LAPORAN AKTUALISASI PELATIHAN DASAR CPNS GOLONGAN III ANGKATAN 2
OPTIMALISASI PENERAPAN EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA OLEH PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP REHABILITASI RUMAH SAKIT KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA
DISUSUN OLEH : Ns. RAFI TRIANI, S.Kep NIP. 198706172020122004
BAPELKES CIKARANG KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2021
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN AKTUALISASI OPTIMALISASI PENERAPAN EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA OLEH PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP REHABILITASI RUMAH SAKIT KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA
Telah diseminarkan Tanggal 09 Agustus 2021, di Bapelkes Cikarang
Coach
Mentor
Dr. drg. Siti Nur Anisah, MPH NIP. 196509141992032004
Okta Mustikallah, S.Kep., Ners NIP. 197510212005011010
Penguji
Aulia Fitriani, ST. MKM NIP.197508142006042001
ii
LEMBAR KOMITMEN MENERAPKAN NILAI ANEKA Nama
: Ns. Rafi Triani, S.Kep
Nomor Daftar Hadir
: 1 (Golongan 3, Angkatan 2)
Instansi
: RS Ketergantungan Obat Jakarta
Saya adalah Pegawai Negeri Sipil sebagai pelayan masyarakat, maka oleh karenanya dalam setiap pelaksanaan tugas, saya akan selalu : 1.
Melaksanakan tugas dengan sepenuh hati, jujur, tanggung jawab dan berintegritas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2.
Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerjasama, mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai.
3.
Meningkatkan kemampuan dalam berpikir kreatif dan inovatif demi kemajuan bangsa dan negara.
Jakarta, 31 Mei 2021 Calon Pegawai Negeri Sipil
Ns. Rafi Triani, S.Kep NIP. 198706172020122004
iii
KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum, Wr. Wb. Alhamdulillahi rabbil’alamin, Saya ucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat kepada kita semua. Shalawat dan Salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW sehingga kita semua dapat menjalani segala kebaikan yang bermanfaat ini. Pada kesempatan kali ini, saya sebagai peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Kementerian Kesehatan Tahun 2021 telah menyusun rancangan aktualisasi. Oleh karena itu, izinkan saya untuk mengucapkan terimakasih kepada : 1.
PLT Direktur Utama RS Ketergantungan Obat Jakarta yakni dr. R Soekoe W Nindito, MARS yang telah memberikan dukungan kepada saya untuk dapat mengikuti kegiatan pelatihan dasar CPNS Golongan III ini dengan sebaik-baiknya.
2.
Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Cikarang yakni Drs. Suherman, M.Kes.
3.
Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan sekaligus sebagai mentor yakni Bapak Okta Mustikallah, SKep., Ners, terima kasih telah memberikan dukungan, arahan dan bimbingan kepada saya dalam menyusun rancangan kegiatan aktualisasi ini dengan sebaik-baiknya.
4.
Ibu Dr. drg. Siti Nur Anisah, MPH sebagai Coach yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada saya dalam menyusun rancangan kegiatan aktualisasi ini dengan sebaik-baiknya.
5.
Bapak/ Ibu pengajar serta seluruh panitia yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas kebaikan Bapak/ Ibu semua.
6.
Seluruh teman-teman pelatihan dasar CPNS Golongan III Kementerian Kesehatan RI.
Semoga rancangan kegiatan aktualisasi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan. Wassalamu’alaikum, Wr.Wb. Cikarang, 17 Mei 2021 Penyusun,
Ns. Rafi Triani, S.Kep NIP. 198706172020122004
iv
DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................... ii LEMBAR KOMITMEN MENERAPKAN NILAI ANEKA .................................................. iii KATA PENGANTAR ............................................................................................... iv DAFTAR ISI .......................................................................................................... v DAFTAR BAGAN ................................................................................................... vi DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... viii DAFTAR TABEL .................................................................................................... ix DAFTAR DIAGRAM ................................................................................................. x BAB I PENDAHULUAN A.
LATAR BELAKANG .........................................................................................1
B.
TUJUAN ........................................................................................................4
C.
D.
1.
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) ....................................................4
2.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) ..................................................4
MANFAAT......................................................................................................4 1.
BAGI PENULIS .......................................................................................4
2.
BAGI INSTANSI KERJA ............................................................................5
3.
BAGI BAPELKES CIKARANG .....................................................................5
RUANG LINGKUP ...........................................................................................5
BAB II GAMBARAN ORGANISASI DAN PROFIL PESERTA A.
B.
PROFIL RS KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA ...............................................6 1.
SEJARAH RUMAH SAKIT ..........................................................................6
2.
VISI DAN MISI RUMAH SAKIT ..................................................................7
3.
FALSAFAH RUMAH SAKIT .........................................................................7
4.
MOTTO RUMAH SAKIT .............................................................................7
5.
STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT ....................................................8
6.
TUJUAN DAN FUNGSI ORGANISASI RUMAH SAKIT .................................. 10
7.
JENIS PELAYANAN RUMAH SAKIT ........................................................... 11
8.
PELAYANAN UNGGULAN RUMAH SAKIT................................................... 12
PROFIL PESERTA ......................................................................................... 13 1.
IDENTITAS DIRI ................................................................................... 13
2.
TUSI JABATAN ...................................................................................... 13
v
BAB III RANCANGAN AKTUALISASI A.
IDENTIFIKASI ISU ....................................................................................... 15
B.
ANALISIS ISU .............................................................................................. 19
C.
KONDISI YANG DIHARAPKAN ....................................................................... 21
D.
DAMPAK DARI ISU ....................................................................................... 21
E.
MATRIKS RANCANGAN AKTUALISASI ............................................................ 23
F.
RENCANA JADWAL AKTUALISASI .................................................................. 34
BAB IV PELAKSANAAN AKTUALISAI A.
PENJELASAN PELAKSANAAN AKTUALISASI .................................................... 35
B.
PENCAPAIAN PENYELESAIAN ISU ................................................................. 76
C.
MANFAAT PELAKSANAAN AKTUALISASI ......................................................... 76
D.
PERUBAHAN JADWAL KEGIATAN .................................................................. 78
E.
HAMBATAN DAN SOLUSI SELAMA PELAKSANAAN KEGIATAN AKTUALISASI ...... 82
F.
RANCANGAN TINDAK LANJUT HASIL AKTUALISASI ........................................ 83
BAB V PENUTUP A.
KESIMPULAN ............................................................................................... 84
B.
SARAN ........................................................................................................ 85
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
vi
DAFTAR BAGAN
Bagan 3.1
: Diagram Fishbone : Belum optimalnya penerapan edukasi kepada Keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta.
vii
DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1
: Struktur Organisasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
Gambar 4.1
: Pengajuan Izin Kepada Kepala Instalasi, Kepala Ruangan, Dan Ketua Tim
Gambar 4.2. : Diskusi Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi Gambar 4.3
: Pembuatan Lembar Survey NAPZA Tingkat Kebutuhan Edukasi Keluarga
Gambar 4.4
: Konsultasi Isi Lembar Kuesioner Dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim, Dan Mentor
Gambar 4.5
: Memberikan Lembar Kuesioner Kepada Keluarga Pasien
Gambar 4.6
: Mengumpulkan Data Hasil Survey Keluarga Tentang Edukasi
Gambar 4.7
: Diskusi Perubahan Rancangan Brosur/ Leaflet Menjadi Buku Saku
Gambar 4.8
: Penyusunan Draft Rancangan Buku Saku
Gambar 4.9
: Diskusi Draft Rancangan Buku Saku
Gambar 4.10 : Pembuatan Desain Buku Saku Edukasi Keluarga Gambar 4.11 : Konsultasi Desain Buku Saku Kepada Bagian Hukormas RS Gambar 4.12 : Konsultasi Desain Buku Saku Dengan Kepala Ruangan/ Ketua Tim Gambar 4.13 : Mencetak Buku Saku Edukasi Gambar 4.14 : Meminta Izin Kepada Kepala Instalasi Untuk Melakukan Sosialisasi Buku Saku Gambar 4.15 : Sosialisasi Penggunaan Buku Saku Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi Napza Ke Perawat RSKO Jakarta Gambar 4.16 : Sosialisasi Penggunaan Buku Saku Dalam Persiapan Edukasi Keluarga Ke Perawat Rehabilitasi Gambar 4.17 : Diskusi Penerapan Buku Saku Edukasi Yang Akan Diberikan Kepada Keluarga Pasien Gambar 4.18 : Membuat Satuan Acara Penyulusan (SAP) Edukasi Keluarga Gambar 4.19 : Membuat Kontrak Waktu Dengan Keluarga Pasien Tentang Kegiatan Sosialisasi Edukasi Gambar 4.20 : Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien Gambar 4.21 : Evaluasi Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien
viii
Gambar 4.22 : Evaluasi Perawat Dalam Pelaksanaan Edukasi Keluarga Dengan Buku Saku
ix
DAFTAR TABEL Table 3.1
: Penapisan Isu dengan Metode AKPL
Table 3.2
: Identifikasi Fakta dan Data Isu
Table 3.3
: Prioritas Penetapan Isu
Table 3.4
: Prioritas Masalah Isu
Table 3.5
: Rancangan Aktualisasi Optimalisasi Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien Tentang Rehabilitasi NAPZA Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
Tabel 3.6
: Time Table Rencana Pelaksanaan Aktualisasi
Tabel 4.1
: Penjelasan Pelaksanaan Aktualisasi
Table 4.2
: Pelaksanaan Aktualisasi Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
Table 4.3
: Perubahan Jadwal Kegiatan
Table 4.4
: Hambatan Dan Solusi Pelaksanaan Aktualisasi
Table 4.5
: Rancangan Tindak Lanjut Hasil Aktualisasi
x
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 4.1
: Survey Tingkat Kebutuhan Edukasi Keluarga
Diagram 4.2
: Pemahaman Perawat Dalam Pelaksanaan Edukasi Keluarga
xi
BAB I PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG Perkembangan era globalisasi yang semakin pesat
membuat semakin
besarnya tuntutan pengguna jasa layanan publik. Sehingga untuk mewujudkan Visi Negara Indonesia yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 membutuhkan peran serta Aparatur Sipil Negara (ASN) yang professional, berintegritas tinggi, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat, serta mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki peranan yang menentukan dalam mengelola kondisi tersebut. Dimana ASN itu sendiri merupakan profesi yang memiliki
kewajiban
mengelola
dan
mengembangkan
dirinya
dan
wajib
mempertanggungjawabkan kinerjanya dan menetapkan prinsip merit dalam pelaksanaan manajemen ASN. Sehingga untuk memainkan peranan tersebut, diperlukan sosok ASN yang professional, yaitu ASN yang mampu memenuhi standar kompetensi jabatannya sehingga mampu melaksanakan tugas jabatannya secara efektif dan efisien. Untuk dapat membentuk sosok ASN professional perlu dilaksanakan pembinaan melalui jalur pelatihan. Berdasarkan pada UndangUndang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) dan merujuk Pasal 63 ayat (3) dan ayat (4) UU ASN dan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PP Manajemen PNS), maka Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) wajib menjalani masa percobaaan yang dilaksanakan melalui proses Diklat terintegrasi (Pelatihan Prajabatan) untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangat, dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggungjawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang. Dalam sistem pembelajaran Pelatihan Dasar CPNS, setiap peserta pelatihan dituntut untuk mampu mengaktualisasikan substansi materi pembelajaran yang telah dipelajari melalui proses pembiasaan diri yang di fasilitasi dalam
1
pembelajaran agenda aktualisasi. Adapun kegiatan aktualisasi yang dilakukan oleh peserta diklat merupakan kegiatan inovasi dari satuan kerja masing-masing. Setiap satuan kerja tentu saja memiliki problema yang berbeda. Dalam hal ini, RS Ketergantungan Obat Jakarta khususnya di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi memiliki beberapa potensi atau masalah yang dapat diangkat menjadi sebuah isu dan kegiatan pemecahan masalah dalam kegiatan aktualisasi. Isu yang diangkat pada proposal rancangan aktualisasi ini adalah “Belum Optimalnya Penerapan Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi Napza Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta”. Pasien rehabilitasi merupakan pasien pemakai dan penyalahguna NAPZA (Narkotika Psikotropika dan Zat adiktif lainnya) yang sedang menjalani perawatan rehabilitasi. Diharapkan pasien rehabilitasi ini dapat kembali ke lingkungan masyarakat seperti layaknya setelah pulang dari rawat inap Rehabilitasi. Berhasil atau gagalnya sebuah upaya rehabilitasi terhadap pasien NAPZA ditentukan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang sangat menentukan adalah adanya orangorang yang akan terlibat dalam seluruh proses rehabilitasi itu sendiri. Dalam proses rehabilitasi kehadiran pihak lain itu diantaranya dengan melibatkan keluarga. Dukungan keluarga sangat berperan penting untuk mencapai kesembuhan pasien terhadap ketergantungannya dengan narkoba dalam proses rehabilitasi. Berdasarkan dari data demografi pasien rawat inap Rehabilitasi di RS Ketergantungan Obat Jakarta dalam tiga bulan terakhir, dapat dilihat pada bulan Februari 2021 jumlah pasien lama sebanyak 30 orang dan pasien baru sebanyak 5 orang, pada bulan Maret 2021 jumlah pasien lama sebanyak 21 orang dan pasien baru sebanyak 3 orang, dan pada bulan April 2021 jumlah pasien lama sebanyak 14 orang dan pasien baru sebanyak 7 orang. Berdasarkan dari data tersebut pada tiap bulannya dapat dilihat selalu ada pasien baru yang masuk untuk menjalani program rehabilitasi. Kemudian dilihat dari jumlah status pasien, pada bulan Februari 2021 jumlah pasien dengan kasus hukum sebanyak 17 orang dan pasien non hukum sebanyak 18 orang, pada bulan Maret 2021 jumlah pasien kasus hukum sebanyak 20 orang dan pasien non hukum sebanyak 4 orang, dan pada bulan April 2021 jumlah pasien kasus hukum sebanyak 14 orang dan pasien non hukum sebanyak 7 orang. Berdasarkan pada data tersebut rata-rata sebagian besar pasien merupakan pasien dengan kasus hukum, dimana pada kasus hukum ini pasien datang ke RS dibawa oleh petugas kepolisian dan tanpa didampingi oleh 2
keluarga. Kemudian dilihat dari jaminan rawat inap, dapat dilihat pada bulan Februari 2021 jumlah pasien keswa sebanyak 2 orang dan pasien bayar pribadi sebanyak 33 orang, pada bulan Maret 2021 jumlah pasien keswa sebanyak 3 orang dan pasien bayar pribadi sebanyak 21 orang, dan pada bulan April 2021 jumlah pasien keswa sebanyak 5 orang dan pasien bayar pribadi sebanyak 16 orang. Berdasarkan data tersebut masih ada pasien yang menggunakan jaminan keswa pada tiap bulannya. Selain itu juga tidak semua pasien berasal dari Jakarta saja, namun beberapa pasien juga banyak yang berasal dari luar daerah, sehingga ini menjadi kendala keluarga untuk menjenguk pasien ke RS selama menjalani perawatan program rehabilitasi, salah satu kendalanya adalah masalah biaya dan waktu. Perawat di RS Ketergantungan Obat Jakarta sangat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas perawatan dan keselamatan pasien, salah satunya dengan cara melakukan pemberian edukasi, dimana tidak hanya kepada pasien tetapi juga kepada keluarga pasien itu sendiri. Edukasi merupakan hal yang secara konsisten di fasilitasi rumah sakit khususnya pada area yang memiliki resiko tinggi bagi pasien. Hal ini dilakukan rumah sakit agar fungsi kesehatan kembali menjadi optimal. Dengan memberikan edukasi kepada keluarga akan membantu keluarga dalam memberikan dukungan kepada pasien yang sedang menjalani rehabilitasi. Namun tidak semua keluarga pasien dapat hadir dalam kunjungan visit keluarga. Sehingga edukasi tidak dapat secara optimal diberikan karena kurangnya interaksi langsung
dengan
keluarga
pasien.
Adapun
edukasi
diberikan
dengan
menggunakan beberapa media leaflet yang ada, seperti leaflet “Tips Tidak Terjerumus Narkoba”, leaflet “Info HIV Aids”, dan beberapa buku panduan yang ada. Namun media yang digunakan tersebut kurang memberikan informasi yang mendetail, sehingga kurang tersampaikannya informasi edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga. Oleh karena itu dibutuhkan media edukasi yang memiliki informasiinformasi yang lebih lengkap dan mudah digunakan perawat saat memberikan edukasi agar edukasi yang diberikan kepada keluarga pasien lebih terarah. Berdasarkan hal tersebut diatas, RS Ketergantungan Obat Jakarta khususnya di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi belum menerapkan secara optimal Edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA, sehingga diperlukannya peran Perawat yang dalam hal ini merupakan ASN untuk dapat memberikan intervensi
3
keperawatan keluarga yang tepat dengan beberapa inovasi kegiatan sebagai alternative pemecahan masalah.
B.
TUJUAN 1. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, peserta CPNS diharapkan mampu menjelaskan konsepsi aktualisasi, penjelasan aktualisasi, penyusunan dan penyajian rancangan aktualisasi dan rencana pelaksanaan aktualisasi di RS Ketergantungan Obat Jakarta sesuai dengan nilai-nilai dasar profesi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mencakup ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi).
2. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini, diharapkan peserta mampu : a.
Mampu mengidentifikasi dan menganalisis keberadaan potensi masalah atau isu yang terdapat di unit kerja masing-masing yang berdasarkan pada fakta dan data yang aktual.
b.
Mampu merancang rencana kegiatan atau alternatif pemecahan masalah yang telah ditentukan dan menyusun jadwal kegiatan selama kegiatan aktualisasi.
c.
Mampu menerapkan nilai-nilai dasar profesi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mencakup ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi) didalam kegiatan aktualisasi berdasarkan pada tugas pokok dan fungsi Perawat Ahli Pertama.
C.
MANFAAT 1. BAGI PENULIS Berikut ini beberapa manfaat perancangan kegiatan aktualisasi bagi penulis, yaitu : a.
Dapat melakukan internalisasi nilai-nilai dasar ASN dan kedudukan serta peran ASN dalam NKRI.
b.
Dapat mengokohkan kepribadian ASN sehingga mendorong ASN untuk bekerja
secara
professional,
berintegritas, dan kreatif. 4
disiplin,
berkomitmen,
beretika,
c.
Internalisasi nilai-nilai dasar ASN dalam suasana kerja akan mendorong capaian kinerja yang lebih baik.
2. BAGI INSTANSI KERJA Terwujudnya iklim kerja yang kondusif dalam melayani kebutuhan publik yang dalam hal ini merupakan pemberi jasa layanan kesehatan serta meningkatkan akuntabilitas lembaga kinerja individu yang memungkinkan organisasi untuk dapat mencapai visi dan mewujudkan citra lembaga yang baik.
3. BAGI BAPELKES CIKARANG Dengan tersusunnya rancangan aktualisasi ini diharapkan dapat menambah kepustakaan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Cikarang, khususnya sebagai bukti terselenggaranya pelatihan dasar CPNS Kementerian Kesehatan sesuai dengan capaian kegiatan pembelajaran.
D.
RUANG LINGKUP Pendidikan
dan
pelatihan
dasar
CPNS
Golongan
III
Angkatan
2
diselenggarakan selama 76 hari kerja sejak tanggal 29 Maret 2021 sampai dengan 11 Agustus 2021. Kegiatan Latsar ini dilakukan secara daring di Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES), yang terdiri atas beberapa tahap yaitu : 1.
Tanggal 29 Maret 2021 – 20 April 2021 : Pelaksanaan Massive Open Online
Course (MOOC) 2.
Tanggal 28 April 2021 – 2 Juni 2021 : Pelaksanaan Distance Learning
3.
Tanggal 3 Juni 2021 – 7 Juli 2021 : Pelaksanaan Aktualisasi
4.
Tanggal 28 Juli 2021 – 11 Agustus 2021 : Pelaksanaan Klasikal Ruang lingkup aktualisasi oleh Penulis mencakup tugas pokok sesuai sasaran
kinerja pegawai (SKP), penugasan pimpinan, dan kegiatan inovasi untuk memecahkan isu yang ada pada unit kerja. Pada setiap kegiatan akan dipaparkan tahapan kegiatan dan hasil yang diharapkan. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta. Kegiatan dilakukan dengan menerapkan nilai-nilai dasar ASN ANEKA.
5
BAB II GAMBARAN ORGANISASI DAN PROFIL PESERTA
A.
PROFIL RS KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA 1.
SEJARAH RUMAH SAKIT Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta digagas pendiriannya oleh Bapak H. Ali Sadikin (alm) mantan Gubernur DKI Jakarta, dr. Herman Susilo (mantan Ka. Dinkes DKI Jakarta), Prof. dr. Kusumanto Setyonegoro (mantan Ka. Ditkeswa Depkes) dan bagian Psikiatri Universitas Indonesia, maka pada tanggal 6 November 1971 terbentuklah Drug Dependence Unit (DDU) sebagai unit dari RS Fatmawati dan diresmikan pada 12 April 1972 oleh Bapak Ali Sadikin. Pejabat pertama yang memimpin adalah Letkol (CKM) (Alm) dr. Erwin Widjono, SpKJ. Pada tahun 1974 Drug Dependence Unit (DDU) berubah menjadi Lembaga Ketergantungan Obat (LKO) dengan tujuan utama usaha penanganan NAPZA yang bersifat komprehensif dan jangka panjang meliputi bidang preventif, kuratif dan rehabilitative. Pada tahun 1978, status LKO ditingkatkan menjadi Rumah Sakit tipe C dengan nama Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dibawah Depkes RI dengan keputusan Menkes RI No. 138/Menkes/SK/IV/1978. RS Ketergantungan Obat mendapat status terakreditasi tahap pertama melalui SK Dirjen Yanmedik Depkes RI Nomor : YM.00.03.2.2.1951 tanggal 23 Mei 2000 yang meliputi bidang layanan yaitu Administrasi Manajemen, Pelayanan Medik, Gawat Darurat dan Keperawatan. Perubahan kelembagaan dari tipe C menjadi tipe B Non Pendidikan diperoleh pada tanggal 14 Juni 2002 melalui SK Menkes RI No. 732/Menkes/SK/VI/2002. Berkat hubungan yang erat antara Direktur RS Ketergantungan Obat Jakarta saat itu dr. Sudirman dengan Wakil Gubernur DKI Bapak. H. MOesno diperoleh izin prinsip pengolahan tanah seluas 15.000 m2 berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 11 November 1999. Selanjutnya terhitung mulai tanggal 1 Februari 2007, RS Ketergantungan Obat Jakarta menempati lokasi di Jalan Lapangan Tembak No. 75 Cibubur Jakarta Timur.
6
2.
VISI DAN MISI RUMAH SAKIT a.
Visi Visi Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta (RSKO Jakarta) adalah : “Menjadi
Pusat
Rujukan
Nasional
Dalam
Bidang
Ketergantungan Obat dan Adiksi Lainnya Tahun 2024 Dalam Rangka Mendukung Pembangunan Sumber Daya Manusia” Berdasarkan visi maka RSKO Jakarta ke depannya diharapkan menjadi pusat rujukan pelayanan dan informasi NAPZA dimana ketika masyarakat berbicara narkoba dan zat adiktif mereka mengenal Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta dan kemudian berinteraksi dalam kegiatan mendapatkan informasi, pelayanan penyembuhan dan rehabilitasi bidang gangguan yang berhubungan dengan zat (GBZ). b. Misi Untuk mewujudkan Visi Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta maka diperlukan Misi sebagai berikut : 1.
Menyelenggarakan
Upaya
Preventif,
Promotif,
Kuratif
dan
Rehabilitatif dalam Bidang ketergantungan obat dan adiksi lainnya serta penyakit terkait secara komprehensif berbasis mutu dan keselamatan pasien. 2.
Menyelenggarakan pendididkan, pelatihan dan sertifikasi dalam bidang ketergantungan obat dan adiksi lainnya.
3.
Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan dalam bidang ketergantungan obat dan adiksi lainnya.
3.
FALSAFAH RUMAH SAKIT Profesionalisme Modal Utama Layanan Kami.
4.
MOTTO RUMAH SAKIT R
S
K
O
(RAMAH, SIGAP, KASIH DAN OPTIMIS) a.
Ramah, yakni selalu memberikan senyum, salam dan sapa setiap memberikan pelayanan maupun sesama karyawan.
7
b.
Sigap, yakni selalu berusaha cepat, tepat, dan cekatan dalam melakukan pekerjaan maupun pelayanan sesuai dengan sistem dan prosedur yang berlaku.
c.
Kasih, yakni selalu memberikan kepedulian dan tanggap serta saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain.
d.
Optimis, yakni senantiasa memberikan harapan kepada pasien dan keluarganya agar pasien mencapai proses pemulihan yang optimal dari masalah penyalahgunaan NAPZA.
5.
STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT Organisasi Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta ditetapkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 49 tahun 2020 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta. Berikut adalah struktur organisasi dan tata kerja RS Ketergantungan Obat Jakarta: Gambar 2.1 Struktur Organisasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
Sesuai dengan surat dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan tanggal 29 September 2020 nomor OT.01.01/I/3670/2020 tentang Penataan Organisasi Non Struktural di RS Ketergantungan Obat Jakarta, dalam pelaksanaan tugas operasional, Direktur Utama dan para Direktur dibantu
8
oleh Pejabat Pengawas, Satuan Pemeriksaan Intern (SPI), Komite Medik, Komite Keperawatan, Komite Etik dan Hukum, Komite PPI, Komite Tenaga Kesehatan Lain, Komite Mutu dan Keselamatan Pasien serta seluruh jajaran struktural dan fungsional terkait. Struktur pengorganisasian Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta sebagai berikut: 1.
Direktorat Pelayanan Medik, Keperawatan dan Penunjang : 1.1.
Koordinator Pelayanan Medik dan Keperawatan 1.1.1. Sub Koordinator Pelayanan Medik 1.1.2. Sub Koordinator Pelayanan Keperawatan
1.2.
Koordinator Pelayanan Penunjang 1.2.1. Sub Koordinator Pelayanan Penunjang Medik 1.2.2. Sub Koordinator Pelayanan Penunjang Nonmedik
1.3. Instalasi Rawat Jalan 1.4. Instalasi Rawat Inap Komplikasi 1.5. Instalasi Rehabilitasi Napza 1.6. Instalasi MCU 1.7. Instalasi Gizi 1.8. Instalasi Farmasi 1.9. Instalasi Rekam Medik 1.10. Instalasi Radiologi 1.11. Instalasi Gawat Darurat 1.12. Instalasi Laboratorium 2.
Direktorat SDM, Keuangan dan Umum : 2.1. Koordinator SDM, Pendidikan dan Penelitian 2.1.1. Sub Koordinator Administrasi SDM 2.1.2. Sub Koordinator Pengembangan SDM, Pendidikan dan Penelitian 2.2.
Koordinator Perencanaan dan Evaluasi 2.2.1. Sub Koordinator Perencana Program 2.2.2. Sub Koordinator Evaluasi dan Pelaporan
2.3. Koordinator Keuangan dan BMN 2.3.1. Sub Koordinator Akuntansi dan BMN
9
2.3.2. Sub
Koordinator
Perbendaharaan
dan
Pelaksanaan
Anggaran 2.3.3. Sub Koordinator Penyusunan dan Evaluasi Anggaran 2.4. Koordinator Organisasi dan Umum 2.4.1. Sub Koordinator Hukum, Organisasi dan Humas 2.4.2. Sub Koordinator Umum 2.5. Instalasi Sterilisasi Sentral dan Binatu 2.6. Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS) 2.7. Instalasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) 2.8. Instalasi PKRS dan Pemasaran RS 2.9. Instalasi Verifikasi dan Penjaminan Pasien
6.
TUGAS DAN FUNGSI ORGANISASI a.
Tugas Organisasi Rumah Sakit RS Ketergantungan Obat Jakarta mempunyai tugas menyelenggarakan pelayanan Kesehatan perorangan secara paripurna dengan kekhususan pelayanan kesehatan di bidang ketergantungan obat.
b.
Fungsi Organisasi Rumah Sakit 1)
Penyusunan rencana program dan anggaran.
2)
Pengelolaan pelayanan medis dengann kekhususan pelayanaan Kesehatan di1bidang ketergantungan obat.
3)
Pengelolaan pelayanan penunjang medis.
4)
Pengelolaan pelayanan penunjang nonmedis.
5)
Pengelolaan pelayanan keperawatan.
6)
Pengelolaan pendidikan dan pelatihan dengan kekhususan di bidang ketergantungan obat.
7)
Pengelolaan penelitian, pengembangan, dan penapisan teknologi dengan kekhususan di bidang ketergantungan obat.
8)
Pengelolaan keuangan dan barang milik negara.
9)
Pengelolaan sumber daya manusia.
10) Pelaksanaan urusan hukum, organisasi, dan hubungan masyarakat. 11) Pelaksanaan kerja sama. 12) Pengelolaan sistem informasi. 13) Pelaksanaan urusan umum. 10
14) Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan.
7.
JENIS PELAYANAN RUMAH SAKIT RSKO Jakarta mempunyai pelayanan unggulan yaitu Klinik Dual Diagnosis (Napza dan Gangguang Jiwa) dimana klinik ini dilayani oleh psikiater untuk penderita dengan diagnosis ganda atau multiple yaitu pasien ketergantungan napza dan juga gangguan psikiatrik lain secara independen. Pelayanan napza di RSKO diberikan secara komprehensif yaitu penerimaan awal (initial intake), detoksifikasi, rehabilitasi pelayanan untuk komplikasi medik, dual diagnosis dan terapi rumatan metadon dan buprenorfin yang merupakan ciri khas terapi cafeteria guna menjawab kebutuhan penerima layanan. Hal ini dimaksudkan untuk menyelaraskan kebutuhan pasien, keluarga, dan masyarakat. RSKO Jakarta juga memiliki layanan unggulan yaitu sebagai laboratorium skrining dan konfirmasi Napza. Disamping itu, RSKO sebagai pengampu layanan program rumatan metadon/suboxon. Peningkatan SDM menjadi prioritas utama yang dilakukan RSKO Jakarta untuk menghasilkan pelayanan yang bermutu dan berkualitas. Hal ini dapat dilihat dari upaya profesionalisme para pimpinan, dokter, perawat seluruh staf dan karyawan lainnya. Program-program peningkatan berupa training dalam dan luar negeri, pendidikan formal, langsung melakukan studi banding ke lembaga-lembaga kesehatan yang kredibel, dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Di bawah ini adalah jenis layanan yang tersedia di RSKO Jakarta: a.
Rawat Jalan 1.
Klinik NAPZA
2.
Klinik Gigi
3.
Klinik Psikologi
4.
Klinik Spesialis : a)
Penyakit Dalam
b) Kesehatan Jiwa c)
Syaraf
d) Paru e)
Anak
11
a.
5.
Klinik Rehabilitasi Medik/Fisioterapi
6.
Klinik Geriatri
7.
MCU (Medical Check Up)
Layanan 24 Jam 1. Unit Gawat Darurat 2. Laboratorium 3. Radiologi 4. Instalasi Farmasi
b.
Rawat Inap 1. Rehabilitasi NAPZA 2. Detox (MPE) 3. Komplikasi dan HCU, sementara di masa pandemic saat ini menjadi ruang perawatan bagi pasien terinfeksi Covid-19 dengan gejala ringan sampai sedang.
8.
c.
Pemulasaran Jenazah
d.
Pendidikan dan Penelitian
PELAYANAN UNGGULAN RUMAH SAKIT Berikut dibawah ini merupakan beberapa Pelayanan Unggulan RS Ketergantungan Obat Jakarta, yaitu : a.
Pelayanan NAPZA komprehensif : penerimaan awal (intial intake), detoksifikasi, rehabilitasi pelayanan untuk komplikasi medik, dual diagnosis dan terapi rumatan metadon dan bufrenorfin yang merupakan ciri khas terapi cafeteria guna menjawab kebutuhan penerima layanan. Hal diatas dimaksud untuk menyelaraskan kebutuhan pasien, keluarga, dan masyarakat.
b.
Sebagai pengampu layanan program rumatan metadon/suboxone.
c.
Pemberi pelatihan dan pendidikan dari berbagai profesi di bidang pelayanan ketergantungan NAPZA (pelayanan akibat gangguan yang berhubungan dengan zat).
d.
Menjadi bagian dari jejaring dunia melalui kolaborasi badan dunia (WHO, UNODS, UNAIDS) menyusun pedoman terapi dan pelatihan serta modulnya untuk kepentingan internasional, regional dan nasional.
12
Menjadi narasumber bagi pelatihan, pelayanan, dan penyusunan
e.
perencanaan terapi ketergantungan NAPZA dan HIV/AIDS. Menjadi bagian jejaring pelayanan kesehatan HIV/AIDS dalam promosi,
f.
prevensi, terapi, dan penelitian. Pesatnya kemajuan teknologi informasi turut memacu tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik secara terus menerus. Tidak bisa tidak, dunia kesehatan khususnya di bidang perumahsakitan perlu untuk terus menerus melakukan upaya dalam memperbaiki mutu pelayanan kesehatan mereka, baik di bidang sumber daya manusia, fasilitas dan peralatan kedokteran, teknologi informasi dan sebagainya.
B.
PROFIL PESERTA 1. IDENTITAS DIRI Nama
: Ns. Rafi Triani, S.Kep
NIP
: 198706172020122004
Jabatan
: Perawat Ahli
Pangkat/ Gol
: Penata Muda/ IIIA
Asal Instansi
: RS Ketergantungan Obat Jakarta
Pendidikan
: S1 Ners
Fakultas
: Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Universitas Sriwijaya
2. TUSI JABATAN a.
Melakukan pengkajian keperawatan lanjutan pada individu, keluarga.
b.
Merumuskan diagnose keperawatan pada individu.
c.
Melakukan case finding/ deteksi dini/ penemuan kasus baru pada individu.
d.
Melakukan support kepatuhan terhadap intervensi kesehatan pada individu.
e.
Melakukan pendidikan kesehatan pada individu, keluarga, kelompok, masyarakat.
f.
Melakukan tatakelola keperawatan perlindungan terhadap pasien dengan resiko trauma/ injuri.
g.
Melakukan komunikasi terapeutik dalam pemberian asuhan keperawatan.
h.
Memfasilitasi suasana lingkungan yang tenang dan aman. 13
i.
Melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada individu.
j.
Melakukan dokumentasi asuhan keperawatan.
14
BAB III RANCANGAN AKTUALISASI A.
IDENTIFIKASI ISU Instalasi rawat inap rehabilitasi merupakan ruang perawatan bagi para pecandu NAPZA di RS Ketergantungan Obat Jakarta, yang didalamnya masih terdapat beberapa kekurangan dalam hal standard perawatan pasien dengan gangguan kejiwaan, baik bersifat gangguan jiwa murni maupun karena akibat penyalahgunaan NAPZA. Untuk itu didapatkan beberapa isu yang perlu dilakukan pemecahan masalah. Dalam penetapan isu yang berkualitas dan actual sebaiknya dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat bantu penetapan kriteria isu yakni dengan metode AKPL (Aktual, Kekhalayakan, Problematik, dan Kelayakan). Berikut dibawah ini merupakan hasil penetapan isu dengan metode AKPL, yaitu : Table 3.1 Penapisan Isu dengan Metode AKPL NO
1.
ISU
Belum optimalnya
KRITERIA ISU
TERPILIH/TIDAK
A
K
P
L
+
+
+
+
+
+
-
+
+
+
+
-
-
+
+
penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta 2.
Kurang efektifnya pelaksanaan pengendalian manajemen stress pada pasien akibat regulasi larangan merokok di ruang rawat inap Rehabilitasi RSKO Jakarta
3.
Kurang efektifnya penerapan personal
15
hygine pada pasien special program di rawat inap Rehabilitasi RSKO Jakarta
Setelah dilakukannya penetapan isu yang berkualitas berdasarkan pada pengukuran AKPL diatas, maka diperoleh 3 isu yang selanjutnya akan di identifikasi berdasarkan data dan fakta yang ada di unit tersebut. Berikut dibawah ini merupakan hasil pengkajian identifikasi isu di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta, yaitu : Table 3.2 Identifikasi Fakta dan Data Isu NO. 1.
DATA
ISU
Hasil Observasi : a.
Belum
optimalnya
Pada saat family dialog, perawat hanya penerapan
edukasi
mendampingi dokter dalam menjelaskan keluarga oleh perawat keadaan pasien. b.
di ruang rawat inap
Terbatasnya jumlah jam kunjung keluarga, Rehabilitasi
RS
terutama disaat pandemic Covid-19, yaitu Ketergantungan
Obat
2 kali dalam sebulan dan hanya di batasi 1 Jakarta jam tiap jam kunjung. c.
Masih kurang tersedianya media informasi tentang edukasi keluarga.
d.
Belum tetapnya jadwal khusus untuk edukasi keluarga.
e.
Terbatasnya waktu dan biaya dari keluarga pasien yang berada di luar kota.
Hasil Wawancara : Perawat mengatakan bahwa adanya kesulitan mengatur waktu untuk memberikan edukasi kepada
keluarga
karena
terbatasnya
jam
kunjung. 2.
Hasil observasi : a.
Kurang
Ditemukannya penyelundupan rokok disaat pelaksanaan jam kunjung keluarga
pengendalian
16
efektifnya
Ditemukannya kasus perkelahian beberapa manajemen stress pada pasien karena memperebutkan rokok yang pasien akibat regulasi didapat dari penyelundupan tersebut.
ruang
Hasil Wawancara : a.
larangan
merokok rawat
Pasien mengatakan mengeluh semakin Rehabilitasi
di
inap RSKO
bosan dan jenuh karena adanya larangan Jakarta merokok. b.
Perawat mengatakan masih belum adanya program yang efektif sebagai pengganti dari rokok karena terbatasnya fasilitas.
3.
Kurang efektifnya
Hasil Observasi : a.
Terdapat 1 pasien dari special program penerapan personal yang tampak penampilannya lusuh dan hygine pada pasien special program di
berantakan. b.
Tampak perawat masih kurang dalam rawat inap Rehabilitasi memberikan edukasi mengenai personal RSKO Jakarta hygine.
c.
Belum efektifnya SOP Personal Hygine.
Hasil Wawancara : Perawat mengatakan bahwa sudah mengetahui edukasi
Personal
Hygine,
namun
menerapkan dengan optimal.
17
belum
Setelah dilakukannya identifikasi isu yang berdasarkan pada data dan fakta, maka isu tersebut harus diprioritaskan kembali. Dalam memprioritaskan isu ini akan digunakan metode USG (Urgency, Seriousness & Growth). Berikut dibawah ini merupakan hasil identifikasi isu menggunakan metode USG yaitu : Table 3.3 Prioritas Penetapan Isu NO.
ISU KONTEMPORER
U
S
G
TOTAL
1.
Belum optimalnya penerapan edukasi
5
5
5
15
4
4
4
12
4
4
3
11
kepada
keluarga
pasien
tentang
rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat
inap
Rehabilitasi
RS
Ketergantungan Obat Jakarta 2.
Kurang
efektifnya
pengendalian
pelaksanaan
manajemen stress pada
pasien akibat regulasi larangan merokok di ruang rawat inap Rehabilitasi RSKO Jakarta 3.
Kurang efektifnya penerapan
personal
hygine pada pasien special program di rawat inap Rehabilitasi RSKO Jakarta
Keterangan : 1.
U (Urgency)
: Seberapa besar mendesak suatu isu harus dibahas,
dianalisis dan ditindaklanjuti. 2.
S (Seriousness)
: Seberapa serius suatu isu harus dibahas, dianalisis dan
ditindaklanjuti. 3.
G (Growth)
: Seberapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut
jika tidak ditangani segera. Rentang Nilai : 1.
Tidak sangat penting
: Skor 1
2.
Kurang penting
: Skor 2
3.
Cukup penting
: Skor 3
4.
Penting
: Skor 4
5.
Sangat penting
: Skor 5
18
Berdasarkan hasil identifikasi isu menggunakan metode USG didapatkan prioritas isu yaitu “Belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta”.
B.
ANALISIS ISU Setelah melakukan identifikasi terhadap prioritas isu yang akan diselesaikan, maka digunakan diagram fishbone atau diagram tulang ikan. Diagram fishbone ini digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab masalah karena menekankan pada hubungan sebab akibat. Berikut dibawah ini merupakan analisis prioritas masalah dengan diagram fishbone, yaitu : Bagan 3.1 Diagram Fishbone : Belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
Perawat hanya berorientasi pada terapis medis
Kurangnya motivasi perawat dalam penerapan edukasi keluarga Minimnya komunikasi perawat dengan keluarga
Intervensi keperawatan keluarga belum terstandar
Perawat ruangan belum rutin menerapkan edukasi keluarga Keterbatasan waktu dan biaya pada keluarga yang tinggal di luar kota
Masih kurang tersedianya media informasi tentang edukasi keluarga Belum efektifnya jadwal kegiatan case disscuse/ conffrence di ruangan
Masih belum tetapnya jadwal khusus edukasi untuk keluarga
Belum optimalnya edukasi rehabilitasi NAPZA keluarga pasien oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantu ngan Obat Jakarta
Berdasarakan pada diagram fishbone diatas, disimpulkan beberapa penyebab masalah isu diantaranya, adalah : 1.
Minimnya komunikasi perawat dengan keluarga
2.
Kurangnya motivasi perawat dalam menerapkan edukasi keluarga
3.
Intervensi keperawatan keluarga masih belum terstandar
4.
Perawat hanya berorientasi pada terapis medis 19
5.
Masih kurang tersedianya media informatif tentang edukasi keluarga
6.
Masih belum tetapnya jadwal khusus edukasi untuk keluarga
7.
Belum efektifnya jadwal kegiatan case disscuse/ confrence di ruangan
8.
Perawat ruangan belum rutin menerapkan edukasi keluarga
9.
Keterbatasan waktu dan biaya pada keluarga yang tinggal di luar kota Selanjutnya untuk memperoleh prioritas masalah guna menetapkan
gagasan-gagasan inovatif dalam penyelesaian masalah, perlu dilakukannya pengukuran dengan metode USG yakni sebagai berikut : Table 3.4 Prioritas Masalah Isu NO. 1.
ISU Minimnya komunikasi perawat dengan
U
S
G
TOTAL
3
3
3
9
5
5
4
14
3
4
3
10
3
3
3
9
5
4
4
13
4
3
3
10
3
3
2
8
4
4
3
11
3
3
3
9
keluarga 2.
Kurangnya motivasi perawat dalam penerapan edukasi keluarga
3.
Intervensi keperawatan keluarga masih belum terstandar
4.
Perawat hanya berorientasi pada terapis medis
5.
Masih kurang tersedianya media informatif tentang edukasi keluarga
6.
Masih belum tetapnya jadwal khusus edukasi untuk keluarga
7.
Belum efektifnya jadwal kegiatan case disscuse/ confrence diruangan
8.
Perawat ruangan belum rutin menerapkan edukasi keluarga
9.
Keterbatasan waktu dan biaya pada keluarga yang tinggal di luar kota
Dari hasil USG di atas, diperoleh beberapa prioritas masalah yang kemudian akan memunculkan beberapa gagasan-gagasan inovatif sebagai kegiatan pemecahan masalah, yaitu : 1.
Kurangnya motivasi perawat dalam menerapkan edukasi keluarga
20
•
Melakukan koordinasi dengan kepala ruangan mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA.
•
Menentukan kebutuhan edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga di ruang rehabilitasi.
2.
Belum tersedianya media informasi tentang edukasi keluarga •
Penyampaian
gagasan
rancangan
brosur/leaflet
tentang
edukasi
rehabilitasi NAPZA kepada kepala ruangan dan ketua tim serta perawat pelaksana ruang rehabilitasi. • 3.
Pengadaan brosur/ leaflet di ruang rehabilitasi.
Perawat ruangan belum rutin menerapkan edukasi keluarga •
Sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi.
•
Evaluasi penggunaan brosur/leaflet edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA langsung dengan keluarga pasien.
C.
KONDISI YANG DIHARAPKAN Dari penyebab masalah dari isu yang ada diharapkan ditemukan gagasangagasan isu yang inovatif dan kreatif agar isu tersebut dapat teratasi. Kondisi yang diharapkan dari ruang Instalasi Rehabilitasi RSKO adalah : 1.
Instalasi Rehabilitasi dapat mencapai tujuan pelayanan yang optimal.
2.
Edukasi keluarga dapat dijalankan dengan efektif.
3.
Perawat dapat meningkatkan potensinya dalam memberikan pelayanan, tidak hanya pelayanan kepada pasien tetapi juga kepada keluarga pasien tersebut.
4.
Kurangnya kecemasan dari pihak keluarga mengenai program rehabilitasi yang dijalankan oleh pasien.
5.
Keluarga memperoleh pengetahuan dan informasi yang luas mengenai keadaan pasien.
D.
DAMPAK DARI ISU Apabila isu tersebut tidak diatasi dengan baik maka akan timbul beberapa dampak diantaranya : 1.
Kurang responsifnya perawat dalam memberikan pelayanan terutama kepada keluarga pasien
21
2.
Kurangnya informasi yang didapatkan keluarga pasien mengenai keadaan pasien yang sedang menjalankan program rehabilitasi.
3.
Adanya kemungkinan relaps pada pasien setelah menjalanin rehabilitasi, karena kurangnya pengetahuan keluarga mengenai tanda dan gejala kekambuhan pasien, serta faktor pemicu lainnya.
22
E.
MATRIKS RANCANGAN AKTUALISASI Unit kerja
: RS Ketergantungan Obat Jakarta
Identifikasi isu 1.
:
Belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
2.
Kurang efektifnya pelaksanaan pengendalian manajemen stress di ruangan rawat inap Reahabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
3.
Kurang efektifnya penerapan personal hygine pada pasien special program di ruangan rawat inap Reahabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
Isu yang Diangkat
:
“Belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta” Gagasan Pemecahan Isu
:
1.
Melakukan koordinasi dengan kepala ruangan mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA.
2.
Menentukan kebutuhan edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga di ruang rehabilitasi.
3.
Penyampaian gagasan rancangan brosur/leaflet tentang edukasi rehabilitasi NAPZA dengan kepala ruangan dan ketua tim serta perawat pelaksana ruang rehabilitasi.
4.
Pengadaan brosur/ leaflet di ruang rehabilitasi.
5.
Sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi.
6.
Evaluasi penggunaan brosur/leaflet edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA langsung dengan keluarga pasien.
23
Table 3.5 Rancangan Aktualisasi Belum Optimalnya Penerapan Edukasi Keluarga Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
NO.
KEGIATAN
TAHAPAN KEGIATAN
OUTPUT/ HASIL
KETERKAITAN
KONTRIBUSI
PENGUATAN NILAI
SUBSTANSI
TERHADAP VISI
ORGANISASI
MISI ORGANISASI 1.
Melakukan
1.1 Mengajukan
izin
koordinasi dengan
kepada
Kepala
Ruangan dan Ketua
Ruangan
Tim
Ketua Tim
dan
Ruangan
Ketua
Tim
Kepala
untuk
dengan Sesuai
1.1 Diperolehnya izin Keterkaitan dari
Kepala nilai-nilai ANEKA, yaitu:
RSKO
dengan
pelayanan Pemberian informasi
Kepala Ruangan dan Ketua khususnya
dalam kepada
mengenai
membahas
Tim untuk menyampaikam bidang NAPZA. Selain terkait
pentingnya
mengenai
gagasan
Edukasi
pentingnya
rehabilitasi NAPZA
kepada
keluarga
kepada keluarga.
pasien
tentang
mengenai
pendapat
keluarga
pasien
tentang
rehabilitasi NAPZA
terkait gagasan
juga seharusnya dilakukan
kerja
keras promotif
sesuai
dengan untuk
bahwa dengan
tepat
efektif
kepada mendengarkan
dan
pasien menghargai pendapat dari 24
dan guna
menjadi pemberian intervensi
meningkatkan sesuai standar.
nilai Anti Korupsi, serta kompetensi.
pentingnya
keluarga
Keluarga
dan dalam memberikan ide dan sarana bagi pegawai keperawatan
saran
edukasi
dan
pentingnya
tanggung upaya preventif dan mengoptimalkan
kepedulian, jawab
perawat
Misi Edukasi
Adanya penyelenggaraan
Publik.
1.2 Diperolehnya
kepada
menurut
Akuntabilitas dan Etika menguatkan
1.2 Mendiskusikan
edukasi
sopan itu,
santun sesuai dengan nilai RSKO
edukasi
rehabilitasi NAPZA.
pentingnya
dengan
nilai
unggul organisasi, yaitu :
yakni
dengan dalam
dan Berkoordinasi
Visi Penguatan
yang
tentang
kepala ruangan dan Ketua
rehabilitasi NAPZA
Tim
merupakan
Nasionalisme. nilai
nilai Dimana
efektivitas
yang
didapat yaitu penyampaian informasi
mengenai
pentingnya
edukasi
rehabilitasi NAPZA kepada keluarga
pasien
dengan
kepala ruangan dan Ketua Tim sesuai dengan nilai Komitmen Mutu. 2.
Menentukan
survey
kebutuhan edukasi
tentang
rehabilitasi NAPZA yang
2.1 Membuat
lembar 2.1 Dibuatnya lembar Keterkaitan mengenai
edukasi
yang
dibutuhkan keluarga.
dibutuhkan
survey mengenai nilai-nilai ANEKA, yaitu: edukasi
yang Berkoordinasi
dibutuhkan
oleh keluarga
survey
kepada
lembar
pasien
menyampaikam
keluarga.
oleh keluarga di 2.2 Memberikan lembar 2.2 Keluarga mengisi dengan ruang rehabilitasi.
dengan Sesuai
survey sesuai
sopan dengan
RSKO
dengan yakni
dengan dalam untuk khususnya
dalam kepada
Misi pentingnya
menurut
nilai RSKO
mengenai edukasi Akuntabilitas dan Etika menguatkan
kunjung pasien.
yang dibutuhkan.
25
unggul organisasi, yaitu :
survey bidang NAPZA. Selain pasien santun itu,
nilai
pelayanan Pemberian informasi
keluarga disaat jam
Publik.
Visi Penguatan
keluarga terkait Edukasi
juga Keluarga seharusnya bahwa dilakukan
Adanya penyelenggaraan
dengan
tepat dan efektif guna
2.3 Mengumpulkan 2.4 Didapatkan survey kepedulian, survey
terbanyak edukasi jawab
terbanyak
yang
edukasi
yang
tanggung upaya preventif dan mengoptimalkan
dan
transparansi promotif
menjadi pemberian intervensi
dibutuhkan dalam memberikan lembar sarana bagi pegawai keperawatan
oleh keluarga.
survey
serta
didapatkan untuk
meningkatkan sesuai standar.
dibutuhkan
data yang real merupakan kompetensi.
oleh keluarga
tindakan
sesuai
yang
dengan
nilai Anti Korupsi, serta mendengarkan
dan
menghargai pendapat dari keluarga pasien merupakan nilai
Nasionalisme.
Dimana
nilai
efektivitas
yang
didapat
penyampaian mengenai
yaitu survey
pentingnya
edukasi yang dibutuhkan keluarga
pasien
sesuai
dengan nilai Komitmen Mutu. 3.
Penyampaian
3.1 Menyampaikan
gagasan
gagasan
kepada
rancangan
kepala ruangan dan
3.1 Tersampaikannya gagasan
Keterkaitan
dengan Sesuai
tentang nilai-nilai ANEKA, yaitu:
rancangan
RSKO dalam
26
dengan yakni
Visi Penguatan
unggul organisasi, yaitu :
pelayanan
nilai
brosur/leaflet
ketua
tentang
perawat
edukasi
tim
serta
pelaksana
brosur/leaflet kepada
Penyampaian
ruang
berdasarkan hasil
mengenai rancangan
tim serta perawat menghargai
survey
kepada
brosur/leaflet
pelaksana
kepala
ruangan
edukasi
Rehabilitasi.
dan serta
ketua
tim
perawat
pelakasana.
rehabilitasi
dalam
kepala dengan sopan santun, serta bidang NAPZA. Selain
rehabilitasi NAPZA
Rehabilitasi
gagasan khususnya
ruangan dan ketua mendengarkan
ruang pimpinan
dan itu,
menurut
pendapat RSKO dan
profesi menguatkan
sejawat untuk musyawarah pengadaan
kepada
juga
perawat
terkait
bahwa
rancangan
media
brosur/leaflet
kemudian informatif
juga
hasil survey.
menerima saran perbaikan termasuk
kedalam
3.2 Diperolehnya
rancangan
pendapat
brosur/leaflet
masukan
dari kepala ruangan, ketua upaya promotive bagi dan tim
serta
perawat perawat
terkait pelaksana
ruang terpenuhinya
dan
nilai
Etika
Publik, optimal bagi pasien,
Tim
edukasi keluarga
Nasionalisme
dan juga menjadi sarana
draft 3.3 Tersusunnya draft Akuntabilitas. Berani dan bagi pegawai untuk isu meningkatkan
keluarga
seharusnya
tepat dan cepat
brosur/leaflet
menjelaskan
kepada
yang
Ruangan dan Ketua
3.3 Menyusun
rehabilitasi NAPZA
dilakukan dengan
Rehabilitasi sesuai dengan rehabilitatif
Kepala
edukasi
upaya
rancangan
dengan
Penyampaian gagasan
mufakat
3.2 Mendiskusikan
:
Misi
NAPZA berdasarkan
dan
1. Sigap
guna mengoptimalkan pemberian
rancangan
rancangan
jujur
brosur/leaflet
brosur/leaflet
masalah yang ada (Anti kompetensi.
keperawatan yang
dengan
edukasi keluarga
Korupsi)
sesuai standar
dengan
intervensi
mengkolaborasikan
perancangan brosur/leaflet
beberapa
ini merupakan hasil berfikir
adanya kepedulian
kreatif
terhadap
referensi
terkait.
mengoptimalkan 27
guna
2. Kasih
:
Perlu
kesembuhan atau
penerapan edukasi kepada
kestabilan kondisi
keluarga
pasien,
pasien
tentang
serta
rehabilitasi NAPZA sesuai
pengetahuan
dengan Komitmen Mutu.
keluarga
pasien,
sehingga mempengaruhi perawat
agar
senantiasa menguatkan kompetensinya dalam memberikan asuhan keperawatan. 4.
Pengadaan
4.1 Membuat
desain 4.1 Terbentuknya
Keterkaitan
dengan Sesuai
brosur/ leaflet di
brosur/leaflet
desain
brosur/ nilai-nilai ANEKA, yaitu:
ruang rehabilitasi.
edukasi
leaflet
edukasi Melakukan
tentang
rehabilitasi NAPZA
4.2 Mengkonsultasikan desain brosur/ leaflet
RSKO
dengan yakni
konsultasi dalam
Visi Penguatan
nilai
unggul organisasi, yaitu :
pelayanan
:
tentang
dengan kepala ruangan dan khususnya
rehabilitasi
kepada bagian Humas RS bidang NAPZA. Selain
konsultasi dengan
NAPZA.
dengan sopan santun dan itu,
Misi
kepala
juga
dan kepada bagian
bahwa
Humas RS dengan
ramah,
4.2 Menerima masukan
dan mendengarkan 28
menurut
serta RSKO dan menguatkan
dalam
1. Ramah Melakukan
ruangan
kepada
kepala
ruangan.
pendapat mengenai
menghargai pendapat dan pengadaan desain kemudian menerima saran informasi
brosur/ leaflet dari perbaikan kepala ruangan. 4.3 Mengkonsultasikan brosur/
pendapat
leaflet
kepada
mengenai
bagian humas RS.
nilai
kepala termasuk
serta
kedalam
bagian upaya promotive bagi
Etika
Publik, terpenuhinya
desain Nasionalisme
dan rehabilitatif
brosur/ leaflet dari Akuntabilitas. bagian humas RS.
4.4 Mencetak
ruangan
dari
juga
humas RS sesuai dengan perawat
4.3 Menerima
desain
media
Diperlukannya
dan
leaflet keras dan tanggung jawab meningkatkan
telah disepakati.
edukasi yang telah dalam proses pengadaan kompetensi. brosur/leaflet
disepakati.
dalam
brosur/
leaflet
edukasi
tentang
yang
dengan tepat dan
nilai-nilai juga menjadi sarana
brosur/
2. Sigap : Pengadaan
rehabilitasi NAPZA
optimal bagi pasien,
leaflet edukasi yang
ramah.
upaya
anti korupsi yakni kerja bagi pegawai untuk
brosur/ 4.4 Tercetaknya
sopan santun dan
cepat
mampu
mengoptimalkan pemberian intervensi keperawatan yang sesuai standar dan
memaksimalkan penerapan
memudahkan
edukasi kepada keluarga
perawat
pasien (Anti Korupsi dan
memberikan
Komitmen Mutu).
edukasi
dalam
kepada
keluarga pasien. 3. Kasih
:
perlu
adanya kepedulian terhadap kesembuhan atau 29
kestabilan kondisi pasien,
sehingga
mempengaruhi perawat
agar
senantiasa menguatkan kompetensinya dengan pemberian edukasi
kepada
keluarga
pasien
tentang rehabilitasi NAPZA. 5.
Sosialisasi
5.1 Melakukan sosialisasi 5.1 Dilaksanakannya
penggunaan brosur/
leaflet
penggunaan brosur/
sosialisasi
nilai-nilai ANEKA, yaitu:
leaflet
penggunaan
Kegiatan
dalam
persiapan
persiapan
edukasi
brosur/
edukasi
keluarga
keluarga
pasien
dalam
pasien
tentang
tentang
dalam
dengan Sesuai
Keterkaitan
rehabilitasi
edukasi
leaflet merupakan
RSKO
salah
Visi Penguatan
nilai
unggul organisasi, yaitu :
pelayanan Dalam
satu khususnya
sosialisasi
dalam diharapkan
persiapan bentuk akuntabel seorang bidang NAPZA. Selain menanamkan tentang ASN
(Perawat)
yang itu,
NAPZA ke perawat
rehabilitasi NAPZA melakukan layanan dengan RSKO
ke
rehabilitasi.
ke
rehabilitasi.
yakni
sosialisasi dalam
rehabilitasi NAPZA perawat
dengan
perawat tanggung (Akuntabilitas).
rehabilitasi.
30
menurut
jawab menguatkan Dimana pengadaan
Misi kasih
dapat nilai yakni
juga memberikan bahwa kepedulian
dan
media tanggap serta saling
5.2 Mendiskusikan penerapan
brosur/
5.2 Kesepakatan
pada
mengenai
ke
3
penerapan brosur/ nilai
akan
diberikan
leaflet
kepada
keluarga
yang
semangat
juga menghormati
(tiga) informasi
Pancasila terkandung nilai- termasuk
leaflet edukasi yang
pasien.
sila
kedalam pendapat orang lain.
gotong upaya promotive bagi
edukasi royong untuk mendapatkan perawat akan kesepakatan bersama yaitu terpenuhinya
diberikan kepada penggunaan brosur/ leaflet rehabilitatif keluarga pasien.
dan upaya yang
dalam memberikan edukasi optimal bagi pasien, kepada keluarga pasien,. juga menjadi sarana Nasionalisme.
bagi perawat untuk
Mensosialisasikan
meningkatkan
penggunaan brosur/ leaflet kompetensi. yang
berkualitas
bermutu Mutu)
dan
(Komitmen serta
menerima
pendapat dan usulan dari profesi
sejawat
(Etika
Publik). Kemudian dengan memiliki tanggung jawab dalam
memaksimalkan
pemberian edukasi dalam bentuk brosur/ leaflet (Anti Korupsi). 31
6.
6.1 Membuat
Penerapan
Keterkaitan
kontrak 6.1 Tersusunnya dengan
kontrak
pasien
(jadwal)
waktu nilai-nilai ANEKA, yaitu:
penggunaan
waktu
brosur/leaflet
keluarga
edukasi
kepada
mengenai kegiatan
dengan
kepada
keluarga
pasien
sosialisasi
penggunaan
merupakan
edukasi
dengan Sesuai
edukasi Menerapkan
dengan
RSKO
salah
pelayanan Dalam
satu bidang NAPZA. Selain dapat
dengan
brosur/
leaflet bentuk akuntabel seorang itu,
rehabilitasi NAPZA
penggunaan
edukasi
langsung dengan
brosur/leaflet
rehabilitasi NAPZA melakukan layanan dengan menguatkan
keluarga pasien.
NAPZA
kepada keluarga.
ASN
6.2 Terlaksananya
6.2 Menerapkan edukasi
kepada
penerapan
keluarga
tentang
edukasi
(Perawat)
sila
ke
2
keluarga tentang peduli,
dengan
rehabilitasi
brosur/leaflet.
NAPZA
informasi
dalam
komprehensif
brosur/ dan paripurna guna
dengan leaflet dapat meningkatkan mengoptimalkan
brosur/leaflet.
32
kepedulian
kepada layanan
yakni
tanggap
dan dalam
preventif, meberikan pelayanan.
(dua) promotive, kuratif dan
diharapkan secara
kasih
bahwa kepedulian
kepada Pancasila terkandung nilai rehabilitatif dilakukan
Rehabilitasi NAPZA
menanamkan
juga memberikan
yang RSKO
Dimana upaya
(Akuntabilitas). pada
Misi nilai
menurut
jawab penyelenggaraan
tanggung
kegiatan
dalam sosialisasi diharapkan
pasien khususnya
tentang
nilai
unggul organisasi, yaitu :
yakni
edukasi dalam
keluarga
Visi Penguatan
kepada
6.3 Evaluasi penerapan 6.3 Terevaluasinya edukasi
kepada
keluarga
pasien
penerapan edukasi
keluarga
pasien
optimalisasi
dalam pasien dan keluarga
pemberian pasien.
kepada informasi
sehingga
tentang rehabilitasi
keluarga
NAPZA.
tentang
Nasionalisme.
rehabilitasi
Memberikan
NAPZA.
dengan
brosur/
leaflet
kepada
keluarga
pasien
6.4 Membuat hasil
pasien terwujudnya
yang
laporan 6.4 Tersusunnya evaluasi
laporan
penerapan edukasi
evaluasi
kepada
keluarga
penerapan
pasien
tentang
rehabilitasi NAPZA.
hasil
nilai
edukasi
berkualitas
bermutu
dan
(Komitmen
Mutu) serta melaksanakan kegiatan
edukasi
kepada
keluarga
pasien
dengan
penuh
sopan, santun dan ramah sesuai dengan nilai Etika Publik. Kemudian dengan
tentang
tersusunnya laporan hasil
rehabilitasi
evaluasi
NAPZA.
kegiatan
dapat
mewujudkan nilai dari Anti Korupsi.
33
F.
RENCANA JADWAL AKTUALISASI Judul Aktualisasi
: Optimalisasi Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien Tentang Rehabilitasi Napza Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta.
Waktu Pelaksanaan : 3 Juni 2021 – 3 Juli 2021 Tempat Pelaksanaan : Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
Tabel 3.6 Time Table Rencana Pelaksanaan Aktualisasi JUNI
NO.
KEGIATAN
1.
Melakukan koordinasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim mengenai
1
pentingnya Edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA 2.
Menentukan kebutuhan edukasi tentang rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh keluarga di ruang rehabilitasi.
3.
Penyampaian gagasan rancangan brosur/leaflet tentang Edukasi rehabilitasi NAPZA berdasarkan hasil survey kepada kepala ruangan dan ketua tim serta perawat pelakasana.
4.
Pembuatan konsep brosur/ leaflet edukasi tentang rehabilitasi NAPZA.
5.
Sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi.
6.
Penerapan penggunaan brosur/leaflet Edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA.
34
2
3
JULI 4
1
KET.
BAB IV PELAKSANAAN AKTUALISASI A.
PENJELASAN PELAKSANAAN AKTUALISASI Pelaksanaan aktualisasi dilakukan pada tanggal 3 Juni 2021 sampai 03 Juli 2021 di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta. Kegiatan aktualisasi disesuaikan dengan rancangan kegiatan pada BAB III serta ada beberapa kegiatan dan tahap kegiatan yang disesuaikan. Kegiatan yang sudah dilaksanakan adalah sebagai berikut : Table 4.1 Penjelasan Pelaksanaan Aktualisasi
NO. 1.
KEGIATAN Melakukan Ruangan
koordinasi dan
TANGGAL PELAKSANAAN
dengan
Ketua
Tim
Kepala
4 Juni 2021
mengenai
pentingnya Edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA 2.
Menentukan kebutuhan edukasi tentang
7 Juni 2021 - 9 Juni 2021
rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh keluarga di ruang rehabilitasi. 3.
Penyampaian
gagasan
rancangan
10 Juni 2021 - 12 Juni 2021
brosur/leaflet tentang Edukasi rehabilitasi NAPZA berdasarkan hasil survey kepada kepala ruangan dan ketua tim serta perawat pelakasana. 4.
Pembuatan konsep brosur/ leaflet edukasi
14 Juni 2021- 16 Juni 2021
tentang rehabilitasi NAPZA. 5.
Sosialisasi
penggunaan
brosur/
leaflet
17 Juni 2021 – 19 Juni 2021
dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi. 6.
Penerapan
penggunaan
brosur/leaflet
Edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA.
35
21 Juni 2021 – 26 Juni 2021
Table 4.2 Pelaksanaan Aktualisasi Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
Kegiatan 1 : Melakukan koordinasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Tanggal Kegiatan
4 Juni 2021
Tahapan Kegiatan 1. Mengajukan izin kepada Kepala Instalasi, Kepala Ruangan dan Ketua Tim untuk membahas mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA. Gambar 4.1 Pengajuan Izin Kepada Kepala Instalasi, Kepala Ruangan Dan Ketua Tim
Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juni 2021 pukul 09:00-11:00 WIB di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi, pada tahap kegiatan ini adalah mengajukan izin
36
kepada Kepala Instalasi dengan dr. Carlamia H. Lusikooy, SH, Sp. KJ (K), Kepala Ruangan dengan Ibu Sofia Baradja, S.Kep., Ners dan Ketua Tim dengan Nurwahidah Hasan, S.Kep., Ners, dari hasil kegiatannya adalah mendapatkan izin dari Kepala Instalasi, kepala ruangan dan ketua tim untuk mengadakan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA di ruang Rehabilitasi.
2. Mendiskusikan mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Gambar 4.2 Diskusi Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi NAPZA
Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juni 2021, pukul 10:15 di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi, berdasarkan hasil diskusi dengan Ibu Sofia Baradja, S.Kep., Ners dan Nurwahida Hasan, S.Kep., Ners bahwa edukasi kepada keluarga sangat penting sekali karena jika keluarga mempunyai informasi-informasi mengenai NAPZA keluarga akan memiliki keterampilan dalam merawat pasien. Disamping itu juga edukasi keluarga sebelumnya belum rutin dilaksanakan dan belum memiliki panduan dalam memberikan edukasi. Hasil Kegiatan
1. Didapatkannya izin dari Kepala Instalasi, Kepala Ruangan dan Ketua Tim
untuk membahas
mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA.
37
2. Diperolehnya
pendapat
dan
saran
terkait
pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Daftar Lampiran
Dokumentasi
kegiatan
diskusi
dengan
Kepala
Ruangan dan Ketua Tim Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA
Sebelum memulai diskusi pertama-tama mengajukan izin terlebih dahulu kepada Kepala Instalasi, Kepala Ruangan dan Ketua Tim dengan sopan dan santun (Etika
Publik).
Melakukan
koordinsi
dan
menyampaikan gagasan dengan sungguh-sungguh (Akuntabilitas). Memberikan ide dan gagasan dengan kepedulian, tanggung jawab dan kerja keras (Anti Korupsi). Kemudian mendengarkan dan menghargai pendapat dari Kepala Instalasi, Kepala Ruangan dan Ketua Tim (Nasionalisme). Adanya antusias dalam berdiskusi untuk membuat perubahan dan meningkatkan mutu pelayanan di ruang rawat inap Rehabilitasi. (Komitmen Mutu). Melakukan dokumentasi saat melakukan kegiatan diskusi (Anti Korupsi). Analisa Dampak
Kegiatan penyampaian gagasan ide ini diterapkan melalui nilai-nilai ANEKA dalam pelaksanaannya. Dengan adanya penerapan tersebut diharapkan dapat terjadi keselarasan pandangan terhadap isu dan gagasan
pemecahan
yang
akan
dilaksanakan
sehingga dapat mencapai tujuan bersama yaitu mengoptimalkan pemberian edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA. Apabila nilai-nilai ANEKA dan pemahaman peran dan kedudukan ASN tidak diterapkan dalam kegiatan penyampaian rancangan aktualisasi ini maka akan menyebabkan gagasan tidak tersampaikan dengan baik dan koordinasi dengan atasan menjadi kurang
38
baik. Jika hal ini terjadi maka akan berdampak pada kegiatan yang telah dirancang tidak berjalan dengan baik.
Kegiatan 2 : Menentukan kebutuhan edukasi tentang rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh keluarga di ruang rehabilitasi. Tanggal Kegiatan
7 Juni 2021 - 12 Juni 2021
Tahapan Kegiatan 1. Membuat lembar kuesioner yang berisi survey mengenai edukasi yang dibutuhkan keluarga pasien. Gambar 4.3 Pembuatan Lembar Survey Tingkat Kebutuhan Edukasi Keluarga
Dokumentasi diambil pada tanggal 7 Juni 2021, pukul 19:00 WIB. Pembuatan lembar survey berdasarkan dari judul-judul materi edukasi yang akan diberikan
39
kepada keluarga, dari lembar survey akan dilihat materi-materi apa saja yang akan dibutuhkan oleh keluarga pasien.
2. Mengkonsultasikan isi lembar kuesioner dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor.
40
41
Dokumentasi diambil pada tanggal 08 Juni 2021 pukul 11:00 WIB di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim, serta pukul 13:00 WIB di Ruang Bidang Medik dan Keperawatan dengan Mentor Pak Okta Mustikallah, S.Kep., Ners. Berdasarkan dari hasil konsultasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim adalah penyusunan urutan pertanyaan pada lembar survey dan pembendaharaan kata yang mudah dipahami oleh keluarga pasien agar keluarga tidak kesulitan dalam mengisi lembar survey. Berdasarkan dari hasil konsultasi dengan Mentor adalah perlunya penambahan kata pembuka sebelum pertanyaan dan penambahan pertanyaan mengenai materi edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga, karena bisa saja materi yang diberikan penting namun tidak dibutuhkan oleh keluarga pasien.
42
3. Memberikan lembar kuesioner kepada keluarga pasien disaat jam kunjung pasien. Gambar 4.5 Memberikan Lembar Kuesioner Kepada Keluarga Pasien
43
Dokumentasi diambil pada tanggal 09-10 Juni 2021 pukul 09:00 WIB di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi saat jam kunjung pasien. Sebelum membagikan kuesioner dilakukan penjelasan mengenai maksud dan tujuan diadakannya pengisian lembar survey edukasi keluarga. Kemudian keluarga mengisi lembar survey yang tersedia dan mengumpulkan kembali lembar survey tersebut kepada perawat di Ruang Rehabilitsi. Keluarga yang mengisi lembar survey adalah sebanyak 11 orang.
4. Mengumpulkan survey terbanyak edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien. Gambar 4.6 Mengumpulkan Data Hasil Survey Keluarga Tentang Edukasi
44
Diagram 4.1 Survey Tingkat Kebutuhan Edukasi Keluarga
SURVEY TINGKAT KEBUTUHAN EDUKASI KELUARGA 12
11 100 %
11 100%
11 10…
10
11 10…
9 81,8%
8 72,…
11 100%
8 72,…
11 100%
8 72,7%
8 6 3 27,…
4 2 0
0
4 36,…
3 27,…
2 18,…
3 27,3%
3 27,3%
0
0
8 72,7%
7 63,6%
0
0
0 Tanda dan Pengertian, Gejala Penyebab, serta Kekambuhan Tanda dan Penggunaan Gejala Ketergantungan NAPZA pada Pasien Rehab & Penyalahgunaan Penting NAPZA
Dukungan Cara Mengatasi Perawatan Pasien Setelah Kekambuhan Keluarga dalam Perawatan pada Pasien Menjalani Pasien Rehabilitasi Penyalahgunaan NAPZA
Tidak Penting
Butuh
Manajemen Stress
Tidak Butuh
Dokumentasi diambil pada tanggal 11-12 Juni 2021 pukul 10:00 WIB. Berdasarkan dari hasil survey tingkat kebutuhan edukasi keluarga didapatkan data 11 (100%) dari 11 keluarga pasien menganggap semua materi edukasi (penyuluhan) sangat penting karena dapat memberikan pengetahuan, antisipasi
45
dan dapat mengurangi kecemasan serta kekhawatiran dari keluarga pasien dalam mengadapi anggota keluarga (pasien) yang terjerumus kedalam ketergantungan dan penyalahgunaan NAPZA. Sebanyak 8 (72,7%) dari 11 keluarga pasien sangat membutuhkan edukasi mengenai pengertian, penyebab, serta tanda dan gejala ketergantungan dan penyalahgunaan NAPZA, perawatan pasien setelah menjalani rehabilitasi, cara mengatasi kekambuhan pada pasien penyalahgunaan NAPZA dan manajemen stress. Terdapat 9 (81,8%) dari 11 keluarga pasien membutuhkan edukasi mengenai
tanda dan gejala
kekambuhan penggunaan NAPZA pada pasien rehabilitasi dan terdapat 7 (63,6%) dari 11 keluarga pasien membutuhkan edukasi mengenai dukungan keluarga dalam perawatan pasien. Hasil Kegiatan
1. Adanya lembar kuesioner yang berisi survey mengenai edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien. 2. Adanya kesepakatan mengenai isi lembar kuesioner dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor. 3. Keluarga pasien mengisi lembar kuesioner yang berisi survey mengenai edukasi yang dibutuhkan. 4. Didapatkan survey terbanyak edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien.
Daftar Lampiran
1. Lembar survey yang telah disepakati oleh Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor. 2. Dokumentasi saat konsultasi dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor. 3. Dokumentasi Keluarga saat mengisi lembar kuesioner. 4. Dokumentasi hasil lembar kuesioner yang telah diisi oleh keluarga pasien.
Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA
Mengkonsultasikan lembar kuesioner yang berisi survey mengenai edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim dan
Mentor
46
sebagai
sikap
profesionalisme
(Akuntabilitas). Mendengarkan dan menghargai pendapat dari Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor untuk
mencapai
kesepakatan
bersama
(Nasionalisme). Berkoordinasi dengan keluarga pasien untuk menyampaikan kuesioner dengan sopan, santun
dan
ramah
(Etika
Publik).
Adanya
kepedulian, tanggung jawab dan transparansi dalam memberikan lembar survey serta didapatkannya data yang real (Anti Korupsi). Dimana nilai efektivitas yang didapat yaitu penyampaian survey mengenai pentingnya edukasi yang dibutuhkan keluarga pasien (Komitmen Mutu). Analisa Dampak
Penentuan kebutuhan edukasi tentang Rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh keluarga melalui sebuah survey bertujuan untuk mengetahui seberapa penting dan butuhnya edukasi tersebut oleh keluarga pasien. Dalam
pelaksanaan
kegiatan
ini
tentu
harus
memperhatikan penerapan nilai-nilai ANEKA serta pemahaman peran dan kedudukan ASN agar kegiatan ini dapat berjalan secara optimal. Apabila nilai-nilai ANEKA dan pemahaman peran dan kedudukan ASN tidak diterapkan dalam kegiatan penentuan kebutuhan edukasi keuarga melalui survey ini maka akan menyebabkan koordinasi antara penulis dan keluarga pasien menjadi kurang berjalan dengan baik
dan
pemberian
edukasi
menjadi
kurang
bermanfaat. Hal ini akan berdampak pada kegiatan yang telah dirancang tidak berjalan dengan baik.
47
Kegiatan 3 : Penyampaian
perubahan
gagasan
rancangan
brosur/leaflet
tentang
edukasi
rehabilitasi NAPZA menjadi buku saku berdasarkan hasil survey kepada Kepala Ruangan, Ketua Tim dan perawat pelakasana, serta mentor. Tanggal Kegiatan
13 Juni 2021 - 17 Juni 2021
Tahapan Kegiatan 1. Menyampaikan perubahan gagasan kepada Kepala Ruangan dan Ketua Tim serta mentor mengenai rancangan brosur/leaflet edukasi Rehabilitasi NAPZA menjadi buku saku berdasarkan hasil survey. Gambar 4.7 Diskusi Perubahan Rancangan Brosur/Leaflet Menjadi Buku Saku
Dokumentasi diambil pada tanggal 13 juni 2021 pukul 11:00 WIB dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi, serta pukul 14:00 WIB di Ruang Bidang Medik dan Keperawatan dengan mentor. Bedasarkan hasil diskusi didapatkan persetujuan dari Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor mengenai perubahan media edukasi berupa brosur/ leaflet menjadi buku saku. Perubahan dilakukan karena berdasarkan dari hasil survey didapatkan data bahwa semua keluarga menganggap penting dan sebagian besar keluarga membutuhkan materi edukasi tersebut.
48
2. Menyusun draft rancangan buku saku
dengan mengkolaborasikan beberapa
referensi terkait. Gambar 4.8 Penyusunan Draft Rancangan Buku Saku
49
Dokumentasi diambil pada tanggal 14-16 Juni 2021 pukul 13:00 WIB di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi. Penyusunan draft rancangan buku saku diambil dari berbagai sumber buku dan jurnal terkait.
50
3. Mendiskusikan draft rancangan buku saku dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim serta perawat pelaksana. Gambar 4.9 Diskusi Draft Rancangan Buku Saku
Dokumentasi diambil pada tanggal 17 Juni 2021 pukul 15:00 di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi. Diskusi dilakukan bersama-sama dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim serta Perawat Pelaksana, hasil diskusi didapatkan beberapa masukan mengenai penambahan beberapa materi seperti tahap-tahap dari latihan relaksasi pada manajemen stress dan jadwal kegiatan pasien di Ruang Rehabilitasi, serta adanya perbaikan pembendaharaan kata yang mudah dipahami oleh keluarga pasien. Hasil Kegiatan
1. Tersampaikannya perubahan gagasan tentang rancangan
brosur/leaflet
menjadi
buku
saku
kepada Kepala Ruangan dan Ketua Tim serta mentor. 2. Tersusunnya draft rancangan buku saku edukasi keluarga. 3. Diperolehnya pendapat dan masukan terkait draft rancangan buku saku. Daftar Lampiran
1. Dokumentasi perubahan
kegiatan rancangan
diskusi
mengenai
brosur/leaflet
dengan
Kepala Ruangan, Ketua Tim serta mentor. 2. Dokumentasi penyusunan draft buku saku edukasi keluarga.
51
3. Dokumentasi diskusi draft rancangan buku saku dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim serta perawat pelaksana. Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA
Penyampaian gagasan dengan sopan santun, serta mendengarkan dan menghargai pendapat pimpinan dan profesi sejawat untuk musyawarah mufakat dan kemudian menerima saran perbaikan dari kepala ruangan, ketua tim serta perawat pelaksana ruang Rehabilitasi
(Etika Publik,
Nasionalisme
dan
Akuntabilitas). Membuat draft rancangan buku saku berdasarkan data hasil survey kebutuhan edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien (Anti Korupsi). Perancangan buku saku ini merupakan hasil berfikir kreatif guna mengoptimalkan penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA sesuai dengan (Komitmen Mutu). Analisa Dampak
Adanya perubahan dalam gagasan rancangan dengan brosur/ leaflet menjadi brosur telah disesuaikan dengan hasil survey yang telah dilaksanakan yaitu berdasarkan kebutuhan edukasi dari keluarga pasien. Dengan adanya perubahan (revisi) rancangan ini dikoordinasikan kepada Kepala Ruangan, Ketua Tim dan perawat pelaksana ruangan bertujuan untuk mendapatkan
kesepakatan
bersama.
Kemudian
pembuatan draft buku saku didasarkan pada buku dan jurnal-jurnal terkait yang kemudian didiskusikan secara bersama agar perawat memahami isi dari buku saku tersebut. Apabila nilai-nilai ANEKA dan pemahaman peran dan kedudukan ASN tidak diterapkan dalam pelaksanaan kegaiatan ini, maka akan menyebabkan kegiatan yang telah dirancang tidak berjalan dengan baik. Jika hal ini terjadi maka edukasi keluarga yang dihasilkan pun
52
kurang mendapatkan feed back yang baik dari keluarga pasien tersebut dan akan mempengaruhi standar mutu dalam pemberian pelayanan.
Kegiatan 4 : Pengadaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA di ruang rehabilitasi. Tanggal Kegiatan
17 Juni 2021- 26 Juli 2021
Tahapan Kegiatan 1. Membuat desain buku saku edukasi tentang rehabilitasi NAPZA. Gambar 4.10 Pembuatan Desain Buku Saku Edukasi Keluarga
53
Dokumentasi diambil pada tanggal 17 Juni 2021 pukul 20:00 WIB. Pembuatan desain buku berdasarkan dari draft rancangan buku saku yang telah dibuat dengan
judul
buku
“Dukungan
Keluarga
Dalam
Perawatan
Pasien
Penyalahgunaan NAPZA”.
2. Mengkonsultasikan desain buku saku kepada bagian hukormas RS. Gambar 4.11 Konsultasi Desain Buku Saku Kepada Bagian Hukormas RS
Dokumentasi diambil pada tanggal 20 Juni 2021 pukul 19:00 WIB melalui Zoom Meeting. Konsultasi dilakukan dengan bagian Hukormas Bapak Firdaus, hasil
54
konsultasi adalah masukan mengenai desain cover, font tulisan, dan isi dari buku saku untuk lebih dipersingkat dan diambil intinya seperti pembuatan power point. 3. Mengkonsultasikan desain buku saku kepada kepala ruangan. Gambar 4.12 Konsultasi Desain Buku Saku Dengan Kepala Ruangan/ Ketua Tim
Dokumentasi diambil pada tanggal 26 Juni 2021 pukul 09:00 WIB melalui Zoom Meeting. Hasil konsultasi dengan Ketua Tim adalah untuk isi dari buku saku jangan dipersingkat dan harus jelas tujuan agar keluarga pasien yang membaca tidak bingung dan mudah memahami informasi-informasi dari isi materi yang ada dalam buku saku tersebut. Untuk desain covernya sudah sangat bagus dan font tulisan bisa dibaca.
55
4. Mencetak buku saku edukasi yang telah disepakati. Gambar 4.13. Mencetak Buku Saku Edukasi
Dokumentasi diambil pada tanggal 26 Juli 2021 pukul 10:00 WIB di Saudara Digital Copier Bekasi. Pencetakan buku saku dilakukan secara mandiri dan dilakukan setelah masa isoman. Pencetakan buku saku dibuat sebanyak 3 buku.
Hasil Kegiatan
1. Terbentuknya desain buku saku edukasi tentang rehabilitasi NAPZA. 2. Menerima masukan dan pendapat mengenai desain buku saku dari kepala ruangan. 3. Menerima pendapat mengenai desain buku saku dari bagian humas RS.
56
4. Tercetaknya
buku
saku
edukasi
yang
telah
disepakati. Daftar Lampiran
1. Dokumentasi kegiatan diskusi mengenai konsep buku saku dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim dan mentor. 2. Draft rancangan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA.
Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA
Melakukan konsultasi dengan kepala ruangan dan kepada bagian Hukormas RS dengan sopan santun dan ramah, serta mendengarkan dan menghargai pendapat dan kemudian menerima saran perbaikan dari kepala ruangan serta bagian hukormas RS sesuai dengan nilai Etika Publik, Nasionalisme dan Akuntabilitas. Diperlukannya nilai-nilai anti korupsi yakni kerja keras dan tanggung jawab dalam proses pengadaan
buku
saku
dalam
memaksimalkan
penerapan edukasi kepada keluarga pasien (Anti Korupsi dan Komitmen Mutu). Analisis Dampak
Pengadaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA di ruang rehabilitasi. Dalam kegiatan pengadaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA dikoordinasikan kepada pihak terkait yaitu pada bagian Hukormas. Dengan adanya keterkaitan dengan bidang pelayanan lain merupakan sebagai bentuk kerjasama dalam upaya
penyempurnaan
buku
saku
yang
telah
dirancang. Dalam pelaksanaan kegiatan ini jika tidak menerapkan nilai-nilai ANEKA, pemahaman peran dan kedudukan ASN maka proses pengadaan buku saku tidak berjalan secara optimal.
57
Kegiatan 5 : Sosialisasi penggunaan buku saku dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi. Tanggal Kegiatan
18 Juni 2021 – 2 Juli 2021
Tahapan Kegiatan 1. Meminta izin kepada Kepala Instalasi untuk melakukan sosialisasi penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO Jakarta. Gambar 4.14 Meminta Izin Kepada Kepala Instalasi Untuk Melakukan Sosialisasi Buku Saku
Dokumentasi diambil pada tanggal 18 Juni 2021 Pukul 09:00 WIB di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi. Hasil kegiatan adalah mendapatkan izin dari dr. Carlamia H. Lusikooy, SH, SpKJ (K) untuk melakukan sosialisasi mengenai edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO Jakarta.
58
2. Melakukan sosialisasi penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RS Ketergantungan Obat Jakarta melalui forum Kegiatan Kajian Ilmiah Keperawatan (Jum’at Barokah). Gambar 4.15 Sosialisasi Penggunaan Buku Saku Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi NAPZA ke Perawat RSKO Jakarta
59
60
61
Dokumentasi diambil pada tanggal 18 Juni 2021 pukul 13:00 WIB di Ruang Konferensi RSKO Jakarta dengan Zoom Meeting pada kegiatan Kajian Ilmiah Keperawatan (Jum’at Barokah). Zoom meeting dihadari sebanyak 36 orang dan sebanyak 9 orang yang hadir dalam ruang konferense. Semua peserta sangat antusias dengan memberikan beberapa pertanyaan dan memberi masukan terkait edukasi keluarga. Semua peserta sangat mendukung dengan adanya edukasi keluarga sehingga kegiatan sosialisasi ini dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu.
62
3. Melakukan sosialisasi penggunaan buku saku dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi. Gambar 4.16 Sosialisasi Penggunaan Buku Saku Dalam Persiapan Edukasi Keluarga Ke Perawat Rehabilitasi
Dokumentasi diambil pada tanggal 27 Juni 2021 Pukul 08:00 WIB dengan Zoom Meeting. Sosialisasi dilakukan secara daring dikarenakan saya sedang menjalani isoman. Kegiatan sosialisasi diadakan pada saat operan shift pagi dikarenakan jumalah perawat pelaksana lebih banyak. Hasil kegiatan sosialisasi adalah perawat telah memahami isi materi edukasi dari buku saku.
63
4. Mendiskusikan penerapan buku saku edukasi yang akan diberikan kepada keluarga pasien. Gambar 4.17 Diskusi Penerapan Buku Saku Edukasi Yang Akan Diberikan Kepada Keluarga Pasien
Dokumentasi diambil pada tanggal 27 Juni 2021 Pukul 08:00 WIB dengan Zoom Meeting. Hasil kegiatan diskusi adalah edukasi keluarga akan diberikan secara daring dikarenakan peniadaan jam kunjung di masa pandemi Covid -19. Hasil Kegiatan
1. Mendapatkan izin dari Kepala Instalasi untuk melakukan sosialisasi penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO Jakarta. 2. Dilaksanakannya sosialisasi penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke
64
perawat RS Ketergantungan Obat Jakarta melalui forum Kegiatan Kajian Ilmiah Keperawatan (Jum’at Barokah). 3. Dilaksanakannya sosialisasi
penggunaan
buku
saku dalam persiapan edukasi tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi di ruang Rehabilitasi. 4. Kesepakatan mengenai penerapan buku saku edukasi yang akan diberikan kepada keluarga pasien. Daftar Lampiran
1. Dokumentasi dengan Kepala Instalasi. 2. Dokumentasi kegiatan sosialisasi ke perawat RS Ketergantungan Kegiatan
Obat
Kajian
Jakarta
Ilmiah
melalui
Keperawatan
forum (Jum’at
Barokah). 3. Dokumentasi
kegiatan
sosialisasi ke perawat
rehabilitasi di ruang Rehabilirasi. Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA
Kegiatan sosialisasi merupakan salah satu bentuk akuntabel saya sebagai seorang ASN (Perawat) yang melakukan
layanan
(Akuntabilitas). membangun mendapatkan
dengan Dimana
semangat
tanggung tujuannya
gotong
kesepakatan
royong bersama
jawab untuk untuk yaitu
penggunaan buku saku dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien (Nasionalisme). Sebelum memulai sosialisasi pertama-tama meminta izin dari Kepala Instalasi dengan penuh sopan santun (Etika Publik). Setelah itu mensosialisasikan penggunaan buku saku yang berkualitas dan bermutu (Komitmen Mutu) serta menerima pendapat dan usulan dari profesi sejawat (Etika Publik). Kemudian dengan memiliki tanggung jawab dalam memaksimalkan pemberian edukasi dalam bentuk buku saku (Anti Korupsi).
65
Analisa Dampak
Kegiatan Kajian Ilmiah Keperawatan (Jum’at Barokah) merupakan kegiatan rutin yang dijalankan sebulan sekali pada minggu ketiga di hari jum’at yang diagendakan oleh bagian komite medik. Pelaksanaan sosialisasi edukasi keluarga dengan buku saku memperkenalkan konsep media buku saku dalam pemberian edukasi keluarga kepada seluruh teman sejawat
di
RSKO
Jakarta.
Dalam
pelaksanaan
sosialisasi ini, diperlukan koordinasi dan kerja sama yang baik, jika penulis tidak menerapkan nilai-nilai ANEKA pada proses ini maka sosialisasi yang diharapkan
tidak
berjalan
optimal
dalam
meningkatkan pengetauan perawat dalam pemberian asuhan
kepada
keluarga
pasien
dan
juga
mengakibatkan pelayanan prima yang ingin dicapai belum terlaksana.
66
Kegiatan 6 : Penerapan penggunaan buku saku edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA langsung dengan keluarga pasien. Tanggal Kegiatan
3 Juli 2021 – 9 Juli 2021
Tahapan Kegiatan 1. Membuat kontrak waktu dengan keluarga pasien mengenai kegiatan sosialisasi edukasi dengan penggunaan buku saku NAPZA. Gambar 4.18 Membuat Satuan Acara Penyuluhan Edukasi Keluarga
Dokumentasi diambil pada tanggal 03 Juli 2021 pukul 07:00 WIB, tujuan dibuatnya SAP ini adalah untuk mempermudah perencanaan dan pelaksanaan kegiatan edukasi yang akan dilakukan.
67
2. Menerapkan edukasi kepada keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA dengan buku saku. Gambar 4.19 Membuat Kontrak Waktu Dengan Keluarga Pasien Tentang Kegiatan Sosialisasi Edukasi
Dokumentasi ini diambil pada tanggal 03 Juli 2021 pukul 17:24 WIB via WhatsApp, tujuan dilakukan kontrak waktu adalah untuk membuat perjanjian dan kesepakatan waktu serta menjelaskan maksud dan tujuan untuk dilakukannya edukasi kepada keluarga pasien.
3. Evaluasi penerapan buku saku edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Gambar 4.20 Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien
68
Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juli 2021 pukul 16:20 WIB via zoom meeting. Kegiatan edukasi sangat berjalan dengan lancar dan keluarga pasien sangat kooperatif serta antusias dalam mendengarkan dan bertanya kepada perawat.
69
4. Membuat laporan hasil evaluasi penerapan buku saku edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Gambar 4.21 Laporan Evaluasi Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien
70
5. Evaluasi perawat dalam pelaksanaan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA dengan buku saku. Gambar 4.22 Evaluasi Perawat Dalam Pelaksanaan Edukasi Keluarga Dengan Buku Saku
71
Dokumentasi diambil pada tanggal 05-08 Juli 2021 di waktu shift parawat Rehabilitasi. Kuesioner diisi oleh perawat Rehabilitasi pada saat shift jaga, dengan jumlah 14 perawat. Kuesioner ini dibuat untuk mengevaluasi perawat Rehabilitasi mengenai pelaksanaan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA dengan adanya media buku saku.
72
6. Membuat laporan hasil evaluasi penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Diagram 4.2 Pemahaman Perawat Dalam Pelaksanaan Edukasi Keluarga
PEMAHAMAN PERAWAT DALAM PELAKSANAAN EDUKASI KELUARGA 16
14 10…
14 10…
14 100%
13 92,…
14
12 85,7%
12 10 8 6 4 2
0
1 7,1%
0
2 14,…
0
0 Pentingnya Pengadaan Buku Cakupan Isi Buku Kesulitan Keefektifan Pemberian Edukasi Kepada Saku Saku Penggunaan Keluarga Pasien Buku Saku Dalam Edukasi selama 30 menit Edukasi YA TIDAK
Berdasarkan dari data hasil kuesioner didapatkan bahwa 14 (100%) dari 14 perawat ruang Rehabilitasi menyatakan edukasi sangat penting diberikan kepada keluarga pasien karena jika keluarga lebih paham tentang NAPZA, efek samping dan cara merawatnya maka keluarga akan memiliki keterampilan dalam merawat pasien, 14 (100%) dari 14 perawat menyatakan dengan adanya pengadaan buku saku “Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA” dapat membantu dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien sehingga edukasi lebih terarah dan tepat sasaran, 13 (92,9%) dari 14 perawat mengatakan isi dari buku saku tersebut sudah mencakup semua informasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien, 14 (100%) dari 14 perawat mengatakan tidak menemukan kesulitan dalam memberikan edukasi kepada keluarga dengan menggunakan buku saku dan 12 (85,7%) dari 14 perawat mengatakan waktu pemberian edukasi kepada keluarga pasien selama 30 menit cukup efektif.
73
7. Membuat video testimoni. Gambar 4.22 Pembuatan Video Testimoni
Dokumentasi ini diambil pada tanggal 26 Juli 2021 pukul 13:00 WIB di ruang Rehabilitasi, video ini merupakan testimoni yang diberikan oleh Kepala Ruangan (Ibu Ns. Sofia Baradja, SKep.), Katim (Ns. Nurwahida, SKep.), dan Perawat pelaksana (Ns. Frida S, SKep.). Hasil Kegiatan
1. Tersusunnya kontrak waktu (jadwal) edukasi dengan penggunaan buku saku edukasi rehabilitasi NAPZA kepada keluarga. 2. Terlaksananya penerapan edukasi kepada keluarga tentang rehabilitasi NAPZA dengan buku saku. 3. Terevaluasinya
penerapan
edukasi
kepada
keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat rehabilitasi. 4. Tersusunnya laporan hasil evaluasi penerapan edukasi
kepada
keluarga
pasien
tentang
rehabilitasi NAPZA. 5. Terevaluasinya edukasi
perawat
kepada
dalam
keluarga
pelaksanaan
pasien
tentang
Rehabilitasi NAPZA dengan buku saku. 6. Adanya laporan hasil evaluasi penerapan edukasi kepada
keluarga
pasien
tentang
rehabilitasi
NAPZA. 7. Adanya video testimoni dari Kepala Ruangan, Ketua Tim dan perawat pelaksana. Daftar Lampiran
1. Foto Dokumentasi 2. Laporan Satuan Acara Penyuluhan (SAP) 3. Kuesioner perawat dan diagram hasil
74
4. Video Testimoni Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA
Menerapkan
edukasi
kepada
keluarga
pasien
merupakan salah satu bentuk akuntabel saya sebagai seorang ASN (Perawat) yang melakukan layanan dengan tanggung jawab (Akuntabilitas). Dimana pada sila ke 2 (dua) Pancasila terkandung nilai peduli, diharapkan
informasi
dalam
buku
saku
dapat
meningkatkan kepedulian kepada keluarga pasien dalam optimalisasi pemberian informasi sehingga terwujudnya
nilai
Nasionalisme.
Memberikan
edukasi dengan buku saku kepada keluarga pasien yang berkualitas dan bermutu (Komitmen Mutu) serta melaksanakan kegiatan dengan penuh sopan, santun dan ramah sesuai dengan nilai Etika Publik. Kemudian dengan tersusunnya laporan hasil evaluasi kegiatan
dan
dibuatnya
video
testimoni
dapat
mewujudkan nilai dari Anti Korupsi. Analisa Dampak
Dengan melakukan kegiatan evaluasi ini, maka akan diketahui sejauh mana dampak dan implementasi yang telah dilakukan. Hasil tersebut tentu akan menjadi masukan dan rencana tindak lanjut untuk perbakan
di
pelaksanaan
masa
yang
kegiatan
akan
evaluasi
dating. ini,
Dalam
diperlukan
penerapan nilai-nilai ANEKA agar evaluasi yang dilakukan dapat berjalan secara optimal sehingga hasil yang didapatkan diharapkan bisa menjadi gambaran untuk
meningkatkan
asuhan keperawatan.
75
kualitas
dalam
pemberian
B.
PENCAPAIAN PENYELESAIAN ISU Kegiatan aktualisasi ini dilakukan sebagai bagian dari menyelesaikan isu yang diangkat penulis yaitu “Belum Optimalnya Penerapan Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi Napza Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta”. Adapun gagasan pemecahan isu yang dilakukan penulis terangkum dalam matriks rancangan aktualisasi. Kegiatan gagasan pemecahan isu tersebut meliputi melakukan koordinasi dengan kepala ruangan, ketua tim dan perawat pelaksana, menentukan kebutuhan edukasi, penyampaian gagasan rancangan buku saku, pengadaan buku saku, sosialisasi kepada perawat dan evaluasi penggunaan buku saku. Semua kegiatan dalam aktualisasi ini dapat terlaksana. Media edukasi berupa buku saku telah dicetak dan sosialisasi serta evaluasi edukasi penggunaan buku telah terlaksana. Secara keseluruhan berdasarkan rekapitulasi hasil kuesioner dapat disimpulkan telah terjadi peningkatan terhadap pengetahuan dan pemahaman perawat mengenai pentingnya edukasi yang diberikan kepada keluarga, selain itu juga semakin mudah dan lebih terarahnya pemberian edukasi dengan adanya buku saku. Dapat dilihat melalui hasil evaluasi keluarga pasien setelah diberikan edukasi, keluarga menjadi lebih mudah memahami edukasi yang telah diberikan, sehingga kekhawatiran keluarga pun menjadi ikut berkurang dengan adanya informasi – informasi yang telah diberikan oleh perawat. Hal ini memberikan dampak pada meningkatnya mutu kualitas asuhan dan pelayanan yang diberikan kepada keluarga pasien dibandingkan sebelum dibuatnya panduan edukasi berupa buku saku.
C.
MANFAAT PELAKSANAAN AKTUALISASI Manfaat yang didapatkan dengan terpecahkannya isu yang diangkat dalam aktualisasi ini adalah sebagai berikut : 1.
Bagi Individu Peserta Penulis sebagai peserta Latsar mendapatkan manfaat yaitu dapat berkontribusi dalam membantu menyelesaikan isu yang berkembang di ruangan Rawat Inap Rehabilitasi. Selain itu penulis juga mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan nilai-nilai ASN ANEKA dan peran serta kedudukan ASN dalam kegiatan pemecahan isu tersebut sehingga diharapkan dapat membentuk penulis sebagai ASN yang berkarakter. 76
2.
Pimpinan Langsung/ Unit Kerja Dengan terselesaikannya masalah optimalisasi pemberian edukasi kepada keluarga
pasien
tentang
Rehabilitasi
NAPZA,
pimpinan
langsung
mendapatkan manfaat yaitu membantu peningkatan pengetahuan dan pemahaman perawat dalam pemberian edukasi kepada keluarga. Selain itu, output yang dihasilkan dari kegiatan aktualisasi adalah buku saku yang dapat dijadikan pedoman dan acuan untuk pemberian edukasi keluarga bagi perawat, sehingga edukasi yang diberikan lebih terarah. 3.
Stakeholder Dengan
terselesaikannya
isu
tersebut
diharapkan
perawat
dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga pasien dapat dilakukan secara optimal. Dengan demikian diharapkan edukasi yang diberikan dapat meningkatkan pengetahuan dan informasi kepada keluarga mengenai dukungan keluarga dalam perawatan pasien penyalahgunaan NAPZA.
77
D.
PERUBAHAN JADWAL KEGIATAN Adapun perubahan jadwal yang ada pada kegiatan aktualisasi adalah sebagai berikut : Table 4.3 Perubahan Jadwal Kegiatan
NO.
KEGIATAN
JUNI 1
1.
2
3
JULI 4
Melakukan koordinasi dengan Kepala
1
2
3
KETERANGAN 4 Rencana tanggal 4 Juni 2021.
Ruangan dan Ketua Tim mengenai pentingnya Edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA Realisasi :
Kegiatan dilakukan sesuai rencana pada
4 Juni 2021
minggu pertama bulan Juni pada tanggal 4 Juni 2021. Kepala ruangan dan Ketua Tim menyetujui rancangan aktualisasi yang telah direncanakan.
2.
Menentukan kebutuhan edukasi tentang
Rencana tanggal 7 juni 2021 – 9 Juni
rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh
2021
keluarga di ruang rehabilitasi. Realisasi :
Kegiatan dilakukan pada minggu kedua
7 Juni 2021 – 12 Juni 2021
bulan Juni, akan tetapi pemberian lembar kuesioner disesuaikan
78
kepada dengan
keluarga jam
pasien kunjung
keluarga pasien pada tanggal 9 Juni 2021, dan
dilakukan
perpanjangan
waktu
sampai tanggal 12 Juni 2021 untuk membuat survey data. 3.
Penyampaian brosur/leaflet
gagasan tentang
rancangan
Rencana tanggal 10 Juni 2021 – 12 Juni
Edukasi
2021
rehabilitasi NAPZA berdasarkan hasil survey kepada kepala ruangan dan ketua tim serta perawat pelaksana. Penyampaian
perubahan
gagasan
Adanya perubahan kegiatan dikarenakan
brosur/leaflet
tentang
dari hasil survey didapatkan data 100%
edukasi rehabilitasi NAPZA menjadi buku
keluarga pasien menganggap semua
saku berdasarkan hasil survey kepada
materi edukasi sangat penting, dan
Kepala Ruangan, Ketua Tim dan perawat
didapatkan
pelaksana, serta mentor.
keluarga pasien membutuhkan materi
Realisasi :
edukasi tersebut. Sehingga dibutuhkan
13 Juni 2021 – 17 Juni 2021
media yang dapat mencakup semua
rancangan
materi
data
edukasi
rata-rata
yang
72,7%
penting
dan
dibutuhkan oleh keluarga pasien. Adanya perubahan jadwal disesuaikan dengan
79
konsultasi dan disetujuinya pengadaan buku saku edukasi keluarga. 4.
Pembuatan
konsep
brosur/
leaflet
Rencana tanggal 14 Juni 2021 – 16 Juni
edukasi tentang rehabilitasi NAPZA.
2021
Pengadaan buku saku edukasi keluarga
Adanya perubahan kegiatan disesuaikan
tentang Rehabilitasi NAPZA di ruang
dengan
rehabilitasi.
brosur/
Realisasi :
Adanya perubahan jadwal disesuaikan
17 Juni 2021 – 26 Juli 2021
dengan
perubahan leaflet
rancangan
menjadi
selesainya
buku
konsultasi,
dari saku.
dan
perpanjangan waktu pencetakan buku saku ditanggal 26 Juli 2021 berhubungan dengan selesainya masa isoman saya sebagai peserta latsar dari terinfeksi Covid-19. 5.
Sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet
Rencana tanggal 17 Juni 2021 – 19 Juni
dalam
2021
persiapan
edukasi
keluarga
pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi. Sosialisasi penggunaan buku saku dalam
Adanya perubahan kegiatan disesuaikan
persiapan
dengan perubahan rancangan menjadi
edukasi
keluarga
pasien
buku saku. Adanya perubahan jadwal
80
6.
tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat
dikarenakan oleh keadaan saya yang
rehabilitasi.
sedang menjalani masa isoman dan
Realisasi :
penyesuaian jadwal sosialisasi dengan
18 Juni 2021 – 2 Juli 2021
perawat rehabilitasi.
Penerapan penggunaan brosur/leaflet
Rencana tanggal 21 Juni 2021 – 26 Juni
Edukasi kepada keluarga pasien tentang
2021
rehabilitasi NAPZA. Penerapan
penggunaan
buku
saku
Adanya perubahan kegiatan disesuaikan
edukasi kepada keluarga pasien tentang
dengan perubahan rancangan menjadi
rehabilitasi NAPZA langsung dengan
buku saku. Pelaksanaan edukasi dimulai
keluarga pasien.
pada minggu kedua bulan Juli 2021, yang
Realisasi :
semula akan dilaksanakan pada minggu
3 Juli 2021 – 9 Juli 2021
keempat bulan Juni 2021. Hal tersebut menyesuaikan kesiapan media edukasi.
81
E.
HAMBATAN
DAN
SOLUSI
SELAMA
PELAKSANAAN
KEGIATAN
AKTUALISASI Selama pelaksanaan aktualisasi terdapat beberapa hambatan yang dihadapi. Kendala tersebut dapat diatasi dengan menerapkan nilai-nilai ANEKA. Berikut tabel yang menjelaskan kendala dan solusi yang dihadapi : Table 4.4 Hambatan Dan Solusi Pelaksanaan Aktualisasi
NO. 1.
HAMBATAN
SOLUSI
Rekan sejawat belum tersosialisasi mengenai Melakukan kegiatan edukasi kepada keluarga pasien.
kegiatan
sosialisasi
mengenai
edukasi keluarga kepada rekan
sejawat
kegiatan
melalui
kajian
ilmiah
(Jum’at Barokah) 2.
Rancangan media edukasi keluarga dengan Mengganti media edukasi metode brosur/ leaflet tidak terlaksana dengan buku saku karena karena tidak mencakup kebutuhan edukasi dapat mencakup semua informasi
keluarga pasien
yang
dibutuhkan oleh keluarga pasien. 3.
Pengadaan buku saku yang diajukan kepada Pengadaan
buku
PKRS untuk sekarang masih dalam proses sementara pengajuan anggaran.
secara
saku
dilakukan
mandiri
menggunakan
dan biaya
pribadi. 4.
Waktu konsultasi, diskusi dan penerapan Mengadakan
konsultasi,
edukasi keluarga pasien kurang maksimal diskusi
penerapan
dan
karena keadaan dan kondisi saya sebagai edukasi kepada keluarga peserta latsar dan beberapa rekan sejawat pasien dilakukan secara termasuk kepala ruangan yang sedang daring
Pencetakan perpanjangan
buku waktu
saku
zoom
meeting.
terkonfirmasi positif covid-19. 5.
melalui
mengalami Pencetakan
dikarenakan
sedang menjalankan isolasi mandiri.
saya setelah isoman.
dilakukan
selesai
masa
F.
RANCANGAN TINDAK LANJUT HASIL AKTUALISASI
Berdasarkan hasil kegiatan aktualisasi yang telah dilakukan oleh penulis selama kurang lebih satu bulan, perlu dilakukan rencana tindak lanjut untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas mutu pelayanan sebagai perawat. Berikut adalah rancangan tindak lanjut berdasarkan hasil aktualisasi: Table 4.5 Rancangan Tindak Lanjut Hasil Aktualisasi
No.
1.
Kegiatan
Output
Membuat
Seluruh
ruangan
penggandaan
instalasi RS memiliki
buku saku
media edukasi buku
Durasi dan
Para Pihak
Waktu
Terlibat
1 tahun
PKRS
3 bulan
Perawat
saku dan buku saku dapat
diberikan
keseluruh
keluarga
pasien
setelah
mendapatkan edukasi. 2.
Melakukan
Seluruh
perawat
sosialisasi
ruangan baik di MPE,
penggunaan
Derawan, IRJ dan IGD
RSKO
buku saku pada mendaptkan perawat di MPE, pemahaman Derawan,
IRJ pengunggunaan buku
dan IGD
saku saat memberikan edukasi.
3.
Evaluasi
Penerapan
penerapan
rutin
edukasi 3 bulan sekali
diberikan
edukasi dengan perawat. penggunaan buku
saku
secara berkala
83
oleh
Perawat RSKO
BAB V PENUTUP A.
KESIMPULAN Kegiatan aktualisasi dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2021 sampai dengan tanggal 7 Juli 2021 di Instalasi Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta. Berdasarkan hasil kegiatan aktualisasi dapat disimpulkan sebagai beriukut : 1. Pada
perumusan
kegiatan
aktualisasi
telah
teridentifikasi
core issue
berdasarkan data dan fakta yang aktual yakni belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta. Berdasarkan dari data dan fakta yang ada diperoleh beberapa prioritas masalah yang mendasarinya yaitu kurangnya motivasi perawat dalam menerapkan edukasi keluarga, belum tersedianya media informasi tentang edukasi keluarga dan perawat ruangan rehabilitasi belum rutin menerapkan edukasi keluarga. 2. Tersusunnya rancangan aktualisasi yaitu melakukan koordinasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim mengenai pentingnya edukasi rehabilitasi NAPZA kepada keluarga pasien, menentukan kebutuhan edukasi tentang rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh keluarga pasien, Penyampaian gagasan rancangan brosur/leaflet tentang edukasi rehabilitasi NAPZA berdasarkan hasil survey, pengadaan brosur/ leaflet di ruang rehabilitasi, sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA, dan penerapan penggunaan brosur/leaflet edukasi kepada keluarga pasien. Rancangan kegiatan tersebut disusun dan telah diseminarkan pada seminar rancangan aktualisasi pada tanggal 2 Juni 2021. 3. Kegiatan aktualisasi yang telah dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta merupakan bentuk kegiatan yang bersifat inovatif seperti pengadaan buku saku “Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA” sebagai acuan dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien. Pada kegiatan aktualisasi tersebut terdapat beberapa perubahan dari rancangan aktualisasi yang telah disusun yakni adanya perubahan media informasi dari brosur/ leaflet menjadi buku saku, hal ini telah disesuaikan berdasarkan hasil survey edukasi yang penting dan dibutuhkan oleh
84
keluarga pasien. Sehingga diharapkan dengan adanya media buku saku ini dapat memudahkan perawat rehabilitasi dalam memberikan edukasi, selain itu juga dengan adanya buku saku tersebut perawat dalam pemberian edukasi kepada keluarga menjadi lebih terarah dan tepat sasaran.
B.
SARAN Berdasarkan proses pembelajaran pada Pelatihan Dasar CPNS Kemenkes Golongan III Angkatan 2 di Bapelkes Cikarang hingga selesainya laporan kegiatan aktualisasi ini, terdapat beberapa saran diantaranya : 1. Bagi Rekan Sejawat Di RS Ketergantungan Obat Jakarta Dengan adanya media buku saku Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA diharapakan dapat terus digunakan sebagai pedoman dan acuan perawat dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien. Diharapkan pula buku saku tersebut dapat terus berkembang mengikuti perkembangan informasi dan era globalisasi yang semakin maju melalui ASN yang memiliki jiwa pembaharuan dan berintegritas tinggi. 2. Bagi Instansi RS Ketergantungan Obat Jakarta Semua ASN di lingkungan RS Ketergantungan Obat Jakarta dapat bekerja dengan menerapkan nilai-nilai dasar ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi) sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Sehingga dapat melahirkan ASN yang memiliki integritas tinggi , inovatif, jujur, disiplin dan penuh tanggung jawab. 3. Bagi Penyelenggara Pelatihan Dasar CPNS Perlu adanya format baku dalam pembuatan laporan kegiatan aktualisasi sehingga peserta dapat memiliki acuan dan mengerti serta memahami konsep evaluasi yang diharapkan oleh penyelenggara.
85
DAFTAR PUSTAKA
Budi. A. K, Giur. H., Tim Manajemen Stress 2017. (2018). Modul: Manajemen Stress. Edisi Revisi 2018. Program Magister Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Departemen Kesehatan RI. (2002). Pedoman Umum Pengenalan Masalah Psikosoial Bagi Petugas Kesehatan/ Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan. Direktorat Jendral Bina Pelayanan Medik, Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa, Departemen Kesehatan RI. (2006). Pedoman penyuluhan masalah narkotika, psikotropika dan sat adiktif lainnya (NAPZA) bagi petugas Kesehatan: Jakarta. G. Alan Marlatt and Dennis M. Donovan. (2005). Relapse Prevention: Maintenance Strategies In The Treatment Of Addictive Behaviors. Second Edition. The Guildford Press. Humas
BNN.
(2013).
Artikel
:
Kambuh
(Relapse).
Diakses
dari
https://bnn.go.id/kambuh-relapse/ pada tanggal 15 Juni 2021. Jihan N.A. (2016). Pengaruh Terapi Guided Imagery Terhadap Tingkat Stres Pada
Mahasiswa Tingkat Akhir Dalam Menyelesaikan Skripsi. Fakultas Keperawatan Universitas
Airlangga
Surabaya.
Diakses
dari
http://repository.unair.ac.id/50614/13/50614.pdf pada tanggal 15 Juni 2021. Smeltzer, S.C. (2010). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Volume 1 & 2, Edisi 8. Jakarta: EGC. Sri Utami. (2015). Efektifitas Relaksasi Napas Dalam Dan Distraksi Dengan Latihan 5 Jari
Terhadap Nyeri Post Laparatomi. Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau. Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Analisis Isu Kontemporer. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Akuntabilitas. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Nasionalisme. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia .
86
Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Etika Publik. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Komitmen Mutu. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Anti Korupsi. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Manajemen Aparatur Sipil Negara. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2017. Whole of Government. . Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2017. Pelayanan Publik. . Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia .
87
LAMPIRAN A.
LEMBAR SURVEY TINGKAT KEBUTUHAN EDUKASI KELUARGA
88
89
B.
POWER POINT SOSIALISASI
90
91
92
93
94
95
C.
BUKU SAKU
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
D.
KUISIONER PERAWAT
109
E.
FORM PENGENDALIAN COACH FORMULIR PENGENDALIAN OLEH COACH
Nama
: Ns. Rafi Triani, S.Kep
NIP
: 198706172020122004
Unit Kerja
: Ruang Rawat Inap Rehabilitasi
Instansi
: RS Ketergantungan Obat Jakarta
Isu
: Belum Optimalnya Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien Tentang Rehabilitasi NAPZA Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta.
Coach
:
Dr. drg. Siti Nur Anisah, MPH
Pertemuan 1:
Penyelesaian Kegiatan
Catatan Coach
Waktu dan Media
• Tahapan Kegiatan • Output kegiatan terhadap
judul
laporan rancangan • Perbaiki
pemecahan isu • Keterkaitan
• Perbaiki
substansi
mata pelatihan • Penguatan nilai organisasi
kembali
matriks, setiap tahap kegiatan
harus
sesuai
dengan
kegiatannya. • Untuk
diagram
fishbone tidak perlu pakai warna-warna, garis
tulangnya
harus lebih tebal dari cabang tulangnya.
110
21 Mei 2021 Zoom Meeting
Paraf
Pertemuan 2:
Penyelesaian Kegiatan
Catatan Coach
Waktu dan Media
• Tahapan Kegiatan
PPT
harus
27 Mei 2021
• Output kegiatan terhadap dimaksimalkan
ditiap
Zoom Meeting
lembarnya, power point
pemecahan isu • Keterkaitan
Perbaiki
substansi jangan terlalu banyak,
mata pelatihan • Penguatan nilai organisasi
agar
waktu
saat
presentasi lebih efisien.
111
Paraf
Pertemuan 3:
Penyelesaian Kegiatan
Catatan Coach
Waktu dan
Paraf
Media
• Tahapan Kegiatan
• Very Good.
• Output kegiatan terhadap
• Dirancangan
pemecahan isu
• Keterkaitan
substansi
mata pelatihan
• Penguatan nilai organisasi
14 Juni 2021
Website Kolabjar
akualisasi
pada
keterkaitan
mata
pelatihan,
tolong
agenda 3 dihapus, hanya memuat nilainilai ANEKA saja.
Pertemuan 4:
Penyelesaian Kegiatan
Catatan Coach
Waktu dan Media
• Tahapan Kegiatan • Output kegiatan terhadap
setiap
dokumentasi harus dinarasikan,
pemecahan isu
• Keterkaitan
• Untuk
substansi
mata pelatihan
tambahkan tanggal, waktu,
• Penguatan nilai organisasi
112
siapa
saja
29 Juli 2021 Zoom Meeting
Paraf
yang terlibat dalam foto, dan hasilnya.
Pertemuan 5:
Penyelesaian Kegiatan
Catatan Coach
Waktu dan Media
• Tahapan Kegiatan • Output kegiatan terhadap
• Tambahkan diagram AKPL pada PPT
pemecahan isu
113
4 Agustus 2021 Zoom Meeting
Paraf
• Keterkaitan
substansi
mata pelatihan
• Penguatan nilai organisasi
• Untuk dokumentasi sudah bagus karena sudah
jelas
pendeskrisiannya pada tiap foto.
• Tabel hambatan dan solusi sudah jelas.
F.
FORM PENGENDALIAN MENTOR
114
AKTUALISASI OPTIMALISASI PENERAPAN EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA OLEH PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP REHABILITASI RUMAH SAKIT KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA
Ns. Rafi Triani, SKep. NIP. 198706172020122004 Penata Muda/Golongan IIIa Jabatan Perawat Ahli RS Ketergantungan Obat Jakarta Ners PSIK Universitas Sriwijaya
Latsar Golongan III Angkatan 2 Kelompok D
PROFIL RS KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA VISI
MISI
“Menjadi Pusat Rujukan Nasional Dalam Bidang Ketergantungan Obat Dan Adiksi Lainnya Tahun 2024 Dalam Rangka Mendukung Pembangunan Sumber Daya Manusia”
1. Menyelenggarakan
2. Menyelenggarakan
3. Menyelenggarakan
upaya preventif, promotive, kuratif dan rehabilitatif
Pendidikan, pelatihan dan sertifikasi
penelitian dan pengembangan
TUGAS DAN FUNGSI JABATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
Pengkajian keperawatan lanjutan Merumuskan diagnosa keperawatan Deteksi dini kasus Support kepatuhan terhadap intervensi kesehatan Melakukan Pendidikan Kesehatan pada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat Tatakelola keperawatan perlindungan pasien dari resiko trauma Komunikasi terapeutik Menfasilitasi lingkungan tenang dan aman Evaluasi tindakan keperawatan Dokumentasi asuhan keperawatan
METODE AKPL
ANALISIS ISU Belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat Kurang efektifnya pelaksanaan pengendalian manajemen stress pada pasien akibat regulasi larangan merokok
ISU 1
METODE USG
KRITERIA ISU
N O
ISU
1.
TERPILIH/ TIDAK A
K
P
L
ISU1
+
+
+
+
TERPILIH
2.
ISU 2
+
-
+
+
TERPILIH
3.
ISU 3
+
-
-
+
TERPILIH
N O
ISU
U
S
G
TOTAL
1.
ISU 1
5
5
5
15
2.
ISU 2
4
4
4
12
3.
ISU 3
4
4
3
11
DESKRIPSI CORE ISU
ISU 2
DATA & FAKTA Kurang efektifnya penerapan personal hygine pada pasien special program
1. Hasil observasi 2. Hasil wawancara
ISU 3
GAGASAN ISU 1. 2. 3. 4. 5. 6.
Perawat hanya berorientasi pada terapis medis
Kurangnya motivasi perawat dalam penerapan edukasi keluarga
Melakukan koordinasi dengan kepala ruangan mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien Menentukan kebutuhan edukasi yang dibutuhkan keluarga Penyampaian gagasan rancangan brosur/ leaflet dengan kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana Pengadaan brosur/ leaflet Sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet dalam persiapan edukasi Evaluasi penggunaan brosur/ leaflet kepada keluarga pasien
Minimnya komunikasi perawat dengan keluarga
Perawat ruangan belum rutin menerapkan edukasi keluarga
Masih kurang tersedianya media informasi tentang edukasi keluarga Belum efektifnya jadwal kegiatan case disscuse/ conffrence di ruangan
DAMPAK
CORE ISU
BELUM OPTIMALNYA PENERAPAN EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA OLEH PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP REHABILITASI RSKO JAKARTA
Belum optimalnya edukasi rehabilitasi NAPZA keluarga pasien oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta
Intervensi keperawatan keluarga belum terstandar
1. Kurangnya responsive perawat dalam pelayanan 2. Kurangnya informasi yang didapatkan keluarga 3. Adanya kemungkinan relaps pada pasien
Masih belum tetapnya jadwal khusus edukasi untuk keluarga
3
KEGIATAN 1 : Melakukan koordinasi dengan Ka. Instalasi, Ka. Ruangan dan Ka. Tim mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA. 1. Mengajukan izin kepada Ka. Instalasi, Ka. Ruangan, dan Katim
Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juni 2021 pukul 09:00 – 11:00 WIB di ruang Ranap Rehabilitasi, hasil dari kegiatan ini adalah didapatkannya izin kepada Ka. Instalasi (dr. Carlamia H. Lusikooy, SH. Sp.KJ (K), Ka. Ruangan (Ns. Sofia Baradja, S.Kep), dan Ka. Tim (Ns. Nurwahidah Hasan, S.Kep) untuk mengadakan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA di ruang Rehabilitasi
2. Mendiskusikan mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien
Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juni 2021, pukul 10:15 di Ruang Ranap Rehabilitasi, berdasarkan hasil diskusi dengan Ibu Sofia Baradja dan Nurwahida, bahwa edukasi kepada keluarga sangat penting sekali karena jika keluarga mempunyai informasi-informasi mengenai NAPZA keluarga akan memiliki keterampilan dalam merawat pasien. Disamping itu juga edukasi keluarga sebelumnya belum rutin dilaksanakan dan belum memiliki panduan dalam memberikan edukasi
4
KEGIATAN 2 : MENENTUKAN KEBUTUHAN EDUKASI TENTANG REHABILITASI NAPZA YANG DIBUTUHKAN KELUARGA 1. Membuat lembar kuesioner yang
2. Mengkonsultasikan isi lembar kuesioner dengan Ka. Ruangan, Ka. Tim dan Mentor
berisi survey mengenai edukasi yang dibutuhkan keluarga pasien.
Dokumentasi diambil pada tanggal 07 Juni 2021, pukul 19:00 WIB, pembuatan lembar survey berdasarkan dari judul-judul materi edukasi yang akan diberikan kepada keluarga, dari lembar survey akan dilihat materi-materi apa saja yang akan dibutuhkan oleh keluarga pasien.
. Dokumentasi diambil pada tanggal 08 Juni 2021 pukul 11:00 di Ranap Rehab dengan Karu dan Katim, serta pukul 13:00 di ruang Bidang Medik & Keperawatan dengan Pak Okta Mustikallah, S.Kep., Ners. Berdasarkan hasil konsultasi dengan Karu & Katim adalah penyusunan urutan pertanyaan pada lembar survey dan pembendaharaan kata. Hasil konsultasi dengan mentor adalah perlunya penambahan kata pembuka sebelum pertanyaan dan penambahan pertanyaan mengenai materi edukasi yang dibutuhkan
5
KEGIATAN 2 : MENENTUKAN KEBUTUHAN EDUKASI TENTANG REHABILITASI NAPZA YANG DIBUTUHKAN KELUARGA 3. Memberikan lembar kuesioner kepada keluarga pasien disaat jam kunjung pasien.
4. Mengumpulkan survey terbanyak edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien.
SURVEY TINGKAT KEBUTUHAN EDUKASI KELUARGA
.
Dokumentasi diambil pada tanggal 09-10 Juni 2021 pukul 09:00 WIB di Ruang Ranap Rehab saat jam kunjung pasien. Sebelum membagikan kuesioner dilakukan penjelasan mengenai maksud dan tujuan diadakannya pengisian lembar survey. Kemudian keluarga mengisi lembar survey yang tersedia. Keluarga pasien yang telah mengisi lembar survey adalah sebanyak 11 orang..
12 10 8 6 4 2 0
11 100%
11 100%
11 100% 8 72,7%
3 27,3%
0
11 100%
9 81,8%
8 72,7%
11 100%
8 72,7%
8 72,7%
7 63,6% 4 36,4%
3 27,3%
2 18,2%
0
11 100%
3 27,3%
3 27,3%
0
0
0
Tidak Penting
Butuh
Tidak Butuh
0
6 Penting
KEGIATAN 3 : PENYAMPAIAN PERUBAHAN GAGASAN RANCANGAN BROSUR/ LEAFLET TENTANG EDUKASI REHABILITASI NAPZA MENJADI BUKU SAKU KEPADA KEPALA RUANGAN DAN KETUA TIM SERTA PERAWAT PELAKSANA, SERTA MENTOR. 1.
Menyampaikan perubahan gagasan kepada Karu dan Katim serta Mentor mengenai rancangan brosur/ leaflet edukasi Rehabilitasi NAPZA menjadi buku berdasarkan hasil survey.
2. Menyusun draft rancangan buku saku dengan mengkolaborasikan beberapa referensi terkait yang telah dikonsulkan.
Dokumentasi diambil pada tanggal 14-16 Juni 2021 pukul 13:00 WIB di ruang Ranap Rehab. Penyusunan draft rancangan buku saku diambil dari berbagai sumber buku dan jurnal terkait. 3. Mendiskusikan rancangan buku saku dengan Karu dan Katim serta perawat pelaksana.
Dokumentasi diambil pada tanggal 13 Juni 2021 pukul 11:00 WIB dengan Karu dan Katim di ruang ranap Rehab, serta pukul 14:00 WIB di ruang Bidang Medik dan Keperawatan dengan mentor. Berdasarkan hasil diskusi didapatkan persetujuan dari Karu, Katim dan Mentor mengenai perubahan media edukasi berupa brosur/ leaflet menjadi buku saku.
Dokumentasi ini diambil pada tanggal 17 Juni 2021 pukul 15:00 di ruang Ranap Rehab. Diskusi dilakukan bersama-sama dengan Karu , Katim dan Perawat pelaksana, hasil diskusi didapatkan beberapa masukan mengenai penambahan beberapa materi seperti tahap-tahap dari latihan relaksasi pada manajemen stress dan jadwal kegiatan pasien di ruang Rehab, serta 7 adanya perbaikan pembendaharaan kata yg mudah dipahami oleh keluarga pasien.
KEGIATAN 4 : PENGADAAN BUKU SAKU EDUKASI KELUARGA TENTANG REHABILITASI NAPZA DI RUANG 4. Mencetak buku saku edukasi yang telah disepakati. REHABILITASI 1.
Membuat desain buku saku edukasi tentang Rehabilitasi NAPZA.
Dokumentasi diambil pada tanggal 17 Juni 2021 pukul 20 :00 WIB. Pembuatan desain buku berdasarkan dari draft rancangan buku saku yang telah dibuat dengan judul buku “Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA”
Dokumentasi diambil pada tanggal 26 Juli 2021 pukul 10:00 WIB di Saudara Digital Copier Bekasi. Pencetakan buku saku dilakukan secara mandiri dan dilakukan setelah masa isoman. Pencetakan buku saku dibuat sebanyak 3 buku.
3. Mengkonsultasikan desain buku saku kepada Karu/ Katim.
2. Mengkonsultasikan desain buku saku kepada bagian hukormas RS.
Dokumentsai diambil pada tanggal 20 Juni 2021 pukul 19:00 WIB melalui Zoom Meeting. Konsultasi dilakukan dengan bagian Hukormas Bapak Firdaus, hasil konsultasi adalah masukan mengenai desain cover, font tulisan, dan isi dari buku saku untuk lebih dipersingkat dan diambil intinya seperti pembuatan power point.
Dokumentasi diambil pada tanggal 26 Juni 2021 pukul 09:00 WIB melalui Zoom Meeting. Hasil konsultasi dengan Katim adalah untuk isi buku jangan dipersingkat dan harus jelas tujuan agar keluarga pasien yang membaca tidak bingung dan mudah memahami informasi-informasi dari isi materi yang ada dalam buku saku tersebut. Untuk desain cover sudah 8 sangat bagus dan font tulisan bisa dibaca.
KEGIATAN 5 : SOSIALISASI PENGGUNAAN BUKU SAKU DALAM PERSIAPAN EDUKASI KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA KE PERAWAT RUANGAN 1. Meminta izin kepada Ka. Instal 2. Melakukan sosialisasi penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO untuk melakukan sosialisasi Jakarta. penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO Jakarta.
Dokumentasi diambil pada tanggal 18 Juni 2021 pukul 09:00 di Ruang Ranap Rehab. Hasil kegiatan adalah mendapatkan izin dari dr. Carlamia H. Lusikooy, SH. SpKJ (K) untuk melakukan sosialisasi mengenai edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO Jakarta.
Dokumentasi diambil pada tanggal 18 Juni 2021 pukul 13:00 WIB di Ruang Konferensi RSKO Jakarta dengan Zoom Meeting pada kegiatan Kajian Ilmiah Keperawatan (Jum’at Barokah). Zoom meeting dihadari sebanyak 36 orang dan sebanyak 9 orang yang hadir dalam ruang konferense. Semua peserta sangat antusias dengan memberikan beberapa pertanyaan dan memberi masukan terkait edukasi keluarga. Semua peserta sangat mendukung dengan adanya edukasi keluarga sehingga kegiatan sosialisasi ini dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu
9
KEGIATAN 5 : SOSIALISASI PENGGUNAAN BUKU SAKU DALAM PERSIAPAN EDUKASI KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA KE PERAWAT RUANGAN 3. Melakukan sosialisasi penggunaan buku saku dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat Rehab.
Dokumentasi diambil pada tanggal 27 Juni 2021 Pukul 08:00 WIB dengan Zoom Meeting. Sosialisasi dilakukan secara daring dikarenakan saya sedang menjalani isoman. Kegiatan sosialisasi diadakan pada saat operan shift pagi dikarenakan jumlah perawat pelaksana lebih banyak. Hasil kegiatan sosialisasi adalah perawat telah memahami isi materi edukasi dari buku saku.
4, Mendiskusikan penerapan buku saku edukasi yang akan diberikan kepada keluarga pasien.
Dokumentasi diambil pada tanggal 27 Juni 2021 Pukul 08:00 WIB dengan Zoom Meeting. Hasil kegiatan diskusi adalah edukasi keluarga akan diberikan secara daring dikarenakan peniadaan jam kunjung di masa pandemi Covid -19.
10
KEGIATAN 6 : PENERAPAN PENGGUNAAN BUKU SAKU EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA LANGSUNG DENGAN PASIEN 2. Membuat kontrak waktu dengan keluarga pasien 1.
Membuat Satuan Penyuluhan (SAP) pelaksanaan edukasi.
Acara untuk
Dokumentasi diambil pada tanggal 03 Juli 2021 pukul 17:24 WIB via WhatsApp, tujuan dilakukan kontrak waktu adalah untuk membuat perjanjian dan kesepakatan waktu serta menjelaskan maksud dan tujuan untuk dilakukannya edukasi kepada keluarga pasien. 3. Menerapkan edukasi kepada keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA dengan buku saku.
Dokumentasi dambil pada tanggal 03 Juli 2021 pukul 07:00 WIB. Tujuan dibuatnya SAP ini adalah untuk mempermudah perencanaan dan pelaksanaan kegiatan edukasi yang akan dilakukan.
Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juli 2021 pukul 16:20 WIB via zoom meeting. Kegiatan edukasi sangat berjalan dengan lancar dan keluarga pasien sangat kooperatif serta antusias dalam mendengarkan dan bertanya kepada perawat.
11
KEGIATAN 6 : PENERAPAN PENGGUNAAN BUKU SAKU EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA LANGSUNG DENGAN PASIEN
4. Evaluasi penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA.
Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juli 2021 pukul 19:00 WIB. Evaluasi didapatkan dari antusias dari keluarga pasien dalam memberikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari perawat. Hasil evaluasi terlampir dalam laporan SAP.
5. Evaluasi perawat dalam pelaksanaan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA.
Dokumentasi diambil pada tanggal 05-08 Juli 2021 di waktu shift parawat Rehabilitasi. Kuesioner diisi oleh perawat Rehabilitasi pada saat shift jaga, dengan jumlah 14 perawat. Kuesioner ini dibuat untuk mengevaluasi perawat Rehabilitasi mengenai pelaksanaan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA dengan adanya media buku saku.
12
KEGIATAN 6 : PENERAPAN PENGGUNAAN BUKU SAKU EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA LANGSUNG DENGAN PASIEN 6. Membuat laporan hasil evaluasi penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA.
PEMAHAMAN PERAWAT DALAM PELAKSANAAN EDUKASI KELUARGA 16 14 12 10 8 6 4 2 0
14…
14…
14…
13…
12…
2…
0 Pentingnya Edukasi Kepada Keluarga Pasien
0
1…
0
Pengadaan Buku Saku Cakupan Isi Buku Saku Kesulitan Penggunaan Keefektifan Pemberian Buku Saku Dalam Edukasi selama 30 Edukasi menit YA TIDAK
Berdasarkan dari data hasil kuesioner didapatkan bahwa 14 (100%) dari 14 perawat ruang Rehabilitasi menyatakan edukasi sangat penting diberikan kepada keluarga pasien karena jika keluarga lebih paham tentang NAPZA, efek samping dan cara merawatnya maka keluarga akan memiliki keterampilan dalam merawat pasien, 14 (100%) dari 14 perawat menyatakan dengan adanya pengadaan buku saku “Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA” dapat membantu dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien sehingga edukasi lebih terarah dan tepat sasaran, 13 (92,9%) dari 14 perawat mengatakan isi dari buku saku tersebut sudah mencakup semua informasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien, 14 (100%) dari 14 perawat mengatakan tidak menemukan kesulitan dalam memberikan edukasi kepada keluarga dengan menggunakan buku saku dan 12 (85,7%) dari 14 perawat mengatakan waktu pemberian edukasi kepada keluarga pasien selama 30 menit cukup efektif.
13
KEGIATAN 6 : PENERAPAN PENGGUNAAN BUKU SAKU EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA LANGSUNG DENGAN PASIEN
7. Membuat video testimoni.
Dokumentasi ini diambil pada tanggal 26 Juli 2021 pukul 13:00 WIB di ruang Rehabilitasi, video ini merupakan testimoni yang diberikan oleh Kepala Ruangan (Ibu Ns. Sofia Baradja, SKep.), Katim (Ns. Nurwahida, SKep.), dan Perawat pelaksana (Ns. Frida S, SKep.). 14
HAMBATAN DAN SOLUSI NO.
HAMBATAN
SOLUSI
1.
Rekan sejawat belum tersosialisasi mengenai kegiatan edukasi kepada keluarga pasien.
Melakukan kegiatan sosialisasi mengenai edukasi keluarga kepada rekan sejawat melalui kegiatan kajian ilmiah (Jum’at Barokah)
2.
Rancangan media edukasi keluarga dengan metode brosur/ leaflet tidak terlaksana karena tidak mencakup kebutuhan edukasi keluarga pasien
Mengganti media edukasi dengan buku saku karena dapat mencakup semua informasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien.
3.
Pengadaan buku saku yang diajukan kepada PKRS untuk sekarang masih dalam proses pengajuan anggaran.
Pengadaan buku saku sementara dilakukan secara mandiri dan menggunakan biaya pribadi.
4.
Waktu konsultasi, diskusi dan penerapan edukasi keluarga pasien kurang maksimal karena keadaan dan kondisi saya sebagai peserta latsar dan beberapa rekan sejawat termasuk kepala ruangan yang sedang terkonfirmasi positif covid-19.
Mengadakan konsultasi, diskusi dan penerapan edukasi kepada keluarga pasien dilakukan secara daring melalui zoom meeting.
5.
Pencetakan buku saku mengalami perpanjangan waktu dikarenakan saya sedang menjalankan isolasi mandiri.
Pencetakan dilakukan setelah selesai masa isoman. 15
KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Pada perumusan kegiatan aktualisasi telah teridentifikasi core issue berdasarkan data dan fakta yang ada yakni belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA. 2. Tersusunnya rancangan aktualisasi yaitu melakukan koordinasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim mengenai pentingnya edukasi Rehabilitasi NAPZA kepada keluarga pasien, rancangan kegiatan aktualisasi ini terdiri dari 6 kegiatan. 3. Kegiatan aktualisasi yang telah dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap Rehabilitasi RSKO Jakarta merupakan bentuk kegiatan yang bersifat inovatif seperti pengadaan buku saku “Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA” sebagai acuan dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien. Pada kegiatan aktualisasi tersebut terdapat beberapa perubahan dari rancangan aktualisasi yang telah disusun yakni adanya perubahan media informasi dari brosur/ leaflet menjadi buku saku. B. SARAN 1. Bagi Rekan Sejawat Di RSKO Jakarta Dengan adanya media buku saku diharapkan dapat terus digunakan sebagai pedoman dan acuan perawat dalam memberikan edukasi kepada keluarga. Diharapkan pula buku saku tersebut dapat terus berkembang mengikuti perkembangan informasi dan era globalisasi yang semakin maju melalui ASN yang memiliki jiwa pembaharuan dan beintegritas tinggi 2. Bagi Instansi RS Ketergantungan Obat Jakarta Semua ASN di lingkungan RSKO Jakarta dapat bekerja dengan menerapkan nilai-nilai ANEKA sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Sehingga dapat melahirkan ASN yang memiliki integritas tinggi, inovatif, jujur, disiplin dan penuh tanggung jawab. 3. Bagi Penyelenggara Pelatihan Dasar CPNS 16 Perlu adanya format baku dalam pembuatan laporan kegiatan aktualisasi sehingga peserta dapat memiliki acuan dan mengerti serta memahami konsep evaluasi yang diharapkan oleh penyelenggara.
REFERENSI Budi. A. K, Giur. H., Tim Manajemen Stress 2017. (2018). Modul: Manajemen Stress. Edisi Revisi 2018. Program Magister Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Departemen Kesehatan RI. (2002). Pedoman Umum Pengenalan Masalah Psikosoial Bagi Petugas Kesehatan/ Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan. Direktorat Jendral Bina Pelayanan Medik, Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa, Departemen Kesehatan RI. (2006). Pedoman penyuluhan masalah narkotika, psikotropika dan sat adiktif lainnya (NAPZA) bagi petugas Kesehatan: Jakarta. G. Alan Marlatt and Dennis M. Donovan. (2005). Relapse Prevention: Maintenance Strategies In The Treatment Of Addictive Behaviors. Second Edition. The Guildford Press. Humas BNN. (2013). Artikel : Kambuh (Relapse). Diakses dari https://bnn.go.id/kambuhrelapse/ pada tanggal 15 Juni 2021. Jihan N.A. (2016). Pengaruh Terapi Guided Imagery Terhadap Tingkat Stres Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Dalam Menyelesaikan Skripsi. Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya. Diakses dari http://repository.unair.ac.id/50614/13/50614.pdf pada tanggal 15 Juni 2021. Smeltzer, S.C. (2010). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Volume 1 & 2, Edisi 8. Jakarta: EGC. Sri Utami. (2015). Efektifitas Relaksasi Napas Dalam Dan Distraksi Dengan Latihan 5 Jari Terhadap Nyeri Post Laparatomi. Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau. Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Analisis Isu Kontemporer. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Akuntabilitas. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia
Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Analisis Isu Kontemporer. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Akuntabilitas. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Nasionalisme. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Etika Publik. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Komitmen Mutu. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Anti Korupsi. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Manajemen Aparatur Sipil Negara. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2017. Whole of Government. . Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2017. Pelayanan Publik. . Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia .
17
18