Skip to main content

Oasis Fajar Edisi : Januari - Februari 2026

Page 1

Januari - Februari 2026

OASIS FAJAR Renungan Kristen untuk pribadi, keluarga dan kelompok


OASIS FAJAR Renungan untuk pribadi, keluarga dan kelompok Pendiri: William Booth Jenderal: Lyndon Buckingham Pemimpin: Kolonel Hosea Makagiantang Penulis: Mayor James Blake Mayor Yakobus Ngaidi Kapten J. Setya Catur P. Letnan Royani Takuo Mayor Anton Marajani Kapten Roy Bali Kapten Pilemon Toding Letnan Alfianus Takuo Mayor Yek Blake Mayor Yance Ngaidi Mayor Ester Lepa Kapten Elfina Toding Letnan Kolonel Anastasia Poa Mayor John Wesly Riko Mayor Agus Margono Mayor Tri Nova Margono Mayor Sijamae Santu Mayor Emson Santu Mayor Esliana Marajani Letnan Serlin T. Kapten Arnold Mpotane Mayor Retna Ningsih Bali Mayor Meida Indrawa Topo Mayor Sugeng Purnomo Mayor Marta Hakumisi Kapten Eflin Palugu Mayor Riama Sitorus Mayor Ester Gustarini Editor: Letnan Kolonel Marisa Mangela Dewan Redaksi Letnan Kolonel Alberth Sarimin Letnan Kolonel Ezra Mangela Letnan Kolonel Marisa Mangela Letnan Kolonel Sri Widaja Goni Letnan Kolonel Erik Kape Letnan Kolonel Yakub Sipi Mayor Yudawan Lesbasa Mayor Ary Setyo Wibowo Mayor Stefanus Tulumang Kapten Yusran Todjulo Penerbit: Jl. Jawa 20, Bandung 40117 Telp. (022) 4207029 Bala Keselamatan Online: WWW.Salva onarmy.or.id

Salam Dari Editor Selamat Tahun Baru 1 Januari 2026 Terpujilah Allah yang telah menuntun kita melewa tahun yang lalu dan membawa kita memasuki tahun yang baru, dengan harapan yang indah. Kembali kami mengajak Anda untuk memulai hari dengan firman Tuhan yang menyejukkan, menguatkan, dan menuntun langkah kita melalui Renungan Oasis Fajar. Semoga se ap halaman menjadi sumber inspirasi, penghiburan, dan dorongan untuk hidup semakin sesuai kehendak-Nya. Ada kesempatan untuk memulai langkah baru bersama dengan Tuhan, dengan belajar peka terhadap peringatan-Nya, agar dak terjebak di jalan yang salah. Biarkan Roh Allah memimpin hidup kita, karena di balik se ap ketaatan ada keselamatan yang Tuhan sediakan. Meski terkadang kita harus menghadapi berbagai tantangan dan penderitaan, namun ingatlah bahwa bersama Tuhan ada sukacita, dan janji- Nya selalu terbuk . Kita harus berani melangkah dalam iman, meninggalkan “Sodom” simbol dari dosa dan keterikatan pada dunia dan jangan takut, sebab Tuhan sendiri yang akan menuntun kita hingga mencapai tujuan. Kasih se a Tuhan dak pernah berubah. Percayalah pada kese aan-Nya dan pegang teguh janji-Nya. Di se ap langkah, bertumbuhlah di dalam Tuhan, temukan ketenteraman dalam lindungan-Nya, dan biarkan ucapan syukur memenuhi ha dan mulut kita. Bersyukur dapat membawa kelegaan, karena ha yang bersyukur memampukan kita melihat kemurahan-Nya yang tak terbatas. Bersama Dia, kita bertumbuh dalam kasih dan kebenaran, mengalami restorasi iman ke ka ha kita mulai goyah. Sebagai umat Allah yang kudus, kita dipanggil untuk mencerminkan karakter-Nya melalui bahasa kasih yang menghidupkan. Kekuatan yang memampukan untuk tetap berdiri teguh, meski kita berbeda, namun kasih Kristus mempersatukan kita. Inilah kehidupan yang berakar dalam Kristus yakni kuat, penuh kasih, dan bersatu untuk kemuliaan-Nya. Selamat menikma renungan dan selamat bertumbuh dalam kasih karunia-Nya! Let. Kolonel Marisa Mangela - Editor


Januari - Februari 2026

OASIS FAJAR Renungan Kristen untuk pribadi, keluarga dan kelompok

©

Bala Keselamatan Publikasi pertama 1996


KITA AKAN MAJU SEBAB KITA AKAN MENANG

P

eristiwa bencana alam yang terjadi di Sumatra dan Aceh merupakan suatu peristiwa yang sangat menggemparkan, sekaligus membuat tangisan dan kehilangan yang menyisakan penderitaan. Siapa yang pernah menduga jika alam sudah berbicara, maka manusia sekuat apa pun tak dapat menghentikannya. Banyaknya rumah, tempat orang mencari rejeki, pemandangan indah alam panorama yang menyejukkan buatan tangan Sang Pencipta hancur berantakan diterpa badai dahsyat yang bergelora dalam hitungan detik. Waktu berbicara begitu cepat, tak seorang pun yang membayangkan betapa keindahan itu cepat sirna, tak ada yang bersisa karena yang tersisa adalah tangis, jerit pedih, dan kehancuran yang melanda. Tak heran jika seorang pencipta lagu berkata ”Ini salah siapa? Aku, kamu, kita, Dia atau siapa? Jawabnya hanya ada pada rumput yang bergoyang.” Kilas baliknya adalah betapa Allah yang menciptakan segala sesuatu yang pada mulanya semuanya amat baik, bahkan penciptaan manusia dikatakan dengan tambahan kata “sungguh amat baik”. Dan ternyata akibat ketidaktaatan semua yang indah menjadi hilang dalam sekejap akibat dosa manusia. Peristiwa Taman Eden yang memesona dalam waktunya menjadi sebuah tempat kesusahan, penderitaan, susah payah bahkan mulainya kematian bagi umat manusia. Damai sejahtera yang diberikan Allah bagi umat manusia menjadi sirna. Ternyata peristiwa ketenangan yang berubah itu juga melanda saudarasaudara kita yang ada di ujung Barat Indonesia dan lainnya. Orang-orang yang menangisi istri, suami, anak, orang tua, kerabat, sahabat yang terkasih menjadi satu kengerian bagi kita yang dihantar pada tahun baru ini. Belum lagi rumah hancur, harta musnah, mayat-mayat yang dicari yang berteriak “kuburkan kami”, tapi apa daya manusia hidup hanya dapat berupaya mencari di antara reruntuhan, sungai, atau lainnya. Teriak orang hidup yang histeris karena kepedihan sambil bertanya, “Bagaimana kami akan hidup? Bukankah kami harus hidup dan menjadi saksi ganasnya akan geram-Mu? Kami harus makan, dirawat, berteduh di tempat yang nyaman, lantas siapa yang menolong?” Jangan bertanya kenapa harus terjadi, sebab Yesaya 8:6-10 mengingatkan umat percaya bahwa Ia tidak akan menghakimi sekilas pandang atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Oleh karena itu saudaraku, bukankah ini satu kenyataan pahit harus kita teguk bersama-sama? Seperti kitab Bilangan 13:30b katakan: ”Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” Saudaraku, bukankah hidup ini bagaikan pemandangan indah yang terlihat jikalau kita menyadari bahwa ada kasih yang tidak pernah berhenti dari Allah yang adalah Kasih. Ia sanggup membawa kita pada kemenangan dalam menghadapi keadaan sulit ini, asalkan kita menyerahkan hidup kita agar dikuasai oleh Roh Kudus sehingga kita dapat bertahan. Kasih Allah akan terus menyertai kita. Keterangan Gambar Cover Depan


Kamis, 1 Januari 2026

Peka Terhadap Peringatan Tuhan Kejadian 4:6-10 ”Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” (ayat 7)

P

erjalanan hidup baru saja dimulai, lembaran baru akan ditulis. Bagaimana perjalanan kita di hari mendatang? Bagaimana kita akan menjalaninya? Peristiwa-peristiwa apa saja akan terjadi dalam perjalanan hidup ini, kita tidak dapat menjawabnya sebab itu masih rahasia. Terkadang Tuhan memberi peringatan untuk berhati-hati atau waspada supaya kita berjalan dalam kehendak-Nya. Banyak cara Tuhan dalam memperingatkan kita. Bisa melalui sakit penyakit, bencana alam, mimpi, masalah, dan penderitaan. Orang yang mencintai Firman Tuhan pasti akan memahami mana kehendak Tuhan dan mana yang bukan kehendak-Nya. Pembacaan Firman Tuhan hari ini diawali dengan kisah Kain dan Habel. Sekian lama mereka berusaha dan berjerih lelah. Kain sebagai petani dan Habel sebagai gembala. Masing-masing pekerjaan mereka diberkati Tuhan. Ini merupakan awal yang baru untuk mempersembahkan sebagian dari hasil pekerjaan mereka kepada Tuhan. Tuhan mengindahkan persembahan Habel, sementara Kain tidak. Allah tidak melihat banyak atau sedikitnya persembahan yang diberikan, melainkan hati si pemberi. Hati Kain menjadi panas dan muram mukanya, saat itulah Tuhan Allah memperingatkannya. Tetapi Kain gagal menyikapi kehendak Tuhan. Dia tidak peka akan peringatan Tuhan. Ia mengikuti kehendak hatinya dan akhirnya ia gagal dalam penguasaan diri serta melakukan dosa besar dengan membunuh Habel, adiknya. Seharusnya, Kain sebagai seorang kakak mengasihi dan menjadi pelindung bagi adiknya. Akhirnya Tuhan menghukumnya dengan mengusahakan tanah yang tidak lagi memberikan hasil sepenuhnya, bahkan akhirnya menjadi pelarian dan pengembara di bumi (ayat 12). Mungkin dalam menjalani tahun yang lalu, kita tidak peka terhadap suara Tuhan sehingga banyak mengalami kesulitan, kesusahan, masalah, dan tersesat. Berbaliklah kepada jalan Tuhan. Dia masih memberikan kesempatan. Penegasan: Setiap orang percaya yang mencintai Firman akan peka terhadap peringatan Tuhan dan suka mendengar nasihat Tuhan. Doa: Bapa di sorga, berikan kemampuan kepada kami untuk peka terhadap suara-Mu, sehingga dapat menguasai hati dan tidak berjalan dalam kehendak sendiri. Kami meyakini bahwa Tuhan akan menolong dalam perjalanan kehidupan di tahun yang baru ini. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Jumat, 2 Januari 2026

Hidup Dipimpin Oleh Roh Allah Kejadian 6:1-4 Berfirmanlah Tuhan: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.” (ayat 3)

S

etiap hari kita diperhadapkan pada pilihan-pilihan, mulai dari pilihan yang sederhana seperti apa yang dipakai atau dimakan, bahkan sampai dengan tentang masa depan kita. Di setiap pilihan yang akan diambil sering ada suara yang mendorong untuk memilih sesuatu yang benar, tetapi ada juga suara yang menarik kita untuk memilih yang hanya sekadar memuaskan diri. Di ayat yang kedua dari pembacaan hari ini sangat jelas dikatakan bahwa mereka mengambil apa mereka lihat dan sukai tanpa bertanya kepada Tuhan apakah ini kehendak-Nya. Tanpa pertimbangan Firman Tuhan, yang penting apa yang dilihat, dan dinginkan, itu yang diambilnya. Hal tersebut menjadi keinginan yang tidak terkendali, bukan dipimpin oleh Roh. Jika hidup hanya didasarkan pada apa yang dilihat dan disukai oleh mata jasmaniah, maka kita sedang dipimpin oleh kehendak sendiri. Pada ayat yang ketiga ini menunjukkan hati Tuhan, Roh Allah sedang berusaha memimpin, membimbing dan menyadarkan setiap manusia dari jalan yang salah. Tetapi karena manusia adalah daging, sering kali memilih hal kedagingan dari pada pimpinan Roh Allah. Ketika Roh Allah diabaikan, maka keinginan daging dan dosa akan memimpin sepenuhnya. Dalam Kejadian 6 ini merupakan peringatan penting bagi kita. Bukan karena tidak tahu, tetapi lebih memilih untuk tidak mendengarkan Allah. Lebih memilih yang “cantik” di mata dari pada yang benar menurut Tuhan. Dama Roma 8:6 berkata “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Penegasan: Mulailah hari ini kita berkata bukan kehendakku melainkan kehendak-Mu yang jadi. Pilihan ada ditangan kita, apakah kita hidup dipimpin oleh Roh atau apa yang kita lihat dan inginkan? Doa: Tuhan Yesus, hari ini kami memilih untuk hidup dipimpin oleh RohMu yang membawa hidup penuh damai Sejahtera. Sebab itu berilah kemampuan bagi kami untuk terus taat dalam kebenaran. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Sabtu, 3 Januari 2026

Di Balik Ketaatan Ada Keselamatan Kejadian 7:1-5 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini”. (ayat 1)

A

da sebuah syair lagu lama yang mengatakan; “Di dalam dunia ada dua jalan, lebar dan sempit mana kau pilih, yang lebar api jiwamu mati, tapi yang sempit Tuhan berkati”. Lagu ini menjadi pengingat bagi kita dalam menjalani tahun baru 2026 yang banyak pilihan dan tantangan. Kita bisa memilih yang baik atau yang jahat. Di zaman Nuh, manusia hidup dalam kejahatan yang besar. Hati dan pikiran mereka cenderung untuk berbuat jahat. Namun di tengah generasi yang rusak itu, Nuh berdiri sebagai seorang yang hidup benar dan taat kepada Tuhan. Sebab Ketaatan merupakan kunci, bagaimana seseorang dapat diselamatkan. Mengapa ketaatan memegang peran penting ? Pertama; ketaatan adalah bukti iman yang hidup. Iman tanpa ketaatan adalah mati. Nuh percaya kepada janji dan peringatan Tuhan, sehingga ia bertindak dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan dengan beriman sekalipun bagi manusia merupakan kemustahilan. Kedua; Ketaatan membuka jalan bagi keselamatan. Tuhan menyediakan bahtera yang merupakan lambang kasih karunia Allah, tetapi hanya mereka yang masuk di dalamnya yang selamat. Sampai hari ini kasih karunia Tuhan itu diberikan kepada semua orang. Siapa yang menanggapinya akan selamat, tetapi siapa yang menolaknya akan binasa. Ketiga; Ketaatan berdampak pada keluarga. Karena ketaatan Nuh bukan hanya dia sendiri yang selamat, tetapi juga seluruh keluarganya. Ketaatan seorang ayah, seorang ibu, seorang pemimpin dapat menjadi sarana keselamatan bagi banyak orang. Dunia sekarang mungkin tidak lebih baik dari zaman Nuh. Banyak yang tidak setia, kejahatan semakin merajalela, kasih menjadi dingin, sikap egois tumbuh subur. Namun Tuhan masih mencari orang-orang yang setia dan mau taat kepadaNya. Penegasan: Tetaplah teguh dalam iman serta melakukan kehendak Tuhan karena di balik ketaatan ada keselamatan. Doa: Bapa, ajar kami untuk tetap taat kepada-Mu. Kami percaya bahwa di balik setiap ketaatan, Engkau menyediakan berkat dan keselamatan bagi kami orang yang percaya pada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Minggu, 4 Januari 2026

Janji Tuhan Selalu Terbukti Kejadian 13:14-18 “Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu” (ayat 17)

T

ahun 2025 sudah kita lewati dengan banyak kisah dan cerita. Susah dan senang, tawa dan tangis. Itulah gambaran hidup manusia. Ada kalanya apa yang kita alami tidak sesuai dengan keinginan kita. Namun, melalui kisah Abram dalam Kejadian 13 ini, kita belajar bahwa janji Tuhan tidak pernah gagal dan selalu terbukti pada waktu-Nya. Abram baru saja berpisah dengan keponakannya, Lot. Tetapi justru setelah perpisahan itu, Tuhan meneguhkan kembali janji-Nya kepada Abram. Janji Tuhan itu tidak bergantung pada waktu atau keadaan, melainkan pada kesetiaan-Nya sendiri. Mengapa demikian? Pertama; Janji Tuhan dinyatakan kepada orang yang hidup dalam iman dan ketaatan Abram tidak menuntut haknya atau iri pada Lot. Ia tetap percaya bahwa apa pun yang Tuhan berikan adalah yang terbaik. Janji Tuhan tidak dinyatakan kepada orang yang hidup dengan mata jasmani, tetapi kepada mereka yang berjalan dengan mata iman. Kedua; Janji Tuhan melampaui batas manusia Janji ini terdengar mustahil, karena pada saat itu Abram belum memiliki seorang anak. Namun Tuhan berbicara melampaui kenyataan. Tuhan tidak dibatasi oleh usia, keadaan ekonomi, atau kelemahan manusia. Apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Tuhan. Ketika Tuhan berjanji, Ia juga sanggup menggenapinya. Percayalah bahwa apa yang Tuhan mulai, Dia pasti selesaikan. Ketiga; Janji Tuhan menuntut respons iman Abram tidak hanya mendengar janji Tuhan, ia bertindak dalam iman. Ia berjalan keliling tanah yang dijanjikan dan mendirikan mezbah sebagai tanda penyembahan. Janji Tuhan perlu direspons dengan ketaatan dan penyembahan. Iman sejati bukan hanya percaya dalam hati, tetapi juga bertindak sesuai firmanNya. Penegasan: Dunia bisa berubah dan situasi bisa berbalik, tetapi Tuhan tetap setia dan tidak pernah lupa pada janji-Nya. Doa: Tuhan, berikan kami iman yang teguh. Percaya dengan sungguh bahwa setiap janji-Mu tidak akan pernah gagal dan selalu terbukti, sebab janji-Mu adalah ya dan amin. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Senin, 5 Januari 2026

Waktunya Keluar Dari Sodom Kejadian 19:12-16 Sebab kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah Tuhan mengutus kami untuk memusnahkannya. (ayat 13)

S

etiap manusia pernah berada dalam situasi kenyamanan dosa. Lingkungan, kebiasaan, bahkan gaya hidup tertentu dapat membuat kita menikmatinya, tanpa menyadari kita sedang menjauh dari Tuhan, seperti Lot dan keluarga. Ada kalanya Tuhan mengingatkan kita dengan serius. Tuhan bukan saja ingin memberkati kita, tetapi juga menyelamatkan dari kebinasaan yang akan datang. Karena itu orang percaya harus segera meninggalkan “Sodom” masa kini. Sodom bukan hanya kota yang berdosa secara moral. Sodom juga menggambarkan sistem dunia yang menolak Allah. Sodom masa kini muncul dalam banyak bentuk misalnya: pergaulan yang menormalisasi dosa; media dan tontonan yang membuat dosa tampak biasa; gaya hidup materialistis yang mengejar harta lebih daripada Tuhan; kompromi iman demi diterima lingkungan; dan hati mulai kebal terhadap suara Tuhan. Sodom tidak selalu berupa tempat fisik, kadang ada di dalam hati manusia misalnya: saat dosa sudah dianggap biasa; saat peringatan Tuhan dianggap angin lalu dan saat kita lebih nyaman tinggal dalam dosa dari pada bertobat. Seperti Lot, banyak orang percaya yang terlanjur betah tinggal di lingkungan yang menjauh dari kekudusan, padahal Tuhan katakan: “Keluarlah, karena Aku akan menghukum kota ini.” (Kejadian 19:13) Sebagai orang percaya, kita hidup di tengah “Sodom masa kini” yang menawarkan kesenangan, kenyamanan, dan kompromi iman. Tetapi firman Tuhan hari ini, mengingatkan bahwa tidak ada keselamatan bagi mereka yang memilih menetap dalam dosa. Maka, keluar dari Sodom berarti: berani berkata “tidak” terhadap kebiasaan yang menjerat hati dan menjauhkan kita dari Tuhan. Menjaga kekudusan hidup, sekalipun dunia menertawakan iman kita. Membuka hati pada suara Roh Kudus, sebelum hati menjadi keras oleh dosa. Penegasan: Tuhan tidak memanggil kita untuk tetap tinggal di tengah kebinasaan, tetapi untuk hidup berbeda dan menjadi terang di tengah kegelapan dunia ini. Doa: Tuhan, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Tolong kami agar berani meninggalkan setiap dosa dan kenyamanan yang menjauhkan kami dari-Mu. Bentuklah kami menjadi pribadi yang taat dan hidup dalam kekudusan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Selasa, 6 Januari 2026

Tuhan Menuntun Sampai Tujuan Kejadian 24:22–27 Serta berkata: “Terpujilah Tuhan, Allah tuanku Abraham, yang tidak menarik kembali kasih-Nya dan setia-Nya dari tuanku itu; dan Tuhan telah menuntun aku di jalan ke rumah saudara-saudara tuanku itu!” (ayat 27)

S

etiap manusia pasti memiliki tujuan dalam hidup, entah dalam pekerjaan, pelayanan, pendidikan, atau keluarga. Namun sering kali, kita tidak tahu arah yang harus diambil. Dalam kebingungan itu, kita diingatkan bahwa Tuhan adalah Pribadi yang tidak hanya memberikan tujuan, tetapi juga menuntun langkah-langkah kita sampai tujuan itu tercapai. Tuhan menuntun setiap langkah orang yang mau hidup dalam ketaatan dan berserah kepada-Nya. Kisah dalam Kejadian 24 ini menggambarkan bagaimana seorang hamba Abraham menemukan istri bagi Ishak, bukan karena kebetulan, tetapi karena bimbingan Tuhan yang nyata. Dari kisah ini, kita belajar dua hal penting tentang tuntunan Tuhan bagi kita. Pertama: tuntunan Tuhan dimulai dari hati yang berserah (ayat 12–14). Sebelum hamba Abraham memulai tugasnya, ia tidak mengandalkan logika atau pengalaman, tetapi berdoa dan meminta pimpinan Tuhan. Tuntunan Tuhan selalu dimulai dari hati yang mengakui bahwa tanpa Dia, kita tidak bisa melangkah dengan benar. Misalnya seperti seseorang yang menggunakan GPS sebagai penunjuk jalan supaya tidak terserat, maka kita harus terlebih dahulu “menyalakan” komunikasi dengan Tuhan agar arah hidup kita jelas. Tanpa doa, kita bisa tersesat dalam keputusankeputusan sendiri. Kedua: Tuntunan Tuhan nyata dalam langkah yang taat (ayat 26–27). Setelah melihat bagaimana Tuhan menjawab doanya melalui pertemuan dengan Ribka, hamba itu tidak memuji dirinya sendiri, tetapi memuliakan Tuhan. Ia sadar, setiap langkah kecil yang ia ambil telah diarahkan oleh tangan Tuhan. Tuhan bukan hanya menuntun dari jauh, tetapi berjalan bersama dan memastikan kita tiba di tempat yang Ia kehendaki. Hidup ini adalah perjalanan panjang yang penuh persimpangan. Namun kabar baiknya, kita tidak berjalan sendirian. Sama seperti Tuhan menuntun hamba-Nya Abraham sampai ke rumah Ribka, demikian juga Ia menuntun kita sampai pada tujuan yang Ia rancangkan. Penegasan: Mari belajar berserah dan taat, sebab Tuhan yang memulai perjalanan iman kita akan setia menuntun sampai tujuan. Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau selalu menuntun langkah kami. Ajar kami untuk tetap taat dan percaya pada rencana-Mu, hingga kami tiba pada tujuan yang Engkau kehendaki. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Rabu, 7 Januari 2026

Menepati Janji Kejadian 31:43-45 "Maka sekarang, marilah kita mengikat perjanjian, aku dan engkau, supaya itu menjadi kesaksian antara aku dan engkau.” (ayat 44)

M

enepati janji adalah memenuhi apa yang telah dijanjikan antara dua orang atau lebih untuk disepakati bersama. Ada ungkapan mengatakan “janji adalah utang“. Ketika berusia empat belas tahun, saya berjanji kepada Tuhan untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Tahun berganti tahun akhirnya saya menikah. Setelah menikah dikaruniai tiga orang putri tetapi Tuhan mengambil mereka kembali. Kesedihan, tangis, kekecewaan, kepedihan, pertanyaan, perasaan bersalah meliputi saya sebagai seorang ibu. Tetapi apakah saya terus menyalakan Tuhan? Tentu tidak! Sebab di balik dukacita itu ada sukacita karena melalui dukacita itu membuat iman semakin diteguhkan untuk menepati janji menjadi seorang hamba Tuhan. ”Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Apa dampak jika kita menepati janji? Pertama; akan dipercaya bahkan dikasihi orang-orang di sekitar kita. Kedua; Kita akan menjadi berkat bagi sesama, karena telah menunjukkan tanggung jawab dengan benar. Jika membuat satu janji kepada siapa pun kita harus menepatinya. Janji yang diucapkan bukan hanya dipertanggungjawabkan kepada manusia tetapi dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Ketiga; Keluarga kita akan diberkati oleh Tuhan Yesus. Meskipun manusia sering kali tidak sabar bahkan menyalahkan Tuhan tetapi "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9) Lalu berbicaralah Musa kepada para kepala suku-suku mengenai orang Israel, katanya: "Inilah yang diperintahkan Tuhan: Jika seseorang bernazar kepada Tuhan atau bersumpah untuk mengikat jiwanya dengan suatu ikatan, maka ia tidak akan mengingkari janjinya, melainkan ia berbuat tepat seperti yang diucapkannya.” Bilangan 30: 1-2 Sebab Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya kepada setiap orang yang percaya. Penegasan: Setiap orang yang menepati janjinya di hadapan sesama, terlebih kepada Tuhan ia akan merasa tenang dan bersukacita di dalam hidupnya. Doa: Tuhan Yesus, ajar kami untuk selalu mengingat serta memenuhi setiap janji baik janji kepada sesama terlebih kepada-Mu, sehingga kami memperoleh ketenangan dan kedamaian dalam hidup. Dalam nama Tuhan Yesus, amin!


Kamis, 8 Januari 2026

Sukacita di Tengah Penderitaan Kejadian 41:50-55 Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku”. (ayat 52)

M

enurut KBBI, sukacita adalah suka hati, girang hati dan kegirangan. Sedangkan Penderitaan adalah kondisi emosional, fisik, atau mental yang ditandai dengan rasa tidak nyaman, sakit, sedih, atau kesusahan. Dalam Kejadian 41:52 mengajarkan kita untuk tetap taat dan percaya kepada Tuhan, dalam hal apa pun. Belajar dari Yusuf yang terus bersukacita walaupun mengalami penderitaan. Yusuf Ketika mengalami masa-masa kesengsaraan di Mesir, ia tidak merasa khawatir. Ia percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. Sebelum mengalami kesengsaraan, Allah memberikan penglihatan kepadanya bahwa di Mesir akan terjadi kelaparan selama tujuh tahun dan tujuh tahun juga masa kelimpahan, ia mengumpulkan segala bahan makanan, menyimpan dan menimbun di setiap kota. Banyak bahan makanan seperti pasir di laut, sehingga tidak seorang pun yang bisa menghitungnya. Di saat kelaparan melanda Mesir, ia tetap bersukacita karena Allah menganugerahkan dua orang anak di tengah kesengsaraannya yang diberi nama Manasye artinya: ”Allah telah membuat aku lupa sama sekali pada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.” (51b) dan Efraim artinya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.” (52b) Apa yang harus kita lakukan supaya memperoleh sukacita di tengah penderitaan? Pertama; “Jangan pernah khawatir akan hidupmu sebab kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Kedua; Tetap bersyukur. Bersyukurlah dalam segala hal sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (1 Tesalonika 5:18). Ketiga: Tetaplah taat dan percaya kepada Tuhan. Sebab hati yang gembira adalah obat yang manjur tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22). Penegasan: Penderitaan yang kita alami adalah penderitaan biasa, yang tidak melampaui kekuatan manusia, sebab Allah di pihak kita. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah” (Filipi 4:4) Doa: Tuhan Yesus ajar kami untuk memiliki hati yang terus bersukacita walaupun mengalami penderitaan. Terkadang kami tidak sanggup untuk menghadapinya, tetapi tolong kami percaya sungguh bahwa Roh Kudus-Mu sanggup memberi kemampuan dan menghiburkan. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami alaskan doa ini, amin.


Jumat, 9 Januari 2026

Percaya pada kesetiaan Allah Mazmur 52:8-11 "Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya." (ayat 10)

D

alam perjalanan hidup, sering kali kita dihadapkan pada berbagai tantangan dan pergumulan yang dapat saja membuat langkah kita menjadi berat untuk melangkah. Setiap hari ada saja hal yang menguji iman dan kesetiaan kita kepada Tuhan, yang membuat kita menjadi lemah. Namun, di tengah semua itu, Firman Tuhan memberikan pengharapan bahwa orang percaya kepada-Nya akan tetap kuat dan diberkati, seperti pohon zaitun yang menghijau di rumah Allah. Orang yang percaya dan berakar dalam Tuhan akan tetap bertahan dan berbuah, meskipun menghadapi berbagai kesulitan, karena kekuatan dan berkat sejati berasal dari Tuhan, bukan dari keadaan. Mengapa demikian? Karena Dunia sering mengukur dari kondisi yang terlihat sehat-sehat, semua berjalan baik-baik saja, ada harta, dan hidup nyaman-nyaman saja. Namun, Firman Tuhan mengajarkan bahwa akar iman yang sudah tertanam baik dalam kasih dan kebenaran Allah saja yang dapat membuat kita tetap hidup, bahkan di tengah badai. Seperti pohon yang akarnya menembus tanah untuk mencari air, demikian juga iman kita harus sesuai dengan Firman dan terus berdoa serta bersekutu untuk memperoleh kekuatan rohani. Melalui ayat penekanan Mazmur 52 ayat 10 menyatakan ”aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau”, menggambarkan keberadaan diri orang percaya, yang tetap hidup dalam kasih, damai, dan kemenangan iman karena berakar dalam Tuhan. Pohon zaitun melambangkan ketahanan, berkat, dan harapan. Orang percaya yang teguh dalam iman akan selalu tumbuh dan berbuah meski dalam keadaan sulit. Marilah terus berakar dalam kasih Tuhan, menjalani hidup yang penuh sukacita dan pengharapan, serta menjadi berkat bagi orang lain. Penegasan: Dengan iman dan kesetiaan kita mampu tetap “menghijau” dan memberikan manfaat. Jangan biarkan keadaan dunia mengubah hati dari kekuatan kasih Tuhan yang menyertai. Doa: Tuhan Allah yang penuh kasih, ajar kami menjadi seperti pohon zaitun yang menghijau. Tumbuhkan iman, kasih, dan pengharapan dalam hati agar kami dapat menjadi berkat bagi sesama. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Sabtu, 10 Januari 2026

Memegang Teguh Janji Allah Mazmur 89: 14-19 “Sebab perisai kita kepunyaan TUHAN, dan raja kita kepunyaan Yang Kudus Israel.“ (ayat 19)

G

ereja Bala Keselamatan di Indonesia bersyukur karena hari ini kita memperingati HUT Persekutuan Kaum pria yang ke-45 tahun sebagai momen berharga untuk memperkuat iman dan komitmen kita terhadap janji Allah. Perayaan ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi sebuah kesempatan yang indah untuk meneguhkan kembali keyakinan bahwa kita ada dalam perlindungan Tuhan. Mazmur 89:19, kita diingatkan bahwa perisai dan kekuasaan kita sepenuhnya berada di tangan Allah, Raja yang Maha kudus. Pengakuan bahwa Allah Perisai dan Raja kita, mengartikan dan menegaskan bahwa keberanian dan kekuatan sejati tidak bersumber dari diri kita sendiri, melainkan dari Allah yang memegang kendali atas segala sesuatu. Dialah pemilik hidup di tengah tantangan zaman yang tidak mudah ini, sebab itu bersandar kepada-Nya, mengandalkan dan memegang teguh janji Allah adalah pilihan yang tepat bagi kita. Kesadaran akan dominasi Allah dalam segala hal, mengajarkan kita untuk berserah sepenuhnya kepada-Nya. AIIah sebagai pemilik, perisai dan pemegang kuasa mengajarkan kita untuk berserah total kepada-Nya. Tugas kita sebagai pria adalah menjadi pelindung bagi keluarga dan masyarakat semampu kita, seperti yang dikatakan dalam Yosua 24:15, “tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan” . Setiap kita, juga dipanggil menjadi teladan dalam kehormatan dan kesucian. Ketika kita memegang teguh janji Allah, kita sedang meneladani sikap keagungan dan kekudusan-Nya. Hal Ini penting agar keluarga dan lingkungan melihat bahwa Allah adalah pusat hidup kita, yang penuh kekudusan dan kebenaran. Penegasan: Pegang teguh janji Allah maka kita akan menjadi kokoh, berani dan dapat menjadi teladan. Doa: Allah yang Mahakudus, kami bersyukur karena Engkau adalah perisai dan sumber kekuatan kami. Tolonglah kami untuk selalu berserah kepadaMu, memegang teguh janji-Mu, dan menjadi teladan dalam kehormatan serta kesucian. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Minggu, 11 Januari 2026

Bertumbuh di Dalam Tuhan Mazmur 92:13-16 “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon.“ (ayat 13)

P

ernahkah Anda menanam sebuah tanaman dan memperhatikan proses tumbuh kembangnya? Setiap tahap pertumbuhan tanaman tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah media tanam yang menjadi dasar. Bayangkan sebuah bibit kecil yang Anda tanam di tanah. Hari-hari berlalu, dan Anda menyaksikan bagaimana ia perlahan menembus permukaan, mencari cahaya, dan mulai bertumbuh. Ibarat tanaman kita pun sebagai orangorang percaya juga perlu untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Karena itu, penting untuk kita melihat tempat di mana dan bagaimana kita bertumbuh, barangkali itu berbicara Gereja sebagai tempat kita bersekutu, atau komunitas keluarga dan lingkungan masyarakat di mana kita tinggal tentu akan mempengaruhi juga pertumbuhan hidup beriman kita. Pemazmur dalam bacaan hari ini menegaskan bahwa kita harus ditanam di Bait Tuhan dan bertunas di pelataran Allah kita. Ini berarti bahwa pemazmur memandang penting persekutuan dengan Tuhan ataupun bersama orang-orang percaya lainnya, yang tentu akan membawa kita mengalami pertumbuhan iman kepada Tuhan. Selain pentingnya media atau tempat di mana kita bertumbuh, maka kita pun perlu memperhatikan pertumbuhan diri kita sendiri secara mendalam. Maka yang diharapkan adalah ketika kita telah benar-benar ditanam di Bait Tuhan, kita harus bertunas dan dapat menghasilkan buah. Berbuah bagi Tuhan dapat dilihat dari kehidupan yang benar di hadapan Allah. Kehidupan yang benar itulah yang akan menjadi inti kesaksian hidup sebagai orang-orang yang telah bertumbuh di dalam Tuhan. Itu sebabnya, hidup yang bertumbuh adalah hidup yang dapat mengeluarkan buah yang baik dari benih iman yang baik sehingga berdampak bagi orang lain melalui kesaksian hidup seperti yang disebutkan pemazmur "untuk memberitakan, bahwa Tuhan itu benar" (ayat 16). Penegasan: Orang yang bertumbuh dalam Tuhan adalah yang hidupnya benar dan menjadi kesaksian yang membawa orang lain juga bertumbuh dalam iman kepada Kristus. Haleluya. Doa: Bapa, tolong kami untuk hidup benar di hadapan-Mu, sehingga kami terus mengalami pertumbuhan iman yang dapat menjadi kesaksian bagi banyak orang dan mereka pun mengenal Engkau. Di dalam Putra-Mu Kristus kami berdoa, amin.


Senin, 12 Januari 2026

Sukacita dalam Ucapan Syukur Mazmur 106:1-5 “Supaya aku melihat kebaikan pada orang-orang pilihan-Mu, supaya aku bersukacita dalam sukacita umat-Mu, dan supaya aku bermegah bersama-sama milik-Mu sendiri.” (ayat 5)

U

capan syukur bagi orang-orang percaya adalah bentuk penghormatan kepada Allah, sebab Allah terus menyatakan kebaikan dan kesetiaan-Nya. Sayangnya kita sering kali menghadapi situasi yang membuat kita lupa untuk bersyukur. Padahal, ucapan syukur bukan hanya sekadar kebiasaan, melainkan bentuk penghormatan kepada Allah yang senantiasa menyatakan kebaikan dan kesetiaan-Nya dalam segala keadaan, baik suka maupun duka. Bagaimana ucapan syukur dapat membawa kita mengalami sukacita? Terkadang situasi dan keadaan hidup kita berada dalam tekanan, di mana kita merasa bahwa Tuhan sangat jauh dari hidup kita. Itulah sebabnya Allah menantikan kita untuk terus hidup sesuai hukum dan peraturan Firman-Nya. Bagaimana ucapan syukur dapat membawa kita mengalami sukacita? Ucapan syukur bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi sikap hati yang mengakui kebaikan Allah di setiap keadaan. Bersyukur juga menolong kita melihat bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berhenti, bahkan di tengah kesulitan sehingga kita dipenuhi damai sejahtera, pikiran menjadi lebih tenang, dan iman semakin teguh. Sukacita lahir bukan karena keadaan membaik, tetapi karena kita percaya bahwa Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihi Dia. Sebagai kaum Israel masa kini, mari terus berlaku setia kepada Allah, termasuk ketika dalam tekanan hidup yang mungkin sulit, dan membuat kita akhirnya tidak bersyukur. Sebaliknya, kita berupaya untuk terus bersyukur dalam segala hal agar tidak kehilangan sukacita iman dan tidak menimbulkan rasa kecewa kepada Tuhan. Jadikan tekanan atau kesulitan hidup mendorong kita melihat dan mengalami kehadiran Tuhan, yang kemudian akan membawa kita lebih kuat dalam ucapan syukur itu. Sebab, ucapan syukur kepada Allah akan menolong kita untuk terus bersukacita bahkan dalam situasi hidup yang tidak kita harapkan sekalipun. Penegasan: Tuhan kiranya menolong kita untuk menjadi pribadi yang terus hidup dalam pengucapan syukur, sehingga dapat menikmati sukacita yang Allah sediakan bagi kita setiap hari. Doa: Bapa, kami memuji-Mu atas kasih setia dan sukacita yang Engkau berikan. Tolonglah kami, untuk melihat kehendak-Mu dalam hidup kami, sehingga kami terus mengucap syukur dan mengalami sukacita dari pada-Mu. Amin.


Selasa, 13 Januari 2026

Bersyukur Tanda Kelegaan Mazmur 107:1-7 “Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus Tuhan, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan.” (ayat 2)

S

etiap perkataan syukur yang keluar dari mulut seseorang selalu membawa kelegaan dan sukacita. Ucapan syukur lahir ketika seseorang menyadari bahwa ia terhindar dari bahaya, dilepaskan dari maut, atau mengalami pertolongan Tuhan. Seperti yang digambarkan dalam Mazmur 107, di tengah serentetan bencana yang mengerikan, umat Tuhan tetap bersyukur karena Allah menolong dan melepaskan mereka dari ancaman kematian. Dari ayat ini kita belajar bahwa Tuhan ingin kita selalu merasakan kelegaan dari-Nya. Bersyukur adalah ungkapan pengagungan bagi Allah, respons iman yang dewasa dari orang-orang yang ditebus Tuhan, yang luput dari kebinasaan. Sehingga syukur adalah sesuatu yang disampaikan oleh anak-anak Tuhan dalam sepanjang hidup mereka yang diwujudkan dalam kesetiaan sepanjang hidup memuliakan dan menyembah Tuhan Sang Pemberi hidup yang sejati. Apakah tanda kelegaan dalam ungkapan syukur disampaikan kepada Allah? Pertama tentu adanya sukacita mendalam yang meluap dari hati seseorang. Rasa bahagia yang dalam karena terluput dari maut yang mengintai. Memang relatif dan tidak selalu sama kadar sukacita itu bagi semua orang. Namun terhindar dari sesuatu petaka, bencana, sembuh dari suatu penyakit mematikan adalah hal yang sangat disyukuri. Bahagia dan lega terkadang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Terkadang seseorang akan meneteskan air untuk mengungkapkan rasa terima kasih itu pada Tuhan. Ada kepuasan dan percaya diri bahwa Tuhan selalu peduli dalam hidup ini. Kedua, terus menyerahkan hidup pada Tuhan. Klimaks dari seseorang yang betul-betul bersyukur dalam hidupnya adalah terus setia menyembah dan memuliakan Tuhan. Terlibat dalam pekerjaan Tuhan di muka bumi ini. Kelegaan yang diterima dari Tuhan tentu mendorong seseorang untuk terus mempermuliakan Tuhan dengan sungguhsungguh. Terlibat dalam segala pelayanan dengan segala karunia yang Tuhan berikan kepadanya. Ia akan merespons cinta kasih Tuhan dengan segala kemampuannya untuk menderita bagi-Nya. Penegasan: Teruslah bersyukur kepada Tuhan, sebab begitu banyak kelegaan yang kita rasakan selama ini dari-Nya. Doa: Bapa di Sorga, berilah kemampuan bagi kami untuk merespons cinta kasih-Mu. Ajarlah kami untuk dapat menunjukkan kasih-Mu lewat bibir dan lidah kami dan selalu hidup memuliakan-Mu dalam ungkapan syukur di sepanjang hidup kami. Demi nama Yesus Kristus, amin.


Rabu, 14 Januari 2026

Tenteram Dalam Lindungan Tuhan Mazmur 118:1-6 “Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (ayat 6)

P

erkataan dalam ayat ini bukanlah suatu teori belaka, melainkan suatu pengalaman iman yang panjang bersama Tuhan Allah. Beberapa tafsiran mengatakan bahwa Mazmur pasal 118 ini ditulis oleh Raja Daud. Kita mengetahui bersama bagaimana kisah kemenangan Raja Daud dalam setiap pertempuran. Ungkapan Raja Daud ini bukanlah suatu kesombongan, namun bagaimana ia sangat menyadari bahwa perlindungan Tuhan dari semua ancaman musuh dan terhindar dari setiap mata pedang, tombak dan panah musuh, bukan oleh karena ia semata-mata lihai dan gesit, namun Raja Daud menyadari ada kuasa yang sangat besar telah melindunginya dari setiap maut yang mengintai. Nas ini mengingatkan kita bahwa rasa tenteram yang abadi hanya bisa kita rasakan jika Tuhan ada di pihak kita. Penting sekali bagi kita untuk melibatkan dan menghadirkan Tuhan dalam setiap aspek hidup ini. Apalagi ditengah-tengah pergumulan hidup kita yang dahsyat. Banyak anak Tuhan, orang-orang Kristen kehilangan damai sejahtera dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka terus melangkah walau sesungguhnya ada kekosongan dan keresahan di hati mereka. Mereka tidak peduli akan kebutuhan yang paling hakiki dalam hati, akan pentingnya Syalom atau damai sejahtera dari Tuhan di hati. Bahkan banyak orang Kristen bukannya semakin dekat dengan Tuhan, merasakan kehangatan kasih sayang-Nya dan Sentosa yang abadi, yang menjadikan hati semakin teduh, namun memilih segala jalan dunia ini yang menyesatkan. Yang pada akhirnya menuai keresahan dan kehancuran. Sebesar apakah pergumulan kita hari ini? Jangan biarkan hati kita kehilangan ketenteraman. Carilah Tuhan, Ia selalu mau ditemui, dan dapatkanlah selalu rasa tenteram yang abadi didalam-Nya. Penegasan: Jangan mengejar ketenteraman yang palsu dari dunia ini, melainkan kejarlah dan raih selalu ketenteraman yang abadi dalam Kristus. DOA: Bapa di sorga, kami terus rindu menghampiri damai sejahtera yang Engkau sediakan, kiranya itu menjadi bagian kami untuk selama-lamanya. Dalam nama Tuhan Yesus, amin


Kamis, 15 Januari 2026

Kemurahan Yang Tak Terbatas Mazmur 136 : 21-26 “Dia yang memberikan roti kepada segala makhluk; bahwasanya untuk selamalamanya kasih setia-Nya.” ( ayat 25 )

A

da lagu yang familier berkata “Kemurahan-Mu lebih dari hidup“. Kemurahan Allah yang tak terbatas adalah salah satu aspek dari karakterNya yang paling menghibur dan menginspirasi (Efesus 2: 4-5). Kita diingatkan bahwa kemurahan Allah yang tak terbatas diberikan kepada kita meskipun kita tidak layak menerimanya. Ada seorang narapidana yang telah melakukan kesalahan besar di masa lalu merasa tidak layak untuk diampuni. Namun, melalui iman kepada Kristus, ia mengalami kasih karunia dan pengampunan Allah, dan hidupnya diubahkan secara radikal. Untuk itu bagaimana kemurahan yang tak terbatas dalam kehidupan kita? Kemurahan di tengah ketidaklayakan. Kita sering merasa tidak layak menerima kasih dan kemurahan Allah karena dosa dan kesalahan kita. Efesus 2:5 menegaskan bahwa Allah menghidupkan kita bersama Kristus meskipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita. Tapi oleh kemurahan Allah yang tak terbatas ini menunjukkan bahwa kemurahan Allah tidak bergantung pada kelayakan kita, tetapi pada kasih-Nya yang tak terukur. Kemurahan sebagai sumber keselamatan. Keselamatan adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada kita melalui iman kepada Yesus Kristus. Kemurahan Allah adalah fondasi dari keselamatan kita. Kemurahan yang membaharui hidup. Kemurahan Allah tidak hanya menyelamatkan kita dari hukuman dosa, tetapi juga membarui hidup kita. Ketika kita mengalami kemurahan Allah, hati kita diubahkan dan kita terdorong untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Kemurahan ini memampukan kita untuk mengasihi, mengampuni, dan melayani orang lain. Marilah kita merenungkan kemurahan yang tak terbatas ini setiap hari, dan membiarkan-Nya mengubah kita menjadi pribadi yang mencerminkan kasih dan kebaikan-Nya kepada dunia di sekitar kita. Penegasan: Kemurahan Allah yang tak terbatas adalah fondasi dari keselamatan dan pembaruan hidup kita. Doa: Tuhan Yesus, kami bersyukur karena kemurahan-Mu ada sampai saat ini. Ajar kami untuk terus merenungkan dan mensyukuri kemurahan-Mu dan agar kami tetap ada dalam anugerah-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, amin.


Jumat, 16 Januari 2026

Kemuliaan Yang Memesona Mazmur 145:1-5 “Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan.” (ayat 5)

K

emuliaan yang memesona dapat membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang keindahan, keagungan, dan bahkan rasa cinta yang mendalam. Ada sepenggal lagu tentang orang yang jatuh cinta yang liriknya : “Terpesona, aku terpesona menatap wajahmu yang manis, bagaikan mutiara bola matamu bagaikan sutra lesungnya pipimu cantiknya kamu...” Sangat berbeda dengan pembacaan kita hari ini yang mengajarkan kita bahwa kemuliaan Allah sangat mempesona yaitu terpikat oleh keindahan dan kasih Allah seperti yang dikatakan dalam (Mazmur 27:4), “satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini; diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya.” Daud mengungkapkan kerinduannya yang dalam untuk memandang keindahan Tuhan. Ini adalah pengalaman Daud bagaimana ia dapat terpesona oleh hadirat dan keagungan Ilahi Allah. Bagaimana Kemuliaan Allah yang memesona bagi kehidupan kita? Pertama: Keagungan Karya Allah. Keagungan Allah terlihat dalam penciptaan alam semesta, keindahan bumi, dan merupakan panggilan untuk mengakui bahwa Allah jauh lebih besar dari pemahaman kita. Kedua: Keajaiban karya Allah. Selain keagungan, kita juga diajak untuk merenungkan keajaiban karya-karya Allah. Keajaiban ini mencakup tentang mukjizat-mukjizat yang dilakukan Allah dalam Sejarah dan kehidupan kita umat manusia ciptaan-Nya. Untuk merenungkan keagungan dan keajaiban Allah seharusnya mendorong kita untuk memuji dan menyembah-Nya. Ini juga seharusnya menginspirasi kita untuk menceritakan karya-karya Allah kepada orang lain. Dengan membagikan pengalaman kita tentang Allah, kita dapat mengajak orang lain untuk mengenal dan mengagumi-Nya. Penegasan: Orang yang mengalami kemuliaan Allah, akan terus menjadi saksi dan terang ke mana saja dan mencerminkan karakter Kristus di dunia ini. DOA: Tuhan Yesus, terima kasih atas kemuliaan-Mu yang memesona. Bukalah mata kami untuk melihat keindahan-Mu dalam segala sesuatu, dan berikan hati yang rindu untuk mencerminkan kemuliaan-Mu dalam hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, amin.


Sabtu, 17 Januari 2026

Motivasi di Balik Pemberitaan Injil Filipi 1:12-17

Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik (ayat 15).

D

alam kehidupan ini, tentunya selalu ada pilihan ketika kita mengerjakan sesuatu. Kalau mau hasilnya banyak maka kita harus rajin bekerja sedangkan bila malas maka hasil yang diperoleh akan sedikit jadi semua tergantung dari niat. Demikian juga dalam setiap pelayanan yang di lakukan apakah motivasi kita untuk memuliakan Tuhan atau mau menyenangkan diri sendiri maka harus berhati -hati supaya bisa melihat tujuan mulia di setiap tindakan. Berbicara tentang pemberitaan Injil, bukanlah sebuah pilihan atau kegiatan sampingan bagi orang percaya, namun sebuah mandat Ilahi yang diberikan Yesus Kristus. Filipi 1 ayat 15 mengajarkan bahwa dalam pemberitaan Injil ada yang melakukannya karena motivasi yang tidak murni seperti dengki dan perselisihan, tetapi ada juga yang tulus dan niat baik. Itulah sebabnya waktu Paulus di penjara, Ia mengakui bahwa ada orang yang memberitakan Kristus dengan niat yang tulus karena kasih, tetapi ada juga yang memberitakan karena dengki. Bila motivasi pemberitaan injil berakar pada ketaatan kepada Kristus maka kita menjadi pemberita Injil yang tulus yang tidak didorong oleh kesombongan, iri hati atau ambisi pribadi melainkan didasari oleh cinta yang tulus kepada Kristus dan sesama. Dengan kita dapat menunjukan melalui sikap, perbuatan dan perkataan kita, berarti sudah menjadi pemberita Injil, 2 Korintus 4:5 (“sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan kami sebagai hamba-Mu karena Kristus”). Karena Injil adalah kabar baik maka melalui tindakan kita yang baik dan benar Injil dapat diberitakan . Penegasan: Dengan memberitakan Injil, kita tidak hanya menaati perintah-Nya, tetapi juga menjadi alat yang dipakai Allah untuk menggenapi rencana penebusan bagi seluruh umat manusia. Doa: Tuhan Yesus tolong kami agar memiliki motivasi yang benar dalam melakukan setiap pelayanan, baik dalam rumah tangga, pekerjaan dan keluarga. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Minggu, 18 Januari 2026

Melayani Dengan Rendah Hati. Filipi 2 : 1-5 Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (ayat 4)

A

da satu pujian yang mengatakan “melayani lebih sungguh, melayani melayani lebih sungguh, Tuhan lebih dulu melayani kepadaku, melayani melayani lebih sungguh.” Pujian ini bagi saya menggambarkan bagaimana Tuhan sudah lebih dahulu melakukannya untuk kita semua dalam sikap dan tindakan-Nya. Ini adalah contoh kerendahan hati Tuhan yang telah ditunjukkan sehingga menjadi dasar bagi kita dalam sikap maupun tindakan kita. Kerendahan hati adalah sesuatu hal yang tidak mudah untuk dilakukan di zaman sekarang karena ada yang merasa segala kebutuhan tersedia dan dapat dicapai maka yang ada adalah kesombongan. Sebagai anak Tuhan tentunya kita harus meniru teladan yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus di mana dengan rendah hati Ia melakukan setiap pelayanan atau pekerjaan-Nya. Rasul Paulus menasihati jemaat agar antara satu dengan lainnya saling memperhatikan, tidak bersikap egois, tidak mencari pujian yang sia-sia dan menganggap orang lain lebih penting dari diri sendiri sehingga tercapai kesatuan, kasih dan sukacita. Motivasi melayani harus untuk Tuhan, bukan untuk pujian manusia karena (”barang siapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”). Karena itu melalui perenungan ini sangat dinantikan kita memiliki sikap kerendahan hati, tidak terbelenggu dalam ikatan mementingkan kepentingan sendiri tetapi ada dalam kasih Kristus yang melayani dengan rendah hati dimanapun kita berada entah itu di rumah, di kantor ataupun bersama teman, sahabat atau keluarga. Penegasan : Sikap peduli terhadap orang lain merupakan wujud kasih Kristus. Doa: Tuhan Yesus ajar kami untuk tidak egois melainkan memperhatikan orang lain sehingga wujud kasih Kristus terpancar dalam sikap, tindakan dan perbuatan kami. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Senin, 19 Januari 2026

Menjadi serupa dengan Kristus Filipi 3:10-16 “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya” (ayat 10)

S

etiap orang percaya tentu memiliki kerinduan untuk hidup dekat dengan Tuhan. Namun lebih dari sekadar dekat, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi menunjukkan kerinduan yang jauh lebih dalam yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus membutuhkan perjuangan, pengorbanan dan kesetiaan. Bagaimanakah caranya agar kita bisa menjadi serupa dengan Kristus ? Pertama; Mengenal Kristus secara pribadi Paulus sudah mengenal banyak hal seperti hukum Taurat, teologi, budaya, bahkan pengalaman rohani yang luar biasa. Namun semuanya itu di anggap sampah dibanding mengenal Kristus. Kata “mengenal” di sini bukan sekadar tahu secara intelektual, tetapi mengalami Tuhan secara pribadi. Menjadi serupa dengan Kristus dimulai ketika kita benar-benar mengenal tentang kasih-Nya, kebenaran-Nya, dan hati-Nya. Kedua; Mengalami kuasa kebangkitan Kristus Kuasa kebangkitan Kristus adalah kuasa yang mengalahkan dosa dan maut. Paulus ingin mengalami kuasa ini dalam hidupnya, agar ia mampu hidup dalam kemenangan, bukan kekalahan. Kuasa kebangkitan membuat kita mampu bangkit dari kejatuhan, mengampuni ketika disakiti dan tetap berharap di tengah penderitaan. Tanpa kuasa kebangkitan, iman Kristen hanya menjadi sebuah teori belaka. Ketiga; Bersekutu dalam penderitaan Kristus Inilah bagian yang sering dihindari banyak orang. Namun Paulus menyadari bahwa menjadi serupa dengan Kristus berarti juga ikut dalam penderitaan-Nya. Yesus taat sampai mati. Maka, ketika kita mau serupa dengan Kristus, kita juga harus rela memikul salib, menanggung penolakan, tantangan, bahkan kehilangan karena iman kita. Penegasan: Keserupaan dengan Kristus bukan hanya tujuan akhir, tetapi juga cara hidup kita setiap hari yang di terapkan dalam hal mengasihi, mengampuni dan taat seperti Kristus. Doa: Tuhan Yesus, jadikanlah kami serupa dengan-Mu, bentuklah hati kami agar dapat mengasihi, taat dan setia sampai akhir sebagaimana teladan-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa, amin.


Selasa, 20 Januari 2026

Janji Pemeliharaan Allah Nahum 1:14-15 “Lihatlah! Di atas gunung-gunung berjalan orang yang membawa berita, yang mengabarkan berita damai sejahtera” (ayat 15).

S

etiap orang percaya pasti pernah menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya. Saat penderitaan terasa tiada kunjung berakhir, saat doa-doa belum terjawab. Dalam keadaan seperti itu, kita sering bertanya, “Apakah benar Tuhan memelihara umat-Nya? Kitab Nahum menjadi jawaban bagi pertanyaan itu. Nahum diutus Allah untuk menyampaikan pesan kepada bangsa Yehuda yang sedang hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan Asyur. Tuhan tidak pernah melupakan umat-Nya. Ia berjanji akan memelihara dan membebaskan mereka dari tangan musuh. Bagaimanakah janji pemeliharaan Allah itu di nyatakan dalam kehidupan umat-Nya? Pertama; Janji Pemeliharaan Tuhan bersumber dari kedaulatan-Nya Tuhan bukan hanya memelihara, tetapi Ia juga berdaulat untuk meniadakan ancaman terhadap umat-Nya. Kadang Tuhan membiarkan musuh berkuasa sementara, tetapi itu tidak berarti Ia kalah. Saat waktunya tiba, Tuhan menegakkan keadilan-Nya. Kedua; Pemeliharaan Tuhan membawa kabar damai Setelah hujan berlalu maka muncul pelangi. Tuhan selalu punya cara menyampaikan pesan-Nya baik dalam bentuk firman, penghiburan Roh Kudus, maupun pengalaman pribadi yang menunjukkan kasih setia-Nya. Ketiga; Pemeliharaan Tuhan menuntun kita untuk hidup dalam ibadah yang benar Ketika Tuhan memulihkan Yehuda, Ia meminta mereka untuk merayakan dan menepati nazar. Artinya, pemeliharaan Tuhan bukan hanya untuk kenyamanan, tetapi untuk mengembalikan umat kepada penyembahan sejati. Tuhan yang sama yang memelihara Yehuda adalah Tuhan yang kita sembah hari ini. Ia berdaulat menghancurkan kuasa musuh, Ia mengutus kabar damai kepada umat-Nya, dan Ia memanggil kita untuk hidup dalam ibadah dan kesetiaan. Penegasan: Janji pemeliharaan Tuhan itu nyata dan pasti ter genapi bagi setiap orang yang selalu menaruh iman dan keyakinannya kepada Tuhan. Doa: Bapa, ajar kami untuk memahami pemeliharaan-Mu dalam setiap aspek kehidupan ini, bahkan di setiap pergumulan dan tantangan yang kami sedang hadapi. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Rabu, 21 Januari 2026

Kesombongan yang Dihancurkan Nahum 2:7-13 “Lihat, Aku akan menjadi lawanmu, demikianlah firman Tuhan semesta alam, Aku akan membakar keretamu menjadi asap, dan pedang akan memakan habis singa mudamu; Aku akan melenyapkan mangsamu dari atas bumi, dan suara utusanutusanmu tidak akan terdengar lagi” (ayat 13).

D

alam dunia ini, yang paling dibanggakan adalah kekuatan dan keberhasilan. Sehingga tanpa disadari hal ini membuat kita menjadi angkuh atau sombong. Di hadapan Allah, kesombongan atau keangkuhan adalah awal dari kehancuran. Kota Niniwe adalah contoh bahwa sebesar apa pun kekuatan atau kekuasaan tidak ada yang bisa melampaui kuasa Tuhan. Ketika manusia hidup dalam kesombongan maka Allah Yang Maha Kuasa akan bertindak menentang dan akan menghancurkan kekuatan mereka. Mengapa? Karena kuasa Tuhan lebih besar dari apa pun yang ada di dunia ini. Ayat 13 dari pembacaan hari ini memiliki pesan inti “Aku akan menjadi lawanmu”. Betapa sangat mengerikan ketika Tuhan sendiri yang melawan, sebab (” manusia yang sombong akan direndahkan. Dan orang yang angkuh akan diitundukan, hanya Tuhan saja yang maha tinggi pada hari itu”). Tidak ada kekuatan yang dapat bertahan jika Tuhan sudah menjadi lawan. Apa yang dulunya tampak megah, terkenal akan lenyap ketika Allah menyatakan kuasa-Nya. Saat manusia mulai memuliakan diri, melupakan kasih dan kebenaran Tuhan, maka penghancuran bukan sekadar kemungkinan, itu pasti datang pada waktunya. Niniwe yang dulu ditakuti kini hanya menjadi reruntuhan. Sebuah peringatan bagi kita bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kesombongan terus bertakhta. Penegasan: Kesombongan sering membuat manusia lupa bahwa segala kuasa, harta, dan keberhasilan hanyalah titipan Tuhan. Doa: Tuhan Yesus, ampuni bila ada kesombongan dalam hati kami. Ajar kami untuk selalu rendah hati dan mengakui bahwa semua keberhasilan berasal dari-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Kamis, 22 Januari 2026

Tanpa Tuhan, Usaha Manusia Sia-Sia Nahum 3:13-19 “Timbalah air menghadapi pengepungan, perkuatlah kubu-kubumu! Pijaklah lumpur, injaklah tanah liat, peganglah acuan batu bata!” (ayat 14)

K

eberhasilan merupakan dambaan semua orang. Berhasil dalam pekerjaan atau karier, rumah tangga, pendidikan, pelayanan dan lain-lain. Keberhasilan pasti membutuhkan usaha atau kerja keras. Mau berhasil? Tentu harus memiliki penyerahan yang sungguh hanya kepada Tuhan. Kitab Nahum adalah nubuat tentang kejatuhan kota Niniwe, ibu kota bangsa Asyur. Bangsa yang dulunya kuat, kejam dan ditakuti. Mereka pernah bertobat pada zaman Nabi Yunus, namun pada generasi berikutnya mereka kembali hidup dalam kesombongan. Mereka merasa kuat karena memiliki benteng tinggi, pasukan yang banyak serta kekayaan yang melimpah. Mereka bangga karena merasa keberhasilan yang mereka miliki karena kekuatan dan kehebatan mereka. Oleh sebab itu, melalui Nabi Nahum, Tuhan menyatakan penghakiman-Nya atas bangsa ini. Dalam ayat 14, Tuhan menyindir Niniwe, “Perkuatlah kubu-kubumu atau perkuatlah benteng-bentengmu!” Tuhan seolaholah berkata, lakukan apa yang kamu bisa, tetapi itu tidak akan menolongmu. Di sini kita belajar bahwa “tanpa campur tangan Tuhan, kekuatan dan usaha manusia itu sia-sia”. Manusia boleh berusaha, tetapi jika Tuhan tidak menjadi pusatnya, maka semua kerja keras akan sia-sia seperti membangun rumah di atas pasir. Tanpa kita sadari dalam menjalani kehidupan kita sibuk memperkuat “benteng” kehidupan kita ( karier, harta, rencana) namun lupa mengandalkan Tuhan. Akibatnya ketika badai datang semua runtuh karena tidak berakar pada Tuhan. Mazmur 127:1 mengatakan “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya”. Sangat jelas, tanpa Tuhan sungguh hidup kita tidak ada artinya. Hidup kita sia-sia. Untuk itu, libatkanlah Tuhan dalam segala aspek kehidupan ini. Penegasan: Tanpa Tuhan, semua usaha manusia tidak akan bertahan lama. Kita boleh berusaha tetapi pengharapan dan kekuatan yang sejati hanya ada dalam Tuhan. Doa: Tuhan Yesus ampuni ketika kami berusaha tanpa melibatkan Engkau. Ajar kami untuk selalu mengandalkan-Mu dalam setiap langkah. Karena tanpa Tuhan, semua usaha akan sia-sia. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Jumat, 23 Januari 2026

Kelayakan Yang Diperhitungkan 2 Tesalonika 1:3-8 “Suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu.” (Ayat 5)“Suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu.” (Ayat 5)

S

ebagai umat Tuhan, kita bukan hanya dikaruniakan percaya kepada Kristus, melainkan juga menderita bagi Dia (Filipi 1:29). Di zaman modern ini, banyak anak-anak Tuhan yang tidak mau hidup menderita, apalagi menderita bagi Tuhan. Bukan tanpa alasan, di zaman ini banyak fasilitas yang tersedia yang memudahkan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan tanpa harus bersusahsusah untuk mendapatkannya. Dari bagian Firman Tuhan ini, kita belajar dari iman jemaat Tesalonika, Walaupun hidup dalam berbagai penganiayaan, penderitaan, mereka tetap teguh dalam iman kepada Kristus. Keteguhan iman mereka tidak digoyahkan oleh berbagai penganiayaan, penindasan dan penderitaan yang dialami, tetapi semakin teguh dalam Kristus. Demikian halnya kita sebagai umat Tuhan, ketika diperhadapkan pada berbagai penderitaan, dan rupa-rupa persoalan hidup ini, kita tetap teguh dalam iman percaya kepada Kristus. Iman tidak digoyahkan oleh berbagai penderitaan dan rupa-rupa persoalan hidup ini. Bila teguh iman dalam kesetiaan kepada Kristus dalam setiap penderitaan, Tuhan akan memperhitungkannya. Rasul Paulus mengatakan menjadikan kita layak menjadi warga Kerajaan Allah. “Suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu” (ayat 5). Oleh sebab itu, kita tidak perlu takut dengan berbagai penderitaan, penindasan dan rupa-rupa persoalan hidup ini. Setiap umat-Nya yang menderita bagi Kristus layak diperhitungkan. Artinya tidak ada yang sia-sia ketika mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Janji Firman-Nya dalam Wahyu 2:10b “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” Penegasan: Umat Tuhan yang taat akan penderitaan Kristus layak diperhitungkan Allah menjadi warga kerajaan-Nya. Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami dalam penderitaan bagi Kristus, agar tetap setia dan layak menjadi warga Kerajaan-Mu. Dalam Kristus Yesus, kami berdoa, amin.


Sabtu, 24 Januari 2026

Lawatan Tuhan 2 Tesalonika 2:13-17 “Kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik” (ayat 17).

O

knum pribadi Allah yang senantiasa memberikan penguatan dan penghiburan bagi umat-Nya adalah Roh Kudus. Kehadiran Roh kudus di tengah umat-Nya adalah bentuk pemeliharaan dan pemulihan umat Tuhan. Roh Kudus merupakan salah satu janji Allah akan penyertaan bagi umatNya. Roh kudus Allahlah yang selalu memulihkan dan menguatkan umat-Nya, yang juga kita sering dengarkan dengan kata lawatan Tuhan bagi umat-Nya saat menghadapi berbagai penderitaan dan persoalan hidup ini. Ada beberapa peran Roh Kudus Allah bagi umat-Nya, salah satunya memberikan penguatan dan penghiburan. Rasul Paulus mengetahui jemaat di Tesalonika akan menghadapi tantangan dan kesulitan iman mereka. Oleh sebab itu Rasul Paulus menasihatkan jemaat di Tesalonika untuk tetap berpegang pada Injil Kristus dan tidak terpengaruh dengan ajaran-ajaran sesat. Sebab Kristus sendirilah yang akan menghibur dan menguatkan mereka, membimbing dan menuntun mereka, sebagaimana yang dikatakan Paulus ayat 16-17 “Dan Ia Tuhan kita Yesus Kristus dan Allah Bapa kita yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita, kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik”. Demikian halnya kita sebagai umat pilihan Allah yang telah menerima anugerah Keselamatan Allah. Kita tidak perlu takut akan segala rupa-rupa masalah hidup ini, ada Oknum pribadi Allah yang senantiasa menyertai untuk memberikan penghiburan dan kekuatan bagi umat-Nya yaitu Roh Kudus Allah. Demikian juga ketika kita menghadapi berbagai ajaran-ajaran yang menyesatkan iman kita, Roh Kudus Allah yang menuntun kita agar tetap berdiri teguh dengan kebenaran Firman Allah. Penegasan: Ingatlah bahwa Roh kudus Allah akan senantiasa menyertai dan melawat Umat-Nya. Doa: Bapa di sorga, terima kasih atas kesetiaan-Mu yang senantiasa menghibur dan menguatkan. Sampai hari ini kami teguh dan dimampukan dalam menghadapi setiap masalah hidup ini, oleh karena lawatan Tuhan melalui Roh Kudus-Mu. Dalam Kristus Yesus, kami berdoa, amin.


Minggu, 25 Januari 2026

Ketaatan Melakukan Perintah Tuhan Bilangan 2 : 32 - 34 “Maka orang Israel berbuat demikian; tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah mereka berkemah menurut panji-panji mereka, dan demikianlah mereka berangkat, masing-masing menurut kaumnya dan sukunya” (ayat 34).

A

yat yang tertulis pada penekanan di atas menunjukkan pada kita, bahwa bangsa Israel taat sepenuhnya pada perintah Tuhan, termasuk tentang tata letak perkemahan dan urutan perjalanan mereka. Tentang hal tersebut, Tuhan memberi perintah secara detail tentang posisi setiap suku di sekeliling Kemah Suci. Hal itu bukan sekedar logistik, tapi menunjukkan bahwa Tuhan adalah Allah yang teratur dan kudus. Itulah yang ditunjukkan Tuhan melalui perintah yang disampaikan-Nya. Hal kecil pun tidak luput dari pengaturan-Nya, dan hal itu mengajarkan pada kita, agar setia dalam melakukan tugas sekecil apa pun yang diberikan oleh atasan atau pimpinan kita. Karena ketaatan kita pada hal yang kecil, mencerminkan kesetiaan kita kepada Tuhan. Selain itu, ketaatan kepada perintah Tuhan mendatangkan keteraturan, perlindungan, dan penyertaan-Nya dalam hidup kita. Hal itulah yang terjadi pada bangsa Israel ketika mereka taat pada perintah Tuhan. Mereka dijaga, dilindungi dan disertai Tuhan dalam perjalanannya menuju ke tanah Kanaan, dan hal itu juga yang Tuhan lakukan pada kita yang taat pada-Nya. Hidup kita selalu dipimpin dan disertaiNya. Karena itulah kita harus taat kepada Tuhan, termasuk dalam hal-hal yang tampak teknis dan sederhana. Selanjutnya, melalui ketaatan tersebut bangsa Israel belajar hidup tertib di bawah pimpinan Tuhan. Mereka tidak lagi melakukan segala sesuatunya sesuka hati mereka, dan hal itu juga yang seharusnya kita lakukan dalam hidup kita. Karena ketaatan menunjukkan sikap hormat dan kepercayaan kita kepada Tuhan. Untuk itu kita harus belajar taat kepada Tuhan, bukan hanya dalam hal yang besar, tapi juga dalam disiplin rohani, cara hidup dan keputusan sehari-hari. Penegasan: Ketaatan dalam melakukan perintah Tuhan harus tercermin dalam sikap hidup kita sehari-hari. Doa: Tolonglah kami Tuhan, untuk taat kepada-Mu dalam hidup kami seharihari. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Senin, 26 Januari 2026

Persembahan Yang Benar Bilangan 3 : 1 - 4 “Tetapi Nadab dan Abihu sudah mati di hadapan TUHAN di padang gurun Sinai, ketika mereka mempersembahkan api yang asing ke hadapan TUHAN. Mereka tidak mempunyai anak. Jadi ketika Harun, ayah mereka, masih hidup, yang memegang jabatan imam ialah Eleazar dan Itamar” (ayat 4).

F

irman Tuhan yang tertulis pada ayat tersebut di atas mencatat tentang Nadab dan Abihu yang mati di hadapan Tuhan, karena mempersembahkan api asing yang tidak diperintahkan Tuhan. Itu berarti, persembahan kepada Tuhan harus sesuai dengan perintahNya. Kita tidak bisa melakukannya sesuka hati kita, seperti halnya Nadab dan Abihu. Mereka tidak taat dan tidak mengikuti ketetapan Tuhan, dengan menambahkan cara mereka sendiri. Itulah contoh persembahan yang salah dan jangan kita ikuti. Itu berarti, persembahan yang benar harus ada unsur ketaatan, hormat dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Bukan asal mempersembahkan, tapi mempersembahkan dengan hati yang takut akan Tuhan. Persembahan yang benar juga mengandung arti, Tuhan menghendaki kita memiliki kekudusan dalam ibadah dan persembahan kita pada-Nya. Itu berarti, Tuhan bukan hanya memperhatikan isi persembahan kita, tapi juga cara dan hati kita dalam mempersembahkannya. Karena sesungguhnya, kita juga dipanggil untuk melayani dan menyembah Tuhan dengan sikap hormat dan taat. Karena itu, jangan kita sembarang membawa persembahan kepada Tuhan. Hal itu bukan hanya menyangkut tentang uang saja. Tapi juga dengan waktu, tenaga, ibadah, dan seluruh kehidupan kita, harus kita persembahkan kepada-Nya. Semuanya harus kita lakukan dengan sikap hati yang benar dan sesuai dengan firman Tuhan. Seperti yang dinasihatkan Tuhan dalam firman-Nya : “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” ( Roma 12 : 1 ). Penegasan: Persembahan yang benar harus kita persembahkan kepada Tuhan seperti yang diperintahkan-Nya. Doa: Tuhan Yesus, ajarlah kami mempersembahkan segala sesuatu kepada-Mu sesuai dengan kehendak dan perintah-Mu. Ampuni kami Tuhan, jika selama ini persembahan kami tidak seperti yang Engkau kehendaki, Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin


Selasa, 27 Januari 2026

Ketaatan Melakukan Tugas Bilangan 3 : 5 - 10 “Mereka harus memelihara segala perabotan Kemah Pertemuan, dan mengerjakan tugas-tugas bagi orang Israel dan dengan demikian melakukan pekerjaan jabatannya pada Kemah Suci” (ayat 8).

T

ugas yang tertulis dalam ayat tersebut di atas adalah tugas yang diberikan Tuhan pada orang Lewi. Mereka harus memelihara segala perabot dalam Kemah Pertemuan, dan sekaligus melakukan kewajibannya kepada orang Israel dalam pelayanan Kemah Suci. Itulah tugas yang jelas dan khusus dari Tuhan bagi orang Lewi. Mereka tidak boleh melayani dengan sembarangan, karena mereka mendapat tugas khusus untuk menjaga dan mengatur Kemah Suci. Itulah yang harus mereka lakukan dengan penuh ketaatan, karena mereka menerima tugas tersebut bukan dari manusia, tapi penugasan Ilahi. Itu berarti, tugas yang diberikan Tuhan pada orang Lewi merupakan tugas yang suci dan memerlukan tanggung jawab yang besar. Karena melayani di tempat yang kudus menuntut ketaatan penuh kepada Tuhan, sebab mereka mewakili umat dalam ibadah kepada-Nya. Dalam hal ini, ketidaktaatan dapat membawa akibat yang serius. Untuk itulah tugas harus dilakukan dengan cermat, karena melalaikannya berarti tidak menghormati kekudusan Tuhan. Hal itu juga yang harus kita lakukan sebagai orang percaya, yang dipanggil dan dipercaya untuk melakukan tugas dalam tubuh Kristus, seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 12 : 4 - 7 : “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada ruparupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama” Untuk itu kita harus melakukan tugas dengan taat dan setia. Sekecil apa pun tugas yang kita lakukan, adalah bagian dari penyembahan kita kepada Tuhan. Itulah yang ditulis dalam firman-Nya : “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3 : 23). Penegasan: Ketaatan dalam melakukan tugas merupakan bagian dari penyembahan kita kepada Tuhan. Doa: Tolonglah kami Tuhan, agar kami dapat melakukan tugas dengan taat dan setia, dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin


Rabu, 28 Januari 2026

Hormati Kekudusan Tuhan Bilangan 7:1–5 “Maka para pemimpin Israel, para kepala suku mereka, mempersembahkan persembahan. Mereka itu ialah para pemimpin suku yang bertanggung jawab atas pencatatan itu” (ayat 2).

A

yat yang tertulis pada penekanan di atas mencatat tentang para pemimpin suku atau kepala-kepala kaum Israel datang untuk mempersembahkan persembahan mereka bagi Penahbisan Mezbah. Hal itu mereka lakukan sebagai ungkapan hormat dan bakti mereka kepada Tuhan. Itu sebabnya mereka memberi yang terbaik bagi Tuhan. Itu berarti para pemimpin bangsa mempersembahkan persembahan bukan karena kewajiban hukum, tapi sebagai bentuk penghormatan mereka atas kekudusan mezbah, yakni tempat Tuhan bersemayam. Sikap hormat tersebut mereka lakukan dalam tindakan yang nyata, dengan membawa persembahan saat Penahbisan Mezbah. Melalui hal tersebut mereka ingin menyatakan, bahwa pelayanan kepada Tuhan adalah hal yang kudus dan layak dihormati. Selain itu, sikap yang mereka lakukan juga menunjukkan bahwa mereka mengakui otoritas dan hadirat Tuhan. Jadi persembahan yang mereka persembahkan bukan hanya untuk peralatan, tapi juga sebagai pengakuan bahwa Tuhan layak disembah dengan hati yang penuh hormat. Itu berarti, menghormati kekudusan Tuhan juga mengandung arti bersikap hormat dalam penyembahan, persembahan dan pelayanan kita, sehingga apa pun yang kita lakukan bagi Tuhan harus dengan hati yang takut akan Tuhan dan menghormati-Nya. Itulah pelajaran penting yang kita dapatkan dari peristiwa tersebut dicatat. Untuk itu kita harus menghormati kekudusan Tuhan bukan hanya sebatas kata-kata dan ucapan saja, tapi kita juga harus menyatakannya dalam tindakan yang nyata, yakni dalam sikap hidup sehari-hari. Seperti yang ditekankan Tuhan dalam firman-Nya: “...Marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut” (Ibrani 12:28b). Penegasan: Menghormati kekudusan Tuhan harus kita nyatakan dalam sikap dan perbuatan. Doa: Bapa kami di sorga, tolonglah kami agar dapat menunjukkan sikap dan hormat kami pada kekudusan-Mu dalam tindakan nyata sehari-hari, dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Kamis, 29 Januari 2026

Api Tuhan Yang Menyala Bilangan 11 : 1 – 3 “Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu” (ayat 2)

A

pi Tuhan yang menyala dalam pembacaan kita menujukan murka Tuhan atas ketidaktaatan bangsa Israel. Karena dalam konteks ini, api Tuhan yang menyala sebagai tanda hukuman atau murka Allah atas bangsa Israel yang bersungut-sungut ( ayat 1 ). Hal itu ditandai dengan api yang membakar tepi perkemahan mereka. Selain itu, api Tuhan juga menunjukkan bahwa ketidaktaatan atau keluhan terhadap pimpinan Tuhan bukanlah hal yang sepele. Karena hal tersebut dapat mendatangkan konsekuensi yang serius. Untuk itu kita harus menghormati kekudusan dan pimpinan Tuhan dengan hati yang taat dan tidak bersungutsungut. Oleh karena itu mari kita mengingat nasihat firman Tuhan yang tertulis dalam 1 Korintus 10 : 10 : “Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut”. Tapi selain dari pada itu, api Tuhan juga memiliki makna kekudusan dan keadilan Allah yang tidak dapat dicampuri dengan dosa dan sikap tidak hormat dari umat-Nya. Karena itulah api Tuhan menyala, ketika bangsa Israel bersungutsungut di hadapan Tuhan tentang nasib buruk mereka. Namun demikian, saat kita jatuh dan bertobat serta menaikkan doa syafaat seperti Musa, maka Tuhan pun memadamkan api murka-Nya. Hal itu menunjukkan kasih karunia-Nya yang besar dalam hidup kita. Melalui peristiwa tersebut kita dapat belajar, bahwa api Tuhan yang menyala dapat menghanguskan kita. Tapi selain itu, api Tuhan juga dapat menunjukkan kasih-Nya yang luar biasa, ketika kita berdoa dan bertobat di hadapan-Nya. Penegasan: Api Tuhan yang menyala menunjukkan murka-Nya atas kesalahan kita, dan atas kasih-Nya bagi pertobatan kita. Doa : Terima kasih Tuhan, karena Engkau bukan hanya murka atas dosa dan kesalahan kami. Tapi Tuhan juga mengasihi kami ketika kami bertobat dan memohon pengampunan-Mu, demi nama Tuhan Yesus, kami berdoa, amin.


Jumat, 30 Januari 2026

Hati-Hati Dengan Ucapan Bilangan 12 : 1 – 5 “Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya” (ayat 5).

A

yat yang tertulis dalam penekanan di atas terjadi setalah Harun dan Miryam mengucapkan hal yang negatif tentang Musa (Bilangan 12:1 dan 2). Dalam ayat tersebut ditulis, bahwa Harun dan Miryam meragukan otoritas Musa dan kepemimpinannya. Kendati Musa diam saja, tapi hal tersebut mendapat respons yang serius dari Tuhan. Itu berarti, ucapan yang meremehkan orang yang diurapi Tuhan tidak dapat dianggap ringan. Karena itulah, Tuhan langsung turun tangan dan menegur mereka. Itulah yang terjadi, ketika Tuhan memanggil Harun dan Miryam untuk menghadap-Nya ( ayat 5 ). Hal itu menunjukkan tindakan yang serius, bahwa ucapan yang salah dapat mengundang teguran langsung dari Tuhan. Bahkan karena hal tersebut Miryam kena penyakit kusta ( ayat 10 ) dan harus dikucilkan selama tujuh hari lamanya (ayat 14b). Itu berarti, ucapan kita memiliki dampak yang sangat besar. Jika hal itu menyinggung otoritas orang lain, maka hal tersebut dapat merusak hubungan, dan dapat membawa hukuman. Baik dari Tuhan seperti peristiwa di atas, maupun dari Pemerintah jika kita melanggar hukum verbal. Karena itulah kita perlu berhati-hati dalam berbicara, terutama tentang orang yang dipakai Tuhan, pemimpin rohani atau sesama kita. Tentang hal tersebut firman Tuhan memberi nasihat kepada kita yang demikian bunyinya: “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan” (Amsal 13 : 3). Penegasan: Ucapan bagaikan pedang bermata dua. Dapat memberkati tapi juga dapat menghancurkan kita. Karena itulah kita harus berhati-hati dan waspada dengan ucapan kita. Doa: Tolonglah kami Tuhan, agar ucapan kami dapat memberkati dan tidak menghancurkan hidup kami maupun sesama kami, demi nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa, amin.


Sabtu, 31 Januari 2026

Pemulihan Bilangan 16 : 44 – 50 “Ketika Harun kembali kepada Musa di depan pintu Kemah Pertemuan, tulah itu telah berhenti” (ayat 50 ).

A

yat tersebut di atas menjadi bagian dalam pemberontakan Korah, dan Tuhan menghukum pemberontakan tersebut dengan tulah atau wabah, yang menyebar di antara bangsa Israel. Harun yang dipilih Tuhan sebagai imam, berlari ke tengah umat untuk menghentikan murka Tuhan (Bilangan 16:4649). Ketika Harun mempersembahkan ukupan, maka tulah atau wabah yang mematikan itu pun langsung berhenti, dan inilah momen pemulihan bagi umat Israel dari hukuman yang dahsyat. Pemulihan itu sendiri terjadi, ketika ada perantaraan ilahi, dan Harun sebagai imam, menjadi gambaran Yesus yang menjadi perantara antara Allah dan manusia. Itulah yang dikatakan Tuhan dalam firman-Nya : “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibrani 7 : 25). Pemulihan juga dapat terjadi, jika ada pertobatan dan tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Jadi tidak cukup kita hanya menyadari kesalahan saja, tapi juga harus disertai dengan tindakan yang benar. Dalam hal ini Harun bertindak cepat dengan mengambil perbaraan seperti yang dikatakan Musa, dan dia berlari ke tengah-tengah umat Israel, untuk membubuhkan ukupan sehingga terjadi pendamaian. Itu berati, pemulihan merupakan bukti kasih Tuhan pada umat-Nya. Meskipun mereka bersalah karena pemberontakan, tetapi Tuhan tetap menyediakan jalan pemulihan, dan hal itu juga dapat terjadi pada kita. Ketaatan dan doa syafaat dapat menghentikan kehancuran dan membawa pemulihan rohani dalam hidup kita. Termasuk dalam keluarga, gereja dan bangsa kita. Karena itu kita jangan menunda bertindak benar. Seperti Harun bertindak dan tulah berhenti, maka hal itu juga yang harus kita lakukan dalam hidup kita. Penegasan: Pemulihan terjadi jika ada pertobatan dan tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Doa: Kami bersyukur kepada-Mu, Tuhan, atas kesempatan yang Engkau anugerahkan kepada kami untuk mengalami pemulihan sebagai bukti kasih-Mu yang besar. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Minggu, 1 Februari 2026

Belajar dari Kesalahan Ratapan 1 : 1-5. “Sungguh, Tuhan membuatnya merana, karena banyak pelanggarannya; kanakkanaknya berjalan di depan lawan sebagai tawanan”. (ayat 5b)

A

da pepatah mengatakan “tak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang tak pernah salah.” Pepatah ini mengajarkan bahwa setiap manusia pernah melakukan kesalahan, baik sengaja atau tidak. Saat seseorang berbuat kesalahan, tentu hal itu akan menjadi pengalaman pahit yang tidak akan pernah dilupakan serta menjadi pembelajaran. Bangsa Yehuda dalam pembacaan ini, telah melakukan kesalahan besar di mata Allah dengan memberontak serta tidak taat terhadap Perjanjian dan Hukum Tuhan. Mereka bersekutu dengan bangsa-bangsa asing, mencari perlindungan, memilih meninggalkan Allah yang menyertai, memelihara, serta melindungi bangsa Yehuda dengan menyembah berhala milik bangsa-bangsa asing. Pengakuan pahit bahwa kehancuran Yerusalem adalah penghukuman langsung dan adil dari Allah, karena dosa-dosa besar yang dilakukan. Allah juga mengizinkan kita merasakan konsekuensi dari kesalahan dan dosa yang kita perbuat, bukan untuk menghancurkan tetapi untuk mengajar agar kembali kepada Tuhan. Apa yang dapat dipelajari ketika melakukan kesalahan serta bagaimana memperbaiki keadaan? Ingat dosa mempengaruhi hidup kita, karena hilangnya rasa tenteram dan damai sejahtera dalam hati. Keadaan hidup terasa suram bahkan rasa sakit di dalam jiwa yang sangat menekan oleh karena kesalahan dan dosa yang di perbuat. Konsekuensi itu diizinkan Tuhan untuk membuat kita sadar dan berbalik pada Penolong kita yang sanggup memulihkan lewat doa dan permohonan yang tulus kepada Allah. Saat melakukan kesalahan dan dosa, mengajar kita bahwa hanya di dalam Allah saja ada kebenaran hidup yang hakiki. Orang-orang percaya yang pernah mengalami kegagalan dan kesalahan, setelah mengalami pemulihan jiwa dari Tuhan, akan memiliki kerinduan untuk membangun kehidupan rohani yang kokoh dan teguh, dan dijauhkan dari mengulangi kesalahan yang sama. Kesalahan juga mengajar kita untuk membangun kesadaran untuk semakin mawas diri dan berhati-hati sehingga tidak bersikap ceroboh, penuh pertimbangan dalam perjalanan hidup kita. Penegasan: Cara pandangan serta pikiran kita diarahkan oleh hikmat dan pengenalan yang mendalam terhadap Firman Tuhan yang membawa kita untuk melewati hari demi hari yang kita jalani. Doa: Ya Tuhan, tolong saat kami berbuat kesalahan, jangan biarkan kami tenggelam dalam penyesalan tanpa harapan. Melainkan biarlah kami mendapatkan kasih sayang dan pemulihan dari Tuhan. Baharui kami, ajar kami agar semakin bersandar dan berserah pada Tuhan saja. Ini doa kami, dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Senin, 2 Februari 2026

Jangan Sampai Dilupakan. Ratapan 2 : 1-7. “Tuhan menjadi seperti seorang seteru; Ia menghancurkan Israel, meremukkan segala purinya, mempuingkan benteng-bentengnya, memperbanyak susah dan kesah puteri Yehuda”. (ayat 5)

Y

eremia menyaksikan kehancuran yang terjadi atas Yerusalem, kota yang dulunya sangat indah dan megah sebagai pusat peribadatan bangsa Israel, kini tinggal seonggok puing-puing yang bertebaran. Tempat yang dijanjikan kehadiran Tuhan, kini ditutupi awan kemarahan dan murka Allah. Tidak ada petunjuk dari Tuhan, nabi-nabi tidak lagi mendapatkan wahyu, sungguh sangat menyedihkan keadaan bangsa Yehuda karena penghukuman Allah yang adil. Tragedi ini sebenarnya dapat dihindari kalau bangsa yang adalah milik kepunyaan Allah selalu mengingat bahwa perjalanan kehidupan mereka hanya Allah yang selalu menyertai dan merancangkan kebaikan serta kemakmuran. Kehancuran Yerusalem mengingatkan bahwa, kasih setia Tuhan serta cintanya kepada umatnya dapat berubah menjadi penghukuman dan murka Allah, ketika umatnya dengan sengaja melupakan dan meninggalkan Perjanjian mereka dengan Tuhan. Lalu apa yang kita tidak boleh lupakan agar kiranya penghukuman Allah jangan menimpa hidup kita. Pertama: jangan melupakan Tuhan dan perjanjian-Nya. Kita sering menggambarkan Allah hanya dari sisi penuh kasih dan berlimpah dalam pengampunan. Itu benar, tetapi belum dapat dikatakan kebenaran yang utuh, di sisi lain kita jangan melupakan kekudusan dan keadilan Tuhan yang juga menjadi sifat Allah. Tuhan membenci dosa sebab dosa adalah kekejian bagi-Nya. Waktu kita mengaku dengan sungguh dan percaya serta menyerahkan hidup kita menjadi milik Tuhan seutuhnya maka kita sedang mengikat perjanjian suci dengan Allah, untuk hidup dalam Peraturan dan Perintah Allah,” Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk di pakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang yang dulu mati, tetapi sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:13). Kedua: Jangan lupa tujuan hidup kita adalah memuliakan Tuhan. Memuliakan Tuhan berarti mencerminkan nilai-nilai kehidupan anak-anak Allah, baik melalui ibadah, ketaatan dan ucapan syukur, praktik kasih kepada sesama dan perilaku yang baik. Semua ini harus diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan kita, setiap saat. Dengan tindakan dan sikap yang mencerminkan Nilai-nilai anak-anak tersebut, sedang memuliakan Allah. Penegasan: Hidup kita adalah Alkitab yang sedang terbuka disaksikan dan diperhatikan oleh banyak orang, maka segala tindakan kita harus sejalan dengan Firman Tuhan. Doa: Tuhan bentuk kami menjadi pribadi yang tidak melupakan Engkau dan ajar kami untuk selalu mempersembahkan hidup sebagai persembahan yang sejati bagi Kemuliaan-Mu, dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Selasa, 3 Februari 2026

Kasih Yang Menguatkan Ratapan 3:17-25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. (ayat 25)

P

enulis kitab Ratapan menurut para ahli adalah nabi Yeremia sebagai saksi atas keruntuhan kota Yerusalem. Baginya keruntuhan Yerusalem telah mendatangkan kesedihan dan penderitaan yang mendalam secara pribadi maupun bagi semua orang Israel. Semua keindahan dan semarak yang dahulu pernah menghiasi kehidupan kini tidak lagi dialami; semuanya akan sirna dan lenyap. Itulah sebabnya kitab ini dinamakan Ratapan, karena setiap kata di dalamnya dipenuhi dengan ungkapan kesedihan, kesengsaraan, dan rasa kehilangan yang mendalam. Dalam menghadapi tantangan dan kesusahan, sering kita merasa bahwa Tuhan begitu jauh, seakan tak dapat dijangkau. Kita merasa sendirian, seolaholah harus menanggung semua beban tanpa ada pertolongan dari mana pun. Namun, benarkah tantangan dan penderitaan itu telah memisahkan kita dari kasih Allah? Tantangan yang kita hadapi bukan tanda bahwa Tuhan jauh, melainkan kesempatan untuk semakin mendekat kepada-Nya dan belajar percaya sepenuhnya kepada kasih dan kuasa-Nya. Firman Tuhan menguatkan kita hari ini bahwa penderitaan sekalipun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Roma 8:38-39. Ketika Tuhan mengizinkan kita menghadapi tantangan yang tak terelakkan, ingatlah sebagaimana Yeremia berkata: “Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia”. muda bagian ini mengajar kita bahwa kasih Tuhan tidak pernah berubah. Mata Tuhan tertuju kepada setiap orang yang dengan teguh dan sadar mengesampingkan segala kesusahannya dan meletakkan harapannya kepada Tuhan disertai dengan jiwa yang mau mencari Dia. Kasih-Nya yang nyata melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib menjadi bukti bahwa Ia peduli. Kasih inilah yang menguatkan setiap orang percaya dalam menghadapi segala pergumulan. Penegasan: Saat lemah, berpalinglah kepada kasih Kristus yang menguatkan dan memberi kekuatan dalam setiap pergumulan. Doa: Allah yang baik, bimbing kami untuk terus berharap kepada-Mu dalam setiap pergumulan. Kami meletakkan pengharapan kami kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus Juruselamat kami, kami berdoa, amin.


Rabu, 4 Februari 2026

Kasih Yang Memulihkan Ratapan 4:1-6 “Ah, sungguh pudar emas itu, emas murni itu berubah; batu-batu suci itu terbuang di pojok tiap jalan.” (ayat 1)

D

alam beberapa kesempatan tanpa direncanakan, kami melintasi Taman Makam Pahlawan. Tertata rapi barisan nisan pahlawan yang gugur karena perjuangan kemerdekaan bangsa. Di antara barisan nisan tertulis Pahlawan Tak Dikenal yang menunjukkan bahwa seseorang yang dimakamkan tersebut tidak dapat dikenali identitasnya, tetapi telah turut terlibat dalam perjuangan. Mereka tidak dikenali tetapi mengingatkan kita akan kerasnya perjuangan. Akhirnya kami disadarkan bahwa meskipun mereka telah gugur sebagai pahlawan tak dikenal, tapi hasil dari perjuangannya adalah kemerdekaan negeri kita. Dalam kesadaran akan hukuman yang harus diterima oleh bangsanya, Yeremia mengungkapkan kegundahan hatinya. Setidaknya ada tiga kali Yeremia, mengeluh “Ah” dan masing-masing memiliki nuansa yang berbeda. Yeremia meratapi kehancuran negerinya dan mengeluh “Ah” pada pasal satu, dia merasakan keterpisahan dengan Tuhan karena dosa dan dia mengeluh “Ah” pada pasal dua. Pada pasal empat keluhannya mengungkapkan pemulihan dari Allah. Yeremia mengeluh dan mengadu sebagai bentuk kelemahan namun juga mengungkapkan pengharapan yang besar bahwa Allah pasti akan memberi pemulihan. Pelajaran penting bagi kita melalui kebenaran Firman Tuhan hari ini adalah keluhan kita jangan menjadi keluhan yang tak berpengharapan. Jadikan sebagai pengakuan atas kelemahan dan pengharapan pada Allah. Yeremia mengeluh Israel sebagai umat Allah yang harusnya bersinar seperti emas murni dan batu suci telah terbuang. Dalam pengharapannya, Yeremia mengakui bahwa kasih Allah yang kekal akan memulihkan. Kita pun dapat mempunyai pengharapan yang sama. Penegasan: Allah tahu keberadaan kita, bawalah semua keluhan dalam doa dan permohonan pada kasih Allah yang menghiburkan dan memulihkan. Doa: Bapa di sorga, kami bersyukur memiliki Allah seperti Engkau yang tidak pernah meninggalkan. Kiranya kasih-Mu terus menopang kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Kamis, 5 Februari 2026

Menolak Gaya Hidup Duniawi l Yohanes 2:13–17 “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.” (ayat 15)

K

ebanyakan orang takut dikatakan ketinggalan zaman sehingga berusaha keras untuk menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi di sekeliling. Perlu dipahami tidak semua perkembangan atau perubahan zaman berguna dan membangun iman kita. Olehnya, 1 Yohanes 2:15 mengingatkan kita untuk tidak mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Bagaimana caranya? Terus melatih kepekaan akan suara Tuhan supaya dapat melihat dan menyaring perubahan zaman. Mana yang dapat kita ikuti dan mana yang tidak menjauhkan kita dari Tuhan. Dunia menawarkan kebebasan yang semu, kesenangan yang mengeksplorasi hawa nafsu tetapi semua kesenangan sesaat itu justru menjauhkan kita dari kasih Allah. Kita takut menjadi manusia yang berbeda, bila tidak mengikuti perubahan zaman. Padahal sesungguhnya di dalam Kristus kita sudah menjadi ciptaan baru yang memiliki masa depan yang jelas. Kita perlu meminta keberanian dan kekuatan dari Tuhan untuk dapat berani mengatakan tidak pada gaya hidup duniawi. Setan tidak pernah senang bila kita menjadi anak - anak Allah, oleh karena itu, ia menawarkan segala kenyamanan dunia, pertolongan yang menjerat jiwa, kesenangan dan pesona dunia yang menyenangkan mata tetapi semuanya akan kembali menarik kita menjadi milik dunia yang mendatangkan hukum maut. Sering Kali kita tidak berdaya menghadapinya olehnya kita harus minta pertolongan Yesus yang telah menang menghadapi pencobaan dari setan untuk memberi kekuatan menolak gaya hidup duniawi. Penegasan: Gaya hidup duniawi menjauhkan kita dari Sorga yang dijanjikan bagi orang percaya. Doa: Tuhan beri kami hati yang peka untuk menilai dan menyaring segala tawaran dunia, supaya kami tetap menjadi milik-Mu saja. Dalam nama Kristus kami berdoa, amin.


Jumat, 6 Februari 2026

Anak Allah vs Anak Iblis I Yohanes 3: 6 – 10 “Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya”. (ayat 10)

B

roery Marantika pernah mempopulerkan lagu dengan judul “Aku Begini Engkau Begitu “ yang di dalam liriknya tertulis “Buah semangka berdaun sirih“. Pada faktanya, bukankah tidak ada tanaman buah semangka berdaun sirih? Demikian pula dengan kehidupan rohani seseorang, mereka akan disebut anak-anak Allah apabila melakukan apa yang Allah perintahkan, dan sebaliknya disebut anak-anak iblis karena hidup dipengaruhi kehendak dan kepentingan iblis. Adalah mustahil seseorang yang mengaku anak Allah tetapi terus memiliki kecenderungan pada kepentingan iblis, karena tidak akan pernah sama masa depan yang diberikan oleh Allah dengan yang diberikan iblis. Cinta Allah pada manusia sangat besar karena Allah memandang manusia begitu istimewa dan berharga. Demi menyelamatkan kita dari hukum dosa Yesus rela turun ke dunia, mati dan bangkit supaya kita memperoleh kebebasan dari hukuman. Sementara iblis memandang kita sebagai target untuk dapat menjadi kawan dalam hukuman kekal di neraka. Yang ditawarkan iblis selalu hal-hal yang menarik pada awalnya, namun yang pada akhirnya menjauhkan kita dari kasih Allah. I Yohanes 3:10 memberi ketegasan bahwa tanda anak-anak Allah yaitu mereka yang melakukan kebenaran sesuai Firman Allah dan mengasihi saudaranya. Dua tanda ini sangat mudah dilihat oleh dunia sebagai pembeda antara anak Allah dan anak Iblis. Penegasan: Kebesaran kasih Allah tidak akan pernah sama dengan kasih iblis. Doa: Tuhan tuntun kami untuk berpikir, berucap dan bertindak yang benar dan biarlah kasih-Mu menguasai kami dalam praktik kasih kepada sesama. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Sabtu, 7 Februari 2026

Kenali Dirimu 1 Yohanes 4:1-6 ”Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” (ayat 4)

M

engenal diri dengan benar akan membawa dampak positif dalam hidup. Dampak positif dari mengenal diri dengan benar adalah meningkatkan rasa percaya diri, karena di sana kita akan tahu potensi dalam diri. Selain itu juga menolong membuat keputusan yang lebih baik; memperbaiki kelemahan dan kekurangan kita; serta membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Ayat penekanan hari ini memberitahukan bahwa mereka yang percaya dengan sungguh kepada Kristus memiliki potensi yang sungguh luar biasa. Potensi kita berasal dari Allah, dari kerajaan yang kekal, bukan yang fana. Kita berbeda dari dunia ini, oleh karenanya jangan turunkan derajat hidup yang telah diangkat tinggi melalui karya Penebusan di atas Kayu Salib. Potensi selanjutnya, kita adalah pemenang, yang telah mengalahkan nabi-nabi palsu. Dengan apakah kita dapat menang? Dengan kuasa dari Roh Allah yang ada dalam diri kita. Olehnya jangan ada lagi rasa takut dan gentar menghadapi setiap musuh, karena kuasa Roh Allah ada dalam kita. Roh yang ada di dalam kita, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. Roh yang ada dalam diri kita adalah Roh Kudus yang selalu menjadi Penolong, Penasihat, Pembimbing, Penghibur kita. Anda tidak sendiri menjalani kehidupan ini sebab ada Roh yang menyertai. Mengenal diri akan membuat kita kagum betapa hebat Tuhan yang melengkapi kita dengan potensi-potensi yang dibutuhkan sementara kita ada di dalam dunia fana. Penegasan: Kenali diri dan potensi yang dianugerahkan Tuhan Allah, maka kita akan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Doa: Tuhan Yesus yang baik, terima kasih untuk potensi yang Tuhan anugrahkan dalam hidup ini. Karena dengannya kami memiliki kepercayaan yang kuat. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Minggu, 8 Februari 2026

Peniru Yang Jitu 1 Yohanes 4:7-11 “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (ayat 11)

A

nak-anak adalah contoh paling umum dari peniru jitu. Jika orang tua terbiasa membuang sampah pada tempatnya, maka nakanya akan meniru dengan membuang sampah pada tempatnya. Demikian juga jika orang tua memberi contoh yang tidak baik, maka anak akan meniru hal demikian. “…Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita …”Kita dikasihi Allah dengan kasih yang sempurna, dan kasih demikian, tidak kita temukan di dunia ini, karena kasih Allah itu tanpa syarat, abadi, dan tidak terbatas, sedangkan kasih manusia bisa berubah, terikat pada kondisi hatinya dan memiliki batasan. Wujud kasih Allah yang paling besar melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Bagaimana Tuhan Yesus mau menanggung semua dosa dan pelanggaran kita, kita menjadi orang yang merdeka. Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah (1 Yohanes 3:1). Kita tidak hanya ditebus dan dijadikan merdeka, namun juga menjadi anak Allah. Sebagai anak, kita seharusnya menjadi peniru jitu, meniru karakter, sifat Bapa kita. Allah adalah kasih, maka sebagai anak Allah kita harus hidup dalam kasih itu. “…maka haruslah kita juga saling mengasihi” kata saling mengasihi, menekankan kepada kita untuk mengasihi dengan kasih yang tulus, tanpa syarat, mau berkorban dan selalu mengutamakan orang lain dari pada diri sendiri. Hal inilah yang harus kita praktikkan sebagai anak-anak Allah. Penegasan: Jadilah peniru jitu dari karakter Allah, yaitu mengasihi, dengan kasih yang tidak bersyarat. Doa: Tuhan Yesus yang baik, terima kasih buat kasih-Mu yang sempurna buat kami. Ajar kami agar dalam hidup ini kami saling mengasihi satu dengan yang lain. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Senin, 9 Februari 2026

Fondasi Yang Kokoh 1 Korintus 3:10-15 “Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku,aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakan dasar, dan orang lain terus membangun di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya” (ayat 10)

B

erbicara “Fondasi Yang Kokoh” bagi ahli bangunan, fondasi adalah sesuatu yang utama karena bermanfaat sebagai daya tahan atau kekuatan yang membuat bangunan itu dapat menanggung beban dan memiliki usia yang panjang. Jika kita hubungkan dengan fondasi yang kokoh untuk bangunan rohani manusia maka yang dibutuhkan adalah fondasi iman dalam Tuhan Yesus Kristus. Mengapa fondasi iman kepada Tuhan Yesus Kristus? Manusia selalu diperhadapkan dengan berbagai ujian, pencobaan dan masalah, baik itu masalah dari dalam diri sendiri, maupun masalah dari luar. Masalah dari dalam diri seperti hawa nafsu, kedagingan sedangkan masalah yang dari luar adalah pergaulan dan lingkungan dimana kita berada. Jika kita tidak memiliki fondasi Iman kepada Tuhan Yesus Kristus, maka kita akan jatuh dan jauh dari Tuhan, yang pada akhirnya membawa kita kepada kebinasaan. Dan tentunya tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga (Galatia 5:19-21). Kalau Yesus Kristus kita imani sebagai fondasi dalam kehidupan, maka kita tidak perlu ragu, karena pasti kita teguh dan tidak mudah tergoyahkan oleh rupa-rupa dunia ini. Bahkan di saat kita memilih fondasi yang teguh itu, dan kita percaya penuh pada-Nya maka anugerah kekuatan, semangat dan damai sejahtera, akan menjadi bagian kita. Penegasan: Tetaplah pada fondasi yang kokoh itu, maka kita akan teguh dan memperoleh upah yaitu anugerah kekuatan, semangat dan damai sejahtera. Doa: Tuhan Yesus, Engkaulah Fondasi hidup kami yang teguh. Kuatkan dan beri ketegaran pada kami dalam menghadapi godaan hidup, biarlah kami hanya berpaut kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Haleluya. Amin.


Selasa, 10 Februari 2026

Tumbuh Bersama Kristus 1 Korintus 3:5-9 “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah” (ayat 9).

P

ohon yang tumbuh dengan memiliki akar yang kuat, yang merambat masuk ke tanah yang paling dalam, untuk menyerap nutrisi yang banyak, sudah pasti tumbuh dengan baik, subur dan juga pasti menghasilkan buah yang baik. Demikian kehidupan rohani manusia, agar dapat bertumbuh dengan baik, dan menghasilkan buah yang baik, harus bertumbuh bersama Kristus dengan berakar pada kebenaran Firman-Nya. Pertanyaan buat kita semua, hal apa yang diperlukan untuk bertumbuh sebagai kawan sekerja Allah? Untuk dapat bertumbuh bersama Kristus, maka hal apa yang harus kita lakukan adalah menjadi ladang Allah. Menjadi ladang Allah, berarti mengelola hidup ini, untuk memuliakan nama Allah demi menghasilkan buah-buah rohani, bagi sesama dan terlebih bagi Allah. Dari pertumbuhan yang baik akan menghasilkan kebaikan, kesalehan, sukacita dan kasih serta damai sejahtera. Semua itu dapat diraih bila kita fokus pada semua karakter Allah. Hal yang selanjutnya sebagai kawan sekerja Allah berarti bekerja bersama dengan Allah untuk mewujudkan kehendak-Nya di dunia ini. Dengan cara berani bersaksi tentang kuasa Allah yang bekerja dalam hidup setiap orang yang setia kepada Tuhan. Serta terus mewartakan kabar baik, sambil hidup rendah hati, saling mengasihi, dan memperlengkapi satu sama lain, demi memperluas Kerajaan Allah. Menjadi bangunan Allah ini berarti orang-orang percaya yang di bangun bersama sebagai rumah rohani Allah, untuk memuliakan Allah dengan berdiri di atas dasar ajaran Yesus Kristus serta kehadiran Roh Kudus yang juga ada berdiam untuk memberi bimbingan, kekuatan dan penghiburan. Penegasan: Untuk dapat hidup bertumbuh dalam Kristus, kita yang adalah ladang Allah dan bangunan Allah harus senantiasa terhubung dengan Kristus sebagai sumber kekuatan kita. Doa: Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk bisa selalu terhubung dengan-Mu, agar kami dapat bertumbuh dalam kehidupan yang benar untuk memuliakan-Mu. Amin,-


Rabu, 11 Februari 2026

Restorasi Iman 1 Korintus 5:4-8 “Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita,” (ayat 4)

D

i tengah dunia yang semakin beragam ini, kita sering menghadapi perbedaan pendapat, latar belakang, dan cara hidup. Namun sebagai umat Kristus, kita dipanggil untuk menjaga kesatuan dalam iman, bukan perpecahan. Saat Gereja di Korintus mengalami masalah serius tentang dosa dan ketidakteraturan, Rasul Paulus mengingatkan kita akan pentingnya restorasi iman atau pemulihan iman yang melemah agar kesatuan tetap terjaga. Marilah kita belajar dari 1 Korintus 5:4-8, khususnya ayat 4, tentang bagaimana kita dapat membangun kembali iman dan kesatuan di tengah perbedaan. 1 Korintus 5:4 berkata "Ketika kamu berkumpul dalam roh, bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita." Ayat ini menunjukkan bahwa meskipun Paulus tidak hadir secara fisik, ia hadir secara roh dan kuasa Tuhan Yesus turun di tengah jemaat. Kesatuan dalam roh dan Kuasa Tuhan, kesatuan bukan sekadar fisik bertemu, tapi kesatuan yang dibangun oleh Roh Kudus yang bekerja di antara kita. Roh yang sama mempersatukan umat Tuhan walau memiliki perbedaan. Restorasi iman dalam konteks perbedaan, Paulus memanggil jemaat untuk menghadapi masalah dengan tegas dan kasih, bukan mengabaikan dosa yang mengancam keutuhan Jemaat. Restorasi iman berarti memperbaiki akar masalah dengan kasih dan kejujuran, supaya kesatuan dapat kembali pulih. Oleh sebab itu marilah kita membuka hati untuk saling mengampuni, saling membangun dan melayani, meskipun kita berbeda pendapat atau latar belakang. Dalam setiap perbedaan, jadikan Firman dan Roh kudus sebagai pusat persatuan kita, dengan demikian perbedaan tidak memisahkan, tetapi dapat mempersatukan. Jangan takut menghadapi masalah, sebab Tuhan kita mampu mengatasi masalah. Penegasan: Kesatuan di tengah perbedaan bukanlah hal yang mustahil. Dengan Roh Kudus hadir ditengah kita, dan iman yang selalu direstorasi melalui kasih dan kebenaran Tuhan. Doa: Tuhan yang Maha Kuasa, terima kasih atas anugerah Roh kudus yang mempersatukan kami. Pulihkanlah iman kami ketika kami terjatuh dan kuatkanlah kesatuan kami di tengah perbedaan. Ajar kami untuk saling mengasihi dan melayani dalam kasih-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Kamis, 12 Februari 2026

Umat Allah yang Kudus 1 Korintus 6:15-20 "Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!” (ayat 15)

K

ita dipanggil menjadi umat Allah yang kudus, yang berbeda dari dunia di sekitar kita. Namun, kehidupan sehari-hari sering kali membawa kita ke dalam godaan dan tindakan yang bertentangan dengan kekudusan itu. Hari ini kita belajar dari Firman Tuhan 1 Korintus 6:12-16, khususnya ayat 15 tentang pentingnya menjaga tubuh sebagai bait Roh Kudus dan hidup dalam kekudusan. Dalam 1 Korintus 6:15, Paulus mengingatkan kita bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus sendiri. Artinya, kita tidak boleh menyerahkan tubuh kita dalam dosa, sebab tubuh kita tidak hanya sekadar jasmaniah, melainkan tempat tinggal Roh Kudus. Ketika kita menganggap remeh perbuatan dosa terhadap tubuh, kita sebenarnya mengabaikan karya dan kehadiran Allah dalam diri kita. Ayat ini juga menunjukan bahwa hubungan kita dengan Kristus bersifat pribadi dan intim. Jika tubuh kita adalah anggota Kristus, maka hidup kita harus mencerminkan kekudusan-Nya. Paulus menolak anggapan bahwa kebebasan dalam Kristus berarti bebas untuk berbuat apa saja. Kebebasan itu harus dipakai untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk menjerumuskan diri dalam dosa. Untuk itu jaga tubuh dan hidup kita sebagai bait Roh Kudus dengan tidak menyerahkan pada perbuatan dosa. Gunakan kebebasan kita dalam Kristus untuk membangun kehidupan yang kudus, bukan sebagai alasan untuk melanggar kehendak Tuhan. Penegasan: Mari meneguhkan hati sebab kita adalah milik Kristus, bukan milik dunia atau keinginan daging semata. Tuhan memanggil kita untuk hidup kudus. Doa: Tuhan yang Maha Kudus, tolong kami menjaga tubuh dan hidup kami sebagai Roh Kudus-Mu. Berikanlah kami kekuatan untuk menolak godaan dan hidup dalam kekudusan sesuai kehendak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Jumat, 13 Februari 2026

Bahasa Kasih 1 Korintus 13:1-7 “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” (ayat 4)

K

eluarga adalah tempat belajar banyak hal, termasuk cara berkomunikasi. Mungkin kita pandai berbicara, berdebat, atau menjelaskan sesuatu, tetapi Alkitab mengingatkan bahwa komunikasi terbaik adalah komunikasi yang didasari oleh kasih. Tanpa kasih, kata-kata yang paling fasih sekalipun, akan terdengar hampa, seperti bunyi gong atau canang yang berisik di telinga anggota keluarga. Pembacaan Alkitab hari ini dengan jelas menunjukkan bahwa keahlian, pengetahuan, iman yang kuat, atau bahkan pengorbanan terbesar sekalipun, menjadi tidak berarti jika motivasinya bukan kasih. Hal Ini berarti, bukan seberapa banyak yang kita lakukan atau seberapa pintar kita. Yang terpenting adalah mengapa kita melakukannya? Apakah tindakan kita didorong oleh kasih yang tulus, ataukah oleh keinginan untuk terlihat baik, atau bahkan untuk mencari keuntungan diri sendiri? Pada ayat 4 ini mendeskripsikan sifat-sifat praktis dari kasih itu. Kita menemukan "bahasa" dari kasih yang dapat kita terapkan setiap hari. Kasih itu sabar: Bersabar saat menghadapi kerewelan anak, kesalahan pasangan, atau saat rencana keluarga tidak berjalan lancar ataupun di tengah pergumulan hidup yang berat. Kasih itu murah hati: Rela memberi waktu, perhatian, dan bantuan tanpa pamrih. Kasih tidak cemburu, tidak memegahkan diri, dan tidak sombong: Kita tidak menjadi iri hati, melihat keberhasilan orang lain maupun keluarganya dan kita tidak meninggikan diri sendiri di atas mereka. Mari kita renungkan! Apakah perkataan kita hari ini di rumah ataupun dikantor mencerminkan kasih, atau justru terdengar seperti "gong yang berkumandang" karena nada bicara yang kasar atau penuh tuntutan? Dalam kesibukan sehari-hari, sudahkah kita mempraktikkan kesabaran dan kemurahan hati terhadap satu sama lainnya? Penegasan: Mari ubah cara kita berkomunikasi. Pilihlah untuk menggunakan bahasa kasih dalam setiap interaksi, yang dimulai dengan kesabaran dan kemurahan hati. Doa: Ya Tuhan, ajari kami untuk mampu berbahasa kasih kepada sesama sehingga Tuhan dimuliakan, kami pun diberkati. Kami tidak hanya pandai berkatakata atau melakukan banyak hal, tetapi melakukannya dengan motivasi kasih yang murni. Biarlah kami menjadi tempat di mana kasih-Mu nyata terlihat. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Sabtu, 14 Februari 2026

Kekuatan Di Tengah Pencobaan 1 Korintus 1:13-17 Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?” (ayat 13).

H

idup ini tidaklah lepas dari tantangan dan pencobaan. Bentuknya bermacammacam, bisa masalah keuangan, kesehatan, kesulitan dalam mendidik anak, atau bahkan konflik internal dalam keluarga. Ketika menghadapi masalah, mungkin kita merasa seperti terombang-ambing, lemah, dan sulit menemukan pegangan. Surat Paulus kepada jemaat di Korintus yang mengalami perpecahan, memberikan pelajaran penting, tentang menemukan kekuatan sejati di tengah badai kehidupan. Mereka yang mengelompokkan diri berdasarkan pemimpin rohani yang mereka kagumi: "Aku dari golongan Paulus", "Aku dari golongan Apolos", dan seterusnya. Namun, Paulus menegur keras sikap ini dengan pertanyaan yang menusuk hati, "Adakah Kristus terbagi-bagi?" Pesan utama dari ayat ini bagi kita orang Kristen sangat relevan. Kekuatan kita di tengah pencobaan, tidak terletak pada manusia, harta, atau kemampuan, melainkan hanya pada Yesus Kristus yang adalah satusatunya pusat pandangan kita. Saat pencobaan datang, kita lebih cenderung mencari solusi instan dari berbagai sumber, termasuk mengandalkan kekuatan sendiri ataupun orang lain. Dalam hal ini Paulus mengingatkan kita bahwa hanya Kristuslah pusat iman dan sumber kekuatan kita sesuai prinsip alkitabiah. Perpecahan di Korintus menunjukkan bahayanya jika kita mengalihkan fokus dari Kristus kepada yang lain, sebab salib Kristus adalah sumber kekuatan. Paulus berkata, "Adakah Paulus disalibkan karena kamu?" Kata-kata ini menunjukkan bahwa hanya ada satu pribadi yang rela mati untuk menebus dosa dan memberikan kita hidup yang kekal, yaitu Yesus Kristus. Kekuatan terjadi bukan karena kita hebat, tetapi karena pengorbanan-Nya yang sempurna. Di kayu salib itulah kasih dan kuasa Allah nyata sepenuhnya. Penegasan: Libatkan Kristus dalam setiap keputusan. Saling mengingatkan. Hindari perpecahan dan perselisihan yang tidak perlu. Fokuskan energi keluarga untuk saling mendukung dan bertumbuh dalam kasih Kristus, yang adalah yang terbesar di antara iman dan pengharapan. Doa: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih Engkau adalah sumber kekuatan dan pengharapan kami satu-satunya. Ampuni kami jika sering kali kami mengandalkan kekuatan sendiri atau mencari solusi di luar Engkau saat pencobaan datang. Tolonglah kami untuk tetap bersatu dan selalu berpegang teguh pada janji-Mu. Berikan kami hikmat. Amin.


Minggu, 15 Februari 2026

Menjadi Satu di Tengah perbedaan. 1 Korintus 3:5-9 ''Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.''(ayat 6-7)

U

ntuk membangun kesatuan di tengah perbedaan adalah kolaborasi Ilahi, menanam dan menyiram, tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan. 'Fokusnya mengalikan perhatian dari peran seseorang karena potensi, mengakibatkan perpecahan pemimpin kepada peran utama Allah dalam pertumbuhan rohani. Akibat perpecahan Jemaat Korintus karena mengidolakan pemimpin rohani yang berbeda, yang menekankan sangat bahaya memusatkan perhatian pada manusia dari pada Tuhan. Tema di atas menekankan kesatuan tujuan dalam pelayanan yang beragam karna keberhasilan sejati berasal dari Allah bukan dari para pelayan-Nya. Rasul Paulus menasihati jemaat agar hidup dalam kesatuan dan kasih sebagai satu Tubuh Kristus kita dipanggil untuk saling memahami, saling mengasihi, dan menunjukan kerendahn hati. Dunia sering memecah-belah dengan ego dan kepentingan pribadi tetapi orang percaya dipanggil untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani dan menampilkan karakter Kristus yang lembut penuh kasih. Kesatuan bukan berarti selalu sependapat, melainkan tetap saling menghormati dalam perbedaan, kasih yang tulus mempersatukan dan membawa damai sejahtera. Tunjukkan kasih dan empati kepada sesama terutama kepada saudara seiman, belajarlah menahan diri mendengarkan dan mengampuni jadilah pribadi yang membawa damai dan memperkuat kesatuan tubuh Kristus melalui sikap rendah hati dan kasih yang nyata dan setiap hidup kita. Allah adalah sumber pertumbuhan, bukan soal siapa yang melayani, kerapuhan Jemaat di Korintus disebabkan adanya persaingan antara pemimpin yang membuat jemaat cenderung mengikuti yang satu dan menganggap pemimpin yang lain kurang semangat, tidak pintar, pemimpin yang lalu lebih maju pelayanannya dari pada pemimpin sekarang. Dalam pelayanan, kesadaran sangatlah penting untuk tidak sombong, tidak merasa lebih hebat dari yang lain. Yang hanya kita buat bersyukur atas pelayanan yang Tuhan berikan. Penegasan: Pertumbuhan rohani adalah pekerjaan Allah, bukan usaha manusia. Meskipun para pelayan Tuhan yang menanam dan menyiram memiliki peran penting, yang terpenting adalah Allah yang memberikan pertumbuhan. Doa: Ya Tuhan, tolong kami menjadi satu di tengah perbedaan. Tidak penting siapa yang menanam dan menyiram, tetapi Engkau Allah adalah yang menumbuhkan. Jangan biarkan kami merasa lebih tinggi, tapi buatlah kami rendah hati. Memuliakan Engkau dengan kasih, pengertian, dan kesabaran. Jadikan kami satu, ya Tuhan Yesus, seperti Bapa, Engkau dan Roh Kudus adalah satu. Amin.


Senin, 16 Februari 2026

Korban Persembahan Kepada Allah Imamat 1:1-5 Jikalau persembahannya merupakan korban bakaran dari lembu, haruslah ia mempersembahkan seekor jantan yang tidak bercela. Ia harus membawanya ke pintu Kemah Pertemuan, supaya TUHAN berkenan akan dia. (ayat 3)

K

etika TUHAN memanggil Musa dan berfirman kepadanya dari Kemah Pertemuan, TUHAN menyampaikan kepadanya bagaimana cara umat Israel yang berdosa dapat mendekati TUHAN yang Maha Kudus yang berdiam di tengah-tengah mereka di Kemah Pertemuan yaitu dengan membawa korban persembahan dari ternak, yakni lembu sapi atau kambing domba jantan yang tidak bercela dan meletakkan tangannya ke atas korban bakaran itu sehingga persembahan itu diperkenan untuk mengadakan perdamaian baginya. Melalui bagian ini ada beberapa prinsip dasar yang dapat kita pelajari, yaitu: Pertama, bahwa cara beribadah bukanlah inisiatif manusia tetapi merupakan Wahyu dan ketetapan Ilahi. Kedua, manusia pada dasarnya adalah makhluk berdosa yang tidak layak di hadapan TUHAN yang Kudus. Persembahan korban/korban bakaran adalah jalan yang Ia sediakan untuk mendamaikan dosa dan memulihkan hubungan. Ketiga, penumpangan tangan ke atas kepala korban melambangkan transfer dosa dari orang yang mempersembahkan kepada korban, yang kemudian mati sebagai pengganti (Imamat 17:11, Ibrani 9:22). Keempat, korban yang dipersembahkan haruslah jantan dan tidak bercacat cela melambangkan kesempurnaan yang dituntut Allah. Semua korban ini adalah bayangan yang menunjuk kepada Yesus Kristus Anak Domba Allah yang sempurna dan tanpa dosa sebagai korban bakaran yang terakhir dan satu-satunya yang memuaskan murka Allah sekali untuk selama-lamanya. Saat ini, orang Kristen tidak lagi mempersembahkan hewan sebagai korban tetapi hidup mereka harus menjadi persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada-Nya sebagai respons iman dan ketaatan kepada Kristus yang telah menjadi Korban Sempurna. Penegasan: Pentingnya penebusan melalui penggantian darah Kristus, menuntut respons hidup kudus dan taat dari umat-Nya. Doa: TUHAN Allah di Sorga tolong kami umat-Mu untuk menghargai dan menghormati pengorbanan-Mu dengan mempersembahkan hidup kami sebagai persembahan yang kudus dan yang berkenan kepada-Mu, amin.


Selasa, 17 Februari 2026

Kualitas Persembahan Yang Kudus Imamat 2:1-5 Lalu korban itu harus dibawanya kepada anak-anak Harun, imam-imam itu. Setelah diambil dari korban itu tepung segenggam dengan minyak beserta seluruh kemenyannya, maka imam haruslah membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai bagian ingat-ingatan korban itu, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN. (ayat 2)

M

akna korban sajian adalah bentuk rasa syukur atas pemeliharaan TUHAN dan sekaligus kepatuhan pada Firman-Nya. Syarat korban sajian adalah tepung yang terbaik yang dituang minyak serta dibubuhi kemenyan di atasnya, kemudian dibawa kepada imam-imam, anak-anak Harun dan imam-imam membawa semuanya itu diatas mezbah sebagai bagian ingatingatan dan korban api-apian yang baunya menyenangkan hati TUHAN. Hal ini mau menunjukkan bahwa TUHAN menuntut kualitas persembahan yang Kudus yang dipersembahkan umat Tuhan ketika datang atau masuk ke Rumah Tuhan agar bisa masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan karena Tuhan itu Kudus dan wilayah Tuhan berdiam juga Kudus (Keluaran 15:13, Keluaran 25:8) dan kualitas persembahan yang Kudus atau yang terbaik itu menyenangkan hati TUHAN mempersembahkan korban sajian secara fisik, tidak lagi dilakukan di zaman kita ini, namun kita dapat mempersembahkan hidup kita melalui doa, pujian dan tindakan kita yang terbaik untuk menyenangkan hati TUHAN dan harus diwujudkan di setiap aspek kehidupan kita, baik itu pekerjaan, pelayanan dan pendidikan kita, yang dilakukan dengan maksimal dan tulus. Penegasan: mengingat bahwa korban sajian adalah bentuk rasa syukur atas pemeliharaan Tuhan maka marilah kita menyerahkan seluruh hidup, pikiran dan tenaga kita yang terbaik untuk menyenangkan hati-Nya. Doa: Tuhan Yesus tolong kami untuk dapat mempersembahkan hidup, waktu dan tenaga kami sebagai korban kudus di atas mezbah-Mu untuk menyenangkan hati-Mu. Amin.


Rabu, 18 Februari 2026

Penebusan Karena Dosa Imamat 5: 1-6 ''Dan haruslah ia mempersembahkan kepada Tuhan sebagai tebusan salah karena dosa itu seekor betina dari domba atau kambing, menjadi korban penghapus dosa. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya”. (ayat 6)

S

etiap pelanggaran atau kesalahan baik yang di sengaja maupun tidak, memiliki konsekuensi tersendiri. Dosa bukan hanya menjadikan manusia menjadi rusak sama sekali batinnya, tetapi juga merusak hubungan manusia dengan Allah, karena itu korban penebusan harus dilakukan. Dalam Imamat 5:1-6 di sana menjelaskan tentang beberapa bentuk kesalahan yang dilakukan oleh umat Israel mulai dari :tidak mau bersaksi, menyentuh sesuatu yang najis, bersumpah sembarangan semua dianggap berdosa di hadapan Tuhan. Tidak ada dosa yang di anggap ringan bila membuat manusia terpisah dari Allah. Beberapa kebenaran yang dapat kita pelajari dari bagian firman Tuhan ini yaitu: Pertama dosa membawa rasa bersalah. Setiap kita pasti pernah merasa bersalah karena melalukan dosa dan kita berusaha untuk menyembunyikan atau menutupinya dengan berbagai cara, namun hal itu justru membawa hubungan kita dengan Allah semakin jauh. Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa dosa membawa rasa bersalah dalam diri kita dan satu-satunya langkah terbaik untuk menghapuskannya yakni dengan penebusan. Kedua, dosa membutuhkan penebusan. Ayat 6 menegaskan bahwa akibat dosa harus ditebus dengan persembahan korban. Dalam konteks bangsa Israel korban dilakukan melalui binatang yang tidak bercacat darah di curahkan sebagai simbol bahkan dosa mendatangkan maut. Tidak ada tebusan yang murah, selalu ada harga yang harus di bayar. Ketiga, penebusan membawa pendamaian. Ayat 6 menyatakan bahwa, imam harus mengadakan pendamaian bagi orang yang berdosa. Pendamaian berarti relasi yang rusak dipulihkan, kedamaian hati diberikan, rasa bersalah di gantikan dengan sukacita. Penegasan: Penebusan karena dosa bukan hanya tentang hukuman yang dihapus, tetapi tentang hubungan yang dipulihkan. Jika saat ini kita telah melakukan kesalahan marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang jujur dan kita akan menerima pengampunan melalui darah Kristus. Doa: Tuhan terima kasih karena Engkau menyediakan penebusan bagiku melalui darah Yesus Kristus, ampuni segala dosa dan kesalahanku, pulihkan hatiku dan ajarkan aku hidup dalam kebenaran-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Kamis, 19 Februari 2026

Kesalahan Harus Dihapus Imamat 7:1-5 “Haruslah imam membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai korban api-apian bagi Tuhan; itulah korban penebus salah” (ayat 5).

D

alam Perjanjian Lama, korban penebus salah diberikan ketika seseorang melakukan kesalahan terhadap Allah atau sesama, Allah tidak menganggap ringan kesalahan, karena kesalahan dapat menyebabkan manusia rusak sama sekali batinya dan rusaknya hubungan manusia dengan Allah. Korban itu dibakar habis di atas mezbah ini menunjukkan bahwa kesalahan harus dihapus total, tidak disimpan atau di sembunyikan. Dari bagi bagian firman Tuhan ini kita akan merenungkan beberapa hal yang menjadi kebenaran . Pertama , setiap kesalahan tidak boleh dibiarkan. Ayat 5 menunjukkan bahwa setiap kesalahan harus di hapus. Banyak orang membiarkan kesalahan kecil tumbuh menjadi besar, seperti dendam, kebohongan kecil, janji yang tidak ditepati dan masih banyak lainnya. Kesalahan yang tidak segera di selesaikan atau dihapus akan menghalangi berkat Tuhan dalam hidup kita. Jika selama ini kita masih membiarkan kesalahan-kesalahan kecil dalam hidup kita, waspadalah itu bisa menjadi besar. Kedua, Tuhan menyediakan jalan pemulihan. Ayat 5 menampilkan simbol korban yang dibakar. Hal ini mengandung arti rohani bahwa, kesalahan harus diserahkan kepada Tuhan, diselesaikan sampai tuntas dan tidak diingat-ingat lagi. Seperti potongan lagu dalam Buku nyanyian Bala keselamatan: Tidak lagi diingatnya dosaku, aku t'lah diampuni dan Dia tak akan mengingatkan dosaku lagi dan seterusnya... Allah telah menyediakan jalan pemulihan melalui Anak-Nya yang tunggal Tuhan Yesus Kristus. Jika saat ini kita telah melakukan kesalahan di hadapan Tuhan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, marilah kita segera datang kepada Tuhan dan meminta pengampunan-Nya, agar dosa kita tidak diingat-Nya terus. Biarkan Tuhan membakar habis dosa dan kesalahan kita dengan api Roh Kudus-Nya agar hal itu tidak menjadi beban bagi hidup kita. Penegasan: Kesalahan yang tidak dihapus hari ini akan menjadi beban di hari esok , segera selesaikan selama Tuhan masih menyediakan jalan pemulihan!. Doa: Tuhan jika saat ini Engkau melihat kami telah melakukan kesalahan dan dosa di hadapan-Mu, kami mohon hapuskan ya Tuhan, segala kesalahan dan dosa-dosa dalam hidup kami. Pulihkan hati kami dan mampukan kami berjalan dalam kebenaran-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Jumat, 20 Februari 2026

Selalu Yang Terbaik Imamat 3: 12- 17 Imam harus membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai santapan berupa korban api-apian menjadi bau yang menyenangkan. Segala lemak adalah kepunyaan TUHAN. (ayat 16)

D

alam ilmu kesehatan dikenal dua macam lemak, yaitu lemak “jahat” ini jenis lemak jenuh dan trans yang dapat meningkatkan kolesterol LDL dan risiko penyakit jantung, sedangkan lemak ”baik” adalah lemak tak jenuh yang membantu kita menurunkan kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) dan mendukung kesehatan jantung dan otak. Artinya bahwa “lemak” tidak selamanya baik. Namun dalam bacaan kita hari ini, pada ayat 16b “Segala lemak adalah kepunyaan Tuhan”. Orang Kristen yang telah menerima keselamatan dari Yesus Kristus maka hendaklah selalu memberi yang terbaik bagi-Nya. Sesuai hukum korban keselamatan pada bacaan ini adalah kambing. Mengapa bukan burung tekukur atau burung merpati? Karena burung tidak memiliki banyak lemak, juga apa bila di bagi-bagi tidak akan cukup sesuai hukum korban keselamatan. Karena “lemak” adalah simbol Sumber Kekuatan dan Berkat. Lemak harus dibakar untuk Allah, diinginkan Allah dan merupakan bagian dari Allah. “Segala lemak kepunyaan Tuhan”, disini , yaitu: menunjukkan sikap dan tindakan yang selalu memberikan yang terbaik bagi Allah. Pada ayat 16a kalimat ini mengatakan “sebagai santapan.......”, ini bukan karena Allah menginginkan kurban untuk disantap-Nya, tetapi Ia menantikan kita umat-Nya menyerahkan diri secara total dan menyembah Dia dengan benar sebagai persembahan yang menyenangkan Dia, bahkan sekaligus bagian kehidupan kekristenan kita yang menjunjung kekudusan Allah dalam hidup kita sebagai umat tebusan-Nya. Oleh sebab itu, saat ini, Dia sedang menantikan kita, bahwa apa pun pekerjaan, pelayanan, karier, bisnis, jabatan, pendidikan dan sebagainya yang kita sedang miliki dan jalankan, hendaknya kita memberi yang terbaik bagi TUHAN. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36). Penegasan: Pemberian yang terbaik adalah bukti iman dan kasih kita kepada Allah. Karena Dia terlebih dahulu memberi lebih dari yang terbaik bagi kita melalui kematian-Nya. Doa : Bapa di surga, mampukanlah kami untuk selalu memberi yang terbaik dari apa yang kami miliki saat ini, agar Engkau disenangkan dan dimuliakan dalam hidup kami. Demi nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


Sabtu, 21 Februari 2026

Pendamaian Membawa Pengampunan Imamat 4:27-31 Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu sehingga ia menerima pengampunan. (ayat 31b)

A

da satu tradisi di Kabupaten Sigi yaitu acara adat yang disebut “Moraa eo” atau “Hari Berdarah”. Hari yang di tentukan untuk penyelesaian perkara bagi kedua orang yang telah melakukan dosa, bersama seluruh lembaga adat dan keluarga, yang di tandai dengan pemotongan hewan sebagai simbol pendamaian karena darah hewan yang disembelih dipercaya akan membersihkan, membereskan dan mendamaikan dari dosa. Daging hewan yang telah disembelih akan dibagikan kepada seluruh peserta rapat. Dan daging yang dibagikan tidak boleh dimakan oleh anak-anak yang belum menikah dengan alasan supaya dosa yang sama dari kedua orang yang berperkara tidak menimpa mereka. Pengalaman di atas merupakan gambaran bahwa sebelum kita menerima Kristus, maka darah hewan dipercaya sebagai pendamaian yang membawa pengampunan dosa. Namun, saat ini jika seorang berbuat dosa, maka Kristuslah pendamaian untuk segala dosa yang dapat membawa kita kepada pengampunan. Ayat bacaan kita hari ini menjelaskan bagaimana hukum tentang penghapus dosa dan cara mempersembahkan korban persembahan tersebut, karena ada perbedaan bagi rakyat jelata dan seorang pemuka. Tujuan dari korban penghapus dosa ini adalah supaya terjadi pendamaian yang membawa pengampunan terhadap orang berdosa. Sebab orang miskin dan kaya, dosa disengaja ataupun tidak disengaja, semuanya harus membawa korban penghapus dosa dan sama-sama berhak untuk datang kepada Kristus Hampir setiap saat kita melakukan kesalahan yang berakibat dosa yang secara sengaja maupun tidak sengaja. Kita tentu membutuhkan pengampunan atas dosa-dosa kita, jalan satu-satunya untuk mencapai pengampunan, yaitu melalui pendamaian yang dikerjakan oleh Yesus Kristus diatas kayu salib (Roma 3:25). Hanya Yesus Anak Allah yang layak menjadi korban penghapus dosa sehingga jalan pendamaian untuk membawa pengampunan dosa kita, bukan lagi darah korban hewan apa pun, tetapi hanya darah Kristus yang tercurah di atas kayu salib itulah yang layak sebagai korban yang membersihkan dan menghapus segala dosa kita, karena Kristuslah Imam Agung dan Sejati (1 Yohanes 2:1-2). Penegasan: Untuk menjadi saksi Kristus, maka datanglah kepada Dia sebagai Imam Agung supaya di damaikan dan layak menerima pengampunan. Doa: Ya Bapa, ampuni dosa-dosa kami, supaya dosa itu tidak menjadi penghalang hidup kami untuk menjadi saksi-Mu. Demi Yesus Kristus, amin.


Minggu, 22 Februari 2026

Persiapan Yang Matang Membawa Keberhasilan 2 Tawarikh 2:1-4 Lalu Salomo mengutus orang kepada Huram, raja negeri Tirus, dengan pesan: “Perbuatlah terhadap aku seperti yang kauperbuat terhadap ayahku Daud, ketika engkau mengirim kayu aras kepadanya, sehingga ia dapat mendirikan baginya suatu istana untuk tinggal di situ. (ayat 3).

D

alam konteks umum, persiapan merujuk pada proses atau tindakan yang dilakukan untuk mempersiapkan sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Untuk mencapai suatu keberhasilan dibutuhkan persiapan yang matang. Dalam ayat 3 Raja Salomo yang mempersiapkan diri untuk membangun Bait Allah, Ia mengirim utusan kepada Huram, raja Tirus, untuk meminta bantuan dalam mendirikan istana. Raja Salomo tidak terburu-buru untuk pembangunan, dengan persiapan yang matang, mengumpulkan bahan-bahan, dan mencari dukungan dari orang-orang yang ahli. Ia juga berusaha untuk siap secara spiritual, dengan berdoa memohon petunjuk dari Tuhan. Raja Salomo mewarisi kerinduan dan visi dari ayahnya yaitu Daud, untuk mendirikan rumah bagi Tuhan. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan Salomo bukanlah semata-mata karena ia raja yang kaya atau orang yang berkuasa tapi adanya persiapan yang matang dan fokus pada tujuan Ilahi. Keberhasilan yang sejati bukan hanya tentang mencapai tujuan dan impian kita, tetapi juga untuk kemuliaan bagi nama Tuhan serta membawa dampak yang positif bagi orang lain. Sebagai orang percaya kita dapat belajar dari Raja Salomo, Persiapan yang matang sangat berguna dalam mencapai suatu keberhasilan, baik di kehidupan sehari-hari maupun dalam pelayanan, Untuk mencapai semua itu tentu tidaklah gampang, membutuhkan proses yang sangat panjang, tetapi, jika kita mengandalkan Tuhan Allah maka upaya dan usaha kita tidak menjadi sia-sia. Penegasan: Persiapkan diri dengan matang, dan andalkan kekuatan dari Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita, dengan demikian, pasti dapat mencapai keberhasilan yang sejati dan memuliakan Tuhan. Doa: Tuhan Allah yang mulia, jika kami mempersiapkan diri dengan matang, maka Engkau akan membawa kami kepada keberhasilan yang sejati. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Senin, 23 Februari 2026

Kerjasama Dalam Melayani Tuhan 2 Tawarikh 4 : 11 – 15 Demikianlah Huram menyelesaikan pekerjaan yang harus dilakukannya bagi raja Salomo di rumah Allah (ayat 11b). 2 Tawarikh 4:11b mencatat tentang seorang ahli logam yang terampil dan mahir dalam pembuatan berbagai perkakas di dalam Bait Allah oleh seorang pengrajin bernama Huram, di bawah pimpinan Raja Salomo. Ini menyoroti pentingnya kerjasama dalam pelayanan Tuhan, di mana beragam individu dengan keahlian yang berbeda-beda. Huram adalah contoh yang baik tentang kerja sama dalam melayani Tuhan, ia tidak sombong dengan keahliannya ia bekerja sama dengan pekerjapekerja lainnya untuk menyelesaikan pekerjaan, ia tidak memikirkan diri sendiri tetapi memikirkan kepentingan bersama. Semuanya ia buat dengan sangat sempurna, sehingga semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Ini menunjukkan persiapan yang matang dan teliti membawa keberhasilan dalam pekerjaan. Raja Salomo dan Huram memberikan yang terbaik untuk Tuhan, bukan yang tersisa dan semua itu tidak lepas dari pertolongan Tuhan. Maka kemuliaan dan pujian hanya dapat di persembahkan kepada Tuhan yang telah memberkatinya. Tentu saja, kerja sama dalam pelayanan tidak selalu mudah, pasti memiliki perbedaan pendapat satu sama lain, namun kita perlu ingat bahwa bekerja untuk tujuan yang sama yaitu untuk Tuhan, maka semua pasti berjalan dengan baik . Kita dipanggil bersama dalam melayani Tuhan, sebab setiap orang tidak dapat melakukannya seorang diri, maka dibutuhkan kerja sama dengan jemaatjemaat yang ada, harus saling mendukung dan melengkapi satu sama lain, sehingga dapat menjadi berkat bagi orang. Penegasan: Kita harus bekerja sama dengan orang lain yang memiliki keahlian dan kemampuan untuk dapat mencapai suatu tujuan yang baik demi kemuliaan nama Tuhan. Doa: Tuhan Yang Maha Kuasa, beri kami hikmat dan bijaksana untuk membuat keputusan yang tepat, dan tolong kami untuk bekerja sama dalam melayani-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa, amin.


Selasa, 24 Februari 2026

Hati yang Menyediakan Tempat bagi Allah 2 Tawarikh 6:3-6 “Tetapi kemudian Aku memilih Yerusalem sebagai tempat kediaman nama-Ku dan memilih Daud untuk berkuasa atas umat-Ku Israel.” (ayat 6)

S

alomo putra Raja Daud menjadi raja ketiga Israel yang menggantikan Daud. Ia dikenal sebagai raja yang berhikmat membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Ia sangat menyadari bahwa pembangunan Bait Allah bukanlah sekadar proyek besar yang terencana sejak Daud ayahnya, tetapi wujud nyata dari kesetiaan Allah terhadap janji-Nya. Sama seperti ayahnya Salomo juga sosok pribadi yang menyediakan tempat bagi Allah, bukan hanya secara fisik melalui Bait Suci, tetapi juga melalui sikap hati yang penuh syukur dan pengakuan akan kedaulatan-Nya. Bukankah hal ini sama seperti kita jika ingin menerima tamu istimewa di rumah? Pemilik rumah tentu akan membersihkan setiap sudut, menyingkirkan barang yang tidak perlu, dan menata agar tamu merasa nyaman? Renungan hari ini, mengingatkan, bahwa orang yang memiliki hati bersedia menjadi tempat kediaman-Nya adalah mereka mau menyediakan semua ruang hatinya bagi Allah. Menyediakan tempat bagi Allah itu berarti kita memberi prioritas penuh pada kehendak-Nya didalam segenap hidup, baik itu pengambilan keputusan, menentukan arah hidup bahkan sampai pada hal-hal kecil yang kita lakukan. Untuk itu jangan membiarkan “sampah rohani” terus ada dalam hati kita seperti disa= ? yang disembunyikan, iri hati, kesombongan atau ego, kepahitan yang masih kita pendam dalam hati, ambisi duniawi dan lainnya. Ketika kita membuka hati kita menjadi tempat Allah maka hal-hal tersebut tidaklah patut masih tersimpan disudut hati kita. Pemilihan Allah sebagai tempat kediaman-Nya harus bersih dari dosa, sebab Allah adalah kudus. Ia mau tinggal di hati kita yang kudus. Penegasan: Apakah hati kita hari ini sudah menjadi tempat yang layak bagi Allah? Atau masih dipenuhi oleh kekhawatiran, ambisi, dan hal-hal duniawi? Allah rindu berdiam dalam hati yang terbuka Doa: Tuhan Yesus, ajarkan kami untuk menyediakan hati kami sebagai tempat kediaman-Mu. Singkirkanlah segala sesuatu yang dapat menghalangi Engkau bersemayam di dalam hidup kami. Kami mau agar hidup dalam kekudusan dan ketaatan kepada-Mu. Demi nama Yesus Kristus, amin.


Rabu, 25 Februari 2026

Doa Salomo Kepada Allah 2 Tawarikh 6: 18-21 “Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya dari tempat kediaman-Mu, dari Sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni.” (ayat 21)

S

alomo menyadari bahwa pembangunan bait Allah dalam kepemimpinannya sebagai seorang raja saat itu adalah kehendak Tuhan. Sebelumnya Allah sendiri yang mengatakan kepada Daud bahwa pembangunan bait Allah akan dibangun kembali dalam pemerintahan Salomo anaknya. 2 Tawarikh 6:12-42 menjelaskan bagaimana Salomo dan bangsa Israel dengan segenap hati menaikkan pujian syukur serta permohonan kepada Tuhan. Sungguh otoritas Allah nyata terhadap umat yang hatinya setia kepada Nya Sesuai dengan ayat mas (21) dalam pembacaan hari ini, kita menemukan bagaimana ayat ini menjelaskan Salomo dan bangsa Israel menaikkan doa kepada Tuhan. Mereka percaya Tuhanlah yang berkuasa untuk mendengar doa orang yang hatinya selalu setia kepada Tuhan. Kalau Salomo dan bangsa Israel ingin supaya pertolongan Tuhan menyertai dalam memelihara bait Allah melalui kesetiaan mereka, maka hal ini juga yang seharusnya ada dalam diri kita sebagai pengikut Kristus yang selama ini telah banyak mengalami pertolongan-Nya. Biarlah kita selalu membuktikan kesetiaan kepada Allah. Dia sangat memahami keadaan kita bahkan sanggup mendengar setiap seruan. Kalau sebelumnya ada banyak hal besar yang Tuhan sudah lakukan atas hidup, keluarga, pekerjaan, pendidikan, pelayanan kita, bahkan perkara besar lainnya. Kita perlu mengakui kebesaran, kehebatan Tuhan dengan selalu memberi hati kepada-Nya. seperti Salomo dan bangsa Israel menyadari akan kekuasaan Tuhan maka kita pun tidak perlu meragukan kuasa Tuhan yang tidak dapat dihalangi atau dibatasi dengan jarak maupun waktu. Selanjutnya dalam perjalanan hidup ini kita harus akui bahwa ada saja kesalahan-kesalahan yang mengecewakan hati Tuhan. Hendaknya sikap hati ketika menghadap Tuhan ada dalam perkenanan Tuhan di mana dalam doa, kita tidak hanya bersyukur atau memohon berkat tapi juga memohon pengampunan dari-Nya. Penegasan: Kita adalah umat pilihan-Nya dan kuasa Tuhan selalu menyertai orang-orang yang memberikan hati untuk memuliakan Tuhan. Biarlah kita terus hidup menyenangkan hati Tuhan. Doa: Tuhan Yesus kami bersyukur jadi anak-Mu yang selalu Engkau berkati. Tolong kami supaya dalam menjalani hidup ini selalu menyenangkan hati Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.


Kamis, 26 Februari 2026

Kemuliaan Tuhan Memenuhi Umat Pilihan-Nya 2 Tawarikh 7:1-5 “Ketika segenap orang Israel melihat api itu turun dan kemuliaan TUHAN meliputi rumah itu, berlututlah mereka di atas lantai dengan muka mereka sampai ke tanah, lalu sujud menyembah dan menyanyikan syukur bagi TUHAN: “Sebab Ia baik! bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”. (ayat 3)

K

elanjutan dari pembahasan kemarin dalam pembacaan hari ini mengisahkan bagaimana kemahakuasaan dan kemuliaan Tuhan dinyatakan atas doa yang mereka panjatkan. Mereka sangat bersukacita melihat respons Allah terhadap doa dan korban yang mereka persembahkan. Ajaib Tuhan dalam mendengar doa orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Salah satu berkat rohani yang kita terima dari orang lain adalah kesaksian. Ada yang kita dengar langsung lewat ibadah-ibadah yang kita ikuti, ada yang lewat medsos, ada yang mungkin juga membaca dari majalah rohani. Tidak sedikit orang dalam kesaksian itu menyampaikan rasa syukur karena doa-doa mereka yang sudah dikabulkan oleh Tuhan, ada banyak perbuatan-perbuatan ajaib yang Tuhan lakukan dalam pergumulan, entah itu masalah sakit penyakit, keuangan yang minim, masalah pekerjaan, masalah pendidikan, dan masih banyak lagi semuanya bisa diatasi karena kuasa Tuhan melalui doa yang sungguh dipanjatkan. Sebagai pengikut Kristus masing-masing kita juga pasti sudah banyak mengalami pertolongan Tuhan melalui doa yang kita sampaikan kiranya itu menjadi pendorong untuk terus memuliakan Tuhan, tetap rendah hati dan tetap percaya keajaiban-Nya masih tetap berlaku bagi orang-orang yang selalu berharap kepada-Nya. Penegasan: Salah satu cara menyuarakan isi hati kita kepada Tuhan adalah melalui doa. Percayalah Tuhan bisa melakukan dari yang TIDAK BISA menjadi BISA, dari yang TIDAK ADA menjadi ADA karena bagi TUHAN tidak ada yang mustahil. Doa: Tuhan Yesus, terima kasih untuk firman hari yang sudah menguatkan kami. Tolong kami untuk terus tekun berdoa, bersyukur atas jawaban doa. Demi nama Tuhan Yesus Kristus kami mohon, amin.


Jumat, 27 Februari 2026

Melayani Sesuai Ketetapan Tuhan 2 Tawarikh 8:12-16 “Lalu Salomo mempersembahkan korban-korban bakaran bagi Tuhan di atas mezbah Tuhan yang didirikannya di depan balai Bait Suci.” (ayat 12)

A

pakah pelayanan yang kita lakukan baik di gereja, rumah, tempat kerja dan di sekitar kita, kita lakukan dengan motivasi yang berdasarkan keinginan dan kehendak kita ataukah pada ketetapan Tuhan? Lalu apa saja ketetapan-ketetapan Tuhan? Setelah Salomo selesai mendirikan rumah Tuhan dan istananya sendiri (ayat 1), ia memfokuskan perhatiannya pada bagaimana setiap perayaan-perayaan atau hari raya harus dilaksanakan. Bait Suci yang megah perlu diisi dengan ibadah yang benar dan teratur. Ayat 12-14 menunjukkan tentang bagaimana Salomo melakukan hal ini. Pertama: pelayanan dilakukan berdasarkan ketetapan yang tertulis (ayat 12). Salomo Raja yang sangat berhikmat dan berkuasa, tidak menciptakan tata cara ibadahnya sendiri ia Kembali kepada Taurat Musa, yaitu ketetapan yang sudah Tuhan berikan. Pelayanan yang sejati adalah pelayanan yang tunduk pada Firman Tuhan. Kita tidak boleh melayani berdasarkan tradisi yang bertentangan dengan alkitab, perasaan hati, atau apa yang sedang tren/popular, melainkan berdasarkan perintah dan ketetapan yang telah di berikan Tuhan. Kedua: pelayanan dilaksanakan secara teratur dan tepat waktu (ayat 12). Salomo memperhatikan waktu yang spesifik setiap hari “hari-hari sabat, bulan-bulan baru dan tiga setahun pada hari-har raya.” Ketaatan yang total mencakup ketepatan dalam waktu. Salomo menunjukkan semua hal itu. Pada dasarnya pelayanan kepada Tuhan tidak boleh dilakukan suka-suka hati kita atau hanya mengisi waktu luang. Disiplin, tekun, dan teratur itu sangat diperlukan. Ketiga: pelayanan di atur dengan tertib sesuai dengan otoritas yang sah (ayat 14). Salomo mengatur pembagian tugas antara iman, orang lewi dan penunggu pintu gerbang. Dalam gereja atau organisasi pelayanan kita harus melayani dalam ketertiban. Menghormati struktur, prosedur dan kepemimpinan yang sah. Selama tidak bertentangan dengan ketetapan Tuhan setiap orang punya tugas dan semuanya penting. Penegasan: Mari periksa pelayanan kita. Sudahkah kita melayani berdasarkan “aturan Musa” (Firman Tuhan) dan peraturan Daud” (ketertiban dan menghormati pemimpin yang Tuhan tetapkan). Doa: Ya Tuhan ajari kami untuk melayani-Mu bukan dengan kekuatan atau ide kami sendiri tetap sesuai dengan ketetapan-Mu yang kudus. Beri kami hati yang taat dan disiplin untuk menjalankan tugas pelayanan kami, sekecil apa pun itu, dengan teratur seturut Firman-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa, amin.


Sabtu, 28 Februari 2026

“Hikmat Allah yang mendatangkan Berkat” 2 Tawarikh 9:3-7 “Dan Ia berkata kepada raja: “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu” (ayat 5)

S

aat Tuhan Allah berfirman kepada Raja Salomo dan bertanya apa yang Salomo minta kepada-Nya. Raja Salomo tidak meminta kekayaan, harta ataupun kejayaan, melainkan ia minta adalah hikmat dan pengertian (2 Tawarikh 1:10) Hikmat hanya bisa dimiliki saat kita memiliki hubungan yang erat dan intens dengan Tuhan Allah. Ketika ratu negeri Syeba mendengar tentang reputasi, yang luar biasa serta kebesaran dan kejayaan yang Tuhan Allah berikan kepada Salomo, ia datang mengunjungi Salomo bersama dengan rombongan dan menguji semua hal yang ia telah dengar tentang kehebatan dan hikmat Salomo. Salomo menjawab semua pertanyaan dan rasa penasaran ratu negeri Syeba tanpa ada satu pun yang terlewat. Dan hal ini semakin menimbulkan kekaguman ratu negeri Syeba terhadap hikmat raja Salomo. Apalagi setelah ratu negeri Syeba melihat hikmat Salomo dalam mengatur rumah Allah, makanan-makanan di meja, cara pegawai-pegawainya duduk, pelayanpelayan melayani dan berpakaian juga juru-juru minuman serta korban bakaran yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kita dapat melihat bagaimana hikmat raja Salomo sangat mempengaruhi kehidupan ratu negeri Syeba. Ia dari negeri yang jauh datang hanya untuk melihat kebesaran Tuhan Allah atas hidup Salomo. Dulu ia hanya mendengar dari kata orang tapi saat itu ratu negeri Syeba menyaksikan sendiri betapa luar biasa Allah Salomo yang hidup itu, yang telah memberikan hikmat yang luar biasa. Tidak ada satu hal pun yang luput dari perhatian ratu negeri Syeba semua ada dalam pemandangan yang menimbulkan rasa hormat. Karena secara tidak langsung ratu negeri Syeba telah diberkati dengan cara hidup Salomo yang penuh hikmat Tuhan. Melalui hikmat Raja Salomo bangsa-bangsa lain dapat mengenal dan mengakui Allah Israel yang hidup. Mereka sangat hormat dan kagum dengan semua yang Salomo miliki. Hikmat Salomo adalah anugerah Allah yang telah menarik bangsa-bangsa untuk datang kepada Dia. Dan hikmat itu telah menjadi berkat bagi bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain serta bagi kita semua pembaca Oasis Fajar. Apa pun kondisi dan situasi hidup yang sedang kita hadapi hari ini tetap minta hikmat Tuhan memenuhi pikiran dan hati kita sehingga dalam situasi yang sulit pun kita tetap bisa menjadi berkat bagi orang lain. Penegasan: Hikmat yang berasal dari Allah akan menjadikan kita berkat di mana pun kita berada. Doa: Bapa di Sorga ajar kami untuk menerapkan hikmat Allah dalam setiap aspek kehidupan, sehingga hidup kami menjadi tertib, berwibawa, dan menjadi kesaksian nyata bagi orang-orang di sekitar kami. Biarlah hidup kami memuliakan-Mu, ya Tuhan, melebihi kabar yang didengar siapa pun. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin.


9.000

Alamat Redaksi: Jalan Jawa 20, Bandung 40117 Telp. (022) 420 7029 - Fax (022) 423 6754


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Oasis Fajar Edisi : Januari - Februari 2026 by Bala Keselamatan - Issuu