Skip to main content

KISAH CINTA DI BALIK PESTA DANSA

Page 1


KISAH CINTA DI BALIK PESTA DANSA

Di suatu kota bernama Equintary City, hiduplah seorang perempuan yang cantik dan baik hati bernama Allyna. Ia hidup sendirian di sebuah rumah kecil karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia sejak ia kecil. Saat ini, Allyna menduduki kelas 12 di SMA Kreatif Anak Bangsa.

Pada suatu hari, seperti biasanya Allyna berangkat ke sekolah dengan sepeda lama yang ia miliki. Saat di perjalanan, Allyna berpikir dalam hati dengan berkata demikian, “Kira – kira kalau aku besok lulus SMA mau kuliah dimana ya? Sebentar lagi aku udah mau Ujian Nasional masa aku belum nentuin mau kuliah dimana.” Angin sepoi – sepoi menemani ia sambil menikmati perjalanan menuju sekolah.

Sesampainya di sekolah, tepat ketika waktu istirahat Allyna menemui teman dekatnya yang bernama Elisa. Ia duduk di bangku samping Elisa dan mulai mengawali pembicaraan dengan berkata, “Elis, kamu kalo besok lulus SMA mau ngelanjutin dimana?” Elisa pun menanggapi demikian, “EMM.. kalo aku sih besok maunya kuliah di Universitas Indonesia karena aku mikir – mikir kalo nilai yang kucapai selama ini cukup buat masuk di sana. Kalo kamu mau kuliah dimana Al?” Allyna pun menanggapi, “Aku bingung kira – kira mau dimana, soalnya kalo aku kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) pasti berat karena nilaiku aja kayak gitu.” Elisa pun berkata demikian, “Wau, boleh tu kenapa kamu ragu, kamu bisa kok kuliah disana yakin aja. Kan katanya kamu mau masuk di Fakultas Ilmu Komunikasi bareng sama aku. Oh iya, temen kita yang namanya William itu bisa masuk kuliah disana tanpa tes. Kemarin baru dikasih pengumumannya.” Allyna pun menanggapi, “Wau kerenn banget. Okelah bakal kucoba buat masuk disana.”

Seiring berjalannya waktu sudah tibalah saatnya Allyna menerima hasil Ujian Nasional yang sudah ia kerjakan beberapa waktu yang lalu. Pengumuman pun diawali dengan pidato yang disampaikan oleh kepala sekolah. Kemudian, pengumuman Hasil Ujian Nasional diumumkan oleh salah satu guru. Dengan hati yang penuh ketakutan dan keraguan Allyna pun menanti namanya disebut. Waktu demi waktu berlalu, nama demi nama sudah disebut beserta hasil yang diraih dan inilah waktu nya sudah tiba nama Allyna pun disebut. Nilai demi nilai dibacakan dan yaps dia mendapatkan nilai terbaik peringkat 3 se – angkatan, serta

pada waktu itu juga diumumkan bahwa Allyna resmi diterima di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada tanpa melalui tes tertulis apapun.

Perasaan bangga dan rasa syukur mulai muncul dari wajah Allyna. Pada waktu bersamaan, Elisa pun berkata demikian sambil mengapresiasi Allyna, “WAH, WAH, WAH, Keren abis dah temenku ini. Aku juga belum tentu bisa sampai peringkat segitu. Aku aja perangkat 3 besar juga engga tapi kamu telah meraihnya.” Allyna pun menanggapi, “Hehe iya, makasihh ya kamu juga keren kok. Kan kamu juga keterima di UGM, kita kuliah 1 jurusan lagi hehe. Oh iya, tapi kalo aku boleh tau siapa yang dapet peringkat 1 seangkatan?” Elisa pun kembali berkata, “Ya siapa lagi lah kalo bukan Wiliam. Dia aja masuk UGM tanpa tes. Terus ditambah lagi dia masuk fakultas yang sama kayak kita. Orang nya itu udah pinter, ganteng, terus narik perhatian cewek – cewek lagi.” Allyna pun semakin penasaran tentang Wiliam dan berkata demikian, “Wau, keren banget. Udah ga tertandingi lah dia. Tapi bentar deh kamu kan tadi bilang kalo dia narik perhatian cewek – cewek, maksudnya?” Elisa menanggapi demikian, “Jadi sebenarnya kalo aku boleh kasih tau dia tuh udah punya pacar tapi beda kelas sama dia.” Allyna pun berkata demikian, “OOO… terus pacarnya itu juga masuk di UGM?” Elisa pun berkata, “EMM, aku kurang tau, tapi ceweknya itu juga sama –sama pinter dia malahan ranking 2.” Allyna pun berkata, “OOWW okelah kalau gitu. Ya udah aku mau pulang dulu ya. Semangat buat kamu kuliahnya juga.” Elisa pun menanggapi dengan menganggukan kepalanya.

Beberapa bulan kemudian, tibalah waktu Allyna memasuki hari pertama kuliah di kampus barunya. Ketika memasuki kawasan kampus ia pun beristirahat sejenak di taman dekat dengan gedung fakultasnya sambil menunggu waktu masuk kelas. Pada waktu yang bersamaan, Elisa pun segera menghampirinya di tempat itu. “Haii All, tumben kamu nunggu di sini. Ayo masuk, bentar lagi udah masuk kelas lho,” kata Elisa sambil membujuk Allyna.

Ketika di depan pintu masuk fakultas, Wiliam dan pacarnya bernama Julia tiba – tiba berhenti sejenak. “Bebb, ingat ga janji kita waktu itu?” kata Julia. “Iya, aku tau kok kalo kita terpaksa harus putus demi masa depan masing – masing. Ya udah, kamu hati – hati ya, lancar – lancar ya kuliahnya bebb, kudoain kamu bisa raih masa depan yang lebih baik,” kata Wiliam yang berusaha untuk move on dan meyakinkan dirinya bahwa masa depan itu lebih penting. “Ya udah aku pamit dulu ya, kamu juga semangat kuliahnya katanya mau jadi jurnalis yang terkenal. Jangan lupa kalo masa depan lebih penting,” kata Julia untuk meyakinkan Wiliam. “Iya aku tau kok, ya udah bye – bye bebb. Love you forever,” kata Wiliam untuk mengucapkan selamat tinggal dengan Julia.

Ketika jam kuliah sudah selesai, tiba – tiba Elisa mendekati Allyna yang sedang berjalan menuju tempat parkir sepeda dekat fakultas. “Woy, tunggu, aku punya sesuatu nihh buat kamu,” kata Elisa sambil membujuk Elisa untuk menerima selebaran darinya. “Apa inihh, Pesta Dansa Valentine. Wajib membawa pasangan kamu. Wau keren banget,” kata Allyna sambil membaca selebaran itu. “Lah kok nanggapi cuman gitu, ayo dong ikuti events itu,” kata Elisa yang berusaha membujuk Allyna. “Ya aku harus nanggapi yang wau banget gitu. Lagian kalo aku ikut events itu aku kan belum punya pacar dan aku sekarang mau fokus buat kuliah dulu,” kata Allyna yang berusaha menolak Elisa. Elisa pun menanggapi demikian untuk semakin membujuk Allyna, “Woy, ayolah ikuti events itu. Lagian kamu itu udah lah ga usah mikirin masalah belajar mulu dah. Ayo kita refreshing dikit. Karena ini first time kamu

ikut acara itu. Waktunya lagian masih 4 bulan lagi lho. Nanti buat pasangan kucariin deh yang cocok sesuai sama kamu. Udah lah tenang aja, cowok yang cocok jadi pasangan kamu itu banyak dan besok tinggal kamu eliminasi deh siapa yang cocok buat kamu.” Allyna pun berpikir sejenak dan mencoba menyetujui pendapat Elisa.

Beberapa hari kemudian, tepat ketika sepulang kuliah di depan pintu gerbang Elisa pun menghampiri Allyna. “All, ini cowok – cowok yang bisa kamu jadiin pasangan buat kamu besok. Dipilih aja, mereka siap kok dengan apa keputusanmu,” kata Elisa kepada Allyna. Calon pasangan itu pun masing – masing mengenalkan diri dan menyampaikan kata –kata agar bisa membujuk Allyna untuk memilih mereka. “Emm, yaudah lah aku mau pilih yang ini. Nah kamu. Siapa namamu?” kata Allyna kepada salah seorang lelaki di situ. “Wau sungguh ini adalah mimpi. Emm hai namaku Bima. Aku kuliah di Fakultas Geografi. Semoga kita bisa lanjutin ke jenjang berikutnya ya hehew,” kata Bima yang merupakan salah seorang lelaki dari deretan lelaki di situ. Allyna pun menanggapi dengan senang.

Semenjak saat itu, Allyna mencoba menjalin hubungan dengan Bima. Hubungan mereka berjalan baik selama beberapa minggu. Kebiasaan belajar bersama, pergi bersama, dan hal kemesraan anak muda mereka lakukan setiap hari. Seiring berjalannya waktu, ternyata perjalanan cinta mereka tidak semulus yang dibayangkan. Beberapa minggu setelah menjalin hubungan, Allyna mengajak Bima untuk bertemu di suatu taman dekat sungai dengan air yang jernih dan udara yang sejuk, dimana tempat itu adalah tempat yang biasanya untuk mereka berdua bertemu setiap harinya. Allyna pun berkata demikian dengan baik –baik untuk menyampaikan perasaan yang sebenarnya kepada Bima, “Bim, kalo aku boleh bilang sama kamu, aku minta maaf ya kayaknya hubungan kita cukup sampai disini, karena aku merasa kayaknya kita udah ga bisa bersama lagi. Maafin aku kalo aku ngecewain kamu.”

Bima pun terkejut akan hal itu dan menanggapi dengan kata – kata demikian, “Lho kenapa kamu akhirnya begini. Bukannya kamu udah siap menjadi pasanganku untuk selamanya. Kenapa semuanya berakhir kayak gini. Kita masih bisa ngomong baik – baik tentang ini semua.” Allyna pun menanggapi dengan meneteskan air mata pada wajahnya, “Maaf Bim, aku udah gabisa berkata apa – apa. Semoga kamu bisa move on dari aku. Aku pergi dulu.” Allyna pun segera meninggalkan tempat itu dengan meneteskan air mata atas apa yang dia lakukan pada waktu itu.

Tepat pada hari libur, Allyna pun hanya merenung di rumah sendirian memikirkan kalau dia tidak pantas memiliki pasangan. Thok, thok, thok… Elisa mengetuk pintu dan berharap Allyna akan membukakan pintu itu. Tidak lama kemudian, Allyna membuka pintu itu dan berkata demikian, “Maafin aku El, aku ga bisa jadi orang yang kamu harapin. Aku justru malah ngelakuin hal yang sebenarnya ga pantas kulakuin.” Elisa pun menanggapi sambil mengajak Allyna duduk di kursi teras rumah, “Sudah, sudah ayo kita duduk dulu. Aku tau kok masalah yang kamu hadapin pas setelah kejadian itu Bima hubungin aku dan bilang soal itu. Kalo menurutku, mungkin pilihan kamu belum tepat.” Allyna pun berkata demikian, “Yaudah deh El, aku mending ga usah ikut acara pesta dansa itu karena menurutku aku emang bukan cewek yang baik. Aku ngerasa kalo diriku udah ga pantes.” Elisa pun berkata demikian untuk kembali membujuk Allyna, “Eits, kamu ga boleh gitu dong, kamu harus ikut events itu. Gini aja deh, sekarang aku beri kebebasan buat kamu pilih pasangan. Sekarang buat masalah pasangan kamu boleh deh cari sendiri. Kamu coba dulu aja pasti kalo udah

jodohnya bisa kok. Lagian waktunya masih sekitar 2 bulan lagi kok.” Allyna pun menganggukan kepalanya untuk meyakinkan kalau ia pasti bisa.

Beberapa minggu kemudian, seperti biasanya seusai pulang kuliah Allyna pergi menuju perpustakaan kampus untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing. Ketika mengerjakan tugas ia merenung tentang bagaimana cara yang mudah untuk menemukan pasangan yang tepat. “Hmm, gimana ya aku bisa nemuin pasangan yang tepat dan juga sesuai sama diriku?” perkataanya dalam hati sambil berhenti sejenak menikmati suasana sepi dan ketenangan di perpustakaan itu. Tak lama kemudian, Wiliam yang merupakan teman sekolahnya dulu masuk ke perpustakaan itu dan ia langsung menghampiri bangku tepat di samping bangku yang diduduki Allyna. “Hai, aku Wiliam. Apakah aku boleh duduk di sini?” kata Wiliam untuk menyapa Allyna. “Boleh, silakan,” Allyna menanggapi dengan senang hati.

Wiliam pun mengawali pembicaraan mereka dengan berkata, “Hai nama kamu siapa? Kayaknya aku pernah lihat kamu di sekolah dulu. Kamu Allyna ya? Yang waktu itu dapet ranking 3 se – angkatan.” Allyna pun menanggapi, “Iya, bener. Kamu itu yang dapet ranking 1 kan terus ketrima di UGM tanpa melalui jalur tes?” Wiliam pun kembali berkata, “Iya, bener sekali. Awalnya aku ga mau nyebarin informasi itu tapi karena pihak sekolah yang ngumumin jadi ya udah aku udah ga bisa berkata apa – apa hehew. Oh iya, kalo aku boleh tau kok wajah kamu kayak lesu kamu lagi mikirin apa? Maaf sebelumnya aku terlalu to the point ke kamu.” Allyna pun menanggapi dengan menghela napas sejenak dan berkata demikian, “Emm engga kok. Aku cuman lagi mikirin masalah events pesta dansa valentine besok tanggal 14 Februari. Aku bingung siapa pasangan yang ingin kuajak sedangkan aku ga punya pasangan.” Wiliam pun mencoba untuk menanggapi dengan berkata demikian, “Oow, events itu. Aku juga kemarin diberitau sama temenku soal hal itu. Emm gimana kalo kita jadi pasangan buat events itu hehew. Tapi buat masalah setelah itu aku ga maksain kamu jadi pacarku kok. Ya biar kamu ga pusing – pusing aja.”

Allyna pun terkejut dan berkata demikian, “Emm… tapi bukannya kamu udah punya pacar. Nanti gimana kalo pacar kamu tau tentang ini pasti dia bakal jealous? Aku ga mau ngganggu hubungan kalian.” Wiliam pun menanggapi dengan senyuman dan berkata, “Hahahaha, kalo aku boleh ngomong aku itu udah putus kemarin awal masuk kuliah sama dia karena kita mau fokus sama masa depan kita masing – masing. Lagian aku sama dia udah ga ada hubungan dan kita sama – sama saling move on karena sekarang dia udah ngelanjutin kuliah di Jerman. Jadi kita udah gaada masalah lagi soal hal kayak gitu dan udah fokus sama hidup kita masing – masing. Kamu ga usah khawatir lah. Gimana kamu mau atau engga?” Allyna pun menanggapi dengan perasaan yang sedikit lega, “Oww gitu wau keren juga ya hubungan kalian. Emm, ya udah lah emm aku mau.” William pun hanya tersenyum untuk menanggapi kesediaan Allyna untuk menjadi pasangannya. Kemudian, mereka pun melanjutkan untuk mengerjakan tugas mereka dengan sungguh – sungguh.

Tibalah saatnya acara Pesta Dansa Valentine. Banyak mahasiswa datang membawa pasangannya dalam acara tersebut, begitupun juga dengan Allyna. Acara pun sudah dimulai dengan sapaan dari pembawa acara itu. Pada pertengahan acara, diumumkan bahwa akan ada suatu permainan untuk mencari pasangan masing – masing dengan menutup mata menggunakan kain yang sudah disediakan. Waktu demi waktu, Allyna berusaha mencari

Wiliam dan akhirnya mereka saling bertemu. Lalu, mereka berdua saling melepas kain yang terikat pada kepalanya masing – masing. Setelah terbuka kembali mata mereka berdua, Wiliam langsung berkata demikian sambil menyembunyikan hadiah spesialnya di belakang tubuhnya, “All, aku punya sesuatu buat kamu. Meskipun ini engga seberapa yang kamu pikirin semoga kamu suka sama sesuatu yang kuberikan ini. Dan ini dia hadiahnya TARAAA.” Lalu, Allyna langsung membuka hadiah itu dan isinya adalah cokelat special favoritnya. “Makasih banget Will, ini kan cokelat yang aku suka. Makasih banyak ya hehew,” kata Allyna dengan senyuman yang manis. Kemudian, mereka pun segera melanjutkan acara pada pesta dansa itu.

Hari demi hari mereka lalui bersama, terkadang mereka berkumpul berdua untuk saling berbagi cerita, bahkan mengerjakan tugas bersama. Beberapa bulan kemudian, seperti biasanya Wiliam mengajak Allyna untuk bertemu dan berbincang bersama, namun kali ini sedikit berbeda karena Wiliam mengajak Allyna bertemu di suatu kafe dekat rumah Allyna untuk melakukan dinner bersama. Pada waktu yang bersamaan, Wiliam lalu mendekat ke kursi Allyna dan berkata demikian dengan suara penuh kelembutan dan keyakinan, “Allyna, mungkin ini belum saat yang tepat untuk kamu menjawab pertanyaan isi hatiku. Sebenarnya kalau aku boleh ngomong semenjak kita pertama bertemu, mengikuti acara pesta dansa, belajar bareng aku ngerasa udah nyaman sama kamu. dan selama ini aku memendam rasa kalau aku sebenarnya jatuh cinta mulai dari kecantikan, kebaikan, bahkan perhatian kamu sama aku. Mungkin kalo kamu belum siap untuk menjawab isi hatiku, aku gapapa dan aku akan setia nungguin kamu sampai kamu bener – bener siap.” Allyna pun meneteskan air mata kebahagiaan, lalu berkata, “Aku pun juga ngerasain hal yang sama kayak kamu. Aku juga merasa nyaman sama kamu mulai dari kebaikan bahkan kepekaan kamu dalam situasi yang kita hadapi. Atas keyakinan dari hatiku paling dalam aku mau kok jadi pacar kamu.” Wiliam pun menanggapi demikian dengan penuh kebahagiaan, “Makasih, makasih banyak buat semua jawabanmu. Aku seneng bisa berbagi kebahagaiaan bersamamu.” Lalu, Wiliam segera mengenakan cincin pada jari tangan Allyna dan memberikan rangkaian bunga sebagai hadiah darinya. Semenjak peristiwa itu, mereka pun selalu bersama dan menjalin hubungan yang baik.

~ TAMAT ~

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook