Skip to main content

Buletin Depsa Edisi 5-Oktober 2024

Page 1


EDISI 5 - Oktober 2024

BULETIN DEPSA

Tema: Menggali Interaksi Antara Bahasa Indonesia dengan

Bahasa - Bahasa Daerah dan Bahasa Asing Dalam Kehidupan Sehari-Hari.

Bahasa - Bahasa Daerah dan Bahasa Dalam Kehidupan Sehari-Hari.

Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi antara Bahasa Indonesia dengan berbagai bahasa daerah dan bahasa asing menciptakan jalinan komunikasi yang kaya dan beragam. Proses ini tidak hanya memperkaya kosakata, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta memperluas wawasan masyarakat, memungkinkan kita untuk saling memahami dan menghargai keragaman yang ada di sekitar kita.

jurnalistiksmpn1depok.blogspot.com

DAFTAR ISI

Profil Kepala SMP N 1 Depok ...................................................

Mengenal Sosok Guru Berprestasi SMP N 1 Depok ..............

Siswa Berprestasi: Muhammad Mustafa Ramadhan ........... Imunisasi Japanese Encephalitis (JE) ......................................

SALAM REDAKSI

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua, Shalom, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, dan Salam Kebajikan.

Alhamdumdulillahirabbil a’lamin washolatu wassalamu a’la asrafil anbiya walmursalin, sayyidina muhammadin wa a’ala alihi wasahbihi ajma’in amma ba’du.

Halo! Apa kabar semuanya? Semoga semua tetap sehat dan baik-baik saja, ya!

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah Swt. atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menerbitkan edisi buletin depsa kelima dengan tema "Menggali Interaksi Antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa - Bahasa Daerah dan Bahasa Asing dalam Kehidupan Sehari-Hari.".

Dalam edisi buletin kali ini, kami menyajikan berbagai informasi menarik dan inspiratif untuk para pembaca. Mulai dari cerpen, berita kegiatan sekolah, profil guru dan siswa berprestasi, opini, komik, dan geguritan.

Kami berharap buletin ini dapat menjadi sarana informasi dan hiburan yang bermanfaat bagi para pembaca.

Terima kasih atas perhatian dan dukungannya.

Walaikumsallam Wr.Wb.

Tim Redaksi

Tim Redaksi

PENASEHAT

Lilik Supomo, S.Pd.

PIMPINAN REDAKSI

Meidisya Lutfi Isnaini, M.Pd.

EDITOR

Dwi Lestari, M.Pd.

Muhammad Khoirun Nashruddin, S.Pd.

PENULIS

Profil Kepala Sekolah : Arawinda Wiji Karsini (8F)

Sosok Guru Berprestasi SMP N 1 Depok : Maria Natasya Amalia Ardiyanti (8A)

Siswa Berprestasi : AHSIN KAI TUNJIYA (8F)

Imunisasi Japanese Encephalitis (JE) : Elisabeth Vania Artanti (8A)

Cerpen : 1. Tabina Rojwa Andjani (9B)

2. Arawinda Wiji Karsini (8A)

3. NAJWA SALSABILA F. J. (8F)

Opini : Maria Natasya Amalia Ardiyanti (8A)

Geguritan : Miranti Manahayu Prasetyo (7C)

Komik : Dealova Safa Azzahra (8A)

Profil Kepala Sekolah: Lilik Supomo, Inspirasi

di Balik Kesuksesan

SMP Negeri 1 Depok

Tim Redaksi

Lahir dengan nama lengkap Lilik

Supomo pada tanggal 4 Mei 1969.

Bapak Lilik Supomo yang kerap disapa

dengan Pak Lilik merupakan seorang

kepala sekolah di SMP Negeri 1 Depok.

Lilik merupakan seorang kepala

sekolah di SMP Negeri 1 Depok. Hal yang

memotivasi Pak Lilik menjadi seorang

guru adalah ketika dulu sekolah beliau menggemari mata pelajaran matematika.

Selain itu, beliau juga mengidolakan

guru matematika pada saat SMP yang

bernama Pak Saridi dan Ibu Rosi yang memiliki sifat keras namun baik.

Kemudian, waktu SMA guru matematika yang mengajar Pak Lilik bernama

Pak Win dan Pak Joko yang begitu

mengenal beliau pada waktu itu. Selain itu, yang memotivasi Pak Lilik menjadi

guru matematika adalah karena mata

pelajaran yang cocok bagi beliau adalah Matematika.

Beliau memulai karir menjadi

guru pertama kali dengan menjabat sebagai guru di SMP Negeri 3 Depok selama 10 tahun. Pada Juli 2010, beliau dipindahkan ke SMP Negeri 1 Prambanan selama 10 tahun juga.

Kemudian pada tahun 2020 silam, Pak

Lilik mulai menjabat sebagai kepala

sekolah di SMP Negeri 3 Turi dan mengajar di sana selama 4 tahun. Lalu, pada tahun 2024 tepat bulan Januari

yang lalu, Pak Lilik dipindahkan ke SMP

Negeri 1 Depok.

Pengalaman yang tidak terlupakan di SMP Negeri 1 Depok adalah ketika peristiwa salah satu Ketua OSIS SMP

Negeri 1 Depok yang bernama Valerie

Ilmira Nanjani dan kerap disapa dengan nama Valerie datang ke ruang kepala sekolah dengan maksud untuk mendiskusikan mengenai kegiatan

ekstrakurikuler yang ingin ditambahkan di SMP Negeri 1 Depok. Dalam peningkatan prestasi nonakademik, Pak

Lilik juga mencoba untuk memfasilitasi siswa SMP.

Negeri 1 Depok untuk mengembangkan bakat atau kemampuan yang ada. Program atau inisiatif khusus yang Pak Lilik luncurkan di SMP Negeri 1 Depok adalah memberikan pelayanan kepada siswa-siswi SMP Negeri 1 Depok dilandasi dengan prinsip pinter, bener, pener dan kolaborasi dengan orang tua untuk pengembangan program sekolah.

Mengenal Sosok Guru

Berprestasi SMP

Negeri 1 Depok

Tim Redaksi

Bernadeta Hesti Lestari yang biasa dipanggil Bu

Hesti merupakan guru pengampu mata pelajaran

IPA kelas 7 di SMP N 1 Depok. Bu Hesti Lahir di

Yogyakarta pada tanggal 12 Juli 1970. Motivasi Bu Hesti menjadi guru adalah Bu Hesti ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi guru. Bu Hesti ingin tahu bagaimana rasanya menjadi guru karena semasa beliau masih sekolah SMP dan SMA bukanlah anak yang tertib. Kemudian Bu Hesti mulai berpikir dan ingin merasakan bagaimana sih rasanya menjadi guru yang memiliki murid tidak tertib seperti ketika beliau SMA.

Bu Hesti pernah mengenyam pendidikan S1 dan S2. Saat mengenyam pendidikan sarjana, Bu Hesti mengambil jurusan Fisika di Universitas Sanata

Dharma. Kemudian saat kuliah pascasarjana, Bu Hesti mengambil jurusan penelitian dan evaluasi Pendidikan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta.

Prestasi yang sudah diraih Bu Hesti selama menjadi guru cukup banyak dimulai ada tahun 2016.

Bu Hesti pernah meraih juara 1 lomba Taekwondo pada bidang poomsae (jurus). Sampai tahun 2020

Bu Hesti berhenti meraih prestasi karena terhalang pandemi covid-19, dan baru tahun 2024 ini ada event, beliau mengikuti event tersebut.

Belum lama ini Bu Hesti memenangkan juara 1 dan mendapat medali emas pada lomba Taekwondo kategori usia 51 sampai 66 tahun. Lomba itu dilaksanakan pada tanggal 29 September 2024 di Graha Instiper, Yogyakarta. Motivasi Bu Hesti agar tetap meraih prestasi walaupun sudah menjadi guru adalah untuk memotivasi siswa-siswi Depsa supaya lebih semangat meraih prestasi sepertinya, baik di bidang akademik maupun non-akademik.

Siswa berprestasi: Muhammad

Mustofa Ramadhan

Tim Redaksi

Muhammad Mustafa Ramadhan, siswa berprestasi dari kelas 9A SMP N 1

Depok, telah mengikuti lomba OSN IPS dan berhasil menjadi juara. “Lomba OSN ini di adakan pada tanggal 5 sampai 11 Agustus 2024,” jelas Mustafa. Lomba ini di laksanakan di hotel Redtop dan hotel Luminor di Jakarta Pusat. Dalam lomba ini, Mustafa mendapatkan medali perunggu.

Pada saat berlangsungnya lomba OSN, Mustafa melakukan penelitian ekonomi sirkular yaitu pembuatan pot dari kain perca, hal itu dapat membantu mengembangkan kreativitas juga meningkatkan kemudahan ekonomi bagi para penyandang disabilitas di SLB. Pengaruh penelitian ini terdapat pada lingkungan, yang dapat mengurangi sampah dan mengharapkan ekonomi

sirkular, kemudian pada sosial, dapat

membantu SLB atau para penyandang disabilitas untuk meraih impian

dan kemajuan ekonomi. Setelah melakukan penelitian Mustafa mulai mempersiapkan dan memantapkan mental, memahami materi, serta berdoa. Tantangan terbesar bagi

Mustafa saat mengikuti lomba adalah mempersiapkan mental, karena ia merasa hal tersebut sangat sulit.

Bagi Mustafa, kemenangan lomba ini menjadi hal yang berarti karena kemenangan ini adalah hasil dari kerja

keras Mustafa sendiri, dan bantuan serta dukungan dari orang tua, guru, dan teman temannya. Hal ini juga menjadi pengalaman baru untuknya.

Karena bagi Mustafa hal ini dapat

membantunya untuk masuk ke SMA yang diinginkan dengan jalur prestasi, mengurangi beban orang tua, dan membahagiakan orang tua.

SMPN 1 Depok Sukses Gelar

Imunisasi JE, Lindungi

Siswa

dari Penyakit Radang Otak

Tim Redaksi

Rabu, 25 September 2024, SMP N 1

Depok bersama Puskesmas 2 Depok mengadakan kegiatan imunisasi JE, yang bertempat di sporthall SMP N 1

Depok. Kegiatan ini diikuti oleh hampir

seluruh siswa SMP N 1 Depok dari kelas 7 sampai 9. Kegiatan ini bertujuan

untuk memberikan perlindungan atau

kekebalan pada siswa terhadap radang

otak dan juga memutus mata rantai penularan virus JE.

Imunisasi Japanese Encephalitis (JE) adalah imunisasi untuk menangani radang otak. Virus ini disebarkan oleh nyamuk Culex atau nyamuk yang berada di daerah sawah dan di perkebunan karena tempat - tempat ini sering tergenang oleh air. Dampak dari imunisasi JE adalah meningkatnya

kekebalan tubuh jika terkena virus ini, saat sudah diimunisasi jika tertular virus JE gejalanya tidak parah jika dibandingkan dengan anak yang belum diimunisasi.

Sasaran atau anak yang wajib diimunisasi JE adalah anak - anak yang berumur 9 bulan sampai 15 tahun.

Setelah program imunisasi pertama ini selesai dilakukan, imunisasi JE akan menjadi imunisasi wajib bagi bayi atau balita yang berumur 10 bulan.

Imunisasi JE wajib diberikan pada anak, karena ini program pemerintah.

Sebenarnya imunisasi ini hanya dilakukan sekali seumur hidup, namun karena imunisasi ini merupakan program pemerintah jadi tidak memandang imunisasi sebelumnya, jadi jika sudah

mendapat imunisasi JE saat umur 5 atau

6 tahun, akan tetap diberikan lagi karena tujuannya untuk memutus mata rantai penularan.

Sebelum melakukan imunisasi, para petugas puskesmas harus melakukan sosialisasi dan lintas sektoral atau pertemuan untuk sosialisasi terlebih dahulu kepada guru dan Masyarakat. Kemudia mereka melakukan mikroplaning (suatu

rancangan atau rencana tindakan untuk mempertimbangkan kemungkinan dari kemungkinan terkecil sampai kemungkinan terbesar yang bisa terjadi), mikroplaning mencakup pendataan berapa banyak sasaran yang ada di pos imunisasi itu, berapa sasaran yang harus dicapai. Setelah melakukan mikroplaning, mereka harus menentukan jadwal dan pos imunisasi. Setelah mendapatkan jadwal dan pos

imunisasi, barulah tindakan imunisasi bisa dulakukan.

Gejala yang bisa dilihat jika terjangkit virus JE adalah demam, mual, muntah, kesadaran menurun atau penurunan kesadaran. Dampak yang terjadi jika terjangkit oleh virus JE bisa cacat atau bahkan kematian atau meninggal. Penanganan pertama yang bisa diberikan kepada orang yang terjangkit virus

JE diantaranya diberikan rehidrasi (diberikan cairan yang cukup atau lebih jelasnya, rehidrasi itu kebalikan dari dehidrasi) yang cukup kemudian dibawa kefasilitas kesehatan.

Mendiagnosis virus JE harus dengan beberapa pemeriksaan, diantaranya pemeriksaan laboratorium, kemudian pemeriksaan CT scan (Compoterized Tomography scan) karena yang diserang adalah otak. Jadi, jika diotak terdapat cairan, dan di laboratorium menujukkan virus JE, maka kemungkinan orang itu sudah terinfeksi virus JE.

Cara menanggulangi atau cara mencegah terkena virus JE adalah dengan menggalakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara menguras bak mandi dengan

mengeringkan airnya dan menyikatnya serta berperilaku hidup bersih. Bisa juga melakukan fogging, tetapi tidak terlalu efektif karena yang mati hanya nyamuk anak - anak dan dewasa dan jentik jentik nyamuk masih hidup karena mereka hidup di air.

Sebagai penutup, kegiatan imunisasi

Japanese Encephalitis (JE) yang dilaksanakan di SMP N 1 Depok pada tanggal 25 September 2024 telah berjalan dengan sukses dan mendapat respons positif dari siswa, orang tua, serta pihak sekolah. Melalui imunisasi ini, kita bersama-sama berkomitmen untuk melindungi kesehatan anak-anak dan memutus mata rantai penularan virus JE. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya imunisasi, diharapkan setiap siswa dapat tumbuh dan berkembang dalam kondisi yang lebih aman dan sehat. Semoga program ini dapat terus berlanjut dan menjadi bagian integral dari upaya pencegahan penyakit di masa depan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini.

MISTERI PARFUM

Tabina Rojwa Andjani (IX B)

Pohon besar melambai-lambai tertiup angin. Kicauan burung ikut memeriahkan suasana pagi hari yang cerah ini. Di sebuah kota, hiduplah seorang anak laki-laki berambut lurus, kulit kuning langsat dan warna mata yang kecokelatan. Itulah ciri khas Edo, siswa kelas 8, SMP Nusa Bangsa.

Pukul 09.50, lonceng sekolah berbunyi dua kali. Menandakan jam istirahat tiba. Saat beberapa teman kelas

Edo pergi ke kantin untuk membeli makanan, Edo hanya duduk di kelas sambil menggerutu. “Ah, ngapain sih harus belajar bahasa Inggris juga? Kita kan hidup di Indonesia, ya pakainya bahasa Indonesia dan bahasa daerah saja lah, untuk apa susah payah mempelajari bahasa yang penulisan dan pengucapan yang berbeda ini? Menyusahkan saja!” ucapnya kesal.

Teman sebangku Edo, Adi namanya. Adi sudah terbiasa mendengar ocehan

Edo. Tak henti hentinya Adi menjelaskan bahwa mempelajari bahasa Inggris

menjadi salah satu jalan untuk membuka karir di masa depan. Bagaimana tidak? Di era yang sudah canggih seperti saat ini, Bahasa Inggris sangat berperan penting dalam berbagai aspek yang mendunia.

Seperti hal nya ekonomi, komputer, hingga pariwisata.

“Sudahlah Do, tak ada salahnya juga kamu mempelajari bahasa selain Bahasa Indonesia dan Bahasa daerah, kan? Suatu saat yang kamu pelajari saat ini pasti akan berguna di kemudian hari.” ucap Adi mencoba menenangkan

Edo. Edo menghiraukan ucapan teman sebangkunya itu. Ia tetap tak suka mempelajari bahasa asing itu.

“Kring, Kring, Kring” pukul 14.00, terlihat para siswa berhamburan menuju gerbang sekolah, menunggu jemputan orang tua. “Edo, aku sudah dijemput, aku pulang dulu ya!” ucap Adi sambil

melambaikan tangannya ke arah Edo. Edo melambaikan tangannya juga ke arah Adi. Menit terus berjalan. Gerbang sekolah yang awalnya ramai dengan orangtua siswa itu kini menyisakan Edo yang masih menunggu jemputan.

Saat tengah menunggu, Edo melihat seorang Nenek berjalan lemas sambil membawa barang dagangannya yang masih utuh. Merasa iba, Edo pun menghampiri nenek itu. “Nenek jualan apa, nek?” ucap Edo.

Wanita tua berbaju merah muda itu tersenyum melihat ada yang menghampirinya. “Nenek berjualan parfum, apakah Cucu mau beli?” ucapnya sambil tersenyum ramah kepada Edo.

Edo tanpa ragu mengeluarkan sejumlah uang dari dalam saku nya. Ia membeli satu botol parfum Nenek itu.

“Terimakasih Cu, parfum ini pasti akan membantu mu suatu saat nanti.” ucap sang Nenek meninggalkan Edo sendirian. Edo mengerutkan alisnya, bingung dengan ucapan wanita tua itu.

Seorang lelaki yang tak dikenali Edo, kini berada di hadapannya. “Ini lah gambaran dirimu dalam 30 tahun kedepan jika kamu enggan mempelajari bahasa asing. Indonesia menjadi negara yang sulit berkembang, tertinggal dengan negara negara lain.” ucap lelaki misterius itu, membuat Edo ketakutan.

Edo kebingungan mencari jalan keluar dari dimensi itu. Rasa takut dan kesal menyelimuti Edo. “Aku orang Indonesia, untuk apa aku harus berusaha keras mempelajari bahasa asing? Bukankah lebih baik menjaga bahasa persatuan?” ucapnya berusaha tenang.

“Ya, benar. Sebagai warga negara Indonesia, kita memang sudah seharusnya menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia dan Bahasa daerah kita. Namun, di sisi lain, kau juga memerlukan

Saat tiba dirumah, Edo menyemprotkan parfum yang ia beli tadi ke arah baju biru yang Ia kenakan saat ini. “Psst” terdengar jelas suara semprotan parfum itu. Edo terkejut, setelah ia menyemprotkan parfum beraroma segar ke baju, kini Ia seperti berada di dimensi lain. Di dimensi itu, Edo melihat dirinya seperti berumur 42 tahun. Jenggot tumbuh memanjang, kulit keriput, dan keringat bercucuran. “Ada apa dengan diri ku? Kenapa aku jadi seperti ini? Dimana mama papa? Kenapa semuanya terlihat berantakan?” ucap Edo panik.

bahasa asing untuk berinteraksi dengan orang dari berbagai benua. Bagaimana negara kita bisa maju kalau warga negara kita sendiri enggan menerima perubahan yang terjadi? Bukan berarti kita harus menampung semua perbedaan yang masuk, kita juga tetap harus selektif terhadap perubahan yang masuk ke Indonesia.” ucap lelaki yang di hadapan

Edo itu. Ucapannya membuat Edo tersadar akan pentingnya interaksi Bahasa di masa depan.

“Benar juga. Aku juga harus menerima perubahan yang terjadi agar Indonesia menjadi bangsa yang maju.

Kalau begitu, mulai sekarang aku akan meningkatkan minatku terhadap bahasa asing. Tapi, bagaimana cara agar aku bisa kembali?” ucap Edo. Sosok misterius itu menyemprotkan sebuah parfum ke baju Edo. Dalam sekejap Edo sudah berada di rumahnya.

Kini Edo menyadari ucapan Nenek penjual parfum itu, bahwasanya Ia harus mau mempelajari hal yang bukan menjadi minatnya. Setelah kejadian itu, Edo selalu bersemangat dalam mempelajari berbagai bahasa, ia tak pernah mengeluh lagi saat mempelajari suatu hal.

BAHASA INDONESIA BAHASA PEMERSATU BANGSA

ARAWINDA WIJI KARSINI (VIII F)

Setiap pagi, suasana kelas selalu sama. Teman-teman berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Awalnya, saya tidak terlalu memperhatikan. Tapi lama-kelamaan, perbedaan ini semakin jelas, terutama saat guru memberikan tugas kelompok.

Ternyata, kelas kami terbagi menjadi beberapa kelompok kecil berdasarkan bahasa daerah. Ada kelompok Jawa, Sunda, dan bahasa daerah lainnya.

Karena lebih nyaman berbicara dalam bahasa daerahnya, mereka jarang berinteraksi dengan anggota kelompok

yang berbeda bahasa. Hal ini membuat tugas kelompok menjadi sulit.

Guru-guru sering memberi tugas kelompok. Saat kami dipasangkan dengan teman yang berbeda bahasa, kami kesulitan bekerja sama. Kami lebih nyaman dengan teman satu kelompok bahasa

Para guru pun mulai berdiskusi mencari solusi atas masalah ini. Guru Bahasa Jawa mengawali, “Saya percaya melestarikan bahasa daerah itu penting.”

Namun, Guru Bahasa Indonesia menyanggah, “Memang penting, tapi membentuk kelompok-kelompok kecil seperti ini justru menghambat interaksi sosial siswa.” Guru IPS menambahkan, “Ini bisa berdampak buruk di masa depan. Bagaimana jika kebiasaan ini terus berlanjut hingga mereka dewasa?”

Guru BK kemudian mengusulkan, “Bagaimana jika kita ajarkan pada siswa pentingnya menggunakan Bahasa

Indonesia agar mereka bisa saling mengenal lebih dekat?” Guru Bahasa

Indonesia ragu, “Tapi, nilai Bahasa Indonesia mereka kan masih rendah. Apakah mereka akan mau?

“Guru BK mengangguk, “Mari kita coba dulu. Jika tidak berhasil, kita bisa mencari solusi lain.”

Setelah pelajaran BK, aku merenung. Ternyata, aku juga ikut terjebak dalam lingkaran pertemanan yang kecil.

Aku memutuskan untuk mencoba berinteraksi dengan teman-teman dari kelompok lain. Awalnya, merasa canggung karena perbedaan bahasa, tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa.

Saat tugas kelompok, aku berusaha aktif mengajak teman-teman untuk berdiskusi menggunakan Bahasa Indonesia. Aku ingin membuktikan bahwa kita bisa bekerja sama meskipun berbeda latar belakang. Namun, tidak semua teman sekelasku memiliki semangat yang sama. Beberapa masih lebih nyaman dengan kelompoknya masing-masing.

Guru-guru mulai melihat usaha kami, tapi hasilnya belum maksimal. “Sepertinya ada kemajuan,” ujar Bu Ani, guru IPS. “Beberapa siswa sudah mulai terbuka dengan teman yang berbeda kelompok.”

Pak Budi, guru Bahasa Indonesia, menambahkan, “Nilai ujian Bahasa

Indonesia juga sedikit meningkat. Tapi, kita perlu usaha yang lebih keras lagi.”

Pak Beni, wali kelas kami, punya ide. “Bagaimana kalau kita adakan kegiatan yang memaksa semua siswa untuk bekerja sama? Misalnya, proyek kelompok besar yang menuntut setiap siswa untuk berkontribusi.”

Usul Pak Beni disambut baik oleh guru-guru lain. Mereka berharap kegiatan ini bisa mempererat hubungan antar siswa dan mengurangi perpecahan.

Hari itu tiba dengan penuh semangat. Semua siswa berkumpul untuk memulai proyek besar. Awalnya, suasana sedikit tegang. Namun, perlahan-lahan, mereka mulai bekerja sama. Ada yang mencari data, ada yang membuat desain, dan ada yang menyusun laporan.

Aku merasa bangga melihat temantemanku yang biasanya cuek satu sama lain, kini bekerja sama dengan kompak. Proyek ini tidak hanya mengajarkan kami tentang kerja sama, tapi juga tentang menghargai perbedaan.

Setelah pembinaan wali kelas, suasana kelas kami benar-benar berubah. Saat mengerjakan tugas kelompok, kami saling membantu dan berbagi ide

tanpa memandang perbedaan bahasa. Guru-guru pun sangat senang melihat perkembangan kami.

Keberhasilan kami dalam bekerja sama membuat kami semakin percaya diri. Kami pun memutuskan untuk mengikuti lomba cerdas cermat tingkat sekolah. Ini adalah tantangan baru yang menuntut kami untuk menguasai berbagai mata pelajaran dan bekerja sama dalam tim.

Awalnya, kami merasa khawatir karena harus bersaing dengan kelas lain yang juga memiliki persiapan matang. Namun, dengan semangat yang tinggi, kami mulai berlatih bersama. Kami membagi tugas, saling melengkapi, dan memberikan dukungan satu sama lain.

Hari lomba tiba. Suasana sangat menegangkan, tapi kami tetap optimis. Pertanyaan demi pertanyaan kami jawab dengan baik. Saat pengumuman pemenang, jantung kami berdebar kencang. Dan ternyata, kelas kami berhasil meraih juara pertama!

Kemenangan ini semakin mempererat tali persaudaraan di antara kami. Kami membuktikan bahwa dengan kerja sama yang baik, kita bisa mencapai apa saja.

BAHASA ADALAH JEMBATAN

KOMUNIKASI

Maria Natasya Amalia Ardiyanti (VIII A)

Di era informasi dan komunikasi yang begitu canggih seperti sekarang, bahasa yang baik dan benar justru dianggap semakin sulit dipelajari. Manusia modern cenderung menempatkan kebutuhan pesan bicaranya cepat tersampaikan di atas segalanya. Kita tidak lagi peduli akan kebutuhan untuk berbahasa sesuai khaidah, apalagi bertutur dengan budi pekerti.

Pergeseran ini tidak hanya terjadi pada bahasa Indonesia saja, tetapi juga bahasa daerah. Semakin banyak kaum muda beranggapan bahwa bahasa daerah itu sulit dipelajari. Di Yogyakarta misalnya, meskipun bahasa Jawa masih lazim digunakan di kalangan anak muda, bila mencermati kita akan mudah menemukan pergeseran khaidah ataupun

budi pekerti dalam percakapan seharihari mereka.

Hal-hal sederhana seperti inilah yang terkadang disepelekan oleh banyak orang. Alih-alih mendalami bahasa

Indonesia atau bahasa daerah, kita dengan sadar memilih menggunakan bahasa gaul agar kita dianggap lebih

mudah dipahami sekaligus tampak

keren. Saking fasihnya berbahasa gaul, kita jadi “kurang jam terbang” saat

harus berbahasa Indonesia yang berbudi pekerti dan sesuai khaidah. Kita jadi kesulitan menentukan kesopanan budi bahasa dengan siapa-siapa yang kita berbicara.

Mungkin belum banyak yang mengetahui arti “bahasa” yang sebenarnya. Menurut Kamus Besar

Bahasa Indonesia (KBBI), bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan

oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Setiap bahasa memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri, yang membedakannya dengan bahasa lainnya. Begitupun dengan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, masing-masing memiliki keistimewaan yang bisa kita pelajari.

Menurut salah satu artikel yang ditulis oleh Kemendikbud, bahasa

Indonesia adalah cerminan sikap kebangsaan untuk memajukan semboyan bangsa kita yaitu, Bhinneka Tunggal

Ika. Dijelaskan di sana, karakter bahasa

Indonesia yaitu, bersifat inklusif dan terbuka, pluralis (menerima perbedaan), demokratis, serta pemersatu bangsa. Empat karakter ini menjadikan bahasa

Indonesia sebagai identitas bangsa untuk mempersatukan komunikasi antara satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini selaras dengan pengakuan bahasa

Indonesia sebagai bagian dari tanah air terdapat dalam ikrar sumpah pemuda.

Jadi bisa disimpulkan, bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi merupakan bahasa pemersatu bangsa yang memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri.

Lalu, bagaimana bisa bahasa

Indonesia menjadi bahasa nasional?

Bukannya Nusantara ini sebelumnya

dijajah Belanda selama 350 tahun? Itulah hebatnya bahasa Indonesia. Beberapa artikel menyampaikan, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan sebagai lambang kebanggaan nasional, yang membedakan dengan bangsa lain dan mencerminkan nilai-nilai sosial

budaya masyarakat Indonesia. Jadi, menurut saya bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa dalam mewujudkan persatuan nasional, bahkan jauh sebelum proklamasi kemerdekaan berkumandang pada tahun 1945.

Mungkin ada yang bertanya alasan bahasa Indonesia tidak dijadikan bahasa internasional. Beberapa sumber menjelaskan, alasan bahasa

Indonesia tidak dijadikan sebagai bahasa internasional adalah karena kurangnya penyebaran bahasa Indonesia di luar

Indonesia. Lebih dari itu, rendahnya pengakuan dari penutur asli dan masih adanya sikap pesimistik terhadap bahasa

Indonesia. Jadi dapat disimpulkan, dukungan dari rakyat kita sendiri untuk menyebarkan bahasa Indonesia secara luas dan mendunia masih jauh dari kata cukup.

Ada beberapa cara sederhana yang dapat kita lakukan agar bahasa Indonesia mendunia. Kita dapat memulainya dengan membiasakan diri berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang sesuai khaidah. Di antara teman, kita dapat saling menularkan kebiasaan tersebut, saling mengingatkan apabila terjadi kesalahan dalam berbicara, mulai saling mengungkapkan pendapat dalam bahasa

Indonesia dan menghargai pendapat satu sama lain.

Menghargai pendapat menjadi

aspek penting jika kita melihat bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga alat mengekpresikan diri.

Dalam kita berkomunikasi, tidak hanya kemampuan mengetahui dan memahami definisi saja yang harus dikuasai. Kita juga harus memahami khaidah seputar cara menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, sehingga tutur kata yang kita ucapkan sesuai dengan budi pekerti dan tidak menyakiti perasaan lawan bicara.

Jadi, mari bangga dengan keistimewaan dan keunikan bahasa

Indonesia. Mari bangga berbahasa Indonesia. Mari bicara agar bahasa Indonesia semakin mendunia.

MIMPI APA ITU?

Allesha dan Neysha adalah saudara kembar tidak identik, Allesha pemberani dan ahli dengan teknologi.

Berbeda dengan Nesyha yang agak penakut tapi pintar. Mereka punya teman dekat yang bernama Caroline.

Caroline seperti motivator yang senang menasehati dan memberi semangat pada teman-temannya.

Dipagi hari yang cerah.

Terdapat suara ayam berkokok yang membangunkan Allesha dari tidurnya.

“Hoamm, udah pagi nih”

“Mau mandi dulu deh”

Setelah Allesha selesai mandi, ia membangunkan Neysha yang masih tertidur pulas.

“Neyy!! Bangun! Dah pagi nih!”

“AAAAA!!”

Saat Ney terbangun ia langsung berteriak ketakutan dikarenakan Ney bermimpi buruk, hingga ia menangis.

All aku takut All, tolongin aku” ucap

Neysha sambil menangis

“Iya, iya kamu kenapa Ney?”

Akhirnya Ney pun menceritakan mimpinya pada All sambil menangis. Ney sangat takut, hingga ia tidak ingin

sekolah, dan All pun menemani Ney kemanapun Ney pergi. All pun berkata bahwa sebelum tidur baca doa terlebih dahulu.

“Oh kayak gitu mimpinya, tenang aja gapapa kok.”

“Dah sekarang mandi sama sarapan dulu ya, aku tunggu di ruang makan, aku dah mandi kok”

“Oke, siap All”

Setelah All dan Ney sarapan bersama, mereka berangkat ke sekolah.

“Udah siap ke sekolah kan Ney?”

“Iya udah kok, janji ya temenin aku All?”

“Iya, udah pasti, tenang aja Ney.”

“Yuk berangkat!” ajak All.

“Siap All!” semangat Ney.

Setelah mereka sampai di sekolah, mereka ngobrol dengan Caroline.

“Eh, udah ada guru tuh” kata Caroline.

“Tumben akhir akhir ini Ney kayak gelisah gitu? Ada apa nih? Kok ga cerita ke aku?” heran Caroline.

“Eheheh, gapapa Line, cuma akhir akhir ini Ney mimpi buruk” All menjelaskan.

“Ohh gitu, tenang ya Ney, semua pasti baik-baik saja kok, itu cuma mimpi aja.”

“Eh btw udah ada guru nih.”

“Jam literasi kan sekarang? Yuk kita baca buku ke perpustakaan!” ajak

Caroline

“Okee deh, ayok!” ucap Ney dan All serentak.

Di perpustakaan Ney masih mencari cari buku yang menarik, tapi entah mengapa ada buku yang bersinar.

“Eh guys, buku apaan itu? Kok bersinar gitu ya?” tanya Ney.

“Hah? Mana ih? Gada tu.”

“Iya bener nggak ada kok Ney.”

“Loh kok bisa mereka nggak melihat itu” ucap Ney dalam hati.

“Oh iya bener nggak bersinar guys, hehe” ucap Ney terbata-bata.

“Kuambil ajalah bukunya mau kulihat dulu” ucap Ney dalam hati.

Baru saja Ney membuka halaman pertama, sudah merasa ada yang aneh, buku tersebut berisi tentang sesuatu yang ada di ruang bawah tanah sekolah.

“Hah? Apa ini? Bubuk? Ini buku ajaib kah? Aku bawa aja deh, lumayan menarik bukunya” ucap Ney dalam hati.

“Udah pada selesai cari buku belum? Aku udah pinjam buku nih.”

“Udah nih Ney, baru mau kupinjem.”

“Iya sama aku juga udah Ney.”

Bel istirahat pun berbunyi. Anak-anak lain jajan di kantin dan koperasi sekolah, berbeda dengan Ney, All, dan Caroline, mereka mengelilingi sekolah. Tapi

Neysha merasa ada sesuatu yang aneh, ia melihat sesuatu tempat yang janggal, namun tetap dihiraukan oleh Neysha.

Bel pulang pun tiba, mereka kembali ke rumah masing-masing.

“Eh dah bel nih, aku sama All pulang duluan ya Line.”

“Iya hati hati ya Ney, All.”

Saat perjalanan pulang entah mengapa Neysha masih kepikiran akan hal yang tadi terjadi di sekolah.

Malam pun tiba, Neysha pun tidur, ia bermimpi bahwa ada sesuatu di ruang bawah tanah sekolah, bahkan Neysha tak tau bahwa ada ruang bawah tanah di sekolah, di mimpi tersebut, Neysha disuruh ke ruang bawah tanah sendiri saja.

Akhirnya hari sudah menunjukkan pukul 04.30 yang berarti sudah pagi.

“AAAAA”

“ALLESHAA!!”

“TOLONG AKUU!!”

“Hah? Ada apa Ney?!” kaget All.

“Aku mimpi kayak kemarin,” kata Ney.

Ney bermimpi yang sama seperti biasanya, ia benar-benar harus ke ruang bawah tanah.

Ney pun terbangun sambil menangis lagi. Hingga akhirnya Ney memberanikan diri untuk ke ruang bawah tanah sendiri. Sebelum itu Ney ijin pada All untuk keruang bawah tanah. Awalnya All tidak mengijinkannya karena tahu sifat Ney yang penakut, tetapi setelah diceritakan mimpinya saat ketiduran tadi akhirnya All pun mengijinkannya.

Sebelum pergi ke ruang bawah tanah itu, All sudah menyiapkan sesuatu agar Ney aman disana. All menyiapkan

alat penelpon ‘invisible’ dan hanya Ney dan All yang bisa mendengarkan suara mereka sendiri. All memiliki alat tersebut karena dahulu ia pernah disuruh guru untuk membuat alat terunik dan terbagus. Selain itu, Ney juga membawa makanan ringan dan minuman serta gunting agar apabila ada yang menyerangnya Ney tinggal melempar gunting tersebut. Ini adalah barang-barang yang disiapkan oleh All untuk Ney.

“Aku baca buku yang aku pinjam tadi di perpus dulu aja deh,” ucap Ney dalam hati.

Saat membuka halaman pertama Ney merasa buku ini ada hubungannya dengan ruang bawah tanah, seperti perkiraan nya sejak awal. hingga Ney membaca sampai akhir. Lalu ia menyiapkan barang yang akan dibawanya melalui petunjuk dari buku itu.

Akhirnya, Ney sudah siap untuk keruang bawah tanah, ia sudah memberanikan diri walaupun masih ada rasa takut dalam dirinya. Ney tahu tempat ruang bawah tanah tersebut karena sudah diberitahu lewat mimpinya semalam. Ternyata tempat itu berhubungan saat All, Ney, dan Caroline mengelilingi sekolah tersebut.

Akhirnya Ney sampai di sekolah, ia ke depan pintu ruang bawah tanah tersebut bersama All, agar saat terjadi sesuatu pada Ney. All tahu tempatnya dimana. All pun sudah bilang ke guru bahwa Ney tak masuk sekolah.

Beberapa waktu kemudian All dan Ney pun sampai di tempat tersebut. Dan All langsung pergi dari tempat itu agar tidak terlihat oleh siapapun. Tempat ini gelap dan hanya diterangi dengan lilin. Karena sudah memiliki banyak persiapan Ney masih bisa berusaha untuk tenang dan tidak takut.

Setelah beberapa langkah Ney masuk, tiba-tiba terdengar suara aneh, yang Ney tidak tahu itu suara apa.

“Kemarilah”

“Ayo kesini, cepat atau ku tarik dirimu!”

“HAH?!”

“Suara apa itu?!”

Dengan rasa ketakutan hingga Ney berdebar kencang, ia bertemu dengan sosok misterius. Ney tak tahu pasti itu apa, ia hanya melihat sosok yang besar dan tinggi seperti monster yang lapar.

“HUAHAHAHA, AKHIRNYA KAMU SUDAH DATANG” ucap monster dengan senang.

“SANTAPAN KU SUDAH DATANG”

kata monster.

Ney yang terkejut melihat itu langsung lari dengan cepat, namun nihil, karena monster tersebut besar, jadi langkahnya lebih besar. Monster tersebut ingin menginjak Ney, tapi karena Ney sangat gesit, ia bisa menghindar dari injakan monster tersebut.

“OIYA, AKU BARU INGAT!!” ucap Ney dalam hati

Ney memancing monster tersebut untuk mendekat pada Ney. Dengan cepat, Ney langsung melempar bubuk, bubuk itu adalah campuran dari bahan masakan, seperti garam, lada dll.

Ney melempar bubuk itu terus

menerus hingga monster itu susah

melihat Ney, melihat tempat yang bisa digunakan untuk Ney sembunyi

akhirnya Ney bisa sembunyi disana tanpa sepengetahuan monster tersebut karena bubuk itu.

Langsung tanpa basa basi lagi, Ney melempar 10 gunting satu persatu hingga terkena monster tersebut, dan memberikan bubuk itu lagi agar monster melemah.

Dengan cepat Ney membuka buku ajaib dengan menghadap ke tubuh

monster tersebut, akhirnya monster tersebut sudah tertangkap, dan akhirnya Ney menulis ‘DILARANG MEMBUKA

BUKU INI’

Akhirnya Ney keluar dari ruang bawah tanah dengan selamat, tanpa diketahui Ney ternyata All sudah menunggu Ney lama sekali, hingga waktu menunjukan 5 sore. Dan mereka pulang dengan senang dan gembira,.

Namun sebelum pulang Ney tidak lupa untuk menaruh buku ajaib tersebut ke perpustakaan dan menyembunyikan buku tersebut di bagian yang jarang orang lihat dan ambil.

“ Dah kamu taruh bukunya Ney?”

“Iya udah nih,”

“Oke, yuk pulang!”

“ Btw ceritain dong kejadian mu di ruang bawah tanah itu!”

“Hahaha, oke.”

Akhirnya Ney menceritakan semuanya ke All dengan senang hati. All sangat kagum dengan apa yang terjadi saat Ney di ruang bawah tanah. Dan Ney menjadi pribadi yang lebih berani dari pada dulu.

Kekuatan Tiga Bahasa

NASYA PERMATA FENILA (IX E)

Matahari bersinar hangat

menyelimuti suasana pagi

hari yang damai di halaman SMP

Bina Bangsa. Guru-guru masih asyik bercengkrama sambil berjalan menuju

kelas dimana mereka akan mengajar pagi itu. Beberapa siswi perempuan dengan rajinnya belajar dan membahas tugas mereka minggu lalu, sedangkan siswa lelaki seperti biasanya asyik berlari-larian kesana kemari membuat keributan kecil.

Tapi, suasana damai itu tidak berlaku untuk kelas 9C saat ini. Bagaimana tidak, tumpukan lembar hasil ulangan bahasa

inggris mereka sudah tertata rapi di atas meja guru setelah dibawa oleh ketua

kelas mereka. Meski hanya lembaran kertas putih dengan hasil guratan jawaban mereka diatas sana, itu mampu memacu degupan hati siswa-siswa kelas 9C.

Bara, ketua kelas mereka, berdiri di sebelah meja guru, melempar pandangan

ke sekeliling ruangan 9C. Wajah-wajah gugup mereka terpampang jelas.

“Ambil satu-satu ya, jangan berebut--Hei, aku bilang jangan berebut!”

Belum selesai Bara menyelesaikan kalimatnya, semua penghuni ruangan itu berhamburan menuju ruang guru dan mencari kertas dengan nama mereka.

“Yey! aku dapat 95!”

“Astaga, kenapa harus dibawah KKM lagi, sih?”

“Alhamdulilah, seenggaknya lebih bagus dari materi sebelumnya”

“Wes jan! kok yo elek men toh!”

Berbagai ekspresi terlihat di wajah anak-anak kelas 9C saat mengambil kertas mereka. Entah ekspresi syok, kecewa, bahagia, bahkan hampir menangis tampil di wajah-wajah mereka yang sebelumnya pucat pasi.

Helaan nafas antara kecewa dan kesal terdengar dari meja Arif. Ia menatap sendu kertas miliknya, dengan angka 75

tertulis di ujungnya. Ia memijat-mijat pelipisnya, merasakan pusing yang entah datang darimana. Sebelum akhirnya ia merasakan tepukan di bahunya, itu Bara.

“Pagi-pagi wajahmu udah asem banget, emang berapa tuh nilaimu?” Bara menyeringai, sedikit menggoda Arif, meski ia sudah tahu jelas nilainya.

“Nanya lagi kujitak kamu ye, mentang-mentang paling tinggi nilainya nggak usah songong deh,” cibir Arif sinis, helaan nafas lelah kembali keluar darinya. Cengiran Bara hanya semakin lebar saat mendengarnya.

“Isih apik kuwi, aku lo, mung seket” nada suara berbahasa jawa yang begitu medok itu jelas sekali pelakunya, Surya. Kepala kecilnya menyempil di antara

Arif dan Budi, berhasil membuat mereka terkejut.

Arif melirik kertas milik Surya, melihat angka 50 tertulis disana. Bara yang melihatnya hanya bisa gelenggeleng kepala.

“Lumayan kok itu, Sur, setidaknya ada peningkatan dikit.” Bara tertawa, diikuti dengan sinisan tajam lelaki kelahiran asli Jogja itu.

“Iya, Sur, coba lihat nilaiku, nggak ada peningkatan sama sekali!” Seru Arif, sembari menunjukkan kertasnya

dekat-dekat ke muka Surya. Ia segera mendorong lengan lelaki itu menjauh.

“Ngopo to, Rif? rasah ngono to, lagian bahasa inggris emang angel, nggak usah stress gitu, bro.” Surya berkata santai, bahkan sudah mengubah kertas ujiannya menjadi pesawat terbang lalu melemparnya entah kemana.

Arif mendengus kesal, kemudian kembali meratapi kertas ujiannya diatas mejanya. Bara dan Surya saling tukar pandang, pasti si Arif bakal ngoceh lagi.

“Kenapa sih kita mesti banget belajar bahasa asing sama bahasa daerah? Padahal di kehidupan sehari-hari aja nggak kepake sama sekali,” oceh Arif.

Bara menghela nafas, kemudian membalas, “Namanya juga bahasa nasional, Rif. Kamu pikir kamu kalo ketemu bule di jalan, kamu sapa apa kabar gitu, dia ngerti? Ya enggak lah.”

“Bener tu, Rif. Lagian kita sekolah di Jogja ya mau nggak mau pasti ada mapel bahasa jawa. Anggep aja salah satu metode melestarikan bahasa daerah yang udah mulai langka dipake sama banyak orang,” lanjut Surya.

Arif memunyungkan bibir, masih tidak bisa menerima fakta itu. “Nggak usah sok bijak gitu deh, lagian kita orang Indonesia aja nilai ujian bahasa indonesia

aja nggak pernah 100, terus gunanya mengasah kemampuan bahasa lain apaan?”

Bara dan Surya saling tatap lagi. Arif selalu begitu, ia lebih baik menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memecahkan soal matematika dibanding mengasah kemampuan berbahasanya. Untuk apa belajar banyak bahasa jika kita nantinya tetap akan tumbuh dan hidup di Indonesia? Bukannya itu sama saja membuat bahasa indonesia pupus? Pikir Arif.

“Rif, coba deh dipikir dul---”

“Students! Go back to your seat, we will start a new lesson!” Miss Fina sudah memasuki ruangan, Bara dan Surya segera kembali ke tempat duduk masingmasing, meninggalkan Arif dengan pikirannya sendiri.

Miss Fina sudah berdiri di depan papan tulis, hendak menuliskan materi baru. Sebelum akhirnya ia berbalik, dan melihat ke arah murid-murid nya.

“I almost forgetted something. Bara, Surya, and Arif. Go to the principal room, headmaster is calling the three of you.” Miss Fina berkata dengan lantang, membuat mata ketiga anak yang dipanggil segera melebar.

Tanpa basa-basi lagi, mereka segera mendorong kursi mereka dan segera cabut dari kelas. Bara dengan muka tegasnya kelihatan tenang, Surya yang kebingungan sedang komat-kamit dengan logat jawa khasnya. Terutama Arif, buat apa serpihan debu seperti dia dipanggil oleh Kepala Sekolah?

“Takut banget, perasaan aku nggak pernah ngebully orang deh, kok tiba-tiba dipanggil?” Arif bersungut cemas.

“Hush, nggak usah ngaco deh jadi orang. Bisa aja kita mau dikasih donat se truk kan?” Bara menggoda, Arif dan Surya geleng-geleng kepala.

“Rasah ngaco, Bar. Ketoke aku wes reti deh. Sesok ki ono acara Festival Budaya Internasional gitu to neng sekolah?” Surya dengan logat khas jawa nya pun membalas.

“Oh, yang nanti beberapa murid Internasional dari luar negeri itu dateng sama beberapa murid luar pulau ya? Emangnya hubungannya sama kita apaan coba? OSIS aja bukan” Arif keheranan.

“Udahlah, we don’t know until he said it to us.” Bara tanpa basa-basi segera membuka pintu ruang kepala sekolah setelah mereka sampai, tak lupa mengucap salam secara serentak.

Pak Haryanto mendongak, segera ia tersengum hangat dan memberi isyarat untuk duduk di sofa di depan kursinya.

“Ehh, cah lanang dah pada dateng, yuk duduk dulu. Itu air mineral botolnya juga boleh diminum kalau haus.” Pak Haryanto menyambut ramah, Bara, Surya dan Arif serentak berterimakasih dan duduk dengan tenang di atas sofa.

“Baik, saya langsung saja ke intinya, ya. Kalian sudah pada tahu kan besok di SMP Bina Bangsa diadakan International Culture Festival?” Pak Haryanto memulai, diikuti anggukan ketiganya.

“Tentu Pak, jika boleh tahu, apa kaitannya dengan kami ya, Pak?” Bara mengangkat tangan, diikuti kekehan kecil dari Pak Haryanto.

“Saya tahu kalian sangat berbakat dalam ilmu berbahasa. Bara dan Arif pernah menjuarai lomba debat dua bahasa, bukan? Surya juga sering sekali mewakili sekolah kita dalam lomba geguritan bahasa jawa. Jadi, saya simpulkan, seperti kalian bertiga yang paling cocok menjadi tour guide para tamu-tamu terhormat kita besok.”

Mulut Arif menganga, Bara dan Surya segera menepuk bahunya agar ia cepat menutup mulutnya. Pak Haryanto kembali melanjutkan perkataannya.

“Nanti, Bara akan menuntun rombongan dari luar pulau Jawa dengan berbahasa Indonesia. Surya, kau akan menuntun rombongan dari dalam pulau Jawa dengan kemampuan berbahasa jawa. Dan Arif, saya serahkan rombongan Internasional kepada kamu, ya?”

Arif menelan ludahnya gugup, ia bahkan bingung harus berkata apapun lagi. Debat bahasa itu lomba yang sudah lama sekali ia tekuni, ia bahkan sudah lupa seperti apa tatanan bahasa yang benar.

“T-tapi, Pak... saya takut saya tidak mampu...” Arif tergagap, yang dipanggil hanya tersenyum.

“Kamu bisa, nak. Lagipula, rombongan Internasional ini cukup cakap dalam berbahasa indonesia, Nak Arif tak perlu terlalu khawatir.” Pak Haryanto berdiri dan menepum satusatu pundak mereka bertiga, berharap banyak.

Tatapan Pak Haryanto berhasil membuat hati Arif luluh dan hanya bisa menggangguk. Bara dan Surya sedikit khawatir dengan kondisi teman sohib nya itu.

Arif menarik lemah pintu ruang kepala sekolah setelah diizinkan pergi, jelas sekali suasana hatinya kacau. Bara

dan Surya kembali bertatapan, mencari cara menghibur temannya.

“Rif, nggak usah galau kayak cewek gitu deh, alay tau nggak,” Bara merangkul bahu Arif, yang dirangkul mendengkus.

“Bar, kamu tahu kan lomba itu udah hampir 2 tahun lebih lalu. Kamu pikir aku masih inget betapa rumitnya grammar bahasa inggris? Enggak, Bar. Aku gak sejenius kamu,” Arif mulai jujur atas perasaannya, Surya yang disebelahnya berkacak pinggang.

“Rif, pelajaran tu bukan dihafal, tapi dipahami. Selama kamu paham apa yang kamu omongin dan menurutmu itu bener, kamu nggak perlu pake grammar yang sulit dihafal itu,” entah angin darimana, tapi kali ini perkataan Surya mulai menyalakan tekad Arif.

“Bener kata Surya, Rif. Murid-murid internasional itu pinter. Mau kamu salah grammar pun, mereka pasti tetep ngerti kok,” timpal Bara, berjalan beriringan dengan mereka berdua.

“Ojo dipikirke sek angel ndhisik, Rif. Siapa tahu kita nanti dapet cuan,” Surya menyikut Arif, dengan senyuman khasnya.

Arif hendak mengelak lagi, tapi sepertinya ini bukan tawaran yang terlalu buruk juga. Ia mencoba memikirkan sisi positifnya. Ia bisa mendapat teman baru, belajar bahasa asing dengan lebih baik lagi, dan bisa bersenang-senang dalam festival. Arif menghela nafas sekali lagi kemudian mengangguk dan tersenyum.

“Baiklah, tapi kalian bantu aku, ya!” Arif mengepalkan tangannya penuh

semangat, meski masih terbesit sedikit rasa khawatir di benaknya, namun melihat anggukan kedua temannya, ia yakin pasti ia bisa.

Esok hari pun tiba. Kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Lapangan SMP Bina Bangsa yang begitu luas telah berubah menjadi lautan manusia. Banyak sekali stand-stand karya murid-murid SMP Bina Bangsa yang menampilkan budaya-budaya khas dari masingmasing provinsi di Indonesia. Ada yang menampilkan makanan khas di suatu daerah, upacara keagamaan, dan lain sebagainya.

Ada panggung besar berhiaskan pinta dan balon warna-warni di utara lapangan, di depannya dipenuhi kursikursi untuk tamu dari luar sekolah juga tamu Internasional. Di atas panggung, tampillah anak-anak SMP Bina Bangsa dengan bakat menari, drama, bahkan public speaking yang begitu keren. Acara ini disambut meriah oleh semua tamu undangan.

Arif, Bara, dan Surya berada di sisi kanan panggung. Menunggu hingga sambutan dari Pak Haryanto selesai, yang menandakan tugas mereka bertiga dimulai untuk menuntun para tamu menuju stand-stand yang ingin mereka kunjungi.

“Yang bener aja, satu orang ngehandle 30an orang?” Arif berbisik gugup, sambil sesekali merapikan rambutnya dan setelah kemejanya.

Bara menoleh, “Iya, tapi seperti yang kubilang kemarin, Rif, mereka semua orang yang ramag dan pintar, mereka tidak akan susah-susah merepotkanmu.”

Surya merangkul sahabatnya yang gugup itu, sembari memamerkan serangkaian giginya.

“Raimu ojo tegang ngono to, Rif. Nikmatin aja, lagian tugas wajib kita cuman sejam, selebihnya nanti mereka keliling sendiri.” Arif menghela nafas panjang, kemudian mengangguk.

“Alright, maybe that’s all I can say as the Principal of Bina Bangsa Middle School for the opening ceremony of the Culture Festival this morning. Next, guests from each group will be guided by my three students who will accompany you from the beginning to the end in going around the festival. Let’s welcome Arif, Bara and Surya from class IX-C!”

Suara Pak Haryanto terngiang jelas melalui microphone nya. Tepuk tangan bergemuruh riah setelah nama mereka disebut. Segera setelah mereka memperkenalkan diri, para tamu dituntut berbaris rapi sesuai kategoru

masing-masing. Arif, Bara dan Surya segera memecah dan mengerjakan tugas mereka masing-masing.

Semua berjalan tidak seburuk yang

Arif kira. Arif bisa menjelaskan semua yang harus ia jelaskan dengan bahasa Inggris yang sederhana. Meski ia sedikit belibet saat menjelaskan, tampaknya tidak ada yang mempermasalahkannya. Bahkan, ada yang dengan akrab mengobrol dengan Arif dengam bahasa Indonesia.

Arif sadar, ternyata betapa pentingnya kemampuan berbahasa meski tidak sesering itu kita memakainya.

Ia bisa berkenalan dengan orang baru, mempelajari ilmu baru dari daerah lain, dan yang terpenting, ia jadi tak takut lagi mempelajari bahasa baru. 1 jam kemudian, Arif menyusul Bara dan Surya yang sedang beristirahat di sekitar panggung tempat mereka berkumpul sebelumnya. Arif membawa banyak sekali buah tangan pemberian para tamu yang ia pandu. Senyum sumringah terlukis di wajah cerianya.

“Bara, Surya! Kok kalian cepet banget? Aku aja baru selesai, nih” Arif menyapa, sembari ikut duduk di sebelah mereka berdua.

“Yeu, kamu aja yang lama. Seneng nih ye dapet hadiah dari orang,” goda Bara, sembari melihat bingkisan-bingkisan lucu di tangan Arif.

“Enak men kowe, Rif. Tahu gitu aku aja yang mandu tim Internasional,” Surya berbinar iri, sembari mengambil salah satu bingkisan dan menebak-nebak isinya.

“Hehe, sekarang aku sadat kalau kemampuan berbahasa itu penting, nggak cuma bahasa inggris, tapi daerah juga. Maafin aku ya aku ngeyel kemarin.” Arif menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bara dan Surya saling tatap, tak menyangka temannya yang begitu cerewet ini bisa sebijak itu.

“Akhirnya kamu sadar, Rif. Untung aja aku Pak Haryanto milih kamu ikut, nggak akan kamu jadi bijak kayak gini” celetuk Bara, diikuti kekehan canggung Arif.

“Iya deh iya, sebagai gantinya, ayo kita makan bakso bareng-bareng, aku deh yang traktir!” Arif berseru senang. Diikuti seruan bersemangat Bara dan Surya.

Endahing Basa

Dening: Miranti Manahayu Prasetyo (VIIC)

Basa iku warisan leluhur

Basa, bisa dadi kreteg kanggo ngraketake bangsa

Basa ing bumi iki padha lan endah disinaoni Jaman saiki, akeh wong kang ora bisa basa Jawa

Akeh sing taktemoni malah luwih bisa basa asing, tuladhane basa Inggris Sejatine, basa Jawa kuwi basane dhewe utawa basa ibu

Sing takpikir, kenapa malah padha ditinggalake?

Nanging ya sakjane, kabeh basa ing bumi iki endah lan apik disinaoni

Akeh banget wong kang seneng karo wong sing bisa basa Inggris, ananging ora bisa basa Jawa

Rasa atiku ngeres banget

Akeh sing padha seneng umuk, nalikane wis rumangsa bisa basa manca utawane basa ing njaban rangkah

Tetela ing mangsa saiki basa Jawa wis wiwit musna

Mangga, kita nguri-uri kabudayan Jawi Kawiwitan saking awakipun piyambak

Supados mboten ical

Eman sanget, menawi mboten dipunuri-uri...

Dealova Safa Azzahra (VIII A)

journalist_depsa smpn1depok.sch.id osisdepsa

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Buletin Depsa Edisi 5-Oktober 2024 by BuletinDepsa - Issuu