LAPORAN AKTUALISASI PELATIHAN DASAR CPNS GOLONGAN III ANGKATAN 4
OPTIMALISASI PELAYANAN GAWAT DARURAT DENGAN PEMBUATAN DRAFT PROSEDUR DAN MEDIA KIE DI INSTALASI GAWAT DARURAT RS KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA
DISUSUN OLEH: dr. ANITA SARI PUTRI NIP. 199008202020122004
BAPELKES CIKARANG KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2021
i
LEMBAR PERSETUJUAN LAPORAN AKTUALISASI OPTIMALISASI PELAYANAN GAWAT DARURAT DENGAN PEMBUATAN DRAFT PROSEDUR DAN MEDIA KIE DI INSTALASI GAWAT DARURAT RS KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA
Telah dilakukan Seminar Rancangan (secara daring): Tanggal 8 September 2021 Telah dilakukan seminar Akhir (secara daring): Tanggal 29 Oktober 2021
Coach
Mentor
dr. Dina Indriyanti, MKM
dr. Lastny Widyasari
NIP. 197203162002122003
NIP. 198401292018012001 Penguji
dr. Atiq Amanah Retna Palupi, MKKK NIP. 197803272009122002
ii
LEMBAR KOMITMEN MENERAPKAN NILAI ANEKA
Nama : dr. Anita Sari Putri Nomor Daftar Hadir : 13 (Golongan III, Angkatan 4) Instansi : RS Ketergantungan Obat Jakarta
Saya adalah Pegawai Negeri Sipil sebagai pelayan masyarakat, maka oleh karenanya dalam setiap pelaksanaan tugas, saya akan selalu : 1.
Melaksanakan tugas dengan sepenuh hati, jujur, tanggung jawab dan berintegritas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2.
Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerjasama, mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai.
3.
Meningkatkan kemampuan dalam berpikir kreatif dan inovatif demi kemajuan bangsa dan negara.
Jakarta, 29 Oktober 2021 Calon Pegawai Negeri Sipil
dr. Anita Sari Putri NIP. 199008202020122004
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan rancangan aktualisasi ini dengan judul “Optimalisasi Pelayanan Gawat Darurat dengan Pembuatan Prosedur dan Media KIE di Ruang Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat Jakarta”. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan rancangan aktualisasi ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada : 1. Bapak dr. R. Soeko W. Nindito, MARS selaku PLT Direktur Utama RS Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta. 2. dr. Lastny Widyasari selaku Sub ivesameivator Pelayanan Medik sekaligus sebagai mentor, terima kasih telah memberikan dukungan, arahan dan bimbingan kepada saya dalam menyusun rancangan kegiatan aktualisasi ini dengan sebaik-baiknya. 3. dr. Dina Indriyanti, MKM selaku Coach yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada saya dalam menyusun rancangan kegiatan aktualisasi ini dengan sebaik-baiknya. 4. Seluruh widyaiswara, fasilitator, dan panitia penyelenggara di Bapelkes Cikarang yang telah memberikan pelayanan terbaiknya selama proses pelatihan. 5. Orang tua dan keluarga yang selalu memberikan dukungan. 6. Seluruh teman-teman pelatihan dasar CPNS Golongan III Kementerian Kesehatan RI. Semoga rancangan kegiatan aktualisasi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan. Wassalamu’alaikum, Wr.Wb.
Jakarta, 29 Oktober 2021
Penulis
iv
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................... ii LEMBAR KOMITMEN MENERAPKAN NILAI ANEKA ........................................... iii KATA PENGANTAR ............................................................................................... iv DAFTAR ISI ............................................................................................................ v BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG ………………………………………………………………… 1 B. TUJUAN …………………………………………………………………………..…. 4 1. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) ……………………..……………. 4 2. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) ……………………………..…. 4 C. MANFAAT ……………………………………………………………………………. 4 1. BAGI PENULIS ………………………………………………….…………….. 4 2. BAGI INSTANSI KERJA ………………………………………….………….. 4 D. RUANG LINGKUP …………………………………………………………………... 5 BAB II GAMBARAN ORGANISASI DAN PROFIL PESERTA A. PROFIL RS KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA ……………………………. 6 1. SEJARAH RUMAH SAKIT …………………………………………………….. 6 2. VISI DAN MISI RUMAH SAKIT………………………………………………. 8 3. MOTTO RUMAH SAKIT ………………………………………………………. 8 4. FALSAFAH RUMAH SAKIT …………………………………………………... 9 5. STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT …………………………………. 9 6. TUJUAN DAN FUNGSI ORGANISASI RUMAH SAKIT ……………………. 11 7. JENIS PELAYANAN RUMAH SAKIT ………………………………………… 12 8. PELAYANAN UNGGULAN RUMAH SAKIT ………………………………… 14 B. PROFIL PESERTA ………………………………………………………………… 15 1. IDENTITAS DIRI ……………………………………………………………….. 15 2. TUGAS POKOK JABATAN ……………………………………………………. 15 BAB III RANCANGAN AKTUALISASI A. IDENTIFIKASI ISU …………………………………………………………………. 16 B. ANALISIS ISU ………………………………………………………………………. 18 C. ANALISIS PENYEBAB …………………………………………………………….. 20 D. ANALISIS DAMPAK ……………………………………………………………….. 21 E. GAGASAN PEMECAHAN ISU …………………………………………………….. 22
v
F. MATRIKS RANCANGAN AKTUALISASI………………………………………… 23 G. RENCANA JADWAL AKTUALISASI …………………………………………….. 44 BAB IV LAPORAN AKTUALISASI A. PENJELASAN PELAKSANAAN AKTUALISASI………………………………… 45 B. PENCAPAIAN PENYELESAIAN ISU ……………………………………………
93
C. MANFAAT PELAKSANAAN KEGIATAN ………………………………………..
93
D. PERUBAHAN JADWAL KEGIATAN …………………………………………….
94
E. RENCANA TINDAK LANJUT …………………………………………………….
95
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN ……………………………………………………………………...
97
B. SARAN ……………………………………………………………………………...
97
DAFTAR PUSTAKA
vi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang Dalam rangka mencapai tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), diperlukan ASN yang professional, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, mampu menyelenggarakan pelayanan 1esame bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Maka dari itu, kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai pelayan masyarakat yang profesional mutlak diperlukan. Aparatur
Sipil Negara
dalam mengelola
kondisi
profesi yang memiliki
(ASN) memiliki
tersebut.
kewajiban
Dimana
mengelola
peranan
yang menentukan
ASN itu sendiri
merupakan
dan mengembangkan
dirinya
dan
wajib mempertanggungjawabkan kinerjanya dan menetapkan prinsip
merit
dalam pelaksanaan manajemen ASN. Sehingga untuk memainkan
peranan tersebut, diperlukan sosok ASN yang professional, yaitu ASN yang mampu
memenuhi
standar
kompetensi
jabatannya
sehingga
mampu
melaksanakan tugas jabatannya secara efektif dan efisien. Untuk dapat membentuk sosok ASN professional perlu dilaksanakan jalur pelatihan.
Berdasarkan
pembinaan
melalui
pada Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2014
tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) dan merujuk Pasal 63 ayat (3) dan ayat (4) UU ASN dan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PP Manajemen PNS), maka Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) wajib menjalani masa percobaaan yang dilaksanakan melalui proses integritas
Diklat moral,
terintegrasi
(Pelatihan
Prajabatan)
kejujuran,
semangat,
dan
untuk
membangun
motivasi nasionalisme
dan
kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggungjawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang. Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), nomor 25 tahun 2017 tentang pedoman penyelenggaraan diklat latsar CPNS golongan III, dinyatakan untuk membentuk ASN 1esame1ator1 dibutuhkan pembaharuan pola
1
diklat. Untuk mencapai tujuan tersebut LAN menyiapkan dua tahap pembelajaran utama, yaitu internalisasi dan aktualisasi nilai-nilai dasar. Sistem pembelajaran pada diklat latsar pola baru, menuntut setiap peserta untuk mengaktualisasikan nilai-nilai dasar profesi ASN yaitu: Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi yang disingkat menjadi ANEKA. Melalui proses diklat latihan dasar,
ASN
mendapatkan
penjelasan,
pendalaman,
penghayatan,
dan
penguasaan nilai-nilai dasar tersebut. Selayaknya proses belajar yang baik, suatu konsep akan dapat dikuasai secara penuh setelah diterapkan dalam proses keseharian. Penerapan nilai-nilai inilah yang membutuhkan rangkaian proses perencanaan yang dimulai dengan pendataaan tugas pokok (sasaran kerja pegawai) di satuan/unit kerja, penetapan masalah dan pemecahan isu untuk kemudian merujuk penerapan nilai-nilai dasar dalam kegiatan tersebut. Proses ini dikenal dengan istilah aktualisasi. Aktualisasi dilakukan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi isu-isu yang ada di tempat kerja dan menganalisanya untuk mendapatkan isu terpilih menggunakan USG (Urgency, Seriousness and Growth). Kemudian menentukan langkah-langkah kegiatan dalam rangka menyelesaikan isu yang telah dipilih. Dengan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar profesi PNS meliputi Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika publik, Komitmen mutu dan Anti Korupsi serta melihat aspek pelayanan publik manajemen ASN dan Whole of Government. Adapun kegiatan aktualisasi yang dilakukan oleh peserta diklat merupakan kegiatan inovasi dari satuan kerja masing – masing. Setiap satuan kerja tentu saja memiliki masalah yang berbeda – beda. Dalam hal ini, penulis akan melakukan kegiatan aktualisasi khususnya di ruang Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat Jakarta. Instalasi Gawat Darurat merupakan salah satu unit pelayanan di rumah sakit yang memberikan pertolongan pertama dan sebagai jalan pertama masuknya pasien dengan kondisi gawat darurat. Keadaan gawat darurat adalah suatu keadaan klinis dimana pasien membutuhkan pertolongan medis yang cepat untuk menyelamatkan nyawa dan kecacatan lebih lanjut. Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) memiliki perbedaan dengan pelayanan lainnya. Pada IGD, pasien ditangani tidak berdasarkan antrian atau nomor urut seperti halnya pelayanan yang ada di instalasi rawat jalan, dan alur pelayanan pasiennya pun berbeda. Pasien yang masuk ke IGD rumah sakit tentunya butuh pertolongan yang cepat dan tepat untuk itu perlu adanya standar dalam memberikan pelayanan
2
gawat darurat sesuai dengan kompetensi dan kemampuannya sehingga dapat menjamin suatu penanganan gawat darurat dengan response time yang cepat dan penanganan yang tepat. Semua itu dapat dicapai antara lain dengan meningkatkan sarana, prasarana, sumberdaya manusia dan manajemen Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit sesuai dengan standar.. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlu adanya standar prosedur dalam suatu pelayanan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/Menkes/PER/IV/2007 Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah suatu
perangkat
instruksi
atau
langkah-langkah
yang
dibakukan
untuk
menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu, dimana Standar Prosedur Operasional memberikan Langkah yang benar dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar profesi. Diharapkan dengan adanya suatu SOP ini dapat meningkatkan pelayanan gawat darurat yang berbasis mutu dan keselamatan pasien. Dalam perananannya di IGD, tenaga kesehatan dan dokter jaga IGD adalah orang yang pertama kali menerima pasien, dan akan mengklasifikasikan pasien sesuai dengan keilmuannya dan penanganan kegawatdaruratan pasien segera. IGD RS Ketergantungan Obat secara khusus memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien psikiatri dengan ketergantungan NAPZA dan pasien psikiatri murni, selain itu juga melayani masyarakat yang datang dengan masalah kesehatan secara umum. Namun pelayanan kegawatdarutan pasien psikiatri di IGD masih belum optimal. Hal ini dikarenakan belum maksimalnya instansi dalam merencanakan, melaksanakan dan mengawasi jalannya alur palayanan di rumah sakit. Belum optimalnya pelayanan dikarenakan kurangnya pemahaman petugas tentang jalannya alur pelayanan dan belum adanya SOP yang menetapkan alur pelayanan pasien di IGD serta perlunya peran tenaga kesehatan dalam meningkatkan
edukasi
kepada
pasien
serta
keluarga
tentang
kasus
kegawatdaruratan psikiatri. Berdasarkan hal diatas penulis mengangkat isu rancangan aktulisasi dengan judul “Optimalisasi Pelayanan Gawat Darurat dengan Pembuatan Draft Prosedur dan Media KIE di Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat Jakarta”.
3
B. Tujuan 1. Tujuan Instruksional Umum (TIU) Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, peserta CPNS diharapkan mampu menjelaskan konsepsi aktualisasi, penjelasan aktualisasi, penyusunan dan penyajian rancangan aktualisasi dan rencana pelaksanaan aktualisasi di RS Ketergantungan Aparatur
Obat Jakarta sesuai dengan nilai-nilai dasar profesi
Sipil Negara
(ASN)
yang mencakup ANEKA
(Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi). 2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK) Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini, diharapkan peserta mampu: a.
Mampu mengidentifikasi dan menganalisis keberadaan potensi masalah atau isu yang terdapat di unit kerja masing-masing yang berdasarkan pada fakta dan data yang aktual.
b.
Mampu merancang rencana kegiatan atau alternatif pemecahan masalah yang telah ditentukan dan menyusun jadwal kegiatan selama kegiatan aktualisasi.
c.
Mampu menerapkan nilai-nilai dasar profesi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mencakup ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen
Mutu, dan Anti Korupsi)
didalam kegiatan
aktualisasi
berdasarkan pada tugas pokok dan fungsi Dokter Ahli Pertama. C. Manfaat 1. Bagi Penulis
Berikut ini beberapa manfaat perancangan kegiatan aktualisasi bagi penulis, yaitu : a. Dapat melakukan internalisasi nilai-nilai dasar ASN dan kedudukan serta peran ASN dalam NKRI. b. Dapat mengokohkan kepribadian ASN sehingga mendorong ASN untuk bekerja
secara
professional,
disiplin,
berkomitmen,
beretika,
berintegritas, dan kreatif. c. Internalisasi nilai-nilai dasar ASN dalam suasana kerja akan mendorong capaian kinerja yang lebih baik.
4
2. Bagi Instansi Kerja
Terwujudnya lingkungan kerja yang kondusif dalam melayani kebutuhan publik yang dalam hal ini merupakan pemberi jasa layanan Kesehatan serta meningkatkan akuntabilitas lembaga kinerja individu yang memungkinkan organisasi untuk dapat mencapai visi dan mewujudkan citra lembaga yang baik.
D. Ruang Lingkup Pendidikan
dan
pelatihan
dasar
CPNS
Golongan
III
Angkatan
4
diselenggarakan selama 70 hari kerja sejak tanggal 21 juni 2021 sampai dengan 02 November 2021. Kegiatan Latsar ini dilakukan secara daring di Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES) Cikarang, yang terdiri atas beberapa tahap yaitu : 1.
Tanggal 21 Juni 2021 – 12 Juli 2021 pada jadwal awal namun sempat dihentikan sementara pada tanggal 6 juli 2021 dan dilanjutkan kembali pada tanggal 26-29 Juli 2021: Pelaksanaan Massive Open Online Course (MOOC)
2.
Tanggal 10 Agustus 2021 – 8 September 2021: Pelaksanaan Distance Learning
3.
Tanggal 1 3 September 2021 – 16 Oktober 2021 : Pelaksanaan Aktualisasi
4.
Tanggal 20 Oktober 2021 – 02 November 2021 : Pelaksanaan Klasikal Ruang lingkup aktualisasi oleh Penulis mencakup tugas pokok sesuai sasaran
kinerja pegawai (SKP), penugasan pimpinan, dan kegiatan inovasi untuk memecahkan isu yang ada pada unit kerja. Pada setiap kegiatan akan dipaparkan tahapan kegiatan dan hasil yang diharapkan. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Ruang
Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS
Ketergantungan
Obat
Kegiatan dilakukan dengan menerapkan nilai-nilai dasar ASN ANEKA.
5
Jakarta.
BAB II PROFIL INSTANSI DAN PESERTA
A. Profil RS Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta 1. Sejarah RS Ketergantungan Obat Rumah sakit ini digagas pendiriannya oleh Bapak H. Ali Sadikin (alm) mantan Gubernur DKI Jakarta, dr. Herman Susilo (mantan Ka. Dinkes DKI Jakarta), Prof. dr. Kusumanto Setyonegoro (mantan Ka. Ditkeswa Depkes) dan bagian Psikiatri Universitas Indonesia. Secara resmi mulai beroperasi pada tanggal 12 April 1972, awalnya sebagai satu unit di RSUP Fatmawati Jakarta. RSKO merupakan rumah sakit pemerintah satu–satunya yang khusus bergerak dalam bidang gangguan yang berhubungan dengan zat (GBZ). Pertama didirikan dengan nama Lembaga Ketergantungan Obat (LKO), kemudian tahun 1978 status LKO ditingkatkan menjadi Rumah Sakit Kelas C dengan nama Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta milik Departemen Kesehatan RI sebagai unit pelaksana fungsional dari Ditjen Pelayanan Medik sesuai dengan SK Menkes Nomor: 138/SK/Menkes/IV/1978 sebagai Direktur pertama adalah dr. Erwin Widjono,Sp.KJ Drug Depence Unit (DDU). Dalam perjalanan waktu terjadi peningkatan jumlah pasien dengan ketergantungan opiate, sedangkan lahan di Fatmawati tidak memadai untuk dikembangkan, maka pada tahun 1999 RSKO Jakarta mendapat persetujuan prinsip dari Gubernur DKI Jakarta untuk memanfaatkan tanah seluas 1,5 Hektar untuk pembangunan RS Ketergantungan Obat Jakarta lokasi terletak di Kelurahan Cibubur Kotamadya Jakarta Timur sesuai Surat Gubernur DKI Jakarta Nomor : 3397/-1.711.5 tanggal 11 Nopember 1999. Pada tahun 2000 RSKO Jakarta telah terakreditasi tahap pertama sesuai SK Ditjen Pelayanan Medik No: YM.00.03.2.2.1951 tanggal 23 Mei 2000. Perubahan kelembagaan yang semula Rumah Sakit Tipe C sesuai SK Menkes Nomor 732/MENKES/SK/VI/2002 tanggal 14 Juni 2002. Pada bulan Oktober 2002 dilakukan Soft Opening pemanfaatan 6esame yang berlokasi di Cibubur dengan kapasitas 60 tempat tidur (20 TT di Cibubur dan 40 TT di Fatmawati). Seiring dengan meningkatnya penderita gangguan yang berhubungan dengan zat dan penyakit terkait, maka kapasitas tempat tidur pada tahun 2004 ditingkatkan menjadi 100 TT. Sejak tahun 2004, pelayanan di Fatmawati mulai dipindahkan ke Cibubur.
6
Sesuai dengan Surat Dirjen Bina Pelayanan Medik Depkes RI No. PL. 01.03.1.4/5402 tanggal 3 Nopember 2006 tentang Pemanfaatan tanah dan bangunan RSKO di Cibubur. Lokasi RSKO yang terletak di RS Fatmawati akan digunakan RSUP Fatmawati maka seluruh aktifitas RSKO Fatmawati dipindahkan ke Cibubur. Secara keseluruhan aktifitas pelayanan hanya ada di Cibubur sejak awal Juli 2007. Jadi tahun 2008 semua pelayanan RSKO Jakarta sudah pada satu tempat yaitu di Cibubur. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 281/KMK.05/2007 tanggal
21
Juni
2007
dan
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Nomor
756/Menkes/SK/VI/2007 tanggal 26 Juni 2007 tentang Penetapan 15 (lima belas) Rumah Sakit Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Kesehatan dengan menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum secara Bertahap,
termasuk
Rumah
Sakit
Ketergantungan
Obat
Jakarta yang
menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, maka dipandang perlu penyesuaian Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 245/MENKES/PER/III/2008 tanggal 11 Maret 2008. Untuk mengisi struktur organisasi dan tata 7esame yang telah ditetapkan, maka pada tanggal 3 Februari 2009 telah dilakukan Pelantikan terhadap Pejabatpejabat Struktural di lingkungan Departemen Kesehatan termasuk Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta. Selanjutnya melalui proses administrasi dan evaluasi oleh Departemen Keuangan dan didampingi Departemen Kesehatan, maka ditetapkanlah Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta menjadi rumah sakit yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum secara Penuh berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 349/KMK.05/2009 tanggal 3 September 2009 tentang Penetapan Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta pada Departemen Kesehatan sebagai Instansi Pemerintah yang menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum secara Penuh, dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1002/MENKES/SK/XI/2009 tanggal 10 November 2009
tentang
Perubahan
atas
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Nomor
756/MENKES/VI/2007 tentang Penetapan 15 (lima belas) Rumah Sakit Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Kesehatan dengan menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.
7
Untuk meningkatkan standar pelayanan rumah sakit maka Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta melaksanakan uji akreditasi rumah sakit dan telah dinyatakan lulus Akreditasi 12 Pelayanan (Adminstrasi dan Manajemen, Pelayanan Medis, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan, Rekam Medis, Pelayanan Farmasi, K3, Pelayanan Radiologi, Pelayanan Laboratorium, Pelayanan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit) dengan sertifikat nomor : KARSSERT/373/I/2012 tanggal 26 Januari 2012 berlaku 3 (tiga) tahun. RSKO Jakarta telah memperoleh sertifikat Akreditasi Rumah Sakit dengan tingkat kelulusan “Paripurna” dengan sertifikat nomor: KARS-SERT/681/IV/2017 tanggal 10 April 2017 dan pada tanggal 7 November 2018 akan dilakukan survey verifikasi akreditasi. Dalam penetapan kelas Rumah sakit Ketergantungan Obat adalah Rumah Sakit Khusus Ketergantungan Obat sebagai Rumah Sakit Khusus Kelas B Non Pendidikan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.03/I/0945/2014 tentang Penetapan Kelas RSKO Jakarta.
2. Visi, Misi dan Motto RS Ketergantungan Obat a.
Visi Visi Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta (RSKO Jakarta) adalah : “Menjadi
Pusat
Ketergantungan Rangka
Rujukan
Nasional
Dalam
Bidang
Obat dan Adiksi Lainnya Tahun 2024 Dalam
Mendukung
Pembangunan
Sumber
Daya
Manusia”
Berdasarkan visi maka RSKO Jakarta ke depannya diharapkan menjadi pusat rujukan pelayanan dan informasi NAPZA dimana ketika masyarakat berbicara narkoba dan zat adiktif mereka mengenal Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta dan kemudian berinteraksi dalam kegiatan mendapatkan informasi, pelayanan penyembuhan dan rehabilitasi bidang gangguan yang berhubungan dengan zat (GBZ). b. Misi Untuk mewujudkan Visi Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta maka diperlukan Misi sebagai berikut : 1. Menyelenggarakan upaya Preventif, Promotif, Kuratif dan Rehabilitatif dalam Bidang ketergantungan obat dan adiksi lainnya serta penyakit terkait secara komprehensif berbasis mutu dan keselamatan pasien.
8
2. Menyelenggarakan
pendidikan,
pelatihan
dan
sertifikasi
dalam
bidang ketergantungan obat dan adiksi lainnya. 3. Menyelenggarakan
penelitian
dan pengembangan
dalam bidang
ketergantungan obat dan adiksi lainnya. c.
Motto Motto Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta yang menjadi landasan dalam bekerja yaitu : 1. Ramah, selalu memberikan senyum, salam dan sapa setiap memberkan pelayanan maupun sesama karyawan. 2. Sigap, selalu berusaha cepat, tepat dan cekatan dalam melakukan pekerjaan maupun pelayanan sesuai dengan sistem dan prosedur yang berlaku. 3. Kasih, selalu memberikan kepedulian dan tanggap serta saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain. 4. Optimis, senantiasa memberikan harapan kepada pasien dan keluarganya agar pasien mencapai proses pemulihan yang optimal dari masalah penyalahgunaan NAPZA.
3. Falsafah RS Ketergantungan Obat Adapun Falsafah RS Ketergantungan Obat yaitu Profesionalisme Modal Utama Layanan Kami. 4. Struktur Organisasi RS Ketergantungan Obat Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 74 tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta, RS Ketergantungan Obat Jakarta dipimpin oleh direktur utama. Susunan organisasi RS Ketergantungan Obat Jakarta terdiri atas: a. direktorat pelayanan medik, keperawatan, dan penunjang; b. direktorat sumber daya manusia, keuangan, dan umum. a. Direktorat pelayanan medik, keperawatan, dan penunjang Direktorat pelayanan medik, keperawatan, dan penunjang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan pelayanan medis dan penunjang medis dengan kekhususan di bidang penyakit akibat ketergantungan obat, keperawatan, dan pelayanan nonmedis. Direktorat Pelayanan Medik, Keperawatan, dan Penunjang dipimpin oleh direktur. Susunan organisasi
9
direktorat pelayanan medik, keperawatan, dan penunjang terdiri atas kelompok jabatan fungsional. Dalam melaksanakan tugas, direktorat pelayanan medik, keperawatan, dan penunjang menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: a)
Pengelolaan pelayanan medis dan penunjang medis rawat jalan, rawat inap, dan gawat darurat dengan kekhususan di bidang penyakit akibat ketergantungan obat;
b)
Pengelolaan pelayanan keperawatan rawat jalan, rawat inap, dan gawat darurat;
c)
Pengelolaan pelayanan nonmedis; dan
d)
Pelaksanaan kendali mutu, kendali biaya, dan keselamatan pasien.
b. Direktorat sumber daya manusia, keuangan, dan umum Direktorat sumber daya manusia, keuangan, dan umum mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana, program, dan anggaran, pengelolaan sumber daya manusia dan pendidikan, pelatihan, penelitian, pengembangan, dan penapisan teknologi dengan kekhususan di bidang penyakit akibat ketergantungan obat, pengelolaan keuangan, barang milik negara, sistem informasi, dan layanan pengadaan barang/jasa, pelaksanaan urusan hukum, organisasi, hubungan masyarakat, kerja sama, dan umum, dan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan. Direktorat sumber daya manusia, keuangan, dan umum juga dipimpin oleh direktur. Direktorat
sumber
daya
manusia,
keuangan,
dan
umum
menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: a)
Penyusunan rencana, program, dan anggaran;
b)
Pengelolaan
urusan
administrasi,
perencanaan,
pengembangan,
pembinaan, dan kesejahteraan sumber daya manusia; c)
Pengelolaan pendidikan dan pelatihan dengan kekhususan pelayanan Kesehatan di bidang penyakit akibat ketergantungan obat;
d)
Pengelolaan penelitian, pengembangan, dan penapisan teknologi dengan kekhususan pelayanan kesehatan di bidang penyakit akibat ketergantungan obat;
e)
Pelaksanaan urusan perbendaharaan;
f)
Pelaksanaan anggaran;
g)
Pelaksanaan urusan akuntansi;
10
h)
Pengelolaan layanan pengadaan barang/jasa;
i)
Pengelolaan barang milik negara;
j)
Pelaksanaan urusan hukum, organisasi, dan tata laksana;
k)
Pelaksanaan urusan hubungan masyarakat, kerja sama, dan kemitraan;
l)
Pengelolaan sistem informasi;
m) Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan; dan n)
pelaksanaan urusan administrasi rumah sakit.
Gambar 1.1 Struktur Organisasi Peraturan Menteri KesehatanRI Nomor : 74 Tahun 2019
STRUKTURORGANISASI RUMAHSAKITKETERGANTUNGANOBATJAKARTA
PEJABAT PENGAWAS
DIREKTURUTAMA
UNIT LAYANAN PENG ADAAN
KOMITE MEDIK
KOMITE ETIKDAN HUKUM
KOMITE PPI
KOMITE KEPERA WATAN
KOMITE MUTU DAN KESELA MATAN PASIEN
DIREKTORATSDM KEUANGANDANUMUM
DIREKTORATPELAYANAN MEDIK, KEPERAWATANDAN PENUNJANG
BIDANG PELAYANAN MEDIKDAN KEPERAWATAN
BIDANG PELAYANAN PENUNJANG
SEKSI PELAYANAN MEDIK
SEKSI PELAYANAN PENUNJANG MEDIK
SEKSI PELAYANAN KEPERAWATAN
SEKSI PELAYANAN PENUNJANG NONMEDIK
BAGIAN KEUANGANDAN BMN
BAGIANSDM, PENDIDIKAN DAN PENELITIAN
SUBBAGIAN PERBENDAHARA ANDAN PELAKSANAAN ANGGARAN
SUBBAGIAN PENYUSUNAN DANEVALUASI ANGGARAN
SATUAN PEMERIKSAAN INTERNAL
BAGIAN PERENCANAAN DANEVALUASI
BAGIAN ORGANISASI DANUMUM
SUBBAGIAN ADMINISTRASI SDM
SUBBAGIAN PERENCANA PROGRAM
SUBBAGIAN HUKUM, ORGANISASI DANHUMAS
SUBBAGIAN PENGEMBANGA NSDMDAN DIKLIT
SUBBAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN
SUBBAGIAN UMUM
INSTALASI
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
01. 02. 03. 04. 05. 06. 07.
Komite Medik Komite Etik dan Hukum Komite Keperawatan Komite PPI Komite Mutu dan Keselamatan Pasien SPI ULP
Direktorat Pelayanan Medik, Keperawatan dan Penunjang : 01. Kepala Instalasi Rawat Jalan 02. Kepala Instalasi Rawat Inap Komplikasi 03. Kepala Instalasi Gawat Darurat 04. Kepala Instalasi Laboratorium 05. Kepala Instalasi Radiologi 06. Kepala Instalasi Farmasi 07. Kepala Instalasi Rehabilitasi Napza 08. Kepala Instalasi Gizi 09. Kepala Instalasi Pendidikan dan Penelitian 10. Ketua Kelompok Staf Medik Psikiatri 11. Ketua Kelompok Staf Medik Spesialis Lainnya 12. Ketua Kelompok Staf Medik Penyakit Dalam 13. Ketua Kelompok Staf Medik Gigi 14. Ketua Kelompok Staf Medik Umum 15. Kepala Instalasi RekamMedik 16. Kepala Instalasi MCUdan Pemeriksaan Khusus Direktorat SDM, Keuangan dan Administrasi Umum:
SUBBAGIAN AKUNTANSI DAN BMN
KELOMPOK STAFMEDIK
Direktur Utama :
INSTALASI
01. Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit 02. Instalasi SIMRS 03. Instalasi Administrasi Pasien 04. Instalasi Pusat Sterilisasi dan Binatu Rumah Sakit
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
5. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit Berdasarkan
Surat
Keputusan
Menteri
Kesehatan
Rl
Nomor
:
245/MENKES/PER/III/2008 tanggal 11 Maret 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Ketergantungan obat, Rumah Sakit Ketergantungan obat mempunyai tugas pokok melaksanakan pelayanan usaha kesehatan jiwa, pencegahan dan pemulihan untuk penderita ketergantungan obat dan
11
penyalahgunaan obat, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Untuk
melaksanakan
tugas
pokok
tersebut
Rumah
Sakit
Ketergantungan Obat mempunyai fungsi : 1.
Pelaksanaan upaya peningkatan Kesehatan di bidang penanggulangan masalah ketergantungan obat;
2.
Pelaksanaan upaya deteksi dini dan pencegahan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zal adiktif lainnya (NAPZA);
3.
Pelaksanaan pelayanan penyembuhan dan penatalaksanaan penderita ketergantungan obat;
4.
Pelaksanaan upaya rehabilitasi penderita ketergantungan obat;
5.
Pelaksanaan asuhan dan pelayanan keperawatan;
6.
Pelaksanaan pelayanan rujukan;
7.
Pelaksanaan
pendidikan
dan
pelatihan
di
bidang
penangulangan
penyalahgunaan NAPZA; 8.
Pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang penanggulangan penyalahgunaan NAPZA;
9.
Pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan jaringan informasi di bidang penaggulangan penyalahgunaan NAPZA;
10. Pelaksanaan administrasi umum dan keuangan. 6. Jenis Pelayanan RS Ketergantungan Obat Pelayanan NAPZA di RSKO diberikan secara komprehensif yaitu penerimaan awal (initial intake), detoksifikasi, rehabilitasi pelayanan untuk komplikasi medik, buprenorfin
dual diagnosis
yang merupakan
dan terapi rumatan
metadon
dan
ciri khas terapi cafeteria guna menjawab
kebutuhan penerima layanan. Hal ini dimaksudkan untuk menyelaraskan kebutuhan pasien, keluarga, dan masyarakat. RSKO Jakarta juga memiliki layanan
unggulan yaitu sebagai
NAPZA. Disamping
itu, RSKO
laboratorium sebagai
skrining
pengampu
dan konfirmasi
layanan
program
rumatan metadon/suboxon. Peningkatan SDM menjadi prioritas utama yang dilakukan RSKO Jakarta untuk menghasilkan pelayanan yang bermutu dan berkualitas. Hal ini dapat dilihat dari upaya profesionalisme para pimpinan, dokter,
perawat
peningkatan
seluruh staf dan karyawan
berupa
lainnya. Program-program
training dalam dan luar negeri, Pendidikan formal,
12
langsung melakukan studi banding ke
lembaga-lembaga Kesehatan yang
kredibel, dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Rumah Sakit Ketergantungan Obat mempunyai fasilitas pelayanan yang didapatkan bagi masyarakat umum maupun NAPZA yaitu : a.
Instalasi Gawat Darurat Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat Jakarta (RSKO) mempunyai tugas menyelenggarakan pelayanan asuhan medis dan asuhan keperawatan, bagi pasien yang datang dengan gawat darurat medis. Pelayanan pasien gawat darurat adalah pelayanan yang memerlukan pelayanan segera, yaitu cepat, tepat dan cermat untuk mencegah kematian dan kecacatan. Instalasi Gawat Darurat memberikan pelayanan untuk gawat darurat NAPZA, gawat darurat psikiatri, dan gawat darurat umum.
b.
Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta saat ini melaksanakan kegiatan bisnis yang berhubungan dengan pelayanan medis dan penunjang medis baik yang berhubungan dengan penyalahgunaan NAPZA maupun pelayanan kesehatan umum dan spesialis. Pelayanan Rawat Jalan terdiri : 1) Klinik NAPZA: a. Non Rumatan adalah Pelayanan tehadap pasien NAPZA yang datang sewaktu-waktu atau terjadwal untuk melakukan konsultasi dan pengobatan. b. Rumatan adalah Pelayanan terhadap pasien NAPZA yang tiap hari ke RSKO untuk minum obat substitusi/pengganti. 2) Klinik Spesialis: a. Klinik Psikiatri; b. Klinik Penyakit Saraf; c. Klinik Penyakit Dalam; d. Klinik Psikologi; e. Klinik Penyakit Paru; f. Klinik Rehabilitasi Medik/Fisioterapi g. Klinik Geriatri h. Klinik Anak. 3) Klinik Umum 4) Klinik Gigi 5) Medical Check Up (MCU)
13
a.
Instalasi Rawat Inap Pelayanan yang diberikan Instalasi rawat inap terdiri dari beberapa ruangan antara lain: 1.
Ruang Detoksifikasi NAPZA
2.
Ruang Rehabilitasi gangguan penggunaan NAPZA, Penanganan gangguan jiwa murni, Penanganan dual diagnosis, Penanganan komorbiditas fisik;
3.
Ruang komplikasi medik dan High Care Unit (HCU) yang sementara di masa pandemic saat ini menjadi ruang perawatan bagi pasien terinfeksi Covid-19 dengan gejala ringan sampai sedang.
b.
Instalasi Penunjang Medik Penunjang yang tersedia dirumah sakit ini, adalah farmasi, laboratorium, radiologi, rehabilitasi medik, psikososial, gizi, pendidikan dan pelatihan, rekam medis, CSSD, dan pemulasaraan jenazah.
7. Pelayanan Unggulan RS Ketergantungan Obat Berikut
dibawah
ini
merupakan
beberapa
Pelayanan
Unggulan
RS
Ketergantungan Obat Jakarta, yaitu : a. Pelayanan
NAPZA
detoksifikasi,
komprehensif : Penerimaan
rehabilitasi
pelayanan
untuk
awal
(initial
komplikasi
intake),
medik,
dual
diagnosis dan terapi rumatan metadon dan bufrenorfin yang merupakan ciri khas terapi cafeteria guna menjawab kebutuhan penerima layanan. Hal diatas dimaksud untuk menyelaraskan kebutuhan pasien, keluarga, dan masyarakat. b. Sebagai pengampu layanan program rumatan metadon/suboxone. c. Pemberi
pelatihan
dan pendidikan
dari berbagai
profesi di bidang
pelayanan ketergantungan NAPZA (pelayanan akibat gangguan
yang
berhubungan dengan zat). d. Menjadi bagian dari jejaring dunia melalui kolaborasi
badan dunia
(WHO, UNODS, UNAIDS) menyusun pedoman terapi dan pelatihan serta modulnya untuk kepentingan internasional, regional dan nasional. e. Menjadi
narasumber
bagi
pelatihan,
pelayanan,
dan
perencanaan terapi ketergantungan NAPZA dan HIV/AIDS.
14
penyusunan
f. Menjadi bagian jejaring pelayanan kesehatan HIV/AIDS dalam promosi, prevensi, terapi, dan penelitian. Pesatnya kemajuan teknologi informasi turut memacu tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik secara terus menerus. Tidak bisa tidak, dunia kesehatan khususnya di bidang perumahsakitan perlu untuk terus menerus melakukan upaya dalam
memperbaiki mutu pelayanan kesehatan mereka, baik di bidang
sumber daya manusia, fasilitas dan peralatan kedokteran, teknologi informasi dan sebagainya. B. Profil Peserta 1.
Identitas Diri Nama
: Anita Sari Putri
Tempat/Tanggal lahir : Bengkulu, 20 Agustus 1990 NIP
: 199008202020122004
Jabatan
: Dokter Ahli Pertama
Pangkat/Gol Ruang
: Penata Muda Tk.1-III/b
Asal Instansi
: RS Ketergantungan Obat Jakarta
Unit Kerja
: KSM Umum RS Ketergantungan Obat Jakarta
Pendidikan Terakhir : Pendidikan Dokter Umum 2.
Uraian Tugas Pokok Jabatan a.
Melaksanakan pelayanan medik rawat jalan
b.
Melaksanakan pelayanan medik rawat inap
c.
Melaksanakan Tindakan khusus
d.
Melaksanakan pelayanan kegawatdaruratan medik
e.
Melakukan pemulihan fisik
f.
Melakukan pemulihan mental
g.
Menyusun catatan medik pasien
h.
Melaksanakan tugas jaga
i.
Melaksanakan tugas bantuan/partisipasi Kesehatan
j.
Menyusun laporan pelaksanaan tugas
k.
Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan pimpinan
15
BAB III RANCANGAN AKTUALISASI
A. Identifikasi Isu Isu adalah sebuah masalah yang belum terpecahkan yang siap diambil keputusannya. Isu merepresentasikan suatu kesenjangan antara praktik organisasi dengan harapan-harapan para stakeholder. Berdasarkan definisi tersebut, isu merupakan suatu hal yang terjadi baik di dalam maupun di luar organisasi yang apabila tidak ditangani secara baik akan memberikan efek negatif terhadap organisasi bahkan dapat berlanjut pada tahap krisis. Berkaitan dengan rancangan aktualisasi ini, sumber isu yang diangkat berasal dari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi), Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), kegiatan yang diinisiatif oleh penulis melalui persetujuan coach dan mentor, serta penugasan dari atasan. Berdasarkan kaitannya dengan Manajemen ASN, Whole of Government (WoG), dan Pelayanan Publik. Adapun bagian dari kegiatan aktualisasi yaitu menetukan isu yang ada diunit kerja , dalam hal ini isu diambil pada Instalasi Gawat Darurat (IGD). Berikut adalah daftar isu-isu yang muncul di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta yang saya amati selama masa orientasi 3 bulan: 1. Angka kunjungan pasien Instalasi Gawat Darurat di RS Ketergantungan Obat yang masih rendah (Whole of Government). 2. Belum optimalnya alur pelayanan pasien di Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat. (Pelayanan Publik) 3. Belum optimalnya penggunaan Electronic Medical Record (EMR) pada pelayanan IGD. Sehingga Masih tetap menggunakan pengisian rekam medik secara tertulis. (Pelayanan Publik). Dari 3 isu diatas selanjutnya akan di identifikasi berdasarkan data dan fakta yang ada di unit tersebut. Berikut dibawah ini merupakan hasil pengkajian identifikasi isu di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Ketergantungan Obat Jakarta, yaitu pada tabel berikut:
16
Tabel 3.1 Identifikasi data dan fakta isu No 1
Data
Isu Angka kunjungan di RS Ketergantungan Obat yang masih rendah
Dampak apabila isu tidak ditangani
Berdasarkan laporan Akan berdampak pada RS bulanan jumlah Kunjungan pemasukan sehingga IGD berdasarkan kasus: mempengaruhi arus Bulan Februari 2021: cash flow RS pasien umum 21, NAPZA 4, psikiatri 3, covid 32. Bulan Maret 2021:pasien umum 36, NAPZA 2, psikiatri 7, covid 30 Bulan April 2021: pasien umum 64, NAPZA 9, covid 15 Hasil wawancara: Menurut ketua bidang medik dikarenakan RS Ketergantungan Obat belum bekerja sama dengan Jaminan Kesehatan Nasional sehingga kunjungan pasien umum yang berobat ke IGD masih sedikit
2
Belum optimalnya alur pelayanan pasien di IGD RS Ketergantungan Obat
3
Belum optimalnya pengisian Electronic
Hasil Observasi: Sistem alur pelayanan pasien sudah ada, namun belum adanya SOP khusus alur pelayanan pasien di IGD sehingga pelayanan tidak sistematis. Hasil Wawancara: Menurut Ketua bidang medik memang belum adanya SOP yang menetapkan alur pasien di IGD Hasil observasi :
17
Pelayanan terhadap pasiennya menjadi kurang efisien dan efektif
Kelengkapan catatan medis pasien tidak
Medical Record (EMR) pada pelayanan IGD RS Ketergantungan Obat
EMR pada pasien IGD sudah ada, namun masih belum berjalan, sehingga dokter jaga hanya menulis SOAP di lembar status rekam medik pasien.
terintegrasi dengan baik dalam satu sistem
Hasil wawancara: Menurut kasi pelayanan medik hal tersebut dikarenakan masih perlunya penyesuaian format EMR.
B. Analisis Isu Berdasarkan identifikasi isu yang telah dipaparkan, perlu dilakukan proses identifikasi isu untuk menentukan isu mana yang merupakan prioritas yang dapat dicarikan solusi oleh penulis. Proses identifikasi isu tersebut menggunakan alat bantu penetapan kriteria kualitas isu. Kriteria yang digunakan adalah metode AKPL (Aktual, Kekhalayakan, Probematik, dan Layak) untuk memilih 2 dari 3 isu yang ada kemudian dilanjutkan dengan metode USG (Urgency, Seriousness, dan Growth) untuk menentukan core issue dari 3 isu teratas hasil metode AKPL. Metode pertama yang dipakai adalah metode AKPL. Adapun AKPL dijelaskan sebagai berikut: 1) Aktual: Isu tersebut benar-benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan dalam masyarakat. 2) Kekhalayakan: Isu tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak. 3) Problematik: Isu tersebut memiliki dimensi masalah yang kompleks sehingga perlu dicarikan solusinya 4) Layak: Isu tersebut masuk akal, realistis, relevan untuk dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya. Tabel 3.2 Analisis Penilaian kualitas isu dengan metode AKPL No 1
Kriteria Isu A K P L Upaya peningkatan angka √ √ √ kunjungan di RS Ketergantungan Obat Isu
18
Terpilih/Tidak √
2
Belum optimalnya pelayanan √ pasien NAPZA di IGD RS Ketergantungan Obat Belum optimalnya penggunaan √ electronic medical record (EMR) pada pelayanan IGD
3
√
√
√
√
-
-
√
√
Setelah dilakukannya penetapan isu yang berkualitas berdasarkan pada pengukuran AKPL diatas, maka isu tersebut harus diprioritaskan kembali. Isu yang ada dianalisa lagi dengan metode USG untuk memilih isu yang akan dicarikan solusinya. Penapisan isu priotitas dengan menggunakan metode USG di mana isu yang memiliki total skor paling tinggi akan dipilih sebagai isu prioritas. Kriteria tersebut antara lain: Urgency/Urgensi: Seberapa mendesak dikaitkan dengan waktu yang tersedia. Seriousness/Keseriusan: Apabila masalah tidak ditangani maka akan timbul masalah lain yang lebih serius. Growth/Perkembangan isu: Apabila masalah dibiarkan maka masalah akan memburuk. Rentang Nilai (1-5):
Tidak sangat penting : Skor 1
Kurang penting : Skor 2
Cukup penting : Skor 3
Penting : Skor 4
Sangat penting : Skor 5
Tabel 3.3 Analisis Isu Prioritas dengan metode USG No 1
2
3
Isu
U
Angka kunjungan IGD di RS Ketergantungan Obat yang masih 3 rendah Belum optimalnya pelayanan pasien Psikiatri NAPZA di IGD RS 5 Ketergantungan Obat Belum optimalnya penggunaan electronic medical record (EMR) 2 pada pelayanan IGD
19
G
Total
Skala Prioritas
3
3
9
2
5
4
14
1
3
3
8
3
S
Sebagai kesimpulan dari hasil penapisan isu di atas maka isu yang terpilih “Belum optimalnya pelayanan pasien psikiatri NAPZA di IGD RS Ketergantungan Obat” sebagai isu prioritas yang akan di analisis. C. Analisis Penyebab Isu Unit Gawat Darurat merupakan salah satu unit pelayanan di rumah sakit yang memberikan pertolongan pertama dan sebagai jalan pertama masuknya pasien dengan kondisi gawat darurat. Keadaan gawat darurat adalah suatu keadaan klinis dimana pasien membutuhkan pertolongan medis yang cepat untuk menyelamatkan nyawa dan kecacatan lebih lanjut. Ruang IGD RS Ketergantungan Obat terdiri dari ruang tunggu, ruang covid IGD, ruang triase, ruang resusitasi, ruang Tindakan (bedah, non bedah, psikiatri) dan ruang observasi. Tiap ruangan memiliki 1 bed pasien, namun ruang observasi dan triase psikiatri memiliki 2 bed. Pada setiap shift jaga personilnya terdiri dari 1 orang dokter jaga per shift, 3-4 orang perawat shift pagi, 2-3 orang perawat shift sore, dan 2 orang perawat shift malam. Dari hasil observasi di IGD RS Ketergantungan Obat sistem pelayanan pasien sudah berjalan, namun belum dilaksanakan secara maksimal. Belum maksimalnya perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan alur pelayanan di IGD rumah sakit berakibat belum optimalnya pelayanan yang disebabkan belum adanya SOP yang menetapkan alur pelayanan pasien di IGD. Beberapa contoh kasus antara lain ketika pasien datang berobat, oleh petugas langsung dibawa masuk ke IGD tanpa skrining terlebih dahulu. Contoh pada kasus pasien NAPZA yang datang keadaan tenang namun karena dokter jaga masih melayani pasien lain sehingga membuat pasien NAPZA yang menunggu menjadi gelisah, dan ada kasus lain yaitu ketika pasien di transfer ke ruangan rawat inap tetapi status administrasi pasien masih belum dilengkapi. Pasien yang masuk ke IGD rumah sakit tentunya butuh pertolongan yang cepat dan tepat.
Keberhasilan penanggulangan penderita gawat darurat antara lain
ditentukan oleh tersedianya sumber daya yang sesuai dengan standar dan terlaksananya sistem penangulangan gawat darurat, karena keadaan tersebut memerlukan waktu tanggap (respon time) yang sangat terbatas. Untuk itu perlu adanya suatu alur pelayanan pasien yang terstandar sehingga dapat menjamin suatu penanganan gawat darurat dengan response time yang cepat, tepat dan sistematis.
20
Tujuan adanya alur pelayanan yaitu sebagai acuan bagi petugas IGD dalam melakukan kegiatan pelayanan di IGD RS Ketergantungan Obat Jakarta dan memastikan bahwa pasien mendapat penanganan yang sesuai dengan penyakit dan kebutuhan pasien serta sumber daya Rumah Sakit. Setelah melakukan identifikasi terhadap prioritas isu yang akan diselesaikan, maka digunakan diagram fishbone atau diagram tulang ikan. Diagram fishbone ini digunakan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab masalah karena menekankan pada hubungan sebab akibat. Berikut dibawah ini merupakan analisis prioritas masalah dengan diagram fishbone, yaitu: Penyebab Material
Money
Perlunya anggaran pembuatan media KIE
Akibat
Kurangnya media edukasi tentang kegawatdaruratan Psikiatri
Man Kurangnya pemahaman nakes pentingnya SOP Belum
Belum ada media informasi tentang alur pelayanan di IGD
Kurangnya edukasi kegawatdaruratan Psikiatri oleh nakes
optimalnya pelayanan pasien di
Evaluasi SOP belum berjalan selaras dengan SOP yang belum tersedia
IGD RS
Alur pelayanan pasien di IGD kurang sistematis
Ketergantun SOP alur pelayanan pasien belum tersedia
Waktu penanganan pasien masih lamban
gan Obat
Methode Environment Measurement
D. Analisis Dampak Isu II.
Dampak Sebagai ASN Dampak isu jika tidak diselesaikan adalah pelayanan publik kepada pasien yang datang berobat ke RS Ketergantungan Obat menjadi kurang efektif dan efisien. Hal ini akan membuat pelayanan menjadi tampak kurang profesional dan akhirnya akan mengurangi kepuasan pelanggan terhadap layanan yang diberikan oleh RS Ketergantungan Obat.
21
III.
Dampak Bagi Instansi Apabila isu ini jika tidak segera dipecahkan akan berdampak pada tidak tercapainya visi misi Rumah Sakit Ketergantungan Obat sebagai penyelenggara pelayanan Kesehatan maka akan menimbulkan dampak antara lain tidak tercapainya visi misi rumah sakit yaitu sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan dengan upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif dalam Bidang ketergantungan obat dan adiksi lainnya serta penyakit terkait secara komprehensif
berbasis
mutu
dan keselamatan pasien sehingga akan
mempengaruhi mutu RS Ketergantungan Obat. IV.
Dampak Bagi Masyarakat Dampak yang timbul bagi pasien/masyarakat apabila pelayanan IGD belum optimal antara lain: 1) Pasien tidak mendapat penanganan yang tepat dan waktu pelayanan menjadi lebih lama 2) Angka kematian dan kecacatan lebih lanjut pada pasien bisa meningkat 3) Menurunnya tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit.
A. Gagasan Pemecahan Isu ASN wajib memberikan pelayanan yang prima sehingga masayarakat sebagai pelanggannya dapat merasa puas. Sebagai dokter yang berstatus sebagai ASN juga memiliki kewajiban untuk memberi pelayan prima kepada pasien. Keselamatan pasien menjadi tujuan utama dalam pelayanan, selain keselamatan pasien diharapkan pula agar pasien merasa puas atas pelayanan yang telah diberikan. Setelah menentukan prioritas isu yang akan dipecahkan, selanjutnya adalah tahapan analisis pemecahan isu dengan melihat penyebab terjadinya isu tersebut. Gagasan penulis untuk memecahkan isu optimalisasi pelayanan pasien Psikiatri NAPZA di RS Ketergantungan Obat adalah dengan membuat SOP alur penerimaan pasien dan pembuatan media KIE berupa banner alur pelayanan dan kegawatdaruratan Psikiatri di ruang IGD RS Ketergantungan Obat Jakarta.
22
B. Matriks Rancangan Aktualisasi Unit kerja : RS Ketergantungan Obat Jakarta Identifikasi Isu : 1. Angka kunjungan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RS Ketergantungan Obat yang masih rendah 2. Belum optimalnya alur pelayanan pasien di Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat 3. Belum optimalnya penggunaan electronic medical record (EMR) pada pelayanan Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat Isu yang diangkat : Belum optimalnya alur pelayanan pasien di Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat Gagasan Pemecahan Isu: 1. Persiapan penyusunan draft SOP 2. Menyusun draft SOP alur pelayanan pasien IGD 3. Membuat media KIE berupa banner tentang alur pelayanan pasien dan kegawatdaruratan Psikiatri 4. Melakukan sosialisasi dan implementasi media KIE di IGD 5. Evaluasi penyusunan draft SOP dan media KIE di IGD
Kegiatan aktualisasi dibuat oleh penulis dapat dilihat pada tabel 3.4 berikut ini. Dalam tabel tersebut berisi matriks rancangan aktualisasi sebagai upaya pemecahan isu yang ada, dilengkapi dengan tahapan dan proses kegiatan serta keterkaitannya dengan nilai- nilai dasar ASN, serta misi RS Ketergantungan Obat Jakarta.
23
Tabel 3.4 Matriks rancangan aktualisasi
No. Kegiatan 1.
Persiapan
Tahapan kegiatan a
Output/Hasil
Melakukan dan
Keterkaitan Substansi Mata Pelatihan
Dokumentasi
Akuntabilitas:
kegiatan,
Bertanggung
Kontribusi terhadap Visi Misi
Penguatan Nilai
Organisasi jawab,
Sesuai dengan misi
Penyampaian
RS
yang sopan dan
Ketergantungan
semangat
penyusunan draft
konsultasi
SOP
koordinasi dengan
adanya
transparan,
ketua
bidang
dukungan
terhadap gagasan yang
Obat
bekerja
medik
terkait
kegiatan
disampaikan
Menyelenggarakan
serta koordinasi
Upaya
menunjukkan
kejelasan
etos
Preventif,
keras
persiapan
Nasionalisme:
penyusunan draft
kerja,
SOP.
Bahasa Indonesia yang
dan
baik
secara
nilai
Etika Profesi:
komprehensif
rumah sakit yaitu
berbasis mutu dan
Kasih,
keselamatan
memberikan
menggunakan
Professional,
sopan
santun,
Kuratif
Rehabilitatif
sikap
yang
sejalan
dengan
organisasi selalu
pasien
yang
kepedulian
dari atasan dan
dikelola
oleh
tanggap,
Komitmen mutu:
tenaga
yang
menghargai dan
Efektifitas
kompeten.
menghargai
24
cermat,
Promotif,
pendapat
dalam
dan saling
menghormati
penyampaian informasi
pendapat orang
mengenai
lain.
pentingnya
SOP alur pelayanan ,
Melaksanakan
Keramahan
dan
kegiatan dengan
komunikasi yang baik
tanggung jawab
dengan
dan
cekatan
teman sejawat
sesuai
dengan
Antikorupsi:
nilai RSKO yaitu
Kepedulian dan kerja
Sigap,
keras
berusaha cepat,
atasan
serta
bertanggung dalam kegiatan
25
dan
jawab
pelaksanaan
tepat cekatan melakukan
selalu dan dalam
B
Diperolehnya
Akuntabilitas:
pekerjaan
pelaksanaan
izin
oleh
Dapat
bertanggung
maupun
Kegiatan
bidang medik
jawab
terhadap
aktualisasi
dan
kegiatan
sesuai
dengan
Etika Publik:
sistem
dan
Meminta
izin
kepala
ruangan IGD
Dalam
meminta
izin
dengan Kepala instansi peserta dengan
melakukan sopan
dan
santun Komitmen Mutu: Ramah
dan
berkomunikasi
yang
baik dengan atasan c
Melakukan
Informasi
komunikasi
SOP
Akuntabilitas: dan
tanggung
jawab
tatanaskah
memeriksa
subkoordinator
penyusunan
SOP yang ada
pelayanan
SOP
Nasionalisme:
dengan
untuk
bagian medik
Melakukan
memeriksa
dokumen
SOP
26
dokumen
kegiatan
pelayanan
prosedur berlaku.
yang
yang
sudah
pada
tersedia
jam
kerja
(Humanis) Etika Publik: Sopan Santun dalam berkomunikasi Komitmen Mutu: Memeriksa
dokumen
SOP yang ada agar menghindari
duplikasi
SOP d
Mengumpulkan
Referensi
Akuntabilitas:
referensi
terkait SOP
Kerja
keras
Bekerja
keras
untuk
mencari
dan
informasi terkait
referensi
data
yang
valid, Kejelasan Mengumpulkan referensi dari sumber yang jelas,
27
Tanggung
jawab
Bertanggung
jawab
terhadap
kebenaran
referensi yang dicari Komitmen Mutu: Teliti
Proses
pengumpulan literatur Anti Korupsi: Mandiri Mengumpulkan sendiri
literatur
dan
bahan yang ada 2.
Menyusun SOP
draft alur
pelayanan pasien
a
Menyusun rancangan
draft
Rancangan
Akuntabilitas
SOP
Bekerja
keras
dalam
penyusunan draft SOP
SOP
IGD
Nasionalisme:
etos
kerja, Amanah Etika
Publik:
Menjalankan secara
tugas
professional,
Sikap
RS
sejalan
Ketergantungan
nilai
Obat
rumah sakit yaitu
Menyelenggarakan
Sigap,
Upaya
Preventif,
selalu berusaha
Kuratif,
cepat, tepat, dan
Promotif,
yang dengan
organisasi
secara
cekatan
komprehensif
melakukan
berbasis mutu dan
pekerjaan
berorientasi mutu dalam
keselamatan
maupun
penyusunan draft SOP
pasien
cermat Komitmen
28
Sesuai dengan misi
mutu
:
yang
pelayanan
yakni
dalam
Antikdorupsi:
disiplin
dikelola
oleh
sesuai
dengan
dalam
proses
tenaga
yang
sistem
dan
pembuatan draft SOP dan dilakukan secara mandiri b
Mengajukan rancangan
draft
SOP
Print out draft
Akuntabilitas:
SOP
tanggung
jawab
terhadap
rancangan
ke
koordinatotr
draft SOP yang dibuat
bidang medik dan
Etika Publik:
Kepala Instalasi
Mengajukan Rancangan
dengan
sopan dan santun Komitmen Mutu: teliti
dan
sebelum
cermat
mengajukan
draft SOP c
Melakukan
Draft
SOP
koordinasi
yang direvisi
finalisasi draft SOP
Akuntabilitas: Integritas draft
SOP
Membuat sesuai
dengan referensi dan hasil konsultasi dengan
29
kompeten
prosedur berlaku.
yang
mentor
dan
kepala
instalasi terkait, Dapat mempertanggungjawab kan draft SOP yang telah dibuat Nasionalisme: Bekerjasama
dalam
penyusunan draft SOP Menghargai
pendapat
Menerima masukan dari mentor
dan
atasan
terkait selama proses diskusi Etika Publik: Bersikap sopan selama proses diskusi d
Menyusun draft
SOP
revisi
Draft
alur
SOP
final
Akuntabilitas: Tanggung
Jawab
penerimaan
dengan draft SOP yang
pasien IGD
telah dibuat
30
Nasionalisme: Bekerja keras
dalam
penyusunan draft SOP Komitmen Mutu: Cermat
dan
memeriksa
teliti kembali
draft SOP yang sudah dibuat e
Melakukan proses
Lembar
Akuntabilitas
pengajuan
pengajuan
Bertanggung
draft
integritas
draft
SOP
kepada
atasan
bidang
: jawab,
Nasionalisme:
pelayanan medik
Menghubungi bidang
kepala
Pelayanan
Medik secara humanis dan professional (pada jam kerja) Etika
Publik:
pada
proses pengajuan draft SOP dilakukan dengan sopan dan santun
31
Komitmen
Mutu:
Efektif
dalam
penyampaikan
draft
SOP Antikorupsi: draft SOP revisi diberikan secara mandiri
(efektif)
dan
bertanggung jawab 3.
Mencari referensi
Referensi
Akuntabilitas:
KIE berupa banner
pembuatan banner
konsep
Bekerja
tentang
alur pelayanan dan
banner
Membuat
media alur
a
Sesuai dengan misi
Sikap
RS
sejalan
mencari referensi dan
Ketergantungan
nilai
keras
dalam
yang dengan
organisasi
pelayanan pasien
kegawatdaruratan
mampu
Obat
rumah sakit yaitu
dan
psikiatri
mempertanggungjawab
Menyelenggarakan
Sigap,
kegawatdaruratan
kan
Upaya
Preventif,
selalu berusaha
psikiatri di IGD
didapat
Promotif,
Kuratif
cepat, tepat, dan
Nasionalisme:
dan
referensi
yang
Semangat
32
dalam
Rehabilitatif
yakni
cekatan
dalam
secara
melakukan
mencari referensi
komprehensif
pekerjaan
Etika
berbasis mutu dan
maupun
Mencantumkan
keselamatan
pelayanan
referensi yang didapat
pasien
sesuai
Publik:
dengan
dalam
pembuatan
banner
prosedur
Komitmen mutu:
berlaku.
Teliti dan Cermat dalam mencari
referensi
(efektif dan efisien) b
Konsultasi dengan
Materi Konten
Akuntabilitas: Terlebih
SMF
edukasi
dahulu bekerja keras
Psikiatri
mengenai konten
dalam
materi
materi konten edukasi
edukasi
menyiapkan
kegawatdaruratan
Nasionalisme:
Psikiatri
Kerjasama Berkoordinasi
dengan
bagian
psikiatri
SMF
mengenai konten materi edukasi Etika
Publik:
Menyampaikan gagasan dengan sopan dan santun Komitmen Mutu:
33
sistem
dan yang
Berorientasi
mutu
Menganalisis kesesuaian isi materi dimaksudkan
untuk
meningkatkan
mutu
pelayanan
kepada
pasien Anti Korupsi: Disiplin
dalam
menganalisis kesesuaian isi materi c
Meminta bantuan
Surat
Akuntabilitas:
dan berkoordinasi
permintaan
Melakukan
dengan
pembuatan
dan
Banner
gagasan
bagian
bidang medik dan PKRS
koordinasi
menyampaikan dengan
sungguh-sungguh
dalam
pembuatan
Nasionalisme:
Banner
Mampu bekerja sama dan
menghargai
masukan dari kepala bagian PKRS Etika Publik:
34
Meminta dengan
bantuan Bahasa
dan
sopan dan santun Komitmen Mutu: Adanya antusias dalam berdiskusi
untuk
membuat
perubahan
dan meningkatkan mutu pelayanan Anti Korupsi: Meminta bantuan dalam pembuatan
banner
dengan tanggung jawab dan kerja keras dan mendokumentasikan kegiatan d
Membuat
konsep
Desain
banner
alur
banner
pelayanan
dan
akan dicetak
Akuntabilitas: yang
Membuat banner
konsep yang
dapat
kegawatdaruratan
dipertanggungjawabkan
psikiatri
Nasionalisme:
35
Membuat
konsep
dengan semangat yang tinggi dan bekerja keras dalam membuat banner Komitmen mutu: Teliti dan Cermat dalam membuat
banner
(efektif dan efisien) Anti korupsi: Disiplin
dalam
menjalani kegiatan dan mendokumentasikan kegiatan 4.
Melakukan sosialisasi
a dan
Memasang Banner
Banner
KIE
terpasang
Komitmen mutu: Memasang
implementasi
dengan teliti
media KIE kepada
Akuntabilitas:
staf di ruang IGD
Memasang
banner
dengan
tanggung jawab Etika Publik: Memasang dengan
36
banner
sopan
dan
santun,
tidak
mengganggu
proses
pelayanan Anti
kerja
Korupsi:
keras
dan
tanggung
jawab
dalam
proses
pembuatan banner alur pelayanan dan edukasi kegawatdaruratan psikiatri b
Mengatur
jadwal
sosialisasi
dan
Undangan
Akuntabilitas:
Sesuai dengan misi
Semangat
kegiatan
Keadilan
RS
bekerja
Pembuatan
kerasa
menginformasikan
jadwal kegiatan tidak
Ketergantungan
dan
pelaksanaan
bersamaan
Obat
merupakan
kegiatan
kegiatan lain
Menyelenggarakan
Sikap
Upaya
sejalan
dengan
Nasionalisme Etika
37
dan Publik:
Promotif,
Preventif, Kuratif,
nilai
teliti yang dengan
organisasi
Menginformasikan
secara
rumah sakit yaitu
kegiatan
komprehensif
Sigap,
Bahasa Indonesia yang
berbasis mutu dan
selalu berusaha
baik dengan sopan dan
keselamatan
cepat, tepat, dan
santun
pasien
cekatan
dengan
yakni
dalam
Komitmen
Mutu:
Efektifitas
Mencari
pekerjaan
waktu yang disepakati
maupun
agar
pelayanan
semua
dapat
sesuai
dengan
sosialisasi
sistem
dan
Dokumentasi
Akuntabilitas:
prosedur
kegiatan,
Kerja
KIE alur pelayanan
notulensi, dan
Mempresentasikan
dan
Daftar
materi sosialiasi dengan
kegawatdaruratan
Peserta
mengikuti c
melakukan
Melaksanakan sosialisasi
edia
Hadir
kegiatan
Keras
kerja
psikiatri di IGD
keras,
Kepercayaan Menyiapkan
ruangan
yang
kondusif,
Kejelasan Menyampaikan sosialisasi,
Partisipatif
Sosialisasi
kepada
tenaga
Kesehatan,
Bertanggung
jawab
dalam informasi yang
38
berlaku.
yang
diberikan
kepada
tenaga Kesehatan Nasionalisme: Menghargai
pendapat
Sosialisasi
dilakukan
dengan diskusi 2 arah Menerima
kritik
dan
saran saat sosialisasi Etika Publik: Menyampaikan
materi
sosialisasi dengan cara yang sopan 5.
Evaluasi
a
implementasi media
KIE
Mengamati
Hasil
Akuntabilitas:
implementasi
kuisioner
Tanggung
jawab
media KIE
terhadap
hasil
dan
banner
KIE
penyusunan draft
dengan
hasil
SOP
kuisioner
39
Sesuai dengan misi
Pelaksanaan
RS
evaluasi dengan
Ketergantungan
semangat
pengamatan di IGD dan
Obat
tanggung jawab
membagikan kuisioner
Menyelenggarakan
yang
pengunjung di IGD
Upaya
dengan
Etika Publik:
Promotif,
Teliti
secara
sakit yaitu Sigap,
pengamatan keadaan di
komprehensif
yakni
IGD,
berbasis mutu dan
berusaha cepat,
Melakukan meminta
Preventif, Kuratif,
dan sejalan nilai
organisasi rumah selalu
pengunjung
yang
cekatan
dan santun
dikelola
oleh
melakukan
Anti Korupsi:
tenaga
yang
pekerjaan
Jujur Fakta dilapangan
kompeten
ditambahi
dan
sistem
dan
hasil evaluasi
diagram hasil
Kerja
kuisioner
penyelesaian Laporan
kepada
pelayanan dengan
Akuntabilitas:
evaluasi
maupun sesuai
Laporan
hasil
dalam
dikurangi Membuat laporan
Melaporkan
dan
pasien
Keras
dalam laporan
hasil kegiatan,
c
tepat,
keselamatan
kuisioner dengan sopan
tidak B
mengisi
hasil
dibuat
prosedur
yang
berlaku.
Nilai
Ramah,
selalu
memberikan
dengan tanggung jawab
senyum,
dan integritas tinggi
dan sapa setiap
Komitmen mutu:
memberkan
Teliti Membuat laporan
pelayanan
dengan teliti
maupun sesama
Anti Korupsi:
karyawan.
Jujur Membuat laporan
Kasih,
Dokumentasi
Akuntabilitas:
memberikan
kegiatan,
Menyampaikan
hasil
kepedulian tanggap
testimoni
40
salam
Nilai selalu dan serta
dan
evaluasi
dengan
mentor dan atasan
mentor
terkait
kepala
transaparan
ruangan,
Etika
menghargai dan Publik:
Menjelaskan
hasil
evaluasi kepada mentor dan
atasan
dengan
terkait
sopan
dan
hormat Komitmen Mutu: Hasil evaluasi sesuatu yang dapat dipercaya d
Rapat
Koordinasi
Finalisasi
penyusunan draft
revisi
SOP
SOP
Akuntabilitas: draft
Integritas draft dengan
Membuat
SOP
sesuai
tata
naskah,
Dapat mempertanggungjawab kan draft SOP yang telah dibuat Nasionalisme: Bekerjasama
dalam
penyusunan draft SOP
41
saling menghormati pendapat orang lain.
Menghargai
pendapat
Menerima masukan dari mentor
dan
atasan
terkait selama proses rapat Etika Publik: Bersikap sopan selama proses rapat Komitmen
mutu:
cermat dalam membuat revisi draft SOP yang akan di finalisasi
42
C. Jadwal Pelaksanaan Aktualisasi Tabel 3.5 Rencana Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi No
Kegiatan
1.
Persiapan peyusunan draft SOP
2.
Menyusun draft SOP alur pelayanan pasien IGD
3.
Membuat media KIE banner alur pelayanan
September
10 13 14 15 16 17 20 21 22 23 24 27 28 29 30 1 4 5 6 7 8 11 12 13 14 15
pasien dan kegawatdaruratan psikiatri di IGD 4.
Melakukan sosialisasi dan implementasi media KIE kepada staf IGD
5.
Oktober
Evaluasi penyusunan draft SOP dan media KIE di ruang IGD
43
BAB IV HASIL AKTUALISASI
D. PENJELASAN PELAKSANAAN AKTUALISASI Pelaksanaan aktualisasi dilakukan pada tanggal 13 September sampai 15 Oktober 2021 di ruang Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat Jakarta. Kegiatan aktualisasi disesuaikan dengan rancangan kegiatan pada BAB III serta ada beberapa kegiatan dan tahap kegiatan yang disesuaikan. Kegiatan yang sudah dilaksanakan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Penjelasan Pelaksanaan Aktualisasi No 1.
Kegiatan Persiapan Penyusunan SOP
Tanggal
Pencapaian
pelaksanaan
Kegiatan
10-15
Tercapai
September 2021 2.
Menyusun Draft SOP alur pelayanan pasien di
16- 20
IGD
September
Tercapai
2021 3.
4. 5.
Membuat media KIE berupa Banner alur
21-29
pelayanan pasien dan kegawatdaruratan
September
Psikiatri di ruang IGD
2021
Melakukan sosialisasi dan implementasi media
30 September -
KIE kepada staf IGD
8 Oktober 2021
Evaluasi penyusunan draft SOP dan media
11-15 Oktober
KIE di ruang IGD
2021
44
Tercapai
Tercapai Tercapai
Tabel 4.2 Pelaksanaan Aktualisasi Di Ruang IGD RS Ketergantungan Obat Jakarta Kegiatan 1
Persiapan Penyusunan draft SOP
Tanggal
10-15 September 2021
Kegiatan Tahapan Kegiatan
a. Melakukan konsultasi dan koordinasi dengan ketua bidang medik dan kepala instalasi terkait persiapan pembuatan draft SOP
Gambar 4.1 konsultasi dan koordinasi dengan ketua bidang medik Dokumentasi diambil pada tanggal 10 september 2021 pukul 13.0014.00 WIB di Ruang Bidang Medik, pada tahap kegiatan ini adalah melakukan konsultasi dan koordinasi kepada Kepala Bidang Medik yaitu dr. Budi Rahardjo, M.Epid dan dr. Lastny Widyasari selaku mentor sekaligus subkoordinator pelayanan medik sekaligus. Dan hasil kegiatannya adalah didapatkan arahan dan dukungan untuk penyusunan draft SOP pelayanan IGD yang menyesuaikan pada era pandemi ini. b. Meminta izin pelaksanaan Kegiatan aktualisasi
45
Gambar 4.2 Meminta izin pelaksanaan Aktualisasi kepada kepala instalasi Dokumentasi diambil pada tanggal 13 september 2021 pukul 09.0010.00 WIB di Ruang IGD , pada tahap kegiatan ini adalah meminta izin untuk melaksanakan kegiatan aktualisasi kepada kepala Instalasi IGD yaitu dr. Danik Setyowatiningsih. Dari hasil kegiatan ini diperolehnya izin serta dukungan untuk melaksanakan aktualisasi di IGD yaitu dengan penyusunan draft SOP alur pelayanan IGD. c. Melakukan komunikasi dengan bagian pelayanan medik untuk memeriksa dokumen SOP yang sudah tersedia
46
Gambar 4.3 Melakukan komunikasi dengan subkoordinator pelayanan medik terkait SOP yang ada Dokumentasi diambil di ruangan IGD tanggal 14 september 2021 pukul 14.00-15 WIB. Pada tahap kegiatan ini melakukan komunikasi dengan dr. Lastny selaku subkoordinator pelayanan medik mengenai SOP yang sudah tersedia di ruangan IGD yang berkaitan dengan pelayanan di IGD. Dari hasil kegiatan didapatkan informasi yang didapatkan prosedur yang berfokus pada pelayanan IGD di masa pandemi belum ada, namun prosedur pelayanan IGD ada keterkaitan dengan prosedur penerimaan pasien masuk rawat inap di masa pandemi dan penyusunan SOP disesuaikan dengan tata naskah yang berlaku d. Mengumpulkan referensi penyusunan draft SOP Referensi yang didapatkan sebagai salah satu acuan dalam penyusunan draft SOP yaitu tentang pedoman pelayanan rumah sakit pada masa pandemic covid-19 edisi revisi ke-1 yang dibuat oleh Direktorat jenderal pelayanan Kesehatan dan direktorat pelayanan Kesehatan rujukan tahun 2021 terlampir pada link berikut ini:
47
https://www.kemkes.go.id/downloads/resources/download/infoterkini/COVID-19/Pedoman-Pelayanan-Rumah-Sakit-Pada-MasaPandemi-COVID-19_edisi-revisi-1.pdf Hasil Kegiatan
1. Diperolehnya arahan dan dukungan dari kepala bidang medik terkait pembuatan draft SOP 2. Diperolehnya izin pelaksanaan aktualisasi 3. Didapatkan informasi dokumen SOP yang tersedia 4. Didapatkan referensi pedoman pelayanan RS dimasa pandemic covid 19 yang menjadi acuan penyusunan draft SOP
Daftar Lampiran
1. Lembar bukti dukungan kegiatan
2. Referensi acuan SOP https://www.kemkes.go.id/downloads/resources/download/infoterkini/COVID-19/Pedoman-Pelayanan-Rumah-Sakit-PadaMasa-Pandemi-COVID-19_edisi-revisi-1.pdf Aktualisasi nilai
Sebelum memulai penyusunan draft SOP melakukan konsultasi dan
ANEKA
koordinasi terlebih dahulu kepada kepala bidang medik dan kepala instalasi kemudian meminta izin untuk melaksanakan kegiatan, mencari informasi tentang SOP yang ada kepada subkoordinator dengan sopan dan santun (Etika Publik). Melakukan koordinasi dan menyampaikan
48
gagasan
dengan
sungguh-sungguh,
bertanggung
jawab
dalam
memeriksa dokumen SOP dan bekerja keras dalam mencari referensi untuk
penyusunan
draft
SOP
Kemudian
(Akuntabilitas).
mendengarkan dan menghargai pendapat dari Kepala bidang medik, Kepala instalasi, dan subkoordinator pelayanan medik (Nasionalisme). Adanya antusias dalam berdiskusi untuk membuat perubahan dan meningkatkan mutu pelayanan di ruang instalasi gawat darurat. (Komitmen Mutu). Memberikan ide dan gagasan dengan kepedulian, tanggung jawab dan kerja keras, melakukan dokumentasi saat melakukan kegiatan diskusi (Anti Korupsi). Kontribusi
Sesuai dengan misi RS Ketergantungan Obat yaitu menyelenggarakan
terhadap visi
Upaya
dan misi
komprehensif berbasis mutu dan keselamatan pasien yang dikelola
organisasi
oleh tenaga yang kompeten
Penguatan Nilai
Penyampaian yang sopan dan semangat bekerja keras serta
Preventif,
Promotif,
Kuratif
dan
Rehabilitatif
secara
koordinasi menunjukkan sikap yang sejalan dengan nilai organisasi rumah sakit yaitu Kasih, selalu memberikan kepedulian dan tanggap, saling
menghargai
dan
menghormati
pendapat
orang
lain.
Melaksanakan kegiatan dengan tanggung jawab dan cekatan sesuai dengan nilai RSKO yaitu Sigap, selalu berusaha cepat, tepat dan cekatan dalam melakukan pekerjaan maupun pelayanan sesuai dengan sistem dan prosedur yang berlaku. Analisis Dampak Kegiatan konsultasi dengan bidang medik dan kepala instalasi ini diterapkan melalui nilai-nilai ANEKA dalam pelaksanaannya. Dengan adanya penerapan tersebut diharapkan dapat terjadi keselarasan pandangan terhadap isu dan gagasan pemecahan yang akan dilaksanakan sehingga dapat
mencapai tujuan bersama yaitu
mengoptimalkan pelayanan di IGD dengan pembuatan SOP alur pelayanan pasien. Apabila nilai-nilai ANEKA dan pemahaman peran dan kedudukan ASN tidak diterapkan dalam kegiatan penyampaian rancangan aktualisasi ini maka akan menyebabkan gagasan tidak tersampaikan dengan baik dan koordinasi dengan atasan menjadi kurang baik. Jika hal ini terjadi maka akan berdampak pada kegiatan yang telah dirancang tidak berjalan dengan baik.
49
Kegiatan 2
Menyusun draft SOP alur pelayanan pasien di IGD
Tanggal
16- 20 September 2021
kegiatan Tahapan
a. Menyusun draft SOP
kegiatan
Gambar 4.5 Rancangan draft SOP Dokumentasi diambil pada tanggal 16 September 2021, pukul 11:00 WIB. Pembuatan rancangan SOP awal berdasarkan pedoman yang didapatkan dari referensi. b. Mengajukan draft SOP kepada ketua bidang medik
Gambar 4.6 Mengajukan draft SOP kepada ketua bidang medik
50
Dokumentasi diambil pada tanggal 16 September 2021 pukul 11.00 WIB di ruang bidang medik. Pada tahap kegiatan ini mengajukan rancangan SOP yang sudah dibuat kepada dr. Budi Raharjo, M. Epid selaku kepala bidang medik. Dari hasil kegiatan ini didapatkan arahan mengenai rancangan SOP awal dan adanya masukan mengenai pembuatan SOP harus disesuaikan dengan Pedoman Permenpan No.35 tahun 2012 dan menggunakan flowchart. c. Melakukan koordinasi penyusunan draft SOP dengan kepala bidang medik
Gambar 4.7 Koordinasi dengan kepala bidang medik tentang revisi SOP Dokumentasi diambil pada tanggal 16 September 2021 pukul 15.00 WIB di ruang medik. Pada tahap ini dilakukan koordinasi lanjutan dengan kepala bidang medik dan subkoordinator pelayanan medik mengenai SOP revisi yang dibuat. Dan hasil kegiatan didapatkan kesepakatan mengenai SOP yang dibuat dan adanya sedikit perbaikan dan tambahan prosedur. d. Menyusun revisi draft SOP alur pelayanan pasien
51
52
53
Gambar 4.8 rancangan SOP yang sudah di revisi
54
Gambar 4.9 Mengajukan draft SOP yang sudah direvisi kepada bagian bidang medik Dokumentasi diambil pada tanggal 20 September 2021 pukul 15.00 WIB. Pada tahap kegiatan ini menyusun SOP yang direvisi dan mengajukan draft SOP yang sudah di revisi kepada dr. Budi Raharjo, M.Epid selaku kepala bidang pelayanan medik.. Pada hasil kegiatan telah disusun SOP yang disesuaikan dengan arahan dan
masukan
dari
kepala
bidang
medik
menyesuaikan
menggunakan flowchart, selanjutnya akan diajukan usulan SOP tersebut kepada direktur rumah sakit. e. Melakukan proses pengajuan draft SOP kepada pimpinan bidang pelayanan medik 1) Koordinasi dengan staf bagian bidang medik terkait proses pengajuan SOP ke direktur bidang medik
55
Gambar 4.10 Koordinasi dengan bagian bidang medik terkait proses pengajuan SOP alur pelayanan pasien Koordinasi tentang tindak lanjut pembuatan SOP dilakukan melalui chat whatsapp kepada asisten bidang medik yaitu ibu Azizah pada tanggal 29 september 2021 pukul 15.04 WIB. Pada kegiatan ini memantau sejauh mana perkembangan pengajuan rancangan SOP alur pelayanan yang telah diteruskan kepada Direktur Medik dan Keperawatan. Dari hasil chat didapatkan informasi bahwa rancangan
SOP
sudah
disampaikan
kepada
direktur
dan
56esame56a perbaikan dari symbol dalam SOP alur pelayanan, Hasil Kegiatan
1. Draft SOP yang dibuat dalam bentuk soft file 2. Print out draft SOP 3. Saran dan perbaikan rancangan SOP yang dibuat berdasarkan peraturan menpan 4. Draft SOP yang sudah direvisi 5. Acc Pengajuan SOP dari kepala bidang medik untuk diteruskan ke direktur pelayanan medik dan keperawatan
56
Daftar Lampiran
1. Rancangan SOP
57
58
2. SOP Revisi terbaru
59
60
3. Lembar tahapan pengajuan SOP
61
Aktualisasi Nilai
Integritas dalam pembuatan draft SOP sesuai dengan referensi dan
ANEKA
hasil konsultasi dengan mentor dan kepala bidang medik dan harus dapat mempertanggungjawabkan draft SOP yang telah dibuat (akuntabilitas), mampu bekerjasama dalam penyusunan draft SOP, menghargai pendapat Menerima masukan dari mentor dan atasan terkait (Nasionalisme) dan selama proses diskusi bersikap sopan dan santun (Etika Publik), teliti dan cermat sebelum mengajukan draft SOP (Komitmen mutu), dan draft SOP revisi diberikan secara mandiri dan bertanggung jawab (Anti korupsi)
Kontribusi
Sesuai
dengan
misi
terhadap visi
Menyelenggarakan
dan misi
komprehensif berbasis mutu dan keselamatan pasien yang dikelola
Organisasi
oleh tenaga yang kompeten
Penguatan nilai
Sikap yang sejalan dengan nilai organisasi rumah sakit yaitu Kasih,
Upaya
RS
Ketergantungan
Preventif,
Promotif,
Obat
yaitu
Kuratif,
secara
selalu memberikan kepedulian dan tanggap, saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain. Selain itu juga sejalan dengan nilai Sigap, yakni selalu berusaha cepat, tepat, dan cekatan dalam melakukan pekerjaan maupun pelayanan sesuai dengan sistem dan prosedur yang berlaku. Analisis Dampak Kegiatan penyusunan draft SOP alur pelayanan pasien dengan berkoordinasi kepada ketua bidang medik dan sub koordinator pelayanan medik ini agar mencapai kesepakatan draft SOP yang dibuat berdasarkan standar pedoman dan sarana pelayanan pasien di rumah sakit. Apabila nilai-nilai ANEKA dan pemahaman peran dan kedudukan ASN tidak diterapkan dalam kegiatan penyampaian penyusunan draft SOP maka akan menyebabkan penyusunan draft SOP tidak sesuai dengan pelayanan yang ada dan koordinasi dengan atasan menjadi kurang baik. Jika hal ini terjadi maka akan berdampak pada kegiatan aktualisasi tidak berjalan dengan baik.
Kegiatan 3
Membuat media KIE berupa banner tentang alur pelayanan pasien dan kegawatdaruratan psikiatri di ruang IGD
Tanggal
21- 29 September 2021
Kegiatan
62
Tahapan Kegiatan
a. Mencari referensi pembuatan banner alur pelayanan dan materi edukasi kegawatdaruratan psikiatri
Gambar 4.11 Mencari Referensi dan materi edukasi Dokumentasi diambil pada tanggal 22 september 2021 pukul 11.00 WIB di ruang IGD. Pada tahapan kegiatan ini mencari referensi pembuatan banner alur pelayanan dan materi edukasi kegawatan daruratan psikiatri. Dari kegiatan ini hasil yang didapatkan yaitu referensi konsep alur pelayanan pasien berdasarkan SOP yang telah dibuat dan didapatkan materi tentang kegawatdaruratan psikiatri yang diambil dari buku ajar psikiatri FKUI tahun 2010 dan KMK No.442 tentang NAPZA, kemudian menyusun materi edukasi yang akan dikonsultasikan kepada kepala SMF psikiatri. b. Konsultasi dengan SMF Psikiatri mengenai konten materi edukasi kegawatdaruratan Psikiatri
Gambar 4.12 Konsultasi dengan Ketua SMF Psikiatri terkait konten materi edukasi
63
Dokumentasi diambil pada tanggal 22 September 2021 pukul 13.00 WIB di ruang komite medik. Pada tahapan kegiatan ini berkonsultasi mengenai materi edukasi kegawatdaruratan psikiatri dengan dr. Imelda Indriyani, Sp.KJ (K) selaku ketua SMF Psikiatri. Dari kegiatan ini didapatkan masukan dan saran perbaikan agar materi edukasi berisi informasi yang singkat, jelas dan mudah dimengerti oleh pembacanya dan sumber referensi sudah cukup sesuai. c. Meminta bantuan dan berkoordinasi dengan bagian bidang medik dan PKRS dalam pembuatan Banner 1) Menyerahkan surat permintaan ke bagian bidang medik
Gambar 4.13 Menyerahkan surat permintaan pembuatan banner pelayanan ke bagian bidang Medik Dokumentasi ini diambil pada tanggal 23 September 2021 Pada pukul 11.00 WIB di ruang bidang medik. Pada tahapan kegiataan ini berkoordinasi dengan asisten bidang medik dengan mengajukan surat permintaan pembuatan banner. Hasil kegiatan ini telah diajukannya surat permintaan pembuatan banner melalui asisten bidang medik, dan menunggu surat ditanda tangani oleh ketua bidang pelayanan medik untuk diteruskan ke bagian hukormas RS. 2) Perbaikan surat pemintaan banner melalui whatsapp
64
Gambar 4.14 Perbaikan Surat permintaan pembuatan banner Kegiatan perbaikan disampaikan melalui chat whatsapp pada hari senin, 27 September 2021 Pukul 11.28 WIB. Chat disampaikan oleh asisten bidang pelayanan medik yaitu ibu azizah. Dari hasil kegiatan ini didapatkan perbaikan untuk nama unit yang ditujukan pada surat permintaan. Unit yang ditujukan yaitu subkoordinator Hukum, Organisasi dan Humas. Dan perbaikan surat diserahkan kembali ke bagian bidang medik untuk ditindak lanjuti. 3) Koordinasi dengan kepala bagian PKRS untuk pembuatan banner
65
Gambar 4.15 Koordinasi pembuatan banner dengan kepala bagian PKRS Dokumentasi dimabil pada tanggal 23 September 2021 pukul 13.00 WIB di ruangan PKRS. Pada tahap kegiatan ini menyampaikan dan berdiskusi mengenai rancangan untuk pembuatan banner kepada kepala bidang PKRS yaitu drg. Imelda Kusumaningrum. Pada kegiatan ini didapatkan hasil berupa dukungan dan masukan prosedur
pembuatan
banner
alur
pelayanan
dan
edukasi
kegawatdaruratan psikiatri. Bagian PKRS akan berkoordinasi dengan HUKORMAS terkait permintaan pembuatan banner dan apabila surat pemintaan sudah disetujui maka selanjutnya akan menentukan desain konsep banner yang akat dibuat. 4) Menyampaikan surat permintaan pembuatan banner yang sudah disetujui kepada kepala bagian PKRS
66
Gambar 4.16 Menyerahkan surat yang sudah di tandatangani oleh kepala bidang medik Dokumentasi diambil pada tanggal 28 September 2021 pukul 09.00 WIB di ruang PKRS. Pada kegiatan ini dilakukan penyerahan surat permintaan yang sudah ditanda tangani oleh subkoordinator pelayanan medik dan diserahkan kepada bagian PKRS yaitu drg. Imelda agar usulan banner segera bisa dibuat. Dari hasil kegiatan ini drg. Imelda langsung menerima surat permintaan dan akan meneruskan kepada tim untuk membuat desain banner sesuai dengan konsep yang telah disampaikan d. Membuat desain banner yang akan di cetak
67
Gambar 4.17 konsultasi dan revisi desain banner yang akan dicetak melalui chat whatsapp Kegiatan konsultasi dan revisi desain banner dilakukan melalui chat oleh drg. Imelda sebagai ketua tim PKRS pada tanggal 28 september 2021 pukul 12.11 WIB. Pada kegiatan ini disampaikan desain banneryang sudah dirancang oleh tim PKRS. Dari hasil konsultasi didapatkan perbaikan untuk isi tulisan yang akan dicetak di banner edukasi kegawat daruratan psikiatri dan menambahkan sumber materi edukasi yaitu KMK No.442 tentang NAPZA dan kemudian didapatkan kesepakatan desain banner yang akan di cetak. e. Pencetakan Banner oleh tim PKRS
68
Gambar 4.18 Penyerahan Banner yang sudah di cetak oleh tim PKRS Dokumentasi diambil pada tanggal 1 Oktober 2021 pukul 10.00 Wib diruang PKRS. Pada kegiatan ini dilakukan serah terima banner yang sudah di cetak oleh tim PKRS. Banner diserahkan langsung oleh drg. Imelda. Dari hasil kegiatan ini drg. Imelda menyampaikan agar banner bisa memberikan manfaat dan informasi bagi pengunjung dan petugas IGD agar bisa memberikan edukasi demi pelayanan yang optimal. Hasil Kegiatan
1. Referensi materi KIE kegawatdaruratan psikiatri 2. Konsep Materi yang disetujui 3. Surat Permintaan pembuatan Banner 4. Desain Banner yang akan di cetak 5. Banner yang sudah di cetak
Daftar Lampiran
1. Konsep materi KIE
69
70
2. Surat Permintaan pembuatan banner
3. Desain Banner
71
72
COVID
NON COVID
Aktualisasi
Melakukan konsultasi dengan ketua SMF Psikiatri dan kepada bagian
NILAI ANEKA
PKRS dengan sopan santun dan ramah, serta mendengarkan dan menghargai pendapat dan kemudian menerima saran perbaikan dari ketua SMF Psikiatri serta bagian PKRS sesuai dengan nilai Etika
73
Publik, Nasionalisme dan Akuntabilitas. Diperlukannya nilai-nilai anti korupsi yakni kerja keras dan tanggung jawab dalam proses pembuatan banner alur pelayanan dan edukasi kegawatdaruratan psikiatri dalam memaksimalkan penerapan edukasi kepada pengunjung (Anti Korupsi dan Komitmen Mutu). Kontribusi
Sesuai dengan misi RS Ketergantungan Obat yaitu Menyelenggarakan
terhadap visi
Upaya Preventif, Promotif, Kuratif, secara komprehensif berbasis mutu
misi organisasi
dan keselamatan pasien.
Penguatan Nilai
Semangat bekerja kerasa dan teliti merupakan Sikap yang sejalan dengan nilai organisasi rumah sakit yaitu Sigap, yakni selalu berusaha cepat, tepat, dan cekatan dalam melakukan pekerjaan maupun pelayanan sesuai dengan sistem dan prosedur yang berlaku. Selalu memberikan kepedulian dan tanggap, saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain sesuai dengan nilai Kasih.
Analisis Dampak Pengadaan media KIE berupa banner alur pelayanan pasien dan kegawatdaruratan psikiatri di ruang instalasi gawat darurat. Dalam kegiatan pengadaan media KIE berupa banner alur pelayanan pasien dan kegawatdaruratan psikiatri dikoordinasikan kepada pihak terkait yaitu pada bagian SMF Psikiatri, bidang medik, dan bagian PKRS. Dengan adanya keterkaitan dengan bidang pelayanan lain merupakan sebagai bentuk kerjasama dalam upaya pencetakan banner yang telah dirancang. Dalam pelaksanaan kegiatan ini jika tidak menerapkan nilainilai ANEKA, pemahaman peran dan kedudukan ASN maka proses pengadaan banner tidak berjalan secara optimal.
Kegiatan 4
Sosialisasi dan implementasi Media KIE Banner Alur Pelayanan Pasien dan Kegawatdaruratan Psikiatri di Ruang IGD
Tanggal
30 September -8 Oktober 2021
Kegiatan Tahapan Kegiatan
a. Memasang banner KIE alur pelayanan dan kegawatdaruratan psikiatri di ruang IGD
74
Gambar 4.19 Memasang banner yang sudah di cetak di ruangan IGD Dokumentasi diambil tanggal 4 oktober 2021 pada pukul 12.00 WIB di ruang IGD. Pada kegiatan ini telah dilakukan pemasangan banner
media
KIE
tentang
alur
pelayanan
pasien
dan
kegawatdaruratan medik. Pada kegiatan ini banner di pasang didepan IGD. Tujuan pemasangan banner ini agar para petugas dan pengunjung dapat membaca dan mendapatkan informasi dan edukasi pelayanan di IGD. b. Mengatur jadwal sosialiasi dan menginformasikan pelaksanaan kegiatan
Gambar 4.20 Menyampaikan undangan oleh kepala instalasi IGD
75
Dokumentasi diambil pada tanggal 5 Oktober 2021 pukul 12.00 WIB di ruangan IGD. Pada kegiatan ini rencana kegiatan sosialisasi, karena kegiatan ini hanya dilakukan kepada petugas IGD maka rencana kegiatan disampaikan langsung secara lisan kepada kepala instalasi IGD yaitu dr. Danik Setyowatiningsih. Dari hasil kegiatan ini didapatkan persetujuan kepala instalasi dan kesepakatan waktu serta tanggal kegiatan sosialisasi media KIE di IGD kepada para staf yang bertugas yaitu dijadwalkan hari jumat tanggal 8 Oktober 2021 pukul 10.00 WIB c. Melaksakan kegiatan sosialisasi Media KIE kegawatdaruratan psikiatri dan alur pelayanan pasien.
Gambar 4.22 Sosialisasi Media KIE di ruangan IGD
76
Dokumentasi diambil pada tanggal 8 september 2021 pukul 10.00 WIB diruangan IGD. Pada kegiatan ini dilakukan sosialisai media KIE banner alur pelayanan pasien dan kegawatdaruratan Psikiatri, sosialisai dihadiri oleh kepala instalasi, kepala ruangan, tim security dokter jaga dan perawat yang bertugas. Dari hasil kegiatan ini kegiatan sosialisasi berjalan dengan lancar dan tujuan pembuatan banner juga tersampaikan serta dimengerti oleh petugas yang hadir. d. Menyusun dan membagikan kuisioner media KIE
77
Gambar 4.23 Membagikan kuisioner evaluasi kepada para pengunjung/pasien Dokumentasi diambil pada tanggal 6-8 Oktober 2021 di ruang tunggu IGD. Pada kegiatan ini dilakukan pembagian kuisioner kepada para pengunjung di ruang IGD dengan menyampaikan maksud serta tujuan kegiatan kepada para pengunjung yang ada mengenai manfaat banner edukasi. Dari hasil kegiatan ini evaluasi melalui kuisioner berjalan dengan lancar serta mendapat masukan positif dari beberapa pengunjung mengenai pelayanan dan edukasi yang disampaikan. Hasil Kegiatan
1. Banner KIE terpasang
78
2. Jadwal dan izin kegiatan sosialisasi media KIE 3. Terlaksananya sosialisasi media banner KIE di ruang IGD 4. Pengisian kuisioner media KIE Lampiran
1. Surat Undangan Sosialisasi
Kegiatan
79
2. Notulen
3. Absensi sosialisasi
80
81
82
83
4. Kuisioner media KIE
84
Aktualisasi
Kegiatan sosialisasi dan pemasangan media KIE merupakan salah
NILAI ANEKA
satu bentuk akuntabel saya sebagai seorang ASN yang melakukan layanan dengan tanggung jawab (Akuntabilitas). Dimana tujuannya untuk membangun semangat gotong royong untuk mendapatkan kesepakatan bersama yaitu mengedukasi pengunjung dan sesama rekan petugas Kesehatan (Nasionalisme). Sebelum memulai sosialisasi pertama-tama meminta izin dari Kepala Instalasi dengan penuh sopan santun (Etika Publik). Setelah itu mensosialisasikan media KIE banner alur pelayanan dan kegawatdaruratan psikiatri (Komitmen Mutu) serta menerima pendapat dari rekan kerja (Etika Publik).
Kemudian dengan memiliki tanggung jawab dalam
memaksimalkan edukasi bagi pengunjung (Anti Korupsi). Kontribusi
Sesuai
dengan
misi
RS
Ketergantungan
Obat
yaitu
terhadap visi
Menyelenggarakan Upaya Preventif, Promotif, Kuratif, secara
misi organisasi
komprehensif berbasis mutu dan keselamatan pasien
Penguatan Nilai
Pelaksanaan sosialisasi dengan semangat dan tanggung jawab yang sejalan dengan nilai organisasi rumah sakit yaitu Sigap, yakni selalu berusaha cepat, tepat, dan cekatan dalam melakukan pekerjaan maupun pelayanan sesuai dengan sistem dan prosedur yang berlaku. Nilai Ramah dalam penyampaian sosialisasi dan membagikan kuisioner media KIE, selalu memberikan senyum, salam dan sapa setiap memberkan pelayanan maupun sesama karyawan, serta adanya nilai Kasih, selalu memberikan kepedulian dan tanggap serta saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain dalam kegiatan sosialisasi.
Analisis Dampak Dalam pelaksanaan sosialisasi ini, diperlukan koordinasi dan kerja sama yang baik, jika penulis tidak menerapkan nilai-nilai ANEKA pada proses ini maka sosialisasi yang diharapkan tidak berjalan optimal dalam meningkatkan pengetahuan pengunjung dan rekan sejawat dalam
pelaksanaan
alur
pelayanan
dan
mengetahui
kasus
kegawatadarutan psikiatri dan apabila kegiatan tidak tersosialisasi akan mengakibatkan pelayanan prima yang ingin dicapai belum terlaksana.
85
Kegiatan 5
Evaluasi penyusunan draft SOP dan media KIE
Tanggal
11-15 Oktober 2021
Kegiatan Tahapan
a. Membuat Laporan Hasil Kuisoner Evaluasi Banner Edukasi
kegiatan
Gambar 4.24 Kuisioner yang sudah diisi
Laporan Evaluasi Media KIE Banner di IGD 15 10 5 0 1
2
3
4
Memiliki Tampilan Menarik Mudah Dipahami Mudah Dibaca Menambah wawasan Bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari
Gambar 4.25 Diagram hasil kuisioner evaluasi Berdasarkan data hasil kuisioner evaluasi yang diisi oleh 18 orang pengunjung dengan menilai dari 5 elemen penilaian yang terdapat dalam kuisioner. Pada elemen penilaian yang pertama yaitu media
86
edukasi memiliki tampilan yang menarik didapatkan hasil 11 orang (61%) memberikan nilai 4 dan 7 orang (38%) memberikan nilai 3. Pada elemen penilaian yang kedua yaitu media edukasi mudah dipahami didapatkan hasil 9 orang (50%) memberikan nilai 4 dan 9 orang (50%) memberikan nilai 3. Pada elemen penilaian ketiga yaitu media edukasi mudah dibaca didapatkan hasil 14 orang (77%) memberikan nilai 4, 3 orang (16%) memberikan nilai 3, dan 1 orang (5%) memberikan nilai 2. Pada elemen penilaian keempat yaitu media edukasi dapat menambah wawasan dan pengetahuan didapatkan hasil 15 orang (83%) memberikan nilai 4, 2 orang (11%) memberikan nilai 3, dan 1 orang (5%) memberikan nilai 2. Pada elemen penilaian yang kelima yaitu media edukasi dapat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari didapatkan hasil 14 orang (77%) memberikan nilai 4 dan 4 orang (22%) memberikan nilai 3. Dari hasil kuisioner tersebut didapatkan hasil 70% pengunjung sangat setuju adanya media edukasi ini bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi khayalak umum. b. Melaporkan hasil evaluasi kepada atasan terkait
Gambar 4.30 Melaporkan hasil evaluasi kepada atasan Dokumentasi diambil pada tanggal 11 Oktober 2021 pukul 13.00 WIB di ruang IGD. Pada kegiatan ini melakukan pelaporan
87
terhadap hasil kegiatan evaluasi media KIE banner di ruang IGD. Dari hasil kegiatan ini didapatkan testimoni oleh atasan yaitu kepala instalasi, kepala ruangan dan mentor terkait kegiatan yang telah dilaksanakan. c. Rapat koordinasi dengan direktur medik keperawatan dan tim terkait revisi draft SOP
Gambar 4.31 Rapat koordinasi membahas draft SOP alur pelayanan Dokumentasi diambil pada tanggal 15 Oktober 2021 pada pukul 14.00 WIB di ruangan bidang medik. Pada tahap kegiatan ini dilakukan rapat koordinasi dengan direktur pelayanan bidang medik
dan
keperawatan,
koordinator
bidang
medik
dan
keperawatan, subkoordinator bidang medik, kepala instalasi, dan subkoordinator bidang keperawatan. Dari kegiatan ini didapatkan beberapa perbaikan pada poin-poin draft SOP yang sudah dibuat terkait perbaikan symbol flow chart dan urutan prosedur yang dibuat. Hasil Kegiatan
1. Diagram hasil evaluasi 2. Testimoni dari kepala ruangan, mentor, dan kepala instalasi 3. Revisi final draft SOP
Lampiran
1. Lembar Testimoni
Kegiatan
88
89
2. Undangan Rapat
90
3. Notulensi rapat
4. Daftar Hadir peserta rapat
91
Aktualisasi nilai
Menerapkan edukasi kepada pasien/pengunjung merupakan salah
ANEKA
satu bentuk akuntabel saya sebagai seorang ASN yang melakukan layanan dengan tanggung jawab (Akuntabilitas). Dimana pada sila ke 2 (dua) Pancasila terkandung nilai peduli, diharapkan informasi dalam media
banner
dapat
meningkatkan
kepedulian
kepada
pengunjung/pasien dengan edukasi informasi sehingga terwujudnya nilai Nasionalisme. Memberikan edukasi melalui banner yang bermutu agar mudah dipahami dan menarik (Komitmen Mutu) serta melaksanakan kegiatan dengan penuh sopan, santun dan ramah sesuai dengan nilai Etika Publik. Kemudian dengan tersusunnya laporan hasil evaluasi kegiatan dapat mewujudkan nilai dari Anti Korupsi. Kontribusi
Sesuai
dengan
misi
terhadap visi
menyelenggarakan
misi organisasi
komprehensif berbasis mutu dan keselamatan pasien
Penguatan Nilai
Pelaksanaan evaluasi dengan semangat dan tanggung jawab yang
Upaya
RS
Ketergantungan
Preventif,
Promotif,
Obat
yaitu
Kuratif,
secara
sejalan dengan nilai organisasi rumah sakit yaitu Sigap, yakni selalu berusaha cepat, tepat, dan cekatan dalam melakukan pekerjaan maupun pelayanan sesuai dengan sistem dan prosedur yang berlaku. Nilai Ramah, selalu memberikan senyum, salam dan sapa setiap memberkan pelayanan maupun sesama karyawan. Nilai Kasih yang selalu memberikan kepedulian dan tanggap serta saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain. Analisis Dampak Dengan melakukan kegiatan evaluasi ini, maka akan diketahui sejauh mana dampak dan implementasi yang telah dilakukan. Hasil tersebut tentu akan menjadi masukan dan rencana tindak lanjut untuk perbaikan di masa yang akan dating. Dalam pelaksanaan kegiatan evaluasi ini, diperlukan penerapan nilai-nilai ANEKA agar evaluasi yang dilakukan dapat berjalan secara optimal sehingga hasil yang didapat diharapkan bisa menjadi gambaran untuk meningkatkan kualitas dalam pelayanan pasien.
92
B. PENCAPAIAN PENYELESAIAN ISU Kegiatan aktualisasi ini dilakukan sebagai bagian dari menyelesaikan isu yang diangkat penulis yaitu “Optimalisasi Pelayanan Gawat Darurat dengan Pembuatan Draft Prosedur dan Media KIE Di Ruang Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat Jakarta”. Adapun gagasan pemecahan isu yang dilakukan penulis terangkum dalam matriks rancangan aktualisasi. Kegiatan gagasan pemecahan isu tersebut meliputi melakukan koordinasi dengan kepala bidang medik, kepala instalasi, Kepala SMF Psikiatri, kepala tim PKRS, menyusun draft SOP, membuat media KIE berupa banner, sosialisasi dan evaluasi media KIE di ruang IGD. Belum semua kegiatan dalam aktualisasi ini dapat terselesaikan sesuai waktunya meskipun ada kegiatan yang mengalami perubahan jadwal, antara lain pada kegiatan penyusunan draft SOP terdapat perpanjangan waktu pelaksanaan kegiatan karena banyaknya proses revisi dan tahap pengajuan draft ke pimpinan yang cukup lama. Pada kegiatan membuat media edukasi berupa banner telah dicetak dan sosialisasi serta evaluasi manfaat media KIE banner telah terlaksana. Secara keseluruhan berdasarkan rekapitulasi hasil kuesioner dapat disimpulkan seberapa besar manfaat media edukasi dan apakah edukasi tersampaikan kepada para pengunjung yang membaca banner tersebut. Dapat dilihat melalui hasil evaluasi pengunjung setelah diberikan edukasi, para pengunjung mudah memahami edukasi yang telah diberikan. Hal ini memberikan dampak pada meningkatnya mutu pelayanan yang diberikan kepada pengunjung/pasien.
C. MANFAAT PELAKSAAN AKTUALISASI Manfaat yang didapatkan dengan terpecahkannya isu yang diangkat dalam aktualisasi ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Individu Peserta Penulis sebagai peserta Latsar mendapatkan manfaat yaitu dapat berkontribusi dalam membantu menyelesaikan isu yang berkembang di ruangan Instalasi Gawat Darurat. Selain itu penulis juga mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan nilai-nilai ASN ANEKA dan peran serta kedudukan ASN dalam kegiatan pemecahan isu tersebut sehingga diharapkan dapat membentuk penulis sebagai ASN yang berkarakter.
93
2. Pimpinan Langsung/ Unit Kerja Dengan terselesaikannya masalah optimalisasi dengan pembuatan prosedur dan media KIE bagi petugas dan pengunjung rumah sakit, pimpinan langsung mendapatkan manfaat yaitu membantu peningkatan pelayanan pasien di Instalasi Gawat Darurat. Selain itu, output yang dihasilkan dari kegiatan aktualisasi
adalah
media
KIE
berupa
banner
alur
pelayanan
dan
kegawatdaruratan psikiatri serta draft SOP alur pelayanan pasien yang masih dalam tahap penyelesaian. 3. Stakeholder Dengan terselesaikannya isu tersebut diharapkan petugas dalam memberikan pelayanan kepada pasien dapat dilakukan secara optimal. Dengan demikian diharapkan adanya prosedur dan edukasi pasien yang diberikan dapat meningkatkan pelayanan dan informasi kepada petugas dan pasien mengenai kegawatdaruratan psikiatri.
D. PERUBAHAN JADWAL KEGIATAN Adapun perubahan jadwal yang ada pada kegiatan aktualisasi adalah sebagai berikut: Tabel 4.3 Perubahan Jadwal Kegiatan
No.
Kegiatan
Rencana Jadwal
Realisasi Jadwal
Keterangan
1.
Persiapan penyusunan draft SOP
10-15 Septemb er 2021
10-15 Septemb er 2021
Kegiatan dilakukan sesuai rencana
2.
Menyusun draft SOP alur pelayanan IGD
16-20 Septemb er 2021
16-29 Septemb er 2021
Kegiatan dilakukan pada minggu ke-2 bulan September. Namun ada perpanjangan waktu pelaksanaan dari jadwal rancangan awal. Pada tahap menyusun terdapat beberapa kali revisi draft dan pengajuan draft SOP oleh direktur pelayanan
94
3.
Membuat media KIE berupa Banner alur pelayanan pasien dan kegawatdaruratan Psikiatri di ruang IGD
20-29 Septemb er 2021
22 september –1 Oktober 2021
4.
Melakukan sosialisasi dan implementasi media KIE kepada staf IGD
30 Septemb er-8 oktober 2021
4–8 oktober 2021
5.
Evaluasi penyusunan draft SOP dan media KIE di ruang IGD
11-15 Oktober 2021
11-15 Oktober 2021
medik dan keperawatan memakan waktu lebih lama karena terkait banyaknya jadwal kegiatan pimpinan di luar instansi. Kegiatan ini dilaksanakan pada minggu ke-3 bulan September. Kegiatan mulai pada tanggal 22 september 2021. Jadwal kegiatan terjadi perubahan dikarenakan kegiatan dilakukan bersamaan dengan pengajuan revisi draft SOP dan menunggu surat permintaan di terima oleh bidang medik dan terdapat revisi surat permintaan. Kegiatan ini dilaksanakan pada minggu ke-1 bulan oktober di tanggal 4 oktober. Terjadi perubahan jadwal karena menunggu proses pembuatan banner selesai di cetak dan sosialiasi menyesuaikan kesediaan waktu kegiatan staf IGD Kegiatan dilakukan sesuai rencana
E. RENCANA TINDAK LANJUT AKTUALISASI Berdasarkan hasil kegiatan aktualisasi yang telah dilakukan oleh penulis selama kurang
lebih
satu
bulan,
perlu
dilakukan 95
rencana
tindak
lanjut
untuk
mempertahankan dan meningkatkan kualitas mutu pelayanan. Berikut adalah rancangan tindak lanjut berdasarkan hasil aktualisasi: Tabel 4.4 Rencana Tindak Lanjut Hasil Aktualisasi No 1
Rencana Aksi/ Kegiatan yang akan Dilanjutkan Finalisasi SOP
2
Melakukan sosialisasi SOP alur pelayanan IGD
3
Melakukan implementasi pelaksanaan SOP
4
Melakukan evaluasi implementasi SOP
5
Membuat video edukasi kegawatdaruratan psikiatri dan sosialisasi video KIE melalui sosial media RS
Output
Waktu Para Pihak Pelaksanaan yang Terlibat SOP alur 1 bulan Direktur pelayanan IGD pelayanan telah disetujui medik, Direktur dan SDM, plt. ditandatangani Direktur Utama oleh plt. Direktur Seluruh staf IGD 1 bulan Seluruh staf antara lain Ka. IGD (Ka. Instalasi, Ka. Instalasi, Ka. Ruangan, Ruangan, para Perawat, perawat dan dokter jaga Dokter Jaga) mendapatkan pemahaman tentang SOP alur pelayanan Para perawat 3 bulan Perawat dan dan dokter jaga dokter jaga menjalankan tugas pelayanan sesuai dengan SOP yang berlaku Evaluasi 3 bulan Seluruh staf penerapan SOP IGD rutin dilakukan oleh staf IGD Video edukasi 3 bulan Tim Hukormas ter-upload ke dan PKRS media sosial RS (Instagram)
96
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan Kegiatan aktualisasi dilaksanakan pada tanggal 13 September 2021 sampai dengan tanggal 15 Oktober 2021 di Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat Jakarta. Berdasarkan hasil kegiatan aktualisasi dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pada perumusan kegiatan aktualisasi telah teridentifikasi core issue berdasarkan data dan fakta yang aktual yakni belum optimalnya belum optimalnya alur pelayanan pasien di ruang IGD RS Ketergantungan Obat Jakarta. Berdasarkan dari data dan fakta yang ada diperoleh beberapa prioritas masalah yang mendasarinya yaitu belum tersedianya SOP alur pelayanan pasien yang menyesuaikan dengan masa pandemi, kurangnya pehamanan oleh nakes tentang pentingnya SOP dan kurangnya edukasi tentang kegawatdaruratan oleh nakes, belum tersedianya media informasi KIE tentang alur pelayanan dan kegawatdaruratan psikiatri di IGD. 2. Tersusunnya rancangan aktualisasi yaitu melakukan koordinasi dengan Kepala Instalasi dan Koordinator substansi bidang medik dan keperawatan mengenai pembuatan SOP alur pelayanan IGD pada masa pandemi, penyampaian gagasan untuk membuat media KIE berupa banner alur pelayanan dan kegawatdaruratan psikiatri di ruang IGD, dan penerapan SOP alur pelayanan pasien. Rancangan kegiatan tersebut disusun dan telah diseminarkan pada seminar rancangan aktualisasi pada tanggal 8 September 2021. 3. Kegiatan aktualisasi yang telah dilaksanakan di Instalasi Gawat Darurat RS Ketergantungan Obat Jakarta merupakan bentuk kegiatan yang bersifat inovatif seperti pembuatan SOP dan media KIE banner Alur pelayanan serta kegawatdaruratan psikiatri sebagai acuan dalam pelayanan pasien di IGD.
B. Saran Berdasarkan proses pembelajaran pada Pelatihan Dasar CPNS Kemenkes Golongan III Angkatan 4 di Bapelkes Cikarang hingga selesainya laporan kegiatan aktualisasi ini, terdapat beberapa saran diantaranya :
97
1. Bagi Rekan di RS Ketergantungan Obat Jakarta Dengan adanya SOP alur pelayanan IGD selama masa pandemi dan media KIE alur pelayanan serta kegawatdaruratan psikiatri diharapkan dapat terus digunakan sebagai pedoman dan acuan para staf IGD dalam memberikan pelayanan yang optimal sehingga akan meningkatkan mutu pelayanan pasien. Diharapkan pula petugas nakes selalu melakukan update pengetahuan untuk edukasi mengenai kegawatdaruratan psikiatri. 2. Bagi Instansi RS Ketergantungan Obat Jakarta Semua ASN di lingkungan RS Ketergantungan Obat Jakarta dapat bekerja dengan menerapkan nilai-nilai dasar ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi) sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Sehingga dapat melahirkan ASN yang memiliki integritas tinggi , inovatif, jujur, disiplin dan penuh tanggung jawab. 3. Bagi Penyelenggara Pelatihan Dasar CPNS Perlu adanya format baku dalam pembuatan laporan kegiatan aktualisasi sehingga peserta dapat memiliki acuan dan mengerti serta memahami konsep evaluasi yang diharapkan oleh penyelenggara.
98
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jendral Pelayanan Kesehatan dan Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan. 2021. Pedoman Pelayanan Rumah Sakit pada Masa Pandemi Covid-19. Edisi revisi 1.Petunjuk Teknis Pelayanan Rumah Sakit pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta:Badan Penerbit FKUI, pp. 341-351 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Nomor 442 Tahun 2010 tentang Pedoman Penatalaksanaan Medik Gangguan Pengguna Napza. Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Analisis Isu Kontemporer. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Akuntabilitas. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2019. Nasionalisme. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Etika Publik. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Komitmen Mutu. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Anti Korupsi. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2015. Manajemen Aparatur Sipil Negara. Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia .
99
Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2017. Whole of Government. . Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia . Lembaga Administrasi Negara (LAN). 2017. Pelayanan Publik. . Modul Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Latsar Golongan II dan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia .
100