Living Out Justice 2025

Page 1


Hidupi Keadilan

PERKAYA

ENGAGED

SERI RENUNGAN DAN TANTANGAN HARIAN UNTUK MENGHIDUPI KEADILAN

HARI 1

Kitalebihkuatbilabersama

PEMBACAAN ALKITAB: Roma 12:9-16

‘Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah Anda saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!’ (Roma12:9-10,13)

Bacaan tambahan: Roma 12:1-2; 1 Korintus 3:8-11

REFLEKSI:

Roma 12:9-16 mengajak kita untuk hidup rukun dengan sesama. Dalam surat ini, rasul Paulus mendorong jemaat di Roma untuk menjadi "persembahan yang hidup", yaitu mempersembahkan seluruh hidup mereka sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan.

Nasihat Paulus kepada jemaat mula-mula untuk memberkati orang lain, bersukacita bersama mereka, ikut merasakan kesedihan mereka, dan hidup dalam keharmonisan menunjukkan bahwa kita pun bisa memuliakan Tuhan lewat hubungan kita dengan sesama. Cara hidup dan mengasihi seperti ini memang berbeda dari kebiasaan dunia, tapi semuanya berawal dari pikiran yang sudah diperbarui, yang membuat iman di dalam hati kita tampak nyata lewat tindakan yang mencerminkan terang Kristus.

Yesus bukan hanya mengajar lewat kata-kata, tapi juga lewat tindakan sehari-harinya. Dari cara Ia berinteraksi dengan orang lain, kita belajar banyak tentang bagaimana mengasihi Tuhan dan sesama. Sebagai pengikut Kristus, kita punya tanggung jawab untuk menumbuhkan kasih itu, membawa terang ke dalam komunitas yang masih diliputi kegelapan, dan memuliakan Tuhan lewat pelayanan kita.

Gaya hidup yang menunjukkan kasih lewat tindakan adalah hasil alami dari kehidupan rohani yang dalam.

TINDAKAN HARI INI:

Dalam beberapa minggu ke depan, renungan ini akan mengajak kita untuk menunjukkan kasih Tuhan lewat tantangan dan pilihan yang bisa kita ambil setiap hari. Anda bisa menganggapnya bukan sekadar rencana bacaan, tapi lebih sebagai rencana aksi!

Kita tidak dimaksudkan untuk menjalani perjalanan ini sendirian. Justru, kita akan jadi lebih kuat kalau melakukannya bersama! Yesus sendiri menjalankan pelayanannya bersama para murid, menunjukkan betapa pentingnya kekuatan komunitas. Surat Paulus juga sangat jelas menekankan pentingnya kebersamaan.

Salinglah mengingatkan, berdoa bersama, bertindak dengan bijak, dan carilah hikmat dari Tuhan. Biarkan Tuhan menuntun setiap langkah dan keputusan kita, karena Dia bekerja bersama kita sebagai rekan dalampelayanan. Kekuatan-Nya menjadi sempurnajustru saat kitalemah.Sebagai Penolong yang selaluhadir,Tuhanmemampukankita untukbertindak adil danhidup setia.

DOA:

Renungan ini memberikan kesempatan setiap hari untuk berdoa. Saat Anda menjalani hidup dengan menunjukkan kasih dan keadilan, cobalah praktik rohani yang disebut doa nafas. Doa ini membantu kita lebih sadar akan kehadiran Tuhan yang selalu menyertai dan membimbing kita. Doa nafas adalah doa singkat dan sederhana yang bisa diucapkan berulang-ulang seiring dengan irama nafas, kapan pun dan di mana pun.

TARIK NAFAS: Tuhan, ketidakadilan ini terasa begitu berat.

HEMBUSKAN NAFAS: Tolong aku untuk berjalan di jalan-Mu.

Tariknafasdalam-dalamdan rasakanhatiTuhanyang penuhkeadilan. Hembuskannafassambil memperbaruikomitmenAnda untukmembawaperubahan yangpositif.

LIBATKAN

HARI 2

RencanapenebusanAllah

PEMBACAAN ALKITAB: Matius 1:1-17

‘...Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.’ (Matius1:16)

Bacaan tambahan: Lukas 1:46-56

REFLEKSI:

Silsilah dalam Alkitab mungkin terlihat berulang-ulang, tapi sebenarnya menyimpan kebenaran yang mendalam. Matius pasal 1 menjadi saksi atas rencana penebusan ilahi dari Tuhan melalui Yesus, yang berlangsung dari generasi ke generasi.

Yang tidak biasa, ada lima perempuan yang disebutkan dalam silsilah Yesus: Maria, ibu Yesus; Tamar; Rahab; Rut; dan Batsyeba (yang sering disebut sebagai istri Uria). Sama seperti para pria yang tercantum, mereka juga punya kelemahan. Mereka mengalami penderitaan dan perlakuan tidak adil. Namun Tuhan memilih mereka bukan karena keberhasilan mereka, melainkan karena apa yang akan Tuhan kerjakan melalui hidup mereka.

Dalam Lukas 1:46–56, kita membaca bahwa ketika Maria mengetahui tentang kedatangan Mesias, ia memuji Tuhan yang penuh belas kasih. Ia berkata bahwa Tuhan telah “meninggikan orang yang rendah” dan “mengenyangkan orang yang lapar dengan hal-hal baik, tetapi membiarkan orang kaya pergi dengan tangan kosong.”

Kasih karunia yang melampaui batas ini tampak jelas dalam kisah Tamar yang dikhianati, latar belakang Rahab, status Rut sebagai orang asing, keadaan menyedihkan Batsyeba, dan ketaatan Maria. Kelima perempuan ini melambangkan kisah besar tentang rencana penebusan Tuhan melalui Yesus menunjukkan bahwa pengampunan dan keselamatan tidak hanya untuk Israel, tetapi untuk seluruh dunia. Kini, nama-nama mereka tercatat dalam silsilah demi Nama yang lebih tinggi dari segala nama.

TINDAKAN HARI INI: Maria menunjukkan bahwa masa lalu kita tidak menentukan masa depan kita. Hanya Tuhanlah yang bisa menyelamatkan kita.

Terlepas dari latar belakang seseorang, setiap individu memiliki nilai yang unik dan layak diperlakukan dengan kebaikan serta keadilan. Kita bisa berkontribusi dalam membangun komunitas yang sehat komunitas yang menerima semua orang dengan sepenuh hati.

Salah satu cara untuk membangun komunitas yang lebih kuat dan inklusif adalah dengan mengadakan pertemuan atau kelompok diskusi, di mana orang-orang dari berbagai latar belakang bisa berbagi cerita dan pengalaman mereka. Dalam setiap interaksi, utamakan sikap saling memahami dan penuh kebaikan, sehingga tercipta lingkungan di mana setiap orang merasa dihargai.

Kenali orang-orang di sekitar Anda yang sering terlewatkan atau kurang diperhatikan. Tunjukkan dukungan lewat tindakan sederhana penuh kebaikan bisa berupa pemberian makanan, tawaran bantuan, ajakan untuk bersosialisasi, atau percakapan yang lebih panjang dari biasanya. Lakukan dengan kesungguhan, untuk mengingatkan mereka bahwa mereka berharga dan memiliki arti.

DOA:

Tuhan, Engkau telah menenun penebusan ke dalam hidup mereka yang hancur dan terabaikan. Ajarlah kami untuk percaya pada rencana-Mu, dan menyadari bahwa masa lalu tidak menentukan masa depan kami. Kiranya kami pun mampu memperluas kasih karunia kepada orang lain, seperti yang telah Engkau lakukan bagi kami melalui Yesus.

TARIK NAFAS: Tuhan, terima kasih atas kasih penebusan-Mu.

HEMBUSKAN NAFAS: Tolongakuuntukmembagikannyadenganmurahhati kepadaoranglain

HARI 3

Tuhan

PEMBACAAN ALKITAB: Kejadian 16

Kemudian Hagar menamakan Tuhan yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: “Engkaulah El-Roi.” Sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?” (Kejadian 16:13)

Bacaan tambahan: Mazmur34:17-18

REFLEKSI:

Kisah Hagar mengingatkan kita bahwa Tuhan memperhatikan mereka yang terpinggirkan. Sebagai seorang budak perempuan yang diperlakukan tidak adil dan dibuang oleh tuannya, Hagar tidak memiliki status sosial, tidak punya suara, dan tidak memiliki hak.

Di saat putus asa, ketika Hagar melarikan diri ke padang gurun, Tuhan turun tangan. Ia menemukan Hagar, berbicara kepadanya, dan menunjukkan belas kasih-Nya. Di momen itu, Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai El Roi Tuhan yang melihat.

Tuhan adalah pengalaman yang tak terduga penuh kasih dan sangat pribadi. Di tengah keputusasaan, Tuhan hadir, mengakui rasa sakit dan nilai dirinya. Tuhan tidak hanya melihat Hagar, tetapi juga memberinya kekuatan untuk menyebut-Nya berdasarkan pengalaman pribadinya: “Kini aku telah melihat Dia yang melihat aku.”

Status sosial Hagar, rasa sakit yang ia alami, dan pilihan hidup yang terbatas tidak mengurangi perhatian Tuhan terhadap dirinya. Di dunia yang sering mengabaikan mereka yang rentan, kisah ini menegaskan bahwa Tuhan melihat, peduli, dan memenuhi kebutuhan mereka yang dilupakan oleh masyarakat.

TINDAKAN HARI INI:

Merasa terpinggirkan adalah sesuatu yang hampir semua orang alami di suatu titik dalam hidupnya. Karena itu, penting untuk meluangkan waktu bersama Tuhan dalam doa. Coba renungkan, apakah ada bagian dalam hidupmu di mana Anda merasa terabaikan, lalu bawalah hal itu kepada Tuhan. Sebab, jika kita ingin menolong orang lain, kita perlu terlebih dahulu yakin bahwa Tuhan mengasihi kita.

Orang bisa terpinggirkan dalam berbagai bentuk, dan kita bisa mencari cara untuk hadir di tengah situasi seperti itu. Mungkin Anda melihat seseorang di gereja yang kesulitan menemukan lingkaran sosial. Anda bisa menelepon mereka atau mengajak mereka ngopi bersama. Mungkin ada program untuk remaja berisiko di lingkunganmu. Coba tanyakan apakah mereka butuh mentor/pembimbing. Atau mungkin Anda tahu ada tempat penampungan bagi perempuan di dekat rumah Anda. Anda bisa mendaftar sebagai relawan atau menanyakan kebutuhan donasi mereka.

Tidak peduli seberapa berat situasinya, kita melayani Tuhan yang melihat mereka yang terpinggirkan dan memberi kita kuasa untuk membagikan kasih-Nya kepada mereka!

DOA:

Tuhan, Engkau melihatku di saat-saat aku bergumul dan mengingatkanku bahwa aku dikenal dan dikasihi. Bukalah mataku untuk melihat mereka yang merasa tak terlihat, agar aku dapat memperluas belas kasih-Mu dan mencerminkan kasih-Mu yang tak tergoyahkan.

TARIK NAFAS:Tuhan, hati-Mu berpihak pada mereka yang rentan. HEMBUSKAN NAFAS: Bukalah mataku untuk berbelas kasihan.

HARI 4

Setiadalamkasih-Nya

PEMBACAAN ALKITAB: Rut 1

Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.” (Rut 1:16)

Bacaan tambahan: Amsal17:17

REFLEKSI: Kita melihat seorang janda muda, Rut, yang dengan tekad memilih untuk tetap bersama mertuanya, Naomi. Padahal, Rut bisa saja kembali ke tanah kelahirannya dan memulai hidup baru. Bisa Anda bayangkan, apa yang membuatnya begitu setia?

Rut telah menyaksikan iman Naomi yang begitu dalam kepada Tuhan, bahkan di tengah kepahitan hidup. Mungkin Rut merasa terinspirasi oleh kasih Naomi yang tanpa pamrih kepada dirinya dan Orpa. Atau mungkin Rut merasa tak sanggup kehilangan lebih banyak lagi. Tentu ada banyak alasan di balik kesetiaan Rut, tapi salah satu yang paling kuat adalah cara Naomi menjalani imannya. Rut yakin bahwa ia bisa menjadikan Tuhan Naomi sebagai Tuhannya juga.

Banyak dari kita pasti mengenal sosok seperti Naomi orang-orang yang benar-benar mengenal dan melayani Tuhan, yang imannya begitu nyata sampai memengaruhi cara mereka berpikir, berbicara, dan bertindak. Mereka adalah orang-orang yang sungguhsungguh mendengarkan Tuhan, mencari hikmat dan kebijaksanaan-Nya, dan juga mendengarkan sesama dengan penuh perhatian dan kepedulian. Iman mereka memberi pengaruh besar pada orang-orang di sekitarnya, seperti halnya iman Naomi yang membentuk hidup Rut.

Keteguhan dan keberanian Rut dalam menunjukkan kesetiaannya adalah wujud dari kasih dan keberanian yang luar biasa. Ia tidak membiarkan kehilangan menguasai hidupnya, tapi justru memilih untuk menguatkan Naomi dan ikut berperan dalam mengubah kisah hidup mereka dari yang pahit menjadi lebih baik.

TINDAKAN HARI INI:

Kita semua sebenarnya adalah pemimpin, dalam berbagai bentuk.

Seperti Naomi, akan selalu ada orang yang memperhatikan kita, meskipun kita tidak menyadarinya. Karena itu, penting untuk punya sosok panutan seseorang yang bisa membimbing dan memberi nasihat secara pribadi dengan tulus. Kalau Anda belum punya mentor/pembimbing, mintalah kepada Tuhan agar Dia menunjukkan siapa yang cocok untuk Anda. Ingat, Rut hidup sangat dekat dengan Naomi dan melihat seluruh sisi kehidupannya. Mungkin Anda juga perlu membuka diri, agar orang lain bisa lebih dekat dan belajar dari hidup Anda

Seperti Rut, kita juga bisa berperan dalam menjaga dan peduli terhadap orang lain. Coba renungkan, bagaimana Anda bisa lebih hadir secara sengaja/direncanakan dan menunjukkan kepedulian dalam hubungan Anda dengan orang lain? Bagaimana Anda bisa terus mengembangkan diri, keterampilan, dan pengetahuan, supaya bisa memberi kembali kepada komunitas Anda ? Misalnya, kalau Anda ingin lebih bijak dalam memahami Firman Tuhan, Anda bisa ikut kelompok studi Alkitab.

Kita semua butuh sosok seperti Naomi. Kita juga butuh sosok seperti Rut. Orang-orang yang peduli pada kita, yang melihat potensi dalam diri kita, dan yang tetap setia mendampingi kita di setiap musim kehidupan. Coba pikirkan, bagaimana Anda bisa hadir bagi orang lain sebagai Rut yang setia dan penuh kasih, atau sebagai Naomi yang bijak dan membimbing?

DOA:

Tuhan, berikanlah aku hati seperti Rut teguh dalam kesetiaan dan berani dalam kasih, agar aku tetap berjalan dalam iman meskipun jalannya belum jelas. Tolong aku untuk menjadi seperti Naomi bagi orang lain, menjalani imanku dengan tulus, supaya mereka yang ada di sekitarku bisa melihat Engkau melalui hidupku.

TARIK NAFAS: Tuhan, Engkau tetap setia di hari-hari yang manis maupun yang pahit.

HEMBUSKAN NAFAS: Kiranya kasihku tetap teguh dan tidak goyah.

“Kitasemua

HARI 5

Merangkulorangasing

PEMBACAAN ALKITAB: Rut 2

Setelah ia bangun untuk memungut pula, maka Boas memerintahkan kepada pengerjapengerjanya: “Dari antara berkas-berkas itu pun ia boleh memungut, janganlah ia diganggu; bahkan haruslah Anda dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasas terhadap dia.” (Rut 2:15-16)

Bacaan tambahan: Imamat 19:9-10

REFLEKSI:

Kisah Rut dengan indah menunjukkan kasih Tuhan yang tak terbatas dan penerimaan-Nya yang menyeluruh, menyoroti bagaimana Dia merangkul mereka yang dianggap orang luar.

Rut, seorang perempuan Moab, memilih untuk mengikuti Naomi dan menjadikan Tuhan Naomi sebagai Tuhannya sendiri, meskipun ia adalah orang asing di Israel tanah di mana orang Moab sering dipandang dengan curiga. Iman, kesetiaan, dan keberanian Rut membuatnya berbeda, dan melalui dirinya kita melihat bagaimana Tuhan bisa melibatkan siapa pun dalam rencana-Nya yang mulia.

Melalui Boas, Tuhan menyediakan kebutuhan Rut dan Naomi. Kemampuan Rut untuk memungut gandum di ladang adalah hasil dari hukum Tuhan yang melindungi mereka yang terpinggirkan, termasuk orang asing (Imamat 19:9-10). Kepedulian Boas tidak ditunjukkan lewat tindakan besar yang mencolok, meskipun kemurahan hatinya jauh melampaui apa yang diharapkan.

Memungut gandum di zaman Rut adalah pekerjaan yang berat dan menguras tenaga. Boas tidak menghilangkan kesulitan dari tugas itu dengan langsung memberikan hasil panen yang rapi, tetapi ia memastikan Rut aman dan bisa bekerja dengan martabat. Sikap Boas ini mencerminkan kasih Tuhan yang indah terhadap mereka yang rentan, dan menunjukkan kerinduan-Nya agar umat-Nya mencerminkan hati-Nya dengan cara mendukung, menyambut, dan melindungi mereka yang membutuhkan.

TRANSFORMASI

Rut, seorang asing, akhirnya menjadi bagian dari garis keturunan Raja Daud dan, pada akhirnya, Yesus Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, Tuhan memang berniat untuk menyertakan semua bangsa dalam rencana keselamatan-Nya sebuah gambaran awal dari pesan inklusif yang dibawa oleh Yesus.

TINDAKAN HARI INI:

Kitab Rut menantang kita untuk meneladani kasih Tuhan kepada mereka yang dianggap orang luar. Kitab ini mendorong kita untuk menyambut dan mendukung orang asing di tengah komunitas kita, memperlakukan mereka dengan martabat dan belas kasih seperti yang Tuhan lakukan.

1. Doakan para imigran, pengungsi, dan mereka yang merasa seperti orang asing. Mintalah kepada Tuhan agar memberkati dan membimbing mereka saat mereka menjalani hidup di tempat yang baru.

2. Tunjukkan keramahan. Undang tetangga atau rekan kerja dari budaya yang berbeda untuk makan bersama. Koneksi yang tulus bisa meruntuhkan tembok pemisah dan membangun saling pengertian.

3. Jadi relawan di organisasi yang mendukung pengungsi atau imigran. Sumbangkan waktu Anda atau sumber daya untuk mendukung kelompok yang bekerja dengan para pendatang baru, misalnya dengan membantu kelas bahasa, proses penempatan, atau menjadi mentor.

DOA:

Tuhan, tolong aku untuk melihat orang lain seperti Engkau melihat mereka berharga, dikasihi, dan penuh tujuan. Bukalah hatiku bagi mereka yang merasa asing, agar aku bisa menunjukkan kebaikan kepada orang-orang dari bangsa lain, dan mewujudkan keadilan serta belas kasih-Mu lewat tindakanku.

TARIK NAFAS: Tuhan, bagi-Mu tidak ada yang benar-benar asing

HEMBUSKAN NAFAS: Tolong aku untuk mengulurkan tangan dan membuka hati

HARI 6

PEMBACAAN ALKITAB: Rut 3 and 4

Kemudian berkatalah Boas kepada para tua-tua dan kepada semua orang di situ: “Andalah pada hari ini menjadi saksi, bahwa segala milik Elimelekh dan segala milik

Kilyon dan Mahlon, aku beli dari tangan Naomi; juga Rut, perempuan Moab itu, isteri Mahlon, aku peroleh menjadi isteriku...”’ (Rut 4:9-10)

Bacaan tambahan: Ulangan 10:17-18

REFLEKSI:

Penutup dari Kitab Rut menunjukkan akhir yang bahagia jauh berbeda dari kenyataan pahit yang dialami Naomi dan Rut di pasal pertama.

Di pasal 3, kita melihat sebuah rencana yang dijalankan oleh Naomi dan Rut untuk memastikan agar Boas menyadari posisi mereka. Rut, yang tidak lagi mengenakan pakaian berkabung, mendatangi Boas sebagai tanda bahwa ia siap untuk menikah.

Sama seperti Boas melihat Rut sebagai perempuan yang “berwatak mulia”, Boas sendiri adalah pria yang terhormat. Ia menjamin perlindungan dan pemeliharaan yang Rut cari, dan memastikan semuanya dilakukan dengan cara yang benar. Di tengah posisi Rut yang rentan, Boas tetap menjunjung martabatnya.

Dengan membeli tanah Naomi dan memilih untuk menikahi Rut, Boas melangkah ke dalam masa depan yang jauh lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan. Anak mereka, Obed, menjadi kakek dari Raja Daud dan leluhur dari Yesus Kristus. Tindakan penuh belas kasih dari Boas mengingatkan kita bahwa satu perbuatan baik bisa menimbulkan dampak yang luas seperti riak air yang terus menyebar setelah sebuah batu dijatuhkan. Riak kebaikan Boas bertahan selama berabad-abad, membentuk banyak kehidupan jauh melampaui Rut dan Naomi.

Penutup Kitab Rut menunjukkan pembalikan total dari tragedi sebuah gambaran tentang kuasa kasih Tuhan yang mengubah segalanya. Keyakinan Naomi bahwa Tuhan telah berpaling darinya ternyata hanya menjadi satu bab dalam kisah penebusan yang lebih besar, yang akhirnya digenapi melalui Yesus Kristus.

TINDAKAN HARI INI:

Kebaikan Boas kepada Rut dan Naomi bukan sekadar tindakan murah hati, tetapi juga pelajaran tentang penyediaan yang penuh belas kasih dan memperlakukan orang lain sesuai martabatnya. Saat kita punya kesempatan untuk membantu orang lain, apakah kita berhenti sejenak untuk mempertimbangkan bukan hanya kebutuhannya, tetapi juga martabat orang tersebut?

Pertimbangkan untuk membuat Kotak Peduli Komunitas di gereja lokal, tempat kerja, atau sekolah, di mana orang-orang bisa menyumbangkan barang-barang penting tanpa nama untuk mereka yang membutuhkan. Isi kotak ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan beragam di komunitas Anda mulai dari produk kebersihan, voucher belanja, pakaian hingga perlengkapan sekolah.

Pastikan barang-barang yang disumbangkan disiapkan dengan baik, penuh perhatian, dan bukan barang barang sisa atau bekas pakai. Ini mungkin berarti Anda perlu meluangkan waktu ekstra untuk membersihkan, memeriksa, atau memperbaiki barang-barang tersebut. Utamakan hak penerima untuk menjaga privasi jangan menjadikan kebaikan Anda sebagai tontonan. Sebaliknya, sediakan ruang yang tenang dan nyaman bagi mereka untuk menerima bantuan tersebut.

Jika Anda bisa mendistribusikan barang secara langsung baik melalui layanan kunjungan atau pengantaran usahakan untuk terlibat dalam percakapan dengan ketulusan. Tawarkan pilihan, jangan langsung berasumsi tentang kebutuhan mereka. Tujuannya bukan sekadar memberi, tetapi memberdayakan.

DOA:

Tuhan, dalam kasih-Mu yang penuh kelembutan, Engkau menulis ulang kisah hidup kami dan mengubah dukacita menjadi sukacita. Ajarlah aku untuk berjalan dalam kemurahan hati dan kasih karunia. Kiranya aku mencerminkan hati-Mu dalam setiap hal yang kulakukan, dan biarlah tindakanku memberi dampak yang melampaui apa yang bisa aku lihat.

TARIK NAFAS:Tuhan, dalam kasih-Mu Engkau memberi kami hal-hal yang baik.

HEMBUSKAN NAFAS: Kiranya aku tak pernah meremehkan anugerah berupa kebaikan hati

“Kiranyaakumencerminkan hati-Mu

HARI 7

PEMBACAAN ALKITAB: Matius 5:1-6

‘Berbahagialah orangyangmiskin dihadapan Allah,karenamerekalah yang empunyaKerajaanSorga.” (Matius 5:3)

Bacaan tambahan: 2 Korintus 12:9-10

PERENUNGAN :

Ayat ini, yang berasal dari bagian terkenal dalam Khotbah di Bukit tentang Sabda Bahagia oleh Yesus, menggambarkan bahwa manusia mengalami kemiskinan secara rohani.

Kata-kata ini bisa terasa menohok, karena bagi banyak dari kita, istilah 'miskin' sering dikaitkan dengan kekurangan secara finansial dan kondisi fisik yang rentan. Tapi ayat ini sebenarnya tidak membahas soal kekayaan materi, melainkan tentang kondisi kesehatan rohani kita.

Pernyataan ini menunjukkan sebuah kenyataan yang kita semua alami: kita sangat membutuhkan Yesus. Kita sepenuhnya bergantung pada tuntunan dan kasih karunia-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita. Ketika kita menyadari adanya kemiskinan rohani dalam diri kita, lalu memilih untuk mencari kekayaan rohani yang tak terbatas dari Yesus, itu adalah posisi yang diberkati karena Dia siap memberikan kita kekuatan dan arah hidup.

Kenyataannya adalah, tanpa kehadiran-Nya, segala usaha baik kita tetap tidak cukup. Tapi mereka yang bersandar pada kuasa Yesus akan diperlengkapi melebihi kemampuan mereka sendiri untuk membawa dampak nyata dalam hidup orang lain. Kuasa-Nya bukan hanya meningkatkan kemampuan kita, tapi juga memperbarui hati, menguatkan iman, dan memberi keberanian untuk berbicara dengan keyakinan dari Roh Kudus.

REFLEKSI: Saat kita mengakui kemiskinan rohani kita, kita menempatkan diri dalam posisi untuk menerima kepenuhan Kerajaan Allah: ‘Kasih karunia-Ku cukup bagimu, sebab kuasa-Ku menjadi sempurna dalam kelemahan.’ (2 Korintus 12:9)

• Pernahkah ada momen di mana Anda merasa kosong secara rohani, tapi justru menemukan kehadiran Tuhan dengan cara yang baru?

• Dalam hal apa saja Anda masih mengandalkan kekuatan sendiri, daripada berserah pada tuntunan Tuhan? Dan jika Anda memilih untuk berserah, ke mana hal itu bisa membawamu?

• Adakah bagian dalam hidupmu di mana Tuhan sedang memanggilmu untuk merendahkan hati secara rohani, agar Anda bisa menerima lebih banyak dari-Nya? Luangkan waktu untuk berdoa tentang hal ini.

ISTIRAHAT: ”Kesibukan adalah musuh besar kehidupan rohani di zaman kita,” tulis Dallas Willard, seorang filsuf asal Amerika.

Hari ini, cobalah untuk berhenti sejenak dari segala aktivitas. Sadari dalam diri Anda dorongan untuk terus melakukan sesuatu dan renungkan seberapa penting hal itu. Kalau memungkinkan, sisihkan dulu daftar tugas Anda dan beristirahatlah lebih dari sekadar beberapa menit. Coba pikirkan, apakah selama ini Anda lebih mengejar produktivitas daripada kehadiran yang penuh makna

Berjalanlah tanpa tergesa-gesa. Sadari kebutuhanmu yang mendalam akan Tuhan. Nikmati waktu yang Anda habiskan bersama-Nya.

DOA: Terima kasih, Tuhan, atas kesempatan untuk merenung dan beristirahat. Tolong bantu aku untuk menyediakan waktu berada dalam hadirat-Mu, bersandar pada tuntunan-Mu saat aku berusaha membawa dampak di tempat aku berada.

Ajarlah aku, Tuhan, untuk menerima kemiskinan rohaniku, agar aku dapat menerima kekayaan kasih karunia-Mu. Kiranya kata-kata dan tindakanku mencerminkan kasih-Mu, dan hidupku menjadi kesaksian atas kuasa-Mu yang bekerja di dalam diriku. Amin

PERTANYAAN REFLEKSI MINGGUAN:

Renungkan berbagai cara Anda telah menjalankan keadilan selama seminggu terakhir. Coba pikirkan setiap harinya dan pengalaman-pengalaman berbeda yang mengundang Anda untuk terlibat.

• Bisakah Anda mengingat orang-orang yang Anda temui minggu ini? Luangkan waktu untuk mengingat kembali reaksi mereka dan cerita yang mereka bagikan.

• Bagaimana interaksi-interaksi itu membentuk, mengubah, atau menantang diri Anda?

• Apakah ada tindakan dari pengalaman tersebut yang bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Anda?

DIPERKAYA

HARI 8

Hikmat,imandanpercaya

PEMBACAAN ALKITAB: Hakim-Hakim 4

Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapaidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel. Ia biasa duduk di bawah pohon korma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim, dan orang Israel menghadap dia untuk berhakim kepadanya. (Hakim 4:45)

Bacaan tambahan: Yesaya 41:10; 1 Tesalonika 5:12-18

REFLEKSI:

Debora, nabiah dan hakim dalam Kitab Hakim-Hakim pasal 4, adalah contoh nyata dari hikmat dan iman. Ia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan dipercaya oleh bangsanya.

Di tengah penindasan Israel oleh bangsa Kanaan, Debora menanggapi panggilan Tuhan dengan keyakinan yang teguh, memimpin bangsa menuju keadilan dan kemenangan. Dengan hikmatnya, Debora memanggil panglima perang, Barak, dan mendorongnya untuk memimpin serangan melawan musuh. Dengan penuh keyakinan, ia meyakinkan Barak akan janji Tuhan; dan iman inilah yang menjadi dasar dari kepemimpinannya.

Debora begitu dihormati sehingga Barak menolak pergi berperang tanpa kehadirannya. Kisahnya menunjukkan bahwa kepemimpinan dan tindakan memiliki harga yang harus dibayar. Kepemimpinan bukan sekadar sesuatu yang diidamkan, melainkan tanggung jawab yang harus dijalani dengan iman yang dewasa. Kita harus terlebih dahulu mengambil sikap sebagai seorang hamba, dan bersedia menghadapi situasi-situasi yang menantang dengan pertolongan Tuhan.

Kisah Debora menunjukkan bagaimana Tuhan memperlengkapi kita dan memberikan kekuatan, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang-orang di sekitar kita. Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang berani, bijaksana, dan setia, dengan percaya pada janji-janji Tuhan dalam setiap keadaan.

TINDAKAN HARI INI:

Seberapa besar harapan Anda terhadap para pemimpin di sekitar Anda? Seberapa sering Anda mendoakan mereka?

Kepemimpinan bukan hanya soal berdiri di depan. Itu tentang hadir dengan setia untuk melayani, sering kali dalam situasi yang sulit dan melelahkan. Dalam 1 Tesalonika 5, jelas bahwa kita dipanggil untuk menghormati para pemimpin kita dan tidak pernah berhenti mendoakan mereka.

Adakan pertemuan doa untuk para tokoh masyarakat, pendidik, dan pengambil keputusan lokal, dan doakan mereka saat mereka memimpin serta membuat keputusan penting. Jika Anda tidak bisa bertemu langsung dengan mereka, Anda bisa menulis surat atau pesan untuk menyampaikan kepedulian dan keinginan untuk mendoakan mereka, serta menanyakan apakah mereka memiliki pokok doa khusus.

Saat Anda berkumpul, doakan hal-hal seperti hikmat, damai, keberanian, integritas, semangat, kekuatan dan ketekunan, harapan, energi baru dan kreativitas, kesehatan, kehidupan keluarga, kesabaran, kerendahan hati, dan kepemimpinan yang melayani. Jika Anda ingin mengikuti pokok-pokok doa ini, silakan gunakan panduan kami Praying for Leaders guide.

Sama seperti Debora yang menguatkan Barak untuk berperang demi kemenangan yang sudah ia yakini, kita pun dipanggil untuk mengambil peran di mana kita bisa menguatkan dan berdiri bersama orang lain dengan sikap hati yang melayani.

PRAYER: Tuhan, berikanlah aku hikmat dan keberanian seperti Debora. Kiranya hatiku percaya sepenuhnya pada janji-janji-Mu, dan aku dapat memimpin dengan keyakinan, kasih, dan kerendahan hati.

TARIK NAFAS:Tuhan, Engkau memperlengkapi aku dengan hikmat.

HEMBUSKAN NAFAS: Tolong aku untuk memimpin dan melayani dengan iman

HARI 9

PEMBACAAN ALKITAB: Ester 4

“Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu”’ (Ester 4:14)

Bacaan tambahan: Mazmur27

REFLEKSI:

Nama Tuhan memang tidak disebutkan secara langsung dalam Kitab Ester, namun kehadiran-Nya terlihat melalui rangkaian peristiwa yang tampaknya tidak terduga dalam cerita tersebut.

Kisah ini mengikuti dua orang Yahudi, Ester dan pamannya Mordekhai, yang hidup di masa penuh ketegangan sosial di bawah seorang raja yang impulsif dan penasihat-penasihat yang korup. Secara tak terduga, Ester diangkat ke posisi yang berpengaruh dan memiliki peluang untuk bertindak.

“Siapa tahu, mungkin justru untuk saat seperti ini engkau diberi kedudukan sebagai ratu?” itulah pertanyaan terkenal yang disampaikan Mordekhai kepada Ester. Di momen itu, Ester membutuhkan dorongan dan pengingat akan tujuan hidupnya. Pertanyaan ‘siapa tahu?’ mengarahkan kita pada kemahatahuan dan kemahakuasaan Tuhan, menempatkan Ester bukan hanya sebagai ratu secara duniawi, tetapi juga sebagai sosok yang dipilih secara ilahi. Jawabannya menunjukkan bahwa ia adalah seorang perempuan yang dikuatkan untuk menghadapi kejahatan: ‘Aku akan menghadap raja... dan jika aku harus mati, biarlah aku mati.’

Esther punya tugas besar dan berat di depan matanya, tapi peran Mordekhai sebagai penyemangat dan pendukung sama pentingnya. Kata-katanya membuat Esther jadi berani. Mordekhai menunjukkan arti kerja sama yang sejati dengan Esther bagaimana suara-suara yang berbeda, kalau bersatu, bisa membawa kebenaran dan keadilan dalam Kerajaan Allah.

TINDAKAN HARI INI:

Nasihat bijak dari Paman Ben, “Dengan kekuatan besar datang pula tanggung jawab besar,” memberi keberanian pada Peter Parker untuk menjadi Spider-Man.

Para pahlawan di komik sering mengalami momen keraguan dan merasa rapuh. Di saat-saat seperti itu, biasanya ada sosok mentor/pembimbing yang hadir di samping mereka, mengingatkan akan kekuatan yang mereka miliki dan peran unik mereka untuk membawa perubahan.

Hal yang sama juga bisa dikatakan tentang Ester. Posisinya sebagai ratu memberinya kesempatan unik untuk menyelamatkan bangsanya dari kematian. Dan justru kata-kata bijak dan penuh semangat dari Mordekhai-lah yang memberinya dorongan yang ia butuhkan.

Kita mungkin tidak punya akses langsung ke orang-orang yang punya kekuasaan atau tanggung jawab sebesar Ester, tapi di sekitar kita pasti ada orang-orang yang membutuhkan kata-kata bijak dari kita. Seperti peran Mordekhai, bisakah Anda menjadi mentor/pembimbing bagi seseorang yang butuh dorongan dan arahan? Coba cari peluang untuk menjadi pembimbing di komunitas sekitar Anda, dan ambil kesempatan itu untuk membantu orang lain mengenali potensi mereka dan melangkah ke dalam panggilan hidup mereka.

DOA: Tuhan, Engkau menempatkan kami di posisi tertentu untuk sebuah tujuan, dan memanggil kami untuk melangkah dengan keberanian. Kuatkan suaraku agar aku berani menyuarakan kebenaran. Jadikan aku alat bagi keadilan-Mu.

TARIK NAFAS:Tuhan, kasih-Mu membuatku berani.

HEMBUSKAN NAFAS: Tolong aku untuk memberdayakan orang lain dengan baik.

HARI 10

Ketaatanyangberani

PEMBACAAN ALKITAB: Ester 5, 7 dan 8

Maka jawab Ester, sang ratu: “Ya raja, jikalau hamba mendapat kasih raja dan jikalau baik pada pemandangan raja, karuniakanlah kiranya kepada hamba nyawa hamba atas permintaan hamba, dan bangsa hamba atas keinginan hamba.”’ (Ester 7:3)

REFLEKSI:

Kisah Ester adalah kisah tentang keberanian dalam ketaatan. Ia dihadapkan pada keputusan yang luar biasa sulit: mempertaruhkan nyawanya dengan menghadap raja, atau tetap diam sementara bangsanya menghadapi pemusnahan.

Kita melihat bagaimana Ester berubah dari seorang ratu yang pasif menjadi seorang pemimpin yang rela mempertaruhkan nyawanya demi orang lain.

Dalam pasal 5, Ester menunjukkan keberanian yang penuh strategi. Ia memberanikan diri menghadap Raja Ahasyweros tanpa diundang sebuah tindakan yang bisa saja berujung pada kematian. Tapi Ester bertindak dengan anggun dan bijaksana. Ia mengundang sang raja dan Haman ke jamuan makan yang telah ia siapkan. Pendekatan yang penuh perhitungan ini menunjukkan bahwa keberaniannya bukan nekat, tapi penuh pertimbangan, sejalan dengan kepercayaannya pada waktu Tuhan.

Melalui penyertaan ilahi tangan Tuhan yang tak terlihat dalam kisah ini keadilan akhirnya ditegakkan, dan sebuah keputusan dikeluarkan untuk melindungi bangsa Yahudi. Sebagai hasilnya, Mordekhai diangkat ke posisi yang tak terduga dengan pengaruh besar. Ini menunjukkan bagaimana Tuhan sanggup menebus dan membalikkan keadaan demi tujuan-Nya.

Kisah Ester mengingatkan kita untuk berdiri teguh membela keadilan, bahkan ketika mahal harganya. Keberaniannya menunjukkan bahwa menjadi berani sering kali membutuhkan perencanaan yang matang, kesabaran, dan kepercayaan penuh pada tuntunan Tuhan.

LENGKAPI

TINDAKAN HARI INI:

Kisah Ester mendorong kita untuk berani dan tegas dalam menghadapi ketidakadilan. Berikut beberapa cara praktis yang bisa Anda lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Bersuara demi keadilan. Seperti Ester, carilah kesempatan untuk membela orang lain, terutama mereka yang tidak bisa membela diri sendiri. Ini bisa berarti mendukung seorang teman, menyuarakan isu penting, atau mengajukan keberatan terhadap ketidakadilan di ruang publik seperti forum warga atau pertemuan komunitas.

2. Bersiap dengan penuh kesadaran. Ester berpuasa dan mencari petunjuk Tuhan bersama komunitasnya sebelum bertindak (Ester 4:16). Kita pun bisa melatih kesiapan dalam mengambil keputusan dengan mencari arahan Tuhan melalui doa atau refleksi sebelum menjalani tugas atau percakapan penting.

3. Jadi terang di lingkup pengaruh Anda Sadari posisi Anda saat ini baik di tempat kerja, rumah, maupun komunitas dan berusahalah menjadi pengaruh yang positif, dengan keyakinan bahwa Anda ditempatkan di sana untuk sebuah tujuan.

DOA:

Tuhan, berikanlah aku hikmat dan keberanian untuk membela keadilan, dengan percaya pada tuntunan-Mu yang ilahi. Pimpin aku untuk hidup dengan iman dan kasih yang berani, bahkan saat rasa takut datang menghampiri.

TARIK NAFAS: Tuhan, Engkaulah yang memberi keberanian dan keteguhan untuk setiap momen.

HEMBUSKAN NAFAS: Aku tak perlu takut.

HARI 11

Kemurahanhatiyangradikal

PEMBACAAN ALKITAB: Yosua 2:1-16

Kemudian perempuan itu menurunkan mereka dengan tali melalui jendela, sebab rumahnya itu letaknya pada tembok kota, jadi pada tembok itulah ia diam. Berkatalah ia kepada mereka: “Pergilah ke pegunungan, supaya pengejar-pengejar itu jangan menemui kamu, dan bersembunyilah di sana tiga hari lamanya, sampai pengejar-pengejar itu pulang; kemudian bolehlah kamu melanjutkan perjalananmu.” (Yosua 2:15-16)

Bacaan tambahan: Mazmur46

REFLEKSI:

Dalam Yosua 2:1–16, kita diperkenalkan dengan Rahab. Seorang perempuan yang bekerja sebagai pelacur di Yerikho sosok yang tampaknya jauh dari gambaran pahlawan. Namun kisah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kejutan.

Tindakan kepahlawanan Rahab? Ia menyembunyikan para pengintai yang dikirim Yosua untuk mengintai negeri itu. Rahab bukan orang Israel, jadi dukungannya yang begitu berani jelas bukan sesuatu yang bisa diduga. Kita belajar bahwa Rahab telah mendengar kisah-kisah tentang Allah mereka, dan ada sesuatu dalam cerita-cerita itu yang menyentuh hatinya. Karena itu, ia berbohong kepada raja tentang keberadaan para pengintai Israel dan mengatakan bahwa mereka sudah meninggalkan kota.

Untuk menentang perintah raja dan menyembunyikan para pengintai yang asing jelas membutuhkan keberanian besar dari Rahab. Tapi tindakan ini bukan semata-mata karena keberanian pribadi. Ini adalah tindakan kemurahan hati yang radikal, yang dilakukan dalam iman. Rahab keluar dari zona nyamannya untuk hidup dengan berani dan melakukan yang benar. Ia begitu tersentuh oleh kisah-kisah tentang Allah Yosua hatinya berpaling kepadaNya hingga ia mengakui bahwa Tuhan adalah Penguasa langit dan bumi.

TINDAKAN HARI INI:

Di komunitas gereja kami, ada seorang perempuan yang sering datang hanya untuk bersosialisasi. Ia suka berbincang, tertawa, dan berbagi cerita tentang hidup. Suatu hari, ia datang dengan memar di wajahnya, lalu mengungkapkan bahwa suaminya memukulnya saat sedang mabuk.

Pada hari itu, ia tidak datang untuk mengobrol atau menikmati hidangan seperti biasanya. Ia datang karena butuh tindakan nyata. Ia butuh seseorang yang bisa membantunya berdiri dan bertindak dengan keberanian. Bersama-sama, kami memastikan keselamatan dirinya dan anakanaknya. Beberapa waktu kemudian, saat kami terus mendampingi keluarga itu, kami melihat sang suami akhirnya masuk ke pusat rehabilitasi.

Jalan yang harus ditempuh tidak selalu mudah. Bisa saja penuh bahaya dan rasa sakit. Namun iman kita yang radikal sebagai respons atas kasih Yesus yang juga radikal harus mendorong kita untuk bertindak dengan kemurahan hati yang radikal pula. Tanyakan pada diri Anda: Ke mana iman yang berani ini sedang menuntunku? Jalan mana yang harus aku tempuh untuk menjumpai mereka yang patah hati? Di tengah masyarakat yang begitu menjunjung cinta diri dan ketenangan batin, apakah aku masih melayani dengan keberanian?

Pikirkan langkah-langkah nyata yang bisa Anda ambil untuk melayani komunitas atau seseorang yang haus akan kasih, damai, dan pengertian terutama di tengah budaya yang lebih mengutamakan kenyamanan pribadi di atas segalanya.

DOA:

Tuhan, berikanlah aku iman yang melampaui rasa takut dan mendorongku untuk bertindak. Bukalah hatiku agar peka terhadap kesempatan untuk melayani sesama dengan keberanian dan belas kasih, bahkan ketika itu harus dibayar dengan pengorbanan.

TARIK NAFAS:Tuhan, tempat perlindunganku, teguhkan imanku.

HEMBUSKAN NAFAS: Biarlah aku bertindak dengan keberanian dan kasih.

“Kearahmanaimanyang penuhkeberanianini

HARI 12

Melindungiyanglemah

PEMBACAAN ALKITAB: Yosua 6:22-25

Lalu masuklah kedua pengintai muda itu dan membawa ke luar Rahab dan ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya dan semua orang yang bersama-sama dengan dia, bahkan seluruhnya kaumnya dibawa mereka ke luar, lalu mereka menunjukkan kepadanya tempat tinggal di luar perkemahan orang Israel.” (Yosua 6:23)

Bacaan tambahan: Matius 1:1-6

REFLEKSI:

Kisah Rahab adalah bukti kuat tentang bagaimana iman bisa mengubah segalanya. Dia mempertaruhkan segalanya demi melindungi orang-orang yang rentan, dan sebagai balasan atas kebaikannya, Yosua memastikan keselamatan keluarganya saat Yerikho ditaklukkan oleh bangsa Israel.

Perjalanan Rahab dari melindungi orang lain hingga akhirnya dilindungi sendiri mengingatkan kita bahwa saat kita menunjukkan kepedulian pada orang lain, sering kali kasih itu kembali kepada kita dengan cara yang tak terduga. Kebaikan yang ia berikan menjadi kebaikan yang ia terima, dan imannya membuka jalan bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga untuk dipulihkan dan dihormati.

Di dunia sekarang, bentuk perlindungan terhadap mereka yang rentan mungkin terlihat berbeda, tapi inti dari kisah Rahab tetap sama. Siapa saja orang-orang di sekitar Anda yang butuh perlindungan baik secara fisik, emosional, maupun spiritual? Dan bagaimana iman Anda bisa mendorong untuk berani melangkah demi kebaikan orang lain?

Warisan Rahab tentang kebaikan yang berani terus ditekankan dalam silsilah Yesus di Matius 1, yang menyebutnya sebagai ibu dari Boas seorang pria yang juga dikenal karena tindakannya yang penuh kasih dalam Kitab Rut. Kisahnya menunjukkan bahwa saat kita menghormati dan memuliakan Tuhan dalam hidup kita, perubahan besar bisa terjadi!

TINDAKAN HARI INI:

Dulu, saya melayani keluarga-keluarga tunawisma yang tinggal di bawah jembatan. Mereka kekurangan makanan, pekerjaan, dan rasa aman terutama anak-anak mereka yang sangat rentan terhadap penculikan. Tugas saya waktu itu adalah mengajarkan bahasa dan angka dasar, serta membekali mereka dengan pengetahuan tentang kebersihan diri.

Setiap hari, saya memulai dengan membasuh wajah dan tangan mereka. Kami duduk di atas tikar dan memulai hari dengan berbincang. Anak-anak ikut dalam renungan pagi bersama saya, dan suatu hari saya mengajarkan sebuah lagu sederhana: ‘Puji dan hormat naik ke atas, dan itu membawa berkat dari surga. Tuhan kita luar biasa, dan Dia sangat mengasihi kita.’ Hari itu, saya merenungkan apa arti ‘berkat’ bagi mereka yang hidup tanpa kebutuhan dasar, tanpa rasa aman, tanpa perlindungan. Bagaimana kita bisa ikut ambil bagian dalam memberikan berkat, dari posisi yang lebih aman dan lebih berkecukupan?

Anda bisa memberikan dukungan kepada tempat penampungan darurat. Di banyak komunitas, sudah ada sistem yang dirancang untuk membantu mereka yang membutuhkan perlindungan segera. Cobalah untuk terhubung dengan tempat penampungan atau rumah singgah yang sudah ada, dan cari tahu bagaimana Anda bisa mendukung upaya mereka baik dengan menyumbangkan barang kebutuhan atau menjadi relawan secara langsung.

Anda juga bisa menciptakan ruang aman bagi mereka yang membutuhkan dukungan emosional karena merasa sedih, kesepian, atau terisolasi. Saat bertemu, cobalah lakukan aktivitas bersama seperti membaca, berolahraga, atau bermain musik, karena hal-hal seperti ini bisa membangun koneksi dan rasa percaya. Berikan kesempatan untuk berbicara lebih dalam dari sekadar obrolan ringan, dan bersiaplah untuk menyampaikan kata-kata yang menguatkan kepada mereka yang hadir.

DOA:

Tuhan, kiranya aku selalu mengingat mereka yang rentan. Kiranya aku bersyukur atas begitu banyak berkat yang telah Engkau berikan kepadaku. Tolong aku untuk melindungi mereka yang membutuhkan tempat berlindung, dan mengasihi mereka yang membutuhkan persahabatan.

TARIK NAFAS:Tuhan, jadikan aku tempat perlindungan bagi sesama. HEMBUSKAN NAFAS: Biarlah kasih-Mu mengalir melalui diriku.

HARI 13

Bersatudanterorganisirdemikebaikan

PEMBACAAN ALKITAB: Bilangan 27:1-11

Lalu Musa menyampaikan perkara mereka itu ke hadapan Tuhan. Maka berfirmanlah

Tuhan kepada Musa: “Perkataan anak-anak perempuan Zelafehad itu benar; memang engkau harus memberikan tanah milik pusaka kepadanya di tengah-tengah saudarasaudara ayahnya; engkau harus memindahkan kepadanya hak atas milik pusaka ayahnya. (Bilangan 27:5-7)

Bacaan tambahan: Mazmur67

REFLEKSI:

Pada masa itu di Israel, perempuan dianggap sebagai milik ayah atau suaminya, sehingga mereka tidak memiliki hak untuk memiliki tanah. Namun, kelima putri Zelafehad berani menantang keadaan yang sudah menjadi kebiasaan.

Dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan, kelima saudari itu bersatu untuk menentang norma budaya saat itu. Mereka mendatangi Musa dan meminta hak untuk mewarisi tanah ayah mereka yang telah meninggal tanpa anak laki-laki. Permintaan mereka sangat berani dan belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika Musa menyampaikan hal itu kepada Tuhan, Tuhan menyatakan bahwa permintaan mereka adil, dan menetapkan hukum baru yang memperbolehkan perempuan memiliki tanah.

Momen ini terjadi tepat saat bangsa Israel bersiap memasuki Tanah Perjanjian, dan menjadi sesuatu yang revolusioner bukan hanya bagi perempuan. Kelima wanita itu berani bersuara menentang hukum tanah yang tidak adil, dan berhasil mengubahnya. Dalam proses itu, mereka menunjukkan gambaran tentang Allah yang berpihak kepada perempuan dan mendukung perjuangan mereka. Kisah mereka memperlihatkan bahwa Allah itu adil dan penuh kasih, peduli pada mereka yang sering diabaikan dan dirugikan.

TINDAKAN HARI INI:

Dari kisah putri-putri Zelafehad, kita belajar pentingnya memperjuangkan keadilan dan kesetaraan di tengah komunitas. Mereka memikirkan situasi mereka dan berani menantang ketidakadilan. Mereka bersuara dan berdiri teguh demi kebenaran. Upaya mereka mengingatkan kita bahwa iman menuntut tindakan nyata melawan ketidakadilan, seberat atau sesulit apa pun tugasnya.".

LIBATKAN

Keberanian mereka dalam membela yang terpinggirkan, keyakinan mereka akan keadilan Tuhan, dan kekompakan mereka sebagai saudara sungguh menginspirasi. Kisah para perempuan ini mendorong kita untuk berani bersuara di tengah komunitas, di tempat kerja, dan di lingkungan ibadah kita."

Coba renungkan, apakah Anda mengetahui situasi di mana Anda bisa bertindak atau bersuara untuk mendorong perubahan. Bisa jadi ada ketidakadilan yang sudah begitu melekat dalam budaya, sampai-sampai sering tidak disadari. Mungkin Anda sendiri berada di pinggiran, atau Anda mengenal seseorang di komunitasmu yang membutuhkan seorang pembela. Langkah pertama, pikirkan baik-baik situasinya dan hasil apa yang ingin dicapai. Langkah kedua, jangan lakukan ini sendirian pikirkan siapa yang bisa Anda ajak bekerja sama untuk meresponsnya.

Dalam kata-kata Catherine Booth, salah satu pendiri Bala Keselamatan: ‘Anda tidak hadir di dunia ini untuk dirimu sendiri. Anda diutus ke sini untuk orang lain. Dunia sedang menunggumu!’"

DOA:

Tuhan, terima kasih karena Engkau mengingatkanku untuk bersatu dengan sesama dalam pekerjaan Kerajaan-Mu. Aku memohon hikmatMu dan berdoa agar Roh Kudus-Mu membimbingku ke tempat-tempat di mana aku bisa ikut ambil bagian dalam membawa keadilan bagi para perempuan di dunia.

TARIK NAFAS:Tuhan, Engkau bijaksana dan adil.

HEMBUSKAN NAFAS: Kiranya hidupku mencerminkan hikmat dan keadilan-Mu.

HARI 14

Berbahagialahorangyangmurnihatinya

PEMBACAAN ALKITAB: Matius 5:7-12

Berbahagialah orangyang sucihatinya, karenamereka akanmelihat Allah. (Matius 5:8)

Bacaan tambahan: Mazmur 51; Filipi 4:8

PERENUNGAN: Dalam Mazmur 51:10, Daud dengan sungguh-sungguh berdoa, ‘Ciptakanlah dalamku hati yang murni, ya Allah.’ Permohonannya mencerminkan kerinduan yang dalam akan pembaruan dan kekudusan. Dalam Filipi 4:8, Paulus mendorong kita untuk merenungkan segala sesuatu yang benar, mulia, adil, murni, indah, dan patut dipuji. Dan dalam Matius 5:8, Yesus berkata bahwa mereka yang berhati murni adalah orang-orang yang berbahagia.

Berkat ini merupakan bagian dari Khotbah di Bukit, ajaran Yesus yang terkenal tentang cara hidup yang berakar kuat pada belas kasih, kerendahan hati, dan iman. Menjadi murni dalam hati berarti memiliki ketulusan, integritas, dan pengabdian yang tidak terbagi kepada Tuhan. Kemurnian hati tidak berfokus pada tindakan lahiriah atau penampilan, tetapi langsung tertuju pada hati yang bebas dari tipu daya, kepahitan, dan rasa mementingkan diri sendiri. Hati yang murni adalah hati yang mencari Tuhan dengan jujur dan mengasihi sesama dengan tulus."

Janji yang menyertai berkat ini ‘karena mereka akan melihat Allah’ sangatlah mendalam. Ini berarti mengalami kehadiran Allah dengan lebih jelas dalam hidup ini melalui tuntunan-Nya, kasih-Nya, dan kebenaran-Nya serta penggenapan tertinggi: melihat Dia dalam kekekalan.

Kemurnian hati bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang pencarian yang terusmenerus akan kekudusan Allah. Ini adalah undangan untuk semakin dekat dengan-Nya, membiarkan Dia menyucikan hati kita dan membentuk cara kita berpikir.

REFLEKSI: Luangkan waktu hari ini untuk berpikir dan merenungkan apa saja manfaat dari kemurnian hati. Seperti doa Daud: ‘Ciptakanlah dalamku hati yang murni, ya Allah, dan perbaruilah semangat yang teguh di dalam batinku.’ (Mazmur 51:10)

Bagaimana perasaan Anda tentang kemurnian hati? Apakah Anda merasa hal itu bisa dicapai di dunia saat ini?

Bagaimana Anda bisa merangkul kemurnian dalam kehidupan sehari-hari? Dan bagaimana kemurnian bisa mengubah hubunganmu dengan orang lain?

Di bagian mana dalam hidupmu Anda paling merasa membutuhkan pembaruan, pemulihan, dan kekuatan dari Tuhan?"

ISTIRAHAT: Saat Anda beristirahat hari ini, renungkanlah ajaran dari Filipi 4:8.

Perhatikan hal-hal yang murni, indah, dan patut dipuji. Tenangkan pikiranmu dengan kebaikan Tuhan, dan saring segala gangguan serta kecemasan yang mengaburkan cara berpikirmu. Anda bisa mematikan ponsel atau menonaktifkan notifikasi digital sejenak. Cobalah berjalanjalan atau duduk di tempat yang penuh dengan ciptaan Tuhan, dan nikmati kehadiran-Nya melalui alam sekitar.

Saat Anda merenung, ingatlah bahwa kemurnian hati bukan soal berusaha keras, melainkan soal berserah. Apakah ada pikiran atau perasaan berat yang sedang membebanimu? Serahkan semuanya kepada Tuhan dan percaya bahwa Dia akan memperbarui dan memulihkan Anda

DOA: Terima kasih, Bapa, atas sukacita dan kemurnian dalam hal-hal yang aku lihat saat aku memperlambat langkahku, atas kesempatan untuk menikmati dunia ciptaan-Mu, dan atas waktu yang Engkau berikan untuk menjadikan hari ini berbeda dari hari-hari biasanya. Amin.

PERTANYAAN REFLEKSI MINGGUAN:

Coba renungkan berbagai cara Anda telah menjalani nilai keadilan selama seminggu terakhir. Ingat-ingat setiap harinya, dan pikirkan pengalamanpengalaman berbeda yang Anda ikuti atau yang mengajak Anda untuk terlibat.

• Masih ingat siapa saja orang yang Anda temui atau ajak bicara minggu ini?

• Luangkan waktu sebentar untuk mengingat kembali reaksi mereka dan cerita yang mereka bagikan.

• Dari interaksi itu, apa yang Anda rasakan? Adakah tindakan atau sikap dari minggu ini yang bisa Anda jadikan kebiasaan sehari-hari?

HARI 15

Percayapadakemampuanoranglain

PEMBACAAN ALKITAB: Yohanes 2:1-11

TetapiibuYesusberkata kepadapelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

(Yohanes 2:5)

Bacaan tambahan: Amsal 3:5-6

REFLEKSI:

Pernah tidak Anda merasa ada seseorang yang percaya sama Anda, bahkan sebelum Anda benar-benar percaya pada diri sendiri? Dukungan dan dorongan dari orang lain bisa jadi dorongan besar yang bikin kita lebih percaya diri dan berani bertindak.

Maria sudah percaya kepada Yesus bahkan sebelum Ia lahir. Ia tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan ia percaya pada kemampuan-Nya bahkan sebelum Yesus menunjukkan kuasa-Nya. Dengan iman yang bersifat profetik percaya pada sesuatu yang belum terlihat Maria berkata kepada para pelayan: "Lakukan saja apa yang Ia katakan."

Bagian ini mengingatkan kita bahwa percaya pada kemampuan orang lain bukan sekadar bentuk dukungan. Itu bisa menjadi tindakan iman keyakinan yang sungguh-sungguh yang membantu mereka tumbuh dan menjadi seperti yang Tuhan kehendaki dalam hidup mereka.

Para pelayan taat tanpa tahu apa yang akan terjadi. Lewat kepercayaan mereka, mereka menyaksikan mukjizat: air berubah menjadi anggur setidaknya sekitar 450 liter! Iman mereka berubah menjadi tindakan nyata. Sama seperti Maria dan para pelayan yang melangkah dengan iman, kita pun bisa menaruh kepercayaan pada orang lain, mendorong mereka untuk melangkah menuju panggilan hidup yang Tuhan berikan.

TINDAKAN HARI INI:

Coba pikirkan satu orang dalam hidup Anda yang melihat potensi dalam diri dan mendorong Anda untuk terus berkembang. Bagaimana pengalaman itu memengaruhi cara Anda menjalani hidup dan memandang iman Anda? Mungkin Anda ingin berhenti sejenak dan bersyukur kepada Tuhan atas kehadiran-Nya dalam perjalanan ini. Atau mungkin Anda ingin berdoa agar hubungan seperti itu hadir dalam hidup Anda.

Coba pikirkan orang-orang yang punya pengaruh di komunitas Anda seperti dewan eksekutif, tim kepemimpinan, pemerintah lokal, atau panitia-panitia. Lalu perhatikan, apakah ada kekosongan atau ketimpangan dalam kelompok-kelompok ini? Siapa yang belum terwakili? Apakah ada kelompok masyarakat yang belum punya “kursi” atau suara dalam pengambilan keputusan?

“Tuhan,tuntunakuagar menjadipenyemangat

bagiorangdi

sekitarku...”

Coba pikirkan kebutuhan yang ada di komunitas Anda baik di gereja, tempat kerja, maupun dalam pertemanan yang saat ini belum terpenuhi. Perhatikan siapa saja yang aktif mencari cara untuk melayani dan membantu. Lalu, amati juga mereka yang sering terlewatkan atau secara sistemik kurang dihargai.

Minta Tuhan:

• untuk mengutus para pekerja-Nya, karena panen begitu melimpah.

• agar mata hati Anda dibuka, supaya bisa melihat siapa saja di komunitas Anda yang dipanggil untuk menjalankan tujuan Tuhan dan membangun tubuh Kristus.

• keberanian untuk percaya atas nama orang lain meskipun mereka mungkin masih ragu atau belum punya keterampilan tertentu.

DOA:

Tolong aku, Tuhan, untuk menjadi seorang yang suka memberi semangat seseorang yang bisa melihat potensi dalam diri orang lain dan percaya pada kemampuan mereka. Semoga aku bisa mengucapkan kata-kata yang membangkitkan iman dan dengan berani menyatakan dukungan.

TARIK NAFAS:Tuhan, bukalah mataku untuk melihat potensi.

HEMBUSKAN NAFAS: Semoga keyakinanku pada kemampuan mereka mencerminkan kasih-Mu.

HARI 16

Bertindakadildanbagikankabarbaik

PEMBACAAN ALKITAB: Yohanes 4:1-30

“Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (Yohanes 4:29)

Bacaan tambahan: Mazmur139:1-18

REFLEKSI:

Bagaimana perasaan Anda saat tahu bahwa Tuhan mengetahui semua hal yang pernah Anda lakukan?

Di satu sisi, hal ini membuat pengakuan dosa terasa tidak terlalu menakutkan. Karena Tuhan sudah tahu semuanya, kita bisa datang dengan jujur tanpa harus berpura-pura. Tapi di sisi lain, ini juga sangat merendahkan hati.

Dalam Yohanes 4, Yesus berbicara dengan seorang perempuan yang sedang memikul rasa malu. Saat Yesus menyatakan pengetahuan ilahi dan pribadi-Nya tentang masa lalu dan keadaan perempuan itu, ia perlahan mulai memahami bahwa Yesus menerimanya dengan kasih dan iman. Sebelum para murid kembali, Yesus menjelaskan bahwa Dialah yang selama ini orang-orang cari. Kabar ini membuat perempuan itu begitu bersemangat ia meninggalkan kendi airnya dan berlari kembali ke desanya untuk memberitahu semua orang: "Ayo datang dan temui Sang Mesias!"

Dulu, perempuan itu hidup di pinggiran masyarakat, terbebani oleh rasa malu. Tapi satu perjumpaan yang mengubah hidup dengan Yesus membuatnya tidak lagi merasa malu.

Kita bisa membayangkan bahwa kisah hidupnya masih panjang setelah itu, tapi dalam Alkitab, ceritanya berhenti di situ. Kita jadi punya banyak pertanyaan: Apakah para warga desa sempat berbicara langsung dengan Yesus? Bagaimana desa itu berubah karena perjumpaan perempuan itu dengan Sang Mesias?

TINDAKAN HARI INI:

Rasa malu adalah kekuatan yang sangat besar dan bisa melumpuhkan. Rasa ini bisa membuat seseorang enggan mencari bantuan, dan menghalangi mereka untuk menjadi seperti yang Tuhan ciptakan utuh, bebas, dan penuh tujuan.

Jutaan orang di seluruh dunia telah belajar mengelola kecanduan mereka lewat kelompok pemulihan seperti Alcoholics Anonymous atau Narcotics Anonymous. Bagi mereka yang sebelumnya terikat oleh rasa malu, kelompok-kelompok ini menyediakan ruang yang aman untuk terbuka, jujur, dan rentan berbagi kisah hidup tanpa takut dihakimi.

Bukankah seharusnya gereja menjadi seperti itu?

Yesus rindu menjalin relasi pribadi dengan setiap dari kita. Ia ingin kita datang kepadaNya dengan diri kita yang apa adanya. Ketika kita mendekat kepada Yesus, kita mengalami kebebasan dan seperti perempuan Samaria, kita terdorong untuk membagikan kebaikan itu kepada orang-orang di sekitar kita.

Yesus tidak menolak pengalaman hidup perempuan Samaria, dan Ia tidak mempermalukannya. Sebaliknya, Ia mengakui masa lalunya dengan penuh kasih dan menyatakan kebenaran tentang siapa diri-Nya. Bisakah Anda dan gerejamu menjadi tempat seperti itu tempat kasih dan penerimaan tanpa rasa malu di tengah komunitasmu?

DOA:

Tuhan, aku sungguh takjub karena Engkau hadir dalam hidupku dan mengenal aku sepenuhnya. Terima kasih atas kasih-Mu yang menutupi semua rasa malu. Tolong aku untuk membagikan kasih itu dan menyampaikan semangatku kepada setiap orang yang kutemui.

TARIK NAFAS:Tuhan, biarlah aku membagikan kebaikan-Mu. HEMBUSKAN NAFAS: Semoga hal itu membawa sukacita dan kebebasan bagi orang lain.

HARI 17

Campurtanganpenuhbelaskasih

PEMBACAAN ALKITAB: Yohanes 8:1-11

Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, dimanakahmereka?Tidakadakah seorangyang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes8:10-11)

Bacaan tambahan: Mikha 6:8

REFLEKSI:

Dalam Yohanes 8:1–11, kita diajak masuk ke dalam momen luar biasa yang penuh kasih karunia dan tantangan. Yesus sedang dihadapkan oleh para pemimpin agama yang ingin menguji-Nya, tapi Ia tidak terpancing oleh kesombongan mereka. Sebaliknya, Ia merendahkan diri berlutut ke tanah yang berdebu menunjukkan kerendahan hati yang menggetarkan, lalu mengucapkan kata-kata penuh hikmat yang mengguncang otoritas mereka yang tinggi hati.

Mereka menuntut agar perempuan yang tertangkap basah dalam dosa dijatuhi hukuman. Namun Yesus yang masih membungkuk ke tanah mengajak mereka untuk bercermin: "Siapa di antara kalian yang tidak berdosa, silakan melempar batu pertama..." (Yohanes 8:7) Perkataan-Nya menembus kesombongan mereka, membalikkan sorotan dari si tertuduh kepada para penuduh. Satu per satu, mereka pun pergi.

Dalam tindakan itu, Yesus bukan hanya membela perempuan tersebut. Ia menunjukkan kekuatan belas kasih bagi mereka yang menderita, dan memberi teladan tentang integritas sejati. Yesus tidak mengabaikan dosa, tapi Ia menangani situasinya dengan penuh kasih: "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi."

Sikap tubuh Yesus dalam kisah ini sangat mengejutkan dan penuh makna. Ia menunjukkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang sering kali terbalik dari cara dunia berpikir di mana yang terakhir menjadi yang pertama. Dengan merendahkan diri, Yesus menegakkan kebenaran dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh kekuasaan duniawi. Bagian ini menantang kita untuk mencintai belas kasih, memperjuangkan keadilan meskipun bertentangan dengan norma sosial, dan menyadari bahwa kerendahan hati kita justru adalah kekuatan dari Tuhan.

TINDAKAN HARI INI:

Dalam kisah ini, Yesus menunjukkan kekuatan kasih dan keberpihakan yang mengubah hidup, terutama bagi mereka yang menghadapi ketidakadilan. Kisah ini sangat relevan bagi banyak perempuan baik secara lokal maupun global yang masih mengalami prasangka dan kebijakan yang menghambat kemajuan mereka.

Dalam kisah ini, kita melihat kehidupan yang benar-benar dibangun di atas kerendahan hati, dipenuhi belas kasih, dan keberanian untuk membela kebenaran. Saat Yesus membungkuk, kita pun diajak untuk merendahkan diri dari posisi kesombongan atau penghakiman, agar bisa mendekati orang lain dengan kasih. Tantangannya ada dua: Pertama, merenungkan hati kita sendiri. Apakah kita cepat menyalahkan orang lain, atau kita sadar bahwa kita pun punya kekurangan dan butuh kasih karunia? Luangkan waktu untuk memeriksa sikap hati kita, dan mintalah tuntunan Tuhan agar kita bisa melepaskan sikap merasa benar sendiri.

Kedua, bagian ini mengajak kita untuk bertindak. Di bagian mana dalam hidup Anda belas kasih dibutuhkan? Mungkin itu berarti memberi pengampunan kepada seseorang yang pernah menyakiti Anda, membela seseorang yang sedang dikritik secara tidak adil, atau sekadar memilih untuk bersikap penuh kasih daripada menghakimi dengan keras. Dengan berdiri untuk keadilan, kita sedang mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah: kerendahan hati menjadi kekuatan, dan belas kasih menang atas penghukuman. Undangan-Nya jelas: kasihilah dengan berani, bertindaklah dengan rendah hati, dan pancarkan kasih karunia Tuhan dalam segala hal yang Anda lakukan.

DOA: Tuhan, Engkaulah kekuatan bagi yang lemah. Aku mencari hikmat-Mu dan berdoa agar Engkau menunjukkan bagaimana aku bisa berdiri bersama mereka yang tidak mampu membela diri. Berikan aku keberanian untuk memperjuangkan keadilan, dan biarlah belas kasih-Mu mengalir melalui hidupku.

TARIK NAFAS:Tuhan yang penuh belas kasih, Engkau tidak menghakimi HEMBUSKAN NAFAS: Aku aman dalam kasih karunia-Mu.

HARI 18

Keteganganantaramenjadidanmelakukan

PEMBACAAN ALKITAB: Lukas 10:38-42

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapihanya satusaja yangperlu:Mariatelah memilihbagianyangterbaik, yangtidak akan diambil dari padanya.” (Lukas10:41-42)

Bacaan tambahan: 1 Korintus 13:1-3

REFLEKSI:

Kisah Yesus mengunjungi rumah Maria dan Marta menunjukkan ketegangan antara "menjadi" dan "melakukan". Marta begitu sibuk melayani sampai lupa tujuan sebenarnya dari pelayanannya, sementara Maria memilih untuk duduk diam di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya.

Ketika Yesus menunjukkan hal yang lebih baik, itu membuat kita bertanya tentang prioritas kita sebagai orang Kristen. Apa gunanya pelayanan kita kalau hati kita tidak dipenuhi dengan penyembahan? Seberapa efektif misi kita kalau kita sendiri belum benar-benar menjadi murid-Nya?

Catherine Booth, salah satu pendiri The Salvation Army, pernah menulis: "[Tuhan] ingin kita menjadi dan melakukan. Ia ingin kita menjadi seperti Anak-Nya, lalu melakukan seperti yang dilakukan oleh Anak-Nya; dan saat kita sampai di titik itu, Ia akan mengguncang dunia lewat kita!"

Bukan berarti "melakukan" itu buruk atau lebih rendah dari "menjadi" tapi kita perlu sadar akan urutan dan tempatnya dalam kehidupan rohani kita. Di 1 Korintus 13:3, kita melihat ketegangan yang mirip, saat rasul Paulus menulis bahwa bahkan tindakan pelayanan yang paling radikal dan penuh pengorbanan tidak ada artinya jika tidak disertai kasih.

Begitu juga, perbuatan baik kita hanya akan bermakna jika lahir dari waktu yang kita habiskan bersama Yesus. Tindakan Marta sebenarnya baik, tapi Maria memilih yang lebih baik saat itu yaitu memperdalam hubungannya dengan Yesus. Pemuridan itu menyeimbangkan antara pelayanan dan kehadiran, dan ketika kita fokus pada hal-hal yang kekal, kita akan menemukan kejelasan dan damai, yang pada akhirnya mengubah pekerjaan kita menjadi penyembahan.

TINDAKAN HARI INI:

Kisah ini mengajak kita untuk bertanya: “Kenapa aku melakukan apa yang aku lakukan?”

Coba pikirkan satu bentuk pelayanan yang sering Anda lakukan entah itu merawat orang tua yang sudah lanjut usia, membimbing anak muda, mengunjungi orang sakit di rumah sakit, atau membantu belanja untuk mereka yang tidak bisa pergi ke toko. Luangkan waktu untuk merenungkan motivasi Anda dalam melakukan hal itu. Ambil waktu dengan tenang, seperti Maria, duduk di kaki Yesus. Kalau perlu, mintalah kepada-Nya untuk menata kembali pelayananmu atau mengarahkan ulang fokus Anda. Lalu, saat Anda melakukannya lagi, perhatikan bagaimana perasaan Anda. Apakah sudut pandang Anda berubah?

Kisah ini juga mengingatkan kita untuk terhubung dengan orang lain. Coba ajak seorang teman untuk berbagi tentang apa yang mereka dapatkan dari waktu yang mereka habiskan bersama Yesus. Bukalah diri untuk saling belajar. Bagaimana Anda memprioritaskan waktu bersamaNya? Apa yang Anda pelajari tentang Yesus? Bagaimana hal itu memengaruhi cara Anda menggunakan waktu? Apakah itu mengubah cara Anda berhubungan dengan orang lain? Apakah Anda merasakan ketegangan antara “menjadi” dan “melakukan”? Apakah Anda perlu mulai menerapkan wawasan yang sudah Anda dapatkan?

DOA:

Tuhan, tenangkan pikiranku yang gelisah dan ingatkan aku untuk duduk sejenak di kaki-Mu. Di hadirat-Mu, kiranya aku menemukan damai, fokus, dan kejelasan yang begitu dirindukan oleh jiwaku.

TARIK NAFAS: Tuhan, tenangkan hatiku yang gelisah dan hentikan tanganku yang terlalu sibuk.

HEMBUSKAN NAFAS: Tolong aku untuk memilih hal yang lebih baik.

“Bukalahdiriuntuk salingbelajarsatusama

HARI 19

PEMBACAAN ALKITAB: Markus 14:1-9

Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.

Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu itu? Sebab minyak itu dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Lalu mereka memarahi perempuan itu. (Markus 14:3-5)

Bacaan tambahan: Yohanes12:1-8

REFLEKSI:

Markus 14:1–9 dan Yohanes 12:1–8 menangkap keindahan dari sebuah pengabdian, saat Maria (atau “perempuan” dalam Markus 14) mengurapi Yesus dengan minyak wangi. Tindakan ini, yang begitu pribadi dan mewah, melambangkan betapa berharganya pelayanan sejati dan penyembahan yang tulus dari hati.

Pada titik ini dalam kisah hidup Yesus, mulai terlihat jelas bahwa perjalanan-Nya akan melibatkan konfrontasi dan konflik yang kemungkinan besar akan mengorbankan nyawa-Nya. Menyadari hal itu, Maria secara tak terduga memecahkan sebuah buli-buli berisi minyak narwastu murni dan mengurapi Yesus dengan hadiah yang begitu mewah.

Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu berpendapat bahwa minyak wangi milik Maria seharusnya dijual saja dan uangnya diberikan kepada orang miskin. Tapi Yesus membungkam mereka, membela tindakan Maria, dan menjanjikan bahwa kesetiaannya akan dikenang sepanjang sejarah, sejauh kabar baik diberitakan.

Bayangkan momen itu. Saat buli-buli dipecahkan. Minyak yang tersisa di rambut Maria. Harum yang memenuhi seluruh ruangan. Dampak kasih yang menjangkau seluruh komunitas. Beberapa hari kemudian, ketika Yesus ditangkap, dipukuli, dan dilucuti dari segala milik-Nya, momen ini pasti tetap terpatri dalam ingatan-Nya karena aroma minyak itu masih melekat di kulit-Nya. Saat Yesus memikul salib, Ia membawa serta kenangan wangi dari pengabdian Maria.

TINDAKAN HARI INI:

Kisah ini saling menghormati. Maria menghormati sahabat dan gurunya, Yesus, dan Yesus pun menghormati Maria saat Ia membela tindakannya dari teguran yang keras: “Biarkan dia… Ia telah melakukan sesuatu yang indah bagi-Ku.”

Dalam Markus 14:6–9, respons Yesus mengingatkan kita bahwa tidak ada ungkapan kasih yang sia-sia. Seperti Yesus, pikirkan bagaimana Anda bisa berdiri membela dengan benar mereka yang terpinggirkan atau disalahpahami. Seperti Maria, renungkan bagaimana Anda bisa mengasihi tanpa ragu dan memberi tanpa menghitung-hitung pengorbanan.

Bacalah kembali kisah dalam Markus 14, lalu renungkan pertanyaanpertanyaan berikut:

1. Apa yang bagian ini ungkapkan tentang nilai dari penyembahan?

2. Apakah Anda sudah menunjukkan kasih yang melimpah kepada Yesus? Bagaimana dengan pemberian Anda waktu, keuangan, pelayanan? Apakah Anda bersedia memberikan sesuatu yang berharga bagi Anda?

3. Bagaimana Anda merespons saat orang lain mengkritik atau salah paham terhadap tindakanmu yang dilakukan dengan niat baik?

4. Perempuan itu dikenal karena kesetiaan dan pengabdiannya. Warisan seperti apa yang ingin Anda tinggalkan?

DOA:

Tuhan, ajarilah aku untuk mengasihi Engkau dan sesama tanpa ragu, mempersembahkan seluruh yang kumiliki sebagai bentuk pengabdian kepada-Mu. Kiranya penyembahanku murni dan hatiku sepenuhnya berserah dalam pujian yang melimpah, tanpa peduli pada pendapat orang lain.

TARIK NAFAS: Yesus,Engkaulayakmenerimasemuanya.

HEMBUSKAN NAFAS: Aku curahkan seluruh yang kumiliki sebagai ungkapan kasih kepada-Mu.

HARI 20

Warisanimankita: Bagaimanakitamasukdalamceritabesarini?

PEMBACAAN ALKITAB: Ibrani 11 dan 12:1-3

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. (Ibrani 12:1-2)

REFLEKSI:

Dalam Ibrani 11, kita membaca kisah besar tentang kasih penebusan Allah yang diceritakan melalui tokoh-tokoh Perjanjian Lama yang berjalan dalam iman dan percaya kepada Allah di tengah ketidakpastian. Sarah tertawa saat mendengar janji tentang seorang anak, namun melalui dirinya lahirlah garis keturunan bangsa-bangsa. Hagar tersesat di padang gurun dan bertemu dengan Allah yang melihatnya. Rahab, seorang asing, justru ditarik masuk ke dalam keluarga umat Allah.

Para perempuan ini menjadi bagian dari awan saksi yang besar seperti yang disebutkan dalam Ibrani 12. Kisah mereka mengingatkan kita bahwa iman bukan soal kesempurnaan, melainkan tentang kepercayaan, ketekunan, dan penyerahan diri. Sebagai pengikut Yesus, inilah warisan iman kita. Kita berdiri di atas kesaksian mereka yang telah lebih dulu berjalan dalam iman.

Bagian yang paling menggembirakan? Kisah penebusan Allah masih terus berlangsung, dan Ia mengundang kita untuk ambil bagian di dalamnya! Sama seperti Rahab yang melindungi para pengintai dan menerima perlindungan, seperti Hagar yang menemukan tempat berlindung dalam hadirat Allah, dan seperti Sarah yang menyaksikan penggenapan janji-Nya kita pun dipanggil untuk hidup dalam iman.

TINDAKAN HARI INI:

Sepanjang renungan ini, kita telah membaca kisah-kisah tentang perempuan dan laki-laki yang hidupnya disentuh secara ilahi. Kita telah menelusuri perjalanan dari generasi ke generasi, hingga tiba pada kehidupan Yesus yang melalui kebangkitan-Nya, mengubah segalanya.

Kita telah melihat bagaimana orang-orang biasa melakukan tindakan kasih, iman, dan kebaikan yang bergema hingga kekekalan dan mengubah dunia dengan cara yang luar biasa.

Hari ini, luangkan waktu untuk merenungkan kisah-kisah iman yang telah membentuk perjalanan hidup Anda. Pikirkan orang-orang yang telah mendukung dan membuka jalan bagimu secara pribadi. Tulislah kepada mereka dan sampaikan rasa terima kasih serta penghargaan Anda.

Tanyakan pada diri Anda sendiri pertanyaan-pertanyaan ini: Seperti apa bentuknya jika Anda benar-benar mengambil bagian dalam kisah ini? Siapa yang sedang melihatmu sebagai saksi atas kesetiaan Allah? Langkahlangkah kepercayaan dan penyerahan diri apa yang sedang Allah undang Anda untuk ambil hari ini?

DOA:

Tuhan, tolong aku untuk menjalani perlombaan hidup ini dengan ketekunan, dengan mata yang tertuju kepada-Mu, Sang penyempurna iman. Kiranya aku berjalan mengikuti jejak mereka yang telah percaya kepada-Mu, membawa warisan iman mereka dalam kasih dan ketaatan.

TARIK NAFAS: Tuhan, aku dikelilingi oleh awan saksi yang besar.

HEMBUSKAN NAFAS: Kuatkan aku untuk mengambil bagian dalam kisah-Mu yang terus berlangsung

“...kitadipanggiluntuk hidupdalam iman.”

HARI 21

Bersinarlahdihadapanoranglain

PEMBACAAN ALKITAB: Matius 5:13-16

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

Bacaan tambahan: Matius 6:1-4

PERENUNGAN:

Selama tiga minggu terakhir, kita telah berfokus pada bagaimana menjalani hidup dengan keadilan. Kita telah diajak untuk mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda dari milik kita sendiri, untuk melayani sesama dengan tanpa pamrih, dan untuk membawa dampak positif di tengah komunitas kita.

Hari ini, di hari terakhir dari seri renungan ini, kita membaca pengajaran dari Matius 5:16. Terang yang ada di dalam kita berasal dari Tuhan, dan sebagai pengikut-Nya, inilah tujuan kita diciptakan. Eugene H. Peterson, dalam parafrase The Message, menuliskannya seperti ini: “Anda ada di sini untuk menjadi garam yang memberi rasa ilahi bagi dunia ini. Jika Anda kehilangan rasa garammu, bagaimana orang bisa merasakan kehadiran Allah? … Anda ada di sini untuk menjadi terang, membawa warna-warna Allah ke dalam dunia.” (Matius 5:13–14, The Message)

REFLEKSI: Di inti dari bagian Kitab Suci ini, termasuk Matius 6:1–4, kita diajak untuk melihat kembali motivasi kita. Apakah Anda sedang berusaha mendapatkan pujian dan pengakuan dari manusia, atau mengharapkan upah dari Bapa di surga? Apakah Anda melakukan kebaikan demi kemuliaan pribadi, atau agar Allah dimuliakan dan kebenaran-Nya dinyatakan?

Kalau kita melihat dengan mata penuh kasih, semua kemuliaan kembali kepada Tuhan. Kalau kita mengulurkan tangan untuk membantu, semua kemuliaan kembali kepada Tuhan. Kalau kita melayani sesama dengan kasih, semua kemuliaan kembali kepada Tuhan.

ISTIRAHAT: Saat Anda berdiam diri dalam hadirat Tuhan hari ini, coba renungkan kesempatan-kesempatan yang pernah Anda miliki untuk menjadi saksi kasih Tuhan lewat pelayananmu kepada sesama.

Ingat kembali momen-momen ketika Anda menerima ucapan terima kasih atau senyuman tulus sebagai balasan atas kebaikanmu. Sebagai bentuk ibadah dan penghormatan, kembalikan setiap ungkapan terima kasih dan kebaikan yang Anda terima kepada Tuhan, sambil berkata: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau.” (Mazmur 16:2)

LENGKAPI

Sambil merenung, Anda bisa mendengarkan lagu-lagu pujian dan menaikkan nyanyian syukurmu sendiri kepada Tuhan. Bacalah Matius 5:1–16 secara lengkap. Biarlah sukacita memenuhi hatimu dalam hadirat-Nya. Biarkan terangmu bercahaya.

DOA: Tuhan, biarlah terang-Mu bersinar melalui hidupku, supaya setiap tindakanku mencerminkan kasih-Mu dan memuliakan nama-Mu yang kudus. Tolong aku untuk melayani sesama dengan kasih dan keyakinan, serta menghormati Engkau dalam segala yang aku lakukan. Amin.

PERTANYAAN REFLEKSI MINGGUAN:

Luangkan waktu sejenak untuk merenung. Pikirkan berbagai cara Anda telah menjalani keadilan selama seminggu terakhir. Coba ingat kembali setiap harinya apa saja pengalaman yang Tuhan izinkan untuk Anda alami dan ikuti?

• Masih ingatkah Anda siapa saja orang-orang yang Anda temui atau ajak bicara minggu ini? Luangkan waktu untuk mengingat kembali reaksi mereka dan cerita hidup yang mereka bagikan kepada Anda.

• Bagaimana interaksi-interaksi itu memengaruhi Anda?

• Apakah ada tindakan atau sikap yang Anda lakukan minggu ini yang bisa Anda jadikan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari?

DAFTAR KONTRIBUTOR

Anggota Pelayanan Wanita Internasional dari Kelompok Wanita ISJC

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Issuu converts static files into: digital portfolios, online yearbooks, online catalogs, digital photo albums and more. Sign up and create your flipbook.