokumentasi paling lengkap di dunia, sebuah warisan sejati bagi pemiliknya dan generasi mendatang, namun Patrick juga merangkul ciptaan jam saat ini dan desain masa depan, termasuk serangkaian koleksi Omega, Rolex Daytona, Doxa, Kari Voutilainen, Rexhep Rexhepi, Ludovic Ballouard, Trilobe, Ressence, dan Speake-Marin.
HALAMAN SAMPING
Salah satu kolektor jam tangan pribadi terbesar di dunia dan pemilik Koleksi OAK, Patrick Getreide
HALAMAN INI DARI KIRI ATAS SEARAH JARUM JAM
Ruang yang dirahasiakan, tempat ratusan koleksi berharganya; Patrick saat sesi wawancara; Foto masa kecilnya; Beberapa koleksinya: Patek Philippe Ref. 982/140G, jam saku emas bergambar Geisha; Rolex Sports Chronographs Ref. 116506; Jam saku Patek Philippe Minute Repeater dari koleksi Henry Graves Jr; Jam saku Patek Philippe. Ref. 605 HU World Time; Patek Philippe Ref. 3970R Chronograph; Patek Philippe Ref. 37001 Nautilus; Patek Philippe Ref. 1504A Calatrava; Cartier Tank tahun 1980 yang menandai awal dari Koleksi OAK; Patrick di pameran koleksinya di London Design Museum tahun 2022 bersama Thierry Stern dan Patrick Cremers, Nick Foulkes dan istri










Edisi bersejarah tahun ini ditutup dengan meriah karena dunia horologi bergembira merayakan kelompok baru pemenang yang memang layak mendapatkannya
Ajang penghargaan paling bergengsi di industri horologi yang sering disebut sebagai “Oscar” di dunia jam tangan, Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG), pada tahun ini kembali mengumumkan para pemenang yang mencerminkan industri yang berada di puncak kreativitasnya. Mereka tidak hanya menunjukkan waktu, namun juga menceritakan sebuah kisah. Berikut beberapa jam tangan favorit Collector’s Guide WATCHES Indonesia yang menonjol selama upacara penghargaan dan berhasil mencuri perhatian banyak pihak tahun ini.
HALAMAN SAMPING
Penghargaan Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG) dan para tamu undangan VIP yang menghadiri malam Gala penyerahan penghargaan di Bâtiment des Forces Motrices, Jenewa, dan foto kami bersama pendiri jam tangan MB&F, Maximilian Büsser
HALAMAN INI
Para pemenang penghargaan Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG) 2025 berfoto bersama seusai acara gala di gedung
Bâtiment des Forces Motrices



“AIGUILLE D’OR” GRAND PRIX:
Breguet, Classique Souscription 2025
Di antara jajaran penghargaan paling bergengsi di dunia pembuatan jam tangan, “Aiguille d’Or” adalah penghargaan tertinggi di GPHG, dan menjadi gelar puncak untuk satu-satunya jam tangan paling luar biasa tahun ini. Penghargaan tertinggi ini dianugerahkan kepada Breguet untuk Classique Souscription 2025, sebuah jam tangan yang menjalin narasi mendalam tentang warisan dan pembaruan bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya yang ke-250. Jam tangan ini menghidupkan kembali semangat visioner jam tangan Souscription asli karya AbrahamLouis Breguet dari akhir abad ke-18, sebuah instrumen jenius pragmatis yang dijual secara berlangganan untuk mendanai produksinya sendiri. Jam tangan ini menampilkan jarum tunggal berwarna biru, dibuat dan dipanaskan dengan tangan, yang menyapu bagian dial jam dengan “grand feu” enamel yang murni. Kesederhanaannya menutupi kecanggihan teknis dan artistik yang
luar biasa, dari tanda signature Breguet yang tersembunyi di bagian dial dan kaca bertipe “chevé” (kubah) hingga bagian tengah case dalam versi satin.
Namun, jiwa sejati dari jam tangan ini terungkap di bagian belakang case. Pola “guilloche” eksklusif dari Quai de l’Horloge— alamat bersejarah Breguet di Paris—membingkai ukiran katakata pendirinya tentang konsepsi mesin jam tersebut. Ini adalah pengingat yang menyentuh hati bahwa jam tangan ini bukanlah sebuah replika, tetapi penerusnya yang spesial, dengan konstruksi arsitektur mengambil inspirasi dari Souscription yang bersejarah dan kaliber jam tangan taktis. Bagi Gregory Kissling, CEO dari Breguet, dan seluruh pihak yang terlibat di Breguet, “Aiguille d’Or” merupakan validasi atas keunggulan tanpa henti selama seperempat milenium. Penghargaan ini bukan hanya untuk sebuah jam tangan, tetapi juga untuk semangat kolektif, keahlian, dan standar tinggi yang tak kenal lelah dari setiap pengrajin yang menghidupkan merek ini.



ICONIC WATCH PRIZE:
Audemars Piguet, Royal Oak Perpetual Calendar
Dalam dunia horologi, di mana istilah “ikon” seringkali digunakan, ada satu jam tangan yang benar-benar mendefinisikannya: Audemars Piguet Royal Oak. Evolusi terbarunya—Royal Oak Selfwinding Perpetual Calendar—berhasil meraih penghargaan Iconic Watch yang didambakan. Penghargaan ini hadir saat merek tersebut merayakan hari jadinya yang ke-150, yang sekaligus menghargai satu setengah abad pengerjaan yang tak terputus dan semangat kolaboratif yang berakar pada tradisi “établissage.” Tradisi ini merupakan sebuah tradisi pembagian kerja secara khusus untuk pembuatan jam yang mengurutkan produksi dan perakitan jam tangan di antara berbagai pengrajin khusus yang bekerja dari rumah, terutama pada abad ke-19. Jam tangan dalam balutan emas 18K ini memiliki case dan gelang jam yang terbuat dari paduan unik yang dapat berganti warna antara white dan rose gold, menawarkan kehangatan yang memukau. Estetika ini diperkuat oleh bagian dial “Grande Tapisserie” yang legendaris, yang ditampilkan dalam skema monokrom yang mengutamakan harmoni dan keterbacaan yang mudah untuk tampilan komplikasi perpetual calendar mereka. Namun, kejeniusan sejati dari referensi
ini terletak di balik permukaannya, di dalam calibre 7138 yang baru. Mesin ini merupakan pencapaian horologi yang signifikan, dilindungi oleh lima paten. Mesin ini dikembangkan berdasarkan pendahulunya dengan mengintegrasikan seluruh mekanisme perpetual calendar secara cerdik ke dalam satu tingkat. Hasilnya adalah profil yang sangat ramping, hanya 4,1mm, terbungkus dalam case setebal 9,5mm. Inovasi yang berpusat pada pengguna adalah sistem “all-in-one” pada bagian crown, yang memungkinkan setiap pengaturan kalender—hari, tanggal, bulan, fase bulan— diatur dengan presisi yang sederhana dan tanpa alat, sehingga menghilangkan risiko kerusakan pada mekanisme yang rumit.
Seperti yang disampaikan oleh CEO dari Audemars Piguet, Ilaria Resta, menerima penghargaan ini di tahun peringatan mereka merupakan sebuah keistimewaan yang sangat besar. Hal ini merupakan bukti nyata dari semangat setiap pengrajin di Le Brassus. Jam tangan Royal Oak Perpetual Calendar menjadi lebih dari sekadar pemenang penghargaan, melainkan pernyataan yang kuat yang sekaligus membuktikan bahwa ikon yang paling legendaris sekalipun dapat terus berkembang, melampaui batasbatas desain namun tetap menjadi diri mereka sendiri yang tak lekang oleh waktu.



MEN’S COMPLICATION WATCH PRIZE: Bovet 1822, Récital 30
Dalam dunia pembuatan jam tangan mewah yang rumit, ukuran sejati dari sebuah komplikasi mesin bukanlah sekadar kerumitannya, tetapi kesederhanaan secara elegan yang digunakan untuk menyelesaikan kebutuhan yang nyata. Bovet Récital 30 berhasil meraih penghargaan “Men’s Complication Prize” dengan melakukan hal tersebut: mengubah tugas pelacakan waktu secara global yang seringkali berbelit-belit menjadi pengalaman yang intuitif dan memukau secara visual. Kemenangan ini adalah puncak kejayaan dari perjalanan selama enam tahun, dibangun di atas sistem tampilan roller inovatif yang telah membawa pendahulunya, Récital 28, meraih penghargaan GPHG setahun sebelumnya. Jam tangan Récital 30 adalah ekspresi paling murni dari konsep world-timer revolusioner Bovet. Ia menyaring esensi perjalanan global ke dalam bagian dial-nya, yang didominasi oleh dua bagian roller yang dengan anggun menampilkan nama-nama kota di dunia.
Namun, ini bukan hanya sekadar tampilan semata, seperti diungkapan oleh Pascal Raffy, pemilik Bovet 1822. Ini adalah sistem yang terintegrasi penuh dan dapat disesuaikan, yang memperhitungkan penyesuaian waktu seperti “Daylight Saving Time.” Dengan penyesuaian sederhana, jam tangan ini bahkan dapat diatur ke salah satu dari empat periode waktu tahunan: “Universal Time Coordinated (UTC),” “American Summer Time,” “European & American Summer Time,” atau “European Winter Time.” Hal ini sekaligus memastikan bahwa semua 24 zona waktu utama di berbagai kota, ditambah zona waktu unik yang dimiliki New Delhi, selalu akurat secara permanen. Informasi disajikan dengan jelas melalui bagian roller yang menunjukkan nama kota guna memberikan referensi global secara instan. Indikator siang/ malam yang terhubung dengan local time juga menjadi solusi menarik. Kemampuan ini adalah mahakarya yang dikembangkan selama lebih dari setengah dekade, yang membuatnya terasa sangat mudah untuk digunakan.



SPORTS WATCH PRIZE:
Chopard, Alpine Eagle 41 SL Cadence 8HF
Dalam kasta tertinggi jam tangan sports mewah, di mana daya tahan dan sifat dinamisnya menjadi hal penting, inovasi sering kali lahir dari upaya pengejaran terhadap hal yang dianggap mustahil. Misalnya, menciptakan instrumen berperforma tinggi yang sangat ringan tanpa mengorbankan setitik pun kekuatan. Dan inovasi yang rumit ini mengantarkan Chopard Alpine Eagle 41 SL Cadence 8HF dan Co-President Chopard, Karl-Friedrich Scheufele meraih penghargaan dalam kategori “Sports Watch.” Kemenangan ini seakan menegaskan penguasaan ilmu dari Chopard dalam memadukan material mutakhir dengan seni pembuatan jam avant-garde. Nama “SL” yang disematkan di model ini adalah singkatan dari “Super Light,” sebuah janji yang ditepati melalui konstruksi inovatifnya melalui case berukuran 41mm, bezel, hingga crown yang dibuat dari “ceramicised titanium,” material yang lahir dari teknologi kedirgantaraan. Melalui proses oksidasi elektro-plasma, material titanium grade 5 ini diolah hingga mencapai tingkat kekerasan menyerupai ceramic. Hasilnya? Jam tangan tahan gores dan tangguh, namun tetap terasa ringan di
pergelangan tangan. Filosofi terkait efisiensi ini bahkan menyentuh bagian terdalam jam, mulai dari mainplate dan juga bridges pada mekanisme mesin Chopard 01.14-C yang juga dibuat dari paduan logam canggih tersebut. Hal ini juga menjadikan mesin jam ini sebagai bintang utamanya, dengan kemampuan berdetak pada 8 Hz (57.600 vph). Proses osilasi yang sangat cepat ini secara signifikan meningkatkan stabilitas chronometric dengan meminimalkan efek guncangan, yang mana merupakan sebuah fitur krusial bagi sebuah jam tangan sports
Untuk mengatasi gesekan dan kebutuhan energi yang besar pada kecepatan tersebut, Chopard menggunakan organ pengatur yang dipatenkan dengan komponen kunci berbahan silikon yang memiliki sifat pelumasan mandiri. Hasilnya bukan hanya sekedar presisi luar biasa dan juga sertifikasi COSC, tetapi juga cadangan daya yang mengesankan selama 60 jam. Secara visual, jam tangan ini adalah studi tentang kecanggihan yang memancarkan nuansa teknis monokromatik, dengan dial titanium berwarna “Pitch Black” yang memiliki pola khas irisan mata elang. Sentuhan warna oranye cerah pada jarum detik dan simbol panah dengan frekuensi tinggi meningkatkan keterbacaan di bawah kondisi apa pun.





TIME ONLY WATCH PRIZE:
Daniel Roth, Extra Plat Rose Gold
Di tengah hingar-bingar dunia jam tangan mewah modern, kategori “Time Only” justru merayakan sebuah hal yang berbeda: keanggunan murni yang tak tersentuh keriuhan komplikasi. Pada ajang penghargaan ini, kategori tersebut diberikan kepada Daniel Roth Extra Plat Rose Gold, sebuah jam yang menjadi bukan sekadar alat penunjuk waktu, melainkan bukti nyata akan kekuatan abadi dari desain klasik dan seni horologi tinggi. Ini adalah sebuah kemenangan sekaligus kebangkitan untuk nama yang sangat dihormati, dihidupkan kembali dengan penuh ketelitian oleh para pembuat jam di La Fabrique du Temps Louis Vuitton. Jantung dari daya tarik jam ini terletak pada garis keturunan model klasiknya yang mendalam. Jam tangan ini setia menghormati siluet elips ganda yang ikonik, sebuah bentuk yang dicetuskan oleh Mr. Roth sendiri pada tahun 1980-an. Namun, model kali ini menyaring konsep tersebut hingga ke esensinya. Terbuat dari rose gold 5N yang dirampingkan hingga ketebalan hanya 7.7mm, bagian case menghadirkan kesan halus dan nyaris tanpa bobot di pergelangan tangan, mewujudkan visi awal sang maestro akan sebuah jam tangan dress yang ultra-tipis.
Sementara, bagian dial dalam kombinasi two-tone yang mewah mewujudkan kombinasi sempurna antara keanggunan kontemporer dan keahlian tradisional. Dibuat dari emas putih, jam tangan ini dilengkapi dengan penunjuk jam dari rose gold 5N dengan ukiran garis guilloché—pola guilloché vertikal yang menjadi ciri khas gaya Daniel Roth. Jarum jam dari stainless steel berwarna hitam dengan angka Romawi dan nomor individual dari setiap bagiannya seakan menunjukkan sebuah kontras monokromatik yang berbicara tentang kepercayaan diri yang sederhana. Sebaliknya, jantung dari kesederhanaan secara visual pada jam tangan ini bisa dilihat di bagian belakang dengan mesin calibre DROO2 terbaru. Dikembangkan dari awal oleh master watchmaker Michel Navas dan Enrico Barbasini, bentuk movement ini dengan indah mencerminkan siluet elips ganda dari Roth yang ikonik dan dilengkapi cadangan daya yang cukup lama hingga 65 jam. Kombinasi ini membuktikan bahwa jam “sederhana” yang hanya menunjukkan waktu pun dapat menghadirkan mekanisme mesin dengan kompleksitas dan keindahan dalam waktu yang bersamaan.



CHRONOMETRY PRIZE:
Zenith, G.F.J. Calibre 135
Dalam era yang didominasi oleh mesin otomatis berfrekuensi tinggi, kemenangan Zenith pada ajang GPHG 2025 dengan model G.F.J. adalah pengingat kuat bahwa seni tertinggi dalam sebuah jam tetap berakar pada satu prinsip abadi: presisi yang absolut. Meraih penghargaan “Chronometry Prize,” G.F.J. bukan hanya sekedar jam tangan yang menandakan hari jadi dari merek Zenith, ia merupakan kebangkitan kontemporer yang gemilang dari sebuah mesin kaliber yang boleh dibilang merupakan chronometer terhebat dalam sejarah; mesin Calibre 135 yang legendaris. Pada zaman keemasan uji observatorium, di mana para pembuat jam bersaing untuk validasi ilmiah atas akurasi mereka, Calibre 135-O Zenith adalah juara yang tak terbantahkan. Ia meraih rekor 235 penghargaan dan pencapaian menakjubkan: lima kemenangan berturut-turut di Observatorium Neuchâtel dari 1950 hingga 1954. Merayakan 160 tahun mereka, Zenith tidak sekadar merilis ulang ikon ini, mereka merekayasa ulang kembali dengan mahir untuk abad ke-21.
Mesin Calibre 135 terbaru ini mempertahankan jiwanya namun juga menggabungkan rangkaian roda gigi modern, penggunaan Breguet overcoil, dan mekanisme stop-seconds, sekaligus mencapai cadangan daya selama 72 jam dan juga sertifikasi COSC. Penyelesaiannya, dengan pola guilloché bertipe batu-bata yang menakjubkan juga memberi penghormatan langsung pada bagian façade di bangunan pabrik Zenith yang asli. Jam tangan berukuran 39mm yang terbuat dari platinum ini memancarkan keanggunan halus era 1950-an, dengan bagian bezel bertingkat dan bagian lugs yang seakan dipahat. Tiga bagian dial-nya merupakan mahakarya seni berlapis; mulai dari bagian luar cincin dengan guilloché bertipe batu-bata yang khas, bagian tengah dari lapis lazuli berwarna biru tua yang seakan meniru langit berbintang, dan bagian sub-dial pada bagian bawah pada pukul enam yang terbuat dari motherof-pearl. Kombinasi ini menjadikan G.F.J. replika nostalgia, dan jembatan yang membentang melintasi 160 tahun ambisi horologi. Jam ini membuktikan bahwa pencarian tanpa henti untuk presisi, yang mendefinisikan visi pendiri Zenith, Georges Favre-Jacot, bukanlah peninggalan masa lalu.



“PETITE AIGUILLE” WATCH PRIZE:
M.A.D. Editions, M.A.D.2 Green
Jika melihat ke dalam dunia high horology yang kerap kali hadir dengan sangat serius, penghargaan “Petite Aiguille” seakan memiliki tujuan vital, yaitu merayakan sebuah kejeniusan pembuatan jam yang tidak mengharuskan kita sebagai pengguna untuk merogoh kocek hingga terlalu dalam. Pada tahun 2025, penghargaan untuk keunggulan high-end yang terjangkau ini diberikan kepada M.A.D.2 Green dari M.A.D.Editions, sebuah jam yang membuktikan bahwa kreativitas radikal dan kesenangan murni bisa bersifat demokratis dengan cemerlang. Ini bukan sekadar jam tangan, ia seakan menjadi sebuah artefak yang keluar dari lantai dansa pada era 1990-an, sebuah “babak kedua” yang dengan percaya diri melangkah keluar dari bayang-bayang pendahulunya yang sukses besar.
M.A.D.2 adalah buah pemikiran dari desainer legendaris Eric Giroud, kolaborator lama dengan pendiri jam tangan MB&F, Maximilian Büsser. Jika M.A.D. edisi pertama adalah proyek pribadi Max, M.A.D.2 adalah surat cinta dari Giroud kepada masa mudanya, khususnya suasana klub elektrik di Lausanne.
Desainnya adalah terjemahan yang piawai dari getaran era itu. Bagian subdial yang terangkat seakan menyerupai mesin turntable DJ, berputar di atas dial utama yang bertekstur seperti piringan hitam. Elemen paling memikat adalah bagian yang dinamakan stroboscopic platter yang mengelilinginya, yang terinspirasi dari pita strobo pada mesin turntable klasik dari merek Technics SL-1200. Uniknya, hal ini bukan menjadi sekedar dekorasi; ini adalah rotor penggerak otomatis yang berputar dengan setiap gerakan di pergelangan tangan. Di balik estetika yang menarik perhatian banyak pihak itu, terdapat kecerdasan mekanis yang asli. Jam ini dilengkapi komplikasi “jumping hour” dua arah yang tersembunyi, ditunjukkan oleh penanda kecil berbentuk almond di pusatnya, semacam tanda penghormatan untuk desain jam pertama dari Giroud. Ditenagai oleh mesin kaliber Swiss La JouxPerret yang kemudian ditingkatkan dengan modul “jumping hour” eksklusif yang dikembangkan oleh MB&F, mesin ini dibungkus dalam case stainless steel 42mm yang menyerupai batuan guna melengkapi penampilannya yang mencolok. Memenangkan penghargaan “Petite Aiguille” bagaikan memvalidasi seluruh filosofi M.A.D.Editions: bahwa seni membuat jam yang luar biasa harusnya menjadi sebuah pengalaman, bukan menjadi sebuah komoditas eksklusif.



TOURBILLON WATCH PRIZE:
Bvlgari, Octo Finissimo Ultra Tourbillon
Dalam arena yang sangat ekskluzsif dari dunia pembuatan jam tangan tipe ultra-thin, koleksi Bvlgari Octo Finissimo telah lama menjadi juara yang tak terbantahkan. Pada ajang GPHG 2025, iterasi berikutnya dari model Octo Finissimo Ultra Tourbillon meraih penghargaan “Tourbillon Watch Prize.” Kemenangan ini bukan hanya tentang rekor baru, ini adalah sebuah pernyataan dari merek ini tentang cara menyatukan presisi dalam level mikroskopis dengan kehadiran arsitektural yang juga monumental. Jam tangan ini hadir dengan ketebalan total hanya 1,85mm. Sebagai perbandingan, jam tangan ini menjadi lebih tipis dari banyak koin. Hebatnya, dalam ruang yang kecil ini, Bvlgari mampu mengintegrasikan mekanisme flying tourbillon yang berfungsi penuh dan juga terskeletonisasi. Pencapaian ini mewakili rekor dunia kesepuluh bagi garis keturunan Octo Finissimo, sebuah perjalanan ciamik selama satu dekade yang dimulai pada tahun 2014.
Tantangan di jam tangan ini juga melampaui sekadar miniaturisasi semata. Jam tangan ini sedikit banyak merekayasa ulang kembali komplikasi paling puitis dalam dunia jam tangan
dari awal. Mesin calibre BVL 900 adalah mahakarya tersendiri, di mana setiap bagiannya dipahat demi integritas struktural sekaligus transparansi yang memukau, membiarkan cahaya menari-nari di antara keseluruhan bagian mesinnya. Namun, di balik semua keberanian teknisnya, jam ini tetaplah Bvlgari yang sesungguhnya. Bagian case-nya yang berukuran 40mm tetap mempertahankan geometri oktagonal ikonik mereka, sementara bagian bracelet tipis berukuran 1,5mm yang terintegrasi menjadi pelengkap istimewa. Nuansa monokrom abu-abu pada keseluruhan desain juga menciptakan estetika yang kohesif, yang seakan memusatkan perhatian pada keindahan dari gerakan tourbillon itu sendiri.
Seperti diakui CEO Bvlgari Jean-Christophe Babin, memenangkan penghargaan “Tourbillon Watch Prize” menunjukkan sebuah filosofi yang mendalam; bahwa ketipisan ekstrem ini adalah sebuah komplikasi besar itu sendiri. Bvlgari tidak hanya membuat jam tipis yang dilengkapi dengan tourbillon; mereka telah mendefinisikan ulang tourbillon untuk sebuah dimensi baru. Octo Finissimo Ultra Tourbillon lebih dari sekadar pemegang rekor, ia adalah sebuah manifesto yang bisa dikenakan, membuktikan bahwa masa depan dari dunia haute horlogerie bukan hanya tentang apa yang ditambahkan ke dalam sebuah jam tangan, tetapi juga tentang apa yang berani dibuang, baik itu dari dimensi ataupun berat, dengan secara brilian.

CHRONOGRAPH WATCH PRIZE:
Angelus, Chronographe Télémètre Yellow Gold
Kemenangan Angelus di ajang GPHG 2025 seakan menjadi momen penegasan dan pengakuan global atas keahlian merek ini dalam komplikasi chronograph, yang dipersembahkan melalui mahakarya Chronographe Télémètre. Diperkenalkan sebagai model dalam edisi terbatas yang terhitung langka, chronograph ini sejatinya hadir dalam tiga varian eksklusif: dua versi stainless steel dengan warna rose-bronze dan abu-abu titanium (masingmasing hanya 25 buah), serta satu varian yellow gold 18K yang diciptakan sebanyak 15 buah saja. Di satu sisi, kelangkaannya langsung memikat para kolektor. Namun, di sisi lain, daya pikat sejatinya terletak dari segi estetika mereka yang khas dan erat hubungannya dengan warisan horologi Angelus yang dimulai sejak 1891 oleh Stolz bersaudara. Berukuran 37mm, Chronographe Télémètre merangkul proporsi vintage yang otentik dengan kecerdasan desain yang luar biasa. Lengkungan dari bagian lug ke lug disertai ketebalannya sebesar 9.25mm yang ramping membuatnya nyaman ketika dikenakan. Satu hal yang menjadi poin utama, jiwa seni dari desainnya terletak pada “skala telemeter,” sebuah komplikasi historis yang dahulu digunakan untuk mengukur jarak berdasarkan selang waktu. Meski saat ini fungsinya lebih sebagai penghormatan kepada nostalgia, namun ia juga memberikan karakter dan kedalaman visual yang memikat pada tata letak bagian dial


Setiap detail pada dial dieksekusi dengan sempurna, dengan bagian subdial yang menambah kompleksitas visual, sementara indeks jam dan angka Romawi yang disematkan dengan rhodium berwarna hitam atau emas 3N menyempurnakan kesan elegan. Ketiganya ditenagai oleh mesin calibre A5000 buatan in-house Sebagai mono-pusher chronograph yang terintegrasi dan beroperasi pada 3 Hz, ia menggunakan kombinasi column wheel dan horizontal clutch, sebuah konfigurasi yang hadir dalam desain chronograph era 1940-an hingga 1970-an. Dilengkapi dengan tali jam tangan kulit dalam pilihan warna steel blue, anthracite grey, atau sage green, jam tangan Chronographe Télémètre ini menjadi berbeda bukan hanya karena tingkat konfigurasinya, tetapi juga oleh jiwa historis yang mengalir di dalamnya. Mulai dari proporsinya, arsitektur movement, dan produksinya yang sangat terbatas menegaskan kembali kelangkaan dan daya tariknya dalam waktu yang bersamaan.
Pascal Béchu, Managing Director Angelus mengaku bahwa dalam era saat ini ketika begitu banyak chronograph yang condong pada ukurannya yang besar, Angelus justru menghadirkan sesuatu yang lebih dalam: sebuah jam tangan yang dieksekusi dengan ketelitian, berakar pada sejarah, dan ditujukan bagi kolektor sejati. Penghargaan GPHG 2025 ini sekali lagi mengukuhkan apa yang telah diketahui para kolektor: Angelus menciptakan salah satu chronograph paling memikat di era modern.

MEN’S WATCH PRIZE:
Urban Jürgensen UJ-2, Double wheel natural escapement
CEO merek Urban Jürgensen, Kari Voutilainen dan Alex Rosenfield adalah duo yang memimpin kebangkitan kembali merek jam tangan bersejarah ini. Sebagai sebuah merek yang didirikan di Kopenhagen pada tahun 1773 dan menjadi simbol pembuatan jam tangan berkualitas tinggi di Denmark, merek ini kembali menggebrak dengan melakukan comeback yang manis dengan salah satu model terbarunya, Urban Jürgensen UJ-2, yang mendapatkan penghargaan bergengsi “Men’s Watch Prize” pada ajang GPHG tahun 2025. Uniknya, jam tangan ini bukanlah sebuah jam tangan yang meneriakkan spesifikasinya dengan lantang, melainkan sebuah pernyataan filosofis yang mendalam, diungkapkan melalui keindahan yang elegan dan eksekusi yang ciamik. Model jam tangan Urban Jürgensen UJ-2 mengekspresikan keindahan yang bersahaja, hadir dengan mekanisme inti double wheel natural escapement, atau sebuah mekanisme yang keanggunannya menutupi kompleksitas pembuatannya—sebuah ide yang pertama kali diusulkan oleh mentor Urban Jürgensen, Abraham-Louis Breguet pada abad ke-18, dan kini disempurnakan oleh Kari Voutilainen.


Setiap komponen, mulai dari roda ganda yang dikerjakan sepenuhnya dengan tangan hingga bagian bridge yang seakan terlihat utuh, dan juga dekorasi pada bagian-bagian yang tak terlihat oleh mata si pengguna jam tangan, diselesaikan dengan teliti bersama-sama dalam sebuah harmoni yang sempurna. Sistem ini menawarkan transfer energi yang lebih halus dan efisiensi daya hingga 30% lebih besar daripada mekanisme escapement Swiss tradisional yang menggunakan lever. Dari konfigurasi roda-roda escapement yang melakukan pertunjukkan balet yang rumit, seakan menghubungkan antar generasi dari sang pendiri merek, Urban Jürgensen dan gurunya, Abraham-Louis Breguet, hingga para pengrajin masa kini. Keunggulan teknis dan estetika tertinggi jam ini diakui secara formal ketika model ini berhasil meraih penghargaan bergengsi “Men’s Watch Prize”, mengukuhkan posisinya bukan hanya sebagai model yang cukup rumit, namun juga sebagai puncak pencapaian horologis dengan melampaui fungsinya sebagai penunjuk waktu. Model Urban Jürgensen UJ-2 menjadi bukti yang kuat atas keyakinan bahwa menandai waktu dengan indah adalah hal yang penting. Jam tangan ini menjadi pengingat bahwa perhatian, dedikasi, dan ketelitian yang dituangkan ke dalam hal-hal yang paling sederhana pun sejatinya dapat menunjukkan seluruh pengalaman yang mereka miliki.



MECHANICAL EXCEPTION WATCH PRIZE:
Greubel Forsey, Nano Foudroyante
Dalam dunia jam tangan yang ketat secara persaingan dalam segi inovasi dan estetika, hanya segelintir nama dari dunia independent yang mendapatkan penghormatan layaknya Greubel Forsey. Pada tahun 2025, pembuat jam independen ini sekali lagi membuktikan mengapa mereka dianggap sebagai salah satu pembuat jam yang paling cerdas secara intelektual di era modern, dengan Greubel Forsey Nano Foudroyante yang meraih “Mechanical Exception Prize”. Nominasi penghargaan dalam kategori ini bukan hanya sekadar jam tangan semata; ia adalah tesis ilmiah yang bisa dikenakan di pergelangan tangan, sebuah pencapaian monumental yang mendorong energi mekanis hingga ke batas “nanojoule,” sebuah satuan dari besaran energi. Diproduksi hanya 22 buah, dikemas dalam balutan white gold, model Nano Foudroyante menandai bab kesepuluh dalam pencarian Greubel Forsey yang tak henti-hentinya akan inovasi fundamental dalam dunia horologi.
Pertama kali diperkenalkan sebagai prototipe EWT (Experimental Watch Technology) pada 2024, inti dari Nano Foudroyante terletak pada salah satu ide paling disruptif yang pernah diimplementasikan dalam jam tangan: “nanomechanics” atau nanomekanika, dengan pengendalian energi pada skala nanojoule. Secara tradisional, jarum “foudroyante”—yang menampilkan pecahan detik—menyita energi yang besar, seringkali sekitar 30 mikrojoule per lompatan dalam konstruksi klasik. Arsitektur
nanomekanika dari Greubel Forsey mengurangi kebutuhan ini menjadi hanya 16 nanajoule, sebuah reduksi yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga 1.800 kali lipat. Greubel Forsey Nano Foudroyante juga memperkenalkan tingkat efisiensi spasial yang baru dengan menggabungkan beberapa komplikasi seperti Flying Tourbillon, Flyback Chronograph, dan Nano Foudroyante (1/6 detik) ke dalam satu kesatuan. Meskipun sangat kompleks secara struktural, semuanya diletakkan dalam case Greubel Forsey yang paling kecil hingga saat ini, dengan ukuran diameter 37.90mm, dan ketebalan 14.34mm.
Kombinasi flying tourbillon yang menyelesaikan satu rotasi penuh setiap 60 detik, dan apertur visualnya yang diperbesar dibandingkan prototipe sebelumnya menciptakan tampilan openheart yang dramatis dan terus bergerak. Setiap pilihan estetika pun selaras dengan kejelasan fungsi, mulai dari satu detik dibagi menjadi enam segmen, penggunaan bagian dial dari rhodium untuk kontras yang tinggi, serta bagian subdial “foudroyante” berwarna putih yang tetap berada pada posisi pukul 12 setiap saat—bahkan saat flying tourbillon berputar—guna memastikan orientasi dan keterbacaan yang mudah. Michel Nydegger, CEO Greubel Forsey mengungkapkan bahwa Nano Foudroyante bukan sekadar edisi terbatas biasa. Ia mengukuhkan penelitian jangka panjang Greubel Forsey dalam distribusi energi dan melegitimasi nanomekanis sebagai fondasi masa depan dalam pembuatan jam tangan, yang menjadikan Nano Foudroyante sebagai salah satu pencapaian di dunia horologi paling signifikan dalam satu dekade terakhir.
Tentang Yayasan Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG), Tur Dunia
2025 dan pameran puncak di Musée d’Art et d’Histoire Jenewa yang menampilkan jam tangan yang dinominasikan oleh Akademi

Penghargaan Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG) selalu disebut sebagai “Oscar” dalam pembuatan jam tangan. Ini adalah perbandingan yang tepat dan merupakan acara yang sangat dinantikan dalam kalender pembuatan jam tangan. Penghargaan bergengsi yang kini memasuki edisi kedelapan belas ini menjadi platform yang fantastis dan berguna bagi merek-merek baru untuk mendapatkan lebih banyak pengakuan, selain tentunya cara yang bagus untuk membantu mempromosikan seni pembuatan jam tangan berkualitas, seperti yang diakui oleh Raymond Loretan, Presiden Yayasan Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG). Berikut cuplikan wawancara kami dengan Raymond Loretan, Presiden Yayasan Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG), langsung dari Musée d’Art et d’Histoire, beberapa jam sebelum upacara penghargaan GPHG 2025 pada malam harinya.
Pameran yang berlangsung hingga 16 November lalu ini menampilkan 84 jam tangan dan enam jam dinding dari 54 merek, bersaing untuk memperebutkan salah satu dari 20 hadiah, termasuk Grand Prix “Aiguille d’Or” yang bergengsi yang diberikan pada hari Kamis malam, 13 November di upacara penghargaan GPHG ke-25, di Bâtiment des Forces Motrices (BFM) di Jenewa. Ajang bergengsi ini membuktikan kekuatan kreatif dan keunggulan baru pembuatan jam tangan kontemporer sangat menarik minat publik, dan pada saat yang sama memberikan kesempatan unik untuk melihat koleksi jam tangan paling menarik tahun ini di satu tempat, mulai dari jam komplikasi besar, perhiasan dan mahakarya kerajinan artistik, jam inovatif, jam tangan ikonik, serta model yang lebih klasik atau terjangkau.


Ada rencana membawa pameran ini ke Indonesia sebagai bagian dari World Tour GPHG? “Tentu saja, bahkan saat ini kami sudah dalam tahap penjajagan dan diskusi intensif dengan salah satu pelaku di industri jam tangan dan pebisnis di Indonesia, semoga segera terlaksana,” jelasnya antusias. “Persinggahan di Jenewa ini menyoroti budaya pembuatan jam tangan yang dinamis, yang secara luas dibagikan melalui program penjangkauan kami. Kami berterima kasih kepada Geneva Musée d’Art et d’Histoire, tempat yang tepat untuk pameran ini yang menampilkan seni pembuatan jam tangan kontemporer, atas sambutan hangat dan kolaborasi yang bermanfaat. GPHG menyatukan profesi dalam semangat solidaritas dan membuka pintunya lebar-lebar untuk publik, sehingga memungkinkan pembuatan jam tangan untuk memantapkan dirinya sebagai seni yang otentik, seni yang dibagikan. Upacara pada tanggal 13 November di BFM akan menjadi puncak dari edisi GPHG ini, merayakan di Jenewa 25 tahun semangat dan kreativitas pembuatan jam tangan,” lanjutnya.
HALAMAN INI
Raymond Loretan, Presiden Yayasan Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG), saat acara peresmian pembukaan pameran di Musée d’Art et d’Histoire, dan saat wawancara beberapa jam sebelum upacara penghargaan GPHG 2025

Jejak panjang dari siderometer 1930-an hingga 5524G-010 menunjukkan bagaimana Patek Philippe menyempurnakan tradisi pilot watch dengan presisi yang semakin terarah

Walau tidak selalu menjadi sorotan utama, jam tangan pilot Patek Philippe memiliki tempat istimewa dalam kelanjutan sejarah teknis sang maison. Pada Watches and Wonders 2025, Reference 5524G-010 diperkenalkan sebagai interpretasi baru yang memadukan ketegasan desain pilot dengan sentuhan modern yang lebih terarah. Model ini melanjutkan perjalanan Patek Philippe di dunia penerbangan yang telah dimulai sejak era siderometer tahun 1930-an, ketika jam tangan menjadi alat navigasi yang benar-benar diandalkan. Artikel ini menelusuri evolusi seri Pilot tersebut sebelum masuk ke pembahasan bentuk, fitur, dan karakter utama dari model terbaru ini. Dua jam tangan hour-angle dari 1930-an yang kini disimpan di museum Patek Philippe menjadi titik awal penting dalam memahami akar seri Pilot. Pada masa ketika teknologi radio dan GPS belum hadir,

MODEL INI MELANJUTKAN PERJALANAN PATEK PHILIPPE
DI DUNIA PENERBANGAN YANG TELAH DIMULAI SEJAK
ERA SIDEROMETER TAHUN 1930-AN, KETIKA JAM TANGAN
MENJADI ALAT NAVIGASI YANG BENAR-BENAR DIANDALKAN
para aviator mengandalkan jam tangan ini untuk menghitung posisi mereka di udara. Caranya adalah dengan membandingkan referensi waktu GMT pada jam tangan dengan waktu lokal yang ditentukan melalui posisi bintang, sebuah metode navigasi yang menuntut presisi tinggi. Dari sinilah lahir DNA “instrumentasi penerbangan” yang kelak memengaruhi cara Patek Philippe memikirkan jam tangan travel dan pilot versi modern. Fondasi historis ini memberi konteks yang kuat sebelum kita memasuki era reinterpretasi desain yang lebih kontemporer.
Era modern jam tangan pilot Patek Philippe dimulai pada 2015 dengan hadirnya Reference 5524G, sebuah model yang mendefinisikan ulang bagaimana sebuah jam tangan pilot dapat ditafsirkan oleh maison ini. Desainnya tegas dan terinspirasi panel instrumen pesawat, lengkap dengan angka Arab berluminesensi, jarum jam berbentuk pedang, serta fungsi Travel Time dan


tanggal lokal yang dirancang untuk penggunaan sehari-hari. Berdiameter 42mm dan digerakkan oleh mesin self-winding 324 S C FUS, model ini menawarkan kombinasi utilitas dan presisi yang langsung menetap sebagai identitas baru seri Pilot. Dari sinilah bahasa desain yang dikenali publik mulai terbentuk. Reference 5524G-010 berdiri di atas fondasi tersebut, membawa blueprint 2015 ke arah yang lebih matang dan relevan untuk masa kini.
HALAMAN SAMPING DARI ATAS
Patek Philippe Calatrava Pilot Travel Time 5524G-010 terbuat dari emas putih; Patek Philippe Calatrava Pilot Travel Time pertama di tahun 1936, case No. 613411, berdiameter 56 mm dan terbuat dari Nikel-kromium
HALAMAN INI
Patek Philippe Calatrava Pilot Travel Time 5524G-010 terbaru ini yang memadukan ketegasan desain pilot dengan sentuhan modern, terbuat dari emas putih dalam diameter 42mm, dial warna gading dipernis, angka-angka emas putih yang dihitamkan dengan lapisan luminesensi




VARIASI SERI PILOT MULAI TERLIHAT DALAM JARAK

PANDANG PADA 2017 MELALUI REFERENCE 5522, SEBUAH
JAM TANGAN EDISI SPESIAL DENGAN TIGA JARUM
PENUNJUK (JAM, MENIT, DETIK) BERBAHAN BAJA
Variasi seri Pilot mulai terlihat pada 2017 melalui Reference 5522, edisi spesial dengan tiga jarum penunjuk (jam, menit, detik) berbahan baja yang diproduksi terbatas 600 buah untuk
“The Art of Watches Grand Exhibition” di New York. Setahun kemudian, Patek memperkenalkan Reference 7234, versi lebih kompak berdiameter 37,5mm yang tetap mempertahankan fungsi Travel Time lengkap, membuatnya lebih mudah dipakai oleh berbagai ukuran pergelangan. Evolusi estetika
juga berkembang melalui lini 5524: 5524G-001 dengan pelat jam biru, 5524R-001 dengan gradasi coklat sunburst, dan 5524T-010 berbahan titanium yang dibuat khusus untuk acara amal. Eksplorasi material dan warna ini membuka ruang bagi interpretasi yang lebih segar menjelang 2025. Semua ini menunjukkan bahwa seri Pilot tidak pernah stagnan, melainkan terus bereksperimen dengan tetap menjaga karakteristik estetika Patek Philippe.





fungsi yang sejak lama membantu para aviator mencatat tahap penerbangan secara cepat dan akurat. Melalui dua model ini, Patek mematangkan bahasa teknis yang memberi ruang bagi generasi berikutnya tampil lebih terarah tanpa harus semakin rumit. Dan versi yang lebih mewah dari rose gold hadir di tahun 2024, dengan Alarm Travel Time Reference 5520RG-001.
HALAMAN SAMPING DARI KIRI
Puncak kompleksitas dalam lini Pilot hadir pada 2019 melalui
Reference 5520P, Grand Complication pertama Patek Philippe yang menghadirkan mekanik alarm 24 jam yang terhubung dengan waktu lokal. Mekanisme mesin AL 30-660 S C FUS ini dibangun dari 574 komponen, diperkuat empat aplikasi paten, dan menghasilkan bunyi yang dipukul pada gong akustik seperti minute repeater, sebuah pendekatan yang menunjukkan ambisi teknis maison. Pada 2023, Reference 5924G melanjutkan momentum tersebut dengan menggabungkan Travel Time dan flyback chronograph,
Beberapa koleksi Patek Philippe Calatrava Pilot Travel Time: Ref. 7234G-001 dari emas putih, casing berdiameter 37,5mm dan dial biru tua; Ref. 5524R001 dengan gradasi coklat sunburst, casing rose gold berdiameter 42mm (tahun 2018), dan diameter lebih kecil 37,5mm (tahun 2023); Ref. 5524G-001 versi emas putih, dial biru berdiameter 42mm
HALAMAN INI DARI KIRI ATAS SEARAH JARUM JAM
Patek Philippe Alarm Travel Time Ref. 5520RG-001 dalam versi yang lebih mewah dari rose gold, berdiameter 42mm; Bagian belakang case Ref. 5520RG001; Ref. 5924G-010 (biru keabu-abuan) berdiameter 42mm dari emas putih; Ref. 5924G-001 self-winding flyback chronograph (hijau khaki); Ref. 5520P-001 Alarm Travel Time dengan casing platinum berdiameter 42,2mm



DI BALIK TAMPILAN 5524G-010 BEKERJA
MESIN OTOMATIS 26-330 S C FUS YANG
MENGHADIRKAN DUA ZONA WAKTU LENGKAP
DENGAN INDIKATOR SIANG/MALAM, JARUM
PENUNJUK TANGGAL LOKAL
Semua inovasi ini akhirnya mengantar kita pada 5524G-010, yang menandai kembalinya material emas putih, kali ini dengan pendekatan visual yang terasa lebih modern dan diselaraskan. Pelat jam berlapis putih gadingnya menjadi pusat perhatian, sebuah pilihan warna yang membawa seri Pilot ke arah yang lebih kontemporer dan simplistik tanpa kehilangan identitas fungsionalnya. Numeralia dari emas putih dengan lapisan logam berwarna hitam atau abu-abu arang, yang dilapisi oleh luminesensi dipadukan dengan jarum jam berbentuk pedang bernuansa abuabu arang, menghasilkan tampilan yang jelas, tegas, dan tetap harmonis. Estetika ini menjaga keseimbangan antara fungsi pilot yang lugas dan sensibilitas Patek Philippe pada hasil akhir nan rupawan. Di balik tampilan 5524G-010 bekerja mesin otomatis 26-330 S C FUS yang menghadirkan dua zona waktu lengkap dengan indikator siang/malam, jarum penunjuk tanggal lokal, serta perbedaan jelas antara jarum jam pierced untuk waktu asal dan jarum jam solid berluminesensi untuk waktu lokal.
Stabilitas mesin saat penyesuaian zona waktu dijaga oleh sistem isolator berpaten yang memastikan mekanisme utama tetap berjalan tanpa gangguan. Dua tombol penekan di sisi kiri dilengkapi penguncian quarter-turn yang memberikan keamanan tambahan ketika mengatur waktu lokal. Mesin ini memenuhi standar akurasi Patek Philippe Seal, dengan toleransi minus satu hingga plus dua detik per hari, serta memanfaatkan Gyromax dan Spiromax Silinvar untuk konsistensi kinerja. Jam

tangan ini dipadukan dengan temali komposit bermotif tekstil warna hijau khaki dengan jahitan hitam dan pengait berbentuk U yang disebut clevis, terinspirasi oleh sabuk pengaman pilot, sebuah sentuhan yang penuh karakter. Jam tangan pilot Patek Philippe tidak ditujukan untuk menyaingi teknologi penerbangan modern, melainkan untuk mereka yang menghargai keterbacaan yang jelas, fungsi travel yang benar-benar terpakai, dan warisan instrumen aviasi yang ditafsirkan dengan sentuhan elegan. Kolektor yang mencari keseimbangan antara desain yang terarah, kemudahan penyesuaian zona waktu, dan kekayaan sejarah akan menemukan nilai paling kuat di 5524G-010. Evolusi seri Pilot, dari era siderometer hingga interpretasi terbaru ini, menunjukkan bagaimana Patek terus menyempurnakan tradisi tanpa kehilangan karakternya.
HALAMAN SAMPING DARI ATAS
Detil dial Patek Philippe Calatrava Pilot Travel Time 5924G-010, dengan lapisan luminesensi pada angka dan jarum jam; Detil dial pada Ref. 5520P-001 Alarm Travel Time
HALAMAN INI DARI KIRI
Patek Philippe Ref. 5520P-001 Alarm Travel Time dilengkapi dengan dua zona waktu dan alarm 24-jam; Detil Patek Philippe Calatrava Pilot Travel Time 5524G-010 dengan pelat jam berlapis pernis gading bergaya vintage, dilengkapi fitur dua zona waktu

Excalibur Spider Flyback Chronograph memadukan DNA olahraga bermotor, estetika avant-garde, dan penguasaan horologi dalam satu kreasi tunggal
Roger Dubuis dikenal bukan hanya karena desainnya yang teatrikal, tetapi juga karena keberaniannya meretas jalur teknis dalam horologi. Sejak koleksi pertamanya pada tahun 1995, maison ini sudah menempatkan kronograf sebagai salah satu pilar utama, menandakan hubungan mendalam dengan komplikasi yang sejak awal menjadi bagian integral DNA-nya. Rekam jejak inovasi kronograf mereka mencatat beberapa tonggak penting: dari Excalibur Chronograph RD681 dengan micro-rotor pada 2012, Excalibur Spider Chronograph yang menyingkap roda kolom di sisi depan, hingga kolaborasi ekstrem Excalibur Spider Pirelli pada 2017 yang membawa semangat motorsport ke dalam jam tangan. Bahkan komplikasi tingkat tinggi seperti kronograf yang berpadu dengan double flying tourbillon pernah mereka
hadirkan, menegaskan konsistensi dalam mengeksplorasi batas teknis. Di atas fondasi eksperimen panjang inilah, lahir kreasi terbaru Excalibur Spider Flyback Chronograph dengan mesin jam RD780 yang sepenuhnya dikembangkan in-house
Di jantung Excalibur Spider Flyback Chronograph berdetak mesin jam RD780, sebuah mahakarya teknis yang sepenuhnya dikembangkan in-house oleh Roger Dubuis. Mesin ini menghadirkan arsitektur yang berbeda dari kebanyakan kronograf, dengan roda kolom ditempatkan di posisi jam 6 agar fungsi mekanisnya tidak hanya terasa, tetapi juga terlihat jelas di pelat jam skelet. Clutch vertikal miring yang digunakan memberi presisi lebih tinggi sekaligus mengurangi hentakan saat tombol

ditekan, memperhalus pengalaman pengguna dalam setiap aktivasi kronograf. Mekanisme flyback memungkinkan jarum kronograf diatur ulang dan dimulai kembali dalam satu gerakan cepat, sebuah fitur yang menegaskan semangat performa ekstrem yang diusung Roger Dubuis. Keseluruhan rancangan ini memperlihatkan bagaimana maison memandang mesin jam bukan semata alat pengukur waktu, melainkan teater mekanis yang penuh energi. Secara visual, Excalibur Spider Flyback
Chronograph menegaskan karakter sporty-futuristik khas
Roger Dubuis melalui rancangan skelet yang dramatis. Rangka terbuka ini bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga sarana untuk menampilkan kerja mesin jam RD780 secara gamblang, memperkuat aura teatrikal di pergelangan tangan. Material modern seperti titanium ringan dan keramik berlapis hitam digunakan untuk menghadirkan ketahanan sekaligus estetika yang berani, sementara detail finis memberi kontras tajam antara permukaan matte dan kilau mengilap. Temali quick-release menambah dimensi fungsional, memungkinkan pemakai berganti gaya dengan mudah tanpa mengorbankan kenyamanan.
Di balik tampilan skelet yang berani, Excalibur Spider Flyback
Chronograph juga menonjolkan ekspresivitas teknis yang khas Roger Dubuis. Pada posisi jam 9, ditempatkan balance wheel miring 12° sebagai salah satu komponen ikonis maison, memberi visibilitas optimal sekaligus menjaga inersia setara turbin tourbillon. Kinerjanya diperkuat oleh komponen escapement berbahan silikon berlapis berlian, yang menawarkan perlindungan anti-magnetik serta presisi jangka panjang. Seluruh elemen ini dikemas dalam cangkang skelet 45 mm dari emas pink 18 karat dengan pusher berongga. Pelat jam simetrisnya menampilkan harmoni berbagai lapisan dan kedalaman, menciptakan geometri ekspresif yang semakin memukau setiap kali dilihat, sementara rotor berbentuk lima jari menyerupai bagian velg supercar menegaskan hubungan jam tangan ini dengan DNA motorsport kronograf. Hanya 88 buah yang diproduksi, sebuah penghormatan pada angka keberuntungan Roger Dubuis sendiri yang ditandai khusus pada skala tachymeter. Selain menawarkan cadangan daya

SECARA VISUAL, EXCALIBUR SPIDER
FLYBACK CHRONOGRAPH
MENEGASKAN KARAKTER
SPORTY-FUTURISTIK
KHAS ROGER DUBUIS
MELALUI RANCANGAN
SKELET YANG DRAMATIS

72 jam, jam tangan ini telah memenuhi standar bergengsi Poinçon de Genève, yang berarti setiap dari 333 komponennya dihias dengan 16 teknik penyelesaian berbeda. Tidak berhenti di situ, mesin jam RD780 juga menampung dua inovasi yang tengah menunggu paten: Rotating Minute Counter berbentuk isotoxal yang menghadirkan performa visual dinamis melalui tampilan tripartit, serta Second Braking System pada mekanisme kopling vertikal yang memberikan kestabilan lebih pada jarum detik kronograf.
HALAMAN SAMPING
Roger Dubuis Excalibur Spider Flyback Chronograph yang mewah, dikemas dalam cangkang skelet 45mm dari emas pink 18 karat dengan pusher berongga
HALAMAN INI
Jam tangan terbaru Excalibur Spider Flyback Chronograph ini memiliki karakter sporty-futuristik khas Roger Dubuis melalui rancangan skelet yang dramatis, dan mengusung mesin jam RD780 yang sepenuhnya dikembangkan in-house, dengan roda kolom ditempatkan di posisi jam 6

Dari Perpetual 1908 hingga Oyster Perpetual, Rolex membuka dua cara berbeda untuk melihat bagaimana waktu dapat dihadirkan kembali melalui kesederhanaan dan presisi

Pyang menggabungkan formasi jam tangan klasik dengan keahlian modern yang menjadi ciri khas merek ini. Koleksi ini merupakan interpretasi ulang gaya horologi tradisional yang dijiwai dengan keahlian dan warisan estetika khas Rolex. Pelat jamnya yang bersih sengaja dibuat agar perhatian pemakai juga mengarah pada mesin jam di dalamnya, yang dapat dilihat melalui bagian belakang case yang berparas transparan. Jam tangan yang elegan dan bersahaja ini diberi nama ‘1908’ sebagai penghormatan kepada tahun ketika Hans Wilsdorf merancang nama ‘Rolex’ untuk mengabadikan kreasinya dan mendaftarkan merek tersebut di Swiss. Keseluruhan detail ini bekerja bersama untuk menunjukkan bahwa jam tangan ini diciptakan sebagai penghormatan pada seni pembuatan jam tangan tradisional dalam bentuk yang paling murni.

NAMA 1908 SENDIRI DIAMBIL DARI
TAHUN KETIKA HANS WILSDORF
MENCIPTAKAN NAMA “ROLEX” UNTUK MENANDAI MAHAKARYANYA
Saat ini, Rolex menawarkan 6 model Perpetual 1908 yang berbeda ditujukan bagi mereka yang menginginkan pilihan gaya yang lebih beragam dalam ukuran jam tangan berdiameter 39 mm. Keenam varian ini berasal dari tiga material utama yaitu emas kuning 18 ct, emas putih 18 ct, dan 950 platinum, yang masing-masing dipasangkan dengan dua karakter pelat jam berbeda. Setiap model menampilkan elemen desain khas 1908 seperti angka Arab 3, 9, dan 12, jarum jam bergaya Breguet, sementara jarum menit berbentuk seperti pedang bermata dua, dengan penghitung detik kecil di jam 6. Perbedaan material dan warna pelat jam menciptakan identitas yang jelas, mulai dari 950 platinum dengan pelat jam biru es yang menjadi eksklusif Rolex, hingga karakter klasik pada emas kuning 18 ct dan nuansa yang lebih tenang pada emas putih 18 ct, dalam pelat jam berwarna putih intens atau hitam intens. Melalui variasi ini, 1908 memperlihatkan bagaimana kesederhanaan dapat tetap memiliki banyak ekspresi. Di balik tampilan klasiknya, Perpetual 1908 mengandalkan kinerja calibre 7140, mesin jam tangan modern yang dirancang untuk bekerja dengan stabil dalam pemakaian sehari-hari. Mesin ini menggunakan Chronergy escapement yang dibuat agar penggunaan energinya lebih efisien, sementara Syloxi hairspring berbahan silikon menjaga konsistensi kinerjanya terhadap pengaruh magnet dan perubahan suhu. Peredam kejut Paraflex yang
HALAMAN SAMPING
Rolex Perpetual 1908 yang elegan dan ramping, dalam versi emas kuning 18 ct
HALAMAN INI
Rolex Perpetual 1908 versi 950 platinum dengan pelat jam biru es yang menjadi signature eksklusif Rolex; Tampilan mesin jam terlihat dari balik
case Rolex Perpetual 1908


dipatenkan, dirancang oleh merek tersebut, juga meningkatkan ketahanan guncangan gerakan. Calibre 7140 dilengkapi dengan sistem penggulung otomatis melalui rotor Perpetual dan menawarkan cadangan daya sekitar 66 jam yang cukup panjang untuk sebuah jam tangan bergaya formal. Seluruh konstruksi ini dapat dilihat melalui caseback transparan, sehingga pemakai bisa menikmati dekorasi Rolex Côtes de Genève yang menjadi bagian dari keindahan teknisnya.
Dengan seluruh pendekatannya, Perpetual 1908 menunjukkan bagaimana Rolex memahami kebutuhan kolektor masa kini yang menginginkan jam tangan formal yang tetap terasa modern. Enam variannya memberi ruang bagi setiap pemakai untuk menemukan karakter yang paling cocok, mulai dari kesan mewah dan kokoh pada gelang jam emas kuning 18 ct Settimo hingga tampilan yang lebih lembut melalui temali kulit buaya hitam atau cokelat. Pilihan temali ini membuat Perpetual 1908 lebih fleksibel untuk berbagai situasi, baik acara resmi maupun penggunaan sehari-hari. Melalui Perpetual 1908, Rolex memperlihatkan bahwa tradisi dan inovasi dapat hidup berdampingan secara alami.


Setelah memahami bagaimana Rolex merumuskan ulang elegansi melalui Perpetual 1908, kita berpindah ke sisi lain dari katalog mereka yang menampilkan pendekatan yang lebih segar dan ringan, yaitu koleksi Oyster Perpetual. Untuk tahun ini, Rolex memperbarui koleksi tersebut dengan permainan warna pastel yang lembut melalui pelat jam berlapis lacquer dengan hasil akhir matt, sebuah kombinasi yang jarang muncul dalam katalog mereka sebelumnya. Tiga warna baru ditawarkan, masing-masing

TIGA WARNA BARU DITAWARKAN, MASINGMASING DISESUAIKAN DENGAN UKURAN JAM: LAVENDER UNTUK OYSTER PERPETUAL 28, BEIGE UNTUK OYSTER PERPETUAL 36, DAN PISTACHIO UNTUK OYSTER PERPETUAL 41
disesuaikan dengan ukuran jam: lavender untuk Oyster Perpetual 28, beige untuk Oyster Perpetual 36, dan pistachio hijau untuk Oyster Perpetual 41. Warna-warna ini memberi penyegaran visual tanpa menghilangkan kesederhanaan desain khas Oyster Perpetual. Dengan sentuhan ini, Rolex kembali menunjukkan bahwa estetika yang ringan pun dapat dieksekusi dengan ketelitian yang sama seperti koleksi lainnya dalam katalog mereka.
Di balik permainan warna tersebut, Oyster Perpetual mengusung sertifikasi Superlative Chronometer yang menjamin kinerja luar biasa di pergelangan tangan. Ketiga ukurannya ditenagai oleh dua mesin berbeda, yaitu calibre 2232 untuk ukuran 28 mm dan calibre 3230 untuk ukuran 36 mm serta 41 mm. Mesin-mesin ini mengandalkan teknologi seperti Syloxi hairspring pada calibre 2232 dan Chronergy escapement pada calibre 3230, yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi
HALAMAN SAMPING
Rolex Perpetual 1908 memiliki diameter: 39 mm, dengan ketebalan hanya 9.5 mm, dan terdapat dalam beberapa varian dengan tiga material utama yaitu emas kuning 18 ct, emas putih 18 ct, dan 950 platinum
HALAMAN INI
Koleksi Rolex Oyster Perpetual terbaru, dalam tiga pilihan warna dan ukuran, yaitu warna beige untuk Oyster Perpetual 36, pistachio hijau untuk Oyster Perpetual 41 dan lavender untuk Oyster Perpetual 28






RANGKAIAN OYSTER PERPETUAL YANG DISEMPURNAKAN ADALAH KETAHANAN
EKSTRIMNYA TERHADAP BENTURAN DAN KOROSI
energi, stabilitas, serta ketahanan terhadap guncangan dan medan magnet. Penyimpanan daya yang ditawarkan juga memadai untuk penggunaan harian, dengan sekitar 55 jam pada model 28 mm dan 70 jam pada dua ukuran lainnya. Semua detail teknis ini kembali menegaskan peran Oyster Perpetual sebagai jam tangan fungsional yang tetap mempertahankan kualitas kronometer terbaik.
Sebagai kelanjutan dari konsep kematangan dan kenyamanan, rangkaian Oyster Perpetual yang disempurnakan adalah ketahanan ekstrimnya terhadap benturan dan korosi. Gelang logam penghubung tiga bagian ini dilengkapi Oysterclasp lipat dan tautan ekstensi kenyamanan Easylink, yang memungkinkan pemakai menyesuaikan panjang bracelet hingga sekitar 5 mm tanpa alat tambahan, sebuah detail kecil yang sangat berguna untuk pemakaian sehari-hari. Casing Oyster dijamin tahan air hingga kedalaman 100 meter dan penggunaan kristal safir anti-gores. Kesederhanaan bentuk, keandalan struktur, dan
kemudahan penggunaan ini menjadikan Oyster Perpetual tetap tampil sebagai jam tangan yang tidak hanya berwarna indah, tetapi juga siap menemani aktivitas apa pun. Melalui kombinasi ini, Rolex menunjukkan bahwa pembaruan estetika tetap dapat berjalan seiring dengan kualitas teknis yang konsisten.
HALAMAN SAMPING
Tampilan dekat dial pistachio hijau yang menawan pada koleksi
Oyster Perpetual 41, Oystersteel
HALAMAN INI DARI KIRI
Oyster Perpetual ditenagai oleh dua mesin berbeda, yaitu calibre 2232 untuk ukuran 28 mm dan calibre 3230 untuk ukuran 36 mm serta 41 mm; Gelang Oyster dengan Oysterclasp dari Oyster Perpetual 41, Oystersteel; Segel hijau Rolex, simbol status Kronometer Superlatif
Louis Vuitton menghadirkan Tambour Taiko Spin Time yang mengubah gerakan kubus menjadi bahasa baru untuk membaca waktu secara intuitif dan arsitektural


Generasi terbaru Spin Time dari Louis Vuitton tidak hanya menghadirkan pembaruan estetika, tetapi sebuah pernyataan horologi yang diungkap melalui enam model Tambour Taiko Spin Time. Koleksi ini menandai titik balik penting sejak komplikasi ini pertama dirilis pada 2009, kini hadir dengan mesin-mesin kreasi in-house terbaru dan arsitektur case Tambour Taiko yang semakin presisi. Yang membuatnya semakin menarik, keenam jam tangan ini tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk satu ekosistem kreatif yang mengeksplorasi cara membaca waktu melalui volume, ruang, dan gerakan kubus. Dengan keunikan dan keluasan ide yang ditawarkan, Spin Time 2025 memperlihatkan ambisi Louis Vuitton untuk membangun bahasa horologi yang benar-benar orisinal dan matang.
Tambour Taiko Spin Time W9WG62 & W9WG52
Dua model pertama dalam koleksi ini menjadi fondasi bagi evolusi Spin Time. Versi standar 39,5 mm hadir dalam stainless steel dengan ketebalan 12,15 mm, kedap air hingga 100 meter, serta pelat jam dolphin-grey yang dipadukan dengan sentuhan akhir case Tambour Taiko yang mencakup satin, polish, dan sandblasting Di dalamnya bekerja kaliber LFT ST13.01, mesin otomatis baru dengan micro-rotor dan cadangan daya 45 jam. Versi high jewellery, sebaliknya, menggunakan emas putih 39,5 mm dengan 94 berlian potongan baguette pada bezel dan lug serta pelat jam hawk’s-eye yang memantulkan cahaya secara dramatis. Meski memiliki bahasa estetika berbeda, keduanya mengukuhkan Spin Time sebagai komplikasi yang menyajikan waktu melalui gerakan kubus yang presisi dan memikat.

SPIN TIME AIR MEMBAWA KONSEP WAKTU
MELAYANG KE TINGKAT BARU MELALUI
STRUKTUR KUBUS YANG DIPASANG PADA
POROS PANJANG SEHINGGA TAMPAK BEBAS
DARI MESIN DI TENGAH
Tambour Taiko Spin Time Air W9WG41 & W9WG31
Dua model berikutnya, Spin Time Air 42,5 mm, membawa konsep waktu melayang ke tingkat baru melalui struktur kubus yang dipasang pada poros panjang sehingga tampak bebas dari mesin di tengah. Versi standar hadir dengan ketebalan case sekitar 12,45 mm, kedap air hingga 50 meter, serta transparansi case yang memperlihatkan kaliber baru yang menggerakkan 12 kubus secara presisi. Adapun versi high jewellery menampilkan konstruksi sama, tetapi dihiasi lebih dari 1.236 berlian, termasuk pavé pada bezel, lug, dan flange yang menghadirkan efek cahaya berlapis. Kedua model ini menegaskan ambisi LV untuk menciptakan komplikasi yang terasa ringan, arsitektural, dan sepenuhnya berbeda dari jam tangan konvensional.
Tambour Taiko Spin Time Antipode W9WG21
Model kelima, Spin Time Air Antipode, memperkenalkan interpretasi worldtime yang sama sekali baru melalui kubus tiga dimensi yang masing-masing memuat dua kota sekaligus, mewakili pasangan zona waktu antipodal secara intuitif. Dengan diameter case 42,5 mm dan ketebalan sekitar 12,45 mm, model ini menghadirkan pelat jam terbuka yang memperlihatkan kaliber LFT ST12.01, lengkap dengan sistem penayang waktu siang-malam berbasis warna kota yang berubah mengikuti orientasi kubus. Mekanisme worldtime ini memungkinkan pembacaan 24 zona waktu tanpa subpelat jam tradisional, melainkan melalui rotasi kubus yang presisi. Hasilnya adalah komplikasi perjalanan yang terasa modern, playful, dan tetap mudah dibaca, menempatkan Antipode sebagai salah satu inovasi paling orisinal dalam horologi kontemporer LV.


Tambour Taiko Spin Time Flying Tourbillon W9WG11
Model keenam, Spin Time Air Tourbillon, menjadi puncak koleksi karena untuk pertama kalinya mekanisme kubus melayang dipadukan dengan flying tourbillon yang ditempatkan tepat di pusat pelat jam. Dengan diameter 42,5 mm, ketebalan sekitar 12,45 mm, serta konstruksi case Tambour Taiko yang kompleks, jam tangan ini menampilkan kaliber LFT ST05.01 yang sepenuhnya direkayasa ulang demi menampung tourbillon berbentuk Monogram flower sekaligus sistem rotasi kubus. Jarum menitnya dikonstruksi ulang agar mengitari tourbillon tanpa menyentuhnya, menciptakan kedalaman visual yang dramatis. Model ini menegaskan kemampuan La Fabrique du Temps untuk menggabungkan arsitektur ruang, presisi tinggi, dan ekspresi estetis dalam satu objek horologi yang dapat dinyatakan benar-benar ambisius.

HALAMAN SAMPING DARI KIRI

Louis Vuitton Tambour Taiko Spin Time W9WG62 versi stainless steel dan W9WG52 versi high jewellery yang mewah
HALAMAN INI DARI KIRI
Louis Vuitton Tambour Taiko Spin Time Air W9WG41 dan W9WG31 versi high jewellery yang bertatahkan 1.236 berlian; Tambour Taiko Spin Time Antipode W9WG21 worldtime dengan kubus tiga dimensi yang memuat dua kota sekaligus; Tambour Taiko Spin Time Flying Tourbillon W9WG11 dengan flying tourbillon di pusat pelat jam

Grand Seiko menghadirkan empat jam tangan terbaru memadukan presisi tinggi, inovasi teknis, dan keindahan puitis alam Jepang
Merek jam mewah asal negeri matahari terbit, Grand Seiko kembali menggoda penggemar setianya dengan menghadirkan rangkaian model terbaru yang memadukan presisi tinggi, inovasi teknis, serta estetika yang terinspirasi dari keindahan alam Jepang. Dalam peluncuran kali ini, Grand Seiko memperkenalkan dua jam mekanikal GMT dari Elegance Collection, serta dua jam quartz dari Heritage Collection. Keempat model tersebut bukan sekadar instrumen penunjuk waktu, melainkan representasi filosofi Grand Seiko yang menghargai detail, ketenangan visual, dan hubungan mendalam dengan alam.
Dari lini Elegance Collection, Grand Seiko memperkenalkan dua jam mekanikal GMT terbaru, SBGM255 “Snowdrop” dan SBGM257 “Moondrop”. Keduanya merupakan bagian dari lini GMT mekanikal yang telah lama menjadi favorit para kolektor. Desain kedua model ini terinspirasi langsung dari alam di sekitar Grand Seiko Studio Shizukuishi, tempat lahirnya jam-jam mekanikal merek tersebut. Dengan diameter case 39,5mm, proporsinya mengacu pada model ikonik SBGM221 yang berakar pada desain klasik SBGM021. Ciri khas desain Elegance Collection tampak jelas melalui kristal safir, case bulat yang anggun, serta lug meruncing yang halus. Estetika ini dapat ditelusuri hingga jam tangan Grand Seiko pertama pada
KEDUA MODEL GMT INI DITENAGAI
CALIBER 9S66, MESIN OTOMATIS
ANDALAN GRAND SEIKO YANG
MENAWARKAN AKURASI +5
HINGGA -3 DETIK PER HARI SERTA
CADANGAN DAYA HINGGA 72 JAM

tahun 1960, menjadikannya simbol kesinambungan antara warisan dan inovasi. Pada dua model terbaru ini, warisan tersebut diperkaya melalui dial berpola musiman yang menghadirkan interpretasi visual berbeda.
SBGM255 “Snowdrop” terinspirasi dari momen peralihan musim dingin menuju musim semi. Saat salju mulai mencair, tetesan air berkilauan di bawah sinar matahari, menandai lahirnya kembali kehidupan di alam. Dial Snowdrop menampilkan pola yang menyerupai tetesan air tersebut, menciptakan kesan cerah, lembut, dan penuh kesegaran. Sebaliknya, SBGM257 “Moondrop” menangkap suasana malam di musim gugur. Dial biru berteksturnya merefleksikan embun yang memantulkan cahaya bulan, menghadirkan nuansa tenang, hangat, dan kontemplatif. Kedua model GMT ini ditenagai Caliber 9S66, mesin otomatis andalan Grand Seiko yang menawarkan akurasi +5 hingga -3 detik per hari serta cadangan daya hingga 72 jam. Fungsi GMT memungkinkan pemakai melacak dua zona waktu dengan mudah, di mana jarum jam lokal dapat diatur dalam lompatan satu jam tanpa menghentikan pergerakan mesin. Mesin ini dapat dinikmati
HALAMAN SAMPING
Dari lini Elegance Collection, Grand Seiko memperkenalkan jam mekanikal
GMT SBGM255 “Snowdrop” terbaru, dengan diameter case 39,5mm
HALAMAN INI
SBGM257 “Moondrop” terbaru ini menghadirkan suasana malam di musim gugur, dengan dial biru bertekstur yang merefleksikan embun yang memantulkan cahaya bulan


melalui case back safir transparan, menampilkan kualitas finishing khas Grand Seiko. Dilengkapi tali kulit buaya, Snowdrop dan Moondrop menegaskan karakter elegan dan klasik.
Dari lini Heritage Collection, SBGX357 “Skyflake” dan SBGX265 menjadi sorotan utama. SBGX357 “Skyflake” secara khusus mengambil inspirasi dari lanskap bersalju pegunungan Shinshu, wilayah tempat jam quartz Grand Seiko diproduksi. Dial jam ini menampilkan pola snowflake ikonik dengan tekstur halus yang menyerupai salju tertiup angin. Warna biru lembut pada dial merefleksikan langit cerah di atas hamparan salju putih, menciptakan kesan tenang, bersih, dan elegan. Pendekatan visual ini mengingatkan pada model SBGA407 “Blue Snowflake” yang diperkenalkan pada tahun 2019, namun kini dihadirkan dengan mesin quartz yang membuatnya lebih ringkas dan praktis. SBGX357 menggunakan material High-Intensity Titanium untuk case dan gelang jamnya, sebuah pilihan yang membuat jam ini lebih ringan dan tahan gores dibandingkan baja tahan karat. Dengan diameter case 37mm, proporsinya terasa seimbang

DIAL BIRUNYA TAMPIL LEBIH SPORTY
DAN MODERN, MENJADIKANNYA
PILIHAN MENARIK BAGI MEREKA YANG
MENGINGINKAN JAM QUARTZ PREMIUM
DENGAN NUANSA KASUAL-AKTIF

dan nyaman di pergelangan tangan, termasuk bagi pemakai dengan ukuran pergelangan yang lebih kecil. Bobot yang ringan menjadikannya sangat cocok untuk penggunaan sehari-hari, sementara detail seperti jarum detik biru temper dan tekstur dial yang kaya memastikan jam ini tetap menarik saat diperhatikan lebih dekat. Kombinasi antara kenyamanan, estetika, dan fungsionalitas inilah yang menjadi kekuatan utama SBGX357.
Di balik tampilannya yang elegan, SBGX357 ditenagai mesin quartz Caliber 9F, yang oleh Grand Seiko diposisikan sebagai salah satu mesin quartz paling presisi dan canggih di dunia. Mesin ini dilengkapi Twin Pulse Control Motor yang mampu menghasilkan torsi besar untuk menggerakkan jarum jam yang tebal dan kokoh, ciri khas desain Grand Seiko. Selain itu, Backlash Auto-Adjust Mechanism berfungsi menghilangkan celah atau getaran pada pergerakan jarum, sehingga tampilan waktu tetap tajam dan akurat. Instant Date Change Mechanism memastikan pergantian tanggal terjadi secara instan dalam waktu singkat setelah tengah malam, sebuah detail kecil yang mencerminkan perhatian Grand Seiko terhadap kesempurnaan mekanis.
Selain Skyflake, Grand Seiko juga meluncurkan SBGX265 secara global, setelah sebelumnya hanya tersedia di pasar Jepang. Model ini memiliki diameter case yang sama, yakni 37mm, namun
menggunakan material stainless steel yang memberikan kesan lebih solid dan klasik. Ditenagai mesin Caliber 9F62 yang sama, SBGX265 menawarkan tingkat presisi identik dengan karakter visual yang berbeda. Dial birunya tampil lebih sporty dan modern, menjadikannya pilihan menarik bagi mereka yang menginginkan jam quartz premium dengan nuansa kasual-aktif tanpa mengorbankan kualitas dan ketelitian.
Seluruh model terbaru ini dijadwalkan tersedia mulai
Desember di butik Grand Seiko dan peritel pilihan di seluruh dunia. Melalui peluncuran ini, Grand Seiko kembali menunjukkan kemampuannya merangkai teknologi tinggi dan keindahan alam Jepang ke dalam jam tangan yang bukan hanya presisi, tetapi juga memiliki kedalaman makna dan nilai artistik yang kuat. Sebagian besar koleksi terbaru ini sudah tersedia di Grand Seiko Boutique, Plaza Senayan Mall, Jakarta, Tel: (021) 5725689.
HALAMAN SAMPING
Koleksi Grand Seiko Heritage Collection SBGX357 “Skyflake” dengan dial jam unik yang menggambarkan salju yang tertiup angin di Shinshu
HALAMAN INI
SBGX265 dalam diameter case 37mm dan dial biru yang tampil lebih sporty dan modern

Dua dekade evolusi Planet Ocean sebagai jam tangan selam OMEGA yang semakin matang, memadukan fungsi profesional, dan karakter yang teruji di kedalaman laut

Dalam keluarga Seamaster, seri Planet Ocean lahir dari obsesi OMEGA terhadap eksplorasi penyelaman dunia bawah laut yang sudah dimulai jauh sebelum namanya muncul di pelat jam. Jejak awalnya dapat ditarik kembali ke tahun 1932 melalui seri Marine, yang kerap disebut sebagai jam tangan pertama yang dirancang untuk para penyelam sipil. Seiring waktu bergulir, pada dekade 1940 hingga 1990-an Omega terus berinovasi memperlihatkan rangkaian model jam tangan yang mengedepankan ketahanan, keterbacaan, dan solusi teknis untuk penggunaan di kedalaman laut. Hingga akhirnya, dari akumulasi pengalaman di kedalaman laut, Planet Ocean lahir sebagai penanda OMEGA memasuki fase penyelaman yang lebih modern dan berkarakter tegas.
Tahun 2005 menjadi tahun di mana fase baru tersebut terwujud, Planet Ocean diperkenalkan sebagai interpretasi jam tangan selam yang






SELURUH MODEL DITENAGAI MESIN OTOMATIS
OMEGA CO-AXIAL MASTER CHRONOMETER
CALIBRE 8912, MESIN YANG SEBELUMNYA
DIGUNAKAN PADA LINI ULTRA DEEP, DENGAN
CADANGAN DAYA HINGGA 60 JAM
lebih serius dan berani. Dengan daya tahan air hingga 600 meter, ia secara jelas ditujukan bagi penyelaman yang lebih dalam dan lebih menuntut. Terdapat kesinambungan visual dari seri Seamaster era akhir 1950-an dan awal 1960-an yang dipertahankan. Pelat jam hitam, penomoran Arab, jarum jam berbentuk panah, dan cincin bezel selam dengan skala yang tegas. Karakter inilah yang menjadi ciri khas dari jam tangan pilihan James Bond era Daniel Craig, mulai dari Casino Royale (2006), Quantum of Solace (2008), dan Skyfall (2012) sebagai simbol persona Bond yang tangguh, modern, dan tanpa kompromi.
Setelah fondasi desain dan karakter ditetapkan, evolusi Planet Ocean bergerak melalui napas penyempurnaan teknis yang lebih tinggi. Pada 2009 misalnya, OMEGA sempat memperkenalkan penggunaan Liquidmetal™ pada skala bezel, sebuah langkah penting untuk meningkatkan ketahanan gores dan stabilitas jangka panjang pada jam tangan selam. Generasi berikutnya





kemudian membawa bezel keramik, pelat jam berfinis mengilap, serta mesin Co-Axial generasi baru yang meningkatkan presisi dan keandalan. Puncaknya hadir ketika Planet Ocean mengadopsi status Master Chronometer, dengan ketahanan magnet yang jauh melampaui standar industri. Setiap penyempurnaan ini tidak berdiri sendiri, melainkan memperdalam peran Planet Ocean sebagai instrumen penyelaman yang terus ditempa oleh pengalaman nyata di laut dan laboratorium.
Tepat dua dekade setelah debutnya, tahun ini OMEGA memperkenalkan generasi keempat Planet Ocean sebagai sebuah perumusan ulang menyeluruh. Koleksi ini hadir melalui tujuh jam tangan baru dan tiga watch heads, menandai pendekatan desain yang lebih terfokus dan matang. Diameternya kembali ke
HALAMAN SAMPING
OMEGA Planet Ocean Seamaster generasi keempat dalam versi oranye dengan angka Arab matte oranye dan bezel keramik oranye dengan skala selam keramik hibrida putih
HALAMAN INI DARI ATAS
Glen Powell, duta global OMEGA; Evolusi Seamaster (dari kiri) The Marine tahun 1932; Seamaster pertama tahun 1948; Seamaster 300 tahun 1957; Seamaster 300 generasi kedua, tahun 1964; Seamaster 120 “MAYOL” tahun 1981; Seamaster 300M, tahun 1993; Planet Ocean generasi pertama, tahun 2005; Planet Ocean generasi kedua, tahun 2011; Planet Ocean generasi ketiga, tahun 2016; Ultra Deep tahun 2022



ukuran 42mm seperti model awal, namun dengan profil yang jauh lebih ramping. Ketebalan kini dipangkas hingga 13,79 mm, dimungkinkan oleh penggunaan kristal safir pipih di bagian depan serta penyempurnaan menyeluruh pada konstruksi case dan bezel. Arsitektur case dua bagian dengan cincin titanium dalam mempertegas garis dan sudutnya, sementara satu keputusan penting menandai perubahan arah: helium escape valve yang selama dua puluh tahun menjadi ciri khas kini dihilangkan demi menciptakan kesatuan desain yang lebih bersih dan modern.
Di balik perayaan dan atmosfernya, generasi keempat Planet Ocean berdiri di atas fondasi teknis yang solid. Seluruh model ditenagai mesin otomatis OMEGA Co-Axial Master Chronometer Calibre 8912, mesin yang sebelumnya digunakan pada lini Ultra Deep. Mesin ini menawarkan cadangan daya hingga 60 jam serta memenuhi standar tertinggi presisi, performa, dan ketahanan magnet, sebagaimana disertifikasi oleh Swiss Federal Institute of Metrology (METAS). Koleksi ini hadir dalam tiga ekspresi warna utama. Model oranye menampilkan angka Arab matte oranye dan bezel keramik oranye dengan skala selam keramik hibrida putih. Model biru mengusung angka matte putih dan bezel keramik biru dengan skala enamel putih. Sementara model hitam hadir dengan
angka Arab berlapis rhodium dan bezel keramik hitam, masingmasing dipadukan dengan pilihan gelang baja atau temali karet yang menegaskan karakter penyelamannya.
Sesudah perjalanan sejarah dan teknisnya dirumuskan kembali ke dalam desain, OMEGA kemudian merayakan peluncuran generasi keempat Planet Ocean melalui sebuah acara di Miami, tepat di tepi laut. Faena Forum di Miami Beach dipilih sebagai lokasi, sebuah bangunan berarsitektur geometris dengan bentuk silinder dan fasad jendela bersudut yang merefleksi dengan garis-garis baru jam tangan tersebut. Ruang minimalis ini diolah layaknya instalasi, mengajak para tamu memahami Planet Ocean melalui pengalaman langsung. Palet biru dan oranye menyelaraskan jajaran jam di pusat ruang, sementara pemandangan air memperkuat tema “call of the ocean”. Raynald Aeschlimann mengatakan, “Kami ingin merayakan desain ulang ini tepat di tepi laut, dan Miami terasa sebagai destinasi yang tepat.” Acara ini pun turut dihadiri sejumlah figur lintas bidang, mulai dari aktor Colman Domingo, atlet lompat galah pemegang rekor dunia Mondo Duplantis, hingga Antoni Porowski, Diego Boneta, Inoxtag, Rim’K, Jacob Rott, Bryan Tyree Henry, Alex González, dan Taylor Zakhar Perez.

PLANET OCEAN GENERASI KEEMPAT
DIPOSISIKAN BUKAN HANYA SEBAGAI HASIL
PENYEMPURNAAN TEKNIS DAN DESAIN, TETAPI
JUGA SEBAGAI CERMINAN KARAKTER
Planet Ocean generasi keempat diposisikan bukan hanya sebagai hasil penyempurnaan teknis dan desain, tetapi juga sebagai cerminan karakter. Pemilihan Glen Powell dan Aaron Taylor-Johnson sebagai dua duta global mempertegas arah tersebut. Powell menekankan legitimasi OMEGA di dunia penyelaman dengan mengatakan, “Tidak banyak merek jam tangan yang bisa secara autentik menempatkan dirinya berdampingan dengan laut. Namun OMEGA adalah salah satunya.” Sementara itu, Taylor-Johnson membawa sudut pandang yang lebih personal, “Saya memiliki kedekatan pribadi yang kuat dengan Seamaster. Ini adalah jam tangan yang saya kenakan setiap hari.” Dua suara ini merepresentasikan semangat autentik Planet Ocean: layaknya penyelam berpengalaman yang bergerak penuh keyakinan, ia tahu kapan harus bertahan di suatu titik, dan kapan saatnya untuk turun lebih dalam.

HALAMAN SAMPING
Tampilan generasi keempat Planet Ocean Seamaster hadir lebih ramping, dengan ketebalan hanya 13,79 mm, mengusung arsitektur case dua bagian dengan cincin titanium dalam mempertegas garis dan sudutnya
HALAMAN INI DARI ATAS
Aaron Taylor-Johnson, duta global OMEGA; Seluruh model Planet Ocean terbaru ditenagai mesin otomatis OMEGA Co-Axial Master Chronometer Calibre 8912
Dengan desain yang terarah dan mesin manufaktur yang solid, Hermès H08 menjadi jembatan antara presisi teknis dan pengalaman waktu yang begitu humanis


Ada cara subtil dalam bagaimana Hermès merespons waktu lewat jam tangan keluaran terbarunya, H08. Maison asal Paris yang pertama kali merilis koleksi jam tangan pada tahun 1912 ini tidak memperlakukannya sebagai rangkaian angka penunjuk waktu yang berbaris, melainkan sebagai sesuatu yang bergerak bersama pemakainya, mengikuti alur langkah, jeda, dan ritme harian. Pendekatan ini membuat H08 terasa hidup, seolah ia memahami bahwa waktu bukan hanya tentang presisi, tetapi juga tentang bagaimana kita menempati ruang dan bergerak di dalamnya. Dari gagasan inilah bentuk jam tangan ini lahir: sebuah watchmaker’s object berjiwa sport, dengan karakter maskulin yang dikemas oleh proporsi dan detail yang ditangani dengan kepekaan khas Hermès.



Varian pertama H08 untuk 2025 tampil dengan pelat jam bertekstur butiran berwarna terang yang memberikan kesan segar pada case berbahan titanium yang ringan namun kokoh. Aksen oranye pada jarum detik memberi sentuhan energi yang langsung terasa tanpa berlebihan. Untuk temali, Hermès menyediakan pilihan gelang berbahan titanium, rubber dalam warna oranye, bleu abysse, dan hitam, serta opsi webbing biru atau hitam bagi mereka yang menginginkan tampilan lebih kasual namun tetap rapi. Kombinasi ini menghasilkan karakter yang maskulin, fungsional, dan penuh dinamika. Penggunaan warna berfungsi sebagai ritme visual yang memperkaya tampilan jam tangan tanpa mengganggu kesederhanaan bentuk dasarnya. Varian kedua menawarkan tampilan yang lebih terkurasi melalui pelat jam abuabu yang dipadukan dengan penomoran bleu Saint-Cyr, sebuah kombinasi warna yang memberikan nuansa tenang namun tetap memiliki karakter. Bezel keramik menambah kedalaman visual melalui finis satin dan diperhalus yang saling melengkapi. Pilihan temali abu-abu gelap atau bleu Saint-Cyr menegaskan pendekatan warna yang tak hanya dipilih, tapi diperhitungkan, cocok bagi mereka yang menginginkan ekspresi yang lebih terkendali. Jika varian sebelumnya membawa energi yang lebih tegas, kedua varian ini bersama-sama menunjukkan bahwa H08 mampu bergerak dari karakter utilitarian, menuju sesuatu yang lebih ekspresif tanpa meninggalkan DNA desain dari jam tangan yang kedap air hingga 100 meter ini.
MESIN MANUFAKTUR HERMÈS H1837 SELF-WINDING MOVEMENT
MENUNJUKKAN KOMITMEN HERMÈS UNTUK MEMBANGUN
IDENTITAS SEMESTA JAM TANGANNYA SENDIRI
Menelusuri bahasa desain H08 dapat dimulai dari bagian case berbentuk cushion yang mempertemukan lingkaran dan persegi dalam satu siluet berukuran 26mm, sebuah perpaduan yang memberi karakter kuat tanpa terasa berlebihan. Material yang mengisi struktur ini pun dipilih dengan tujuan yang jelas: titanium untuk kekuatan dan ringan, keramik untuk ketahanan serta keindahan tampilan permukaan. Keduanya diperlakukan melalui berbagai jenis finis seperti sapuan satin, efek pancaran sinar matahari, dan diperhalus yang memberi kedalaman visual khas Hermès. Pada pelat jam, angka Arab dengan lapisan luminesensi tampil tegas, berpadu dengan permainan tekstur yang membuat pelat jam terasa dinamis namun tetap rapi, lengkap dengan celah kalender pada pukul 4.30. Di balik tampilan jam tangan H08, bekerja mesin manufaktur Hermès H1837 self-winding movement yang menunjukkan komitmen Hermès untuk membangun identitas semesta jam tangannya sendiri. Mesin ini terdiri dari 193 komponen, berdetak pada frekuensi 4 Hz, dan menawarkan cadangan daya hingga 50 jam, menjadikannya setara dengan standar performa jam tangan luks sport yang serius. Sentuhan akhirnya pun dikerjakan dengan perhatian penuh: circular-grained dan snailed pada mainplate, sambungan berefek satin, serta rotor yang dihias motif H, detail kecil yang memperlihatkan sisi artistik Hermès dalam ranah teknis. Penggunaan mesin ini menegaskan posisi Hermès sebagai pembuat jam tangan kontemporer yang tidak hanya mengandalkan desain, tetapi juga keahlian mekanis yang solid.
Jam tangan ini tidak hanya bekerja dengan presisi mekanis, tetapi juga hadir sebagai pendamping yang mengikuti alur hidup pemakainya, dari momen yang tenang hingga langkah yang cepat. Karakternya menjadikannya pilihan bagi mereka yang menginginkan jam sport luks dengan identitas kuat dan desain yang tidak terjebak pada pola konvensional. Hermès H08 berdiri sebagai jembatan antara dunia teknis dan sisi puitis Hermès, menggabungkan ketepatan dengan ruang untuk ekspresi personal. Ia menutup perannya dengan cara yang lembut tetapi juga eksepsional di waktu yang sama, mengingatkan bahwa waktu bukan hanya sesuatu yang kita ukur, tetapi sesuatu yang terus kita jalani dengan kesadaran penuh.

HALAMAN SAMPING
Hermès H08 tampil dalam dua varian, termasuk pelat jam bertekstur butiran, angka-angka bleu SaintCyr dan pilihan temali rubber warna oranye, bleu abysse dan hitam, serta opsi webbing biru atau hitam
HALAMAN INI DARI ATAS
Hermès H08 versi case titanium dihiasi aksen oranye pada jarum detik, dan gelang jam berbahan sama; Di balik tampilan jam tangan H08, terlihat mesin manufaktur Hermès H1837 self-winding movement


koleksi terbaru persembahan Bell & Ross menyajikan kontras yang saling melengkapi, perwujudan desain kontemporer dan keunggulan horologi
Dalam dunia horologi kelas atas, ada jam tangan yang sekadar menunjukkan waktu, dan ada pula yang menunjukkan lebih jauh tentang visi, ambisi, serta identitas sebuah perusahaan. BR-X3 Tourbillon Micro-Rotor jelas berada di kategori kedua. Bagi Bell & Ross, arloji ini bukan sekadar peluncuran produk baru, melainkan sebuah pernyataan akan langkah mantap mereka di ranah Haute Horlogerie dengan desain yang tetap setia pada karakteristiknya. Selama ini, Bell & Ross dikenal lewat jam instrumen yang terinspirasi dari panel kokpit pesawat, dengan tiga pilar utama, yakni keterbacaan, fungsionalitas, dan presisi.
BR-X3 Tourbillon Micro-Rotor menunjukkan evolusi dari prinsip tersebut. Di sini, keterbacaan waktu justru ditempatkan di posisi kedua. Yang menjadi pusat perhatian adalah mekanikanya— gerak, struktur, dan keseimbangan yang diperlihatkan secara
terbuka. Flying tourbillon pada posisi pukul 05.30 menjadi bintang utama. Tanpa jembatan atas, cage tourbillon tampak melayang, berputar anggun setiap menit, menciptakan pertunjukan visual yang seakan menghipnotis. Secara historis, tourbillon diciptakan untuk mengimbangi pengaruh gravitasi terhadap osilator. Namun dalam konteks BR-X3, fungsinya bukan sekadar teknis. Ia menjadi perwujudan penguasaan mekanika tingkat tinggi, disajikan dalam pendekatan yang modern dan arsitektural. Keistimewaan lain berasal dari micro-rotor, solusi yang memungkinkan pemutaran otomatis tanpa menambah ketebalan mesin penggerak. Ditempatkan sejajar dengan bidang mekanisme, micro-rotor ini memungkinkan keseluruhan jam tetap sangat ramping—hanya 9 mm—sebuah pencapaian impresif untuk jam tourbillon otomatis. Di baliknya diperkuat kaliber manufaktur BR-CAL.389, dengan cadangan daya hingga 58 jam. Ini dirancang bukan hanya untuk performa, tetapi juga untuk dinikmati secara visual.

Bentuk casing persegi ikonis Bell & Ross mengalami transformasi radikal. Baja dan safir berpadu membentuk struktur transparan, di mana casing dan mesin penggerak tidak lagi dipahami sebagai dua entitas terpisah, melainkan satu kesatuan arsitektural. Safir, dengan segala tantangan teknisnya, dipilih untuk membuka pandangan ke seluruh bagian dalam jam—bridge, wheel, hingga 26 batu delima yang tersusun rapi dalam kisi-kisi geometris. Referensi visualnya terasa kuat, nuansa abstrak Piet Mondrian dengan garis-garis ortogonalnya, serta fungsionalisme murni ala Charlotte Perriand. Hasilnya adalah sebuah komposisi mekanis yang nyaris menyerupai karya seni modern. Jam dan menit ditampilkan menyamping di pukul 02.00, kecil dan sederhana, seolah mengakui bahwa membaca waktu bukanlah tujuan utama jam ini. Seperti yang disampaikan Bruno Belamich, creative director Bell & Ross, BR-X3 adalah jam tangan ikonis yang merangkum seluruh keahlian dan visi perusahaan tersebut. Diproduksi hanya 25 unit, BR-X3 Tourbillon Micro-Rotor merupakan koleksi yang sangat eksklusif, perwujudan horologi Bell & Ross dalam bentuk paling murni.
Jika BR-X3 adalah ekspresi teknikal dan konseptual, maka BR05 Grey Mirror Steel memperlihatkan sisi Bell & Ross yang berbeda, mengusung kesan urban, kontemporer, dan sangat berorientasi gaya hidup. Jam ini tidak mengedepankan kerumitan yang ekstrem, melainkan permainan cahaya dan finishing. Baja, material yang identik dengan kekuatan dan utilitas, diolah hingga mencapai tingkat mirror polish yang nyaris menyerupai cermin. Casing, gelang, hingga dial tampil sebagai satu monoblok logam reflektif, memantulkan lingkungan sekitar dengan cara yang dinamis. Efek visualnya berubah-ubah seiring gerak pergelangan tangan, menjadikan jam ini bukan hanya aksesori, tetapi juga objek desain.

DI SINI, KETERBACAAN WAKTU JUSTRU
DITEMPATKAN DI POSISI KEDUA. YANG
MENJADI PUSAT PERHATIAN ADALAH MEKANIKANYA—GERAK, STRUKTUR, DAN KESEIMBANGAN
Tampilan dial BR-05 Grey Mirror Steel terlihat bersih dan minimalis, tanpa jendela tanggal. Jarum dan indeks berlapis rhodium berkilau halus, digambarkan oleh Belamich seperti tetesan raksa yang melayang di atas permukaan reflektif. Meski tampil seperti jewel-watch modern, jam ini tetap setia pada akar Bell & Ross sebagai jam instrumen. Diameter 40 mm, ketebalan 10,5 mm, ketahanan air hingga 100 meter, serta mesin otomatis BR-CAL.321-1 dengan cadangan daya 54 jam memastikan model ini cocok untuk kehidupan urban. Diproduksi terbatas 250 unit dan eksklusif di butik Bell & Ross, BR-05 Grey Mirror Steel menawarkan kemewahan yang lebih tidak mencolok namun tetap tegas. Bersama BR-X3 Tourbillon Micro-Rotor, kedua jam ini menunjukkan spektrum penuh kemampuan Bell & Ross, yakni dari mekanika paling kompleks hingga eksplorasi desain yang puitis. Lebih dari sekadar penunjuk waktu, keduanya merupakan narasi tentang identitas, ambisi, dan bagaimana sebuah perusahaan pembuat arloji memaknai waktu di era modern.
HALAMAN SAMPING
Koleksi Bell & Ross BR-X3 Tourbillon Micro-Rotor edisi terbatas yang diluncurkan pada akhir tahun 2025 yang menampilkan desain kerangka yang sangat arsitektural
HALAMAN INI
Bell & Ross BR-05 Grey Mirror Steel mengusung kesan urban, kontemporer, dan sangat berorientasi gaya hidup
Kolaborasi Raymond Weil Toccata Heritage x seconde/seconde/ membuka cara baru menikmati dress watch dengan aturan yang digeser secara halus namun tetap memikat


Raymond Weil terus berdetak, kini memasuki usianya yang setengah abad dengan pendekatan yang santai namun tetap terarah, jenama ini mengajak kita melihat kembali perjalanan panjang sebuah maison keluarga yang konsisten dengan identitasnya. Sejak awal, merek ini dikenal lewat kedekatannya dengan jagat musik dan semesta seni, dua bidang yang membentuk cara mereka memikirkan ritme, keseimbangan, dan detail dalam setiap ekspresi desainnya. Dari fondasi itulah Toccata muncul sebagai lini dress watch yang menonjolkan proporsi rapi dan tampilan yang bersih tanpa banyak basa-basi. Saat dipakai, jam tangan ini memberi nuansa tenang dan terasa cocok untuk berbagai kesempatan. Di dalam suasana seperti itu, etiket memakai jam tangan kembali relevan karena menjadi impresi dari cara seseorang menunjukkan kesungguhannya dalam berpenampilan.
Untuk memahami kehadiran Toccata Heritage dalam kolaborasi ini, kita perlu melihat kembali bentuk kotaknya yang sudah menjadi bagian dari sejarah Raymond Weil sejak puluhan tahun lalu. Siluetnya tidak benar-benar persegi dan tidak sepenuhnya bulat sehingga memberi karakter yang mudah dikenali tanpa harus terlihat mencolok. Proporsinya ramping dengan ukuran 37,7 × 32,5mm, ditenagai oleh mesin RW4100 berkemampuan simpan daya hingga 45 jam, serta lugs pendek yang membuatnya nyaman di pergelangan tangan. Semua elemen ini menunjukkan niat awal jam tangan ini sebagai dress watch yang mengutamakan kerapihan, jauh dari gimmick visual. Dengan estetika yang tenang dan rapi seperti ini, Toccata Heritage menjadi kanvas ideal untuk menampung ide segar yang dihadirkan seconde/seconde/, tanpa kehilangan identitas klasiknya.






Ketika bagian depan sudah berhasil menarik perhatian, bagian belakang Toccata Heritage menawarkan kejutan kecil yang tidak kalah menarik. Wilayah caseback-nya hampir tertutup sepenuhnya, hanya menyisakan satu jendela kecil yang memperlihatkan sebagian mesin jam, seolah mengingatkan bahwa tidak semua hal perlu ditunjukkan secara terang-terangan. Di sana terukir aturan kedua yang dibuat dengan nada santai, yaitu anjuran untuk tidak memutar jam ketika masih menempel di pergelangan. Arahan ini sebenarnya selaras dengan kebiasaan kolektor sejati, yang terbiasa melepas jam tangan terlebih dahulu sebelum mengatur mesin secara manual. Menyempurnakan profilnya yang tipis, jam tangan ini dibekali oleh temali berbahan kulit hitam dengan aksentuasi tekstur kulit buaya.
BAGAIMANA MANSET KEMEJA SEBAIKNYA
MENUTUP SETENGAH JAM TANGAN (DALAM
WARNA KUNING PANTONE 7402C), SEBUAH
KOMENTAR RINGAN YANG DITAMPILKAN
SEPERTI CATATAN DI LEMBAR SKETSA PAKAIAN
Peran seconde/seconde/ memberi sentuhan baru yang langsung terasa di bagian pelat jam, terutama melalui permainan visual yang membagi area menjadi dua karakter berbeda. Satu sisi tampak lebih tenang, sementara sisi lainnya punya kilau halus yang membuat aturan kecil di atasnya terlihat jelas. Kreasi tersebut melantunkan lafaz tentang bagaimana manset kemeja sebaiknya menutup setengah jam tangan (dalam warna kuning Pantone 7402C), sebuah komentar ringan yang ditampilkan seperti catatan di lembar sketsa pakaian. Romaric André, pendiri seconde/seconde/ menjelaskan pendekatannya, “Dress code adalah aturan elegansi yang layak dihargai, tetapi juga sesuatu yang sesekali perlu kita mainkan. Karena itu saya membutuhkan distilasi elegansi klasik, sebuah dress watch murni seperti Toccata, sebagai dasar untuk menggoda gagasan etiket secara halus.” Pendekatan ini membuat Toccata Heritage lebih hidup tanpa kehilangan cirikhasnya.
Kolaborasi ini menunjukkan cara Raymond Weil memasuki usia lima puluh tahun dengan sikap yang matang namun tetap terbuka terhadap kreativitas yang lebih berani. Toccata Heritage x seconde/ seconde/ bukan dress watch kebanyakan yang ditemui di pasaran, melainkan cara subtil untuk mengajak pemakainya melihat tradisi dari sudut yang lebih segar. Elie Bernheim, CEO Raymond Weil merangkum pandangan itu dengan mengatakan, “Kesederhanaan dan elegansi adalah ciri utama sebuah dress watch, dan di sini seconde/seconde/ menggoyangnya dengan kecerdikan serta keberanian, memberikan karakter yang segar sekaligus menyenangkan.” Hasilnya adalah jam yang tidak hanya rupawan, tetapi juga memiliki kepribadian yang terasa ringan. Bagi kolektor, perpaduan sentuhan sedemikian rupa dapat menjadi kode kecil yang menunjukkan selera tanpa perlu banyak bicara.
HALAMAN SAMPING
Raymond Weil Toccata Heritage x seconde/seconde/ menampilkan pelat jam yang unik, dengan permainan visual yang membagi area menjadi dua karakter berbeda
HALAMAN INI DARI KIRI
Tampilan jam yang unik, hingga ke balik case yang dihiasi catatan: “Jangan pernah memutar jarum jam saat sedang memakainya. Lepaskan terlebih dahulu, lalu putar jarumnya dengan gaya dramatis (idealnya di tengah percakapan)”; Romaric André, pendiri seconde/seconde/; Elie Bernheim, CEO Raymond Weil; Petunjuk praktis etiket mengenakan jam tangan

Ajang TAG Heuer Formula 1 Grand Prix Singapura memamerkan kecepatan, kemewahan, dan kemegahan berpadu dalam perayaan olahraga otomotif yang menakjubkan


Formula 1 (F1®) adalah platform global tertinggi untuk merayakan komunitas balap melalui pengalaman langsung, dan kami dari Collector’s Guide-WATCHES Indonesia beserta rekan-rekan media lainnya dari berbagai negara diundang oleh TAG Heuer untuk mengunjungi Paddock Club dan menyaksikan sesi latihan di ajang balap bergengsi TAG Heuer Formula 1 Grand Prix di Singapura secara eksklusif. Ajang balapan malam dan salah satu ajang paling megah dalam kalender Formula 1 ini diselenggarakan pada awal Oktober 2025 di Marina Bay Street Circuit. Kami diberi akses VIP ke Paddock Club F1 untuk merasakan langsung suasana di balik layar Formula 1®. Dengan akses eksklusif ini kami berkesempatan untuk menyaksikan kegiatan di hari pembukaan, termasuk sesi latihan di lintasan saat para pembalap mempersiapkan diri untuk salah satu sirkuit paling menantang musim ini, serta kesempatan di balik layar untuk mengabadikan suasana, tim, dan penggemar dan berinteraksi dengan komunitas balap secara langsung.









TAHUN 2025 MEMANG MENANDAI
TITIK BALIK BAGI TAG HEUER UNTUK
KEMBALI SEBAGAI PENCATAT WAKTU
RESMI FORMULA 1
Selain itu, kami juga mendapatkan kesempatan untuk mengabadikan kesibukan area ‘belakang panggung’ eksklusif F1, suasana, tim, dan penggemar, sekaligus berinteraksi dengan komunitas balap dan berbagi kegembiraan bersama mereka. Kami juga berkesempatan untuk menyaksikan latihan awal balapan dari atap paddock, merasakan sensasi deru mesin yang meraung saat mereka berakselerasi melewati garis start, sungguh pengalaman yang memacu adrenalin sekaligus memekakkan telinga dan menggetarkan seluruh tubuh, membuktikan jika ajang balap F1 memang paling tepat jika dinikmati secara langsung. Aktivitas lainnya adalah jalan-jalan menyusuri pinggir lintasan di Pit Lane, tur lintasan yang ditemani pemandu, sesi foto dengan trofi, tur paddock F1, dan akses khusus ke perayaan podium. Berkat akses unik ini, kami memiliki kesempatan untuk bertemu dengan pembalap saat ini seperti Max Verstappen dan Yuki Tsunoda, dan mantan pembalap legendaris Sir John Young “Jackie” Stewart, OBE (kelahiran 11 Juni 1939), sang mantan pebalap Formula 1 Inggris yang dijuluki “Flying Scot”.
HALAMAN SAMPING DARI ATAS
Ajang balap bergengsi TAG Heuer Formula 1 Grand Prix yang berlangsung di Singapura; Yuki Tsunoda, pebalap muda Formula 1 asal Jepang dari tim
Oracle Red Bull Racing, saat hadir di acara jumpa fans; TAG Heuer kembali
sebagai Pencatat Waktu Resmi Formula 1
HALAMAN INI DARI KIRI ATAS SEARAH JARUM JAM
CEO TAG Heuer, Antoine Pin bersama Yuki Tsunoda; Suasana latihan awal balapan dari atap paddock; Suasana di Pit Lane; Para tenaga medis berjaga di sisi lintasan balap; Beberapa merchandise di TAG Heuer pop-up di ION Orchard; Suasana meriah saat Yuki Tsunoda hadir di ION Orchard




TAG Heuer juga menghadirkan adrenalin Formula 1 ke Orchard Road dengan pop-up yang berani di Atrium Lantai 1 ION Orchard, memperlihatkan mobil balap Red Bull Racing yang terlihat megah di ION Orchard Lantai 1 Atrium. Dibangun dari kontainer bergaya industri dengan warna hitam dan merah yang mencolok, TAG Heuer pop-up ini sempurna mencerminkan drama hari balapan dengan lantai berpola kotak-kotak, panel jala, dan mobil pameran Oracle Red Bull Racing. Kami diajak menjelajahi perlengkapan balap Max Verstappen dan jam tangan warisan yang dikenakan oleh legenda seperti Jo Siffert dan Lewis Hamilton, menyesuaikan merchandise di stasiun Truly Yours, dan merasakan instalasi audio Tone of Victory yang imersif, yang menerjemahkan denyut nadi balapan ke dalam suara.



KAMI MEMILIKI KESEMPATAN UNTUK BERTEMU DENGAN PEMBALAP SAAT INI SEPERTI MAX VERSTAPPEN DAN YUKI TSUNODA, DAN MANTAN PEMBALAP LEGENDARIS SIR JOHN YOUNG “JACKIE” STEWART, OBE


Tahun 2025 memang menandai titik balik bagi TAG Heuer untuk kembali sebagai Pencatat Waktu Resmi Formula 1, menggantikan Rolex dan memulai era LVMH selama satu dekade di lintasan balap. Peran modern merek ini seakan menghidupkan kembali warisan pencatatan waktunya di tahun 1990-an dan menanamkan TAG Heuer ke dalam setiap narasi sepersekian detik, menjadikan DNA kronografis merek ini sebagai bagian dari denyut nadi olahraga ini sekali lagi. Kehadiran rumah mode mewah Swiss ini baik di tingkat seri maupun tim menggarisbawahi slogannya yaitu, Designed To Win (dirancang untuk menang), yang lebih dari sekadar slogan, melainkan telah menjadi motto penggerak TAG Heuer.


Dari wawancara eksklusif kami dengan Antoine Pin (CEO TAG Heuer), terjawab bahwa kampanye dengan motto baru ini melanjutkan keyakinan lama merek tentang inner strength: setiap orang memiliki potensi tersembunyi yang menunggu untuk diungkap, dan jam tangan TAG Heuer menjadi simbol pengingat akan kekuatan itu. Selama 164 tahun, TAG Heuer telah menunjukkan semangat pembuatan jam tangan avantgarde murni dan komitmen terhadap inovasi dengan teknologi revolusioner. Saat ini, koleksi inti merek ini terdiri dari tiga keluarga ikonik yang dirancang oleh Jack Heuer – TAG Heuer Carrera, Monaco, dan Autavia – dan dilengkapi dengan lini kontemporer TAG Heuer Link, Aquaracer, Formula 1, dan Connected. Malamnya kami kembali ke hotel Pullman Singapore Orchard untuk beristirahat, namun kenangan yang yang kami bawa dari ajang Grand Prix Formula 1 Singapura ini adalah pengalaman penuh adrenalin yang tak terlupakan.
HALAMAN SAMPING DARI ATAS
Suasana di TAG Heuer pop-up di ION Orchard; Para tamu VIP memadati Pit Lane; Pebalap legendaris Sir John Young “Jackie” Stewart, OBE; Kami menyaksikan sesi latihan di Paddock Club; Yuki Tsunoda mengenakan
TAG Heuer Monaco Chronograph DLC Titanium Black saat jumpa fans
HALAMAN INI DARI KIRI
Jam tangan TAG Heuer Formula 1 Solargraph edisi terbatas yang berukuran 38mm ini memamerkan flensa biru cerah dan tali karet yang menonjol di atas dial opalin putih terang dan bezel hitam, dilengkapi boks khusus; Lulu Fuad bersama Antoine Pin setelah sesi wawancara
Acara horologi terbesar di kawasan Timur Tengah dan partisipasi merek global, dan peluncuran penting dari merek-merek jam mewah







Tahun ini, ajang pameran jam tangan mewah Dubai Watch Week (DWW) yang berlangsung setiap dua tahun sekali kembali digelar, dan tahun ini adalah edisi ke-7 yang sekaligus menandai perayaan ulang tahun ke-10 ajang pameran paling mewah dan eksklusif di kawasan Timur Tengah itu. Mengambil lokasi baru seluas lebih dari 60.000 meter persegi di jantung kota Dubai, tepatnya di Dubai Mall, Burj Park, ajang ini sukses dihadiri lebih dari 90 merek jam dari seluruh dunia, mulai dari pengrajin independen hingga pemimpin global. Pameran ini mewakili sebuah pilihan yang dikurasi untuk menyoroti bagaimana pameran Dubai, yang diselenggarakan oleh Seddiqi, telah berkembang menjadi kekuatan global, dengan rekor 49.000 pengunjung. Diselenggarakan dari tanggal 19 hingga 23 November lalu, Dubai Watch Week berhasil mencapai hal yang mustahil dengan kesuksesan fenomenalnya sebagai platform budaya untuk pertukaran dan berbagi, yang mencerminkan dinamisme para pelaku industri yang mentransformasi sektor ini. Berikut ringkasan singkat dari kunjungan Collector’s Guide-WATCHES Indonesia selama lima hari di Dubai Watch Week.







BERBAGAI STAN MEGAH DAN UNIK MENJADI
PUSAT PERHATIAN DI TENGAH-TENGAH LOKASI
PAMERAN, DAN MENJADI TUJUAN UTAMA PARA
PENGUNJUNG YANG RELA UNTUK MENGANTRI
Berbagai stan megah dan unik menjadi pusat perhatian di tengah-tengah lokasi pameran, dan menjadi tujuan utama para pengunjung yang rela untuk mengantri masuk ke stan-stan Audemars Piguet, Van Cleef & Arpels, Rolex, TAG Heuer, Chopard hingga Hublot. Sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-150 globalnya, Audemars Piguet menghadirkan House of Wonders, yaitu sebuah pameran imersif yang mengajak pengunjung untuk menjelajahi warisan, keahlian, dan semangat kolaborasi yang telah membentuk Audemars Piguet sejak tahun 1875. Terwujud dalam bangunan yang terbentang lebih dari 1.000 meter persegi, yang berfungsi sebagai gerbang antara Dubai dan Le Brassus, dan mengundang pengunjung untuk menjelajahi lanskap alam dan warisan Vallée de Joux. TAG Heuer meluncurkan stan mandiri pertamanya, yang menampilkan desain berteknologi tinggi yang terinspirasi dari motorsport di Burj Park, dirancang dengan garisgaris bersih yang terinspirasi dari balap untuk mencerminkan DNA merek akan kecepatan dan presisi. Maison ini juga menyoroti komitmennya terhadap inovasi dengan peluncuran regional Monaco Split-Seconds Chronograph Air 1, dalam casing titanium Grade-5 edisi terbatas 30 buah, bersama dengan “TAG Heuer LAB”, yaitu ruang imersif yang mendemonstrasikan kemajuan teknologi. Rolex memamerkan teknologi escapement terbaru mereka pada jam tangan Land-Dweller, dalam sebuah ruangan yang didedikasikan khusus untuk rilisan Land-Dweller, dan


terdapat juga enam jam tangan Land-Dweller yang tidak tercantum dalam katalog yang dipamerkan, namun pengambilan foto tidak diperbolehkan.
Beragam program menarik dan sangat berguna bagi para penggemar, kolektor jam, hingga para pengamat dan pelaku di industri ini, termasuk CEO, para desainer dan pendiri merek, juga dihadirkan. Mulai dari Horology Forum, Masterclasses, Ceative Hub, Collector’s Lounge hingga permainan menarik seperti wawancara cepat, informal, dan humoris dalam permainan foosball antara para pemimpin industri jam tangan, kolektor, dan desainer terkemuka. Kapan lagi Anda bisa bertemu dan berbincang santai dengan para kolektor jam mewah hingga selebriti yang terlihat di Dubai Watch Week di Burj Park, Dubai? Mulai dari bintang olahraga internasional, musisi, tokoh bisnis, dan pemimpin industri, termasuk musisi John Mayer, pemain sepak bola Kylian Mbappé dan Zlatan Ibrahimović, mantan pemain sepak bola Kaka dan Marcelo, pemain kriket Kane Williamson, pengusaha yang terkenal dengan serial ‘Shark Tank’, Kevin O’Leary, hingga pembuat film India Dhanush.
Beberapa diskusi menarik seperti: Louis Vuitton Watch Prize for Independent Creatives, tentang bagaimana penghargaan ini membentuk masa depan pembuatan jam tangan yang menghadirkan Direktur Jam Tangan Louis Vuitton, Jean Arnault, Mohammed Abdulmagied Seddiqi, Raúl Pagès, Wei Koh dan dimoderatori oleh Jiaxian Su. Dan sesi Creative Hub: “Di Mana Waktu Bertemu Fotografi: Leica”, dipandu oleh Dr. Andreas Kaufmann dan Henrik Ekdahl. Khusus untuk koleksi jam tangan edisi terbatas, merek mana saja yang merilis edisi khusus di ajang DWW tahun ini? Terdapat lebih dari 20 rilisan baru dan edisi terbatas dipresentasikan, yang selaras dengan semangat Dubai Watch Week. Konstantin Chaykin, Bvlgari, Hublot dan Vanguart, dan masih banyak lagi yang kami tampilkan beritanya di versi online kami: www.cgw-indonesia.com
HALAMAN SAMPING DARI KIRI
Stan megah Rolex; CEO Ahmed Seddiqi & Sons dan penyelenggara Dubai Watch Week, Mohammed Abdulmagied Seddiqi; Stan megah Audemars Piguet dan suasana di depan stan; Jam tangan Vanguart Black Hole Arabic Numerals; Carlos Rosillo, CEO Bell & Ross; Jean Arnault, Direktur Jam Tangan Louis Vuitton
HALAMAN INI DARI KIRI
Direktur Eksekutif Pengembangan Produk Bvlgari, Fabrizio Buonamassa Stigliani bermain foosball; Jean-Claude Biver; Dr. Andreas Kaufmann dan Henrik Ekdahl dari LEICA; Kevin O’Leary; Hublot Big Bang Ahmed Seddiqi 75th Anniversary; Konstantin Chaykin dan karyanya, White Rabbit; Stan TAG Heuer yang terinspirasi dari motorsport; Para pengunjung pameran

Dari sirkuit Mandalika, Tissot merayakan dunia balap motor MotoGP 2025 dengan koleksi Tissot T-Race yang terbaru

Produsen jam tangan Tissot sejak 1853 berupaya untuk menciptakan jam tangan yang mampu menjadi saksi cerita perjalanan hidup, termasuk dalam bidang olahraga. Salah satu rekam jejaknya yang paling membanggakan ada pada perannya sebagai pencatat waktu resmi MotoGP yang telah berlangsung sejak lebih dari dua dekade lamanya. Sejak mengemban peran tersebut di tahun 2001, Tissot secara rutin melansir koleksi yang terinspirasi dari dunia balap motor. Ritual tersebut berlanjut tahun ini lewat peluncuran koleksi T-Race yang terbaru, mengusung desain berani, gagah, sarat inspirasi mekanika dan kecepatan. Semangat perayaan dunia balap motor benar-benar terbukti pada MotoGP 2025 yang berlangsung di Mandalika awal Oktober silam. Masyarakat menyambut antusiasme lomba lewat dukungan 140.000 penonton yang hadir di sirkuit saat akhir pekan tersebut, yang mencatatkan rekor tertinggi sejak sirkuit ini menjadi tuan rumah MotoGP.
SEJAK TAHUN 2001, TISSOT RUTIN MELANSIR
KOLEKSI YANG TERINSPIRASI DARI DUNIA
BALAP MOTOR. RITUAL TERSEBUT BERLANJUT
TAHUN INI LEWAT PELUNCURAN KOLEKSI
T-RACE YANG TERBARU





Mechanical Pulse
Pada kelas Tissot Sprint Race yang diadakan di tanggal 4 Oktober 2025, pembalap asal Italia Marco Bezzecchi mencatat kemenangan dengan performa mengesankan. Kemudian di bawah panas dan tekanan hari berikutnya, Fermín Aldeguer berhasil menjadi juara pada MotoGP Indonesian Grand Prix di depan Pedro Acosta dan Álex Márquez. Momen istimewa turut terjadi pada podium sprint race, dimana aktris Shenina Cinnamon menyerahkan trofi kepada deretan juara, sementara di arena Grand Prix utama aktor Angga Yunanda mengalami momen tak terlupakan saat mengibarkan bendera kotak-kotak untuk menutup MotoGP Grand Prix. Untuk menyelami wujud pertemuan atmosfer lintasan balap yang penuh adrenalin dan kepresisian kerajinan Swiss dari Tissot, berikut berbagai lansiran dalam rangka menyambut MotoGP 2025.
Jam tangan yang sarat dengan estetika balap ini turut dilengkapi dengan mesin yang layak untuk aksi di lintasan. Model flagship T-Race MotoGP Automatic Chronograph Limited Edition dibekali dengan kaliber otomatis Valjoux A05.951, sebuah mesin turunan dari lini Valjoux yang telah menjadi standar industri untuk chronograph Swiss. Desain kerangka yang memamerkan bagian dalamnya membuat jam tangan ini kian berkarakter, terlebih pergerakannya dapat disaksikan dari bagian caseback transparan. Komposisi dial bernuansa khas chronograph dengan bingkai
HALAMAN SAMPING DARI ATAS
Pebalap Fermín Aldeguer (BK8 Gresini Racing MotoGP™) meraih kemenangan pertamanya di kelas utama MotoGP Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025, di posisi kedua: Pedro Acosta (Red Bull KTM Factory Racing), dan posisi ketiga: Alex Marquez (BK8 Gresini Racing); Suasana balap yang memacu adrenalin di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok
HALAMAN INI DARI ATAS SEARAH JARUM JAM
Ajang MotoGP 2025 di Mandalika disambut antusiasme masyarakat dengan dukungan lebih dari 140.000 penonton yang hadir di sirkuit; Jam tangan
Tissot T-Race MotoGP Quartz Chronograph Limited Edition dalam nuansa metalik didukung mesin quartz yang andal, dan dilengkapi boks berbentuk helm yang eksklusif; Jam tangan Tissot T-Race Powermatic 41mm dari stainless steel




terluar berupa skala tachymeter berwarna biru kelam yang senada dengan jarum detik. Untuk memperkuat inspirasi MotoGP, bagian bezel mempunyai bentuk serupa cakram rem, sementara bagian tombol jam yang bergerigi memiliki pelindung sekitar berwarna hitam lengkap dengan sekrup. Gagasan tersebut berlanjut pada strap karet yang menggunakan desain bertekstur yang terinspirasi dari komponen mesin. Dalam hal performa, cadangan daya 68 jam memberi ruang bagi penggunanya untuk melepas jam saat akhir pekan tanpa harus mengatur ulang pada Senin pagi berikutnya. Jam tangan ini dilansir sejumlah 2025 buah, dalam kemasan berbentuk helm sebagai persembahan istimewa untuk MotoGP.
Race, but Make It Practical
Energi keseruan MotoGP serupa ditawarkan dalam seri T-Race MotoGP Quartz Chronograph Limited Edition yang lebih ringan, praktis, menyasar kepada pengguna yang menginginkan energi serupa tanpa harus menyelam terlalu jauh ke dunia mekanika. T-Race MotoGP tipe ini masih berbagi desain yang serupa dengan


seri automatic, seperti pada bagian bezel-nya. Meski demikian perbedaan utamanya ada pada desain dial yang tidak transparan, begitu pun bentuk indeks yang bulat menyerupai sekrup bak mesin (crankcase) dengan warna sand. Detail warna kelam pada jam tangan ini kemudian dipadukan dengan detail berwarna merah menyala yang ada pada jarum detik, leher tombol pemutar jam, hingga detail chronograph dan sedikit detail pada skala tachymeter. Di bagian pusat mesinnya terdapat mesin quartz presisi tinggi yang memastikan akurasi split-second. T-Race MotoGP Quartz Chronograph Limited Edition merupakan bagian dari edisi terbatas 8000 buah.
Sporty and Edgy
Di samping edisi MotoGP, T-Race Quartz Chronograph dengan diameter case yang sama turut dilansir dalam dua varian warna, yaitu turquoise green dan orange. Kedua jam tangan ini dipasangkan dengan case hitam berlapis PVD untuk meningkatkan daya tahan dari aus, korosi, dan gesekan. Dari


AKTRIS SHENINA CINNAMON
MENYERAHKAN TROFI KEPADA DERETAN
JUARA, SEMENTARA AKTOR ANGGA
YUNANDA MENGIBARKAN BENDERA UNTUK
MENUTUP MOTOGP GRAND PRIX



segi visual, lapisan ini menghasilkan kontras yang memesona, sementara kombinasi warna bersama strap memberikan nuansa yang sporty dan edgy. Masih sama dengan edisi terbatas MotoGP, motor dalam tipe ini juga dilengkapi dengan mesin jam quartz presisi tinggi dengan EOL (End-of-Life), yaitu indikator untuk memberi tahu pemakaianya saat baterai mulai lemah. Saat hal itu terjadi jarum detik akan mulai bergerak secara tersendat, dengan lompatan detik untuk menunjukkan perlunya penggantian baterai sembari tetap menjaga waktu dengan akurat. Fitur ini sangat berguna untuk memberi sinyal bagi pengguna menjelang masa penggantian baterai jam.
Elegantly Reduced
Untuk pertama kalinya lini jam tangan T-Race Quartz Chronograph dibuat dalam edisi berdiameter 38mm, yang menghadirkan kualitas yang masih sama dengan tipe diameter lebih besar sehingga terasa lebih fleksibel dipakai harian dan cocok untuk ukuran pergelangan menengah. Material case dibuat dengan bahan yang sama, yaitu baja tahan karat 316L yang kokoh dan tahan korosi. Tiga varian yang tersedia antara lain, warna putih dengan dial bahan mother-of-pearl dan bezel keramik berpotongan baguette, yang kedua versi serba hitam, dan ketiga versi carnation gold. T-Race Quartz Chronograph 38mm adalah contoh jam tangan modern wujud pernyataan gaya hidup, yang menyatukan desain balap, kepresisian ala Swiss, dan kenyamanan pemakaian sehari-hari.
HALAMAN SAMPING DARI KIRI
Jam tangan Tissot T-Race MotoGP Quartz Chronograph 45mm dalam dua pilihan warna, hijau turquoise atau oranye, dipadukan dengan casing berlapis PVD hitam, dan ukiran sirkuit MotoGP di balik case; Dua versi Tissot PRX dalam pilihan diameter 40mm dan 35mm; Angga Yunanda, Enea Bastianini dan Shenina Cinnamon
HALAMAN INI DARI KIRI
Tissot Le Locle 20th Anniversary; Shenina Cinnamon mengenakan Tissot Le Locle, dan Angga Yunanda mengenakan Tissot T-Race; Shenina saat mengalungkan medali bagi pemenang Tissot Sprint; Angga dan Sherina berfoto bersama team di Tissot Timekeeping Lab
MIDO menampilkan persimpangan di antara inovasi teknis dan pesona
desain tersendiri dengan peluncuran koleksi terbaru di Jakarta


Sebuah desain jam tangan dengan tampilan yang unik kembali hadir di pasar Indonesia. Rilis ini berasal dari brand MIDO, yang menghadirkan Multifort TV Big Date S01E02 Special Edition yang merupakan lanjutan dari episode pertamanya setahun silam. Peluncuran produk ini turut berlangsung di hadapan para pencinta jam tangan di Jakarta. Dalam acara tersebut, model, aktor, dan presenter Richard Kyle, menyampaikan impresinya, “Bagi saya, jam tangan bukan sekadar penunjuk waktu, tapi sebuah pernyataan karakter. Multifort TV Big Date S01E02 ini punya pesona yang sangat kuat. Desainnya membawa nostalgia retro yang unik, tapi di saat yang sama terasa sangat tangguh dan modern. Ini adalah jam tangan yang memancarkan karisma dan kelas, sangat pas untuk menemani aktivitas saya, baik di depan kamera maupun saat bertualang.” MIDO Multifort TV Big Date S01E02 Special Edition

“BAGI SAYA, JAM TANGAN BUKAN SEKADAR
PENUNJUK WAKTU, TAPI SEBUAH


PERNYATAAN KARAKTER. MULTIFORT TV
BIG DATE S01E02 INI PUNYA PESONA YANG
SANGAT KUAT. DESAINNYA MEMBAWA
NOSTALGIA RETRO YANG UNIK”
RICHARD KYLE
merupakan bentuk penghargaan terhadap era ketika televisi berbentuk kotak menjadi jendela pertama bagi dunia. Meski secara visual menampilkan kesan retro, namun tidak demikian dengan performanya. Dalam jam tangan edisi spesial ini, inspirasi vintage berpadu dengan teknologi modern untuk menghasilkan kebaruan yang terasa familier, namun sepenuhnya dibangun dari komponenkomponen baru.
Siluet Ikonis
Dari sekilas penglihatan saja, pengamat dapat membayangkan referensi yang menjadi tumpuan jam tangan ini, terutama bagi Anda yang tumbuh di era masa kejayaan TV tabung. Bentuk kotaknya yang melengkung menjadi ciri khas seri Multifort TV. Di bagian sudut pada case berbentuk tumpul dan mengingatkan pada televisi di era ‘70-an, saat perangkat tersebut mulai menjadi pusat perhatian di ruang keluarga dan menjadi sumber siaran budaya pop. Untuk menyuntikkan sentuhan kontemporer ke dalam desain


jam tangan, MIDO memperhalus beberapa elemen visual, seperti ukuran yang lebih proporsional sebagai penunjuk waktu, desain dengan garis yang lebih bersih, dan kombinasi finishing yang terasa modern. Case berukuran 40mm x 39.2mm dan gelang jam dibuat dari material baja tahan karat berlapis PVD (Physical Vapor Deposition) abu-abu yang tidak hanya memastikan ketahanan pemakaian, namun turut membuat desain pada dial lebih “hidup”. Pada Multifort TV Big Date S01E02, MIDO membuat warna dan detail visual yang lebih tegas. Penggambaran desain TV test card dimulai dari bagian dial yang memiliki tekstur vertikal halus untuk menggambarkan gelombang sinyal pada layar CRT lama, sehingga dapat memunculkan nuansa nostalgia tanpa harus mengorbankan keanggunan. Penggambaran pixel noise dibuat kembali lewat desain balok berwarna-warni yang umum ditampilkan televisi di masa itu. Super-LumiNova putih turut diaplikasikan pada indeks dan jarum jam untuk mempermudah proses baca saat gelap.
HALAMAN SAMPING DARI ATAS
MIDO Multifort TV Big Date S01E02 Special Edition dengan desain “TV Shape”, hadir dengan pilihan gelang jam logam, atau tali karet kuning dan biru yang dapat diganti-ganti; Mesin jam Kaliber MIDO 80 dan pegas keseimbangan Nivachron™ terlihat dari penutup belakang case transparan
HALAMAN INI
Model, aktor, dan presenter Indonesia, Richard Kyle memilih jam tangan MIDO Multifort TV Big Date S01E02 Special Edition dengan gelang jam bahan logam; Edisi khusus ini dilengkapi kotak khusus, lengkap dengan pilihan tali jam karet


DI BALIK DESAIN PLAYFUL PADA
DIAL, MIDO MENYEMATKAN MESIN MODERN BERNAMA CALIBER 80

Bintang Utama
Sesuai dengan penamaannya, Big Date, elemen tanggal di posisi pukul 12 adalah fitur yang jarang ditemukan pada desain jam tangan pada umumnya. Terlebih, fitur ini ditampilkan secara dramatis dengan lebih besar yang mempermudah pengamat untuk membacanya. Alih-alih jendela kecil yang sering memaksa pemiliknya untuk mendekatkan pergelangan tangan ke mata, dalam jam ini MIDO menyajikan tanggal sebagai “headline”. Dalam konteks desain, Big Date memberi keseimbangan visual pada dial dan menyajikan karakter yang kuat. Hal ini berbeda pada window date yang biasanya terletak di pukul 3 yang memberi kesan asimetris. Di balik desain playful pada dial, MIDO menyematkan mesin modern bernama Caliber 80 yang memegang peranan penting untuk menjaga kepresisian performa penunjuk waktu. Mesin ini memiliki cadangan daya selama 80 jam, sementara akurasinya dapat dipastikan berkat balance spring Nivachron yang resisten terhadap medan magnet dan goncangan. Melalui caseback yang transparan, Anda dapat menyaksikan mesin jam buatan Swiss dengan rotor yang berhiaskan pola garis paralel khas (Côtes de Genève) dengan ukiran merek MIDO. Format jam tangan dengan


bentuk serupa televisi dari MIDO pertama kali diperkenalkan di tahun 1973, menawarkan desain yang berani berbeda dari desain konvensional bundar pada umumnya. Desain ini kemudian digunakan berulang kali di tahun 1980, 2000, dan di tahun 2023 dengan koleksi Multifort TV Big Date.
Menjelang tahun 2025, jam tangan Multifort TV Big Date S01E02 Special Edition secara konsisten mengusung evolusi bentuk case yang bold. Produk unik ini juga diperkaya dengan dua strap tambahan yang mudah diganti untuk memberikan variasi, antara lain strap karet berwarna biru dan kuning yang tetap mempertahankan kesan retro namun terasa lebih sporty, yang siap menjadikan episode hidup Anda lebih berwarna.
HALAMAN INI DARI KIRI ATAS
Rudi, Richard Kyle, Steven Cheng (CEO PT Benua Jam Internusa selaku pemilik Watch Continent) dan Jay Robert Davies (PR Executive Watch Continent); Butik eksklusif MIDO di Grand Indonesia, West Mall Lantai
UG No. 16; Richard Kyle saat sesi wawancara; Seluruh jam tangan MIDO dilengkapi garansi resmi dan dukungan teknis profesional, dan dilindungi garansi purna jual 2 hingga 5 tahun







Peresmian titik penjualan baru di Plaza Indonesia merefleksikan pendekatan Franck Muller dalam membangun kehadiran yang konsisten dan relevan bagi kolektor Indonesia
Awal tahun 2026 menjadi babak baru bagi Franck Muller, lewat peresmian titik penjualan terbarunya di The Time Place, Plaza Indonesia. Pembukaan ini sekaligus menandai penguatan kehadiran jenama independen yang berdiri sejak tahun 1991 asal Swiss tersebut di Indonesia. Berlokasi di pusat ritel ternama Jakarta, sudut ruang ini akan menjadi panggung kurasi jam tangan Franck Muller yang mencerminkan pendekatan teknis dan bahasa desain khas sang jenama. Pembukaan ini pun turut memperluas akses kolektor Indonesia terhadap koleksi ikonis hingga rilisan terbaru melalui format ritel yang lebih terarah.
Dikenal sebagai Master of Complications, Franck Muller menempati posisi unik dalam lanskap jam tangan independen modern melalui fokus kuat pada pengembangan komplikasi dan produksi mesin jam secara mandiri. Sejak resmi berdiri 35 tahun lalu, jenama ini membangun reputasinya lewat pendekatan teknis yang berani, memadukan arsitektur mesin jam kompleks dengan desain casing dan pelat jam yang mudah dikenali. Bagi kolektor, nilai Franck Muller tidak hanya terletak pada kerumitan mekanis, tetapi juga pada konsistensi visi kreatif yang tidak tunduk pada arus desain arus utama. Statusnya sebagai pembuat jam tangan independen memberi kebebasan dalam bereksperimen, sekaligus menjaga karakter yang khas. Pendekatan inilah yang menjadikan setiap jam tangan Franck Muller relevan sebagai objek koleksi jangka panjang.
Koleksi yang ditampilkan mencakup lini yang mudah dikenali seperti Cintrée Curvex dan Vanguard, sekaligus sejumlah inovasi yang sebelumnya diperkenalkan pada World Presentation of Haute Horlogerie (WPHH) di Jenewa, Swiss. Pendekatan ini memungkinkan dialog yang lebih mendalam mengenai mesin jam, komplikasi, serta logika desain di balik setiap referensi. Bagi kolektor, pengalaman tersebut memperkuat proses apresiasi dan membangun relasi secara organik.
Pembukaan titik penjualan Franck Muller di The Time Place, Plaza Indonesia, yang dioperasikan oleh peritel jam mewah Time International, menegaskan komitmen berkelanjutan jenama ini terhadap inovasi, kualitas, dan peningkatan pengalaman klien di kawasan regional. Kehadiran ritel ini diposisikan sebagai platform untuk menyampaikan warisan Franck Muller sekaligus visi masa depannya dalam ranah haute horlogerie kepada kolektor Indonesia. Bagi kolektor, ruang ini tidak hanya berfungsi sebagai titik akuisisi, tetapi juga sebagai medium apresiasi dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap identitas jenama.
Franck Muller
The Time Place, Plaza Indonesia Unit 165 – 168
Jl. M.H. Thamrin No.Kav. 28-30, Jakarta
Pameran jam tangan yang
didedikasikan untuk
merek-merek mikro ini sukses menangkap semangat keahlian dan keintiman yang jarang ditemui di pameran jam tangan global





Collector’s Guide-WATCHES Indonesia berusaha selalu membagikan berita-berita seputar jam tangan dan perhiasan, tidak melulu produk mewah, namun tetap yang berkualitas, meski itu datangnya dari merek jam tangan mikro dan independen. Tahun ini kami kembali mengunjungi pameran jam tangan Spring Sprang Sprung yang diadakan pada tanggal 8–9 November 2025 di National Design Centre, Singapura. Acara yang didirikan bersama oleh Sugiharto Kusumadi (pendiri Horizon Watches dan Red Army Watches) dan Lim Yong Keong (pencipta Feynman Timekeepers) ini, hanya dalam empat tahun, telah berkembang dari 22 merek pada tahun pertamanya menjadi lebih dari 50 merek tahun ini dan telah berevolusi dari pertemuan sederhana para penggemar jam tangan menjadi salah satu pameran horologi independen paling dinamis di Asia. Berikut kami pilihkan beberapa di antaranya, dan simak berita lengkapnya di situs online kami: www.cgw-indonesia.com
Feynman Timekeepers (Singapura)
Salah satu pendiri merek Feynman Timekeepers, Lim Yong Keong mengaku bahwa sejak awal berdirinya merek jam ini, koleksinya selalu terinspirasi oleh tema alam, seperti Feynman
One Original yang diluncurkan pada tahun 2018, dengan Rasio Emas diterapkan melalui proporsi komponen casing dan dial, serta pola sarang lebah pada bagian tengah dial. Merek mikro ini telah menghabiskan tujuh tahun untuk menciptakan jam tangan yang merayakan seni dan kemakmuran, seperti Coalesce Dragon Métiers d’Art yang megah, hingga koleksi Feynman Q dan VI yang tak kalah uniknya. Koleksi Feynman Q yang bergaya vintage, menampilkan jarak antar lug 38mm, bezel yang disikat, dan dial batu permata khusus seperti Aventurine, Malachite, atau Tiger’s Eye. Jam tangan ini menafsirkan ulang desain klasik dan bersudut dengan keunikan pada jarum jam melengkung yang dirancang untuk berpotongan setiap jam sekali, membentuk “Berlian” tersembunyi. Ini menandakan pesan tersembunyi.





Isotope (Inggris)
Merek asal Inggris yang didirikan oleh Jose Miranda pada tahun 2016 ini telah membangun pengikut setia di kalangan kolektor yang menghargai desain daripada pengakuan merek. Seperti diungkapkan oleh Miranda sendiri, yang lebih mengutamakan bentuk daripada kemewahan, termasuk motif Lacrima yang menjadi ciri khas visual jamnya yang berbentuk tetesan air mata di seluruh dial. “Kami menghindari tren dan sebaliknya fokus pada bentuk dan proporsi yang terasa abadi namun tak terduga, keunikan kami terletak pada detail-detail yang tidak disadari,” jelasnya. Tahun ini Isotope memamerkan Flyway Fata Morgana yang memiliki pelat jam titanium bermotif guilloche yang memantulkan cahaya dengan cara yang tak terduga, Moonshot Chronograph pemenang penghargaannya, hingga koleksi Hydrium diver yang bergaya industrial, semuanya dirancang sendiri dan didukung oleh mesin mekanis Swiss
Lima Watch (Indonesia)
Koleksi GMT Transit dari Lima Watch yang terinspirasi oleh pilot penipu yang menawan dari film Catch Me If You Can, atau Kronosprinter yang membangkitkan citra pembalap ala Mad
KOLEKSI GMT TRANSIT DARI LIMA WATCH TERINSPIRASI OLEH PILOT PENIPU YANG
MENAWAN DARI FILM CATCH ME IF YOU CAN, ATAU KRONOSPRINTER YANG MEMBANGKITKAN
CITRA PEMBALAP ALA MAD MAX




Max, telah menjadi buruan para kolektor dan sering terjual habis. Merek jam asal Indonesia yang didirikan oleh Herman Tantriady ini berhasil menarik minat yang besar tidak hanya di dalam negeri, melainkan di Jepang, AS hingga para kolektor Singapura, dengan jam tangan berdesain ramping dan harga terjangkau yang seringkali di bawah USD1.000. Herman percaya bahwa desain yang baik harus “sederhana dan efisien”, dan mereknya menyalurkan kejelasan Bauhaus melalui penceritaan, setiap model dirancang untuk karakter sinematik. “Saya ingin orang-orang mengenakan Lima sebagai bagian dari identitas mereka, sesuatu untuk menyenangkan diri sendiri tanpa harus membuktikan nilai mereka kepada orang lain,” jelasnya.

Waktu Horology (Singapura)



Merek jam tangan yang didirikan oleh Dahliah Kamaru Zaman ini berdedikasi untuk memadukan horologi klasik dengan warisan budaya Melayu yang kaya, terlihat dalam koleksi Kalbu: M.O.P. Jam berdiameter 38mm dari stainless steel yang mengilap ini merupakan penghormatan mendalam pada masa lalu maritim Melayu, yang mengambil inspirasi dari Orang Laut dan esensi samudra yang tak terbatas. Kalbu (Jawi: قلبو) yang berarti pusat terdalam dan paling sakral dari keberadaan seseorang, tercermin dalam bukaan jantung jam tangan, yang mengungkapkan lebih dari sekadar pergerakan mekanis, ia membangun hubungan yang mendalam dengan semangat abadi laut. Bagian utama dari koleksi ini adalah pelat jam Mother-of-Pearl (M.O.P.), yang secara historis merupakan simbol kuat kekayaan, kekuasaan, dan perdagangan maritim yang mendefinisikan Kepulauan Melayu. Proses manufaktur membutuhkan tuntutan ekstrem dari pengerjaan mesin jarum jam ‘pucuk rebung’ yang rumit dan jarum menit ‘bunga pecah lapan’, untuk memastikan presisi absolut dan menjaga kualitas tanpa kompromi dari komponen-komponen unik dan simbolis secara budaya ini. Masing-masing varian, Gelap, Puteh, dan Mawar, hanya diproduksi 100 buah di seluruh dunia, demi menjaga eksklusivitas dan standar kualitas yang dibutuhkan untuk koleksi yang mengusung mesin otomatis jam buatan Jepang MIYOTA premium 90S5 ini.
HALAMAN SAMPING DARI KIRI ATAS
Sugiharto Kusumadi dan Lulu Fuad di ajang Spring Sprang Sprung di gedung National Design Centre, Singapura; Oris Bear, maskot resmi merek jam tangan Swiss, Oris; Marcel dari BA111OD; Dua koleksi jam Feynman Q yang bergaya vintage, dengan pilihan dial batu permata seperti Malachite dan Aventurine; Pendiri merek Feynman Timekeepers, Lim Yong Keong
HALAMAN INI DARI KIRI ATAS
Lulu Fuad bersama pendiri Isotope, Jose Miranda; Koleksi Isotope Flyway
Fata Morgana; Tiga koleksi terbaru dari Waktu Horology yang didirikan oleh
Dahliah Kamaru Zaman, menampilkan tiga varian dari Kalbu: M.O.P; Pendiri dan desainer Lima Watch, Herman Tantriady didampingi istrinya Peggy memamerkan jam tangan GMT Transit dan Kronosprinter


Seiko berkolaborasi dengan George Bamford dalam jam tangan edisi terbatas yang ekspresif
Menggandeng rumah jam custom mewah asal London, Bamford Watch Department, Seiko menghadirkan model edisi terbatas yang paling mencolok di lini Seiko 5 Sports yaitu Seiko SRPL95. Lebih dari sekadar penunjuk waktu, jam ini tampil sebagai pernyataan gaya hidup yang memadukan warisan desain klasik, kreativitas modern, dan semangat kebebasan berekspresi. Kolaborasi ini berangkat dari konsep yang digagas langsung oleh George Bamford, sosok pionir di dunia jam tangan custom. Terinspirasi dari gagasan sebuah perjalanan ke “paradise” atau surga, Seiko SRPL95 mengajak pemakainya untuk sejenak menjauh dari hiruk-pikuk rutinitas harian. Desainnya menghadirkan dunia imajiner yang terasa segar, bebas, dan penuh eksplorasi—sebuah pelarian visual sekaligus emosional yang diwujudkan dalam bentuk jam tangan.
Didirikan pada tahun 2003, Bamford Watch Department dikenal luas sebagai pelopor personalisasi jam tangan. Berbasis di London, merek ini kerap menantang pakem tradisional lewat sentuhan desain yang berani, detail craftsmanship yang presisi, serta pendekatan kustom yang khas. Kolaborasi dengan Seiko menjadi pertemuan dua karakter kuat, keandalan teknis khas Jepang dan kreativitas progresif dari Inggris. Mengambil basis dari seri legendaris SKX yang ikonis, Seiko SRPL95 menafsirkan ulang arsip desain Seiko melalui pendekatan kolase yang unik. Elemen klasik diolah secara kreatif untuk menghasilkan tampilan retro-futuristik—nostalgis, namun tetap terasa segar dan relevan. Jam ini hadir dengan case stainless steel berdiameter 42,5mm dan ketebalan 13,4mm. Dialnya dilindungi kaca Hardlex berbentuk cekung buatan Seiko, yang dikenal lebih tahan dibandingkan kaca jam konvensional.
Sorotan utama tentu terletak pada dial skeleton berwarna biru transparan yang terinspirasi dari laut. Dial ini dipadukan dengan indeks dan jarum jam khas seri SKX era 1980-an. Transparansi tersebut merefleksikan visi George Bamford tentang dualitas— antara yang terlihat dan tersembunyi, antara masa kini dan sesuatu yang tidak lekang oleh waktu—menyatukan dua dunia dalam satu desain. Bagian bezel juga tampil menawan. Insert bezel mengadaptasi desain Seiko klasik dengan material berkilau yang memadukan nuansa nostalgia dan sentuhan futuristik. Logo “Bamford” disematkan secara subtil di posisi pukul 6 pada dial, serta pada clasp strap nilon, memberikan sentuhan eksklusif tanpa terkesan berlebihan.
Untuk fungsionalitas, indeks dan jarum jam dilapisi Lumibrite agar tetap terbaca optimal dalam kondisi minim cahaya. Aksen fluoresen pada bezel, jarum, dan strap nilon bahkan menghadirkan tampilan berbeda saat terkena sinar black light—menampilkan sisi playful dan modern dari jam ini. Seiko SRPL95 ditenagai mesin otomatis 4R36 buatan Seiko, dengan cadangan daya hingga 41 jam dan fitur pemutaran manual. Jam ini juga tahan air hingga 10 bar atau setara 100 meter, serta memiliki ketahanan magnet hingga 4.800 A/m. Dengan bobot hanya sekitar 93 gram, jam ini tetap nyaman dikenakan untuk aktivitas sehari-hari. Sebagai penanda eksklusivitas, bagian belakang case diukir tulisan “limited edition”, nomor seri individual, dan logo BWD. Jam ini juga dikemas dalam kotak presentasi khusus yang terinspirasi dari kemasan Seiko era 1960-an. Para penggemar Seiko sebaiknya segera bersiap, karena Seiko SRPL95 hanya diproduksi sebanyak 2.025 unit dan tersedia secara eksklusif di butik resmi Seiko.

TIME FOR FASHION
Fashion Forward Watches
Jewellery Haven Stars & Timepieces



Duta merek TAG Heuer dan pemain bisbol muda berprestasi asal Korea Selatan, Lee Jung-Hoo membangun reputasinya melalui kesabaran dan keunggulan yang konsisten. Di Liga KBO Korea Selatan, ia dengan cepat menonjol, dan menjadi pemain tercepat dalam sejarah KBO yang mencapai 1.000 pukulan sepanjang kariernya, meraih tonggak sejarah tersebut sebelum berusia 24 tahun, sebuah pencapaian yang mencerminkan daya tahan sekaligus bakat. “Saya selalu berusaha untuk percaya pada diri sendiri dan mendorong batasan saya tanpa ragu-ragu. Saya percaya setiap pilihan yang telah saya buat selama ini telah membentuk siapa saya hari ini. Pesan ‘Designed to Win’ sangat selaras dengan filosofi saya sendiri, yang membuat kemitraan ini sangat bermakna bagi saya.”
Tenang di bawah tekanan dan tak kenal lelah dalam mengejar peningkatan, Lee Jung-hoo mewujudkan semangat sejati olahraga — semangat yang sama yang mendorong TAG Heuer. Perjalanannya mencerminkan esensi dari Designed to Win: kesuksesan yang dibangun bukan karena kebetulan, tetapi karena dedikasi yang konstan dan kekuatan batin. Dari musim-musim yang memecahkan rekor di KBO hingga transisinya yang terukur ke panggung terbesar bisbol, perjalanan Lee mencerminkan keyakinan yang dianut oleh
TAG Heuer, bahwa kemenangan terwujud sebagai sebuah proses, yang dibentuk dari waktu ke waktu, di mana disiplin dan fokus sama pentingnya dengan hasil akhir.
HALAMAN INI DARI KIRI
Duta merek TAG Heuer dan pemain bisbol Korea Selatan, Lee Jung-Hoo; Lee mengenakan jam tangan TAG Heuer Monaco chronograph Calibre 11; Ia menjadi pemain tercepat dalam sejarah KBO yang mencapai 1.000 pukulan sepanjang kariernya


Timothée Chalamet baru-baru ini menjalin kerja sama dengan pembuat jam tangan independen kelas atas Urban Jürgensen, menandai pergeseran dari jam tangan favoritnya sebelumnya menuju horologi artisanal yang lebih langka. Sepanjang tur pers film Marty Supreme di akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 serta Golden Globes ke-83, Chalamet terlihat mengenakan Urban Jürgensen UJ-2. Pada tanggal 11 Januari 2026 lalu, ia juga mengenakan Urban Jürgensen UJ-2 dengan casing platinum dan dial perak muda di karpet merah untuk Golden Globes ke-83 yang diadakan di Los Angeles, di mana ia berhasil memenangkan penghargaan sebagai Aktor Pria Terbaik dalam kategori Komedi/Musikal atas penampilannya dalam film Marty Supreme.
Urban Jürgensen UJ-2 senilai CHF 105.000 (sekitar IDR 2,28 milyar) pilihannya ini adalah bagian dari tiga koleksi merek jam mewah Urban Jürgensen, salah satu rumah pembuat jam tertua dan paling bersejarah. Jam tangan ini sepenuhnya buatan tangan dan menampilkan escapement alami roda ganda, pelat jam guilloche unik yang dibuat dengan tangan dan jarum jam berwarna biru api. Setiap jam tangan membutuhkan 565 jam pengerjaan tangan oleh seorang ahli pembuat jam untuk menyelesaikannya. Pembelian tersedia melalui janji temu pribadi atau melalui email. Detail lebih lanjut tersedia di: UrbanJurgensen.com dan @urbanjurgensen di Instagram.





PERCAKAPAN KEMUDIAN BERKEMBANG KETIKA
JI CHANG-WOOK MENIMPALI, “KITA BISA
MENAMBAHKAN BATU RUBY,”
SEBAGAI PENANDA JAM
Sejak ditunjuk sebagai duta jenama global pada 2023, hubungan antara Rado dan Ji Chang-wook semakin erat.
Dalam kolaborasinya bersama Rado, ia kerap tampil mengenakan lini utama seperti Captain Cook dan True Square dalam berbagai aktivitas dan kampanye global. Keterlibatan tersebut berlanjut pada kunjungannya ke markas dan fasilitas riset keramik berteknologi tinggi Rado di Swiss pada Maret 2024, di mana dialog seputar desain, material, dan konstruksi jam tangan terbangun secara langsung. Ji Chang-wook menunjukkan ketertarikan nyata pada berbagai tahapan produksi, mulai dari pengolahan serbuk keramik, teknik pewarnaan, hingga proses pembentukan casing monoblok persegi yang menjadi ciri khas True Square. Dialog antara Adrian Bosshard dan Ji Chang-wook kemudian mengarah pada pembahasan arsitektur Open Heart dan gagasan transparansi visual. Dari momen inilah muncul ide untuk menciptakan versi personal dari True Square Open Heart, sekaligus menegaskan DNA Rado sebagai “Masters of Materials,” yang menempatkan riset dan material sebagai fondasi utama dalam proses desain.
Saat diskusi mengenai konstruksi casing dan arsitektur Open Heart, Bosshard mengenang momen tersebut dengan mengatakan,

“ide untuk menciptakan versi khusus True Square Open Heart bersama Ji Chang-wook muncul saat kunjungan itu.” Percakapan kemudian berkembang ketika Ji Chang-wook menimpali, “kita bisa menambahkan batu ruby,” sebagai penanda jam, sebuah ide yang langsung dipahami sebagai elemen personal. Bahasa desain jam tangan ini dibangun melalui pilihan yang sarat makna, dimulai dari arsitektur Open Heart yang membuka pandangan ke mesin jam sebagai ekspresi keterbukaan dan kejujuran visual, dipertegas melalui kehadiran dua belas batu ruby sebagai penanda jam. Dalam konteks budaya Korea, warna merah kerap diasosiasikan dengan perlindungan dan keberuntungan, sementara bagi Ji Changwook, batu ruby juga memiliki makna personal sebagai batu hari kelahirannya. Mesin jam otomatis R734 menjadi inti penggeraknya, dilengkapi cadangan daya 80 jam, 25 batu permata, serta pegas rambut Nivachron yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan terhadap medan magnet dan menjaga stabilitas presisi. Arsitektur Open Heart menampilkan penyelesaian mesin dengan dekorasi berbintik sirkular dan Côtes de Genève, terlihat melalui kristal safir depan dan belakang. Seluruh konstruksi dibingkai casing monoblok persegi dari keramik berteknologi tinggi hitam doff, dipadukan dengan temali senada dan ketahanan air hingga 50 meter. Jam tangan ini diproduksi terbatas, dengan dimensi 38 mm x 44,2 mm serta ketebalan 9,7 mm.
HALAMAN SAMPING
Aktor Korea Ji Chang-wook adalah duta Rado yang turut merancang koleksi terbatas jam tangan Rado True Square Open Heart
HALAMAN INI
Ji Chang-wook memilih batu ruby sebagai penanda jam pada koleksi Rado True Square Open Heart yang mengusung mesin jam otomatis R734, dengan cadangan daya 80 jam
JEWELLERY TIME

Breguet menawarkan jam tangan indah yang bercerita tentang sejarah, keanggunan, dan mekanisme menawan dalam satu kemasan

LUARNYA, CALIBRE
OTOMATIS 537L2
BERDETAK TENANG
DENGAN PEGAS SILIKON
DAN ROTOR PLATINUM
BERLAPIS EMAS
BERHIASKAN GUILLOCHÉ
PETIT TRIANON

Menyambut 250 tahun perjalanannya, Breguet mempersembahan koleksi Reine de Naples yang terdiri dari dua model jam, yaitu referensi 9935 dan 8925. Inspirasi pembuatan koleksi ini bermula dari sebuah arloji yang diciptakan antara tahun 1810 hingga 1812 untuk Caroline Murat, adik dari Napoleon Bonaparte yang kemudian diangkat menjadi Ratu Napoli. Menurut catatan arsip dari atelier Breguet di Quai de l’Horloge, terdapat dua fitur fundamental yang tertera dalam pesanan tersebut. Yang pertama menjelaskan tentang bentuk oblong (oval seperti telur) dan yang kedua tentang fungsinya sebagai penunjuk waktu di pergelangan tangan. Lewat referensi tersebut, Breguet akhirnya mulai membuat koleksi Reine de Naples di tahun 2002.
Reine de Naples 9935
Jam tangan yang memancarkan aura lembut sekaligus dramatis ini berbalut kilau 109 berlian brilliant-cut pada bagian bezel dan flange. Bagian case mengadopsi bentuk oblong khas Breguet dengan ukuran 28.5 x 36.5mm dari bahan emas Breguet 18 karat yang menghadirkan kesan sensual saat memeluk pergelangan tangan. Jika diperhatikan lebih dalam, Breguet meletakkan crown di posisi pukul 4, yang berhiaskan berlian briolette besar atau batu safir biru bagi mereka yang menyukai sentuhan warna. Ini merupakan pertama kalinya Breguet menghilangkan indikator cadangan daya dari bagian dial, sehingga membuka ruang baru yang lebih lapang untuk komplikasi moonphase yang tampil dalam jendela berbentuk sabit di posisi puncaknya. Jam tangan Reine de Naples 9935 menggunakan angka arab Breguet yang berpadu dengan deretan berlian pear pada beberapa titik angka dan di atas tulisan merek. Detail tersebut menciptakan permainan pendar cahaya yang hidup dan memesona. Kemudian, Breguet memutuskan untuk menggarap bagian sub-dial detik kecil menggunakan teknik dekorasi ukiran artistik dengan tangan yang
disebut guilloché untuk menciptakan motif Quai de l’Horloge. Sentuhan kerajinan tangan ini menjadi ciri khas Breguet yang kerap kali tampil pada jam tangan lansirannya. Di balik keindahan luarnya, calibre otomatis 537L2 berdetak tenang dengan pegas silikon dan rotor platinum berlapis emas berhiaskan guilloché Petit Trianon, menawarkan 45 jam cadangan daya.
Jam tangan Reine de Naples 9935 hadir dalam beberapa varian yang menggugah. Jam pertama dihiasi dengan gaya dial dua tingkat, menggunakan aventurine biru dengan lapisan tipis mother-of pearl Tahiti di bagian bawahnya, sehingga dapat berkilau seperti langit malam dan mampu berganti kedalaman warna saat terpapar sinar. Opsi kedua menggunakan dial dengan bahan mother-of-pearl putih yang lembut dengan detail aventurine biru pada moon-phase. Kemudian yang ketiga adalah model high jewelry yang secara total berhiaskan berlian 5.2 karat dari dial hingga ke bagian gelang jam.

Reine de Naples 8925


Lansiran Reine de Naples 8925 menghadirkan estetika feminin yang lembut dan memikat lewat ukuran 25 x 33mm dan ketebalan 8.5mm. Meski cukup menampilkan jam dan menit pada dial, namun berkat kepiawaian desainnya jam ini mampu membuktikan bahwa kesederhanaan bisa memanjakan mata. Hal ini dimungkinkan berkat Breguet yang dengan piawai memadukan material emas Breguet bersama dengan 207 berlian yang menghiasi case, dial, lug, dan crown. Melalui seri ini Breguet menawarkan tiga macam jam tangan. Arloji yang pertama menggunakan dial emas Breguet 18 karat yang indah berkat perpaduan tekstur sunburst dan teknik guilloché Quai de l’Horloge, yang kedua menggunakan bahan mother-of-pearl, dan yang terakhir menggunakan lacquer hitam bertabur aventurine. Ketiga variasi tersebut berbagi karakteristik yang sama, antara lain angka bergaya Arab, jarum jam dengan ujung berongga, dan gelang jam emas Breguet. Di bagian motornya, calibre 586/1 bekerja dengan cadangan daya 38 jam. Bagian rotor menggunakan material platinum berlapis emas dan berhiaskan motif Petit Trianon, sebagai penghormatan terhadap seni dekoratif Prancis yang elegan.
HALAMAN SAMPING
Model mengenakan dua versi terbaru Breguet Reine de Naples 9935
HALAMAN INI DARI KIRI
Jam tangan Breguet Reine de Naples 9935 hadir dalam beberapa varian, termasuk model dengan dial dua tingkat dari aventurine biru, versi dengan dial mother-of-pearl putih dan detail aventurine biru pada moon-phase, hingga versi high jewelry berhiaskan berlian 5.2 karat pada dial hingga ke bagian gelang jam
JEWELLERY TIME

Motif zebra yang ekspresif, gradasi spessartite yang hangat, dan siluet
khas Gondolo Serata menjadikan jam ini salah satu pernyataan desain
paling artistik dari Patek Philippe

Melihat Patek Philippe Gondolo Serata « Zebra » Ref. 4962/200R-010, kesan pertama yang muncul adalah sebuah evokasi atas perjalanan desain yang terus berkembang sejak 2006. Saat itu, Serata tampil melalui dua buah jam tangan emas putih (Ref. 4972G-001 dan 4972/1G-001) yang menghadirkan kemolekan kurva Art Deco dalam format evening watch yang tetap memesona dipakai sepanjang hari. Model ini kembali pada 2023 sebagai Ref. 4962/200R-001, kini lebih besar dan dihiasi spessartite serta pelat jam floral. Peluncuran edisi 2025 secara off-season terasa tepat, karena memberi ruang bagi motif zebra yang ekspresif dan emosional untuk berdiri sendiri sebagai interpretasi paling personal dari Gondolo Serata. Desain Gondolo Serata « Zebra » dibangun dari bentuk case berukuran 28,6 × 40,85 mm yang memadukan kurva Art Deco dengan siluet “waisted” yang gemulai dan sensual. Motif zebra, yang terinspirasi dari Golden Ellipse Rare Handcrafts 5738/50G-023, tampil tidak hanya sebagai pola grafis tetapi sebagai representasi ritme hidup yang tidak datar,

DESAIN GONDOLO SERATA « ZEBRA »
DIBANGUN DARI BENTUK CASE BERUKURAN
28,6 × 40,85 MM YANG MEMADUKAN KURVA
ART DECO DENGAN SILUET “WAISTED” YANG
GEMULAI DAN SENSUAL
simbol keberanian untuk mengekspresikan diri dengan cara yang autentik. Garis-garis zebra yang tegas dipadukan dengan kontur case yang melengkung halus sehingga menghasilkan estetika bold yang tetap terasa soft di pergelangan tangan. Bagi kolektor yang mencari jam tangan perhiasan dengan identitas visual kuat dan emosional, kombinasi ini menjadi daya tarik utamanya.
Pelat jam Gondolo Serata « Zebra » dibuat melalui proses yang kompleks, dimulai dari kristal safir yang diukir dan dilapisi varnish hitam pada kedua sisinya. Lapisan metalisasi hitam dan varnish putih di bagian bawah menciptakan kedalaman optis yang membuat motif zebra tampak bergerak mengikuti arah cahaya. Hasilnya adalah permukaan pelat jam yang terasa begitu hidup, rasanya lebih mirip karya seni kontemporer dibandingkan sebuah elemen dekoratif. Dua angka Breguet pada pukul 12 dan 6 serta jarum jam berbentuk daun dari emas merah muda memberi keseimbangan klasik yang menenangkan komposisi. Perpaduan teknik dan estetika ini mempertegas posisi Serata sebagai jewelry watch dengan level artistry yang jarang ditemui. Keindahan Gondolo Serata « Zebra » semakin menonjol melalui 94 batu spessartite (2.02 karat) yang ditempatkan dalam gradasi cognac hingga tangerine untuk menegaskan lekuk pinggang case. Dalam keluarga garnet, spessartit adalah jenis alumina yang ditemukan pada tahun 1880 di Spessart, Bavaria, dengan warna berapi-api dari jingga terang hingga merah kecokelatan. Batu ini dikenal

paling memukau ketika menangkap cahaya matahari terbenam, memberikan kilau hangat yang berpadu harmonis dengan emas merah muda. Arsitektur case yang cambered membuat gradasi warna ini memeluk pergelangan dengan sensualitas lembut. Baris tambahan spessartite di bagian bawah case mempertegas karakter asimetris Serata dan menempatkannya sebagai objek haute joaillerie dengan identitas visual yang kuat.
Gondolo Serata « Zebra » ditujukan bagi pemakai yang melihat jam tangan perhiasan bukan sebagai pelengkap busana, melainkan sebagai ekspresi diri. Temali kulit satin putih dan pin pengait emas merah muda memberikan sentuhan refined yang menyeimbangkan tampilan zebra yang penuh energi. Caliber E15 menawarkan kepraktisan mesin quartz untuk penggunaan sehari-hari tanpa mengorbankan kualitas sentuhan akhir khas Patek Philippe. Motif zebra menjadi metafora ritme hidup yang tidak linear, cocok untuk mereka yang menghargai sikap autentik dan keberanian dalam memilih desain. Di tengah lanskap jewelry watch yang kerap mengulang formula aman, Serata hadir sebagai pernyataan estetika yang berani namun tetap lembut dalam eksekusinya.
HALAMAN SAMPING
Model mengenakan Patek Philippe Gondolo Serata « Zebra » Ref. 4962/200R-010 edisi 2025 yang mewah
HALAMAN INI
Tampilan Patek Philippe Gondolo Serata « Zebra » yang memadukan kurva Art Deco dengan siluet “waisted” dan motif zebra, yang terinspirasi dari Golden Ellipse Rare Handcrafts 5738/50G-023
JEWELLERY TIME
Hermès menghadirkan Slim d’Hermès Hippocampe sebagai bukti bagaimana ilustrasi, teknik ukiran, dan marquetry dapat bersatu menjadi objek ekspresif




Tampilan Slim d’Hermès Hippocampe mencerminkan bagaimana Hermès berhasil mengangkat karya ilustrator asal London, Britania Raya, Stuart Patience, menjadi ekspresi visual yang terasa lebih hidup daripada bentuk asalnya. Patience dikenal melalui garis-garis ilustrasinya yang rumit dan penuh gerak, dan motif kuda laut ciptaannya memperlihatkan kepekaannya terhadap detail organik yang sering menjadi karakter utama dalam portofolionya. Hermès tidak hanya mereproduksi ilustrasi tersebut, tetapi juga membongkar ulang strukturnya untuk kemudian diterjemahkan ke dalam teknik ukiran dan leather marquetry yang menuntut presisi ekstrem. Kehadiran dua varian warna, biru kehijauan dan merah karang memperlihatkan bagaimana Hermès mengolah kembali nuansa emosional dari karya Patience menjadi interpretasi yang lebih dimensional.
Tahap pertama dalam pengerjaan Hippocampe adalah proses pengukiran, di mana pengukir Hermès mulai membentuk dasar pelat jam dari permukaan logam yang masih polos. Setiap kontur kuda laut dihasilkan melalui goresan alat presisi yang menciptakan relief halus, sehingga struktur tubuh dan lekuk siripnya mulai terlihat dalam tiga dimensi. Relief ini bukan hanya


elemen dekoratif, karena kedalamannya menentukan bagaimana cahaya memantul pada pelat jam dan bagaimana warna kulit akan berinteraksi dengannya pada tahap berikutnya. Keberadaan garis-garis ini juga berfungsi sebagai batas alami untuk menyusun potongan kulit tipis yang akan ditempatkan secara manual. Ketelitian tahap pengukiran inilah yang membuat keseluruhan pelat jam memiliki dasar visual yang solid dan memungkinkan detail marquetry (potongan kecil) tersusun secara optimal. Tahap selanjutnya adalah leather marquetry (penyusunan potongan kecil material kulit) yang menjadi elemen paling khas dari pelat jam ini. Lembaran kulit berwarna diolah hingga mencapai ketebalan hanya sekitar setengah milimeter, lalu dipotong menjadi fragmen kecil yang disesuaikan dengan setiap rongga relief. Proses penyusunan potongan kulit ini dilakukan satu per satu dengan tangan, sehingga transisi warna dan tekstur dapat diatur sehalus mungkin. Seluruh proses ini menciptakan permukaan pelat jam yang memiliki tekstur dan dimensi yang tidak pernah terasa statis, seolah setiap elemen tersusun dalam sebuah komposisi yang terus bergerak.

SETIAP KONTUR KUDA
LAUT DIHASILKAN MELALUI
GORESAN ALAT PRESISI YANG
MENCIPTAKAN RELIEF HALUS, SEHINGGA STRUKTUR TUBUH
DAN LEKUK SIRIPNYA MULAI
TERLIHAT DALAM TIGA DIMENSI
Slim d’Hermès Hippocampe dibingkai dalam casing material emas putih berdiameter 39,5mm. Profilnya yang begitu tipis dimungkinkan oleh mesin jam mekanis otomatis H1950, sebuah kaliber ultra-tipis yang menjadi salah satu ciri keahlian Hermès dalam menghadirkan struktur ramping. Melalui transparansi tampilan kaca safir di bagian belakang, struktur jembatan mesin terlihat dihias dengan teknik bevel halus menggunakan tangan dan pola H yang menjadi identitas dekoratif maison asal Perancis ini. Rotor mikro tersembunyi bekerja tanpa mengganggu tampilan keseluruhan jam tangan dengan penyimpanan daya 48 jam ini, sehingga estetika bagian belakang jam tangan tetap bersih dan seimbang. Detail finis ini memperlihatkan bagaimana Hermès menggabungkan pendekatan teknik dan estetika dalam satu mesin yang dibuat untuk menyatu dengan karakter pelat jam. Kedua varian Slim d’Hermès Hippocampe dilengkapi dengan temali Swift calfskin berwarna béton atau perle, dua pilihan yang sengaja dipilih untuk menjaga perhatian tetap terarah pada pelat jam yang kaya detail. Setiap versi diproduksi dalam jumlah sangat terbatas, hanya 24 buah saja, mempertegas posisi Hippocampe sebagai objek koleksi bagi mereka yang menghargai teknik artisanal dan interpretasi visual yang tidak biasa. Keseluruhan wujudnya menunjukkan bagaimana Hermès mengolah gagasan artisanal menjadi objek ekspresif yang dibangun dari lapisan teknik, tekstur, dan interpretasi yang saling melengkapi.
HALAMAN SAMPING
Jam tangan Slim d’Hermès Hippocampe dalam varian warna merah karang yang unik, memamerkan keindahan teknik leather marquetry pada pelat jam
HALAMAN INI
Slim d’Hermès Hippocampe dalam versi biru kehijauan dengan casing emas putih berdiameter 39,5mm, melalui proses rumit mulai dari pengukiran dasar pelat jam, hingga penyusunan potongan kulit tipis dan pewarnaan
JEWELLERY TIME



Adelle Jewellery merayakan 12th Anniversary dengan Koleksi Morning Dew dan dihadiri artis Internasional Kim Jong Kook
Perjalanan selama 12 tahun penuh kreativitas dan kilau
berlian dirayakan Adelle Jewellery dengan meriah dalam pesta Gala 12th Anniversary pada 29 November lalu. ajang megah bertabur bintang ini mengusung tema a bold celebration where art, fashion, and diamonds collide, dan diadakan di Spike
Airdome PIK 2, Jakarta. Serangkaian perhiasan dengan desain teranyar yang terangkum dalam lini koleksi Morning Dew menjadi bintang utama dalam acara ini, menghadirkan koleksi inspiratif dan artistik yang merayakan keindahan alam di waktu fajar. Michelle Lo, Chief of Product Adelle Jewellery berujar, “Koleksi Morning Dew merepresentasikan semangat kami untuk selalu menghadirkan karya yang bukan hanya indah, tetapi juga penuh
makna. Seperti embun pagi yang menandai awal baru, kami berharap koleksi ini menjadi simbol harapan dan kebersamaan antara Adelle dan para pencinta perhiasan yang telah menjadi bagian dari kisah kami.” Koleksi perhiasan indah ini terinspirasi dari butiran embun yang terpapar sinar matahari pertama sebagai penanda datangnya pagi yang menafsirkan momen tak terkendali yang dirancang apik oleh alam. Momen ini melambangkan kejernihan, harapan, dan awal yang baru.
Seperti yang dicantumkan di rilis terbaru Adelle Jewellery, setiap desain perhiasan dari lini koleksi ini memancarkan keindahan momen tersebut dan dipertegas melalui inovasi diamond-setting








Adelle Jewellery. Dengan kombinasi artistry pengrajin ahli dan teknologi kalibrasi canggih, Morning Dew memamerkan tampilan yang refined yet powerful, menggambarkan bagaimana Adelle terus mendorong batas antara artistry dan inovasi. Perayaan malam Gala ini dirancang sebagai pengalaman yang menyatukan couture, entertainment, dan mahakarya perhiasan berlian. Acara dibuka dengan Blue Carpet Moment, sebuah runway glamor di mana tamu VIP, selebritas, KOL, hingga pelanggan setia Adelle berjalan dalam balutan busana terbaik. Momen ini tidak hanya menjadi pusat perhatian, tetapi juga menegaskan karakter highfashion gala melalui flash light kamera dan kurasi gaya dari fashion commentator yang hadir. Setelah melewati Blue Carpet, para tamu undangan akan disambut di sebuah ruang eksplorasi visual yang merefleksikan DNA Adelle, yaitu modern luxury, innovation, dan artistic expression
Ekspresi artistik ini diwujudkan melalui sebuah art installation berbentuk hummingbird yang menyambut fajar dengan kicauan, bak simbol ritme baru, optimisme, dan energi yang kembali terisi. Hadir pula photo exhibition oleh Aldo Sinarta, yang menampilkan para muse Adelle dalam interpretasi visual yang selaras dengan karakter masing-masing. Untuk melengkapi pengalaman, para tamu dimanjakan dengan canapé eksklusif yang disajikan secara artistik, memberikan sentuhan eksplorasi rasa dan visual yang memperkaya perjalanan mereka sebelum memasuki rangkaian utama acara. Malam berlanjut dengan Gala Dinner, sebuah pengalaman gastronomi yang dirancang melampaui sekadar santapan mewah. Acara dilanjutkan dengan fashion show istimewa dengan Diana Couture karya Diana Putri, seorang desainer kenamaan Indonesia yang telah menorehkan prestasi di




MORNING DEW MEMAMERKAN TAMPILAN YANG
REFINED YET POWERFUL, MENGGAMBARKAN
BAGAIMANA ADELLE TERUS MENDORONG
BATAS ANTARA ARTISTRY DAN INOVASI
panggung mode internasional. Dalam peragaan busana bertema Morning Dew, Diana Couture mempersembahkan koleksi couture eksklusif. Puncak acara pada malam itu adalah hadirnya bintang global asal Korea, Kim Jong Kook. Sebagai sosok legendaris dari variety show ternama dunia Running Man, Kim Jong Kook berhasil memikat para tamu melalui penampilannya yang karismatik dan suara lembutnya. Tak hanya tampil di atas panggung, ia juga berinteraksi langsung dengan audiens melalui mini talk show dan permainan interaktif yang melibatkan beberapa tamu undangan beruntung, menciptakan momen hangat dan berkesan. Merek perhiasan yang berdiri pada tahun 2013 ini telah berkembang menjadi simbol kemewahan modern di dunia perhiasan Indonesia. Menggabungkan craftsmanship dan teknologi mutakhir, Adelle menghadirkan koleksi berkonsep, yang mencerminkan inovasi dan keanggunan abadi.
HALAMAN SAMPING
Model mengenakan serangkaian perhiasan berlian Adelle Jewellery dari koleksi Morning Dew terbaru untuk pria dan wanita
HALAMAN INI
Suasana meriah pesta Gala 12th Anniversary Adelle Jewellery, menampilkan instalasi seni berbentuk hummingbird, pameran foto oleh Aldo Sinarta, jewellery show dan penampilan artis Korea, Kim Jong Kook
JEWELLERY TIME




HKTDC kembali menggelar pameran perhiasan dan batu permata dalam satu ajang internasional di dua lokasi, yaitu di AsiaWorld-Expo dan Hong Kong Convention and Exhibition Centre
Penggemar perhiasan dari berbagai belahan dunia telah menanti-nanti ajang pameran berkelas internasional yang secara rutin diselenggarakan oleh Hong Kong Trade Development Council (Dewan Pengembangan Perdagangan Hong Kong). Pameran Perhiasan Internasional Hong Kong HKTDC ke-42, yang khusus menampilkan perhiasan jadi, dan Pameran Berlian, Permata & Mutiara Internasional Hong Kong HKTDC ke-12, yang berfokus pada batu permata dan bahan baku untuk perhiasan, masing-masing akan diadakan di Hong Kong Convention and Exhibition Centre dan AsiaWorld-Expo pada awal Maret 2026. Dengan dua pameran di dua lokasi, pameran perhiasan kembar ini akan menyediakan platform yang sangat efektif bagi peserta pameran dan pembeli untuk terhubung dengan calon mitra bisnis.
Pameran Perhiasan Internasional Hong Kong (4 – 8 Maret 2026 di Hong Kong Convention and Exhibition Centre) akan menampilkan zona-zona bertema, termasuk Hall of Extraordinary, Hall of Fame, dan Designer Galleria. Hall of Extraordinary akan memamerkan koleksi-koleksi kelas atas yang dihiasi dengan berlian, batu mulia, giok, dan mutiara yang memukau dari para peserta pameran ternama seperti Dehres, On Tung, Lili Jewelry,
Karen Suen, Heinz Mayer, Autore Pearls, dan lain-lain. Emas yang dianggap sebagai simbol kekayaan dan keberuntungan, mengalami kemajuan teknologi yang meningkatkan kekerasan dan fleksibilitasnya dalam desain inovatif yang menggabungkan emas dengan batu permata.
Sementara itu, Pameran Berlian, Permata & Mutiara Internasional Hong Kong (2 – 6 Maret 2026 di gedung AsiaWorldExpo) akan menampilkan pilihan berlian, mutiara, dan batu permata berkualitas tinggi yang luar biasa, bersama dengan bahan baku perhiasan dari berbagai asal. The Hall of Fine Diamonds akan menampilkan berlian berukuran karat yang sangat besar, Treasures of Nature akan memamerkan koleksi rubi, zamrud, dan safir yang menakjubkan, dan Treasures of Ocean akan memikat para pembeli dengan mutiara laut alami. Untuk hadir, silakan mendaftar di situs: https://tinyurl.com/34a2pa4c

Pengalaman menginap yang melampaui definisi kemewahan konvensional di Alila Villas Uluwatu, Bali

Bertengger anggun di atas tebing batu kapur yang menjulang berpemandangan Samudra Hindia, Alila Villas Uluwatu menghadirkan pengalaman menginap yang melampaui definisi kemewahan konvensional. Di tempat ini, segalanya bagaikan suguhan sinematik indah mengiringi irama ombak yang menghantam karang, sementara panorama matahari terbenam keemasan tersaji dramatis dari ketinggian. Terletak di kawasan Uluwatu yang ikonis, resor ini telah dikenal sebagai simbol conscious luxury dan inovasi ramah lingkungan di Bali. Dengan sertifikasi EarthCheck Platinum, Alila Villas Uluwatu tidak hanya memanjakan tamu melalui desain dan layanan kelas dunia, tetapi juga melalui komitmen nyata terhadap keberlanjutan (sustainability) dan pelestarian lingkungan. Setiap sudut dirancang dengan filosofi yang matang, menghadirkan rasa lapang, ketenangan batin, serta koneksi mendalam dengan alam dan lanskap Bali yang liar namun sakral.
Sebanyak 65 vila yang tersebar di area resor merupakan perwujudan arsitektur tropis modern yang berpijak pada prinsip berkelanjutan. Material lokal seperti bambu, rotan, batu lava, dan kayu daur ulang dari bantalan rel kereta lama digunakan secara cermat, menciptakan harmoni antara estetika, fungsi, dan tanggung






jawab lingkungan. Tata ruang terbuka memungkinkan angin laut mengalir bebas, mengaburkan batas antara ruang dalam dan luar. Jalur batu, jembatan elegan, serta warna-warna alami menghadirkan nuansa minimalis yang hangat dan membumi, sekaligus mencerminkan keahlian para perajin Indonesia. Memasuki vila, tamu langsung diselimuti suasana private dan nyaman yang terasa personal. Kolam renang pribadi menjadi pusat relaksasi, sementara kabana yang menghadap laut mengundang momen untuk menikmati cakrawala tanpa gangguan. Di dalam, bathtub besar dengan aroma lilin dan aromaterapi khas Alila menjadikan saat berendam sebagai pengalaman yang menenangkan indra. Kamar mandi dirancang layaknya spa personal, dilengkapi shower indoor dan outdoor, rain shower, jet shower, serta berbagai amenities organik eksklusif. Kenyamanan modern pun hadir melalui TV LED layar besar, mesin espresso, minibar pilihan, linen berkualitas tinggi, dan area rias terpisah untuk pria dan wanita.
Pengalaman di Alila Villas Uluwatu tidak berhenti pada ruang yang private. Spa Alila menawarkan perawatan holistik yang memadukan terapi Timur dan Barat dengan bahan alami aktif, dirancang untuk menyeimbangkan tubuh, pikiran, dan jiwa. Setiap perawatan disesuaikan dengan kebutuhan tamu, menjadikan spa sebagai tempat pemulihan yang menyeluruh, bukan sekadar pelengkap liburan. Soal kuliner, para tamu akan disuguhi dengan perjalanan eksplorasi rasa yang menggugah indra. Hidangan Mediterania yang sehat dan elegan di CIRE menonjolkan kesegaran bahan lokal dan musiman, sementara The Warung menghadirkan cita rasa autentik Indonesia dan Bali dalam suasana yang hangat dan bersahabat. Sunset Cabana Bar, yang bertengger dramatis di tepi tebing, menjadi tempat favorit untuk menikmati koktail artisan sambil menyaksikan matahari perlahan tenggelam ke laut. Bagi



DENGAN LATAR ALAM YANG SPEKTAKULER, RESOR INI JUGA MENJADI PILIHAN ISTIMEWA UNTUK PERNIKAHAN, RETRET, DAN PERAYAAN PRIBADI
pencinta wiski dan serutu, Batique menawarkan ruang eksklusif dengan koleksi single malt langka dan atmosfer santai berbalut alunan musik DJ.
Dengan latar alam yang spektakuler, resor ini juga menjadi pilihan istimewa untuk pernikahan, retret, dan perayaan pribadi. Dari paviliun yang bernuansa intim hingga taman di tepi tebing, setiap venue dirancang untuk menciptakan momen yang personal dan penuh makna, seolah langit dan laut menjadi saksi setiap perayaan kehidupan. Keberlanjutan di resor ini bukan sekadar konsep, melainkan praktik sehari-hari. Dalam mendukung pariwisata berkelanjutan, hotel-hotel Alila menerapkan standar operasional EarthCheck dengan mengintegrasikan unsur alam, fisik, dan budaya dari lingkungannya. Dan sebagai resor pelopor di Indonesia yang menerapkan kebijakan Zero Waste to Landfill, Alila Villas Uluwatu mengelola air melalui sistem daur ulang, mengoptimalkan efisiensi energi lewat desain alami, serta menjaga keanekaragaman hayati melalui pembibitan tanaman lokal.
Sustainability Lab di dalam resor bahkan menjadi pusat edukasi bagi para tamu, staf, dan komunitas sekitar.
Melalui program Alila Moments, tamu diajak menjalani pengalaman personal yang bermakna—mulai dari mengenal inovasi zero waste, berkebun organik, meracik jamu tradisional, hingga mengikuti ritual penyucian dan mengunjungi Pura Luhur Uluwatu. Hanya 35 menit dari Bandara Ngurah Rai, resor seluas 14 hektare lebih ini menawarkan keseimbangan sempurna antara keterasingan dan aksesibilitas. Lebih dari sekadar destinasi mewah, resor ini adalah perayaan hidup yang sadar, selaras, dan terinspirasi oleh keindahan Bali yang abadi.
Alila Villas Uluwatu
Jl. Alila Villas, Pecatu, Kuta, Badung, Bali 80361 Tel: (0361) 8482166
https://linktr.ee/AlilaUluwatu
Mulai dari Tiong Ham Suite, Nonya Besar Suite hingga Makelaar Kopi
Suite, House of Tugu, Old Town Jakarta memancarkan kemegahan masa lalu Indonesia


Berawal dari perjalanan personal Anhar Setjadibrata dalam melestarikan artefak dan warisan budaya Indonesia sejak tahun 1970-an, Tugu Hotels hadir sebagai lebih dari sekadar hotel. Jaringan hotel ini merupakan museum hidup yang merangkum kisah, sejarah, dan kemewahan dalam satu pengalaman. Semangat pelestarian ini terasa kuat di The Forbidden House Jakarta, sebuah bangunan bersejarah di kawasan Kali Besar yang menyimpan jejak kisah keluarga Oei Tiong Ham, sang “Raja Gula” Asia, lengkap dengan simbol pohon kelapa yang menjadi saksi mimpi dan perjalanan hidup ayahnya, Oei Tjie Sien. Di bawah naungan filosofi Tugu Hotels yang telah mendunia—mulai dari Bali, Lombok, hingga Blitar—setiap sudut dan kamar di properti ini dirancang untuk mengajak tamu menyelami kemegahan masa lalu Batavia dalam balutan keramahan dan kemewahan kontemporer.




DI BAWAH NAUNGAN FILOSOFI TUGU HOTELS
YANG TELAH MENDUNIA, SETIAP SUDUT DAN
KAMAR DI PROPERTI INI DIRANCANG UNTUK
MENGAJAK TAMU MENYELAMI KEMEGAHAN
MASA LALU BATAVIA DALAM BALUTAN KEMEWAHAN KONTEMPORER
Di sini, ada Tiong Ham Suite, yang terinspirasi dari kehidupan Oei Tiong Ham, tokoh legendaris yang dikenal sebagai “Raja Gula Asia”. Dengan luas kamar 80,56 m², suite ini menghadirkan kemewahan yang sarat akan sejarah. Interiornya dirancang megah dengan detail klasik yang merefleksikan kejayaan masa lalu, sementara tempat tidur king size yang unik menjadi pusat perhatian ruangan. Tiong Ham Suite menjadi simbol kemewahan dan prestise bagi tamu yang menginginkan pengalaman menginap kelas atas. Ada pula Nonya Besar Suite (Big Madam Suite), menawarkan ruangan lega yang memadukan estetika Peranakan klasik dengan sentuhan kemewahan modern. Motif warna-warni, furnitur berornamen, dan detail dekoratif khas menciptakan suasana yang hangat sekaligus berkelas. Kamar mandi en-suite, dilengkapi dengan dua wastafel berdampingan, memberikan kenyamanan ekstra bagi tamu. Big Madam Suite pilihan ideal bagi pencinta budaya yang tetap menginginkan kenyamanan maksimal.
Sesuai namanya, Makelaar Kopi Suite adalah penghormatan elegan terhadap sejarah panjang kopi Indonesia. Terinspirasi dari kantor Makelaar Koffie dan perkebunan legendaris Kawisari, suite ini menghidupkan kembali kisah perdagangan kopi Nusantara melalui detail interior yang kaya akan narasi dan nuansa hangat. Suite ini dapat menjadi pilihan sempurna bagi tamu yang mengapresiasi cerita sejarah dalam balutan kemewahan. Memasuki Charlie Chaplin Suite berarti melangkah ke dunia sejarah sinema yang hangat dan penuh cerita. Suite ini merupakan
penghormatan atas kunjungan legendaris Chaplin ke Jawa tahun 1932, dengan dekorasi yang terinspirasi perjalanannya—termasuk lukisan The Resting Birds dan relief burung tropis yang diberikan sang aktor. Bathtub mewah bergaya Timur Tengah menambahkan sentuhan eksotis bak kisah 1001 Malam, mencerminkan kegemaran Chaplin pada dekorasi Persia.
Jika Anda mencari kenyamanan sekaligus kedekatan dengan jejak sejarah Batavia, Residence Suite adalah pilihan yang tepat. Dilengkapi dapur mini, ruang keluarga yang hangat, dan teras yang tenang, suite ini ideal untuk tinggal lebih lama atau sekadar melepas penat. Perpaduan fasilitas modern dan pesona masa lalu menciptakan suasana yang intim dan berkarakter. Babah Room menawarkan pengalaman menginap yang lebih personal dengan sentuhan warisan Peranakan yang juga kuat. Karya seni unik, aksen antik, sofa nyaman, serta meja kerja menciptakan ruang yang fungsional namun tetap penuh karakter, memastikan kenyamanan maksimal dalam suasana yang hangat dan bersahaja. Sedangkan Explorer Room yang seluas 25 m² dirancang khusus bagi para penjelajah modern. Terinspirasi oleh semangat eksplorasi Nusantara, kamar ini dihiasi peta vintage dan artefak antik yang membangkitkan rasa ingin tahu dan kreativitas. Explorer Room benar-benar merupakan basecamp ideal untuk menjelajahi Jakarta.


Tak ketinggalan, Poolside Room juga menawarkan ketenangan dan kemewahan dengan akses langsung ke area kolam renang. Pemandangan air yang menenangkan dan teras pribadi menciptakan suasana liburan tropis yang sempurna, ideal untuk bersantai sepanjang hari. Sedangkan Colonial Courtyard Room menghadirkan oase ketenangan bergaya kolonial di tengah halaman hijau The House of Tugu. Setiap sudutnya memancarkan kemegahan masa lalu Indonesia melalui furnitur klasik dan sentuhan dekoratif yang menenangkan, semuanya dikurasi untuk menghadirkan kenyamanan dan keteduhan. Setiap kamar dan suite di hotel ini dirancang sebagai sebuah narasi. Baik Anda pencinta warisan budaya, pebisnis, maupun pelancong yang mencari relaksasi, setiap pilihan kamar menawarkan karakter dan kenyamanan yang tak terlupakan, menjadikan setiap kunjungan sebuah perjalanan yang penuh makna.
House of Tugu, Old Town Jakarta
Jl. Kali Besar Barat No.26, Roa Malaka, Tambora, Jakarta 11230
Tel: +62 811‑8711‑248 www.tuguhotels.com/hotels/jakarta/

Dari yacht privat hingga rel ikonis, slow travel terkurasi menjanjikan pengalaman tak terlupakan yang menjadi tujuan utama

Luminara, super-yacht

Dalam dunia perjalanan mewah yang terus berevolusi, destinasi tak lagi menjadi satu-satunya daya tarik utama. Cara kita bepergian—mulai dari ritme perjalanan, kualitas layanan, hingga suasana yang diciptakan di sepanjang pelayaran— kini justru menjadi esensi pengalaman itu sendiri. Menangkap pergeseran ini, merek-merek perhotelan papan atas seperti Aman, Four Seasons, Orient Express, dan The Ritz-Carlton melangkah melampaui daratan dengan meluncurkan yacht eksklusif yang membawa filosofi hospitality khas mereka ke tengah lautan. Lebih dari sekadar kapal pesiar, yacht-yacht ini menghadirkan perjalanan yang memadukan desain ikonis, layanan personal, dan seni hidup mewah dalam format yang intim dan berkelas.
Aman mengusung pendekatan yang intim dalam dunia yachting mewah. Kapal andalannya saat ini, Amandira, adalah yacht layar dan selam bergaya Phinisi sepanjang sekitar 52


DUNIA PELAYARAN ULTRAMEWAH JUGA
MENYAMBUT KEHADIRAN LUMINARA, SUPERYACHT TERBARU DARI THE RITZ-CARLTON YACHT COLLECTION, YANG MULAI BEROPERASI PADA 3 JULI 2025
meter yang dibuat khusus dengan dua tiang layar. Dengan hanya lima kabin yang menampung maksimal 10 tamu, Amandira menawarkan pengalaman berlayar yang sangat personal menyusuri kepulauan Indonesia. Setiap perjalanan terasa seperti perpanjangan dari filosofi Aman itu sendiri: privat, bersahaja, dan berfokus pada ketenangan serta keindahan alam. Ke depan, Aman bersiap memasuki babak baru dengan Amangati, yacht berisi 47 suite yang akan diluncurkan pada musim semi 2027. Dengan kapasitas hanya 94 tamu yang tersebar di sembilan dek, Amangati dirancang untuk mempertahankan rasa eksklusivitas di tengah skala yang lebih besar.


Sementara itu, Four Seasons Yachts merancang interpretasi kemewahan yang lebih kosmopolitan dan dinamis. Musim perdana pelayaran kapal pertamanya, Four Season 1 dijadwalkan mulai 20 Maret 2026 dengan 95 suite yang dirancang menyerupai apartemen mewah di atas laut. Mulai dari Seaview Suite (50 – 57 sqm) hidup dalam luar ruang yang menyatu hingga Funnel Suite (927 sqm) persegi ruang hidup, kolam renang pribadi, dan area makan di bawah taburan bintang—Four Seasons membawa standar hospitality kelas dunia ke ranah yachting dengan penuh percaya diri. Lebih dari sekadar pelayaran, Four Seasons Yachts menempatkan pengalaman sebagai pusat perjalanan. Program Shore & Sea Experiences mengajak tamu menjelajahi destinasi secara lebih personal, melalui penyelaman privat, kelas memasak di dapur legendaris, hingga jamuan makan malam di kebun anggur. Di atas kapal, perjalanan kuliner menjadi sorotan lewat 11 konsep restoran dan bar yang dirancang sebagai perpanjangan dari pengalaman bersantap peraih penghargaan khas Four Seasons. Rute-rute tematik, termasuk pelayaran Karibia 2027, menyuguhkan perairan pirus, teluk sunyi, dan malam-malam hangat berbintang—menegaskan bahwa dalam era baru luxury travel, perjalanan itu sendiri telah menjadi tujuan utama.
Jika Four Seasons merepresentasikan kemewahan modern yang kosmopolitan, Orient Express membawa pendekatan berbeda—mengakar pada sejarah, romantisme, dan seni hidup klasik Eropa. Pada 6 Juni 2026, Orient Express akan memperkenalkan Orient Express Corinthian, sebuah luxury sailing yacht yang dirancang sebagai floating palace. Dengan hanya 54 suite untuk maksimum 110 tamu, didukung 173 kru, kapal ini menawarkan tingkat privasi dan personalisasi yang jarang ditemui. Setiap ruang menampilkan keahlian kerajinan Prancis terbaik— pencahayaan bernuansa vintage, material buatan tangan, hingga furnitur khusus yang didesain layaknya karya seni. Kemewahan di sini bukan sekadar tampilan visual, melainkan pengalaman menyeluruh yang terasa tenang, elegan, dan berkelas. Berlayar melintasi Mediterania, French Riviera, Italian Riviera, Eropa Utara, hingga kawasan Karibia seperti Gaudeloupe, Bahamas, Barbados dan Virgin Islands, Orient Express Corinthian mengajak para tamu untuk menjelajahi dunia secara fisik sekaligus artistik. Setiap hari menyajikan lanskap berbeda, suasana baru, dan momen yang terasa personal, lebih menyerupai perjalanan privat ketimbang pelayaran konvensional.








Filosofi slow luxury ini tidak berhenti di laut. Nuansa tersebut juga dihadirkan Orient Express di darat melalui La Dolce Vita Orient Express, kereta mewah yang mulai beroperasi pada April 2025 dengan hanya 31 kabin. Terinspirasi kejayaan desain Italia era 1960-an, kereta ini adalah penghormatan terhadap gaya hidup Italia yang penuh karakter, kehangatan, dan estetika. Berangkat dari Roma, tersedia delapan rute eksklusif, mulai dari Venesia dan Portofino, Tuscany, hingga Sisilia dan Taormina. Pengalaman di atas rel semakin istimewa berkat sajian gastronomi yang dikurasi oleh Chef Heinz Beck, peraih tiga bintang Michelin, menjadikan setiap perjalanan sebagai perayaan rasa dan budaya. Dunia pelayaran ultramewah juga menyambut kehadiran Luminara, super-yacht terbaru dari The Ritz-Carlton Yacht Collection, yang mulai beroperasi pada 3 Juli 2025. Dengan 226 suite berteras pribadi dan rasio ruang yang sangat lapang, Luminara membawa standar baru dalam kenyamanan di laut. Kapal ini berlayar dari Amerika Serikat ke Karibia, dari Eropa ke Mediterania, hingga Asia dan Oseania, menggabungkan kemewahan, seni, desain, dan keunggulan kuliner dalam satu pengalaman berkelas global. Luminara merupakan kapal ketiga setelah Evrima (beroperasi Oktober 2022) dan Ilma (September 2024), melanjutkan kesuksesan koleksi yacht Ritz-Carlton.
Bagi para pelancong yang ingin merasakan pengalaman ini secara maksimal, Destination Tour, yang merupakan salah satu
Preferred Partner Hotel Luxury Worldwide, menawarkan akses
Preferred Partner & Serandipians Benefits yang tidak tersedia melalui pemesanan biasa atau online booking. Salah satu yang paling istimewa adalah onboard credit, fasilitas yang memungkinkan tamu menikmati restoran khusus, lounge, hingga pengalaman VIP welcome yang tidak termasuk dalam paket standar.



DESTINATION TOUR, YANG MERUPAKAN SALAH SATU PREFERRED PARTNER HOTEL LUXURY WORLDWIDE, MENAWARKAN AKSES PREFERRED PARTNER & SERANDIPIANS BENEFITS YANG TIDAK TERSEDIA MELALUI PEMESANAN BIASA ATAU ONLINE BOOKING
Memiliki reputasi sebagai penyedia perjalanan mewah terpercaya, Destination Tour dianugerahi The Best Newcomer Agent pada 2016 dan sejak 2023 menjadi anggota Serandipians by Traveller Made, jaringan elite desainer perjalanan mewah di 71 negara. Destination Tour dikenal akan kemampuannya merancang perjalanan yang personal, eksklusif, dan bermakna. Perjalanan bukan sekadar liburan, melainkan ekspresi gaya hidup. Ditengah dunia yang bergerak begitu cepat, Luxury Yacht dan Orient Express Train menghadirkan kemewahan yang justru melambat, memberi ruang untuk menikmati setiap detail, setiap rasa, dan setiap momen. Dan dengan sentuhan kurasi dari Destination Tour, perjalanan tersebut tidak hanya istimewa, tetapi benar-benar dirancang untuk dikenang selamanya.
Destination Tour
Tel/WA: +62 811-1707-600 E: tour@destinationtour.co.id IG: @destinationtur www.destinationtour.co.id








Ajang ini adalah perpaduan antara motorsport, lifestyle, dan city view Jakarta yang menghadirkan pengalaman yang tak tertandingi
Para penggemar dunia motorsport dan Ducati mendapatkan kesempatan eksklusif untuk menghadiri acara Meet & Greet bersama Marc Márquez, sang juara MotoGP dengan delapan gelar juara dunia yang telah mengukir sejarah di lintasan, yang hadir ditemani oleh pebalap Fermin Aldeguer dan juga Matteo Guerinoni, komentator MotoGP. Acara yang diadakan secara eksklusif oleh Ducati Indonesia ini berlangsung pada 30 September lalu di gedung dan observatory deck tertinggi di Indonesia (385 meter), yaitu UP at Thamrin Nine yang berlokasi di lantai 85-87, 109 Autograph Tower, Jakarta Pusat. Acara puncak, Ducati Red Party yang berada di lantai 99 terlihat begitu megah dibalut karpet
merah dan layar raksasa, dan menjadi tuan rumah kolaborasi UP at Thamrin Nine yang eksklusif dengan Ducati Indonesia. dan tak hanya Meet & Greet, acara ini juga dilengkapi hiburan penampilan musik dari DJ, cocktail party, hingga dinner eksklusif, yang berlangsung di ketinggian dengan latar belakang lampu-lampu kota Jakarta yang menawan. Acara sempat ditunda lantaran hujan mengguyur arena outdoor di lantai 99, namun Marc Márquez terlihat menyapa langsung para fans Indonesia, dan menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan besar dari komunitas pecinta MotoGP di Tanah Air.
Jam tangan OMEGA pilihan para aktor dan publik figur untuk dikenakan di ajang penghargaan Golden Globes ke-83






Pada malam upacara Penghargaan Golden Globe ke-83 yang dirayakan di Beverly Hilton di Los Angeles, OMEGA tampil istimewa saat para tamu dan nomine mempercantik penampilan mereka untuk malam itu. Dari kiri atas searah jarum jam: Duta OMEGA George Clooney yang dinominasikan untuk kategori Penampilan Terbaik Aktor Pria dalam “Jay Kelly”, mengenakan OMEGA Seamaster Aqua Terra 41 mm berbahan stainless steel dengan dial gradien turquoise. Wagner Moura (Pemenang Penghargaan Aktor Pria Terbaik dalam Film Drama “The Secret Agent”), mengenakan OMEGA De Ville Trésor 40 mm dari stainless steel dengan bezel bertabur berlian. Patrick Schwarzenegger mengenakan OMEGA Speedmaster


Moonwatch Professional 42 mm dari emas 18K Moonshine™ dengan bezel keramik hitam. Pemenang Penghargaan Aktor Pendukung Terbaik - Drama dalam film “Sentimental Value”, Stellan Skarsgård mengenakan OMEGA Seamaster Aqua Terra Shades 38 mm dalam emas 18K Moonshine™ dengan tali kulit hijau dan dial hijau bertekstur sun-brushed. Duta OMEGA Glen Powell (yang dinominasikan untuk Penampilan Terbaik oleh Aktor Pria dalam Serial Televisi “Chad Powers”), mengenakan OMEGA Seamaster Aqua Terra 38 mm dalam Emas Moonshine™ 18K dengan dial biru. Paul W. Downs mengenakan OMEGA De Ville Trésor 40 mm dari stainless steel dengan dial berwarna perak opaline








Pembukaan kembali Seiko Boutique merayakan dua puluh empat tahun perjalanan, dalam ruang baru yang memadukan warisan panjang dengan pengalaman horologi modern
Seiko Boutique Surabaya kembali diresmikan setelah menjalani renovasi yang menandai perjalanan panjang butik ini sejak berdiri pada tahun 2001. Lokasinya di Jalan Tunjungan No. 98-100 tetap menjadi tempat yang akrab bagi para pelanggan yang telah mengikuti perkembangan Seiko di kota ini. Butik ini merupakan Butik Seiko ke-3 di Indonesia. Momen tersebut terasa semakin berarti ketika Kevin Lie, Direktur PT Asia Jaya Indah, peritel resmi Seiko di Indonesia menyampaikan bahwa, “butik Surabaya telah menjadi legacy bagi kami,” sebagai penegasan hubungan panjang yang ingin terus dirawat. Renovasi butik seluas 300 m² ini menghadirkan desain terbaru dari Seiko yang memadukan warisan panjang merek dengan estetika modern
yang lebih elegan. “Dengan luas ruangan 300 m² yang sangat nyaman, akses ke seluruh lini koleksi, fasilitas Private Room, dan ruang reparasi berkonsep terbuka, kami ingin pelanggan merasa lebih dekat dan percaya pada keahlian para teknisi kami,” ungkap Kevin. Kehadiran koleksi Boutique Edition memberi daya tarik tambahan karena jam tangan ini hanya tersedia di butik resmi dan menjadi incaran para kolektor. Konsep ruang reparasi terbuka di butik ini menarik perhatian karena para tamu melihat langsung proses servis yang dilakukan oleh teknisi berpengalaman PT Asia Jaya Indah. Transparansi tersebut memperkuat rasa percaya pelanggan dan memperlihatkan standar keahlian yang menjadi bagian penting dari layanan Seiko.















Ajang ini merayakan keunggulan di bidang gastronomi dan perhotelan bersama para bintang Gastronomi dan perhotelan Vietnam
Inilah waktunya untuk merayakan gaya hidup mewah yang berhubungan erat dengan horologi, terutama haute horlogerie Kami diundang sebagai salah satu mitra media internasional dalam ajang Gourmet Vietnam Awards 2025, yang diselenggarakan oleh Oriental Media Group dan dipersembahkan oleh Epicure Vietnam, untuk turut merayakan talenta kuliner dan perhotelan terbaik di negara itu pada tanggal 12 Desember 2025, di Grand Ballroom Park Hyatt Saigon. Acara ini memberikan penghargaan kepada 39 pemenang di berbagai kategori, menyoroti para koki, pemilik restoran, pengelola hotel, dan pemimpin industri paling berpengaruh di Vietnam. Dari santapan mewah dan resor kelas dunia hingga individu-individu visioner, malam itu menghormati kreativitas, keahlian, dan semangat yang terus berkembang dari dunia kuliner Vietnam. Seperti yang diungkapkan oleh Jade
Huynh, Direktur Utama Oriental Media Vietnam, penyelenggara acara tersebut, “Lebih dari sekadar pemberian penghargaan, Gala Dinner merupakan puncak dari seni, penceritaan, dan semangat yang dibagikan. Dari resepsi karpet merah hingga pengalaman bersantap yang dikurasi, setiap momen mencerminkan dedikasi dan emosi di balik pencapaian terbaik industri ini. Gourmet Vietnam Awards 2025 lebih dari sekadar menghormati para pemenang—acara ini menangkap semangat sebuah bangsa yang gastronomi dan keramahannya terus berkembang, menginspirasi, dan bergema jauh melampaui batas-batasnya.” Di antara dewan juri, terdapat nama-nama yang familiar seperti Tracie May (tastemaker & iInfluencer), Peter Chong, (gastronomy enthusiast), Eric A. Baumgartner (hospitality & F&B expert), hingga Angelia Lee (interior design visionary).





Koleksi OAK (One of A Kind) yang dikuratori oleh sang kolektor ulung Patrick Getreide hanya terdiri dari karyakarya “terbaik dari yang terbaik”, yang paling didambakan di dunia, banyak di antaranya memecahkan rekor lelang (lebih dari empat puluh hingga saat ini). Koleksi miliknya ini juga tetap menjadi satu-satunya koleksi yang pernah dipamerkan di museum desain internasional. Ia berhasil menyimpan salah satu koleksi pribadi jam tangan Patek Philippe terbesar yang pernah dimiliki oleh kolektor terkenal Henry Graves Jr.
Berikut ini adalah beberapa koleksi “Graves dan keturunannya”, yaitu jam unik yang dibuat khusus atas pesanan Henry Graves Jr., bankir Amerika yang terkenal telah menugaskan Patek Philippe untuk menciptakan “superkomplikasi” yang tetap menjadi salah satu jam tangan paling dicari sepanjang masa. Koleksi OAK memiliki tujuh di antaranya, lebih banyak daripada koleksi lainnya di seluruh dunia. Kini koleksi ini diwarisi oleh cucu Graves, yaitu Reginald H. Fullerton, sebelum akhirnay bergabung dengan Koleksi OAK milik Patrick Getreide.

