Skip to main content

KUMPULAN CERPEN KEL.3 (PRIDE)

Page 1


Alfan Cahya Al Firdaus (03)

Bayangan Ancaman

Aditya duduk di bangku taman sekolah dengan perasaan gelisah yang tak bisa ia kendalikan. Tangannya bergetar, matanya terus berkeliling, memastikan tidak ada orang yang mengawasinya. Namun, di sudut matanya, ia selalu merasa ada yang mengintai—bayangan ancaman yang terus menghantuinya setiap hari.

Semuanya dimulai ketika Aditya, seorang siswa pendiam dan cerdas, mendapatkan nilai tertinggi di ujian akhir semester. Pujian yang diberikan oleh guru justru menjadi awal dari mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan. Aldo, ketua geng di sekolah, merasa posisinya terancam. Selama ini, Aldo dianggap sebagai siswa yang paling unggul—bukan karena kecerdasan, tetapi karena pengaruhnya yang kuat di antara siswa-siswa lain.

Aditya merasa terpojok. Ancaman itu bukan sekadar kata-kata kosong. Suatu hari, ketika pulang dari sekolah, ia mendapati tasnya sobek dan buku-buku pelajarannya berserakan di tanah. Di lain waktu, ia melihat bayangan Aldo dan teman-temannya mengawasi dari kejauhan, menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Aditya tahu bahwa jika ia mencoba melawan atau melapor, Aldo pasti akan menepati ancamannya.

Semakin lama, Aditya semakin tenggelam dalam ketakutan. Nilai-nilainya mulai turun, karena di setiap ujian, tangannya gemetar dan pikirannya tak bisa fokus. Ia menghindari semua orang, bahkan temanteman dekatnya. Kehidupan sekolah yang dulunya aman dan nyaman kini berubah menjadi medan pertempuran yang penuh ketegangan.

Esok harinya, dengan hati yang penuh kecemasan, Aditya menuju parkiran setelah sekolah usai. Seperti yang ia duga, Aldo sudah menunggu di sana bersama beberapa teman. Aldo tersenyum sinis saat melihat Aditya mendekat. “Akhirnya datang juga, ya? Kupikir kamu pengecut.”

Tapi hari itu, Aditya tidak datang sendirian. Dari kejauhan, guru pembimbing dan kepala sekolah muncul, mendekat dengan langkah cepat. Aldo tampak terkejut, tapi sudah terlambat. Aditya telah melaporkan semua yang terjadi kepada pihak sekolah, lengkap dengan bukti pesan ancaman yang ia terima.

Aldo berusaha kabur, tapi akhirnya ia dan teman-temannya dibawa ke ruang kepala sekolah. Aditya merasa beban berat yang selama ini menghimpit dadanya akhirnya terangkat. Ia tahu, ancaman itu mungkin belum berakhir, tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa dia tidak lagi sendirian.

Sekolah mulai mengambil tindakan serius terhadap kasus perundungan. Aditya, meski masih trauma, mulai bangkit dan perlahan menemukan kembali kekuatannya. Kini, dia tahu bahwa berani melawan ketakutan adalah langkah pertama untuk keluar dari bayangan ancaman.

Hari yang Tak Terlupakan

Di sebuah sekolah menengah pertama, terdapat seorang siswa bernama Dika. Dika dikenal sebagai anak yang pendiam dan sering menjadi sasaran ejekan dari teman-temannya. Meskipun ia cerdas dan rajin, sikapnya yang pendiam sering kali menjadi alasan untuk berbagai bentuk perundungan yang ia terima.

Pada suatu hari, ketika bel istirahat berbunyi, Dika duduk sendirian di pojok lapangan, memegang buku yang sudah lusuh. Ia berusaha untuk tidak memikirkan ejekan yang sering dialaminya. Namun, sekelompok siswa yang dipimpin oleh Ardi, salah satu anak paling populer di sekolah, mulai mendekatinya dengan senyum sinis di wajah mereka."Hei, Dika, mau ikut bermain bola?" tanya Ardi, namun nada suaranya lebih terdengar meremehkan daripada ramah.

Dika hanya menggeleng, merasa tidak nyaman dengan tawaran yang tidak tulus itu. Namun, Ardi dan teman-temannya tidak berhenti di situ. Mereka mulai melemparkan bola ke arah Dika dengan sengaja, membuatnya harus berdiri untuk menghindari bola yang melayang.

Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Dika memutuskan untuk pergi ke ruang guru dan meminta bantuan. Namun, saat ia berjalan menuju ruangan, ia mendengar suara tertawa dari belakang. Ternyata, Ardi dan teman-temannya mengikuti dari jauh, terus menerus membuat lelucon tentang Dika di belakangnya.

Di ruang guru, Dika menceritakan segala kejadian kepada Bu Sari, guru BK yang dikenal bijaksana. Bu Sari mendengarkan dengan penuh perhatian dan menenangkan Dika. "Kamu tidak sendirian, Dika. Kami akan cari solusi bersama untuk masalah ini," ujarnya.

Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan sebuah seminar tentang bullying dan pentingnya empati. Bu Sari meminta Ardi dan teman-temannya untuk ikut serta sebagai bagian dari upaya mengatasi perundungan di sekolah. Selama seminar, mereka mendengarkan berbagai cerita dari siswa-siswa yang pernah mengalami bullying dan bagaimana hal itu mempengaruhi hidup mereka.

Ardi, yang selama ini hanya menganggap perundungan sebagai hal yang tidak penting, mulai menyadari betapa sakit hati dan mental yang dialami oleh orang yang menjadi sasaran. Melihat Dika di tengah-tengah peserta seminar, Ardi merasa bersalah dan malu. Ia memutuskan untuk meminta maaf kepada Dika secara langsung.

Setelah seminar, Ardi mendekati Dika dengan penuh penyesalan. "Dika, aku minta maaf. Aku tidak menyadari betapa sakitnya apa yang kami lakukan. Aku berjanji akan berubah dan tidak akan menyakiti lagi."

Dika, yang terkejut namun merasa lega, menerima permintaan maaf tersebut. Meskipun proses pemulihan tidak instan, Dika mulai merasa lebih diterima dan berusaha lebih aktif bergaul dengan temantemannya. Ardi dan teman-temannya juga berusaha untuk memperbaiki sikap mereka dan menjadi teman yang lebih baik.

Hari-hari berikutnya, meskipun ada tantangan, Dika merasa bahwa harinya di sekolah mulai menjadi lebih baik. Ia belajar bahwa keberanian untuk berbicara dan mencari bantuan dapat membawa perubahan, dan bahwa empati serta pengertian adalah langkah penting untuk mengatasi perundungan.

Arsya Aulia (07)

Terasing di Tengah Keramaian

Dita duduk sendiri di pojok kantin. Matanya menatap layar ponselnya, tapi pikirannya melayang jauh. Suara-suara ramai di sekelilingnya terasa asing, meski ia berada di tengah teman-temannya. Namun, kata “teman” itu terasa begitu jauh baginya.

Sudah beberapa bulan sejak ia merasakan perubahan itu. Awalnya, ia adalah bagian dari kelompok pertemanan yang solid. Setiap hari dihabiskan dengan canda tawa, gosip kecil, hingga rencana jalan-jalan bersama. Namun, entah mengapa, semua itu tiba-tiba berubah. Kelompoknya mulai membentuk lingkaran yang tak lagi menyisakan tempat untuknya.

Diawali dengan bisik-bisik di belakangnya, rencana hangout yang tak pernah melibatkan Dita lagi, hingga komentar-komentar tajam yang muncul di media sosial."Ya ampun, kamu ngapain ikut-ikutan sih? Kayak nggak punya kehidupan aja," tulis salah satu dari mereka di salah satu unggahan Dita. Tadinya, Dita mengira itu hanya gurauan. Namun, lama-kelamaan, ia menyadari bahwa dirinya semakin terpinggirkan. Setiap kali mereka membuat janji, Dita selalu terlupakan. Setiap kali ada acara, ia mendengar kabarnya terlambat, atau bahkan tak sama sekali.

Lebih menyakitkan lagi, setiap kali ia mencoba mendekat, ada canda tawa yang seolah menertawakan dirinya. Bukan cemoohan langsung, tetapi lebih halus—seperti sindiran atau lelucon kecil tentang kebiasaan Dita yang dulu mereka anggap lucu, kini justru menjadi bahan olok-olokan."Eh, Dita, kamu kok nggak pernah diajak sih? Ya ampun, mungkin mereka lupa sama kamu, hehe," ujar salah seorang temannya sambil tersenyum sinis suatu hari di kelas.

Dita hanya bisa tersenyum tipis, meskipun di dalam hatinya ia merasa semakin terpuruk. Rasa sepi perlahan-lahan merayap. Ia mulai mempertanyakan diri sendiri: apa yang salah? Apa yang ia lakukan hingga mereka berubah?

Perundungan sosial ini tak terlihat jelas seperti cemoohan atau kekerasan fisik. Namun, luka yang ditinggalkan jauh lebih dalam. Dita merasakan dunia sekitarnya semakin menyempit, sementara temantemannya tampak bahagia tanpa dirinya.

Di rumah, Dita mencoba berbicara dengan ibunya, tetapi tak menemukan jawaban. "Mungkin mereka hanya sibuk, Nak. Jangan terlalu dipikirkan," ucap ibunya, yang tampaknya tak memahami betapa beratnya perasaan terasing itu.

Suatu hari, saat di sekolah, Dita melihat kelompok temannya sedang tertawa riang di sudut ruangan. Mereka merencanakan sesuatu, tapi sekali lagi, Dita tak diundang. Hatinya hancur, tapi kali ini ia memutuskan sesuatu. Ia tak bisa terus-menerus menjadi korban.

Setelah sekolah, Dita memilih pergi ke taman sendirian. Di sana, ia mencoba merenung. Apakah semua ini benar-benar tentang dirinya? Apakah ia harus terus mencari pengakuan dari orang-orang yang tak lagi menganggapnya ada?

Hari-hari berikutnya, Dita mulai menjauh dari kelompok yang selama ini membuatnya merasa tak berharga. Ia mencoba mencari kegiatan baru, bergabung dengan klub menulis yang selama ini ingin ia coba.Di sana, ia bertemu orang-orang baru—mereka yang tak peduli dengan penampilannya atau hal-hal remeh lainnya. Mereka melihatnya sebagai pribadi yang unik, bukan sebagai orang yang terasing.

Lambat laun, Dita mulai merasa lebih kuat. Meskipun rasa sakit karena diabaikan oleh teman-teman lamanya masih ada, ia menyadari satu hal penting: terkadang, bukan kita yang salah. Beberapa orang akan menjauh tanpa alasan yang jelas, dan itu adalah bagian dari hidup.

Kini, Dita tak lagi merasa harus berjuang keras untuk diterima. Ia menemukan bahwa ada banyak orang di luar sana yang akan menerimanya tanpa syarat. Dan yang terpenting, ia belajar untuk menerima dan mencintai dirinya sendiri, meski dunia di sekitarnya tak selalu ramah.

Bayangan di Balik Layar

Setiap pagi, Hana selalu berusaha tersenyum di depan cermin, meski hatinya remuk. Di sekolah, dia dikenal sebagai anak yang ceria dan penuh semangat. Tapi sejak sebulan yang lalu, dunianya berubah gelap. Semua dimulai dari sebuah foto.

Suatu malam, Hana iseng memposting foto selfie di media sosial. Dalam hitungan menit, notifikasi mulai bermunculan. Namun, bukannya pujian, komentar negatif membanjiri. “Ih, mukamu aneh banget!” atau “Udah nggak usah posting, jelek!” Itu hanya sebagian kecil dari hinaan yang dia terima. Dari yang hanya beberapa komentar, tak lama kemudian, foto itu tersebar dengan berbagai editan buruk yang membuat Hana tampak mengerikan.

Awalnya, Hana berusaha mengabaikannya. "Itu cuma orang iseng," gumamnya pada diri sendiri. Tapi hari demi hari, serangan semakin parah. Setiap kali dia membuka ponselnya, ada pesan baru yang lebih menyakitkan. Akun-akun palsu dibuat khusus untuk mengolok-oloknya. Sebuah grup chat bahkan dibentuk hanya untuk mengejek dan menghina Hana. Mereka memanggilnya "Monster Selfie."

Hana merasa terjebak. Dia ingin bicara, tapi takut dianggap lemah. Di sekolah, dia tetap tersenyum meski batinnya menjerit. Dia mulai menjauh dari teman-temannya, khawatir mereka akan ikut bergabung dalam ejekan. Padahal, sebenarnya mereka tak tahu apa yang terjadi. Malam-malamnya diisi dengan menangis di bawah selimut, menahan rasa sakit yang tak bisa diungkapkan.

Suatu hari, di sekolah, Hana mendengar bisikan di belakangnya. Dua orang temannya sedang tertawa sambil menatap ponsel. Mereka melihatnya dan langsung berhenti. Hana tahu apa yang mereka tertawakan. Foto itu.

Hari itu, Hana tak sanggup lagi berpura-pura. Ia berlari ke toilet, air mata mengalir deras di wajahnya. Saat itulah, Lila, salah satu teman terdekatnya, masuk dan menemukan Hana terisak di sudut. "Lana, kamu kenapa?" tanya Lila, mendekat dengan wajah khawatir.

Hana hanya menggeleng, mencoba menyembunyikan air matanya. Tapi Lila tak mau menyerah. Ia duduk di sebelah Hana dan merangkulnya.

"Aku tahu ada yang nggak beres. Kamu bisa cerita sama aku," desak Lila lembut.

Dengan suara parau, Hana akhirnya bercerita tentang semua hinaan dan serangan yang diterimanya. Tentang foto itu, tentang komentar-komentar kejam, dan tentang betapa takutnya ia setiap kali membuka ponsel.Lila mendengarkan dengan sabar, dan setelah Hana selesai, ia berkata, "Kamu nggak sendirian, Hana. Kita harus laporkan ini. Ini nggak boleh dibiarkan."

Meski awalnya ragu, Hana setuju. Bersama Lila, mereka menemui guru bimbingan konseling dan menceritakan semuanya. Guru tersebut segera mengambil tindakan. Mereka melacak akun-akun yang terlibat dalam cyber bullying terhadap Hana. Ternyata, beberapa di antaranya adalah teman sekelas Hana yang pura-pura baik di depannya.

Setelah kejadian itu, sekolah mengadakan diskusi besar tentang bahaya cyber bullying. Mereka menegaskan bahwa setiap tindakan, meski hanya di dunia maya, tetap memiliki dampak nyata pada korban. Teman-teman Hana yang terlibat meminta maaf, meskipun rasa sakit yang dia rasakan tak akan hilang begitu saja.

Namun, dari kejadian itu, Hana belajar sesuatu yang penting. Bukan hanya tentang keteguhan diri, tapi juga tentang pentingnya berbicara dan mencari bantuan. Dunia maya mungkin tampak seperti bayangan yang tak nyata, tapi luka yang ditinggalkannya sangatlah nyata.

Dengan dukungan dari orang-orang terdekatnya, Hana perlahan pulih. Meski masih ada rasa takut setiap kali ia membuka ponselnya, kini ia tahu satu hal: dia tidak sendiri.

Keterpurukan di Balik Keterampilan

Di sebuah kota kecil, terdapat sebuah toko komputer yang dikelola oleh Pak Joni. Ia dikenal sebagai pemilik yang pelit dan suka menekan biaya. Di toko itu, bekerja seorang pemuda bernama Dika. Dika adalah lulusan terbaik dari sekolah teknik komputer dan sangat berbakat dalam bidangnya.

Awalnya, Dika merasa beruntung bisa bekerja di toko tersebut. Ia berharap bisa belajar banyak dari Pak Joni dan mendapatkan pengalaman yang berharga. Namun, seiring berjalannya waktu, Dika mulai merasakan tekanan yang besar. Pak Joni sering memberinya tugas yang tidak sebanding dengan gajinya. Ia bekerja lembur tanpa bayaran tambahan dan sering kali diancam dengan pemecatan jika tidak memenuhi target penjualan.

Suatu hari, Dika menemukan cara untuk memperbaiki sistem inventaris yang bermasalah di toko. Ia mengajukan ide tersebut kepada Pak Joni dengan penuh semangat. Namun, bukannya mendapatkan pujian, Pak Joni justru merendahkan Dika. “Kamu pikir kamu bisa lebih pintar dari saya? Ini toko saya!” ujarnya dengan nada tinggi. Dika merasa tertekan, namun dia tidak punya pilihan lain selain tetap bekerja.

Dengan kondisi yang semakin sulit, Dika mulai merasa cemas. Ia tahu bahwa jika kehilangan pekerjaan ini, ia tidak akan bisa membayar biaya kuliah adiknya yang sedang bersekolah. Ketidakpastian ini membebani pikirannya setiap hari. Dia sering pulang larut malam, hanya untuk menghadapi tatapan kecewa dari ibunya yang berharap Dika bisa lebih baik.

Suatu sore, setelah seharian bekerja, Dika mendengar percakapan antara Pak Joni dan salah satu pelanggan. Pak Joni mengeluh tentang betapa tidak bergunanya Dika di toko. “Gaji dia itu buang-buang uang. Saya bisa lebih baik tanpa dia,” katanya. Dika merasa hancur. Rasa percaya dirinya semakin hilang, dan dia mulai berpikir bahwa mungkin Pak Joni benar.

Di tengah keputusasaannya, Dika mendapat tawaran kerja dari sebuah perusahaan teknologi yang ingin merekrutnya. Mereka terkesan dengan keterampilannya dan siap memberikan gaji yang jauh lebih baik. Namun, Dika ragu. Dia takut meninggalkan pekerjaan yang sudah ia jalani dan kehilangan sumber penghasilan utama untuk keluarganya.

Akhirnya, setelah berdiskusi dengan ibunya, Dika memutuskan untuk mengambil risiko. Ia mengundurkan diri dari toko Pak Joni dengan penuh keyakinan. Meskipun hatinya berat, Dika tahu bahwa memilih untuk berjuang demi masa depannya adalah langkah yang benar.

Di tempat kerja barunya, Dika merasakan kebebasan dan penghargaan terhadap keterampilannya. Ia bekerja dalam lingkungan yang mendukung dan saling menghargai. Perlahan, Dika menemukan kembali rasa percaya dirinya. Ia menyadari bahwa ia tidak seharusnya terjebak dalam perundungan ekonomi yang mengekang potensi dan mimpinya.

Kisah Dika menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang di sekitarnya. Terkadang, mengambil langkah berani adalah satu-satunya cara untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Di sebuah sekolah menengah, Lisa adalah siswi yang cerdas dan berbakat. Namun, sifatnya yang pendiam membuatnya menjadi sasaran empuk bagi sekelompok teman sekelasnya. Mereka sering mengejek Lisa dengan julukan-julukan yang menyakitkan, seperti “kutubuku” dan “sosok aneh.” Setiap kali Lisa mencoba berinteraksi, mereka selalu mencari-cari kesalahan dan membuatnya merasa tidak diterima. Suatu hari, Lisa mendapat tugas kelompok untuk proyek seni. Ia sangat bersemangat dan berharap bisa menunjukkan kemampuannya. Namun, saat pembagian kelompok, Lisa ditempatkan bersama Mia, pemimpin kelompok yang terkenal sombong. Mia dengan cepat mengatakan, “Kamu jangan berharap bisa ikut berkontribusi, ya. Kami hanya butuh namamu di daftar.”

Dari situ, perlakuan Mia semakin merugikan. Ia sering mengabaikan ide-ide Lisa dan mencemoohnya di depan teman-teman lain. “Apa sih ide bodoh ini? Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa!” seru Mia, membuat semua orang tertawa. Lisa merasa hatinya hancur. Setiap kali mengalami perundungan emosional itu, ia merasa semakin tertekan dan kehilangan semangat.

Di rumah, Lisa berusaha menyembunyikan perasaannya dari ibunya. Ia tersenyum dan berkata, “Semua baik-baik saja,” meskipun di dalam hatinya terasa kosong. Ibunya yang perhatian mulai curiga, melihat perubahan dalam sikap Lisa.

Suatu malam, setelah menghabiskan waktu sendirian di kamarnya, Lisa memutuskan untuk menulis di jurnalnya. Ia mengekspresikan semua rasa sakit dan kekecewaannya. Dengan menulis, ia merasa sedikit lega. Namun, rasa malu dan ketidakcukupan terus menghantuinya.

Saat proyek seni hampir selesai, Mia kembali menghina Lisa, kali ini dengan lebih tajam. “Kamu tahu, tidak ada yang peduli dengan pendapatmu. Kami semua ingin proyek ini berhasil, bukan hanya untukmu,” katanya dengan nada merendahkan. Rasa percaya diri Lisa semakin hancur. Ia merasa tidak ada jalan keluar dari situasi ini.

Namun, dalam keputusasaannya, Lisa mulai menemukan kekuatan dalam dirinya. Ia menyadari bahwa perundungan emosional yang dialaminya tidak menentukan siapa dirinya. Ia memutuskan untuk berbicara dengan guru bimbingan konseling di sekolah, mengungkapkan semua yang telah terjadi.

Guru tersebut mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan dukungan. “Kamu tidak sendirian, Lisa. Kita bisa bersama-sama menghadapi ini,” ujarnya. Dengan dorongan itu, Lisa berani menghadapi Mia dan teman-teman sekelasnya. Ia memberi tahu mereka bahwa perbuatan mereka tidak dapat diterima dan bahwa semua orang berhak diperlakukan dengan baik.

Reaksi awal Mia dan kelompoknya adalah tertawa dan meremehkan. Namun, setelah beberapa hari, perlahan-lahan mereka mulai menyadari bahwa perbuatan mereka berdampak buruk. Beberapa teman sekelas mulai mendekati Lisa, meminta maaf dan menunjukkan dukungan.

Seiring waktu, Lisa belajar untuk lebih mencintai dirinya sendiri. Ia menemukan hobi baru dan mulai bergaul dengan teman-teman yang positif. Dalam prosesnya, ia menemukan kekuatan dalam diri yang selama ini terpendam.

Kisah Lisa menjadi inspirasi bagi banyak orang di sekolahnya, mengingatkan bahwa tidak ada yang berhak merendahkan orang lain. Dan lebih penting lagi, bahwa setiap orang memiliki kekuatan untuk bangkit dari perundungan emosional dan menemukan kebahagiaan sejati.

Vio Gigih Suryo De Angelo (35)

Luka yang Tak Terlihat

Rina duduk di sudut ruang kelas, menatap jendela dengan pikiran yang penuh. Matahari pagi yang biasanya menenangkan kini terasa terlalu terang, menyakitkan matanya. Setiap kali Rina menatap bayangannya di kaca jendela, yang ia lihat bukanlah dirinya sendiri, melainkan sosok seorang gadis yang tak berdaya, terjebak dalam mimpi buruk yang tak berujung.

Semuanya dimulai beberapa bulan yang lalu, ketika dia mulai bekerja di sebuah kafe kecil dekat sekolah. Di sanalah dia bertemu dengan Pak Budi, seorang pelanggan tetap yang selalu duduk di meja yang sama, memesan kopi hitam, dan memandangnya dengan tatapan yang membuat bulu kuduknya berdiri. Awalnya, Rina mencoba mengabaikannya. Tapi tatapan itu berubah menjadi kata-kata, kata-kata berubah menjadi sentuhan. Sentuhan yang tak diinginkan, yang melampaui batas-batas kenyamanan dan privasi.

Setiap kali Pak Budi datang ke kafe, Rina merasa seperti dikepung. Ia mencoba menghindar, menolak dengan halus, tapi pria itu selalu punya cara untuk mendekatinya. Satu hari, ketika kafe sedang sepi, Pak Budi mendekatinya dari belakang dan menyentuh pinggangnya. "Kamu manis sekali hari ini," bisiknya. Rina kaku, tak mampu bergerak atau berteriak. Suaranya hilang, tenggelam dalam gelombang ketakutan.

Setelah kejadian itu, Rina berhenti bekerja di kafe. Tapi luka yang dia rasakan tak hilang begitu saja. Di sekolah, ia mulai menjauh dari teman-temannya. Bahkan saat sahabatnya, Sinta, bertanya apa yang salah, Rina hanya menggelengkan kepala. Bagaimana dia bisa menjelaskan perasaan kotor, malu, dan tak berharga yang menggerogotinya setiap kali dia mengingat sentuhan itu? Siapa yang akan percaya bahwa pria sopan seperti Pak Budi, yang sering bercanda dengan semua orang di kafe, bisa melakukan hal semacam itu?

Rina juga takut. Takut jika dia bicara, orang-orang akan menyalahkannya. "Kenapa kamu tidak melawan?" "Apa yang kamu pakai saat itu?" Pertanyaan-pertanyaan yang selalu terlintas dalam benaknya membuat Rina semakin merasa terperangkap. Setiap hari, ia berjuang menghadapi bayang-bayang kejadian itu sendirian, sampai akhirnya tubuh dan pikirannya mulai menyerah.

Suatu pagi, Sinta mendekati Rina di ruang kelas. "Aku tahu ada yang tidak beres," kata Sinta dengan suara lembut. "Kamu bisa cerita padaku, Rin. Aku akan selalu ada untukmu."

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook