Skip to main content

As-Sana Edisi 1

Page 1


Tujuh Agenda, Satu Semangat ALABAMA

ALABAMA (Aliansi al-Banjari Malang Raya) adalah sebuah organisasi yang mewadahi pencinta kesenian al-banjari di Malang Raya Wadah ini ditujukan untuk menjadi ruang silaturahmi dan berbagi untuk saling meningkatkan potensi anggota dalam aspek kesenian banjari dan organisasi Lebih lanjut, tentu saja ALABAMA bertujuan untuk mensyiarkan Islam dan kesenian al-Banjari ke masyarakat yang lebih luas.

Berbahagia di bulan kelahiran Nabi, meramaikan syiar dengan tabuhan al-Banjari

Bulan September 2025/Rabiulawal 1447 H menjadi catatan penting bagi ALABAMA. Bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad Saw, keluarga besar ALABAMA menggelar tujuh agenda bulanan di lima wilayah Malang Raya: Timur, Selatan, Barat, Utara, dan Kota Kegiatan ini tidak hanya melanjutkan tradisi rutin bulanan, tetapi juga menjadi bagian dari rasa cinta dan penghormatan kepada Rasulullah melalui lantunan salawat dan munajat

Agenda ALABAMA senantiasa hadir dengan tiga rangkaian utama: pembacaan Maulid al-Diba’i, penampilan parade dari grup-grup al-Banjari, serta sesi evaluasi sebagai ruang berbagi. Format ini membuat setiap pertemuan tidak hanya meriah dan penuh berkah, tetapi juga bermanfaat dan berkelanjutan.

Bulan Maulid memberikan warna tersendiri pada setiap agenda Jamaah datang dengan antusiasme yang lebih besar, lantunan salawat menggema dengan penuh khidmat, dan tabuhan terbang bertalu-talu Setiap wilayah menghadirkan kekhasannya, tetapi satu hal yang

terasa: kebahagiaan dalam memperingati kelahiran Rasulullah Saw Melalui tujuh agenda di bulan yang mulia ini, ALABAMA berharap terus dapat menjadi wadah syiar shalawat sekaligus pelestari seni al-Banjari Semoga semangat Maulid yang telah menyalakan tabuhan dan shalawat ini terus hidup dalam keseharian kita, menguatkan cinta kepada Nabi, dan memberi keberkahan bagi kita semua.

Catatan Edisi Perdana

Alhamdulillah dengan izin Allah Swt, edisi perdana Buletin ALABAMA hadir di tengah kita. Buletin ini lahir dari semangat kebersamaan, keinginan untuk menjaga tradisi, dan upaya sederhana untuk memberikan ruang baru bagi syiar shalawat Buletin ini hadir sebagai media sirkulasi kabar dan gagasan, agar semangat syiar, seni, dan silaturahmi tetap hidup di antara para pencinta al-Banjari, khususnya di Malang Raya. Melalui buletin ini, kami berharap setiap kegiatan dan inspirasi yang lahir di lingkungan ALABAMA bisa dibagikan dan dirasakan oleh khalayak yang lebih luas

Lebih dari sekadar dokumentasi kegiatan, buletin ini adalah ruang kebersamaan Buletin ini memuat kabar dari berbagai wilayah di Malang Raya, kisah anggota dan grup, hingga hikmah yang memperkaya seni hadrah dan al-Banjari Melalui tulisan, syiar dapat lebih lestari, seni dapat lebih terjaga, dan silaturahmi dapat terus terjalin meski kita berada di tempat yang berbeda.

Merangkai Syiar, Merawat Seni, Menguatkan Silaturahmi

Kami berharap Buletin ALABAMA dapat menjadi sarana inspirasi dan menimbulkan diskusi Semoga buletin ini dapat memperkokoh ukhuwah, menumbuhkan semangat berkarya, dan menjadi salah satu ikhtiar kecil yang diridhai Allah Swt. dalam menjaga tradisi salawat di Malang Raya

Kabar Wilayah

Merajut Ukhuwah dalam Semarak

Maulid: Sebuah Catatan Perjalanan

Malam belum terlalu lama menampakkan gelapnya Rebana bertalu menghampiri gendang telinga. Alunan selawat mebuat malam semakin hangat Lampu menyorot menemani kami berkumpul, membuat suasana semakin terasa akrab. Bukan sesuatu yang istimewa tapi selalu menyenangkan untuk dihadiri Kami menyebutnya Rutinan Majelis Diba’

Rutinan Majelis Diba’ merupakan agenda bulanan ALABAMA yang dilaksanakan di masing-masing korwil Majelis ini memiliki beberapa kegiatan di dalamnya. Pertama, karena kita berkumpul dalam acara Rutinan Majelis Diba’ maka acara kita buka dengan bersama-sama membaca Maulid Diba’. Pembacaan maulid diba’ juga diiringi dengan terbang al-Banjari. Karena bagi kami, majelis juga merupakan sarana untuk tetap melestarikan kesenian al-Banjari Kedua, sebagai aktualisasi, Parade Sholawat dipertunjukkan dengan menampilkan beberapa grup al-Banjari dari korwil setempat. Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk ingin belajar menjadi lebih baik Kami ingin selalu belajar dan memperbaiki kemampuan dalam seni alBanjari Ketiga, sebagai upaya kami untuk terus belajar, maka sesi terakhir adalah evaluasi dan berdiskusi ringan Sesi ini menggenapkan, bahwa ALABAMA tidak hanya menjadi tempat untuk bersalawat dan bersilaturahmi Tetapi, juga tempat untuk kami terus belajar dan meningkatkan kemampuan diri.

Masih dalam semarak

Maulid Nabi Muhammad

Saw Bertepatan dengan hari Jumat, 26 September 2025, korwil Malang Kota bersama UKM Seni Islami dan PK IPNU

Unisma menggelar perayaan bertajuk “Dua Majelis Satu Cinta”. Perayaan ini, selain menjadi momen untuk merayakan Maulid, juga menjadi ajang silaturahmi dan kolaborasi lintas organisasi. Rapat perdana antara pengurus dari Alabama dan UKM Seni Islami digelar pertama pada tanggal 23 September. Dengan waktu yang cukup sempit dan persiapan mendadak ini, semua bersinergi dan bekerjasama demi kesuksesan acara ini Semangat kebersamaan yang hangat itu mengalir deras, bagai sebuah keluarga yang menyambut sukacita, merajut benang-benang persaudaraan yang tulus dalam naungan cinta kepada Sang Nabi

Jika agenda resmi ALABAMA memiliki tiga sesi kegiatan dalam satu acara, untuk kali ini sesi parade sholawat ditiadakan Hal ini dilakukan karena keterbatasan waktu pelaksanaan yang terikat dengan jam operasional ataupun aktivitas di lingkungan UNISMA Segala kegiatan yang bertempat di lingkungan kampus harus berakhir paling lambat pukul 2200 tepat Efisiensi waktu menjadi faktor pertimbangan dalam pengambilan keputusan ini. Kendati demikian, ditiadakannya parade tidak mengurangi antusiasme segenap hadirin untuk tetap bersemangat dalam menghadiri acara Antusiasme yang terlihat dari sebelum hari pelaksanaan menambah semangat panitia dalam mempersiapkan semuanya demi kelancaran acara

Sekitar 100 jamaah memenuhi Masjid Ainul

Yakin malam itu Mereka datang dari berbagai latar belakang: anggota

ALABAMA, mahasiswa, warga sekitar, hingga tokoh masyarakat Sebagai bentuk dukungan, pembina UKM Seni Islami UNISMA juga turut hadir pada acara ini

Manusia dengan rencananya, dan Allah dengan takdir-Nya Meskipun segenap panitia telah mempersiapkan acara ini dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh Hambatan tidak serta merta pergi dari skenario ini Beberapa menit sebelum acara dimulai, terjadi pemadaman listrik di Masjid Ainul Yaqin dan seluruh wilayah Dinoyo berdampak langsung pada persiapan teknis di tempat acara Gelap, lampu panggung yang telah dirakit, sistem audio yang telah diuji, semuanya sempat terhenti Tentu saja panitia panik Acara tidak bisa dimulai jika listrik padam. Dengan sigap, panitia segera melakukan penyesuaian Mereka mengatur ulang waktu pelaksanaan, memastikan semua perangkat kembali berfungsi setelah listrik menyala.

Di antara gema salawat dan tabuhan, cinta kepada Nabi tumbuh tak hanya di lisan, tapi juga di tindakan dan kebersamaan.

Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa cinta kepada Rasulullah Saw mampu membuat manusia sejenak meluangkan waktu untuk hadir dalam sebuah majelis yang penuh berkah dan bersama-sama membaca maulid Diba’ Acara dimulai dengan pembacaan maulid yang dipimpin oleh tim hadrah UKM Seni Islami dan muhibbin ALABAMA Korwil Malang Kota Suara merdu dan irama yang syahdu mengiringi lantunan pujian kepada Nabi, menciptakan suasana yang khusyuk dan haru

Dengan dihangatkan oleh lantunan sholawat, acara "Dua Majelis Satu Cinta" pun menutup lembarannya, meninggalkan kesan yang mendalam di hati setiap jamaah. Sekitar 100 hati yang hadir telah menjadi saksi bisu, bahwa kolaborasi yang tulus mampu menciptakan ruang yang tidak hanya meriah, tetapi juga penuh barakah Semoga api semangat yang telah dinyalakan dalam majelis ini tidak lekang oleh waktu. Kiranya ia menjadi bibit yang tumbuh subur, melahirkan terus-menerus tradisi cinta Nabi yang tidak hanya memupuk iman dan merajut ukhuwah, tetapi juga menjadi oase penyejuk yang menumbuhkan subur benih-benih dakwah di jiwa muda Sungguh, dalam cinta kepada Baginda Nabi, kita temukan pijaran cahaya yang menerangi arah, melapangkan harapan, dan menguatkan langkah menuju kehidupan yang lebih bermakna

(vol. 1)

Semangat merayakan Maulid Nabi justru telah menyala lebih dulu dari berbagai penjuru kota, membentuk mozaik cinta yang indah bagi Sang Rasul Di wilayah lain, seperti Timur, cahaya pertama telah dinyalakan Pada tanggal 07 September 2025 yang dilaksanakan di Masjid Birrul Walidain Tak berpuas hati, semangat yang sama kembali berkobar Pengurus ALABAMA Malang Timur kembali menggelar agenda pada tanggal 14 September 2025 di MTs Hasyim Asyari Pakis Kembar. Tidak hanya Malang Timur yang memiliki dua agenda dalam satu bulan Malang Barat, berkolaborasi erat dengan Majelis Demen Nabi juga menggelar dua agenda dalam satu bulan Pertama dilaksanakan pada tanggal 12 September 2025 di PP. Hidayatul Mubtadi’in Beru-Bumiaji, Kota Batu Suasana kebatinan yang khusyuk dan penuh khidmah tercipta di sana Seminggu kemudian, tepatnya 19 September 2025 agenda ALABAMA kembali dilaksanakan di Masjid Agung An-Nur Kota Batu.

Perayaan Maulid dan agenda bulan ini tak lengkap tanpa menyebut peran wilayah lain. Dari Malang Selatan, pada 11 September 2025, langit malam Sukoharjo Panjen telah dihangatkan oleh lantunan salawat dari Masjid Nurul Huda Terakhir, dari Malang Utara, pada 20 September 2025, Langgar Waqaf H Ismail di Sidomulyo, Singosari, menjadi saksi. Suara merdu qasidah dan salawat mengisi setiap sudut langgar, menutup rangkaian acara dengan sempurna

Di bulan September 2025/Rabiulawal 1447 H, kita merasakan riuh dan gemuruh bahagia dengan berbagai ekspresi Ibu-ibu berkumpul di sudut desa dan kelurahan untuk membaca maulid, majelis-majelis dengan panggung besar banyak ditemukan, dan media sosial riuh dengan konten-konten qasidah dengan berbagai model Salah satu qasidah yang populer adalah yā Khayra Mawlūd dengan menggunakan lagu nahawand gubahan dari Sabrī Mudallal, seorang komposer dari Syria. Syair tersebut didendangkan dengan indah, dengan suara yang sahut-menyahut; yā Khayra Mawlūd, yā Nabīnā

Di bulan September 2025/Rabiulawal 1447 H, kita merasakan riuh dan gemuruh bahagia dengan berbagai ekspresi Ibu-ibu berkumpul di sudut desa dan kelurahan untuk membaca maulid, majelis-majelis dengan panggung besar banyak ditemukan, dan media sosial riuh dengan konten-konten qasidah dengan berbagai model. Salah satu qasidah yang populer adalah yā Khayra Mawlūd dengan menggunakan lagu nahawand gubahan dari Sabrī Mudallal, seorang komposer dari Syria. Syair tersebut didendangkan dengan indah, dengan suara yang sahut-menyahut; yā Khayra Mawlūd, yā Nabīnā

Qasidah yā Khayra Mawlūd mungkin terlihat singkat dan sederhana saja, tetapi tentu syairnya bukan hanya sekadar karya sastra. Seperti syair-syair Islami yang lain, yā Khayra Mawlūd merupakan perpaduan antara sastra yang indah dengan keterangan yang akurat Dari syair tersebut kita belajar bagaimana Nabi, sebagai sebaik-baik manusia, diberikan haibah (kewibawaan, keagungan) oleh Allah Swt, yang dengan itu, para musuh tertunduk Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī (438) dan Imam Muslim (521), Nabi bersabda bahwa beliau ditolong oleh rasa gentar yang tertanam di hati para musuh beliau yang terasa dari jarak satu bulan perjalanan.

Abū Jahal, paman Nabi sendiri, merasakan haibah Nabi ketika berencana untuk memukul beliau Dalam Kitāb alSīrah al-Nabawiyyah yang ditulis oleh Ibn Hisyām, diceritakan bahwa Abū Jahal ingin memukul atau menimpakan batu ke kepala Nabi. Rencana tersebut telah diceritakan kepada orang-orang kafir Quraisy yang lain Ketika itu, Nabi sedang salat di sekitar Ka’bah, dengan Syam sebagai kiblat Tatkala Nabi sujud, Abū Jahal mendekat dan hendak memukulkan batu tersebut Namun, Abū Jahal mundur, ketakutan, dan menjadi pucat. Batu yang dipegangnya terlempar begitu saja. Ketika kembali dan berjumpa orang-orang kafir Quraisy, Abū Jahal ditanya, mengapa tidak jadi memukul Nabi dengan batu? Abū Jahal menjawab bahwa dia ketakutan karena melihat seekor unta jantan yang tak pernah dia temui sebelumnya

Tentu saja, haibah Nabi tidak hanya berefek pada musuhmusuh Nabi Selain Abū Jahal, ʿAmr b al-ʿĀs juga memberikan pernyataannya mengenai keagungan Nabi. ʿAmr b. al-ʿĀs yang merupakan seorang panglima perang, bahkan dengan reputasi peperangan yang cemerlang, tidak sanggup menatap beliau dengan penuh pandangan sebab keagungan beliau (H.R. Muslim, 121) Hal itu sesuai dengan deskripsi Sayyidina Ali b Abī Tālib tentang Nabi yang juga dicuplik oleh Syaikh Abdurrahman al-Diba’i: man ra ʾāhu badīhatan hābah, siapa pun yang melihatnya, segan

Dengan semua haibah itu, dengan kewibawaan yang melebihi raja mana pun, Nabi hidup dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan kasih sayang Allah Swt berfirman dalam Āl `Imrān 159, “Maka , berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar , tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu”

Setelah membicarakan haibah Nabi, syair Yā Khayra Mawlūd menyinggung tentang bagaimana tercerahkannya alam semesta ini dengan kedatangan Nabi Dalam Maulid al-Diba’, disebutkan juga mengenai cahaya Nabi yang memijarkan alam Wa-talaʾlaʾ a al-kawn min nūrihī wa-adlā Banyak mufassir (al-Tabarī, al-Baghawī, al-Qurtubī , dll) menafsirkan nūr dalam al-Māʾidah 15 sebagai Nabi Muhammad, yang melaluinya, Allah menunjukkan kebenaran. Nūr tersebut merupakan cahaya untuk siapa pun yang diterangi oleh Allah, yang ditunjukan-Nya kepada kebenaran. Secara nyata, kelahiran Nabi yang mencerahkan alam juga terkenal di kalangan masyarakat Mekkah, dengan beberapa riwayat dari Sayyidah Āminah yang dapat melihat kawasan Syam dengan cahaya Nabi yang baru lahir

Sayyid ʿAbbās, paman Nabi bersyair, “ wa anta lammā wulidta ashraqat al-ard wa dāʾat bi-nūrika al-ufuq, Ketika engkau (wahai Nabi) dilahirkan, bumi pun bersinar terang, dan cakrawala pun bercahaya dengan cahayamu” (Sīrah al-Nabawiyyah Ibn Hisyām)

Begitulah, Yā Khayra Mawlūd mencuplik dua anugerah besar yang ada pada Nabi Saw: haibah dan nur Musuh tunduk oleh kewibawaannya, sahabat terikat oleh kasih sayangnya, dan semesta bersinar oleh cahayanya Perpaduan tersebut semakin meneguhkan beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam. Semoga kita tidak hanya mendendangkan syair tersebut dengan nada tinggi yang memukau, atau dengan suara merdu yang menghanyutkan, tetapi juga dengan hati yang menghayati agar dapat meneladan dan menjaga haibah dan cahaya Nabi Wallāh a ʿlam

Penulis: Mohammad Tibyan Isyqi

StrukturRedaksi

Pelindung

PenanggungJawab

PemimpinRedaksi

LayoutDesigner

:Ust.Dimyatial-Mahfud :MohammadTibyanIsyqi :RahajengAlfiatuzuhro :AhmadZaqqiZidanulKarim

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook