Skip to main content

KISAH CINTA SEGITIGA YANG MEMPERERAT PERSAHABATAN

Page 1


Kisah Cinta Segitiga

Suatu pagi diawal bulan Februari, Azuna dan Michi berjalan menuju ke sekolah mereka bersama. Sambil berjalan, mereka berbicara tentang hari valentine.

“Azuna, sebentar lagi tanggal 14 Februari nih, kamu mau kasih sesuatu ke seseorang nggak?” tanya Michi kepada Azuna.

“Mmmm... kayaknya nggak ada, kalau kamu gimana? Ada rencana ngasih ke Renji nggak? Katanya kamu naksir dia” tanya Azuna balik dengan sedikit menyindir.

“Ehh? Emm... ada kemungkinan?” jawab Michi sambil berjalan sedikit lebih cepat dari Azuna untuk menyembunyikan wajahnya yang tersipu.

“Eh! Tunggu aku dong! Kamu tersipu ya?” kata Azuna.

Michi semakin mempercepat langkahnya, melihat hal itu, Azuna semakin senang, karena dia merasa menang.

Tanggal 14 Februari tiba, tanggal ini jatuh pada hari Rabu. Saat sampai disekolah, seperti biasa Azuna mebuka lokernya yang ada di sekolahnya untuk menyimpan barang untuk eksulnya. Saat dia membuka loker, dia melihat ada sebuah kotak berwarna merah muda dengan pita warna kuning menghiasinya. Azuna tidak menyangka akan mendapat sesuatu dari seseorang pada hari valentine. Dia mengambil kotak itu, memasukkannya kedalam tas, menutup loker, kemudian berjalan menuju kelasnya sambil berpikir, siapa kira-kira yang meletakkan kotak ini di dalam lokerku.

‘mungkinkah, Michi yang meletakkannya? Tapi... jika dipikir-pikir rasanya tidak mungkin jika Michi ingin memberiku sesuatu dengan meletakkan sesuatu itu di dalam loker. Pastinya dia akan memberikan itu secara langsung kepadaku. Lalu, bagaimana jika ada anak yang tidak sengaja meletakkan kotak ini ke lokerku karena tidak teliti? Ah, nanti tanya Michi saja deh,’ pikir Azuna saat berjalan menuju kelasnya.

Saat di kelas, suasana kelas sudah ramai, namun Michi belum datang. Kemudian Azuna berjalan menuju mejanya yang terletak di dekat jendela yang mengarah ke lapangan sekolah bagaikan dalam film anime, meletakkan tasnya di kursi, kemudian dia duduk, mengeluarkan buku dari dalam tas dan meletakkannya di laci meja, saat itu juga, dia merasa ada yang mengganjal buku-buku masuk, otaknya menyimpulkan bahwa ada sesuatu di lacinya. Azuna menunduk dan menemukan sebuah kotak berwarna merah dengan motif hati. Kali ini Azuna benar-benar tidak menyangka. Dia mengambil kotak itu, meletakkannya dipangkuannya,

memasukkan buku kedalam laci meja, kemudian dia melihat kearah jendela dan melamun sambil menunggu Michi datang.

Beberapa menit kemudian lamunan Azuna terpecahkan karena Michi memanggil Namanya “Azuna! Kamu kenapa sih? Dari tadi aku memanggilmu tapi kau tidak menoleh, kau ini kenapa?”

“Ah, haa...?” kata Azuna linglung.

“Ok, aku ulangi sekali lagi, kau ini kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan?” kata Michi sekali lagi dengan nada bicara perlahan-lahan agar Azuna mengerti.

“Oh! Michi!!!” kata Azuna yang akhirnya sadar juga dari lamunannya.

“Akhirknya, kau sadar juga,” kata Michi.

“Jadi, apa yang terjadi pagi ini?” lanjut Michi.

Azuna memasang wajah memelas dan berbisik “aku mendapat 2 kotak”

“Waaaaaaah!!! Azuna!! Kau mengalahkanku!!!” kata Michi dengan sedikit teriak.

Azuna terkejut dan cepat-cepat dia menyuruh Michi diam “sssstt!! Michi, jangan sebarkan berita ini! Aku belum berani membukanya. Aku tidak yakin bahwa ini ditujukan untukku. 1 aku menemukannya di dalam loker dan 1 lagi ada di dalam laci meja,” kata Azuna sambil meletakkan kedua kotak di atas meja.

Bel tanda jam pelajaran pertama dimulai berbunyi Michi berkata “buka bareng aku saat istirahat nanti, ya!”

Azuna mengangguk dan Michi kembali ke bangkunya. Kemudian saat bel istirahat berbunyi, Michi datang ke bangku Azuna.

“Azuna, cepat keluarkan kedua kotak itu, ayo buka! Aku sudah penasaran dengan isinya,” kata Michi tidak sabar.

Azuna mengeluarkan kedua kotak itu kemudian dia membuka kotak pertama, yaitu kotak yang dia temukan di lokernya. Saat dibuka, isinya terdapat selembar kertas yang kelihatannya seperti surat dan sebatang cokelat berbentuk hati. Saat Azuna membuka surat, dia berusaha mencari nama orang yang mengirimkan surat ini, dan di dalam surat tertera nama ‘Ryota’. Di dalam surat itu, dia mengatakan bahwa dia ingin menjadi teman dekat Azuna dan dia menunggu jawaban Azuna esok hari saat istirahat pertama di perpustakaan sekolah.

“Heee? Dia menunggu jawabanku di perpustakaan sekolah saat istirahat pertama besok?!?!” kata Azuna dengan perasaan sedikit panik dan khawatir.

“Michi, gimana ini? Apa yang harus aku katakana besok? Apa harus aku terima atau gak?” lanjut Azuna yang perasaannya semakin berantakan.

“Haaa?? Kenapa emangnya apa yang dia bilang? Aku aja belum baca, sudah kamu tanyain pertanyaan kayak gitu, gimana mau jawab?” kata Michi.

Kemudian Azuna memberikan surat pemberian Ryota kepada Michi. Michi membacanya dan kemudian tersnyum senang.

“Waaaa!! Azunaaaa!! Kau benar-benar hebat, ya! Kau berhasil menarik hati Ryota!” kata Michi semangat.

“Lalu apa yang harus aku katakan besok?” tanya Azuna lagi.

“Kalau menurutku, terima aja sih, kan seneng bisa dapet temen ganteng,” kata Michi.

“Bagaimana kau bisa tau kalau Ryota itu ganteng? Aku aja nggak tau,” kata Azuna.

“Heeeee!?!?!? Kamu nggak tau Ryota?!?!?!” kata Michi sangat terkejut, dan Azuna menggelang dengan wajah bingung.

“Kamu beneran gak tau Ryota? Dia tuh cowo populer di sekolah loh!! Masa nggak tau?? Kamu benerbener harus aku ajak tour 1 sekolah plus kenalan sama anak 1 angkatan deh!” kata Michi.

“Haaa?? Sejak kapan?” kata Azuna tidak percaya.

“Sejak pertengahan kelas 7 lalu. Padahal kamu sudah kelas 8 loh, masa nggak tau kalau ada anak yang populer di sekolah ini? Kau sesekali harus berkeliling sekolah Azuna,” kata Michi masih tidak percaya bahwa Azuna tidak kenal Ryota.

“Ya sudah lah, kita sisihkan dulu permasalahan Ryota ini, kita buka kotak yang 1 lagi,” kata Azuna.

Azuna membuka kotak di dalamnya terdapat sebatang cokelat berbentuk persegi dan sebuah surat lagi. Namun, kali ini tidak diketahui siapa pengirimnya, hanya ada keterangan bahwa pengirimnya 1 kelas dengan Azuna dan Michi. Isi surat itu berupa pernyataan cinta, sang pengirim meminta Azuna untuk menjadi pacarnya, dan dia menunggu jawabannya esok hari saat jam istirahat pertama di perpustakaan sekolah juga!

“Waaaa!!! Michii!! Coba baca deh, mereka menagih jawabanku di waktu dan tempat yang sama!!! Gimana ini??” tanya Azuna yang perasaannya semakin berantakan.

“Waaah!! Keren banget!! Jadi kayak di film-film yang ada cinta segitiganya,” kata Michi yang kelihatannya malah semakin semangat.

“Michi!! Kenapa kau malah senang sih? Lalu besok aku harus jawab apa nih?” kata Azuna yang semakin bingung.

“Em... saranku... mungkin yang nyatain cinta ke kamu ini, tolak aja dan jadikan teman dekat dulu aja,” kata Michi tenang.

“Kenapa? Aku nggak bisa langsung terima atau tolak gitu?” kata Azuna.

“Em... gimana ya, kalau menurutku Ryota sampai ingin menjadi teman dekatmu dengan memberi cokelat itu seperti dia menginginkan sesuatu yang lebih, seperti dia ingin kau menjadi pacarnya juga mungkin,” kata Michi.

“Hee!! Dua orang sekaligus menginginkan ku?!?! Kalau bagitu lebih baik tolak semua aja, aku nggak mau di rebutkan 2 orang!” kata Azuna yang cepat mengambil keputusan.

“Eh? Cepet banget ambil keputusan. Tapi tetep aja aku kasih saran ke kamu kalau keduanya kamu terima sebagai temen deket dulu aja, biar kamu kenal dulu sama mereka, kayak mereka tuh mereka sifatnya kayak gimana. Tapi karena ini berhubungan dengan perasaanmu, aku cuma bisa kasih saran yang menentukan keputusan adalah kamu, yang aku minta adalah tolong pikirkan baik-baik ya. Besok aku temenin untuk menemui mereka,” kata Michi mengakhiri percakapan.

Bel tanda istrahata berakhir berbunyi. Michi kembali ketempat duduknya. Selama jam pelajaran selanjutnya Azuna tidak bisa berkonsentrasi dengan benar karena memikirkan apa yang dinasehatkan Michi saat istirahat tadi. Saat berjalan pulang pun pikirannya masih memikirkan tentang jawaban apa yang harus dia berikan pada 2 orang yang memberinya cokelat. Azuna benar-benar memikirkan hal ini dengan sangat serius, saat makan malam bersama keluarganya pun Azuna hanya diam saja, padahal biasanya dia cerewet.

Hingga ibunya merasa khawatir dan bertanya “Azuna, apakah kau sakit?”

“Ah? Gak,” jawab Azuna singkat.

“Apa kau yakin kau baik-baik saja?” tanya ibunya lagi.

“Iya, aku baik-baik saja, bu,” jawab Azuna lagi.

Walaupun sudah di jawab wajah ibu Azuna masih menunjukkan kekhawatiran. Kemudian saat akan tidur pun Azuna masih tetap memikirkan jawaban hingga dia tidak bisa tidur. Akhirnya Azuna mengambil keputusan dan langsung tertidur. Paginya Azuna tidak sempat untuk sarapan karena bangun kesiangan. Dia sampai tepat waktu di sekolah, tetapi dengan perut lapar.

Saat Azuna masuk kelas, Michi langsung menghampirinya dan bertanya “Azuna kau datang tepat waktu, tumben banget hampir telat, kenapa?”

Azuna duduk di bangkunya, menarik nafas, barulah dia menjawab “aku tidak bisa tidur, kurasa karena aku terlalu memikirkan jawaban untuk nanti saat jam istirahat pertama, namun akhirnya aku berhasil mendapat jawaban yang menurutku paling baik.”

“Jadi, apa keputusanmu?” tanya Michi.

“Kau lihat saja nanti ya, sekarang kembali-lah ke bangkumu, tadi bel sudah berbunyi kan,” kata Azuna.

Michi menurut dan kembali ke bangkunya, namun dengan wajah kecewa.

Bel pertanda jam istriahat berbunyi. Sebelum pergi ke perpustakaan Azuna dan Michi mampir dahulu ke kantin untuk sedikit mengisi perut Azuna yang kosong karena tidak sarapan. Setelah makan cemilan dengan waktu singkat, Azuna dan Michi langsung pergi ke perpustakaan.

Di dalam perpustakaan sudah ada Ryota dan Kaito. Saat itu Ryota sedang membaca sebuah buku di meja dekat jendela dan Kito sedang melihat-lihat buku. Saat mendengar pintu perpustakaan dibuka, Ryota dan Kaito melihat kearah pintu dengan waktu yang hampir bersamaan. Saat melihat yang masuk adalah Azuna, Ryota langsung berdiri dari kursinya dan berjalan ingin menghampiri Azuna. Kaito juga seperti tidak mau kalah, dia juga berjalan menghampiri Azuna.

Michi berbisik “itu, yang tadi duduk adalah Ryota, dia yang memintamu untuk menjadi teman dekatnya.”

‘Huaa, ternyata benar kata Michi dia ganteng’ kata Azuna dalam hati.

“Ada Kaito juga, atau jangan jangan dia yang memberiku kotak kedua? Dia kan 1 kelas dengan kita” bisik Azuna balik pada Michi.

Michi hanya mengangkat bahunya menandakan dia tidak tahu.

Saat Ryota dan Kaito mulai mendekat mereka secara tidak sengaja memanggil nama Azuna secara bersamaan “Azuna!” kata mereka.

Mereka langsung berpandangan kaget. Azuna yang sedari awal sudah merasa grogi, mendengar 2 anak cowo memanggilnya secara bersamaan membuat bulu kuduknya berdiri dan jantungnya semakin berdebar.

Kaito membuka percakapan, dia berkata dengan wajah geram “apa kau ada urusan juga dengan Azuna?”

“Iya, aku sudah ada janji dengan Azuna di sini lebih dulu, jika kau tidak ada urusan penting denganya pergilah, jangan mengganggu,” kata Ryota tegas.

“Harusnya, aku yang mengatakan itu, karena aku juga sudah ada janji dengan Azuna di sini,” kata Kaito tidak mau kalah

‘He? Berarti yag menyatakan cinta padaku adalah Kaito?!?!’ kata Azuna tidak percaya dalam hatinya.

“Michi, gimana ini, kurasa yang kemarin menyatakan cinta itu Kaito” bisik Azuna pada Michi.

Michi hanya diam saja, Azuna bingung, saat dia melihat kearah Michi, Azuna merasa semakin tak tertolong, karena dia merasa Michi tidak akan membantunya. Michi malah menunjukkan wajah yang senang. Azuna tidak mengerti, apa yang dipikirkan Michi hingga dia memasang wajah seperti ini.

“Michi! Bantu aku, apa yang harus aku lakukan?” bisik Azuna secara tegas untuk menyadarkan Michi.

Michi tersadar dan berbisik balik “oh, lerai saja mereka, karena mereka mengincarmu, bukan aku”

‘Huuuh! Michi kenapa kau tidak membantuku’ rengek Azuna dalam hati.

Kemudian Azuna memberanikan diri untuk melerai dengan berkata “A-anu, Ryota... Ka-Kaito... terima kasih sudah memberiku cokelat yang enak”

Kalimat Azuna terputus, dia tidak sanggup mengatakan jawabannya secara langsung. Namun, berkat Azuna mengatakan hal itu, Ryota dan Kaito berhenti bertengkar, namun perasaan mereka masih marah satu sama lain.

“Ah, tidal udah berterimakasih Azuna, lalu, apakah kau sudah menentukan jawabanmu?” kata Ryota sekaligus menagih jawaban dari Azuna.

“Apa maksudmu jawaban? Memangnya apa yang minta darinya?” tanya Kaito Dungan nada bicara masih memperlihatkan kalau dia masih kesal.

“Bukan urusanmu, ini adalah urusanku dan Azuna, jangan mencampuri urusanku dengan Azuna, uruslah masalahmu sendiri!” kata Ryota yang sama-sama masih jengkel terhadap Kaito.

“Tolong jangan bertengkar! Kaito... a-aku... aku minta maaf... aku ingin berteman dulu saja denganmu, kita jadi teman dekat saja ya. Ryota juga, aku mau menjadi teman dekatmu. Tapi, Michi juga ya,” kata Azuna menjawab tawaran kedua anak cowo itu dan meminta agar dia Michi juga menjadi teman dekat mereka.

Hening, Ryota sedikit terlihat kecewa, Kaito juga terlihat kecewa. ‘kurasa perkataan Michi benar, Ryota seperti menyembunykan sesuatu, dia terlihat sedikit kecewa’ pikir Azuna dalam hati.

“Baiklah, terimakasih atas jawabanmu Azuna, kita jadi teman dekat saja,” kata Kaito akhirnya yang memecah keheningan.

“Tapi, aku minta kalian jangan bertengkar, jangan merebutkanku, aku ingin kita ber-empat jadi teman dekat,” kata Azuna meminta lagi.

“Ok, karena itu yang kamu minta,” kata Ryota mengalah.

“Kalau begitu sekarang kalian harus saling meminta maaf,” kata Azuna, Michi juga mengangguk sebagai tanda menyetujui.

Dengan wajah terpaksa dan demi Azuna, Ryota dan Kaito saling meminta maaf dan bersalaman. Bel tanda istirahat telah selesai berbunyi.

“Ah! Istirahat sudah selesai! Michi!! Aku tidak sempat makan,” rengek Azuna pada Michi.

Melihat hal ini Ryota dan Kaito menahan tawa, karena mereka sedang di perpustakaan. Michi juga menahan tawa sambil mengelus-elus punggun Azuna.

“Ayo kembali ke kelas, Azuna, nanti masih ada istirahat ke 2 kan?” kata Michi berusaha menenangkan Azuna yang terlihat sangat sedih.

“Tapi aku laparnya sekarang, aku tadi tidak sempat sarapan,” rengek Azuna sambil mengikuti Michi keluar perpustakaan dan menuju kelas.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
KISAH CINTA SEGITIGA YANG MEMPERERAT PERSAHABATAN by BuletinDepsa - Issuu