Skip to main content

activated-basic-course-06_id

Page 1


berkobar

PANGGILAN SEORANG UTUSAN

Nilai sebuah jiwa

Menjadi Segala-galanya

untuk Semua Orang

Menjangkau ke taraf

di mana mereka berada

Perempuan di Sumur

Melampaui batas

Apakah

Kebenaran Itu?

Pertanyaan lama

Pelajaran Dasar Berkobar 6 • Berbagi Iman Anda

b erkobar

Dari Meja Redaksi

Panggilan seorang Utusan Ada sebuah kisah tentang William Gladstone (1809–1898), seorang Kristen terkenal yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris sebanyak empat periode dan salah satu pemimpin politik Inggris paling terkemuka pada tahun 1800-an. Saat menaiki tangga gedung parlemen, ia sering berhenti dan berbagi kabar baik tentang Yesus kepada seorang anak kecil penjual koran di sana.

Namun pada suatu hari ketika Gladstone dan sekretarisnya hendak memasuki gedung parlemen, seorang anak penjual koran lain bergegas menghampiri mereka dan berseru, “Tuan, anak penjual koran di sini kemarin tertabrak kereta kuda dan terluka parah. Ia hampir meninggal, dan ia meminta Tuan untuk datang dan mengantarnya masuk.” Perdana menteri bertanya, "Apa maksudmu Nak, 'mengantarnya masuk'?” Anak itu menjawab, "Tuan, maksudnya mengantar dia masuk ke surga!”

Namun, sekretaris Gladstone protes, “Pak, tidak ada waktu untuk mengunjungi tukang koran yang tengah sekarat itu! Bapak kan tahu betapa pentingnya pidato bapak. Pidato bapak dapat merubah jalannya sejarah.”

Gladstone ragu-ragu tapi hanya sejenak, lalu berkata, “Satu jiwa yang abadi lebih berharga daripada pidato di parlemen.” Maka ia pun pergi ke kamar yang kecil di loteng, tempat penjual koran itu tergeletak lemah dan sekarat di atas selembar tikar kasar di sudut kamar. Dengan air mata mengalir di wajahnya, Gladstone memimpin anak itu dalam doa untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Penjual koran itu menatap wajah lelaki yang hebat itu dan berbisik, "Aku yakin Tuan akan datang. Terima kasih sudah mengantarkan aku.” Kemudian ia memejamkan mata dan pergi ke hadirat Yesus.

Anda dan saya mungkin bukan bagian dari korps diplomatik di dunia ini, tetapi tidak peduli siapa kita atau dari mana kita berasal, jika kita memiliki Yesus, kita dipanggil untuk menjadi utusan-Nya. Yesus berkata, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yohanes 20:21), dan rasul Paulus menulis, “Kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami” (2Korintus 5:20). Semoga kita masing-masing setia pada panggilan untuk membawa Injil dan kasih Kristus kepada sebanyak mungkin orang. Redaktur

Untuk informasi lebih lanjut tentang Berkobar, kunjungi website atau kirim email.

Website: activated.org Email: activated@activated.org

Indonesia: Email: h4m.hungry4more@gmail.com

© 2024 Activated. Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang.

Desain oleh Gentian Suçi.

BERBAGI KABAR BAIK

Hal terpenting dalam kesaksian Anda adalah kasih Anda kepada Yesus dan orangorang yang terhilang, dan memiliki iman bahwa Tuhan akan bekerja melalui Anda saat Anda mengulurkan tangan untuk berbagi kabar baik kepada orang lain. Kita masing-masing memiliki kesempatan unik untuk berbagi Injil kepada orang lain dan membuat perbedaan dalam hidup mereka. Dengan melakukan itu, kita merubah bagian dari dunia kita! Jika kehidupan satu orang saja dirubah melalui kesaksian kita, orang itu kemudian dapat menjangkau orang lain.

Kita masing-masing memiliki harta yang berharga—kita memiliki kebenaran. Kita telah mengalami anugerah keselamatan yang luar biasa dan hubungan pribadi dengan Yesus. Kita memiliki hak istimewa untuk berbagi kebenaran dan kasih Allah kepada orang lain.

Meskipun menyampaikan kabar baik tentang keselamatan secara langsung kepada seseorang adalah hal yang ideal, memberikan traktat Injil atau bacaan Kristen lainnya untuk dibaca juga merupakan metode yang sangat efektif untuk berbagi Injil. Ketika Anda tidak memiliki waktu untuk bercakap-cakap dengan seseorang, traktat dapat menjadi cara yang bermanfaat untuk menyampaikan kasih dan kebenaran Allah.

Bahkan jika Anda merasa tidak cukup memadai dalam kesaksian Anda dan tidak dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan, bahkan jika Anda tidak dapat mengingat banyak ayat Alkitab, Anda tetap dapat berbagi kabar baik

dengan orang lain. Tentu saja, penting untuk membangun pengetahuan Anda tentang Firman Tuhan dengan mempelajari Alkitab untuk menjadi “seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2Timotius 2:15).

Penting juga untuk mempelajari sebanyak mungkin tentang dasar-dasar iman Anda seiring berjalannya waktu. Iman Anda akan diperkuat dengan mempelajari Firman Tuhan, dan Anda juga memerlukan pemahaman tentang Alkitab untuk membantu mereka yang Anda jangkau agar mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam iman. Anda ingin bisa berbagi ayat-ayat Alkitab ketika orang mengajukan pertanyaan sehingga Anda dapat “juga cakap mengajar orang lain” (2Timotius 2:2).

Namun penting untuk diingat bahwa Tuhan yang melakukan pekerjaan itu melalui Anda (Filipi 2:13). Anda harus melakukan bagian Anda berbagi pesan dan kebenaran itu, namun kemudian Roh Tuhan yang bekerja dalam hati orang dan membawa mereka mengenal kebenaran.

Yesus mengutus kita, sebagai orang Kristen, untuk mewartakan injil ke seluruh dunia kepada setiap orang (Markus 16:15 ). Semoga Yesus memberi Anda keberanian, visi, dan iman untuk menjangkau bagian dari dunia Anda dengan kabar baik.

Maria Fontaine dan suaminya, Peter Amsterdam, adalah pemimpin dari the Family International, sebuah komunitas beriman Kristen. ■

Oleh Maria Fontaine

UTUSAN UNTUK KRISTUS

Oleh Peter Amsterdam

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk mengamalkan iman kita dan mengulurkan tangan kepada hati yang lelah dan gelisah, mereka yang kurang beruntung, tertindas, dan membutuhkan. Yesus datang untuk

melayani, dan kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama. Melayani mereka yang membutuhkan adalah cara yang indah untuk mengekspresikan iman kita. Orang-orang yang kurang mampu, yang membutuhkan, dan yang lapar perlu tahu bahwa mereka dikasihi dan diperhatikan, bahwa mereka dihargai. Tuhan menghargai mereka, dan sebagai orang Kristen, kita juga demikian.

Melayani di panti asuhan, mengunjungi orang sakit, melayani para narapidana, menggali sumur, mengajar orang-orang kurang mampu, ikut serta dalam kamp medis, memperjuangkan kaum tertindas, dan masih banyak lagi, merupakan cara-cara berharga untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik serta untuk membawa Roh Yesus ke dalam kehidupan orang-orang yang membutuhkan.

Santo Agustinus pernah berkata: “Seperti apakah rupa kasih? Kasih memiliki tangan untuk membantu orang lain. Kasih memiliki kaki untuk bergegas membantu orang miskin dan yang membutuhkan. Kasih memiliki mata yang melihat kesengsaraan dan kebutuhan. Kasih memiliki telinga untuk mendengar keluh kesah dan kesedihan manusia. Seperti itulah kasih.”

Menjalani iman kita dan mengikuti jejak Yesus berarti menerapkan iman dalam tindakan dan peduli terhadap orang lain dengan segala cara yang memungkinkan, dan melakukannya untuk Tuhan. Kita menjangkau mereka yang mungkin miskin, menderita, dan membutuhkan balsem kesembuhan dari Tuhan dan pengharapan untuk masa depan. Kita mencari mereka yang mungkin sehat dan kaya, tetapi yang lelah, bermasalah, dan terhilang. Kita tergerak oleh penderitaan mereka yang dianiaya, dikucilkan dari masyarakat, atau tersisihkan.

Apapun keadaannya, kita berusaha untuk mencari tahu bagaimana cara terbaik untuk menjadi teladan kasih Allah. Pada saat kita memancarkan terang kasih dan kebenaran Allah kepada mereka yang membutuhkan dan memperlihatkan kasih Allah dalam perbuatan, itu adalah bagian dari menjadi terang dunia dan garam dunia (Matius 5:14–16). Kita berusaha untuk menjadi seperti Yesus, memiliki hati-Nya bagi orang lain, dan tergerak untuk melakukan sebisa kita dalam upaya meningkatkan kehidupan mereka, baik secara rohani maupun praktis. Kita berjalan seperti Yesus berjalan. Kita mengikuti Sang Guru.

Apa yang kita lakukan untuk orang lain—pelayanan kita, doa kita, pemberian kita—kita melakukannya untuk Yesus. Kita tidak melakukannya untuk pengakuan, untuk keuntungan finansial, atau untuk maju dalam masyarakat. Kita melakukan semua yang kita lakukan, dalam pelayanan atau pemberian waktu kita, untuk memuliakan Tuhan.

Sebagaimana 2Korintus 5:20 mengatakan, “Kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami.” Kita adalah perwakilan dari Kristus. Kita adalah penduduk surga, dan kita mewakili kerajaan Allah. Kita sedang menjalani tugas sementara di bumi untuk mewakili negara kita, raja kita. Merupakan suatu kehormatan besar untuk menjadi seorang utusan, dan kita memiliki tanggung jawab untuk berperilaku sesuai dengan tugas kita.

Kita mewakili Pangeran Damai dan kita ditugaskan untuk menyampaikan pesan-Nya kepada dunia. Dan apakah pesan itu? Bagian kedua dari ayat ini dengan jelas menyajikan pesan yang harus kita sampaikan: “Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.”

Ada jutaan, bahkan miliaran orang yang tidak mengenal Tuhan secara pribadi, yang belum pernah mendengar tentang Yesus, dan yang tidak memiliki pengetahuan tentang anugerah keselamatan dan harta kehidupan kekal yang menanti mereka saat mereka menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Hak istimewa kita adalah untuk berbagi kabar baik itu, untuk memperkenalkan orang-orang kepada Yesus, dan akhirnya, untuk membawa sebanyak mungkin orang ke surga bersama kita.

Semoga kita masing-masing menjadi utusan Kristus yang aktif dan layak. Kita mewakili alam yang paling spektakuler di seluruh alam semesta—kerajaan Allah. Sungguh suatu hak istimewa untuk melayani sebagai salah satu utusan Allah, dan kita bisa dan harus menyampaikan kasih, perhatian, dan belas kasih Yesus dalam segala hal yang kita lakukan, baik kecil maupun besar. Dengan “mengambil rupa seorang hamba,” Yesus memberikan teladan pelayanan terbesar yang pernah dilihat dunia ini (Filipi 2:7).

Kasih kita kepada Yesus menggugah kita untuk melayani orang lain atas nama-Nya. Kasih itu memotivasi kita untuk menjadi utusan-Nya dalam

yang kita hadapi. Kasih itu menguasai kita untuk membantu mereka yang membutuhkan, dan memberikan pengharapan serta kesembuhan bagi mereka yang patah hati.

Kita bisa menjadi tangan-Nya untuk membantu dan menyentuh, mulut-Nya untuk menyampaikan kebenaran dan memberikan dorongan dan pengharapan, mata-Nya untuk menyampaikan belas kasih, kaki-Nya untuk berjalan di samping jiwa yang lelah, dan bahu-Nya untuk membantu menanggung beban berat mereka. Kita melakukan ini untukNya, kepada-Nya, karena kita berusaha melakukan apa yang akan Dia lakukan jika Dia ada di sini. Kita memiliki teladan kehidupan Yesus yang tercatat di bumi yang memperlihatkan betapa Dia mengasihi kita. Kita tahu dari Alkitab betapa penuh belas kasih Dia berinteraksi dengan orang-orang pada zaman-Nya. Yesus telah mempercayakan kita dengan tanggung jawab untuk menyampaikan kasih-Nya yang pribadi, tanpa syarat, dan menyeluruh kepada sesama manusia, kepada mereka yang berbagi planet ini dengan kita saat ini. Marilah kita menjadi seperti Yesus. Marilah kita mengasihi seperti Yesus. Marilah kita membuka hati kepada orang lain atas nama Yesus. Marilah kita menjadi saluran yang jelas bagi Tuhan untuk menyembuhkan dan menyelamatkan dunia yang membutuhkan dan hancur ini.

Peter Amsterdam dan istrinya, Maria Fontaine, adalah pemimpin dari the Family International, sebuah komunitas beriman Kristen. ■

J A D I SEGALA-GALANYA UNTUKSEMUA O R GNA

Alkitab mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini” (Roma 12:2). Selain itu juga mengatakan agar kita “menjadi segala-galanya untuk semua orang” sehingga dengan segala cara beberapa orang bisa diselamatkan (1Korintus 9:22). Sekilas instruksi ini saling bertentangan, tetapi sebenarnya bisa saling mendukung. Tuhan tidak menghendaki kita menjadi serupa dengan sikap yang tidak ber-Tuhan, tak peduli seberapa lazimnya itu kelihatannya, tetapi Dia menghendaki agar kita terbiasa dengan masyarakat dengan cara yang sedemikian rupa supaya kita bisa memperlihatkan kasih-Nya dengan lebih baik dan membawa mereka untuk mendekat kepada-Nya.

Rasul Paulus adalah teladan yang baik dalam bersikap fleksibel ketika ia berkarya menyebarkan Kekristenan kepada beragam bangsa. Ketika menghadapi hadirin yang berbangsa Yahudi di Antiokh, misalnya, dia mengingatkan mereka akan sejarah Israel dari zaman Musa hingga ke zaman Daud, kemudian dia memperlihatkan bagaimana Yesus menggenapi nubuatan dari Perjanjian Lama tentang datangnya seorang Mesias (Kis. 13:14–49). Namun ketika berbicara dengan Aeropagus di Atena, yang terdiri dari orang-orang Yunani berkelas yang tidak akan tertarik untuk mendengar sejarah orang Yahudi, Paulus mulai merujuk kepada mezbah yang dilihatnya di kota, yang menyandang tulisan “Kepada Allah yang Tidak dikenal.” Kemudian dia mengutip pujangga Yunani untuk memperlihatkan bahwa

atribut dari dewa ini—ciptaan, pengadaan, dan penghakiman—digenapi oleh Yesus (Kis. 17:22–31).

Fransiskus Xaverius (1506-1552) juga menjalankan hidup dengan prinsip “menjadi segala-galanya untuk semua orang”. Dalam upaya memahami orang-orang India yang menganggap bahwa kerendahan hati adalah kebajikan, dia mengenakan pakaian yang compang camping dan berjalan kaki. Ketika dia mengunjungi Jepang, didapatinya bahwa kerendahan hati bukanlah kebajikan dan kemiskinan dipandang hina, jadi dia menyesuaikan pakaiannya. Fransiskus melakukan apa yang diperlukan untuk menampilkan Yesus dengan cara yang paling mudah dipahami oleh orang-orang yang ingin dijangkaunya.

Yesus Sendiri “menjadi segala-galanya untuk semua orang” ketika Dia meninggalkan sorga dan persekutuan intim dengan Bapa-Nya di sorga itu untuk datang ke bumi dalam rupa manusia (Filipi 2:5–7). Yesus melakukan hal ini supaya Dia dapat lebih memahami kita, lebih mengerti persoalan dan kelemahan kita, dan mengorbankan DiriNya untuk pengampunan dosa-dosa kita (Ibrani 2:17). Yesus memanggil kita untuk mengikut teladan-Nya dan mewujudkan kasih kita kepada sesama dengan menjangkau ke taraf di mana mereka berada dengan injil.

Uday Paul adalah penulis lepas, relawan, dan guru yang berbasis di India. ■

Oleh
Uday Paul

SUPAYA JANGAN ADA YANG BINASA

Kasih dan anugerah Tuhan yang besar menjangkau semua ciptaan-Nya, dan Dia tidak menciptakan sebagian orang yang kurang Dia kasihi dan sebagian lainnya yang lebih Dia kasihi. Dia tidak memberi label orang-orang dari satu ras, suku, kelas, atau budaya sebagai yang paling disukai, dan sisanya sebagai yang kurang disukai. Tuhan tidak membedakan orang (Kis. 10:34).

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk mengasihi semua orang tanpa memandang latar belakang, status sosial, atau karakteristik lainnya. Yesus mati dan memberikan nyawa-Nya untuk seluruh umat manusia. Dia telah memperlihatkan kasih terbesar yang mungkin ada dengan mati bagi kita masing-masing.

Tuhan mengasihi semua manusia dengan sama rata, dan Dia memberikan Anak-Nya untuk setiap orang. Alkitab mengatakan bahwa “tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Dalam kasih Tuhan kepada semua ciptaan-Nya, Dia rindu agar setiap orang bertobat dan menerima anugerah keselamatan-Nya yang cuma-cuma melalui Yesus. Yesus mati untuk semua orang, dan Dia tidak menghendaki seorang pun binasa, tidak peduli siapa pun itu (2Petrus 3:9).

“Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1Samuel 16:7). Dan ketika kita menyelaraskan hidup kita dengan visi Tuhan bagi umat manusia, kita juga dapat melihat melampaui perbedaan pada orang lain untuk melihat nilai dan martabat mereka

Setiap orang sangat berharga bagi Tuhan. Dia ingin setiap orang menerima keselamatan melalui Yesus, dan Dia bersukacita saat mereka menerimanya. Tuhan tidak membedakan orang. Setiap orang, apa pun status duniawi mereka, adalah orang berdosa di hadapanNya yang membutuhkan kasih dan penebusan-Nya. Tanggung jawab seorang Kristen adalah memberitakan Injil kepada setiap orang, terutama kepada mereka yang Dia bawa melintasi jalan kita.

Setiap bangsa di bumi memiliki orang-orang yang membutuhkan Yesus. Di setiap kota dan setiap lingkungan ada orang-orang yang membutuhkan-Nya. Anda dapat menjadi alat untuk membawa Kristus kepada mereka. Mereka membutuhkan kasih Allah yang tak bersyarat. Mereka membutuhkan orang-orang Kristen yang bukan hanya bisa membantu mereka menemukan keselamatan di dalam Yesus, tetapi juga mendampingi mereka di dalam pertumbuhan Kristen. Siapa pun yang Tuhan bawa di jalan Anda, siapa pun yang Dia panggil untuk Anda jangkau, “siap sedialah baik atau tidak baik waktunya” untuk berbagi kabar baik dengan mereka (2Timotius 4:2).—Peter Amsterdam

yang tak ternilai sebagai individu unik yang diciptakan menurut gambar Tuhan. Kita bisa belajar untuk mengasihi sesama dan melakukan bagian kita untuk membawa perdamaian ke dunia dengan meminta Tuhan untuk memberi kita kasih-Nya bagi sesama. Alkitab mengatakan, “Kristus … telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1Petrus 2:21). ■

PEREMPUAN DI SUMUR

Meskipun sebagian besar dari kita sudah sering mendengar istilah “orang Samaria yang murah hati” kita mungkin tidak mengetahui siapa orang Samaria itu dan permusuhan yang ada antara orang Yahudi dan orang Samaria. Permusuhan ini berakar dalam sejarah.

Pada tahun 720 SM, raja Kekaisaran Asyur, menyerbu Israel dan membawa pergi sepuluh suku utara sebagai tawanan ke tanah Asyur. Dia kemudian membawa orang asing untuk mendiami kota-kota di utara Israel di mana orang Yahudi pernah tinggal, yang kemudian dikenal sebagai Samaria. (Lihat 2Raja-raja 17:22–34.)

Banyak penduduk di wilayah ini adalah keturunan dari kerajaan utara Israel, tetapi mereka menikah dan berasimilasi dengan budaya non-Yahudi dari orang-orang

yang datang untuk menetap di sana. Orang-orang ini datang untuk menyembah Tuhan orang Yahudi, tetapi mereka tidak menganggap Yerusalem sebagai kota suci, dan mereka juga tidak beribadah di bait kudus orang Yahudi di sana. Bagi mereka, Gunung Gerizim di Samaria adalah tempat tersuci di mana Tuhan harus disembah, dan mereka membangun sebuah bait kudus di atasnya. Karena orang Samaria adalah ras campuran dan kebiasaan serta ibadat mereka berbeda, orang Yahudi menghindari bergaul dengan mereka.

Suatu ketika, selagi mengadakan perjalanan di Yudea, Yesus memutuskan untuk pergi ke utara ke provinsi asalNya di Galilea. Rute terpendek dan paling langsung antara Yudea dan Galilea adalah melalui Samaria, tetapi karena orang Yahudi tidak mau berurusan dengan orang Samaria, mereka menyeberangi Sungai Yordan dan memutar jauh di sekitar Samaria untuk menghindari penyeberangan melalui tanah orang Samaria. Namun yang mengejutkan

murid-murid-Nya, Yesus mengabaikan konvensi semacam itu dan memimpin mereka langsung melewati Samaria.

Setelah Yesus dan murid-murid-Nya berjalan melalui Samaria melalui medan yang berat dan terjal, maka tibalah mereka di sumur Yakub, yang telah digali oleh sang patriark Yakub dan anak-anaknya hampir 2.000 tahun sebelumnya.

Kelompok yang haus dan lelah setelah berkelana berkumpul mengelilingi sumur untuk memuaskan dahaga, tetapi mereka tidak memiliki bejana untuk menimba air dan kedalaman sumur itu lebih dari 100 kaki. Mereka juga kehabisan makanan. Hanya setengah mil di depan terdapat kota Sikhar di Samaria, sehingga diputuskan bahwa muridmurid akan pergi ke kota untuk membeli makanan. Tetapi Yesus lelah karena perjalanan itu, tidak pergi dan Ia duduk di tepi sumur untuk beristirahat (Yohanes 4:5–6).

Tidak lama setelah itu, seorang perempuan berjalan mendekati sambil membawa kendi air. Mendekati sumur, perempuan itu terkejut melihat ada orang asing duduk

di situ. Dia memandang Yesus dengan curiga dan berpikir, “Jelas seorang Yahudi.” Berharap Dia tidak akan mengganggu dirinya, perempuan itu bersiap untuk menurunkan embernya ke sumur.

“Berilah Aku minum!” Yesus meminta. Terkejut, perempuan it menatap-Nya. “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” tanyanya (Yohanes 4:7–9).

Yesus menjawab, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup!”

Perempuan itu menjawab, “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?” Barangkali berupaya untuk menempatkan orang Yahudi ini ke posisinya, perempuan itu menambahkan, “Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?” (Yohanes 4:10–12).

Yesus menanggapi dengan mengatakan, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal!”

Nah ini pernyataan yang luar biasa! Tidak yakin apakah dia memahami-Nya, perempuan itu menjawab, “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air” (Yohanes 4:13–15).

Dengan tidak diduga Yesus menjawab, “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini,” perempuan itu menanggapi dengan menjawab, “Aku tidak mempunyai suami.” Kemudian Yesus berkata kepadanya, “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu” (Yohanes 4:16–18).

Perempuan itu terkejut. Bagaimana mungkin orang asing ini mengetahui rincian kehidupan pribadinya kecuali Dia adalah seorang nabi? Perempuan itu memutuskan bahwa ini adalah orang yang tepat untuk ditanyai tentang topik keagamaan yang paling diperdebatkan saat itu.

“Tuhan,” katanya, “nyata sekarang padaku bahwa Engkau adalah seorang nabi.” Kemudian dia menunjuk ke bait kudus di puncak Gunung Gerizim dan berkata, “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”

Yesus menjawab, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:19–24).

Perempuan itu terpesona atas jawaban Yesus. “Luar biasa,” pikirnya, “jika kita bisa menyembah Allah di dalam hati kita di mana pun kita berada!” Kemudian ia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih sukar tentang Mesias yang sudah lama ditunggu-tunggu.

“Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.”

Yesus menatap dalam-dalam ke mata perempuan itu dan berkata, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau” (Yohanes 4:25–26).

Perempuan itu melihat kepada Yesus tercengang. Mungkinkah Dia ini benar-benar sang Mesias, sang Kristus?

Persis pada saat itu, murid-murid Yesus kembali dari kota, dan mereka terkejut karena Yesus berbicara dengan seorang perempuan. Saat mereka mendekat, perempuan itu meninggalkan kendinya dan berlari kembali ke kota.

Ketika tiba di pasar, ia berseru dengan penuh semangat, “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?!” (Yohanes 4:28–29). Melihat keyakinan dan semangatnya, banyak orang yang mempercayainya bahwa orang yang ditemuinya di sumur adalah Mesias yang telah lama ditunggu-tunggu.

Tak lama kemudian, murid-murid Yesus melihat kerumunan orang banyak bergegas mengarah kepada mereka, perempuan itu ada di tengah-tengah mereka. Orang banyak itu mendesak agar Yesus tinggal bersama mereka dan mengajar mereka. Yesus setuju, dan orang-orang Samaria itu, bersukacita, membawa mereka kembali ke Sikhar.

Selama dua hari, Yesus mengajar di kota mereka, dan mendengarkan perkataan-perkataan indah tentang kebenaran yang Dia ajarkan, banyak orang menjadi percaya kepada-Nya, dan takjub, berkata kepada perempuan itu, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia!” (Yohanes 4:39–42).

Pada hari terakhir, ketika Yesus dan murid-murid-Nya bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Galilea, banyak orang dari kota berkumpul untuk mengucapkan selamat jalan. Perempuan orang Samaria itu mengucapkan selamat jalan kepada Yesus dengan senyum penuh sukacita, sebab sekarang dia sepenuhnya memahami arti katakata-Nya hari itu di sumur, dan mata air hidup sekarang mengalir dalam jiwanya.

Dari kisah indah dalam kitab Yohanes ini, kita belajar bahwa Yesus tidak ragu untuk mendobrak tradisi pada zaman-Nya untuk menjangkau jiwa-jiwa yang tersesat dan kesepian dengan kasih dan kebenaran Allah. Dia tidak hanya melihat melampaui perbedaan budaya, ras, dan agama orang Samaria untuk menawarkan kebenaran kepada mereka, tetapi Dia juga melihat melampaui dosa perempuan di sumur dan melihat jiwa yang sangat merindukan kasih Tuhan. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa kasih Tuhan dan keselamatan di dalam Yesus adalah untuk semua orang. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini [dan setiap orang yang ada di dalamnya], sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).■

BERBAGI IMAN ANDA

Oleh Li Lian

Berbagi iman kita adalah sesuatu yang menurut banyak dari kita harus dilakukan tetapi terkadang tidak tahu harus mulai dari mana. Berikut adalah beberapa tip yang bermanfaat .

Ajukanlah pertanyaan yang bermakna. Mengajukan pertanyaan secara spesifik membantu mengarahkan jalannya percakapan. Yesus seringkali memulai pengajaran-Nya dengan mengajukan pertanyaan retoris. “Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ‘Siapakah di antara kamu …?’” (Lukas 12:22-25).

Dengarkanlah jawabannya. Mendengarkan memampukan orang untuk membuka diri dan berbagi kehidupan dan masalah terkini yang mereka hadapi. “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar” (Yakobus 1:19 ).

Beradaptasilah. Mencari tahu tentang orang-orang yang dengannya kita berinteraksi akan membantu untuk lebih memahami dan menghubungkan Injil dengan mereka. “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka” (1Korintus 9:22).

Kisahkanlah sebuah cerita untuk mengilustrasikan poin Anda. Yesus adalah ahli dalam menggunakan perumpamaan dan cerita untuk menarik minat penonton-Nya dan memberikan pelajaran (Markus 4:2). Ada kalanya dalam percakapan di mana, “Ini mengingatkan saya akan sebuah

cerita yang pernah saya dengar …” dapat mengarah kepada diskusi dan pewartaan yang lebih mendalam.

Gunakanlah peristiwa dan kejadian terkini. Di sepanjang Perjanjian Baru, Yesus merujuk kepada peristiwa-peristiwa lokal ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan orang, yang memungkinkan Dia untuk mengemukakan perspektif Allah tentang situasi tersebut. (Lihat Lukas 13:4.)

Ceritakanlah kesaksian Anda pribadi. Menjelaskan bagaimana Anda mengenal Yesus atau bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup Anda menjadikan iman Kristen sebagai pengalaman praktis, hidup dan nyata. Rasul Paulus sering berbagi tentang kisah pertobatannya sebagai bagian dari pewartaannya. (Lihat Kis. 26:1–23.)

Gunakanlah literatur injil. Selembar traktat atau literatur Kristen lainnya adalah cara yang efektif untuk berbagi kesaksian dengan orang yang Anda jumpai sepanjang hari (2Timotius 4:2).

Bersikaplah ramah dan baik hati. Tidak semua orang akan mengerti atau menerima apa yang Anda percaya, tetapi akan lebih mudah bagi mereka untuk mempertimbangkan jika Anda ramah dan baik hati. “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kolose 4:6).

Ajaklah mereka untuk mengambil keputusan. Setiap orang hendaknya diberi kesempatan untuk mengenal Yesus sebagai Sahabat dan Juruselamat mereka secara pribadi. Terkadang orang menerima Yesus pada pertemuan pertama, di lain waktu bisa saja memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum orang itu siap. Sementara mereka yang harus mengambil keputusan, kita bisa melakukan bagian kita untuk menawarkan Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yohanes 14:6).

Li Lian adalah seorang profesional bersertifikat CompTIA dan bekerja sebagai Administrator Kantor dan Sistem untuk organisasi kemanusiaan di Afrika. ■

KEBENARAN

APAKAH ITU?

Berdiri di gedung pengadilan di Yerusalem yang dikuasai Romawi, berhadapan langsung dengan Yesus, nabi dari Galilea, prokurator Pontius Pilatus mengajukan pertanyaan yang kemudian menjadi salah satu pertanyaan paling terkenal sepanjang masa: “Apakah kebenaran itu?” Rupa-rupanya Pilatus tidak menyadari bahwa jawabannya berdiri persis di hadapannya. Alkitab mengatakan bahwa “tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yohanes 1:17), dan Yesus Sendiri mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6).

Saat ini kita hidup di dunia relativisme, di mana tampaknya tidak ada hal yang mutlak. Relativisme menyatakan bahwa kebenaran bersifat subjektif, sulit dipahami, dan dapat berubah. Para politisi mengucapkan janji-janji yang tidak dapat atau tidak ingin mereka tepati; para juru putar berita menyesatkan; perdagangan dunia didorong oleh keserakahan dengan mengorbankan integritas; sejarah direvisi; laporan berita sering kali bias, disensasionalkan, atau terdistorsi; hiburan modern mengaburkan batas antara kenyataan dan fantasi; Alkitab dipandang sebagai mitos, tidak relevan, dan tidak sesuai dengan kebutuhan saat ini.

Orang boleh saja membayangkan apa yang mereka mau, meremehkan sesuka hati mereka, dan mencoba membuat kenyataan sesuai dengan keinginan dan agenda mereka sendiri, tetapi itu tidak merubah kebenaran.

Kebenaran itu abadi. Kebenaran tidak berbeda dari satu zaman ke zaman lain, dari satu bangsa ke bangsa lain, dari satu lokasi geografis ke lokasi geografis lain. Kebenaran yang agung dan berlaku di mana-mana itu bertahan melalui waktu dan keabadian. Billy Graham

Seperti yang dikatakan Mohandas Gandhi, "Tuhan itu ada, meskipun seluruh dunia menyangkal-Nya. Kebenaran tetap ada, meskipun tidak ada dukungan publik. Kebenaran itu berdiri sendiri.”

Mereka yang menutup pikiran terhadap kenyataan itu tanpa sadar memenuhi beberapa kata paling menyedihkan dalam Alkitab: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yohanes 1:10–11). Bahkan banyak pencari kebenaran yang tulus terlebih dahulu mencari di tempat yang salah. Sementara mereka mengeksplorasi bentuk-bentuk spiritualitas baru atau mengambil jalur psikologis menuju perbaikan diri, misalnya, seperti Pilatus, mereka kehilangan apa yang ada di depan mereka: kebenaran yang membebaskan dan kasih Allah, yang diberikan-Nya kepada mereka dengan cuma-cuma.

Namun mereka yang membaca Alkitab dengan pikiran terbuka dan hati yang percaya akan menemukan apa yang mereka cari—jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terdalam dalam hidup dan kasih yang cukup besar untuk mengisi kekosongan terdalam—kebenaran. “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku,” Yesus berjanji, “kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:31–32). ■

Oleh Marge Banks

ALKITAB

TENTANG

KEBENARAN

Dewasa ini arti kata “kebenaran” sering kali merujuk pada “sesuatu yang jujur atau berdasarkan fakta,” atau pada pandangan dunia pribadi seseorang. Dalam ayat-ayat Alkitab berikut, kebenaran digunakan dalam arti yang lebih dalam, yaitu “sesuatu yang mendasar dan melampaui pemahaman atau realitas spiritual.”

Kita harus mencari kebenaran.

Mazmur 25:5: Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.

1Timotius 2:3–4: Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

Firman Allah adalah kebenaran.

Mazmur 119:151: Engkau dekat, ya TUHAN, dan segala perintah-Mu adalah benar.

Yohanes 17:17: Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

Allah telah berjanji untuk mengungkapkan kebenaran-Nya kepada kita.

Yohanes 8:31–32: Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Yohanes 16:13: Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

Yesus adalah kebenaran.

Yohanes 1:14: Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Yohanes 14:6: Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Kebenaran tersebar luas dan abadi.

Mazmur 119:160 : Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya.

Mazmur 100:5 : Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. ■

Doa untuk Hari ini

Jadikanlah Aku Alat Damai Sejahtera-Mu

Tuhan Yesus, terima kasih atas hak istimewa dipanggil untuk menjadi saksi akan kebenaran dari keselamatan-Mu dan kasih bagi dunia yang terhilang dan putus asa. Melayani sebagai utusan dari Raja alam semesta adalah panggilan yang tak ternilai harganya.

Semoga kasih-Mu menguasai kami untuk membantu setiap jiwa yang terhilang, yang melintasi jalan kami agar memperoleh kesempatan untuk menemukan keselamatan dan beristirahat dalam pelukan-Mu (2Korintus 5:14). Berikanlah kami keberanian dengan kuasa Roh Kudus untuk melakukan bagian kami dalam menjangkau dunia bagi-Mu. Jadikanlah kami alat damai sejahtera-Mu untuk menyebarkan kasih dan pengharapan-Mu di lingkungan sekitar, tempat kerja, dan komunitas kami. Amin.

HASILNYA

Bahkan ketika Anda tidak melihat hasil kesaksian Anda saat itu juga, Tuhan telah berjanji bahwa Firman-Nya tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia; itu akan melaksanakan tujuan-Nya (Yesaya 55:11). Anda mungkin tidak melihat hasil kesaksian Anda dalam hidup ini karena Anda tidak selalu tahu apakah, bagaimana, atau kapan benih kebenaran yang Anda tanam di hati seseorang akan berakar. Mungkin orang yang Anda beri kesaksian pada akhirnya akan menemukan Tuhan sebagian karena sesuatu yang Anda katakan, atau kesaksian Anda akan bekerja di dalam hati mereka untuk membuat mereka lebih menerima ketika orang Kristen lain memberi kesaksian kepada mereka atau mereka membaca atau mendengar tentang Injil.

Kita tidak selalu bisa berekspektasi untuk menjadi penabur dan penuai, karena Tuhan berkata bahwa ada yang menabur dan ada yang menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan (1Korintus 3:6-7). Terkadang kita ikut bekerja dalam pekerjaan orang lain untuk membagikan kabar baik dan terkadang orang lain ikut bekerja dalam pekerjaan kita. Terkadang kita menuntun orang kepada Tuhan yang telah lama mempersiapkan diri sebelum mencapai titik di mana mereka akan menyerahkan hidup mereka kepada-Nya. Kita datang tepat pada saat yang strategis ketika mereka siap menerima Yesus, dan kita dapat menuai karena semua yang telah ditabur dan disiram oleh orang lain.

Kita mungkin hadir dalam kehidupan seseorang di tahap awal sebagai penabur, tempat kita menanam benih awal Injil. Atau kita mungkin menyirami benih yang telah ditanam di hati mereka oleh orang lain. Kita mungkin menjawab lebih banyak pertanyaan mereka dan berbagi kasih Yesus kepada mereka, dan Roh Kudus akan terus bekerja di hati mereka melalui kesaksian yang mereka terima. Kita mungkin tidak akan pernah melihat mereka lagi, tetapi Tuhan menggunakan Firman-Nya dan kasih yang kita bagikan kepada mereka sebagai satu langkah lagi dalam membawa orang itu kepada-Nya. Keselamatan mereka pada akhirnya akan menjadi hasil dari sebagian kesetiaan kita untuk berbagi kasih dan pesan-Nya kepada mereka. ■

Tidak semua orang tertarik untuk mengetahui tentang Yesus atau mendekatkan diri kepada Tuhan, jadi jangan heran jika beberapa orang tidak menerima kesaksian Anda. Mungkin agak mengecewakan ketika Anda menjangkau orang lain dan menawarkan hadiah terindah yang dapat diterima oleh siapa pun, tetapi mereka mengabaikan Anda, segera mengalihkan topik pembicaraan, atau bahkan meremehkan atau mencaci Anda. Jangan menyerah. Orang itu mungkin belum siap untuk mendengarkan atau diselamatkan, tetapi orang berikutnya mungkin sudah siap. Jika Anda bertekun dalam kesaksian dan doa, cepat atau lambat Anda akan mendapatkan hasil yang positif. (Lihat Perumpamaan tentang Penabur, Lukas 8:5–15.)

Shannon Shayler

SANGAT SEPADAN

Ketika Yesus meninggalkan Bumi dan kembali ke Sorga, Dia menjelaskan bahwa Dia mendahului kita, untuk menyiapkan tempat bagi kita (Yohanes 14:2)—tempat di mana tidak ada lagi perkabungan, ratap tangis atau dukacita (Wahyu 21:4). “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia. Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh” (1Korintus 2:9–10). Karena mengetahui kemuliaan, sukacita yang kekal, dan upah yang menantikan kita di surga membuat kesulitan, pencobaan dan kesukaran yang kita alami sekarang ini dapat ditanggung.

Waktu kita di bumi adalah bagian penting dari rencana Tuhan bagi kita masing-masing, tetapi bukan itu saja. Segala yang kita lalui sekarang bukan hanya menjadikan kita orang yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan-Nya bagi hidup kita, tetapi juga persiapan untuk kehidupan selanjutnya. Alkitab berkata bahwa saat kita merenungkan kemuliaan Tuhan, kita sendiri sedang dirubah menjadi serupa dengan gambar-Nya dengan kemuliaan yang semakin besar (2Korintus 3:18).

Jadi, ketika hidup adalah perjuangan sehari-hari dan Anda bertanya-tanya apakah itu benar-benar sepadan atau apakah Anda membuat perbedaan di dunia sekitar Anda, ingatlah apa yang terbentang di masa depan. Ketika waktu Anda di bumi berakhir dan Anda bertemu Yesus dan memasuki kerajaan surgawi-Nya, jika Anda telah “memelihara iman”, Anda akan menerima pahala yang tak terlukiskan karena telah berjuang dalam “pertandingan yang baik" (2Timotius 4:7–8).

Bapa Anda yang ada di surga mengawasi dan mengasihi Anda, dan segala sesuatu yang Ia izinkan terjadi dalam hidup Anda—entah itu tampak baik atau buruk pada saat itu—pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan bagi Anda (Roma 8:28). Jika Anda mempercayai Dia melalui segalanya itu, Anda akan menjadi orang Kristen yang lebih baik, lebih bijaksana, lebih penuh kasih, dan lebih berguna—alat di tangan-Nya, bejana yang melaluinya Ia dapat mencurahkan kasih dan Firman-Nya untuk menghibur dan menguatkan orang lain serta membawa jiwa-jiwa yang terhilang kepada-Nya.

Semua itu akan sepadan, saat kita melihat Yesus; Pencobaan hidup akan terasa begitu kecil, saat kita melihat Kristus; Sekilas wajah-Nya yang terkasih, semua kesedihan akan terhapus, Jadi, berlombalah dengan berani hingga kita melihat Kristus!

—Esther Kerr Rusthoi

Tetap fokus pada tujuan akhir—surga—akan memberi semangat dan meyakinkan Anda bahwa kesulitan yang Anda hadapi dalam hidup ini sepadan dengan hasilnya. “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18). ■

SEBAGAIMANA BAPA-KU MENGIRIM AKU

Sebagaimana Bapa-Ku mengirim Aku, demikian pula Aku mengirim kamu. Aku mengirim kamu ke dunia yang penuh dengan kepedihan dan kehilangan, kesakitan dan penderitaan, hati yang remuk dan kesepian, kebutuhan dan kerinduan, supaya kamu dapat memberi kepada dunia yang terhilang dan kesepian ini apa yang telah Kuberikan kepadamu. Berilah kasih-Ku dengan cumacuma, kepedulian, dan pengertian kepada mereka yang begitu membutuhkannya.

Di mana pun kamu berada dan apa pun situasi yang kamu hadapi, ada orang di dekat kamu yang membutuhkan kasih-Ku. Aku bukan saja ingin memberi mereka hidup yang kekal, tetapi Aku juga ingin memberi mereka hidup berkelimpahan di sini dan sekarang— kasih, damai sejahtera, pengertian, dan penggenapan. Aku ingin merubah hidup mereka baik di sini di bumi mau pun setelah ini.

Kata-kata pertemanan dan kepedulianmu memperagakan kasih dan kepedulian-Ku terhadap mereka, bahwa Aku ingin menjadi teman mereka selamanya. Bagi orang-orang yang tidak memiliki banyak teman yang setia, simpati dan pengertianmu menyentuh hati mereka. Damai sejahteramu dan kepercayaan serta keyakinan akan pengharapan di tengah badai kehidupan adalah sesuatu yang mereka rindukan. Kasih yang sejati yang mereka lihat di dalam dirimu bagaikan duduk di depan perapian yang hangat di malam musim dingin.

Setiap orang punya pengaruh, dan ketika kamu mempengaruhi seseorang untuk kebaikan, maka orang itu akan mempengaruhi orang lain untuk kebaikan juga, dan riak kasih-Ku berlanjut.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook