Skip to main content

APMIGAZINE Vol. 1

Page 1


DIBALIK APMIGAZINE

Penanggung Jawab

Fauzan Abiyyu Pratama

Amaliya Putri

Rafi Maulana

Ketua Pelaksana

Penulis, Editor & Penyusun Konten

Associate Writer

Desain & Tata Letak

Alya Eka Khairunnisa

Ni Wayan Sriyanti

Putu Mirah Wahyu Subagia Putri

Raisah Kirana Candra

Alan Ferdiansyah

Alya Eka Khairunnisa

Annisa Sabila

Ni Putu Mirah Marcelinda

Angelita Putri

Ni Putu Nita Pradnyandari

Winna Florencia Wongs

Destiana Salsabila

Dika Alif Kurniawan

Raisah Kirana Candra

Distributor: Muhammad Fajrulfalaq Izzulfirdausyah Suryaprabandaru, Davin Elian Qariru, Atilla Radja Satria, Irvan Nurfauzan Saputra, Rossella Arylia Tiara Simanjuntak, dan Aldi Kurniawan

Dibawah Naungan:

Biro Riset, Inovasi, Informasi & Teknologi

Asosiasi Peneliti Indonesia

Yayasan Wahana Talenta Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera bagi kita semua, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyusun dan menerbitkan APMIGAZINE Majalah ini hadir sebagai versi terbaru dari Gagasan APMI yang sebelumnya telah kita kenal, dan kini kami kemas dalam bentuk majalah agar dapat dinikmati oleh lebih banyak orang

Edisi kali ini mengusung tema "Peran Peneliti dalam Menyambut Indonesia Emas 2045," sebagai bentuk refleksi dan harapan dalam menyambut ulang tahun ke-79 kemerdekaan Indonesia Di momen istimewa ini, kita diingatkan kembali akan pentingnya penelitian dan inovasi sebagai pondasi utama dalam mempersiapkan bangsa kita menyongsong 100 tahun kemerdekaan pada tahun 2045

Latar belakang terbitnya edisi ini didasari oleh keinginan untuk menyoroti peran vital para peneliti dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks Menuju tahun 2045, yang akan menjadi tonggak sejarah 100 tahun Indonesia merdeka, bangsa kita harus siap dengan berbagai terobosan di bidang ketahanan pangan, kesehatan, energi, hingga teknologi informasi. Penelitian yang mendalam dan berkelanjutan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini Melalui edisi ini, kami berharap dapat menggugah semangat kaum muda, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama berkontribusi dalam pembangunan bangsa melalui riset dan inovasi

Tidak lupa, kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya penerbitan APMIGAZINE ini Terima kasih kepada para penulis yang telah berbagi pemikiran dan hasil penelitiannya, kepada tim redaksi yang bekerja keras memastikan kualitas setiap halaman majalah ini, serta kepada para sponsor dan mitra yang telah memberikan dukungan penuh Semoga majalah ini dapat menjadi sumber inspirasi dan wawasan bagi para pembaca

Akhir kata, kami berharap APMIGAZINE edisi kali ini dapat memberikan manfaat dan mendorong lahirnya ide-ide baru yang inovatif dalam perjalanan kita menuju Indonesia Emas 2045 Mari bersama-sama kita wujudkan cita-cita besar ini melalui riset, kerja keras, dan kolaborasi yang kuat

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam hangat, Redaksi APMIGAZINE

Menuju Indonesia Emas 2045: Generasi Muda sebagai Agen

Memerangi Buta Aksara dan Memajukan Pendidikan

Oleh: Raisah Kirana Candra (Staff Biro RIIT)

Visi Indonesia Emas 2045 merupakan ambisi besar bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju, makmur, dan sejahtera Namun, cita-cita tersebut harus dihadapkan pada realita bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia masih jauh dari memadai Salah satu permasalahan mendasar yang memprihatinkan adalah masih tingginya angka buta aksara di beberapa daerah Persoalan ini tidak boleh dipandang sebelah mata, mengingat peran sentral pendidikan dalam membangun SDM yang unggul, inovatif, dan berdaya saing

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2022 terdapat sekitar 2,07 juta penduduk usia 15 tahun ke atas yang masih buta aksara Angka ini mungkin menurun dari tahun sebelumnya, namun tetap menunjukkan bahwa masalah buta aksara merupakan tantangan besar bagi pembangunan Indonesia (BPS, 2022)

Disparitas angka buta aksara juga terjadi antar wilayah, dengan Provinsi Papua mencatat angka tertinggi yang mencapai 28,32%, jauh di atas rata-rata nasional (BPS, 2022). Daerah-daerah tertinggal lainnya seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, dan Maluku juga masih menghadapi permasalahan serupa (BPS, 2022)

Buta aksara tidak hanya merupakan persoalan pendidikan, tetapi juga berdampak luas terhadap aspek sosial-ekonomi dan pembangunan nasional Individu yang buta aksara cenderung memiliki akses yang terbatas terhadap informasi, layanan publik, dan peluang ekonomi (World Bank, 2019) Hal ini menghambat upaya pengentasan kemiskinan dan memperlebar kesenjangan sosial Sebagai contoh, di Provinsi Papua, angka kemiskinan mencapai 27,53% pada 2022, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang hanya 9,54% (BPS, 2022)

Kondisi ini tidak terlepas dari masih tingginya angka buta aksara di daerah tersebut

Lebih jauh lagi, buta aksara menjadi hambatan bagi peningkatan produktivitas dan daya saing bangsa, terutama di era ekonomi berbasis pengetahuan saat ini (OECD, 2016) Menurut laporan PISA 2018, kemampuan literasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD (OECD, 2019) Hal ini tentunya berimplikasi pada kesiapan tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi tuntutan pasar global yang semakin kompetitif

Untuk memerangi buta aksara dan meningkatkan kualitas pendidikan, diperlukan upaya komprehensif dan terintegrasi dari pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Strategi yang dapat dilakukan antara lain: perluasan akses pendidikan dasar yang merata, peningkatan kualitas dan profesionalisme guru, inovasi pembelajaran berbasis teknologi, penguatan pendidikan karakter dan keterampilan abad 21, serta kampanye nasional pemberantasan buta aksara (Kemendikbud, 2020)

Keberhasilan program pemberantasan buta aksara di Provinsi Aceh dapat menjadi contoh nyata Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan sektor swasta, Aceh berhasil menurunkan angka buta aksara dari 6,3% pada 2010 menjadi 2,3% pada 2020 (Dinas Pendidikan Aceh, 2021). Inisiatif serupa juga dilakukan di Provinsi Jawa Tengah, yang berhasil menurunkan angka buta aksara dari 3,6% pada 2015 menjadi 1,8% pada 2020 (Dinas Pendidikan Jawa Tengah, 2021)

Investasi pada SDM yang unggul akan menjadi kunci bagi tercapainya visi pembangunan nasional yang lebih sejahtera dan berdaya saing global Oleh karena itu, pemberantasan buta aksara dan peningkatan kualitas pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 Komitmen dan kerja keras seluruh pemangku kepentingan diperlukan untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut

Tidak dapat dipungkiri, upaya pemberantasan buta aksara di Indonesia membutuhkan kolaborasi komprehensif dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Namun, di tengah langkah-langkah tersebut, keberadaan generasi muda sebagai agen perubahan justru kurang mendapat perhatian yang semestinya

Generasi muda memiliki potensi besar untuk terlibat secara aktif dalam programprogram pemberantasan buta aksara Mereka dapat menjadi relawan literasi yang memberikan pengajaran membaca, menulis, dan berhitung dengan pendekatan yang ramah dan interaktif Melalui metode pembelajaran yang menyenangkan, kaum muda dapat memotivasi peserta didik dan menciptakan suasana belajar yang kondusif Kemajuan teknologi digital membuka peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan solusi inovatif dalam pemberantasan buta aksara Mereka dapat merancang aplikasi pembelajaran daring yang interaktif, menciptakan konten media sosial edukatif yang menarik, atau memperluas jangkauan program literasi melalui pemanfaatan teknologi Inisiatif-inisiatif semacam ini dapat meningkatkan aksesibilitas dan efektivitas program literasi.

Sebagai agen perubahan, generasi muda dapat berkontribusi melalui kampanye sosial dan advokasi kebijakan terkait pemberantasan buta aksara Mereka dapat mengkampanyekan pentingnya literasi dasar di ruang publik, serta terlibat dalam proses perumusan kebijakan di tingkat lokal maupun nasional Hal ini dapat memperkuat komitmen pemerintah dan memastikan keberlanjutan program-program literasi Mereka dapat membangun perpustakaan, taman bacaan, atau menyelenggarakan kegiatan membaca bersama. Inisiatif-inisiatif lokal ini dapat memberikan dampak signifikan bagi peningkatan minat dan kebiasaan membaca di lingkungan sekitar

Meskipun demikian, sayangnya, potensi besar generasi muda sebagai katalis transformasi literasi belum sepenuhnya tergali Masih ditemukan berbagai hambatan struktural, seperti keterbatasan pendanaan, akses informasi, dukungan kelembagaan, serta kurangnya kolaborasi antara pemangku kepentingan Selain itu, masih ada persepsi dalam masyarakat yang cenderung memposisikan kaum muda sebagai penerima program, bukan pelaku perubahan

Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih sistematis untuk mendorong dan memfasilitasi peran generasi muda sebagai agen transformasi dalam pemberantasan buta aksara Pemerintah, organisasi nirlaba, dan sektor swasta harus lebih proaktif dalam melibatkan kaum muda, memberikan ruang dan sumber daya yang memadai, serta menciptakan sinergi yang efektif Hanya dengan cara demikian, potensi besar generasi muda dapat diwujudkan secara optimal demi Indonesia yang melek huruf dan unggul dalam pendidikan

Referensi:

Badan Pusat Statistik (2022) Statistik Indonesia 2022 Jakarta: Badan Pusat Statistik

Dinas Pendidikan Aceh (2021) Laporan Tahunan 2020 Banda Aceh: Dinas Pendidikan Aceh.

Dinas Pendidikan Jawa Tengah (2021) Laporan Tahunan 2020 Semarang: Dinas Pendidikan Jawa Tengah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2020) Rencana Strategis 2020-2024

Jakarta: Kemendikbud

OECD. (2016). Skills Matter: Further Results from the Survey of Adult Skills. Paris: OECD Publishing

OECD (2019) PISA 2018 Results (Volume I): What Students Know and Can Do Paris: OECD Publishing

World Bank (2019) Ending Learning Poverty: What Will It Take? Washington, DC: World Bank.

FAUZAN ABIYYU PRATAMA: PEMIMPIN VISIONER APMI

Menjembatani Kesenjangan Pendidikan dan Penelitian

Kak Fauzan memiliki ketertarikan mendalam pada bidang energi, khususnya penelitian tentang limbah tambang batu bara, yang menjadi motivasi utamanya dalam memilih jurusan Teknik Geofisika Kecintaannya pada riset sudah tumbuh sejak masa SMA, di mana Kak Fauzan selalu tertarik untuk menemukan solusi dari berbagai masalah energi. Selain merancang proposal tugas akhir (TA), Kak Fauzan juga aktif dalam mengembangkan komunitas dan menjadi Ketua APMI

Sebagai seorang yang gemar mencoba hal baru dan berinteraksi dengan banyak orang, Kak Fauzan telah mengikuti berbagai kegiatan, termasuk menjadi relawan di rumah sakit saat pandemi COVID-19 dan menjadi fasilitator dalam beberapa acara. Pengalaman-pengalaman ini membentuk Kak Fauzan menjadi pemimpin yang peduli dan proaktif

Fauzan Abiyyu Pratama, seorang mahasiswa jurusan Teknik Geofisika di UPN Veteran Yogyakarta, dikenal sebagai seorang akademisi yang berdedikasi dan pemimpin yang penuh semangat dalam berbagai komunitas. Dengan latar belakang pendidikan dari SMA Negeri 1 Bunyu, sebuah sekolah di salah satu pulau 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), Kak Fauzan kini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Peneliti Muda Indonesia (APMI).

Visi Kak Fauzan untuk APMI

Sebagai Ketua APMI, Kak Fauzan memiliki visi besar untuk menyebarluaskan keberadaan APMI hingga ke seluruh Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang sulit dijangkau informasi Dengan slogan APMI “Membumikan Penelitian,” Kak Fauzan berharap APMI dapat membantu siswa-siswa Indonesia untuk memulai dan mengembangkan penelitian mereka “Meneliti adalah hal seru yang menarik untuk dilakukan, jangan hanya karena ingin menang lomba baru meneliti. Mulailah dari kesadaran diri.” ujar Kak Fauzan. Ia ingin APMI menjadi wadah yang inklusif dan mendukung para anggotanya untuk berkembang bersama dalam suasana yang positif Baginya, lingkungan yang saling mendukung akan menghasilkan individuindividu yang positif pula.

APMI: Wadah Inklusif untuk Semua

APMI terbuka untuk siapa saja, bukan hanya alumni Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Dengan demikian, slogan "Membumikan Penelitian" diharapkan dapat terwujud dan merata ke seluruh Indonesia “Ilmu itu bukan milik kita pribadi, itu semua milik Tuhan Yang Maha Esa Sudah sepatutnya kita bagikan ke orang lain Tinggal pilih cara apa yang akan kamu tempuh,” kata kak Fauzan Bagi Kak Fauzan, APMI adalah jalan yang dipilihnya untuk menyebarkan ilmu dan manfaat penelitian

Motto Hidup Kak Fauzan

Motto yang dipegang teguh oleh Kak Fauzan adalah “jadilah seorang pembelajar dimanapun dan kapanpun Akan selalu ada hal baik yang kita pelajari” Prinsip ini tidak hanya memandu kehidupan akademisnya, tetapi juga segala aktivitas dan kepemimpinannya di APMI Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, Fauzan Abiyyu Pratama membuktikan bahwa dengan visi yang jelas dan kepemimpinan yang inklusif, sebuah komunitas dapat berkembang dan memberikan dampak positif yang luas. APMI di bawah kepemimpinannya diharapkan dapat menjadi pilar penting dalam memajukan penelitian di Indonesia, menjangkau semua kalangan, dan memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk berkembang.

Gede H Bermula Meng

Memulai Karir Seja

Kak Herry sustainabilitas dan saat mengikuti sampah Ketertarik

Antara Passion dan Karir

S1 dengan fokus p “KoPSI memicu peneliti,” ungkapn APMI juga m tantangan penelit muda Indonesia fasilitas riset di ban beruntung menda mendukung riset bahwa banyak sekolah di Indonesia yang belum memiliki fasilitas serupa.

Rencana Kak Herry melanjutkan S3 belum menjadi prioritas “Aku ingin kembali ke Indonesia dulu, bekerja di akademik atau lembaga riset untuk memahami kebutuhan negara,” katanya. Baginya, menemukan keseimbangan antara passion dan karir adalah kunci kepuasan dalam pekerjaan

Visi Kak Herry Pada APMI

Bergabung dengan APMI memberi Kak Herry wawasan tentang tantangan calon peneliti muda di Indonesia “Aku pribadi merasa cukup beruntung bersekolah yang difasilitasi pengetahuan soal riset, tapi ternyata ga semua sekolah kaya gitu, banyak sekolah terpencil yang belum banyak mengetahui soal riset, bagaimana cara melakukannya, sesederhana riset sosial” ujarnya Visinya di APMI adalah memperluas pemahaman siswa tentang penelitian, agar lebih banyak anak muda memahami bidang yang mereka tekuni

Mengejar Ilmu ke Negeri Orang

Perjalanan pendidikan Kak Herry tidak selalu mulus Setelah lulus S1, rencananya untuk studi lanjut tertunda oleh pandemi COVID-19, sehingga ia bekerja di NGO bidang sustainability. Namun, hasratnya untuk studi tak padam “Aku daftar banyak kampus, akhirnya memilih Korea Selatan karena funding research di sana besar,” jelasnya. Pilihannya didasarkan pada kemajuan teknologi Korea, yang menurutnya mengesankan meski memiliki sejarah penjajahan mirip Indonesia

Gede Herry Arum Wijaya, kerap disapa Kak Herry, pernah menjabat sebagai ketua umum APMI 2022-2023 Dikenal sebagai konseptor dan sosok yang serius, namun tetap santai dan fleksibel Alumni KoPSI angkatan 2016 ini kini menempuh pendidikan S2 di Korea Selatan, fokus pada riset di bidang sustainabilitas, energi, polusi, limbah, dan lingkungan Tesisnya saat ini berfokus pada membran untuk water electrolysis dan fuel cell, dengan tujuan memanfaatkan hidrogen hijau sebagai energi masa depan.

Motivasi Kak Herry bagi Peneliti Indonesia

Perlahan, kita bisa memperjuangkan Indonesia maju secara teknologi dan sains, termasuk dalam rumpun sosial humaniora. “Banyak pengetahuan lokal kita yang tidak dimiliki oleh negara lain sehingga menjadi local wisdom, kita patut bangga soal itu,” katanya Ia juga menekankan pentingnya tidak mudah terbawa arus tren seperti FOMO, yang seringkali membuat orang mengejar hal-hal yang tidak sesuai dengan passion mereka.

Harapan Kak Herry untuk APMI

“Semoga APMI bisa menjangkau lebih luas dan semakin banyak anak muda yang tertarik pada riset,” pungkasnya Dengan semangat dan visi yang jelas, ia terus mendorong anak muda Indonesia untuk mengejar passion mereka dalam bidang penelitian dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa

Pengaruh Overthinking

terhadap Persepsi Keberhasilan

Orang Lain: Eksplorasi Jalur

Neuronal dan Terbentuknya

Perilaku Penggunaan Sosial

Media

Alan Ferdiansyah

Mahasiswa S1 Fakultas Psikologi

Universitas Negeri Malang

Overthinking atau kecenderungan untuk berpikir berlebihan tentang suatu hal telah menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan generasi muda, terutama generasi Z Fenomena ini semakin kompleks ketika dikaitkan dengan penggunaan media sosial yang masif di era digital saat ini Studi terdahulu telah menunjukkan bahwa overthinking dapat menyebabkan kegagalan regulasi diri dan berdampak negatif pada kesehatan mental serta perilaku (Hamilton & Gross, 2016)

Salah satu pemicu overthinking yang sering dialami oleh generasi Z adalah melihat postingan keberhasilan orang lain di media sosial Hal ini dapat memicu proses kognitif yang kompleks, melibatkan aktivasi area-area otak tertentu, dan pada akhirnya mempengaruhi persepsi diri serta perilaku penggunaan media sosial Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya (Patel et al., 2014)

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi jalur neuronal yang terlibat dalam proses overthinking pada generasi Z, mulai dari stimulus awal yang diterima hingga terbentuknya perilaku penggunaan media sosial yang berlebihan

Dengan memahami kompleksitas overthinking dan dampaknya pada perilaku sosial media, generasi muda dapat mengembangkan keterampilan regulasi diri yang lebih baik dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi digital

Proses Overthinking dan Jalur Neuronal yang Terlibat berdasarkan kajian literatur, ditemukan bahwa saat melihat postingan keberhasilan orang lain di media sosial, individu dari generasi Z dapat mengalami overthinking atau ruminasi

Proses ini melibatkan aktivasi area-area otak tertentu, seperti korteks prefrontal, amigdala, hippocampus, dan insula

Korteks prefrontal berperan dalam fungsi eksekutif, pengambilan keputusan, dan regulasi emosi. Amigdala terlibat dalam pengolahan informasi emosional dan respon emosional Hippocampus berkaitan dengan memori dan pembelajaran, sedangkan insula berperan dalam kesadaran diri dan regulasi emosi

Saat proses overthinking terjadi, individu dapat mengembangkan persepsi diri yang terdistorsi atau negatif, seperti merasa tidak cukup atau merasa gagal dibandingkan dengan keberhasilan orang lain yang mereka lihat di media sosial. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa overthinking dapat menyebabkan kegagalan regulasi diri dan berdampak negatif pada kesehatan mental serta perilaku (Hamilton & Gross, 2016)

Dampak terhadap Perilaku Penggunaan Media

Sosial persepsi diri yang negatif akibat overthinking dapat memicu perilaku penggunaan media sosial yang tidak sehat Individu mungkin menjadi kecanduan media sosial, melakukan posting berlebihan untuk mencari validasi dari orang lain, atau bahkan menunjukkan perilaku tidak sehat lainnya

Perilaku ini melibatkan aktivasi area otak seperti striatum dan nukleus akumbens, yang berkaitan dengan sistem penghargaan dan motivasi Individu mungkin mencari kepuasan atau penghargaan dari interaksi di media sosial sebagai kompensasi atas persepsi diri yang negatif

Temuan ini didukung oleh studi sebelumnya yang menyatakan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya (Patel et al, 2014)

Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan regulasi diri yang lebih baik dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi digital

Implikasi terhadap Kesehatan Mental dan perilaku Sosial emahaman tentang jalur neuronal yang terlibat dalam proses overthinking dan dampaknya pada perilaku sosial media dapat memberikan kontribusi penting dalam upaya meningkatkan kesehatan mental dan perilaku individu Temuan ini sejalan dengan penelitian Ward (2015) yang menyatakan bahwa pemahaman tentang neurosains kognitif dapat memberikan wawasan berharga dalam mengatasi masalah terkait perilaku dan kognitif

Dengan memahami kompleksitas overthinking dan dampaknya pada perilaku penggunaan media sosial, generasi muda dapat mengembangkan keterampilan regulasi diri yang lebih baik dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi digital. Intervensi yang efektif dapat dirancang dengan mempertimbangkan mekanisme neurobiologis yang mendasari overthinking dan implikasinya terhadap perilaku sosial media

Stimulus(S) Organisme(O) Respon(R)

Diagram alir ini menggambarkan bagaimana stimulus awal dapat memicu proses overthinking, yang kemudian menyebabkan aktivasi area otak tertentu, dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku sosial media serta tingkah laku individu secara keseluruhan.Dalam gambar ini, bagian Stimulus (S) menunjukkan pemicu overthinking, yaitu melihat postingan keberhasilan orang lain di media sosial

Bagian Organisme (O) menggambarkan proses internal yang terjadi, yaitu overthinking/ruminasi dan terbentuknya persepsi diri yang terdistorsi Area otak yang terlibat dalam proses ini adalah korteks prefrontal (terkait dengan fungsi eksekutif dan pengambilan keputusan), amigdala (terkait dengan emosi dan pengolahan informasi emosional), hippocampus (terkait dengan memori dan pembelajaran), serta insula (terkait dengan kesadaran diri dan regulasi emosi)

Bagian Respons (R) nunjukkan perilaku yang muncul sebagai akibat dari proses internal, seperti kecanduan media sosial, posting berlebihan untuk mencari validasi, dan perilaku tidak sehat lainnya Area otak yang terlibat dalam respons ini adalah striatum dan nukleus akumbens, yang berkaitan dengan sistem penghargaan dan motivasi

Gambar ini memberikan gambaran visual tentang bagaimana stimulus tertentu dapat memicu proses overthinking dan jalur neuronal yang terlibat, serta bagaimana proses tersebut dapat memengaruhi persepsi diri dan akhirnya memunculkan perilaku penggunaan media sosial yang tidak sehat

Paradigma Penjelasan:

Stimulus (S): Melihat postingan keberhasilan orang lain di media sosial menjadi pemicu atau stimulus yang dapat memicu proses overthinking atau ruminasi pada individu.

Organisme (O):Proses internal yang terjadi dalam diri individu sebagai respons terhadap stimulus tersebut melibatkan area-area otak tertentu, seperti:

Korteks Prefrontal: Terlibat dalam fungsi eksekutif, pengambilan keputusan, dan regulasi emosi

Amigdala: Berperan dalam pengolahan informasi emosional dan respon emosional

Hippocampus: Terkait dengan memori dan pembelajaran

Insula: Berkaitan dengan kesadaran diri dan regulasi emosi

Dalam proses ini, individu mengalami overthinking atau ruminasi, yang dapat menyebabkan terbentuknya persepsi diri yang terdistorsi atau negatif

Respons: Sebagai respons terhadap proses internal tersebut, individu dapat menunjukkan perilaku penggunaan sosial media yang tidak sehat, seperti:

Kecanduan media sosial

Posting berlebihan untuk mencari validasi

Perilaku tidak sehat lainnya

Perilaku ini melibatkan aktivasi area otak seperti striatum dan nukleus akumbens, yang berkaitan dengan sistem penghargaan dan motivasi

Paradigma ini menggambarkan bagaimana stimulus tertentu (melihat postingan keberhasilan orang lain di media sosial) dapat memicu proses overthinking atau ruminasi dalam diri individu, yang melibatkan aktivasi area-area otak tertentu

Proses ini kemudian dapat menyebabkan terbentuknya persepsi diri yang negatif atau terdistorsi, yang pada akhirnya dapat memunculkan perilaku penggunaan sosial media yang tidak sehat sebagai respons

Dengan memahami paradigma ini, kita dapat memperoleh wawasan tentang bagaimana overthinking dapat mempengaruhi persepsi diri dan perilaku penggunaan media sosial, serta jalur neuronal yang terlibat dalam proses tersebut

Studi ini memberikan wawasan mendalam tentang jalur neuronal yang terlibat dalam proses overthinking pada generasi Z, terutama saat melihat postingan keberhasilan orang lain di media sosial Area-area otak seperti korteks prefrontal, amigdala, hippocampus, dan insula terlibat dalam proses ini, yang dapat menyebabkan terbentuknya persepsi diri yang terdistorsi atau negatif Persepsi diri yang negatif ini selanjutnya dapat memicu perilaku penggunaan media sosial yang tidak sehat, seperti kecanduan media sosial, posting berlebihan untuk mencari validasi, dan perilaku tidak sehat lainnya Temuan ini menegaskan pentingnya mengembangkan keterampilan regulasi diri yang lebih baik dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi digital di kalangan generasi muda Pemahaman tentang mekanisme neurobiologis yang mendasari overthinking dan implikasinya terhadap perilaku sosial media dapat berkontribusi dalam merancang intervensi yang efektif untuk meningkatkan kesehatan mental dan perilaku individu

Hamilton, J P, & Gross, J J (2016) An empirically based taxonomy of self-regulation failure and recovery: Implications for evaluation and treatment specification after brain injury Journal of Consulting and Clinical Psychology, 84(12), 1057-1070 https://doiorg/101037/ccp0000152 Huettel, S. A., Song, A. W., & McCarthy, G. (2014). Functional magnetic resonance imaging (3rd ed) Sunderland, MA: Sinauer Associates Patel, V B, Preedy, V R, & Martin, C R (2014) Comprehensive guide to autism New York, NY: Springer Science & Business Media Ward, J (2015) The student’s guide to cognitive neuroscience (3rd ed) New York, NY: Psychology Press

ANALISIS TEKANAN SOSIAL PADA INDIVIDU TRANSGENDER SEBAGAI PELAKU KEKERASAN SEKSUAL : STUDI KASUS PEMAKSAAN PERKAWINAN OLEH TOKOH DAMAR PADA FILM ‘YUNI’

Alya Eka Khairunnisa

Mahasiswa Sosiologi Universitas Indonesia

Email: alyaeka02@gmail com

ABSTRAK

Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemaksaan perkawinan merupakan salah satu bentuk kekerasan seksual yang sulit untuk diidentifikasi, sehingga diperlukan upaya alternatif dalam proses pengungkapannya Salah satu alternatif tersebut dilakukan melalui produksi film berjudul ‘Yuni pada tahun 2021 Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis fenomena pemaksaan perkawinan dalam film tersebut yang memiliki berbagai keterkaitan dengan isu lain, termasuk isu tekanan sosial pada transgender sebagai pelakunya Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis kualitatif terhadap film

Latar Belakang

Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, melecehkan, dan/atau menyerang tubuh, dan/atau fungsi reproduksi seseorang, karena ketimpangan relasi kuasa dan/atau gender, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan psikis, fisik, dan lainnya (KEMDIKBUD, 2020) Di Indonesia, kekerasan seksual telah ditetapkan sebagai tindak pidana melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual

tersebut dan mengaktualisasikannya dengan data pada realita di Indonesia. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tekanan sosial Solomon E Asch (1955) yang menyatakan bahwa tekanan sosial dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu 1) ukuran mayoritas, 2) kehadiran pembangkang lain, dan 3) sifat tanggapan Dengan menggunakan teori tersebut, penelitian ini menemukan bahwa penggambaran kasus pemaksaan perkawinan pada film ‘Yuni’ yang dilakukan oleh individu transgender merupakan hasil dari tekanan sosial atas peran gender yang dibebankan kepada pelaku Temuan ini juga memiliki relevansi tinggi dengan realitas yang terjadi pada masyarakat di Indonesia

Kata Kunci : film, pemaksaan perkawinan, tekanan sosial, transgender

Undang-undang tersebut menetapkan sembilan bentuk tindak pidana kekerasan seksual yang salah satunya adalah pemaksaan perkawinan Dalam undang-undang ini, pemaksaan perkawinan adalah tindakan seseorang yang memaksa, menempatkan seseorang di bawah kekuasaannya atau orang lain, atau menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perkawinan dengannya atau orang lain

Secara internasional, jumlah korban perkawinan paksa pada tahun 2021 melonjak 42,86% dari 5 tahun sebelumnya, yaitu mencapai sekitar 22000000 orang (International Labour Organization, 2022) Namun, tidak ada data yang secara khusus menunjukkan jumlah korban perkawinan paksa di Indonesia Hal ini menyebabkan sulitnya identifikasi gambaran faktual masalah ini pada tingkat nasional. Ketiadaan data tersebut dapat dipahami karena perkawinan paksa sendiri merupakan masalah yang terjadi pada ranah privat Kendati demikian, dalam perspektif sosiologi, masalah privat merupakan suatu komplikasi dari masalah pada realitas sosial yang bersifat publik, sehingga hanya mampu diungkapkan melalui analisis secara komprehensif (Macionis, 2014)

Proses pengungkapan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya ialah dengan medium film yang merepresentasikan realitas sosial dari berbagai perspektif (Turner, 1999) Dalam kasus perkawinan paksa, salah satu film Indonesia yang berupaya untuk mengungkapkannya secara multiperspektif ialah film berjudul Yuni yang tayang pada tahun 2021 Film ini menggambarkan masalah berlapis dalam bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh tokoh perempuan bernama Yuni Salah satu bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh tokoh Yuni ialah pemaksaan perkawinan yang dilakukan oleh tokoh Damar yang merupakan guru sastra Yuni Namun, lebih jauh, faktor yang mendasari perilaku Damar ini menjadi hal yang menarik untuk dikaji secara sosiologis

Pasalnya, pada film ini Damar digambarkan sebagai laki-laki yang sedang menutupi identitas dirinya sebagai transgender, yaitu seseorang yang memiliki gejala ketidakpuasan karena merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaannya (Mahjuddin et al, 1990) Hal ini kemudian berdampak pada Yuni, siswinya, sebagai satu-satunya orang yang mengetahui identitas tersebut Damar melakukan upaya pembungkaman terhadap Yuni melalui pemaksaan perkawinan agar identitasnya sebagai seorang transgender tidak diketahui oleh orang lain Oleh karena itu, pemaksaan perkawinan yang dilakukan oleh Damar menjadi objek kajian sosiologis yang penting untuk ditinjau, terutama dari aspek tekanan sosial yang dialaminya hingga melakukan tindakan tersebut

Tekanan sosial bersumber dari kekuatan sosial, yaitu konsensus baik secara tertulis maupun tidak tertulis dari sejumlah anggota masyarakat yang mendorong dilakukannya sebuah tindakan sosial (Fairchild, 1944) Tulisan bertujuan untuk menganalisis lebih jauh pengaruh tekanan sosial yang dialami Damar sebagai transgender sehingga mendorong tindakannya untuk melakukan kekerasan seksual berbentuk pemaksaan perkawinan Melalui analisis teori-teori tekanan sosial dan kasus-kasus di kehidupan nyata, tulisan ini diharapkan dapat turut merepresentasikan realitas pemaksaan perkawinan secara multiperspektif sebagai salah satu bentuk kekerasan seksual di Indonesia

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penulisan ini adalah mengkaji bagaimana pengaruh tekanan sosial terhadap tindakan kekerasan seksual berbentuk pemaksaan perkawinan yang dilakukan oleh tokoh Damar, seorang individu transgender dalam film Yuni Pertanyaan ini menganalisis bagaimana tekanan dan stigma sosial yang dihadapi oleh Damar sebagai seseorang yang memiliki identitas gender yang berbeda dari norma sosial, dapat mendorong atau mempengaruhi Damar untuk melakukan tindakan pemaksaan perkawinan, yang merupakan salah satu bentuk kekerasan seksual. Rumusan masalah ini bertujuan untuk memahami lebih dalam mengenai dinamika dan dampak dari tekanan sosial terhadap perilaku tokoh Damar dalam film tersebut

Konsep dan Teori

Tekanan sosial adalah usaha-usaha yang ditujukan terhadap individu-individu atau sekelompok orang untuk mengubah tingkah laku mereka dalam mencapai tujuan tertentu (Sakyra Vahsyeli et al, 2020) Muqorrobin (2017) mengutip Milgram dalam Nasution (2012) menuliskan bahwa tekanan sosial mempengaruhi proses manusia dalam mengadopsi perilaku di kehidupan sehari-hari Berdasarkan sumber kekuatan sosial yang menekannya, tekanan sosial terbagi menjadi dua jenis, yaitu: tekanan dari atasan (obedience pressure) atau dari pihak yang berwenang diatasnya dan tekanan dari teman sebaya (conformity pressure) atau pihak dengan kekuatan setara Berdasarkan kasus yang ingin diteliti, maka penelitian ini akan melakukan analisis dengan menggunakan teori tekanan kesesuaian (conformity pressure)

Dalam Asch (1955), dituliskan bahwa manusia dalam mengalami tekanan kesesuaian atau konformitas akan melakukan penyesuaian perilaku agar mengikuti kelompok masyarakatnya, meskipun perilaku tersebut bertolak belakang dengan kecenderungan persetujuannya Melalui penelitiannya, Asch (1955) merumuskan setidaknya terdapat tiga faktor yang dapat ditinjau dalam menganalisis pengaruh tekanan konformitas pada seseorang, yaitu ukuran mayoritas (the size of the majority), kehadiran pembangkang lain (the presence of another dissenter), dan sifat tanggapan (the public or private nature of the responses)

Pada tulisan ini, subjek yang akan ditinjau tekanan konformitasnya ialah transgender sebagai pelaku kekerasan seksual berbentuk pemaksaan perkawinan Sebagai seorang individu yang memiliki gejala ketidakpuasan karena ketidakcocokan antara bentuk fisik, kelamin, dan kejiwaannya, transgender memiliki kecenderungan untuk bersikap mengarah kepada identitas gender yang diharapkannya Kecenderungan tersebut dapat tercermin melalui berbagai cara, mulai dari mengubah kebiasaan berjalan, bicara, pakaian, hingga operasi kelamin yang mengarah pada proses menjadi transeksual (Razak dalam Akrom, 2017). Masyarakat kerap kali memberikan tekanan sosial kepada transgender karena kecenderungannya yang berlawanan dengan ekspektasi jenis kelamin yang dimilikinya Adapun korelasi tekanan sosial dengan studi kasus yang akan diangkat dapat dipahami melalui konsep berikut

Metode Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, yaitu penelitian yang dilakukan melalui pengamatan fenomena dan substansi makna, sehingga ketajaman analisisnya sangat dipengaruhi oleh kekuatan kata dan kalimat yang digunakan (Ardianto, 2019) Pada metode ini, peneliti akan mengumpulkan data dengan teknik studi literatur yang bersumber dari buku, artikel, jurnal, laporan, dan situs daring yang kredibel baik milik pemerintah maupun nonpemerintah Adapun hasil literatur yang diperoleh akan dikaitkan dengan studi kasus yang dipilih yaitu dengan memanfaatkan media film berjudul Yuni

Pembahasan

Kekerasan seksual masih menjadi masalah sosial yang marak terjadi di Indonesia, terlebih pasca pandemi COVID-19, yaitu hingga mencapai 299911 kasus pada tahun 2020 (Komnas Perempuan, 2021) Merespons hal tersebut, pemerintah Indonesia mengesahkan UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual sebagai bentuk komitmen dalam menangani permasalahan kekerasan seksual Dalam undang-undang tersebut, kekerasan seksual diklasifikasikan menjadi sembilan jenis, yaitu Pelecehan Seksual Non-fisik, Pelecehan Seksual Fisik, Pemaksaan Kontrasepsi, Pemaksaan Sterilisasi, Penyiksaan Seksual, Eksploitasi Seksual, Perbudakan Seksual, Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik, dan Pemaksaan Perkawinan

Beberapa jenis kekerasan seksual cukup sulit untuk diidentifikasi, salah satunya ialah jenis pemaksaan perkawinan Berbeda dengan kasus kekerasan seksual lainnya, Indonesia kesulitan dalam mendata kasus pemaksaan perkawinan secara tahunan Hal ini dibuktikan dengan Mahkamah Agung (MA) yang hanya bisa merilis data yang bersifat periodik dalam kurun waktu empat tahun, yaitu 2018-2022 dengan hasil sebanyak 213 kasus pernikahan bermasalah akibat perkawinan paksa Kasus pemaksaan perkawinan tersebut baru bisa didata oleh MA sebagai alasan dari laporan-laporan perceraian yang diajukan Sulitnya memperoleh gambaran mengenai kasus ini juga diakibatkan oleh minimnya penelitian terkait

Hanna (2017) mengungkapkan beberapa faktor yang menjadi tantangan dalam meneliti perihal pemaksaan perkawinan, yaitu: 1) banyak kasus yang ditutup, 2) korban enggan berpartisipasi dalam penelitian, 3) korban merasa tidak nyaman untuk membagikan pengalamannya, dan 4) korban merasa bahwa penelitian akan menggeneralisasi tradisi/agama yang dianutnya Hal ini membuktikan bahwa metode penelitian terdahulu dinilai kurang berhasil, sehingga diperlukan upaya alternatif untuk mengungkapkan urgensi permasalahan ini kepada publik

Di Indonesia, salah satu upaya alternatif yang telah dilakukan untuk menggambarkan realitas dari kasus pemaksaan perkawinan ialah melalui media film berjudul Yuni (2021) Secara eksplisit, Kamila Andini, sutradara film Yuni, menyampaikan bahwa film tersebut berupaya untuk merepresentasikan masalah struktural dan budaya patriarki yang mengakar di masyarakat (Antara News, 2021) Pada film ini, kasus pemaksaan perkawinan dilihat dari perspektif transgender sebagai pelakunya Oleh karenanya, perspektif ini menarik untuk ditinjau guna melihat relevansi antara penggambaran pada film dengan realitas di Indonesia

Identifikasi Kasus Pemaksaan Perkawinan oleh Tokoh Damar pada Film ‘Yuni’ Dalam film Yuni, kasus pemaksaan perkawinan dilakukan oleh tokoh Damar sebagai guru sastra yang memiliki identitas sebagai transgender kepada Yuni sebagai siswinya yang mengetahui identitas tersebut Pemaksaan perkawinan pada film ini digambarkan secara berkesinambungan, sehingga tidak dapat diidentifikasi secara parsial Oleh karenanya, untuk mengakurasi proses analisis, maka perlu dilakukan identifikasi bagian film sebagai berikut

NO WAKTU KETERANGAN

1 00 : 05 : 10 Damar berbicara dengan Yuni untuk mengingatkan tugas menulis yang belum ia kerjakan Yuni menampilkan ekspresi terpukau dan bersemu

2 00: 18 : 34 Yuni diolok oleh teman-temannya dan diduga menyukai Damar Yuni mengaku hanya mengaguminya sambil mengamati akun instagram Pak Damar dengan penuh keterpukauan akan karya-karya sastranya

3 00 : 29 : 18 Maskulinitas Damar dalam berjalan dan bersikap dikagumi oleh siswi-siswi di sekolah, termasuk Yuni

4 00 : 29 : 39 Yuni berkirim pesan kepada teman duduknya di kelas dengan pesan mengobjektifikasi tubuh Damar Yuni juga memberikan kesan ketertarikan fisik dan membangun imajinasi seksual akan tubuh Damar

5 00 : 53 : 27 Yuni mendapati Damar memasuki toko pakaian perempuan di pasar

6 00 : 53 : 38

Yuni mendapati Damar sedang mengamati kerudung-kerudung yang dijual di toko pakaian perempuan Tampak sekilas ambiguitas makna pada ekspresi Damar saat sedang mengamati produk tersebut Namun, pada kesempatan itu Damar memperkenalkan Yuni kepada ibunya yang sedang ia dampingi berbelanja

7 01 : 29 : 30 Beberapa hari kemudian Yuni kembali mendapati Damar mengunjungi toko yang sama seperti pertemuan pertamanya di pasar

8 01 : 29 : 45 Yuni mengintip ruang ganti pakaian di toko tersebut dan mendapati Damar sedang mencoba salah satu kerudung dengan ekspresi wajah yang senang dan gembira serta cenderung feminim

9 01 : 30 : 25

10 01 : 31 : 52

11 01 : 42 : 40

Damar mengunjungi rumah Yuni Yuni menunjukkan ekspresi kepanikan dan berusaha meyakinkan Damar bahwa ia tidak akan membocorkan kejadian yang ia lihat Namun, Damar bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan menunjukkan ekspresi intimidatif

Damar mengajukan lamaran pernikahan kepada Yuni dengan membujuk keluarga Yuni bahwa ia akan mendukung cita-cita Yuni ke depannya, serta mengiming-imingi kemudahan ujian bagi Yuni Yuni terlihat ketakutan dan tidak berdaya untuk menolaknya

Damar mengakui identitasnya kepada Yuni dan memohon kesediaannya untuk menerima lamaran Damar menganggap pernikahan sebagai jalan terbaik untuk menutupi identitas gendernya serta memenuhi ekspektasi dari ibunya

12 01 : 54 : 11 Yuni

Analisis Tekanan Sosial pada Kasus Pemaksaan Perkawinan oleh Individu Transgender

Berdasarkan identifikasi bagian film yang telah dipaparkan pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa proses pengungkapan identitas gender Damar berlangsung secara berkesinambungan Secara jelas tergambar bahwa Damar memiliki tekanan sosial untuk menutupi identitasnya sebagai transgender Namun, perlu dilakukan analisis bagian dan keterkaitannya dengan teori tekanan sosial untuk mendapatkan hasil objektif serta representatif terhadap realitas pada kehidupan masyarakat Indonesia Analisis tersebut akan dilakukan dengan menggunakan teori Asch (1955) sebagai berikut

2. Kehadiran Pembangkang Lain (The Presence of Another Dissenter)

1. Ukuran Mayoritas (The Size of Majority)

Faktor ukuran mayoritas memainkan peran penting dalam mempengaruhi intensitas tekanan sosial yang dialami seseorang Dalam film ‘Yuni’, mayoritas masyarakat digambarkan sebagai kelompok penganut nilai-nilai agama normatif dan konservatif Terdapat internalisasi budaya patriarki yang masih sangat kental, terbukti dengan sebagian besar adegan film yang mendiskreditkan, mengekang, dan merendahkan perempuan Pencitraan gender laki-laki dan perempuan pun masih sangat kaku dengan norma-norma yang berlaku Oleh karenanya, hal ini dapat menjadi faktor yang memperkuat tekanan kepada Damar untuk menutupi identitas gendernya dengan melakukan pemaksaan perkawinan Hal ini juga sangat merepresentasikan realitas di Indonesia yang dapat dilihat dari persepsi masyarakat terhadap isu transgender Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh FKIP Unismuh Makassar, persepsi terhadap fenomena transgender masih bersifat sangat negatif (Tirto, 2017) Terdapat 46% yang menyatakan bahwa transgender sangat bertentangan dengan normanorma sosial masyarakat Kemudian, sebesar 72% menyatakan sangat tidak setuju apabila transgender diberikan hak untuk berkeluarga dengan sesama jenisnya Kenyataan ini membuktikan besarnya tekanan konformitas yang dialami oleh transgender sehingga mendorong mereka untuk melakukan pemaksaan perkawinan dengan lawan jenisnya

Asch (1955) membuktikan bahwa kehadiran pembangkang lain dapat meningkatkan independensi subjek yang bersikap berbeda dari standar pada masyarakatnya karena pembangkang mampu melakukan moderasi sikap yang dianggap menyimpang oleh mayoritas Oleh karenanya, faktor kehadiran pembangkang dapat menurunkan tekanan sosial yang dialami oleh seseorang Dalam konteks analisis kasus Damar pada film Yuni, faktor kehadiran pembangkang dapat dikatakan relatif rendah Dari keseluruhan substansi film, tidak ada satupun adegan yang menunjukkan kemunculan pembangkangan terhadap norma-norma konservatif dalam masyarakat Namun, hal ini sedikit berbeda dengan realitas yang terjadi di Indonesia Pasalnya, jumlah organisasi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Indonesia menggambarkan realitas yang sebaliknya, pada tahun 2013 terdapat 119 organisasi LGBT yang tersebar di 28 provinsi (UNDP, 2014) Selain itu, Indonesia juga memiliki 2 jaringan nasional organisasi LGBT yang tersebar di 11 kota dan diklaim sebagai organisasi gay terbesar di Asia Tenggara (Shelbi Asrianti, 2023) Fakta ini menggambarkan bahwa intensitas kehadiran pembangkang pada isu transgender sudah cukup tinggi di Indonesia

Kendati demikian, tinjauan kritis tetap perlu dilakukan untuk melihat relevansi representasi pada film dengan realitas yang ada Meski jumlah organisasi LGBT sebagai kelompok pembangkang sudah cukup tinggi di Indonesia, persebaran dan jangkauan organisasi ini masih belum bersifat menyeluruh Film Yuni yang menjadi objek penelitian merupakan film yang berlatar di pedesaan Provinsi Banten, latar pedesaan ini menjadi suatu karakteristik yang perlu ditinjau secara komprehensif. Di Indonesia, organisasi LGBT jangkauannya masih terbatas hanya pada kotakota besar seperti Jakarta dan Surabaya (Hartanto, 2016) Hal ini berbeda dengan perkembangan organisasi LGBT di negara-negara lain seperti Amerika dan Filipina yang sudah berhasil mengintervensi kelompok masyarakat di pedesaan (Movement Advancement Project, 2019; Hivos, 2023)

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa intensitas pembangkang pada isu transgender di Indonesia tidak bisa digeneralisir, karena pada masyarakat pedesaan intensitas ini masih relatif rendah sehingga belum mampu memoderasi tekanan sosial yang dialami oleh transgender di pedesaan

3. Sifat Tanggapan (The Public or Private Nature of The Responses)

Berdasarkan teori Asch (1955) yang didukung oleh

Deutsch and Gerard (1955), berdasarkan proses pembuatannya, tanggapan terhadap perilaku seseorang dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu tanggapan privat dan publik Tanggapan yang diberikan secara privat diyakini menghasilkan tekanan sosial yang lebih rendah kepada seseorang, sebaliknya tanggapan yang diberikan secara publik (di depan orang lain) menghasilkan tekanan sosial yang lebih tinggi sehingga subjek lebih terdorong untuk melakukan konformitas (penyesuaian diri) dengan mayoritas Pada film ‘Yuni’, tanggapan yang diberikan atas perilaku Damar sebagai transgender masih bersifat privat Hal ini dibuktikan dengan reaksi tokoh Yuni yang memutuskan untuk merahasiakan identitas Damar sebagai transgender Berdasarkan hal tersebut, secara teoritis tekanan sosial yang dialami oleh Damar semestinya tidak terlalu besar Namun, perilaku Damar menunjukkan sifat defensif yang sangat tinggi dengan memaksa Yuni untuk menikah dengannya Bahkan, Damar juga menunjukkan relasi kuasa dalam perilaku pemaksaan perkawinan yang ia lakukan Penggambaran ini dapat dilihat sebagai dampak dari kompleksitas faktor pada aspek-aspek sebelumnya

Selain itu, perilaku Damar juga dapat dipahami sebagai kekhawatiran akan tanggapan publik yang mungkin terjadi apabila identitasnya diketahui Berdasarkan penggambarannya, masyarakat dalam film ‘Yuni’ memiliki karakteristik sebagai masyarakat pedesaan, yaitu masyarakat dengan ikatan sosial yang kuat (Januarti, 2017) Dengan ikatan sosial yang kuat, maka potensi kemunculan tanggapan secara publik juga akan meningkat Oleh karena itu, karakteristik masyarakat mayoritas yang memiliki ikatan sosial kuat dapat memberikan tekanan sosial yang lebih tinggi kepada individu transgender untuk melakukan konformitas akan identitasnya

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa tekanan sosial menjadi faktor yang mendorong terbentuknya tindakan kekerasan seksual berbentuk pemaksaan perkawinan yang dilakukan oleh individu transgender, dalam kajian ini berfokus pada tokoh Damar di film 'Yuni Tekanan sosial tersebut dapat ditinjau dari beberapa faktor yaitu ukuran mayoritas, kehadiran pembangkang lain, dan sifat tanggapan yang diterima Oleh karena itu, tindakan pemaksaan perkawinan yang dilakukan oleh individu transgender tidak dapat dilihat secara tunggal sebagai bentuk kejahatan atau tindak pidana saja, melainkan juga perlu dilihat sebagai dampak dari tekanan sosial hasil interaksi masyarakat di sekitarnya

Topik ini memiliki urgensi untuk diangkat karena menandakan adanya perbedaan norma-norma yang menimbulkan masalah-masalah sosial Namun, diperlukan upaya radikal untuk mendekonstruksi norma secara menyeluruh sehingga dapat menekan potensi terjadinya masalah secara berkelanjutan Penelitian pada isu ini perlu semakin ditingkatkan dan diperluas pada bidang-bidang keilmuan lain agar memperoleh hasil tinjauan yang lebih holistik untuk menjadi pertimbangan dalam penentuan ketepatan solusi

Referensi

Urgent Reform of the United Nations Can Restore Global Progress on the Sustainable Development Goals

Paris France 17 June 2024 None of the seventeen Sustainable Development Goals (SDGs) are on track to be achieved by 2030 and only an estimated 16% of the SDG targets are progressing, reveals the 9th edition of the Sustainable Development Report (SDR) released today by the UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN) The first report’s chapter, endorsed by 100+ leading scientists and practitioners worldwide, identifies priorities to upgrade the United Nations to meet the great challenges of the 21st Century and achieve sustainable development including five strategies to address the chronic shortfalls in SDG financing Published each year since 2016, the global edition of the SDR includes the SDG Index and Dashboards ranking the performance of all UN Member States on the SDGs In addition to the SDG Index this year ’ s edition includes a new Index of countries’ support for UN-based multilateralism covering all 193 UN Member States and new FABLE pathways demonstrating how to achieve sustainable food and land systems by mid-century

Herbal Medicine from Temulawak Extract for Liver Diseases

Indonesian researchers have developed a herbal medicine based on temulawak extract with potential benefits for treating liver diseases This research was conducted by a team from Universitas Gadjah Mada (UGM) in collaboration with experts in pharmacy and herbal medicine Temulawak known as a traditional medicinal plant in Indonesia, has been formulated into a product showing effectiveness in improving liver function and reducing symptoms of liver disease The medicine has received approval from the National Food and Drug Monitoring Agency (BPOM) and is expected to strengthen the national herbal medicine industry

SDG progress has been stagnant since 2020 are SDG 2 (Zero Hunger) SDG11 (Sustainable Cities and Communities) SDG14 (Life Below Water) SDG15 (Life on Land) and SDG16 (Peace Justice, and Strong Institutions) particularly offtrack

Finland topped the 2024 SDG Index

Finland's top ranking on the 2024 SDG Index reflects its strong commitment to sustainable development across key areas The country's success is driven by its excellent education system promoting equality and lifelong learning and robust gender equality policies Finland also excels in social welfare reducing inequalities through comprehensive healthcare Additionally, its leadership in environmental sustainability with ambitious goals for carbon reduction and biodiversity protection sets a global example Finland's active participation in international cooperation further underscores its dedication to achieving the SDGs

Increased

Megathrust Earthquake Risks:

New Findings in Japan's Tohoku Region and Indonesia's West Sumatra"

August 2024, Recent studies highlight growing megathrust earthquake risks in Japan's Tohoku region and Indonesia's West Sumatra In Japan new data shows increased stress along the Pacific-North American Plate boundary suggesting a higher likelihood of significant seismic events In Indonesia research indicates rising stress along the Sunda Trench heightening the earthquake threat in West Sumatra

These findings underscore the urgent need for enhanced earthquake preparedness Japan should leverage the new data to improve infrastructure and early warning systems while Indonesia must invest in seismic monitoring and disaster readiness Proactive measures and investments in these areas are crucial for minimizing the impact of future earthquakes

Japanese authorities are enhancing earthquake monitoring and updating building codes Indonesia is focusing on increasing funding for seismic research and developing early warning systems Both countries are taking necessary steps to better prepare for future seismic events

TIPS & TRIK ALA ATIK

LOLOS OPSI BAHKAN MEWAKILI INDONESIA DI AJANG

PENELITIAN INTERNASIONAL

Sebagai seseorang yang pernah mewakili Indonesia dalam ajang internasional, aku ingin berbagi beberapa tips dan trik untuk teman-teman peneliti muda yang ingin sukses dalam perlombaan karya tulis ilmiah. Menulis karya tulis yang berkualitasdanmemenangkanperlombaanbukanlahhalyang mudah, tetapi dengan persiapan yang tepat, peluang untuk meraih kemenangan akan semakin besar Berikut adalah beberapatipsdantrikyangbisakalaianterapkan:

Tips:

1

Pahami Struktur Karya Tulis. Pastikan kalian memiliki pengetahuan dasar tentang menulis, khususnya terkait struktur dan bentuk karya tulis yang diinginkan oleh penyelenggara karena setiap perlombaan mungkin memiliki format yang berbeda,

2

3

4.

Baca Semua Informasi Lomba dengan

Cermat. Bacalah dengan teliti semua ketentuan lomba, mulai dari tema, deadline, syarat dan ketentuan, hingga aturan teknis lainnya

Pilih Ide yang Unik dan Relevan. Pilihlah ide yang unik dan menarik sesuai dengan tema yang telah ditentukan oleh penyelenggara Jangan lupa kitkan SDGs atau buat inovasi yang belum pernah dipikirkan orang lain Ide yang segar dan relevan akan memberi nilai tambah pada karya Anda

Pastikan Karya Tulis Kalian Rapi dan Mudah Dipahami. Penyajian yang rapi dan profesional akan memudahkan juri dalam memahami karya kalian dan meningkatkan peluang Anda untuk menang

1.

Trik: Pilih Anggota Tim yang Sesuai. Pastikan kalian memilih anggota tim yang memiliki keahlian sesuai dengan bidang yang dibutuhkan Jangan lupa bagi tugas dengan jelas

3

Buat Jadwal dan Target yang Jelas. Dalam perlombaan, waktu adalah salah satu faktor penting Buatlah jadwal yang rinci dan target pencapaian untuk setiap tahap pengerjaan karya tulis Dengan begitu, kalian dan tim dapat bekerja secara terstruktur dan menghindari kerja yang terburu-buru di akhir

2. Lakukan Riset Mendalam. Sebelum mulai menulis, lakukan riset yang mendalam terkait topik yang kalian pilih Ini akan memperkaya konten karya tulis Anda dan memberikan dasar yang kuat untuk argumen yang disampaikan Informasi yang akurat dan terbaru akan membuat karya kalian lebih kredibel di mata juri

Ni Wayan Sriyanti Universitas Diponegoro

Being Young, Doesn't Mean

You Can't Contribute

WinnaFlorenciaWongs IPEKATomang

Young researchers are crucial to Indonesia's goal of becoming a golden nation by 2045 They drive innovation, develop technologies, and enhance the country's global competitiveness Beyond science, they address societal and environmental challenges like poverty, healthcare, education, and sustainability, informing policies and offering solutions aligned with the Sustainable Development Goals

Lastly, Indonesia's reputation as a premier tourist destination may suffer, resulting in a decline in tourism revenues, a vital component of the country's economy Addressing this multifaceted challenge is crucial to safeguarding public health and ensuring sustainable economic development in Indonesia

As a young researcher, I believe I can leverage my expertise to enhance Indonesia's health and economic well-being By focusing on respiratory diseases, such as Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), Asthma, and Acute Respiratory Tract Infection (ARI), and their connection to air pollution, I can contribute to developing innovative technological solutions This multifaceted approach empowers me, as a young researcher, to drive positive change and address pressing health concerns, ultimately improving the quality of life

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), asthma, and acute respiratory tract infections (ARI) are prevalent respiratory diseases driven by poor air quality COPD, the third leading cause of global morbidity and mortality, is mainly caused by longterm air pollution and smoking Asthma affects 4% of Indonesians and is triggered by air pollution ARI, caused by viruses, bacteria, fungi, and poor air quality, affects both the upper and lower respiratory tracts These diseases have no specific cures For example, Jakarta's average PM2.5 pollution last year highlighted the urgent need to address air quality issues

According to the WHO's "Global Air Quality Guidelines," high levels of fine particulate matter in Indonesia’s air significantly threaten health, leading to respiratory diseases Poor air quality stems from open burning, seasonal factors, and cigarette smoke This issue not only harms public health but also has economic impacts, including reduced work productivity, increased healthcare costs, and diminished agricultural yields, potentially worsening food insecurity

This environmental issue is exacerbated by Indonesia's rapid industrialization under Industry 40, which has reduced the availability of open land and increased industrial emissions Studies show that the average adult human requires around 11,000 liters of air per day, but air pollution limits the oxygen supply Jakarta, a major industrial hub, has experienced alarmingly high PM25 levels, ranging from 554 μg/m3 to 148 μg/m3, far exceeding recommended thresholds The expansion of industrial activities, particularly in urban centres, has contributed to this problem, with industrial waste often containing pollutants like nitrogen dioxide, sulphur dioxide, methane, and carbon monoxide These emissions not only impact public health but also cause broader environmental harm, such as acid rain and global warming The poor air quality driven by industrialization not only affects respiratory health but also has far-reaching economic consequences for Indonesia, including reduced worker productivity, increased healthcare costs, and potential declines in agricultural yields and tourism revenue Addressing this multifaceted challenge is crucial to safeguarding public health and ensuring sustainable economic development in Indonesia

A solution is required to assure oxygen availability and provide high-quality air Plant cultivation is one method for reducing air pollution Trees and plants, or plants, are oxygen-producing factories that clean the air, absorb CO2, and provide oxygen for animals and people to breathe (Utami, 2022). The challenge in metropolitan areas is a shortage of open ground for planting since the majority of the land has been turned into dwellings or other structures Limited land and air pollution are two concerns that require solid solutions to ensure that metropolitan areas maintain decent air quality Empty ground in metropolitan settings may be used to produce plants by using the top of a building, often known as a roof

Planting on a rooftop, known as a Rooftop Garden, helps address land scarcity in metropolitan regions like Jakarta, promoting a healthy lifestyle, preserving land ecosystems, and mitigating climate change Plant preservation is strongly linked to reforestation efforts, which can help to reduce air pollution The danger of air pollution can be mitigated by employing plants that can remove contaminants from the air and use carbon dioxide gas in the photosynthesis process This idea is supported by research results from Tong, Z, et al (2016), who conducted an experiment on the Brooklyn Grange Rooftop, which he converted into a rooftop garden near a busy highway, and obtained the results of changes in air quality from the first day of the experiment to the last day, where the quality of the air produced improves every day This Rooftop Garden concept may be presented as a genuine endeavour to help ecologically friendly city development initiatives for the golden age of 2045, free of air pollution

Rooftop gardening offers two primary methods to cultivate plants in urban settings: hydroponics and tabulampot (soil-based media) The hydroponics approach utilises a specialised planting medium, such as rockwool, which resembles a thicker and more absorbent version of sponge foam This hydroponic medium allows plants to be grown without the need for soil, making it a suitable option for rooftop gardens where space may be limited The alternative tabulampot method employs a soilbased growing medium directly on the rooftop, providing a more traditional approach to urban gardening Both techniques can be effectively implemented to create rooftop oases that not only improve air quality but also contribute to the overall aesthetics and livability of dense metropolitan areas By leveraging these rooftop gardening methods, urban residents can help mitigate the impact of industrial emissions and ensure a steady supply of clean, oxygen-rich air for their communities

The hydroponics approach utilises a specialised planting medium, such as rockwool, which resembles a thicker and more absorbent version of sponge foam Rockwool is an eco-friendly planting medium derived from molten volcanic rock, such as basalt, making it a sustainable choice for urban gardening (Bayu Widhi Nugroho, 2022) This hydroponic medium allows plants to be grown without the need for soil, making it a suitable option for rooftop gardens where space may be limited

To provide the necessary nutrients for the plants in a hydroponic system, an AB mix solution is commonly used This nutrient blend contains a combination of macronutrients, such as nitrogen, phosphorus, potassium, and magnesium, as well as micronutrients like iron, copper, and chlorine, all formulated to support the growth of green plants and vegetables (Nadia Faradiba, 2021) The hydroponic setup typically involves a PVC (polyvinyl chloride) pipe system, designed to resemble tiered terraces to optimise space and efficiency This arrangement consists of three hollowed-out pipes, with holes positioned to accommodate the selected plants using hydroponic net pots A water pump is used to circulate the AB mix solution throughout the system, ensuring the plants receive a continuous supply of the necessary nutrients (Techno, 2019). By leveraging these hydroponics techniques, rooftop gardeners can create productive and space-efficient urban oases that contribute to improving air quality and providing fresh produce in densely populated metropolitan areas

In conclusion, the development of innovative rooftop gardening solutions, leveraging techniques like hydroponics and tabulampot, highlights the important role that young researchers play in preparing the road for a golden Indonesia by 2045 Their original research and new ideas can propel progress in a variety of fields, from scientific and technological advancements to addressing societal and environmental issues The creation of efficient, space-saving hydroponic systems using PVC pipes and specialised planting media like rockwool demonstrates how young academics can provide practical solutions to concerns such as air pollution, public health, and urban sustainability

By investing in and supporting young researchers, Indonesia can maximise their potential and contributions to achieve a wealthy, technologically sophisticated, and environmentally sustainable future by 2045, in line with the country's aim of a golden age Young researchers can cultivate future generations of innovators, promote economic growth, and boost Indonesia's global competitiveness through their research, collaborations, and entrepreneurial spirit Their efforts to develop innovative rooftop gardening techniques not only address pressing environmental challenges but also showcase the invaluable impact that Indonesia's young academic minds can have in shaping the nation's prosperous and sustainable future

DI BALIK BILIK SUARA

"Bangun tidur kuterus lalu mandi," adalah sebuah lirik lagu yang tidak asing bagi anak-anak Lirik tersebut menunjukkan bentuk aktivitas berulang dari setiap individu Rutinitas yang dilakukan setiap hari, seperti bangun tidur dan mandi, merupakan aktivitas yang dilakukan secara berulang oleh setiap orang Begitu pula dengan negara Indonesia yang memiliki kegiatan rutin setiap lima tahun sekali, yaitu "Pesta Demokrasi"

Dalam pesta demokrasi, terdapat begitu banyak dinamika, mulai dari kericuhan saat kampanye politik, berbagai bentuk baliho yang memuat wajah pasangan calon, hingga suara senyap di balik bilik suara Proses pemilihan umum di Indonesia selalu diwarnai dengan berbagai aktivitas dan peristiwa yang terjadi selama masa kampanye. Mulai dari perdebatan sengit antara para kandidat, banyaknya spanduk dan poster yang menampilkan wajah-wajah calon pemimpin, hingga keheningan saat pemilih memberikan suaranya di balik bilik suara. Salah satu hal yang paling krusial, keputusan.

Satu keputusan dapat mempengaruhi arah masa depan negeri Saat ini, jumlah generasi Z di Indonesia semakin meningkat seiring dengan tingginya angka kelahiran Generasi Z dipandang memiliki pengaruh yang paling besar dalam menentukan jalannya politik di Indonesia Hal ini disebabkan karena generasi Z merupakan generasi yang sangat paham akan kecanggihan teknologi dan memiliki koneksi terhadap dunia digital Keputusan yang diambil oleh generasi Z yang merupakan pemilih muda dapat sangat mempengaruhi arah dan masa depan negara Indonesia Populasi generasi Z di Indonesia yang terus mengalami peningkatan menjadikan mereka dianggap memiliki pengaruh yang signifikan dalam menentukan lanskap politik di Indonesia

Inilah tantangan besar bagi Indonesia dalam upaya membangunkan jiwa dan semangat generasi Z agar tetap berperan aktif, khususnya dalam menentukan masa depan negara Oleh sebab itu, peran peneliti muda harus ditingkatkan Pasalnya, jiwa peneliti melibatkan analisis mendalam yang mendorong terbentuknya tingkat kepekaan yang tinggi terhadap pasangan calon. Melalui penelitian serta model pendekatan yang bersifat inovatif, dapat melahirkan kesadaran politik, khususnya dampaknya terhadap satu pilihan dari generasi Z Hal ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia dalam upaya untuk meningkatkan partisipasi dan peran aktif generasi Z, khususnya dalam menentukan arah masa depan negara Peran peneliti muda menjadi sangat penting dalam hal ini, karena mereka dapat melakukan analisis mendalam yang dapat meningkatkan kepekaan generasi Z terhadap para calon pemimpin. Melalui penelitian dan pendekatan yang inovatif, diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran politik di kalangan generasi Z dan mendorong mereka untuk terlibat aktif dalam proses pemilihan

Indonesia saat ini berada di ambang perubahan besar menuju Indonesia Emas 2045, dan peran generasi muda, khususnya generasi Z, dalam proses demokrasi menjadi sangat krusial. Sebagaimana yang kita ketahui, kualitas kepemimpinan dan pemerintahan di Indonesia saat ini masih rendah, dengan berbagai permasalahan seperti korupsi, nepotisme, dan ketidakmampuan dalam mengatasi isu-isu penting Dengan dukungan pengetahuan yang dihasilkan oleh para peneliti muda, generasi Z dapat membuat keputusan yang optimal dalam menentukan pemimpin negeri ini, sehingga dapat memperbaiki kualitas kepemimpinan dan pemerintahan yang ada. Keputusan yang mereka buat akan menjadi fondasi bagi masa depan Indonesia. Dengan ini, mungkinkah visi Indonesia Emas 2045 akan terwujud?

Ni

Menuju Indonesia Merdeka Diabetes Melitus

Selama 78 tahun perjalanannya, Indonesia telah mencapai berbagai pencapaian dan menghadapi berbagai tantangan Salah satu ancaman nyata yang dihadapi bangsa ini adalah lonjakan angka kasus diabetes melitus Saat ini, Indonesia menempati urutan kelima dengan total 19,47 juta orang yang hidup dengan diabetes Pada tahun 2021, prevalensi diabetes melitus di Indonesia mencapai 19,5 juta kasus Diabetes melitus tidak hanya menyerang orang dewasa, namun juga anak-anak Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (2023), tercatat 1645 kasus diabetes melitus pada anak, menjadikan diabetes melitus sebagai penyakit paling mematikan ketiga di Indonesia Masalah ini terus menjadi problematika yang membayangi masyarakat Indonesia, memengaruhi kualitas hidup, kenyamanan, dan produktivitas individu yang terdiagnosa

Pada usia kemerdekaannya yang ke-78, Indonesia menghadapi paradoks yang menantang Di satu sisi, negara ini telah mencapai kemajuan luar biasa dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur Namun, di sisi lain, masalah kesehatan seperti diabetes menjadi beban yang semakin berat

Pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa langkah untuk mengatasi masalah diabetes ini Program nasional telah diluncurkan, termasuk program pencegahan diabetes, peningkatan akses ke perawatan kesehatan, dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat Namun, upaya ini masih belum cukup untuk mengatasi tantangan yang dihadapi

Selain itu, kurangnya penerapan gaya hidup sehat di masyarakat juga patut menjadi perhatian Menurut data Kementerian Pertanian tahun 2019, makanan siap saji menyumbang 28% dari semua kalori yang dikonsumsi oleh penduduk perkotaan Konsumsi makanan siap saji ini meningkatkan potensi terkena diabetes melitus Aktivitas fisik juga memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan angka kasus diabetes Berdasarkan penelitian Trisnawati dan Setyorogo (2013), ditemukan hubungan antara aktivitas fisik dengan prevalensi diabetes melitus Orang yang melakukan aktivitas fisik berat memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes melitus dibandingkan orang yang melakukan aktivitas fisik ringan Studi tahun 2013 oleh Sartika, Wenny, dan Franky juga menemukan hubungan antara pola makan dengan prevalensi diabetes melitus Orang yang terlalu banyak makan makanan manis, makan tidak teratur, dan tidak makan tepat waktu berisiko lebih tinggi terkena diabetes melitus

Selain hal-hal yang disampaikan pada dua laporan tersebut, pemahaman dan mindset masyarakat terkait gaya hidup sehat juga perlu diperhatikan Generasi muda Indonesia harus memiliki pandangan yang memadai terhadap dunia global tanpa melupakan kesehatan mereka sendiri. Untuk menuju Indonesia yang bebas diabetes melitus, perubahan mindset harus dimulai Generasi muda menjadi pionir karena mereka adalah penerus bangsa Dalam perspektif Soekarno, Bapak Proklamator Indonesia, "Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia," generasi muda memegang peranan penting dalam perubahan paradigma bangsa Langkah kecil untuk memulai gaya hidup sehat dari diri sendiri perlu ditanamkan sejak dini.

Pendidikan tentang diabetes harus dimulai sejak dini Anak-anak perlu diberikan pemahaman tentang pentingnya pola makan sehat, olahraga, dan pengelolaan stres. Sekolah harus menjadi pusat pembelajaran tentang gaya hidup sehat dan memastikan bahwa makanan yang disajikan di kantin sekolah seimbang dan bergizi

Selain itu, dukungan dari sektor swasta dan organisasi masyarakat sipil juga diperlukan Inisiatif yang melibatkan perusahaan, yayasan, dan LSM dapat memberikan dukungan finansial dan sumber daya untuk program pencegahan diabetes, penelitian, dan perawatan pasien Kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan diabetes melalui pola makan sehat dan aktivitas fisik juga perlu ditingkatkan Program edukasi yang melibatkan masyarakat, sekolah, dan tempat kerja harus ditingkatkan Promosi gaya hidup sehat harus menjadi bagian integral dari budaya masyarakat Indonesia

Kita berharap dengan perubahan mindset generasi muda, Indonesia dapat menjadi bangsa yang bebas dari diabetes melitus Dukungan penuh dari pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk mewujudkan Indonesia yang bebas dari diabetes melitus Karena jika bukan kita, siapa lagi? Dan jika tidak sekarang, kapan lagi?

DAFTAR PUSTAKA

Fitri Haryanti, (2019) Makanan Siap Saji Sumbang 28

Persen Kalori Penduduk Perkotaan Indonesia Diakses melalui

https://wwwliputan6com/health/read/4110747/makan an-siap-saji-sumbang-28-persen-kalori-pendudukperkotaan-indonesia Pada tanggal 20 Juli 2023

Trisnawati, S K, & Setyorogo, S, (2013), Faktor risiko Kejadian diabetes melitus tipe II di puskesmas kecamatan cengkareng Jakarta Barat Tahun 2012 Jurnal ilmiah kesehatan, 5(1), 6-11

Ni Putu Nita Pradnyandari SMAN 1 KUTA UTARA

100 tahun Indonesia Emas 2045, Sepak Terjang Peneliti Muda sebagai

Kontributor Intelektual

Annisa Sabila

Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Bangsa

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 menjadi tonggak penting dalam sejarah bangsa Sejak saat itu, muncul semangat baru untuk membangun Indonesia sebagai negara besar yang beragam, sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang diwakili oleh Garuda Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan wilayah, namun tetap bersatu dalam solidaritas sebagai bangsa Indonesia

Menjelang 100 tahun kemerdekaan pada 2045, generasi muda memiliki peran penting dalam mempersiapkan Indonesia menjadi negara yang lebih kuat dan maju Generasi muda saat ini akan menjadi pendorong utama perkembangan bangsa, terutama melalui kontribusi mereka dalam dunia penelitian

Peneliti muda, sebagai representasi intelektual bangsa, dipercaya mampu memajukan industri dan teknologi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat

Peneliti muda diharapkan menjadi kontributor utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 melalui pembangunan berbasis ilmu pengetahuan Namun, mereka menghadapi berbagai tantangan, seperti masalah pendanaan, kurangnya pendampingan penelitian, dan kesenjangan gender Oleh karena itu, dukungan lebih besar diperlukan, baik dalam pengembangan kapasitas "horizontal" melalui pendidikan dan pengalaman riset, maupun "vertikal" dalam bentuk pengembangan kepemimpinan riset yang kompleks dan kemampuan memimpin kolaborasi strategis

#MembumikanPenelitian #SemangatBerprestasi

APMI Partner Collaboration: Tips Membangun Personal

Branding ala Kak Azzahra Putri Santi

Pengenalan Program Webinar Belajar Personal Branding Bareng Kak Wawa

Pada hari Rabu, 26 Juni 2024, Asosiasi Peneliti Muda Indonesia (APMI) mengadakan sebuah program menarik dan edukatif sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mendukung perkembangan karir generasi muda di Indonesia Dalam APMI's Chapter #2 ini, kami menghadirkan Kak Azzahra Putri Santi, atau yang akrab dipanggil Kak Wawa, seorang mahasiswa berprestasi yang telah meraih berbagai pencapaian luar biasa, untuk membahas topik penting: Personal Branding sebagai Penunjang Karir Bagi Siswa dan Mahasiswa*

Webinar ini disusun dengan fokus pada peningkatan pemahaman siswa dan mahasiswa mengenai pentingnya personal branding dalam membangun dan mengembangkan karir Kak Wawa, yang telah terbukti sukses dalam karir akademis dan profesionalnya, membagikan tips dan strategi praktis untuk membentuk citra diri yang kuat dan kredibel, yang sangat diperlukan untuk meraih peluang karir yang lebih baik

Acara ini dimoderatori oleh Kak Atilla Radja Satria dan berlangsung selama kurang lebih tiga jam, terdiri dari dua sesi utama: sesi penyampaian materi dan sesi tanya jawab interaktif Selama sesi materi, Kak Wawa memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana membangun personal branding yang efektif melalui media sosial, portofolio profesional, dan jaringan (networking) Sementara itu, sesi tanya jawab memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mendapatkan jawaban langsung dari Kak Wawa mengenai berbagai aspek personal branding yang mereka hadapi

Lebih dari 40 peserta dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia ikut serta dalam webinar ini, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap topik yang dibahas. Dengan keberhasilan acara ini, APMI berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan-kegiatan yang mendukung perkembangan akademis dan profesional para generasi muda di Indonesia

Nantikan program-program menarik lainnya dari APMI yang akan terus memberikan inspirasi dan pengetahuan bagi kalian semua!

Tertarik Mengirimkan Karya untuk

APMIGAZINE Volume Berikutnya?

OPINI

Karya opini berbentuk esai populer dengan kisaran 300-500 kata

Ditulis dengan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris

Bebas dalam pemilihan sub-topik dan perspektif, dengan tetap mengacu pada tema utama

Dibuat secara orisinil, tidak memuat plagiarisme, dan tidak sedang terikat dengan hak publikasi di media lain

Diketik di kertas A4, margin norma, font Times New Roman, size 12, dan spasi 1,5

Diunggah dalam format dokumen Docx

KIRIM KARYA: bit.ly/OPINIAPMIGAZINE

RISET

Karya opini berbentuk esai populer dengan kisaran 300-500 kata

Ditulis dengan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris

Bebas dalam pemilihan sub-topik dan perspektif, dengan tetap mengacu pada tema utama

Dibuat secara orisinil, tidak memuat plagiarisme, dan tidak sedang terikat dengan hak publikasi di media lain

Diketik di kertas A4, margin norma, font Times New Roman, size 12, dan spasi 1,5

Diunggah dalam format dokumen Docx.

KIRIM KARYA: bit.ly/SubmisiRisetTeknologi

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook