berkobar

TANTANGAN PEMURIDAN
Menjalani sesuai
dengan perkataan
Membuat Karya Akbar
Tuhan bekerja dalam hidup
kita Sekolah Kehidupan
Mempelajari pelajaran kehidupan
Bapa Kami
Berdoa kepada Allah kita
![]()

Menjalani sesuai
dengan perkataan
Membuat Karya Akbar
Tuhan bekerja dalam hidup
kita Sekolah Kehidupan
Mempelajari pelajaran kehidupan
Bapa Kami
Berdoa kepada Allah kita
Pelajaran Dasar Berkobar 5 • Menjalankan Iman Anda

DARI MEJA REDAKSI
TANTANGAN PEMURIDAN
Bagi banyak orang, mengenal dan menerima Kristus adalah sebuah peristiwa yang merubah hidup. Sebagai contoh, segera setelah bertemu dan bercakapcakap dengan Yesus, hidup Zakheus berubah 180 derajat (Lukas 19:1–10). Dalam waktu beberapa hari saja, Saulus berubah yang tadinya “berkobarkobar hatinya untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan” (Kis. 9:1 ) hingga mengabarkan injil sebagai rasul Paulus. Akhir-akhir ini, banyak orang diketahui menjadi terbebas dari kecanduan atau kebiasaan buruk lainnya persis di tempat.
Meskipun tidak banyak orang bertobat mengalami perubahan yang mengejutkan, kita tahu bahwa Tuhan menghendaki agar orang-orang beriman bertumbuh. Sebagaimana dikatakan oleh Billy Graham, “Menjadi orang Kristen lebih dari hanya melalui pertobatan instan—itu adalah sebuah proses di mana kita bertumbuh sehingga semakin menyerupai Kristus.” Dan untuk bagiannya Paulus mengatakan: “Berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama … Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu. Mengenakan manusia baru … dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”(Efesus 4:22–24 ).
Tentu saja, tidak ada seorang pun yang sempurna; itu adalah fakta dalam hidup. Namun demikian, kita mempunyai Tuhan yang mahatahu—Dia tahu masa depan kita dan dapat mempersiapkan kita untuk menghadapi perubahan-perubahan yang akan datang—dan mahakuasa. Ia juga mengasihi kita tanpa syarat dan ingin menolong kita untuk berhasil.
Kita semua dirubah melalui Kristus dan menjadi ciptaan baru, dengan kemampuan untuk menjalankan hidup dengan cara baru. Tentu saja, kepribadian, pikiran, dan emosi kita tidak berubah dengan serta merta ketika kita mengenal Yesus. Dia tinggal di dalam diri kita, tetapi adalah tanggung jawab kita untuk membiarkan Dia terlihat dan terdengar melalui kita. Ini artinya belajar tentang Tuhan melalui doa dan membaca Firman-Nya, kemudian berusaha keras untuk berpikir, berbicara, dan bertindak dengan tata cara yang menyerupai Kristus, sehingga orang lain juga dapat mengenal Dia.
Semoga terbitan kali ini menjadi berkat bagi Anda ketika Anda berupaya untuk menjadi lebih menyerupai sang Guru dan membiarkan terang-Nya bercahaya di dunia yang gelap melalui Anda.
Untuk informasi lebih lanjut tentang Berkobar, kunjungi website atau kirim email.
Website: activated.org
Email: activated@activated.org
Indonesia: Email: h4m.hungry4more@gmail.com
© 2024 Activated. Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang.
Desain oleh Gentian Suçi.
Oleh Ronan Keane
“Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati …” (Lukas 10:30 ). Demikianlah perumpamaan tentang Orang Samaria yang Murah Hati dimulai, salah satu kisah yang paling terkenal dalam Alkitab, dan mungkin dalam literatur.

Dalam cerita tersebut, berbagai orang Yahudi yang saleh melewati musafir yang malang tetapi tidak melakukan apa pun untuk membantu. Akhirnya, seorang Samaria, seseorang dari kelompok etnis dan agama yang dijauhi oleh orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, berbelas kasih kepada korban, membalut luka-lukanya, dan membawanya ke sebuah penginapan, di mana ia berjanji untuk menanggung biaya apa pun yang diperlukan untuk merawat orang itu.
Dengan kisah Orang Samaria yang Murah Hati, Yesus mengajarkan bahwa sesama kita adalah siapa saja yang membutuhkan pertolongan, tanpa memandang ras, kepercayaan, warna kulit, kebangsaan, kondisi, atau lokasi. Injil menyebutkan berkali-kali ketika Yesus merasa iba terhadap orang banyak atau terhadap individu dan tergerak untuk menolong mereka.
Injil Lukas mengisahkan bagaimana Yesus membangkitkan anak seorang janda di Nain dari kematian. “Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: ‘Jangan menangis!’ Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: ‘Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!’ Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata!” (Lukas 7:13–15 ).
Terkadang implikasi dari cerita-cerita ini tidak tertangkap oleh para pembaca modern. Lukas menempatkan
mujizat ini dengan memberi tahu bahwa Yesus berkhotbah di Kapernaum pada suatu hari dan bahwa Dia berada di Nain “kemudian.”
Nain jaraknya hampir 50 kilometer dari Kapernaum, dengan perbedaan ketinggian 400 meter. Perjalanan yang sangat sulit dan menanjak itu membutuhkan waktu 10–12 jam sekarang ini—di jalan beraspal—jadi Anda dapat membayangkan waktu dan upaya yang harus ditempuh Yesus dan para pengikut-Nya. Tetapi saya menduga hati-Nya sudah “tergerak oleh belas kasihan” sebab Bapa membimbing Dia kepada janda itu. Yesus berada di Nain pada hari itu tidak “terjadi dengan begitu saja”.
“Seperti apakah rupanya kasih?” Santo Agustinus bertanya. “Kasih memiki mata untuk melihat penderitaan dan kebutuhan. Kasih memiliki telinga untuk mendengar keluh kesah dan duka cita manusia. Kasih memiliki tangan untuk membantu orang lain. Kasih memiliki kaki untuk bergegas membantu orang miskin dan yang membutuhkan.”
Orang yang berbelas kasih akan menerapkan doa mereka dan melakukan perbuatan baik sesuai dengan tutur kata baik mereka. Itulah yang dilakukan oleh orang Samaria yang Murah Hati. Itulah yang dilakukan oleh Yesus. Dan itulah yang dapat diupayakan oleh setiap dari kita dalam kehidupan kita sendiri saat menjalankan iman.
Ronan Keane menjabat sebagai editor eksekutif untuk Activated dari tahun 2013–2023. ■

Peter Amsterdam
“Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2Timotius 1:9).
Seorang murid didefinisikan sebagai seorang “pengikut Yesus,” “seorang yang belajar,” “seseorang yang mengikuti jejak kaki gurunya,” “seseorang yang bertujuan untuk menjadi seperti Yesus.” Murid-murid berusaha untuk belajar, menelaah, kemudian mengikuti serta menerapkan apa yang dikatakan guru mereka. Kita adalah murid-murid Yesus—Guru kita. Kita tidak hanya berusaha untuk belajar tentang kehidupan-Nya di bumi, kebenaran Firman Tuhan, dan sifat serta karakter-Nya, tetapi kita juga berusaha untuk mengikuti teladan-Nya dan hidup sebagaimana Ia mengajarkannya, mengasihi sebagaimana Ia mengasihi, dan menjalani kehidupan yang beriman.
Pemuridan bukan hanya sekedar menerima ajaran dan mempercayainya; pada hakikatnya merupakan sebuah
pilihan untuk menjadi aktif dalam mempraktikkan ajaran tersebut. Para murid menambahkan tindakan pada keyakinan mereka; mereka “pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja” (Yakobus 1:22). Pemuridan, secara harfiah, adalah komitmen untuk membentuk pola hidup, sikap, dan tindakan kita sesuai dengan ajaran dan teladan Yesus; singkatnya, untuk menjadi seperti Dia. Dan itu adalah tugas yang berat, karena Yesus menjalani kehidupan yang penuh kasih, belas kasih, kasih sayang, pengorbanan, kebenaran, dan integritas, yang tertinggi dari semua manusia yang pernah hidup di bumi.
Salah satu panggilan Yesus yang paling menantang diberikan hanya dalam dua patah kata: “Ikutlah Aku.” Dan ketika Dia mengatakannya, sebenarnya Ia memaksudkan agar kita membentuk hidup kita, pikiran, kebiasaan, dan tindakan kita seperti Dia. Sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, kita tidak mampu untuk menghadapi tantangan ini, namun ketika kita berserah kepada Tuhan dan mengandalkan kuasa Roh Kudus, kita dapat diubah menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29).
Pemuridan berpusat pada kasih kepada Yesus dan memiliki hubungan pribadi dengan-Nya. Hal itu juga bergantung pada iman kepada Firman-Nya. Hal itu membutuhkan dedikasi dan komitmen. Menjadi murid Yesus adalah sebuah tantangan. Yesus menjelaskan bahwa mengikuti-Nya akan melibatkan pengorbanan, meninggalkan, menempatkan kehendak-Nya di atas kehendak kita sendiri, mengasihi orang lain dengan kasih-Nya, dan membagikan ajaran-ajaran-Nya kepada orang lain, bahkan bersedia untuk “kehilangan nyawa kita karena Dia” (Matius 10:39).
Menempuh jalan pemuridan berarti melangkah melampaui sekadar percaya pada ajaran hingga mengikuti
ajaran dan menerapkannya dalam kehidupan kita seharihari. Pemuridan adalah kunci penyebaran agama Kristen, untuk memenuhi amanat yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya yang pertama, mereka yang pada awalnya ditugaskan untuk membawa kabar baik ke dunia pada zaman mereka. Sebagai murid saat ini, kita ditugaskan untuk membawa Injil ke dunia pada zaman kita
Pemuridan bukanlah suatu kejadian yang terjadi sekali seumur hidup. Ini adalah perjalanan rohani, perjalanan iman. Ini melibatkan pilihan dan tindakan sehari-hari untuk tinggal di dalam Yesus, dan membiarkan Dia tinggal di dalam kita, untuk dipimpin, diberi makan, dan dibersihkan oleh Firman-Nya, untuk beroperasi di bawah pengaruh Roh Kudus dan kasih Allah, untuk mencari Dia, untuk berserah pada kehendak-Nya bagi hidup kita, untuk mentaati-Nya dengan kemampuan terbaik kita, untuk bersaksi tentang kasih-Nya melalui kata-kata dan tindakan kita, untuk menghasilkan buah yang memuliakan-Nya.
Menemukan bagaimana Tuhan ingin Anda menjalani pemuridan Anda, bagaimana Dia ingin Anda menjadi terang dunia dan garam dunia adalah bagian dari perjalanan rohani pribadi Anda (Matius 5:13–15). Anda adalah individu yang unik dan Tuhan memiliki rencana yang unik bagi Anda, sesuai dengan keadaan, talenta, dan kemampuan Anda. Yang Dia minta adalah agar Anda menyerahkan semua ini kepada-Nya dan memakainya untuk memuliakan Dia dan menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik, untuk menjadi bagian dari jawaban doa Tuhan, “datanglah kerajaan-Mu” (Lukas 11:2), dengan melakukan apa yang diminta-Nya untuk mengikuti Dia dan menjadi bagian dari kekuatan yang merubah dunia, yang untuknya Dia memanggil para pengikut-Nya. Jadi, apa arti pemuridan dalam konteks dunia saat ini? Seorang murid adalah seseorang yang sungguh-sungguh
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.—Yesus, Matius 5:14–16

mengikuti Tuhan, mengikuti kehendak-Nya sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab dan mencari kehendak-Nya yang khusus bagi kehidupan mereka, karier mereka, keluarga mereka, dan tujuan pribadi mereka. Itu berarti menjalani hidup Anda sesuai dengan ajaran-ajaran-Nya.
Seperti yang pernah dikatakan Billy Graham, “Undangan untuk menjadi murid Kristus adalah tujuan yang paling menggetarkan hati yang dapat kita bayangkan. Pikirkanlah: Tuhan semesta alam mengundang kita untuk menjadi mitra-Nya dalam merebut kembali dunia bagiNya! Setiap dari kita dapat berperan, menggunakan karunia dan kesempatan unik yang telah diberikan Tuhan kepada kita.”
Peter Amsterdam dan istrinya, Maria Fontaine, adalah pemimpin dari the Family International, sebuah komunitas beriman Kristen. ■


“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya” (Efesus 2:10).
Ketika kehidupan seorang pengikut Yesus dijalankan seperti yang dimaksudkan oleh Yesus, itu menjadi sesuatu yang indah. Menjadi orang Kristen dan memiliki hubungan dengan Tuhan harusnya adalah sesuatu yang terserap dalam pengalaman sehari-hari, terintegrasi ke dalam keputusan kita, dan mewarnai persepsi tentang diri sendiri, orang lain, dan kehidupan ini.
Seperti lukisan yang indah, kemuliaan terbesar seorang Kristen sering kali terdiri dari hal-hal kecil yang tak terhitung jumlahnya. Gumpalan kecil warna-warni dalam lukisan yang tampak begitu kecil jika dilihat dari dekat dan secara keseluruhan menjadi sangat indah. Dengan cara yang sama, ekspresi kasih Tuhan yang tak terhitung jumlahnya yang dibagikan dengan orang lain dalam perjalanan hidup seorang Kristen terkadang tampak tidak signifikan jika berdiri sendiri, namun Tuhan melihatnya dalam konteks totalitas kehidupan yang memuliakan Dia.
Saat hidup kita menjadi lebih berpusat pada Tuhan, Dia memberi lebih banyak kekuatan dalam kelemahan kita dan lebih banyak rakhmat di saat-saat pergumulan, kehilangan, atau penderitaan. Saat ketergantungan kita pada-Nya bertumbuh, Dia meningkatkan sukacita Roh-Nya yang mengatasi kesedihan kita.
Semakin kita bertekad untuk memperkuat perjalanan kita dengan Yesus, dan semakin kita menginginkan hubungan spiritual yang lebih mendalam dengan-Nya,
maka Dia semakin mampu mewujudkan Roh-Nya melalui kita. Paulus memuji beberapa orang Kristen mula-mula dengan mengatakan: “Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami” (2Korintus 8:5).
Ketika iman Anda memainkan peran integral dalam nilai, tujuan, dan keputusan, kasih yang mendorong Tuhan untuk menciptakan alam semesta dapat menggerakkan hati Anda untuk melihat kebutuhan yang ada di sekitar Anda. Ini akan menggerakkan Anda untuk bertindak. Jika Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam keindahan sekuntum bunga kecil, serta dalam kebesaran yang tak terukur dari kedatangan-Nya untuk hidup dan mati bagi kita, itu mengajarkan kepada kita bahwa ada juga variasi yang besar dalam cara hidup kita yang dapat menunjukkan Roh dan kebenaran-Nya kepada dunia ini.
Tuhan hendak memenuhi hidup kita dengan RohNya. Kita adalah buah ciptaan tangan-Nya. Ketika kita membiarkan Dia mencampur warna-warni kasih dan belas kasih-Nya dan mengembangkan keindahan bentuk yang dimaksudkan-Nya untuk kita, maka kita menjadi karya akbar-Nya yang akan berbicara ke dalam hati banyak orang.
Maria Fontaine dan suaminya, Peter Amsterdam, adalah pemimpin dari the Family International, sebuah komunitas beriman Kristen. ■


“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1 ).
Saya percaya bahwa Tuhan telah memberi kita kuasa dan hak memilih untuk membuat perubahan dan pilihan bagi hidup kita, tetapi saya juga terkadang merasa betapa mudahnya teralihkan oleh ideologi “membantu diri sendiri”. Merencanakan “kehidupan terbaik” untuk diri kita dan membuat rencana lima tahun, misalnya, adalah tindakan positif, tetapi kita perlu menemukan cara untuk menyelaraskannya dengan “mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup.”
Itu adalah ayat Alkitab yang sangat menarik, karena tidak hanya berbicara tentang pikiran atau kepercayaan kita yang dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi juga tubuh kita. Itu berarti apa yang kita lakukan secara fisik dengan hidup kita harus untuk kemuliaan-Nya. Alkitab mengatakan bahwa pelayanan kita yang “seharusnya demikian”—jadi, bukan super luar biasa, bukan pemenang penghargaan, tetapi hanya “paket permulaan” Kekristenan Anda yang dijalani.

Ini menjadi nyata ketika kita memandang mengikuti Yesus dalam konteks seperti itu. Ini bukan hanya sebuah ideologi, tetapi sesuatu yang untuknya Anda menghabiskan waktu, sesuatu yang untuknya Anda memberikan diri Anda sendiri. “Persembahan” tidak menyiratkan bahwa hidup akan menjadi suram atau sulit, tanpa kesenangan atau ambisi atau impian. Bukan itu. Penggenapan sejati hanya dapat ditemukan dengan tetap berada dekat dengan Tuhan dan mengikuti rencana-Nya.
Jiwa kita menerima kepribadian dari Tuhan. Jiwa kita dirancang untuk dipenuhi oleh-Nya. Bahaya bagi kita semua datang ketika kita memenuhi jiwa dengan ambisi-ambisi kecil kita sendiri dan ide-ide kita yang picik tentang pemenuhan dan tidak memberikan ruang bagi pekerjaan yang harus dilakukan dalam diri kita.—William Kirk Kilpatrick
Pengorbanan saja, yang kosong dan tidak diringankan, mengerikan, tidak alami, dan mati; namun persembahan diri, yang diterangi oleh kasih, adalah kehangatan dan kehidupan; itu adalah kematian Kristus, kehidupan Allah, dan kebahagiaan dan satu-satunya kehidupan yang tepat bagi manusia.—Frederick W. Robertson (1816–1853)
Iman Kristen dimaksudkan untuk dijalani dari waktu ke waktu. Iman Kristen bukanlah garis besar yang luas—iman Kristen adalah perjalanan panjang bersama Pribadi yang nyata. Rinciannya penting: pikiran yang terlintas, pengorbanan kecil, beberapa kata penyemangat, perbuatan kebaikan hati yang kecil, kemenangan singkat atas dosadosa yang mengganggu.—Joni Eareckson Tada
Sementara kita semua memiliki harapan, impian, dan ekspektasi, kita perlu bertanya kepada diri sendiri apa yang Tuhan butuhkan dari kita. Seperti apakah “persembahan yang hidup” dalam kehidupan pribadi kita dan hidup bersama-Nya?
Marie Alvero adalah mantan misionaris di Afrika dan Mexico. Kini bermukim bersama suami dan anak-anaknya di Central Texas, AS. ■

Oleh Peter Amsterdam
Jika Anda ingin menjadi bugar secara jasmani, maka Anda harus makan yang benar, olahraga dan meluangkan waktu dan usaha untuk membentuk kebiasaan jasmani yang baik. Demikian pula, jika Anda menginginkan pertumbuhan spiritual—jika Anda ingin bugar secara rohani—diperlukan investasi dalam resimen spiritual.
Asupan devosi. Menyediakan waktu setiap hari untuk masukan ilahi dan gizi spiritual sangat penting untuk kehidupan spiritual yang bersemangat. Alkitab mengatakan bahwa “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Alkitab adalah Firman Allah. Sama seperti kita perlu untuk mengkonsumsi makanan jasmani setiap hari untuk kebutuhan, demikian pula kita perlu gizi spiritual setiap hari. Sumber lainnya adalah bahan bacaan (atau media) yang bersifat membangun iman yang ditulis oleh orang-orang kudus. Tulisan-tulisan orang Kristen lain yang diilhami dapat memperkuat iman Anda, membuka pemahaman Anda tentang nas Kitab Suci, dan membantu Anda menerapkan Firman Tuhan secara praktis dalam hidup.
Mengembangkan kehidupan yang aktif berdoa. Doa adalah komponen yang penting dalam kehidupan spiritual kita; itu adalah cara kita berkomunikasi dengan Tuhan, Pencipta kita. Kita dapat berbicara kepada-Nya, memuji dan menyembah Dia, dan menyampaikan keprihatinan, permasalahan, kebutuhan dan meminta pertolongan-Nya, campur tangan-Nya, intervensi, kekuatan. Doa meminta
agar kehendak Tuhan yang terjadi, dan melalui doa, kita mendengarkan suara-Nya dan meminta bimbingan-Nya, dorongan semangat, penghiburan, dan petunjuk. Melalui doa, kita bisa melemparkan kekuatiran dunia kita ke bahu-Nya yang kuat.
Menjaga agar hati kita benar dengan Tuhan. Ini bukan berarti Anda harus menjadi sempurna. Yesus mengerti kesalahan dan kelemahan kita sebagai manusia, sebab Dia punya pengalaman hidup sebagai manusia. Ketika Yesus memberikan hidup-Nya untuk pengampunan dosa dan penebusan kita, Dia tahu betul bahwa kita tidak akan pernah menjadi benar sepenuhnya, tak peduli seberapa kerasnya kita berusaha. Kita dapat memasuki tempat yang indah itu di mana terdapat damai sejahtera dan pengampunan dengan secara teratur mengakui kesalahan dan dosa kita kepada Tuhan. Kita dapat menemukan damai sejahtera dalam pengampunan-Nya ketika kita merendahkan diri, mengakui kesalahan kita, menjatuhkan diri ke dalam pelukan-Nya.
Mengikut Tuhan (Firman-Nya, suara-Nya, dan bimbingan-Nya). Poin lainnya yang mendasar untuk pertumbuhan spiritual adalah melakukan apa yang Firman Tuhan katakan. Kita dipanggil untuk mematuhi apa yang Tuhan minta dari semua orang Kristen, selain juga apa yang dikatakan-Nya melalui bimbingan pribadi dan petunjuk kepada masing-masing individu.
Berpartisipasi dalam komunitas orang beriman. Ketika kita menghabiskan waktu bersama orangorang Kristen lainnya—menyembah, membaca Firman Tuhan, memuji dan berdoa bersama—kita menjadi lebih kuat. Kita disegarkan, visi kita menjadi lebih jelas, dan kita menjadi lebih siap untuk apa yang akan Tuhan bawakan ke dalam hidup kita.
Untuk memupuk kehidupan spiritual yang berkembang, terapkanlah kelima poin yang mendasar ini. Anda akan gembira dengan hasilnya. ■

Bacaan yang Menguatkan

Ketika Yesus berbicara kepada orang banyak, Ia sering menjelaskan kebenaran yang mendalam melalui perumpamaan—kisah tentang kejadian-kejadian yang lazim, keadaan, dan hal-hal yang dapat dengan mudah dipahami oleh para pendengar-Nya. Zaman telah berubah, tetapi kebenaran abadi yang terkandung dalam perumpamaan Yesus masih relevan hingga saat ini dan sama menyegarkan jiwa kita seperti halnya bagi mereka yang pertama kali mendengarnya 2.000 tahun yang lalu!
Perumpamaan Penabur: Benih Firman Tuhan
Matius 13:3–23
Ayat Kunci • Matius 13:23: Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat!
Orang Samaria yang Murah Hati: “Siapakah sesamaku?”
Lukas 10:25–37
Ayat Kunci • Lukas 10:36–37 : “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Anak yang Terhilang: Kasih Tuhan yang abadi
Lukas 15:11–32
Ayat Kunci • Lukas 15:18–20: Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak
layak lagi disebutkan anak bapa.” … Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
Dua Rumah: Apakah fondasi Anda?
Matius 7:24–27
Ayat Kunci • Matius 7:24–25: Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Hamba yang Jahat: Pelajaran tentang pengampunan
Matius 18:23–35
Ayat Kunci • Matius 18:32–33: Raja itu … berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?”
Orang Kaya yang Bodoh: Bermurah hatilah—Jangan menimbun barang-barang material
Lukas 12:16–21
Ayat Kunci • Lukas 12:20–21: Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah. ■

Salah satu ciri-ciri manusia, sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar Allah, adalah kehendak bebas, yang melibatkan kemampuan untuk mengambil keputusan dan tanggung jawab atas akibat dari keputusan tersebut. Belajar untuk mengambil keputusan yang akan memuliakan Allah dan memenuhi kehendak-Nya bagi hidup kita sering kali bisa sangat menantang. Ini dapat menguji dan mengembangkan iman, ketika kita mencari kehendak-nya dan menantikan Tuhan untuk memberi jawaban dan bimbingan.
Mengambil keputusan bagi orang Kristen dimaksudkan sebagai proses hubungan, mengikut-sertakan diri kita dan Tuhan, ketika kita membawa kecemasan kita kepada-Nya, karena mengetahui bahwa Ia yang memelihara kita (1Petrus 5:7). Dia berkata “marilah, baiklah kita beperkara” (Yesaya 1:18), memperlihatkan keinginan-Nya untuk bercakap-cakap dengan kita. Ia ingin hadir dan berpartisipasi dalam percakapan seraya kita membuat keputusan. Ia telah menjanjikan bahwa Roh-Nya yang
ada di dalam diri kita akan membimbing kita ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13).
Di sepanjang hidup kita sebagai orang Kristen, kita berhadapan dengan keputusan yang mempengaruhi masa depan kita, entah mengenai karir apa yang hendaknya dikejar, dengan siapa harus menikah, bagaimana membesarkan anak-anak, tinggal di mana, atau bagaimana berkomitmen terhadap iman kita dan berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan. Salah satu langkah yang paling penting untuk menemukan kehendak Tuhan dan mengambil keputusan yang baik adalah dengan mengakui Dia dan menyerahkan jalan kita kepada-Nya. Alkitab mengatakan agar “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5–6).
Belajar untuk mengambil keputusan yang akan memuliakan Tuhan dan yang selaras dengan kehendak-Nya serta perintah-Nya seringkali disertai dengan
masa-masa di mana kita berintrospeksi diri, berdoa dengan khusyuk, dan pengujian. Terkadang sulit untuk membedakan apa kehendak Tuhan dalam situasi tertentu atau keputusan apa yang akan membawakan hasil yang terbaik. Pada saat-saat yang demikian, kita berandai-andai ada halilintar yang menerangi langit atau kita dijatuhkan
dijelaskan oleh Paulus di kitab Roma: “Berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).
Alkitab mengatakan bahwa kita dapat berekspektasi untuk melalui masa-masa sulit selama berada di bumi (Yohanes 16:33). Kabar baiknya adalah Alkitab juga berjanji bahwa kita tidak harus melaluinya sendiri. Tuhan berjanji untuk senantiasa ada bagi kita. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (Mazmur 23:4). “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah” (Mazmur 16:8).
Tuhan ingin mendengar beban kita dan agar kita menyerahkan kekuatiran kita, sehingga Ia dapat membawakan pengharapan ke hati kita, damai sejahtera ke jiwa kita, dan kekuatan bagi hidup kita (1Petrus 5:7). Tentu saja, Tuhan bukan hanya peduli dengan pergumulan kita; Dia peduli dengan segala sesuatu yang kita alami di sepanjang hidup kita, dari kemenangan yang paling kecil hingga ketakutan kita yang paling besar dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya.
Sekali Yesus masuk ke dalam hidup kita, hadirat-Nya senantiasa menyertai kita (Ibrani 13:5).
ke tanah seperti halnya rasul Paulus sebagai tanda yang tepat dan yang sempurna yang diberikan kepada kita (Kis. 9:3–4). Namun demikian, seringkali, suara Tuhan begitu tenang sehingga jika kita tidak menenangkan roh kita dan membuka pikiran kita serta mendengarkan, maka suara itu akan terlewatkan.
Bagaimana kita memainkan peran kita dalam proses pengambilan keputusan, melakukan segala daya kita untuk membuat keputusan yang benar, menenangkan jiwa kita untuk mendengar suara Tuhan, dan menentukan pilihan terbaik dalam keputusan yang kita buat? Firman Tuhan mengatakan, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit —, maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yakobus 1:5).
Tuhan menciptakan kita menurut gambar-Nya, sebagai makhluk rasional, mampu mengambil keputusan dengan sukarela dan memilih untuk menempatkan Dia di tengah-tengah kehidupan kita. Ini adalah salah satu cara kita mengasihi Tuhan dengan segenap pikiran kita: dengan sadar memutuskan untuk mengasihi Tuhan, dan dengan berusaha memuliakan Dia dalam semua keputusan dan cara kita. Ini menempatkan kita untuk menguji dan membedakan kehendak Tuhan, sebagaimana
Ketika Anda mengambil langkah pertama itu, seringkali Tuhan entah menegaskan atau ada unsur baru yang muncul, yang akan memberi penerangan baru pada situasinya. Anda mungkin harus membuat penyesuaian, sewaktu mendapati bahwa koordinat keputusan semula, sementara mengarah ke arah yang benar secara umum, perlu diselaraskan seraya Anda menjadi semakin dekat dengan tujuan akhirnya. Pengambilan keputusan seringkali adalah proses yang melibatkan banyak keputusan, bukan hanya satu keputusan saja, dan setiap keputusan menempatkan fondasi untuk keputusan yang berikutnya.
Biasanya Tuhan menginginkan agar kita berupaya dengan segenap hati untuk mencari kehendak-Nya, melakukan investigasi, menganalisa, memperhitungkan, dan memakai setiap sarana yang tersedia untuk membuat keputusan yang bijak dan beriman. Tuhan hampir tidak pernah melakukan untuk kita apa yang dapat kita lakukan sendiri. Saya mendapati bahwa saya mengambil keputusan yang terbaik ketika saya bekerja bersama Tuhan dengan cara menganalisa kemungkinan dan opsi yang ada, dan mencari bimbingan-Nya melalui doa.
Ketika menempatkan Tuhan pada pusat kehidupan kita, mengakui Dia dalam segala cara kita, kita dapat percaya bahwa Dia akan membimbing dan menolong kita mengambil keputusan yang bijak. ■
Hidup sering diibaratkan
dengan pergi ke sekolah, dan itu adalah analogi yang bagus. Tuhan mengizinkan segala macam hal terjadi dalam hidup kita untuk menguji kita, untuk melihat bagaimana kita akan bereaksi terhadapnya, untuk memberi kita pelajaran, dan untuk menolong kita bertumbuh secara rohani. Keinginan-Nya melalui semua ini, tentu saja, adalah agar kita menerapkannya, mengambil hikmahnya, belajar darinya, dan mencapai potensi penuh kita. Singkatnya, ujian hidup dirancang oleh-Nya untuk menolong kita menjadi orang yang Dia tahu kita bisa menjadi seperti itu.

Salah satu hal yang Tuhan gunakan untuk menolong kita adalah kelemahan manusiawi kita. Setiap orang memiliki kelemahannya masing-masing. Di antaranya, kelemahan dan kegagalan kita mengajarkan kita kerendahan hati, kesabaran, dan kebajikan lainnya. Kelemahan dan kegagalan mengajarkan kita kekuatan doa, yang membantu kita untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan dan menjadi lebih bergantung kepada-Nya, dan kelemahan dan kegagalan membantu kita untuk lebih memahami orang lain, sehingga menempatkan kita pada posisi yang lebih baik untuk membantu mendorong semangat melalui masalah dan ujian mereka.
Kita seharusnya belajar dari kelemahan dan kekurangan kita, juga dari kesalahan dan keputusan yang buruk. Langkah pertama adalah mengakui masalah tersebut, dan langkah berikutnya adalah memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk mengatasi kelemahan tersebut dengan pertolongan Tuhan. Tuhan ingin menolong Anda untuk mengatasi kelemahan, dan Dia akan melakukannya jika Anda meminta kepada-Nya.
Jadi lain kali Anda merasa berjuang melawan kelemahan pribadi, anggaplah itu sebagai tantangan. Pilihlah untuk belajar darinya, dan Anda akan segera menemukan diri Anda unggul dalam sekolah kehidupan. ■
Tuhan menciptakan kita “menurut gambar-Nya” (Kejadian 1:26), tetapi Dia masih belum selesai. Itu adalah proses yang berkelanjutan. Kita semua memiliki beberapa aspek dasar dari sifat-Nya sejak lahir—kita adalah makhluk spiritual yang kekal dengan kapasitas untuk berpikir, mengasihi, dan membedakan yang benar dari yang salah—tetapi mengembangkan karakter yang saleh adalah proses seumur hidup. Itu juga merupakan bagian yang besar dari alasan kita ada di sini. Kita harus berusaha menjadi seperti apa? Bagian-bagian Alkitab berikut memberikan gambaran yang cukup lengkap:
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Galatia 5:22–23).
Khotbah di Bukit juga berfungsi sebagai panduan, karena Yesus menyoroti orang-orang yang berbelas kasih, lemah lembut, dan pembawa damai sebagai orang-orang yang diberkati, dan orang-orang yang lapar dan haus akan kebenaran (Matius 5:3–9). “Bab tentang kasih” di Alkitab menyoroti keunggulan kasih: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati … Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”(1Korintus 13:4–7).

Suatu pagi, saya berjalan masuk ke ruang kelas guru musik untuk memulai pelajaran biola dan melihat ada dua biola di atas meja. Mata saya langsung tertuju pada biola yang pertama, yang tampak baru. Biola baru adalah suatu pemandangan yang tidak boleh terlewatkan, dengan lekukan yang indah, permukaan yang mengkilap dan tidak ada goresan, bersinar ketika tertimpa cahaya, dan kepala biola dengan pelintiran yang menarik dilengkapi dengan pasak penyetelan yang mengkilap.
Di sebelah biola cantik yang baru saja selesai dibuat oleh ahli pembuat biola terdapat satu biola lainnya. Lekuk-lekuknya masih indah, tetapi di beberapa tempat guratan kayu terdapat bagian yang retak atau lecet; permukaannya kusam dan banyak goresan; kepalanya masih melintir, tetapi pasaknya sudah lecet-lecet, dan lehernya sudah aus pada bagian yang sudah bertahun-tahun sering dipegang.
Ugh!, orang mungkin berpikir. Biola itu sudah amburadul tinggal menunggu hancur lebur! Tapi sebagaimana yang dikatakan oleh guru saya, meski biola baru terlihat sempurna, biola lama yang terdengar indah. Biola itu sudah terbentur, terpukul, terjatuh, terlupakan. Dan karenanya terdengar lebih manis.
Biola membutuhkan waktu untuk menemukan nadanya, untuk berkembang sepenuhnya sehingga sesuai dengan suaranya. Untuk mencapai potensi penuhnya, biola harus dimainkan selama berjam-jam. Harus disetel dan disetel ulang. Senarnya akan putus, jembatan biola mungkin meleset, pasaknya bisa lepas. Tapi itu semua adalah bagian dari proses.
Kadang-kadang saya merasa seperti terus-menerus terbentur, terpukul, terjatuh, dan terlupakan. Terkadang saya merasa seperti sudah lecet, terkelupas, dan mulai retak. Ada hari-hari di mana rasanya seperti urat saraf saya putus, seperti senar biola saya, dan pasti saya tidak
merasa cantik. Tetapi dari hari-hari yang tampaknya tidak pernah akan berakhir, dari setiap kejatuhan dan benturan, saya belajar. Meskipun saya mungkin tidak dapat dibandingkan dengan yang sempurna dan yang cantik, saya bertumbuh dan menjadi dewasa. Dan seperti biola berusia seabad itu indah bagi pemain biola, saya cantik bagi Yesus.
Jadi jangan merasa bersalah jika Anda mengalami hari yang buruk atau Anda terpeleset dan jatuh. Anda mungkin merasa lecet-lecet dan banyak goresan, tetapi itu hanyalah bagian dari proses yang membantu Anda untuk berkembang dan menjadi lebih baik. Setiap benturan dan memar akan membuat Anda lebih bijak, dan melodi hidup Anda akan menjadi lebih manis karenanya.
Amy Mizrany lahir dan tinggal di Afrika Selatan dan adalah misionaris penuh waktu bersama Helping Hand dan anggota the Family International. Di waktu senggang, ia bermain biola. ■


Salah satu hal yang paling menambah semangat dan menenteramkan hati, yang perlu disadari dan senantiasa diingat oleh orang-orang Kristen —terutama ketika sedang mengalami masa-masa kesusahan, pengujian dan pencobaan—adalah bahwa Bapa kita yang di Sorga mengasihi kita, dan Dia secara total dan menyeluruh berdaulat atas hidup kita. Meskipun kita tidak selalu mengerti tepatnya mengapa kita melalui pencobaan-pencobaan seperti itu, Tuhan telah berjanji di dalam Firman-Nya, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28 ).
Dia tidak akan pernah membiarkan apapun terjadi ke atas Anda, anak-Nya, yang entah bagaimana caranya akan bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi Anda. Tentu saja, Anda mungkin tergoda untuk merasa bahwa banyak yang telah terjadi yang nampaknya tidak baik bagi Anda. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Anda akan mendapati cepat atau lambat bahwa entah bagaimana caranya itu memang mendatangkan kebaikan.—Atau Anda akan mendapatinya seperti itu, entah dalam hidup ini atau kehidupan yang berikutnya!
Kisah nyata berikut mengilustrasikan prinsip ini:
Pada suatu pagi di musim dingin, sebuah iring-iringan kapal nelayan berlayar dari suatu pelabuhan kecil di pantai timur Newfoundland. Tapi selepas tengah hari datanglah badai hebat. Ketika malam tiba, tidak satu kapalpun dari iring-iringan itu yang menemukan jalan kembali ke
pelabuhan. Sepanjang malam isteri, ibu, anak dan kekasih berjalan mondar mandir ke sana ke mari menyusuri pantai yang tersapu angin laut, sambil meremas-remas tangan, berseru kepada Allah untuk menyelamatkan orang-orang terkasih mereka yang sedang tersesat itu. Yang menambah kengerian dari situasi itu, salah satu rumah yang ada di situ di makan api. Karena kaum laki-laki sedang pergi, maka tidak mungkin bagi mereka untuk memadamkan api dan menyelamatkan rumah tersebut.
Ketika pagi hari tiba, yang membuat semua orang bersukacita, seluruh iring-iringan kapal itu kembali dengan selamat. Tapi ada seraut wajah yang terlihat putus asa—yaitu isteri dari lelaki yang rumahnya musnah dilalap api. Menemui suaminya ketika mendarat, perempuan itu menangis, “Hancur sudah, pak! Rumah kita beserta semua isinya habis dimakan api!” Tapi yang mengejutkannya suaminya berseru, “Syukur kepada Allah untuk api itu! Cahaya dari rumah kita yang terbakar itulah yang telah menuntun seluruh iring-iringan kapal selamat kembali ke pelabuhan.”
Apa pun yang Tuhan lakukan atau izinkan dalam hidup anak-anak-Nya yang mengasihi-Nya, Dia selalu melakukannya dengan kasih. Tujukanlah mata kepada Yesus di saat-saat sulit, dan percayalah pada janji dalam Firman-Nya bahwa apa pun yang Anda alami, Dia akan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. “Sebab Kristus adalah ‘ya’ bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan ‘Amin’ untuk memuliakan Allah” (2Korintus 1:20 ). ■
Doa untuk Hari Ini
Bapa kami, Engkau telah menyelamatkan kami melalui kematian Anak-Mu yang penuh pengorbanan dan telah menjadikan kami keluarga-Mu, sehingga sekarang kami memiliki Engkau—yang ada di atas segala-galanya, Pencipta segala sesuatu—sebagai Bapa kami. Seraya kami mengenal Engkau, kasih-Mu, kuasa-Mu, dan kekudusan-Mu, kami ingin menyampaikan rasa hormat yang layak dan pantas Engkau terima.
Engkau adalah Allah, kudus, ada di mana-mana, dan benar, dan Engkau layak menerima puji dan sembah kami. Kiranya kami boleh menambahkan suara kami kepada mereka yang ada di sorga yang tak henti-hentinya berseru, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang”(Wahyu 4:8). Dan semoga kami menjadi seperti keduapuluh empat tua-tua yang jatuh tersungkur melemparkan mahkota mereka di hadapan takhta-Mu, sambil berkata, “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan”(Wahyu 4:10–11).
Kiranya Engkau berkuasa atas hidup kami dan di seluruh penjuru dunia dan kiranya kami tetap setia berbagi kabar sukacita tentang keselamatan dengan orang lain. Ajarkanlah kami untuk menjalankan hidup menurut prinsip-prinsip kerajaan-Mu; tolonglah kami untuk menjadi sadar akan prinsip-prinsip tersebut dalam pilihan dan keputusan yang kami ambil, supaya kami dapat mencerminkan Engkau dan rencangan-Mu.
Bekerjalah kiranya di dalam kehidupan orang-orang yang percaya kepada-Mu, sehingga sebanyak mungkin
orang dapat mengenal Engkau dan menjalankan hidup dengan cara yang mencerminkan kehidupan yang ada di dalam kerajaan-Mu. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin. ■

Apabila saya berpikir bagaimana menyimpulkan Tuhan dalam sebuah frasa, “kasih yang tak bersyarat” melintas di benak saya. Tentu saja, Tuhan itu beragam dan tidak dapat ditempatkan hanya pada satu frasa atau istilah, tetapi kita tahu dari 1Yohanes 4:8, Allah adalah kasih. Itu adalah sifat-Nya. Sifat kasih Allah, yang tanpa syarat dan universal, benar-benar hal yang luar biasa. Terlalu sering, kasih sayang yang kita lihat dalam masyarakat didasarkan pada nilai yang diberikan oleh pihak yang satunya, dan ketika nilai itu sudah tidak ada lagi atau tidak lagi dibutuhkan, kasih sayang memudar bersamanya. Tidak demikian halnya dengan kasih Tuhan. Dia senang dengan keberadaan kita dan ingin berteman dengan kita. Kasih Allah yang mendalam dan abadi memotivasi panggilan-Nya yang terusmenerus-Nya kepada setiap manusia yang telah Dia ciptakan, mengundang mereka ke dalam hubungan dengan-Nya.—Peter Amsterdam
Teriring Kasih dari Yesus

Kamu dapat menemukan keamanan dan ketenangan bahkan di tengah-tengah kekacauan, ketika khayalan angin ketakutan menghantam dan kekuatiran mengancam untuk menyapumu. Itu disebabkan karena Aku adalah yang berwenang atas damai sejahtera sejati. Kamu dapat mengandalkan Aku di tengahtengah badai, bencana, tragedi, atau penyakit apa pun yang mengancam untuk membahayakan kamu atau mereka yang kamu kasihi.






Jika kamu memohon kepada-Ku, Aku akan memberimu damai sejahtera hati dan pikiran. Kasih-Ku akan mengelilingi, menjaga, dan memelihara kamu dalam cara yang alami dan supernatural.
Aku peduli akan setiap rincian hidupmu. Aku ada di sini untukmu bahkan di tengah-tengah kesulitan. Aku berkenan untuk memberimu iman dan kekuatan, penghiburan dan kepastian. Aku juga ingin menolong kamu untuk menjadi pengaruh yang menenangkan orang lain.
Damai sejahtera yang luar biasa dan supernatural, selain juga perlindungan yang supernatural, dapat ditemukan dengan berseru kepada-Ku. Kamu bisa berdoa seperti ini: “Yesus, aku memerlukan damai sejahtera bagi pikiran dan hati. Aku membutuhkan ketenangan dan kepercayaan meskipun adanya segala sesuatu yang berlangsung di sekitarku. Aku butuh stabilitas. Jagailah dan lindungilah aku dan mereka yang kukasihi. Masuklah kiranya ke dalam hatiku, rohku, dan hidupku serta penuhilah aku dengan ketenangan, percaya, dan damai sejahtera.”
Aku bukan saja akan memelihara kamu melalui situasi saat ini, tetapi Aku juga akan menolong kamu untuk dengan aman menavigasi seluruh perjalanan hidupmu dan semua pengalaman dan pengujian serta pertumbuhan pribadi yang ada di masa depan sementara kamu masih ada di bumi. Aku akan memegang tanganmu dan menuntun kamu dalam cara-cara kebenaran. Aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu dan menyediakan pertolongan untuk persoalanmu.
Kasih-Ku akan memastikan bahwa kamu akan mempunyai kehidupan yang diberkati—melalui suka dan duka serta liku-likunya—hingga pada akhirnya kamu bergabung bersama-Ku untuk hidup selama-lamanya dengan kedamaian dan kasih serta kebahagiaan yang abadi di alam surgawi-Ku.
Aku senantiasa ada di sini untukmu, Yesus