War t a G e re j a Ad v e nt
1 1 - 2 01 1
More Than
Sk覺n Deep
*
* Satu ungkapan dalam Bahasa Inggris yang artinya ada dijelaskan pada halaman 17. 11
Menyerahkan
Segalanya
20
Sepanjang Umur
Hidupmu
26
Karunia
Menyembuhkan
1 1 - 2011 PEKERJAAN GEREJA
Pandangan Sedunia........ 3 Laporan Sedunia
Panorama Sedunia
8 Satu Tahun untuk Mengubah Dunia
E d w a r d
A .
A p p o l l i s
3 Berita & Pandangan 10 One-Day Church
C E R I TA
P E R T A N YA A N A L K I T A B
S A M P U L
More Than Skin Deep
Oleh Chantal and Gerald Klingbeil............................................... 16 Sejarah Helderberg College mengandung pelajaran untuk sekarang ini. T A M P I L A N
Karunia Menyembuhkan............ 26 Oleh Angel Manuel RodrĂguez
K H U S U S
Memberikan Segalanya Oleh Penny Brink.......................... 11 Apakah penatalayanan itu tentang pengorbanan atau tentang kedermawanan?
P E L A JA R A N A L K I TA B
R E N U N G A N
Oleh Mark A. Finley
Dosa dan Pengorbanan Oleh Michael Mxolisi Sokupa...... 14
Mengatasi Rasa Khawatir dan Takut...... 27
Suatu transaksi dengan Allah: dosa-dosa kita untuk kasih karunia-Nya. K E P E R C A Y A A N
D A S A R
Sepanjang Hidupmu Oleh Lael Caesar................................ 20
WORLD EXCHANGE
Masa depan kita bukanlah kesuraman dan malapetaka; melainkan kemenangan dan keagungan.
29 Surat 30 Ruang Doa 31 Pertukaran Ide
R O H
Lokasi Masyarakat........ 32
N U B U A T
Buku Kisah Para Rasul
Oleh Tim Poirier............................................................................. 22 Selama 100 tahun menceritakan kisah Gereja Kristen mula-mula. K E H I D U P A N
A D V E N T
Operation Global Rain Oleh Janet Page............................... 24 Apa yang terjadi ketika umat Allah berdoa?
2
Adventist World | 11- 2011
Warta GMAHK se-Indonesia............. 33-48
Pekerjaan Gereja PANDANGAN S EDUNI A Batu-batu yang Hidup Saya terbangun oleh dentingan lembut alat pahat logam yang memukul-mukul batu—lama-kelamaan saya menyadari ada tujuh detik di antara setiap pukulan. Tepat dibalik dinding wisma tamu tempat saya tinggal, seorang pekerja yang bersemangat bangun pagi dini hari Minggu di Kenya. Batu gunung lembut yang sedang dibentuknya dengan lihai menggunakan seperangkat alat pahat akan segera dibawa ke bawah perbukitan untuk membangun struktur bangunan yang lain. Saya berjalan keluar untuk memperhatikannya dari dekat saat ia membentuk balok merah dengan mudahnya. Ia menye nandungkan beberapa lagu sambil bekerja, bercanda tawa bersama para rekan kerjanya. Satu per satu, sebuah batu per jam, potongan-potongan rumah baru terbentuk. Saya memperhatikan dengan terkagum-kagun, memandang bangunan tempat saya menginap semalam. Karena tiba saat hari sudah gelap, saya tidak memperhatikan strukturnya, tidak sabar menemukan tempat tidur setelah perjalanan yang jauh. Tetapi sekarang saya melihat lebih jelas: Masing-masing balok— ada 1.080, setelah saya menghitungnya—juga telah dibentuk dengan metode yang sama. Masing-masing batu diselesaikan dengan indahnya, dan kekaguman saya justru semakin bertambah ketika memperhatikan betapa eratnya satu sama lain berdampingan. Rumah ini dibangun sedikit demi sedikit, dengan
sabar, dengan metode-metode yang tidak lagi tampak pada budaya saya yang menghasilkan beton curah yang dihasilkan secara besar-besaran. Kiasan indah dari rasul Petrus segera terlintas dalam benak saya: “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah” (1 Petrus 2:5). Pelajaran tambahan yang dapat dipetik juga sama pentingnya: diperlukan waktu, dan pembentukan, serta bantuan, untuk bergabung bersama saudara-saudara kita menjadi bagian dari rumah rohani agar Tuhan dapat tinggal. Saya tidak bisa mempertahankan keistimewaan dan pada saat bersamaan mengaku menjadi bagian dari dinding penopang yang kuat itu. Untuk dipasangkan ke dalam satu struktur yang membawa kemuliaan kepada Allah saya perlu memberi kepada tetangga dan anggota di sebelah saya—dan oleh penyerahan dan kerendahan hati ini maka injil terus-menerus memanggil saya. Kerajaan Allah sedang dibangun—kadang pelan-pelan, namun terus-menerus—kita dibentuk menjadi batu-batu hidup oleh Roh Tuhan yang menghidupkan. Sekarang berdoalah untuk bagian yang dipercayakan Allah bagi Anda di gereja yang membawa kemuliaan bagi-Nya.
— Bill Knott
L A P ORAN SEDUNI A
acara itu. “Semua orang berpartisipasi— staf pengajar, staf, bahkan kantor Uni Amerika Tengah. Senang sekali melayani Tuhan; memberitahu orang-orang tentang Union College dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh; dan memiliki pengalaman yang mempererat.” Wilson berkata kepemimpinan siswa dalam acara itu memberinya kesan: “Ini memperlihatkan kepada para pemimpin di gereja bahwa mereka dapat mempercayakan orang muda untuk mengatur segala sesuatu dan tidak mesti mengurus
U n i o n
▶▶ Lebih dari 800 mahasiswa dan pegawai Union College di Lincoln, Nebraska, Amerika Serikat, bergabung dengan Ted N.C. Wilson, Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, General Conference; istrinya, Nancy; dan para pemimpin lain pada satu hari yang berfokus pada layanan masyarakat yang diadakan oleh sekolah milik gereja itu. “Sekarang saya bisa melihat mengapa Project Impact itu merupakan satu peristiwa besar tiap tahun—orang muda senang berpartisipasi,” kata Wilson setelah
C o l l e g e
Keluarga Wilson Bergabung dengan Mahasiswa Advent di Hari Layanan Masyarakat
PAGAR LAPANGAN BERMAIN: Ketua General Conference, Ted N.C. Wilson membantu memasang pagar lapangan bermain sebagai bagian dari program Project Impact, satu acara layanan masyarakat yang sudah berusia 30 tahun dari Union College, di Lincoln, Nebraska, Amerika Serikat. 11 - 2011 | Adventist World
3
Pekerjaan Gereja LA PORA N S EDUNI A
4
Adventist World | 11- 2011
ikutsertaan kampus, di Amerika Serikat —Ryan Teller, Direktur Komunikasi, Union College.
Pendidik Kelahiran Jamaika Memimpin NCU
C o k e
▶▶ Trevor Gardner, pendidik kelahiran Jamaika dan yang sekarang menjabat Rektor University of the Southern Caribbean (USC) milik Gereja Advent di Trinidad dan Tobago, dipilih menjadi Rektor Northern Caribbean University (NCU). Penunjukkannya dilakukan selama pertemuan dewan pemimpin universitas di Mandeville, Jamaika. Posisi rektor jadi kosong, ketika Herbert Thompson pensiun bulan Juni 2011. Gardner akan sepenuhnya memegang jabatan tersebut pada tanggal 1 Januari 2012, kata pemimpin gereja. Gardner tidak asing bagi NCU, ketika ia melayani sebagai wakil ketua untuk urusan akademis selama transisi lembaga itu dari perguruan tinggi (college) ke universitas. Ia ditunjuk sebagai Ketua USC di tahun 2004, dan ia memelopori penga-
N i g e l
hal-hal kecil saja. Tuhan telah memberikan kecerdasan dan kreativitas luar biasa kepada mereka. Memberikan mereka karunia besar dan membiarkan mereka menjalankannya.” Bagi para mahasiswa yang berpartisipasi dalam proyek pembersihan, pembuatan lahan, dan pengecatan di rumah-rumah dan lembaga-lembaga di kota, tujuannya sederhana saja: “Kami ingin menjadi tangan dan kaki Allah,” kata Anna Coridan, jurusan keperawatan dan koordinator Project Impact 2011. Turut serta bersama Wilson dalam acara itu adalah Dekan Hubbard, mantan rektor Union College yang berperan penting dalam merintis layanan tahunan itu di tahun 1981. Pada awalnya diberi nama “Project BRUSH” (Beautifying Residences Using Student Help atau memperindah tempat tinggal dengan bantuan siswa), hari libur sekolah itu dimaksudkan untuk mendorong para mahasiswa keluar dari kampus dan masuk ke dalam komunitas Lincoln. Project BRUSH mengecat lebih dari 100 rumah dalam kurun waktu 10 tahun. Digerakkan oleh keinginan seisi kampus untuk melakukan lebih banyak lagi, maka Project BRUSH menjadi Project Impact, satu hari yang dipusatkan untuk membantu lebih dari peragenan Lincoln yang melayani komunitas sepanjang tahun. “Project Impact mengalihkan fokus dari diri sendiri selama satu hari,” kata Coridan. “Sehari penuh untuk menyadari kebutuhan orang lain.” Tiap tahun lebih dari 80 persen keluarga kampus berpartisipasi dalam Project Impact, satu acara yang direncanakan, diatur, dan dilaksanakan oleh para mahasiswa. Sejak permulaan, sekitar 17.500 relawan telah melayani Lincoln dengan lebih dari 111.000 jam bekerja sukarela selama 30 tahun terakhir. Menurut riset yang tersedia, Project Impact adalah hari layanan mahasiswa yang paling lama dijalankan, dengan persentase tinggi ke
PEMIMPIN UNIVERSITAS: Trevor Gardner baru-baru ini dipilih menjadi Rektor Northern Caribbean University.
lihannya dari Caribbean Union College menjadi status universitas di tahun 2006. Selama periode kepemimpinannya, USC telah menyaksikan lebih dari tiga kali penambahan penerimaan siswa dari 1.200 siswa menjadi sekitar 4.000 siswa. Gardner berkata NCU “telah mengukir jalan yang sangat bernilai bagi orang-orang di seluruh dunia dan khususnya kepada mereka yang ada di wilayah Karibia. Saya berharap saat kita melangkah menuju masa depan, warisan ini akan terus berlanjut.” Gardner memegang gelar Ph.D dalam bidang administrasi pendidikan dan memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun dalam bidang akademis. Pengalamannya dalam waktu 10 tahun terakhir berada di institusi-institusi Advent di Karibia. NCU sama-sama dijalankan dan dimiliki oleh Jamaica Union Conference of Seventh-day Adventist (JAMU) dan Atlantic Caribbean Union Mission of Seventh-day Adventist (ACUM). —Nigel Coke, Divisi Inter-Amerika.
Penghuni Penjara Australia Menginjil dengan Menggunakan Materi Pelajaran Advent ▶▶ Seorang yang sudah lama menjadi siswa pelajar Alkitab yang diajar oleh Gereja Advent, Matthew J. Baronet, telah menjadi seorang penginjil dari dalam sel penjaranya selama masa pelayanan di Wolston Correctional Centre di Queensland, Australia. Modalnya: Bahan pelajaran yang disediakan oleh Adventist Discovery Centre, satu pelayanan Australia dari Divisi Pasifik Selatan. Dalam waktu enam tahun belajar di Discovery Centre, Matthew telah merekrut hampir 150 siswa dan telah mengadakan kelompok-kelompok doa /belajar dari dalam selnya, dan melalui waktunya dibalik jeruji ia telah memulai pelayanan “JAILMAIL.” Mulai dengan pelayanan
Orang Advent Yahudi Memperingati Satu Dasawarsa di Argentina ▶▶ Hari Sabat tanggal 27 Agustus 2011 menandai satu peringatan penting bagi Komunitas Advent Yahudi di Buenos Aires, Argentina: kelompok itu merayakan 10 tahun sebagai satu jemaat. Sekitar 100 orang menghadiri acara akhir pekan di mana tonggak bersejarah dirayakan dengan rasa syukur kepada Allah atas kemajuan mereka. Sejak mula pertama Adventist Jewish Community di Buenos Aires, para pemimpin bekerja mempersiapkan sebuah buku doa yang mencerminkan pengalaman keagamaan orang Advent Yahudi. Bersamaan dengan peringatan kesepuluh itu, edisi kedua dari buku doa, yang dikenal dalam Bahasa Ibrani sebagai sidur, diterbitkan. Itu disertai dengan edisi lembar musik tiga volume, yang berisi sekitar 1.000 lembaran musik yang disusun un-
MANUSIA BARU: Penghuni tahanan Australia, Matthew J. Baronet adalah seorang penginjil di dalam rumah tahanan yang menyampaikan bahan pelajaran Alkitab dari Gereja Advent. d i v i s i o n
persahabatan yang sederhana, pelayanan JAILMAIL dalam waktu 11 minggu pertama menyebar luas ke tujuh penjara di Queensland dan penjara lain di New South Wales. “Saya berpikir bahwa penjara itu adalah lahan pelatihan Allah, dan di sana ada banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan di balik dinding-dinding kawat tajam ini,” kata Baronet. “Banyaknya jiwa-jiwa yang menderita, sakit, dan terluka dan orang-orang yang rusak di sini merupakan tanda sejati dari pekerjaan Setan. Saya telah melihat secara langsung kuasa Tuhan Yesus bekerja di rumah baru saya ini.” Baronet memandang pelayanan JAILMAIL sebagai satu jalan membawa kebahagiaan dan dukungan dalam kehidupan orang-orang baik dari dalam penjara maupun di luar penjara. “Tuhan yang baik memberkati pekerjaan saya di dalam penjara ini, dan saya merasakan hubungan yang dekat dengan tim di Disco very,” tambahnya. —Tammy Zyderveldt, Divisi Pasifik Selatan
G r a f
pa c i f i c
C l a u d i o
s o u t h
tuk piano atau gitar. Para pemimpin jemaat berkata versi bahasa Inggrisnya sedang dipersiapkan. Pendeta Armando Miranda, seorang wakil ketua umum gereja dunia, menyampaikan pesan rohani yang menandai peringatan tersebut selama kebaktian Sabat. “Bilamana kita bekerja bagi Allah,” katanya, “kita tidak boleh lupa bahwa kita hanyalah ciptaan yang melayani Bapa kita dan bahwa ini melindungi kita dari kekecewaan.” Bersama Miranda, tamu lain termasuk Pendeta Reinaldo Siqueira, direktur komunitas Yahudi, yang mewakili Divisi Amerika Selatan; Pendeta Carlos Gill, Ketua Uni Argentina; dan Horacio Cayrus dan David del Valle, anggota staf uni. Paduan suara River Plate Adventist University, yang dipimpin oleh Deny Luz, menyediakan musik istimewa pada kesempatan itu. —Claudio Graf, Divisi Amerika Selatan
PEMBICARA TAMU: Pendeta Armando Miranda, seorang Wakil Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, berceramah di hadapan para peribadat pada acara peringatan kesepuluh Adventist Jewish Community di Buenos Aires, Argentina.
11 - 2011 | Adventist World
5
Pekerjaan Gereja LA PORA N S EDUNI A
O
rang-orang percaya Advent di Jerman tertarik dengan pekabaran Advent, turut berbagi dengan orang lain, dan ingin mengerti betul tentang pengalaman kebangunan dan reformasi yang sedang terjadi melalui persekutuan global kita. Itulah kabar baik yang muncul dari satu perlawatan baru-baru ini ke Jerman yang saya bawa serta bersama dengan beberapa anggota tim pimpinan General Conference, termasuk Pendeta Mike Ry-
rencana-rencana penginjilan masa depan dan berpartisipasi dalam berbagai wawancara. Dan kami bergabung dalam aktivitas-aktivitas akhir pekan di Friedensau University, bertemu muka dengan mahasiswa, staf dosen, pensiunan, dan banyak anggota gereja. Satu pertemuan besar sepanjang hari Sabat diatur oleh Uni Jerman Utara, dengan sekitar 1.500 anggota yang hadir. Jerman sekarang ini merupakan satu paradoks: sekitar 65 persen populasinya,
Roh Kudus, kita dapat menemukan banyak orang yang tertarik dengan kebenaran. Hubungan persahabatan dengan keyakinan lain ada tempatnya sendiri, tetapi ini tidak boleh menggantikan inti dari aktivitas Kristen itu, yakni membagikan injil dan pekabaran tiga malaikat kepada mereka yang perlu mendengar. Selama perlawatan kami di Jerman, penekanan diberikan pada kebutuhan untuk fokus pada kebenaran-kebenaran Alkitab yang nyata dari orang Advent dan tidak
Kunjungan ke Jerman Menghubungkan Para Pemimpin, Kaum Awam, Pendeta
Wilson memimpin pertemuan untuk melihat kembali perjalanan hidup seorang pembaru, Martin Luther an, Mark Finley, dan Williams Costa, Jr. Istri saya, Nancy juga turut bersama kami. Kunjungan selama 10 hari itu membawa kami pada beberapa tempat bersejarah yang berhubungan dengan kehidupan dan pekerjaan Pembaru Protestan Martin Luther. Kehidupan kerjanya tidak hanya membuat Alkitab bisa diterima di seluruh Jermah, tetapi juga merupakan pelopor yang hebat sekali bagi kelahiran dan pertumbuhan pergerakan Advent kita. Jadwal kami padat dan bervariasi: Bersama dengan sekitar 3.500 orang percaya, kami menghadiri satu perjamuan spesial yang digelar oleh Bavarian Conference di Augsburg. Kami berpartisipasi dalam satu pertemuan kependetaan istimewa di Darmstadt, yang diatur oleh Uni Jerman Selatan dan Uni Jerman Utara, dengan banyak pendeta kita di Jerman. Kami menghabiskan waktu di Stimme der Hoffnung, atau Voice of Hope, pusat media divisi, memberi wejangan tentang
6
Adventist World | 11- 2011
dalam
Fokus Kebangunan Oleh Ted N. C. Wilson,
Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, General Conference yakni sekitar 53,5 juta penduduk, secara resmi mengaku Kristen, namun banyak golongan populasinya, termasuk banyak orang mudanya, sekular dalam penampilan mereka. Sebenarnya, 80 persen penduduk di negara bagian timur Jerman, Saxony-Anhalt, di mana Martin Luther lahir, secara resmi terdaftar tidak menganut keagamaan mana pun. Bersaksi bisa merupakan satu tantangan dalam suasana budaya yang demikian, tetapi kebutuhan hati setiap orang tetap sama. Saya percaya orangorang Advent, di Jerman dan di mana pun juga, memiliki pekabaran Alkitabiah yang unik untuk dibagikan yang memenuhi kebutuhan batin yang sama dengan begitu banyak orang sekarang ini. Di Jerman, di Eropa, dan di wilayah Anda, dan di seluruh planet ini, kita harus mengangkat Kristus sebagai Firman yang hidup dalam kehidupan kita sendiri dan dalam kesaksian kita kepada orang lain. Ketika kita membagikan kebenaran Alkitab yang berharga, melalui tuntunan
fokus pada aktivitas-aktivitas umum. Dalam mempertahankan satu fokus kuat dalam membaca Alkitab, para pemimpin General Conference Anda mengingatkan para anggota gereja tentang warisan ganda unik mereka: sebagai orang Advent yang menjunjung tinggi Alkitab, dan sebagai orang Jerman yang setiap harinya dikelilingi oleh warisan Martin Luther dan Reformasi Protestan. Selagi berada di Jerman kami mendapat keistimewaan untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang berhubungan dengan Luther dan Reformasi Protestan. Mengenai gereja di Wittenberg, di mana Martin Luther memakukan ke-95 dalilnya, menyenangkan sekali berada di tempat di mana kebenaran dan kasih karunia Kristus diunggulkan melawan kepalsuan hikmat manusia dan keselamatan oleh perbuatan. Hal penting lain adalah satu kunjungan ke Wartburg Castle, di mana Luther bersembunyi dari bahaya selama sekitar 10 bulan. Ellen G. White, dalam The
Great Controversy (hlm. 169) berkata Allah juga melindungi Martin Luther dari kesombongan selama periode ini, karena begitu banyak orang memuji dia atas kepemimpinannya melawan kekuasaan Roma. Pada waktu ia berada di Wartburg itulah ia menerjemahkan Perjanjian Baru dari Bahasa Ibrani ke dalam Bahasa Jerman dalam waktu 10 minggu dengan menggunakan 16 dialek Jerman, yang secara efektif mempersatukan bahasa Jerman. Sumbangsih besar Johannes Gutenberg dalam sastra, baru disadari hampir 60 tahun lalu, dan teknologi baru yang diberikan untuk penyebar luasan Firman Allah secara besar-besaran diserahkan ke tangan orang-orang biasa. Saya merasakannya sebagai satu pengalaman yang menggugah berdiri di sebuah ruangan di mana aktivitas-aktivitas penerjemahan itu dulu terjadi. Bahkan dengan warisan yang kaya
dan kokoh dari pemikiran sejati Protestan ini, orang-orang Advent sekarang di Jerman mendapati penambahan anggota itu kadang kala sulit menghadapi tekanan sekular dan serangan intelektual tentang kebenaran Kitab Suci. Para pemimpin General Conference yang bersama saya mendorong para anggota gereja untuk terus membaca Alkitab dengan cara sederhana dan terus terang, meskipun ada tekanan bertubi-tubi dari dunia akademis untuk menganjurkan metode-metode penafsiran baru dan lebih subyektif yang bertentangan dengan pendekatan penafsiran Alkitab Advent. Orang Advent mendukung pendekatan sejarah Alkitabiah, atau sejarah tatabahasa, yang membiarkan Alkitab menafsirkan dirinya sendiri. Saya juga menyuarakan satu panggilan untuk bersatu dengan keluarga gereja sedunia: “Kita tidak memiliki Gereja Advent Jerman atau Gereja Advent Bra-
d i e z - p r i d a e l i
Atas: “DIJAMAH ALLAH.” Di bawah spanduk berisi katakata dalam bahasa Jerman “Touched by God” atau dijamah oleh Allah, orang Advent berkumpul di Augsburg, Jerman, ruang konvensi untuk mendengar Ted N.C. Wilson, Ketua General Conference. Kiri: BERBICARA BERSAMASAMA: Pendeta Raner Wanitschek, kiri, Ketua Gereja Advent di Bavaria, bersama Pendeta Wilson di atas mimbar di Augsburg.
sil, atau Gereja Advent Filipina, tetapi kita memiliki Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Jerman, di Brasil, dan di Filipina. Ini adalah keluarga sedunia yang dipimpin oleh Allah.” Selama salah satu dari berbagai sesi tanya jawab yang diadakan di Jerman, seorang anggota bertanya berapa banyak dari 28 kepercayaan dasar yang harus dipercaya seseorang agar ia dianggap seorang Advent. Pertanyaan seperti itu, menurut saya, didasarkan atas pemikiran yang keliru. Permasalahannya adalah bukan kepercayaan dasar mana yang harus dibuang atau dipelihara, tetapi lebih kepada, dari mana kepercayaan dasar kita berasal? Kepercayaan dasar kita bukan kumpulan pernyataan yang bisa berubah-ubah yang ditaati hanya untuk menunjukkan kesetiaan kepada satu gereja; semua itu hanya merupakan penjelasan luas dari kebenaran-kebenaran yang ditemukan di seluruh Kitab Suci. Tidak satu pun bagian dari Alkitab atau dari kepercayaan dasar kita yang tidak penting. Selama kunjungan kami ke Jerman saya berseru kepada mereka sudah jauh dari gereja, dan jauh dari Tuhan, untuk memperbarui hubungan dengan Allah dan gereja melalui belajar Alkitab, berdoa, dan membaca Roh Nubuat. Saya mendesak mereka yang kecewa untuk menemukan penghiburan di dalam gereja dan kebenaran Allah dan berpartisipasi dalam misi penginjilan gereja untuk menjangkau orang Jerman sambil menantikan kedatangan Kristus yang akan segera tiba. Merupakan satu keistimewaan mengunjungi Jerman dan bertemu dengan begitu banyak rekan orang percaya. Rasanya bahagia mengetahui bahwa ada banyak sekali anggota gereja yang rindu melihat Yesus datang, percaya bahwa Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh adalah gereja umat sisa Allah, ingin menjadi bagian dari keluarga gereja Advent, menerima Alkitab sebagaimana terbaca, menghargai Roh Nubuat, dan turut serta dalam misi gerakan Advent sedunia mengabarkan pekabaran tiga malaikat. n —Mark A. Kellner, Editor berita Adven-
tist World.
11 - 2011 | Adventist World
7
Pekerjaan Gereja PA NORAMA S EDUNI A Editor Adventist World Bill Knott barubaru ini duduk bersama Pendeta Ted Wilson, Ketua General Conference, untuk berbicara tentang memanfaatkan karunia jutaan orang muda dewasa di gereja.
Setiap pemimpin memimpikan halhal yang mereka bisa bantu wujudkan sementara melayani umat Allah. Saya sudah mendengar Anda beberapa kali mengacu pada satu mimpi yang kedengarannya sangat besar—tujuan untuk membangun satu budaya pelayanan di tengah orang-orang muda dewasa Advent. Apa maksud Anda dengan itu? Salah satu ajaran paling jelas dari Perjanjian Baru adalah bahwa Yesus memberikan karunia kepada semua orang yang mengikut Dia dalam baptisan dan menjadi bagian dari gereja-Nya yang setia. Sesederhana itu saja: Jika Anda menjadi bagian dari umat sisa Allah, maka Roh Kudus telah memberikan Anda karunia untuk digunakan bagi kepentingan seluruh gereja. Karunia itu tidak terbatas kepada mereka yang berada di usia tertentu atau tingkat pendidikan tertentu. Berbicara tentang kebangunan besar yang Allah akan berikan kepada umat-Nya, nabi Yoel berkata: “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, terunaterunamu akan mendapat penglihatanpenglihatan” (Yoel 2:28). Inisiatif kebangunan dan reformasi sedunia memperjelas bahwa ada ratusan ribu—sebenarnya jutaan—orang muda Advent yang telah Allah berikan karunia hebat untuk membantu menyelesaikan pekerjaan gereja-Nya. Saya ingin Gereja Advent merencanakan satu cara untuk memperlihatkan kreativitas dan energi yang luar biasa yang sudah diberikan Allah kepada orang-orang ini dengan memberikan karunia kepada orang muda yang setia.
Saya tahu bahwa Anda sudah mengenal betul dengan inisiatif-
8
Adventist World | 11- 2011
Satu ahun T Mengubah Dunia untuk
inisiatif gereja yang sudah lama ada seperti program Misionaris Pelajar, Angkatan Kerja (Taskforce), Relawan Advent (Adventist Volunteer Service), gerakan 1000 misionaris (the 1000 Misionary Movement), dan pionir misi global (Global Mission Pioneers). Bagaimanakah Anda berpikir lebih dari apa yang bahkan sudah dilakukan program-program itu? Program-program itu merupakan berkat yang tak ternilai bagi gereja, dan puluhan ribu orang muda telah memberikan pelayanan yang indah melaluinya. Saya me-
ngetahui nilai dari program-program ini secara pribadi: Salah seorang putri kami menghabiskan waktu satu tahun menjadi seorang misionaris pelajar. Tanggung jawab besar ditanggungkan atas dia untuk mengajarkan mata pelajaran yang tidak disangka-sangkanya, jadi ia benar-benar harus berusaha keras, menantang dirinya sendiri, dan bertumbuh dalam kemampuannya. Tahun itu sangat mempertajam kemampuannya, membuatnya bahkan menjadi seorang guru sekolah menengah atas yang lebih baik ketika ia lulus kuliah. Karena sejarah keluarga kami, maka ia dibesarkan di lingkungan misi. Tetapi ta-
hun itulah yang telah memperkuatnya, dan kehidupan tidak akan pernah jadi sama lagi. Ketiga putri kami telah menjalani berbagai macam proyek misi, dan mereka menyukai pengalaman itu. Pengalaman putri saya serupa dengan puluhan ribu orang lainnya yang telah menemukan sukacita besar apakah yang diperoleh dari membalas budi kepada gereja yang telah membentuk dan memelihara dan mengajar tentang Yesus. Memberikan sembilan sampai 12 bulan di awal tahap kehidupan Anda—ketika Anda melampaui masa remaja namun ketika Anda belum tiba pada komitmen berumah tangga atau mendapatkan pengalaman profesional—akan membentuk kembali seluruh sudut pandang dunia Anda. Satu hal yang saya janjikan: Anda tidak akan pernah sama lagi!
Apakah Anda sedang menjelaskan sesuatu yang nantinya dalam beberapa pengertian akan bersifat wajib bagi setiap orang dewasa muda?
Tidak, sebuah gereja yang secara konsisten menyoroti pentingnya kuasa memilih tidak akan pernah mendikte orang muda apa yang harus mereka lakukan untuk mematangkan iman mereka. Tetapi Gereja Advent memiliki kewajiban untuk menghadapkan orang mudanya pada satu visi menggairahkan tentang kehidupan yang penuh pengabdian dan pemuridan serta pelayanan. Di bawah tuntunan Roh Kudus, saat mereka mendengar panggilan pribadi untuk kebangunan dan reformasi, mereka akan menyadari bahwa Allah telah memberikan karunia dan talenta yang dipercayakan kepada mereka. Yesus tidak meminta mereka untuk meninggalkan semua mimpi yang telah diberikan kepada mereka. Tidak, Ia meminta mereka memimpikan mimpi yang lebih besar daripada hanya mendapatkan pendidikan yang baik dan membesarkan keluarga yang kuat. Ada satu dunia untuk dimenangkan bagi Kristus, dan gereja Allah memerlukan setiap karunia yang Ia telah tempatkan di dalam diri orang-orang muda untuk menjangkau orang yang tersesat.
Perkiraan terbaik menunjukkan bahwa kemungkinan 25.000 orang
muda dewasa Advent di seluruh dunia sekarang memberikan satu tahun hidup mereka untuk melayani sebagaimana yang Anda jelaskan. Bagaimanakah kita menarik bukan hanya orang-orang yang sangat termotivasi dan yang luar biasa dan membuat ini lebih merupakan norma bagi pemuda Advent? Bagaimanakah kita menciptakan harapan bahwa 2 sampai 3 juta pemuda akan membangun hidup mereka di seputar kesempatan ini?
Tentunya ini memerlukan rencana yang matang dan terkoordinasi yang melibatkan semua departemen pelayanan gereja, juga lembaga pendidikan dan pelayanan pemudanya. Kebanyakan kita mengajarkan orang muda untuk berorientasi pada tujuan: menyelesaikan sekolah menengah atas, menyelesaikan kuliah dalam waktu sesingkat-singkatnya, lalu melanjutkan ke pengalaman profesional. Mengajak orang muda untuk menyela jalur yang sangat terfokus itu berarti membantu membangun struktur pada tingkat paling dasar—termasuk di sekolah-sekolah kita—sehingga mudah dan alamiah bagi orang muda kita memilih satu tahun pelayanan sebelum penamatan. Kita harus mulai membicarakan tentang pelayanan pada setiap kesempat an—tidak hanya menunggu sampai satu minggu perekrutan misi tiba di perguruan tinggi. Sejak pengalaman pelatihan kita yang mula-mula bersama anak-anak, kita harus memegang tujuan bahwa anak-anak itu suatu hari kelak harus melakukan suatu pekerjaan yang paling menyenangkan yang bisa dibayangkan— memberikan satu tahun pelayanan untuk membantu menyebarkan pekabaran tiga malaikat di suatu tempat di dunia.
Suatu pemikiran bahwa hal seluas ini tidak bisa bergantung pada General Conference saja, bukan?
Tidak, tentu tidak! Kita juga harus membangun satu budaya dalam ratusan ribu jemaat Advent setempat yang akan membantu mereka menyadari berapa banyak yang harus mereka peroleh—dalam segala cara—mulai dari menampung orang muda yang sedang melayani, dan mengirimkan anak-anak muda mereka sendiri
pada satu tahun pelayanan. Kita harus berseru kepada semua gereja lokal untuk membantu membiayai inisiatif sebesar ini: Tidak ada “superfund” di General Conference yang cukup besar untuk melakukan ini semua sendirian! Gereja-gereja lokal mau menyokong orang muda mereka sendiri yang membuat satu tahun komitmen pelayanan— dan mereka ingin memanggil orang muda lain dari tempat lain ke rumah-rumah mereka kalau mau datang melayani. Tidak ada cara yang lebih baik untuk menumbuhkan karakter dan kematangan rohani seorang pemuda yang Anda pedulikan daripada membantu mendukung mereka ketika mereka membuat satu komitmen untuk memberikan satu tahun hidup mereka melayani gereja Allah.
Anda mengatakan bahwa nilai dari pemikiran ini bukan hanya pekerjaan misionaris yang dilakukan oleh para orang muda ini: Tetapi juga pertumbuhan karakter yang terjadi sementara mereka melakukannya.
Tepat sekali. Sebenarnya ada dua manfaat besar bagi gereja dari pemikiran seperti ini. Yang pertama adalah dorongan besar, kemajuan yang luar biasa, yang akan ditemukan gereja ketika ia mendorong ratusan ribu orang mudanya untuk memberikan pelajaran Alkitab, bekerja sebagai para misionaris medis, membantu para pendeta, mengadakan kampanye penginjilan publik, dan melayani orang muda lain. Gelombang talenta dan kreativitas dari tahun seperti itu akan membuat gereja mengadopsi struktur dan aturan yang cukup longgar untuk menampung karunia yang Allah telah berikan kepada kita dalam diri orang muda itu. Tetapi manfaat kedua—apa yang terjadi pada orang muda itu secara pribadi—barangkali yang memberi dampak paling bertahan lama. Jika Anda membantu orang muda memberikan satu tahun pelayanan kepada gereja Allah, maka Anda membantu membesarkan mereka dalam pelayanan seumur hidupnya, karena pelayanan akan menjadi cara hidupnya. Dan Yesus memberitahu kita bahwa cara pelayanan itu adalah cara sukacita dan kebahagiaan yang abadi. Dalam cara
11 - 2011 | Adventist World
9
Pekerjaan Gereja PA NORAMA S EDUNI A yang sama, Allah tidak memerlukan manusia untuk mengabarkan Injil Yesus: malaikat bisa melakukannya—bahkan bebatuan bisa menyerukannya! Tetapi Allah mengetahui bahwa melayani orang lain mengubah segala sesuatu di dalam diri kita—tujuan kita, mimpi-mimpi kita, bagaimana kita membesarkan keluarga kita, bagaimana yang kita rasakan tentang gereja umat sisa ini.
Sebuah
One-DayChurch Sólo Dios
Sudah seberapa dekatkah kita berada pada titik di mana inisiatif itu menjadi satu kenyataan bagi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia? Saya harap tidak lebih dari satu tahun. Departemen Sekretariat gereja kita—di General Conference dan tingkatan berikutnya—harus bekerja keras dengan mereka yang ada di Departemen Pemuda dan Departemen Pendidikan untuk merancang satu program yang cukup sederhana dan cukup jelas untuk menangkap imajinasi jutaan orang muda yang Allah panggil untuk melayani Dia. Jemaat harus berubah dan beradaptasi untuk membuat satu inisiatif seperti ini dapat berguna. Tetapi berkat-berkat yang mereka terima semuanya akan melebihi apa yang mereka lakukan sendiri. Perguruan tinggi dan universitas kita akan tersalut oleh semangat yang menyala-nyala begitu orang-orang mudanya kembali dari satu tahun pelayanan di beberapa komunitas dan bertanya, “Jadi apakah yang Allah inginkan terjadi di sini?” Allah sedang melakukan pekerjaanNya: Roh-Nya menggerakkan hati banyak orang, mengumpulkan tenaga, memberikan karunia, memperlengkapi orang muda. Sudah waktunya bagi gereja-Nya melakukan tugasnya dan menemukan satu cara untuk menjaring potensi luar biasa yang Allah tempatkan di tengah-tengah kita. n
Ted N. C. Wilson adalah Ketua GMAHK, General Conference di Silver Spring, Maryland, U.S.A.
10
Adventist World | 11- 2011
“Tidak seorang pun bisa menanam kopi di sisi pegunungan ini; tidak satu pun.” Di seberang bukit? Tidak masalah. Di bawah bukit? Tidak apa-apa. Di atas sini? Jangan pernah coba! “Anginnya begitu kuat meniupkan pucuk-pucuk bunganya, lalu tidak akan ada buahnya! Hanya Allah yang bisa menumbuhkan kopi di sini! Sólo Dios!” Itulah tempat yang disebut semua orang sebagai—Sólo Dios (“Hanya Allah”). Seorang petani muda Advent mendengar semua kata-kata yang mengecilkan hati itu, tetapi tetap datang juga. Ia mendaki bukit, membangun sebuah rumah, dan mulai bercocok tanam di bukit yang banyak anginnya itu. Tetapi gantinya menanam kopi, ia menanam buah sitrus dan cabe. Dan Sólo Dios menjadi satu komunitas yang sukses—dengan jemaat yang bertambah-tambah sehingga memadati dua bangunan gereja. Gereja pertama memiliki lantai tanah, dinding berlumpur, jendela botol, dan pemandangan yang indah. Yang kedua memiliki dinding batang kayu, lantai berlumpur, bangku seadanya, pemandangan yang menakjubkan, dan air kehidupan yang selalu menetes melalui atap berlubang. Saatnya untuk gereja yang baru. Hal itu membuat para remaja dari Maranatha’s Ultimate Workout menaiki jalan setapak yang sempit ke atas pegunungan Chiapas ini, siap membangun gereja ketiga—“One Day Worship Center” sisi pegunungan dengan lantai beton, tiang baja, atap baja, dan dinding batu bata dari beton. Para remaja itu tidak hanya membangun sebuah gereja—mereka bermain bersama anak-anaknya; membagi-bagikan ratusan kilo beras, kacang, dan mangga; memimpin Vacation Bible School yang mantap; dan bernyanyi mulai matahari terbit sampai kelihatan bintang-bintang di langit. Sólo Dios adalah satu tempat ibadah yang penuh tawa ceria dan bahagia. “Hanya Allah yang bisa membangun satu gereja di atas sini!” Ia telah melakukan pekerjaan yang hebat! Program One-Day Church adalah usaha kerja sama antara Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Adventistlaymen’s Service and Industries (ASI), dan Maranatha Volunteers International. Kisah-kisah ini berasal dari juru cerita Maranatha, Dick Duerksen.
T A M P I L A N
Oleh Penny Brink
Memberikan
Penatalayanan adalah satu komitmen total
Segalanya
Atas: KUNJUNGAN KELUAR GA: Mengorbankan “tahuntahun pensiun” untuk hidup dan bekerja Vanuatu, Jill dan Alastair Macgillivray menikmati saat yang langka dengan mengunjungi para cucu mereka. Kanan: Para Siswa Listair Institute di Vanuatu memperbaiki perahu besar, bekerja di bawah the lambung kapal yang besar.
A
llah mempercayakan kita dengan karunia dan berkat yang berkelimpahan. Ketika kita mengembalikan waktu, talenta, dan harta benda kita kepada Allah, maka itu artinya kita mengerti bahwa segala sesuatu adalah karunia-Nya kepada kita sejak mula pertama. Seiring semakin dekatnya Sabat Penatalayanan pada tanggal 3 Desember 2011, bacalah dua kisah yang menginspirasikan tentang para penatalayan yang mengerti konsep ini dengan sangat baik.
p h o t o s
s u b m i t t e d
b y
K H U S U S
J i l l
a n d
Saat di Vanuatu
Jill dan Alastair McGillivray, relawan misionaris kawakan, adalah para penatalayan Allah yang baik. Di kepulauan Va nuatu, Pasifik Selatan, mereka mengembalikan, dengan mengajarkan keahlian dan talenta yang Allah berikan kepada mereka, untuk memenuhi kebutuhan dasar dari Ni Vanuatu. Mereka berkomitmen untuk membagikan kasih Allah kepada orang lain. Kepariwisataan menggerakkan ekonomi di Vanuatu, tetapi hanya sedikit dari kekayaan itu sampai kepada seba-
A l a s ta i r
M a cG i l l i v r a y
gian besar populasi setempat. Banyak permasalahan sosial dan praktik-praktik keagamaan di kepulauan itu sekarang ini membuktikan kurangnya pendidikan Kristen. Rasa lapar fisik jarang terjadi karena ada banyak buah-buahan, tetapi Ni Vanuatu kurang pendidikan dalam hal keahlian yang berguna. Di Listair Institute, para siswa McGillivray lulus dengan harapan yang lebih baik bagi kehidupan mereka dan diperlengkapi dengan lebih baik untuk merawat keluarga mereka. Yang paling baik, banyak yang sudah bergabung dengan keluarga Allah di Listair. Ayah Alastair membawa keluarga itu dari Skotlandia ke Australia di tahun 1950-an dalam usaha memelihara Sabat dan tetap bekerja. Bukan hanya aksen Skotlandia Alastair dan senyumnya yang menawan yang menjadi karakteristiknya yang menonjol. Ia juga merupakan seniman andal, dengan keahlian hampir di setiap bidang pekerjaan praktis—dan seorang yang menyukai kesempurnaan. Jill mendapati bahwa ia telah menjalani mimpi masa kecilnya yang diinspirasi oleh cerita-cerita yang didengarnya sewaktu kecil di sekolah Sabat dan dari buku-buku di perpustakaan gereja yang dikelola oleh ibunya. Kesetiaan generasi-generasi yang telah lalu telah memainkan peran dalam pilihan-pilihan mereka. Jill dan Alistair keduanya dididik di Avondale College, tetapi mereka pertama kali bertemu selagi mengajar di Carmel College di Australia Barat. Pasangan ini bisa saja memiliki jalur yang berbeda, tetapi mereka merespons pada panggilan untuk mengabdikan diri mereka sendiri pada pekerjaan misi dan relawan. Mereka menikah bulan Mei 1972, dan tahun berikutnya mereka berada di Samoa Barat. Selama 11 tahun mengajar di Samoa
11 - 2011 | Adventist World
11
T A M P I L A N
K H U S U S
dan Tonga, Jill dan Alistair membawa empat dari enam anak mereka ke dunia. Setelah beberapa tahun kembali di Australia untuk keperluan medis dalam keluarga 12 tahun yang lalu, mereka sekali lagi merasakan panggilan ladang misi. Kali ini divisi mengajak mereka ke Aore Academy di Vanuatu. Ketika ayah Alastair meninggal dunia, ia membawa uang warisannya sendiri untuk membeli mesin-mesin, dan pelatihan pun dimulai. Sekolah itu dan industri perabotannya mempunyai nama yang harum di komunitas itu, dan para siswanya terus mendapatkan pekerjaan yang terbaik. Akhirnya keluarga McGillivrays merasa bahwa ada lebih banyak keterampilan yang harus diajarkan. Visi dari sekolah berdedikasi dengan infrastruktur tersedia di Santo Island, Vanuatu ini, disadari ketika Listair Institute membuka pintunya di tahun 2002. Kini, para siswa Listair mengambil kursus terakreditasi dalam pembuatan perabotan, mendirikan bangunan, dan membuat perahu. Akreditasi masa depan termasuk kursus-kursus dalam mekanik, pemasangan listrik rumah, pemasangan pipa leding, dan jahit-menjahit. Para siswa yang unggul di Listair disiapkan untuk menjadi para instruktur masa depan lembaga mereka. Nelson, seorang siswa berkata, “Di rumah saya tidak bisa melakukan apa pun yang berguna—tidak ada keterampilan. Sekarang saya ingin menyelesaikan kuliah dan menjadi seo-
rang guru dan membantu anak muda yang lain.” Yang terbaik dari semuanya adalah, Jill dan Alastair melakukan ini tanpa “apa pun!” Allah mengetahui apa yang kami perlukan,” kata Jill, “dan Ia menyediakan!” Misalnya, waktu lalu ketika ia memerlukan sayur kol untuk makan malam, Allah sediakan! Strategi pendanaan Listair satu-satunya ada dalam hubungan para pemimpin dengan Penyedia mereka. Bagaimanakah orang-orang membayar persepuluhan sedangkan mereka tidak memperoleh apa pun?” Kami membayar dengan apa pun yang ada,” Jill berkata sesuai fakta, berbicara tentang penjualan perabotan, dan Alastair memperluas makna mendasar ini terhadap penatalayanan: “Kita ini milik Allah, segala sesuatu adalah milik Allah—waktu kita, sumber daya kita, energi kita, talenta kita. Sebaiknya menyerahkan segalanya kembali pada-Nya.” Waktu yang paling berharga adalah waktu senja di Listair. Jill dan Alastair menyelesaikan pekerjaan tata usaha sementara para siswa mengerjakan tugas rumahnya di ruangan yang sama. Dalam suasana akrab ini para siswa merasa bebas mengajukan pertanyaan penting tentang kehidupan, dan kehidupan kekal. “Mereka adalah keluarga kami!” kata Jill. “Kami kehilangan waktu bersama cucucucu kami yang berada jauh dari kami, tetapi kami akan menggantikannya di masa kekekalan kelak,” ia dengan teguh
Apakah Penatalayanan Itu? “Penatalayanan Kristen adalah cara ajaib di mana Allah mengembangkan iman kita di dalam Dia saat kita menguji janjiNya untuk kehidupan sehari-hari. Roh Kudus membantu kita untuk lebih memahami penggunaan waktu, talenta, dan sumber daya kita bagi misi nubuatan gereja. Dalam melakukannya, kita belajar bersandar sepenuhnya kepada Tuhan dan melihat berkat-berkatNya bertambah di hadapan mata kita. Sungguh satu keistimewaan untuk percaya mutlak kepada janji Allah dan kuasa-Nya seraya melihat kehidupan rohani kita matang menantikan kedatangan Kristus yang segera tiba, ketika hasil-hasil dari penatalayan Kristen akan sepenuhnya disadari.”—Ted N.C. Wilson, Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Sedunia.
12
Adventist World | 11- 2011
mempercayainya. Alastair dengan percaya diri menegaskan bahwa, “kami merasa lebih baik melakukan apa yang sudah diberikan Tuhan di hadapan kami untuk dilakukan.” Pada hari-hari Sabat mereka semua duduk bersebelahan di bangku-bangku buatan sendiri sementara hati yang bersyukur memberi pujian kepada Allah. Moli, siswa lain berkata, “Aku belajar lebih dari sekadar perniagaan di Listair— aku belajar tentang Yesus, Penebusku.” Ladang Tuhan
Bayangkan halaman berpagar penuh dengan hewan ternak. Kawanan ternak yang padat melewati jalur berpagar menyebabkan debu beterbangan. Seorang pria berjaga-jaga dengan tongkat gembala di tangan. Ini adalah peternakan di Bostwana, di mana sekelompok orang dan satu orang wanita dengan saksama mengawasi sementara pria itu menghitung: “1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10.” Tongkat pun jatuh, secara simbolis menandai bahwa hewan tertentu sebagai persepuluhan Allah. Hewan itu diberi tanda dan dituntun ke kandang yang terpisah. Ini terus berlanjut sampai sore, karena sudah musimnya, dan “Mum” Kegalale Gasennelwe, seorang dokter medis, sedang membayar persepuluhannya! Hewan hidup adalah semacam persepuluhan yang amat nyata—terutama di Afrika ini, di mana ternak mencakup
“Penatalayanan itu tentang bagaimana kita baik sebagai individu maupun sebagai komunitas iman mengatur semua sumber daya pemberian Allah. Mulai dari keuangan, sampai waktu, talenta, kesehatan kita, lingkungan, dan tanggung jawab sosial kita— bagaimana kita menggunakan sumber daya kita mencerminkan komitmen rohani kita dan tanggung jawab kita kepada gereja.”— Kirsten Oster-Lundqvist, pendeta di Newbold Seventh-day Adventist Church, Inggris. “Penatalayanan adalah satu penyerahan total yang berasal dari pengenalan tentang Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara. Menjadi seorang penatalayan adalah mendedikasikan semua yang menjadi milik kita—waktu, talenta, dan sumber daya—untuk mencapai kehendak Allah.”—Kleber Faye, mahasiswa tingkat empat di Brazil Adventist University, dari Recife-Pernambuco, Brazil. “Mengusahakan sesuatu untuk kebaikan orang lain adalah cara di mana kebahagiaan sejati bisa ditemukan.—Ellen G. White, Counsels on Stewardship, hlm. 24, 25.
p u n i e r i k a
a n e m o k g w e . pa k o
simbolisme dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. “Kami menggunakan ternak untuk membayar ‘Lobola’ untuk pernikahan, membajak sawah, menarik kereta, menyediakan bahan bakar untuk api dan bahan bangunan atau dekorasi,” Gasennelwe menjelaskan. “Ternak ini menyediakan susu, makanan, pakaian, dan selimut. Sapi ini adalah substansi kekayaan dan status keluarga.” Tetapi memberi persepuluhan dalam hal ternak di masa pensiunannya bukan satu-satunya cara dia mengembalikan berkat kepada Allah. Ia menjalani kehidupan memberi selama ini. Sesungguhnya, sejak kecil sampai kepada posisi kepemimpinan di negaranya, apa yang ia capai adalah untuk kebaikan orang lain. Ini sepertinya menjadi pola dari mereka yang suka memberi. Memberi itu membangun kepercayaan, kepercayaan membangun kemurahan hati, dan kehidupan yang berpusat kepada orang lain. Gasennelwe suka melibatkan anak-anak serta cucu-cucunya di musim persepuluhan ini, sambil berharap bahwa suatu hari kelak itu akan diturunkan sebagai warisan keluarga kepada generasi-gene rasi mendatang. Warisan ini mulai dari ayah Gasennelwe, yang menekankan pentingnya peduli dengan mereka yang kurang beruntung. Ia tidak pernah mengecap pendidikan sekolah, tetapi ia membaca Alkitabnya dua kali sehari. Penafsirannya dalam bentuk yang paling sederhana, misi Kristus adalah agar kita mengurus jandajanda dan anak yatim piatu. Gasennelwe
Kiri: PANGGILAN SAPI: Ternak Tuhan dihitung dan ditandai sebagai bentuk persepuluhan di peternakan Kegalale Gasennelwe di Bostwana. Kanan: DI LADANG: Kegalale Gasennelwe, dikenal luas di Bostwana atas keahliannya dan bekerja untuk pemerintah dalam bidang pendidikan dan kesehatan, juga merupakan “Ibu” bagi banyak orang muda setempat. Di sini, Gasennelwe sedang bercakap-cakap dengan Sekretaris Konferens Bostwana Selatan, Kago Rammidi. ingat ketika ibunya memasak makanan untuk anak-anak di komunitas setempat, memberikan satu teladan yang serupa. Sebenarnya, tradisi lama di Bostwana adalah bahwa bila tetangga Anda kesulitan mengurus keluarganya, maka Anda wajib membantu dengan meminjamkan ternak kepada mereka. Kepala sukunya mungkin akan turut terlibat untuk memastikan bahwa Anda melakukan tugas Anda. Pengaruh masa kanak-kanak dan budaya ini telah membuat Gasennelwe terus memahami kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Ia adalah “Mum” bagi banyak orang muda setempat, dan ini memberikannya satu perasaan puas yang besar. Ia secara teratur pergi ke desa-desa sekitar bersama pelayanan jangkauan luar Advent di tempatnya, membantu di mana ada kebutuhan. Yang menonjol tiap tahun adalah pesta yang digelarnya untuk anak-anak komunitas, dengan banyak sekali makanan—dan mereka semua suka kepadanya karena itu! Secara profesional, dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan pemerintah di Bostwana, Gasennelwe memiliki satu reputasi yang agak disukainya. Ia mengakui “tidak ada yang lebih saya sukai daripada berada pada posisi di mana saya bisa memastikan bahwa uang tertuju langsung kepada orang-orang yang dimaksudkan untuk dibantu!” Segalanya tidaklah selalu mudah. Gasennelwe mengalami kehilangan suami yang terlalu cepat, dan kemudian putra semata wayangnya. “Pasti ada maksud,”
ia yakin, “dan daripada menanyakan sesuatu yang tidak pernah kita dapati jawabnya, saya percaya saja bahwa Allah yang berkuasa.” Gesennelwe percaya bahwa Tuhan menepati janji-Nya (Mal. 3:10). “Ia memang menepati janji,” tegasnya, “Memang benar. Kita tidak selalu memiliki sapi-sapi ini,” jelasnya. “Kami mulai berhenti memberi persepuluhan berupa kambing—yang dibantu pemerintah! Suami saya mendengar bahwa para pendeta lokal memerlukan bantuan, dan ia merasa bahwa memberikan persepuluhan itu penting. Sekarang semua di peternakan ini milik Allah, bukan hanya sapi-sapi. Semuanya!” “Memberi persepuluhan berkaitan dengan kepedulian kepada orang lain,” tambah Gesennelwe. “Jika Anda tidak dapat memberikan kepada Allah, maka Anda tidak bisa memberi kepada orang lain, dan jika Anda tidak dapat memberi kepada orang lain, maka Anda tidak dapat memberi kepada Allah.” Itulah kemurahan hati dan itulah yang membuatnya tetap tersenyum! n
Penny Brink adalah
Asisten Direktur Penatalayanan General Confe rence, di Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat.
11 - 2011 | Adventist World
13
R E N U N G A N
W
aktu itu saya sedang mengunjungi sepupu saya di daerah New Cross Roads di Cape Town. Tiba-tiba saya mendengar sesuatu yang mula-mula seperti radio nyaring di kejauhan. Setelah menyimak baik-baik, ternyata bukan hanya saya yang mendengar suara musik dan orangorang yang bersukaria di bagian belakang itu; yang lain dalam ruangan itu juga mendengarnya. Nyanyiannya jadi semakin nyaring dan nyaring, dan saya mengenali lagu yang biasanya dinyanyikan bila orang muda kembali dari masa permulaan sekolah. Sekelompok anak laki-laki pulang ke rumah setelah beberapa minggu masa pengenalan di hutan. Dalam suasana pedusunan dari mana ritual ini berasal biasanya ada tempat yang memadai. Garis lingkaran suci untuk taman itu, halaman gedung, dan bangunan lain untuk memasak, tidur, penyimpanan atau kebutuhan hidup yang biasa, menyediakan tempat yang luas. Namun penduduk di New Cross Roads tinggal dalam kondisi yang amat padat. Mereka tidak memiliki ruangan untuk sebuah lapangan, belum lagi larangan bangunan dari pemerintahan setempat. Keadaan ini memaksa orang-orang untuk mengadakan perjalanan panjang ke desa asal mereka untuk
Dosa &
Pengorbanan Masalah dan Penanganan Oleh Michael Mxolisi Sokupa
menjalani ritual ini. Akan tetapi, ada orang-orang yang sudah kehilangan jejak rumah aslinya. Mereka masih melakukan upacara ini di kota. Banyak yang mendirikan lapangan sementara, terutama dengan maksud menyembelih korban persembahan, dan supaya membangun kembali suasana semula. Obat Dosa
Ketika Adam dan Hawa berdosa di Taman Eden, seekor domba disembelih agar kulitnya bisa dipakaikan kepada mereka.1 Allah memperkenalkan ide korban untuk pertama kalinya melalui tindakan ini. Ia menetapkan korban sebagai obat dosa. Ibrani 9:1-9 menggambarkan bait suci dunia dan bagaimana
14
Adventist World | 11- 2011
dosa ditanggulangi melalui sistem pengorbanan. Namun setelah korban Yesus, sistem pengorbanan sebagai cara mengatasi dosa sekarang jadi tidak berlaku. Buku Ibrani ditulis dengan orangorang Yahudi dan Kristen Yahudi di Diaspora sebagai para pembaca utama. Mereka tercerai berai dan khawatir karena jauh dari bait suci. Mereka tidak bisa berpartisipasi dalam upacara harian bait suci. Beberapa orang bahkan tidak sanggup mengadakan perjalanan sekali setahun untuk merayakan Paskah, yang merupakan salah satu perayaan utama orang Yahudi. Penulis mengingatkan orang-orang Kristen yang telah menerima Kristus ini bahwa mereka sekarang bisa masuk ke bait kudus surgawi melalui Kristus di mana pun mereka berada. n i n a
a l d i n
t h u n e
Sementara versus Permanen
Satu hal yang saya pelajari ketika mengikuti kursus pertolongan pertama untuk memenuhi tuntutan kelas Pemimpin Utama (Master Guide) adalah bagaimana menangani kasus tergigit ular. Sambil menunggu penangkal racunnya (yang merupakan solusi permanen melawan gigitan ular), seseorang harus mencoba mencegah racun itu menyebar ke seluruh tubuh. Jika seekor ular menggigit kaki, seseorang harus sebisa mungkin menjaga agar kaki itu tidak bergerak dan berada di bawah jantung, untuk meminimalkan kembalinya darah ke jantung dan organ tubuh lain. Ularnya harus diketahui agar penangkalnya bisa dicari. Waktu sangat penting di sini, karena seseorang tidak bisa menunggu berjam-jam atau berhari-hari sebelum mencari bantuan medis. Ketika umat manusia jatuh ke dalam dosa, Allah memulai rencana pertolongan pertama, sistem korban. Ini bukan untuk berlangsung selamanya, karena itu tidak diperuntukkan sebagai solusi permanen untuk masalah dosa. Oleh karena itu “setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Galatia 4:4, 5).
Bait Kudus Duniawi
Ada berbagai kategori dosa yang ditangani di bait kudus duniawi. Jika seorang imam, seorang pemimpin, seorang awam, atau seluruh komunitas berdosa tanpa sengaja, ada korban yang ditetapkan harus dipersembahkan (Im. 4:1-3, 13, 22, 27). Kategori dosa yang lain yang dibawakan ke bait suci untuk pembersihan individu atau kelompok termasuk dosa-dosa kelalaian (Im. 5:1, 5, 6) dan kenajisan tubuh (Bil. 19:13, 20). Sekali setahun dua ekor kambing dipersembahkan di bait suci, dan setelah membuang yang satu, yang lainnya akan dikorbankan untuk dosa (kambing Tuhan) dan sang imam akan menaruh tangan di atas kambing yang hidup itu dan mengakui semua kejahatan dan pemberontakan Bangsa Israel (Im. 16:7,9, 21). Ini membersihkan bait suci dari kecemaran dosa-dosa yang diakui maupun yang tidak diakui. Maksud dari Hari Pendamaian bukan untuk memberikan pengampunan kepada mereka yang dalam pemberontakan mengabaikan obat yang ditawarkan. Tetapi menunjukkan rencana Allah membersihkan bait kudus dari semua kejahatan dan pemberontakan yang diarahkan kepada solusi yang lebih besar. Kesetiaan kepada Allah yang diperlihatkan dengan menerima obat yang Ia sediakan, diharapkan dari semua orang yang turut dalam perjanjian dengan-Nya.
Bait Kudus Surgawi
Korban Kristus memperkenalkan satu perintah baru. Dengarkan penulis Ibrani mengatakannya: “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-per buatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup!” (Ibr. 9:14). Korban perlu agar pengampunan terjadi, satu poin lebih jauh dijelaskan pada pasal yang sama. “Dan
hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (ayat 22). Ketika seseorang dibawa ke rumah sakit setelah digigit ular, semua pembalut dibuka, dan bantuan pertama atau tim paramedis memberi jalan bagi dokter. Bila si korban meminta paramedis melanjutkan apa yang mereka sedang lakukan maka itu artinya bunuh diri. Dokternya sekarang ada di sini, dan ia berjanji menyelesaikan masalah itu selamanya. “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni” (Ibr. 10:19-22). Allah meminta kesetiaan hanya kepada Dia. Tidak Ada Tempat untuk Kesetiaan yang Terbagi
Janji Allah dalam Ibrani 10:17 itu jelas: “Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.” Bila dosa-dosa kita telah diampuni, maka tuntutan hukum Allah itu digenapi. Kita bisa menyatakan kebenaran Kristus sebagai milik kita. Oleh karenanya, “tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa” (ayat 18). Kesetiaan kita kepada Kristus tidak membuat kita tetap dalam aturan yang lama. Baru-baru ini saya berperan serta dalam mengusir roh jahat. Ketika masuk ke dalam ruangan di mana korban roh jahat dipegang oleh dua pria kuat dari kedua sisi dengan para pendeta berada di sekelilingnya, ia meronta. Kami berdoa sampai ia tenang. Kami tiba pada titik di mana kami harus memastikan bahwa ia sadar, dan kami meminta dia untuk berdoa dan memanggil nama Yesus sendiri. Dalam melakukan itu ia menyatakan kesetiaannya kepada Allah dan mengusir roh jahat yang mengendalikan hidupnya. Paulus di Efesus mengingatkan orang-orang percaya untuk “menanggalkan” manusia lama dan “mengenakan manusia baru” (Ef. 4:22-24). Setelah Allah telah mengubah kita dengan cara ini, maka tidak akan ada lagi tempat bagi kesetiaan yang terbagi. Allah ingin kita bersungguh-sungguh kepada-Nya. Ia telah menyediakan satu-satunya solusi permanen kepada masalah dosa. Setan juga tertarik dengan kesetiaan kita. Ia tidak keberatan berbagi kesetiaan dengan Allah. Tetapi Allah kita adalah Tuhan dari segalanya atau bukan Tuhan sama sekali. Ia meminta kesetiaan yang utuh kepada rencana yang Ia telah tetapkan sejak permulaan dunia ini. n
1
Ini disinggung dalam Kejadian 3:21.
Michael Mxolisi Sokupa, Ph.D., adalah
seorang dosen New Testament di Helderberg College, Afrika Selatan. Ia menikah dengan Zanele dan memiliki tiga orang anak.
11 - 2011 | Adventist World
15
CER ITA S A M PU L
c o u r t e s y
h e l d e r b e r g
c o l l e g e
More Than
Skın Deep
*
Pelajaran untuk dipelajari dari bangku kuliah dalam hal transformasi Oleh Chantal and Gerald Klingbeil
Apartheid di Afrika Selatan
S
Jadi ke manakah kita harus pergi? epertinya satu pertanyaan yang cukup sederhana, tetapi bagi sekelompok mahasiswa kelihatannya berusaha mencari sesuatu untuk dilakukan di luar kampus di tahun 1989 merupakan satu situasi yang canggung. Helderberg College, berlokasi di Cape Province yang indah di Afrika Selatan, di sisi pegunungan Helderberg dan memberikan satu pemandangan yang menakjubkan dari Samudera India. Jadi perjalanan menuju pantai atau berjalan-jalan di Helderberg Nature Reserve merupakan pilihan alam bagi aktivitas Sabat sore. Akan tetapi, kami mendapat satu masalah—kami adalah kelompok mahasiswa campuran—kebanyakan berkulit putih, dengan beberapa coloureds (campuran), seorang kulit hitam, dan seorang India. Meskipun apartheid sudah lama sirna, beberapa hal masih sulit hilang. Plang tanda di Strand Beach masih menyatakan “Bagi Kulit Putih Saja.”
16
Adventist World | 11- 2011
Bagi siapa pun yang lahir di Afrika Selatan setelah Perang Dunia II, apartheid merupakan paradigma hidup yang mencakup segala kehidupan, yang bertujuan untuk benar-benar memilah-milah ras yang berbeda dan memisahkannya. Ini dimulai secara resmi pada tahun 1948 ketika Partai Nasional memenangkan pemilihan di Afrika Selatan dan mulai memaksakan satu aturan “pemisahan,” atau apartheid, yang pada intinya berisi ideologi keunggulan orang kulit putih. Peraturan itu secara formal berakhir pada tahun 1994 setelah pemilihan multi rasial yang pertama kali. Tentu saja pemisahan ras itu bukan merupakan penemuan Afrika Selatan yang baru. Pemisahan ras itu merupakan ciri yang menonjol bahkan sebelum era penjajahan dan merupakan satu realitas di banyak bagian dunia. Namun demikian apartheid sebagai peraturan resmi, yang membentuk dasar untuk menguasai satu bangsa, merupakan satu hal yang baru. Perundang-undangan mengelompokkan populasi ke dalam empat kelompok ras, termasuk “Native” atau “Kulit Hitam,” “Kulit Putih,”
p h o t o s
b y
e d w a r d
a .
a p p o l l i s
Dari Kiri ke Kanan: DULU: Claremont Union College di tahun 1917. Merupakan pendahulu Helderberg College. KELAS TAHUN 2010: anggota kelas tamatan tahun 2010 berpose dalam foto kelompok sebelum meninggalkan kampus untuk melayani dalam nama Kristus. CIRI KHAS KAMPUS: Gereja Helderberg College adalah lokasi kampus yang dikenal baik. “Coloureds,” (atau campuran), dan “Orang Asia” atau “India.” Daerah-daerah penduduk, pendidikan, perawatan medis, pantai-pantai, dan layanan publik lainnya dipisah-pisahkan. Mulai pada tahun 1970, orang kulit hitam mencabut kewarganegaraan mereka dan secara sah menjadi warga negara salah satu dari 10 daerah kesukuan yang berdiri sendiri. Pergerakan populasi kulit hitam dibatasi karena memerlukan izin khusus menemukan pekerjaan di kota-kota. Ini artinya bahwa keluarga-keluarga seringkali dipisahkan bila ayah mereka pergi bekerja di kota-kota dan para istri beserta anak-anak harus hidup di kampung halaman karena aturan kependudukan. Helderberg College Selama Apartheid Sesuatu yang mencakup segala bidang seperti apartheid ini mau tidak mau membuat dampak besar bagi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Selama tahun 1890-an ketika orang Advent memulai misi mereka di Afrika Selatan, masyarakat sudah secara tidak resmi terbagi-bagi dalam batasbatas ras. Kendati dengan lingkungan sosial demikian, para pio nir dan pendidik Advent mula-mula tampaknya sudah memiliki visi awal yang lebih luas daripada kebanyakan masyarakat. Catatan menunjukkan bahwa sedikitnya seorang mahasiswa kulit hitam dan beberapa coloured students (siswa campuran) terdaftar di Claremont Union College, salah satu dari dua institusi pendidikan pendahulu dari Helderberg College, yang didirikan tahun 1892. Setelah sekolah ini dipindahkan ke lokasi terpencil dan diubah namanya menjadi Spion Kop College, para mahasiswa juga diajarkan Bahasa Zulu, salah satu dari dua bahasa daerah paling menonjol di Afrika Selatan. Para pe ngajarnya pasti memiliki satu pandangan yang tertuju pada misi.1 Spion Kop College ternyata terlalu terpencil dan hanya meluluskan 32 mahasiswa. Satu tempat baru diperlukan bagi pendidikan Advent di Afrika Selatan, dan pada tahun 1928 Helderberg College membuka pintunya di kampus yang berlokasi ideal sekarang ini. Perguruan itu memiliki rumah baru dan lagu tema baru. Lagu itu didahului dengan baris kata “Hail Helderberg, the Light of Africa.” Ini adalah satu tugas yang serius bagi staf pengajar dan mahasiswa. Sebelum pecahnya Perang Dunia II, alumni Helderberg melayani di seluruh Afrika. Dengan penerapan sangsi internasional di Afrika Selatan, Helderberg College tidak bisa lagi melatih dan mengirim para misionaris Afrika. Tanpa misi ini, fokus pergerakan dan masyarakat dan politik secara halus menjadi norma-norma yang berlaku di perguruan itu. Gantinya menjadi terang bagi Afrika, se-
kolah itu melayani hanya komunitas Advent berkulit putih saja. Seberapa dalamnya nilai-nilai apartheid tertanam dalam hati dan pikiran para anggota terlihat jelas. Ketika pada tahun 1960an Alwun du Preez, mahasiswa tidak berkulit putih pertama, masuk ke Helderberg College, ia tidak diperkenankan tinggal di kampus dan tidak bisa menggunakan fasilitas perkuliahan selain ruangan kelas dan perpustakaan. Ia juga tidak diizinkan untuk menghadiri upacara penamatan atau berfoto bersama dengan kelas lulusan. Banyak anggota dan pengurus barangkali percaya bahwa hukum apartheid yang keras tidak memberikan mereka pilihan lain dalam menjalankan satu perguruan tinggi di Afrika Selatan. Seberapa jauhnya Helderberg College bisa secara sah menjalankan model persaudaraan Kristen tidak pernah diuji. Fakta bahwa mungkin ada lebih banyak pilihan untuk menjadi para pemimpin dan bukan pengikut diperlihatkan dalam pertukaran tempat yang mengejutkan antara Helderberg College dan otoritas pendidikan pemerintah. Pada tahun 1971 Robert Hall, seorang mahasiswa kulit hitam dari negara tetangga, Zimbabwe, diizinkan untuk menyelesaikan gelar pendidikannya di Helderberg College di bawah kondisi yang sama seperti du Preez. Ketika mengajukan izin khusus untuk mengakui Hall, perguruan itu mendapat jawaban penegasan yang mengejutkan juga berupa penjelasan bahwa “tidak ada aturan pemerintah untuk turut campur dalam pelatihan para pendeta dari denominasi mana pun.” 2 Pada saat ini perubahan sosial yang luar biasa terjadi di Afrika Selatan. Demonstrasi-demonstrasi dan kerusuhan menggoncang fondasi sistem apartheid. Perubahan sosial dan situasi perekonomian yang merosot mempengaruhi Helderberg College, dan sejak tahun 1972 ada gerakan-gerakan yang bersifat sementara ke arah mengintegrasikan coloured students (siswa campuran) belajar teologi. Coloured students pertama masuk di tahun 1974. Mereka juga tidak bisa diterima di kampus, dan dilarang ke perpustakaan dan ruangan kelas, tetapi mereka diizinkan lulus bersama rekan sekelas. Selama tahun 1970-an dan 1980-an apartheid membangun diri kembali karena tekanan-tekanan internal dan internasional yang meningkat, juga kesulitan ekonomi. Sebuah parlemen tricameral yang mengizinkan perwakilan suku campuran dan orang Asia dibentuk pada tahun 1983, dan hukum yang dibenci itu dihapuskan pada tahun 1986. Ini juga merupakan masa kekerasan politik terburuk.
* “More Than Skin Deep” adalah ungkapan dalam Bahasa Inggris
yang berarti tindakan atau penilaian kita janganlah hanya sekadar atau ‘dikulitnya’ saja (tidak murni), tetapi harus lebih dalam, sepenuhnya, murni/sejati. Harus lebih dalam dari ‘kulit!’
11 - 2011 | Adventist World
17
Dari Kiri ke Kanan: BADAN SISWA: Para siswa Claremont College pada acara tamasya di tahun 1917. TUAN PRESIDEN: Paul Shongwe, Rektor Helderberg College, adalah orang kulit hitam kedua yang melayani di posisi itu. JANGKAUAN KELUAR KOMUNITAS: Para mahasiswa dari Helderberg College mengunjungi komunitas ini sebagai bagian dari Mfuleni Transforming Outreach. Perubahan Nyata
Bulan Februari tahun 1990 Presiden Afrika Selatan F.W. de Klerk mengumumkan pelepasan Nelson Mandela dari penjara, dan proses yang pelan dalam membongkar sistem apartheid resmi dimulai. Pada tanggal 27 April 1994, diadakan pemilihan demokrasi yang pertama kalinya di Afrika Selatan, dengan mereka yang dari segala ras, diperbolehkan memberikan suara. Di tengah perubahan luar biasa ini The Theology Department of Bethel College (mis., the Black Adventist College) ditutup tahun 1991, dan semua mahasiswa teologi dipindahkan sebagai mahasiswa penuh ke Helderberg College. Kenangan tentang antrean panjang orang yang dengan sabar menunggu memberikan suara untuk pertama kalinya pada tahun 1994 saat semua ras memilih, itu masih jelas. Sejak saat itu, negara itu dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh telah membuat langkah-langkah besar, mencoba mengubah kenyataan-kenyataan politis, sosial, dan ekonomi yang sudah lama berakar. Transformasi juga telah memindahkan Helderberg College. Integrasi dari beraneka ragam etnis staf pengajar menjadi satu prioritas penting. Pada tahun 2005 Gerald du Preez menjadi rektor pertama dengan ras campuran di sekolah itu, diikuti pada tahun 2010 oleh Tankiso Letseli, rektor kulit hitam pertama di Helderberg College. Ketika Letseli menerima panggilan untuk menjadi ketua baru di Southern Africa Union Conference di awal tahun 2011, Paul Shongwe menjadi rektor berkulit hitam kedua dari Helderberg College. Hampir 18 tahun setelah pemilihan bersejarah pertama itu, sekolah ini melanjutkan proses tranformasinya. Kini sekolah tersebut membanggakan staf pengajar internasional yang beraneka ragam dalam tiga fakultas (seni, bisnis dan teologi). Salah satu tantangan yang terus dihadapi sekolah itu adalah masalah kepemilikan. Sekolah itu mencoba menyelesaikan masalah penerimaan oleh konstituensinya yang beraneka ragam dan komunitas melalui dinamika cakupan pelajaran akademis yang baru yang ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan yang dipandang perlu. Penerimaan siswa bertambah ketika badan kema-
18
Adventist World | 11- 2011
hasiswaan semakin mencerminkan demografis negara itu. Sambil menyediakan pendidikan berkualitas, Helderberg College juga melayani, sebagai contoh peran dinamis untuk bergabungnya institusi-institusi yang telah berkembang secara terpisah. Meskipun memang benar bahwa kerangka pemikiran dan sikap yang ditanamkan selama beberapa generasi tidak bisa diubahkan dalam semalam, Helderberg College melatih orang muda Advent untuk melihat dibalik perbedaan warna kulit dan ras dan melihat orang-orangnya. Sekolah itu tidak berusaha menjadi tempat penyatuan budaya. Tetapi diri sendiri, baik staf maupun siswa sebagai para penyinggah dalam satu perjalanan pencarian yang menjangkau lebih jauh dari akademis. Sebagian dari pendidikan Advent adalah belajar melihat dan menghargai budaya yang berbeda-beda. Juga melibatkan pengenalan diri karena masing-masing memiliki kesempatan untuk lebih menghargai aspek-aspek positif mereka dan menyadari titik lemah budaya mereka sendiri. Di atas semua ini melibatkan penemuan tentang kuasa kasih Allah yang bisa mengikat semua orang dalam satu tujuan dan misi yang sama. Pelajaran-pelajaran yang Bisa Dipetik
Perubahan tidak terjadi hanya di Afrika Selatan. Perubahan adalah satu kenyataan di seluruh dunia. Apa yang bisa dilakukan lembaga-lembaga Advent saat mendapati diri mereka sendiri di lautan perubahan sosial ini? Apa yang bisa kita pelajari dari perjalanan Helderberg College? 1. Bacalah instruksinya lebih dahulu: Banyak orang tidak membaca instruksi. Mereka merasa sudah cukup mengetahui apa kegunaan produknya, lalu berlalu begitu saja. Seringkali mereka terpaksa memungut lembaran instruksinya dari tempat sampah. Kadang-kadang sudah terlalu terlambat untuk memperbaiki. Yesus pernah memberitahukan satu kisah yang serupa. Bukan tentang instruksi—tetapi tentang fondasi. Ingat orang yang membangun di pasir (Mat. 7:24-27)? Sayangnya, kita semua sering ikut membangun di fondasi berpasir ketika antusiasme kita melampaui tugas penting menemukan tuntunan apa yang Allah
telah sediakan bagi institusi dan usaha kita. Kita memerlukan teologi yang jelas dan visi yang jelas sebelum mulai masuk ke dalam bangunan atau mengelola restoran vegetaris, pusat komunitas, percetakan, kelompok pemuda, sekolah dasar, klinik, atau universitas. Pada kasus Helderberg College, kepemimpinan dan kaum awam tentunya akan berdiri lebih teguh membuat keputusan selama era apartheid jika mereka mempertanyakan kecenderungan sosial saat itu dan menyelidik Firman Allah dan meminta nasihat mendetil dari Roh Nubuat. Jika kita tidak secara aktif mencoba menemukan kehendak Allah, maka kita secara alamiah mengikuti arus. Ideologi yang saat itu dianut masyarakat akan menjadi norma-norma pelaksanaan kita. 2. Proaktif—bukan reaktif: Jika kita ingin proaktif, maka kita perlu memiliki satu pemahaman yang jelas tentang kehendak Allah bagi hidup kita. Sebenarnya, Yesus mengingatkan tentang panggilan kita untuk menjadi “garam dunia” (Mat. 5:13). Di Afrika Selatan, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh secara struktur terbagi menurut garis ras sebelum pengenalan resmi apartheid di tahun 1948 dan mencerminkan apa yang sedang terjadi dalam masyarakat pada saat itu. Letseli mengatakannya seperti ini: “Jangan tunggu ling kungan mendikte Anda, karena Anda akan terbawa oleh peristiwa-peristiwa. Adakan transformasi. Dunia itu senantiasa berubah. Saya percaya pendidikan kita harus menyiapkan kita untuk menjadi agen-agen perubahan, bukan hanya merespons pada model-model yang berlaku.” 3. Jangan lupa misi kita: Menjadi seorang Advent atau menjalankan institusi Advent dalam iklim politik tertentu bisa menjadi satu tindakan penyeimbang yang halus. Kadang-kadang kebijaksanaan dan akomodasi besar diperlukan untuk menghindar dari ditutupnya pekerjaan dengan mengambil langkah kontroversial. Di lain pihak, kita tidak ingin berhenti mengajarkan Injil karena takut dengan reaksi politik atau sosial. Pengaruh kepemimpinan tidak boleh berlebihan. Philip Wessels, seorang pionir Advent Afrika Selatan, menulis kepada Ellen White di tahun 1893: “Ada garis warna kulit yang jelas sekali terlihat di dalam masyarakat ini. Saya sendiri tidak peduli. Saya bisa berjabat tangan dengan orang-orang berwarna dan lainnya. Tetapi pergaulan kami dengan mereka akan mengganggu pengaruh kami kepada orang lain yang tidak terbiasa dengan hal-hal ini .... Untuk memiliki pengaruh dengan golongan atas, kita harus menghargai perbedaan ini.”3 Wessels memutuskan daripada mengambil sikap moral tentang persamaan ras, ia akan mempertahankan setidaknya dari luar, nilai-nilai budaya sekitarnya supaya bisa menjangkau bagian masyarakat tertentu kepada Injil. Sayangnya, arah kepemimpinan ini menjadi patokan bagi pekerjaan Advent di Afrika Selatan. Kita tidak boleh lupa misi kita untuk menjangkau semua orang. Ini berarti berjalan di garis tipis antara berbagai kelompok atau kesatuan politik yang mengasingkan diri. Dalam beberapa hal dengan tidak membicarakan dalam menentang bebe-
rapa praktik budaya yang telah diterima, dapat berarti membicarakannya dengan sikap diam kita. Transformasi adalah Urusan Hati
Orang Advent mengerti bahwa transformasi itu erat berkaitan dengan pertobatan. Yang tidak benar dinyatakan benar. Orang berdosa menjadi anak Allah. Yang hilang ditemukan. Itu adalah proses hati. Hal itu tidak pernah menjadi urusan politik karena pikiran kita harus diperbarui. Sistem politik datang dan pergi. Nilai-nilai masyarakat terus berubah-ubah. Sikap mementingkan diri, prasangka ras, kesombongan, penyalahguna an, kecemburuan, dan ketamakan akan menemukan bentuk ekspresi baru yang secara politik benar saat iklim sosial berubah. Transformasi di bawah tuntunan Roh Kudus bukanlah satu proses yang terjadi oleh paksaan, ancaman, atau kekerasan. Gerald du Preez mengingatkan kita, “Kita harus menyadari bahwa untuk masing-masing kita, di mana kita mendapati diri dalam transformasi, perlu waktu sejenak bagi kita untuk sampai di sana. Yang lain harus sabar dengan kita saat kita bergerak ke mana kita berada sekarang. Kita harus memberikan kesabaran yang sama kepada orang lain.” Selama upacara penamatan tahun 2007, transformasi tampak dikuatkan di Helderberg College. Alwyn du Preez dan Robert Hall, yang tidak pernah diizinkan secara resmi lulus, melangkah di lorong Anderson Hall dan menerima diploma mereka dan disambut meriah—hampir 40 tahun setelah mereka menyelesaikan gelar. Yang salah telah dibuat jadi benar secara publik. Transformasi telah menjadi nyata—dan telah menyatukan satu komunitas baru. Paul Shongwe, Rektor Helderberg College saat ini, menggunakan kiasan berguna ini: “Semakin dekat kita datang kepada Allah, maka akan semakin baik kita berhubungan satu sama lain... Allah menjadi pusatnya.” Transformasi Alkitab benar-benar berpusat kepada Allah dan melibatkan perubahan pemikiran. Yehezkiel meringkaskannya dengan baik: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (36:26). n
1 Ringkasan dari sejarah mula-mula Helderberg College bisa ditemukan dalam D.F. Neufield, ed., Seventh-day Adventist Encyclopedia (Washingtong, D.C.: Review and Herald Publishing Association, 1996), vol. 10, hlm. 686-688. 2 I.F. du Preez dan Roy H. du Pre, A Century of Good Hope: A History of the Good Hope Conference, Its Educational Institutions and Early Workers, 1893-1993 (London Timur: Western ResearchGroup/ Southern History Association, 1994), hlm. 109-113. Kita mendapat manfaat dari membaca Jeff Crocombe, :The Seventh-day Adventist Church in Southern Africa—Race Relations and Apartheid” (paper presented at Associatioon of Seventh-day Adventist Historians meeting, Oakwood College, 2007). 3 Phillip Wessels kepada Ellen G. White, 14 Jan. 1893.
Chantal dan Gerald Klingbeil
menulis dari Silver Spring, Maryland, AS., di mana Gerald melayani sebagai Associate Editor Adventist World sementara Chantal mengajar ketiga putri mereka di rumah. Helderberg College memiliki tempat istimewa di hati mereka, karena mereka pertama kali bertemu di kampus itu dan menikah di Afrika Selatan. Mereka masih ingat memberikan suara pada pemilihan suara pertama yang mencakup semua ras di tahun 1994.
11 - 2011 | Adventist World
19
K E P E R C A Y A A N
D A S A R
T
anggal 21 Mei, 2011, pukul 6 petang, dunia tidak ingin meng akhirinya—suatu hal dramatis yang meninggalkan banyak ruang bagi para peramal baru, juga para pelanggar.* Orang-orang Advent, diajar dan dibentuk oleh peristiwa-peristiwa tahun 1830-1861, dan yang tidak melupakan cara Tuhan menuntun dalam sejarah kita, masih memiliki sesuatu untuk diajarkan, secara spesifik, kepada sesama orang Kristen. Satu kebenaran bagi semua orang tentang “Mayday” terakhir adalah bahwa kita semua masih harus berencana untuk hari esok kita. Peristiwa-peristiwanya penting atau kurang penting, atau sangat penting. Selingan hidup yang tidak penting (rasa es krim dan gaya rantai kunci) dan yang mendesak (jadwal-jadwal pulang pergi, persiapan pernikahan akhir, atau hadiah yang sangat perlu bagi orang-orang yang kita lupakan, yang mengingat kita pada Natal) sebenarnya mungkin penting. Tetapi di balik hal-hal sepele, dan bahkan di balik kejamnya hal yang mendesak itu, ada yang sangat diperlukan. Itulah apa yang Yesus ingin agar kita fokuskan ketika Ia meminta kita untuk menyerahkan beban jiwa kita (Mat. 16:16; Mrk. 8:36). Kekristenan bukanlah isapan jempol belaka. Itu artinya mempelajari pasar masa depan, memikirkan tentang hari esok, dan mengamankan milik Anda sekarang.
Nasihat Akhir Zaman
Tragisnya, beberapa pemikiran Kristen yang terdidik telah mengurangi apa yang tadinya bersifat mendasar menjadi hal yang kurang penting. Kita telah membaca nasihat Yesus tentang persiapan dan menguranginya untuk kesenangan akademis dengan angka kecil dan besar. Menjawab pertanyaan murid-murid-Nya tentang Yerusalem yang mereka kasihi, Yesus mendapatkan berita pendahulu tentang bagaimana orang-orang di tahun 2011 bisa mengamankan masa depan mereka. Ini karena bagi-Nya masa depan yang aman itu selalu merupakan hal penting. Ia berulangkali menjanjikan hari esok yang hebat, dan bahkan sekarang ini, bagi semua orang yang mau memilih Dia hari ini: “Kehidupan kekal”
20
Adventist World | 11- 2011
PASAL 25
Sepanjang
Umur
Hidupmu Oleh Lael Caesar
(Yoh. 3:16), “kerajaan sorga” (Mat. 5:10), “masa ini juga menerima seratus kali lipat”—dengan penganiayaan—“dan pada zaman yang akan datang akan menerima hidup yang kekal” (Mrk. 10:30). Tetapi apa yang sebagian besar kita ingat Yesus katakan tentang persiapan untuk hari esok adalah bahwa akan ada tanda-tanda dari sorga, dan kesulitan dunia, dan penipuan keagamaan, dan orang-orang yang ketakutan sebagai bukti bahwa kedatangan-Nya sudah dekat (Mat. 24:5-14, 29; Lukas 21:25, 26). Beberapa orang bersikeras bahwa menurut ramalan ini, bencana-bencana alam di bumi semakin banyak mendekati akhir zaman. Sementara itu, yang lain menolak pernyataan apa pun bahwa pola maupun alasan dapat ditemukan dalam kegalauan elemen-elemen yang menggoncang hidup dan dunia kita. Menilai dari semua ini, maksud Yesus untuk memberikan nasihat-Nya tentang hari esok adalah untuk menarik anakanak-Nya kepada permainan kecil penjumlahan dan pengurangan, menghitung jumlah, intensitas, dan penyebar luasan bencana alam, untuk membuktikan ada 10 yang cukup besar sekarang ini dibandingkan dengan sembilan setengah di hari esok! 20.000 korban tsunami Jepang
Merencanakan kenyataan hari esok lebih banyak dari 300 korban tornado di Tennessee. Percekcokan umat Kristen yang aneh ini, tentang besarnya, jumlahnya, dan intensitas tsunami, topan, dan peledakan bom mungkin bisa menuntun pada, atau berdasar pada, pemikiran yang diperoleh Allah atau orang Kristen dari memperdebatkan kekerasan relatif dan bencana modern, atau kekejaman kuno Bangsa Asiria dan Sadam modern, Hitler, dan Stalin. Sepertinya tidak mungkin Yesus maksudkan permainanpermainan perhitungan ini untuk menjadi bagian dari rencana kita untuk hari esok. Atau bahwa belajar Alkitab bersama dengan membaca koran dirancang untuk mengilhami argumen tentang berapa banyak lagi yang harus mati atau yang seharusnya mati, berapa banyak bala kelaparan, pedofilia, atau pemerasan sebelum Yesus kembali. Akhir yang Berfokus pada Kristus
Gantinya, kata-kata Yesus mengarah kepada penderitaan di seputar dan di dalam diri kita sebagai bukti yang bisa ditemukan di mana-mana tentang situasi manusia yang menyedihkan. Semua itu memberikan bukti yang meyakinkan tentang kefanaan umat manusia dan alam
Maksud Yesus adalah agar kita merangkul keunikanNya sebagai satu-satunya pengharapan umat manusia. yang menyedihkan bila berada di luar dari Dia. Maksud Yesus adalah agar kita meraih keunikan-Nya sebagai satu-satunya pengharapan umat manusia. Karena Dialah satu-satunya yang bisa menyelamatkan masa depan kita. Kita ini fana; Dia kekal. Kita lemah; Ia menakjubkan. Kita putus asa; Ia pertolongan kita di masa kesukaran. Kita bukan siapa-siapa; Ia adalah segalanya. Dan Ia berkata kepada kita, “Anak-anak-Ku, biarkan Aku selamatkan masa depanmu. Kapan pun kau melihat ke sekitarmu, bukan hanya selalu, tetapi lebih dari sebelumnya dengan berlalunya waktu dan kegenapan waktu nubuatan, ketika kau melihat kekacauan di alam, kepanikan bangsabangsa sebelum segala sesuatu yang akan datang—hal-hal fisik, hal-hal militer, halhal ekonomi—‘Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat’ [Lukas 21:28].” Jadi angkat sangkakala dan bunyikan dengan nyaring, Yesus akan datang lagi! Itulah hari esok kita; itulah pengharapan kita; itulah investasi terbaik kita; itulah keselamatan kita. Ini hanyalah suatu hal yang Yesus suruh agar disampaikan oleh Paulus dan Yohanes berabad-abad sebelum kegenapan ramalan 2300 hari dalam buku
Daniel (1 Tes. 4:13-18; Wahyu 22:6-10). Kegenapan nubuatan tidak secara tiba-tiba membenarkan untuk memandang kepada Yesus dan menjauhi diri. Tetapi, nubuatan yang diramalkan memperlihatkan kepada para pengamat jujur, tentang kebenaran mutlak dari Firman Allah yang tangan-Nya memegang waktu dan musim, yang mata-Nya melihat akhir dari permulaan, yang hati-Nya peduli tentang hari esok saya, hari esokmu, dan hari esok semua orang. Kita selalu diharapkan memandang kepada Dia dan menjauhi diri kita sendiri. “Hari esokmu itu Saya,” kata-Nya. “Hatimu tidak boleh khawatir sementara yang lain gagal karena takut; kau percaya kepada Allah, percaya bahwa Aku layak. Pastikan kau menyelamatkan masa depanmu sekarang, selama ‘hari keselamatan’ itu [2 Kor. 6:2]. Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku [Yes. 43:11]. Dan Aku kembali untuk menerimamu agar kita bisa selalu bersama-sama!” Semua analisis khotbah Yesus tentang akhir zaman dalam Matius 24 dan Lukas 21 harus menyertakan segala hubungan menyeluruh ini antara ramalan-ramalanNya tentang bencana alam, ekonomi, politik, dan rohani, dan kejadian iklim dari kedatangan-Nya yang kedua kali. Yesus
tidak menganjurkan penghitungan jumlah kejadian dan kekacauan sebagai pe nandanya. Gantinya, Dia yang menghapuskan noda masa lalu kita memastikan masa depan kita dan mendesak semua orang untuk menyelamatkan masa depan mereka, dengan berinvestasi di dalam Dia sekarang, untuk hari esok, dan selama-lamanya. Itu jauh lebih berguna dan lebih bermanfaat daripada berkutat di seputar berapa banyak yang tidak mati dan yang mati dari amukan Setan yang terakhir. Dan begitu pentingnya bagi sisa hidup kita. n *Saat saya menulis, beberapa menunggu tanggal akhir dunia (IIoward Camping’October 21 end-of-the-world date). Lihat http://www.nytimes.com/2011/05/24/us/24rapture.html
Lael Caesar adalah
seorang associate editor yang baru-baru ini bergabung dengan keluarga editor Adventist World setelah lebih dari 15 tahun melayani sebagai profesor agama di Andrews University, AS
Kedatangan Kristus
k e d ua k a l i
Kedatangan Kristus yang kedua kali adalah pengharapan berkat dari gereja, puncak Injil yang agung. Kedatangan Juruselamat itu bersifat harfiah, pribadi, terlihat, dan di seluruh dunia. Ketika Ia kembali, orang benar yang telah mati akan dibangkitkan. Dan bersama-sama dengan orang benar yang hidup akan dimuliakan dan dibawa ke surga, tetapi orang yang tidak benar akan mati. Kegenapan dari hampir semua baris nubuatan yang mendekati sempurna, serta kondisi dunia yang sekarang ini, mengindikasikan bahwa kedatangan Kristus sudah dekat. Waktu kejadian itu tidak dinyatakan, dan oleh karenanya kita didesak untuk siap kapan pun juga. (Titus 2:13; Ibr. 9:28; Yoh. 14:1-3; Kis. 1:9-11; Mat. 24:14; Why. 1:7 Mat. 24:43, 44; 1 Tes. 4:13-18; 1 Kor. 15:51-54; 2 Tes. 1:7-10; 2:8; Why. 14:14-20; 19:11-21; Mat. 24; Mrk. 13; Luk. 21; 2 Tim. 3:1-5; 1 Tes. 5:1-6).
11 - 2011 | Adventist World
21
R O H
N U B U A T
A
ku mengirimkan buku ini kepadamu dengan harapan agar catatan tentang pelayanan yang tak kenal lelah di “ dalamnya memberikan keberanian kepadamu untuk bertahan sampai konflik berakhir.� Demikian tulis Ellen White saat ia merayakan ulang tahunnya yang ke delapan puluh empat dengan mengirimkan salinan buku Kisah Para Rasul yang baru diterbitkan, kepada beberapa teman dekat dan rekan kerja. Menjawab Satu Kebutuhan
Selama lebih dari satu dasawarsa Ellen White memiliki keinginan untuk merevisi Sketches From the Life of Paul yang sudah dicetak tahun 1883. Kisah dari Kisah Para Rasul membawa kita kembali kepada buku dengan 334 halaman itu dan sejarahnya. Pelajaran sekolah Sabat kita di tahun 1881 dan 1882 menampilkan kehidupan Kristus, dan pada triwulan kedua tahun 1883 dijadwalkan untuk dipindahkan ke dalam kitab Kisah Para
Kisah Rasul Buku
Para
Hadiah berumur 100 tahun
22
Adventist World | 11- 2011
Top: HADIAH ULANG TAHUN: Salinan surat Ellen White yang dikirim kepada putranya yang menyuruh dia untuk memberikan salinan buku terbarunya kepada teman-teman dan koleganya. Bawah: Masing-masing buku disertai dengan tanda tangan pada halaman terdepan. e l l e n
g .
w h i t e
e s tat e
Rasul dan pelayanan Paulus. Para pemimpin gereja menyarankan komentar terkenal dari W.J. Conybeare dan J.S. Howson sebagai bantuan bagi para anggota dalam pembelajarannya. Ellen White sendiri telah menggunakan karya mereka dalam tulisan permulaannya tentang para rasul, dan sudah cukup jauh memikirkan untuk memberikan rekomendasinya sendiri dalam Signs of the Times: “The Life of St. Paul, tulisan Conybeare dan Howson, saya anggap buku yang sangat baik, dan hal bermanfaat yang jarang ada bagi pelajar yang sungguh-sungguh terhadap sejarah Perjanjian Baru.”1 Namun dalam waktu dekat putra Ellen White, W.C. White kemudian mengenang, “para guru Sekolah Sabat dan kaum awam mengeluh bahwa karya [764 halaman] ini terlalu besar dan terlalu berat, dan bahwa tulisan-tulisan Ny. White, dalam kesederhanaannya, akan lebih membantu bagi kebanyakan umat kita; dan dianjurkan agar Ny. White mengeluarkan satu buku yang bisa berguna sebagai bantuan pelajaran.”2 Ellen White bersama para asistennya bekerja dengan cepat untuk menghimpun apa yang ia sudah tuliskan tentang sejarah ini, di mana ia menambahkan banyak materi tambahan.3 Bulan Juni 1883, Sketches From the Life of Paul dicetak, dan salinansalinan sedang dalam proses untuk memenuhi permintaan pertemuan kamp yang akan datang. Menurut W.C. White, dua edisi dari 5.000 salinan masing-masing dicetak sebelum habis pada pertengahan tahun 1890-an. Ketika Ellen White ditanyakan tentang mencetak ulang buku itu, ia menolak saran itu, sambil mengungkapkan keinginannya untuk memperluas penyajiannya lebih jauh dalam edisi yang sudah diperbarui.4 Namun, sambil menunggu penyelesaian maksud Ellen White, diselesaikanlah Kerinduan Segala Zaman (1898), Membina Kehidupan Abadi (1900), Pendidikan (1903), dan Membina Keluarga Sehat (1905), di tengah karya lainnya. Baru pada akhir tahun 1910 ia bisa memberikan perhatian yang lebih baik untuk mengerjakan naskah yang sudah direvisi itu. Menariknya, sama seperti pelajaran Sekolah Sabat di tahun 1883 telah menggerakkan buku pertamanya tentang kehidupan Paulus, demikian pula jadwal penelitian kitab kisah para rasul untuk pelajaran Sekolah Sabat tahun 1911, yang mendesak penyelesaian edisi yang sudah direvisi. W.C. White menjelaskan bagaimana para asisten Ellen White pertama kali memerlukan sekitar lima bulan mencari apa yang telah ditulisnya tentang kehidupan dan ajaran sang rasul sebelum mulai menata ke dalam bab-bab. “Hari demi hari” naskah-naskah itu diberikan untuk dibaca Ellen White, “dan ia menandai naskah itu dengan bebas, memisah-misahkan dan menambahkan kata-kata, ungkapan, dan kalimat untuk membuat pernyataan itu lebih jelas dan kuat.” Ia mencatat, “Ibu sering memberi instruksi pada kami mengenai poin-poin penting dan yang diketahuinya telah dia tulis dan yang ia harap agar kami berusaha mencarinya dalam tulisan-tulisannya.”5 Memadukannya
Karena mengetahui bahwa buku itu tidak dapat diselesaikan pada waktunya untuk memulai pelajaran, staf Ellen White me-
nyerahkan artikel-artikel yang cocok untuk warta gereja, yang diambil dari “karya yang sedang dikerjakan.” Menulis kepada putranya W.C. White di pertengahan bulan Februari 1911, Ellen White menguraikan harapannya tentang dampak rohani buku itu kepada para pembacanya: “Sejak kau pergi, saya benar-benar sibuk menyiapkan bahan untuk “Kehidupan Paulus.’ Kami mencoba bukti-bukti Alkitabiah yang benar, dan kami percaya ini akan dihargai oleh umat kita. Saya ingin sekali memasukkan banyak hal ke dalam buku ini yang membantu para pekerja kita yang mungkin terpanggil untuk menjalani pengalaman yang sama dengan mereka yang masuk ke dalam gereja Kristen mula-mula. Ada banyak hal dalam sejarah Kisah Para Rasul ini, jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan mengilhami saudara-saudara kita dengan satu keinginan untuk mencari kehidupan rohani yang lebih tinggi dan untuk kekuatan yang lebih besar, dan untuk hikmat bekerjasama dengan wakil-wakil surgawi dalam penyelamatan jiwa-jiwa.”6 Surat-menyurat sepanjang tahun 1911 menyatakan kemajuan pesat pada naskah tersebut dan kegembiraan Ellen White ketika hampir selesai.7 “Baru-baru ini saya sangat sibuk menyelesaikan buku saya tentang Kisah Para Rasul,” tulisnya kepada cucu perempuannya Mabel di bulan September. “Saya rasa bahwa bagian saya dalam pekerjaan ini akan selesai.” Pada tanggal 6 Oktober ia bisa menulis kepada Elder Haskell, “Buku saya, Kisah Para Rasul sudah masuk mesin cetak,”8 dan enam minggu kemudian salinan pertamanya dari alat cetak sudah ada di tangannya. Cerita tentang umat Allah di abad pertama bisa mengilhami kita untuk meniru keberanian dan keyakinan mereka kepada kesetiaan Allah dengan begitu banyak kejadian membingungkan di planet kita ini. Jika engkau belum membaca buku bagus tersebut belakangan ini, perkenalkan dirimu kembali dengan pekabarannya. Hadiah ulang tahun Ellen White kepada gereja—The Acts of the Apostles—telah genap berusia 100 pada tahun ini, tetapi kisah tentang apa yang Roh Kudus bisa lakukan melalui hati yang sepenuhnya berserah, terus baru setiap hari.
n Signs of the Times, 22 Feb. 1883, hlm. 96. W. C. White, “Brief Statem‑ents Regarding the Writings of Ellen G. White,” hlm. 9, 10. 3 Hampir sepertiga materi yang ada diambil dari tulisan Ellen White, Spirit of Prophecy, vol. 3, diterbitkan di tahun 1878 (sejajar dalam serial Redemption, nomor 7 dan 8). 4 W.C. White kepada E.M. Wilcox, 1 April 1917. Beberapa orang salah duga bahwa buku itu tidak dicetak ulang untuk menghindari ancaman tuntutan hukum oleh para penerbit karya Conybeare dan Howson, karena Ellen White telah menggunakan karya mereka yang terkenal dalam menyiapkan naskahnya. Namun para penerbit buku itu menyangkal keberatan itu—atau bahkan kemungkinan untuk menuntut—karena edisi yang mereka terbitkan tidak diberi hak cipta. 5 W.C. White kepada L.R. Conradi, 8 Desember, 1911. Untuk latar belakang tambahan tentang persiapan buku, lihat Arthur L. White, Ellen G. White: The Latter Elmshaven Years, 1905-1915, hlm. 340-344. 6 Ellen G. White letter 4, 1911 (kepada W. C. White, 15 Feb. 1911). 7 Ellen G. White letter 72, 1911 (kepada Mabel Workman, 18 Sept. 1911). 8 Ellen G. White letter 80, 1911 (kepada S. N. Haskell, 6 Oct. 1911). 1 2
Tim Poirier adalah Wakil Direktur Ellen G. White Estate di kantor pusat sedunia, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Silver Spring, Maryland, AS. 11 - 2011 | Adventist World
23
K E H I D U P A N
A D V E N T
J
udul khotbahnya terbaca: “Mengapa Kita Tidak Siap untuk Pentakosta.” Itu akan menjadi teguran yang sempurna bagi anggota-anggota gereja yang malas secara rohani! Pikir Atonte Myers, istri dari pendeta gereja itu, Ivor Myers. Namun setelah mendengar khotbahnya, Atonte mulai menyadari kebutuhannya sendiri terhadap kebangunan. Ia disadarkan tentang kondisinya yang berdosa, dan bersama dengan anggota gereja yang lain hari itu, ia berdiri ketika suaminya berseru kepada jemaat untuk melakukan 10 hari berturut-turut berdoa meminta pencurahan Roh Kudus. Ini bu-
ke gereja setelah bertahun-tahun! Kami bergembira dan mengetahui bahwa Allah sedang menjawab doa-doa kami.” Pengalaman ini memberikan ide pada keluarga Myers: Bagaimanakah kalau gereja-gereja lain di daerah itu bergabung bersama mereka dalam 10 hari berdoa? Bagaimanakah kalau seluruh konferens berdoa bersama? Atau seluruh gereja dunia? Pendeta Myers dengan cepat mendapatkan dukungan dari Jerry Page, yang menjadi ketua Konferens Kalifornia Tengah saat itu, dan lahirlah pergerakan doa akar rumput yang dikenal sebagai Operation Global Rain (OGR).
O p e r at i o n
Global Raın Oleh Janet Page
kan khotbah 10 hari—tetapi tentang berdoa dan menderita bersama Allah meminta berkat Roh-Nya. Tiap malam sampai sekitar 70 anggota dari gereja Myers di California mendoakan topik tertentu seperti pertobatan sejati, pengampunan, kesaksian, dan permasalahan keluarga. “Kami berdoa dengan kalimat pendek gantinya satu orang yang melayangkan doa panjang,” kata Atonte. “Itu membuat waktu berlalu dengan cepat dan membuat semua orang tetap fokus berdoa.” Layanan Perjamuan yang diadakan pada malam terakhir menuntun pada rekonsiliasi dan “menyediakan banyak kesembuhan bagi gereja kami,” kata Atonte. “Orang-orang yang tidak berbicara satu sama lain selama bertahun-tahun menangis, berangkulan, dan saling memaafkan atas kemarahan dan kebencian mereka. “Sabat berikutnya gereja jadi padat!” ia menambahkan. “Beberapa orang masuk begitu saja dari jalanan sementara yang lain merasa terkesan untuk kembali
24
Adventist World | 11- 2011
Satu isisiatif doa yang berakar meliputi seluruh dunia
Mendukung Kebangunan
Tidak seorang pun mengharapkan apa yang terjadi berikutnya. Ide ini menyebar luas dengan cepatnya, dan dalam waktu dekat lebih dari 1.800 gereja di 80 negara mendaftar untuk berpartisipasi dalam OGR sedunia pertama, yang diadakan bulan Januari 2007. Kesaksiankesaksian membanjir setelah itu yang memberitakan kebangunan gereja-gereja, jiwa-jiwa yang bertobat, hasrat yang diperbarui untuk penginjilan, dan hubungan yang pulih. “Tuhan memperlihatkan kepada saya bahwa hanya melalui sikap yang rendah hati, pertobatan sejati, dan berdoa bersama sebagaimana yang dilakukan para rasul, maka kita akan mengalami kebangunan dan menerima pencurahan Roh Kudus yang diperlukan untuk menyebarkan pekabaran ke seluruh dunia,” kata Atonte. Setiap bulan Januari sejak saat itu, ratusan gereja di seluruh dunia telah berpartisipasi dalam insiatif doa ini.
OGR Digabung dengan Kebangunan dan Reformasi
Sebagai bagian dari inisiatif Kebangunan dan Reformasi General Confe rence, Komite Eksekutif gereja dunia pada Dewan Tahunan 2010 yang digelar di Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat, memutuskan untuk membuat doa 10 hari OGR menjadi acara dunia tahunan setiap bulan Januari. OGR sedunia berikutnya telah dijadwalkan pada tanggal 4-14 Januari 2012, dan akan fokus pada pertemuan doa sehari-hari. Hari terakhir, Sabat, akan menampilkan satu perayaan yang istimewa. Pacific Press Publishing Association telah mencetak satu buku karya Mark Finley berjudul 10 Days in the Upper Room untuk digunakan sebagai sumber bahan. Dapat dibeli di Balai Buku Advent setempat atau online di www.adventistbookcenter.com. Jemaat-jemaat gereja, kelompok-ke lompok kecil, atau individu-individu yang tertarik menjadi bagian dari OGR
d av i d
s h e r w i n
2012 bisa mengunjungi www.revivalandreformation.org dan klik pada “Operation Global Rain” untuk mendaftar bagi acara itu. Lembaran topik harian juga akan tersedia di website agar para anggota setempat, para pemimpin doa, dan pendeta bisa memimpin dalam waktuwaktu doa kelompok yang efektif. Masing-masing kelompok dianjurkan menyisihkan satu jam setiap hari untuk berdoa bersama. Individu-individu dianjurkan berdoa sendiri atau bersama beberapa orang teman jika mereka tidak dekat dengan gereja yang turut serta. Para partisipan harus mengingat perkataan Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:8: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku.” Selama jam berdoa setiap hari, doadoa berkalimat pendek dianjurkan agar masing-masing orang bisa berdoa lebih dari sekali. Ini membantu pertemuan itu tetap fokus dan menghindari doa-doa yang berpotensi menjenuhkan. Ellen White berkata: “Banyak doa-doa yang panjang dan bertele-tele. Mereka membuat para malaikat dan orang-orang yang mendengarnya menjadi jemu. Doa-doa kita harus pendek dan langsung pada sasaran. Biarlah permohonan-permohonan panjang dan yang membosankan dilakukan di tempat tersendiri, kalau ada yang harus melakukannya. Biarlah Roh Allah masuk ke dalam hatimu, dan itu akan menghapuskan semua formalitas yang gersang.”1 Waktu-waktu berdoa harus berdasarkan pada Firman Allah. Bisa mulai dengan pujian dengan melayangkan doa
Ide-ide untuk ▶▶ ▶▶ ▶▶ ▶▶ ▶▶
mazmur atau ayat alkitabiah pujian yang lain. Ketika kita mendoakan keselamatan seorang individu, akan membantu meminta janji seperti pada Yeremia 24:7. “Doa-doa kita haruslah dipenuhi dengan Firman Allah,” kata Page, yang sekarang menjadi sekretaris GC Ministrial Association. “Kita ingin memastikan bahwa kita sedang berdoa menurut kehendak-Nya.” Ia menambahkan, “Kita berharap dan berdoa agar setiap gereja, pegawai gereja, kelompok kecil, dan individu-individu akan turut serta dalam satu usaha gabungan dalam doa demi kecurahan Roh Kudus. Kita mengetahui bahwa hanya melalui pencurahan kehadiran dan kuasa Roh Kudus maka kita akan diberi kekuatan untuk menjangkau dunia dengan kasih Yesus agar Ia bisa datang dengan sangat segera.” Ellen White menekankan kebutuhan yang sama: “Satu rantai orang-orang percaya yang berdoa dengan sungguh-sungguh harus melingkari dunia. Biarlah semua doa itu dilakukan dalam kerendahan hati. Beberapa orang tetangga dapat berkumpul untuk berdoa meminta Roh Kudus. Biarlah mereka yang tidak bisa meninggalkan rumah, mengumpulkan anak-anak mereka dan bergabung belajar berdoa bersama. Mereka bisa meminta janji Juruselamat: ‘Di mana ada dua atau tiga orang berkumpul bersama dalam nama-Ku, maka di situlah Aku berada di tengah-tengah mereka.’”2 Setiap Doa itu Penting
Ketua gereja dunia Ted N.C. Wilson, memimpin inisiatif Revival dan Refor-
Oleh Janet Page
Doa1O Hari
Mintalah Allah menyiapkan hatimu untuk pengalaman 10 hari itu. Mintalah satu orang atau lebih untuk bergabung denganmu, atau ajukan kepada pendeta untuk membuat ini sebagai acara segereja. Pilihlah waktu yang nyaman untuk berdoa bersama. Sisihkan satu jam setiap hari untuk doa bersama, kalau bisa. Mulailah dan akhiri waktu berdoa kelompokmu dengan pujian dan ucapan syukur. Pilihlah Mazmur yang dapat diterapkan dalam doa. Ucapkan doa dengan kalimat pendek agar tiap orang bisa berdoa lebih dari sekali dan membiarkan Roh Kudus memberi kesan bagaimana kamu berdoa.
▶▶ ▶▶ ▶▶
▶▶
▶▶ ▶▶
masi sedunia, menggambarkan surga “gelisah menunggu umat Allah bangkit dan mencari berkat Roh Allah. Janji Allah, ‘Mintalah maka kamu akan menerimanya,’ itu pasti,” kata Wilson. “Ia akan menjawab doa-doa bagi pencurahan Roh Kudus. Penyelesaian pekerjaan Allah tidak datang hanya karena lebih banyak usaha atau metode-metode yang berbeda. Roh Allah itulah yang bekerja dalam hidup umat-Nya yang akan secara efektif menerangi dunia dengan kemuliaan Allah agar Yesus bisa datang kembali.” Masing-masing dan setiap doa anggota diperlukan dalam pekerjaan penting ini. Setiap doa yang bersungguh-sungguh meminta Roh Kudus akan dijawab dengan kuasa karena Allah tidak menunggu kondisi dunia memburuk, tetapi agar umat-Nya bersatu mencari Dia. Untuk bergabung dengan orang lain mencari Roh Allah dalam kehidupan mereka selama doa 10 hari, tanggal 4-14 Januari 2012, kunjungi www.revivalandreformation.org dan klik pada “Operation Global Rain.” n 1 2
Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 4, hlm. 71. Ellen G. White, in Advent Review and Sabbath Herald, 3 Jan. 1907.
Janet Page adalah associate secretary untuk pelayanan doa, istri dan keluarga pendeta untuk General Conference Ministrial Association, dan menulis dari Silver Spring, Maryland, AS.
Buatlah waktumu lebih berarti dengan menggunakan waktu lebih banyak untuk berdoa bukan dalam diskusi. Sisihkan waktu pribadi bersama Allah menambah waktu-waktu doa kelompok. Pertimbangkan beberapa macam puasa, seperti puasa dari TV, musik duniawi, film, internet, atau makanan penutup. Gunakan waktu ekstra untuk berdoa dan membaca Alkitabmu. Mintalah Allah menyatakan diri-Nya kepadamu. Ajukan saran kepada pendetamu untuk mempromosikan doa 10 hari di gerejamu dengan membagikan kesaksian tentang bagaimana Allah telah bekerja dalam doa bersatu. Pada kedua Sabat selama 10 hari itu sertakan doa fokus khusus. Mintalah Allah untuk memperlihatkan kepadamu lima orang untuk didoakan selama 10 hari itu. Untuk ide-ide lebih lanjut kunjungi www.revivalandreformation.org
11 - 2011 | Adventist World
25
P ERTA NYA A N A L K I TA B
Apakah umat Advent percaya dengan karunia menyembuhkan?
keragu-raguan. 2. Pengalaman karunia itu sekarang dan di masa yang akan datang: Karunia itu masih ada dalam gereja-Nya, tetapi Tuhan masih memilih kapan dan bagaimana memperlihatkanentu saja. Menurut Kitab Suci, Allah bisa menjawab doa- nya. Mukjizat-mukjizat penyembuhan terjadi di tengah umat sisa Allah di seluruh dunia menjawab doa para pendeta dan doa kita dan menyembuhkan mereka yang kita doakan anggota yang bersungguh-sungguh. Ini terjadi secara sporadik, (Yakobus 5:13-15). Beberapa orang memiliki kesulitan terpisah dari satu sama lain, melalui kehadiran Roh yang diammemahami sifat dari karunia ini untuk setidaknya dua alasan: diam di tengah kita. Tuhan barangkali memilih untuk melakuPertama, akan terlihat bahwa pertunjukan karunia itu sekarang kannya dengan cara ini karena pada penutupan konflik kosmik, ini tidak sama dengan yang ada selama periode rasul-rasul: dan kekuatan iblis akan menggunakan mukjizat-mukjizat untuk kedua, persepsi kita mengenai itu telah dinodai oleh apa yang mensahkan pernyataan mekita lihat di tengah gerejareka yang katanya dari Allah gereja Kristen Karismatik. Be(Why. 13:13; 16:14). Keselaberapa orang cenderung permatan kita bukan dalam caya bahwa karunia itu harus mukjizat-mukjizat dan pememperlihatkan diri di tengah nyembuhan tetapi dalam kita dengan cara yang sama di ajaran Kitab Suci. tengah komunitas-komunitas Saat kita semakin dekat Kristen itu. dengan akhir dari konflik kos1. Itu adalah karunia mik, kemurtadan dan kekaAllah: Satu fenomena yang cauan akan mencari dimensi menarik dalam Kitab Suci daglobal, dan Allah akan memlam hal mukjizat dan penyemperlihatkan kekuatan Roh dabuhan adalah bahwa hanya lam cara yang paling mulia. Ia Oleh ada sedikit sekali! Sejarah yang akan memperbesar pertunAngel Manuel tercatat dalam Alkitab mencajukan Roh di tengah kita, dan kup satu periode beberapa RodrĂguez nubuatan Yoel akan menemui ribu tahun. Telitilah keselukegenapan akhirnya (Yoel ruhan, maka Anda akan me2:28-32). Allah akan mensahnyadari bahwa mukjizat dan kan pekabaran dan misi umat penyembuhan itu tidak terjadi sisa-Nya melalui Kitab Suci sesering yang dipikirkan sesedan melalui pertunjukan heorang. Jika Anda menghitungbat dari kuasa Roh. nya menghitungnya, maka Anda akan menyadari bahwa bukan 3. Penyembuhan dan obat: Kini kita mengalami karunia hanya jumlahnya yang terbatas, tetapi kejadiannya juga terjadi penyembuhan melalui layanan medis—ya, layanan medis. Yesus sebagai himpunan pada titik waktu sejarah tertentu. Misalnya, mengalahkan kuasa Iblis melalui penyembuhan-penyembuhansejumlah besar dari antaranya terjadi selama masa keluar dari Nya, dan sekarang Ia dapat melakukannya melalui mereka yang Mesir. Inilah saat krisis ketika Allah harus memperlihatkan menemukan cara-cara untuk mencegah, menyembuhkan, dan kuasa-Nya untuk menunjukkan bahwa Dialah Allah yang bemenangani penyakit-penyakit. Mereka yang terlibat dalam penar. Mukjizat-mukjizat dilakukan dalam jumlah yang luar biasa kerjaan misionaris medis dan riset berpartisipasi dalam konflik selama pelayanan Elia dan Elisa. Ini adalah masa kemurtadan besar di Israel, dan Allah sedang memperlihatkan bahwa Ia ada- kosmik pada tingkatan sel, dan Tuhan memberikan mereka kebijaksanaan untuk bersama dengan Dia membawa penyemlah Allah orang Israel yang benar. Kita menyaksikan satu pertunjukan besar mukjizat penyem- buhan kepada dunia yang sedang tertekan dan menderita. Hikbuhan dalam pelayanan Yesus dan para rasul. Pertunjukan unik mat yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan adalah karuniaNya kepada gereja-Nya untuk berguna bagi umat manusia. tentang kuasa ilahi semacam itu memiliki beberapa maksud. Oleh sebab itu pekerjaan misionaris medis, yang dilakukan oleh Yang paling inti adalah untuk mensahkan misi ilahi dan keasorang-orang yang mengabdi kepada Tuhan yang hanya mencari lian pekerjaan Yesus. Tetapi pada seluruh sejarah Alkitab kita kemuliaan bagi-Nya saja, adalah pertunjukan yang benar dari juga menemukan pertunjukan yang terpencar-pencar dari kakarunia penyembuhan yang melebihi batasan-batasan gereja runia penyembuhan ini. Dengan kata lain, karunia itu permadan berasal dari Tuhan kita yang Mahakuasa. n nen di tengah umat Allah, tetapi Allah yang memilih kapan memperlihatkannya dalam cara yang lebih berkuasa atau lebih ajaib. Ini terjadi dalam saat krisis ketika Allah menyatakan Angel Manuel RodrĂguez baru-baru ini pensiun sebagai Direktur bahwa Ia sedang aktif melayani umat-Nya untuk mensahkan Biblical Research Institute of the General Conference. pekerjaan mereka dan membantu mereka yang ada dalam P E R TA N YA A N :
T
Karunia Menyembuhkan
26
Adventist World | 11- 2011
P E L A J A R A N A L K I TA B
Menghadapi Khawatir danTakut Oleh Mark A. Finley
Banyak orang Kristen diliputi rasa khawatir. Rasa takut memproyeksikan skenario kasus terburuk di layar pikiran mereka. Kedua musuh kembar iman ini—khawatir dan rasa takut—merampok kegembiraan mereka dalam kehidupan Kristen. Pengharapan hilang lenyap seperti bayangan, dan mereka hidup dalam pesimisme yang suram dari pikiran-pikiran yang penuh rasa takut itu. Apakah Allah memiliki jawaban untuk pikiran yang khawatir dan hati yang bermasalah? Tentu saja. Pertama, mari kita akui bahwa kita khawatir sepanjang waktu. Rasa khawatir adalah bagian dari kehidupan di dunia yang jatuh ini. Kita bisa saja prihatin dengan kesehatan kita, anak-anak kita, atau keuangan kita. Tetapi rasa khawatir dan takut menjadi kekuatan negatif dalam hidup kita ketika kita fokus pada mereka dan terserap olehnya. Dalam pelajaran Alkitab ini kita akan pelajari bagaimana mengubah fokus kita pada kenyataan kasih, pemeliharaan, dan kehadiran Allah dalam hidup kita.
1. Bedakan pengalaman murid-murid-Nya dan pengalaman Yesus selama badai di Laut Galilea. Mengapa para murid begitu ketakutan? Mengapa Yesus begitu tenang?
“Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka muridmurid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’ Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’ Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’” (Markus 4:37-40). Pada hal apakah murid-murid itu memusatkan pikirannya? Apakah yang memenuhi pikiran Yesus?
2. Ajakan apakah yang diberikan kepada kita ketika terbebani dengan kekhawatiran, kegelisahan, dan rasa takut?
“Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Ptr. 5:7).
segala
kepada-Nya.
Bahasa Yunani asli untuk “serahkan” benar-benar berarti membuang semua beban kita ke atas sesuatu. Kata-kata ini bisa diterjemahkan, “Buangkan semua beban kekhawatiran dan kegelisahannya ke atas Yesus. Ia sepenuhnya mampu mengatasinya.”
3. Apakah hasilnya membuang semua kekhawatiran kita ke atas Yesus, mempercayai bahwa Ia benar-benar mampu mengatasinya?
“Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal” (Yes. 26:3, 4). Kita menerima damai
.
11 - 2011 | Adventist World
27
4. Kita tidak perlu mengendalikan semua pemikiran yang melintas di pikiran kita. Ketika kekhawatiran menyusup masuk, nasihat apakah yang Yesus berikan kepada kita?
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat. 6:33, 34)
Ini adalah masalah prioritas; kita harus memusatkan pikiran kita kepada Yesus. Ia mengasihi kita. Ia peduli pada kita. Ia rindu agar kita memiliki kehidupan yang berbahagia dan berkelimpahan. Masalah hari esok akan datang, tetapi Ia sepenuhnya mampu mengatasinya. Marilah kita hadapi tantangantantangan yang kita temui dalam kekuatan-Nya hari ini, dan kita akan diperlengkapi untuk mengatasi apa pun tantangan hari esok.
5. Di manakah kita menemukan kekuatan untuk mengatasi rasa takut kita yang paling dalam?
“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh. 4:18, 19). Di dalam
tidak ada
.
Kekuatan untuk mengatasi rasa takut dan kekhawatiran ditemukan dalam kasih Allah. Mengetahui bahwa Ia mengasihi kita, dan bersandar dalam kasih itu, melepaskan kita dari efek rasa takut yang melumpuhkan dan menyiksa.
6. Darimanakah asalnya rasa takut itu? Apakah rasa takut, kekhawatiran, dan kegelisahan itu berasal dari Allah?
“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Tim. 1:7).
Rasa takut dan kekhawatiran tidak berasal dari Allah. Kadang-kadang kekhawatiran itu akibat dari keadaan dalam kehidupan yang ada di luar kendali kita. Lain waktu itu mungkin satu emosi yang kita sendiri telah tanamkan selama bertahun-tahun. Tentu saja, Setan di balik semua emosi negatif yang mencoba merenggut sukacita kehidupan yang sesungguhnya. Kuasa Allah itu cukup untuk memberikan kita kerangka pikiran yang “baik” atau sehat, bebas dari siksaan rasa khawatir.
7. Bagaimana rasul Paulus menggambarkan tujuan akhir Allah bagi masing-masing orang Kristen yang setia?
“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Rom. 15:13). Allah ingin kita dipenuhi dengan
,
, dan
.
Alkitab menyebutkan pengharapan puluhan kali. Allah rindu agar kita dipenuhi dengan pengharapan, bukan rasa takut. Tujuan-Nya adalah kehidupan yang bersukacita dan damai sejahtera. Mengapa tidak menyerahkan semua kekhawatiran dan rasa takutmu kepada Dia dengan mengucapkan doa sederhana ini? “Tuhan, aku mengakui bahwa kadang-kadang aku fokus pada masalah bukan pada solusinya. Kadang-kadang aku kewalahan dengan rasa khawatir dan rasa takut. Sekarang aku memilih untuk membuang semua perkaraku kepada-Mu. Aku percaya Kau benar-benar mampu menanganinya. Dengan iman aku menerima kedamaian, sukacita, dan pengharapan yang Engkau berikan padaku sekarang ini. “Dalam nama Yesus, amin.”
28
Adventist World | 11- 2011
Dari Pelosok Dunia S U R AT Perlindungan Allah bagi Umat-Nya
Saya begitu terkagum-kagum dengan cerita sampul berjudul. “The Hiroshima Miracle,” oleh Ryoko Suzuki (Agustus 2011). Disebutkan bahwa tidak ada anggota Advent yang terluka atau mati selama pemboman Perang Dunia II di Hiroshima. Ini menunjukkan bahwa Allah mampu melindungi umatNya di masa-masa kesulitan, sebagaimana Daud katakan dalam Mazmur 91:4-7. Janji-Nya untuk melindungi selalu ada selama kita setia. Beberapa dari kita menderita karena tidak percaya (kurang iman), tetapi saya tahu bahwa Ia bisa menyediakan yang lainnya kalau saja kita percaya kepada Dia.
Simpe Jao
Laveen, Arizona, Amerika Serikat Menemukan Kembali Penyembahan Sejati
Saya ingin mengekspresikan rasa syukur saya kepada Adventist World dan kepada ketua General Conference Ted N.C. Wilson untuk wawancara dengan Bill Knott yang berjudul “Menemukan Kembali Penyembahan Sejati” (Agustus 2011). Penjelasan indah yang diberikan oleh Wilson tentang ibadah sejati—dan juga penekanan tentang pentingnya kebangunan dan reformasi—memberi semangat. Itu juga cocok untuk masa sekarang, ketika begitu banyak kompromi dengan dunia terlihat di sekeliling, di saat begitu banyak yang berpusat pada diri sendiri, sombong, mementingkan diri, dan memandang rendah kebenaran. Saya bergembira mengetahui beban ketua GC itu adalah menekankan pentingnya permasalahan ini dengan gereja sekarang. Kita memang memerlukan pencu-
Kita harus memperjuangkan persamaan sebagai orang-orang percaya, dan menaruh fokus kita pada Allah, yang memandang kita semua sama. — Tovimbanashe Sayi Silang, Cavite, Filipina
rahan Roh Kudus untuk membarui dan membangunkan kita! Betapa gentingnya bagi kita sekarang untuk memusatkan pandangan pada Kristus, memikirkan jalan-jalan ke atas, dan tidak membiarkan dunia sekitar meremas kita ke dalam cetakannya! Ini merupakan waktu yang amat penting bagi kita sebagai para pengikut Kristus untuk mengasingkan diri dari khalayak ramai dan menjadi teladan seperti Daniel dan teman-temannya. Terima kasih banyak karena telah menyajikan dan memberitahukan dunia nilai dan pentingnya “ibadah sejati.”
Litton Prosad Mowalie Dhaka, Bangladesh
Wawancara Bill Knott dengan Ted Wilson, dan respons-respons Wilson, tepat waktu dan cocok dengan kebutuhan gereja sekarang ini. Sebenarnya, ini seperti sudah diatur Tuhan bukan sekadar kebetulan bahwa pelajaran Sekolah Sabat yang sekarang membahas topik ibadah. Analisis Wilson yang ringkas tentang ibadah dalam konteks pekabaran tiga malaikat perlu lebih banyak penekanan di gereja kita sekarang ini. Pekabaran khusus dalam Wahyu 14 adalah, pertama-tama merupakan satu panggilan untuk menyembah Allah yang benar, diikuti oleh panggilan meninggalkan sistem ibadah palsu di dunia, dan akhirnya, satu panggilan untuk bergabung dengan para penyembah sejati, yang “memelihara hukum Allah dan memiliki kesaksian tentang Yesus.”
Dalam segala daya upaya penginjilan, kita harus menempatkan penekanan yang lebih kuat tentang inti dari panggilan menuju penyembahan yang benar itu, yang meliputi seluruh buku Wahyu, dan menghubungkan semua implikasi nubuatan dari buku itu kepada tema inti ini. Ini terutama penting memandang kecenderungan budaya modern sekarang ini untuk “menyembah” bintang-bintang olahraga, bintang film, “American idols,” dll., belum lagi posisi, gengsi, dan kekayaan.
Chris Ederesinghe Berasal dari Sri Langka
Lima, Dua, dan Satu Itu Sama
Saya terangkat oleh artikel Richard A. Sabuin “Lima, Dua, dan Satu itu Sama” (Agustus 2011). Ini memperlihatkan kepada saya bahwa kita harus memperjuangkan persamaan sebagai orang-orang percaya, dan menaruh fokus kita pada Allah, yang memandang kita semua sama. Jika kita bisa memiliki semangat seperti itu sebagai satu gereja, maka kita bisa menjadi puas dengan bagaimana Allah menggunakan masing-masing kita. Musuh senantiasa siap dan menunggu mencerai beraikan domba-domba Allah agar ia bisa melahap kita. Mari kita tetap bersatu dalam roh sambil menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali.
Tovimbanashe Sayi Silang, Cavite, Filipina
11 - 2011 | Adventist World
29
Dari Pelosok Dunia S U R AT Kebahagiaan atau Keputusasaan
Artikel Jung Park “Kebahagiaan atau Keputusasaan?” (Agustus 2011) memberikan saya visi untuk mengalahkan keputusasaan yang saya rasakan. Ya, benar. Kita tidak dapat mengelak dari penderitaan. Suka atau tidak, itu akan datang. Tetapi kita diberkati karena kita memiliki kuasa dan kemampuan untuk memilih. Kekuatankekuatan negatif bisa mendesak kita—sebagai orang-orang Kristen yang dewasa kita tidak membiarkan diri jatuh terlalu jauh—dan itu bisa menyebabkan kita bertekuk dan jatuh. Tetapi kabar baik! Kita bisa bertumbuh di dalam Kristus. Di dalam Dia perhatian kita ditarik kepada suasana keyakinan yang bertumbuh. Jika kita pelihara masalah, maka hal itu akan membekukan hubungan kita dengan Tuhan, dan ketaatan kita kepada Dia tidak akan diperkuat. Tetapi dalam pergumulan batin individual, kita dapat memperoleh jaminan pengharapan berkat itu untuk meminta sentuhan-Nya, melalui kuasaNya—dan pilihan kita.
Ya, situasi-situasi sulit memang menghadang kita, tetapi Allah memiliki satu maksud untuk menggenapi dan menyelesaikan misi-Nya di dalam kita.
Estrella Jordan Geneva, Switzerland
Pekerjaan ADRA
Artikel berita Anda bulan April 2011 tentang pekerjaan ADRA di Haiti telah menjadi rangsangan kuat bagi kami di Aru, di mana di situ juga terjadi bencana (peperangan dan efeknya). Kita memiliki anggota gereja baru dan aktif, tetapi orang-orang masih menyembah nenek moyang mereka dan yang lainnya. ADRA, sebagaimana yang mereka lakukan di Haiti, bisa melakukan lebih banyak bagi penduduk di Aru.
Jules Kiza Ibona
Aru, Distruk Ituri, Republik Demokrasi Kongo
Follow the Bible Saya terutama sangat senang atas terbitan Adventist World bulan Juli 2011. Di antara yang lainnya, saya sudah membaca artikel “Follow the Bible” dan “Biarkan Dunia Membentukmu,” yang benarbenar telah mengilhami dalam perjalanan Kristen saya. Saya berterima kasih kepada Allah atas pekerjaan besar yang Anda lakukan dalam kebun anggur-Nya.
Wamangoli Dickson Kiboga District, Uganda
Tata Cara Kolom Surat: Silakan kirim surat Anda ke editor Adventist World: letters@adventistworld.org. Isi surat itu harus jelas dan langsung pada maksudnya, maksimum 250 kata. Pastikan untuk menuliskan nama artikel yang dimaksud, tanggal diterbitkan dan halaman artikel tersebut. Juga informasikan nama Anda, kota, provinsi dan negara dari mana Anda mengirim surat tersebut. Surat tersebut akan diedit dan disesuaikan dengan kolom yang masih tersedia. Perlu diketahui bahwa tidak semua surat yang akan ditampilkan.
RUANG DOA Saya mengetahui Allah melakukan mukjizat-mukjizat. Tolong doakan agar saya tidak berkecil hati dan agar Allah menolong saya untuk mendaftar di sekolah teologi. Saya percaya bahwa masalah dalam pernikahan saya akan diselesaikan dengan damai dalam nama Yesus. Saya mengandalkan doa-doa Anda, saudarasaudari dalam Kristus. Terimakasih!
Asa, Kenya Tolong doakan sekolah dan biaya kami. Saya tahu ini adalah masa ekonomi yang sulit dan orangtua benar-benar merasakan efeknya. Sekolah kami rata-rata me-
30
Adventist World | 11- 2011
miliki 80-85 siswa; sejauh ini hanya 25 siswa yang sudah mendaftar.
Veronica, Amerika Serikat Saya minta tolong doakan saya. Saya seorang ibu baru dan kadang-kadang ketakutan. Saya berdoa meminta hikmat untuk membesarkan anak saya.
Janine, Afrika Selatan Tolong doakan saya agar menjauhi dosa dalam kehidupan sehari-hari saya. Saya benar-benar ingin menjadi perwakilan Allah ke mana pun saya pergi dan dalam hal apa pun yang saya lakukan. Tolong doakan juga anggota keluarga yang “tersesat” yang tidak lagi ke gereja. Dan
akhirnya tolong doakan agar Allah membuat jendela berkat-Nya bagi saya agar bisa membayar semua utang saya—kadang-kadang saya rasa utang-utang telah menjauhkan saya dari Allah
Syalvia, Malaysia
Tata cara untuk Ruang Doa: Kirimkan permohonan doa saudara ke: prayer@adventistworld.org. Kirimlah kepada kami permohon an doa dan rasa syukur saudara (berterima kasih atas jawaban doa). Tuliskan secara singkat dan padat, maksimum 75 kata. Permohonan doa saudara akan diedit untuk maksud yang jelas dan disesuaikan dengan kolom yang tersedia. Walaupun kami akan mendoakan setiap permohonan doa yang masuk pada saat kami mengadakan pertemuan staf mingguan, tidak semua yang masuk akan dicetak. Sertakan nama saudara dan negara di mana saudara tinggal. Saudara juga dapat mengirimkan melalui fax: 1-301-680-6638; atau mengirim surat ke Adventist World, 12501 Old Columbia Pike, Silver Spring, MD 20904-6600 U.S.A.
“Lihatlah, Aku Datang Segera…”
PERTUKARAN IDE
Misi kami adalah untuk meninggikan Yesus Kristus, mempersatukan umat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di mana saja dalam iman, misi, kehidupan, dan pengharapan.
Setia Sepanjang Masa
A
nda akan mendapati tampilan khusus tentang penatalayanan pada terbitan Adventist World ini (“Giving It All,” oleh Penny Brink). Di bawah adalah beberapa kata semangat tentang topik itu dari Robert Lemon, bendahara General Conference: “Kesetiaan anak-anak Allah dalam persepuluhan dan persembahan mereka, sekalipun di masa perekonomian yang sulit, itu menguatkan iman. Seorang mungkin berharap bahwa persepuluhan akan berkurang dengan persentasi penurunan para anggota, tetapi ternyata bukan itu yang terjadi. Beberapa orang yang selama ini tidak seteliti seharusnya dalam persepuluhan selama masa perekonomian yang baik menyadari bahwa semua berkat, termasuk pekerjaan, merupakan berkat dari Tuhan, dan berusaha membuat segala sesuatunya benar. Berkat-berkat yang dijanjikan dalam Maleakhi 3:10 dapat diterapkan baik di masa sulit maupun di masa perekonomian yang baik. Bagaimanakah menurut Anda? Kami ingin mendengar pendapat Anda tentang topik ini. Kirimkan surat, komentar, dan / atau kisah-kisah pendek Anda kepada kami di The People’s Place, Adventist World, 12501 Old Columbia Pike, Silver Spring, Maryland 20904-6600; faks. 301-680-6638; email: marank@gc.adventist. org. Hitungan kata maksimal adalah 300 per kiriman. Tolong sertakan nama dan lokasi Anda menulis.
Awal Sebuah Kisah
Seorang anak laki-laki memutuskan untuk pergi ke gereja
B
A b e l
Lu t h u l i
ahkan sebelum ia mulai masuk kelas satu, Bernard yang sekarang berusia 7 tahun telah memilih satu gereja untuk beribadah. Bernard jadi tertarik dalam aktivitas-aktivitas gereja di bulan Februari 2010 selama satu usaha penginjilan di Klinik Geja dekat Sanyati, Zimbabwe. Ketika guru barunya bertanya tentang gerejanya, ia menyebutkan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Katsime. Bernard dengan berani memberitahu ibu dan ayahnya bahwa ia suka ke gereja pada hari Sabat, dan setiap Sabat pagi ia bersiap ke gereja. Ayahnya seorang yang tidak percaya, mengizinkan putra bungsunya dari keenam anaknya untuk ke gereja, sambil meminta istrinya untuk menyiapkan pakaiannya. Tidak lama setelah Bernard mulai ke gereja, seorang teman bergabung dengannya, dan anak-anak itu pergi bersama-sama. Ibu Bernard mengikuti gereja Katolik Roma, tetapi karena keinginan kuat putranya untuk ke gereja Advent, ia membiarkannya pergi setiap Sabat. Baru-baru ini ia meminta anggota gereja Advent untuk mendoakan mereka. Kita doakan agar melalui kuasa Allah pekerjaan Roh Kudus membuahkan hasil dengan bergabungnya orang tua dan anak mereka—dan akhirnya menjadi anggota Gereja Advent.
—Juta Makanda, Sanyati, Zimbabwe
Penerbit Adventist World adalah majalah periodik internasional milik Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Sedunia. Divisi Asia-Pasifik Utara adalah penerbitnya. Penerbit Eksekutif Bill Knott Wakil Penerbit Claude Richli Manajer Percetakan Internasional Chun, Pyung Duk Dewan Penerbitan Ted N. C. Wilson, ketua; Benjamin D. Schoun, wakil ketua; Bill Knott, sekretaris; Lisa Beardsley; Daniel R. Jackson; Robert Lemon; Geoffrey Mbwana; G. T. Ng; Daisy Orion; Juan Prestol; Michael Ryan; Ella Simmons; Mark Thomas; Karnik Doukmetzian, penasihat hukum Komite Koordinanasi Adventist World Lee, Jairyong, ketua; Akeri Suzuki; Kenneth Osborn; Guimo Sung; Chun, Pyung Duk; Han, Suk Hee Pemimpin Redaksi Bill Knott Redaksi Bertempat di Silver Spring, Maryland Lael Caesar, Gerald A. Klingbeil (associate editor), Sandra Blackmer, Stephen Chavez, Wilona Karimabadi Mark A. Kellner, Kimberly Luste Maran, Gina Wahlen Redaksi Bertempat di Seoul, Korea Chun, Pyung Duk; Chun, Jung Kwon; Park Jan Mae Editor Online Carlos Medley Koordinator Teknik Merle Poirier Editor-at-large Mark A. Finley Senior Advisor E. Edward Zinke Asisten Eksekutif Redaksi Rachel J. Child Para Asisten Redaksi Marvene Thorpe-Baptiste Alfredo Garcia-Marenko Pelayanan Pembaca Merle Poirier Pengarah Seni dan Desain Jeff Dever, Fatima Ameen Para Penasihat Ted N. C. Wilson, Robert E. Lemon, G. T. Ng, Guillermo E. Biaggi, Lowell C. Cooper, Daniel R. Jackson, Geoffrey Mbwana, Armando Miranda, Pardon K. Mwansa, Michael L. Ryan, Blasious M. Ruguri, Benjamin D. Schoun, Ella S. Simmons, Alberto C. Gulfan, Jr., Erton Köhler, Jairyong Lee, Israel Leito, John Rathinaraj, Paul S. Ratsara, Barry Oliver, Bruno Vertallier, Gilbert Wari, Bertil A. Wiklander Kepada Para Penulis: Silakan mengirimkan naskah yang siap diterbitkan, melalui alamat redaksi 12501Old Columbia Pike, Silver Spring, MD 20904-6600, U.S.A. Atau melalui fax: +1 (301) 680-6638 E-mail: Internet: worldeditor@gc.adventist.org Situs: www.adventistworld.org Kecuali diberitahu, semua kutipan ayat Alkitab diambil dari ALkitab Terjemahan Baru. © 1974 Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Digunakan dengan izin. Adventist World diterbitkan setiap bulan dan dicetak secara berkala di Korea, Brasil, Indonesia, Australia, Jerman, Austria, dan Amerika Serikat. Jld. 7, No.11
11 - 2011 | Adventist World
31
L
KASI
M A S YA R A K A T
K O TA K S U R AT
Saya seorang senior di Ouachita Hills Academy di Amity, Arkansas. Selagi saya duduk dalam kebaktian pagi barubaru ini, sang pembawa acara berkata, “Allah menciptakan dari yang tidak ada, jadi kita harus menjadi seorang yang bukan apa-apa agar Ia bisa membuat kita menjadi sesuatu.” Kata-kata ini benar-benar menyentuh hati saya. Benar sekali! Kita sebagai orang Kristen Advent memiliki pekabaran untuk disebarluaskan, tetapi sebelum kita bisa digunakan oleh Allah kita harus mengosongkan hati kita dari diri sendiri, mati bagi dosa “manusia lama,” dan membiarkan Kristus menciptakan sesuatu yang baru di dalam diri kita. Diberkatilah kalian masing-masing saat kita berjuang untuk mengabarkan Dia kepada semua orang yang di sekeliling kita! —Ariel Hempel, Arkansas, Amerika Serikat
DI BELAHAN DUNIA MANAKAH INI?
P h o t o
s u b m i t t e d
b y
J i l l
a n d
A l a s ta i r
M a c g i l l i v r ay
K U T I PA N B U L A N I N I
“Cinta Sejati terjadi bila pasangan sejodoh, bukan sejalan. Akan lebih mudah bagi teman sejalan untuk berpisah ketika musimnya sudah berakhir, sebagaimana yang dilakukan sebagian besar hewan, sementara orang yang sejodoh akan berhubungan secara rohani, mental, fisik, dan sosial, dengan demikian saling menggantungkan diri dan menolak perpisahan.” —Isaac Milioti Daka, seorang “penginjil medis,” selama satu pertemuan di tahun 2010, di Chipata, Zambia.
K E H I D U PA N A D V E N T
Minggu lalu, “San,” seorang ketua diakon yang baru terpilih di gereja kami, menelepon pendetanya dan berkata, “Pendeta, saya melaporkan sudah kembali dari kematian (death)!” Sang pendeta menggaruk kepala dan bertanya, “Apa? Apa yang sedang Anda bicarakan?” San menjawab, “Pendeta, coba ceritakan. Apakah saya seharusnya hidup atau mati (dead)?” “Tentu saja kau hidup, sudah jelas sekali. Apakah maksud Anda?”
San menjawab, “Apakah Anda yang memberikan pengumuman kemarin tentang dewan gereja yang baru terpilih?” “Ya, memang.” “Menurut pengumuman itu saya seharusnya mati (dead).” Sang pendeta sadar. Setelah meminta maaf, ia dengan cepat memeriksa surat elektronik yang telah dikirimnya. Betapa terkejutnya, ia menemukan bahwa ia telah salah menulis satu kata. Bukannya menulis “Kepala (head) diakon” di sebelah nama anggota gereja itu,
tetapi ia malah menulis “Dead Deacon (Diakon yang sudah mati).” San bersyukur bahwa pengalamannya yang hampir mati itu berlangsung singkat, karena sang pendeta menghidupkannya kembali hari berikutnya dengan mengirimkan pesan baru dengan versi kata yang sudah diperbaiki tentang anggota dewan gereja. Gereja pun menghela napas lega. San kini menjalani kehidupan keduanya dengan sudut pandang yang baru —G. T. Ng, Silver Spring, Maryland, United States
Di Aore, Vanuatu, para siswa dari Listair Institute mengambil waktu sejenak dari pelatihan untuk berpose dengan pendiri dan direktur Alastair Magillivray. Untuk mengetahui lebih banyak tentang pelayanan ini, lihat halaman 11-13.
JAWA B A N :
32
Adventist World | 11- 2011
Berita Dalam Negeri Sekilas Pelayanan Penginjilan Literatur Jemaat Tanjung Ria, Jayapura, Papua
A
pabila anggota gereja menyadari pentingnya penyiaran hasil terbitan, mereka akan menyerahkan lebih banyak waktu melakukan pekerjaan ini. Gereja harus memberi perhatian pada pekerjaan ini. Inilah satu jalan di mana gereja harus bercahaya di dunia ini. Itu sebabnya GMAHK Jemaat Tanjung Ria, Jayapura, Papua, dalam tiga tahun terakhir ini melaksanakan kegiatan penginjilan literatur. Pada tahun 2009 ada 42 penginjil literatur (PL) dari Jemaat Tanjung Ria yang terlibat. Tahun 2010 ada 45 PL, dan tahun 2011 ada 46 PL yang terlibat. Dengan menggunakan 5 mobil dan 8 sepeda motor menuju ke lokasi penginjilan yang jaraknya 40 km-60 km dari GMAHK Jemaat Tanjung Ria, yaitu Desa Koya dan Arso yang penduduknya 80 persen agama Muslim dan 20 persen Kristen. Kegiatan penginjilan ini mendapat respons dari ketua daerah, gembala jemaat dan seluruh anggota Jemaat Tanjung Ria, oleh karena banyak pengalaman rohani yang diperoleh. Berikut ini adalah beberapa kesaksian yang kami ingin kisahkan.
Tiga Penginjil Muda
Dalam 1 grup ada 3 penginjil muda, yang satu kelas 6 SD, dan dua lagi kelas 1 SMP. Mereka mengunjungi satu rumah dan bertemu dengan seorang ibu yang dalam keadaan sakit, menerima mereka dengan senang hati. Ketiga penginjil muda ini menceritakan maksud kedatangan mereka, dalam penutupan pembicaraan mereka mendoakan ibu yang sakit, setelah selesai berdoa, ibu ini langsung merasakan kesembuhan oleh karena
mukjizat doa ketiga penginjil muda ini. Sang ibu pun berkesempatan mengambil sebuah buku. Terharu Atas Doa
Ada dua penginjil mengunjungi seorang pria paruh baya beragama Muslim, pria ini sudah 6 bulan dalam keadaan sakit, tidak bisa jalan karena kecelakaan lalu lintas, setelah kedua penginjil menceritakan maksud kedatangan, pria ini tidak bisa membeli buku karena tidak mempunyai uang. Sebelum berpisah para penginjil ini mengajak pria tersebut untuk berdoa, setelah berdoa pria ini mengatakan bahwa ini kali pertama orang Nasrani datang berdoa di rumah ini, sejak dia sakit tidak se orang pun dari kalangannya datang berdoa, pria ini sangat terharu atas doa orang Nasrani.
Doa untuk Seorang Ibu yang Banyak Masalah
Tiga Penginjil mengunjungi seorang ibu beragama Muslim, dalam percakapan, sang ibu menceritakan bahwa tahun lalu suaminya meninggal, tiga bulan yang lalu anaknya meninggal, minggu lalu dia ditipu, begitu banyak masalah yang dialaminya. Ketiga penginjil ini akhirnya mendoakan ibu ini. Selesai berdoa ibu ini mengatakan terima kasih atas doanya, “ini kali pertama orang Kristen mendoakannya, kapan lagi bisa datang berkunjung ke rumah? saya senang sekali,� kata sang ibu.
Tiga Anjing Galak yang Baik
Tiga penginjil wanita mengunjungi sebuah rumah, pintu rumahnya dalam keadaan terbuka, ketiga penginjil ini sempat melangkahi tiga ekor anjing yang sedang duduk. Penginjil ini dengan berani bercampur takut mengetuk pintu, kemudian seorang ibu langsung berlari ke depan, ibu ini takut, terheran-he ran melihat tiga ekor anjing galaknya hanya duduk diam sambil menggoyang-goyangkan ekor. Biasanya anjing ini, apabila melihat ada orang yang tidak dikenal dari kejauhan langsung menggonggong dengan geram, sudah banyak yang digigit. Tiga penginjil ini katakan, mungkin ada maksud baik, jadi anjing tidak marah. Karena takut bercampur heran ibu ini membeli tiga buku setelah selesai didoakan. Begitu banyak para penginjil ini berkata, ini kali pertama mereka masuk ke rumah orang Muslim dan berdoa. Kalau bukan pekerjaan penginjilan literatur, pasti mereka tidak pernah alami. Dan yang paling berkesan dari kegiatan penginjilan jemaat ini adalah, setiap ke rumah orang, apakah Kristen atau Muslim mereka tinggalkan sebuah buku penginjilan (Ingatlah akan Pencipta-Mu) dan selalu diusahakan setiap mengunjungi satu rumah mereka undang bersama-sama berdoa, meskipun ada beberapa yang menolak didoakan. Telah menjadi jadwal tetap bagi Jemaat Tanjung Ria, setiap tahun paling sedikit 1 hari jemaat harus melaksanakan kegiatan
11 - 2011 | Adventist World
33
Berita Dalam Negeri ini, setelah kegiatan ini, pada hari Sabat pagi pada acara pelayanan perorangan dan PA sore hari, mereka membawakan kesaksian di hadapan jemaat. Ada juga yang mengatakan ini pertama kali mereka bersaksi keluar. Ada beberapa kesaksian yang lucu dan aneh. Apabila kita merenungkan bersama paragraf pertama di atas, gereja kita telah menjadi gereja yang besar, oleh karena dimulai dengan pelayanan penginjilan literatur. Maka pekerjaan Tuhan di atas dunia ini segera selesai, apabila seluruh anggota jemaat terlibat langsung dalam pekerjaan penginjilan literatur. n —Dari saudaramu dalam pelayanan, Nolvi Lenzun, APDS, PaÂpua.
KKR Penuaian dan Apta
Jemaat Rawamangun, Jakarta
K
ita puji Tuhan oleh karena kasih-Nya yang begitu ajaib sehingga GMAHK Rawamangun kembali mengadakan KKR Penuaian dan APTA pada tanggal 15-19 Agustus 2011 dengan pembicara Ketua Konferens DKI Jakarta, Pdt. L. Situmorang beserta istri. Sebelumnya telah diadakan juga acara yang sama di akhir bulan April yang dibawakan oleh keluarga besar Bpk. James Mambo. Tiada henti-hentinya kita sampaikan puji dan syukur kepada Bapa di surga oleh karena kasih dan kuasa-Nya yang begitu besar sehingga di akhir KKR Penuaian ini sebanyak 14 jiwa menyerahkan diri untuk dibaptis yang mana di antaranya adalah anggota dari beberapa KPA yang dijalankan oleh gembala Jemaat Rawamangun, Pdt. M. Pandiangan dan PS (penginjil sukarela), R. Panggabean. Baptisan kudus kembali dilaksanakan pada hari Sabat tanggal 20 Agustus dan 14 jiwa baru siap hidup dalam kebenaran. Seperti biasanya sebelum mengadakan KKR, Jemaat Rawamangun mengadakan ibadah subuh pada hari Minggu tanggal 14 Agustus untuk mendoakan pelaksanaan KKR agar dapat
34
Adventist World | 11- 2011
berjalan dengan baik yang juga dihadiri oleh Pdt. L. Situmorang beserta istri. Pada hari yang sama setelah ibadah subuh Departemen Rumah Tangga Jemaat Rawamangun di bawah pimpinan Ibu Judith Maramis mengadakan beberapa kegiatan. Kegiatan pertama diadakan cara pembuatan es krim durian, pengajarnya adalah gembala Jemaat Rawamangun sendiri. Kegiatan yang tidak kalah serunya adalah aksi demonstrasi memasak nasi goreng sehat. Demonstrasi memasak nasi goreng sehat ini dilakukan oleh bapak-bapak dari empat kelompok kerja yang ada di GMAHK Rawamangun, Dan setiap kelompok menyajikan nasi goreng dengan versi masing-masing. Kiranya jiwa-jiwa yang telah dimenangkan boleh setia sampai Yesus datang, juga seluruh anggota jemaat Rawamangun tetap giat melaksanakan KPA dan penginjilan hingga Maranatha!
n —Dilaporkan oleh Pdt. A. Sagala, Komunikasi Konferens DKI Jakarta dan sekitarnya.
Meningkatkan Nilai Pendidikan Kristen
Kunjungan Kerja Bendahara UIKB ke Slapur
P
ada hari Rabu tanggal 21 September 2011 adalah hari yang membawa berkat bagi Sekolah Lanjutan Advent Purwodadi (Slapur) di mana Bapak B.F. Sihotang, Bendahara GMAHK UIKB dalam berbagai kesibukan beliau masih berkesempatan mengunjungi Slapur, lembaga pendidikan berasrama di Jawa Timur (SMP-SMA Advent Purwodadi) yang didampingi oleh Bapak Tatang Sumardi, Bendahara GMAHK KJKT dan Bapak Bambang Purnomo, Direktur Pendidikan GMAHK KJKT. Pada kesempatan itu diberikanlah seminar pendidikan kepada para pemimpin, guru dan staf Slapur dengan materi yang
sangat menarik yaitu menekankan pentingnya “Meningkatkan Nilai Pendidikan Kristen.” Disambut dan diikuti dengan antusias oleh semua guru dan staf, kepala sekolah, Bapak E.T. Panjaitan. Kegiatan seminar pendidikan kurang lebih satu setengah jam dan diakhiri dengan menyampaikan kondisi Slapur dalam empat tahun terakhir ini. Dan untuk menaikkan citra Slapur kembali, perlu adanya sinergi dari semua pihak/komponen sekolah dan perlunya memiliki sense of crisis oleh semua pihak warga sekolah, lebih banyak intropeksi diri, melayani, menjadi saluran berkat bagi anak-anak didik. Selesai seminar pukul 17.30 WIB dilanjutkan dengan silahturahmi makan bersama di rumah dinas kepala sekolah dan kebaktian Rabu malam. Bapak B.F. Sihotang juga berkenan menyampaikan Firman Tuhan bagi para siswa dan warga Slapur yang berjudul: “Raihlah Hari Ini.” Menekankan dalam meraih keberhasilan dalam mengakhiri khotbahnya tempatkan Yesus yang paling utama, yang kedua orang lain dan yang ketiga bagi diri kita (JOY—Jesus, Others, You). Para pemimpin, guru dan staf Sekolah Lanjutan Advent, Purwodadi, Jawa Timur mengucapkan terima kasih yang setulusnya atas kunjungan ini, semoga melalui dorongan, motivasi dan inspirasi yang sudah diberikan boleh menolong pelayanan pekerjaan Tuhan dalam bidang pendidikan di semua perguruan Advent. n —Dilaporkan oleh Petrus Souisa, Kepala SMP dan Humas Sekolah Lanjutan Advent, Purwodadi, Jawa Timur.
PERMOHONAN MAAF Saya meralat penulisan kalimat “Penginjil Saksi Jehovah” yang dimuat dalam Majalah Adventist World Indonesia, pada edisi 08 – 2011, hlm. 42. Saya mengakui bahwa predikat sebutan tersebut tidak layak ditujukan kepada mereka yang baru dibaptis : Yohanes dan Yulie. Demikian permohonan maaf ini saya sampaikan. Victor J. Sinaga, Departemen Komunikasi, Daerah Sumatera Kawasan Selatan (DSKS)
11 - 2011 | Adventist World
35
Berita Dalam Negeri Dua KKR BWA Menangkan 7 Jiwa
Daerah Misi Sulawesi Tengah
T
ahun 2011 ternyata memiliki nuansa tersendiri yang kaya akan gema kerohanian yang berpusat pada gerakan wanita dalam pelayanan. Khusus untuk Daerah Misi Sulawesi Tengah saja, dua KKR yang disponsori dan dipelopori oleh BWA dan shepherdess menggoncangkan dua wilayah besar di Poso dan Kota Palu. KKR yang di laksanakan tanggal 21-27 Agustus 2011 di Salukaia, wilayah Poso ini bertemakan “Waktunya Sudah Dekat,”
Sementara untuk Kota Palu, KKR BWA ini dilaksanakan tanggal 4-10 September 2011, dengan tema besar “Keluarga Bahagia” bertempat di Gereja Advent Setia Budi. Ketua Panitia KKR, Ibu Deetje Mende, menggaris bawahi bahwa acara kebaktian yang dimeriahkan dengan berbagai lagu-lagu pujian yang indah dan dihadiri lebih dari 15-30 tamu tiap malamnya ini berjalan dengan khusyuk, penuh dengan doa dan penyerahan. Panggilan yang diadakan oleh Direktur Shepherdess dan BWA DMST, Ibu Ester Sutomo, pada akhir KKR BWA ini memotivasi 3 jiwa yang telah mengikuti pelajaran dari ma-
dimeriahkan oleh lagu-lagu pujian dari denominasi lain. Acara ini ditutup dengan penyerahan 4 jiwa yang dibaptiskan pada hari Sabat.
lam ke malam untuk menyerahkan diri kepada Yesus. Acara baptisan kudus kemudian diadakan di kolam Hotel Jazz Palu, setelah ibadah Sabat. n —Dilaporkan oleh Pdt. Stenly Karwur, Daerah Misi Sulawesi Tengah.
36
Adventist World | 11- 2011
Pengorganisasian Jemaat ke-67
Jemaat Kemiling, Daerah Sumatera Kawasan Selatan (DSKS)
P
elayanan di tempat ini berawal dari kerinduan beberapa anggota yang tinggal di kompleks Perumnas Bukit Kemiling Permai untuk belajar Alkitab dan juga kerinduan untuk saling mempererat persaudaraan dalam iman. Pada tahun 2005 beberapa keluarga dari Jemaat Kedaton I yang berdomisili di Perumas Bukit Kemiling Permai (BKP), Bandar Lampung antara lain Kel. Palentin Naibaho, Kel. Sopan, Kel. Andreas Jumani, Kel. Nainggolan dan Sdr. Timotius Wijaya sepakat untuk sekali-sekali berbakti bersama pada kebaktian Rabu malam. Pada saat itu anggota-anggota ini masih tergabung di Unit Kerja Sekolah Sabat (UKSS) Bukit-bukit, Raja Basa. Pada tahun 2006, kebaktian diadakan secara rutin setiap Rabu malam dan vesper secara bergantian dari rumah ke rumah anggota. Dan semakin bertambahnya jumlah keluarga yang bergabung di sini, disampaikanlah permohonan kepada majelis Jemaat Kedaton I agar perkumpulan ini segera disahkan menjadi cabang Sekolah Sabat yang resmi. Pada tanggal 11 April 2009, UKSS ini, oleh majelis Jemaat Kedaton I diresmikan menjadi Cabang Sekolah Sabat Bukit Kemiling Permai. Dan sejak saat itu, acara kebaktian Rabu malam, vesper dan kebaktian hari Sabat sudah rutin diadakan di tempat ini, kecuali acara perjamuan kudus dan kebaktian gabungan akan bergabung di jemaat induk. Sampai saat ini jumlah anggota Cab. Sekolah Sabat BKP sebanyak 22 keluarga, yang terdiri dari 23 pria dewasa, 23 wanita dewasa, 12 pemuda pemudi dan 29 anak-anak. Setelah komite daerah menerima dan menyetujui permohonan dari majelis Jemaat Kedaton I agar segera mengorganisasikan cabang ini menjadi sebuah jemaat yang mandiri. Maka pada Sabat, tanggal 24 September 2011 menjadi catatan sejarah berdirinya sebuah jemaat yang baru di tempat ini. Dan acara penting ini dipimpin langsung oleh Pdt. E. Simanjuntak dan didampingi Pdt. S. Sitorus beserta beberapa staf daerah yang juga hadir pada hari itu. Kita doakan jemaat yang baru lahir ini, agar kiranya semangat dan roh sukacita selalu mengikat setiap anggota dalam kerjasama membangun jemaat ini menjadi sebuah jemaat besar di kemudian hari bagaikan mercusuar yang akan bersinar untuk memasyhurkan Injil di Kota Bandar Lampung. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada majelis Jemaat Kedaton I dan para pemimpin RSA Bandar Lampung yang telah menopang pelayanan di tempat ini dari sejak berdirinya beberapa tahun yang lalu. Kiranya semua ini menjadi kemuliaan bagi Bapa kita di surga. n
Dari atas ke bawah: Doa Pengurapan bagi ketua jemaat; Ketua Daerah memberikan selamat kepada ketua jemaat yang baru; Semua anggota jemaat yang baru.
—Dilaporkan oleh Timotius Wijaya dan Pdt. S. Pardede, gembala Jemaat.
11 - 2011 | Adventist World
37
Berita Dalam Negeri Seminar BWA dan Shepherdess DSKS
Dikasihi dan Berdayaguna
S
alah satu acara besar yang diadakan Departemen BWA dan Shepherdess Internasional (SI) Daerah Sumatera Kawasan Selatan (DSKS) yakni seminar BWA dan Shepherdess dengan tema: “Dikasihi dan Berdayaguna� Bertempat di Gereja Advent Jemaat Ratna Palembang, setelah kebaktian pembukaan maka acara seminar dibuka secara resmi oleh Pdt. E. Simanjuntak (Ketua DSKS). Antusiasme peserta terlihat dari membludaknya jumlah peserta yang hadir dalam acara ini yang membuat panitia pelaksana sempat khawatir untuk memenuhi fasilitas dan keperluan bagi setiap peserta yang sudah hadir. Puji Tuhan semua peserta dapat ditampung dengan baik dan menginap dengan menggunakan ruangan-ruangan Sekolah Advent Jemaat Ratna, Palembang (kondisi ruangan yang sederhana tidak mengurangi sukacita para peserta). Ibu Linda Peranginangin (Dir. BWA & SI, UIKB) hadir sebagai narasumber utama dalam acara ini. Melalui semangat yang luar biasa setiap sesi pelajaran disampaikan dengan begitu jelas dan menyentuh bagi setiap peserta yang hadir. Selain Ibu M.K. Simanjuntak, hadir juga narasumber dari kaum awam yaitu: Ibu U. Aritonang, dr. Liniyanti D. Oswari dan Ibu Rita Sitompul. Materi yang berbeda disajikan oleh para narasumber ini, baik tentang pencegahan penyakit kaum wanita dan resep harmonis antara mertua dan menantu. Pada hari Sabat sore, di ruang terpisah semua anggota Shepherdess mendapatkan pengarahan khusus dari Ibu Linda Peranginangin. Dan pada hari Minggu siang, seluruh peserta seminar juga dibekali sebuah keterampilan yang dikoordinasi oleh Ibu Rita Sitompul. Respons positif dan kesan baik dapat terlihat dari kehadiran semua peserta sampai saat penutupan, tetap setia hadir di gereja. Seminar ini ditutup dengan acara komitmen yang dipimpin oleh Pdt. B. Sitanggang, dan doa berkat oleh Pdt. E. Simanjuntak. Tak lupa ucapan terima kasih dan permintaan maaf disampaikan oleh panitia kepada seluruh peserta yang telah hadir selama mengikuti acara seminar ini. Kiranya setiap kaum wanita di jemaat, ketika mereka kembali akan membawa satu pengaruh dalam revival dan reformation sebagai hasil dari seminar ini. n —Dilaporan oleh Victor J. Sinaga, Komunikasi GMAHK DSKS.
38
Adventist World | 11- 2011
Dari atas ke bawah: Ibu Linda Peranginangin sedang memaparkan seminar; Peserta seminar mengikuti dengan baik; Salah satu aksi dari kegiatan seminar ini.
KKR “Pengharapan yang Pasti”
Jemaat Penawar Jaya Distrik Tulang Bawang, Lampung
P
ada bulan September tanggal 11-17, Jemaat Penawar Jaya distrik Tulang Bawang melaksanakan sebuah KKR yang berjudul “Pengharapan yang Pasti” dengan pembicara Bpk. A.H. Sagala dan Ibu S. Sagala, yang saat ini melayani sebagai Bendahara Daerah Sumatera Kawasan Selatan (DSKS), dan Ibu S. Sagala sebagai Direktur Pelayanan Anak-anak dan Rumah Tangga, DSKS. Selama satu minggu sebelum Bapak dan Ibu Sagala datang, acara KKR ini sudah dimulai dengan kegiatan KPA dan KKR satelit yang dipimpin oleh Pdt. Septa selaku gembala distrik, dan didampingi oleh Ev. Yusuf Herlin, dan PS Iwan Fernandes. Kegiatan KKR dimulai dari pukul 16.00-19.00 Wib, dimulai dengan lagu-lagu pujian yang dengan semangat dibawakan oleh Bpk Ev. Yusuf Herlin, dilanjutkan oleh seminar rumah tangga oleh Ibu S. Sagala yang menyampaikan materi bahwa suami adalah kepala rumah tangga, istri adalah jantung keluarga dan kebahagiaan keluarga dan kemurahan hati, serta kebangunan rohani dalam rumah tangga, acara juga diselingi oleh beberapa lagu-lagu pujian yang disampaikan oleh beberapa pengunjung KKR yang hadir, kira-kira 40-50 orang yang hadir setiap malam nya, yang lebih dari 50 persen pengunjung adalah dari denominasi lain. Pekabaran Firman Tuhan di sampaikan dengan tak kalah semangat oleh Bpk. A.H. Sagala, yang mengajak pengunjung untuk setia mempelajari Firman Tuhan, karena itu akan meng-
antarkan kepada keselamatan melalui iman kepada Yesus, lalu pembicara memaparkan sebutan-sebutan nama Allah, juga dipaparkan tentang hukum Tuhan yang tidak pernah berubah, dan hukum taurat Tuhan dan hukum makanan halal atau haram yang masih berlaku untuk kepentingan manusia itu sendiri. Pada malam panggilan, pembicara membuat panggilan dan saat itu ada 10 jiwa yang berdiri siap untuk dibaptis keesokan harinya di kolam renang Water Boom Tulang Bawang. Mudahmudahan dalam waktu dekat ini masih ada baptisan susulan yang akan terus diadakan bagi beberapa jiwa-jiwa yang masih belum mengambil keputusan dalam pergumulan untuk menerima Yesus. n —Dilaporkan oleh Pdt Septa Dwi Eneas, Iwan Fernandes, Yusuf H., Para Pelayan GMAHK Distrik Tulang Bawang, Lampung.
Retret Pekerja Konferens Jawa Barat Revival for mission
B
ertempat di Universitas Advent Indonesia, 20-22 September 2011, Konferens Jawa Barat (KJB) mengadakan pertemuan retret pengerja dengan para pendeta dan istri. Dalam retret ini dilaksanakanlah Shepherding And Tell the World Seminar dengan tema utama “Revival for Mission” dengan sub tema “Melalui Keteladanan Hidup Gembala dan Istri Gembala, Kita Tingkatkan Semangat Misi.” Dengan tema dan sub tema yang sangat menarik maka panitia mengundang para tamu dari divisi dan uni. Tamu yang datang dari divisi adalah Pdt. H.E. Sinaga, direktur kependetaan; Pdt. J. Lubis, wakil ketua divisi, sementara dari uni adalah Pdt. E. Pandjaitan, direktur kependetaan dan Pdt. J.S. Peranginangin selaku Ketua Uni Indonesia Kawasan Barat (UIKB). Karena begitu pentingnya acara ini untuk meningkatkan mutu pelayanan dalam penggembalaan bagi para pendeta, maka panitia juga mengundang narasumber dari kaum awam
11 - 2011 | Adventist World
39
Berita Dalam Negeri yang diwakili oleh Bapak dr. Pintoko, bersama istri. Beliau menyampaikan materi “Kerinduan Anggota Jemaat akan Pelayanan Pendeta dan Istri.” Dalam makalahnya beliau menekan beberapa hal yang patut diingat oleh para gembala. Di antaranya adalah diharapkan para gembala dapat merangkul semua anggota dan komponen yang ada di Konferens Jawa Barat. Yang kedua hendaknya para pendeta mau berkorban dalam pelayanan sebagai seorang pendeta, dan yang ketiga adalah para pelayan hendaknya mempunyai kreativitas baik dalam perlawatan maupun dalam pencarian dana. Dalam sesi ini diharapkan para pendeta, baik yang di kantor mau pun yang di ladang bersatu dalam pelayanan. Sementara sesi kedua disampaikan oleh Pdt. H.E. Sinaga dengan materi “Leadership.” Uraiannya sungguh menarik oleh karena pengalamannya sebagai seorang pemimpin mulai dari tingkat bawah hingga mencapai kedudukan yang tinggi. Ada 10 poin yang penting dalam pelayanan sebagai pekerja mau pun pemimpin, di antaranya: 1. Jangan salahkan pemimpin untuk keputusan yang tidak populer. 2. Bertarunglah dengan pemimpin Anda jika perlu, tetapi melakukan secara pribadi hindari sesuatu yang memalukan, dan jangan ungkapkan kepada orang lain apa yang dibicarakan. 3. Buat keputusan, kemudian jalankan melewati pemimpin menggunakan inisiatif Anda. 4. Menerima tanggung jawab setiap kali ditawarkan. 5. Katakan kebenaran dan tidak berdalih, pemimpin Anda akan memberikan saran dalam rantai komando berdasarkan pada apa yang Anda katakan. 6. Kerjakan pekerjaan rumah Anda, berikan pemimpin Anda semua informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan. 7. Ketika membuat rekomendasi, ingat siapa yang mungkin akan harus menerapkannya. 8. Berikan informasi terkini tentang apa yang terjadi di gereja. 9. Jika Anda melihat masalah, Anda harus memperbaikinya jangan khawatir dengan pujian. 10. Bekerjalah setiap hari dengan jujur, tetapi jangan pernah melupakan kebutuhan keluarga. Sesi ketiga dipaparkan oleh Pdt. E. Panjaitan dengan materi “Etika Kependetaan.” Beliau menekankan bagaimana menjaga
40
Adventist World | 11- 2011
moral dari setiap pelayan dipenggembalaan. Salah satu yang ditekankan adalah masalah seks yang sering terjadi di kalangan para pendeta baik dalam penggunaan alat teknologi informasi, yaitu mudahnya dalam mencari informasi khususnya film porno. Sesi terakhir oleh Pdt. H.E. Sinaga, di mana penekanannya adalah “pengampunan seorang gembala.” Tujuan dari materi ini dibawakan adalah agar para pekerja baik yang di kantor mau pun departemen, serta para pendeta yang menggembalakan jemaat, jika ada perselisihan atau perbedaan pendapat harus memiliki roh pengampunan sehingga pelayanan tidak terhambat oleh karena ada masalah. Selain pemaparan pengampunan beliau juga menekankan hendaknya para pendeta bermutu dan penuh kreativitas. Untuk hari kedua dalam renungan pagi oleh Pdt. E. Panjait an ia menyimpulkan bahwa hamba Tuhan atau para gembala menyediakan harus waktunya untuk berdoa dan berserah diri lebih banyak, sehingga para pendeta memperoleh kuasa. Dalam sesi yang kedua hari itu, Pdt. J. Rantung, Sekretaris UIKB, membawakan materi “Mengapa Sebuah Khotbah Tidak Menarik?” Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam membuat khotbah. Man = orangnya; Message = pekabarannya; Method = metodenya. Berkhotbah bukanlah pekerjaan yang mudah, sebab ber-
khotbah bukanlah seperti film yang sering dilihat orang. Di mana ada artisnya, sutradaranya, dll. Namun berkhotbah itu adalah hal yang dapat dimengerti oleh anggota jemaat dan mengangkat kerohanian, dalam waktu yang singkat, padat dan tepat serta tidak menyinggung perasaan anggota jemaat. Berikutnya, Pdt. H.E. Sinaga, menyimpulkan materinya agar semua pekerja yang ada di Konferens Jawa Barat mendapat kecurahan Roh Kudus sehingga Tuhan segera datang. Sementara sesi yang keempat dari Pdt. J.S. Peranginangin, mengulas tentang “Setiap Gembala Jemaat Harus Mempunyai Rencana Kerja,” bukan teori saja yang diberikan namun juga praktik yang harus dikerjakan. Jadwal yang harus dikerjakan adalah mingguan, bulanan, dan tahunan. Selanjutnya beliau juga mem-
berikan arahan yang tepat dalam membuat jadwal sehingga tidak mengalami kegagalan dalam melaksanakan jadwal yang sudah disusun. Akhir dari materinya adalah ajakan agar setiap gembala bertanggung jawab dengan pekerjaannya, sehingga
anggota gereja memperoleh berkat. Sementara untuk hari ketiga renungan dibawakan oleh Pdt. J.S. Peranginangin dengan menyimpulkan agar panggilan dalam pelayanan hendaklah panggilan yang sungguh-sungguh bukan sekadar panggilan. Pembicara terakhir yaitu Pdt. J. Lubis, membawakan makalah “Revival, Reformation and Beyond.” Untuk materi dalam seminar ini beliau menjelaskan perihal kehidupan Yunus, mulai dari pasal pertama sampai pasal keempat. Pasal pertama adalah Yunus running a way, pasal kedua adalah Yunus running to God dan pasal ketiga running with God sementara di pasal keempat adalah running a head. Beliau juga memaparkan bagaimana seorang yang dipilih Allah dalam jabatan tertentu, bila Tuhan yang memilih maka pekerjaan akan lancar dan diberkati. Akhirnya semua rangkaian acara ditutup pada pukul 15:30 WIB. Kami berharap dan berdoa acara ini dapat memotivasi para pekerja yang ada di Konferens Jawa Barat. n —Dilaporkan oleh Pdt. Slamet W. Nappoe, Direkture PA, Komunikasi, KJB.
Pathfinder Day Konferens Jawa Barat (KJB)
Di Universitas Advent Indonesia, Bandung
M
inggu 25 September 2011, bagi Pathfinder Konferens Jawa Barat, merayakan Pathfinder Day yang jatuh pada 24 September 2011, perayaan kali ini mengambil tema “Lestarikan Alam, Tingkatkan Iman.” Acara dimulai pukul 09:00 WIB, di mana acara tersebut dihadiri oleh Pdt. D. Panjaitan, Direktur Pemuda Uni Indonesia Kawasan Barat (UIKB), Pdt. D.E.W. Silitonga, Sekretaris KJB, serta para pembina mau pun Master Guide dan MGR. Acara dimulai dengan parade setiap peserta dan selaku inspektur upacara adalah Pdt.
D.E.W Silitonga. Dalam amanat perayaan Pathfinder Day, Pdt. Silitonga menekankan 3 hal yang diperhatikan oleh semua peserta. (1) Kasih —1 Korintus 13:1-5. Kasih kepada Allah, sesama manusia, kepada alam ciptaan Tuhan; (2) Melakukan hal-hal yang sederhana secara inovasi dan kreasi sebagai talenta yang dimiliki oleh setiap orang muda; (3) Rahasia keberhasilan. Untuk menghasilkan sesuatu yang hebat perlu kerja keras, keteguhan hati, semangat, melakukan dengan berkesinambung an dan dilakukan untuk kemuliaan Tuhan dan berkat bagi sesama. Sebelum upacara, diadakan Service Star (Bintang Pelayanan) di mana bintang pelayanan ini diberikan kepada para pembina dan Master Guide yang aktif dalam kepemudaan selama 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun dan 25 tahun, sementara untuk acara pembukaan resmi, perayaan Pathfinder Day dipimpin oleh Pdt. D. Panjaitan sekaligus pembukaan pameran sebagai tanda dimulainya semua kegiatan-kegiatan dalam perayaan itu. Di sana ada kegiatan bazar, yaitu menjual makanan dari setiap jemaat yang datang. Selain bazar ada acara pameran tentang alam sesuai dengan tema dalam perayaan itu. Acara yang terakhir yang ditunggu-tunggu adalah Marching Drill (Barisberbaris dengan variasi). Kegiatan baris-berbaris dalam acara kali ini adalah untuk meningkatkan dan mendorong serta me-
11 - 2011 | Adventist World
41
Berita Dalam Negeri motivasi semua orang muda dalam ide, kreativitas, serta meningkatkan mutu dari pembelajaran yang selama ini mereka ikuti. Semua klub yang mengikuti Marching Drill menampilkan gerak an-gerakan yang sangat menarik dan banyak variasi
yang ditampilkan sehingga tim juri yang dipimpin oleh Andri Suwandi dan Vebrin Hutagalung sulit untuk memberi penilaian yang tepat, oleh karena itu tim juri memberikan penilaian secara kolektif mulai dari penilaian parade, bazar, saat upacara, pameran dan lain-lain, maka nilai yang dikumpulkan dari setiap kegiatan adalah untuk UNAI=80 (silver), IPH=90 (gold), Setiabudi=88 (gold), Maranatha=79 (silver), Punclut=73 (silver), Cihampelas=82 (gold), Parompong= 85 (gold), Nari pan=24 (silver). Sebagai acara terakhir adalah pemberian sertifikat bagi setiap peserta yang datang, dan acara ditutup pada pukul 15:30 waktu setempat. Kita berharap acara ini dapat memberikan semangat kepada seluruh pemuda dan pemudi yang ada di Konferens Jawa Barat. n —Dilaporkan oleh Pdt. Slamet W. Nappoe, Direkture PA, Komunikasi, KJB.
Semarak KKR Big City, Palembang 2011
Saudara Istimewa di Mata Allah
K
ota Palembang adalah salah satu kota besar yang dipilih untuk menjadi sasaran pelayanan dalam program Big City Evangelism (BCE), dan setiap tahun pelayanan KKR dan berbagai kegiatan lain selalu dilaksanakan dengan baik di kota ini. Pada tanggal 2-8 Oktober 2011, bertempat di GMAHK Jemaat Ratna, dilaksanakan KKR Big City dengan tema: “Saudara Istimewa di Mata Allah,” dan hamba Tuhan Pdt. S. Simorangkir (Dir. Komunikasi & Kebebasan Beragama UIKB) hadir sebagai
pembicara utama dalam KKR ini. Dan setiap malam turut didukung dengan pembicara lain yaitu (Ibu S. Sagala sebagai penceramah Rumah Tangga, dr. Liniyanti D. Oswari dan dr. Efman U. Manawan sebagai penceramah kesehatan). Puji Tuhan karena setiap malam puluhan tamu dan anggota jemaat tetap setia hadir untuk menikmati sajian pelajaran yang disajikan dengan sangat baik oleh setiap pembicara. Salah satu perhatian penting adalah hadirnya undangan rombongan mahasiswa Fakultas Kedokteran UNSRI yang tergabung dalam (Persekutuan Doa Mahasiswa—PDOM FK UNSRI) dan memberi pelayanan lagu pujian di dua malam terakhir, yang tidak kalah semangatnya dengan para tim penyanyi dan vocal group dari jemaat-jemaat setempat. Akhir KKR ini sebanyak 24 jiwa menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat melalui Baptisan Kudus. Demikianlah akhir dari sukacita pelayanan KKR Big City Palembang 2011 telah memberi kesan yang indah dan baik pada umat yang merasa diberkati sepanjang acara tersebut. Mari doakan setiap jiwa yang baru menerima baptisan dan secara khusus penginjilan di Kota Palembang agar tetap maju untuk memasyhurkan Injil itu ke setiap orang. n —Dilaporkan oleh Victor J. Sinaga, Komunikasi GMAHK DSKS.
42
Adventist World | 11- 2011
Lokakarya BWA dan Shepherdess Konferens Jawa Kawasan Timur
P
ada tanggal 30 September-2 Oktober 2011, di Blessing Hills Trawas, Jawa Timur telah dilaksanakan Lokakarya BWA & Shepherdess se-Konferens Jawa Kawasan Timur (KJKT) yang dihadiri lebih dari 200 orang yang datang dari gerejagereja se-KJKT. “Kami sebagai anggota BWA dan Shepherdess se-KJKT merasa mempunyai tanggung jawab bersama untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan dalam hal penginjilan, untuk itu dengan diadakannya acara lokakarya ini kita diingatkan kembali bagaimana peranan kita sebagai wanita yang hidup di dalam rumah tangga, masyarakat lingkungan dan di gereja kita sesuai dengan tema ‘Wanita Kristen Bekerja, Berkarya, Berbuat bagi Tuhannya.’ Kita semua yang menjadi anggota BWA di gereja bukan secara kebetulan memiliki panggilan dari Tuhan, maka kita layak untuk melayani Tuhan dengan kasih dan anugerahNya, itulah imbauan Firman Tuhan yang disampaikan pada khotbah Sabat oleh Direktur BWA dan Shepherdess, Uni Indonesia Kawasan Barat (UIKB), Ibu Linda Peranginangin. Acara tersebut dihadiri oleh narasumber-narasumber, antara lain: Ibu Linda Peranginangin, Ibu Endang Stelmack, Bapak Esron Siburian, Bapak Bambang P. dan Ibu Linawati. Pada hari terakhir para anggota BWA membuat keterampilan sekali-
gus praktik membuat produksi jamur, me rajut benang, membuat tempe, rempeyek, menyulam kain, dll. Ini semua diajarkan agar bisa menjadi contoh dan hasilnya bisa untuk menjadi Home Industry dan pelayanan bagi masyarakat. Direktur BWA & Shepherdess KJKT, Ibu Elisabeth Sadino mengimbau agar sepulangnya dari lokakarya ini, kita semua menjadi wanita-wanita yang imannya diperbarui, dengan panggilan yang mulia ini, dapat dipakai Tuhan menjadi saluran berkat kepada sesama dan kepujian bagi nama Tuhan, maka dengan kehidupan kita banyak jiwa diselamatkan pada saat Tuhan datang nanti. n —Dilaporkan oleh Pdt. Ranap Situmeang, Komunikasi KJKT.
11 - 2011 | Adventist World
43
Berita Dalam Negeri Sekilas Penginjilan di Daerah Sumatera Kawasan Selatan (DSKS)
KKR demi KKR membawa banyak jiwa kepada-Nya Pertama
KKR “Pengharapan yang Pasti” Distrik Tulang Bawang, tanggal 11-17 September 2011 dengan pembicara bapak dan Ibu Sagala (Bendahara DSKS) menghasilkan 10 jiwa datang padaNya (berita ini dapat di baca di halaman 39—red).
Kedua
KKR di wilayah Distrik Jambi. Pada kesempatan ini hadir Pdt. S. Sitorus dan ibu untuk memimpin acara KKR yang diadakan di GMAHK Jalan Otista, Jambi. Setelah beberapa bulan lalu satu jemaat yang baru diorgani sasikan di kota ini, penginjilan tetap giat dikerjakan oleh gembala bersama seluruh anggota jemaat yang ada di kota ini. Sepanjang satu minggu acara KKR dilaksanakan, maka pada hari Sabat di akhir KKR ada 17 jiwa baru yang menerima
Yesus melalui baptisan. Acara baptisan diadakan di dalam gedung gereja dan dipimpin langsung oleh Pdt. S. Sitorus. Kita doakan agar kabar Injil di kota dan provinsi ini terus tersiar dan membawa jiwa-jiwa bergabung dalam persekutuan yang benar ini.—Dilaporkan oleh Pdt. P. Simanjuntak, Gembala Distrik Jambi. Ketiga
KKR di Distrik Bengkulu. Satu tim dari kantor daerah datang ke Distrik Bengkulu untuk melaksanakan pelayanan penginjilan melalui KKR di wilayah yang luas ini. Tim dari daerah dipimpin oleh Pdt. E. Simanjuntak dan didampingi beberapa staf departemen. Rencana ini difokuskan di tiga titik besar (Bengkulu Kota,
44
Adventist World | 11- 2011
Tais-Talang Prapat dan Ketahun), dan pada hari Sabat diadakan kebaktian gabungan di sebuah gedung di Kota Bengkulu. Dan puji Tuhan 10 jiwa yang baru menerima baptisan kudus dan bergabung dalam persekutuan gereja milik Tuhan ini. Kita terus doakan pergumulan seluruh hamba Tuhan dan jemaat untuk bersatu menyiarkan kabar Injil di seluruh pelosok Provinsi Bengkulu ini sehingga jiwa-jiwa yang baru juga akan tetap setia sampai Maranatha. Keempat
KKR “KEPASTIAN PENGHARAPAN KESELAMATAN” Kota Bandar Lampung. Pada kesempatan ini, Pdt. M. Sitompul hadir dari kantor uni melayani sebagai pembicara rohani sepanjang minggu yang dilaksanakan di Aula RSA Bandar Lampung. Tim dari kantor daerah juga hadir mendampingi dalam mendukung acara besar ini. Dan pada hari Sabat, ada 35 jiwa baru yang dibaptiskan hasil dari pelayanan KKR ini. Dan direncanakan Sabat berikutnya masih ada beberapa jiwa lagi yang akan menerima baptisan karena ada halangan untuk hadir pada hari itu. Terima kasih untuk kerja sama seluruh panitia dan pihak pemimpin RSA Bandar Lampung yang selalu menopang penginjilan di kota ini. Kami mohon juga dukungan dan doa bagi setiap jemaat yang telah menerima jiwa-jiwa yang baru ini agar terus bertumbuh dan menjadi umat yang setia dan siap melayani. n
—Berita-berita ini dikirimkan oleh Victor J. Sinaga, Komunikasi GMAHK DSKS.
Sekilas Kegiatan Penginjilan Jemaat Salemba, Jakarta
Telah mendatangkan 84 jiwa untuk menerima Yesus menjadi Juruselamat Informasi Kegiatan Penginjilan Jemaat Salemba sampai Agustus 2011 dan dalam bentuk gambar. • • • • • • • • • •
8 Januari 2011, 4 jiwa dibaptis hasil KPA Senen, Jakarta Pusat. 12 Maret 2011, 7 jiwa dibaptis hasil KKR SMP & SMA Perguruan Advent Salemba. 26 Maret 2011, 6 jiwa dibaptis hasil pelayanan di gereja Salemba. 26 Maret 2011, 7 jiwa dibaptis hasil pelayanan RUTAN Salemba. 9 April 2011, 6 jiwa dibaptis hasil KPA Pondok Kelapa, Jakarta Timur. 21 Mei 2011, 3 jiwa dibaptis, 2 hasil KPA Pondok Kelapa dan 1 hasil pelayanan di gereja Salemba. 18 Juni 2011, 7 jiwa dibaptis hasil KPA Pondok Kelapa, Jakarta Timur. 25 Juni 2011, 11 jiwa dibaptis hasil KKR Pemuda Advent Salemba. 13 Juli 2011, 28 jiwa dibaptis hasil pelayanan di RUTAN Salemba. 13 Juli 2011, 5 jiwa dibaptis hasil KPA Pondok Kelapa, Jakarta Timur. n
—Dilaporkan oleh Daniel M. Sitompul, Departemen Komunikasi Jemaat Salemba
Baris atas dari kiri: Calon Baptisan Hasil KKR Pemuda Advent Salemba Juni 2011; Tim Pelayanan RUTAN Salemba; Baptisan di Kolam Baptisan Gereja Bethesda RUTAN Salemba. Baris bawah dari kiri: Calon Baptisan di RUTAN Salemba; Baptisan di Kolam Baptisan Gereja Salemba.
11 - 2011 | Adventist World
45
Berita Dalam Negeri Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Sekolah
Perguruan Advent Anggrek, Jakarta Utara
P
erguruan Advent Anggrek (PAA) telah berdiri sejak tahun 1984 dalam pengelolaan GMAHK Jemaat Anggrek dan melaksanakan pendidikan pada tingkat SD dan SMP dengan misi “Mengembalikan Peta/Citra Allah dalam Kehidupan Manusia.” Visi yang diemban oleh PAA ini adalah: • • •
Nurturing for today—Pemeliharaan hari ini Learning for tomorrow—Belajar untuk hari esok Character for eternity—Pembentukan karakter untuk masa kekekalan
Sejalan dengan visi tersebut, maka Perguruan Advent Anggrek bertujuan untuk memberikan pendidikan yang berkualitas dengan penekanan pada peningkatan hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Mengingat kondisi sekolah PAA yang sangat memprihatinkan dengan kondisi ruangan yang kecil dan tidak memenuhi standar, ventilasi udara yang kurang baik, sebagian kelas yang semi permanen dengan kondisi bocor jika hujan, maka diperlukan perombakan total untuk sekolah ini dengan rencana peningkatan dari dua lantai menjadi empat lantai. Sekolah ini juga diharapkan mampu menjawab kebutuhan pendidikan yang semakin berkembang pesat dengan kemajuan sarana dan prasarana yang memadai. Sebagai sekolah yang eksis di wilayah VIII Konferens DKI Jakarta dan Sekitarnya ini, sekolah ini diharap-
kan mampu menampung kebutuhan siswa akan sekolah gereja dengan standar mutu yang tinggi dan dapat menjadi sekolah unggulan di wilayah Jakarta Utara. Menjawab tantangan tersebut maka pada hari Minggu tanggal 17 Juli 2011 telah diadakan peletakan batu pertama pembangunan gedung Sekolah Perguruan Advent Anggrek yang dipimpin langsung oleh Pdt. L. Situmorang, M.Min., (Ketua GMAHK Konferens DKI Jakarta dan Sekitarnya). Turut hadir untuk memberi dukungan moral dan doa pada acara tersebut adalah Bapak B. F. Sihotang, MBA (Bendahara GMAHK UIKB), Bapak P. DolokSaribu, MBA (Bendahara GMAHK Konferens DKI Jakarta dan Sekitarnya), dan Bapak A. Sitanggang, SE (Dir. Pendidikan GMAHK Konferens DKI Jakarta dan Sekitarnya) serta Gembala Jemaat Anggrek Pdt. P. Sihombing, M.Min., beserta para ketua jemaat wilayah VIII Jakarta Utara. “Sebab beginilah firman Tuhan semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman Tuhan semesta alam.” n —Dilaporkan oleh Pdt.Arbeni Sagala, Komunikasi DKI Jakarta.
Kami berterima kasih kepada para penulis setia, dari setiap konferens/daerah/wilayah di seluruh tanah air Indonesia. Kami ingin agar proses redaksi
majalah Adventist World Indonesia (AWI) yang setiap bulan diterbitkan, yang mana membutuhkan waktu yang sangat ketat dalam prosesnya, dapat dilaksanakan dengan lancar. Untuk itu kami berharap untuk edisi berikutnya, setiap TEXT naskah berita yang kami terima diketik rapi (sesuai misi majalah ini) dalam format Microsoft Word/Word Perfect, TANPA ADA GAMBAR/FOTO/IMAGE DI DALAM FILE DOKUMEN TERSEBUT (Karena perlu waktu untuk proses pengeluaran gambar/foto/image dari dalam file text dokumen tersebut). GAMBAR/FOTO/IMAGE untuk naskah berita tersebut kami harapkan TERPISAH DARI DALAM FILE dokumen text naskah berita. Lebih disukai dalam format jpeg tetapi jelas, terang dan jernih serta beresolusi minimum 640x428. Jika ada keterangan gambar/ foto/image yang penulis ingin sertakan, ketiklah keterangannya menjadi file name gambar tersebut (dengan cara rename file name gambar tersebut) atau informasikan keterangan gambar tersebut di dalam text naskah berita tersebut. Maksimal 500 kata. Tim redaksi berhak mengubah tulisan tanpa mengubah isi dan maksud penulis. Berita akan dimuat bilamana dilengkapi dengan nama dan alamat pengirim yang jelas. Naskah tidak akan dikembalikan. Walaupun kami berusaha untuk memasukkan seluruh berita yang masuk, tetapi atas pertimbangan tim redaksi, ada kemungkinan tidak semua naskah berita yang masuk akan dipublikasikan. Kirimkan ke: adventistworld_indonesia@yahoo.co.id paling lambat tanggal 15 setiap bulan untuk diterbitkan dalam edisi bulan berikutnya. Terima kasih, Tuhan memberkati kita pada waktu kita menyiapkan berita baik yang menguatkan umat Tuhan khususnya di Indonesia.
46
Adventist World | 11- 2011
ơȼȴȽΎƨȳȼɂȷȼȵ˻ ȰȯȵȷΎƨȯɀȯ ƨȳȼɃȺȷɁΎƫȳɂȷȯ ƙȲɄȳȼɂȷɁɂΎƯȽɀȺȲΎ ơȼȲȽȼȳɁȷȯ
WARTA
GEREJA ADVENT
Memiliki Bangunan Ibadah Baru
Cabang Sekolah Sabat Ngijo, Jawa Timur
A “
kan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Filipi 1:6). Ayat Firman Tuhan ini semakin nyata bagi Cabang Sekolah Sabat (Cab. SS) Ngijo yang merupakan Cabang SS Jemaat Lawang di mana pada hari Sabat, 8 Oktober 2011 telah meresmikan sebuah gedung yang baru dibeli menjadi tempat ibadah. Selain anggota Jemaat Lawang dan anggota Cab. SS Ngijo, hadir juga para tamu khusus dari pemerintah dan dari kantor KJKT untuk memberikan dorongan dan sambutan pada peresmian gedung Cab. SS Ngijo, antara lain: Bapak Teguh, anggota DPRD Kabupaten Malang; Bapak Mahdi Maulana, Lurah Ngijo; Bapak Edy, Ketua RW XI GPA Ngijo; Bapak Widji, Ketua RT. 07 GPA Ngijo; Pdt. M. Ngatino, Direktur Legal, Philantrophy, ADRA KJKT; Pdt. Ranap Situmeang, Direktur SS/PP/Komunikasi KJKT. “Senang dan berterima kasih kepada Tuhan Yang Mahaesa atas kehadiran Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) di GPA Ngijo. Pemerintah akan mendukung dan memberikan perlindungan kepada umat di GMAHK Cab. Ngijo untuk menjalankan ibadah dan keyakinannya dan memohon agar sama-sama
“Lihatlah, Aku Datang Segera…”
Misi kami adalah untuk meninggikan Yesus Kristus, mempersatukan umat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di mana saja dalam iman, misi, kehidupan, dan pengharapan. Penerbit Indonesia Publishing House (anggota IKAPI Jawa Barat) Jalan Raya Cimindi 72 Bandung, 40184 Ketua Pengarah J. S. Peranginangin Ketua Bidang Usaha A. Ricky Bendahara S. Manueke Pemasaran S.P. Rakmeni Produksi S. M. Simbolon Pemimpin Redaksi Roy M. Hutasoit Redaksi Pelaksana dan Desain Isi J. Pardede Tim Redaksi S.P. Silalahi, R.C.A. Raranta, J. Wauran Komunikasi Uni S. Simorangkir, Uni Indonesia Kawasan Barat S. Salainti, Uni Konferens Indonesia Kawasan Timur Komunikasi Konferens/Daerah/Wilayah D. Lingga, Sumatera Kawasan Utara H. Sihaloho, Sumatera Kawasan Tengah V. J. Sinaga, Sumatera Kawasan Selatan A. Sagala, DKI Jakarta dan Sekitarnya Slamet Nappoe, Jawa Barat W. Siringoringo, Jawa Tengah R. Situmeang, Jawa Kawasan Timur Dwi Juniarto, Kalimantan Kawasan Timur J. Sihotang, Kalimantan Barat Denny Kana Djo, Nusa Tenggara R. Keni, Minahasa Utara Dj. Muntu, Minahasa F. Kasenda, Bolaang Mangondow-Gorontalo Ch. Muaya, Sulawesi Tengah M. Tandilangi, Sulawesi Selatan A. J. Uniana, Maluku H. Sandil, Nusa Utara Hugo Wambrauw, Papua I. Lisupadang, Luwu-Tana Toraja Izin
Departemen Penerangan RI No. 1167/SK Ditjen PPG/STT/1987
Alamat Redaksi Jalan Raya Cimindi 72 Bandung, 40184 Telp. (022) 6030392; Fax. (022) 6027784 Email: adventistworld_indonesia@yahoo.co.id Alamat Pemasaran Tlp/Fax: 022-86062842 Email: sirkulasi_iph@yahoo.com (Sirkulasi)
Redaksi menerima naskah berita dan foto sesuai dengan misi majalah ini, maksimal 500 kata. Tim redaksi berhak mengubah tulisan tanpa mengubah isi dan maksud penulis. Berita akan dimuat bilamana dilengkapi dengan nama dan alamat pengirim yang jelas. Naskah tidak akan dikembalikan. Walaupun kami berusaha untuk memasukkan seluruh berita yang masuk, tetapi atas pertimbangan tim redaksi, ada kemungkinan tidak semua naskah berita yang masuk akan dipublikasikan.
11 - 2011 | Adventist World
47
menjaga situasi agar warga GPA Ngijo tetap kondusif, aman, dan rukun satu dengan yang lain,� demikian sambutan Bapak Mahdi Maulana, Lurah Ngijo. Pdt. M. Ngatino dalam isi khotbahnya menegaskan bahwa dalam perjalanan iman ini sangat ditentukan oleh “Kasih Karunia� (2 Petrus 3:18). Dapat disimpulkan dalam empat golongan umat Tuhan: 1. Punya kasih karunia, tapi tidak punya pengertian. 2. Punya pengertian, tapi tak punya kasih karunia. 3. Tidak punya pengertian, tapi punya kasih karunia. 4. Mempunyai pengertian dan kasih karunia Mohon doa dari kita semua semoga Cab. SS Ngijo semakin bertumbuh dalam kerohanian, jumlah anggota, dan lainnya sehingga dalam waktu yang tidak lama, maka Cab. SS Ngijo dapat diorganisasikan menjadi jemaat baru. n —Dilaporkan oleh Pdt. Ranap Situmeang, Komunikasi KJKT.