Skip to main content

Optimalisasi Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien Tentang Rehabilitasi Napza Oleh Perawat

Page 1

LAPORAN AKTUALISASI PELATIHAN DASAR CPNS GOLONGAN III ANGKATAN 2

OPTIMALISASI PENERAPAN EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA OLEH PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP REHABILITASI RUMAH SAKIT KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA

DISUSUN OLEH : Ns. RAFI TRIANI, S.Kep NIP. 198706172020122004

BAPELKES CIKARANG KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2021


LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN AKTUALISASI OPTIMALISASI PENERAPAN EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA OLEH PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP REHABILITASI RUMAH SAKIT KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA

Telah diseminarkan Tanggal 09 Agustus 2021, di Bapelkes Cikarang

Coach

Mentor

Dr. drg. Siti Nur Anisah, MPH NIP. 196509141992032004

Okta Mustikallah, S.Kep., Ners NIP. 197510212005011010

Penguji

Aulia Fitriani, ST. MKM NIP.197508142006042001

ii


LEMBAR KOMITMEN MENERAPKAN NILAI ANEKA Nama

: Ns. Rafi Triani, S.Kep

Nomor Daftar Hadir

: 1 (Golongan 3, Angkatan 2)

Instansi

: RS Ketergantungan Obat Jakarta

Saya adalah Pegawai Negeri Sipil sebagai pelayan masyarakat, maka oleh karenanya dalam setiap pelaksanaan tugas, saya akan selalu : 1.

Melaksanakan tugas dengan sepenuh hati, jujur, tanggung jawab dan berintegritas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.

Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerjasama, mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai.

3.

Meningkatkan kemampuan dalam berpikir kreatif dan inovatif demi kemajuan bangsa dan negara.

Jakarta, 31 Mei 2021 Calon Pegawai Negeri Sipil

Ns. Rafi Triani, S.Kep NIP. 198706172020122004

iii


KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum, Wr. Wb. Alhamdulillahi rabbil’alamin, Saya ucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat kepada kita semua. Shalawat dan Salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW sehingga kita semua dapat menjalani segala kebaikan yang bermanfaat ini. Pada kesempatan kali ini, saya sebagai peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Kementerian Kesehatan Tahun 2021 telah menyusun rancangan aktualisasi. Oleh karena itu, izinkan saya untuk mengucapkan terimakasih kepada : 1.

PLT Direktur Utama RS Ketergantungan Obat Jakarta yakni dr. R Soekoe W Nindito, MARS yang telah memberikan dukungan kepada saya untuk dapat mengikuti kegiatan pelatihan dasar CPNS Golongan III ini dengan sebaik-baiknya.

2.

Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Cikarang yakni Drs. Suherman, M.Kes.

3.

Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan sekaligus sebagai mentor yakni Bapak Okta Mustikallah, SKep., Ners, terima kasih telah memberikan dukungan, arahan dan bimbingan kepada saya dalam menyusun rancangan kegiatan aktualisasi ini dengan sebaik-baiknya.

4.

Ibu Dr. drg. Siti Nur Anisah, MPH sebagai Coach yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada saya dalam menyusun rancangan kegiatan aktualisasi ini dengan sebaik-baiknya.

5.

Bapak/ Ibu pengajar serta seluruh panitia yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas kebaikan Bapak/ Ibu semua.

6.

Seluruh teman-teman pelatihan dasar CPNS Golongan III Kementerian Kesehatan RI.

Semoga rancangan kegiatan aktualisasi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan. Wassalamu’alaikum, Wr.Wb. Cikarang, 17 Mei 2021 Penyusun,

Ns. Rafi Triani, S.Kep NIP. 198706172020122004

iv


DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................... ii LEMBAR KOMITMEN MENERAPKAN NILAI ANEKA .................................................. iii KATA PENGANTAR ............................................................................................... iv DAFTAR ISI .......................................................................................................... v DAFTAR BAGAN ................................................................................................... vi DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... viii DAFTAR TABEL .................................................................................................... ix DAFTAR DIAGRAM ................................................................................................. x BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG .........................................................................................1

B.

TUJUAN ........................................................................................................4

C.

D.

1.

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) ....................................................4

2.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) ..................................................4

MANFAAT......................................................................................................4 1.

BAGI PENULIS .......................................................................................4

2.

BAGI INSTANSI KERJA ............................................................................5

3.

BAGI BAPELKES CIKARANG .....................................................................5

RUANG LINGKUP ...........................................................................................5

BAB II GAMBARAN ORGANISASI DAN PROFIL PESERTA A.

B.

PROFIL RS KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA ...............................................6 1.

SEJARAH RUMAH SAKIT ..........................................................................6

2.

VISI DAN MISI RUMAH SAKIT ..................................................................7

3.

FALSAFAH RUMAH SAKIT .........................................................................7

4.

MOTTO RUMAH SAKIT .............................................................................7

5.

STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT ....................................................8

6.

TUJUAN DAN FUNGSI ORGANISASI RUMAH SAKIT .................................. 10

7.

JENIS PELAYANAN RUMAH SAKIT ........................................................... 11

8.

PELAYANAN UNGGULAN RUMAH SAKIT................................................... 12

PROFIL PESERTA ......................................................................................... 13 1.

IDENTITAS DIRI ................................................................................... 13

2.

TUSI JABATAN ...................................................................................... 13

v


BAB III RANCANGAN AKTUALISASI A.

IDENTIFIKASI ISU ....................................................................................... 15

B.

ANALISIS ISU .............................................................................................. 19

C.

KONDISI YANG DIHARAPKAN ....................................................................... 21

D.

DAMPAK DARI ISU ....................................................................................... 21

E.

MATRIKS RANCANGAN AKTUALISASI ............................................................ 23

F.

RENCANA JADWAL AKTUALISASI .................................................................. 34

BAB IV PELAKSANAAN AKTUALISAI A.

PENJELASAN PELAKSANAAN AKTUALISASI .................................................... 35

B.

PENCAPAIAN PENYELESAIAN ISU ................................................................. 76

C.

MANFAAT PELAKSANAAN AKTUALISASI ......................................................... 76

D.

PERUBAHAN JADWAL KEGIATAN .................................................................. 78

E.

HAMBATAN DAN SOLUSI SELAMA PELAKSANAAN KEGIATAN AKTUALISASI ...... 82

F.

RANCANGAN TINDAK LANJUT HASIL AKTUALISASI ........................................ 83

BAB V PENUTUP A.

KESIMPULAN ............................................................................................... 84

B.

SARAN ........................................................................................................ 85

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

vi


DAFTAR BAGAN

Bagan 3.1

: Diagram Fishbone : Belum optimalnya penerapan edukasi kepada Keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta.

vii


DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1

: Struktur Organisasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

Gambar 4.1

: Pengajuan Izin Kepada Kepala Instalasi, Kepala Ruangan, Dan Ketua Tim

Gambar 4.2. : Diskusi Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi Gambar 4.3

: Pembuatan Lembar Survey NAPZA Tingkat Kebutuhan Edukasi Keluarga

Gambar 4.4

: Konsultasi Isi Lembar Kuesioner Dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim, Dan Mentor

Gambar 4.5

: Memberikan Lembar Kuesioner Kepada Keluarga Pasien

Gambar 4.6

: Mengumpulkan Data Hasil Survey Keluarga Tentang Edukasi

Gambar 4.7

: Diskusi Perubahan Rancangan Brosur/ Leaflet Menjadi Buku Saku

Gambar 4.8

: Penyusunan Draft Rancangan Buku Saku

Gambar 4.9

: Diskusi Draft Rancangan Buku Saku

Gambar 4.10 : Pembuatan Desain Buku Saku Edukasi Keluarga Gambar 4.11 : Konsultasi Desain Buku Saku Kepada Bagian Hukormas RS Gambar 4.12 : Konsultasi Desain Buku Saku Dengan Kepala Ruangan/ Ketua Tim Gambar 4.13 : Mencetak Buku Saku Edukasi Gambar 4.14 : Meminta Izin Kepada Kepala Instalasi Untuk Melakukan Sosialisasi Buku Saku Gambar 4.15 : Sosialisasi Penggunaan Buku Saku Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi Napza Ke Perawat RSKO Jakarta Gambar 4.16 : Sosialisasi Penggunaan Buku Saku Dalam Persiapan Edukasi Keluarga Ke Perawat Rehabilitasi Gambar 4.17 : Diskusi Penerapan Buku Saku Edukasi Yang Akan Diberikan Kepada Keluarga Pasien Gambar 4.18 : Membuat Satuan Acara Penyulusan (SAP) Edukasi Keluarga Gambar 4.19 : Membuat Kontrak Waktu Dengan Keluarga Pasien Tentang Kegiatan Sosialisasi Edukasi Gambar 4.20 : Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien Gambar 4.21 : Evaluasi Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien

viii


Gambar 4.22 : Evaluasi Perawat Dalam Pelaksanaan Edukasi Keluarga Dengan Buku Saku

ix


DAFTAR TABEL Table 3.1

: Penapisan Isu dengan Metode AKPL

Table 3.2

: Identifikasi Fakta dan Data Isu

Table 3.3

: Prioritas Penetapan Isu

Table 3.4

: Prioritas Masalah Isu

Table 3.5

: Rancangan Aktualisasi Optimalisasi Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien Tentang Rehabilitasi NAPZA Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

Tabel 3.6

: Time Table Rencana Pelaksanaan Aktualisasi

Tabel 4.1

: Penjelasan Pelaksanaan Aktualisasi

Table 4.2

: Pelaksanaan Aktualisasi Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

Table 4.3

: Perubahan Jadwal Kegiatan

Table 4.4

: Hambatan Dan Solusi Pelaksanaan Aktualisasi

Table 4.5

: Rancangan Tindak Lanjut Hasil Aktualisasi

x


DAFTAR DIAGRAM

Diagram 4.1

: Survey Tingkat Kebutuhan Edukasi Keluarga

Diagram 4.2

: Pemahaman Perawat Dalam Pelaksanaan Edukasi Keluarga

xi


BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Perkembangan era globalisasi yang semakin pesat

membuat semakin

besarnya tuntutan pengguna jasa layanan publik. Sehingga untuk mewujudkan Visi Negara Indonesia yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 membutuhkan peran serta Aparatur Sipil Negara (ASN) yang professional, berintegritas tinggi, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat, serta mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki peranan yang menentukan dalam mengelola kondisi tersebut. Dimana ASN itu sendiri merupakan profesi yang memiliki

kewajiban

mengelola

dan

mengembangkan

dirinya

dan

wajib

mempertanggungjawabkan kinerjanya dan menetapkan prinsip merit dalam pelaksanaan manajemen ASN. Sehingga untuk memainkan peranan tersebut, diperlukan sosok ASN yang professional, yaitu ASN yang mampu memenuhi standar kompetensi jabatannya sehingga mampu melaksanakan tugas jabatannya secara efektif dan efisien. Untuk dapat membentuk sosok ASN professional perlu dilaksanakan pembinaan melalui jalur pelatihan. Berdasarkan pada UndangUndang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) dan merujuk Pasal 63 ayat (3) dan ayat (4) UU ASN dan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PP Manajemen PNS), maka Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) wajib menjalani masa percobaaan yang dilaksanakan melalui proses Diklat terintegrasi (Pelatihan Prajabatan) untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangat, dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggungjawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang. Dalam sistem pembelajaran Pelatihan Dasar CPNS, setiap peserta pelatihan dituntut untuk mampu mengaktualisasikan substansi materi pembelajaran yang telah dipelajari melalui proses pembiasaan diri yang di fasilitasi dalam

1


pembelajaran agenda aktualisasi. Adapun kegiatan aktualisasi yang dilakukan oleh peserta diklat merupakan kegiatan inovasi dari satuan kerja masing-masing. Setiap satuan kerja tentu saja memiliki problema yang berbeda. Dalam hal ini, RS Ketergantungan Obat Jakarta khususnya di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi memiliki beberapa potensi atau masalah yang dapat diangkat menjadi sebuah isu dan kegiatan pemecahan masalah dalam kegiatan aktualisasi. Isu yang diangkat pada proposal rancangan aktualisasi ini adalah “Belum Optimalnya Penerapan Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi Napza Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta”. Pasien rehabilitasi merupakan pasien pemakai dan penyalahguna NAPZA (Narkotika Psikotropika dan Zat adiktif lainnya) yang sedang menjalani perawatan rehabilitasi. Diharapkan pasien rehabilitasi ini dapat kembali ke lingkungan masyarakat seperti layaknya setelah pulang dari rawat inap Rehabilitasi. Berhasil atau gagalnya sebuah upaya rehabilitasi terhadap pasien NAPZA ditentukan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang sangat menentukan adalah adanya orangorang yang akan terlibat dalam seluruh proses rehabilitasi itu sendiri. Dalam proses rehabilitasi kehadiran pihak lain itu diantaranya dengan melibatkan keluarga. Dukungan keluarga sangat berperan penting untuk mencapai kesembuhan pasien terhadap ketergantungannya dengan narkoba dalam proses rehabilitasi. Berdasarkan dari data demografi pasien rawat inap Rehabilitasi di RS Ketergantungan Obat Jakarta dalam tiga bulan terakhir, dapat dilihat pada bulan Februari 2021 jumlah pasien lama sebanyak 30 orang dan pasien baru sebanyak 5 orang, pada bulan Maret 2021 jumlah pasien lama sebanyak 21 orang dan pasien baru sebanyak 3 orang, dan pada bulan April 2021 jumlah pasien lama sebanyak 14 orang dan pasien baru sebanyak 7 orang. Berdasarkan dari data tersebut pada tiap bulannya dapat dilihat selalu ada pasien baru yang masuk untuk menjalani program rehabilitasi. Kemudian dilihat dari jumlah status pasien, pada bulan Februari 2021 jumlah pasien dengan kasus hukum sebanyak 17 orang dan pasien non hukum sebanyak 18 orang, pada bulan Maret 2021 jumlah pasien kasus hukum sebanyak 20 orang dan pasien non hukum sebanyak 4 orang, dan pada bulan April 2021 jumlah pasien kasus hukum sebanyak 14 orang dan pasien non hukum sebanyak 7 orang. Berdasarkan pada data tersebut rata-rata sebagian besar pasien merupakan pasien dengan kasus hukum, dimana pada kasus hukum ini pasien datang ke RS dibawa oleh petugas kepolisian dan tanpa didampingi oleh 2


keluarga. Kemudian dilihat dari jaminan rawat inap, dapat dilihat pada bulan Februari 2021 jumlah pasien keswa sebanyak 2 orang dan pasien bayar pribadi sebanyak 33 orang, pada bulan Maret 2021 jumlah pasien keswa sebanyak 3 orang dan pasien bayar pribadi sebanyak 21 orang, dan pada bulan April 2021 jumlah pasien keswa sebanyak 5 orang dan pasien bayar pribadi sebanyak 16 orang. Berdasarkan data tersebut masih ada pasien yang menggunakan jaminan keswa pada tiap bulannya. Selain itu juga tidak semua pasien berasal dari Jakarta saja, namun beberapa pasien juga banyak yang berasal dari luar daerah, sehingga ini menjadi kendala keluarga untuk menjenguk pasien ke RS selama menjalani perawatan program rehabilitasi, salah satu kendalanya adalah masalah biaya dan waktu. Perawat di RS Ketergantungan Obat Jakarta sangat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas perawatan dan keselamatan pasien, salah satunya dengan cara melakukan pemberian edukasi, dimana tidak hanya kepada pasien tetapi juga kepada keluarga pasien itu sendiri. Edukasi merupakan hal yang secara konsisten di fasilitasi rumah sakit khususnya pada area yang memiliki resiko tinggi bagi pasien. Hal ini dilakukan rumah sakit agar fungsi kesehatan kembali menjadi optimal. Dengan memberikan edukasi kepada keluarga akan membantu keluarga dalam memberikan dukungan kepada pasien yang sedang menjalani rehabilitasi. Namun tidak semua keluarga pasien dapat hadir dalam kunjungan visit keluarga. Sehingga edukasi tidak dapat secara optimal diberikan karena kurangnya interaksi langsung

dengan

keluarga

pasien.

Adapun

edukasi

diberikan

dengan

menggunakan beberapa media leaflet yang ada, seperti leaflet “Tips Tidak Terjerumus Narkoba”, leaflet “Info HIV Aids”, dan beberapa buku panduan yang ada. Namun media yang digunakan tersebut kurang memberikan informasi yang mendetail, sehingga kurang tersampaikannya informasi edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga. Oleh karena itu dibutuhkan media edukasi yang memiliki informasiinformasi yang lebih lengkap dan mudah digunakan perawat saat memberikan edukasi agar edukasi yang diberikan kepada keluarga pasien lebih terarah. Berdasarkan hal tersebut diatas, RS Ketergantungan Obat Jakarta khususnya di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi belum menerapkan secara optimal Edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA, sehingga diperlukannya peran Perawat yang dalam hal ini merupakan ASN untuk dapat memberikan intervensi

3


keperawatan keluarga yang tepat dengan beberapa inovasi kegiatan sebagai alternative pemecahan masalah.

B.

TUJUAN 1. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, peserta CPNS diharapkan mampu menjelaskan konsepsi aktualisasi, penjelasan aktualisasi, penyusunan dan penyajian rancangan aktualisasi dan rencana pelaksanaan aktualisasi di RS Ketergantungan Obat Jakarta sesuai dengan nilai-nilai dasar profesi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mencakup ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi).

2. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini, diharapkan peserta mampu : a.

Mampu mengidentifikasi dan menganalisis keberadaan potensi masalah atau isu yang terdapat di unit kerja masing-masing yang berdasarkan pada fakta dan data yang aktual.

b.

Mampu merancang rencana kegiatan atau alternatif pemecahan masalah yang telah ditentukan dan menyusun jadwal kegiatan selama kegiatan aktualisasi.

c.

Mampu menerapkan nilai-nilai dasar profesi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mencakup ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi) didalam kegiatan aktualisasi berdasarkan pada tugas pokok dan fungsi Perawat Ahli Pertama.

C.

MANFAAT 1. BAGI PENULIS Berikut ini beberapa manfaat perancangan kegiatan aktualisasi bagi penulis, yaitu : a.

Dapat melakukan internalisasi nilai-nilai dasar ASN dan kedudukan serta peran ASN dalam NKRI.

b.

Dapat mengokohkan kepribadian ASN sehingga mendorong ASN untuk bekerja

secara

professional,

berintegritas, dan kreatif. 4

disiplin,

berkomitmen,

beretika,


c.

Internalisasi nilai-nilai dasar ASN dalam suasana kerja akan mendorong capaian kinerja yang lebih baik.

2. BAGI INSTANSI KERJA Terwujudnya iklim kerja yang kondusif dalam melayani kebutuhan publik yang dalam hal ini merupakan pemberi jasa layanan kesehatan serta meningkatkan akuntabilitas lembaga kinerja individu yang memungkinkan organisasi untuk dapat mencapai visi dan mewujudkan citra lembaga yang baik.

3. BAGI BAPELKES CIKARANG Dengan tersusunnya rancangan aktualisasi ini diharapkan dapat menambah kepustakaan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Cikarang, khususnya sebagai bukti terselenggaranya pelatihan dasar CPNS Kementerian Kesehatan sesuai dengan capaian kegiatan pembelajaran.

D.

RUANG LINGKUP Pendidikan

dan

pelatihan

dasar

CPNS

Golongan

III

Angkatan

2

diselenggarakan selama 76 hari kerja sejak tanggal 29 Maret 2021 sampai dengan 11 Agustus 2021. Kegiatan Latsar ini dilakukan secara daring di Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES), yang terdiri atas beberapa tahap yaitu : 1.

Tanggal 29 Maret 2021 – 20 April 2021 : Pelaksanaan Massive Open Online

Course (MOOC) 2.

Tanggal 28 April 2021 – 2 Juni 2021 : Pelaksanaan Distance Learning

3.

Tanggal 3 Juni 2021 – 7 Juli 2021 : Pelaksanaan Aktualisasi

4.

Tanggal 28 Juli 2021 – 11 Agustus 2021 : Pelaksanaan Klasikal Ruang lingkup aktualisasi oleh Penulis mencakup tugas pokok sesuai sasaran

kinerja pegawai (SKP), penugasan pimpinan, dan kegiatan inovasi untuk memecahkan isu yang ada pada unit kerja. Pada setiap kegiatan akan dipaparkan tahapan kegiatan dan hasil yang diharapkan. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta. Kegiatan dilakukan dengan menerapkan nilai-nilai dasar ASN ANEKA.

5


BAB II GAMBARAN ORGANISASI DAN PROFIL PESERTA

A.

PROFIL RS KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA 1.

SEJARAH RUMAH SAKIT Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta digagas pendiriannya oleh Bapak H. Ali Sadikin (alm) mantan Gubernur DKI Jakarta, dr. Herman Susilo (mantan Ka. Dinkes DKI Jakarta), Prof. dr. Kusumanto Setyonegoro (mantan Ka. Ditkeswa Depkes) dan bagian Psikiatri Universitas Indonesia, maka pada tanggal 6 November 1971 terbentuklah Drug Dependence Unit (DDU) sebagai unit dari RS Fatmawati dan diresmikan pada 12 April 1972 oleh Bapak Ali Sadikin. Pejabat pertama yang memimpin adalah Letkol (CKM) (Alm) dr. Erwin Widjono, SpKJ. Pada tahun 1974 Drug Dependence Unit (DDU) berubah menjadi Lembaga Ketergantungan Obat (LKO) dengan tujuan utama usaha penanganan NAPZA yang bersifat komprehensif dan jangka panjang meliputi bidang preventif, kuratif dan rehabilitative. Pada tahun 1978, status LKO ditingkatkan menjadi Rumah Sakit tipe C dengan nama Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dibawah Depkes RI dengan keputusan Menkes RI No. 138/Menkes/SK/IV/1978. RS Ketergantungan Obat mendapat status terakreditasi tahap pertama melalui SK Dirjen Yanmedik Depkes RI Nomor : YM.00.03.2.2.1951 tanggal 23 Mei 2000 yang meliputi bidang layanan yaitu Administrasi Manajemen, Pelayanan Medik, Gawat Darurat dan Keperawatan. Perubahan kelembagaan dari tipe C menjadi tipe B Non Pendidikan diperoleh pada tanggal 14 Juni 2002 melalui SK Menkes RI No. 732/Menkes/SK/VI/2002. Berkat hubungan yang erat antara Direktur RS Ketergantungan Obat Jakarta saat itu dr. Sudirman dengan Wakil Gubernur DKI Bapak. H. MOesno diperoleh izin prinsip pengolahan tanah seluas 15.000 m2 berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 11 November 1999. Selanjutnya terhitung mulai tanggal 1 Februari 2007, RS Ketergantungan Obat Jakarta menempati lokasi di Jalan Lapangan Tembak No. 75 Cibubur Jakarta Timur.

6


2.

VISI DAN MISI RUMAH SAKIT a.

Visi Visi Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta (RSKO Jakarta) adalah : “Menjadi

Pusat

Rujukan

Nasional

Dalam

Bidang

Ketergantungan Obat dan Adiksi Lainnya Tahun 2024 Dalam Rangka Mendukung Pembangunan Sumber Daya Manusia” Berdasarkan visi maka RSKO Jakarta ke depannya diharapkan menjadi pusat rujukan pelayanan dan informasi NAPZA dimana ketika masyarakat berbicara narkoba dan zat adiktif mereka mengenal Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta dan kemudian berinteraksi dalam kegiatan mendapatkan informasi, pelayanan penyembuhan dan rehabilitasi bidang gangguan yang berhubungan dengan zat (GBZ). b. Misi Untuk mewujudkan Visi Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta maka diperlukan Misi sebagai berikut : 1.

Menyelenggarakan

Upaya

Preventif,

Promotif,

Kuratif

dan

Rehabilitatif dalam Bidang ketergantungan obat dan adiksi lainnya serta penyakit terkait secara komprehensif berbasis mutu dan keselamatan pasien. 2.

Menyelenggarakan pendididkan, pelatihan dan sertifikasi dalam bidang ketergantungan obat dan adiksi lainnya.

3.

Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan dalam bidang ketergantungan obat dan adiksi lainnya.

3.

FALSAFAH RUMAH SAKIT Profesionalisme Modal Utama Layanan Kami.

4.

MOTTO RUMAH SAKIT R

S

K

O

(RAMAH, SIGAP, KASIH DAN OPTIMIS) a.

Ramah, yakni selalu memberikan senyum, salam dan sapa setiap memberikan pelayanan maupun sesama karyawan.

7


b.

Sigap, yakni selalu berusaha cepat, tepat, dan cekatan dalam melakukan pekerjaan maupun pelayanan sesuai dengan sistem dan prosedur yang berlaku.

c.

Kasih, yakni selalu memberikan kepedulian dan tanggap serta saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain.

d.

Optimis, yakni senantiasa memberikan harapan kepada pasien dan keluarganya agar pasien mencapai proses pemulihan yang optimal dari masalah penyalahgunaan NAPZA.

5.

STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT Organisasi Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta ditetapkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 49 tahun 2020 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta. Berikut adalah struktur organisasi dan tata kerja RS Ketergantungan Obat Jakarta: Gambar 2.1 Struktur Organisasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

Sesuai dengan surat dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan tanggal 29 September 2020 nomor OT.01.01/I/3670/2020 tentang Penataan Organisasi Non Struktural di RS Ketergantungan Obat Jakarta, dalam pelaksanaan tugas operasional, Direktur Utama dan para Direktur dibantu

8


oleh Pejabat Pengawas, Satuan Pemeriksaan Intern (SPI), Komite Medik, Komite Keperawatan, Komite Etik dan Hukum, Komite PPI, Komite Tenaga Kesehatan Lain, Komite Mutu dan Keselamatan Pasien serta seluruh jajaran struktural dan fungsional terkait. Struktur pengorganisasian Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta sebagai berikut: 1.

Direktorat Pelayanan Medik, Keperawatan dan Penunjang : 1.1.

Koordinator Pelayanan Medik dan Keperawatan 1.1.1. Sub Koordinator Pelayanan Medik 1.1.2. Sub Koordinator Pelayanan Keperawatan

1.2.

Koordinator Pelayanan Penunjang 1.2.1. Sub Koordinator Pelayanan Penunjang Medik 1.2.2. Sub Koordinator Pelayanan Penunjang Nonmedik

1.3. Instalasi Rawat Jalan 1.4. Instalasi Rawat Inap Komplikasi 1.5. Instalasi Rehabilitasi Napza 1.6. Instalasi MCU 1.7. Instalasi Gizi 1.8. Instalasi Farmasi 1.9. Instalasi Rekam Medik 1.10. Instalasi Radiologi 1.11. Instalasi Gawat Darurat 1.12. Instalasi Laboratorium 2.

Direktorat SDM, Keuangan dan Umum : 2.1. Koordinator SDM, Pendidikan dan Penelitian 2.1.1. Sub Koordinator Administrasi SDM 2.1.2. Sub Koordinator Pengembangan SDM, Pendidikan dan Penelitian 2.2.

Koordinator Perencanaan dan Evaluasi 2.2.1. Sub Koordinator Perencana Program 2.2.2. Sub Koordinator Evaluasi dan Pelaporan

2.3. Koordinator Keuangan dan BMN 2.3.1. Sub Koordinator Akuntansi dan BMN

9


2.3.2. Sub

Koordinator

Perbendaharaan

dan

Pelaksanaan

Anggaran 2.3.3. Sub Koordinator Penyusunan dan Evaluasi Anggaran 2.4. Koordinator Organisasi dan Umum 2.4.1. Sub Koordinator Hukum, Organisasi dan Humas 2.4.2. Sub Koordinator Umum 2.5. Instalasi Sterilisasi Sentral dan Binatu 2.6. Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS) 2.7. Instalasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) 2.8. Instalasi PKRS dan Pemasaran RS 2.9. Instalasi Verifikasi dan Penjaminan Pasien

6.

TUGAS DAN FUNGSI ORGANISASI a.

Tugas Organisasi Rumah Sakit RS Ketergantungan Obat Jakarta mempunyai tugas menyelenggarakan pelayanan Kesehatan perorangan secara paripurna dengan kekhususan pelayanan kesehatan di bidang ketergantungan obat.

b.

Fungsi Organisasi Rumah Sakit 1)

Penyusunan rencana program dan anggaran.

2)

Pengelolaan pelayanan medis dengann kekhususan pelayanaan Kesehatan di1bidang ketergantungan obat.

3)

Pengelolaan pelayanan penunjang medis.

4)

Pengelolaan pelayanan penunjang nonmedis.

5)

Pengelolaan pelayanan keperawatan.

6)

Pengelolaan pendidikan dan pelatihan dengan kekhususan di bidang ketergantungan obat.

7)

Pengelolaan penelitian, pengembangan, dan penapisan teknologi dengan kekhususan di bidang ketergantungan obat.

8)

Pengelolaan keuangan dan barang milik negara.

9)

Pengelolaan sumber daya manusia.

10) Pelaksanaan urusan hukum, organisasi, dan hubungan masyarakat. 11) Pelaksanaan kerja sama. 12) Pengelolaan sistem informasi. 13) Pelaksanaan urusan umum. 10


14) Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan.

7.

JENIS PELAYANAN RUMAH SAKIT RSKO Jakarta mempunyai pelayanan unggulan yaitu Klinik Dual Diagnosis (Napza dan Gangguang Jiwa) dimana klinik ini dilayani oleh psikiater untuk penderita dengan diagnosis ganda atau multiple yaitu pasien ketergantungan napza dan juga gangguan psikiatrik lain secara independen. Pelayanan napza di RSKO diberikan secara komprehensif yaitu penerimaan awal (initial intake), detoksifikasi, rehabilitasi pelayanan untuk komplikasi medik, dual diagnosis dan terapi rumatan metadon dan buprenorfin yang merupakan ciri khas terapi cafeteria guna menjawab kebutuhan penerima layanan. Hal ini dimaksudkan untuk menyelaraskan kebutuhan pasien, keluarga, dan masyarakat. RSKO Jakarta juga memiliki layanan unggulan yaitu sebagai laboratorium skrining dan konfirmasi Napza. Disamping itu, RSKO sebagai pengampu layanan program rumatan metadon/suboxon. Peningkatan SDM menjadi prioritas utama yang dilakukan RSKO Jakarta untuk menghasilkan pelayanan yang bermutu dan berkualitas. Hal ini dapat dilihat dari upaya profesionalisme para pimpinan, dokter, perawat seluruh staf dan karyawan lainnya. Program-program peningkatan berupa training dalam dan luar negeri, pendidikan formal, langsung melakukan studi banding ke lembaga-lembaga kesehatan yang kredibel, dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Di bawah ini adalah jenis layanan yang tersedia di RSKO Jakarta: a.

Rawat Jalan 1.

Klinik NAPZA

2.

Klinik Gigi

3.

Klinik Psikologi

4.

Klinik Spesialis : a)

Penyakit Dalam

b) Kesehatan Jiwa c)

Syaraf

d) Paru e)

Anak

11


a.

5.

Klinik Rehabilitasi Medik/Fisioterapi

6.

Klinik Geriatri

7.

MCU (Medical Check Up)

Layanan 24 Jam 1. Unit Gawat Darurat 2. Laboratorium 3. Radiologi 4. Instalasi Farmasi

b.

Rawat Inap 1. Rehabilitasi NAPZA 2. Detox (MPE) 3. Komplikasi dan HCU, sementara di masa pandemic saat ini menjadi ruang perawatan bagi pasien terinfeksi Covid-19 dengan gejala ringan sampai sedang.

8.

c.

Pemulasaran Jenazah

d.

Pendidikan dan Penelitian

PELAYANAN UNGGULAN RUMAH SAKIT Berikut dibawah ini merupakan beberapa Pelayanan Unggulan RS Ketergantungan Obat Jakarta, yaitu : a.

Pelayanan NAPZA komprehensif : penerimaan awal (intial intake), detoksifikasi, rehabilitasi pelayanan untuk komplikasi medik, dual diagnosis dan terapi rumatan metadon dan bufrenorfin yang merupakan ciri khas terapi cafeteria guna menjawab kebutuhan penerima layanan. Hal diatas dimaksud untuk menyelaraskan kebutuhan pasien, keluarga, dan masyarakat.

b.

Sebagai pengampu layanan program rumatan metadon/suboxone.

c.

Pemberi pelatihan dan pendidikan dari berbagai profesi di bidang pelayanan ketergantungan NAPZA (pelayanan akibat gangguan yang berhubungan dengan zat).

d.

Menjadi bagian dari jejaring dunia melalui kolaborasi badan dunia (WHO, UNODS, UNAIDS) menyusun pedoman terapi dan pelatihan serta modulnya untuk kepentingan internasional, regional dan nasional.

12


Menjadi narasumber bagi pelatihan, pelayanan, dan penyusunan

e.

perencanaan terapi ketergantungan NAPZA dan HIV/AIDS. Menjadi bagian jejaring pelayanan kesehatan HIV/AIDS dalam promosi,

f.

prevensi, terapi, dan penelitian. Pesatnya kemajuan teknologi informasi turut memacu tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik secara terus menerus. Tidak bisa tidak, dunia kesehatan khususnya di bidang perumahsakitan perlu untuk terus menerus melakukan upaya dalam memperbaiki mutu pelayanan kesehatan mereka, baik di bidang sumber daya manusia, fasilitas dan peralatan kedokteran, teknologi informasi dan sebagainya.

B.

PROFIL PESERTA 1. IDENTITAS DIRI Nama

: Ns. Rafi Triani, S.Kep

NIP

: 198706172020122004

Jabatan

: Perawat Ahli

Pangkat/ Gol

: Penata Muda/ IIIA

Asal Instansi

: RS Ketergantungan Obat Jakarta

Pendidikan

: S1 Ners

Fakultas

: Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Universitas Sriwijaya

2. TUSI JABATAN a.

Melakukan pengkajian keperawatan lanjutan pada individu, keluarga.

b.

Merumuskan diagnose keperawatan pada individu.

c.

Melakukan case finding/ deteksi dini/ penemuan kasus baru pada individu.

d.

Melakukan support kepatuhan terhadap intervensi kesehatan pada individu.

e.

Melakukan pendidikan kesehatan pada individu, keluarga, kelompok, masyarakat.

f.

Melakukan tatakelola keperawatan perlindungan terhadap pasien dengan resiko trauma/ injuri.

g.

Melakukan komunikasi terapeutik dalam pemberian asuhan keperawatan.

h.

Memfasilitasi suasana lingkungan yang tenang dan aman. 13


i.

Melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada individu.

j.

Melakukan dokumentasi asuhan keperawatan.

14


BAB III RANCANGAN AKTUALISASI A.

IDENTIFIKASI ISU Instalasi rawat inap rehabilitasi merupakan ruang perawatan bagi para pecandu NAPZA di RS Ketergantungan Obat Jakarta, yang didalamnya masih terdapat beberapa kekurangan dalam hal standard perawatan pasien dengan gangguan kejiwaan, baik bersifat gangguan jiwa murni maupun karena akibat penyalahgunaan NAPZA. Untuk itu didapatkan beberapa isu yang perlu dilakukan pemecahan masalah. Dalam penetapan isu yang berkualitas dan actual sebaiknya dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat bantu penetapan kriteria isu yakni dengan metode AKPL (Aktual, Kekhalayakan, Problematik, dan Kelayakan). Berikut dibawah ini merupakan hasil penetapan isu dengan metode AKPL, yaitu : Table 3.1 Penapisan Isu dengan Metode AKPL NO

1.

ISU

Belum optimalnya

KRITERIA ISU

TERPILIH/TIDAK

A

K

P

L

+

+

+

+

+

+

-

+

+

+

+

-

-

+

+

penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta 2.

Kurang efektifnya pelaksanaan pengendalian manajemen stress pada pasien akibat regulasi larangan merokok di ruang rawat inap Rehabilitasi RSKO Jakarta

3.

Kurang efektifnya penerapan personal

15


hygine pada pasien special program di rawat inap Rehabilitasi RSKO Jakarta

Setelah dilakukannya penetapan isu yang berkualitas berdasarkan pada pengukuran AKPL diatas, maka diperoleh 3 isu yang selanjutnya akan di identifikasi berdasarkan data dan fakta yang ada di unit tersebut. Berikut dibawah ini merupakan hasil pengkajian identifikasi isu di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta, yaitu : Table 3.2 Identifikasi Fakta dan Data Isu NO. 1.

DATA

ISU

Hasil Observasi : a.

Belum

optimalnya

Pada saat family dialog, perawat hanya penerapan

edukasi

mendampingi dokter dalam menjelaskan keluarga oleh perawat keadaan pasien. b.

di ruang rawat inap

Terbatasnya jumlah jam kunjung keluarga, Rehabilitasi

RS

terutama disaat pandemic Covid-19, yaitu Ketergantungan

Obat

2 kali dalam sebulan dan hanya di batasi 1 Jakarta jam tiap jam kunjung. c.

Masih kurang tersedianya media informasi tentang edukasi keluarga.

d.

Belum tetapnya jadwal khusus untuk edukasi keluarga.

e.

Terbatasnya waktu dan biaya dari keluarga pasien yang berada di luar kota.

Hasil Wawancara : Perawat mengatakan bahwa adanya kesulitan mengatur waktu untuk memberikan edukasi kepada

keluarga

karena

terbatasnya

jam

kunjung. 2.

Hasil observasi : a.

Kurang

Ditemukannya penyelundupan rokok disaat pelaksanaan jam kunjung keluarga

pengendalian

16

efektifnya


Ditemukannya kasus perkelahian beberapa manajemen stress pada pasien karena memperebutkan rokok yang pasien akibat regulasi didapat dari penyelundupan tersebut.

ruang

Hasil Wawancara : a.

larangan

merokok rawat

Pasien mengatakan mengeluh semakin Rehabilitasi

di

inap RSKO

bosan dan jenuh karena adanya larangan Jakarta merokok. b.

Perawat mengatakan masih belum adanya program yang efektif sebagai pengganti dari rokok karena terbatasnya fasilitas.

3.

Kurang efektifnya

Hasil Observasi : a.

Terdapat 1 pasien dari special program penerapan personal yang tampak penampilannya lusuh dan hygine pada pasien special program di

berantakan. b.

Tampak perawat masih kurang dalam rawat inap Rehabilitasi memberikan edukasi mengenai personal RSKO Jakarta hygine.

c.

Belum efektifnya SOP Personal Hygine.

Hasil Wawancara : Perawat mengatakan bahwa sudah mengetahui edukasi

Personal

Hygine,

namun

menerapkan dengan optimal.

17

belum


Setelah dilakukannya identifikasi isu yang berdasarkan pada data dan fakta, maka isu tersebut harus diprioritaskan kembali. Dalam memprioritaskan isu ini akan digunakan metode USG (Urgency, Seriousness & Growth). Berikut dibawah ini merupakan hasil identifikasi isu menggunakan metode USG yaitu : Table 3.3 Prioritas Penetapan Isu NO.

ISU KONTEMPORER

U

S

G

TOTAL

1.

Belum optimalnya penerapan edukasi

5

5

5

15

4

4

4

12

4

4

3

11

kepada

keluarga

pasien

tentang

rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat

inap

Rehabilitasi

RS

Ketergantungan Obat Jakarta 2.

Kurang

efektifnya

pengendalian

pelaksanaan

manajemen stress pada

pasien akibat regulasi larangan merokok di ruang rawat inap Rehabilitasi RSKO Jakarta 3.

Kurang efektifnya penerapan

personal

hygine pada pasien special program di rawat inap Rehabilitasi RSKO Jakarta

Keterangan : 1.

U (Urgency)

: Seberapa besar mendesak suatu isu harus dibahas,

dianalisis dan ditindaklanjuti. 2.

S (Seriousness)

: Seberapa serius suatu isu harus dibahas, dianalisis dan

ditindaklanjuti. 3.

G (Growth)

: Seberapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut

jika tidak ditangani segera. Rentang Nilai : 1.

Tidak sangat penting

: Skor 1

2.

Kurang penting

: Skor 2

3.

Cukup penting

: Skor 3

4.

Penting

: Skor 4

5.

Sangat penting

: Skor 5

18


Berdasarkan hasil identifikasi isu menggunakan metode USG didapatkan prioritas isu yaitu “Belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta”.

B.

ANALISIS ISU Setelah melakukan identifikasi terhadap prioritas isu yang akan diselesaikan, maka digunakan diagram fishbone atau diagram tulang ikan. Diagram fishbone ini digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab masalah karena menekankan pada hubungan sebab akibat. Berikut dibawah ini merupakan analisis prioritas masalah dengan diagram fishbone, yaitu : Bagan 3.1 Diagram Fishbone : Belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

Perawat hanya berorientasi pada terapis medis

Kurangnya motivasi perawat dalam penerapan edukasi keluarga Minimnya komunikasi perawat dengan keluarga

Intervensi keperawatan keluarga belum terstandar

Perawat ruangan belum rutin menerapkan edukasi keluarga Keterbatasan waktu dan biaya pada keluarga yang tinggal di luar kota

Masih kurang tersedianya media informasi tentang edukasi keluarga Belum efektifnya jadwal kegiatan case disscuse/ conffrence di ruangan

Masih belum tetapnya jadwal khusus edukasi untuk keluarga

Belum optimalnya edukasi rehabilitasi NAPZA keluarga pasien oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantu ngan Obat Jakarta

Berdasarakan pada diagram fishbone diatas, disimpulkan beberapa penyebab masalah isu diantaranya, adalah : 1.

Minimnya komunikasi perawat dengan keluarga

2.

Kurangnya motivasi perawat dalam menerapkan edukasi keluarga

3.

Intervensi keperawatan keluarga masih belum terstandar

4.

Perawat hanya berorientasi pada terapis medis 19


5.

Masih kurang tersedianya media informatif tentang edukasi keluarga

6.

Masih belum tetapnya jadwal khusus edukasi untuk keluarga

7.

Belum efektifnya jadwal kegiatan case disscuse/ confrence di ruangan

8.

Perawat ruangan belum rutin menerapkan edukasi keluarga

9.

Keterbatasan waktu dan biaya pada keluarga yang tinggal di luar kota Selanjutnya untuk memperoleh prioritas masalah guna menetapkan

gagasan-gagasan inovatif dalam penyelesaian masalah, perlu dilakukannya pengukuran dengan metode USG yakni sebagai berikut : Table 3.4 Prioritas Masalah Isu NO. 1.

ISU Minimnya komunikasi perawat dengan

U

S

G

TOTAL

3

3

3

9

5

5

4

14

3

4

3

10

3

3

3

9

5

4

4

13

4

3

3

10

3

3

2

8

4

4

3

11

3

3

3

9

keluarga 2.

Kurangnya motivasi perawat dalam penerapan edukasi keluarga

3.

Intervensi keperawatan keluarga masih belum terstandar

4.

Perawat hanya berorientasi pada terapis medis

5.

Masih kurang tersedianya media informatif tentang edukasi keluarga

6.

Masih belum tetapnya jadwal khusus edukasi untuk keluarga

7.

Belum efektifnya jadwal kegiatan case disscuse/ confrence diruangan

8.

Perawat ruangan belum rutin menerapkan edukasi keluarga

9.

Keterbatasan waktu dan biaya pada keluarga yang tinggal di luar kota

Dari hasil USG di atas, diperoleh beberapa prioritas masalah yang kemudian akan memunculkan beberapa gagasan-gagasan inovatif sebagai kegiatan pemecahan masalah, yaitu : 1.

Kurangnya motivasi perawat dalam menerapkan edukasi keluarga

20


•

Melakukan koordinasi dengan kepala ruangan mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA.

•

Menentukan kebutuhan edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga di ruang rehabilitasi.

2.

Belum tersedianya media informasi tentang edukasi keluarga •

Penyampaian

gagasan

rancangan

brosur/leaflet

tentang

edukasi

rehabilitasi NAPZA kepada kepala ruangan dan ketua tim serta perawat pelaksana ruang rehabilitasi. • 3.

Pengadaan brosur/ leaflet di ruang rehabilitasi.

Perawat ruangan belum rutin menerapkan edukasi keluarga •

Sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi.

•

Evaluasi penggunaan brosur/leaflet edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA langsung dengan keluarga pasien.

C.

KONDISI YANG DIHARAPKAN Dari penyebab masalah dari isu yang ada diharapkan ditemukan gagasangagasan isu yang inovatif dan kreatif agar isu tersebut dapat teratasi. Kondisi yang diharapkan dari ruang Instalasi Rehabilitasi RSKO adalah : 1.

Instalasi Rehabilitasi dapat mencapai tujuan pelayanan yang optimal.

2.

Edukasi keluarga dapat dijalankan dengan efektif.

3.

Perawat dapat meningkatkan potensinya dalam memberikan pelayanan, tidak hanya pelayanan kepada pasien tetapi juga kepada keluarga pasien tersebut.

4.

Kurangnya kecemasan dari pihak keluarga mengenai program rehabilitasi yang dijalankan oleh pasien.

5.

Keluarga memperoleh pengetahuan dan informasi yang luas mengenai keadaan pasien.

D.

DAMPAK DARI ISU Apabila isu tersebut tidak diatasi dengan baik maka akan timbul beberapa dampak diantaranya : 1.

Kurang responsifnya perawat dalam memberikan pelayanan terutama kepada keluarga pasien

21


2.

Kurangnya informasi yang didapatkan keluarga pasien mengenai keadaan pasien yang sedang menjalankan program rehabilitasi.

3.

Adanya kemungkinan relaps pada pasien setelah menjalanin rehabilitasi, karena kurangnya pengetahuan keluarga mengenai tanda dan gejala kekambuhan pasien, serta faktor pemicu lainnya.

22


E.

MATRIKS RANCANGAN AKTUALISASI Unit kerja

: RS Ketergantungan Obat Jakarta

Identifikasi isu 1.

:

Belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

2.

Kurang efektifnya pelaksanaan pengendalian manajemen stress di ruangan rawat inap Reahabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

3.

Kurang efektifnya penerapan personal hygine pada pasien special program di ruangan rawat inap Reahabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

Isu yang Diangkat

:

“Belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta” Gagasan Pemecahan Isu

:

1.

Melakukan koordinasi dengan kepala ruangan mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA.

2.

Menentukan kebutuhan edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga di ruang rehabilitasi.

3.

Penyampaian gagasan rancangan brosur/leaflet tentang edukasi rehabilitasi NAPZA dengan kepala ruangan dan ketua tim serta perawat pelaksana ruang rehabilitasi.

4.

Pengadaan brosur/ leaflet di ruang rehabilitasi.

5.

Sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi.

6.

Evaluasi penggunaan brosur/leaflet edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA langsung dengan keluarga pasien.

23


Table 3.5 Rancangan Aktualisasi Belum Optimalnya Penerapan Edukasi Keluarga Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

NO.

KEGIATAN

TAHAPAN KEGIATAN

OUTPUT/ HASIL

KETERKAITAN

KONTRIBUSI

PENGUATAN NILAI

SUBSTANSI

TERHADAP VISI

ORGANISASI

MISI ORGANISASI 1.

Melakukan

1.1 Mengajukan

izin

koordinasi dengan

kepada

Kepala

Ruangan dan Ketua

Ruangan

Tim

Ketua Tim

dan

Ruangan

Ketua

Tim

Kepala

untuk

dengan Sesuai

1.1 Diperolehnya izin Keterkaitan dari

Kepala nilai-nilai ANEKA, yaitu:

RSKO

dengan

pelayanan Pemberian informasi

Kepala Ruangan dan Ketua khususnya

dalam kepada

mengenai

membahas

Tim untuk menyampaikam bidang NAPZA. Selain terkait

pentingnya

mengenai

gagasan

Edukasi

pentingnya

rehabilitasi NAPZA

kepada

keluarga

kepada keluarga.

pasien

tentang

mengenai

pendapat

keluarga

pasien

tentang

rehabilitasi NAPZA

terkait gagasan

juga seharusnya dilakukan

kerja

keras promotif

sesuai

dengan untuk

bahwa dengan

tepat

efektif

kepada mendengarkan

dan

pasien menghargai pendapat dari 24

dan guna

menjadi pemberian intervensi

meningkatkan sesuai standar.

nilai Anti Korupsi, serta kompetensi.

pentingnya

keluarga

Keluarga

dan dalam memberikan ide dan sarana bagi pegawai keperawatan

saran

edukasi

dan

pentingnya

tanggung upaya preventif dan mengoptimalkan

kepedulian, jawab

perawat

Misi Edukasi

Adanya penyelenggaraan

Publik.

1.2 Diperolehnya

kepada

menurut

Akuntabilitas dan Etika menguatkan

1.2 Mendiskusikan

edukasi

sopan itu,

santun sesuai dengan nilai RSKO

edukasi

rehabilitasi NAPZA.

pentingnya

dengan

nilai

unggul organisasi, yaitu :

yakni

dengan dalam

dan Berkoordinasi

Visi Penguatan

yang


tentang

kepala ruangan dan Ketua

rehabilitasi NAPZA

Tim

merupakan

Nasionalisme. nilai

nilai Dimana

efektivitas

yang

didapat yaitu penyampaian informasi

mengenai

pentingnya

edukasi

rehabilitasi NAPZA kepada keluarga

pasien

dengan

kepala ruangan dan Ketua Tim sesuai dengan nilai Komitmen Mutu. 2.

Menentukan

survey

kebutuhan edukasi

tentang

rehabilitasi NAPZA yang

2.1 Membuat

lembar 2.1 Dibuatnya lembar Keterkaitan mengenai

edukasi

yang

dibutuhkan keluarga.

dibutuhkan

survey mengenai nilai-nilai ANEKA, yaitu: edukasi

yang Berkoordinasi

dibutuhkan

oleh keluarga

survey

kepada

lembar

pasien

menyampaikam

keluarga.

oleh keluarga di 2.2 Memberikan lembar 2.2 Keluarga mengisi dengan ruang rehabilitasi.

dengan Sesuai

survey sesuai

sopan dengan

RSKO

dengan yakni

dengan dalam untuk khususnya

dalam kepada

Misi pentingnya

menurut

nilai RSKO

mengenai edukasi Akuntabilitas dan Etika menguatkan

kunjung pasien.

yang dibutuhkan.

25

unggul organisasi, yaitu :

survey bidang NAPZA. Selain pasien santun itu,

nilai

pelayanan Pemberian informasi

keluarga disaat jam

Publik.

Visi Penguatan

keluarga terkait Edukasi

juga Keluarga seharusnya bahwa dilakukan

Adanya penyelenggaraan

dengan

tepat dan efektif guna


2.3 Mengumpulkan 2.4 Didapatkan survey kepedulian, survey

terbanyak edukasi jawab

terbanyak

yang

edukasi

yang

tanggung upaya preventif dan mengoptimalkan

dan

transparansi promotif

menjadi pemberian intervensi

dibutuhkan dalam memberikan lembar sarana bagi pegawai keperawatan

oleh keluarga.

survey

serta

didapatkan untuk

meningkatkan sesuai standar.

dibutuhkan

data yang real merupakan kompetensi.

oleh keluarga

tindakan

sesuai

yang

dengan

nilai Anti Korupsi, serta mendengarkan

dan

menghargai pendapat dari keluarga pasien merupakan nilai

Nasionalisme.

Dimana

nilai

efektivitas

yang

didapat

penyampaian mengenai

yaitu survey

pentingnya

edukasi yang dibutuhkan keluarga

pasien

sesuai

dengan nilai Komitmen Mutu. 3.

Penyampaian

3.1 Menyampaikan

gagasan

gagasan

kepada

rancangan

kepala ruangan dan

3.1 Tersampaikannya gagasan

Keterkaitan

dengan Sesuai

tentang nilai-nilai ANEKA, yaitu:

rancangan

RSKO dalam

26

dengan yakni

Visi Penguatan

unggul organisasi, yaitu :

pelayanan

nilai


brosur/leaflet

ketua

tentang

perawat

edukasi

tim

serta

pelaksana

brosur/leaflet kepada

Penyampaian

ruang

berdasarkan hasil

mengenai rancangan

tim serta perawat menghargai

survey

kepada

brosur/leaflet

pelaksana

kepala

ruangan

edukasi

Rehabilitasi.

dan serta

ketua

tim

perawat

pelakasana.

rehabilitasi

dalam

kepala dengan sopan santun, serta bidang NAPZA. Selain

rehabilitasi NAPZA

Rehabilitasi

gagasan khususnya

ruangan dan ketua mendengarkan

ruang pimpinan

dan itu,

menurut

pendapat RSKO dan

profesi menguatkan

sejawat untuk musyawarah pengadaan

kepada

juga

perawat

terkait

bahwa

rancangan

media

brosur/leaflet

kemudian informatif

juga

hasil survey.

menerima saran perbaikan termasuk

kedalam

3.2 Diperolehnya

rancangan

pendapat

brosur/leaflet

masukan

dari kepala ruangan, ketua upaya promotive bagi dan tim

serta

perawat perawat

terkait pelaksana

ruang terpenuhinya

dan

nilai

Etika

Publik, optimal bagi pasien,

Tim

edukasi keluarga

Nasionalisme

dan juga menjadi sarana

draft 3.3 Tersusunnya draft Akuntabilitas. Berani dan bagi pegawai untuk isu meningkatkan

keluarga

seharusnya

tepat dan cepat

brosur/leaflet

menjelaskan

kepada

yang

Ruangan dan Ketua

3.3 Menyusun

rehabilitasi NAPZA

dilakukan dengan

Rehabilitasi sesuai dengan rehabilitatif

Kepala

edukasi

upaya

rancangan

dengan

Penyampaian gagasan

mufakat

3.2 Mendiskusikan

:

Misi

NAPZA berdasarkan

dan

1. Sigap

guna mengoptimalkan pemberian

rancangan

rancangan

jujur

brosur/leaflet

brosur/leaflet

masalah yang ada (Anti kompetensi.

keperawatan yang

dengan

edukasi keluarga

Korupsi)

sesuai standar

dengan

intervensi

mengkolaborasikan

perancangan brosur/leaflet

beberapa

ini merupakan hasil berfikir

adanya kepedulian

kreatif

terhadap

referensi

terkait.

mengoptimalkan 27

guna

2. Kasih

:

Perlu

kesembuhan atau


penerapan edukasi kepada

kestabilan kondisi

keluarga

pasien,

pasien

tentang

serta

rehabilitasi NAPZA sesuai

pengetahuan

dengan Komitmen Mutu.

keluarga

pasien,

sehingga mempengaruhi perawat

agar

senantiasa menguatkan kompetensinya dalam memberikan asuhan keperawatan. 4.

Pengadaan

4.1 Membuat

desain 4.1 Terbentuknya

Keterkaitan

dengan Sesuai

brosur/ leaflet di

brosur/leaflet

desain

brosur/ nilai-nilai ANEKA, yaitu:

ruang rehabilitasi.

edukasi

leaflet

edukasi Melakukan

tentang

rehabilitasi NAPZA

4.2 Mengkonsultasikan desain brosur/ leaflet

RSKO

dengan yakni

konsultasi dalam

Visi Penguatan

nilai

unggul organisasi, yaitu :

pelayanan

:

tentang

dengan kepala ruangan dan khususnya

rehabilitasi

kepada bagian Humas RS bidang NAPZA. Selain

konsultasi dengan

NAPZA.

dengan sopan santun dan itu,

Misi

kepala

juga

dan kepada bagian

bahwa

Humas RS dengan

ramah,

4.2 Menerima masukan

dan mendengarkan 28

menurut

serta RSKO dan menguatkan

dalam

1. Ramah Melakukan

ruangan


kepada

kepala

ruangan.

pendapat mengenai

menghargai pendapat dan pengadaan desain kemudian menerima saran informasi

brosur/ leaflet dari perbaikan kepala ruangan. 4.3 Mengkonsultasikan brosur/

pendapat

leaflet

kepada

mengenai

bagian humas RS.

nilai

kepala termasuk

serta

kedalam

bagian upaya promotive bagi

Etika

Publik, terpenuhinya

desain Nasionalisme

dan rehabilitatif

brosur/ leaflet dari Akuntabilitas. bagian humas RS.

4.4 Mencetak

ruangan

dari

juga

humas RS sesuai dengan perawat

4.3 Menerima

desain

media

Diperlukannya

dan

leaflet keras dan tanggung jawab meningkatkan

telah disepakati.

edukasi yang telah dalam proses pengadaan kompetensi. brosur/leaflet

disepakati.

dalam

brosur/

leaflet

edukasi

tentang

yang

dengan tepat dan

nilai-nilai juga menjadi sarana

brosur/

2. Sigap : Pengadaan

rehabilitasi NAPZA

optimal bagi pasien,

leaflet edukasi yang

ramah.

upaya

anti korupsi yakni kerja bagi pegawai untuk

brosur/ 4.4 Tercetaknya

sopan santun dan

cepat

mampu

mengoptimalkan pemberian intervensi keperawatan yang sesuai standar dan

memaksimalkan penerapan

memudahkan

edukasi kepada keluarga

perawat

pasien (Anti Korupsi dan

memberikan

Komitmen Mutu).

edukasi

dalam

kepada

keluarga pasien. 3. Kasih

:

perlu

adanya kepedulian terhadap kesembuhan atau 29


kestabilan kondisi pasien,

sehingga

mempengaruhi perawat

agar

senantiasa menguatkan kompetensinya dengan pemberian edukasi

kepada

keluarga

pasien

tentang rehabilitasi NAPZA. 5.

Sosialisasi

5.1 Melakukan sosialisasi 5.1 Dilaksanakannya

penggunaan brosur/

leaflet

penggunaan brosur/

sosialisasi

nilai-nilai ANEKA, yaitu:

leaflet

penggunaan

Kegiatan

dalam

persiapan

persiapan

edukasi

brosur/

edukasi

keluarga

keluarga

pasien

dalam

pasien

tentang

tentang

dalam

dengan Sesuai

Keterkaitan

rehabilitasi

edukasi

leaflet merupakan

RSKO

salah

Visi Penguatan

nilai

unggul organisasi, yaitu :

pelayanan Dalam

satu khususnya

sosialisasi

dalam diharapkan

persiapan bentuk akuntabel seorang bidang NAPZA. Selain menanamkan tentang ASN

(Perawat)

yang itu,

NAPZA ke perawat

rehabilitasi NAPZA melakukan layanan dengan RSKO

ke

rehabilitasi.

ke

rehabilitasi.

yakni

sosialisasi dalam

rehabilitasi NAPZA perawat

dengan

perawat tanggung (Akuntabilitas).

rehabilitasi.

30

menurut

jawab menguatkan Dimana pengadaan

Misi kasih

dapat nilai yakni

juga memberikan bahwa kepedulian

dan

media tanggap serta saling


5.2 Mendiskusikan penerapan

brosur/

5.2 Kesepakatan

pada

mengenai

ke

3

penerapan brosur/ nilai

akan

diberikan

leaflet

kepada

keluarga

yang

semangat

juga menghormati

(tiga) informasi

Pancasila terkandung nilai- termasuk

leaflet edukasi yang

pasien.

sila

kedalam pendapat orang lain.

gotong upaya promotive bagi

edukasi royong untuk mendapatkan perawat akan kesepakatan bersama yaitu terpenuhinya

diberikan kepada penggunaan brosur/ leaflet rehabilitatif keluarga pasien.

dan upaya yang

dalam memberikan edukasi optimal bagi pasien, kepada keluarga pasien,. juga menjadi sarana Nasionalisme.

bagi perawat untuk

Mensosialisasikan

meningkatkan

penggunaan brosur/ leaflet kompetensi. yang

berkualitas

bermutu Mutu)

dan

(Komitmen serta

menerima

pendapat dan usulan dari profesi

sejawat

(Etika

Publik). Kemudian dengan memiliki tanggung jawab dalam

memaksimalkan

pemberian edukasi dalam bentuk brosur/ leaflet (Anti Korupsi). 31


6.

6.1 Membuat

Penerapan

Keterkaitan

kontrak 6.1 Tersusunnya dengan

kontrak

pasien

(jadwal)

waktu nilai-nilai ANEKA, yaitu:

penggunaan

waktu

brosur/leaflet

keluarga

edukasi

kepada

mengenai kegiatan

dengan

kepada

keluarga

pasien

sosialisasi

penggunaan

merupakan

edukasi

dengan Sesuai

edukasi Menerapkan

dengan

RSKO

salah

pelayanan Dalam

satu bidang NAPZA. Selain dapat

dengan

brosur/

leaflet bentuk akuntabel seorang itu,

rehabilitasi NAPZA

penggunaan

edukasi

langsung dengan

brosur/leaflet

rehabilitasi NAPZA melakukan layanan dengan menguatkan

keluarga pasien.

NAPZA

kepada keluarga.

ASN

6.2 Terlaksananya

6.2 Menerapkan edukasi

kepada

penerapan

keluarga

tentang

edukasi

(Perawat)

sila

ke

2

keluarga tentang peduli,

dengan

rehabilitasi

brosur/leaflet.

NAPZA

informasi

dalam

komprehensif

brosur/ dan paripurna guna

dengan leaflet dapat meningkatkan mengoptimalkan

brosur/leaflet.

32

kepedulian

kepada layanan

yakni

tanggap

dan dalam

preventif, meberikan pelayanan.

(dua) promotive, kuratif dan

diharapkan secara

kasih

bahwa kepedulian

kepada Pancasila terkandung nilai rehabilitatif dilakukan

Rehabilitasi NAPZA

menanamkan

juga memberikan

yang RSKO

Dimana upaya

(Akuntabilitas). pada

Misi nilai

menurut

jawab penyelenggaraan

tanggung

kegiatan

dalam sosialisasi diharapkan

pasien khususnya

tentang

nilai

unggul organisasi, yaitu :

yakni

edukasi dalam

keluarga

Visi Penguatan

kepada


6.3 Evaluasi penerapan 6.3 Terevaluasinya edukasi

kepada

keluarga

pasien

penerapan edukasi

keluarga

pasien

optimalisasi

dalam pasien dan keluarga

pemberian pasien.

kepada informasi

sehingga

tentang rehabilitasi

keluarga

NAPZA.

tentang

Nasionalisme.

rehabilitasi

Memberikan

NAPZA.

dengan

brosur/

leaflet

kepada

keluarga

pasien

6.4 Membuat hasil

pasien terwujudnya

yang

laporan 6.4 Tersusunnya evaluasi

laporan

penerapan edukasi

evaluasi

kepada

keluarga

penerapan

pasien

tentang

rehabilitasi NAPZA.

hasil

nilai

edukasi

berkualitas

bermutu

dan

(Komitmen

Mutu) serta melaksanakan kegiatan

edukasi

kepada

keluarga

pasien

dengan

penuh

sopan, santun dan ramah sesuai dengan nilai Etika Publik. Kemudian dengan

tentang

tersusunnya laporan hasil

rehabilitasi

evaluasi

NAPZA.

kegiatan

dapat

mewujudkan nilai dari Anti Korupsi.

33


F.

RENCANA JADWAL AKTUALISASI Judul Aktualisasi

: Optimalisasi Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien Tentang Rehabilitasi Napza Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta.

Waktu Pelaksanaan : 3 Juni 2021 – 3 Juli 2021 Tempat Pelaksanaan : Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

Tabel 3.6 Time Table Rencana Pelaksanaan Aktualisasi JUNI

NO.

KEGIATAN

1.

Melakukan koordinasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim mengenai

1

pentingnya Edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA 2.

Menentukan kebutuhan edukasi tentang rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh keluarga di ruang rehabilitasi.

3.

Penyampaian gagasan rancangan brosur/leaflet tentang Edukasi rehabilitasi NAPZA berdasarkan hasil survey kepada kepala ruangan dan ketua tim serta perawat pelakasana.

4.

Pembuatan konsep brosur/ leaflet edukasi tentang rehabilitasi NAPZA.

5.

Sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi.

6.

Penerapan penggunaan brosur/leaflet Edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA.

34

2

3

JULI 4

1

KET.


BAB IV PELAKSANAAN AKTUALISASI A.

PENJELASAN PELAKSANAAN AKTUALISASI Pelaksanaan aktualisasi dilakukan pada tanggal 3 Juni 2021 sampai 03 Juli 2021 di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta. Kegiatan aktualisasi disesuaikan dengan rancangan kegiatan pada BAB III serta ada beberapa kegiatan dan tahap kegiatan yang disesuaikan. Kegiatan yang sudah dilaksanakan adalah sebagai berikut : Table 4.1 Penjelasan Pelaksanaan Aktualisasi

NO. 1.

KEGIATAN Melakukan Ruangan

koordinasi dan

TANGGAL PELAKSANAAN

dengan

Ketua

Tim

Kepala

4 Juni 2021

mengenai

pentingnya Edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA 2.

Menentukan kebutuhan edukasi tentang

7 Juni 2021 - 9 Juni 2021

rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh keluarga di ruang rehabilitasi. 3.

Penyampaian

gagasan

rancangan

10 Juni 2021 - 12 Juni 2021

brosur/leaflet tentang Edukasi rehabilitasi NAPZA berdasarkan hasil survey kepada kepala ruangan dan ketua tim serta perawat pelakasana. 4.

Pembuatan konsep brosur/ leaflet edukasi

14 Juni 2021- 16 Juni 2021

tentang rehabilitasi NAPZA. 5.

Sosialisasi

penggunaan

brosur/

leaflet

17 Juni 2021 – 19 Juni 2021

dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi. 6.

Penerapan

penggunaan

brosur/leaflet

Edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA.

35

21 Juni 2021 – 26 Juni 2021


Table 4.2 Pelaksanaan Aktualisasi Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

Kegiatan 1 : Melakukan koordinasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Tanggal Kegiatan

4 Juni 2021

Tahapan Kegiatan 1. Mengajukan izin kepada Kepala Instalasi, Kepala Ruangan dan Ketua Tim untuk membahas mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA. Gambar 4.1 Pengajuan Izin Kepada Kepala Instalasi, Kepala Ruangan Dan Ketua Tim

Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juni 2021 pukul 09:00-11:00 WIB di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi, pada tahap kegiatan ini adalah mengajukan izin

36


kepada Kepala Instalasi dengan dr. Carlamia H. Lusikooy, SH, Sp. KJ (K), Kepala Ruangan dengan Ibu Sofia Baradja, S.Kep., Ners dan Ketua Tim dengan Nurwahidah Hasan, S.Kep., Ners, dari hasil kegiatannya adalah mendapatkan izin dari Kepala Instalasi, kepala ruangan dan ketua tim untuk mengadakan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA di ruang Rehabilitasi.

2. Mendiskusikan mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Gambar 4.2 Diskusi Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi NAPZA

Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juni 2021, pukul 10:15 di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi, berdasarkan hasil diskusi dengan Ibu Sofia Baradja, S.Kep., Ners dan Nurwahida Hasan, S.Kep., Ners bahwa edukasi kepada keluarga sangat penting sekali karena jika keluarga mempunyai informasi-informasi mengenai NAPZA keluarga akan memiliki keterampilan dalam merawat pasien. Disamping itu juga edukasi keluarga sebelumnya belum rutin dilaksanakan dan belum memiliki panduan dalam memberikan edukasi. Hasil Kegiatan

1. Didapatkannya izin dari Kepala Instalasi, Kepala Ruangan dan Ketua Tim

untuk membahas

mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA.

37


2. Diperolehnya

pendapat

dan

saran

terkait

pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Daftar Lampiran

Dokumentasi

kegiatan

diskusi

dengan

Kepala

Ruangan dan Ketua Tim Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA

Sebelum memulai diskusi pertama-tama mengajukan izin terlebih dahulu kepada Kepala Instalasi, Kepala Ruangan dan Ketua Tim dengan sopan dan santun (Etika

Publik).

Melakukan

koordinsi

dan

menyampaikan gagasan dengan sungguh-sungguh (Akuntabilitas). Memberikan ide dan gagasan dengan kepedulian, tanggung jawab dan kerja keras (Anti Korupsi). Kemudian mendengarkan dan menghargai pendapat dari Kepala Instalasi, Kepala Ruangan dan Ketua Tim (Nasionalisme). Adanya antusias dalam berdiskusi untuk membuat perubahan dan meningkatkan mutu pelayanan di ruang rawat inap Rehabilitasi. (Komitmen Mutu). Melakukan dokumentasi saat melakukan kegiatan diskusi (Anti Korupsi). Analisa Dampak

Kegiatan penyampaian gagasan ide ini diterapkan melalui nilai-nilai ANEKA dalam pelaksanaannya. Dengan adanya penerapan tersebut diharapkan dapat terjadi keselarasan pandangan terhadap isu dan gagasan

pemecahan

yang

akan

dilaksanakan

sehingga dapat mencapai tujuan bersama yaitu mengoptimalkan pemberian edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA. Apabila nilai-nilai ANEKA dan pemahaman peran dan kedudukan ASN tidak diterapkan dalam kegiatan penyampaian rancangan aktualisasi ini maka akan menyebabkan gagasan tidak tersampaikan dengan baik dan koordinasi dengan atasan menjadi kurang

38


baik. Jika hal ini terjadi maka akan berdampak pada kegiatan yang telah dirancang tidak berjalan dengan baik.

Kegiatan 2 : Menentukan kebutuhan edukasi tentang rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh keluarga di ruang rehabilitasi. Tanggal Kegiatan

7 Juni 2021 - 12 Juni 2021

Tahapan Kegiatan 1. Membuat lembar kuesioner yang berisi survey mengenai edukasi yang dibutuhkan keluarga pasien. Gambar 4.3 Pembuatan Lembar Survey Tingkat Kebutuhan Edukasi Keluarga

Dokumentasi diambil pada tanggal 7 Juni 2021, pukul 19:00 WIB. Pembuatan lembar survey berdasarkan dari judul-judul materi edukasi yang akan diberikan

39


kepada keluarga, dari lembar survey akan dilihat materi-materi apa saja yang akan dibutuhkan oleh keluarga pasien.

2. Mengkonsultasikan isi lembar kuesioner dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor.

40


41


Dokumentasi diambil pada tanggal 08 Juni 2021 pukul 11:00 WIB di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim, serta pukul 13:00 WIB di Ruang Bidang Medik dan Keperawatan dengan Mentor Pak Okta Mustikallah, S.Kep., Ners. Berdasarkan dari hasil konsultasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim adalah penyusunan urutan pertanyaan pada lembar survey dan pembendaharaan kata yang mudah dipahami oleh keluarga pasien agar keluarga tidak kesulitan dalam mengisi lembar survey. Berdasarkan dari hasil konsultasi dengan Mentor adalah perlunya penambahan kata pembuka sebelum pertanyaan dan penambahan pertanyaan mengenai materi edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga, karena bisa saja materi yang diberikan penting namun tidak dibutuhkan oleh keluarga pasien.

42


3. Memberikan lembar kuesioner kepada keluarga pasien disaat jam kunjung pasien. Gambar 4.5 Memberikan Lembar Kuesioner Kepada Keluarga Pasien

43


Dokumentasi diambil pada tanggal 09-10 Juni 2021 pukul 09:00 WIB di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi saat jam kunjung pasien. Sebelum membagikan kuesioner dilakukan penjelasan mengenai maksud dan tujuan diadakannya pengisian lembar survey edukasi keluarga. Kemudian keluarga mengisi lembar survey yang tersedia dan mengumpulkan kembali lembar survey tersebut kepada perawat di Ruang Rehabilitsi. Keluarga yang mengisi lembar survey adalah sebanyak 11 orang.

4. Mengumpulkan survey terbanyak edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien. Gambar 4.6 Mengumpulkan Data Hasil Survey Keluarga Tentang Edukasi

44


Diagram 4.1 Survey Tingkat Kebutuhan Edukasi Keluarga

SURVEY TINGKAT KEBUTUHAN EDUKASI KELUARGA 12

11 100 %

11 100%

11 10…

10

11 10…

9 81,8%

8 72,…

11 100%

8 72,…

11 100%

8 72,7%

8 6 3 27,…

4 2 0

0

4 36,…

3 27,…

2 18,…

3 27,3%

3 27,3%

0

0

8 72,7%

7 63,6%

0

0

0 Tanda dan Pengertian, Gejala Penyebab, serta Kekambuhan Tanda dan Penggunaan Gejala Ketergantungan NAPZA pada Pasien Rehab & Penyalahgunaan Penting NAPZA

Dukungan Cara Mengatasi Perawatan Pasien Setelah Kekambuhan Keluarga dalam Perawatan pada Pasien Menjalani Pasien Rehabilitasi Penyalahgunaan NAPZA

Tidak Penting

Butuh

Manajemen Stress

Tidak Butuh

Dokumentasi diambil pada tanggal 11-12 Juni 2021 pukul 10:00 WIB. Berdasarkan dari hasil survey tingkat kebutuhan edukasi keluarga didapatkan data 11 (100%) dari 11 keluarga pasien menganggap semua materi edukasi (penyuluhan) sangat penting karena dapat memberikan pengetahuan, antisipasi

45


dan dapat mengurangi kecemasan serta kekhawatiran dari keluarga pasien dalam mengadapi anggota keluarga (pasien) yang terjerumus kedalam ketergantungan dan penyalahgunaan NAPZA. Sebanyak 8 (72,7%) dari 11 keluarga pasien sangat membutuhkan edukasi mengenai pengertian, penyebab, serta tanda dan gejala ketergantungan dan penyalahgunaan NAPZA, perawatan pasien setelah menjalani rehabilitasi, cara mengatasi kekambuhan pada pasien penyalahgunaan NAPZA dan manajemen stress. Terdapat 9 (81,8%) dari 11 keluarga pasien membutuhkan edukasi mengenai

tanda dan gejala

kekambuhan penggunaan NAPZA pada pasien rehabilitasi dan terdapat 7 (63,6%) dari 11 keluarga pasien membutuhkan edukasi mengenai dukungan keluarga dalam perawatan pasien. Hasil Kegiatan

1. Adanya lembar kuesioner yang berisi survey mengenai edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien. 2. Adanya kesepakatan mengenai isi lembar kuesioner dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor. 3. Keluarga pasien mengisi lembar kuesioner yang berisi survey mengenai edukasi yang dibutuhkan. 4. Didapatkan survey terbanyak edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien.

Daftar Lampiran

1. Lembar survey yang telah disepakati oleh Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor. 2. Dokumentasi saat konsultasi dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor. 3. Dokumentasi Keluarga saat mengisi lembar kuesioner. 4. Dokumentasi hasil lembar kuesioner yang telah diisi oleh keluarga pasien.

Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA

Mengkonsultasikan lembar kuesioner yang berisi survey mengenai edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim dan

Mentor

46

sebagai

sikap

profesionalisme


(Akuntabilitas). Mendengarkan dan menghargai pendapat dari Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor untuk

mencapai

kesepakatan

bersama

(Nasionalisme). Berkoordinasi dengan keluarga pasien untuk menyampaikan kuesioner dengan sopan, santun

dan

ramah

(Etika

Publik).

Adanya

kepedulian, tanggung jawab dan transparansi dalam memberikan lembar survey serta didapatkannya data yang real (Anti Korupsi). Dimana nilai efektivitas yang didapat yaitu penyampaian survey mengenai pentingnya edukasi yang dibutuhkan keluarga pasien (Komitmen Mutu). Analisa Dampak

Penentuan kebutuhan edukasi tentang Rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh keluarga melalui sebuah survey bertujuan untuk mengetahui seberapa penting dan butuhnya edukasi tersebut oleh keluarga pasien. Dalam

pelaksanaan

kegiatan

ini

tentu

harus

memperhatikan penerapan nilai-nilai ANEKA serta pemahaman peran dan kedudukan ASN agar kegiatan ini dapat berjalan secara optimal. Apabila nilai-nilai ANEKA dan pemahaman peran dan kedudukan ASN tidak diterapkan dalam kegiatan penentuan kebutuhan edukasi keuarga melalui survey ini maka akan menyebabkan koordinasi antara penulis dan keluarga pasien menjadi kurang berjalan dengan baik

dan

pemberian

edukasi

menjadi

kurang

bermanfaat. Hal ini akan berdampak pada kegiatan yang telah dirancang tidak berjalan dengan baik.

47


Kegiatan 3 : Penyampaian

perubahan

gagasan

rancangan

brosur/leaflet

tentang

edukasi

rehabilitasi NAPZA menjadi buku saku berdasarkan hasil survey kepada Kepala Ruangan, Ketua Tim dan perawat pelakasana, serta mentor. Tanggal Kegiatan

13 Juni 2021 - 17 Juni 2021

Tahapan Kegiatan 1. Menyampaikan perubahan gagasan kepada Kepala Ruangan dan Ketua Tim serta mentor mengenai rancangan brosur/leaflet edukasi Rehabilitasi NAPZA menjadi buku saku berdasarkan hasil survey. Gambar 4.7 Diskusi Perubahan Rancangan Brosur/Leaflet Menjadi Buku Saku

Dokumentasi diambil pada tanggal 13 juni 2021 pukul 11:00 WIB dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi, serta pukul 14:00 WIB di Ruang Bidang Medik dan Keperawatan dengan mentor. Bedasarkan hasil diskusi didapatkan persetujuan dari Kepala Ruangan, Ketua Tim dan Mentor mengenai perubahan media edukasi berupa brosur/ leaflet menjadi buku saku. Perubahan dilakukan karena berdasarkan dari hasil survey didapatkan data bahwa semua keluarga menganggap penting dan sebagian besar keluarga membutuhkan materi edukasi tersebut.

48


2. Menyusun draft rancangan buku saku

dengan mengkolaborasikan beberapa

referensi terkait. Gambar 4.8 Penyusunan Draft Rancangan Buku Saku

49


Dokumentasi diambil pada tanggal 14-16 Juni 2021 pukul 13:00 WIB di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi. Penyusunan draft rancangan buku saku diambil dari berbagai sumber buku dan jurnal terkait.

50


3. Mendiskusikan draft rancangan buku saku dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim serta perawat pelaksana. Gambar 4.9 Diskusi Draft Rancangan Buku Saku

Dokumentasi diambil pada tanggal 17 Juni 2021 pukul 15:00 di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi. Diskusi dilakukan bersama-sama dengan Kepala Ruangan, Ketua Tim serta Perawat Pelaksana, hasil diskusi didapatkan beberapa masukan mengenai penambahan beberapa materi seperti tahap-tahap dari latihan relaksasi pada manajemen stress dan jadwal kegiatan pasien di Ruang Rehabilitasi, serta adanya perbaikan pembendaharaan kata yang mudah dipahami oleh keluarga pasien. Hasil Kegiatan

1. Tersampaikannya perubahan gagasan tentang rancangan

brosur/leaflet

menjadi

buku

saku

kepada Kepala Ruangan dan Ketua Tim serta mentor. 2. Tersusunnya draft rancangan buku saku edukasi keluarga. 3. Diperolehnya pendapat dan masukan terkait draft rancangan buku saku. Daftar Lampiran

1. Dokumentasi perubahan

kegiatan rancangan

diskusi

mengenai

brosur/leaflet

dengan

Kepala Ruangan, Ketua Tim serta mentor. 2. Dokumentasi penyusunan draft buku saku edukasi keluarga.

51


3. Dokumentasi diskusi draft rancangan buku saku dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim serta perawat pelaksana. Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA

Penyampaian gagasan dengan sopan santun, serta mendengarkan dan menghargai pendapat pimpinan dan profesi sejawat untuk musyawarah mufakat dan kemudian menerima saran perbaikan dari kepala ruangan, ketua tim serta perawat pelaksana ruang Rehabilitasi

(Etika Publik,

Nasionalisme

dan

Akuntabilitas). Membuat draft rancangan buku saku berdasarkan data hasil survey kebutuhan edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien (Anti Korupsi). Perancangan buku saku ini merupakan hasil berfikir kreatif guna mengoptimalkan penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA sesuai dengan (Komitmen Mutu). Analisa Dampak

Adanya perubahan dalam gagasan rancangan dengan brosur/ leaflet menjadi brosur telah disesuaikan dengan hasil survey yang telah dilaksanakan yaitu berdasarkan kebutuhan edukasi dari keluarga pasien. Dengan adanya perubahan (revisi) rancangan ini dikoordinasikan kepada Kepala Ruangan, Ketua Tim dan perawat pelaksana ruangan bertujuan untuk mendapatkan

kesepakatan

bersama.

Kemudian

pembuatan draft buku saku didasarkan pada buku dan jurnal-jurnal terkait yang kemudian didiskusikan secara bersama agar perawat memahami isi dari buku saku tersebut. Apabila nilai-nilai ANEKA dan pemahaman peran dan kedudukan ASN tidak diterapkan dalam pelaksanaan kegaiatan ini, maka akan menyebabkan kegiatan yang telah dirancang tidak berjalan dengan baik. Jika hal ini terjadi maka edukasi keluarga yang dihasilkan pun

52


kurang mendapatkan feed back yang baik dari keluarga pasien tersebut dan akan mempengaruhi standar mutu dalam pemberian pelayanan.

Kegiatan 4 : Pengadaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA di ruang rehabilitasi. Tanggal Kegiatan

17 Juni 2021- 26 Juli 2021

Tahapan Kegiatan 1. Membuat desain buku saku edukasi tentang rehabilitasi NAPZA. Gambar 4.10 Pembuatan Desain Buku Saku Edukasi Keluarga

53


Dokumentasi diambil pada tanggal 17 Juni 2021 pukul 20:00 WIB. Pembuatan desain buku berdasarkan dari draft rancangan buku saku yang telah dibuat dengan

judul

buku

“Dukungan

Keluarga

Dalam

Perawatan

Pasien

Penyalahgunaan NAPZA”.

2. Mengkonsultasikan desain buku saku kepada bagian hukormas RS. Gambar 4.11 Konsultasi Desain Buku Saku Kepada Bagian Hukormas RS

Dokumentasi diambil pada tanggal 20 Juni 2021 pukul 19:00 WIB melalui Zoom Meeting. Konsultasi dilakukan dengan bagian Hukormas Bapak Firdaus, hasil

54


konsultasi adalah masukan mengenai desain cover, font tulisan, dan isi dari buku saku untuk lebih dipersingkat dan diambil intinya seperti pembuatan power point. 3. Mengkonsultasikan desain buku saku kepada kepala ruangan. Gambar 4.12 Konsultasi Desain Buku Saku Dengan Kepala Ruangan/ Ketua Tim

Dokumentasi diambil pada tanggal 26 Juni 2021 pukul 09:00 WIB melalui Zoom Meeting. Hasil konsultasi dengan Ketua Tim adalah untuk isi dari buku saku jangan dipersingkat dan harus jelas tujuan agar keluarga pasien yang membaca tidak bingung dan mudah memahami informasi-informasi dari isi materi yang ada dalam buku saku tersebut. Untuk desain covernya sudah sangat bagus dan font tulisan bisa dibaca.

55


4. Mencetak buku saku edukasi yang telah disepakati. Gambar 4.13. Mencetak Buku Saku Edukasi

Dokumentasi diambil pada tanggal 26 Juli 2021 pukul 10:00 WIB di Saudara Digital Copier Bekasi. Pencetakan buku saku dilakukan secara mandiri dan dilakukan setelah masa isoman. Pencetakan buku saku dibuat sebanyak 3 buku.

Hasil Kegiatan

1. Terbentuknya desain buku saku edukasi tentang rehabilitasi NAPZA. 2. Menerima masukan dan pendapat mengenai desain buku saku dari kepala ruangan. 3. Menerima pendapat mengenai desain buku saku dari bagian humas RS.

56


4. Tercetaknya

buku

saku

edukasi

yang

telah

disepakati. Daftar Lampiran

1. Dokumentasi kegiatan diskusi mengenai konsep buku saku dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim dan mentor. 2. Draft rancangan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA.

Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA

Melakukan konsultasi dengan kepala ruangan dan kepada bagian Hukormas RS dengan sopan santun dan ramah, serta mendengarkan dan menghargai pendapat dan kemudian menerima saran perbaikan dari kepala ruangan serta bagian hukormas RS sesuai dengan nilai Etika Publik, Nasionalisme dan Akuntabilitas. Diperlukannya nilai-nilai anti korupsi yakni kerja keras dan tanggung jawab dalam proses pengadaan

buku

saku

dalam

memaksimalkan

penerapan edukasi kepada keluarga pasien (Anti Korupsi dan Komitmen Mutu). Analisis Dampak

Pengadaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA di ruang rehabilitasi. Dalam kegiatan pengadaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA dikoordinasikan kepada pihak terkait yaitu pada bagian Hukormas. Dengan adanya keterkaitan dengan bidang pelayanan lain merupakan sebagai bentuk kerjasama dalam upaya

penyempurnaan

buku

saku

yang

telah

dirancang. Dalam pelaksanaan kegiatan ini jika tidak menerapkan nilai-nilai ANEKA, pemahaman peran dan kedudukan ASN maka proses pengadaan buku saku tidak berjalan secara optimal.

57


Kegiatan 5 : Sosialisasi penggunaan buku saku dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi. Tanggal Kegiatan

18 Juni 2021 – 2 Juli 2021

Tahapan Kegiatan 1. Meminta izin kepada Kepala Instalasi untuk melakukan sosialisasi penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO Jakarta. Gambar 4.14 Meminta Izin Kepada Kepala Instalasi Untuk Melakukan Sosialisasi Buku Saku

Dokumentasi diambil pada tanggal 18 Juni 2021 Pukul 09:00 WIB di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi. Hasil kegiatan adalah mendapatkan izin dari dr. Carlamia H. Lusikooy, SH, SpKJ (K) untuk melakukan sosialisasi mengenai edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO Jakarta.

58


2. Melakukan sosialisasi penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RS Ketergantungan Obat Jakarta melalui forum Kegiatan Kajian Ilmiah Keperawatan (Jum’at Barokah). Gambar 4.15 Sosialisasi Penggunaan Buku Saku Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi NAPZA ke Perawat RSKO Jakarta

59


60


61


Dokumentasi diambil pada tanggal 18 Juni 2021 pukul 13:00 WIB di Ruang Konferensi RSKO Jakarta dengan Zoom Meeting pada kegiatan Kajian Ilmiah Keperawatan (Jum’at Barokah). Zoom meeting dihadari sebanyak 36 orang dan sebanyak 9 orang yang hadir dalam ruang konferense. Semua peserta sangat antusias dengan memberikan beberapa pertanyaan dan memberi masukan terkait edukasi keluarga. Semua peserta sangat mendukung dengan adanya edukasi keluarga sehingga kegiatan sosialisasi ini dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu.

62


3. Melakukan sosialisasi penggunaan buku saku dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi. Gambar 4.16 Sosialisasi Penggunaan Buku Saku Dalam Persiapan Edukasi Keluarga Ke Perawat Rehabilitasi

Dokumentasi diambil pada tanggal 27 Juni 2021 Pukul 08:00 WIB dengan Zoom Meeting. Sosialisasi dilakukan secara daring dikarenakan saya sedang menjalani isoman. Kegiatan sosialisasi diadakan pada saat operan shift pagi dikarenakan jumalah perawat pelaksana lebih banyak. Hasil kegiatan sosialisasi adalah perawat telah memahami isi materi edukasi dari buku saku.

63


4. Mendiskusikan penerapan buku saku edukasi yang akan diberikan kepada keluarga pasien. Gambar 4.17 Diskusi Penerapan Buku Saku Edukasi Yang Akan Diberikan Kepada Keluarga Pasien

Dokumentasi diambil pada tanggal 27 Juni 2021 Pukul 08:00 WIB dengan Zoom Meeting. Hasil kegiatan diskusi adalah edukasi keluarga akan diberikan secara daring dikarenakan peniadaan jam kunjung di masa pandemi Covid -19. Hasil Kegiatan

1. Mendapatkan izin dari Kepala Instalasi untuk melakukan sosialisasi penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO Jakarta. 2. Dilaksanakannya sosialisasi penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke

64


perawat RS Ketergantungan Obat Jakarta melalui forum Kegiatan Kajian Ilmiah Keperawatan (Jum’at Barokah). 3. Dilaksanakannya sosialisasi

penggunaan

buku

saku dalam persiapan edukasi tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi di ruang Rehabilitasi. 4. Kesepakatan mengenai penerapan buku saku edukasi yang akan diberikan kepada keluarga pasien. Daftar Lampiran

1. Dokumentasi dengan Kepala Instalasi. 2. Dokumentasi kegiatan sosialisasi ke perawat RS Ketergantungan Kegiatan

Obat

Kajian

Jakarta

Ilmiah

melalui

Keperawatan

forum (Jum’at

Barokah). 3. Dokumentasi

kegiatan

sosialisasi ke perawat

rehabilitasi di ruang Rehabilirasi. Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA

Kegiatan sosialisasi merupakan salah satu bentuk akuntabel saya sebagai seorang ASN (Perawat) yang melakukan

layanan

(Akuntabilitas). membangun mendapatkan

dengan Dimana

semangat

tanggung tujuannya

gotong

kesepakatan

royong bersama

jawab untuk untuk yaitu

penggunaan buku saku dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien (Nasionalisme). Sebelum memulai sosialisasi pertama-tama meminta izin dari Kepala Instalasi dengan penuh sopan santun (Etika Publik). Setelah itu mensosialisasikan penggunaan buku saku yang berkualitas dan bermutu (Komitmen Mutu) serta menerima pendapat dan usulan dari profesi sejawat (Etika Publik). Kemudian dengan memiliki tanggung jawab dalam memaksimalkan pemberian edukasi dalam bentuk buku saku (Anti Korupsi).

65


Analisa Dampak

Kegiatan Kajian Ilmiah Keperawatan (Jum’at Barokah) merupakan kegiatan rutin yang dijalankan sebulan sekali pada minggu ketiga di hari jum’at yang diagendakan oleh bagian komite medik. Pelaksanaan sosialisasi edukasi keluarga dengan buku saku memperkenalkan konsep media buku saku dalam pemberian edukasi keluarga kepada seluruh teman sejawat

di

RSKO

Jakarta.

Dalam

pelaksanaan

sosialisasi ini, diperlukan koordinasi dan kerja sama yang baik, jika penulis tidak menerapkan nilai-nilai ANEKA pada proses ini maka sosialisasi yang diharapkan

tidak

berjalan

optimal

dalam

meningkatkan pengetauan perawat dalam pemberian asuhan

kepada

keluarga

pasien

dan

juga

mengakibatkan pelayanan prima yang ingin dicapai belum terlaksana.

66


Kegiatan 6 : Penerapan penggunaan buku saku edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA langsung dengan keluarga pasien. Tanggal Kegiatan

3 Juli 2021 – 9 Juli 2021

Tahapan Kegiatan 1. Membuat kontrak waktu dengan keluarga pasien mengenai kegiatan sosialisasi edukasi dengan penggunaan buku saku NAPZA. Gambar 4.18 Membuat Satuan Acara Penyuluhan Edukasi Keluarga

Dokumentasi diambil pada tanggal 03 Juli 2021 pukul 07:00 WIB, tujuan dibuatnya SAP ini adalah untuk mempermudah perencanaan dan pelaksanaan kegiatan edukasi yang akan dilakukan.

67


2. Menerapkan edukasi kepada keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA dengan buku saku. Gambar 4.19 Membuat Kontrak Waktu Dengan Keluarga Pasien Tentang Kegiatan Sosialisasi Edukasi

Dokumentasi ini diambil pada tanggal 03 Juli 2021 pukul 17:24 WIB via WhatsApp, tujuan dilakukan kontrak waktu adalah untuk membuat perjanjian dan kesepakatan waktu serta menjelaskan maksud dan tujuan untuk dilakukannya edukasi kepada keluarga pasien.

3. Evaluasi penerapan buku saku edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Gambar 4.20 Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien

68


Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juli 2021 pukul 16:20 WIB via zoom meeting. Kegiatan edukasi sangat berjalan dengan lancar dan keluarga pasien sangat kooperatif serta antusias dalam mendengarkan dan bertanya kepada perawat.

69


4. Membuat laporan hasil evaluasi penerapan buku saku edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Gambar 4.21 Laporan Evaluasi Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien

70


5. Evaluasi perawat dalam pelaksanaan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA dengan buku saku. Gambar 4.22 Evaluasi Perawat Dalam Pelaksanaan Edukasi Keluarga Dengan Buku Saku

71


Dokumentasi diambil pada tanggal 05-08 Juli 2021 di waktu shift parawat Rehabilitasi. Kuesioner diisi oleh perawat Rehabilitasi pada saat shift jaga, dengan jumlah 14 perawat. Kuesioner ini dibuat untuk mengevaluasi perawat Rehabilitasi mengenai pelaksanaan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA dengan adanya media buku saku.

72


6. Membuat laporan hasil evaluasi penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA. Diagram 4.2 Pemahaman Perawat Dalam Pelaksanaan Edukasi Keluarga

PEMAHAMAN PERAWAT DALAM PELAKSANAAN EDUKASI KELUARGA 16

14 10…

14 10…

14 100%

13 92,…

14

12 85,7%

12 10 8 6 4 2

0

1 7,1%

0

2 14,…

0

0 Pentingnya Pengadaan Buku Cakupan Isi Buku Kesulitan Keefektifan Pemberian Edukasi Kepada Saku Saku Penggunaan Keluarga Pasien Buku Saku Dalam Edukasi selama 30 menit Edukasi YA TIDAK

Berdasarkan dari data hasil kuesioner didapatkan bahwa 14 (100%) dari 14 perawat ruang Rehabilitasi menyatakan edukasi sangat penting diberikan kepada keluarga pasien karena jika keluarga lebih paham tentang NAPZA, efek samping dan cara merawatnya maka keluarga akan memiliki keterampilan dalam merawat pasien, 14 (100%) dari 14 perawat menyatakan dengan adanya pengadaan buku saku “Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA” dapat membantu dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien sehingga edukasi lebih terarah dan tepat sasaran, 13 (92,9%) dari 14 perawat mengatakan isi dari buku saku tersebut sudah mencakup semua informasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien, 14 (100%) dari 14 perawat mengatakan tidak menemukan kesulitan dalam memberikan edukasi kepada keluarga dengan menggunakan buku saku dan 12 (85,7%) dari 14 perawat mengatakan waktu pemberian edukasi kepada keluarga pasien selama 30 menit cukup efektif.

73


7. Membuat video testimoni. Gambar 4.22 Pembuatan Video Testimoni

Dokumentasi ini diambil pada tanggal 26 Juli 2021 pukul 13:00 WIB di ruang Rehabilitasi, video ini merupakan testimoni yang diberikan oleh Kepala Ruangan (Ibu Ns. Sofia Baradja, SKep.), Katim (Ns. Nurwahida, SKep.), dan Perawat pelaksana (Ns. Frida S, SKep.). Hasil Kegiatan

1. Tersusunnya kontrak waktu (jadwal) edukasi dengan penggunaan buku saku edukasi rehabilitasi NAPZA kepada keluarga. 2. Terlaksananya penerapan edukasi kepada keluarga tentang rehabilitasi NAPZA dengan buku saku. 3. Terevaluasinya

penerapan

edukasi

kepada

keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat rehabilitasi. 4. Tersusunnya laporan hasil evaluasi penerapan edukasi

kepada

keluarga

pasien

tentang

rehabilitasi NAPZA. 5. Terevaluasinya edukasi

perawat

kepada

dalam

keluarga

pelaksanaan

pasien

tentang

Rehabilitasi NAPZA dengan buku saku. 6. Adanya laporan hasil evaluasi penerapan edukasi kepada

keluarga

pasien

tentang

rehabilitasi

NAPZA. 7. Adanya video testimoni dari Kepala Ruangan, Ketua Tim dan perawat pelaksana. Daftar Lampiran

1. Foto Dokumentasi 2. Laporan Satuan Acara Penyuluhan (SAP) 3. Kuesioner perawat dan diagram hasil

74


4. Video Testimoni Aktualisasi Nilai-nilai ANEKA

Menerapkan

edukasi

kepada

keluarga

pasien

merupakan salah satu bentuk akuntabel saya sebagai seorang ASN (Perawat) yang melakukan layanan dengan tanggung jawab (Akuntabilitas). Dimana pada sila ke 2 (dua) Pancasila terkandung nilai peduli, diharapkan

informasi

dalam

buku

saku

dapat

meningkatkan kepedulian kepada keluarga pasien dalam optimalisasi pemberian informasi sehingga terwujudnya

nilai

Nasionalisme.

Memberikan

edukasi dengan buku saku kepada keluarga pasien yang berkualitas dan bermutu (Komitmen Mutu) serta melaksanakan kegiatan dengan penuh sopan, santun dan ramah sesuai dengan nilai Etika Publik. Kemudian dengan tersusunnya laporan hasil evaluasi kegiatan

dan

dibuatnya

video

testimoni

dapat

mewujudkan nilai dari Anti Korupsi. Analisa Dampak

Dengan melakukan kegiatan evaluasi ini, maka akan diketahui sejauh mana dampak dan implementasi yang telah dilakukan. Hasil tersebut tentu akan menjadi masukan dan rencana tindak lanjut untuk perbakan

di

pelaksanaan

masa

yang

kegiatan

akan

evaluasi

dating. ini,

Dalam

diperlukan

penerapan nilai-nilai ANEKA agar evaluasi yang dilakukan dapat berjalan secara optimal sehingga hasil yang didapatkan diharapkan bisa menjadi gambaran untuk

meningkatkan

asuhan keperawatan.

75

kualitas

dalam

pemberian


B.

PENCAPAIAN PENYELESAIAN ISU Kegiatan aktualisasi ini dilakukan sebagai bagian dari menyelesaikan isu yang diangkat penulis yaitu “Belum Optimalnya Penerapan Edukasi Keluarga Tentang Rehabilitasi Napza Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta”. Adapun gagasan pemecahan isu yang dilakukan penulis terangkum dalam matriks rancangan aktualisasi. Kegiatan gagasan pemecahan isu tersebut meliputi melakukan koordinasi dengan kepala ruangan, ketua tim dan perawat pelaksana, menentukan kebutuhan edukasi, penyampaian gagasan rancangan buku saku, pengadaan buku saku, sosialisasi kepada perawat dan evaluasi penggunaan buku saku. Semua kegiatan dalam aktualisasi ini dapat terlaksana. Media edukasi berupa buku saku telah dicetak dan sosialisasi serta evaluasi edukasi penggunaan buku telah terlaksana. Secara keseluruhan berdasarkan rekapitulasi hasil kuesioner dapat disimpulkan telah terjadi peningkatan terhadap pengetahuan dan pemahaman perawat mengenai pentingnya edukasi yang diberikan kepada keluarga, selain itu juga semakin mudah dan lebih terarahnya pemberian edukasi dengan adanya buku saku. Dapat dilihat melalui hasil evaluasi keluarga pasien setelah diberikan edukasi, keluarga menjadi lebih mudah memahami edukasi yang telah diberikan, sehingga kekhawatiran keluarga pun menjadi ikut berkurang dengan adanya informasi – informasi yang telah diberikan oleh perawat. Hal ini memberikan dampak pada meningkatnya mutu kualitas asuhan dan pelayanan yang diberikan kepada keluarga pasien dibandingkan sebelum dibuatnya panduan edukasi berupa buku saku.

C.

MANFAAT PELAKSANAAN AKTUALISASI Manfaat yang didapatkan dengan terpecahkannya isu yang diangkat dalam aktualisasi ini adalah sebagai berikut : 1.

Bagi Individu Peserta Penulis sebagai peserta Latsar mendapatkan manfaat yaitu dapat berkontribusi dalam membantu menyelesaikan isu yang berkembang di ruangan Rawat Inap Rehabilitasi. Selain itu penulis juga mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan nilai-nilai ASN ANEKA dan peran serta kedudukan ASN dalam kegiatan pemecahan isu tersebut sehingga diharapkan dapat membentuk penulis sebagai ASN yang berkarakter. 76


2.

Pimpinan Langsung/ Unit Kerja Dengan terselesaikannya masalah optimalisasi pemberian edukasi kepada keluarga

pasien

tentang

Rehabilitasi

NAPZA,

pimpinan

langsung

mendapatkan manfaat yaitu membantu peningkatan pengetahuan dan pemahaman perawat dalam pemberian edukasi kepada keluarga. Selain itu, output yang dihasilkan dari kegiatan aktualisasi adalah buku saku yang dapat dijadikan pedoman dan acuan untuk pemberian edukasi keluarga bagi perawat, sehingga edukasi yang diberikan lebih terarah. 3.

Stakeholder Dengan

terselesaikannya

isu

tersebut

diharapkan

perawat

dalam

memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga pasien dapat dilakukan secara optimal. Dengan demikian diharapkan edukasi yang diberikan dapat meningkatkan pengetahuan dan informasi kepada keluarga mengenai dukungan keluarga dalam perawatan pasien penyalahgunaan NAPZA.

77


D.

PERUBAHAN JADWAL KEGIATAN Adapun perubahan jadwal yang ada pada kegiatan aktualisasi adalah sebagai berikut : Table 4.3 Perubahan Jadwal Kegiatan

NO.

KEGIATAN

JUNI 1

1.

2

3

JULI 4

Melakukan koordinasi dengan Kepala

1

2

3

KETERANGAN 4 Rencana tanggal 4 Juni 2021.

Ruangan dan Ketua Tim mengenai pentingnya Edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA Realisasi :

Kegiatan dilakukan sesuai rencana pada

4 Juni 2021

minggu pertama bulan Juni pada tanggal 4 Juni 2021. Kepala ruangan dan Ketua Tim menyetujui rancangan aktualisasi yang telah direncanakan.

2.

Menentukan kebutuhan edukasi tentang

Rencana tanggal 7 juni 2021 – 9 Juni

rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh

2021

keluarga di ruang rehabilitasi. Realisasi :

Kegiatan dilakukan pada minggu kedua

7 Juni 2021 – 12 Juni 2021

bulan Juni, akan tetapi pemberian lembar kuesioner disesuaikan

78

kepada dengan

keluarga jam

pasien kunjung


keluarga pasien pada tanggal 9 Juni 2021, dan

dilakukan

perpanjangan

waktu

sampai tanggal 12 Juni 2021 untuk membuat survey data. 3.

Penyampaian brosur/leaflet

gagasan tentang

rancangan

Rencana tanggal 10 Juni 2021 – 12 Juni

Edukasi

2021

rehabilitasi NAPZA berdasarkan hasil survey kepada kepala ruangan dan ketua tim serta perawat pelaksana. Penyampaian

perubahan

gagasan

Adanya perubahan kegiatan dikarenakan

brosur/leaflet

tentang

dari hasil survey didapatkan data 100%

edukasi rehabilitasi NAPZA menjadi buku

keluarga pasien menganggap semua

saku berdasarkan hasil survey kepada

materi edukasi sangat penting, dan

Kepala Ruangan, Ketua Tim dan perawat

didapatkan

pelaksana, serta mentor.

keluarga pasien membutuhkan materi

Realisasi :

edukasi tersebut. Sehingga dibutuhkan

13 Juni 2021 – 17 Juni 2021

media yang dapat mencakup semua

rancangan

materi

data

edukasi

rata-rata

yang

72,7%

penting

dan

dibutuhkan oleh keluarga pasien. Adanya perubahan jadwal disesuaikan dengan

79


konsultasi dan disetujuinya pengadaan buku saku edukasi keluarga. 4.

Pembuatan

konsep

brosur/

leaflet

Rencana tanggal 14 Juni 2021 – 16 Juni

edukasi tentang rehabilitasi NAPZA.

2021

Pengadaan buku saku edukasi keluarga

Adanya perubahan kegiatan disesuaikan

tentang Rehabilitasi NAPZA di ruang

dengan

rehabilitasi.

brosur/

Realisasi :

Adanya perubahan jadwal disesuaikan

17 Juni 2021 – 26 Juli 2021

dengan

perubahan leaflet

rancangan

menjadi

selesainya

buku

konsultasi,

dari saku.

dan

perpanjangan waktu pencetakan buku saku ditanggal 26 Juli 2021 berhubungan dengan selesainya masa isoman saya sebagai peserta latsar dari terinfeksi Covid-19. 5.

Sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet

Rencana tanggal 17 Juni 2021 – 19 Juni

dalam

2021

persiapan

edukasi

keluarga

pasien tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat rehabilitasi. Sosialisasi penggunaan buku saku dalam

Adanya perubahan kegiatan disesuaikan

persiapan

dengan perubahan rancangan menjadi

edukasi

keluarga

pasien

buku saku. Adanya perubahan jadwal

80


6.

tentang rehabilitasi NAPZA ke perawat

dikarenakan oleh keadaan saya yang

rehabilitasi.

sedang menjalani masa isoman dan

Realisasi :

penyesuaian jadwal sosialisasi dengan

18 Juni 2021 – 2 Juli 2021

perawat rehabilitasi.

Penerapan penggunaan brosur/leaflet

Rencana tanggal 21 Juni 2021 – 26 Juni

Edukasi kepada keluarga pasien tentang

2021

rehabilitasi NAPZA. Penerapan

penggunaan

buku

saku

Adanya perubahan kegiatan disesuaikan

edukasi kepada keluarga pasien tentang

dengan perubahan rancangan menjadi

rehabilitasi NAPZA langsung dengan

buku saku. Pelaksanaan edukasi dimulai

keluarga pasien.

pada minggu kedua bulan Juli 2021, yang

Realisasi :

semula akan dilaksanakan pada minggu

3 Juli 2021 – 9 Juli 2021

keempat bulan Juni 2021. Hal tersebut menyesuaikan kesiapan media edukasi.

81


E.

HAMBATAN

DAN

SOLUSI

SELAMA

PELAKSANAAN

KEGIATAN

AKTUALISASI Selama pelaksanaan aktualisasi terdapat beberapa hambatan yang dihadapi. Kendala tersebut dapat diatasi dengan menerapkan nilai-nilai ANEKA. Berikut tabel yang menjelaskan kendala dan solusi yang dihadapi : Table 4.4 Hambatan Dan Solusi Pelaksanaan Aktualisasi

NO. 1.

HAMBATAN

SOLUSI

Rekan sejawat belum tersosialisasi mengenai Melakukan kegiatan edukasi kepada keluarga pasien.

kegiatan

sosialisasi

mengenai

edukasi keluarga kepada rekan

sejawat

kegiatan

melalui

kajian

ilmiah

(Jum’at Barokah) 2.

Rancangan media edukasi keluarga dengan Mengganti media edukasi metode brosur/ leaflet tidak terlaksana dengan buku saku karena karena tidak mencakup kebutuhan edukasi dapat mencakup semua informasi

keluarga pasien

yang

dibutuhkan oleh keluarga pasien. 3.

Pengadaan buku saku yang diajukan kepada Pengadaan

buku

PKRS untuk sekarang masih dalam proses sementara pengajuan anggaran.

secara

saku

dilakukan

mandiri

menggunakan

dan biaya

pribadi. 4.

Waktu konsultasi, diskusi dan penerapan Mengadakan

konsultasi,

edukasi keluarga pasien kurang maksimal diskusi

penerapan

dan

karena keadaan dan kondisi saya sebagai edukasi kepada keluarga peserta latsar dan beberapa rekan sejawat pasien dilakukan secara termasuk kepala ruangan yang sedang daring

Pencetakan perpanjangan

buku waktu

saku

zoom

meeting.

terkonfirmasi positif covid-19. 5.

melalui

mengalami Pencetakan

dikarenakan

sedang menjalankan isolasi mandiri.

saya setelah isoman.

dilakukan

selesai

masa


F.

RANCANGAN TINDAK LANJUT HASIL AKTUALISASI

Berdasarkan hasil kegiatan aktualisasi yang telah dilakukan oleh penulis selama kurang lebih satu bulan, perlu dilakukan rencana tindak lanjut untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas mutu pelayanan sebagai perawat. Berikut adalah rancangan tindak lanjut berdasarkan hasil aktualisasi: Table 4.5 Rancangan Tindak Lanjut Hasil Aktualisasi

No.

1.

Kegiatan

Output

Membuat

Seluruh

ruangan

penggandaan

instalasi RS memiliki

buku saku

media edukasi buku

Durasi dan

Para Pihak

Waktu

Terlibat

1 tahun

PKRS

3 bulan

Perawat

saku dan buku saku dapat

diberikan

keseluruh

keluarga

pasien

setelah

mendapatkan edukasi. 2.

Melakukan

Seluruh

perawat

sosialisasi

ruangan baik di MPE,

penggunaan

Derawan, IRJ dan IGD

RSKO

buku saku pada mendaptkan perawat di MPE, pemahaman Derawan,

IRJ pengunggunaan buku

dan IGD

saku saat memberikan edukasi.

3.

Evaluasi

Penerapan

penerapan

rutin

edukasi 3 bulan sekali

diberikan

edukasi dengan perawat. penggunaan buku

saku

secara berkala

83

oleh

Perawat RSKO


BAB V PENUTUP A.

KESIMPULAN Kegiatan aktualisasi dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2021 sampai dengan tanggal 7 Juli 2021 di Instalasi Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta. Berdasarkan hasil kegiatan aktualisasi dapat disimpulkan sebagai beriukut : 1. Pada

perumusan

kegiatan

aktualisasi

telah

teridentifikasi

core issue

berdasarkan data dan fakta yang aktual yakni belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta. Berdasarkan dari data dan fakta yang ada diperoleh beberapa prioritas masalah yang mendasarinya yaitu kurangnya motivasi perawat dalam menerapkan edukasi keluarga, belum tersedianya media informasi tentang edukasi keluarga dan perawat ruangan rehabilitasi belum rutin menerapkan edukasi keluarga. 2. Tersusunnya rancangan aktualisasi yaitu melakukan koordinasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim mengenai pentingnya edukasi rehabilitasi NAPZA kepada keluarga pasien, menentukan kebutuhan edukasi tentang rehabilitasi NAPZA yang dibutuhkan oleh keluarga pasien, Penyampaian gagasan rancangan brosur/leaflet tentang edukasi rehabilitasi NAPZA berdasarkan hasil survey, pengadaan brosur/ leaflet di ruang rehabilitasi, sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA, dan penerapan penggunaan brosur/leaflet edukasi kepada keluarga pasien. Rancangan kegiatan tersebut disusun dan telah diseminarkan pada seminar rancangan aktualisasi pada tanggal 2 Juni 2021. 3. Kegiatan aktualisasi yang telah dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta merupakan bentuk kegiatan yang bersifat inovatif seperti pengadaan buku saku “Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA” sebagai acuan dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien. Pada kegiatan aktualisasi tersebut terdapat beberapa perubahan dari rancangan aktualisasi yang telah disusun yakni adanya perubahan media informasi dari brosur/ leaflet menjadi buku saku, hal ini telah disesuaikan berdasarkan hasil survey edukasi yang penting dan dibutuhkan oleh

84


keluarga pasien. Sehingga diharapkan dengan adanya media buku saku ini dapat memudahkan perawat rehabilitasi dalam memberikan edukasi, selain itu juga dengan adanya buku saku tersebut perawat dalam pemberian edukasi kepada keluarga menjadi lebih terarah dan tepat sasaran.

B.

SARAN Berdasarkan proses pembelajaran pada Pelatihan Dasar CPNS Kemenkes Golongan III Angkatan 2 di Bapelkes Cikarang hingga selesainya laporan kegiatan aktualisasi ini, terdapat beberapa saran diantaranya : 1. Bagi Rekan Sejawat Di RS Ketergantungan Obat Jakarta Dengan adanya media buku saku Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA diharapakan dapat terus digunakan sebagai pedoman dan acuan perawat dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien. Diharapkan pula buku saku tersebut dapat terus berkembang mengikuti perkembangan informasi dan era globalisasi yang semakin maju melalui ASN yang memiliki jiwa pembaharuan dan berintegritas tinggi. 2. Bagi Instansi RS Ketergantungan Obat Jakarta Semua ASN di lingkungan RS Ketergantungan Obat Jakarta dapat bekerja dengan menerapkan nilai-nilai dasar ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi) sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Sehingga dapat melahirkan ASN yang memiliki integritas tinggi , inovatif, jujur, disiplin dan penuh tanggung jawab. 3. Bagi Penyelenggara Pelatihan Dasar CPNS Perlu adanya format baku dalam pembuatan laporan kegiatan aktualisasi sehingga peserta dapat memiliki acuan dan mengerti serta memahami konsep evaluasi yang diharapkan oleh penyelenggara.

85


DAFTAR PUSTAKA

Budi. A. K, Giur. H., Tim Manajemen Stress 2017. (2018). Modul: Manajemen Stress. Edisi Revisi 2018. Program Magister Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Departemen Kesehatan RI. (2002). Pedoman Umum Pengenalan Masalah Psikosoial Bagi Petugas Kesehatan/ Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan. Direktorat Jendral Bina Pelayanan Medik, Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa, Departemen Kesehatan RI. (2006). Pedoman penyuluhan masalah narkotika, psikotropika dan sat adiktif lainnya (NAPZA) bagi petugas Kesehatan: Jakarta. G. Alan Marlatt and Dennis M. Donovan. (2005). Relapse Prevention: Maintenance Strategies In The Treatment Of Addictive Behaviors. Second Edition. The Guildford Press. Humas

BNN.

(2013).

Artikel

:

Kambuh

(Relapse).

Diakses

dari

https://bnn.go.id/kambuh-relapse/ pada tanggal 15 Juni 2021. Jihan N.A. (2016). Pengaruh Terapi Guided Imagery Terhadap Tingkat Stres Pada

Mahasiswa Tingkat Akhir Dalam Menyelesaikan Skripsi. Fakultas Keperawatan Universitas

Airlangga

Surabaya.

Diakses

dari

http://repository.unair.ac.id/50614/13/50614.pdf pada tanggal 15 Juni 2021. Smeltzer, S.C. (2010). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Volume 1 & 2, Edisi 8. Jakarta: EGC. Sri Utami. (2015). Efektifitas Relaksasi Napas Dalam Dan Distraksi Dengan Latihan 5 Jari

Terhadap Nyeri Post Laparatomi. Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau. Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Analisis Isu Kontemporer. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Akuntabilitas. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Nasionalisme. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia .

86


Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Etika Publik. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Komitmen Mutu. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Anti Korupsi. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Manajemen Aparatur Sipil Negara. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2017. Whole of Government. . Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2017. Pelayanan Publik. . Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia .

87


LAMPIRAN A.

LEMBAR SURVEY TINGKAT KEBUTUHAN EDUKASI KELUARGA

88


89


B.

POWER POINT SOSIALISASI

90


91


92


93


94


95


C.

BUKU SAKU

96


97


98


99


100


101


102


103


104


105


106


107


108


D.

KUISIONER PERAWAT

109


E.

FORM PENGENDALIAN COACH FORMULIR PENGENDALIAN OLEH COACH

Nama

: Ns. Rafi Triani, S.Kep

NIP

: 198706172020122004

Unit Kerja

: Ruang Rawat Inap Rehabilitasi

Instansi

: RS Ketergantungan Obat Jakarta

Isu

: Belum Optimalnya Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien Tentang Rehabilitasi NAPZA Oleh Perawat Di Ruang Rawat Inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta.

Coach

:

Dr. drg. Siti Nur Anisah, MPH

Pertemuan 1:

Penyelesaian Kegiatan

Catatan Coach

Waktu dan Media

• Tahapan Kegiatan • Output kegiatan terhadap

judul

laporan rancangan • Perbaiki

pemecahan isu • Keterkaitan

• Perbaiki

substansi

mata pelatihan • Penguatan nilai organisasi

kembali

matriks, setiap tahap kegiatan

harus

sesuai

dengan

kegiatannya. • Untuk

diagram

fishbone tidak perlu pakai warna-warna, garis

tulangnya

harus lebih tebal dari cabang tulangnya.

110

21 Mei 2021 Zoom Meeting

Paraf


Pertemuan 2:

Penyelesaian Kegiatan

Catatan Coach

Waktu dan Media

• Tahapan Kegiatan

PPT

harus

27 Mei 2021

• Output kegiatan terhadap dimaksimalkan

ditiap

Zoom Meeting

lembarnya, power point

pemecahan isu • Keterkaitan

Perbaiki

substansi jangan terlalu banyak,

mata pelatihan • Penguatan nilai organisasi

agar

waktu

saat

presentasi lebih efisien.

111

Paraf


Pertemuan 3:

Penyelesaian Kegiatan

Catatan Coach

Waktu dan

Paraf

Media

• Tahapan Kegiatan

• Very Good.

• Output kegiatan terhadap

• Dirancangan

pemecahan isu

• Keterkaitan

substansi

mata pelatihan

• Penguatan nilai organisasi

14 Juni 2021

Website Kolabjar

akualisasi

pada

keterkaitan

mata

pelatihan,

tolong

agenda 3 dihapus, hanya memuat nilainilai ANEKA saja.

Pertemuan 4:

Penyelesaian Kegiatan

Catatan Coach

Waktu dan Media

• Tahapan Kegiatan • Output kegiatan terhadap

setiap

dokumentasi harus dinarasikan,

pemecahan isu

• Keterkaitan

• Untuk

substansi

mata pelatihan

tambahkan tanggal, waktu,

• Penguatan nilai organisasi

112

siapa

saja

29 Juli 2021 Zoom Meeting

Paraf


yang terlibat dalam foto, dan hasilnya.

Pertemuan 5:

Penyelesaian Kegiatan

Catatan Coach

Waktu dan Media

• Tahapan Kegiatan • Output kegiatan terhadap

• Tambahkan diagram AKPL pada PPT

pemecahan isu

113

4 Agustus 2021 Zoom Meeting

Paraf


• Keterkaitan

substansi

mata pelatihan

• Penguatan nilai organisasi

• Untuk dokumentasi sudah bagus karena sudah

jelas

pendeskrisiannya pada tiap foto.

• Tabel hambatan dan solusi sudah jelas.

F.

FORM PENGENDALIAN MENTOR

114


AKTUALISASI OPTIMALISASI PENERAPAN EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA OLEH PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP REHABILITASI RUMAH SAKIT KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA

Ns. Rafi Triani, SKep. NIP. 198706172020122004 Penata Muda/Golongan IIIa Jabatan Perawat Ahli RS Ketergantungan Obat Jakarta Ners PSIK Universitas Sriwijaya

Latsar Golongan III Angkatan 2 Kelompok D


PROFIL RS KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA VISI

MISI

“Menjadi Pusat Rujukan Nasional Dalam Bidang Ketergantungan Obat Dan Adiksi Lainnya Tahun 2024 Dalam Rangka Mendukung Pembangunan Sumber Daya Manusia”

1. Menyelenggarakan

2. Menyelenggarakan

3. Menyelenggarakan

upaya preventif, promotive, kuratif dan rehabilitatif

Pendidikan, pelatihan dan sertifikasi

penelitian dan pengembangan

TUGAS DAN FUNGSI JABATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Pengkajian keperawatan lanjutan Merumuskan diagnosa keperawatan Deteksi dini kasus Support kepatuhan terhadap intervensi kesehatan Melakukan Pendidikan Kesehatan pada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat Tatakelola keperawatan perlindungan pasien dari resiko trauma Komunikasi terapeutik Menfasilitasi lingkungan tenang dan aman Evaluasi tindakan keperawatan Dokumentasi asuhan keperawatan


METODE AKPL

ANALISIS ISU Belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA oleh perawat Kurang efektifnya pelaksanaan pengendalian manajemen stress pada pasien akibat regulasi larangan merokok

ISU 1

METODE USG

KRITERIA ISU

N O

ISU

1.

TERPILIH/ TIDAK A

K

P

L

ISU1

+

+

+

+

TERPILIH

2.

ISU 2

+

-

+

+

TERPILIH

3.

ISU 3

+

-

-

+

TERPILIH

N O

ISU

U

S

G

TOTAL

1.

ISU 1

5

5

5

15

2.

ISU 2

4

4

4

12

3.

ISU 3

4

4

3

11

DESKRIPSI CORE ISU

ISU 2

DATA & FAKTA Kurang efektifnya penerapan personal hygine pada pasien special program

1. Hasil observasi 2. Hasil wawancara

ISU 3

GAGASAN ISU 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Perawat hanya berorientasi pada terapis medis

Kurangnya motivasi perawat dalam penerapan edukasi keluarga

Melakukan koordinasi dengan kepala ruangan mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien Menentukan kebutuhan edukasi yang dibutuhkan keluarga Penyampaian gagasan rancangan brosur/ leaflet dengan kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana Pengadaan brosur/ leaflet Sosialisasi penggunaan brosur/ leaflet dalam persiapan edukasi Evaluasi penggunaan brosur/ leaflet kepada keluarga pasien

Minimnya komunikasi perawat dengan keluarga

Perawat ruangan belum rutin menerapkan edukasi keluarga

Masih kurang tersedianya media informasi tentang edukasi keluarga Belum efektifnya jadwal kegiatan case disscuse/ conffrence di ruangan

DAMPAK

CORE ISU

BELUM OPTIMALNYA PENERAPAN EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA OLEH PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP REHABILITASI RSKO JAKARTA

Belum optimalnya edukasi rehabilitasi NAPZA keluarga pasien oleh perawat di ruang rawat inap Rehabilitasi RS Ketergantungan Obat Jakarta

Intervensi keperawatan keluarga belum terstandar

1. Kurangnya responsive perawat dalam pelayanan 2. Kurangnya informasi yang didapatkan keluarga 3. Adanya kemungkinan relaps pada pasien

Masih belum tetapnya jadwal khusus edukasi untuk keluarga

3


KEGIATAN 1 : Melakukan koordinasi dengan Ka. Instalasi, Ka. Ruangan dan Ka. Tim mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA. 1. Mengajukan izin kepada Ka. Instalasi, Ka. Ruangan, dan Katim

Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juni 2021 pukul 09:00 – 11:00 WIB di ruang Ranap Rehabilitasi, hasil dari kegiatan ini adalah didapatkannya izin kepada Ka. Instalasi (dr. Carlamia H. Lusikooy, SH. Sp.KJ (K), Ka. Ruangan (Ns. Sofia Baradja, S.Kep), dan Ka. Tim (Ns. Nurwahidah Hasan, S.Kep) untuk mengadakan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA di ruang Rehabilitasi

2. Mendiskusikan mengenai pentingnya edukasi kepada keluarga pasien

Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juni 2021, pukul 10:15 di Ruang Ranap Rehabilitasi, berdasarkan hasil diskusi dengan Ibu Sofia Baradja dan Nurwahida, bahwa edukasi kepada keluarga sangat penting sekali karena jika keluarga mempunyai informasi-informasi mengenai NAPZA keluarga akan memiliki keterampilan dalam merawat pasien. Disamping itu juga edukasi keluarga sebelumnya belum rutin dilaksanakan dan belum memiliki panduan dalam memberikan edukasi

4


KEGIATAN 2 : MENENTUKAN KEBUTUHAN EDUKASI TENTANG REHABILITASI NAPZA YANG DIBUTUHKAN KELUARGA 1. Membuat lembar kuesioner yang

2. Mengkonsultasikan isi lembar kuesioner dengan Ka. Ruangan, Ka. Tim dan Mentor

berisi survey mengenai edukasi yang dibutuhkan keluarga pasien.

Dokumentasi diambil pada tanggal 07 Juni 2021, pukul 19:00 WIB, pembuatan lembar survey berdasarkan dari judul-judul materi edukasi yang akan diberikan kepada keluarga, dari lembar survey akan dilihat materi-materi apa saja yang akan dibutuhkan oleh keluarga pasien.

. Dokumentasi diambil pada tanggal 08 Juni 2021 pukul 11:00 di Ranap Rehab dengan Karu dan Katim, serta pukul 13:00 di ruang Bidang Medik & Keperawatan dengan Pak Okta Mustikallah, S.Kep., Ners. Berdasarkan hasil konsultasi dengan Karu & Katim adalah penyusunan urutan pertanyaan pada lembar survey dan pembendaharaan kata. Hasil konsultasi dengan mentor adalah perlunya penambahan kata pembuka sebelum pertanyaan dan penambahan pertanyaan mengenai materi edukasi yang dibutuhkan

5


KEGIATAN 2 : MENENTUKAN KEBUTUHAN EDUKASI TENTANG REHABILITASI NAPZA YANG DIBUTUHKAN KELUARGA 3. Memberikan lembar kuesioner kepada keluarga pasien disaat jam kunjung pasien.

4. Mengumpulkan survey terbanyak edukasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien.

SURVEY TINGKAT KEBUTUHAN EDUKASI KELUARGA

.

Dokumentasi diambil pada tanggal 09-10 Juni 2021 pukul 09:00 WIB di Ruang Ranap Rehab saat jam kunjung pasien. Sebelum membagikan kuesioner dilakukan penjelasan mengenai maksud dan tujuan diadakannya pengisian lembar survey. Kemudian keluarga mengisi lembar survey yang tersedia. Keluarga pasien yang telah mengisi lembar survey adalah sebanyak 11 orang..

12 10 8 6 4 2 0

11 100%

11 100%

11 100% 8 72,7%

3 27,3%

0

11 100%

9 81,8%

8 72,7%

11 100%

8 72,7%

8 72,7%

7 63,6% 4 36,4%

3 27,3%

2 18,2%

0

11 100%

3 27,3%

3 27,3%

0

0

0

Tidak Penting

Butuh

Tidak Butuh

0

6 Penting


KEGIATAN 3 : PENYAMPAIAN PERUBAHAN GAGASAN RANCANGAN BROSUR/ LEAFLET TENTANG EDUKASI REHABILITASI NAPZA MENJADI BUKU SAKU KEPADA KEPALA RUANGAN DAN KETUA TIM SERTA PERAWAT PELAKSANA, SERTA MENTOR. 1.

Menyampaikan perubahan gagasan kepada Karu dan Katim serta Mentor mengenai rancangan brosur/ leaflet edukasi Rehabilitasi NAPZA menjadi buku berdasarkan hasil survey.

2. Menyusun draft rancangan buku saku dengan mengkolaborasikan beberapa referensi terkait yang telah dikonsulkan.

Dokumentasi diambil pada tanggal 14-16 Juni 2021 pukul 13:00 WIB di ruang Ranap Rehab. Penyusunan draft rancangan buku saku diambil dari berbagai sumber buku dan jurnal terkait. 3. Mendiskusikan rancangan buku saku dengan Karu dan Katim serta perawat pelaksana.

Dokumentasi diambil pada tanggal 13 Juni 2021 pukul 11:00 WIB dengan Karu dan Katim di ruang ranap Rehab, serta pukul 14:00 WIB di ruang Bidang Medik dan Keperawatan dengan mentor. Berdasarkan hasil diskusi didapatkan persetujuan dari Karu, Katim dan Mentor mengenai perubahan media edukasi berupa brosur/ leaflet menjadi buku saku.

Dokumentasi ini diambil pada tanggal 17 Juni 2021 pukul 15:00 di ruang Ranap Rehab. Diskusi dilakukan bersama-sama dengan Karu , Katim dan Perawat pelaksana, hasil diskusi didapatkan beberapa masukan mengenai penambahan beberapa materi seperti tahap-tahap dari latihan relaksasi pada manajemen stress dan jadwal kegiatan pasien di ruang Rehab, serta 7 adanya perbaikan pembendaharaan kata yg mudah dipahami oleh keluarga pasien.


KEGIATAN 4 : PENGADAAN BUKU SAKU EDUKASI KELUARGA TENTANG REHABILITASI NAPZA DI RUANG 4. Mencetak buku saku edukasi yang telah disepakati. REHABILITASI 1.

Membuat desain buku saku edukasi tentang Rehabilitasi NAPZA.

Dokumentasi diambil pada tanggal 17 Juni 2021 pukul 20 :00 WIB. Pembuatan desain buku berdasarkan dari draft rancangan buku saku yang telah dibuat dengan judul buku “Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA”

Dokumentasi diambil pada tanggal 26 Juli 2021 pukul 10:00 WIB di Saudara Digital Copier Bekasi. Pencetakan buku saku dilakukan secara mandiri dan dilakukan setelah masa isoman. Pencetakan buku saku dibuat sebanyak 3 buku.

3. Mengkonsultasikan desain buku saku kepada Karu/ Katim.

2. Mengkonsultasikan desain buku saku kepada bagian hukormas RS.

Dokumentsai diambil pada tanggal 20 Juni 2021 pukul 19:00 WIB melalui Zoom Meeting. Konsultasi dilakukan dengan bagian Hukormas Bapak Firdaus, hasil konsultasi adalah masukan mengenai desain cover, font tulisan, dan isi dari buku saku untuk lebih dipersingkat dan diambil intinya seperti pembuatan power point.

Dokumentasi diambil pada tanggal 26 Juni 2021 pukul 09:00 WIB melalui Zoom Meeting. Hasil konsultasi dengan Katim adalah untuk isi buku jangan dipersingkat dan harus jelas tujuan agar keluarga pasien yang membaca tidak bingung dan mudah memahami informasi-informasi dari isi materi yang ada dalam buku saku tersebut. Untuk desain cover sudah 8 sangat bagus dan font tulisan bisa dibaca.


KEGIATAN 5 : SOSIALISASI PENGGUNAAN BUKU SAKU DALAM PERSIAPAN EDUKASI KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA KE PERAWAT RUANGAN 1. Meminta izin kepada Ka. Instal 2. Melakukan sosialisasi penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO untuk melakukan sosialisasi Jakarta. penggunaan buku saku edukasi keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO Jakarta.

Dokumentasi diambil pada tanggal 18 Juni 2021 pukul 09:00 di Ruang Ranap Rehab. Hasil kegiatan adalah mendapatkan izin dari dr. Carlamia H. Lusikooy, SH. SpKJ (K) untuk melakukan sosialisasi mengenai edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat RSKO Jakarta.

Dokumentasi diambil pada tanggal 18 Juni 2021 pukul 13:00 WIB di Ruang Konferensi RSKO Jakarta dengan Zoom Meeting pada kegiatan Kajian Ilmiah Keperawatan (Jum’at Barokah). Zoom meeting dihadari sebanyak 36 orang dan sebanyak 9 orang yang hadir dalam ruang konferense. Semua peserta sangat antusias dengan memberikan beberapa pertanyaan dan memberi masukan terkait edukasi keluarga. Semua peserta sangat mendukung dengan adanya edukasi keluarga sehingga kegiatan sosialisasi ini dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu

9


KEGIATAN 5 : SOSIALISASI PENGGUNAAN BUKU SAKU DALAM PERSIAPAN EDUKASI KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA KE PERAWAT RUANGAN 3. Melakukan sosialisasi penggunaan buku saku dalam persiapan edukasi keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA ke perawat Rehab.

Dokumentasi diambil pada tanggal 27 Juni 2021 Pukul 08:00 WIB dengan Zoom Meeting. Sosialisasi dilakukan secara daring dikarenakan saya sedang menjalani isoman. Kegiatan sosialisasi diadakan pada saat operan shift pagi dikarenakan jumlah perawat pelaksana lebih banyak. Hasil kegiatan sosialisasi adalah perawat telah memahami isi materi edukasi dari buku saku.

4, Mendiskusikan penerapan buku saku edukasi yang akan diberikan kepada keluarga pasien.

Dokumentasi diambil pada tanggal 27 Juni 2021 Pukul 08:00 WIB dengan Zoom Meeting. Hasil kegiatan diskusi adalah edukasi keluarga akan diberikan secara daring dikarenakan peniadaan jam kunjung di masa pandemi Covid -19.

10


KEGIATAN 6 : PENERAPAN PENGGUNAAN BUKU SAKU EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA LANGSUNG DENGAN PASIEN 2. Membuat kontrak waktu dengan keluarga pasien 1.

Membuat Satuan Penyuluhan (SAP) pelaksanaan edukasi.

Acara untuk

Dokumentasi diambil pada tanggal 03 Juli 2021 pukul 17:24 WIB via WhatsApp, tujuan dilakukan kontrak waktu adalah untuk membuat perjanjian dan kesepakatan waktu serta menjelaskan maksud dan tujuan untuk dilakukannya edukasi kepada keluarga pasien. 3. Menerapkan edukasi kepada keluarga tentang Rehabilitasi NAPZA dengan buku saku.

Dokumentasi dambil pada tanggal 03 Juli 2021 pukul 07:00 WIB. Tujuan dibuatnya SAP ini adalah untuk mempermudah perencanaan dan pelaksanaan kegiatan edukasi yang akan dilakukan.

Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juli 2021 pukul 16:20 WIB via zoom meeting. Kegiatan edukasi sangat berjalan dengan lancar dan keluarga pasien sangat kooperatif serta antusias dalam mendengarkan dan bertanya kepada perawat.

11


KEGIATAN 6 : PENERAPAN PENGGUNAAN BUKU SAKU EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA LANGSUNG DENGAN PASIEN

4. Evaluasi penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang rehabilitasi NAPZA.

Dokumentasi diambil pada tanggal 04 Juli 2021 pukul 19:00 WIB. Evaluasi didapatkan dari antusias dari keluarga pasien dalam memberikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari perawat. Hasil evaluasi terlampir dalam laporan SAP.

5. Evaluasi perawat dalam pelaksanaan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA.

Dokumentasi diambil pada tanggal 05-08 Juli 2021 di waktu shift parawat Rehabilitasi. Kuesioner diisi oleh perawat Rehabilitasi pada saat shift jaga, dengan jumlah 14 perawat. Kuesioner ini dibuat untuk mengevaluasi perawat Rehabilitasi mengenai pelaksanaan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA dengan adanya media buku saku.

12


KEGIATAN 6 : PENERAPAN PENGGUNAAN BUKU SAKU EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA LANGSUNG DENGAN PASIEN 6. Membuat laporan hasil evaluasi penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA.

PEMAHAMAN PERAWAT DALAM PELAKSANAAN EDUKASI KELUARGA 16 14 12 10 8 6 4 2 0

14…

14…

14…

13…

12…

2…

0 Pentingnya Edukasi Kepada Keluarga Pasien

0

1…

0

Pengadaan Buku Saku Cakupan Isi Buku Saku Kesulitan Penggunaan Keefektifan Pemberian Buku Saku Dalam Edukasi selama 30 Edukasi menit YA TIDAK

Berdasarkan dari data hasil kuesioner didapatkan bahwa 14 (100%) dari 14 perawat ruang Rehabilitasi menyatakan edukasi sangat penting diberikan kepada keluarga pasien karena jika keluarga lebih paham tentang NAPZA, efek samping dan cara merawatnya maka keluarga akan memiliki keterampilan dalam merawat pasien, 14 (100%) dari 14 perawat menyatakan dengan adanya pengadaan buku saku “Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA” dapat membantu dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien sehingga edukasi lebih terarah dan tepat sasaran, 13 (92,9%) dari 14 perawat mengatakan isi dari buku saku tersebut sudah mencakup semua informasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien, 14 (100%) dari 14 perawat mengatakan tidak menemukan kesulitan dalam memberikan edukasi kepada keluarga dengan menggunakan buku saku dan 12 (85,7%) dari 14 perawat mengatakan waktu pemberian edukasi kepada keluarga pasien selama 30 menit cukup efektif.

13


KEGIATAN 6 : PENERAPAN PENGGUNAAN BUKU SAKU EDUKASI KEPADA KELUARGA PASIEN TENTANG REHABILITASI NAPZA LANGSUNG DENGAN PASIEN

7. Membuat video testimoni.

Dokumentasi ini diambil pada tanggal 26 Juli 2021 pukul 13:00 WIB di ruang Rehabilitasi, video ini merupakan testimoni yang diberikan oleh Kepala Ruangan (Ibu Ns. Sofia Baradja, SKep.), Katim (Ns. Nurwahida, SKep.), dan Perawat pelaksana (Ns. Frida S, SKep.). 14


HAMBATAN DAN SOLUSI NO.

HAMBATAN

SOLUSI

1.

Rekan sejawat belum tersosialisasi mengenai kegiatan edukasi kepada keluarga pasien.

Melakukan kegiatan sosialisasi mengenai edukasi keluarga kepada rekan sejawat melalui kegiatan kajian ilmiah (Jum’at Barokah)

2.

Rancangan media edukasi keluarga dengan metode brosur/ leaflet tidak terlaksana karena tidak mencakup kebutuhan edukasi keluarga pasien

Mengganti media edukasi dengan buku saku karena dapat mencakup semua informasi yang dibutuhkan oleh keluarga pasien.

3.

Pengadaan buku saku yang diajukan kepada PKRS untuk sekarang masih dalam proses pengajuan anggaran.

Pengadaan buku saku sementara dilakukan secara mandiri dan menggunakan biaya pribadi.

4.

Waktu konsultasi, diskusi dan penerapan edukasi keluarga pasien kurang maksimal karena keadaan dan kondisi saya sebagai peserta latsar dan beberapa rekan sejawat termasuk kepala ruangan yang sedang terkonfirmasi positif covid-19.

Mengadakan konsultasi, diskusi dan penerapan edukasi kepada keluarga pasien dilakukan secara daring melalui zoom meeting.

5.

Pencetakan buku saku mengalami perpanjangan waktu dikarenakan saya sedang menjalankan isolasi mandiri.

Pencetakan dilakukan setelah selesai masa isoman. 15


KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Pada perumusan kegiatan aktualisasi telah teridentifikasi core issue berdasarkan data dan fakta yang ada yakni belum optimalnya penerapan edukasi kepada keluarga pasien tentang Rehabilitasi NAPZA. 2. Tersusunnya rancangan aktualisasi yaitu melakukan koordinasi dengan Kepala Ruangan dan Ketua Tim mengenai pentingnya edukasi Rehabilitasi NAPZA kepada keluarga pasien, rancangan kegiatan aktualisasi ini terdiri dari 6 kegiatan. 3. Kegiatan aktualisasi yang telah dilaksanakan di Instalasi Rawat Inap Rehabilitasi RSKO Jakarta merupakan bentuk kegiatan yang bersifat inovatif seperti pengadaan buku saku “Dukungan Keluarga Dalam Perawatan Pasien Penyalahgunaan NAPZA” sebagai acuan dalam memberikan edukasi kepada keluarga pasien. Pada kegiatan aktualisasi tersebut terdapat beberapa perubahan dari rancangan aktualisasi yang telah disusun yakni adanya perubahan media informasi dari brosur/ leaflet menjadi buku saku. B. SARAN 1. Bagi Rekan Sejawat Di RSKO Jakarta Dengan adanya media buku saku diharapkan dapat terus digunakan sebagai pedoman dan acuan perawat dalam memberikan edukasi kepada keluarga. Diharapkan pula buku saku tersebut dapat terus berkembang mengikuti perkembangan informasi dan era globalisasi yang semakin maju melalui ASN yang memiliki jiwa pembaharuan dan beintegritas tinggi 2. Bagi Instansi RS Ketergantungan Obat Jakarta Semua ASN di lingkungan RSKO Jakarta dapat bekerja dengan menerapkan nilai-nilai ANEKA sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Sehingga dapat melahirkan ASN yang memiliki integritas tinggi, inovatif, jujur, disiplin dan penuh tanggung jawab. 3. Bagi Penyelenggara Pelatihan Dasar CPNS 16 Perlu adanya format baku dalam pembuatan laporan kegiatan aktualisasi sehingga peserta dapat memiliki acuan dan mengerti serta memahami konsep evaluasi yang diharapkan oleh penyelenggara.


REFERENSI Budi. A. K, Giur. H., Tim Manajemen Stress 2017. (2018). Modul: Manajemen Stress. Edisi Revisi 2018. Program Magister Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Departemen Kesehatan RI. (2002). Pedoman Umum Pengenalan Masalah Psikosoial Bagi Petugas Kesehatan/ Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan. Direktorat Jendral Bina Pelayanan Medik, Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa, Departemen Kesehatan RI. (2006). Pedoman penyuluhan masalah narkotika, psikotropika dan sat adiktif lainnya (NAPZA) bagi petugas Kesehatan: Jakarta. G. Alan Marlatt and Dennis M. Donovan. (2005). Relapse Prevention: Maintenance Strategies In The Treatment Of Addictive Behaviors. Second Edition. The Guildford Press. Humas BNN. (2013). Artikel : Kambuh (Relapse). Diakses dari https://bnn.go.id/kambuhrelapse/ pada tanggal 15 Juni 2021. Jihan N.A. (2016). Pengaruh Terapi Guided Imagery Terhadap Tingkat Stres Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Dalam Menyelesaikan Skripsi. Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya. Diakses dari http://repository.unair.ac.id/50614/13/50614.pdf pada tanggal 15 Juni 2021. Smeltzer, S.C. (2010). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Volume 1 & 2, Edisi 8. Jakarta: EGC. Sri Utami. (2015). Efektifitas Relaksasi Napas Dalam Dan Distraksi Dengan Latihan 5 Jari Terhadap Nyeri Post Laparatomi. Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau. Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Analisis Isu Kontemporer. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Akuntabilitas. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia

Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Analisis Isu Kontemporer. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Akuntabilitas. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Nasionalisme. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Etika Publik. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Komitmen Mutu. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Anti Korupsi. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Manajemen Aparatur Sipil Negara. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2017. Whole of Government. . Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2017. Pelayanan Publik. . Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia .

17


18


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Optimalisasi Penerapan Edukasi Kepada Keluarga Pasien Tentang Rehabilitasi Napza Oleh Perawat by Repositori Perpustakaan Bapelkes Cikarang - Issuu